Ceritasilat Novel Online

Pedang Abadi 2

Eps 2 Pedang Abadi - Khu Lung

Baca online Pedang Abadi - Khu Lung

Cersil Pedang Abadi - Khu Lung.

Jelas dia tadi mendengar suara jeritan yang memilukan itu, keluar dengan tergesa-gesa, dan sekarang sedang berlipat tangan, berdiri di bawah lampu.

Si baju hitam membayanginya dalam jarak dekat.

Fang Long Xiang memandangnya dan berkata.

"Sejak kapan Gedung Sejuta Emas dan Perkumpulan Rambut Merah bermusuhan?"

Tuan Muda Zhu berkata.

"Bermusuhan? Siapa bilang Gedung Sejuta Emas mempunyai sengketa dengan monster-monster rambut merah itu?"

Fang Long Xiang berkata.

"Bagaimana gentong ikan mas tadi bisa pecah?"

Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata.

"Mungkin mereka bersengketa mengenai ikan mas itu.... Mengapa kau tidak bertanya padanya saja?"

Fang Long Xiang berkata.

"Kau ingin aku bertanya padanya?"

Tuan Muda Zhu berkata.

"Hal itu terserah padamu."

Fang Long Xiang menyeringai, tiba-tiba tubuhnya melesat pergi.

Pintu kamar ketiga biasanya selalu tertutup, tapi sekarang terlihat sinar lampu keluar darinya.

Fang Long Xiang tidak mengetuk pintu, pintu memang terbuka.

Seseorang berdiri di ambang pintu, di telinganya terpasang dua buah anting-anting emas berbentuk mata rantai yang berbunyi "tingtang", matanya tampak berapi-api.

Fang Long Xiang memandang anting-anting emas di telinganya.

"Ketua Miao?"

Miao Shaotian berkata dengan wajah tenang.

"Tuan Fang benarbenar memiliki mata yang tajam."

Fang Long Xiang berkata.

"Tadi....."

Miao Shaotian.

"Tadi aku sedang makan. Bila sedang makan, aku tidak pernah membunuh orang."

Di atas meja memang ada baki berwarna kuning keemasan, di atas baki terdapat seekor ular yang kulitnya sudah separuh terkelupas.

Di sudut mulut Miao Shaotian terdapat darah.

Perut Fang Long Xiang tiba-tiba terasa memberontak, agaknya orang ini sedang memakan seekor ular berbisa.

Miao Shaotian melirik Tuan Muda Zhu di halaman sana.

Dengan dingin dia berkata.

"Jangan lupa, siapa saja yang punya rantai emas, dia bisa melemparkan mata rantai emas itu. Asal orang itu punya tangan, dia bisa menggunakan mata rantai emas itu untuk membunuh orang."

Fang Long Xiang mengangguk, dia tidak bisa membuka mulutnya karena khawatir kalau dia akan muntah.

Di kamar sebelah, suara isak tangis yang amat memilukan sayupsayup masih terdengar.

Miao Shaotian membanting pintunya hingga tertutup.

Dia meneruskan makannya lagi.

Tiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau pun telah menarik diri.

Yuan Zi-xia memegang tangan Bai Yu-jing erat-erat.

Dia takut kalau pemuda itu menyelinap pergi dengan tiba-tiba.

Mayat biksu tadi telah menjadi kaku.

Fang Long Xiang mengerutkan keningnya dan berkata.

"Siapa yang membunuhnya? Mengapa dia dibunuh?"

Bai Yu-jing berkata.

"Karena dia biksu palsu."

Fang Long Xiang berkata.

"Biksu palsu? ...... Mengapa ada orang yang membunuh biksu palsu?"

Tidak seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan ini. Fang Long Xiang menghela napas, lalu berkata sambil tersenyum pahit.

"Jika tidak keliru, di luar jugatentu ada mayat seorang biksu palsu lagi."

Bai Yu-jing berkata.

"Mayat biksu palsu lagi?"

Yuan Zi-xia berpegangan pada tangan Bai Yu-jing, dan berjalan masuk ke dalam paviliun mungil itu. Tangannya terasa dingin seperti es. Bai Yu-jing berkata.

"Kau kedinginan?"

Yuan Zi-xia berkata.

"Aku bukan kedinginan, tapi ketakutan. Mengapa begitu banyak orang menyeramkan yang datang ke mari?"

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata.

"Mungkin mereka semua datang untukmu."

Wajah Yuan Zi-xia makin pucat pasi dan ia berkata.

"Untukku?"

Bai Yu-jing berkata.

"Semakin menakutkan seseorang itu, semakin menarik pula wanita yang dia sukai."

Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata.

"Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga orang yang amat menakutkan?"

Bai Yu-jing berkata.

"Aku....."

Tiba-tiba ia melihat pintu kamar Yuan Zi-xia telah terbuka.

Ia ingat, ketika mereka turun tadi, mereka telah menutup pintu dan membiarkan lampu kamar tetap menyala.

Yuan Zi-xia membawa enam atau tujuh buah kotak.

Ada perempuan yang tidak mau membiarkan laki-laki melihat barang-barang miliknya berserakan di mana-mana.

Yuan Zi-xia merasa malu, sekaligus gelisah, dia pun berseru.

"Ada... ada pencuri."

Tangan Bai Yu-jing mendorong pintu kamar itu hingga terbuka.

Sebenarnya kamarnya masih lebih berantakan daripada kamar ini.

Tapi Yuan Zi-xia tidak membiarkan dia melihat-lihat lagi, dan telah menariknya keluar.

Dia tak mau membiarkan barang-barang miliknya dilihat oleh orang laki-laki, wajahnya sudah memerah hingga ke telinga.

Bai Yu-jing berkata.

"Barang apa yang tidak boleh kulihat?"

Wajah Yuan Zi-xia makin memerah, ia pun berkata.

"Aku.... tidak... tidak ada barang berharga milikku yang dicuri orang."

Bai Yu-jing menyeringai dan berkata.

"Mungkin memang tidak ada pencurinya."

Yuan Zi-xia berkata.

"Mengapa pencuri itu tidak datang ke kamar yang lain dan mengacak-acak di sana?"

Bai Yu-jing berkata.

"Agaknya mereka memang sedang mencariku."

Yuan Zi-xia berkata.

"Mencarimu? Siapa? Mengapa mereka mencarimu?"

Bai Yu-jing tidak menjawab, dia melangkah dan membuka daun jendela sebelah belakang.

Di lorong sempit berkabut itu tidak terlihat siapa-siapa.

Pengemis yang meminta makanan, pedagang kaki lima, si bungkuk bertopi sobek, semuanya entah ke mana.

Bai Yu-jing berkata.

"Aku akan pergi untuk melihat-lihat keadaan."

Dia baru saja membalikkan badan, tapi Yuan Zi-xia segera memburu dan memegang tangannya. Diaberkata.

"Kau... jangan pergi, aku... aku... aku bisa mati ketakutan jika tidak ada orang lain yang berada di kamar ini."

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata.

"Tapi aku....."

Yuan Zi-xia berkata.

"Kumohon, kumohon padamu, sekarang aku benar-benar sangat ketakutan."

Wajahnya pucat seperti kertas, dadanya yang montok tampak kembang-kempis. Bai Yu-jing memandangnya, sorot matanya melembut dan ia pun berkata.

"Kau benar-benar ketakutan sekarang ini?"

Yuan Zi-xia berkata.

"Mmm."

Bai Yu-jing berkata.

"Kalau tadi?"

Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya dan berkata.

"Tadi... tadi aku berdusta padamu."

Bai Yu-jing berkata.

"Mengapa harus berdusta?"

Yuan Zi-xia berkata.

"Karena aku...."

Wajahnya yang pucat juga sudah memerah, tiba-tiba ia memukuli dada Bai Yu-jing dan berkata.

"Kenapa kau harus memaksa orang lain untuk mengatakannya? Kau memang bukan orang baik-baik."

Bai Yu-jing berkata.

"Karena aku bukan orang baik-baik, kau juga berani membiarkan aku tinggal di kamarmu ini?"

Wajah Yuan Zi-xia semakin memerah, ia pun berkata.

"Aku akan menyerahkan tempat tidur ini untukmu. Aku akan beristirahat di lantai."

Bai Yu-jing berkata.

"Apakah aku tega membiarkanmu tidur di lantai?"

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata.

"Tidak apa-apa, asal kau mau tinggal di sini, tidak usah perdulikan hal lainnya lagi."

Bai Yu-jing berkata.

"Naik ke ranjang!"

Yuan Zi-xia berkata.

"Tidak...."

Yuan Zi-xia berbaring di atas ranjang.

Bai Yu-jing juga berbaring di atas ranjang.

Mereka sudah melepaskan sepatu mereka sebelum berbaring di atas tempat tidur itu.

Tanpa sepatu, tapi pakaian masih dikenakan lengkap.

Setelah sekian lama, barulah Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata.

"Aku tidak mengira kalau kau orang seperti ini."

Bai Yu-jing berkata.

"Aku juga tidak."

Yuan Zi-xia berkata.

"Kau... kau tidak khawatir kalau ada orang yang masuk?"

Bai Yu-jing berkata.

"Sama sekali tidak."

Yuan Zi-xia berkata.

"Sama sekali tidak?"

Bai Yu-jing berkata.

"Walaupun aku bukan seorang laki-laki sejati, aku juga bukan seorang bajingan yang akan mengambil keuntungan dari keadaan seseorang yang sedang tidak menentu."

Ia mengulurkan tangannya dan membelai tangan si nona dengan lembut. Lalu ia berkata dengan suara yang lemah-lembut.

"Mungkin karena aku menyukaimu, karena itu aku tidak mau menakut-nakutimu, apalagi dalam situasi yang kuciptakan sendiri."

Yuan Zi-xia membelalakkan matanya dan berkata.

"Kau sengaja memanggil orang-orang ini untuk menakut-nakutiku?"

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum getir.

"Mungkin, tapi sebenarnya mereka sedang mencariku."

Yuan Zi-xia berkata.

"Mengapa mereka mencarimu?"

Bai Yu-jing berkata.

"Karena ada sebuah benda yang sangat mereka inginkan berada di tubuhku."

Yuan Zi-xia berkata dengan mata berkedip-kedip.

"Apakah kau kira aku menginginkan benda itu, dan karena itu aku pun mencarimu?"

Bai Yu-jing berkata.

"Aku tidak pernah punya pikiran seperti itu."

Yuan Zi-xia berkata.

"Jika aku memintanya darimu?"

Bai Yu-jing berkata.

"Maka aku akan memberikannya."

Yuan Zi-xia berkata.

"Memberikan benda itu kepadaku?"

Bai Yu-jing berkata.

"Mmm."

Yuan Zi-xia berkata.

"Benda itu begitu berharga, mengapa kau begitu mudah memberikannyapadaku?"

Bai Yu-jing berkata.

"Benda apa pun, asal kau membuka mulutmu, akan kuberikan padamu dengan segera."

Yuan Zi-xia berkata.

"Benarkah?"

Bai Yu-jing berkata.

"Sekarang juga kuberikan padamu."

Dia benar-benar memasukkan tangannya ke dalam bajunya. Yuan Zi-xia tiba-tiba memeluknya erat-erat. Seluruh tubuhnya seperti dipenuhi perasaan yang hangatdan ia berkata dengan lembut.

"Aku tidak ingin apa-apa, asal kau mau menemaniku...."

Suaranyabercampur dengan isak tangis, air mata tiba-tiba telah mengalir turun. Bai Yu-jing berkata.

"Kau menangis?"

Yuan Zi-xia mengangguk dan berkata.

"Karena aku terlalu bahagia."

Ia menghapus air mata di wajahnya yang jatuh ke wajah Bai Yu-jing. Lalu ia berkata.

"Lebih dulu ada yang hendak kukatakan padamu."

Bai Yu-jing berkata.

"Katakanlah, aku akan mendengarkan."

Yuan Zi-xia berkata.

"Aku diam-diam minggat dari rumah, karena ibuku memaksaku untuk menikah dengan seorang laki-laki tua yang kaya."

Ini cerita yang amat biasa, yang juga merupakan cerita yang amat kasar.

Tapi dalam cerita semacam ini, entah berapa banyak air mata yang tumpah.

Asal ada ibu yang serakah akan uang, dan ada laki-laki tua bernafsu besar di dunia ini, cerita seperti ini selamanyaakan terus terjadi.

Yuan Zi-xia berkata.

