Eps 3 Bara Maharani - Khu Lung
Baca online Bara Maharani - Khu Lung
Cersil Bara Maharani - Khu Lung.
Siauw Leng segera mengiakan dan buru bunu mengejar dari belakang pemuda she Hong po. Pek Siauw Thian berdiri termangu-mangu, akhirnya ia bergumam seorang diri .
"Enghiong hoohan tidak terpikat oleh kecantikan wajah tidak kemaruk oleh harta benda, tidak kesemsem oleh kedudukan serta pangkat dan tidak tertarik pada nama besar, entah bocah ini apakah manusia diluar pengecualian...." . Dalam pada itu Hong po Seng dengan langkah lambat berjalan kedepan, ditengah perjalanan ia rasakan kepalanya pusing tujuh keliling, sepasang kakinya lemas sekali dan ulu hatinya teramat sakit. Semenjak terjun kedalam dunia persilatan, secara beruntun ia telah dua kali menderita luka parah, kejadian ini membuat hatinya teramat sedih hingga sukar dilukiskan dengan kata kata, tetapi ia tidak menggerutu atau menyesal, hanya secara lapat-lapat hatinya merasa kosong dan kesal. Pikirnya didaIam hati .
"Aku tak usah memikirkan persoalan-persoalan itu lagi, yang penting hanyalah "Tan Hwie Tok Lian"
Teratai racun empedu api benda yang dibutuhkan oleh ibuku, bagaimana pun juga aku harus berusaha untuk mendapat kannya ".
Saat itulah tiba-tiba Siauw-Leng menyusul datang sambil berseru .,Hong po Seng, marilah ikuti diriku, aku akan menunjukkan jalan untukmu!' Mendengar ucapan itu Hong-po-Seng memperhatikan sekejap sekeliling tubuhnya, ternyata ia sudah tersesat jaIan ditengah tumbuhan pohon bamhu itu, segera ia manyahut dan mengikuti dibelakang dayang tersebut.
Sekeluarnya dari belakang benteng terdengar suara derap kaki kuda berkumandang datang, Oh Sam dengan menunggang kereta milik Pek Koen Gie telah meluncur datang dari balik benteng.
Kereta itu berhenti tepat dihadapannya, Oh Sam sambil melayang turun ketanah segera mengangsurkan sebutir pil kehadapan sianak muda itu sambil ujarnya .
"Ceyhe mendapat perintah untuk menghantar Hong po Seng kongcu keluar dari wilayah kekuasaan perkumpulan Sin Kee Pang, Kongcu hendak pergi kemana silahkan kau utarakan kepada cayhe" . Hong po Seng mendongak dan memandang sekejap kearah kereta itu. ia lihat sebuah panji kuning tertancap diujung kereta dan benda itu belum pernah dilibat sebelumnya, maka setelah berpikir sejenak ia berkata .
"Aku mau berangkat keutara, kekota Yan Im!" . Oh Sam mengangguk tanda mengerti lalu melangkah kedepan membukakan pintu kereta, Melihat sikapnya mendadak berubah sama sekali terhadap dirinya walau dalam hati merasa curiga tapi sianak muda itu ogah untuk berpikir lebih jauh, setelah mengangguk kepada Siauw-Leng ia lantas melangkah masuk kedalam kereta. Ledakan pecut menggeletar ditengah angkasa, roda kereta bergulung menggilas jalan, dengan cepat kereta itu berangkat menuju kearah utara. Selama beberapa hari berikutnya Hong-po Seng hidup dalam kemewahan dan keagungan panji "Hong-Loei-Leng"
Yang teatancap di atas kereta kuda walaupun kecil bentuknya tapi mempunyai kekuasaan sangat besar dimana kereta itu lewat para jago Bu-lim baik dari golongan Pek to maupun Hek to sama sama menyingkir kesamping, dimana mereka menginap karnar yang disediakan tentu bersih clan mewah, makanan yang dihidangkanpun lezat serta mewah, dimanapun Hong po Seng berada suasana selalu dipelihara dalam keheningan.
Belum sampai beberapa hari dalam keteta mereka sudah dipenuhi oleh tumpukan uang mas dan perak.
'00oo0O' Sejak menelan pil pemberian Oh Sam, sepanjang hari Hong-po Seng bersemedi terus untuk menyembuhkan luka dalamnya.
Tidak sampai sepuluh hari luka yang dideritanya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda sembuh.
Suatu hari ketiaa ia sedang duduk dalam kereta dengan hati kesal, tiba tiba telinganya menangkap suara pertempuran yang sedang berlangsung dari arah depan, ia segera melongok keluar lewat jendela, dimana terlihatlah disisi sebuah jalan segerombol manusia sedang melangsungkan pertempuran sengit.
Sebuah gerobak dorong diparkir dipinggir jalan, diatas kereta terlapis selembar selimut dekil, seorang kakek tua berbaju compang-camping meringkuk diatas gerobak dorong itu, noda darah berpelepotan diatas kain dekil tadi sedangkan matanya ditujukan ketengah kalangan dimana pertempuran sedang berlangsung.
Sementara dttengah kalangan seorang nenek tua berambut putih serta seorang lelaki berbadan kekar dengan punggung menempel punggung sedang bertarung menghadapi nausuh-musuhnya, empat buah telapak dengan perkasa menghadapi sembilan orang lelaki bersenjata tajam yang mengelilingi disekitarnya, Nenek serta lelaki kekar itu telah terluka tubuhnya, darah segar membasahi hampir seluruh pakaian yang dekil.
Disamping itu terdapat pula seorang lelaki berbaju perlente dengan tangan yang luar biasa panjangnya berdiri disisi kalangan sambil bertolak pinggang, matanya dengan tajam sedang mengawasi pula jalannya pertarungan itu Sebelum Hong Po Seng sempat naelihat jelas datangnya pertempuran sipria berbaju perlente yang sedang mengawasi jalannya pertempuran itu telah mangenal sang kusir dari kereta tersebut.
menyaksikan pula panji "Hong Loei Leng"
Yang menancap diujung kereta wajahnya menunjukkan rasa yang amat terperanjat, buru-buru ia ulapkan tangannya sambil membentak.
,.Mundur!
Mundur!
Mundur!".
Secara beruntun ia mangulangi teriakannya itu sampai tiga kali, mendapat perintah kilat yang dilontarkan lelaki barbaju perlente itu, sembilan orang jagoan yang sedang mengerubuti nenek serta lelaki kekar tadi segera meloncat mundur kebelakang dan mengundurkan diri dari kalangan.
Hong po Seng pun menyaksikan pula dengan jelas keadaan ketiga orang itu, melihat keadaan yang sangat mengenaskan hawa amarahnya kontan berkobar, ia segera mengetuk lantai kereta dan memerintahkan untuk berhenti.
Dalam melakukan perjalanannya kali ini Oh Sam membawa tugas rahasia yang diperintahkan atasannya terhadap ,Hong-po Seng sikapnya selalu para pura menghormat.
Tapi sesudah melakukan perjalanan beberapa kali, sikap gagah dan agung yang diperlihatkan pemuda itu sedikit demi sedikit mulai menembusi hati kecilnya sehingga membuat kusir ini dari berpura pura akhirnya menjadi sungguh sungguh menghormat.
Kereta kuda segera berhenti, Hong po Seng membuka pintu kereta dan melangkah turun.
Oh Sam segera memperkenalkan pemuda itu kepada pria berpakaian perlente yang sedang berdiri disisi kalangan dengan wajah penuh rasa terkejut itu.
"Inilah Hong po Seng kongcu, Tong Hoen Tong cu silahkan menemuinya !"
Pria herbaju perlente itu melirik sekejap "'Hong Loei Leng"
Yang berkibar diujung kereta.
kemudian buru buru menjura sambil berkata .
Cayhe Tong Ceng, menghunjuk hormat untuk Hong po kongcu".
Dalam pada itu kesembilan orang tadi telah rnenyimpan kembali senjata tajamnya.
melihat pemimpinnya memberi hormat mereka pun bensama sama memberi hormat pu1a.
Diam diam Hong po Seng berpikir didalam hati.
"Luka dalam yang kuderita belum sembuh, tak munkin bagiku untuk bertempur, rasanya mengatasi persoalan ini aku harus pura pura menjadi srigala" . Berpikir demikian ia lantas ulapkan tangan dan menyahut dengan nada ketus.
"Tong hoen Tong cu tak usah banyak adat !"
Seraya menuding tua muda tiga orang itu tegurnya lebih jauh.
"Siapakah ketiga orang itu??".
"Kalek tua yang berada diatas kereta bernama "
Bong Beng Hauw"
Atau si Harimau Pelarian Tiong Liauw, Sinenek bernama Bee Ya Hauw atau si Harimau Ompong, sedangkan si lelaki itu adalah putra mereka berdua bernama 'Poet Siauw Hauw"
Atau siharimau bisu Tiong Long orang orang kangouw menyebut ketiga orang ini sebagai Tiong Sam Hauw atau tiga ekor harimau dari keluarga Tiong."
"Ehemm kesalahan apa yang telah mereka lakukan ?,"
Tanya Hong po Seng lagi dengan alis berkerut. Si Harimau pelarian Tiong Liauw yang ada digerobak dorong itu segera mendengus dingin dan berteriak.
"Aku telah membunuh bapak tuamu !"
Kemudian dengan lengan sebagai bantal berbaring kembali diatas kereta gerobak dorongnya.
Tong Ceng serta sembilan orang pria dibelakangnya menjadi naik pitam setelah mendengar teriakan itu, mereka bersama sama menoleh kearah kakek itu kemudian melototinya dengan hati mendongkol.
Buru buru Hong po Seng ulapkan tangannya.
"Tong Hoen tong cu, katakanah duduk perkara yang sebenarnya. aku punya cara untuk membereskan mereka."
Mendapat teguran Tong Ceng berpaling kembali dan segera menjawab.
"Tiga ekor harimau dari keluarga Tiong ini bengis dan suka berkelahi, mereka bernyali besar dan tak takut mati, seringkali tanpa sebab menerbitkan keonaran dan berkelahi dengan orang. Bulan berselang mereka telah menyelesaikan jiwa dua orang saudara dari perkumpulan kita, dari pihak markas pusat segera turunkan peritah untuk memberi tanda mata diatas tubuh ketiga orang ini di manapun ia tiba, tapi jiwa mereka harus tetap dipertahankan. Karena itu sewaktu mereka memasuki wilayah kekuasaan kantor cabang kami, cayhe mendapat tugas untuk melaksanakan perintah tersebut" . Darah panas dalam rongga dada Hogg po Seng kontan bergerak keras, ia menjadi teramat gusar sekali, pikirnya .
"Kawanan bajingan kalau tilak cepat cepat dibasmi dari muka bumi, umat Bu lim yang ada dikolong langit mana bisa hidup dengan aman dan sentausa?" . Ketika Tog Ceng menyaksikan wajah Hong po Seng menujukkan kegusaran, ia mengira pemuda ini benci terhadap ketiga ekor harimau dari kelurga Tiong, buru buru ia maju membari hormat seraya ujarnya.
"Harap kongcu jangaa gusar, cayhe segera turun tangan untuk meninggalkan tanda mata ditubuh mereka setelah itu baru kutemui kongcu untuk beristitahat dikantor cabang" . Tangan berkelebat kebelakang, tahu-tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah golok, kemudian dengan langkah lebar segera menghampiri ketiga ekor harimau dari keluarga Tiong itu. Dengan cepat pikiran Hong po Seng berputar, ia merasa tidak ada untungnya untuk bentrok dengan mereka dalam keadaan begini maka teriaknya keraskeras.
"Tong hoen Tong cu, harap tunggu sebentar !". Tong Ceng berhanti dan menjura.
"Kongcu masih ada pesan apa???".
"Aku membutuhkan jiwa ketiga orang ini sebagai kado, kebetulan sekall ketiga ekor harimau dari keluarga Tiong cocok dengan seleraku Ia menoleh kearah Oh Sam diatas kereta dan menambahkan. ,.Tangkap ketiga orang itu dan lemparkan kedalam kereta!" . Oh Sam yang mendapat perintah ini diam-diam merasa gelisah, tapi keadaan memaksa dia harus berbuat begini, maka tanpa membantah ia segera melayang turun dari tempat duduknya dan mendekati ketiga orang itu. Si harimau Ompong Tiong Lo Popo kontan menuding Hong po Seng sambil meraung gusar.
"Bajingan cilik anjing betina, kenapa kau tidak turun tangan sendiri?" . Hong Po Seng pura-pura tidak mendengar, dengan wajah membesi ia masuk kembali kedalam kereta. Secara lapat-lapat Oh Sam dapat merasakan maksud hati sianak muda itu, melihat ia kena dimaki diam diam hatinya merasa geli. Sebagai seorang jago berkepandaian lihay tentu saja ketiga orang itu bukan tandingannya, dalam waktu singkat ketiga ekor harimau itu sudah ditotok jalan darahnya dan dilemparkau kedalam kereta. Kepada Tong Ceng yang berada diluar kereta, Hong Po Seng segera ulapkan tangau sambil berkata.
"Sakarang aku sedang ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, waktu kembali nanti saja akan kusinggah kekantor"
Jangan dikata tanda perinteh"
Hong Loei Leng"
Berada didepan mata.
Cukup kereta kuda milik Pek Koen Gie serta kusirnya Oh Sam telah menggetarkan hati para pemimpin kantor cabang, tentu saja Tong Ceng tidak berani banyak bicara lagi, bersama sama anak buahnya mereka segera memberi hormat dan menghantar keberangkatan sianak muda itu.
Kereta kudapun melanjutkan perjalanannya menuju kedepan, Hong-po Seng yang berada didalam ruang kereta segera bangkit berdiri dan membebaskan jalan darah Si Harimau pelarian Tiong Liauw yang tertotok.
Setelah jalan darahnya tertotok tadi keempat anggota badan siharimau pelarian Tiong Liauw sama sekali tak bisa berkutik, tapi riak kental yang berada dimulutnya dapat diludahkan sekehendak hatinya, melihat Hong-po Seng datang mendekat ia kegirangan, menggunakan kesempatan dikala pihak lawan tidak bersiap siaga itulah mendadak ia pentang mulutnya dan meludah.
Cuuuh....!
riak kental tadi segera disembur kearah wajah sianak muda itu.
Hong-po Seng mimpipun tidak menyangka kalau ia bakal diludahi, belum sempat ia bertindak pipinya segera terasa amat sakit, riak kental itupun sudah mengotori seluruh wajahnya mendatangkan rasa yang sangat tidak enak dibadan.
Pemuda ini baru berusia enam tujuh belas tahunan, wataknya keras hati dan masih berdarah panas.
mendapat penghinaan yang sama sekali tak terduga ini kontan membangkitkan hawa amarah dalam hatinya, telapak kiri segera diayun menggaplok kedepan.
Tapi ketika serangannya tiba ditengah jalan, hatinya jadi lemah, sambil menarik kembali serangannya ia menghela napas dan berkata .
,.Aaai ..!
aku tak akan mengumbar hawa amarah dengan kalian !".
Dengan ujung bajunya ia menyeka noda riak kental yang menempel diatas wajahnya, kemudian berpailing kearah Tiong Loo-po dengan maksud membebaskan jalan darahnya.
Si Harimau ompong Tiong Lo Poo cu merasa amat girang dan sewaktu dilihatnya sang suami berhasil mendaratkan riaknya diatas wajah orang diam diam diapun mempersiapkan riaknya didalam mulut, asal Hong-po Seng berani mendekat maka dengan cara yang sama dia akan melukai pemuda itu.
Dari perubahan air muka sinenek tua itu Hong po Seng menyadari bahwa orang inipun mengandung maksud jelek terbadap dirinya, maka dia lantas mengambil keputusan untuk tetap membiarkan ketiga orang itu berbaring dilantai, sedang ia sendiri kembali kekursinya sambil berpikir didalam hati.
"Ketiga orang ini berjiwa gagah, berhati keras kepala dan tanpa memperdulikan keselamatan sendiri berani memusuhi manusia manusia laknat itu, manusia semacam itu boleh dibilang termasuk patriot sejati. Aaai! cuma sayang kepandaian silat yang mereka miliki terlalu cetek" . Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya hingga tanpa terasa ia bergumam seorang diri.
"Dunia persilatan penuh diliputi kelicikan serta kekejian, setiap langkah penuh dengan jebakan mara bahaya, diatas tubuh Pek Siauw Thian telah menghujamkan ketiga batang paku beracun pengunci sukmanya yang membuat badanku jadi tersiksa, walaupun racun diujung senjata itu baru akan bekerja setahun mendatang, siapa tahu kau sebelum batas waktunya aku bakal kehilangan nyawa terlebih dahulu?" . Berpikir demikian didalam hati diapun segera mengambil keputusan, serunya.
"Siapa bilang ilmu silat hanya boleh dimiliki pribadi? alangkah baiknya kalau kusebar luaskan kepandaian tersebut keseluruh dunia persilatan, suatu hari pasti akan muncul seorang pendekar sejati yang memiliki ilmu silat lihay, waktu itu dengan suatu kerja sama yang keras rasanya tidak sulit untuk membasmi kaum durjana dari muka bumi" . Mendadak terdengar si Harimau pelarian Tiong Liauw menegur sambil tertawa.
"Bajingan cilik, rupanya kau sedang mimpi disiang hari bolong?" . Dengan cepat Hong po Seng menenteramkan hatinya, lalu dengan wajah sungguh-sungguh ujarnya.
"Aku minta kalian perhatikan dengan seksama, aku bernama Hong po Seng dengan pihak perkumpulan Sin Kee Pang terikat dendam yang amat mendalam, setiap saat jiwaku terancam oleh bahaya maut...''.
"Bajingan cilik, semestinya sedari dulu kau harus modar!"
Jengek Tiong Liauw sinis. Hong po Seng menghela napas panjang.
"Dalam hatiku sebenarnya terdapat banyak persoalan yang hendak dibicarakan dengan kalian...." . Siharimau ompong Tiong Loo Boo cu yang selama ini berbaring disudut kereta mendadak menyela.
"Anjing bajingan cilik, kalau mau melepaskan kentut busuk cepat kau lepaskan!" . Sikap serta tingkah laku beberapa orang ini benarbenar membuat Hong po Seng jadi serba salah, mau menangis tak bisa mau tertawapun sungkan, tapi disambungaya juga katanya.
"Walaupan aku ada pesan terakhir yang hendak disampaikan kepada kalian, sayang kalian termasuk manusia manusia patriot yang terlalu emosi, manusia macam kalian sulit untuk memikul tanggung jawab berat, akupun tidak tega untuk memasrahkan pesanku ini kepada kalian" . Bicara sampai disini nadanya tiba tiba berubah jadi amat sedih, sambungnya .
"Aku mempunyai serangkaian sim hoat tenaga dalam serta satu jurus ilmu pukulan yang maha dahsyat, kini akan kupersembahkan kepada kalian semua, setelah kalian berhasil mempelajari kepandalan tersebut carilah suatu tempat terpencil serta terasing dari pergaulan masyarakat untuk berlatih kepandaian tersebut dengan tekun, bilamana ilmu si1at itu berhasil kalian kuasahi saat itulah kalian baru boleh muncul kembali didalam dunia persilatan, bantulah kaum lemah dan hadapilah kaum laknat, jadilah pendekar yang sejati pembela rakyat jelata" . Mendengar perkataan itu Si Harimau pelarian Tiong Liauw mengerutkan alisnya, setelah memperhatikan wajah Hong po Seng beberapa kejap, ujarnya dengan nada dingin .
"Bajingan cilik, sungguh tak nyana kau adalah seorang manusia yang berhati bajik, waaah.... maaf kalau loohu bersikap kurang hormat terhadap dirimu, kau punya sim hoat serta ilmu pukulan apa? cepat dikeluarkan agar kami bisa menyaksikan kelihayanmu"
Hong po Seng mengerti bahwa dirinya sedang disindir tapi dia tidak menggubris sindiran orang, ujarnya hambar.
"Tak usah banyak bicara lagi, baik baiklah perhatikan keterangan serta pelajaran yang akan kuutarakan" . Selesai berkata tanpa memperdulikan apakah ketiga orang itu suka mendengarkan atau tidak segera mulai menerangkan rahasia dari jurus serangan ,Koen Sioe Ci Tauw"
Tersebut . Petangya kereta berjalan masuk kedalam kota, Hong po Seng segera menggedor dinding kereta sambil berteriak keras .
"Siapkan rangsum kering dan lanjutkan perjalanan menuju keutara, malam ini kita menginap didalam hutan saja"
Oh Sam menghentikan keretanya dan segera meloncat bangun, sambil menghampiri jendela kereta serunya.
"Kongcu-ya, buat apa kau mencari penderitaan yang tak berguna??".
"Sudah, tak usah banyak bicara lagi, apa yang aku lakukan sama sekali tidak dirahasiakan terhadap dirimu, kalau kau merasa senang dengan caraku bekerja lakukanlah apa yang kuucapkan, sebaiknya kalau kau tidak senang hati, silahkan membawa tanda perintah Hong Loei Leng tersebut dan kembali kemarkasmu!" . Oh Sam rada tertegun, tapi ia segera tertawa. .,Cayhe mendapat perintah untuk menghantar kongcu keluar dari perbatasan, sebelum juga dilaksanakan hingga selesai aku tidak berani pulang kemartkas untuk memberi laporan"
Habis berkata ia kembali keatas keretanya dan meneruskan kembali perjalanannya menuju kedepan.
Dalam pada itu siharimau pelarian Tiong Liauw setelah mendengarkan uraian dari Hong Po Seng mengenai sim hoat tenaga dalam serta ilmu pukulan dan merasa bahwa kepandaian tersebut benar benar merupakan kepandaian maha sakti yang sangat berharga serta belum pernah didengar sebelumnya dalam hati merasa terkejut bercampur curiga, nada pembicaraannya pun sudah jauh berobah lebih lunak.
Terdengarlah ia berkata dengan nada serius.
"Kongcu ya sebenarnya siapakah kau?? Kau berbuat demikian sebetulnya disebabkan karena apa?".
"Aku berbuat demikian karena setiap saat ada kemungkinan bagiku untuk menemui ajalnya, kalian sekeluarga tiga orang adalah manusia-manusia kosen yang berjiwa besar dan bersemangat patriot, hanya manusia-manusia semacam kalianlah yang pantas untuk mendapat pelajaran ilmu silat seperti ini" . Sambil berkata ia maju kedepan dan membebaskan jalan darah yang tertotok ditubuh ketiga orang itu. Si Harimau ompong Tiong Loo Boo cu dengan pandangan yang tajam mengawati wajah pemuda itu beberapa saat, kemudian dengan mata melotot tanyanya.
"Antara kau dengan pentolan perkumpulan Sin Kee Pang sabetulnya terikat dendam sakit hati? ataukah masih ada ikatan sanak serta keluarga??" .
"Waktu yang kita miliki sangat terbatas, lebih baik tak usah kita bicarakan persoalan yang tak berguna itu"
Tukas Hong-po Seng cepat, ia segera meneruskan keterangannya membicarakan soal rahasia ilmu pukulan tersebut.
Sejak itulah setiap hari baik siang maupun malam Hong po Seng selalu bekerja keras mewariskan ilmu pukulan yang amat lihay itu kepada tiga ekor harimau dari keluarga Tiong ini, tetapi berhubung dilihatnya bakat yang dimiltki mereka bertiga hanya biasa biasa saja, sewaktu mempelajari kepandatan tersebut terlalu lamban dan payah, maka akhirnya ia membagi ketiga orang itu rnenjadi rombongan dan mempelajari kepandaian tersebut secara bergilir.
