Ceritasilat Novel Online

Hikmah Pedang Hijau 8

Eps 8 Hikmah Pedang Hijau - Gu Long

Baca online Hikmah Pedang Hijau - Gu Long

Cersil Hikmah Pedang Hijau - Gu Long.

"Engkoh Pek, tentunya kau sudah mengerti bukan mengapa aku bertelanjang bulat dihadapanmu? Selama dua bulan ini tiga jam setiap hari aku mesti telanjang bulat dan...dan berbaring di atas tubuhmu. Tadi baru saja kulakukan cara penyembuhan Toa-in-lian-siang (menyembuhkan luka dengan sari perempuan) bagimu, karena berkeringat maka aku membersihkan badan dalam telaga, tahu2 engkoh Pek telah sadar. O, engkoh Pek, tahukah kau bahwa aku telanjang bulat justeru lantaran kau ....? Aku berkorban demi menyembuhkan lukamu...?"

Betapa terharu dan terima kasihnya Tian Pek sukar dilukiskan, dalam keadaan seperti ini, ia tak bisa berbuat apa2 kecuali merangkul Cui-cui dengan penuh kemesraan dan kehangatan ....

Cui-cui terbuai dalam kehangatan cinta, ia balas memeluk erat2 serta menyandarkan kepalanya didada Tian Pek yang bidang ....

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Tian Pek terhentak bangun dari lamunan ia mendorong tubuh Cuicui dan berbisik.

Cui-cui, tadi kau berjanji mau menunjukkan suatu benda bagus kepadaku.

Benda apakah itu?

Sekarang perlihatkan padaku!"

"Oya, kalau engkoh Pek tidak mengingatkan hampir saja aku lupa. Nih? Lihatlah, benda inilah yang hendak kuperlihatkan padamu."

Sambil berkata ia lantas mengeluarkan se

Jilid kitab yang berwarna-warni. Hampir saja Tian Pek tertawa geli, katanya.

"Ah, kau ini ada2 saja, itu kan kitabku yang bernama Soh-kut-siau-hun-thiat-hud-pit-kip? Jadi kitab ini kau anggap sebagai barang bagus tadi?"

Merah jengah wajah Cui-cui.

"Engkoh Pek,bukan kitab Soh-hun-siau-kut ini yang kumaksud, coba bukalah halaman kitab ini!"

Tian Pek melongo, ia tak mengerti kenapa sianak dara suruh dia membuka kitab itu pikirnya.

"Aneh, kenapa aku mesti membuka halaman kitab ini? Bukan baru sekali kulihat lukisan didalamnya, paling sedikitpun sudah berpuluh kali kunikmati isinya, tulisannya pun sudah beratus kali kuraba dengan tangan, jangankan melek mata, sekali pun tutup mata aku apal isinya."

Tapi ia tahu Cui-cui pasti mempunyai maksud tertentu, kalau tidak tak namnt ia bicara dengan ber-sungguh2.

Maka walaupun tahu isi kitab itu adalah gambar telanjang Thian-sian-mo-li yang merangsang?

toh dibuka juga halaman yang pertama.

"Apanya yang menarik lukisan ini?"

Serunya tidak habis mengerti.

"sudah puluhan kali aku melihatnya ... ."

Belum habis pemuda itu berkata, Liu Cui-cui telah membuka lagi jubahnya hingga telanjang bulat, kemudian sambil menggoyangkan pinggul dan badan meng-geliat2 seperti seekor ular kecil, merangsang sekali gaya tubuh itu, apalagi dilakukan dalam keadaan telanjang dengan bentuk badan yang indah, hampir saja Tian pek tak sanggup mengusai diri.

Air muka Cui-cui sekarang mirip benar perempuan yang haus cinta, gerak-geriknya menggiurkan penuh gairah, ia kini bukan lagi gadis yang suci murni, tapi mirip perempuan cabul.

Mula2 Tian Pek agak kaget, lalu gusar, menyusul nafsu berahi lantas berkobar.

Cepat sekali munculnya nafsu berahi itu, bukan saja rasa kaget dan marah tak dapat mengatasi kobaran api berahi itu, bahkan peredaren darahnya semakin bergolak, terasa aliran hawa panas muncul dari pusar menuju selangkangan, hampir saja ia tak tahan.

Untungnya Cui-cui segera menghentikan gaya merangsang tersebut dan mengenakan kembali jubahnya.

"Engkoh Pek, bukankah gayaku barusan sangat indah ....?"

Kata si nona dengan tersenyum. Hilang rasa kaget dan sirap kobaran api birahi, sekuat tenaga Tian Pek berusaha mengendalikan perasaannya. katanya kemudian dengan kesal.

"Ai, adik Cui. kau adalah gadis suci, kuharap selanjutnya janganlah kau lakukan lagi gaya jelek yang memalukan ini... ."

Cui-cui tertawa.

"Engkoh Pek, berbicaralah yang sejujurnya, masa kau hanya melihat kulitnya dan tak dapat merasakan isi serta makna yang sebenarnya?"

Tian Pek melongo tidak mengerti.

ia memandang kembali lukisan pertama yang tertera dalam kitab Soh-kutsiau-hun-pit-kip.

Thian-sian-mo-li dalam lukisan tersebut berdiri dengan sikap yang merangsang, dengan guncangan payudara dan goyangan pinggul yang cukup bikin hati berdebar, terutama mimik wajahnya yang genit dan jalang persis tak ubahnya seperti apa yang dipraktekkan Cui-cui barusan.

Maka dengan tercengang ia bertanya.

"Adik Cui, gerakan yang kau praktekkan bukankah gerakan Thian-sian-mo-li seperti lukisan dalam kitab ini? Makna apa lagi yang terselip dibalik gaya yang merangsang itu?"

"Engkoh Pek, tahukah kau siapa guruku?"

Tanya Cui-cui dengan ber-sungguh2.

"Tidak kau terangkan, darimana aku tahu?"

"Guruku ialah Thian-sian-mo-li!"

"Ah, ti...tidak mungkin! Thian-sian-mo-li hidup pada dua ratus tahun yang lalu, mana ia bisa hidup sampai sekarang...."

Cui-cui mengerling sekejap ke arah Tian Pek, kemudian sahutnya.

"Kenapa kau selalu mencurigai perkataanku? Masa aku membohongi kau? Dan lagi bagaimana pun juga tak akan kugunakan guruku sebagai bahan bohongan!"

Melihat anak dara itu tak senang hati. cepat Tian Pek memotong.

"Cui-cui tak perlu kita persoalkan dulu masalah ini, coba terangkan dulu apa makna yang tertera dalam lukisan tersebut!"

"Gaya yang tertera dalam kitab itu tak lain adalah sejenis ilmu aneh yang dimiliki guruku, ilmu itu adalah Coa-li-mi-hun-toa-hoat (ular sakti perawan pembingung sukma), menurut keterangan guruku ilmu ini lihaynya luar biasa, betapapun lihay ilmu silat seseorang, tak nanti bisa melawan keampuhan daya rangsangan ilmu tersebut, sekalipun dia adaalah seorang pederi saleh yang sudah mati rasa juga takkan sanggup mengendalikan diri... ."

Tiba2 Tian Pek teringat kembali pada cerita paman Lui tatkala menyerahkan kitab tersebut kepadanya dalam gua di bukit Siau-kun-san tempo hari, ia bercerita bagaimana Cia-gan-longkun dipengaruhi oleh seorang perempuan iblis sehingga mengalami kelumpuhan dalam latihan.

Maka sambil menghela napas panjang, katanya.

"Bagaimanapun lihaynya Coa-li-im-hun-toa-hoat dari gurumu itu toh kepandaian tersebut bukan ilmu yang murni, tapi ilmu hitam golongan jahat,... ."

Pemuda itu tidak meneruskan kata2nya, sebab ia merasa bila ucapannya dilanjutkan, bisa jadi Cui-cui akan mengira dia tidak menghormati gurunya.

Betul juga dugaannya, Cui-cui jadi mendongkol dan tak senang setelah mendengar perkataan itu, matanya melotot dan mukanya cemberut.

"Apa itu ilmu hitam?"

Serunya.

"orang beradu silat yang dituju adalah kemenangan, siapa menang dia kuat, siapa kalah dia lemah, apa dilawan dengan rangsangan atau dilawan pakai golok dan pedang, toh tiada berbedaannya..."

Jika Tian Pek diam saja niscaya kemarahan Cui-cui akan mereda, bila pemuda itu cerdik dan tahu perasaan perempuan, ia pasti akan mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain.

Apa mau dikata, Tian Pek memang lugu dan tak tahu perasaan perempuan, sekalipun diketahui Cui-cui tak senang hati, toh ia berbicara lagi dengan blak-blakan.

"Tentu saja jauh sekali bedanya,"

Katanya.

"misalnya saja seorang akan pergi ke suatu tempat. ia tidak melewati jalan yang lurus tapi memilih jalan yang berliku-liku, sekalipnn di mulai bersama, tapi selisihnya kan jauh sekali... ."

"Aku tak suka pada obrolanmu, aku tak mau membicarakan soal2 begitu dengan kau,"

Seru Cui-cui cepat.

"sekarang aku akan memberitahukan satu hal padamu, ketahuilah bahwa di dalam seratus delapan buah lukisan Thian-sian-mo-li ini tersimpan serangkaian ilmu gerak tubuh yang lincah serta serangkaian ilmu langkah yang tak terhingga perubahannya. Ilmu pukulan itu adalah Thian-hud-hang-mo-ciang (Budha suci penakluk iblis), sedang ilmu gerakan tuhuh bernama Bu-sik-bu-siang-sin (tiada berwarna tiada berwujud) dan ilmu langkahnya disebut Cian-hoan-biau-hiang-poh (embusan angin harum beribu perubahan), ke-tiga2nya adalah ilmu yang maha sakti, apabila seorang memainkan jurus Thian-hud-hiang-mo-ciang dengan menggunakan pedang, maka akan terciptalah ilmu pedang Thian-hud-hang-mo-kiam. Barang siapa berhasil menguasai ilmu2 sakti itu, dia akan menjagoi kolong langit tanpa tandingan. Engkok Pek. coba pikirlah, bukankah aku telah memperlihatkan suatu benda yang bagus bagimu? Hm, tak tersangka kau malahan ber-olok2 dengan kata2 yang tak sedap, aku bermaksud baik, kau malah menganggap yang bukan. bukan!"

Tian Pek jadi semakin terkejut, setelah Cui-cui selesai bertutur, ia mengembus napas panjang seraya berbisik.

"Sungguhkah itu? Mengapa aku ..."

Ia hendak mengatakan. '"Mengapa sudah sekian lama kuapalkan kitab Soh-kut-siau-hun-pit-kip, tapi tidak dapat kupecahkan rahasia ini?"

Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kata2nya itu, Cuicui telah mencibir.

"Huuh, engkoh Pek ini bagaimana, selalu tidak percaya pada perkataanku. Baik, anggap saja semua perkataanku hanya omong kosong saja dan tak perlu dibicarakan lagi."

Dengan perasaan tak senang ia lantas putar badan dan berlalu.

Tian Pek adalah pemuda yang keranjingan belajar silat, sakit hati ayahnya baru bisa dibalas bila ia dapat mempelajari ilmu silat yang maha tinggi, apalagi setelah mengetahui orang Lam-hay-bun yang menjajah daratan Tionggoan rata2 berilmu tinggi, bila dia ingin melabrak mereka untuk menegakkan keadaan dan kebenaran dunia persilatan, maka lebih dulu dia harus memiliki ilmu silat yang lihay.

Maka demi dilihatnya gadis itu ngambek dan mau pergi, cepat ia menghalangi dan memberi hormat.

"Cui-cui, jangan marah,"

Katanya.

"anggaplah aku yang salah, aku benar2 mempercayai ucapanmu sekarang berilah petunjuk kepadaku. Ai, maklumlah aku tak pandai bicara, sekarang aku sudah minta maaf kepadamu, tentunya kau bersedia untuk memberi maaf bukan?"

Tian Pek memang tak pandai berlagak, kali ini ternyata bisa berbicara dengan lucu, ditambah pula gaya memberi hormatnya yang lucu, kontan Cui-cui tertawa geli.

Melihat nona itu tertawa, Tian Pek ikut tertawa, katanya dengan cepat.

"Cui-cui, apakah gaya rangsanganmu tadi merupakan salah satu jurus serangan Thian-hud-hiang-mo-ciang?"

"Bukan!"

Sahut Lui Cui-cui.

"Gerakan tadi adalah salah satu jurus Coa-li-mi-hun-hoat yang disebut Giok-te-biau-hiang (tubuh indah menyiarkan bau harum). Menghadapi gerakan Giok-te-biau-hiang ini lawan akan menyerang dengan suatu pukulan miring ke bawah, maka akan terciptalah jurus pertama dari Thian-hud-hiang-mo-ciang yang bernama Hud-cou-hiang-toh (Buddha suci turun tahta), jika segera menggeser langkah serta mengelak ke samping akan menjadi gerakan Bu-sik-bu-siang serta gerakan Cian-huan-biau-hiang!"

Walaupun soal kecerdikan Tian Pek tidak seberapa hebat, tapi bagaimanapun dia adalah jago yang memiliki dasar ilmu silat yang kuat, begitu dijelaskan oleh Cui-cui, diapun lantas mengerti.

"Jadi kalau begitu. untuk berlatih Thian-hud-hiang-mo-ciang ini harus ada dua orang yang bekerja sama?"

Tanyanya.

"Kali ini kau memang cerdik! Dalam kitab Soh-hun-siau-kut-pit-kip ini tersimpan tiga jenis ilmu silat yang maha sakti dan harus dilatih dua orang bersama, bahkan harus dilatih bersamaku, bukannya aku membual, meskipun dunia ini sangat lebar, tapi kecuali aku seorang, jangan harap ada orang kedua yang bisa melakukannya ... ."

Dengan mata yang jeli dan senyum yang misterius anak dara itu melirik sekejap ke arah Tian Pek, kemudian tambahnya.

"Malahan didunia ini juga cuma engkoh Pek saja yang bisa melatih Thin-hud-hiang-mo ini!"

"Kenapa bisa begitu?"

Tanya Tian Pek dengan tercengang. Cui-cui tahu, pemuda itu pasti takkan percaya dengan keterangannya, maka ia melanjutkan kata2 nya.

"Engkoh Pek, tentunya kau tidak percaya bukan? Guruku sudah wafat, dikolong langit dewasa ini tiada orang kedua yang bisa menggunakan ilmu Coa-li-im-bun-toa-hoat dari Thian-sian-mo-li ini kecuali aku. Dan andaikata semua ini bukan demi kebaikan engkoh Pek, tidak nanti aku bersedia mengorbankan tubuhku ... ."

Baru sekarang Tian Pek mengerti duduknya persoalan, cepat ia menjura dalam2 kepada gadis itu.

"Cui-cui sekarang aku sudah paham, sekarang aku sudah paham!"

Serunya.

"Bukankah selain kau dan aku yang bisa melatih ilmu Thian-hud-hiang-mo ini, bahkan kalau tak ada kitab Soh-kut-siau-hun-pit-kip inipun tak bisa terlaksana dengan baik, bukankah begitu? Ai, rupanya Thian sengaja mengirim kau untuk membantu aku. Hayolah sekarang juga bantu aku melatih ilmu itu!"

"Tak susah bila ingin kubantu dirimu, tapi engkoh Pek, setelah ilmu itu berhasil kau kuasai, bagaimana caramu akan berterima kasih padaku?"

"Terserah padanmu. asal aku berhasil melatih ilmu sakti itu, apa yang kau inginkan pasti kuturuti!"

"Engkoh Pek, kau sendiri yang berjanji, kelak jangan kau ingkari."

"Jangan kuatir Cui-cui, perkataan seorang laki2 tidak nanti dijilat kemkali. Nah, lekaslah bantu aku berlatih ..."

Tiba2 Cui-cui menengadah dan tertawa ter-bahak2, tertawa latah sehingga Tian Pek melongo bingung.

Mendadak si nona melepaskan pakaiannya sehingga telanjang bulat, kemudian sambil mengerling genit katanya.

"Hayolah engkoh Pek sayang, kita mulai berlatih ilmu..." 0O0 0O0 0O0 Suara roda kereta gemeratak dan ringkikan kuda yang panjang berkumandang memecahkan kesunyian di sebuah jalan raya berdebu, serombongan kereta pengawalan barang per-lahan2 bergerak melintasi jalan itu. Puluhan kereta besar yang tertutup rapat bergerak dikawal selusin manusia berpakaian ringkas, sebuah panji bersulamkan sebuah telapak tangan tertancap disudut kereta dan berkibar tertiup angin gunung hingga menerbitkan suara gemerisik. Sebagian besar Piausu yang mengawal barang itu berperawakan tinggi besar dan bermata tajam, sekilas pandang dapat diketahui bahwa mereka adalah kawanan jago silat pilihan. Itulah rombongan Piausu dari perusahaan Yan-keng-piau-kiok, tentu saja bagi mereka yang berpengalaman, cukup melihat lambang telapak tangan yang tertera pada panji kereta, orang segera akan tahu bahwa kereta kewalan itu adalah barang kawalan dan Tiat-ciang-cin-ho-siok (telapak baja menggetarkan utara sungai Hoangho) di Pakkhia. Di depan rombongan kereta besar yang kelihatan berat itu bergeraklah belasan orang Piausu, di antaranya adalah seorang Piausu tua yang berusia enam puluhan, dia inilah Ji-lopiauto atau lebih terkenal sebagai Tiat-ciang-cing-ho-siok itu.

Jilid 18 Sudah lama Ji-lopiauthau tak pernah turun tangan sendiri, itulah sebabnya orang segera akan tahu bahwa barang kawalannya kali ini pasti sangat penting dan berharga, sebab kalau tidak, tak nanti Piauthau tua ini akan turun sendiri.

Di sebelah kiri Ji-lopiauthau adalah seorang lelaki gemuk berpakaian dinas, rupanya seorang petugas pemerintah.

Sedangkan di sebelah kanannya mengikuti pula laki2 kurus kering, tampangnya seperti kunyuk dan berdandan seorang opas.

Kedua orang kurus-gemuk ini cukup terkenal namanya di sebelah utara sungai Hoang-ho, sebab mereka adalah Ban-leng-koan (pembesar gemuk) The Pek-siu serta Sik-kau (kunyuk batu) Ho Leng-san.

Pengawalan disertai opas, jelas barang-barang ini milik pemerintah.

Waktu itu permulaan musim panas, sekalipun udara belum sekering dan sepanas pertengahan musim, namun peluh telah membasahi tubuh orang-orang itu.

Sebuah topi rumput lehar hampir menutupi wajah Ji-lopiauthau yang penuh berkeriput, ketika tiba2 ia lihat sebuah hutan terbentang di depan, dengan dahi herkerut ia berkata kepada anak buahnya.

"Sampaikan perintah kepada segenap anggota rombongan, suruh mereka tingkatkan kewaspadaan dan bersiap untuk menjaga segala kemungkinan!"

Hutan belantara merupakan sarang dan tempat operasinya kaum penyamun, Ji-lopiauthau sudah lama bekerja sebagai pengawal barang, otomatia pengalamannya pun amat luas, begitu melihat hutan, lantas perintahkan anak buahnya untuk siap siaga.

Si "kuda kilat"

Lan Sam yang mendapat pesan itu cepat membedal kudanya ke depan rombongan, sambil melarikan kudanya ia berseru lantang.

"Perhatian! Congpiauthau ada perintah, semuanya bersiap menghadapi segala kemungkinan!"

Suara senjata dicabut dari sarungnya bergema di sanasini, di antara kilatan cahaya senjata menyilaukan, kawanan Piausu itu telah mempertingkat kewaspadaan mereka.

Suasana tegang menyelimuti rombongan itu, begitu ketat dan rapatnya penjagaan seakan-akan menghadapi suasana genting.

Senyum lega dan bangga menghiasi wajah Ban-leng-koan yang gemuk, tiba2 ia berpaling kepada Ji-lopiauthau dan berkata tertawa.

"Hahaha, bagaimana pun memang lebih mantap kalau pengawalan ini dipimpin langsung oleh Ji-lopiauthau, melihat kesiap-siagaan anak buah Lopiautau yang cekatan ini, sungguh lega hatiku."

"Betul!"

Sambung Sik-kau atau si kunyuk dengan cepat.

"tidak aeperti pengawal barang tempo hari, rombongan dipimnin oleh seorang Piausu muda yang baru terjun ke dunia persilatan, eh, Tian Pek begitulah kalau tidak salah namanya. Sepanjang perjalanan, hatiku selalu berdebar, selalu kuatir dan tidak tenteram!"

Menyinggung Tian Pek, mendadak Ban-leng-koan sambil picingkan matanya dan memandang hutan di depan, lalu dengan suara lirih la membisikkan sesuatu ke telinga Ji-lopiauthau.

"Disinggung oleh saudara Ho, aku jadi ingat kembali kejadian masa lampau. Kalau tidak salah, ketika barang kawalan Tian Pek dibegal, peristiwa itu juga berlangsung di hutan ini..... Ai, kukira kita kudu hati2, jangan sampai sejarah terulang lagi."

Dengan wajah serius, Ji-lopiauthau mengangguk, namun ia tidak menjawab.

Meskipun bisikan Ban-leng-koan itu diucapkan dengan suara rendah, kebetulan seorang Piausu yang bernama Ciu Toa-tong dengan julukan "kerbau dungu"

Yang berada di sebelah dapat mendengarnya, kontan ia mendengus.

Kiranya pada pengawalan yang dulu sebetulnya dia yang mendapat tugas memimpin rombongan, tapi akhirnya Ji-lopiauthau mengutus Tian Pek, atas kejadian tersebut ia masih sakit hati, apalagi setelah mendengar bahwa barang kawalan itu dibegal dan Tian Pek lenyap tak berbekas, untuk itu dia selalu mencari kesempatan untuk melampiaskan rasa dongkolnya.

Maka tatkala Ban-leng-koan menyinggung kejadian itu, dia lantas menjengek.

"Huuh! Dasar orang muda, mana bisa diserahi tugas penting? Tempo hari sudah kukatakan dia takkan mampu memikul tugas berat itu, tapi Congpiauthau tidak percaya, akhirnya terjadi musibah itu, malahan di tengah jalan ia lalaikan tugas dan kabur dengan begitu saja, sampai sekarang kabar beritanya tidak ketahuan....."

Selagi si kerbau dungu Ciu Toa-tong masih mengomel, tiba2 Ji-lopiauthau pasang telinga dan mendengarkan sesuatu, kemudian dengan terkejut bercampur heran ia menghardik.

"Toa-tong, tutup mulutmu!"

Bentakan Ji-lopiauthau ini mengandung rasa kuatir, jangankan orang yang berpengalaman, sekalipun seorang yang tak berpengalaman pun akan tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Si kerbau dungu Ciu Toa-tong sudah lama mengikuti pemimpinnya berkelana, sudah tentu ia pun tahu akan seriusnya keadaan, sebab kalau bukan masalah yang penting, belum pernah Ji-lopiauthau menunjukkan sikap luar biasa begini.

Sambil menahan rasa dongkolnya ia pun pusatkan perhatian untuk memeriksa keadaan di situ, sesaat kemudian, paras mukanya herubah hebat.

Kiranya para peneriak jalan di depan telah masuk ke dalam hutan, lalu suara mereka lenyap tak berbekas, seakan-akan beberapa orang itu tertelan begitu saja oleh hutan.

Kalau peneriak jalan sudah bungkam dan jejaknya lenyap tak berbekas, itu tandanya telah terjadi sesuatu peristiwa besar, atau kemungkinan jiwa beberapa prang itu telah amblas.

Ban-leng-koan serta si kunyuk masih belum tahu apa yang terjadi, mereka jadi heran tatkala mendengar Congpiauthau menghardik Ciu Toa-tong.

"Eeh, apa yang terjadi?"

Tanya mereka. Ditatapnya sekejap kedua orang opas itu, kemudian dengan wajah serius Ji-lopiauthau berkata.

"Tayjin berdua, bersiap-siaplah menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan!"

Tanpa menunggu reaksi kedua orang itu, dia putar kudanya dan memberi tanda agar rombongan berhenti.

Ji-lopiauthau memang tidak malu sebagai jago kawakan, di bawah perintahnya dalam waktu singkat, semua kereta barang itu lantas membentuk satu lingkaran, muka dan belakang kereta2 itu satu dan lainnya disambung dengan rantai hesar, dengan begitu terciptalah sebuah barisan bundar yang bersambungan.

Separoh Piausu yang berada dalam rombongan diperintahkan untuk melindungi kereta barang, sementara Ji-lopiautau sendiri dengan membawa sebagian Piausu yang lain segera membedal kudanya masuk ke hutan sana.

Sekarang Ban-leng-koan dan Sik-kau baru tahu apa yang terjadi, namun mereka agak lega juga setelah Ji-lopiauthau mengatur barisan pertahanan, ketika melihat Piausu itu meninjau ke hutan, mereka pun melarikan kudanya dan menyusul dari belakang.

Begitulah Ji-lopiauthau, kedua opas dan sekawanan Piausu yang berjumlah tiga puluhan orang segera membedal kudanya menuju ke hutan belantara itu.

Sunyi, hening, tak sesosok bayangan manusia pun tampak di dalam hutan itu, kecuali embusan angin yang menggoncangkan ranting pohon, tiada suara apa pun yang terdengar.

Jangankan bayangan musuh, kedelapan orang peneriak jalan pun tak diketahui ke mana lenyapnya, untuk sesaat semua orang jadi heran, tercengang dan tidak habia mengerti.

Apabila kedelapan orang itu sudah menembus hutan, sepantasnya suara mereka masih kedengaran di depan sana, sehaiiknya kalau terbunuh, sepantasnya ada mayat mereka serta bangkai kuda, atau sekalipun kuda itu dibegal, suara teriakan manusia, ringkikan kuda dan jejak telapak kaki akan kelihatan dan kedengaran.

Tapi, kenyataannya suasana dalam hutan tetap sunyi senyap, sedikit pun tak ada suara apa pun, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu.

Bagi orang yang belum berpengalaman, suasana sehening ini tentu akan dianggap aman, tapi dalam pandangan Ji-lopiauthau sekalian yang sudah berpengalaman, mereka sadar bahwa di balik kesunyian ini justru terselip keseraman, kengerian dan kemisteriusan.

Dalam suasana semacam inilah hawa nafsu membunuh menyelimuti segala penjuru, malaikat elmaut setiap saat mengintai di balik pepohonan itu dan siap mencabut nyawa mereka.

Ji-lopiauthau terhitung jago kawakan yang berpengalaman dalam soal begini, tapi sekarang ia tidak habia mengerti oleh kenyataan yang terbentang di depan mata, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ban-leng-koan maupun si Kunyuk Ho Leng-san menyadari pula betapa gawatnya keadaan, saking takutnya dengan muka pucat mereka saling pandang dengan melongo.

Kawanan Piausu lainpun terbelalak kuatir, seluruh perhatian mereka tertuju ke dalam hutan.....

Suasaua tetap hening, tiada suatu gerakan atau tanda yang mencurigakan.

Lama-kelamaan Ban-leng-koan tak tahan, ia membedal kudanya menghampiri Ji-lopiauthau, kemudian bisiknya lirih.

"Lopiauthau, apa yang terjadi?"

Di tengah suasana hening dan tegang, pertanyaannya itu semakin menambah seram keadaan.

Ji-lopiautau tidak menjawab, walaupun dalam hati telah mengambil keputusan, bagaimana pun juga peristiwa ini akan diselidiki sampai jelas, sebab dia adalah Congpiauthau, tak mungkin baginya untuk melanjutkan perjalanan dengan begitu saja tanpa mengghiraukan keselamatan kedelapan orang anggata rombongannya.

Karena itu dengan memberanikan diri ia membedal kudanya memasuki hutan, sementara anak buahnya diperintahkan untuk bersiap siaga penuh.

Setelah Congpiauthaunya masuk ke hutan, kawanan Piausu lainnya rerpaksa memberanikan diri menyusul dari belakang dengan rasa tegang.

Andaikata mereka diharuskan menghadapi pertarungan terbuka, sebagai laki-laki yang hidupnya memang bergelimangan di tengah kilatan golok dan ceceran darah, tak nanti orang2 itu takut.

Tapi kini, suasana tetap sepi dan tak satu manusia pun yang tampak, keadann seperti ini justeru mendatangkan rasa tegang, seram den ngeri dalam hati orang-orang itu.

Suasana dalam hutan cemara itu tetap hening, tiga puluhan orang itu dengan hati yang kebat-kebit bergerak menembus hutan dan akhirnya muncul di ujung hutan sebelah ujung sebelah sana, hutan seluas beberapa lie itu sudah dilewati tanpa terasa, namun tiada sesuatu yang kelihatan dan tiada kejadian apa pun yang muncul.

Jalan raya terbentang di depan sana, namun suasana di jalan raya itu pun sunyi senyap tak kelihatan bayangan seorang pun.

Kemanakah perginya kedelapan orang peneriak jalan itu?

Seolah-olah mereka lenyap ditelan bumi, hilang tanpa bekas.

"Keparat, benar2 ketemu setan.."

Gerutu si kerbau dungu Ciu Toa-tong yang berwatak berangasan.

Baru dia menyumpah, tiba2 dari arah belakang berkumandang suara teriakan gegap gempita, seakan-akan beribu prajurit berkuda menyerbu di medan tempur.

Suara hiruk-pikuk itu muncul dari belakang, semua orang terperanjat dan segera beramai memutar kuda dan menyerbu kembali ke dalam hutan.

Baru saja mencapai tengah hutan, tiba-tiba terjadi hujan anak panah yang amt deras, anak panah berhamburan dari empat penjuru dan semua tertuju kepada rombongan Piausu itu.

Belasan orang Piausu yang berada di barisan depan segera terpanah dan roboh terjungkal.

Ji-lopiauthau sadar telah terjebak, dengan gusar bercampur gelisah serunya lantang.

"Sahabat, siapa kalian? Apa maksudmu menjebak kami dengan siasat busuk ini? Kalau punya nyali hayo unjukkan diri untuk bertemu dengan diriku!"

Gelak tertawa nyaring segera terdengar berkumandang dari pucuk pepohonan, begitu keras suara tertawa itu hingga anak telinga terasa sakit.

Terkejut kawanan Piausu itu, dari suara gelak tertawa nyaring itu bisalah diketahui orang itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.

Sementara kawanan Piausu itu masih terkejut dan panik, terdengar angin berkesiur, berturut-turut delapan orang laki2 berpakaian ringkas melayang turun dari atas pohon.

Kain hitam mengerudungi raut wajah setiap orang itu, yang tampak hanya matanya yang bersinar tajam, dandanan mereka aneh dan mengerikan.

Karena orang2 itu mengerudungi wajahnya, dengan kain hitam, Ji-lopiauthau menyangka mereka adalah jago2 kalangan hitam yang dikenalnya, segera ia melarikan kudanya maju ke depan, serunya dengan lantang.

"Akulah Tiat-ciang-cing-ho-siok (telapak Baja menggetarkan utara sungai Huang-ho) Ji Kok-hiong adanya, bolehkah kutahu siapakah sahabat sekalian?"

Salah seorang yang berpakaian ringkas itu tertawa terbahak2.

"Hahaha, tak perlu kau tahu siapa kami, pokoknya hari ini jangan kau harap akan lolos dengan selamat!"

Sejak tadi si kerbau dungu Ciu Toa-tong tiada tempat pelampiasan, mendengar ucapan tersebut, amarahnya tak terkendalikan lagi.

"Bajingan, besar amat nyalimu, berani kalian mengincar barang kawalan Yan-keng Piau-kiok? Jangan omong besar, sambut dulu pukulan Ciu-toayamu ini!"

Ia terus menerjang ke depan, suatu pukulan segera menghantam kepala laki2 berkerudung itu.

Ciu Toa-tong disebut kerbau dungu oleh karena otaknya bebal tapi tenaganya kuat, ilmu andalannya adalah Tiat-se-ciang (pukulan pasir besi) yang sudah dilatihnya selama puluhan tahun, pukulannya cukup dahsyat.

"Ehm!"

Orang berkerudung itu mendengus.

"rupanya kau sudah bosan hidup!"

"Blang!"

Terjadi adu pukulan, Ciu Toa-tong menjerit kesakitan, tubuhnya yang besar mencelat dari punggung kudanya dan menumbuk pohon hingga roboh tak berkutik.

Betapa terkejutnya kawanan Piausu itu, mereka mengerti Ciu Toa-tong memiliki ilmu silat yang tangguh, dan sekarang hanya satu gebrakan saja tubuhnya lantas mencelat dan tewas, dari sini dapat diketahui bahwa Kungfu lawan berkerudung itu memang luar biasa lihaynya.

Selesai menghajar si kerbau dungu, orang itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Hehehe, tadinya aku mengira dia memiliki ilmu silat yang luar biasa sehingga berani membual. Huuh, tak tahunya cuma sebangsa kecoak yang tak tahan sekali gebuk! Kalau begitu, kalian yang sok anggap Piausu jempolan tak lebih cuma gentong nasi belaka? Hayo, siapa lagi yang sudah bosan hidup? Silakan maju untuk menerima kematian!"

Marah dan kejut setelah menyaksikan seorang Piausunya dibunuh oleh lawan hanya dalam satu gebrakan, sambil menarik muka ia maju ke depan dan berkata.

"Hm, sobat, engkau tak sudi memberitahu asal-usul, sekarang seorang anak-buahku kau bunuh secara keji, tampaknya kau memang hendak memaksa Lohu minta petunjuk beberapa jurus padamu!"

Ia melompat turun dari kudanya, kedua tangannya berputar, telapak baja andalannya segera siap melabrak musuh. Baru saja Ji-lopiautau siap menyerang, tiba2 dari belakang seorang berteriak.

"Congpiautau, menyembelih ayam kenapa mesti memakai golok? Biar aku yang bereskan keparat ini untuk membalaskan dendam kematian Ciu-toako!"

Piausu ini bernama Ki-bu-pah (raksasa tangguh) Ciu Leng, dia bertenaga besar dan disegani orang, perawakannya tinggi besar, se-hari2 ia adalah sobat kental Ciu Toa-tong, tentu saja ia marah sekali setelah Ciau Toa-tong tewas di tangan orang, maka sekarang iapun memburu ke depan.

Ji-lopiautau cukup kenal kungfu anak-buahnya, dia tahu walaupun Ki-bu-pah mempunyai tenaga raksasa, namun seorang kasar dan dungu, tak nanti bisa menandingi lawan, cepat jago tua ini berusaha mencegah.

Tapi dasar Ki-bu-pah memang berangasan, apalagi sudah dipengaruhl oleh rasa dendam, begitu sampai di tengah gelanggang, tanpa banyak bicara telapak tangannya lantas menghajar batok kepala dan dada musuh dengan jurus Beng-ciong-kik-lo (dentingan lonceng pukulan genderang).

"Bajingan, bayar nyawamu untuk Ciu-toako!"

Hardiknya.

Orang berkerudung itu tertawa dingin, ia tidak menghindar maupun berkelit, malahan sambil memutar tubuhnya, dengan suatu gerakan aneh, tahu2 ia menyelinap ke belakang Ki-bu-pah yang kalap.

Gagal dengan tubrukannya, cepat Ki-bu-pah putar badan, namun terlambat, pada waktu itulah orang berkerudung itu sudah melepaskan pukulan maut ke punggungnya.

Ki-bu-pah mati langkah dan tak sempat menghindar.

Ji-lopiautau terperanjat, cepat ia memberi pertolongan, ia potong tangan musuh yang menghantam punggung Ki-bu-pah itu.

Tujuan Ji-lopiautau hanya ingin menolong Ki-bu-pah tak terduga mendadak seorang berkerudung yang lain segera menerjang maju dan menangkis serangan tersebut.

"Blang!"

Terjadi benturan keras, Ji-lopiautau tergetar sempoyongan dan lengan terasa kaku.

Sementara orang berkerudung itu tetap berdiri tegak ditempatnya, sama sekali tidak tergetar oleh benturan itu.

Melulu satu gebrak saja dapatlah Ji-lopiautau meraba keampuhan musuh, dia tahu kungfu kedelapan orang berkerudung itu rata2 sangat lihay, itu berarti pula bahwa keselamatan rombongannya hari ini terancam bahaya.

Sementara itu, serangan orang berkerudung yang lain telah bersarang telak di punggung Ki-bu-pah.

Untungnya karena bantuan Ji-lopiautau tadi sehingga pukulan musuh tidak telak mengenai tubuh Ki-bu-pah, dia cuma mencelat saja dan tumpah darah.

Merah padam wajah Ji-lopiautau, hanya dalam satu gebrakan dua orang Piausunya telah satu tewas dan satu terluka parah, kejadian ini sungguh suatu pukulan berat bagi rombongannya, apalagi bila mendengar suara pertarungan yang sedang berlangsung di luar hutan sana, ia sadar kereta barangnya sedang dibegal orang.

Ia menjadi kalap, sambil membentak nyaring, beruntun dia melancarkan pukulan berantai yang hebat ke arah orang berkerudung itu.

Walaupun pada mulanya orang itu terdesak mundur oleh serangan gencar Ji-lopiautau, namun ia tidak panik, suatu saat ia lancarkan tendangan berantai dan dua pukulan maut.

Dari posisi terdesak ia mulai balas menyerang sehingga Ji-lopiautau berbalik terdesak mundur.

Selama malang melintang di dunia Kangouw belum pernah Ji-lopiautau mengalami keadaan yang begini mengenaskan, sekarang bukan saja keteter hebat oleh serangan gencar orang berkerudung itu, malahan jiwanya juga terancam.

Kawanan Piausu lainnya menjadi kuatir dan panik, mereka cemas melihat sang Congpiautau terancam bahaya, entah siapa yang mulai dulu, serentak kawanan Piausu itu berteriak terus menyerbu maju.

Kedelapan orang berpakaian ringkas itu pun serentak bergerak, mereka tidak memakai senjata, dengan tangan kosong dalam waktu singkat kawanan Piausu itu sudah dibikin kocar-kacir dan lintang-pukang.

Pertarungan ini berlangsung tak seimbang, sekalipun jumlah Piausu itu berkali lipat lebih banyak, akan tetapi mereka semua bukan tandingan kedelapan orang berkerudung Itu.

Ban-leng-koan The Pek Siu serta si kunyuk Ho Leng-san ketakutan setengah mati, kaki mereka gemetar, hati ingin kabur, apa mau dikata kakinya tidak menurut perintah lagi.

Mereka cuma bisa berdiri dan terkencing2......

Ji-lopiautau sendiri pun sadar Kungfunya lebih cetek dibandingkan musuh, ia berusaha melepaskan diri, namun musun terus mencecarnya, apa boleh buat, terpaksa ia harus memberikan perlawanan mati-matian.

Sesaat kemudian, sebagian besar kawanan Piausu itu sudah tewas atau terluka.....

Mendadak dari balik hutan menggema suara suitan nyaring, menyusul mana muncul lagi lima orang berkerudung.

Melihat tibanya bala bantuan musuh, kawanan Piausu itu semakin mengeluh, delapan orang musuh saja kewalahan apalagi ditambah bala bantuan.

Ji-lopiautau menghela napas panjang, keluhnya.

"Ai, rupanya takdir telah menentukan demikian, habislah riwayatku hari ini....."

Di luar dugaan, ternyata kelima orang berkerudung itu tidak ikut terjun ke dalam gelanggang, mereka hanya menyampaikan perintah dengan bahasa isyarat agar kedelapan orang itu segera mengundurkan diri.

Betul juga, serentak kedelapan orang berkerudung itu melancarkan pukulan dahsyat dan mendesak mundur kawanan Piausu itu, lalu melompat mundur dan kabur ke dalam hutan.

Ji-lopiautau serta para Piausunya cepat memburu keluar hutan, terlihat rekan2nya yang ditugaskan menjaga barang kawalan telah terkapar semua,dalam keadaan tewas dan luka parah, sedangkan puluhan kereta barang itu sudah hilang.

Merah membara mata Ji-lopiautau, bersama sisa Piausunya yang masih hidup, sekuat tanaga mereka melakukan pengejaran.

Kedua orang opas kenamaan dari ibukota, Ban-leng-koan serta si kunyuk berdiri mematung sambil melelehkan air mata.

Barang kawalan itu penting sekali artinya dengan segenap anggota keluarga mereka sebagai tanggungan, bila dibegal orang, sekalipun mereka tak mampus di medan pertempuran, kembali ke kota pun mereka takkan hidup.

Bagi Ji-lopiautau, kecuali keselamatan keluarganya sebagai tanggungan, pekerjaan ini pun menyangkut soal nama baiknya, tidaklah heran kalau dia ngotot mengejar para pembegalnya meskipun sudah kalah habis2an.

Kawanan Piausu lainnya dengan taruhan nyawa juga menyusul dari belakang, mereka sudah terlalu banyak berutang budi kepada Congpiautaunya, sebagai balas budi merekapun rela mengorbankan diri.

Dari pihak pembegal, kecuali kedelapan orang berpakaian ringkas itu masih terdapat pula empat orang berkerudung yang jelas adalah kaum wanita, karena potongan tubuhnya yang ramping, lalu ada lagi seorang Hwesio berkepala gundul yang berkerudung juga.

Ketiga belas orang ini bertugas memotong kekuatan para pengejar serta membinasakan Para Piausu yang coba mendekat, sementara beberapa orang pembegal lagi dengan kecepatan penuh melarikan kereta2 barang itu.

Di antara para pengejar, Ji-lopiautau yang telah beruban itu mengejar paling kencang.

Keadaan jago tua ini lebih mirip banteng terluka, matanya merah berapi, sambil mengejar setiap kesempatan telapak tangan bajanya lantas menghantam kawanan pembegal itu.

Di antara kawanan Piausu itu, memang Kungfu Ji-lopiautau paling lihay, bukan saja pukulannya yang dahsyat, ginkangnya juga paling tinggi, dia mengejar terus, ini membuat kawanan pembegal itu sukar melepaskan diri.

Lama2 habislah kesabaran Hwesio berkerudung yang sedang kabur itu, tiba2 la berhenti dan putar badan, ia berjongkok dengan tangan menempel tanah sehingga gayanya mirip seekor katak, ia berkaok2 nyaring, lalu telapak tangannya diayun ke depan, ia melepaskan pukulan dahsyat ke dada Ji-lopiautau.

Terkejut Ji-lopiautau oleh pukulan hebat itu, ingin menangkis namun terasa tak bertenaga, ingin menghindar namun tak sempat, tampaknya jago tua ini sukar lolos dari ancaman maut itu.

"Mampuslah aku....!"

Keluhnya dalam hati.

"Blam!"

Terdengar suara menggelegar, keras sekali suara itu membuat telinga jadi mendengung, debu pasir berhamburan.

Ji-lopiautau menyangka jiwanya pasti melayang, ia pejamkan matanya dan pasrah nasib, siapa tahu setelah terjadi suara keras itu, ia masih selamat tanpa kurang suatu apa pun.

Dalam kaget dan herannya ia membuka matanya.....

Tian Pek, benar-benar Tian Pek, si anak muda tampan itu tahu-tahu sudah berdiri di depannya.

Ketika ia berpaling ke arah hwesio berkerudung tadi, ia lihat kain penutup wajahnya telah terlepas sehingga tampak mukanya yang pucat seperti mayat, orang itu sudah mundur beberapa kaki ke belakang, dengan matanya yang terbelalak lebar, ia menatap lawan.

"Hm, kiranya kau!"

Dengus Tian Pek kemudian.

"O, rumapanya kau!"

Hwesio itu pun berseru.

Ji-lopiautau sendiri tak pernah menyangka jiwanya akan ditolong oleh Tian Pek.

Ia pernah menolong anak muda itu, Tian Pek juga pernah menjadi Piausu selama beberapa hari di dalam perusahaannya, jago tua ini cukup mengetahui sampai di manakah taraf kepandaian silat pemuda itu.

Tapi sekarang, kenyataan berbicara lain, benar2 Tian Pek yang telah menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut tadi, untuk sesaat Ji-lopiautau jadi tertegun.

Sementara kawanan Piausu yang masih hidup serta The Pek-siu dan Ho Leng-san juga terbelalak dengan mulut melongo.

Mereka kenal Tian Pek dan mengetahui pula ilmu silatnya amat cetek, tapi sekarang, begitu tampil dan lantas memukul mundur Hwesio berkerudung itu dan menyelamatkan sang Congpiautau, tak heran semua orang jadi terkesima.

Belum lama berselang, mereka masih mengejek ketidakbecusan Tian Pek, sekarang anak muda ini muncul dan di luar dugaan ilmu silatnya ternyata luar biasa.

Hwesio itu tidak asing bagi Tian Pek, sudah dikenalnya, sebagai Hud-eng Hoatsu, satu diantara ketiga tokoh maut dari laut selatan, yang aneh ialah Hwesio ini telah melakukan pembegalan dan menggunakan pula kain untuk menutupi wajahnya.

Hud-eng Hoatsu sendiripun segera mengenali Tian Pek sebagai pemuda yang pernah dihajar sampai terluka oleh si nenek rambut putih di lembah pemutus sukma dahulu.Makanya ia tertegun setelah adu pukulan tadi, sebab bagaimanapun juga Hud-eng Hoatsu tidak percaya pemuda she Tian ini sanggup menyambut Ha-mo-kang (ilmu katak) andalannya itu.

Ha-mo-kang adalah ilmu sakti di luar samudera sana dan sudah lama lenyap dari peredaran dunia persilatan, bukan saja besar daya pukulannya, di balik serangan tersimpan pula daya isap yang kuat, jangankan menangkis, sekalipun ingin menghindar juga sukar, ilmu kepandaian ini terhitung sejenis ilmu hitam yang maha dahsyat.

Tiat-ciang-cin-ho-siok terhitung jago kawakan di dunia Kangouw, ia pun tidak berani menyambut serangan keras lawan keras ini, tapi sekarang seorang pemuda yang berusia likuran sanggup menerimanya secara mantap, bagaimanapun Hwesio itu tetap tak percaya.

Kejut dan gusar Hud-eng Hoatsu, tiba2 ia berpekik nyaring.

"Kookk.... kookk.......!"

Sambil berkaok seperti katak, dengan keras kedua telapak tangannya menyodok ke depan.

Serangan maut ini dilancarkan Hud-eng Hoatsu dengan sepenuh tenaga, dapat dibayangkan betapa dahsyat daya penghancur yang terpancar keluar, gulungan itu langsung menerjang Tian Pek.

Kelam air muka anak muda itu, ia mendengus, bentaknya.

"Bangsat gundul, tampaknya kau ingin mampus!"

Dengan ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang yang baru saja dilatihnya, tangan pemuda itu berayun ke depan.

Ketika dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat saling bentur di udara, terjadilah suara gemuruh bagai bunyi guntur.

"Blang!"

Bumi serasa bergoncang, debu pasir menyelimuti angkasa, lidi cemara yang tumbuh di sekitar gelanggang sama rontok ke tanah bagaikan hujan.

Di tengah remang2 cuaca, Hud-eng Hoatsu yang gemuk seperti babi itu mencelat ke udara bagaikan layang2 putus benangnya, dengan menerbitkan suara keras ia terbanting di atas tanah.

Kedelapan orang berpakaian ringkas serta ke empat gadis berkerudung serentak menjerit kaget, buru2 mereka menghampiri Hud-eng Hoatsu dan memayangnya bangun.

Darah kental meleleh keluar di ujung bibir paderi gemuk itu, mukanya jadi pucat pasi, matanya setengah terpejam, jelas isi perutnya sudah terluka sangat parah.

Salah satu di antara keempat gadis berkerudung itu mendadak melepaskan kain kerudungnya sehingga terlihatlah taut wajahnya yang cantik, dengan mata mendelik ia tatap sekejap ke arah Tian Pek, katanya.

"Besar amat nyalimu berani melukai Hud-eng Hoatsu sampai muntah darah. Hm, siapa namamu?"

Cantik memang gadis itu, cuma sayang di antara kejelian matanya membawa sifat genit dan jalang yang merangsang, melihat itu Tian Pek menyahut dengan hambar.

"Aku Tian Pek, bukan saja Hud-eng Hoatsu kulukai, bila barang begalan kalian tidak segera dikembalikan, kalian pun harus kutahan di sini!"

Seorang gadis lainnya maju menghampiri Tian Pek, iapun menarik lepas kain kerudungnya, sambil melotot katanya.

"Bagus, kau berani memusuhi orang Lam-hay-bun. Tapi hati2lah kau, orang Lam-hay-bun akan menuntut balas pada tiga turunanmu!"

Sambil berbicara ia lantas berpaling kepada rekan2nya dan menambahkan.

"Hayo, kita pergi..."

"Hehehe, mau pergi? setelah membunuh orang dan membegal barang, lantas mau kabur dengan begitu saja? Tidak mudah sobat!"

Serentetan suara ini muncul beberapa tombak di luar gelanggang sana, tidak tampak orang yang bicara, tahu2 dari udara melayang turun seorang manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah.

Semua orang berpekik kaget, seram sekali tampang manusia aneh ini, apalagi ilmu meringankan tubuhnya sungguh mencapai puncak kesempurnaan.

Kepongahan kedua gadis yang sudab membuka kerudungnya tadi kontan tersapu lenyap setelah menyaksikan kemunculan manusia aneh bermuka hijau ini, sebagai gantinya air muka mereka berubah jadi pucat karena takut.

Kedelapan orang berpakaian ringkas serta kedua gadis lainnya juga mengunjuk rasa kaget, sekalipun wajah mereka berkerudung sehingga tidak nampak perubahan itu, tapi dari kerlingan mata mereka yang panik dapat diketahui bahwa rasa takut mereka tak kalah hebatnya dari pada kedua rekannya itu.

Di satu pihak ketakutan, di pihak lain Ji-lopiautau merasa terkejut bercampur girang, ia tak menyangka hanya beberapa bulan saja ilmu silat Tian Pek telah mendapat kemajuan sedemikian pesatnya, apalagi setelah mengetahui manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu membantu pihaknya, sadarlah jago tua ini bahwa bintang penolong telah tiba.

"Tian-hiante, jangan lepaskan orang2 itu!"

Serunya cepat.

"Barang kawalan engkoh-tuamu yang dibajak amat penting artinya....."

Kedua gadis cantik itu tidak pedulikan kata2 Ji-lopiautau yang ditujukan kepada Tian Pek, sesudah terkejut menyaksikan kemunculan manusia aneh bermuka hijau itu, mereka lantas saling pandang sekejap, kemudian mengerling kepada kedelapan orang laki2 dan kedua gadis lainnya, setelah itu dengan langkah gemulai mereka menghampiri manusia aneh itu.

Salah seorang di antaranya memberi hormat dan menyapa.

"Ai, kiranya Kui.... 0, Liu cici, tahukah Cici bahwa Siau-kun (tuan muda) kami sangat merindukan diri Cici sehingga mirip orang linglung? Kalau majikan muda kami mengetahui Cici berada di sini....."

Sementara gadis itu bercakap2, kedelapan orang laki2 berpakaian ringkas itu sudah mengangkat Hud-eng Hoatsu yang terluka dan dibawa pergi dengan cepat.

Manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu tak lain adalah Liu Cui-cui, ia mendesis, damperatnya.

"Huuh, siapa yang sudi menjadi Cici kalian...."

"Tian-hiante, jangan biarkan bajingan itu kabur....."

Mendadak Ji-lopiautau berseru lagi.

"Jangan kuatir saudara tua, mereka tak nanti bisa kabur!"

Seraya membentak, Tian Pek melambung ke udara, tahu2 dia sudah mengadang jalan lari kedelapan orang berkerudung itu.

Supaya maklum, bahwa kedelapan laki2 berkerudung itu adalah Mo-kui-to-pat-yau (delapan siluman dari pulau setan), kungfu mereka sangat tinggi, kecuali Lam-hay-siaukun, Lam-hay-liong-li beserta Hay-gwa-sam-sat dan beberapa tokoh penting lain, kungfu kedelapan orang ini terhitung kelas satu.

Di antara kepandaian yang dimiliki mereka ilmu meringankan tubuh termasuk paling mereka andalkan, tapi sekarang Tian Pek bisa melampaui kelihaian mereka, tak heran kalau mereka jadi melengak.

Sadarlah Mo-kui-to-pat-yau bahwa mereka telah bertemu musuh lihay, bila tidak menyerang dengan pukulan mematikan, niscaya sukar untuk meloloskan diri.

Mereka saling pandang sekejap, empat siluman mundur ke belakang, sedang empat yang lain maju dua langkah ke muka, tangan mendayung berbareng ke belakang, inilah Bu-ci-ciang (pukulan hantu) dari pulau setan.

Empat gulung tenaga pusaran bagaikan gangsingan bergabung menjadi satu, di udara terus menggulung ke tubuh Tian Pek.

Menghadapi serangan aneh ini, Tian Pek merasa kepalanya jadi pening dan mata ber-kunang2, ia merasa di tengah gulungan hawa yang berputar seperti gangsingan itu se-akan2 muncul sebuah kepala raksasa seperti kepala setan yang berambut panjang dan bertaring, sambil melotot seram dan memutar cakar setannya yang besar langsung menerkamnya.

Betapa terperanjat pemuda itu, ia tahu ilmu silat musuh pastilah sejenis ilmu hitam yang mengerikan dan tak boleh dianggap enteng.

Memang itulah inti kelihaian ilmu pukulan siluman atau Bu-ci-ciang tersebut, bila digunakan dengan gabungan empat siluman, maka aliran hawa yang berpusing akan menciptakan suatu pemandangan yang mengacaukan pikiran serta konsentrasi lawan, dalam keadaan lengah inilah kebanyakan musuhnya terluka tanpa sadar.

Tian Pek sudah berpengalaman menghadapi pertarungan sengit, sudah banyak jago persilatan yang pernah dijumpainya, tapi belum pernah menyaksikan pemandangan seaneh ini, dia mengira musuh bisa menggunakan ilmu sihir atau sebangsa ilmu hitam yang membingungkan pikiran.

Dalam kaget dan seramnya cepat dia melepaskan pukulan dahsyat ke arah kepala setan yang besar dan mengerikan itu.

Ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang memang maha sakti dan maha dahsyat, aliran hawa pukulan yang sangat kuat seketika meluncur dan menghantam kepala setan itu.

"Blang!' benturan keras menggelegar, bayangan semu kepala setan itu seketika terhajar punah dari pandangan mata, empat siluman itu sendiri terlempar ke belakang dengan sempoyongan dengan mata terbelalak lebar. Berhasil dengan serangan yang pertama, Tian Pek melambung ke udara, tiba2 ia berjumpalitan dengan kepala di bawah dan kaki di atas dia menukik ke bawah dengan jurus Hud-sou-ciang-cok (Buddha sakti turun tahta), dengan dahsyat ia menghantam kepala keempat siluman yang lain. Empat siluman yang lain terkejut, mereka tak mengira seorang bocah berusia likuran ternyata memiliki ilmu silat yang sangat lihay, hanya dengan suatu pukulannya berhasil membuat kocar-kacir ke-empat orang saudaranya, bahkan sekarang menerkam pula ke arah mereka dengan jurus serangan yang lebih dahsyat. Tak seorangpun di antara mereka berani menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras, cepat mereka gunakan ilmu langkah Kui-biau-hong (setan melayang di tengah angin) Syuur! Syuur! Syuur! bagaikan sukma gentayangan mereka kabur pontang-panting ke belakang. Sejak Ji-lopiautau minta kepadanya untuk mengejar pembegal itu, dalam hati Tian Pek telah mengambil keputusan untuk menahan beberapa orang itu, maka demi dilihatnya keempat orang siluman itu kabur terbirit2, cepat ia bertindak, bagaikan burung melambung kembali ke udara, dari situ dengan jurus Hud-kong-bu-liat (sinar sang Budha memancar cerah), salah satu jurus serangan Thian-hud-hang-mo-ciang, ia menyerang ke bawah.

"Blangl Blang!"

Benturan keras berkumandang susul-menyusul.

Setiap kali suatu benturan keras terjadi, seorang siluman itu terjungkal ke tanah, debu pasir beterbangan, dalam waktu singkat delapan orang itu sudah terhajar pontang-panting dan beberapa kali mesti jatuh bangun.

Sudah kenyang kawanan Piausu dari Yan-keng-piau-kiok itu disiksa oleh kedelapan siluman ini, sekarang kedelapan orang itu dihajar habis2an, mereka jadi amat gembira dan ramai dengan suara sorak-sorai dan cemooh.

Ji-lopiautau sendiri manggut-manggut sambil menghela napas, kalau tidak menyaksikan semua kejadian ini dengan mata kepala sendiri, tak nanti ia percaya di dunia ini terdapat kungfu selihay ini.

Ia pun heran, hanya setahun tidak berjumpa, entah darimana Tian Pek mendapatkan ilmu silat selihay ini?

Jangankan orang lain, sampai2 Liu Cui-cui sendiripun tertegun melihat serangan Tian Pek yang melambung sambil menukik dan melepaskan serangan berantai itu.

"Aneh benar!"

Pikirnya.

"Jangan2 engkoh Pek masih memiliki ilmu tangguh lain yang sengaja disembunyikan? Atau mungkin ada penemuan lain?"

Bahwasanya Tian Pek dapat memainkan Thian-hud-hang-mo-ciang, semua ini adalah berkat petunjuk gadis ini, jurus Hud-kong-bu-liat memang harus dimainkan dengan gerakan melambung dan melepaskan pukulan ke bawah, tapi sekarang bukan saja pemuda itu bisa melambung sambil menyerang bahkan serangannya berubah menjadi serangan berantai, tak heran kalau gadis itu jadi tercengang.

Padahal Tian Pek tidak punya ilmu simpanan apa2, hanya karena bakatnya yang baik serta tekunnya memahami sesuatu, apa yang dilihatnya segera diingatnya dengan baik, lalu apa yang didapatkan itu lantas dipraktekkan, dan hasilnya terciptalah jurus serangan yang aneh dan sakti.

Maklumlah, Tian Pek adalah pemuda yang gila silat, dahulu ia tak pernah menemukan guru pandai, hal ini menimbulkan kebiasaannya mencuri belajar jurus serangan orang lain di kala pertarungan sedang berlangsung.

Dahulu ia pernah mencuri belajar Ki-na-jiu dari Tok-kak-hui-mo (iblis terbang kaki tunggal) Li Ki, yang kemudian dipraktekkan sewaktu bertempur melawan Kui-kok-in-su (kakek pertapa dari lembah selatan), di mana salah seorang jago sakti Kanglam-ji-ki ini sempat dibikin kaget dan panik.

Kemudian iapun pernah mencuri belajar Tui-hong-kiam-hoat dari keluarga Hoan, yang mana sewaktu dipraktekkan melawan Hiat-ciang-hwe-liong (telapak darah naga api) dia malah disangka anggota keluarga Hoan.

Sedangkan ilmu gerakan Leng-gong-teng-siang (lintas udara pentang sayap) yang barusan ia praktekkan adalah hasil sadapannya sewaktu menyaksikan gerak melambung Tiat-ih-hui-peng (rajawali terbang sayap baja) salah satu di antara Kim-hutiat-siang-wi itu.

Kepandaian melambung di udara itulah yang tiba2 menimbulkan ilham, ketika dipraktekkan ternyata hasilnya memang luar biasa.

Beberapa kali ia pernah menyaksikan Tiat-ih-hui-peng bertempur, setiap kali bertempur sayap bajanya segera dikebaskan untuk melambung ke udara, di atas kedua tangannya lantas didayung berulang kali untuk mempertahankan posisinya, sementara kakinya disentakkan sebagai pengemudi arah.

Maka kini dia mempraktekkan pula sistim tersebut dengan kedua tangannya sebagai sayap, berada di udara tangannya lantas mendayung berulang kali untuk bergerak ke depan.

Setiap kali hendak berganti arah, kakinya segera disentakkan ke bawah dengan daya pantulan dari serangannya dia bertahan melambung terus di udara.

Dengan menirukan cara bertempur Tiat-ih-hui-peng inilah, tidak heran kalau kedelapan siluman dari pulau setan itu dibikin kocar-kacir.

Tentu saja faktor lainpun sangat mempengaruhi kesuksesannya ini, apabila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna sehingga dapat menghimpun hawa murninya untuk melambung dan menukik berulang kali tak nanti ia sanggup menirukan cara tersebut, apalagi bila tenaga dalamnya masih cetek, sudah pasti ia tak dapat menirukan cara itu.

Hanya sayang pertarungan ini adalah pertarungan pertama yang dilakukan Tian Pek setelah mempelajari ilmu baru, banyak kekuatan pukulannya yang terbuang dengan percuma, kalau tidak, dengan ilmu Thian-hud-hang-mo-ciang yang maha sakti, jiwa kedelapan orang itu pasti sudah melayang.

Keempat gadis berkerudung itu adalah Tho-hoa-su-sianli (empat dewi bunga Tho), mereka adalah jago kelas satu, dalam perguruan Lam-hay-hun, mereka terperanjat, air muka jadi pucat.

Mereka menyadari bila Mo-kui-to-pat-yau terus dihajar cara begitu, cepat atau lambat kedelapan orang itu pasti akan terhajar sampai mampus, dan bila kedelapan orang itu mampus, mereka berempat pun tak akan bisa lolos dari bencana.

Maka cepat mereka saling memberi tanda, dari kantung kulit masing2 mereka sama meraup segenggam bubuk racun bunga Tho terus dihamburkan ke arah tubuh Tian Pek.

Empat gulung kabut tipis berwarna merah yang berbau harum seketika menyebar, bagaikan rangkuman bunga merah yang indah menawan, kabut tersebut langsung mengurung sekitar tubuh anak muda itu.

Tiba2 Tian Pek mencium bau harum semerbak yang sangat aneh......

"Engkoh Pek, cepat menyingkir!"

Tiba2 Lui Cui-cui memberi peringatan dengan kuatir.

"Hati2, itulah kabut racun bunga Tho andalan mereka!"

Tidak cuma berteriak, gadis itupun cepat bertindak, ujung bajunya dikebutkan berulang kali dengan ilmu Hiang-siu-biau-hong (ujung baju harum berembus angin), angin puyuh yang menderu2 segera menyapu ke depan dan meniup kabut merah yang berbau harum itu sehingga tersebar jauh ke belakang sana.

Tian Pek sendiri segera waspada demi mendengar peringatan Cui-cui itu, ia menahan pernapasannya, kemudian dengan gesit melayang turun ke atas tanah.

Masih untung dia bertindak cepat, kalau tidak niscaya Tian Pek sudah roboh oleh kabut racun bunga Tho yang berwarna merah itu.

Tatkala dia berpaling, sempat terlihat kabut racun yang tersebar oleh pukulan Hiang-siu-biau-hong itu telah menyelimuti permukaan tanah seluas belasan kaki di sisi gelanggang.

Kabut berwarna merah itu perlahan-lahan terus menyebar, di mana kabut itu tiba, rerumputan yang hijau dan segar seketika jadi layu, pepohonan yang rindang jadi kering dan rontok.

Ada beberapa orang Piausu kurang cepat menghindar, ketika tersambar oleh kabut merah itu, sekujur badan seketika merah membara seperti terbakar, sambil menjerit mampuslah mereka dalam keadaan yang sangat mengerikan.

Memang lihay luar biasa kabut racun bunga Tho itu, semua orang bargidik ngeri, banyak di antaranya malahan berdiri mematung dengan bulu kuduk berdiri.

Kurang lebih setanakan nasi buyarlah kabut warna merah itu, lenyap pula bayangan tubuh ke delapan siluman dari pulau setan tadi, empat dewi bunga Tho beserta Hud-eng Hoatsu yang terluka parah.

Rupanya kawanan pembegal itu sudah kabur pada kesempatan tersebut.

Melihat musuh sudah kabur, Ji-lopiautau menghela napas sedih, para Piausu mengerut dahi dengan wajah kesal, Ban-leng-koan serta Sik-kau melelehkan air mata karena cemas.

Tentu saja Tian Pek tahu sebabnya orang2 itu sedih, yaitu lantaran barang kawalan mereka dibegal orang, sekalipun demikian ia menghampiri juga Ji-lopiautau sambil memberi hormat.

"Engkoh tua!"

Sapanya.

"baik-baikkah selama ini? Oleh karena Tian Pek selalu dirundung malang, maka selama ini tak sempat menjenguk engkoh tua, harap sudi kiranya memberi maaf!"

Meskipun gembira karena dapat bertemu lagi dengan Tian Pek, apalagi si anak muda pulang dengan membawa ilmu silat yang maha tinggi, namun Ji-lopiautau tak mampu tertawa, maklum, dalam keadaan seperti ini tiada gairahnya untuk memikirkan persoalan lain kecuali memikirkan barang kawalannya yang hilang itu.

"Engkoh tua, engkau begini sedih dan gelisah, mungkinkah barang kawalanmu itu adalah barang yang sangat berharga?"

Tanya Tian Pek. Ji-lopiautau menghela napas panjang, jawabnya.

"Ai, Tian-hiante, terus terang kukatakan padamu, barang kawalanku kali ini memang sangat berharga. Bayangkan saja, 30 laksa tahil emas murni uang gaji untuk seratus delapan karesidenan Ki-lam-hu bukan suatu jumlah yang kecil, bila barang kawalanku ini sampai hilang, seluruh harta kekayaanku dibuat ganti rugi pun belum cukup!"

Mengetahui pentingnya barang kawalan ini, diam2 Tian Pek ikut gelisah. Cui-cui yang berada di sisinya tiba2 tertawa dan berkata.

"Kalau sudah hilang, semestinya dilakukan pencarian, hanya gelisah melulu apakah barang2 yang hilang itu bisa terbang kembali dengan sendirinya?"

Tian Pek bertepuk tangan sambil tertawa.

"Betul, betul! Kalau tidak diadakan pencarian, darimana barang itu bisa kembali? Kalau dugaanku tidak meleset, sarang penyamun pasti berada di sekitar sini. Engkoh tua, hayo segera lakukan pencarian. Kami berdua akan membantu untuk mencari kembali barang kawalanmu ini!"

Ji-lopiautau sudah menyaksikan sendiri betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Tian Pek serta Cui cui, dia tahu asal kedua orang ini mau membantu, tidak susah baginya untuk merampas kembali barang kawalannya.

Dengan wajah berseri dia lantas berseru.

"Asal kalian berdua bersedia memberi bantuan, legalah hatiku...."

"Engkoh tua, jangan sungkan2. Sewaktu orang she Tian luntang lantung tanpa tujuan di dunia persilatan tempo hari, engkoh tua juga sudah banyak membantu diriku? Kini engkoh tua mendapat kesulitan, sudah sewajarnya aku pun membantu dirimu!"

Ji-lopiautau menggeleng kepala berulang kali.

"Bila Hiante yang membantu, tentu saja aku tak banyak bicara, akan tetapi saudara ini....."

Dia berpaling ke arah Cui-cui dan menjura.

"Saudara, engkau dan Lohu tak pernah saling mengenal, tapi engkau bersedia memberi bantuan padaku, sudah semestinya Lohu mengucapkan terima kasih banyak2 kepadamu!"

Tian Pek melirik sekejap ke arah Cui-cui, lalu menyela.

"Engkoh tua, kau tak perlu sungkan2, sebenarnya ia pun bukan orang luar, dia adalah...."

Maksud Tian Pek akan memperkenalkan Cui cui kepada Ji-lopiautau, tapi mendadak ia membungkam, rupanya ia ingat Cui cui menggunakan topeng dan tak suka identitasnya diketahui orang, takut anak dara itu tak senang hati, maka ia pun urung bicara lebih lanjut.

Cui-cui tersenyum, katanya.

"Aku adalah Kui-bin-jin (manusia muka setan), harap Lopiautau banyak2 memberi petunjuk di kemudian hari!"

Ji-lopiautau terhitung jago kawakan, dari tingkah-laku dan nada bicara Cui-cui dia tahu wajahnya yang mengerikan itu pasti samaran belaka, namun dia pun tidak membuka rahasia tersebut, sambil tertawa ia mengucapkan terima kasih.

Setelah Cui-cui bilang begitu, tentu saja Tian Pek tak dapat berterus terang, ia lantas mengalihkan pokok pembicaraan, katanya.

"Suatu urusan kalau ditunda2 mungkin akan terjadi perubahan, kita tak boleh membuang waktu lagi, lebih baik sekarang juga kita merundingkan cara mencari kembali barang kawalan itu!"

Tentu saja Ji-lopiautau menyambut usul itu dengan senang hati, semua orang lantas berkumpul membicarakan masalah itu.

Rupanya Cui-cui punya perhitungan sendiri, menurut pendapatnya, asal mengikuti bekas roda kereta apa susahnya untuk menemukan sarang bandit itu?

Tentu saja semua orang membenarkan usul itu, maka berangkatlah kawanan Piausu itu melakukan pengejaran dengan mengikuti bekas roda kereta.

Bekas roda kereta itu bergerak menuju ke kota tapi menjelang masuk ke kota, bekas roda itu berbelok ke samping, ketika senja tiba, sampailah mereka di depan sebuah bangunan gedung yang megah dan luas.

Dinding tembok yang mengitari bangunan itu tingginya mencapai dua tombak sehingga sekilas pandang mirip sebuah benteng kecil, di luar dinding pekarangan terlindung sebuah sungai, di atas benteng tampak bayangan manusia bergerak kian kemari, jelas penjagaan sangat ketat.

Bekas roda kereta lenyap ke dalam bangunan itu, untuk menyerbu ke dalam gedung jelas tak mungkin karena jembatan penyeberangan telah digantung, sementara sungai itu lebarnya belasan tombak, tak mungkin sungai selebar itu dapat diseberangi dengan sekali lompat.

Ji-lopiautau kelihatan bingung, ucapnya.

"Bukankah tempat ini adalah Pah-to-san-ceng Ti-seng-jiu Buyung Ham? Masakah Leng-hong Kongcu telah bekerja sama dengan kaum iblis dari Lam-hay-bun dan membegal barang kawalanku?"

Tian Pek sendiripun tercengang mendengar ucapan itu, ia mengamati bangunan itu dengan lebih seksama.

Benar juga, bangunan itu memang perkampungan Pah to-san-ceng yang pernah disinggahinya.

Kenangan lama terlintas kembali dalam benaknya, pemuda itu teringat lagi cara bagaimana dia dibawa ke perkampungan itu oleh nyonya setengah baya yang baik hati ketika ia jatuh pingsan di dalam hutan, bagaimana ia dibaringkan di kamar Leng-hong Kongcu, dihina dan dicemooh oleh Leng-hong Kongcu yang keji dan Tian Wanji yang lincah, Buyung Hong, si nona baju hitam yang telanjang bulat di depan matanya, Hoan Soh-ing yang dikenalnya dalam penjara, kitab Soh-kut-siau-hun-pit-kip pemberian paman Lui.....

dan kejadian lain, semua kenangan lama itu se-olah2 asap yang telah buyar, kalau masih ada yang tersisa dalam hatinya juga sudah samar2 dan tidak jelas lagi.

Untuk sesaat lamanya, anak muda itu hanya berdiri termangu2, is tak tahu apa yang mesti dilakukan...."

"Lau-Sam!"

Tiba2 Ji-lopiautau berteriak.

"Ambil kartu namaku!"

Si kuda kilat Lau Sam segera mengiakan dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari buntalannya, lalu dengan hormat diangsurkan.

"Lopiautau, buat apa kartu mama itu?"

Tanya Cui-cui dengan tertawa.

"Lohu pernah kenal orang yang bernama Buyung Ham itu, tak kusangka ia telah mengirim orang untuk membegal barang kawalanku, sekarang Lohu akan mengunjungi perkampungannya menurut aturan dunia persilatan, ingin kulihat apa yang akan dia lakukan lagi."

Dengan mendongkol dia lantas berpaling kepada seorang Piausunya yang bernama To pit-him (beruang bertangan banyak) Gui Thian-sang, serunya.

"Gui-losu, tolong sampaikan kartu nama ini kepada Buyung Ham, katakan bahwa Tiat-ciang-cin datang menyambangi..."

To-pit-him Gui Thian-seng menerima kartu nama itu dan menuju ke perkampungan dengan langkah lebar.

"Kukira lebih baik tidak memakai tatacara segala,"

Sela Cui-cui "Belum tentu Buyung Ham bisa mengambil keputusan, juga belum tentu dia akan menjumpai dirimu!"

"Hm. sekalipun Buyung Ham orang sombong, aku tidak percaya dia tidak menggubris lagi peraturan dunia persilatan. Gui-suhu, pergilah!"

Cui-cui tidak mencegah lagi, ia cuma tertawa saja. Dengan langkah lebar To-pit-him menuju ke tepi jembatan, serunya lantang.

"Hei, orang2 Pah-to-san-ceng, dengarkan baikk2. Tiat-ciang-cing-ho siok Ji-lopiautau dari Yan-keng-piaukiok datang berkunjung, harap kalian buka pintu dan menyambut."

To-pit him adalah seorang yang berperawakan tinggi besar, teriakan dengan tenaga dalam yang kuat, suaranya berkumandang sampai puluhan lie jauhnya.

Tapi suasana dalam perkampungen tetap sunyi, tak tampak sesosok bayangan manusia pun.

To-pit-him mengulangi teriakannya beberapa kali, namun tiada jawaban yang terdengar, malahan bayangan yang semula tampak mondar-mandir di atas benteng itu sekarang pun menyembunyikan diri di balik kegelapan.

Suasana jadi sepi, se-olah2 perkampungan itu adalah sebuah perkampungan yang kosong.

Lama2 To-pit-him menjadi tak sabar, ia keluarkan sebatang Gwat-ya-piau dan disambitkan pada talijembatan gantung itu.

"Blang!"

Terdengar suara hiruk-pikuk, jembatan gantung itu ambruk ke bawah karena tali pengangkatnya putus.

To pit-him tak malu sebagai seorang laki2, dengan membawa kartu nama itu selangkah demi selangkah dia menaiki jembatan gantung itu.

Di dalam benteng tetap tiada gerak-gerik atau suara yang mencurigakan, suasana masih sepi dan ....

Ketika To-pit-him mencapai tengah2 jembatan gantung itu, suasana masih tetap hening, walaupun secara samar2 terasa ada sesuatu firasat yang tidak enak.

Tian Pek tertegun menyaksikan kejadian itu, ia kagum dan terharu kepada kesetiaan serta kegagahan To-pit-him yang rela berkorban bagi Congpiautau perusahaannya.

Tampaklah To-pit-him sudah hampir menuruni jembatan gantung itu dan tiba di depan pintu gerbang, mendadak dari atas benteng perkampungan berkumandang suara desingan tajam, menyusul terjadilah hujan anak panah.

To-pit-him meraung keras, kedua tangannya bekerja cepat untuk melindungi tubuhnya, hujan anak panah gelombang pertama berhasil dipatahkan olehnya.

Namun hujan panah tidak berhenti sampai situ saja, malahan makin lama anak panah yang berhamburan ke bawah bertambah gencar.

Dalam sakejap mata To-pit-him dibikin kerepotan, ia terjebak dan jiwanya terancam bahaya.

Ji-lopiautau, Tian Pek, Cui-cui serta kawanan Piausu lainnya tidak berdiam diri begitu saja, serentak mereka memburu ke bawah benteng dan memberikan pertolongan.

Sayang To-pit-him sudah telanjur terpanah oleh belasan batang anak panah, sekujur badannya bermandikan darah dan persis seperti landak, sekali pun sudah roboh namun kartu namanya masih tetap dipegangnya erat2.

Cepat Ji-lopiautau memburu maju, sambil melancarkan serangan untuk memukul rontok hujan anak panah itu, tangannya yang lain menyambar tubuh To-pit him dan diseretnya ke tempat yang aman, serunya.

"Saudara Gui, aku telah menyusahkan dirimu, bagaimana keadaanmu?"

Kendatipun jiwanya berada di ujung tanduk, To-pit-him tetap tersenyum, sekuat tenaga dia serahkan kembali kartu nama itu kepada Ji-lopiautau, kataoya dengan lemas.

"Engkoh tua, meskipun tugas ini gagal kuselesaikan, namun Siaute tidak sampai memalukan nama perusahaan kita, kartu nama itu kuserahkan kembali kepadamu, harap engkoh tua memilih orang lain yang... yang ....leb... lebih cocok...."

Darah segar berhamburan dari mulutnya, segera ia terkulai lemas dan mengembuskan napas terakhir.

To-pit-him adalah seorang ahli senjata rahasia.

orang Kangouw sebut dia sebagai "beruang bertangan banyak"

Oleh karena tubuhnya yang tegap serta kepandaiannya melepaskan Am-gi tapi sekarang jiwanya justeru berakhir oleh hujan anak panah yang deras, betul2 mati secara mengenaskan!

Ji-lopiautau tak dapat menahan harunya, air mata jatuh berderai membasahi wajahnya, diam2 ia berdoa.

"Saudara Gui, beristirahatiah dengan tenang, aku akan membalaskan sakit hatimu."

Setelah membaringkan jenazah To-pit-him ke atas tanah, ia menyeberangi sungat dan menyerbu ke dalam benteng.

Mungkin ada yang merasa heran, bila mereka sudah tahu kepergian To-pit-him hanya mengantar nyawa belaka, mengapa Ji-lopiautau serta Tian Pek sekalian tidak mengalangi atau membantu dari samping?

Di sinilah terletak betapa penting arti nama dan kehormatan seorang jago silat, seringkall mereka anggap remeh keselamatan sendiri, mereka lebih mementingkan kepercayaan orang lain kepadanye serta memegang janji daripada keselamatan jiwa sendiri.

Mendingan bila mereka tidak menerima sesuatu pesan atau titipan dari orang lain, sekali mereka sudah menerima pesan orang, maka biarpun harus terjun ke lautan api atau naik ke bukit golok, mereka tak akan mundur.

Tak dapat memegang janji bagi mareka berarti merusak nama baik sendiri.

Itulah sebabnya To-pit-him Gui Thian-seng tak gentar mengorbankan jiwanya sekalipun dia tahu jiwanya terancam.

Lalu, apa sebabnya Ji-lopiautau serta Tian Pek sekalian tidak maju bersama ataupun memberikan bantuannya?

Dalam hal ini menyangkut pula soal gengsi, sebelum orang minta tolong atau minta bantuan kepadanya, maka mereka tak berani membantu atau menolongnya, sebab jika mereka sampai berbuat begitu, bukan saja tak akan mendapat terima kasih bisa jadi berbalik orang akan marah karena dianggap menghinanya.

Begitulah kebiasaan orang persilatan pada waktu itu, memang aneh kedengarannya bagi orang awam, tapi benar2 kejadian yang jamak bagi jago silat jaman dahulu.

Begitulah Ji-lopiautau telah menerjang ke dalam benteng itu, dilihatnya mayat bergelimpangan di mana2, tampaknya para pemanah tersembunyi yang berada di atas benteng itu sudah disapu bersih oleh para Piausu serta Tian Pek sedangkan kawanan jago itu terus menerjang masuk ke dalam perkampungan.

Meski Ji-lopiautau sudah kehilangan barang kawalannya dan menyangkut nama baik serta keselamatan keluarganya, pula banyak Piausunya menjadi korban, namun jago tua itu tak ingin menimbulkan pembunuhan banyak, sebab bagaimanapun juga ia merasa punya hubungan baik dengan Ti-seng-jiu Buyung Ham.

Ketika dilihatnya mayat bergelimpangan di mana2 dia jadi kuatir kalau Tian Pek dan para Piausunya yang berdarah panas melakukan pembantaian dan akan mengakibatkan makin rumitnya keadaan, maka cepat ia memburu masuk ke dalam perkampungan itu.

Malam telah tiba, perkampungan Pah-to-sanceng yang luas itu diliputi kesunyian dan kegelapan, tiada sinar lampu, begitu sepi dan gelap hingga suasana terasa misterius dan mengerikan.

Secepat angin, Ji-lopiautau melintasi wuwungan rumah dan menyerbu ke dalam, seringkali ia dihadang dan disergap lawan dari tempat kegelapan, namun jago tua itu bertempur sambil bergerak maju, ia berusaha menghindari pertumpahan darah.

Ia terus menuju ke arah suara pertarungan yuang terdengar bergema dari dalam gedung.

Beruntun ia melintasi tiga halaman yang lebar namun tak sesosok bayangan manusia pun yang ditemukan.

Bukan saja orang-orang Pah-to-san-ceng tak ada yang muncul malahan tiga puluh orang Piausu yang dibawa Tian Pek dan Cui-cui juga tak kelihatan batang hidungnya.

Rasa curiga makin menyelimuti hati Ji-lopiautau, sambil meneruskan perjalanan menembus gedung satu ke gedung yang lain, ia mulai menggerutu.

"Aneh, sungguh aneh, ke mana perginya mereka? Jangan-jangan sudah tertawan semua?"

Tapi ingatan lain melintas pula dalam benaknya.

"Ah, tidak mungkin kungfu Tian Pek dan manusia muka setan itu sangat lihai, masa mereka bisa tertawan sekaligus tanpa melawan?"

Beberapa halaman kembali sudah dilalui, namun belum nampak juga sesosok bayangan manusia pun.

"Kecuali Ti-seng-jiu Buyung Ham yang pernah kujumpai, beberapa orang jago Pah-to-san-ceng pernah kukenal.Kenapa tak seorang kenalan pun yang kutemui? Aneh, benar2 aneh apa yang telah terjadi?"

Pikirnya lebih jauh.

Setelah menembus dua gedung kecil, akhirnya sampailah Ji-lopiautau di sebuah halaman luas yang mirip sekali dengan sebuah taman bunga.

Suasana tetap sunyi, taman ini mestinya sangat indah, tapi sekarang, dalam kegelapan malahan mendatangkan perasaan seram.

Ia pun tidak mengalami sergapan lagi, se-olah2 sudah berada di dalam kota mati.

Kesunyian yang luar biasa ini sungguh sangat mengerikan, jangankan orang lain, Ji-lopiautau yang berpengalaman juga dibuat bergidik.

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benak Ji-lopiautau, pikirnya.

"Kalau tak ada orang mau muncul, apa salahnya kalau aku yang menyapa lebih dulu, kemudian melihat gelagat selanjutnya....."

Berpikir demikian dia lantas berdehem dan berseru.

"Hai ..."

Baru saja dia bersuara, serentak terdengar kumandang suaranya bergema dari segenap penjuru, dari balik kolam, dari bangunan kosong sana, bersahutan sampai lama sekali "Ciit! Ciit! Ciit!"

Mendadak seekor burung terbang dalam kegelapan sehingga Ji-lopiautau terkesiap dan berkeringat dingin.

Dengan mata melotot ia mengawasi sekeliling tempat itu, namun tidak terjadi sesuatu apa pun.

Perlahan rasa kaget dan seram yang mencekam perasaan jago tua itu mulai mereda, tapi sebelum usahanya menyapa diulangi kembali, mendadak "kraak", sebuah jendela perlahan-lahan terpentang.

Berikut terbukanya jendela itu, terdengar suara helaan napas sedih memecahkan kesunyian.

Helaan napas itu seolah2 muncul dari dalam kuburan, begitu sedih dan memilukan suara helaan napas itu hingga membuat bulu roma orang pada berdiri.

Dengan perasaan takut Ji-lopiautau berpaling, di bawah remang-remang cahaya rembulan muncul seorang perempuan berambut panjang dan bermuka pucat seperti mayat, rambutnya begitu panjang terurai sahingga sebagian besar mukanya tertutup.

Sekujur badan Ji-lopiautau dingin menggigil, pikirnya.

"Malam ini benar2 ketemu setan di sini...."

Memang tak salah kalau perempuan itu mirip setan, bukan Saja mukanya begitu pucat seperti mayat, rambut panjang terurai, matanya juga mendelong tanpa berkedip, gerak-geriknya kaku seperti mayat hidup.

Bagaimanapun juga Ji-lopiautau memang tak malu disebut sebagai jago kawakan, meskipun hatinya merasa takut, namun tak nampak gugup dan bingung.

Ditatapnya gadis itu tanpa berkedip.

Jendela itu teraling oleh terali besi yang kuat, setelah mendorong daun jendela dari balik terali itu, setan perempuan tadi memegangi terali besi dan memandang langit dengan termangu2, mukanya yang pucat ditempelkan pada terali, sekalipun persis di depannya berdiri seorang, namun ia seperti tidak melihatnya.

Lama sekali setan perempuan itu termangu2, akhirnya dengan suara yang amat sedih ia bersenandung dengan nada sedih.

Yang disenandungkan adalah syair "rindu"

Gubahan penyair Li Pek, memilukan suaranya.

Sekarang lopiautau baru yakin perempuan di depannya bukan setan, tapi benar2 manusia, seorang gadis yang patah hati karena ditinggal kekasih.

Selang sesaat kemudian, Ji-lopiautau berusaha memberanikan diri, ia maju sambil berdehem, tegurnya.

"Nona, apakah kau orang perkampungan ini?"

Gadis itu sama sekali tak memandang ke arahnya, ia tetap menengadah memandangi bintang dan rembulan dengan ter-mangu2.

"Engkoh Pek.... Oo, engkoh Pek, di mana kau sekarang?"

Gumamnya dengan lirih.

"Tahukah kau betapa adik Hong merindukan kau?..."

"Engkoh Pek? Adik Hong? Siapakah mereka?"

Pikir Ji-lopiautau dengan tercengang.

"tapi engkoh Pek pasti nama kekasihnya atau suaminya, dan adik Hong tentulah namanya sendiri...."

Sementara itu nona tadi bergumam lagi dengan sedih.

"0, engkoh Pek, engkau telah pergi selama dua ratus sembilan puluh sembilan hari, enam puluh enam hari lagi akan genaplah setahun. Tahukah kau selama hampir setahun ini, berapa banyak air mata yang telah membasahi wajahku? ..... , Oo, engkoh Pek, mengapa kau tak datang lagi menjengukku?"

Air mata meleleh keluar dengan derasnya membasahi pipi yang pucat dan halus itu. Ji-lopiautau tertegun, ia melongo oleh tingkah laku anak dara itu.

"Tampaknya nona ini memang mencintai kekasihnya, sampai waktu kepergian kekasihnya juga teringat dengan jelas...."

Pada saat itulah, tiba2 terdengar suara dengusan berkumandang tak jauh di belakangnya.

Ji-lopiantau terperanjat, musuh muncul di belakangnya tanpa diketahui olehnya, itu berarti ilmu meringankan tubuh orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Dengan rasa ngeri jago tua itu berputar ke belakang, kedua tangannya disilangkan dl depan dada, waktu memandang ke depan, terlihatlah tiga orang kakek telah berdiri di depan sana.

Kakek yang ada di tengah berusia lima puluh tahunan, mukanya putih bersih, wajah lebar dan mulut besar, bajunya halus terbuat dan sutera, dandanannya persis seorang hartawan, tangan kirinya membawa sebuah seruling perak yang bersinar mengkilap.

Kakek di sebelah kanan botak tak berambut, lengan kirinya buntung, sedang tangan kanannya diangkat ke atas dan memegang sebuah genta tembaga, usianya sudah enam puluhan.

Dan orang yang ada di sebelah kiri juga berusia sekitar enam puluhan, kakinya cuma tinggal satu, meskipun demikian ia sanggup berdiri tegak tanpa ditopang oleh tongkat, ia bertangan kosong, tidak mambawa senjata.

Di antara ketiga orang kakek itu, dua di antaranya sudah dikenal oleh Ji-lopiautau, sebab mereka adalah Say-gwa-siang-jan (sepasang manusia cacat dari luar perbatasan) yakni Tui-hun-leng (genta pengejar sukma) Suma Keng yang buntung tangannya serta Tok-kak-hui-mo (iblis terbang berkaki tunggal) Li Ki, dahulu kedua orang ini merupakan dua gembong iblis yang tersohor di kalangan Lok-lim di wilayah barat laut.

Tatkala Ji-lopiautau masih sering mengawal barang ke wilayah barat dulu, ia pernah berjumpa dengan kedua orang ini, karena ciri khas yang dimiliki kedua orang itu, kesannya terhadap mereka sangat mendalam, karena itu hanya sekilas pandang saja dia segera mengenalinya.

Meskipun jago tua ini tak kenal hartawan kaya setengah baya itu, namun dari dandanannya serta seruling perak yang dibawanya, ia dapat meraba identitasnya.

"Orang itu tentulah Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng yang tersohor di dunia persilatan karena irama iblis Im-mo-siau-hoatnya yang lihay!"

Demikian ia berpikir. Dia tahu ketiga orang ini adalah jago tangguh yang paling diandalkan dalam Pah-to-san-ceng. Cepat ia memberi hormat, sapanya.

"Kukira siapa yang muncul, rupanya adalah Suma-heng dan Li-heng! Kalau dugaanku tak keliru, saudara yang ini tentulah Gin-siau-toh-hun, Ciang Su-peng, saudara Ciang yang tersohor karena permainan serulingnya, betul bukan?"

Gin-siau-toh-hun Ciang Su peng mendengus.

Tiat-ciang-cin-ho siok Ji Kok-hiong, Congpiautau dari Yan-keng-piaukiok ternyata tidak bernama kosong, sekilas pandang saja segera kenal kami.

Hm, kagum.

kagum!"

"Hahaha, nama besar kesepuluh tokoh utama istana keluarga Buyung sudah tersohor di mana2, tentu saja Lohu kenal kalian ..."

"Istana keluarga Buyung?"

Tukas Gin-siau-toh-hun sambil mendengus, tiba2 ia menengadah dan tertawa terbahak2.

"Hahahaha, istana keluarga Buyung sudah punah dari muka bumi ini, yang ada sekarang tinggal cabang perguruan Lam-haybun di kota Ce-lam! Tua bangka, jangan sembarangan bicara kalau tak tahu urusannya!"

Ji-lopiautau tercengang, ucapan semacam itu keluar dari mulut jago tangguh perkampungan Pah-to-san-ceng, hampir saja jago tua ini tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

Tanyanya kemudian.

"Hehehe, setan tua, apa gunanya kami bergurau dengan kau? Kaukira saudara Ciang suka berbohong!"

Kata Suma Keng sinis.

"Lalu di mana Ti-seng-jiu Buyung-cengcu...."

"Itu bukan urusanmu, tak perlu kau banyak bicara?"

Bentak Tok-kak-hui-mo.

Setelah ketiga orang itu memberikan keterangan penegasannya, sekalipun tidak percaya, mau-tak-mau Ji-lopiautau harus percaya juga, ia merasa banyak persoalan yang tak masuk di akal, tapi kenyataan memang demikian.

Misalnya saja ketiga tokoh ini, mereka adalah tiga jago di antara kesepuluh tokoh sakti andalan keluarga Buyung, kalau memang istana keluarga Buyung sudah berganti tuan, mengapa mereka bertiga masih tinggal di sini?

Mungkinkah ketiga orang ini telah menghianati Buyung Ham dan kini takluk kepada pihak Lam-hay-bun?

Dia lantas bertanya.

"Jadi.... jadi kalian bertiga telah takluk ... telah menggabungkan diri pada Lam-hay-bun?"

Kata "takluk"

Memang tak sedap didengar, bahkan menusuk perasaan orang, maka Ji-lopiautau segera menggantinya dengan ucapan "menggabungkan diri".

Kendatipun demikian, kata tersebut sudah terlanjur diucapkan, jelas tak mungkin ditarik kembali, kata2 itu segera mendapat reaksi yang cukup besar dari ketiga orang itu.

Air muka Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng, Tui-hun-leng Suma Keng serta Tok-kak hui-mo Li Ki seketika berubah hebat, mata mereka melotot dan hawa napsu membunuh melintas di wajahnya.

"Ji-loji, kalau kau sudah tahu jadi lebih bagus lagi,"

Kata Ciang Su-peng kemudian.

"Kini Lam-hay-bun sudah menyapu jagat, tak lama lagi seluruh daratan Tionggoan akan terjatuh ke dalam kekuasaannya. Hehehe, tua bangka, sekalipun kau ingin menggabungkan diri juga belum pantas!"

Sekalipun Ji-piautau cukup sabar, setelah dipanggil "tua bangka"

Terus menerus, meledak juga amarahnya, apalagi setelah mengetahui ketiga orang ini secara tak tahu malu telah mengkhianati majikannya yang lama. Segera serunya dengan gusar.

"Lohu belum ingin mengkhianati umat persilatan dengan menjilat pantat musuh. Hehehe, tidak malukah kalian perbuatan kalian meninggalkan Buyung cengcu ini tersiar di duniapersilatan?"

Tui-hun-leng Suma Keng menengadah dan tertawa terbahak2.

"Hahaha, tua bangka, tak perlu banyak bacot, malam ini jangan harap kau bisa tinggalkan tempat ini dengan selamt!"

Gusar sekali Ji-lopiautau, ia muak menyaksikan kepongahan Tui-hun-leng.

"Huuh, sekalipun bakal mati di sini, jangan harap perbuatan terkutuk kalian bisa mengelabui umat persilatan umumnya, akhirnya toh pengkinanatan kalian akan tersiar juga."

"Tua bangka, jangan bacot seenaknya!"

Kata Tok-kak-hui-mo sambil mendengus.

"Agar kau bisa mampus dengan mata meram, akan kujelaskan duduknya persoalan, dengarkan baik2!"

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Pada puluhan tahun yang lalu Buyung Ham telah bersekongkol dengan saudara2nya untuk membunuh Pek-lek-kiam Tian In-thian, atas perbuatan yang terkutuk itu dia telah kehilangan haknya untuk menduduki kursi pimpinan dunia persilatan. Sekarang Lam-hay-bun telah membongkar rahasia ini, mereka akan menegakkan keadilan dan kebenaran, untuk menenteramkan suasana dalam tiga tahun mendatang dunia persilatan akan dipimpin olehnya, selain itu kitab Bu-hak-cin-keng akan disebarluaskan agar bisa dipelajari oleh setiap pencinta ilmu silat di dunia ini. Tiga tahun mendatang akan dibuka pertemuan besar Enghiong-tay-hwe di puncak barat Hoa-san, pada waktu itulah setiap orang berhak mengikuti pertandingan untuk merebut kursi pimpinan persilatan. Hehehe, bila dunia persilatan telah bersatu....."

Ia berhenti dan sengaja tertawa terbahak2 lalu sambungnya.

"Sayang seribu sayang, tua bangka she Ji ini tidak punya rejeki untuk menghadiri pertemuan tersebut!"

"Benar, sebab malam ini adalah malam terakhir kau tua bangka she Ji ini hidup di dunia ini!"

Sambung Tui-hun-leng. Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, Suma Keng segera melompat ke atas.

Jilid 19 Waktu berada di udara, genta maut diputarnva Tiing, tiing!

disertai suara keleningan yang memekak telinga, segera ia menghantam batok kepala Ji-lopiautau.

Terperanjat jago tua itu, dia tak menyangka Suma Keng begitu bertemu lantas menyerang.

Cepat ia mengegos ke samping sambil berganti langkah, dengan jurus Ciu-cu-cam-kau (Ciu Cu memenggal naga) ia balas bacok pinggang Tui-hun-leng dengan pukulan telapak tangan bajanya.

"Serangan bagus!"

Seru Suma Keng.

Ia meluncur turun, ujung kaki memancal dan melesat ke samping, keleningan mautnya berputar setengah lingkaran dan menghantam dada Ji-lopiautau dengan jurus Ciu-ling-keng-liong (getaran keleningan mengejutkan naga).

Suma Keng tidak malu disebut jago tangguh dari Pah-to-san-ceng, bukan saja cepat dalam gerakan, jurus serangannya juga aneh dan lihay.

Ji-lopiautau terperanjat, cepat dia putar telapak tangannya dan memukul terlebih gencar, di tengah deru angin pukulan dan deringan keleningan, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bertarung puluhan gebrakan.

Agaknva kekuatan mereka seimbang, untuk sesaat sukar menentukan menang dan kalah.

Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng mengikuti jalannya pertarungan itu dari samping, diam-diam ia mengerutkan dahi, mereka masih ada tugas penting lain yang harus diselesaikan dengan cepat, bertarung cara begitu ielas tidak menguntungkan mereka.

Akhirnya habislah kesabaran Tok kak-hui-mo Li Ki, sambil membentak ia lantas terjun ke gelanggang untuk mengerubuti Ji-lopiautau.

Ilmu silat Congpiautau Yan-keng-piaukiok ini memang terhitung tinggi, ia berhasil mengimbangi permainan keleningan maut Tui-hun-leng secara gigih, tapi setelah Tok-kak-hui-mo ikut terjun ke dalam gelanggang, seketika dirasakan betapa berat daya tekanan musuh, walaupun demikian, jago tua ini pantang menyerah, ia masih melayani terus serangan musuh dengan gigih.

Dalam sekejap mata, belasan gebrakan kembali sudah lewat....

Gin-siau-toh-hun jadi gelisah melihat serangan gabungan Se-pak-siang-jan ternyata tidak mampu merobohkan seorang Piausu tua.

Dengan dahi berkerut dia menempelkan seruling peraknya di bibir, lalu ditiupnya.

"Tuuit... tuuit.... Tuuit !"

Nyaring suaranya dan rendah nadanya, membuat hati orang jadi pedih dan hilang semangat!

Terperanjat Ji-lopiautau, pikirannya mulai dikuasai oleh pengaruh irama seruling itu, ia se-olah2 merasa dirinya sudah tua dan tak ada gunanya memperebutkan nama serta kedudukan dengan orang lain, makin lama pikirannya makin kabur, otomatis gerak serangannya menjadi lamban!

Suma Keng tahu ada kesempatan baik, segera ia manfaatkan peluang itu.

Keleningan maut berputar, diiringi denging keleningan yang tajam ia hantam muka Ji-piautau dengan jurus Ci-hun-to-pok atau sukma hilang jiwa melayang.

Terkejut Ji-lopiautau ketika tiba2 mendengar desingan angin yang menyambar wajahnya, ia tersadar kembali dari pengaruh suara seruling, ketika dilihatnya cahaya kuning sudah berada di depan mata, sebisanya ia mendoyong ke belakang, sehingga lolos dari ancaman maut.

Cukup cekatan cara Ji-lopiautau menghindarkan sergapan Tui-hun-ling itu, tapi dia lupa di sampingnya masih berdiri seorang musuh, yakni Tok-kak-hui-mo.

Melihat tubuh Ji-lopiautau doyong ke belakang, cepat Li Ki melejlt, dengan kaki tunggalnya ia depak ulu hati jago tua itu sambil membentak.

"Kena!"

Kontan Ji-lopiautau mencelat dan roboh tak sadarkan diri.

Untung tendangan itu tidak mengenai bagian tubuh yang mematikan, sekalipun demikian cukup membikin pingsan jago tua itu.

Suma Keng memburu ke sana dan mencengkeram tubuh Ji-lopiautau sekalian ditepuk lagi jalan darah tidurnya.

"Tua bangka ini cukup lihay!"

Kata Tui-hun-leng sambil tertawa.

"untung Ciang-heng menyerangnya dengan irama seruling yang lihay, kalau tidak ..."

"Sudahlah, tak perlu banyak bicara lagi!"

Tukas Gin-siau-toh-hun.

"Hayo kita berangkat! Mungkin Siau-kun sudah lama menunggu ..."

Selagi mereka akan berlalu, tiba2 terdengar seorang berkata dengan lirih.

"Mencari kemenangan dengan mengerubut, terhitung jago macam apa? Sungguh membikin malu seluruh jago Pah to san-ceng!"

Kaget Tok-kak-hui-mo, ia berpaling ke arah datangnya suara itu, sesudah menatap sekejap nona bermuka pucat yang berdiri di depan jendela itu, ia menoleh kepada siau-toh-hun dan berkata.

"Hampir saja kita melupakan sesuatu, dia kan masih ada sebatang akar keluarga Buyung yang masih ketinggalan, kalau tidak sekalian dibabat habis, di kemudian hari mungkin akan menjadi bibit bencana buat kita ...."

Tok-kak-hui-mo bicara dengan suara yang lirih, tapi entah bagaimana caranya ternyata nona bermuka pucat itu dapat mendengar dengan jelas.

"Oo, jadi kalian hendak membunuh aku untuk melenyapkan saksi?"

Ejeknya.

"Jika begitu, hayo cepat turun tangan, kalau tidak, bila engkoh Pek tiba di sini, kalian tentu tak bisa hidup lagi!"

Betapa gusar Suma Keng mendengar perkataan itu, dia menghampiri jendela, bentaknya.

"Kau ingin mampus? Sekarang juga kubunuh kau...."

Tapi mendadak Gin siau-toh-hun mencegahnya dan berkata.

"Dia cuma seorang perempuan gila, buat apa kau ladeni? Suma-heng, jangan buang waktu karena persoalan ini, hayolah kita lekas menghadap Siau-kun untuk memberikan laporan!"

Suma Keng lantas mengangkat Ji-lopiautau, mereka terus berangkat menuju ke ruang rapat.

Ruang rapat berada dalam keadaan gelap gulita, di tengah2 ruangan sebuah meja panjang terletak di dekat dinding, di atas meja terdapat kitab serta barang antik, sedangkan di bawah meja ada sebuah pintu rahasia.

Setiba di depan meja, Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng lantas maju ke muka dan menekan tombol rahasia di bawah meja itu dengan seruling peraknya.

"Kreek!"

Terbukalah sebuah lorong yang sangat panjang, berpuluh batang obor dan lilin besar terpasang di dinding, suasana dalam lorong terang benderang.

Kiranya di bawah tanah ini adalah sebuah ruangan yang luas.

Sebuah meja panjang terletak di tengah dengan belasan buah kursi emas, pada kursi utama berduduk sastrawan baju putih berkipas perak itu.

Di sebelah kiri sastrawan baju putih itu berduduk seorang anak dara cantik, ia mengenakan baju aneh yang bersisik ikan, sisik2 ikan itu terbuat dari emas dan memantulkan cahaya kemilauan.

Dandanan gadis itu mewah dan lincah sekali, kecuali pakaian berbulu dan bersisik ikan itu, ada tusuk kondai berukirkan burung Hong menghias sanggulnya yang tinggi, ukiran burung Hong itu bukan ukiran biasa, tapi dibuat dan untaian mutiara yang bersinar.

Belum pernah ada perempuan cantik yang berdandan seperti ini di daratan Tionggoan, hakikatnya gadis ini lebih mirip bidadari yang baru turun dari kayangan.

Gadis itu memang cantik, tapi sayang alis matanya melentik tegak dan lagi matanya tajam seperti singa betina, di antara kecantikannya terselip napsu membunuh yang kejam.

Baik pemuda sastrawan baju putih maupun nona cantik berbaju emas, keduanya berduduk pada kursi utama, sementara di kedua sisinya berduduklah belasan tokoh berpakaian ringkas.

Di antara jago2 yang berduduk di kursi emas itu terdapat juga delapan orang siluman dari pulau setan dan empat dewi bunga tho yang melakukan pembegalan di hutan itu.

Luka yang diderita Hud-eng Hoatsu tampaknya juga telah sembuh, bersama nenek rambut putih dan kakek berjenggot panjang ia duduk berdekatan, tampaknya ketiga orang itu tak pernah saling berpisah satu sama lain, maka namanya tersohor sebagai Hay-gwa-sam-sat.

Selain itu kesepuluh jago dari perkampungan Pah-to-san--ceng berada pula di antara deretan kursi emas itu.

Sementara Ti-seng-jiu Buyung Ham, pemilik Pah-to-sanceng itu beserta isteri, yakni nyonya agung yang pernah menolong Tian Pek dahulu, Leng-hong Kongcu yang angkuh serta Tian Wan-ji, semuanya dibelenggu pada tiang ruangan itu.

Di antara mereka tampak pula "paman Lui"

Yang awut2an rambutnya.

Lalu ada lagi berpuluh Piausu dari Yan-keng-piau-kiok yang terbelenggu kaki tangannya dan menggeletak di sudut ruangan.

Dari keadaan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perkampungan Pah-to-san-ceng telah berganti majikan, pihak perguruan Lam-hay-bun telah menguasai tempat ini, sementara Buyung Ham sendiri beserta keluarganya telah menjadi tawanan.

Di antara kesepuluh jago tangguh dari istana Buyung serta ribuan jago lainnya kebanyakan sudah menyerah kepada musuh, hanya beberapa orang saja di antaranya yang masih setia, seperti paman Lui dan lain2, mereka tertangkap dan terbelenggu semua.

Dalam pada itu Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng, Tuihun-leng Suma Keng serta Tok-kak-hui-mo Li Ki telah tiba di ruangan, setelah melemparkan tubuh Ji-lopiautau, ia berkata kepada sastrawan baju putih itu denglan hormat.

"Syukur perintah Siau-kun berhasil kami laksanakan dengan baik, Tiat-ciang-cin-ho-siok Ji Kok-hiong telah berhasil kami tangkap!"

Sastrawan baju putih itu mengangguk, sambil tertawa ia berpaling kepada nona baju emas.

"Sumoiy, silakan melaksanakan hukuman bagi tawanan."

Dengan sorot mata yang tajam nona berbaju emas itu menyapu pandang sekejap ke kiri dan ke kanan, di mana sinar matanya berkelebat, kawanan jago yang hadir dalam ruangan itu buru2 tundukkan kepala dengan hati kebat-kebit.

Pada hakikatnya orang2 yang hadir ini sebagian besar adalah tokoh silat ternama di dunia persilatan, sudah berpengalaman dan biasa bergelimangan di tengah kilatan golok dan ceceran darah, membunuh orangpun bukan soal bagi mereka, namun entah apa sebabnya tak seorangpun berani beradu pandang dengan nona cantik itu.

"Bukankah masih ada seorang laki2 dan seorang perempuan? Kenapa tidak sekalian ditangkap?"

Tegurnya dengan nada dingin. Buru2 Hay-gwa-sam-sat berdiri, sahutnya dengan prihatin.

"Lapor tuan puteri, pemuda Tian Pek serta Kui-bin kiau-wa (gadis cantik bermuka setan) saat itu tidak berada di perkampungan sana. Biarlah kita cari jejaknya di kemudian hari dan perlahan2!"

Perasaan tak senang terlintas di wajah nona baju emas itu, tampaknya dia akan mengumbar amarahnya. Agaknya pemuda baju putih itu cukup kenal tabiat adik seperguruannya itu, cepat ia berkata.

"Kedua orang itu kan di luar garis, untuk menangkap mereka masih tersedia banyak waktu di kemudian hari, sementara tak perlu kita gubris dulu, bagaimana kalau...."

"Kau berani membela orang luar dan menentang perintahku?"

Hardik nona baju emas itu dengan kurang senang. Agaknya sastrawan baju putih itu takut terhadap anak dara itu, buru2 ia menjawab dengan menyengir.

"Sumoay, janganlah berkata begitu! Masa Suhengmu bisa membantu orang lain untuk menentang perintahmu?"

"Kau anggap aku tidak bisa menebak apa yang sedang kaupikir?"

Jengek si nona.

Sastrawan baju putih itu tertawa getir, ia tidak menjawab lagi kecuali ketuk2 kipas peraknya pada tangan sendiri.

Dengan mendongkol nona baju emas itu mengerling sekejap ke arah sastrawan baju putih itu, kemudian sambil bertepuk tangan dua kali dia berseru.

"Upacara dimulal!"

Dari balik gordin di belakang meja nona itu berjalan keluar duabelas orang bocah berbaju putih yang masing2 membawa sebuah hiolo kecil, setibanya di depan meja, dengan teratur mereka memisahkan diri ke kanan dan kiri dan berdiri secara rapi.

Bau harum semerbak memenuhi seluruh ruangan, kabut tipis mengepul keluar dari hiolo kecil itu memenuhi ruangan membuat suasana menjadi remang2.

Kejadian aneh tiba2 timbul, begitu semua orang mencium bau harum semerbak itu, pikiran mereka lantas linglung, apa yang terlihat se-akan2 adalah malaikat yang agung dan berwibawa, yang terpikir oleh mereka hanyalah takluk dan tunduk, sama sekali tiada pikiran hendak menentang atau melawan.

Sebaliknya orang2 yang semula tak sadar, setelah mencium bau harum itu segera jernih kembali pikirannya.

Yang dimaksudkan sadar di sini hanya sadar dalam perasaan, yakni bisa mendengar, bisa melihat tapi daya pikir masih tetap tenggelam di tengah kekaburan.

Ji-lopiautau yang semula tak sadar kinipun telah mendusin, tatkala dia membuka matanya dan menyaksikan pemandangan aneh ini, seketika ia melongo.

Selagi semua orang berada dalam keadaan limbung, dari belakang gorden muncul lagi belasan orang lelaki berkerudung, orang2 itu bergerak kian-kemari dengan cepat, ada yang menarik kursi dan ada yang menggeser meja, dalam sekejap ruangan rahasia itu sudah berganti rupa.

Sebuah lukisan besar menghiasi dinding ruangan itu, lukisan seorang berkepala botak dan berkaki telanjang.

Aneh sekali muka orang di dalam lukisan ini, bukan saja kepalanya botak, hidungnya pesek dan mulutnya lebar, pada keningnya seperti terdapat suatu garis lekukan sehingga menyerupai manusia purba.

Pada bagian alas lukisan tertera beberapa huruf besar.

"Cosu pendiri perguruan, Lam-hay-it-kun!"

Di depan lukisan itu terdapat sebuah tungku tembaga yang tingginya tiga kaki dengan lebar sepelukan dua manusia, entah bahan dupa apa yang dibakar dalam hiolo tersebut, terlihat gulungan asap memancar keluar dan mengepul lama ke atas, persis seperti pancuran air saja, ketika mencapai atap ruangan, asap itu menyebar ke empat penjuru dan bergerak turun ke bawah.

Udara dipenuhi asap tebal, begitu tebalnya membuat orang yang berada di dalam ruangan se-akan2 berada di atas puncak yang tinggi dan dikelilingi awan.

Di depan hiolo tembaga itu terbentang sebuah papan kayu tebal yang panjangnya empat kaki, banyak bekas bacokan golok pada papan kayu itu, lima bilah golok tajam menancap di sekitar papan itu.

Lebih kecil golok itu daripada golok yang biasa dipakai orang persilatan, panjangnya cuma dua kaki, tapi jauh lebih tajam dan lebih mengkilap.

Pada gagang golok terdapat ukiran kepala setan yang berwarna-warni, bermuka hijau dan berambut merah dengan menyeringai seram.

Dalam pada itu sastrawan baju putih serta nona baju emas itu sudah berduduk di kedua samping hiolo tembaga itu, sementara para jago bekas anak buah Buyung Ham serta kawanan jago dari Lam-hay-bun berduduk di kedua sisi mereka, keduabelas bocah baju putih itu mengangkat tinggi2 hiolo berdiri di belakang orang itu, ketika asap dupa yang mengepul keluar bercampur dengan asap dupa yang mengepul dari hiclo tembaga, terciptalah lautan kabut yang menambah seramnya suasana ruangan itu.

Di tengah ruangan rahasia itu terdapat empat buah tiang yang besar, pada setiap tiang tersebut terikat satu orang yakni Ti-seng-jiu Bayung Ham, isterinya, yaitu nyonya agung setengah baya, Leng-hong Kongcu serta Tian Wan-ji.

Sedangkan jago2 yang setia kepada keluarga Buyung, paman Lui serta Ji-lopiautau beserta para Piausu Yan-keng-piaukiok dibelenggu tangannya dan menggeletak di lantai.

Semua benda dan peralatan upacara diatur dengan baik dan terlatih oleh belasan lelaki berkerudung, tak lama kemudian semua persiapan telah selesai.

Pelahan gadis berbaju emas itu menyapu pandang sekeliling ruangan, dia mengangguk sedikit dengan sikap yang sangat hormat para lelaki berkerudung itu menjura lalu mengundurkan diri.

Di tengah keheningan yang mencekam, tiba2 terdengar suara benda dipukul, keras dan melengking suaranya, menggetar hati setiap orang.

Nona berbaju emas itu berbangkit, dengan suara yang dingin dan menyeramkan seolah2 suara yang datang dari kuburan ia berkata.

"Kedatangan Lam-hay-bun ke daratan Tionggoan kali ini adalah untuk melenyapkan kaum sampah persilatan Tionggoan serta menegakkan keadilan bagi dunia persilatan, barang siapa pernah melakukan kejahatan dia harus dibunuh dan dilenyapkan dari muka bumi ini."

Suasana dalam ruangan itu hening, udara terasa menyesakkan napas.

Dengan tajam sorot mata nona baju emas itu, menyapu sekejap ke arah kawanan jago yang pada bungkam dan tunduk kepala rendah2 itu, ia menuding Ti-seng-jiu, lalu katanya pula.

"Di masa lampau, Buyung Ham adalah salah satu dan Kanglam-jit-hiap, tapi karena ia kemaruk harta dan gila pangkat, secara diam2 ia bersekongkol dengan orang lain untuk membinasakan saudara angkatnya sendiri Pek lek-kiam Tian-In-thian, coba bayangkan, pantaskah manusia semacam ini menerima kematian?"

"Pantas dihukum mati!"

Jawab semua orang tanpa terasa.

"Ya, bunuh!"

Ji-lopiautau yang terbelenggu terperanjat, sebab diketahuinya tanpa disadari mulutnya ikut meneriakkan kata "Bunuh"

Itu.

Padahal dia tidak berpikir demikian, akan tetapi tanpa bisa dicegah mulutnya berteriak sendiri.

Aneh kalau diceritakan, tapi kenyataannva memang begitu.

Sementara dia merasa tercengang, si nona baju emas itu telah bertepuk tangan sambil berseru.

"Laksanakan hukuman!"

Lima orang laki2 kekar setengah telanjang muncul dari balik gorden, masing2 mencabut sebilah golok berkepala setan dari sisi papan tadi, kemudian bergerak maju.

"Sreet! Set Sreet!"

Di antara kilatan cahaya tajam, darah segar berhamburan, Ti-seng-jiu Buyung Ham yang gagah perkasa tahu2 sudah binasa.

Bukan saja kedua tangannya terkutung, kedua kaki juga batok kepalanya juga berpisah dengan tubuhnya.

Memang kejam sekali cara pelaksana hukuman itu, inilah hukuman Ngo-to-bun-sin (lima golok menyayat mayat) yang merupakan cara paling keji dan golongan hitam.

Rupanya kelima orang laki2 kekar itu sudah berpengalaman sekali dengan pekerjaan mereka ini, sejak mencabut golok, membunuh korbannya, semua gerakan dilakukan dengan cepat luar biasa.

Sebelum semua orang tau apa yang terjadi, lima orang itu sudah mencincang tubuh Buyung Ham.

Setelah mengusap darah pada golok mereka pada sol sepatu masing2, mereka ayunkan tangannya dan ......crat crat!"

Dengan jitu golok kepala setan itu menancap kembali diatas papan kayu.

Lalu kelima orang itu dengan cepat lantas mengundurkan diri.

Menyaksikan Buyung Ham dibunuh secara keji, nyonya agung itu jatuh pingsan, Leng-hong Kongcu, yang angkuh dan tinggi hati sekarang terkulai dengan lemas dan pucat wajahnya.

Hanya Wan-ji saja yang pantang menyerah, dengan mata melotot ia mencaci maki kalang kabut.

"Perempuan anjing, sakit hati ini sekalipun sampai di akhirat tetap kutuntut."

Nona berbaju emas itu pura2 tidak mendengar, dengan suara yang tetap dingin dia menuding nyonya setengah baya yang pingsan itu, katanya.

Perempuan ini membantu suaminya melakukan kejahatan, dia tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang perempuan, dia pantas mati tidak?"

Perkataan itu lebih mirip suatu perintah, anehnya perkataan itu diutarakan seperti minta permupakatan kepada para jago, dan yang lebih aneh lagi ternyata kawanan jago itu memberikan tanggapan.

"Pantas mati!" -"Bunuh!"

Bergemuruh teriakan orang banyak.

Bersama dengan seruan yang hiruk-pikuk itu, lantas di balik dinding ruangan itu terdengar suara ribut mulut yang lirih.

Seorang perempuan dengan suara merdu sedang berkata.

"Tadi kan sudah kukatakan bahwa aku hanya mengajak kau menyaksikan keramaian, kenapa kau ingin mencampuri urusan orang lain?"

"Aku pernah berutang budi kepada nyonya ini,"

Jawab yang lelaki dengan cepat.

"Bagaimana pun juga aku tak dapat tinggal diam...."

Suara itu muncul dengan mendadak dan sama sekali di luar dugaan, melengaklah nona berbaju emas itu, ia pandang sekeliling tempat itu, ia tahu pasti ada orang mengintai di tempat gelap.

Air muka sastrawan berbaju putih itu pun berubah hebat, iapun memandang kian kemari.

"Blang!"

Selagi kedua orang itu celingukan ke sana-sini, tiba2 terjadi getaran keras, debu pasir beterbangan, sebagian besar dinding yang kuat itu mendadak ambrol runtuh.

Suasana jadi kalut, kawanan jago yang berduduk dekat dinding itu serentak melompat bangun dan menyingkir.

Di tengah kegaduhan itu, sesosok bayangan orang secepat kilat melayang keluar dan berdiri tegak di tengah ruangan.

Dia adalah seorang pemuda yang tampan, berjubah sutera,rambutnya kusut, namun tidak mengurangi ganteng dan gagahnya.

Pemuda itu adalah Tian Pek.

Kemunculannya yang tiba2 ini sangat mengejutkan semua orang, baik para jago yang mengenalnya maupun yang tidak kenal.

Ji-lopiautau serta kawanan Piausu Yan-keng piaukiok segera bersorak menyambut kedatangannya.

wajah mereka berseri karena gembira.

Bagaimana pun juga Tian Pek dipandang mereka sebagai bintang penolong.

Paman Lui juga kaget, mimpipun ia tidak menyangka tenaga dalam Tian Pek sekarang telah mencapai tingkatan yang sedemikian sempurnanya, sebab tak nanti tembok sekuat itu bisa dijebolnya jika Lwekangnya tidak sempurna.

Leng-hong Kongcu pun mengunjuk rasa kaget, ia tak tahu dengan cara apa Tian Pek bisa menyembunyikan diri di balik dinding ruangan rahasia itu?

Hanya Wan-ji saja yang memperlihatkan rasa terkejut bercampur girang, teriaknya dengan lantang.

"Engkoh Tian, cepat tolong kami!"

Dalam pada itu Hay-gwa-sam-sat sudah melompat bangun dengan kaget dan heran.

Air muka sastrawan berbaju putih itu pun berubah hebat.

Nona berbaju emas yang berwajah dingin menyeramkan itu entah apa sebabnya tiba2 menunjukkan pula sikap yang lain, mukanya tidak sedingin tadi lagi, sorot matanya kini jauh lebih hangat, malahan di balik kehangatan terselip kegenitan yang menggiurkan.

Tian Pek memang memiliki daya tank yang luar biasa, terbukti puteri cantik keempat keluarga besar dunia persilatan sekaligus mencintai dia.

Maka tidaklah heran jika sekali bertemu nona berbaju emas inipun jatuh hati padanya.

Perlu diketahui, sastrawan berbaju putih itu tak lain adalah Lam-hay-siau-kun, sedangkan nona berbaju emas itu adalah Lam-hay-liong-li, mereka berdualah yang memimpin kawanan jago Lam-hay-bun menyerbu ke daratan Tionggoan.

Waktu Lam-hay-siau-kun menyaksikan adik seperguruannya yang cantik tiba2 tersenyum ke arah pemuda itu, hatinya seketika jadi cemburu, dia lantas berteriak.

"Hay-gwa-sam-sat, di mana kalian bertiga? Bukankah kusuruh kalian bekuk bangsat itu? Kalian mengatakan dia tak ada di tempat, coba lihat sekarang, dia muncul di sini! Hayo, cepat bekuk bangsat ini."

Air muka Hay-gwa-sam-sat berubah hebat, nenek berambut putih yang bernama Leng-yan-hong itu segera melompat bangun, bentaknya.

"Bocah keparat! Sudah lama nenekmu mencari kau tapi tidak ketemu, tak tersangka kau berani datang kemari. Hmm, terimalah kematianmu di sini!"

Sambil membentak, ia melesat ke depan dan langsung melancarkan pukulan dahsyat ke arah Tian Pek. Tian Pek sama sekali tidak menghindar atau berkelit, iapun melancarkan suatu pukulan kuat.

"Blang!"

Adu pukulan terjadi.

Tian Pek masih berdiri tegak di tempat semula, sebaliknya si nenek berambut putih tergetar mundur tiga langkah.

Mata nenek rambut putih itu melotot, ia heran pemuda yang beberapa bulan berselang pernah dilukainya itu kini mampu menggetar mundur dirinya.

Hud-eng Hoatsu segera berseru.

"Hei, nenek hati2 terhadap bocah itu, entah obat apa yang telah dia makan,tenaga pukulannya mendadak tambah hebat."

Perlu diketahui, sekalipun Hay-gwa-sam sat jarang berpisah satu sama lainnya, tapi sudah terbiasa bagi mereka untuk saling mengejek dan saling menggoda.

Seringkali hal yang benar diucapkan secara terbalik, sedangkan kata2 yang benar berbalik tidak berarti sungguh2.

Setelah Hud-eng Hoatsu kecundang di hutan saat melawan Tian Pek, dengan maksud baik ia memberi peringatan kepada nenek itu agar rekannva tidak ikut kecundang di tangan lawan.

Tapi oleh karena kebiasaan mereka yang suka saling mengejek itu, si nenek menanggapi peringatan itu sebagai suatu cemoohan, ia pikir Hud-eng Hoatsu mengejeknya lantaran tak mampu menahan serangan lawan, maka dengan menyeringai ia berteriak.

"Bangsat gundul, tak perlu mengejek, lihatlah pukulan mautku ini!"

Dengan menghimpun tenaga dalam ia menubruk maju dan menghantam.

Memang dahsyat sekali pukulan itu, Tian Pek tahu musuh telah melipat gandakan tenaga pukulannya, sambil mendengus iapun mengeluarkan Thian-hud-hang-mo-ciang.

ia sambut pukulan tersebut dengan keras lawan keras.

Tatkala dua gulung angin pukulan yang dahsyat itu bertemu terjadilah benturan dahsyat.

debu pasir beterbangan, hampir sebagian besar ruang bawah tanah itu tergetar hancur berserakan.

Kali ini Leng-yan-hong, si nenek berambut putih, terdesak mundur sampai lima langkah ke belakang.

Matanya melotot makin besar, rambutnya yang beruban sama menegak, sungguh ia tidak percaya pemuda yang pernah dihajar sampai terluka pada tiga bulan yang lalu, sekarang ternyata memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat daripadanya.

Kekalahan beruntun ini membikin hatinya penasaran, sambil berpekik nyaring, ilmu jari sakti Soh-hun-ci yang paling diandalkan lantas dikeluarkan, dengan sepenuh tenaga ia incar jalan darah Sian-gi-hiat di tubuh musuh.

Nyonya agung setengah baya yang telah mendusin dari pingsannya serta Tian Wan-ji dan kawanan Piausu dari Yan-keng-piau-kiok serentak berseru kuatir.

Namun Tian Pek sendiri sama sekali tidak panik, dengan lima langkah Cian-hoan-biau-hiang-poh ia menggeliat ke samping dan tahu2 sudah lolos dari ancaman.

"Criitt!"

Dengan manerbitkan suaas nyaring, tenaga jari si nenek mengenai sasaran yang kosong, sebuah lubang segera muncul di dinding batu yang berada jauh di belakang sana.

Setelah terhindar dari serangan maut itu, dengan ilmu langkah Cian-hoan-biau-hiang-poh, Tian Pek segera memburu ke belakang nenek itu, untuk kesekian kalinya ia menghajar lagi punggung si nenek.

Nenek berambut putih itu seorang yang tinggi hati, bukan saja ilmu silatnya tinggi, pada hsti2 biasa jarang sekali ada orang yang mampu menandinginya, dengan ilmu Soh-hun-ci, menurut perkiraannya Tian Pek pasti tak mampu menghindarkan diri andaikan tidak mati pasti juga akan terluka parah.

Tapi kenyataannya baru saja serangan tersebut dilepaskan, tahu2 dia kehilangan jejak musuh.

Untuk sesaat nenek itu jadi melengak.

Pada saat itulah mendadak dirasakan hawa panas menyambar dari belakang.

Segera ia merasakan gelagat jelek, cepat ia mengelak, tapi tetap terlambat, segera pundak kiri terasa seperti dibakar oleh besi panas, sakit sekali rasanya, menyusul tubuhnya lantas tergetar ke depan, ia menjerit kaget dan ter-huyung2 ke depan.

"Blang", ia menumbuk dinding. Kontan kepalanya jadi pening tujuh keliling. matanya berkunang2 dan dadanya jadi sesak, sampai lama Leng-yan-hong tak sanggup berkutik. Ilmu sakti yang tercantum dalam kitab Soh-kut-siau-hun-pit kip memang hebat, untuk pertama kalinya Tian Pek praktekkan ilmu sakti itu dan hasilnya benar2 di luar dugaan. Hanya satu gebrakan si nenek berambut putih, salah satu dari tiga malaikat maut telah terhajar sampai terluka parah. Jeritan kaget dan seruan tercengang seketika berkumandang, baik kawan maupun lawan, semua tercengang oleh kelihayan Tian Pek, siapapun tak mengira pemuda yang masih hijau ini ternyata mampu melukai si nenek yang lihay itu. Dalam pada itu, kakek berambut panjang yang berada di samping telah meraung gusar menyaksikan si nenek berambut putih terluka. Kakek berjenggot ini bernama Kiu Ji-hay, dia adalah kekasih dan suami nenek berambut putih itu, maka dapat dibayangkan betapa rasa gusar si kakek. Di tengah bentakan kakek berjenggot panjang itu menghimpun tenaga dalamnya pada telapak tangan kanan, telapak tangan terpentang lebar sebagai roda, dari telapak tangan terpancar hawa berpusar yang keras. Tian Pek terkesiap, bahkan para hadirin juga terperanjat. Buyung-hujin, Tian Wan-ji. Ji-lopiautau beserta para Piausunya sama menjerit kaget dan kuatir bagi Tian Pek. Ilmu silat kakek berjenggot panjang ini sudah lama punah dari peredaran dunia persilatan, inilah Kungfu Tay-jiu-in atau telapak tangan raksasa. Tenaga pukulan yang terpancar dari Tay jiu-in sangat ampuh dan jarang sekali ada orang yang mampu membendungnya. Selama hidup belum pernah Tian Pek menghadapi ilmu pukulan selihay ini, ia tak berani menghadapinya dengan keras lawan keras, buru2 digunakannya Cian-hoan-biau-hiang-poh untuk menghindar ke samping. Baru saja ia berkelit, terdengar bisikan seperti bunyi nyamuk menggema di samping telinganya.

"Engkoh Pek, berhadapan dengan musuh harus percaya pada diri sendiri, jangan takut, sambutlah dulu sebuah pukulannya, coba sampai di manakah kemajuan yang kaucapai dengan ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang itu ... Tian Pek tahu pasti Cui-cui yang memberi kisikan tersebut, terbangkit semangat jantannya, maka tatkala pihak lawan menyerang untuk kedua kalinya, ia tidak menghindar ataupun berkelit lagi, telapak tangannya didorong keluar, disambutnya serangan musuh yang dahsyat itu dengan keras lawan keras. Dalam serangan itu Tian Pek telah menggunakan jurus Hud-kong-bu-ciau dari Thian-hud-hang-mo-ciang. Terasalah angin pukulan men-deru2 dan terjadi benturan keras, kekuatan yang terpancar keempat penjuru berubah menjadi angin puyuh, yang menyapu semua benda yang ditemuinya. Seluruh ruangan rahasia itu berguncang keras se-akan2 ambruk. Di tengah jerit kaget orang banyak, Tian Pek cuma bergetar sedikit saja dan masih tetap berdiri pada posisi semula. Sebaliknya kakek berjenggot panjang, Ciu Ji-hay, tokoh sakti dari laut selatan yang telah malang melintang di daratan Tionggoan, tahu2 tergetar mundur dengan sempoyongan. Betapa rasa kaget si kakek berjenggot panjang itu benar2 sukar dilukisLan, mimpi pun dia tak menyangka di kolong langit ini ternyata ada orang yang berani menyambut serangan mautnya tanpa cedera. Meski kaget dan penasaran, namun ia tak sanggup menyerang lagi. Maklumlah, Tay-jiu-in yang lihay telah tergetar buyar kekuatannya oleh ilmu sakti Tian Pek, ia perlu mengatur napas dan memulihkan tenaga. Suasana jadi hening dan perhatian semua orang tertuju pada anak muda itu, diam2 Hud-eng Hoatsu menggeser ke belakang Tian Pek dan mendadak ia berpekik "kok-kok"

Dua kali, berbareng kedua tangannya menghantam punggung Tian Pek.

Inilah Ha-mo-kang andalan Hud-eng Hoatsu yang maha lihay.

Menurut perhitungannya, setelah bertarung lawan dua jago sakti, tentu tenaga Tian Pek sudah banyak berkurang, maka dia lantas menyergap dari belakang dan ingin sekali hantam membinasakan anak muda itu.

Sejak Tian Pek muncul, seluruh perhatian Tian Wan-ji lantas tertuju kepada pemuda itu, ia merasa gembira sekali setelah dilihataya secara beruntun pemuda itu berhasil mengalahkan dua musuh tangguh.

Ia makin kagum lagi pada kehebatan kekasihnya, bila tubuhnya tidak terbelenggu, tentu sudah dari tadi ia memburu maju dan menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.

Sekarang dilihatnya Hud-eng Hoatsu melancarkan sergapan dari belakang, nona itu jadi panik bercampur cemas, cepat ia berteriak lantang.

"Engkoh Tian, awas, Hwesio busuk itu akan menyergap dirimu ...."

Sekalipun Wan-ji tidak berteriak juga Tian Pek merasakan datangnya sergapan dari belakang, tenaga dihimpunnya untuk menghadapi ancaman itu.

Semula iapun mengira tenaga dalamnya akan lemah atau akan berkurang daripada semula, sebab beruntun ia telah menghadapi dua musuh tangguh, tapi setelah hawa murninya dihimpun, si anak muda baru tahu bahwa pikiran semacam itu ternyata keliru besar.

Bukan saja tenaga dalamnya tidak semakin lemah, dia malah merasakan tubuhnya lebih segar dan bersemangat daripada semula, sadarlah pemuda itu bahwa tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan.

Sukar dilukiskan betapa girangnya.

"Sekarang ilmu silatku telah mencapai kesempurnaan, itu berarti dendam berdarah ayahku bisa kutuntut balas dengan sebaik2nya.... Ai, akhirnya apa yang kucitakan akan tercapai juga?"

Demikian ia berpikir. Tatkala sergapan dari belakang sudah hampir menempel di pungguugnya, tanpa berpaling telapak tangannya diayun ke belakang untuk menyambut serangan tersebut dengan kekerasan.

"Blang!"

Benturan keras menggelegar di udara, angin berpusing memancar ke empat penjuru, suara dengusan berat berkumandang di belakangnya.

Hud-eng Hoatsu mencelat sejauh dua tombak oleh tangkisan Tian Pek yang dahsyat itu, sungguh mengenaskan sekali keadaannya.

Padahal di antara Hay-gwa-sam-sat, ihmu silat si kakek berjenggot panjang itu terhitung yang paling tinggi, si nenek berambut putih terhitung nomor dua dan Hud-eng Hoatsu yang paling lemah, kalau kedua orang yang lebih lihay daripadanya juga dibikin keok oleh Tian Pek, apalagi dia.

Rupanya ia salah menilai kekuatan Tian Pek, sebab disangkanya tenaga pemuda itu pasti sudah lemah karena telah menghadapi kakek berjenggot dan nenek berambut putih beruntun.

Ia tidak tahu kalau Tian Pek telah mendapat penemuan aneh yang tak terduga, bukan saja hawa murninya sudah mencapai kesempurnaan, iapun berhasil menyerap intisari ilmu silat yang tercantum dalam kitab Soh-kut-siau-hun pit kip sehingga sumber tenaga Tian Pek boleh dikatakan tidak pernah kering.

Begitulah tubuh Hud eng mencelat seperti bola danmenumbuk dinding, Darah bergolak dalam tubuhnya, matanya berkunang2 dan kepala pusing tujuh keliling, akhirnya iapun muntah darah.

Secara beruntun dalam waktu singkat Tian Pek berhasil mengalahkan Hay-gwa-sam-sat, peristiwa ini sungguh membuat terkesiap baik lawan maupun kawan.

Suasana jadi hening, semua orang dengan mata terbelalak mengawasi Tian Pek, tak seorangpun berani maju lagi ke depan...

Sin-liong-taycu, pangeran dari Lam-hay-bun, si sastrawan berbaju putih itu, memegang kipas peraknya erat2, ia kaget dan gugup, sementara biji matanya berputar kian kemari, entah rencana busuk apalagi yang sedang dia susun.

Air muka kedelapan siluman dari pulau setan juga pucat seperti mayat, mereka tidak menduga di daratan Tionggoan masih terdapat jago setangguh itu.

Kawanan jago dari istana keluarga Buyung yang kini takluk kepada Lam-hay-bun seperti Gin-siaau-toh-hun Ciang Su-peng, Tui-hun-leng Suma Keng Tok-kak-hui-mo Li Ki serta lain2nya sama berdiri diam bagaikan patung, peristiwa itu sama sekali di luar dugaan mereka, untuk sesaat orang2 itu pun ketakutan.

Hanya empat dewi bunga tho serta Lam-hay-liong-li, yaitu si gadis berbaju emas, yang tetap tenang2 saja, tidak tampak rasa kaget dan takut di wajah mereka, malahan senyum genit menghiasi bibir mereka.

Sejak kehadiran Tian Pek di ruangan itu, empat dewi bunga tho sudah mengerling pemuda itu secara genit, sekarang setelah pemuda itu secara beruntun menangkan tiga kali pertarungan, mereka lebih bergairah lagi untuk menarik perhatiannya.

Goyangan pinggul yang bikin hati berdebar, kerlingau mata yang memabukkan serta suara tertawa yang mengkili2 hati sungguh membuat orang lupa daratan.

Mengenai Lam-hay-liong-li, dia memang cantik jelita, kecantikannya jelas tidak kalah dibandingkan Cui-cui, hanya sayang sikapnya yang sombong serta tindak-tanduknya yang dingin, inilah yang bikin orang lain tak berani memandang dan mendekatinya.

Padahal gadis mana yang tak mendambakan cinta?

Seorang gadis kalau sudah dewasa, dengan sendirinya mengidamkan seorang pemuda tampan untuk menjadi kekasihnya, cuma Lam-hay-liong-li ini dibesarkan di pulau setan yang jauh dari daratan, belum pernah nona itu menemukan seorang pemuda idamannya.

Mo-kui-tocu, kepala pulau setan, Lam-hay-It-kun, sejak mendirikan perguruan Lam-hay-bun, kecuali didampingi jago2 lihay yang rata2 sudah lanjut usia, anak muridnya kebanyakan adalah manusia kasar yang bertampang kriminil, hanya putera tunggalnya saja, yakni kakak seperguruan Lam-hay-liong-li, hanya pemuda inilah yang dapat dikatakan tampan.

Sayang kakak seperguruannya ini terlalu bangor, suka main perempuan di sana-sini, wataknya yang jelek ini memberikan kesan yang jelek pula dalam pikiran Lam-hay-liong-li, dia menganggap laki2 di dunia ini tak ada yang baik.

Mendingan kalau cuma begitu saja, kemudian ternyata Lam-hay-it-kun menyerahkan kekuasaan tertinggi dari perguruannya kepada nona ini, secara otomatis pula wataknya berubah keji dan tinggi hati.

Tapi hari ini, setelah bertemu dengan Tian Pek yang berilmu silat tinggi dan berwajah tampan, ia terpesona, untuk pertama kalinya perasaan kewanitaannya tersentuh, dia merasa bahwa Tian Pek inilah yang didambakannya, pemuda tampan seperti inilah yang diharapkan mendampinginya sepanjang masa.

Oleh sebab itulah, sekalipun secara beruntun Tian Pek telah melukai tiga orang jago tangguh Lam-hay-bun, dia tidak menjadi gusar, sebaliknya senyum manis menghiasi wajahnya, dia berbangkit dan menghampiri anak muda itu, katanya.

"Siapa kau? Kenapa kauberani memusuhi Lam-hay-bun kami?"

Seandainya perkataan itu diutarakan orang lain, mungkin para jago tak akan merasa heran, tapi kata2 itu diucapkan oleh Lam-hay-liongli yang sudah biasa bersikap ketus dan dingin, apalagi ucapan tersebut ditujukan kepada musuh yang secara beruntun telah melukai tiga jago lihaynya.

Sudah tentu Tian Pek tak tahu akan hal ini, sekalipun dilihatnya senyuman manis menghiasi mulut Lam-hay-hong-li yang cantik bak bidadari dari kayangan itu, namun iapun menyaksikan hawa napsu membunuh yang sangat tebal yang menyelimuti wajahnya.

"Aku Tian Pek!"

Jawabnya kemudian dengan lantang.

"aku tiada bermaksud memusuhi Lam-hay-bun kalian, hanya saja aku merasa penasaran menyaksikan perbuatan kalian yang membunuh orang seenak sendiri, oleh sebab itu sengaja aku muncul di sini untuk menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan umumnya."

Jawaban itu sesungguhnya diucapkan dengan jujur, tapi bagi pendengaran Lam-hay-liong-li terasa ketus dan menghina.

"Hehe, besar amat lagakmu?"

Jengeknya.

"Kau bicara menurut perasaan hatimu sendiri ataukah ada orang lain yang menjadi tulang punggungmu di belakang layar?"

Tian Pek jadi marah, ia tak tahu anak dara inilah pemimpin Lam-hay-bun, ia menyangka seorang anak dara berani memandang enteng padanya, ini berarti pihak Lam-hay-bun terlalu menghinanya.

Dengan setengah berteriak, ia berkata.

"Aku Tian Pek tidak mengenal artItulang punggung' segala, akupun tak pernah diperintah orang dari balik layar, apa yang ingin kulakukan segera kulaksanakan, aku berani berbuat berani pula menanggung risikonya, dengan pedang Bu-ceng-pek-kiam inilah akan kusapu setiap manusia jahat di dunia ini!"

Kedengarannya memang amat jumawa ucapan tersebut, tapisemua orangpun dapat merasakan batapa gagah dan jantannya pemuda ini, banyak orang bersorak memuji keperwiraannya.

Terutama Wan-ji serta nyonya setengah baya yang pernah menolongnya itu, air mata mereka hampir saja bercucuran saking terharunya.

Siapakah yang berani menunjukkan sikap sekeras itu di hadapan musuh yang jelas memiliki kekuatan berkali lipat daripada pihaknya?

Maklumlah, pengaruh Lam-hay-bun di dalam dunia persilatan besar sekali, bukan saja mereka telah menaklukkan empat keluarga besar, hampir semua jago baik dari golongan putih maupun dari kalangan hitam sama tunduk dan takluk kepada mereka, tak seorangpun di dunia persilatan yang berani secara terang2an menentang mereka.

Bukti yang paling nyata adalah menyerahnya Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng, Tui-hun-leng Suma Keng serta Tok-kak-hui-mo Li Ki sekalian kepada pihak Lam hay bun, padahal mereka terhitung jago lihay yang disegani.

toh jago2 semacam mereka tak ada yang berani melawan kekuasaan Lam-hay-bun.

Tapi sekarang Tian Pek, seorang pemuda yang masih hijau telah menunjukkan keberanian yang luar biasa, tak heran kalau semua orang dibikin tercengang.

Bahwa Tian Pek berani menandingi Lam-haybun yang telah menaklukkan dunia persilatan Tionggoan, sungguh keberanian anak muda inipun luar biasa, Maklum, tiga bulan lamanya ia hidup di gunung untuk merawat lukanya, dengan sendirinya ia tidak tahu keadaan sekarang.

Begitulah kening Lam-hay-liong-li seketika berkernyit, katanya.

"Kalau begitu, jadi kau sudah mengambil keputusan akan memusuhi Lam-hay-bun kami?"

Tian Pek mendengus, betapa mendongkolnya pemuda itu melihat nona berbaju emas itu tak pandang sebelah mata padanya.

Tanpa bicara lagi ia menghampiri nyonya setengah baya yang terikat di tiang itu dan melepaskan tali pengikatnya.

Gusar Lam-hay-liong-li, selama hidup belum pernah dilihatnya pemuda seangkuh itu dan berani berbuat sesukanya di hadapannya.

"Tahan!"

Hardiknya dengan gusar. Berbareng ia pun melompat maju dan menghadang di depan pemuda itu, bentaknya lagi sambil menarik muka.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Apa lagi? Tentu saja menolong orang!"

Sahut Tian Pek, tanpa menoleh ia tetap meneruskan perbuatannya melepaskan tali pengikat Buyung-hujin. Lam-hay-liong-li meraung gusar, segera ia bermaksud mencegahnya.

"Kiongcu!"

Tiba-tiba Hu-yong-hui-cu (selir bunga teratai), orang kedua dari keempat dewi bunga tho, tampil ke muka sambil menggoyang pinggul.

"Buat apa tuan puteri turun tangan sendiri untuk membekuk seorang bocah, biarlah kami kakak-beradik yang melaksanakan tugas ini!"

Berbicara sampai di sini, ia mengerling sekejap kepada saudara2nya agar bersiap sedia.

Ketiga dewi hunga tho lainnya sama tertawa genit sambil goyang pinggul mereka melayang ke tengah gelanggang dan mengepung Thian Pek.

Tentu saja Lam-hay-liong-li sendiri pun memaklumi akan kedudukannya, maka setelah keempat dewi bunga tho terjun ke gelanggang, ia lantas mengundurkan diri.

Ia tahu, bicara soal tenaga dalam, jelas jauh keempat dewi bunga tho itu kalau dibandingkan Hay-gwa-sam-sat.

Tapi ia pun tahu kelicikan keempat dewi itu, mereka banyak tipu akalnya dan mahir menggunakan obat biusnya, untuk menghadapi Tian Pek yang masih hijau tentu mereka lebih meyakinkan daripada Hay-gwa-sam-sat.

Tian Pek tetap tidak menghiraukan, selesai membuka tali belenggu di tubuh Buyung-hujin, ia pun hendak melepaskan tali belenggu Wan-ji.....

Baru saja tangan anak muda ito akan memegang tali yang membelenggu Wan-ji, tiba2 ia menangkap suara dengusan lirih....

suara dengusan itu amat ketus dan jelas penuh rasa cemburu.

Tian Pek melengak ia tahu dengusan itu pasti suara Cuicui yang bersembunyi di balik dinding, tapi ia tak perduli, ia tetap berusaha melepaskan tali pengikat Wan-ji.

Setelah bebas dari belenggu, Buyung-hujin menggerakkan tangannya yang kaku, kemudian mengucapkan terima kasih kepada Tian Pek, lalu dengan air mata bercucuran ia membereskan jenazah suaminya, Ti-seng-jiu Buyung Ham yang mati tercincang dengan mulutnya berkomat-kamit seperti membaca doa.

Semua peristiwa itu berlangsung hanya sekejap, maka suara dengusan lirih tadi pun tidak menarik perhatian orang.

"Saudara cilik!"

Keempat dewi bunga tho mengejek sambil tertawa genit.

"untuk menyelamatkan dirimu sendiri saja masih menjadi persoalan, apakah gunanya kau urusi orang lain?"

Ketika ucapan itu tidak digubris Tian Pek, malah pemuda itu meneruskan tindakannya menolong orang, Hiang-in-huicu, pimpinan dari keempat dewi tho itu lantas melangkah maju dan merepaskan suatu pukulan dari jauh.

Angin pukulan itu lembut se-olah2 tak bertenaga, namun membawa bau harum semerbak yang menusuk hidung.

Tian Pek tak berani gegabah, ia pun mengayunkan telapak tangannya dan menyambut serangan tersebut dengan keras-lawan-keras .

"Bocah bodoh, serangan itu jangan kau sambut, cepat tutup pernapasanmu!"

Bisikan lembut menggema lagi di sisi telinga anak muda itu.

Sungguh terkejut Tian Pek demi mendengar bisikan itu, buru2 ia menutup pernapasannya, walau demikian tak urung ada sedikit bau harum yang tercium olehnya, kontan kepala jadi pening dan mata berkunang2.

Setelah pemimpinnya bergerak, ketiga dewi lainnya serentak bertindak pula, masing2 melancarkan suatu pukulan dari jauh.

Tiga gulung asap berwarna putih dengan membawa bau harum serentak terpancar ke depan dan mengurung sekujur badan Tian Pek.

Untunglah Cui-cui dengan cepat memberi kisikan sehingga anak muda itu menutup pernapasannya, kendatipun bau harum obat bius yang dipancarkan Hiang-in-huicu ada sebagian yang tercium olehnya, tapi dengan dasar tenaga dalamnya yang sempurna, sedikit ia salurkan hawa murninya, obat bubuk itu seketika dipaksa keluar dari dadanya.

Maka ketika angin pukulan yang dilancarkan ketiga orang dewi lainnya menggulung tiba, bukan saja Tian Pek tidak roboh, malahan kesadarannya jauh lebih segar.

Dengan jurus Sam-cing-yau-bun (menyapu bersib hawa iblis) Tian Pek balas dengan pukulan dahsyat ke depan.

angin puyuh disertai suara gemuruh dengan gencarnya menyapu keempat dewi cabul itu.

Tho-hoa-su-sian menjerit kaget, buru2 mereka menghindar, bagaikan kupu2 yang beterbangan di antara pepohonan mereka kabur ke sana-sini.

Berhasil dengan gerakan menghindar, delapan telapak tangan yang putih halus diayun kembali ke muka dengan lincah, empat gulung hawa berbau harum yang jauh lebih tebal kembali menyambar ke depan mengurung sekujur badan Tian Pek.

Untung Tian Pek dapat menutup pernapasannya, ia tak takut lagi menghadapi serangan kabut harum itu, ketika dilihatnya delapan buah telapak tangan halus itu menyerang ke arahnya, ia sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit, jurus kedua dari ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang segera dilontarkan.

Keempat dewi Lam-hay-bun ini memang tangguh sekalipun mereka harus menghadapi pukulan dahsyat, ternyata mereka sanggup bergerak lincah ke sana kemari, sekalipun angin pukulan itu kencang dan kuat, sekali melejit tahu2 mereka sudah terlepas dari ancaman maut.

Mereka berusaha menghindari pertarungan adu kekerasan, bila diserang mereka berkelit dan melayang mundur, setiap kali ada kesempatan bubuk pemabuk yang harum baunya segera ditaburkan.

Mereka yakin Tian Pek takkan sanggup menutup pernapasannya terlalu lama sambil bertempur, lama kelamaan anak muda itu tentu tak tahan, sutu ketika bila pemuda itu menarik napas, dia pasti akan keracunan dan jatuh tak sadarkan diri.

Mereka tak menyangka bahwa Lwekang Tian Pek berasal dari kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-pit-kit, semacam ilmu tenaga dalam yang berbeda dengan ilmu Lwekang pada umumnya, asal satu kali dia tarik napas, maka hawa murni akan beredar dengan lancarnya di dalam dada dan sanggup tahan sampai sekian lamanya.

Sebab itulah meski pertarungan telah berlangsung puluhan gebrakan, namun Tian Pek masih tetap segar bugar, jangankan pusing atau sempoyongan, gejala mabukpun sama sekali tidak ada.

Tho-hoa-su-sian mulai tercengang, sambil bertempur merekapun berpikir.

"Aneh, benar2 sangat aneh, masakah bocah ini sudah melatih diri sehingga mencapai tingkatan Kim-kong-put-hwai (ilmu kebal yang membuat badan tak rusak)? Padahal kabut pemabuk sukma yang kami gunakan adalah obat pemabuk khas dari Lam-hay.... orang lain bila kena sedikit saja akan segera pulas, tapi dia ternyata sanggup bertarung terus sekian lamanya, sungguh peristiwa yang sangat aneh!"

Dari rasa heran, keempat dewi itu jadi penasaran, karena penasaran merekapun jadi ingin menang, begitu terhindar dari suatu serangan Tian Pek, gadis tersebut segera membentak.

"Mega inginkan baju bunga inginkan tamu."

Berbareng dengan ucapan tersebut, ia pentang kedua tangan dan berjumpalitan di udara, baju luarnya yang tipis itu tahu2 sudah dilepaskan.

Dengan terlepasnya kain penutup badan, maka terlihatlahsebuah tubuh yang halus dan ber-liuk2 seperti ular.

Putih halus tubuh nona itu, payudaranya yang montok dengan garis tubuh yang mempesona, dengan langkah gemulai dan payudara yang dibusungkan, nona itu melangkah maju, gayanya sanggup membuat mendelik pendeta sekalipun.

Setelah sang Toaci lepas pakaian, Jici (kakak kedua) Hu-yong-huicu tahu encinya telah memberi komando untuk mengeluarkan barisan Lo-sat-mi-hun-tin (barisan iblis wanita pemikat sukma), dia lantas berputar dan berseru.

"Angin sejuk berembus keindahan yang menerawang muncul di depan!"

Seraya berteriak, ia lepas bajunya dan dibuang, tubuh yang indah diperagakan di depan orang banyak.

"Kalau rombongan gadis berkumpul di bukit ..."

Demikian sambung Samci (enci ketiga) Siang-hoa-huicu dengan lantang, ia sadar badan, bajunya tersingkap, pinggulnya yang putih dan gemuk dipertontonkan pula kepada Tian Pek.

Sici (enci keempat) Siau-siang-huicu cepat menyambung.

"Berkumpul di sorga ...."

Ia maju ke depan anak muda itu, melepaskan kancing baju dan membuka pakaian yang tipis itu, diperlihatkannya payudaranya yang putih montok dengan putingnya yang ke-merah2an sambil berlenggang dan berjoget.

Kebetulan Tian Pek lagi menghantam dan dada Siau-sian-huicu se-akan2 disodorkan kepadanya.

Keruan Tian Pek terkejut dan buru2 tarik kembali serangannya.

Anak muda itu terbelalak dengan mulut melongo.

Walaupun sudah banyak pertempuran seru dialaminya, belum pernah Tian Pek ketemu pertempuran yang unik ini, ia menjadi serba salah.

Begitulah, sambil bernyanyi lagi Tho-hoa-su-sian telah melepaskan bajunya satu persatu dan menari telanjang yang merangsang, tubuh yang putih, paha yang mulus, payudara yang montok dan lekukan tubuh yang indah, semua terpapar di depan mata Tian Pek, mereka tidak menyerang dengan obat bius, tapi hanya menari2 secara merangsang di hadapan Tian Pek.

Bau harum semerbak yang aneh berembus keluar dari tubuh mereka yang telanjang itu, guncangn tubuh mereka dan tarian merangsang yang dibawakan kian lama kian menggila, membuat jantung orang ber-debar2.

Dalam waktu singkat, seluruh ruangan dipenuhi oleh bau harum yang tebal ditambah pula pertunjukan tari telanjang hingga suasana di situ makin memabukkan.

Kecuali Lam-hay-siau-kun, Lam-hay-liong-li dan beberapa tokoh yang berilmu tinggi, sebagian besar kawanan jago yang hadir sudah terbuai ke alam impian yang indah, mereka terkesima menyaksikan tarian bidadari yang menawan hati itu.

Jangankan kaum pria yang memang mudah terangsaog, sekalipun Buyung-hujin dan Wan-ji juga ikut tenggelam dalam keadaan setengah sadar setelah meencium bau harum yang memabukkan.

Inilah irama Cing-peng-lok yang paling diandalkan Tho-hoa-su-sian, dengan irama maut ini sudah ratusan bahkan ribuan lelaki yang mereka tundukkan, siapa gerangan yang dapat menahan diri setelah mendengar irama merdu pembetot sukma ini?

Siapa yang tahan menyaksikan tarian merangsang dan menggairahkan itu?

Jangankan manusia biasa, manusia bajapun akan luluh imannya.

Tian Pek melongo terkesima, bukan lantaran tarpikat oleh tarian telanjang itu, ia cuma heran dan tak habis mengerti, belum pernah ia jumpai pertarungan Kungfu cara begini.

Maklumlah, pemuda ini sudah banyak menerima gemblengan, Thian-sian mo-li maupun To-li-mi-hun-toa-hoat yang paling dahsyatpun pernah dijumpai, apalagi cuma ilmu merangsang yang enteng ini, tidak nanti dapat mempengaruhi anak muda ini.

Dasar wataknya memang polos, karena keempat dara itu tidak menyerang lagi melainkan cuma menyanyi dan menari telanjang, dengan sendirinya Tian Pek sungkan menyerang lagi, iapun berhenti dan memandang tarian telanjang mereka dengan termangu2 dan tak tahu apa yang mesti dikerjakan.

"Tolol! Kenapa melamun melulu?"

Demikian tiba2 bisikan lirih tadi berkumandang lagi, mengomel sambil tertawa.

"Jangan kau anggap tarian itu indah dan boleh kau nikmati seenaknya, ketahuilah itulah Lo-sat-mi-hun-toa-tin andalan Tho-hoa-su-sian, bila tidak kau hancurkan barisan mereka, niscaya kaulah yang bakal celaka!"

Tian Pek bergidik, ia tahu Cui-cui memberi peringatan kepadanya, cepat ia tenangkan pikiran dan berusaha melepaskan diri dari pengaruh tari merangsang itu.

Setelah hawa murni dihimpun pada telapak tangan dan menyilangkan tangan di depan dada, ia membentak gusar.

"Perempuan tak tahu malu, hentikan tarian gilamu! Ketahuilah, Siauya bukan manusia rendah yang mudah dipengaruhi. Hm, bila kalian tetap nekad dan main gila begini, terpaksa Siauya tidak sungkan2 lagi....!"

Tian Pek lupa bahwa kabut beracun masih menyelimuti seluruh ruangan, dia hanya berpikir untuk berbicara dan mengancam keempat lawannya, pernapasan yang selama ini tertutup kini terbuka lantaran harus berbicara.

Bau harum itu lantas menyusup masuk hidungnya dan terisap ke dalam paru-paru, kontan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pening, ia jadi mabuk.

Sekalipun demikian, ia tetap berusaha menyelesaikan kata-katanya, lantaran itu kata terakhir menjadi tidak jelas.

Tho-hoa-su-sian cukup berpengalaman, dari keadaan Tian Pek mereka lantas tahu si anak muda sudah kecundang, tapi sewaktu mereka lihat pemuda itu masih tetap bertahan merekapun tahun racun yang bersarang di tubuhnya tidak terlampau banyak.

Serentak gadis-gadis itu menerjang ke depan, sambil goyang pinggul dan pamer dada mereka menari dengan gaya yang lebih merangsang, mereka coba mengacaukan pikiran anak muda itu.

"Ai, jangan terlalu garang, ah! Hehehehe!...."

Seru Hian-in-huicu sambil tertawa cekikikan. Hu-yong-huicu lantas menyambung sambil tertawa.

"Saudara cilik, belum pernah kau nikmati kehangatan tubuh perempuan bukan? Hayo, peganglah... hihihi...."

Dengan kerlingan yang genit, ia menggetarkan payudaranya yang kenyal itu ke depan, sengaja didekatkan payudaranya yang montok ke depan mata Tian Pek.

Bau harum khas perempuan lantas berembus dari badan gadis itu, apalagi Tian Pek belum pernah berhadapan dengan perempuan sejalang ini, ia berusaha menyalurkan hawa murninya guna melawan bau harum yang bikin hati tergoda itu, apa mau dikata, hawa murninya seolah-olah sudah punah, ia tak mampu berkutik lagi...."

Sementara itu Siang-hoa-huicu serta Siau-siang-huicu lantas merubung maju sambil goyang pinggul dan pamer dada, dalam waktu singkat anak muda itu sudah terkurung di tengah.

Tian Pek merasa kepalanya semakin pening, yang terlihat hanya dada yang montok dan paha yang mulus, kepala semakin berat dan pandangan pun kabur.....

Tangkap!"

Tiba2 Lam-hay-liong-li membentak, menyusul ia tertawa dingin dan berseru pula. Huh, tadinya kukira kau adalah seorang laki-laki sejati, tak tahunya juga sebangsa lelaki tak beriman...."

Sungguh ucapan yang menghina, jatuhnya Tian Pek adalah karena kurang hati2 sehingga dia terjebak. Sungguh tidak kepalang gusarnya, tapi apa daya? Badan terasa lemas tak bertenaga. diam2 menyesal.

"Ai, beginilah jadinya kalau kurang hati-hati akhirnya aku Tian Pek mampus di tangan kaum perempuan hina dina ini...."

"Tahan!"

Tiba2 terdengar bentakan nyaring.

"Barang siapa berani mengganggu seujung rambut engkoh Pek, segera akan kubunuh dia!"

Tian Pek berada dalam keadaan tak sadar, ia sempat mendengar dan melihat Cui-cui yang bertopeng setan telah muncul menolongnya.

"Perempuan hina!"

Terdengar Lam-hay-liong-li membentak.

"Kau mengkhianati perguruan, sekarang kau berani pula menentang perintahku. Hayo lekas menyerahkan diri atau kau minta dibekuk!"

Cui cui memberi hormat kepada Lam-hay-liong-li, katanya.

"Terimalah hormat Cui-cui, tapi ini adalah terakhir kali kuhormati dirimu, untuk selanjutnya Cui-cui telah melepaskan diri dari ikatan Lam-hay-bun....."

Terperanjat Tian Pek meski berada dalam keadaan hampir tak sadar, sungguh tak tersangka Cui-cui adalah anggota perguruan Lam-hay-bun.

"Tutup mulut!"

Terdengar Lam-hay-liong-li menghardik.

"Hm, besar amat nyalimu, berani kau bicara begitu. Hehehe, coba jawab, apa hukumannya bagi pengkhianat perguruan Lam-hay-bun?"

Gemetar Cui-cui mendengar ancaman itu, tapi segera teringat hubungan suami-isterinya dengan engkoh Pek, sedang engkoh Pek bermusuhan dengan pihak Lam-hay-bun, kalau sekarang tidak kuputuskan hubunganku dengan Lam-hay-bun, kelak pasti tak dapat hidup bersama di sisi engkoh Pek...."

Berpikir demikian, ia lantas berkata.

"Kiong-Cu, setiap manusia mempunyai cita2 dan tujuannya sendiri, jangan kau paksa diriku untuk melakukan hal-hal yang tidak kusukai. Cui-cui telah memutuskan hubungan dengan Lam-hay-bun, semoga Kiong-CU mengingat hubungan baik seperti kakakberadik dengan Cui-cui di masa lampau dan melepaskan aku."

"Hehehe, hubungan kakak-beradik?"

Jengek Lam-hay-liong-li sambil tertawa dingin.

"Jangan kau tempel emas di wajah sendiri. Huhhh! Kau hanya seorang budakku saja, lantaran aku kasihan padamu maka aku bersikap agak baik padamu. tak terduga kau lantas berbuat sesukamu, bukan saja topeng setanku kau curi, kemudian kabur tanpa pamit dan sekarang berani mengkhianati perguruan, berani juga menentang perintahku Hm, Kau harus diganjar hukuman yang setimpal.."

Cui-cui penasaran, karena Lam-hay-liong-li bersikap ketus, ia pun tidak lembut lagi, katanya kasar.

"Aku pelayanmu? Hah, enak saja kau mengoceh. Aku melayani kau lantaran ayahku numpang di rumahmu, aku berbuat demikian karena ingin membalas kebaikanmu tapi kau anggap aku ini pelayanmu? Mengenai topeng, benda itu adalah milik Suhu, setelab Suhu meninggal, beliau tiada berpesan mewariskan topeng itu kepadamu, bila kau boleh pakai, kenapa aku tak boleh.....?"

Gusar sekali Lam-hay-liong-li, dengan mata melotot ia membentak.

"Kurangajar, kau berani memberontak? Kalau tak kuhajar mampus dirimu, tak mau lagi aku menduduki tampuk pimpinan Lam-hay-bun lagi!"

Angin pukulan segera menderu2, agaknya Lam-hai-liong-li mulai berhantam dengan Liu Cui-cui.

Lamat2 Tian Pek masih sempat mendengar bagaimana Lam-hay-siau-kun berusaha melerai tapi apa yang terjadi selanjutnya tak diketahui lagi karena dia lantas kehilangan kesadarannya....

-o0o--o0o Entah sudah lewat berapa lama, tiba2 Tian Pek merasa mukanya jadi dingin, ia menggigil dan siuman kembali.

Begitu membuka mata, tahu2 ia berbaring dalam sebuah kamar yang indah, banyak orang mengerumuni sekeliling pembaringan.

Pembaringan maupun kamar itu seperti sudah dikenalnya, setelah diamati dengan lebih seksama, tahulah Tian Pek bahwa ia berada dalam kamar tidur Leng-hong Kongcu, kamar yang pernah ia tinggali selama beberapa hari ketika jiwanya ditolong Buyung-hujin dahulu.

Wajah orang2 itu kelihatan cemas dan tidak tenang, agaknya dia telah menjadi pusat perhatian orang banyak dan semua orang berharap ia cepat sadar kembali.

Di antara orang2 itu terdapat pula Buyung-hujin dan Wan-ji, yang satu duduk di depan pembaringan sedang yang lain mendekap di tepi ranjang dengan sorot mata kuatir, mereka awasi pemuda itu, air mata tampak berlinang-linang di kelopak matanya.

Liu Cui-cui tampak memegangi sebuah cawan air, rupanya dia yang menyadarkan Tian Pek dengan air dingin itu.

Ji-lopiautau beserta sekalian Piausu berkerumun di depan pembaringan, saking gelisahnya mereka gosok kepalan sambil memandang dengan penuh harap, ketika Tian Pek sadar kembali sesudah disembur air dingin, wajah mereka kontan berseri girang.

Leng-hong Kongcu yang angkuh duduk termangu2 di sudut sana, entah apa yang lagi dipikirkannya.....

Begitu sadar Tian Pek lantas melompat bangun dan berseru.

"Apa yang telah terjadi? Dimana orang Lam-hay-bun? Apakah mereka sudah kabur semua?"

"Hiante, jangan bercakap2 dulu!"

Ji-lopiautau cepat mencegah.

"kau baru sadar, atur dulu pernapasan dan periksa lukamu, urusan selanjutnya kita bicarakan pelahan2!"

"Jangan kuatir, tak apa2!"

Sela Cui-cui dari samping.

"kabut harum pemabuk Mi-hun-hiang-bu dari Tho-hoa-susian cuma bikin orang semaput dan tidak melukai orang, kalau engkoh Pek sudah sadar kembali, itu tandanya dia sudah sehat kembali..."

"Oo, engkoh Tian! Kau sudah sadar?"

Seru Wan-ji dengan muka berseri. Buyung-hujin sendiri tiada hentinya menyeka air mata, sedih dan girang bercampur aduk, bisiknya.

"Tian siauhiap! Terima kasah atas pertolonganmu, cuma suamiku.... dia...."

Meledaklah isak tangisnya yang memilukan hati.

Bibir Leng-hong Kongcu bergerak, seperti ma mengucapkan sesuatu, tapi urung.

Sementara itu Tian Pek sudah mengatur pernapasannya dan terbukti hawa murni dapat bergerak dengan lancar, ia tahu apa yang dikatakan Cui-cui, tidak salah, cepat ia melompat bangun sambil menggenggam tangan Cui-cui, serunya penuh emosi.

"Cui-cui, kuminta kau mengaku terus terang, benarkah kau anggota perguruan Lam-hay-bun?"

Sayu wajah Cui-cui, ia mengangguk pelahan.

"Kenapa tidak kau katakan sejak mula?"

Seru Tian Pek dengan marah.

Cui-cui melepaskan tangannya dari cekalan Tian Pek, ia duduk di dekat meja dan tidak bersuara.

Pada dasarnya Tian Pek adalah pemuda yang benci pada segala macam kejahatan, apalagi setelah menyaksikan betapa keji dan buasnya orang Lam-hay-bun, kemudian melihat pula kejalangan Tho-hoa-su-sian, rasa benci dan muaknya sudah bertumpuk, maka ia merasa kecewa setelah tahu bahwa Cui-cui berasal satu komplotan dengan mereka.

Bila teringat Cui-cui dan dirinya sudah ada hubungan intim sebagai suami-isteri, maka ia menjadi gelisah dan marah, ia mendengus.

"Bagus.... bagus sekali, kau berani membohongi aku....."

"Tian Hiante, jangan gusar dulu!"

Buru2 Ji-lopiautau menghiburnya.

"sekalipun nona Liu bekas anggota Lam-hay-bun, jelas dia telah menolong kau dengan mempertaruhkan jiwa raganya, dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa dia telah meninggalkan kejahatan dan menuju kebaikan."

Tapi Tian Pek sudah telanjur marah, ia tak gubris nasihat Lopiautau, dengan gusar serunya lagi.

"Aku tak peduli, pokoknva dia membohongi aku karena sejak mula tidak berterus terang padaku...."

Hati Cui-cui merasa seperti ditusuk2, akhirnya sambil menangis dia kabur keluar ruangan itu.

Cui-cui adalah nona yang tinggi hati, jangankan orang lain, sekalipun Lam-hay-liong-li yang setiap hari dilayanipun ia berani membantahnya, sekarang ia telah dimaki oleh Tian Pek dihadapan orang banyak, kejadian ini dianggapnya sangat memalukan.

Apalagi dengan mempertaruhkan jiwa-raganya ia melepaskan diri dari ikatan perguruan dan menyelamatkan jiwa Tian Pek, sekarang malahan dicaci maki oleh pemuda itu, tentu saja ia bersedih hati, tanpa bicara lagi ia kabur dari situ.

Ji-lopiautau memburu keluar, namun Cui-cui sudah kabur entah ke mana.

"Nona Liu! Nona Liu!"

Ji-lopiautau berteriak, namun tiada jawaban, tampaknya gadis itu sudah pergi jauh. Akhirnya ia balik ke dalam kamar, katanya kepada Tian Pek.

"Tian-hiante, bukannya engkoh tua suka menegur dirimu, tapi perangaimu memang terlalu terburu napsu, biarpun nona Liu berasal dari Lam-hay-bun, toh beberapa kali ia sudah menolong kita, bahkan tak segan2 memusuhi pihak perguruannya, dari situ dapat kita ketahui bahwa ia sudah bertekad meninggalkan Lam-hay-bun, pepatah bilang. Seorang laki2 sejati tak akau menghalangi orang lain bertobat dan menuju ke jalan yang benar. Tapi kau telah bersikap kasar padanya, bukankah tindakanmu itu justru akan menjerumuskan dia ke lembah kenistaan.... ?"

Sesungguhnya kemarahan Tian Pek terhadap Cui-cui bukan lantaran Cui-cui berasal dari Lam-hay-bun belaka, tapi merupakan luapan perasaan yang terpendam selama beberapa bulan berkumpul dengan nona itu.

Perkenalan Tian Pek dengan Cui-cui sebagaimana diketahui adalah lantaran gadis itu menyelamatkan jiwa pemuda itu ketika terluka, di kala itu Tian Pek hanya merasa berterima kasih tanpa sedikit perasaan cinta pun.

Kemudian gerak-gerik Cui-cui yang misterius dan serba rahasia itu pernah menimbulkan curiganya dan diam2 ia ingin meninggalkannya, tapi waktu diketahui Pedang Hijau serta kitab Soh-hun-siau-kut telah diambil gadis itu, mau-tak-mau ia mencari lagi jejaknya.

Waktu pertarungan di tepi sungai melawan Kim-hu-siang-tiat-wi mereka bertemu pula dan karena kurang hati2 mereka jatuh di dalam sampan dan mengakibatkan terjadinya hubungan tubuh yang melampauipersahabatan, sampai disitupun tiada dasar cinta yang mendalam di hati pemuda itu, apa yang terjadi itu hanya secara kebetulan saja dan karena dorongan napsu seketika itu.

Tian Pek merasa gadis itu telah mempersembahkan kesucian tubuhnya kepadanya, maka iapun tak dapat meninggalkan tanggung jawabnya dengan begatu saja, ia mengambil keputusan akan memperisteri dan menjadikan nona itu sebagai teman hidupnya.

Di sinilah terbukti kebijaksanaan Tian Pek yang mulia dan kebesaran jiwanya.

Berbeda dengan Cut-cui, ia mencintai Tian Pek dengan sepenuh hati, cinta remaja yang penuh gairah kebanyakan memang demiklan, sekali pandang lantas jatuh cinta, sekali suka lantas menyerahkan tubuhnya, untung juga dia ketemu Tian Pek, kalau ketemu pemuda bergajul, bisa jadi dia akan merenungkan nasibnya yang malang.

Kesungguhan hati Cui-cui bisa dibuktikan dengan kesediaannya berkorban untuk mengobati luka Tian Pek dengan tubuh telanjang, bagaikan ayam yang mengerami telur, setiap hari ia bertelanjang mendekapi tubuh pemuda itu serta melaksanakan terapi penyembuhan Sun-im-liau-siang.

Setelah pemuda itu sembuh, dengan bertubuh telanjang dan melakukan gerakan To-li-mi-hun-toa-hoat ia membantu Tian Pek berlatih tiga macam ilmu maha sakti yang tercantum dalam kitab Soh-kut-siau-hun-pit-kip, boleh dibilang kesuksesan Tian Pek sekarang adalah berkat bantuan Cui-cui.

Suatu ketika, Cui-cui menggoda Tian Pek dengan sepatah kata, ia berkata.

"Engkoh Pek, mulai sekarang kauharus tunduk pada segala perintahku dan tak boleh membangkang."

Sejak meninggalkan lembah bukit itulah, sepanjang perjalanan nona itu selalu membatasi ruang gerak Tian Pek.

bahkan setiap kali mempraktekkan ucapan di atas, lama-kelamaan timbul juga perasaan tak puas di dalam hati pemuda itu.

Apalagi setiap hari gadis itu mengenakan topeng setan, hal ini mendatangkan pula perasaan tak senang bagi Tian Pek.

Perasaan tak puas dan tak senang ini kian menumpuk, lama kelamaan terciptalah perasaan gemas yang tak terkendalikan.

Ji-lopiautau adalah orang luar, sudah tentu ia tak tahu perasaan muda-mudi itu, dia hanya menganggap Tian Pek yang berbuat kelewat batas.

Tapi Tian Pek tetap penasaran, dia mendengus berulang kali, anak muda ini pikir tidak pantas Cui-cui membohonginya, ia anggap dirinya sebagai suami Cui-cui, tidak sepantasnya seorang isteri membohongi suaminya.

Sementara itu Buyung-hujin berkata kepada Tian Pek.

"Nona Liu itu orang baik, kungfunya juga tinggi, tanpa bantuan nona Liu mungkin kita semua sudah mampus di di tangan perempuan sadis dari Lam-hay-bun itu!"

"Ah, belum tentu!"

Tiba2 Wan-ji menyela.

"seandainya sastrawan berbaju putih yang disebut Lam-hay-siau-kun itu tidak bentrok sendiri dengan Lam-hay-liong-li, kurasa Liu Cui-cui pun tak mampu menghadapi serangan keji perempuan itu...."

"Wan-ji, siapa suruh kau banyak mulut?"

Omel Nyonya Buyung sambil melotot.

"bukankah kau sendiripun dibekuk musuh? Untung kita ditolong nona Liu, kalau tidak ...."

"Kalau anak tidak kecundang oleh serangan gelap Tho-hoa-su-sian, jangan harap mereka bisa membekuk diriku....."

Bantah Wan-ji dengan penasaran. Melihat kedua orang itu nyaris cekcok sendiri, buru2 Ji-lopiautau mengalihkan pokok pembicaraan.

"Sudahlah, urusan yang sudah lewat biarkan lewat, apa gunanya disinggung lagi? Dewasa ini Lam-hay-bun sudah mengembangkan sayapnya ke seluruh daratan Tionggoan, mereka main bunuh dan main siksa seenaknya sendiri, kalau tidak ditanggulangi secepatnya, bisa jadi daratan Tionggoan akan jadi bukit mayat dan lautan darah, entah berapa banyak jiwa manusia lagi yang akan jadi korban ?"

Pada saat itulah tiba2 sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam ruangan, rupanya orang ini adalah paman Lui, kepada nyonya Buyung berkata.

"Lapor Hujin, kawanan cecunguk yang berkhianat dan takluk kepada pihak Lam-hay-bun sudah dibereskan semua, sisanya yang masih setia kepada Hujin sekarang berkumpul di halaman tengah, jumlahnya mencapai seratus orang lebih, mereka sedang menunggu keputusan Hujin!"

Buyung-hujin memang tak malu disebut nyonya pemuka dunia persilatan, meskipun baru saja tertimpa musibah, suaminya baru saja tewas secara mengerikan, namun dia masih tetap tenang menyelesaikan kesulitan2 yang dihadapinya.

Jilid 20 Selesai mendengar laporan itu, dia keluar untuk menemui kawanan jago yang setia, kemudian mengatur kembali jabatan serta kedudukan orang itu ....

Kesempatan ini pun digunakan paman Lui untuk menjumpai Ji-lopiautau, kemudian menyapa pula Tian Pek di pembaringan.

Kini Tian Pek memandang paman Lui sebagai sanak sendiri, ia lantas menceritakan asal-usul sendiri dan mengenai dendam berdarah ayahnya Paman Lui manggut2, akhirnya ia memperingatkan anak muda itu.

"Soal dendam memang urusan penting, apalagi dendam kematian ayahmu, tapi sekarang Buyung-cengcu sudah tewas, sebagai seorang ksatrya sudah sewajarnya kau lupakan masalah itu, yang sudah mati sudahlah, akhirilah sakit hatimu dengan berakhirnya riwayat hidup orang itu Mulai detik ini, pekerjaan terpenting yang harus kau lakukan adalah bagaimana caranya bekerja sama dengan kawan2 persilatan untuk ber-sama2 menentang kelaliman orang2 Lam hay bun, entah bagaimana pendapatmu tentang persoalan ini?"

Sambil berkata paman Lui menatap tajam wajah Tian Pek se-akan2 berusaha menembus perasaan hati anak muda itu.

Setelah Tian Pek mengangguk, legalah hati jago tua ini ia merasa terhibur karena keturunan sahabatnya ini ternyata berjiwa besar, segera ia pegang tangan Wan-ji dan Lenghong Kongcu dan menarik kedua orang itu ke depan Tian Pek, katanya.

"Mereka ini adalah putera-puteri Buyung cengcu, dendam angkatan tua biarlah ikut dibawa masuk ke liang kubur, semoga generasi sekarang ini bisa melupakan kejadian lalu dan mengikat tali persaudaraan yang lebih erat. Nah, bersahabatlah kalian lebih akrab!"

Dengan pandangan mesra Wan-ji menatap Tian Pek, sebab sejak dulu dia memang mencintai Tian Pek, dia tak tahu orang tua mereka pernah terikat permusuhan begitu, sekarang sesudah persoalannya dibikin terang oleh paman Lui, sudah tentu ia merasakan hal ini se-olah2 pucuk dicinta ulam tiba ...

Leng hong Kongcu yang angkuh lenyap kepongahannya saat itu, ia kelihatan sedikit kikuk dan tak tahu apa yang mesti dilakukan......

Tian Pek lantas ulurkan tangannya dan menggenggam tangan Wan-ji dan Leng-hong Kongcu.

Merah wajah Lenghong Kongcu, ia pun menjabat tangan Tian Pek.

Rasa girang Wan-ji sukar dilukiskan, ia menggenggam tangan Tian Pek erat2, seandainya dalam kamar itu tak ada orang lain, mungkin ia sudah menjatuhkan diri ke dalam pelukan anak muda itu.

Dengan mudah saja paman Lui berhasil mencairkan permusuhan kedua keluarga, Ji-lopiautau dan kawanan Piausu lainnya ikut mengucapkan selamat.

Di antara sekian banyak orang, paman Lui kelihatan paling gembira, ia tertawa ter-bahak2, tapi tiba2 air mata bercucuran, ia menangis terisak dengan sedihnya ....

Kelakuan aneh paman Lui ini kontan saja bikin orang melengak, dengan heran mereka mengawasi orang tua itu.

Kebetulan Buyung-bujin telah kembali, ia lihat paman Lui tertawa tergelak kemudian menangis sedih, mau-takmau iapun melongo heran.

"Saudara Lui,"

Cepat tegurnya.

"orang suka mengejek dirimu sebagai si sinting, jangan2 kau ngahannya saat itu, ia kelihatan sedikit kikuk dan tak tahu apa yang mesti dilakukan...... Tian Pek lantas ulurkan tangannya dan menggenggam tangan Wan-ji dan Leng-hong Kongcu. Merah wajah Lenghong Kongcu, ia pun menjabat tangan Tian Pek. Rasa girang Wan-ji sukar dilukiskan, ia menggenggam tangan Tian Pek erat2, seandainya dalam kamar itu tak ada orang lain, mungkin ia sudah menjatuhkan diri ke dalam pelukan anak muda itu. Dengan mudah saja paman Lui berhasil mencairkan permusuhan kedua keluarga, Ji-lopiautau dan kawanan Piausu lainnya ikut mengucapkan selamat. Di antara sekian banyak orang, paman Lui kelihatan paling gembira, ia tertawa ter-bahak2, tapi tiba2 air mata bercucuran, ia menangis terisak dengan sedihnya .... Kelakuan aneh paman Lui ini kontan saja bikin orang melengak, dengan heran mereka mengawasi orang tua itu. Kebetulan Buyung-hujin telah kembali, ia lihat paman Lui tertawa tergelak kemudian menangis sedih, mau-takmau iapun melongo heran.

"Saudara Lui,"

Cepat tegurnya.

"orang suka mengejek dirimu sebagai si sinting, jangan2 kau memang benar2 sinting? Masa sudah tua begini, bisa2nya kau tertawa sambil, menangis?....."

Sambil menyeka air matanya yang bercucuran paman Lui lantas menerangkan hal ikhwal hubungan antara ayah Tian Pek dengan Buyung-cengcu akhirnya ia menambahkan.

"Enso selama ini kau mengganggap diriku sebagai saudara sendiri, sedang aku dengan ayah Tian hiantit adalah sahabat sehidup semati, mengapa aku tak boleh tertawa bila usahaku mencairkan dendam antara kedua keluarga ini berhasil? Dan kenapa aku tak boleh menangis karena aku merasa tak bisa membalaskan dendam bagi kematian saudara In-thian?"

Tiba2 Buyung-hujin memeluk Tian Pek dan menangis pula dengan sedihnya. Kali ini paman Lui yang dibikin bingung, ia berusaha untuk menghibur nyonya itu, katanya.

"Enso, baru saja kau mengatakan diriku sinting jangan2 kaupun ketularan penyakitku? Apa sebabnya kau ikut menangis?"

Sambil menahan rasa sedih Buyung-hujin menyahut.

"Sampai detik ini baru kutahu peristiwa pembunuhan yang terjadi waktu itu adalah hasil perbuatannya.... O, tahukah kalian bahwa Tian siauhiap sebenarnya adalah keponakan keluarga ibuku?"

Kiranya nyonya Buyung berasal dari marga Tian, dia adalah saudara sepupu Pek lek-kiam Tian In-thian, maka hubungan mereka boleh dikatakan sangat dekat sekali. Tiba2 Ji lopiautau berkata.

"Ai, begitulah dendam dan budi yang sering terjadi di dunia persilatan, segala sesuatu sukar diraba dari famili bisa menjadi musuh, bisa pula musuh berubah menjadi sanak keluarga sendiri . .."

Seperti teringat akan sesuatu, jago tua ini lantas berpaling ke arah Buyung-hujin dan berkata lagi.

"Kemarin malam, ketika aku menyusup ke gedung ini tanpa sengaja aku tersesat ke sebuah taman, pada sebuah tempat di taman itu kulihat seorang gadis disekap di situ, entah siapakah anak dara itu? Kenapa dia disekap ... .?"

"Ai, itulah dia enciku!"

Teriak Wan-ji sebelum Ji-lopiautau menyelesaikan kata2nya.

"Ya, dia anak Hong!"

Seru Buyung-hujin dengan cemas.

"Dia disekap di sana oleh setan tua itu. Untung Ji-lopiautau mengingatkan, kami sendiri telah melupakannya, Hayo cepat kita ke sana dan membebaskan dia. Ai, entah betapa penderitaan yang dialami bocah itu ..."

Habis berkata, tanpa menunggu orang2 lain ia lantas memburu keluar lebih dahulu.

Wan-ji, Tian Pek, paman Lui serta Ji-lopiautau sekalian segera menyusul dari belakang, dengan gerak tubuh beberapa orang itu, dalam waktu singkat mereka telah berada di taman sana, bangunan gedung yang sunyi sepi terbentang di depan.

Buyung Hong yang pucat masih berdiri di balik terali besi sambil bersenandungkan syair Tiang-siang-si karya Li Pek, suaranya lirih dan memilukan hati.

Buyung-hujin tak sanggup menahan kepiluan hatinya menyaksikan keadaan puterinya yang mengenaskan, sambil menahan isak tangisnya ia berseru.

"Anak Hong, ibu datang menolong kau ..."

Tian Pek melayang ke depan pintu.

"Trang,"

Gembok yang amat besar itu segera terpapas patah, pintu gedung didobrak secara paksa.

Ketika pemuda itu melayang masuk ke dalam ruangan, Buyung Hong berdiri terbelalak dengan melongo, lama sekali ia menatap Tian Pek tanpa berkedip, anak dara itu merasa se-olah2 berada di dalam mimpi, selang sesaat kemudian baru ia menubruk ke dalam pelukan Tian Pek dan menangis tersedu-sedan.

Keadaan Buyung Hong memang mengenaskan rambutnya yang panjang terurai dalam keadaan awut2-an, meskipun berada dalam pelukan Tian Pek, namun suara tangisannya yang memilukan cukup membuat orang lain ikut melelehkan air mata terharu.

Semua orang merasa Ti-seng-jiu Buyung Ham kelewat keji, sampai2 puteri kandung sendiripun ia perlakukan sekejam itu, manusia macam begini memang pantas kalau mati.

Sementara itu Buyung-hujin berdiri tertegun dengan perasaan tak keruan, maklum di hadapan orang banyak puterinya Itu bukan saja tidak menggubrisnya, tapi malahan menubruk ke dalam pelukan Tian Pek, sebagai seorang ibu bagaimanakah perasaannya?

Ia merasa, tidaklah pantas kalau seorang gadis perawan berada terus dalam pelukan seorang laki2, cepat ia menarik tangan Buyung Hong seraya berseru.

"Nak, semuanya ini salah ibu, gara2ku kau harus disekap ayahmu sekian lama....."

Buyung Hong terus menubruk ke dalam pelukan ibunya dan menangis tergerung, seluruh siksa deritanya selama ini se-olah2 hendak dilampiaskan.

Setelah dihibur banyak orang, perlahan Buyung Hong baru berhenti menangis, kemudian dipayang oleh Buyung-hujin dan Wan-ji menuju ke ruang depan, Wan-ji disuruh menemani encinya membersihkan badan dan ganti pakaian, Buyung-hujin menarik paman Lui ke sudut ruangan, kedua orang tua itu tampak berunding sesuatu.

Tampak paman Lui manggut2, bahkan sambil bertepuk dada ia berjanji akan melakukan tugas itu.

Tugas apa?

Tak ada yang tahu ..Kiranya Buyung-hujin memohon paman Lui agar suka menjadi comblang bagi puterinya, nyonya itu ingin menjodohkan puteri sulungnya kepada Tian Pek, sebab ia cukup memahami perasaan puterinya, apalagi setelah adegan yang berlangsung dalam pertemuan tadi, di mana gadis itu menubruk ke dalam pelukan Tian Pek, ia tahu puterinya akan bergairah kembali apabila dikawinkan dengan pemuda itu, sebab itulah ia minta tolong kepada paman Lui untuk mengikat tali perkawinan kedua muda-mudi itu.

Ketika berita gembira itu disampaikan oleh paman Lui kepada Tian Pek, pemuda itu merasa tak dapat menampik pinangan tersebut dengan begitu saja, pertama karena mereka pernah saling bertelanjang bulat akibat pengaruh irama seruling.

Ke dua, peristiwa menangisnya anak dara itu dalam pelukannya tadi, ketiga, ia menaruh rasa simpati dan kasihan pada anak dara itu dan keempat, baru saja ia cekcok dengan Liu Cui cui, ditambah pula dia harus memberi muka kepada paman Lui, oleh sebab itulah dia mengangguk tanda setuju Tian Pek lupa, dengan tindakannya ini meskipun ia telah menggirangkan hati Buyung Hong, tapi justeru ia telah melukai perasaan seorang gadis lain dan gadis itu tak lain tak-bukan adalah Tian Wan ji.

Waktu itu Wan ji sedang menemani encinya membersihkan badan dan tukar pakaian, ketika kembali ke ruang depan dan mendengar kabar tersebut, hancurlah perasaannya, kini encinya akan menjadi bakal isteri satu2nya orang yang dicintainya.

Dengan hati yang remuk redam diam2 tanpa sepengetahuan orang lain Wan-ji berlalu dari gedung itu.

"Tentu saja sebagai adik tak mungkin baginya untuk berebut pacar dengan kakaknya sendiri namun ia pun tidak tahan menyaksikan perkawinan yang akan menghancur-lumatkan hatinya ini, ia pikir bila bunuh diri di rumah, hal ini hanya akan merepotkan ibunya belaka, maka sesudah berpikir akhirnya dia mengambil keputusan untuk minggat. Begitulah, ketika upacara penguburan jenazah Buyung-cengcu selesai dan semua orang mempersiapkan pesta perkawinan antara Tian Pek dan Buyung Hong, saat itulah semua orang baru tahu Wan ji telah lenyap tak berbekas, semua orang lantas men-duga2 apa sebabnya anak dara itu pergi tanpa pamit. Di antara sekian banyak orang, hanya Tian Pek seorang yang mengerti, ia tahu gadis itu meninggalkan rumah tanpa pamit adalah lantaran dirinya. Beberapa kali Wan-ji pernah mempertaruhkan jiwanya untuk menolong dirinya, pemuda itu tahu Wan-ji adalah seorang gadis polos yang belum punya pengalaman apa2 dalam dunia persilatan, apabila membiarkan gadis itu berluntang-lantung sendirian di dunia persilatan, sudah pasti jiwanya akan terancam. Sebagai seorang pemuda yang berjiwa ksatria. apakah nanti Tian Pek bisa tenang menikmati bulan madunya. Setiap kali berduaan dengan Buyung Hong pikirannya lantas melayang memikirkan keselamatan Wan ji. Lama kelamaan ia jadi tak tahan, akhirnya ia berunding dengan Buyung Hong untuk mengundurkan perkawinannya, malahan iapun minta pertimbangan Buyung-hujin dan paman Lui tentang niatnya akan keluar mencari Wan ji. Kebetulan Ji-lopiautau juga hendak pamit untuk mencari barang kawalannya yang hilang, sebab sewaktu orang2 Lam-hay-bun meninggalkan Pah-to-san-ceng, mereka telah membawa pula barang begalannya. Paman Lui juga kuatir membiarkan Tian Pek dan Buyung Hong melakukan perjalanan sendiri, akhirnya diputuskan mereka berempat berangkat bersama. Dengan memilih empat ekor kuda jempolan, berangkatlah mereka meninggalkan perkampungan Pah-to-san-ceng, tapi kemanakah mereka harus pergi? Dunia tidak selebar daun kelor, mencari jejak seorang di dunia seluas ini boleh bilang ibaratnya mencari sebiji jarum di tengah samudera, ke mana mereka menuju? Menurut perkiraan Tian Pek, Wan-ji hanya pernah mengunjungi kota Lam-keng serta daerah di sekitarnya seperti "duabelas gua karang", apalagi di tempat itu terdapat pula lembah Bong-hun-kok yang sangat rahasia letaknya, gadis itu pernah belajar silat selama beberapa bulan pada Sin-kau Tiat Leng, siapa tahu kalau anak dara itu bersembunyi di sana? Mendengar penuturan tersebut, paman Lui merasa ada kemungkinan betul dugaan itu, apalagi Ji-lopiautau tiada tujuan tertentu dalam usaha pencarian harta kawalannya, maka diputuskan mereka berempat berangkat ke Lam keng. Dari Ce-lam keempat orang itu berangkat menuju Lamkeng, ketika melalui propinsi Kangsoh dan Soatang, sepanjang jalan mereka temukan di mana2 orang mengenakan lambang perguruan Lam hay-bun, selain itu merekapun sempat mendengar beberapa pantun yang sedang populer di dunia persilatan dewasa itu. Pantun itu sangat populer sehingga anak kecil-pun ikut menyanyikannya di mana2. Begini bunyi pantun itu.

"An lok Kongcu yang romantis kini tak romantis, Siang-lin Kongcu yang hangat kini jadi dingin, Toan-hong yang luntang lantung kini ada pemiliknya, hanya naga sakti dari Lam-hay tetap jaya."

Dulu, sewaktu masa jayanya keempat Kongcu dunia persilatan ada pantun yang mengatakan.

"An lok Kongcu paling romantis, Siang-lin Kongcu paling hangat, Toan-hong Kongcu luntang-lantung tanpa tujuan, Leng-hong Kongcu tak punya perasaan", maka sekarang pantun itu merupakan kebalikannya, cuma Leng-hong Kongcu tidak dicantumkan lagi namanya. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kekuasaan empat pemuka dunia persilatan telah punah, sekarang pangeran naga sakti dari Lam-hay-bun yang berkuasa, ini terbukti dari akhiran pantun yang berkata.

"Hanya naga sakti dari Lam-hay tetap jaya!"

O oO 0O0 Oo o Menjelang senja, Tian Pek berempat masih melanjutkan perjalanan di suatu tanah perbukitan yang tandus dan sepi, meskipun udara mulai gelap, namun mereka masih berada jauh dari kota.

Pada saat itulah, mendadak di kejauhan tampak kilatan cahaya api menjulang tinggi ke angkasa di atas bukit di depan sana.

Kobaran api itu besar sekali, di tengah remangnya cuaca, cahaya api yang memancar itu tampak amat menyolok.

Angin berhembus kencang saat itu, api yang sedang berkobar dengan besarnya dengan cepat merambat ke daerah sekelilingnya, dalam waktu singkat hampir separuh bukit sudah terjilat api, dipandang dari kejauhan, kebakaran itu se-olah2 seekor naga api yang mendekam di punggung bukit.

Diam2 Tian Pek mengamati tempat kebakaran itu, mendadak ia menjerit kaget seraya berseru.

Baca Juga: Rahasia Ciok Kwan Im 3

Baca Juga: Renjana Pendekar 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert