Ceritasilat Novel Online

Sarang Perjudian 2

Eps 2 Sarang Perjudian - Gu Long

Baca online Sarang Perjudian - Gu Long

Cersil Sarang Perjudian - Gu Long.

Bila orang piauwkiok betul-betul bisa menjelajahi kolong langit tanpa menghadapi problem dan masalah, bila dunia sungguh aman dan sentausa, bukan mengawal barang namanya tapi suatu kemukjijatan.

Bila kita perhatikan congpiauwtau mereka yang berjalan paling belakang, maka kau akan semakin merasa bahwa keempat buah tulisan itu kelewat takabur dan menggelikan.

Congpiautau itu berusia tiga-empatpuluh tahunan, bobot tubuhnya seratus tiga-empatpuluh kati, tidak menunggang kuda, tidak naik kereta, bahkan tandu pun tidak, dia duduk di sebuah kursi kebesaran thay-su-i dengan ukuran dobel yang dipikul delapan orang lelaki kekar, lelaki-lelaki berotot.

Dia mengenakan jubah panjang bordiran berwarna merah darah, di bagian dada serta punggungnya tersulam empat huruf besar berwarna kuning emas.

Sulaman di depan bertuliskan.

Cukat Thay-peng Di bagian belakang bertuliskan.

Thun-heThaypeng "Jadi orang ini adalah toa-tauke dan congpiautau dari perusahan ekspedisi Thay-peng piaukiok, Cukat Thay-peng?"

"Benar." 'Selama limabelas tahun mengawal barang, benar-benar tak pernah terjadi pembegalan barang satu kak pun?"

"Jangan lagi satu kali, setengah kak pun tak pernah."

Kwanji segera menghela napas panjang.

"Aaai.... terus terang, tidak kulihat kepandaian macam apa yang dia miliki, malah kadangkala aku jadi bingung sendiri, sebetulnya aku sedang berhadapan dengan seorang manusia atau seekor babi."

"Tentu saja dia manusia, malah seorang manusia dengan rejeki yang luar biasa bagusnya,"

Ujar Pok Ing.

"dia pun tidak memiliki kepandaian yang hebat atau luar biasa, hanya kebetulan bapaknya adalah Cukat Eng-kiat yang paling dihormati dan disegani dalam perusahaan piaukiok, ayah mertuanya pun kebetulan adalah Tu Toan yang berkemampuan paling hebat di kalangan hek-to. Dan kebetulan pula mereka berdua tewas lantaran membela teman-temannya."

"Orang persilatan selalu membedakan dengan jelas mana budi mana dendam, maka hutang budi ini pun semua orang mencatat di atas rekening milik si gemuk."

"Kelihatannya begitulah kejadian yang sebenarnya."

Kwan Ji mencongkel keluar sebiji mata serigala dan dihisapnya dalam mulut, persis seperti seorang bocah yang sedang menghisap gula-gula, lewat lama kemudian ia baru berkata.

"Aku rasa, setiap persoalan pasti ada pengecualiannya."

"Oya?"

"Bahkan Liok Siau-hong dan Coh Liu-hiang yang begitu kosen dan perkasa di masa lampau pun pernah gagal, apalagi Cukat Thay-peng."

Dengan menggunakan sepasang mata malingnya dia tatap wajah Pok Ing lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah berkata.

"Aku punya firasat, kali ini barang kawalannya tak bakal selamat tiba di tempat tujuan, kau berani bertaruh denganku?"

Pok Ing menghela napas panjang.

"Ooh,_____rupanya tujuanmu menguntitku terus karena ingin bertaruh denganku?"

"Tentu saja,"

Jawab Kwan Ji.

"hati kaum pecundang selalu hitam, siapa sih yang tak ingin mendapatkan kembali modalnya yang habis dalam taruhan?"

"Ehmmm, cengh juga ucapanmu!"

"Kau berani bertaruh?"

"Mana ada petaruh yang tak mau bertaruh? Memangnya kau pernah melihat ada pelacur yang tak mau menerima tamu?"

Kwan Ji tertawa tergelak.

"Apa yang akan kau pertaruhkan?"

Tanya Pok Ing.

"Kau punya apa, aku pun akan pertaruhkan apa."

"Terlepas apa pun yang akan dipertaruhkan, gigi serigala ini pasti termasuk di antaranya,"

Kata Pok Ing kembali tertawa.

"Tentu saja begitu."

Mendadak Pok Ing melompat bangun, dengan sepasang mata malingnya yang tajam ia balas menatap Kwanji, lewat lama kemudian ia baru berkata, sepatah demi sepatah.

"Dengarkan baik-baik, dengarkan dengan penuh perhatian, kau harus mendengarkan setiap kata dengan jelas."

"Jangan kuatir, telingaku belum penyakitan."

"Kau bilang akan bertaruh denganku, bertaruh kalau barang kawalan dari Cukat Thay-peng tak akan tiba di tempat tujuan, benar begitu?"

"Benar."

"Kalau itu yang mau dipertaruhkan, aku tak mau ikut."

"Kenapa?"

"Sebab aku pun berpendapat demikian,"

Sahut Pok Ing.

"oleh sebab itu aku pun akan mengajakmu bertaruh, barang kawalan Cukat Thay-peng pasti akan sampai di tempat tujuan, kau berani bertaruh?"

"Aku akan bertaruh,"

Jawab Kwanji tanpa berpikir panjang. 'Teduh apa pun yang akan dipertaruhkan, kau tetap akan bertaruh denganku?"

"Benar."

"Bagaimanapun toh kak ini kau harus bertaruh denganku?"

"Tepat sekali."

Rumah kecil, ranjang besar, cawan teh, makanan kecil, aneka masakan, manisan, kueh, buahbuahan, air teh, arak.

Kwan Ji, Thio Ngo, Thio Pat.

Thio Ngo dan Thio Pat yang masih seperti sedia kala, kelihatan persis seperti dua biji buah pepaya.

"Aku tidak mengerti,"

Ujar Thio Pat.

"waktu itu kenapa Pok Ing malah berbalik menantangmu bertaruh?"

"Karena dia menganggap aku kelewat yakin untuk menang,"

Sahut Kwan Ji.

"lagipula untuk membegal barang kawalan Cukat Thay-peng, kelihatannya jauh lebih gampang ketimbang harus mengawal barang kawalannya."

"Jadi Pok Ing akan turun tangan sendiri untuk membegal barang kawalan itu?"

"Tentu saja tidak, bandar judi selamanya tak pernah menganggu para petaruhnya untuk berusaha meraih kemenangan, Pok Ing tak bakal melanggar aturan tersebut."

"Ya, aku rasa dia memang tak akan berbuat begitu."

"Cuma saja, pekerjaaan semacam ini biasanya selalu ada orang lain yang akan melakukannya untuk dia bahkan orang itu sudah pasti seorang ahli."

"Waktu yang tersisa sudah tak banyak, mana mungkin dia bisa menemukan seorang ahli membegal barang kawalan di seputar sana?"

"Paling tidak ia dapat menemukan satu orang."

Dua bersaudara Thio saling bertukar pandangan sekejap, perasaan heran memancar di wajah mereka, seakan mereka berdua sudah teringat siapakah orang itu.

Maka mereka pun terpaksa bertanya-"Dapatkah kami menemukan orang untuk menghadapinya?"

"Paling tidak kami pun dapat menemukan seseorang."

"Siapa?"

Kwan Ji tidak langsung menjawab pertanyaan itu, hanya ujarnya hambar "Pasti ada orang semacam itu. Sampai waktunya kalian dapat melihatnya sendiri."

Tentu saja dua bersaudara Thio tak berani bertanya lagi, namun tak urung katanya juga.

"Bila masih ada orang berani mengusik barang kawalan itu, orang tersebut pastilah bukan manusia sembarangan, bila sampai orang lain berhasil merampok barang kawalan itu, bukankah kami tetap akan kalah?"

"Tentu saja orang semacam itu pun pasti ada yang menghadapi."

"Siapa?"

"Kau sangka aku ini siapa? Memangnya Kwanji dan Kwan-say adalah orang mampus?"

"Ringan bagai walet Oh Kim-siu, ganas bagai harimau Kwan Giok-bun."

Tentu saja Kwan Giok-bun bukan orang mampus.

Oh Kim-siu pun bukan.

Bab Wanita Cantik bak Bidadari Ujung baju itu longgar, lembut, ringan dan indah, sulaman yang menghiasi tepi baju pun terbuat dari benang emas dan bersulamkan sekuntum bunga botan, hasil sulaman seorang seniman kenamaan.

Dari balik baju terlihat sepasang tangan yang putih, lentik dan indah, tangan dengan sepuluh jari yang ramping dan putih bagaikan batu kemala.

Tangan itu sedang memetik tak senar khiem, sebuah khiem antik yang berbentuk indah dengan irama musik yang merdu.

Khiem itu terletak di atas meja, meja itu berada di tengah gardu, gardu segi enam dengan pilar yang indah dan berlatar belakang tanah perbukitan yang hijau.

Di tanah perbukitan itu tumbuh aneka ragam bebungaan, pemandangan yang sangat indah bagaikan sebuah lukisan.

Orang yang berada dalam gardu pun bagai orang dalam lukisan, bidadari dalam lukisan, membuat orang tak berani memandangnya lebih lama.

Saat itu ada seseorang sedang memandangnya, menatapnya lekat-lekat, bagaikan sebuah paku yang dipantekkan di atas batu cadas, sama sekali tak bisa digoyangkan, sama sekali tak tercabut.

Pok Ing sedang mengawasinya, sedang ia pun sedang mengawasi dua orang yang lain.

Irama khiem amat merdu, dua orang itu dengan diiringi irama khiem berjalan naik dan bawah bukit, pakaian yang mereka kenakan perlente dan mahal harganya, gerak-gerik mereka pun anggun, ketika menjumpai perempuan cantik yang sedang memetik khiem dalam gardu, wajah mereka segera menunjukkan perasaan girang.

Mereka berjalan menuju ke gardu, dengan suara lirih berbicara beberapa patah kata, tidak jelas apa yang dibicarakan tapi kemudian dengan perasaan tenang dan damai mengundurkan diri dan situ.

Menyusul kemudian datang lagi dua orang, keadaan mereka pun tak beda jauh dari dua orang yang pertama.

Tidak sampai dua peminuman teh, sudah ada empat rombongan manusia yang datang ke situ, tapi semuanya mengundurkan diri lagi secara tenang dan damai setelah berbisik-bisik.

Isi pembicaraan tak diketahui siapa pun kecuali yang bersangkutan.

Sekalipun sikap mereka lembut, tenang dan penuh kedamaian, namun mendatangkan kesan agak misterius.

Siapakah rombongan manusia itu?

Mau apa datang ke situ?

Siapa pula wanita cantik berenda emas itu?

Apakah di antara mereka sedang dilangsungkan sebuah transaksi rahasia?

Ternyata kak ini Pok Ing tidak menunjukkan perasaan ingin tahunya, dia hanya menonton dari samping tanpa mengganggu maupun menggubris.

Menanti keempat rombongan manusia itu sudah berlalu, ketika irama musik telah berhenti, dan belakang bukit segera muncul sebuah tandu yang diiringi seorang nona berbaju hijau yang gemar tertawa, dengan cepat nona itu membimbing si wanita cantik itu naik ke tandu, sikapnya seolah sama sekali tak pernah melihat kehadiran Pok Ing di tempat tersebut.

Tak lama kemudian tandu itu sudah digotong menuju ke belakang bukit, ternyata Pok Ing ikut menguntit dari belakang.

Di balik pepohonan di belakang bukit terdapat sebuah bangunan beratap merah, jalanan beralaskan batu hijau, setelah melalui sebuah pintu berbentuk rembulan, menelusuri bebungaan, terbentanglah sebuah jalan setapak Ujung jalan setapak itu merupakan sudut bangunan sebuah loteng kecil Tandu itu langsung digotong melalui jalan setapak dan berhenti di depan bangunan loteng.

Ternyata Pok Ing masih mengikuti di belakangnya.

Orang yang menggotong tandu, orang yang mengiringi tandu bahkan orang yang berada dalam tandu pun tak ada yang menengok ke arahnya, seakan mereka tidak melihat akan kehadirannya.

Seakan di kolong langit sama sekali tak ada manusia semacam itu.

Orang yang berada dalam tandu telah turun dari tandunya, sambil berpegangan pada bahu si nona yang gemar tertawa berjalan masuk ke bangunan kecil dan naik ke atas loteng.

Ternyata Pok Ing masih mengikuti di belakang mereka.

Aksesori dan interior dalam bangunan loteng itu sangat indah dan rapi, jelas kamar tidur seorang gadis, atau dengan perkataan lain tempat terlarang bagi kaum pria.

Ternyata Pok Ing masih mengikuti di belakang mereka, memasuki kamar tersebut.

Setibanya dalam ruangan, nona yang gemar tertawa itu pergi menimba air, menuang air teh dan menyiapkan makanan kecil, sementara gadis cantik berenda emas itu dengan santainya mencuci muka, minum teh, melepaskan sepatu, melepaskan kaus kaki dan memperlihatkan sepasang kakinya yang putih mulus.

Padahal kesemuanya itu merupakan rahasia paling pribadi seorang wanita, rahasia yang tak nanti boleh diketahui apalagi dilihat kaum pria.

Apa mau dikata Pok Ing justru berada di situ dan menyaksikan semuanya.

Sebaliknya perempuan-perempuan itu justru seakan tidak melihat kehadiran Pok Ing di situ.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Apakah Pok Ing telah berubah jadi manusia tanpa wujud?

Manusia tanpa wujud itu akhirnya buka suara, tiba-tiba saja dia bertanya kepada wanita cantik berenda emas itu.

"Bersediakah kau membantuku?"

Bila perkataan yang dia ucapkan pun tak terdengar oleh wanita itu, lalu apa daya?

Terima kasih langit, terima kasih bumi, ternyata perkataan yang diucapkan manusia tanpa wujud itu terdengar juga oleh orang lain, maka perempuan cantik berenda emas itu pun segera balik bertanya.

"Kau menginginkan bantuanku? Bantuan apa?"

"Dapatkah kau mencari seorang guru kenamaan agar bisa melatihmu bermain khiem?"

Ujar Pok Ing.

"terus terang, permainan khiem-mu seperti...."

Ia tidak melanjutkan perkataannya, sebab sepasang mata gadis itu sudah melotot besar.

"Kenapa aku harus berlatih main khiem? Apa gunanya aku berlatih main khiem hingga berirama bagus? Dimainkan untuk si botak macam kau?"

Pok Ing tertawa, perempuan itu pun tertawa, ternyata mereka berdua memang sudah kenal lama.

Bukan cuma kenal bahkan sangat mengenalnya, perempuan itu sudah beranggapan, apa pun yang ingin dia lakukan, tidak menjadi masalah bila terlihat oleh Pok Ing.

Kecuali Pok Ing, tentu saja sangat berbeda untuk lelaki lain.

Jika ada lelaki lain yang berani sembarangan melirik ke arahnya, bisa jadi setiap saat biji matanya bisa dicongkel keluar.

Memang perempuan macam itulah Oh Toa-siocia.

Tapi apa tujuannya dia bermain khiem di tengah gardu tadi?

Benarkah antara dia dengan orang-orang itu terjalin sebuah hubungan transaksi rahasia?

Bab Rencana Rahasia Toa-siocia Oh Toa-siocia amat pandai minum, semakin banyak yang diminum, sepasang matanya semakin berkilat, dia pun kelihatan makin sadar, agar orang selamanya tak pernah bisa menebak berapa usianya sekarang.

Pok Ing hanya ingat, mereka sudah hampir duabelas tahun berkenalan.

"Hari ini aku telah melakukan enam buah transaksi dengan keempat rombongan manusia itu, empat transaksi di antaranya ada hubungannya dengan seseorang."

Toa siocia pun bertanya kepada Pok Ing.

"coba tebak, siapakah orang itu."

"Cukat Thay-peng!"

Jawab Pok Ing tanpa berpikir.

"Betul, patut diberi hadiah."

Toa-siocia segera turun tangan sendiri memenuhi cawan araknya dan menyaksikan Pok Ing meneguk habis isinya, kemudian ia menyuapi pula dengan sekerat daging ayam.

"Kalau dibicarakan memang sungguh aneh, Cukat Thay-peng memang seorang manusia aneh, segala tindak tanduknya seakan sangat menarik perhatian orang, sampai dia sedang kentut pun ada orang yang mempertaruhkan kentutnya bau atau tidak."

Toa siocia penuhi juga cawannya dengan arak kemudian sekali teguk menghabiskan isinya, setelah menghabiskan satu cawan lagi ia baru melanjutkan.

"keempat rombongan orang yang datang hari ini hampir semuanya mempertaruhkan Cukat Thay-peng, mempertaruhkan dia tinggal di mana, mempertaruhkan malam ini akan mencari perempuan atau tidak, mempertaruhkan dia akan menghabiskan berapa kati daging, mempertaruhkan apakah dia mandi atau tidak......."

"Adakah yang mempertaruhkan dia berhasil menghantar barang kawalannya kak ini dengan selamat atau tidak?"

Tiba-tiba Pok Ing bertanya.

"Tidak ada,"

Sahut Toa siocia.

"ini pun kejadian aneh, seolah semua orang berpendapat asal barang yang dikawal olehnya, sudah pasti bisa tiba di tempat tujuan dengan selamat."

"Kali ini belum tentu berhasil,"

Jengek Pok Ing sambil tertawa dingin.

"Belum tentu?"

Toa-siocia kelihatan terperangah.

"apakah kau sudah tahu kalau Jiu-to-jin-lay (Tangan Datang Barang Dicomot) Ting It-coa dan Tham-nang-ki-oh (Merogoh Saku Mengambil Barang) Kongsun Gi-dua orang perampok ulung yang belum pernah gagal bila merampok barang kawalan bermaksud mengganggu barang kawalannya kak ini?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Pok Ing hambar.

"sekalipun tahu juga tak ada gunanya, toh mereka tetap tak sanggup mengusik barang kawalan dari Cukat Thay-peng."

"Lantas apa yang kau ketahui?"

"Aku hanya tahu kalau ada orang lain yang kali ini pasti akan merampok barang kawalannya."

"Berarti orang ini jauh lebih garang ketimbang Ting It-coa?"

"Jauh lebih garang."

"Lebih mirip setan ketimbang Kongsun Gi?"

"Sepuluh kak lipat lebih setan."

Sorot mata Toa-siocia seketika ikut berbinar, bahkan jauh lebih indah dan tajam, rasa ingin tahunya seketika sudah dibangkitkan.

"Sebenarnya siapakah orang itu?"

"Kau!"

"Aku?"

Toa-siocia seolah amat terperanjat.

"orang yang kau maksud sangat garang dan jauh lebih mirip setan itu adalah aku?"

"Betul."

"Aku akan merampok barang kawalan Cukat Thay-peng?"

"Betul."

Toa-siocia meneguk habis arak dalam cawannya, kemudian meneguk secawan lagi, tambah secawan lagi dan secawan lagi, tiba-tiba ia mulai tertawa, tertawa tiada hentinya, tertawa melengking bagai bunyi keleningan di tengah hembusan angin.

"Coba bayangkan, kejadian ini pasti sangat menarik."

"Tentu saja sangat menarik,"

Sorot mata Pok Ing pun mulai memancarkan senyuman.

"pada hakekatnya menarik sekali."

Kalau tidak menarik, tak nanti Pok Ing akan minta Toa-siocia untuk melakukannya dan Toasiocia pun belum tentu mau melakukannya.

Tapi bila kejadian itu adalah sesuatu yang menarik, biar kau larang pun dia tetap akan melakukannya.

Bab Melalap Dunia, Pertempuran Brutal Delapan Penjuru Setiap orang berhak untuk melakukan pekerjaan yang dia anggap menarik, makan, tak disangkal merupakan salah satu hal yang menarik bagi Cukat Thay-peng.

Sekarang dia sedang makan.

Meja makannya terdiri dan enam buah meja yang dipersatukan, di atasnya dilapisi selembar kain taplak meja berwarna kuning yang masih baru dan tentu saja amat bersih.

Di atas meja itu pun sudah tersedia lebih kurang empat sampai limapuluh macam aneka hidangan masakan dan kuak, ada hidangan yang dikenal kebanyakan orang, juga diketahui terbuat dari bahan apa saja, di antaranya tentu saja termasuk aneka hidangan ayam, itik, ikan, daging dan masakan laut.

Tapi ada pula hidangan yang bukan saja tak dikenal orang lain, bahkan melihatnya pun belum pernah.

Cukat Thay-peng duduk di sebuah kursi kebesaran yang dibuat khusus, paling tidak dua kaki lebih tinggi dari kursi biasa.

Dengan duduk di bangku yang tinggi, ia baru merasa nyaman karena dapat melihat ke bawah dengan lebih jelas, bila dapat melihat dengan lebih jelas maka dia pun bisa bersantap lebih gembira.

Sekarang dia sedang bersantap dalam suasana kurang gembira, bahkan terlihat agak murung dan masgul.

Apakah hidangan sebanyak itu masih belum cukup membuat seleranya bangkit dan melalapnya dengan mantap?

Di luar pintu merupakan sebuah halaman yang sangat lebar dan luas, tiba-tiba dari balik halaman berkumandang suara gelak tertawa yang amat keras, begitu keras hingga menggetarkan atap dan dinding rumah "Bila minum sendirian tanpa lawan, tentu saja suasana kurang bergairah, bila rnakan sendirian tanpa lawan, sama saja, suasana pun kurang bergairah,"

Gelak tertawa Kwan Ji kedengaran sangat nyaring.

"bukan begitu Cukai sianseng?"

Betul tentu saja betul! Cukat Thay-peng segera merasa semangatnya bangkit kembali, dengan wajah berseri serunya lantang.

"Siapa di luar? Cepat masuk!"

Belum selesai dia berteriak, Kwanji sudah masuk, masuk dengan sangat cepat.

Dengan mata yang sipit Cukat Thay-peng mengawasi sekejap orang yang kurus kering bak kulit pembungkus tulang itu, memandangnya dari atas hingga ke bawah, dari ujung rambut hingga telapak kaki.

"Kau sanggup makan banyak? Kau sanggup melawanku bersantap?"

"Dewasa ini, paling banter hanya ada dua sampai tiga orang manusia yang mampu makan berhadapan denganmu,"

Kata Kwan Ji tenang.

"Tong toa-koanjin dari keluarga Tong di Suchuan mungkin terhitung salah satu di antaranya bukan?"

"Betul!"

Menyinggung soal Tong Toa-koan, semangat Cukat Thay-peng semakin berkobar.

"Waktu itu aku makan bersamanya hingga dua hari dua malam, betul-betul puas bersantap dengannya, membuatku tak bisa melupakannya sepanjang hidup,"

Dia pun bertanya kepada Kwan Ji.

"tapi siapakah orang kedua yang mampu makan bersamaku? Memangnya kau?"

"Betul, memang aku."

Sekali lagi Cukat Thay-peng mengawasinya dari atas hingga ke bawah, sorot matanya yang semula sipit tiba-tiba bersinar tajam, persis seperti mimik muka Yap Koh-seng ketika siap bertarung melawan Sebun Jui-soat tempo hari.

"Memangnya kau adalah Kwan Ji, Kwan Giok-bun dan Kwan-say?"

"Itulah aku!"

"Konon setiap saat kau bisa makan, selamanya tak pernah kenyang, benarkah begitu?"

"Benar."

Cukat Thay-peng tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... bagus, bagus sekali, betul-betul bagus, luar biasa."

"Mari sekarang juga kita mulai, bagaimana kalau kita makan kecil dulu?"

"Baik."

Makan kecil yang mereka santap tidak terlalu banyak, yang mereka habiskan tak lebih hanya empatpuluh delapan macam hidangan yang tersedia di meja itu.

Selesai makan kecil, makan yang resmi pun dimulai.

"Hidangan utama kita hari ini disebut 'Pertempuran Brutal di Delapan Penjuru', bagaimana menurut pendapatmu?"

Ujar Cukat Thay-peng.

"Coba dihidangkan lebih dulu."

Semua hidangan lama yang ada di meja telah disingkirkan, kini di atas meja sudah dipasang sebuah rak kayu, rak itu tiga kaki panjangnya dan tiga kaki lebarnya Sebuah kuali tembikar yang amat besar dihidangkan keluar dan persis diletakkan di atas rak kayu itu.

"Wouw, sebuah kuali yang amat besar!"

Ketika tutup kuali dibuka, bau harum daging yang kental dan semerbak segera menyebar keluar ke angkasa, di dalam kuah terlihat daging berwarna merah dengan potongan besar-besar.

"Wouw, pertempuran brutal di delapan penjuru yang luar biasa,"

Kwan Ji menarik napas panjang-panjang, seakan sedang menikmati bau harum semerbak itu.

"dapat kuendus, paling tidak ada delapan jenis daging yang ada di situ."

Cukat Thay-peng tertawa tergelak "Hahahaha.... ternyata bukan nama kosong, betul-betul seorang ahli dalam bidangnya."

Kemudian katanya lagi.

"Untuk menikmati daging ini diperlukan cara makan yang istimewa, kalau melulu makan dagingnya saja maka ibarat kura-kura makan daun bawang, hanya menyia-nyiakan barang bagus."

"Aku mengerti,"

Sahut Kwan Ji.

"Kalau hanya makan dagingnya saja, tak akan kita rasakan nikmatnya rasa daging, kita mesti mencari hidangan lain sebagai pengiringnya"

"Benar, benar sekali."

Harus dimakan dengan cara apa baru dikatakan tepat?

Mula-mula diambil sebuah pia sebesar dua kaki dan diletakkan datar di atas meja, pia itu mesti digiling sampai tipis, digiling dengan penuh tenaga, dengan begitu lapisan kulitnya baru sukar robek.

Bila pia sudah siap, ambillah sebatang daun bawang putih produksi kotaPo-ting, buang daun hijaunya, sisakan bawang putih dan letakkan di atas pia sambil disiram dengan kecap manis hasil produksi para tkaykam dan istana kaisar.

Kemudian ambillah tiga sampai empat kerat dagingyang beratnya kira-kira satu kati sampai satu setengah kati, taruh di tengah pia dan disusun jadi satu tumpukan, setelah itu tutuplah dengan kulit pia yang ada disebelah kiri, lapisi lagi dengan pia di sebelah kanan, kemudian bagian ekornya digulung menjadi satu gulungan panjang.

Pegang dengan kedua tangan dan mulailah mengunyah.

Sekali gigitan melahap daun bawang bercampur kecap, gigitan berikut melahap pia, kiri satu gigitan, kanan satu gigitan kemudian tengah saru gigitan lagi.

"Waktu itu, yang kau saksikan hanya lelehan minyak yang mengalir keluar melalui ujung bibir,"

Kata Cukat Thay-peng.

"ehmm, rasanya waktu itu, sungguh luar biasa, tak ada makanan lain yang lebih nikmat daripada hidangan ini."

Makin bercerita ia semakin bersemangat, tapi Kwanji hanya menghela napas.

"Seandainya ditambah lagi dengan sedikit obat pemabuk atau sebangsa obat racun, rasanya waktu itu pasti tak akan bisa ditandingi oleh hidangan selezat apa pun,"

Katanya.

"Obat pemabuk?"

"Jika di dalam kuali daging yang begitu besar, begitu harum dan baunya begitu sedap ditambahkan setengah kati obat pemabuk, tak nanti orang lain akan merasakannya,"

Kata Kwanji hambar.

"apalagi jika orang yang melepaskan racun adalah si Merogoh Saku Mengambil Barang-Kongsun Gi, mungkin hanya dibutuhkan sekali suapan saja maka segalanya sudah lebih dari cukup."

"Lebih dari cukup untuk apa?"

"Lebih dari cukup waktu untuk membiarkan mereka membawa kabur seluruh kereta barangmu."

Cukat Thay-peng segera menggebrak meja keras-keras.

"Kurang ajar, sialan orang ini, sekalipun ingin merampok barang kawalanku, tidak seharusnya dia campurkan obat itu ke dalam dagingku, bukan saja membuat satu kuali daging lezat jadi mubazir, aku pun ikutan tak bisa menikmatinya."

Kalau dilihat dari lagaknya, membuat mubazir sekuah daging dosanya jauh lebih berat, jauh lebih serius ketimbang merampok barang kawalannya. Kwan Ji segera tertawa.

"Untung saja sebelum ia sempat mencampurkan obat pemabuk itu ke dalam daging, dia telah diundang kemari terlebih dulu oleh Ngo ciangkwee dan Pat ciangkwee, bahkan komplotannya Ting sianseng pun sekalian diundang kemari."

Ilmu yang dipelajari Ting It-coa bukan ilmu Eng-jiau-kang atau sebangsanya, tapi telapak tangan kanannya luar biasa besarnya, bukan cuma lebih besar dari tangan orang lain, dibandingkan dengan tangan kiri sendiri pun masih satu setengah kak lebih besar.

Konon dengan sekali genggam ia bisa menggunakan empatpuluh sembilan jenis senjata rahasia sekaligus, dengan mengandalkan tenaga pergelangan tangannya, tenaga jari tangannya, tenaga jepitannya serta tenaga pantulan dari ruas tulang kukunya, dalam waktu bersamaan ia bisa melepaskan seluruh amgi itu sekahgus, khusus menghajar tigapuluh enam buah jalan darah penting, tujuhpuluh dua jalan darah kecil serta tigabelas tempat mematikan lainnya.

Sebanknya Kongsun Gi adalah orang yang sangat jarang menggunakan tangan, yang dia pergunakan adalah bagian tubuhnya yang paling berkembang.

Dia menggunakan otak.

Sekarang, kedua orang itu nampak sangat mengenaskan, pakaian mereka tak rapi, rambut pun kelihatan kusut, padahal kedua orang ini terhitung orang yang amat memperhatikan soal penampilan, tak disangkal baru saja mereka mengalami pertempuran yang amat seru.

Orang orang yang berada di samping Thio Ngo dan Thio Pat meski di hari biasa sangat jarang dijumpai, tapi begitu turun tangan, kemampuannya sudah cukup membuat orang lain melongo.

Cukat Thay-peng masih terus menggeleng sambil menghela napas panjang lebar.

"Kenapa sih kalian harus berbuat begitu? Kenapa harus mengganggu barang kawalanku? Kenapa tidak biarkan hidupku lebih nyaman, hidup kakan pun ikut nyaman, dengan begitu bukankah kolong langit aman dan penuh kedamaian?"

Katanya sambil menghela napas.

"kenapa kakan mesti mengusik Kwan Giok-bun si manusia apes ini?"

Suara Ting It-coa sangat parau, biji matanya penuk garis merah, dia melotot ke arah Kwanji tanpa berkedip.

"Siapa yang mengira Kwan Ji dari Kwan-say sudah menj adi budaknya perusahaan ekspedisi? Siapa yang menyangka?"

"Terus terang, bahkan aku sendiri pun tidak menyangka, tapi dalam kehidupan seorang manusia, terkadang memang perlu melakukan berapa pekerjaan yang diri sendiri pun tak menyangka akan melakukannya."

"Cengli! Masuk di akal,"

Kata Cukat Thay-peng segera.

"kalau cengli berarti ada daging untuk dimakan, mari makan daging kecap, daging masak wijen, semuanya ada, ayo kita makan bersama-sama."

Kwanji tertawa tergelak.

"Tentu saja semuanya karus dimakan, harus dihabiskan."

Baru saja dia mempelajari cara paling tepat untuk makan aneka daging, kekuatannya sekarang ia sudah mulai tak sabaran.

Melihat dia mulai makan daging, tiba-tiba mimik maka Kongsun Gi memperlihatkan perubahan yang sangat aneh.

Selama ini dia termasuk orang yang tak gampang berubah muka, jarang sekali kau bisa melihat perubahan di wajahnya, tapi sekarang sikapnya seolah secara tiba-tiba menyaksikan dari lubang hidung Kwan Ji tumbuh sekuntum bunga.

Pada saat itulah Ting It-coa sudah turun tangan.

Di saat Kwan Ji, Cukat Thay-peng dan dua bersaudara Thio mengunyah potongan daging yang pertama, tangan raksasanya sudah melancarkan Boan-thian-hoa-yu (Seluruh Angkasa Hujan Bunga).

Bunga bukan bunga, hujan bukan hujan, tapi setiap bunga hujan dapat membunuh manusia dalam waktu sekejap.

Dalam hal ini semua orang mengerti, semua orang paham.

Selama malang melintang dalam dunia persilatan, Ting It-coa selalu menganggap barang yang dikawal orang lain seperti barang milik diri sendiri, begitu ingin segera diambilnya, di mana ia datang, barang pun melayang, tentu saja ia berbuat begitu karena dia memiliki prinsip yang baku.

Dalam hal ini, Kwan Ji sekalian bukannya tidak mengerti.

Tapi yang aneh sekarang adalah meski Ting It-coa yang menggetarkan sungai telaga karena kehebatan senjata rahasianya telah melepaskan senjata amgi-nya, ternyata mereka hanya mengawasi dengan mata melotot, tak ada yang berusaha menangkis, tak ada yang berusaha menghindar.

Tangan Kwan Ji kelihatan seolah sedikit diangkat ke atas, tapi sama sekali tidak diangkat keseluruhan.

Tampaknya ribuan batang senjata rahasia yang mematikan itu segera akan menembusi bagian tubuh mereka yang mematikan.

Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, berkelebat bagai seekor burung walet, sementara dari ujung bajunya memercikkan cahaya keemas-emasan.

Ujung baju itu terbang menari, tubuh pun melayang bagai burung walet.

Di tengah suara gelak tertawa yang merdu bagai suara keleningan, seluruh hujan bunga itu hilang lenyap tak berbekas.

Kedengaran seseorang berseru.

"Tujuh kali tujuh empatpuluh sembilan macam senjata rahasia biar Oh Kim-siu terima, sementara empat nyawa manusia biar Oh Kim-siu kembalikan."

Bab Kesimpulan Di bawah pohon yang rindang di depan bangunan loteng, nun jauh di ujung jalan setapak telah disiapkan sebuah meja yang penuh berisi cawan arak, arak anggur dan Persia yang sudah direndam dalam air es, manis rasanya tapi membawa sedikit bau harum yang tawar dan aneh.

Tamunya adalah Kwanji, Thio Ngo, Thio Pat, Kongsun Gi, Ting It-coa, Cukat Thay-peng serta Pok Ing yang setengahnya berstatus tamu dan setengahnya lagi berstatus tuan rumah.

Sementara tuan rumah wanita adalah seorang perempuan berwajah cantik dengan baju bersulam benang emas, sama kuningnya dengan .

tumpukan emas murni yang berada di dalam kereta kawalan.

Ternyata kereta kawalan dari Thian-he-thay-peng (Aman Tenteram di Kolong Langit) pun ada saatnya menjadi tidak thay-peng.

Terhadap peristiwa ini, apa pendapat dari semua orang?

Kongsun Gi berkata.

"Aku benar-benar merasa sangat keheranan, seolah-olah semua orang beranggapan bahwa di kolong langit dewasa ini hanya aku seorang yang bisa mencampuri racun di dalam masakan daging."

"Obat pemabuk itu sudah pasti tak akan lebih enteng daripada milik Kongsun Gi,"

Sambung Ting It-coa.

"baru terendus sedikit baunya, gerak-gerikku sudah sangat melamban."

"Masih untung gerakanmu jadi lambat,"

Kata Oh Kim-siu.

"oleh sebab itu kita semua baru merasakan kedamaian sekarang."

"Aku tak ada komentar,"

Ucap Thio Ngo.

"Ringan bagai burung walet Oh Kim-siu betul-betul wanita luar biasa,"

Thio Pat menambahkan.

"Bagaimanapun juga, akhirnya dunia menjadi tenteram dan damai kembali,"

Seru Cukat Thaypeng.

"aku sudah perintahkan orang untuk mempersiapkan satu kuali daging lagi, sekarang telah dinaikkan ke atas anglo."

"Daging masakanku kak ini harus kucicipi sepuasnya,"

Kata Kwan Ji tiba-tiba.

Perkataan itu seketika membuat semua orang terperanjat.

Kwan Giok-bun yang selalu tinggi hati dan jumawa, kak ini menderita kekalahan total, tak nyana dalam keadaan begini dia masih punya selera untuk makan daging.

.........Sebenarnya orang ini adalah Kwanji sesungguhnya atau bukan?

Sudah cukup lama Pok Ing mengamatinya, dan kini dia baru buka suara, katanya.

"Dalam taruhan kak ini aku sama sekali tidak ikut campur, selama aku menjadi bandar pertarukan, tak nanti aku akan turut campur."

Kemudian setelah berhenti sejenak dengan wajah serius tambahnya.

"Inilah peraturanku, kau seharusnya percaya kepadaku."

"Aku percaya kepadamu,"

Sahut Kwanji.

"aku selalu mempercayaimu."

"Sekarang barang kawalan milik Cukat Thay-peng sudah dirampok, uang kawalan sudah berada dalam wilayah kekuasaan Oh toa-siocia."

Pok Ing bertanya kepada Kwan Ji.

"apakah sekarang kau sudah mengaku kalah?"

"Belum."

"Kau belum kalah?"

"Tentu saja belum kalah,"

Kwanji memandang wajah Pok Ing, pandangan penuh senyuman.

"kali ini yang kalah justru kau!"

Begitu perkataan dari Kwan Ji diutarakan, sekali lagi semua orang merasa terkesiap.

Kwan Giok-bun yang selalu menganggap setiap ucapannya berat bagai bukit, apakah kali ini ingin ingkar janji?

Jelas kejadian seperti ini tak mungkin terjadi.

"Dalam pertaruhan Si Ti-ing melawan Liu Ceng-ho tempo hari, kita sebelah kiri juga kalah, sebelah kanan pun kalah juga, seluruhnya kekalahan kita berjumlah sepuluh juta tahil, di antaranya ada dua juta tigaratus ribu tahil dibayar dengan uang kertas yang diterbitkan kamar uang Thay-tong."

"Betul, sudah kuperiksa dan kuterima uang tersebut."

"Sungguh tak disangka, kamar uang Thay-tong yang begitu berjaya dan kuat sumber dananya telah bangkrut secara tiba-tiba, semua uang kertas yang kita bayarkan pun dalam waktu semalam saja telah berubah jadi kertas sampah yang tak ada nilainya,"

Kata Kwan Ji.

"meskipun saat ini berita tersebut belum sampai tersiar keluar, tapi kita sudah mengetahui akan kenyataan ini."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Rumah uang Thay-thong boleh bangkrut, Dewa Rejeki tak boleh bangkrut, maka seketika itu juga kami siapkan uang sebesar dua juta tigaratus tahil emas dan minta Thay-peng piaukiok untuk menghantarnya ke Sarang Perjudian dan mengganti uang kertas dan rumah uang Thay-tong yang sudah tak berlaku itu."

Bicara sampai di sini, suara Kwan Ji kedengaran seakan jauh lebih muda.

"Uang dalam kereta piauwkiok ini sesungguhnya memang akan dikirim ke pusat Sarang Perjudian, oleh sebab itu aku lebih suka bersantai menikmati daging dalam kuah dengan membiarkan kalian angkut sendiri uang emas tersebut sampai di sini, bukankah tempat ini pun merupakan salah satu kantor cabang rumah perjudian? Berarti kami telah berhasil menghantar barang kawalan ini tiba di tempat tujuan dengan selamat."

Sambil tersenyum ia berpaling ke arah Pok Ing dan tambahnya.

"Maka dari itu yang kalah taruhan kali ini adalah kau, bukan aku."

Cukat Thay-peng tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau ada Cukat Thay-peng, dijamin dunia pasti akan thay peng (aman), kalian semua harus ingat baik-baik perkataan ini,"

Katanya santai.

Kwanji segera mengulurkan tangannya, baru saja tangannya disodorkan ke depan, gigi serigala sudah berada dalam tangannya.

Tapi dia justru sengaja menghembuskan napas panjang, sambil memandang ke arah Pok Ing ujarnya.

"Setiap orang pasti ada saatnya untuk kalah, sekalipun harus merasakan jadi seorang pecundang, aku harap jangan kelewat bersedih hati."

"Benar!"

Bab Penutup Tampaknya Pok Ing tidak terlalu sedih, malah dia masih punya selera untuk minum arak bahkan minum dengan amat santai dan riang gembira.

Orang ini benar-benar seorang lelaki sejati, lelaki yang punya penampilan gagah, benar-benar seorang lelaki yang mampu menerima kenyataan, biar kalah namun tidak sedih.

Oh Kim-siu mengangkat ujung bajunya tinggi-tinggi, memperlihatkan sepasang lengannya yang putik mulus, kemudian sambil mengerling ke arah Pok Ing, katanya.

"Kekkatannya siasat yang kau persiapkan kali ini pun berbasil dengan sukses."

"Siasat?"

Pok Ing seakan tidak paham dengan perkataan itu.

"siasat apa? "Meskipun di satu sisi kau menderita kalah hingga kehilangan gigi serigala palsu yang kau beli dengan uang sebesar delapanpuluh lima tahil perak, namun di pihak lain paling tidak kau berhasil memenangkan jumlah yang tiga-limaratus kali lebih banyak."

"Di sisi yang mana?"

"Tentu saja di sisi Cukat Thay-peng si monyet gendut itu."

"Kalau monyet bisa segemuk dia, berarti dia pasti sudah menjadi siluman, mana mungkin aku bisa mengunggukli siluman monyet gemuk?"

"Kau pasti sudah beritahu kepadanya kalau Kwan Ji akan membantunya menghantar uang kiriman itu selamat tiba di tempat tujuan, dan dia pasti sengaja tak percaya, sengaja mengajakmu bertaruh, padahal dalam hati kecilnya dia lebih rela menderita kalah."

"Kenapa?"

"Sebab jika dia kalah maka uang kawalannya akan tiba di tempat tujuan dengan selamat, Cukat Thay-peng pun akan tetap thian-he-thay-peng, selamat dan aman selalu,"

Oh Kim-siu tertawa terkekeh-kekeh.

"oleh sebab itu pemenang yang sesungguhnya dalam pertaruhan kali ini adalah kau."

Pok Ing tersenyum.

"Bagaimanapun juga, aku toh sudah membiarkan Kwan Ji menang satu kali, paling tidak membiarkan dia merasa bahwa dirinya berhasil unggul satu kali."

Bulan sabit yang terang benderang, cawan emas yang berkilauan, Pok Ing menghirup seteguk arak anggurnya yang manis kemudian menghembuskan napas lega. Gumamnya.

"Walaupun menjadi seorang pemenang bukan sesuatu yang luar biasa, paling tidak jauh lebih nyaman ketimbang jadi seorang pecundang!"

Bagian Ketiga Perburuan Pembukaan Sarang Perjudian kembali mulai sibuk, terutama Sun Lohu-cu yang bertanggung-jawab mempersiapkan semua data dan keterangan yang dibutuhkan, sedemikian sibuknya hingga waktu untuk pulang mencicipi santapan malam yang disediakan putrinya pun tak sempat, sebab perburuan yang konon paling menegangkan dalam dunia persilatan pada tigapuluh tahun terakhir segera akan dimulai.

Mengenai aksi perburuan yang akan diadakan kak ini, sudah banyak jago dari pelbagai daerah yang mencari informasi ke Sarang Perjudian, menanyakan apakah mereka sudah siap menerima uang taruhan, oleh sebab itu data dan keterangan yang menyangkut dua orang aktor yang terkbat langsung dalam perburuan ini harus segera dikumpulkan dari pelbagai sumber dan daerah.

Tentu saja kedua orang aktor yang terkbat dalam aksi perburuan ini adalah orang-orang kenamaan.

Pihak yang mengejar adalah Thia Siau-kim, seorang opas yang belum lama tersohor namanya, konon dia nyaris dihukum mati gara-gara sebuah kasus yang mengkambing-hitamkan dirinya, sejak itu dia memutuskan untuk mengurusi semua persoalan di kolong langit yang tak adil, membekuk para buronan kelas kakap dan membongkar kasus ketidakadilan dan pengkambinghitaman seseorang dalam pelbagai masalah.

Secara garis besar data yang berhasil dihimpun mengenai orang ini adalah.

Nama .

Thia Siau-kim.

Usia .

25 tahun.

Kelebihan .

Sejak kecil gemar berburu oleh sebab itu daya tangkap dan penglihatannya bagus, reaksinya cepat bahkan sangat ahli mempertahankan hidup dialam keras.

Ilmu silat .

Aneka jenis, biasanya serangan yang dilancarkan jarang meleset Ciri khas .

Menggunakan tangan kiri, lengan kanannya sebatas pergelangan patah.

Latar belakang keluarga .

Ayahnya bernama Thia Goan, orang menyebutnya Pat-pitsinliong( Naga Sakti Berlengan Delapan), merupakan jagoan dari wilayah barat-laut, pernah mempelajari ilmu senjata dari pelbagai perguruan dan partai, semasa muda tewas karena serangan angin duduk.Ibunya bernama Kwan Giok-sian, rnerupakan adik kandung "Sengliat-hau-paKwan Giokbun" (Kwan Giok-bun yang sanggup merobek harimau dan kumbang) orang menyebutnya Sam-oh naynay(nyonya ketiga), ketika bertarung melawan orang gagah, ganas dan pemberani, kemampuannya masih jauh diatas kehebatan Kwan Ji sianseng, berkeliaran diwilayah barat-laut dan namanya menggetarkan sungai telaga.

Sementara pihak yang diburu Thia Siau-kim bukan saja merupakan perampok ulung yang sudah lama malang melintang di kolong langit, dia pun terhitung seorang jago berbakat alam yang diakui dan dikagumi umat persilatan, orang ini memiliki watak suka menyendiri dan seringkah hidup seorang diri di alam bebas.

Orang ini dari marga Pek bernama Ti, orang memanggilnya Pek-ti hoa (Bunga Ti Putih), biasanya selesai melakukan sebuah kasus dia selalu meninggalkan sekuntum bunga Ti berwarna putik sebagai tanda pengenal, oleh sebab itu dia hanya melakukan pelbagai kasus di saat musim bunga Ti sedang mekar, suatu jangka waktu yang amat singkat.

Adapun data mengenai orang itu, pada garis besarnya adalah sebagai berikut.

Nama .

Pek Ti, Pek-tiHoa.

Usia .

tidak jelas, lebih kurang dua puluh lima tahun.

Latar belakang keluarga .

Tidak jelas Kelebihan .

konon sejak kecil hidup bersama gerombolan serigala, terhadap seluk beluk dialam bebas boleh dibilang sangat menguasai ibarat melihat jari tangan sendiri, daya tahan hidupnya dialam bebas sangat kuat, bahkan ceritanya memiliki banyak kemiripan dengan kemampuan Siau Cap-it Long.

Ilmu silat .

Kepandaian silatnya aneh, daya tahannya sangat kuat, suatu ketika pernah mdarikan diri ketengah gunung dan rnampu melakukan perlawanan selarna tiga hari tiga malam melawan dua puluh sembilan orang jago lihay yang mengejarnya, terakhir dia tetap berhasil melarikan diri sementara kawanan jago yang rnengejarnya ada dua puluh satu orang yang tewas di atas bukit.

Sejak peristiwa itu orang persilatan tak ada yang mau menyinggung kembali peristiwa perburuan itu, sementara kawanan jago yang ikut serta dalam aksi perburuan tersebut, sebagian besar segera cuci tangan hidup mengasingkan diri setelah kejadian itu Ciri khas .

setiapkali melakukan pencurian, dia hanya turun tangan terhadap keluarga orang kaya, benda yang diambilpun biasanya intan permata dan barang mestika lainnya.

Orang ini pun sangat memperhatikan soal penampilan, sekalipun hidup dialam bebas namun selalu menjaga penampilan dan pakaian yang dikenakan, ada orang pernah melukiskan begini-"suatu ketika sewaktu kami melaksanakan perburuan yang sangat ketat, ketika bertemu lagi dua hari kemudian,dia masih tampil begit urapi dan perlente seakan-akan orang yang siap menghadiri perjamuan.'' Kedua orang ini boleh dibilang merupakan dua orang manusia berbakat aneh dari dunia persilatan, sejak diadakannya aksi perburuan kali ini, nama mereka berdua jadi tersohor dan amat menggemparkan sungai telaga.

Setelah memperhatikan dan mempelajari data dari kedua belah pihak, maka stan terakhir yang dipasang pihak Sarang Perjudian adalah satu melawan satu.

Mengenai hasil akhir dari pertarungan ini, tak seorang pun punya jaminan yang pasti siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal kalah Bab Pertarungan yang Harus Menang Musim gugur, akhir dari musim gugur, angin berhembus kencang menggoncangkan daun dan ranting.

Ketika angin musim gugur menembusi hutan dan menggoyangkan dedaunan, suaranya kedengaran seperti mata golok yang baru saja menggorok tenggorokan musuh bebuyutan.

Jalan setapak di tengah tanah perbukitan itu sudah dilapisi daun yang berguguran, tak nampak bayangan manusia dalam hutan itu, jangan lagi bayangan manusia, burung gagak yang biasa beterbangan di angkasa pun tak nampak bayangannya.

Dalam suasana seperti itulah terlihat ada seseorang sedang berbaring di atas dahan pohon waru sambil memegang sebuah kantung kulit kambing yang berisi arak, ketika angin menggoyangkan daun dan ranting, tubuh orang itu pun seolah ikut bergoyang mengikuti hembusan.

Dia berkepala botak seperti paruh elang, sorot matanya pun setajam mata elang, tapi memiliki penciuman yang lebih tajam dan hidung anjing pemburu, telinga yang sensitip melebihi telinga kelinci, lambung yang besar bagai lambung seekor unta dan tangan besar yang kuat bagai seekor gorilla.

Oh Toa-siocia, kekasih hatinya pernah melukiskan orang ini sebagai berikut...

"orangini seakan gabungan dan pelbagai macam binatang, kadar manusianya justru amat sedikit, mungkin yang paling minp manusia hanya mulutnya, sebab hanya mulut manusia yang pandai memilih makanan bahkan hanya mau makan hidangan pilihan yang paling lezat."

Menghadapi kritikan dan penilaian semacam ini, dia tak pernah membantah ataupun mendekat.

.........Seorang lelaki bila suka berdebat dengan seorang wanita, maka ibarat dia sedang berebut tulang dengan seekor anjing kelaparan....

Tentu saja orang ini adalah Pok Ing.

Tak lama kemudian dari jalan setapak itu kembali muncul seseorang, seorang pemuda berbaju putih, putih bersih bagai salju, sama sekali tak berdebu, sama sekali tak kusut.

Di punggungnya tersoren sebilah pedang dengan sarung berwarna hitam dan pita berwarna hitam pula, pita hitam yang terbuat dari kulit kerbau.

Sepintas lalu orang ini mirip dengan seorang kongcu kaya yang sedang berpesiar ke atas gunung, tapi mimik mukanya jauh lebih serius dan gerak-geriknya lebih gesit dan cekatan, ketika berjalan di atas daun yang berserakan di tanah, suara yang ditimbulkan tidak lebih keras dan suara yang ditimbulkan seekor bajing.

Sorot matanya teramat tajam, sama seperti sorot mata Pok Ing, kelihatan seperti sorot mata seekor elang.

Dengan cepat dia telah melihat kehadiran Pok Ing.

Perawakan tubuh yang tinggi kekar ditutup dengan sebuah jubah panjang berwarna hitam, kaki yang mengenakan sepatu kain tipis, di tangannya membawa sebuah kantung kulit kambing dan bagaikan segumpal mega berbaring di atas dahan pohon.

Siapa lagi yang berpenampilan seperti ini?

Orang muda itu tertawa, senyumannya polos membawa sifat kekanak-kanakan, ketika senyuman semacam ini muncul di wajahnya yang gelap karena sering ketimpa angin dan salju, ibarat sinar matahari yang tiba-tiba muncul dari balik awan hitam.

"Tuan Pok? Pok Ing?"

Dia bertanya.

"Betul, akulah Pok Ing,"

Dengan kemalas-malasan Pok Ing meneguk arak wangi dari kantung kulit kambingnya kemudian baru menyahut.

"Pek ti? Pek-ti Hoa?"

"Benar."

Pok Ing segera tertawa tergelak.

"Hahahaha... dalam sekali pandang kau telah mengenaliku, aku pun dalam sekali pandang mengenali dirimu, tampaknya kita berdua boleh terhitung sebagai orang kenamaan."

"Apalagi aku, belakangan tampaknya jauh lebih termasyhur lagi,"

Pek Ti tertawa getir.

"bila kau memang khusus menantiku di sini, aku tak bakalan merasa heran."

"Kenapa aku harus menunggumu? Memangnya aku ingin membawa batok kepalamu untuk menerima uang hadiah?"

Dia melemparkan kantung kulit kambingnya ke arah anak muda di bawah pohon, arak yang kecut lagi pedas, begitu mengalir melewati tenggorokan segera berubah jadi segumpal bara api yang panas.

"Aku tak lebih hanya datang menonton,"

Ucap Pok Ing lagi.

"Menonton apa?"

"Menonton manusia membunuh manusia, menonton orang yang membunuh manusia,"

Sahut Pok Ing.

"aku rasa ini lebih menarik ketimbang menonton manusia dibunuh."

"Memangnya di sini ada manusia membunuh manusia?"

Tanya Pek Ti.

"memangnya di sini ada orang yang membunuh manusia?"

"Sekarang memang tak ada, tapi segera akan ada."

"Kalau ada orang yang membunuh manusia, tentu ada orang yang terbunuh bukan?"

"Tentu saja!"

"Menurut kau, manusia macam apa diriku ini?"

"Aku tidak tahu."

Pok Ing menerima kembali kantung araknya yang dilemparkan anak muda itu ke atas, setelah meneguk lagi dua tegukan, ia baru berkata.

"Aku hanya dapat melihat kalau tempat ini adalah sebuah tempat yang bagus, terlepas bagi yang mau membunuh atau terbunuh, tempat ini tetap merupakan tempat yang bagus."

"Apa lagi yang bisa kau lihat?"

"Seandainya aku sedang diburu orang maka aku pasti akan berhenti setelah kabur sampai di sini, sebab jalan gunung yang ada di depan sana teramat sulit dilalui, orang yang mampu memasuki tempat ini pasti tidak terlalu banyak jumlahnya.'' "Bukan saja tidak terlalu banyak, bahkan kemungkinan besar hanya ada satu orang."

"Oleh sebab itu aku akan menunggu di sini, memeriksa dulu keadaan dan situasi di seputar tempat ini, memilih dulu sebuah tempat paling strategis, kalau bisa tempat itu adalah tempat yang bisa menguasai musuh dalam sekali gebrakan, bisa menangkan pertarungan dalam satu serangan."

"Bagi jago berilmu tinggi yang ingin bertarung, hal ini merupakan hal yang paling penting,"

Kata Pok Ing.

"Kemudian?"

"Kemudian, mungkin aku akan memasang sedikit perangkap atau jebakan, tak ada pantangan untuk menggunakan siasat dalam sebuah pertempuran, apalagi pertempuran yang menyangkut mati hidup, memakai sedikit siasat merupakan hal yang wajar,"

Kata Pok Ing.

"apalagi hal tersebut merupakan hal yang lumrah dalam sebuah pertempuran."

"Oleh sebab itu kau sama sekali tak berminat untuk mencampuri urusan ini?"

"Sudah kukatakan, kedatanganku hanya ingin menonton keramaian,"

Ucap Pok Ing.

"maka dari itu mulai sekarang kau boleh anggap aku sebagai sebutir batu atau sebatang ranting pohon, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, anggap saja seolah-olah di tempat ini tak ada wujudku."

Dengan sikap yang amat yakin dan mantap Pek Ti segera menyahut.

"Baik, aku percaya kepadamu-"

Awan tebal sudah mulai menyelimuti empat penjuru, langit pun lambat laun berubah jadi gelap gulita.

Sedari tadi Pok Ing sudah pejamkan matanya, seakan sudah tertidur nyenyak, terhadap apa pun yang dilakukan Pek Ti, dia seakan benar-benar tidak tahu.

Tiba-tiba ia bertanya kepada Pek Ti.

"Persiapanmu sudah selesai?"

"Ehmm."

"Sekarang kau sudah mempunyai berapa persen keyakinan atas pertarungan yang bakal berlangsung?"

"Sekarang aku hanya ingin minum arak."

"Arak kemenangan?"

"Betul, arak kemenangan."

"Sebelum pertarungan berlangsung, sudah minum arak kemenangan terlebih dulu, apakah kau sudah memiliki keyakinan pasti akan memenangkan pertarungan ini?"

Tanya Pok Ing. Pek Ti tersenyum, dia hanya meneguk arak.

"Apakah kau tidak merasa kelewat memandang rendah kemampuan lawanmu? Kelewat tinggi menilai kemampuan sendiri?"

Tanya Pok Ing lagi. Pek Ti tersenyum, dengan nada yang paling tenang dia menjawab.

"Dalam perjalanan hidupku, bila ada satu kali saja aku salah dalam penilaian, cukup sekali saja, sekarang aku sudah menjadi sesosok mayat."

Bagi dua jago yang sedang bertarung, bila kelewat tinggi menilai diri sendiri, kelewat rendah menilai kemampuan lawan, terlepas dalam keadaan apa pun dan terhadap siapa pun, kesalahan itu merupakan sebuah kesalahan fatal yang tak bisa dimaafkan.

Pok Ing mengawasi anak muda yang berada di bawah pohon, dari balik sorot matanya terpancar perubahan mimik muka yang sangat anek.

"Kalau begitu sekarang tunggulah,"

Kata Pok Ing.

"dan aku percaya orang yang datang untuk membunuhmu telah tiba."

Bab Golok Iblis Muncul Kembali Tanah lapang di dalam hutan itu luasnya lebih kurang dua-tiga depa.

Pepohonan yang tumbuh di sekitar situ entah karena sudah ditebangi orang atau tak tahan menghadapi terpaan hujan dan teriknya matahari, sejak masih tumbuh sudah layu mari.

Tanah lapang yang luas penuh dilapisi sampah daun kering yang berguguran, seandainya tempat itu bukan tanah perbukitan yang jarang terkena curah hujan, mungkin sejak dulu sudah berubah menjadi sebuah kubangan atau rawa-rawa.

Terhadap tempat dengan situasi seperti ini jelas Pek Ti sangat menguasai, dalam waktu singkat dia telah membuat tujuh-delapan buah jebakan di sekitar tempat itu.

Di antaranya ada yang dipasang ranting katapel yang biasa dipakai untuk berburu burung, ada yang dipasangi batu runcing atau lubang jebakan di bawah lapisan daun kering, sekalipun semuanya merupakan jebakan yang paling sederhana, tapi bagi jago tangguh yang sedang berduel sengit, setiap jebakan sesederhana apa pun bisa jadi akan berubah menjadi jebakan yang mematikan.

Ketika dua jago sedang bertarung, sedikit saja badan kehilangan keseimbangan maka kesempatan ini akan memberi peluang kepada lawannya untuk melancarkan serangan mematikan Pek Ti memilih sebatang pohon yang tinggi dan berdiri di bawahnya, gagang pedang yang berada di punggungnya sudah diatur pada sudut yang paling strategis baginya untuk melancarkan serangan.

Tempat ini pun merupakan tempat terbaik yang ada di tanak lapang itu, membelakangi sumber cahaya sehingga tak sampai membuat pandangan jadi silau, berdiri menghadap arah angin, hal ini membuat kecepatan serangannya bertambah lebih cepat.

Setiap bagian, setiap detil sudah ia perhitungkan secara cermat dan seksama.

Yang lebih penting lagi adalah kini dia sudah mengambil keputusan, mengendalikan perasaan balikan sebisa mungkin memulihkan kembali kekuatan tubuhnya dalam waktu paling singkat.

Walaupun Thia Siau-kim adalah sang pemburu, namun berada dalam keadaan seperti ini tak urung dia pasti gelisah, cemas dan sedikit tak bisa mengendalikan diri.

Oleh sebab itu dia bersihap menunggu.

Menunggu dalam ketenangan, dalam kondisi dan keadaan apa pun selalu merupakan salak satu sebab utama untuk meraih kemenangan yang cemerlang.

Waktu itu, tentu saja dia pun mendengar suara langkah kaki Thia Siau-kim.

Biarpun langkah kaki Thia Siau-kim sangat lambat, tapi mantap dan tenang, kelihatannya selangkah demi selangkah perlahan-lahan dia berjalan ke atas.

Berada dalam situasi seperti ini, ternyata dia pun masih mampu mengendalikan gejolak perasaan hatinya.

Dia seakan tidak terburu-buru untuk mengejar Pek Ti, dia pun tidak kuatir Pek Ti mendengar suara langkah kakinya.

Lawan tangguh yang menakutkan ini sebenarnya sedang merencanakan apa?

Kelihatannya dia jauh lebih menakutkan ketimbang apa yang diperkirakan Pek Ti sebelumnya.

Menilai kelewat rendah musuh yang harus dihadapi jelas merupakan satu kesalahan fatal yang bisa mematikan, perasaan Pek Ti mulai tak tenang, ia mulai sedikit gelisak.

Bagi dia yang segera akan berhadapan dengan musuh tangguh, jelas keadaan ini pun termasuk sebuah gejala yang tidak menguntungkan.

Pada saat itulah dia mendengar semacam suara gemerisik yang sangat aneh, seperti suara nelayan yang sedang menebar jaringnya di tengah samudra.

Pek Ti bisa membayangkan berada di tempat macam apakah ia pernah mendengar suara semacam ini, namun sama sekali tidak mengira kalau di tempat ini pun benar-benar ada orang sedang menebarkan jaringnya.

Sebuah jaring ikan yang amat besar, seperti segerombol awan hitam yang terjatuh dari tengah udara.

Seluruh tanah lapang, seluruh pepohonan yang berada di sekeliling tempat itu ternyata sudah berada di bawah kurungan jaring raksasa itu.

Pek Ti menyusup keluar, dia ingin menyusup lepas dari bawah jaring raksasa itu.

Reaksinya selalu dilakukan sangat cepat, gerakannya pun jauh lebih cepat, tapi sayang kak ini dia terlambat satu langkah.

Sebelum tubuhnya sempat menyusup keluar dari dasar j aring, di hadapannya sudah menunggu selapis cahaya golok yang menyilaukan mata.

Cahaya golok yang begitu rapat hingga angin tak mampu menembusi, gerakan golok menyambar silih berganti, semuanya menggunakan jurus serangan Ji-gi-thian-mo-lian-huan-si (Jurus Berantai Iblis Langit) yang konon merupakan ilmu golok ciptaan Mokau dari Timur yang sangat tangguh, sekalipun ilmu goloknya belum mencapai kesempurnaan namun daya pengaruh yang dicipta-kan sudah cukup membuat siapa pun tak sanggup maju barang selangkah pun.

Seketika itu juga gerakan tubuh Pek Ti terhadang hingga mesti mundur kembali.

Begitu gerakannya terhadang, jaring raksasa pun segera mengurung seluruh tubuhnya.

Saat itulah terdengar seseorang sedang bertepuk tangan.

Rupanya Pok Ing yang sedang bertepuk tangan.

"Ternyata ilmu menebar jaring yang dimiliki Tkay-ouw sacap-lak-yu (Tigapuluh Enam Sahabat dari Telaga Thay-ouw) memang luar biasa hebatnya, tak heran kalau memiliki catatan rekor yang amat mengejutkan, dalam sekali tebaran jaring sanggup mengangkat seribu delapanratus delapanpuluh kati ikan dari dalam telaga,"

Seru Pok Ing lantang.

"sayang Pek Ti yang sudah berkelana mengarungi seluruh kolong langit, ternyata tidak mengenal seorang nelayan pun yang ada di seputar telaga Thay-ouw, kalau tidak, tak nanti dia bisa masuk jaring seperti seekor ikan."

Ternyata Pek Ti mencari sebuah tempat di balik jaring dan duduk dengan tenang, wajahnya tidak berubah, air mukanya tak berubah, dia malah berpaling ke arah Pok Ing dan melempar senyuman.

"Jaring ini memang ada di sini, kalau bukan aku yang masuk jaring, siapa yang sudi masuk jaring?"

Katanya "Ekmm, cengli!"

"Apalagi kedatanganmu kak ini toh bukan khusus mekkat aku masuk jaring, aku lihat kak ini pun kau pasti berhasil menang taruhan."

"Ya, sembari menonton sembari bertaruh, kalau cuma menonton tanpa bertaruh, apa menariknya'"

"Cengli, cengli sekali......,"

Pek Ti tersenyum.

"hanya sayang kau tak sempat menyaksikan kejadian yang jauh lebih menarik."

"Kejadian apa lagi yang lebih menarik?"

"Golok iblis,"

Jawab Pek Ti.

"Ji-gi-thian-rno, Ji-gj-mo-to, Heng-sau-thian-hee, Coat-tay-thiankiau (Iblis Langit, Golok Iblis, Menyapu Kolong Langit, Tokoh Sakti SepanjangMasa)."

"Waah, tentu sebilah golok yang hebat."

"Jelas, jelas sebilah golok luar biasa"

"Beruntung aku pun pernah melihatnya,"

Kata Pok Ing.

"sekalipun yang digunakan Tkia Siaukim, Thia toa-koanjin bukan ilmu pedang Siau-lo-it-ya-teng-cun-yu (Semalam Mendengar Hujan Musim Semi di Loteng Kecil) yang pernah menyapu kolong langit, bagaimanapun aku toh sempat juga menyaksilan ilmu golok andalannya"

Kembali Pek Ti tertawa, tertawa keras.

"Kau pernah melihatnya? Apa yang pernah kau lihat?"

Serunya.

"dulu ketika Mokau kaucu dengan sebilak Siau-lo-teng-yu (Loteng Kecil Mendengar Hujan) malang melintang di kolong langjt, dia telah menciptakan delapan jurus iblis langit berantai yang setiap jurusnya terdiri dari tigapuluh enam gerakan, setiap gerakan terkandung seratus delapan perubahan, jurus demi jurus silih berganti menyerang bergantian, sekali dia mulai membacok, tak akan memberi kesempatan lagi kepada orang untuk berganti napas."

Setelah tertawa tergelak, tanyanya kepada Pok Ing.

"Kau mengatakan pernah melihatnya, apa yang telah kau lihat?"

Pok Ing tertawa getir. Tiba-tiba Thia Siau-kim buka suara, ujarnya dingin.

"Bila kakan ingin menyaksikan ilmu golokku, itu sik gampang!"

Thia Siau-kim memang sudah berubah, berubah jadi amat tenang dan dingin, hanya saja keangkuhan dan kesombongannya tak pernah bisa berubah untuk selamanya.

Bila seseorang kehilangan sikap pongah seperti ini maka kehidupan orang tersebut menjadi sangat tak berarti, tapi bila seseorang sudah memiliki sikap pongah seperti itu, maka pihak lawannya akan memperoleh kesempatan untuk memancingnya melakukan kesalakan fatal Tidak terkecuali bagi Thia Siau-kim.

Dia telah melanggar kesalahan pertama, yaitu minta orang untuk mengangkat tinggi jaring raksasa tersebut.

Ternyata ia ikut menerobos masuk ke dalam jaring, membawa serta golok lengkung berbentuk aneh yang belum lama selesai ditempa oleh Si Hwi-cu, seorang ahli tempa golok kenamaan yang khusus diundang untuk membuatkan senjata itu baginya, memasuki jaring raksasa sambil menenteng golok andalannya.

Dia bukan saja ingin membiarkan Pek Ti menyaksikan ilmu goloknya, dia pun berharap Pok Ing ikut menyaksikan.

Dia seolah lupa kalau golok iblis dari Mokau sesungguhnya bukan benda yang boleh dipamerkan kepada orang lain.

Dalam hal ini bukan cuma dia sendiri yang lupa, Pok Ing serta Pek Ti pun seakan ikut lupa akan hal ini.

Seharusnya Pek Ti tidak boleh melupakan akan hal ini, juga tak seharusnya melupakannya.

Di tengah alam bebas yang penuh misteri, di tengah gurun yang penuh rahasia, di balik kegelapan malam yang penuh kesendirian, keseraman dan kengerian, dia seharusnya pernah mendengar tentang jampi-jampi rahasia, mantera sakti dari seorang iblis langit.

Hasami, bansakikuku, anosakikuku, kayaya, tisiteni, kasaya, kinomisi________ Arti dari mantera itu adalah.

Golokmahasaktimahaagung, membuat darah mmuhbenibahmenjadiapidalam neraka, Maadaorangyangpernahrndihatnya, mata itu pasti akanjadi buta, perasaan akan disiksa oleh api abadi, selama hidup masuk neraka dan takpernah bisa bangkit kembali Mungkin Pek Ti pernah mendengar mantera itu, dalam hati kecilnya dia pun memang tak pernah bersungguh hati ingin melihat golok itu, golok iblis, dia hanya berharap menggunakan peluang di saat tubuh Thia Siau-kim menerobos masuk ke dalam jala, dia pun memanfaatkan peluang itu untuk menerobos keluar.

Oleh sebab itu baru saj a jala raksasa terangkat satu kaki lebib sedikit, tubuhnya sudah menerobos keluar dari kurungan.

Seluruh tubuhnya seakan menempel rata dengan permukaan tanak, menyusup keluar dalam posisi datar dan rata, seperti sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya.

Gerakan tubuh semacam ini sama sekali tidak indah, pun tak mungkin bisa digunakan setiap saat, tapi untuk melatihnya, dia membutuhkan pengorbanan dan penderitaan yang jauk lebih hebat ketimbang berlatih ilmu meringankan tubuk mana pun, itulah sebabnya tidak banyak orang persilatan yang pernah mempelajari ilmu meringankan tubuh semacam ini.

Tentu saja Thia Siau-kim sendiri pun tidak menyangka kalau dia bisa menggunakan ilmu gerakan seperti itu, di saat ia mencabut goloknya, keadaan sudah terlambat.

Satu sentilan jari paling banter hanya enampuluh detik, tapi dalam keadaan dan situasi tertentu, sedetik yang singkat berarti sudah menentukan antara mau dan hidup.

Sekilas waktu berkelebat, mati hidup sudah berada dalam perjalanan Kehidupan manusia memang begitu lemah, begitu rentan.

Dalam walau yang teramat singkat, Pek Ti sudah menerobos keluar melalui sisi kanan tubuh Thia Siau-kim.

Tentu saja dia harus menerobos melalui sisi kanan, sebab Thia Siau-kim adalah kidal, menggunakan golok di sisi tangan larinya, itu berarti salah satu sudut tertentu di sisi kanan tubuhnya merupakan satu-satunya sudut mati bagi tubuhnya.

Begitu Pek Ti menggerakkan tubuhnya, bukan saja ia dapat menggunakan kesempatan itu untuk menerobos keluar, bahkan bisa melancarkan serangan yang mematikan ke arah sudut mati dari tubuhnya.

Gempuran tersebut kemungkinan besar akan merupakan gempuran yang mematikan, sebab dalam pertarungan antara dua jago tangguh, setiap serangan yang dilancarkan selalu akan merupakan gempuran yang mematikan.

Tapi gempuran kak ini sama sekali tak sempat dilancarkan, Pek Ti sendiri pun belum berhasil menerobos keluar dari kepungan.

Sebab pada saat itulah tiba-tiba ia mendengar suara desingan angin tajam yang halus dan lembut menembusi angkasa, suara senjata rahasia yang menerobos di udara.

Pek Ti hanya merasakan persendian tulang kirinya seakan digigit nyamuk, seakan ada sesaat dia seperti kehilangan kesadaran.

Keseimbangan tubuhnya seketika punah, walaupun hanya berlangsung dalam waktu sesaat namun sudah lebih dan cukup.

Lebih dari cukup buat Thia Siau-kim untuk mencabut goloknya sambil melancarkan serangan, lebih dari cukup untuk memusnahkan nyawa seseorang dan menjebloskannya ke dalam api neraka.

Cahaya golok berkelebat, membawa garis guratan setengah lingkaran yang aneh dan sakti, seperti bayangan bulan sabit di atas permukaan air yang bergoyang dan berubak karena terhembus angin dan gerakan riak air.

Tak ada orang yang bisa melukiskan perubahan aneh dan bayangan rembulan itu, sebab setiap kak hembusan angin menggoyangkan riak air, perubahan bayangan rembulan yang muncul di atas permukaan selalu tak sama dan berbeda.

Setiap perubahan yang terjadi, tak mungkin bisa diduga dan diramalkan oleh siapa pun sebelum terjadi.

Pek Ti tidak menghindari babatan golok itu.

Cahaya golok berkelebat lewat, serentet butiran darah bagaikan seutas mutiara yang putus benang, terurai dan menyebar ke mana-mana.

Pek Ti mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki, ingin mengubah gerakan tubuh serta langkah badan yang telah dilakukan sebelumnya.

Dia tahu betapa menakutkannya golok iblis.

Asal ayunan golok pertama telah berhasil, ayunan golok ke dua segera akan menyusul tiba, menyapu datang mengikuti setiap langkah dan gerakan dari lawannya, seperti roh jahat yang sudah menempel di tubuhmu, selamanya akan mengikuti dan mengendon di tubuhmu.

Bila ayunan golok kedua berhasil, segera akan muncul ayunan ketiga, ayunan keempat....

Walaupun Pek Ti cukup memahami betapa menakutkannya dia, tapi nasib tragis sudah tak mungkin bisa dirubak lagi.

Iblis langit sudah menempel dalam sukmanya, menempel kuat kuat.

Ayunan golok ketiga, keempat, kelima......butiran darah demi darah memancar keempat penjuru, membuat suasana makin kelam, membuat langit makin gelap.

Tapi Pek Ti belum mati, opas itu pun tidak menghendaki kema-tiannya, dia masih butuh dirinya untuk diinterogasi, dia butuh data dan pengakuannya yang menyangkut harta sebesar ratusan laksa tahil emas, ada kalanya pengakuan semacam ini jauh lebih penting dan berharga ketimbang berapa puluh lembar nyawa.

Kini Pek Ti sudah tak mampu bangkit berdiri, tapi kesadarannya masih utuh, sekalipun kulit mukanya mengejang karena harus menahan rasa sakit namun mimik mukanya sekarang justru seakan penuh dengan senyuman kebencian yang menakutkan.

Dia seolah sedang tertawa kepada Pok Ing, tertawa sambil ujarnya sepatah demi sepatah kata.

"Pok toa-tauke, terima kasih kau datang menengokku, agar aku punya kesempatan untuk mengetahui lebih jelas manusia macam apakah dirimu itu, selama hidup aku tak bakal melupakannya lagi."

Pok Ing tertawa, sahutnya.

"Tapi sayang sisa waktu dalam hidupmu kak ini sudah teramat sedikit."

Bab Putri Bidadari Semua orang sudah berlalu, kantung kulit kambing pun sudah kosong, tapi senyuman masih menghiasi wajah Pok Ing, seakan senyuman itu sudah membeku.

Seperti ada orang menggunakan sebilah golok, mengukir setiap lekukan senyuman yang mengkiasi wajahnya saat ini.

Di luar hutan yang gelap gulita justru terlihat ada secercah cahaya lentera, cahaya yang memancar dari sebuah lentera berbentuk sangat indah, bergerak melayang dari balik kegelapan, dilihat di tengah pegunungan yang terpencil, sinar itu tampak seperti api setan yang sedang melayang di udara, tapi seakan juga bukan.

Mana mungkin ada api setan yang begini cantik dan indah di dunia ini?

Empat orang budak Kunlun yang berwajah hitam bergigi putih, dengan menggotong sebuah tandu datar sepanjang dua depa dan lebar satu setengah depa bergerak mendekat dengan langkah lebar.

Seorang wanita cantik bak bidadari dan kahyangan duduk di atas tandu datar tersebut, dia mempunyai rambut yang panjang, halus bagaikan embun pagi, sepasang mata yang bening jek bagai bintang malam, pakaian yang dikenakan terbuat dari bahan seperti sutera, seperti juga kain goni, berwarna-warni sangat indah, setengah bahu kirinya terbuka lebar hingga nampak kulit badannya yang putih mulus bak salju abadi.

Dari tangannya pun memancarkan sinar terang, sebuah cawan yang terbuat dan porselen Persia berisi penuh arak wangi yang harum semerbak.

Senyuman di bibirnya kelikatan jauh lebih manis dan menawan hati.

Berjumpa dengan manusia seperti ini, Pok Ing segera menghela napas panjang.

"Rupanya kau,"

Dia tertawa getir sambil menghela napas.

"mau apa kau datang kemari? Tempat semacam ini bukan tempat yang cocok untuk didatangi seorang putri."

"Kau boleh datang, berarti aku pun boleh datang,"

Sahut putri bak bidadari itu manja.

"kalau aku mau datang, aku segera akan datang, tak seorang pun bisa melarangku."

Sewaktu marah, ternyata senyumannya nampak jauh lebih manis dan menawan hati. Tapi Pok Ing justru seakan tidak melihat.

"Betul, kau boleh datang, beruntung aku pun sudah akan pergi,"

Katanya.

"kalau aku hendak pergi, aku akan pergi, orang lain jangan harap bisa menahanku,"

Dia sudah menggerakkan badannya seakan siap pergi dari situ. Tapi putri bak bidadari itu segera berteriak keras bagai bertemu setan di tengah hari bolong.

"Tidak bisa, kau tak boleh pergi!"

"Kenapa?"

"Sebab aku khusus kemari untuk mencarimu,"

Biji mata putri bak bidadari itu berputar beberapa kali.

"ada urusan penting yang ingin kusampaikan kepadamu."

"Urusan penting apa?"

"Menagih hutang, tentu saja mencarimu untuk menagih hutang."

Sekali lagi Pok Ing menghela napas panjang, mau tak mau dia harus mengakui, tak banyak urusan di dunia ini yang jauh lebih penting daripada menagih hutang.

"Kali ini pun aku ikut memasang taruhan di Sarang Perjudian kalian, aku bertaruh Pek Ti-hoa tak nanti mampu kabur,"

Putri bak bidadari itu tertawa bangga.

"akhirnya kali ini kau harus merasakan kekalahan."

Ternyata yang dipertaruhkan Pok Ing adalah Pek Ti, jika Pek Ti berhasil melarikan diri maka dialah yang menang.

Lantas kenapa dia harus menggunakan ilmu Li-khong-ta-hiat (Lewat Udara Menotok Jalan Darah), dengan sebutir batu kerikil menotok jalan darah di kaki kanan Pek Ti sehingga membuat Pek Ti membencinya sepanjang hidup?

Perbuatan yang dilakukan Pok Ing memang tak banyak yang paham, sementara dia sendiri pun enggan memberi penjelasan.

Pada dasarnya manusia macam beginilah dirinya, berbuat semau-nya, tak pernah peduli dengan orang lain.

Maka sekarang pun dia hanya bertanya satu patah kata kepada putri bidadari.

"Kali ini kau bertaruh berapa banyak?"

"Tidak banyak, sedikit pun tidak banyak,"

Putri bak bidadari itu tertawa makin manis.

"kali ini aku hanya memasang taruhan sebesar dua juta limaratus ribu tahil saja."

Kali ini giliran Pok Ing yang terperanjat, hampir saja akan terjatuh dari atas pohon.

"Dua juta limaratus ribu tahil?"

Kembali Pok Ing menjerit kaget.

"memangnya kau anggap uangmu kelewat banyak? Memangnya kau sudah mengidap sakit edan?"

"Aku tidak sakit, juga tidak punya duit banyak, aku tak lebih hanya ingin mencari sedikit uang kemenangan."

"Bagaimana kalau kau sampai kalah?"

"Kalau kalah kepadamu juga tak masalah, toh kau bukan orang luar, dua juta limaratus ribu tahil juga bukan terhitung uang yang kelewat banyak"

Pok Ing bukan saja harus mengatur napasnya yang tersengal, dia bahkan mulai merintih.

Seorang gadis berusia delapan-sembilanbelas tahun ternyata memandang uang sebesar dua juta limaratus ribu tahil bagaikan sama sekali tak berharga, berhadapan dengan manusia macam begini, apa lagi yang bisa kau perbuat?

Kecuali minum arak, apa yang bisa kau lakukan?

Baru saja dia merampas cawan porselen yang berada di tangannya, baru saja meneguk habis isi cawan itu dalam sekali tegukan, Pok Ing sudah menyaksikan Sik Pak-jin, salah satu di antara Thay-ou-sacap lak-yu sedang berlarian mendekat dengan langkah tergesa-gesa, seperti orang yang baru saja bertemu setan.

Thay-ou-sacap-lak-yu adalah kawanan pemancing, seorang pemancing biasanya sangat memperhatikan soal kesabaran, ketenangan, menunggu, harus pandai menunggu, harus pandai menahan diri, dengan begitu ikan di dalam air baru bisa terpancing.

Sekarang si pemancing ini telah membuang jauh-jauh seluruh kemampuan yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun, dengan napas tersengal teriaknya.

"Celaka, celaka.....sudah kabur, sudah kabur....."

"Urusan apa yang celaka? Siapa yang kabur?"

Tanya Pok lng.

"Pek Ti-hoa telah kabur,"

Sahut pemancing itu.

"padahal tubuhnya sudah menderita duapuluh satu bacokan golok, tak nyana ternyata ia berhasil kabur."

"Kabur ke mana?"

"Kecuali jalan kematian, dia masih bisa kabur ke mana lagi."

Paras muka Thia Siau-kim yang hijau membesi tiba-tiba muncul di bawah cahaya lentera, di atas wajahnya sama sekali tak nampak secercah perubahan pun, katanya.

"Kalau dia tidak kabur, mungkin masih bisa hidup selama beberapa hari lagi, tapi dia kabur berarti dia harus mati."

"Mati dengan membawa serta lima juta tahil?"

Sekonyong-konyong wajah Thia Siau-kim mengejang keras, seperti dilecut orang secara tibatiba Lewat lama kemudian ia baru menyahuti.

"Benar, dia belum sempat memberi pengakuan atas jejak uang rampokannya atas tujuh buah kasus besar yang dia lakukan di sepanjang kotaraja, tahu-tahu tubuhnya sudah terjun ke dalam jurang"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan suara dingin.

"Rupanya dia memang berniat untuk mati, dia mau mati, maka jangan harap dia bisa menjumpai lagi uang sebesar lima juta tahil itu."

Cahaya lentera masih bersinar redup, Thia Siau-kim sudah pergi jauh, sementara putri bak bidadari itu pun mulai menghela napas panjang, sambil memegang dada sendiri serunya tertahan.

"Wouw, sungguh menakutkan orang ini, aku betul-betul takut bertemu dengannya"

"Sebetulnya dia bukan macam begitu,"

Kata Pok Ing sambil memandang bayangan punggung Thia Siau-kim yang menjauh, sorot matanya seakan sedang melamun.

"sebetulnya dia adalah seorang pemuda yang gagah dan berjiwa besar."

"Kenapa bisa berubah?"

"Gara-gara sebilah golok,"

Paras muka Pok Ing berubah makin serius.

"sebilah golok yang cukup membuatnya malang melintang di kolong langit."

"Golok iblis?"

Senyuman manis yang semula menghiasi bibir putri bak bidadari itu hilang lenyap seketika, katanya.

"Setahuku, di kolong langit hanya terdapat sebilah golok iblis beneran, yaitu golok Siau-lo-it-yateng-cun-yu yang berada di tangan kaucu dari Mokau, kelihatannya golok tersebut sama sekali tidak berada di tangannya."

"Golok sebetulnya tak beriblis, iblis justru muncul dari hatimu,"

Kata Pok Ing.

"bila ada hati iblis yang menempel di atas golok, peduli jenis golok macam apa pun yang dia gunakan, hasilnya sama saja."

"Seorang anak muda yang begitu baik, kenapa bisa memiliki hati iblis?"

"Karena ilmu golok yang dipelajarinya." .........Bulan sabit di atas permukaan air, butiran air bak senyuman siluman, bayangan rembulan yang berubah mengikuti riak ombak, kecepatan luar biasa yang tak terlukiskan dengan mata, butiran darak yang menetes dan berhamburan ke mana-mana.... bacokan demi bacokan yang silih berganti.... Dari balik mata Pok Ing seakan terpancar perasaan ngeri dan seram yang luar biasa.

"Selama hidup belum pernah kusaksikan ilmu golok semacam itu, tapi aku tahu, itulah golok iblis,"

Katanya.

"bila dalam hati seseorang telah muncul ilmu golok semacam itu, berarti dalam hatinya sudah muncul iblis. Hati iblis berarti iblis langit, bila iblis langit sudah menempel di badan, bila hati ibhs sudah menempel di golok, maka semua perubahan akan terjadi sesuai dengan jalan pikirannya, dan dia pun akan malang melintang di kolong langit."

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan Pok Ing melanjutkan.

"Bila seseorang sudah mulai malang melintang di kolong langit, bagaimana mungkin dia tidak berubah?"

Bab Gadis Cantik di Rumah Biara Ketika Pek Ti membuka matanya kembali, dia tidak tahu berada di manakah dirinya sekarang, pun tidak tahu apakah dirinya sudah mati atau tidak.

Baginya, membuka mata atau memejamkan mata sama saja hasilnya, yang terlikat di depan mata hanya kegelapan, apa pun tak ada yang terlihat.

Dia hanya merasa dirinya seperti sedang berbaring di atas sebuah batu datar yang keras lagi dingin, tubuhnya seperti ditutup dengan selembar selimut, bahkan tidak jelas apa sebabnya, ternyata seluruh tubuhnya tak satu bagian pun yang bisa digerakkan.

Dimulai dari tengkuknya, tubuk bagian bawahnya seakan sama sekali sudah lenyap, sama sekali tak terasa, malah luka bekas bacokan golok pada sendi tulangnya yang semula sakitnya hingga merasuk ke tulang, sekarang ikut terasa kaku dan mati rasa.

Tiba-tiba saja ia merasa sangat ketakutan.

Sejak mengalami begitu banyak penderitaan dan pengalaman dalam mengkadapi krisis hidup, belum pernah ia merasakan rasa takut yang begitu hebat seperti hari ini.

Tapi jika seseorang hanya tersisa kepalanya saja....

Ia tak berani berpikir lebih jauh, lewat lama kemudian, akhirnya sepasang matanya mulai terbiasa dengan suasana gelap, lambai laun secara lamat-lamat ia mulai dapat menangkap bayangan kabur di sekelilingnya.

Bayangan dari dinding rumah, bayangan dari daun jendela, kain putih yang menyelimuti badannya, bayang-bayang cekung dari tubuk seseorang, kegelapan malam di luar jendela serta bayang-bayang pohon yang ada di balik kegelapan malam.

Pek Ti nyaris bersorak gembira.

Tubuhnya masih utuh, ternyata hanya mati rasa saja, bahkan tubuhnya saat ini sudah diikat orang dengan tehti, membuat ia sama sekali tak mampu bergerak.

Berada di manakah dia sekarang?

Kenapa bisa berada di situ?

Siapa yang telah mengikatnya di atas ranjang yang dingin, keras dalam rumah kecil yang gelap gulita itu?

Ke mana perginya Thia Siau-kim yang sedang melakukan pengejaran?

Kemudian ia terbayang pula akan golok iblis yang mendatangkan perasaan ngeri dan seram yang luar biasa.

Tiba-tiba sebuah pintu dibuka orang, cahaya yang redup segera memancar ke dalam, menyinari sesosok bayangan manusia, kelihatannya seperti bayangan tubuh seorang wanita, sama-samar dia kelihatan agak tinggi, langsing dan membawa bau khas dari seorang wanita.

Gerak-geriknya amat berhati-hati namun cukup gesit, sewaktu bergerak sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun, begitu menyelinap masuk, pintu segera dirapatkan kembali, dengan cepat ia sudah berjalan menuju ke pembaringan yang keras lagi dingin itu.

Jantungnya berdebar keras, berdetak kencang, napasnya sedikit memburu, kelihatan seperti orang gembira, seperti juga merasa amat tegang, bila dapat melihat perubahan wajahnya saat itu, bisa dipastikan pipinya tentu bersemu merah.

Siapakah dia?

Mau apa datang ke situ?

Apakah ingin membunuh 'PekTi?

Pek Ti dapat mendengar debaran jantungnya, dapat mendengar napasnya yang memburu, tapi tak bisa menebak bagaimana perubahan rriirnik mukanya saat ini, apakah karena gembira yang meluap membuatnya jadi tegang?

Atau lantaran dendam kesumat ia jadi tegang?

Apakah dalam tangannya menggenggam golok pembunuh?

Di tangan perempuan itu tak ada golok.

Lewat lama kemudian, akhirnya dia menggerakkan tangannya, melakukan satu perbuatan yang tak akan terbayangkan oleh siapa pun.

Ternyata dia menggerakkan tangannya hanya untuk meraba wajah PekTi.

Jari tangannya dingin bagaikan es bahkan sedang gemetar, dengan menggunakan jari telunjuknya pelan-pelan ia membelai pipi dan bibir Pek Ti, sebentar menarik kembali tangannya, sebentar mengulurkan lagi tangannya, kemudian ia menarik kain selimut dan menutupkan ke badan Pek Ti.

Terasa ada angin berkembus lewat, Pek Ti segera dapat merasakan bahwa tubuhnya berada dalam keadaan telanjang bulat.

Yang lebih aneh lagi, bukan saja perempuan itu merabanya, malah sambil membungkukkan badan, dengan bibirnya yang hangat menyengat mulai menciumi pipi dan bibirnya, kemudian sekujur badannya mulai gemetar tiada hentinya, seperti orang kesurupan, seperti orang yang kena mantera jakat hingga tak mampu mengendalikan diri.

Sebenarnya apa yang dilakukan perempuan ini?

Apa yang dia kekendaki?

Atau jangan-jangan dia memang bukan manusia tapi setan perempuan cabul?

Padahal secara lamat-lamat Pek Ti sudah dapat merasakan apa yang sedang dilakukan perempuan itu, kalau hanya sebatas perbuatannya sekarang memang tak masalah, yang dikuatirkan justru bila selanjutnya dia akan melakukan tindakan dan perbuatan yang jauh lebih menakutkan.

Namun di sisi lain, Pek Ti pun sangat ingin mengetahui bagaimana bentuk wajahnya, cantikkah perempuan ini?

Semua lelaki di dunia pasti akan berpikiran begitu, karena dari dulu hingga sekarang, apa yang dipikirkan kaum lelaki di dunia ini nyaris hampir sama satu dengan lainnya.

Oleh karena itu walaupun sekujur badan Pek Ti kaku dan mati rasa, namun perasaannya tetap bergolak.

Di luar dugaan tiba-tiba perempuan itu berlalu dengan begitu saja, selesai menyelimuti badan Pek Ti, ia segera merapatkan pintu kamar dan sama seperti sewaktu datang tadi, lenyap di balik kegelapan bagai sukma gentayangan.

Yang lebih di luar dugaan adalah setelah yang satu pergi, segera muncul lagi tiga orang wanita, mereka pun sama seperti wanita yang pertama, mengenakan mantel berwarna hitam dengan gerak gerik yang sama sekali tidak menimbulkan suara, apa yang mereka lakukan terhadap Pek Ti pun hampir tak jauh berbeda.

Ternyata kawanan wanita misterius itu telah menganggap Pek Ti sebagai sebuah barang permainan baru, di antara mereka seolah sudah ambil undian terlebih dulu kemudian secara rombongan tampil ke dalam untuk bermain dan menikmatinya, tapi karena kuatir perbuatannya diketahui orang maka gerak-geriknya amat hati-hati dan penuh waspada.

Kalau toh mereka semua telah datang untuk menikmati, kenapa masih kuatir ketahuan orang?

Bila ditinjau gerakan tubuhnya yang begitu gesit, cekatan dan lincah, semestinya kawanan perempuan itu merupakan jago-jago tangguh yang pernah berlatih ilmu meringankan tubuh, tapi sikap mereka seolah begitu haus terhadap kaum lelaki, seakan-akan sudah sekian tahun tak pernah bersentuhan dengan lelaki.

Pek Ti tak bisa menduga asal-usul mereka, dia pun tak punya kekuatan untuk menebaknya.

Semalaman boleh dibilang ia disiksa habis-habisan oleh kemunculan kawanan perempuan itu.

Sekarang dia baru tahu, ternyata seorang wanita yang sudah haus terkadang jauh lebih menakutkan daripada sepuluh ekor serigala kelaparan.

Untung tak lama kemudian hari sudah terang tanah.

Begitu fajar mulai menyingsing, kawanan wanita itu pun bagai setan gentayangan yang tak tahan menghadapi cahaya pagi, seketika hilang lenyap tak berbekas.

Cahaya fajar yang terang mulai menyinari seluruh jagad, menerobos masuk melalui jendela, menerangi seluruh ruangan.

Kini Pek Ti baru bisa menyaksikan dengan jelas suasana di sekeliling sana.

Dia pun dapat melihat, meski bangunan rumah itu sedikit lembab namun semuanya dalam keadaan bersih, tak nampak debu, tak nampak kotoran, kain yang menyelimuti badannya berwarna putih bersih, seakan baru saj a selesai dicuci hingga tak kelihatan ada noda kotoran.

Halaman di luar sana pun tersapu bersih, bukan saja di situ ada pepohonan, terlihat pula bunga seruni kuning yang indak, ada pula akar daun yang merambat di atas dinding halaman, boleh dibilang suasana di situ amat hening dan tenang.

Kemudian Pek Ti mendengar suara lonceng yang dibunyikan bertalu, tak selang berapa saat tampak ada tiga orang dengan kepala tertunduk muncul di luar jendela dan berjalan dengan tenang menyeberangi halaman luar.

Ketiga orang itu mengenakan baju pendeta berwarna abu-abu, kepalanya yang gundul tertera bekas sundutan hio yang dalam, ternyata mereka adalah kaum biarawan.

Tapi ketiga orang itu berusia sangat muda, tubuknya ramping semampai, walaupun ketika berjalan berusaha melangkah dengan tenang, namun tak dapat menutupi penampilannya sebagai seorang gadis muda.

Ternyata tempat itu adalah sebuah biara nikou, bukan saja ketiga orang itu adalah nikou-nikou yang sudah dicukur gundul, kelihatannya kawanan wanita kelaparan yang muncul semalam pun merupakan sekawanan nikou.

Gerak-gerik mereka amat sopan, hati-hati dan serius, mungkin disebabkan peraturan biara yang biasanya amat keras, namun bagaimanapun mereka masih kelewat muda, terkadang gadis muda memang susah untuk mengendalikan rangsangan birahi yang tiba-tiba muncul dalam hati.

Sebenarnya ada berapa banyak nikou dalam biara ini yang termasuk dalam kelompok mereka?

Apakah kedga orang nikou muda itu terkbat pula dalam perbuatan semalam?

Selewat bunyi lonceng, saatnya sembahyang pagi dan sarapan.

Ketika mendengar suara doa yang berkumandang di keheningan pagi hari, kemudian ketika membayangkan tangan-tangan gemetar yang meraba dan mencium penuh kehausan dirinya semalam, Pek Ti tak bisa melukiskan bagaimana perasaan hatinya saat ini.

Kembali setengah harian sudah lewat, kini muncul orang untuk membersihkan halaman serta bangunan rumah kecil itu.

Yang muncul semuanya berjumlah tiga orang, dua di antaranya berperawakan agak tinggi dengan wajah model kwaci yang bersih dan cantik, hanya sayang mimik muka mereka sama sekali tanpa ekspresi, seakan-akan wanita cantik yang baru saja dibekukan dalam kubangan salju.

Sejak awal hingga akhir ketiga orang itu tak pernah melirik ke arah Pek Ti walau sekejap pun, sebaliknya Pek Ti mengawasi terus gerak-gerik mereka, dia berharap ada di antara mereka yang akan meliriknya secara sembunyi-sembunyi sambil melemparkan senyuman, atau diam-diam mengedipkan mata memberi kode rahasia, memberi tanda kalau dia pernah datang kemari semalam dan pernah melakukan perbuatan yang amat mesra dengan dirinya Sayang dia amat kecewa, sama sekali kecewa.

Setiap hari selalu ada orang datang menggantikan obat pada luhanya, menyuapinya makanan, tapi mereka selalu tampil dengan wajah dingin, hambar dan tanpa perasaan, hampir semua nikou itu seolah menganggap Pek Ti seperti seorang narapidana atau sejenis benda.

Ketika malam tiba, suasana hangat, mesra, penuh napsu berlangsung tapi setelah pagi semuanya itu akan hilang lenyap, jangan harap bisa menjumpainya lagi.

Pek Ti sadar, mustahil baginya untuk bisa membedakan mana di antara mereka yang pernah mengunjunginya di tengah malam dan mana yang tidak.

Waktu pun berlalu dalam suasana dingin di pagi hari dan hangat di malam hari, bukan saja kawanan nikou misterius itu memiliki kungfu yang luar biasa hebatnya, mereka pun sangat ahli dalam mengobati luka.

Tak selang beberapa saat kemudian mulut luka Pek Ti sudah mulai sembuh, keempat anggota badannya juga sudah mulai dapat merasa.

Hal ini membuktikan bahwa golok iblis dari Thia Siau-kim tidak sampai membuatnya cacad seumur hidup, peristiwa yang sekarusnya membuat hati gembira ini justru ditanggapi sebaliknya oleh Pek Ti, dia merasa penghidupannya kian hari kian bertambah sukt, kian kari kian bertambah tersiksa.

Di pagi hari, terkadang keempat anggota badannya secara tiba-tiba terasa gatal sekali, sedemikian gatalnya sehingga membuat orang ingin mengiris bagian dagingnya yang gatal itu.

Ketika malam hari menjelang tiba, rasa gatal itu semakin susah dihadapi, tangan-tangan yang gemetar, bibir yang haus dan panas, pada hakekatnya membuat orang nyaris jadi gila.

Untung hari-hari penuh siksaan akhirnya terlewatkan juga.

Pada pagi kari keenam, akhirnya muncul seseorang yang mengakkiri seluruh penderitaan dan siksaannya.

Orang itu adalah seorang nikou setengah umur yang berperawakan tinggi, meskipun tubuhnya mengenakan jubah pendeta berwarna keabu-abuan, namun jubah itu terbuat dari bahan yang berkualitas tinggi dan dijahit oleh tukang jahit yang ahli, bahkan pakaiannya amat bersih, sepasang kaus kakinya pun sangat bersih, sama sekali tak nampak setitik debu atau kotoran pun.

Sepasang tangannya pun dicuci sangat bersih bahkan terpelihara amat baik, kukunya digunting rapi, tampaknya dia mempelajari sejenis ilmu pukulan tenaga dalam yang kebat.

Yang paling penting adalah raut mukanya.

Selama hidup belum pernah Pek Ti menyaksikan raut muka yang bisa membuat hatinya merinding dan bergidik, permukaan wajah nikou itu menonjol tak karuan, seakan-akan terpahat dari batuan cadas yang dilakukan secara kasar dengan sebilah pisau tembaga, penuh dengan sifat buas dari jaman purba, penuh dengan hawa pembunuhan yang dimiliki seekor hewan buas.

Siapa pun orangnya, asal pernah melihat raut wajah tersebut, bukan saja selama hidup tak pernah akan melupakannya kembali balikan pasti tak ingin untuk memandang kedua kalinya.

Beruntung kedatangannya ke sana hanya mengajak Pek Ti untuk pergi menjumpai hongtiang biara tersebut, Thian-ci suthay.

Kemudian Pek Ti baru tahu, ternyata nikou itu adalah satu-satunya adik seperguruan Thian-ci nikou yang bernama Thian-heng.

Bab Thiat Losat Thian-ci suthay sama sekali berbeda dibandingkan sumoay-nya, dia adalah seorang nikou kurus kering, kecil, pendek dan berwajah penuh welas asih.

Mungkin dulunya dia tidak sekurus dan sekecil ini, tapi sekarang keempat anggota badannya sudah menyusut karena dimakan usia, hanya sepasang matanya masih kelihatan bening bersih bagai sumber mata air, lamat-lamat masih terlihat sisa kecantikan wajahnya di masa muda dulu.

Kamar pribadinya bersih bak sebuah ruang batu dalam kuburan kuno, perabot dan interiornya pun amat sederhana.

Tak disangkal Thian-ci suthay adalah seorang nikou pertapa yang rajin beribadah, tapi kalau dilihat kulit tubuhnya yang mengkilap serta sorot matanya yang tajam, dapat diketahui bahwa selain menjadi rahib pertapa, dia pun seorang jagoan dalam tenaga dalam.

Dengan ketajaman mata Pek Ti, ternyata dia pun tak dapat mengetahui sampai taraf manakah kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki nikou itu, maka dia hanya bisa berkata, dalam dunia persilatan dewasa ini, paling banter hanya ada lima orang yang memiliki tenaga dalam jauh melebihi kemampuannya.

Sikap Thian-ci nikou terhadapnya sangat datar dan ramah, mul-mula dia menanyakan dulu nama serta asal-usulnya, terhadap nama Pek Ti, ternyata ia tidak memberikan reaksi yang berlebihan.

Tampaknya tidak banyak yang dia ketahui tentang urusan dunia persilatan, tapi begitu menyinggung soal latar belakang asal-usulnya, ia jadi amat tertarik dan kekelihatan amat menaruh perhatian.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, nikou itu baru berkata.

"Aku tidak tahu apakah sekarang kau sudah tahu berada di manakah dirimu, tempat ini bernama Thian-ci-am, atau yang lebih dikenal umat persilatan sebagai Kua-hu-am (Kuil Kaum Janda)."

Thian-ci-am (Kuil Kaum Janda), nama tersebut memang sudah cukup menjelaskan tentang banyak hal.

Sudah barang tentu Pek Ti pernah mendengar tentang nama kuil ini.

Sebagian besar wanita yang menjadi nikou di tempat ini adalah para istri pendekar atau prajurit yang gugur dalam medan pertempuran serta para perampok, kaum begal wanita yang secara sukarela melepaskan golok pembunuhnya.

Konon Thia Losat, seorang gembong iblis wanita yang malang melintang di wilayah Kanglam dan sudah banyak membunuh manusia pun menjadi biarawati di tempat ini.

Terhadap kawanan nikou yang hidup dalam biara ini, orang persilatan selalu menaruh rasa hormat yang tinggi bahkan ada kesepakatan bersama bahwa mereka tak akan datang mengusik ketenangan mereka hidup bertapa.

Oleh sebab itu radius sepuluh li di seputar biara tersebut boleh dibilang merupakan daerah terlarang bagi umat persilatan untuk memasukinya.

Andaikata ada yang ingin menerjang masuk, mereka mempunyai wewenang untuk membunuh sang pelanggar tanpa ampun, oleh sebab itulah selama tahun belakangan tak pernah ada orang yang berani melanggar larangan tersebut dengan mendatangi biara itu.

"Kau sedang diburu orang, tubuhmu menderita duapuluh satu luka bacokan, bila tidak ada yang menolong, dapat dipastikan jiwamu akan melayang,"

Ujar Thian-ci suthay kepada Pek Ti.

"oleh sebab itu aku menolongmu bahkan merawat lukamu di sini."

Dari balik nada suaranya yang dingin tiba-tiba terlintas semacam luapan perasaan yang sangat aneh, lewat lama kemudian ia baru mengkela napas panjang sambil tambahnya.

"Tentu saja hal ini disebabkan di antara kita memang berjodoh."

Dalam keadaan begini Pek Ti sendiri pun tidak tahu apa yang harus dikatakan, dia hanya mendengarkan.

"Di antara kawanan pemburu dirimu, ada seorang di antaranya bermarga Thia, konon bernama Thia Siau-kim, dia pernah datang kemari satu kali, tapi tidak berani menyerbu masuk ke dalam biara."

Kalau Thia Siau-kim berani menyerbu masuk, memangnya dia bisa keluar lagi dari situ dalam keadaan hidup?

"Tapi aku tahu selama berapa hari belakangan, dia selalu melakukan penjagaan dan patroli di luar wilayah daerah terlarang, bahkan dia kumpulkan begitu banyak jago silat yang berilmu hebat, asal kau keluar dari sini, dapat dipastikan mereka akan menghabisi nyawamu,"

Kata Thian-ci nikou.

"kau adalah seorang pria, dia tahu, tak mungkin kau bisa berdiam terlalu lama di tempat ini."

"Benar,"

Pek Ti segera berkata.

Baca Juga: Manusia Yang Bisa Menghilang 4

Baca Juga: Sepasang Golok Mustika 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert