Eps 8 Antara Budi Dan Cinta - Gu Long
Baca online Antara Budi Dan Cinta - Gu Long
Cersil Antara Budi Dan Cinta - Gu Long.
"Apakah Lao-bo pun sudah memperhitungkan, begitu kau turun ke dalam sumur, aku akan menutup sumur ini?"
"Mungkin juga."
"Lalu dia masih ada memperhitungkan apa lagi?"
"Dia memperhitungkan, kau akan membuka kembali sumur ini dan kau sendiri akan turun untuk mencari dia, dia mempunyai cara untuk membuatmu percaya bahwa dia sudah tidak berada di sini lagi, kau akan merasa takut dan curiga dan kau pasti akan turun tangan sendiri untuk melihat dan membuktikannya."
Tiba-tiba Lu Xiang-chuan tertawa dengan dingin.
"Bagimu, Lao-bo adalah orang yang mudah diperhitungkan."
"Memang benar."
Dengan dingin Lu Xiang-chuan melanjutkan.
"Kau pandang dia itu siapa? Apakah dia adalah seorang dewa?"
Dengan entengnya Meng Xing-hun menjawab.
"Apakah benar dia sangat lihai, aku hanya tahu satu hal, dia tidak salah memperhitungkan sesuatu."
"Mengenai apa?"
Meng Xing-hun menatapnya dan menjawab.
"Dia sudah memperhitungkan, begitu kau turun ke dalam sumur, aku tidak akan mengijinkan kau naik lagi."
Wajah Lu Xiang-chuan berubah. Meng Xing-hun berkata lagi.
"Kau boleh tidak percaya hal yang lain, tapi yang ini kau harus percaya."
Lu Xiang-chuan terus menatapnya, wajahnya pucat di bawah cahaya lampu, wajahnya terlihat seperti memakai topeng, walaupun tidak ada ekspresi dia terlihat lebih misterius dan menakutkan.
Saat ini wajah Meng Xing-hun tidak enak dipandang.
Dia sudah duduk, satu tangan memegang selimut dan tangan lain memegang bantal.
Cara duduknya pun tidak istimewa, siapa pun yang duduk di tempat tidur posisinya akan seperti itu.
Anehnya, dia masih bisa duduk dengan santai di depan musuhnya.
Hanya dia yang tahu, lebih baik duduk dari pada berbaring atau berdiri.
Bila dia berdiri, dia akan menjadi sasaran Lu Xiangchuan, bila dia berada dalam posisi duduk kemungkinan menjadi sasaran Lu Xiang-chuan menjadi semakin kecil.
Dia berpikir, bantal itu bisa menjadi tamengnya dan selimut bisa menjadi senjata untuk menyerang.
Lu Xiang-chuan melihat dia dengan seksama, seperti seorang pelatih binatang yang sedang melatih binatang yang masih terkurung di dalam kandang.
Wajahnya tampak tenang dan serius, tiap gerakan Meng Xing-hun dilihatnya dengan waspada dan seksama.
Meng Xing-hun pun melihatnya dengan waspada, keadaan seperti ini seperti dua ekor serigala berada dalam kandang, saling memandang, saling menunggu, kemudian akan saling menyerang.
Setelah lama Lu Xiang-chuan tertawa dan berkata.
"Tampaknya kau adalah musuh yang sangat menakutkan."
"Oh."
"Kau sangat pandai menyembunyikan kekuranganmu sendiri dan kau terlihat sangat tenang."
"Oh!"
Lu Xiang-chuan berkata lagi.
"Tapi kau membuat suatu kesalahan fatal, sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan."
"Oh?"
Lu Xiang-chuan berkata lagi.
"Bila kau berhadapan dengan musuh seperaku, seharusnya kau jangan bersikap seperti itu, karena aku mempunyai senjata rahasia, seharusnya kau menyerangku dulu"
Meng Xing-hun hanya menatapnya, kemudian pelanpelan mengangguk dan berkata.
"Sebenarnya aku memang harus melakukan hal seperti itu, tapi aku tidak boleh melakukannya."
"Mengapa?"
Jawab Meng Xing-hun.
"Karena kakiku sedang terluka, gerakanku tidak selincah biasanya, bila aku yang menyerang dulu, aku pasti tidak akan menang, malah akan membahayakanku."
"Apakah kau tidak yakin dalam sekali menyerang akan menang?"
"Ya, menghadapi musuh seperti dirimu, siapa pun tidak akan menang dalam satu kali serangan."
"Karena itu kau tidak berani?"
"Benar, aku tidak berani."
Tiba-tiba Lu Xiang-chuan tertawa dan berkata.
"Seharusnya kau tidak perlu berkata jujur kepadaku."
"Kau pun tidak perlu membeberkan kesalahanku, kesalahan yang besar malah akan sangat menguntungkanmu,"
Jawab Meng Xing-hun.
"Aku membeberkan kesalahanmu hanya ingin agar kau menyerangku dulu."
"Tapi kau pun gagal,"
Kata Meng Xing-hun. Dia pun dengan tenang mengangguk dan berkata.
"Memang aku sudah gagal."
Hingga saat ini mereka masih bersikap tenang, tidak tergesa-gesa juga tidak marah-marah.
Tapi sikap tenang juga membuat seseorang menjadi tertekan.
Untung saja di dalam ruangan itu tidak ada orang ketiga, bila tidak mereka akan semakin tertekan dengan suasana seperti itu.
Setelah lama tiba-tiba Meng Xing-hun tertawa dan berkata.
"Sebenarnya aku sudah tahu bahwa kau adalah musuh yang menakutkan."
"Terima kasih."
Kata Meng Xing-hun lagi.
"Kau sangat tenang dan juga bisa menekan musuh, kau pun bisa menyembunyikan kekuranganmu sendiri."
Kata Lu Xiang-chuan.
"Pengalamanku membunuh orang tidak kalah darimu."
"Kau sudah tahu kekuranganku, mengapa masih diam?"
Jawab Lu Xiang-chuan.
"Walaupun kau mempunyai kekurangan tapi kau pun menjaganya dengan baik, hal seperti ini lebih baik dari pada kau menyerang, kau lebih bisa menjaga situasi dari pada orang lain."
"Tapi senjata rahasiamu...."
"Walaupun aku sangat lihai dalam menggunakan senjata rahasia, tapi bila menghadapimu, belum tentu aku bisa menyerangmu dalam satu kaili serangan dan mematahkan perlawananmu."
"Kalau begitu kau boleh menyerangku beberapa kali."
"Kau salah lagi,"
Jawab Lu Xiang-chuan.
"Oh?"
Kata Lu Xiang-chuan.
"Seorang pesilat tangguh hanya boleh satu kali menyerang dan harus langsung menang, bila dia sudah habis kekuatannya untuk menyerang kedua kalinya, akan lebih sulit mencapai sasarannya."
"Karena itu kau menungguku menyerang terlebih dahulu?"
"Aku selalu menunggu dengan sabar."
Meng Xing-hun tertawa dan berkata.
"Kalau begitu kau menunggu saja."
"Aku pasti akan menunggu, semakin lama akan semakin mengutungkanku,"
Jawab Lu Hiang-coan.
"Oh?' Dengan tersenyum Lu Xiang-chuan berkata.
"Apakah kau tidak tahu bahwa Gao Lao-da pun ikut ke sini?"
"Tidak tahu."
"Bila dia tidak melihatku naik ke atas lagi, dia akan turun mencariku."
Lu Xiang-chuan tersenyum dan berkata lagi.
"Mungkin dia tidak akan membantuku untuk menyerangmu, tapi bila ada dia di sini, kau pasti tidak akan tenang, saat itu adalah kesempatan untukku bisa menyerangmu."
Sudut mata Meng Xing-hun bergetar, lehernya sudah mulai terasa beku. Lu Xiang-chuan menatap ke dalam matanya dan berkata.
"Sebenarnya Gao Lao-da selalu baik kepadamu, aku juga berbuat baik kepadamu, asal kau bisa menjadi temanku aku akan melupakan hal yang tidak enak yang pernah terjadi di antara kita."
"Tapi aku tidak dapat melupakannya begitu saja."
"Kau tidak bisa melupakan apa?"
"Yang tidak dapat kulupakan adalah akhir dari riwayat teman-temanku."
Lu Xiang-chuan menarik nafas dan berkata.
"Karena itu kau masih tetap ingin membunuhku."
"Aku tidak ingin membunuhmu tapi hanya ingin kau mati."
"Apa bedanya?"
"Aku tidak yakin bisa membunuhmu, tapi aku yakin bisa membuatmu mati."
"Aku masih tidak mengerti."
Kata Meng Xing-hun.
"Maksudku adalah walaupun kau mempunyai kesempatan lebih besar untuk membunuhku, tapi aku tetap mempunyai kesempatan menemani mu sampai mati, walaupun aku hidup atau mati, yang penting kau harus mati."
Sikap Meng Xing-hun sangat dingin, sepertinya setiap kata dipikirkannya baik-baik baru dia percaya bahwa setiap kata yang diucapkannya pasti, akan dilaksanakan.
Lu Xiang-chuan terlihat sangat tidak tenang, dengan tawa paksa dia berkata.
"Tapi sampai sekarang kau tetap tidak mau menyerangku."
"Benar."
"Aku tidak ingin membunuhmu, bila kau tidak mau menyerang, aku akan pergi,"
Kata Lu Hiang-chuan.
"Kau tidak boleh pergi,"
Kata Meng Xing-hun.
"Bila kau tidak mengijinkanku pergi, kau harus menyerangku dulu walau tidak tepat pada sasaran dan aku. dengan segera bisa membunuhmu, waktu itu kau tidak bisa menemaniku mati lagi."
Dengan santai Meng Xing-hun menjawab.
"Benar juga. Baiklah kau boleh pergi, aku tidak akan melarangmu, tapi kau jangan lupa di sini hanya ada satu jalan keluar."
Sikap Meng Xing-hun sangat tenang dengan pelan dia melanjutkan lagi.
"Waktu kau pergi aku tidak akan melarangmu tapi pada saat kau masuk ke dalam kolam, aku pun akan ikut masuk, sedikit kesempatan pun kau tidak akan punya."
Dengan dingin Lu Xiang-chuan bertanya.
"Mengapa kau tahu bahwa di dalam air aku tidak bisa menandingimu?"
"Mu juga tidak tahu, bila ingin tahu kau boleh mencobanya dulu."
Mata Lu Xiang-chuan menyipit, ujung hidungnya sudah berkeringat. Leher Meng Xing-hun yang tadinya kaku, sekarang mulai kendur dengan tersenyum dia berkata.
"Aku tidak berani coba-coba, lebih-lebih pada dirimu karena nyawamu lebih mahal dibandingkan degan diriku."
Lu Xiang-chuan menundukkan kepalanya, tapi matanya tampak tertawa, tawa yang licik dan kejam, dia berkata.
"Kau sengaja menganggap nyawaku lebih berharga dari dirimu, supaya aku lebih takut pada kematian, tapi ada satu orang yang berbeda pendapat."
"Siapa dia?"
"Xiao Tie. XiaoTie."
Lu Xiang-chuan tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Di dalam matanya, nyawamu lebih berharga dari siapa pun, apakah kau tega meninggalkannya?"
Xiao Tie, nama itu seperti paku, tiba-tiba menancap ke dalam hati Meng Xing-hun yang paling dalam.
Hati Meng Xing-hun terasa sakit, hingga membuat dia hampir meneteskan air mata.
Di atas langit dan di bawah langit, tidak ada yang dapat menggerakkan hatinya, kecuali Xiao Tie.
Tidak ada.
Menggunakan kesempatan yang sempit ini Lu Xiangchuan mulai menyerang, tidak dapat di sangsikan bahwa senjata-senjata rahasia Lui sangat menakutkan, tapi anehnya kali ini dia tidak menggunakan senjata rahasianya.
Dia hanya menarik selimut dari tempat tidur.
Meng Xing-hun yang duduk di atas selimut segera terjatuh, tangan Lu Xiang-chuan secepat kilat memegang kakinya dan memukul.
Dia sendiri sangat terkejut mendengar suara tulang kakinya yang patah, terdengar sangat menusuk di telinga.
Waktu itu juga dalam sekejap seprai yang dipegang oleh Meng Xing-hun segera ditarik dan menelungkup menutupi kepala Lu Xiang-chuan.
Lu Xiang-chuan pun terjatuh, keringat dingin bercampur dengan air mata menetes.
Meng Xing-hun sambil menahan rasa sakit, meloncat turun dari tempat tidur, menindih tubuh Lu Xiang-chuan yang terjatuh tadi, dia mengayunkan tangannya memukul rusuk Lu Xiang-chuan.
Pukulan itu sangat kuat, pukulan itu bisa membuat Lu Xiang-chuan jatuh pingsan.
Tapi mereka seperti binatang, mereka bisa menahan rasa sakit.
Tulang mereka walau sudah retak di beberapa tempat, tapi mereka masih bisa memukul dan berguling-guling, siapa pun tidak akan menyangka orang yang tadinya begitu tenang, sekarang seperti binatang saling menyerang.
Apakah kebencian mereka yang tersimpan dalam hati semuanya ingin dilampiaskan saat ini?
Tiba-tiba Lu Xiang-chuan berhasil memukul perut Meng Xing-hun.
Meng Xing-hun terdorong mundur ke belakang beberapa langkah, perutnya terasa sangat sakit.
Hidung Lu Xiang-chuan masih mengalir darah dan dia terengah-engah, sebenarnya dia masih ingin menambah pukulan tapi dia merasa lemah, dia tidak mampu maju lagi.
Meng Xing-hun pun sudah tidak ada tenaga untuk membalas, tapi dia terus berusaha dengan suara serak dia berkata.
"Aku sudah mengatakan bila aku mati kau pun harus ikut mati."
Lu Xiang-chuan tertawa sinis dan berkata.
"Mengapa kau begitu membenciku? Apakah karena anak Xiao Tie adalah anakku? Kau bisa merebut Xiao Tie tapi tidak bisa merebut anakku."
Kemarahan Meng Xing-hun membuat tubuhnya bergetar.
"Dia merasa bila ingin orang ini mati, dia harus tenang."
Jarang ada orang yang bisa berpikir seperti Meng Xinghun, dia tahu pepatah ini, tapi dia melupakannya.
Mengapa Lu Xiang-chuan juga bisa lupa?
Apakah di dalam hatinya, dia pun mencintai Xiao Tie?
Atau karena dia sudah tahu akan kehilangan Xiao Tie dia baru sadar bahwa dia sangat mencintai Xiao Tie.
Karena itu kebencian Lu Xiang-chuan seperti Meng Xing-hun juga, sangat dalam.
Mereka saling melotot, nafasnya sudah seperti binatang, begitu tenaga mereka pulih, mereka segera akan saling menyerang lagi.
Pada saat itu juga mereka mendengar ada seseorang yang menarik nafas.
Ada seseorang yang sudah keluar' dari kolam, dia seperti seekor ikan, begitu lincah dan ringan.
Jarang ada orang yang bisa begitu mahir berenang.
Orang itu tidak dikenal mereka.
Seseorang yang gemuk, dia mengapung di atas air, tubuhnya menggelembung seperti ditiup oleh udara.
Dia menggelengkan kepala, menghela nafas dan berkata.
"Kalian berdua adalah pesilat tangguh mengapa pada saat kalian berkelahi seperti 2 ekor binatang liar, apakah kalian tidak merasa malu?"
Lu Xiang-chuan langsung menjawab.
"Aku malu, sangat sangat malu."
Walaupun dia sedang terengah-engah tapi matanya mulai bercahaya.
Tiba-tiba Meng Xing-hun sadar bahwa Lu Xiang-chuan mengenali orang itu, bahkan mempunyai hubungan akrab dengannya.
Akhirnya pembantu musuhnya datang juga.
Siapa pun yang melihat keadaan ini, hatinya akan terasa berat.
Mungkin orang ini bukan orang yang dekat tapi dia tetap musuh yang menakutkan.
Mata orang ini terus menatap Meng Xing-hun.
Matanya kecil tapi berkilauan seperti ujung sebuah jarum.
Wajahnya bulat.
Pada saat bernafas wajahnya seperti orang tertawa.
Tapi gaya tawanya sangat aneh, mungkin bila dia membunuh orang pun dengan wajah tersenyum.
Dengan ringan dia mengapung di atas air, tubuhnya tidak terlihat berat.
Orang ini tertawa dan menjawab.
"Kau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu."
"Apakah kau kenal denganku?"
Tanya Meng Xing-hun. Dengan tersenyum orang ini menjawab.
"Kau she Meng, bernama Xing-hun, dalam kurun waktu 10 tahun ini kau adalah pembunuh yang paling kejam dan dingin. Kau juga sangat ahli membunuh, tapi hati ini kau membuatku kecewa."
Dia menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Seorang pembunuh terkenal walaupun harus bertahan hidup tapi mengapa pada saat bertengkar seperti seekor anjing gila yang menggigit orang?"
Meng Xing-hun melihatnya dengan lama, kemudian berkata.
"Kau mengenalku, aku pun mengenalmu."
"Oh ya?"
Dengan dingin Meng Xing-hun menjawab.
"Margamu Yi, bernama Qian-long, dalam kurun 30 tahun ini kau adalah orang yang paling jago berenang dan kepandaianmu sangat lihai."
Orang ini tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Betul juga, kau sudah kenal denganku."
Meng Xing-hun tertawa dan berkata.
"Hari ini kau sudah membuatku kecewa."
"Mengapa?"
"Kau adalah teman baik Lao-bo tapi pada saat dia kesulitan kau malah mengkhianati dia."
Yi-qian-long melotot dan berkata.
"Siapa yang mengatakan aku mengkhianatinya? Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya."
"Mengapa?"
"Kalau aku bertemu dengannya, pasti dia akan menyuruhku bertarung untuknya."
Kata Meng Xing-hun tajam.
"Karena itu kau kabur?"
Jawab Yi-qian-long.
"Harus menunggu apa lagi bila tidak kabur?"
Yi-qian-long mengatakan itu sangat biasa. Dengan dingin Meng Xing-hun berkata.
"Kau benarbenar teman yang baik dan pintar."
"Aku tidak bisa berteman baik dengan siapa pun tapi aku berasal dari kalangan persilatan dan sudah berpengalaman, karena itu Lao-bo mau berteman denganku. Apa arti orang dari kalangan persilatan yang berpengalaman? Artinya adalah lata tidak boleh terlalu setia kawan, kulit muka juga tidak boleh terlalu tipis."
Dengan dingin Meng Xing-hun berkata.
"Kau benarbenar seorang pesilat yang berpengalaman."
Tiba-tiba Yi-qian-long menghela nafas dan berkata.
"Aku tahu kau memandangku sebelah mata tapi kau harus tahu aku mempunyai anak banyak dan juga istri yang banyak."
Kemudian dia berkata lagi.
"Aku mempunyai 17 orang istri dan 38 orang anak, kau pikir saja apakah aku masih bisa bertarung? Bila aku mati siapa yang akan menghidupi anak-anak dan istri-istriku?"
Meng Xing-hun hanya mendengar.
Biasanya dia tidak sudi bicara dengan orang seperti itu yang bicara adalah kepalan tangannya tapi sekarang dia butuh waktu.
Membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga dan membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikiran.
Hanya dengan bicara dia bisa mengulur waktu, oleh karena itu walau dia marah, tapi dia berusaha untuk tetap mendengar.
Untung Yi-qian-long adalah orang yang senang bicara.
Tanya Meng Xing-hun.
"Kau sudah melarikan diri, mengapa kembali lagi?"
"Pertama, aku sudah tahu bahwa Lao-bo sudah tidak bisa menyuruh anak buahnya bertarung untuk dia. Kedua, aku membutuhkan uang."
"Kau membutuhkan uang?"
Yi-qian-long menarik nafas dan menjawab.
"Keluargaku yang harus kuberi makan sangat banyak, tapi orang yang mencari uang sangat sedikit menghidupi keluarga yang besar tidak mudah."
"Kau mencari siapa mau meminta uang?"
Tanya Meng Xing-hun.
"Mencari orang yang mau memberiku uang, siapa saja yang akan memberiku uang, aku mau saja."
Dia melihat Meng Xing-hun tertawa dan bertanya.
"Apakah kau mempunyai uang?"
"Tidak ada."
Yi-qian-long menarik nafas dan berkata.
"Kalau begitu aku harus mencair orang lain."
"Walaupun aku tidak mempunyai uang tapi aku akan berusaha untuk meminjamnya,"
Kata Meng Xing-hun.
"Dengan cara apa?"
Tanya Yi-qian-long.
"Lu Xiang-chuan mempunyai banyak uang, bila kau mau membunuhnya, uangnya akan menjadi milikmu."
Yi-qian-long tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Benar, ini adalah cara yang sangat tepat."
Lu Xiang-chuan yang berada di sisinya tersenyum dan berkata.
"Tapi ada tidak baiknya."
"Apa?"
"Walaupun aku mempunyai banyak uang tapi tidak ada yang tahu di mana aku menyimpan uang itu."
"Aku akan mencarinya,"
Jawab Yi-qian-long.
"Aku jamin kau tidak akan bisa mencarinya."
Lu Xiang-chuan tertawa dan melanjutkan.
"Bila kau membunuh Meng Xing-hun, aku akan membagi setengah uangku untukmu."
"Apakah hanya setengah?"
"Dari pada tidak dapat apa-apa, setengahnya pun lumayan."
Yi-qian-long tertawa lagi dan berkata.
"Benar, walaupun hanya 1 tail itu juga lumayan, dari pada tidak ada sama sekali."
Dia membalikkan badan menghadap kepada Meng Xinghun wajahnya masih tertawa dan berkata.
"Kalau begitu aku harus membunuhmu."
Dengan pelan Meng Xing-hun berkata.
"Benar juga, kau memang harus membunuhku."
"Bila aku sudah mempunyai uang, aku akan membeli sebuah peti mati yang bagus untukmu."
"Terimakasih,"
Kata Meng Xing-hun.
"Apakah ada pesan terakhir?"
"Hanya ada satu."
"Cepat katakan, aku sangat suka dengan pesan terakhir dari orang yang akan mati, biasanya pesan-pesan itu sangat masuk akal."
"Bila uang belum masuk ke dalam kantungmu, itu belum menjadi milikmu,"
Kata Meng Xing-hun.
"Masuk akal, sangat masuk akal."
Kata Meng Xing-hun lagi.
"Kadang-kadang bila kita sedang meminta uang, malah member pisau."
"Walaupun aku sudah lama tidak ditusuk pisau, tapi bila mengingatnya, ngeri juga rasanya,"
Kata Yi-qian-long.
"Memang tidak enak, apalagi kau begitu gemuk, bila ditusuk dengan pisau pasti akan banyak mengeluarkan darah."
Yi-qian-long menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Tidak bisa, aku takut melihat darah. Siau Liu, perjanjian tadi dibatalkan."
Lu Xiang-chuan sejak tadi hanya mendengarkan, dia tidak bergerak, sekarang dengan tersenyum dia berkata.
"Tulang rusukku sudah ada yang patah, tulang hidungku pun sudah patah, bila kau mau membunuhnya kau tidak perlu takut aku tidak akan membayarmu."
Yi-qian-long berkata lagi.
"Benar juga, aku takut apa, tapi lebih aman bila kita sekarang naik ke atas, dan bila kau sudah membayarku baru aku akan membunuhnya."
"Seperti itu pun boleh"
"Tidak bisa!"
Kata Meng Xing-hun.
"Bila naik ke atas, di sana adalah daerah kekuasaannya."
Yi-qian-long melihat Meng Xing-hun dan berkata.
"Sepertinya kau belum mengerti satu hal."
"Apa?"
Tanya Meng Xing-hun. Jawab Yi-qian-long.
"Sekarang aku adalah Lao-da (paling tua), aku bilang bisa ya bisa, di sini tidak ada hak bagimu untuk bicara."
Tanya Meng Xing-hun.
"Apakah kau tidak takut dia akan menipumu?"
"Asalkan ada uang, menjadi cucunya pun tidak apaapa."
"Baiklah, bila aku punya uang, aku akan memberikannya untuk-mu,"
Kata Meng Xing-hun.
Tiba-tiba dia meloncat seperti akan menyerang Yi-qianlong tapi begitu sampai di tengah-tengah dia balik arah.
Sasarannya adalah Lu Xiang-chuan bukan Yi-qian-long.
Walaupun Meng Xing-hun akan mati, dia ingin Lu Xiang-chuan menemaninya mati.
Tapi sungguh sangat disayangkan, Lu Xiang-chuan juga sudah ada persiapan, sebelum Meng Xing-hun menyerangnya dia sudah masuk ke dalam kolam.
Air sangat dingin, air dingin bisa membuat orang sadar.
Begitu Lu Xiang-chuan masuk ke dalam air, dia tidak ingin nyawa Meng Xing-hun lagi dan juga tidak ingin mendengar perkataannya Yi-qian-long, dia hanya ingin secepatnya meninggalkan tempat itu.
Tapi ada seorang yang ikut memegang kakinya.
Dia sudah sampai di tempat tombol, begitu ditekan dia mengangkat kepalanya, dia melihat sinar bintang yang berada di atas sumur.
Sinar bintang yang sangat indah.
Akhirnya dia bisa meninggalkan tempat setan itu.
Dia tidak akan pernah mau kembali lagi ke sana.
Angin berhembus meniup tubuhnya, tulang rusuknya yang patah terasa sakit.
Tapi Lu Xiang-chuan tidak peduli.
Dia tidak peduli lagi pada hal apa pun.
Sekarang dia sudah kembali menjadi Lao-da (yang tertua) lagi.
Gao Lao-da tidak menunggunya di atas.
Bayangannya pun tidak terlihat.
"Benar-benar perempuan itu tidak ada yang bisa dipercaya!"
Lu Xiang-chuan tampak geram dan berteriak.
"Di mana orang-orang?!"
Kata-katanya masih mengandung perintah.
Segera dalam kegelapan muncul seseorang yang berjalan ke arahnya.
Orang itu adalah Giok Hong, dia sangat setia kepadanya.
Orang yang setia kepadamu jangan kau singkirkan, bila kau mau dia tetap setia kepadamu, kau jangan membuat dia ketakutan.
Ini bukan nasehat Lao-bo, melainkan kata-kata darinya, karena dia merasa kata-katanya lebih masuk akal dari pada nasehat Lao-bo.
Karena itu dia segera marah dan berkata.
"Dimana saudaramu yang berjaga?"
Giok Hong tertelungkup di tanah, dia sangat kaget dengan gemetar dia menjawab.
"Saudara-saudara kita masih berjaga di sana, tidak ada yang berani meninggalkan tempat."
Dengan tertawa Lu Xiang-chuan berkata.
"Kalian harus berjaga dengan baik."
Tiba-tiba dia menggaplok Giok Hong, dengan marah dia berkata.
"Bila tidak ada yang meninggalkan tempat, mengapa Yi-qian-long bisa masuk?"
Giok Hong menutup wajahnya dan berkata.
"Tidak ada yang masuk, hanya ada Kao toanio yang pergi meninggalkan tempat ini."
Dengan suara masih marah Lu Xiang-chuan berkata.
"Siapa yang menyuruh kalian membiarkan Kao toanio pergi?"
Dengan wajah sedih Yu Hong menjawab.
"Dia adalah tamu ketua, bila dia mau pergi tidak ada yang berani melarang."
Lu Xiang-chuan tertawa dengan dingin. Tapi Lu Xiang-chuan tahu sekarang bukan saatnya untuk marah-marah, sekarang masih banyak hal yang harus dikerjakan. Tiba-tiba dia melambaikan tangan dan berkata.
"Mana pemanah? Cepat suruh mereka ke sini, tutup sumur ini, bila ada yang naik langsung bunuh!"
Kata-katanya adalah perintah, perintahnya lebih berpengaruh dari perintah Lao-bo, tapi sepertinya sekarang dia sama sekali tidak berpengaruh lagi.
Tidak ada pemanah, tidak ada orang, satu pun tidak ada, wajah Lu Xiang-chuan langsung berubah.
Waktu itu dia mendengar tawa Yi-qian-long.
Entah kapan Yi-qian-long keluar dari sumur, dia sedang duduk sambil tertawa di atas sumur, dengan santai dia bertanya.
"Mana pemanah ketua Liu? Mengapa mereka belum muncul?"
Kata-kata Yi-qian-long tiba-tiba menjadi seperti sebuah perintah.
Segera muncul bayangan-bayangan orang dari kegelapan, terdengar pula suara orang yang jatuh, mereka jatuh dengan keras dan lurus, mereka memang pemanah, tapi mereka sudah pada mati.
Tubuh Lu Xiang-chua,n dingin seperti es, dari ujung kepala hingga ujung kaki semua terasa dingin.
Yi-qian-long melihatnya dengan tertawa dia berkata.
"Ketua Liu, pemanahmu semua sudah datang, kau akan menyuruh mereka melakukan apa?"
Lu Xiang-chuan tiba-tiba menjadi kaku. Kata Yi-qian-long lagi.
"Ketua Liu, apakah tukang golok dan tukang senjata kailmu sudah kau suruh datang kemari juga?"
"Tidak perlu,"
Jawab Lu Xiang-chuan dengan terpaksa. Tiba-tiba Lu Xiang-chuan berubah menjadi orang yang tampak jujur dan hati-hati, dengan tersenyum dia berkata.
"Sebenarnya aku sudah tahu bahwa Paman Yi akan datang walaupun aku memasang 80 buah perangkap, tapi di mata Paman Yi semua perangkap itu tidak berguna."
Yi-qian-long mengerdipkan matanya dan berkata.
"Sejak kapan aku menjadi pamanmu?"
"Paman Yi adalah orang yang sangat kuhormati, dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah."
Tanya Yi-qian-long.
"Bagaimana dengan Lao-bo? Aku ingat, dulu orang yang paling kau hormati adalah Lao-bo tapi dia...."
Lu Xiang-chuan menarik nafas dan berkata.
"Betul, aku selalu menghormati dia tapi dia...."
"Mengapa dengan dia?"
"Di matanya kita ini hanya kaki tangannya, bagitu kita tidak berguna lagi hanya mati yang bisa kita dapatkan. Sebagai contoh adalah pamanku, Lu Man-tian."
"Apakah dia membunuh Lu Man-tian?"
Dengan sedih Lu Xiang-chuan menjawab.
"Sifat pamanku memang sedikit aneh, kadang-kadang dia pun sering beringas dan bertengkar dengan Paman It, sebenarnya di dalam hati pamanku, Paman It adalah saudara seperjuangan."
"Oooo?"
Kata Lu Xiang-chuan.
"Lao-bo berkata dia adalah Hansin, dia menghaluskan Paman Yi menjadi Chang-liang, karena Lao-bo mirip dengan Lauw-pang, susah senang hidup bersama. Tapi tidak bisa menjadi kaya bersamasama. Pada saat kaya, dia selalu curiga kepada teman lamanya akan merebut posisinya, sayang pamanku sudah tahu, tapi dia sudah terlambat, bila tidak dia tidak akan mati di tangan Lao-bo."
"Karena itu kau mau membunuh Lao-bo? Hanya untuk membalaskan dendam pamanmu?"
Kata Yi-qian-long. Lu Xiang-chuan mengangguk dan menjawab.
"Paman Yi tentunya sangat mengerti Lao-bo, bila tidak kau tidak akan diam-diam mundur."
Yi-qian-long menatapnya dengan sangat lama, tiba-tiba dia tertawa dan berkata.
"Apakah kau tahu, kapan kau terlihat begitu jujur dan begitu lucu?"
Lu Xiang-chuan menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti maksud Yi-qian-long. Yi-qian-long tertawa dan menjawab.
"Pada saat kau berbohong kau terlihat sangat jujur dan lucu."
"Paman Yi sangat teliti, di depan Paman It aku tidak berani berbohong."
"Apakah kata-katamu itu jujur?"
Tanya Yi-qian-long.
"Jujur dari dalam hati yang paling dalam."
Kata Yi-qian-long lagi.
"Tapi ada seseorang yang berbeda pendapat denganmu."
Lu Xiang-chuan mengerdipkan matanya dan berkata.
"Paman Yi jangan mempercayai kata-kata Meng Xing-hun, dia hanya seorang pembunuh dan dia dibesarkan oleh seorang pelacur, kata-katanya tidak dapat dipercaya."
Dengan ringan Yi-qian-long menjawab.
"Aku juga tidak percaya dengan kata-katanya, tapi ada kata-kata dari mulut orang yang aku percaya."
"Siapa?"
Tiba-tiba di belakang Lu Xiang-chuan ada yang menjawab.
"Aku!"
Ooo)dw(ooO BAB 29 Tiba-tiba Lu Xiang-chuan merasa lumpuh, dia tidak perlu membalikkan tubuh untuk melihat siapa orang itu.
Semua itu sudah membuatnya tubuhnya terasa lumpuh.
Di dunia hanya ada satu orang yang bisa berjalan di belakangnya secara diam-diam.
Di dunia ini hanya ada satu orang yang bisa membuatnya berlutut.
Lao-bo.
Tidak ada orang lain, hanya ada Lao-bo.
Air mata Meng Xing-hun pun hampir menetes.
Lao-bo masih tetap seperti Lao-bo yang biasa.
Tidak berubah sedikit pun.
Di bumi dan langit tidak ada yang bisa mengubahnya.
Dia berdiri di sana, masih tegak, seperti sebuah tombak yang ditancapkan ke tanah.
Sinar bintang menyinari wajahnya, kerutan di wajahnya bertambah dalam, matanya masih begitu tajam seperti pedang dan golok yang sudah dikeluarkan dari tempatnya.
Begitu melihat Meng Xing-hun, sepasang matanya berubah menjadi hangat, dia melihat wajah Lu Xiang-chuan sebentar kemudian dia beralih kepada Meng Xing-hun.
Sekarang Meng Xing-hun baru tahu bahwa wajah Laobo bukan tidak ada ekspresi, kerutan di wajahnya menyembunyikan banyak perasaan.
Kerutan di wajahnya melambangkan pengalaman yang menyedihkan.
Kerutan semacam ini menyembunyikan perasaannya yang begitu dalam.
Lao-bo melihat Meng Xing-hun, sangat lama....
lama, perlahan-lahan dia berkata.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Sepertinya dia ingin mengungkapkan banyak hal tapi dia hanya berkata 1 kalimat.
Walaupun hanya 1 kalimat tapi bagi Meng Xing-hun sudah lebih berharga dari apapun.
Tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya.
Dia menoleh dan melihat Yi-qian-long.
Wajah Yi-qian-long pun berseri-seri, ini adalah tawa persahabatan yang hangat.
"Apakah kau sudah mengerti?"
Tanya Yi-qian-long.
Meng Xing-hun menggelengkan kepalanya dan dia masih belum mengerti, dia terlalu senang hingga tidak bisa berpikir.
Yi-qian-long sangat mengerti perasaanya, Yi-qian-long berkata lagi.
"Aku tidak mengkhianati Lao-bo, juga tidak melarikan diri.... aku tidak pernah kabur."
Tiba-tiba Meng Xing-hun mengerti dan menyambung kata-kata Yi-qian-long.
"Saat orang lain menyangka kau melarikan diri, sebenarnya kau sedang melatih prajurit baru untuk Laobo."
"Benar, orang dan perkumpulan itu pada prinsipnya sama, membutuhkan darah segar, bila tidak dia akan cepat tua dan cepat berubah, dan kapanpun bisa hancur."
Dari mata Meng Xing-hun terlihat bahwa dia sangat kagum kepada Yi-qian-long karena dia tahu bahwa dia adalah teman yang sangat mulia hatinya.
Yi-qian-long pun mengerti perasaan Meng Xing-hun, dengan tersenyum dia berkata.
"Sebenarnya itu belum apaapa, mereka adalah anak-anak muda yang masih penuh semangat dan sangat jujur. Melatih mereka tidak begitu sulit, anak muda selalu jujur dan lebih bersemangat, kelicikan dan rencana busuk tidak dipelajari oleh mereka."
Meng Xing-hun pernah muda, dia mengangguk pelan dan menghela nafas.
"Melatih mereka tidak begitu sulit, yang sulit adalah harus menelan penghinaan orang lain, ini lebih sulit dari pada harus bertarung dan mengeluarkan darah."
Yi-qian-long melihatnya, kemudian dia menepuk pundak Meng Xing-hun, mereka sekarang menjadi sahabat karena mereka saling mengerti dan saling menghormati.
Jujur kepada teman baru bisa dihormati orang lain.
"Demi seorang teman bisa menerima penghinaan, adalah orang yang tidak akan kesepian."
Tiba-tiba Meng Xing-hun bertanya.
"Apakah kalian sudah pergi ke Fei-feng-bao?"
"Tentu sudah, karena orang-orang yang kulatih sudah siap untuk menyerang Wan Peng-wang."
"Lalu mengapa kau datang ke sini?"
"Karena aku sudah berjanji kepada Lao-bo sebelum tanggal, 5 bila dia tidak memberi perintah kepadaku untuk menyerang dari belakang Fei-feng-bao tanggal 7, maka kami hanis segera ke sini."
"Apakah kalian tidak mendapat perintah?"
Tanya Meng Xing-hun.
"Tidak, karena kabar yang diterima adalah Lao-bo sudah dibunuh oleh Lu Xiang-chuan."
Lu Xiang-chuan mendengar dari samping, hingga sampai kata-kata Yi-qian-long berakhir, perutnya sudah merasa mulas dan dia ingin muntah.
Sampai sekarang, dia baru tahu kesalahan di mana.
Seharusnya dia tidak membunuh orang-orang pilihan Lao-bo untuk menyerang Fei-feng-bao, seharusnya menunggu mereka menyerang dulu baru dibunuh.
Waktu itu dia terlalu senang hingga tidak bisa menahan diri, karena itu dia membuat kesalahan yang fatal.
Kesalahan ini sudah tidak dapat diubah.
Lu Xiang-chuan membungkukkan badan dan memuntahkan air empedu yang pahit, tapi tidak ada orang yang mempedulikan dia.
Dia adalah orang yang pintar dan berbakat, juga bisa disebut sebagai pahlawan, hanya tinggal setengah jalan lagi dia bisa sukses.
Namun sekarang ini di mata orang lain, dia sudah dianggap tidak ada.
Dia sudah dianggap mati.
Kata Yi-qian-long.
"Aku terburu-buru datang ke sini dan baru tahu rencana balas dendam Lao-bo, beliau menjelaskannya dengan detail."
"Apakah sore ini kau baru sampai di tempat ini?"
"Harus sore ini, bagian dari rencana Lao-bo yang paling penting adalah waktu, karena itu setiap saat kami harus hati-hati memperhitungkan semuanya, karena aku tahu bahwa waktu kadang-kadang lebih mahal dari darah."
"Aku mengerti,"
Jawab Meng Xing-hun.
Dia benar-benar lebih mengerti dari orang lain.
Bila dia tidak dapat menggunakan waktu dengan baik mungkin saat ini dia sudah mati.
Wajah Yi-qian-long mengeluarkan pancaran sombong dan dia berkata.
"Selama 30 hingga 40 tahun ini, aku sudah ikut berperang dengan Lao-bo sebanyak 200 kali lebih tidak pernah aku salah memperhitungkan waktu."
Meng Xing-hun menghela nafas dan berkata.
"Siapa pun yang memiliki teman sepertimu akan ikut bahagia."
Yi-qian-long berkata lagi.
"Lao-bo sudah memperhitungkan bahwa Lu Xiang-chuan akan ke sini mencarinya, juga sudah memperhitungkan bila Lu Xiangchuan sudah melihat 7 jarum bintang itu, dia sendiri yang akan turun ke dalam sumur untuk mencari tahu karena dia tidak percaya kepada orang lain."
Dengan dingin Meng Xing-hun berkata.
"Kadangkadang dia pun tidak percaya kepada dirinya sendiri."
Kata Yi-qian-long.
"Dalam rencana Lao-bo pada saat dia turun ke dalam sumur, kami akan menyerang dan membasmi semua prajurit-prajurit penting Lu Xiangchuan."
Yi-qian-long tertawa dan melanjutkan.
"Karena dia tergesa-gesa, dia tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan seluruh kekuatan, dia hanya sedikit membawa anak buahnya."
"Kalian lebih tahu tempat ini daripada dia, dan ini sangat menguntungkan kalian."
"Senjata Lu Xiang-chuan yang paling ampuh adalah menghina orang. Tapi kali ini sepertinya dia tidak menyangka akan ada orang-orang yang diam-diam menentang dia."
"Karena itu kalian lebih beruntung,"
Kata Meng Xinghun. Kata Yi-qian-long.
"Lu Xiang-chuan datang dengan terburu-buru dan dia pun sudah menunggu lama di sini, itu membuatnya merasa lelah. Namun prajurit kami seperti harimau yang baru lahir, seperti harimau yang baru turun dari gunung."
Dengan tersenyum dia berkata lagi.
"Dengan semangat yang masih segar kami berhadapan dengan lawan yang sudah lelah, dari kegelapan kami menyerang ke tempat terang. Pertarungan ini tidak membutuhkan waktu lama, sudah jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah."
Kata Meng Xing-hun.
"Dari waktu, tempat, dan orang, kalian sudah di atas angin."
"Tapi ada satu hal lagi yang dia salah perhitungan."
"Oh?"
"Dia tidak menyangka kau akan ikut ke sini, dan akan turun ke dalam sumur."
Meng Xing-hun tertawa kecut.
"Waktu itu aku salah berpikir."
"Tapi Lao-bo mengerti pikiranmu, dia tahu kau akan datang, siap sehidup semati dengannya."
Meng Xing-hun merasa air matanya hampir menetes, tenggorokannya merasa tersekat.
Seseorang bila mati demi teman seperti Lao-bo mati pun dia rela.
Yi-qian-long sepertinya juga banyak perasaan, dia berkata.
"Setelah Lao-bo tahu bahwa kau ada di bawah sumur dan bertemu dengan Lu Xiang-chuan, kau tidak akan melepaskannya naik ke atas, dengan cara apa pun kau akan menghalangi dia naik ke atas."
"Karena itu kau juga turun ke bawah sumur."
"Lao-bo tidak ingin Lu Xiang-chuan mati, lebih-lebih tidak ingin kau mati, karena itu...."
Dia menepuk pundak Meng Xing-hun dan tertawa.
"Setelah itu apa yang terjadi, kau sudah tahu bukan?"
Meng Xing-hun mengangguk.
Walaupun dia mengangguk, tapi ada hal yang tidak begitu dimengerti olehnya.
Dia tidak tahu mengapa Lao-bo tetap menginginkan Lu Xiang-chuan tetap hidup.
Tapi dia tidak bertanya apa-apa karena dia tahu apa pun yang dilakukan oleh Lao-bo tidak akan pernah salah.
Tidak akan.
Mengenai Lu Xiang-chuan, Lao-bo sudah salah memperhitungkan, tapi tidak akan salah untuk kedua kalinya.
Lao-bo terus melihat mereka, mendengar mereka bercerita mata Lao-bo sudah penuh dengan air mata.
Kemudian dengan perlahan Lao-bo berjalan ke arah mereka, memandang mereka dan dengan perlahan dia berkata.
"Aku sudah melihat banyak orang, tapi aku tidak salah melihat, kalian. Kalian adalah temanku, teman terbaikku...."
Tiba-tiba Lao-bo memeluk Meng Xing-hun dan berkata.
"Kau adalah teman akrabku, juga anak laki-lakiku...."
Meng Xing-hun mengangguk.
"Ya, benar."
Kemudian mereka berdua sudah meneteskan air mata.
Malam sudah larut, jumlah bintang semakin berkurang.
Semua orang sudah pergi, hanya tertinggal Lu Xiangchuan yang berlutut di dalam kegelapan.
Dia berlutut, tidak ada yang bertanya juga tidak ada yang melihatnya.Tidak ada yang marah juga tidak mengomel dan juga tidak ada yang membalas dendam.
Lao-bo pergi begitu saja.
Yi-qian-long dan Meng Xinghun pun sudah pergi.
Mereka membiarkan dia begitu saja.
Dia seperti seekor anjing liar, terus berlutut di sana.
Semua mayat pemanah sudah dipindahkan, tapi Lu Xiang-chuan masih tertinggal di sana.
Dulu dia adalah orang yang sangat berkuasa, sekarang dia dipandang remeh oleh orang lain.
Angin berhembus ke tubuhnya terasa dingin, tulang rusuknya yang patah terasa lebih sakit lagi.
Tiba-tiba dia merasa seperti seekor anjing liar tanpa tuan dan sudah dibuang dari dunia.
Dia hidup atau mati sudah tidak ada yang peduli, keringat dingin terus menetes, apakah air matanya juga akan menetes?
Lu Xiang-chuan menyeka keringat di dahinya.
Dia berusaha berdiri.
"Bagaimana pun aku masih hidup, bila masih hidup masih ada kesempatan untuk bangkit."
Dia berkata kepada dirinya sendiri, dia berusaha percaya tapi entah mengapa dia tidak ingin membalas dendam, dia hanya merasa lelah, lelah dan lelah....
Apakah keberaniannya, pun sudah hilang?
Apakah Lao-bo tidak akan membunuhnya?
Tapi dia sudah ada keberanian dan harga dirinya lagi.
Sekarang dia hanya ingin minum, minum yang banyak....
Pemuda itu menelungkupkan wajahnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu yang mengagetkan dia.
Dia mengusap mata kemudian berdiri berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Ternyata di luar sudah hujan, Lu Xiang-chuan tampak basah kuyup, dia berdiri di luar pintu, matanya tampak merah, pintu sudah terbuka lama.
Tapi dia masih bengong berdiri di sana sepertinya lupa untuk masuk.
Seorang pemuda melihatnya, dia tidak tampak terkejut, sepertinya sudah tahu dia akan datang.
Hujan membuat udara dingin.
Hujan pada bulan Juni mengapa bisa begitu dingin?
Pemuda itu membuka baju dan menelungkupkan ke tubuh Lu Xiang-chuan.
Tiba-tiba Lu Xiang-chuan dengan erat memeluknya, dia berkata.
"Hanya kau teman baikku, hanya kau saja."
Pemuda itu tidak bicara lagi dan wajahnya datar.
Dia terlalu bodoh hingga tidak tahu cara untuk mengungkapkannya.
Dengan diam dia membalikkan tubuh dan menaruh arak di atas meja.
Akhirnya Lu Xiang-chuan masuk dan duduk.
Walaupun arak sudah dingin, tapi pada saat diminum tenggorokannya terasa terbakar.
Hati Lu Xiang-chuan mulai terbakar, tiba-tiba dia menggebrak meja dengan kuat, dia berteriak.
"Aku belum mati, asal aku masih hidup, suatu hari aku akan membalas dendam.... betul tidak?"
Pemuda itu mengangguk. Walaupun Lu Xiang-chuan mengatakan apa pun dia akan setuju. Lu Xiang-chuan tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Tidak ada orang yang bisa mengalahkanku, suatu hari aku akan bangkit lagi, bila sudah tiba saatnya, aku tidak akan melupakanmu, karena kau teman baikku."
Sepertinya Lu Xiang-chuan ingin membuktikan kepada pemuda itu karena itu dia berusaha berdiri dengan tegak.
Tapi di belakang punggungnya, mendadak ada sebuah pisau menusuk dari belakang hingga menembus perutnya.
Begitu dia mengangkat kepala untuk melihatnya, wajahnya sudah berubah menjadi pucat.
Wajah Lu Xiang-chuan melotot, sangat terkejut, dia bertanya.
"Apakah, kau menaruh racun di dalam arak?"
Pemuda itu mengangguk. Walau apa pun yang dikatakan Lu Xiang-chuan, dia selalu mengangguk dan setuju. Dengan perlahan Lu Xiang-chuan berusaha berdiri dan bertanya.
"Mengapa kau melakukan ini? Mengapa?"
Wajah pemuda itu tetap datar, dia masih tidak tahu memakai cara apa untuk mengungkapkan perasaannya. Pemuda itu hanya berkata.
"Aku sudah bosan dengan hari-hari seperti ini, Lao-bo berkata akan memberiku kehidupan yang lebih layak."
Lao-bo. Lao-bo lagi. Bidak catur Lao-bo yang terakhir berada di sini.
"Binatang kau! Aku menganggap kau teman, tapi kau malah mengkhianatiku,"
Kata Lu Xiang-chuan dengan marah. Dengan ringan pemuda itu berkata.
"Aku pun belajar ini darimu, kau bisa mengkhianati Lao-bo, mengapa aku tidak bisa mengkhianatimu?"
Sebuah pukulan yang sangat dahsyat.
Lu Xiang-chuan seperti dipukul hingga pandangan matanya terasa gelap, pemuda bodoh yang berada di depannya pun sudah tidak dapat dilihatnya.
Mungkin dia belum pernah melihat dengan jelas pemuda ini.
Lu Xiang-chuan sangat marah, dia ingin mematahkan leher pemuda itu.
Tapi dia sudah roboh terlebih dahulu, akhirnya dia pun merasakan bagaimana dikhianati oleh teman.
Dan dia pun merasakan kematian.
Mati mungkin tidak begitu menyedihkan, tapi bila mati dikhianati oleh teman, siapa pun tidak akan ikhlas.
Lu Xiang-chuan juga tidak bisa.
Hari sudah tenang.
Walau malam sangat panjang akhirnya pasti akan.
terang juga.
Asal mempunyai keberanian dan kesabaran, pasti bisa menunggu sampai hari terang.
Sinar matahari masuk melalui jendela, menyinari kursi yang berada di bawah jendela itu.
Akhirnya Lao-bo duduk kembali di kursinya sendiri.
Sekarang Meng Xing-hun baru melihat bahwa Lao-bo sudah tampak semakin tua dan terlihat lelah.
Dia lelah karena rasa senang dan puas.
Lao-bo meluruskan sepasang kakinya, dia menghela nafas.
"Kau pasti merasa aneh mengapa aku tidak membunuh Lu Xiang-chuan?"
"Aku tidak merasa aneh."
Lao-bo merasa aneh dengan jawaban Meng Xing-hun.
"Mengapa?"
Dengan tersenyum Meng Xing-hun berkata lagi.
"Aku tahu bahwa Tuan sudah mengatur semuanya dengan baik bagaimana akhir hidup dari Lu Xiang-chuan."
Lao-bo pun tertawa, tapi tawanya mengandung kesedihan dan kegetiran. Lu Xiang-chuan seperti pohon yang ditanam oleh Lao-bo dan sekarang sudah ditebang. Tiba-tiba Meng Xing-hun bertanya.
"Dimana Gao Laoda?"
Dia sudah ingin menanyakan hal ini sejak tadi. Lao-bo menarik nafas dan berkata.
"Aku tidak menyalahkannya, dia adalah seorang perempuan ambisius, dia ingin mencapai posisi tinggi, walaupun dia memakai cara yang salah. Tapi siapa yang tidak pernah berbuat salah di dunia ini."
"Apakah Tuan mengijinkan dia pergi?"
Tanya Meng Xing-hun. Lao-bo mengangguk.
"Aku pun sudah memberikan surat rumah yang sangat dia inginkan, kelak bila kau melihat seseorang yang ingin merangkak mencapai posisi tinggi, kau harus membantunya, bukan mendorong dari belakang."
Meng Xing-hun menundukkan kepalanya, hatinya penuh dengan rasa terima kasih dan hormat kepada Lao-bo.
Lao-bo adalah Lao-bo.
Mungkin dia sudah banyak melakukan kesalahan, hati yang mulia yang dimiliki Lao-bo tidak ada yang bisa menandinginya.
Waktu itu juga dia melihat ada seorang pemuda masuk, pemuda yang tampak hidup dan penuh kehangatan.
Gerakannya penuh dengan tenaga untuk berjuang.
Mereka adalah darah segar untuk perkumpulan Lao-bo dan mereka juga adalah darah segar bagi masyarakat.
Meng Xing-hun menatapnya dan dia mengambil suatu kesimpulan bahwa manusia tidak akan pernah musnah dari dunia ini.
Bila manusia masih ada, kebenaran pun selamanya tidak akan pernah musnah dari dunia ini.
Setelah melihat pemuda-pemuda itu, Lao-bo pun ikut bersemangat dengan tersenyum dia berkata.
"Ada apa? Masuklah!"
Pemuda itu tidak masuk, tapi dia berkata.
"Wan Pengwang tidak mati, yang mati adalah Tu Da-peng karena dia sudah salah menilai Wan Peng-wang, karena itu dia mati."
Jawaban pemuda itu singkat dan padat. Latihan yang diberikan Yi-qian-long dalam beberapa tahun ini tidak siasia.
"Bagaimana dengan Feng-feng?"
Dia tetap bertanya walaupun Lao-bo tidak bertanya. Apakah dia masih hidup atau sudah mati, sudah tidak penting lagi. Meng Xing-hun bertanya kepada Lao-bo.
"Bagaimana cara kita menghadapi Wan Peng-wang?"
Bila Wan Peng-wang belum mati, antara dia dan Lao-bo pasti akan terjadi pertarungan yang menentukan. Lao-bo menarik nafas dan menjawab.
"Dia tidak mati, aku pun tidak mati, karena itu kami harus bertarung terus, walaupun kami sudah merasa lelah dan takut, kami tidak akan pernah berhenti untuk bertarung."
Meng Xing-hun menundukkan kepalanya dan berkata.
"Aku mengerti, seseorang yang sudah masuk ke dunia persilatan, seperti sudah menunggang seekor harimau, ingin turun pun sangat sulit.
"Walaupun Wan Peng-wang sudah mati, yang lain pasti akan mencariku, kecuali bila aku sudah roboh bila tidak pertarungan ini tidak akan bisa berhenti."
Dia menarik nafas dan berkata.
"Orang seperti diriku selalu hidup di dalam ketakutan dan rasa bosan, pada saat aku ingin membunuh seseorang pada saat itu juga orang lain berniat untuk membunuhku."
Meng Xing-hun mengerti. Dia mengerti masalah ini dari siapa pun. Dengan pelan Lao-bo berkata lagi.
"Bila orang menanam bibit yang pahit, dia sendiri yang akan merasakan buah yang pahit. Bila aku bersalah aku harus membayar harga kesalahan itu, kecuali diriku siapa pun tidak dapat menggantikannya."
Tiba-tiba Lao-bo tertawa dan berkata.
"Tapi kau masih muda, bila kau punya keberanian masih bisa mengubah nasib, brla sudah melakukan kesalahan, itu bukan hal yang memalukan. Asalkan masih mau mengubahnya, maka tidak akan merasa malu."
Apakah Kuai-huo-lin bisa mengisi kekosongan hatinya?
Apakah surat rumah itu bisa menutup kesepian hatinya?
Tiba-tiba dia tertawa seperti orang gila, dia merobek surat rumah itu.
Di luar pintu ada yang berteriak.
"Kakak Gao, cepatlah keluar! Tuan Wang dari Luo-yang sedang menunggu."
Dengan tawa gila Gao Lao-da menjawab.
"Suruh dia mati saja, kalian mati saja!"
Di luar tidak ada suara lagi.
Tiap orang tahu bila Gao Lao-da sedang marah, lebih baik didiamkan saja.
Gao Lao-da menutup jendela, rambutnya yang panjang digerai, dia membuka semua bajunya, dengan telanjang dia berdiri di dalam kegelapan.
Pinggang Gao Lao-da masih ramping, kakinya masih indah dan panjang, dadanya masih membusung membuat nafsu laki-laki terbangkitkan.
Tapi Gao Lao-da tahu, hidupnya tidak akan lama lagi.
Masa muda sudah pergi, tidak akan kembali lagi.
"Seseorang lahir ke dunia ini dengan keadaan telanjang, pergi dari dunia ini pun harus dalam keadaan telanjang."
Dia mulai tertawa lagi seperti orang gila, dia berputarputar sambil berdansa dalam kegelapan, sambil berputar dia minum arak.
Ini adalah arak pahit kehidupan juga arak yang beracun.
Begitu Shi Qun pulang, dia langsung roboh, rambutnya yang hitam tergerai di dadanya yang putih.
Botol yang indah masih berkilauan, tapi nyawa Gao Lao-da sudah tidak tertolong lagi.
Shi Qun berlutut di sisi Gao Lao-da, dia membelai rambutnya, air mata Shi Qun menetes membasahi rambut Gao Lao-da.
Tiba-tiba rambut Gao Lao-da tampak bercahaya, matahari sudah terbit.
Siapa yang mengatakan laut tidak mempunyai perasaan?
Di bawah sinar bintang, air laut seperti sehelai sutra begitu lembut dan licin.
Air laut sudah surut.
Air laut seperti nyawa orang, kadang-kadang seperti gelombang yang besar, kadangkadang terlihat aman dan tenang.
Meng Xing-hun dan Xiao Tie berpegangan tangan, mereka saling menggenggam dengan erat sambil melihat laut yang tenang.
Perasaan mereka seperti laut yang disinari oleh cahaya bintang, begitu tenang.
Anaknya sudah tertidur.
Sekarang waktu untuk mereka berdua, mereka saling berpelukan.
Setelah bekerja seharian, waktu untuk mereka berdua sepertinya sangat pendek, tapi mereka sudah merasa puas.
Sangat puas.
Karena mereka tahu setelah lewat hari ini, masih ada hari esok, esok akan lebih baik dari sekarang.
Hari esok yang indah sedang menunggu mereka.
Tibatiba di atas laut ada bintang jatuh yang lewat, membuat pemandangan laut semakin indah.
Tiba-tiba Meng Xing-hun berkata.
"Aku sudah melakukannya, akhirnya aku sudah melakukannya."
"Kau telah melakukan apa?"
Tanya Xiao Tie lembut. Meng Xing-hun memeluknya dan menjawab.
"Orang mengatakan bila ada bintang jatuh, bila kita membuat permohonan, permohonanmu akan dikabulkan."
"Itu cerita kuno, tapi tidak ada yang percaya."
"Tapi permohonanku dikabulkan,"
Kata Meng Xing-hun tertawa. Mata Xiao Tie tampak lebih bercahaya dan bertanya.
"Apakah pada saat ada bintang jatuh kau membuat permohonan?' "Benar."
"Apa permohonanmu?"
Meng Xing-hun tersenyum tapi tidak menjawab.
Xiao Tie pun tidak bertanya lagi, sebab dia tahu permohonan Meng Xing-hun adalah permohonannya juga.
Senyum mereka begitu tenang dan bahagia.
Walau gelap sangat panjang tapi terang pasti akan datang juga.
0oo-d-TAMAT-w-oo0
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 13
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 12