Tiap orang mempelajari perubahan jurus serangan yang berbeda, dengan demikian maka setiap orang harus menghapalkan tiga puluh gerakan labih, dengan cara begini bukan saja beban yang diterima mereka rada enteng, bahkan merekapun bisa beristirahat secara bergilir dan pelajaranpun dapat diingat lebih mendalam.
Dua tiga puluh hari kemudian sampailah mereka di tepi sungai Hoang hoo, dan dengan susah payah pula ketiga orang itu berhasil mempelajari satu jurus ilmu pukulan itu.
Waktu itu Hong po Seng telah mewariskan sim hoat tenaga dalam keluarganya kepada mereka bertiga, melihat kereta mendadak berhenti ia segera loncar keluar dari ruang kereta dan menjura kearah Ong Sam, ujarnya.
"Ong heng, walaupun perkenalan kita tidak terhitung pendek tapi berhubung diantara kita masih terikat permusuhan, make lebih baik kita berpisah sampai disini saja, bila ada jodoh dikemudian hari kita saling berjumpa kembali!" .
"Kongcu ya, apakah kau hendak menyeberangi sungai?"
Tanya Oh Sam sambil loncat turun dari keretanya dan tertawa. Hong po Seng mengangguk membenarkan.
"Aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, banyak bicara tak ada gunanya, lebih baik kita berpisah sampai disini saja"
Bicara sampai disitu diapun lantas berjalan menuju ketepi pantai. Oh Sam meloncat masuk kedalam kereta untuk mengambil beberapa keping uang emas, kemudian sambil menyusul pemuda itu serunya.
"Tak ada uang sulit untuk melanjutkan perjalanan, uang ini adalah sumbangan dari tiap tiap kantor cabang kepada diri kongcu. lebih baik kongcu bawa saja sebagai persediaan."
Sambil tertawa Hong po Seng menyambut uang itu, melihat tiga ekor harimau dari keluarga Tiong mengikuti disisinya, ia segera mengambil satu keping uang emag untuk diri sendiri dan menyerahkan sisanya ketangan Harimau ompong Tiong Loo Poo cu.
Tiong Loo Poo cu menyambutnya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun segera dimasukkan kedalam saku.
Mereka bertigapun segera naik perahu untuk menyebrangi sungai Huang hoo, setibanya diatas daratan Hong po Seng putar badan dan ujarnya kepada ketiga orang itu.
"Sebelah utara sungai Huang hoo sudah bukan termasuk wilayah kekuatan perkumpulan Sin Kee Pang, lebih baik kalian bertiga untuk sementara waktu berdiam diwilayah utara saja, tiga lima tahun kemudian rasanya belum terlambat untuk kembali kedesa kelahiran kalian"
Mendengar perkataan itu siharimau pelarian Tiong Liauw segera berdiri dan tertegun serunya.
"Eeee.. kenapa? apakah Kongcu-ya mengusir kita pergi ???" . Hong po Seng sendiripun dibikin tertegun oleh pertanyaan tersebut, ia segera menyahut.
"Secara kebetulan kita bisa saling bertemu satu sama lainnya, persahabatan pun telah kita jalin, apakah kalian selamanya hendak mengikuti diriku terus?"
Mendadak terdengar siharimau ompong, nenek tua she Tiong berteriak keras.
"Tiga lembar jiwa dan tiga ekor harimau dari keluarga Tiong kau yang menyelamatkan, sedang kami tiada rumah tempat bertinggal lagi, kalau tidak ikut kongcu lalu kita musti pergi kemana?"
"Aaaah, hal ini mana boleh jadi ?"
Sahut Hong po Seng dengan wajah melengak.
"Aku masih ada banyak urusan yang harus diselesaikan, lagi pula perjalananku selanjutnya penuh dihalangi oleh kesulitan serta mara bahaya, aku tidak ingin menyusahkan kalian bertiga!"
Pada dasarnya pemuda ini baru saja sembuh dari luka dalam yang parah ditambah pula selama hampir sebulan lamanya siang malam ia bekerja keras untuk mewariskan ilmu silatnya kepada Tiong Si Sam Hauw, hal ini membuat kesehatan badannya lama kelamaan jadi semakin lemah, bukan saja luka dalamnya kambuh kembali, matanya jadi cekung, wajahnya kunyal dan lesu hingga untuk mengucapkan beberapa patah kata itupun harus menggunakan banyak tenaga.
Tiong Si Sam Hauw semuanya merupakan manusia manusia yang berjiwa keras, semula mereka tidak berpikir lebih mendalam akar, maksud perbuatan sianak muda itu.
Kini setelah mengetahui bahwa Hong po Seng benar benar tiada permintaan yang diajukan kepada mereka bahkan justru mereka malah yang berhutang budi kepadanya, jadi tertegun dan berdiri termangu
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com mangu, tanpa sadar air mata jatuh bercucuran membasahi wajab ketiga orang itu.
Hong-po Seng tidak ingin melihat keadaan seperti itu berlarut larut, ia segera keraskan hati dan menjura kepada mereka bertiga.
"Harap kalian bertiga suka baik baik menjaga diri kita berpisah dahulu ditempat ini !"
"Kongcu-ya!"
Mendadak siharimau pelarian Tiong Liauw berseru dengan suara gagah.
"Kamni Tiong si Sam Houw bukan lantaran hendak membalas budi lantas hendak mengutarakan kata-kata ini, tapi berhubung kami kami kagum atas kegagahan serta kebesaran jiwa kongcu ya maka bila kongcu menampik, kami sekeluarga tiga orang rela mengikuti diri kongcu untuk berbuat apa saja, walaupun harus mengorbankan jiwa kamipun kami bertiga rela."
Hong po Seng dibuat amat terharu oleh ketulusan hati ketiga orang itu, tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Terima kasih kuucapkan atas maksud dari cuwi bertiga"
Katanya lirih.
"Aku menyadari bahwa jiwaku selalu terancam bahaya maut, aku tidak ingin menyusahkan pula kalian bertiga Untuk sementara waktu kalian berdiamlah diwilayah utara, tekunilah pelajaran ilmu silat kalian, bilamana suatu waktu aku membutuhkan bantuan pasti akan kucari kalian bertiga untuk menyumbangkan tenaganya" .
"Kongcu ya, dewasa ini kau hendak pergi kemana?" . Sebelum Hong po Seng sempat menjawab terdengarlah siharimau ompong Tiong Loo Poo cu talah membentak dengan nada gusar.
"Hey tua bangka, kenapa kau musti banyak bicara yang tak berguna, kita ikuti saja dibelakangnya" . Mendengar perkataan itu siharimau pelarian Tiong Liauw benar-benar tidak berbicara lagi. Sebaliknya Hong-po Seng diam diam segera berpikir .
"Sekeluarga ini berjiwa besar dan berhati jujur, setiap melaksanakan pekerjaan hanya didasari oleh emosi serta perasaan, andaikata aku tidak menerangkan yang jelas, mereka tentu akan mengikuti diriku terus menerus, seandainya sampai terjadi begini bukankah urusan besarku bakal runyam dibuatnya ?" . Karena berpikir demikian baru buru serunya kepada Tiong Liauw dengan wajah serius .
"Loo-tiang, harap kau berpikir dengan seksama, sebenarnya apa sih maksud tujuanku dengan susah payah menurunkan ilmu silat yang kumiliki kepada kalian bertiga ??" . Mendengar pertanyaan itu si Harimau Pelarian Tiong Liauw berpikir sejenak, kemudian jawabnya .
"Aaah betul ! pastilah kongcu memandang ilmu silat yang kami miliki terlalu cetek, maka bilamana mengikuti disisimu sebaliknya malah mengganggu serta merepotkan" . Walaupun perkataan tersebut tidak mengena dengan jitu atas apa yang dipikirkan di dalam hati, tetapi Hongpo Seng tidak membantah, sambil mengangguk katanya.
"Perkataanmu ini ada benarnya juga, kalian musti tahu kepergianku kali ini kalau bisa alangkah baiknya kalau menyembunyikan diri terhadap pengawasan orang lain, bilamana kita harus melakukan perjalanan secara bergerombol, hal itu malah justru menyulitkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu" . Mendengar sampai disini, si Harimau pelarian Tiong Liauw tidak berbicara lagi, setelah berdiri termangu mangu beberapa saat lamanya mendadak ia jatuhkan diri berlutut diatas tanah diikuti oleh Sinenek tua she-Tiong serta si Harimau Bisu Tiong Long. Hong-po Seng jadi terkesiap, buru-buru ia ikut terlutut diatas tanah setelah itu putar badan dan cepat berlalu. Semenjak kecilnya sianak muda ini sama sekali belum pernah meninggalkan rumahnya seorang diri, boleh dia dia buta seratus persen terhadap jalanan disekitar tempat itu, setelah melepaskan diri dari Tiong Si Sam-Hauw pemuda itu segera mancari tahu jalan menuju keutara dari para penduduk disekitar situ, kemudian langsung berangkat menuju kegunung Im-Tiong san. Setelah melakukan perjalanan belasan hari, suatu petang sampailah sianak muda itu didalam wilayah pegunungan Im-Tiong san. Setelah masuk gurung, daya ingatnya terhadap perkampungan Liok-Soat san cung kian lama kian bertambah jelas. Waktu itu sambil melakukan perjalanan dibawah sinar bulan purnama diam-diam doanya didalam hati. .,Sukma ayah yang ada dilangit, moga moga kau suka melindungi teratai racun empedu api itu tetap berada ditempat semula, agar ananda berhasil mendapatkan teratai racun itu untuk mengobati luka ibu yang parah sehingga tenaga dalam yang dimiliki dia orang tua bisa pulih kembali seperti sedia kala, dengan begitu Ibu baru sanggup membalaskan dendam sakit hati ayah....'. Tanpa terasa sampailah pemuda ini dimulut sebuah selat, setelah memperhatikan sekejap suasana disekeliling tempat itu, keragu raguan yang semula masih tersisa dalam hatinya seketika tersapu lenyap, ia merasa yakin bahwa perkampungan Liok-Soat san-cung terletak di dalam selat tersebut. Dalam pada itu bulan purnama berada di awang awang, cahaya yang terang menerangi seluruh isi selat tersebut setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya mendadak Hong-po Seng merasakan sesuatu yang tidak beres, ia segera berpikir.
"Pepohonan didalam selat ini diatur dengan sangat teratur dan rapi, jalan gunung bersih bebas dari debu, bahkan batu kerikil serta rumput ilalangpun tidak nampak, kalau ditinjau keadaan tersebut jangan-jangan perkampunganku sudah diduduki orang lain ?..." . Begitu ingatan tersebut berkelebat lewat di dalam benaknya, ia segera menyembunyikan diri kebalik pepohonan dan meneruskan perjalanannya dari tempat kegelapan. Ketika tubuhnya hampir tiba dipintu perkampungan, mendadak ia temukan kerlipan cahaya lentera, hatinya semakin terkesiap, pikir nya lebih jauh.
"Aaah ! dugaanku ternyata tidak salah, kampung halamanku benar-benar sudah diduduki orang lain. Kalau ditinjau dari cahaya lentera yang dipasang begitu rapat, jelas keadaan didalam perkampungan jauh lebih terang benderang... Ehmm! Wilayah Sam Say adalah daerah kekuasaan perkumpulan Hong Im Hwie, para jago dari kalangan lurus tidak nanti akan menduduki kampung halamanku ini dengan manusia-manusia dari kalangan hek to yang biasa jelas lebih-lebih tak punya nyali untuk menempati perkampungan Liok Soat san cung, manusiamanusia laknat yang telah mengangkangi rumah kediamaaku ini seratus persen pastilah tokoh-tokoh terpenting dari perkumpulan Hong Im Hwee. Setelah mengetahui kelihayan orang, ia segera menyusup kesebelah kiri perkampungan kemudian menyusup masuk kedalam perkampungan dengan gerakan yang sangat berhati-hati. Tampaklah gunung-gunung, pepohonan, kebun bunga, serambi, jalan berlapis batu-batu semuanya masih tetap seperti apa yang pernah dilihatnya dikala dia masih kecil. Maka sambil menghindari sorotan cahaya lampu ia meneruskan gerakannya menyusup kebelakang perkampungan. Ia masih ingat dengan jelas bahwa tempat tinggal ayah ibunya serta dia terletak dibelakang perkampungan, Teratai Racun empedu Api itupun dipelihara dibelakang kamar tidur ayahnya, diam diam ia lantas berpikir.
"Mengambil teratai adalah suatu pekerjaan yang besar, perduli amat siapa yang telah mengangkangi perkampunganku ini, setelah berhasil mendapatkan teratai racun empedu api aku akan segera berlalu sedangkan urusan yang lain dibicarakan dikemudian hari saja, dari pada menimbulkan peristiwa yang tidak diinginkan sehingga masalah besar ibuku terbengkalai ... ."
Diperkampungan sebelah depan seringkali ia jumpai ada manusia yang berlalu lalang, pengamatannya yang cermat membuktikan bahwa orang orang itu semuanya pandai bersilat bahkan sebagian besar memiliki ilmu silat yang tidak lemah, mereka semua bpleh dibilang merupakan jago jago kelas satu didalam dunia persilatan, hal ini seketika mempertinggi kewaspadaannya selangkah demi selangkah ia bergerak lebih hati hati sedikitpun tidak berani bertindak gegabah.
Meskipun usianya masih kecil namun pemuda ini dapat meresapi betapa pentingnya masalah besar, pada saat itu ia segera tinggalkan persoalan-persoalan kecil yang dianggapnya tak penting dan pusatkan seluruh perhatiannya untuk mengambil teratai racun tersebut.
Dengan mengandalkan daya ingatan yang telah hapal dengan daerah sekitar situ, akhirnya pemuda itu berhasil menyusup ketempat dimana teratai racun itu dipelihara, ia segera bersembunyi ditempat kegelapan dan mengawasi dengan seksama, setelah diketahui bahwa benda yang dicari masih tetap berada ditempat semula.
Bisa dibayangkan betapa girangnya hati pemuda itu hingga sukar terkendalikan.
Kiranya Teratai Racun Empedu Api itu masih tetap terpelihara ditempat semula, hitam dan menyungging keatas persis seperti keadaan tempo dulu cuma dari balik jendela memancar keluar sebilah cahaya lampu dan tepat menyinari permukaan kolam teratai tersebut.
Hong Po Seng segera alihkan sinar matanya kearah jendela tersebut, terlihatlah didalam ruangau duduk seorang pria berusia dua puluh tahunan, raut wajah orang itu tidak bengis dan memakai jubah panjang putih bersulamkan kuntum bunga emas, waktu itu sambil mencekal sebuah cawan air teh sedang duduk seorang diri menikmati minuman.
"Entah bagaimanakah ilmu silat pang dimiliki orang ini?"
Diam-diam Hong Po Seng menpertimbangkan diri.
"Aku harus merampas teratai itu dengan menempuh mara bahaya? ataukah lebih baik menunggu sampai tertidur lebih dahulu kemudian baru perlahan-lahan turun tangan??...
". Otaknya dengan cepat berputar keras, ia sadar apabila perbuatannya kali ini mengalami kegagalan niscaya urusan yang kedua kalinya akan jauh lebih susah, mengingat betapa besar nya masalah ini mempengaruhi keselamatan ibunya, pemuda itu akhirnya mengambil keputusan untuk bertindak lebih hati hati. Setelah mengambil keputusan maka diapun menyembunyikan diri kebelakang sebuah pohon Koei dan menanti dengan hati sabar, ingatan untuk menempuh mara bahaya tersapu lenyap dari dalam benaknya. Lewat beberapa saat kemudian terlihatlah dua orang dara berbaju hijau masuk kedalam ruangan setelah menghidangkan sayur dan arak diatas meja, ujarnya kepada pria berbaju putih itu dengan nada hormat .
"Lapor kongcu sayur dan arak telah disiapkan. apakah kau masih ada pesan"
"Peringatkan mereka, jangan memperbolehkan siapapun melangkah masuk kedalam perkampungan belakang, barang siapa yang melanggar, bunuh dia sampai mati"
Kata pria berbaju putih itu "Kalianpun harus memperhatikan peringatanku ini sebelum memperoleh panggilan tak usah kamu berdua mendekat tempat ini, siapa yang berani mengintip kucukil biji matanya biar buta !" .
Kedua orang dara berbaju hijau itu mengiakan berulang kali kemudian mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Hong po Seng yang bersembunyi ditempat kegelapan jadi tercengang dan heran, pikirnya.
"Apa sih yang hendak dia lakukan ?? kenapa hanya mengintip saja biji matanya lantas mau dicongkel keluar ?" . Beberapa saat telah berlalu, pria berbaju putih itu mulai bergendong tangan berjalan bolak balik didalam kamar dengan hati gelisah dan tidak tenang, seringkali ia menoleh keluar jendela dan memperhatikan sekeliling tempat itu. Hong-po Seng yang menyaksikan perbuatan pria itu segera dibikin sadar, sekarang ia mengerti pastilah pria berbaju putih itu sedang menantikan kedatangan seseorang. Mendadak.... terdengar suara sentilan jari berkumandang memecahkan kesunyian. Pria berbaju putih itu segera meloncat kedepan jendela, dengan nada kaget bercampur girang serunya .
"Ooh Giok-moay, kalau kau tidak munculkan diri lagi, siauw-heng pasti bakal mati saking gelisahnya!" . Hong-po Seng segera mendongak keatas, tapi seketika itu juga keringat dingin mangucur keluar membasahi seluruh tubuhnya. Ternyata ada sesosok bayangan manusia tepat berdiri diatas ranting diatas batok kepalanya, ranting pohon itu sama sekali tidak bergerak atau bergoyang, Hong po Seng yang bersembunyi dibelakang pohon sedikitpun tidak merasa sedari kapan ada sesosok bayangan manusia telah berada diatas pohon itu. Ditinjau dari gerakan tubuh sidara berbaju putih yang meluncur kearah jendela, pemuda ini menyadari bahwa kepadaiannya masih jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan orang itu, hatinya semakin terperanjat dibuatnya. Mendadak terdengar suara tertawa merdu bergema diangkasa, angin berbau harum menyambar lewat dan orang itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun telah menerobos masuk kedalam ruangan.
"Hooooh sungguh lihay ilmu meringankan tubuhnya! diam diam Hong po Seng memuji. Menanti ia berpaling kembali kearah ruangan, tampaklah ditempat itu telah bertambah dengan seorang gadis berbaju ungu. Dara itu mengenakan kain kerudung berwarna ungu diatas wajahnya hingga tidak kelihatan raut wajahnya, sementara Hong po Seng sedang tercengang pria tadi telah melepaskan kain kerudung tersebut sambil ujarnya tertawa.
"Giok moay' legakanlah hatimu ! aku telah menurunkan perintah yang melarang siapapun mendekati tempat ini, meski dibelakang perkampungan masih ada beberapa orang dayang, tetapi sebelum mendapat panggilanku tidak nanti mereka berani datang mengintip" . Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, kain kerudung yang menutupi wajah dara tadi telah terlepas, Hong po Seng yang bersembunyi ditempat kejauhan segera merasakan pandangannya jadi terang. Tampaktah dara berbaju ungu itu baru berusia delapan sembilan belas tahunan, matanya jeli dengan bibir yang mungil, kecantikan wajahnya boleh dibilang bagaikan bidadari turun dari kahyangan. Setelah melepaskan kain kerudung tersebut pria berbaju putih itu segera memeluk tubuh gadis tadi, dan mereka berduapun melakukan suatu gerakan yang diliputi kemesraan. Hong po Seng buru-buru memejamkan matanya. Kedua orang itu berbisik bisik sesaat dengan suara lirih diikuti saling berpandangan sambil tertawa, kemudian sembari bergandeng tangan mereka menuju kearah meja perjamuan, ambil tempat duduk dan mulai minum arak sambil berbicara. Melihat sampai disini, Hong-po Seng tantas berpikir didaam hatinya .
"Aaaii..! perbuatan pribadi seorang pria dan wanita tidak sepantasnya kuintip, apalagi ikut mencuri dengar..." ! Sebagai seorang lelaki yang jujur dan tahu sopan santun, setelah mengambil keputusan untuk tidak melihat dan mendengar, ia benar-benar pejamkan mata dan menutupi lubang telinganya dengan jari tangan, dalam benaknya sama sekali tidak terlintas pikiran apa apa. Lewat beterapa saat kemudian ia membuka matanya dan melirik kedalam ruangan, tapi setelah dilihatnya kedua orang itu masih bercakap-cakap sambil minum arak maka pemuda itu sekali lagi pejamkam matanya. Dengan sabar ditunggunya beberapa waktu dengan mata terpejam, setelah dirasakan kira-kira dua orang itu telah selesai bersantap maka ia baru membuka matanya, Tetapi kali ini wajahnya seketika berobah jadi merah jengah, ternyata dibawah pengaruh air kata-kata sepasang muda mudi itu telah melanggar susila, gaun yang dikenakan dara berbaju ungu tadi telah dicopot separuh hingga terlihatlah bagian terlarangnya dibawab sorot cahaya lampu lentera. Pemuda ini usianya masih muda lagi pula dibesarkan dalam gunung yang terpencil, terhadap perbuatan seperti ini boleh dibilang belum mengenalnya sama sekali, tapi setelah menyaksikan kejadian itu ia segera merasa sangat malu, buru buru matanya dipejamkan kembali. Lubang telinga yang ditutupi terlalu lama dirasakan sangat tak enak, tapi ketika jari tangannya dikendorkan, rayuan-rayuan tengik seketika menggema masuk kedalam telinganya membuat ia semakin muak, akhirnya sambil pejam mata dan menutupi telinganya ia menyumpah didalam hati.
"Sialan ! sungguh tak tahu malu, mau melakukn perbuatan begitupun tidak menutup pintu jendela terlebih dahulu!"
Lama,...
lama sekali, akhirnya pemuda itu tak kuat menahan diri dan membuka matanya kali ini dia hanya menjumpai pakaian luar dan pakaian dalam berserakan diatas lantai sedangkan muda mudi itu tidak nampak batang hidungnya lagi.
Secara lapat-lapat dia mengetahui bahwa kedua orang itu pasti sudah naik keatas pembaringan, hatinya semakin muak dibuatnya, kesabaran hatinya kontan hilang.
Melihat dibalik jendela sudah tak ada orang pemuda itu segera menjejakkan kakinya melayang ke tepi kolam teratai.
Bagi orang yang berlatih silat, ketajaman pendengarannya jauh lebih tajam dari orang biasa, setelah tubuhnya berada semakin dekat dengan kolam teratai apalagi tangannya telah dilepaskan dari lubang telinga tentu saja rayuan-rayuan maut, dengusan napas memburu serta rintihan cabul kedengaran makin jelas lagi membuat jantung sianak muda ini berdebar debar keras.
Jilid 7 .
Putra Ketua Hong Im Hwee terbunuh LUAS kolam teratai itu hanya delapan depa, Teratai Racun Empedu Api tumbuh di tengah kolam, meskipun tak usah turun ke kolam, untuk menjangkau teratai tersebut dengan tangan dari tepi kolam masih sanggup dilakukan.
Hong-po Seng tegera miringkan tubuhnya ke samping dan menjulurkan lengan kirinya ke depan, sepasang jarinya mengerahkan tenaga dan menggunting batang teratai itu, seketika itu juga bunga Teratai Racun Empedu Api terjatuh ke dalam tangannya.
Sayang sekali pada waktu itu hatinya terpegaruh oleh emosi hawa murni yaug berada di dalam tububnya tak dapat tenang dan mantap seperti hari-hari biasa, dikala melakukan pemetikan itulah tanpa sadar ia telah menimbulkan sedikit suara berisik.
