Eps 3 Pedang Abadi - Khu Lung
Baca online Pedang Abadi - Khu Lung
Cersil Pedang Abadi - Khu Lung.
"Mmm, sebenarnya tidak kosong, tapi agaknya tersimpan segulung kertas di dalamnya."
Bai Yu-jing menghela napas panjang dan menutup matanya.
Fang Long Xiang tertawa.
Dia menepuk-nepuk gagang pedang itu dan memutarnya dengan ketiga jarinya – gagang pedang itu benar-benar kosong karena bisa dibuka dengan putaran tersebut.
Cuma rahasia di dalam gagang pedang itu bukanlah segulung kertas, tapi puluhan batang jarum.
Jarum beracun Niu Mangpan.
Sambil berbunyi "sing!", puluhan jarum beracun Niu Mangpan telah menancap di wajah dan mata Fang Long Xiang.
Dia segera menutup wajahnya dengan tangannya dan meraung-raung dengan keras seperti orang gila.
Dia lalu menubruk ke arah Bai Yu-jing, seolah-olah ingin mati bersama Bai Yu-jing.
Tapi begitu terjatuh, dia tidak bisa bergerak lagi.
Gaetan besi di tangannya telah merobek wajahnya sendiri dan merusak raut mukanya.
Hawa terasa dingin dan lembab.
Tapi tampak seberkas cahaya yang menerobos lewat jendela.
Malam yang panjang akhirnya berlalu.
Bai Yu-jing tergeletak di dalam kamar, di mana dia bisa merasakan darah Fang Long Xiang yang mengalir dari wajahnya.
Darah itu telah membasahi baju atas dan bawahnya.
Di dalam hatinya timbul perasaan berduka.
Orang ini selalu menjadi sahabatnya.
Jika ada pilihan lain, dia tidak akan melakukan apa yang barusan telah terjadi.
Tapi dia tahu tidak ada pilihan lainnya.
Walaupun dia menyerahkan peta merak itu, Xiao Feng tentu tidak akan melepaskannya.
Apalagi, dia memang belum pernah melihat peta merak yang ajaib itu.
Xiao Fang tentu saja tidak akan melepaskannya, karena mereka dulunya bersahabat.
Jika kau mengkhianati sahabatmu, kau tidak bakalan bisa melepaskannya karena kau tidak akan punya muka untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.
Jendela dan pintu semuanya masih tertutup, kokok ayam jantan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, sinar matahari pelan-pelan menerobos masuk lewat jendela.
Di luar pintu gerbang, mendadak terdengar bunyi langkah kaki orang banyak.
Bai Yu-jing menghela napas dalam hatinya.
"Akhirnya mereka datang juga."
Dia tahu bahwa jerit kesakitan Xiao Fang tadi tentu akan mengundang semua orang datang ke sini.
"Juragan, di mana kau?"
"Apa yang terjadi?"
"Kau yakin tadi mendengar suara juragan Fang?"
"Aku tidak mungkin keliru."
"Tapi kamar ini adalah tempat tinggal perempuan tua itu."
"Aku sudah curiga kalau perempuan tua itu punya sesuatu yang disembunyikan."
Tuan Muda Zhu, Miao Shaotian, Zhao Yi-dao, Kuda Putih Zhang San dan ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau telah datang.
Bai Yu-jing cuma bisa berharap agar mereka berdiri di luar dulu sambil berunding, agar jalan darahnya bisa pulih sementara itu.
Tapi sekarang di jendela telah muncul sebuah cahaya.
Dengan menggunakan retakan yang disebabkan gaetan besi tadi, mata seseorang sedang mengamat-amati keadaan di dalam kamar – mata yang seperti penuh dengan kobaran api yang menyala-nyala.
Kuda Putih Zhang San.
"Siapa yang kau lihat?"
Miao Shaotian berkata.
"Mayat, kamar yang penuh mayat."
Dia baru saja bicara sampai di situ ketika pintu kamar telah didobrak orang.
Ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau sudah menghambur masuk.
Tapi mereka cuma mengawasi keadaan di situ sebentar sebelum mundur kembali.
Suasana di dalam kamar itu benar-benar terlalu menyedihkan, terlalu menyeramkan.
Setelah menunggu sekian lama, Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang San pelan-pelan melangkah masuk.
Serempak kedua orang itu berteriak pelan.
Kuda Putih Zhang San.
"Mereka benar-benar sudah mati."
Zhao Yi-dao berkata.
"Kenapa si juragan bilang dia ini tua....."
Dia mendapatkan bahwa perempuan tua itu belumlah tua, dia tentu saja tak bisa melanjutkan kata-katanya. Kuda Putih Zhang San pun berkata.
"Siapa pula orang ini? ...... Gongsun Jing? Kenapa bisa Gongsun Jing?"
Tiba-tiba Tuan Muda Zhu berkata sambil menyeringai.
"Tidak ada yang melihat kalau ada seorang yang hidup di sini."
Zhao Yi-dao berkata.
"Siapa?"
Tuan Muda Zhu berkata pula.
"Tentu saja orang keras kepala yang pura-pura mati itu."
Memang Bai Yu-jing semula bermaksud untuk pura-pura mati buat sementara waktu, tapi Tuan Muda Zhu berjalan mendekatinya. Dia lalu duduk dan mengawasinya. Kemudian dia tersenyum dan berkata.
"Pendekar Bai sedang beristirahat?"
Orang baju hitam itu masih merupakan bayangan yang tak terpisahkan di belakangnya. Kuda Putih Zhang San pun berseru.
"Bai Yu-jing juga ada di sini! Dia benar-benar belum mati."
Tuan Muda Zhu berkata dengan santai.
"Kalian lupa kalau Pendekar Bai adalah dewa."
Kuda Putih Zhang San menggunakan sudut matanya untuk melirik Zhao Yi-dao. Lalu dia berkata dengan dingin.
"Sebenarnya aku tidak tahu apakah sakit kepalanya tiba-tiba kambuh?"
Zhao Yi-dao berkata.
"Kurasa memang kambuh. Mari kita sembuhkan."
Bai Yu-jing membuka matanya.
Dia melihat sebilah pisau baja yang berkilauan seperti salju menebas ke arah tenggorokannya.
Pisau kilat yang bagus dan gemerlapan!
Bab 6.
Bayangan Wei Tian-ying Pisau kilat yang bagus dan gemerlapan!
Pisau baja sedingin es itu meluncur dengan cepat ke arah tenggorokan Bai Yu-jing.
Tiba-tiba dia hanya bisa memandangnya tanpa berkedip.
Tapi pisau itu tidak menebas tenggorokannya.
Pisau baja itu tiba di tenggorokan dan mendadak berhenti.
Zhao Yi-dao menatapnya.
Tiba-tiba ia berkata sambil tersenyum.
"Pendekar Bai tahu, bila pisau ini menggorok leher, maka leher itu pun akan buntung?"
Bai Yu-jing berkata.
"Aku tahu."
Zhao Yi-dao berkata.
"Tapi kau tidak takut."
Bai Yu-jing berkata.
"Aku tahu pisau ini tidak akan menebas leherku."
Zhao Yi-dao berkata.
"Oh?"
Bai Yu-jing berkata.
"Karena ada sesuatu yang tergantung di leherku."
Zhao Yi-dao berkata.
"Apa itu?"
Bai Yu-jing berkata.
"Peta burung merak?"
Mimik Zhao Yi-dao pun berubah dan dia berkata.
"Kau tahu tentang peta burung merak?"
Kuda Putih Zhang San memotong dan berkata.
"Kau tahu di mana peta burung merak itu?"
Bai Yu-jing menutup mulutnya. Wajah Zhao Yi-dao menjadi gelap dan dia berkata.
"Kenapa kau tidak buka mulut?"
Tuan Muda Zhu berkata.
"Jika ada sebilah pisau di leherku, aku juga tidak akan mampu berkata apa-apa."
Zhao Yi-dao tertawa dan dengan bunyi "sret!", pisau itu telah masuk ke dalam sarung. Tuan Muda Zhu kembali duduk dan berkata sambil tersenyum.
"Kami tadi telah mengabulkan permintaan Pendekar Bai. Sekarang kau pun bisa menepati janjimu. Asal Pendekar Bai membantu kami menemukan peta merak itu, kami akan membebaskan Pendekar Bai dengan segera – kau bahkan boleh membawa emas permata yang tak ternilai itu untuk dinikmati seumur hidupmu."
Bai Yu-jing tersenyum dan berkata.
"Majikan Gedung Sejuta Emas benar-benar tahu cara bicara enurut aturan."
Tuan Muda Zhu berkata pula.
"Aku seorang pedagang. Tentu saja aku paham cara bertransaksi yang adil atau bagaimana cara merundingkannya!"
Bai Yu-jing berkata.
"Tentu saja kita bisa merundingkan transaksi ini."
Tuan Muda Zhu berkata lagi.
"Aku bisa melihat bahwa Pendekar Bai adalah orang yang bijak."
Bai Yu-jing berkata.
"Peta burung merak itu tentu saja berada di tangan gadis Yuan itu. Asal kau bebaskan jalan darahku, aku akan membawa kalian mencari dia."
Baru saja Bai Yu-jing mengucapkan kata-kata ini, dia telah menyesalinya dalam hati.
Seharusnya dia tidak membiarkan orang lain tahu bahwa jalan darahnya telah tertotok.
Sekarang orang lain pun bisa melihatnya.
Jika seseorang merasa terlalu gelisah ingin menyelesaikan suatu urusan, segalanya malah bisa menjadi kacau.
Siapa tahu Tuan Muda Zhu malah mengiyakan dengan amat cepat dan segera berkata.
"Bagus."
Baru saja mengucapkan kata "bagus" , dia telah menepuknya – bukan pada jalan darah Bai Yu-jing yang tertotok, tapi malah pada jalan darah di sambungan lututnya.
Hati Bai Yu-jing terasa makin pahit, walaupun dia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Dia berkata dengan enteng.
"Mungkin kau tidak menginginkan peta merak itu?"
Tuan Muda Zhu tersenyum lirih dan berkata.
"Tentu saja aku menginginkannya. Tapi aku tidak berani membuat Pendekar Bai capek sendiri."
Bai Yu-jing berkata.
"Tuan Muda Zhu terlalu sopan santun."
Tuan Muda Zhu berkata pula.
"Asal Pendekar Bai katakan di mana gadis Yuan itu berada, bila kami menemukannya, kami tentu akan segera kembali untuk melepaskan Pendekar Bai. Dengan demikian, kami tidak akan membuat lelah Pendekar Bai yang terhormat."
Bai Yu-jing berkata.
"Bagus, cara ini memang amat bagus."
Zhao Yi-dao tak tahan untuk tidak memotong dan berkata.
"Kau sudah memikirkannya, kenapa kau tidak mengatakannya saja?"
Bai Yu-jing berkata.
"Cuma sayang, walaupun aku tahu di mana dia berada, aku tidak bisamengatakannya."
Zhao Yi-dao berkata.
"Kenapa tidak?"
Bai Yu-jing berkata.
"Aku lupa nama tempat itu."
Tuan Muda Zhu menghela napas dan berkata.
"Teman-teman, adakah yang bisa membuat Pendekar Bai mengingat nama tempat itu?"
Miao Shaotian berkata dengan dingin.
"Aku."
Tiba-tiba dia menerobos lewat, tangannya menyusup masuk ke dalam kantung kain tunik di pinggangnya.
Lalu di tangannya telah tergenggam seekor ular belang berbisa yang amat menyeramkan.
Seekor ular rumput yang bercincin.
Zhao Yi-dao tak terasa mundur sejauh dua langkah.
Miao Shaotian berkata sambil menyeringai.
"Daging ular amat bergizi, jika Pendekar Bai menelan ular ini, ingatanmu pun bisa membaik."
Tangannya tiba-tiba terulur ke arah Bai Yu-jing, lidah ular yang merah sudah hampir menyentuh hidung Bai Yu-jing.
Bai Yu-jing merasa urat-urat di wajahnya pelan-pelan menegang, keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Mendadak terdengar suara yang amat merdu di halaman.
Suara itu berkata.
"Apakah semua orang sedang mencariku?"
Pagi baru saja tiba, kabut masih berputar-putar seperti angin di halaman sana.
Kabut itu membentuk sebuah tirai kabut yang indah dengan bunga fuji di atasnya Yuan Zi-xia berdiri di bawah bunga fuji, berdiri tegak dalam kabut yang pekat.
Dia menggenggam sebatang lilin di tangannya.
Dia bahkan tampak lebih cantik, sejenis kecantikan lembut yang mengandung hawa gaib, sehingga bunga fuji di dekatnya pun seperti kehilangan warnanya.
Miao Shaotian dan Kuda Putih Zhang San hendak memburu ke arahnya.
Tapi Yuan Zi-xia berseru.
"Berhenti!"
Tiba-tiba dia mengangkat tangannya yang lain dan berkata.
"Jika kalian berdua berani mendekat ke sini, aku akan membakar benda ini."
Sinar lilin berkilat-kilat dalam genggaman tangannya yang halus dan indah seperti giok.
Diamengangkat sehelai kertas tinggitinggi, memisahkannya dari lilin hanya sejarak setengah kaki.
Miao Shaotian dan Kuda Putih Zhang San segera berhenti, sorot mata mereka tak bisamenyembunyikan perasaan serakahnya.
Kuda Putih Zhang San tersenyum dipaksa dan berkata.
"Nona seharusnya tahu bahwa benda itu sama nilainya dengan segudang emas. Kau tentu tidak akan membakarnya."
Yuan Zi-xia berkata.
"Aku tentu saja tahu. Tapi jika aku mati, apa gunanya segudang emas?"
Miao Shaotian dan Kuda Putih Zhang San saling berpandangan dan pelan-pelan menarik diri. Tuan Muda Zhu melangkah maju, membungkukkan tubuhnya dalamdalam dan berkata.
"Jejak Nonayang harum telah menghilang dengan tiba-tiba, membuat semua orang merasa gelisah. Tak disangka-sangka kalau Nona ternyata kembali ke sini."
Yuan Zi-xia berkata dengan gaya memikat.
"Baik sekali kalau ternyata Tuan selalu memperhatikan aku."
Tuan Muda Zhu berkata pula.
"Terima kasih atas pujianmu."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kudengar Tuan Muda Zhu bukan hanya seorang jutawan muda, juga lemah lembut dan sopan santun. Hari ini aku bisa melihat sendiri bahwa nama itu memang tidak kosong."
Tuan Muda Zhu berkata.
"Aku juga telah mendengar bahwa Nona adalah seorang gadis yang cantik bagaikan bidadari. Hari ini aku bisa melihatnya sendiri, aku merasa amat terhormat."
Miao Shaotian tak dapat menahan seringainya dan berkata.
"Di sini bukan ruang tamu Gedung SejutaEmas, di mana orang bisa bicara omong kosong!"
Yuan Zi-xia berkata sambil tersenyum.
"Ketua Miao tidak paham, yang paling suka didengarkan oleh perempuan adalah pujian yang manis. Jika kalian ingin melunakkan hatiku, seharusnya kalian lebih banyak mengatakan kata-kata pujian."
Miao Shaotian membelalakkan matanya dan berkata.
"Kenapa aku ingin melunakkan hatimu?"
Yuan Zi-xia berkata dengan santai.
"Karena jika hatiku sudah lunak, mungkin aku bisa memberimu benda ini."
Tuan Muda Zhu tiba-tiba berseru.
"Itu tidak baik, tidak baik. Benda ini tidak didapatkan oleh Nona dengan mudah, bagaimana kau bisa memberikannya begitu saja kepada kami?"
Yuan Zi-xia tersenyum manis dan berkata.
"Semula aku berpikir begitu, tapi sekarang jalan pikiranku amat berbeda."
Tuan Muda Zhu berkata.
"Oh?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Aku hanya seorang perempuan yang kesepian dan terlantar. Jika aku membawa-bawa benda ini, cepat atau lambat, suatu hari nanti aku pun akan mati di tangan orang lain."
Tuan Muda Zhu menarik napas, tampaknya dia sangat bersimpati, dan berkata.
"Di dunia Kang-ouw, setiap langkah demi langkah bisa merupakan jalan yang sempit dan berbahaya. Nona memang harus sangat berhati-hati."
Yuan Zi-xia berkata.
"Tapi jika aku telah menyerahkan benda ini, maka tidak ada lagi orang yang akan mencariku?"
Tuan Muda Zhu berusaha menyembunyikan kegembiraan di wajahnya dan berkata.
"Tentu saja begitu. Tapi jika Nona ingin memberikan benda itu, tentu harganya pun harus sesuai."
Yuan Zi-xia mengedip-ngedipkan matanya dan terbelalak. Dia berkata.
"Kalau begitu, menurut Tuan Muda Zhu, berapa yang seharusnya kuterima?"
Tuan Muda Zhu berkata.
"Setidaknya cukup bagi seorang gadis untuk menikmati kekayaan seumur hidupnya. Lagipula, imbalan itu harus berupa emas dan permata, bukan yang lainnya."
Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata.
"Aku juga berpikir begitu, tapi... kekayaan yang begitu besar, siapa yang bersedia memberikannya padaku?"
Miao Shaotian tiba-tiba tertawa dengan keras.
"Asal kau memberi ijin, setiap orang di sini akan bersedia memberikannya kepadamu."
Yuan Zi-xia berkata dengan sangat gembira.
"Bagus sekali, cuma......"
Miao Shaotian segera bertanya.
"Cuma kenapa?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Di dalam sana juga ada seorang temanku, bolehkah aku melihatnya dulu?"
Tiba-tiba tak seorang pun yang bicara lagi, tidak ada yang mau menerima tanggung-jawab itu. Yuan Zi-xia menghela napas.
"Tanganku lelah mengangkatnya, jika tidak hati-hati, dan benda ini terbakar, apa yang akan terjadi? Walaupun cuma terbakar sedikit, tentu akan berabe."
Tuan Muda Zhu mendadak tersenyum dan berkata.
"Karena Pendekar Bai adalah teman Nona, Nona tentu mengkhawatirkannya. Ini sungguh bisa dipahami. Nona, silakan."
Yuan Zi-xia menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Itu tidak baik, aku tidak berani."
Tuan Muda Zhu berkata.
"Mengapa?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Di sana terlalu banyak berdiri orang laki-laki yang bertubuh besar. Aku sangat takut."
Tuan Muda Zhu berkata pula.
"Nona ingin kami pergi?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Jika kalian bisa mundur ke samping, barulah aku berani."
Tuan Muda Zhu berkata.
"Lalu?"
Yuan Zi-xia memonyongkan bibirnya dan berkata sambil tersenyum.
"Di luar sini ada begitu banyak orang, apa yang bisa kuperbuat dengannya? Aku hanya ingin menyampaikan dua patah kata, dan kemudian aku akan keluar dan menyerahkan benda ini. Sementara itu, kalian bisa merundingkan dulu siapa yang akan menerima benda ini."
Tuan Muda Zhu memandang Zhao Yi-dao, Zhao Yi-dao memandang Kuda Putih Zhang San. Kuda Putih Zhang San tiba-tiba berkata.
"Akan kutanya dia dulu apakah dia mau bertemu denganmu."
Dia tidak menunggu yang lain menjawab, dan segera melesat ke dalam kamar.
Dia lalu menotok limajalan darah Bai Yu-jing, dan kemudian berputar untuk membuka jendela.
Walaupun jalan darah yang ditotok tetap sama, tapi teknik totokan setiap orang tidak sama.
Jika jalan darah seseorang ditotok oleh tigamacam teknik yang berbeda, walau seseorang ingin membebaskannya, tentu hal itu akan sangat sukar.
Jika mereka melihat Yuan Zi-xia hendak membebaskan totokan itu, mereka pun masih akan sempat bertindak.
Tuan Muda Zhu tersenyum samar dan berkata.
"Pendekar Bai tentu amat memandang Nona, kenapa aku tidak membolehkan kalian bertemu?"
Bai Yu-jing tergeletak di tempatnya, menatap Yuan Zi-xia ketika gadis itu masuk.
Dia seperti sedang memandang orang asing, di wajahnya tidak ada ekspresi.
Yuan Zi-xia juga sedang menatapnya dengan raut muka yang berubah-ubah, entah itu menunjukkan perasaan pedih atau sedih.
Bai Yu-jing berkata dengan dingin.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Yuan Zi-xia tersenyum sedih. Dia berkata.
"Kau.... kau benarbenar tidak tahu apa yang hendak kulakukan?"
Bai Yu-jing berkata sambil menyeringai.
"Kau tentu datang untuk menolongku, karena kau baik hati. Kau punya maksud baik yang sama dengan Fang Long Xiang, kalian semua adalah teman baikku."
Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya dan berkata.
"Aku bisa saja menyelinap pergi dengan diam-diam. Jika aku tidak perduli denganmu, kenapa aku harus datang?"
Matanya tampak merah, air mata pelan-pelan jatuh membasahi pipinya. Tiba-tiba seorang anggota Perkumpulan Naga Hijau di luar berkata dengan keras.
"Benda ini semula adalah milik Perkumpulan Naga Hijau, wajar kalau benda ini harus dikembalikan pada Perkumpulan Naga Hijau. Tuan Muda Zhu dan ketua Zhao tadi telah menyetujuinya."
Walaupun kelopak mata Yuan Zi-xia dipenuhi air mata, tapi sudut mulutnya mulai memperlihatkan ekspresi gembira.
Angin berhembus makin kencang.
Anting-anting emas yang besar milik Miao Shaotian berbunyi "ting-tang" , kedua matanya membara seperti api yang ditujukan ke arah tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau.
Zhao Yi-dao berbaring di pojok sana, seolah-olah tidak perduli dengan urusan itu.
Tapi dia tidak pernah berhenti mengawasi keadaan.
Kuda Putih Zhang San menepuk-nepuk pilar bangunan itu dengan jarinya.
Dia tidak tahan terhadap kesunyian itu, dan sengaja membuat suara yang gaduh.
Orang baju hitam berdiri tak bergerak di belakang Tuan Muda Zhu.
Wajahnya tidak menampilkan ekspresi.
Urusan ini memang tidak ada hubungannya dengan dia.
Yang dia perdulikan adalah delapan orang anggota keluarga yang menunggunya mencari makan.
Orang-orang Naga Hijau mengepalkan tinju mereka erat-erat, sebelum salah seorang dari merekatiba-tiba berkata.
"Tuan Muda Zhu tadi mengucapkan kata-kata itu. Biasanya ucapanmu selalu ditepati, kali ini kau tidak bisa menarik kembali kata-katamu itu dan mengingkari janji."
Tuan Muda Zhu akhirnya tersenyum dan berkata.
"Tentu saja aku tidak bisa, tentu tidak bisa, cuma......"
"Cuma apa?"
Orang ini bertubuh tinggi besar, dengan jenggot berwarna tembaga. Sekilas pandang, bisa dilihatbahwa dia adalah orang yang amat gampang naik darah. Tuan Muda Zhu berkata pula.
"Walaupun aku setuju dengan kalian, tapi yang lain......"
Orang berjenggot naga itu segera memotong.
"Kata-kata Tuan Muda Zhu adalah yang paling efektif dan berpengaruh. Walaupun cuma Tuan Muda Zhu yang setuju, saudara-saudaraku dan aku akan merasa lega."
Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata.
"Asal aku setuju dengan kalian, kalian bertiga benar-benar bisa merasa lega?"
Si jenggot naga berkata.
"Tepat!"
Tuan Muda Zhu menghela napas dan berkata.
"Bagus, aku berjanji pada kalian."
Si jenggot naga menjadi makin gembira. Wajahnya cerah dan dia berkata.
"Untuk ini, Perkumpulan Naga Hijau tidak akan melupakan Tuan Muda Zhu....."
Tiba-tiba 'crep!", suaranya mendadak terputus.
Terdengar suara jeritan yang memilukan.
Jeritan itu dikeluarkan oleh teman-temannya, karena sebuah anting emas tiba-tiba telah menancap di tenggorokannya.
Dia tidak melihat darah itu, tapi dia tidak perlu menjerit lagi karena dia sedang menutupi wajahnya.
Dan kemudian, darah pelan-pelan mengalir keluar dari lehernya....
Dia berdiri di sisi kiri, sementara jeritan-jeritan yang memilukan itu berasal dari orang-orang di sebelah kanannya.
Ketika Miao Shaotian bertindak, Kuda Putih Zhang San juga mendadak bergerak.
Dia meluncurkan telapak tangannya, menghantam tulang hidung seorang anggota Naga Hijau lainnya.
Darah bercipratan ke mana-mana.
Dia menjerit memilukan dan menutupi wajahnya, Kuda Putih Zhang San lalu menendangnya.
Dia terjerembab di tanah seperti lumpur.
Tubuhnya melingkar, air mata dan lendir mengalir keluar bersama darah.
Kemudian tubuhnya mendadak kejang dan tidak bergerak lagi.
Orang yang di tengah mula-mula merasa senang, karena jika mereka bisa memperoleh kembali peta merak itu, tentu akan diberi imbalan yang besar.
Perkumpulan Naga Hijau selalu memberikan hadiah yang amat besar pada anggotanya tanpa ragu-ragu.
Ketika benaknya sedang membayangkan apayang akan diterima olehnya.
emas, perempuan cantik dan kejayaan, tiba-tiba kedua rekannya telah terjungkal dan mati.
Zhao Yi-dao berdiri di hadapannya, dan menatapnya dengan dingin.
Dia merasakan perutnya berontak.
Rasa takut menyergap dirinya seperti tangan yang tidak terlihat, meremas-remas dan memutar-balikkan perutnya.
Dia hampir muntah sebelum berkata.
"Ketua Zhao.... Ketua Zhao, kukira kau tadi telah setuju......"
Zhao Yi-dao berkata dengan dingin.
"Tadi tidak ada yang tahu apakah peta burung merak itu bisadidapatkan atau tidak, juga tidak ada yang pernah melihat peta itu, tapi sekarang......."
Dia memandang lubang di jendela sambil tersenyum dan berkata.
"Sekarang peta itu boleh dibilang sudah berada di tangan kami, mengapa kami harus memberikannya ke Perkumpulan Naga Hijau?"
Orang itu berkata.
"Perkumpulan Naga Hijau selalu membedakan antara terima-kasih dan dendam, hari ini Ketua Zhao membunuh kami, apa kau tidak khawatir dengan pembalasan dari perkumpulan kami?"
Zhao Yi-dao berkata dengan tenang.
"Kau jelas dibunuh oleh Gongsun Jing, kenapa Perkumpulan Naga Hijau harus membalas dendam?"
Orang ini akhirnya paham. Perkumpulan Naga Hijau juga sering melemparkan kesalahan pada orang lain. Seluruh tubuhnya pun gemetar. Sambil mengertakkan giginya, dia berkata.
"Anggota Perkumpulan Naga Hijau siap mengorbankan dirinya. Ketua Zhao tidak akan mendapatkan peta itu. Wei Tian-ying dari Perkumpulan Naga Hijau juga akan segera datang....."
Baru saja menyebut nama "Wei Tian-ying", tiba-tiba keberaniannya timbul kembali dan dia berkata dengan keras.
"Sekarang dia mungkin sudah tiba. Walaupun kami bertiga mati di tangan kalian, kalian juga tidak usah berharap akan hidup terus."
Mendengar disebutnya nama "Wei Tian-ying" , wajah Miao Shaotian, Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang San pun berubah secara drastis.
Tak terasa mereka lalu melihat ke pintu depan secaraserentak.
Lampu lentera di pintu gerbang telah padam.
Tidak terdengar suara orang, juga tidak terlihat bayangan siapa pun.
Zhao Yi-dao berkata sambil menyeringai.
"Tidak perduli apakah kami mati atau hidup, kalianlah yang lebih dulu harus pergi."
Kuda Putih Zhang San.
"Sekarang kepalanya tentu amat sakit."
Zhao Yi-dao berkata.
"Aku akan menanganinya."
Pantulan pisau itu tampak berkilauan, pisau baja itu segera meninggalkan sarungnya dan menebas ke leher orang itu.
Zhao Yi-dao dikenal sebagai 'Sebatang Pisau', sukar membayangkan betapa cepat dan kejinyatusukan pedang pendek itu.
Tangan orang itu telah menggenggam gagang pisaunya, tapi dia tidak bisa menghunus pisau itu.
Dia terpaksa harus berusaha menahan serangan itu.
Siapa tahu gerakan Zhao Yi-dao mendadak berubah dalam sekejap, sebuah tusukan horizontal malah langsung menghunjam ke dadanya.
Darah pun muncrat ke mana-mana.
Orang itu menjerit memilukan dengan suara berdesis.
"Wei Tian-ying, tetua Wei, kau harus.... membalaskan dendam kami!"
Jeritan itu tiba-tiba terputus, karena dia sudah bersimbah darah.
Sunyi, dan makin sunyi.
Walaupun tidak ada yang pernah melihat Wei Tian-ying, dia telah berkembang menjadi sosok seperti monster yang gaib dan menakutkan di dalam benak mereka.
Zhao Yi-dao mengeringkan darah di pisaunya dengan alas sepatunya.
Miao Shaotian juga memungut kembali anting emasnya dari tenggorokan anggota Naga Hijau tadi.
Kuda Putih Zhang San membelai tinjunya dengan perlahan, sementara kedua alisnya berkerut amatkencang.
Tuan Muda Zhu tiba-tiba menghela napas panjang dan berkata.
"Ketiga orang ini akhirnya sudah merasa lega, tapi giliran siapa berikutnya?"
Raut wajah Kuda Putih Zhang San pun berubah, dia menatap Miao Shaotian. Miao Shaotian berkata sambil menyeringai.
"Zhang San muda, kau bisa yakin bahwa orang berikutnya bukanlah aku."
Zhao Yi-dao tiba-tiba terbatuk keras dan berkata.
"Bagus. Aku ingin kau tahu bahwa, perkumpulan pisau tajam dan perkumpulan rambut merah telah terikat bagaikan saudara. Sejak saat ini, urusan Ketua Miao adalah juga urusanku."
Miao Shaotian tertawa dengan keras dan berkata.
"Bila sedang memasak terong pedas, yang pertama memilih akan mendapatkan yang terlunak. Kau paham kata pepatah ini?"
Zhang San berkata.
"Aku paham."
Miao Shaotian berkata sambil tersenyum.
"Aku khawatir, di antara kalian bertiga, orang berikutnya adalah kau. Yang lebih muda kan biasanya lebih pedas."
Wajah Kuda Putih Zhang San tampak berubah seperti bara api yang hampir padam. Dia berkata.
"Bagus. Aku tidak takut padamu."
Miao Shaotian.
"Cobalah kalau begitu."
Anting emas tergenggam di tangannya dan dia pun bersiap-sedia. Zhao Yi-dao berkata.
"Ketua Miao seharusnya merasa lebih baik karena aku akan berada di belakangmu."
Miao Shaotian berkata sambil tersenyum kejam.
"Zhang San muda, majulah."
Kuda Putih Zhang San meraung, tiba-tiba dia menyerang dengan tinjunya sebanyak tiga kali.
Tak disangka-sangka, dia ternyata telah mengeluarkan jurus tinjunya.
Miao Shaotian merasa yakin sembilan puluh persen bahwa dia sudah menggenggam kemenangan di tangannya.
Dia tentu saja tidak mau beradu pukulan dengan lawan, takut akan merusak wajahnya.
Dia mundur tiga langkah, dan tertawa.
"Walaupun kau mengadu jiwa, itu tidak ada gunanya......"
Suara tawanya tiba-tiba berubah menjadi raungan yang memilukan.
Pisau Zhao Yi-dao telah menusuk punggungnya.
Ujung pisau terbenam ke dalam tulang sehingga terdengar suara gemeretak yang keras.
Tubuh Miao Shaotian terpental ke depan, tapi tinju besi Kuda Putih Zhang San pun menghantam wajahnya dengan keras.
Terdengar suara tulang yang berpatahan.
Miao Shaotian terjatuh ke atas tembok rendah yang ada di tempat itu, tangannya yang menggenggam anting emas itu pun tertahan di atas dinding.
Akibatnya tubuhnya tidak sepenuhnya menyentuh ke lantai.
Tetapi wajahnya yang berlumuran darah tampak meringis dengan mata melotot yang mengandung perasaan terkejut, takut dan murka.
Dengan suara tak jelas dia berkata.
"Zhao Yi-dao, kau.... kau bang...., aku akan mati tapi aku tak akan mengampunimu!"
Zhao Yi-dao menggosok darah di pisaunya dengan alas sepatu. Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata.
"Tak masalah. Perkumpulan pisau tajam dan kuda putih telah terikat bagaikan saudara. Kenapa kau tidak bisa melihatnya?"
Kuda Putih Zhang San tertawa dengan keras dan berkata.
"Orang lain membentuk persekutuan dengan minum darah, kita malah minum bubuk semen."
Miao Shaotian mengertakkan giginya, kedua tangannya masuk ke dalam kantung di pinggangnya.
Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang San segera mundur tiga langkah.
Bahu membahu mereka berdiri di sana, sambil menatap tangannya.
Walaupun kondisi Miao Shaotian sekarang tidak baik, tapi Perkumpulan Rambut Merah mempunyai lima macam makhluk berbisa yang ditakuti setiap orang......
Siapa tahu ketika dia baru saja memasukkan tangannya, tubuhnya tiba-tiba melompat ke atas.
"Brak!" , dia menabrak langit-langit serambi sebelum pelan-pelan merosot jatuh dan tak mampu bergerak lagi. Tangannya terjulur dan memperlihatkan sebuah bekas gigitan ular berbisa yang masih berlumuran darah di punggung tangannya. Ternyata ular itu juga menyukai darah Miao Shaotian, persis seperti Miao Shaotian yang selalu menyukai darah ular. Tuan Muda Zhu menghela napas panjang. Dia berkata.
"Bila majikannya terluka, ular berbisa bisa melakukan tindakan yang tak terduga........ Ular adalah ular, jika orang mengira dia bisa berteman dengan ular seperti dengan manusia, maka dia pun akan bernasib buruk."
Kuda Putih Zhang San berkata dengan dingin.
"Orang ini memang tidak perlu berbicara tentang persahabatan."
Zhao Yi-dao berkata.
"Benar."
Ucapan mereka itu ditujukan pada Tuan Muda Zhu. Tuan Muda Zhu mengangkat kepalanya dan berkata.
"Walaupun Miao Shaotian telah mati, jangan lupa kalau 'Sembilan Siluman Rambut Merah' juga sukar dihadapi."
Zhao Yi-dao berkata sambil menyeringai.
"Walaupun 'Sembilan Siluman Rambut Merah' sukar untuk dihadapi, kungfu mereka masih berada di bawahnya, kau tidak usah mengkhawatirkan kami."
Tangannya menggenggam gagang pisau.
Dengan mata berkilat-kilat yang ditujukan pada Tuan MudaZhu, tiba-tiba sebuah tinju darinya menghantam rusuk Kuda Putih Zhang San; pukulan itu benarbenar keras.
Kuda Putih Zhang San tidak menyangka pukulan itu sama sekali dan terpental menabrak tembok rendah tadi.
Dia belum sempat membalikkan badan, tapi Zhao Yi-dao telah menghunus pisaunya!
Pisau kilat yang bagus.
Darah pun bercipratan, darah yang lebih segar.
Ular yang berada di punggung tangan Miao Shaotian mencium darah itu dan tiba-tiba meluncur ke arahnya.
Zhao Yi-dao mengusap kedua sisi pisau itu dengan alas sepatunya.
Lalu dia berkata sambil menyeringai.
"Seperti yang kau bilang, orang ini tidak usah bicara tentang persahabatan. Jika kau tidak ingin bicara tentang persahabatan, akulah orang pertama yang tidak mau bicara tentang persahabatan."
Tuan Muda Zhu menambahkan.
"Itu benar. Jika seseorang ingin bicara tentang persahabatan, cara ini memang yang paling baik."
Zhao Yi-dao membalikkan badannya dan berkata.
"Tapi kita memang sedang bicara tentang persahabatan."
Tuan Muda Zhu berkata.
"Tentu saja."
Zhao Yi-dao tertawa dan berkata.
"Lucu sekali, mereka tidak tahu kalau Gedung Sejuta Emas dan Perkumpulan Pisau Tajam telah tiga tahun membentuk persekutuan."
Tuan Muda Zhu berkata.
"Aku memang orang yang selalu menjaga mulutku."
Zhao Yi-dao berkata.
"Aku juga."
Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata.
"Karena itu tidak ada yang tahu tentang urusan itu."
Jeritan-jeritan memilukan dari luar sana terdengar beruntun seperti suara kokok ayam jantan di tempat kejauhan.
Raut muka Bai Yu-jing tampak pucat dan wajahnya tersenyum ironis.
Tapi dia tidak bisamenyembunyikan kesedihan di wajahnya.
Dia tentu saja tidak berduka untuk orang-orang itu.
Yang membuatnya berduka adalah tragedi kemanusiaan – ketamakan dan kekejaman manusia.
Wajah Yuan Zi-xia juga pucat.
Tiba-tiba dia menarik napas dan berkata.
"Kau akhirnya bisa menebak siapa orang yang terakhir bertahan?"
Bai Yu-jing berkata.
"Yang jelas bukan kau."
Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata.
"Kau.... kau kira aku sudah menipumu, karena itu kau berharap aku mati sedikit demi sedikit di hadapanmu."
Bai Yu-jing menutup matanya. Seringai di sudut mulutnya sudah menjadi amat memilukan. Dengan suara yang dalam, dia berkata.
"Tentu saja hal itu bukan kesalahanmu."
Yuan Zi-xia berkata.
"Memang bukan."
Bai Yu-jing juga menghela napas dan berkata.
"Orang yang terjun ke dunia Kang-ouw memang harus dapat menipu orang lain agar tetap hidup. Salahku sendiri kenapa tertipu olehmu. Aku tidak merasa dendam padamu."
Wajah Yuan Zi-xia tampak berubah. Dengan suara yang pilu dan patah semangat, dia berkata.
"Tapi aku......."
Bai Yu-jing tiba-tiba memotong ucapannya dan berkata.
"Tapi kau juga keliru."
Yuan Zi-xia berkata.
"Oh!"
Bai Yu-jing berkata.
"Jika kau kira kau bisa menggunakan peta merak di tanganmu itu untuk memaksa mereka menuruti kemauanmu, kau keliru."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kenapa?"
Bai Yu-jing berkata.
"Peta merak di tanganmu itu boleh dianggap sudah berada di tangan mereka. Bila mereka mau, mereka bisa merampasnya begitu saja."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kau kira aku tidak berani membakarnya?"
Bai Yu-jing berkata.
"Kau tidak akan berani. Karena, jika kau membakarnya, kau juga akan mati, dan mati dengan sangat cepat. Apalagi, tidak sukar memadamkan lilin di tanganmu itu dengan kungfu mereka."
Yuan Zi-xia berkata.
"Tapi tadi....."
Bai Yu-jing memotongnya lagi.
"Tadi mereka sengaja melakukannya, cuma karena mereka sedang mencari kesempatan untuk saling membunuh lebih dulu. Bila tidak ada lagi yang menghalangi, maka mereka akan merampas petamu."
Pelan-pelan dia berkata.
"Tuan Muda Zhu selalu bekerja dengan sangat hatihati. Dia telah membayar banyak untuk peta ini, karena itu dia tak akan mengambil resiko lebih jauh."
Yuan Zi-xia tiba-tiba berpaling, karena sekarang dia telah mendengar gelak tawa Tuan Muda Zhu.
Lalu dia melihat si baju hitam dan Tuan Muda Zhu.
Tuan Muda Zhu telah melipat tangannya di depan dada, berdiri di ambang pintu.
Dia tersenyum.
"Aku tidak sadar kalau Pendekar Bai telah mengetahui sifat-sifatku."
Yuan Zi-xia berseru.
"Keluar sekarang juga, kalau tidak aku......"
Dia tidak melanjutkan kata-katanya, karena lilin di tangannya tibatiba telah terpotong oleh sambaran sebilah pisau.
Tapi api lilin masih belum padam.
Pisau tersebut cuma berhasil memotong lilin hingga setengahnya saja, tapi pisau itu selalu siap sedia.
Pemegang pisau adalah Zhao Yi-dao.
Dia mengangkat pisaunya dan menatap Yuan Zi-xia dengan dingin.
Wajah Yuan Zi-xia menjadi merah.
Tiba-tiba dia menggigit bibirnya, dan berusaha melemparkan peta itu pada Tuan Muda Zhu.
Dia berteriak dengan keras.
"Ambillah!"
Zhao Yi-dao berkata.
"Terima kasih banyak."
Dia menyemburkan kata-kata ini sambil melesat.
Dengan punggung pisaunya, dia telah merenggut peta itu dari udara.
Lilin pun padam karena kibasan pisau.
Sementara itu, dia pun berhasil mendapatkan peta itu.
Gerakan tangannya benar-benar cekatan dalam situasi yang genting ini.
Yuan Zi-xia tiba-tiba berkata dengan keras.
"Kuberikan benda itu pada Tuan Muda Zhu. Kau lihat, benda itu malah dirampas seseorang!"
Wajah Zhao Yi-dao segera berubah setelah sempat terlihat amat gembira. Tuan Muda Zhu tertawa.
"Kami bersaudara. Siapa pun yang mengambil benda ini, itu sama saja."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kau tidak takut dia akan memilikinya sendiri?"
Tuan Muda Zhu berkata.
"Kami telah membicarakan tentang persahabatan kami."
Zhao Yi-dao pun tersenyum.
"Bagus. Kami memang telah membicarakan tentang persahabatan kami. Jika ada yang ingin memecah-belah, akulah yang lebih dulu akan mencabut nyawanya!"
Tuan Muda Zhu berkata.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Nona Yuan sekarang sedang sangat sakit kepalanya."
Zhao Yi-dao tertawa dengan keras.
"Akulah yang paling cekatan dalam mengobati sakit kepala."
Tuan Muda Zhu berkata pula.
"Kupikir lebih baik kau tangani Pendekar Bai dulu. Dia adalah orang yang selalu memperlihatkan perasaan yang penuh kasih sayang, dan mungkin dia tak akan tahan melihat kepala Nona Yuan dipisahkan lebih dulu."
Zhao Yi-dao berkata.
"Tidak masalah siapa yang pergi lebih dulu. Terkadang pisauku bisa mengobati dua sakit kepala sekaligus."
Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum.
"Kurasa pisaumu itu sangat menarik."
Zhao Yi-dao tertawa dengan keras.
"Dijamin memang amat menarik."
Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya. Dia menatap Bai Yu-jing dengan perasaan duka dan berkata.
"Aku telah mempersulit dirimu......"
Bai Yu-jing berkata.
"Tidak apa-apa."
Yuan Zi Xia berkata.
"Aku hanya berharap kau paham sesuatu hal."
Bai Yu-jing berkata.
"Katakanlah."
Yuan Zi-xia berkata.
"Tidak semua yang kukatakan itu dusta. Tidak perduli apa pun yang kukatakan tentang urusan lain, tapi tentang kau dan aku........"
Bab 7. Jenis Senjata Pertama Tuan Muda Zhu tertawa.
"Aku tahu kau tulus hati padanya, karena itu aku akan membantumu dengan membiarkanmu mati bersamanya. Jika ada yang ingin kau katakan, kau harus menunggu dulu sampai kau berada dalam perjalanan ke surga."
Ucapannya itu belum habis dikatakan, tubuhnya tiba-tiba mengejang.
Sudut matanya tiba-tibamengencang, seakan-akan sebuah palu besi yang tak kelihatan tiba-tiba menghantamnya dari udara.
Dan wajahnya lalu tampak berkerut-kerut, sebelum tubuhnya ambruk ke atas tanah.
Orang baju hitam tentu saja tidak ikut bersamanya, dia masih berdiri diam di sana tanpa ekspresi.
Tapi di tangannya tergenggam sebuah pisau, ujung pisau berlumuran darah......
Dia akhirnya tidak mengikuti Tuan Muda Zhu lagi.
Pemuda itu tentu tidak menyangka kalau dirinya akan berbuat seperti ini.
Fajar.
Suara kokok ayam jantan tadi terdengar bersahut-sahutan, tapi sekarang agaknya yang terdengar cuma suara napas Tuan Muda Zhu yang berat.
Dia meringkuk di atas tanah seperti seekor sapi yang kehabisan napas.
Darah mengalir tak henti-hentinya dari luka di pinggangnya.
Orang baju hitam itu menatapnya dingin dengan sorot mata yang mengejek.
Dia tentu saja bukan sedang mengejek dirinya sendiri, tapi mengejek orang lain.
Zhao Yi-dao menatapnya dengan mulut ternganga.
Jika dia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, dia tentu tidak akan percaya pada kenyataan ini.
Tiba-tiba bunyi napas yang berat itu juga berhenti.
Tubuh Tuan Muda Zhu telah menjadi bangkai, bangkai yang berlumuran darah.
Si baju hitam memandang tetesan darah di ujung pisaunya, sebelum akhirnya berkata.
"Kau tentu setuju bahwa bila aku ingin membunuh orang, sebilah pisau juga sudah cukup."
Zhao Yi-dao mundur selangkah demi selangkah dan berkata.
"Tapi dia..... dia tidak segera mati."
Si baju hitam.
"Itu karena aku tidak ingin membiarkan dia mati terlalu cepat, dan juga untuk membiarkan dia merasakan kejahatan yang telah dia lakukan pada orang lain."
Zhao Yi-dao berkata.
"Sebenarnya siapa kau?"
Si baju hitam.
"Kau tidak bisa menebak?"
Zhao Yi-dao memandang ekspresi wajahnya sebelum rasa takutnya semakin mendalam. Akhirnya dia menghela napas.
"Elang Langit... kau Wei Tian-ying."
Si baju hitam tersenyum. Sorot matanya memperlihatkan perasaan bahagia seperti ujung pisau yang runcing, tapi di wajahnya sama sekali tidak muncul ekspresi apa-apa. Zhao Yi-dao berkata.
"Sejak semula kau sudah datang, kau sudah ikut dengan kami selama ini."
Wei Tian-ying berkata.
"Bukankah sekarang kau juga merasa hal itu sangat lucu?"
Zhao Yi-dao tiba-tiba berteriak dengan keras.
"Nona Yuan, cepat bebaskan totokan Bai Yu-jing. Aku akan menahan dia."
Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata.
"Kenapa kau harus menunggu sampai sekarang baru mengijinkan aku membuka totokannya? Sekarang sudah terlambat."
Dia berpaling dan tersenyum pada Wei Tian-ying. Lalu dia berkata.
"Kakak kedua, benar kan ucapanku, bukankah sekarang sudah terlambat?"
Ketika mendengar panggilan "kakak kedua"
Itu, Zhao Yi-dao merasa seperti terjatuh dari udara ke dalam lubang es yang teramat dalam.
Kakak kedua.
Ternyata Wei Tian-ying adalah kakak keduanya.
Mereka ternyata bersekongkol.
Zhao Yi-dao hampir tidak percaya.
Kenyataan ini terlalu ganjil, terlalu aneh.
Yuan Zi-xia jelas telah mencuri "peta merak"
Perkumpulan Naga Hijau, Naga Hijau jelas bermaksud hendak membunuhnya.
Wei Tian-ying jelas merupakan orang Naga Hijau yang dikirim untuk memburu dan membunuhnya.
Bagaimana mungkin mereka bisa berada di pihak yang sama?
Siapa yang bisa menjelaskan hal ini?
Zhao Yi-dao menundukkan kepalanya.
Dia sedang memandang pisau dan peta di tangannya seperti ibu yang sekarat sedang memandang pada puteranya.
Dia menjatuhkan pisaunya, lalu menyerahkan peta itu dengan kedua tangannya pada Wei Tian-ying.
Jika peristiwa ini terjadi di lain waktu, mungkin dia bisa bertahan untuk sementara waktu.
Tapi sekarang, semua hal yang tak masuk di akal telah terjadi, sehingga tiba-tiba dia menyadari bahwa dirinya telah terjatuh ke dalam jebakan yang amat rumit, amat cerdik dan amat menakutkan.
Yang paling menakutkan adalah, sampai saat ini dia bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa terperangkap.
Hal ini menyebabkan dia benar-benar kehilangan semangat bertarungnya.
Wei Tian-ying memandang peta di tangannya.
Sorot matanya yang mengejek tampak semakin jelas, dan dia berkata dengan enteng.
"Kau tidak ingin menyimpannya?"
Zhao Yi-dao berkata.
"Kurasa tidak."
Wei Tian-ying.
"Kurasa juga tidak."
Dia menerima peta itu, dan kemudian, tanpa melihat lagi, merobekrobek peta itu dan membuangnya.
Angin berhembus, meniup terbang potongan-potongan peta itu seperti kupu-kupu yang sedang beterbangan.
Zhao Yi-dao tercengang.
Demi peta itu, ada orang yang telah mengkhianati rekan-rekannya, teman-temannya.
Demi peta itu, darah yang mengalir sudah dapat memerahkan seluruh air danau di luar sana.
Tapi sekarang Wei Tian-ying tidak melihat, dan bahkan merobekrobeknya begitu saja.
Mengapa?
Zhao Yi-dao hanya bisa meringis getir, sebelum berpaling dan memandang Yuan Zi-xia.
Dia berkata.
"Apakah peta itu palsu?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Benar, peta itu palsu."
Zhao Yi-dao berkata.
"Benarkah?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Benar, yang asli ada di Perkampungan Burung Merak."
Zhao Yi-dao berkata.
"Kau... apakah kau yang mencuri peta itu dari tangan Gongsun Jing?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Memang akulah yang mencuri peta itu."
Zhao Yi-dao berkata.
"Tapi peta itu palsu."
Yuan Zi-xia berkata.
"Aku tahu."
Zhao Yi-dao berkata.
"Kau tahu persis bahwa peta itu palsu, lalu kenapa kau harus mengambil resiko dengan mencurinya?"
Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata.
"Karena semua ini adalah jebakan."
Dia tersenyum gembira dan menawan. Lalu dia meneruskan dengan perlahan.
"Yang paling cerdik dari jebakan ini adalah kenyataan bahwa kami sudah tahu bahwa peta ini palsu. Jika kami tidak menyebut hal ini, aku khawatir kau selamanya tidak akam paham hal ini."
Zhao Yi-dao hampir saja jatuh pingsan.
Demi peta itu, mereka tidak ragu untuk pergi keluar, bergelimang darah, bahkan tidak bimbang untuk 'menggigit' satu sama lain seperti anjing liar.
Tapi peta itu ternyata cuma barang palsu yang tidak berharga sepeser pun.
Demi peta itu, sudah tak terhitung jumlah kematian tragis dalam gelimangan darah.
Orang bukan hanya tidak bisa tersenyum lagi, menangis juga tidak bisa.
Sesungguhnya dia tidak tahu 'obat apa' yang sedang berusaha 'dijual' oleh Wei Tian-ying dan Yuan Zi-xia.
Yuan Zi-xia berkata.
"Peta itu semula dibeli oleh kakak keduaku dengan menghabiskan banyak uang."
Zhao Yi-dao berkata dengan bibir yang kering.
"Tapi setelah membelinya, kalian lalu menyadari bahwa peta itu palsu."
Yuan Zi-xia berkata.
"Benar."
Zhao Yi-dao berkata.
"Kalian terpaksa harus menelan barang busuk, tapi kalian tidak berani menyiarkannya. Karena siapa pun yang menghabiskan uang Perkumpulan Naga Hijau hanya untuk membeli barang palsu, tentu tidak akan dimaafkan oleh mereka."
Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata.
"Apalagi Kakak Kedua Wei juga tidak berhasil menangkap orang itu, karena itu aku pun menawarkan sebuah gagasan kepadanya."
Zhao Yi-dao berkata.
"Gagasan seperti apa?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Aku harus melindungi Kakak Kedua dengan memberikan peta ini pada Gongsun Jing. Aku adalah atasannya, jadi bila aku menyuruhnya untuk mengurus penjualan barang milik Kakak Wei, dia tentu tak berani mencurigai Kakak Kedua Wei."
Zhao Yi-dao berkata.
"Kentang panas ini tiba di tangan Gongsun Jing, maka tangannya pun harus dijulurkan keluar."
Yuan Zi-xia berkata.
"Dia seharusnya tidak menerimanya, tapi sayangnya dia tidak punya pilihan kecuali harus menerimanya."
Zhao Yi-dao berkata.
"Tapi... kenapa kau harus mencuri kentang panas itu dari tangannya?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Karena aku tentu saja ingin kalian percaya bahwa peta ini asli."
Zhao Yi-dao berkata.
"Aku tidak paham."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kalian semua adalah orang-orang yang cerdik. Kalian tentu tidak akan mau berdagang kalau nantinya menderita kerugian."
Zhao Yi-dao berkata.
"Tentu saja tidak."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kalian juga tentu tahu tentang kebiasaan Perkumpulan Naga Hijau yang tidak akan mengganggu sahabat Kang-ouw."
Zhao Yi-dao menghela napas dan tersenyum pahit.
"Memang aku mengetahuinya."
Yuan Zi-xia berkata.
"Karena itu, sebelum kalian menawar, kalian tentu harus melihat dulu peta ini untuk mengetahui palsu tidaknya. Menurut kebiasaan Perkumpulan Naga Hijau, hal ini tidak menjadi masalah."
Dia tersenyum menawan.
"Setelah melihatnya dari sudut pandang ini, kau sudah tahu di mana letak masalahnya?"
Zhao Yi-dao berkata.
"Karena itu kau lalu mencuri peta itu, orang lain tentu saja tidak curiga lagi kalau peta itu palsu."
Inilah salah satu kelemahan manusia. Perempuan ini bukan hanya sangat memahami ilmu psikologi seperti ini, dia juga bisa memanfaatkannya dengan amat baik. Zhao Yi-dao menghela napas.
"Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Gongsun Jing segeramelarikan diri dari hukuman, kami tentu saja tidak curiga akan adanya permainan."
Yuan Zi-xia berkata.
"Karena itu kalian tentu saja segera memburu dengan tergesa-gesa."
Zhao Yi-dao berkata.
"Benar."
Yuan Zi-xia berkata.
"Tapi jika aku bisa dikejar oleh kalian dengan mudah, mungkin kalian akan mulai curiga."
Zhao Yi-dao berkata sambil tersenyum pahit.
"Benar. Tidak mendapatkan sesuatu dengan mudah memang selalu dipandang lebih berharga."
Yuan Zi-xia berkata.
"Tapi aku harus berhasil dikejar oleh kalian."
Zhao Yi-dao tidak paham dan bertanya.
"Kenapa?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Karena peta ini memegang kuncinya. Kami ingin kalian percaya bahwa peta ini asli. Kami ingin kalian melihat peta ini. Kami ingin kalian saling bunuh untuk mendapatkan peta ini, lalu....."
Zhao Yi-dao berkata.
"Lalu apa?"
Yuan Zi-xia berkata dengan enteng sambil tersenyum.
"Sesudah menunggu kematian kalian, kami bisa membawa pulang emas dan permata. Kami tidak perlu susah-payah membawanya pulang, apalagi kami tidak usah khawatir kalau ada orang yang akan mencari masalah. Karena kalian sudah saling bunuh dan kami sama sekali tidak tersangkut-paut."
Zhao Yi-dao berkata.
"Jadi kalian melakukan hal ini, karena kalian ingin kami membawa emas dan permata."
Yuan Zi-xia berkata.
"Uang menggerakkan hati manusia, pepatah ini tentu kau pun tahu."
Zhao Yi-dao berkata.
"Kau melibatkan Bai Yu-jing, karena kau juga menginginkan sesuatu pada orangnya."
Yuan Zi-xia berkata.
"Dia membawa pedang bersamanya."
Tiba-tiba dia menghela napas dan berkata.
"Tapi aku amat berterima-kasih padanya. Jika bukan diayang melindungiku, mungkin rencana ini tidak akan berhasil."
Zhao Yi-dao berkata.
"Kenapa?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Karena jika kami ingin rencana ini berakhir dengan sukses, Gongsun Jing tentu harus mati dulu, kalau tidak Fang Long Xiang juga tidak akan mau terlibat."
Zhao Yi-dao berkata.
"Mengapa?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Karena jika mereka tidak mati, peta ini tentu tidak akan jatuh ke tangan orang-orang yang ingin mendapatkannya."
Zhao Yi-dao merenungkannya sejenak sebelum kemudian berkata sambil tersenyum pahit.
"Benar. Karena kami yakin bisa memperoleh peta itu, barulah kemudian kami mau membunuh Miao Shaotian dan Kuda Putih Zhang San."
Yuan Zi-xia juga menghela napas dan berkata.
"Tapi jika bukan karena Pedang Abadi milik Bai Yu-jing, bagaimana mungkin Gongsun Jing dan Fang Long Xiang bisa mati begitu mudah?"
Zhao Yi-dao berkata.
"Jadi Gongsun Jing juga meraba-raba dalam gelap seperti kami?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Tentu saja."
Zhao Yi-dao berkata.
"Apakah dia tidak mengenalimu? Apakah dia tidak tahu bahwa kau juga anggota Perkumpulan Naga Hijau?"
Yuan Zi-xia berkata dengan enteng.
"Dia hanya seorang pemimpin aula yang kecil, bila dia bertemu dengan seorang anggota Perkumpulan Naga Hijau lainnya, sembilan puluh persen dia mungkin tidak akan mengenalinya."
Zhao Yi-dao berkata.
"Bagaimana kau memperdayainya?"
Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata.
"Jika aku menginginkan nyawanya, itu amat mudah, apalagi jika aku cuma ingin memperdayainya."
Zhao Yi-dao memandang wajahnya yang gembira dan tersenyum menawan itu. Akhirnya dia tak tahan untuk menghembuskan napas panjang dan berkata.
"Jika aku adalah dia, aku khawatir aku pun juga akan tertipu."
Yuan Zi-xia berkata dengan mempesona.
"Aku khawatir kau pun akan tertipu, malah bisa tertipu lebih hebat lagi."
Zhao Yi-dao berkata.
"Tapi Fang Long Xiang juga anggota Perkumpulan Naga Hijau, kenapa kau harus membunuhnya?" ..................... .................... .................... .................... Zhao Yi-dao berkata dengan heran.
"Sekarang bukan waktu yang tepat?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Tentu saja bukan."
Dia tersenyum manis.
"Sekarang setiap sen uang yang ada di sini akan menjadi milik aku dan Kakak Kedua Wei."
Zhao Yi-dao terperangah sejenak. Lalu dia tersenyum pahit.
"Aku juga orang yang bijak. Aku sudah melihat banyak orang-orang yang keji dan kejam, dan mendengar banyak tipuan yang cerdik dan licik. Tapi dibandingkan denganmu, orang-orang itu cuma anak kecil yang masih menyusu."
Yuan Zi-xia berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih atas pujianmu, aku tentu saja tidak akan pernah melupakannya."
Wei Tian-ying tiba-tiba berkata sambil tersenyum.
"Kau telah menanyakan semuanya?"
Zhao Yi-dao berkata.
"Ya."
Wei Tian-ying berkata.
"Sekarang, bukankah kepalamu sudah sangat sakit?"
Zhao Yi-dao berkata.
"Memang amat sakit."
Wei Tian-ying berkata.
"Kau bisa mengobati sendiri sakit kepalamu?"
Zhao Yi-dao menghela napas dan berkata.
"Untunglah aku juga bisa mengobatinya, kalau tidak aku khawatirnya rasanya akan benarbenar sakit."
Dia benar-benar telah menyembuhkan sakit kepalanya sendiri.
-Jika kepala seseorang sudah dibacok putus, bukankah tidak timbul sakit kepala lagi?
Selama itu Bai Yu-jing terus-menerus mengawasi.
Sambil mendengarkan pembicaraan itu, wajahnyaseperti serupa dengan wajah Wei Tian-ying, seolah-olah memakai topeng.
"Mudah berbaur"
Juga merupakan bagian dari "ilmu tahan derita".
Tapi Tuan Muda Zhu tidak pernah mengenalinya, tentu bukan karena "ilmu tahan derita"-nya yang teramat bagus.
Hal itu terjadi karena Tuan Muda Zhu tidak pernah benar-benar perduli akan peran orang ini yang cuma seorang pengawal yang patuh.
Di mata Tuan Muda Zhu, dia tidak lebih dari seekor anjing, sangat tidak penting.
Jika dia mau perduli pada orang lain, mungkin dia tidak akan mati begitu menyedihkan.
Wei Tian-ying memandang pisau di tangannya, sebelum kemudian dia berkata dengan dingin.
"Zhao Yi-dao orang yang cerdik, dia bertindak begitu cepat sehingga kepalanya tidak sakit sama sekali."
Yuan Zi-xia berkata.
"Bila orang yang cerdik bertindak, dia tidak akan membuat kesulitan bagi orang lain."
Wei Tian-ying berkata.
"Bai Yu-jing?"
Yuan Zi-xia mengedip-ngedipkan matanya sebentar dan berkata.
"Agaknya kecerdikannya berada di bawah Zhao Yi-dao."
Wei Tian-ying berkata.
"Karena itu dia akan memberi masalah bagimu."
Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya dan menyerahkan pisau itu pada Yuan Zi-xia. Yuan Zi-xia berkata.
"Kau tahu, aku tidak suka memegang pisau."
Wei Tian-ying berkata.
"Bila kau membunuh orang, kau tidak menggunakan pisau?"
Yuan Zi-xia berkata dengan gaya memikat.
"Lagipula aku juga tidak suka melihat darah."
Wei Tian-ying berkata.
"Apa kau bisa membuat pengecualian kali ini?"
Yuan Zi-xia menghela nafas dan berkata.
"Kau ingin aku melakukan urusan ini, bagaimana aku bisa menolak?"
Dia menerima pisau itu dan berputar untuk memandang pada Bai Yu-jing. Dia lalu berkata sambil bergurau.
"Aku benar-benar tidak tega membunuhmu, tapi jika aku tidak membunuhmu, Kakak Kedua Wei akan marah, karena itu aku harus meminta maaf padamu."
Bai Yu-jing berkata.
"Kau tidak perlu begitu bersopan santun."
Yuan Zi-xia berkata.
"Aku jarang menggunakan pisau. Jika pisau ini tidak bisa membunuhmu, mungkin rasanya akan sakit."
Bai Yu-jing berkata.
"Tidak apa-apa."
Yuan Zi-xia berkata.
"Baguslah kalau begitu."
Tiba-tiba dia membalikkan badan dan pisau itu pun ditusukkan pada Wei Tian-ying.
Pisau kilat yang amat bagus.
Selain dirinya, tentu tidak ada lagi orang yang bisa mengatakan bahwa dia tidak bisa menggunakan pisau.
Mata Wei Tian-ying memperlihatkan ekspresi mengejek.
Ketika pisau itu ditusukkan, kedua tangannya pun bergerak dan mencengkeram ujung pisau yang tajam.
Wajah Yuan Zi-xia akhirnya berubah, benar-benar berubah.
Wei Tian-ying berkata sambil menyeringai.
"Kau tahu kenapa aku mau memberikan pisau ini kepadamu?"
Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya. Wei Tian-ying berkata.
"Aku ingin kau mencoba membunuhku."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kenapa?"
Wei Tian-ying berkata.
"Karena aku sepertimu, aku juga ingin memiliki sendiri harta itu."
Yuan Zi-xia menarik napas dan berkata.
"Kau ingin aku mencoba membunuhmu dulu, agar kau bisa membunuhku?"
Wei Tian-ying berkata.
"Benar, kalau tidak aku tak akan tega melakukannya."
Yuan Zi-xia menghela napas.
"Agaknya aku sudah membuat sebuah kesalahan."
Wei Tian-ying berkata.
"Setiap orang tak terhindar dari berbuat salah."
Yuan Zi-xia berkata.
"Tapi kau juga keliru."
Wei Tian-ying berkata.
"Oh?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Aku harus membunuhmu bukan karena menginginkan harta itu untuk diriku sendiri."
Wei Tian-ying berkata sambil menyeringai.
"Apakah untuk menyelamatkan dia?"
Yuan Zi-xia berkata sambil tersenyum sedih.
"Lihatlah aku. Jika aku tidak tergugah oleh perasaan yang murni, bagaimana aku bisa membuat sebuah kesalahan?"
Wei Tian-ying berkata dengan dingin.
"Sayangnya dia tidak bisa menyelamatkanmu."
Tiba-tiba Bai Yu-jing juga menghela napas.
"Kau keliru."
Ketika kata-kata itu diucapkan, Yuan Zi-xia sudah mencelat mundur sejauh tujuh kaki, ujung ibu jari kakinya telah menjepit dan melemparkan Pedang Abadi.
Bai Yu-jing melompat dan menangkap pedang itu.
Baru saja habis kata-katanya, dia telah melancarkan tiga kali serangan pedang, sinar pedang seperti hujan bintang di luar angkasa.
Pisau Wei Tian-ying mungkin bisa menghalau tiga serangan pedang itu.
Cuma sayang, dia sedang menggenggam ujung pisau.
Jika tangannya kosong, mungkin dia juga bisa menangkisnya.
Sayangnya tangannya sedang mencengkeram ujung pisaunya sendiri.
Dia mundur sambil membalikkan ujung pisau dengan tangannya.
Perubahan ini amat cepat.
Sayangnya Pedang Abadi Bai Yu-jing lebih cepat lagi.
Merah dan putih berbaur bersama kilatan pedang.
Tangan berlumuran darah yang mencengkeram pisau itu pun jatuh secara bersamaan.
Tak ada yang tahu kapan, tapi matahari telah naik tinggi, sinarnya menyorot masuk lewat jendela.
Di jendela tadinya ada gambar bunga plum yang sedang mekar, yang sekarang berubah menjadi gambar sekuntum bunga plum dengan hiasan darah.
Bai Yu-jing berdiri dengan tenang menghadap jendela.
Setelah sekian lama, pelan-pelan dia berkata.
"Kau tahu jalan darahku sudah terbuka totokannya, karena itu kau tidak mencoba membunuhku."
Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya dan tidak bicara. Bai Yu-jing berkata.
"Apakah kau tahu?"
Yuan Zi-xia tidak bicara. Bai Yu-jing tiba-tiba berpaling kepadanya.
"Sebenarnya kenapa kau berada di sini?"
Yuan Zi-xia tiba-tiba tersenyum dengan wajah yang gembira. Dia berkata dengan sikap menawan.
"Bisakah kau tebak?"
Dia tersenyum sungguh manis. Bai Yu-jing menarik napas dan berkata.
"Aku khawatir aku tidak akan dapat menebak untuk selamanya."
Yuan Zi-xia membelalakkan matanya. Tiba-tiba dia menggaruk kepalanya dengan jari-jarinya dan berkata.
"Suatu hari kau tentu akan tahu."
Bai Yu-jing terdiam sekian lama sebelum tiba-tiba dia berkata.
"Bagus, sekarang kita pergi."
Yuan Zi-xia berkata.
"Pergi ke mana?"
Bai Yu-jing berkata.
"Tentu saja ke Perkumpulan Naga Hijau."
Yuan Zi-xia mengerutkan keningnya.
"Kenapa harus pergi ke sana?"
Wajah Bai Yu-jing menjadi masam, dia pun berkata.
"Kau benarbenar tidak tahu siapa aku?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Siapa kau?"
Bai Yu-jing berkata dengan dingin.
"Aku termasuk 12 dewa Perkumpulan Naga Hijau, tetua Bendera Merah (Hong-qi-lao). Orang berkedudukan rendah sepertimu tentu saja tidak mengenalku."
Mimik wajah Yuan Zi-xia mendadak berubah, berubah secara drastis. Bai Yu-jing berkata dengan tenang.
"Kau kira urusan ini bisa kalian tutupi sehingga dewa-dewa pun tidak tahu. Tapi putera sulung Naga Hijau sebenarnya sudah tahu, karena itu dia mengutusku untuk menyelidiki hal ini secara diam-diam."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kau.... kau benar-benar hendak mengirimku pulang?"
Bai Yu-jing berkata.
"Tentu saja."
Yuan Zi-xia berkata.
"Kau tega?"
Bai Yu-jing berkata sambil menyeringai.
"Menghadapi orang berhati kejam, aku tidak pernah bersikap sopan."
Yuan Zi-xia menatapnya, sebelum tiba-tiba dia tertawa hingga terbungkuk-bungkuk dan air mata mengalir di pipinya.
Bai Yu-jing menjadi terpana.
Dia memandang gadis itu dengan bingung dan tak tahan untuk tidak bertanya.
"Kenapa kau tertawa?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Aku sedang menertawaimu."
Bai Yu-jing berkata.
"Menertawaiku? Memangnya aku begitu lucu?"
Yuan Zi-xia menghentikan tawanya dengan susah-payah dan berkata.
"Kau bisa bersandiwara dengan baik, tapi, jika kau adalah tetua Bendera Merah, lalu aku siapa?"
Bai Yu-jing terperanjat. Yuan Zi-xia berkata.
"Sejujurnya kuberitahukan padamu bahwa aku adalah salah satu dari 12 dewa Naga Hijau, tetua Bendera Merah."
Bai Yu-jing berkata.
"Kau.... kau?"
Yuan Zi-xia berkata sambil tersenyum.
"Wei Tian-ying kecanduan berjudi dan sudah kalah 302.000 tael. Dia sengaja berkata bahwa dia telah membeli peta merak yang palsu; Gongsun Jing bernafsu besar, dia telah merayu banyak perempuan dari keluarga terhormat; Fang Long Xiang tamak akan uang, dia menggelapkan 162.000 buah aset. Urusan ini sudah diketahui oleh tetua Naga Hijau, karena itu dia memanggilku khusus untuk membersihkan perkumpulan."
Bai Yu-jing berkata.
"Kau sendirian?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Aku biasa bekerja seorang diri."
Bai Yu-jing berkata.
"Kau ingin membersihkan perkumpulan?"
Yuan Zi-xia berkata.
"Seorang saja sudah cukup."
Bai Yu-jing berkata.
"Tapi kungfumu......"
Yuan Zi-xia berkata dengan enteng.
"Asal seseorang paham cara menggunakan kelebihannya, diatidak perlu menggunakan kungfu untuk menyerang orang."
Bai Yu-jing berkata.
"Apa kelebihanmu?"
Yuan Zi-xia hanya tersenyum, tapi tidak bicara. Dia tersenyum sungguh manis, sungguh cantik. Amat cantik.......
"Kau telah menipuku berulang kali, semula aku ingin menipumu juga lalu membiarkan kau tahu sedikit demi sedikit. Aku tidak menyangka kalau kau bisa mengetahuinya,"
Kata Bai Yu-jing.
"Kapan aku menipumu?"
"Memangnya kau tidak menipuku?"
"Jika aku telah menipumu, kenapa aku mau pergi denganmu, meninggalkan kedudukan tetua Bendera Merah dan segalanya?"
"Mungkin kau memang bukan tetua Bendera Merah yang sebenarnya."
"Hm....."
"Bukankah begitu?"
"Kenapa tidak kau tebak saja?"
Bai Yu-jing tahu dia tak akan dapat menebak dengan benar untuk selamanya, tapi hal ini tidak penting.
Yang lebih penting, si dia sekarang berdiri di sisinya.
Lagipula dia tak akan pernah bisa meninggalkannya lagi.
Ini sudah cukup.
Inilah cerita pertama, cerita tentang senjata jenis pertama.
Pelajaran yang bisa kita dapatkan dari cerita ini adalah, tak perduli betapa tajamnya pedang, tetap tidak bisa dibandingkan dengan senyum menawan.
Karena itu, menurutku, senjata jenis pertama bukanlah sebilah pedang, tapi senyuman.
Hanya senyuman yang bisa menaklukkan hati manusia.
Karena itu, bila kau memahami kebenaran ini, seharusnya kau melepaskan pedangmu dan banyak-banyaklah tersenyum!
TAMAT Dilanjutkan dengan buku 2, Kait Perpisahan.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 11
Baca Juga: Pendekar Binal 4