Eps 2 Renjana Pendekar - Khulung
Baca online Renjana Pendekar - Khulung
Cersil Renjana Pendekar - Khulung.
"Ya, dengan sendirinya Lim Soh-koan yang Pangcu lihat itu juga palsu, tapi hari itu...!"
Dengan menyesal Pwe-giok lantas menceritakan perubahan sikap Lim Tay-ih yang mendadak itu ketika berhadapan dengan ayahnya yang palsu, lalu ia melanjutkan ceritanya.
"Waktu itu kukira dia sengaja hendak memfitnah diriku, tak tahulah kalau waktu itu dia sudah memahami betapa berbahayanya intrik musuh, ia tahu tiada pilihan lain terkecuali mengakui musuh sebagai ayah. Sedangkan diriku! meski sudah kutunggu sampai sekarang, agaknya terpaksa akupun harus menempuh jalan yang sama seperti dia! Ai, dia sesungguhnya anak perempuan yang cerdik."
"Ya, diantara orang2 yang kukenal, baik lelaki maupun perempuan, bila bicara tentang kecerdikan dan kegesitan bertindak menurut keadaan, mungkin tiada orang lain yang dapat melebihi dia,"
Kata Ang-lian hoa.
"Tapi! tapi Lim Soh koan itu jelas sudah tahu segalanya, mengapa dia tidak membunuh Tayih sekaligus?"
Kata Pwe-giok.
"Melihat gelagatnya sekarang, jelas Tay-ih telah berada di tahanan mereka, mungkin... Mungkin...!"
Ang-lian hoa memandangi Pwe-giok dengan tertawa, katanya.
"Anak perempuan secantik dan sepintar dia, dengan sendirinya dia mempunyai akal untuk membikin orang lain tidak dapat dan tidak tega mencelakai dia. Kukira kita tak perlu berkuatir baginya, sebab kalau ada urusan yang tak dapat dibereskan oleh dia, maka tiada gunanya orang lain bergelisah baginya."
Habis berkata Ang-lian hoa lantas masukkan lagi kertas tadi ke dalam kantong.
Pwe-giok mengira Ang-lian hoa akan menyerahkan kantong bersulam itu kepadanya, tak tersangka Ang-lian hoa terus menyimpan kembali kantong itu ke dalam kantong bajunya, lalu berkata pula.
"Apabila kita dapat mengadakan kontak dengan Tay-ih, ku yakin pasti dapat!"
Mendadak ia berhenti ketika dilihatnya Thian-kang Totiang telah kembali dengan langkah lebar.
"Ai, kembali ada persoalan yang memusingkan lagi,"
Kata ketua Kun-lun-pay itu. Bwe Su-bong terkejut dan bertanya.
"Urusan memusingkan apalagi?"
"Ji... dia telah menunjuk diriku sebagai Hou-hoat (pelindung) perserikatan kita ini!"
Tutur Thian-kang.
"Hou-hoat?"
Pwe-giok menegas.
"Selain Bengcu, perserikatan Hong-ti inipun harus mengangkat salah seorang ketua suatu perguruan ternama sebagai Houhoat,"
Demikian Ang-lian hoa menjelaskan.
"Selama ini, kalau Siau lim-pay menjadi Bengcu, maka yang diangkat menjadi Hou-hoat adalah Bu-tong-pay."
"Tapi sekali ini kalau Jut-tun Toheng yang diangkat menjadi Houhoat, tentu tindak tanduk mereka akan kurang leluasa,"
Kata Thian-kang Totiang dengan tersenyum kecut.
"Sedangkan kediaman ku jauh di Kun-lun-san, selamanya jarang ikut campur urusan dunia ramai, jelas orang she Ji itu mempunyai maksud tujuan tertentu dengan mengangkat diriku sebagai Houhoat."
"Tapi juga lantaran nama Totiang yang memang sesuai untuk menjadi Hou-hoat,"
Ujar Anglian hoa dengan tertawa.
"Kalau tidak, kan lebih baik mereka mengangkat Thi-pah-ong saja yang jauh tinggal di Kwan-gwa sana?"
Sampai disini mendadak senyuman yang menghias wajah Ang-lian hoa lenyap seketika, dengan prihatin dia bertanya.
"Tadi Totiang bicara tentang urusan..."
Dengan sungguh2 Thian-kang menukas.
"Urusan yang kukuatirkan adalah kalau2 terjadi orang she Ji itu menyuruh Ji-kongcu ikut dia pulang ke rumah, lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Ya, betul juga!."
Ang-lian hoa juga terkesiap.
"Bila Ji-kongcu ikut pulang bersama dia akan berarti jatuh di dalam cengkeraman mereka dan setiap saat ada kemungkinan dicelakai,"
Kata Thian-kang.
"Dan kalau sang ayah menyuruh anaknya sendiri ikut pulang, mana bisa si anak membangkang?"
"Ya, bukan saja si anak tidak boleh membangkang, bahkan orang lainpun tiada hak buat bicara, siapapun tak dapat merintanginya,"
Ujar Ang-lian hoa.
"Ai, urusan segawat ini seharusnya sudah kupikirkan jauh2 sebelumnya."
Bwe Su-bong ikut gelisah, keluhnya.
"Wah, lantas bagaimana! bagaimana baiknya?"
"Urusan ini hanya ada satu jalan baik untuk menolongnya,"
Kata Thian-kang.
"Betul, hanya ada satu jalan untuk menolongnya,"
Tukas Ang-lian hoa.
"Terpaksa Ji-kongcu harus melarikan diri selekasnya, begitu bukan?"
Tanya Bwe Su-bong. Thian-kang Totiang menggeleng.
"Habis bagaimana kalau tidak lari?"
Tanya Bwe Su-bong pula dengan gelisah.
"Asalkan Ji-kongcu lekas2 mengangkat seseorang sebagai guru, lalu sang guru minta si murid ikut pulang untuk belajar, dalam keadaan demikian biarpun ayahnya sendiri juga tak dapat menolak lagi,"
Tutur Thian-kang dengan perlahan.
"Bagus, bagus sekali, cara ini sungguh sangat bagus!"
Seru Bwe Su-bong. Segera Ang-lian hoa berkata dengan tertawa.
"Kionghi (selamat) Ji-kongcu mendapatkan guru bijaksana dan Kionghi kepada Totiang yang mendapatkan murid berbakat."
Pwe-giok jadi melengak. Sedangkan Thian-kang Totiang berkata.
"Ah, mana aku sesuai menjadi guru Ji-kongcu!"
"Di dunia sekarang ini, kecuali Totiang siapa lagi yang sesuai menjadi guru Ji-kongcu?"
Ujar Ang-lian hoa dengan tertawa.
"Demi kesejahteraan dunia persilatan selanjutnya, kuharap Totiang sudi menerimanya."
Akhirnya Pwe-giok berlutut dan menyembah. Pada saat itu juga di luar kemah ada orang berseru memanggil.
"Ji Pwe-giok, Ji-kongcu diharap keluar. Bengcu ingin bicara denganmu!"
Ang-lian hoa memandang Pwe-giok sekejap, ucapnya perlahan.
"Nah, apa kataku? Setiap gerak-gerikmu senantiasa diawasi orang, kemanapun kau pergi pasti sudah diketahui."
Bwe Su-bong melenggong juga, kaki dan tangan terasa dingin dan hampir saja tidak dapat bergerak.
***** Di luar kemah tampak api unggun menyala di mana2, suasana riang gembira, beribu orang duduk mengelilingi api unggun di bawah bintang2 yang bertaburan memenuhi langit, silir angin malam membawa bau harum arak.
Kehidupan manusia seyogyanya penuh diliputi gembira dan bahagia.
Akan tetapi Ji Pwe-giok berjalan dengan kepala tertunduk, hatipun pedih dan getir.
Saat ini dia seolah2 berubah menjadi sebuah boneka, segala urusan harus patuh kepada perintah dan didalangi orang lain.
Terdengar di sana-sini orang sama menyapa.
"Ang-lian-pangcu, silahkan mampir dan marilah minum tiga cawan!"
Ada juga yang menegur Bwe Su-bong.
"Hai Bo-su-bong, tampaknya kau masih sibuk selalu. Apakah kau sudah pantang minum arak?"
Selain itu ada pula yang berseru heran.
"He, bukankah itu Ji-kongcu?"
Di tengah sorak gembira itu, seorang pemuda baju hitam melangkah tiba dengan cepat dan memberi hormat, katanya.
"Saat ini Bengcu sedang menunggu di perkemahan Siau-lim-pay."
Ber-turut2 tujuh kali Siau-lim-pay menjabat Bengcu, tapi perkemahannya juga tiada bedanya dengan pihak lain, hanya beberapa meter di sekeliling perkemahannya tiada orang berani bergerombol.
Hormat orang terhadap Thian-in juga tidak berkurang lantaran sekali ini dia tidak terpilih lagi sebagai Bengcu.
Saat ini di depan perkemahan Siau-lim-pay tiada seorangpun, cuma dibalik kemah yang gelap sana samar2 seperti ada bayangan orang berkelebat.
Baru saja mereka sampai di depan kemah, di dalam Thian-in Taysu sudah lantas menegur dengan tertawa.
"Jangan2 Ang-lianpangcu juga ikut datang?"
"Kesaktian Taysu sungguh luar biasa, se-akan2 dapat melihat dari tempat yang jauh,"
Puji Ang-lian hoa dengan tertawa.
Terlihatlah orang yang disebut Ji Hong ho itu duduk berhadapan dengan Thian-in Taysu dan sedang minum, Lim Soh-koan, Ong Uh-lau dan lain2 ternyata tidak ikut serta di situ.
Di dalam kemah asap dupa wangi semerbak, masuk di sini rasanya seakan-akan masuk di suatu dunia lain lagi.
Setelah beramah tamah dan berduduk, kemudian pandangan Ji Hong ho beralih ke arah Ji Pwe-giok yang berdiri tertunduk di samping sana, dengan senyum kasih sayang seorang ayah ia berkata.
"Anak Giok, apakah badanmu terasa lebih enak?"
"Terima kasih atas perhatian ayah,"
Jawab Pwe-giok dengan hormat.
"Biasanya kau jarang keluar rumah, tidak-tandukmu selanjutnya hendaklah hati2 dan prihatin agar tidak menjadi buah tertawaan kaum Cianpwe dunia Kangouw,"
Kata Ji Hong-ho pula.
Pwe-giok mengiakan dengan menunduk.
Yang satu memberi petuah dan yang lain mengiakan dengan hormat, tampaknya seperti benar2 seorang ayah yang kereng dengan seorang anak yang berbakti.
Siapa yang menduga bahwa keduanya sesungguhnya sedang main sandiwara?
Sudah jelas Pwe-giok mengetahui orang di depan ini adalah musuhnya, hatinya sangat sakit, tapi lahirnya dia justru harus berlagak hormat dan menganggap orang sebagai ayahnya.
Sebaliknya Ji Hong-ho juga tahu bahwa pemuda di depannya ini bukanlah anaknya, dalam hati iapun ingin sekali hantam mampuskan Ji Pwe-giok.
Tapi lahirnya dia harus berlagak kasih sayang kepada seorang anak.
Ang-lian hoa dapat mengikuti semua ini dari samping, dalam hati tak keruan rasanya, entah duka, entah marah atau merasa geli.
Sejak umur tujuh Ang-lian hoa sudah terjun di dunia Kangouw, adegan ramai apapun pernah dilihatnya.
Tapi permainan sandiwara yang serba konyol ini sungguh belum pernah ditemuinya.
Kalau orang di luar garis saja demikian perasaannya, apalagi orang yang bersangkutan seperti Ji Pwe-giok, tentu saja sukar untuk diceritakan.
Begitulah Thian-in Taysu lantas berkata pula dengan tersenyum.
"Ji-kongcu kelihatan halus di luar, tapi keras di dalam, di tengah ketenangan jelas kelihatan kecerdasannya, sungguh bakat yang sukar dicari. Bilamana tidak keliru pandanganku, hasil yang akan dicapai Ji-kongcu di kemudian hari pasti akan di atas Bengcu sendiri."
Segera Ang-lian hoa berkeplok tertawa, serunya.
"Hendaklah Taysu dan Bengcu maklum, kecuali mempunyai seorang ayah termashur, kini Ji-kongcu sudah mempunyai pula seorang guru ternama!"
"O, guru ternama?"
Ji Hong-ho seperti melengak. Thian-kang Totiang lantas menukas.
"Berhubung melihat putera anda mempunyai bakat tinggi dan sukar dicari, hatiku jadi tergerak dan secara sembrono telah menerima putera anda sebagai murid. Untuk ini diharap Bengcu suka memberi maaf atas kelancanganku."
Ang-lian hoa tertawa dan menambahkan.
"Ji-kongcu akan merangkap keunggulan kedua keluarga Bu-kek dan Kun-lun, kelak pasti akan memancarkan cahaya gilang gemilang bagi dunia persilatan umumnya. Ku yakin Bengcu pasti akan kegirangan, masa menyalahkan Totiang malah?"
"Ini... ini memang harus berterima kasih kepada Totiang,"
Jawab Ji Hong-ho. Meski tampaknya tersenyum tapi senyuman kecut atau lebih tepat dikatakan menyengir.
"Besok juga kami akan berangkat pulang ke Kun-lun-san, putera anda..."
Belum lanjut ucapan Thian-kang Totiang, segera Ang-lian hoa menyambung dengan tertawa.
"Ji-kongcu dengan sendirinya harus ikut pergi bersama Totiang. Tentu saja Bengcu tidak perlu kuatir, kungfu Kun-lun-pay sudah termasyhur, bisa selekasnya belajar kan lebih baik. Apalagi Bengcu baru mulai menjabat tugas berat, tentu banyak pekerjaan dan tidak sempat memikirkan pelajaran Ji-kongcu."
Lalu ia tarik tangan Ji Pwe-giok, katanya pula dengan tertawa.
"Besok juga kau akan ikut Totiang ke Kun-lun dan harus belajar dengan giat, jangan harap lagi ada tempo senggang dan pesiar seperti sekarang ini, andaikan bertemu lagi kelak sedikitnya juga tiga atau lima tahun pula. Mumpung masih berkumpul sekarang, marilah kita pergi minum sepuasnya sebelum berpisah."
Habis berkata Ang-lian hoa lantas menarik Pwe-giok dan diajak pergi. Ji Hong-ho jadi melenggong dan tak dapat bersuara. Dengan tersenyum Thian-in Taysu lantas berkata.
"Putera anda dapat berkawan dengan Anglian-pangcu, rejekinya sungguh tidak kecil."
"Ya, sungguh beruntung!"
Ucap Ji Hong-ho sembari menenggak teh untuk menutupi rasa canggungnya.
***** Esok paginya, baru saja remang2 di ufuk timur, namun sebagian besar para ksatria masih bergelak tertawa dengan muka merah karena terlalu banyak menenggak arak, ada sebagian lagi yang tidak dapat tertawa dan sudah roboh tertidur lelap.
Hanya anak murid Kun-lun-pay saja, baik mabuk atau tidak, saat ini dengan khidmat sama berdiri di depan perkemahan untuk mengantar keberangkatan sang ketua.
Di dalam kemah Ji Pwe-giok sedang menyembah kepada sang "ayah"
Sebagai tanda mohon diri. Ber-ulang2
"Ji Hong-ho"
Memberi pesan, kembali keduanya lagi main sandiwara kasih sayang antara ayah dan anak.
Habis itu delapan Tojin muda berbaju ungu mengiringi Thian-kang Totiang dan Ji Pwe-giok melangkah keluar kemah.
Di luar tiada kereta atau kuda.
Dari Kun-lun-san ke Hongciu, jarak ribuan li itu ternyata ditempuh kawanan Tojin Kun-lun-pay itu dengan berjalan kaki.
Ang-lian hoa memegangi tangan Ji Pwe-giok, ucapnya dengan tersenyum.
"Selamat jalan, jangan lupa kepada kakakmu yang rudin ini."
"Aku... Cayhe... Siaute..."
Saking terharunya Pwe-giok tidak tahu cara bagaimana harus berucap, suaranya menjadi ter-sendat2 dan air mata ber-linang2, akhirnya ia cuma tertunduk belaka.
Se-konyong2 seorang mendekatinya dan berkata dengan tertawa.
"Anak Giok, perpisahan ini kukira akan makan waktu cukup lama, apakah kau tidak ingin bertemu dulu dengan Tay ih?"
Cepat Pwe-giok menengadah, dilihatnya Lim Soh-koan yang berdiri di depannya.
Pagi2 masih diliputi kabut yang tipis, samar2 disana berdiri bayangan seorang dengan kerlingan mata sayu, siapa lagi dia kalau bukan Lim Tay-ih?
Melihat bayangan si nona yang lembut, teringat perpisahan ini entah kapan baru dapat bertemu kembali, seketika Pwe-giok jadi terkesima.
Memandangi mereka, Ang-lian hoa sendiri juga tertegun.
Mendadak terdengar Thian-kang Totiang membentak perlahan.
"Kehidupan di pegunungan selalu sunyi, perasaan laki perempuan janganlah ditumbuhkan! Hayolah!"
Segera tangan Pwegiok ditariknya terus melangkah pergi. Lim Tay-ih masih berdiri di sana dan memandangnya dengan sayu, pada matanya yang jernih itu entah sejak kapan sudah mengembeng air mata.
"Melihat kepergian kekasih dan tidak dapat berbicara sepatah dua, apakah hatimu tidak merasa sedih?"
Demikian tiba2 suara seorang senyaring genta menegur dengan tertawa genit disertai bau harum semerbak terbawa angin.
Tay-ih tidak berpaling, sebab Ong Ih-lau dan Sebun Bu-kut sudah sampai pula disampingnya, dengan sorot mata tajam dan kereng kedua orang itu berkata.
"Tay-ih, hayolah pergi."
Suara nyaring merdu tadi berkata pula dengan tertawa.
"Perempuan bicara dengan perempuan juga dilarang oleh kalian kaum lelaki?"
Dengan suara berat Ong Ih-lau menjawab.
"Selama ini Bu-kek-pay tiada hubungan apapun dengan murid Peh-hoa-pang."
"Dulu tidak ada, sekarang kan sudah ada,"
Ujar suara genit itu.
Lim Tay-ih hanya berdiri diam saja, rambutnya ber-gerak2 tertiup angin.
Sesosok bayangan lemah gemulai tahu2 melayang tiba di depannya dengan baju tipis berkibar laksana dewi kahyangan.
Meski sama2 perempuan, mabuk juga Tay-ih melihat sepasang mata orang yang baru muncul ini, sungguh sama sekali tak tersangka olehnya bahwa ketua Pek-hoa-pang yang termasyhur itu ternyata sedemikian cantiknya.
Berbareng Ong Uh-lau dan Sebun Bu-kut hendak menghadang di depan Lim Tay-ih, tapi mendadak bau harum menusuk hidung, se-konyong2 kain tipis seperti kabut menyampuk tiba, tanpa terasa Ong Uh-lau berdua melompat mundur lagi.
Waktu mereka memandang lebih jelas, terlihat Hay-hong Hujin telah menggandeng tangan Tay-ih dan melangkah pergi, terdengar suaranya yang nyaring merdu lagi berkata.
"Leng-hoakiam, kan boleh kubawa pergi anak perempuanmu untuk mengobrol sejenak?... Akupun seperti kaum lelaki, bila melihat anak perempuan cantik lantas terpikat dan ingin bicara dengan dia."
Lim Soh-koan hanya melongo bingung di sana tanpa bersuara.
Dari jauh Ang-lian hoa dapat menyaksikan kejadian ini, tersembul senyumannya yang puas.
Di tengah kabut pagi yang belum buyar itu ke-14 panji besar masih berkibar di udara, tapi pertemuan besar setiap tujuh tahun satu kali ini sudah berakhir, para ksatria secara berkelompok2 telah mulai berangkat pulang.
Memandangi panji Bu-kek-pay yang baru saja ikut dikerek, Ang-lian hoa jadi terharu, tanpa terasa ia menghela nafas panjang.
"Apa yang Pangcu renungkan di sini?"
Tiba2 seorang menegurnya.
"Apakah sahabat baru Pangcu si Ji-kongcu sudah ikut berangkat bersama Thian-kang Totiang?"
Kiranya orang ini adalah Cia Thian-pi, ketua Tiam-jong-pay. Dengan terharu Ang-lian hoa menjawab.
"Ya, sudah berangkat!"
"Wah, mengapa... mengapa secepat ini berangkatnya?!"
Seru Cia Thian pi mendadak dengan air muka berubah. Melihat adanya kelainan air muka orang, Ang-lian hoa terkesiap, cepat ia bertanya.
"Cepat? Cepat bagaimana?"
"Maaf Pangcu, ternyata kedatanganku ini tetap terlambat sejenak,"
Kata Cia Thian-pi dengan muram dan menunduk.
"Sesungguhnya ada urusan apa?"
Tanya Ang-lian hoa sambil pegang pundak orang.
"Pernahkah Pangcu mendengar nama "Thian-kai-biau-peng-khek" (si kelana kian kemari)?"
"Sudah tentu pernah,"
Jawab Ang-lian hoa.
"Sesuai namanya, orang ini tidak tertentu tempat tinggalnya, dimanapun dapat dijadikan rumah olehnya. Jut-tun Totiang dari Bu-tong menganggap satu2nya tokoh Kangouw saat ini yang pantas disebut "Yu-hiap (pendekar kelana) hanya dia saja seorang."
"Dan baru saja Siaute menerima surat merpati dari dia, katanya... Katanya..."
"Katanya apa?"
Ang-lian hoa menegas, makin erat cengkeramannya pada pundak orang. Cia Thian-pi menghela nafas panjang dan memejamkan mata, lalu menjawab dengan perlahan.
"Katanya Thian-kang Totiang dari Kun-lun-pay telah wafat pada setengah bulan yang lalu."
"Apa betul beritanya ini?"
Seru Ang-lian hoa terperanjat.
"Demi membuktikan kebenaran berita ini, dia telah membuang waktu selama setengah bulan, setelah menyaksikan sendiri jenazah Thian-kang Totiang barulah dia mengirim berita merpati kepadaku. Yu hiap Ih Eng selamanya bertindak dengan cermat dan hati2, berita penting begini mana berani dia siarkan secara ngawur jika tidak terbukti kebenarannya?"
Seketika kaki dan tangan Ang-lian hoa dingin semua, katanya.
"Wah, jika demikian jadi Thian-kang Totiang inipun palsu?!"
Cia Thian-pi berkata dengan menyesal.
"Ketika dia hadir di atas panggung pertemuan, kulihat dia selalu diam saja, sebenarnya sudah timbul rasa curigaku, kemudian dia diangkat menjadi Houhoat pula, tentu saja!"
"Mengapa tidak... tidak kau katakan waktu itu?"
Tanya Ang-lian hoa.
"Mana berani Siaute memastikannya!"
Ujar Cia Thian-pi.
"Sekarang Ji Pwe-giok telah dibawa pergi, bukankah ini sama dengan mengantar domba ke mulut harimau?"
Kata Ang-lian hoa dengan suara rada gemetar.
"Ya, sebab itulah aku merasa kuatir,"
Kata Cia Thian-pi. Butiran keringat memenuhi dahi Ang-lian hoa, katanya pula.
"Dia berangkat hanya membawa Pwe-giok seorang, anak muridnya masih tertinggal semua di sini, rupanya supaya dia leluasa turun tangan! Ai, akulah yang membikin celaka dia! akulah yang bersalah!"
"Bisa jadi inilah langkah yang sudah lama diatur oleh komplotan jahat itu,"
Ujar Cia Thian-pi.
"kalau tidak, biasanya Kun-lun-pay sangat keras dalam hal memilih murid, mengapa dia mau terima murid secepat dan semudah itu?"
"Sungguh rapi dan cermat sekali rencana keji mereka dan sukar untuk dibendung,"
Kata Anglian hoa dengan tersenyum pedih.
"Tapi!"
Mendadak ia tarik tangan Cia Thian-pi dan mendesis.
"Untung juga kedatangan Cia-heng ini belum terlalu terlambat."
"Apakah mereka belum pergi jauh?!"
Tanya Thian-pi.
"Dengan kecepatan berjalan kita, kuyakin dapat menyusulnya!"
Seru Ang-lian hoa. Dengan gemas Cia Thian-pi berkata.
"Jahanam yang licik dan keji, baginya tiada soal peraturan Kangouw lagi, bila bertemu nanti, biarlah kita berlagak tidak tahu, coba kita lihat bagaimana sikapnya nanti."
"Ya, marilah kita kejar!"
Seru Ang-lian hoa.
***** Makin sepi tempat yang dilalui mereka, makin tebal pula kabut yang mengambang di udara.
Pwe-giok berjalan di belakang Thian-kang Totiang, memandangi jenggot Tojin yang bertebaran tertiup angin dengan perawakannya yang tegap, teringat pula pertemuan dirinya yang aneh dan kebetulan, sungguh Pwe-giok tidak tahu mesti bergirang atau bersedih.
Kun-lun-pay cukup termasyhur, betapa keras caranya menerima murid juga sukar ditandingi perguruan lain, apabila murid juga sukar ditandingi perguruan lain, apabila dirinya tidak tertimpa musibah sebanyak ini, mana bisa dalam semalam saja telah berubah menjadi murid Kun-lun-pay.
Didengarnya Thian-kang Totiang berkata.
"Perjalanan masih jauh, kita harus berjalan dengan lebih cepat."
Dengan hormat Pwe-giok mengiakan.
"Peraturan perguruan kita selamanya sangat keras, tata tertib kehidupan se-hari2 sangat prihatin, hidup sederhana dan harus tahan uji, apakah kau sanggup?"
"Tecu tidak takut menderita."
"Kau terakhir masuk perguruan, setiba di gunung, pekerjaan se-hari2 yang harus kau lakukan dengan sendirinya akan lebih banyak daripada murid lain. Tampaknya badanmu lemah lembut, entah kau sanggup tidak bekerja berat?"
"Di rumah Tecu juga biasa bekerja berat."
"Baiklah, di depan sana ada sumur, timbalah airnya sedikit."
Pwe-giok mengiakan.
Benar juga, tidak jauh di depan sana ada sebuah sumur yang sangat besar, baru saja Pwe-giok menurunkan timba ke dalam sumur, mendadak terbayang waktu menimba air di rumah, terkenang pada taman yang rimbun dan sejuk itu, terbayang wajah sang ayah yang welas asih!
seketika air matanya berderai, timba yang dipegangnya mendadak terlepas dan jatuh ke dalam sumur.
Ia terkejut dan cepat hendak meraih tali timba, tapi entah mengapa, mendadak ia terpeleset, tubuhnya ikut terjerumus ke dalam sumur.
Padahal sumur itu sangat dalam, biarpun dia memiliki ilmu silat maha tinggi, kalau jatuh ke dalam sumur mungkin sukar juga manjat ke atas.
Sudah banyak musibah yang menimpanya, sudah sering dia menghadapi bahaya, kalau sekarang ia harus mati di dalam sumur, apakah bukan permainan nasib?
Padahal sejak kecil ia belajar silat, kuda2nya terlatih sangat kuat, entah mengapa dia bisa terpeleset.
Air sumur sedingin es, keruan Pwe-giok menggigil, ia me-ronta2 dan berusaha memanjat ke atas, tapi dinding sumur penuh lumut tebal dan licin, hakekatnya tiada tempat yang dapat dibuat pegangan.
Anehnya, mengapa Thian-kang Totiang tidak datang menolongnya?
Sekuatnya ia bertahan.
Mendadak terdengar kumandang derap kuda lari yang langsung menuju ke tepi sumur.
Lalu suara seorang perempuan berseru.
"Siapakah yang jatuh ke dalam sumur?... Ai, jangan-jangan Ji..."
"Betul, memang dia!"
Terdengar suara Thian-kang Totiang.
"Totiang menyaksikan dia jatuh ke dalam sumur, mengapa engkau tidak menolongnya? Apakah ingin dia mati di situ?"
Tanya perempuan itu.
"Dia mengira dirinya sanggup menderita dan tahan uji, tapi tidak tahu betapa sengsaranya orang hidup di dunia ini. Demi hari depannya supaya dia dapat menjadi orang yang berguna, maka sengaja ku gembleng dia mulai sekarang."
"O, jika begitu, maafkan bila barusan Tecu salah omong, tapi! tapi sekarang ujian baginya apakah belum cukup?"
"Mengapa kau begitu memperhatikan dia?"
Tanya Thian-kang Totiang dengan tersenyum. Perempuan itu tak dapat menjawab, seperti merasa kikuk, sejenak kemudian barulah dia berseru.
"Sebabnya Tecu menyusul kemari justeru ingin... ingin bicara beberapa patah kata dengan dia."
"O, jika demikian, bolehlah ku naikkan dia!"
Lalu Thian-kang Totiang melemparkan seutas tambang ke dalam sumur.
Waktu Pwe-giok naik ke atas, mukanya tampak merah padam, seluruh tubuhnya basah kuyup, ia merasa malu juga serba runyam.
Dilihatnya sebuah tangan yang putih halus mengangsurkan sepotong sapu tangan, pada sapu tangan warna keemasan itu tersulam pula seekor burung walet emas, terdengar suara merdu itu berkata padanya.
"Lekas mengusap air yang membasahi mukamu!"
Ucapan yang sederhana ini ternyata mengandung perhatian yang sangat mendalam, kepala Pwe-giok tertunduk semakin rendah, ia menjadi bingung apakah harus menerima sapu tangan itu atau tidak.
Didengarnya Thian-kang Totiang berkata dengan suara bengis.
"Seorang lelaki sejati, mengapa mengangkat kepala saja tidak berani?"
Sudah tentu bukannya Pwe-giok tidak berani mengangkat kepalanya. Begitu dia angkat kepala, segera dilihatnya Kim-yan-cu, gadis yang lincah dan cerah ini sedang memandanginya dengan penuh simpati.
"Ada urusan apa silahkan bicaralah, segera kami harus melanjutkan perjalanan jauh,"
Kata Thian-kang Totiang.
Biarpun orang pertapaan tulen, agaknya iapun paham hubungan mesra antara muda-mudi, sambil mengelus jenggotnya ia lantas menyingkir ke sana.
Kim-yan-cu tersenyum manis dan menyerahkan sapu tangannya kepada Pwe-giok, katanya.
"Ambil, takut apa kau?"
Air yang memenuhi muka Pwe-giok entah air atau keringat, dia berucap dengan gelagapan.
"Te! terima kasih nona."
"Tentunya kau heran, selamanya kita belum kenal, mengapa kususul kemari untuk bicara dengan kau?"
Kata Kim-yan-cu. Pwe-giok mengusap air di mukanya, lalu menjawab.
"Entah! entah nona ada petunjuk apa yang harus dibicarakan padaku?"
"Sebenarnya akupun heran,"
Kata Kim-yan-cu dengan gegetun.
"Entah mengapa, kurasakan kita tak dapat berpisah dengan begini saja. Maka aku lantas menyusul kemari. Biasanya memang begitu. Apa yang ingin kukerjakan seketika juga kulaksanakan."
"Tapi... tapi nona!"
Pwe-giok tidak sanggup melanjutkan, ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya, sekilas dilihatnya dikejauhan sana ada sesosok bayangan orang berdiri di tengah kabut bersandar di samping kuda, tampaknya sangat kesepian.
Pwe-giok berdehem, katanya.
"Maksud baik nona cukup kupahami. Sin-to Kongcu sedang menunggu di sana, le... lekaslah nona kesana, bisa jadi kelak..."
"Jangan pusingkan dia, berapa lama dia akan menunggu, buat apa kau gelisah baginya?"
Sela Kim-yan-cu dengan kurang senang. Mendadak ucapannya berubah lembut, katanya dengan perlahan dan tandas.
"Aku cuma ingin tanya padamu, selanjutnya kau ingin bertemu lagi denganku atau tidak?"
"Aku..."
Pwe-giok menunduk dan ragu2. Kim-yan-cu menggigit bibir, tanyanya pula.
"Aku anak perempuan, kalau kuberani tanya masa kau tak berani menjawab?"
Dengan menggreget Pwe-giok berkata.
"Cayhe adalah orang yang bernasib malang, selanjutnya... selanjutnya paling baik kita tidak bertemu lagi."
Tergetar tubuh Kim-yan-cu, ia melenggong sekian lamanya, akhirnya dia berkata dengan suara gemetar.
"Ba.. bagus kau!"
Mendadak ia mencemplak ke atas kudanya terus dibedal pergi secepat terbang.
Tangan Pwe-giok masih memegangi sapu tangan kuning itu dan mengikuti bayangan si nona yang lenyap di tengah kabut.
Bau harum saputangan masih terendus, tanpa terasa Pwe-giok rasa terkesima.
Pada saat itulah mendadak seekor kuda menerjang tiba, bayangan golok berkelebat terus membacok!
Serangan ini datangnya teramat cepat dan keras.
Keruan Pwe-giok terkejut, untuk menghindar terasa tidak sempat lagi, terpaksa Pwe-giok menubruk ke depan malah, terasa punggungnya terserempet angin tajam, dilihatnya Sin-to Kongcu telah melarikan kudanya ke sana, dengan gelak tertawa dan mengangkat goloknya Kongcu golok sakti itu lantas berseru.
"Bacokan ini hanya sebagai peringatan saja, jika kau tetap tidak tahu diri, lain kali kepalamu pasti akan kupenggal!"
Pwe-giok benar2 serba susah.
Setelah berdiri tegak lagi barulah diketahui baju bagian punggung telah robek tersayat golok lawan, hanya selisih sedikit saja jiwanya bisa melayang di bawah golok kilat tadi.
Thian-kang Totiang juga sedang memandang padanya, ucapnya sambil menggeleng.
"Jika persoalan demikian selalu terjadi, cara bagaimana kau bisa hidup tenteram?"
"Tecu... tecu..."
Pwe-giok tertunduk dan tidak sanggup melanjutkan.
"Sudahlah, hayo kita berangkat, ingin kulihat apakah kau sanggup berjalan sampai Kun-lunsan!"
Kata Thian-kang Totiang.
Cara berjalan Thian-kang Totiang tidak cepat juga tidak lambat, tapi bagi Pwe-giok sudah kepayahan untuk mengikuti langkahnya.
Duka derita selama akhir2 ini benar2 telah menyiksa jiwa raganya.
Ia sudah basah kuyup oleh air keringat, rasanya akan menggigil, tapi di samping guru yang kereng ini mana dia berani mengeluh.
Kabut sudah mulai buyar, tapi sinar sang surya belum lagi muncul.
Cuaca mendung, lembab dan kelam seperti air muka Thian-kang Totiang.
Mereka terus jalan dan entah sudah berapa jauhnya, baju Pwe-giok yang basah oleh air keringat sudah kering, tapi segera basah lagi.
Ia mulai ter-engah2, langkahnya tambah lambat, kepalapun merasa berat!
Se-konyong2 Thian-kang Totiang berhenti di depan sebuah kelenteng bobrok, katanya sambil menggeleng.
"Nak, tampaknya kau tidak tahan menderita, marilah masuk dan mengaso dahulu."
Kelenteng itu sunyi senyap dengan ruangan yang gelap, patungnya tinggi besar dan beringas menakutkan se-akan2 sedang mengejek siksa derita yang dialami manusia.
Tanpa terasa Pwe-giok terus berbaring di depan patung, di luar angin meniup santer, agaknya akan hujan.
Biarkan hujan, air hujan mungkin dapat mencuci bersih segala kekotoran kehidupan manusia.
Thian-kang Totiang berdiri di depan Pwe-giok, tampaknya iapun angker seperti patung kelenteng itu, dengan bengis ia berkata.
"Berdiri, di depan malaikat pujaan mana boleh sembarangan berbaring!"
Pwe-giok mengiakan dan meronta bangun, ia berdiri dengan sikap hormat, dalam hati tiada sedikitpun merasa menyesal.
Tanpa guru yang kereng, mana dapat mengeluarkan anak didik yang baik?
Air muka Thian-kang tampak ramah kembali, katanya.
"Setiap anak murid Kun-lun harus berani menderita, lebih2 kau, nasibmu berbeda dengan orang lain, kau harus berani menderita berlipat ganda daripada orang lain."
"Tecu mengerti,"
Jawab Pwe-giok dengan muram.
Perlahan Thian-kang berpaling ke sana, di luar daun rontok gemerisik oleh tiupan angin, ketua Kun-lun-pay yang termasyhur ini se-akan2 merasakan akan datangnya musim rontok yang senyap, ia bergumam.
"Akan hujan lagi! langit selalu datang awan dan angin yang sukar diramal, kehidupan manusia tidaklah juga demikian adanya? Nak, sampai matipun kau harus tetap ingat, tiada seorangpun di dunia ini yang dapat dipercaya sepenuhnya, kecuali dirimu sendiri."
Tiba2 angin meniup, entah mengapa Pwe-giok jadi merinding. Suasana sedemikian senyapnya, jangan2 inilah firasat yang tidak baik.
"Nak, kemarilah kau,"
Kata Thian-kang pula perlahan.
Dengan sikap hormat dan prihatin Pwe-giok mendekatinya.
Dari kantongan yang dibawanya Thian-kang mengeluarkan sepotong bola nasi yang dibuat seperti onde2.
Diberi nya onde2 nasi ini kepada Pwe-giok, air mukanya yang kereng itu tersembul senyuman yang jarang terlihat, katanya.
"Makanlah, pada usia semuda kau, gurumu juga merasakan cepatnya lapar."
Orang tua yang kereng ini ternyata juga punya rasa kasih sayang. Memandang onde2 nasi di tangannya, saking terharu hampir saja Pwe-giok mengucurkan air mata.
"Dan suhu sendiri?"
Ucapnya kemudian. Thian kang tertawa, katanya.
"Bola nasi ini tidak sembarangan orang dapat memakannya, setelah kau makan tentu kau tahu apa sebabnya, gurumu!"
"Jika bola nasi itu sedemikian bernilai, entah boleh tidak Cayhe ikut minta sebagian?"
Mendadak seorang menimbrung dengan tertawa.
Tahu2 seorang muncul di luar, dengan langkah lebar masuk ke dalam kelenteng, dadanya tampak ter-engah2, senyuman yang menghiasi mukanya juga rada aneh.
Cuma cuaca mendung kelam sehingga tidak begitu jelas kelihatan.
"Mengapa Pangcu menyusul kemari?"
Seru Pwe-giok dengan girang setelah mengetahui siapa pendatang ini. Dengan mengelus jenggotnya, Thian-kang juga menyapa.
"Pangcu menyusul kemari dengan tergesa2 begini, kukira pasti bukan untuk minta bagian makanan ini."
"Totiang memang bijaksana dan tahu segalanya,"
Ujar Ang-lian hoa dengan tertawa.
"Kedatanganku ini memang ini memperlihatkan sesuatu kepada Totiang."
Ia lantas mengeluarkan sesuatu barang dan disodorkan ke depan Thian-kang.
Benda itu sangat kecil, di ruangan kelenteng yang gelap ini tidak terlihat jelas.
Terpaksa Thian-kang Totiang menunduk untuk memeriksa barang itu sambil berkata.
"Barang yang diantar kemari oleh Ang-lian-pangcu secara tergesa-gesa ini pasti benda yang sangat menarik!"
Belum habis ucapannya, se-konyong2 tangan Ang-lian hoa terangkat ke atas dan tepat menghantam mata Thian-kang Totiang.
Pada saat itu juga mendadak terdengar guntur menggelegar, hujan turun bagai dituang.
Pada saat yang sama pula sinar pedang lantas berkelebat dan menancap di punggung Thian-kang Totiang.
Thian-kang meraung sambil menghantam dengan sebelah tangannya.
Tapi Ang-lian hoa sempat melompat mundur, angin pukulan yang dahsyat menghantam altar patung hingga berantakan, patung besarpun sama ambruk.
Muka Thian-kang berlumuran darah, rambut dan jenggotnya se-akan2 kaku berdiri, teriaknya dengan parau.
"Ken! kenapa kau!"
Belum habis ucapannya, robohlah dia terkapar.
Di luar hujan turun semakin deras, pedang yang menancap di punggung ketua Kun-lun-pay itu tampak masih bergetar.
Terkesiap Pwe-giok oleh kejadian itu, bola nasi yang dipegangnya juga terjatuh.
Ang-lian hoa berdiri mepet dinding sana, dadanya naik-turun dengan napas ter-engah2, air mukanya juga berubah pucat.
Tapi Pwe-giok masih dapat diselamatkan, betapapun kedatangannya belum terlambat.
Terlihat Cia Thian-pi lantas melayang masuk, serunya dengan tertawa.
"Betapapun kedatangan kita masih keburu dan sekali turun tangan lantas berhasil."
"Mestinya jangan kau binasakan dia, harus kita tanyai lebih dulu,"
Ujar Ang-lian hoa dengan menyesal.
"Tanya apalagi?"
Kata Cia Thian-pi.
"Kalau ditanyai mungkin akan!"
Mendadak Pwe-giok meraung murka, teriaknya dengan parau.
"Apa2an kalian ini? Mengapa kalian membunuhnya?"
"Jika dia tidak dibunuh, dia yang akan membunuh kau!"
Kata Thian-pi. Kejut dan kesima Pwe-giok, ucapnya.
"Meng! mengapa?..."
"Kelak kau tentu akan tahu sendiri,"
Ujar Cia Thian-pi, lalu ia tarik tangan Pwe-giok dan berkata.
"Komplotan jahat ini pasti ada begundalnya di sekitar sini, siaute akan berangkat dulu bersama dia, harap Pangcu merintangi mereka, nanti Siaute akan balik lagi untuk membantu."
Karena tangannya dipegang, tanpa kuasa Pwe-giok ikut terseret pergi. Ang-lian hoa lantas berdiri di ambang pintu kelenteng dan bergumam.
"Hayolah maju, akan kutunggu kalian di sini!"
Hujan angin tambah keras, cuaca tambah kelam.
Ang-lian hoa mencabut pedang yang menancap di punggung Thian-kang Totiang itu.
Kembali guntur menggelegar pula.
Darah menetes dari ujung pedang.
Air muka Ang-lian hoa mendadak berubah pucat, tubuhnya serasa lemas, ia terhuyung-huyung dan menumpahkan darah.
***** Dalam pada itu Pwe-giok telah diseret pergi oleh Cia Thian-pi, mereka berlari di bawah hujan lebat, dengan langkah agak sempoyongan Pwe-giok bertanya.
"Ken... kenapa?"
"Thian-kang Totiang itu adalah samaran komplotan jahat,"
Kata Cia Thian-pi.
"Apa yang dilakukannya itu ialah ingin mencelakai kau. Bola nasi yang diberikan padamu itu adalah racun yang tak dapat ditolong!"
"Apa betul?"
Teriak Pwe-giok terkejut.
"Sekalipun mungkin aku menipu kau, apakah Ang-lian pangcu juga akan menipu kau?"
Kata Cia Thian-pi.
"Tapi dia... dia..."
Mendadak Pwe-giok ingat kejadian jatuh ke dalam sumur tadi, apa benar Thian-kang Totiang bermaksud mencelakai dia?
Tapi sikapnya yang kereng dan berwibawa itu masa dapat dipalsukan?
Hati Pwe-giok terasa kusut, tanpa kuasa tubuhnya ikut terseret berlari ke depan.
Se-konyong2 ia merasa tangan Cia Thian-pi yang menariknya itu sangat dingin, sungguh dingin luar biasa, tanpa terasa ia menggigil dan berkata.
"Mengapa tanganmu sedemikian aneh?"
"Kau bilang apa?"
Tanya Cia Thian-pi sambil menoleh. Pwe-giok pandang wajah orang dan menjawabnya.
"Kubilang! hei!"
Mendadak ia meraung.
"Kau! kau inilah palsu! kukenal matamu!"
Belum habis ucapannya, ia merasa beberapa hiat-to pada tangannya sudah tertutuk, tubuhnya lantas dilemparkan oleh Cia Thian-pi.
"Hehe.. anggaplah kau memang pintar, tapi orang pintar justeru mati terlebih cepat!"
Kata Cia Thian-pi sambil menyeringai, ia angkat kakinya terus menginjak ke dada Pwe-giok yang jatuh tersungkur di tengah lumpur itu.
Lengan kanan Pwe-giok serasa kaku semua, ingin mengelak pun tidak sanggup lagi.
Untung tangan kirinya masih dapat bergerak, secepat kilat ia pegang ujung kaki Cia Thian-pi.
Walaupun pembawaan tenaga Ji Pwe-giok sangat kuat, apa daya, saat ini dia seperti anak panah yang sudah jauh meluncur dan tinggal jatuh lemas ke tanah.
Cia Thian-pi masih menyeringai dan kakinya tetap ingin menginjak ke bawah, ucapnya.
"Hayolah tahan sekuatnya, ingin kulihat sampai berapa lama kau mampu bertahan!"
Ruas tulang Pwe-giok terasa gemertak, air hujan berhamburan di mukanya, hampir2 tidak sanggup membentangkan matanya, sedangkan injakan Cia Thian-pi terasa semakin berat.
Ia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya, teriaknya dengan parau.
"Kiranya kau yang membunuh ayahku! Susah payah kucari kau!"
"Hehehe... dan sekarang sudah kau temukan diriku, bukan?"
Jawab Cia Thian-pi dengan terkekeh2.
"Tapi apa yang dapat kau lakukan? Ayahmu mati di tanganku, sebaliknya kau akan mati di bawah kakiku!"
Lengan Pwe-giok serasa hampir patah, sebaliknya kaki Cia Thian-pi semakin berat seperti bukit menindih.
Dia bertahan sekuatnya, tapi jelas tiada harapan lagi.
Betapa dia tersiksa oleh injakan kaki musuh, sungguh ia ingin lepas tangan dan pasrah nasib.
Dengan demikian segala duka nestapa, segala siksa derita, semuanya takkan menimpa dirinya lagi.
"Hayolah tahan yang kuat!"
Demikian Cia Thian-pi berteriak sambil tertawa latah.
"Apakah kau sudah kehabisan tenaga? Wahai Ji Pwe-giok, setelah mati janganlah kau menyesal padaku. Meski kita tiada permusuhan apa2, tapi kematianmu akan membuat hidup orang lain jauh lebih nikmat dan bahagia!"
Pwe-giok merasa pandangannya mulai kabur dan gelap, tenggorokan terasa anyir, akhirnya tak tahan lagi, darah segar tersembur keluar dan mengotori baju Cia Thian-pi.
Sambil menyeringai kaki Cia Thian-pi terus menginjak sekerasnya, pada saat itulah mendadak terdengar suara mendenging tajam menyambar dari belakang.
Dengan daya pantulan injakannya itu cepat Cia Thian-pi meloncat ke atas, ia berjumpalitan di udara, lalu turun di kejauhan sana.
Terlihat di bawah hujan lebat sana melayang sesosok bayangan orang seperti badan halus, mukanya kaku tanpa emosi, tapi sorot matanya merah membara.
Siapa lagi dia kalau bukan Ang-lian hoa.
Suara mendenging tajam tadi adalah sambaran pedang yang ditimpukkan, pedang itu akhirnya menancap pada batang pohon dan ambles hampir setengah pedang, dari sini dapat diketahui betapa pedih dan gemas hati Ang-lian hoa.
Air muka Cia Thian-pi tampak berubah pucat, tapi ia tetap bersikap tenang dan menyapa.
"Kenapa Pangcu sudah menyusul tiba, apakah kawanan penjahat sudah dihalau pergi?"
Seperti berapi sorot mata Ang-lian hoa, ia tatap orang dengan tajam, tanyanya sekata demi sekata.
"Siapa kau sebenarnya!?"
"Aku... Siaute..."
Cia Thian-pi menjawab dengan gelagapan dan menyurut mundur setindak demi setindak.
"Hm, mirip benar penyamaran mu, sungguh teramat mirip, sebentar harus ku sayat mukamu secuil demi secuil, ingin ku tahu mengapa penyamaranmu bisa begini mirip!"
Kata Ang-lian hoa.
Suaranya dingin seram, jauh lebih menakutkan daripada suara raungan murka.
Siapapun percaya, apa yang dikatakan Pangcu kaum jembel ini pasti akan dilaksanakannya.
Keruan Cia Thian-pi merasa ngeri, tapi mendadak ia bergelak tertawa, serunya.
"Hahaha, bagus, Ang-lian hoa, tak tersangka akhirnya kau tahu juga. Dengan jerih payah tiga tahun kubelajar merias, kuyakin sudah dapat berlagak serupa benar dengan Cia Thian-pi. Kukira biarpun dia sendiri juga sukar membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Tapi kau, cara bagaimana dapat kau pecahkan penyamaranku ini?"
"Pedangmu itu,"
Kata Ang-lian hoa.
"Setiap anak murid Tiam-jong-pay tidak mungkin menggunakan pedang begitu, lebih2 tidak nanti membuang pedangnya begitu saja. Mungkin kau lupa istilah yang dipatuhi setiap anak murid Tiam-jong, yaitu "Pedang ada orang ada, pedang hilang orang gugur."
Cia Thian-pi melenggong, serunya kemudian.
"Ah, kiranya langkah ini telah kulupakan. Wahai Ang-lian hoa, engkau memang luar biasa, pantas Cusiang kami bilang engkau ada tokoh nomor satu yang paling sulit direcoki."
"Si.. siapa Cusiang kalian?"
Tanya Ang-lian hoa dengan gregetan.
"Selamanya takkan diketahui olehmu,"
Jawab Cia Thian-pi sambil tertawa latah.
"Bilamana nanti kau tahu, saat itu pula mungkin jiwamu akan melayang. Biarpun tokoh yang beribu kali lebih kuat daripadamu juga sukar menandingi satu jari Cusiang kami."
"Hehe.. memang betul, selama beratus tahun ini di dunia Kangouw memang tiada seorangpun yang terlebih licik, licin dan keji seperti dia,"
Kata Ang-lian hoa dengan tersenyum pedih.
"Dunia Kangouw yang akan datang akan menjadi dunianya Cusiang kami,"
Teriak Cia Thianpi dengan bengis.
"Ang-lian hoa, kau adalah orang pintar, coba pikirkan baik2, apa yang akan kau lakukan?"
Ang Lian-hoa maju beberapa langkah ke arahnya dan berkata.
"Aku ingin membunuhmu. Saat ini, yang aku ingin lakukan hanyalah membunuhmu."
Cia Thian-pi berkata.
"Tugasku adalah membunuh Ji Pwe-giok, oleh karena itu aku harus membunuh Thian-kang totiang. Tetapi jangan lupa, engkau adalah komplotanku, kalau kau ingin membunuhku engkau juga harus menghukum dirimu sendiri."
Ang Lian-hoa berkata dengan menyesal.
"Itu adakah kesalahan terbesar selama hidupku. Begitu bodohnya aku mempercayaimu. Aku akan menghukum diriku sendiri kelak di kemudian hari. Tapi engkau...engkau..."
Secepat kilat Ang Lian-hoa menyerang dengan kepalan 3, 4 jurus.
tidak banyak orang di dunia persilatan yang pernah bertempur dengan Ang Lian-hoa.
Sekarang Cia Thian-pi menyadari bahwa ketua Kay-pang yang masih muda ini mempunyai jurus kepalan dan telapak tangan yang hebat.
Setiap jurusnya dilambari kekuatan tenaga dalam yang penuh.
Terlebih-lebih saat ini dia menyalurkan kemarahannya ke kepalan dan telapak tangannya.
Kekuatannya sangat menggiriskan hati orang-orang.
Ji Pwe-giok kini berteriak.
"Engkau tidak boleh membunuhnya!"
Ang Lian-hoa dan Cia Thian-pi sama-sama dikejutkan dengan teriakannya itu. Ang Lian-hoa bertanya dengan marah.
"Mengapa aku tidak boleh membunuhnya?"
Ji Pwe-giok menggunakan tangan kirinya untuk membebaskan 3 titik jalan darahnya yang tertotok dan berdiri.
Dia nampak sangat pucat dan matanya memancarkan sinar kebencian.
Pemuda yang biasanya nampak rapuh dan lembut ini kini telah berubah menjadi seorang yang beringas.
Ji Pwe-giok berkata dengan lantang.
"Bangsat licik ini tidak hanya telah membunuh ayahku, dia juga telah membunuh guruku. Hanya aku yang boleh membunuh bajingan ini!"
Ang Liang-hoa tersenyum nyengir.
"Baiklah, dia milikmu sepenuhnya."
Ji Pwe-giok merangsek ke Cia Thian-pi. Ang Lian-hoa melihat langkah kakinya tidak stabil dan gerakannya lambat, jelas pikiran dan tenaganya sangat terganggu.
"Kau masih mengawasi di samping, kenapa dia harus hati2 segala?!"
Jengek Cia Thian-pi Dengan menggertak gigi Pwe-giok berteriak pula.
"Hari ini harus kubunuh kau dengan tanganku sendiri, siapapun tidak boleh membantuku!"
Semangat Cia Thian-pi terbangkit, ia tertawa latah dan berkata.
"Bagus, jantan sejati! Ucapan seorang lelaki harus dipegang teguh!"
Sembari bicara sembari bertempur, berbareng iapun menyurut mundur, pada suatu kesempatan mendadak ia mencabut pedang yang menancap di batang pohon.
"sret"
Kontan ia menabas ke depan, ber-turut2 ia menusuk dan menabas tujuh kali.
Serangan mendadak dan secepat kilat ini jelas bukan ilmu pedang Tiam-jong-pay, tapi keganasan dan kekejiannya bahkan di atas ilmu pedang Tiam-jong.
Jilid 4________ Pwe-giok tidak gentar, ia hadapi serangan musuh dengan serangan yang sama ganasnya, ia bertempur dengan kalap, betapapun serangan kilat Cia Thian-pi menjadi terdesak oleh terjangan Pwe-giok yang nekat itu.
"Sret-sret-sret", tahu-tahu baju Pwe-giok tergores robek tiga tempat, darahpun tampak merembes keluar dari pundaknya, tapi hanya sekejap saja darah sudah lenyap diguyur air hujan. Ang Lian-hoa ikut berdebar-debar menyaksikan pertarungan sengit itu, butiran keringat memenuhi dahinya. Sudah banyak pengalaman tempurnya, tapi belum pernah ada pertarungan sengit seperti sekarang ini. Mendadak ia menemukan pemuda yang berwatak keras ini meski setiap hari tutur-katanya lembah lembut tapi dikala bertempur ternyata gagah perkasa luar biasa, sungguh pahlawan yang belum pernah dilihatnya. Setiap orangpun dapat melihat bahwa meski semangat tempur Ji Pwe-giok belum runtuh, namun apa daya, maksud ada, tenaga tak sampai. Tapi dalam keadaan demikian bilamana ada orang hendak membantunya, pemuda yang berwatak keras itu bisa jadi akan marah dan mungkin akan membunuh diri malah. Terpaksa Ang Lian-hoa hanya menghela napas saja dan diam-diam menyesal. Dilihatnya Cia Thian-pi dari menyerah sudah berubah menjadi bertahan, jelas dia sengaja hendak menguras habis dulu tenaga Pwe-giok, habis itu baru melancarkan serangan mematikan. Daya serangan Pwe-giok masih tetap dahsyat, namun belum dapat membobol pertahanan lawan, sebaliknya tubuhnya entah sudah bertambah berapa luka pula. Hujan semakin deras, angin bertambah kencang, jagat raya ini diliputi kegelapan melulu, inilah cuaca yang menyeramkan dan menyedihkan, inipun pertarungan maut yang mengerikan. Melihat Pwe-giok masih terus bertempur dengan mandi darah, sekalipun Ang Liang-hoa berhati baja juga tidak tahan mengucurkan air mata. Sekonyong-konyong langkah Pwe giok terhuyung, bagian dada jadi terbuka. Pucat wajah Ang Lian-hoa, ia menjerit kuatir. Dalam keadaan demikian, sekalipun dia ingin menolong juga tidak keburu lagi. Terlihat pedang Cia Thian-pi telah menusuk ke depan, ke dada Pwe-giok yang tak terjaga itu. Serangan cepat ganas. Remuk redam hati Ang Lian-hoa, seketika ia cuma memejamkan mata saja, ia tidak sampai hati untuk menyaksikan apa yang bakal terjadi. Sinar kilat berkelebat, tertampak wajah Cia Thian-pi yang pucat itu penuh diliputi napsu membunuh, ia menyeringai seram, ia yakin tusukannya itu pasti tidak akan meleset. Tapi cahaya kilat yang gemerdep itu telah membuat matanya ikut berkedip. Pada saat itu juga lantas terdengar suara "bluk"
Satu kali, entah dengan cara bagaimana kedua tangan Ji Pwe-giok telah dapat menjepit pedangnya.
Seketika Cia Thian-pi merasakan pedangnya terjepit oleh sesuatu, seperti terjepit oleh tanggam yang kuat dan tak dapat bergerak lagi.
Menyusul Pwe-giok lantas menggeser maju, sekali menyikut.
"brek", dengan tepat dada Cia Thian-pi kena disodok. Kontan pandangan Cia Thian-pi menjadi kabur, sakitnya tidak kepalang, pada saat itulah tangan Pwe-giok juga lantas melayang tiba.
"plok", dengan tepat mukanya kena digampar sehingga dia tergetar setengah lingkaran. Menjepit menyikut dan menggampar, tiga gerakan itu se-akan2 dikerjakan sekaligus dalam waktu sekejap. Begitu sinar kilat tadi habis berkelebat, lalu menggelegarlah bunyi guruh. Pwe-giok terus menubruk maju lagi, ia rangkul tubuh Cia Thian-pi, kedua lengannya seperti tanggam kuatnya, tulang dada Cia Thian-pi tergencet seakan-akan remuk seluruhnya, ingin bersuara saja tidak mampu. Air muka Cia Thian-pi dari pucat berubah menjadi kemerahan dan kembali pucat pula, sedangkan muka Pwe-giok juga pucat seperti mayat, kedua tangannya mengunci tubuh musuh dengan kuat, terdengar suara napas Cia Thian-pi mulai megap-megap, lalu menjadi lemah, menyusul lantas terdengar suara "gemeretak", tulang dadanya sama patah. Tidak kepalang kagum dan girang Ang-lian-hoa, baru sekarang ia sempat berseru.
"Jangan dibunuh dulu, harus kita tanyai sejelasnya."
Pelahan Pwe-giok melepaskan kedua tangannya, lalu menyurut mundur dengan sempoyongan seakan-akan roboh, ia menengadah dan tertawa, serunya.
"Akhirnya sudah kulaksanakan .... sudah kulaksanakan..."
Tubuh Cia Thian pi lantas terkulai dengan lemas dan tak bergerak lagi. Ang-lian-hoa menarik tangan Pwe giok, dengan berseri-seri ia berkata.
"Apakah jurus ini adalah kepandaian Ji-locianpwe yang pernah menggetarkan dunia Kangouw di masa lalu, yaitu jurus Leng-yang-kua-kak (kambing benggala menggaet tanduk), jurus serangan maut andalan Bu-kek-pay?"
Pwe-giok tersenyum pedih, jawabnya.
"Tapi selama hidup ayah belum pernah mencelakai orang dengan jurus serangan ini, sebaliknya sekarang Siaute ...."
Mendadak ia menunduk, butiran air pun berderai, entah air hujan, entah air mata? "Sungguh jurus serangan yang aneh dan lihay!"
Ujar Ang-lian-hoa dengan gegetun.
"Jurus serangan ini sungguh sukar dicari cirinya dan timbul dalam keadaan kepepet. Ilmu sakti kaum Cianpwe sungguh luar biasa, sekarang barulah mataku benar-benar terbuka."
Dia menepuk pundak Pwe giok, lalu berseru pula dengan tertawa.
"Kau sendiri memiliki ilmu sakti ini, mengapa tidak sejak tadi kau keluarkan sehingga membikin aku kuatir bagimu?"
"Siaute . ... Siaute ...."
Pwe-giok tidak sanggup melanjutkan, mendadak ia jatuh mendekap Ang-lian-hoa, nyata ia telah kehabisan tenaga, sampai berdiri saja tidak kuat.
Cepat Ang-lian-hoa mengeluarkan sebiji obat dan dijejalkan ke mulut Pwe-giok, katanya.
"Inilah Siau-hoan-tan Kun-lun-pay yang terkenal, khasiatnya menambah tenaga dan menimbulkan semangat, obat yang tiada bandingannya di dunia ini."
Mulut Pwe giok terasa sedap dan harum, serunya.
"Siau-hoan-tan katamu? Obat yang sukar dicari ini mengapa .... mengapa kau berikan padaku?"
Ang-lian-hoa terdiam sejenak, katanya kemudian dengan sedih.
"Obat ini bukan aku yang memberikan padamu, tapi Thian-kang Totiang . ..."
"Suhu?"
Pwe giok melengak.
"Dia..... beliau mengapa ...."
"Obat ini kukeluarkan dari bola nasi yang kau terima dari orang tua itu,"
Tutur Ang-lian-hoa dengan gegetun.
"Semula kukira di dalam bola nasi itu ada racunnya, siapa tahu ... siapa tahu ... ."
Pwe giok tertunduk muram dengan air mata bercucuran, katanya.
"Pantas beliau bilang bola nasi ini tidak dapat dimakan sembarang orang. Cia Thian-pi, kau jahanam, kau bangsat!...."
Dengan gemas ia berpaling ke sana, tapi mendadak air mukanya berubah pucat pula.
Mayat Cia Thian-pi masih terkapar di pecomberan sana, tapi kepalanya sudah tidak kelihatan lagi.
Padahal sejak tadi hujan masih turun dengan lebatnya, di sekitar sini tiada terlihat bayangan orang lain, lalu ke mana perginya kepala Cia Thian-pi?
Ang-lian-hoa dan Ji Pwe-giok saling pandang dengan bingung.
Kalau kepala Cia Thian-pi dipenggal orang, hal ini tidak mungkin terjadi.
Bila dikatakan kepalanya tidak dipotong orang, lalu apakah kepalanya dapat terbang sendiri?
Cerdik dan pandai Ang-lian-hoa, masih muda belia sudah mengetuai sebuah organisasi terbesar di dunia ini, boleh dikatakan tokoh muda yang tiada taranya di jaman sekarang, Tapi meski dia sudah peras otak, tetap sukar memecahkan teka-teki ini.
Setelah melenggong sejenak, ketika ia menunduk dan memandang lagi hanya sekejap itu bagian pundak dan dada Cia Thian-pi ternyata sudah lenyap pula.
Mendadak Ang-lian-hoa menepuk pundak Pwe-giok dan berseru.
"Aha, tahulah aku!"
"Kau tahu?"
Pwe-giok menegas.
"Coba berjongkok dan periksalah yang teliti,"
Kata Ang-lian-hoa.
Waktu Pwe-giok melongok pula ke bawah, dilihatnya mayat Cia Thian-pi itu sedikit demi sedikit telah membusuk, darah daging yang merah segar itu secara aneh berubah menjadi cairan kuning, lalu lenyap diguyur air hujan.
Pwe-giok merasa mual dan hampir saja tumpah-tumpah, cepat ia berpaling ke arah lain dan menarik napas dalam-dalam, katanya kemudian.
"Jangan-jangan inilah Hoa-kut-tan (obat pemusnah tulang) yang tersiar di dunia Kangouw itu?"
"Ya, betul,"
Jawab Ang-lian-hoa.
"Rupanya dia tahu pasti akan mati, maka dia rela melebur dirinya menjadi cairan."
"Tapi kedua tangannya sudah patah tergencet, cara bagaimana dia dapat mengambil obatnya?"
Tanya Pwe-giok pula.
"Mungkin sebelumnya Hoa-kut-tan itu sudah dikulum di dalam mulutnya, setelah menyadari akan kematiannya, kapsul obat lantas dikunyahnya. Kalau Hoa-kut-tan itu masuk darah, segera terjadi pembusukan. Ai, dia lebih suka menerima nasib demikian daripada membocorkan rahasia komplotannya, sebab dia tahu hanya orang mati saja yang benar-benar tidak dapat membocorkan lagi sesuatu rahasia.
"Tak tersangka, orang ini pun jantan sejati,"
Kata Pwe-giok.
"Salah besar jika demikian pendapatmu,"
Ujar Ang-lian-hoa dengan tersenyum getir.
"Yang benar, dia tidak berani membocorkan rahasia komplotan jahat mereka, sebab kalau sampai rahasianya diketahui orang luar, maka kematiannya akan jauh lebih mengerikan daripada sekarang ini."
"Betul, tampaknya mereka semuanya begitu, lebih baik mati daripada membocorkan rahasia mereka,"
Ujar Pwe-giok.
"Tapi siapakah sebenarnya pimpinan mereka? Mengapa dapat membuat orang-orang ini sedemikian takut padanya?.....Mati, hal ini sebenarnya cukup menakutkan setiap orang di dunia ini. Masa pimpinan mereka ini jauh lebih menakutkan daripada soal "mati" ?"
"Dia memang benar lebih menakutkan daripada mati,"
Gumam Ang-lian-hoa.
"Saat ini aku pun tak dapat membayangkan betapa menakutkannya dia itu..."
"Ah, betul,"
Seru Pwe-giok mendadak seperti menemukan sesuatu.
"sebabnya Cia Thian-pi ini bertindak nekat, jelas karena dia tahu bila orang sudah mati, maka tidak mungkin lagi dapat membocorkan sesuatu rahasia, tapi kalau dia sendiri mati toh tetap rahasianya bisa terbongkar, kalau tidak, mengapa dia mesti melebur tubuhnya sendiri hingga menjadi cairan?"
"Orang mati juga dapat membocorkan rahasia, maksudmu?"
Gumam Ang-lian-hoa sambil berkerut kening.
"Ya, orang mati terkadang juga dapat membocorkan rahasia!"
Ucap Pwe giok tegas, sekata demi sekata.
"Rahasia apa?"
Tanya Ang-lian-hoa.
"Rahasia penyamarannya!"
Jawab Pwe-giok. Ang-lian-hoa melenggong, sejenak kemudian ia menepuk jidat sendiri dan berseru.
"Aha, memang betul. Dia kuatir setelah mati mukanya dapat kita kenali, sebab inilah rahasia mereka yang terbesar."
"Justeru lantaran kuatir rahasia mereka ini bocor, maka pimpinan komplotan jahat ini menyiapkan Hoa-kut-tan bagi mereka, bila perlu, bukan jiwa mereka saja harus melayang, mayat mereka pun harus dilenyapkan!"
Seru Pwe-giok dengan menggreget dan meremas tangan Ang-lian-hoa, lalu sambungnya pula.
"Sekarang ku tahu, sedikitnya ada enam orang yang kuketahui adalah palsu di dunia ini, kecuali diriku sendiri ternyata tiada orang lain lagi yang mau percaya dan dapat melihat kepalsuan mereka. Yang mengerikan adalah, kecuali ke enam orang yang sudah kuketahui itu masih ada berapa orang pula yang dipalsukan? Inilah yang sulit diketahui dan benar-benar mengerikan."
Air muka Ang-lian-hoa juga guram seperti cuaca yang mendung ini.
Sebenarnya dia seorang tokoh yang periang, jarang ada persoalan yang dapat membuatnya sedih dan bingung.
Tapi sekarang, hatinya benar-benar tertekan dan agak cemas.
Dengan suara gemetar Pwe-giok berucap pula.
"Umpamanya kalau sanak-kadangmu, sampai ayahmu sendiri pun bisa jadi anggota komplotan jahat itu, lalu di dunia ini siapa pula yang dapat kau percayai? Dan kalau di dunia ini sudah tiada seorang pun yang dapat kau percayai, apakah engkau masib sanggup hidup terus? Bukan .... bukankah peristiwa ini tidak dapat kau bayangkan?!"
"Cia Thian-pi palsu sudah mati, sekarang tinggal siapa-siapa saja anak buah komplotan jahat itu yang palsu?"
Tanya Ang-lian-hoa dengan tenang.
"Ong Uh-lau, Lim Soh-koan, Ong Liong-ong dari Thay-oh, Sim Cin-jiang, Sebun Bu-kut dan dan orang yang mengaku she Ji itu, sebab ku tahu dengan pasti ke enam orang ini sesungguhnya sudah meninggal semua.""
Ang lian-hoa menghela napas panjang, katanya.
"Kecuali ke enam orang ini, mungkin tidak banyak lagi yang dipalsukan."
"Cara bagaimana kau berani memastikannya?"
"Sebab hal ini bukan tindakan yang mudah. Untuk memalsukan pribadi seseorang dan harus dapat mengelabui mata-telinga orang banyak, sedikitnya diperlukan waktu latihan bertahun-tahun lamanya, kalau tidak, biarpun mukanya serupa, tapi suaranya, gerak geriknya, sikapnya, tetap akan diketahui orang. Apalagi ilmu silatnya..."
"Aha, betul, ilmu silatnya!"
Seru Pwe-giok.
"Jika mereka hendak memalsukan pribadi seseorang, mereka juga harus mahir menirukan ilmu silatnya."
Habis berkata mendadak ia putar tubuh dan berlari ke sana. Namun Ang-lian-hoa keburu melompat dan menghadang di depannya, ucapnya dengan tenang.
"Leng yang-koa kak, betul tidak?"
"Betul, jurus serangan ini kecuali kami ayah dan anak, di dunia ini tiada orang lain lagi yang mampu memainkannya,"
Seru Pwe-giok.
"Jika orang yang mengaku she Ji itu tidak mampu memperlihatkan jurus serangan khas ini, maka terbuktilah kepalsuannya."
"Gagasan ini memang suatu cara yang bagus,"
Ujar Ang-lian-hoa dengan gegetun.
"Cuma sayang, perangai ayahmu membuat gagasanmu ini menjadi tiada gunanya."
"Sebab apa?"
Tanya Pwe giok.
"Kau tahu perangai yang ramah dan sabar, arif dan bijaksana, setiap orang Bu-lim tahu budi ayahmu yang luhur. Sekarang coba jawab, andaikan beliau masih hidup, adakah orang yang dapat memaksa beliau mengeluarkan ilmu simpanannya yang khas ini?"
Sampai lama Pwe-giok melenggong, akhirnya ia jatuh terduduk. ***** Disiram oleh air hujan lebat, mayat "Cia Thian-pi"
Itu sudah hilang tak berbekas lagi.
Dia telah lenyap dari muka bumi ini, tapi sesungguhnya siapa dia?
Di dunia ini sebenarnya tiada Cia Thian pi kedua, jika demikian, yang baru saja lenyap ini kan seharusnya memang tidak ada.
Berpikir demikian, Ang-lian-hoa tidak tahu harus menangis atau mesti tertawa.
Sungguh ia tidak berani memikirkannya lagi, bilamana hal-hal demikian banyak dipikir, sungguh bisa membikin gila.
Dipandangnya tempat mayat yang sudah bersih itu, gumamnya.
"Pembunuh Thian kang Totiang sudah mati, tapi kalau dibicarakan, siapakah gerangan pembunuhnya, siapa yang dapat membuktikan beradanya si pembunuh ini?"
Melihat sikap Ang-lian hoa yang cemas itu, Pwe-giok jadi merinding, katanya kemudian.
"Engkau juga tidak perlu..."
"Jangan kuatir,"
Seru Ang-lian-hoa dengan tertawa.
"meski ada maksudku akan menebus dosa tapi tidak nanti kutebus kesalahanku dengan kematian. Aku masih ingin hidup terus, tidak nanti kupenuhi kehendak mereka."
Pwe-giok merasa lega, katanya.
"Ya, kutahu engkau bukan manusia biasa, engkau memang lain daripada yang lain."
Ang-lian-hoa menengadah, membiarkan air hujan menuang ke mukanya, katanya pula dengan pelahan.
"Sekarang, ada suatu urusan mau-tak mau harus kukerjakan."
"Engkau akan pergi ke Kun-lun-san?"
Tanya Pwe-giok dengan tatapan tajam.
"Anak murid Kun-lun berhak mengetahui berita duka Thian-kang Totiang dan aku berkewajiban menyampaikan berita ini kepada mereka!"
"Tapi pekerjaan di sini juga tidak boleh di tinggal pergi olehmu,"
Ujar Pwe-giok dengan suara berat.
"Perjalanan ke Kun-lun biarlah kuwakilkan kau ke sana."
Di antara mereka tiada lagi kesungkanan, tiada tolak menolak, tiada percakapan yang tidak perlu, juga tidak ada duka-cita yang tidak perlu, lebih-lebih air mata yang tidak perlu.
Sebab keduanya sama-sama lelaki sejati, sama-sama jantan perkasa.
Keduanya berdiri berhadapan di bawah curahan hujan.
"Baiklah, pergilah kau,"
Kata Ang lian-hoa kemudian.
"Tapi kau harus hati-hati, urusan yang tidak perlu ikut campur hendaklah jangan ikut campur. Jangan lupa, jiwamu sekarang jauh lebih bernilai daripada jiwa orang lain."
"Kutahu,"
Jawab Pwe-giok singkat. Dilihatnya pedang tadi, dijemputnya dan disisipkan pada ikat pinggang, bisa jadi di tengah jalan pedang itu akan berguna. Tiba-tiba Ang-lian-hoa tertawa dan berkata pula.
"Ah, lupa kuberitahukan sesuatu padamu."
"Urusan apa?"
Tanya Pwe-giok dengan nada was-was.
"Urusan baik"
Kata Ang lian-hoa "Tentang bakal istrimu, Lim Tay-Ih, kau tidak perlu berkuatir lagi baginya."
Entah mengapa, bila menyebut nama Lim Tay-ih, seketika sikap Ang Lian-hoa berubah kikuk, biarpun tertawa juga tertawa setengah dipaksakan.
Dengan sendirinya Pwe-giok tidak memperhatikan sikap orang, ia bertanya.
"Sebab apa? Adakah dia...."
"Saat ini dia telah berada di bawah lindungan seorang tokoh yang paling sulit direcoki di seluruh dunia ini."
"Ya, di bawah perlindungan Ang lian pangcu, memangnya apa yang perlu kukuatirkan lagi?"
Sikap Ang Lian-hoa berubah pula, tapi segera ia berkata dengan tertawa.
"Kau jangan salah tampa, bukan diriku."
"Orang yang paling sulit direcoki di dunia ini siapa lagi kalau bukan dirimu? Apa Jut-tun Totiang?"
"Nama orang ini mungkin tidak lebih terkenal daripada Jut-tun Totiang, tapi orang lain andaikan berani merecoki Jut-tun Totiang tentu juga tidak berani mengusik orang ini."
"Aha, bunga paling cantik ialah Hay-hong"
Seru Pwe-giok. Ang lian-hoa berkeplok, katanya.
"Betul, memang dia. Agaknya iapun melihat sesuatu yang tidak beres, maka iapun ikut campur. Kalau dia sudah menangani sesuatu urusan, tidak nanti ditinggalkannya setengah jalan."
"Wah, tampaknya persoalannya tidak sederhana sebagaimana kita sangka, masih banyak orang lagi yang...."
"Wah, celaka! Aku melupakan sesuatu lagi!"
Teriak Ang Lian-hoa mendadak.
"He, urusan baik atau buruk?"
Tanya Pwe-giok.
"Cia Thian-pi palsu muncul di sini, jangan-jangan Cia Thian-pi yang tulen telah mengalami nasib buruk, harus lekas ku pergi menjenguknya!"
Belum habis ucapannya tahu-tahu Ang Lian-hoa sudah melayang pergi secepat terbang.
Memandangi kepergian ketua kaum jembel yang muda dan perkasa itu, Pwe-giok menghela napas panjang, ya kagum, ya terharu, ya berduka.....
***** Hujan sudah mereda, tapi belum berhenti, masih gerimis.
Anginpun masih meniup, bahkan tambah dingin.
Dengan langkah berat Pwe giok meneruskan perjalanan, hari depannya terasa guram, sama seperti cuaca yang kelam sekarang ini, sekonyong-konyong terdengar derapan kuda lari yang riuh.
Tujuh atau delapan penunggang kuda membedal lewat, air jalanan yang kotor menciprati tubuh Ji Pwe giok.
Namun pemuda itu sama sekali tidak perduli, mengangkat kepala saja tidak.
Tak terduga, baru saja barisan pemuda itu lewat seseorang mendadak melayang balik dari kudanya dan menubruk ke arah Pwe-giok.
Dengan terkejut Pwe-giok menyurut mundur dan orang itupun turun di depannya.
Dilihatnya orang ini berpakaian hitam ketat dan basah kuyup oleh air hujan.
Sorot matanya tajam, jelas dikenalnya sebagai pemuda anggota Tiam-jong-pay itu.
Tergerak hati Pwe-giok teringat olehnya ucapan Ang-lian-hoa tadi, tanpa terasa ia berkata.
"Jangan-jangan... jangan-jangan terjadi sesuatu atas diri Cia-tayhiap"
Murid Tiam-jong-pay itu sebenarnya sedang memberi hormat, demi mendengar ucapan Pwegiok itu, mendadak ia mengangkat kepalanya dan bertanya.
"Darimana Ji-kongcu mendapat tahu?"
"0, aku....aku...."
Pwe giok menjadi gelagapan dan tak dapat menjawab. Murid Tiam-jong-pay itu menarik muka, katanya dengan suara bengis.
"Waktu melihat Jikongcu, sebenarnya Tecu hendak menyampaikan berita duka, tak tersangka Ji-kongcu ternyata sudah tahu lebih dulu, bukankah sangat aneh?"
"Ah, Cayhe cuma omong iseng saja,"
Ujar Pwe-giok dengan tersenyum kecut. Murid Tiam-jong-pay itu menjengek.
"Semalam Ciangbunjin kami baru lenyap dan hingga kini belum diketahui jejaknya, kejadian inipun baru dilaporkan kepada Jut-tun Totiang dan Thian-in Taysu pada siang tadi, sedangkan Ji-kongcu sudah berangkat pagi-pagi, darimanakah engkau mendapat tahu malah?"
Nadanya ternyata tajam dan mendesak, seakan-akan menganggap Ji Pwe-giok ada sangkutpautnya dengan persoalan ini.
Beberapa penunggang kuda tadi juga sudah putar balik, mereka sama melototi Pwe-giok dengan pandangan sangsi dan benci.
Pwe-giok menghela napas, katanya kemudian.
"Bisa jadi, Cia-taihiap hanya keluar untuk berjalan-jalan saja. mungkin pula bertemu dengan sahabat dan diajak pergi. Dengan ilmu silat Cia-tayhiap yang tinggi, kuyakin beliau sanggup menjaga dirinya sendiri."
Murid Tiam-jong-pay tadi berkata pula.
"Setiap anak murid Tiam-jong, pedang ada orang ada, pedang hilang orang gugur. Istilah ini tentu Ji-kongcu pernah mendengarnya. Tapi pagi tadi kami justeru menemukan pedang Ciangbunjin terjatuh di semak-semak rumput di luar kemah, apabila tiada kejadian yang luar biasa, rasanya tidak mungkin Ciangbunjin bertindak seceroboh itu dengan meninggalkan pedangnya di sembarang tempat."
"Kupikir ini....... ini......"
Pwe-giok jadi gelagapan, mendadak ia merasakan banyak rahasia yang diketahuinya ternyata sukar diuraikan.
Andaikan diceritakan juga orang lain takkan percaya.
Mendadak salah seorang penunggang kuda itu menegur.
"Saat ini mengapa Ji kongcu berada sendirian? Ke mana perginya Thian-kang Totiang?"
Seorang lagi ikut berteriak bengis.
"Mengapa keadaan Ji-kongcu juga serba kumal begini? Jangan-jangan habis bergebrak dengan orang?"
"Di sekitar sini tiada nampak seorang lain, dengan siapakah Ji-kongcu bertempur?"
Tanya pula seorang lain.
Pertanyaan anak murid Tiam jong-pay itu tiada satu pun dapat dijawab Pwe-giok, betapapun dia tidak dapat menerangkan bahwa Thian-kang Totiang dibunuh oleh "Cia Thian-pi", ia pun tak bisa mengatakan bahwa "Cia Thian-pi"
Itu palsu, sebab "Cia Thian-pi"
Itu itu sudah musnah, dengan sendirinya tiada terdapat lagi seorang "Cia Thian-pi". Dengan meraba pedangnya murid Tiam jong pay itu bertanya pula dengan gusar;
"Mengapa Ji-kongcu tidak bicara?"
"Bila kalian menyangsikan hilangnya Cia-tayhiap ada sangkut-pautnya dengan diriku, maka hal ini sungguh lucu, apalagi yang dapat kukatakan?"
Air muka murid Tiam jong itu berubah lebih ramah, katanya.
"Jika demikian, sebelum urusan ini menjadi jelas, sebaiknya Ji-kongcu ikut kami pulang dulu, sebab mungkin ada urusan lain yang tak dapat Ji-kongcu katakan kepada kami, tapi kepada Bengcu tentu dapat engkau beberkan sejelas-jelasnya."
"Tidak, aku tidak boleh kembali ke sana,"
Jawab Pwe giok tegas.
"Mengapa tidak boleh?"
Bentak para murid Tiam-jong-pay itu.
"Jika tidak berbuat sesuatu kesalahan, mengapa tidak berani kembali ke sana?"
Demikian mereka berteriak-teriak sambil melompat turun dari kuda masing-masing, semuanya melolos pedang dan siap tempur. Murid Tiam-jong-pay yang menjadi kepala rombongan itu membentak;
"Ji Pwe-giok, apa pun juga alasanmu, kau harus ikut pulang ke sana bersama kami!"
Butiran keringat yang memenuhi dahi Pwe-giok itu berderai ke bawah diguyur oleh air hujan, tangan dan kakinya terasa dingin. Belum lagi dia menjawab, mendadak dari kejauhan ada seorang menjengek.
"Ji Pwe giok, kau tidak perlu kembali ke sana!"
Tujuh atau delapan Tojin berbakiak dan membawa payung tampak berlari datang di bawah hujan. Jelas mereka adalah murid Kun lun pay. Murid Tiam-jong-pay tadi menanggapi dengan suara keren.
"Meski orang ini terhitung murid Kun-lun-pay, tapi dia tetap harus ikut kembali ke sana bersama kami. Selamanya Tiam jong dan Kun-lun bersahabat, tapi persoalan ini menyangkut mati-hidup Ciangbunjin kami, maka hendaklah para Toheng tidak marah kepada sikapku yang kurang sopan ini."
Air muka para Tojin Kun-lun-pay tampak jauh lebih kelam dan menakutkan daripada murid Tiam-jong-pay, Tojin yang menjadi kepala rombongan berwajah putih dengan jenggot yang jarang-jarang, dengan sorot mata yang tajam ia tatap Pwe giok, katanya.
"Tidak perlu kau kembali ke sana, bahkan tidak perlu lagi ke mana-mana."
Pwe-giok menyurut mundur, murid Tiam jong-pay tadipun heran, tanyanya.
"Apa artinya ucapanmu ini?"
Pek-bin Tojin atau si Tojin bermuka putih tersenyum pedih, katanya.
"Meski jejak Ciangbunjin kalian tidak diketahui ke mana perginya tapi Ciangbunjin kami justeru... justeru...."
Mendadak "krek", payung jatuh ke tanah, batang payung telah diremasnya hingga hancur. Murid Tiam-jong-pay terkejut, serunya;
"Apakah... apakah.... Thian-kang Totiang telah.... telah wafat..."
"Guru kami telah disergap orang, telah meninggal tertikam pedang dari belakang,"
Seru Pekbin Tojin dengan suara parau. Terperanjat anak murid Tiam-jong-pay itu, katanya;
"Kungfu Thian-kang Totiang luar-dalam sudah terlatih sempurna, daun jatuh dalam jarak beberapa tombak saja tak dapat mengelabui beliau, sungguh kami tak percaya bahwa beliau kena disergap orang."
Dengan menggereget Pek-bin Tojin menjawab.
"Orang yang menyergapnya dengan sendirinya adalah orang yang berhubungan sangat rapat dengan beliau, seorang yang tidak pernah dicurigai beliau, sebab beliau tidak percaya bahwa orang ini ternyata manusia yang berhati binatang."
Belum habis ucapannya, berpasang-pasang mata yang beringas sudah melototi Ji Pwe giok, semuanya penuh rasa gemas dan dendam. Dengan suara serak Pek Bin Tojin lantas membentak.
"Nah, Ji Pwe Giok, cara bagaimana meninggalnya Suhu, lekas katakan, lekas!"
"Suhu.... beliau...."
Seluruh tubuh Pwe Giok bergemetar sehingga tidak sanggup melanjutkan.
"Beliau mati di tanganmu bukan?"
Bentak Pek Bin Tojin pula dengan murka. Mendadak Pwe Giok mendekap mukanya dan berteriak dengan parau.
"Tidak, aku tidak... matipun aku takkan menyentuh satu jari beliau ..."
"Creng", belum habis ucapannya, tahu-tahu pedang yang terselip di pinggangnya itu telah dilolos orang. Tangan Pek Bin Tojin memegang pedang rampasan itu, ujung pedang bergetar dan mengarah ke dada Ji Pwe Giok. Sorot matanya yang merah membara itu menatap anak muda itu, tanyanya pula dengan beringas.
"Katakan, inikah senjata yang kau gunakan untuk membunuh guru?"
Pedang ini memang betul adalah senjata yang digunakan membunuh Thian Kang Totiang itu, cuma pemilik pedang ini sudah tiada terdapat lagi di dunia ini.
Tapi pedang ini sekarang berada pada Ji Pwe Giok.
Lalu apa yang dapat dikatakannya.
Hancur perasaan Pwe Giok, setindak demi setindak ia menyurut mundur.
Ujung pedang juga mendesak maju setindak demi setindak, meski tajam ujung pedang itu, tapi sorot mata orang-orang itu rasanya berlipat kali lebih tajam daripada tajam pedang manapun.
Mendadak Pwe Giok menjatuhkan diri ke tanah, sambil berlutut ia menengadah, air mata bercucuran, ia berteriak kalap.
"O, Thian! Mengapa engkau memperlakukan diriku sedemikian kejam? Apakah aku memang harus mati?"
"Trang", mendadak pedang itu dilemparkan Pek Bin Tojin ke depannya, lalu Tojin itu berkata tegas.
"Hanya ada satu jalan bagimu dan inipun jalan yang paling baik bagimu!"
Betul, memang cuma inilah jalan satu-satunya bagi Pwe Giok.
Sebab segala persoalan tiada mungkin dibeberkan dan dijelaskan olehnya.
Fitnah yang ditanggungnya tiada satupun yang betul, tapi semuanya itu seakan-akan lebih betul daripada yang "betul", sedangkan yang "betul"
Justru tak dipercaya oleh siapapun.
Kini satu-satunya orang yang dapat menjadi saksi baginya hanya Ang-lian-hoa saja.
Tapi apakah Ang-lian-hoa dapat membuat semua orang mau percaya padanya?
Dengan bukti apa pula Ang-lian-hoa akan membelanya?
Dalam keadaan biasa sudah tentu setiap kata Ang lian-pangcu sangat berbobot, betapapun anak murid Kun-lun dan Tiam-jong pasti percaya padanya.
Tapi sekarang persoalannya menyangkut mati-hidup ketua mereka, menyangkut pula segala kemungkinan yang terjadi pada kedua perguruan itu, bahkan menyangkut nasib dunia persilatan umumnya.
Cara bagaimana mereka dapat mempercayai perkataan orang lain, sekalipun orang ini adalah Ang lian-hoa yang disegani dan dihormati?
Setelah dipikir lagi, Pwe-giok jemput pedang itu, dia memang tiada pilihan lain, sekali pun ....
Mendadak ia meraung murka, pedang diputar kencang, dia terus menerjang ke depan.
Sudah tentu anak murid Kun-lun dan Tiam-jong sama berteriak kaget, keadaan menjadi kacau.
Tapi mereka tidak malu sebagai anak murid perguruan ternama, di tengah kekacauan ada sebagian sempat melolos pedang dan menyerang.
Terdengar suara "trang tring"
Beberapa kali, beberapa pedang sama tergetar mencelat, Pwegiok telah melampiaskan rasa gemas dan penasaran pada pedang itu, sekali pedangnya berputar, sukarlah bagi lawan untuk menangkis.
Sungguh anak murid Tiam jong dan Kun-lun tidak menyangka anak muda ini memiliki tenaga sakti sehebat ini.
Di tengah kaget dan raung gusar orang banyak, seperti kucing gesitnya Pwegiok berhasil menerobos keluar kepungan.
Hanya beberapa kali lompatan saja, dengan Ginkangnya yang tinggi, di bawah hujan serta berkelebatnya kilat, dalam sekejap saja ia sudah melayang berpuluh tombak jauhnya.
Ia terus berlari seperti kesetanan, ia melupakan segalanya, yang dipikir hanya lari dan lari terus.
Ia tidak takut mati, tapi ia tidak boleh mati dengan menanggung penasaran.
Suara bentakan orang banyak masih terdengar di belakang, suara pengejar itu seperti bunyi cambuk yang memaksanya harus lari terlebih cepat.
Ia pun mengerahkan segenap tenaganya untuk lari di bawah hujan, air hujan berjatuhan di tubuh dan di mukanya seperti batu kerikil yang menimbulkan sakit pedas, namun semua itu tak dihiraukan lagi.
Suara bentakan orang akhirnya tak terdengar lagi, tapi langkah Pwe-giok tidak pernah berhenti, hanya sudah mulai kendur, makin lama makin lambat, ia masih terus lari dan lari lagi, mendadak ia jatuh tersungkur.
Sekuatnya ia meronta bangun, ia terjatuh lagi, pandangannya mulai kabur, hujan lebat berubah seperti kabut baginya, ia kucek-kucek matanya, tetap tidak jelas pandangannya.
Tiba-tiba ada suara roda kereta di kejauhan dan juga suara kaki kuda.
Darimana datangnya kereta kuda itu?"
Dalam keadaan samar-samar ia seperti melihat sebuah kereta sedang berlari kemari, ia meronta dan berusaha menghindar, tapi ia jatuh lagi, sekali ini ia tidak sanggup bangun pula, ia jatuh pingsan.
***** Cuaca tambah kelam.
Terdengar suara roda kereta yang gemeretak disertai suara kuda meringkik pelahan Pwe-giok sudah siuman, ia mendapatkan dirinya sudah berada di dalam kereta.
Terdengar rintik hujan memukul kabin kereta laksana derap kuda berpacu di medan tempur, seperti genderang bertalu-talu menggebu, suara yang mendebarkan jantung.
Ia menjadi ragu, jangan-jangan dirinya terjatuh dalam cengkeraman musuh?
Ia meronta bangun, cuaca sudah kelam, di dalam kereta menjadi tambah gelap.
Ada sebuah lentera bergantung di kabin dan bergoyang-goyang mengikuti guncangan kereta, tapi lentera itu tidak dinyalakan.
Seputar kabin kereta penuh tertumpuk sapu, pengki, gentong, tampah dan sebangsanya.
Pwe-giok coba menyingkap terpal kereta dan mengintip ke depan, terlihat di bagian kusir berduduk seorang tua bermantel ijuk dan bertopi caping, meski tidak jelas mukanya, tapi kelihatan jenggotnya yang sudah ubanan bergerak-gerak di bawah hujan angin itu.
Jelas seorang tua yang miskin dan sederhana secara kebetulan menemukan seorang pemuda yang jatuh pingsan di tengah jalan serta menolongnya.
Tanpa terasa Pwe-giok menghela napas panjang.
"Apakah kau sudah siuman, Ji Pwe-giok?"
Tiba-tiba terdengar orang tua di luar itu menegur dengan tertawa. Pwe-giok terkejut, cepat ia bertanya.
"Dar ....darimana kau tahu namaku?"
Kakek itu menoleh, katanya dengan menyipitkan mata;
"Tadi kudengar di sekitar sana ada orang berteriak-teriak dan membentak-bentak,"
Katanya.
"Ji Pwe-giok, kau tak dapat lolos."
"Kukira Ji Pwe-giok yang dimaksudkan itu pasti kau, tapi akhirnya kau kan lolos juga!"
Wajah si kakek penuh keriput, suatu tanda sudah kenyang asam-garam kehidupan manusia, setiap garis keriputnya itu, seakan-akan melambangkan suatu masa penderitaan di waktu yang lalu.
Sinar matanya yang penuh mengandung kecerdasan pengalaman hidup itu juga diliputi perasaan welas asih dan suka ria.
Pwe-giok menunduk, ucapnya dengan tersendat.
"Terima kasih atas pertolongan Lotiang (bapak)."
"Jangan kau berterima kasih padaku,"
Ujar kakek itu dengan tertawa.
"Ku tolong kau adalah karena kulihat kau tidak mirip orang jahat. Kalau tidak, mustahil tidak kuserahkan dirimu kepada mereka."
Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum pedih.
"Sudah sekian lamanya, mungkin Lotiang inilah orang pertama yang bilang aku bukan orang jahat!"
"Hahaaha!"
Kakek itu tergelak.
"Biasa, orang muda kalau mengalami sedikit kesusahan lantas suka mengomel. Biarlah nanti kalau sudah sampai di gubuk kakek, setelah minum semangkuk dua mangkuk, tanggung semua rasa penasaranmu akan lenyap."
"Tarrr", ia ayun cambuknya dan melarikan keretanya terlebih cepat. Menjelang petang, hujan masih rintik-rintik. Kereta memasuki sebuah jalan kecil yang tiada orang berlalu-lalang. Kakek yang miskin ini mungkin tinggal sendirian di rumah gubuknya. Tapi bagi Pwe-giok hal ini sangat kebetulan malah. Ia lantas berbaring di dalam kereta dan membayangkan dinding gubuk si kakek yang sudah berlubang-lubang dan pembaringannya yang penuh daki serta tuak kampung yang menusuk tenggorokan itu. Ia merasa dirinya sekarang bolehlah tidur dengan tenteram. Tiba-tiba terdengar kakek itu bergumam.
"Wahai kudaku sayang, larilah yang cepat, sudah dekat rumah kita, kau kenal jalan tidak?"
Pwe-giok tidak tahan, ia merangkak bangun pula dan menyingkap terpal untuk mengintip keluar.
Dilihatnya di depan adalah jalan berbatu yang bersih terguyur air hujan.
Di ujung jalan sana adalah sebuah gedung yang mentereng dengan cahaya lampu yang gemilang.
Dipandang pada petang yang hujan ini tampaknya tiada ubahnya seperti sebuah istana kaum bangsawan.
Pwe-giok terkejut, tanyanya dengan ragu-ragu;
"Apakah ini ... ini rumah Lotiang?"
"Betul,"
Jawab si kakek tanpa menoleh.
Pwe-giok membuka mulut, tapi segera ditelannya kembali kata-kata yang hendak diucapkannya.
Dalam hati sungguh penuh rasa heran dan sangsi.
Jangan-jangan kakek miskin ini adalah samaran seorang hartawan?
Jangan-jangan dia seorang pembesar yang telah pensiun?
Atau mungkin juga seorang bandit yang sengaja menutupi gerak-geriknya dengan menyamar sebagai kakek rudin?
Apa maksud tujuannya membawa pulang Ji Pwe giok?
Terlihat di luar pintu gerbang yang besar berwarna ungu itu terdapat dua ekor singa batu, di pinggir pagar bambu sana tertambat beberapa ekor kuda bagus, beberapa lelaki tegap dengan bergolok dan pakaian ringkas sedang menurunkan pelana kuda.
Siapa yang datang menumpang kuda-kuda itu?
Meski pertanyaan ini belum dapat segera dijawab, tapi kakek ini adalah seorang tokoh Bulim, hal ini jelas tidak perlu disangsikan lagi.
Padahal setiap orang Bulim sekarang, siapakah yang tidak memusuhi Ji Pwe-giok?!
Tangan dan kaki Pwe-giok terasa dingin, lebih celaka lagi sekujur badan terasa lemas lunglai, ingin kabur pun tidak dapat.
Apalagi, seumpama dia dapat lari kinipun sudah terlambat.
Sebab kereta itu telah masuk ke dalam perkampungan itu.
Pwe-giok menutup kembali terpal kereta, hanya tersisa sela-sela kecil untuk mengintip.
Mendadak terlihat dua sosok bayangan orang melayang kemari, orang di sebelah kiri dikenalnya sebagai si Pek-bin Tojin dari Kun-lun-pay itu.
Tidak kepalang kejut Pwe-giok, tanganpun agak gemetar.
Pek-bin Tojin itu menghadang di depan kereta dan menegur;
"Dalam perjalanan pulang ini, apakah Lotiang melihat seorang pemuda?"
"Terlalu banyak pemuda yang kulihat, entah yang mana yang kau maksudkan?"
Jawab si kakek dengan tertawa.
"Dia berbaju panjang warna hijau, cukup gagah dan ganteng, cuma keadaannya agak runyam,"
Tutur Pek-bin Tojin.
"Aha, kalau pemuda begini memang ada kulihat,"
Seru si kakek.
"Di mana dia?"
Tanya Pek-bin Tojin cepat.
"Bukan saja kulihat, bahkan telah kutangkap dia ke sini,"
Ujar si kakek sambil tertawa. Tidak kepalang cemas Pwe-giok, hampir saja ia jatuh kelengar. Dengan tajam Pek bin Tojin menatap si kakek, katanya dengan tegas;
"Biarpun pemuda itu dalam keadaan runyam, meski dia sudah payah untuk kabur, kalau dirimu saja jelas tidak mampu menangkapnya pulang. Hendaklah Lotiang ingat selanjutnya, Pek-ho Tojin dari Kunlun pay biasanya tidak suka berkelakar!"
Habis berkata mendadak ia membalik tubuh dan melangkah kembali ke sana. Si kakek menghela napas, ucapnya.
"Jika sudah jelas kau tahu aku tidak mampu menangkapnya, untuk apa kau tanya pada diriku?"
Dia tarik lagi tali kendalinya dan menghalau keretanya ke suatu gang kecil, terdengar ia bergumam sendirian.
"Wahai anak muda, sekarang tentunya kau tahu, semakin cerdik seseorang, semakin mudah pula ditipu. Soalnya hanya dengan cara apa akan kau tipu dia."
Dengan sendirinya ucapan ini sengaja diperdengarkan kepada Ji Pwe-giok, cuma sayang Pwegiok tidak dapat mendengarnya.
Waktu Pwe-giok sudah dapat mendengar, sementara itu tahutahu ia sudah berada di dalam rumah si kakek.
Rumah ini memang betul sudah reyot, dinding sekelilingnya sudah banyak yang rontok dan kotor di atas meja ada sebuah poci yang telah patah corongnya serta dua mangkuk butut, selain itu ada pula sedikit sisa kacang goreng.
Sebuah lampu minyak dengan cahayanya yang guram tampak bergoyang-tertiup angin seolah-olah melambangkan kehidupan si kakek.
Di belakang pintu menyantel sehelai selimut lusuh, dari sela-sela pintu air hujan tampak merembes masuk dan mengalir ke kaki tempat tidur yang terbuat dari bambu.
Di tempat tidur inilah sekarang Pwe-giok berbaring.
Bajunya yang basah sudah ditanggalkan, meski sekarang badannya ditutup dengan sehelai selimut, tapi rasanya masih menggigil.
Si kakek tidak kelihatan berada di dalam rumah, sekuat tenaga Pwe giok meronta turun dari tempat tidur, dengan selimut membungkus tubuh ia mendekati jendela, jendela terbuat dari papan kayu, ia mengintip keluar melalui celah-celah papan.
Di luar ternyata adalah sebuah taman yang sangat luas.
Gelap gulita taman itu, meski di kejauhan ada berkerlipnya cahaya lampu, tapi sinarnya tidak dapat mencapai ke sini, pepohonan yang gelap di bawah hujan tampaknya seperti bayangan setan yang bergerak-gerak.
Pwe-giok merinding, diam-diam ia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Sesungguhnya tempat apakah ini? Apa yang telah terjadi dengan diriku?"
Tiba-tiba terlihat setitik sinar lampu melayang ke sana di tengah bayangan pohon, seperti api setan.
Kaki Pwe-giok menjadi lemas, ia berdiri bersandar pada ambang jendela.
Di tengah kegelapan sayup-sayup terdengar suara nyanyian yang lembut.
Mana ada malam purnama di tengah kehidupan ini, kecuali dicari di dalam mimpi.
Katamu kau pernah melihat senyuman dewi, adakah itu di dalam mimpi atau nyata?
Suara nyanyian itu hanya sayup-sayup hampir tak terdengar, membawa semacam perasaan yang hampa, duka dan misterius yang sukar dilukiskan, adakah ini nyanyian orang, bukankah lebih tepat dikatakan rintihan arwah halus?
Api setan dan suara nyanyian itu semakin dekat, sesosok bayangan putih remang-remang muncul dengan tangan membawa sebuah lampu kristal yang kecil mungil, melayang tiba di bawah hujan.
Bentuk bayangan ini sedemikian ramping, baju yang basah kuyup melekat pada tubuhnya, rambut yang panjang terurai juga lengket di atas pundaknya, sinar lampu terpancar menyinari mukanya.
Wajahnya putih pucat pasi, cahaya lampu juga menyinari matanya, sorot mata yang kelihatan hampa dan bingung, tapi juga sangat cantik.
Kehampaan ditambah cantik menimbulkan semacam perasaan yang sukar diucapkan.
Pwe-giok menjadi lemas dan tak dapat bergerak menghadapi taman yang luas dan seram itu dengan bayangan yang menyerupai badan halus ....Sekonyong-konyong pintu berkeriut dan terbuka, dengan kaget Pwe-giok berpaling, dilihatnya si kakek dengan mantel ijuk dan bercaping entah sejak kapan sudah berada di situ.
Pwe-giok menubruk maju dan memegang bahunya sambil berseru.
"Sia .... siapa itu di luar?"
Si kakek tersenyum jawabnya.
"Mana ada orang di luar?"
Sudah tentu Pwe-giok tidak percaya, ia membuka pintu dan melongok keluar, di luar hanya taman yang luas dan gelap, mana ada bayangan orang segala?
Si kakek kelihatan tersenyum-senyum, seperti mengejek dan juga merasa kasihan.
Pwe-giok mencengkeram leher bajunya dan berseru dengan suara gemetar.
"Sesungguhnya tempat .... tempat apakah ini? Siapa kau sesungguhnya?"
"Siapa? Kan cuma seorang kakek yang telah menyelamatkan kau,"
Jawab si kakek dengan tenang. Pwe giok jadi melenggong dan melepaskan cengkeramannya, ia menyurut mundur dan jatuh berduduk di atas kursi bambu, baru sekarang keringat dinginnya menetes.
"Kau lelah, kau terlalu lelah,"
Kata si kakek.
"Janganlah berpikir yang bukan-bukan, istirahatlah."
Sambil memegangi sandaran kursi bambu Pwe-giok berseru pula.
"Tapi. ... tapi jelas-jelas kulihat........."
"Kau tidak melihat apa-apa, bukan? Ya, apapun tidak kau lihat......
"si kakek memandangnya lekat-lekat. Tiba-tiba Pwe-giok merasa sorot mata si kakek ada semacam kekuatan yang sukar dilawan, tanpa terasa ia menunduk, ia tersenyum pedih, katanya.
"Ya, aku memang tidak melihat apapun."
"Memang begitulah,"
Ujar si kakek dengan tertawa.
"semakin sedikit yang kau lihat, semakin sedikit pula rasa kesalmu."
Lalu dia menaruh sebuah kuali kecil di atas meja di depan Pwe giok, katanya;
"Sekarang boleh minumlah kuah pedas ini dan tidurlah baik-baik. Besok, tentulah hari yang tidak sama, entah betapa bedanya besok dengan hari ini?"
"Ya, apapun juga, hari ini pun sudah lalu....."
Ucap Pwe-giok dengan tersenyum pedih.
***** Dalam mimpinya, Pwe-giok merasa bumi ini makin lama makin gelap, tubuhnya seakan-akan terhimpit oleh bumi raya yang gelap ini, ia berkeringat?
ia meronta, mengerang..............Selimut serasa sudah basah, tempat tidur bambu itu berbunyi keriatkeriut!
Sekonyong-konyong ia membuka mata di bawah cahaya pelita yang guram dilihatnya sepasang tangan!
Sepasang tangan yang putih mulus!
Kedua tangan ini sedang menggeser ke lehernya, seakan-akan hendak mencekiknya.
"Sia.................siapa kau?"
Jerit Pwe-giok saking kaget dan takutnya.
Di bawah sinar lampu yang guram, dilihatnya seraut wajah yang pucat dengan rambut yang panjang serta sepasang mata yang indah dengan pandangannya yang rawan.
Ketika rambut yang panjang itu tersebar, bayangan putih itupun melayang pergi seperti angin, tahu-tahu lantas lenyap dalam kegelapan.
Bukankah itu badan halus yang dilihatnya di bawah hujan itu?
Cepat Pwe-giok melompat bangun, ia meraba leher sendiri dengan napas terengah-engah.
Sesungguhnya bayangan tadi manusia atau setan?
Apakah dirinya hendak dibunuhnya tadi?
Tapi sebab apa orang hendak membunuhnya?
Si kakek tidak diketahui ke mana perginya dan celah-celah papan jendela terlihat cuaca sudah remang-remang, fajar sudah menyingsing.
Daun pintu kelihatan masih bergoyang-goyang.
Sesungguhnya bayangan tadi manusia atau setan?
Jika benar hendak membunuhnya tentu sudah dilakukannya sejak tadi.
Kalau tiada maksud jahat, mengapa dia menyusup datang seperti badan halus dan melayang pergi pula seperti arwah gentayangan?
Jantung Pwe-giok berdebar keras, di tepi tempat tidurnya ada seperangkat baju bekas, tanpa pikir dipakainya dengan tergesa-gesa, lalu ia berlari keluar.
Kabut pagi masih menyelimuti halaman taman yang sunyi senyap ini.
Hujan sudah berhenti, cuaca remang-remang, lembab, sejuk dan rada-rada menggigilkan.
Remang-remang kabut membuat taman yang sunyi ini menimbulkan semacam keindahan yang misterius.
Diam-diam Pwe-giok menyusuri jalan berbatu itu, langkahnya sangat perlahan, seakan-akan kuatir memecahkan kesunyian bumi raya ini.
Tiba-tiba didengarnya suara kicau burung, semula suara seekor dengan bunyi yang merdu dari pucuk pohon sini terus berpindah ke pucuk pohon sana.
Menyusul suara lain lantas berbangkit, lalu seluruh taman seolah-olah pecah suara burung berkicau dengan nyaringnya.
Pada saat inilah kembali Pwe-giok melihat si "dia"
Lagi.
Dia masih mengenakan jubah panjang warna putih dan berdiri di bawah pohon yang sana.
Dia sedang menengadah dan memandangi pucuk pohon, rambutnya mengkilap, jubah putih dan rambut panjangnya berkibaran tertiup angin, di tengah remang kabut pagi ini dia bukan lagi badan halus, tapi serupa dewi kahyangan.
Dengan langkah lebar Pwe-giok mendekatinya, ia kuatir orang akan menghilang pula seperti badan halus.
Namun si dia masih menengadah tanpa bergerak sedikit pun.
Sesudah dekat, dengan suara keras Pwe-giok menegur;
"He, kau......."
Baru sekarang si dia memandang Pwe giok sekejap sorot matanya yang indah itu penuh rasa bingung seperti orang kehilangan ingatan.
Sementara itu kabut sudah mulai hilang, sinar sang surya sudah mulai mengintip di ufuk timur, butiran air hujan atau embun laksana mutiara menghias dedaunan.
Mendadak Pwe-giok merasa si dia ini bukan si "dia".
Meski si dia ini juga berjubah putih dan berambut panjang, juga bermuka pucat, juga bermata indah, tapi cantiknya terlalu bersahaja.
Dari gemerdep matanya dapat terlihat betapa suci murninya, betapa gemilang dan betapa tenangnya.
Sedangkan si "dia"
Yang dilihatnya semalam itu jelas sangat misterius dan juga sangat rumit, bahkan mengandung semacam hawa yang aneh dan sukar untuk dipahami. Cepat Pwe giok berkata pula dengan menyesal;
"O, maaf aku salah lihat."
Ia pandang Pwe-giok dengan tenang, mendadak ia membalik tubuh dan kabur seringan burung. Tanpa terasa Pwe-giok berseru.
"Nanti dulu, nona! Apakah engkau juga penghuni perkampungan ini?"
Nona itu sempat menoleh dan tertawa kepada Pwe-giok, tertawa yang cantik, tapi juga mengandung rasa hampa dan linglung yang sukar dilukiskan.
Habis itu lenyaplah dia di tengah kabut.
Sampai lama Pwe giok termenung, ia ingin membalik ke arah datangnya tadi, tapi langkah kakinya justeru menggeser ke depan, jalan punya jalan, tiba-tiba ia merasa ada sepasang mata sedang mengintainya di balik pohon sana.
Mata yang begitu jernih, begitu bening.
Pelahanlahan Pwe-giok menghentikan langkahnya dan berdiri tenang di situ, sedapatnya ia tidak mau mengejutkan orang.
Akhirnya si dia muncul sendiri dan memandang Pwe-giok dengan linglung.
Baru sekarang Pwe-giok berani tertawa padanya dan menyapa.
"Nona, apakah boleh kutanya beberapa kata padamu?"
Dengan tertawa linglung nona itu mengangguk.
"Tempat apakah ini?"
Tanya Pwe-giok.
Nona itu tetap tertawa sambil menggeleng.
Dengan kecewa Pwe giok menghela napas, ia tidak tahu mengapa tempat ini sedemikian misterius, mengapa tidak seorang pun mau memberitahukan padanya?"
Tapi ia tidak putus asa, ia tanya pula.
"Jika nona penghuni perkampungan ini, mengapa tidak tahu tempat apakah ini?"
"Aku bukan manusia,"
Tiba-tiba nona itu bersuara dengan tertawa.
Suaranya nyaring merdu seperti kicauan burung.
Jawaban itu membuat Pwe-giok terkejut.
Jika kata itu diucapkan orang lain paling-paling Pwe-giok cuma tertawa saja.
Tapi nona yang berwajah bingung ini sesungguhnya mempunyai kecerdasan yang melebihi orang lain.
Dengan tergagap kemudian Pwe-giok bertanya pula.
"Masa kau bukan ...."
"Aku seekor burung,"
Ucap si nona pula sambil menggigit bibir.
Ia menengadah memandangi pucuk pohon, di mana hinggap beberapa ekor burung kecil yang tak diketahui namanya sedang berkicau.
Dengan tertawa ringan nona itu berkata pula.
"Akupun serupa burung di atas pohon itu, aku adalah saudara mereka."
Pwe-giok terdiam sejenak, tanyanya kemudian.
"Jadi nona sedang bicara dengan mereka?"
Nona baju putih itu berpaling dan tertawa. Mendadak matanya terbelalak dan bertanya.
"Kau percaya pada perkataanku?!"
"Sudah tentu kupercaya,"
Jawab Pwe-giok dengan suara halus. Sorot mata si nona menampilkan perasaan hampa, ucapnya dengan menyesal;
"Tapi orang lain tidak mau percaya."
"Bisa jadi mereka orang tolol semuanya,"
Ujar Pwe giok. Sampai lama si nona memandangi Pwe giok dengan tenang, tiba-tiba ia tertawa nyaring, katanya.
"Jika demikian, bolehkah kukatakan padamu bahwa aku ini seekor burung kenari."
Dia tertawa riang, lalu berlari pergi pula.
Pwe giok tidak merintanginya, ia termangu-mangu sejenak, timbul semacam perasaan yang belum pernah dirasakannya selama ini.
Perlahan-lahan ia melangkah balik ke rumah kecil tadi.
Baru saja ia melangkah masuk rumah, sekonyong-konyong dari balik pintu sebatang pedang mengancam punggungnya.
Ujung pedang yang tajam dingin itu seakan-akan menusuk ke dalam hati Pwe-giok.
Terdengar seorang bersuara sedingin es;
"Jangan bergerak, sekali bergerak segera kutusuk tembus punggungmu....."
Jelas ini suara seorang perempuan, juga nyaring dan merdu.
Tanpa terasa Pwe giok menoleh, kembali ia melihat jubah putih dengan rambut panjang terurai dan muka yang pucat serta mata yang indah.
Ini bukanlah badan halus semalam, tapi dewi kahyangan pagi ini.
Kejut dan heran Pwe-giok, dengan mendongkol ia berkata sambil menyengir.
"Nona kenari, masa kau tidak kenal lagi padaku?"
"Sudah tentu aku tidak kenal kau!"
Kata nona itu dengan suara bengis.
"Tapi .... tapi barusan kita baru .... baru saja bicara."
"Hm, mungkin kau melihat setan,"
Jengek si nona.
Pwe giok jadi melenggong dan tak dapat bersuara.
Sorot mata si nona sekarang telah berubah menjadi tajam dan dingin, tapi alisnya, mulutnya dan hidungnya jelas-jelas si nona cantik tadi.
Mengapa mendadak dia berubah begini?
Mengapa sikapnya berubah ketus begini?
Kembali Pwe giok kebingungan, ucapnya kemudian dengan tersenyum pedih.
"Apakah benar kulihat setan?"
"Siapa kau?"
Bentak nona itu dengan bengis.
"Mengapa kau berada di tempat Ko lothau (kakek Ko)? Ingin mencuri atau ada pekerjaan lain? Lekas mengaku terus terang, lekas!"
"Begitu ujung pedangnya didorong sedikit, seketika darah mengucur dari punggung Pwegiok.
"Aku tidak tahu, apa pun aku tidak tahu,"
Jawab Pwe-giok sambil menghela napas.
Ia merasa setiap penghuni perkampungan ini seakan-akan orang gila semua, terkadang sedemikian baik padanya, tapi mendadak bisa berubah menjadi garang.
Sebentar bersikap ramah, lain saat berubah beringas seperti hendak membunuhnya.
"Kau tidak tahu?"
Jengek nona itu pula.
"Baik, akan kuhitung sampai tiga, jika kau tetap bilang tidak tahu, segera kutusukkan pedang ini hingga menembus dadamu."
Lalu ia berseru.
"Satu."
Pwe-giok hanya berdiri tegak tanpa bersuara.
"Dua ...."
Teriak pula si nona.
Pwe-giok tetap berdiri saja tanpa bicara.
Hakekatnya memang tiada apa-apa yang dapat dikatakannya.
Si nona seperti melengak juga, tapi akhirnya ia berseru pula.
Tiga!
Pada saat yang sama, sekonyong-konyong Pwe giok menggeser ke samping selicin belut, berbareng tangannya menyampuk balik, seketika tangan si nona kaku kesemutan, pedang mencelat dan menancap di belandar.
Sampukan Pwe-giok ini sangat kuat.
Si nona jadi melenggong.
Pwe-giok memandangnya dengan dingin, katanya.
"Nona kenari, sekarang bolehlah kutanyai kau bukan? Tentunya jangan pura-pura bodoh lagi, sebaiknya kau bicara dengan bahasa manusia, aku tidak paham bahasa burung."
Nona itu mengerling sekejap, mendadak ia tertawa nyaring, katanya.
"Hihi, aku cuma berkelakar saja dengan kau. Jika kau ingin belajar bahasa burung biarlah kuajari kau besok."
Dengan enteng ia terus membalik tubuh dan berlari pergi.
"Nanti dulu!"
Seru Pwe-giok sambil mengejar. Tapi mendadak dilihatnya si kakek menghadang di depannya sambil menegur.
"Telah kuselamatkan jiwamu, tapi bukan maksudku membawa kau ke sini untuk menakuti orang."
"Kedatangan Lotiang sangat kebetulan,"
Jengek Pwe-giok.
"Waktu nona itu mengancam punggungku dengan pedang, mengapa Lotiang tidak lantas muncul?"
Kakek itu tidak bersuara, ia masuk ke rumah dan berduduk, diambilnya cangklong tembakaunya, disulutnya dengan api dan mulai merokok, setelah menghisap tembakaunya satu-dua kali barulah ia berucap.
"Biarlah kukatakan terus terang padamu, di perkampungan ini memang banyak hal-hal yang aneh, bila kau dapat anggap tidak dengar dan tidak lihat, tentu kau takkan dicelakai orang. Jika sebaliknya, tentu akan mendatangkan musibah bagimu."
"Sekalipun aku berlagak tidak dengar dan tidak lihat, kan nona tadi juga hendak membunuhku?!"
Seru Pwe giok dengan gusar. Si kakek menghela napas, katanya.
"Persoalan tadi hendaklah jangan kau pikirkan lagi, mereka adalah anak perempuan yang harus dikasihani, nasib mereka sangat malang, kau harus memaafkan mereka."
Dan kerut wajahnya dapat terlihat si kakek jelas sangat berduka ketika membicarakan nona tadi, Pwe-giok termenung sejenak, tanyanya kemudian. Siapakah mereka?"
"Untuk apa kau ingin tahu siapa mereka?"
"Dan, mengapa kau tidak mau memberitahukan padaku?"
Seru Pwe-giok. Si kakek menghela napas panjang, katanya.
"Bukannya aku tidak mau memberitahukan padamu, soalnya akan lebih baik jika kau tidak tahu."
Kembali Pwe-giok termenung sejenak, ia memberi hormat, lalu berkata pula dengan suara berat.
"Terima kasih banyak-banyak atas pertolongan jiwa Lotiang, kelak pasti akan kubalas kebaikanmu ini."
"Kau mau pergi?"
Tanya si kakek sambil menoleh.
"Kupikir, lebih baik ku pergi saja,"
Ujar Pwe-giok sambil menyengir.
"Tapi ratusan anak murid Kun-lun dan Tiam-jong saat ini masih berkeliaran di sekitar perkampungan ini, jika kau pergi, dapatkah kau lolos dari pengawasan mereka?"
Pwe-giok jadi ragu-ragu, tanyanya pula.
"Sesungguhnya ada hubungan apa antara perkampungan ini dengan Kun-lun dan Tiam-jong-pay?"
Si kakek tersenyum hambar, katanya.
"Jika tempat ini ada hubungannya dengan Kun-lun dan Tiam-jong, mungkinkah kau diberi kesempatan tinggal di sini?"
Pwe-giok terkesiap dan menyurut mundur;
"Apakah... apakah engkau sudah tahu..."
"Aku sudah tahu semuanya,"
Ucap si kakek sambil menyipitkan matanya. Pwe-giok menubruk maju dan memegang bahu si kakek, serunya dengan parau.
"Aku tidak membunuh Cia Thian-pi, lebih-lebih tidak pernah membunuh Thian-kang Totiang, kau harus percaya padaku."
"Sekalipun aku percaya, tapi orang lain apakah juga percaya?"
Kata si kakek. Pwe-giok melepaskan tangannya dan menyurut mundur selangkah demi selangkah hingga bersandar pada dinding.
"Terpaksa kau harus berdiam di sini, nanti kalau keadaan sudah aman, baru kau kubawa pergi,"
Ujar si kakek dengan gegetun.
"Pada kesempatan ini pula dapat kau istirahat dan memulihkan tenagamu di sini."
Basah mata Pwe-giok, katanya.
"Lotiang, semestinya engkau .... engkau tidak perlu sebaik ini kepadaku."
Si kakek menghisap lagi tembakaunya, lalu berkata dengan ikhlas.
"Sekali sudah kuselamatkan kau, tidak nanti kusaksikan lagi kau mati di tangan orang lain."
Sekonyong-konyong seutas tali menyambar ke atas dan persis menjerat batang pedang yang menancap di belandar, sedikit ditarik, pedang itu lantas jatuh ke bawah dan tepat diraih oleh sebuah tangan yang putih halus.
Tahu-tahu si nona telah berdiri di ambang pintu dan berkata kepada si kakek dengan tertawa;
"Ko-lothau, ibu ingin melihat dia."
Si kakek memandang Pwe-giok sekejap. Segera Pwe-giok dapat melihat perubahan air muka si kakek, matanya yang menyipit mendadak terbelalak, katanya dengan berkerut kening.
"Ibumu ingin melihat siapa?"
"Di rumah ini selain kau dan aku, ada siapa lagi?"
Ucap si nona baju putih dengan tertawa.
"Untuk...... untuk apa ibumu ingin melihat dia?"
Tanya si kakek Ko. Nona itu melirik Pwe-giok sekejap, katanya;
"Akupun tidak tahu, lekas kau bawa dia ke sana."
Lalu ia memutar tubuh dan melangkah pergi pula. Sampai lama si kakek berdiri termangu. Pwe-giok tidak tahan, tanyanya.
"Siapakah ibunya?"
"Cengcu-hujin (nyonya kepala perkampungan),"
Jawab Ko-lothau sambil mengetuk pipa tembakaunya, lalu disisipkannya diikat di pinggang dan berkata pula.
"Marilah berangkat, ikut saja di belakangku. Hendaklah hati-hati, saat ini di perkampungan ini terdapat tidak sedikit anak murid Tiam-jong dan Kun-lun pay.
"Sungguh aku tidak paham,"
Kata Pwe-giok dengan gegetun.
"kalau kalian sudah mau menerima diriku, mengapa kalianpun menerima mereka di sini. Jika kalian telah menerima mereka di sini, mengapa kalian kuatir pula diriku dilihat mereka?"
Si kakek tidak menghiraukan gerundelan Pwe-giok itu, ia membawa anak muda itu menyusur kian kemari di antara pepohonan yang lebat, di jalan berbatu licin bersih, kabut di tengah pepohonan itu sudah buyar.
"Kalau sekarang aku harus menemui Cengcu-hujin, sedikitnya engkau harus memberitahukan padaku sesungguhnya di sini ini perkampungan apa?"
Kata Pwe-giok pula.
"Sat jin-ceng!"
Jawab Ko-lothau singkat.
"Sat-jin-ceng (perkampungan membunuh orang)?"
Seru Pwe giok terkejut dan berhenti melangkah mendadak.
Sementara itu mereka sudah sampai di sebuah serambi yang melingkar, bangunan serambi ini sangat indah dan mentereng, tapi langkan serambi kelihatan tak terawat, catnya yang berwarna merah sudah banyak yang mengelupas, debu memenuhi lantai.
"Kau heran pada nama perkampungan ini?"
"Ya, mengapa diberi nama seaneh ini?"
"Sebabnya setiap orang boleh membunuh orang di sini secara bebas, tiada seorangpun yang akan melarangnya. Setiap orang juga dapat terbunuh di sini dan pasti tiada seorangpun yang mau menolong dia!"
Tutur si kakek Ko. Pwe-giok merasa merinding, ucapnya dengan ngeri.
"Sebab apa, sebab apa begitu?"
"Apa sebabnya kukira lebih baik jangan kau tanya,"
Jawab Ko lothau.
"Masa......masa selama ini tiada orang ikut campur?"
"Tidak ada, selamanya tidak ada yang berani."
"Masa Cengcu kalian juga tidak ikut campur urusan perkampungan?"
Mendadak Ko-lothau menoleh dengan senyuman yang misterius, ucapnya sekata demi sekata.
"Cengcu kami selamanya tidak ikut campur urusan, sebab dia..............."
Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara langkah orang berkumandang dari ujung serambi sana.
cepat Ko lothau menarik Pwe-giok dan menyelinap ke balik pintu samping yang berkerai.
Suara langkah orang itu semakin dekat, pelahan-lahan berlalu ke sana.
Pwe-giok mengintip ke luar, dilihatnya bayangan dua Tojin berjubah ungu dan menyandang pedang, jelas mereka murid Kun-lun-pay.
Diam-diam Pwe-giok menghela napas lega, katanya;
"Apakah setiap orang boleh bergerak secara bebas di perkampungan kalian ini?"
"Siapa yang ingin membunuh orang dengan sendirinya boleh bebas bergerak, tapi orang yang mungkin akan terbunuh cara berjalannya harus berhati-hati... berhati-hati sekali."
"Kalau orang di sini setiap saat mungkin terbunuh, mengapa mereka masih juga datang kemari? Bukankah tempat lain jauh lebih aman bagi mereka?"
"Bisa jadi dia sudah kehabisan jalan, atau mungkin dia tidak tahu seluk-beluk tempat ini. Mungkin pula ia tertipu ke sini, boleh jadi lagi iapun ingin membunuh orang."
Pwe-giok merinding pula, gumamnya;
"Sungguh tepat sekali alasan ini, ke empat alasan ini memang tepat......"
Segera ia menyusul ke depan dan bertanya. Tapi Cengcu kalian mengapa.,.."
Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara nyaring merdu berkata.
"Dia sudah datang, ibu......"
Waktu Pwe-giok memandang ke sana, di ujung serambi ada sebuah pintu berukir daun pintu kelihatan terbuka sedikit, suara merdu itu berkumandang dan balik pintu.
Sepasang mata jeli yang semula mengintip di balik pintu kini mendadak lenyap.
Dengan langkah berat Ko lothau mendekati pintu itu dan mengetuknya pelahan sambil berseru.
"Apakah Hujin ingin bertemu dengan bocah ini?"
"Ya, masuk!"
Ucap seorang perempuan dengan suara lirih.
Hanya dua kata ini saja yang terdengar, namun mengandung semacam daya tarik yang aneh luar biasa, rasanya suara ini seperti tersiar dari suatu dunia yang lain.
Mendadak pintu terbuka, Di dalam sangat gelap, sinar sang surya pagi cukup benderang, tapi tak dapat menyorot ke dalam rumah.
Entah mengapa, jantung Pwe giok berdebar keras, pelahan ia melangkah masuk.
Dalam kegelapan sepasang mata yang terang sedang menatapnya, mata yang indah dan juga hampa, Nyonya rumah dari Sat-jin ceng ini ternyata tidak-lain-tidak-bukan adalah "badan halus"
Yang dilihatnya di bawah hujan itu.
Pwe-giok terkesiap.
Segera dilihatnya pula sepasang tangan yang putih dan halus, jelas itulah tangan yang hendak mencekiknya waktu dia tidur itu.
Butiran keringat terasa mengucur dari dahinya ....
Sepasang mata yang jeli itu masih menatapnya lekat-lekat tanpa bergerak.
Pwe-giok juga tidak bergerak, lamat-lamat ia merasa di sampingnya juga ada satu orang.
Waktu matanya sudah terbiasa dalam kegelapan, tiba-tiba dilihatnya orang di samping ini tersenyum manis, senyuman yang suci dan bersahaja.
Hai, bukankah ini si dewi yang dilihatnya di tengah pepohonan pagi tadi?
Sekonyong-konyong pintu tertutup pula, segera Pwe-giok berpaling.
Di dekat pintu kembali dilihatnya sepasang mata yang sudah dikenalnya, mata yang sama jelinya, alis yang sama lentiknya dan mulut yang sama mungilnya.
Bedanya, sorot mata yang satu sedemikian halus dan bersahaja, yang satu lagi justeru begitu tajam dan dalam.
Kalau diperumpamakan seorang seperti burung Kenari yang lincah dan riang, seakan-akan tidak kenal arti susah orang hidup.
Yang seorang lagi dapat di ibaratkan burung elang di padang pasir, garang dan selalu mengincar hati setiap mangsanya.
Baru sekarang Pwe-giok paham duduknya perkara.
Rupanya si burung Kenari yang ditemuinya di hutan pagi tadi serta si elang yang mendorongnya dengan pedang itu adalah kakak beradik kembar.
Ia pandang ke depan dan melihat ke belakang, ia merasa kedua kakak beradik ini benar-benar mirip seperti pinang yang dibelah dua, sampai-sampai ibu mereka, si badan halus di tengah hujan itu, arwah dalam mimpi, si Cengcu-hujin yang misterius ini, juga serupa benar dengan kedua puterinya.
Hanya saja, watak di antara ibu dan kedua puterinya sama sekali berbeda dan terdiri dan tiga jenis watak yang tak sama.
Seketika Pwe-giok tidak tahu apa yang harus dilakukannya, entah kejut, heran, bingung atau merasa lucu.
Segera terngiang pula ucapan si kakek Ko.
"Mereka adalah perempuan yang harus dikasihani."
Perempuan yang harus dikasihani? Mengapa.... Cengcu-hujin masih menatapnya lekat-lekat, mendadak ia tertawa dan berkata.
"Di sini sangat gelap, bukan?"
Pada wajah yang pucat dan penuh rasa hampa itu bisa menampilkan senyuman, sungguh sesuatu yang hampir sukar dibayangkan.
Pwe-giok merasa terpengaruh oleh semacam daya tarik, yang aneh, dengan menunduk ia mengiakan.
Dengan rawan Cengcu-hujin berkata pula.
"Aku suka kepada kegelapan dan benci pada sinar matahari. Sinar matahari hanya mencorong bagi orang yang gembira ria, orang yang berduka selalu hanya kebagian kegelapan."
Mestinya Pwe-giok ingin tanya sebab apa si nyonya berduka, mengapa tidak gembira saja?
Tapi pertanyaan ini tidak jadi dilontarkannya.
Sorot mata Cengcu-hujin tidak pernah bergeser dari muka Pwe-giok, tanyanya kemudian.
"Kau she apa dan siapa namamu?"
"Cayhe she......."
Belum lanjut ucapan Pwe-giok, tiba-tiba Ko-lothau berdehem pelahan, maka Pwe-giok lantas menyambung.
"Yap, namaku Yap Giok-pwe."
"Kau tidak she Ji?"
Cengcu-hujin menegas. Kembali Pwe-giok terkesiap, ia tidak menjawab.
"Bagus, kau tidak she Ji,"
Ucap pula si Cengcu-hujin.
"Dahulu seorang she Ji pernah membunuh seorang yang sangat rapat denganku, maka menurut perasaanku setiap orang she Ji pasti bukanlah manusia baik-baik."
Pwe-giok tak dapat menjawab apa-apa, terpaksa ia hanya mengiakan saja.
"Aku sangat senang atas kedatanganmu ke perkampungan kami ini, kuharap kau dapat tinggal beberapa hari lebih lama di sini, rasanya banyak yang ingin kubicarakan denganmu."
"Terima..... terima kasih... ."
Ucap Pwe-giok.
Mendadak si nona elang melolos pedang dan mengetuk belakang dengkul anak muda itu, keruan Pwe-giok kesakitan dan tanpa terasa ia berlutut.
Pada saat itu juga tahu-tahu seorang menerjang masuk, siapa lagi kalau bukan Pek-ho Tojin dari Kun-lun-pay.
Sekilas melirik Pwe-giok melihat beberapa murid Tiam-jong pay juga ikut masuk bersama Pek-ho Tojin.
Begitu masuk mereka lantas memandang sekitar ruangan, tapi orang-orang yang berada di situ seolah-olah tidak memperdulikan kedatangan mereka.
Dengan bertolak pinggang si nona elang lantas mendamprat.
"Selanjutnya kalau kau berani membangkang dan malas kerja.. pasti akan kupatahkan kaki-anjingmu."
Dengan kepala tertunduk Pwe-giok mengiakan dengan suara yang dibikin serak, Pek-ho Tojin masih memandang kian kemari, tapi tidak memperhatikan "tukang kebun"
Yang berlutut di sampingnya. Baru sekarang ia memberi hormat kepada Cengcu hujin dan bertanya.
"Apakah Hujin melihat seorang pemuda asing masuk kemari?"
"Satu-satunya orang asing yang menerobos masuk ke sini ialah anda,"
Jengek Cengcu-hujin.
"Tapi barusan jelas-jelas ada........"
Belum lanjut ucapan Pek-ho Tojin, mendadak si nona elang melompat ke depannya dan menghardik.
"Jelas-jelas apa? Memangnya kau kira kami ibu dan anak main pat-gulipat dengan lelaki di sini?!"
Pek-ho Tojin melengak, cepat ia menjawab dengan menyengir.
"O, mana berani kumaksudkan demikian."
"Hm, lalu, seorang pertapa seperti dirimu ini berani sembarangan menerobos ke kamar orang perempuan, lantas apa maksud tujuanmu? Apakah kau ingin baca kitab di sini?"
Jengek si nona elang. Sama sekali Pek-ho To-jin tidak menyangka sedemikian lihaynya nona jelita ini, begini tajam kata-katanya sehingga sukar baginya untuk menjawab. Terpaksa ia berkata.
"Pernah kutanya kepada Ceng-cu, katanya....."
"Betul, jika kalian ingin membunuh orang, setiap rumah boleh kalian masuki dengan bebas,"
Potong si nona elang dengan suara bengis.
"Tapi rumah ini dikecualikan, betapapun tempat ini adalah kediaman Cengcu-hujin, kau tahu tidak?"
"Ya,ya...."
Terpaksa Pek-ho Tojin memberi hormat dengan munduk-munduk, lalu mengundurkan diri bersama kawan-kawannya.
Meski dia tergolong murid Kun-lun-pay yang paling cekatan, menghadapi siocia galak begini iapun mati kutu.
Baju Pwe-giok sudah basah oleh keringat dingin, ia masih berlutut, waktu mengangkat kepala, dilihatnya kedua tangan Cengcu-hujin yang putih mulus itu, tapi sekarang ia tahu kedua tangan ini semalam sebenarnya tiada maksud hendak mencekiknya, kalau tidak, barusan Cengcu hujin tentu akan menyerahkannya kepada Pek-ho Tojin dan tidak perlu turun tangan membunuhnya.
Cengcu hujin memandangnya lekat-lekat, tanyanya kemudian.
"Tampaknya kau takut. Sebab apa kau takut?"
"Cayhe.... Cayhe...."
"Sudahlah, tidak perlu kau katakan padaku."
Ujar Cengcu hujin dengan tertawa.
"Setiap orang yang datang ke Sat-jin-ceng ini pasti merasa takut. Tapi siapapun tidak perlu menceritakan alasan takutnya". Tiba-tiba pandangannya beralih kepada Ko-lothau dan berkata pula.
"Kau boleh pergi saja."
Ko-lothau ragu-ragu, katanya.
"Dan dia......"
"Dia tinggal di sini, aku ingin bicara dengan dia,"
Ujar Cengcu hujin.
Walaupun masih ragu, akhirnya Ko-lothau memberi hormat dan mengundurkan diri.
Kedua nona kembar tadi ternyata juga ikut keluar.
Si nona Kenari seperti tertawa terkikik-kikik, sedangkan si Nona Elang sama sekali tidak bersuara.
Daun pintu menutup dengan keras.
Kesunyian di dalam rumah mendadak terasa menakutkan, sampai detak jantung sendiri dapat didengar oleh Pwe-giok.
Cengcu hujin masih memandangnya lekat-lekat, hanya memandangnya saja.
Pwe-giok ingin bicara tapi sama sekali tidak sanggup buka mulut, terpengaruh oleh pandangan orang yang berdaya misterius ini.
Jendelapun tertutup oleh tirai, di dalam rumah semakin gelap, semacam hawa seram dan tua meliputi setiap sudut ruangan.
Cengcu-hujin tetap tidak bicara, bahkan bergerakpun tidak.
Ia tetap menatap Pwe-giok tanpa berkedip, seolah-olah juru tembak sedang mengincar sasarannya, seperti nelayan sedang memandangi kailnya.
Jilid 5________ Lambat-laun Pwe-giok merasa tidak tenteram, pikirnya.
"Mengapa dia pandang diriku cara begini?, mengapa?...."
Pada saat itulah tiba-tiba di luar jendela sana berkumandang suara orang tertawa riuh.
Pwe giok mendekati jendela dan sedikit menyingkap ujung tirai serta mengintip keluar, dilihatnya seekor kucing hitam sedang berlari-lari dikejar oleh seorang pendek kurus kecil dengan jubah kembang.
Wajahnya yang pucat itu kelihatan berjenggot, tapi perawakannya serupa anak berumur dua belasan, gerak-geriknya juga kekanak-kanakan.
Muka orang kerdil ini penuh butiran keringat, rambutnya juga kusut, bahkan sebelah sepatunya juga sudah copot, keadaannya kelihatan serba konyol, ya kasihan, ya lucu, ya menggelikan.
Belasan lelaki kekar berpakaian mentereng tampak mengikuti di belakang orang kerdil ini dengan gelak tertawa, seperti orang yang sedang melihat tontonan menarik, ada yang berkeplok gembira, ada yang menimpuki kucing hitam tadi dengan batu.
Melihat itu, tanpa terasa Pwe-giok menghela napas panjang.
"Kenapa kau menghela napas panjang, apa yang kau sesalkan?"
Tiba-tiba seorang bertanya di belakangnya. Kiranya Cengcu-hujin itu entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya dan juga sedang memandang keluar.
"Cayhe melihat orang ini dipermainkan orang banyak seperti badut, hati merasa tidak tega,"
Kata Pwe-giok dengan menyesal. Cengcu-hujin diam saja, wajahnya kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, sejenak kemudian barulah ia berkata dengan perlahan."
Orang ini adalah suamiku."
"Apa.....apa katamu? Dia.... dia suamimu? Dia inilah Cengcu?"
Tanya Pwe-giok dengan terkesiap.
"Betul, dia inilah Cengcu dari Sat-jin-ceng ini,"
Jawab Cengcu-hujin dengan dingin.
Pwe-giok melenggong hingga sekian lamanya ia tak dapat bersuara.
Baru sekarang ia paham apa sebabnya ketiga ibu beranak ini disebut sebagai "perempuan yang harus dikasihani".
Sekarang iapun tahu duduk perkara sebab apa di perkampungan ini orang boleh bebas bunuh membunuh.
Rupanya Cengcu dari Sat-jin-ceng ini adalah seorang badut yang harus dikasihani, seorang kerdil yang malang.
Setiap orang boleh datang ke sini dan mempermainkan dia dengan sesuka hati.
Dalam pada itu Cengcu-hujin sudah kembali ke tempat duduknya dan memandangi Pwegiok tanpa bicara.
Kini Pwe-giok dapat menahan perasaannya, sebab sekarang sudah timbul rasa simpatinya terhadap perempuan di depannya ini, simpati yang tak terhingga terhadap segenap keluarga yang malang ini, sekalipun banyak sekali tingkah-laku mereka yang aneh, tapi itupun dapat dimaklumi.
Entah sejak kapan mereka sudah disediakan santapan, Cengcu hujin hampir tidak menyentuh hidangan itu, tapi Pwe-giok telah makan dengan lahapnya.
Di dunia ini memang tiada sesuatu persoalan yang dapat mengganggu selera makan anak muda.
Dan begitulah waktu telah berlalu dengan begitu cepat.
Di dalam rumah semakin gelap, wajah Cengcu hujin mulai samar-samar, rumah ini mirip sebuah kuburan yang akan mengubur masa mudanya yang bahagia.
"Mengapa dia memandang diriku cara begini?!"
Demikian Pwe-giok bertanya-tanya di dalam hati, ia merasa kasihan dan juga merasa heran. Mendadak Cengcu hujin berbangkit, katanya dengan hampa.
"Hari sudah gelap, maukah kau mengiringi aku keluar berjalan-jalan?" ***** Inilah sebuah taman yang teramat luas dan juga sangat seram, di tengah-tengah semak-semak, di balik bayangan pohon, di mana-mana seakan-akan ada hantu yang sedang mengintai. Jalan berbatu yang mereka lalui berbunyi gemerisik. Pwe-giok merasa sangat dingin. Sedangkan Cengcu-hujin sudah tertinggal di belakang. Cahaya rembulan yang baru menyingsing melemparkan bayangan Cengcu hujin yang panjang itu ke sebelah sini. entah darimana mendadak berkumandang bunyi burung hantu. Tanpa terasa Pwe-giok merinding, ia memandang jauh ke sana, tiba-tiba di balik bayangan pohon yang seram sana terdapat sebuah rumah ke kelabu-kelabuan dan berbentuk aneh. Rumah itu tidak ada cahaya lampu, hakekatnya tiada jendela, runcing atapnya, pintu gerbangnya dari besi warna hitam itu agaknya sudah karatan, rumah aneh yang berdiri terpencil di tengah taman yang seram ini menimbulkan rasa ngeri dan penuh misteri yang sukar dilukiskan. Terasa takut dan juga heran Pwe-giok, tanpa terasa ia terus mendekat ke sana.
"Jangan ke sana"
Tiba2 didengarnya bentakan Cengcu hujin, suara yang terasa lembut itu mengandung rasa cemas.
"Sebab apa?"
Pwe-giok terkejut dan berhenti.
"Barang siapa mendekati rumah itu, dia pasti mati!"
Kata Cengcu-hujin. Pwe-giok tambah terkejut, tanyanya pula.
"Seb ..... Sebab apa?"
Ujung mulut Cengcu-hujin kembali menyembulkan senyuman misterius, ucapnya kemudian dengan pelahan.
"Sebab di dalam rumah itu adalah orang mati semua, mereka ingin menyeret orang lain untuk menemani mereka."
"orang mati? Semua orang mati?"
Pwe-giok menegas. Dengan pandangan yang hampa Cengcu-hujin menatap jauh ke depan, katanya.
"Rumah ini adalah makam keluarga Ki kami. Yang terkubur di dalam rumah seluruhnya adalah leluhur keluarga Ki. Sedangkan leluhur keluarga Ki seluruhnya adalah orang gila. Yang masih hidup gila, yang sudah mati juga gila."
Pwe-giok mengkirik oleh cerita yang aneh dan seram itu, tangannya penuh keringat dingin.
Di depan ada sebuah gardu segi delapan, mereka mendaki undak-undakan dan naik ke tengah gardu, sekeliling langkan di tengah-tengah gardu itu mengitari sebuah lubang gua yang gelap dan dalam, setelah diperiksa lebih teliti, kiranya adalah sebuah sumur.
"Inilah sebuah sumur yang aneh,"
Cengcu Hujin (nyonya Ki) itu bergumam, seperti bicara kepada dirinya sendiri dan tidak ditujukan kepada orang lain. Tapi Pwe-giok tidak tahan, ia bertanya.
"Mengapa sumur ini kau katakan aneh?"
"Sumur ini disebut Mo kia (cermin hantu)"
Jawab Ki-hujin. Pwe-giok tambah heran, ia tanya pula.
"Mengapa disebut Mo kia?"
"Konon sumur ini dapat meramal kejadian yang akan datang,"
Tutur Ki hujin dengan pelahan.
Di malam bulan purnama, bila kau berdiri di tepi sumur ini dan bayangan mu tersorot ke dalam sumur, maka bayangan di dalam sumur itulah menunjukkan nasibmu yang akan datang"
"Aku ... aku rada bingung,"
Kata Pwe-giok.
"Umpamanya, bila bayangan seorang tersorot ke dalam sumur dan bayangannya lagi tertawa, padahal ia sendiri tidak tertawa, maka ini melambangkan hidupnya akan beruntung. Sebaliknya jika bayangan di dalam sumur itu menangis, padahal ia tidak menangis, maka kehidupannya pasti akan penuh kedukaan, penuh kemalangan."
"Hah, masa betul begitu?"
Seru Pwe-giok terkesiap. Dengan pelahan Ki-hujin menutur pula.
"Tapi ada juga cahaya bulan tak dapat menyorotkan bayangan seseorang ke dalam sumur, di dalam sumur hanya terlihat cahaya darah belaka, maka hal ini melambangkan orang itu akan segera tertimpa bencana, bahkan menuju kematian."
"Aku... Aku tidak percaya,"
Ucap Pwe-giok, tanpa terasa ia mengkirik pula.
"Kau tidak percaya? Kenapa tidak kau coba?"
Ujar Ki-hujin.
"Aku...aku tidak ingin...."
Meski di mulut dia bilang tidak, tapi sumur ini rupanya memang sebuah sumur hantu yang punya daya tarik yang kuat, tanpa terasa ia mendekati tepi sumur dan melongok ke bawah.
Sumur itu sangat dalam, gelap gulita dan tidak kelihatan dasarnya, hakekatnya Pwe-giok tidak melihat sesuatu apapun, tapi tanpa terasa kepalanya semakin menunduk dan semakin ke bawah.
Mendadak Ki-hujin menjerit.
"Da... darah... darah..."
Kejut dan ngeri Pwe-giok luar biasa, ia melongok lebih ke bawah lagi, sekonyong-konyong langkan sumur itu jebol, tubuhnya lantas terjerumus ke dalam sumur.
Terdengar Ki-hujin sedang menjerit jerit pula.
"Darah... darah... Mo-kia... lalu berlari pergi seperti kesetanan. Pada saat itulah di dalam sumur baru terdengar suara "plung"
Ini jelas suara jatuhnya Pwegiok didalam sumur.
Sumur hantu ini dalamnya luar biasa untung ada airnya, airnya juga sangat dalam.
Tubuh Pwe-giok langsung terbanting di permukaan air sumur sehingga ruas tulang sekujur badannya seakan akan terlepas.
Ia terus tenggelam ke bawah, sampai lama sekali belum lagi timbul.
Apabila tubuh Pwe-giok tidak gemblengan seolah-olah otot kawat tulang besi, waktu timbul lagi ke permukaan air mungkin sudah berwujud sesosok mayat.
Suara jeritan ngeri Ki-hujin itu seakan-akan masih mengiang di telinganya, dalam keadaan masih berdebar Pwe-giok berendam didalam air sumur yang dingin seperti es, ia menggigil tiada hentinya.
"Mengapa dia mencelakai diriku?..."
"Ah, aku sendiri yang kurang hati-hati dan terpeleset hingga jatuh ke dalam sumur, mana boleh ku salahkan orang lain ?..."
"Tapi mengapa dia tidak menolong diriku?..."
"Ah, jiwanya memang sangat lemah, saat ini dia sendiri sangat ketakutan, mana dapat menolong diriku?..."
"Apalagi, tentu dia mengira aku sudah mati, buat apa bersusah payah menolong aku?..."
Begitulah macam-macam pikiran terlintas dalam benak Pwe-giok, akhirnya dia hanya dapat menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Ai, aku memang seorang yang malang, selama hidup ini penuh diliputi ketidak beruntungan."
Kemalangan yang tidak pernah dibayangkan orang lain, baginya boleh dikatakan sudah biasa seperti makanan sehari hari.
Sumur itu sangat lebar, jika berdiri ditengah tengah dan merentangkan kedua tangan tetap tak dapat mencapai dinding sumur.
Apalagi dinding sumur penuh lumut hijau yang tebal dan licin, siapapun jangan harap dapat memanjat ke atas.
Jika orang lain mungkin sudah berteriak teriak minta tolong.
Tapi Pwe-giok sam sekali tidak berani bersuara, apalagi berteriak minta tolong.
Sebab kalau suara teriakannya didengar musuh yang sedang mencarinya, bukankah dia akan mati konyol terlebih cepat?.
Untung Pwe-giok mahir berenang sehingga tidak sampai tenggelam, namun tubuh yang terendam di air sumur yang dingin seperti es itu membuat badannya mulai kaku, lambat atau cepat dia tetap akan tenggelam juga.
Semua ini seolah-olah impian buruk saja, sungguh ia tidak mau percaya, tapi tidak dapat tidak percaya.
Sejak dia berlatih menulis di taman kediamannya sendiri dengan disaksikan ayahnya tempo hari, dimulai dengan penyampaian surat oleh Hek-kap-cu, kehidupan Pwe-giok lantas seperti berada didalam mimpi buruk, dan sekarang, apakah hidupnya akan tamat di sini ?!
Ia tidak suka membayangkannya, juga tidak berani memikirkannya, akan tetapi mau tak mau ia justeru harus memikirkannya, teringat apa apa yang telah dialaminya itu, sungguh ia hampir gila.
Dan malam yang gelap gulita inipun berlalu ditengah penderitaan yang membuatnya gila itu.
Samar-samar mulut sumur sudah kelihatan remang-remang, tapi cahaya itu terasa sedemikian jauhnya dan sukar dijangkau.
Dari kejauhan yang sukar dijangkau itu tiba-tiba berkumandang suara kicau burung yang merdu.
Bagi pendengaran Pwe-giok, suara burung ini adalah satu langkah kejutan yang sama sekali tak pernah terpikir oleh orang itu.
Coba, siapa yang pernah berpikir suara burung berkicau demikian dapat menyelamatkan orang ?
Maka mulailah Pwe-giok menirukan suara burung berkicau, Sejenak kemudian, dikejauhan tiba-tiba berkumandang suara nyanyian yang terlebih merdu daripada kicau burung.
Suara itu makin dekat dan dekat, akhirnya dimulut sumur muncul sepasang mata yang jeli.
Baru sekarang Pwe-giok berani berseru perlahan.
"Nona Kenari..."
Terbelalak mata yang indah itu, serunya.
"He kiranya kau? Pantas tidak kupahami apa yang kau katakan, rupanya kau bukan... bukan burung."
"Aku berharap dapat menjadi burung, nona Kenari,"
Kata Pwe-giok dengan menyengir. Nona Kenari itu berkedip-kedip, katanya kemudian.
"Jelas kau bukan burung, sampai bertemu pula!"
Ia angkat kepala terus hendak pergi. Cepat Pwe-giok berseru.
"Hei, nona, ada orang jatuh didalam sumur, masa kau tidak mengereknya ke atas?"
Si nona kenari melongok pula ke dalam sumur, ucapnya dengan tertawa.
"Mengapa harus ku kerek kau ?"
"Sebab... sebab..."
Sebenarnya jawaban ini sangat sederhana, tapi seketika Pwe-giok justeru tidak dapat menjawabnya.
"Hi, hi, ku tahu kau tidak punya alasannya."
Seru si nona Kenari sambil berkeplok gembira."
Aku akan pergi!"
Sekali ini dia benar-benar pergi dan tidak kembali lagi.
Pwe-giok menjadi melenggong dan serba susah, ia jadi gemas terhadap dirinya sendiri dan ingin menggampar mukanya sendiri, masa jawaban sederhana begitu saja tidak sanggup bicara.
"Apakah segenap anggota keluarga Ki memang orang gila semua?"
Demikian Pwe-giok bertanya tanya pula di dalam batin.
Pedih rasanya, kecuali hatinya yang masih ada perasaan, bagian tubuh lain hampir seluruhnya sudah kaku, sekujur badannya mirip sepotong kayu yang terendam di dalam air.
Ia meraup secomot air untuk membasahi bibirnya yang kering.
Sekonyong-konyong seutas tali panjang terjulur dari atas.
Pwe-giok kegirangan, cepat ia pegang tali itu.
Tapi segera teringat sesuatu, ia memandang ke atas dengan kuatir.
Ternyata di atas tiada orang.
Dengan suara yang dibikin serak ia bertanya.
"Siapa di sana ? Siapa yang menolong diriku ?"
Namun tiada jawaban.
Ia menjadi ragu-ragu, Jangan-jangan orang Kun-lun-pay atau anak murid Tiam-jong-pay ?
Jangan-jangan komplotan jahat itu sengaja hendak mengereknya ke atas untuk kemudian membunuhnya?
Pwe-giok menggreget, dipegangnya erat-erat tali itu, perlahan-lahan ia merambat ke atas, Betapapun akan lebih baik daripada mati terendam hidup-hidup di sumur hantu ini.
Dalam keadaan demikian, selain menuruti perkembangan, memangnya apa yang dapat diperbuatnya?
Hakekatnya tiada pilihan lain baginya.
Dari bawah sampai di mulut sumur, jarak ini seolah-olah perjalanan yang paling panjang yang pernah ditempuhnya selama hidup.
Tapi akhirnya sampai juga di tempat tujuan.
Pagi ini tidak ada kabut, cahaya matahari yang keemas-emasan menyinari seluruh halaman taman, sampai-sampai gardu yang tak terawat dengan cat pada pilar dan langkan yang sudah banyak terkelupas inipun kelihatan sangat indah di bawah sinar matahari yang terang.
Dapat hidup terus, betapapun adalah kejadian yang baik.
Tapi di atas tetap tiada terlihat bayangan seorangpun.
Tali panjang itu kiranya terikat pada pilar gardu.
Lalu sesungguhnya siapa yang menolongnya?
Mengapa penolong itu tidak memperlihatkan dirinya?
Dengan kuatir dan sangsi Pwe-giok selangkah semi selangkah menuruni undak-undakan.
Sekonyong-konyong di belakangnya ada burung bercuit, cepat ia menoleh, maka terlihatlah pula si dia, si nona Kenari.
Dia duduk bersandar di luar lantakan gardu, rambutnya yang indah kemilau tertimpa sinar matahari.
Seekor burung hijau kecil hinggap di lengannya yang halus itu, tampaknya seperti benar-benar lagi bicara dengan si nona.
"He, kau."
Seru Pwe-giok girang.
"Meng... mengapa kau tolong juga diriku ke atas?"
Si nona Kenari tertawa manis, ucapnya.
"Dia inilah yang minta kutarik kau ke atas."
"Dia?... dia siapa ?"
Tanya Pwe-giok. Penjelasan si nona kenari membelai bulu hijau burung kecil itu, ucapnya dengan lembut.
"Adik kecil, katamu dia orang baik, kau bilang pula dia tidak punya sayap seperti kau, maka perlu orang lain menariknya ke atas, begitu bukan? Akan tetapi dia tidak berterima kasih padamu."
Burung hijau itu lantas bercuat-ciut, tampaknya sangat gembira.
Termangu-mangu Pwe-giok memandangi nona kenari itu, ia tidak tahu sesungguhnya gadis ini teramat pintar atau seorang gila?
"Apakah kau benar-benar paham bahasa burung ?"
Tanyanya kemudian saking tak tahan. Mendadak si nona Kenari berbangkit dan melangkah kesana, tampaknya sangat marah, katanya.
"jadi kaupun tidak percaya seperti orang-orang itu."
"Aku... aku percaya."
Kata Pwegiok.
"Tapi cara bagaimana pula kau dapat belajar bahasa burung?"
"Aku tidak perlu belajar,"
Ujar si nona Kenari dengan tertawa manis.
"Begitu melihat mereka aku lantas paham dengan sendirinya."
Dalam sekejap itu sorot matanya yang buram dan linglung itu mendadak penuh bercahaya terang, entah sebab apa, Pwe-giok se-akan2 percaya saja kepada keterangannya, tiba2 ia bertanya pula.
"Dan gembirakah mereka?"
"Ada yang gembira, ada sebagian tidak, terkadang suka ria, terkadang..."
Mendadak si nona tertawa dan menyambung pula.
"Tapi setidak2nya mereka jauh lebih bergembira daripada manusia yang tolol."
Pwe-giok termangu sejenak, katanya kemudian dengan menyesal.
"Memang betul, manusia memang teramat tolol, di dunia mungkin hanya manusia saja yang suka mencari susah sendiri."
Si nona kenari tertawa, katanya.
"Asalkan kau tahu saja, maka kau harus...."
Mendadak burung kecil di tangannya itu bercuit nyaring terus terbang ke udara. Seketika air muka si nona juga berubah. Tentu saja Pwe-giok merasa heran, tanyanya.
"Nona, kau...."
Tiba2 si nona Kenari menggoyangkan tangan memutuskan ucapan Pwe-giok, lalu ia membalik tubuh dan berlari pergi secepat terbang, mirip seekor burung yang terbang terkejut.
Selagi Pwe-giok terbelalak bingung, tiba2 terdengar semacam suara aneh berkumandang dari semak2 pohon sebelah kiri sana, suara orang menggali tanah.
Diam2 ia menunduk ke sana dan mengintipnya, benar juga, dilihatnya seorang pendek kecil sedang berjongkok dan menggali tanah, dia memakai jubah kembang yang longgar, kedua tangannya kecil seperti kanak2, siapa lagi dia kalau bukan si "badut"
Yang dilihatnya kemarin, Cengcu atau kepala kampung Sat jin ceng ini.
Kucing hitam yang diuber2 kemarin itu kini sudah mati dalam keadaan luluh, sangat mengerikan kematiannya.
Selesai menggali liang, Cengcu kerdil itu memasukkan bangkai kucing itu ke dalam liang, lalu ditimbuni bunga, kemudian diuruk dengan tanah.
Terdengar ia bergumam.
"Orang bilang kucing mempunyai sembilan nyawa, mengapa kau cuma punya satu nyawa? ....O, kasihan anakku, kau menipu orang2 itu ataukah orang2 itu yang membodohi kau?"
Memandangi perawakan orang yang kerdil itu, memandangi gerak-gerik orang yang serupa anak kecil yang masih polos itu, tanpa terasa Pwe-giok menghela napas, Cengcu itu terkejut dan melonjak bangun sambil membentak.
"Siapa?"
Cepat Pwe-giok melangkah keluar, ucapnya dengan suara halus.
"Jangan kau takut, aku tidak bermaksud jahat."
"Kau....kau siapa?"
Tanya sang Cengcu dengan melotot tegang. Sedapatnya Pwe-giok bersikap ramah agar orang tidak ketakutan; jawabnya dengan tersenyum "Akupun tamu di sini, namaku Ji Pwe-giok."
Ternyata Pwe-giok merasa urusan apapun tidak perlu mengelabui orang kerdil, sebab ia yakin manusia yang mempunyai kelainan tubuh ini pasti mempunyai sebuah hati yang bajik dan luhur.
Contohnya, kalau terhadap seekor kucing saja dia begitu welas-asih, mana mungkin dia mencelakai manusia?
Muka sang Cengcu kerdil yang putih pucat tapi cukup cakap dan seperti wajah anak kecil yang belum akil balig itu akhirnya tampak tenang kembali, dia tertawa, lalu berkata.
"Jika kau tamu, aku inilah tuan rumahnya. Namaku Ki Song-hoa,"
"Kutahu,"
Ujar Pwe-giok.
"Kau tahu?"
Si kerdil Ki Song-hoa menegas dengan mata terbelalak.
"Ya, aku sudah bertemu dengan isteri dan puterimu,"
Tutur Pwe-giok dengan tertawa. Perlahan2 Ki Song-hoa menunduk, ucapnya dengan tersenyum pedih.
"Kebanyakan orang seolah2 harus menemui mereka lebih dahulu baru kemudian bertemu dengan diriku."
Mendadak ia pegang tangan Ji Pwe-giok dan berseru.
"Tapi jangan kau percaya kepada ocehan mereka. Otak isteriku itu tidak waras, tidak normal, boleh dikatakan gila. Anak perempuanku yang besar itu lebih2 judas, cerewet, tiada orang yang berani merecoki dia, bahkan akupun tidak berani. Meski mereka sangat cantik, tapi hatinya berbisa, lain kali bila kau bertemu lagi dengan mereka, hendaklah kau hindari mereka sejauh2nya."
Sungguh tak pernah terpikir oleh Pwe-giok bahwa si kerdil ini akan bicara demikian mengenai anak dan istrinya, Apakah betul ucapannya?
Atau cuma omong kosong belaka?
Tapi tampaknya tiada alasan baginya untuk berdusta?
Seketika Pwe-giok jadi melenggong dan tidak dapat bicara.
Dengan suara rada gemetar Ki Song-hoa lantas berkata pula.
"Apa yang kukatakan ini demi kebaikanmu, kalau tidak, untuk apa aku mesti mencaci-maki sanak keluargaku sendiri?"
Akhirnya Pwe-giok menghela napas panjang dan mengucapkan terima kasih. Sejenak kemudian, karena ingin tahu, ia bertanya pula.
"Dan masih ada pula seorang nona yang fasih berbahasa burung ...."
Baru sekarang Ki Song-hoa tertawa, katanya.
"Apakah kau maksudkan Leng-yan? Ya, hanya dia saja yang tidak bakalan mencelakai orang, sebab ....sebab dia seorang idiot, miring...."
"Apa? Ia .... idiot?"
Seru Pwe-giok dengan tercengang. Pada saat itulah di tengah pepohonan sana tiba2 terdengar gemerisik orang berjalan. Cepat Ki Song-hoa menarik tangan Pwe-giok dan berkata.
"Mungkin mereka yang datang, jangan sampai kau dilihat mereka lagi, kalau tidak, jiwamu pasti sukar diselamatkan. Hayolah lekas ikut pergi bersamaku!"
Segera terbayang oleh Pwe-giok sumur hantu yang seram itu, teringat tangan yang akan mencekik lehernya itu, tiba2 ia merasa alasan pembelaannya bagi Ki hujin sebelum ini hanya sia2 belaka dan tiada gunanya.
Dilihatnya Ki Song-hoa menariknya berputar kian kemari di antara pepohonan dan sampailah di depan sebuah gunung2an, setelah menerobosi gunung2an itu, di situ ada sebuah kamar, ruangan kamar itu penuh berdebu dan gelagasi, kertas bertulis yang menghiasi sekeliling dinding ruangan itupun sama berwarna kuning.
Di tengah ruangan ada kasuran bundar dan sudah tua, ruangan ini sangat sempit, untuk berdiri dua orang saja terasa sesak, namun Ki Song-hoa lantas menghela napas lega, katanya.
"Di sinilah tempat yang paling aman, tidak nanti ada orang datang kemari,"
Selama hidup Pwe-giok belum pernah melihat rumah sekecil ini, ia coba bertanya.
"Tempat apakah ini?"
"Di sinilah pada masa tua mendiang ayahku suka menyepi dan membaca kitab."
Tutur Ki Song-hoa.
"Sejak berumur 50 beliau lantas berdiam di sini, satu langkahpun tidak pernah keluar hingga 20 tahun lamanya."
"Selama 20 tahun tidak pernah keluar dari tempat ini?....."
Tukas Pwe-giok dengan terkesima.
"Tapi ruangan ini sedemikian sempitnya, berdiri saja tidak dapat tegak, berbaringpun kurang leluasa, mengapa ayahmu suka menyiksa diri cara begini?"
"Soalnya ayahku merasa di waktu mudanya terlalu banyak membunuh, sebab itulah pada masa tuanya beliau berusaha merenungkan segala dosanya. Beliau merasa asalkan berhasil mencapai ketenangan batin, hal penderitaan badan bukan apa2 baginya."
"Beliau, sungguh seorang yang luar biasa,"
Ujar Pwe-giok dengan menghela napas panjang.
Teringat olehnya ucapan Ki hujin yang menyatakan segenap leluhur keluarga Ki adalah orang gila semuanya, diam2 ia tersenyum kecut dan menggeleng.
Ki Song-hoa menepuk tangan Pwe-giok, katanya pula.
"Hendaklah kau sembunyi di sini dengan tenang, makan-minum akan ku antarkan ke sini, tapi jangan sekali2 kau lari keluar, di perkampungan ini sudah terlalu banyak banjir darah, sungguh aku tidak ingin menyaksikan darah mengalir lagi."
Memandangi kepergian orang kerdil itu, diam2 Pwe-giok terharu, pikirnya.
"Istrinya gila, anak perempuan berotak miring, ia sendiripun bertubuh tidak normal, selamanya menjadi bulan2an orang, hidupnya ini bukankah jauh lebih malang daripada ku? Tapi terhadap orang lain dia masih begitu baik hati, begitu welas asih, jika aku menjadi dia, apakah aku akan berbuat sebaik dia?"
Di lantai penuh debu belaka, Pwe-giok berduduk di kasuran bundar itu.
Kamar ini tiada dinding tembok, sekelilingnya ditutup dengan kotakan pintu dan jendela yang terbuat dari kertas.
Tempat demikian tentu sangat menyusahkan di musim dingin atau di waktu hujan angin.
Pwe-giok coba mengamat2i sekitar ruangan, ia merasa di lantai yang penuh debu itu ada gambar loreng2, ia robek sepotong lengan bajunya untuk mengusap lantai, maka tertampaklah sebuah gambar Pat-kwa.
Bagi anak murid "Bu-kek-pay", perhitungan Pat-kwa dan pelajaran ilmu alam yang aneh2 sudah tidak asing lagi.
Pwe-giok adalah putera tokoh ternama dari Bu-kek-pay, terhadap ilmu pengetahuan begituan boleh dikatakan sangat mahir.
Dengan tekun ia memandangi lukisan Pat-kwa itu, dengan jarinya ia coba menggoresi garis2 gambar itu menuruti lukisannya.
Mendadak kasuran yang didudukinya bisa bergeser, lalu tertampaklah sebuah lubang di bawah tanah yang gelap dan sangat dalam.
Pwe-giok jadi tertarik dan melangkah ke bawah.
Pada saat itu juga, mendadak berpuluh pedang mengkilap telah menusuk ke tempat duduknya secepat kilat dan tanpa suara.
Tidak kepalang kaget Pwe-giok.
Coba kalau dia tidak menemukan lukisan Pat-kwa di lantai dan kalau dia tidak mahir ilmu pengetahuan begitu, jika dia masih tetap berduduk di atas kasur, saat ini tubuhnya tentu sudah berubah menjadi sarang tawon ditembus oleh berpuluh senjata tajam itu.
Sungguh kejadian yang sangat kebetulan dan juga sangat berbahaya.
Antara mati dan hidup benar-benar bergantung pada sedetik dua detik saja.
Jiwa Pwe-giok boleh dikatakan direnggut kembali dari cengkeraman elmaut.
Tapi dalam keadaan demikian sama sekali ia tidak berani memikirkannya, lekas-lekas ia tutup lubang di atas lantai itu dengan kasur tadi.
Pada saat lain lantas terdengar suara orang berseru di luar ruangan sana.
"He, mengapa kosong, tidak ada seorangpun!"
Lalu "blang", dinding kertas ruangan itu telah dijebol orang, sekeliling ruangan penuh berdiri anak murid Kun-lun-pay dan Tiam jong pay, semua berseru kaget.
"He, mengapa sudah kabur!?"
"Ya, dari mana dia mendapatkan berita akan digerebek?"
Terdengar Pek-ho Tojin berkata.
"Dia pasti takkan lari jauh, lekas kita kejar!"
Seru seorang pula.
Lalu terdengar suara kain baju berkibar, beberapa orang telah melayang pergi, hanya sekejap saja keadaan sudah sunyi kembali.
Sampai lama Pwe giok menunggu di bawah baru berani menggeser lagi kasuran itu sedikit, dilihatnya benar-benar tiada orang lagi barulah dia berani merayap naik ke atas.
Ada suara gemericiknya air di luar serta gemerisiknya daun kering tertiup angin, mungkin suara berisik inilah yang menutupi suara kedatangan orang-orang tadi sehingga sebelumnya Pwe-giok tidak tahu sama sekali.
Tapi mengapa mereka dapat mencari ke tempat ini?
Darimana mereka mendapat tahu Pwegiok berada di sini?
Betapapun hati Pwe-giok menjadi kebat-kebit, ia merasa di tengah "Sat jin-ceng"
Ini di manamana penuh orang gila, hakekatnya tiada seorangpun yang dapat dipercaya.
Lalu, dalam keadaan demikian, ke mana pula dia harus pergi?
Kini rambutnya sudah kusut masai, matanya penuh garis-garis merah, pemuda yang tadinya cakap dan lembut kini telah berubah seperti seekor binatang buas, seekor binatang yang terluka.
Ia tidak memiliki keyakinan akan sanggup bertempur dengan orang, hakekatnya ia tidak punya tenaga untuk bertempur lagi.
Sekonyong-konyong terdengar seorang memanggil dengan suara tertahan.
"Yap-kongcu ... Yap Giok-pwe ...."
Semula Pwe giok melengak, tapi segera ia menyadari yang dipanggil itu ialah dirinya.
Meski dia tidak kenal suara siapakah itu, tapi orang yang dapat memanggil nama samarannya ini kecuali ibu dan anak itu jelas tiada orang lain lagi.
Tanpa pikir ia terus menerobos masuk pula ke dalam liang di bawah tanah serta menutup lubang itu dengan kasuran tadi.
Keadaan di dalam liang itu gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.
Ia merasa liang di bawah tanah ini sangat besar, tapi iapun tak berani sembarangan bergerak, ia cuma berdiri bersandar saja di situ.
Sampai lama sekali, lamat-lamat ia tertidur akhirnya.
Sekonyong-konyong cahaya terang menyorot ke bawah, kasuran itu telah digeser orang.
Dengan terkejut Pwe-giok menoleh, segera dilihatnya wajah yang pucat dan bajik itu, wajah itu kelihatan terkejut dan juga bergirang, terdengar ia berseru lega.
"O, syukur alhamdulillah kau ternyata masih berada di sini."
Sebaliknya Pwe-giok tidak mengunjuk rasa girang sedikitpun, ia menjengek.
"Hm, akan kau bikin susah lagi padaku?"
Mendadak Ki Song-hoa memukul dadanya sendiri dan berkata.
"Ai, semuanya gara-garaku. Waktu itu kubawa kau ke sini telah dilihat oleh isteriku, mungkin dia yang memberi tahukan kepada pengganas-pengganas Kun-lun-pay dan Tiam-jong-pay itu."
"Hm, masakah kau kira aku percaya lagi padamu?"
Jengek Pwe-giok.
"Jika kukhianati kau, saat ini mengapa tidak kubawa mereka ke sini?"
Baru sekarang Pwe-giok percaya penuh, ia melompat ke atas, katanya dengan menyesal.
"Ai, rupanya aku telah salah sangka padamu."
Ki Song-hoa mendepak kasuran itu ke tempat semula, ditariknya Pwe-giok dan berkata.
"Sekarang bukan waktunya minta maaf segala. Hayolah, lekas pergi!"
"Hah, mau ke mana?!"
Mendadak seorang mendengus sambil tertawa latah. Sungguh tidak kepalang kaget Pwe-giok Belum lagi dia bertindak apa-apa, tahu-tahu sinar pedang sudah menyambar tiba.
"Sret-sret-sret", tiga pedang menusuk sekaligus.
"Hei, hei, berhenti"
Ki Song hoa berteriak-teriak.
"Kalian tidak boleh....."
Tapi pedang yang sambar menyambar itu tidak menghiraukan seruannya, tubuh Pwe giok sudah tersayat dua baris luka, anak murid Kun-lun dan Tiam-Jong telah mengepungnya dengan rapat.
Dengan mati-matian Pwe-giok berusaha membobol kepungan tapi dalam sekejap saja ia sudah mandi darah.
"Jangan dibunuh, akan kutanyai dia!"
Terdengar Pek-ho Tojin berseru dengan suara bengis. Pwe-giok menghindarkan tabasan dua pedang, habis itu mendadak ia menghantam ke depan ke arah Pek-ho Tojin.
"Blang", Pek-ho Tojin sempat mengegos, sebaliknya tiang rumah kecil itu telah tergetar patah oleh pukulan Pwe-giok yang dahsyat ini, rumah kecil itu runtuh dan ambruk, tanpa pikir Pwe-giok mengangkat sepotong tiang kayu, tiang itu terus diputarnya dengan kalap. Di tengah jeritan kaget, seorang murid Tiam-jong pay tersabet tiang itu hingga tulang dada remuk, pedang dua kawannya juga terlepas dari pegangan.
"Keparat ini sudah nekat, dibunuhpun tak menjadi soal lagi!"
Bentak Pek-ho Tojin.
Sekali berputar, Pwe giok mengayun tiang kayu yang bulatan tengahnya sebesar mangkuk itu seperti kitiran, tubuh manusia yang terdiri dari darah-daging mana mampu menahan hantaman yang begini dahsyat?
Ki Song hoa berdiri jauh di samping sana, tampaknya iapun terkesima dan bergumam sendiri.
"Besar amat tenaganya, sungguh hebat tenaganya... ."
Pwe-giok benar-benar sudah kalap, tiada sesuatu yang dilihat dan tiada sesuatu yang didengarnya lagi, ia masih terus memutar tiangnya seperti orang gila.
Mendadak putarannya mengendor, tiang yang beratnya ratusan kati itu dengan tenaga maha dahsyat mendadak dilepaskan sehingga meluncur ke depan, seorang Tojin Kun-lun pay tepat menjadi sasaran utama, tiang itu menembus perutnya.
Terdengarlah jeritan ngeri memanjang menggema angkasa disertai muncratnya darah.
Tentu saja orang lain sama pecah nyalinya dan cepat menyingkir ke samping.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Pwe-giok, ia terus menerjang keluar.
Hakekatnya ia tidak membedakan arah dan tidak melihat jalan lagi, ia hanya berlari dan berlari terus seperti orang kesetanan, ia menerobos pepohonan dan menyusup ke semak-semak.
Tubuhnya sudah penuh dicocok duri tetumbuhan, tapi suara bentakan orang mengejar lambat laun juga menjauh, tiba-tiba di depannya muncul pula rumah aneh warna kelabu itu.
Rumah setan itu atau makam, bukankah di situ tempat sembunyi yang paling bagus?
Tanpa pikir Pwe-giok terus menerjang ke sana.
Tapi mendadak sinar pedang berkelebat, seorang telah merintangi jalannya.
"Berani kau masuk ke rumah ini, segera kucabut nyawamu!"
Demikian suara seorang perempuan membentak dengan bengis.
Jalan Pwe-giok sudah sempoyongan, yang dapat dilihatnya hanya bayangan seorang secara samar-samar, seperti berambut panjang, berjubah putih, bermata jeli.
Akhirnya Pwe giok dapat mengenalinya, ialah anak perempuan sulung Ki Song hoa, si elang padang pasir yang galak itu.
Dengan tersenyum pedih Pwe-giok berkata.
"Bagus sekali jika dapat mati di tanganmu, sedikitnya kau bukan orang gila . ..."
Dia sudah kehabisan tenaga, belum habis ucapannya iapun jatuh pingsan.
***** Waktu siuman kembali, Pwe-giok merasa berada di dalam sebuah kamar gelap, tapi segera ia mengenali tempat ini adalah kamar tidur Ki-hujin.
Tapi segera iapun mengetahui dirinya tidak siuman sendiri, tapi ada orang yang membuatnya siuman.
Sekarang meski di dalam rumah tiada orang, tapi daun pintu yang berat itu berbunyi berkeriut didorong orang hingga terbuka.
Lalu sesosok tubuh kerdil melongok ke dalam, siapa lagi kalau bukan Ki Song-hoa, si Cengcu Sat-jin-ceng yang tidak diketahui bajik atau jahat itu.
Gemetar juga tubuh Pwe giok, katanya.
"Selamanya kita tiada permusuhan, mengapa kau berkeras akan mencelakai diriku?"
Ki Song-hoa mendekati pembaringan Pwe-Giok, ucapnya dengan menunduk dan menyesal;
"Maaf, mestinya ingin ku tolong kau, siapa tahu malah bikin susah padamu .... Sungguh aku tidak tahu bahwa orang-orang itu selalu membuntuti diriku."
"Jika begitu, sekarang juga lekas kau keluar,"
Kata Pwe-giok.
"Tidak, tidak boleh kutinggalkan kau kepada mereka,"
Kata Ki Song-hoa.
"Tapi merekalah yang menyelamatkan diriku, aku takkan pergi,"
Ucap Pwe-giok dengan tersenyum pedih.
"Anak muda, kau tidak tahu,"
Kata Ki Song-hoa dengan menghela napas panjang.
"Mereka menolong kau adalah karena ingin menyiksa kau secara perlahan-lahan agar kau mati di tangan mereka."
Pwe-giok merinding, tanyanya.
"Sebab.... sebab apa mereka berbuat demikian?"
"Kau benar-benar tidak tahu?"
"Sungguh aku tidak mengerti."
"Istriku itu paling benci kepada orang she Ji. Memangnya kau kira dia tidak tahu kau ini she Ji?"
"O.... aku sampai lupa...."
Seru Pwe-giok.
Sampai di sini, ia tidak sangsi lagi, segera ia meronta turun.
Tapi mendadak seorang masuk lagi, orang ini berjubah putih dan berambut panjang, siapa lagi kalau bukan si nona Elang.
Dia menyelinap masuk tanpa suara dan melototi Ki Song-hoa dengan dingin, sama sekali tiada perasaan kasih sayang antara ayah dan anak sebagaimana umumnya, sebaliknya malahan kelihatan sikapnya yang benci dan kasar, bahkan lantas membentak.
"Keluar!"
Keruan Ki Song-hoa berjingkrak, teriaknya.
"Ki Leng-hong, jangan lupa, aku ini bapakmu. Terhadap ayahmu kaupun bicara sekasar ini?"
Dia berjingkrak dan marah-marah seolah-olah mendadak berubah menjadi gila, wajahnya yang kekanak-kanakan itupun berubah menjadi beringas menakutkan.
Pwe-giok terkesima oleh perubahan luar biasa ini, tapi si nona Elang atau Ki Leng-hong itu masih tetap berdiri tegak, sama sekali tidak takut, sebaliknya makin dingin sorot matanya, katanya pula sekata demi sekata.
"Kau keluar tidak?"
Ki Song-hoa mengepal tinjunya dan mendelik, saking gregetan seakan-akan ingin mencaplok mentah-mentah si nona.
Namun Ki Leng-hong itu masih tetap memelototinya dengan sikap dingin.
Sungguh aneh, ayah dan anak ini seperti ada permusuhan yang mendalam, mereka saling melotot dan entah sudah berapa lamanya, akhirnya Ki Song-hoa menghela napas panjang, ia menjadi lemas, lalu berkata sambil terkekeh-kekeh.
"Anakku sayang, jangan kau marah, jika kesehatanmu terganggu, kan ayah juga yang susah. Kau suruh aku keluar, baiklah segera aku akan keluar"
Dia berjalan keluar pintu sambil bergumam.
"Bagaimana jadinya dunia ini. Ayah takut pada anaknya"
Pwe-giok juga tidak menyangka sang Cengcu bisa diusir pergi oleh anak perempuannya sendiri, ia terkejut dan heran, segera ia merangkak bangun.
"Untuk apa kau bangun? Rebah kembali di tempatmu!"
Jengek Ki Leng-hong.
"Cayhe merasa tidak.... tidak pantas mengganggu di sini dan ingin mohon diri saja,"
Kata Pwe-giok.
"Setelah kau dengar ocehan si kerdil itu dan kau percaya aku ingin mencelakai kau?"
Jengek Ki Leng-hong.
"Betapapun dia.... dia kan ayahmu?"
Ujar Pwe-giok.
"Tidak, dia bukan ayahku, bukan, bukan!"
Teriak Ki Leng-hong dengan histeris sambil meremas-remas baju sendiri, air mukanya berkerut-kerut dan beringas seperti Ki Song-hoa tadi.
Pwe giok memandangnya dengan terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.
Selang beberapa saat Ki Leng-hong menjadi tenang dan kembali ke pembawaannya semula yang dingin.
Dia lalu bertanya.
"Apakah kau pikir dia benar-benar orang baik?"
Ji pwe-giok tidak menjawab karena dia memang tidak yakin apakah sesungguhnya Ki Songhoa itu baik atau tidak. Ki Leng-hong tertawa, katanya.
"Sungguh aneh, banyak juga orang yang mau tertipu dan dibohongi olehnya, sampai terbunuh juga masih belum tahu, bahkan tetap menyangka dia adalah orang baik."
"Aku kan tiada permusuhan apapun dengan dia, untuk apa dia mencelakai diriku?"
Kata Pwegiok.
"Tiada permusuhan?"
Jengek Ki Leng-hong.
"Apakah kau tahu mengapa tempat ini diliputi suasana bunuh membunuh? Tahukah kau sebab apa nyawa hampir tiada harganya di sini?"
"Aku....aku tidak tahu,"
Jawab Pwe-giok. Jari tangan Ki Leng-hong yang putih lentik itu kembali berkejang, serunya dengan parau.
"Sebabnya karena dia suka membunuh orang, suka kepada kematian, dia suka menyaksikan jiwa seseorang tamat di tangannya, semakin mengerikan kematian orang lain, semakin gembira dia."
Pwe-giok melenggong dan tak dapat bicara, berdiri bulu romanya.
Sungguh luar biasa.
Di antara keluarga ini, antara suami dan istri, antara ayah dan anak, seakan-akan penuh dendam dan benci, masing-masing saling mencaci maki dan mengutuki.
Pwe giok jadi bingung harus percaya kepada keterangan siapa?
Dengan sendirinya Ki Leng-hong dapat melihat sikap Pwe-giok yang ragu itu, katanya pula dengan dingin.
"Terserah kepadamu mau percaya tidak kepada ucapanku, percaya dan tidak juga tiada sangkut-pautnya denganku."
"Bu.....bukannya aku tidak percaya,"
Kata Pwe-giok dengan tergagap.
"Aku cuma merasa, jika seorang terhadap seekor hewan saja begitu welas-asih, masakah mungkin terhadap manusia malahan bertindak kejam?"
"Kau bilang dia welas-asih terhadap hewan?"
Tanya Ki Leng hong sambil berkerut kening.
"Kulihat sendiri dia mengubur bangkai kucing dengan baik-baik, tatkala mana dia tidak tahu aku berada di dekatnya, jelas dia tidak sengaja berbuat begitu agar dilihat olehku,"
Tutur Pwegiok.
"Hm,"
Jengek Ki Leng-hong dengan tersenyum aneh.
"Dan tahukah kau siapa yang membunuh kucing itu?"
"Memangnya siapa?"
Tanya Pwe-giok.
"Dia sendiri,"
Jawab Ki Leng-hong.
"Dia sendiri!?"
Tukas Pwe-giok, tanpa terasa ia merinding pula.
"Umpama bunga sedang mekar dengan semaraknya, iapun akan memetiknya untuk dihancurkan lalu ditanamnya dengan baik-baik,"
Jengek Ki Leng-hong pula.
"Pendeknya baik bunga maupun kucing atau manusia sekalipun, asalkan melihat kehidupan yang baik, maka dia menjadi sirik dan tidak tahan, tapi kalau kehidupan itu sudah mati, dia lantas tidak dendam lagi. Asalkan mati barulah dapat memperoleh welas-asihnya. Jika kau mati, ia pun akan mengubur kau dengan sebaik-baiknya."
Tanpa terasa Pwe-giok merinding pula dan tidak sanggup bicara lagi.
"Di bawah tanah seluruh halaman perkampungan ini hampir penuh dengan mayat yang dibunuh dan dikubur olehnya sendiri,"
Tutur Ki Leng-hong pula.
"Jika kau tidak percaya, boleh coba kau menggalinya pada sembarang tempat dan kau akan melihat buktinya."
Pwe-giok jadi mual, dengan suara parau ia berkata.
"Aku.....aku ingin pergi saja, makin jauh makin baik."
"Tapi sayang, biarpun ingin pergi juga tidak dapat pergi lagi sekarang."
Jengek Ki Leng-hong. Baru saja Pwe-giok berbangkit, demi mendengar ucapan itu.
"bluk", ia duduk kembali di tempat tidurnya.
"Jika kau ingin hidup lebih lama, kau harus turut kepada perkataanku, kalau tidak, boleh kau pergi saja dan takkan kurintangi!"
Habis berkata Ki Leng-hong benar-benar menyingkir ke samping dan daun pintu masih terpentang.
Tapi Pwe-giok menjadi bingung, ia pandang pintu yang terbuka itu, ia tidak tahu apakah harus lekas pergi atau lebih baik tetap tinggal di sini saja.
Ki Leng-hong memandang dengan dingin, katanya kemudian.
"Tidak perlu kau kuatir akan kedatangan orang di sini. Betapapun besar nyali Ki Song hoa juga takkan berani membawa orang ke sini. Aku mempunyai cara untuk mengatasi dia, aku pun mempunyai akal untuk melindungi kau."
Akhirnya Pwe giok berbangkit, tanyanya.
"Kau akan melindungi diriku?"
"Ya, tidak perlu kau kuatir, selama aku berada di sini, tidak nanti kau mati!"
Ucap Ki Lenghong.
"Betul juga, dalam keadaan demikian, memang betul hanya di sinilah tempat yang paling aman. Tapi ada sementara orang yang lebih suka menyerempet bahaya daripada minta perlindungan orang.
"Tapi kau jelas bukan orang macam begitu!"
"Masa aku bukan?"
Ucap Pwe giok dengan suara hambar, ia menarik napas panjang-panjang, lalu melangkah keluar.
Betapapun duka dan dongkol perasaannya, cara bicara Pwe-giok tetap halus dan sopan, selamanya ia tidak suka bersikap kasar terhadap siapa pun.
Tapi kalau orang lain menganggap dia lemah dan penakut, maka salahlah dugaan demikian.
Agaknya Ki Leng-hong melengak juga melihat sikap tegas Pwe giok itu, serunya.
"He, kau benar-benar ingin mengantar nyawa?"
Tanpa menoleh dan tanpa menjawab Pwe-giok melangkah keluar.
"He, sudah buntu jalanmu, mengapa kau masih tetap keras kepala?!"
Seru Leng-hong pula. Baru sekarang Pwe-giok berpaling, katanya dengan tenang.
"Terima kasih atas perhatianmu, aku mempunyai tempat tujuan sendiri."
"Baiklah, pergilah kau,"
Dengus Ki Leng-hong.
"Kau akan mati atau tetap hidup kan tiada sangkut-pautnya denganku."
Walaupun begitu ucapannya, tapi sudah jauh Pwe-giok melangkah pergi dia toh masih tetap memandangnya dengan termangu-mangu.
***** Pingsan Ji Pwe giok tadi agaknya sampai setengah harian lamanya, sekarang sudah dekat magrib lagi.
Setiap kali Pwe-giok kehabisan tenaga dan pingsan, ia selalu mengira pasti tak tahan hidup lagi.
Tapi aneh, setelah siuman, tenaga baru lantas timbul pula.
Hal ini bukanlah disebabkan karena pembawaannya yang kuat, sudah tentu lantaran khasiat siau hoan-tan pemberian Thian-kang Totiang tempo hari.
Sekarang dia berada di tengah taman yang luas itu, cuaca sudah mulai remang-remang lagi, ia menyusuri pepohonan dengan setengah berjongkok, agaknya orang-orang yang mencarinya juga tidak menyangka dia berani berkeliaran di situ, makanya tiada orang berjaga dan mengawasi di taman itu.
Apalagi di taman yang luas dengan pepohonan yang lebat ini pun tidak sukar baginya untuk menghindarkan pengawasan orang.
Akan tetapi ia pun jangan harap akan dapat menerobos keluar.
Di balik pepohonan sana, di sekeliling taman itu jelas ada bayangan orang, tampaknya di bawah setiap pohon dan di setiap sudut yang gelap selalu ada bahaya yang sedang mengintai.
Baca Juga: Beruang Salju 3
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 10