Ceritasilat Novel Online

Renjana Pendekar 4

Eps 4 Renjana Pendekar - Khulung

Baca online Renjana Pendekar - Khulung

Cersil Renjana Pendekar - Khulung.

Dia terus melangkah beberapa tindak kesana, lalu menoleh, dilihatnya Pwe-giok tetap berdiri tenang di tempatnya tanpa ikut melangkah dan juga tiada sesuatu perubahan.

Keruan hati ThiRenjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh .

GAN KL > buyankaba.com 184 hoa-niocu terkejut, namun senyum yang menghias wajahnya bertambah manis sehingga rasa kejutnya tidak kelihatan.

Rupanya pada sapu tangannya itu tersembunyi semacam obat bius yang paling lihay dari Thian-cam-kau.

Jilid 8________ Apa yang digunakan Thi-hoa-nio ini disebut "Lo-pek-ciau-hun-tay-hoat"

Atau ilmu sapu tangan pengisap sukma.

Gerak tangannya kelihatan enteng tapi sesungguhnya memerlukan kecermatan yang luar biasa, baik gerakannya, timingnya, arah angin, semuanya harus diperhitungkan dengan tepat.

Selain itu, lebih dulu pihak lawan harus dirayu sehingga setengah linglung dan sama sekali tidak berjaga-jaga, untuk ini sudah tentu diperlukan daya pelet dan kecerdikan, jadi lambaian sapu tangan yang kelihatannya sepele ini sesungguhnya memerlukan pengetahuan yang luas dan dalam, sebab itulah ia termasuk satu di antara ke tujuh ilmu iblis berbisa dari Thian-camkau.

Selama ini entah sudah berapa banyak orang kangouw yang terjungkal di bawah "Lo-pekciau-hun-hoat"

Ini, mengingat usia Ji Pwe-giok yang masih muda belia, Thi-hoa-nio yakin pasti dapat merobohkannya.

Siapa tahu, biarpun masih muda usia Pwe-giok sudah kenyang pengalaman, sudah berkali-kali ia menghadapi momen menentukan mati dan hidup, terhadap siapapun dia senantiasa waspada, maka begitu melihat gelagat tidak baik, segera ia menahan pernapasannya.

Begitulah Thi hoa nio menjadi terkejut, namun di mulut ia masih bicara dengan manis.

"Wah, besar amat lagakmu, masa diundang dengan hormat saja tidak mau?!"

Terdengar seorang menukas dengan tertawa di kejauhan.

"Jika kongcu sudi ikut pergi bersama kami kakak beradik, kujamin kongcu pasti takkan kecewa!"

Suaranya berat dan rada parau, namun penuh daya pikat yang menggetar sukma, setiap katanya seolah-olah mengkili-kili hati setiap lelaki.

Di tengah suara tertawa, tertampaklah Gin hoa nio (si bunga perak) telah muncul, begitu riang wajahnya seakan-akan alisnya lagi tertawa dan matanya juga sedang tertawa.

Hampir setiap bagian sekujur badannya seperti lagi tertawa genit terhadap Pwe-giok.

Belum lagi orangnya mendekat sudah tersiar dulu bau harumnya yang merangsang, sebelah tangannya yang membelai rambut dengan kerlingan mata yang menggiurkan, katanya pula dengan tersenyum getir.

"Ku tahu kongcu pasti takkan menolak ajakan kami bukan?"

"Bukan,"

Jawab Pwe giok dengan hambar, jawaban yang sederhana. Tampaknya melengak juga Gin hoa-nio, tapi ia lantas berkata pula dengan lenggokan pinggang menggiurkan.

"Masa kongcu sampai hati?"

Setiap gerak-gerik Gin hoa nio seolah-olah ingin memancing kaum lelaki berbuat sesuatu, setiap kerlingan dan senyumnya cukup menimbulkan gairah kaum lelaki.

Namun Pwe-giok masih tetap memandangnya dengan hambar, mirip orang yang lagi menonton suatu permainan.

Hakekatnya Pwe giok tidak perlu bicara, sikapnya yang dingin dan menghina ini sudah lebih tajam daripada kata-kata apapun juga.

Gin hoa-nio menghela napas, ucapnya.

"Kau tidak mau ikut, juga tidak pergi, memangnya untuk apa kau cuma berdiri saja di sini?"

"Aku ingin tahu Khing hoa sam-niocu masih mempunyai kemahiran apalagi?"

Jawab Pwegiok dengan tertawa. Mendadak air muka Gin hoa-nio berubah, ia tertawa terkekeh-kekeh dan berseru.

"Baik!"

Begitu kata "baik"

Terucapkan, serentak ketiga kakak beradik itu lantas berputar dengan cepat, mantel mereka yang longgar lantas ikut berkibar sehingga kelihatan tubuh mereka.

Seketika Pwe-giok melenggong.

Sungguh tak tersangka bahwa tubuh di dalam mantel itu ternyata telanjang bulat.

Di antara tubuh yang putih mulus itu hanya bagian pinggul saja yang menggunakan sepotong gaun hijau yang cekak dan kelihatan kedua kakinya yang jenjang.

Dadanya padat dengan kulit badan yang putih bersih.

Mantel hitam mereka mendadak terbang seperti kupu-kupu raksasa, rambut mereka yang panjang terurai di atas dada yang putih, dada yang kelihatan kenyal dan tergetar-getar.

Gaya tarian mereka tampak halus dengan tangan yang mulus serta kaki yang jenjang mempesona, semua ini seakan-akan sedang menggapai-gapai Pwe giok.

Lambat laun pipi ketiga nona itu bersemu merah dengan mata setengah terbuka dan mulut setengah terpentang, dada berombak naik turun dan mengeluarkan suara yang menggetar sukma.

Inilah suara kehausan dan gerakan yang penuh harap.

Semua ini benar-benar bisa membikin gila kaum lelaki.

Namun Pwe-giok masih tetap memandangnya dengan hambar, sorot matanya juga tidak dialihkan ke jurusan lain.

Kini gaya tari mereka yang semula kelihatan ruwet itu mulai berubah menjadi sederhana dan bersahaja, mereka seperti masih meronta-ronta ditengah kehausan, bergeliat, berkeluk-keluk, bergemetar dan memohon...

Mendadak Pwe giok menghela napas, katanya.

"Nona Kim hoa, gaya tarian mu ini kalau dilihat Tong kongcu, lantas bagaimana jadinya?"

Tubuh Kim hoa niocu tampak bergemetar mirip kena dicambuk orang.

Namun tariannya masih tetap berlangsung.

Sekonyong-konyong Gin hoa-nio tertawa nyaring, serentak ketiga nona itu berjungkir dengan kepala di bawah, dengan tangan sebagai kaki mereka menari dengan lebih gila lagi.

Dapat dibayangkan jika perempuan telanjang menjungkir dengan kaki bergerak-gerak di udara dan rambut terurai di lantai dan...

tidak perlu menyaksikan sendiri juga setiap orang dapat membayangkan betapa gilanya gaya tersebut.

Apabila ada lelaki yang tidak berdebardebar jantungnya dan timbul reaksi badaniah yang spontan demi menyaksikan tari yang gila ini, maka lelaki itu pasti punya penyakit jika tidak mau dikatakan abnormal.

"Awas, itulah Siau-hun-thian-mo-bu!"

Tiba-tiba terdengar suara Tong Bu-siang berseru dengan suara gemetar.

"Blang", mendadak daun jendela ditutupnya, ia tidak berani memandang lagi. Siau-hun-thian-mo-bu, tarian iblis pembetot sukma, siapapun tidak tahan melihat tarian gila ini. Rupanya Tong Bu-siang menyadari betapa lihay daya tarik tarian itu, bila dirinya tidak tahan seketika bisa tertimpa bencana, sungguh ia tidak berani menyerempet bahaya ini. Suasana sunyi sepi, hanya terdengar suara napas dan keluhan yang menggetar sukma saja, seperti membawa semacam irama yang aneh yang dapat menghancurkan iman setiap lelaki. Sejenak kemudian.

"blang", daun jendela yang tertutup tadi mendadak berlubang dan dibobol dari dalam, rupanya Tong Bu-siang tidak tahan oleh suara keluhan yang merangsang itu, betapapun dia ingin melihatnya. Wajah orang tua ini kelihatan merah padam, sorot matanya seolah-olah membara, sekujur badan gemetar, saking tak tahan beberapa kali ia hendak menerjang keluar kamar, namun ia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya, celakanya matanya justru sukar dipejamkan. Tarian iblis pembetot suka ini benar-benar menimbulkan daya pikat yang sukar dibayangkan. Di bawah bimbingan orang tua yang kereng, sejak kecil watak dan iman Pwe-giok sudah terpupuk dengan kuat. Melulu soal iman, di antara tokoh-tokoh Bu-lim sekarang mungkin tiada seberapa orang yang dapat menandingi dia. Jika tiada keteguhan iman yang melebihi orang lain ini, mungkin dia sudah gila selama lebih sebulan ini mengalami pukulan yang luar biasa ini. Walaupun demikian, tidak urung jantungnya sekarang juga berdebur-debur dan hampir tiada bertenaga lagi. Pada saat itu, sinar sang surya menyorot terlebih terang, di depan matanya seolah-olah terlapis cahaya kelabu yang gemerlapan, waktu ia mengawasi lebih cermat, di sekelilingnya ternyata sudah terjalin selapis jaring halus. Jaring halus berwarna putih kelabu telah mengurungnya di tengah, benang perak yang halus dan hampir tidak kelihatan oleh mata telanjang itu terus terjulur dari ujung jari Khing-hoasam-niocu. Mendadak Thi-hoa-nio melompat ke atas, lalu berdiri tegak, ucapnya dengan tertawa.

"Boleh juga ketajaman matamu, akhirnya dapat kau lihat juga."

"Cara nona mempertontonkan keindahan tubuhmu ini, apakah tujuan kalian adalah untuk memasang jaring labah-labah yang tiada artinya ini?"

Tanya Pwe-giok dengan gegetun.

"Salah jika demikian pikiranmu,"

Jawab Thi-hoa-nio dengan tertawa.

"Thian-mo sin bu sendiri yang kami tarikan ini memang sudah penuh daya pikat, jika kau tidak percaya, boleh kau lihat Tong loyacu itu, bilamana kami tidak mengingat kepada Tong-kongcu, mungkin... mungkin ahli Am-gi nomor satu yang termasyhur ini sekarang sudah... sudah...

"Dia sengaja tidak melanjutkan dan tertawalah terkial-kial.

Tanpa terasa Pwe-giok berpaling ke sana, dilihatnya Tong Bu siang bersandar diambang jendela dengan lunglai, tampaknya sedikitpun tiada bertenaga pula.

Nyata apa yang dikatakan Thi-hoa-nio barusan memang bukan bualan, bilamana Thian-mo-bu ini ditujukan kepada Tong Bu-siang, saat ini mungkin jago Am gi nomor satu ini sudah mati di bawah kerumunan nona-nona bunga ini.

Mau tak mau terkesiap juga Pwe-giok.

Sampai sekian lama Thi-hoa-nio tertawa, habis itu mendadak ia berkata pula dengan menyesal.

"Cuma sayang, kau ini lebih mirip patung, sama sekali tidak tahu menikmati keindahan orang perempuan, maka terpaksa kami melepaskan Gin-si (benang perak), tapi inipun bukan benang labah-labah."

"Habis apa kalau bukan benang labah-labah?"

Tanya Pwe-giok.

"Akan kuberitahukan, supaya tambah pengetahuanmu."

Ujar Thi-hoa-nio.

"Inilah 'Ceng-si' yang dikeluarkan oleh 'Thian-cam' (ulat sutera sakti), mahluk sakti agama kami."

"Ceng-si (benang cinta)?... Bagus juga nama ini,"

Ujar Pwe-giok dengan tersenyum.

"Apabila sudah terlibat oleh Ceng-si ini, maka sukarlah melepaskan diri, benang cinta ini akan mengikat dan merasuk tulang, betapa nikmat rasanya yang menggetar kalbu itu, mimpipun tak dapat kau bayangkan."

Kata Thi-hoa-nio pula dengan tertawa genit.

"Cuma sayang, terlalu cepat kau melihat benang cinta ini tadi, kalau tidak, tentu sekarang kenikmatannya sudah kau rasakan."

Pwe-giok tahu Thian-cam ceng-si ini pasti keji luar biasa, tadi apabila dirinya sampai terlibat oleh benang itu, maka jangan harap akan bisa terlepas lagi, mau tak mau harus pasrah nasib untuk diperlakukan sesuka mereka, tatkala mana mungkin minta hidup tak dapat, ingin matipun sukar.

Nyata, dalam waktu singkat tadi meski tampaknya tiada terjadi sesuatu yang berbahaya, tapi sesungguhnya dia sudah berada di ambang pintu neraka dan untung bisa pulang balik.

Teringat begitu, tanpa terasa Pwe-giok berkeringat dingin, namun lahirnya dia tetap tenangtenang saja, katanya dengan tersenyum.

"Cayhe cukup maklum, semakin indah nama sesuatu benda, semakin keji pula benda itu. Seperti Siau-hun-san (Puyer pembuyar sukma), To-cengciu (Arak pelarian cinta) dan sebagainya, kuyakin Ceng-si andalan kalian ini pasti juga sejenisnya."

Mulut Thi-hoa-nio menjengkit, ucapnya.

"Ceng-si agama kami ini tidak dapat dibandingi benda apapun di dunia ini, barang sebangsa Sian-hun-san, To-ceng-ciu dan sebagainya mana dapat disejajarkan dengan Ceng-si?"

"Jika demikian, tadi waktu para nona menumpahkan Ceng-si dari tangan, mengapa benang itu tidak kalian libatkan pada tubuhku, sungguh sampai saat ini aku merasa tidak paham."

"Sudah kubilang kau ini orang tolol, nyatanya kau memang bebal."

Ujar Thi-hoa-nio dengan tertawa genit.

"Tadi jika kami benar benar langsung melibat dirimu dengan Ceng-si, bukankah segera akan diketahui olehmu? Hanya satu dua utas Ceng-si mana dapat mengikat patung seperti kau ini?"

"Oo, kiranya demikian."

Ucap Pwe-giok dengan tersenyum.

Melihat senyuman anak muda itu, segera Th-hoa-nio merasa dirinya telah terpancing dan terlanjur bicara tentang daya guna Ceng-si.

Ia berkedip-kedip, lalu berkata pula dengan tertawa.

"Tapi saat ini kau sudah terkurung rapat oleh Ceng-si kami bertiga dan jangan harap akan dapat lolos lagi, lebih baik kau berlutut dan menyerah kepada kami, kujamin pasti akan memuaskan kau."

"Para nona memiliki Ceng-si, aku kan juga punya Hui-kiam (pedang tajam),"

Kata Pwe-giok.

Habis bicara, sekali tangannya bergetar, Am-gi keluarga Tong yang menancap di ranting kayu yang masih dipegangnya itu segera ada dua buah melayang kesana.

Meski kedua biji Am-gi ini terpental karena tenaga sentakan ranting kayu itu, namun dari suara mendesingnya yang keras, jelas jauh lebih kuat daripada ditimpukkan dengan tangan orang lain.

Tak terduga, Am-gi sekuat itu sama sekali tak berguna, begitu menyentuh jaring cinta itu, sama seperti laron masuk ke jaring, meronta tak bisa terlepas, menerjang tak dapat tembus.

Pwe-giok jadi teringat pada dirinya sendirinya juga terikat oleh benang cinta Lim Tay-ih, selama ini pikirannya selalu dirundung rindu dan sukar dilupakan, entah pula bagaimana nantinya.

Teringat sampai di sini, seketika timbul macam-macam pikirannya, ucapnya dengan tersenyum getir.

"Nama Ceng-si yang nona gunakan ini sungguh nama yang sangat bagus dan sukar dicari."

"Dan sekarang kau sudah menyerah?"

Tanya Thi-hoa-nio dengan tertawa. Pwe-giok termangu-mangu seperti orang linglung, seolah-olah tidak mendengar apa yang diucapkan si nona. Thi-hoa-nio berkata pula.

"Jika kau tidak segera menjawab, sekali jaring kami tarik, seketika kau akan menjadi setan bagi cinta."

"Bisa menjadi setan bagi cinta mungkin akan lebih baik daripada selama hidup senantiasa dirundung rindu,"

Jawab Pwe-giok dengan menghela napas panjang.

"Baik jika memang begitulah kehendakmu!"

Seru Thi-hoa-nio.

Dia bertepuk tangan pelahan, lapisan jaring yang putih kelabu itu lantas mulai ringkas ke tengah, pelahan-lahan mendesak ke tubuh Ji Pwe-giok, apabila tubuhnya tersentuh Ceng-si, maka sukarlah melepaskan diri.

Benang cinta ini memang tiada ubahnya seperti benang kematian!

Entah apa yang terpikir oleh Ji Pwe-giok, tampaknya ia tidak menyadari malaikat elmaut selangkah demi selangkah sedang mendekatinya.

Dipandang dari jauh Pwe-giok seperti berdiri di tengah tiga dewi cantik dan sedang bersenda gurau, siapa yang tidak mengiler melihat adegan yang menggiurkan ini?

Siapa pula yang tahu sesungguhnya anak muda itu sudah terjeblos ke dalam jaringan maut.

Kim-hoa-nio hanya memandangi Pwe-giok dengan termangu-mangu, ucapnya dengan rawan.

"Menjadi setan bagi cinta memang jauh lebih baik daripada hidup dirundung rindu tak sampai, tampaknya kau sudah berpengalaman cinta, seumpama matipun tidak menjadi soal."

Mendadak Pwe-giok tertawa dan bersenandung.

"Ingin tak rindu, membuat orang cepat tua, setelah berpikir, tetap rindu jua..."

Ditengah senandungnya pelahan ia ayun ranting kayunya setengah lingkaran, Am-gi yang menancap pada ranting kayu itu seluruhnya lengket pula pada jaring cinta itu hingga berwujud suatu lingkaran.

"Hihi, dengan besi rongsokan ini kau kira dapat membobol benang cinta kami ini?"

Kata Thihoa-nio dengan tertawa mengikik.

Belum lenyap suaranya, dengan ranting kayu sebagai pedang, Pwe-giok terus menusuk berpuluh kali, setiap kali tusukannya tepat mengenai Am-gi yang menempel di 'jaring cinta' itu.

Tenaga tusukan yang digunakan sangat kuat.

Thi-hoa-nio merasa pergelangannya tergetar hebat, bukan saja jaring itu sukar ditarik dan ringkas, sebaliknya malah terasa membentang lebar, tanpa terasa ia berseru.

"Sungguh cerdik caramu ini, rasanya akupun rada-rada kagum padamu."

Hendaklah diketahui bahwa benang ulat sutera alam itu mempunyai daya lengket yang sangat kuat, benda apapun bila melengket lantas sukar terlepas, karena benang itupun bisa mulur mengkeret, maka ditolak atau dipentang sekuatnya tetap sukar membobolnya.

Kalau melulu menggunakan 'Pedang' dan langsung menusuk 'jaring cinta' itu, sekali pedang melengket, sekalipun besar tenaganya dan dapat melubangi jaring itu, tapi orangnya tetap akan terlilit juga di tengah jaring.

Tapi sekarang Pwe-giok menghamburkan lebih dulu am-gi sebanyak itu dan menempel pada jaring, lalu 'pedang' menghantam am-gi dengan sendirinya berbagai senjata rahasia itu takkan melengket benda lain dan Pwe-giok lantas dapat memainkan pedangnya dengan leluasa.

Cara ini tampaknya sangat sederhana, tapi bila tiada mempunyai kecerdasan luar biasa tidak nanti dapat berpikir sejauh ini.

Sekarang ranting kayu ditangan Pwe-giok telah berubah menjadi sebilah pedang serba guna.

Terdengarlah serentetan suara 'trang tring' yang nyaring.

Susul menyusul Pwe-giok menusuk terlebih gencar, tenaga yang dilontarkan juga semakin kuat, padahal jaring itu sedang ditarik dan diringkaskan oleh ketiga nona bunga itu, sebaliknya Am-gi yang ditusuk pedangnya menerjang keluar dengan kuat, akhirnya ujung berbagai senjata rahasia itupun tertembus keluar jaring.

Mendadak Pwe-giok bersiul panjang sambil berputar kencang, pedang menggaris, lingkaran senjata rahasia yang berjajar itu tertolak lebih keras oleh pedang itu.

Senjata rahasia pertama merenggang satu-dua inci ke samping dan menyampuk senjata rahasia kedua.

Maka senjata rahasia kedua itu dapat merobek jaring cinta itu beberapa inci lagi terus menghantam senjata rahasia ketiga dan begitu seterusnya....

Hanya dalam sekejap saja "Jaring Cinta"

Itu hampir terobek seluruhnya, ketika Pwe-giok menyingkap dengan ujung ranting kayunya, segera orangnya menerobos keluar sambil bersiul panjang melengking.

Khing-hoa-sam-niocu seakan-akan kesima menyaksikan olah Pwe-giok yang luar biasa itu, baru sekarang mereka terkejut sadar dan cepat melompat mundur bersama.

"Bagus, bagus sekali"

Seru Thi-hoa-nio dengan tertawa.

"Di kolong langit ini kau orang pertama yang dapat menerobos keluar dari Ceng-bang (jaring cinta) ini. Kau memang hebat dan pantas dibanggakan..."

Di tengah suara tertawanya yang seram, mendadak ia mencabut sebilah golok emas yang menancap di pohon, sekali berkelebat, lengan beberapa orang teringkus di batang pohon itu ditabasnya mentah-mentah.

Darah segar berhamburan, tapi orang-orang itu seperti tidak merasa sakit, mereka malah tertawa seperti orang gendeng.

Thi hoa-nio lantas melemparkan lengan kutung yang berlumuran darah itu kepada Pwe-giok.

Dengan gusar Pwe-giok membentak;

"Sampai sekarang kalian masih membikin celaka orang?", cepat la melompat mundur, ia tahu darah yang muncrat dari lengan kutung itu pasti darah berbisa yang bisa membikin celaka orang. Saking gemasnya melihat kekejian Thi-hoa-nio itu, segera Pwe-giok melayang ke atas dan hendak menerjang mereka. Tapi mendadak "blang", suara letusan menggelegar, beberapa lengan kutung itu mendadak meledak dan berubah menjadi kabut darah yang mengerikan. Kabut berdarah itu tersebar dengan sangat cepat dan membanjir ke arah Pwe-giok. Saat itu Pwe-giok masih terapung di atas, ia terkejut, sebisanya ia melejit di udara sehingga tubuh sendiri terpental lebih cepat ke belakang dan turun kembali ke bawah. Dilihatnya kabut berdarah itu masih terus menjalar, cuma jaraknya sekarang sudah mulai menjauh. Didengarnya suara Thi-hoa-nio yang seram berkumandang dari jauh.

"Sekali Thian-can (ulat sutera sakti) menyusup tulang, sebelum mati, takkan berhenti, boleh kau tunggu saja nanti..."

Kabut itupun mulai menipis, tapi bayangan Khing-hoa-samniocu sudah tidak kelihatan lagi, hanya golok emas yang menancap di pohon itu tampak masih bergoyang-goyang.

Kebetulan angin meniup, seketika tercium bau darah yang anyir.

Pwe-giok ingin tumpah, sungguh tidak kepalang kejutnya mengingat apa yang terjadi barusan.

Terdengar Tong Bu-siang lagi berkata dengan menghela napas panjang.

"Inilah ilmu andalan Thian-can-kau yang disebut Kim-to-kay-te, Hiat-sun-tay-hoat (Golok emas membelah tubuh, ilmu menghilang di balik kabut darah). Sekali ilmu ini dikeluarkan, di dunia ini mungkin tiada seorangpun yang mampu menangkap mereka."

Ahli senjata rahasia nomor satu yang termasyhur ini tampak bersandar lemas di ambang jendela dan memandang jauh ke depan, sorot matanya juga menampilkan rasa kejut dan takut yang tak terhingga, seperti membayangkan bahaya dan petaka yang bakal timbul.

"Agama iblis sekeji dan kejam ini, mengapa tiada orang yang mau menumpas mereka?"

Kata Pwe-giok dengan menyesal. Tong Bu-siang tersenyum getir, katanya.

"Memangnya siapa yang sanggup menumpas mereka? Ilmu silat Thian-can-mo-kau sungguh teramat keji, orang biasa hakekatnya tidak dapat mendekati mereka, begitu menempel tubuh mereka seketika jiwa melayang"

"Siapakah Kaucu mereka?"

Tanya Pwe-giok.

"Kaucu Thian-can-kau hakekatnya tidak pernah dilihat oleh siapapun juga, jejaknya sukar diketahui, pergi datang tanpa bekas serupa hantu, wajah aslinya tidak pernah dikenal orang, bahkan siapa namanya juga tiada yang tahu."

"Aku tidak percaya bahwa di dunia ini tiada seorangpun yang mampu mengatasi dia?"

Ujar Pwe-giok.

"Ilmu silat Thian-can-kau memang sangat keji, tapi juga tidak sembarangan mengganggu orang, jejaknya juga jarang ditemukan di wilayah Tionggoan, mereka kebanyakan berkeliaran di pegunungan sunyi dan di daerah terpencil, bilamana mereka tidak mencari orang lain, hakekatnya orang lainpun sukar menemukan mereka."

"Namun aku tetap yakin pasti ada orang yang akan menumpas mereka,"

Kata Pwe-giok pula pelahan setelah termenung sejenak. Terbelalak mata Tong Bu-siang, katanya.

"Ya, mungkin kau... kau masih muda dan berani, tinggi pula ilmu silatmu, apabila kelak ada orang yang mampu menumpas Thian-can-kau, maka... maka orang itu pastilah kau. Mengenai diriku..."

Dia menyengir, lalu menyambung pula.

"Pada waktu mudaku hidupku tidak teratur dan suka menuruti bisikan hati, iman tidak teguh. Jadi ilmu jahat Thian-can-kau kebetulan adalah lawan maut bagiku."

Baru sekarang Pwe-giok tahu apa sebabnya seorang guru besar dunia persilatan terkenal ini sedemikian jeri terhadap Khing-hoa-sam niocu dan begitu mudah dipengaruhi oleh tarian gila tadi.

Mendadak Sebun Bu kut melongok keluar dan memandang Pwe-giok dengan tersenyum misterius, katanya.

"Thian-can merasuk tulang, sebelum mati tidak berhenti. Sekali kau terlibat mereka, jarang ada orang yang dapat lepas dengan hidup. Meski sekarang mereka sudah pergi, tapi Ji-kongcu masih perlu hati-hati."

"Untuk ini tidak perlu anda ikut kuatir,"

Jawab Pwe-giok dengan tersenyum hambar.

"Jika demikian, biarlah Cayhe mohon diri lebih dulu,"

Kata Sebun Bu kut. Tiba-tiba ia berpaling kepada Tong Bu-siang dan bertanya.

"Dan Tong cianpwe? ...."

Tong Bu-siang tampak ragu, katanya.

"Ji-kongcu ......"

"Cianpwe silahkan pergi saja dan tidak perlu kuatir bagiku,"

Sela Pwe-giok dengan tertawa.

"Bila aku tak dapat menjaga diriku sendiri, cara bagaimana aku akan berkelana di dunia Kangouw kelak?"

Tong Bu-siang berpikir sejenak, katanya pula.

"Ya, kuyakin kau pasti dapat menjaga dirimu sendiri. Hanya perlu kau ingat, masa paling lihay dari racun ulat ini hanya tujuh hari, asalkan kau dapat bertahan tujuh hari pertama, selanjutnya tentu tidak berbahaya lagi."

"Tapi untuk tujuh hari itulah sampai sekarang belum pernah ada orang yang sanggup menghindarinya"

Kata Sebun Bu-kut dengan seram. Habis itu, sekuatnya ia memayang Ong Uh-lau dan diajak pergi. Menunggu sesudah Tong Bu-siang juga pergi, barulah Ki Leng-yan muncul dengan tertawa, katanya.

"Memang ku tahu di dunia ini tiada seorang perempuan pun yang sampai hati mem..."

Belum habis ucapannya, mendadak Pwe-giok jatuh terkapar.

Terlihat wajahnya pucat menghijau, bibirnya bergemetar, sekujur badan menggigil, Leng-yan coba merabanya, terasa badan pemuda itu panas seperti dibakar.

Rupanya tadi waktu kabut berdarah mulai buyar, tanpa terasa ia telah menghisapnya setitik, waktu itu ia memang sudah merasakan gelagat tidak enak, tapi baru sekarang racun itu mulai bekerja.

Leng-yan seperti terkesima saking cemasnya, dipandangnya Pwe-giok dengan termangumangu, katanya kemudian.

"Akhirnya kau terkena juga... terkena juga racun mereka."

Pwe-giok merasa seluruh badan sebentar dingin sebentar panas, ia tahu keracunan tidak ringan, tapi dia memang berbudi luhur, selalu memikirkan orang lain lebih dulu.

Ia kuatir Leng-yan berkuatir dan berduka baginya, maka sedapatnya ia berlagak tenang.

katanya dengan tertawa.

"Sejak tadi ku tahu keracunan, tapi... tapi tak beralangan..."

Ling-yan berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Jika sejak tadi tahu keracunan, mengapa tidak kau katakan?"

"Kau tahu Sebun Bu-kut dan komplotannya itu bermaksud jahat padaku,"

Tutur Pwe-giok.

"Jika tadi ku perlihatkan tanda-tanda keracunan, mungkin mereka takkan meninggalkan diriku. Sebab itulah aku bertahan sekuatnya hingga sekarang."

Meski untuk bicara saja rasanya sangat sulit, namun Pwe-giok bertahan dan berusaha memberi penjelasan kepada Ki Leng-yan, diharapkannya semoga anak perempuan yang masih polos dan suci bersih ini bisa lebih banyak memahami seluk-beluk orang hidup.

Nona itu menghela napas, katanya.

"Ai, kenapa manusia selalu punya macam-macam soal ruwet begitu, burung tentu tidak ........"

Memandangi wajah si nona yang kekanak-kanakan dan linglung itu, susah juga hati Pwegiok.

Ia tahu ucapan Sebun Bu kut tadi bukan untuk menakutinya, Khing-hoa-sam-niocu pasti takkan melepaskan dia, selama tujuh hari ini pasti sukar dilewatkan.

Apalagi sekarang dirinya keracunan, untuk berdiri saja tidak kuat.

Bilamana sekarang dia didampingi orang lain, mungkin dapat membantu dia menghindarkan malapetaka ini, celakanya yang mengiringinya sekarang adalah Ki Leng-yan yang linglung dan tidak dapat bertindak apapun.

Semakin dipikir semakin gelisah Pwe-giok, apabila Khing-hoa-samniocu datang lagi dan melihat Ki Leng-yan, mungkin anak dara ini takkan diampuni.

Teringat demikian, cepat ia berseru.

"Kawanan burung sedang menantikan dirimu, lekas kau pergi mencari mereka saja!"

"Dan kau?"

Tanya Leng-yan.

"Aku... aku akan istirahat di sini,"

Jawab Pwe-giok.

Leng-yan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa.

'Biarlah kutunggu kau di sini, bila kau sudah sembuh, kita pergi bersama." -Dengan tersenyum lantas ia berduduk dan sama sekali tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Pwe-giok dalam keadaan gawat.

Pwe-giok merasa darah dalam tubuhnya bergolak hebat, mulut mendadak terasa kaku dan mati rasa, ingin bicara, namun bibir tak dapat bergerak lagi.

terpaksa ia hanya memandangi Ki Leng-yan dengan sorot mata yang cemas.

Dilihatnya wajah Ki Leng-yan yang tersenyum simpul itu makin lama makin kabur, makin jauh, suaranya juga seperti semakin lirih seolah-olah berkumandang dari tempat yang tidak kelihatan, sayup-sayup terdengar nona itu berkata.

"Jangan kuatir, bilamana kawanan burung sakit, akupun senantiasa menjaga mereka, setiap hari kusuapi obat kepada mereka, obatku sangat manjur, setelah kau minum tentu akan jauh lebih segar."

Pwe-giok ingin berteriak.

"Aku bukan burung, mana boleh minum obat burung!"

Namun satu katapun tak dapat diucapkannya, ia merasa Leng-yang telah menjejalkan sebiji obat ke mulutnya, pil itu lantas cair dan mengalir ke dalam kerongkongan, malahan terasa membawa semacam bau harum yang aneh.

Ia merasa pikirannya mulai tenang, badan terasa segar dan enak sekali, selang sejenak pula mendadak ia terpulas.

***** Begitulah Pwe-giok tertidur dan mendusin dan tertidur pula.

Apabila mendusin, Ki leng-yan lantas menyuapi ia satu biji obat, sehabis minum obat rasanya menjadi segar, lalu tertidur pula dengan nyenyaknya.

Mula-mula bila dia mendusin dia masih terus mendesak.

'Lekas kau pergi saja, larilah lekas, setiap saat Khing-hoa-samniocu bisa muncul lagi."

Tapi akhirnya ia merasa badan sedemikian segarnya, terhadap segala urusan penuh keyakinan biarpun Khing-hoa-samniocu sekarang datang lagi rasanya juga tidak takut pula.

Ia sendiri tidak paham mengapa bisa timbul perasaan begitu, iapun tidak tahu apakah masa tujuh hari yang konyol itu sudah lewat atau belum.

Entah berapa hari sudah lalu, suatu hari mendadak Pwe-giok sadar kembali, sadar seluruhnya, ia merasa tubuhnya segar bugar, sedikitpun tiada tanda-tanda lemas sehabis keracunan, bahkan rasanya penuh semangat, penuh gairah.

Ki leng-yan juga sedang memandangnya dengan tersenyum.

"Obatku memang manjur bukan?"

Demikian tanya si nona. Pwe-giok tertawa, jawabnya.

"Ya, memang sangat manjur, sungguh obat mujarab yang jarang ada bandingannya..."

Sembari bicara iapun memandang sekelilingnya, baru sekarang dia mengetahui dirinya masih berada di kamar itu, meski mayat dan darah sudah tersapu bersih, tapi segera teringat lagi olehnya akan "Khing-hoa-niocu".

ia terkesiap, tanyanya.

"Sudah berapa lama aku tertidur?"

"Rasanya seperti sudah delapan atau sembilan hari,"

Jawab Leng-yan.

"Apa? Sembilan hari?....Dan mereka tidak datang?"

Seru Pwe-giok kaget. Tujuh hari yang konyol itu ternyata sudah dilaluinya tanpa sadar, ia terkejut dan bergirang pula, sungguh rada-rada tidak percaya.

"Kau merindukan mereka?"

Jawab Pwe-giok dengan menyengir.

"Aku cuma... cuma heran mengapa mereka tidak datang lagi?"

"Dan mengapa kau tidak pergi saja, apakah sengaja menunggu kedatangan mereka?"

Kata Leng-yan dengan tenang-tenang. Mendadak Pwe-giok melonjak bangun, serunya.

"He, betul juga. mereka pasti tidak menyangka aku masih berada di sini, mereka tentu akan mengejar ke tempat jauh sana dan tidak tahu bahwa aku belum pergi dari sini,"

Ia pegang tangan leng-yan, katanya dengan tertawa.

"Meski tindakan ini rada-rada menyerempet bahaya, tapi dalam keadaan terpaksa, kukira akal ini adalah akal paling bagus yang dapat dipikirkan, syukur kau dapat memikirkan akal ini."

"Akal apa? Aku tidak tahu!"

Kata Leng-yan dengan tertawa linglung.

Pwe-giok melengak, dipandangnya wajah yang masih polos, bersih dan kekanak-kanakan itu, entah nona ini benarbenar orang gendeng dan berbuat secara kebetulan saja, atau sebenarnya memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Leng-yan berbangkit, mendadak ia tertawa dan berkata.

"Marilah kita pergi, mereka sedang menunggu kau di luar!"

"Apa? mereka menunggu di luar?"

Pwe-giok menegas dengan kaget.

"Ya,"

Jawab Leng-yan dengan tertawa.

"Waktu kau tertidur, banyak pula kudapatkan kawan baru di sini, ada kakak gagak, ada adik pipit, sudah kubicarakan dengan mereka, bilamana sakitmu sudah sembuh, akan kubawa kau berkenalan dengan mereka."

Sementara itu sinar sang surya tampak memancar masuk melalui jendela, waktu masih pagi, di luar memang benar ramai burung berkicau.

Pwe-giok lantas ikut keluar bersama Ki Leng-yan.

Begitu melihat kawanan burung, dengan tertawa senang nona itu lantas berlari ke sana.

Pwe-giok melihat pohon itu masih tegak berdiri di sana dihembus silir angin pagi, cuma orang-orang yang semula terikat di pohon itu sudah tak kelihatan lagi.

Tiba-tiba teringat olehnya pondokan yang letaknya meski terpencil ini toh tidak terlalu jauh dari perkampungan lain, jika di tempat ini mendadak mati orang sebanyak ini, mengapa tiada orang bertanya atau menyelidiki apa yang terjadi.

Sesungguhnya orang-orang yang terikat di pohon itu orang hidup atau mati?

Selain itu, tempat penginapan ini sekarang juga tiada nampak bayangan seorangpun.

Aneh, apakah semuanya sudah lari dan tiada yang mengurus?

Jika tidak ada yang mengurus, mengapa dirinya dapat tinggal di sini sampai delapan atau sembilan hari?

Pertanyaan-pertanyaan ini cukup membuat pusing kepala.

Sekalipun Pwe-giok sudah sadar, tapi cara bagaimana pula harus diselesaikannya.

Ki Leng-yan yang sama sekali tidak paham seluk-beluk kehidupan manusia ini.

Berpikir sampai di sini, timbul juga rasa curiga Pwe-giok, dipandangnya Leng-yan yang sedang berkeplok dan berjingkrak gembira di kejauhan itu, pikirnya.

"Jangan-jangan nona ini tidak gendeng sungguh-sungguh, tapi cuma pura-pura bodoh... Mungkinkah selama beberapa hari ini sudah pernah kedatangan orang lain yang membantu dia menyelesaikan urusan di sini. Tapi mengapa dia tidak omong padaku?"

Tapi segera terpikir lagi.

"Ah, dengan susah payah orang telah menolong diriku, tapi aku malah mencurigai dia, betapapun tidak pantas. jika dia bermaksud jahat padaku, untuk apa pula dia menyelamatkan diriku?"

Dilihatnya Ki Leng-yan sedang berlari-lari kemari dengan tertawa riang, serunya sesudah dekat.

"Mereka (maksudnya kawanan burung) memberitahukan padaku bahwa di depan sana ada sebuah tempat yang baik, maukah kita melihatnya ke sana?"

Di bawah cahaya sang surya, kelihatan pipi si nona bersemu merah laksana buah apel yang mulai masak, sinar matanya mencorong terang, begitu jernih dan polos seolah-olah tidak tahu betapa licik dan kejinya kehidupan manusia ini.

"Marilah ikut!"

Ajak Leng-yan pula sambil menarik tangan Pwe-giok.

Pwe-giok merasa tiada halangan untuk menolak, dia ikut melangkah ke sana.

Tidak lama kemudian, tertampak di depan sana ada sebuah perkampungan yang cukup megah, pintu gerbang perkampungan itu bercat merah mentereng, dapat diduga penghuni gedung ini pasti bukan sembarang orang.

"Sudah sampai, marilah kita masuk ke sana,"

Kata Leng-yan tiba-tiba sambil menarik tangan Pwe-giok.

"Di dalam sini banyak hal yang menarik, hayo kita melihatnya.' "Ini rumah siapa? mana boleh sembarangan masuk ke rumah orang lain?"

Ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir.

"Tidak apa-apa, masuk saja,"

Ajak Leng-yan pula.

Dengan lagak rumah ini aku punya, nona itu lantas menolak pintu dan masuk tanpa permisi.

Terpaksa Pwe-giok ikut terseret masuk ke sana.

Halaman di dalam ternyata sangat luas, ruangan tamu juga terpasang sangat mewah.

Langsung Ki Leng-yan masuk ruangan tamu terus berduduk.

Anehnya juga tiada orang yang merintanginya.

Padahal halaman rumah ini terawat rapi dan bersih, jelas ada penghuninya.

"Mumpung tuan rumahnya belum keluar, marilah kita lekas pergi saja,"

Ajak Pwe-giok. Tapi Leng-yan tidak menghiraukannya, sebaliknya ia malah berkata.

"Hayo ambilkan teh."

Sejenak kemudian, benarlah seorang lelaki berbaju hijau (seragam kaum hamba yang umum) membawakan dua mangkuk teh dan ditaruh dengan hormat di atas meja, tanpa bersuara terus tinggal pergi pula dengan kepala tertunduk.

Leng-yan minum seteguk teh yang di suguhkan itu, lalu berseru pula.

"Perutku lapar!"

Hanya sebentar saja, segera beberapa orang menghidangkan santapan yang diminta dengan sikap yang sangat menghormat, bukan saja tidak bersuara sepatah pun kepada mereka, bahkan memandang saja tidak berani.

Melenggong lah Pwe-giok, ia mengira dirinya sedang bermimpi.

Segera Leng-yan mengangkat sumpit, katanya dengan tertawa.

"Hayolah makan, kenapa sungkan-sungkan?"

Dia lantas mendahului menyumpit hidangan dan dimakan dengan nikmatnya. Pwe-giok sendiri tiada napsu makan, ia termenung-menung, sejenak kemudian, ia tidak tahan dan bertanya.

"Apakah tuan rumah di sini memang kenalan mu?"

Leng-yan tidak menggubrisnya, ia makan lagi beberapa sumpit, mendadak ia pegang meja terus didomplangkan, keruan mangkuk piring jatuh berantakan.

"Mana orangnya!"

Teriak si nona.

Beberapa lelaki baju hijau berlari keluar dengan tergopoh-gopoh, semuanya mengunjuk rasa gugup dan takut, semuanya berdiri di depan Leng-yan dengan kepala tertunduk, sampai bernapas saja tidak berani keras-keras.

Dengan mata melotot Leng-yan berteriak.

"Kenapa begini asin masakan Haysom-ah-ciang (teripang masak kuah telapak kaki itik), siapa yang menghidangkan nya tadi?"

"Hamba!"

Cepat salah seorang baju hijau menjawab dengan suara gemetar sambil berlutut.

"Apakah kau sengaja hendak membikin aku mati keasinan?"

Teriak Leng-yan pula. Pwe-giok tidak tahan, ia ikut bicara.

"Dia kan tidak mencicipi, darimana tahu rasanya asin atau cemplang, mana boleh kau menyalahkan dia. Apalagi kita makan gratis di tempat orang lain, masa kau marah-marah malah?"

Leng-yan tertawa, katanya.

"O, aku tidak tahu urusan, jangan kau marah padaku."

"Ai, kau....."

Belum lanjut ucapan Pwe-giok, sekonyong-konyong lelaki baju hijau yang berlutut itu berseru.

"Hamba tidak layak menghidangkan makanan yang terlalu asin ini, hamba pantas mampus, tangan yang membawa hidangan ini lebih-lebih harus mampus...."

Mendadak ia melolos sebilah belati dari pinggangnya dan "krek", kontan ia potong tangan sendiri.

Terkejut Pwe-giok, dilihatnya orang itu kesakitan setengah mati, butiran keringat memenuhi dahinya, tapi tidak berani merintih sedikitpun, tangan kanan memegangi pergelangan tangan kiri yang buntung itu dengan darah bercucuran, namun tetap berlutut dan tidak berani berdiri.

"Ehm, mendingan begini,"

Kata Leng-yan dengan tertawa manis.

"He, ken..... kenapa kau berubah menjadi sekejam ini?"

Seru Pwe-giok.

"Mereka kan bukan burung, kenapa harus ku sayang mereka?"

Jawab si nona.

"Memangnya manusia tidak lebih berharga daripada burung?"

Kata Pwe-giok.

"Mereka suka dan rela, kenapa kau ribut bagi mereka?"

Ujar Leng-yan dengan tertawa.

"Di dunia ini mana ada orang yang suka rela membikin cacat anggota tubuh sendiri?"

Seru Pwe-giok dengan gusar. Leng-yan tidak menanggapinya, ia pandang lelaki berbaju hijau dan bertanya dengan tertawa.

"Kalian tunduk kepada perintahku secara sukarela, begitu bukan?"

Tidak saja lelaki baju hijau yang membuntungi tangan sendiri, bahkan semua hamba itu menjawab serentak.

"Ya, secara sukarela."

"Bagus!"

Kata Leng-yan dengan gembira.

"Jika demikian, coba kalian memotong dua jari masing-masing"

Kata-kata ini membikin Pwe-giok terperanjat. Siapa tahu orang-orang ini benar-benar lantas melolos pisau dan "krak-krek", beramai-ramai mereka memotong dua jarinya sendiri.

"Kalian berbuat demikian secara suka rela, bukan?"

Tanya Leng-yan pula.

"Ya, sukarela."

Jawab orang-orang itu tanpa perduli darah mengucur dari tangan masingmasing.

"Kalian tidak merasa sakit, sebaliknya malah sangat senang, betul tidak?"

Tanya Leng-yan pula.

"Betul, hamba gembira sekali,"

Jawab orang-orang itu berbareng.

"Kalau gembira, kenapa tidak tertawa?"

Kata Leng-yan.

Serentak tertawalah orang-orang itu meski sebenarnya semuanya kesakitan setengah mati, dengan sendirinya tertawa demikian lebih tepat dikatakan meringis.

Merinding Pwe-giok menyaksikan kejadian luar biasa ini, tanpa terasa iapun berkeringat dingin.

Sungguh sukar dibayangkan, kaum lelaki yang kekar dan segar ini seakan-akan telah menjadi boneka semata-mata.

Mereka hanya mengiakan apa yang dikatakan Ki Leng-yan dan perintah nona itu lantas dilakukan.

Sungguh kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapapun Pwe-giok tidak percaya di dunia ini ada kejadian aneh begini.

Leng-yan berpaling dan tertawa kepadanya, katanya.

"Tahukah kau sebab apa mereka tunduk kepada perkataanku?"

"Mer...mereka..."

Pwe-giok gelagapan. Tapi Leng-yan lantas menukas.

"Sebab mereka telah menjual sukmanya kepadaku."

Bulu roma Pwe-giok merasa berdiri seluruhnya, serunya kaget.

"Ap...apakah kau sudah gila...."

Si nona tersenyum tenang, katanya pula.

"Bukan saja sudah ku beli sukma mereka, bahkan sukma mu selekasnya juga akan ku beli, bukan saja mereka tunduk kepada perintahku, nanti kaupun harus tunduk."

Pwe-giok menjadi gusar, teriaknya.

"Kau berani.... ber....."

"Sekarang kedua kakimu sudah lemas, sekujur badanmu tidak bertenaga lagi, berdiri saja tidak sanggup, cukup satu jari saja dapat ku robohkan kau!"

Kata Leng-yan dengan tertawa. Mendadak Pwe-giok berdiri, tapi memang betul, kedua kakinya terasa lemas.

"bluk", ia jatuh terduduk pula.

"Selang sebentar lagi sekujur badanmu akan terasa sebentar dingin sebentar panas, habis itu seluruh badan akan terasa sakit dan gatal, rasanya seperti beribu-ribu semut sedang menyusup ke dalam kulit daging mu."

Padahal tidak perlu sebentar lagi, sekarang juga Pwe-giok sudah mempunyai perasaan begitu, dengan suara gemetar ia bertanya.

"Kau....kau turun tangan keji padaku?"

"Hehe, selain diriku masa ada orang lain?"

Jawab Leng-yan dengan tersenyum manis. Gemerutuk gigi Pwe-giok saking ngerinya, teriaknya parau.

"Meng...mengapa tidak kau bunuh saja diriku?"

"Orang berguna seperti kau ini, kan sayang jika kubunuh?"

Ujar si nona dengan tertawa. Keringat dingin memenuhi dahi Pwe-giok, tanyanya dengan parau.

"Sesungguhnya apa kehendakmu?"

"Meski sekarang kau merasa seperti terjeblos di dalam neraka,"

Kata Leng-yan pula "Tapi asalkan kau mau menjual sukma kepadaku, segera dapat kubawa kau menuju ke surga, bahkan ke dunia yang jauh lebih gembira daripada surga."

Pwe-giok merasa tidak tahan lagi akan siksaan ini, dengan suara serak ia tanya.

"Apa yang kau inginkan?"

"Sekarang, hendaklah segera kau pergi ke suatu tempat yang disebut kim-khak-ceng, 23 penghuni perkampungan itu, tua-muda, laki-perempuan harus kau bunuh seluruhnya......"

Kata leng-yan dengan tertawa.

"Lo Cu-liang, pemilik perkampungan itu terkenal kaya-raya, sekaranglah aku sangat memerlukan harta-bendanya itu."

"Apakah dalam keadaan begini aku sanggup membunuh orang?"

Tanya Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

Saat ini kau memang tidak sanggup membunuh, tapi setiba di Kim-khak-ceng segera kau akan berubah menjadi maha kuat, bila tenagamu tidak kau keluarkan akan terasa tersiksa malah, rasanya seperti mau meledak,"

Kata si nona. Siksaan yang sukar ditahan ini hampir membuat Pwe-giok lupa segalanya, sekuatnya ia berdiri dan menerjang keluar pintu, tapi mendadak dia berlari balik dan berteriak dengan parau.

"Tidak, tak dapat kulakukan hal ini."

"Kau harus, harus kau lakukan, apakah kau ingin bertaruh denganku?"

Kata Leng-yan dengan tertawa. Dengan suara gemetar Pwe-giok berkata.

"Tadinya kukira kau ini anak perempuan yang tulus dan bersih, siapa tahu semua ini cuma pura-pura saja, kau berlagak seperti tidak tahu apa-apa agar orang lain tidak was-was terhadap dirimu, siapa tahu kau terlebih ..... lebih keji daripada Ki Leng-hong!"

"Hihi,"

Leng-yan tertawa misterius.

"Memangnya kau kira aku ini siapa?"

Pwe-giok memandangnya tajam, tiba-tiba dilihatnya sorot mata si nona yang poos dan bersih itu memancarkan sinar tajam laksana mata elang. Tanpa terasa Pwe-giok bergidik, ucapnya.

"He, kau.... kau inilah Ki Leng-hong!"

Nona itu tertawa terkekeh-kekeh, dia memang bukan Ki Leng-yang melainkan Ki Leng-hong. Katanya dengan tertawa.

"Sudah belasan hari kau menjadi orang tolol, baru sekarang kau tahu siapa diriku. Hehe, memangnya kau kira aku benar-benar paham bahasa burung? Di dunia ini mana ada manusia yang benar-benar paham bahasa burung? Biarpun si idiot Leng-yan sendiri juga belum tentu paham. Apa yang kau pahami adalah hasil penyelidikanku sendiri dengan segenap daya upaya ku, kalau manusia saja tidak tahu, darimana burung bisa tahu? Huh, kau sok anggap dirimu pintar, masa hal ini tak dapat kau pahami?"

Gemetar sekujur badan Pwe-giok, katanya.

"Pantas, pantas kau berkeras ingin ikut padaku. Pantas kau memperhitungkan Khing-hoa samniocu, pasti takkan datang lagi, apalagi datang ke hotel kecil itu..."

"Ya, meski kau terkena racun Khing-hoa-samniocu, tapi tidak terlalu berat, malahan tampaknya kau pernah minum semacam obat mujarab apa yang memiliki daya tahan sangat kuat terhadap segala jenis racun."

"Betul, itulah Siau-hoan-tan dari Kun-lun-pay...?"

"Tepat."

Sela Leng-hong dengan tertawa.

"Cuma Siau-hoan-tan Kun-lun-pay itu meski dapat menawarkan segala macam racun, namun terhadap Kek-lok-wan (pil maha girang) yang kuberikan padamu ini sedikitpun tak berguna."

"Kek-lok-wan apa?"

Pwe-giok menegas dengan kaget.

"Jadi Kek-lok-wan yang kau beri minum padaku ini telah membikin keadaanku menjadi rusak sedemikian rupa? apakah orang-orang itupun terkena racun Kek-lok-wanmu, maka... maka sukma merekapun dijual kepadamu?!"

"Jika Kek-lok-wanku kau anggap sebagai racun, maka itu sama seperti kau menghina diriku,"

Kata Leng-hong.

"Meski sekarang kau sangat menderita, tapi cukup minum satu biji Kek-lok-wan, seketika semua rasa derita akan lenyap, bahkan semangatmu akan timbul berlipat ganda dan membuatmu merasa nikmat tak terhingga."

"Apakah... apakah Kek-lok-wanmu ini bisa membuat orang ketagihan?"

Tanya Pwe-giok dengan suara gemetar.

"Barang siapa sudah keracunan maka setiap hari harus meminumnya, kalau tidak tentu akan merasa tersiksa dan tak tertahankan?"

"Memang benar perkataanmu,"

Kata Leng-hong dengan tertawa.

"Dalam kek-lok-wanku ini mengandung semacam getah tumbuh-tumbuhan yang berasal dari negeri barat, tumbuhan ini berbunga sangat indah, tapi getah buahnya dapat membuat hidup orang seperti terbang ke awang-awang, tapi juga dapat membikin orang hidup lebih menderita daripada mati."

Mendadak ia berpaling dan bertanya kepada orang-orang berbaju hijau.

"Hidup kalian sekarang bukankah sangat bahagia?"

"Ya, selamanya hamba tidak pernah sebahagia sekarang ini."

Sahut orang-orang itu serentak.

"Dan bagaimana kalau tidak kuberi Kek-lok-wan kepada kalian ?"

Tanya Leng-hong pula.

Seketika wajah orang-orang itu berkerut-kerut, sorot matanya menampilkan rasa kuatir, jelas rasa takut ini timbul dari lubuk hati yang dalam, semuanya munduk munduk dan memohon dengan sangat.

"Mohon ampun, nona, apapun akan hamba lakukan bagi nona, asalkan setiap hari nona memberi satu biji Kek-lok-wan."

"Demi memperoleh satu biji Kek-lok-wan, kalian tidak segan-segan menjual ayah-ibu bahkan istrinya sendiri, begitu bukan?"

Tanya Leng-hong lagi. Serentak orang-orang itu mengiakan. Leng-hong berpaling ke arah Pwe-giok dan tertawa, katanya.

"Meski kau tak punya ayah-ibu dan istri untuk dijual, tapi kau dapat menjual dirimu sendiri, dengan tubuhmu sebagai imbalannya akan kau dapatkan kebahagiaan sukma mu yang tak terhingga, tidakkah ini cukup berharga bagimu?"

Keringat bercucuran dari dahi Pwe-giok, serunya dengan tergagap.

"Aku... aku..."

Leng-hong berkata dengan suara lembut.

"Kau tidak berdaya melawan lagi, selama delapan hari itu setiap hari telah kutambah kadar Kek-lok-wan yang kuberi minum padamu, kecanduanmu sekarang sudah jauh lebih dalam daripada mereka, penderitaan yang kau rasakan hakekatnya tidak mungkin dapat ditahan oleh siapapun juga, kukira lebih baik kau tunduk dan menurut perintah saja."

Pwe-giok menggertak gigi, saking tersiksanya sampai bicarapun sukar.

"Lebih cepat kau menyatakan tunduk, lebih cepat pula akan berkurang rasa derita mu, kalau tidak, kau hanya akan tersiksa lebih lama secara sia-sia, sebab akhirnya kau toh pasti akan menyerah juga,"

Habis berkata Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuang keluar sebiji obat berwarna coklat, seketika tercium bau harum yang aneh.

Dengan sorot mata yang rakus orang-orang berbaju hijau itu sama melototi pil yang dipegang Leng-hong itu, tampang mereka itu mirip anjing kelaparan yang melihat tulang, bahkan orang-orang ini tampaknya terlebih rendah daripada anjing.

Leng-hong menyodorkan obat itu ke depan Pwe-giok, katanya dengan tertawa.

"Ku tahu kau tidak tahan lagi, boleh kau minum dulu satu biji ini, lalu mulailah bekerja. Asalkan kau menyatakan tunduk padaku, akupun pasti percaya padamu."

Pwe-giok meremas-remas tangan sendiri, serunya dengan parau.

"Tid... tidak, aku... aku tidak boleh!..."

Dengan suara terlebih halus Leng-hong berkata pula.

"Sekarang, asalkan pil ini kau terima, seketika dari neraka kau akan menuju ke surga. Kebahagiaan yang dapat kau peroleh dengan cara semudah ini, jika kau tidak mau, kan bodoh kau?"

Orang-orang berbaju hijau itu sama mendekam di lantai, napas mereka ngos-ngosan seperti anjing di musim birahi.

Pwe-giok melirik sekejap orang-orang itu, tiba-tiba terpikir olehnya bilamana obat itu diminum, seketika dirinya akan berubah serendah orang-orang ini dan selama hidup akan mengesot di bawah kaki Leng-hong untuk memohon belas kasihannya agar memberinya satu biji Kek-lok-wan, selama hidupnya akan menjadi budaknya dan tenggelam di tengah penderitaan yang kotor dan rendah serta takkan menjelma lagi untuk selamanya.

Berpikir sampai di sini, sekujur badan Pwe-giok sudah penuh keringat dingin, mendadak ia meraung keras-keras, dua orang berbaju hijau itu didepaknya hingga terjungkal, seperti orang gila ia terus menerjang keluar.

Anehnya Ki Leng-hong tidak merintanginya, ia cuma berucap dengan dingin.

"Kau mau pergi, boleh pergilah. Cukup kau ingat, bilamana kau tidak tahan derita lagi, setiap saat kau boleh pulang kembali ke sini, Kek-lok-wan ini senantiasa menantikan kedatanganmu, bila kau kembali ke sini segera kau akan mendapatkan pembebasan."

Tersembul senyuman keji pada wajahnya, katanya pula dengan pelahan.

"Sekalipun kakimu di rantai juga kau akan kembali ke sini, biarpun kedua kakimu ditebas buntung merangkak pun kau akan pulang lagi ke sini." ***** Pwe-giok terus berlari-lari, ia menerjang ke ladang, ia menjatuhkan diri di tanah berpasir, bergulingan dan meronta, pakaiannya sudah terkoyak-koyak, tubuh pun berdarah, tapi sedikitpun tidak dirasakannya. Penderitaan lahiriah ini bukan apa-apa, yang sukar ditahan adalah penderitaan yang timbul dari rohaniahnya. Jika orang tidak pernah mengalami sendiri, selamanya takkan dapat membayangkan betapa menakutkan penderitaan yang sukar dilukiskan itu. Bahkan Pwe-giok membentur-benturkan kepalanya kepada batu padas sehingga berdarah, ia menggertak gigi kencang-kencang, ujung mulut pun berdarah, ia memukuli dada sendiri dan menjambak rambut... Semua itu tetap tiada gunanya, telinganya selalu mengiang ucapan Ki Leng-hong tadi.

"Setiap saat kau boleh pulang kembali ke sini... bila kau kembali ke sini segera kau akan mendapat pembebasan?"

Pembebasan, saat ini yang dipikirkannya memang cuma mengharapkan pembebasan, apakah untuk itu harus menjual raga sendiri atau menjual sukma sendiri, ia tidak perduli lagi.

Seperti apa yang sudah diduga Ki Leng-hong, mendadak ia berbangkit dan menerjang kembali ke arah datangnya tadi.

Mendadak seorang tertawa terkekeh-kekeh dan berkata.

"Aha, akhirnya kami dapat menemukan kau."

Tiga sosok bayangan orang segera melayang tiba seperti burung cepatnya dan menghadang di depan Pwe-giok, tertampak mantel hitam yang gemerlapan tertimpa sinar matahari.

Mereka ternyata "Khing-hoa-samniocu"

Adanya. Akan tetapi bagi Pwe-giok sekarang ketiga 'nona bunga' ini tidak menakutkan lagi. Ia mendelik matanya merah membara, teriaknya parau.

"Menyingkir! Biarkan ku lewat!"

Heran dan terkejut juga Khing-hoa samniocu melihat perubahan luar biasa Pwe-giok ini, ketiga kakak beradik itu saling pandang sekejap, sambil berkerut kening Thi-hoa-nio lantas berkata.

"Pemuda yang cakap dan ganteng mengapa berubah menjadi seperti binatang buas ?"

Belum lenyap suaranya, serentak Pwe-giok menerjang tiba.

Saat ini meski tenaganya sengat kuat, tapi itu cuma tenaga yang timbul secara naluri, ia sudah lupa cara bagaimana menggunakan tenaga dalam dan kepandaian.

Perlahan Gin-hoa-nio lantas menjulurkan sebelah tangannya untuk menjegal, kontan Pwegiok jatuh tersungkur.

Kaki Gin-hoa-nio lantas menginjak di atas punggung anak muda itu, katanya dengan tercengang.

"Mengapa orang ini berubah menjadi begini, sampai ilmu silat sendiripun tidak ingat lagi."

"Kumohon, lepaskan diriku!"

Ratap Pwe-giok sambil meronta dan menggabruki tahan pasir.

"Hm, kau kira kami akan melepaskan kau pergi?"

Jengek Gin-hoa-nio.

"Jika kalian tidak mau melepaskan diriku, lebih baik kalian bunuh saja diriku!"

Seru Pwegiok.

"Ai, kenapa kau berubah menjadi begini?"

Tanya Kim-hoa-nio dengan gegetun.

"Apakah kau terkena sesuatu racun?"

"Kek-lok-wan..... Kek-lok-wan, kumohon beri... berilah satu biji Kek-lok-wan!"

Teriak Pwegiok dengan serak.

"Apa itu Kek-lok-wan?"

Tanya Kim-hoa-nio.

"Kuterima segala permintaanmu, ku tunduk kepada segala perintahmu, ku rela menjadi budak mu, akan kulakukan apa saja...."

Agaknya anak muda itu sudah kurang sadar sehingga bicara tak keruan.

"Lihay amat Kek-lok-wan itu,"

Kata Kim-hoa-nio.

"Mengapa tak pernah kuketahui barang apakah Kek-lok-wan ini sehingga dapat mengubah watak seorang yang keras kepala begini rela menjadi budaknya?"

"Perduli barang apa, pokoknya kita bawa saja dia,"

Kata Thi-hoa-nio setelah berpikir sejenak.

Ia memberi tanda, segera beberapa gadis jelita bergaun cekak berlari dari lereng bukit sana, mereka membawa sebuah karung berwarna putih kelabu, Pwe-giok terus dimasukkan ke dalam karung itu.

Karung itu entah terbuat dari bahan apa, kuat dan ulet luar biasa, sia-sia Pwe-giok meronta, memukul dan menendang di dalam sambil berteriak-teriak.

Mungkin mimpipun Ki Leng-hong tidak pernah menyangka Ji Pwe-giok akan ditawan orang dimasukkan ke dalam karung dan dibawa pergi, kalau tidak, pasti seperti apa yang telah diucapkannya, biarpun merangkak juga Pwe-giok akan balik lagi ke sana.

"Sungguh aneh sekali racun yang diidapnya, entah cara bagaimana menawarkan nya dan entah siapa di dunia Kangouw ini yang paham cara menawarkan racun semacam ini."

Kata Kim-hoa-nio dengan masgul.

"Jika kita saja tidak sanggup menawarkannya, siapa lagi di dunia ini yang sanggup?"

Ujar Thihoa-nio.

"Habis, apakah membiarkan dia dalam keadaan demikian?"

Ucap Kim-hoa-nio sambil berkerut kening.

"Toaci jangan lupa, dia adalah musuh kita,"

Kata Gin-hoa-nio dengan ketus.

"Sekalipun dia tidak keracunan juga kita akan membunuh dia, sekarang dia keracunan, mengapa kita berbalik akan menolongnya?"

Kim-hoa-nio menghela napas panjang, jawabnya.

"Meski dia musuh kita, tapi melihat keadaannya aku menjadi tidak tega dan merasa kasihan."

"Toaci sungguh seorang pecinta besar, cuma cintamu rasanya menjadi tidak murni,"

Kata Thihoa-nio dengan tertawa.

"Memangnya kau kira kasihanku padanya demi diriku sendiri?"

Kata Kim-hoa-nio dengan mengulum senyum.

"Bukan demi dirimu, memangnya demi diriku?"

Ujar Thi-hoa-nio sambil terkikik-kikik.

"Ucapanmu sekali ini memang tepat, apa yang kulakukan ini justeru demi kau,"

Kata Kimhoa-nio dengan tertawa.

"Aku?"

Thi-hoa-nio menegas, mukanya menjadi merah, sambil menggigit bibir ia berkata pula.

"Padahal.... padahal namanya saja aku tidak tahu, masa.... masa Toaci...." -Belum habis ucapannya mukanya bertambah merah dan mendadak ia berlari menyingkir. Dalam pada itu sebuah kereta besar dan mewah tampak memapak tiba, segera kawanan gadis tadi menggotong karung yang berisi Pwe-giok ke dalam kereta. Khing-hoa-samniocu juga naik kuda masing-masing dan beramai-ramai terus membedal ke depan. ***** Kereta itu terus menuju ke selatan, melalui propinsi Oh-pak, Su-jwan, kemudian ke propinsi Kui-ciu. Sepanjang jalan Pwe-giok masih terus meronta-ronta dan meraung-raung, jelas penderitaannya luar biasa. Tapi Khing-hoa-samniocu tidak memperlakukan dia dengan sadis, sebaliknya malah merawatnya dengan sangat baik. Thi-hoa-nio yang galak dan liar itu seakan-akan berubah sama sekali sikapnya terhadap Pwegiok, bahkan kelihatan merasa sedih. Kim-hoa-nio tahu meski di mulut saudaranya itu tidak bicara, tapi di dalam hati sesungguhnya sedang berkuatir bagi Pwe-giok. Sedangkan Gin-hoa-nio terkadang suka menyindir.

"Coba lihat Sam-moay (adik ketiga), orang hampir membunuhnya, tapi dia malah menyukai dia."

Dengan tertawa Kim-hoa-nio berkata.

"Biasanya penilaian Sam-moay sangat tinggi, setiap lelaki di dunia ini dipandangnya seperti kotoran yang tidak laku sepeserpun. Sebenarnya aku berkuatir kalau-kalau selama hidupnya takkan mendapat pasangan, tapi sekarang dia bisa jatuh hati kepada seseorang, kan kita harus bergirang baginya."

"Tapi orang yang ditaksirnya justeru adalah musuh kita,"

Kata Gin-hoa-nio.

"Ah, musuh apa?"

Ujar Kim-hoa-nio dengan tersenyum.

"Padahal ada permusuhan apa antara dia dengan kita, apalagi kalau dia sudah menjadi suami Sam-moay, dari musuh kan terus berubah menjadi ipar?"

Gin-hoa-nio melengak, ia tertawa, katanya.

"Sungguh aku tidak paham mengapa Sam-moay bisa penujui dia?"

"He, dia kan lelaki cakap yang jarang ada bandingannya, ilmu silatnya juga tergolong pilihan, pemuda sebaik ini siapa yang tidak menyukainya? apalagi usia sam-moay sudah waktunya birahi,"

Kata Kim-hoa-nio.

Gin-hoa-nio menggigit bibir dan tidak bicara lagi, ia terus melarikan kudanya ke depan.

Gerak gerik rombongan ini meski misterius, tapi sangat royal, tidak sayang buang uang, siapapun menghormati mereka, maka sepanjang jalan tiada terjadi sesuatu halangan.

Sesudah menyeberangi Tiangkang, mereka tidak mencari hotel lagi, sepanjang jalan mereka disambut dengan hormat oleh keluarga hartawan.

Rupanya pengaruh Thian-can-kau diamdiam telah meluas hingga mencapai daerah Kanglam (selatan sungai Tiangkang), kebanyakan keluarga hartawan di daerah situ sudah masuk menjadi anggota cabang Thian-can-kau.

Yang menggembirakan Kim-hoa-nio dan Thi-hoa-nio adalah keadaan Pwe-giok sudah semakin baik, penderitaannya sudah jauh berkurang, terkadang sudah dapat tidur dengan nyenyak.

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa bekerjanya racun Kek-lok-wan yang mengandung morfin itu lambat laun akan berkurang apabila si penderita sanggup bertahan pada masa krisis yang memang sangat menyiksa itu.

Tapi bila tiada mendapat pertolongan, satu diantara sejuta mungkin juga tidak sanggup menahan siksaan batin yang maha hebat itu.

Coba kalau Khinghoa-sam-niocu tidak terus mencari jejak Ji Pwe-giok, saat ini dia mungkin sudah terjerumus semakin dalam.

Melihat keadaan Pwe-giok yang bertambah sehat, Thi-hoa-nio menjadi girang.

Sebaliknya Gin-hoa-nio tampak semakin dongkol, agaknya dia menaruh dendam kepada Pwe-giok.

Meski perlahan-lahan Pwe-giok sudah sadar kembali, tapi keadaannya sangat lemas, seperti orang yang baru sembuh dari sakit keras.

Bila teringat dirinya hampir terjerumus ke neraka yang sukar melepaskan diri, tanpa terasa Pwe-giok berkeringat dingin pula.

Baik atau buruk, untung atau celaka, nasib manusia terkadang hanya bergantung pada sekian detik dan sekian jengkal saja.

Namun perlakuan Khing-hoa-samniocu yang teramat baik padanya membuat hatinya merasa tidak tenteram, ia tidak tahu apa pula maksud tujuan yang telah dirancang oleh ketiga kakak beradik yang misterius ini.

Dari propinsi Oh-pak mereka telah masuk ke Su-jwan.

Suatu hari sampailah mereka di Songpeng-pah.

Song-peng-pah ini bukan kota besar, tapi jalan kota cukup rajin dan terpelihara.

Kotanya juga ramai, orang berlalu lalang, banyak yang tertarik kepada ketiga kakak beradik yang cantik dengan keretanya yang besar itu.

Ketiga nona ini malah sengaja turun dari kuda masing-masing dan berjalan dengan bergandeng tangan, mereka melirik ke kanan dan tersenyum ke kiri, sungguh tidak kepalang senang mereka melihat orang lain sama terpesona terhadap mereka.

Mendadak Gin-hoa-nio menepuk pundak seorang di tepi jalan, tanyanya dengan tersenyum genit.

"Apakah toako penduduk Song-peng-pah sini?"

Tanpa sebab ditepuk seorang nona cantik, tulang orang itu serasa lemas seluruhnya, melihat tangan yang putih halus itu masih semampir di pundaknya, tanpa terasa orang itu lantas merabanya dan menjawab dengan menyengir.

"Ya, betul!"

Gin-hoa-nio seolah-olah tidak tahu tangannya lagi diraba-raba orang, ia tertawa terlebih manis, katanya pula.

"Jika demikian, tentu Toako tahu di mana kediaman Ma Siau-thian?"

Mendengar nama Ma Siau-thian, seketika orang itu merasa seperti kena dicambuk satu kali, cepat ia menarik tangannya kembali dan menjawab dengan hormat.

"O, kiranya nona ini kenalan Ma toaya, beliau tinggal tidak jauh di depan sana, di jalan seberang sana, belok ke kiri, gedung yang berpintu cat merah itulah."

Tiba-tiba Gin-hoa-nio memberikan lirikan genit, lalu membisiki orang itu.

"Kenapa kau takut kepada Ma Siau-thian? Asalkan kau berani, malam nanti boleh kau datang mencari diriku...."

Lalu ia meniup pelahan ke telinga orang itu dan tertawa. Sukma orang itu seakan-akan terbang ke awang-awang, dengan muka merah ia menjawab.

"O, aku..... aku tidak berani."

"Huh, percuma!"

Omel Gin-hoa-nio dengan tertawa menggiurkan sambil mencubit pelahan pipi orang itu.

Dengan melenggong orang itu menyaksikan kepergian rombongan Gin-hoa-nio, sampai lama ia masih berdiri terkesima seperti habis mimpi, ia meraba pipinya yang rada-rada gatal dan bergumam.

"Keparat, barang baik hampir semuanya di borong olehmu, Ma Siau-thian, dasar...."

Mendadak pipinya yang rada gatal itu berubah menjadi rasa sakit, pipi itu sudah bengkak seperti kepala babi, kupingnya juga sakit seperti ditusuk-tusuk jarum, ia kesakitan dan ketakutan sambil terguling-guling dan menjerit.

"Ai, untuk apa kau lakukan?"

Omel Kim-hoa-nio sambil menggeleng ketika mendengar jeritan ngeri dari jauh itu. Gin-hoa-nio terkekeh-kekeh, katanya.

"Terhadap lelaki yang suka iseng begini, kalau tidak dihajar adat sedikit tentu tidak kapok. Tampaknya Toaci telah berubah menjadi welas asih, apakah benar-benar sudah siap untuk menjadi menantu baik hati keluarga Tong?"

Kim-hoa-nio mendongkol, ia tidak bicara lagi, tapi terus melangkah ke depan dengan cepat.

Terlihat dinding tembok tinggi di depan sana, beberapa orang sebangsa cecunguk sedang main dadu lempar di samping pintu besar sana.

Gin-hoa-nio mendekatinya, sekali depak ia bikin salah seorang lelaki itu terpental, orangorang lain terkejut dan gusar, beramai-ramai mereka membentak.

Tapi Gin-hoa-nio memandang mereka dengan tertawa manis, katanya.

"Numpang tanya para Toako, apakah di sini tempat kediaman Ma-toaya?"

Melihat wajah yang cantik itu, rasa gusar orang-orang itu seketika terbang ke awang-awang, mereka terbelalak memandangi Gin-hoa-nio dari segala sudut ke segenap bagian tubuhnya.

Seorang diantaranya berkata sambil cengar-cengir.

"Akupun she Ma, akupun Ma toaya, ada keperluan apa adik sayang mencari diriku?"

"Ah, kulihat mukamu ini masih boleh juga,"

Ucap Gin-hoa-nio dengan tertawa genit sambil menjulurkan tangannya untuk meraba muka orang.

Serentak orang itupun mendekatkan mukanya dan bermaksud mencium, tak tersangka dia lantas dipersen dengan sekali gamparan keras oleh Gin-hoa-nio hingga mencelat.

Keruan lelaki yang lain menjadi gusar terus hendak mengerubutinya.

Dengan tertawa Gin-hoa-nio berkata.

"Aku kan tidak mau menjadi menantu orang, biarpun hatiku keji dan tanganku keras sedikit juga tidak menjadi soal."

Dia ternyata sengaja berolok-olok kepada Kim-hoa-nio, beberapa orang itu terus dilabraknya hingga terkapar di sana-sini dengan kepala pecah dan darah mengucur.

Kim-hoa-nio mendongkol, tapi iapun tidak menghiraukan lagi.

Pada saat itulah terdengar seorang meraung.

"Keparat, anak kura-kura darimana, berani ributribut di depan pintu Locu? semuanya berhenti!"

Maka muncul seorang lelaki berjubah sulam dengan wajah merah diiringi beberapa lelaki kekar. Segera Gin-hoa-nio menanggapi dengan tertawa.

"Ah, kukira siapa, rupanya Ma-toaya sudah keluar! Wah, alangkah gagahnya, alangkah kerengnya!"

Beberapa pengiring itu segera mendelik dan bermaksud mendamprat, tapi Ma Siau-thian lantas pucat demi melihat ketiga nona ini, serentak ia bertekuk lutut dan menyembah, katanya dengan hormat.

"Tecu Ma Siau-thian dari cabang Sujwan utara menyampaikan sembah bakti kepada ketiga Hiangcu, mohon maaf, karena tidak tahu akan kedatangan ketiga Hiangcu, sehingga tidak dilakukan penyambutan selayaknya."

Gin-hoa-nio menarik muka dan mendengus.

"Hm, mendingan Ma-toaya masih kenal kami, untung juga kau keluar pada waktunya yang tepat, kalau tidak kami mungkin bisa mampus dihajar oleh beberapa tuan yang gagah perkasa ini."

Ma Siau-thian berkeringat dingin, cepat ia menyembah lagi dan berkata.

"Kawanan binatang ini memang pantas mampus, mereka benar-benar buta melek, masa berani bersikap kasar kepada ketiga Hiangcu, sebentar Tecu pasti memberi hukuman setimpal kepada mereka."

Dengan hambar Kim-hoa-nio lantas berkata.

"Sudahlah, yang penting sekarang barangkali Ma-toaya dapat menyediakan suatu tempat bagi kami, sedapatnya tempat yang tenang, sebab kami membawa seorang sakit di dalam kereta."

Berulang-ulang Ma Siau-thian mengiakan dan menyambut ketiga nona itu ke dalam rumah.

Beberapa cecunguk itu sama terkesima melihat Ma-toaya yang biasanya malang-melintang itu sekarang ternyata munduk-munduk dan ketakutan terhadap ketiga nona cantik ini.

Ketika melangkah masuk ke dalam gedung itu, mendadak Gin-hoa-nio mendengus.

"Yang menyudahi persoalan ini dan mengampuni mereka adalah Toaci, aku sendiri tidak berkata demikian."

Ma Siau-thian menjadi kebat-kebit, katanya dengan tergagap.

"Ya, Tecu.... Tecu paham."

Thi-hoa-nio menarik lengan baju Gin-hoa-nio dan berkata.

"Ji-ci, kau tahu perasaan Toaci akhir-akhir ini kurang baik, kenapa kau suka membikin marah dia."

"Dia kan tidak mencarikan pacar bagiku, untuk apa aku mesti menjilat dia?"

Jengek Gin-hoanio sambil mengebaskan lengan bajunya dan melengos Setelah menyilakan 'Khing-hoa-samniocu' ke ruangan tamu, Ma Siau-thian mendadak menyingkirkan semua anak buahnya, lalu berkata dengan hormat.

"Tecu tahu ketiga Hiangcu suka kepada ketenangan, maka setiap saat senantiasa menyediakan tempat yang baik bagi para Hiangcu."

"O, dimana tempatnya?"

Tanya Kim-hoa-nio.

"Di sini,"

Jawab Ma Siau-thian.

Dengan tersenyum ia lantas menggulung sebuah lukisan besar di ruangan tamu itu, tertampaklah di balik lukisan itu ada sebuah pintu rahasia.

Pintu dibuka dan tertampaklah sebuah jalan tembus, dibalik pintu terdapat beberapa kamar indah.

"Kami kan tidak mau berbuat sesuatu yang malu dilihat orang, kenapa mesti main sembunyisembunyi,"

Jengek Gin-hoa-nio. Ma Siau-thian menjadi seperti diguyur air dingin, ucapnya dengan gelagapan.

"O, jika..... jika Hiangcu kurang suka, di taman belakang masih ada tempat lain...."

"Biarlah, di sini saja,"

Sela Kim-hoa-nio dengan menarik muka.

Segera ia mendahului melangkah masuk ke kamar rahasia itu, beberapa gadis mengikuti di belakangnya dengan menggotong Ji Pwe-giok.

Melihat tempat yang dikunjungi ketiga nona ini makin lama makin misterius, entah bagaimana nasibnya nanti bila digotong masuk ke situ.

Namun apa daya, biarpun tidak suka, mau tak mau Pwe-giok hanya menurut saja karena badan tak bisa berkutik.

Setelah menaruh Pwe-giok di atas tempat tidur, beberapa gadis cantik itu lantas tinggal pergi dengan merapatkan pintu.

Sunyi senyap, di dalam kamar rahasia itu, selagi Pwe-giok berbaring memandangi langitlangit kamar dengan melamun, sekonyong-konyong seorang membuka pintu dan melangkah masuk.

Ternyata Thi-hoa-nio adanya.

Nona ini berduduk diam saja di ujung ranjang dan memandangi Pwe-giok dengan mengulum senyum, satu kata saja tidak bicara.

Akhirnya Pwe-giok tidak tahan, ucapnya.

"Sekali ini berkat pertolongan nona, kalau tidak .... kalau tidak, Cayhe mungkin .... mungkin ...."

"Kau tidak benci kepada kami lagi?"

Tanya Thi-hoa-nio dengan tersenyum. Pwe-giok tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya, ia menghela napas, katanya kemudian.

"Cayhe tidak pernah membenci kalian, asalkan para nona jang.... jangan...."

"Jangan membunuh orang, begitu bukan?"

Tukas Thi-hoa-nio.

"Nona sendiripun bilang begitu, bila terlalu banyak membunuh orang, wajah cantik bisa berubah menjadi buruk,"

Kata Pwe-giok sambil tersenyum getir. Thi-hoa-nio memandangnya pula sejenak dengan diam, mendadak ia tertawa dan bertanya.

"Jadi kau ingin supaya aku bertambah cantik?"

Jilid 9________ Pwe-giok gelagapan dan tak dapat menjawab, bilang suka terasa tidak tepat, bilang tidak suka juga terasa tidak betul.

Ia menjadi kelabakan, ia merasa untuk menjawab pertanyaan nona ini jauh lebih sukar daripada berbuat apapun.

Thi Hoa-nio menatapnya tajam-tajam, katanya pula.

"Kalau suka bilang suka, kalau tidak jawab saja tidak suka, kenapa tidak berani menjawab ?"

"Sudah.....sudah tentu suka,"

Akhirnya tercetus juga jawabannya.

"Dan kau menghendaki aku turut perkataanmu,"

Tanya Thi Hoa-nio pula dengan tersenyum. Nona yang jahil ini semakin aneh pertanyaannya. Dengan menyengir Pwe-giok menjawab.

"Memikirkan diri sendiri saja tidak sempat, mana berani kuharapkan nona menurut kepada perkataanku ?"

"Asalkan kau menghendaki demikian, tentu aku akan menurut,"

Ucap Thia Hoa-nio dengan suara lembut.

"Tapi...tapi aku...."

Pwe-giok tergagap-gagap pula.

"Apakah kau menghendaki aku membunuh orang ?"

"O, aku tidak bermaksud begitu,"

Jawab Pwe-giok.

"Jika begitu, kau cuma ingin ku turut kepada perkataanmu saja ?"

Pwe-giok menghela nafas dan terpaksa mengiakan.

Mendadak Thi Hoa-nio melonjak bangun dan mencium satu kali di pipinya, lalu berlari pergi dengan tertawa genit.

Menyaksikan menghilangnya bayangan si nona di luar pintu, Pwe-giok berguman sendiri.

"Aneh, mengapa mendadak dia kegirangan begitu ? Apakah dia menyangka aku telah menyanggupi sesuatu kepadanya ?"

Teringat kepada Tong Kongcu yang digoda mereka, tanpa terasa Pwe-giok jadi ngeri sendiri.

Selama beberapa hari ini, meski keadaannya semakin sehat, tapi tetap dirasakan lemas tak bertenaga, lesu dan lelah, ia melamun hingga lama dan akhirnya terpulas tanpa terasa.

Entah sudah berapa lama dia tertidur, ketika mendadak dirasakannya sesosok tubuh yang halus dan lunak menyusup ke dalam selimutnya, pelahan-lahan orang itu menggigit samping lehernya serta meniup hawa di telinganya.

Pwe-giok terjaga bangun, namun lampu sudah padam, apapun tidak kelihatan, hanya dirasakan gumpalan tubuh yang lunak dalam pelukannya dengan bau yang harum sedap dan membuat jantung berdetak keras.

"He, sia...siapa kau ?"

Seru Pwe-giok.

Orang yang berbaring disampingnya tidak menjawab, tapi lantas membuka bajunya serta merangkulnya, jari-jemari yang halus itu meraba perlahan sekujur badannya.

Pwe-giok tahu orang yang menyerahkan diri ke dalam pelukannya ini pasti Thi Hoa-nio adanya dan tidak mungkin orang lain.

Ia merasa detak jantungnya bertambah keras, dengan menahan perasaan ia berkata.

"Jika kau benar-benar menurut perkataanku, hendaklah lekas kau keluar !"

Tapi orang di sebelahnya tertawa genit dan menjawab.

"Siapa mau turut kepada perkataanmu ? Justru kuharap kau yang turut kepada perkataanku, sayang..."

Suara yang setengah tertahan dan rada serak itu penuh daya tarik dan godaan.

"Hei, kau, Gin Hoa-nio !"

Seru Pwe-giok kaget.

"Ya, makanya kau harus turut kepada perkataanku, pasti takkan ku kecewakan kau,"

Kata Gin Hoa-nio dengan lembut. Tenaga Pwe-giok saat ini ternyata lenyap tanpa bekas, ia tertindih di bawah hingga hampir tak dapat bernapas, jantungnya berdetak-detak keras dan mandi keringat.

"Maukah kau menyalakan lampu ?"

Kata Pwe-giok mendadak.

"cara begini saja apakah kurang baik ?"

Tanya Gin Hoa-nio "Aku ingin melihat dirimu,"

Jawab Pwe-giok. Gin Hoa-nio tertawa cekikikan, katanya.

"Sungguh tidak nyana kau ternyata sudah berpengalaman dan ahli. Baiklah akan kuturuti kehendakmu."

Dengan kaki telanjang Gin hoa-nio lantas melompat turun dari tempat tidur, digerayanginya batu api untuk menyalakan lampu. Di bawah cahaya lampu itu tertampak jelas potongan tubuhnya yang menggiurkan.

"Kau mau lihat, silahkan lihatlah sepuasmu !"

Katanya dengan tertawa sambil melirik genit kepada Pwe-giok. Tapi anak muda itu lantas mendengus.

"Hm, memang ingin kulihat betapa bejatmu, betapa kau tidak kenal malu ? Hm, kau kira kau sangat cantik ? bagiku justru memualkan !"

Selama hidup Pwe-giok belum pernah mengucapkan kata-kata sekeji ini, apalagi terhadap seorang perempuan.

Tapi sekarang ia sengaja hendak memancing kemarahan Gin Hoa-nio, maka dipilihnya kata-kata yang paling menyakitkan hati dan dilontarkan langsung.

Benarlah senyum yang menghiasi wajah Gin Hoa-nio seketika lenyap, mukanya yang bersemu merah seketika berubah menjadi kelam, lirikan yang menggoda juga memancarkan sinar buas, teriaknya dengan suara parau.

"Kau... kau berani mempermainkan diriku ?!"

Kuatir orang akan menggodanya lagi, Pwe-giok lantas mencaci maki sekalian.

"Sekalipun kau tidak tahu malu, seharusnya kau berkaca dulu agar kau tahu.....", makin menyakitkan hati makiannya, biarpun perempuan yang sedang dirangsang napsu birahi juga pasti akan dingin seketika. Bibir Gin Hoa-nio sampai pucat, teriaknya dengan suara gemetar.

"Memangnya kau kira kau sendiri ini lelaki cakap ? Hmm, justru ingin kulihat berapa lama kecakapanmu ini akan bertahan ?"

Mendadak ia menyambar sebilah golok yang tergantung di dinding dan menerjang ke depan tempat tidur, dicekiknya leher Pwe-giok sambil menyeringai.

"Sekarang juga akan ku bikin kau berubah menjadi lelaki yang paling buruk di dunia ini, agar setiap perempuan di dunia ini akan mual bila melihat tampangmu. Akan kulihat apakah kau masih bisa jual tampang atau tidak ?"

Segera Pwe-giok merasakan mata golok yang dingin menggores di pipinya, akan tetapi dia tidak merasakan sakit, sebaliknya merasakan semacam kesadisan yang menyenangkan, ia malah bergelak tertawa.

Gin Hoa-nio menyaksikan muka yang tiada cacat itu telah robek di bawah mata goloknya, darah tertampak mengucur dari wajah yang pucat itu.

Seketika Gin Hoa-nio merasakan tangannya gemetar, sayatan kedua sukar dilakukannya lagi.

Maklum, bilamana seorang harus merusak hasil seni yang indah, betapapun memang bukan pekerjaan mudah.

Tapi Pwe-giok lantas melotot, teriaknya dengan tertawa.

"Hayolah, turun tangan lagi ? Mengapa berhenti ? Muka ini bukan milikku, jika kau rusak justru kurasakan sebagai suatu pembebasan bagiku, aku malah berterima kasih padamu dan takkan sakit hati."

Kulit daging yang tersayat itu jadi merekah akibat tertawa Pwe-giok itu, darah mengucur lebih deras, tapi sorot matanya juga mengandung semacam pembebasan yang latah.

Gin Hoa-nio merasa keringat dinginnya telah membasahi gagang goloknya, dengan suara histeris ia berteriak.

"Biarpun kau tidak sakit hati, tapi ada orang lain yang akan merasa sakit. Jika tak dapat ku peroleh kau, biarlah kuhancurkan kau, ingin kulihat apakah dia tetap suka kepada orang gila bermuka buruk macam kau ?"

Mendadak iapun bergelak tertawa seperti orang gila, sayatan kedua akhirnya dilakukan pula.

Sekonyong-konyong "Blang", pintu didobrak orang, Thi Hoa-nio menerjang masuk dan merangkul pinggang Gin Hoa-nio terus diseretnya mundur sambil berteriak-teriak.

"Toaci, lekas kemari, jici sudah gila !"

Gin Hoa-nio meronta-ronta dan menyikut Thi Hoa-nio, teriaknya dengan tertawa.

"Aku tidak gila, tapi kekasihmu itulah yang gila. Dia bilang mukanya itu bukan miliknya, biarlah kuberikan si gila ini padamu, sekarang diberikan secara gratis padaku juga aku tidak mau."

Selagi Pwe-giok, Gin Hoa-nio dan Thi Hoa-nio berebutan begitu, datanglah Kim Hoa-nio, ia kaget melihat muka Pwe-giok berdarah, teriaknya.

"He.. apa yang kau lakukan?"

Gin-hoa-nio tertawa, teriaknya parau "Akulah yang melakukannya, apakah.. apakah kau pun merasa sakit..."

Belum habis ucapannya.

"plok", mukanya telah digampar sekali oleh Kim-Hoa-nio. Mendadak suara tertawanya berhenti, suasana yang ribut seketika berubah menjadi hening pula. Thi Hoa-nio melepaskan pegangannya dan Gin Hoa-nio mundur selangkah sambil meraba pipinya, sorot matanya memancarkan sinar yang buas, teriaknya gemetar.

"Kau pukul aku! Kau berani pukul aku?"

"Mengapa kau berbuat demikian?"

Tanya Kim Hoa-nio. Gin Hoa-nio berteriak sambil berjingkrak.

"Mengapa aku tidak boleh berbuat begitu? Kau hanya tahu losam ( ketiga, maksudnya Thi Hoa-nio ) suka padanya, tapi apakah kau tahu bahwa akupun suka pada nya? Kalian sudah mempunyai pilihan sendiri-sendiri, mengapa aku tidak boleh memilihnya pula?"

"Bu... Bukankah kau benci padanya?"

Tanya Kim Hoa-nio dengan melengak.

"Betul, kubenci dia, akupun benci padamu,"

Teriak Gin Hoa-nio dengan parau.

"Kau hanya tahu usia losam sudah besar dan perlu mencari lelaki. Tahukah kau bahwa usiaku lebih tua daripada dia, apakah aku tidak menginginkan lelaki?"

Sejenak Kim Hoa-nio tertegun, akhirnya ia menghela napas dan berkata.

"Sungguh tak terpikirkan olehku bahwa kau masih memerlukan bantuanku untuk mencarikan lelaki bagimu. Kan sudah.. sudah banyak lelakimu. Masa masih perlu dicarikan orang?"

Mendadak Gin Hoa-nio meraung dan mendadak menerjang keluar. Terdengar suaranya yang semakin menjauh.

"Kubenci padamu, kubenci kepada kalian.. kubenci semua orang di dunia ini, kubenci ... hendaklah semua orang di dunia ini mampus seluruhnya!"

Kim Hoa-nio berdiri termangu-mangu, sampai lama ia diam saja.

Thi Hoa-nio lantas mendekati tempat tidur, melihat wajah Pwe-giok yang rusak itu, menangislah dia.

Sebaliknya Pwe-giok malah bersikap tenang, gumamnya.

"Di dunia ini tiada sesuatu yang kekal, tiada sesuatu yang sempurna, anehnya logika ini kenapa tidak dipahami oleh Kolothau? Saat ini bila dia melihat diriku, entah bagaimana pula perasaannya.."

Mendadak ia merasa geli dan tertawa terbahak-bahak.

Akhirnya ia merasa terbebas dari suatu beban yang berat, hati terasa lega sekali.

Thi Hoa-nio berhenti menangis, ia pandang anak muda itu dengan terkesiap, apa yang dipikir Pwe-giok dengan sendirinya tak diketahuinya, siapapun tak dapat memahaminya.

***** Tiga hari kemudian, Pwe-giok merasa sebagian tenaganya sudah pulih, tapi mukanya sekarang penuh terbalut kain perban, yang kelihatan hanya hidungnya, matanya dan sebagian mukanya.

Kim Hoa-nio dan Thi Hoa-nio memandangi dia dengan penuh rasa menyesal dan pedih.

Akhirnya Kim Hoa-nio berkata.

"Apakah benar kau hendak pergi?"

"Saat kepergianku sudah lama lalu,"

Ujar Pwe-giok dengan tertawa. Mendadak Thi Hoa-nio menubruk maju dan merangkulnya erat-erat sambil berseru.

"Kau jangan pergi! Bagaimanapun kau berubah, tetap... tetap sama baiknya aku terhadapmu."

"Jika betul kau baik padaku seharusnya kau lepaskan aku pergi,"

Kata Pwe-giok dengan tertawa.

"Seorang kalau tidak dapat bergerak bebas, lalu apa artinya hidup ini baginya?"

"Tapi, sedikitnya, harus kau perlihatkan kepada kami betapa kau telah berubah?"

Kata Kim Hoa-nio dengan pedih.

"Betapapun perubahan diriku, aku tetap aku,"

Kata Pew giok. Pelahan ia mendorong Thi Hoa-nio, lalu berbangkit. Katanya pula mendadak dengan tertawa.

"Tahukah kalian, sepergiku dari sini urusan apa yang akan kulakukan pertama-tama?"

"Jangan-jangan akan mencari Jimoay yang kejam itu?"

Kata Kim Hoa-nio.

"Aku memang hendak mencari satu orang, tapi bukan dia yang kucari,"

Jawab Pwe-giok dengan tertawa.

"Habis siapa yang kau cari?"

Tanya Thi Hoa-nio sambil mengusap air matanya.

"Jika kalian mau berduduk saja di sini dan membiarkan ku pergi sendiri, inipun sudah cukup sebagai tanda terima kasih padaku,"

Kata Pwe-giok.

Lalu ia melangkah keluar tanpa menoleh.

Ternyata Kim Hoa-nio dan Thi Hoa-nio juga tidak menguntitnya, air mata mereka sudah berderai.

Hati Pwe-giok terasa lega.

Tiada sesuatu yang terpikir dan juga tidak perlu menyesal terhadap seseorang, jika memang tidak pernah merugikan atau mengingkari orang lain, maka air mata orang lainpun tak dapat mempengaruhi dia.

Dia membuka pintu ruangan di bawah tanah dan menyingkap lukisan itu, cahaya matahari di waktu senja menyinari mukanya, meski senja belum tiba, namun sudah dekat magrib.

Agar tidak silau ia angkat sebelah tangannya untuk mengalingi sinar matahari, tangan yang lain digunakan merapatkan pintu.

Sekonyong-konyong kedua tangannya terjulur lemas ke bawah, kakipun terasa berat untuk melangkah.

Ternyata di ruangan luar ini tergantung sebaris orang di belandar, semuanya sudah mati.

Darah segar masih menetes, agaknya darah mereka belum lagi beku.

Leher tiap-tiap orang itu sama tertembus, lalu lubang yang tembus itu dicocok dengan tali dan digantung mirip ayam panggang.

Orang yang paling depan jelas tuan rumah di sini.

Apa yang terjadi ini jelas baru berlangsung sore tadi, sebab siangnya tuan rumah yang ramah ini pernah masuk ke ruangan bawah tanah dan mengantar santapan.

Orang sebanyak itu terbunuh sekaligus, tapi di ruangan dalam sedikitpun tidak mendengar, jelas tindakan si pembunuh sangat gesit, cekatan dan juga keji.

Pwe-giok berdiri termangu sejenak, ia ingin masuk kembali ke ruangan dalam, tapi sekilas pikir ia berganti haluan, segera melangkah keluar ruangan besar itu.

Sekalipun dalam hatinya rada was-was, tapi orang lain tidak dapat mengetahui perasaannya, waktu ia lalu di barisan orang mati itu, dia anggap seperti lalu di samping sederetan pohon saja.

"Siapa itu? Berhenti!"

Mendadak seorang membentak.

Seketika Pwe-giok berhenti, tak terlihat rasa kagetnya sedikitpun, juga tiada tampak rasa gugup atau rasa terpaksa, seperti sudah tahu sebelumnya bakal dibentak orang begitu.

"Kemari Kau"

Bentak orang itu pula.

Segera Pwe-giok berputar dan melangkah ke sana, maka dapatlah dilihatnya orang yang baru keluar dari pintu sana adalah Kim yan cu, si walet emas.

Meski dirasakannya agak di luar dugaan, tapi sikapnya tidak berubah, sebaliknya Kim Yan cu tampak penuh rasa kejut dan heran, bentaknya pula dengan bengis.

"kau keluar dari mana? Mengapa tadi tidak kulihat kau?"

"Ku keluar dari jalan keluar tentunya!"

Jawab Pwe-giok dengan hambar. Kim yan cu membentak pula.

"Apakah kau bersembunyi bersama Khing hoa sam-niocu?"

"Benar atau tidak ada sangkut pautnya apa dengan kau?"

Jawab Pwe-giok ketus.

Belum habis ucapannya, tahu-tahu ujung pedang Kim yan cu sudah mengancam di tenggorokannya.

Dengan sendirinya dia tidak kenal lagi yang dihadapinya ialah Ji Pwe-giok.

Maklumlah, saat ini bukan saja mula Pwe-giok hampir seluruhnya terbalut, bahkan sikapnya yang tenang dan sewajarnya juga sama sekali berbeda daripada dahulu.

Jangankan cuma sebilah pedang yang mengancam tenggorokannya, sekalipun ada seribu pedang yang sama menusuk ke dalam dagingnya juga takkan menimbulkan rasa jerinya.

Seorang kalau sudah menyaksikan sendiri kematian ayahnya secara ngeri, tapi ia sendiri malah dituduh sebagai orang gila, malahan harus mengakui sebagai ayah orang gila, malahan harus mengakui musuh sebagai ayah yang jelas-jelas sudah mati, lalu kejadian apa di dunia ini yang tak dapat ditahannya?

Jika seorang berhadapan dengan orang yang dicintainya, tapi tidak dapat mengakui dan berbicara, lalu urusan apa di dunia ini yang dapat membuatnya lebih pedih.

Bila seorang sudah mengalami beberapa kali ancaman maut dan tidak sampai mati karena kejadian-kejadian yang ajaib, lalu soal apa di dunia ini yang dapat membuatnya takut?

Apabila seorang dari yang cakap telah berubah menjadi buruk rupa, lalu hal apalagi di dunia ini yang dapat membuatnya merasa risau?

Seorang kalau sudah mengalami berbagai kejadian yang sukar dibayangkan orang lain, maka tidak ada sesuatu yang dapat mengguncangkan perasaannya.

Ketenangan dan kewajaran Pwe-giok ini diperolehnya dengan imbalan yang cukup mahal, rasanya di dunia ini tiada orang lain yang mampu membayar semahal ini.

Di dunia ini memang tiada orang lain lagi yang dapat dibandingkan dengan dia.

***** Begitulah tanpa terasa pedang Kim yan cu terjulur ke bawah.

Nyata ketenangan orang ini telah mempengaruhi dia.

Pwe-giok menatapnya tajam-tajam, tanyanya kemudian dengan tertawa.

"Dimana Sin to kongcu ?"

"Kau.....kau kenal padaku ?"

Seru Kim yan cu dengan melenggong.

"Sekalipun cayhe tidak kenal nona juga tahu bahwa nona dan Sin to kongcu selamanya berada bersama seperti tubuh dan bayangan yang tak pernah terpisahkan."

Kim yan cu terbelalak, katanya kemudian.

"Ya, rasanya aku sudah seperti sudah kenal kau."

"Orang yang terluka dan kepalanya terbalut sudah tentu tidak cuma aku saja,"

Kata Pwe-giok.

"Sesungguhnya siapa kau ?"

Tanya Kim yan cu "Ji Pwe-giok !"

Wajah Kim yan cu yang cantik itu seketika berkerut-kerut, ucapnya dengan gemetar.

"Ji Pwe-giok kan sudah mati, kau....kau..."

"Tahukah nona di dunia ini ada dua Ji Pwe-giok, yang satunya sudah mati, yang lain masih hidup, syukur cayhe bukan Ji Pwe-giok yang mati itu, cuma kawannya agaknya memang jauh lebih banyak dariku."

Kim yan cu menghembus nafas lega, tanyanya mendadak.

"Apakah kau yang membunuh orang-orang ini ?"

"Masa bukan nona yang membunuh orang-orang ini ?"

Balas Pwe-giok bertanya.

"Kejahatan orang-orang ini sudah kelewat takaran, mati sepuluh kali juga belum cukup untuk menebus dosa mereka,"

Ucap Kim yan cu dengan gemas.

"Memang sudah lama ingin ku bunuh mereka, cuma sayang kedatanganku sekarang ini agak terlambat sejenak."

"Jadi nona benar-benar tidak tahu siapa pembunuhnya ?"

Tanya Pwe-giok "Aku inilah pembunuhnya !"

Sekonyong-konyong seorang menanggapi dengan pelahan.

Suaranya begitu datar dan hambar, seolah-olah ucapan demikian sudah sangat biasa baginya, seperti juga membunuh orang bukan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan lagi.

Menyusul ucapan tersebut, seorang mendadak muncul di depan mereka.

seorang yang buntung sebelah tangannya.

Jenggot panjang putih kelabu berjuntai di depan dada orang itu, pinggangnya juga terikat tali sutera putih kelabu, sepatunya juga berwarna putih kelabu, rambutnya yang juga kelabu terikat dengan kopiah perak.

Mukanya juga putih kelabu, di bawah alisnya yang sama warna, biji matanya yang juga kepucat-pucatan itu memancarkan sinar yang tajam.

Sudah lama Kim yan-cu malang melintang di dunia Kangouw, biasanya Ia suka menganggap dirinya adalah perempuan yang paling berani di dunia ini.

Tapi sekarang tidak urung ia merinding juga melihat orang yang aneh ini, serunya kemudian.

"Jadi kau yang membunuh orang-orang ini?"

Dengan hambar si kakek serba kelabu itu menjawab.

"Kau kira dengan sebelah tanganku saja tak dapat membunuh? Jika aku tidak dapat membunuh, tentu orang jahat di dunia ini sekarang bertambah banyak daripada dahulu."

"Cianpwe.....entah Cianpwe...."

"Tidak perlu kau tanya namaku,"

Potong si kakek sebelum lanjut ucapan Kim yan-cu.

"Kalau kau memusuhi Thian-can-kau, ini berarti kau sehaluan denganku Kalau tidak, saat ini tentu kau tidak hidup lagi di dunia ini."

Bila orang lain yang bicara demikian pada Kim-yan cu, tentu ujung pedang si walet emas sudah mengancam di ulu hatinya.

Tapi sekarang meski hambar saja ucapan si kakek, namun bagi pendengaran Kim-yan cu rasanya memang tepat dan pantas.

Ia lantas bertanya pula.

"Entah Cianpwe sudah menemukan Khing-hoa-sam niocu atau belum?"

"Kau pun bermusuhan dengan mereka?"

Tanya si kakek.

"Betapa dalamnya permusuhan ini sukar diceritakan dalam waktu singkat,"

Jawab Kim-yan-cu dengan menggreget.

"Kau bertekad akan menemukan mereka?"

Tanya si kakek pula.

"Jika dapat menemukan mereka, tanpa kupikirkan apa imbalannya,"

Jawab Kim-yan cu.

"Baik, bila kau ingin menemukan mereka, ikutlah padaku,"

Kata si kakek sambil melangkah keluar ruangan besar itu, setelah menyusuri taman dan keluar dari sebuah pintu kecil, jalan lebar di pinto belakang sunyi senyap tiada nampak bayangan seorangpun.

Kim-yan-cu ikut di belakang si kakek dengan penuh semangat.

Pwe-giok juga ikut di belakang mereka dengan penuh rasa sangsi.

Jelas kakek ini tidak tahu di mana beradanya Khing-hoa-sam niocu mengapa dia bilang hendak membawa Kim yan-cu pergi mencari mereka.

Sekalipun kakek ini dapat membunuh Ma Siau-thian dan begundalnya, tapi orang yang cuma bertangan satu cara bagaimana menggantung orang sebanyak itu di belandar?

Cukup dengan dua soal ini saja jelas si kakek telah berdusta.

Dan untuk apakah dia berdusta?

Orang yang berdusta kebanyakan bertujuan membikin celaka orang lain.

Tapi melihat kemampuan kakek ini, jika dia mau membunuh Kim-yan-cu boleh dikatakan sangat mudah, kenapa mesti bersusah payah mencari jalan lain.

Sesungguhnya hendak dibawa ke manakah Kim-yan-cu?

Sejak mula si kakek sama sekali tidak memandang Pwe-giok, seolah-olah tidak merasa ada seorang Ji Pwe-giok di sekitarnya.

Pwe-giok juga mengikuti mereka dengan diam saja tanpa bersuara.

Si kakek dapat menahan perasaannya, Ji Pwe-giok juga cukup sabar, tapi Kim yan-cu yang tidak tahan akan gejolak pikirannya.

Sementara itu cuaca sudah makin gelap, jalan yang mereka tempuh juga semakin terpencil, di bawah sinar bulan, kakek yang misterius ini mirip badan halus berwarna kelabu.

"Sesungguhnya Khing-hoa-sam niocu berada di mana?"

Saking tak tahan akhirnya Kim yancu bertanya. Si kakek menjawab dengan hambar tanpa menoleh;

"Orang yang jahat dengan sendirinya berada di tempat yang jahat."

"Tempat yang jahat?"

Tukas Kim-yan-cu.

"Ya jika kau tidak berani ke sana, sekarang juga boleh kau putar balik,"

Kata si kakek. Kim-yan-cu menggreget dan tidak bicara lagi. Diam-diam Pwe-giok membayangkan kata-kata "tempat yang jahat"

Tadi, ia merasa maksud tujuan si kakek lebih-lebih sukar dijajaki.

Lengan baju si kakek yang longgar itu melambai di tanah, jalannya tampaknya tidak cepat, tapi hanya sebentar saja mereka sudah berada di luar kota.

Kim yan-cu belum lama muncul di Kangouw dan namanya sudah cukup terkenal, dia memakai nama julukan "walet"

Dengan sendirinya ahli Gin-kang, namun setelah ikut berjalan sekian lama bersama si kakek, tanpa terasa mulai terengahlah napasnya.

Mendingan Ji Pwe-giok, meski tenaganya belum pulih seluruhnya, tapi dia belum merasakan lelah, terhadap kepandaian si kakek diam-diam ia bertambah waspada.

Dilihatnya si kakek berputar kian kemari di tengah hutan, mendadak mereka berada di sutu lereng bukit yang tidak terlalu tinggi, namun batu padas aneh berserakan di sana sini, lereng bukit tandus kering, tampaknya sangat curam dan bahaya.

Di tengah lereng terdapat sepotong batu padas besar yang mencuat keluar, pada batu padas itu semula tertatah tiga huruf besar, tapi sekarang penuh dengan bekas bacokan golok, ketiga huruf itu telah dirusak entah oleh siapa.

"Huruf pada batu padas itu tentu nama gunung ini,"

Demikian Pwe-giok membatin.

"Tapi ada orang sengaja memanjat ke atas dan merusak ketiga huruf itu, apakah maksud tujuannya? Memangnya nama gunung inipun mengandung sesuatu rahasia sehingga tidak boleh dilihat orang, masa cuma nama gunung saja mengandung rahasia? Rupanya setelah beberapa kali menghadapi detik antara mati dan hidup, Pwe-giok bertambah matang, ia cukup memahami betapa keji dan kejamnya orang hidup ini, maka terhadap segala sesuatu ia selalu lebih hati-hati. Barang sesuatu yang mungkin dipandang sepele oleh orang lain, baginya justeru dipandang cukup berharga untuk direnungkan dan dipelajari asalkan ada sesuatu yang menyangsikan tentu diperhatikannya dengan baik. Cuma sekarang ia sudah berhasil belajar dari pengalaman, segala sesuatu tentu dipikirnya lebih mendalam. Sebab itulah rasa sangsinya sekarang juga bertambah besar, namun dia tetap bersikap tenang dan tidak menyinggungnya. Setiba di depan batu padas yang mencuat keluar di lereng situ, tanpa kelihatan bergerak, tahutahu kakek itu telah melayang ke atas padas itu. Selagi Kim-yan-cu bermaksud ikut melayang ke atas, sekonyong-konyong terdengar suara keriat-keriut, batu raksasa itu mendadak bergeser pelahan dan tertampaklah sebuah gua yang gelap di balik gua batu. Perubahan ini sungguh membuat Pwe-giok terkejut, Kim-yan cu malahan melongo menyaksikan kejadian itu, dia sudah bergerak mau melompat ke atas, sekarang diurungkan.

"Kenapa kalian tidak ikut naik ke sini?"

Terdengar si kakek berseru. Kim yan-cu berpaling dan memandang Pwe-giok sekejap, tiba-tiba ia mendesis.

"Perjalanan ini sangat berbahaya, untuk apa kau ikut kemari? Lekas pergi saja!"

Pwe-giok tersenyum, jawabnya.

"Sudah ikut sampai di sini, hendak pergipun terasa terlambat sudah."

"Memangnya kenapa?"

Ujar Kim-yan-cu sambil berkerut kening.

Pwe-giok tidak menjawabnya, segera ia mendahului melayang ke atas.

Ia merasakan si kakek sedang memandangnya dengan sorot mata yang tajam, se-olah2 ingin tahu betapa tinggi kemampuannya.

Tergerak hati Pwe-giok, cepat ia kurangi kekuatannya, hanya setengah kemampuannya saja dikeluarkannya.

Meski air muka si kakek tidak berubah, tapi sorot matanya mengunjuk perasaan kurang puas.

Sementara itu Kim-yan-cu sudah melompat ke atas dengan sepenuh tenaga dan si kakek kelihatan merasa senang.

Kembali Pwe-giok merasa heran, Jika si kakek bermaksud jahat terhadap mereka, bila kepandaian mereka makin rendah kan makin mudah baginya untuk turun tangan, jadi seharusnya dia merasa senang.

Tapi dari sikapnya ini tampaknya dia mengharapkan ilmu kedua orang muda ini lebih tinggi lebih baik.

Lantas apa maksudnya?

Sesungguhnya apa yang dikehendaki?

Saat itu Kim-yan-cu sudah berada di atas batu padas, dilihatnya gua itu gelap gulita, dalamnya sukar dijajaki, terasa angin dingin meniup keluar dari dalam gua.

Batu raksasa yang bergeser itu tepat ambles ke samping tebing yang mendekuk, jadi sudah diperhitungkan dengan tepat.

Apalagi batu raksasa yang berpuluh ton ini dapat digeser oleh seorang saja, jelas pesawat rahasianya dibuat sedemikian dan entah betapa banyak memakan tenaga dan pikiran untuk menciptakan alat rahasia yang hebat ini.

Dan kalau di dalam gua ini tidak tersembunyi sesuatu rahasia yang maha penting, siapa pula yang sudi mengorbankan tenaga dan pikiran sebesar ini?

Sampai di sini, mau tak mau timbul juga rasa curiga Kim-yan-cu, ia berguman.

"Apakah mungkin Khing-hoa-samniocu berada di gua ini?"

"Gua ini sebenarnya tempat rahasia Thian can-kau, tempat penyimpanan harta karun, apabila Khing-hoa-samniocu bukan Tancu (kepala seksi) dalam Thian-can-kau, jangan harap dapat masuk ke sini", kata si kakek Mendadak Kim-yan-cu bertanya.

"Darimana pula Cianpwe mengetahui rahasia Thian-cankau?"

Si kakek tertawa hambar, jawabnya.

"hehe, betapa banyak rahasia di dunia ini yang dapat mengelabui mataku?"

Jika kata2 ini diucapkan orang lain, andaikata Kim-yan-cu tidak menganggapnya membual tentu akan menganggapnya omong besar.

Tapi di mulut kakek ini ucapan tersebut memang lain bobotnya.

Kim-yan-cu seperti takluk benar2 lahir batin terhadap kakek itu, setelah berpikir sejenak, ia bergumam.

"Aneh, Thian-can-kau jauh berada di daerah Miau, sebaliknya tempat rahasia penyimpanan harta pusakanya terletak di sini."

"Kau tidak berani masuk ke situ?"

Tanya si kakek dengan sorot mata tajam. Kim-yan-cu menghela napas panjang, katanya keras-keras.

"Asalkan dapat menemukan Khing-hoa-sam niocu, ke gunung golok atau masuk lautan api juga bukan soal bagiku."

Seketika sorot mata si kakek berubah halus lagi, ucapnya.

"Bagus, bagus sekali, asalkan kau tabah dan hati-hati, kujamin kau takkan menghadapi apapun. Kalian boleh masuk saja dan tidak perlu kuatir."

"Tapi Cayhe tiada maksud buat masuk ke situ,"

Kata Pwe-giok mendadak. Baru sekarang ia membuka suara, mestinya dia hendak bilang.

"Ku tahu Khing-hoa-sam niocu tidak berada di gua ini, kenapa kau berdusta?"

Tapi dia tahu bilamana kata-kata itu diucapkan, maka si kakek pasti takkan mengampuni dia.

Saat ini ia merasa bukan tandingan si kakek, maka dia sengaja memancingnya dulu dengan ucapan tadi.

Benar juga, segera sorot mata si kakek berubah tajam pula, katanya.

"Kau tidak mau masuk ke sana?"

"Cayhe kan tidak ingin mencari Khing-hoa-sam niocu, untuk apa masuk ke situ?"

Jawab Pwegiok.

"Ya, persoalan ini hakekatnya tiada sangkut pautnya dengan dia, sesungguhnya akupun tidak kenal dia,"

Demikian cepat Kim-yan-cu menyela.

"Jika kau tidak mau masuk ke sana ya terserah lah, akupun tidak memaksa,"

Kata si kakek dengan tak acuh.

Seperti tidak sengaja, mendadak tangannya menepuk pelahan pada dinding tebing itu, tiada terdengar sesuatu suara, tapi di dinding tebing itu lantas bertambah dekukan cap telapak tangan seperti pahatan senjata tajam.

Dengan tertawa Pwe-giok lantas berkata.

"Sebenarnya cayhe tidak berniat masuk ke situ, tapi kalau benar harta pusaka Thian-can-kau disimpan di sini, kesempatan ini biarlah kugunakan untuk mencari rejeki."

Si kakek tidak menghiraukan dia lagi, dia mengeluarkan sebuah pedang bersarung perak, panjangnya cuma setengah meteran, serta sebuah geretan api, semua itu ia serahkan kepada Kim-yan-cu sambil berkata.

"Pedang ini sangat tajam, memotong besi seperti merajang sayur, Geretan api pun bukan barang sembarangan, boleh kau bawa dan tentu banyak gunanya. Hendaklah kau jaga dengan baik dan jangan sampai hilang."

"Terima kasih,"

Kata Kim-yan-cu. Begitu dia dan Pwe-giok melangkah masuk gua batu padas raksasa itu pelahan-lahan lantas bergerak merapat lagi. Dengan kaget Kim-yan-cu berteriak.

"He, jika Cianpwe menutup batu ini, bukankah kami tak dapat keluar lagi?"

Segera ia bermaksud melompat keluar, siapa tahu mendadak suatu tenaga maha kuat menolaknya dari luar gua sehingga dia jatuh terjengkang. Sempat terdengar si kakek berkata.

"Jika nanti kau ingin keluar, gunakan pedang pendek itu mengetuk dinding batu tujuh kali dan segera ku tahu..."

Belum habis ucapannya batu raksasa itu sudah menutup rapat.

Seketika keadaan di dalam gua gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Mendadak cahaya perak meletik, Km-yan-cu telah menyalakan api geretan yang diberikan si kakek tadi.

Geretan api ini sangat aneh, lelatu berhamburan seperti bunga api dan cahaya perak yang tidak begitu terang terus terpancar.

Di bawah cahaya perak itu tertampak wajah Pwe-giok yang terbalut kain perban itu, tapi sorot matanya gemerdep, nyata dia tidak menjadi gugup atau kuatir.

Kim-yan-cu tidak tahu orang ini bodoh atau gendeng, namun jelas nyalinya sangat besar.

Ucapnya dengan menyesal.

"Urusan ini kan tiada sangkut-pautnya dengan kau, untuk apa kau ikut masuk kemari?"

Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun.

"Meski watak nona ini suka menang, namun hatinya sangat bajik. Dalam keadaan demikian dia masih juga berpikir bagi orang lain."

Selama beberapa hari ini perempuan yang pernah ditemui Pwe-giok kalau tidak berhati keji tentu berwatak aneh dan jahil, sekarang mendadak melihat kebaikan hati Kim yan-cu, seketika timbul kesan baiknya, dengan tersenyum ia menjawab.

"Dua orang berada bersama kan jauh lebih baik daripada menempuh bahaya sendirian?"

"Kau .... kau datang ke sini demi diriku?!"

Tanya Kim-yan cu dengan melengak.

"Jika nona adalah sahabat Ji Pwe-giok yang itu, maka engkau sama juga kawanku,"

Kata Pwegiok dengan tertawa.

Kim-yan-cu memandanginya sekejap, mendadak mukanya bersemu merah, untung cahaya perak itu sangat aneh, air mukanya merah atau putih sukar dibedakan orang lain.

Dia terus melengos ke sana dan terdiam sejenak, kemudian berkata pula.

"Menurut dugaanmu, sesungguhnya apa maksud tujuan orang tua tadi?"

"Menurut nona, bagaimana?"

Pwe-giok balas bertanya setelah merenung sejenak.

"Jika dia berniat mencelakai diriku, untuk apa pula dia menyerahkan benda berharga ini kepadaku,"

Kata Kim-yan cu.

"Apalagi kalau melihat tenaga pukulannya tadi, jika dia tidak bermaksud membunuh kita, kukira bukan sesuatu yang sukar baginya."

"Betul, tenaga pukulan orang ini lunak tapi maha kuat, boleh dikatakan sudah terlatih hingga puncaknya, tampaknya tidak di bawah "Bian-ciang" (pukulan lunak) Jut tun Totiang dari Butong-pay."

"Tapi bila dia tidak bermaksud jahat, mengapa dia memaksa kau masuk kemari, lalu menyumbat pula jalan keluarnya sehingga kita tiada jalan mundur terpaksa kita harus menerjang ke depan?"

"Jika demikian, marilah kita menerjang ke depan,"

Kata Pwe-giok dengan tertawa. Akhirnya Kim-yan-cu berpaling memandangnya lagi sekejap, ucapnya.

"Berada di sampingmu, sekalipun aku merasa takut, akhirnya aku menjadi tidak takut lagi."

Di bawah cahaya perak yang remang-remang, tertawa Kim-yan-cu kelihatan sedemikian cerah, di balik wajah yang cerah ini tampaknya tiada tersembunyi sesuatu rahasia apa pun.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, pikirnya.

"Apabila setiap perempuan di dunia ini serupa dia, tentu dunia ini akan jauh lebih aman...."

Kemudian Pwe-giok mengambil oper geretan api itu, dia membuka jalan di depan.

Di bawah cahaya perak tiba-tiba dilihatnya kedua sisi dinding gua ini penuh terukir gambargambar yang halus dan indah, setiap gambar terdiri dari satu lelaki dan satu perempuan.

Hanya sekejap saja Kim yan-cu memandang ukiran dinding itu, seketika mukanya menjadi merah, teriaknya.

"Tempat setan ini benar-benar tempat jahat, menga... mengapa...."

Muka Pwe-giok terasa panas juga, sungguh tak tersangka olehnya di gua yang misterius ini bisa terukir gambar-gambar tidak senonoh begini.

Kiranya gambar lelaki dan perempuan yang memenuhi dinding gua itu rata-rata adalah dalam adegan "hot"

Di luar susila. Mendadak Kim-yan-cu mendekap mukanya dan berlari ke depan. Tak tersangka, sekonyong-konyong dari tempat gelap muncul dua orang, dua golok besar terus membacok secepat kilat.

"Awas!"

Bentak Pwe-giok. Begitu bersuara segera ia pun menerjang maju, Kim-yan-cu dirangkulnya dan berguling ke sana sehingga mata golok menyambar lewat di samping mereka.

"Ah, kiranya cuma dua orang batu saja,"

Ujar Pwe-giok sambil menyengir setelah melihat jelas kedua penyerang itu.

"Tapi kalau tiada kau, bisa jadi aku sudah berubah menjadi orang mati,"

Kata Kim yan-cu.

Pwe-giok merasa bau harum memabukkan, waktu ia menunduk, baru disadarinya Kim-yan-cu masih berada dalam pelukannya, mulut si nona yang kecil mungil cuma beberapa inci di bawah mulutnya.

Berdetak keras jantungnya.

Selagi ia hendak minta maaf, mendadak Kim yan-cu tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Sin-to Kongcu yang kau katakan itu tentu akan mati kheki bila melihat keadaan kita sekarang, Sungguh aku berharap dia benar-benar menyaksikan adegan ini sekarang."

Tadinya Pwe-giok kuatir si nona akan malu dan menjadi gusar, tak tahunya Kim-yan-cu jauh lebih terbuka pikirannya daripada nya, bahkan juga tidak pura-pura malu dan berlagak rikuh segala.

Sungguh mujurlah, seorang lelaki dalam keadaan demikian dapat bertemu dengan seorang nona yang berhati terbuka seperti ini.

Mau-tak-mau gembira juga Pwe-giok, katanya dengan tertawa.

"Bahwa sekali ini dia tidak mengikuti kau, sungguh kejadian yang aneh."

Dengan tertawa Kim-yan-cu menjawab.

"Sepanjang hari dia terus mengintil di belakangku, asalkan orang lain memandang sekejap padaku, dia lantas marah. Sungguh aku pun merasa sebal, maka kucari kesempatan untuk meninggalkan dia..."

Mendadak sorot matanya menatap ke belakang Pwe-giok dan berkata pula.

"Eh, coba . .. .coba lihat..."

Pwe-giok berpaling, dilihatnya dinding batu di belakangnya seperti berbentuk beberapa daun pintu, di atas pintu terukir delapan huruf, di bawah cahaya perak itu warnanya kelihatan pucat kehijau-hijauan.

Ke delapan huruf itu berbunyi.

"Siau-hun-bi-kiong, barang siapa masuk mati."

Terbelalak Kim-yan-cu memandangi ukiran itu, katanya sambil berkerut kening.

"Tempat penyimpanan benda pusaka Thian-can-kau mengapa disebut Siau-hun-bi-kiong (istana penggetar sukma)?"

Tapi dari ukiran cabul yang dilihatnya di dinding gua tadi, lalu melihat lagi nama Siau-hun-bikiong ini, tahulah Pwe-giok bahwa gua ini tidak saja "jahat", bahkan sangat misterius dan sangat berbahaya, bisa jadi juga tempat yang sangat mengasyikkan, tempat yang menakutkan tapi juga menarik seperti dalam dongeng itu.

Mendadak ia menatap Kim-yan-cu dan bertanya.

"Kau masih berani masuk ke sana?"

"Apakah dengan kedelapan huruf ini dapat menggertak mundur kita?"

Jawab Kim-yan-cu dengan tertawa. Pwe-giok melengak, katanya kemudian;

"Tapi kalau Khing-hoa-sam niocu tidak berada di dalam sana?"

Kim-yan-cu juga melengak, katanya.

"Mengapa mereka tidak berada di dalam? Masa kakek itu membohongi aku?"

"Setahuku, Khing-hoa-sam niocu tidak berada di dalam,"

Tutur Pwe-giok.

"Mengenai sebab apa si kakek membohongi kau, inipun aku tidak habis mengerti,"

Kim-yan-cu berpikir sejenak, katanya kemudian pelahan.

"Coba, menurut kau, sesudah begini, apakah kita masih dapat keluar lagi?"

Dia membetulkan rambutnya yang agak kusut, Ia lalu menyambung pula.

"Sekarang biarpun kita mengetuk tiga ratus kali di dinding batu itu juga si kakek takkan melepaskan kita keluar. Jika dia telah menipu kita masuk ke sini, betapapun pasti ada maksud tujuannya."

"Setiap langkah di sini ada kemungkinan akan menghadapi bahaya,"

Kata Pwe-giok kemudian.

"Kukira lebih baik kau tunggu di sini saja, biarlah ku masuk lebih jauh untuk memeriksanya."

"Kau sendiri bilang, dua orang berada bersama jauh lebih baik daripada sendirian,"

Ucap Kimyan-cu dengan tersenyum manis.

Dalam keadaan begini, biasanya watak asli setiap orang akan tertampak, orang yang menggemaskan bisa bertambah menggemaskan, orang yang menyenangkan bisa pula bertambah menyenangkan.

Tanpa terasa Pwe-giok menarik tangan Kim-yan-cu, katanya dengan tertawa.

"Marilah kita maju lagi ke sana, asalkan hati-hati kukira takkan..."

Belum habis ucapannya mendadak kaki terasa menginjak tempat kosong, lantai batu di bawahnya mendadak merekah menjadi sebuah lubang, kontan tubuh kedua orang terjeblos ke bawah.

Kim-yan cu menjerit kaget, tapi segera dirasakan tangan Pwe-giok yang menggandeng tangannya itu menolaknya dengan kuat, oleh tenaga dorongan yang kuat itu tubuh Kim-yan cu dapat ditolak ke atas.

Sebaliknya Pwe-giok sendiri tetap terjerumus ke bawah.

Berkat tenaga dorongan Pwe-giok itu, Kim-yan-cu berjumpalitan sekali di udara dan menancapkan kakinya di tepi lubang itu, teriaknya.

"He, kau ....kau bagaimana?"

Lubang di bawah tanah itu ternyata sangat dalam, cahaya perak geretan api yang dipegang Pwe-giok kelihatan gemerdep jauh di bawah, tapi tidak jelas apakah anak muda itu masih hidup atau sudah mati.

Saking cemasnya Kim-yan-cu mengucurkan air mata, teriaknya parau.

"Ja... jawablah, kenapa kau diam saja?"

Tapi tetap tiada suara jawaban dari bawah.

Kim-yan-cu menjadi nekat, ia pejamkan mata dan hendak ikut terjun ke bawah.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang telah meraihnya dengan erat.

Cepat Kim-yan-cu membuka mata, cahaya perak kelihatan masih gemerdep di bawah lubang sana, ia terkejut dan heran siapakah yang menariknya.

Waktu ia mengawasi lebih cermat, siapa lagi orang yang berdiri di sebelahnya dengan tersenyum simpul jika bukan Ji Pwe-giok adanya?

Kejut dan girang bercampur aduk, Kim-yan-cu menjerit tertahan terus menubruk ke dalam pelukan Pwe-giok, serunya.

"Ai, kau bikin aku mati kaget, ken .... kenapa tadi kau tidak bersuara?"

Dengan tersenyum Pwe-giok menjawab.

"Dengan menahan napas tadi ku sempat panjat dinding gua, bila membuka mulut, tentu akan kehilangan tenaga dan bisa jadi benar-benar terjerumus ke bawah."

"Kulihat gemerdep nya api geretan di bawah sana, kukira .... kukira kau sudah tamat, siapa tahu geretan api itu cuma terjatuh saja ke bawah dan kau.... kau masih hinggap di dinding gua dan dapat naik ke atas."

Pwe-giok memandangnya lekat-lekat, ia menghela napas dan berucap.

"Dan untuk apa kau bertindak demikian?"

Yang dimaksudkannya ialah tindakan Kim-yan-cu yang hendak ikut terjun ke bawah tadi. Kim-yan-cu menunduk, jawabnya pelahan.

"Bilamana kau mati lantaran menyelamatkan diriku, lalu apakah aku dapat hidup sendirian?"

Mendadak ia menengadah dan tertawa cerah, katanya.

"Tidak cuma kau saja, siapapun kalau mati demi menyelamatkan diriku, kukira aku pasti tak dapat hidup lagi sendirian."

"Apa yang kau katakan terakhir ini sungguh bisa mengecewakan harapanku,"

Pwe-giok sengaja menggoda dengan mata berkedip-kedip.

"Ku tahu, orang semacam kau ini pasti sudah lama mempunyai kekasih,"

Ucap Kim-yan-cu dengan tersenyum.

"Sebab itulah bilamana kukatakan akan mati demi dirimu, bukankah akan membuat kau serba salah?"

Tanpa terasa Pwe-giok memegang pula tangan si nona, katanya dengan tertawa.

"Haha, sungguh kau ini anak perempuan satu-satunya yang tidak membikin kesal daripada semua anak perempuan yang pernah kukenal."

Ia merasa sangat gembira bisa berada dengan anak perempuan seperti Kim-yan-cu, orangnya lugu, terus terang, tidak sok, tidak pura-pura dan tidak menonjolkan diri, juga tidak suka membikin kesal orang.

Anak perempuan demikian sungguh terlalu sedikit di dunia ini.

Namun geretan api tadi sudah jatuh ke bawah, sambil memandangi api geretan yang masih gemerdep itu, kedua orang menjadi sedih.

Sekilas mendadak Pwe-giok melihat pedang pendek bersarung perak itu.

Segera ia melolos pedang itu, sinar pedang kemilauan, ia menusuk pelahan dan hampir seluruh pedang itu amblas ka dalam batu.

Sekali pedang diputar, batu itu lantas berlubang.

"Tajam amat pedang ini,"

Seru Pwe-giok girang.

"Untuk menjemput kembali geretan api itu terpaksa harus kita andalkan pedang ini."

Lebih dulu ia mengerek Kim-yan-cu ke bawah, dengan pedang pendek itu Kim-yan-cu membuat sebaris lubang di dinding, kemudian Pwe-giok merambat ke bawah dengan lubanglubang di dinding itu sebagai tangga dan geretan api itu berhasil di jemput kembali.

Dilihatnya di dasar gua itu banyak terpasang pisau tajam, ujung pisau penuh berserakan kain baju dan tulang kering, melihat kain baju yang sudah lapuk itu sedikitnya korban-korban itu sudah jatuh 20 tahun yang lalu, hanya satu di antaranya, yaitu mayat perempuan berbaju hijau kelihatan pakaiannya masih baru, mayatnya juga belum membusuk.

Diam-diam Pwe-giok membatin.

"Melihat tengkorak-tengkorak ini dan kematian perempuan berbaju hijau ini jaraknya sedikitnya ada 20 tahun lamanya. Jangan-jangan Siau-hun-bi-kiong ini sudah 20 tahun tak dikunjungi orang. Jadi rahasia di sini sudah terpendam antara 20 tahun dan baru akhir-akhir ini ditemukan orang. Dengan sendirinya tempat ini bukan gudang penyimpan harta pusaka Thian-can-kau segala."

Kim-yan-cu menggosok-gosok sepatunya di lantai untuk menghilangkan lumut dan kotorannya, maka tertampaklah lantai batu yang rajin dan licin. Ia berkerut kening dan berkata.

"Sepanjang jalan ini mungkin penuh dengan jebakan, cara bagaimana kita harus maju lebih lanjut?"

"Kau ikut di belakangku, jangan terlalu dekat, dengan demikian, andaikan aku terjeblos kan masih ada yang bisa menolong,"

Kata Pwe-giok setelah berpikir sejenak. Mendadak Kim-yan-cu berteriak.

"Sebenarnya ini kan urusanku, mestinya aku yang berjalan di depan, tidak perlu kau anggap aku orang perempuan dan segala sesuatu baru mengalah padaku!"

Pwe-giok tertawa, katanya.

"Meski aku tidak ingin menganggap kau sebagai perempuan, tapi nyatanya kau memang perempuan. Di depan orang perempuan kaum lelaki sok berlagak sebagai pahlawan, kenapa kau tidak mau mengalah padaku?"

Kim-yan-cu memandangnya tajam-tajam, ucapnya kemudian dengan tertawa.

"Sungguh kau ini satu-satunya lelaki yang tidak menjemukan yang pernah kulihat."

Pwe-giok terus berjalan ke depan dengan lebih hati-hati, sebelum langkahnya terasa mantap, tentu dia mencoba-cobanya dulu apakah tiada sesuatu jebakan.

Sudah tentu reaksinya juga jauh lebih peka daripada orang lain.

Sepanjang jalan ternyata tiada perangkap lagi, sesudah beberapa tombak jauhnya, sekonyongkonyong terlihat dua patung batu wanita telanjang yang saling rangkul dengan mesra, bukan saja perawakan patung itu terukir dengan indah dengan garis-garis tubuhnya yang menyolok, bahkan wajahnya juga terukir dengan mimik yang "hot"

Dan penuh daya merangsang.

Meski patung telanjang ini sudah penuh debu, tapi siapapun juga pasti akan berdetak jantungnya bila melihatnya.

Kedua patung batu ini lebih besar sedikit daripada orang hidup dan tepat menghadang di tengah jalan.

Selagi Pwe-giok hendak mencari tombol rahasia untuk menyingkirkan patung itu, dengan muka merah mendadak Kim-yan-cu merampas geretan api yang dipegang Pwe-giok sambil mendengus.

"Hm, di tempat ini penuh barang begini melulu, sungguh memuakkan."

Sembari berkata mendadak ia mendepak.

Pwe-giok bermaksud mencegahnya, namun sudah terlambat.

Kontan dari pusar salah satu patung perempuan telanjang itu menyemburkan kabut bubuk putih, cukup keras semburan itu dan langsung menyemprot muka Kim-yan-cu.

Cepat Pwe-giok menariknya ke samping, tanyanya dengan kuatir.

"Sudahkah kau cium baunya?"

Karena gugupnya ia sendiripun lupa menahan napas sehingga hidungnya juga sempat menghisap sedikit bau harum bedak.

Baru saja Kim-yan-cu menggeleng, dilihatnya Pwe-giok telah duduk bersila dan sedang mengatur pernapasan.

"Kau ....kau ..."

Tanya Kim-yan-cu dengan suara gemetar, ia tahu dirinya yang telah membikin gara-gara lagi.

Berulang-ulang Pwe-giok mengedipi si nona agar jangan bicara.

Meski Kim-yan-cu sudah tutup mulut, tapi hatinya tambah gelisah.

Selang sejenak, dilihatnya Pwe-giok menghela napas panjang dan berkata.

"Untung jarak waktunya sudah terlalu lama sehingga khasiat obat ini sudah kurang manjur, kalau tidak ...."

"Meski khasiat obat sudah kurang manjur, tapi kalau sampai mukaku kesemprot, jiwa tetap bisa melayang, betul tidak?"

"Bisa jadi!"

Ucap Pwe-giok.

"Kembali kau telah menyelamatkan diriku,"

Kata Kim-yan-cu dengan menghela napas. Dengan cahaya geretan Pwe-giok menyinari patung perempuan telanjang itu dan dipandangnya dengan cermat, sejenak kemudian, mendadak ia berkata;

"Coba, pejamkan matamu?"

"Kenapa aku tidak boleh melihatnya?"

Tanya Kim-yan-cu dengan tertawa.

"Letak kunci rahasianya di tempat yang kurang sopan,"

Tutur Pwe-giok dengan menyengir.

Belum habis ucapannya, cepat Kim-yan-cu memejamkan matanya.

Entah di bagian mana Pwe-giok telah meraba dan memutarnya, lalu terdengarlah suara "Kreek", kedua patung yang saling rangkul itu mendadak terpisah sehingga bagian tengah terluang jalan lewat selebar setengah meteran, segera Kim-yan cu lewat ke sana melalui pangkuan kedua patung telanjang itu.

Ia menghela napas, katanya dengan gegetun;

"Tak tersangka kau pun mahir berbagai macam permainan setan begini. Tanpa kau, mungkin selama hidupku jangan harap akan dapat lewat kesini."

"Menurut pendapatku, daripada masuk ke situ akan lebih baik tidak masuk saja ke sana,"

Kata Pwe-giok pelahan.

"Sebab apa?"

Tanya Kim-yan-cu dengan tertawa.

"Setiap tempat di sini, seumpama tiada persoalan Khing-hoa-sam niocu juga aku ingin masuk ke sana untuk melihatnya."

"Tempat yang semakin besar rahasianya, bahaya yang akan timbul juga semakin besar..."

"Ada kau, apa yang kutakuti?"

Terpaksa Pwe-giok menyengir pula.

Segera ia membuka jalan di depan.

Selewatnya rintangan patung telanjang itu, debu di lantai juga lebih sedikit, di bawah cahaya perak yang gemerdep samar-samar kelihatan juga penuh gambar dan corat-coret.

Ternyata corat-coret dan gambar di lantai juga melukiskan adegan mesra antara lelaki dan perempuan.

Pwe-giok mengamatinya sejenak katanya kemudian.

"Hendaklah kau ingat di mana kakiku menginjak dan ke situ pula kau ikut melangkah, jangan sampai salah."

Dan di mana kakinya menginjak pertama ternyata adalah bagian tubuh yang paling tidak sopan yang terlukis di lantai itu. Sambil ikut melangkah, berulang-ulang Kim-yan-cu mengomel.

"Benar-benar tempat setan dan tidak boleh didatangi orang baik?"

"Sebabnya tuan rumah sengaja mengatur begini tempatnya, mungkin tujuannya justeru hendak mencegah datangnya orang baik-baik. Sekalipun orang tahu rahasianya, tapi sungkan juga datang ke sini. Kalau tidak, mana bisa dia terlepas dari tuntutan hukum."

"Bagaimana dengan kau? Kau orang baik-baik bukan?"

Tanya Kim-yan-cu dengan tertawa.

"Terkadang baik, terkadang juga tidak,"

Jawab Pwe-giok tertawa. Kim-yan-cu tertawa genit, katanya.

"Kau ternyata tidak menjemukan bahkan rada menyenangkan..."

Belum habis ucapannya, mendadak suara tertawanya terhenti. Dilihatnya seorang gadis berbaju merah tergantung terbalik dengan muka yang menyeringai seram.

"He, tampaknya barang siapa masuk mati, kata-kata ini bukan cuma gertak sambel belaka,"

Seru si walet emas dengan ketakutan. Mayat gadis berbaju merah ini masih utuh, paling-paling baru dua-hari dia mati.

"Tempat yang sudah terpendam selama puluhan tahun, bilamana diketemukan orang, seketika akan berbondong-bondong didatangi orang banyak, apakah rahasia yang terdapat di tempat ini memang betul-betul sedemikian menarik sehingga matipun tak terpikir oleh orang-orang?"

Demikian gumam Pwe-giok.

Baru dua-tiga langkah, dilihatnya pula mayat seorang perempuan berbaju ungu, mati terpantek di dinding oleh sebatang paku raksasa berbentuk aneh.

Kedua tangannya tampak erat memegangi pangkal paku, jelas sebelum mati dia berusaha mencabut paku itu, tapi tidak mampu mencabutnya sehingga dia mati terpantek hidup-hidup.

Hanya sekejap saja Kim yan-cu memandangnya, ia merasa mual dan hampir saja tumpahtumpah.

Selanjutnya setiap beberapa langkah lagi ke depan pasti ditemukan sesosok mayat perempuan, ada yang mati terbacok golok, ada yang mukanya hancur, ada yang mati terhimpit di tengah celah-celah batu.

"Jalan ini benar-benar maut menunggu pada setiap langkah, jika aku tidak mengikuti kau, mungkin sekarang sudah... sudah mengalami nasib serupa anak-anak perempuan ini,"

Kata Kim yan-cu dengan suara gemetar.

"Tapi mereka dapat sampai di sini, suatu tanda di antara mereka pasti ada orang yang pintar,"

Ujar Pwe-giok.

"Darimana kau tahu mereka datang bersama?"

Tanya Kim-yan-cu.

"Kuyakin mereka pasti satu rombongan,"

Jawab Pwe-giok.

"Pada masa hidupnya anak-anak perempuan ini pasti muda dan cantik, tapi untuk apakah mereka datang ke tempat setan ini dan mengantarkan nyawa,"

Ujar Kim-yan-cu.

"Hanya ada satu alasan,"

Ujar Pwe-giok.

"meski tempat ini bukan gudang penyimpan pusaka Thian-can-kau, tapi pasti terpendam satu partai harta karun yang tak ternilai jumlahnya."

Mendadak Kim-yan-cu berhenti melangkah dan berkata.

"Menurut kau, kakek itu sengaja menipu kita masuk ke sini, mungkinkah kita hanya dijadikan perintis jalan baginya?"

"Kukira memang demikian, makanya dia berharap lebih tinggi ilmu silat kita akan lebih baik pula, tidak sayang meminjamkan pedang wasiat kepadamu."

"Wah, kalau begitu, apabila kita bisa masuk ke sana, hal ini sama saja seperti membuka jalan baginya,"

Seru Kim-yan-cu dengan terkesiap.

"Dan umpama kita menemukan benda mestika terpaksa juga harus diserahkan kepadanya. Dan kalau kita mati, dia sendiri tidak rugi. Hati orang tua ini sungguh keji, padahal kita tidak pernah kenal dia, namun dia tega menggunakan jiwa kita sebagai taruhan bagi kepentingannya."

"Di dalam hal ini masih ada kejadian lain yang aneh,"

Kata Pwe-giok setelah berpikir sejenak.

"Hal .... hal apa?"

Tanya Kim-yan-cu.

"Coba kau lihat, jenazah ini semuanya adalah perempuan, di dasar lubang tadi, kulihat kerangka tulangnya juga seluruhnya tulang perempuan, apakah orang yang datang ke sini dan mengincar harta pusaka ini tiada seorang lelaki pun?"

"Hal ini ada dua alasan, apakah kalian ingin tahu?"

Mendadak seorang menanggapi dengan tak acuh. Mendengar suara yang datar dan hambar ini, air muka Kim yan-cu seketika berubah, ia tarik tangan Pwe-giok dan berkata.

"Hahh, dia .... dia ikut masuk ke sini."

"Jika kugunakan kalian sebagai perintis jalan dengan sendirinya aku mesti ikut masuk kemari,"

Kata si kakek.

"Setelah kalian menghancurkan semua perangkap yang terpasang di sini, maka aku pun tidak perlu bersusah payah lagi."

Di tengah gemerdepnya cahaya perak, tahu-tahu orang tua itu sudah muncul seperti badan halus. Dongkol dan gusar pula Kim-yan-cu, omelnya.

"Kuhormati kau sebagai orang tua, tapi kau bertindak kejam kepada kami malahan tanpa malu-malu kau mengakui perbuatanmu."

"Meski kalian telah menderita bagiku, tapi juga tidak bekerja percuma, kalianpun akan menarik keuntungannya,"

Kata si kakek bercahaya perak.

"Apalagi kalian diberi kesempatan pesiar ke sini, andaikan matipun tidak perlu penasaran."

"Sesungguhnya tempat apakah ini?"

Tanya Kim-yan cu.

"Kenapa kalian tidak melihatnya sendiri, itulah dia!"

Kata si kakek. Waktu Kim-yan-cu memandang ke arah yang ditunjuk, terlihat di samping mayat seorang perempuan berbaju hijau, di atas dinding terukir 16 huruf besar yang berbunyi.

"Un-yu-cibiang, bing-lok-ci-kiong"

Atau surga yang hangat, istana yang gembira. Lalu di bawahnya.

"Siau-hun-si-kut, jik-tok-ji-hiong"

Atau sukma tergetar tulang terhapus, selain keji juga ganas.

"Empat puluh tahun yang lalu, tempat inilah surga yang di impi-impikan oleh setiap pendekar muda di seluruh dunia ini,"

Demikian tutur si kakek.

"Barang siapa dapat berkunjung ke sini, sekalipun tulang terhapus dan sukma tergetar juga rela."

"Apa sebabnya?"

Tanya Kim-yan-cu dengan terkesiap.

"Sebab kalau sudah berada di sini barulah diketahui sesungguhnya apa kegembiraan kaum lelaki? Hahaha, cuma sayang, setelah menikmati kebahagiaan ini, lalu orang itupun harus mati."

Sampai di sini, si kakek bergelak tertawa beberapa kali, namun suaranya tetap hambar, tiada tinggi-rendahnya nada, juga tiada terdengar rasa suka atau duka.

Kim-yan-cu menarik napas dingin, ucapnya kemudian.

"Jika demikian, mengapa di sini tidak terlihat mayat lelaki seorangpun?"

"Soalnya waktu itu setiap lelaki harus menunggu setelah masuk istana dan dinilai dulu oleh Siau-hun Kiongcu (puteri penggetar sukma), habis itu barulah dia akan mati,"

Tutur Si kakek.

"Jika sudah tahu tempat setan yang jahat ini mengapa anak perempuan juga sengaja kemari?"

Tanya Kim-yan-cu.

"Untuk ini memang banyak alasannya,"

Tutur pula si kakek.

"Ada sementara orang perempuan yang iri kepada kecantikan Siau-hun-kiongcu dan bertekad akan membunuhnya. Ada lagi yang dendam karena suami atau kekasih sendiri menjadi korban pikatan sang Kiongcu dan sengaja datang kemari untuk menuntut balas..."

"Tapi kalau Siau-hun-kiongcu itu masih hidup sampai sekarang, tentunya dia sudah berwujud siluman tua, mengapa masih tetap ada anak perempuan sebanyak ini yang mengantar nyawa ke sini?"

"Meski Siau-hun-kiongcu sudah mati, tapi harta pusakanya dan kitab wasiat tinggalannya masih berada di sini,"

Kata si kakek.

"Harta pusakanya tidak perlu dipersoalkan, melulu kitab wasiat pelajaran ilmu silatnya saja selama berpuluh tahun ini selalu diincar oleh setiap perempuan di dunia ini, tak perduli siapapun, asalkan bisa memperoleh Bikang (ilmu memikat) Siau hun-kiongcu, maka setiap lelaki di dunia ini pasti akan bertekuk lutut di bawah kakinya."

Kim-yan cu memandang Pwe-giok sekejap, tanpa terasa air mukanya menjadi merah pula, katanya.

"Barang kotor begitu, melihat saja aku tidak sudi."

Si kakek tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Tapi sekali sudah kau lihat mungkin kau akan merasa berat untuk melepaskannya."

Sekonyong-konyong sorot matanya beralih ke arah Pwe-giok, katanya pula;

"Meski ilmu silatmu kurang memadai, tapi pengetahuanmu dalam hal-hal lain ternyata cukup luas, orang seperti kau ini rasanya sayang jika kubunuh."

Pwe-giok tersenyum, katanya.

"Saat ini kita belum masuk ke istana, dengan sendirinya kau takkan membunuhku."

Mencorong sinar mata si kakek, ucapnya.

"Jika kau dapat membawaku masuk ke istana ini, bukan saja tidak kubunuh kau, bahkan akan ku bagi sama rata harta pusaka yang kita temukan nanti."

"Dan kalau aku tidak mau?"

Tanya Pwe-giok.

"Jika kau tidak mau, sekarangpun jangan kau harap akan bisa hidup lagi,"

Kata si kakek dengan hambar.

"Tempat ini sudah didatangi orang, bisa jadi harta pusaka yang terpendam di sini sudah diambil orang,"

Kata Pwe-giok dengan tertawa.

"Sampai saat ini belum pernah ada seorangpun yang dapat keluar dari sini dengan hidup!"

Ucap si kakek dengan dingin. Pwe-giok tertawa, katanya.

"Sering kudengar kata-kata seperti ini. Padahal tempat yang tak dapat keluar dengan hidup justeru selalu ada orang yang keluar dengan hidup, hanya keluarnya tidak diketahui orang lain."

Si kakek terbahak-bahak, katanya;

"Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan ke sembilan perempuan ini masuk ke sini dan aku sendiri yang menyumbat jalan keluarnya, dua hari pula ku jaga di luar. Bilamana ada orang keluar di luar tahuku, kedua biji mataku ini rela kukorek keluar."

Dengan sorot mata gemerdep Pwe-giok berkata pula dengan pelahan.

"Kau membunuh segenap keluarga Ma Siau-thian, apakah lantaran kau mencurigai dia membocorkan rahasia tempat ini kepada ke sembilan perempuan ini."

"Hm, kau sudah bertanya terlalu banyak,"

Jawab si kakek dengan sorot mata tajam.

"Hanya karena mencurigai seorang, lalu kau bunuh segenap keluarganya, tidakkah caramu ini terlalu keji dan kejam?"

Seru Kim-yan-cu.

"Jangan lupa, yang kubunuh adalah anggota Thian-Can-kau,"

Jawab si kakek dengan tak acuh.

"Lantaran mereka membocorkan rahasiamu kepada orang lain, makanya kau bunuh mereka, begitu?"

Kim-yan-cu menegas.

"Hm!"

Si kakek cuma mendengus saja.

"Tapi dari mana pula orang Thian-can-kau mengetahui rahasiamu?"

Teriak Kim-yan-cu.

"Jangan-jangan kau pun sekomplotan dengan mereka?"

Mendadak si kakek membalik tubuh dan "plok", tangannya menepuk dinding batu, lalu menjawab dengan pelahan.

"Kaupun sudah terlalu banyak bertanya."

Melihat dekukan cap tangan di dinding, Kim-yan-cu mencibir dan tidak bersuara pula. ***** Cukup lama Pwe-giok meraba dan mencari dan berulang-ulang bergumam.

"Jangan-jangan pintu masuk istananya tidak terletak di sini?"

"Di depan sudah buntu, kalau pintunya tidak di sini, lalu di mana?"

Ujar si kakek.

Pwe-giok berpikir sejenak, ia menggeser sesosok mayat perempuan berbaju hijau, tiada dilihatnya sesuatu luka pada mayat ini, tapi kedua tangannya tampak matang biru.

Ia berjongkok, dengan sarung pedang ia mencungkil jari-jemari mayat itu, dilihatnya jari telunjuk kanan-kiri masing-masing ada setitik darah kering.

Seperti luka yang habis digigit nyamuk atau seperti bekas dicocok jarum bilamana orang hendak diperiksa darahnya pada jaman ini.

Namun begitu sudah mengakibatkan kematian perempuan ini.

Pwe-giok berdiri dan menghela napas panjang, gumamnya pula.

"Kiranya rahasia untuk masuk ke dalam istana ini terletak pada kedua titik di huruf "ci"

Ini."

Huruf yang terukir di dinding batu itu pun, penuh debu, hanya kedua titik pada huruf "Ci"

Saja yang kelihatan licin dan bersih, seolah-olah sering digosok. Dengan girang Kim-yan-cu berseru.

"Aha, betul, aku pun tahu sekarang. Asalkan kedua titik pada huruf Ci ini ditekan, seketika akan muncul pintunya, begitu bukan?"

Sambil berkata segera ia hendak menekan kedua titik itu. Cepat Pwe-giok mencegahnya dan berkata.

"Apakah kau pun akan meniru perempuan baju hijau ini? Jika setiap kali hendak membuka pintu istana harus mengorbankan satu nyawa, harga ini kukira terlalu mahal."

Mendadak sinar perak gemerdep, si kakek telah merampas pedang pendek dan memotong kedua jari telunjuk mayat itu, lalu digunakan menekan kedua titik huruf Ci itu.

Seketika dinding yang tadinya rapat dan rata itu berbunyi keriat-keriut, pelahan-lahan dinding itu bergeser dan muncul selapis tirai bermutiara yang melambai hingga menyapu lantai.

Cahaya mutiara gemerlapan menyilaukan mata, di atas juga muncul enam belas huruf yang berbunyi.

"Kegembiraan yang bahagia, dinikmati bersama anda. Masuk ke dalam pintu ini, sekaligus naik ke surga."

Air muka si kakek yang tadinya dingin dan hambar itu seketika memperlihatkan rasa gembira dan bersemangat, sinar matanya mencorong terang, mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak;

"Hahaha! Rahasia Siau-hun-niocu akhirnya terjatuh juga di tanganku sekarang!"

Di tengah gelak tertawanya itu ia lantas menyingkap tirai dan melangkah masuk.

Kim-yan-cu coba memeriksa kedua potong jari kutung yang di buang ke lantai itu, ternyata pada ujung jari yang sudah hitam kering itu bertambah lagi dua lubang kecil.

Ia pandang Pwegiok sekejap, katanya dengan penuh rasa terima kasih.

"Kembali kan telah menyelamatkan diriku. Sungguh tak tersangka pada kedua titik kecil inipun terpasang perangkap yang dapat membunuh orang."

Kiranya pada kedua titik itu masing-masing ada sebuah jarum berbisa yang sangat lembut dan hampir sukar terlihat oleh mata telanjang Bilamana jari itu tercocok jarum, hanya terasa gatal sedikit dan bilamana mulai merasa sakit, maka tak tertolong lagi orangnya.

Pwe-giok sedang memandangi tirai bertabur mutiara itu, seperti sedang menimbang apakah harus ikut masuk atau tidak.

Sekonyong-konyong sebuah tangan yang pucat terjulur keluar dari balik tirai dan menarik Kim-yan-cu ke dalam.

Terdengar si kakek berkata.

"Harta pusaka ini ada separuhnya adalah milikmu, kenapa kau tidak ikut masuk kemari?"

Belum habis ucapannya Kim yan-cu sudah terseret masuk ke sana. Diam-diam Pwe-giok merenungkan apa yang bakal terjadi nanti, pikirnya;

"Setelah maksud tujuannya tercapai, orang tua ini pasti takkan melepaskan diriku..."

Sementara itu didengarnya suara sorak gembira Kim-yan-cu, akhirnya Pwe-giok ikut melangkah masuk ke sana.

Di balik tirai itu memang betul terdapat suatu dunia lain.

Seketika Pwe-giok merasa silau oleh gemerlapnya cahaya emas dan sinar perak sehingga tidak jelas keadaan di dalam.

Tiba-tiba Kim-yan-cu mendekatinya dengan membawa sebuah cangkir kumala, di dalam cangkir penuh terisi ratna mutu manikam yang kemilauan sehingga wajah si nona yang berseri-seri itu semakin menarik.

"Lihatlah, betapa indah benda-benda ini?"

Seru si nona dengan berjingkrak gembira.

"Kau suka?"

Tanya Pwe-giok.

"Anak perempuan mana yang tidak suka kepada intan permata? Kalau lelaki suka kepada intan permata adalah karena nilainya yang tinggi, sedangkan perempuan suka kepada intan permata adalah karena keindahannya. Coba lihat, yang ini bagus atau tidak?"

Dia lantas angkat seuntai kalung mutiara dan digantung di depan lehernya, cahaya mutiara yang kemilauan menyinari kerlingan matanya yang redup seperti agak mabuk. Pwe-giok menjawab dengan gegetun.

"Betapa pun indahnya mutiara ini, mana bisa lebih indah daripada kerlingan matamu?"

Kim-yan-cu menunduk dan tertawa, mukanya menjadi merah.

Tapi si kakek bercahaya perak tadi sama sekali tidak memandang mereka, terhadap ratna mutu manikam yang memenuhi ruangan itu seolah-olah juga tidak tertarik, ia masih terus mencari dan menggeledah di segenap pelosok.

Mutiara, jamrud, kumala, mirah, safir ....

satu persatu dibuangnya di lantai seperti membuang sampah.

Sungguh aneh, apakah barang yang dicarinya bisa lebih berharga daripada benda-benda mestika ini?

"Menurut kau, apakah dia sedang mencari Siau-hun-pit-kip (kitab pusaka penggetar sukma) tinggalan Siau-hun-kiongcu itu?"

Tanya Kim-yan cu dengan suara tertahan.

"Kukira begitulah,"

Jawab Pwe-giok. Kim-yan-cu tertawa cekikik, katanya.

"Dia kan bukan perempuan, seumpama berhasil meyakinkan ilmu memikat tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, lalu apa gunanya?"

Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Bisa jadi Kungfu yang diyakinkan nya sehaluan dengan ilmu Siau-hun kiongcu ini. Jika keduanya bergabung dan saling menambal kekurangan masing-masing, dengan sendirinya lantas besar manfaatnya. Atau mungkin juga dia mempunyai anak perempuan..."

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar si kakek bergelak tertawa seperti orang gila. Terlihat tangannya yang pucat itu memegangi beberapa

Jilid buku tipis warna jambon, rasa gembiranya itu jauh melebihi Kim-yan-cu ketika menemukan batu permata tadi. Tanpa terasa Pwe-giok menghela napas panjang.

"Cita-citaku telah terkabul, kau harus ikut bergembira bagiku, kenapa kau menghela napas?"

Omel si kakek dengan tertawa.

"Soalnya Cayhe lantas teringat kepada pepatah "Niau-cin-kiong-cong" (burung habis gendewa disimpan, kiasan bahwa setelah burung terbidik, gendewa tidak diperlukan lagi), maka aku menjadi sedih."

"Kan sudah kukatakan takkan kubunuh kau, masa aku ingkar janji,"

Ujar si kakek dengan tergelak. Lalu ia menggunakan tangan kiri dan memberi tanda garis tengah ruangan itu dan berkata pula.

"Bukan saja jiwamu takkan kuganggu, bahkan aku tetap pegang janji dan akan ku bagi separoh harta pusaka ini kepadamu. Di sinilah batasnya, yang sebelah sana semuanya adalah milikmu, boleh kau ambil saja sesukamu."

"Anda dapat pegang janji, tidak sia-sia ku sebut engkau sebagai Cianpwe,"

Ujar Kim-yan-cu dengan tertawa. Tapi Pwe-giok menanggapi dengan tak acuh.

"Biarpun Cianpwe memberikan kepadaku seluruh harta pusaka ini, kalau tidak dapat kubawa keluar kan juga percuma dan tiada gunanya,"

Sembari bicara, seperti tidak sengaja, ia tetap menghadang di depan pintu tanpa bergeser. Si kakek tertawa, katanya.

"Meski ilmu silatmu kurang tinggi, kukira tenagamu cukup kuat, boleh kau bungkus saja harta pusaka ini sekantong demi sekantong, kan akhirnya dapat kau bawa pergi seluruhnya?"

"Sekalipun Cianpwe tidak mengganggu jiwaku, tapi bila Cayhe sedang meringkasi bendabenda berharga ini, mungkin Cianpwe terus melayang keluar dan menyumbat pintu keluar, lalu apa gunanya biarpun Cianpwe memberikan seluruh harta karun ini kepadaku?"

Tak tersangka oleh si kakek bahwa pemuda yang tampaknya lugu dan tulus itu dapat menerka isi hatinya. Sejenak ia melenggong, dari malu ia menjadi gusar, segera ia membentak.

"Kau menghadang di depan pintu, apakah kau kira aku tidak mampu keluar?"

Di tengah bentakannya kelima jarinya laksana kaitan terus mencengkeram urat nadi pergelangan tangan Pwe-giok.

Mendadak Pwe-giok memutar tangannya dan berbalik memotong urat nadi lawan, gerakan cepat dan balas menyerang secara licin ini membuat si kakek terkejut, cepat telapak tangannya yang lain juga memukul.

Jilid 10________ Pwe-giok tidak mengelak juga tidak menghindar atas serangan si kakek, ia malah sambut pukulan lawan dengan sebelah tangannya.

"plak"

Kedua tangan beradu, kedua orang samasama tergetar mundur dua-tiga tindak.

Si kakek sama sekali tidak menyangka Kungfu anak muda ini bisa sedemikian lihai, ia terkejut dan gusar, katanya dengan menyeringai.

"Tak terduga boleh juga kau, akulah yang salah pandang!"

Belum habis ucapannya, sekaligus ia sudah menyerang beberapa jurus lagi.

Di tengah serangannya yang aneh itu membawa gerakan keji.

Namun Pwe-giok dapat mematahkan setiap jurus serangan lawan, cuma dia baru sembuh dari keracunan, setelah belasan gebrakan, tenaga mulai terasa lemah.

Mendadak ia membentak pada Kim-yan cu.

"Kenapa kau tidak lekas terjang keluar?"

Kim yan-cu memang lagi kesima menyaksikan pertarungan mereka, ia terkesiap oleh bentakan Pwe-giok itu, tapi ia lantas menjawab dengan tertawa.

"Dua lawan satu kan lebih baik daripada sendirian biarlah akupun maju..."

Cepat Pwe-giok memotong.

"Dengan kepandaianmu, biarpun ikut maju juga tiada gunanya. Terjang keluar saja dan jangan hiraukan diriku!"

Karena bicara dan sedikit lengah, kembali dia terdesak mundur dua tiga langkah.

Melihat pertarungan kedua orang sedemikian rapatnya sehingga dirinya tidak mungkin ikut campur, terpaksa Kim-yan cu menghela napas, mendadak ia melompat lewat samping si kakek.

Tak terduga punggung si kakek seakan-akan juga tumbuh mata, sebelah tangannya menghantam ke belakang.

Kim-yan-cu tidak sanggup menangkis, dada terasa sesak, ia terpental dan jatuh terguling ke belakang.

Pada kesempatan itulah Pwe-giok juga melancarkan serangan sehingga dapat mendesak maju ke tempat semula.

"Apakah kau terluka?"

Tanyanya kepada Kim-yan-cu. Tubuh Kim-yan cu terasa pegal seluruhnya tapi dia menjawab dengan tersenyum.

"Tidak apaapa jangan kau pikirkan diriku!"

Melihat senyuman si nona yang setengah meringis itu, Pwe-giok tahu dalam waktu singkat mungkin Kim-yan-cu tidak sanggup berbangkit.

Pikirannya menjadi kusut, kembali dia terdesak mundur lagi oleh hantaman si kakek.

Dengan menggertak gigi Pwe-giok menyambut pula tiga kali pukulan kakek itu.

Kedua orang berdiri di luar dan di dalam tirai, sesudah bergebrak beberapa jurus lagi, tirai itu pun robek, mutiara dan batu permatanya berserakan di lantai.

"Mengapa kau tidak bersuara, apakah kau terluka?"

Tanya Kim-yau-cu dengan parau. Terpaksa Pwe-giok berteriak;

"Kau jangan kuatir, aku...."

Karena bersuara, bawa murni dalam tubuh tambah lemah, kembali dia terdesak mundur dua langkah, kini ia sudah terdesak ke luar pintu. Si kakek terus mendesak keluar, serunya dengan tertawa.

"Kalian berdua boleh dikatakan dua sejoli yang sehidup semati, sungguh aku menjadi iri."

Pada waktu si kakek bicara, segera Pwe-giok bermaksud menyerang dan mendesak kembali ke tempat semula, tapi sayang, tenaga tidak mau menuruti kehendaknya lagi.

Kain putih yang membalut kepalanya juga sudah basah kuyup oleh air keringat.

Dalam keadaan demikian kalau dia mau kabur sendiri mungkin masih ada harapan, tapi mana dia tega meninggalkan Kim-yan-cu begitu saja?

Agaknya si kakek dapat meraba jalan pikirannya dengan menyeringai ia berkata pula.

"Jika kau tidak keluar sekarang, segera akan kututup pintu ini, akan kukurung dia di dalam, dengan demikian jangan harap lagi kalian akan berkumpul kembali."

Pwe-giok menghela napas, katanya.

"Jika demikian, hendaklah kau memberi jalan, biar aku lewat ke sana."

Si kakek terbahak-bahak, benar juga ia lantas menyingkir ke samping. Dengan sedih Pwe giok melangkah ke sana. Tapi baru saja sampai ambang pintu, Cepat Pwe giok berteriak.

"Sudah kutahan dia, lekas kau lari!"

Dengan terhuyung-huyung Kim yan cu berlari keluar, katanya dengan suara gemetar.

"Dan... .dan kau?"

Tidak kepalang gemas Pwe giok, sungguh dia ingin mencekik leher si nona dan menghardiknya.

"Kenapa kau tidak lari keluar lebih dulu dan nanti berusaha lagi menolong diriku?"

Tapi ia sendiri sedang terdesak oleh serangan si kakek sehingga tidak sempat bersuara sama sekali. Si kakek sinar perak tertawa terkekeh-kekeh katanya;

"Demi keselamatan dirimu, dia rela mengorbankan dirinya di sini, apakah kau tega pergi sendirian?"

"Sudah tentu tidak mungkin ku pergi sendiri,"

Jawab Kim-yan-cu tegas.

"Mau mati biarlah kami mati bersama saja."

"Bagus,"

Ujar si kakek dengan tertawa.

"Dengan demikian barulah dapat dikatakan punya perasaan, sungguh aku sangat kagum."

Cemas dan gemas Pwe-giok sungguh kalau bisa ingin ditendangnya keluar Kim-yan-cu.

Karena gusarnya itu, sedikit meleng, dada terasa panas, rupanya telah kena getaran pukulan si kakek.

Sekali ini dia tidak mampu balas menghantam lagi.

"Haha, apakah nona tidak ingin masuk lagi ke sana?"

Seru si kakek dengan tertawa.

"Sudah tentu aku akan masuk ke sana, tidak perlu kau kuatir,"

Teriak Kim-yan cu dengan suara serak.

Pwe giok hendak membentak untuk mencegahnya, tapi belum lagi bersuara, tahu-tahu Kimyan-cu sudah lari masuk lagi dengan langkah sempoyongan dan menubruk ke dalam pelukannya.

Terdengar si kakek tertawa latah, katanya.

"Sudah kukatakan takkan kubunuh kau, tentu ku pegang teguh janjiku ini. Tapi kalau kalian mati sesak di sini kan bukan salahku."

Habis berkata.

"krek"

Pintu batu itu telah tertutup.

Seketika di dalam gua itu berubah menjadi sunyi senyap, sampai suara tertawa si kakek pun tidak terdengar lagi.

Kim-yan-cu termangu-mangu sejenak, akhirnya air mata bercucuran, ucapnya dengan tersendat-sendat.

"Semuanya gara-garaku sehingga kau pun ikut susah. Mengapa... mengapa kau tidak melarikan diri sendiri tadi?"

"Dan kau sendiri mengapa tidak mau lari?"

Jawab Pwe giok dengan menyesal.

"Setelah kau keluar, kau kan dapat berusaha menolong diriku? Dengan begitu kan lebih baik daripada duaduanya terkurung mati di sini?"

Kim yan-cu melenggong sejenak, mendadak ia mengikik tawa.

"Apa yang kau tertawakan?"

Tanya Pwe giok dengan berkerut kening.

"Apakah salah ucapanku?"

"Jika kau kira ucapanmu itu masuk diakal, kenapa kau sendiri tidak lari keluar lebih dulu baru kemudian berusaha menolong diriku lagi?"

Jawab Kim-yan-cu. Sekali ini Pwe giok juga melenggong, sejenak kemudian barulah ia berkata dengan tersenyum kecut.

"Ya, betul juga. Tadinya kukira kau ini nona bodoh, tak tahunya akulah yang jauh lebih bodoh daripadamu."

"Kau sama sekali tidak bodoh,"

Ujar Kim-yan-cu dengan suara lernbut.

"hanya karena terlalu memikirkan diriku, maka kau lupa akan dirinya sendiri."

Tanpa terasa Pwe-giok membelai rambut si nona, katanya dengan gegetun.

"Dan kau sendiri bagaimana? Bukankah kau pun begitu, demi diriku kau pun lupa pada dirimu sendiri?"

Kim yan-cu bersuara tertahan terus menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu.

Sejak kecil Pwe-giok sudah kehilangan ibu, di bawah didikan sang ayah yang keras, meski sejak dulu sudah mengikat jodoh, namun jari sang tunangan saja tidak pernah disentuhnya, bilakah dia pernah merasakan kemesraan muda-mudi begini?

Seketika pikirannya menjadi bingung, entah mesti gembira atau harus sedih.

Entah suka entah duka?

Umumnya, orang yang sama-sama berada dalam kesusahan memang lebih mudah menumbuhkan benih perasaan dengan cepat, kecepatan yang sukar dibayangkan dan juga sukar dicegah.

Entah selang berapa lama, mendadak Kim-yan-cu melompat bangun, dengan muka merah ia berkata.

"Coba lihat, kita telah berubah menjadi tolol semua sehingga tidak terpikir kalau pintu ini dapat di buka dari luar, dengan sendirinya dapat pula dibuka dari dalam. Kalau tidak, waktu Siau-hun-kiongcu masih hidup, apakah dia juga harus dibukakan pintu dari luar bilamana dia ingin keluar?"

Merasa jalan pikirannya ini sangat masuk diakal, tanpa terasa ia menjadi sangat gembira. Sebaliknya Pwe-giok lantas menghela napas panjang, ucapnya.

"Kakek itu sudah tahu dimana letak kunci pintu keluar masuk tempat ini, dia membawa pula pedang wasiat setajam itu, cukup sekali bergerak saja semua alat rahasia dapat dirusaknya. Pintu batu ini seberat ribuan kati, jika pegasnya rusak, siapa lagi yang sanggup menggesernya? jika ia sudah berniat mengurung kita di sini, tentu juga sudah dipikirkannya segala kemungkinannya."

Kim yan-cu melengak, senyumnya tadi lenyap seketika, katanya dengan ragu-ragu.

"Tapi harta... harta benda yang terdapat di sini, apakah tidak... tidak dikehendakinya lagi?"

"Bila kita mati terkurung di sini, tentu harta karun inipun takkan lari, lambat atau cepat tetap akan jadi miliknya, untuk apa dia terburu-buru mengambilnya? apalagi tujuannya sebenarnya bukan terletak pada harta karun ini."

Dengan lemas Kim-yan cu berduduk lagi, ia termangu-mangu sejenak, mendadak ia tertawa cerah pula dan berkata.

"Sebelum pagi hari ini, sungguh mimpipun tak terpikir olehku akan mati bersamamu di sini. Yang aneh adalah sekarang aku tidak merasa takut sedikitpun. baru sekarang ku tahu, mati ternyata bukan sesuatu yang menakutkan seperti apa yang pernah kubayangkan. apalagi kalau dapat mati bersamamu, jelas aku lebih beruntung daripada ke delapan anak perempuan yang telah mati itu."

Mendadak Pwe-giok terbelalak, serunya.

"Kau bilang ke delapan anak perempuan itu?"

Kim-yan cu bingung karena tidak tahu apa sebenarnya anak muda itu berteriak, jawabnya dengan tergagap.

"Be... betul"

Pwe-giok memegang tangan si nona dan menegas.

"Apakah sudah kau lihat jelas? Betul-betul delapan dan bukan sembilan?"

Kim-yan cu berpikir sejenak, lalu menjawab tegas.

"Ya, tidak kurang tidak lebih, persis delapan"

Ia merandek, kemudian berkata pula.

"Tapi delapan atau sembilan, memangnya ada sangkut paut apa dengan kita?"

"Tentu saja ada sangkut pautnya, bahkan sangat besar sangkut pautnya!"

Seru Pwe-giok. Melihat anak muda itu mendadak kegirangan, Kim-yan cu menjadi heran, tanyanya.

"Ada sangkut paut apa? Bukankah anak-anak perempuan itu sudah mati semua?"

Pwe-giok menggenggam tangannya erat-erat dan berkata.

"Menurut orang tua tadi, katanya dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan sembilan anak perempuan masuk ke sini dan tiada seorangpun yang pernah keluar. Berdasar ketajaman matanya kupercaya dia pasti tidak salah hitung, sebaliknya kau cuma melihat delapan sosok mayat dan juga tidak keliru lihat."

Dia menghela napas panjang dan menatap Kim-yan cu tajam-tajam, lalu menyambung pula sekata demi sekata.

"Maka sekarang ingin kutanya padamu, ke mana perginya anak perempuan yang ke sembilan itu?"

Kim-yan cu melongo bingung seperti paham dan seperti tidak, gumamnya.

"Ya, betul, kemana perginya anak perempuan ke sembilan itu? Kenapa bisa menghilang?"

"Orang sebesar itu masa bisa hilang?"

Ujar Pwe-giok.

"Betul, orang sebesar itu mustahil bisa hilang?"

Tukas Kim-yan cu. Mendadak Pwe-giok berseru.

"Masa kau tidak paham, sebabnya anak perempuan ke sembilan itu bisa menghilang mendadak tentu karena di sini ada jalan keluar lain, kalau tidak, memangnya dia dapat menyusup masuk ke dalam bumi?"

Akhirnya Kim-yan cu paham duduknya perkara, ia melonjak bangun dan merangkul Ji Pwegiok serunya dengan tertawa.

"Ai, kau memang benar-benar bukan orang bodoh, sebaliknya aku inilah budak tolol."

Pada saat sudah putus asa tiba-tiba mendapatkan setitik sinar harapan, sudah tentu mereka kegirangan, Tapi lantaran kelewat bergirang, mereka menjadi lupa bahwa bilamana anak perempuan ke sembilan itu datang demi mencari harta karun, kalau betul dia sudah keluar melalui suatu jalan rahasia lain, mengapa harta karun ini tidak dibawa pergi sekalian?

Setelah mencapai tempat penyimpanan harta karun ini apakah mungkin dia keluar lagi dengan tangan hampa?

Si kakek tadi menemukan kitab pusaka Siau-hun-pit-kip pada sebuah almari batu yang berbentuk aneh, sekarang pintu almari batu itu masih terpentang.

Didepan almari batu ada sebuah kasuran berwarna hijau-kelabu, waktu diperiksa lebih teliti, kasuran ini juga ukiran dari batu, saking pandainya mengukir sehingga tampaknya seperti kasuran asli.

Bahwa ditengah ruangan hanya tertaruh sebuah kasuran begini, jelas tampaknya agak janggal, tidak sesuai dan tidak serasi dengan keadaan di ruangan ini, apalagi kasuran ini ukirannya dari batu hijau, lebih-lebih menurut ingatan Ji Pwe-giok, di bawah kasuran begini biasanya tersembunyi sesuatu rahasia.

Maka begitu melihat kasuran ini, dia lantas tertarik, segera ia mendekatinya.

Namun kasuran ini seperti berakar di tanah, didorong maupun ditarik tidak bergeming sedikitpun, diputar kesana ke sini juga tidak mau bergetar.

Pwe-giok menghela napas kecewa.

waktu menengadah, mendadak dilihatnya di dinding almari batu itupun terukir gambar laki perempuan yang tidak senonoh.

Anehnya setiap pasangan manusia ukiran ini secara indah terangkat menjadi satu huruf sehingga seluruhnya berbunyi.

"Barang siapa mendapat kitab pusaka ku, masuklah ke perguruanku. Terimalah ilmu tinggalan ku dan menyembah kepada arwahku. Baik buruk atau untung malang, semua itu mesti tunduk kepada perintahku. Yang melanggar pesan tinggalanku ini akan tertimpa bencana dan mati."

Disamping kedua baris tulisan yang menyerupai ramalan ini terdapat pula beberapa baris huruf kecil dan berbunyi.

"Barang siapa menemukan harta dan kitab pusakaku, dia harus masuk ke perguruanku, hendaklah segera berlutut di atas kasuran dan menghadap ke dinding ini, dengan hati tulus dan bersujud menyembah sembilan kali sembilan sana dengan 81 kali sebagai penghormatan mengangkat guru, dengan demikian akan mendapatkan rejeki. Tapi kalau membangkang atas perintahku ini, setelah mendapatkan harta pusaka ini terus pergi, arwahku pasti akan mengejar dirimu dan mencabut nyawamu. Camkanlah peringatan ini."

Jelas si kakek cahaya perak tidak pernah memperhatikan pesan Siau-hun-kongcu ini, dengan sendirinya dia tidak percaya orang yang sudah mati masih mampu mencabut nyawanya.

Akan tetapi setelah berpikir sejenak, Pwe-giok benar-benar berlutut di atas kasuran itu dan mulai menyembah.

Kim-yan cu melenggong, katanya dengan tertawa.

"Masa kau benar-benar ingin mengangkat guru kepada orang mati?"

Sembari menyembah Pwe-giok menjawab.

"Pada masa hidupnya, tindak-tanduk Siau-hunkongcu ini sudah sukar diraba orang. Ketika mendekati ajalnya, tentu dia memeras otak dan mencari akal yang aneh-aneh untuk mengatur segala sesuatu."

"Ya, orang seperti dia itu, kalau mati tentu juga tidak rela barang tinggalannya dikuras orang dengan begitu saja."

Ujar Kim-yan cu.

"Sebab itulah, kupikir pesan yang diukir di sini ini pasti juga ada tujuan tertentu, mungkin disinilah letak rahasianya yang paling besar,"

Kata Pwe-giok. Kim-yan cu berkerut kening katanya.

"Tapi orang sudah mati apa yang dapat diperbuat lagi? ..."

Tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya, air mukanya berubah pucat, dengan suara gemetar ia berkata pula.

"Jangan-jangan... jangan-jangan dia belum lagi mati?"

Selesai Kim-yan cu bicara, Pwe-giok juga sudah habis menyembah 81 kali.

Sekonyong-konyong dinding batu yang penuh terukir huruf itu terbelah menjadi dua dan bergeser ke samping.

Dibalik dinding tampak cahaya terang gemerlapan menyilaukan mata.

Pada saat itu yang hampir sama, mendadak kasuran batu itu terus meluncur ke arah lemari batu itu secepat kilat.

Pwe-giok sendiri waktu itu merasa dengkulnya kaku kesemutan setelah berlutut dan menyembah sekian lama, belum lagi dia sempat berbangkit, tahu-tahu kasuran tempat dia berlutut itu terus meluncur ke balik dinding yang terbelah itu.

Tanpa kuasa Pwe-giok terhanyut oleh kasuran batu itu, seketika ia merasa silau dan tidak melihat apa-apa.

Pada saat itu mendadak kasuran batu itu berganti arah terus meluncur balik ke belakang.

Karena dibawa meluncur ke depan dan mendadak membalik lagi ke belakang, tanpa kuasa Pwe-giok terjungkal ke depan dan jatuh di lantai.

"bluk", seperti ada sesuatu barang tertindih oleh tubuhnya. Menyusul asap tebal lantas muncrat berhamburan. Kasuran batu tadi telah meluncur keluar dinding dan dinding itu lantas merapat kembali, semuanya itu berlangsung dengan cepat, hampir seperti terjadi dalam waktu yang sama. Apa yang terjadi ini sungguh terlalu cepat dan terlalu banyak sehingga Pwe-giok tak sempat bertindak apapun, hidungnya sempat menghisap bau harum bedak. Meski harum baunya, tapi terasa gelagat tidak menguntungkan. Sama sekali tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa setelah dia menuruti pesan Siau hun-kiongcu tadi, sebagai imbalan adalah kejadian yang luar biasa ini dan rejeki nomplok. Segera pula dia hendak menahan napas, namun bau harum tadi sudah sempat diisapnya sedikit. Kim yan cu juga mendadak merasakan cahaya yang menyilaukan tadi sehingga matanya sukar terbuka. Samar-samar ia sempat melihat kasuran tadi meluncur ke dalam lemari batu dengan membawa Ji pwe giok, waktu dia dapat membuka mata dan melihat lebih jelas, tahu-tahu batu itu sudah meluncur balik ke tempat semula. Waktu dia pandang almari batu itu, keadaannya masih utuh seperti tadi, sedikitpun tiada perubahan apapun namun Ji Pwe giok tidak kelihatan lagi, entah menghilang kemana? Kim yan cu jadi melongo kesima, sungguh ia tidak percaya kepada pemandangannya sendiri, apakah yang terjadi sesungguhnya? Mengapa bisa begini? Hampir saja ia berteriak-teriak, tapi dalam keadaan demikian, sekalipun sampai pecah kerongkongannya juga tiada seorangpun yang mendengar suaranya. Kim yan cu sudah cukup berpengalaman berkelana di dunia kangouw, sudah sering juga dia menghadapi saat-saat antara mati dan hidup, betapapun dia bukan anak perempuan biasa, walaupun dia kelihatan begitu lemah lembut ketika berada disamping Ji we giok. Tapi anak perempuan mana di dunia yang tidak kelihatan lemah lembut bila berada bersama seorang lelaki? Bila berada bersama seorang lelaki, bisa jadi untuk melangkahi selokan yang setengah meter lebarnya perlu juga dibantu oleh si lelaki Tapi kalau berada sendirian tanpa didampingi lelaki mungkin sungai yang lebarnya tiga meter akan dapat dilompatinya. Kalau berada bersama lelaki, setiap anak perempuan pasti akan ketakutan setengah mati bilamana kebetulan ada seekor tikus menerobos, disamping kakinya, tapi kalau berada sendirian, biarpun tiga puluh ekor tikus muncul sekaligus juga akan dibinasakan semuanya. Bila tiada orang yang lain yang dapat diandalkan, setiap anak perempuan bisa mendadak berubah kuat dan tangkas, apalagi pada dasarnya Kim yan cu memang bukan anak perempuan lemah. Ia coba membaca tulisan yang terukir di dinding almari itu dan direnungkan berulang ulang, mendadak ia berseru .

"Aha, paham lah aku!..."

Kiranya di bawah kasuran batu itu memang ada pesawat rahasianya.

Kasuran baru itu tidak dapat terbuka juga tidak dapat berputar, tapi harus ditindihi oleh bobot tubuh orang, ditambah lagi orang itu berlutut diatasnya harus menyembah segala, gerakan itu akan menimbulkan daya tekanan pula, bilamana sudah menyembah hingga 81 kali, daya tekanan itu sudah cukup untuk membuka pesawat rahasia yang terpasang di bawah kasuran batu sehingga menggerakan dinding almari, begitu dinding bergerak dan terpentang, segera segala alat rahasia yang lain akan ikut tertarik dan kasuran batu itupun terbawa meluncur ke depan, ketika daya kerja pegas itu sampai pada titik akhirnya, segera kasuran batu itu terpantul balik ke tempat semula dan dindingpun rapat kembali.

Kalau sudah dijelaskan, apa yang terjadi ini menjadi kelihatan sederhana, cuma Siau Kun Kiongcu memang sengaja mengaturnya sedemikian rupa sehingga kelihatan lebih misterius dan menyeramkan.

Kim yan cu tidak ragu lagi, segera iapun berlutut di atas kasuran batu itu dan mulai menyembah.

Tapi ketika menyembah 52 kali, mendadak ia melompat turun, ia memandang sekitarnya dan menemukan sebuah peti besi sebesar satu meteran, tutup peti besi itu diambilnya, lalu ditaruh di punggung sendiri, habis itu dia berlutut dan mulai menyembah lagi.

Tak tahunya, sudah 81 kali menyembah, kasuran itu tetap tidak bergerak.

Ia menjadi sangsi, jangan-jangan pesawat rahasia ini hanya bergerak satu kali saja, lalu tidak mau bekerja lagi?

Tapi dia tidak putus asa, ia ingin mencobanya satu kali lagi, sekali ini dia baru menyembah lima enam kali dan mendadak kasuran itu meluncur keluar sana secepat panah.

Rupanya disebabkan perawakan Kim yan cu yang ramping, bobotnya tidak cukup, mesti ditambah lagi sebuah tutup peti besi, namun cara menyembahnya menjadi kurang membungkuk ke bawah sehingga daya tekanannya menjadi berkurang pula.

Maka dia perlu menyembah hingga 86-87 kali barulah daya tekanannya cukup kuat untuk menggerakan pesawat rahasianya.

Ketika merasa orangnya ikut dibawa meluncur masuk ke balik almari batu, sesudah masuk dan kasuran batu itu terpantul balik lagi kesana.

Namun diam-diam Kim yan cu sudah mempunyai perhitungan, begitu ia terjerembab ke depan, berbareng itu iapun membuang tutup besi tadi keluar.

Kepandaian menggunakan Am-gi atau senjata rahasia Kim yan cu terkenal lihai juga di dunia kangouw, dengan sendirinya cara menyambitkan tutup besi itupun cukup jitu, tutup peti itu dengan cepat dilemparkan ke tengah-tengah belahan dinding, maka waktu kedua belah dinding itu akan merapat kembali lantas terhalang oleh tutup peti itu, meski tutup peti itu tergencet hingga mengeluarkan suara keriat-keriut, namun dinding itupun tidak dapat rapat sama sekali.

Sementara itu mata Kim yan cu sudah terbiasa oleh cahaya silau, akhirnya ia dapat melihat jelas rahasia di dalam gua misterius ini.

Kiranya ruangan batu ini berbentuk segi delapan, dinding sekelilingnya penuh terhias batu permata dan mutiara sebesar gundu, di belakang mutiara ini semuanya dilapisi sepotong kaca kecil.

karena itulah cahaya mutiara lantas memantulkan sinar yang kemilauan sehingga kamar inipun gemerlapan dan seperti bintangbintang yang bertaburan di langit telah dipindahkan oleh Siau hun kiongcu ke kamar ini.

Ditengah-tengah kamar batu ini ada sebuah peti mati batu raksasa, selain peti mati ini sudah tentu masih ada pula barang lain, tapi Kim yan cu tidak menaruh perhatian lagi, yang dipikirkannya cuma Pwe giok saja.

Dilihatnya anak muda itu duduk bersila di sana, sekujur badan tampak menggigil, kain putih yang membalut kepalanya itu sudah basah kuyup seperti habis disiram air.

"He, ken..... kenapa kau? jerit Kim yan cu. Pwe giok menggertak gigi dan tidak menjawab, bahkan matapun tetap terpejam. Kim yan cu terkejut dan kuatir, baru saja ia bermaksud memegang tangan Pwe giok, mendadak tangan Pwe giok malah menghantamnya sehingga Kim yan cu terguling.

"He, apaapaan kau?"

Jerit Kim yan cu "Jangan ..... jangan kau urus diriku,"

Teriak Pwe giok.

"Biarkan ku istirahat sebentar dan semuanya akan baik lagi"

Setiap kata yang diucapkan anak muda itu seakan akan sangat memakan tenaga, maka Kim yan cu tidak berani bertanya lagi.

Dilihatnya disamping Pwe Giok ada secomot benda yang gemerlapan, benda sebangsa pecahan kaca berwarna merah muda, entah barang apa.

Waktu ia memandang lagi ke belakang peti mati, di sana juga ada sebuah almari batu, pintu almari sudah terbuka.

Di dalam almari terdapat berpuluh botol kecil berwarna merah muda dan bercahaya, tampaknya serupa dengan barang pecah yang terdapat di samping Ji Pwe giok itu.

Disamping berpuluh botol kecil itu ada pula beberapa

Jilid buku berwarna merah, buku ini serupa kitab yang dibawa pergi si kakek bercahaya perak itu, halaman buku ini tampak tersingkap, agaknya pernah dibalik-balik orang.

Kim yan cu mengira Pwe giok yang membalik-balik halaman buku itu, ia jadi tertarik juga dan mendekatinya untuk melihat, tapi baru dua halaman buku itu dibacanya, seketika mukanya menjadi merah, jantungnya berdetak keras.

Pada halaman pertama buku itu tertulis.

Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 5

Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert