Eps 4 Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung
Baca online Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung
Cersil Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung.
Kini nampak wajah Shia siauw In dingin menyeramkan, teringat kembali mengenai berita yang didengar mengenai kejadian Iblis wanita berwajah cantik itu tanpa terasa hatinya dia manjadi agak merasa jeri, ini hari ada dia ditempat ini, ditambah lagi Boen ching, kiranya dirinya takkan mampu melawannya, ditambah lagi ditangannya mencekal dayung.
Senjata pecut geledek meskipun lihay, tapi tak dapat melawan senjatanya, senjata pecut geledeknya hanya dapat digunakan untuk menangkap senjata2 yang ringan saja.
Pecutnya segera bergerak dan mundur kebelakang, tahu2 tubuh Shia siauw In berkelebat dan turun diujung perahunya, seraya berteriak.
"Ini hari engkau ingin pergipun takkan dapat pergi lagi."
Cie Uh chan bukannya takut kepada Shia Siauw In, nampak dia selangkah demi selang-kah mendesak mendekat padanya, pecut ditangannya disabetkan dan menyerang kearah tubuh Shia Siauw In.
Shia Siauw In begitu nampak senjata yang digunakan Cie Uh chan adalah sebeah pecut panjang, dia tahu tak dapat dihadapi dengan menggunakan pedang, dayung ditangannya perlahan-lahan diangkat dan balas menyabet kepada Cie Uh chan-Dua orang dengan menggunakan dayung masing2 berdiri diujung perahu, serta didepan dan yang lain dibelakang perahu saling serang menyerang dalam waktu yang singkat mereka ialah bertempur dalam keadaan seimbang.
Boen ching yang nampak keadaan demikian segera mencabut pedang Ie Bok Kiamnya, tubuhnya meloncat dan pedangnya ditusukkan mengancam punggung Cie Uh chan-Cie Uh chan yang dari muka dan belakangnya diserang musuh, tangan kirinya segera di ayunkan, pecut geledeknya melingkar menyabet kearah Boen ching.
Pedang Boen ching yang ditusukkan kearah pecut geledek itu dengan cepat membuat pecut dan pedang melingkar jadi satu, dia dengan gusar membentak kedua kakinya diangkat dan melancarkan tendangan berantai kearah lambung Cie Uh chan-Cie Uh chan yang diserang dari muka dan belakang, dengan gusar meraung keras, tangannya melepaskan pecut geledeknya, sehingga membuat tubuh Boen ching menjadi terjungkal jatuh, ditengah udara ia menarik napas panjang-panjang dan jatuh kembali keperahunya.
Cie Uh chan segera balikkan tangannya dengan dayungnya mendesak mundur Shie Siauw In, dan mendahului Boen ching selangkah melayang turun keatas perahu Boen ching.
Tubuh Boen ching begitu menginjak keatas perahunya, Cie Uh chan dengan menggunakan dayungnya mendesak mundur kearah nya.
Shie Siauw In dengan cepat melemparkan dayung ditangannya kebawah kaki Boen ching, tapi ternyata Cie Uh chan telah berhasil melarikan diri.
Boen ching naik kembali keatas perahu dan memandang ke arah dimana Cie Uh chan melarikan dirinya, dengan perlahan ia menghela napas.
Oooo0dw0ooooO
MUNCULNYA KEMBALI IBLIS2 SAKTI BOEN ching nampak Cie Uh chan telah menjauh, membuatnya dengan perlahan menghela napas.
Dengan halus Shie Siauw In menghibur.
"Lain kali tentu takkan membuat dia dapat melarikan dirinya lagi."
Boen ching memandangnya sekejap, nampak dia tertawa manis kepadanya, tanpa terasa dalam hati Boen ching timbul suatu perasaan yang sangat aneh, Shie Siauw In setelah mendengarBoen ching bercerita mengenai hal ikhwal ibunya, Shie Yun Ku, dalam hati pikirnya Boen ching terhadap orang semacam Ibunya sangat menghormati sekali, meskipun kadang2 ia mengira Boen ching sedang menipu dia, tapi begitu berada disampingnya, tanpa terasa dia ingin sekuat tenaga berusaha lebih mendekati Boen ching.
Dua orang itu segera naik ketepi telaga, kepada Boen ching Shie Siauw In bertanya.
"ching Toako, kita sekarang hendak pergi ke mana ??" . Boen ching setelah berpikir sejenak, ujar nya "Mari kita berpesiar kedaerah Kang Lam saja, bukankah engkau ingin berpesiar kedaerah Kang Lam?"
Dalam hati Shie Siauw In menjadi sangat girang, dua orang itu menceritakan pengalaman masing2 setelah berpisah, sambil melanjutkan perjalanannya .
Kiranya Shie siauw In setelah terjatuh dari atas kuda lalu menyembunyikan dirinya, menunggu setelah lukanya menjadi sembuh kembali, lalu melanjutkan perjalanannya ke arah selatan untuk mencari diri Boen ching.
Kedua orang itu bercerita dengan gembiranya, tiba2 dihadapannya berkelebat sebuah bayangan hijau dan berdiri dihadapan orang itu.
Boen ching nampak orang yang datang itu adalah seorang wanita yang berusia pertengahan, baru saja akan membentak untuk menegor Shie Siauw In telah menjadi ketakutan hingga
wajahnya berubah menjadi pucat pasi serunya.
"Dia adalah suhuku"
Dia tak sempat membentak.
wanita berusia pertengahan itu telah menotok jalan darahnya kedua orang itu, gerakkannya yang secepat itu membuat dua orang itu tak sempat untuk melawan, kemudian sambil mengempit tubuh kedua orang itu wanita pertengahan itu melayang pergi dengan cepatnya.
Boen ching hanya merasakan tubuhnya ditotok orang lalu tak sadarkan diri.
Entah lewat berapa waktu, jalan darahnya baru dibebaskan kembali, dia memandang kesekeliling tempat itu, nampak kini dia telah berada disebuah gua dari suatu bukit.
Wanita pertengahan itu duduk bersila diatas tanah, dengan dingin sedang memandang dirinya, Shie Siauw In menundukkan kepalanya di sisinya dan sedang menangis terisak-isak.
Wanita berusia pertengahan itu nampak bahwa Boen ching telah sadar kembali, dengan nada dingin ujarnya.
"Aku adalah putri dari Thian Jan Shu, Han cing Yu, benarkah engkau adalah murid dari Yun ku ?"
Boen ching bangun berdiri, ujarnya.
"Boanpwee adalah Boen ching, suhuku memang benar adalah putrinya Tan coe coen."
Han cing Yu dengan dingin berkata.
"Apakah engkau pernah mengatakan kepada Siauw In, bahwa ia adalah putrinya Yun Ku?"
"Yaa, benar, suhuku telah bertahun-tahun mencari Siauw In sumoay.
"Jawab Boen ching dengan tenang. Han cing Yu dengan gusar mendengus, ujarnya.
"Kalau bukan karena Siaw In, aku sejak dulu sudah membunuh mati kau, siauw In aku peringatkan, jika engkau berani berbicara
yang bukan-bukan lagi, hati-hatilah dengan batok kepalamu "
Boen ching tertegun, sahutnya.
"Tetapi Siauw In sumoay memang benar-benar adalah putri dari suhuku."
Han cing Yu mengangkat tangannya, baru akan dipukulkan kearah Boen ching, tetapi dengan perlahan tangan itu diturunkan kembali wajahnyapun berubah menjadi agak lembut, katanya.
"Aku mempunyai suatu cerita untuk kalian dengarkan,"
Boen cing tidak paham mengapa Han cing Yu akan menceritakan suatu cerita kepadanya, dalam hatinya diam-diam timbul rasa curiga. Han cing Yu setelah termenung sejenak. kemudian katanya.
"Suhuku didalam Bulim adalah seorang yang berkepandaian silatnya paling tinggi, dia mempunyai seorang putri kesayangannya bernama ...."
Kelihatannya dia tidak ingin banyak berbicara, setelah berhenti sejenak lalu lanjutnya.
"Engkau jangan mengurus dia bernama apa, pokoknya dia adalah putrinya."
Hati Boen cing diam-diam bergerak.
didunia ini orang mempunyai kepandaian yang paling tinggi, yang dikatakan Han cing Yu bukankah Thian Jan Shu dan dirinya sendiri?
Terdengar Han cing Yu melanjutkan ceritanya.
"orang aneh ini dengan orang lain mengadakan suatu pertempuran yang seru, tetapi orang itu telah mati sedang murid-muridnya tak berani datang menemui janjinya"
Dalam hati Boen cing berpikir, bukankah dia sedang mengatakan Tan coe coen?
Pada saat ini Shie Siauw In pun telah berhenti menangis, ia dongakkan kepalanya dengan terpesona mendengarkan cerita dari Han cing Yu.
Terdengar Han ching Yu berkata lagi.
"orang aneh ini mempunyai seorang murid, siapa namanya aku telah lupa, orang ini adalah seorang yang jahat"
Ia berhenti dan termenung sejenak lalu lanjutnya.
"Tetapi pada waktu itu dia masih seorang yang sangat baik."
Pikir Boen cing, mungkin orang itu adalah Tan Thian coen, nama sebenarrya adalah Liauw Hoa Llong, cerita ini suhunya sering menceritakan kepadanya. Han cing Yu meneruskan ceritanya.
"orang aneh itu memerintahkan muridnya itu memanggil salah seorang dari lima orang muridnya itu, dia telah pergi, tetapi tidak memanggil salah satu dari lima orang muridnya itu, malah membawa kembali cucu perempuan dari orang itu, katanya dia telah meninggalkan sepucuk surat yang meminta lima orang itu datang"
Boen ching memandang sekejap pada Shie Siauw In, pikirnya.
"Sudah bercerita pada keadaan yang sebenarnya". Han ciu Yu nampak Boen ching memandang sekejap pada Shie siauw In, dia mendengus, ujarnya.
"Tetapi muridnya itu telah berubah menjadi jahat, dia memancing dan memperkosa putri dari orang aneh itu, orang aneh itu karena murid dari orang itu tak datang, ditambah lagi putrinya telah melahirkan seorang bayi perempuan, dalam keadaan yang gusar itu, dia telah mengusir muridnya dan putrinya dari perguruan dan membanting hingga mati bayi perempuan yang dibopong nya itu, muridnya sebelum pergi telah mencuri sebuah kitab rahasia mengenai racun, sehingga orang aneh itu bersumpah tak mau menerima murid lagi,
bahkan setiap orang yang ingin belajar silat padanya akan dibunuh mati."
Boen ching menjadi termenung, kiranya demikian halnya sehingga Thian Jan Shu telah membuat peraturan dimana setiap orang yang ingin belajar ilmu silat darinya akan dibunuh mati, untung dirinya pada waktu itu Thian San chiet Kiam segera muncul, kalau tidak Thian Jan Shu tentu telah menurunkan tangan jahat padanya.
Han cing Yu berkata lagi.
"Muridnya itu terhadap putrinya tidak sungguh-sungguh, setelah turun gunung lalu lari pergi"
Tiba-tiba Boen ching memotong.
"Yang dibanting hingga mampus oleh orang aneh itu mungkin bukan bayi perempuan yang di bopong melainkan cucunya sendiri"
Kedua mata Han ching Yu memancar sinar yang amat gusar, ujarnya.
"ceritaku telah selesai kuceritakan, engkau sekarang boleh segera pergi diri sini, kalau tidak maka selamanya engkau tak akan dapat pergi dari sini lagi"
Boen ching tertawa tawar, ujarnya.
"cianpwee, sebelum aku pergi dari sini aku juga ingin menceritakan sesuatu kisah, maukah cianpwee memperkenankan aku sehabis bercerita baru pergi dari sini"
Han cing Yu dengan gusar mendengus setelah termenung sejenak baru menganggukkan kepalanya . Boen ching tersenyum ujarnya.
"Dua puluh tahun yang lalu, didalam Bulim ada dua orang aneh yang seorang bernama Thian Jan Shu, sedang yang lain bernama Tan coe coen"
Perkataan baru habis diucapkan tampak tubuh Han cing Yu sedikit gemetar, teriak nya.
"Engkau jangan berkata lagi "
Boen ching tersenyum, katanya.
"Yang tadi cianpwee katakan adalah urusan yang menyangkut diri putri Thian Jan Shu, sedang aku sekarang yang akan kuceritakan adalah urusan yang menyangkut diri putri Tan coe coen, maukah cianpwee mendengarkannya?"
Han cing Yu diam tak berkata, segera Boen ching menceritakan segala urusan yang mengenai suhunya Shie Yun Ku kepada Han cing Yu.
Han cing Yu setelah mendengar cerita itu menjadi termangu-mangu, tak dapat meng u-capkan apa-apa sejenak kemudian baru katanya.
"jika aku adalah Shie Yun Ku, tentu akan kubunuh mati Seh TU Hoa, kalau tidak tentu hatiku tidak akan menerimanya"
Perkataan ini baru saja selesai diucapkan, diluar gua terdengar suara helaan napas yang sangat perlahan-Han cing Yu menjadi tertegun, dengan kepandaiannya yang demikian tingginya itu, ternyata diluar gua kedatangan orang asing, dia masih tidak mengetahuinya, segera bentaknya.
"Siapakah yang berada diluar itu?"
Seorang yang memakai jubah panjang berwarna hijau melayang masuk kedalam gua, Boen ching nampak orang yang baru datang itu dengan terkejut bercampur girang dia bangun berdiri seraya berteriak.
"Suhu kiranya ada engkau orang tua"
Yang datang ternyata Ie Bok Tocu, Shie Yun Ku baru saja pulang kepulau Ie Bok To.
Shie Siauw In menjadi termangu-mangu disamping, entah ia harus berbuat bagaimana.
Han cing Yu juga tidak menyangka kalau Shie Yun Ku tiba-tiba dapat muncul ditempat ini, tanpa terasa ia juga
termangu-mangu. Sambil tertawa kata Shie Yun Ku kepada Han cing Yu.
"Aku karena tak tentram hari melepaskan Boen Ching seorang diri, setelah berjalan setengah jalanan lalu balik kembali dan terus mengejarnya hingga sampai disini, Nona Han tentu tidak akan gusar terhadapku bukan?"
Boen ching mendengar Ie Bok Tocu berkata demikian hatinya terasa sangat terharu atas perhatiannya itu.
Han cing Yu barn saja habis mendengar urusan mengenai Shie Yun Ku, dalam hatinya juga sangat simpatik terhadapnya.
Nampak hal ini dengan tertawa pahit, ujarnya.
"Kita boleh dikata telah bersahabat, adik Yun Ku aku lebih besar dari kau maka aku akan jadi kakakmu". Shie Yun Ku tertawa, sahutnya.
"Kakak cing Yu mau demikian menyebutku aku sungguh merasa sangat beruntung sekali". Han cing Yu setelah berpikir sejenak. kemudian ujarnya.
"Kita berdua semuanya merupakan orang-orang yang tak beruntung, aku jika jadi kau sejak dahulu telah membunuh mati Seh TU-Hoa manusia keparat itu, didunia ini semua orang lelaki tak ada seorangpun yang merupakan orang yang baik-baik."
Shie Yun Ku tertawa tawar seraya berkata.
"Seh Tu Hoa dia akan menjadi sadar dengan sendirinya, buat apa aku harus membunuhnya? apalagi ayahku Tan coe coen selama hidupnya paling mencintai aku, karena aku sangat mirip dengan ibuku, sedang ibuku sejak aku masih kecil telah wafat, dia orang tua karena selalu rindu dan memikirkan padanya sehingga usianya menjadi sangat pendek, didunia ini orang lelaki tak ada yang baik, mengenai hal ini aku tak dapat menerimanya". Han cing Yu termangu-mangu, dia mengira Shie Yun Ku yang telah mengalami penderitaan yang lebih banyak dari
dirinya, tentu akan menyetujui perkataannya itu, ternyata dia tetap tak menyetujuinya, mau tak mau dia harus memikirkan perkataan Shie Yun Ku ini.
Sesaat kemudian berkatalah dia kepada Shie Yun Ku.
"Kalau begitu sebagian besar bukan orang yang baik-baik tentunya kaupun mau mengakuinya bukan?"
Shie Yun Ku tertawa ujarnya.
"Aku tak mengerti engkau mengartikan yang bagaimana, tetapi aku tak mengetahui itu betul atau tidak."
Han cing Yu menghela napas dengan perlahan kepada Shie Siauw In ia berkata.
"Aku tidak sesuai menjadi ibumu, dia adalah ibumu yang sebenarnya"
Shie Siauw In menjadi tertegun, ia bangun berdiri kedua mata Shie Yun Ku berputar memandang padanya, Shie Siauw In tak tahan lagi dan menubruk kedalam pelukan Shie Yun Ku seraya berteriak.
"ibu engkau dapat memaafkan aku bukan?"
Shie Yun Ku sangat sayang dan cinta kepada putrinya kini She siauw In membuka mulut mohon ampun, tanpa terasa dia juga meneteskan air matanya seraya berkata "Siauw In, anak sayang...
jangan menangis lagi, ibumu yang salah meninggalkan kau demikian lamanya."
Boen ching yang berdiri disamping dalam hatinya juga merasa terharu bercampur dengan gembira, sedang Han cing Yu tak dapat menahan meneteskan air mata.
Shie Yun Ku melirik nampak keadaan yang demikian itu dengan cepat berkata kepada Shie Siauw In-"Engkau masih tidak memberi hormat kepada Ibu angkatmu?"
Shie Siauw In menjadi tertegun, segera ia berlutut memberi hormat, hati Han cing Yu merasa sangat kaget bercampur girang ujarnya.
"Yun Ku sungguh kau seorang yang baik"
Sehabis barkata suaranya telah tersumbat oleh isaknya, tak dapat mengeluarkan suara lagi sedang air matanya terus mengalir keluar.
Shie Yun Ku lalu bertanya kepada Boen ching tentang pengalamannya setelah berpisah dengannya, Boen ching tak berani berbohong, semuanya diceritakan kepada Ie Bok Tocu.
Ie Bok Tocu setelah termenung sejenak ternyata tak dapat mengetahui siapa yang mempunyai lweekang yang demikian tingginya sehingga dapat mewarisi lweekang kepada Boen ching dengan melalui suara genta, mengenai perjanjian pada hari Tiong chiu diloteng oei Hok Lo masih sangat pagi, Cie Koen Tie ternyata berkata demikian, kiranya pada saat itu orang dari seluruh pelosok akan datang semuanya mengantar tujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu, enam buah hioloo sudah pasti akan muncul bersama hal ini sudah tentu akan menjadi incaran setiap orang didunia Kangouw ini.
Empat orang itu lalu pergi beristirahat, haripun makin lama makin gelap sedang Boen ching bergeser pindah ke lain gua untuk beristirahat.
Keesokan harinya begitu Boen ching membuka matanya ternyata hari telah jauh siang, dengan cepat dia bangun dan berjalan kedepan gua dimana tiga orang lainnya itu beristirahat.
Tetapi sesampainya didepan gua tiga orang itu ternyata telah menghilang tanpa bekas, hati Boen ching menjadi berdebar, dia tahu tiga orang itu pasti tidak akan meninggalkan dia seorang diri tanpa alasan-tetapi dalam gua itu terbukti telan menjadi kosong sudah tentu tiga orang itu meninggalkan tempat itu.
Dia mencari sejenak disekitar gua itu, nampak pada dinding gua itu tertera beberapa tulisan yang ditinggalkan untuk dia oleh Ie Bok Tocu.
Tulisan itu berbunyi.
"Karena urusan penting meninggalkan tempat ini, tak usah memikirkannya"
Tulisan ini ditulis tak karuan, agaknya ditulis dalam keadaan terburu-buru, hal ini malah membuat dia menjadi kuatir, Ie Bok Tocu ternyata pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya, entah telah terjadi urusan apa yang demikian penting nya.
Dia baru saja termenung memekirkan persoalan ini.
tahu2 dari depan gua itu terdengar suara gelak ketawa yang sangat keras seorang kakek tua berjubah kuning berjalan masuk dalam gua.
Boen ching segera balikkan tubuhnya, tampak wajah orang itu merah segar, sedang pelipisnya menonjol keluar, sekali pandang dapat dilihat bahwa kepandaiannya orang itu tidak rendah.
Orang tua berjubah merah itu memandang Boen ching sejenak dia tertawa ujarnya.
"Engkaulah yang bernama Boen ching?"
Boen ching dengan perlahan anggukkan kepalanya tanyanya.
"Siapakah Cianpwee ini?"
Orang tua itu berwajah merah itu tertawa besar, sahutnya.
"Ternyata kau masih mempunyai sopan santun, suhumu karena ada urusan penting yang harus diselesaikan telah pergi dari sini, aku datang ke mari mencarimu karena aku mempunyai urusan yang hendak dibicarakan denganmu pula"
Boen ching mendengar orang tua berjubah merah ini ternyata mempunyai urusan mencari dia, lalu tanyanya.
"cianpwee, ada urusan apa mencari aku?"
Orang tua berwajah merah itu sambil tertawa ujarnya.
"Begitu aku menyebut namaku engkau tentu sudah mengetahuinya, aku bernama Yuen Pu"
Boen ching mendengar orang tua itu menyebut namanya, dalam hati diam2 merasa sangat terkejut, Yuan pu mempunyai julukkan sebagai Siauw Hui Wan Yuen atau sikera terbang berwajah girang, dia adalah seorang yang telah mempunyai nama didalam bulim, Ginkang Ie Bok Tocu boleh dikata tanpa tandingan, sedang ginkang dari sikera terbang ini jarang sekali ada tandingannya jika dibandingkan dengan ginkang, maka Ie Bok Tocu masih lebih tinggi satu tingkat dari Yuen Pu ini, sedangkan dalam hal bertempur jarak dekat, gerakan kilat dari Yuen Pu ini dapat melebihi gerakan dari Ie Bok Tocu.
Telah belasan tahun lamanya dia tak berkelana didunia kangouw, ini hari mendadak datang mencari dirinya entah ada urusan apa .
Yuan pu sambil tertawa berkata.
"Kau tak usah merasa takut, aku hanya mencari kau untuk merundingkan sesuatu, pada waktu itu Thian Jan Shu mewariskan tujuh buah hioloo kuno kepadamu, aku mau melihat engkau mempunyai keadaan istimewa yang bagaimana sehingga menyebab kan dia begitu pandang berharga padamu, jika engkau menang, sudah tentu aka tak ada perkataan lain selain pergi dari sini. tetapi jika engkau kalah ditanganku, maka tujuh buah hioloo kuno itu kau harus serahkan padaku dan bersama-sama aku pergi keloteng oei Hok lo, tetapi saat itu aku akan dapat dengan sangat lancar dan mudah mendapatkan tujuh buah hioloo kuno itu ketanganku."
Boen ching mendengar Siauw Bian Hui Yuen berkata demikian, dia tertawar tawar, sahutnya.
"Aku kira pada saat itu engkau tak mungkin akan mendapatkannya dengan mudah."
Sepasang mata Yuen Pu memancarkan sinar mata yang sangat aneh, ujarnya dengan keras.
"Engkau tak perlu mengetahui urusan ini"
Boen ching tersenyum lagi, ujarnya..
"Pertaruhan secara begini tidak seimbang jika engkau kalah sambil bertepuk tangan dapat pergi dari sini, tetapi jika aku yang kalah, bukankah aku kalah dengan sia-sia belaka?"
Siauw Bian Hui Yuen-Yuen Pu tertawa tergelak sahutnya.
"Baik kau bilang kalau aku yang kalah harus berbuat bagaimana?"
Sambil tertawa ujarBoen-ching.
"cianpwee mungkin tahu jejak dari suhuku, jika kemungkinan cianpwee yang mengalami kekalahan-Boen ching tak ada permintaan lain, hanya memberitahukan kepadaku mengenai jejak dari suhuku."
Siauw Bian Hui Yuen menganggukkan kepalanya tanda menyetujuinya. Boen ching tarmenung sejenak, ujarnya.
"Bertanding dengan cara bagaimana, adalah cianpwee yang mengajukan pertanyaan ataukah boanpwee yang mengajukan pertanyaan?"
Siauw Bian Hui Yen tertawa tergelak sejenak kemudian ujarnya.
"Waktu itu Thian Jan Shu mewariskan tujuh buah hioloo kuno kepadamu, usiamu baru sepuluh tahun, bahkan tak memiliki kepandaian sedikitpun, aku pikir engkau tentu mempunyai keadaan yang melebihi orang lain, engkau saja yang mengajukan pertanyaan"
Boen ching tertawa ujarnya.
"Perintah kau orang tua, mana aku berani membangkang, tetapi cianpwee tak boleh menyesal."
"bukankah engkau seenaknya mengajukan pertanyaan, engkau harus minta persetujuan dariku terlebih dahulu."
Sahut
Siauw Bian Hui Yuen-Yuen Pu. Mendengar perkataan itu jawab Boen ching.
"Begitupun baik, aku hanya ingin cianpwe mengucapkan sepatah kata saja sudah cukup,"
Yuen Pu termenung sejenak. kemudian sambil tertawa besar ujarnya.
"Kalau hanya begitu saja masa tidak boleh?"
Boen ching tertawa lagi, kemudian ujar nya.
"Pertama cianpwee harus bersumpah tidak boleh berbohong."
Yuan Pu tertawa tergelak sahutnya.
"Meskipun aku telah banyak membunuh orang, tetapi selama hidupku, belum pernah aku berkata bohong, masih ada satu kata lagi apa yang kau akan katakan?"
Boen ching tersenyum, jawabnya.
"Jika demikian itulah sangat bagus, cianpwee hanya perlu mengucapkan kalau cianpwee tidak mau tujuh buah hioloo kuno itu, boanppwee segera akan mengaku kalah."
Yuen Pu menjadi tertegun, dia membuka mulutnya tetapi tak dapat mengeluarkan suara Sedikitpun, kalau tak mau mengucap kan juga tak mungkin, otaknya segera berputar, sejenak kemudian sahutnya.
"Baiklah aku selamanya tidak akan menginginkan tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu."
Boen ching tertawa tergelak. ujarnya.
"cianpwee kini telah kalah"
"Aku yang menang, akukan tidak meminta adalah kau yang memberikan kepadaku, jika engkau telah memberikan kepadaku sudah tentu aku tak akan bertanya lagi kepadamu"
Jawab Boen ching dengan tenang.
"Salah, jika engkau mengatakan mengingin kannya, maka engkau telah berbicara bohong, jika engkau berbicara dengan sesungguhnya, maka aku tak perlu lagi memberitahukannya kepadamu."
Yuen Pu menjadi tertegun, setelah termenung sejenak. ujarnya.
"Kalau begitu tak dapat..."
Dia tadi berpikir sekiranya jika ia mengucapkan satu patah kata saja bahwa dia tidak menginginkan hiolo itu, Boen ching mau tidak mau harus memberikan kepadanya, sekalipun dia mengatakan tidak menginginkan hiolo itu-itu, tetapi Boen ching harus memberikan kepadanya.
Tetapi kini dia harus mengatakan kalau dia tidak menginginkan hiolo itu, sebab sekali dia berkata demikian maka berarti dia akan mengalami kekalahan, berpikir sampai disini dia menghela napas, ujarnya.
"Sudahlah aku mengaku kalah"
Boen ching menjadi sangat girang ujarnya.
"Terima kasih cianpwee, aku harap cianpwee mau menjelaskan jejak dari pada suhuku"
Pikiran Yuen Pu segera berputar, sambil tersenyum jawabnya.
"Kecuali jika bertaruh sekali lagi, kalau tidak hanya akan memberitahukan suhumu pergi kemana saja, tetapi tidak akan kuberi tahukan dia pergi kemana untuk kedua kalinya dia tak akan dapat berhasil menipunya lagi."
Mendengar perkataan itu sambil tersenyum, ujarnya "Tak usah, jika bertaruh sekali lagi, boanpwee tentu akan mengalami kekalahan-"
Mendengar Boen ching berkata demikian, Yuen Pu menjadi tertegun ujarnya.
"Tak perduli siapa yang menang, aku akan memberitahukan padamu semua sebab2 sehingga mereka pergi, bagaimana?"
Boen ching menggelengkan kepalanya sahutnya.
"Terima kasih cianpwee."
Dia hanya perlu mengetahui mereka pergi kemana, setelah dia menyusul pergi kesana sudah tentu akan mengetahuinya dengan sendirinya, sedang untuk menipu Yuen Pu sekali lagi sudah tentu bukanlah merupakan pekerjaan yang sangat mudah.
Yuen Pu dengan perlahan menghela napas, pikirnya "Pemua yang bernama Boen ching ini sungguh sangat pandai, tidak dapat disalahkan lagi kalau Thian Jan shu mewariskan tujuh buah hiolo itu kepadanya."
Setelah termenung sejenak kemudian ujarnya.
"Suhumu pergi kegurun pasir"
Boen ching menjadi tertegun, pergi ke gurun pasir?
dia tidak mengetahui suhunya ada urusan apa yang demikian pentingnya sehingga pergi kegurun pasir.
Siauw Bian Hui Yuen nampak Boen ching tertegun, dia tertawa tergelak.
ujarnya.
"Sudah tentu aku tak akan memberi tahukan kepadamu, mereka pergi untuk melakukan tetapi aku memberi nasehat kepadamu janganlah kau pergi kesana sebab tempat itu sangatlah berbahaya sekali?"
Boen ching memandang sekejap pada Siauw Bian Hui Yuen da katanya.
"Aku kira aku harus juga pergi kesana"
Yuen Pu tersenyum, ia balikan tubuhnya dan lalu berjalan pergi.
Boen ching menjadi termenung, Ie Bok Tocu tergesa-gesa meninggalkan tempat ini, sudah tentu ada urusan yang sangat penting, kini mendengar Yuen Pu mengatakan kalau tempat itu sangat berbahaya, apa lagi jarak sampai peretemuan pada malam Tiong ciu masih ada tiga bulan lamanya, masih sedikit berharga kalau pergi ke gurun pasir untuk melihat-lihat.
Berpikir rampai disini, tubuhnya bergerak dan melayang ke arah utara.
Boen ching mengerahkan ginkangnya, ia memilih jalan yang jarang sekali dilalui orang, di hadapannya telah muncul sesuatu gunung yang sangat tinggi, Boen ching menjadi ragu-ragu sejenak.
kemudian bagai kan terbang ia melayang masuk ke gunung itu.
Hari mulai menjadi gelap.
Boen ching terus berlari memasuki lembah itu, sebenarnya ia ingin melewati dengan jalan berputar, tetapi kini ternyata ia sudah jauh memasuki kedalam gunung, sedang dihadapannyapun terdapat suatu lembah.
Boen ching berlari terus dan baru berhenti dihadapan mulut lembah itu, nampak pada mulut lembah itu terpancang sebuah batu nisan yang sangat besar, pada batu nisan itu berukis tujuh buah tulisan yang berbunyi.
"Lembah Pek Hiat, yang berani masuk mati"
Boen ching menjadi tertegun pikirnya.
"Apakah mungkin tempat ini tempat kediaman dari seorang aneh?"
Baru saja memandang terpesona pada batu nisan itu ditengah udara tiba-tiba terdengar pekikan burung.
elang raksasa berputar sebentar ditengah udara dan kemudian menukik masuk kedalam lembah, tetapi baru menukik ditengah jalan tampak diluar lembah terdapat seorang asing, tubuh elang raksasa berputar lagi, bagaikan kilat menubruk ketubuh Boen ching.
Boen ching yang nampak elang raksasa itu menubruk ke arahnya, sayap dari elang raksasa itu panjangnya kurang lebih enam depa, tangan nya segera mencabut pedang nya dari sarungnya, ie bok kiam dengan cepat menyambar kearah elang raksasa tersebut.
Elang raksasa itu bagaikan telah mendapat latihan yang sangat masak dari seseorang, kedua sayapnya sedikit
bergetar, kedua cakarnya bagaikan kilat mencengkeram pergelangan tangan Boen ching.
Boen ching menjadi sangat terkejut, tangan kanannya sedikit merendah, ujung pedangnya menusuk kearah lambung elang raksasa itu, elang raksasa itupun merasa sedikit diluar dugaan, setelah memekik panjang ia terbang meninggi lagi.
Begitu elang raksasa memekik panjang, dari dalam lembah berkelebat sesosok tubuh seorang kakek tua yang rambutnya telah putih semua dan memakai jubah berwarna merah secepat kilat muncul dihadapan Boen ching.
Boen ching saking terkejutnya hingga mundur dua langkah kebelakang, sedang elang raksasa itu tampak majikannya telah muncul segera mengeluarkan suara pekikan sekali lagi, dan terbang kedalam lembah.
Kakek tua berjubah merah itu dengan dingin memandang sekejap pada Boen ching kemudian ujarnya.
"Engkau Celingukkan didepan lembah Pek Hiat ku ini, apakah sedang mengintai harta kekayaanku itu?"
Boen ching menjadi tertegun ujarnya.
"cianpwee telah salah paham, aku baru melihat batu nisan itu, elang raksasa itu telah menubruk kearahku, aku tak mengetahui kalau didalam sana tersimpan harta kekayaan macam apa."
Kakek tua berjubah merah itu dengan dingin mendengus, ia memperhatikan Boen ching sekejap.
tampak dia sepertinya tidak sedang berbohong, sinar matanya berputar dan berhenti pada pedang ditangannya, itu lalu ujarnya.
"Ini hari terhitung engkau tidak berani melanggar masuk kedalam lembahku ini, sementara itu aku akan mengampuni jiwamu sekali ini, tetapi pedang yang berada ditanganmu itu harus kau serahkan kepadaku."
Boen ching nampak kakek tua berjubah merah itu ternyata tertarik pada pedang Ie Bok kiam ditangannya ini, dirinya hanya berhenti sejenak didepan mulut lembah itu, elang raksasa nya tanpa sebab telah menubruk ke arahnya, dan kini masih dengan seenaknya tanpa perduli segala urusan meminta pedang Ie bok kiam yang ada ditangannya ini, jangan dikata Ie bok kiam itu bukan pemberian suhunya Ie Bok tocu, sekalipun pedang biasapun tidak akan dengan demikian mudahnya diserahkan kepadanya.
Boen ching setelah berpikir sampai disini, dengan dingin sahutnya.
"cianpwee berbuat demikian bukankah akan membuat orang tertawa hingga terlepas giginya dengan usia cianpwe yang demikian tingginya ternyata memaksa menyuruh boanpwee menyerahkan pedang ditanganku ini, apakah tidak takut ditertawai orang banyak?"
Kakek tua berjubah itu memandang terpesona pada Boen ching, kemudian sambil tertawa besar ujarnya.
"Selama tiga puluh tahun tidak berkelana didunia kangouw, ternyata telah mendapat perubahan yang demikian banyaknya di dalam kangouw itu, selama hidupku belum pernah ada orang yang demikian berani bentrok dengan aku orang tua"
Boen ching dengan tawar menjawab.
"Akupun selamanya belum pernah dengar ada orang tua yang demikian tak tahu aturannya, seperti kau"
Kakek tua berjubah merah itu menarik napas kembali senyum dibibirnya, ujarnya.
"Apakah engkau menginginkan aku membunuh kau terlebih dahulu baru merebut pedangmu itu."
Boen ching yang nampak hal itu pun nampak pula begitu ia menarik kembali senyumnya pada wajahnya segera diliputi oleh naps u pembunuhan, setelah mend engar pula perkataan kakek tua berjubah merah itu, tiba2 ia teringat akan
seseorang, dalam hatinya tanpa terasa menjadi terasa mendesir, tanyanya.
"Apakah benar cianpwee adalah Kiem can ciat Cie atau si Toya emas berjari baja, cang Sun Leoi ?"
Sahut si kakek tua berjubah merah itu berkata dengan dingin.
"Sungguh tak disangka, sudah tiga puluh tahun, masih ada orang yang masih ingat akan diriku."
Semangat Boen cing segera berkobar, tiga puluh tahun yang lalu didalam Bu-lim Setan arak paras elok, harta dan kedudukan diantara empat iblis itu, Kiem cang ciat Cie, cang Sun Loei menduduki tempat ketiga, selama hidupnya dia gemar akan segala harta kekayaan, mutiara-mutiara dan berlian, di dunia ini begitu terlihat olehnya, dia tentu akan berusaha hingga terjatuh ditangannya, tigapuluh tahun berselang, entah karena urusan apa, empat iblis itu telah membuat gusar pada Thian Jan Shu, sehingga Thian Jan Shu mengejar mereka berempat, dan menyebabkan mereka terdesak hingga tak ada jalan keluar, empat orang itu bersama-sama berjanji, sejak itu didalam Bu-lim tak nampak empat orang itu lagi, ternyata kini muncul ditempat ini, hal ini mana tidak membuat Boen ching jadi sangat terkejut.
Katanya kepandaian keempat orang itu meskipun tak dapat menandingi kepandaian Thian Jan Shu, tetapi didalam Bu lim kiranya hanyalah Thian Jan shu seorang saja yang dapat melawan mereka berempat..Boen ching setelah termenung sejenak, terdengar Chang Sun Loei mendengus dan berkata.
"Engkau sudah berpikir masak-masaklah??"
Boen ching mendongakkan kepalanya memandang sekejap pada Kiem cang Thiat cie, Chang Sun Loei, dalam hatinya tiba-tiba terlintas satu pikiran, kemudian ujarnya.
"Sudah pikirkan masak-masak "
"Berikanlah pedangmu itu kepadaku atau tidak?"
Bentak Chang Sun Loei dengan dingin. Boen ching tersenyum, sahutnya.
"Pedang ini meskipun tak dapat digunakan membelah batu pualam, tetapi adalah pemberian dari suhuku, berikan kepadamu sih boleh tetapi apakah hanya karena sepatah kata saja lalu sudah beres?"
Chang Sun Loei mendengar Boen ching telah menyetujui untuk memberikan pedang itu kepadanya, wajahnya berubah menjadi lemah lembut kembali, ujarnya.
"Engkau ingin bagaimana baru mau menyerahkan pedang itu kepadaku?"
Dia nampak pedang Ie Bok Kiam ditangan Boen ching itu sangat kuno dan antik, selamanya barang yang diinginkannya itu, walaupun dengan cara keji apapun akan dilakukannya untuk mendapatkan barang tersebut.
Boen ching tertawa sejenak.
ujarnya.
"Itu sangat mudah sekali, Cianpwee menginginkan pedang ditanganku ini, seharusnya pula kau harus taklukkan betul-betul diriku baru dapat mengambilnya, kepandaian cianpwee tah usah dibilang sudah tentu sangat lihay, sekarang aku mempunyai teka-teki, cianpwee harus menebaknya, jika cianpwee dapat dengan cepat menebaknya, pedang ditanganku ini akan kupersembahkan dengan kedua tanganku."
Kiem cang Thiat cie, Chang Sun Loei menjadi tertegun, dia tak menyangka kalau Boen ching akan mengajukan teka-teki menyuruh dia menebaknya, dengan tertawa tergelak, jawabnya.
"Baiklah, akan kudengar apakah teka-tekimu itu"
Diam-diam didalam hatinya dia berpikir.
"Aku orang tua telah tujuh puluh tahun lebih hidup didunia ini, jika dibandingkan dengan anak kecil semacam kau yang baru berusia paling banyak dua puluh tahun, maka aku akan
jauh lebih tua, sekalipun teka-teki yang paling sukarpun juga tidak mungkin akan menyulitkan diriku."
Sambil tersenyum sahut Boen ching.
"Jika cianpwee telah menyetujuinya maka janganlah menyesal dikemudian hari."
Chang Sun Loei dengan dingin mendengus, ujarnya.
"Aku Chang Sun Loei meskipun kalau turun tangan sangat kejam, tetapi belum pernah menyalahi janji."
Boen ching menganggukan kepalanya, setelah berpikir sejenak ujarnya.
"Aku akan mulai berbicara, engkau harus mulai memperhatikan pula, begitu dilahirkan ia mempunyai dua buah kaki, waktu mati mempunyai tiga buah kaki, apakah itu, coba terkalah"
Chang Sun Loei menjadi tertegun, setelah berpikir sekian lamanya juga tidak dapat memikirkan apakah barang itu, ternyata dia menggelengkan kepalanya sambil berkata.
"Tak tahu, aku tak tahu apakah benda itu?"
Boen ching tertawa, pedangnya dimasukkan kedalam sarungnya seraya berkata.
"Kalau begitu, selamat tinggal cianpwee"
Chang Sun Loei nampak Boen ching akan pergi, dengan terburu-buru teriaknya.
"Tunggu sebentar, coba kau katakan, waktu lahir mempunyai satu kaki, setelah dewasa mempunyai dua kaki, waktu mati mempunyai tiga kaki, apakah itu benar ?"
Sepasang mata Boen ching berkedip2, jawabnya "Tak ada barang semacam itu "
Tubuh Chang Sun Loei bagaikan kilat berkelebat kedepan Boen ching dengan gusar ujarnya.
"Engkau berani mempermainkan aku ?"
Boen ching tak menjadi gugup, dengan kalemnya ia berkata.
"Apakah cianpwee akan menyalahi janji cianpwee sendiri, tadi waktu aku mengajukan teka-teki, kan belum pernah aku mengatakan harus ada barang itu, dengan pengetahuan cianpwee yang demikian luasnya jika mengatakan tiada barang semacam itu, bukankah sudah benar"
Chang Sun Loei dengan gusar mendengus, untuk sesaat ia tak dapat melampiaskan hawa amarahnya. Boen ching tertawa ujarnya.
"Kalau begitu boanpwee akan mohon diri "
Mana Chang Sun Loei mau melepaskan dia begitu saja, tapi telah ada janji sebelumnya, jika tak dapat berbuat apa2 terhadap dirinya, dia tak mau merendahkan derajataya sebagai angkatan tua, nampak hal ini teriaknya.
"Tunggu sebentar "
Boen ching membalikkan tubuhnya seraya bertanya.
"cianpwee masih mempunyai pesan apa lagi?"
Dalam hati Chang Sun Loei tergerak pikirnya.
"Aku harus berusaha untuk mendapatkan pedang tersebut."
Kepada Boen ching kemudian ujarnya.
"Kau anak kecil ternyata tak mengecewa kan, kini ternyata mau pergi, sudah tentu aku sebagai seorang dari angkatan tua tak dapat mengganggu kau seujung rambutpun."
Boen ching jadi tertegun, ujarnya.
"cianpwee akau berpesan lagi?"
Chang Sun Loei tertawa, sahutnya.
"Aku bertaruh denganmu, jika aku menang maka aku akan mendapatkan pedangmu itu, dan jika kau yang menang maka kau dengan bebas meninggaikan tempat ini, bukankah itu namanya sudah adil?"
Boen ching tertegun, dapat lolos dari tangan iblis ini sudah merupakan suatu pekerjaan yang susah payah, kini dia ternyata terkata demikian, apakah penghidupan secara tersembunyi selama tiga puluh tahun ini telah membuat dia menjadi berubah?
Chang Sun Loei tak menunggu Boen ching berpikir panjang lagi, lanjutnya.
"Tahun yang lalu banyak orang mengatakan aku sangat gemar akan kekayaan, ini juga ada kebenarannya, ini hari ternyata aku telah kalah ditanganmu, mutiara2 yang aneh didunia ini aku memiliki banyak sekali engkau turutlah aku kerumahku untuk memilih sebuah, boleh dihitung sebagai hadiah kekalahanku hari ini kepadamu."
Boen ching menjadi tertegun, selama belasan tahun ini Chang Sun Loei mencintai harta kekayaan bagaikan menyayangi jiwanya sendiri, kelihatannya dia tak akan melepaskan begitu saja ini hari ternyata dia telah tertarik akan pedang ditangannya bukan saja dapat membuat dia melepaskan tangannya bahkan akan memberi barang kepadanya, sungguh hal ini tak pernah dipikirkan sebelumnya.
Chang Sun Loei nampak Boen ching termenung, matanya memancarkan sinar tajam sambil tertawa ujarnya.
"Sebenarnya aku juga memiliki banyak sekali pedang pusaka, setelah engkau melihat harta kekayaan didalam itu maka pada saat itu engkau mengetahui mengapa aku berbuat demikian-."
Boen ching mendengar Chang Sun Loei telah mengumpulkan kekayaan selama puluhan tahun lamanya, mutiara yang aneh2 didunia ini tidak sedikit yang telah jatuh ditangannya, di hatinya tanpa terasa timbul rasa ingin tahu, segera ia dongakkan kepalanya akan mengiakan, tiba2 ---matanya tertumbuk pada tulisan dibatu nisan yang berada disamping Chang Sun itu.
"Lembah Pek Hiat yang berani masuk mati"
Ia mengerutkan alisnya dan segera mengetahui apa tujuan dari Chang Sun Loei dengan tersenyum, ujarnya.
"Boanpwee masih mempunyai banyak urusan tak dapat berhenti lebih lama, kebaikan dari cianpwee selamanya akan ku ingat terus."
Chang Sun Loei semula menganggap Boen ching sebagai anak kecil dan mencoba menipu dia masuk kedalam lembah kemudian dibunuhnya, Ie Bok Kiam bukankah dengan mudah tanpa rintangan apa2 jatuh ketangannya, nampak Boen ching ternyata tidak termakan oleh tipuannya tanpa terasa dia mengerutkan alisnya ujarnya.
"Apakah engkau sungguh tak mau masuk kedalam lembah ini?"
Boen ching tersenyum sahutnya.
"Apakah cianpwee tidak melihat tulisan yang tertera pada batu nisan itu? Siapa yang masuk kedalam tersebut akan dibunuh mati."
Chang Sun Loei tertawa tergelak sahutnya.
"Engkau tak mau masuk kedalam, aku juga akan memaksa kau untuk masuk juga kedalam."
Diantara suara-suara tergelak tubuhnya bagaikan seekor elang raksasa melayang menubruk ketubuh Boen ching.
Boen ching menjadi sangat terkejut sungguh tak di sangka Chang Sun Loei ternyata dapat berbuat demikian, pedangnya seraya dicabut ke luar sedang kaki kanannya mundur kebelakang setindak.
dengan menggunakan Ie Bok Kiam IHoat ia melawan serangan musuh.
Chang Sun Loei ber turut2 melancarkan tiga kali serangan tanpa mendapatkan hasil sedikitpun, pada mulutnya mengeluarkan suara tertahan yang sangat perlahan tangan kanannya segera melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu "Thiat ce Keng"
Atau ilmu jari baja Jarinya menekan pada tubuh pedang ditangan Boen ching sedang tangan kirinya mencengkeram tubuh Boen ching masuk kedalam lembah.
Begitu pedang Boen ching tertekan, tubuhnya segera meloncat dan waktu jatuh keatas tanah ternyata telah berada didalam lembah dari batu peringatan tersebut.
Chang Sun Loei tertawa besar, ujarnya.
"Kini ternyata engkau telah masuk kedalam lembah, aku dengan tanpa rintangan dapat membunuhmu"
Boen ching saking terkejutnya keringat dingin telah membasahi bajunya, Gelar Kiem Thiat sungguh bukan merupakan nama kosong, kelihatannya kepandaian yang dimilikinya itu jauh lebih tinggi daripada kepandaian suhunya.
Chang Sun Loei tertawa besar lagi ujarnya.
"Jangan kau kiri aku tak dapat mengetahuinya, kepandaianmu itu adalah berasal dari Tan coe coen, Thian Jan Shu telah mati, Tan coe coenpun telan binasa, putrinya bersama empat orang muridnyapun kurang sedikit saja, kini teryata engkau telah masuk ke dalam lembah, aku kira didunia saat ini tak ada orang lagi yang dapat menolong dirimu."
Boen ching diam tak menjawab, banyak orang berkata bahwa barang yang telah dituju oleh Chang Sun Loei, dia tentu tak akan berhenti dan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya ternyata perkataan itu sedikitpun tak ada salahnya, dirinya meskipun telah mengetahui semuanya itu tetapi kepandaian yang dimilikinya itu ternyata terlalu rendah, sudah tentu sukar sekali untuk meloloskan diri dari cengkeramannya.
Kedua mata Chang Sun Loei memancarkan sinar yang tajam, sambil tertawa besar selangkah demi selangkah mendesak mendekati tubuh Boen ching, sedang pada mulutnya ia berkata.
"Sejak tadi aku menyuruh kau menyerahkan pedang itu kepadaku, tapi kau tak mau, kini sekalipun engkau mau menyerahkannya juga tak dapat mempertahankan jiwamu."
Boen ching menarik napas panjang2 dan bersiap-siap jika Chang Sun Loei maju setindak lagi maka dia akan mengadu jiwa dengannya.
Ooo0dw0oooO KIEM SHAN SWAT CIANG BOEN CHING memperhatikan keadaan di sekitarnya, Chang Sun Loei menjaga di mulut lembah, jika dia mau keluar dari lembah tersebut hal ini merupakan suatu yang tak mungkin terjadi, sedang haripun mulai menjadi gelap.
satu-satunya jalan untuk melarikan diri hanyalah terus masuk ke dalam lembah.
Dengan menggunakan ginkangnya.
"Shen Au Ban-Li"
Ia lari masuk ke dalam lembah.
Chang Sun Loei tidak menyangka kalau dia lari ke dalam lembah dia menjadi tertegun, terpikir olehnya, didalam lembah itu tersimpan banyak sekali harta kekayaan dan benda-benda berharga lainnya, mana dia dapat memperbolehkan Boen ching masuk ke dalam?
Dengan gusar dia bersuit nyaring, tubuhnya bergerak mengejar ke arah mana Boen ching melarikan dirinya.
Tetapi gerakan Boen ching terlalu cepat meskipun dia adalah sebagai saorang iblis diantara empat iblis sakti, tetapi juga paling2 hanya sedikit diantara Boen ching bergerak lebih dahulu, sekali lompat saja dia sudah mencapai lima enam kaki jauhnya.
Batu-batu dalam lembah malang melintang tidak karuan, setelah membelok pada suatu tikungan dia telah tak dapat menemui jejak Boen ching lagi, mencari dengan teliti disekitar tempat itu tetapi tetap tak dapat menemui tempat persembunyian Boen ching sedang haripun bertambah gelap.
untuk memanggil elang raksasanva membantu pencarian
tersebut juga tak mungkin akan terjadi, terpaksa dia hanya mendengus dingin dan berjalan kembali ke mulut lembah.
Dalam hatinya diam-diam dia, berpikir.
"Lembah Pek Hiat itu hanya mempunyai satu jalan keluar ini saja, aku ingin menjaga semalaman disini, begitu hari terang kembali, aku mau lihat engkau akan lari kearah mana lagi". Boen ching sembunyi ditempat gelap. ia tak berani berkutik, setelah mendengar langkah kaki Chang Sun Loei berjalan lagi keluar mulut lembah, hatinya baru dapat merasa lega. Menunggu hingga chan Sun Loei pergi jauh dari sana, dia baru berani menongol keluar. Dengan diterangi oleh sinar bulan yang remang-remang tampak empat penjuru dari tempat itu diliputi oleh tebing-tebing yang sangat curam, tingginya kurang lebih ratusan kaki lebih, bukankah tenaga manusia yang dapat melewatinya. Setelah memandang selama setengah harian dan merasa lembah ini hanya mempunyai satu jalan keluar saja, tetapi chan Sun Loei tentunya telah menjaga tempat itu, kalau dirinya keluar melalui sana bukankah hanya untuk mengantarkan dirinya kemulut macan saja. Setelah berpikir sejenak Boen ching dengan perlahan berjalan masuk kedalam lembah, tanpa terasa ia telah berjalan sampai diujung lembah itu, tampak dibawah tebing curam itu terdapat sebuah gua batu yang sangat besar, pada gua itu masih terdapat pintu besi, hatinya merasa sangat heran segera dia berjalan maju mendekat. Tampak pintu besi itu ternyata tidak dikunci, dengan perlahan dibukanya pintu besi tersebut begitu masuk kedalam gua nampak didalam gua yang besar itu ternyata penuh dengan intan permata yang berkilauan dan memancarkan sinar yang menyilaukan mata.
Boen ching mengetahui bahwa tempat ini tentunya adalah tempat Chang Sun Loei menyimpan harta kekayaannya, hatinya tanpa terasa menjadi agak gugup, Ia menoleh kebelakang, nampak dibelakangnya itu tak terdapat seorangpun, segera dengan cepat ia menyelinap masuk kedalam gua, kemudian merapatkan kembali pintu besi tersebut.
Dia menyapu pemandangan keadaan disekitar gua besar itu, nampak ditempat tersebut penuh dengan intan permata yang selama hidupnya belum pernah melihatnya, sedang didalam gua itu selain terdapat intan permata dan barang pusaka lainnya, bahkan tempat untuk menginjakkan kakinyapun sampai tak ada, dalam hati diam-diam pikirnya.
"Jika Chang Sun Loei ini diantara nya empat iblis sakti yang terdiri dari setan arak, paras elok harta kekayaan dan kedudukan, menduduki sebagai iblis yang gemar akan harta kekayaan juga dapatlah masuk diakal". Tetapi intan permata dan barang pusaka yang demikian banyaknya itu tak ada gunanya dimata Boen ching, dia memasuki gua itu sekalipun karena terdorong oleh rasa ingin tahu, tetapi yang terpenting baginya adalah mencarijalan keluar untuk meloloskan diri dari lembah tersebut. BOEN CHING memandang lagi sekitar gua itu, gua yang demikian besarnya itu ternyata isinya hanya intan permata dan barang-barang pusaka melulu, bahkan tak ada lain barang lagi, kelihatannya seolah-olah Chang Sun Loei ini makan dan tidur semuanya dilakukan diatas intan permata itu. Tampak hal ini, dalam hatinya terasa agak gemas bercampur geli, kaki kanannya diangkat dan menendang kearah tumpukan barang-barang berharga itu. intan permata yang terkena tendangan tersebut bergulingan kearah samping. Tiba-tiba Boen ching mengeluarkan suara tertahan, suatu sinar yang lembut, dingin dan sangat terang
memancarkan sinarnya keluar dari tumpukan intan-intan tersebut.
Sinar itu sangat berbeda sekali dengan sinar-sinar yang dipancarkan dari intan permata yang lain-Boen ching membungkukkan tubuhnya untuk mengenyampingkan intan permata yang lain, sebuah cermin berwarna hijau muda muncul didepan matanya, dia mengambil cermin tersebut.
Tampak sinar yang dipantulkan dari cermin tersebut membentuk suatu bentuk yang menyerupai satu cerobong.
Selama hidupnya Boen ching belum pernah melihat benda pusaka yang demikian itu.
kini nampak benda itu tanpa terasa dia menjadi merasa sangat sayang untuk melepaskannya kembali.
Dia membelai cermin itu dan merasa dari cermin itu memancarkan suatu hawa yang sangat dingin dan nyaman dibadan, sedang sinar yang dipancarkannyapun sangat dingin sekali.
Boen ching membalik cermin itu, tiba-tiba ia menjadi termangu-mangu, kiranya dibalik dari cermin pualam itu terpancang suatu gambar dari seorang gadis cantik.
Gambar dari gadis itu sungguh sangat hidup sekali, wajahnya tersungging senyuman, cantiknya luar biasa, dia pernah melihat kecantikan dari Shie Siauw In maupun Bwee Giok dan menganggap mereka sebagai gadis yang paling cantik di jaman itu, sungguh tak nyana kecantikan dari gadis yang terpancang pada cermin itu jika di bandingkan dengan kecantikan dua gadis yang ia kenal itu bahkan lebih cantik tiga kali lipat.
Boen ching memandangnya hingga menjadi termangu-mangu, sungguh tak dapat dipercaya didunia ini ternyata masih ada gadis yang demikian cantiknya itu.
Dengan perlahan dia dongakkan kepala nya, dengan termangu-mangu memandang pada dinding gua itu, tampak yang disinari oleh cermin pualam itu tiba-tiba terjatuh sebuah ulat tembok.
Nampak hal itu, Boen ching jadi tertegun, ulat tembok itu ternyata telah mati, hatinya menjadi merasa sangat heran, kiranya cermin pualam itu masih dapat digunakan untuk melawan ulat-ulat beracun apapun juga, cepat ia menundukkan kepalanya memandang cermin pualam itu, ternyata dibawah cermin tersebut tampak terukir dua buah tulisan kuno yang sangat kecil yang berbunyi.
"Thian Toen", tulisan tersebut diukir dengan sangat indahnya. Boen ching memandang gadis itu sejenak. kemudian dengan menggunakan cermin pualam itu menyinari keempat penjuru dari tembok dalam gua tersebut. Sinar dari cermin pualam itu memancar ketempat-tempat yang gelap dari gua itu. tahu2 dinding gua itu mulai bergetar dan bergerak. Boen ching menjadi sangat terkejut, sedang cermin pualam itu tetap dihadapkan pada dinding gua itu dan menyinari tempat tersebut. Sesaat kemudian dinding dari gua itu mulai melongsor dan berguguran keatas tanah. seekor kelabang yang panjangnya kira-kira tiga depa jatuh diatas tanah dengan kerasnya. Boen ching menjadi termangu-mangu, dimana tempat yang dilalui sinar cermin pualam terlihat kelabang itu jatuh mati terdapat suatu celah kecil, dengan cepat Boen ching menyinari tempat itu, ternyata bagaikan terdapat dunia lain lagi disana, celah itu dalam sekali dan tak tampak dasarnya. Boen ching menjadi terkejut bercampur girang, dia melihat dinding gua itu tingginya empat lima kaki, dengan menggunakan ginkang yang di milikinya itu untuk naik keatas bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, dia dengan cepat meletakkan cermin pualam itu ke tangan kirinya sedang
tangan kanannya mencabut keluar pedang Ie Bok Kiamnya itu.
Tubuhnya segera melompat dengan menggunakan pedang itu menabas kearah dinding gua.
Ie Bok Kiamnya itu ditabaskan kekanan dan kekiri untuk menyingkirkan tanah yang ada, kini tampaklah mulut gua sebesar lebih empat depa.
Boen ching menggunakan cermin "Thian Tuen"
Itu menyinari gua tersebut sejenak, setelah nampak pada gua itu ternyata tak terdapat lain binatang beracun, dia baru meloncat naik keatas dan masuk kedalam gua itu.
Setelah masuk kedalam gua kecil itu, Boen ching melihat cermin "Thian Tuen"
Yang berada dalam tangannya itu ternyata secara otomatis mengeluarkan sinarnya, suatu sinar hijau yang agak remang-remang memancar kearah depanBoen ching selangkah demi selangkah berjalan kedepan.
Setelah memasuki gua itu sejauh kurang lebih dua puluh kaki, terlihatlah didalam gua itu ternyata terdapat suatu kamar batu.
Boen ching, menggunakan cerminnya menyinari tempat itu, kemudian menengok kekiri dan kanan sekejap.
didalam gua batu itu terdapat suatu rangka manusia dalam keadaan duduk bersila.
Didepan rangka manusia itu terletak sebilah pedang panjang, sedang pada dinding gua terukir sembilan buah gambar manusia.
Boen ching yang melihat sembilan buah gambar manusia itu agaknya sudah sangat dikenal ketika diperhatikan terus, ternyata adalah gambar dari ilmu "Thay Thlen Kioe Sih"
Dia menjadi tertegun kemudian memperhatikan lagi, setiap sebuah gambar manusia itu dibawahnya ternyata masih terdapat sembilan buah perubahan yang sangat aneh, hatinya menjadi sangat girang.
Dia sebelumnya memang pernah belajar ilmu itu dari Seh TU Hoa.
kini nampak ilmu itu ternyata
memiliki perubahan yang demikian besarnya, dengan cepat dia memusatkan seluruh perhatiannya, dengan seorang diri dia mulai berlatih ilmu silat itu menurut petunjuk dari gambar-gambar yang terukir didinding gua itu.
Sambil berpikir ia berlatih terus, setengah jam kemudian barulah selesai berlatih, hatinya menjadi terkejut bercampur girang.
Dengan menggunakan cermin itu, dia menyinari dinding gua itu, nampak pada dinding gua itu terukir beberapa kalimat yang kira-kira berbunyi.
"Para tamu yang mengunjungi gua ini"
Karena salah menerima murid, sehingga dikurung didalam gua digunung oei San ini oleh murid murtad.
Kaki dan tangan diputuskan, dengan batu ia menyumbat mulut gua, sehingga selamanya tak dapat meloloskan diri.
tetapi keinginan untuk hidup muncul dalam hati, segera membuat jalan dalam gua ini, sejauh dua puluh kaki, dan akhirnya berhasil menerobos dinding dari gua ini, tetapi umur manusia ternyata tak dapat panjang, meninggalkan ilmu Thay Thien Kiu Sih untuk generasi yang akan datang kemari, pedang pusaka "cing Hong Kiam kuhadiahkan, ilmu Thay Thien Kioe Sih sebagai ilmu silat yang sangat lihay.
Murid murtad yang berhasil mempelajari hanyalah berupa kulitnya, saja orang yang setengah berhasil mempelajarinya boleh segera dimusnahkan-"Tertanda penghuni gua."
Boen ching yang membaca surat peninggalan imi menjadi sangat girang, dengan cepat dia berlutut di hadapan kerangka manusia itu dan menganggukkan kepalanya tiga kali, kemudian bangun berdiri sambil memungut pedang cing Hong Kiam itu, dengan perlahan dia mencabut keluar pedang itu dari sarungnya, sebuah pedang kuno yang sangat antik dan kuno segera muncul dihadapannya, seluruh tubuh dari pedang itu diliputi oleh selapis sinar yang berwarna hijau ketika sedikit digerakan sinarnya sangat menyilaukan mata.
Sedang Boen ching memperhatikan pedang kuno yang sangat antik tiba-tiba sebuah sinar yang sangat tajam itu memancarkan masuk kedalam gua itu, Boen ching menjadi sangat terkejut, kiranya hari telah menjadi siang, ia takut kalau Chang Sun Loei mengejar sampai ditempat itu, dengan cepat ia mengangkat pedangnya dan memusnahkan gambar dari ilmu Thay Thien Kioe Sih yang terukir didinding gua itu.
Setelah ia memasukkan kembali pedang nya kedalam sarung, mendadak pikirnya.
"Kini hari telah siang, ternyata ada juga sinar yang memancar masuk kedalam gua itu, entah dari tempat mana sinar ini masuk."
Baru saja dia menjadi tertegun, mendadak terdengar olehnya suara bentakan yang amat gusar, Boen ching menjadi sangat terkejut, dia tahu tentunya Chang Sun Loei telah menemukan dirinya berada ditempat itu, sepintas lalu dia melihat didalam gua itu terdapat hancuran batu yang cukup banyak.
ia menduga batu2 itu tentunya berasal dari batu2 yang digali oleh penghuni gua itu.
Dia tak sempat berpikir panjang lagi, tubuhnya bergerak dengan cepat dan memindahkan batu-batu itu untuk menyumbat gua tersebut.
Suara bentakan Chang Sun Loei yang terdengar tadi, kini setelah Boen Ching berhasil menyumbat gua itu dengan batu2, makin lama suara Chang Sun Loei menjadi tak terdengar lagi.
Boen Ching menghela napas lega, dengan cepat ia memeriksa keadaan sekitar goa itu untuk mengetahui sinar matahari tadi berasal dari mana.
Dia nampak pada dinding gua itu terdapat sebuah celah kecil, sinar matahari itu masuk kedalam gua melalui celah kecil tersebut.
Tangannya dengan cepat mencabut keluar pedang Cing Hong Kiam dari sarungnya dan ditabaskan kearah celah tersebut.
Dimana pedang cing Hong Kiarn itu berkelebat, dinding gua itu bagaikan barang yang lapuk jatuh berguguran keatas tanah semuanya.
Tak lama kemudian telah muncul sebuah lubang yang agak besar pada dinding gua itu.
Boen ching segera menongolkan kepalanya keluar, tampak gua yang baru dibuatnya itu ternyata masih berada ditebing lembah Pek Hiat, jarak dari bawah tak lebih dari dua puluh kaki dengan menggunakan ginkangnya meskipun masih dapat turun kebawah, tetapi begitu dia keluar dari gua itu Chang Sun Loei tentu akan melihatnya, sehingga sekalipun ia dapat keluar dari gua juga belum tentu berhasil lolos dari tangan Chang Sun Loei.
Sedang Boen ching memandang keadaan sekitar tempat itu dan memikirkan dengan cara bagaimana untuk meloloskan diri, suara pekikan elang raksasa terdengar lagi dan tubuhnya meluncur menubruk kearah nya.
Boen ching dengan ter-buru2 menarik masuk tubuhnya kedalam gua, meskipun elang raksasa itu tak berhasil masuk ke dalam gua itu, tetapi tetap berputar dan berpekik nyaring diluar gua.
Boen ching tahu tebing yang setinggi dua-tiga puluh kaki ini, Chang Sun Loei sekalipun mempunyai kepandaian yang sangat tinggi juga tak mungkin berhasil naik keatas, apalagi mulut gua diluar tebing itu sangat kecil, sekalipun misalnya dia berhasil untuk naik keatas juga belum tentu dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya.
Dia menarik kembali tubuhnya kedalam gua dan membuka buntalannya untuk bersantap makanannya yang dibawanya.
Selesai bersantap dia merasa agak haus.
tiba-tiba pikirannya bergerak, terpikir olehnya terusan yang digali oleh penghuni gua itu yang panjangnya kira-ktra dua puluh kaki.
Meskipun di tangannya terdapat pedang Cing Hong Kiam yang sangat tajam, tetapi pekerjaan ini bukanlah dapat diselesaikan
dalam waktu yang singkat, lalu didalam gua ini dia hersantap apa dan air yang diminum itu berasal dari mana ?
Kalau makan mungkin dapat juga dia hanya bersantap ulat2 yang ada didalam gua, tetapi air yang diminum ia dapatkan dari mana ?
Berpikir sampai disini, segera ia memandang sekitar tempat itu, tak mungkin ada sumber air ditebing yang setinggi ratusan kaki ini.
.Tetapi segera ia nampak dari atas dinding gua itu mengalir air, tampak hal ini segera tangannya mencabut pedangnya dan ditabaskan kearah di mana air tadi mengalir Tampak tebing itu makin ditabas makin bertambah besar, akhirnya terlihat suatu celah sempit yang lebarnya kira-kira delapan depa, kiranya dibelakang celah itu terdapat sebuah gunung besar.
Boen Ching yang nampak hal ini menjadi sangat girang, dengan terburu-buru ia berkemas cermin itu dimasukkannya ke dalam sakunya, sedang pedang Cing Hong Kiam disorenkan dipunggungnya kemudian menerobos keluar gua.
Gua itu panjangnya ada dua tiga li, setelah keluar dari gua, didepannya terbentang suatu deretan pegunungan yang tinggi.
Boen Ching tahu deretan pegunungan itu terdapat didalam gunung oei San, setelah melihat betul-betul arahnya dia lari kearah tenggara.
Baru saja lari sejauh beberapa li tahu2 dari jauh tampak berkelebat dua buah bayangan dengan sangat cepat .
Boen ching ketika nampak seorang diantara mereka itu, hatinya menjadi berdebar orang itu ternyata adalah suhunya Ie Bok Tocu dengan cepat Boen ching lari kearah nya.
Tampak orang yang sedang bertempur dengan suhunya itu adalah seorang siucay berusia pertengahan, dibawah tangan
kanan nya mengepit seorang gadis yang ternyata adalah shie Siauw In adanya.
Boen ching menjadi sangat terkejut, ternyata ada juga orang yang dapat bertempur dengan Ie Bok Tocu sambil mengempit seorang, bahkan kalau dilihat keadaannya ,sastrawan berusia pertengahan itu berada diatas angin, Ie Bok Tocu hanya menggunakan ginkangnya yang sempurna itu untuk berkelit ke samping sedang kesempatan untuk membalas menyerang sedikit pun tak ada.
Ie Bok Tocu melirik.
nampak yang datang itu ternyata adalah Boen ching pada wajahnya tampak sinar yang amat girang.
Dengan terburu-buru Boen ching melepaskan pedang cing Hong Kiam dari punggungnya sekalian dengan sarungnya dan kemudian dilemparkan ke arah Ie Bok Tocu sambil berteriak.
"Suhu cepat tangkap pedang ini."
Ie Bok Tocu dan sisastrawan berusia pertengahan itu sama2 melayangkan tubuhnya untuk merebut pedang cing Hong Kiam itu, tetapi ginkang Ie Bok Tocu yang merupakan jago nomor satu, mana dapat si sastrawan berusia pertengahan itu menandinginya, sehingga Ie Bok Tocu berhasil menerima pedang cing Hong Kiam itu.
Boen ching segera meletakkan buntalannya keatas tanah, dan mencabut pedang Ie Bok Kiam, dengan diikuti suara bentakkan nyaring ia menubruk kearah sisastrawan berusia pertengahan itu.
Kedua mata si sistrawan berusia pertengahan itu memancarkan sinar tajam, ia tertawa tergelak.
tangan kanannya dikebas kan sebuah kipas yang memancarkan sinar keemasan telah berada ditangannya, ketika kipas itu membuka dan menutup terlihat di tengah ditengah dari kipas itu terdapat gambar seorang gadis.
Boen Ching menjadi sangat terkejut, kiranya Ie Bok Tocu dan Han Cing Yu terburu-buru pergi adalah karena munculnya iblis yang gemar paras elok itu.
Sungguh tak disangka si sastrawan berusia pertengahan yang berdiri dihadapannyaini adalah iblis yang disebut sebagai iblis yang gemar paras elok.
Diantara empat iblis sakti, setan arak.
paras elok.
harta kekayaan dan kedudukan menduduki tempat kedua yaitu Kiem Shan Swat Ciang atau si kipas emas pukulan berhawa dingin, Ouw Yang Bu Kie.
Boen Ching nampak Shie Siauw In berada di pelukannya, tubuhnya dengan cepat meloncat ketengah udara, dengan jurus "Hong Yan Yu Lu"
Atau ombak laut melanda daratan ia menusuk jalan darah "Kuan Yuen To"
Didepan dada Ouw Yang Bu Kie.
Ouw Yang Bu Kie tertawa panjang, kipasnya dibuka lagi, dibelakang gambar gadis itu ternyata sebuah gambar dari tengkorak.
dia nampak jurus serangan ini sangat lihay, tidak menanti Boen Ching sampai merubah jurus lain, kipasnya menyambar yang mengakibatkan Boen Ching tepat menusuk diatas kipas itu, tubuhnya tergetar, suatu tenaga yang besar memaksa dia hampir-hampir saja pedangnya terlepas.
Kaki Ouw Yang Bu Kie bergerak dengan sangat cepatnya, kipasnya ditutup kembali dan menotok kearah jalan darah "cie Boen To"
Dibawah dada Boen ching.
Pada saat ini Ie Bok Tocu telah mencabut keluar pedangnya, nampak pedang yang berada ditangannya itu adalah sebuah pedang pusaka ia menjadi tertegun.
Pada saat dia menjadi tertegun inilah Boen ching dalam keadaan bahaya, Ie Bok Tocu yang pedangnya telah dicabut keluar itu segera memusatkan pikirannya, ia membentak nyaring.
Pedangnya di tusukkan mengancam jalan darah "Nau Hu To"
Di belakang batok kepala Ouw Yang Bu Kie.
Ouw Yang Bu Kie ingin cepat melukai lawannya, tubuhnya sedikit merendah, kipasnya menotok satu inci dibawah jalan darah "cie Bun To"
Didada Boan ching Dengan kekuatan kipas Ouw Yang Bun Kie ini, meskipun tidak berhasil menotok tetapi membuat dia merasa tidak tahan, jari telunjuk dan jari tengah Ie Bok Tocu disentilkan, pedang yang sebenarnya menusuk kearah depan, kini tahu-tahu berputar, jurus pedangnya pun berubah, dengan menggunakan jurus "Kiem Hwee Thian coan"
Ataupedang kembali langit berputar, ia menusuk jalan darah "Thay Yang To"
Ouw Yang Bun Kie.
Jurus ini adalah jurus yang paling lihay dari ilmu Ie Bok Kiam Hoat, tetapi Ouw yang Bu Kie adalah sebagai orang yang macam apa, mendengar desiran angin dari pedang itu, segera ia menarik kembali serangannya sedang tubuhnya berkelit ke arah kiri.
Tetapi Boen ching yang berada dalam keadaan bahaya, dengan tanpa sadar dia telab mengeluarkan ilmu "Thay Thien Kioe Sih"
Sekalipun Ouw Yang Bu Kie telah berkelit kesamping, tetapi kakinya tetap berhasil menendang bahu kanannya, dengan lweekang yang dimiliki 0uw Yang Bu Kie tendangan Boen ching ini meskipun tak sampai membuat kipasnya terlepas dari tangan mereka, tetapi juga cukup membuat bahu kanannya merasa sakit sedikit.
Ouw Yang Bu Kie selamanya mana pernah mengalami kerugian semacam ini, setelah dia berhasil berdiri tegak.
kedua matanya menyapu kedua orang itu, kemudian dengan dingin mendengus.
Ie Bok Tocu pun melihat tendangan yang di lakukan Boen Ching barusan ini sangat berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, kemajuan dari ilmu silat Boen Ching sungguh tak disangka olehnya.
Hatinya menjadi terkejut bercampur girang, kepada Boen Ching ujarnya.
"Anak Ching pergunakanlah Ie Bok Kiam Hoat untuk menghalangi jalan mundurnya"
Boen Ching menyahut, tubuhnya berkele-bat dan berdiri dibelakang tubuh Ouw Yang Bu Kie. Tetapi Ouw Yang Bu Kie tenang-tenang saja, dengan tenangnya ia berkata.
"Kiranya adalah keturunan dari Tan Coe Coen"
Ie Bok Tocu tidak memperdulikan padanya, pedang Cing Hong Kiamnya digerakkan dan segera memainkan ilmu "Huan Ie Bok Kiam Hoat"
Yang dipadukan dengan gerakan dan langkah dari ilmu "Sie Liu Eng Hong"
Semuanya itu dia menggunakan jurus-jurus yang untuk menyerang dan mendesak mundur Ouw Yang Bu Kie.
Ouw Yang Bu Kie tertawa terbahak-bahak, tangan kirinya mengempit tubuh Shie Siauw In lebih kencang, sedang tangan kanannya mengembangkan kipasnya, dengan tidak gentar sedikit pun ia menghadapi musuh.
Boen ching dengan mencekal pedangnya berdiri disamping dan memperhatikan gerakan Ouw Yang Bu Kie.
Kaki Ie Bok Tocu segera bergerak.
pedang cing Hong Kiam bagaikan sambaran kilat, serangannya dilancarkan makin lama makin cepat dan makin gencar menyerang Ouw Yang Bu Kie.
Ouw Yang Bu Kie tahu bahwa pedang yang berada ditangan Ie Bok Tocu adalah sebuah pedang pusaka, sehingga ia tak berani menangkis dengan mempergunakan kipas nya, hanya dengan tenaga dalamnya yang disalurkan kedalam kipasnya itu menahan setiap serangan pedang yang dilancarkan oleh Ie Bok Tocu.
Tetapi gerakkan pedang Ie Bok Tocu sangat cepat, tak putus-putusnya melancarkan berpuluh-puluh kali serangan,
ternyata juga tak berhasil mendesak Ouw Yang Bu Kie mundur kebelakang setengah tindakpun, dalam hatinya merasa lebih terkejut dari Ouw Yang Bu Kie, empat iblis selama 3o tahun tidak berkelana didunia kangOuw, kini ketinggian dan kehebatan lweekangnya selain ayah Tan Coe Coen atau Thian Jan Shu yang lahir kembali, kiranya tidak ada orang lain yang dapat melawan mereka itu.
Boen ching yang nampak hal ini, pedang Ie Bok Kiamnya segera meluncur dan ditusuk kan kebelakang punggung Ouw Yang Bu Kie.
Diantara suara tergelak, tubuh Ouw Yang Bu Kie bersalto ditengah udara, pada saat bersalto itu pula ia telah berhasil menghindari tusukan pedang dari Ie Bok Tocu, kipasnya disabetkan dan menangkis kesamping pedang Boen ching, kemudian kipasnya diturunkan kebawah dan melancar kan ilmu "cing Thian Lick Shan-atau ilmu kipas menggetarkan enam penjuru yang telah menggetarkan sungai telaga itu.
Tampak kipas yang berada ditangan kanannya sebentar dikembangkan dan sebentar ditutup kembali.
Sekejap saja keadaan dikalangan pertempuran itu telah berubah, terlihat berpuluh-puluh bayangan kipas berkelebat yang memaksa Ie Bok Tocu dan Boen Ching berada dibawah angin-Ie Bok Tocu menjadi sangat terkejut, dimana pedangnya menunjuk.
inti sari dari ilmu Huan Ie Bok Kiam Hoat segera saja dilancarkan-Boen Ching yang nampak Ie Bok Tocu berbuat demikian segera mengetahui maksud hatinya.
dan cepat ia merubah jurus pedangnya, dua orang itu memangnya merupakan guru dan murid dan sering berlatih bersama.
Kini dalam keadaan yang demikian itu, dua orang itu segera memainkan Ie Bok Kiam Hoat yang dipadukan menjadi satu.
Demikian tanpa sadar mereka telah mengatur barisan Ie Bok Kiam Tin.
Dimana serangan pedang dua guru dan murid itu tiba-tiba segera mematahkan setiap jurus serangan dari ilmu "Ceng Thian Liok Shu"
Bahkan mendesaknya berada dibawah angin-Ouw Yang Bu Kie yang ditangannya mengepit seseorang ditambah lagi kini melawan dua orang yang berkepandaian tinggi, ternyata masih bertahan membuat dua orang itu menjadi sangat terkejut.
Tetapi Ouw Yang Bu Kie jauh lebih hebat rasa terkejutnya, dengan kekuatan Ie Bok Tocu dan muridnya saja ternyata dapat memaksa dia berada dibawah angin, jago-jago berkepandaian tinggi didunia ini selain Thian Jan Shu dan Tan Coe Coen, empat iblis itu selamanya tak memandang sebelah matapun kepada orang lain-Tiga puluh tahun kemudian untuk pertama kali berkelana, hanya melawan murid dan cucu murid dari Tan coe coen saja telah dipaksa berada dibawah angin, apalagiBoen ching, seorang permuda yang baru saja berusia dua puluh tahun, ternyata juga membuat dia menjadi begini, mana tidak dia menjadi malu?
Ie Bok Tocu dan Boen ching bersama-sama melancarkan serangan lagi, kerja sama diantara dua orang guru dan murid itu tambah lama makin bertambah baik, di tengah barisan itu ternyata sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada Ouw Yang Bu Kie untuk membalas menyerang.
Jika bukannya lweekang Boen ching sedikit rendah, dengan kerja sama yang erat dari dua orang guru dan murid itu, kiranya sejak tadi Ouw Yang Bu Kie telah binasa.
Ouw Yang Bu Kie yang makin bertempur merasa tak ada lubang kelemahan sedikitpun pada mereka berdua guru dan murid, dia sadar kalau lwekang Boen ching sedikit rendah, tetapi begitu kipasnya menyerang kearah nya, jurus pedang Boen ching segera berubah menjadi posisi bertahan, sedang serangan Ie Bok Tocu telah tiba, dua pedang itu saling mengisi bagaikan tak terdapat sedikit lubangpun, sehingga membuat dia sukar bernapas.
Ditengah tengah barisan Ie Bok Kiam Tin itu, terlihat pedang menyambar tak henti-hentinya membuat kabur penglihatan.
Ouw Yang Bo Kie mengerti jika bertempur terus menerus secara begitu, juga tak ada gunanya, dia bersuit panjang dan melemparkan tubuh Shie Siaw In ketengah udara..
Tangan kirinya mengerahkan ilmu yang pernah menggetarkan dunia kangOuw waktu itu.
"Chieh Han Pat Ciang"
Atau ilmu delapan pukulan penyabut nyawa yang dipadukan dengan permainan kipasnya dengan ilmu "Ceng Tian Lok shan"
Menerjang ke arah dua orang itu.
Pada saat itu pukulan telapak kiri yang dipadukan dengan ilmu kipas ditangan kanannya menyerang dua orang itu, ia telah mengerahkan seluruh ilmu silat yang dimilikinya.
Ie Bok Tocu dan Boen Ching nampak tubuh Shie Siauw In dilemparkan di tengah udara, bukan saja tidak dapat menolongnya, bahkan didesak mundur satu tindak kebelakang.
Ouw Yang Bu Kie tertawa panjang, melihat tubuh Shie Siauw In belum jatuh ketanah, dia merasa masih ada kesempatan untuk menyerang lagi, segera ia menarik napas panjang?
kipas dan pukulannya berbareng menyerang sampai beberapa kali banyaknya.
Bagaimana juga Ie Bok Tucu dan Boen Ching untuk yang pertama kali bekerja sama untuk menghadapi musuh tangguh, kini diserang ternyata demikian tanpa terasa barisan pedang itu telah terpukul pecah.
Kini Ouw Yong Bu Kie baru dapat bernapas lega, tampak tubuh Shie Siauw in hampir terjatuh ke bawah, sambil menyambar tubuh Shie Siauw In ia balikan tubuhnya lari pergi.
Tiba-tiba dalam hati Boen Ching bergerak diam teringat pada ilmu "Thay Thien Kioe Sih"
Kini nampak Ouw Yang Bu Kie hendak pergi, mana mau memperbolehkan dia pergi dari situ dengan seenaknya.
Sambil bersiul panjang Ie Bok kiam nya dilemparkan ke atas tanah, sedang tubuhnya menubruk kearah Ouw Yang Bu Kie.
Ouw Yang Bu Kie tertawa dingin, pikirnya.
"Bukankah ini hanya hendak mengantar jiwa nya saja?"
Kipas ditangan kanannya disabetkan kearah bahu Boen ching.
Tetapi pada saat ini Boen ching telah mendapat intisari daripada ilmu "Thay Thien Kioe sih", kini nampak Ouw Yang Bu Kie dengan seenaknya saja menyabetkan kipas nya kebahunya, tangan kirinya dibalik secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Ouw Yang Bu Kie, kemudian dengan perlahan ditariknya.
Ouw Yang Bu Kie merasa tangan kanannya menjadi kaku, tanpa terasa tubuhnya tertarik maju satu langkah kedepan-Tangan kanan dan kaki kiri Boen ching bersamaan waktunya dilontarkan, ini adalah jurus Thien ciang To Hay"
Atau laut dan telaga berbalik daripada ilmu "Thay Thien Kioe Sih."
Pada saat itu dia menggunakan jurus tersebut jauh lebih hebat dari pada waktu digunakan Seh TU Hoa, sekalipun lweekang Ouw Yang Bu Kie jauh lebih tinggi darinya, tetapi tubuhnya terlempar sejauh tiga kaki lebih oleh jurus "Thien ciang To Hay"
Ini.
Dalam keadaan yang demikian itu tangannya tak lupa menyambar tubuh Shie Siauw In, setelah berhasil berdiri tegak.
dia menjadi tertegun, dengan cepat balikkan tubuh dan lari pergi.
Sebenarnya Ie Bok Tocu masih mengkhawatirkan atas keselamatannya Boen ching tetapi ia nampak pada saat Boen
ching memajukan tangan dan kakinya, ternyata tubuh Ouw Yang Bu Kie telah terluka ditangannya.
Dia menjadi terkejut bercampur girang, tampak Ouw Yang Bu Kie melarikan diri, dengan cepat dia membentak dan mengejar.
Boen ching memungut kembali pedang Ie Bok Kiam dan buntalannya dan lari mengejar pula, ditengah gunung yang sepi itu tampak tiga orang itu membentuk suatu garis yang saling kejar mengejar.
Meskipun lweekang Ouw Yang Bu Kie sangat tinggi, tetapi ginkang dari Ie Bok Tocu dapat dihitung sebagai nomor wahid ditambah lagi ditangannya masih mengempit satu orang, meskipun Ouw Yang Bu Kie lari terlebih dahulu, tetapi tak seberapa lama lagi Ie Bok Tocu telah berhasil mengejarnya tak lebih sejauh satu kaki dibelakangnya.
Dalam hati Ouw Yang Bu Kie diam-diam merasa terkejut, dia melirik kemuka nampak didepannya merupakan puncak suatu gunung dengan cepat dia mencapai puncak itu dengan membalikkan tubuhnya melancar kan serangan, sedang Ie Bek Tocu segera tertahan oleh kipas tangannya, baru akan melancarkan serangan lagi, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan dari Ouw Yang Bu Kie.
"Tahan "
Ie Bok Tocu tampak didepannya adalah puncak dari suatu gunung, ia tak kuatir sampai Ouw Yang Bu Kie dapat meloloskan diri jika menunggu sejenak kemudian mungkin Boen ching pun akan tiba, mendengar perkataan itu ia menarik kembali pedangnya.
Ouw Yang Bu Kie tampak Boen ching telah dapat mengejar sampai, pada wajahnya timbul suatu senyuman yang licik ujarnya.
"Selama tiga puluh tahun aku mengasingkan diri digurun pasir, ini hari untuk pertama kalinya menginjak daerah Tionggoan, baru saja mendapatkan seorang gadis cantik telah dikejar mati2an oleh kamu semuanya."
Sambil berkata dengan dingin dia mendengus, kemudian lanjutnya.
"Kamu kira aku Ouw Yang Bu Kie dapat takut kepada kamu dua orang hah?"
Ie Bok Tocu dengan gusar mencabut pedangnya, bentaknya.
"Tak usah banyak omong lagi"
Selama dua puluh tahun dia mengharapkan puteri kesayangannya kembali ke sampingnya, baru malam pertama ternyata telah diculik oleh iblis yang gemar paras elok ini, mana tidak membuat dia menjadi cemas?
Ouw Yang Bu Kit nampak Ie Bok Tocu telah mencabut pedangnya, dan melancarkan serangan, dia tidak membalas menyerang dengan kipasnya, malah mundur kebelakang satu langkah.
Kini dia telah berdiri ditepi jurang dengan tertawa tergelak ujarnya.
"Jika aku melemparkan dia kedalam curang kemudian balik menghadapi kalian, aku kira kamu juga bukan merupakan tandingannya"
Sehabis berkata dia memandang dua orang itu dengan dingin.
Ie Bok Tocu dan Boen ching menjadi terkejut, jurang dibelakangnya itu dalamnya ratusan kaki lebih, jika Ouw yang Bu Ki sungguh melemparkan tubuh Shie Siauw In ke dalam jurang bukankah shie Siauw In akan sukar untuk menghindarkan diri dari kematian-Sedang Ouw Yang Bu Kie bukan saja terkenal karena paras elok bahkan merupakan seorang Jay Hoa cat atau penjahat pemetik bunga.
Setiap gadis yang telah berada ditangannya tak seorangpun yang diberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi.
Ouw Yang Bu Kie tampak dua orang itu demikian rupa dia tertawa tergelak ujarnya.
"Aku pikir kau tentu tidak akan membiarkan aku pergi dengan bebas, kalau begitu kamu dapatlah memikirkan suatu cara, tetapi aku selamanya tak mau kalau dirugikan"
Ie Bok Tocu menjadi cemas dan gusar, beberapa kali dia akan maju menyerang, tetapi ia juga takut kalau Ouw Yang Bu Kie sungguh melemparkan tubuh Shie Siauw In kedalam jurang, terpaksa ia menahan sabar.
Boen ching juga diam2 berpikir, orang yang licik seperti Ouw Yang Bu Kie ini adalah untuk pertama kali ia jumpai selama hidupnya.
Ouw Yang Bu Kie ini tertawa terbahak-bahak ujarnya.
"Kalau kamu tak mempunyai cara, aku mempunyai cara, aku mempunyai satu cara, gadis ini akan kubawa pergi selamanya, aku tak akan memberi kesempatan hidup bagi mangsa2ku ini tetapi aku memandang pada wajah Tan coe coen tidak akan membunuh dia bagaimana?"
Ie Bok Tocu menjadi sangat gusar, dia mengangkat pedangnya, melihat hal ini Ouw Yang Bu Kie segera mengangkat tubuh Shie Siauw In, sambil ujarnya.
"Awas, jiwanya berada ditanganmu.Jika kau menusuk dengan pedangmu itu, nyawa nya berarti habis juga diatas pedangmu itu."
Boen ching segera menarik tangan suhunya Ie Bok Tocu, dengan perlahan ujarnya.
"Suhu tahan!!"
Ie Bok Tocu dengan sedih menarik kembali pedangnya dan mundur kebelakang kepada Ouw Yang Bu Kie.
Ujar Boen ching "Aku menasehatkan padamu lebih baik lepaskanlah dia, ibu angkatnya adalah putri Thian Jan Shu, ia segera akan datang kemari kalau tak percaya lihatlah sendiri nanti.
Meskipun dalam hati Ouw Yang Bu Kie diam-diam merasa sedikit terkejut, ternyata hari ini mendapat jalan yang demikian berat nya, tetapi dia berbuat pekerjaan selamanya tak pernah menyesal atas perbuatannya yang telah dilakukan itu, dengan tertawa tergelak ujarnya.
"Siapa kamu? kepandaianmu sedikit mengandung ilmu hitam, tidak mirip sebagai anak murid Tan coe coen, engkau jangan mencoba menggunakan nama Thian Jan Shu yang telah binasa, putrinya tak akan kupandang sebelah matapun juga"
Boen ching tertawa tawar, ujarnya.
"Kini engkau tak mau melepaskan dia, tetapi begitu ibu angkatnya datang, selembar jiwamu bila diadukan dengan selembar jiwanya, buat kamu bukankah sangat sayang ??"
"Engkau tadi telah menendang aku satu kali, bahkan melemparkan aku sejauh tiga kaki lebih, peristiwa ini selama hidupku belum pernah aku alami, tiga puluh tahun yang lalu, jika Thian Jan Shu atau Tan coen masih hidup mungkin masih bisa aku terima, ini hari aku terjungkal ditanganmu, sekali pun pada waktu itu aku tak bersiap siaga, tetapi juga diluar dugaanku, aku masih mempunyai satu cara, jika engkau dapat melemparkan aku atau menendang aku sekali lagi, segera aku mengembalikan gadis ini kepadamu"
Boen ching sadar, lweekangnya sangat Cetek.
jika dibandingkan dengan iblis ini ia hanyalah dapat menanti saat dia siap-siap siaga baru dapat menyerang untuk mengalah kan dirinya, tetapi jika sejak tadi telah mengadakan persiapan, ilmu "Thay Thien Kioe Sih"
Sekalipun lihay tetapi tidak akan
berhasil kalau tidak dekat dengan lawan dengan demikian ilmu tersebut tak ada gunanya.
Tetapi melihat keadaan sekarang ini, jika dia tak berhasil, kemungkinan malah akan terluka di tangan iblis ini, sebaliknya kalau tidak mau juga tak mungkin terjadi, lebih baik menerimanya saja, apalagi dia juga tak mengatakan kalau dia tak berhasil harus berbuat apa, Dia tertawa perlahan, pedang dan buntalannya diletakkan diatas tanah, sambil berjalan maju ujarnya.
"Kalau begitu boanpwee ingin mendapatkat pelajaran darimu."
Ouw Yang Bu Kie tertawa terbahak-bahak. sahutnya.
"Ternyata besar juga nyalimu, tetapi apakah engkau tak takut aku akan membuang dirimu kedalam jurang yang dalam itu ?"
Selesai berkata kipasnya dilipat kembali dan lalu dimasukkan kedalam saku. Boen ching tersenyum, ujarnya.
"Aku kira belum tentu kau berhasil."
Sambil berkata tangannya dengan perlahan melancarkan serangan kearah Ouw Yang Bu Kie.
Ie Bok Tocu nampak Boen ching hendak menghadapi bahaya, dalam hatinya sebenarnya tidak menyetujui tindakannya tersebut, tetapi mengenai urusan ini tak ada cara lain lagi, terpaksa dia membiarkan Boen ching maju sedang tangannya mencekal pedang cing Hong Kiamnya dengan kencangnya, bersiap siaga jika Boen ching menghadapi bahaya hingga dia dapat memberi pertolongan dengan cepat.
Ouw Yang Bu Kie mengerutkan alisnya, tangan kanannya memukul kedepan, jurus Boen ching baru-baru ini sebenarnya merupakan jurus pancingan saja, tetapi Ouw Yang Bu Kie bergerak dengan cepatnya, ternyata dia tak berhasil menghindarkan diri dan terkena oleh cengkeraman Ouw Yang Bu Kie.
Sambil mendengus tangan Ouw Yang Nu Kit melemparkan dan ingin membuang tubuh Boen ching kedalam jurang yang dalamnya ratusan kaki itu.
Tempat dimana dua orang itu bertempur adalah pada tepi jurang, jika Boen ching terlempar oleh Ouw Yang Bu Kie kedalam jurang itu, sudah jelas tak ada kemungkinan hidup baginya.
Tampak hal ini Ie Bok Tocu jadi terkejut, ia ingin maju untuk memberi pertolongan-Boen ching sejak dibantu olen suara genta sehingga jalan darahnya tertembus semuanya, dalam keadaan yang sangat bahaya itu, tidak sampai menjadi kikuk, pada saat yang kritis ini tangannya dibalik dan mencekal tangan kanan Ouw Yang Bu Kie, dan ditariknya, jurus yang digunakan ini adalah salah satu jurus yang lihay dari ilmu "Thay Thien Kioe sih"
Yaitu "Thian Teh Ie Weh"
Atau langit dan bumi bertukar tempat.
Jurus ini sebenarnya dengan menggunakan tenaga tarikan untuk melemparkan tubuh Ouw Yang Bu Kie, sedang dirinya akan berdiri dimana Ouw Yang Bu Kie sekarang ini berdiri, semuanya itu akan merupakan suatu jurus untuk menolong diri sendiri dalam keadaan bahaya dan balik menyerang pihak musuh.
Tetapi begitu ditarik.
ternyata agaknya Ouw Yang Bu Kie telah membuat persiapan, tarikan ini ternyata tak berhasil menggerakkan dia sedikitpun juga, dalam hati diam-diam Boen ching merasa sangat terkejut, segera ia mengubah jurusnya, kedua kaki diangkat dan berturut-turut melancarkan tujuh kali serangan tendangan-Ie Bok Tocu nampak Boen ching yang tubuhnya masih ditengah udara ternyata dapat mengeluarkan jurus yang ampuh, hatinya baru dapat merasa agak lega.
Ouw Yang Bu Kie baru saja akan melemparkan tubuh Boen ching ke dalam jurang, sungguh tak disangka dalam keadaan
yang sangat berbahaya itu ternyata Boen ching dapat mengeluarkan jurus yang demikian ampuhnya, untung baginya tadi tak menggunakan tenaga penuh untuk melemparkan tubuh Boen ching ini tepat pada saatnya, tak urung membuat kuda-kudanya menjadi gempur, sedang dia masih merasa terkejut, kedua kaki Boen ching telah melancarkan serangan lagi.
Tangan kiri Ouw Yang Bu Kie mengepit tubuh Shi shiauw In sedang tangan kanannya dicekal oleh Boen ching, bahkan tempat yang sangat penting, sehingga membuat dia tak dapat melepaskan cekalan itu.
Dalam keadaan yang sangat bingung itu, ia mundur selangkah kebelakang, sedang tangan kanannya dengan sekuat tenaga mendorong, pikirnya.
"Aku akan menggunakan lwekangku untuk melepaskan diri dari cekalan Boen ching ini, dan sekalian melemparkan tubuhnya ke dalam jurang itu."
Boen ching bukan seorang yang dungu, mana dia mau membiarkan Ouw Yang Bu Kie melemparkan dirinya, begitu Ouw Yang Bu Kie mengerahkan lweekangnya, segera dia merasa kalau dia tidak melepaskan Cekalannya, mungkin Ouw Yang Bu Kie akan berhasil melemparkan dirinya kedalam jurang, dengan cepat ia melepaskan cekalan nya dan mundur selangkah kebelakang.
Ouw Yang Bu Kie tertawa dingin, ujarnya.
"Sungguh suatu ilmu silat yang sangat lihay"
Dengan hanya melihat dari jurus-jurus aneh yang baru saja digunakan oleh Boen ching itu, terus sampai sepuluh tahun lagi, asal lweekang Boen ching mendapatkan kemajuan yang pesat, orang-orang semacam dirinya ini tak ada satupun yang dapat melawan dia lagi.
Ie Bok Tocu nampak gerakan Boen ching sangat aneh dan lihay, dengan lweekang yang dimiliki sekarang ini bahkan
dapat bertempur seimbang dengan Ouw Yang Bu Kie, kiranya pada saat ini tak akan terdapat orang kedua seperti dia ini.
Pada mulutnya meskipun Ouw Yang Bu Kie memuji Boen ching, tetapi dalam hatinya ia telah timbul napsu untuk membunuh, ia ingin sekali tangkap dan merobek-robek perut dan dada Boen ching, sehingga dapat melenyapkan rasa gemas didalam hatinya.
Dia tak menanti Boen ching melancarkan serangan lagi, tangan kanannya membuat satu lingkaran dan dipukulkan keluar, jurus yang digunakan baru-baru ini adalah jurus "Tok ciang lui Sin"
Atau Telapak tangan penghancur hati, dari ilmu "chieh Hanpat ciang".
Serangan ini ditujukan kearah dada kiri Boen ching.
Boen ching dengan cepat merendahkan tubunnya, tetapi pukulan Ouw Yang Bu Kie bukanlah demikian mudah dapat dihindari, jurus serangannya belum selesai digunakan, tangan kanannya telah ditusuk keluar, dari pukulan berubah menjadi serangan totokan jari, dari telunjuk dan jari tengahnya dikeraskan dan menotok jalan darah "cie Bun To"
Dibawah dada Boen ching.
Boen ching mundur kebelakang setindak.
sedang tangan kirinya melancarkan serangan hebat.
Ouw Yang Bu Kie tertawa dingin, dari serangan jari segera berubah menjadi serangan cakar maut, menyambar kearah pergelangan tangan Boen ching kemudian balik menyerang dadanya, satu serangan mengarah dua tempat, hal ini merupakan suatu serangan yang sangat ganas.
Boen ching terdesak mundur selangkah lagi baru dapat menghindari serangan Ouw Yang Bu Kie yang ganas ini.
Ie Bok Tocu nampak Ouw Yang Bu Kie sekalipun mengepit tubuh seseorang, tetapi gerakannya ternyata masih demikian gesitnya, hatinya menjadi sangat terkejut, dengan kepandaian yang dimiliki Ouw Yang Bu Kie ini, Boen ching yang sedang
melawan dia itu mungkin tak akan dapat tahan lebih dari dua puluh jurus lagi.
Ouw Yang Bu Kie yang nampak serangannya tidak mencapai pada sasaran, dia maju kedepan selangkah, tangan kanan nya didorong kedepan, dengan menggunakan jurus "Yun Tong KouJiet"
Atau tengah mega menuntun matahari. Jurus ini merupakan jurus yang ampuh dari ilmu "ching Hun Pat ciang"
Sekalipun ditangannya masih mengempit tubuh Shie Siauw In, tetapi dia tak percaya kalau Boen ching dapat menghindarkan diri ilmu "chieh Hun Pat ciang"
Nya itu.
Boen ching nampak jurus yang digunakan Ouw Yang Bu Kie ini sangat asing dan aneh, untuk sesaat dia tak berani menyambut dan mundur selangkah lagi kebelakang.
Tetapi Ouw Yang Bu Kie mana mau melepaskan dia, dia tertawa dingin, tubuhnya mendesak maju sedang pada mulutnya ia berkata.
"Mengapa engkau tak berani menyambut jurusku ini?"
Boen ching mendengus, suhunya Ie Bok Tocu kini berada disamping, dia tak mau memalukan nama baik Ie Bok Tocu dikatakan tak berani menyambut serangannya ???
Tubuhnya segera bergerak.
dengan menggunakan gerakan "Hui Sit Yu soh"
Dia balik mendesak kearah Ouw Yang Bu Kie.
Ouw Yang Bu Kit tertawa tergelak.
jika Boen ching selalu menghindar, malah membuat dia untuk sesaat tak dapat berbuat apa-apa, tetapi kini Boen Ching dengan menggunakan gerakan mendekat kearahnya, dengan lweekang yang dimiliki Boen ching serangan ini bukankah dengan mudah dia akan dapat menangkapnya?
Tangan kanannya sedikit direndahkan, tidak menanti Boen ching sampai menginjak tanah, tangannya segera menyambar mengarah bahu Boen ching, kali ini dia tidak mau melemparkan Boen ching kedalam jurang, lima jari tangan
kanannya dikencangkan, dia ingin menghancurkan bahu Boen cbtng terlebih dahulu.
Boen ching yang tertangkap dalam hatinya dia tahu dia akan celaka, terhadap delapan puluh satu perubahan dari ilmu "Thay Thien Kioe Sih", dia sudah sangat hafal, jurus-jurus dari ilmu Thay Thien Kioe Sih ini adalah khusus untuk menghadapi pertempuran jarak dekat.
Boen ching yang ditangkap tubuhnya segera sedikit direndahkan, kedua tangannya diangkat, dan didorong kearah tangan kanan Ouw Yang Bu Kie, sedang bahunya sedikit dilemparkan, jurus yang digunakan ini adalah jurus "Thlen ciang Ie San"
Atau dengan pundak memindah gunung dari ilmu Thay Thlen Kioe Sih". Gerakan ini mirip sekali dengan ilmu tenaga dalam "Tan ie cap Bwee Thiat"
Atau ilmu melekat pakaian jatuh delapan belas kali, tetapi kegunaannya jauh lebih hebat.
Sebenarnya Ouw Yang Bu Kie akan menghancurkan bahu Boen ching terlebih dahulu, tetapi kini Boen ching juga telah mengerahkan tenaganya, jika lima jarinya dirapatkan lebih kencang lagi, meskipun dapat menghancurkan bahu Boen ching, tetapi dengan sikapnya yang semula itu maka tak dapat dihindarkan lagi dia pun akan terlempar oleh Boen ching, dia tak mau dengan demikian mengaku kalah, segera dia melepaskan cengkeramannya dengan mundur kebelakang.
Boen ching yang melihat ada kesempatan baik, segera mendesak maju kedepan selangkah dengan cepat mengulur tangan dan kakinya mengerahkan jurus "Thien ciang To Hay"
Atau laut dan telaga terbalik.
Ouw Yang Bu Kie tahu jurus Boen ching sangat aneh bahkan jika menggunakan sedikit tenaga saja akan jauh lebih hebat akibatnya, semuanya ini sebelumnya belum pernah terpikir olehnya dia tak berani menyambut serangan ini, berturut-turut mundur dua langkah kebelakang
Teringat oleh Boen ching ejekan-ejekan yang dilontarkan Ouw Yang Bu Kie semula kepadanya tanpa terasa dia balas mengejek ujarnya.
"Mengapa kau juga tak berani menyambut seranganku ini."
Ouw Yang Bu Kie dapat dihitung satu tingkat dengan Tan coe coen dan Thian Jan Shu.
Boen ching sebagai seorang angkatan muda ternyata berani berbicara demikian terhadapnya, saking gusarnya alisnya menjadi berdiri semuanya, sedang tangan kanannya dengan sangat ganas menyerang dada Boen ching.
Boen ching menjadi terkejut, buru2 dia berkelit kesamping.
Ouw Yang Bu Kie yang dalam keadaan gusar melancarkan serangan, mana mau dengan mudah memberi kesempatan pada Boen ching untuk berkelit, tangannya dari bentuk pukulan dirubah menjadi gerakan menyambar, Boen ching dengan sekuat tenaga berkelit kesamping, tetapi tak urung baju didadanya tersambar robek oleh serangan Ouw Yang Bu Kit tepat mengenai cermin pualam yang berada dalam dadanya, kalau tidak tentu dada dan perutnya telah robek terkena serangan itu.
Sambaran kali ini membuat hati Boen ching menjadi agak jeri dan berdebar, berturut-turut dia mundur dua langkah kebelakang.
Ouw Yang bu Kie dengan gusar menyambar lagi, sedang tangannya yang satu melancarkan pukulan dalam keadaan yang terdesak ini Boen ching melancarkan pula satu pukulan untuk menyambut.
Tapi tahu-tahu tangan Ouw Yang Bu Kie membalik dan mencekal pergelangan tangan Boen ching tangan kanannya mendorong dengan sekuat tenaga melemparkan tubuh Boen ching ketengah udara.
Boen ching hanya merasa, daya lemparan Ouw Yang bu Kie kali ini menggunakan tenaga yang sangat besar, bahkan
tempat mencekal urat nadinya, sehingga tak mudah baginya untuk balik mencekal tangannya.
Ouw Yang Bu Kie yang melemparkan tubuh Boen ching ke tengah udara, menyebabkan Boen ching tak dapat berkutik.
Baju didadanya yang robek berkibar terhembus ingin, se-konyong2 mata Ouw Yang Bu Kie tertuju pada cermin pualam yang berada didalam dadanya, sedang wajahnya berubah hebat.
Boen ching merasa cekalan lima jari Ouw yang Bu Kie agak menjadi kendur, dia tak sempat berpikir panjang lagi, tangannya segera di balik mencekal urat nadi di tangan kanan Ouw Yang Bu Kie dan melancarkan jurus "Thian Te Ie We"
Atau langit dan bumi bertukar tempat, begitu kedua kakinya menginjak tanah, ia berbalik melontarkan tubuh Ouw Yang Bu Kie ketengah udara.
Ouw Yang Bu Kie segera tersadar kembali dari lamunannya, dia bersalto beberapa kali ditengah udara dan turun kembali diatas tanah.
Begitu tubuhnya turun kebawah, tangan kanannya segera dibalik dan melemparkan tubuh Shie Siaw In kedalam jurang, sedang tubuhnya meloncat lagi keudara dan lari turun ke gunung.
Boen ching dalam keadaan yang terburu-buru tangannya segera menyambar dan mencengkeram tubuh Shie siauw In, untung Ouw Yang Bu Kie tak menggunakan tenaga penuh kalau tidak sudah tentu tubuh shie Siauw In akan meluncur kedalam jurang dengan kecepatan yang luar biasa hingga dia tak sempat untuk menolongnya.
Ie Bok Tocu tampak gerak gerik dari Ouw Yang Bu Kie menjadi seperti harimau gila, dan tampak pula Shie Siauw in telah dapat ditolong maka dia membiarkan Ouw Yang Bu Kie meloloskan dirinya.
Boen ching setelah menolong diri Shie siauw In, tiba-tiba teringat kembali ketika tadi Ouw Yang Bu Kie akan melemparkan tubuhnya kedalam jurang tapi anehnya ternyata dia tak menggunakan tenaga penuh.
Dia teringat yang dituju oleh sinar mata Ouw Yang Bu Kie ketika dia menundukkan kepala memandang wajahnya segera berubah menjadi merah padam, gambar gadis cantik yang berada pada cermin pualam itu ternyata telah menghadap keluar, tapi dia tak mengerti mengapa Ouw Yang Bu Kie begitu nampak gambar gadis cantik itu dapat berubah menjadi demikian jerinya, sungguh tak terkira cermin pualam ini telah dua kali menolong jiwanya.
Ie Bok Tocu tak mengetahui akan hal ini, ia masih mengira Boen ching telah mengeluarkan jurus yang hebat untuk mematahkan serangan musuh, saking malunya hingga Ouw yang Bu Kie lari pergi, dia menerima kembali tubuh Shie Siauw In dan berusaha membebaskan totokannya.
Tapi melihat keadaan dari Shia Siauw in ini dia menjadi tertegun, jalan darah yang tertutup pada tubuh Shie Siauw In ini ternyata adalah jalan darah yang ditotok dengan menggunakan ilmu tunggal dari Ouw Yang Bu Kie sendiri, sehingga membuat dia tak dapat membebaskan totokan tersebut.
Boen ching menyimpan baik2 cermin pualam itu kedalam sakunya, nampak Ie Bok Tocu yang demikian itu tanyanya.
"Suhu, bagaimana dengan keadaan dari Siauw In sumoay ??"
Dengan sedih jawab Ie Bok Tocu.
"Dia telah tertotok jalan darahnya menurut cara ilmu tunggal dari Ouw Yang Bu Kie sehingga aku tak dapat membebaskannya."
Mendengar perkataan ini Boan ching menjadi termangu-mangu tak tahu harus berbuat apa baiknya.
Ie Bok Tocu termenung sejenak. kemudian sambil tertawa ujarnya.
"Sesungguhnya juga tak mengapa, asal mengeluarkan sedikit tenaga pastilah beres"
Kemudian tanyanya setelah perpisahan dengan dirinya.
Boen ching menceritakan seluruh pengalamannya kepada Ie Bok Tocu tanpa mengucapkan sepatah katapun ia hanya mengangguk kan kepalanya, akhirnya ujarnya.
"Diantara empat iblis sakti setan yang gemar harta, dan setan gemar paras elok telah muncul, aku kira sisanya dua orang itu pun akan segera muncul, mereka mungkin juga dikarenakan tujuh buah hioloo kuno itu, Han cing Yu bibi-Han mu itu telah berpisah dengan aku untuk pergi mengejar Ouw Yang Boe Kie, sayang kini tak berada disini, kepandaiannya jaub lebih tinggi dari kepandaianku."
Boen ching menjadi termenung pikirnya.
"Meskipun Ouw Yang Bu Kie telah pergi tapi chang Sun Loei tentu takkan melepaskan aku dan dia tentu akan terjun kembali ke dalam dunia kangOuw untuk mencari aku."
Ie Bok Tocu membopong tubuh Shie Siauw In, kepada Boen ching ujarnya.
"Siauw In sumoaymu ini telah tertotok jalan darahnya dengan kekuatan tenaga dalamku yang dipadukan dengan tenaga dalam bibimu, tak usah digunakan lagi pasti akan bebas dari totokannya hanya tak tahu dia kini berada dimana??"
Baru saja dia berkata demikian tampak Han cing Yu dari jauh lari mendekat. Boen ching yang nampak datangnya bibi Han nya itu, dengan girang teriaknya.
"Bibi Han datang "
Ie Bok Tocu segera menengok. tampak Han cing Yu telah naik keatas puncak.
Han cing Yu nampak Boen chingpun juga berada disana, semula menjadi tertegun, kemudian dengan tertawa ujarnya.
"Akhirnya Siauw In dapat direbut kembali mana iblis itu ?"
Sambil tertawa jawab Ie Bok Tocu.
"Sudah pergi, hanya Siauw In telah tertotok jalan darah pentingnya."
Han cing Yu menjadi terkejut dengan cepat dia menerima tubuh Siauw In untuk diperiksa, terdengar Ie Bok Tocu berkata.
"Aku kira dengan tenaga gabungan kita untuk membebaskan totokan itu tentu akan berhasil "
Han ching Yu berpikir sejenak kemudian sahutnya.
"Kukira hanya demikian baru dapat berhasil."
Dua orang itu segera menggendong tubuh shie siauw In dan lari turun gunung, kepada Boen ching mereka berpesan agar dia menunggu sejenak ditempat itu.
Ooo0dw0oooO TONG KIAM HEN PIT (Pedang logam pit perak) Setelah Ie Bok Tocu dan Han cing Yu pergi Boen ching seorang diri tinggal di puncak gunung itu dan memandang keempat penjuru dan melamunkan sikap dan gerak gerik Ouw Yang Bu Kie tadi.
Dia merasa gambar gadis cantik yang berada pada cermin pualam itu tentu mempunyai hubungan yang sangat mendalam dengan Ouw Yang Bu Kie ini.
Dia mengambil keluar lagi cermin pualam itu dan memandangnya, gadis itu sungguh cantik sekali, kiranya bukanlah tandingan dari setiap gadis yang pernah dia jumpai.
Boen ching mendongakkan kepalanya, pikirnya.
"Ouw Yang bu Kie ini terkenal sebagai iblis yang suka akan paras elok, apakah mungkin gadis mempunyai hubungan yang erat dengannya?"
Tapi setelah berpikir lagi, agaknya tak benar, biasanya Ouw Yang Bu Kie tak pernah membiarkan mangsanya hidup lebih lama, kali ini dapat merebut Shie Siauw In dari tangannya saja sudah merupakan suatu yang sangat untung sekali.
Ssdang dia berpikir, mendadak ada angin kencang lewat dari samping tubuhnya, sedang berCermin pualam yaug ada ditangan nya pun telah direbut saking kagetnya Boen ching sampai mundur kebelakang selangkah.
Tampak dihadapannya berdiri seorang tua yang rambutnya telah putih semuanya dan ia sedang memandang cermin itu, kakek tua itu memakai baju yang telah kuno dan robek2, tangan kirinya menyungging sebuah gentong arak setinggi manusia, jika gentong arak itu berisi penuh dengan arak mungkin beratnya kurang lebih ribuan kati.
Boen ching yang nampak dandanan orang itu diam-diam dalam hatinya ....
si Setan arak Toan bok ciejien ternyata dapat muncul ditempat ini, diantara empat iblis telah muncul tiga orang, menurut berita2 dalam dunia kangOuw katanya diantara empat iblis itu Toan bok ciejien kepandaian paling tinggi, selamanya ia tak pernah membawa senjata, ini hari ia merebut cermin pualam itu, aneh karena apa??
TOAN BOK CIEJIEN dongakkan kepalanya memandang Boen ching, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia balikan tubuhnya dan berjalan turun gunung.
Boen ching menjadi tertegun, dengan cepat dia gerakan tubuhnya lari mengejar Toan Bok ciejien, dia juga tak tahu karena apa cermin pualam itu telah dua kali menolong jiwanya, dia tak ingin dengan mudah melepaskannya.
Toan Bok ciejien yang lari didepan meskipun tangannya menyungging sebuah gentong arak yang beratnya ribuan kati,
tetapi ditangannya seperti tak membawa barang apapun juga, ketika berlari bagaikan kilat cepatnya, jika dibandingkan dengan Boen ching jauh lebih hebat satu tingkat.
Boen ching mengira ia tentu dapat menyusulnya, tetapi begitu mengejar ia telah mengejar sejauh dua tiga Li jauhnya, sedang kini telah berada dilain puncak gunung.
Toan bok ciejien setelah mencapai pada puncak gunung tersebut lalu menoleh kebelakang dan membentak.
"Terimalah gentong arak ini"
Begitu perkataan keluar dari mulutnya gentong arak seberat ribuan kati ditangan itu telah melayang kearah Boen ching.
Boen ching tampak melayangnya gentong itu kearah nya menjadi sangat terkejut, sedang hatinya menjadi bergerak.
dia tahu dengan kedua tangannya kalau dia menerima gentong arak yang beratnya ribuan kati itu, ditambah lagi dengan kekuatan daya lempar nya, bukankah merupakan pekerjaan yang mudah.
jika ia menerima dengan kedua tangannya, bukankah itu bagaikan ular mencari gebukan???
Dalam keadaan yang membingungkan itu, sekali lagi ia mengeluarkan jurus "Thien cian Ie San"
Atau dengan pundak memindahkan gunung daripada ilmu "Thay Thien Kioe Sih".
Dia tak berani mendorong gentong arak itu ke bawah gunung, dengan tangan kirinya ia menerima, sedang tubuhnya berputar setengah lingkaran, begitu pundaknya sedikit bergerak, gentong arak itu telah terbang kembali kearah Toan bok ciejlen.
Toan bok ciejien yang nampak hal ini tanpa terasa memuji atas kehebatan pemuda ini.
Boen ching nampak Ton Bok ciejien menjadi girang, dia maju kedepan selangkah sambil menjura dia berkata.
"cermin pualam itu milik boanpwee, mohon elanpwee suka untuk mengembalikannya."
Toan Bok ciejien memandang sekejap pada Boen ching, sedang tangannya menerima gentong arak itu dengan jari telunjuk tangan kanannya, terlihat arak didalam gentong itu segera memancar keluar dari dalam gentong, dia segera membuka mulut menghisap.
Arak itu berubah menjadi suatu jalur dan masuk kedalam mulutnya, dia ber-kedip2 sambil tertawa ujarnya.
"Arak bagus Arak bagus"
Dalam hati diam-diam Boen Ching berpikir.
"Minum arak dengan cara demikiam baru pertama kali ini aku melihatnya, Toan Bok cie Jien ini disebut setan arak juga tak salah lagi."
Setelah habis minum arak. dia berpaling dan ujarnya.
"Aku akan menerima kau sebagai muridku coba kau bawakan gentong arakku ini."
Selesai berkata, sekali lagi dia melemparkan gentong arak itu kearah Boen ching. Pemuda itu menjadi tertegun, tetap dengan mengguna kan jurus "Thien cian Ie San"
Ia mengembalikan gentong arak itu, sahutnya.
"Boanpwee telah mempunyai suhu, aku hanya mengharapkan cianpwee sudi kiranya mengembalikan cermin pualam itu kepada ku."
Toan Bok ciejien memandang sekejap pada Boen ching kemudian katanya.
"Jika menurut adatku sekalipun kau mempunyai sepuluh lembar jiwa juga akan habis disini, aku suka sekali padamu, kini tak usah banyak bicara, angkatkan gentong arakku ini "
Tangan kanan Boen ching diangkat dan sekali lagi ia mengembalikan gentong arak itu. Wajah Toan Bok ciejien menjadi berubah ujarnya.
"Sungguh tak kusangka engkau demikian keras kepala, siapakah namamu ?"
Boen ching berdiam sejenak.
teringat kembali perkataan suhunya yang mengata kan empat iblis ini semuanya hanya karena hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu saja, dia tak mau menyebut namanya, ujarnya.
"Harap Cianpwee sudi mengembalikan cermin pualam itu kepadaku."
Toan Bok ciejien memandang sekejap pada Boen ching, kemudian mengambil cermin pualam itu dan memandang gambar gadis cantik yang tertera pada cermin itu, dia menjengek sambil ujarnya.
"Lagi-lagi perempuan ....."
Kemudian dipandangnya lagi wajah Boen ching, lanjutnya.
"Jika orang lain sejak tadi2 telah kubunuh, sekalipun engkau berani menentang aku tetapi aku masih tak tega untuk membunuh mu, cuh kau minta kembali cermin ini, apakah dikarenakan gambar gadis ini?"
Boen ching termenung sejenak. kemudian sahutnya.
"cermin ini telah dua kali menolong jiwaku"
Toan Bok ciejien memperhatikan Boen ching lagi lalu ujarnya.
"Baik cermin ini kukembalikan padamu sih boleh saja, tetapi kau harus menjadi murid ku."
Sehabis berkata dia melemparkan cermin itu ke arah Boen ching. Boen ching segera menyambutnya baik-baik dalam tubuhnya, kemudian ujarnya dengan nada menyesal.
"Boanpwee masih mempunyai suhu, sebelum suhuku memberi ijin, beanpwee tidak berani mengambil keputusan sendiri."
Toan Bok ciejien tertawa tergelak ujarnya.
"Bagus, jadi artinya engkau sudah menyetujuinya bukan, jika engkau sudah menyetujuinya, maka tak ada urusan lagi, suhumu juga tak akan dapat mengurusi kau lagi."
Boen ching menjadi serba salah, akhirnya ujarnya.
"Boanpwee belum pernah mengatakan kalau boanpwee telah menyetujuinya."
Wajah Toan Bok ciejien berubah menjadi masam, ia mendengus tanyanya.
"Apakah kau tidak menyetujuinya?"
Boen ching menggelengkan kepalanya, Toan Bok ciejien mendengus, setelah berdiam sejenak kemudian tanyanya.
"Apakah mungkin kepandaian suhumu lebih hebat dari kepandaianmu?"
"Setiap pelajaran ada gurunya dan setiap kepandaian tergantung yang mempelajarinya, mana dapat mengetahui siapa yang lebih hebat?"
Jawab Boen ching dengan tenang. Toan Bok ciejien menganggukkan kepala nya ujarnya.
"Jawabanmu sungguh-sungguh sangat tepat, jika kau berkata demikian, aku tak dapat memastikan kalau kepandaianku jauh lebih hebat dari kau, aku kira tentunya juga paham siapa yang pengetahuanya lebih rendah harus belajar pada yang lebih tinggi pengetahuannya, kini coba kau sambut seranganku sebanyak sepuluh jurus, jika kau dapat menyambutnya, sudah tentu aku tak akan dapat menjadi suhumu, tetapi jika kau tak sanggup, itu berarti kau masih kurang sedikit, maka haruslah mengangkat aku sebagai suhu."
Boen ching nampak Toan Bok ciejien berkata demikian, dia tak ada perkataan lain untuk menjawab, pikirnya. Toan Bok ciejien ini sungguh tak tahu aturan. Terpaksa sambil menganggukkan kepala sahutnya.
"Perintah dari angkatan tua aku tidak berani membangkang, tetapi hanya terbatas pada sepuluh jurus saja, kalau aku sanggup menyambut seranganmu sebanyak sepuluh jurus, sekalipun engkau mendesak aku, bagaimanapun juga sekalipun sampai mati aku juga tak mengangkat kau sebagai suhuku."
Toan Bok ciejien setelah tertawa tergelak sejenak. kepada Boen ching ujarnya.
"Engkau boleh lihat, inilah jurus pertama ku"
Sehabis berkata gentong araknya dengan jurus "Kiem cong Jong Tong"
Atau gentong emas menumbuk hioloo menubruk kearah Boen ching.
Boen ching menjadi agak terkejut, ternyata Toan Bok ciejien menggunakan gentong arak itu sebagai senjatanya, dia menjadi tak tahu harus menerima dengan cara bagai mana, pun dirinya sadar bahwa dia tak mempunyai tenaga yang demikian besarnya untuk menyambut serangan itu, terpaksa ia mundur selangkah ke belakang.
Toan Hook ciejien tertawa besar ujarnya.
"Jangan lari"
Sambil berkata gentong araknya melancarkan serangan lagi mengejar Boen ching.
Sungguh tak disangka oleh Boen ching kalau Toan Bok ciejien dapat melakukan serangan dengan menggunakan gentong araknya, dalam keadaan yang kritis sekali itu sekali lagi ia menggunakan jurus "Thien cien Ie San"
Untuk memgembalikan gentong arak itu.
Tetapi baru saja bahunya menempel gentong arak itu, ternyata ia merasa gentong arak itu mengandung tenaga dalam yang sangat aneh dan dahsyat, dia tak sanggup untuk mendorong kembali gentong arak itu, ternyata dengan bahunya sedikit disenggolkan pada tepi gentong itu dan melemparkan gentong arak tersebut kebawah gunung.
Toan Bok ciejien agaknya telah menduga kalau Boen ching dapat berbuat demikian, dia tertawa terbahak-bahak.
baru saja gentong arak itu melayang dari pundaknya, ia telah berhasil menerimanya, diikuti dengan sedikit mendorong gentong arak itu, bagaikan sumber air saja arak itu menyembur keluar dan membasahi seluruh tubuh Boen ching.
Boen ching yang nampak hal ini berusaha untuk berkelit, tetapi gerakan Toan Bok cie Jien jauh lebih cepat dari gerakannya sehingga seluruh tubuhnya basah kuyup terguyur arak.
Sambil tertawa tergelak ujar Toan Bok ciejien.
"orang-orang mengatakan aku sebagai setan arak. orang yang akan menjadi muridku pun sedikitnya juga harus mandi dengan arak."
Boen ching menjadi sangat terkejut, dengan terburu-buru ia berkelit ke samping.
Toan Bok ciejien sambil membawa gentong araknya mengejar lagi kearah nya, dia menggunakan gentong arak yang demikian besarnya sebagai senjata sehingga menyebabkan Boen ching tak mempunyai kesempatan untuk menggunakan ilmu "Thay Thien Kioe Sih"nya.
Kali ini tangan kanan Toan Bok ciejien terus mengancam kearah punggungnya, teriaknya.
"orok kecil, aku mau lihat kau akan menyerah atau tidak."
Boen ching nampak disaat ini Toan Bok-cieJin tidak menggunakan gentong araknya sebagai senjata, dalam hatinya diam-diam menjadi girang, dia balikkan tangannya dan mencekal pergelangan tangan Toan Bok ciejien.
Toan Bok ciejien tertawa tergelak, dia tak percaya cekalan Boen ching ini dapat berbuat apa2 terhadapnya, tangan kanannya tidak menghindari dari serangan ini bahkan terus menyambar kearah Boen ching.
Boen ching balik menyekal tangan Toan Bok ciejien, tetapi lima jari tangan kanannya seperti mencekal sebuah baja yang sangat keras sekali, terhadap sambaran Toan Bok cie Jien sedikitpun ia tak menghindar.
Ilmu "Thay Thien Kioe sih"
Yang dimilikinya itu dapat dikerahkan sekehendak hatinya, tubuhnya segera berjungkir balik, menghin-dari sambaran Toan Bok ciejien ini, sedang tangan kanannya sedikit digetarkan dengan mengeluarkan jurus "Ling coa Thien Siang"
Atau ular cerdik menjungkirkan gajah, ia melemparkan tubuh Toan Bok ciejien ke tengah udara. Jurus2 dari "Thay Thien Kioe Sih"
Semuanya merupakan jurus-jurus serangan yang aneh dan dahsyat, begitu tangan Boen ching sedikit bergetar ia telah berhasil melemparkan tubuh Toan Bok ciejien-Tubuhnya berjungkir balik ditengah udara dan kemudian jatuh kebawah.
Meskipun Toan Bok ciejien telah berhasil dilempar ke tengah2 udara oleh Boen ching, tetapi arak yang berada didalam gentong arak yang dibawa ditangan kanannya ternyata tidak jatuh setetespun karena kelihatannya.
Tubuhnya begitu mencapai tanah sambil tertawa besar ia berkata.
"Sungguh tak kusangka engkau masih mempunyai ilmu simpanan yang tinggi, kalau begitu aku sudah pasti akan menerima engkau sebagai muridku dan jurus yang baru kau gunakan itu sungguh sangat bagus, hanya sayang tenagamu masih terlalu kurang". Waktu dia berbicara itu, tubuhnya mendesak lagi ke arah Boen ching, tadi ia telah mencoba kekuatannya tetapi sungguh tak disangka sangka ilmu "Thay Thien Kioe Sih"
Dari Boen ching itu ternyata demikian hebatnya.
Jika tenaga sedikit lebih hebat lagi, maka dia akan terlempar sejauh tiga kaki lebih.
Kali ini dia tahu dan tak berani mencoba lagi, dan tangan kanannya langsung menyerang kedada kanan Boen ching.
Boen ching mundur selangkah kebelakang dan memasang kuda-kuda, dia mulai melancarkan serangan-serangan pancingan untuk memancing Toan Bok ciejien supaya ia
menyerang lebih dekat, tetapi kali ini Toan Bok ciejien bukannya tidak tertipu malah sebaliknya ia mencekal terlebih dahulu pergelangan tangannya dan diikuti dengan gerakan tubuhnya untuk melemparkan tubuh Boen ching ke tengah-tengah udara.
Boen ching nampak Toan Bok ciejien meniru jurus yang baru saja dipergunakan yaitu jurus Ling coa Thien Siang-.
Meskipun gerakan dan pengerahan tenaga yang dilakukannya tidak begitu benar, tetapi hanya dengan tenaga dalam yang dimilikinya, bukanlah dapat dilawan dengan mudah oleh Boen ching.
Pada saat tubuh Toan bok ciejien menginjak tanahnya kembali, sambil tertawa besar ia berkata.
"Pergi"
Boen ching terhadap perkelahian jarak dekat semacam ini, pada saat ini juga telah tidak ragu-ragu lagi dan tangannya balik mencekal pergelangan tangan Toan Bok ciejien katanya.
"Belum tentu"
Segera ia mengeluarkanjurus "Thian Te Ie Weh"
Atau langit dan bumi bertukar tempat.
Meskipun Toan bok ciejien tidak sampai terlempar oleh Boen ching tetapi tak urung dia mengeluarkan suara tertahan, dengan kecepatan saat ia menggunakan jurus dan gerak badan yang dilakukan Boen ching.
Dapat dihitung sebagai jago nomer satu di Bu lim.
Jurus-jurus aneh dan lihay semacam itu, sekalipun Toan Bok ciejien sebagai pemimpin dari empat iblis, tetapi ia juga tak dapat mengenalinya.
Hanya sayang tenaga dalamnya yang dimiliki Boen ching masih terlalu rendah.
Kalau tidak ia juga tak akan tahan tertempai oleh Boen ching dengan menggunakan jurus yang dimilikinya yaitu Thian Te Ie Weh.
Boen ching yang tak dapat melemparkan tubuh Toan bok ciejien telah membalikan telah membalikan tangannya dan mencekeram urat nadinya..
Kemudian ia memutar tubuh Boen ching dengan tanganna yang besar keatas udara sehingga merupakan lingkaran-Dalam hati Toan bok ciejien mengira bahwa dengan memutarkan tubuh Boen ching beberapa lingkaran maka darahnya akan bergolak.
Sekalipun Boen ching mempunyai kepandaian yang lebih tinggi ia akan dapat mengeluarkan darah dari mulutnya.
Boen ching yang diputar-putar tubuhnya di udara oleh Toan Bok ciejien masih merasa sadar kalau tubuhnya diputar.
Tetapi karena diputar berulang-ulang ia akan tak mempunyai tenaga lagi untuk melawan-Dalam keadaan yang sangat kritis itu ia mengeluarkanjurus untuk menolong dirinya dalam keadaan bahaya dari ilmu Thay Thien Kioe sih yakni jurus "Shi Thien Seng Gwat"
Atau dalam kata lain menjungkir aliran bintang dan bulan yang tak ada bandingan nya dalam dunia persilatan-Urat nadi pergelangan tangannya dicekal dengan menggunakan tangan kirinya segera ia mendorong bahu kanan Toan Bok ciejien-Tubuhnya menjungkir balik di tengah udara dan melemparkan tubuh Toan bok Cie Jien Jurus Shia Thien seng Gwat ini semuanya adalah untuk menjatuhkan musuh yang menganggap rendah dirinya.
Mula2 menjatuhkan dirinya terlebih dahulu, baru kemudian meminjam tenaga untuk melemparkan tubuh lawannya.
Sekalipun tubuhnya jatuh lebih hebat tetapi, semuanya ini untuk menolong diri sendiri dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Jurus ini begitu dikeluarkan berturut-turut ia menjungkir balikkan di udara sebanyak tiga kali, tetapi Toan Bok ci Jien juga tergerak.
tangan kanannya oleh jurus Boen ching yang hebat itu dan terjungkal balik dua kali.
Sambil tertawa menyeringai Toan Bok Cie-jien berkata.
"Satu jurus lagi yang lihay, tak dapat disalahkan lagi kau mengatakan setiap guru lain pelajarannya, kiranya engkau sedikit menggunakan ilmu hitam. Siapa suhumu?"
Boen ching tersenyum dan dengan tenang ia menjawab.
"Suhuku siapa? Cianpwee tak usah mengetahuinya, pokoknya jika jurus itu ia sendiri yang menggunakan, maka aku kira cianpwee bukanlah lawan dari dia"
Toan Bak cie lien tertawa besar katanya.
"Engkau jangan bergirang dahulu, aku tadi tidak lain hanya ingin mencoba kepandaianmu saja dan untuk mengetahui sampai dimana, jika aku mengeluarkan jurus yang ganas aku kira belum saja engkau balas menyerang engkau telah mati sejak tadi ditanganku, jurus-jurus aneh itu lalu apa gunanya karena aku kira engkau harus mengangkat aku sebagai suhumu baru bisa."
Boen ching tersenyum, sahutnya.
"Setelah lewat sepuluh jurus baru kita bicarakan lagi"
Toan Bok Cie-jien tertawa besar ujarnya.
"Apakah kau kira biasanya aku demikian mengalah terhadap orang lain.? Ini hari adalah karena aku mempunyai niat untuk menerima engkau sebagai muridku yang baru sebenarnya kelakuanmu itu kurang baik. Jika aku tak dapat menerima engkau sebagai muridku, maka sudah tentu tak kubiarkan kau hidup didunia ini lebih lama lagi."
Hati Boen ching merasa berdesir, Toan Bok Cie-jien berkata demikian ialah terang-terangan memberitahu kepadanya kalau
dia tak mau mengangkat dia sebagai suhu, maka dia akan turun tangan jahat terhadapnya.
Dia tertawa tawar, dia tahu kalau iblis-iblis semacam ini tak ada satupun yang dapat memegang janji.
Banyak bicarapun tak ada gunanya karena kini telah menjadi demikian maka lebih baik sejak sekarang ini juga merencanakan cara-cara untuk meloloskan diri.
Toan Bak Cie-jien tertawa katanya.
"Kau ingin meloloskan diri sudah tentu tak mungkin akan terjadi, karena engkau juga bukannya tak mengetahui sama sekali bahwa aku membawa gentong arak yang demikian beratnya. Tetapi jika engkau ingin lari bagai manapun juga tak akan dapat meloloskan diri dari tanganku."
"Kini masih ada tujuh jurus, engkau harus berhati-hati"
Perkataannya baru saja selesai di ucapkannya, dia telah mendesak lagi kearah Boen ching.
Dalam hati Boen ching menjadi terkejut, gerakan Toan Bok Cie-jien kali ini gesit sekali seperti mengalirnya air dan berjalannya mega diudara.
Dia berturut-turut melemparkan pukulan gencar dan setiap pukulannya semuanya mengenai pada gentong arak ditangan Toan Bok Cie-jien.
Gentong ini ternyata dibuat dari baja dan logam, sekalipun terkena lima kali pukulan juga tak mengalami kerusakan sedikitpun juga.
Sedang lima jalan darah penting pada badan sebelah muka dan belakang Boen ching ternyata telah dipegang perlahan oleh Toan Bok Cie-jien.
Gerakan Toan Bok Cie-jien tiba-tiba berhenti dan kemudian tanya nya "Meskipun ada dua jurus, kau menyerah tidak?"
Dalaw hati Boen ching diam-diam menjadi ngeri dan takut. Gerakan Toan Bok Cie-jien ternyata demikian anehnya. cirinya jika dibandingkan dengan dia ternyata sedikitpun tidak
mempunyai kesempatan untuk menghindar.
Masih ada jurus lagi kiranya sukar untuk menghindari jurus-jurus itu.
Toan Bok Cie-jien nampak Boen ching tidak menjawab lalu dia tertawa ujarnya.
"Karena aku suka padamu maka aku tak tega untuk melukai dirimu, lima jurus lagi"
Boen ching tundukan kepalanya dan berpikir sebentar kemudian dengan perlahan ia mencabut pedangnya sambil berkata.
"Aku akan menerima lagi dua jurusmu itu."
Toan Bok Cie-jien tertawa besar.
"Engkau masih tak mau menyerah"
Tubuhnya Toan Bok Cie-jien segera bergerak maju dekat Boen ching yang sedang menghunus pedang, Boen ching dengan menggunakan "Ie Bok Kiam hoat"
Semua tenaga bertahan ia ingin melihat apakah ia sanggup menerima dua jurus ini dan menghindarinya.
Dia melihat Toan Bok Cie-jien datang mendesak.
Pedangnya disabetkan kemuka dan tubuh nya mundur selangkah ke belakang, jurus ini adalah salah satu jurus untuk bertahan dari Ie Bok Kiam Hoat yakni jurus "chie bok tong ku"
Atau kayu besar menutup lembah. Toan bok Cie-jien tertawa besar katanya.
"Jurus2 semacam ini terhadap orang lain masih boleh jadi, tetapi aku tak akan memandang sebelah matapun."
Habis berkata tangan kirinya mendorong, melancarkan serangan dengan keras mendesak mundur pedang yang ada ditangan Boen ching.
Diikuti tubuhnya maju dan mengirim pukulan yang keras.
Boen ching hanya merasa suatu angin yang sangat keras memukul kebelakang punggungnya tetapi dia tak sempat untuk berkelit.
Suatu kekuatan yang sangat besar menghantamnya sehingga ia jatuh rebah.
Dengan terhuyung huyung ia maju ke depan dan dari mulutnya memuntahkan darah yang masih segar.
Pada otaknya segera terasa pening dan matanya berkunang-kunang.
Karena tak tahan lagi ia jatuh dan tangannya ditelentangkan keatas jalan darah.
Penelentangan tangan itu pada jalan darah yang disebut "Ling Thay To"
Terdengar Toan Bok Cie-jien berdiri disampingnya dan berkata perlahan-lahan.
"Masih ada satu jurus lagi"
Tubuh Boen ching menjadi sedikit gemetar, dia duduk berdiam diri. Terdengar Toan bok Cie-jien berkata lagi.
"Jika kau menyetejui mengangkat aku sebagai suhumu, dengan segera aku membantu engkau mengobati lukamu.Jika kau tidak menyetujuinya aku juga tidak berani memaksa."
Boen ching tahu maksud dari perkataan Toan bok Cie-jien itu, jika dirinya tidak menyetujui maka ada satu jurus lagi.
Tidak mungkin seperti tadi ia memberi kelonggaran kepada dirinya..
Dia diam tidak menjawab, sejenak kemudian katanya.
"Engkau bolehlah turun tangan sekehendakmu atas diriku."
Toan bok Cie-jien diam sejenak dan ternyata tidak mengadakan gerakan apa-apa. Kemudian terdengar dia berkata.
"Jika hal ini terjadi pada 30 tahun yang lalu sejak tadi engkau telah mati. Tetapi kini aku ingin bertanya padamu mengapa engkau ingin mencari mati?"
Boan ching berdiam sejenak kemudian jawabnya.
"Didunia ini tidak seorang pun ingin mati."
Toan bok Cie-jien tertawa besar dan katanya.
"Kalau begitu bukankah kau mengartikan diriku tak mempunyai hak untuk menjadi gurumu"
Dengan per-lahan2 Boen ching menjawab.
"suhuku adalah Ie Bok Tocu, putri dari Tan coe coon."
Terdengar Toan Bok cie Tien mendengus, katanya .
"Putri Tan coe coen ? Itu juga dari angkatan muda, apakah kau kira kepandaianku tidak dapat melebihi kepandaiannya?"
Boen ching dengan tawar menjawab.
"Kepandaian suhuku kecuali dalam hal ginkang lebih tinggi setingkat dari kau yang lain nya tak dapat melebihi kau. Tetapi sebagai seorang suhu belum tentu harus mempunyai kepandaian yang sangat tinggi."
Mendengar perkataan itu lalu Toan Bok Cie-jien berkata.
"Suhumu dapat mengajarkan seorang murid semacam kau ini sungguh sangat bagus sekali. Engkau ingin belajar seperti suhumu itu bukan? Aku akan mengampuni jiwamu, tetapi kepandaianmu yang telah kau miliki akan kupunahkan biar kau menjadi seorang yang paling baik didunia ini."
Toan Bok Cie-jien tertawa terbahak-bahak. katanya lagi.
"Kiranya yang kau katakan ini adalah perihal orang baik, lalu apa gunanya engkau ingin belajar seperti suhumu itu bukan, aku akan mengampunimu."
Sehabis berkata dia mengangkat tangan kanannya dan berturut-turut menotok jalan darahnya yang penting yang terletak dipunggung Boen ching, kemudian dengan tertawa terbahak-bahak ia jalan meninggalkan tempat itu.
Boen ching hanya merasa pada punggungnya mengalir lima buah aliran panas, saking tak tahannya akan panas itu ia menjadi pingsan-Beberapa lama kemudian, ia juga tidak mengetahui berapa lama ia jatuh pingsan, ketika menjadi sadar kembali nampak dirinya berbaring didalam sebuah gua.
Dia menengok kekanan dan kekiri ternyata terdapat seorang gadis yang sedang berdiri di samping badannya.
Dia merasa gadis itu pernah dikenalnya tetapi untuk sesaat tak dapat mengingatnya kembali.
Terlihat gadis itu sambil tersenyum berkata.
"Boen ching kirinya kau telah sadar kembali"
Boen ching menjadi tertegun, dan terpikir olehnya kiranya gadis itu adalah gadis yang di temuinya ditelaga Thay Ouw dimana ketika itu dia menyamar sebagai seorang pemuda yang gagah dan memakai nama Bwee Giok.
dengan terburu-buru ia berteriak.
"Terima kasih atas pertolongan Bwee Heng"
Bwee Giok mencibirkan mulutnya yang kecil itu, nampak hal ini wajah Boen ching berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.
Terpikir olehnya kini Bwee Giok telah berdandan sebagai wanita, mana dapat memanggilnya dengan Bwee Heng segala?
berpikir sampai disini dengan cepat panggil nya.
"Nona Bwee .."
Kedua alis Bwee Giok dikerutkannya sedang pada bibirnya tersungging senyuman manis ketika mendengar panggilan tadi dan Boen ching yang nampak sikapnya yang demikian rupa itu sungguh sangat menggiurkan, jika dibandingkan kegagahan nya ketika menyamar sebagai seorang laki-laki terdapat perbedaan yang sangat menyolok sekali.
Ketika Bwee Giok nampak Boen ching memperhatikan sambil tersenyum katanya.
"Boen Toako mengapa engkau dipukul orang sehingga luka dalam sedemikian parahnya"
Dan ia melanjutkan ceritanya.
"Kau telah pingsan tiga hari tiga malam"
Tiba-tiba Boen ching teringat akan Toan Bok Cie-jien tanpa menyadarinya ia mengeluarkan suara tertahan, dengan segera ia menarik napas untuk mencoba tenaga dalamnya, terasa
tubuhnya meskipun terluka parah tetapi kepandaiannya ternyata tidak lenyap.
dalam hatinya timbul rasa ragu-ragu.
Sudah tentu ia tak ragu waktu Toan Bok Cie-jien turun tangan untuk melenyapkan kepandaiannya itu.
Ia telah menggunakan cara "Ngo Yang Toan Me"
Atau lima hawa yang memutus tadi.
Tetapi cermin Thien Tuen didalam sakunya adalah suatu barang pusaka yang mengandung hawa Im, ketika hawa Im itu dan yang bertemu dan hawa yang bentrok ini memaksa dia pingsan, tetapi kepandaiannya tidak sampai menjadi lenyap kini dia menjadi tertegun.
Ia masih mengira Toan Bok Cie-jien sengaja telah melepaskan dia.
Bwee Giok nampak Boen cing mengeluarkan suara tertahan, dengan cepat tanyanya.
"Lukamu belum sembuh, janganlah terlalu banyak menggunakan tenaga"
Sambil berkata ia membaringkan kembali tubuh Boen ching keatas tanah. Boen ching yang berbaring diatas tanah dalam hatinya merasa sedikit gugup, kepada Bwee Giok ujarnya.
"Engkau telah merawat aku ketika akujatuh pingsan selama tiga hari tiga malam, entah bagaimana aku harus membalas budi nona ini?"
Sambil tersenyum sahut Bwee Giok.
"Aku juga hanya secara kebetulan melihat kau, kita berdua bukanlah baru berkenalan untuk pertama kalinya, sudahlah seharusnya aku menolong Boen heng, harap Boen heng jangan terlalu memikirkannya, tetapi entah siapakah yang telah membikin luka Boen heng hingga sedemikian parahnya itu??"
"Toan Bok Cie-jien Si setan arak"Jawab Boen ching singkat. Bwee Giok menjadi terkejut, tanyanya.
"Diakah??"
Dia memandang tajam pada Boen ching, setan arak. paras elok. harta dan kedudukan empat iblis sakti ini semuanya telengas dan kejam, Boen ching yang ternyata dapat lolos dari
kematian ditangan Toan Bok Cie-jien bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang sangat mudah.
Tetapi sejak kecil ia dididik dengan sikap yang serius, meskipun dalam hatinya merasa sangat terkejut, tetapi pada wajahnya sambil tersenyum ia berkata.
"Tak aneh lagi kalau seluruh tubuh Boen heng berbau arak"
Boen ching teringat kembali waktu dia diguyur arak oleh Toan Bok Cie-jien, ia menghela napas, setelah termenung sejenak kemudian tanyanya.
"Apakah nona Bwee pernah melihat suhu ku?"
Bwee Giok menggelengkan kepalanya, sahut nya.
"Apakah suhumu juga telah datang kedaerah Tionggoan ???"
Boen ching segera menganggukkan kepalanya, pikirnya.
"Entah suhu mereka bertiga kini berada dimana, jika mereka melihat aku se-konyong2 lenyap tentu hati mereka akan menjadi gelisah dan cemas"
Suasana menjadi agak sepi, setelah beberapa saat Bwee Giok memecahkan suasana yang sunyi itu, tanyanya.
"Ketika berada ditelaga Thay Ouw Boen heng telah pergi tanpa pamit, entah dapatkah Boen hong mengejar sumoaymu itu?? "
Boen ching dengan cepat menjawab.
"Kejadian waktu itu sungguh merasa sangat tak enak dengan nona, sumoayku itu adalah putri kesayangan dari suhuku, ia telah lenyap selama dua puluh tahun lamanya. belum lama ini baru bertemu dengannya, kini dia telah bersama dengan suhuku terima kasih atas perhatian dari nona Bwee". Sambil terseyum ujar Bwee Giok.
"Engkau tak perlu sungkan2, entah kini engkau bersiap hendak HAL 39/40 HILANG dirimu sangat mulia sekali, sangat mirip sekali dengan suhuku Ie Bok Tocu"
Saking berterima kasihnya tanpa terasa dia telah mengeluarkan isi hatinya. Bwee Giok yang mendengar perkataan itu, sambil tersenyum.
"seperti suhumu Ie Bok Tocu??"
Boen ching se-konyong2 merasa pada perkataannya itu ada sesuatu yang kurang beres, sambil tertawa terbahak ujarnya.
"Aku lupa memberitahunya kepadamu, suhuku adalah seorang wanita"
"Kiranya begitu, tak aneH kalau berkata demikian"
Jawab Bwee Giok sambil tersenyum pula.
Sebenarnya dia masih tidak menyetujui kalau Ie Bok Tocu itu adalah seorang perempuan kini mendengar perkataan itu ia baru paham, sungguh tak terkira Ie Bok Tocu yang namanya telah menggetarkan sungai telaga itu ternyata adalah orang wanita yang menyaru sebagai seorang pria.
Tanpa terasa tanya pada Boen ching.
"Engkau suka aku menyaru sebagai pria ataukah memakai pakaian sebagai perempuan?"
Sehabis berkata ia merasa perkataannya itu kelihatannya sedikit agak malu, dia bagaimanapun juga baru untuk kedua kalinya bertemu dengan Boen ching, matanya menjadi berkedip-kedip.
untungnya perhiasan yang dipakainya itu yang memancarkan sinarnya telah menutupi rasa malunya itu.
Boen ching yang mendengar Bwee Giok berkata demikian, hatinya terasa berdebar, dia memandang wajah Bwee Giok.
tampak kedua matanya yang sedang berkedip itu, diam-diam hatinya berpikir.
"Siapa yang dapat meminang gadis semacam Bwee Giok ini sebagai istrinya tentu bahagia."
Berpikir sampai disini ia menjadi ter-mangu2.
Bwee Giok yang nampak beberapa kali Boen ching memandang terpaku padanya, pipinya berubah menjadi merah dadu, dalam hatinya setengah merasa sangat girang bukan main, dan setengahnya lagi merasa heran mengapa Boen ching kelihatannya tak tenteram hatinya, entah dalam hatinya kini sedang memikirkan apa.
Kedua orang itu baru saja bertemu untuk ke dua kalinya, pertama kali bertemu meskipun Boen ching mengetahui kalau dia adalah seorang gadis yang sedang menyamar sebagai seorang pria, juga tak sampai memandang pada dirinya.
Boen ching yang nampak kedua pipi Bwee Giok berubah menjadi merah dadu.
Pikirnya segera berada diawang-awang, perkataan yang diucapkan oleh Bwee Giok menjadi lupa untuk dijawab.
Sekonyong-konyong didepan matanya berubah menjadi gelap.
pikirnya segera menjadi tersadar kembali, tampak Bwee Giok yang dipandangnya sedemikian rupa itu menjadi menundukkan kepalanya, dia mengeluarkan suara tertahan, ujarnya.
"Jika seorang yang cantik seperti kau, baik menyaru sebagai seorang pria maupun berpakaian sebagai seorang perempuan, semuanya bagus dan cantik sekali"
Bwee Giok masih diam tundukkan kepalanya, dia tahu pada saat ini tentu Boen ching masih memandangnya, dengan keadaan yang demikian ini bagaimana sikap nya yang gagah juga tak sanggup untuk mendongakkan kepalanya.
Boen ching yang saking tergoncang hatinya, terusnya.
"Waktu berpakaian sebagai seorang pria sikapmu gagah perkasa, tak ada orang lain yang dapat menandinginya, waktu
berpakaian sebagai seorang perempuan, sangat mempersonakan hati setiap orang yang melihatnya, kau sungguh merupakan seorang gadis yang sangat cantik sekali".
Dalam hatinya ia selalu mengharapkan seorang gadis yang dapat menyerupai suhunya Ie Bok Tocu, meskipun diluarnya Shie Siauw In sangat mirip sekali, tetapi wataknya sangatlah berbeda sedang Bwee Giok sekalipun wajahnya tidak mirip dengan suhunya Ie Bok Tocu tetapi wataknya adalah sangat mirip sekali dengan suhunya.
Boen ching setelah selesai berkata dan nampak Bwee Giok menjadi kemalu-maluan, dengan tersenyum ujarnya.
"Apakah nona Bwee ada urusan sehingga lewat ditempat ini, kalau tidak mengapa bisa sampai didalam gunung oei San ini ?"
Bwee Giok mendongakkan kepalanya, sambil tersenyum sahutnya.
"Aku kebetulan lewat di tempat ini"
Sehabis berkata dia tertawa lagi kemudian lanjutnya.
"Engkau menderita luka juga sangat parah, lebih baik jangan banyak bicara kau beristirahatlah, aku akan keluar melihat-lihat keadaan"
Sehabis berkata dia balikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari gua, Boen ching memandang Bwee Giok berjalan hingga keluar dari gua, setelah kini seorang diri, pikirannya jadi tak karuan melamunkan ber-macam2 hal, dalam otaknya diliputi banyak urusan akhirnya pulaslah dia.
Dua orang itu berturut-turut selama tiga hari tinggal dalam gua itu, luka yang diderita oleh Boen chingpun sudah sembuh sebagian besar..
Hari keempat, dua orang itu meninggaikan gua itu dan mulai melanjutkan perjalanannya menuju markas besar perkumpulan Elang Sakti ditelaga Thay Ouw..Setelah berjalan satu harian penuh dijalan gunung itu, haripun telah menjelang senja, sekonyong-konyong dari kejauhan Boen cing nampak berkelebatnya bayangan orang yang berlari menuju ke arahnya, hatinya menjadi sangat terkejut, dengan terburu-buru ia menarik tangan Bwee Giok untuk diajak bersembunyi dibelakang sebuah pohon.
Bwee Giok yang ditarik tangannya menjadi tertegun, hatinya merasa sangat heran, dengan cepat tanyanya.
"orang itu siapakah, mengapa kau kelihatan nya sangat takut ? ??"
"orang itu adalah Chang Sun Loei"
Jawab Boen ching singkat.
Didalam tiga hari ini, Boen ching telah menceritakan seluruh kejadiannya digunung oei San, dimana ia bertemu dengan tiga iblis sakti.
Kini Bwee Giok begitu mendengar yang datang ternyata adalah Chang Sun Loei, bukan saja merasa sangat terkejut, dalam hatinya pun terasa berdesir, dengan kebiasaan dari Kiem ciang Thiat ci atau si Toya emas berjari baja, Chang Sun Loei, bukan saja Boen ching tidak menyerahkan pedang Ie Bok Kiamnya kepadanya, malah sebaliknya mencuri sebuah barang pusaka nya, mana dia mau terima dan melepaskan begitu saja.
Ternyata Chang Sun Loei tidak nampak dua orang itu, dia berjalan terus melalui persembunyian mereka.
Boen ching dan Bwee Giok baru dapat menghela napas lega setelah tak nampak lagi bayangan dari Chang Sun Loei.
Baru saja Boen ching dan Bwee Giok keluar dari tempat persembunyiannya, terdengar suara dengusan yang berat datang dari belakang tubuh mereka.
Kedua orang itu menjadi sangat terkejut dan ber-sama2 menoleh kebelakang, nampak seorang kakek yang memakai jubah berwarna hitam, wajahnya kurus kering sedang berdiri di belakang mereka sedang memandangnya.
Boen ching menjadi terbangu-mangu, entah siapakah kakek ini pikirnya.
si kakek itu mendengus, dengan dingin tanyanya kepada Boen ching.
"Apakah kau yang bernama Boen ching ?"
Boen ching tak tahu si kakek yang kurus kering ini mengapa dapat mengetahui nama nya, dalam hatinya diam-diam merasa sangat heran tetapi dia tetap menganggukkan kepalanya, dengan termangu-mangu ia mendekati si kakek.
Bwee Giok segera maju kedepan, tanyanya.
"Apakah cianpwee mau memberi tahu siapakah nama cianpwee?"
Si kakek yang kurus kering itu mendengus lalu sahutnya.
"Tiga puluh tahun yang lalur semua orang mengatakan aku bersembunyi karena takut kepada Thian Jan Shu dimana dia telah mendesak aku, padahal sebenarnya aku hanya dipermainkan oleh hwesio tua itu."
Boen ching dan Bwee Giok menjadi terkejut, didengar dari ucapan kakek tua yang kurus kering ini, tentulah kakek ini salah satu dari keempat iblis sakti yang menduduki tempat ke empat yaitu sebagai setan yang gemar akan kedudukan, Tong Kiam Hiet Pit atau si pedang logam pit perak Kong Beng Sang.
Terdengar Kong Beng Sang melanjutkan perkataannya.
"Kini aku dengar kabar katanya didalam dunia kangOuw telah keluar pemuda yang bernama Boen ching sebagai ahli waris dari Thian Jan Shu, benarkah itu ?"
Boen ching tak mau memperlihatkan kelemahannya dihadapan Bwee Giok. dengan tawar ujarnya.
"Sepuluh tahun yang lalu memang benar Thian Jan Shu pernah menghadiah padaku tujuh buah hioloo kuno, tetapi aku bukanlah ahli warisnya, suhuku adalah Ie Bok Tocu"
Kong Beng Sang dengan dingin mendengus, ujarnya.
"Ie Bok Tocu ? Apakah putri dari Tan coe coen waktu itu?"
"Benar, dia adalah putri dari Tan coe coen"
Jawab Poen ching dengan perlahan.
Bwee Giok tahu selamanya Kong Beng Sang tak pernah tunduk dan mengalah terhadap orang lain, atau paling sedikit wajahnya bersikap demikian, kini Boen ching berkata demikian, pastilah Kong Beng Sang tak akan melepaskannya, tanpa terasa hatinya menjadi sedikit merasa cemas.
Kong Beng Sang mendengus, ujarnya.
"Aku dengar orang berkata kepandaian dari Thian Jan Shu dan Tan coe coen jauh lebih tinggi sepuluh kali lipat dari kepandaianku, entah berita itu benar tidak ?"
Boen ching dengan perlahan menjawab.
"Kepandaian dari Thian Jan Shu aku pernah melihatnya, kiranya juga tidak begitu jelek"
Kong Beng Sang dengan gusar mendengus, tangannya dengan seenaknya menyambar kearah Boen ching. sedang pada mulutnyz ia berkata.
"Kepandaianku apakah kau juga pernah melihatnya ?"
Bwee Giok segera menarik tangan Boen ching, kepada Kong Beng Sang teriaknya.
"cianpwee, tahan "
Kong Beng Sang menarik kembali tangannya, kepada Bwee Giok tanyanya.
"Apa yang akan kau bicarakan ?"
Dengan tersenyum sahut Bwee Giok.
"cianpwee harus mengetahui kepandaianmu jika dibandingkan dengan Tan coe coen dan Thian Jan Shu bagaimana ? Kini tujuh buah hioloo kuno telah muncul kembali, jika cianpwee dapat mendapatkan ilmu silat
peninggalan Thian Jan Shu yang tertera pada tujuh buah hioloo kuno itu, tentulah kau akan mengetahui sendiri bagaimana kehebatan dari kepandaian Thian Jan Shu.
Sedang bagaimana dengan kepandaian Tan coe coen, semua orang mengetahui bahwa kepandaian Thian Jan Shu jauh lebih tinggi setingkat dari kepandaian Tan coe coen, jika cianpwee bertanding dengan Tan coe coen bukankah tidak berarti ?
Kong Beng Sang dengan gusar berkata.
"Sudah lama aku mendengarnya? Engkau beritahu kepadaku apakah dengan tujuan agar minta aku tidak menangkap pergi Boen ching ini?"
Sambil berkata ini melancarkan serangan hebat kearah Bwee Giok.
Bwee Giok nampak Kong Bang Sang ternyata memangnya datang untuk mencari urusan, dia menjelaskan sampai lelah pun tak ada gunanya, baju tangan kanannya segera dikebutkan, sedang tubuhnya berkelit ke samping dan menangkis tangan kanan Kong Beng Sang.
Dengan gerakan itu ternyata dia berhasil menghindarkan diri dari serangan itu.
Terdengar Kong Beng sang dengan dingin ujarnya.
"Kiranva adalah murid dari Lam Hay coei Hong, Tie Liok Yun."
Hati Boen ching menjadi tergetar, Lam Hay coei Hong, Tie Liok Yun adalah pendekar wanita yang sangat terkenal dan telah lama mengasingkan diri di luar lautan, sungguh tak disangka Bwee Giok muridnya.
Bwee Giok kundur selangkah ke belakang, ujarnya.
"Kami menghormati kau sebagai cianpwee, kalaa engkau masih saja ingin bergebrak lagi dengan kami bukankah akan menurunkan derajatmu "
Kong Beng sang dengan dingin menjawab.
"Sejak dulu aku berniat akan membuang Boen ching ini keluar perbatasan, kini di tambah dengan engkau, kalian berdua berangkatlah bersama-sama saja."
Boen ching mendengar Kong Beng Sang berkata demikian, sejak dia bertemu dengan Ouw Yang Bu Kie, cheng Sun Loei dan Toan Bok Cie-jien, tiga iblis sakti, telah mengetahui bahwa empat iblis sakti itu tak seorangpun yang mau mengikuti peraturan-bahkan dari kepandaian setiap orang sangatlah tinggi sekali, dia tidak mengingin kan Bwee Giok ikut menderita karena dia, kepada Kong Beng Sang ujarnya.
"Engkau menghadapi aku seorang saja sudah cukup untuk membuat kau menderita."
Kong Beng Sang tak berkata-kata lagi, tubuhnya berkelebat dan mencengkeram punggungnya. Boen ching menolehpun tidak. ia mengeluarkan jurus "Thay Thien Ngo le"
Atau mengobrak-abrik lima gunung, salah satu jurus dari ilmu "Thay Thien Kioe Sih".
Melancarkan serangan dengan membelakangi musuh, ternyata dengan tepat dapat menaklukkan Kong Beng sang.
Kong Beng Sang hanya merasa jurus dari Boen ching ini sangat aneh, ditambah lagi dia tak membuat persiapan, kini terkena kelitan kaki dan tangan Boen ching membuat nya terlempar ketengah udara.
Bwee Giok yang berdiri disamping melihat hal ini menjadi terkejut, ternyata kepandaian dari Boen ching sangat aneh dan hebat.
Kong Beng Sang terlempar sejauh kurang lebih dua kaki oleh serangan Boen ching ini.
Selamanya dia tak pernah menyangka kalau cucu murid dari Tan coe coen sehingga susah diraba setelah berhasil bangun berdiri dengan dinginnya ia berdiri disana.
Ujar Boen-ching dengan dingin pula.
"Apa yang kukatakan Apakah ada salah nya?"
Bwee Giok tahu Boen ching menginginkan dia berjalan lebih dulu, tapi mana dia dapat meninggalkan Boen ching seorang diri, jika Boen ching membuat marah pada Kong Beng Sang,
dengan kekuatan dua orangpun belum tentu dapat mengalahkan Kong Beng Sang.
Tubuh Kong Beng Sang berkelebat lagi, dan menyambar punggung Boen ching.
Boen ching tak menanti sampai ia mengeluarkan tenaga, tangan kanannya balik menusuk kedua mata Kong Beng sang.
Boen ching yang dicekal tangannya balik membalas mencekal tangannya.
Pada saat ini dia telah mendapatkan dua tempat untuk mengerahkan tenaganya.
tubuhnya segera bergerak.
mengerahkan jurus ampuh "Ling coa Thian Siang"
Atau ular cerdik menjungkirkan gajah, sedang tubuhnya tetap berputar.
Kong Beng Sang tak pernah menyangka dalam keadaan yang kritis itu, Boen ching ternyata masih dapat mengeluarkan jurus ampuh semacam itu, dalam keadaan yang terburu-buru itu, ia tak sempat mengerahkan tenaga, tubuhnya terlempar lagi oleh gerakan Boen ching itu.
Tubuh kedua orang itu bersama-sama mencapai tanah, Boen ching begitu melirik.
tampak Bwee Giok masih tetap berdiri disamping situ dalam hatinya menjadi cemas, dengan kepandaian dari Kong Beng Sang, jika bukannya karena dia tadi dia terlalu memandang rendah padanya sudah tentu dia tak mungkin pula dengan mudah dapat membuat dia terlempar sejauh itu.
Jika dia benar2 turun tangan jahat terhadapnya maka tak dapat diragukan lagi dia akan mengalami luka seperti waktu melawan Toan Bok Cie-jien dimana sejurus pun dia tak dapat dihindarinya.
Kong Beng Sang yang tak berhati-hati sehingga sekali lagi terlempar hingga terjungkir balik beberapa kali dengan gusar dia mendengus.
Boen ching tak menunggu sampa Kong Beng Sang bergerak lagi, dia telah membuka mulut ujarnya.
"Beranikah kau turut aku ke suatu tempat untuk bertanding ?"
Selesai ia berkata tubuhnya bergerak dan lari kedepan.
Kong Beng Sang mana mau melepaskan Boen ching begitu saja, dia mengikuti jejak Boen ching dan segera menggerakan tubuhnya mengejar kearahnya.
Bwee Giok juga mengikuti dari belakang tapi dalam hati Boen ching memangnya sudah mempunyai niat untuk meninggalkan Bwee Giok agar dia juga tak terkena tangan jahat dari Kong Beng Sang.
Dengan sekuat tenaga Boen ching lari ke depan tak lama kemudian Bwee Giokpun telah tertinggal jauh sekali dibelakang.
---ooo0w0ooo---EMPAT IBLIS BERTEMU UNTUK PERTAMA KALINYA BOEN cHING terus lari ke depan, Kong Beng Sang menjadi tak dapat menahan sabar, tubuhnya berkelebat menghadang didepanBoen ching sambil tanyanya.
"Sebenarnya kau ingin membawa aku kemana?"
Boen ching menoleh kebelakang memandang tampak Bwee Giok tak ikut datang ketempat itu, diam2 hatinya merasa lega, baru saja akan membuka mulut berkata sebuah bayangan bagaikan angin menyambar datang.
Dengan dingin ujarnya pada Boen ching.
"Akhirnya juga aku dapat mencarimu"
Boen ching begitu nampak orang yang baru datang itu hatinya menjadi sangat terkejut, kira nya yang baru datang itu tak lain adalah si Toya emas berjari baja chan Sun Loei adanya.
Kong Beng Sang dengan tidak tenang mendengus, ujarnya.
"Chang Sun heng sudah tiga pulub tahun kita tak bertemu muka."
Chang Sun Loei nampak Kong Beng Sang juga berada disana dengan tawar dan tertawa kemudian ujarnya.
"Apa kabar Kong beng heng selama ini?
Bocah ini bukan saja telah berhasil melarikan diri dari tanganku bahkan telah mencuri sebuah barang pusakaku, harap Kong Beng heng suka menyerahkan padaku."
Kong Beng Sang nampak Chang Sun Loei se-olah2 tak memandang sebelah matapun kepada nya, dengan dingin sahutnya.
"Boen ching kini berada ditanganku, tunggu saja setelah aku dan dia telah menyelesaikan urusan diantara kami, Chang Sun heng baru dapat menyelesaikan urusan kamu."
Setan arak, paras elok, harta dan kedudukan empat iblis sakti itu masing2 saling merasa tak puas terhadap pihak yang lain, sejak tiga puluh tahun yang lalu hingga sekarang masih tetap demikian saja halnya.
Terdengar Chang Sun Lioe tertawa dingin ujarnya.
"Selama tiga puluh tahun ini kiranya kepandaian dari Kong Beng heng tentu mendapatkan banyak kemajuan-"
Sehabis berkata ia mengeluarkan ilmu saktinya "Hong Lun cie"
Atau ilmu jari roda angin menggores ke arah tubuh Kong beng Sang. Wajah Kong beng Sang sedikitpun tidak menampilkan perasaan apa2, ujarnya dengan nada yang dingin.
"Hong Lun cie dari Chang Sun heng jika dibandingkan tiga puluh tahun yang lalu kiranya kini jauh lebih hebat."
Sambil berkata tangan kirinya digerakkan kesana kemari menyambar kepergelangan tangan Chang Sun Loei.
Chang Sun Loei tak berani menerima dengan keras melawan keras, tangan kirinya sedikit direndahkan, dua jarinya bagaikan angin berkelebat dengan menggunakan jurus2 dari ilmu Hong Lun Sah, cap Lak cie atau tiga puluh enam jurus ilmu jari roda angin yang pernah membuat dia terkenal didalam dunia kangOuw balas menyerang.
Bayangan jarinya berkelebat dengan cepat dan menotok delapan belas jalan darah ditangan kiri Kong Beng sang, sedang pada mulutnya ia berkata.
"Aku kira kepandaianku telah mengalami kemunduran dan ketinggalan jauh daripada Kong Beng heng sehingga tak dipandang sebelah mata pun oleh Kong beng heng."
Chang Sun Loei dalam sekejap mata saja mengubah jurus2nya, ia ingin menggunakan kepandaiannya yang telah membuat dia terkenal untuk mengalahkan Kong beng Sang.
Tapi Kong beng Sang juga bukanlah seorang yang goblok, dia juga mengangkat nama dan terkenal ber-sama2 dengan Chang Sun Loei mana dapat dengan mudah ditaklukkan-Sepasang matanya meskipun masih memandang saja pada Chang Sun Loei, tapi ia juga merasa kalau Chang Sun Loei telah mengeluarkan jurus2 saktinya.
Kepandaian dari empat iblis sakti itu masing-masing mempunyai keistimewaan yang tersendiri, sudah tentu dia tak berani memandang rendah .
Tangan kirinya sedikit bergetar, dua jarinya ditegangkan dengan jari diubah menjadi bentuk pedang, segera mengerahkan jurus2 dari ilmu "Goat Hun cap sah seh"
Atau tiga belas jurus ilmu pencabut nyawa yang telah membuat dia terkenal sebagai si jago pedang logam pit perak. segera mulai mengadakan serangan, sedang pada mulutnya ia berkata.
"Tiga puluh enam jurus ilmu jari roda anginmu itu mana aku berani untuk menerimanya"
Dalam mengeluarkan suara itu, ia telah menghancurkan dan mematahkan serangan yang dilancarkan oleh Chang Sun Loei.
BOEN CHING yang berdiri disamping melihat seluruh pertempuran itu dengan jelasnya, nampak aneh dari jurus-jurus yang dilancarkan oleh dua iblis itu.
Hatinya menjadi sedikit merasa jeri, dari kepandaian dari orang tua itu jika benar-benar turun tangan dan bergebrak, dirinya sudah tentu bukanlah tandingannya.
Chang Sun Loei dengan ilmu jari roda angin nya menyerang dengan gencarnya.
Tetapi ternyata tiap serangan yang ditujukan kepadanya dapat dibendung oleh Kong Beng sang.
Diam-diam dalam hati kecilnya telah membuat perhitungan, selama tiga puluh tahun ini kepandaian dari orang itu ternyata seimbang sekali, sehingga tidak dapat menentukan kepandaian mana yang lebih tinggi.
Dia tertawa kering dan ujarnya dalam hati, Kong Beng sang sudah tentu mempunyai perhitungan yang masak.
Dengan dingin dia menyahut.
"Hanya berpisah selama tiga puluh tahun saja ternyata kepandaian Chang Sun heng mendapat banyak sekali kemajuan-Tetapi aku kira kau masih tetap tidak akan mendapat kemenangan dariku."
Chang Sun Loei tertawa ter-kekeh2 ujarnya.
"Adat dari Kong beng heng masih saja tak dapat dirubah seperti sedia kala, tetapi tadi aku kira terhadap Kong beng heng masih tak sedemikan tololnya."
Boen ching nampak perkataan dua orang itu seperti tidak cocok satu sama lainnya.
Dengan tenang ia berdiri disamping dan dalam hatinya diam2 merasa sangat girang.
Dari kepandaian dari kedua orang itu sukar untuk menentukan tinggi rendah kepandaian masing-masing .
Jlka dapat terjadi sesuatu pertempuran hebat antara mati dan hidup bukanlah diri nya dapat dengan duduk tenang2 saja bagaikan nelayan yang memungut hasilnya itu.
Kong Beng sang dengan muka yang dingin dan sinis berkata.
"Dengan perkataan Chang Sun Loei ini aku Kong Beng sang mau juga memberikan sesuatu"
Jawabnya.
"Engkau bertanya padaku bagaimana caranya aku akan berbuat pada Boen ching ini?"
Kalau begitu aku akan memberitahu padamu bahwa ini hari Boen ching berada disini aku akan melarang untuk tidak mengganggu Boen ching sedikitpun, Chang Sun Heng jika sudah bersiap akan berbuat apa-apa, aku Kong beng Sang akan menyambutnya terlebih dahulu."
Sepasang mata Kong Beng Sang dibelalakkan untuk memandang puncak yang didepan nya dan dengan perlahan dia berkata.
"Gunung oei San ini sungguh merupakan suatu tempat yang sangat baik. bagaimana kalau kita menentukan siapa yang menang dipuncak gunung didepan kita ini?"
Chang Sun Loei mendongakan kepalanya dan memandang puncak gunung itu katanya.
"Sungguh cocok dengan maksudku, tetapi bagaimana dengan Boen ching."
Dengan dingin Kong Beng sang berkata.
"Tak usah Chang Sun heng kuatir tentang dia,"
Sehabis berkata kedua matanya memandang kearah Boen ching.
Padahal dalam hatinya ia juga sedang berpikir dengan cara bagaimanakah hendak mengatur Boen ching ini, Kedua orang itu bergebrak sedikit banyak pada mulanya kelihatan adalah karena urusan Boen ching.
Kemudian dengan tiba2 terpikirlah oleh Boen ching.
"Bukankah tidak mungkin aku dapat meloloskan diri sewaktu engkau berdua sedang bertempur mati-matian diatas gunung?"
Sambil tertawa Boen ching berkata.
"Sungguh dapat beruntung sekali dapat melihat orang-orang yang ternama bertanding, bukankah itu merupakan
suatu keuntungan besar?"
Kemudian ia meneruskan kata-katanya.
"Apakah tak perlu mengangkatku untuk saksi,"
Selesai berkata itu Boen ching berjalan terlebih dahulu dan membawa dua orang itu kepuncak gunung yang berada diseberang.
Chang Sun Loei tahu bahwa Kong Beng sang selamanya belum pernah alpa melatih ilmunya.
Tiga tahun yang lalu kepandaian dua orang itu seimbang sekali dengannya, tiga puluh tahun kemudian ia mengira bahwa Kong Beng sang terlalu mengincar akan kedudukkannya sehingga melukai badannya sendiri.
Sudah tentu tak bisa lebih hebat daripadanya.
Sedang Kong Beng sang mengira karena setiap hari Chang Sun Loei bergelimpangan dengan harta kekayaannya.
sudah tentu dia jarang melatih ilmunya karena ia terlalu sibuk dengan harta bendanya.
sudah tentu ia tidak ragu-ragu lagi terhadap Chang Sun Loei.
Kedua orang itu memikirkan pikirannya sendiri-sendiri sedang matanya memandang dengan tajam kepuncak gunung yang ada dihadapannya.
Chang Sun Loei memandang sekitar tempat itu, kemudian ia tertawa ter-bahak-2 dan katanya.
"Sungguh suatu tempat yang sangat baik."
Sehabis berkata itu tangan kanannya dan sebuah toyaemas sepanjang empat depa telah berada ditangannya.
Kong Beng Sang tertawa dingin, tangan kirinya telah memegang sebuah pedang sedang tangan kanannya memegang sebuah Pit.
Boen ching nampak toyaemas dari Chang Sun Loei itu dan karena panjangnya tidak lebih dari lima depa, disamping itu dikepala toya terdapat sebutir berlian sebesar batu.
Sinarnya memancar dengan terang ke empat penjuru sedang tubuh toya itu lebarnya hanya beberapa coen.
Sinar emas itu berkedip dengan terangnya karena sinar matahari dan sungguh merupakan suatu barang yang sangat berharga.
Sedangkan pedang logam dan Piet perak itu yang dimiliki Kong Beng Sang sangat kecil bentuknya.
Ukuran panjangnya tak sampai tiga depa, ternyata juga merupakan suatu barang yang berharga.
Chang Sun Loei nampak pedang logam dan Piet perak milik Kong Beng Sang telah dihunus keluar dari sarungnya.
Dengan tertawa kecil toyaemas ditangan kanannya diangkatnya dan langsung melancarkan serangan-2 jurus pertama dari ilmu "ciat Liong Hoat"
Atau ilmu toya penakluk naga yaitu satu jurus dari "Kiem chao Llong"
Atau toya emas menaklukkan naga gede.
Toya emas itu ditotokkannya kearah tubuh Kong Beng Sang.
Kong Bang Sang menangkis serangan toya itu dengan pedangnya yang berada ditangan kiri, yang didalam dunia persilatan dinamakan "Seh Huh Kioe Piet,"
Atau dapat dikatakan sembilan pena ganas bagai bintang dari ilmu "Goat Hun cap Sah Seh".
---ooo0w0ooo---Kedua orang itu dimulai dari tegak berdiam hingga bergerak cepat tak keruan tujuan-Dalam sekejap mata saja dipuncak gunung itu penuh dengan kilatan sinar pedang yang sedang beradu disamping
itu juga terdengar bergemerincingnya toya yang beradu dengan senjata Piet .
Ketiga senjata itu beradu menjadi satu sehingga menimbulkan suara hebat.
Jurus-jurus yang hebat dan sakti dikeluarkannya, perubahan-perubahan jurus yang satu kejurus yang lain dilakukan dengan sangat cepatnya.
Boen ching melihat kecepatan permainan pedang itu merasa kagum dan heran karena dia tak dapat mengikutinya.
Dia kagum melihat jurus-jurus yang digunakannya kedua orang itu dan dengan empat matanya ia melihat sampai beberapa jurus saja.
Tetapi bagi Boen ching pertunjukan tempur itu sudahlah cukup.
Ilmu pedang yang digunakan oleh Kong Beng sang telah menggetarkan dunia Kangouw.
Tetapi kegesitannya masih tak dapat menandingi kegesitan Ie Bok Kiam Hoat.
Sedang toya emas dari Chang-sun Loei ternyata juga mempunyai keampuhan yang besar.
Keampuhan itu bagaikau dapat menaklukkan naga dan menghancurkan kepala macan-Satu jari dan satu Pitnya bagaikan hendak membelah bumi saja rasanya.
Sedang Boen ching yang dari tadi memandang jalannya pertempuran memusatkan seluruh pikirannya kejurus-jurus yang dipakai untuk bertempur.
Sebuah bayangan manusia nampak melayang turun dari tengah udara, sebuah tubuh telah jatuh dan ternyata tubuh Chang Sun Loei dan Kong Beng Sang segera tergetar dan terpisah kesamping oleh bayangan yang jatuh dari udara tadi.
Boen ching menjadi tertegun dan memandang ke arah yang sama, ternyata Ouw Yang Bu Kie dengan tenang telah memukul kedua orang itu untuk berhenti bertempur.
Hatinya tanpa terasa timbul rasa jeri.
Chang Sun Loei nampak yang memukulnya ternyata adalah Ouw Yang Bu Kie, dengan tertawa segera berkata.
"Ouw Yang heng, apakah selama tiga puluh tahun itu dalam keadaan baik-baik saja"
Dia tahu bahwa hubungan diantara Ouw Yang Bu Kle jauh lebih erat jika dibandingkan hubungannya dengan Kong Beng Sang.
Kini nampak munculnya Ouw Yang Bu Kie disana, sudah tentu membuat ia menjadi girang.
Sekalipun Ouw Yang Bu Kie tidak membantu kedua belah pihak.
tetapi dalam hati Kong Beng Sang sudah tentu terasa terganggu hingga melemahkan kedudukannya.
Ouw Yang Bu Kie tertawa, dengan tawar dia segera berkata.
"Sungguh tak disangka-sangka kehadiranku di tempat ini dapat bertemu dengan Chang Sun heng dan Kong beng heng."
Kong Beng Sang memandang Ouw Yang Bu Kie dengan tajam dan kemudian ia berkata.
"Ouw Yang heng datang entah ada urusan apakah yang penting?"
Sepasang mata Ouw Yang Bu Kie menyapu dua orang itu, kemudian memandang sekejap kepada Boen ching. Kepada kedua orang itu ia berkata.
"Entah dua orang saudara ini karena urusan apa sehingga berebut dan bergebrak. Mungkinkah ada hubungannya dengan pemuda ini?"
Didalam empat iblis itu Ouw Yang Bu Kie adalah yang paling menggunakan pikiran dan mau berkerja dengan sungguh-sungguh.
Dia baru mau berbicara setelah bertanya dengan jelas atas persoalan tersebut untuk menghindari perebutan dan
pertarungan yang tidak ada gunanya pada dirinya. Dengan tertawa Chang Sun Loei berkata.
"Boen ching ini telah lolos dari tanganku, bahkan telah mencuri sebuah barang pusakaku. Kini aku dapat mencarinya tetapi siapa menduga Kong Beng heng pasti tak mau melepaskan dirinya"
Kong Beng Sang dengan dingin mendengus, dia juga sudah tahu situasi pada hari ini. Tetapi dia tak mau mengerti Chang Sun Loei minta bantuan kepada Ouw Yang Bu Kie.
"ooh...."
Kata Ouw Yang Bu Kie, sedang dalam hatinya diam-diam ia berpikir.
"Kiranya satu bagian juga karena pemuda ini, untung aku tidak ikut serta didalam perbuatan ini"
Ia tertawa terbahak-bahak dan kepada Kong Beng Sang ia berkata.
"Ini hari aku juga kebetulan lewat tempat ini, Kong heng entah ada urusan apa sehingga bentrok dengan Boen ching ini. Bagaimana kalau aku bertindak sebagai penengah?"
Sungguh tak disangka oleh Keng Beng Sang ini hari Ouw Yang Bu Kie dapat bertindak sedemikian adilnya. Pada sinar matanya memancarkan suatu sinar yang curiga dan dengan perlahan ia menyahut.
"Kalian kiranya juga tidak mungkin kalau tidak tahu bahwa Boen ching ini adalah orang yang dikabarkan sebagai ahli waris dari tujuh buah Hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu"
"oooohh........."
Kata Ouw Yang Bu Kie, dia memandang sekejap kepada Boen ching, kemudian dengan tertawa ia melanjutkan kata-katanya.
"Urusan ini aku juga pernah mendengarnya akan tetapi tidak mengetahui kalau Boen ching itu orang ini."
Kong Beng sang dengan dingin dia menjawab.
"Kabarnya tiga puluh tahun yang lalu kita empat orang adalah karena takut dan jeri kepada Thian Jan Shu kemudian baru kami menghindarkan diri, benarkah hal itu betul-betul terjadi pada kalian?"
Ouw Yang Bu Kie mendongakkan kepala dan memandang kelangit, sejenak kemudian seraya tertawa ia menyahut.
"Satu bagian mungkin adalah benar, tetapi sebagian lagi aku kira belum tentu benar."
Dalam hati Kong Beng Sang merasa girang karena sungguh tak disangka-sangka Ouw Yang Bu Kie ternyata menyetujuinya dan ujarnya.
"Perkataan Ouw Yang Bu Kie memang benar, aku juga bukannya karena jeri terhadap Thian Jan Shu dan kepandaian Thian Jan Shu meskipun sangat tinggi dan lebih hebat dariku, tetapi aku belum pernah bertanding dengannya, darima na aku dapat jeri padanya."
Sehabis berkata matanya dikedipkannya ke arah Chang Sun Loei. Bagaikan mengatakan Chang Sun Loei toh yang karena jeri terhadap Thian Jan Shu baru mengundurkau diri. Kemudian lanjutnya.
"Saudara, aku adalah karena suatu urusan pripadi baru mengundurkan diri, Kalau tidak sepuluh tahun yang lalu waktu Thian Jan Shu masih hidup aku sudah dapat keluar dari gunung"
Chang Sun Loei mendengus, agaknya ia tak puas terhadap sikap dari Ouw Yang Bu Kie itu.
Ouw Yang Bu Kie juga bukanlah orang yang bodoh, sudah tentu dia juga merasakannya.
Dia juga tak mau menyalahi Chang Sun Loei dan dengan tertawa ia berkata.
"Kong Beng heng memang benar, kiranya kita empat orang semuanya mempunyai urusan pribadi sendiri-sendiri. Kalau tidak juga tak mungkin tujuh tahun sesudah kematian Thian
shu kita berempat baru terjun kedunia Kangouw lagi"
Sambil berkata ia memutarkan tubuhnya menghadap kedepan Chang Sun Loei dan berkata pula.
"Chang Sun heng kiranya benarkah ucapanku ini ?"
Chang Sun Loei memang sebenarnya ingin menarik Ouw Yang Bu Kie kepihaknya , kini nampak hal ini dia menganggukkan kepala nya kepadanya.
Meskipun dalam hatinya ia sedikit tidak puas akan sikap Ouw Yang Bu Kie.
Tetapi pada wajahnya mau tidak mau terpaksa ia harus menunjukkan wajah yang berseri dan katanya.
"Benar"
Ouw Yang Bu Kie bertanya lagi pada Kong Beng Sang.
"Kong Beng heng apakah kau juga karena pemuda ini?"
Kong Beng Sang matanya memandang pada Ouw Yang Bu Kie dan menyahut.
"Aku sejak dulu sudah bersumpah akan melemparkan dia ke lautan atau ketengah gurun yang luas."
Ouw Yang Bu Kie memandang sekejap kepada Boen ching dengan per-lahan2 ia berkata.
"Aku kira dua saudara ini siapapun tidak akan mau mengalah. Aku sebagai penengah juga yang berhak memberi hukuman kepada Boen ching."
Chang Sun Loei dan Kong Beng Sang hanya tertawa.
Ouw Yang Bu Kie ketika mendengar perkataan kedua orang itu ternyata memandang dia demikian ringan dan urusan itu bukanlah demikian sukarnya.
Lagi kedua orang itu hal ini sebenarnya Ouw Yang Bu Kie ketika itu juga tak perlu turun tangan-Asal dalam perkataan ia dapat mengatasi seorang bukanlah ia dapat dengan tanpa syarat membuat salah satu diantara mereka itu untuk mengundurkan diri.
Tetapi dua orang itu mendengar perkataan Ouw yang Bu Kie ini juga sedikit merasa puas.
Kedua belah pihak merasa lega hatinya karena tidak sampai Ouw Yang Bu Kie ikut campur tangan dan membantu salah satu pihak.
Chang Sun Loei dengan tertawa berkata.
"Demikian pun baik."
Sehabis berkata ia mengangkat toyanya dan kembali menyerang tubuh Kong Bang Sang dengan gesitnya.
Meskipun dia dengan sambil tertawa akan tetapi dengan sikap Ouw Yang Bu Kie ini, ia sangat tidak puas.
Semula ia mengira Ouw Yang Bu Kie tentu akan memberi bantuan kepadanya akan tetapi kiranya dugaannya itu meleset dan ia tidak mendapatkan bantuan apa-apa.
Sebaliknya malah hati Kong Beng Sang agak lega dan dengan dingin ia mendengus..Pedang ditangan kiri dan Piet ditangan kanannya saling membantu melancarkan serangan tiba-tiba itu.
Sehingga terjadilah suatu pertempuran yang amat seru.
Dalam hati Boen ching pun merasa sangat heran mengapa Ouw yang Bu Kie dapat berbuat demikian dan datang kemari sudah tentu sudah tak mungkin kalau tak ada tujuan apa-apa.
Bahkan dia berbuat demikian terhadap kedua orang itu tentu ia tidak mempunyai tujuan baik, sebaliknya malah menguntungkan dirinya sendiri.
Dia menoleh memandang kearah Ouw Yang Bu Kie.
Tampak dia terhadap Boen ching seolah-olah tidak pernah melihatnya, matanya hanya ditujukan ketengah kalangan dimana terdapat debu yang mengepul di antara Chang Sun Loei dan Kong Beng Sang yang sedang melakukan pertempuran besar-besaran yang sangat sengit dan
mendebarkan hati itu.
Tampak pertempuran diantara Chang Sun Loei dan Kong Beng Sang makin sengit dan seru.
Tiba-tiba ketika toya emas dari Chang Sun Loei menyabet tubuh Kong Beng Sang, di tangkis nya dengan Piet peraknya.
Karena kerasnya toya emas dan piet perak itu beradu, menimbulkan suara yang sangat keras dan cipratan-cipratan bunga api.
Sedang didalam hati kedua orang itu mempunyai satu tujuan yang sama yaitu untuk melekatkan senjata dari pihak lawan, jari baja dan tangan itu saling balas membalas menyerang sebanyak sepuluh jurus, kedua belah pihak saling berusaha memecahkan perhatian dan jurus-jurus dari pihak lawannya disamping mengada tenaga dalamnya.
Boen ching dengan termangu-mangu dan heran memandang dua orang itu.
Tampak wajah dua orang itu menjadi serius dan penuh dengan keringat.
Kata Kong Beng Sang melotot keluar dengan gusarnya, sedang mata Chang Sun Loei jadi sayu.
Toya emas dan Plet perak itu terus beradu dan bergetar tiada henti-hentinya sehingga menimbulkan suara bergemerincing yang keras.
Tiba-tiba Ouw Yang Bu Kie tertawa panjang, tubuhnya bergerak maju kedepan dan sebuah sinar emas berkelebat.
Tahu-tahu kedua orang yang sedang bertempur itu jatuh karena jalan darahnya ditotok oleh Ouw Yang Bu Kie.
sedang Boen ching merasa tertegun Ouw Yang Bu Kie telah mengempit tubuhnya dibawah ketiaknya dan berlari turun dari gunung.
Boen ching yang dikempit oleh Ouw Yang Bu Kie hanya merasa kempitan itu dengan tepat telah mencekal urat nadinya sehingga seluruh tubuhnya menjadi kaku.
Sedikitpun ia tidak dapat bergerak entah Ouw Yang Bu Kie telah siap akan berbuat jahat apa terhadap dirinya.
Ouw Yang Bu Kie yang mengepit tubuh Boen ching dibawah ketiaknya berturut-turut telah melalui tiga buah puncak gunung dan beberapa jurang yang dalam.
Setelah sampai kepuncak gunung yang ketiga itu ia baru melepaskan tubuh Boen ching keatas tanah, sedang ia berdiri diatas sebuah batu hijau yang besar disamping sebuah pohon raksasa yang lebat daunnya.
Boen ching tidak tahu apa maksud tujuan dari Ouw Yang Bu Kie dengan perbuatan itu, sehingga membuatnya untuk sesaat tidak tahu bagaimana harus menghadapi hal yang sedemikian tersebut.
Ouw Yang Bu Kie memandang Boen ching dari ujung kepala hingga keujung kaki, tiba2 sekali sambar ia telah mencengkeramnya.
Baru saja Boen ching akan berkelit kesamping sudah ada gerakan lain dari Ouw Yang Bu Kie yang sangat cepat.
Bajunya telah dicengkeram dan robek oleh serangannya itu dan ia mencengkeram keluar cermin "Thian Tuen"
Disembunyikan didadanya itu =========================== HAL 27/28 HILANG =========================== Nampak munculnya Toa bok cie Jien membuatnya sangat takut dan terkejut.
Toan bok cie Jien berjalan mendekati kedua orang itu dan ia memandang tajam terhadap Boen ching.
Dengan sinar matanya yang penuh rasa heran dan terkejut ia berkata.
"Sungguh tak disangka sekalipun aku telah menggunakan ilmu "Ngo Yang Toan Meh"
Ternyata tetap tak sampai dapat melenyapkan semua kepandaian yang kau miliki."
Ouw Yang Bu Kie begitu Toan Bok cie Jien merasa heran dan menjadikan Boen ching sebagai penghalang dari rasa ganjalan terhadapnya.
Ia memandang sekejap kepada Boen ching dan baru bertanya kepada Toan bok cie Jien.
"Toan bok cie Jien selama kita berpisah tiga puluh tahun lamanya itu apakah baik2 saja?"
Baca Juga: Medali Wasiat 4
Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 6