Eps 4 Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL
Baca online Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL
Cersil Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL.
"Ada dua orang yang memiliki kepandaian luar biasa diantara anak buahnya ......"
"Hm. Cui-ciangling,"
Seru Wi-to hwecu. Cui Bu-tok melangkah maju seraya memberi hormat, sahutnya.
"Hamba siap menerima tugas."
"Perintahkan untuk siap tempur, kumpulkan untuk kelompok bendera merah putih dengan seluruh hulubalangnya untuk maju ke depan laga bersamaku, yang lain tetap bertugas di pos masing-masing."
Cui-ciangling mengiakan dan segera mengundurkan diri, sebelum pergi dia melirik sekilas ke arah Ji Bun.
"Ko-congkoan,"
Seru sang Hwecu pula. 8.22. Dalang Penyerangan Wi-to-hwe "Hamba siap di sini!"
Jawab Ko Ling-jin.
"Penjagaan dan mempertahankan markas besar kuserahkan kepadamu untuk memimpinnya."
"Hamba terima perintah,"
Setelah memberi hormat Ko Ling-jin segera mengundurkan diri pula.
Pikiran Ji Bun bekerja cepat, ia menduga kedua Hou-hoat yang dimaksud mungkin adalah Bu-cing-so dan Siang-thian-ong, kedua bangkotan tua itu, kalau betul, kekuatan Ngo-lui-kiong sungguh amat mengejutkan, kesempatan ini cukup baik bagi dirinya untuk menuntut balas kepada musuh-musuh besar ini?
Dalam hati dia sudah tahu kenapa pihak Ngo-lui-kiong meluruk kemari menuntut balas, tentu karena anak buahnya yang dipimpin Ngo-lui-kiongcu In Giok-yan terbasmi oleh laki-laki muka hitam yang menyamar sebagai Komandan ronda Wi-to-hwe di kelenteng itu.
Dalam pada itu, sikap Wi-to-hwecu tetap tenang saja, katanya.
"Saudara muda, sukalah duduk lagi sebentar, biar aku keluar sejenak untuk membereskan persoalan ini."
Lekas Ji Bun berdiri, sahutnya.
"Cayhe ingin ikut Hwecu untuk menghadapi musuh yang menyerbu itu."
"Kalau demikian, marilah kita keluar bersama!"
Sekeluar ruang pendopo, mereka sudah ditunggu dua orang tua dan enam laki-laki berpakaian ketat yang siap dengan senjata lengkap berjajar di luar pintu, mungkin mereka inilah pimpinan kelompok bendera merah putih beserta para hulubalangnya.
Di sana bayangan orang banyak juga bergerak, agaknya mereka mulai siap siaga suasana menjadi tegang.
Sambil mengulap tangan Wi-to-hwecu segera pimpin anak buahnya berlari keluar, Ji Bun mengiringinya, dibelakangnya kedua Hiangcu dari kelompok bendera merah putih.
Setelah melewati lapangan luas dan mengitari lembah, sayup-sayup sudah terdengar suara pertempuran yang riuh rendah.
Lekas sekali mereka sudah berada di mulut gunung yang bertanah lapang, tertampak di tengah tanah lapang dua orang tua ubanan bertubuh tinggi dan cebo!
sedang bertempur sengit melawan dua orang berbaju putih, begitu hebat jalannya pertempuran ini sampai orang-orang yang menonton mundur cukup jauh dari arena, puluhan orang berdiri sejajar disebelah sana, di depan barisan orang-orang berbaju putih ini berdiri seorang laki-laki tinggi berbaju putih, tentunya dia inilah Ketua Ngo-liu-kiong, Tin-kui-thian In Ci-san.
Beberapa mayat sudah menggeletak di sana sini, yang terluka parah merintih-rintih mengenaskan.
Wi-to-hwecu bersama Ji Bun dan lain-lain langsung memasuki gelanggang.
Dalam Bu-lim masa ini, tokoh-tokoh kosen yang kira-kira setanding dengan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong dapat dihitung dengan jari, namun kedua orang berbaju putih anak buah Ngo-lui-kong ini termasuk jago yang berkepandaian paling tinggi, mereka kuat bertahan menghadapi kedua bangkotan tua ini, maka betapa tinggi kepandaian Ngo-liu-kiong-cu In Ci-san, sungguh sukar dibayangkan.
Bu-cing-so memiliki ilmu Thian-cin-ci-sut, kenapa ilmu sakti ini tidak dia gunakan?
Demikian pula ilmu pukulan Siang-thian-ong juga merupakan kepandaian yang tiada taranya, namun dia juga tak dapat mengalahkan lawannya.
"Berhenti!"
Begitu tiba Wi-to-hwecu segera berseru dengan suara menggeledek, empat orang sedang bertempur segera melompat mundur, tertampak oleh Ji Bun, kedua anak buah Ngo-lui-kiong itu kira-kira berusia empat puluhan, muka tidak merah, napas tidak memburu, sebaliknya Bu-cing-so dan Siang-thian-ong sama mengunjuk rasa lelah, setelah mundur mereka diam saja sambil menunduk lesu.
Wi-to-hwecu berkata dengan nada berat.
"Harap kalian mundur dan istirahat, biar kubereskan mereka."
Tegak alis Bu-cing-so, katanya uring-uringan.
"Mereka bisa main racun, syukur Lohu berdua mampu bertahan, kalau tidak akibatnya sukar dibayangkan."
Tergerak hati Ji Bun. Wi-to-hwecu manggut-manggut, katanya lantang.
"Silakan In-ciangbun maju bicara."
Laki-laki tinggi besar berjubah putih beranjak ke depan menghadapi Wi-to-hwecu. Wi-to-hwecu segera angkat tangan serta menyapa.
"In-ciangbun meluruk datang dengan anak buah sebanyak ini, tentunya ada alasan yang bisa diberikan kepada kami?"
In Ci-san terkekeh dingin, katanya.
"Perkumpulanmu mengagulkan diri sebagai Wi-to (menegakkan keadilan), namun sepak terjangnya amat kotor dan memalukan, ketahuilah kami datang untuk menuntut balas."
"Menuntut balas apa, In-ciangbun mempunyai bukti-bukti yang nyata?"
"Sudah tentu, delapan puluh tujuh murid kami beruntun terbunuh oleh Wi-to-hwe kalian ........."
"Aku sendiri tidak tahu, bukankah kejadian ini amat aneh?"
"He he, utang darah bayar darah, banyak mulut takkan berguna."
"Kenapa tidak kau jelaskan duduk perkara yang sebenarnya?"
"Tanyakan kepada dirimu sendiri, aku tak sudi banyak omong lagi."
"Sebetulnya apa maksud tujuanmu?"
"Tiada lain menuntut balas bagi murid-murid kita yang gugur."
Wi-to-hwecu menggeram gusar, katanya.
"In Ci-san, jangan bertingkah dan main bunuh di daerahku, perbuatanmu ini terlalu menghina, kalau tidak memberikan tanggung jawab, jangan harap kau bisa turun dari Tong-pek-san."
Ngo-lui-kiongcu menyeringai, katanya.
"Hwecu bermulut besar, jangan kau menggertak orang, justru pihak kamilah yang akan mencuci bersih To-pek-san dengan darah."
"Azas berdirinya perkumpulan kami demi menegakkan keadilan dan kebenaran, segala persoalan harus diselidiki dulu supaya jelas duduknya perkara.'' "He he, merdu sekali kata-kata Hwecu, coba jawab, kalian meresmikan perkumpulan dan mendirikan markas dengan simbol menegakkan keadilan segala, namun sepak terjangnya kotor dan rendah. Kau sendiri menyembunyikan asal-usul dan tidak mengumumkan nama sendiri kepada kaum persilatan, maka kami ingin mendengar penjelasanmu."
Terbangkit semangat Ji Bun, pertanyaan ini sudah lama juga menjadi teka-teki didalam benaknya. Maka terdengar Wi-to-hwecu berkata dengan aseran.
"Suatu perkumpulan berdiri dan berkecimpung dalam Bu-lim, asal dia tidak melanggar 'Bu-to' (aturan persilatan), tidak mengingkari azas tujuannya, tidak perlu malu hidup berjajar dengan sesamanya. Soal asal-usul dan namaku kan termasuk urusan pribadi seseorang, diumumkan atau tidak kan tidak melanggar peraturan."
"Itu pembela diri yang menyimpang dari kebenaran, seluruh kaum persilatan dari golongan lurus pasti tidak menerimanya."
"Orang she In, tidak usah kau mencari alasan dan mengoceh, marilah kita bicarakan urusan yang sebenarnya."
Tiba-tiba sorot mata Tin-kui-thian In Ci-san menatap ke arah Ji Bun, serunya.
"Dia ini Te-gak Suseng bukan?"
"Betul!"
Sahut Wi-to-hwecu.
"Ternyata dia juga salah seorang algojo dari Wi-to-hwe, diapun utang puluhan jiwa orang-orang kami."
Wi-to-hwe-cu berpaling ke arah Ji Bun.
Tentu saja Ji Bun tahu apa yang dimaksud oleh ucapan In Ci-san tadi, dalam situasi seperti sekarang tak berguna dia membela diri dan menjelaskan duduk persoalannya, namun bahwa dirinya dianggap sebagai anggota perkumpulan yang menjadi musuh besarnya, hal ini harus segera dijelaskan, maka ia menjengek, katanya.
"Cayhe bukan anggota Wi-to-hwe, In ciangbun harap tahu akan hal ini."
"Maksudmu, anak muda, kau hendak bertanggung jawab seorang diri?"
"Ya, boleh silakan,"
Jawab Ji Bun.
"Bagus sekali,"
Kata Ngo-lui-kiongcu.
"Saudara muda,"
Wi-to-hwecu, segera menyela.
"kau adalah tamu kami, tidak boleh sembarangan turun tangan, menjadi tanggung jawab kami untuk melindungi keselamatanmu."
Dalam hati Ji Bun mengumpat, namun mulutnya menjawab tawar.
"Terima kasih, tapi Cayhe tidak menolak segala tantangan."
Tatapan dingin tajam Wi-to-hwecu menyapu ke arah Ngo-lui-kiongcu, katanya tandas.
"Orang she In, katakan caranya untuk menyelesaikan persoalan ini?"
Ngo-lui-kiongcu menyeringai seram, katanya.
"Perlu apa pakai cara segala, kedatangan kami bukan untuk mengadu kepandaian, biarlah puluhan, jiwa orang-orang Ngo-lui-kiong gugur di Tong-pek-san atau Wi-to-hwe kalian yang hancur lebur?"
Wi-to-hwecu mengertak gigi, serunya.
"Tanpa pikirkan akibatnya?"
"Itulah tujuan kedatangan kami!"
"Baik, sekali lagi kuperingatkan, belakangan, ini sudah kami selidiki adanya manusia-manusia licik dan licin yang menyaru menjadi anggota kami serta melakukan kejahatan di luar, jelas tujuannya untuk merusak nama baik kami, untuk ini harap kau suka berpikir sekali lagi."
"Hanya anak kecil yang mau percaya pada omonganmu ini."
Wi-to-hwecu dan seluruh Hiangcu dan Tongcu yang hadir sama menggeram gusar, mata melotot gigi berkerutuk menahan marah.
Saat itu, penguasa hukum markas pusat Cui Bu-tok sudah memburu tiba dengan membawa dua puluhan anak buahnya, segera dia memberi pertolongan kepada Bu-cing-so dan Siang-thian-ong yang terkena racun.
Hasrat Ji Bun untuk menuntut balas sudah berkobar dalam benaknya, jika kedua pihak mulai berhantam, seluruh jago-jago Wi-to-hwe pasti terlibat dalam pertempuran sengit secara terbuka, maka tibalah saatnya dia langsung menghadapi Wi-to-hwecu, setelah itu baru meruntuhkan yang lain satu persatu, tidak sulit rasanya mencapai cita-cita yang selama ini dinantikan, meski perbuatannya ini termasuk mengail di air keruh, namun demi menuntut balas ratusan jiwa orang-orang Jit-sing-po, segala carapun boleh dilakukan.
Suasana semakin tegang dan mencekam perasaan seluruh hadirin.
Dengan bekal Lwekang Ji Bun sekarang serta tangannya yang berbisa, kalau secara mendadak melancarkan serangan, maka dapatlah dibayangkan bagaimana nasibnya yang bakal menimpa pihak Wi-to-hwe.
Sudah tentu tiada orang lain yang tahu akan jalan pikiran Ji Bun.
Bergetarlah suara Wi-to-hwecu.
"in Ci-san, berulang kali sudah kujelaskan, itu berarti aku sudah memberikan pertanggungan-jawab kepada kaum persilatan, maka segala akibat yang bakal terjadI menjadi tanggung-jawabmu."
Acuh sikap Ngo-lui-kiongcu, katanya.
"Bagaimana jalan pikiranmu semua orang juga dapat menebaknya, kulitnya saja kalian mengagulkan diri sebagai penegak keadilan, namun kenyataan membuat onar dan melakukan kejahatan di Bulim, perbuatan rendah dan kotor ini sungguh amat memalukan."
"Baik buruk akhirnya akan diputuskan oleh kesimpulan umum, sudahlah, tak usah banyak cerewet."
Ngo-lui-kiongcu segera angkat tangan dan memberi aba-aba dengan bentakan menggeledek.
"Maju!"
Puluhan orang berbaju putih itu serempak menerjang maju.
Wi-to-hwecu juga segera memberi tanda kepada anak buahnya untuk menyambut serbuan musuh, pertempuran sengit segera berlangsung dengan gegap gempita.
Setelah memberi aba-aba, In Ci san segera menubruk maju ke dapan Wi-to-hwecu sambil melayangkan telapak tangannya yang segede kipas.
Sementara Bu-cing-so dan Siang-thian-ong tetap melayani kedua orang baju putih yang menjadi lawan mereka tadi.
Yang lain-lain saling baku hantam dengan sasaran masing-masing.
Ji Bun menonton di pinggir gelanggang sambil berpeluk tangan.
Dilihatnya orang-orang Ngo-lui-kiong kecuali kedua orang berbaju putih yang melawan Bu cing-so dan Siang-thian-ong itu, selebihnya berkepandaian rendah, maka gerak-gerik kedua orang baju putih itu kelihatan menonjol.
Orang yang melawan Siang-thian-ong berperawakan tinggi, setiap jurus, setiap pukulan berhantam dengan cara keras lawan keras, kekuatan kedua pihak seimbang, yang berperawakan pendek menghadapi Bu-cing-so, gerak-geriknya amat gesit dan enteng, gerak langkahnya amat aneh, dia main sergap dan bertempur dengan putar-memutar.
Di sebelah sini, setiap kali melontarkan pukulannya, In Ci-san membarengi suara bentakan bergemuruh seperti suara guntur, namun Wi-to-hwecu menghadapinya dengan tenang dan seenaknya, jelas Lwekang dan kepandaiannya masih lebih unggul daripada lawannya, disinilah letak perhatian Ji Bun.
Wi-to-hwecu beserta orang dalam tandu yang belum muncul merupakan dua jago terkosen yang paling sukar dihadapi, sementara Jay-ih-lo-sat kira-kira bisa ditimbang dari kekuatan Pek-siu-thay-swe yang pernah kecundang ditangannya, jadi kira-kira dirinya cukup mampu menghadapinya, kalau jago-jago Wi-to-hwe hanya beberapa gelintir orang ini, harapan untuk menuntut balas menjadi lebih meyakinkan.
Pertempuran semakin memuncak, jeritan benturan senjata dan teriakan membangkit semangat, terbawa hanyut oleh desiran angin gunung yang menghembus santer sehingga menjadi paduan suara yang seram mengerikan.
Situasi sudah semakin kentara, kecuali Wi-to-hwecu bersama Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan Cui Bu-tok serta beberapa jago-jago kosen lainnya harus roboh, tujuan Ngo-lui-kiong hendak mencuci bersih Tong-pek-san dengan darah jelas takkan mungkin terlaksana, sebaliknya, kekuatan Wi-to-hwe masih segar, bala bantuan di belakang masih cukup banyak, ratusan orang yang mempertahankan markas pusat merupakan kekuatan yang tak boleh dipandang enteng, hal ini tidak menguntungkan Ngo-lui-kiong, kalau pertempuran ini terus dilanjutkan, bagaimana akibatnya sudah bisa diramalkan.
Ji Bun tetap berdiri sekokoh batu karang yang didampar amukan ombak ditengah ajang pertempuran yang sengit itu, gejolak hatinya ikut memuncak menyertai perobahan yang mulai kentara di tengah gelanggang.
Dia berpikir, kalau saat ini ayahnya muncul, sungguh merupakan kesempatan terbalk yang sukar dicari.
Jika sekarang juga dirinya ikut terjun ke dalam ajang pertempuran, situasi pasti akan segera banyak berubah.
"Ngek! Huuuaa!"
Tampak Ngo-lui-kiongcu mengerang kesakitan, dadanya terpukul Wi-to-hwecu, darah menyembur dari mulutnya, tapi tenaga pukulan Ngo-lui-ciang sekeras guntur itu tetap hebat dan tidak menjadi asor karenanya.
Puluhan jiwa sudah melayang, mayat bergelimpangan.
Rambut dan jenggot ubanan Siang-thian-ong beterbangan, badannya yang pendek buntak menggelinding pergi-datang seperti bola yang ditendang kian kemari, gelagatnya dia mulai terdesak oleh rangsakan orang berbaju putih yang ganas, sedang partai Bu-cing-so kelihatan masih setanding alias sama kuat.
Segara turun tangan atau menanti kelanjutannya?
Demikian Ji Bun bertanya-tanya dalam hati.
Dia menghadapi suatu pilihan yang menentukan.
Ia maklum pihak musuh lebih banyak dan kuat, sekali turun tangan ia pantang mundur dan harus berhasil, kalau tidak, aksi untuk menuntut balas selanjutnya bakal sulit dan berbahaya.
Sampai sekarang hatinya masih bimbang dan bertanya-tanya, apa betul Wi-to-hwecu adalah durjana yang menghancur leburkan Jit-sing-po, namun ayahnya jelas menuduh pihak Wi-to-hwe yang menjadi algojo-algojonya.
Siangkoan Hong yang menjadi biang keladi dari pembantaian besar-besaran itu sampai sejauh ini belum pernah muncul, memangnya siapa saja yang menjadi musuh-musuh besarnya yang sejati sampai sekarang dia masih belum berhasil mengumpulkan data-data yang menyakinkan, kalau bergerak secara membabi buta, sudah tentu tidak menguntungkan?
Kecuali dia berhasil membekuk Wi-to-hwecu?
Baru saja hasrat ini berkelebat dalam benaknya, sekonyong-konyong jeritan seram saling susul kumandang dari sana sini, orang berbaju putih sama roboh binasa.
Tampak bayangan warna warni berkelebat pergi datang bagai seekor naga yang memainkan ombak di tengah samudera raya, tahu-tahu Jay-ih-lo-sat sudah berada di tengah gelanggang.
Di belakang menyusul beberapa bayangan orang lagi, sehingga seluruh gelanggang seperti dipagari oleh barisan manusia.
Pelan-pelan sebuah tandu atau joli berhias dipikul memasuki arena.
Berdegup hati Ji Bun, hasrat turun tangan yang sudah berkobar seketika diurungkan.
Joli itu langsung menuju ke arah Siang-thian-ong yang sedang berhantam dengan orang berbaju putih.
"Berhenti!"
Orang dalam tandu membentak enteng, suaranya tidak keras, namun kedengarannya setajam jarum menusuk kuping, seluruh hadirin yang lagi bertempur tiada yang tidak mendengarnya, ini pertanda bahwa Lwekang orang dalam tandu sudah mencapai taraf yang tiada taranya.
Dalam waktu yang sama, Ngo-lui-kiongcu kembali kena sekali pukulan Wi-to-hwecu, darah kembali menyemprot dari mulutnya, jubahnya yang putih berlepotan darah, langkahnyapun sempoyongan hampir jatuh.
Untung Wi-to-hwecu tidak menambahi serangan, dia mundur dan menghentikan serangan.
Yang lain segera menghentikan pertempuran dan mundur ke barisan masing-masing.
Puluhan mayat sudah berjatuhan sehingga darah mengalir berceceran.
Murid-murid Ngo-lui-kiong merupakan jumlah yang terbesar di antara mayat-mayat yang bergelimpangan.
Walau sudah berhenti dan mengundurkan diri, namun Siang-thian-ong masih melotot beringas, rambut dan janggutnya bergerak-gerak.
Terdengar orang dalam tandu bersuara tajam.
"Tuan ini jago kosen dari mana?"
Orang berbaju putih berperawakan tinggi yang bertempur melawan Siang-thian-ong terkekeh dingin, katanya.
"Apakah pertanyaanmu ini tidak berkelebihan, sudah tentu aku ini anak buah Ngo-lui-kiong."
Murid Ngo-lui-kiong yang masih hidup beramai-ramai kumpul di belakang Tin-kiu-thian In Ci-san, pihak Wi-to-hwe sudah menguasai suasana.
Dalam hati Ji Bun amat menyesal, kesempatan baik tadi sudah disia-siakan, kalau sejak tadi dia mau turun tangan, situasi tentu jauh berubah, namun hatinya masih was-was, kedua orang baju putih itu berkepandaian lebih tinggi dari Ketua Ngo-lui-kiong In Ci-san, hal ini sungguh luar biasa.
Maka seluruh perhatiannya kini ia tujukan ke arah orang dalam tandu itu.
Didengarnya orang dalam tandu tertawa dingin, katanya.
"Sahabat, jangan menyembunyikan kepala tapi memperlihatkan ekor, kau dan temanmu yang satu ini pasti bukan anak buah Ngo-lui-kiong, pertama, ilmu silat kalian tidak serasi, kedua, anak buah biasa mana mungkin berkepandaian lebih tinggi dari pemimpinnya."
Dengan kaget orang berbaju putih menyurut mundur, katanya.
"Kenapa kau tidak keluar saja, memangnya kau ini kura-kura yang malu dilihat orang."
"Kurangajar,"
Segulung angin tahu-tahu melanda dari dalam tandu menerjang orang berbaju putih, seketika ia tergetar mundur empat langkah.
Tersirap darah Ji Bun, kepandaian orang baju putih barusan sudah disaksikan sendiri, namun dia tidak kuasa melawan damparan angin si orang dalam tandu.
apakah dirinya kuat menandinginya masih sukar diraba juga.
Terdengar orang dalam tandu berkata pula.
"Sahabat, katakanlah asal usulmu?"
"Kenapa tidak yang mulia dulu memperkenalkan diri?"
"Akulah yang tertua dari para Hou-hoat Wi-to-hwe."
"Tentunya kau punya nama dan gelaran."
"Kau melanggar daerah terlarang dan main bunuh ditempat kami, undang-undang Bu-lim sudah kau injak-injak, terus terang aku tidak ingin membunuh orang yang tidak kukenal."
Di sebelah sana Wi-to-hwecu juga sedang mengajukan pertanyaan kepada Ketua Ngo-lui-kiong Tui-kiu-thian In Ci-san.
"Sebagai ketua suatu aliran, tentunya kau berani bertanggung jawab bukan?"
Ngo-lui-kiongcu mendehem geram, katanya.
"Selama air mengalir dan gunung menghijau pasti akan datang saatnya untuk memberikan pertanggungan jawab."
"In Ci-san,"
Desis Wi-to-hwecu.
"kukira kau takkan bisa turun gunung hari ini."
"Takabur sekali kau."
"Kenyataan akan membuktikan."
Disebelah sini, orang dalam tandu memberi peringatan terakhir.
"Sahabat, kau tidak mau memperkenalkan diri, terpaksa kupandang kau sepihak dengan musuh ......"
"Terserah!"
Sahut orang berbaju putih tak acuh.
Pada saat itulah, sesosok bayangan orang tahu-tahu meluncur datang dan hinggap di pinggir gelanggang, seketika Ji Bun mengerut alis, karena yang datang adalah Thian-thay-mo,ki, katanya aseran.
"Cici, kenapa kaupun kemari?"
Thian-thay-mo-ki tersenyum kecut, tanyanya.
"Kau tidak senang?"
Lekas Ji Bun menyangkal.
"Tidak, tiada maksudku demikian."
"Dik, tahukah kau siapa baju putih yang berdiri di sebelah kanan Ngo-lui-kiongcu itu?"
"Siapa dia?"
Tanya Ji Bun sambil memandang orang berbaju putih yang tadi bertempur melawan Bu-cing-so. Thian-thay-mo-ki melirihkan suaranya.
"Tanpa sengaja aku mencuri dengar pembicaraan mereka bahwa pihak Ngo-lui-kiong berani meluruk kemari mencari setori lantaran dihasut dan didukung oleh kedua orang baju putih itu, mereka mengenakan kedok dan merias diri, menyaru jadi anak buah Ngo-lui-kiong, si baju putih yang itu bukan lain adalah Biau-jiu Siansing yang kau cari-cari itu."
Seketika merah padam muka Ji Bun, sorot matanya membara, katanya gugup.
"Apa benar?"
"Kau tidak percaya pada Cicimu ini?"
"Lalu siapa laki-laki baju putih yang lain itu?"
"Entahlah, tapi sayup-sayup seperti kudengar mereka menyinggung Jit-sing-kojin." 8.23. Jiwa Kesatria Tak Gentar Elmaut Ji Bun mengertak gigi, katanya.
"Kemungkinan mereka sekomplotan, bukan mustahil orang yang menyaru dengan kedok hijau dan berjubah sutera itupun komplotan mereka."
Habis berkata segera ia melejit maju ke depan orang berbaju putih, secara reflek si baju putih menyurut mundur sambil berjaga, sorot matanya hambar dan kaget, seluruh hadirin juga terkejut terhadap perbuatan Ji Bun yang mendadak ini.
Ji Bun terkekeh dingin, sapanya.
"Selamat bertemu tuan!"
Orang baju putih melengak, katanya.
"Te-gak Suseng, persoalan kita kukira kurang leluasa dibereskan disini dan sekarang juga."
"Untuk menemukan jejakmu terlalu sulit, mumpung kepergok di sini, tentunya kau harus memberi pertanggungan jawab kepadaku."
Ngo-lui-kiongcu tiba-tiba beranjak maju, katanya, dengan mendelik.
"Anak muda, kebetulan kau menampilkan diri, utangmu pada pihak kami biar dibereskan sekarang juga,"
Belum habis bicara, telapak tangannya yang segede kipas itu segera melayang menghantam Ji Bun Ji Bun mendengus geram, sedikit miring sebelah tangannya bergerak menangkis.
"Plak", seluruh hadirin tergetar oleh benturan dasyat ini, kontan Ngo-lui-kiongcu sempoyongan mundur tiga langkah, luka dalamnya seketika kambuh, darah kembali meleleh dari mulutnya. Sisa kekuatan benturan membuat pasir debu beterbangan memenuhi angkasa. Ji Bun melirik ke arah Ngo-lui-kiongcu dan tetap menghadapi orang berbaju putih tadi, katanya dengan suara rendah.
"Bagaimana kau?"
"Kenapa tidak bersabar sebentar, setelah urusan di sini selesai saja?"
"Untuk apa membuang-buang waktu, nasib orang-orang Ngo-lui-kiong sudah jelas, jangan harap kau dapat turun dari Tong-pek-san."
"Belum tentu, boleh kau buktikan sendiri."
Tengah percakapan berlangsung, mendadak Wi-to hwecu menjerit kaget seraya berteriak.
"Ngo-lui-cu!"
Dengan kaget Ji Bun berpaling, dilihatnya Ngo-lui-kiongcu sudah mundur dua tombak di sebelah sana, tangan kanannya menggengam sebuah bola warna merah sebesar kepalan, menyusul kedua orang baju putih itupun turut melejit mundur seraya mengacungkan bola bundar warna merah yang sama bentuk dan besarnya.
Lekas Thian-thay-mo-ki melompat maju ke samping Ji Bun serta menarik lengannya teriaknya gugup.
"Lekas mundur!"
"Ada apa?"
Tanya Ji Bun tak mengerti.
"Kau belum pernah dengar Ngo-lui-cu (mutiara guntur)?"
"Benda apa sih Ngo-lui-cu itu?"
"Pusaka pelindung Ngo-lui-kiong, namanya saja mutiara, yang betul merupakan granat yang seketika meledak bila dilemparkan, betapa tinggi kepandaianmu juga sukar terluput dari sasarannya."
"Jadi Ngo-lui-cu sama seperti Bik-lik-tan (granat halilintar)?"
"Betul, lekas kau mundur Dik,"
Tanpa banyak bicara lagi segera ia seret Ji Bun mundur beberapa tombak.
Ji Bun terbelalak bingung, sungguh perubahan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, tiga butir Ngo-lui-cu kiranya cukup berlebihan untuk merobohkan Wi-to-hwecu dan seluruh anak buahnya.
Sisa anak buah Ngo-lui-kiong akan lebila leluasa menerjang ke atas dan menyerbu markas dan mendudukinya, dibantu kedua orang baju putih lagi, seluruh anggota Wi-to-hwe akan ditumpas habis-habisan.
Apakah dirinya harus tinggal pergi demikian saja?
Kalau tetap berada di sini, bukan mustahil dirinya bakal ikut menjadi korban.
Sementara itu, Ngo-lui-kiongcu dan kedua orang baju putih yang masing-masing mengacungkan Ngo-lui-cu berpencar ke tiga arah, jarak antara ketiganya kira-kira dua tombak, itu berarti sepuluh tombak disekitar mereka dapat mereka capai dengan sekali timpukan granat yang mematikan itu.
Pucat dan berubah air muka orang-orang Wi-to-hwe, tandu berhias itupun menyurut mundur setombak lebih.
Rambut ubanan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong sempat bergerak-gerak berdiri, agaknya mereka teramat murka.
Ngo-lui-kiongcu tertawa gelak-gelak seperti orang kesurupan, katanya.
"Wi-to-hwe akan tamat hari ini, kalian masih ada pesan apa lagi?"
Tajam tatapan Wi-to-hwecu, namun suaranya masih mantap dan kuat.
"ln Ci-san, kau memang licik dan keji, boleh kau coba timpukan senjatamu itu."
In Ci-san menyeringai, katanya.
"Tadi sudah kukatakan kalau bukan aku yang gugur di sini, maka akulah yang akan mencuci tanah Tong-pek-san ini dengan darah kalian ini."
Orang berbaju putih yang dituding sebagai Biau-jiu Siansing oleh Thian-thay-mo-ki tadi mendadak berpaling ke arah Ji Bun, katanya.
"Anak muda, kalau kau tidak ingin mampus, lekas tinggalkan tempat ini."
Ji Bun menjadi serba susah, kata-kata orang berbaju putih ini terasa mengandung arti mendalam namun sukar ditebak, kalau dirinya sampai ikut jadi korban ledakan Ngo-lui-cu.
bukankah keinginannya bakal tercapai malah?
Tapi dia justeru menganjurkan dirinya lekas pergi, apa sih maksudnya?
Tak tertahan ia bertanya.
"Apa maksud tuan?"
"Aku tidak ingin kau mampus di sini,"
Kata orang itu.
"Kau kira dengan menanam kebajikan padaku, lantas dapat merubah sikapku kepadamu?"
Thian-thay-mo-ki juga menarik muka, sikapnya rada gelisah, katanya.
"Bagaimana?"
Tegas kata-kata Ji Bun.
"Dalam hal ini pasti ada muslihatnya, aku takkan ditipu mentah-mentah, kalau mau pergi aku bisa segera berangkat, tidak mungkin lataran aku seorang dia melemparkan Ngo-lui-cu, lagi kepandaian orang-orang ini, orang di dalam tandu, belum tentu mereka takkan mampu menyelamatkan diri, aku justeru ingin melihat akhir dari pertempuran di sini."
"Dik, ketiga orang yang membawa Ngo-lui-cu berkepandaian tinggi, keadaan ini jangan kau remehkan, memang tidak sulit bagi Wi-to-hwecu dan lain? yang berkepandaian tinggi untuk menyelamatkan diri, namun bagaimana kelanjutannya? Urusan belum beres, yang celaka adalah mereka yang berkepandaian rendah, memang markas ini harus dikosongkan."
Lahirnya Wi-to-hwecu tenang-tenang saja, namun hatinya tegang dan gelisah, keadaan seperti ini takkan bisa dikuasai hanya dengan kekuatan Lwekang atau kepandaian silat, memang tiada cara lain yang tepat untuk mengatasinya, urusan sekarang bukan saja merupakan persoalan mati hidup jiwa orang-orang yang hadir, juga mengenai nama dan kebesaran Wi-to-hwe yang harus tetap diperjuangkan, sekali salah langkah, Wi-to-hwe akan lenyap dan tak bisa lagi berdiri di kalangan Bu lim.
"Te-gak Suseng,"
Orang baju putih samaran Biau-jiu Siansing bicara lagi.
"kau ingin menghadap Giam-lo-ong?"
Ji Bun mengertak gigi tanpa menjawab, dalam hati ia sudah berkeputusan tidak akan berpihak kepada musuh, namun bila Wi-to-hwecu dan lain-lain semua mampus karena ledakan Ngo-lui-cu maka gagal harapannya untuk menuntut balas, betapa hati takkan menyesal dan malu kepada para arwah yang telah mendahuluinya.
Kembali dia menghadapi satu pilihan.
Sebaiknya sekarang dia bertindak secara mendadak membekuk Wi-to-hwecu dan meninggalkan tempat ini, peduli apa yang bakal terjadi di sini.
Maka ia lantas berbisik kepada Thian-thay-mo-ki.
"Cici, lekas kau pergi "
"Tidak, mati hidup aku tetap berdampingan dengan kau."
"Kau bisa menggagalkan rencana besarku,"
Ucap Ji Bun sambil membanting kaki.
Baru saja Thian-thay-mo-ki hendak membuka mulut, tiba-tiba rombongan orang yang berjaga dimulut gunung sana seperti tersibak ombak sama menyingkir ke samping, tampak seorang Hwesio bertubuh besar melayang tiba seperti awan mengembang.
Suasana menjadi hiruk-pikuk.
Ngo-lui-kiongcu berpaling sambil membentak lantang.
"Hwesio keparat, berhenti di situ!"
Seperti tidak mendengar, Hwesio itu tetap melangkah maju dengan enteng. Keruan Ngo-lui-kiongcu naik pitam, bentaknya.
"Tangkap dia!"
Dua laki-laki memegang pedang segera menubruk maju, aneh sekali, entah menggunakan gerakan apa, tahu-tahu Hwesio itu berkelebat sekali, bayangannya tahu-tahu lenyap, kedua orang itu menubruk tempat kosong, hampir saja mereka jatuh tersungkur, sementara Hwesio gede sudah berada di tengah arena.
Gerakan Hwesio ini seketika mengejutkan setiap hadirin.
Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki berseru dengan suara haru tersendat.
"Dik, itulah dia!"
Ji Bun garuk-garuk kepala, tanyanya.
"Dia siapa?"
"Thong-sian Hwesio yang pernah menolong kita itu."
Begitu tiba Thong-sian menyapu pandang ke seluruh gelanggang, akhirnya pandangannya berhenti pada Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki, masih segar dalam ingatannya, bahwa Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki waktu itu sudah mati betul-betul.
Lekas Ji Bun tampil kemuka sembari memberi hormat.
"Banyak terima kasih atas pertolongan Siansu tempo hari."
"Apa, jadi kalian ......"
"Kami berdua lolos dari elmaut."
"Amitha Budha!"
Thong-sian bersabda, lalu dia berpaling kepada Ngo-lui-kiongcu, katanya.
"In sicu, simpanlah Ngo-lui-cu itu."
"Siapakah gelaran Toa-hwesio?"
Tanya Ngo-lui-kiongcu, suaranya hambar.
"Pinceng Thong-sian."
"Orang beribadat kenapa mencampuri urusan duniawi?"
"Omitohud, kebajikan adalah pangkal ajaran Budha, mendarma baktikan kebijaksanaan demi menolong sesamanya adalah kewajiban setiap insan."
"Sekali lagi kuulangi, lekaslah Toa-hwesio pergi saja."
"Memang Pinceng harus datang kemari dengan sia-sia."
"O, memangnya Toa-hwesio berdiri di pihak mana?"
"Di pihak yang benar."
"Pihak mana yang benar?"
"Pinceng harap Sicu menyimpan Ngo-lui-cu dan mundur lima tombak."
"Cukup dengan sepatah katamu saja?"
"Kukira cukup berkelebihan."
"Lekas Toa-hwesio mengambil sikap, ke mana kau berpihak, kalau tidak, aku tidak kenal ajaran bajik atau bijak segala."
Terpancar sinar terang jernih pada mata Thong-sian Hwesio, dengan tajam dia tatap muka Ngo-lui-kiongcu, begitu tenang dan berwibawa sekali sorot matanya, tanpa terasa In Ci-san menyurut mundur dengan keder.
Wi-to-hwecu dan lain-lain saling adu pandang dengan heran, tiada seorangpun yang tahu asal-usul Hwesio ini, kawan atau lawan juga belum jelas.
Orang baju putih yang ada di sebelah kiri tiba-tiba berbisik.
"In-ciangbun, baiknya kita mundur saja sementara."
In Ci-san amat angkuh dan terlalu menjaga gengsi, demi nama baiknya, mana dia mau takluk kepada seorang Hwesio yang belum diketahui asal-usulnya, maka dia menggeleng, katanya.
"Toa-hwesio, apa sih maksudmu sebetulnya?"
Dengan angker berwibawa Thong-sian Hwesio berkata.
"Aku kemari demi menegakkan keadilan bagi Bu-lim."
Orang baju putih di sebelah kiri itu mendadak berseru tertahan, kakinya menyurut beberapa langkah, agaknya dia mengenali siapa Hwesio gede ini, sorot matanya seketika memancarkan nafsu keji, tiba-tiba kakinya menjejak tanah, badannya melejit mundur, berbareng tangannya terayun ke depan, Ngo-lui-cu ditangannya itu dia timpukkan kepada Thong-sian Hwesio.
Padahal saat itu Thong-sian Hweesio berdiri di tengah antara kedua pihak.
Perbuatan nekat orang berbaju putih yang diluar dugaan ini sungguh mengejutkan seluruh hadirin termasuk Ngo-lui-kiongcu sendiri, sekali meledak, Kekuatan Ngo-lui-cu dapat mencapai lima tombak jauhnya, dalam jarak sejauh ini, tiada seorangpun yang bisa lolos dari renggutan elmaut.
Di tengah teriakan orang banyak mereka sama melompat mundur sejauh mungkin.
Jarak Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki hanya setombak lebih dengan Thong-sian Hwesio, untuk berkelit atau menyingkir jelas tidak mungkin lagi.
Untunglah pada detik-detik yang menegangkan itu, tiba-tiba tangan Thong-sian terangkat sambil melambai, seperti orang bermain sulap saja tahu-tahu Ngo-lui-cu yang hampir jatuh menyentuh bumi itu berhenti di tengah udara terus meluncur kesamberan tangan Thong-sian.
Rasa kejut semua orang masih belum hilang, tapi mereka tak lupa berseru memuji.
Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki saling berpandangan dengan tertawa getir, keringat dingin sudah membasahi badan mereka.
Sebaliknya rona muka Ngo-lui-kiongcu berubah tidak menentu, kedua biji matanya terbelalak.
Sorot mata Thong-sian setajam golok seterang bintang kejora menatap ke arah si orang berbaju putih tadi, katanya.
"Kenapa Sicu turun tangan sekeji ini kepada Pinceng?"
Nafsu jalang siorang baju putih yang terpancar dari sorot matanya berubah rasa jeri dan ketakutan, tanpa bersuara lagi dia melirik memberi tanda kepada Biau-jiu Siansing, serempak keduanya lantas melejit tinggi dan meluncur turun ke lamping gunung, gerak-geriknya aneh secepat kilat lagi, dalam sekejap sudah lenyap dari pandangan mata.
Setelah Ji Bun sadar kembali dari lamunannya katanya sambil membanting kaki.
"Kembali dia lolos."
Dengan ditinggal pergi kedua orang baju putih yang menjadi tulang punggungnya, Ngo-lui-kiongcu menjadi patah semangat, seperti burung yang patah sayapnya, keruan dia menjadi bingung dan gelisah, Ngo-lui-cu tak bermanfaat lagi.
apalagi anak buahnya juga patah semangat dan banyak yang terluka.
Wi-to-hwecu masih berdiam diri tanpa bertindak untuk menunggu reaksi Thong-sian Hwesio selanjutnya.
Tampak Thong-sian menarik tangan menyimpan Ngo-lui-cu rampasan dalam lengan bajunya, lalu katanya kepada Wi-to-hwecu sambil melangkah maju.
"Sicu ini adalah Hwecu?"
"Ya, Toa-hwesio ada petunjuk apa?"
"Pinceng membawa firman Thian untuk menunaikan darma bakti demi keserasian hidup kaum persilatan, untuk ini harap Sicu selekasnya membubarkan Wi-to-hwe."
Sudah tentu seluruh hadirin terperanjat mendengar ucapan ini. Tidak malu Wi-to-hwecu sebagai seorang pemimpin, terlebih dulu dia membalas hormat lalu berkata. dengan sewajarnya.
"Ucapan Taysu ini tentu punya dasar dan alasannya?"
"Sepak terjang anak buahmu di luar tentunya Sicu sendiri juga tahu, apa yang dinamakan menegakkan keadilan, tak ubahnya melanggar kemanusiaan belaka, ini jelas tidak boleh dibenarkan."
"Taysu mendengar omongan orang atau menyaksikan sendiri?"
Thong-sian menuding Ji Bun berdua. katanya.
"Kedua Sicu muda ini adalah salah dua korban dari kekejaman anak buahmu."
Berkata Wi-to-hwe-cu dengan nada serius.
"Di kalangan Kangouw sudah disinyalir adanya orang-orang yang menyaru murid-murid kami dan melakukan kejahatan di luaran, untuk ini kami sudah mengerahkan tenaga untuk menyelidikinya, dalam waktu dekat pasti kami dapat memberikan pertanggungan jawab kepada Bulim."
"Omitohud! Seorang Buddhis pantang berbohong, Pinceng tak dapat percaya begini saja."
"Lalu bagaimana pendapat Taysu?"
"Bubarkan saja perkumpulanmu."
"Tidak mungkin,"
Sahut Wi-to-hwecu tegas. Berkilat biji mata Thong-sian Hwesio, katanya dengan suara kereng.
"Pinceng terpaksa harus melanggar pantangan."
Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan Cui Bu-tok serempak melompat maju sambil menggerung gusar, suasana kembali memuncak tegang. Tandu berhias itupun segera melayang datang, kata orang di dalam tandu itu.
"Taysu dari aliran dan perguruan mana?"
"Pinceng tidak punya aliran, melainkan pendeta sebatang kara dari kelenteng bobrok belaka."
"Gerakan Taysu waktu menangkap Ngo-lui-cu tadi jelas adalah Sian-thian-chin-khi?"
Terunjuk rasa kaget dan heran pada muka Thong-sian Hwesio, katanya setelah melengak sejenak.
"Luas juga pengetahuan Sicu, ya, memang betul Sian-thian-chin-khi."
Sian-thian-chin-khi merupakan ilmu Lwekang yang tiada taranya, sekuat besi seulet baja, kalau latihan sudah sempurna dapat digunakan sesuka hati, sedikit pikiran bergerak cukup untuk melukai lawan, bagi yang berkepandaian rendah tidak ambil peduli, namun bagi pendengaran Siang-thian-ong dan lain-lain, bukan kepalang kejut mereka.
"Jadi Taysu adalah murid keturunan Sin-ceng (paderi sakti)?"
Kata orang dalam tandu pula. Thong-sian menarik muka dan merangkap tangan, katanya.
"Betul, beliau adalah guruku almarhum. Pandangan Sicu begini luas, sungguh mengagumkan."
"Tapi Taysu menghendaki perkumpulan kami bubar apakah permintaan ini tidak keterlaluan?"
"Betapapun Pinceng tidak gampang mengubah keputusan."
Wi-to-hwecu segera menyela bicara.
"Kita yakin tak pernah melanggar Wi-to, Taysu begini memaksa, lebih baik kita gugur seluruhya."
Thong-sian menepekur sebentar, katanya kemudian.
"Kalau Sicu mampu melawan tiga kali pukulanku, selanjutnya Pinceng tidak akan mencampuri lagi urusan Kang-ouw."
"Baik, kuterima tantangan ini,"
Jawab Wi-to-hwecu nekat.
"Jangan Hwecu,"
Orang dalam tandu mencegah dengan suara bimbang.
Persoalan sudah jelas, Thong-sian Hwesio telah berhasil meyakinkan Sian-thian-chin-khi, Lweekang yang tiada taranya, betapapun tinggi kepandaian seseorang takkan kuat menghadapi ujung jarinya, apalagi tiga kali pukulan.
Tapi kaum persilatan memandang nama lebih berharga daripada jiwa raga, demi gengsi mereka rela berkorban, apalagi seorang pemimpin yang harus membubarkan perkumpulannya, sudah tentu dia lebih suka gugur dari pada hidup mendapat malu.
Si cebol bundar Siang-thian-ong segera menggelinding maju, serunya.
"Biar Lohu dulu yang menghadapi tiga pukulanmu."
Wi-to-hwecu angkat tangan, serunya.
"Ini urusanku sendiri, harap Hou-hoat mundur dan jangan banyak bicara lagi."
"Hwecu,"
Seru orang dalam tandu.
"sebagai kepala para Houhoat, biar aku yang menerima tantangan ini."
Tidak, aku ini seorang pemimpin, akulah yang harus menghadapi ujian ini, kalau aku tidak beruntung, boleh Cong-hou-hoat segera bubarkan perkumpulan kita ini."
Sungguh jiwa ksatria yang tak gentar menghadapi elmaut.
"Hwecu"
Seru orang dalam tandu, pertimbangkan kembali putusanmu."
"Tiada yang perlu dipertimbangkan lagi, putusanku tak dapat diubah, beberapa persoalan kita yang belum sempat kubereskan harap kau sudi menyelesaikannya."
Lalu dia melangkah kehadapan Thong-sian, tantangnya dengan ketus.
"Silakan mulai!"
Thong sian maju beberapa langkah, jarak mereka tinggal setombak lebih, keduanya berdiri tegak berhadapan.
Suasana hening lelap, jarum jatuhpun bisa terdengar, hawa seperti membeku, ketegangan mencekam sanubari setiap hadirin.
Tapi begitu pandangan kedua orang saling bentrok, keduanya sama-sama melongo dan mematung.
Dengan suara haru gemetar, tiba-tiba Wi-to-hwecu bertanya.
"Belum genap 20 tahun Taysu mencukur rambut bukan?"
Jelas Thong-sian sangat kaget, romannya berubah.
"Betul"
Sahutnya.
"Nama preman Taysu she Ciu?"
"Sicu, kau ......"
Thong-sian mundur tiga langkah, kulit daging mukanya gemetar, agaknya pertanyaannya yang berulang ini membuatnya kaget dan kebingungan.
Tiba-tiba Wi-to-hwecu angkat tangan kanan, jempol dan jari telunjuknya terangkat berkembang, sementara tiga jarinya yang lain ditekuk turun, katanya gemetar.
"Taysu sudah mengerti?"
Kembali Thong-sian menyurut mundur, suaranya tersendat.
"Kaukah ini?"
"Ya"
Sahut Wi-to-hwecu singkat. Teka-teki apa yang dibicarakan kedua orang ini tiada yang tahu. Thong sian segera merangkap tangan, lalu komat-kamit, akhirnya bersuara.
"Bagus, bagus, sungguh diluar dugaan Pinceng. Sicu, bereskan dulu persoalan di sini."
Wi-to-hwecu mendekati Ngo-lui-kiongcu, katanya dengan suara berat.
"In-ciangbun, sekali lagi kunyatakan bahwa anak buahku pasti tiada yang membunuh anak muridmu, yang terang memang ada orang yang mengadu domba. Tidak sedikit jatuh korban di antara kita, sebetulnya pihakmulah yang harus bertanggung jawab seluruhnya, namun sesuai azas tujuan berdirinya perkumpulan kami, biarlah persoalan ini kami anggap malapetaka yang tak terduga, anggaplah selesai persoalan ini, bagaimana pendapatmu?"
In Ci-san tahu situasi tidak menguntungkan pihaknya, kalau tidak mau terima saran pihak sana, memangnya dia hendak berbuat apalagi? Setelah diam sebentar, lalu berkata dengan penuh kebencian.
"Baiklah soal ini sementara selesai sampai di sini, namun cepat atau lambat perhitungan ini pasti akan kami tagih."
"Itu urusan kelak, bagaimana kalau tuan dan anak buahmu mampir dulu untuk istirahat dan mengobati yang luka-luka?"
"Tidak perlu, selamat bertemu kelak,"
In Ci-san putar badan memberi tanda kepada sisa anak buahnya, serunya.
"Bawa mayat-mayat teman-temanmu."
Beramai anak buah Ngo-lui-kiong bekerja cepat, cepat sekali para korban sudah dipanggul dan dibawa turun gunung.
Pertikaian yang berlangsung secara aneh ini lekas sekali sudah usai, namun hati semua orang dirundung awan gelap, ada hubungan apakah sebetulnya antara Wi-to-hwecu dengan Thong-sian Hwesio?
Cukup dengan beberapa patah kata yang tidak dimengerti tadi, dengan mudah Wi-to-hwecu dapat mengubah tekad dan pendirian Thong-sian?
Hati Ji Bun berat seperti diganduli barang ribuan kati, niatnya hendak menuntut balas ketika mendapat kesempatan tadi telah lenyap, dia pikir harus selekasnya bertemu dengan ayah, setelah jelas duduk persoalannya, barulah mereka bergabung mengambil tindakan.
Setelah membereskan urusannya, Wi-to-hwecu mendekati Ji Bun, katanya.
"Sahabat muda, sekarang silakan."
Diam-diam Ji Bun mengertak gigi, sahutnya.
"Sekarang juga kami mohon diri, kalau ada kesempatan kelak kami pasti berkunjung pula."
"Kenapa tergesa-gesa?"
"Banyak urusan yang harus kami bereskan,"
Sahut Ji Bun lalu dia memutar ke arah Thong-sian, katanya.
"Taysu, terima kasih akan pertolongan tempo hari, Wanpwe mohon diri."
Thong-sian tidak bersuara, dia hanya mengangguk sambil merangkap kedua tangan di depan dada, namun sorot matanya berkilauan menatap muka Ji Bun.
Setelah basa-basi ala kadarnya pula, segera Ji Bun turun gunung bersama Thian-thay-mo-ki.
Tuduhan Pembunuh dan Pemerkosa ....
Setiba dibawah gunung, Ji Bun menarik napas panjang, pikiran masih terasa pepat, ayah berkelana di Kang-ouw tidak menentu jejaknya, demikian pula bunda tak keruan paran, kekuatan musuh semakin bertambah, banyak tanda tanya yang selama ini dapat terbatas?
Tiba-tiba dia sadar, dirinya melupakan suatu hal penting, kenapa tadi tidak sekalian mencari kabar kepada orang dalam tandu atau kepada Wi-to-hwe tentang adik Pek-ciok Sin-ni yang bernama Toh Ji-lan itu, tugas dan pesan orang tua di dalam jurang itukan harus selekasnya diselesaikan.
"Dik,"
Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki buka suara.
"apakah musuhmu berada di Wi-to-hwe?"
Tergetar hati Ji Bun.
"Kenapa Cici tanya hal ini?"
"Sorot mata dan sikapmu memberitahu padaku.
"Apa benar?"
"Waktu peresmian berdirinya We-to-hwe tempo hari sudah kudapati perubahan sikapmu ini, aku tak berani tanya, namun perubahan saling susul atas dirimu, watakmu yang nyentrik dulu sudah kau buang jauh, perubahan secara dratis ini bukan menandakan pengalamanmu yang semakin bertambah, tapi karena adanya tekanan batin tertentu sehingga jiwamu tertekan, atau mungkin juga hal ini memang kehendakmu sendiri karena sesuatu hal, maaf aku bicara secara blak-blakan."
Merinding bulu kuduk Ji Bun, diam-diam ia mengagumi ketelitian Thian-thay-mo-ki, namun diam-diam iapun semakin waspada, disadarinya bahwa keadaan dirinya semakin ruwet, ayah sendiri tidak mau menjelaskan peristiwa hancurnya Jit-sing-po, sejauh ini tidak mau kerja sama dengan dirinya, tidak menunjukkan aksi lagi.
Secara langsung dia menyadari juga bahwa ayahnya telah banyak berubah pula, sehingga hubungan mereka ayah beranak menjadi renggang seperti dibatasi sesuatu jalur yang tidak kelihatan.
Kenapa bisa demikian?
Begitulah tanpa bersuara mereka melanjutkan perjalanan tanpa arah.
Tiba-tiba pandangan mereka terasa kabur, bayangan putih tahu-tahu berkelebat di depan mata, seorang berbaju putih entah kapan sudah mengadang di depan mereka, Ji Bun berdua segera berhenti, seketika berkobar semangat Ji Bun, orang yang mencegatnya ini ternyata Biau-jiu Siansing adanya.
"Tuan menungguku di sini?"
Tanya Ji Bun.
"Ya, begitulah,"
Sahut Biau-jiu Siansing.
"Agaknya tuan dapat dipercaya."
"Omong kosong, memangnya Lohu harus ingkar janji terhadap anak muda,"
Ujar Biau-jiu Siansing.
"banyak orang mondir-mandir di sini, marilah kita cari tempat lain."
"Di dalam hutan sana, bagaimana?"
Tanya Ji Bun. Hutan yang ditunjuk terletak disebelah kiri, dengan pepohonan yang rindang.
"Baik, namun Lohu ada pendapat."
"Pendapat apa?"
"Untuk menyelesaikan pertikaian kita, lebih baik kalau tiada orang ketiga menyaksikan."
Maksudnya mengusir Thian-thay-mo-ki secara halus. Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, katanya.
"Biau-jiu Siansing, hubungan kami sudah kau ketahui, aku bukan orang luar."
"Hubungan kau dipaksakan,"
Jengek Biau-jiu Siansing terkekeh lucu.
"Baiklah, Cici,"
Tukas Ji Bun.
"kau tunggu saja di luar hutan."
Apa boleh buat, Thian-thay-mo-ki akhirnya mengangguk, pesannya.
"Hati-hati, Dik."
"Aku tahu, Cici tidak usah kuatir."
Biau-jiu Siansing berkelebat seperti bayangan setan, tahu-tahu lenyap kedalam hutan.
Lekas Ji Bun mengudak kesana.
Waktu itu sudah mendekati magrib, cuaca dalam hutan remang-remang gelap, namun Biau jiu Siansing mengenakan pakaian putih bayangannya cukup menyolok.
Kira-kira puluhan tombak Ji Bun mengudak, dilihatnya bayangan orang sudah berdiri menanti kekedatangannya.
Ji bun mendekati dalam jarak beberapa kaki, secara langsung dia buka suara.
"Tuan, tak perlu banyak omong, bagaimana anting-anting pualamku itu?"
"Kenapa kau menuduh aku yang merebut anting-antingmu itu?"
"Jadi kau mungkir?"
"Tak pernah aku merebut barangmu, bagaimana aku harus mengaku."
"Aku tidak percaya."
"Te-gak Suseng, perlu kutanyakan dengan tegas, kalau kau punya bukti bahwa memang aku yang melakukan, batok kepalaku boleh kuserahkan kepadamu, kalau tidak, jangan kau melanggar aturan Kang-ouw, menuduhku secara tidak semena-mena."
Sudah tentu mulut Ji Bun terkancing, bicara soal bukti hakikatnya dia tidak bisa menunjukkan, hanya berdasarkan gerakan dan kebal racun tangannya saja, maka dia menuduh Biau-jiu-Siansing.
"Kau harus lekas memberi keterangan kepada pemilik barang itu, supaya mereka lekas bertindak, kalau tidak harta bendanya bakal ludes dalam sekejap mata, bagaimana akibatnya, kau yang harus memikulnya."
Memang benar, anting-anting itu milik pribadi Ciang Bing-cu, nilai anting-anting itu sendiri mungkin tidak seberapa, namun arti dari akibat hilangnya anting-anting itu tak terkira besarnya, kalau sampai hal ini bocor dan diketahui keluarga Ciang, bagaimana dirinya harus menghadapinya?
Benak berpikir, namun mulutnya tetap kukuh.
"Tuan bilang hendak mempertaruhkan batok kepalamu?"
"Betul."
"Baik, soal ini sementara boleh ditunda."
"Anak muda, masih ada satu hal perlu kuperingatkan padamu, nama gelaran Thian-thay-mo-ki terlalu buruk di kalangan Kang-ouw ......."
"Aku tahu kau tidak usah kuatir,"
Kata Ji Bun.
"lalu bagaimana janjimu tempo hari?"
"Janji apa?"
"Kau pernah berjanji hendak menyampaikan kabar kepada Jit-sing-kojin, supaya selekasnya mencari aku buat menyelesaikan ......"
"Dia tidak mencarimu?"
Seru Biau-jiau Siansing.
"aneh sekali, hal itu sudah kusampaikan padanya, dia juga sudah berjanji hendak menemui kau?"
"Sekarang boleh kau katakan di mana dia berada, biar aku yang mencarinya."
"Dia tidak punya tempat tinggal yang tetap."
"Itu hanya alasan belaka, kaukan sekelompok dengan dia, di mana jejaknya kau pasti tahu."
"Ada permusuhan apakah antara kau dengan dia?"
"Sudah tahu masih pura-pura tanya?"
"Aku betul-betul tidak tahu, sukalah kau terangkan?"
"Kau tidak perlu tahu, katakan saja alamatnya."
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
Desis Ji Bun.
"untuk mencapai keinginanku, tindakan apapun bisa kulakukan."
"Kau menantang Lohu, he?"
"Kalau kau tidak terus terang, kuganyang kau."
Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, katanya.
"Berilah waktu kepadaku, kapan dan di mana, biar dia sendiri yang mencarimu?"
"Aku tidak sabar menunggu,"
Jawab Ji Bun.
"Lima hari lagi kita bertemu dijalan raya yang menuju ke Kayhong, bagaimana?"
Tanya Biau-jiu Siansing tanpa hiraukan sikap ketus Ji Bun.
"Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Jelaskan asal usul Jit-sing-kojin."
"Hal itu biar dia sendiri yang menjelaskan padamu, Lohu tidak berhak."
"Kalau kau tidak menerima syaratku, aku juga tidak terima janjimu."
"Te-gak Suseng,"
Desis Biau-jiu Siansing.
"kau suka bertingkah, selama hidup belum pernah Lohu diancam dan ditekan orang."
"Kalau begitu jangan harap kau bisa pergi."
"Memangnya kau mampu menahan Lohu?"
Lenyap suaranya badannya tiba-tiba melesat kebelakang, Ji Bun menghardik keras, telapak tangannya menepuk "Blang"
Ditengah suara gemuruh sebatang pohon besar roboh, namun bayangan Biau-jiu Siansing sudah lenyap.
Serasa meledak dada Ji Bun, amarahnya memuncak, cepat ia menyelinap ke dalam hutan dan melesat seringan burung walet, sayang hutan ini terlalu lebat, pandangannya selalu terhalang, langkahnyapun sedikit terganggu oleh semak-semak.
Tiba-tiba ia teringat akan Ginkang berkisar dengan badan memutar mumbul ke atas ajaran orang tua aneh di bawah jurang Pek-ciok-hong itu, segera badannya melejit tinggi berputar mumbul ke tengah angkasa, kakinya menutul pucuk-pucuk pohon sehingga gerakannya secepat burung, terbang, namun ke mana pandangannya menjelajah, hanya tampak setitik putih berkelebat di kejauhan sana, segera dia mengudak kencang kearah bayangan putih itu.
Dengan seluruh kekuatannya dia kembangkan Ginkang yang tiada bandingan ini, seenteng asap melayang cepat sekali dia sudah menempuh delapan li, cuaca sudah gelap, untung bayangan itu mengenakan baju putih sehingga Ji Bun tidak kehilangan sasaran.
Tak jauh di depan sana terlihat sinar pelita, agaknya sebuah kota kecil, kalau orang yang dikejarnya ini sampai memasuki kota, untuk mencarinya tentu lebih sukar, karena gugup Ji Bun tambah tenaga dan mengejar semakin kencang, bagai segulung kabut entengnya ia berhasil melampaui orang lalu berhenti setombak di depan orang, mulutpun membentak.
"Berhenti!"
Bayangan putih itupun segera menghentikan langkahnya.
Tapi Ji Bun seketika melongo dan berdiri kaku, ternyata bayang putih yang dikejarnya ini bukan Biau-jiu Siansing, tapi seorang Nikoh muda belia.
Dongkol dan merengut wajah Nikoh muda ini, serunya marah-marah.
"Apa maksud Sicu mencegatku?"
Ji Bun menjadi kikuk, ia menyengir kecut, namun dalam hati ia memuji akan gerakan orang yang hebat, katanya tergagap.
"Maaf, Cayhe keliru, kusangka Suthay adalah orang yang tadi kukejar."
Dengan seksama Nikoh muda itu mengamati Ji Bun, katanya dengan suara rada gemetar.
"Apakah Sicu Te-gak Suseng adanya?"
"Betul, memang akulah yang rendah."
Tiba-tiba mendelik gusar mata Nikoh muda, bentaknya beringas.
"Te-gak Suseng, kau binatang yang tidak berperi kemanusiaan ini, kalau tidak kuhancur leburkan kau kubersumpah tidak jadi manusia."
Kaget dan heran Ji Bun dibuatnya, serunya sambil mundur.
"Apa maksudmu Siau-suthay?"
Desis Nikoh muda penuh kebencian dan dendam.
"Perbuatanmu tak terampunkan."
Ji Bun bingung, tanyanya tak mengerti.
"Cayhe tidak tahu apa yang Suthay katakan."
Nikoh muda mendesis pula, sambil mengertak gigi.
"Di tempat suci kau telah berani berbuat jahat dan kotor."
Ji Bun geleng-geleng, ujarnya.
"Cayhe betul-betul tidak mengerti."
"Seorang Suciku yang soleh dan patuh pada ajaran agama, namun kau telah memperkosa dan membunuhnya, kau ..... kau ....."
Ji Bun berjingkat, serunya gemetar.
"Apa? Memperkosa dan membunuh?"
"Ya, kau membunuh setelah memperkosa Suciku."
"Lho, berdasar apa kau menuduhku demikian?"
"Te-gak Suseng, memangnya siapa lagi kecuali kau yang membunuh orang tanpa meninggalkan bekas?"
Ji Bun mundur selangkah lagi, teriaknya terbeliak.
"Membunuh tanpa meninggalkan bekas?"
"Betul, kau berani mungkir?"
Ji Bun berpikir, hanya Cui-sim-tok yang sanggup membunuh orang tanpa meninggalkan tanda-tanda yang mencurigakan, dan racun ini kecuali dirinya hanya ayahnya yang bisa menggunakan, namun kalau bicara soal kepandaian silat dan Lwekang, tentunya tidak sedikit jago-jago kosen yang mampu juga membunuh orang tanpa meninggalkan bekas, maka dia membela diri dengan tenang.
"Siausuthay, jangan hanya berdasar bukti-bukti yang masih belum jelas terus menuduh Cayhe yang melakukannya."
Sedih dan haru membuat badan Nikoh muda itu bergetar, teriaknya menahan isak.
"Kau menyangkal?"
"Ya, dengan tegas kusangkal tuduhanmu ini."
"Serahkan jiwamu!"
Tahu-tahu telapak tangan Nikoh itu menggempur ke dada Ji Bun, kekuatannya sungguh amat mengejutkan, namun sekali berkisar Ji Bun sudah berkelebat menyingkir, teriaknya.
"Siau-suthay orang yang beribadat, kenapa begini galak dan berpandangan sempit?"
Nikoh muda itu anggap tidak dengar peringatannya, sekali pukulannya luput, serangan kedua segera menghantam pula, caranya nekat dan seranganpun membabi buta.
Ji Bun berkelit ke kiri dan menyingkir ke kanan, lama kelamaan ia menjadi keripuhan juga, kalau tidak melawan atau menangkis, tentu jiwanya bisa melayang, namun kalau tinggal pergi begini saja, bukankah namanya bakal dicap semakin kotor, lebih celaka lagi Nikoh ini akan lebih yakin bahwa dirinya memang seorang pembunuh, urusanpun akan berlarut.
Betapapun dia harus menyelidiki peristiwa ini dan membongkar pembunuhan ini.
Karena itu ketika lawan menyerang lagi, sebat sekali dia menyelinap miring terus melintangkan tangan balas menjojoh, terdengar Nikoh itu mengerang pendek dan sempoyongan, namun Nikoh ini sudah kalap, seperti kerasukan setan kembali ia menubruk maju dengan serudukan dan tendangan secara keji.
Ji Bun naik pitam menghadapi serangan membabi buta ini, kalau menuruti wataknya dulu, mungkin Nikoh muda ini sudah tak bernyawa lagi, namun dia hanya mendengus gusar, dikala lawan menyeruduk tiba pula, ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus menahan kedepan.
Nikoh itu menjerit ngeri, badannya tersungkur ke samping, darah meleleh dari mulutnya.
Ji Bun berkata dengan nada berat.
"Cayhe tidak ingin melukai Suthay, soalnya Suthay bertindak serampangan, tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan."
Semakin berkobar rasa benci yang tersorot dari mata Nikoh muda, desisnya mengertak gigi.
"Te-gak Suseng, kenyataan sudah membuktikan, kau masih berani menyangkal."
"Pandangan Suthay terlatu sempit, apa yang kau katakan kenyataan hanya obrolan mulut Suthay sendiri, coba, kapan peristiwa itu terjadi dan di mana?"
Nikoh muda itu menyeka darah yang meleleh di pinggir mulutnya, sekian lama dia masih melotot gusar, katanya kemudian.
"Lagakmu seolah-olah kau tidak tahu sama sekali."
"Kenyataan memang demikian, aku tidak tahu apa-apa."
"Baik, selamat bertemu, sakit hati ini pasti akan kubalas, Thian akan menjatuhkan hukuman setimpal atas perbuatanmu,"
Lenyap suaranya orangnyapun sudah berkelebat beberapa tombak jauhnya.
Ji Bun pikir, urusan ini harus selekasnya diselidiki dan dibereskan, soal ini boleh dikesampingkan, namun tuduhan membunuh dan memperkosa ini sungguh bukan urusan sepele, maka segera ia angkat langkah mengejar, gerak-gerik Nikoh muda itu ternyata cukup tangkas dan tinggi Ginkangnya, dengan mengerahkan sepenuh tenaganya baru Ji Bun dapat menyusul dalam jarak tertentu.
Setelah melampaui kota kecil, kembali mereka dihadang sebidang hutan liar, cukup lama mereka harus berlari diantara semak-semak hutan dengan naik turun bukit-bukit yang terjal, akhirnya tampak sebuah kelenteng kecil, itulah biara yang khusus ditempati oleh Nikoh atau biarawati.
Setelah Nikoh itu menyelinap masuk ke dalam kelenteng, barulah Ji Bun lari mendekat, dilihatnya sebuah pigura besar cat hitam tergantung di atas pintu dengan empat tulisan emas yang berbunyi "Ci-hang-boh-toh", kiranya sebuah kelenteng Kwan Im, suasana hening lelap di dalam kelenteng kecil ini, pintu kelenteng setengah terbuka setelah Nikoh muda tadi menyelinap masuk.
Sejenak ragu-ragu, akhirnya Ji Bun memberanikan diri melangkah maju terus menyelinap masuk juga dengan langkah enteng tidak bersuara.
Kelenteng kecil, namun terawat baik, begitu masuk Ji Bun lantas berada di ruang sembahyang, di samping sana adalah sebuah halaman yang ditanami tetumbuhan, di belakang taman adalah dua kamar yang berjajar dalam keadaan gelap.
Menjurus ke kiri adalah serambi panjang yang menuju ke belakang.
Sinar pelita yang guram menerangi ruang sembahyang yang sunyi dan tidak kelihatan bayangan orang.
Kamar di sebelah timur gelap gulita, tapi sinar pelita menembus keluar dari kamar sebelah barat, dua sosok bayangan orang tampak di jendela, agaknya mereka tengah bicara.
Ji Bun berpikir sebalum bertindak lebih jauh, sebagai seorang laki-laki asing, malam-malam keluyuran di biara Nikoh, hatinya menjadi tidak tenteram, lebih baik bersuara menyatakan maksud kedatangannya, supaya tidak timbul salah paham dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Namun sebelum dia buka suara, sebuah suara serak berkumandang dari kamar sebelah barat itu.
"Apakah Te-gak Suseng Sicu yang datang? Silakan masuk!"
Suara ini seperti sudah amat dikenal, tergerak hati Ji Bun, siapakah dia?
Dalam hati dia bertanya-tanya.
Kamar di sebelah tengah segera menjadi terang, itulah sebuah kamar tamu yang dipajang sederhana, Nikoh muda yang dikuntitnya tadi membuka pintu terus mundur kesamping, kedua tangan terangkap di depan dada, sambutnya dingin.
"Silakan masuk!"
Ji Bun membungkuk lalu melangkah masuk ke ruang tamu, tampak seorang Nikoh setengah umur sudah duduk di atas sebuah kasur bundar, mukanya tampak jernih, sikapnya kereng, sinar matanya memancar terang, membawa daya tarik yang kuat.
"Silakan duduk,"
Sapanya setelah Ji Bun masuk.
"Terima kasih,"
Ji Bun duduk di sebuah kursi di depan nikoh tua itu.
Nikoh ini belum pernah dikenalnya, betapapun dia tak habis pikir di mana dan kapan dia pernah berjumpa atau mendengar suaranya?
"Mohon tanya, siapakah nama gelaran Cianpwe?"
"Gelaran Pin-ni, Siu-yen."
"Tengah malam buta Wanpwe memberanikan diri keluyuran di tempat suci ini, harap, Suthay memberi ampun."
"Tidak, Pin-ni memang mengharapkan kedatangan Sicu."
"Barusan murid Suthay ....."
Siu-yen angkat sebelah tangannya, dia cegah kata-kata Ji Bun selanjutnya, katanya.
"Memang muridku itu ceroboh, dia malah salah paham kapada Sicu, hal ini tidak perlu diungkat lagi."
Ji Bun jadi melenggong, apakah pembunuhnya sudah ketangkap, kalau tidak kenapa dikatakan salah paham.
"Kedatangan Wanpwe memang ingin bikin terang peristiwa ini, kalau memang salah paham, baiklah Wanpwe mohon diri saja "
"Nanti dulu."
"Cianpwe masih ada petunjuk apa?"
"Sukalah Sicu memeriksa jenazah muridku dulu,"
Lalu dia berbangkit dan berkata kepada Nikoh muda yang berdiri di ambang pintu.
"Ngo-cin, nyalakan lampu!"
Ngo-cin segera masuk ke kamar sebelah, keluarnya sudah membawa pelita.
Siu-yen memberi tanda kepada Ji Bun, segera dia mengikuti Nikoh tua ini melangkah keluar menuju serambi panjang ke arah belakang.
Setelah memasuki sebuah pekarangan lainnya, mereka berhenti di sebuah kamar yang tertutup kain putih, Siu-yen melangkah masuk, Ji Bun ikut di belakangnya, dilihatnya sesosok jenazah berbaring diatas sebuah dipan, jenazah ini ditutupi selempang kuning, tentu Nikoh inilah yang terbunuh setelah diperkosa.
Wajah Siu-yen yang alim jernih tampak guram dan berkeriut, agaknya tengah menekan perasaan haru dan sedih hatinya, jari-jari tangannya gemetar menuding ke arah jenazah, katanya.
"Inilah muridku yang tertua, Ngo-sim, karena ada urusan Pinni sedang keluar, Ngo-cin juga keluar memetik daun obat, hanya Ngo-sim seorang di dalam biara, sebelum terbunuh dia sudah dinodai lebih dulu kesuciannya, namun sekujur badannya tidak ada luka-luka atau tanda-tanda keracunan, maka Ngo-cin mengira Sicu yang melakukannya ...."
Berkerut alis Ji Bun, katanya.
"Lalu dari mana Cianpwe bisa mengatakan semua ini salah paham terhadap diri Cayhe?"
"Karena Pinni tahu, waktu peristiwa ini terjadi, Sicu berada di tempat Wi-to-hwe."
"O,"
Hambar dan hampa hati Ji Bun, dari mana Nikoh tua ini tahu kalau dirinya berada di markas besar Wi-to-hwe? Berkata Siu-yen Nikoh lebih lanjut.
"Tempo hari, murid-murid Wi-to-hwe juga pernah mengalami peristiwa yang sama, setelah diselidiki dapat diketahui bahwa mereka terbunuh oleh racun Bu-ing-cui-sim Sicu adalah orang ahli dalam bidang racun ini, maka sukalah Sicu memeriksanya."
Tersirap darah Ji Bun, suaranya Nikoh tua yang seperti amat dikenalnya ini, seakan-akan jelas mengenai seluk beluk dirinya, sungguh suatu hal yang amat mengejutkan, maka dia tidak bertanya lebih lanjut, katanya.
"Biarlah Wanpwe memeriksanya, coba tolong singkapkan tutup mukanya."
Ngo-cin, Nikoh muda itu segera maju menyingkap kasa yang menutupi muka Ngo-sim, tampak wajah si korban begitu halus putih seperti orang hidup yang tidur nyenyak, kecantikannya boleh diagulkan, namun bibirnya mengerut kencang seperti menahan sakit dan derita, jelas dia mati membawa dendam dan kebencian yang luar biasa.
Ngo-cin berpaling, seperti tidak tega melihat wajah Sucinya.
Dengan jari telunjuk Ji Bun singkap kelopak mata sang korban, dengan seksama dia memeriksa, lama kelamaan jantungnya berdetak semakin keras, memang tidak salah korban mati karena keracunan Bu-ing-cui-sim.
Kecuali mereka ayah dan anak, apakah ada orang lain yang mampu menggunakan racun jahat ini?
Sejak dirinya berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, racun sudah bersatu padu dalam darah dagingnya, kalau orang lain menggunakan racun ini harus memasukkan racun ke dalam mulut si korban baru akan membawa hasil, jelas pembunuhan ini seperti sudah direncanakan terlebih dulu.
Mungkinkah perbuatan ayahnya?
betulkah sang ayah sampai berbuat sekotor dan sehina ini?
Tanpa merasa dia bergidik sendiri.
"Bagaimana Sicu?'' Siu-yen bertanya dengan suara berat.
"Betul, memang keracunan Bu-ing-cui-sim."
"Kalau begitu kecuali Sicu yang sudah menyatu-padukan racun ini dengan jiwa raga, siapa pula yang mampu menggunakan racun Bu-ing-cui-sim ini."
Darah Ji Bun tersirap, namun lahirnya tenang-tenang, sahutnya.
"Untuk hal ini maaf Wanpwe tidak bisa menerangkan."
Terpancar sinar gemerlap kedua mata Siu-yen, tanyanya mendesak.
"Pin-ni memberanikan diri, harap Sicu suka memperkenalkan perguruanmu?"
"Terpaksa Wanpwe harus menolak permintaanmu ini."
"Hm ...... adakah saudara seperguruan Sicu yang berkelana di Kang-ouw?"
"Kukira tidak ada."
Mendadak Siu-yen mendesis beringas.
"Pasti dia, kecuali dia tiada orang lain lagi."
Serta merta berdiri bulu kuduk Ji Bun.
"Dia siapa?"
Tanyanya.
Lama Siu-yen menatap Ji Bun dengan pandangan berkobar, seolah-olah ingin meraba perasaan Ji Bun.
Lekas Ji Bun tenangkan diri, pura-pura bingung, sesaat kemudian baru Nikoh tua buka suara pula.
"Seorang iblis laknat yang pandai menggunakan racun."
"Tidak sedikit orang yang pandai menggunakan racun dalam Bulim ......."
"Memang, tapi Pin-ni yakin dan punya alasan untuk menuduhnya."
"Bolehkah hal ini dijelaskan?"
"Kukira Sicu tidak perlu tahu."
Karena ada maksud lain, maka Ji Bun mendesak.
"Wanpwe ingin tahu siapakah tokoh yang ahli menggunakan racun ini?"
"Urusan ini sukar diduga, kemungkinan juga meleset, sebagai seorang beribadat tidak boleh aku sembarangan omong, untuk ini harap Sicu maklum."
Ji Bun terbungkam, tiada alasan dia mendesak keterangan orang, namun dalam hati sudah menambah perhatian dan kewaspadaan, menurut kejadian dan hasil pemeriksaannya, dia yakin kalau yang melakukan perbuatan rendah dan kotor ini adalah ayahnya, karena racun Bu-ing-cui-sim ini hanya bisa dibuat dari resep rahasia yang hanya dimiliki ayahnya, sampaipun Cui Bu-tok yang mengagulkan diri seorang ahli dalam permainan racun pun mengakui hanya tahu nama racun ini, tapi tidak mampu menawarkan, memangnya siapa pula dalam Kang-ouw yang bisa menggunakan racun ini?
Tapi segera dia teringat kepada beberapa orang misterius yang kebal menghadapi racun jahatnya, pertama orang berkedok yang menyaru ayahnya, lalu salah seorang anak buah Cip-po-hwe, Nikoh tua di biara Siong-cu-am, Jit-sing-kojin, orang yang merebut anting-anting pualam, serta orang yang menyamar sebagai komandan ronda Wi-to-hwe itu, demikian pula Biau jiu Siansing, semuanya kebal terhadap racunnya, kemungkinan sekali orang-orang yang kebal racun ini pun pandai menggunakan racun.
Maka lega dan lapanglah dadanya, dia berdoa semoga bukan ayahnya yang melakukan perbuatan keji dan kotor ini.
Siu-yen mengulap tangan, katanya.
"Sicu, silakan minum teh di kamar tamu."
Ji Bun pikir tak perlu lama-lama berada disini, maka dia mohon diri.
"Biarlah Wanpwe mohon pamit saja."
"Pin-ni amat menyesal karena kesalahan paham ini."
"Tidak apa, Wanpwepun ikut berduka cita karena peristiwa ini."
Sedikit membungkuk segera ia mengundurkan diri langsung keluar kelenteng.
Sesaat lamanya ia berjalan dengan pikiran kosong, tiba-tiba dia tersentak sadar.
baru sekarang dia ingat kepada Thian-thay-mo-ki yang ditinggalkan waktu mengejar Biau-jiu Siansing tadi, waktu sudah berselang cukup lama, kemungkinan nona itu sudah pergi, maka dia merasa tidak perlu balik menemuinya lagi, urusannya lebih penting dan harus segera dibereskan.
Sekarang dia harus cepat menuju jalan raya yang menjurus ke Kayhong untuk menemui Jit-sing-kojin seperti yang pernah dijanjikan oleh Biau-jiu Siansing, di samping untuk merebut kembali anting-anting pualam, dia juga akan mampir ke Kayhong menemui Ciang Wi-bin untuk tanya jejak ayahnya.
Malam itu juga dia menempuh perjalanan.
Hari itu, dia tiba di Jip-seng, sebuah kota kecil yang masih cukup jauh dari Kayhong, hari ini sudah hari keempat, namun Jit-sing-kojin yang hendak ditemuinya itu tetap tidak kelihatan bayangannya.
Setelah ditunggu sekian lamanya, orang belum kunjung tiba juga, lama hatinya menjadi dongkol dan penasaran, agaknya ucapan Biau-jiu Siansing tak dapat dipercaya lagi.
Karena tiada minat masuk kota, maka dia memutar ke pintu barat serta istirahat disebuah warung arak di luar kota.
Tengah dia menunduk menikmati hidangannya, didengarnya pembicaraan beberapa orang tamu yang duduk di meja sebelah sana, seorang laki bersuara serak kasar tengah berkata.
"Jiya, The Liok kali ini betul-betul terbuka matanya ........"
Orang yang dipanggil Jiya adalah seorang laki-laki bermuka kuning, segera dia angkat alis, tanyanya.
"Lo-liok, kalau bicara kau selalu ngelantur, memangnya kau tak pernah melek?"
"Jiya, bukan aku Siau-kim-kong ini suka membual, setua ini hidupku, baru pertama kali ini, sungguh tidak penasaran ......"
"Sebetulnya ada apa?" 9.25. Ayah Meninggal .. Dendam Makin Membara "Ji-ya kenal Sin-eng-pangcu Ko Giok-wa tidak."
"Sudah tentu tahu, kenapa?"
"Bagaimana kepandaian silat Ko-pangcu?"
"Hebat,"
Puji laki-laki muka kuning sambil mengacungkan jempol.
"seorang jagoan kelas satu dalam Bu-lim."
"Heh,"
Seru laki-laki bersuara serak kasar tadi sambil gebrak meja.
"semalam aku kebetulan lewat Jit-li-kang dan menyaksikan peristiwa itu, 20-an anak murid Sin-eng-pang di bawah pimpinan Ko-pangcu sendiri, mengobrak-abrik dan menghancurkan Thian-ong-ce, kini gunung itu sudah mereka caplok dan dijadikan cabang Sin-eng-pang. Dengan kemenangan gemilang itu mereka kembali lewat Jit-li-kang, namun di sana mereka tertimpa nasib malang ........"
"Tertimpa nasib malang bagaimana?"
"Mereka dicegat seorang laki-laki berkedok yang mengenakan jubah sutera."
Tersirap Ji Bun mendengar kata-kata terakhir itu, segera dia pasang kuping.
"Bagaimana selanjutnya?"
Tanya laki-laki muka kuning setelah meneguk araknya.
"Agaknya orang berkedok berjubah hijau itu memang sengaja hendak cari perkara, dia memperkenalkan diri sebagai teman pihak Thian-ong-ce yang hendak menuntut balas bagi kematian teman-temannya, maka terjadilah bentrokan sengit ....."
Agaknya laki-laki muka kuning tidak tertarik oleh cerita ini, katanya tawar.
"Pertikaian orang-orang persilatan umumnya memang berbuntut panjang, tiada akhirnya."
Laki-laki suara serak kasar tadi penasaran, teriaknya.
"Ji-ya, ceritaku kan belum tamat, adegan yang lebih seram belum sempat kuceritakan. Ketahuilah, kepandaian orang berkedok itu ternyata hebat sekali, dalam tiga kali gebrakan saja, ya, tiga ......"
Dia acungkan tiga jari sambil menyambung dengan ludah beterbangan.
"dalam tiga gebrak saja, Ko-pangcu sudah menggeletak tak bernyawa ......'' "Hah,"
Berubah hebat air muka laki-laki muka kuning sambil berjingkrak berdiri, suara gemetar.
"Apa betul?"
Ikut tegang hati Ji Bun, orang berkedok yang diceritakan itu entah ayahnya atau bukan?
Seluruh tamu-tamu yang ada dalam warung arak kecil ini jadi tertarik oleh cerita orang bersuara serak dan perhatian mereka tertuju ke arah sini.
Tahu banyak orang tertarik dan memperhatikan ceritanya, semakin keras suara orang serak kasar.
"Ji-ya, itu baru permulaan. Orang berkedok itu betul-betul keji, setelah membinasakan Ko-pangcu, beruntung dia melancarkan serangan ganas pula, 20 lebih jago-jago Sin-eng-pang yang berkepandaian tinggi semua menggeletak dibunuhnya, tiada satupun yang ketinggalan hidup."
"Siapakah orang berkedok itu?"
"Entah, setelah dia uraikan alasannya, kenapa dia menuntut balas terus turun tangan secara kejam."
"Ehm, tentunya dia bukan sembarangan tokoh......."
"Memangnya, Ji-ya, buntutnya ternyata lebih seram dan menegangkan. Tahu-tahu muncul lagi seorang berkedok berjubah pula ......"
"Apa? Jadi ada dua?"
"Ya, bentuk dan perawakan kedua orang berkedok ini persis satu sama lain, seperti pinang dibelah dua, sukar dibedakan mana yang datang duluan dan mana yang baru tiba, begitu berhadapan tanpa bicara terus gerak tangan dan angkat kaki, keduanya berkelahi dengan dahsyat dan sengit, serang menyerang dengan pukulan mematikan, serasa terbang sukmaku waktu menyaksikan pertempuran hebat itu .........."
Mengencang jantung Ji Bun, darah mengalir lebih cepat, dia sudah berdiri, namun duduk kembali sambil menenggak secangkir arak. Setelah istirahat sebentar, orang itu melanjutkan ceritanya.
"Pertempuran itu berlangsung selama satu jam, dari atas bukit bergumul sampai ke bawah jurang, akhirnya mereka berhantam sampai ke dalam hutan, kelihatannya keduanya sama kuat, namun lama-lama kehabisan tenaga juga. Pada saat pertempuran memuncak dan hampir berakhir tahu-tahu muncul pula seorang berpakaian hitam, malam itu terlalu gelap, sukar dilihat macam apa orang berpakaian hitam ini, namun kudengar dia mendengus menggumam seorang diri. 'Ajal tua bangka ini sudah di depan mata namun masih saling cakar dan akhirnya gugur bersama. Thian memang murah untuk membalas kelaliman mereka, agaknya sakit hatiku akan terbalas.' Habis berkata orang baju hitam itu menerjang kedalam hutan ........."
"Bagaimana akhirnya,"
Tanya laki-laki yang dipanggil Ji-ya.
"Kudengar suara gerungan dan bentakan berulang kali dari dalam hutan, disusul dua kali jeritan yang menyayat hati, suasana lantas sunyi senyap."
Semua orang yang mendengarkan cerita itu sama melongo.
"Karena tertarik, diam-diam aku merayap masuk ke dalam hutan, waktu aku melongok kesana .... Hiiii!"
"Ada apa?"
"Kedua orang berkedok itu sama-sama menggeletak di dalam hutan, batok kepalanya hancur, mukanya rusak tak terkenali lagi, seram dan mengerikan sekali kematian mereka."
Laksana disambar geledek kepala Ji Bun, dadanya terasa sesak, sekali lompat dijambretnya baju si orang bersuara serak, dicengkeramnya pundaknya, bentaknya bengis.
"Apakah ceritamu betul-betul terjadi?"
Lemas lunglai badan laki-laki itu, tenaga untuk merontapun tiada, namun matanya melotot gusar, teriaknya.
"Keparat kau, apa ...... apaan ini?"
Karena diburu emosi, rona muka Ji Bun sudah berubah, sorot matanya liar dan buas, desisnya mengancam.
"Katakan, apa betul-betul terjadi?"
Laki-laki muka kuning tiba-tiba berdiri, telapak tangannya menempeleng ke batok kepala Ji Bun, agaknya Ji Bun sudah kerasukan setan pikirannya sudah pepat, secara reflek dia melancarkan serangan balasan dengan tangan berbisa.
Dengan teriakan yang seram dan mengerikan laki-laki muka kuning roboh menimpa meja, kaki tangan berkelejetan sebentar, jiwapun melayang.
Seluruh tamu sama terbeliak kaget dan gemetar ketakutan.
Laki-laki suara serak ketakutan setengah mati, suaranya menjadi lirih tertelan di dalam ombak kerongkongan.
"Tuan ... tuan ini..... Te-gak Suseng?"
"Lekas katakan sebenarnya, kalau tidak kucincang badanmu,"
Ancam Ji Bun beringas.
"Memang kejadian nyata, ..... bukan bualan."
"Berapa jauh Jit-li-kang dari sini?"
"Kurang lebih 30 li ke arah barat ....."
Sambil lepas tangan Ji Bun dorong badan orang, cepat sekali dia sudah melesat keluar warung makan dan berlari ke arah barat, pikirannya kosong dan hambar, seolah-olah sukma sudah meninggalkan raganya.
Lekas sekali jarak 30 li telah dicapainya, setelah dia tanya letak Jit-li-kang kepada orang jalan, langsung dia menuju ke sana.
Setiba di atas bukit, dilihatnya keadaan memang porak peronda, seperti pernah terjadi pertempuran sengit di sini, di bawah bukit sebelah kanan adalah hutan lebat, begitu subur dan rimbun tetumbuhan di sini sampai sinar matahari tak tertembus ke dalam hutan, begitulah keadaan hutan belantara ratusan li ini.
Dengan langkah sempoyongan, Ji Bun berlari masuk ke dalam hutan.
Suara gedebukan seperti sesuatu benda berat menyentuh tanah terdengar saling bergantian di sebelah depan.
Tanpa menentukan arah Ji Bun terus berlari ke dalam.
Di tanah kosong sebelah sana, dilihatnya dua orang petani sedang mengeduk tanah, membuat liang lahat.
Begitu melihat kedatangan Ji Bun, segera mereka menyurut mundur dengan ketakutan.
Tampak oleh Ji Bun tak jauh di sana menggeletak dua sosok mayat yang sukar dikenali lagi bentuk rupanya, seperti orang gila segera ia menubruk kesana.
Terasa bumi seperti berputar jungkir balik, mata berkunang-kunang, langkahnya lemas sempoyongan dan hampir terjungkal.
Kedua mayat mengenakan pakaian yang sama, jubah sutera warna biru, batok kepala remuk dan mukanya hancur, jelas orang yang turun tangan memang amat keji.
Kedua petani itu berdiri berhimpitan, dengan melongo dan takut mereka mengawasi Ji Bun.
Ji Bun kuatkan hati dan tenangkan diri, dengan badan bergoyang gontai pelan-pelan dia berjongkok, sesaat dia melenggong, sukar baginya menentukan yang manakah jenazah ayah kandungnya.
Terpaksa dia periksa badan jenazah yang lebih dekat, saku bajunya kosong tiada sesuatu yang dapat menentukan asal-usulnya, lalu dia memeriksa kantong jenazah kedua, botol obat, buntalan puyer dan peralatan untuk meracik racun yang dibuat sedemikian mungil dan rapi, kini menjadi jelas dan pasti bahwa jenazah kedua inilah jasad ayahnya.
Bergegas dia berlutut menyembah berulang kali, jari-jari tangannya meraba dan mengelus jenazah yang sudah dingin dan kaku ini, air mata bercucuran.
Terasakan segala sesuatu di dunia ini sedang berubah, alam terasa menjadi hampa dan semuanya menjadi serba kelabu.
Dia menangis tanpa bersuara, gigi berkerutukan, air mata tak terbendung lagi.
Kedua petani itu sebetulnya hendak mengubur mayat kedua orang ini, kini melihat orang ini sudah mengenali jenazah familinya, memangnya mereka takut kena perkara, terutama soal bunuh membunuh kaum persilatan, maka secara diam-diam mereka mengeluyur pergi.
Tetesan air hujan yang dingin menyentak sadar Ji Bun, dengan perasasan luluh dia mendeprok di atas tanah.
Pikirannya bekerja.
"Ayah telah meninggal, siapakah pembunuhnya? Orang yang menyaru ayahnya ini juga mati, siapakah dia ini?"
Kini dia sudah meninggal, teka-teki ini takkan terbongkar untuk selamanya.
Namun dendam kehancuran Jit-sing-po betapapun harus dibalas.
Ini merupakan tugas penting yang harus dipikulnya.
Mendadak dia berdiri sambil banting-anting kaki, dia menyesali kelemahan sendiri yang terlalu was-was dan berhati-hati, sehingga banyak kesempatan disia-siakan, kini tibalah saatnya untuk beraksi.
Dia mendongak mengawasi mega yang bergerak, hatinya pepat seperti dirundung mega mendung, tiba-tiba dia tertawa, geli akan nasibnya sendiri, tawa yang mengobarkan semangat menuntut balas.
Segera dia masukkan kedua jenazah ke dalam liang lahat yang sudah digali kedua petani tadi, dengan batu gunung ia mendirikan nisan serta berlutut dan berdoa semoga arwah ayahnya diterima disisi Thian, dia memohon pula supaya arwah ayahnya memberi bekal kekuatan lahir batin untuk menuntut balas sakit hati ini.
Setelah menyembah sekali lagi segera dia keluar dari hutan itu.
Hawa hitam di antara kedua alis yang selama ini lenyap, kini kelihatan lagi, demikian pula tangan berbisa yang selama ini disembunyikan dalam lengan bajunya telah dikeluarkan, kini tiada yang perlu disembunyikan, tiada yang dirahasiakan, kini tibalah saatnya untuk mencuci tangan ini dengan darah para musuhnya.
Pikiran tenang kepalai dingin, dia mulai menerawang langkah-langkah yang harus dilakukan selanjutnya.
Dia rasa masih perlu untuk menempuh perjalanan ke Kayhong, soal anting-anting pualam itu harus dibereskan, jika aksi balas mulai dilakukan, mati hidup diri sendiri sukar diramalkan, tapi soal ini tidak boleh ditunda-tunda lagi.
Besok dia bakal berhadapan dengan Jit-sing-kojin, sesuai yang dijanjikan Biau-jiu Siansing, kalau orang tidak menepati janji, maka dapatlah diduga bahwa orang berkedok menyaru ayahnya itu pasti dia adanya, kalau sebaliknya, betapapun permusuhan dirinya harus dibereskan juga.
Begitulah dengan pikiran mantap dan langkah tenang dia menuju ke Kayhong.
Tunggu punya tunggu, tahu-tahu hari ke tujuh sudah berselang, Jit-sing-kojin tetap tidak kunjung tiba, bayangan Biau-jiu Siansingpun tidak kelihatan, mau tak mau Ji Bun tambah yakin bahwa dugaannya tidak meleset.
Jit-sing-kojin adalah orang berkedok berbaju sutera yang menyaru ayahnya.
Hari itu dia tiba di Kayhong, kota kuno yang dulu pernah menjadi ibukota ini memang angker bangunannya, kemegahan kota ini memang jauh berbeda dengan kota-kota lain.
Keluarga Ciang adalah hartawan terkaya dan ternama di Kayhong, tanpa menemukan kesulitan Ji Bun berhasil menuju ke tempat yang dituju.
Pikirannya mulai bimbang pula, apa yang harus diutarakan setelah masuk pintu dan berhadapan?
Kedua keluarga mereka memang kenalan karib, namun beberapa tahun belakangan ini tidak saling hubungan, keluarganya kini sudah berantakan, kalau datang-datang dia langsung minta bertemu dengan Ciang Bing-cu, tentunya kurang pantas, bagaimana pula dia harus memberi penjelasan kepada Ciang Wi-bin setelah berhadapan?
Entah Ciang Wi-bin tahu tidak tentang pemberian anting-anting pualam Ciang Bing-cu kepada dirinya?
la pikir biarlah nanti bertindak menurut keadaan maka segera dia menuju ke gedung keluarga Ciang.
Seorang kakek berpakaian hitam tiba-tiba muncul dari balik pintu, melihat dandanannya seperti seorang pesuruh, dengan nanar dia mengawasi Ji Bun sapanya.
"Kongcu cari siapa?"
Ji Bun menyahut.
"Sudahkah laporan kepada majikanmu, katakan Ji Bun ingin bertemu."
"Wah, tidak kebetulan, majikan kami sedang keluar, belum kembali."
"Kalau begitu .... apakah siocia ada dirumah?"
Bertolak pinggang laki baju hitam, katanya dengan menarik muka.
"Sukalah Kongcu tahu diri."
Ji Bun tertawa, katanya ramah.
"Cayhe adalah kenalan lama dengan keluarga Ciang, tolong sampaikan kepada Siocia bahwa Ji Bun ingin bertemu."
Orang tua baju hitam mengerut kening, katanya.
"Baiklah, harap tunggu sebentar."
Tak lama kemudian, orang tua ini sudah keluar pula, sikapnya jauh berubah, wajahnya berseri-seri, dari belakangnya memburu keluar seorang pelayan perempuan kecil, begitu tiba dia memberi hormat kepada Ji Bun, katanya.
"Siocia tidak leluasa keluar menyambut, harap Siangkong masuk saja."
Ji Bun manggut-manggut, dia mengikuti pelayan cilik ini masuk ke dalam.
Gedung keluarga Ciang yang kaya raya memang teramat besar dan luas sekali, sekian lama mereka putar kayun memasuki beberapa pintu dan melewati beberapa pekarangan serta serambi panjang yang berliku-liku, baru tiba di pekarangan yang dikelilingi tembok tinggi dengan pintu bundar rembulan, tampak seorang gadis bersolek dengan pakaian kuno melangkah keluar menyambut, katanya dengan malu-malu.
"Siangkong sudi berkunjung, silakan duduk di dalam."
Merah dan panas muka Ji Bun, lekas dia membungkuk, katanya likat.
"Berkunjung secara sembrono, harap adik memaafkan."
"Ah, tidak apa, silakan."
Keduanya masuk kedalam sebuah rumah samping lalu duduk di kursi marmer, seorang pelayan menyuguh teh. Ciang Bing-cu lantas buka suara.
"Ayah bilang, katanya keluarga kakak ketimpa bencana, Siaumoay ikut berduka dan prihatin."
Pedih hati Ji Bun, katanya.
"Terima kasih akan perhatian adik."
"Apakah para musuh sudah diketahui?"
"Ya, sudah ada tanda-tanda yang mencurigakan, ujar Ji Bun, setelah berdiam sebentar segera ia menambahkan.
"Adik Ciang, kedatanganku ini hendak mohon maaf kepadamu ......."
"Mohon maaf, kenapa?"
"Anting pualam pemberian adik dulu, tak sengaja telah kuhilangkan ....."
Berubah air muka Ciang Bing-cu, tanyanya.
"Bagaimana bisa hilang?"
Merah muka Ji Bun, katanya rikuh.
"Kalau dikatakan memang aku terlalu bodoh, waktu aku keluarkan dan kubuat main-main, tahu-tahu diserobot orang."
"O", Ciang Bing-cu bersuara dalam mulut. Kuduga penyerobot itu sudah lama mengintip dan menguntit aku, begitu ada kesempatan lantas turun tangan, yang membuatku menyesal, selama ini aku masih belum berhasil menemukan jejaknya, lebih malu lagi karena bentuk dan rupa orang itupun tidak kulihat jelas."
"Kakak Ji, kejadian sudah berselang, biarlah, anting itu takkan berguna bagi orang lain."
"Tidak aku bersumpah pasti akan mencarinya, adik sudi memaafkan, aku merasa tidak enak. Katanja paman sedang keluar apa betul?"
"Betul, mungkin dalam dua hari ini beliau akan pulang."
"Kedatanganku hanya mau menjelaskan soal tadi disamping menyampaikan sembah sujud kepada paman ......."
"Urusan sekecil ini, tidak perlu diperhatikan ......"
"Baiklah, sekarang aku mohon pamit ....."
"Kakak Ji, kukira sikapmu tidak benar,"
Kata Ciang Bing-cu.
"walau ayah tidak dirumah, tapi keluarga kita kan kenalan lama, adik menyambut kedatanganmu sebagai tuan rumah, sukalah menginap beberapa hari, tunggulah ayah pulang. Apakah paman dan bibi ........."
Sedih hati Ji Bun, hampir saja dia meneteskan air mata, dia tidak ingin menyinggung soal yang menyedihkan ini, wataknya yang keras juga tidak ingin mendapatkan belas kasihan orang lain katanya.
"Beruntung beliau-beliau terhindar dari malapetaka."
Tidak lama mereka bicara, pelayan sudah menyiapkan sebuah meja perjamuan.
Ji Bun tak bisa menolak terpaksa dia iringi kehendak Ciang Bing-cu makan minum.
Setelah beberapa cangkir arak dan hidangan hampir dilalap habis, tiba-tiba Ciang Bing-cu berjingkat sadar, tanyanya heran.
"Kakak Ji, maaf akan kelancanganku, bukankah tangan kirimu ......."
Ji Bun tertawa getir, terpaksa dia ceritakan rahasia tangannya yang berbisa. Terbeliak kedua biji mata Ciang Bing-cu, katanya penuh haru.
"Ah, kabarnya setelah orang berhasil meyakinkan racun Bu-ing-cui-sim-jiu, selama hidupnya takkan bisa ditawarkan lagi, apa betul?"
Ji Bun manggut-manggut dengan gerakan berat, katanya.
"Ya, memang demikian."
Besar perhatian Ciang Bing-cu.
"Kenapa engkau dulu mau meyakinkan ilmu beracun ini?"
"Ini ..... yang benar aku tidak bisa menentang kehendak ayah, masing-masing orang memang punya nasibnya sendiri, begitulah."
"Ai,"
Helaan napas Ciang Bing-cu mengandung putus harapan, sedih dan rawan.
Tiba-tiba Ji Bun ingat kata-kata Biau-jiu Siansing, pikirnya, apa betul dia memang ada maksud tertentu?
"Kakak Ji, aku tak kuat banyak minum, silakan kau makan sekenyangnya."
Ji Bun mengiakan, penasaran dan dendam selama ini yang belum terlampias membuat pikirannya pepat, tanpa terasa secangkir demi secangkir dia telah tenggak puluhan cangkir arak, lama kelamaan kepala terasa berat, pandanganpun mulai kabur, setelah dia melihat dua bayangan Ciang Bing-cu baru dia melonjak kaget, ia tahu bahwa dirinya mulai mabok, segera ia letakkan cangkir dan bangkit berdiri dan berkata.
"Maaf akan kekasaranku ini ...... aku mohon pamit saja."
Begitu bergerak, badannya seketika tergeliat, kaki terasa enteng kepala amat berat, hampir saja dia jatuh tersungkur, untung Ciang Bing-cu lantas memapahnya. Kata Ciang Bing-cu lembut.
"Kau mabok, kakak Bun."
Ji Bun ingin menolak bantuan orang, namun badan lemas dan kaki sempoyongan, kepalapun pening, terpaksa dia mendoprok duduk dikursinya lagi.
Selama hidup baru pertama kali Ji Bun minum arak sampai mabok, andaikata kepandaiannya setinggi langit juga takkan mampu mengendalikan diri lagi.
"Marilah kupapah masuk kekamar istirahat,"
Kata si nona.
"Ma .... mana boleh, jangan, jangan kau sentuh tangan kiriku."
"Aku tahu,"
Kata Ciang Bing-cu, dia tarik tangan kanan Ji Bun serta memapahnya keluar villa terus menuju ke pintu rembulan di kanan sana.
Para pelayan yang meladeni di situ sama melongo dan keripuhan, tanpa perintah mereka tiada yang berani maju membantu.
Dengan langkah sempoyongan dan setengah terseret Ji Bun membiarkan dirinya dipapah masuk sebuah kamar buku, begitu rebah di atas ranjang, badan terasa lunglai tak mampu bergerak lagi.
Ciang Bing-cu segera menurunkan kelambu serta menutup pintu dan tinggal pergi.
Waktu Ji Bun sadar dan membuka mata, matanya silau oleh sinar lampu, malam sudah larut, namun dia bergegas bangun duduk, kepalanya masih terasa berat, mulutpun kering, baru saja dia bergerak hendak turun mengambil air, sebuah suara lembut berkata.
"Kakak Bun, mari minum teh"
Sebuah cangkir porselin yang berbentuk indah disodorkan ke dalam kelambu, ternyata Ciang Bing-cu meladeni dengan tekun. Gugup dan malu Ji Bun dibuatnya.
"Ah, perhatian adik bikin aku malu saja."
Pikirannya sedikit jernih, lalu katanya pula.
"Banyak terima kasih, sekarang waktu apa?"
"Jam empat pagi."
"Silakan adik juga istirahat saja."
"Baik, engkau juga harus tidur, keperluanmu sudah kusediakan, silakan ambil di sini."
"Terima kasih,"
Kata Ji Bun.
Dengan pandangan tajam Ciang Bing-cu menatap Ji Bun sekali lagi, lalu beranjak keluar dengan langkah gemulai, tak lupa dia tutup pintu dari luar.
Ji Bun duduk melamun dipinggir ranjang, tak tahu betapa perasaan hatinya sekarang apakah setimpal dia mendapat pelayanan begini?
Laki perempuan ada batasnya, walau sama-sama orang persilatan, namun batas-batas tertentu masih harus dipegang teguh, lantas apa maksud dan sikap Ciang Bing-cu yang luar biasa ini?
Setelah menghabiskan secangkir teh, Ji Bun merebahkan diri, rasa kantuknya sudah hilang, bayangan Ciang Bing-cu nan molek masih terbayang-bayang, setelah gulak-gulik tak bisa tidur, pikirannya semakin kusut, akhirnya ia bangkit dan turun dari ranjang, langkah kakinya masih enteng seperti mengambang.
Kau ....
Tidak Takut Racun ......??
Dia mondar-mandir di kamar buku itu, akhirnya duduk dikursi dekat rak buku, tanpa tujuan dia memandangi koleksi buku-buku kuno serta lukisan dari pujangga jaman dahulu.
Mendadak dia terkesiap, pandangannya terbeliak.
Ternyata diantara rak buku dan barang-barang antik sana, pada kotak kedua baris tengah, tampak sebuah patung Budha kecil ukuran dua kaki yang terbuat dari batu putih, tepat pada letak jantung dari patung itu berlubang sebesar kepalan anak kecil.
Tidak salah lagi, patung Budha batu putih ini jelas adalah Sek-hud yang pernah diperoleh Cip-po-hwecu dan akhirnya direbut oleh Biau-jiu Siansing, seperti diketahui Sek-hud dipandang pusaka persilatan yang diperebutkan berbagai golongan, bagaimana mungkin tahu-tahu berada di antara rak barang-barang antik di rumah Ciang Wi-bin?
Berapa jiwa sudah berkorban karena Sek-hud, tidak sedikit manusia yang rela mengorbankan jiwa raga untuk merebut Sek-hud ini.
Entah cara bagaimana Ciang Wi-bin bisa mendapatkan Sek-hud ini, mestinya dia menyimpannya di tempat rahasia, kenapa hanya ditaruh begini saja di antara koleksi barang-barang antiknya?
Mungkinkah dia tak tahu seluk-beluk dan nilai Sek-hud ini?
Tapi ini tidak mungkin.
Sek-hud adalah barang peninggalan Pek-ciok Sin-ni, Pui Ci-hwi adalah murid didiknya, namun Wi-to-hwe mempunyai hubungan yang kental dengan Pui Ci-hwi, betapa banyak jago-jago silat Wi-tohwe yang berkepandaian tinggi, kenapa pihak mereka diam saja tanpa mengambil tindakan?
Hal ini benar-benar sulit dimengerti, mungkin ada udang dibalik batu?
Lama sekali Ji Bun melamun mengawasi Sek-hud, martabat Ciang Wi-bin dikenal cukup bijaksana dan suka blak-blakan, hal inipun sukar untuk dijajaki.
Selagi dia tenggelam dalam pemikiran, tiba-tiba pintu kamar berbunyi berkeriut dibuka dari luar, waktu Ji Bun putar badan, tampak seorang tua bertubuh tegap berjenggot kambing melangkah masuk.
Bahwa Ciang Wi-bin kembali pada saat pagi buta begini, hal ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun, tersipu-sipu dia melangkah maju memberi hormat.
"Keponakan tidak berbudi memberi salam hormat pada paman."
Ciang Wi-bing tergelak-gelak sambil mengelus jenggotnya, katanya.
"Hiantit, kebetulan sekali, syukurlah kau sudi berkunjung kerumahku, silakan duduk."
"Paman juga silakan duduk."
"O, apakah Hiantit sedang menikmati Sek-hud ini."
Merah muka Ji Bun, sahutnya likat.
"Ya, kabarnya Sek-hud ini adalah barang pusaka persilatan ....."
"Semula memang benar, namun kini tidak."
"Kenapa demikian?"
"Apakah Hiantit tidak melihat Sek-hud ini rada ganjil?"
"Lubang yang tepat berada dihati Sek-hud ini, maksud paman?"
"Ya, benar, kemujijatan Sek-hud terletak pada Hud-sim (hati Budha), namun patung ini sudah tak berhati. Paman membelinya dari tukang loak, kulihat buatannya cukup baik dan antik, maka kubeli dengan sepuluh tahil perak."
"Dari mana paman tahu kemujijatan Sek-hud ini terletak pada Hud-sim?"
"Setiap orang akan tahu, tiada sebuah patung manapun yang dibuat atau diukir tanpa hati, pada lubang itu ada bekas-bekas cukilan. Betapa tinggi nilai keantikan Sek-hud ini, bagaimana mungkin bisa terjatuh ke tangan tukang loak?"
Sementara itu mereka sudah duduk berhadapan, wajah Ciang Wi-bin menampilkan rasa duka, suaranyapun sedih.
"Keluargamu tertimpa bencana, paman amat menyesal tidak bisa memberi bantuan apapun"
Pilu hati Ji Bun, air mata sudah berkaca dikelopak matanya, namun dia tahan jangan sampai menetes, katanya.
"Terima kasih atas perhatian paman, Siautit bersumpah akan membalas dendam."
Katanya kau sudah berhasil mencari tahu siapa-siapa musuhmu itu?"
"Ya, tapi masih belum bisa dipastikan."
"Hiantit, hubungan keluarga kita seperti saudara kandung sendiri, aksi apa yang hendak kau lakukan sukalah kau memberitahu kepadaku lebih dulu."
"Baik, keponakan berjanji."
"Ai, ayahmu berwatak aneh dan menyendiri, sejak peristiwa itu terjadi selama ini tak pernah dia muncul tentunya kau tahu dimana jejaknya sekarang?"
Terbayang akan kematian ayahnya yang mengenaskan di hutan, tak tertahan lagi bercucuran air matanya giginya berkerutukan menahan gelora sakit hatinya, sorot matanyapun penuh kebencian, wajahnya pucat pasi, ingin menerangkan, namun mengingat ini adalah nasib jelek dirinya sendiri, segala siksa derita harus ditanggung sendiri, maka dengan sedih ia menjawab.
"Sampai sekarang keponakan juga sedang berusaha menemukan ayah."
"Lalu bagaimana ibumu,"
"Jejak ibupun tidak diketahui,"
"Ai, agaknya takdir memang berkehendak demikian. Kuharap keponakan tidak usah putus asa, aku sudah minta bantuan orang untuk mencari mereka,"
Demikian kata Ciang Wi-bin, lalu dia bertanya.
"Kau kemari lantaran soal anting-anting pualam itu?"
"Keponakan amat menyesal ......"
"Soal ini tidak perlu dibuat risau, paman punya cara untuk menyelesaikannya."
"Tapi keponakan tidak tenteram."
Ciang Wi-bin menepekur sebentar, katanya kemudian.
"Tentunya kau sudah tahu akan ikatan jodohmu dengan anak Cu oleh ayahmu dulu. Anak Cu juga pernah dapat pertolonganmu dari orang-orang Cip-po-hwe, arti dari pemberian anting-anting itu memang amat mendalam, tapi paman tidak akan memaksakan soal ini, soal jodoh harus sama-sama disetujui oleh kedua pihak ......."
Dia hentikan kata-katanya sambil mengawasi reaksi Ji Bun.
Ji Bun menjadi gundah dan bingung, soal ikatan jodoh ini tidak akan dia sangkal, Ciang Bing-cu termasuk seorang gadis jelita, namun tangan kirinya yang berbisa merupakan penghalang yang membatasi diri untuk berdekatan dengan lawan jenisnya, apalagi keluarganya tertimpa bencana, sebelum sakit hati terbalas, betapapun dia pantang membicarakan jodoh, maka dia berkata.
"Tentunya paman sudah tahu akan rahasia tangan berbisa keponakan?"
Berubah air muka Ciang Wi-bin, katanya.
"Ya, ini memang soal pelik, tapi paman akan berusaha untuk mendapat obat penawarnya meski harus mengorbankan apapun ....."
"Kebaikan paman akan terukir dalam lubuk hati keponakan, cuma racun ini mungkin tiada obat penawarnya."
"Thian punya kuasa manusia berusaha, asal kita mau berusaha, tiada sesuatu persoalan yang tidak bisa dibereskan. Demikian pula tiada racun yang tak bisa ditawarkan."
"Menawarkan racun soal gampang, sulit untuk melenyapkan landasan Lwekangnya."
"Soal ini boleh kita tunda saja, bagaimana pendapatmu terhadap Bing-cu?"
Serba susah bagi Ji Bun untuk memberi jawaban, gadis baju merah Pui Ci-hwi terlebih dulu menarik perhatiannya, namun setelah tahu orang sekomplotan dengan musuhnya, rasa cintanya ini sudah pudar.
Begitu tinggi cinta murni Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya, sayang kelakuannya terlalu tercela.
Gadis semacam Ciang Bing-cu memang jodoh yang setimpal dan menjadi idam-idaman banyak orang.
Dendam sakit hati keluarga belum terbalas, mati hidup diri sendiri juga sukar diramalkan, ilmu berbisa merupakan penghalang yang terbesar lagi, kalau tiada harapan untuk ditawarkan, sebagai seorang laki-laki sejati mana boleh menelantarkan masa remaja seorang gadis yang punya masa depan gemilang?
Maka dengan sungguh dia berkata.
"Budi luhur dan perhatian paman tak berani keponakan melupakan dan menampik, apalagi ada perintah orang tua, namun keponakan sekarang belum berani menerimanya ...."
"Kenapa?"
"Selama ilmu beracun ini masih melekat pada tubuh keponakan, betapapun keponakan tak berani menyia-nyiakan masa remaja adik Cu."
"Memang bijaksana keputusanmu, namun Bing-cu si budak itu sudah bersumpah dalam hati, betapapun dia tidak akan mengingkari janji kedua keluarga yang telah menjodohkan kalian."
Ji Bun amat menyesal, katanya.
"Harap paman suka membujuk adik Cu dan menjelaskan kesulitan keponakan ini."
"Watak adikmu terlalu keras dan kukuh, tiada gunanya aku membujuknya."
Ji Bun menunduk dengan masgul, lama dia termenung, lalu berkata sambil angkat kepala.
"Baiklah, Siautit berjanji, dikala ilmu beracun ini dapat ditawarkan saat itulah Siautit akan memenuhi janji perjodohan ini."
Ciang Wi-bun mengunjuk rasa serba susah, lama sekali iapun berdiam diri.
"Agaknya paman ada kesulitan, silakan katakan saja,"
Ciang Wi-bin berdiam sesaat lamanya lagi, dengan apa boleh buat akhirnya dia buka suara.
"Adikmu mengatakan ....."
Tergerak hati Ji Bun, lebih besar keinginan untuk tahu, tanyanya.
"Paman jelaskan saja."
"Anak Cu bilang umpama tiada obat penawarnya, terpaksa ...."
"Terpaksa apa?"
"Terpaksa potong saja lengan kirimu."
Ji Bun betul-betul kaget, namun dia mengakui, memang hanya inilah jalan satu-satunya, walau keputusan itu agak kejam, namun kesalahan terletak, pada sang ayah yang telah menurunkan ilmu Bu-ing-cui-sim-jiu ini padanya, kemungkinan sang ayah dulu mempunyai perhitungannya sendiri, meski kesalahan sudah terjadi kini beliau sudah meninggal, sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orang tua, apa pula yang harus dia katakan.
Maksud Ciang Bing-cu juga baik, tujuannya hanya ingin menikah dengan dirinya, tujuan baik dan luhur ini sekaligus menandakan betapa mendalam dan suci murni cintanya terhadap dirinya.
"Maksud adik Cu cukup mengharukan, memang cara itu boleh dilaksanakan bila terpaksa, namun demikian keponakan akan menjadi seorang cacad, apakah setimpal berjodoh dengan adik Cu ......"
"Hiantit, paman sudah bilang, akan berusaha mendapatkan obat penawarnya meski harus mengorbankan apapun sekarang soal ini boleh dikesampingkan dulu."
"Masih ada persoalan yang perlu kusampaikan kepada paman."
"Ya, katakan saja."
"Dendam keluarga betapapun harus dibalas, jejak ayah-bunda belum terang, mati-hidup keponakan kelak sukar diramalkan, maka usul paman ini kukira ditunda dulu."
"Ayahmu seorang luar biasa, tentu diapun punya perhitungan yang luar biasa pula, aku percaya secara diam-diam dia pasti sudah mengatur rencana untuk menuntut balas, kuharap di dalam, setiap langkah-langkah keponakan harus dipikir dulu secara seksama."
Berlinang-linang air mata Ji Bun, ayahnya sudah meninggal, rencana apa pula yang dapat dilakukan beliau, sayang dia belum mampu menumpas para musuhnya secepat mungkin.
Ciang Wi-bin berbangkit, katanya.
"Kau masih harus istirahat, hari sudah hampir terang tanah segala persoalan bicarakan besok saja."
Ji Bun ikut berdiri, katanya.
"Setelah terang tanah, keponakan ingin pamit ....."
"Tidak, jangan, betapapun kau harus menginap beberapa hari di sini,"
Habis berkata Ciang Wi-bin lantas keluar.
Perasaan pilu dan sedih yang belum pernah dirasakan oleh Ji Bun tiba-tiba merangsang sanubarinya, masa depan masih kabur, nasib apa yang bakal menimpa dirinya?
Api lilin sudah guram, cuaca diluar sudah mulai remang-remang fajar telah menyingsing.
Sekonyong-konyong terdengar jengekan tawa dingin di luar kamar buku begitu dingin dan menggiriskan sekali tawa ini.
Bukan kepalang kejut Ji Bun, dia berjingkrak berdiri, bentaknya.
"Siapa?"
Sebat sekali badannya melayang keluar kamar dan hinggap di luar pekarangan.
Gerakan Ji Bun cukup sebat, namun tiada sesuatu bayangan yang dilihatnya.
Tengah dia melenggong, kembali terdengar jengek tawa dingin tadi, kali ini berkumandang dari arah wuwungan sebelah kiri.
Reaksi Ji Bun boleh dikata sudah teramat cepat, bagai anak panah tubuhnya segera meluncur ke atas wuwungan, dilihatnya sesosok bayangan abu-abu tengah kabur ke arah barat, karena gregetan, tanpa pikir Ji Bun segera mengejar dengan kencang.
Bayangan itu sungguh sangat gesit dan cepat sekali, dalam sekejap bayangan itu tahu-tahu sudah lenyap di balik wuwungan rumah sekitarnya.
Tahu tiada harapan menyusul lagi, dengan lesu Ji Bun putar balik, baru saja badannya meluncur turun di pekarangan, dilihatnya Ciang Wi-bin beserta, beberapa orang pembantunya tengah ribut-ribut di kamar.
Bing-cu berlari keluar memapaknya, katanya.
"Kakak Bun, adakah kau lihat jejak musuh?"
"Cepat sekali gerakan orang itu, aku kehilangan jejaknya,"
Sahut Ji Bun.
"Apa yang terjadi di dalam?"
"Sek-hud telah dicuri orang,"
Tutur si nona.
Ji Bun menjadi kikuk dan rikuh, dia merasa dirinya teramat bodoh, begitu gampang dikelabuhi dengan pancingan orang meninggalkan kamar buku sehingga Sek-hud dicuri orang.
Seperti tidak terjadi apa-apa Ciang Wi-bin melangkah keluar, katanya.
"Hantit tidak usah berkecil hati, Sek-hud sudah tak berharga lagi, hilang ya sudahlah."
Sementara itu hari sudah terang tanah, Ciang Wi-bin bersama puterinya mengundurkan diri, Ji Bun kembali ke kamar dan membersihkan badan, tak lama kemudian seorang kacung membawanya ke villa yang kemarin Ji Bun bicara dengan Ciang Wi-bin.
Ciang Wi-bin berdua sudah menunggu kedatangannya, mereka menyambut dengan hangat, walau sarapan pagi, tapi hidangan cukup banyak ragamnya.
Setelah makan, dengan kukuh Ji Bun minta diri.
Terunjuk rasa hambar seperti kehilangan sesuatu pada wajah Ciang Bing-cu.
Walau Ciang Wi-bin sudah membujuk berulang kali, tapi Ji Bun tetap kukuh hendak menunaikan tanggung jawab keluarga.
Hari itu juga Ji Bun lantas meninggalkan tempat keluarga Ciang.
Dengan langkah lebar Ji Bun meninggalkan Kayhong langsung menuju ke Tong-pek-san, kini dia merasa sudah tiba saatnya untuk beraksi, pertama dia harus menuju ke Wi-to-hwe menyelidiki jejak Siangkoan Hong, lalu menuntut balas secara terbuka.
Lwekang dan kepandaian silatnya sekarang sudah meyakinkan untuk menuntut balas seorang diri.
Hari itu dia tiba di tempat yang dulu untuk pertama kali dia melihat gadis baju merah Pui Ci-hwi sehingga membatalkan niatnya mengajukan lamaran kepada puteri keluarga Ciang, serta merta langkahnya merandek, terbayang akan pengalaman selama ini, cintanya bertepuk sebelah tangan.
Namun sejak tahu Pui Ci-hwi adalah segolongan dengan para musuhnya, cintanya itu sudah lama pudar, apalagi Cui Pi-hwi sekarang sudah dinodai oleh Liok Kin, majikan muda dari Cip-po-hwe.
Tengah dia berdiri melamun, tiba-tiba bayangan merah nan molek semampai terbayang dikelopak matanya, berdegup jantungnya, dia kira pandangannya kabur, setelah dikucek-kucek, jantungnya berdebar-debar setelah melihat lebih jelas lagi, kiranya bayangan merah itu memang betul Pui Ci-hwi adanya.
Wajah Pui Ci-hwi agak pucat, badanpun rada kurus, sorot matanya pudar menampilkan kepedihan.
Lekas Ji Bun mendekatinya, sapanya.
''Selamat bertemu nona Pui."
Pui Ci-hwi berhenti sambil berpaling, mukanya yang pucat bersemu merah, namun cepat sekali sikapnya berubah dingin pula, katanya tawar.
"O, kiranya tuan."
"Tunggu sebentar nona Pui."
Seru Ji Bun memburu maju waktu melihat orang hendak pergi.
"ada urusan yang hendak kubicarakan dengan nona."
"Jadi kau mencari aku?"
Tanya Pui Ci-hwi.
"ada apa?"
"Apakah nona betul murid Pek-ciok Sin-ni?"
Tanya Ji Bun. Pui Ci-hwi melengak, dengan heran dia balas bertanya.
"Untuk apa tuan tanya hal ini?"
"Ada beberapa persoalan yang ingin kuketahui."
"Mengingat tuan pernah menolong aku, sebagai tamu kehormatan perkumpulan kami pula, baiklah kujawab pertanyaan ini secara terus terang. Aku bukan murid beliau."
"Apa?"
Teriak Ji Bun tertegun heran.
"Kau bukan murid Sin-ni? Lalu darimana nona bisa tahu rahasia Sek-hud itu sehingga diburu-buru orang persilatan."
"Maaf hal ini tak bisa kujelaskan."
Maksud Ji Bun hendak mencari tahu jejak Toh Ji-lan, adik kandung Pek-ciok Sin-ni, perempuan yang harus ditemuinya sesuai pesan seorang tua aneh di bawah jurang, harapan itu kini menjadi kosong, namun dia tidak putus asa, tanyanya.
"Apa betul nona tidak hubungan apa-apa dengan Sin-ni?"
"Hubungan sih memang ada,"
Sahut Pui Ci-hwi kaku sambil mengerut kening.
"Syukurlah, kalau begitu Cayhe ingin mencari tahu seseorang kepada nona."
"Mencari siapa?"
"Yaitu adik kandung Sin-ni yang bernama Toh Ji-lan."
Bergetar badan Pui Ci-hwi, air mukapun berubah, tanyanya melongo.
"Untuk apa tanya tentang beliau?"
"Cayhe mendapat pesan seseorang untuk mencari tahu jejaknya."
"Pesan siapa?"
"Seorang tua, namun Cayhe sendiri tidak tahu nama dan gelarannya."
"Sayang beliau sudah tak berada di dunia fana ini."
"Sudah meninggal maksudmu?"
Ji Bun menegas.
"Ya, sudah lama meninggal dunia."
"Tolong tanya, dimanakah pusara beliau?"
Kaget dan heran Pui Ci-hwi menatap Ji Bun, kepalanya sedikit menggeleng, sahutnya.
"Hal ini tak boleh kukatakan."
Ji Bun menarik napas panjang, pikirnya, kalau dia sudah meninggal, biarlah kuberi kabar secara terus terang kepada orang tua aneh itu, timbul juga rasa kasihan terhadap orang tua itu, hanya karena ingin bertemu sekali lagi dengan kekasih, maka orang tua itu bertahan hidup sekian puluh tahun di bawah jurang dengan siksa derita, betapa kejam akhir dari semua ini.
Soal lain segera timbul dalam benaknya, hawa hitam yang selama ini lenyap kini kentara pula di antara kedua alisnya, sikapnyapun kembali kaku dingin membuat Pui Ci-hwi menyurut jeri.
"Nona juga anggota Wi-to-hwe?"
Tanyanya. Pui Ci-hwi mengiakan sambil mengangguk. Berkerutuk gigi Ji Bun, sedapat mungkin dia tekan emosinya, namun suaranya semakin dingin kaku.
"Apa nona tahu kenapa Wi-to-hwe bermusuhan dengan Jit-sing-pangcu Ji Ing-hong?"
"Kau ..... untuk apa kau tanya hal ini?"
"Karena Cayhe ingin tahu duduknya persoalan. Nah, jawablah nona."
"Wi-to-hwe hakikatnya tidak bermusuhan dengan Jit-sing-po."
"Akan tetapi Jit-sing-po hancur lebur?"
"Entah, aku tak tahu."
"Ji Ing-hong ditemukan mati di dalam hutan dengan mengenaskan, siapa pula yang membunuhnya?"
"Tidak tahu."
"Nona Pui,"
Tak tahan Ji Bun menahan rangsangan dendam dan benci, suaranya bengis.
"Hari ini kau harus menjawab pertanyaanku sejujurnya."
"Kenapa aku harus menjawab, tidak sudi,"
Sahut Pui Ci-hwi ketus. '"Demi mencapai tujuanku aku tidak segan-segan turun tangan secara keji."
"Kau hendak membunuhku?"
Teriak Pui Ci-hwi, mukanya yang pucat menjadi merah padam.
"Untuk membunuhmu segampang membalikkan tangan, jawab pertanyaanku. Di mana Siangkoan Hong sekarang?"
"Siangkoan Hong? Untuk apa kau mencari dia?"
Pui Ci-hwi balas bertanya.
"Bukankah kau pernah menolong jiwanya?"
"Ya tempo hari aku belum terlibat dalam urusan ini, sekarang ........"
"Soal ini boleh kau tanya kepada Hwecu saja."
"Tentu! akan kucari dia, tapi sekarang kau yang kutanyai."
"Aku tidak sudi menjawab."
Ji Bun menggeram murka, secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan Pui Ci-hwi, tangan berbisa segera terangkat tinggi, katanya mengancam.
"Untuk membunuhmu sekarang bagiku segampang memites seekor semut."
Bergetar tubuh Pui Ci-hwi, air mukanya berubah, matanya mendelik, tanpa bicara ia menatap Ji Bun dengan penuh kebencian.
"Lepaskan dia!"
Sekonyong-konyong sebuah hardikan berkumandang dari belakang.
Cepat Ji Bun menoleh, dilihatnya seorang setengah tua berperawakan sedang, bermuka tirus bermata sipit berdiri dua tombak di belakangnya, jubahnya hitam, rambut kepalanya diikat kain hitam pula, dandanan demikian rada ganjil dan aneh.
"Tuan orang kosen dari mana?"
Tanya Ji Bun.
"Kwe-loh-jin."
Mendelik buas mata Ji Bun, ancamnya.
"Kalau kau masih ingin hidup, lekas enyah dari sini."
Orang yang menamakan dirinya Kwe-loh-jin atau orang lewat di jalanan ini tertawa menyengir, ujarnya.
"Te-gak Suseng, membual saja kepada orang lain."
Memangnya dendam dan amarah Ji Bun tidak terlampias, kata-kata orang ini seperti api disiram minyak, membuat amarahnya semakin berkobar, desisnya dingin.
"Kau betul-betul ingin mampus?"
"Nanti dulu, aku kemari hendak membuat perhitungan dagang dengan kau."
"Perhitungan dagang apa? Aku tidak punya minat."
"Te-gak Suseng, setelah kujelaskan, kutanggung minatmu pasti besar."
Sebelum orang bicara habis, sebat sekali Ji Bun melepaskan tangan Pui Ci-hwi terus menubruk ke arah Kwe-loh-jin, tangan berbisa sekaligus menyerang dengan gerakan secepat kilat, tahu-tahu dia sudah mencengkeramnya pula pergelangan tangan Pui Ci-hwi dan berdiri di tempatnya semula, betapa cepat dan tangkas gerakannya ini, sungguh luar biasa.
Tapi hasil dari serangannya sungguh di luar dugaannya, Kwe-loh-jin yang kena serangan tangan berbisa tidak roboh binasa, orang malah berdiri tersenyum simpul.
Diam-diam Ji Bun menjadi sangsi akan ilmu pukulan berbisa yang diyakinkannya selama ini, ternyata Kwe-loh-jin kebal terhadap racun latihannya, apa betul masih banyak lagi orang-orang yang tidak mempan terhadap racun jahatnya?
Seperti tidak kurang suatu apa, Kwe-loh-jin berkata.
"Te-gak Suseng, marilah kita bicarakan soal dagang itu."
Tanpa sadar Ji Bun bertanya .
"Kau....tidak takut racun?"
"Bu-ing-cui-sim-jiu memang teramat jahat, namun bagiku racun itu bukan apa-apa,"
Ujar Kwe-loh-jin tertawa lebar.
"Siapakah kau?"
Tanya Ji Bun.
"Orang lewat!"
"Apa maksud dan tujuanmu?"
"Sejak tadi sudah kukatakan, untuk membicarakan soal dagang."
"Baiklah coba kau terangkan."
Sebelum bicara "orang lewat"
Seperti menahan perasaannya, katanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
"Bukankah kau ingin memperoleh kembali barangmu yang hilang?"
"Barang hilang?"
Teriak Ji Bun.
"barang apa?"
"Anting-anting pualam yang tak ternilai harganya untuk mengambil uang di mana saja."
Seperti hendak meledak dada Ji Bun, sinar matanya liar, suaranya mengancam gemetar.
"Bagus sekali, jadi yang merebut anting-anting itu adalah kau, berani kau bicara soal dagang segala dihadapanku?" 9.27. Rahasia Rumah Setan di Kay-hong "Orang Lewat"
Terloroh-loroh, katanya.
"Te-gak Suseng jangan kau umbar amarahmu, jangan kau harap bisa merebutnya kembali tanpa memberikan imbalan kepadaku."
"Bukan saja anting-anting itu harus kurebut kembali, kepalamu juga harus kupenggal, itulah yang harus kau berikan padaku."
"Baiklah, boleh coba,"
Tantang orang itu.
Untuk kedua kali Ji Bun melepas pegangan tangan Pui Ci-hwi, telapak tangannya terus memukul ke arah Orang Lewat, betapa dahsyat kekuatan pukulan bagai gugur gunung ini, tapi hanya sekali berkelebat, tahu-tahu Orang Lewat sudah menyingkir tiga tombak jauhnya, gerakan badan begitu gesit dan enteng, sungguh tidak kalah dibandingkan Biau-jiu Siansing.
Gerakan seringan kapas seperti setan melayang ditambah orang juga tidak gentar terkena pukulan beracunnya, ini lebih meyakinkan Ji Bun bahwa orang ini memang betul adalah orang yang merebut anting-antingnya.
Pui Ci-hwi tetap berdiri kaku di tempatnya tanpa, bergerak, seolah-olah apa yang terjadi disekelilingnya tidak dilihat dan tak didengar, peduli amat semua peristiwa yang tiada sangkut paut dengan dirinya.
"Te-gak Suseng,"
Orang lewat berseru memberi peringatan.
"kalau main pukul lagi, terpaksa kutinggal pergi saja."
"Hm, memangnya kau bisa lolos?"
"Omong kosong, sungguh menggelikan, kalau berhantam, sepuluh atau dua puluh kali pukulanmu masih belum apa-apa bagiku, kalau mau pergi, memangnya kau mampu merintangi?"
"Katakan, apa kehendakmu?"
Bentak Ji Bun dongkol.
"Gampang saja, serahkan dia kepadaku, anting-anting akan kukembalikan padamu, nah, kita main barter."
Tergerak hati Ji Bun, tanyanya.
"Dia? Kenapa aku harus serahkan dia padamu?"
"Untuk barter, kutukar dengan barangmu yang hilang."
Mendelik gusar pandangan Pui Ci-hwi mengawasi "orang lewat", tapi tetap tidak bersuara.
Memang Ji Bun ingin sekali mendapatkan anting-antingnya yang hilang, tapi tegakah dia menyerahkan Pui Ci-hwi sebagai barang tukaran?
Apa pula maksud "orang lewat"
Dengan mengajukan syarat yang tidak berperikemanusiaan ini? Maka dia mendengus dingin, katanya.
"Apa maksudmu sebenarnya?"
Tenang-tenang saja sikap "orang lewat", katanya.
"Bukankah tadi kau hendak membunuhnya? Kalau sekarang dia kutukar anting-anting pualam itu, kan tidak merugikan kau?"
"Pernah apa kau dengan dia? Apa tujuanmu menghendaki dirinya?"
Tanya Ji Bun.
"Bukan apa-apaku. Soal untuk apa aku ingin memiliki dia itu bukan urusanmu,"
Sahut "orang lewat".
Lalu dia merogoh kantong mengeluarkan anting-anting pualam serta ditimang-timang di telapak tangannya, lalu segera ia menyimpannya pula.
Nyata, anting-anting itu memang betul adalah miliknya yang hilang itu.
Serasa pecah kepala Ji Bun saking murka, sekonyong-konyong telapak tangannya menyapu ke depan, serangan ini secepat kilat menyambar, kekuatannya bukan olah-olah hebatnya.
Karena tidak menduga dan kurang siaga, orang lewat tersampuk sempoyongan oleh damparan angin kencang ini.
Amarah Ji Bun sudah memuncak, begitu sampukan tangan berhasil membuat orang gentayangan, kembali pukulan kedua menyusul tiba, namun "orang lewat"
Sempat melintangkan tangan menangkis, di tengah suara keras beserta angin kencang berderai keempat penjuru, terdengar keluhan tertahan.
"orang lewat"
Menyurut mundur beberapa langkah.
Mendapat angin dengan kedua pukulannya, Ji Bun tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera ia mendesak maju, secepat kilat jari-jarinya mencengkeram ke dada lawan.
Kali ini "orang lewat"
Memperlihatkan kemampuan silatnya yang luar biasa, tampak bayangannya melejit, ke sana terus mengoget seperti ikan selicin belut tahu-tahu orang sudah menyingkir dari cakaran tangan Ji Bun, terdengar pula suara teriakan kaget, tahu-tahu Pui Ci-hwi menjadi tawanan si "orang lewat".
Gerakan orang ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun, keruan ia melenggong.
Dengan sombong dan tertawa senang.
"orang lewat"
Berkata.
"Te-gak Suseng, sekarang kau sudah tiada hak untuk barter lagi dengan aku."
"Hm, kau kira bisa pergi dengan selamat?"
Sekali jinjing terus dikempit, mendadak "orang lewat"
Melenting jauh ke sana. Namun sekali berkelebat Ji Bun juga sudah melejit ke sana menghadang di depannya, sekaligus dia melontarkan serangan mematikan.
"orang lewat"
Dipaksa mundur ke tempatnya semula, dengan langkah berat Ji Bun mendesak maju.
"Berani kau turun tangan, dialah yang akan mati lebih dulu!"
Ancam "orang lewat"
Menyeringai sadis. Ji Bun nekat, jengeknya "Kaupun tidak akan hidup, kalau bertangan kosong, mungkin kau punya kesempatan buat lolos. tapi dengan menggondol dia, jangan harap kau bisa pergi."
Hal ini memang betul.
"orang lewat"
Hanya mengandal gerakan tubuhnya yang lihay dan sedikit lebih tinggi dari Ji Bun.
Bicara soal Lwekang dia malah lebih rendah dua tingkat, kalau dia berkukuh hendak menggondol pergi Pui Ci-hwi, betapapun gerakannya juga kurang leluasa, dengan sendirinya permainan silatnya akan terhalang, bagaimana mungkin dia mampu meloloskan diri?
"Kau tidak mau menukarnya dengan anting-anting, itu berarti jiwanya tidak lebih berharga daripada anting-anting itu."
"Kau keliru, aku bisa membunuhnya, karena soal sakit hati, tapi untuk barter, masakah aku ini manusia rendah yang sudi berbuat sekeji itu."
"Te-gak Suseng, jangan kau membual, aku tahu kau ingin dia hidup untuk mengorek keterangan asal-usul para musuhmu bukan?"
Diam-diam terperanjat Ji Bun, segala persoalan dirinya agaknya sudah tergenggam di tangan orang, katanya dingin.
"Dari orang lainpun aku bisa mendapat keterangan yang kuinginkan. Lepaskan dia!"
Agaknya "orang lewat"
Gentar menghadapi tekat Ji Bun yang membara, sesaat dia berpikir, lalu katanya.
"Te-gak Suseng, anggaplah aku berhasil memungut dia tanpa sengaja, soal barter batal saja, tapi anting-anting tetap kukembalikan padamu."
Sebetulnya Ji Bun hampir terbujuk, namun teringat anting-anting soal kecil, lebih penting adalah menuntut balas, hanya Pui Ci-hwi satu-satunya sumber untuk menyelidiki para musuhnya, betapapun dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik ini.
Segera ia menjawab.
"Tidak bisa."
"Te-gak Suseng, untuk membunuhnya sekarang aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga, kalau dia betul-betul mampus ditanganku, apa yang akan, kau peroleh?"
Memang tepat dan lihay gertakan "Orang Lewat"
Itu, kalau betul dia membunuh Pui Ci-hwi terus tinggal pergi, bukankah anting-anting itu tetap takkan berhasil diminta kembali? Namun Ji Bun juga maklum bahwa "Orang Lewat"
Ini ingin membawa pergi Pui Ci-hwi pasti punya maksud tertentu, untuk ini tidak mungkin dia berani membunuhnya, maka dengan mendengus dia berkata.
"Kau membunuh dia, lalu aku membunuhmu, itulah akhirnya."
"Memangnya kau mampu membunuhku?"
Cemooh orang itu. Ji Bun menggerung gusar, belum lenyap suara gerungannya, jari-jari tangannya sudah mencengkeram dengan gerakan yang luar biasa, namun "Orang Lewat"
Berkelit ke kiri terus menerjang ke kanan, serangan Ji Bun tidak menjadi kendur, beruntun jari tangannya bekerja dengan serangan lihay, karena tangannya memegangi Pui Ci-hwi, betapa tinggi dan lihay gerakan "Orang Lewat", lama kelamaan menyurut juga.
"Cret", suatu ketika jari Ji Bun berhasil menarik kain hitam yang mengikat rambut kepala "Orang Lewat".
"Hah,"
Seketika Ji Bun menjerit kaget sambil menyurut mundur, matanya terbeliak dengan muka pucat lalu merah dan kehijauan, mimiknya seperti orang ketakutan melihat setan iblis.
Ternyata di atas kuping sebelah kanan "Orang Lewat"
Kelihatan codet bekas memanjang.
Codet ini memberi kesan yang mendalam bagi Ji Bun, begitu tajamnya seperti goresan pisau di ulu hatinya, dalam benaknya selalu terbayang orang berkedok, berjubah sutera yang kepalanya ada codet bekas luka, jadi antara Orang berkedok, laki-laki muka hitam, dan "Orang Lewat"
Ini ternyata adalah satu orang.
Jadi dia belum mati?
Dengan kedua tangannya sendiri dia mengubur dua orang yang sama-sama berkedok dan berjubah sutera, salah satu adalah ayahnya, lalu siapa yang satu lagi?
Mungkinkah masih ada orang ketiga?
Sungguh luar biasa, berulang kali orang ini hendak menghabiskan jiwanya, kini hendak membawa Pui Ci-hwi kenapa?
Lekas Ji Bun tenangkan diri, waktu dia menyapu pandang sekelilingnya, ternyata Orang Lewat dan Pui Ci-hwi sudah lenyap, agaknya orang melarikan diri waktu dirinya linglung tadi.
"Siapa dia? Siapa dia?"
Tak tertahan Ji Bun berteriak-teriak seperti orang gila.
Bukan saja kejadian ini teramat aneh, juga amat menakutkan.
Diantara serangkaian kejadian ini seakan-akan berselubung suatu teka-teki yang serba misterius, namun teka-teki yang menakutkan ini tidak mudah dibongkar.
Ji Bun tenggelam dalam pemikirannya, sepak terjang orang seperti setan gentayangan, dengan bentuk wajah yang selalu berubah, gerakan badan yang terlalu hebat dan mengejutkan.
Secara wajar, dia lantas berpikir kepada Biau-jiu Siansing.
Dia lebih condong menaruh curiga kepada Biau-Jiu Siansing karena orang inipun memiliki gerakan tubuh dan Ginkang sehebat itu, lagi tidak takut menghadapi Bu-ing-cui sim-jiu yang amat beracun itu.
Ya pasti dia, kecuali dia pasti tiada orang yang punya kemampuan seperti itu, demikian pula Jit-sing-ko-jin bukan mustahil adalah samarannya.
Teka-teki ini harus cepat dibongkar, kalau tidak dirinya takkan hidup tenang, salah-salah jiwa sendiri bisa melayang oleh kelicikan dan kelicinan musuh.
Gedung setan di kota Cinyang, seperti apa yang dikatakan Thian-thay-mo-ki adalah sarang atau tempat sembunyi Biau-jiu Siansing, katanya isteri dan seorang puteranya berdiam di gedung setan itu.
Tempo hari kalau tidak ketemu tabib keliling dan dipancing keluar kota mungkin teka-teki ini sudah berhasil dibongkarnya.
Untuk menuju Tong-pek-san kebetulan harus lewat kota Cinyang, setelah dipikir secara seksama, Ji Bun berkeputusan untuk mampir ke kota Cinyang mencari Biau-jiu Siansing, segera dia keluar hutan dan menempuh perjalanan lewat jalan raya.
Hari kelima pagi-pagi benar Ji Bun sudah sampai di kota Cinyang, karena terlalu pagi, tidak leluasa untuk bekerja, kuatir jejaknya diketahui pihak musuh.
Supaya tidak mengejutkan pihak sana, maka dia tidak masuk kota, tapi berputar menuju ke sebuah kota kecil di selatan Cinyang yang jaraknya kira-kira beberapa li.
Di sini dia mencari hotel untuk melepaskan lelah dan menghabiskan waktu, malam nanti setelah kentongan kedua baru akan mulai beraksi.
Setelah cuci muka dan ganti pakaian, dia pesan makanan, seorang diri mondar-mandir di dalam kamar.
Tak lama kemudian, sendirian dia sudah makan minum dengan lahapnya.
Tiba-tiba pelayan masuk, katanya.
"Siangkong, ada seorang tamu suruh hamba menyampaikan sepucuk surat."
Tergerak hati Ji Bun, katanya.
"Bawa kemari."
Pelayan angsurkan surat itu, itulah secarik kertas tanpa sampul sebesar telapak tangan. Begitu membaca tulisan di atas kertas itu, seketika berubah air muka Ji Bun, suaranya gemetar.
"Mana orang yang membawa surat ini?"
"Sudah pergi."
"Bagaimana raut wajahnya?"
"Entahlah, agaknya seperti orang persilatan."
"Baik, tiada apa-apa, kau boleh keluar."
Dengan heran dan curiga si pelayan melirik sekejap pada Ji Bun, lalu mengundurkan diri. Ji Bun membaca sekali lagi tulisan surat itu, bunyinya demikian.
"Disampaikan kepada Te-gak Suseng. Kalau ingin memperoleh si jelita tanpa kurang suatu apa dan anting-anting, lekaslah kau pergi ke Wi-to-hwe, suruh ketuanya menukar jiwa nona itu dengan Hud-sim. Kubatasi 10 hari, selewatnya hari yang kutentukan, keselamatan jiwanya bukan tanggung jawabku lagi, kalau ketuanya setuju, Hud-sim boleh diserahkan padamu, akan kujanjikan tempat dan waktunya setelah tiba waktunya. Tertanda Kwe-loh-jin."
Gemas dan dongkol ji Bun bukan main, agaknya gerak-geriknya selalu diintai oleh lawan, perjalanan kali ini agaknya bakal gagal lagi. Jadi terang sekarang tujuan-tujuan "Orang Lewat"
Menculik Pui Cui-hwi ternyata untuk barter dengan Hud-sim, mungkinkah "Orang Lewat"
Pula yang melakukan pencurian Sek-hud di gedung keluarga Ciang?
Musuh ditempat gelap, dirinya ditempat terang, urusan ini memang serba sulit dan dirinya dipihak yang dirugikan.
Dengan terlongong Ji Bun mengawasi kertas ditangannya, dari gejala yang sudah teraba secara beruntun ini, dia lebih yakin bahwa "Orang Lewat"
Ini memang duplikat Biau-jiu-Siansing, mencuri, menipu, merampas dan merebut, ditambah mengancam dan menindas.
Semua ini merupakan perbuatan kotor dan rendah yang selalu terjadi dikalangan Kang-ouw oleh manusia-manusia rendah, hal ini memang sudah sering terjadi dan tidak mengherankan dirinya, yang belum diketahui hanyalah apa tujuan orang ini selalu hendak membunuh dirinya, ia yakin dirinya belum pernah bermusuhan dengan dia.
Apakah sekarang ia harus pergi ke Tong-pek-san dan bekerja sesuai yang diminta "Orang Lewat"
Seperti yang ditulis dalam suratnya ini? Dengan keras dia gebrak meja, sambil menengadah dia tenggak habis secangkir arak, mulutnya menggumam.
"Malam ini harus kubongkar seluk-beluk si maling tua itu."
Oo Kentongan kedua baru saja berkumandang, Sesosok bayangan dengan cepat melayang ke arah "gedung setan"
Di kota Cinyang.
Dia bukan lain Te-gak Suseng Ji Bun adanya.
Memang sesuai betul keadaan Gedung Setan ini dengan namanya, tidak nampak bayangan orang lewat di sini, suasana hening mencekam, keadaan tidak berbeda dengan tempo hari waktu pertama kali dia datang, pintu besarnya tertutup rapat, galagasi berada dimana-mana, debu setebal beberapa mili.
Sejenak Ji Bun berdiri di atas pagar tembok menerawang keadaan sekelilingnya, lalu berputar ke arah samping, sekali lompat dia naik ke atas wuwungan, denah gedung ini cukup luas dan besar, tampak rumah berderet, pekarangan berlapis-lapis, tetumbuhan tua tersebar dimana-mana.
Selayang pandang keadaan serba gelap, hawapun terasa lembab dan menggiriskan orang.
Mungkinkah ada orang tinggal di tempat seperti ini?
Ji Bun jadi terlongong bingung.
Ji Bun tidak takut setan, juga tidak percaya di dunia ini ada setan, rumah serta tempat-tempat yang sering dikatakan keramat dan dihuni setan hanya permainan kotor orang-orang persilatan yang suka main-main dengan tujuan tertentu belaka.
Tapi kalau, rumah ini dihuni manusia, pasti ada sinar lampu atau lilin, namun yang dihadapinya sekarang hanya kepekatan yang menyeramkan.
Sudah tentu Ji Bun tidak mau berhenti begini saja dan balik dengan tangan hampa, setelah bimbang sebentar, akhirnya dia enjot kaki dan melayang turun di pekarangan.
Malam memang teramat gelap, namun bagi orang yang berkepandaian setinggi Ji Bun sekarang, matanya masih bisa melihat sesuatu di tempat gelap dengan jelas.
Tertampak pekarangan ini sudah lebat ditumbuhi semak-semak rumput dan pepohonan liar, jalur jalan kecil yang berliku-liku juga sudah penuh ditumbuhi lumut dan rumput-rumput serta ditumpuki daun kering, bangunan rumah-rumah disekelilingnya juga banyak yang rusak dan bobrok, jendela dan pintunya sama runtuh, yang masih ketinggalan sedang berbunyi berkeriut ditiup angin, bayang-bayang pepohonan mirip setan iblis yang menjulurkan jari-jari tangan siap menerkam mangsanya.
Betapa tinggi kepandaian Ji Bun menghadapi suasana yang seram menggiriskan ini, berdiri juga bulu kuduknya, merinding.
Dengan langkah pelan dan hati-hati dia mendekati pintu rembulan dan menuju ke halaman kedua.
Keadaan di sini tak ubahnya dengan pekarangan pertama, hening lelap, hawa seperti membeku, seolah-olah tiada kehidupan lagi di dunia fana ini, bau busuk merangsang hidung.
Namun Ji Bun tidak putus asa, dia membelok ke serambi sana terus memasuki pekarangan lapis ketiga.
Pemandangan di sini jauh berubah, tanaman di sini kelihatannya teratur dan teramat baik, seperti kebun yang selalu diatur oleh tangan-tangan manusia.
Serta merta hati Ji Bun menjadi tegang, selepas matanya memandang, dilihatnya di antara sela pepohonan lapat-lapat kelihatan sinar pelita yang menyorot keluar.
Kalau dipandang dari wuwungan rumah, karena teraling dan tertutup oleh bayang-bayang dedaunan yang lebat, sinar pelita ini terang tidak akan kelihatan.
Agaknya tidak sia-sia perjalanan Ji Bun kali ini.
Apa yang dinamakan gedung setan, kiranya hanya nama kosong dan gertakan bagi yang bernyali kecil belaka, muslihat menakuti orang dengan tujuan tertentu.
Apa yang pernah dilihat dan dialami Thian-thay-mo-ki dulu agaknya memang kenyataan.
Dengan enteng Ji Bun melayang ke arah sinar pelita, dengan berindap dan menggeremet Ji Bun maju semakin dekat.
Kini dia sudah melihat jelas, sinar pelita, itu menyorot keluar dari sebuah kamar yang tertutup kain gordin, karena kain gordin kurang rapat sehingga sinar pelita ini menyorot keluar dari sela-sela meski hanya segaris saja.
Waktu Ji Bun sampai di serambi luar kamar itu sinar pelita di dalam kamar itu mendadak padam.
Keruan kaget berdegup hati Ji Bun, dia tahu bahwa jejaknya sudah konangan, gedung sebesar ini kalau pihak sana sengaja mau menyembunyikan diri, untuk mencarinya tentu sesulit memanjat ke langit.
Lalu tindakan apa yang harus dia lakukan.
Atau ....
kalau Biau-jiu Siansing memang seorang tokoh yang punya gengsi dan berbobot, bila dirinya bersuara dan memperkenalkan diri, tentu dia tidak akan menyembunyikan diri.
Maka Ji Bun lantas bersuara.
"Tegak Suseng mohon bertemu dengan tuan rumah."
Beruntun dia berkaok tiga, kali, namun tiada reaksi apa-apa, keruan Ji Bun naik pitam, dengan amarah yang berkobar segera dia mendekati pintu.
"Berdiri!"
Sekonyong-konyong suara seorang perempuan berkumandang di belakangnya.
Bercekat hati Ji Bun, namun dengan tabah, pelan-pelan dia putar badan di mulut serambi sana dilihatnya berdiri seorang nyonya berpakaian serba hijau, kedua matanya menyala terang seperti mata harimau di malam, agaknya Lwekang dan kepandaian silatnya tidak rendah.
Saat lain, dilihat pula sesosok bayangan kecil seringan burung melayang turun dari atap rumah, kiranya seorang laki-laki berusia 10-an tahun.
"Bagaimana,"
Tanya nyonya baju hijau. Biji mata bocah itu berputar mengawasi Ji Bun sekejap. Sahutnya dengan suara nyaring.
"Ada orang menguntit, tapi sekarang sudah pergi."
"Baik, nyalakan lagi api di dalam kamar,"
Perintah nyonya baju hijau.
Bocah itu segera berlari masuk ke dalam, segera sinar lampu menyala lagi di dalam dan kebetulan menyorot dimuka nyonya baju hijau ini, maka jelas kelihatan raut mukanya yang sudah agak berkeriput, agaknya usianya ada setengah abad, namun bekas-bekas kecantikannya masih kelihatan, sayang rona mukanya menampilkan mimik yang aneh.
"Siapakah yang mulai ini?"
Sapa Ji Bun lebih dulu. Nyonya itu menuding ke dalam, katanya.
"Mari bicara di dalam."
Lalu dia mendahului melangkah masuk.
Sekilas Ji Bun melenggong, tapi dia lantas ikut masuk.
Pajangan kamar ini cukup bagus namun sederhana, suasana terasa redup dan nyaman dibawah sinar lampu teplok, anak kecil tadi sudah tidak kelihatan bayangannya.
Nyonya baju hijau tidak bersuara, namun dengan nanar dia awasi muka Ji Bun, air mukanya berubah-ubah."
Tak tahan Ji Bun buka suara pula.
"Apakah engkau majikan gedung ini?'' "Bukan, aku terhitung tamu juga disini."
"Tamu?"
Ji Bun mengernyit kening.
"Kau heran bukan?"
Memang Ji Bun heran dan tak mengerti, menurut cerita Thian-thay-mo-ki, katanya nyonya ini adalah isteri Biau-jiau Siansing atau gundiknya.
Bocah tadi adalah putera tunggalnya, namun nyonya ini bilang dirinya hanya seorang tamu.
Maka dengan dingin dia mengejek.
"Tapi kutahu bahwa engkau adalah penghuni gedung ini?"
"Soal kecil ini tidak perlu diperdebatkan,"
Ujar nyonya baju hijau lesu.
"kau inikah Te-gak Suseng? Apa maksud kedatanganmu?"
"Sengaja mengunjungi Biau-jiu Siansing Locianpwe,"
Sahut Ji Bun garang sedapat mungkin dia kendalikan rasa geramnya.
"Siapa katamu?"
Bentak nyonya baju hijau dengan air muka berubah.
"Biau-jiu Siansing!"
Ji Bun mengulangi dengan tegas.
"Siapakah Biau-jiau Siansing? Darimana tahu kalau dia tinggal di gedung setan?"
"Tiada sesuatu rahasia mutlak di dunia ini."
"Berapa rahasia yang sudah kau ketahui?"
"Soal ini saja sudah cukup berlebihan."
"Kalau begitu biar kukasih tahu, disini tiada orang bernama Biau-jiu Siansing."
Cukup sepatah kata jawabanmu ini lantas hendak mengusirku pergi. Sebelum kutemukah dia, aku tidak akan meninggalkan gedung ini."
"Berdasarkan apa kau yakin Biau-jiu Siansing berada di gedung ini?"
"Berdasarkan berita yang kuperoleh,"
"Kabar dari mana?"
"Nyonya tidak perlu tahu."
"Aku. Tidak tahu apa itu Biau-jiau Siansing segala."
Ji Bun menarik muka, dia sudah berkeputusan, meski harus menggunakan cara keji apapun juga akan mengobrak-abrik gedung ini dan mengorek usal-usul Biau-jiu Siansing yang sesungguhnya, maka dengan geram dia berkata dingin.
"Hu-jin (nyonya) tidak akan memaksaku untuk bertindak, bukan?"
"Kau mengancamku?"
"Bukan mengancam demi mencapai keinginan yang kuharapkan, aku tidak segan bertindak dengan cara apapun."
"Kau berani bertingkah di sini?"
"Kalau tidak berani tidak akan kemari."
"Dengan cara apa kau hendak bekerja?"
"Sulit dikatakan. Biau-jiu Siansinglah yang mengajarkan padaku, bukan saja dia licin dan licik malah rendah dan hina ...."
"Kentutmu! Omong kosong!"
"Jadi Hujin mengakui akan kenyataan ini? Kalau Hujin tidak kenal dia, buat apa kau membela dia?"
Mencorong sinar mata nyonya baju hijau, bentaknya bengis.
"Biau-jiu Siansing adalah tokoh aneh di kalangan Kang-ouw, mengandalkan apa kau berani memaki dan menghinanya?"
Ji Bun mendengus berat, jengeknya.
"Tokoh aneh apa? Memangnya dia setimpal?"
"Kenapa tidak setimpal"
"Main curi, rebut, menipu, memeras dan segala tipu kotor, setimpalkah orang yang melakukan perbuatan serendah itu dimanakah tokoh aneh?"
Dengan mengertak gigi nyonya baju hijau menatap Ji Bun sekian lama, mendadak dia berkata.
"Kau bernama Ji Bun bukan?"
Hati Ji Bun betul-betul tergoncang hebat, nama aslinya selamanya belum pernah bocor di kalangan Kang-ouw, kecuali Ciang Wi-bin dan puterinya tiada orang lain yang tahu.
Namun nyonya ini dapat menyebut namanya dengan tepat, sungguh mengejutkan dan mengerikan, dengan gemetar dia berkata.
"Dari mana Hujin tahu aku bernama Ji Bun?"
Dingin sekali sikap nyonya baju hijau, katanya.
"Malah aku juga tahu kau ini adalah putranya Ji Ing-hong."
Serasa meledak Ji Bun, darah seketika tersirap ke atas kepala, beruntun dia menyurut tiga tindak, hampir saja meja kursi diterjangnya roboh, mata terbeliak mulut melongo, lama sekali dia mengawasi nyonya itu tanpa bersuara.
Dengan haru dan penuh emosi nyonya baju hijau berkata pula.
"Kau tahu siapa aku?"
Tergagap-gagap Ji Bun berkata.
"Hujin ..... siapa?"
"Kau pernah dengar nama gelaran Khong-kok-lan So Yan?"
"Be ..... belum pernah."
Terpencar sorot kebencian yang menyala dari kedua biji mata nyonya baju hijau, giginya berkerutukan menahan gejolak hati, lama kemudian baru dia berkata.
"Kalau Lan Giok-tin?"
Bergetar sekujur badan Ji Bun, serunya.
"Itulah ibundaku."
"Dia yang melahirkan kau?"
"Ya....dari mana Hujin tahu....."
"Dia masih hidup?"
Pertanyaan mendadak ini teramat menusuk, namun Ji Bun sudah terkekang oleh suasana yang mengejutkan ini, tanpa ragu dia menjawab.
"Mati hidup ibu sampai sekarang belum kuketahui."
"Hm, memang dia bakal mengalami hari naas."
"Hujin ..... apa maksudmu?"
"Ketahuilah, Ji Bun, aku inilah isteri Ji lng-hong yang resmi, Khong-kok-lan So Yan."
Seperti ditusuk sembilu sekujur badan Ji Bun, seketika menjadi linu dan pati rasa, penasaranpun terasa sesak hampir berhenti, sungguh kejadian yang tak pernah dia bayangkan meski di dalam mimpi, bahwa nyonya baju hijau ini ternyata adalah isteri tua dari ayahnya.
Tak heran dia bisa menyebut namanya yang merupakan rahasia bagi orang lain.
Bagaimana mungkin dia bisa berada di gedung setan ini?
Siapa pula bocah itu?
Apakah adiknya dari tunggal bapak lain ibu?
Ji Bun jadi ragu-ragu, apakah gedung ini betul adalah tempat sembunyi Biau-jiu Siansing?
Selama hidup Ji Bun belum pernah, bertemu atau melihat nyonya ini, dia hanya tahu bahwa ibunya isteri kedua, dulu pernah dia tanya tentang nyonya besar ini kepada ibunya, katanya sudah lama meninggal apakah dia ini setan gentayangan?
Teringat akan setan, sementara dirinya berada di dalam gedung setan pula, seketika dia merinding dan gemerobyos keringat dinginnya.
Berkata pula Khong-kok-lan So Yan.
"Sayang sejauh ini aku belum berhasil membunuh Ji Ing-hong dengan kedua tanganku sendiri."
Bergidik pula Ji Bun dibuatnya mendengar kata-kata ini, entah ada permusuhan apa pula antara ayah dan nyonya besar ini? "Taybo ........."
"Jangan panggil aku Taybo (ibu tua), aku sudah putus hubungan dengan Ji Ing-hong. Aku she So, terserah kau ingin panggil apa padaku."
Apakah wanita setengah baya ini benar ibu tiri Ji Bun?
Dan siapa pula anak laki-laki itu?
Dapatkah Ji Bun mengorek rahasia mengenai Biau-jiu Siansing?
10.28.
Wi-to-hwe Terima Syarat Barter Ji Bun menelan air liur seka!i, timbul perasaan dingin dari relung hatinya, katanya kemudian.
"Apakah ada kesalahan paham?"
"Salah paham apa? Hm, yang jelas dendam berdarah!"
"Dendam berdarah?"
Teriak Ji Bun sembari mundur selangkah pula, poci dan cangkir teh di atas meja sama menggelinding jatuh keterjang pantat Ji Bun.
Sungguh peristiwa yang sukar diterima oleh akal sehat bahwa di antara suami isteri bisa terjadi dendam berdarah?
Serta merta dia teringat kepada Siangkoan Hong, dia pernah bilang punya dendam kesumat terhadap Ji Ing-hong yang merebut isteri dan membunuh anaknya, mungkinkah dia .....
tak tertahan ia berteriak tanpa sadar.
"Taybo kenal ...."
"Aku bukan Taybo,"
Bentak Khong-kok-lan bengis. Ji Bun angkat pundak, sesaat dia kememek, apa boleh buat dia mengubah panggilan.
"Apakah So-cianpwe kenal Siangkoan Hong?"
"Siangkoan Hong? Belum pernah dengar."
Ji Bun melengak, agaknya dugaannya meleset, segera dia bertanya pula.
"Bolehkah jelaskan duduk persoalan yang sebenarnya?"
"Kau boleh tanya kepada bapakmu."
"Dia ..... beliau sudah ...... meninggal."
"Apa? Ji ing-hong sudah mampus?"
"Ya", sahut Ji Bun.
"terbunuh oleh musuh yang tidak dikenal."
Gemetar keras sekali sekujur badan Khong-kok-lan So Yan, tanyanya.
"Kapan kejadiannya?"
"Sepuluh hari yang lalu."
"Bagus sekali, memang setimpal dia mampus...."
Mendelik Ji Bun, mengingat orang adalah isteri tua ayahnya, mulutnya tetap terkancing saja, betapapun dirinya adalah anak muda yang harus tetap hormat terhadap orang tua, bukan mustahil di balik peristiwa ini ada rangkaian cerita yang menakutkan?
Dari mana mungkin antara suami isteri bisa terjalin dendam berdarah?
Sayang sekali sejak kecil dirinya hidup secara terisolir, mengenai seluk beluk keluarga sendiripun tidak jelas.
Setelah dewasa dia diperintahkan berkelana dan langsung menuju Kayhong untuk melamar puteri keluarga Ciang.
Celakanya keluarga serta seluruh penghuni Jit-sing-po tahu-tahu telah hancur lebur, semuanya gugur melawan para penyerbu sehingga segala sesuatu semakin kabur.
Pada saat itulah, bocah tadi tiba-tiba muncul lagi, dia masuk dari luar kamar, mimik wajah Khong-kok-lan So Yan yang menakutkan dirangsang oleh emosinya tadi segera lenyap begitu bocah ini muncul, tanyanya dengan ramah dan lembut.
"Siau-po, kau harus berjaga di luar sana."
"Bayangan tadi muncul kembali. Kalau tidak salah menguntit dia,"
Sahut bocah itu sambil menuding Ji Bun.
Tergerak hati Ji Bun, siapakah yang menguntit dirinya?
Mungkin Kwe-lo-jin?
Kalau demikian mungkin pemilik gedung ini memang bukan Biau-jiu Siansing, tapi .......
"Siau-po, kau jaga di luar saja."
"Untuk apa dia kemari?"
Tanya anak itu.
"Nanti kuberi tahu padamu."
Bocah yang bernama Siau-po memang penurut, segera ia berlari keluar, bayangannya lenyap ditelan kegelapan, usianya masih begitu kecil, namun gerak-geriknya amat cekatan, tak tertahan Ji Bun bertanya.
"Siapakah dia?"
"Kau tidak perlu tahu,"
Sahut Khong-kok-lan So Yan.
"kau masih ada urusan?"
Ji Bun ingin tanya liku-liku persoalan ini supaya jelas, namun dia juga tahu pertanyaan akan sia-sia.
Nyonya ini jelas tak mau menjelaskan, yang terang ayahnya sudah meninggal, peduli bagaimana duduk persoalan sebenarnya, anggap berakhirlah segala dendam kesumat, kelak kalau ibunya berhasil ditemukan dapat tanya kepada beliau saja, namun bayangan Biau-jiau Siansing masih melekat dalam benaknya.
"Kau boleh pergi,"
Kata Khong-kok-lan So Yan sambil angkat sebelah tangannya. Ji Bun mengeraskan kepala, katanya.
"Mengenai Biau-jiu Siansing ......."
"Di sini tiada Biau-jiu Siansing. Ji Bun, kuberitahukan padamu, kalau bukan lantaran sesuatu hal, jiwamu sudah melayang sejak tadi, lekaslah kau pergi sebelum aku mengubah sikapku, kalau tidak ......."
"Bagaimana?"
"Kubunuh kau!"
Ji Bun tak kuasa menahan sabar, jengeknya.
"Kuhormati kau sebagai Taybo. Tapi bukan soal gampang untuk membunuhku."
"Hm, majulah selangkah dan berpalinglah ke belakang, lihat apa itu?"
Setengah percaya Ji Bun maju selangkah terus berpaling.
"Crat,"
Sebatang lembing yang runcing mengkilap tiba-tiba menjulur keluar dari dalam dinding, tepat mengincar punggung di mana tadi dia berdiri, karuan dia berteriak kaget sambil melompat menyingkir, keringat dingin membasahi jidatnya.
Serangan gelap macam ini, betapapun sulit dihindarkan, susul menyusul terdengar pula suara "ser, ser", pu!uhan batang anak panah berseliweran di depan dan kanan kiri, semuanya menancap di dinding.
"Bagaimana?"
Tanya si nyonya.
Ji Bun mengertak gigi, tanpa bersuara lagi segera dia enjot kaki melesat keluar gedung setan, waktu itu sudah mendekati kentongan keempat, sekaligus dia berlari menuju ke hotel tempat menginap.
Tanpa mengeluarkan suara langsung dia masuk ke kamar dan rebah di atas ranjang dan merenungkan pengalaman tadi.
Pengalaman selama dua jam ini sungguh aneh bin ajaib, dia tak habis mengerti dan tidak mampu memecahkan persoalan ini.
Baru sekarang dia merasakan urusan keluarganya benar-benar serba rumit, namun keluarga sudah berantakan, orang-orang yang berkepentinganpun sudah wafat, apa pula yang harus dirisaukan?
Kecuali menuntut balas, tiada tugas apapun yang setimpal untuk dipikirkan.
Peduli bagaimana martabat ayahnya di masa hidup, sebagai seorang anak yang harus bakti terhadap orang tua, betapapun dia harus bekerja sekuat tenaga, soal tetek bengek tidak usah ambil pusing.
Kini yang dia pikirkan adalah permintaan Kwe-loh-jin melalui secarik kertasnya itu.
Kalau Kwe-loh-jin benar adalah duplikat Biau-jiu Siansing, kesempatan masih ada untuk berhadapan dengan dia.
Agaknya dia harus bekerja secara bertahap, terlebih dulu harus membereskan persoalan yang menakutkan ini.
Jika dia harus beraksi menuntut balas, terang dirinya tak bisa minta kepada Wi-to-hwe untuk mengeluarkan Hud-sim dan barter dengan Pui Ci-hwi, dengan sendirinya pula rahasia pribadi Biau-jiu Siansing juga sukar untuk dibongkar.
Biau-jiu Siansing bilang supaya Wi-to-hwe menyerahkan Hud-sim kepada dirinya.
Kapan dan di mana akan dilakukan pertukaran akan diberitahu lebih lanjut, agaknya orang juga jeri menghadapi jago-jago Wi-to-hwe.
Hal inipun menandakan kecerdikan dan kelicikannya.
Pihak Wi-to-hwe mau menerima syarat barter ini?
Apa betul Hud-sim terjatuh ke pihak Wi-to-hwe?
Diam-diam Ji Bun bersyukur bahwa dia tidak katakan asal usul dirinya kepada Pui Ci-hwi, kalau tidak situasi pasti sudah jauh berubah.
Kalau asal dirinya diketahui pihak musuh, terang Wi-to-hwe akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi dirinya.
Setengah malam dia bekerja berat, namun dia lupa lelah dan tidak kantuk, semua persoalan yang serba rumit ini satu persatu berganti berkelebat dalam benaknya.
Hotel-hotel di kota kecil seperti ini kebanyakan dihuni oleh kaum pedagang yang menempuh perjalanan jauh, begitu ayam jago berkokok, suasana hotel kecil itu sudah menjadi ramai dan ribut.
Karena tidak bisa tidur, Ji Bun sekalian bangun dan cuci muka.
Setelah tangsel perut ala kadarnya, belum lagi hari terang tanah, dia segera melanjutkan perjalanan menuju ke Tong-pek-san, untuk tiga kali dia naik ke gunung ini.
Lekas sekali hari sudah terang tanah, sang surya memancarkan sinarnya yang cemerlang di ufuk timur.
Tengah dia mengayun langkah, tiba-tiba sebuah tandu berhias dipikul empat orang mendatangi.
Waktu Ji Bun angkat kepala, hatinya bersorak girang, kiranya yang mendatang adalah tandu berhias dengan orang dalam tandu yang misterius itu, dengan kedudukan dan jabatan orang dalam tandu di Wi-to-hwe, soal Hud-sim, tentunya dapat diajukan kepadanya, kan dapat mengurangi tenaga supaya tidak usah jauh-jauh pergi ke markas besarnya.
Sementara itu, tandu itupun sudah berhenti tak jauh di depannya, Ji Bun angkat kedua tangan memberi hormat, sapanya.
"Selamat bertemu yang mulia!"
"Saudara kecil hendak ke mana?"
Tanya orang dalam tandu.
"Aku hendak naik gunung mengunjungi Hwecu."
"Ada urusan?"
"Ada urusan penting perlu segera kubicarakan berhadapan dengan Hwecu sendiri."
"O, sayang Hwecu kebetulan sedang turun gunung untuk suatu keperluan, ada urusan apa boleh kau katakan padaku, mungkin aku bisa memberi keputusan."
Ji Bun keluarkan surat tulisan Kwe-loh-jin, katanya.
"Silakan baca surat ini."
Salah seorang laki-laki baju hitam yang memikul tandu segera menerima surat itu dan diangsurkan ke dalam tandu.
Ji Bun diam dan menunggu reaksi dengan tenang-tenang.
Tak lama kemudian, orang dalam tandu menggeram gusar, katanya kemudian dengan nada yang menggiriskan.
"Saudara kecil, apakah yang telah terjadi?"
"Seperti apa yang dikatakan dalam surat itu, nona Pui sudah diculik oleh orang itu."
"Berani dia mengajukan syarat seperti ini? Siapakah Kwe-loh-jin itu?"
"Entah, akupun tidak kenal dia."
"Lalu kenapa kau jadi penengahnya?"
"Ya, karena anting-anting pualam milikku terjatuh di tangannya, untuk mengembalikan anting-anting itu, dia mengajukan syarat ini."
"Kepandaianmu sudah begini tinggi, masakah kau juga mau ditekan dan diperas?"
"Banyak kejadian dalam dunia ini sukar dipertimbangkan dengan akal sehat."
"Keparat ..... tolong saudara cilik sampaikan kepada Kwe-loh-jin, suruh dia berhadapan langsung dengan aku ....."
"Hal itu tak mungkin dilaksanakan, hakikatnya aku tidak bisa menemukan jejaknya."
"Kukira tidak mungkin."
Ji Bun naik pitam, katanya aseran.
"Kau kira Cayhe sekomplotan dengan Kwe-loh-jin?"
Sesaat orang dalam tandu berpikir, katanya kemudian.
"Bukan aku banyak curiga, rasanya siapapun pasti akan berpikir demikian."
"Kalau begitu anggaplah Cayhe salah alamat, selamat berpisah."
"Tunggu sebentar, saudara cilik."
"Masih ada omongan apa lagi?"
"Tahukah kau apa sebenarnya Hud-sim itu?"
"Cayhe tidak tahu, juga tidak ingin tahu."
Ucapannya ini terlalu angkuh tak ubahnya seorang jago silat tulen.
"Menurut pendapatanmu, orang dari golongan manakah Kwe-loh-jin ini?"
"Ini ...... dugaan memang ada, namun bagaimana kenyataannya sulit dikatakan, terus terang Cayhe tidak berani sembarangan omong."
Uutuk sekian lamanya keduanya diam saja. Akhirnya orang dalam tandu bersuara dengan nada berat.
"Saudara cilik, biarlah aku yang tanggung untuk menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin ini, tapi ....."
Tak terduga oleh Ji Bun bahwa orang dalam tandu bakal menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin, tanyanya.
"Tapi apa?"
"Aku menguatirkan keselamatan Pui Ci-hwi ....."
Yang dimaksud dengan keselamatan sudah tentu bukan hanya mati-hidup jiwanya.
maklumlah Pui Ci-hwi gadis jelita yang masih perawan.
Kalau sampai terjatuh ke tangan manusia rendah dan cabul, banyak hal yang harus dikuatirkan.
Sudah tentu Ji Bun maklum akan maksud ini, katanya dengan menegak alis.
"Malingpun mempunyai aturannya sendiri, kukira hal-hal yang tidak penting itu tidak perlu dipikirkan dan dikuatirkan."
"Kau tidak berani menanggung?"
"Maaf, hal ini aku tidak berani tanggung."
"Bukan aku minta pertanggunganmu, tapi aku tetap berkuatir, maka kuharap dikala kau menukar orang, kau harus perhatikan kekuatiranku ini."
"Baiklah. Cayhe akan bekerja melihat gelagat."
"Saudara cilik, sekali lagi kupesan wanti-wanti."
"Cayhe akan bekerja sekuat tenaga."
Di mulut dia berkata demikian, namun timbul suatu perasaan aneh dalam relung hatinya, dia merasa kelakuannya kali ini amat lucu dan menggelikan, malah sukar dimengerti, secara beruntun dia bekerja untuk kepentingan pihak musuhnya, namun aksi menuntut balas yang sudah dirancangnya sekian lama belum dilaksanakan, selalu terhalang oleh macam-macam perubahan yang dihadapinya, kalau dipikir dia tertawa sendiri.
"Saudara cilik hendak menunggu di mana?"
"Kutunggu di hotel Im-ping-can di kota kecil Ngo-li-cip di selatan kota Cinyang."
"Baiklah, dalam tiga hari, aku pasti antar barang itu ke sana."
"Cayhe akan menunggu dengan sabar."
Tandu berhias itu segera putar balik ke arah datangnya tadi, agaknya kepandaian silat keempat laki-laki pemikul tandu amat tinggi, langkah mereka ringan dan cepat bagai terbang.
Tiga hari cukup lama bagi Ji Bun untuk menunggu di sebuah hotel di kota sepi ini.
Menurut perhitungannya, paling cepat hari ke tiga baru barang itu akan diantar kemari, ia menjadi iseng tanpa kerjaan.
Hari itu tanpa tujuan dia jalan-jalan memasuki sebuah jalanan.
Dalam hati dia berpikir, setelah selesai barter dengan Kwe-loh-jin, langkah pertama yang dia lakukan yaitu membongkar kedok orang, lalu melalui Pui Ci-hwi satu persatu dia akan mulai aksinya menuntut balas kepada para musuhnya.
Dalam suasana tenang dan pikiran jernih ini, kembali dia merangkai langkah-langkah yang lebih sempurna untuk menunaikan tugas berat ini.
Kenapa Taybo Khong-kok-lan So Yan kedapatan berdiam di gedung setan dalam kota Cinyang?
Dendam berdarah apakah yang terjadi antara dia dengan ayah?
Siapa pula bocah yang bernama Siau-po itu?
Dengan tegas So Yan menyangkal bahwa dirinya ada sangkut paut dengan Biau-jiu Siansing, apakah ini dapat dipercaya?"
Betulkah Kwe-loh-jin merupakan salah satu duplikat Biau-jiu Siansing?
Siapakah orang berkedok yang gugur bersama ayahnya?
Apakah Siangkoan Hong pembunuhnya?
Dikala mendengar jejak ibunya belum diketahui parannya, Taybo bilang pasti akan datang saat naasnya, apakah maksudnya?
Semakin dipikir Ji Bun merasa persoalan ini semakin simpang siur dan ruwet.
Sang surya sudah tinggi, alam semesta terang benderang, namun hatinya seperti diliputi mega mendung, risau dan gundah.
Tiba-tiba bayangan semampai seorang berlari mendatangi dan langsung menubruk ke arahnya.
Sekali mengegos Ji Bun menghindar, dilihatnya seorang nona belia berusia tujuan belas dengan rambut semerawut, pakaian kumal dan sorot mata guram, namun berwajah molek.
Begitu tubrukan luput gadis itu lantas putar badan, katanya sambil tertawa cekikikan.
"Liok-koko, aku tahu kau pasti akan kembali."
Lalu kedua tangan terpentang terus menubruk maju pula hendak mendekap.
Ji Bun terperanjat, lekas ia mengegos ke samping pula, rupanya gadis ini orang sinting, demikian pikirannya.
Karena dua kali luput menubruk, gadis itu menegakkan alis, mulut cemberut, katanya sedih.
"Liok-koko, kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Aku bukan she Liok,"
Kata Ji Bun.
"Ha ha ha ha, Liok-koko, walau menjadi abu juga tetap kukenal kau, jangan kau menyiksaku lagi."
"Siapakah Liok-kokomu itu?"
Tanya Ji Bun. Berubah air muka gadis sinting, teriaknya mendelik liar.
"Liok Kin, seluruh milikku sudah kuberikan padamu, kau justeru membuangku begini saja, kau .... kau sungguh kejam!"
Baru sekarang Ji Bun mengerti, kiranya gadis sinting ini mengira dirinya sebagai Liok Kin, itu majikan muda Cip-po-hwe yang bergajul.
Agaknya gadis ini dirayu oleh Liok Kin, setelah dipermainkan dan dinodai kesuciannya terus ditinggal pergi begitu saja.
Saking marah, penasaran dan malu, sehingga gadis ini kurang waras pikirannya.
Tempo hari Jay-ih-lo-sat hendak merobek tubuh Liok Kin, namun gadis baju merah malah memohonkan ampun baginya.
Waktu itu Liok Kin pernah bersumpah sambil menuding langit dan bumi, bahwa selama hidupnya hanya mencintai Pui Ci-hwi saja, Sampai sekarang Pui Ci-wi masih dikelabui dan belum sadar bahwa dirinya hanya dipermainkan belaka, nasibnya tidak lebih baik daripada gadis sinting ini, mereka adalah korban permainan Liok Kin.
Sungguh tak nyana pemuda keparat ini ternyata seorang bergajul, pemuda cabul yang suka mempermainkan anak perawan.
Gadis sinting itu tiba-tiba menutup muka sambil menangis sesenggukan, katanya.
"Liok-koko, bukankah kau pernah bersumpah, seumpama laut kering dan batu membusuk, tapi cintamu takkan berubah? Kau ..... kini kau tidak menghiraukan diriku lagi?"
Agaknya dia tetap anggap Ji Bun sebagai Liok Kin.
Seperti diketahui Ji Bun pernah jatuh hati terhadap Pui Ci-hwi.
Namun setelah cintanya bertepuk sebelah tangan, setelah tahu Pui Ci-wi sehaluan dengan para musulmya, cinta itu sudah pudar.
Namun biasanya orang paling sukar melupakan cinta yang pertama, lahirnya memang sudah buyar, namun suatu ketika kalau ada sentuhan dari luar, rasa cintanya itu akan berkobar pula.
Demikianlah keadaan Ji Bun sekarang, namun dari cinta sekarang dia menjadi dendam, dan dendam ini dia limpahkan kepada Liok Kin yang tidak bertanggung jawab, tanpa sadar tiba-tiba dia menggeram.
"Liok Kin, kalau tidak membunuhmu, aku bersumpah bukan manusia."
Gadis sinting itu tertegun dan menghentikan tangisnya, dengan kaku dan linglung dia awasi Ji Bun, katanya.
"Liok-koko apa katamu?"
Ji Bun jadi dongkol dan gemes, serunya.
"Aku bukan Liok-kokomu."
Sorot mata hambar gadis sinting itu terbeliak buas, air mukanyapun beringas, selangkah demi selangkah ia menghampiri Ji Bun.
Keruan Ji Bun gugup dan keripuhan, orang yang sudah kehilangan pikiran waras, hakikatnya tidak bisa diurus lagi, namun dia tidak mungkin turun tangan kepadanya, apalagi nasibnya harus dikasihani.
Kalau tinggal pergi begini saja, betapapun hatinya tidak tega.
terpaksa ia bersabar, dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa ia mengada-ada.
"Nona hendak mencari Liok Kin bukan?"
Gadis sinting lantas menghentikan langkahnya, katanya dengan memiringkan kepala.
"Apakah kau ini bukan Liok-koko?"
"Bukan, tapi aku bisa bantu kau mencarinya. Aku tidak menipumu, siapakah namamu?"
"Aku .... aku ..... Liok-koko kan sudah tahu."
"Tapi aku tidak tahu?"
"Aku bernama Dian Yong-yong .... Yong-yong, dia memanggilku Yong-moay."
"Nona Dian tinggal di rumah mana?"
"Rumah? Rumah? Aku sudah tidak punya rumah lagi, aku hendak pergi ke rumah Liok-koko saja."
Ji Bun tertawa getir, katanya.
"Nona Dian, kau harus pulang, nanti ku suruh Liok Kin menjemputmu di rumah."
"Aku ..... dimanakah rumahku?"
Pada saat itulah terdengar suara kelintingan berkumandang dari ujung jalan sana, seorang laki-laki berjubah kasar dengan jenggot kambing, punggungnya menggendong peti obat sedang mendatangi sambil menggoyang-goyang kelintingan ditangannya.
Kiranya seorang tabib kelilingan.
Mendengar suara kelinting segera Ji Bun berpaling, air mukanya seketika membesi kaku, sorot matanyapun penuh nafsu membunuh.
Yang datang ini memang bukan lain adalah salah satu duplikat Biau-jiu Siansing, tempo hari telah menyamar jadi tabib kelilingan dan mengaku bergelar Thian-gan-sin-jiu.
Dengan terkekeh dingin Ji Bun menyapa.
"Biau-jiu Siansing, selamat bertemu."
Tanpa hiraukan seruan Ji Bun, tabib keliling itu terus mendekati Ji Bun seperti tidak ada persoalan apa-apa. Sorot matanya mengawasi si gadis sinting, tiba-tiba ia berkata.
"Hah, sakit ingatan, untung bertemu dengan Lohu."
Ji Bun melenggong, batinnya. mungkin dia mampu mengobati sakit gila? Tapi mengingat siapa dia sebenarnya, kesan ini seketika lenyap, jengeknya dingin.
"Kau tidak usah pura-pura, bukankah kau mencariku?"
"Memang betul, aku mencarimu,"
Ujar Biau-jiu Siansing terus terang.
"Bagus sekali, akupun sedang mencari kau."
"Persoalan kita sementara ditunda dulu, Lohu harus mengobati gadis yang sakit ingatan ini?"
"Apa betul kau mampu mengobati penyakit gila?"
"Omong kosong! Di seluruh pelosok kota Cinyang, tua-muda, besar kecil, siapa yang tidak kenal nama Thian-gan-sin jiu?"
"Kuperingatkan jangan kau main-main terhadapku ......"
"Kalau hanya main-main buat apa aku harus mencarimu?"
"Jadi kau punya tujuan mencariku?"
Biau-jiu Siansing turunkan peti obatnya, katanya menggumam.
"Kasihan, gadis ayu dan segar bugar berubah begini rupa."
Tak sadar Ji Bun menanggapi.
"Dia dipermainkan oleh Liok Kin, majikan muda Cip-po-hwe, sayang dia tidak bisa mengatakan di mana tempat tinggalnya."
"Lohu tahu, rumahnya ada di pusat kota Cinyang, Dian Pek-ban yang terkenal adalah ayahnya."
"Dari kalangan Bu-lim juga?"
"Bukan, keluarga biasa yang mengukuhi adat leluhurnya, sebutir Ya-bing-cu (mutiara yang bersinar ditempat gelap) warisan leluhur keluarga Dian telah lenyap tercuri orang, ternyata perbuatan Cip-po-hwe." 10.29. Salah Duga Terhadap Biau-jiu Siansing Waktu rebutan Sek-hud di puncak Pek-ciok-hong dulu, Biau-jiu Siansing pernah menggunakan tingkat kedudukannya yang lebih tinggi dikalangan Kangouw untuk merebut Sek-hud dari tangan Cip-po-hwe yang terhitung bawahannya, hakikatnya mereka segolongan. Tanpa sadar Ji Bun menyeringai ejek, katanya.
"Mencuri mestika dan merusak paras ayu, dosa yang tidak terampunkan, bagaimana pendapatmu akan perbuatan rendah dari golonganmu?"
Mendelik mata Biau-jiu Siansing, katanya kereng.
"Keluarga punya aturan, negara ada undang-undang, peristiwa ini merupakan pelanggaran di dunia Kang-ouw, Lohu pasti akan bertindak menurut aturan."
"Cayhe bersumpah pasti akan membunuh pemuda bergajul itu,"
Kata Ji Bun dingin.
Biau-jiu Siansing tidak bicara lagi, beruntun dia menutuk beberapa Hiat-to di tubuh Dian Yong-yong, seketika Dian Yong-yong terkulai lemas,.
Lalu ia membuka peti obat dan mengeluarkan beberapa macam obat, jumlahnya sekitar 10-an butir terus dijejalkan ke mulut Dian Yong-yong, lalu berkata.
"Sakit ingatan tidak akan bisa diobati dengan obat saja, dia harus dibantu dengan pengobatan tusuk jarum, disini tidak leluasa, dia harus diantar pulang dulu baru aku bisa bekerja ........"
"Apa, kau hendak meloloskan diri?"
Sela Ji Bun. Pelan-pelan dan rapi sekali Biau-jiu Siansing memasukkan botol-botol obat ke dalam petinya pula, sesaat kemudian baru dia berdiri, katanya.
Baca Juga: Kuda Binal Kasmaran 1
Baca Juga: Rahasia Mo Kau Kaucu 8