Mendadak terdengar gadis yang berada di dalam ruangan membentak nyaring.
"Siapa diluar??"
Hong Po Seng amat terperanjat, buru-buru ia sambar teratai racun itu dan tutulkan ujung kirinya meluncur keluar dari situ.
Terdengar desiran angin tajam menyambar datang dari arah belakang, sebuah pukulan yang tajam dan berat telah mengancam punggungnya.
"Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu"
Batin Hong po Seng di dalam hati.
Dengan cepat badannya berputar ke belakang, sebuah pukulan laksana kilat dilancarkan.
Terdengar suara pengejar berseru tertahan, jurus serangannya buru-buru dibuyarkan dan berganti arah, ia melayang turun persis pada si anak-muda itu dan tanpa membuang sedikit waktu pun ia lanjutkan serangan berikutnya secara bertubi-tubi.
Suatu pertarungan sengitpun segera berkobar di tengah kalangan, angin pukulan menderu-deru bayangan telapak memenuni seruluh angkasa.
Hong po Seng melemparkan beberapa kerlingan ke arah lawannya, segera tertampak olehnya bahwa lawan yang sedang bertarung melawan dirinya sekarang bukan lain adalah pria berbaju putih itu.
Meski pada saat ini ia berada dalam keadaan telanjang bulat tetapi sepasang telapaknya dimainkan sedemikian gencar, sehingga pukulan-pukulannya boleh dibilang merupakan seranganserangan mematikan.
Dalam keadaan demikian kedua orang itu sama-sama mempunyai tujuan yang sama yaitu cepa-cepat menyelesaikan pertarungan tersebut, di salah satu pihak ingin cepat-cepat membungkamkan mulut lawannya, sedang di lain pihak cepat-cepat melepaskan diri dari kepungan lawan dengan begitu pertempuran pun berlangsung dengan serunya.
Siapapun tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk menguasai keadaan.
Mendadak terlihatlah dara ayu tadi munculkan diri diluar jendela, setelah terburu-buru mengenakan pakaian, matanya segera menatap keluar jendela sambil serunya dengan suara berat .
"Engkoh Bong, jangan sekali-kali kau lepaskan orang itu dalam keadaan hidup! "
"Jangan kuatir adik Giok"
Sahut pria itu dengan suara lirih.
"Kalau orang ini berhadil lolos, siauw beng akan persembahkan batok kepalaku kepadamu"
"Engkoh Bong, dapatkah kau melakukan petarungan dengan mempergunakan tenaga dalam??"
"Apa susahnya?"
Sahut sang pria.
Sepasang telapaknya segera bekerja keras dan secara beruntun melancarkan beberapa buah serangan kilat.
Menggunakan kesempatan dikala Hong po Seng melakukan pembalasan itulah ia sambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
Ploook..
sepasang telapak segera bertemu satu lama lainnya menimbulkan suara yang nyaring.
Ternyata orang ini mempunyai pengalaman yang sangat luas di dalam melakukan pertarungan, setelah mengatakan hendak beradu tenaga dalam orang itu segera membuktikan kata-katanya.
Hong po Seng yang pada dasarnya sudah kewalahan kini semakin keteter keadaannya.
Dalam pada itu sepasang telapak dari kedua orang itu saling menempel satu sama lainnya, masing-mating pihak mengerahkan segenap tenaga lweekang yang dimlikinya ke atas telapak, sebab mereka tahu menang kalah dalam pertempuran ini sangat mempengarubi mati hidupnya masing-masing pihak, karena itu siapapun tak berani bertindak gegabah.
Kurang lebih seperminum teh kemudian, di atas jidat Hong po Seng telah muncul butiran air keringat, sebaliknya sang pria berada dalam keadaan telanjang bulat itu tetap kokoh dan kuat seperti sedia kala, sedikitpun tidak nampak gejala payah atau keteter.
Tiba tiba tertihatlah dara berbaju ungu itu melayang keluar dari dalam ruangan, sambil berdiri di sisi pria itu ujarnya tertawa .
"Engkoh Bong, jangan takut! mari kubantu dirimu untuk menyelesaikan bajingan ini!" . Seraya berkata telapak kirinya segera diayun ke depan melancarkan dua serangan dahsyat ke arah Hong po Seng.
"Mati aku kali ini !"
Jerit si anak muda itu diam diam.
"Giok moay, menyingkirlah ke samping!"
Seru pria itu dengan suara berat.
"Lihatlah siauw beng akan membereskan orang ini seorang diri!"
Mendengar perkataan itu, mendadak dara berbaju ungu tadi tertawa cekikikan.
"Hiiih ....... hiiih ...... hiiih .... kalau kau tidak sudi menerima bantuanku, lebih baik aku membantu dirinya saja!"
Begitu selesai berkata ujung bajunya segera bergetar dan tampaklah sekilat cabaya tajam berkelebat lewat tahu-tahu sebilah pisau belati telah menembusi punggung pria itu.
Hong Po Seng yang berdiri saling berhadap-hadapan muka dengan pria telanjang itu tidak sempat menyaksikan perubahan yang terjadi di belakang punggungnya, ketika mendadak menyaksikan orang itu mendengar berat dan hawa murninya seketika buyar, ia tak dapat menahan diri lagi, hawa pukulannya bagaikan gulungan ombak di tengah samudra segera memancar keluar dengan bebatnya.
Terdengar pria itu mendengus berat, darah segar segera muncerat keluar dari bibirnya, tanpa mengeluarkan suara jeritan badannya terjengkang ke atas tanah dan menemui ajalnya saat itu juga.
Perubahan ini terjadi sangat mendadak, baru saja Hong Po Seng berdiri tertegun mendadak terasalah cahaya tajam yang menyilaukan mata menyambar lewat, sebilah pisau belati dengan cepatnya mengancam ulu hatinya.
Hong po Seng merasa amat terperanjat buru-buru sepasang kakinya menjejak tanah dan meloncat mundur beberapa tombak jauhnya ke belakang, nyaris sekali ia tampak oleh tusukan pisau belati tersebut.
-oooOooo-MELIHAT serangannya tidak mengenai sasaran, biji mata dara berbaju ungu itu segera berputar, lalu bentaknya dengan suara lirih.
"Bajingan cilik, kenapa kau tidak coba melarikan diri ?? rupanya kau benar-benar kepingin modar ??"
Hong-po Seng alihkan sinar matanya melirik sekejap ke arah mayat telanjang yang membujur di atas lantai, teringat akan peristiwa yang baru saja barlangsung di mana dalam pertarungannya mengadu tenaga dalam.
Ternyata dara berbaju ungu itu telah melakukan tusukan maut dari arah belakang, hatinya jadi terperanjat bercampur curiga, ia jadi bergidik dan segera putar badan melarikan diri.
Perkampungan bagian belakang adalah daerah yang tidak bermanusia, Hong po Seng sambil menghindari cabaya lampu lentera dalam beberapa kali loncatan telah berhasil keluar dari perkampungan tersebut, tanpa berhenti ia segera lari menuju keluar selat.
Akhirnya dengan susah payah dia berhasil juga tiba di mulut selat, hatinya jadi lega dan sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya diam-diam ia melirik ke arah belakang.
Sreeet....!
mendadak segulung angin desiran tajam berkelebat lewat.
Sebilah pisau belati yang memancarkan cahaya berkilauan tahu-tahu sudah mengancam pinggangnya.
Hong po Seng merasa terkejut bercampur gusar di saat yang amat kertis ia segera melemparkan diri kesamping dan menggelinding beberapa tombak jauhnya dari tempat semula.
Kiranya selama ini si dara berbaju ungu itu menguntil terus dari belakangnya cuma karena ilmu meringankan tubuh yang dimiliki dara tersebut sangat lihay, maka walaupun sudah diikuti setengah harian lamanya Hong po Seng sama senali tidak merasakan akan hal itu.
Melinat serangannya kembili mengemi sasaran yang kosong, dara berbaju ungu itu segera menarik pinggangnya sambil ayun pisau belatinya ke depan.
Kembali ia melakukan pengejaran.
Sementara itu kain kerudung yang menutupi wajahnya telah dikenakan kembali hingga dari luar hanya nampak sepasang biji matanya yang menonjol keluar.
Di balik biji matanya yang bening secara lapat-lapat terpancar keluar napsu membunuh yang tebal, rupanya sebelum berhasil membinasakan Hong Po Seng ia merasa tidak terima.
Hong Po Seng sendiri setelah melihat dirinya dibokong sebanyak dua kali, hawa amarahnya kootan memuncak.
Ia tunggu sampai senjata pisau belati orang bampir mendekati, tiba tiba badannya tergeser ke samping, telapak kirinya dengan sepuluh bagian tenaga dalam segera dihantamkan ke depan.
Pukulan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar amat dahsyat, diiringi desiran angin tajam yang memekikan telinga segera meluncur ke depan.
Air muka dara berbaju ungu itu berobah hebat, sepasang pundaknya segera bergerak dan meloncat mundur beberapa tombak ke belakang.
Melihat serangannya mengenai di sasaran yang kosong, dalam hati Hong po Seng lantas berpikir.
"Perempuan memang tersohor akan kekejaman hatinya yang seperti ular berbisa, setelah ia membunuh kekasih gelapnva sekarang hendak melenyapkan pula diriku. Waaah ..... jelas dalam ilmu meringankan tubuh aku tidak dapat menangkan dirinya kalau aku sampai sambil langkah seribu dia pasti akan berusaba untuk membokong diriku dari belakang, lebih baik aku melakukan perlawanan saja sekuat tenaga ............."
Setelah mengambil keputusan di dalam hatinya, sang badan dengan cepat menerjang maju ke muka, sebuah pukulan dahsyat dilancarkan.
Criiing dari balik punggungnya dara berbaju ungu itu meloloskan sebilah pedang baja, dengan jurus "Pat Hong Hong Yu"
Atau angin hujan dari delapan penjuru mengirim satu tusukan kilat ke arah Hong po Seng.
Sewaktu meninggalkan perkampungan Liok-Soat san cung tadi, di atas tubuhnva hanya terdapat sebilah pisau belati, entah sejak kapan pada punggunagnya telah tersoren sebilah pedang panjang.
Saat itu gerakannya menghindar dari serangan, mencabut pedang serta melancarkan serangan balasan dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, bukan saja tusukan yang dilepaskan amat keji bahkan luar biasa mengerikannya ............
Baru saja Hong po Seng merasakan serangannya mengenai sasaran yang kosong mendadak pandangan matanya jadi silau.
Cahaya tajam segera bermunculan dari empat penjuru, seluruh angkasa dipenuhi oleh bayangan pedang yang membingungkan hati.
Dalam keadaan terkesiap sepasang kakinya segera menjejak tanah dan buru-buru melayang mundur sejauh dua tombak lebih.
Dara berbaju ungu itu tidak mengeluarksn sedikit suarapun, sambil menempel permukaan tanab ia meluncur maju ke depan, laksana kilat pedangnya dibabat keluar melakukan pengejaran.
Kegusaran Hong po Seng sudah mencapai pada puncaknya, sang telapak kiri segera dibekukan setelah membentuk gerakan setengah lingkaran busur ia membentak keras kemudian melepaskan satu pukulan dahsyat ke depan.
Jurus pukulan "Koen Sioe Ci Taow"
Benar-benar luar biasa sekali, ditambah pula Hong po Seng melancarkan serangannya dengan segenap tenaga, ujung pedang si dara berbaju ungu itu baru saja mencapai di tengah jalan segera terpental ke samping setelab termakan oleh getaran angin pukulan yang maha dahsyat itu.
Dara berbaju ungu itu segera bergeser satu langkah ke samping, dengan cepat ia mengerling sekejap ke belakang kemudian tegurnya sambil tertawa.
"Siapakah namamu ? kalau mau berkelahi yaah berkelahi, kenapa musti berteriak-teriak dan gembar gembor seperti setan kepanasan?? "
"Aku bernama Ong Khong!"
Sahut Hong po Seng dengan nada ketus, telapak kirinya disilangkan di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
"Setiap kali melepaskan satu pukulan harus dibarengi dengan gemboran keras, eeei siapa pula namamu???"
Sejak turun gunung walaupun ia selalu berada dalam suasana yang demikian krisisnya seperti kali ini, kendati Kok See Piauw serta Pek Koen Gie sekalian hendak mencabut jiwanya tetapi ia masih mempunyai alasan untuk mengadakan pembicaraan dengan mereka.
Sebaliknya keadaan dari dara berbaju ungu ini jauh berbeda dengan keadaan mereka, ia selalu tenang tidak bergerak sepintas lalu bagaikan permukaan samudra yang tenang serta bebas dari angin, tetapi setiap pukulan serta tusukan pedang yang dilancarkan semuanya merupakan jurus maut yang mengancam jiwanya, sedikitpun tiada keraguan-raguan atau rasa kasihan.
Dalam keadaan begini asal sekali saja ia salah perhitungan, maka niscaya jiwanya bakal melayang di tengah tusukan pedang yang masih membigungkan hatinya itu.
Tampak si dara berbaju ungu itu tersenyum biji matanya sekali lagi melirik sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian tegurnya.
"Aku bernama Che Giok, apakah kau adalah anak buah dari perkumpulan Sin Kee Pang??"
Namaku Ong Khong adalah nama palsu, jelas Che Giok yang diakui sebagai namanya pun hanya cuma samaran belaka"
Pikir Hong po Seng di dalam hati. Karena berpikir begitu, dengan serius dia harus menjawab.
"Aku berasal dari perkumpulan agama Thong Thian Kauw, Nona Che Giok! Apakah kau adalah enghiong dari perkumpulan Sin Kee Pang??"
Dara berbaju ungu itu mengangguk.
"Lebih baik kita jangan membicarakan soai ini, aku libat tindakanmu rada sedikit tolol ......"
Biji matanya berkilat dan kembali ia mengerling sekejap ke sekeliling tempat itu.
"Nona Che Giok, hatimu bimbang dan kacau apakah kau takut ada orang yang berhasil menyusul dirimu ???"
"Aku mengatakan kau tolol ternyata ucapan ini sedikitpun tidak salah, setelah kau bunuh Jien Bong kalau tidak bermaksud lari sejauh-jauhnya ke ujung langit untuk menghindarkan diri dari pengejaran, apakah kau ingin berlagak sok-sokan untuk berlagak pilon di tempat ini?? Hmm! setelah kejadian ini diketahui besok pagi, lima propinsi besar di wilayah utara pasti akan terjadi kekacauan yang hebat, akan kulihat kau hendak menyembunyikan diri di mana???"
Diam-diarn Hong-po Seng merasa terperanjat dengan ucapan itu, setelah berhasil menenteramkan hatinya ia menyahut.
"Siapakah Jien Bong itu? Bukankah sudah jelas sekali nonalah yang diam-diam menusuknya hingga mati, apa sangkut pautnya peristiwa berdarah itu dengan cayhe??"
"Huuuh sungguh suatu lelucon besar yang menggelikan hati"
Seru si dara berbaju ungu itu sambil mengangkat bahu.
"Masa siapakah Jien Bong pun kau tidak tahu, mau apa kau menyusup ke dalam perkampungan Liok Soat san cung??"
"Masalah mencuri teratai tak boleh kuutarakan kepadanya!"
Pikir Hong po Seng dalam hati, ia segera tertawa lantang.
"Secara tidak sengaja cayhe telah menyusup ke dalam perkampungan Liok Soat san cung, mengenai siapakah manusia yang disebut Jien Bong itu, serta apa hubungannya dengan nona aku tidak mau tahu, pokoknya aku hanya tahu bahwa nonalah yang melancarkan serangan bokongan untuk mengabisi selembar jiwanya"
Merah padam selembar wajah dara berbaju ungu itu sehabis disindir oleh si anak muda ini, untung wajahnya tertutup oleh kain kerudung sehingga Hong po Seng tidak sempat melihat perubahan wajahnya itu.
Setelah memutar biji matanya, gadis itu tertawa dan berkata kembali.
"Jien Bong adalah putra kesayangan dan ketua perkumpulan Hong Im Hwie, baik dia mati lantaran dibunuh olehmu atau mati di tanganku pokoknya kalau malam ini kita tak berhasil melarikan diri, maka kita berdua bakal mati konyol di tangan mereka "
"Waaah ...... rupanya kejadian ini luar biasa sekali"
Pikir si anak muda itu di dalam hati dengan gelisah.
"Tetapi racun empedu api masih berada di dalam sakuku, dan benda itu merupakan bukti yang kuat untuk menunjukkan kebadiranku dalam perkampungan Liok Soat San cung pada malam peritiuwa berdarah ini. Jika benda ini sampai ketahuan orang-orang dari perkumpulan Hong Im Hwie ... waaaah bisa berabe. Sekalipun aku menceburkan diri ke dalam sungai Huang hoo pun belum tentu bisa mencuci bersih segala tuduhan yang dilontarkan kepadaku"
Di dalam hati ia berpikir demikian, diluaran sambil tertawa lantang sahutnya.
"Haaah ...... haah ...... haaa ...... kiranya Jien Bong adalah putra tunggal dan Jien Hian si ketua dari perkumpulan Hong Im Hwie. Bagus! ..... bagus! ..... daerah di sebelah utara sungai Huang Hoo merupakan wilayah kekuaasaan orang-orang perkumpulan Hong Im Hwie, peristiwa ini pasti luar biasa jadinya. Kenapa nona sendiri tidak berusaha untuk melarikan diri??"
Sebenarnya keadaan dari dara berbaju ungu itu tidak jauh berbeda dengan keadaan dari Hong-po Seng, bukan saja hatinya merasa amat gelisah bahkan ia ingin cepatcepat kabur dari situ.
Namun diluaran ia sengaja berlagak tenang.
Mendengar perkataaa itu diapun tertawa.
"Mau kabur aku masih sanggup untuk merat secepatcepatnya justru yang paling kutakuti adalah dirimu yang tak bisa lari cepat, jangan-jangan sebelum berhasil bersembunyi telah kedahuluan di tangan orang-orang Hong Im Hwie!"
"Soal itu nona tak usah kuatir, sekalipun cayhe ketangkap tidak nanti akan kuseret orang lain untuk ikut tercebur ke dalam air!"
"Sungguhkah ucapanmu itu?? hiiih...biiih... hiiih.. jarang sekati aku bisa menjumpai manusia yang berbaik hati seperti kau!"
Sambil berkata dengan senyum dikulum dan langkah yang genit setindak demi setindak ia maju ke depan.
Hong po Seng bukanlah seorang manusia yang bodoh, begitu otaknya berputar ia segera menyadari bahwa situasi yang dihadapinya saat ini jauh lebib parah dari pada sewaktu dirinya terjerumus ke dalam kekuasaan perkumpulan Sin Kee Pang.
Ia segera mendongak dan tertawa terbabak-bahak.
"Haaah...haaaah ..haaaah kalau nona ada maksud melenyapkan diriku dari muka bumi, maka perhitungan itu adalah salah besar ...!"
Sembari membentak keras ia segera melancarkan babatan yang maha dahsyat.
Si dara berbaju ungu itu segera mengerutkan dahinya, melihat pemuda itu menyerang pulang pergi selalu hanya menggunakan gerakan yang sama, tapi justru di tengah persamaan tadi muncul perubahan aneh yang sulit dipatahkan olehnya, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia mundur selangkah untuk menghindar .
"Kau benar-benar kepingin mati?"
Jeritnya.
"Hmmmm marilah kita bersama-sama pergi menghadap Jien Hian, siapa salah siapa benar dia pasti akan memberi keadilan buat kita!"
Dara berbaju ungu itu segera tertawa cekikikan.
"Hiiih ...... hiiih ......hiiiih ...... sungguh tidak becus!"
Setelah melirik lagi sekeliling tempat itu serunya.
"Ayoh cepat melarikan diri, persoalan yang lain lebih baik kita bicarakan nanti saja!"
Hong-po Seng diam-diam merasa bergidik juga setelah dia harus berhadapan dengan perempuan yang menyembunyikan kekejiannya di balik senyumannya, ia segera mendengus dingin.
"Kau berangkatlah lebih dulu, aku segera menyusul di belakang ..!"
"Eeei .....! kenapa musti begitu ???"
"Hmm! hatimu terlalu licik, menyembunyikan golok di balik senyuman, membuat orang harus berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan, cayhe tidak berani berjalan di depanmu"
Dara berbaju ungu itu tertawa cekikikan, ia segera menyimpan kembali pedangnya ke dalamn sarung dan berangkat lebih dahulu.
Hong-po Seng tahu bahwa situasi yang dihadapinya saat ini sangat berbahaya, maka diapun tak berani berayal segera mengikuti di belakang dara tersebut.
Kali ini perjalanan dilakukan dengan cepat dan terburu-buru, hingga fajar menyingsing mereka baru berhenti berlari.
Sementara itu keadaan dari si dara berbaju ungu masih tetap seperti sedia kala, seakan-akan tak pernah melakukan suatu apapun, sebaliknya keadaan Hong-po Seng payah sekali, bukan saja keringat telah membasahi seluruh tubuhnya bahkan dengusan napas memburupun secara lapat-lapat kedengaran nyata sekali.
Mcndadak terdengar dara berbaju ungu itu berkaia.
"Ong Khong! gertaklah gigimu raput-rapat, kita harus melanjutkan perjalanan secepatnya, dengan begitu barulah kita bisa lolos dari daerah bahaya "
"Perkataanmu memang tidak salah, tetapi bilamana cayhe harus menuruti perkataanmu sehingga akhirnya kehabisan tenaga dan tak sanggup mempertahankan diri lagi, bukankah caybe bakal mati konyol bilamana menggunakan kesempatan itu nona melakukan serangan mematikan kepadaku??"
Pada mulanya dia masih mengikuti di belakang tubuh si dara berbaju ungu itu, tapi setelah berbicara napasnya semakin memburu dan dia pun ketinggalan sampai beberapa tombak jauhnya.
Si dara berbaju ungu itu segera memperlambat larinya, berlari di samping si anak muda itu ujarnya sambil tertawa.
"Kau sangat sigap dan cerdik, di dalam perkumpulan agama Thong Thian Kauw merupakan anak murid dan cin jien mana sih??"
Dalam keadaan demikian Hong po Seng selalu waspada dan berjaga-jaga terhadap pembokong dari nona tersebut, mendengar ia hendak mengorek keterangan dari mulutnya, segera dijawab dengan sekenanya.
"Persoalan yang menyangkut perkumpulan agama kami tidak ingin cayhe bicarakan de¬ngan orang lain nona Che Giok memiliki ilmu silat yang lihay, entah di dalam perkumpulan Sin Kee Pang menduduki jabatan apa??"
Dara berbaju ungu itu tertawa riang.
"Aku bekerja di ruang Thian Kie Thong! dan kau?? murid dari jago lihay mana?? "
"Tindak tanduk pertempuran ini sangat mencurigakan membuat hati orang sukar menduga"
Pikir Hong po Seng di dalam hati.
"Apa yang diucapkan jelas bukan ucapan sejujurnya, dia mengakui sebagai anggota perkumpulan Sin Kee Pang, sudah jelas seratus persen bahwa dia bukanlah anggota dari perkumpulan itu!"
Berpikir demikian iapun menyahut.
"Suhuku adalah seorang awam biasa, dia she Lie, sedang menanya aku yang menjadi muridnya tidak berani sembarangan menyebut, nona apakah she-mu??"
Jawaban yang diutarakan sekenanya ini membuat dara berbaju ungu itu tertegun, lalu sambil tertawa ia berkata.
"Aku she Poei!"
Pergelangannya bergerak, ia segera menyalurkan telapak tangannya yang halus dan empuk bagaikan tak bertulang itu ke depan, sahutnya.
"Mari aku ajak kau melakukan perjalanan, dengan bergandeng tangan maka kau tak usah menguatirkan dirinku akan melancarkan serangan bokongan terhadap dirimu lagi"
Ilmu pukulan yang dilatih Hong po Seng, adalah pukulan sebelah kiri, maka ia segera menggeleserkan badannya ke sebelah kiri dari gadis itu.
Poei Che Giok tersenyum, ia ganti mengulurkan tangan kirinya ke depan dan Hong po Seng pun menggenggam telapak tangannya dengan tangan kanan, dalam hati kecilnya pemuda ini sudah mengambil keputusan, asal dara berbaju ungu itu melancarkan serangan bokongan maka ia segera akan membalas dengan memakai jurus pukulan Koen Sioe Ci Tauw yang tersohor akan kedahsyatannya itu.
Begitu telapak saling menggenggam, mendadak Hong po Seng merasa agak rikuh, pertama, karena antara perempuan dan lelaki ada batasnya, terutama sekali telapak Poei Che Giok yang halus, licin dan empuk seperti tak bertulang itu mendatangkan perasaan yang tak enak dalam genggaman Hong po Seng.
Kedua dirinya sebagai seorang lelaki sejati ternyata harus membutuhkan tuntunan seorang gadis untuk melakukan perjalanan, ia merasa wajahnya kehilangan cahaya, karena itu baru saja digenggam segera dilepaskan kembali.
Poei Che Giok mengencangkan kelima jarinya dan berbalik mencengkeram telapak tangannya, sambil tertawa ia berseru.
"Bicara sesungguhnya ilmu meringankan tubuh yang kau miliki sudah termasuk lumayan, ilmu pukulan serta tenaga dalammu pun termasuk kukoay sekali, kalau dibicarakan aku hanya dengan paksakan diri menang setingkat darimu dalam hal ilmu meringankaa tubuh saja! "
"Heeeh ... heeeh ... heee ..seandainya dalam semua hal kau lebih unggul dariku, mungkin sedari tadi aku sudah modar di ujung pedangmu! ......."
Jengek Hong po Seng sambil tertawa dingin. Poei Che Giok segera tertawa cekikikan.
"Kau anggap aku benar-benar tidak sanggup untuk membinasakan dirimu ?? ........"
Jari tangannya ditegangkan bagaikan tombak, kemudian laksana kilat disodorkan keatas iga pemuda itu.
Hong po Seng yang telah bersiap sedia sedari tadi tentu saja tak akan membiarkan dirinya tertotok, ia mendengus dingin, telapak kirinya diayunkan dan meluncurlah sebuah babatan dahsyat.
Terdengar Poei Che Giok menjerit kaget, badannya buru-buru berputar satu lingkaran memindahkan diri ke sisi yang lain dari pemuda itu, kemudian teriaknya gusar .
"Kau benar-benar kepingin berkelahi ???"
"Nona! kau menyembunyikan jarum dibalik selimut, cayhe sekalipun bodoh dan kasar tapi selamanya tak akan membiarkan orang lain menginjak injak kepalaku !"
Kedua orang itu saling bergenggaman tangan dan berpandangan pula tanpa bicara.
kalau dipandang sepintas lalu keadaan tersebut persis seperti sepasang muda mudi yang berkasih-kasihan.
Setelah termenung beberapa waktu, akhirnya Poei Che Giok menggigit bibir dan se-gera berlarian ke depan.
Hong-po Seng membiarkan dirinya ditarik untuk berlarian ke arah depan sementara di dalam hati pikirnya.
"Perempuan ini mempunyai tingkah laku yang tidak benar, hatinya kejam dan perbuatannya telengas, kalau aku harus melakukan perjalanan bersama-sama dirinya berarti setiap saat jiwaku bakal terancam mara bahaya. Mulai sekarang aku harus mencari akal yang bagus untuk berusaha menaklukkan dirinya, atau melarikan diri dari sisinya, ataupun membinasakan dirinya hingga menghilangkan bibit bencana dikemudian hari, setelah itu akupun harus cepat-cepat pulang ke gunung untuk menyembuhkan luka dari ibu agar tenaga dalamnya cepat pulih kembali seperti sedia kala ..."
Berpikir sampai di sini, diam-diam ia meraba teratai racun empedu api yang berada di dalam sakunya, dalam hati pemuda ini merasa bergirang hati karena perjalanannya turun gunung kali ini, kendati harus mengalami pelbagai siksaan batin, kenyang dihina dan kehilangan pedung baja pemberian ayahnya, bahkan di atas punggungnya masih menggembol tiga batang jarum racun pengunci sukma dari Pek Siauw Thian yang setiap saat dapat mencabut jiwanya, tetapi Teratai Racun Empedu Api yang dibituhkan berhasil didapatkan juga, itu berarti kesehatan ibunya ada harapan untuk pulih kembali seperti sedia kala.
Dalam pada itu ketika Poei Che Giok menyaksikan pemuda itu membungkam diri dan lama sekali tidak berbicara, mendadak memperlambat larinya.
Sambil melepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya ia berpaling dan tertawa.
"Ong Khong! Apakah kau kenal dengan diriku?"
Tegurnya. Mendengar ucapan tersebut Hong-po Seng tertegun dan segera berpaling ke samping, begitu memperhatikaa raut wajah itu dengan cermat jantungnya segera berdebar keras.
"Aaak., ! kenapa potongan wajahnya persis seperti raut wajah diri Pek Koen Gie ??"
Pikirnya.
Kiranya kemarin malam sewaktu berada di perkampungan Liok Soat san cung meskipan ia sempat melihat wajah gadis ini, tetapi disebabkan pertama, jaraknya terlalu jauh.
Kedua sorot cahaya lampu yang redup, dan ketiga karena ia tak suka mengintip rahasia pribadi orang, maka dalam sekelebatan ia hanya merasa bahwa gadis itu hanya potongan wajah yang menarik, kemudian ia tidak perhatikan lebih laujut.
Kini setelah berdiri saling berhadapan dengan jarak hanya beberapa jengkal, sudah tentu kendaannya jauh berbeda.
Pemuda ini dapat memperhatikan setiap lekuk wajahnya dengan lebih seksama.
Terdengar Poei Che Giok tertawa dan menegur kembali.
"Kau benar-benar tidak kenal denganku???"
Sekali lagi Hong po Seng tertegun, diam-diam pikirnya.
"Ia bertanya kepadaku apakah kenal dengan dirinya sebanyak dua kali, di balik pertanyaan itu pasti terselip sebab-sebab tertentu kalau dilihat panca inderanya yang rada mirip Pek Koen Gie, jelas tak mungkin dia adalah budak sialan dari Sin Kee Pang .........."
Sementara dia masih termenung, Poei Che Giok telah memutar biji matanya dan tertawa cekikikan.
"Hiiih .... hiiih ... hiiih .... sekarang aku sudah mengerti!"
Serunya. Mula mula Hong-po Seng rada melengak, tetapi dengan cepat iapun menyadari akan sesuatu, sambil tertawa serunya pula.
"Cayhe pun telah mengerti!"
"Apa yang kau pahami?"
"Dan nona sendiri apa yang telah kau pahami?"
Sepasang biji mata yang jeli dan penuh daya pengaruh yang kuat dengan tajam menyapu sekejap wajah pemuda itu, lalu ujarnya sambil tertawa.
"Sekarang aku sudah mengerti, kau adalah anak buah dari perkumpulan Sin Kee Pang dan bukan anak murid dari perkumpulan agama Thong Thian Kauw! "
"Cayhe sendiri pun sudah mengerti bahwa nona adalah jago lihay dari perkumpulan Thong Thian Kauw, dan jelas bukan enghiong dari ruang Thian Kie Thong dalam perkumpulan Sin Kee Pang!"
"Darimana kau bisa tahu??"
"Buat apa musti banyak bicara?? cayhe tidak kenal diri nona hal ini menyebabkan nona lantas beranggapan babwa cayhe bukanlah anak murid dari perkumpulan Thong Thian Kauw, ditinjau dari hal ini sudah jelas membuktikan bahwa nona di dalam perkumpulan Thong Thian Kauw mempunyai nama yang gemilang serta kedudukannya yang tinggi "
"Ooo, kau sangat cerdik"
Seru Poei Che Giok sambil tertawa, setelah merandek sejenak sambungnya.
"Aku dengar Pek Siauw Thian mempunyai seorang putri yang bernama Pek Koen Gie mempunyai potongan wajah persis seperti diriku, sungguhkah perkataan itu??"
Dengan tajam Hong Po Seng memperhatikan sekejap wajah nadis itu kemudian me-ngangguk.
"Memang enam tujuh bagian mirip dengan wajahnya, cuma dalam hati berbicara serta tingkah lakunya jauh bertolak belakang"
"Bagaimana bertolak balakangnya??"
Hong po Seng tersenyum.
"Pek Koen Gie sombong, jumawa dan tinggi hati, sikapnya dingin bagaikan es dan ketusnya luar biasa, membuat orang yang memandang jadi benci dan anti pati!" .
"Hiih...hiih... hiih..... setan cilik, tentunya disebabkan wajahmu kurang ganteng sehingga tidak mendapat perhatian dari Pek Koen Gie maka kau lantas mengucapkan kata yang tidak enak didengar ini"
Sambil menahan gelinya ia menambahkan .
"Bagaimana dengan aku?? Apakah akupun menimbulkan perasaan benci dan anti pati di dalam hatimu?".
"Caybe merasa nona kalem dan mempunyai potongan yang agung serta menyenangkan hati, tetapi itu hanya termasuk kebaikan pribadi dirimu, kalau tidak melihat perbuatanmu yang licik, serta suka membokong orang di kala korbannya tidak berjaga aku tentu akan menganggap dirimu bagus seratus persen"
Merah jengah selembar wajah Poei Che Giok saking malunya, mendadak sambil menggertak gigi makinya .
"Bajingan cilik, mati kau!"
Telapak tangannya diayun dan segera melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah lawannya.
Pukulan ini bukan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat bahkan luar biasa hebatnya Hoog po Seng jengah terperanjat, ia hendak menangkis datangnya serangan itu dengan keras lawan keras tapi sudah tidak sempat lagi.
Dalam keadaan gugup dan terdesak telapak kanannya segera diangkat ke atas sambil membentak keras ia mengirim satu serangan balasan ke arah depan.
Tampaklah bayangan ungu memenuhi angkasa.
Hong po Seng mencengkeram tangan kiri gadis She Poei itu dan segera diangkatnya ke atas, kemudian berada di tengah udara ia putar tangan tersebut satu lingkaran.
Reaksi yang diberikan secara tiba-tiba ini sama sekali tidak memakai aturan tapi kelihayannya justru terletak pada kecepatan serta ketepatannya menggunakan tenaga.
Poei Che Giot segera merasakan tulang telapak kirinya jadi sakit bagaikan retak, ia menjerit keras dan hawa murninya seketika lenyap tak berbekas.
Diikuti Hong Po Seng ayunkan tangannya ke depan dan melemparkan tubuh gadis itu ke muka, serunya dingin.
"Andaikata aku harus melukai dirimu dalam keadaan begini sebagai seorang lelaki sejati aku merasa jadi amat malu, apalagi bukan menggunakan jurus silat yang sejati, tetapi kalau kau terus menerus tak tahu diri dan menginginkan kedua belah pihak sama-sama menderita luka, terpaksa kita harus melangsungkan pertarungan kembali!"
Sembari memegangi tangan kirinya yang sakit Poei Che Giok berseru dengan wajah gusar.
"Orang mati, aku ingin sekali melangsungkan pertarungan sengit melawan dirimu, tapi aku takut para pengejaran dari perkumpulan Hong Im Hwie menyusul kemari"
Perempuan ini dasarnya memang berwajah cantik ditambah pula tingkah lakunya yang mempersonakan, membuat Hong po Seng kendati berjiwa besar dan tidak mempunyai ingatan sesat, dipandang terus oleh biji matanya yang jeli lama kelamaan merasa malu juga ia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Setelah merandek sejenak, gadis she Poei itu maju selangkah ke depan, sambil ulurkan tangan serunya.
"Orang tolol ayoh berangkat!"
Hong po Seng mundur satu langkah ke belakang, dengan wajah membesi hardiknya.
"Lebih baik kau berjalan di depan sana! kau harus tahu bahwa aku tidak meagenal apa artinya kasihan terhadap kaum wanita, bila kau berani menunjukkan maksud jelek lagi terbadap diriku, jangan salahkan kalau telapakku tidak mengenal kasihan!"
"Huuh ........ ! orang laki hatinya paling palsu"
Jengek Poei Che Giok sambil mencibirkan bibirnya.
"Semakin mengatakan tidak kenal kasihan, dia justru paling tahu kasihan ......"
Sembari berkata ia segera ulurkan tangannya untuk menarik pergelangan pemudi ter-sebut.
"Hmm! lihat saja aku benar-benar tahu kasihan atau tidak kenal kasihan!"
Dengus Hong-po Seng sinis, telapaknya segera diayun dan sebuah pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra segera menghantam tubuh Poei Che Giok.
Setelab lama melatih kepandaiannya, jurus pukulan "Koen-Sioe Ci-Tauw"
Ini boleh dibilang telah dapat dipergunakan sesuai dengan kehendak hati, bukan saja amat dahsyat serangannya babkan jauh lebih ampuh daripada sewaktu bertarung melawan Pek Koen Gie tempo dulu.
Diam-diam Poei Che Giok merasa terperanjat, ia sadar bahwa dirinya telah bertemu dengan musuh tangguh, sang badan segera berkelebat mundur beberapa tombak ke belakang kemudian setelah mengerling sekejap ke arah pemuda itu ia putar badan dan berlalu lebih dahulu.
Hong-po Seng sendiripun menyadari akan bahaya yang mecgancam dirinya, ia tak berani berayal dan segera enjotkan badannya menyusul di belakang gadis itu.
Tetapi setelah dilihatnya dara berbaju ungu itu berlari menuju ke selatan, dalam hati kecilnya segera timbul perasaan curiga.
Beberapa puluh li kembali dilewati dengan cepat, lama kelamaan akhirnya Hong-po Seng tidak kuat menahan diri, teriaknya.
"Hey, Poei Che Giok! bukankah kau hendak kembali keperkumpulanmu Thong Thian Kauw?? kenapa mengambil jalan kearah Tenggara ???"
"Ini namanya siasat untuk mengelabuhi mata musuh!"
Sahut Poei Che Giok sambil tertawa.
"Seandainya rahasia sampai konangan, maka biarlah pihak Hong Im Hwie mencari orang-orang dari perkumpulan Sin Kee Pang untuk dimintai pertanggungan jawab. Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Hong po Seng mengerutkan dahinya.
"Eeei ...., sekarang kita berada di mana???"
Kembali teriaknya.
"Kenapa sepanjang perjalanan tidak nampak seorang manusiapun yang berlalu lalang ??"
"Sebelah kiri adalah gunung Thay beng san, jalan kuno ini sudah lama dilupakan orang, tentu saja sulit untuk menjumpai ada orang yang mengambil jalan ini ......"
Belum habis ia berkata, mendadak dari arah depan meluncur datang empat sosok bayangan manusia, di antara keempat orang itu terdapat lelaki perempuan tua dan muda.
Merasakan dari depan ada orang yang muncul diri.
Hong po Seng segera pusatkan perhatiannya untuk memandang, tapi dengan cepat ia telah berpikir dengan hati tertegun.
"Eeeei ?? kenapa mereka bisa berjalan satu rombongan ??? .........."
Kiranya keempat orang yang sedang berlarian mendatang itu bukan lain adalah Tiong si Sam Hauw tiga ekor harimau dari keluarga Tiong sedangkan si gadis berbaju abu-abu yang mengiringi di belakang bukanl adalah Chin Wan Hong, putri dari Chin Pek Cuan.
Mendadak terdengar Poei Che Giok berseru.
"Ong Khong! keempat orang itu harus dibasmi semua, jangan dibiarkan seorangpun di antara mereka berbasil meloloskan diri!"
Sembari berkata ia segera meloloskan pedangnya dari sarung.
Sejak pertama kali tadi Hong po Seng mengaku bermama Ong Khong, dan gadis itupun sudah terbiasa menyebut nama tersebut, maka pemuda itupun selalu berlagak pilon.
Dalam pada itu Tiong si Sam Hauw telah berajalan semakin dekat, berhubung kedua belah pihak sama-sama melakukan perjalanan dengan cepat, sedangkan Hong po Seng pun membuntuti di belakang Poei Che Giok maka ketiga orang itu sama sekeli tidak mengetahuinya.
"Perempuan yang menyebut dirinya bernama Poei Che Giok ini bukan saja cabul dan bermoral rendah, hatinya sangat keji sekali"
Pikir si anak rauda itu di dalam hati "Daripada membiarkan dirinya hidup jauh, lebih baik dibasmi saja dari muka bumi!"
Belum sempat ia mengambil sesuatu tindakan terlihatlah gadis itu sudah mempersiapkan pedangnya untuk melancarkan serangan bokongan ke arah si harimau pelarian Tiong Liauw yang berada di paling depan.
Ia jadi terperanjat bercampur gelisah segera bentaknya keras-keras.
"Poei Che Giok, lihat serangan!"
Gadis she-Poei itu terperanjat, buru-buru ia berkelit ke samping dan melayang lima depa ke depan.
Dalam pada itu si harimau pelarian Tiong Liauw telah menghentikan larinya, ketika menjumpai Hong-po Seng secara tiba-tiba munculkan diri di tempat itu ia jadi sangat kegirangan segera teriaknya .
"Hong-po Kongcu ......."
"Harap cuwi sekalian menanti sebentar di samping!"
Seru pemuda itu, ia segera maju ke depan dan melancarkan sebuah pukulan lagi ke arah depan.
Poei Che Giok dari jengkelnya jadi tertawa ia putar pedangnya ke depan, bukannya mundur sebaliknya malah maju ke depan.
Sahutnya .
"Keparat cilik, ternyata kau benar-benar tidak bernama Ong Khong!!..."
Sementara pembicaraan masih berlangsung dengan cepatnya kedua orang itu telah saling melancarkan tiga buah serangan.
"Poei Che Giok!"
Teriak Hong Po Seng lagi sambil mengirim pukulan-pukulan gencar.
"Kau harus mengaku terus terang Jien Bong dengan dirimu toh sepasang kekasih yang setimpal, mengapa kau melancarkan serangan keji dengan membinasakan dirinya?? sebetulnya apa tujuan mu?? ....."
Air muka Poei Che Giok seketika berubah hebat sambil menyeringai seram serunya.
"Untuk menyelamatkan jiwamu tahu bangsat!"
Pedangnya meluncur ke depan semakin cepat bagaikan biang lala yang membelah bumi ia lepaskan serangan-serangan keji yang dahsyat dan mematikan.
Mendadak terdengar suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, si Harimau pelarian Tiong Liauw sambil menubruk ke depan telapaknya segera diayun menghajar punggung Poei Che Giok.
Poei Che Giok putar pedang sambil menangkis, ia temukan ilmu pukulan yang digunakan orang lain ternyata persis dengan ilmu pukulan yang digunakan Hong po Seng hatinya kontan jadi terkejut bercampur sangsi, dengan pandangan tercengang ditatapnya wajab lawan tanpa berkedip.
Hong po Seng sendiri diam-diam pun berpikir.
"Ilmu pukulan ini meski digunakan dengan tenaga yang jauh belum mencukupi tetapi gerkannya tepat dan sedikitpun tidak salah dengan bakatnya yang amat bagus itu, asalkan dikemudian hari dia mau berlatih rajin dan tekun rasanya tidak sulit untuk memperoleh kemajuan pesat!"
Berpikir demikian ia lantas berseru lantang.
"Tiong loo enghiong, untuk sementara waktu harap mundur dulu ke belakang! ..."
Terdengar harimau pelarian Tioag Liauw dengan suara dingin berseru.
"Tiong Liauw belum pernah jadi seorang enghiong silahkan Kongcu yang menyingkir ke samping untuk beristirahat, berilah kesempatan kepada kami tiga ekor harimau dari keluarga Tiong untuk menunjukkan kebaktian kami ......."
Sedari tadi si harimau ompong Liong Soe Poocu sudab gatal-gatal tangand, begitu suaminya berbicara ia segera enjotkan badannya melompat ke depan, dengan jurus Koen Sioe Ci Tiauw, ia hantam tubuh Poei Che Giok keras keras.
Tampaklah bayangan tubuh berkelebat lewat si harimau bisu Tiong Song tahu-tahu menyerang datang dari sayap kiri.
Orang ini bergelar harimau bisukarena sepanjang tahun jarang sekali mendangar ia buka suara un tuk berbicara.
Terlihatlah dengan perawakan tubuh yang gagah dan kuat karena usianya masih muda.
Ia mainkan jurus pukulan itu dengan sangat hebat, angin pukulan menderu-deru hawa serangan dengan tajamnya meluncur ke depan mengurung sekujur tubuh lawan.
Poei Che Giok terkejut bercampur gusar menyaksikan tiga buah telapak kiri secara se-rentak mengerubuti dirinya dengan lihay, memaksa tubuhnya cepat-cepat harus menyingkir ke samping untuk meloloskan diri teriaknya dengan penuh kegusaran.
"Hey manusia she Hong-po, sebenarnya kalian berasal dan aliran sesat mana???"
Hong po Seng tertawa ringan, sambil melayang mundur ke samping sahutnya.
"Kami adalah sekelompok manusia-manusia perkumpulan Sin Kee Pang yang tertugas di ruang Thian Kie Thong .........."
Berbicara sampai di situ mendadak ia merasa malu sendiri, pikirnya di dalam hati.
"Aku mana boleh menyamar jadi manusia-manusia serigala yang bergabung dalam organisasi kaum bajingan perkumpulan Sin Kee Pang? meskipun asal-usul perempuan ini rada tidak beres, tetapi perbuatan kami yang mengerubuti dirinya dengan andalkan jumlah besar sudah merupakan suatu tindakan yang kurang terbuka dan jujur, tidak pantas sebagai tingkah laku seorang lelaki sejati"
Sementara ia masih membatin, tampaklah keempat orang itu sudah saling bergebrak beberapa jurus banyaknya, menghadapi musuh yang demikian tangguhnya ini ternyata tiga ekor harimau dari keluarga Tiong menunjukkan sikap yang gagah dan tidak jera menghadapi kematian, sekeluarga tiga orang bersatu padu maju mundur dengan teratur bagaikan satu tubuh, kendati gerakan ilmu pukulannya belum matang dan tenaga lwekang yang dimiliki masih amat cetek, tetapi untuk beberapa saat Poei Che Giok tidak sanggup pula merebut kemenangan, apalagi meneter ketiga orang itu.
Maka ia segera membentak keras .
"Cuwi sekalian harap segera berhenti bertempur!"
Begitu mendengar suara bentakan dari Hong po Seng, tiga ekor harimau dari keluarga Tiong segera mengirim satu babatan secara berbareng dan meloncat mundur ke belakang, tetapi mereka tidak pergi jauh, dengan berdiri di tiga penjuru mereka kepung Poei Che Giok di tengah kalangan.
Terhadap kepungan tersebut Tosi Chee Tong purapura tidak melihat, sambil mencekal pedangnya ja mengerling sekejap ke arah Hong po Seng lalu ujarnya dengan nada menyindir.
"Sedari tadi aku telah menduga bahwa kedudukanmu di dalam perkumpulan Sin Kee Pang tidak rendah, ayoh sebutkan namamu. Hong po apa ???"
Hong po Seng tersenyum diikuti wajahnya berubah serius, katanya sungguh-sungguh.
"Kami berlima tidak termasuk perkumpulan atau perkumpulan agama apapun juga!....."
Setelah menjura tambahnya.
"Tempat ini bukan merupakan suatu tempat yang aman, keadaan amat kritis dan mara bahaya setiap saat bisa mengancam tiba, silahkan nona segera berlalu dari sini"
Dengan biji matanya yang jeli Poei Che Giok menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam, setelah mengetahui bahwa ucapannya bukan kata-kata yang bohong, dengan alis berkerut ia segera berseru .
"Sin Kee Pang, Hong Im Hwie serta Thong Thian Kauw merupakan tiga kekuatan besar yang menguasai dunia persilatan dewasa ini bila kalian tidak termasuk di dalam salah satu perkumpulan yang ada dewasa ini, kemanakah kamu semua hendak menyelamatkan diri?? Menurut pendapatku, alangkah baiknya kalian mengikuti aku menuju ke arah Tenggara saja, aku tanggung kalian akan mendapat jaminan hidup yang baik serta punya nama serta kedudukan yang terhormat"
"Terima kasih atas maksud baik dari nona"
Sahut Hong-po Seng seraya menjura.
"Sayang cayhe masih ada tugas di badan hingga untuk saat ini tak bisa memenuhi harapanmu itu. Untuk waktu di kemudian hari masih panjang bila kita sempat berjumpa muka lagi di kemudian hari tiada halangan nona ajukan lagi tawaran tersebut"
"Justru aku takut waktu dikemudian hari tidak banyak, dan kita sukar untuk saling berjumpa kembali"
Kata Poei Che Giok setelah termenung sejenak. Setelah merandek mendadak ia tertawa nyaring dan berseru.
"Semoga cuwi sekalian diberkahi nasib yang baik, kita sampai jumpa lagi di lain kesempatan"
Habis berkata sepasang bahunya segera bergerak dan tubuhnya dengan enteng melayang ke depan.
Menyaksikan air mukanya yang menunjukkan tandatanda tidak beres, satu ingatan segera berkelebat di dalam benak Hong-po Seng, sedikitpun tidak salah ketika ia menyambar lewat di sisi tubuh Chin Wan Hong mendadak tangan nya menyambar ke depan, laksana kilat ia mencengkeram tubuh gadis she Chin tersebut.
Chin Wan Hong sebagai seorarg gadis yang alim dan lemah lembut sama sekali tidak pernah menyangka kalau dirinya bakal dibokong, menanti ia menyadari akan mara bahaya yang mengancam dirinya sang hati baru merasa terkesiap, seketika itu juga dara ayu ini dibikin gelagapan dan kalang kabut tidak karuan.
Terdengar Hong-po Seng mendengus dingin sambil miringkan tubuhnya satu pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.
Pukulan ini meluncur ke depan laksana kilat yang menyambar di tengah angkasa, dalam waktu singkat telah mencapai pada saarannya.
Baru saja jari tangan Poei Che Giok hendak menyentuh di atas urat nadi pergelangan tangan Chin Wan Hong, mendadak segulung tenaga tekanan yang berat laksana sebuah tindihan bukit telah menerjang punggungnya.
Ia terkesiap dan buru-buru menyusut mundur beberapa langkah ke belakang, teriaknya.
"Sebuah pukulan yang sangat indah!"
Sambil tertawa terkekeh-kekeh badannya meluncur ke depan, dalam waktu singkat gelak tertawanya telah berada kurang lebih ratusan tombak jauhnya dari tempat semula.
Menyaksikan gerakan tubuhnya yang begitu cepat dan sebat, semua orang jadi tertegun dan berdiri dengan mulut melongo, air muka mereka berubah hebat dan siapapun tidak percaya kalau seorang gadis yang demikian mudanya ternyata memiliki kepandaian sehebat itu.
"Hoog po Kongcu"
Terdengar Chin Wan Hong buka suara memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh kalangan.
"Siapakah gadis itu? mirip benar dengan Pek Koen Gie!"
"Dia bernama Poei Che Giok dan termasuk anggota dari sekte agama Thong Thian Kauw"
Setelah merandek sejenak, tambahnya lagi.
"Sekarang kita berada di daerah yang sangat berbabaya dan setiap saat kemungkinan besar jiwa kita terancam, bilamana tidak cepat-cepat melarikan diri niscaya kita semua bakal mati di sini, ayoh kita segera berangkat!"
Dengan langkah lebar ia segera mendahului dan berjalan duluan di paling depan.
Tadi di antara dua orang ilmu meringankan tubuh dari Hong po Seng tidak bisa melebihi kelihayan Poei Che Giok tetapi sekarang di antara kelima orang ini boleh dibilang tenaga lwee kang Hong-po Senglah yang paling tinggi.
Setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya, ia temukan Chin Wan Hong sudah mulai kepayahan, keringat mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, maka ia pun mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan dara tadi, tanyanya.
"Nona Chin, secara bagaimana kaupun bisa datang ke Propinsi Sian-say ......???"
Chin Wan Hong tertawa jengah.
"Selama ini aku selalu menguntil di belakang Kongcu, cuma disebabkan karena kereta itu berlari terlalu cepat ditambah pula aku tidak kenal jalan, maka ......."
Diam diam Heng-po Seng merasa terharu setelah mendengar ucapan itu, pikirnya di dalam hati.
"Dari kota Seng Chiu ia membuntuti aku sampai di sini, ooh ......, aku telah menyulitkan nona ini ........."
Sebenarnya pemuda ini ada maksud hendak mengutarakan beberapa patah kata yang menyatakan rasa terima kasihnya, tetapi ia merasakan tenggorokannya seakan-akan tersumbat, tak sepatah katapun berhasil dilontarkan keluar.
Dari perubahan air mukanya Chin Wan Hong bisa memahami maksud hati si anak muda itu, kepalanya segera tertunduk rendah-rendah dan bisiknya lirih.
"Demi keluarga Chin, Kongcu harus mengalami kejadian yang menyusahkan dirimu, membuat jiwamu selalu terancam bahaya dan mengalami pelbagai siksaan yang membuat kau menderita, meskipun kami orangorang dari keluarga Chin harus mengorbankan jiwa dan tubuh bakal remuk redam, kami bersumpah akan membalas budi kebaikaamu itu ....."
"Nona kau keliru"
Kata Hong-po Seng.
"Cayhe berbuat demikianpun tidak lain karena ingin membalas budi kebaikan yang pernah diberikan Chin Loo Enghiong kepada keluarga kami di masa yang silam"
Sepanjang perjalanan menuju ke arah Selatan, kelima orang itu selalu berada dalam keadaan aman tenteram tanpa mengalami cegatan atau halangan apapun juga, senja itu tibalah mereka di tepi sebuah sungai, sungguh tak dinyana tepi pantai sungai Huang-Hoo ternyata penuh berjubel-jubel manusia yang sedang anteri untuk menyeberang.
Semua perahu penyeberang berderet-deret merapat di tepi namun tak sebuah perahupun yang belayar menuju ke tepi seberang, sebaliknya dari pantai selatanpun tidak nampak ada perahu yang berlayar datang.
Diam-diam Hong po Seng terperanjat ia segera mengerlingkan matanya memerintahkan Chin Wan Hong serta Tiong si Sam Hauw mencampur baurkan diri dengan khalayak ramai, sedang ia sendiri duduk di atas tanah sambil bertanya kepada seorang pedagang yang berada di sisinya.
"Paman, tolong tanya kenapa begitu banyak orang yang menunggu di tepi pantai tapi tak sebuah perahupun yang menyeberang ke tepi selatan ??"
Pedagang itu memperhatikan sekejap wajah Hong Po Seng, kemudian setelah menyapu sejenak ke sekeliling tempat itu bisiknya.
"Para yaya dari pihak perkumpulan telah menutup sungai ini dari semua penyebrangan, mungkin di dalam tubuh perkumpulan mereka telah terjadi peristiwa besar, kami sekalian sudah seharian penuh menanti di sini .... Aai! orang muda kalau bepergian musti sabarkan diri dan jangan terburu napsu. terutama mulut jangan banyak bicara sebab salah-salah bisa mengundang datangnya mara bahaya bagi diri sendiri"
Hong-po Seng mengucapkan banyak terima kasihnya berulang kali kemudian baru alihkan sinar matanya ke arah dermaga, tampaklah serombongan jago-jago bersenjata lengkap menyebarkan diri di sekitar tepi sungai, wajah mereka semuanya menghadap ke arah sungai, seakan-akan sedang mengawasi permukaan su¬ngai itu untuk menghindari ada orang yang menyusup keluar.
Kurang lebih sepenanak nasi lamanya sudah lewat namun belum nampak suatu gerak gerik apapun juga, ratusan orang banyaknya sama-sama menunggu giliran untuk menyeberang, suasana hiruk-pikuk memenuhi angkasa namun tak seorangpun bisa meninggalkan tempat itu.
Sementara sang surya perlahan-lahan mulai condong ke arah barat, haripun mulai menjadi gelap.
Dalam hati diam-diam Hong-po Seng berpikir.
"Kalau ditinjau keadaan ini jelas peristiwa berdarah yang terjadi di perkampungan Liok Soat San-cung sudah diketahui oleh mereka, sedang Teratai Racun Empedu Api saat ini berada di dalam sakuku, apa yang harus aku lakukan dalam keadaan begini???........."
Si Harimau Pelarian Tiong Liauw tiba-tiba maju menghampiri sambil bisiknya lirih.
"Kongcu-ya. Kalau harus menunggu dan menunggu terus entah sampai kapan kita baru bisa menyebrang, aku lihat lebih baik kita menyebrang dengan jalan berenang saja "
"Setelah tempat ini ditutup bagi penyeberangan aku pikir di tempat lain pun keadaannya tidak akan jauh berbedaa, daripada bergerak lebih baik bersikap tenang daripada memancing perhatian orang terhadap kita"
Si Harimau Pelarian Tiong Liauw melirik sekejap ke arah sungai sebelah depan, kemudian ia berbisik kembali.
"Pantai seberang berada di bawah kekuasaan perkumpulan Sin Kee Pang, asal kita bisa merampas perahu ......"
Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang gemuruh keras berkumandang datang, tiga puluhan ekor kuda yang tinggi besar secara serentak munculkan diri di tepi sungai, debu mengepul memenuhi angkasa...
begitu tiba di situ dengan sigapnya ketiga puluh orang tadi segera meloncat turun dari atas punggung tunggungannya.
Gerak getik serombongan orang ini cekatan dan gesit semua, gerakan tubuh mereka enteng dan cepat.
Sekilas memandang siapapun tahu kalau mereka memiliki llmu silat yang sangat lihay.
Hong-po Seng yang dapat melihat pula kehadiran orang-orang itu, dalam hati segera merasa amat kesal, pikirnya.
"Aliran air sungai teramat deras, permukaan sungai ini pun sangat luas, aku sama sekali buta di dalam kepandaian memegang kemudi perahu ditambah pula ilmu berenang di air tak kupahami ... aaaai ! kalau suruh aku merampas perahu untuk menyebrangi sungai ini, jelas di dalam sepuluh ada sembilan bagian akan mengalami kegagalan total"
Berpikir demikian otaknya lantas berputar kencang untuk mencari akal yang lain, di samping itu kepada si Harimau Pelarian Tiong Liauw bisiknya pula.
"Mari kita jalan secara terpisah, perduli peristiwa apa yang bakal terjadi dan menimpa diriku, kalian barus berlagak seolah-olah tidak pernah kenal dengan diriku, janganlah sekali kali menyapa atau menunjukkan sikap ingin menolong"
Si Harimau Pelarian Tiong Liauw merasa tertegun setelah mendengar ucapan itu, tapi ia tidak membantah, perlahan-lahan badannya meninggalkan tempat itu dan mengabarkan kepada ketiga orang lainnya.
Kembali beberapa saat telah lewat, dari ujung sungai mulai terjadi kegaduhan yang sangat berisik, dalam suasana yang remang-remang karena senja telah menjelang tiba, berpuluh-puluh batang obor dipasang di sekitar dermaga tersebut.
Hong po Seng dengan cepat alihkan sinar matanya ke arah permukaan sungai, ia temukan beberapa buah perabu sudah mulai bergerak meninggalkan dermaga rupanya orang-orang yang baru datang dengan menunggang kuda tadi mulai melakukan pemeriksaan yang ketat terbadap setiap penyeberang yang melewati tempat itu.
Dengan seksama si anak muda itu memeriksa lebih jauh, atau secara mendadak ia jadi amat terperanjat sebab dilihatnya setiap orang yang mendapat pemeriksaan bukan saja harus menjawab pertanyaanpertanyaan yang diajukan kepada mereka bahkan sekujur badannya harus di geledah dan diraba dengan teliti prosedurnya amat rumit dan sulit untuk ke atas perahu penyeberang seseorang harus melewati pemeriksaan secara berulang kali dengan ketatnya.
Diam-diam ia jadi merasa amat geilsah pikirnya.
"Teratai Racun Empedu Api berada di dalam sakunya, seandainya sampai digeledah dan tertangkap sudah pasti aku tak bisa meloloskan diri dari tempat ini dalam keadaan selamat, padahal teratai racun ini sangat mempengaruhi sembuh atau sakitnya ibuku"
Dengan susah payah aku berhasil mendapatkannya dan kini akupun tak boleh membuang dengan begitu saja..!"
Sementara hatinya sedang gelisab dan berusaha karena mencari akal untuk meloloskan diri dari tempat itu, mendadak dirasakannya si Hanmau Pelarian Tiong Liauw telah berjalan menghampiri dirinya lagi, tanpa terasa sepasang alisnya berkerut kencang, sembari berpaling serunya.
"Jalan mondar mandir ke sana ke mari gampang memancing kecurigaan orang ..."
"Keparat cilik, pentang matamu lebar-lebar dan libatlah siapakah aku! ...."
Serentetan tertawa riang berkumandang dari sisi telinganya.
Ternyata orang yang menghampiri dirinya dari belakaug itu bukanlah si Harimau Pelarian Tiong Liauw seperti apa yang diduganya semula.
Hong po Seng jadi amat terperanjat, ia merasa amat kenal dengan suara tersebut, ketika kepalanya hendak berpaling ke betakang mendadak jalan darah "Leng Sioe hiat"
Di atas pinggangnya jadi kaku, disusul urat nadi di atas pergelangan kirinya dicengkeram orang.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Hong po Seng untuk berkutik ataupun menunjukkan suatu reaksi, sebelum ia sempat berbuat sesuatu mendadak di hadapan wajahnya telah muncul seraut wajah putih yang halus dan sangat dikenal olehnya, sambil tetawa rendah terdengar ia menegur.
"Hey, bangsat cilik! rupanya nasibmu masih mujur dan umurmu masih panjang, masihkah kau kenali diri kongcu-ya mu ???"
Hong po Seng mempehatikan wajah orang itu lebih seksama, dan dengan cepat diapun kenali orang itu sebagai Kok See Piauw anak murid dari Boe Liang Sin Koen, mereka berdua pernah saling berjumpa muka di rumah kediaman keluarga Chin Pek Cuan di kota Keng Chiu, bahkan pernah melangsungkan pertempuran sengit pula di sana, setelah berpisah selama beberapa bulan sungguh tak nyana mereka berjumpa muka lagi di sini.
Hong po Seng pernah termakan pukulan maut Kioe Pit Sin Ciang-nya sehingga hampir saja selembar jiwa melayang, kini setelah berjumpa muka lagi dengan musuh besarnya hawa amarah kontan berkobar, sambil tertawa dingin jengeknya.
"Membokong dari belakang, kau terhitung enghiong hoohan macam apa?? Hmm....!"
Kok See Piaow tersenyum, mendadak dengan wajah membesi hardiknya lirih terhadap orang di depan yang kebetulan sedang menoleh ke belakang.
"Hey kalau kau pingin hidup, lebih baik jangan mencampuri urusan orang lain !"
Hong po Seng merasa amat gelisah, tiba-tiba ia teringat babwa tangan lembut halus yang mencengkram pergelangan kirinya saat ini bukanlah tangan dari Kok See Piauw, ingin sekali ia menoleh untuk melihat lebih jelas tetapi apa daya Kok See Piauw telah menotok jalan darah kakunya sehingga membuat batok kepalanya sama sekali tak mampu berputar.
Sebaliknya orang itu menyembunyikan diri di belakangnya, dengan demikian ia tak sanggup untuk melihat jelas raut wajah orang tadi.
Diam-diam pikirnya di dalam hati.
"Nona Chin serta tiga Orang harimau ganas dari keluarga Tiong berada di sekitar sini dan hingga kini tidak nampak gerak-gerik mereka, jangan-jangan keempat orang itupun sudah tertangkap oleh pihak lawan?? ...."
Belum habis dia berpikir mendadak terasalah sebuah tangan yang kecil dan lembut menerobos masuk ke dalam sakunya lewat bawah iganya, diikuti lubang hidungnya mencium bau harum semerbak yang menyegarkan badan.
Hong Po Seng merasa makin gelisah, begitu dirasakannya sebuah tangan yang lembut halus merogoh ke dalam sakunya dan meraba Teratai Racun Empedu Api yang disimpan di sana, ia jadi kaget dan segera menegur dengan setengah merengek.
"Siapa kau?? apa gunanya kau ambil teratai racun itu?? " 0000O0000 TERDENGAR suara sahutan yang merdu dan enak didengar menggema masuk ke sisi telinganya .
"Aku! kalau tahu diri tenang dan janganlah banyak berkutik!"
Dari nada suara tersebut Hong-po Seng segera kenali sebagai nada suara Pek Koen Gie yang ketus dan dingin, terpaksa ia memperendah nada suaranya seraya menjawab.
"Teratai racun itu tiada kegunaannya sama sekali bagimu, harap nona suka mengembalikannya kepadaku!"
"Hmm ! kalau memang tiada kegunaannya sama sekali, buat apa kau menyimpannya di dalam saku??"
Sembari berkata tangannya kembali menggeledah saku pemuda itu.
Selama ini Kok See Piauw selalu berada di sisi mereka, tatkala dilihatnya Pek Koen Gie dengan tangan kiri mencengkeram pergelangan kiri Hong Po Seng, sedangkan tangan kanannya sedang melewati di bawah iga pemuda itu sedang menggeledah saku Hong Po Seng sehingga tubuh kedua orang itu hampir saja menempel antara yang satu dengan lainnya, timbul rasa cemburu iri dan gusar dalam hati kecilnya.
Semenjak perkenalannya dengan diri Pek Koen Gie, anak murid dari Boe Liang Sin Koen ini selalu berusaha untuk mendekati dara tersebut, ia berdaya upaya untuk menarik perhatian gadis itu serta suka membalas cintanya, apa lacur tabiat Pek Koen Gie memang sangat kukoay, terhadap cinta kasih muda mudi seakan-akan tidak menaruh minat sama sekali, oleh sebab itu hubungan cinta di antara mereka selalu tidak memperoleh kemajuan seperti apa yang diinginkan, dan kini setelah dilihatnya sang gadis idamannya saling berdempetan begitu rapatnya dengan lelaki lain, sudah tentu hatinya jadi panas.
Tapi ia tidak berani terlalu memperlihatkan rasa cemburunya, sambil tersenyum katanya lirih.
"Hian moay, kau tak usah repot-repot musti turun tangan sendiri biarlah Siauw-heng yang menggeledahkan saku keparat cilik ini! "
"Terima kasih atas perhatian Kok heng kau tak usah turut campur dalam persoalan ini"
Tukas Pek Koen Gie ketus sambil berbicara tangan meneruskan pengeledahannya memeriksa seluruh isi saku pemuda she Hong po itu tapi dengan cepat ia jadi kecewa, sebab benda yang diharapkan ternyata tidak berbasil ditemukan.
Hong Seng sendiri setelah dilihatnya gadis itu sesudah mengambil teratai racun Empedu Api masih juga menggeledah sakunya, dalam hati segera memahami maksud hati lawannya, dalam hati iapun berpikir.
"Pastilah ia sedang menggeledah sakuku untuk menemukan pedang Emas tersebut Kalau begitu sudah jelas sekarang perbuatan Poei Che Giok dengan kecantikan wajahnya mimikat hati Jien Bong, delapan bagian ada sangkut pautnya dengan persoalan ini. Mendadak terdengar Pek Koen Gie membentak dengan suara lirih.
"Cepat mengaku sejujurnya barang itu kau sembunyikan dimana ??"
"Terus terang saja kukatakan, kedatangan cayhe ke perkampungan Liok Soat San cung adalah bertujuan untuk mengambil Teratai Racun Empedu Api itu, aku sama sekali tiada bermaksud hendak mencuri pedang!"
"Kurangajar!"
Maki Pek Koen Gie sambil tertawa dingin.
"Kalau hanya mencuri sebatang Teratai Racun Empedu Api saja, masa keadaan bisa berubah jadi begini tegang dan pihak mereka sampai mengerahkan kekuatan intinya untuk melakukan penggeladahan? Perkumpulan Hong Im Hwie tak nanti unjukkan kerepotan dan kebingungan semacam ini"
"Oooh ..... -kiranya kabar berita mengenai terbunuhnya Jien Bong belum sampai bocor di tempat luaran...."
Pikir Hong po Seng, mendadak siatu ingatan berkelebat di dalam benaknya. Diam-diam ia berseru.
"Aduuuh! Andaikata secara diam-diam ia menghancurkan Teratai Racun Empedu Api itu, apa yang harus aku lakukan??"
Saking gelisah dan gugupnya, tanpa berpikir panjang lagi segera serunya.
"Nona! Harap kau buang teratai racun itu ke dalam sungai, sedang aku akan membantumu untuk menemukan pedang emas itu kalau tidak, maafkanlah daku kalau tidak sudi memberitahukan kepadamu !"
Pek Koen Gie sendiripun telah menduga selain lenyapnya Teratai Racun Empedu Api ini pastilah sudah terjadi peristiwa lain, karena takut jejaknya ketahuan sehingga rahasianya terbongkar dia memang ada maksud hen¬dak melenyapkan teratai racun empedu api itu dari muka bumi, tetapi setelah saat ini Hong-po Seng terus terang mengancam bahkan mcnggunakan pedang emas itu sebagai ancaman, ia jadi serba salah dan untuk beberapa saat lamanya tidak tahu musti menjawab apa.
Hingga saat itu belum nampak sebuah perahupun yang membawa penumpang menyeberangi sungai tersebut, berhubung pemeriksaan dan penggeledahan dilakukan sangat lambat, sementara orang yang menunggu di tepi pantai amat banyak, terutama sekali para jago perkumpulan Hong Im Hwie yang sebagian besar telah berkumpul semua di tepi dermaga, membuat suasana di sekitar situ terasa bertambah tegang dan seram.
Di bawah sorot cahaya api, kilapan senjata bergemerlapan di tengah kegelapan, deru angin kencang serta gulungan ombak yang menghantam tepian menambah seramnya suasana di situ.
Dalam ada itu ketika Kok See Piauw menyaksikan Pek Koen Gie termenung dan tidak mengucapkan sepatah katapun, seakan-akan gadis itu merasa serba salah dibuatnya segera bertindak cepat, jari tangannya berulang kali berkelebat melancarkan beberapa totokan yang kesemuanya bersarang di bawah iga Hong-po Seng, kemudian jengeknya sambil tertawa.
"Barang itu kau sembunyikan di mana? bangsat cilik! Kau suka mengaku tidak?"
Jilid KE 8.
Siapa Pembunuh Jien Bong?
Ilmu totok memisah urat dan penembus ulu hati yang digunakan anak murid Boe Liang Sin Koen ini benarbenar merupakan suatu ilmu penyiksaan yang paling keji, siapapun yang termakan serangan ini tidak akan kuat menahan diri, Dalam waktu singkat sekujur badan Hong Po Seng serasa bagaikan digigit oleh berjuta-juta ekor semut, seluruh urat nadi dalam tubuhnya mengerut kencang, jantungnya mengembang besar, darah mengalir keatas semakin deras sementara tubuh bagian bawahnya mengerut kecil, keringat dingin sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh badan, sambil merintih tubuhnya bergulingan diatas tanah.
Sekali cengkeram Kok See Piauw menarik lengan Hong Po Seng sehingga tidak sampai roboh diatas tanah, sedangkan tangan yang lain mendekap mulutnya agar suara rintihan tidak sampai kedengaran oleh orang lain.
Sembari menyeringai seram bisiknya sinis.
"Bangsat! ayoh cepat mengaku, barang itu kau sembunyikan dimana?? kalau tidak mau mengaku lagi...Hmm! Hmm!,.. kongcumu segera akan memunahkan ilmu silat terlebih dahulu!" . Haruslah diketahui mereka bertiga berada diantara gerombolan manusia yang terletak dipaling belakang, jaraknya dari penyebrangan sungai masih terpaut dua puluh tombak lebih, kendati orang-orang yang berjejeran dibelakang mereka dapat melihat tingkah laku ketiga orang itu, tetapi sebagian besar yang terdiri dari kaum pedagang, kaum pekerja kasar yang sudah sering kali menjumpai keonaran serta peristiwa2 aneh semacam itu pada berlagak pilon semua, siapapun tidak berani mencampuri urusan tersebut sehingga mengakibatkan dirinyapun terjerumus dalam perisiwa tadi. Kalau Kok See Piauw masih bersikap tenang saja menyiksa diri Hong Po Seng, sebaliknya Pek Koen Gie jadi gelisah dan tidak tenang. Dengan wajah memberat serunya.
"Kok heng, cara ini tak bisa digunakan"
Melihat gadis itu menunjukkan sikap gusar dan tidak senang hati, buru buru Kok See Piauw menjulurkan tangannya dan memijat beberapa kali dibawah iga Hong po Seng untuk membebaskan ilmu totokan pembuyar urat nadinya, kemudian setelah menotok jalan darah kakunya ia berkata sambil tertawa.
"Hian-moay ! harap kau suka menyerahkan Teratai Racun Empedu Api itu kepada siauw-heng ,sekalipun Jien Hian datang sendiripun, tanggung ia tak berani menggeladah saku siauw-heng " .
"Walaupun aku tidak takut kalau sampai ada anggota perkumpulan Hong Im Hwie yang menggeladah tubuhku"
Pikir Pek Koen Gie dalam hati.
"Tapi terang-terangan bohong pun rasanya bukan suatu keadaan yang sedap dinikmati " . Karena berpikir demikian, ia lantas angsurkan Teratai Racun Empedu Api itu ke tangannya sambil pesannya lirih .
"Benda ini merupakan suatu benda yang sangat langka didalam dunia persilatan, harap Kok-heng suka menyimpannya secara baik2, setelah menyebrangi sungai nanti harap segera serahkan kembali kepada siauwmoay!"
"Hian-moay. harap kau jangan kuatir "
Sahut Kok-See Piauw sambil tertawa, ia segera masukkan Teratai Racun Empedu Api itu kedalam sakunya.
"Paling banter aku bakal bentrok sama orang2 dari perkumpulan Hong Im Hwie, tak usah bingung, tanggung aku tak akan membuat kapiran urusan Hian moay!"
Pada saat itulah dari atas permukaan sungai berkumandang datang suara senandung panjang yang amat nyaring.
"Thong Thian It Coe Hiang.. Thong Thian It Coe Hiang ".
"Aaah.. dari pihak sekte agama Thong Thian Kauw pun ada orang yang datang ke mari! "
Seru Kok See Piauw tercengang. Terdengar suara seseorang yang nyaring dan lantang segera menyahut.
"Hong Im Kie Hwie,... Hong Im Kie Hwie sahabat dari Thong Thian Kauw silahkan " . Suaranya keras, nyaring dan lantang. lama sekali baru membuyar diangkasa.. dari permukaan sungai terdengar suara dayung yang membentur air berkumandang datang. Hong po Seng yang baru saja mendapat siksaan, waktu itu pikirannya masih bergolak keras, dengan mata melotot bulat awasi permukaan sungai. Tampaklah sebuah perahu dengan tiga batang tiang layar yang terbentang lebar menerjang ombak melaju datang. puluhan buah lampu 1entera tergantung diujung perahu itu membuat suasana disekelilngnya jadi terang benderang.
"Hian-moay, siapakah orang itu ?"
Mendadak terdengar Kok See Piauw bertanya.
"Hmmm ! siluman rase dari sekte agama Thong Thian Kauw, orang kangouw menyebutnya sebagai Giok-Theng Hujien nyonya hioolo kumala! " . Hong-po Seng yang ikut mendengar pembicaraan itu segera alihkan sinar matanya kearah ujung perahu, tampaklah diatas sebuah kursi kebesaran berlapis emas duduklah seorang perempuan cantik berbaju hijau, bersanggul tinggi, bergaun panjang dan berwajah sangat agung. Perempuan itu tampak sangat angker dan berwibawa, terlihatlah pada tangan kanannya mencekal sebuah Huttim bergagang kumala, ditangan kirinya membopong seekor makhluk aneh yang menyerupai rase, berbulu putih salju dan bermata merah tajam, kakinya menginjak sebuah bangku berlapis kain sutra, disisi bangku terletak sebuah hioolo kumala yang tingginya mencapai beberapa depa, asap hijau yang menyiarkan bau harum mengepul keluar dari hioolo tadi. Disisi hioloo tadi berdiri seorang dara bergaun ungu, berwajah cantik dan berusia lima enam belas tahun sedangkan dibelakangnya berdirilah sebaris toojien bejubah abu2 bersoren pedang dan usianya diantara tiga puluhan tahunan. Dalam pada itu perahu tadi sudah merapat ditepi pantai, mendadak tampaklah dari rombongan perkumpulan Hong Im Hwie muncul seorang pria berwajah putih bersih berjenggot hijau maju menyongsong kedatangan mereka, sembari menjura serunya.
"Ooooh ! kiranya Giok Theng Hujien yang telah datang, apabila kami tidak sempat menyambut kedatangan hujien dari tempat jauh, harap suka memberi maaf yang sebesar besarnya"
Per-lahan2 Giok Thing Hujien turun dari tempat duduknya dan bergerak menuju ke ujung perahu, sahutnya sambil tertawa.
"Haaah haaah . haaaah . Sam Tang-Kee baik2kah kau ? 0oow ... sudah terjadi jual beli apa sih sehingga kau harus turun tangan sendiri untuk mengatasinya ?"
"Tidak aneh kalau Pek Koen Gie bersem bunyi diantara gerombolan manusia banyak"
Diam2 Hong-po Seng membatin.
"dan tak berani sembarangan berkutik, kiranya Sam Tang-Kee dari perkumpulan Hong Im Hwie pun telah hadir disini " . Pria berbaju perlente itu she-Cie bernama Kiam dengan julukan "Pat pit Sioe Loo"
Malaikat berlengan delapan, dialah si majikan nomor tiga dari perkumpulan Hong Im Hwie, salah satu diantara orang2 kepercayaan Jien Hian.
Pada waktu itu, orang2 yang hendak menyebrang sungai sama2 mengundurkan diri kebelakang, ada diantara yang jeri atau takut diam2 telah ngeloyor pergi dari situ.
Pek Koen Gie mengerti bahwa Hong Po Seng mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari pengaruh totokan, oleh sebab itu cekalannya pada pergelangan orang sama sekali tidak dikendorkan, melihat semua orang mundur kebelakang diapun sambil menarik tangan pemuda itu ikut mundut kebelakang, meski demikian mereka tetap berada diantara gerombolan manusia.
Ditengah jalan mendadak Hong Po Seng menemukan Oh Sam serta seorang pria lainnya masing2 mencengkeram dua orang, mereka bukan lain adalah tiga ekor harimau dari keluarga Tiong serta Chin Wan Hong tanpa terasa pemuda kita menghela napas panjang, dengan pikiran yang kalut pandangan mata segera dialihkan kembali kearah permukaan sungai.
Terdengar si malaikat berlengan delapan Cie Kim dengan suara dingin sedang berkata.
"Dalam tubuh perkumpulan kami sedang tertimpa suatu peristiwa maha besar, hingga kini duduk perkara yang sebenarnya masih belum jelas. Hujien kalian toh selama ini berkeliaran didaerah tenggara, kali ini berkunjung ke-Barat entah karena urusan apa?"
Dengan wajah berseri seri dan senyum di kulum Giok Theng hujien berdiri diujung perahunya, sehabis mendengar pembicaraan orang ia lantas menjawab.
"Berhubung ada sedikit persoalan yang harus diselesaikan dikota Thong Kwan aku telah melakukan perjalanan datang kemari, dari pada merepotkan sahabat sahabat dari perkumpulan Hong Im Hwie, maafkan kalau aku tidak turun kedarat"
Berbicara sampai disini, dengan sepasang biji matanya yang jeli ia menyapu sekejap kearah gerombolan manusia yang saling berdesak desakan diatas darat.
Jarak antara Hong po Seng dengan perempuan itu masih terpaut sangat jauh, tetapi entah apa sebabnya ketika menyaksikan sinar mata perempuan itu menyapu datang hatinya mendadak terasa jaii bergidik.
Terasalah lengannya jadi kencang dan ia sudah ditarik Pek Koen Gie bersembunyi dibelakang punggung orang.
Mendadak dari tepi seberang berkumandang lagi suara dayung memecah ombak, disusul suara manusia berteriak keras.
"Sin Kie Hoei yang.... Sin Kie Hoei yang."
"Hmm! orang2 dari perkumpulan Sin Kie Pang pun turut berdatangan...
"batin Hong po Seng dengan alis berkerut.
"Huuuh kawanan serigala dan harimau semuanya... sedikitpun tak berguna bagi aku orang she Hong po...."
Suatu perasaan begidik secara mondadak muncul dari dasar lubuk hatinya ia merasa suatu peristiwa tragis yang tidak menguntungkan bakal meninipa dirinya, pengalaman semacam ini selamanya belum pernah dirasakan barang satu kalipun, untuk sesaat tangan dan kakinya jadi dingin saking tegangnya, sekujur badan terasa seolah-olah gemetar keras.
Pek Koen Gie yang sedang mencengkram pergelangannya ketika secara tiba tiba merasakan tangan slanak muda itu berubah jadi dingin, ia nampak tertegun, kemudian bisiknya lirih.
"Hong Po Seng, katakanlah sipedang emas itu telah kau sembunyikan dimana! aku tanggung jiwamu tidak akan mendapat rintangan ataupun terancam marabahaya, bahkan mulai detik ini aku tidak akan memusuhi dirimu lagi"
Terhadap diri Hong-po Seng, perempuan ini boleh dibilang mempunyai suatu pandangan serta perasaan yang aneh, ia merasa kagum juga merasa mendongkol dan mangkel.
Ia merasa sianak mucla ini berbeda dengan pemuda lain, tetapi iapun merasa bahwa kegagahan serta keangkeran pemuda ini jauh melebihi dirinya, setiap tingkah lakunya se-olah2 menyinggung gengsi serta martabat baiknya membuat timbulnya suatu pandangan yang aneh dalam hati kecil gadis ini.
Dia ingin cepat2 menghukum mati Hong po Seng, tetapi iapun merasa tidak rela kalau dia mati ditangan orang lain.
Hong-po Seng sendiri tatkala mendengar gadis itu bersikeras menuduh dia telah mendapatkan "Pedang Emas"
Sadarlah ia bahwa banyak bicara tiada berguna sinar matanya segera dialihkan kearah permukaan sungai.
Tampaklah tiga buah perahu besar meluncur datang dari tepi seberang, pada ujung perahu yang ada diposisi tengah berdiri seorang lelaki berjubah lebar.
dialah koen su perkumpulan Sin Kie Pang yang julukan Tok Coe kat si Coe kat beracun Yauw Soet.
"Huaaah -hahh, bagus sekali!"
Mendadak terdengar Giok Theng Hujien berseru sambil tertawa nyaring.
"Coe kat Cay-siang siperdana menteri Coe kat membawa tentara hendak menaklukan wilayah Tionggoan utara!" .
"Haaah",haah..""Coe kat beracun Yauw Soet takut mendongak dan tertawa terbahak2
"Hujien! selamat bertemu kembali"
Selamat bertemu kembali, ternyata kecantikanmu kian lama kian bertambah segar.
kiong hie....
kiong hie!".
Sinar mata perlahan-lahan dialihkan kearah Malaikat berlengan delapan Cie Kim lalu sambungnya sambil tertawa.
"Sam Tang Kee, sejak berpisah apakah selama ini kau berada dalam keadaan baik?' Yauw Soet disini memberi hormat kepadamu" .
"0ooh.. Yauw heng, baik-baikah kau"
Pat Pit sioe Loo Gie Kim mendongak dan menjura. Setelah merandek sejenak, mendadak ia tertawa dingin dan melanjutkan.
"Yauw heng! tiada urusan kau tak akan mengunjungi istana Som Tian, kunjunganmu kewilayah utara entah disebabkan karena persoalan apa??...
". ,.Haah...haah... Sam Tang Kee! terus terang saja kukatakan bahwa putri kesayangan pangcu kami nona Koen Gie karena sedang mengejar musuh besarnya kini telah memasuki wilayah kalian, oleh sebab itulah aku buru2 tinggalkan kota Lok yang untuk menyusul kemari. Berhubung aku dengan di pantai utara suasana sedang tegang dan nampaknya ada tanda2 hendak menggunakan kekerasan, maka sengaja aku menyebrang kemari untuk menyambut pulang nona Koen Gie kami.
"Oooh. kiranya begitul"
Per lahan2 Pat Pit Sioe Loo Cie Kim mengangguk. Ia berpaling kebelakang dan segera serunya lantang.
"Diatas dermaga apakah terdapat nona Pek Koen Gie dari perkumpulan Sin Kie Pang?" . Ketika Hong Po Seng menyaksikan sepasang matanya dengan langsung memandang kearah mereka, walaupun jaraknya jauh tetapi ketajaman matanya menggidikkan hati, diam2 merasa terkesiap pikirnya.
"Orang ini sendiri tadi tak pernah munculkan diri, setelah tampil kedepan tak pernah juga menoleh kebelakang, darimana ia bisa tahu kalau Pek Koen Gie berada disini??" . Pek Koen Gie sendiripun merasa agak terkejut. kepada Kok See Piauw segera serunya.
"Kok heng, harap kau suka membawa orang ini!"
Sembari berkata ia segera turun kearah tepi sungai. Kok See Piauw tidak bicara, setelah mengampit tubuh sianak muda itu dibawah ketiaknya, ia mengancam sambil tertawa;
"Hey bajingan she Hong Po, bila kau tidak ingin modar, aku harap kau bisa sedikit tahu diri dan jangan banyak bertingkah."
Orang2 yang berkumpul ditepi pantai sama2 menyingkir kesamping membuka jalan, dengan dipimpin oleh Pek Koen Gie disusul oleh Kok See Piauw sambil mengepit Hong po Seng dan Oh Sam serta seorang pria berbaju hijau mengepit Tiong-si Sam-Hauw dan Chin Wan Hong mereka berjalan menuju ke dermaga.
Coe-kat beracun Yauw Soet yang berdiri diujung perahu segera menuding kearah Cie Kim dan ujarnya sambil tertawa .
"Nona Koen Gie, dia adalah Cie Cienpwee majikan ketiga dari perkumpulan Hong Im Hwie, dalam pertemuan Pak-Beng-Hwie tempo dulu dengan kedelapan puluh satu jurus ilmu pukulan Koei-Goan-Cieng-hoat-nya ia berhasil membinasakan Huang-san It-To, membelah Hoo-Pak It Sioe, sampai2 si Ciong Kian-Khek jagoan berambut gondrong yang amat tersohor namanya dimasa itu pun harus mengorbankan lengannya ditangan Cie Tang-kee !" . Pek Koen Gie alihkan sinar matanya kearah Pat-Pit Sioe-Loo Cie Kim, setelah memandang sekejap kearahnya ia segera menjura.
"Sudah lama aku mengagumi akan kehebatan serta nama besar dari Sam Tang kee" . Pat Pit Sioe-Loo Cie Kim mendengus dingin,dengan pandangan tajam ia awasi wajah Pek Koen Gie tanpa berkedip, lalu katanya.
"Aku telah memperoleh laporan yang mengatakan bahwa pagi tadi nona Pek telah menyebrangi sungai memasuki wilayah kekuasaan kami, apakah musuh2 yang sedang kau kejar telah berhasil ditangkap semua?."
Berbicara sampai disitu ia melirik sekejap kearah orang2 yang berada dibelakang.
"Atas berkah dari Sam Tang kee boanpwee telah berhasil menangkap semua kelima orang itu!" . Setelah merandek sejenak, tanyanya lagi.
"Entah kejadian apakah yang menimpa dalam tubuh perkumpulan kalian? sehingga Sam Tang kee harus repot2 turun tangan sendiri datang kemari?" . Sepasang alis malaikat berlengan delapan Cie kim berkerut kencang, mendadak dengan sorot mata yang tajam ia tatap wajah Pek Koen Gie tanpa berkedip kemudian serunya ketus.
"Nona Pek, peristiwa yang terjadi teramat besar sekali...." . Tatkala dilihatnya orang itu menatap wajahnya dengan tajam tanpa berkedip, air muka Pek Koen Gie seketika berubah hebat, dengan penuh kegusaran tukasnya.
"Kalau memang kejadian itu teramat besar sekali, harap Sam Tang Kee segera menerangkan sejelas jelasnya, entah peristiwa itu terjadi dimana dan pada saat kapan?"
"Hehh...helahl...hehhh...nona Pek, pintar amat otakmu, hanya didalam sepatah dua patah kata saja pertanyaanmu kau telah ajukan persis kedalam pokok persoalan"
"Ayah harimau mana mungkin melahirkan anak anjing "
Timbrung Giok Theng Hujien secara tiba2 sambil tertawa.
"Hey Sam Tang Kee, apakah kau sudah lupa akan kemampuan dari Pek pangcu?" . Pat Pit Sioe Loo simalaikat berlengau delapan Cie Kim mendengus dingin, ia tidak menanggapi ucapan tersebut. Sebaliknya si Coe kat beracun Yaw Soet segera tertawa dan berkata.
"Hujien!. kau bukannya menikmati Sorga hidup didalam kamar pribadimu yang harum, jauh datang kemari mau apa atau jangan2 kau memang tersangkut didalam peristiwa besar yang terjadi didalam tubuh Hong Im Hwie ini?"
Giok Theng Hujien memutar biji matahya yang jeli lalu tersenyum.
"Coe kat Cay siang! biasanya dugaan serta perhitungan sangat tepat tak pernah meleset, tapi kali ini dugaanmu telah Salah besar, aku hanya secara kebetulan saja hadir ditempat ini bahkan sampai sekarang aku masih belum tahu kejadian apakah yang telah menimpa perkumpulan Hong im Hwie!" . Pat Pit Sin Loo Cie Kim segera mendongak dan tertawa seram.
"Haaah....haaah!....kalau memang kalian berdua tidak tahu akan duduknya perkara, dus berarti hanya aku orang she Cie seorang yang tahu akan peristiwa ini" . Ia merandek sejenak, lalu dengan dua rentetan sorot mata yang tajam bagaikan pisau ia menyapu sekejap wajah Pek Koen Gie serta Kok See Piauw sekalian, sambungnya.
"Dari perkampungan Liok Soat San Chung telah kehilangan dua macam benda mustika dan selembar jiwa manusia melayang, saudara berdua harus tahu dunia persilatan yahg tenang selama sepuluh tahun, mulai detik ini tidak bakal akan tenang kembali"
Hong-po Seng dikempit dibawah ketiak Kok See Piauw tak dapat melihat perubahan wajah orang, tapi ketika mendengar bahwa ada dua macam benda mustika yang hilang suatu ingatan dengan cepat berkelebat didalam benaknya.
pemuda itu segera berpikir.
"Jangan jangan persoalan itu tersangkut didalam masalah "Pedang emas"
Andaikata demikian adanya, maka pastilah perbuatan itu adalah hasil karya dad Poei Che Giok!
Sehabis perkataan tadi diutarakan keluar Si Coe kat beracun Yauw Soet sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun, dengan sikap yang tenang ia mendengarkan perkataan Cie Kim selanjutnya.
Sebaliknya Giok Theng Hujien segera berseru tercengang, katanya.
"Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa perkampungan Liok soat san cung. telah dijadikan Pesanggrahan oleh Jien Tang kee, entah jiwa siapa yang telah melayang dan dua macam benda mustika apakah yang ikut lenyap?" . Air muka Pat Pit Sioe Loo Cie berubah jadi dingin membesi, dengan ketus sahutnya.
"Dua macam benda mustika itu sih bukan urusan besar, justru jiwa yang melayang itulah merupakan peristiwa yang maha hebat"
"Aduuh celaka"
Diam2 Coat kat beracun Yauw Soet berpikir dengan hati bergetar keras,' Hong po Seng betul2 bernyali besar dan tidak tahu lihay, mungkin orang yang telah dibunuh olehnya adalah sanak keluarga dari Jien Loo jie!
", Dalam hati berpikir demikian, diluar ia segera menimbrung.
"Sam Tang kee, entah siapakah yang telah jatuh korban?" . Pat Pit Sioe Loo si malaikat berlengan delapan Cie Kim tertawa dingin, dengan suara keras teriaknya. -Kami sudah kehilangan jiwa putra tunggal kesayangan _Jien Tang kee kami, Siauw Thian Seng Jien Bong adanya, coba cuwi sekalian pikir, apakah sejak kini dunia persilatan bisa aman tenteram lagi"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, air muka semua orang yang hadir dikalangan sama2 berubah hebat, termasuk juga segenap anak buah yang tergabung didalam perkumpulan Hong Im Hwie, rata2 mereka menunjukkan rasa kaget dan tercengang yang tak terhingga.
Jelas sebelum ucapan barusan diutarakan, mereka sendiripun tidak tahu duduk perkara yang sebetulnya.....
Diam2 Pek Koen Gie merasa amat terperanjat, pikirnya.
"Bangsat cilik ini kenapa bertindak begitu goblok?? masa mau bikin onarpun sampai memancing meledaknya bencana begitu besar?" . Makin dipikir ia semakin gemas sehingga akhirnya sepasang giginya bargemerutukkan menahan rasa mangkel yang tak terkirakan, ingin sekali satu kali tabok ia cabut jiwa pemuda she Hong Po itu. Dalam pada itu terdengarlah Coe kat beracun Yauw Soet dengan wajah serius berkata.
"Peristiwa ini memang sangat menyedihkan sekali, setelah Jien Tang kee mengalami musibah yang tak terduga ini pasti ia rasa amat sedih hati"
Setelah merandek dan termenung beberapa saat lamanya., ia berkata kembali.
"Sam Tang kee, perkampungan Liok Soat San Chung terletak ditengah bukit Im Tiong San yang jaraknya ada ribuan li dari tempat ini, entah peristiwa tragis itu kapan terjadinya?"
"Kejadian ini berlangsung pada tiga hari berselang, Yauw-heng! kau tersohor sebagai seorang Koen-su yang memiliki banyak akal cerdik, entah apa petunjukmu mengenai peristiwa ini ?"
Diam2 Si Coe-kat beracun Yauw Soet berpikir dalam hatinya "Andai kata Pedang Emas itu belum terjatuh ketangan pihak kami, untuk lolos dari ternpat ini rasanya tidak terlalu sulit, sebaliknya kalau pedang emas itu sudah berada didalam saku Koen Gie .
waaah !
urusan jadi radaan repot, entah benda apa yang di maksudkan sebagai mustika kedua itu?
Berpikir sampai disitu, ia segera melayang turun keatas daratan, kepada Cie Kim ajarnya.
"Kematian dari Jien kongcu pastilah ada hubungannya dengan kedua macam mustika itu, apabila perkumpulan kalian ada maksud mencari tahu siapakah pembunuhnya, maka satu2nya jalan adalah berusaha untuk menemukan kembali kedua macam benda tersebut."
Berbicara demikian sinar matanya segera dialihkan kearah Pek Koe Gie sebagai tanda pertanyaan.
Pek Koen Gie adalah seorang gadis yang cerdik dan banyak akal, melihat urusan amat kritis dan sangat tegang buru2 ia memberi hormat kepada Cie Kim, katanya .
"Kalau memang peristiwa berdarah itu terjadi pada tiga hari berselang, itu berarti persoalan tersebut sama sekali tiada sangkut pautnya dengan diriku sebab baru pagi tadi boanpwee menyebrangi sungai Huang-Hoo. Cie Cienpwee ! urusan ini mempunyai sangkut paut yang besar dengan ketenteraman Bu-lim, kami dari pihak perkumpulan Sin Kie-Pang tidak ingin melibatkan diri didalam kancah air keruh itu, maaf kalau boanpwee akan mohon diri terlebih dahulu!"
Habis berkata ia segera putar badan dan berjalan menuju kearah perahu perkumpulannya.
"Tunggu sebentar "
Hardik Pat-Pit Sioe Loo Cie Kim dengan suara keras, tangannya bergerak dan segera mengirim satu cengkeraman kearah depan.
Sejak tadi si Coe-kat beracun Yauw Soet sudah bersiap siaga menghadapi serangan orang ini, melihat dilancarkannya serangan sang badan segera meloncat kedepan menghadang jalannya serangan tersebut.
Seraya menjura dan tertawa lantang,"Sang Tang kee, harap didengarkan dulu".
Seraya berkata sepasang tangannya yang sedang menjura segera didorong kemuka menghantam dada Cie Kim.
Dalam keadaan begini seandainya Pat Pit Soen Loo Cie Kim tidak menarik kembali tangannya yang hendak mengancam tangan Pek Koen Gie, niscaya lengan kanannya bakal terhajar patah.
Malaikat berlengan delapan Cie Kim bukanlah lampu lantera yang kekurangan minyak, terdengar ia mendengus dingin, tangan kanannya segera ditarik kembali kemudian dengan sikap menjura ia tembus sepasang tangan Coe kat beracun Yauw Sect yang sedang meluncur datang.
Diantara bergelombangnya ujung jubah yang lebar, segulung hawa pukulan berhawa lm yang lunak tanpa menimbulkan sedikit suarapun segera menerjang kearah tubuh Pek Koen Gie.
Diam2 Coe kat beracun Yauw Soet merasa terperanjat, tapi diluaran ia berlagak se-olah2 tak pernah terjadi sesuatu urusan apapun, dengan langkah yang enteng dan seenaknya ia mundur setengah langkah kabelakang, sepasang lengan ditarik kembali dan menggunakan kesempatan dikala segulung angin serangan menyapu tiba itulah ia segera menahadang dibelakang tubuh Pek Koen Gie.
Sementara itu putri kesayangan dari Pek Siauw Thian pangcu perkumpulan Sin Kie Pang itu sedang berjalan satu tindak kedepan, dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat telah saling bertumbukan dibelakang tubuhnya.
"Blaaaam"
Ditengah ledakan keras, desiran angin tajam menyambar keempat penjuru membuat tubuhnya bergetar keras dan maju dengan sempoyongan kemuka.
Dalam waktu singkat....
Sreeet !
Sreeet !
Sreeeet !
para anggota perkumpulan Sin Kie Pang yang berada diatas ketiga buah perahu itu bagaikan jangkrik2 segera berloncatan naik keatas darat, sekeliling tubuh Pek Koen Gie dengan cepat telah terlindung dibawah kurungan jago2 lihaynya.
"Haah ... haah ..haaah ... nama besar Coe-kat Cay-siang ternyata bukan nama kosong belaka"
Terdengar Giok Theng Hujien berseru sambil tertawa riang.
"Bukan saja ilmu silatnya sangat lihay, bahkan anak buahnyapun sama2 cekatan semua. inilah yang dikatakan orang kuno sebagai dibawah asuhan panglima kenamaan tiada prajurit yang lemah, anggota sekte agama Thong Thian Kauw tak terdapat anak murid yang cekatan dan gesit seperti kalian " . Sementara itu kegusaran yang berkobar dalam dada Pat-Pit Sioe-Loo Cie Kim belum sirap, sehabis mendengar ucapan itu bagaikan minyak yang kena api hawa amarahnya semakin berkobar hebat. mendadak ia berpaling kearah para anggota perkumpulan Hong Im Hwie yang berkumpul disitu, lalu bentaknya .
"Sebelum digeladah dengan teliti siapapun dilarang naik keatas perahu, barang siapa yang berani membangkang segera bunuh, kalau sampai ada satu orang saja yang berhasil lobos, kalian semua harus bunuh diri untuk menebus dosa itu !" . Terdengar seluruh anak buah Hong Im Hwie berseru mengiakan, kemudian tampaklah bayangan manusia saling berkelebat, dalam waktu singkat jalan mundur Pek Koen Gie telah terputus, suasana jadi tegang dan kedua belah pihak sama2 mempersiapkan diri untuk melangsungkan suatu pertarungan sengit. Coe kat beracun Yauw Soet berotak tajam dan banyak akal. meski ia merasa suasana meruncing dan setiap saat kemungkinan besar bisa terjadi pertempuran sengit, tetapi sikapnya masih tetap tenang2 saja seakan2 tidak pernah terjadi suatu kejadian apapun, pikirnya.
"Siluman rise itu sengaja memancing kobarnya api pertempuran diantara dua perkumpulan. Hmm! dia pingin perkumpulan Sin Kie Pang saling bertarung dengan perkumpulan Hong Im Hwie bagaikan burung bangau yang berebut makanan, sedangkan sekte agama Thong Thian Kauw hanya tinggal menanti hasilnya bagaikan nelayan mujur. dianggapnya urusan bisa berlangsung begitu gampang?"
Berpikir demikian ia lantas berpaling kearah Pek Koen Gie sambil tegurnya.
"Tit li. apakah kau terluka?" . Dari lirikan matanya yang tajam Pek Koen Gie dapat mengetahui bahwa sanya Si Coe Kat beracun Yauw Soet sedang bertanya kepada dirinya apakah "Pedang emas"
Itu berhasil didapatkan, ia pun segeta gelengkan kepalanya tanda belum mendapatkannya, tetapi berhubung "Tetatai Racun empedu Api"
Berada disaku Kok See Piauw maka sinar matanya melirik sekejap kearah sianak muda itu. Jawabnya.
"Terima kasih atas perhatian paman, untung Tit li tidak sampai menderita !"
Si Coe kat beracun Yanw Soet sendiri ketika melihat dara itu gelengkan kepalanya lalu melirik sekejap kearah Kok See Piauw, dalam hatinya segera timbul perasaan ragu dan sangsi, pikirnya.
"Apa artinya sikap itu?? apakah Pedang emas itu sudah didapatkan tapi telah diambil oleh Kok See Piauw?"
Karena belum tahu dnduk perkara yang sebetulnya, untuk beberapa saat lamanya ia tak berani mengambil keputusan ataupun merencanakun siasat, maka dari itu sembari tertawa terbahak-bahak katanya.
"Kok hian tit, mari aku perkenalkan dirimu kepada orang ini" ,. Samil menuding kearah Cie Kim sambungnya.
"Saudara ini adalah Sam Tang kee diapun merupakan salah seorang sahabat karib suhumu. Hian tit, ayoh cepat maju mengunjuk hormat kepada Sam Tang kee"
Dengan tangan kiri mengempit tubuh Hong Po Seng, Kok See Piauw maju melangkah kedepan lalu berkata.
"Cayhe Kok See Piauw anak murid perguruan Boe Liang Bun, menghunjuk hormat buat Sam Tang kee"
Dengan pandangan mata yang tajam "Pat Pit Sioe Loo"
Malaikat berlengan delapan Cie Kim menyapu seluruh tubuh Kok See Piauw dari atas hingga kebawab, lalu ejeknya.
"Kok See heng, rupanya kau sudah menggabungkan diri menjadi anggota perkumpulan Sin Kie Pang??".
"Hmm!"
Dari nada ucapan Cie Kim barusan, Kok See Piauw rupanya dapat menangkap arti sindiran tersebut, hawa pitam kontan memuncak keatas kepala, dengan dingin ia mendengus.
"Cayhe selamanya malang melintang seorang diri, belum pernah aku menjadi anggota sebuah Kauw atau sebuah Pang." ' Habis berkata ia putar badan dan berlalu dengan sikap angkuh. Selama hidupnya ia selalu bersikap jumawa dan tinggi hati, kecuali terpikat oleh kecantikan Pek Koen Gie sehingga rela takluk dibawah gaunnya dan mendengarkan perintahnya, terhadap orang lain ia tak pernah bersikap ramah ataupun besikap mengalah sepatah dua patah kata tidak cocok pertempuran sengit segera akan terjadi. Dengan pandangan tajam Pat Pit Sioe loo Cie Kim mengawasi bayangan punggung pemuda itu sambil tertawa dingin, belum sampai satu tombak Kok See Piauw berlalu mendadak dari balik semak meloncat keluar seseorang sambil membentak keras.
"Kembali ketempat asalmu."
Sambil membentak orang itu segera melancarkan sebuah babatan maut kedepan.
Kok See Piauw tentu saja tak mau mengalah dengan begitu saja, melihat datangnya ancaman ia segera ayunkan tangannya pula menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
"Blamm...! terdengar suara bentrokan nyaring berkumandang diangkasa, ditengah ledakan keras itu masing2 pihak sama2 tergetar mundur tiga langkah, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan mereka berdua adalah seimbang. Terdengar Pat-Pit Sioe-Loo Cie Kim tertawa dingin "
Kok See Piauw "
Jengeknya.
"Andaikata aku orang she-Cie harus turun tangan sendiri, maka orang akan menganggap aku menganiaya orang muda. dan kini kau tentu bisa sedikit tenang bukan ! ". Kok See Piauw yang harus mengepit tubuh Hong-po Seng dibawah ketiak dan menyambut serangan tadi dengan hanya menggunakan tangan sebelah saja tidak Sempat mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimiliki, setelah mendengar ucapan tersebut ia segera mendongak dan memperhatikan orang yang turun tangan menghalangi dirinya barusan. Segera terlihatlah orang itu adalah seorang pemuda berpakaian ringkas yang berusia dua puluh tahunan. bisa dibayangkan betapa..mangkel dan jengkelnya perasaan anak murid Boe-Liang Sin-Koen ini, tangannya segera diayun melemparkan Hong-po Seng kesamping kemudian dengan langkah lebar berjalan mendekati pemuda berpakaian ringkas. Hong Po Seng yang dilemparkan kesisi jalan segera bergelindingan kesamping, mendadak ia menjejakkan kakinya keatas tanah dan meloncat bangun. Orang yang hadir ditengah kalangan dewasa ini sebagian besar adalah para jago lihay dari dunia persilatan, mereka semua telah mengetahui bahwa jalan darah Hong Po Seng adalah tertotok tetapi setelah menyaksikan sianak muda itu mendadak meloncat bangun, tanpa terasa semua orang jadi tertegun dibuatnya. Kok See Piauw sendiripun segera merasakan keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat ia menghentikan langkahnya dan berpaling. Terdengar si Coe kat beracun Yauw Soet tertawa enteng serunya.
"Bangsat keparat, ternyata kau memiliki banyak ragam ilmu setan!"
Tanpa diketahui segera tubuh apakah yang telah digunakan.
tahu2 ia sudah menyusup kebelakang punggung Hong Po Sung dan menempelkan telapak diatas punggungnya.
Deagan pandangan tajam bagaikan pisau Pat Pit Sioe Loo Cie Kim menyapu sekejap wajah Hong Po Seng, mendadak kepada Kok See Piauw serunya.
"Saudara saudara dari Perkumpulan Hong lm Hwie memang mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Boe Liang Sin Koen. seandainya berada di-hari2 biasa aku orang she-Cie tidak nanti akan menyusahkan dirimu, tetapi situasi pada hari ini jauh berbeda, berhubung kejadiannya luar biasa maka mau tak mau terpaksa kita musti menyalahi gurumu"
"Enak betul ucapan dari Sam Tang-kee"
Jengek Kok See Piauw ketus.
"Pertama cayhe tidak membunuh orang. kedua, akupun tidak mencuri barang mustika milik kalian; barang siapa berani menahan ataupun menghalangi jatan pergiku, cayhe nomor satu yang merasa tidak puas dan tak mau takluk"
Mendadak terdengar Giok Theng Hujien tertawa nyaring lalu timbrungnya dari samping.
"Anak murid pergiruan dari Boe-Liang Sin Koen biasanya bilang satu tidak akan jadi dua, Sam Tang kee kau sebagai seorang Cian pwee lebih baik berilah satu jalan keluar baginya"
Entah sedari kapan ia telah kembali ke tempat duduk kebesarannya, sambil menonton ketegangan yang mencekam ditepi pantai, senyum masih selalu menghiasi bibirnya.
sikap yang enteng dan ringan menujukkan betapa senangnya hati perempuan itu.
Pada saat itulah seorang kakek berbaju hijau berjalan menghampiri Cie Kim lalu membisikkan sesuatu kesisi telinganya.
Selesai mendengar bisikan dengan sorot mata tajam Pat Pit Sioe Loo Cie Kim menatap wajah Hong Po Seng tajam2 tegurnya.
"Yauw hong, apakah pemuda itu adalah anak buah dari perkumpulan Sin Kie Pang kalian??".
"Haahhaahorang ini meskipun usianya masih muda tetapi akal liciknya sangat banyak, ia pernah masuk menjadi anggota perkumpulan kami kemudian berkhianat dan melarikan diri Kegagalan anak murid Boe Liang Sin Koen didalam melakukan tuntutan balasnya dikota Keng Chiu pun sebagai besar disebabkan keparat cilik ini" .
"Hmm! beberapa hari berselang, ada orang pernah menjumpai pemuda itu melakukan perjalanan disekitar Tay Goan, karena itu siauw te ada suatu pemintaan yang mungkin tidak pantas diucapkan keluar" .
"Haaah.., haaah,.. haaah... Sam Tang kee, kalau ada perkataan, silahkan diutarakan keluar, masa terhadap teman karib banyak tahunpun kau besikap sungkan sungkan"
"Pat Pit Sioe Loo "Malaikat berlengan delapan Cie Kim tertawa dingin.
"Heeh.. heeeh kalau memang begitu, tolong Yauw heng suka serahkan orang itu kepada aku orang she Cie, aku hendak menanyakan beberapa persoalan kepadanya"
"Rahasia yang diketahui keparat cilik ini terlalu banyak"
Diam diam Coe kat beracun Yauw Soet berpikir.
"Membiarkan ia tetap hidup dikolong langit bagaimanapun juga merupakan suatu bibit bencana yang sangat berbahaya, lebih baik aku lenyapkan dirinya saja dari muka bumi, daripada dikemudian hari merepotkan sendirl"
Ia dijuluki "Si Cioe kat beracun" , kekejamn hatinya sudah amat tersohor dikolong tangit, Kini setelah menduga bahwa "Padang emas"
Telah terjatuh ketangan Kok See Piauw maka timbullah pikiran bahwa Hong po Seng sudah tak berguna bagi mereka.
Karena tetapak tangannya yang menempel diatas pinggang sianak muda itu perlahan lantas didorong kedepan, ujarnya sambil tertawa.
"Sam tong kee ada petanyaan hendak diajukan kepadamu kesanalah untuk menjawab! Tapi..Sam Tong Kee! kau musti hati2, takutnya kalau ia tak bisa menguasai diri sehingga sepatah2 katapun tak sanggup diutarakan keluar"
Hong Po Seng sama sekali tidak merasakan suatu perubahan yang dirasakan aneh, sambil melangkah maju kedepan tindak depan katanya.
"Cie Tong kee, kau ada persoalan apa yang hendak ditanyakan kepadaku, silahkan diutarakan keluar"
Pat Pit Sine Lon Cie Kim tidak langsung buka suara, dalam hati pikirnya.
"Kalau dikatakan Jien Bong menemui ajalnya ditangan keparat cilik yang hitam lagi kurus ini, aku merasa sedikitpun rada kurang percaya, kalau memang perempuan yang jejaknya amat misterius itu bukanlah budak sialan she Pek lalu siapakah dia?"
Berpikir demikian, ia lantas bertanya.
"Apa she-mu? dan siapa namamu?? kau belajar kepandaian dari siapa ??"
"Cayhe bernama Hong-po...Aduuh ..." . Mendadak ia menjerit kesakitan lalu roboh terjengkang keatas tanah. Simalaikat berlengan delapan Cie Kim adalah seorang jago kawakan, menghadapi perubahan secara mendadak ini reaksinya cukup cekatan. dengan cepat ia tangkap pergelangan tangan Hong-po Seng kemudian salurkan hawa murninya menembusi urat diatas pergelangan. Kejadian ini berlangsung diluar dugaan siapapun juga, semua orang yang hadir ditengah kalangan dewasa itu sama2 terperanjat dibuatnye Air muka Pek Koen Gie berubah hebat, kepada Coe-kat berancun Yauw Soet ia melirik sekejap kearahnya, diantara sorot matanya yang tajam secara lapat2 terkandung hawa amarah yang bergelora. Sebaliknya Kok See Piauw berdiri tertegun air mukaaya berubah tidak menentu. Sedang kan Giok Theng Hujien yang duduk diatas perahu justru malah amat gembira setelah menyaksikan kejadian itu sebab ia memang berkeinginan demikan, sambil membelai mahluk aneh berbulu Salju ia tersenyum dan membungkamkan diri. Pat Pit Sioe Loo Cie Kim dengan air muka berubah jadi hijau membesi menatap wajah Yauw Soet tajam tajam.
"Hmmemm, kalau kau sanggup menolong orang itu sehingga lolos dari kematin, aku Yauw Soet tidak akan disebut Coe kat beracun lagi..."
Pikir Si Coe kat beracun Yauw Soet didalam hati, Ia segera tertawa lantang dan berkata.
"Haah..haaah...haaah.,.. Sam Tong kee. kau keliru, orang itu sudah diberi hadiah jarum sakti Sun Hoen Sin Ciam oleh pangcu kami, besok pagi daya kerja racun keji itu akan mulai bereaksi, entah apa sebabnya ternyata kerja racun itu mulai menunjukkan tanda2-nya mulai sekarang ...haah...haaah."
Aku orang She Yauw sih tidak mempunyai kepandaian selihay itu"
Diam diam simalaikat berlengan delapan Cie Kim dibuat terperanjat juga setelah mendengar ucapan itu, pikirnya.
"Kalau ia benar2 terkena jarum beracun Soe Hoen Tok Ciam dari Pek Loo jie, jelas selembar jiwanya sukar diselamatkan lagi!" . Berpikir sampai disitu dengan sorot mata yang tajam ia segera berpaling kearah Pek Koen Gie.
"Aku tidak memiiiki obat penawarnya"
Jawab dara she Pek itu dengan wajah ketus dan suara hambar. Mendadak terdengar Giok Theng Hujien tertawa dan menimbrung kembali dari atas perahunya.
"Pek kongcu betul-betul orang yang lihay.. sampai waktunyapun bisa dihitung dengan demikian tepatnya"
"Ha..hah...Hujien, bukankah kau sangat lihay dan memiliki kepandaian ampuh ?"
Seru si Coe kat beracun Yauw Soet sambil tertawa nyaring."
Apa salahnya kalau kau unjukkan kesaktianmu untuk menyelamatkan selembar jiwa dari Hong Po Seng?"
Giok Theng Hujien tersenyurrn.
"Aku sih memang memiliki sebatang Leng ci berusia seribu tahun; tapi sayang benda mustika itu tidak sempat kubawa dalam kunjunganku kali ini kalau tidak, untuk menolong selembar jiwanya aku rasa bukan satu persoalan yang sulit"
Disaat semua orang sedang saling menimbrung itulah mendadak terdengar Hong po Seng merintih lalu berbisik lirih.
"Hie Sim.. Hie Lek.. Hie Pi..."
Mendengar disebutkannya nama2 jalan darah penting itu semua orang sama-sama dibikin terkesiap.
si Malaikat berlengan delapan Cie Kim karena takut Yauw Soet turun tangan kembali untuk melenyapkan sianak muda itu dari muka bumi, badannya segera bergerak cepat dan membawa tubuh Hong Po Seng melayang mundur beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, tangan kanannya bergerak berulang kali.
dalam sekejap mata seluruh jalan darah "Tok Meh"
Yang disebutkan tadi sudah tertotok semua.
Segulung angin berbau harum menghembus lewat Giok Theng Hujien sambil membopong makhluk aneh berbulu saljunya melayang naik keatas daratan, kepada Coe kat beracun Yauw Soet ia tersenyum dan berseru.
"Betulkah orang itu bernama Hong-Po Seng ?? banyak amat kepandaian aneh yang ia miliki !"
Kiranya Hoa Hujien terlalu sayang terhadap putranya ini, karena itu selama sepuluh tahun menyembuyikan diri dari kejaran musuh2 besarnya ia telah wariskan segenap kepandaian untuk menjaga serta melindungi dirinya kepada sang putra.
Tapi sayang jarum beracun Soh Hoen Tok Ciam terlalu lihay, ditambah pula serangan keji dari Yauw Soet dilancarkan tanpa bekas dan tanpa terasa oleh karena ia itu meski Hong-po Seng sudah kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya ia hanya bisa memperlambat datangnya kematian belaka, untuk melanjutkan hidup masih terlalu sulit baginya.
Dalam pada itu suasana ditengah kalangan telah berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, semua pandangan mata sama2 ditujukan keatas tubuh Hong Po Seng.
Si Coe-kat beracun Yauw Soet sendiri walaupun ada maksud hendak mencabut jiwa Hong-po Seng, tapi pada saat ini diapun berkeinginan agar pemuda itu bisa sadar kembali hingga dapat dilihat apa yang akan dilakukannya.
Lama....lama sekali...
ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagat perlahan lahan Hong po Seng membuka matanya kembali, lengannya ber-gerak2 seperti sedang berusaha untuk melepaskan diri dari cekalan Cie Kim.
Terhadap pemuda kurus hitam yang berada dihadapannya ini simalaikat berlengan delapan Cie Kim mempunyai pandangan yang aneh, ia segera mengendorkan cekalannya sambil bertanya.
"Hong po Seng apakah kau masih sanggup untuk mempertahankan diri ??"
Hong po Seng mengangguk.
"Apakah kau ingin mengetahui jejak tentang "Pedang emas"
Dan menuntut balas bagi kematian Jien Bong ?"
Ucapan ini begitu diutarakah keluar, sekujur tubuh simalaikat berlengan delapan Cie Kim bergetar keras, dengan cepat mengangguk.
"Tentu saja "
"Baik! aku akan memberi petunjuk satu jalan terang bagimu"
Ia merandek sejenak, setelah mengatur napasnya yang tersengkal sambungnya kembali.
"Paling banter aku hanya bisa hidup setengah jam lagi, apa yang bisa kuucapkan tidak selalu banyak tapi kau harus membinasakan aku maka dengan sendirinya, aku tidak ingin menemui ajalku ditangan orang lain" .
"Aku orang she Cie menyanggupi permintaanmu itu"
Sahut malaikat berlengan delapan Cie Kim dengan tegas.
"Barang siapa berani turun tangan melukai dirimu, aku orang she Cie meskipun harus berjuang hingga darah berceceran tidak nanti akan membiarkan orang itu tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"
"Jien Tong kee dari perkumpulan kalian apakah malam ini bisa tiba disini?"
Pat Pit Sioe Loo Cie Kim tertegun.
"Lima propinsi yang terletak dalam wilayah Hoo pak sudah tertutup semua bagi lalu lintas, Tong kee kami harus melakukan inspeksi disemua daerah, mungkin besok malam ia baru akan tiba ditempat ini"
Hong Po Deng mengangguk, sambil menjura katanya.
"Sam Tong kee harap tunggu sejenak, cayhe ada sedikit urusan yang hendak kuselesaikan dahulu"
Suasana ditengah kalangan kembali dicekam dalam kesunyian, segulung angin malam berhembus lewat membuat para jago kalangan Hek to yang membunuh orang tanpa berkedip itu secara tiba2 merasa hatinya jadi bergidik, banyak diantara mereka yang merinding dibuatnya.
00000000o PERLAHAN2 Hong Po Seng memutar tubuhnya, mendadak kepada Pek Koen Gie ia berseru.
"Nona Pek diantara kita bukankah pernah membicarakan tentang sesuatu ?".
"Membicatakan soal apa??"tanya Pek Keen Gie tertegun. Hong Po Sang tertawa hambar.
"Aku berlutut dihadapanmu dan masuk menjadi anggota perkumpulan Sin Kie Pang kalian. kemudian kau sekali tabok menggampar mulutku sehingga tiga buah gigiku copot. apakah kau telah melupakannya?"
Air muka Pek Koen Gie kontan berubah jadi merah jengah, ia segera berpaling dan serunya kepada Oh Sam "Lepaskan beberapa orang itu."
Oh Sam serta pria berbaju hitam itu segera mengiakan.
buru2 mereka melepaskan Tong si Sam Hauw serta Chin Wan Hong dari cekalan dan membebaskan jalan darah mereka berempat.
Ketika jalan darahnya masih tertotok tadi, keempat orang itu merasa banyak persoalan hendak diutarakan, tapi sekarang setelah berada didekat pemuda itu mereka semua malah berdiri menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Melihat wajah keempat orang itu Hong Po Seng menghela papas panjang.
,Aaai..!
kekuatan kalian berempat terlalu lemah, lebih baik janganlah berkelana lagi didalam dunia persilatan"
Setelah rnerandek sejenak untuk mengatur napas ujarnya kembali.
"Setelah aku mati nanti, para enghiong dari Sin Kie Pang meski tidak punya malu menyusahkan kalian lagi, lebih baik kalian pulanglah kekampung desa kelahiran kalian masing2!" .
"Kongcu..."
Terdengar Chin Wan Hong berseru sambil menahan isak tangis ditenggorokan. Hong Po Seng tersenyum.
"Aku tidak lebih hanya berangkat satu langkah lebih duluan. tiada sesuatu yang terlalu luar biasa, nona Chinkau tak usah bersedih hati"
Bicara sampai disitu ia lantas berpaling dan menambahkan.
"Sam Tong kee. ilmu silat yang dimiliki empat orang ini sangat cetek lagi pula mereka tidak tersangkut dalam peristiwa yang terjadi dalam perkampungan Liok Soat San cung. cayhe berharap agar Sam Tong kee bisa berbuat bijaksana terhadap mereka berempat "
Suasana yang penuh diliputi kesedihan serta kepedihan memenuhi seluruh kalangan saat itu, semua orang ikut merasa beriba hati menyaksikan kejadian tersebut.
Simalaikat berlengan delapan Cie Kim segera anggukkan kepalanya.
"Baiklah!"
Dia menyanggupi.
"Seandainya keempat orang itu ada maksud untuk berdiam disini, maka orang2 dari perkumpulan Hong Im Hwie tidak akan mengganggu atau mencelakai mereka " .
"Semoga Sam Tong kee bisa pegang janji, cayhe disini banyak ucapkan terima kasih terlebih dulu"
Kata Hong po Seng, sambil sagera menjura member hormat, sinar matanya perlahan lahan dialihkan keatas wajah Kok See Piauw, dan serunya.
"Sahabat Kok, bawa kemari!" . Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua sinar mata segera dialihkan kearah kok See Piauw. Mendengar teguran itu anak murid dari Boe Liang Sin koen ini nampak terperanjat, sinar matanya dengan cepat melirik sekejap kearah Pek Koen Gie yang berada dihadapannya. Terdengar si Coe-kat beracun Yauw Soet tertawa keras, lalu menegur.
"Hey Hong po Seng, apa yang kau inginkan?"
Si Malaikat berlengan delapan Cie kim pun ikut maju kedepan, sambil melototi wajah Kok See Piauw dengan sorot mata tajam ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Kenapa? apakah kau hendak paksa aku untuk turun tangan? ".
"Sam Tong kee, harap jangan gusar dulu, cayhe ada alasan untuk memaksanya agar menyerahkan diri"
Kata Hong po song sambil ulapkan tangannya, sinar matapun segera dialihkan kearah Kok See Piauw ujarnya.
"Sahabat Kok. apabiia kau tidak mau serahkan kembali Teratai Racun Empedu Api itu kepadaku, maka Jien Sauw-ya akan kuanggap sebagai mati ditanganmu!"
Malaikat berlengan delapan Cie Kim adalah salah seorang anggota yang ikut mendirikan perkumpulan Hong Im Hwie, separuh hidupnya boleh dibilang berkecimpungan didalam dunia persilatan, tetapi saat ini ia dibuat keder juga oleh kegagahan Hong Po Seng yang tidak jeri menghadapi kematian, kebengisan serta kebuasannya di hari2 biasa saat ini tak sanggup diperlihatkan.
Ia segera mundur satu langkah kebelakang dan dengan tenang menyaksikan Hong Po Seng menyelesaikan masalah tersebut, Sebaliknya si Coe kat beracun Yauw Soet sendiri, sehabis mendengar bahwa benda yang digembol Kok See Piauw bukanlah "Pedang Emas"
Dia pun tidak ikut banyak berbicara lagi. Mendadak terdengar Pek Koen Gie berkata hambar.
"Kok heng.,serahkan Teratai Racun kepadanya!"
Kok See piauw tertawa kering"
Ia ambil keluar teratai racun empedu api itu dari sakunya dan melemparkannya kedepan.
Setelah menerima kembali teratai racun itu.
Hong po Seng mengatur napasnya yang tersengkal sengkal sedang dalam hati pikirnya.
"Ibu memerintahkan aku bertukar nama untuk menghindari marabahaya yang mungkin akan mengancam diriku setiap saat, siapa tahu Thian telah berkehendak demikian Aaaai...! ini hari urusan telah berlangsung jadi begini dan aku telah berada diambang kematian. kalau memang harus mati, aku harus mati dalam keadaan yang tenang dan terbuka!"
Sesudah mengambil keputusan didalam hati. ia segera angkat kepalanya. dengan sorot matanya yang tajam ia sapu semua wajah orang dan akhirnya berhenti diatas wajah Cie Kim. ujarnya dengan nada serius.
"Sam Tong Kee, cayhe she Hoa bernama Hoa Thian Hong. aku tidak bernama Hong po Seng. Perkampungan Liok Soat san cung adalah harta peninggalan milik keluargaku, sedang teratai racun empedu api merupakan mustika milik keluarga Hoa kami. dan ini hari aku Hoa Thian Hong telah mengambil kembali barang milik keluargaku, rasanya orang tidak akan menganggap bahwa aku telah melakukan pencurian didalam perkampungan Liok-Soat San-cung bukan ?"
Semua orang terkejut dan tercengang sehabis mendengar ucapan ini.
Haruslah diketahui pada sepuluh tahun berselang nama besar Hoa Goan Sioe amat tersohor dikolong langit, setiap jago kalangan Pek-to sama2 menaruh hormat kepadanya, jago2 kalangan Hekto tunduk kepadanya.
ia bagaikan sang surya ditengah hari..
Dan yang ia tinggalkan dalam dunia adalah tegaknya kebenaran di dunia serta ilmu silat yang maha dahsyat.
Sepuluh tahun kemudian, ternyata keturunan dari Hoa Goan Sioe, telah muncul kembali didalam dunia persilatan, tentu saja semua orang jadi terkejut dan tercengang dibuatnya.
Keheningan mencekam seluruh kalangan untuk beberapa saat tamanya, tiba2 terdengar si Harimau Pelarian Tiong Liauw berteriak keras.
"Kongcu-ya. kiranya kau adalah Sauw-ya dari Hoa tayhiap, dimanakah Hoa hujien?"
Dalam hati diam diam Hoa Thian Hong merasa sedih, tapi diluaran ia paksakan diri untuk tersenyum, sahutnya.
"Ibuku telah mengasingkan diri ditengah pegunungan yang sunyi, sedari dulu beliau sudah tak berminat untuk mencamputi urusan keduniawian lagi.."
Sedangkan Chin Wan Hong dengan air mata bercucuran segera berseru memanggil.
"Hoa. kongcu...". Hoa Thian Hong tersenyum.
"Aaaaii nona. ayahku almarhum pun bisa mati, kenapa cayhe tak bisa mati pula??" . Si Coe kat beracun Yauw Soet sendiri diam2 merasa terperanjat, ia merasa perhitungannya yang selalu jitu ternyata kali ini meleset sama sekali ia tak pernah berpikir sampai kesitu. hal ini membuat hatinya jadi sangsi dan ragu, ia tak tahu tindakan yang telah dilakukan ini sebenarnya benar atau tidak. Sedangkan si malaikat berlengan delapan Cie Kim serta Giok Theng Hujien diam diam merasa girang hati, mereka meaduga bahwa ibu Hoan Thian Hong pasti akan munculkan diri kembali didalam dunia parsilatan untuk membalaskan dendam bagi kematian putranya, dus berarti perkumpulan Sin Kie Pang telah mengundang satu bencana besar bagi mereka. Pek Koen Gie dan Kok See Piauw sekalian kecuali merasa terkejut bercampur tercengang mereka tidak sempat berpikir lebih jauh. Mendadak terdengar Hoa Thian Hong berkata kembali.
"Sam Tong kee aku akan menceritakan kisah yang sebenarnya mengenai kematian dari Jien Bong. cuma. saja dibalik kisah tersebut masih tercekam pula oleh beberapa teka teki. tetapi asal kau sampaikan kepada Jien Tong kee dan dipikirkan dengan seksama, rasanya tidak sulit untuk menemukan jawabannya"
"Hoa kongcu, silahkan katakan saja. aku orang she Cie akan mandengarkannya dengan seksama"
Sahut malaikat berlengan delapan Cie Kim dengan wajah serius.
Persoalan ini mempunyai sangkut paut yang amat besar atas ketenteraman dunia persilatan, penyelesaian yang tidak benar bisa mengakibatkan terjadinya pertarungan sengit antara perkumpulan Sin Kie Pang, Hong Im Hwie serta perkumpulan Thong Thian Kauw.
Mayat yang sudah bergelimpangan dimana2, darah yang berceceran bagaikan air selokan sudah bisa dibayangkan pasti akan terjadi.
Oleb sebab itu semua orang yang hadir di tengah kalangan sama2 pasang telinga dan pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan perkataan pemuda itu.
Hoa Thian Hong sendiri diam2 pun berpikir dalam hatinya.
"Seandainya aku menambah-nambahi kisah yang sebenarnya dengan cerita bohong mungkin pernyataanku malah akan disangsikan orang dan memancing ditingkatkannya kewaspadaan mereka terhadap masing2 pihak. Bagaimanapun juga peristiwa berdarah ini kalau bukan hasil karya dari Thong Thian Kauw pastilah perbuatan dari Sin Kie Pang, lebih baik aku mengatakan seadanya saja agar mereka menyesali sendiri persoalan itu !" . Berpikir demikian, dengan wajah serius ia lantas berkata.
"Didalam perjalananku pulang kedalam perkampungan untuk mengambil teratai racun Empedu Api, secara kebetulan aku telah memergoki pertemuan rahasia yang ditakukan Jien Bong dengan seorang perempuan berkerudung hitam, suatu ketika tempat persembunyian ketahuan maka cayhe dipaksa untuk turun tangan bergebrak melawan Jien Bong. Tatkala cayhe sedang bertarung mengadu tenaga lwekang dengan Jien Bong itulah gadis tadi bukannya membantu dia sebaliknya malah mencabut pisau belatinya dan menusuk punggung Jien Bong."
"Setelah peristiwa itu cayhe sambil melarikan diri bertempur tiada hentinya dengan gadis tadi, sampai keesokan harinya kita baru saling berpisah. Sedangkan mengenai persoalan "
Pedang emas"
Cayhe sama sekali tidak tahu menahu". Mendadak terdengar si Coe kat Beracun Yauw Soet menimbrung.
"Terang2an kau tahu kalaub "Pedang emas"
Itu sudah terjatuh ketangan Jien Tong kee. kenapa pada waktu itu.."
Mertabat serta kedudukan Hoa Goan Sioe didalam dunia persilatan sangat tinggi dan terhormat, hal ini tak dapat memaksa dia untuk menaruh curiga kepada Hoa Thian Hong bahwa sanya ia sedang berbohong, kata2 yang sudah meluncur keluar dari tenggorokannya segera ditelan kembali mentah2....
Hoa Thian Hong mengerti apa yang ingin ia katakan.
sambil melirik sekejap kearah Cie Kim ujarnya hambar.
"Cayhe belum pernah menyaksikan "
Pedang emas"
Tersebut, percaya atau tidak terserah pada kebijaksanaan Sam Tong-kee !"
"Aku orang she Cie percaya akan perkataanmu ini"
Ia merandek sejenak, lalu tanyanya lagi.
"Hoa Kongcu, dari mana kau tabu kalau "Pedang emas "
Itu telah terjatuh ketangan Jien Tong-kee dari perkumpulan kami ??".
"Oooh, soal ini ?? pemilik dari "Pedang emas"
Tersebut dewasa ini masih dipenjarakan didalam perkumpulan Sin Kie Pang, aku tahu akan persoalan ini karena dia yang mengatakannya sendiri kepada cayhe!"
"Haaah..haaah.haaah.. bagus ! bagus sekali"
Timbrung Giok Theng Hujien secara tiba2 sambil tertawa.
"Pek Pang cu benar2 lihay dan punya kepandaian luar biasa. aku masih mengira Cioe It Bong telah berhasil memecahkan rahasia "
Pedang emas' itu dan bersembunyi ditengah pegunungan yang sunyi untuk berlatih silat, rupanya ia sudah terjatuh ketangan Pek pangcu dan sampai sekarang masih menjadi tamu terhormat didalam penjaranya !"
Gelak tertawa serta sindirannya benar-benar mempunyai ciri khas tertentu, begitu buka suara cukup membuat orang dari perkumpulan Sin Kie Pang jadi jengah dan riku.
Sajak tadi Pek Koen Gie sudah mangkel dan mendongkol sekali, tetapi diapun tahu kalau perempuan tersebut merupakan seorang manusia yang paling menakutkan, setelah sabar dia harus sabar terus hingga akhirnya ia tak tahan dan melotot kearahnya dengan sinar mata berapi-api.
Si Coe kat beracun Yauw Soet cepat mengikuti perubahan air muka Pek Koen Gie dengan sangat jelas, melihat ia mulai gusar dan takut dara itu mengambil tindakan sembrono, buru2 ia tertawa panjang dan berkata.
"Hujien, kau keliru besar, meskipun Cie It Bong berada didalam markas besar-perkumpulan kami, tetapi ia kami layani sebagai tamu agung dan bukannya tawanan didalam penjara. Ha..hah..kapan saja bila kita berhasil mengundang kehadiran Hujien, kau akan tahu akan kelihayan dari pangcu kami"
"Aaahh....rupanya sikakek telaga dingin bernama Cie It Bong"
Batin Hoa Thian Hong didalam hati.
"Coe-kat beracun Yauw Soet sungguh seorang manusia licik yang bermuka tebal, pandai amat ia memutar balikkan keadaan tanpa merasa jengah, diapun termasuk manusia yang lihay"
Dalam lamunannya mendadak ia rasakan daya kerja racun keji yang bersarang didalam nadi "
Tok-Meh "
Nya per-lahan2 merembes keatas dan kian lama tekanan itu kian bertambah kencang, agaknya dua buah jalan darah pentingnya telah tertembus.
Secara lapat2 ia mulai merasa amat sakit dan sukar ditahan iebih lanjut.
Si Malaikat bertangan delapan Cie Kim yang menyaksikan air muka sianak muda itu sudah berubah jadi pucat ke-abu2an, sikapnya lesu dan lemah.
ia segera sadar bahwa kematian pemuda itu sudah hampir tiba.
Buru buru tanyanya .
"Hoa kongcu, siapakah nama dari perempuan berkerudung hitam itu ?"
"Ia mengaku dirinya she-Poei bernama Che Giok dan berasal dari Sekte Agama Thong Thian Kauw, benar atau tidak cayhe tidak berani yakin seratus persen " . Malaikat berlengan delapan Cie Kim segera berpaling hardiknya .
"Hujien, apakah didalam perkumpulan agama kalian terdapat seorang gadis yang bernama Poei Che Giok?"
"Ada!"
Sahut Giok Theng Hujien sambil tertawa cekikikan. ia segera berpaling dan menggape kearah dalam ruang perahunya.
"Giok jie! ayoh cepat kemari"
Teriaknya."
Bagus sekali.
diluar sepengetahuanku kau telah melakukan perbuatan bagus!".
Semua orang merasa terperanjat dan sama2 berpaling kearah perahu, terlihatlah sesosok bayangan manusia berkelebat lewat.
gadis yang sendiri tadi berdiri disisi kursi kebesaran Giok Theng Hujien itu segera melompat ketengah lapangan, serunya.
"Aku tidak pernah meninggalkan sisi tubuh hujien, apakah aku pernah membunuh orang dan mencuri benda mustika?" .
"Hong Po Seng..."seru Giok Theng Hujien dengan alis berkerut."
Ooh....
Hoa Thian Hong, dialah Poei Che Giok, orang yang kenali dirinya diwilayah timur ataupun selatan tidak sedikit.
coba lihatlah apakah dia adalah gadis yang membunuh orang dan mencuri mustika itu??".
Meskipun gadis ini mempunyai kecantikan wajah yang menggiurkan dan pakaian yang dikenakan juga berwarna ungu tetapi usianya cuma enam belas tahunan, raut wajahnya sama sekali tidak mirip dengan gadis pembunuh serta pencuri benda mustika itu.
Setelah dipandangnya beberapa saat Hoa Thian Hong segera gelengkan kepalanya berulang kali.
"Bukan. bukan nona ini! ". Ia merandek sejenak, kemudian kepada Cie Kim sambungnya.
"Sedari permulaan tadi aku sudah menerangkan bahwa dibalik kejadian ini masih terdapat pula teka teki yang belum terpecahkan, pergerakan ini jelas sudah diatur oleh suatu rencana yang amat sempurna, lebih baik kau selidiki dan bicarakan lagi dengan Tong kee kemudian baru mengambil keputusan " . Malaikat berlengan delapan Cie Kim mengerutkan alisnya rapat2.
"Hoa kongcu. kenapa kau tidak sekalian tuliskan bagaimanakah potongan serta raut wajah dari gadis yang mengaku bernama Poei Che Giok tersebut??... Hoa Thian Hong mengangguk, ia menoleh kesamping dan katanya.
"Nona Pek, setelah cayhe mengatakannya nanti harap kau jangan marah ataupun salahkan diriku " . Pek Koen Gie tertegun tapi ia segara mengangguk.
"Katakantah, salahkan dirimu pun tak berguna ! ". Hoa Thian Hong tertawa hambar.
"Gadis yang membunuh orang dan mencuri benda mustika itu mempunyai raut wajah yang hampir mirip dengan dirimu, ilmu silatnya tidak lemah dan ilmu meringankan tubuhnya jarang sekali ditemui dalam dunia persilatan ! " .
"Hong-po Seng kau jangan memfitnah orang semaunya sendiri ! "teriak Kok See Piauw dengan gusar.
"Aku bernama Hoa Thian Hong dan bukan Hong-po Seng, apa yang telah aku orang she-Hoa katakan mau tidak mau kau harus mempercayainya"
Tiba2 sianak muda itu merasakan ulu hatinya teramat sakit, tubuhnya sempoyongan kebelakang dan hampir saja jatuh terjenkang keatas permukaan tanah.
Chin Wan Hong serta si Harimau Pelarian Tiong Liauw buru-buru maju kedepan, satu dari kiri yang lain dari kanan segera memayang tubuhnya hingga tak sampai terjatuh ketanah.
Harimau ompong si nenek tua she-Tiong mendadak mendepakan kakinya ketanah sambil putar badan ia menangis terisak.
"Hmmm..apanya yang mirip"
Sementara itu malaikat berlengan delapan Cie Kim berpikir didalam hatinya.
"Mungkin saja Poei Che Giok adalah Pek Koen Gie, dan Pek Koen Gie adalah Poei Che Giok! ", Tiba tiba terdengar Giok Theng Hujien berkata.
"Yauw heng, dalam kolong langit dewasa ini hanya Hoa Thian Hong seorang yang pernah menjumpai gadis pembunuh dan pencuri benda mustika itu, memandang diatas wajah Jien Tong kee aku harap kau sukalah mempertahankan selembar jiwanya"
"Siluman rase sialan"
Diam2 Coe kat beracun Yauw Soet memaki didalam hatinya.
"Kau berulang kali memojokkan posisi aku orang she Yauw, hmmm kalau aku tidak membiarkan dirimu untuk merasakan kelihayanku, percuma aku dijuluki orang sebagai si Coe kat beracun"
Dengan langkah lebar si Malaikat lengan delapan Cie Kim maju menghampiri diri Yauw Soet, seraya menjulurkan tangannya kedepan ia berkata dengan wajah menyeringai.
"Yauw heng, kalau kau punya obat penawar harap serahkan kepada diri siauw te"
"Haah....haah Sam Tong kee, masa kau suka mempercayai perkataan dari Giok Theng Hujien??" . Terdengar Giok Theng Hujien tertawa terkekeh-kekeh sambil goyang pinggul menghampiri kehadapan Yauw Soet katanya.
"Yauw heng, dihadapanku kau berani menyumpahi diriku jangan salahkan kalau aku tidak akan bersikap hormat terhadap dirimu lagi" .
Jilid 9 Teratai racun Empedu Api TATKALA dilihatnya perempuan itu berjalan menghampiri kehadapannya seakan-akan berhadapan dengan musuh tangguh si Cukat beracun Yauw Sut segera mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam telapak untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, sepasang matanya dengan tajam mengawasi perempuan itu tanpa berkedip.
"Orang ini adalah lengan kanan dari Pek Siauw-thian,"
Baca Juga: Kesatria Baju Putih 2
Baca Juga: Beruang Salju 1