Eps 4 Manusia Yang Bisa Menghilang - Khu Lung
Baca online Manusia Yang Bisa Menghilang - Khu Lung
Cersil Manusia Yang Bisa Menghilang - Khu Lung.
Ujar Samon.
Dengan sendirinya Liok Siau-hong juga tahu soal ini sangat penting, namun dia yakin pasti ada jalannya.
Baginya, di dunia ini pada hakikatnya tidak ada sesuatu urusan yang mutlak tak dapat dilakukannya.
"Apakah soal ini dapat kau pecahkan?"
Tanya Samon.
"Tentunya kau tahu dimana letak kulit telur itu?"
Samon mengangguk.
"Jika begitu berarti soal ini sudah terpecahkan."
"Memangnya kau kira kita dapat masuk ke sana secara terang-terangan dan tidak akan dilihat orang lain?"
"Kita tidak perlu masuk ke sana secara terang-terangan, malahan satu langkah pun kita tidak perlu berjalan."
"Satu langkah pun tak perlu berjalan?"
Samon menegas.
"Memangnya kita akan terbang ke sana dengan berubah menjadi lalat?"
"Aku tidak mau berubah, ingin berubah juga tidak mau berubah menjadi lalat,"
Siau-hong tertawa, lalu menyambung.
"Cara terbang lalat terlalu melelahkan. Aku ingin masuk ke sana dalam keadaan berbaring dengan santai."
Samon memandangnya dengan terbelalak serupa anak kecil yang asyik mendengarkan orang mendongeng.
"Kutahu dalam hatimu pasti tidak percaya,"
Kata Siau-hong pula dengan tertawa.
"Tapi dapat kujamin, untuk persoalan ini tidak perlu kau risaukan"
"Memangnya ada hal lain yang pantas kau risaukan?"
Tanya Samon.
"Ada, cuma satu hal!"
"Coba jelaskan."
"Aku cuma mempunyai akal untuk bersembunyi ke sana, tapi tidak mempunyai akal untuk keluar lagi dari sana."
"Jadi kau kuatir biarpun kita dapat bersembunyi lebih dari satu setengah hari, akhirnya dia tetap akan menemukan kita?"
"Ya, tatkala mana bila dia mau membunuh kita...."
"Untuk ini tidak perlu kau kuatir,"
Potong Samon.
"Sebab apa?"
Tanya Siau-hong.
"Sebab satu setengah hari kemudian dia sudah tidak berada lagi di sini?"
"Dia akan pergi?"
"Ya, mau tak mau harus pergi!"
"Sebab apa?"
"Sebab di luar sana masih ada sesuatu urusan penting yang harus dilaksanakan olehnya."
Siau-hong termenung, katanya kemudian.
"Kecuali pekerjaan membunuh orang, urusan apa pula yang harus dikerjakannya?"
"Memang tidak ada,"
Sahut Samon.
"Sekali ini, siapa yang akan dibunuhnya?"
Tanya Siau-hong.
"Orang yang berharga untuk dibunuh olehnya tentu saja seorang yang hebat."
"Siapakah dia?"
"Entah!"
Bisa jadi Samon memang tidak tahu, atau mungkin tahu tapi tidak mau memberitahukannya.
Apapun juga Liok Siau-hong tidak bertanya pula.
Ia tak menghendaki perempuan mana pun demi membelanya mesti mengkhianati kekasihnya yang dulu.
Samon memandangnya, tanyanya kemudian
"Dan sekarang kau ingin berubah barang apa agar dapat masuk ke sana?"
"Menurut pendapatmu bagaimana?"
"Kukira, hanya orang mati saja yang dapat berbaring dengan santai untuk masuk ke rumah Kiong Kiu."
Siau-hong tertawa.
"Kembali kau lupakan sesuatu."
"Oo!?"
Samon melangak.
"Barang mati kan sangat banyak, tidak cuma manusia mati saja,"
Ujar Siau-hong.
Tanpa kehidupan berarti mati.
Pohon dapat hidup, tapi kalau sudah dipotong dan digeraji menjadi papan serta dijadikan, peti, barang itu sama dengan mati.
Jadi peti juga barang mati.
--Di jalan pegunungan yang sepi dan berliku ada sepuluh lelaki kekar menggotong lima buah peti besar.
Tampaknya peti sangat berat, terbukti dari para kuli itu kelihatan kepayahan.
Lebih-lebih peti yang terakhir, kedua orang yang menggotongnya sudah mandi keringat dan tertinggal cukup jauh.
Untunglah pada waktu hampir masuk mulut lembah, segera mereka melihat Samon.
Serupa angin saja tahu-tahu si nona sudah muncul dan menghadang di depan mereka sambil menegur.
"Kalian kenal diriku tidak?"
Dengan sendirinya mereka kenal.
Setiap orang yang masuk ke lembah pegunungan itu pasti pernah melirik satu-dua kejap kepadanya.
Hanya melirik saja secara sembunyi, sebab semua orang tahu bilamana Kiu-siauya mengetahui ada orang memandang Samon, seketika Kiu-siauya bisa marah.
Dan tidak ada orang berani membikin marah sang Kiu-siauya.
Dengan kepala tertunduk kedua kuli itu menjawab.
"Adakah sesuatu pesan nona Samon?"
"Aku tidak, tapi Kiu-siauya ada pesan,"
Jawab Samon.
Kedua lelaki itu berdiri, dengan hormat dan siap mendengarkan.
Setiap pesan atau perintah sang Kiu-siauya harus didengarnya dengan baik.
"Dia sengaja mengutus diriku kemari untuk menyuruh kalian mengantarkan peti ini ke kamarnya,"
Kata Samon.
Meski sebelum ini perintah yang mereka terima tidak berlangsung cara begini, namun mereka tidak curiga, juga tak berani membangkang.
Setiap orang tahu apa yang diucapkan nona Samon tidak ada bedanya dengan apa yang diikatakan Kiu-siauya.
Samon berkata pula.
"Kiu-siauya suka pada kebersihan, maka sebaiknya kalian ke sungai dan cuci dulu sebersihnya kaki dan tangan kalian."
Tidak jauh dari situ ada sebuah sungai kecil, cepat mereka berlari ke sana dan cepat pula berlari kembali Iagi.
Peti masih terletak di tengah jalan, tapi nona Samon sudah tidak kelihatan.
Meski orangnya sudah pergi, namun apa yang diperintahkannya tetap berlaku.
Kemana perginya Samon.
Di luar tahu kedua kuli penggotong peti itu dia sudah menyusup ke dalam peti.
Di dalam peti gelap gulita, tapi aman tenteram.
Perlahan peti telah ditaruh di dalam kamar.
Keadaan di luar peti penuh diliputi bahaya, namun kedua orang saling berpelukan dengan mesranya di dalam peti.
Entah bagaimana rasanya sukar untuk dijelaskan, di dunia ini mungkin sangat sedikit orang yang dapat mengalami perasaan seperti ini.
Namun Liok Siau-hong bisa, Samon juga.
Sebab sekarang juga mereka saling berdekapan di dalam peti dengan mulut terkancing oleh mulut.
Pada waktu mereka dapat membuka mulut, Samon tidak tahan lagi, segera ia bertanya.
"Darimana kau tahu ada peti yang segera akan diangkut kemari?"
"Dapat kulihat dia seorang yang mengutamakan gengsi, juga suka memikat hati orang dengan hadiah,"
Tutur Siau-hong.
"Sebelum orangnya tiba, lebih dulu dia telah mengirimkan beberapa peti hadiah, apalagi sesudah orangnya tiba di rumah?"
"Dia baru pulang kemarin, cara bagaimana kau tahu petinya baru akan tiba hari ini?"
"Orang-orang yang ikut dalam perjalanan dengan dia sekian lamanya, semua orang tentu sudah kesal dan ingin mencari pelampiasan, maka begitu kapal berlalu, segera semua kelasi naik ke darat, umpama tidak mencari perempuan pasti juga ingin minum sepuasnya. Kalau sudah mabuk, paginya pasti tidak dapat bangun dengan cepat."
"O, jadi sudah kau perhitungkan petinya baru akan diantar kemari pada waktu begini?"
Siau-hong tertawa.
"Tentu juga main untung-untungan."
"Dan ternyata nasibmu lagi mujur, atau mungkin juga perhitunganmu biasanya memang sangat tepat."
Orang yang dapat menerka sesuatu dengan tepat biasanya memang bernasib mujur juga.
Sebab hanya orang yang dapat memperhitungkan sesuatu dengan tepat dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada.
Dan kesempatan itu sendiri ialah kemujuran yang tidak boleh dilewatkan.
Dengan suara terlebih lembut Samon berkata pula.
"Dan sudah kau perhitungkan juga kuli penggotong peti belum mengetahui persoalan diriku, maka mereka pasti tunduk kepada perintahku?"
Hal ini tentu saja sudah diperhitungkan Liok Siau-hong dengan tepat.
Jika urusan ini tidak disiarkan sendiri oleh Kiong Kiu, siapa pula yang berani menyiarkannya.
Seorang lelaki yang angkuh dan tinggi hati bilamana dia dikhianati oleh perempuan yang dicintainya, betapapun hal ini pasti takkan diceritakannya kepada orang lain.
Dia lebih suka orang lain mengira dia yang meninggalkan perempuan itu, lebih suka orang lain menganggap dia yang tidak setia.
Bahkan dia lebih suka mati daripada orang lain mengetahui penderitaan dan rasa malunya dan terhina.
Liok Siau-hong cukup maklum perasaan demikian, sebab ia sendiri juga lelaki jenis ini.
Maka Samon bertanya pula.
"Tapi darimana kau tahu petinya akan diantar ke sini dengan selamat tanpa ditanyai orang di tengah jalan?"
"Sebab dapat kulihat orang yang tinggal di sini tidak suka ikut campur urusan, lebih-lebih urusan tetek-bengek begini!"
Samon menghela napas.
"Pandanganmu memang tepat, orang yang tinggal di sini, untuk setiap pekerjaan apapun harus ada imbalannya."
Jika waktu peti diantar kemari tidak ada yang menegur, sesudah itu tentu saja terlebih tidak ada orang yang memperhatikannya.
Dan kalau Kiong Kiu lagi memburu mereka di luar sana, saat ini tentunya tidak akan pulang.
Peti sudah dibuat sebuah celah kecil, mereka masih tetap berdekapan erat di dalam peti.
Mereka tidak mau terburu-buru keluar.
"Bila aku mati, tentu raja akhirat akan bertanya padaku pada inkarnasi yang akan datang mau menjadi apa?"
"Kau pasti ingin menjadi ayam kecil."
"Haha, jawaban yang tepat,"
Ucap Siau-hong dengan tertawa.
Peti ini memang sangat mirip kulit telur, berada di dalam kulit telur akan terasa aman, hangat dan manis.
"Kuyakin waktu anak ayam mau menetas, tentu mereka tidak mau cepat-cepat keluar dari kulit telur,"
Kata Siau-hong.
"Sebab apa?"
Tanya Samon.
"Sebab mereka tahu, sesudah keluar tentu tumbuh menjadi ayam dewasa dan menjadi ayam panggang, ayam rebus, ayam tim dan sebagainya."
--Menjelang petang dari 'kulit telur' itu akhirnya menetas dua ekor anak ayam.
Yang seekor jantan dan seekor lagi betina.
Tempat tinggal Kiu-siauya tentu saja tidak serupa kulit telur.
Kamarnya terpanjang indah, alat perabotnya serba mewah, cahaya senja masih menyinari daun jendelanya yang putih.
"Pada waktu dia tidak di rumah, mungkinkah ada orang menerobos kemari?"
Tanya Siau-hong.
"Pasti tidak ada,"
Ujar Samon.
Selama ini belum pernah ada siapa pun yang berani menerobos ke tempat tinggal Kiu-siauya, bahkan bapaknya juga tidak.
Biasanya Kiu-siauya suka menyendiri, tapi juga tinggi hati.
"Sebab itulah dia suka bercermin,"
Tutur Samon.
"Sebab apa?"
Tanya Siau-hong.
"Sebab satu-satunya orang yang benar-benar disukai olehnya ialah dirinya sendiri."
Di dalam kamar memang ada sebuah cermin besar, tertampak jelas dibuat oleh seorang ahli cermin, dibuat dari perunggu hijau dan tergosok mengkilap (zaman dahulu belum ada cermin kaca).
Untuk membuat cermin sebesar dan seindah ini diperlukan sepasang tangan yang trampil dan mantap.
"Inilah cermin karyanya sendiri, ia anggap inilah cermin paling bagus nomor satu di dunia,"
Tutur Samon.
Di samping cermin tergantung sebilah pedang, batang pedang sempit panjang, berbentuk antik.
"Inilah pedangnya!"
Pada waktu dia pergi membunuh orang, pedangnya ternyata ditinggalnya di rumah.
Nyata untuk membunuh orang dia tidak perlu memakai pedang lagi.
Perlahan Siau-hong meraba sarung pedang dengan jarinya, ucapnya.
"Kutahu masih ada satu orang, ilmu pedangnya juga sudah terlatih hingga taraf 'tanpa pedang'."
"Sebun Jui-soat?"
Tanya Samon.
"Kau pun tahu dia?"
Dengan hambar Samon menjawab.
"Aku tahu taraf 'tanpa pedang' belum lagi mencapai puncaknya ilmu pedang yang paling tinggi."
"Oo?!"
Heran juga Siau-hong.
"Jika yang dilatih adalah ilmu pedang, kenapa mesti mempersoalkan berpedang atau tak berpedang?"
Belum lagi Siau-hong menanggapi, mendadak terdengar di bawah tempat tidur ada orang berkeplok.
Suara keplokan tangan sangat perlahan, tapi jauh lebih mengejutkan orang daripada bunyi geledek.
Waktu Siau-hong berpaling, dilihatnya sebuah kepala gundul menongol dari kolong ranjang.
"Lau-sit Hwesio!"
Baru saja Siau-hong sempat bersuara, tahu-tahu sinar pedang berkelebat, kuduk Lau-sit Hwesio sudah dipalangi sebilah pedang panjang mengkilat.
Cepat amat gerak pedangnya!
Pedang yang tergantung di samping cermin besar itu sudah terlolos dari sarungnya, sudah terpegang oleh Samon, betapa cepat cara turun tangannya membuat Liok Siau-hong terkejut juga.
Tentu saja Lau-sit Hwesio terlebih kaget daripada Siau-hong, mukanya sampai pucat, cepat ia berseru sambil menyengir.
"Padahal tanpa turun tangan juga Hwesio tahu nona adalah ahli pedang perempuan nomor satu di dunia."
"Hm, kau tahu?"
Jengek Samon.
"Biarpun Hwesio tidak pernah makan daging babi, sedikitnya pernah melihat cara babi berjalan,"
Ujar Lau-sit Hwesio.
"Setelah mendengar uraian nona tadi, sungguh Hwesio kagum dan takluk lahir batin."
"Hah, kiranya Hwesio alim juga suka menjilat pantat,"
Seru Siau-hong dengan tertawa.
"Hwesio tidak menjilat pantat, Hwesio selalu bicara jujur."
Samon tidak tertawa, katanya dengan menarik muka.
"Cuma sayang biasanya nona tidak suka mendengar kata-kata jujur."
"Nona suka mendengarkan apa?"
Tanya Lau-sit Hwesio.
"Nona suka mendengar ucapan menjilat!"
Mata Lau-sit berkedip-kedip.
"Meski Hwesio tidak dapat menjilat, tapi pekerjaan lain banyak yang kupahami."
"Kau paham apa lagi?"
Tanya Samon.
"Umpamanya menjadi comblang dan mencarikan jodoh bagi orang, semua ini adalah keahlian Hwesio."
"Kau mau menjadi comblang dan mencarikan jodoh bagi siapa?"
"Bagi dua ekor anak ayam, yang satu jantan dan yang lain betina."
Akhirnya Samon tertawa juga.
Pada saat dia tertawa itulah selicin belut Lau-sit Hwesio meluncur keluar di bawah pedang si nona, dan begitu melompat bangun segera sembunyi di belakang Liok Siau-hong, katanya.
"Kau si ayam jantan kecil ini kalau tidak mau mengawini ayam betina kecil itu, aku Hwesio orang pertama yang keberatan."
"Siapa bilang aku tidak mau?"
Tanya Siau-hong.
"Benar kau mau?"
Lau-sit menegas. Siau-hong tidak menghiraukannya, ia pandang Samon dengan tenang.
"Cring"
, pedang Samon terjatuh, kedua orang mendadak berangkulan menjadi satu.
Lau-sit Hwesio memandangi mereka dengan menyengir, seperti tertawa juga segerti mau menangis, ia berkomat-kamit.
"Mengapa Hwesio tidak mau menjadi ayam jantan, tapi Hwesio justru suka menjadi Hwesio?!"
Di dalam rumah ternyata tidak ada arak, setetes saja tidak ada.
Lau-sit Hwesio menghela napas gegetun.
"Di rumah seorang lelaki kalau tidak tersedia setetes arak pun, lalu terhitung lelaki macam apakah orang ini"
"Orang yang tidak minum arak sama sekali bukan lelaki!"
Kata Siau-hong.
"Umpama dia sendiri tidak suka minum, sepantasnya dia menyediakan sedikit untuk menyuguh tetamunya,"
Ujar Lau sit Hwesio.
"Apakah Hwesio juga ingin minum arak?"
Tanya Samon.
"Cuma ingin minum setetes saja!"
"Arak macam apa?"
"Arak bahagia kalian!"
Samon tersenyum, Siau-hong juga tertawa.
Tiba-tiba mereka merasa Hwesio ini memang jujur dan menyenangkan.
"Sebenarnya tidak tersedia arak juga sama saja,"
Kata Lau-sit Hwesio pula.
"asalkan Hwesio menelan air liur sendiri, kan dapat dianggap seperti sudah minum arak pernikahan kalian."
Habis bicara dia benar-benar menelan air liur sendiri, lalu menyambung.
"Nih, sudah kuminum arak bahagia kalian, mau tidak mau kalian harus kawin sekarang?"
Samon berpaling dan bertanya pada Liok Siau-hong.
"Bagaimana, boleh menolak atau tidak?"
"Tidak boleh!"
Jawab Siau-hong.
Kedua orang lantas saling dekap lagi menjadi satu.
Kembali Lau-sit Hwesio menyengir seperti mau menangis, ucapnya.
"Cara perbuatan kalian ini, apakah sengaja hendak memancing supaya Hwesio hidup kembali lagi ke dunia ramai?"
--Sudah jauh malam.
Di dalam rumah ada lampu, tapi tidak dinyalakan, juga tidak boleh dinyalakan.
Siau-hong tidak menghiraukan, Samon juga tidak ambil pusing, kalau ada cinta sejati, biarpun tanpa bulan dan bintang juga tidak menjadi soal, kenapa meski memikirkan cahaya lampu.
Tentu saja Lau-sit Hwesio juga tidak peduli.
Kebetulan malah baginya supaya tidak melihat sesuatu, sebab di dalam rumah memang sangat gelap dan tidak terlihat apapun.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Tanya Lau-sit Hwesio tiba-tiba.
"Tidak melakukan apa-apa!"
Jawab Siau-hong.
"Apakah mulutmu ada peluang?"
Tanya Lau-sit pula.
"Ada!"
Samon mendahului menjawab.
"Jika ada peluang, dapatkah bicara dengan Hwesio, mengobrol iseng?"
"Dapat,"
Jawab Samon.
"Mengapa Hwesio bisa bersembunyi di kolong tempat tidur?"
Tanya Siau-hong tiba-tiba.
"Sebab Hwesio tahu, yang mempunyai kamar itu meski tidak suka minum arak, tapi suka minum cuka (artinya cemburu)!"
"Ehm, Hwesio memang tidak bodoh!"
"Hwesio justru amat pintar,"
Tukas Samon.
"Sebaliknya anak ayam yang terlalu tidak pintar,"
Kata Lau-sit Hwesio.
"Dalam hal apa tidak pintar?"
Tanya Siau-hong.
"Anak ayam mestinya dapat menyuruh kedua orang dogol itu menggotong peti ini kembali ke atas kapal, dengan begitu dalam beberapa hari saja kedua ekor anak ayam kan dapat pulang ke rumah?"
Siau-hong melenggong, Samon juga terkesima.
Segera mereka merasakan apa yang diuraikan si Hwesio memang merupakan kesempatan yang paling baik untuk memnggalkan tempat ini.
Tapi urusan sudah telanjur, sekali kehilangan kesempatan, kesempatan itu takkan datang lagi.
Lau-sit Hwesio menghela napas, katanya pula.
"Dua ekor anak ayam dan seekor keledai gundul (kata olok-olok bagi Hwesio), jika semuanya mati di sini, rasanya akan ...."
Mendadak ucapannya terhenti.
Liok Siau-hong juga lantas melompat bangun, Samon tidak bergerak, namun jantungnya berdebar keras.
Kiranya mereka mendengar ada suara langkah orang di luar, langkah kaki beberapa orang, dari suaranya jelas sedang menuju ke kamar ini.
Ada cahaya lampu menembus celah pintu, makin lama makin terang.
Cepat Siau-hong melompat ke sana dan menyingkap tutup peti, desisnya.
"Lekas bersembunyi lagi!"
Ketika Samon sudah masuk ke dalam peti, barulah Siau-hong sendiri bersembunyi juga di dalam peti dan perlahan menurunkan tutup peti.
Pada saat itulah pintu pun terbuka.
Didengarnya suara pintu menguak dan suara orang melangkah masuk, seluruhnya ada lima orang.
Orang pertama yang bicara adalah seorang perempuan, nadanya sangat galak.
"Siapa yang menyuruh kalian menggotong peti ini ke sini?"
Hati Siau-hong berdetak.
Dapat dikenalinya suara Siau Giok.
Ia percaya pribadi Siau Giok tidak jahat, tapi pertanyaannya itu sungguh konyol.
"Atas perintah nona Mon!"
Yang menjawab adalah satu di antara kedua kuli penggotong peti tadi.
"Nona Mon?"
Jengek Siau Giok.
"Kalian tunduk kepada perintah Kiu-siauya atau tunduk kepada nona Mon?"
Tidak ada yang berani menjawab.
"Apakah kalian tidak tahu nona Mon bukan lagi tunangan Kiu-siauya?"
Suara Siau Giok bertambah galak.
Hati Liok Siau-hong juga tambah tenggelam.
Sungguh ia tidak paham, urusan ini jelas tidak diketahui siapa pun, mengapa budak cilik ini dapat mengetahuinya?
Padahal budak cilik ini baru saja lolos dari kematian, kenapa mesti ikut campur lagi urusan orang lain?
Sungguh kalau bisa Liok Siau-hong ingin menjahit mulut budak cilik itu.
"Bawa pergi!"
Terdengar Siau Giok berteriak.
"Lekas gotong pergi lagi peti ini!"
"Gotong kemana?"
"Asalnya darimana, gotong kembali ke sana!"
Setelah mendengar ucapan terakhir ini segera Liok Siau-hong menyadari prasangkanya yang salah.
Mulut yang mungil dan menyenangkan itu mana boleh dijahit, bahkan kalau bisa ia ingin menciumnya dengan mesra.
Peti itu berasal dari kapal, dengan sendirinya akan digotong kembali ke atas kapal.
Berapa jam lagi kapal itu akan berlayar pula, maka peti ini tentu akan ikut terangkut juga.
Jika begitu, beberapa hari lagi kedua ekor anak ayam pun dapat pulang ke rumah!
Saking gembiranya hampir saja Liok Siau-hong bersorak.
"Hidup Siau Giok!"
Sampai di sini barulah dimengerti bahwa apa yang dilakukan Siau Giok itu adalah membantu mereka.
Budak cilik yang cerdik ini pasti sudah tahu mereka bersembunyi di dalam peti.
Sungguh hati Siau-hong sangat gembira dan berterima kasih, ia percaya perasaan Samon pasti juga begitu.
Ia ingin menggenggam tangan si nona.
Meski di dalam peti sangat gelap, umpama salah pegang juga tidak menjadi soal.
Siapa tahu dia benar-benar salah pegang, bahkan salah besar dan konyol, sebab yang terpegang olehnya adalah sebuah kepala gundul.
Yang bersembunyi di dalam peti bersama dia ini ternyata bukan Samon melainkan Lau-sit Hwesio, sungguh Siau-hong ingin berteriak.
Cuma sayang, begitu tangannya meraba kepala gundul, serentak tangan Lau-sit Hwesio juga bekerja, sekaligus ia tutuk tiga tempat Hiat-tonya yang membuatnya tak bisa bersuara dan tak bisa bergerak.
T A M A T
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Pendekar Sakti Suling Pualam 1
Baca Juga: Pendekar Patung Emas 1