"Ketika aku minggat, aku hanya membawa sebuah perhiasan kecil bersamaku. Sekarang semuanya sudah terjual."

Bai Yu-jing mendengarkan. Yuan Zi-xia berkata.

"Aku belum pernah bekerja mencari nafkah, karena itu... karena itu aku ingin mencari seorang pria."

Perempuan memang tidak bisa hidup sendirian, biasanya mereka akan mencari seorang pria dambaan. Urusan seperti ini juga tidak akan pernah berubah. Yuan Zi-xia berkata pula.

"Saat itulah aku menemukanmu, tentu saja bukan karena aku menyukaimu, tapi cuma karena aku merasa kau amat meyakinkan, kau tentu bisa memberiku nafkah."

Bai Yu-jing hanya tersenyum dipaksa. Yuan Zi-xia menghela napas dengan lembut dan berkata.

"Tapi sekarang, segalanya terasa berbeda."

Bai Yu-jing berkata.

"Apa perbedaannya?"

Suaranya seperti menyimpan rasa sakit. Yuan Zi-xia berkata dengan suara yang lembut.

"Sekarang aku tahu bahwa aku tidak akan bisamenemukan laki-laki yang lebih baik darimu. Aku bisa menemukanmu, itulah nasib baikku, aku... aku benar-benar bahagia."

Air matanya mengalir turun membasahi pipinya, ia memeluk Bai Yu-jing erat-erat. Lalu ia berkata.

"Asal kau mau, aku akan memberikan segalanya kepadamu, aku tidak akan meninggalkanmu seumur hidupku....."

Bai Yu-jing tak tahan lagi dan balas memeluknya erat-erat, lalu katanya dengan suara yang lembut.

"Apakah aku menginginkan dirimu? Bagaimana mungkin aku tidak menginginkanmu?"

Yuan Zi-xia tersenyum sambil menangis dan berkata.

"Kau mau membawaku pergi?"

Bai Yu-jing berkata.

"Sejak saat ini, tak perduli apa pun yang aku lakukan, aku tentu akan membawamu."

Yuan Zi-xia berkata.

"Benarkah?"

Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing membuka mulutnya dan menutup mulut laki-laki itu dengan mulutnya sendiri. Dia lalu berkata.

"Aku tahu kau mungkin mulai jengkel, tapi aku hanya memintamu untuk tidak pergi dengan orang-orang itu. Kita tidak usah memperdulikan mereka dan pergi saja diam-diam dari tempat ini."

Bai Yu-jing mengecup air mata yang membasahi wajahnya dan berkata.

"Aku berjanji, aku akan berusaha sekuatnya untuk tidak pergi bersama mereka."

Yuan Zi-xia berkata.

"Sekarang juga kita pergi?"

Bai Yu-jing menghela napas.

"Sekarang aku hanya khawatir kalau mereka yang tidak akan membiarkan kita pergi. Tapi jika kita menunggu sampai besok pagi, aku tentu akan punya cara untuk membawamu pergi, maka nantinya tidak ada lagi orang yang akan bisa mengganggu kita."

Yuan Zi-xia tersenyum, sorot matanya memancarkan kegembiraan dan juga harapan akan kebahagiaan di masa depan.

Akhirnya dia memperoleh apa yang dia inginkan.

Seorang wanita cantik dengan sifatnya yang baik, mengapa hal ini tidak lebih sering terjadi sehingga mereka bisa memperoleh apa yang mereka dambakan?

Bab 3.

Malam Yang Tiada Akhir Ketika bintang-bintang mulai naik, tak lama kemudian mereka pun akan menghilang.

Bumi sunyi senyap, bahkan dalam ketenangan itu bunyi riak air di danau sana pun bisa terdengar.

Lentera di pintu depan berayun-ayun lembut ditiup angin, sementara sinarnya berkerlap-kerlip dalam hembusan angin.

Yuan Zi-xia meringkuk dalam pelukan Bai Yu-jing.

Perlahan-lahan dia sudah tertidur lelap.

Dia benar-benar kelelahan, lelah seperti seekor merpati yang tersesat, yang akhirnya menemukan tempat bertengger yang aman.

Mungkin semula dia tidak mengantuk, tapi daya pandangnya pelan-pelan lenyap, kegelapan yang lembut dan hangat akhirnya merengkuh dirinya.

Bai Yu-jing memandangnya, menatap hidungnya yang mancung dan bulu matanya yang panjang.

Tangannya lalu mengelus pinggangnya dengan lembut.

Lalu tangannya tiba-tiba berhenti di atas perutnya.

Dia tidak bergerak, dibiarkannya gadis itu tertidur lelap sampai pagi menjelang.

Setelah itu diam-diam dia turun dari tempat tidur, memakai sepatu kulitnya dan diam-diam melangkah pergi.

Kenapa dia tega meninggalkan gadis itu di kamar, apakah dia tidak khawatir orang-orang itu melukainya?

Tapi dia memang tidak merasa khawatir.

Karena dia telah memutuskan bahwa dialah yang harus lebih dulu mencari orang-orang ini, dia memutuskan untuk menyelesaikan urusan ini sebelum pagi tiba.

Setelah itu dia akan membawanya pergi.

Dia telah berjanji padanya.

Dia bukan seekor merpati, tapi seekor elang.

Tapi dia juga sudah terlalu letih untuk terus terbang, dan dia juga menginginkan tempat yang aman untuk bertengger.

Sinar lampu tampak suram.

Bunga fuji di halaman sudah berwarnawarni, tapi pucuk bunganya jugasudah merunduk dalam hembusan angin.

Bai Yu-jing memakai sepatu kulitnya, sepatu kulit tua yang nyaman.

Hatinya terasa damai, karena dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang paling sulit.

Hidupnya setelah ini tentu akan berubah.

Anehnya, bila seseorang membuat perubahan yang amat penting dalam hidupnya, biasanyaperubahan itu hanya diputuskan dalam sekejap mata.

Hal ini terjadi karena emosi yang teramat tebal, karena itu keputusan pun datang begitu cepat!

Cinta sering timbul secara tiba-tiba, tapi hanya dengan persahabatan cinta itu akan berkembang dan bertambah dalam.

Fang Long Xiang berada di paviliun mungil.

Bai Yu-jing baru saja melewati pintu yang sengaja dibuka oleh Fang Long Xiang.

Dia berdiri menatapnya dari ambang pintu.

Jelas dia juga tidak bisa beristirahat dengan baik.

Bai Yu-jing berkata.

"Apa ada seorang perempuan di kamarmu?"

Fang Long Xiang berkata.

"Hari ini bukan hari baik. Karena itu, walaupun di tempat ini biasanya selalu ada perempuan, tiba-tiba tempat ini kekurangan perempuan yang baik-baik."

Bai Yu-jing berkata.

"Mengapa kau tidak mencari isteri saja, sehingga tidak akan mengalami nasib sial seperti hari ini?"

Fang Long Xiang berkata.

"Aku tidak gila."

Bai Yu-jing berkata.

"Memang aku yang gila."

Fang Long Xiang berkata.

"Setiap laki-laki tentu sekali-sekali akan bertindak gila. Asal kau bisa segera sadar, itulah yang terbaik."

Bai Yu-jing tersenyum, dia hanya tersenyum. Dia tahu keadaannya sekarang yang sedang peka. Bukan cuma Xiao Fang yang bisa memahaminya. Fang Long Xiang juga tersenyum dan berkata.

"Tapi aku tidak mengira kalau malam ini kau masih membutuhkan seorang teman, tak disangka-sangka kau masih mencariku ke sini."

Bai Yu-jing berkata.

"Aku bukan sedang mencarimu, aku ingin kau mencari seseorang."

Fang Long Xiang berkata.

"Siapa?"

Bai Yu-jing berkata.

"Kau tahu ke mana si bungkuk bertopi sobek dan pedagang kaki lima itu pergi?"

Fang Long Xiang mengerutkan keningnya.

"Mereka tidak mencarimu, sebaliknya malah kau yang harus mencari mereka sekarang?"

Bai Yu-jing berkata.

"Apa kau tidak paham, siapa yang bergerak lebih dulu akan mengendalikan situasi?"

Fang Long Xiang berpikir, lalu berkata.

"Mungkin aku bisa menemukan mereka."

Bai Yu-jing berkata.

"Bagus, suruh mereka datang ke sini, sementara itu aku akan makan di aula dan menunggu."

Fang Long Xiang memandangnya, agaknya dia merasa bimbang sekaligus curiga. Tak tahan lagi dia pun bertanya.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Bai Yu-jing berkata.

"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada mereka."

Fang Long Xiang berkata.

"Apa itu?"

Bai Yu-jing berkata.

"Apa pun yang mereka inginkan, akan kuberikan pada mereka."

Fang Long Xiang menghela napas dan berkata.

"Baik, akan kucari mereka. Aku hanya berharap kau tidak membunuh, atau terbunuh di sini, sehingga aku masih bisa mencari makan."

Tuan Muda Zhu juga sedang beristirahat.

Tiba-tiba daun jendela terguncang dengan keras dan seseorang sudah berdiri di ambang jendela.

Dalam sekejap mata orang itu sudah tiba di depan ranjangnya, sarung pisau di tangannya sudah menyentuh tenggorokannya.

"Ikut denganku."

Tuan Muda Zhu pun hanya bisa mengikutinya.

Dia tidak pernah menyangka ada kungfu seperti ini di dunia ini.

Ketika dia berjalan keluar dari pintu, si baju hitam sudah mengikuti di belakangnya.

Dia berada di sana bukan untuk melindunginya, dia cumaingin dilindungi.

Ia melangkah keluar dari pintu, dan melihat Miao Shaotian dan tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau juga sudah berdiri di halaman.

Mimik muka mereka terlihat jauh lebih kesal daripada dirinya.

Lampu sudah dinyalakan.

Sepuluh buah lampu.

Walaupun lampu itu terang benderang, tapi mimik wajah setiap orang tampak amat jelek.

Bai Yu-jing adalah kekecualian.

Di wajahnya bahkan tersungging senyuman.

Sayangnya tidak ada orang yang memandang wajahnya, tiap orang sedang menatap pedangnya.

Sarung pedang yang usang, dan gagang pedang yang sama tuanya berbalut kain satin.

Tidak adayang bisa mengenali warna aslinya.

"Ini tentu pedang yang sudah banyak membunuh orang itu."

Di dalam sarung yang usang itu ada sebilah pedang yang tentunya jauh lebih tajam.

Karena pedang inilah senjata yang paling menakutkan di dunia Kang-ouw.

Pedang Abadi!

Dia cuma membunuh, tidak seorang pun yang bisa merintangi bila dia membunuh orang!

Tuan Muda Zhu tiba-tiba menyesali tindakannya yang mengusik Miao Shaotian dulu, kalau tidak, jika mereka bekerjasama, mungkin ada harapan, tapi sekarang.....

Sekarang tiba-tiba dia melihat Kuda Putih Zhang San dan Zhao Yi-dao pun berjalan mendatangi, kedua orang ini tentu saja merupakan jago-jago kelas satu di dunia persilatan.

Sorot mata Tuan Muda Zhu segera dipenuhi dengan harapan.

Semua orang tahu, cuma ada dua pilihan yang tersedia.

Membunuh!

Atau dibunuh!

Tapi mereka semua keliru.

Bai Yu-jing juga tahu bahwa mereka keliru.

Dia sengaja menundukkan mukanya dan berkata.

"Aku tahu sebab apa kalian semua datang ke sini."

Tidak ada yang menjawab.

Mereka adalah orang-orang yang bijak.

Jika tidak perlu, mereka tidak akan membuka mulutnya untuk bicara.

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Bai Yu-jing lalu berhenti.

Kemudian dia menatap Tuan Muda Zhu, lalu melirik setiap orang.

Terakhir dia menatap Zhao Yi-dao secara langsung.

Lalu pelanpelan dia berkata.

"Siapa aku, semua orang tentu tahu?"

Mereka mengangguk. Tapi mata mereka terus-menerus melirik ke arah gagang pedang itu. Bai Yu-jing tiba-tiba tersenyum dan berkata.

"Semua orang menginginkan sesuatu yang ada padaku."

Bola mata semua orang semakin membesar.

Di mata itu terlihat harapan, nafsu dan keserakahan.

Kuda Putih Zhang San sebenarnya merupakan orang yang berbakat amat luar biasa, tapi saat ini dia tiba-tiba tidak bisa mengatakan apa-apa.

Cuma si orang baju hitam yang tidak mempunyai ekspresi apaapa di wajahnya, karena di hatinyatidak ada nafsu.

Sebenarnya dia merupakan orang yang amat buruk rupa, tapi di dalam kelompok orang ini, tiba-tiba dia tampak lebih menyenangkan.

Bai Yu-jing berkata.

"Jika semuanya menginginkan benda itu, urusan menjadi sangat sederhana, asal setiap orang menyetujui permintaanku."

Tuan Muda Zhu tak tahan dan berkata.

"Permintaan apa?"

Bai Yu-jing berkata.

"Setelah mendapatkan benda itu, kalian semua harus segera pergi. Sejak saat ini, tidak boleh ada orang yang mencariku lagi."

Bola mata setiap orang makin membesar karena heran dan tertarik.

Siapa yang mengira kalau urusan akan menjadi begitu sederhana dan mudah?

Tuan Muda Zhu terbatuk dua kali.

Dengan berat hati dia pun tersenyum.

"Kami dan Pendekar Muda Bai tidak punya ikatan tali persahabatan. Tapi, Pendekar Bai, asal kami bisa mendapatkan benda itu, kami akan segera pergi, dan tidak akan berani mengganggu Pendekar Bai lagi."

Zhao Yi-dao segera mengangguk untuk menyatakan persetujuannya.

Kuda Putih Zhang San dan tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau tentu tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Tapi Miao Shaotian hendak mengatakan sesuatu.

Tiba-tiba dia bertanya.

"Tapi kami tidak tahu kepada siapa Pendekar Bai akan memberikan benda itu?"

Bai Yu-jing berkata.

"Itu urusan kalian. Sebaiknya kalian bicarakan lebih dulu."

Kuda Putih Zhang San memandang pada Miao Shaotian, dan juga pada Tuan Muda Zhu tanpa berkata apa-apa.

Tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau agaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi mereka hanyamemutar-mutar bola mata mereka dan menunggu.

Tuan Muda Zhu tiba-tiba berkata.

"Benda itu berasal dari Perkumpulan Naga Hijau, seharusnya kitamemberikannya kepada saudara-saudara dari Perkumpulan Naga Hijau."

Zhao Yi-dao bertepuk tangan dan berkata.

"Bagus. Itu masuk di akal."

Tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau segera bangkit berdiri dan memberi hormat. Salah seorang di antara mereka lalu berkata.

"Apa yang Tuan berdua katakan, sudah sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan. Perkumpulan Naga Hijau tidak akan melupakan kebaikan Tuan berdua."

Zhao Yi-dao mengangkat tangannya dan berkata.

"Tidak apa-apa."

Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata.

"Gedung Sejuta Emas akan membutuhkan bantuan Perkumpulan Naga Hijau di masa yang akan datang, ketiga saudara tua tidak usah begitu sungkan."

Walaupun tuan muda ini agaknya cuma tahu makan sepanjang harinya, tetapi bila dia bicara, dia selalu memperlihatkan sikap yang cerdik dan menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang saudagar yang amat cakap.

Dia tahu kapan harus mengikuti arah angin, tapi tanpa harus kehilangan kesempatan.

Dia seperti sudah tahu urusan sejak dilahirkan ke dunia ini.

Miao Shaotian menatapnya dengan perasaan dendam.

Walaupun di dalam hatinya dia keberatan, tapi dia tidak punya pilihan lain.

Bai Yu-jing berkata.

"Jadi urusan ini sudah diputuskan?"

Miao Shaotian.

"Hmm."

Setelah menarik napas panjang, Bai Yu-jing lalu mengeluarkan sebuah buntalan bersulam emas dari dalam bajunya, dan melemparkannya ke atas meja dengan sikap acuh tak acuh.

Tak perduli seperti apa pun bentuk kantung itu, nilai benda di dalam kantung bersulam itu tampaknya tidak kecil.

Meskipun begitu, dia melemparkannya begitu saja seperti sedang membuang sampah.

Mata setiap orang segera tertuju ke kantung bersulam itu, wajah mereka tampak tegang.

Tidak seorang pun mampu berkatakata.

Bai Yu-jing berkata dengan dingin.

"Benda itu sudah ada di atas meja, mengapa kalian tidak mengambilnya?"

Ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau saling berpandangan, salah satu dari mereka lalu mendekat dan membuka ikatan kantung bersulam itu dengan tangan gemetar.

Puluhan macam benda beraneka warna lalu bergulir di atas meja.

Ada batu mata kucing dari Persia, permata dari India, batu giok yang indah, dan batu-batu mutiara berukuran besar.

Semuanya berkilauan terang seperti sinar lampu.

Bai Yu-jing bersandar dengan santai di atas kursi.

Ia memandang tumpukan permata itu dengan sorotmata yang amat aneh.

Benda-benda itu tidak didapatkannya dengan mudah, tapi dia bersedia memberikannya semua.

Dia mengerti dengan amat baik apa yang bisa didapatkannya dengan batu permata ini – arak yang enak, baju yang bagus, tempat tidur yang bersih dan nyaman, perempuan cantik yang lemah lembut, dan rasa hormat yang berasal dari perasaan iri orang lain.

Itulah semua yang menjadi kebutuhan dasar setiap laki-laki.

Tapi sekarang, dia telah mencampakkannya.

Sedikit pun tidak ada rasa penyesalan di hatinya.

Karena dia tahu yang dia peroleh jauh lebih baik.

Karena seluruh harta di dunia ini tetap tidak bisa mengisi hati yang kesepian.

Dan sekarang dia tidak lagi kesepian dan 'kosong'.

Harta itu 'bergulir' di atas meja.

Anehnya, tidak seorang pun yang hadir mengulurkan tangan untuk mengambilnya.

Yang lebih aneh lagi, mata setiap orang tampak suram saat memandang batu-batu permata itu, mereka malah terlihat amat kecewa.

Bai Yu-jing mencondongkan tubuhnya ke depan dan memandang mereka.

Ia mengerutkan keningnya.

"Apa lagi yang kalian inginkan?"

Tuan Muda Zhu menggelengkan kepalanya. Ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau juga menggelengkan kepala mereka. Tuan Muda Zhu tiba-tiba berkata.

"Pendekar Bai tunggu di sini dulu. Kami akan pergi dan segerakembali lagi ke sini."

Bai Yu-jing berkata.

"Apa lagi yang hendak kalian rundingkan?"

Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum getir.

"Hanya sebuah urusan kecil."

Bai Yu-jing memandang mereka dengan bimbang.

Akhirnya dia membiarkan mereka pergi.

Semua orang sudah pergi.

Bai Yu-jing menyeringai ke arah tempat orang-orang itu menuju.

Dia tidak takut sama sekali dan diatidak khawatir mereka mempunyai rencana licik apa pun.

Dia bersedia menyerahkan benda itu dengan senang hati, cuma karena dia ingin membawa si 'dia' pergi dari tempat itu.

Karena dia tidak ingin membuat si 'dia' ketakutan atau terluka.

Jadi sama sekali bukan karena dia tidak mau terluka, jika hal itu harus terjadi.

Kalau dipikir-pikir, urusan ini benar-benar bodoh.

Apa lagi yang mereka inginkan sekarang?

Tapi dugaannya juga tidak sepenuhnya benar.

Jendela itu terbuka.

Dia bisa melihat gerak-gerik mereka.

Tidak seorang pun yang pergi ke paviliun mungil.

Paviliun mungil itu sangat tenang.

Si 'dia' tentu sedang beristirahat dengan amat pulas.

Bila si 'dia' sedang beristirahat, dia tampak seperti seorang bayi yang mungil.

Suci dan bahagia.

Sudut mulut Bai Yu-jing memperlihatkan ekspresi yang bahagia – tapi tiba-tiba semua orang tadi sudah kembali lagi secara mendadak.

Masing-masing membawa sebuah kantung kain yang kemudian mereka letakkan di atas meja.

Mereka lalu membuka ikatannya.

Kuda Putih Zhang San membawa sebongkah mutiara.

Miao Shaotian membawa sebungkus daun emas.

Orang Naga Hijau membawa sebuah kotak perak.

Tuan Muda Zhu membawa lembaran-lembaran cek yang masih baru.

Benda-benda ini, tak perduli yang mana pun di antaranya, semuanya mewakili nilai harta yang besar.

Nilainya sama sekali tidak berada di bawah nilai batu-batu permata Bai Yu-jing.

Bai Yu-jing tak tahan dan bertanya.

"Apa artinya ini?"

Tuan Muda Zhu bangkit dan berkata.

"Ini semua untuk menunjukkan rasa hormat kami, silakan Pendekar Bai menerimanya."

Bai Yu-jing bukan orang yang gampang memperlihatkan perasaannya, tapi sekarang dia benar-benar tak dapat mengendalikan perasaan herannya.

Mereka tidak menginginkan permatanya, tapi mereka malah memberikan semua harta ini kepadanya.

Ini semua untuk apa?

Dia juga tidak bisa mencari jawabannya.

Tuan Muda Zhu terbatuk pelan dan berkata.

"Kami... kami juga ingin memohon sesuatu dari Pendekar Bai."

Bai Yu-jing berkata.

"Apa itu?"

Tuan Muda Zhu berkata.

"Berapa lama Pendekar Bai berencana untuk tinggal di sini?"

Bai Yu-jing berkata.

"Aku harus pergi saat fajar tiba."

Wajah Tuan Muda Zhu menjadi terang dan dia berkata sambil tersenyum.

"Bagus sekali."

Bai Yu-jing berkata.

"Katamu tadi hendak meminta sesuatu padaku?"

Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum.

"Jika Pendekar Bai sudah ingin pergi, maka tidak ada urusan lagi."

Bai Yu-jing tercengang.

Dia semula mengira mereka tidak ingin dia pergi, siapa tahu mereka malah berharap dia cepat-cepat pergi.

Malah mereka juga bersedia memberikan harta ini kepadanya.

Apa sebab semua ini?

Dia tidak berhasil mencari jawabannya.

Tuan Muda Zhu tampak bimbang.

Dia berkata.

"Tapi, kami tidak tahu apakah Pendekar Bai akan pergi dengan orang lain?"

Bai Yu-jing tiba-tiba paham.

Mereka bukan sedang mencarinya, tapi Yuan Zi-xia.

Cuma, karena mereka memiliki masalah dengan pedang panjangnya, mereka tidak berani memulai gerakan mereka sampai saat ini.

Mereka tidak ragu untuk memberikan harta yang begini besar untuk mendapatkan gadis itu, apamaksud mereka yang sebenarnya terhadapnya?

Jika dia cuma seorang gadis yang minggat dari pernikahannya dan pergi dengan tergesa-gesa, kenapa dia bisa bertemu dengan begini banyak jago-jago kungfu yang berpengaruh?

Apakah yang dia ucapkan sebelumnya semua cuma dusta?

Apakah perkataannya tadi cuma untuk menggugah hatinya, agar dia mau melindunginya?

Apakah ini alasannya kenapa gadis itu memintanya untuk mengabaikan orang-orang ini dan pergi bersamanya dengan diamdiam?

Hati Bai Yu-jing serasa karam.

Semua orang sedang memandangnya, menunggu jawabannya.

Di atas meja berserakan batu permata dan emas yang berkilauan gemerlap di bawah sinar lampu.

Tapi tidak seorang pun yang memandangnya.

Yang mereka inginkan adalah sesuatu yang jauh lebih bernilai.

Apakah itu?

Apakah Yuan Zi-xia sendiri, atau sesuatu yang dia miliki?

Tuan Muda Zhu melihat ekspresi di wajahnya dan berkata.

"Pendekar Bai dan gadis Yuan itu hanyabertemu secara kebetulan. Pendekar Bai tentu tak akan menyinggung perasaan seorang teman demi dia."

Bai Yu-jing berkata dengan dingin.

"Kau bukan temanku."

Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum.

"Kami tidak berani bersahabat dengan orang yang berasal dari tingkat sosial yang lebih tinggi. Tapi seorang perempuan seperti gadis Yuan itu, Pendekar Bai tentu akan banyak menemuinya nanti, kenapa...."

Bai Yu-jing memotong ucapannya dan berkata.

"Yang kalian inginkan bukan dia?"

Tuan Muda Zhu tersenyum. Bai Yu-jing berkata.

"Aku tidak yakin apa yang sebenarnya kalian inginkan?"

Mata Tuan Muda Zhu tampak berkilauan.

"Pendekar Bai tidak tahu?"

Bai Yu-jing menggelengkan kepalanya. Wajah Tuan Muda Zhu memperlihatkan sebuah senyuman licik. Dia berkata sepatah demi sepatah yang menunjukkan rasa jerihnya terhadap Bai Yu-jing.

"Mungkin Pendekar Bai akan tergiur setelah tahu segalanya."

Karena itu, dia tidak mau mengatakan apa-apa.

Nilai benda itu pasti lebih besar dari seluruh emas dan harta lainnya yang ada di sini.

Bai Yu-jing benar-benar tak mampu menemukan jawabannya.

Benda apakah yang begitu berharga di tubuh Yuan Zi-xia?

Seluruh isi kamarnya tadi telah diobrak-abrik oleh mereka.

Tuan Muda Zhu berkata pula.

"Menurut pendapatku, Pendekar Bai tidak usah mempertimbangkan hal ini lagi. Jika kau punya uang dan permata sebanyak ini, kau tidak akan menemui kesulitan untuk mencari perempuan secantik bidadari lainnya."

Bai Yu-jing pelan-pelan memungut kantung permata miliknya, dan mengembalikannya ke dalam sakunya.

Lalu dia melangkah pergi.

Dia tidak perlu lagi berkata apa-apa, cuma pergi begitu saja.

Mata setiap orang tertuju padanya.

Walaupun mereka merasa benci padanya, tidak seorang pun yang berani bergerak.

Karena mereka juga harus menunggu seseorang yang bisa menghadapi Pedang Abadi itu.

Mereka merasa yakin pada orang ini.

Malam yang panjang sebentar lagi akan berakhir.

Itulah saat tergelap sebelum fajar tiba, tapi udara sudah terasa dingin dan segar.

Bai Yu-jing berjalan di atas tanah dan menarik napas panjang.

Tibatiba ia menyadari bahwa cahaya lampu di jendela paviliun mungil itu telah tertutup oleh dua sosok bayangan.

Bayangan satunya ramping dan indah dipandang, Yuan Zi-xia.

Tapi yang seorang lagi?

Bayangan kedua orang itu cukup jauh, tapi tampaknya begitu dekat.

Apakah mereka sedang membicarakan sesuatu?

Tuan Muda Zhu, Zhao Yi-dao, Miao Shao-tian, Kuda Putih Zhang San, dan ketiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau semuanya berada di lantai pertama dalam bangunan itu.

Lalu siapa yang berada di paviliun?

Bai Yu-jing menggenggam pedangnya erat-erat, tangannya terasa lebih dingin daripada gagang pedang itu.

Dia benar-benar tidak tahu apakah dia harus naik ke atas atau tidak.

Bab 4.

Mayat Yang Kaku Malam itu bukanlah malam yang tidak pernah berakhir.

Angin membawa berita bahwa fajar telah menjelang.

Udara pun terasa lebih menyegarkan dan dingin.

Bai Yu-jing berdiri dengan tenang dalam tiupan angin dingin.

Dia berharap, semakin dingin hembusan angin itu, semakin jernih pula pikirannya.

Ketika berusia 13 tahun, dia sudah mulai mengembara di dunia Kang-ouw.

Kejadian itu sudah berlalu 14 tahun.

Selama 14 tahun ini, dia selalu berpikiran jernih, karena itu dia tetap bisa hidup sampai sekarang.

Mengingat pengalaman, serangan dan bahaya apa saja yang pernah dia alami dulu, jika dia ingin tetap hidup, hal itu tidak akan gampang.

"Sang dewa membawaku terbang tinggi, hingga mencapai keabadian."

Di dalam hatinya, dia sedang menyeringai.

Dia telah mendengar cerita tentang dirinya di dunia persilatan.

Dia merasa saat ini persis seperti dalam cerita itu.

Dia membutuhkan otaknya tetap bekerja, sambil terus menjaga ketenangan dirinya.

Sekarang dia harus tenang.

Di jendela, salah satu bayangan itu tampak berjalan mendekat.

Dia tidak mau menduga-duga siapa orang ini, karena dia tidak ingin mencurigai temannya sendiri.

Xiao Fang adalah temannya.

Karena orang-orang lainnya semua berada di lantai satu, siapa lagi yang berada di dalam paviliun itu selain Fang Long-xiang?

Xiao Fang juga seorang laki-laki yang menarik.

Mungkin dia memiliki kekuatan yang lebih besar untuk melindunginya dibandingkan dengan dirinya.

Jika si dia pergi ke pelukan Xiao Fang, dia juga tidak perlu sedih.

Karena di antara mereka memang tidak ada kontrak tertulis.

"Jika keadaan berbalik arah, walau cuma sedikit, tidaklah perlu terlalu dikhawatirkan."

Bai Yu-jing menghembuskan napas panjang dan memaksakan dirinya untuk tidak lagi memikirkan urusan ini.

Tapi hatinya seperti tertusuk jarum, tertusuk amat dalam.

Dia memutuskan untuk melangkah pergi.

Memang, pergi jauh adalah tindakan yang bagus, karena tidak ada hal di dunia ini yang perlu dipikirkan begitu bersungguh-sungguh.

Dia pelan-pelan membalikkan badannya.

Tapi saat itulah tiba-tiba ia mendengar suara jeritan kaget Yuan Zixia.

Terkandung perasaan terkejutdan takut dalam jeritan itu, seperti suara seseorang yang melihat ular berbisa.

Bai Yu-jing segera melesat seperti anak panah ke paviliun itu, dan "brak!", ia telah mendobrak daun jendela.

Di dalam kamar memang ada dua orang manusia.

Wajah Yuan Zi-xia benar-benar pucat, bahkan tampak lebih ketakutan daripada cuma melihat ular berbisa.

Dia sedang memandang orang di seberangnya.

Orang ini memang lebih menakutkan daripada ular berbisa.

Rambutnya panjang menyeramkan, tubuhnya kaku kejang, wajahnya bersimbah darah; dia amat mirip dengan sesosok mayat hidup.

Orang ini bukan Xiao Fang.

Untuk sesaat Bai Yu-jing benar-benar merasa menyesal di dalam hatinya.

Seharusnya dia tidak mencurigai sahabatnya itu.

Tapi sekarang bukanlah waktunya untuk merasa kesal terhadap dirinya sendiri.

Dia baru saja menerobos masuk lewat jendela ketika mayat itu mengayunkan sebuah cambuk ke arahnya.

Ujung cambuk itu seperti ular yang bernyawa.

Bergerak dengan amat cepat.

Kungfu 'mayat' ini ternyata tidak kalah dibandingkan dengan jagojago ternama di dunia Kang-ouw.

Tubuh Bai Yu-jing melayang tinggi, tapi dia juga tidak bisa mundur.

Agaknya dia tak akan mampu mengelakkan serangan itu, cambuk itu sudah hampir membelit tenggorokannya.

Tapi tidak seorang pun di dunia ini yang mampu melilitkan cambuk di tenggorokannya.

Ketika tangannya diangkat, segera sarung pedangnya terbelit erat-erat oleh cambuk yang panjang itu.

Tangannya yang lain telah menghunus pedang itu dengan kecepatan seperti kilat.

Sinar pedang berwarna perak, berkilauan begitu terangnya sehingga orang hampir tidak bisa membuka matanya.

Dengan jari kaki menotol di ambang jendela, sinar pedang yang berwarna keperak-perakan itu telah menusuk ke arah 'mayat' tersebut.

Cambuk 'mayat' itu telah melepaskan belitannya dan ditarik kembali karena tidak berhasil dalam serangannya.

Tapi hawa dingin terasa menggigit ketika bintik-bintik bintang yang dingin memenuhi angkasa, seperti hujan badai yang menerjang ke arah Bai Yu-jing.

Sinar pedang Bai Yu-jing bergerak ke sana ke mari, bintik-bintik bintang yang dingin itu tiba-tiba lenyap dari angkasa.

Tapi saat itu 'mayat' tadi telah bergerak cepat ke arah jendela.

Bagaimana mungkin Bai Yu-jing melepaskannya pergi?

Ia melirik ke sekelilingnya, sudut matanya menangkap sosok tubuh Yuan Zi-xia yang sudah pingsan karena ketakutan.

Mengingat orang-orang yang berada di lantai bawah, dia tidak boleh membiarkan gadis itu sendirian di sini.

Apakah dia harus mengejar?

Atau tidak?

Sejenak dia merasa sulit untuk memutuskan.

Untunglah tiba-tiba dia mendengar suara Xiao Fang.

"Apa yang terjadi?"

"Kuserahkan dia......"

Ucapannya belum selesai tapi orangnya telah melesat keluar lewat jendela seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Siapa sangka, walaupun tubuh 'mayat' tadi kaku seperti kayu, gerakannya ternyata cepat seperti meteor.

Ketika Bai Yu-jing menjawab pertanyaan Xiao Fang tadi, tubuhnya telah melesat keluar sejauh 70-80 kaki.

Tapi bayangan 'mayat' tadi pun sudah melayang pergi secepat kilat.

Bai Yu-jing mengejarnya, tapi dia telah menghilang.

Suara kokok ayam jantan terdengar bergema di kejauhan.

Apakah dia benar-benar sesosok mayat hidup?

Saat ayam jantan berkokok, maka dia pun menghilang secara gaib?

Di timur mulai muncul warna langit yang kebiru-biruan, cakrawala pandangan pun mulai tampak.

Di sekeliling halaman yang luas itu terdapat hutan yang jauhnya kira-kira 300 kaki.

Tidak mungkin ada yang mampu menempuh jarak 300-400 kaki dalam sekejap mata.

Bahkan orang nomor satu dalam ilmu ginkang di jaman dulu, Chu Xiang-shi, tidak mempunyai kemampuan seperti ini!

Angin berhembus semakin dingin.

Bai Yu-jing berdiri di atas tanah yang agak tinggi, berpikir dengan tenang.

Tiba-tiba dia melompat pergi.

Di lantai bawah bangunan itu ada empat buah kamar.

Kamar ketiga adalah tempat di mana Miao Shaotian tinggal.

Sekarang kamar itu amat sepi, semua lampu telah dipadamkan.

Di kamar kedua terdapat lampu yang menyala.

Dalam sinar lampu yang suram, sosok tubuh seseorang tampak membayang di jendela.

Melihat bentuk tubuhnya, mungkin dia adalah perempuan tua bungkuk yang kemarin menangis tersedusedu itu.

Dia jelas sedang berduka karena kematian anggota keluarganya.

Mungkin itulah sebabnya sejak malam tadi dia tidak bisa tidur.

Mungkin dia bukan berkabung karena kematian orang lain, tapi sedang sedih memikirkan nasibnya sendiri.

Bila orang sudah tua, dia tentu sangat sensitif dan amat takut pada kematian.

Bai Yu-jing berdiri di luar jendela, mengawasi perempuan tua itu dengan tenang.

Tak terasa dia pun menghela napas dengan lembut.

Anehnya, bila seseorang sedang berduka, perasaannya biasanya malah lebih tajam.

Dari dalam kamar segera ada orang yang bertanya.

"Siapa itu?"

"Aku."

"Siapa kau?"

Sebelum Bai Yu-jing menjawab, pintu sudah dibuka.

Perempuan tua ubanan itu, dengan tangan di pintu danpunggungnya yang bungkuk di belakangnya, berdiri di ambang pintu.

Dia tampak curiga dan sorot matanya membayangkan perasaan benci.

Diabertanya.

"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?"

Bai Yu-jing bimbang sebentar, lalu dia berkata.

"Tadi ada orang yang agaknya lari ke arah sini. Aku tak tahu apakah dia telah mengejutkan nyonya atau yang lain-lainnya?"

Sorot mata benci di mata perempuan itu semakin terlihat jelas.

"Ada orang ke sini? Ini kan sudah sangat larut. Di mana orang itu, apa kau bukan sedang berkhayal?"

Bai Yu-jing tahu suasana hati perempuan ini sedang tidak baik, karena itu pula perasaan bencinya itu timbul. Ia lalu tersenyum dan berkata.

"Mungkin aku yang keliru, maaf."

Dia pun tidak berkata apa-apa lagi.

Ia menjura dan membalikkan badan untuk pergi ke halaman.

Detik itu terasa sangat lama, dia seolah-olah sudah merasa teramat letih.

Saat itulah dia mendengar bunyi "bruk!".

Perempuan tua itu, karena lelahnya, wajahnya sudah menjadi pucat dan kehijauan karena terlalu banyak berduka.

Dia seperti sebuah kotak yang penuh berisi mesiu.

Tiba-tiba kotak itu meledak dan dia pun terjungkal roboh.

Bai Yu-jing melayang balik untuk memapahnya.

Nadinya masih berdenyut, dan dia pun masih bernapas.

Cuma napasnya sudah amat lemah.

Bai Yu-jing menghembuskan napas karena lega.

Dia segera memberikan pertolongan pertama.

Setelah sekian lama, wajahnya yang pucat mulai memerah.

Denyut nadinya pun pelanpelan kembali normal.

Tapi mata dan mulutnya masih tertutup.

Sudut mulutnya tidak hentihentinya mengeluarkan air liur.

Bai Yu-jing berkata dengan lembut.

"Nyonya, bangunlah."

Perempuan tua itu tiba-tiba menghela napas panjang, matanya pun terbuka. Dia lalu menatap Bai Yu-jing, tapi agaknya dia seperti tidak melihat apa-apa. Bai Yu-jing berkata.

"Tak apa-apa. Asal kau berbaring sejenak, segalanya akan baik-baik saja."

Perempuan tua itu menarik napas dengan susah-payah. Dia berkata.

"Kau pergilah. Kau tidak usah memperdulikanku."

Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin Bai Yu-jing meninggalkannya begitu saja?

Dia tidak bisa menghindar dari kesulitan dan segera membawanya ke dalam.

Mungkin inilah pertama kalinya dia membopong seorang wanita yang usianya lebih dari 30 tahun.

Peti mati itu berada di dalam kamar, meja persegi empat dipenuhi oleh uang kertas, dengan duabatang lilin bundar dan tiga buah dupa harum.

Asap dupa mengepul di udara, sinar lilin tampak suram, seluruh kamar itu dipenuhi perasaan muram yang tebal.

Tubuh bocah tadi tampak meringkuk di atas meja, seperti sesosok mayat yang sedang tidur.

Bila seorang bocah sedang beristirahat, walau langit runtuh pun dia akan sangat sulit untuk terbangun.

Bai Yu-jing merasa ragu.

Dia tidak tahu di mana dia harus membaringkan perempuan tua ini.

Tiba-tiba tubuh perempuan tua itu bergerak dalam pelukannya, dua buah tangannya yang kurus seperti cakar telah menjepit tenggorokannya.

Gerakannya bukan cuma cepat, tapi juga penuh tenaga.

Napas Bai Yu-jing segera berhenti, bola matanya seperti akan melompat keluar dari kelopaknya.

Pedangnya tadi telah disisipkan di ikat pinggang.

Saat ini, seandainya pun dia bisa memegang gagang pedang itu, dia tidak punya tenaga untuk menghunusnya.

Wajah perempuan tua itu memperlihatkan seringai seperti iblis.

Wajah tua yang sedih dan letih tadi tiba-tiba berubah menjadi wajah serigala yang jahat.

Jari-jarinya pelan-pelan menjepit semakin kuat.

Dia menyeringai seperti iblis sambil berkata.

"Pedang Abadi, kau matilah!........"

Dia baru saja menyelesaikan ucapannya, ketika tiba-tiba dia merasakan sebuah benda yang dingin seperti es menyentuh rusuknya.

Itulah gagang sebuah pedang.

Dia kembali memandang wajah Bai Yu-jing.

Di wajah itu sama sekali tak ada perasaan takut, tapi malah tersungging sebuah senyuman.

Tiba-tiba dia merasakan jepitannya seperti bukan sedang mencekik leher orang, tapi kulit ular yang lunak.

Lalu terasa sebuah perasaan sakit yang teramat sangat, yang menyebabkan jepitan kesepuluh jarinya pelan-pelan mengendur.

Pedang itu telah berada di tangan Bai Yu-jing.

Ujung pedang menusuk rusuknya, darahnya pun merembes keluar, menodai pakaian yang baru saja dia ganti.

Bai Yu-jing memandangnya, tersenyum dan berkata.

"Aktingmu memang bagus. Sayangnya kau tidak bisa menyembunyikan kebenaran dariku."

Mata perempuan tua itu memperlihatkan perasaan takut. Dengan gemetar dia berkata.

"Kau.... kau sudah tahu?"

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum.

"Seorang perempuan yang sudah tua, tentu tidak bisa terbangun begitu cepatnya. Dia juga tidak mungkin begitu berat."

Pedang yang berkilauan itu lalu menyingkap segumpal rambutnya. Di bawah rambut ubanan itu, rambutnya ternyata masih hitam pekat dan halus seperti sutera. Perempuan tua itu menarik napas dan berkata.

"Bagaimana kau bisa tahu tentang seluk-beluk seorang perempuan tua?"

Bai Yu-jing berkata.

"Tentu saja aku tahu."

Tentu saja dia tahu, sudah terlalu banyak perempuan yang pernah dipeluk olehnya.

Ketika dia membopong perempuan ini, dia segera tahu bahwa usia perempuan ini tidak akan lebih dari 35 tahun.

Otot-otot seorang perempuan tua tentu sudah lemah, tulangtulangnya pun juga ringan.

Seorang perempuan berusia 35 tahun, jika ia merawat dirinya, tulang-tulang tubuhnya tentu akan tetap elastis.

Perempuan tua itu berkata.

"Sekarang apa yang kau inginkan?"

Bai Yu-jing berkata.

"Harus kulihat dulu dirimu."

Perempuan tua itu berkata.

"Melihat diriku?"

Bai Yu-jing berkata.

"Kulihat dulu apakah kau orang yang patuh."

Perempuan tua itu berkata.

"Aku selalu patuh."

Sorot matanya tiba-tiba memperlihatkan ekspresi yang memikat dan mempesona.

Dia menggosok-gosokkan tangan di wajahnya, dan semacam debu pun seperti rontok dari wajahnya.

Seraut wajah yang matang, cantik dan molek pun segera muncul.

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata.

"Kau memang masih belum tua."

Perempuan itu tersenyum memikat dan berkata.

"Siapa bilang aku sudah tua?"

Tangannya beralih ke kancing bajunya, sebelum dia pelan-pelan melepaskan bajunya.

Di balik pakaian itu terdapat tubuh yang padat, lunak, matang dan menarik.

Bai Yu-jing menatap dadanya.

Dua buah puting di dada itu sudah sangat mengeras.

Wanita itu menggigit bibirnya dan berkata dengan suara yang lembut.

"Sekarang kau bisa melihat, aku orang yang selalu penurut."

Bai Yu-jing hanya bisa mengakuinya. Perempuan itu tersenyum menawan dan berkata.

"Aku bisa melihat bahwa kau adalah orang yang berpengalaman. Mengapa kau cuma berdiri di situ seperti anak kecil?"

Bai Yu-jing berkata.

"Kau ingin melakukannya di sini?"

Perempuan itu tersenyum memikat dan berkata.

"Apa kurangnya tempat ini? Hantu tua itu sudah mati, bajingan kecil itu sudah tidur seperti mayat. Asal kau tutup pintu itu...."

Pintu masih terbuka.

Tatapan Bai Yu-jing masih tertuju ke wajah perempuan itu.

Tiba-tiba bocah yang tidur seperti mayat itu melompat bangkit.

Dia bangkit dengan cepat dan melemparkan sepuluh buah bintik bintang.

Bocah itu bertindak tak terduga-duga dan juga begitu cepat.

Yang paling menakutkan, tentu saja tidak ada yang bisa menduga kalau seorang bocah akan bertindak begitu keji, apalagi Bai Yu-jing sedang menghadapi seorang perempuan telanjang.

Di dunia ini tidak ada yang bisa menarik perhatian seorang laki-laki seperti seorang perempuan cantik yang telanjang bulat!

Senjata rahasia yang disebarkan itu tentu saja sangat mematikan.

Tapi Bai Yu-jing agaknya sudah memperhitungkan hal ini.

Dengan sebuah kibasan pedang, senjata-senjata rahasia yang mematikan itu telah lenyap dari pandangan.

Perempuan itu mengertakkan giginya dan berkata dengan geram.

"Anak yang baik, perempuan tua ini akan membantumu."

Bocah itu melompat dan secara tak diduga-duga mengeluarkan dua bilah pisau yang runcing dari balik bantal.

Yang satu dia lemparkan pada perempuan itu.

Dua bilah pisau yang runcing segera melesat seperti kilat ke arah Bai Yu-jing.

Saat itulah tutup peti tadi tiba-tiba terangkat, sebuah cambuk meliuk keluar seperti ular berbisa, meluncur ke arah pinggang Bai Yu-jing.

Serangan cambuk ini benar-benar mematikan!

Pinggang Bai Yu-jing terancam oleh cambuk, sementara dua bilah pisau bergerak dengan cepat ke arahnya.

Dia benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menghindar!

Tapi dia tidak menghindar, dia malah menyambut pisau-pisau itu.

Orang di dalam peti mati itu membawa angin tenaga yang kuat luar biasa ketika dia bergerak.

Ternyata dia adalah 'mayat' yang menghilang tadi.

Perempuan tadi melihat kedua bilah pisau itu menusuk ke tubuh Bai Yu-jing, siapa tahu tiba-tiba terjadi keajaiban.

Pisaupisau itu seperti berhasil menembus kulit dagingnya, tapi tiba-tiba terjatuh ke lantai.

Dan mendadak mulut perempuan dan bocah itu sudah berlumuran darah.

Pedang Bai Yu-jing adalah keajaibannya.

Sinar pedang berkilauan, merontokkan dua bilah pisau yang dilemparkan kedua orang itu.

Pada saat yang bersamaan, pedang itu bergerak lagi untuk memotong cambuk panjang itu.

Mayat itu semula berusaha untuk menarik kembali cambuknya.

Ketika cambuk putus, dia segera kehilangan keseimbangannya.

Dia pun terpental menabrak daun jendela.

Bocah dan perempuan itu berteriak dengan terkejut.

Bai Yu-jing mengepalkan tinjunya dan pada saatyang tepat berhasil memukul perut bocah itu.

Dalam suasana gelap, si bocah merasa kesakitan dan akhirnya jatuh pingsan.

Wajah perempuan itu penuh dengan rasa takut.

Dia membalikkan badannya untuk melarikan diri.

Baru saja tubuhnya bergerak, gagang pedang Bai Yu-jing telah memukul kepalanya – dia pun jatuh pingsan lebih cepat daripada si bocah.

'Mayat' tadi berdiri membelakangi jendela.

Dia menatap Bai Yu-jing dengan sorot mata ketakutan.

Dia hampir tidak percaya kalau dia tidak melihat sendiri bahwa dia sedang berhadapan dengan seseorang yang gerakannya begitu cepat.

Bai Yu-jing juga sedang memandangnya dengan dingin dan berkata.

"Kenapa kau tidak lari?"

Mayat itu tiba-tiba menghela napas panjang dan berkata.

"Aku tidak mengganggumu, kenapa aku harus lari?"

Bai Yu-jing berkata.

"Memang kau tidak menggangguku. Kau cuma menginginkan nyawaku."

Mayat itu berkata.

"Hal itu terjadi karena kau yang memaksa kami."

Bai Yu-jing berkata.

"Oh?"

Mayat itu berkata.

"Yang kuinginkan cuma benda yang ditipu perempuan itu dariku."

Bai Yu-jing mengerutkan kening dan berkata.

"Benda apa yang ditipunya darimu?"

Mayat itu berkata.

"Sebuah peta rahasia."

Bai Yu-jing berkata.

"Sebuah peta rahasia! Peta rahasia apa? Peta rahasia harta karun?"

Mayat itu berkata.

"Bukan."

Bai Yu-jing berkata.

"Bukan?"

Mayat itu berkata.

"Peta itu sendiri merupakan harta yang terkubur. Siapa pun yang mempunyai petaini, dia bukan cuma menjadi orang terkaya di dunia, tapi juga orang yang paling tangguh di dunia ini."

Bai Yu-jing berkata.

"Kenapa begitu?"

Mayat itu berkata.

"Kau tidak perlu bertanya kenapa. Asal kau lepaskan aku, aku akan membantumu untuk menemukan peta ini."

Bai Yu-jing berkata.

"Oh."

Mayat itu berkata pula.

"Aku hanya tahu peta itu ada padanya."

Bai Yu-jing merasa bimbang. Tiba-tiba dia tersenyum dan berkata.

"Karena peta itu ada padanya, kenapa aku membutuhkan bantuanmu untuk menemukannya?"

Mayat itu berkata.

"Karena dia tidak akan memberitahukan hal sebenarnya kepadamu, dia tidak akan memberitahukannya pada siapa pun. Tapi aku bukan hanya tahu rahasianya, tapi juga tahu......"

Suaranya tiba-tiba berhenti dengan sekonyong-konyong.

Sepasang gaetan besi tiba-tiba masuk lewat jendela.

Tenggorokannya tiba-tiba terjepit oleh gaetan itu tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

Matanya melotot, darah pun mengalir dari sudut matanya yang terbuka.

Lalu seluruh tubuhnya pun lunglai, seperti pohon yang melayu.

Jika orang tidak melihat dengan mata kepala sendiri, dia tentu tidak akan mengetahui betapa menakutkannya situasi seperti ini.

Sekali saja melihatnya, dia tidak akan pernah bisa melupakannya.

Bai Yu-jing merasakan perutnya seperti berontak.

Dia harus menahan diri untuk tidak muntah.

Dia menatap Fang Long Xiang yang pelan-pelan memasuki kamar itu dalam pakaian sutera putih seperti salju.

Dia lalu mengusap darah dari gaetan besinya.

Bai Yu-jing berkata dengan tenang.

"Seharusnya kau tidak membunuhnya."

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata.

"Mengapa kau tidak melihat tangannya?"

Mayat itu sudah roboh ke lantai, tapi kedua tangannya tetap menggenggam sesuatu dengan erat. Fang Long Xiang berkata dengan enteng.

"Kau kira dia benarbenar sedang bicara denganmu? Jika aku tidak membunuhnya, aku khawatir kau sudah berubah menjadi sarang lebah."

Fang Long Xiang menggunakan gaetan besinya untuk membuka tangan itu.

Tangan itu pun akhirnya terbuka, penuh dengan senjata rahasia.

Di dalam genggaman tangan itu ada empat macam senjata rahasia yang berbeda.

Fang Long Xiang berkata.

"Aku tahu Pedang Abadimu adalah musuh utama senjata rahasia. Tapi apa kau tahu kenapa aku tetap merasa tidak aman?"

Bai Yu-jing berkata.

"Kenapa?"

Fang Long Xiang berkata.

"Karena aku juga tahu senjata rahasia orang ini amat jarang meleset dari sasarannya."

Bai Yu-jing berkata.

"Siapa dia?"

Fang Long Xiang berkata.

"Ahli senjata rahasia nomor satu dari sebelah selatan Sungai Yangtse, Gongsun Jing."

Bai Yu-jing berkata.

"Gongsun Jing dari Perkumpulan Naga Hijau?"

Fang Long Xiang berkata.

"Benar."

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata.

"Tapi seharusnya kau tidak membunuhnya begitu cepat."

Fang Long Xiang berkata.

"Mengapa?"

Bai Yu-jing berkata.

"Ada banyak pertanyaan yang hendak kuajukan padanya."

Fang Long Xiang berkata.

"Kau boleh bertanya padaku."

Dia lalu melangkah masuk, memandang ke sekelilingnya untuk memeriksa keadaan. Dia melihatperempuan itu dan menghela napas.

"Aku tidak tahu kalau Gongsun Jing bukan hanya paham senjatarahasia, tapi juga amat paham cara memilih perempuan."

Bai Yu-jing berkata.

"Ini adalah perempuan miliknya?"

Fang Long Xiang berkata.

"Ini adalah isterinya."

Bai Yu-jing berkata.

"Bocah itu puteranya?"

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata.

"Bocah? ..... Kau benarbenar mengira dia masih bocah?"

Bai Yu-jing berkata.

"Memangnya bukan?"

Fang Long Xiang berkata.

"Usia bocah ini setidaknya sepuluh tahun lebih tua darimu."

Dia menggunakan kakinya untuk menendang wajah 'bocah' itu dan semacam debu pun rontok dari wajahnya. Tak disangkasangka, ternyata muncul kerut-kerutan di wajah bocah itu. Fang Long Xiang berkata.

"Orang ini dijuluki si 'paku beracun'. Dia telah berlatih kungfu sejak lahir. Dia juga pengikut setia Gongsun Jing."

Tak terasa Bai Yu-jing pun menghela napas. Dia lalu berkata sambil tersenyum getir.

"Orang mati ternyata bukan orang mati, bocah bukan bocah, perempuan tua bukan perempuan tua – semua ini benar-benar menakjubkan."

Fang Long Xiang berkata dengan enteng.

"Bila kau bertemu peristiwa menakjubkan seperti ini lagi, kau akan mati."

Bai Yu-jing berkata.

"Pengaruh Perkumpulan Naga Hijau sudah tersebar ke seluruh dunia, mengapa orang Perkumpulan Naga Hijau ini bertindak begitu rahasia?"

Fang Long Xiang berkata.

"Karena yang berusaha mereka hindari justru adalah Perkumpulan Naga Hijau."

Bai Yu-jing berkata.

"Kenapa begitu?"

Fang Long Xiang berkata.

"Karena Gongsun Jing telah membuat malu Perkumpulan Naga Hijau."

Bai Yu-jing berkata.

"Urusan apa itu?"

Fang Long Xiang berkata.

"Benda yang sangat penting itu diperdaya orang dari tangannya. Dia tentu saja tahu bagaimana kebiasaan Perkumpulan Naga Hijau."

Bai Yu-jing berkata.

"Karena itu dia lalu menyaru bersama isteri dan pengikutnya ini. Mereka berusaha mendapatkan kembali benda itu secara diam-diam?"

Fang Long Xiang berkata.

"Benar."

Bai Yu-jing berkata.

"Bagaimana kau tahu tentang urusan ini?"

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata.

"Kau sudah lupa siapa aku?"

Bai Yu-jing berkata.

"Benda itu benar-benar ada pada Yuan Zi-xia?"

Fang Long Xiang berkata.

"Ini harus kau tanyakan sendiri padanya."

Bai Yu-jing berkata.

"Di mana dia?"

Bai Yu-jing segera pergi keluar, Fang Long Xiang mengikutinya dari belakang.

Tiba-tiba sebuah gaetan besi mengiris tangannya, Pedang Abadi pun jatuh berdenting.

Setelah itu, gaetan besi itu seperti tinju besi yang memukul jalan darah Bai Yu-jing di bawah pinggangnya.

Sinar lilin bergoyang-goyang, seluruh kamar itu seperti bergoyanggoyang.

Bai Yu-jing tidak membuka matanya, tapi dia merasakan sebuah gaetan besi sedingin es menggelitik tenggorokannya.

Akhirnya dia bangun.

Mungkin dia tidak ingin bangun kembali, karena dia benar-benar tidak mau melihat muka Fang Long Xiang lagi.

Wajah yang amat luar biasa itu sekarang tampak sangat jelek.

Wajah itu sedang tersenyum padanya.

Dia berkata.

"Kau tentu tidak menduga!"

Bai Yu-jing berkata.

"Aku memang tidak menduga, karena aku selalu memandang dirimu sebagai sahabatku."

Dia tetap berusaha memasang wajah yang tenang – karena dia sudah kalah, kenapa dia harus bersikap kekanak-kanakan? Fang Long Xiang tersenyum dan berkata.

"Siapa bilang aku bukan sahabatmu. aku selalu menjadi sahabatmu."

Bai Yu-jing berkata.

"Sekarang?"

Fang Long Xiang berkata.

"Sekarang hal itu tergantung padamu."

Bai Yu-jing berkata.

"Jika aku tidak menurut?"

Fang Long Xiang berkata.

"Kau bisa tunduk sedikit."

Bai Yu-jing berkata.

"Jika aku tetap tidak menurut?"

Fang Long Xiang tiba-tiba menghela napas panjang. Dia menatap gaetan besi di tangannya dan pelan-pelan berkata.

"Aku orang yang cacat, orang cacat biasanya sukar untuk terjun ke dunia Kangouw. Jika aku tidak punya dukungan yang sangat kuat, walaupun aku tidak mau terima, aku tak akan dapat hidup dengan nyaman."

Bai Yu-jing berkata.

"Siapa yang mendukungmu?"

Fang Long Xiang berkata.

"Kau tidak bisa menebaknya?"

Bai Yu-jing akhirnya paham dan berkata sambil tersenyum pahit.

"Jadi kau juga anggota Perkumpulan Naga Hijau."

Fang Long Xiang berkata.

"Kepala cabang Perkumpulan Naga Hijau."

Bai Yu-jing berkata.

"Tempat ini juga merupakan cabang Perkumpulan Naga Hijau?"

Fang Long Xiang menghela napas.

"Aku tahu lambat laun pikiranmu akan jernih. Kau adalah orang yang cerdas."

Bai Yu-jing merasa seperti menelan pil yang pahit tapi tidak bisa meludahkannya keluar. Fang Long Xiang berkata.

"Tiga tahun yang lalu, aku juga berada dalam posisi yang sama. Aku tergeletak di sebuah tempat, dengan beberapa orang menodongkan pisau ke tenggorokanku."

Bai Yu-jing berkata.

"Karena itu kau lantas masuk Perkumpulan Naga Hijau? Kau tidak bisamenghindarkannya?"

Fang Long Xiang berkata.

"Orang itu memang tidak memaksaku masuk Perkumpulan Naga Hijau. Dia memberiku dua macam pilihan."

Bai Yu-jing berkata.

"Dua pilihan seperti apa?"

Fang Long Xiang berkata.

"Yang satu adalah masuk peti mati, yang lain adalah masuk Perkumpulan Naga Hijau."

Bai Yu-jing berkata.

"Tentu saja kau memilih yang kedua."

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata.

"Aku ingin banyak orang yang memilih dengan cara yang sama sepertiku."

Bai Yu-jing berkata.

"Itu bagus. Tidak ada yang bilang kau salah memilih."

Fang Long Xiang berkata.

"Kita selalu bersahabat baik. Tentu saja aku memberimu setidaknya dua macam pilihan!"

Bai Yu-jing berkata.

"Terimakasih sudah mengatakannya, kau benarbenar teman yang baik!"

Fang Long Xiang berkata.

"Yang pertama tidak jauh-jauh, di dekatmu ada peti mati."

Bai Yu-jing berkata.

"Peti mati ini terlalu tipis. Bagi orang yang begitu ternama seperti diriku, seharusnya kau paling tidak memberiku peti mati yang jauh lebih baik."

Fang Long Xiang berkata.

"Tidak bisa. Kujamin kau bisa berbaring di dalamnya, tapi tidak bisa membuat peti ini lebih tebal."

Gaetan besi di tangannya mulai bergerak. Sambil tersenyum dia berkata.

"Tapi, beristirahat di atas ranjang selalu lebih enak daripada beristirahat di dalam peti mati. Kau pun boleh membawa perempuan itu ke atas ranjang."

Bai Yu-jing mengangguk dan berkata.

"Itu benar. Cuma, bila sedang beristirahat di atas ranjang, aku tidak menginginkan perempuan."

Fang Long Xiang berkata.

"Oh!"

Bai Yu-jing berkata.

"Jika di atas ranjang ada seekor sapi telanjang, aku lebih suka beristirahat di dalam peti mati saja."

Fang Long Xiang berkata.

"Kau tentu tidak menganggap nona Yuan itu sebagai seekor sapi."

Bai Yu-jing berkata.

"Dia memang bukan sapi, dia seorang pelacur."

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata.

"Menurut pendapatmu yang sejujurnya, katakanlah apayang dia bilang itu benar, siapa yang mengira kalau seekor rubah tua seperti Gongsun Jing pun akan terperdaya oleh pelacur itu?"

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata.

"Menurut pendapatku yang sejujurnya, aku benar-benar sedikit bersimpati kepadanya."

Fang Long Xiang berkata.

"Aku juga bersimpati kepadanya."

Bai Yu-jing berkata.

"Karena itu kau membunuhnya."

Fang Long Xiang menghela napas.

"Jika aku tidak membunuhnya, mungkin dia akan mati sepuluh kali lebih mengerikan."

Bai Yu-jing berkata.

"Oh."

Fang Long Xiang berkata.

"Perkumpulan Naga Hijau mempunyai seratus macam cara untuk menghukum orang seperti dia, tiap cara akan membuatnya menyesali kenapa dia hidup di dunia ini."

Bai Yu-jing berkata.

"Sebenarnya urusan memalukan apa yang telah diperbuatnya?"

Fang Long Xiang bimbang sejenak sebelum berkata.

"Pernahkah kau dengar tentang 'bulu merak'?"

Raut muka Bai Yu-jing segera berubah. Dia berkata.

"Bulu merak dari Perkampungan Burung Merak?"

Fang Long Xiang berkata.

"Ternyata kau pernah mendengarnya."

Bai Yu-jing menghela napas.

"Di dunia Kang-ouw, jika ada orang yang belum pernah mendengar kedua patah kata itu, dia mungkin belum pernah mendengar juga tentang Pedang Abadi."

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum.

"Kau sangat rendah hati."

Bai Yu-jing juga tersenyum dan berkata.

"Rendah hati adalah salah satu sifat baikku yang paling utama."

Fang Long Xiang berkata.

"Oh? Kau juga punya sifat baik lainnya?"

Bai Yu-jing berkata.

"Aku tidak berjudi, tidak minum, tidak ambisius, aku cuma punya satu masalah."

Fang Long Xiang berkata.

"Masalah apa?"

Bai Yu-jing berkata.

"Aku suka berdusta. Tapi cuma satu kali sehari."

Fang Long Xiang berkata.

"Hari ini kau belum berdusta sekali pun?"

Bai Yu-jing berkata.

"Belum, karena itu aku harus cepat-cepat berdusta sekarang, agar nanti tidak kehilangan kesempatan lagi."

Dia tersenyum dan kemudian berkata.

"Karena itu jika sekarang aku mengatakan sesuatu, sebaiknya kau tidak mempercayainya."

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum.

"Terimakasih banyak karena sudah mengingatkanku, tentu saja aku tidak akan mempercayaimu."

Bai Yu-jing berkata.

"Jika aku katakan bahwa Gongsun Jing yang tadi dibunuh olehmu telah hidup kembali, kau tentu tidak akan percaya padaku."

Bab 5. Pisau Kilat Fang Long Xiang berkata.

"Tentu saja!"

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata.

"Jika kukatakan isterinya telah datang dan akan menyerangmu, kau percaya padaku?"

Fang Long Xiang berkata.

"Aku tidak akan mempercayainya."

Walaupun mulutnya mengatakan tidak percaya, tapi tak terasa ia pun memalingkan kepalanya.

Tangannya juga bergerak, gaetan besi itu menjauh dari tenggorokan Bai Yu-jing.

Di belakangnya, Bai Yu-jing tiba-tiba berputar ke kiri dan bangkit.

Pedang Abadi terjatuh di dekat mayat Gongsun Jing.

Ketika dia membalikkan badan, tangannya telah menggenggam gagang pedang itu.

Tapi saat itulah kekuatannya yang baru terkumpul tiba-tiba lenyap.

Ia baru saja melayang sejauh tiga kaki, tapi sedikit demi sedikit turun kembali.

Lalu didengarnya suara tawa Fang Long Xiang yang puas pada dirinya sendiri.

Hatinya serasa karam.

Karena dia tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya.

Sekarang kesempatan itu telah hilang dan tak akan pernah datang lagi.

Dingin dan lembab.

Bai Yu-jing meringkuk di lantai, seluruh tubuhnya tidak mau bergerak lagi.

Tapi gaetan besi itu telah mengangkat pinggangnya dan membalikkan tubuhnya.

Fang Long Xiang sedang memandangnya sambil tersenyum.

Tersenyum seperti seekor kucing yang mencengkeramkan kukunya pada seekor tikus.

Bila kucing menangkap seekor tikus, dia biasanya memberikan kesempatan sebanyak 12 kali bagi tikus itu untuk minggat, karena dia tahu tikus itu tentu saja tidak akan bisa melarikan diri.

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata.

"Aku tidak menyangka ilmu totokanmu telah banyak maju, seharusnya kita merayakannya."

Fang Long Xiang berkata.

"Sebenarnya saat kau menipuku untuk memalingkan kepala, aku telah memberimu kesempatan untuk mencoba."

Bai Yu-ing berkata.

"Oh."

Fang Long Xiang berkata.

"Kau kira tadi kau benar-benar berhasil menipuku?"

Bai Yu-jing berkata.

"Jika aku menjadi kau, aku pun tak akan sanggup mencegah diriku untuk berpaling."

Fang Long Xiang berkata.

"Tapi sebenarnya aku tidak perlu melakukannya."

Bai Yu-jing berkata.

"Oh."

Fang Long Xiang tersenyum dengan gembira dan berkata.

"Karena aku tahu bahwa isteri Gongsun Jing telah mati."

Bai Yu-jing berkata.

"Kau.... kau tadi telah membunuhnya?"

Fang Long Xiang berkata.

"Aku tidak suka membiarkan orang hidup di belakangku, karena itu walaupun saat ini aku membutuhkan seorang perempuan, aku terpaksa harus mengorbankan dirinya dengan berat hati."

Bai Yu-jing menarik napas.

"Seingatku, kau dulu seorang yang penuh kasih sayang."

Fang Long Xiang memperlihatkan kebencian yang luar biasa di wajahnya dan berkata dengan dingin.

"Sebelumnya aku juga orang yang mempunyai dua tangan."

Bai Yu-jing berkata.

"Karena kau tidak lagi punya tangan, kau pun tidak percaya lagi pada perempuan?"

Fang Long Xiang berkata.

"Aku hanya percaya pada satu jenis perempuan, yaitu yang sudah mati."

Tiba-tiba tersungging sebuah senyuman gembira di wajahnya, ia berkata.

"Jadi sekarang kita bisa melanjutkan pembicaraan kita?"

Bai Yu-jing berkata.

"Pembicaraan soal apa? Bulu merak?"

Fang Long Xiang mengangguk dan berkata.

"Menurut kabar, ada 360 macam senjata rahasia di dunia ini, tapi bulu merak dapat dipastikan sebagai senjata yang paling berhasil dan paling menakutkan."

Bai Yu-jing berkata.

"Aku mengakui hal itu."

Soal ini memang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

Menurut cerita, bila senjata rahasia ini dilontarkan, dia terlihat indah seperti seekor burung merak yang mengembangkan ekornya.

Bukan hanya tampak indah, tapi juga mempesona dan cemerlang.

Tentu saja tidak ada senjata lain di dunia ini yang bisa dibandingkan dengannya.

Tapi sekali bergerak, senjata ini akan membuatmu bingung dan segera mencabut nyawamu.

Fang Long Xiang berkata.

"Yang paling menakutkan, selain keturunan langsung dari Perkampungan Burung Merak, tidak ada orang lain di dunia ini yang tahu rahasia dari senjata rahasia ini. Tidak adayang tahu bagaimana cara senjata ini menyerangmu."

Bai Yu-jing berkata.

"Memang tidak ada yang tahu."

Fang Long Xiang berkata.

"Tapi sekarang seseorang sudah mendapatkan rahasia itu."

Dengan mata berkilauan, dia berkata.

"Peta rahasia Gongsun Jing yang diperdaya darinya adalah petacara pembuatan bulu merak itu, beserta cara menggunakannya."

Raut wajah Bai Yu-jing segera berubah. Dia berkata.

"Bagaimana peta ini bisa jatuh ke tangannya?"

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata.

"Jika Perkumpulan Naga Hijau ingin memperoleh sesuatu, mereka biasanya punya banyak cara."

Bai Yu-jing berkata.

"Apakah peta itu dicuri dari Perkampungan Burung Merak?"

Fang Long Xiang berkata.

"Mungkin."

Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing bertanya lagi tentang hal itu. Dia berkata lagi.

"KarenaPerkampungan Burung Merak mempunyai senjata seperti itu, mereka telah menguasai dunia Kang-ouw selama puluhan tahun. Tidak ada yang berani menentang mereka, bahkan Perkumpulan NagaHijau tidak mau mencari gara-gara dengan mereka."

Bai Yu-jing berkata.

"Aku tahu Perkumpulan Naga Hijau sudah lama merasa tidak puas dengan Perkampungan Burung Merak."

Fang Long Xiang berkata.

"Tapi jika yang lain juga bisa membuat bulu merak itu, kekuasaan dan pengaruh Perkampungan Burung Merak akan berkurang secara drastis. Selama bertahun-tahun ini mereka telah banyak membuat permusuhan dengan orang lain."

Bai Yu-jing merenungkan informasi itu. Lalu dia berkata.

"Kuda Putih, Rambut Merah, Pisau Tajam, Gedung Sejuta Emas, mereka semua mempunyai permusuhan yang amat mendalam dengan mereka."

Fang Long Xiang berkata.

"Karena itu mereka tidak ragu untuk mengorbankan segalanya dan bergegas hendak membeli peta rahasia ini. Setidaknya, jika mereka berhasil membuat bulu merak, mereka bisa membalas dendam dengan segera. Lebih dari itu, mereka juga akan mendapat namadengan sangat cepat."

Bai Yu-jing berkata.

"Benar. Amat penting bagi beberapa orang di dunia Kang-ouw untuk membeli bulu merak, tidak perduli betapa pun tinggi harganya."

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum.

"Mungkin lebih banyak daripada orang-orang yang ingin membeli Pedang Abadi-mu."

Bai Yu-jing berkata.

"Kenapa Perkumpulan Naga Hijau tidak membuat sendiri bulu merak itu? Kenapamereka harus menjualnya pada orang lain?"

Fang Long Xiang berkata.

"Karena putera sulung Naga Hijau cuma tertarik pada satu hal."

Bai Yu-jing berkata.

"Emas."

Fang Long Xiang berkata.

"Perak dan permata juga bagus."

Dia tersenyum amat misterius dan berkata.

"Perkumpulan Naga Hijau bisa memperoleh benda ini, tentu saja telah menghabiskan banyak uang. Pengeluaran Perkumpulan Naga Hijau amat besar, karena itu Naga Hijau tak sabar ingin melepaskan benda ini dengan harga yang pantas."

Bai Yu-jing juga tersenyum dan berkata.

"Apalagi benda ini adalah benda yang sangat panas, semakin cepat kau melepaskannya, semakin cepat masalah akan berpindah kepada orang lain."

Fang Long Xiang berkata.

"Itu benar."

Bai Yu-jing berkata.

"Juga, ada banyak orang di dunia Kangouw yang telah mati di bawah bulu merak. Jika kau membunuhnya dengan bulu merak, anggota keluarganya tentu juga ingin membalas dendam terhadap bulu merak."

Fang Long Xiang memperlihat penghargaannya atas analisa ini dan berkata.

"Itu tentu saja tak bisa dihindari."

Bai Yu-jing berkata.

"Urusan seperti ini akan menyebabkan huruhara di dunia Kang-ouw. Bila Kang-ouw semakin kacau, Perkumpulan Naga Hijau bisa mengail di air keruh untuk mendapat kesempatan lebih besar."

Dia menghela napas dan berkata.

"Putera sulung Naga Hijau kalian benar-benar orang yang berbakat. Semua orang tak punya pilihan kecuali harus mengaguminya, termasuk aku."

Fang Long Xiang tertawa dan berkata.

"Aku tidak menyangka kau juga akan mengakui hal ini, aku juga mengagumimu."

Bai Yu-jing berkata pula dengan enteng.

"Jika aku punya benda seperti itu di tanganku, setidaknya aku tak akan terperdaya oleh siapa pun."

Fang Long Xiang berkata.

"Gongsun Jing adalah orang yang cakap. Dia mempunyai pengalaman menangani hal ini. Dia juga orang ternama di Perkumpulan Naga Hijau, jadi sayang sekali kalau ternyata dia juga punya masalah yang sama denganmu."

Bai Yu-jing berkata.

"Dia juga suka berdusta?"

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata.

"Dia bernafsu besar, bahkan lebih bernafsu darimu. Dia juga seperti dirimu, dia menyukai gadis Yuan itu."

Dia menghela napas dan berkata.

"Dia benar-benar perempuan yang tahu bagaimana cara menipu laki-laki. Laki-laki yang bertemu dengannya, jika dia tidak menggantung diri sendiri, mungkin sebaiknya dia terjun saja ke sungai."

Wajah Bai Yu-jing memperlihatkan perasaan yang menderita. Dia tersenyum getir dan berkata.

"Untunglah aku tidak sampai menggantung diri, juga tidak terjun ke sungai, karena aku punyaseorang sahabat baik yang mau menjagaku."

Wajah Fang Long Xiang tidak memerah. Dia tetap tersenyum dan berkata.

"Karena itu aku selalu berkata bahwa nasibmu memang bagus."

Dia melanjutkan perkataannya.

"Bagaimana gadis Yuan itu bisa mencuri benda itu, sampai sekarang aku juga tidak jelas. Kecurigaanku adalah bahwa suatu waktu dia telah membuat Gongsun Jing teramat letih, membuat cetakan kuncinya, lalu membuat kuncinya. Kemudian dia menyuap orang yang menjaga lorong itu untuk mencurinya."

Bai Yu-jing berkata.

"Dugaanmu sangat beralasan."

Fang Long Xiang berkata.

"Setelah memperhitungkan segalanya dengan akurat, Gongsun Jing tentu berhasil melacak jejaknya. Tapi dia telah diperdaya di bawah hidungnya sendiri. Dia sendiri tidak bisalolos dari kejahatan itu, tentu saja dia tidak bisa mengungkapkan urusan ini pada siapa pun."

Dia menghela napas dan berkata.

"Gadis Yuan ini agaknya telah mempertimbangkan segalanya. Sayangnya dia telah melupakan satu hal."

Bai Yu-jing berkata.

"Oh!"

Fang Long Xiang berkata.

"Dia lupa kalau Naga Hijau bisa membuat siapa pun bicara, asalkan orang itu belum mati."

Bai Yu-jing berkata.

"Apakah penjaga itu telah mengatakan keberadaannya?"

Fang Long Xiang mengangguk dan berkata.

"Dia telah menyuap dua orang penjaga. Saat pergantian petugas jaga, dia menyelinap ke ruang rahasia bawah tanah dengan kunci duplikat itu, mencuri peta bulu merak, dan kemudian pergi ketika mereka berganti petugas jaga lagi."

Bai Yu-jing berkata.

"Kenapa dia tidak membunuh kedua penjaga itu untuk menutup mulut mereka?"

Fang Long Xiang berkata.

"Karena dia khawatir akan mengejutkan yang lainnya, karena ilmu kungfunya tidak begitu tinggi, dan karena dia tidak punya waktu yang cukup banyak."

Dia pun tersenyum dan berkata.

"Karena itu, jika kau pikir hatinya tidak cukup keji, kau keliru."

Bai Yu-jing berkata.

"Aku melihat orangnya, dan seringkali salah menebak sifatnya. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa menganggapmu sebagai seorang teman baikku?"

Fang Long Xiang tidak memperdulikannya dan berkata.

"Naga Hijau mempunyai orang-orang yang tersebar di seluruh dunia. Ketika mereka tahu tentang dia, mereka tentu akan dapat menemukan keberadaannya."

Bai Yu-jing berkata.

"Tentu saja."

Fang Long Xiang berkata.

"Gongsun Jing tentu saja tidak mau begitu saja menyerah pada nasib. Dia ingin mendapatkan kembali benda itu. Tapi dia juga amat paham tentang cara-cara Naga Hijau menangani anggotanya yang bersalah."

Bai Yu-jing berkata.

"Karena itulah dia menyamar sebagai orang mati dan bersembunyi di dalam peti mati."

Fang Long Xiang berkata sambil menyeringai.

"Dia mengira cara ini amat cerdik dan sangat aman. Tapi dia tidak pernah menyangka, ketika dia membeli peti mati itu, toko tersebut juga milik Perkumpulan Naga Hijau."

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata.

"Perkumpulan Naga Hijau memang sangat memperhatikan segala sesuatunya. Begitu kau memasuki Perkumpulan Naga Hijau, mereka telah mempersiapkan segala hal yang harus dilakukan setelah kematianmu."

Fang Long Xiang berkata dengan enteng.

"Cara mati seperti itu setidaknya masih lebih baik daripada dilemparkan sebagai makanan anjing."

Bai Yu-jing berkata.

"Kedua biksu itu? Mereka telah menjadi makanan anjing?"

Fang Long Xiang berkata.

"Kedua biksu itu tentu saja kakitangannya juga. Mereka menyamar sebagai biksu untuk sampai ke sini."

Bai Yu-jing berkata.

"Sayangnya kepala mereka terlalu ringan, pakaiannya terlalu baru, apalagi tatapan mata mereka saat melihat gadis muda."

Fang Long Xiang berkata.

"Karena samaran mereka bisa terlihat orang dengan jelas, maka jarum beracun lalu digunakan untuk melenyapkan saksi-saksi, tapi juga untuk melemparkan dosa kepada Miao Shaotian."

Bai Yu-jing berkata.

"Siapa orangnya yang menggeledah kotak-kotak nona Yuan itu? Bukan kau?"

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum.

"Mengapa aku melakukan hal seperti itu. Jika orang lain tidak mendapatkan benda itu, aku pun akan tahu juga, bukan?"

Bai Yu-jing mengangguk dan berkata.

"Jika bukan kau, tentu Zhang San atau Zhao Yi-dao. Saat itu hanya mereka yang punya kesempatan."

Fang Long Xiang berkata.

"Sayangnya kau mengirimkan sayursayuran dan arak yang enak itu kepada mereka."

Bai Yu-jing berkata.

"Walaupun Gongsun Jing tidak mau mengambil resiko, tapi dia juga khawatir penundaan yang terlalu lama akan menimbulkan lebih banyak masalah lagi. Karena itu ketika kami semua berada di dalam bangunan itu, dia pun mencari Yuan Zi-xia."

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum.

"Kukira, ketika dia muncul, mulanya dia cuma hendak berdiskusi dengan Yuan Zi-xia. Siapa tahu perempuan muda itu ternyata keras kepala, mungkin karena dia tahu asalkan dia berteriak, kau akan bertindak bagai pahlawan yang menyelamatkan perempuan cantik."

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum pahit.

"Yang paling lucu, aku malah menyerahkan dia kepadamu, karena aku ingin kau melindunginya."

Fang Long Xiang berkata.

"Mengabulkan permintaan orang adalah masalah kesetiaan. Aku tentu saja bisa melindunginya dengan sangat baik."

Bai Yu-jing berkata.

"Sekarang tugas besarmu akhirnya selesai, apa lagi yang kau inginkan?"

Fang Long Xiang berkata.

"Jasa yang besar ini belum mendapatkan keberhasilan, tapi hampir."

Bai Yu-jing berkata.

"Hampir bagaimana?"

Fang Long Xiang berkata.

"Peta merak itu masih berada di tangan orang lain."

Bai Yu-jing berkata.

"Di tangan siapa?"

Fang Long Xiang berkata.

"Kau."

Bai Yu-jing berkata.

"Di tanganku?"

Wajah Fang Long Xiang menjadi muram dan ia berkata.

"Kau tidak mengakuinya?"

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata.

"Perempuan... Oh, dia jelas memintaku untuk mati sebelum memberitahukan rahasia ini, siapa tahu dia malah mengungkapkannya terlebih dulu."

Fang Long Xiang tampak tersenyum puas dan berkata.

"Sudah kukatakan padamu, Perkumpulan Naga Hijau bisa memaksa siapa pun untuk bicara, meskipun orang mati, apalagi cuma seorang perempuan?"

Bai Yu-jing menarik napas.

"Jika kau ingin seorang perempuan menyimpan rahasia, mungkin hal itu sama dengan meminta orang mati untuk membuka mulutnya."

Fang Long Xiang berkata dengan santai.

"Sudah kukatakan, kau hanya punya dua pilihan, pilihan kedua menjamin lebih banyak kebahagiaan daripada yang pertama."

Bai Yu-jing berkata.

"Apa pilihan kedua?"

Fang Long Xiang berkata.

"Bawa peta merak itu ke Perkumpulan Naga Hijau, dan kau akan diberikan posisi yang ditinggalkan Gongsun Jing di perkumpulan kami."

Bai Yu-jing tiba-tiba tersenyum. Fang Long Xiang berkata.

"Kenapa kau tersenyum?"

Bai Yu-jing berkata.

"Aku sedang menertawakan diriku sendiri."

Fang Long Xiang berkata.

"Menertawakan dirimu? Kenapa?"

Bai Yu-jing berkata.

"Karena aku hampir mempercayai kata-katamu."

Fang Long Xiang berkata.

"Kau tidak mempercayainya?"

Bai Yu-jing berkata.

"Kau jelas sudah tahu bahwa aku mempunyai peta merak itu. Karena kau punyacara untuk memaksaku buka mulut, kenapa kau mengucapkan kata-kata yang menyenangkan ini untuk menipuku agar merasa gembira?"

Fang Long Xiang berkata.

"Karena kau orang yang berbakat, Perkumpulan Naga Hijau membutuhkan semua orang yang berbakat di dunia ini."

Bai Yu-jing bimbang dan berkata.

"Tapi aku tidak percaya."

Fang Long Xiang berkata.

"Lalu bagaimana caranya supaya kau bisa percaya?"

Bai Yu-jing berkata.

"Bebaskan aku dulu, lalu akan menyerahkan peta merak itu. Aku tidak akan menipumu....."

Fang Long Xiang tersenyum. Dia berkata.

"Untunglah tadi kau telah mengingatkanku. Kalau tidak aku pun hampir mempercayaimu."

Bai Yu-jing menghela napas.

"Aku tahu kita tidak akan berhasil membicarakan transaksi ini. Tapi ada suatu urusan yang juga ingin kukatakan padamu."

Fang Long Xiang berkata.

"Katakan saja."

Bai Yu-jing berkata.

"Jika aku tidak mau bicara, tidak ada orang di dunia ini yang bisa memaksaku buka mulut. Jika aku tidak mengatakan di mana peta merak itu berada, maka tidak ada orang di duniaini yang bisa menemukannya."

Mata Fang Long Xiang berkilauan. Dia lalu tersenyum dan berkata.

"Malam ini, kau belum pergi ke mana-mana. Jika aku menggeledah tempat ini dengan teliti, kenapa aku tidak bisa menemukannya?"

Wajahnya menjadi masam dan ia pun berkata.

"Jika aku harus mencari, aku tentu akan mulai dari tubuhmu."

Bai Yu-jing berkata.

"Silakan kalau begitu."

Fang Long Xiang menatapnya, matanya seperti mata seekor rubah yang sedang memburu anjing.

Mata Bai Yu-jing melirik ke sekelilingnya, menghindari kontak dengan mata lawan.

Seolah-olah dia khawatir kalau matanya akan mengungkapkan rahasianya.

Di kamar itu terdapat banyak barang.

Dia memandang semuanya, pada lukisan yang tergantung di dinding, pada lilin putih di atas meja, pada peti mati dan pada mayat di dalam peti.

Dia tidak memandang pedangnya.

Dia tidak memasukkan pedang itu dalam pengamatannya ke sekeliling tempat itu.

Mata Fang Long Xiang tiba-tiba bersinar-sinar.

Mendadak dia berkata.

"Jika aku menjadi kau, di manakuletakkan peta merak itu?"

Bai Yu-jing berkata.

"Kau bukan aku."

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum.

"Itulah bagus, aku memang bukan kau. Tapi aku jugatidak mempunyai Pedang Abadimu."

Mimik muka Bai Yu-jing pun berubah seakan-akan darah telah berhenti mengalir di wajahnya. Fang Long Xiang tertawa. Dengan lembut dan cepat.

"tring!" , dia mengangkat Pedang Abadi itu dengan gaetan besinya. Sinar pedang itu gemerlap seperti perak, gagang pedang dililit oleh kain sutera berwarna hitam keunguan. Fang Long Xiang mengelus badan pedang dengan perlahan, sambil melirik Bai Yu-jing dengan sudutmatanya. Dia pun bergumam.

"Pedang yang bagus. Benar-benar pedang yang bagus, tapi sayangnya gagang pedang ini membuatnya tampak buruk."

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum dipaksa.

"Nanti bila aku punya kesempatan, aku tentu akan menggantinya."

Fang Long Xiang tiba-tiba berkata sambil tersenyum.

"Bagus, aku akan menggantinya untukmu."

Bai Yu-jing tersenyum dipaksa dan berkata.

"Kau tidak usah repot-repot. Aku terpaksa menolak maksud baikmu itu dengan rasa terima-kasih."

Fang Long Xiang berkata.

"Karena kita adalah teman baik, kenapa kau begitu sopan?"

Pelan-pelan dibalikkannya pedang itu dan diayunkan. Dia menggunakan kedua jarinya untuk mengetuk-ngetuk dan mendengarkan. Lalu dia berkata.

"Hei, kenapa bagian dalamnya seperti kosong?"

Dia menggunakan lidahnya untuk menjilat bibirnya yang kering. Rasanya seperti ikan asin. Fang Long Xiang pelan-pelan mengangguk dan berkata.

Baca Juga: Pedang Kayu Cendana 3

Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert