Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 8

Eps 8 Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Baca online Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Cersil Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung.

Sebenarnya Hong-lay-su-koay tidak memperhatikan Bok Jisia, tapi setelah pemuda itu berdiri perkasa di sana, dengan mata yang buta sebelah keempat manusia aneh itu bersama-sama memperhatikan dia sekejap.

Selang sejenak Liok Ciu baru tertawa terkekeh-kekeh sambil menegur.

"Berapa besar kehebatanmu? Berani betul mencari gara-gara padaku!?"

"Tidak terlalu hebat, tapi cukup untuk hajar adat padamu!"

Jawab Ji-sia.

Tepuk tangan riuh rendah menyambut ucapan tersebut, jelas perkataan Ji-sia itu telah melampiaskan rasa mendongkol para kesatria Tionggoan.

Diam-diam Lamkiong Hian juga manggut-manggut, katanya kemudian sambil tertawa.

"Bok-lote, kau memang hebat! Aku siap di belakangmu!"

"Su-toa-tocu siap pula ambil bagian!"

Serentak keempat Tocu keempat pulau besar berseru.

Melihat semua jago mendukungnya untuk menentang musuh bersama, Bok Ji-sia berpaling dan tertawa.

Tertawanya membuat Hu Sim-jin, si sastrawan misterius itu, menunduk dengan jantung berdebar.

Nona berbaju biru menepuk bahu Hu Sim-jin, katanya kemudian.

"Pihak Hek-liong-kang juga bersedia membantu saudara Bok!"

Situasi dalam arena segera mengalami perubahan, para jago dari berbagai perguruan sama tampil ke depan, mereka melupakan dendam pribadi untuk sementara waktu dan bersama-sama menghadapi musuh dari luar.

Hanya pihak Thian-seng-po tidak memberi komentar apa-apa, mereka memandang ke arena dengan sikap tak acuh.

Ji-sia berpekik nyaring, mendadak ia melambung ke udara dan menubruk ke depan.

Tapi baru saja melambung ke atas, Ji-sia lantas terkesiap, karena saat itulah tenaga pukulan yang sangat kuat telah menekan tubuhnya, tenaga pukulan itu datang tanpa menimbulkan suara, ia terkejut bercampur gusar.

Terdengar Liok Tong tertawa terkekeh-kekeh, lalu berseru.

"Bocah cilik, kalau tak takut mampus ayo maju kemari!"

"Kau kira aku tak berani?"

Jawab Ji-sia sambil menyeringai. Sinar bengis terpancar dari mata Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, dia sengaja mengadu domba.

"Benar, masa Bok-tayhiap takut menghadapi pertarungan semacam ini? Hahahaha ...."

Ji-sia sangat mendongkol, dengan gemas ia mendamprat.

"Keparat yang tak tahu malu, kubinasakan kau lebih dahulu!"

Sekali lagi ia melambung ke udara dan hendak menubruk ke depan.

Tapi baru saja tubuhnya bergerak, mendadak ia merasakan sebuah telapak tangan raksasa menekan bahunya ....

Dengan terkejut buru-buru ia merendahkan tubuh dan berganti gerakan, telapak tangan kirinya menangkis ke atas dan balas mencengkeram telapak tangan raksasa yang sedang menekan bahunya itu.

"Saudara Bok, dia ayahku!"

Mendadak Lamkiong Giok berteriak.

Ji-sia tertegun, cepat ia menarik kembali serangannya dan melompat mundur, tampak Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum.

Dengan perasaan tak senang Ji-sia segera menegur.

"Cianpwe, sebenarnya apa maksudmu menghalangi diriku?"

Coba kalau ia tidak bersahabat dengan Lamkiong Giok, tak nanti Ji-sia akan bersikap begitu menghormat kepadanya. Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, Bok-lote, sukar menyerang ke atas, kenapa tidak gempur yang di bawah?"

Ji-sia merasa benar juga perkataan ini, kalau Hong-lay-su-koay yang berada di atas susah diterjang, kenapa panggung Kim-leng-tay itu tidak dirobohkan lebih dulu?

Berpikir demikian, ia siap untuk turun tangan.

Tiba-tiba si nona baju biru mendengus.

"Lamkiong Hian, meskipun bagus jalan pikiranmu, sayang susah untuk diwujudkan."

"Anak perempuan, memangnya berapa luas pengetahuanmu? Berani mengkritikku?"

Hi-kan -tocu, Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek segera tertawa dingin, katanya.

"Aku tidak percaya panggung sekecil Kim-leng-tay bisa menyusahkan diriku ...."

Sambil berkata telapak tangannya segera menghantam.

Tapi dengan cepat ia menjerit tertahan, lalu menyurut mundur dengan terperanjat, telapak tangan kanannya tiba-tiba membengkak, peluh dingin bercucuran.

Peristiwa ini membuat para jago terkesiap, sebab Su-toa-tocu sudah lama termashur di dunia persilatan, Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek juga terhitung pentolannya Su-toa-tocu, tapi kenyataannya sekarang tanpa menimbulkan suara ia sudah dilukai begitu rupa, dari sini semua orang mulai sadar tenaga dalam mereka masih jauh ketinggalan, rasa kuatir dan cemas mulai menghiasi wajah mereka.

Bayangan manusia berkelebat, Su-toa-tocu serentak berdiri berjajar di depan panggung Kim-leng-tay dan melotot pada keempat manusia aneh dengan penuh kegusaran.

"Bagaimana Lamkiong Hian? Betul tidak ucapan nonamu?"

Seru si nona berbaju biru sambil tertawa.

Sekarang Kiam-hong cengcu Lamkiong Hian baru sadar bahwa gadis baju biru dari Hek-liong-kang ini betul-betul memiliki kecerdasan yang melebihi orang lain.

Setelah tersenyum, iapun bertanya.

"Lantas bagaimana menurut pendapat nona?"

"Pertempuran yang bakal terjadi ini adalah pertarungan untuk menentukan mati hidupnya dunia persilatan, sekali pun nona berdiam di Hek-liong-kang, tapi sekarang kami beradanya di Tionggoan, berarti aku terhitung pula jago Tionggoan, bila kalian percaya padaku...... bagaimana kalau turut cara kerjaku? Entah bagaimana pendapat Toa-cengcu?"

Kini semua jago sama bungkam, mereka ingin tahu apa jawaban Lamkiong Hian.

Hong-lay-su~koay yang berada di atas Kim-leng-tay hanya tertawa dingin sambil mengawasi jago-jago di bawah, sedangkan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat yang mendampingi keempat manusia aneh itu beberapa kali membisikkan sesuatu, lagaknya seperti seorang penasehat.

Meski Lamkiong Hian merasa terkejut, namun ia tidak menunjukkan perubahan apa-apa, ia tertawa dan berkata.

"Aku sangat kagum pada nona dan bersedia mendengarkan petunjukmu!"

Nona baju biru itu tertawa dingin, lalu putar badan dan melangkah pergi. Sampai di hadapan Bok Ji-sia, tiba-tiba ia bertanya.

"Bagaimana pendapatmu?"

Ji-sia tertawa dingin lalu putar badannya dan berdiri.

Tapi baru saja tubuhnya berputar, ia bentrok pandang dengan Hu Sim-jin yang berada di belakang si nona baju biru itu.

Hati bergetar, buru-buru ia mengalihkan sorot matanya ke arah lain, namun tetap termenung karena adu pandang yang baru terjadi ini, siapakah dia?

Kenapa mukanya seperti sudah dikenalnya?

Hu Sim-jin sendiripun tertegun, tapi dengan cepat sikapnya pulih kembali seperti biasa, ia ikut di belakang nona baju biru itu dan berlalu.

Setibanya kurang lebih dua tombak di depan panggung Kim-leng-tay baru nona itu berhenti sebelum membenahi rambutnya yang kusut, nona baju biru itu menoleh dan memandang sekejap H u Sim-jin, Pek Bi dan Pak Sat yang berada di belakangnya, kemudian memutar tubuh kembali.

Hong-lay-su-koay yang berada di atas panggung berdiri dengan wajah dingin dan hambar, dengan sorot mata tajam mereka awasi si nona baju biru yang tersohor karena kecerdasan otaknya itu.

Nona baju biru itu tersenyum ke atas panggung, kemudian maju dua langkah lagi ke depan.

"Nona tampil ke muka, memangnya ingin mencari nama?"

Ejek Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat. Nona berbaju biru itu tertawa.

"Rase tua, dengan mengundang Hong-lay-su-koay ke sini, apa rencana busukmu?"

"Rencana memang ada, sayang bukan atas keinginanku sendiri!"

Jawab Oh Ku-gwat sambil tertawa terkekeh. Lotoa dari Hong-pay-su-koay Liok Cun, segera berseru.

"Oh-lotoa, katakan saja terus terang kepada mereka!"

"Huh, sekalipun ia tidak mengatakannya, nonamu juga bisa menebak!"

Seru si nona baju biru.

Agak terkejut juga Hong-lay-su-koay mendengar gadis itu bicara dengari mantap, Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat juga menunjuk wajah tak percaya, ia tak percaya nona berbaju biru itu bisa menerka hal-hal yang belum terjadi.

Dengan suara dingin Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat segera berkata.

"Meskipun kau seorang perempuan jenius yang jarang dijumpai, tapi ... hahaha, kalau tidak kukatakan sendiri, masa kau bisa menebaknya!"

Mendadak terdengar seseorang mendengus.

"Hai, belum tentu."

Sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu di tengah arena telah bertambah satu orang. Melihat orang itu, hati Ji-sia bergetar, ia memburu maju dan berseru.

"Ku-cianpwe, kaupun datang!"

Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak memandang sekejap pemuda itu, lalu bisiknya.

"Bok-lote, kau kira kita tak dapat berjumpa lagi?"

Gusar Hoa Hong-hui menyaksikan kemunculan Siau-yausian-hong-khek Ku Thian-gak, sekali lompat ia berdiri di hadapannya.

Ji-sia segera ayun telapak tangan kirinya menghantam Hoa Hong-hui, Sambil menahan tubuhnya, Hoa Hong-hui menegur marah.

"Bok Ji-sia, apa maksudmu?"

"Jangan bertindak kurangajar terhadap Ku-lo-cianpwe!"

"Tak perlu kau campur urusan kami ...!"

Teriak Hoa Hong-hui semakin gusar. Ji-sia naik pitam, sambil tertawa dingin kembali ia melancarkan serangan, tapi tangannya segera dicengkeram orang.

"Bok-tayhiap!"

Terdengar Ku Thian-gak berbisik dengan pedih.

"aku betul-betul mempunyai kesulitan yang tak bisa diterangkan, harap engkau jangan mencampuri urusan kami."

Ji-sia tertegun, dengan bimbang dan tak habis mengerti terpaksa ia mengundurkan diri.

Terhadap sikap Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak yang rela menerima hinaan tersebut, ia betul-betul heran.

Bukan hanya dia, kawanan Jago yang hadir juga cuma beberapa orang saja yang mengetahui hubungan Hoa Hong-hui dengan Ku Thian-gak.

Dengan perasaan bangga Hoa Hong-hui segera menegur.

"Ku Thian-gak, siapa yang suruh kau datang kemari?"

Sikapnya yang sombong menimbulkan perasaan tak senang dalam hati para jago, siapapun tak tahan menghadapi sikap semacam itu, tapi Siau-yau-sian-hong-khek masih tetap tenang.

Sambil tertawa sedih jawab Ku Thian-gak.

"Peristiwa yang terjadi hari ini menyangkut keselamatan seluruh umat persilatan, demi keamanan dunia persilatan, terpaksa aku harus melanggar larangan dan menyumbangkan tenagaku yang terakhir demi kesejahteraan umat persilatan."

Kata-kata yang gagah perkasa ini memancing sorak gemuruh dari para hadirin.

Air muka Hoa Hong-hui berubah menjadi pucat, baru saja ia akan mengumbar amarahnya, tiba-tiba ia lihat nona berbaju biru itu sedang melotot gusar ke arahnya, dengan ketakutan cepat ia mundur ke belakang.

Ia tahu kemarahan orang banyak tak bisa ditahan, maka sambil menyeringai ujarnya.

"Mengingat kesetiaanmu, untuk sementara tuan muda tak akan mencampuri urusanmu."

Tampaknya Hong-lay-su-koay tak sabar menyaksikan percekcokan itu, segera Liok Tong berseru.

"Oh-lotoa, apa yang telah kukatakan padamu?"

"Harap Cianpwe jangan gusar, segera akan kuumumkan kepada mereka,"

Cepat Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menjawab. Setelah putar badan, dengan suara lantang dia berseru ke bawah panggung.

"Selama ini dunia persilatan hanya terdiri dari kelompok-kelompok kecil dan jarang diadakan pertemuan besar, oleh sebab itu Hong-lay-su-lo beranggapan bahwa dunia persilatan harus mempunyai seorang pemimpin yang diagungkan umat persilatan .... maka dalam pertemuan ini bukan saja kita akan saling mengukur kepandaian masing-masing, kita pun akan mencari seorang yang luar biasa untuk dijadikan Bengcu ....."

Setelah tertawa, ia melanjutkan.

"Jumlah orang yang boleh mengikuti pertarungan ini tidak terbatas, tapi setiap perguruan hanya boleh mengikut satu orang, sebelum naik panggung Kim-leng-tay ini, mereka akan diperiksa dulu kepandaiannya oleh Su~lo, dan setelah naik ke Kim-leng-tay, maka dia harus bertanding!"

Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak mendengus.

"Hm, Oh Ku-gwat, kukira tujuanmu bukan cuma ini saja bukan?"

"Tak perlu banyak omong, kalau merasa punya kepandaian silakan naik ke atas panggung!"

Ejek Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat.

Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak tertawa nyaring, ujung baju mengebas hingga menimbulkan angin keras, segera ia melompat ke atas panggung Kim-leng-tay.

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian berpaling dan memandang sekejap kepada putra kesayangannya, lalu berbisik.

"Anak Giok, kau duduk di sini, aku akan naik ke atas untuk menjumpai jago-jago lihai tersebut!"

Habis berkata, sekali berkelebat tahu-tahu ia sudah berdiri di atas panggung.

Waktu itu Lamkiong Giok sudah merasa sehat, meski iapun ingin menjajal kepandaian Hong-lay-su-koay, akan tetapi berhubung ayahnya telah memberi pesan, terpaksa dengan perasaan kesal ia duduk menunggu di dalam barak Kiam-hong ceng.

Bayangan manusia berkelebat, Su-toa-tocu telah naik pula ke atas panggung disusul oleh Kun-tun Cinjin dan Si-hun-koay-sat-jin sekalian yang masing-masing menempati satu sudut panggung.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian yang sejak tadi hanya diam tampaknya tergerak juga hatinya, ia memandang sekejap kawanan jago di belakangnya, lalu dengan enteng melompat ke atas panggung Kim-leng-tay.

Tiba-tiba terdengar Thian-kang-kiam Oh Ku gwat berseru sambil menuding Su-toa-tocu.

"Dari pihak Su-toa-to hanya boleh di wakili seorang, kenapa kalian berempat naik bersama?"

Tun-bu-tocu Ay-te-liong (si naga cebol) Yau Tong-seng menjawab dengan tertawa.

"Meski empat pulau merupakan satu keluarga, tapi kami masing-masing menempati sebuah pulau tersendiri, sepantasnya keempat pulau berhak turut dalam pertemuan ini!"

"Banyak atau sedikit juga sama saja, biarkan saja mereka berada di sini,"

Kata Liok Ciu dari Hong-lay-su-koay.

Ketika Ji-sia melihat semua jago kenamaan dunia persilatan hampir hadir seluruhnya, berkobar semangat ksatrianya, sambil berpekik nyaring ia terus melompat ke atas panggung.

"Kenapa dari pihak Hek-liong-kang tak ada yang turut seria?"

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat segera menegur.

Tiba-tiba dari setelah belakang terdengar suara tertawa sinis, dengan kaget Oh Ku-gwat berpaling, entah sejak kapan ternyata si nona berbaju biru sudah berada di belakangnya.

Sambil tertawa nona baju biru itu berkata.

"Pertemuan besar yang sukar dijumpai dalam seratus tahun ini masa tidak diikuti oleh Hek-liong-kang?"

"Asal nona ikut turun tangan, kemenangan pasti berada di pihak kita!"

Ucap Lamkiong Hian sambil mengelus jenggot. Nona berbaju biru itu menggeleng kepala.

"Kesempatan untuk menang hanya setengah-setengah, kita jangan bergembira dulu."

Air muka setiap orang yang berada di panggung sama berubah demi mendengar perkataan nona berbaju biru ini, dengan sorot mata gusar mereka menatap wajah Hong-lay-su-koay.

Hong-lay-su-koay yang semuanya bermata satu melirik sinis dengan sikap jumawa.

"Hai, lihat!"

Tiba-tiba seseorang berteriak.

Kawanan jago serentak memandang ke bawah kaki masing-masing dengan perasaaa terkesiap, ternyata di situ terdapat beberapa baris tulisan.

Wajah Bok Ji-sia berubah kelam setelah memandang ke bawah, diam-diam tenaga dalamnya dihimpun dan siap melancarkan serangan.

Alis si nona berbaju biru pun bekernyit, sekujur tubuh gemetar.

Jelas tulisan yang tertera di lantai itu menyangkut hubungan yang amat besar dengan kedua orang ini, kalau tidak, tak nanti mereka bersikap demikian.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian yang sejak tadi bersikap tenang pun kini ikut terkejut, tapi segera iapun tahu kenapa hari ini Toakonya mengundang kehadiran Hong-lay-su-koay untuk memusuhi dirinya.

Para jago lain meski juga diliputi rasa tercengang, tapi mereka sama bersikap seolah-olah memang melihat orang lain ketimpa bencana, malah dari balik mata mereka terpancar sinar kerakusan.

Nona baju biru itu menghela napas lalu berkata.

"Tak kusangka hanya dikarenakan dua macam benda ini kalian berempat kakek yang hampir mampus juga kemaruk akan memilikinya."

Liok Cun, Toakoay dari Hong-lay-su-koay terkekeh-kekeh.

"Ruyung dan kitab merupakan benda mestika dunia persilatan, sekalipun kami empat bersaudara tinggal jauh di Hong-lay, kabar ini juga sudah lama kudengar, setelah datang sekarang, tentu saja kami takkan kembali dengan bertangan kosong!"

Sambil menepuk ruyung Jian~kim-si-hun-pian yang berada di pinggangnya, Bok ji-sia tertawa panjang, katanya.

"Ruyung mestika berada di pinggangku, kalau kalian berempat kakek tua bangka punya kemampuan, ayo coba rampas sendiri!"

Seraya berkata ia melangkah maju, tangan direntangkan dan siap melangsungkan pertarungan melawan Hong-lay-su-koay. Nona berbaju biru mendengus.

"Meski kitab pusaka Hek-liong-kang tidak berada padaku, tapi asal kalian berempat siluman sanggup mengalahkan kami, tempat penyimpanan kitab akan nona beritahukan."

Pada saat itulah secara diam-diam Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat mengeluyur pergi meninggalkan panggung Kim-leng-tay, tak seorang pun yang mengetahui kepergiannya itu, sebab para jago hanya tahu Hong-lay-su-koay adalah musuh yang tangguh, maka segenap perhatian mereka dicurahkan kepada keempat siluman tua itu.

Berputar biji mata Liok He yang tinggal satu itu, kemudian terbahak-bahak.

"Hahaha, bagus, bagus! Soal ruyung dan kitab sudah ada pertanggungan jawab, sekarang tinggal pemegang sarung ruyung Jian-kim-si-hun-pian yang belum mengemukakan pendapatnya!"

Entah ucapan ini langsung ditujukan kepada Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, sorot mata semua orang pun tanpa terasa sama dialihkan ke wajah Oh Kay-thian, siapa pun tak menyangka sarung ruyung Jian-kim-si-hun-pian telah jatuh ke tangannya.

Sejak sarung ruyungnya lenyap, Bok Ji-sia berulang kali melakukan penyelidikan tanpa hasil, ia tak menyangka akhirnya berhasil menemukannya dengan cara semudah ini.

Dengan melotot ia membentak marah.

"Ok Kay-thian, bangsat kau! Ayo serahkan kembali padaku!"

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tahu Toakonya yaitu Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat telah mengkhianatinya demi mendapatkan sarung ruyung mestika tersebut, dasar keji dan culas, ia tidak memperlihatkan perasaannya.

Dengan hambar ia berkata.

"Siapa yang memegang mestika itu, dialah pemiliknya, begitu bukan Bok-lote? Betul sarung ruyung tersebut berada padaku, tapi aku tidak berniat mengangkanginya sendiri, setelah Su-koay berniat merampasnya sekarang, biarlah kumanfaatkan kesempatan ini untuk memberikannya."

Cahaya emas terpancar dari tubuh Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, seakan-akan seekor naga emas meluncur ke arah Hong-lay-su-koay.

Begitu cahaya emas muncul, kawanan jago di sekitar arena serentak bergerak maju, Su-toa-tocu, Kun-tun Cinjin serta Si-hun-koay-sat berenam hampir pada saat yang sama juga turun tangan untuk menyambar sarung ruyung itu.

Hati Ji-sia bergolak melihat sarung ruyung miliknya berada di depan mata, tapi baru saja dia akan maju, seorang berbisik padanya.

"Jangan sembarangan bergerak Bok siauhiap, inilah siasat licik Seng gwat-kiam Oh Kay-thian!"

Setelah melemparkan sarung ruyung Jiam-kim-si-hun-pian ke udara, Oh Kay-thian tersenyum licik, lalu membentak, mendadak telapak tangannya menghantam ke depan, menghajar kawanan jago yang sedang berebut sarung ruyung itu.

Melihat kekejaman dan kelicikan orang, sungguh gusar sekali Bak Ji-sia, diam-diam ia menghela napas dan berpikir.

"Dunia persilatan betul-betul penuh kelicikan dan intrik, tak nyana Oh Kay-thian bisa bertindak selicik ini."

Berpikir demikian tanpa terasa ia melirik sekejap ke arah Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak dengan rasa terima kasih, andaikata tiada peringatannya tadi yang disampaikan dengan ilmu gelombang suara, niscaya ia sudah berada dalam kesulitan.

Benturan dahsyat segera bergema, panggung Kim-leng-tay berguncang keras, tapi segera tenang kembali.

Darah kental meleleh keluar dari ujung bibir Su-toa-tocu, jelas mereka telah menderita gempuran yang keras, sedangkan Kun-tun Cinjin dan Si-hun-koay-sat-jiu juga terengah dengan darah bergolak, hampir saja mereka tak tahan.

Sarung ruyung Jiam-kim-si-hun-pian yang sudah lama menjadi incaran orang persilatan itu tahu-tahu sudah terjatuh ke tangan Hong-lay-su-koay, hal ini membuat para jago semakin terkesiap.

Waktu itulah Si-hun-koay-sat-jiu baru mendongakkan kepalanya sambil berkata dengan gusar.

"Oh-losam, kami tak rela mestika itu jatuh ke tangan orang lain, maka dengan mempertaruhkan jiwa aku hendak melindunginya, bila serangan tersebut dilancarkan orang lain masih bisa kuterima, tak tersangka kau ..."

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa dingin, katanya.

"Seranganku sebenarnya cuma peringatan bagi Su-koay, siapa tahu kalian menjadi kemaruk ketika melihat mestika dan bermaksud merampasnya, terpaksa seranganku tertuju kepada kalian, lalu siapa yang hendak kau salahkan?"

"Huh, manis betul caramu bicara, jelas seranganmu bermaksud membasmi lawan, tapi bicaramu seperti orang paling gagah?"

Ejek si nona baju biru.

Lamkiong Hian lebih cerdas dan banyak tipu akalnya, dia tahu orang pintar daerah Tionggoan sangat terbatas, hanya terdiri dari beberapa orang di atas panggung sekarang, seandainya orang-orang itu sampai bentrok sendiri, bukankah hal ini justru akan memenuhi harapan musuh dan Hong-lay-su-koay yang akan menarik keuntungan?

Kerena itu, sewaktu dilihatnya keadaan tidak beres, buru-buru dia berkata.

"Musuh tangguh masih berada di depan mata, kenapa kalian tidak bekerja sama untuk mengusir lawan? Sebaliknya malah ribut dan saling gontok-gontokan sendiri! Apakah tidak malu dan ditertawakan orang?"

Hong-lay-su-koay memandang sekejap ke arahnya, jelas ucapan itu diperhatikan dengan serius oleh mereka. Tiba-tiba Liok Tong berseru.

"Toako, kita harus turun tangan!"

Liok Cun memandang cuaca sekejap, lalu mengiakan.

"Ya, waktunya memang sudah tiba!"

Matahari tepat di tengah cakrawala, cahaya terang memenuhi jagat raya.

Habis berkata, Liok Cun segera mengeluarkan sebuah tambur tembaga berwarna ungu, para jago tak habis mengerti apa kegunaan tambur tembaga tersebut.

Liok He mengeluarkan pula sebuah kipas tanpa jeriji dan menggoyangkannya dengan santai seakan-akan seorang sastrawan saja lagaknya.

Liok Ciu mengeluarkan sebuah cermin, ketika tertimpa cahaya sang surya, segera terpantul sinar yang menyilaukan mata.

Sementara Liok Tong mengeluarkan sebuah seruling tanpa lubang.

Setelah keempat macam senjata yang langka itu diperlihatkan, serentak para jago di atas panggung merasa terkejut, hati menjadi dingin.

Suasana dalam arena mulai terasa tegang, biarpun kawanan jago tersebut rata-rata berpengalaman dan berpengetahuan luas, tak seorang pun yang kenal, asal-usul beberapa macam senjata itu.

Tiba-tiba nona berbaju biru itu menghela napas dan mengeluh.

"Ai, rupanya aku terlalu menilai rendah mereka!"

Liok Ciu tertegun, tegurnya sambil tertawa.

"Nona, apakah kaukenal asal-usul benda-benda ini?"

"Tak perlu banyak bicara lagi,"

Tukas si nona baju biru dingin.

"lebih baik cepat turun tangan, irama sakti Liat-yang sin-kik tak akas menunjukkan kehebataanya bila, lewat tengah hari!"

Kejut bercampur heran Hong-lay-su-koay, rupanya mereka pun kagum akan pengetahuan nona baju biru yang luas itu. Perlahan gadis itu berpaling kepada para hadiran, katanya.

"Bila tiada bantuan malaikat, hari ini jangan harap kita bisa lolos dari bencana, bersiaplah kalian semua!"

Ucapan yang mengandung maksud mendalam itu mengetuk hati para jago.

Suatu malapetaka segera akan berlangsung di depan mata, hati para jago mulai dilapisi oleh bayangan kelabu, sementara para jago di bawah panggung sama-sama menahan napas beribu pasang mata tertuju ke atas panggung dan menunggu perkembangan selanjutnya.

Hawa pembunuhan menyelimuti angkasa, suasana menjadi sangat tegang.

Liok Cun, kepala Hong-lay-su-koay mendongakkan kepalanya dan bersiul nyaring, kemudian serunya.

"Silakan saudara sekalian nikmati dulu Siu-hun-sam-koh (tiga pukulan tambur perenggut nyawa) ini!"

Habis berkata, dengan khidmat ia menyentil pelahan tamburnya sebanyak tiga kali.

"Tung! Tung!Tung! Tiga kali suara tambur itu berbunyi, para jago di atas panggung merasakan hati tergetar seakan-akan kehilangan sukma, ada semacam tenaga yang amat berat dan tak kelihatan menekan tubuh mereka. Meski para jago sudah melawan dengan sekuat tenaga, akan tetapi irama tambur yang mendengung tiada hentinya seakan-akan berbentuk beribu-ribu pisau yang menusuk ulu hati mereka. Keadaan kawanan jago yang lain agak mendingan, berbeda dengan Su-toa-tocu yang sudah terluka lebih dulu, mereka tak tahan, dengan wajah pucat seperti mayat, darah kembali bercucuran dari mulutnya. Tiang mo-tocu, Siu-tiok-hong Ki Kiu-jin tertawa pedih, katanya.

"Irama Siu-hun-sam-koh bukan santapan enak buat kami, saudara-saudaraku kita jangan bikin malu lagi di sini."

Tapi belum lagi dia sempat angkat kaki, tiba-tiba darah segar menyembur keluar dari mulutnya, ia sempoyongan dan akhirnya roboh terjungkal ke bawah panggung.

Cian-ciau-tocu, Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu merasa tak puas, segenap tenaga dalamnya dihimpun pada telapak tangannya, lalu menghantam Liok Cun.

Liok Cun menjengek, matanya yang tinggal satu itu berkedip.

"tung!"

Bunyi tambur menggema.

"Wah!"

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu menjerit dan terjungkal ke bawah panggung, menyusul kedua Tocu yang lain juga mendengus tertahan, dengan wajah pucat mereka terlempar dari panggung.

Rupanya irama tambur itu dipancarkan khusus terhadap orang tertentu, buktinya orang lain sama sekali tidak mengalami luka apapun, namun mereka tak berani sembrono, masing-masing menghimpun segenap tenaga dalam untuk menghadapi segala kemungkinan.

Tak seorang pun mengangkat kelopak matanya, semuanya menunduk kepala, seakan-akan Su-toa-tocu tersebut tiada hubungannya dengan mereka.

Tapi jerit kaget segera berkumandang dari bawah panggung.

Baru saja Su-toa-tocu roboh ke bawah panggung, anak muridnya segera maju menggotong mereka pergi, dengan membawa pengalaman pahit berlalulah Su-toa-tocu tersebut.

Tiba-tiba Liok Tong tertawa seram, katanya.

"Rupanya kalian boleh juga Karena sanggup bertahan, tampaknya di daerah Tionggoan masih terdapat juga beberapa jago tangguh, tidak seperti apa yang dilukiskan Oh-lotoa!"

Nona baju biru itu membuka matanya, katanya sambil tertawa dingin.

"Kehebatan Siau-hun-sam-koh jauh dari apa yang kubayangkan semula. Ayo, permainan apa lagi yang masih kalian miliki? Kenapa tidak sekalian dikeluarkan semua?"

Hong-lay-su-koay menjadi terkejut bercampur heran, mereka tak percaya masih ada orang sanggup berbicara setelah Siau-hun-sam-koh dipancarkan kecuali orang itu sudah melatih semacam ilmu sakti yang kebal terhadap pengaruh tambur.

Jika dilihat dari usia si nona yang masih muda belia tak mungkin ia pernah melatih ilmu sehebat itu, jangan-jangan lwekangnya sudah berhasil mencapai tingkatan tertinggi sehingga tidak gentar terhadap pengaruh apa pun dari luar.

"Perkataan nona memang benar, aku setuju sekali!"

Terdengar Lamkiong Hian mendukung ucapan si nona baju biru.

Walaupun kata-katanya diucapkan dengan lancar, namun peluh membasahi jidatnya, cuma tenaga dalamnya juga cukup sempurna dan sanggup menguasai diri sehingga tubuh tidak terluka.

Waktu itu Ji-sia juga membuka matanya, air muka anak muda ini tampak hambar seakan-akan sama sekali tidak terjadi apa-apa.

Dia telah menerima warisan tenaga murni dari Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak, sebab itulah meski Siu-hun-koh lihay sekali, juga tidak dapat mempengaruhi dia.

Liok He memutar biji mata tunggalnya, kemudian mengejek.

"Kalau begitu, kalian tunggu saja akan kelihaian irama Liat-yang-sin-kik kami, coba rasakan kehebatannya!"

Sambil berkata, kipas tanpa jeriji segera diangkat ke atas dan digerakkan kian kemari, embusan angin dengan cepat melanda angkasa, debu pasir beterbangan.

Itulah gerak pembukaan dari irama sakti Liat-yang-sin-kik atau Lagu sakti terik matahari.

Ketika Liok He menarik kembali kipasnya, kabut dan pasir seketika lenyap, matahari yang terang muncul kembali di langit.

Sambil terbahak-bahak ia berkata.

"Nah, siapakah yang merasa sanggup menerima serangan kipasku?"

Ancaman itu memang cukup mengejutkan, meski di atas panggung penuh dengan jago lihai, namun tak seorang pun yang merasa yakin mampu menyambut serangan maut tersebut.

Tiba-tiba Bok Ji-sia maju ke muka seraya membentak.

"Bagaimana kalau aku yang melayanimu?"

"Hehehe, kalau begitu, sambutlah seranganku ini!"

Jawab Liok He sambil tersenyum. Di tengah kebasan kipas Bu-kut-san, hembusan angin yang amat dahsyat segera menyambar ke depan.

"Wees! Wees!"

Tenaga serangan yang tiada taranya bagaikan beribu-ribu lapis gelombang yang dahsyat menghantam tubuh Bok Ji-sia, jangankan tubuh manusia, batu pun akan hancur oleh angin dahsyat ini.

Awan gelap seketika menyelimuti udara di sekeliling tempat itu, debu pasir kembali beterbangan, semua orang hampir tak mampu membuka mata.

Sesudah angin puyuh itu sirap, para jago menjerit tertahan, ternyata Bok Ji-sia sudah tersapu oleh angin puyuh tadi sehingga lenyap tak berbekas.

Angin kipas itu betul-betul merupakan embusan maut yang mengerikan.

Liok He tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Kipas saja tak tahan, masih berani omong besar?"

Mendadak Bok Ji-sia melompat ke atas panggung, dia tetap segar bugar tanpa kekurangan sesuatu apa pun, membuat Hong-lay-su-koay terkejut, mereka tak menyangka Bu-kut-san tidak berhasil melukai anak muda tersebut.

"Huh, Bu-kut-san paling-paling cuma begitu saja,"

Kedengaran Ji-sia mengejek.

"lebih baik mainkan saja Liat-hyang-sin-kik yang kalian katakan hebat itu!"

Air muka Liok He berubah hebat, seketika ia bungkam dan cuma melotot gusar ke arah pemuda itu. Liok Tong menyeringai serunya.

"Bagus, kalian pasti akan mampus semua!"

"Kalau kami mati, kalian pun jangan harap bisa hidup!"

Sambung si nona baju biru sambil tertawa dingin.

Hati Hong-lay-su-koay tergerak, jelas ucapan si nona tepat mengenai isi hatinya.

Ditatapnya keempat siluman tua itu lekat-lekat, lalu nona baju biru itu berkata pula.

"Permainan irama sakti Liat-yang-sin-kik merupakan ilmu yang banyak makan tenaga dalam, sedangkan kami sebagian besar memiliki tenaga dalam hasil latihan puluhan tahun, bila ingin menguras tenaga kami, kalian pun harus mainkan irama tersebut sampai tuntas, baru menang atau kalah bisa ditentukan!"

Perkataan ini justru membongkar titik kelemahan irama Liat-yang-sin-kik, maka Hong-lay-su-koay menjadi terkesiap, selain itu, mereka pun merasa ngeri terhadap luasnya pengetahuan si nona berbaju biru, terpaksa kekuatan lawan perlu dipertimbangkan kembali oleh mereka.

Selang sesaat kemudian, Liok Cun berseru pula sambil menyeringai.

"Toako, jangan sangsi lagi, urusan telah berkembang menjadi begini, kita tak mungkin lagi mundur!"

"Kalau bisa mengundurkan diri secara teratur, hal ini kan tidak terhitung tindakan yang salah!"

Jengek Ji-sia. Liok Cun melototkan mata yang sebelah itu, tiba-tiba ia berseru.

"Betul, kita tak bisa memikirkan terlalu banyak, Liat-yang-sin-kik segera dipancarkan!"

Kaki yang pincang menjejak permukaan lantai, secepat terbang ia berputar satu lingkaran di udara, bentaknya.

"Su-siu-kui-goan!"

Empat kakek siluman itu segera memisahkan diri dan masing-masing mengambil satu sudut di atas panggung.

Para jago segera terkurung di tengah.

Lamkiong Hian segera melolos sebilah pedang berbentuk aneh, cahaya tajam terpancar, sekilas pandang senjata itu mirip seekor ular emas.

Pada tubuh pedang aneh itu terdapat lima lubang kecil, sewaktu dimainkan berbunyilah suara mendengung yang menggetar perasaan orang.

Pelahan si nona baju biru berkata.

"Begitu Liat-yang-sin-kik dimainkan, langit dan bumi akan menjadi rawan, rumput dan pohon sepuluh li di sekitar sini akan layu dan musnah, menghadapi pertarungan antara mati dan hidup ini kita tak boleh berbelas kasihan, lebih baik kita mempertahankan posisi masing-masing!"

"Ehm, tampaknya nona cukup memahami irama Liat-yangsin-kik?"

Ujar Lamkiong Hian.

"siasat menghadapi lawan boleh kau saja yang mengatur."

Kawanan jago yang berada di bawah panggung bisa mengikuti pembicaraan tersebut dengan jelas, suasana menjadi gaduh, dalam waktu singkat sebagian besar kawanan jago sudah kabur meninggalkan tempat itu, kuatir tertimpa bencana.

Lamkiong Hian memandang sekejap ke bawah panggung, serunya.

"Anak Giok, harap kaupun mundur sejauh sepuluh li dari sini, tiga jam kemudian datanglah kembali untuk mengurus jenasah ayahmu!"

Jelas ia tidak mempunyai keyakinan terhadap pertarungan antara mati dan hidup ini, mau-tak-mau ia mesti mengatur langkah berikutnya.

Jangan sangka wajahnya tetap enteng dan santai, sesungguhnya iapun merasa cemas dan berat.

Dengan tubuh agak gemetar Lamkiong Giok segera merengek.

"Oh ayah, ananda bersedia mati bersama engkau!"

"Ngaco-belo!"

Hardik Lamkiong Hian.

"selama Kiam-hong-ceng menjagoi dunia persilatan, mana boleh ada sehari tanpa pimpinan? Kalau kau tidak segera mundur dari sini, kubunuh dirimu lebih dulu!"

Belum pernah Lamkiong Giok menyaksikan ayahnya semarah ini, ia menggigil takut, setelah melelehkan air mata, dengan perasaan apa boleh buat ia memberi tanda kepada para jagonya untuk meninggalkan tempat itu.

Sebelum pergi, ia.

sempat berpaling sambil berbisik sedih.

"Ayah, baik-baiklah menjaga dirimu, tiga jam kemudian ananda pasti akan datang kembali untuk menjemputmu!"

Sementara itu jago-jago Thian-seng-po juga telah mendapat perintah untuk meninggalkan tempat itu, lapangan yang luas kini sudah kosong, tinggal Hu Sim-jin, Pek Bi, Pek Sat, si kakek berambut putih serta Hoa Hong-hui yang tetap tinggal di situ.

Nona berbaju biru menghela napas, katanya "Lebih baik kalian juga pergi dari sini, seandainya aku mati, laporkan peristiwa ini kepada ayahku!"

"Kami takkan pergi!"

Seru si kakek sambil mengentakkan tongkat ke tanah.

"jika kau mati, kamipun tak punya muka untuk hidup lagi."

Agaknya Liok He sudah habis sabarnya, tiba-tiba ia berseru.

"Sudah selesaikah pesan kalian? Kalau belum, katakan saja dengan cepat, sesaat lagi kalian tak akan mampu berbicara lagi!"

Dengan gusar nona berbaju biru itu melotot sekejap ke arahnya, kemudian ia berpaling kepada Lamkiong Hian, katanya.

"Pedang lima lubang Toa-ceng-cu bisa digunakan untuk menandingi tambur Siu-hun-koh tersebut, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian milik Bok Ji-sia sekadarnya juga bisa menandingi Bu-kut-san!"

Ucapannya mantap, pembagian kerja yang tegas menunjukkan sikap seorang pemimpin yang berwibawa, diam-diam semua jago kagum juga kepadanya, Ia melirik sekejap ke arah Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, dia melanjutkan.

"Sedang kau dan Ku Thian-gak boleh menghadapi seruling tanpa lubang, sebaiknya gunakan pedang untuk, penyerang disertai suitan nyaring, irama seruling lawan harus kalian atasi, ingat tugas ini sangat penting, harap kalian jangan bertindak gegabah!"

Ketika Kun-tun Cinjin dan Si-hun-koay-sat-jiu melihat nona baju biru itu hanya menugaskan orang lain tanpa membagi pekerjaan kepada mereka berdua, dengan gusar dan tak puas mereka berseru.

"Nona, kenapa kaulupakan kamit"

Nona berbaju biru itu tertawa, jawabnya.

"Kalian berdua sudah terluka, lebih baik jangan banyak gunakan tenaga lagi, duduk saja di situ sambil mengatur pernapasan, kalau tidak, maka kalian tak tahan lagi terlalu lama."

Keadaan sekarang berbeda dengan keadaan biasa, masing-masing telah melupakan kedudukan sendiri, masa lalu, semuanya rela dan tunduk untuk menerima perintah seorang gadis jelita.

Walaupun dalam hati Kun-tun Cinjin dan Si-hun-koay-sat-jiu merasa tak puas, namun mereka juga tahu sewaktu mereka berusaha merampas sarung Jian-kim-si-hun-pian tadi, keduanya memang kena dipecundangi orang.

Begitulah, bicara sampai di sini, si nona baju biru segera menggulung jubahnya hingga kelihatan cincin biru yang dikenakannya, di antara pancaran sinar biru tertampak seakan-akan bersemu ungu.

Liok Cun, pemimpin Hong-lay-su-koay menghela napas, katanya.

"Tak nyana nona pandai betul mengatur siasat, sejak meninggalkan Hong-lay, baru sekali ini kami turun tangan, kesempatan ini akan kami coba sampai di manakah kehebatan irama Liat-yang-sin-kik. Nah, saudara-saudaraku, ayo kita mulai turun tangan!"

Tiga siluman tua lainnya segera mengiakan, serentak mereka maju bersama.

Mendadak sinar emas berkelebat di udara menyongsong cahaya matahari, semua orang merasa silau oleh sinar yang tajam itu, sehingga untuk sekian lama tak sanggup membuka mata.

Nona berbaju biru itu menghela napas panjang, tiba-tiba dari cincin birunya terpancar keluar serentetan sinar lembayung yang segera bertumbukan dengan cahaya emas yang terpancar dari cermin Liok Ciu tersebut, kontan sinar emas itu menjadi guram.

"Tung!"

Bunyi tambur perenggut nyawa bergema di udara, semua orang merasa berdebar dan nyaris tak tahan.

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian tak berani gegabah, tenaga dalamnya segera disalurkan sehingga pedang lima lubang mengeluarkan suara mendengung yang memekak telinga, suara ini segera membendung irama tambur yang menggetar sukma.

Kipas Bu-kut-san Liok He dikebaskan pelahan, angin puyuh segera berembus mengiringi suara guntur yang keras, sedemikian dahsyatnya embusan angin itu membuat tubuh para jago sama bergoyang.

Sesungguhnya ruyung Jian-kim-si-hun-pian Bok Ji-sia terhitung benda mestika dunia persilatan, suara aneh yang terpancar juga amat tajam namun suara itu sukar membendung kehebatan Bu-kut-san, malahan terkadang terdesak.

Tapi pemuda itu bertahan sekuatnya, sambil mengertak gigi dia himpun segenap tenaga dalam untuk melawan Liok He, dia tahu lebih baik memberi perlawanan sekuatnya daripada menyerah kalah dan mandah dijagal orang.

Yang paling menakutkan adalah seruling tanpa lubang milik Liok Tong, di bawah tiupannya segera berkumandang semacam suara aneh yang melengking tajam, membuat orang mengkirik, lalu mandi keringat dingin.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian adalah jago pedang kenamaan, tapi dalam keadaan begini ia gagal menggunakan jurus mautnya untuk mendesak musuh, tiap kali serangannya baru mencapai setengah jalan lantas kebentur selapis tenaga penghadang yang membendung serangannya itu, terpaksa ia ganti serangan dengan jurus baru.

Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak dengan tangan mengepal memperdengarkan suitan panjang melengking, suaranya keras dan berhasil menekan sebagian irama seruling tanpa lubang yang menggema di udara.

Betul situasi dapat teratasi untuk sementara waktu, tapi keadaan semacam ini jelas tak bisa bertahan lama.

Percuma Kun-tun Cinjin dan Si-hun-koay-sat-jiu memiliki ilmu silat tinggi, waktu itu mereka hanya merasa telinga seperti tergetar suara guntur, kepala pusing dan mata berkunang-kunang, sekalipun sudah duduk bersila, namun mereka masih terpengaruh oleh irama Liat-yang-sin-kik.

Dalam waktu singkat, debu pasir beterbangan, suara aneh berkumandang, suara tambur dan irama seruling memekak telinga, ditambah lagi desing pedang dan deru angin hingga serupa orkes simfoni yang jarang terlihat.

Sekalipun kedua pihak masih tetap saling bertahan, tapi keadaan para jago semakin payah dan terancam bahaya.

Mendadak bayangan manusia berkelebat, rupanya Kun-tun Cinjin dan Si-hun-koay-sat-jiu tak tahan menghadapi pengaruh irama sakti tersebut, be -runtun mereka terlempar jatuh dan panggung dan tak sadarkan diri.

"Saudara-saudara, ayo tambah tenaga, mereka sudah hampir habis!"

Seru Liok He setelah menyaksikan kejadian itu.

Tenaga serangan diperhebat, hampir saja beberapa orang itu tak sanggup bertahan lagi, tetapi pertarungan ini menyangkut mati-hidup mereka, terpaksa mereka melawan mati-matian.

Hong-lay-su-koay semula berdiri tegak di empat sudut, kini berada dalam posisi setengah berjongkok, rambut pada berdiri dan mata melotot, otot hijau sama menonjol keluar, tampaknya merekapun kepayahan.

Napas sama terengah-engah seperti dengus kerbau, peluh mengucur keluar membasahi sekujur badan.

"Blang!"

Terpengaruh oleh irama Liat-yang-sin-kik yang maha dahsyat itu, sebatang pohon raksasa berusia ratusan tahun mendadak patah dan tumbang.

Bukan cuma begitu, rumput dan daun sekitar tempat itu pun kuning layu, suasana kelabu suram meliputi sekitar tempat ini.

Bok Ji-sia dengan Jian-kim-si-hun-pian telah bertahan hampir seratus jurus lebih, namun ia selalu gagal mengatasi serangan kipas Bukut-san, sebaliknya ia mulai merasa tak tenang, kuda-kuda mulai goyah dan darah bergolak keras.

Kini tangan mulai gemetar, tubuh makin lama juga makin lemah, napasnya tambah berat, rasanya hampir tak tahan.

Cahaya lembayung terpancar dari cincin biru di tangan si nona baju biru, agaknya cahaya tersebut berhasil mengatasi sinar keemasan lawan, tapi gadis itu tetap berdiri tak bergerak sementara matanya berputar ke sana ke mari memperhatikan situasi gelanggang.

Nona itu sadar kekalahan bagi pihaknya tinggal soal waktu saja, irama Liat-yang-sin-kik secara langsung telah mengguncangkan pikiran mereka, sekalipun di luar mereka tidak ada gejala apa-apa, padahal diam-diam mereka sudah terluka parah.

Dengan suara lemah ia lantas berseru.

"Bila bertahan satu setengah jam lagi, keempat tua bangka inipun tak akan jauh berbeda daripada kita."

Meskipun hanya sepatah kata yang diucapkan dengan suara lemah, tapi pengaruh kewajibannya justru sangat besar, kontan semua orang merasakan semangatnya bangkit kembali, getaran suara pedang lima lubang milik Lamkiong Hian telah pulih kembali kehebatannya seperti semula, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dengan ilmu Seng-gwat-kiam-hoat juga melancarkan kembali jurus serangan yang mematikan.

Sebetulnya suara suitan Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak waktu itu sudah kehabisan tenaga, nampaknya suaranya akan segera tertelan oleh irama seruling tanpa lubang, mendadak suitan melengking kembali dengan nyaringnya hingga berimbang dengan irama seruling.

Mendadak awan hitam berkumpul di angkasa dan menutupi sinar matahari, udara menjadi suram.

Tiba-tiba saja irama aneh Liat-yang-sin-kik terhenti di tengah jalan, suasana berubah menjadi hening.

Sekalipun kipas Bu-kut-san masih bergoyang tapi tidak bertenaga lagi, irama seruling segera terhenti, tubuh Liok Tong menggigil, suara tambur sirap dan cahaya emas dari cermin pun lenyap semuanya menjadi sepi, hening ....

Para jago di atas panggung masih berdiri tegak di tempat semula, terdengar dengus napas mereka yang memburu ....

Wajah Liok Ciu yang pucat kekuning-kuningan menjadi beringas, dengan suara gemetar ia berkata.

"Thian tidak membantu diriku, apa daya? Apa daya? Ai, rupanya memang takdir....."

Agaknya Liok Tong merasa tidak puas, serunya tiba-tiba.

"Toako, keadaan kita ibaratnya sudah berada di atas punggung harimau, biar kita mainkan saja empat bait terakhir irama maut!"

Liok Cun menghela napas.

"Ai, betapa senangnya hidup kita di Hong-lay-to selama ini, siapa suruh kita percaya pada obrolan Oh Ku-gwat tanpa menyelediki lebih dulu duduknya perkara, inilah yang dinamakan mencari penyakit sendiri......"

"Kayu sudah menjadi perahu, menyesal juga tak ada gunanya, Lotoa tak perlu banyak bicara lagi,"

Kata Liok He dengan angkuh. Kipas Bu-kut-san segera direntangkan lebar-lebar, ia siap untuk pertaruhan terakhir. Nona berbaju biru sejak tadi membungkam, tiba-tiba berkata.

"Aku sudah mengusai ilmu Cing-peng-kang-khi, sekalipun irama Coat-mia-kik sangat lihai, juga tak bisa berbuat apa-apa terhadap nona!"

Mendengar perkataan itu, Hong-Iay-su-koay terkesiap, rasa ngeri dan kaget terpancar di wajah mereka, jelas mereka merasa jeri oleh perkataan "Cing-peng-kang-khi"

Atau ilmu ketenangan jiwa.

"Sungguhkah perkataanmu, nona?"

Tanya Liok Cun terperanjat. Nona berbaju biru itu mendengus.

"Kalau tidak benar, kenapa aku tidak terpengaruh oleh irama Liat-yang-sin-kik kailan? Kenapa pula aku tidak terluka? Masa kalian tak dapat melihatnya sendiri?"

Karena ucapan itu diutarakan dengan nada sungguh-sungguh.

Hong-lay-su-koay tahu gadis itu tidak main gertak, mau-tak-mau mereka harus pertimbangkan kembali untung ruginya pertarungan selanjutnya.

Tiba-tiba Liok Tong tertawa, katanya "Bila naga dan harimau bertarung, salah satu akhirnya pasti mati, maka dalam pertarungan hari ini, jika bukan kalian yang mampus biarlah kami yang mati.

Budak perempuan, nantikan saja kematianmu ...!"

Seruling tanpa lubang itu segera ditempelkan lagi pada bibirnya, Liok Ciu juga mulai mengangkat cermin anehnya, Liok Cun melirik sekejap ketiga rekannya, ia menghela napas, terpaksa iapun menabuh tambur pembetot sukmanya.

Dengan kening berkerut nona berbaju biru berkata.

"Sekarang teriknya matahari sudah pudar, kalian yakin berapa bagian kelihaian Coat-mia-kik kalian itu bisa dipancarkan?"

"Tenaga murni kami sudah hilang separuh, sekarang pun tiada bantuan teriknya matahari, kupikir irama Coat-mia-kik paling banter hanya bisa di pancarkan lima bagian saja, tapi kami percaya tiga bagian teaaga sakti Coat-mia-kik pun takkan mampu kalian lawan."

"Baiklah, kala u begitu kalian boleh segera mulai menyerang,"

Ujar si nona berbaju biru sambil tertawa.

"cuma irama Coat-mia-kik dirangkai dengan empat bait syair, bila kalian tak sanggup memancarkan kekuatannya hingga sejauh sepuluh li, kukira kami masih dapat mempertahankan diri ...."

Hong-lay-su-koay tidak bicara lagi, diam-diam timbul juga semacam perasaan menghormat dalam hati mereka terhadap jago-jago tangguh yang berada di atas panggung ini.

Deru angin kencang, embusan angin puyuh kembali berjangkit pula dari empat penjuru, irama Coat-mia-kik mulai berkumandang lagi.

Ditinjau dari istilah Coat-mia-kik berarti sebelum orangnya mampus irama takkan berhenti, jadi semacam ilmu untuk beradu jiwa.

Ketika irama maut mulai menggema di udara, suasana menjadi tegang lagi.

Sedemikian dahsyatnya sehingga jagat seakan-akan berubah menjadi gelap.

Sejenak lewat sejenak, sejam lewat sejam, sudah sekian lama sang waktu berlalu.

Huan-in-kiam Lamkiong Giok dengan jago yang sudah mundur sejauh sepuluh li hanya bisa memandang ke arah panggung Kim-leng-tay dengan termangu, dia menyaksikan selapis kabut menyelimuti sekeliling tempat itu.

Irama aneh yang bercampur aduk kedengaran tiada hentinya, waktu itu ia melupakan segalanya yang diharap adalah semoga ayahnya bisa kembali dalam keadaan selamat.

Dengan kesempurnaan tenaga dalamnya, ia masih mampu mempertahankan diri terhadap pengaruh irama aneh yang lamat-lamat terdengar, berbeda dengan para jago lainnya yang sementara itu sudah mundur lagi lima li ke sana, dengan demikian tinggal dia sendiri di situ.

Ia tidak menyadari telah dicelakai Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian secara diam-diam, tapi irama Liat-yang-sin-kik yang dahsyat dan bisa memusnahkan orang itu juga merupakan pula irama penyembuh yang paling mujarab, tanpa disadarinya racun yang mengeram dalam tubuhnya ketika itu telah tersapu lenyap seluruhnya.

Mendadak pandangannya terbeliak, sesosok bayangan dengan membawa empat macam benda berat sedang bergerak mendekat ke sini.

Seketika hati terasa dingin.

Tertampak olehnya, Hu Sim-jin, si sastrawan misterius itu ctelah melemparkan tubuh Pek Bi dan Pek Sat ke tanah, menyusul dilemparkan pula tubuh Hoa Hong-hui serta si kakek berambut putih yang dikempitnya.

Dari pihak Hek-liong-kang, kecuali si nona berbaju biru yang masih mampu melawan pengaruh irama Liat-yang-sin-kik, Pek Bi, Pek Sat dan Hoa Hong-hui sudah tidak tahan lagi.

Sedang si kakek berambut putih itu meski masih bisa melawan, sayang tenaga murninya sudah banyak berkurang, mereka berempat sudah tak sadarkan diri.

Lantas siapakah sastrawan yang mengaku bernama Hu Sim-jin ini?

Kenapa begitu sempurna tenaga dalamnya sehingga tidak takut pengaruh irama Liat-yang-sin-kik yang hebat?

Belum pernah terdengar seorang tokoh selihai ini dalam dunia persilatan.

Lamkiong Giok sangat menguatirkan keselamatan ayahnya, meski dia angkuh dan tak sudi tunduk di bawah perintah orang, tapi keadaan mendesak, terpaksa ia maju ke depan.

"Saudara, bagaimana keadaan di sana?"

Tanyanya dengan gelisah.

Hu Sim-jin mendengus, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia berjalan balik ke Kim-leng-tay.

Melihat sikap angkuh orang, Lamkiong Giok naik pitam, timbul niat jahatnya, timbul nafsu membunuhnya, sambil tertawa latah teriaknya.

"Saudara, apakah kau tak sudi bicara denganku?"

"Memangnya kau tak bisa melihat sendiri?"

Jengek Hu Simjin.

"Agaknya kaupun seorang tak berguna, kukira Lamkiong Hian benar-benar mempunyai anak bagaikan naga, rupanya apa yang dikabarkan dalam dunia persilatan jauh berbeda dari kenyataan!"

Habis berkata ia tak menggubris Lamkiong Giok lagi, ia putar badan dan berlalu dari situ, sikapnya angkuh sekali! Lamkiong Giok tertawa.

"Bagus! Kesombonganmu cukup menarik dan juga menggemaskan, berdasarkan apa kau berani takabur di hadapanku?"

Tiba-tiba berkelebat cahaya perak seperti naga perkasa langsung mengurung batok kepala Hu Sim-jin.

Hu Sim-jin tertawa nyaring, gerak tubuhnya mendadak dipercepat dan meluncur ke depan, secara manis dan cekatan ia meloloskan diri dari ancaman tersebut.

"Hm, Aku tak ada waktu berurusan denganmu, lain kali pasti akan kucoba kelihaian ilmu pedang Huan-in-kiam-hoatmu,"

Dengus Hu Sim-jin.

"apalagi sekarang masih banyak orang yang perlu ditolong, ayahmu juga harus ditolong secepatnya!"

Habis berkata, secepat terbang dia meluncur lagi ke depan. Lamkiong Giok melengak, sambil mengejar dari belakang, serunya.

"Sampai di mana kehebatanmu, berani meremehkan orang lain?"

Sambil mengerahkan ilmu langkah Thian-ti-liu-in (tangga langit awan mengapung) ia mengejar terus dengan ketatnya, dia sangat gemas sampai giginya gemeretuk.

Tiba-tiba berkumandang suara keras yang membawakan empat bait syair.

Badai salju menyelimuti bumi, Hari ini berkelana sebagai pendekar.

Untuk menikmati kebahagiaan manusia.

Marilah ikut ke Hong-lay nirwana!

Itulah keempat bait syair irama Coat-mia-kik, agaknya Hong-lay-su-koay telah mengerahkan segenap kekuatan irama Coat-mia-kik untuk merobohkan lawan-lawannya.

Ketika bait terakhir itu berkumandang, Lamkiong Giok merasakan tenggorokannya anyir, darah bergolak dalam dadanya, tanpa ampun ia tumpah darah segar, tubuhnya bergoyang terasa berat untuk melangkah lebih jauh.

Kekuatan yang terpancar dari sepuluh li jauhnya masih sedahsyat ini, bisa dibayangkan bagaimana jadinya keadaan di atas panggung Kim-leng-tay.

Langkah Hu Sim-jin juga sempoyongan, gerak tubuhnya tidak secepat semula lagi, ini menunjukkan dia juga sedang mengendalikan diri terhadap gempuran irama Coat-mia-kik yang maha dahsyat itu.

Segala sesuatunya terasa berlangsung dengan tiba-tiba, tapi berakhir pula dengan cepat, suasana menjadi hening dan tenang kembali, seakan-akan tak pernah terjadi apapun.

Untung tenaga dalam para jago di atas panggung Kim-leng-tay rata-rata kelas tinggi hingga cuma darah yang meleleh pada ujung bibirnya.

Sementara itu Liok Tong dengan mata melotot dan wajah menyeringai telak tewas secara mengerikan di sana.

Liok He dan Liok Ciu juga mati dengan isi perut hancur dan pecah pembuluh darahnya.

Hanya Liok Cun yang bertenaga dalam paling tinggi berhasil lolos dari musibah tersebut, meski tenaga dalamnya terkuras habis, namun jiwanya masih bisa diselamatkan.

Ia mamandang sekejap kawanan jago yang tergeletak di atas pangung, dengan wajah sedih gumamnya.

"Bila tidak terlintas setitik sinar kasihan dalam benakku, saat ini kalian tentu tak bernyawa lagi!"

Dengan lemah tangannya menggapai, empat ekor bangau raksasa putih segera melayang turun di sisinya, setelah naik ke punggung bangau dengan susah payah, ia memberi tanda lagi dan pelahan terbanglah burung-burung itu atas.

Dari kejauhan terdengar suara senandungnya yang penuh kepedihan bergema di angkasa.

Suara nyanyian kian lama kian jauh, bangau putih itu akhirnya lenyap di balik awan jauh di ujung langit sana.

Tiba-tiba muncul sesosok bayangan dari bawah panggung Kim-leng-tay, ia memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil tertawa keras katanya.

"Hahaha, usaha penumpasan ini betul-betul berhasil. Hahaha.......! Puas! Sungguh puas!"

Sambil tertawa tiada hentinya, dia berjongkok, untuk memungut Jian-kim-si hun-pian serta sarung ruyung yang tak sempat dibawa oleh Liok Cun.

"Oh Ku-gwat!"

Mendadak seorang menegur dengan nyaring.

"usahamu dan siasat busukmu telah berhasil!"

Dengan terperanjat jago Thian-seng-po ini berpaling.

Dilihatnya si nona baju biru telah sadar kembali dari pingsannya, dengan tubuh yang lemah gadis itu sedang merangkak bangun dan menatap ke arahnya penuh kebencian.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat terkejut, niat jahatnya segera timbul, sambil tertawa dia menjawab.

"Ah. mana! Masih ada seorang bibit penyakit yang belum sempat kubasmi!"

Selangkah demi selangkah ia maju ke sana, jelas ia bermaksud membinasakan nona berbaju biru itu agar satu-satunya bibit penyakit inipun bisa disingkirkan dari muka bumi.

Melihat air mukanya yang menyeringai itu, menggigil juga nona berbaju biru itu, otaknya segera berputar untuk mencari akal.

Akhirnya sambil menghela napas sedih ia berkata.

"Jika aku mati, kaupun jangan harap bisa hidup!"

Oh Ku-gwat tertegun, tanpa terasa ia menghentikan langkahnya.

"Ah, masa begitu gawat?"

Dengusnya. Waktu itu segenap tenaga dalam nona berbaju biru itu telah punah, sekujur tubuh terasa lemas tak bertenaga, dengan wajah murung, ia tertawa sedih, kemudian katanya.

"Kedua dayangku dan Suhengku masih berada di sekitar sini, mungkin sebentar lagi mereka akan tiba kembali!"

"Ngaco-belo!"

Seru Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat sambil bertepuk tangan dan bergelak tertawa "para pelindungmu sudah musnah terhajar oleh irama Liat-yang-sin-kik, selamanya mereka takkan datang lagi!"

"Ai,"

Nona berbaju biru itu menghela napas sedih, agaknya ia sedang menahan siksaan yang mematikan.

"Kaupun takut mampus?"

Ejek Oh Ku gwat.

"Semut saja ingin hidup, apalagi manusia ...."

Jawab si nona berlagak tidak mengerti.

"Hahaha, kalau mengingat wajahmu yang cantik dan kecerdasan otakmu, aku benar-benar tak tega turun tangan, tapi persoalan ini menyangkut kepentinganku, sebab itulah........"

"Kau ingin membunuhku untuk melenyapkan saksi bukan?"

Jengek si nona sambil tertawa dingia "Hahaha, benar aku memang bermaksud demikian!

Aku handak menciptakan suatu teka-teki berdarah di atas panggung Kim-leng-tay ini, agar orang tak berhasil menebak untuk selamanya!"

"Kalau begitu, ayolah cepat turun tangan!"

Seru si nona dengan gusar.

"jangan kau kira aku takut!"

"Bagus! Bagus! Ingin kulihat bagaimana mimik wajahmu menjelang kcmatianmu nanti!"

Seru Oh Ku-gwat, lalu ia tertawa lagi dengan senang.

"Jangan berpikir seenak perutmu, kau pasti akan kecewa!"

Sahut si nona.

Nafsu membunuh muncul lagi di wajah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, pelahan telapak tangan kanannya terangkat.

Dengan tenang si nona baju biru itu memejamkan mata dan menunggu datangnya pukulan maut itu.

Mendadak seorang tertawa dingin.

"Meskipun niatmu keji, tapi teka-teki ini diketahui juga olehku!"

Dengan terkejut Oh Kay-gwat berpaling, entah sedari kapan seorang sastrawan muda sedang memandang sinis padanya di belakang.

"Hehehe, bagus sekali kedatanganmu ini!"

Seru Oh Kay-gwat sambil tertawa seram.

"akan kubereskan sekalian nyawamu!"

Dengan cepat segera dia cengkeram dada Hu Sim-jin. Merah wajah Hu Sim-jin, ia mengira musuh sengaja bertindak kurangajar kepadanya, dengan marah dia membentak.

"Manusia laknat yang tak tahu malu, kau ingin mampus?"

Ia melangkah maju, telapak tangannya direntangkan dengan jurus Leng-liong-liau-ka (naga sakit membuka sisik) cepat ia sambut ancaman lawan, bukan gerak tubuhnya saja yang aneh, jurus serangan yang dipergunakan juga luar biasa.

Oh Ku-gwat terkesiap, begitu melihat jurus serangan itu, segera ia menyurut mundur, ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian segera bergerak dan secara beruntun melancarkan tiga kali serangan.

Hu Sim-jin tahu kelihaian ruyung emas itu, cepat ia menggeser kesamping, ia tak berani menyambut ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Tak terduga, tahu-tahu lengannya sudah dipegang orang, dengan terkejut ia putar badan sambil melepaskan pukulan keras ke dada orang, Tertampak Huan-in-kiam Lamkiong Giok tersenyum sambil berkelit mundur, hati Hu Sim-jin bergetar, dengan jantung berdebar ia menundukkan kepalanya.

"Harap saudara mundur,"

Ujar Lamkiong Giok sambil tertawa.

"biar aku menjajal kehebatan ilmu pedang Thian-kang-kiam-hoatnya!"

Kemudian kepada Oh Ku-gwat dia berkata.

"Oh-lotoa, ayahku terluka paruh, hal ini boleh dibilang berkat perbuatanmu, sungguh rendah perbuatanmu itu, mulai hari ini umat persilatan Tionggoan bersama-sama akan memusuhi dirimu .....!"

Bicara sampai di sini, dengan jurus serangan Huan-in-kiam yang hebat dia menusuk, cahaya putih berkilauan, dengan membawa desing angin tajam ia kurung jalan darah kematian sekujur badan lawan.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat terkesiap, apalagi dilihatnya makin lama makin banyak orang yang tiba di situ, ia sadar usahanya mengelabui umat persilatan telah gagal total, segera ia bermaksud mengundurkan diri, sebab walaupun usahanya tidak berhasil, barang yang diincar dapat dirampasnya, itu berarti sebagian besar dari tujuannya telah tercapai, bila rahasia ruyung itu bisa dibongkar dan harta karun berhasil didapat.......

Sementara itu beberapa titik cahaya putih sudah menyambar tiba, mendadak ia berkelit, lalu dengan jurus Sin liong-jut-in (naga sakti keluar dari mega) dia melepaskan serangan balasan dengan tangan kanan.

Deru angin pukulan yang dahsyat segera mendampar ke depan dengan hebatnya.

Tenaga dalam Lamkiong Giok sesungguhnya termasuk hebat, iapun terhitung salah seorang jago tangguh dewasa ini, tapi Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat adalah seorang gembong iblis, sudah barang tentu tenaga dalamnya jauh lebih hebat, sebab itulah Lamkiong Giok tak berani menyambut dengan kekerasan.

Cepat dia menarik kembali pedangnya dan melompat mundur.

Tujuan Oh Ku-gwat memang hendak memaksa dia berbuat demikian, sambil tertawa serunya.

"Ha-haha, aku berangkat duluan!"

"Bangsat tua, jangan kabur, tinggalkan dulu Jian-kim-si-hun-pian itu!"

Bentak Lamkioug Giok. Cahaya putih meluncur ke sana dengan gerakan Liu-in-hui-kiam (pedang terbang bagaikan awan melayang) dia mengejar Oh Ku-gwat.

"Dalam pada itu Hu Sim-jin telah mendekati si nona baju biru sambil bertanya.

"Bagaimana keadaan lukamu?"

"Agak baikan,"

Jawab si nona sambil tertawa.

"coba kalau kau tidak muncul tepat pada waktunya mungkin aku sudah mati tadi."

Tiba-tiba Hu Sim-jin tertawa pedih, keluhnya.

"Andaikan hari ini tidak terjadi kebetulan, darimana aku mempunyai kepandaian sehebat ini?"

Sambil berkata, sinar matanya beralih ke tubuh Bok Ji-sia, dilihatnya pemuda itu tenang saja, kecuali napasnya yang berat hampir tiada tanda menderita luka.

Nona berbaju biru itu menghela napas, katanya.

"Kesempurnaan tanaga dalamnya jauh di luar dugaanku, seandainya Liok Cun tidak sengaja lepas tangan, akibatnya juga sukar dibayangkan!"

Tiba-tiba Kiam-hong-cengcu bergerak pelahan dan membuka matanya, menyusul Bok Ji-sia juga sadar dari pingsannya, kemudian Seng gwat-kiam Oh Kay-thian dan terakhir Siau-yau-sian-kong-kek Ku Thian-gak.

Sementara semua jago masih termangu, dari bawah panggung mendadak berkumandang jeritan ngeri, begitu keras suara itu membuat hati semua orang bergetar.

Tertampaklah Kun-tun Cinjin dan Si-hun-koay-sat-jiu dengan rambut terurai tak karuan, mata melotot dan darah kental membasahi bibirnya menubruk ke atas panggung seperti orang gila.

Hu Sim-jin terkesiap, tanpa terasa dia menghimpun tenaga dalam dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Air muka kedua orang itu menyeringai seram, seolah-olah iblis yang siap menerkam mangsanya.

Siapakah sesungguhnya Hu Sim-jin dan apa hubungannya dengan orang Hek-liong-kang?

Dapatkah Bok Ji-sia merebut kembali sarung ruyung yang menyimpan sesuatu rahasia harta karun itu?

-oo0dw0oo-

Jilid 18 Menyaksikan itu, nona berbaju biru menghela napas, katanya.

"Kesadaran kedua orang ini sudah dirusak oleh irama Liat-yang-sin-kik, dalam keadaan demikian, kawan atau lawan yang mendekati mereka tentu akan diserangnya secara keji, lebih baik kedua orang itu dibereskan saju nyawanya. Kalau tidak, bisa jadi kita yang akan dicelakai mereka, saudara Hu lebih baik kau Sudah barang tentu Hu Sim-jin tahu arti ucapannya yakni kecuali dia yang sanggup menahan kedua gembong iblis yang sudah gila itu, yang lain boleh dibilang tiada bertenaga lagi. Hu Sim-jin segera memungut pedang berlubang milik Lamkiong Hian yang tergeletak di tanah itu, katanya.

"Jangan kuatir nona, serahkan saja kedua orang ini padaku!"

Beribu-ribu kuntum bunga pedang dengan cepat terpancar menyusul bergetarnya pedang berlubang itu, ia menerjang ke arah Si-hun-koay-sat-jiu dan menahas pinggangnya.

"Saudara tak perlu repot-repot,"

Mendadak Lamkiong Giok melompat maju sambil tertawa dingin.

"biar aku saja yang membereskan kedua orang ini."

Sekali tangan bergerak, dua larik sinar putih segera menyambar ke muka..Jeritan ngeri menggema di udara, tubuh Kun-tun Cinjin segera terkapar di tanah, Menyusul darah tepercik ke mana-mana di tengah teriakan kesakitan, batok kepala Si-hun-koay-lat-jiu segera menggelinding ke tanah.

Lalu cahaya putih berkelebat, tahu-tahu Lamkiong Giok telah menyimpan kembali pedangnya, senyuman puas menghiasi ujung bibirnya, Hu Sim jin mendengus.

"Huh, siapa, yang suruh kauturun tangan ..."

Lamkiong Giok tertegun, katanya kemudian.

"Aku bukao turun tangan bagimu tapi demi keselamatan orang banyak. ..."

"Lain di mulut lain di hati. Hmk! pura-pura berbudi, sok murah hati, munafik"

Damperat si nona baju biru.

Lamkiong Giok menjadi tersipu-sipu, dengan tertawa kikuk ia menghampiri ayahnya.

Waktu itu Lamkiong Hian telah selesai bersemadi, melihat puteranya mendekat, dengan terharu ia berbisik.

"Anak Giok, ayah mengira tak bisa bertemu lagi denganmu!"

"O, ayah, ananda betul-betul cemas"

Kata Lamkiong Giok dengan terharu. Dibimbingnya orang tua itu berbangkit, kemudian berjalan perlahan.

"Saudara Bok,"

Kata Lamkiong Giok kepada Bok Ji-sia sambil tertawa.

"Siaute berangkat duluan, setelah luka ayahku sembuh tentu akan kutemani saudara Bok berkelana di dunia persilatan dan bersama2 berbakti bagi umat persilatan"

Ji-sia tertawa pedih.

"Lantaran kurang hati-hati hingga Siaute mengalami malapetaka, sekalipun sekarang aku dapat bergerak, sayang tak dapat mengantar kepergianmu"

Lamkiong Hian dan Lamkiong Giok berpaling dan tertawa, tanpa bicara lagi mereka lanjutkan perjalanan, sekejap kemudian bayangan merekapun lenyap di kejauhan sana.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian juga tidak mengucapkan.

sepatah kata pun berlalu dari sana.

Tiba-tiba nona berbaju biru itu berkata kepada Ku Thian-gak sambil tertawa.

"Ku Thian-gak, ikutlah pulang ke istana!' "Baik, nona!"

Jawab Ku Thian-gak dengan tertawa pedih. Dengan sinar mata yang aneh tiba-tiba nona berbaju biru itu memandang Bok Ji-sia sekejap, lalu berkata.

"Saudara Hu, sampai berjumpa lain waktu! Ai, antara cinta dan benci memang tiada perbedaan yang besar, bila hatimu merasa suka maka itulah cinta, bila merasa benci itulah benci, cuma jangan, bertindak kelewat batas."

Air muka Hu Sim-jin tampak berubah-ubah, agaknya ia sedang menimbang sesuatu persoalan.

Sementara itu Siau-yau-sian-kong-kek Ku Thian-gak telah mengikut di belakang nona berbaju biru itu dan meninggalkan tempat itu.

"Berhenti!"

Mendadak bentakan keras berkumandang. Tertampak Bok Ji-sia dengan menyeringai berdiri angker di hadapan mereka, dengan mata melotot gusar ia mengawasi nona baju biru itu.

"Mau apa kau?"

Tegur nona berbaju biru itu dengan tertawa dingin.

"Tinggalkan Ku-cianpwe di sini!"

Nona berbaju biru itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Baiklah!"

Sahutnya "cuma kukira kau tak bisa menahannya tinggal di sini!"

Habis berkata ia benar-benar pergi seorang diri. Ji-sia jadi tertegun, Hu Sim-jin yang berdiri di samping juga melengak, dengan sinar mata curiga mereka awasi bayangan punggung si nona.

"Bok-lote!"

Akhirnya Ku Thian-gak bersuara dengan wajah mengejang menahan sedih.

"persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik jangan ikut campur, apalagi budi dan dendam di balik masalah ini tak mungkin bisa dicampuri onng lain, biarlah maksud baikmu kuterima dalam hati saja!"

Selesai berkata ia lantas buru-buru menyusul di belakang si gadis tadi. Ji-sia hanya menghela napas panjang, sambil memandang awan di angkasa pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia bergumam.

"Ai, Bagaimanapun aku harus menolong Ku-cianpwe."

Tiba-tiba ia terkejut oleh bergemanya suara tertawa ejek di belangkangnya, tertawa itu sangat menusuk pendengaran, jelas bukan suara seorang pria Ketika ia berpaling dilfhatnya Hu Sim-jin sedang melotot padanya dengan smar mata penuh kebencian.

Ji-sia tertegun, tegurnya.

"Saudara, ada urusan apa ? "Dongak kepalamu dan tataplah aku!"

Seru Hu Sim-jin sambil tertawa dingin.

Bok Ji-sia kembali melengak, dengan perasaan tak senang ia mendengus, dengan tajam ia melirik sekejab wajah orang, tapi kembali ia tertegun, sebab wajah Hu Sim-jin terlalu mirip dengan seseorang.

"Urusan magih banyak yang belum selesai, maaf aku tak berniat ribut denganmu!"

Kata Ji-sia sambil mendengus angkuh.

Habis berkata, tanpa menggubris orang lagi dia putar badan dan pergi dari situ, Msndadak bayangan berkekbat.

tahu tahu H u Sim jin ra&ngadang lagi di depannya, hal ini membuat pemuda tersebut naik pitam ....

"Kau betul-betul sudah lupa padaku!"

Teriak H u Sim-jin dengan tubuh gemetar.

"Aku memang tidak kenal dirimu!"

Jawab Ji-sia dengan tertawa.

"Plak! Plok!"

Dua tamparan keras bersarang telak di pipi Bok Ji-sia, seketika muka pemuda itu marah dan melongo.

"Kau berani memukul aku!"

Teriaknya penasaran.

Kontan ia balas menampar beberapa kali muka Hu Sim-jin.

Kedua pipi Hu Sim-jin seketika merah bengkak, sambil menjerit ia menutup muka sendiri'seraya menangis sedih.

Melihat kelakuan orang, kembali Ji-sia tertegun, ia tak mengira seorang lelaki bisa berjiwa sehina itu, cuma ditampar beberapa kali air mata lantas bercucuran.

Tahu begini tentu ia takkan menghajar orang semacam ini, seorang lelaki pengecut yang tak tahu malu.

Dengan sedih Hu Sim-jin masih menangis tersedu-sedu.

"Pukul aku! Bunuh saja diriku!"

Serunya sambil terisak.

"lebih baik aku mati daripada disiksa oleh manusia yang tak berperasaan. Bok Ji-sia, ayo pukul saja sampai aku mati!"

Menyaksikan itu, Bok Ji-sia berpikir lagi dalam hati.

"Kalau dilihat lebih teliti, orang ini tidak mirip seorang pengecut yang tak tahu rablu, tapi mengapa ia menangis begitu sedih? Jangan-jangan dia seperti diriku dalam hati juga terpendam sesuatu soal yang memilukan hati ., , ."

Berpikir demikian, dengan rasa menyesal ia lantas bertanya.

"Saudara, sebetulnya ada persoalan apakah engkau begini bersedih hati?"

Ucapan ini amat menusuk hati Hu Sim-jin hingga sekujur tubuhnya bergemetar.

"Kau betul-betul lelaki kejam yang tak berperasaan!"

Dampratnya penuh kebencian.

Seraya berkata ia lantas menarik ikat kepalanya hingga terurailah rambutnya yang hitam dan panjang.

Ji-sia berdiri melongo, dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya.

Benar-benar di luar dugaan, Hu Sim-jin ternyata seorang gadis ....

"Kau ..."

Ia menuding dengan gemetar.

"Ya, aku Tong Yong-iing!"

Seru Hu Sim-jin dengan tertawa pedih.

"seorang perempuan hina yang tak tahu malu, dalam pandanganmu aku tak lebih cuma seorang perempuan sial!"

Sungguh Ji-sia sangat menyesal, ia merasa banyak berhutang hudi kepadanya, tapi pengalaman pahit masa lalu membuatnya tak berani sembarangan menerima cinta dari seorang gadis.

"Nona Tong adalah gadis yang suci bersih,"

Ucapnya pedih.

"aku merasa berdosa aku tak berani"

Semenjak berjumpa dengan Bok Ji-sia, dalam hati Bwe-hoa--sian-ktam Tong Yoog-ling telah membekas bayangan anak muda itu, keangkuhan dan kekerasan hati Ji-sia selalu terbayang olehnya.

Apalagi sejak senasib sependeritaan dengan Bok Ji-sia sewaktu terkurung dalam penjara air, ia hampir tak bisa melupakannya ....

, Tapi pengalaman hidup Bok Ji-sia terlampau pahit, dendam belum terbalas, musibah yang memalukan selalu terkenang dalam benaknya, hal ini membuat dia tak berani menerima cinta kasih sang nona yang tulus dan suci itu, dengan hati yang berat terpaksa ia menampik kasih sayangnya.

Dalam sedihnya timbul perasaan dendam Tong Yong-ling, maka dia ganti nama menjadi Hu Simjin yang suaranya sama dengan arti uw-sim-jin (orang yang suka ingkar janji), dengan membawa hatinya yang luka dia menempuh perjalanan untuk mencari kekasihnya ...

Bok Ji-sia, Dia tidak tahu bukannya Bok Ji-sia tidak mencintai dia, tapi disebabkan kesulitan yang tak mungkin dijelaskan padanya.

"Berzinah dengan ibu sendiri .."

Betapa menusuknya kata-kata tersebut, Bok Ji-sia merasa perbuatannya itu merupakan dosa yang tak terampunkan.

Betapa tidak?

Ia telah melakukan hubungan dengan ibu kandungnya sendiri ....

Setiap hari ia terbenam dalam penderitaan, saban hari terbayang pada peristiwa yang memalukan itu, sekalipun bukan atas kehendaknya sendiri, tapi peristiwa itu merupakan suatu kenyataan, Tong Yong-ling tertawa sedih, katanya.

"Bok Ji-sia, kau lelaki berhati keji, kau telah menipuku, merampas hatiku, membawa lari tubuhku, jika tidak berjumpa denganmu, tak nanti aku merana seperti ini!"

Ji-sia merasa sedih dan menderita, ia membungkam dan hanya menatap gadis itu dengan kesima.

"Kau tidak beristn, tidak pula berteman perempuan, kenapa kau menolak cintaku,"

Lanjut gadis itu sambil mengertak gigi.

"apakah kauanggap aku jelek dan tidak pantas bagimu? Bok Ji-sia, aku benci padamu, akupun menciniai dirimu, agaknya, rasa cintaku lebih besar daripada rasa benciku, kau tahu . ."

Makin lama suaranya makin rendah dan hampir tak terdengar, rasa pedihnya pun semakin hebat.

Perempuan memang kebanyakan berjiwa sempit, dalam soal cinta selamanya tak ada toleransi, jika gagal bercinta mereka sanggup mengucapkan apa pun, begitu pula dengan Tong Yong-ling searang.

-Ji-sia hampir terpengaruh oleh luapan cinta gadis tersebut, perasaannya menjadi kalut, tak sepatah kata pun sanggup diutarakan.

Melihat anak muda itu hanya membungkam saja, rasa benci Tong Yong-ling semain menebal, bentaknya keras-keras.

"Kenapa kau tidak bicara?"

"Apa yang harus kukatakan?"

"Kalau tidak kaukatakan, berarti kau ada persoalan yang malu diketahui orang!"

Desak Tong Yong-ling lebih lanjut.

Ji-sia.

terperanjat, ucapan ini menimbulkan perasaan benci dalam hatinya, selama ini hanya membungkam karena ia merasa berhutang budi kepada gadis itu, tapi sekarang hawa amarahnya benar-benar berkobar.

"Tutup mulutmu!"

Hentaknya sambil menyeringai.

"Kau melarang aku bicara, aku justeru ingin bicara terus, mau apa kau?"

"Kau berani?"

Bentak Ji-sia gusar.

"Kenapa tidak berani!"

Sahut Yong-ling.

Sebagaimana diketahui, Bok Ji-sia adalah lelaki yang berhati sekeras baja, ia tak sanggup menahan amarah yang berkobar dalam hatinya, terutama bila didesak terus oleh orang, maka tanpa berpikir panjang lagi telapak tangannya diayunkan ke muka menghajar pipi si gadis.

Pukulan yang dilancarkan dalam keadasa gusar ini sungguh keras, sedikitpun tidak kenai kasihan-"Kau sungguh keji!"

Pekik Tong Yong-ling dengan suara geletar.

Ia tidak berkelit atau menghindar, sebaliknya malah membusungkan dada sambil menyongsong datangnya tamparan itu, matanya terpejam dan kepala disodorkan ke depan.

Ji-sia melenggong, ia menghela napas sedih dan menarik kembali tangannya.

Semua keangkuhan dan kekerasan hatinya seketika buyar.

"Kurangajar, kau berani menganiaya permata hatiku!"

Tiba-tiba bentakan gusar seorang bergema.

Terlihat seorang perempuan berbaju merah yang cantik dengan wajah gusar sedang berjalan mendekat, Orang ini bukan lain ialah Han-bwe-kokcu yang termashur dalam dunia persilatan, Bwe-hiang-sian-ki adanya, dia inilah guru Tong Yong-ling.

Baru saja ia mendekat, Tong Yong-ling lantas menubruk ke dalam pelukannya sambil menangis tersedu-sedu.

Semua rasa gemas dan sedihnya segera dilampiaskan keluar lewat isak tangisoya yang memilukan hati itu.

Bwe-hiang-sian-ki melirik sekejap wajah Bok ji-giat kemudian bertanya.

"Yong-ling, dia orang yang kau maksudkan?"

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling mengiakan lirih, sementara isak tangisnya makin menjadi.

Selama hidup Bok Ji-sia paling takut menghadapi senjata air mata kaum wanita, setelah mendengus dia lantas melengos ke arah lain.

Bwe-hiang-sian ki jadi marah melihat pemuda itu tidak pandang sebelah mata padanya, setelah mendorong tubuh Tong Yong-ling, dia maju ke depan.

"Hm, melihat sikapmu yang angkuh, kutahu kau pasti pintar mengganggu perempuan,"

Bentaknya.

"selama hidup nyonya besar pantang bertarung dengan orang muda, tapi demi muridku, terpaksa aku harus menghajar adat padamu."

Ucapannya menimbulkan amarah Bok Ji-sia, ia balas mendengus.

"Hm, buat apa kau berlagak di hadapanku? Aku tak percaya kau memliiki kepandaian setinggi langit."

Kedua telapak tangannya segera direntangkan dan siap bertarung, sikapnya yang perkasa sama sekali tidak menampilkan rasa takut terhadap keangkeran Bwe-hiang -sian-ki.

"Coba katakan, apa yang jelek dari muridku ini? Kenapa kau tak sudi menggubris dia?"

Seru Bwe-hiang-sian-ki dengan tertawa dingin. Bok Ji-sia balas mengejek.

"Lelaki di jagat ini masih banyak seperti pasir gurun, kenapa muridmu tidak mengejar orang lain, tapi mendesak diriku terus menerus? Apakah cara semacam ini termasuk peraturan Han-Bwe-kok?"

Bwe-hiang-sian-ki tidak menyangka bakal disudutkan oleh ucapan Bok Ji-sia ini, seketika air mukanya berubah hebat.

"Memberi hati kepadamu tidak kau terima, boleh kau mampus saja.!"

Bayangan merah berkelebat, secepat kilat ia menerjang maju, sebelah tangannya segera meceng-keram bahu Bok Jisia.

Hati Tong Yong-ling sedemikian sedihnya sehingga tak tahan ia mendongakkan kepalanya dan tertawa keras, tertawa melengking seram membuat bulu kuduk orang sama mengkirik, agaknya ia menjadi putus asa dan mengambil keputusan tidak mau kawin seumur hidup.

Sesungguhnya Ji-sia tak ingin menyakiti hati gadis itu, tapi keadaan memaksanya berbuat demikian.

Melihat Bwe-hiang-sian-ki menyergap tiba, Ji-sia berpekik nyaring, beruntun iapun lancarkan tiga kali serangan berantai.

"Kau cari mampus!"

Bentak Bwe-hiang-sian-ki, Telapak tangannya berputar, angin pukulan yang sangat kuat segera menyapu ke depan.

Itulah ilmu pukulan Bwe-sat-ciang andalannya, jelas dia sangat marah hingga mengeluarkan jurus ampuh untuk membereskan-lawan.

"Suhu, jangan melukai dia!"

Teriak Yong-ling dengan cemas.

"Dia bersikap kejam padamu, kenapa kau berbaik kepadanya?"

Bwe-hiang-sian-ki tidak menggubris seruan muridnya, malahan ia menambah tenaga serangan, nyata dia bertekad mencabut nyawa Bok Ji-sia guna melampiaskan rasa bancinya.

"Biang", di tengah benturan keras, Tong Yong-ling menjerit dan menutup mokanya dengan tangan, untuk sesaat ia tak berani membuka matanya. Setelah terjadi benturan yang,sangat keras, tubuh Bok Jisia mencelat ke belakang, Tong Yong-ling menjerit kuatir. Bwe-hiang-sian-ki sendiri walaupun berhasil mamentalkan tubuh Bok Ji-sia. tapi lengan sendiri pun tergetar hingga kesemutan, hal ini membuatnya terkejut bercampur heran. Dalam keadaan terluka, Ji-sia harus menerima serangan yang begitu berat, darah dalam tubuh kontan bergolak, tanpa ampun lagi ia jatuh tak sadarkan diri. Mendadak cahaya hijau berkelebat, menyusul sesosok bayangan melayang tiba dan menangkap tubuh Bok Ji-sia ke dalam pelukannya.

"Siapa?"

Bentak Bwe-hiang-sian-ki dengan gusar dan terkesiap. Seorang nyonya berbaju hijau balas mendengus.

"Kau masih belum pantas mengetahui namaku!"

Sebaliknya Tong Yong-ling menjadi dingin hatinya setelah melihat kemunculan orang ini, jeritnya dengan kaget.

"Dia Lik-ih-hiat-li!"

Bwe-hiang-sian -ki tertawa tarkekeh-kekek.

"Hehehe, kukira siapa, rupanya seorang jago yang baru muncul dalam dunia persilatan pendekar perempuan yang menyebut dirinya sebagai Lik-ih-hiat-li. Hehehe, namanya ternyata tidak lebih hebat daripada orangnya. Tidak ada yang istimewa!"

Lik-ih-hiat-Ii merasa pedih hati ketika melihat wajah Bok Jisia berubah hitam dan darah kental meleleh di ujung bibirnya, dengan wajah seram ia melototi Bwe-hiang-sian-ki dengan penuh kebencian.

"Kenapa kau lukai dia?"

Tegurnya dingin. Senyum Bwe hiang-sian-ki segera lenyap tak berbekas, ia mendengus.

"Kenapa kau mencampuri urusanku?"

Lik-ih-hiat-li tertawa dingin, pelahan ia menurunkan tubuh Bok Ji sia ke tanah, lalu tertawa panjang dengan seramnya.

Tertawa yang pedih, keras, marah dan menyeramkan hingga bergema tiada hentinya ....

Galak tertawa yang menyeramkan itu menimbulkan perasaan iba hati Tong Yong-ling, ia lantas menarik ujung baju Bwe-hiang-sian-ki sambil membisikinya.

"Suhu, mari kita pergi saja!"

"Ah, tidak semudah itu, masa kita harus tinggalkan pertemuan yang begini menyenangkan dengan seorang tokoh sakti seperti dia,"

Jawab Bwe-hiang-sian-ki. Habis tertawa seram, pelahan Lik-ih-hiat-li mengangkat telapak tangan kanan ke udara ....

"Kau kenal ini bukan!"

Ujarnya dengan tertawa seram.

Telapak tangannya yang menghadap keluar itu tampak putih bersih bercahaya seperti kristal, di balik lapisan putih bersih itu terpancar selapis cahaya yang menyilaukan mata.

"Peng-sian-jit-gwat-ciang!"

Jerit Bwe-hiang-sian-ki dengan hati tergetar keras.

"Benar"

Jawab Lik-ih-hiat-tf.

"hari ini, aku akan. membunuhmu dengan telapak tangan Peng-sian-jit-gwat-ciang ini!"

Terkesiap Bwe-hiang-sian-ki, meskipun ia terhitung jago nomor empat dari Bu-lim-jit-coat, ilmu pukulan Bwe-sat-ciang andalannya juga pernah merajai dunia persilatan, tapi bila mesti digunakan untuk melawan Peng-sian-jit-gwat-ciang, jelas ia masih ketinggalan jauh.

Kontan hatinya menjadi dingin, dengan wajah serius dia bertanya.

"Engkau yakin sampai berapa besarkah tenaga pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang dapat kaupancarkan?"

Lik-ih-hiat-li terkekeh-kekeh.

"Paling banter tujuh bagian dan paling sedikit lima bagian, tapi untuk menghadapi kau, kukira bukan soal bagiku."

Hati Bwe-hiang-sian-ki semakin dingin, sekalipun ia belum pernah menyaksikan kehebatan ilmu pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang, tapi ilmu sakti yang sudah lenyap selama ratusan tahun dari keramaian dunia ini tentu saja bukan ilmu sembarangan.

Konon kedahsyatan ilmu pukulan Peog-sian-jit-gwat-eiang itu belum pernah sanggup dilawan oleh siapa pun, dan kini Lik ih-hiat-li telah berhasil melatih ilmu itu hingga lima bagian, sanggupkah ia menerima serangan tersebut dengan-Bwe-sat-ciang, hal ini masih merupakan suatu tanda tanya besar.

"Lancarkan saja seranganmu!' katanya kemudian dengan agak kebat-kebit. Seraya berkata, tenaga dalam latihannya selama puluhan tahun segera dihimpun dan siap menghadapi segala kemungkinan, mukanya berubph menjadi amat serius, sementara matanya menatap telapak tangan kanan Ii-ih-hiat-li tanpa berkedip. Tong Yong-ling terkesiap, maklum ia dan Bok Ji-sia serta Lamkiong Giok pernah memasuki kuburan kuno itu, di mana Lik-ih-hiat-li berdiam, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa sempurna tenaga dalamnya, diam-diam ia kuatir gurunya juga bukan tandingan lawan. Iapun tahu Lih-ih-hiat-li mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Bok Ji-sia, setiap saat selalu berusaha melindunginya, kini Bwe-hiang-sian-ki telah menghajar pemuda itu sedemikian rupa, tentu saja Lik-ih-hiat-li tak akan tinggal diam. Jika ada dua ekor harimau berkelahi, salah satu di antaranya tentu terluka, ia tak ingin Lik-ih-hiat-li terluka, lebih-lebih tak ingin Suhunya kalah, sebab bila hal tersebut terjadi, bukan saja ia telah mencelakai Bok Ji-sia, iapun mencelakai gurunya sendiri. Makin dipikir makin gelisah, mendadak ia melompat ke depan dan menerjang ke arah Lih-ih-hiat-li. Waktu itu, telapak tangan kanan Lik-ih-hiat-li sudah siap menghantam, ketika tiba-tiba Tong Yong-ling menerjang tiba, perempuan itu segera bergeser ke samping dan menurunkan kembali tangannya.

"Nona Tong, mau apa kau?"

Bentaknya. Dengan air mata bercucuran Tong Yong-ling melayang turun di hadapan Lik-ih-hiat-li, katanya setengah meratap.

"Cianpwe, pergilah dari sini, engkoh Bok ..Bok-heng terluka amat parah!"

Sejak berjurnpa dengan Tong Yong-ling, dalam hati Lik-ih-hiat-li telah timbul kesan yang baik, apalagi setelah mengetahui gadis ini mencintai Ji-sia, ia merasa gembira bagi pemuda itu, juga merasa bersyukur bagi dirinya sendiri.

Sekalipun Lik-ih-hiat-li numpunyai pandangan lain terhadap gadis tersebut, tapi dia adalah perempuan yang kenyang asam garam, dia tetap bersikap tenang.

"Jadi kau mintakan ampun bagi gurumu?"

Jengeknya kemudian, Bwe-hiang-sian-ki marah sekali, dengan kedudukannya yang begitu tinggi dalam dunia persilatan, tak nanti ia minta ampun kepada orang lain, keruan ia naik darah ketika melihat muridnya telah membikin malu.

Sambil tertawa seram dia membentak.

"*Budak sialan, sia-sia kudidik dan kupelihara dirimu selama dua puluh tahun!"

Hati Yong-ling tergetar, dengan terkesiap ia berpaling, serunya.

"Suhu, aku ...."

"Ayo cepat kemari!"

Bentak Bwe-hiang-sian-ki dengan wojah dingin.

"apakah kausenaog melihat Suhumu tak dapat mengangkat, kepalanya dalam dunia persilatan? Hm Jika kau berani pagar makan tanaman, biar kulenyapkan kau dari muka bumi!"

Habis berkata, telapak tangannya terangkat, segulung tenaga pukulan maha dahsyat bagaikan ombak mendampar langsung menghantam Tong Yong-ling.

Keruan Tong Yong-ling ketakutan, matanya terpejam, ia tidak berkelit maupun menghindar, ia bertekad menerima pukulan itu dengan tubuhnya.

Lik-ih-hiat-li terkejut menyaksikan kejadian itu ia tak mengira si nenek jadi kalap dan melupakan hubungan guru dengan mund dan secara keji hendak membinasakan Yongling.

'Manusia tak tahu malu' pekiknya.

"tak berani padaku, murid sendiri dijadikan sasaran pelampiasan"

Baru bicara sampai di sini, mendadak ia merasakan sesuatu yang aneh, segulung tenaga pukulan maha dahsyat berhembus lewat sisi tubuh Tong Yong-ling dan menyergap ke arah tubuhnya.

Waktu itu, Tong Yong-ling telah memejamkan mata dan menunggu kematian.

Ketika dirasakan berhembusnya angin tajam lewat tubuhnya tanpa melukainya, ia mejadi heran, belum lagi matanya dibuka, telinga sudah menangkap suara benturan keras Terdengar Lik-ih-hiat-li tertawa terkekeh-kekeh.

"Tak kusangka Bwe-hiang-koken juga pandai mempergunakan ilmu Ke-san-tah-gu (dari balik bukit memukul kerbau) yang sudah ratusan tahun lenyap dari dunia persilatan. Dengan kepandaianmu ini, bila aku tidak menggunakan Peng-siarj-jit-gwat-ciang, mungkin dalam dua ratus gebrakan menang-kalah baru bisa ditentukan!"

Air muka Bwe-hiang-sian-ki berubah sedingin es, tadinya ia yakin akan melukai musuh dengan ilmu Ke-san-tah-gu tersebut, kenyataannya Lik-ih-hiat-li sama sekali tak terluka, ini menandakan kepandaian perempuan itu tak boleh di pandang enteng.

"Jangan takabur dulu Lik-ih-hiat-li,"

Bentaknya.

"sambut lagi pukulanku ini!"

Telapak tangannya meraih ke atas, dari jurus Pa-bio-cing-hun (muka codet mengejutkan sukma) tiba-tiba berubah menjadi jurus Cong-kiong-hiat-ing (bayangan darah di langit luas), ilmu pukulan Bwe-sat-eiang yang tersohor telah dipancarkan dengan hebatnya ....

Lik-ih-hiat-li tertawa terkekeh-kekeh, ia melompat ke udara, lalu dengan jurus Ci-tian-cing-swan (kilat ungu embun hijau) tiba-tiba telapak tangan menyodok keluar, cahaya menyilaukan mata segera terpancar.

Sekalipun Bwe-hiang-sian-ki memiliki tenaga dalam latihan puluhan tahun toh tak berani menyambut serangan Peng-sian-jit-gwat-ciang tersebut dengan kekerasan, kedua telapak tangannya cepat ditarik kembali seraya melompat ke samping.

Siapa tahu, baru saja.

tubuhnya bergerak tahu2 Lih-ih-hiat-li telah menyusul tiba, dalam kagetnya cepat ia lepaskan tiga kali pukulan sekali njentikan jari dan dua kali tendangan berantai, Kedua orang sama-sama jago kelas satu dalam dunia persilatan, setiap gerak tangan atau kaki semuanya luar biasa, tampaklah sebentar mereka bergumul menjadi satu, lain saat berpisah, pertarungan berlangsung dengan sengit.

Dalam waktu singkat, puluhan jurus sudah lewat, namun menang-kalah masih sukar ditentukan.

Melihat gurunya dan Lik-ih-hiat-li terlibat dalam pertarungan seru, diam-diam Tong Yong-ling merasa cemas, ketika sinar matanya menatap Bok Ji-sia, mendadak terlintas satu ingatan dalam benaknya.

"Sekarang Suhu sedang terlibat dalam pertarungan sengit melawan Lik-Ih-hiat-li, akupun tak bisa membantu, daripada gelisah di sini, mengapa tidak kucari suatu tempat untuk mengobati lukanya"

Berpikir demikian, ia lantas melirik sekejap ke arena pertempuran, kemudian dengan cepat menyambar tubuh Bok Ji-sia terus dilarikan secepat terbang.

Waktu itu, seluruh perhatian Lik-ih hiat-li lagi tertuju pada Bwe-hiang-sian-ki, ia tak menyangka Eok Ji-sia telah dilarikan orang, ketika merasa sudah terlalu lama bertempur, beruntun dia lancarkan beberapa kali serangan mematikan.

Setelah mendesak mundur Bwe-hiahg-sian-ki beberapa langkah, dengan muka kelam ia membentak.

"Lihat serangan!"

Dengan jurus Ih-Jwe-wi jit (hari kiamat meliputi jagat), bayangan telapak tangan yang menyilaukan mata segera mengitari setiap bagian tubuh Bwe-hlang-sian-ki.

Bwe-hiang-sian-ki terkesiap, mendadak ia menjerit kesakitan, air mukanya berubah hebat, butiran keringat mengucur keluar tiada hentinya ...

"Bagus, bagus sekali!"

Serunya sambil tertawa seram.

"Lik-ih-hiat-li, kita catat saja dendam ini dalam buku utang kita!"

Sekalipun tenaga dalamnya cukup sempurna, sayang ilmu pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang adalah ilmu yang maha dahsyat, ia merasakan sekujur badan bergetar keras, tahu-tahu badan menjadi lemas dan hawa murni buyar.

Meski Lik-ih-hiat-li berhasil melukai Bwe-hiang-sian-ki dengan pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang.

namun ia sendiri juga termakan oleh pukulan Bwe sat-ciang sehingga hawa murni dalam tubuh sukar dihimpun kembali.

Maka sambil mendengus serunya.

"Kau tidak puas? Hm, cepat atau lambat kaupasti akan mampus di tanganku!"

Tiba-tiba terdengar teriakan marah, rupanya Bwe-hiang-siao-ki telah mengetahui hilangnya Tong Yong-ling, hal ini membuatnya gusar sekali.

"Anak Ling! Anak Ling!"

Teriaknya berulang sambil mengawasi keadaan sekitar sana.

Suasana hening, tak terdengar suara apapun, bayangan Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling seakan-akan lenyap tak berbekas.

Mendengar teriakan itu, Lik-ih-hiat-li ikut terkejut, cepat ia memeriksa keadaan di sekitar situ, ketika diketahui Bok Ji-sia dm Tong Yong-ling telah lenyap bersama, hatinya menjadi gelisah, dengan pedih ia berpekik seram.

"Bagus, bagus sekali!"

Teriaknya dengan gusar, ternyata kalian guru dan murid telah menggunakan siasat 'bersuara di timur menyerang ke barat' untuk menipu aku ...."

Bwe-hoa sian-ki tertegun, lalu teriaknya dengan marah.

"Jangan sembarangan kau fitnah orang!"

Sambil melangkah maju Lik-ih-hiat-ih berteriak lagi dengan gusar.

"Hari ini, jika tidak kau serahkan Bok Ji-sia padaku, aku bersumpah tidak tinggal diam."

Kini luka Bwe-hiang-sian ki sudah parah sekali, ia terkesiap melihat tampang Lik-ih-hiat-li yang mengerikan itu, dari air muka Lik-ih-hiat-li itu ia tahu orang berani bicara dan tentu bisa dilakukannya, padahal ia sendiri tak mampu memberikan penjelasan, tentu saja ia menjadi gelisah.

Diam-diam ia coba untuk menyalurkan hawa murni ke seluruh kadan, tapi segera diketahui tenaga sudah tak tersalur lagi, malahan lamat-lamat dadanya terasa sakit, sadarlah dia sukar untuk melakukan pertarungan lagi.

Bwe-hiang-sian-ki tertawa pedih, ujarnya kemudian.

"Aku adalah seorang yang sudah berusia setengah abad lebih, mana mungkin kulakukan perbuatan rendah yang memalukan?"

Lik-ih-hiat-li memandang keselamatan Bok Ji-sia lebih berharga danpada nyawa send'ri, dia me-lengak melihat Bwe hiang-sian-ki bicara dengan sungguh-sungguh.

Sebagai seorang ketua suatu perguruan, sudah barang tentu Bwe-hiang-siaa-ki takkan sembarangan bicara, apalagi menyangkal perbuatan sendiri, mau-tak-mau Lik-ih-hiat-li percaya keterangannya.

Pikirnya.

"Tak ada gunanya banyak bicara lagi, lebih baik mencari jejak Ji-sia lebih dulu Meskipun Tong Yong-ling termashur kekejiannya, tapi dia jatuh cinta kepada anak Sia, tak nanti dia membikin susah padanya. Apalagi Bwe-hiang-sian-ki terhitung Han-bwe-koksu, jika anak Sia sampai tertimpa musibah, aku masih bisa mendatangi Han-bwe-koknys untuk membuat perhitungan"

Berpikir demikian, sambil tertawa dingin ia berkata.

"Baiklah, untuk sementara waktu kulepaskan dirimu, lain kali bila bersua kita boleh kita bikin perhitungan lagi!"

Bayangan hijau berkelebat, dengan cepat luar biasa la menuju ke arah barat.

Dengan termangu-mangu Bwe-hiang sian ki memandang bayangan punggung orang hingga lenyap dan pandangan, sebagai salah seorang di antara Bu-lim-jit-koay, dia tak menyangka hari ini akan dipecundangi Lik ih-hiat-li yang baru muncul dalam dunia persilatan, hatinya betul-betul-sedih dan menyesal.

"Ai!"

Dia menghela napas sedih, dengan langkah gontai pelanan dia pergi dari situ, Dalam pada itu Bwe-hoa-gian-kiam Tong Yong-ling dengan membawa Bok Ji-sia telah melarikan diri tanpa tujuan, saat itu dia cuma pikir makin jauh menghindarkan diri semakin baik, sekalipun sampai di suatu tempat yang tak bermanusia pun dia rela mati bersama anak muda tersebut.

Tiba-tiba dari belakang berkumandang suara panggilan yang sudah dikenalnya, ia terkesiap dan menyangka gurunya, Bwe-heng-sian-ki telah melakukan pengejaran setelah mengetahui dirinya menghilang.

Pada saat itu pula tiba-tiba Bok Ji-sia membuka matanya, dengan perasaan tergetar serunya cepat.

"Engkoh Bok, baik-baiklah kau ... ."

Belum selesai perkataannya Bok Ji-sia telah pejamkan kembali matanya, dari mimik wajahnya, Yong-ling tahu anak muda itu sedang merasakan-penderitaan yang luar biasa dan bertahan sekuatnya.

Pedih hatinya, tanpa terasa air mata bercucuran, dia berbisik.

"O, engkoh Bok, sekalipun kita tidak dilahirkan bersama, kurela mati dalam satu liang denganmu, selamanya akan kutemani dirimu!"

Sambil berkata, dia membaringkan Bok Ji-sia, dia bermaksud menyadarkan pemuda itu dengan bantuan tenaga dalamnya. Mendadak seseorang bergelak tertawa.

"Hahaha, tidak dapat lahir bersama, rela mati dalam satu liang, hahaha"

Mendengar itu, merah wajah Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling, cepat bentaknya.

"Kawanan tikus dari mana yang berani mempermainkan nonamu!"

Kontan ia menghantam ke arah suara ejekan tadi. Pukulan ini dilancarkan dalam keadaan marah bercampur gusar, kekuatannya luar biasa.

"Hah, galak amat nona Tong!"

Gelak tertawa mengejek kembali berkumandang.

Menyusul suara ejekan itu, sesosok bayangan berkelebat, Kiam-hong-siaucengcu Lamkiong Giok Ki dengan senyum dikulum pelahan muncul dari tempat sembunyinya.

Tong Yong-ling terkesiap, ia tahu akan kelicikkan serta kebusukan .Lamkiong Giok.

makin ramah sikapnya berarti semakin banyak niat busuk yang tersimpan dalam hatinya.

"Lebih baik kau jangan cerewet,"

Serunya dengan ketus.

"kalau tak ada urusan, cepat enyah dari sini!"

Lamkiong Giok tertawa, dia melangkah maju dan pura-pura berseru dengan penuh perhatian.

"Eh, bukankah dia ini saudara Bok? Nona Tong, kenapa dia? Apakah____" . Tong Yong-ling mendengus, jawabnya.

"Tak perlu kucing menangisi tikus, sok berlagak kasihan. Hm. nonamu sudah tahu sampai di mana kebusukanmu!"

Selintas rasa marah menghiasi wajah Lamkiong Giok, tapi dengan cepat perasaan tersebut lenyap lagi, diam-diam ia menyumpah dalam hati.

"Budak sialan, jangan takabur dulu, suatu ketika kau pasti akan memohon-mohon kepadaku!"

Dengan pura-pura bersikap kurang senang ia berkata.

"Nona Tong, apa maksud perkataanmu itu? Aku dan saudara Bok bersahabat dengan sungguh-sungguh, setelah kuketahui saudara Bok tertimpa musibah saat ini, tentu saja aku tak dapat berpeluk tangan!"

Perkataan ini diucapkan dengan nada yang simpatik, seandainya orang tidak mengetahui kebusukan hatinya tentu akan anggap dia sebagai seorang lelaki sejati dan akan percaya begitu saja semua perkataannya.

Sambil berkata dengan cepat dia memegang nadi pergelangan tangan Bok Ji-sia.

"Jangan sentuh dia", bentak Tong Yong-ling dengan kuatir. Tiba-tiba ia menjentik, desing angin tajam menyambar telapak tangan Lamkiong Giok. Menghadapi ancaman ini, Lamkiong Giok buru-buru menarik kembali tangannya sambil melompat mundur, dengan wajah marah ia bergelak tertawa, gelak tertawa yang mengandung amarah yang meluap.

"Nona Tong. kaku kau bertindak demikian, maka kaulah yang tidak benar,"

Serunya kemudian. Tong Yong-ling melengak, tapi dengan cepat serunya dengan gusar.

"Apanya yang salah?"

"Aku dan saudara Bok boleh dibilang cocok satu sama lain,"

Kata Lamkiong Giok "sebagai sahabat, sudah seharusnya ku bantu dia sepenuh tenaga, siapa sangka kau sengaja menghalangi. maksud baikku ..."

Tiba-tiba Tong Yong-ling tertawa menghina, Lamkiong Giok merasa bingung, padahal sejak berjumpa dengan Tong Yong-ling, dalam benaknya selalu berkisar bayangan gadis tersebut, cuma selama ini Tong Yong-ling tak memberi kesempatan kepadanya, selalu tak menggubrisnya, hal ini pembuat Lamkiong Giok rada gemas.

Setelah tertawa, Tong Yong-ling berkata lagi dengan nada dingin.

"Di mulut bicara kebajikan dan luhur budi, padahal di dahm perut penuh kebusukan. Huh, manusia munafik semacam kau juga ingin menyembuhkan penyakit orang? Kukira ada maksud lain bukan?"

Lamkiong Giok tertegun, dia tak menyangka dirinya akan dipermainkan oleh gadis itu.

Sudah tertawa menghina, sekarang menyindir pula dengan kata-kata tajam, semua ini membuat hawa amarahnya berkobar dengan hebatnya.

"Nona Tong,"

Katanya kemudian,.

"kau terlalu memandang rendah diriku, meskipun aku bukan seorang tabib kenamaan, sedikit-banyak juga memiliki kepandaian keluarga, dengan ilmu pertabiban warisan ayahku, paling tidak aku bisa memeriksa keadaan saudara Bok serta melancarkan hawa murninya!"

Tong Yong-ling tahu orang merasa penasaran, dengan tertawa dingin sindirnya pula.

"Maaf! Maaf! Tak kusangka Huan-in-kiam Lamkiong Giok Tay-hiap juga seorang tabib ternama, cuma berulang kali kau bilang hendak menyembuhkan luka Bok Ji-sia, tahukah kau apa yang menyebabkan dia terluka?"

Pertanyaan ini di luar dugaan Lamkiong Giok dan membuatnya melengak, dengan gelagapan katanya kemudian.

"Soal ini ... ini ...."

Tong Yong-ling mendengus.

"Jika penyakit pasien saja tidak tahu, mana bisa menyembuhkannya? Kukira kau tak lebih hanya seorang pembual belaka, tak becus tapi mengaku pintar setinggi langit!"

Lamkiong Giok benar-benar diejek habis-habisan oleh gadis tersebut, tentu saja ia serba kikuk.

Akan tetapi bagaimanapun dia adalah seorang yang pintar, meskipun malu dan tersudut, tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, dengan cepat ia menemukan akal bagus untuk menghadapi orang.

Sambil tertawa terkekeh katanya kemudian.

"Nona Tong, salah besar jika kau berkata demikian."

Tong Yong-ling tertegun, kenapa orang mengatakan dirinya salah?

Apakah ada sesuatu yang tidak beres, atau ....

Lamkiong Giok pandai melihat perubahan air muka orang, melihat keraguan Tong Yong ling, ia lantas tahu gadis itu telah termakan.oleh ucapannya.

Maka dengan bangga ia berkata pula.

"Dalam soal ilmu pertabiban, orang me&ti melihat, mendengar, bertanya, baru kemudian memutuskan, aku kas belum memeriksa keadaan luka saudara Bok, sudah barang tentu tak bisa mengatakan ia terluka oleh apa, sekalipun Hoa To (nama seorang tabib sakti) lahir kembali juga belum tehtu bisa ...."

Tapi alis Tong Yong ling segera bekernyit setelah mendengar perkataan itu, katanya.

"Jika ilmu pertabiban mengutamakan melihat, mendengar, bertanya dan memutuskan, Sekarang kau sudah melihat, juga sudah mendengar, tentunya sudah bisa mengetahui keadaan sakitnya ..."

Selesai berkata, ia memandang Bok Ji-sia sekejap yang berada dalam pondongannya, lalu berangkat menuju ke arah barat.

"Kembali!"

Mendadak seorang membentak. Tiba tiba muncul enam lelaki berbaju ringkas warna hitam mengadang jalan pergi Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-liog, hal ini tentu saja membangkitkan amarah gadis tersebut.

"Lamkiong Giok,"

Bentaknya seraya berpaling.

"apa maksudmu berbuat demikian?"

Lamkiong Giok terbahak-bahak.

"Hahaha, jangan salah paham nona Tong, aku tiada bermaksud mengalangi kepergian nona."

"Lantas kenapa orang-orang ini mengadang jalan kepergianku?"

Dengus Yong-ling.

Sudah lama Lamkiong Giok terpikat oleh kecantikan Tong Yong-ling, sudah barang tentu ia tak mau melepaskan kesempatan baik ini, apalagi keadaan Bok Ji-sia sekarang sedemikian payah, asal ia gunakan eedikit akal niscaya anak muda itu akan tewas.

Selain itu ia juga menyadari betapa cepatnya kemajuan kungfu Bok Ji-sia, malah jauh di atas kepandaiannya, lama kelamaan orang pasti akan menjadi salah seorang lawan tangguhnya.

Tapi bila teringat pada Lik-ih-hiat-Ii, tubuhnya lantas gemetar, Lik-ih-hiat-li pernah berkata, apabila Bok Ji-sia mengalami apa-apa, dialah yang pertama-tama harus bertanggung jawab.

Betul ayahnya.

Lamkiong Hian, pasti akan membelanya, atau mungkin bisa menandingi kehebatan perempuan itu, tapi jtau pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang cukup menggetarkan hati Lamkiong Giok.

Satu pikiran segera terlintas dalam benakayp.

"Ah, peduli amat! Sekalipun hari ini Bok Ji-sia tewas di tanganku, belum tentu Lik-ih hiat-li tahu pembunuhan ini dilakukan olehku, apalagi Bwe-hoa-sian-kiam juga tak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab ini ..."

Berpikir demikian, sambil tertawa terbahak-bahak katanya.

"Tapi kalau mereka rni tidak mau melepaskan nona Tong, aku kan tak bisa berbuat apa-apa!"

"Hehehe, kau kira mereka dapst berbuat sesukanya?"

Ejek Tong Yong-ling.

"Cring!"

Pedang segera dilolos dari sarungnya, sekali bergetar senjata itu terdengarlah suara mendengung yang memekakkan telinga.

"Sret", cahaya perak menyambar tubuh keenam orang lelaki berbaju hitam itu. Bayangan orang berkelebat diikuti serentetan jeritan'ngeri yang menyayat hati, sesosok tubuh tinggi besai tiba-tiba roboh terjengkang, darah segar segera berhamburan. Lamkiong Giok terperanjat, dia tak menyangka Pwe-hoagian-kiam Tong Yong-ling dengan memondong sesosok tubuh masih memiliki kepandaian selihai ini.

"Nona Tong, maaf aku terpaksa harus bertindak kasar kepadamu!"

Katanya kemudian sambil tertawa seram.

Tong Yong-ling ikut terkesiap, serangan tadi hanya kebetularr saja berhasil membunuh seorang, kini masih sisa lima Orang lagi, mendingan jika satu lawan satu tapi kalau lima orang turun tangan bersama, betapapun dia pasti akan kerepotan kecuali melepaskan dulu tubuh Bok Ji-sia ke tanah.

Namun sekarang bila Lamkiong Giok ikut turun tangan, tak bisa disangkal lagi dalam tiga puluh gebrakan dia pasti akan kehabisan tenaga.

Maka sambil tertawa pedih katanya.

"Kalau tidak takut mampus, ayo majulah!"

Pedang diputar dengan jurus Ki-hwe-liau-thian (mengangkat obor membakar langit) untuk mendesak mundur beberapa orang itu.

"Sreet,"

Segera ia menusuk Lamkiong Giok. Lamkiong Giok bergelak tertawa serunya.

"Ilmu pedang Bwe-hoa-kiarn memang hebat, aku ingin belajar lebih banyak!"

Ujung bajunya segera mengibas ke depan, lima jalur cahaya putih dengan cepat menggulung tubuh Tong Yongling, dahsyat sekali serangan tersebut hingga gadis itu terperanjat.

Olah karena harus memegangi tubuh Bok Ji-sia, gerak-geriknya menjadi kurang leluasa, buru-buru dia melangkah ke samping, kemudian dengan jurus Siau-ci-Iam-san (sambil tertawa menuding bukit selatan) ia tusuk tenggorokan Lamkiong Giokr "Tring-ting", cahaya putih lenyap, lengan Tong Yong-ling kaku kesemutan dan hampir saja pedang terlepas dari genggaman, sedangkan Lamkiong Giok dengan senyum bangga sedang memandangnya tanpa berkedip.

Malu dan marah Tong Yong-liag, bentaknya murka.

"Lamkiong Giok, biar aku beradu jiwa denganmu!"

Segera pedang menusuk, cahaya perak menyambar secepat kilat.

Huan in-kiam Lamkiong Giok terkejut, cepat ia melambung ke udara untuk menghindar, lalu pedang pendek dilolos, bayangan sinar pedang segera mengurung sekujur tubuh Tong Yong-ling.

Gadis itu menjerit kaget, lengan kirinya tersambar sehingga robek sebuah luka yang panjang, darah segar mengucur keluar, karena mendongkol hampir saja ia menangis.

"Lamkiong Giok, kau manusia berhati keji,..."

Teriaknya sambil menyeringai. Makin sedih nona itu makin tertarik Lamkiong Giok, ia merasa kecantikan Tong Yong-ling saat ini jauh lebih menarik daripada keadaan biasa.

"Hahaba, kau sungguh amat cantik?"

Serunya, sambil bergelak tertawa. Murka Tong Yong-ling, ditambah rasa malunya, ia lantas membentak.

"Biar aku beradu jiwa denganmu!"

Pedang Bwe-hoa-kiam berputar menciptakan serentetan cahaya putih, lalu disambitkan ke arah Lamkiong Giok.

"Siaukokcu, cepat mundui!"

Teriak beberapa orang lelaki kekar itu dengan kuatir. Sambil memutar senjatanya mereka lantas menubruk ke arah Tong Yong-ling.

"Sret"

Diiringi hawa pedang yang memekak telinga, Lamkiong Giok merasakan bahunya menjadi sakit, air muka berupah pucat.

"Kau mencari penyakit sendiri, jangan menyesal bila Lamkiong Giok bertindak keji padamu!". Tiba-tiba dia melompat maju dan membentak.

"Mundur semua!"

Dengan ketakutan kelima orang itu segera melompat mundur ke belakang.

Air muka Lamkiong Giok sedingin es, hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, perahan ia mendekati Tong Yong-ling.

Tong Yong-ling tahu sulit untuk meloloskan diri, setelah menghela napas dan memandang sekejap Bok Ji-sia, pelahan ia duduk ke tanah.

"Ai, engkoh Bok,"

Keluhnya sedih.

"Inilah sobat karibmu! Tahu begini, tidak perlu kau berteman dengan manusia yang lebih rendah karipada binatang ini!"

"Hehehe, sekalipun kau memberitahukannya sekarang juga tak berguna,"

Ejek Lamkiong Giok, Sambil melompat maju, tiba-tiba telapak tangannya direntangkan, tangan yang satu mencengkeram dada Tong Yong-ling sementara tangan yang lain menghajar batok kepala Bok Ji-sia, rupanya dia ingin membunuh Bok Ji-sia terlebih dulu baru kemudian, membekuk si nona manis.

Napas Tong Yong-ling tampak terengah, hakikatnya ia tak bertenaga lagi untuk melawan, ia tahu nyawanya tak bisa lolos dari cengkeraman musuh, maka ia bertekad akan mati bersama Bok Ji-sia.

Pada waktu itulah, tiba-tiba Ji-sia membuka matanya dan menarik napas panjang, seakan-akan seorang yang baru sembuh dari sakit parah, ia menengok ke arah Lamkiong Giok sambil tertawa getir.

Kejadian ini sangat mengejutkan Lamkiong Giok, cepat ia menarik kembali tangannya dan tersipu-sipu, diam-diam ia tercengang kenapa Bok Ji-sia masih sanggup membuka matanya.

Sebagai seorang yang banyak curiga, segera ia berpikir.

"Celaka, jangan-jangan Bok Ji-sia bersekongkol dengan Tong Yong ling untuk mencoba diriku? Kalau benar demikian, asal Bok Ji-sia mengetahui maksudku, dia pasti akan membenci diriku. Ah, kenapa tidak kugunakan kesempatan ini untuk memeriksa apakah Bok Ji-sia betul-belul terluka atau tidak? Jika benar-benar terluka, hari ini adalah kesempatan yang baik untuk turun tangan"

Ia memang jauh lebih pintar daripada orang biasa, menyadari gelagat tidak menguntungkan air mukanya segera berubah menjadi ramah dan berlagak simpatik.

"Saudara Bok,"

Demikian ia menegur sambil tertawa.

"bagian manakah dari tubuhmu yang terasa tak enak? Mari biar kuurutkan."

Ji-sia geleng kepalas sinar mata yang penuh rasa terima kasih terlihat jelas pada wajahnya.

Ia tidak tahu kelicikan dunia, ia sangka Lamkiong Giok adalah seorang sahabatnya yang dapat dipercaya.

Setelah mengatur napasnya, kemudian sahutnya sambil tertawa getir.

"Saudara Lamkiong, tidak kusangka menjelang ajalku masih sempat melihat dirimu untuk terakhir kalinya, bba memiliki seorang sahabat seperti kau, biar mati akupun tidak penasaran."

"Ah, kenapa saudara Bok berkata demikian,"

Lamkiong Giok mtnyengir, ''hubungan persahabatan kita sangat mendalam, andaikata saudara Bok mati, aku pasti akan menjelajahi dunia untuk menemukan musuhmu dan membalaskan dendam bagimu, kemudian Siaute pun akan bunuh diri di hadapan makam saudara Bok dan menyusulmu ke alam baka."

Tutur kata yang enak didengar dan bernada sungguh-sungguh itu membuat Ji-sia sangat terharu, ia dalam keadaan tsrlnka parah, ucapan semacam itu benar-benar suatu hiburan baginya.

Dengan perasaan terharu Ji sia tertawa, katanya.

"Sekalipun banyak teman di dunia, sahabat kental hanya ada satu, saudsra Lamkiong, budi kebaikanmu hanya bisa kubalas dalam penitisan yang akan datang!"

"Huh, kalau teman semacam ini? lebih baik tidak kenal!"

Mendadak seorang menyindir.

Ji-sia tertegun, sayang lukanya terlampau parah, tulang belalang bagaikan terlepas semua, walaupun dia ingin berpaling untuk memandang wajah Tong Yong-ling namun keinginannya tak tercapai, terpaksa ia hanya menghela napas.

"Nona Tong,"

Katanya kemudian dengan nada tak sen&ng.

"persahabatanku dengan saudara Lamkiong adalah persahabatan sehidup semati, jangan harap orang bisa merusak persahabatan kami, hendaknya kau jangan sembarangan bicara."

Sebenarnya Lamkiong Giok sangat gusar, tapi demi mendengar perkataan Bok Ji-sia itu, amarahnya lantas hilang separuh, sambil tertawa katanya.

"Saudara Bok, nona Tong mungkin agak salah paham kepadaku, jalan pikiran kaum perempuan biasanya memang lebih sempit, kita tak bisa menyalahkan dia, mungkin juga aku memang melakukan kesalahan"

Perkataan ini benar-benar amat manis dan mengharukan, siapapun tak mengira apa yang dipikirnya justeru akal untuk mencelakai Bok Ji-sia, hanya kesempatan yang ditunggu saja belum kunjung tiba.

Ia berpaling dan memandang sekejap Tong Yong-ling, kemudian sambil melangkah maju kataknya lagi.

"Saudara Bok, bencana sudah berada di sekitar sini, mari kuantar dirimu untuk minta pengobatan ayahku."

Wajah Bok Ji-sia tampak mengejang, untuk sesaat dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, keringat dingin membasahi jidatnya, se-akan2 sedang menahan penderitaan yang luar biasa.

Lamkiong Giok tahu kesempatan baik, ini segera akan hilang, dengan cepat kedua tangannya menyambar ke depan berusaha merampas Bok Ji-sia dari pelukan Tong Yong-ling.

Gadis itu terkejut, buru-buru dia mengegos ke samping.

"Biar maksud baikmu kuterima dalam hati saja!"

Kata si nona dengan tertawa dingin tiada hentinya.

Ji-sia tidak tahu maksud busuk Lamkiong Giok yang sesungguhnya, dia malah mengira pemuda itu adalah seorang lelaki sejati, rasa terima kasihnya menumbuhkan rasa hormatnya pula hingga ia sama sekali tidak menaruh prasangka apa-apa.

"Serahkan saja diriku kepada saudara Lamkiong!"

Katanya kemudian kepada Tong Yong-ling dengan tertawa pedih. Gemetar badan Tong Yong-ling, serunya dengan tercengang.

"Begitu percayakah kau kepadanya?"

Ji-sia meleaggong, lalu tertawa panjang.

"Harap nona Tong jangan kelewat curiga, saudara Lamkiong adalah orang sendiri, apalagi aku toh tak dapat kaupondong selamanya . ."

"Uaak!"

Kembali ia tumpah darah, air mukanya berubah dan kontan jatuh tak sadarkan diri.

Hati Tong Yong-ling berdebar keras dan merasa malu, ketika tiba-tiba dirasakan Ji-sia bergemetar dan tumpah darah, keadaannya sangat lemah, tak terkatakan cemasnya.

Ia tak tahu apa yang mesti dilakukannya, dia cuma memandangi pemuda itu dengan termangu.

"Nona Tong,"

Tiba-tiba Lamkiong Giok tertawa aneh.

"engkau seorang nona, mana boleh membopong seorang lelaki terus menerus di tempat sepi seperti ini . ."

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling terkejut mendengar perkataan itu, diam-diam ia memaki diri sendisi.

"Aku benar-benar gegabah, musuh tangguh belum pergi, pikiranku sudah melayang tak keruan"

Belum lagi lenyap pikiran, itu, tiba-tiba terendus bau harum yang aneh menyerang hidungnya.

Ia ingin berteriak, sayang sudah terlambat, dunia serasa berputar, tubuh menjadi enteng bagaikan terbang di angkasa ....

"Bluk", tubuh Bok Ji-sia yang dipegang Tong Yong-ling terjatuh ke tanah, Dengan cepat Lamkiong Giok melompat maju untuk memayang tubuh Tong Yong-ling hampir roboh itu, timbul air mukanya yang berubah-ubah, entah girang atau terkejut! Cuma dia sendiri yang tahu.

"Nona Tong, kenapa kau?"

Katanya dengan tertawa culas. Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, katanya lagi.

"Cepat bawa pulang ke Kiam-hong-ceng, rahasiakan kejadian ini, kalau tidak ... Hmm!"

Orang-orang itu sudah lama tinggal di Kiarn-hong-ceng, mereka tahu kekejaman Lamkiong Giok, mendengar peringatan itu diam-diam mereka merinding, sekali membentak, diangkatlah kedua tawanan itu dan meninggalkan tempat itu.-Tiba-tiba berkumandang suara pekik nyaring keras.

Makin lama semakin keras.

Dari suaranya dapat diketahui tenaga dalam orang ini pasti tinggi sekali.

Terkesiap Lamkiong Giok mendengar suara pekikan itu, mendadak ia teringat pada seorang, buru buru dia angkap langkah seribu.

"Cepat lari!"

Bentaknya.

Segera kelima orang itu mempercepat larinya meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu singkat, Lamkiong Giok dan begundalnya sudah kabur dan lenyap dari pandangan-Berbareng dengan berhentinya suara tadi, tampak sesosok bayangan hijau secepat kilat meluncur tiba.

Ia memandang sekejap sekeliling tempat itu alu bergumam.

"Aneh. jelas kudengar di sini ada orang, kenapa sekarang menghilang? Jangan-jangan mereka telah kabur."

Ia lantas menunduk kepak dan memeriksa sekitar situ dengan cermat, tiba-tiba ia mendengus, ternyata lamat lamat dapat dilihat beberapa bekas telapak kaki, dengan mengikuti bekas telapak kaki itu pengejai\ran segera dilakukan.

Meskipun Lamkiong Giok berotak cerdas, sayang di antara ketelitiannya tetap melupakan sesuatu.

Dia cepat-cepat meninggalkan tempat itu, tapi lupa tenaga dalam anak buahnya cuma kelas dus, apalagi harus berlarian dengan menggendong dua orang, dengan sendirinya meninggalkan bekas yang nyata, Berdiri jauh perempuan berbaju hijau itu menelusuri jejaknya segera ditemukan sesosok mayat yang tergeletak bergenang darah, itulah mayat jago Kiam-hong-ceng yang mati tertusuk oleh Tong Yoog-ling tadi.

Sambil mendengus, perempuan itu melanjuskan pengejarannya, hatinya sangat gelisah.

Belasan li telah dilampaui dalam sekejap mata.

Mendadak terdengar seorang membentak.

"Siapa di situ, berhenti!"

Sambil berheati Lik-ih-hiat-li tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku lagi kuatir tak dapat menemukan jejak kalian, tak nyana kalian malah muncul sendiri untuk mengundang diriku."

Dia tidak menggubris kedua sosok bayangan yang menebeng ke arahnya, dia malah menyusup ke arah pintu gerbang di balik kerimbunan pepohonan.

"Berhenti!"

Kembali muncul dua orang, kini dari depan, belakang, kiri dan kanan seluruhnya muncul empat jago muda bersenjata pedang. Melihat jalannya teradang, Lik-ih-hiat-li mendengus, katanya.

"Tempat ini bukan tempat terlarang, siapa yang. berani merintangi diriku ..."

Diam-diam ia himpun tenaga pada telapak tangan dan siap melancarkan serangan, sambil tertawa dia maju beberapa langkah lagi ke depan.

Sikapnya yang angkuh dan tak pandang sebelah mata kepada orang lain ini menimbulkan perasaan gemas bagi keempat pemuda itu.

"Cring!"

Mereka segera melolos pedang dsn rnengadang di depan perempuan itu.

"Mei, peraturan busuk dari manakah ini?"

Tegur perempuan itu sambil tertawa dingin.

"Kenapa begitu berjumpa lantas main senjata?"

Keempat pemuda itu saling pandang sekejap, setelah saling memberi tanda, tiba-tiba salah seorang di antaranya mengamati perempuan berbajia hijau itu, lalu tegurnya.

"Tahukah nona tempat apakah ini!"

Lik-ih-hiat-li tertawa terkekeh-kekeh.

"Soal ini aku tidak tahu, tapi dapat kuberitahukan padamu, putraku jauh lebih besar daripadamu, kau main bentak padaku, apakah tidak merasa kurang sopan? Ayo cepat berlutut dan minta ampun atas dosamu itu!"

Air muka pemuda itu menjadi merah jengah, mana ia tahu apa yang diucapkan orang memang betul, tapi ia sangka perempuan itu sengaja mempermainkannya.

"Budak hina,"

Makinya dengan gusar.

"kau berani mencari gara2 pada tuanmu? Hm, rupanya kau ingin mampus!"

Sambi!

berkata ia lantas menuding sepotong batu besar di tepi jalan.

Ia tidak memperhatikan apakah perempuan berbaju hijau itu mirip seorang nona atau tidak, meski mukanya cantik jelita, tapi tak dapat menutupi kerut wajahnya yang menandakan sudah dimakan usia.

Mengikuti arah yang ditunjuk, perempuan itu berpaling, seketika hatinya tergetar, kiranya pada batu itu tertera beberapa huruf besar yang ditulis dengan ilmu jari Kim-kong-ci yang hebat.

"Thian-he-ta-it-ceng -Kiam-hong-ceng". Artinya perkampungan nomor satu di dunia ini. Beberapa huruf kecil di bawahnya tak diperhatikannya lagi, sambil berpaling kembali katanya dingin.

"Kiam-hong-ceng bukan sarang naga atau gua harimau, anak muda, hanya ini saja nyonyamu tak dapat digertak,"

Pemuda itu segera angkat pedangnya sambil membentak.

"Tangkap perempuan ini!"

Dengan jurus Kim-peng-liang-ih (rajawali emas mementang sayap) tiba-tiba ia menusuk bawah perut perempuan berbaju hijau itu.

"Enyah dari sim!"

Bentak perempuan berbaju hijau itu. Sekali tangan bergerak, tidak nampak bagaimana menyerang tahu-tahu terdengar "Plak!"

Hanya satu jurus'saja pemuda itu sudah mencelat dan mati seketika, siapa pembunuhnya belum lagi diketahui, jiwa sudah melayang.

Tiga jago muda lainnya menjadi ketakutan melihat kehebatan lawan, tapi peraturan Kians-hong-ceng terlalu keras, sekati pun harus mati juga tak boleh mundur, terpaksa sambil menggerakan pedang mereka menubruk maju dao melancarkan serangan.

Di tengah suara tertawa dingin Lik-ih-hiok-li mengayun lagi telapak tangannya, kembali seorang jago muda binasa, hal ini membuat dua orang kawannya menjadi ketakutan setengah mati.

Perempuan baju hijau itu tidak menyerangg lagi, ia tertawa terkekeh-kekeh'"Tak ada gunanya batu ini, lebih baik di musnahkan saja,"

Tubuhnya bergerak cepat, di antara gelaktawa melengking, telapak tangannya diayunkan ke depan menghantam batu peringatan yang besar itu.

"Blang!"

Bumi bergoncang, batu berhamburan, batu besar yang bertuliskan "Thian-be-te-it-ceng"

Tadi tahu-tahu terhajar sehingga hancur lebur Pada saat itu pula tiba-tiba berkumandang gelak tertawa yang nyaring, berbareng meluncur tiba sesosok bayangan, terdengar orang itu membentak.

"Siapa yang berani membikin onar dalam Kiarn-hong-ceng?"

Baru saja perempuan berbaju hijau itu tertegun, tiba-tiba terasa angin pukulan yang kuat tanpa suara menerjang tiba.

Ia terkejut, buru-buru ia melayang ke samping telapak tangan kiri diayunkan ke muka melancarkan pukulan balasan.

"Plak"

Benturan keraa terjadi.

Penyerang itu tampaknya terpukul dengan berat, beruntun tergetar mundur beberapa langkah sedangkan perempuan berbaju hijau itu sendiri berdiri tegak di tempatnya.

Tertampak seorang kakek kurus berjubah panjang sedang mengamati perempuan berbaju hijau itu dengan rasa kaget, sorot matanya yang tajara sungguh mengerikan orang.

Perenipuan berbaju hijau itu tertawa dingin, tegurnya "Hai, untuk apa sepasang mata anjingmu melotot terus kepadaku?' Kakek itu terkejut, lalu mendengus.

"Hmm kukira kaulah yang bernama Lik-ih-hiat li?"

"Betul, mau apa?"

"Hehehe, Kiam-hong-ceng kaaai tak pernah berselisih denganmu, ibaratnya air sungai tidak mengganggu air sumur, kenapa hari ini kau membantai anggota perkampungan kami dan menghancurkan tugu peringatan kami? Apakah kau sengaja pamer kelihaianmu di sini?"

"Hm, .kalau betul mau apa? Kalau tidak lantas bagaimana?"

Si kakek semakin naik pitam, bentaknya.

"Kalau betul maka nyawamu mesti ditinggalkan di sini, kalau tidak, lekas kutungi sendiri kedua tanganmu dan sebuah kakimu untuk menebus dosamu itu!' "Kalau aku tidak mau!"

Ejek Lik-ih-hiat-li.

"Terpaksa harus kuturun tangan sendiri!"

Bentak kakek itu dengan gusar. Kedua telapak tangannya segera terentang bagaikan harimau lapar segera ia menubruk.

"Tunggu sebentar!"

Seru Lik-ih-hiat-li.

Dengan suatu gerakan enteng ia mengegos ke samping dan meloloskan diri dari cengkeraman maut lawan, gerakan indah seperti bidadari turun dari kayangan, sama sekali tidak kelihatan sebagai seorang perempuan pembunuh.

"Kau berubah pikiran?"

Jengek si kakek sambil menarik kembali serangannya. Lik-ih-hiat-li terkekeh-kekeh.

"Selamanya aku tak pernah memhunuh orang yang tak bernama sebutkan dulu siapa namamu!"

"Tak perlu banyak bicara, aku adalah Hian-thian-it-lo!"

Jawab kakek itu marah.

Selesai berkata sambil-berpekik nyaring kedua telapak tangannya diayun ke kiri dan ke kanan dengan jurus Lam-hay-ku-tan (sampan tunggal di laut selatan), sekujur tubuh Lik-ih-hiat-li berada di bawah-ancamannya.

Dengan alis menegak Lik-ih-hiat-li membentak, telapak tangan memukul dari jauh.

"crit'', cahaya terang langsung menyambar kepala Hiaa-thian-it-lo. Terkesiap Hian-thian-it-lo, angin tajam itu membuatnya menggigil, cepat tangan memukul ke depan, tapi segera ia mendengus tertahan, tiba-tiba air muka Hian-thian-it-lo berubah hebat, sinar matanya guram, sekujur badan gemetar keras. LJk-ih-bat-li tertawa sinis. Tapi mendadak dari empat penjuru di sekelilingnya berkumandang suara langkah kaki yang teratur, jelas suara langkah kaki itu bukan cuma satu orang, tapi kedengarannya seperti berasal dari seorang yang sama. Lik-ih-hiat-li terperanjat, coba memandang sekeliling tempat itu, air mukanya berubah lagi, tertampak olehnya beberapa baris lelaki bersenjata lengkap muncul dari empat penjuru dan menerjang ke arahnya. Orang-orang itu semuanya memejamkan mata, senjatanya panjang melebihi ukuran senjata biasa, keadaan mereka bagaikan orang linglung, mereka berjalan ke depan tanpa peduli apa yang terjadi. Makin melihat Lik-ih-hiat-li makin terkesiap, dalam waktu singkat ia sudah terkepung di tengah, sementara orang-orang itu meluruskan senjata ke depan sejajar dada, asal mereka mendesak lebih ke depan, niscaya sulit baginya untuk meloloskan diri dari lingkaran kepungan. Pada saas itulah, dari udafa berkumandang suara bentakan keras menggeledek.

"Siaucengcu tiba ..."

Habis suara bentakan itu, dari kejauhan muncul empat sosok bayangan meluncur datang dengan cepat luar biasa, menyusul lagi empat orang lelaki berbaju hitam, lalu sesosok bayangan yang ramping dengan gerak yang lincah tanpa menimbulkan suara muncul pula di tengah arena.

Sementara itu para jago yang lincah berada di sekeliling tempat itu telah berhenti bergerak, meski mata mereka masih terpejam, namun setiap orang berdiri dengan wajah serius tanpa kacau.

Hian-thian-it-lo segera maju memberi hormat seraya berkata.

"Siaucengcu, perempuan ini adalah Lik-ih-hiat-li, sungguh menyesal kepandaianku bukan tandingannya"

Rupanya ia sudah keder oleh kelihaian tenaga dalam Lik-ih-hiat-ii, kuatir Siaucengcunya tak sanggup melawan, buru-buru ia memberi peringatan.

Tentu saja ia tak pernah menyangka Lamkiong Giok sudah berulang kali berjumpa dengan Lik-ih-hiat-li..Huang-in-kiam Lamkiong Giok mengangguk sambil tertawa, sahutnya.

"Aku tahu, pergilah beristirahat saja."

Karena terhajar oleh Peng-sian-jit-gwat-ciang, sesungguhnya sejak tadi Hian-thian-it-lo sudah payah, cuma tenaga dalamnya cukup sempurna sehingga ia dapat bertahan sehingga tidak roboh.

Tapi setelah membuka suara, tenggorokannya segera terasa anyir, tak tahan lagi ia tumpah darah segar, cepat dia kabur kembali ke dalam perkampungan.

Huan-in-kiara Lamkiong Giok kini harus berhadapan dengan Lik-ih-hiat-li, diam-diam hatinya kebat-kebit, ia sudah cukup mengetahui, kehebatan tenaga dalam perempuan itu serta kekejiannya, ia sadar kepandaian sendiri masih bukan tandingan lawan.

Setelah berpikir, kemudian sambil menjura dan tertawa, katanya.

"Locianpwe, kenapa tidak kauberitahukan dulu kunjunganmu ini agar Wanpwe bisa menjadi tuan rumah yang baik."

Lik-ih-hiat-li mendengus, sambil menuding ke sana, dengusnya.

"Beginikah caramu mengundang tamu!"

Lamkiong Giok adalah pemuda yang pintar, sambil pura-pura berpaling ke belakang diam-diam ia memberi tanda kepada anak buahnya, lalu dengan berlagak marah, bentaknya.

"Kalian mundur semua dari situ!"

Tapi kawanan jago bersenjata lengkap itu masih berdiri tak bergerak di tempat semula, senjata mereka teracung ke atas, sedikitpun tidak bermaksud mengundurkan diri dari situ, hal ini menyebabkan Lik-ih-hsat-li berkerut kening.

Lamkiong Giok memperlihatkan senyuman getir, katanya.

"Maafkan ketidak mampuan Wanpwe, harap Locianpwe maklum"

"Lamkiong Giok, kau anggap aku anak kecil berusia tiga tahun yang gampang kau tipu?"

Jengek Lik-ih-hiat-li.

"memang kau cerdik, sayang kau justru keblinger oleh kecerdikan mu itu."

Merah padam wajah Lamkiong Giok, ujarnya, tersipu-sipu.

"Ketahuilah Cianpwe, meskipun Wari-pwe menjabat sebagai Siaucengcu perkampungan Kiam-hong-ceng, sesungguhnya hanya pirnya nama dan tak punya kekuasaan apa-apa, Wanpwe bodoh dan berpengalaman cetek masih belum pantas memimpin orang lain, itulah sebabnya kecuali ayahku boleh dibilang tak ada orang lain lagi yang bisa memeriatah acak buahnya .."

Lik-ih-hiat-li tertawa seram.

"Kalau memang tak becus, mau apa kau datang kemari?"

Lamkiong Giok berbuat demikian dengan harapan agar ayahnya cepat-cepat muncul, tapi ucapan Lik-Jh-hiat-li itu sungguh membuatnya tak tahan "Aku mengalah kepadamu bukan berarti aku takut padamu.

Baik, setelah kaudatang kemari, itu berarti kau sengaja datang untuk mencari perkara-Wanpwe tetap menurut peraturan dan ingin tahu dulu maksud kedatanganmu."

Dengan wrjah dingin Lik-ih-biat-li berkata.

"Pertama kudatang kemari untuk mencari dua orang. Kedua akupun ingin menjumpai jago paling hebat di dunia ini, Kiam-hong cengcu Lamkiong Hian."

Mendengar ucapan tersebut, Lamkiong Giok terkejut, pikirnya.

"Kedatangannya ini jelas suatu kesengajaan, jangan jangan dia sudah tahu aku telah melarikan Bwe hoa-sian-kiam Tong Yong-ling dan Bok Ji-sia? Kalau demikian, urusan sekarang menjadi agak repot."

Tentu saja ia tidak perlu menguatirkan keselamatan ayahnya yang dicari Lik-ih-hiat-li, yang membuatnya kuatir adalah perbuatannya itu akan diketahui oleh perempuan ini.

Diam-diam ia menjadi nekat, katanya.

"Tentang soal pertama, Wanpwe benar-benar tak mengerti siapakah orang yang hendak dicari oleh Cianpwe, kalau dia berada .dalam perkampungan kami, dengan senang hati Wanpwe akan membantu Cian-pwe . , . mengenai soal kedua, berhubung Wanpwe baru saja pulang bepergian, maka belum kuketahui apakah ayahku berada di rumah atau tidak, seandainya ada, Wanpwe tentu akan menyampaikan maksud Cianpwe kepada beliau .. , ."

Adapun, tujuan kedatangan Lik-ih^hiat-li adalah untuk mencari Bok Ji-sia, mendengar perkataan Lamkiong Giok yang kurang beres, rasa gelisah segera menghiasi wajahnya, serunya.

"Sungguhkah perkataanmu!"

"Kenapa aku membohongi mu?"

Jawab pemuda itu pura-pura tak senang hati.

Pekikan sedih mendadak berkumandang, dengan mata kepala sendiri Lik-ih-hiat-li menyaksikan betapa parahnya luka Bok Ji-sia, hal ini membuatnya gelisah bercampur sedih.

Bentaknya kemudian dengan sedih.

"Omong kosong, masa dapat kaubohongi aku?"

Habis berkata, tiba-tiba telapak tangannya mencengkeram ke muka.

Lamkiong Giok terperanjat hendak mengelak jelas tak sempat lagi, sambil membentak kedua telapak tangannya segera menolak kedepan.

Sesungguhnya serangan Lik-ih-hiat-li hanya pancingan belaka, tenaga pukulan yang sebetulnya berada dakm telapak tangan kanan, ia berharap Lamkiong Giok akan menangkis deagan tenaga tolakan Lamkiong Giok itulah, tiba-tiba badannya melambung ke udara.

Menyusul telapak tangan diayun ke bawah, jeritan ngeri segera terdengar, bayangan manusia berkelebat, hawa pedang menyelimuti udara dan angin menderu.

"Pertahankan posisi masing-masing, jangan melukai orang!"

Bentak Lamkiong Giok.

Lik-ih-hiat-li tertawa seram, secepat kilat ia berkelebat lewat di atas kepala kawanan jago itu, dengan cepat luar biasa ia menyerbu ke dalam Kiarn-hong-ceng.

ooo O ooo dw ooo O ooo Udara sangat gelap, suasana di sekeliling sunyi senyap.

Mendadak cahaya kilat berkelebat, menyusul sesosok bayangan yang ramping sedang berjalan moifidar mandir dalam kegelapan.

Sorot matanya yang tajam bagaikan kelip bintang di angkasa, tapi mata itu basah oleh air mata wajahnya menunjukkan perasaan cemas dan gelisah yang luar bissa.

"Ai!"

Terdengar helaan napas sedih melampiaskan rasa kesalnya, air mata pun bercucuran membasahi pipinya. Kedua tangannya bergosok, lalu mengepalnya kencang-kencang, dengan penuh kebencian ia bergumam.

"Aku harus keluar dari sini, tak boleh kubiarkan dia berbaring seorang diri di sana."

Tiba-tiba terdengar seseorang menghela riapa; panjang, lalu menegur.

"Anak perempuan, kau ingin keluar dari sini?"

Karena teguran ini, gadis yang tampak gelisah itu terperanjat, sahutnya cepat.

"Benar, cuma ..."

Siapakah kakek pendek bermuka jelek ini dan apa hubungannya dengan keluarga Lamkiong? Dapatkah Lik-ih-hiat-li menyelamatkan Bok Ji-sia? -oo0dw0oo-

Jilid 19 Tiba-tiba cahaya lampu terang benderang, terlihatlah Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling berada dalam sebuah kamar tidur yang mewah dengan perasaan tak tenang.

Ketika berpaling, gadis itu menjerit kaget sambil menyurut mundur.

Seorang kakek pendek bertampang jelek, wajah penuh bercodet sedang memandang sambil tertawa, suara tertawanya tak enak didengar, membuat bulu kuduk orang berdiri "Kau ...

kau"

Dengan takut Tong Yong-ling menudingnya dan tidak sanggup meneruskan ucapannya, Kakek cebol yang jelek itu kembali tertawa.

"Hahaha, anak perempuan! Meski tampangku jelek, tapi jauh lebih baik daripada mereka yang berwajah tampan dan berlagak bajik, padahal hatinya lebih busuk daripada ular berbisa, kau jangan takut, dulu tampangku tak berbeda daripada orang lain, cuma .... ai!"

Setelah menghela napas ia melanjutkan.

"Kejadian masa lalu tak padu diingat-ingat lagi. Anak perempuan, bukankah kau hendak pergi dari sini? Selama hampir dua puluh tahun lamanya aku berdiam di sini. Aku tak ingin menyaksikan kau jatuh ke dalam cengkeraman ibiis-iblis itu, maka dengan mempertaruhkan selembar jiwaku akan kulepaskan kau pergi meninggalkan tempat ini ...jangan ragu-ragu, pergilah lekasi"

Perasaan Tong Yong-ling yang kalut dapat ditenangkan, tiba-tiba timbul perasaannya yang aneh terhadap kakek berwajah jelek ini, ia tidak merasakan kejelekan wajah kakek itu lagi, sebaliknya malah merasa iba dari kasihan padanya ....

"Siapa kau? Kenapa bisa berada di sini?"

Tanyanya kemudian dengan sangsi.

"Ai, tak perlu tanya lagi,"

Tukas si cebol berwajah jelek itu sambil menghwla napas.

"cepatlah pergi, kalau terlambat bisa jadi kau takkan keluar lagi dari sini ..."

Dari mimik wajah manusia jelek ini Tong Yongliog tahu orang masih ada persoalan yang hendak dibicarakannya, satu ingatan terlintas dalam benaknya, pelbagai hal mencurigakan segera timbul.

Dengan nada menyelidik ia coba bertanya,-"Locianpwe, apakah ada sesuatu yang perlu kulakukan?"

Manusia jelek itu kembari menghela napas.

"Ada, kau harus membunuh Lamkiong Hian dan memusnahkan Kiam-hong-ceog ini."

"Asal Wanpwe bisa melaksanakannya pasti akan kukerjakan,"

Tanpa ragu Tong Yong-iing berjanji.

"Eh, mengapa engkau menangis?"

Dua titik air mati meleleh di wajah manusia jelek itu, agaknya karena luapan emosi, ia menggenggam erat2 segulung kain. Melihat itu, Tong Yong-ling merasa heran, pikirnya.

"Mungkin orang ini mempunyai dendam kesumat yang tiada taranya serta dendam asmara yang sulit dilukiskan, tapi kenapa ia rela hidup sengsara dan menderita di tempat ini dan bersedia menjadi budak di sini!"

Karena heran ia lantas, bertanya.

"Cianpwe, kenapa kau tidak pergi?"

"Selama hidup aku takkan pergi, kecuali aku berjumpa dengan dia,"

Jawab orang itu sambil menghela napas, Setelah berhenti sejenak, ia membuka gulungan kain itu hingga tertampaklah sebuah lukisan yang menggambarkan seorang nyonya cantik sedang membopong seorang anak lelaki yang tampan, jelas orang ini mempunyai hubungan yang erat dengan nyonya cantik serta anak kecil itu, kalau tidak mana raung-km manusia aneh ini menunjukkan luapan emosi seperti ini?

Tong Yang-iing tertegun memandangi lukisan perempuan cantik itu, ia merasa perempuan ini seperti pernah dilihatnya di suatu tempat, bahkan terhadap anak lelaki itu iapun mempunyai kesan yang dalam.

Timbul rasa ingin tahunya, ia berkata.

"Apakah dia istrimu dan anakmu?"

Manusia cebol berwajah jelek itu mengangguk sambil menghela napas, kembali dipandangnya lukisan itu dengan termangu, air matanya kembali jatuh bercucuran.

Dengan perasaan terharu Tong Yong-ling ber-kata.

"Daripada menunggu di sini dengan percuma kan lebih baik tinggalkan tempat ini untuk mencari ibu beranak ini . .. Manusia aneh itu menggeleng kepala.

"Aku takut impianku akan buyar, meski tempat ini tak enak, tapi aku masih mempunyai sedikit harapan!"

"Harapan apa?"

Tanya Yong-liog.

Dari ucapannya ia tahu orang mempunyai suatu masalah yang pelik, cuma masalah itu agaknya tertutup oleh selapis kabut sehingga membuat orang sukar memahaminya.

Kembali manusia aneh itu mengeluarkan sehelai kain, katanya sambil membentangkan lukisan itu.

"Coba kaulihat, siapakah orang ini?"

Bwe-hoa-sian-kiam Tong-yong-ling terkejut, ternyata lukisan yang tertera di atas kain itu persis sekali dengan wajah Siaucengcu Kiam-hong-ceng, Lamkiong Giok adanya, malah boleh dibilang tiada perbedaannya sama sekali.

"Dia adalah Lamkiong Giok!"

Seru Yong-ling. Orang aneh itu tertawa seram? "Betul, dialah harapanku .... seorang yang tak mau mengaku sebagai putraku!"

"Apa katamu?"

Saking kagetnya hampir saja Tong Yong-ling melompat, ia tak menyangka manusia aneh berwajah jelek ini mempunyai asal-usul yang begitu misterius dan membingungkan orang.

"Sebenarnya berapa orang anakmu!"

Tanyanya heran.

"Hanya dua orang ini!"

Tong Yong-Jing terbenam dalam renungan yang kalut, setiap ucapan dan tertawa orang aneh ini sedemikian misterius membuai orang merasa asal-usulnya merupakan suatu cerita indah yang sulit dipahami.

Bukankah jelas diketahui bahwa Lamkiong Giok adalah putra tunggal Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian?

Kenapa bisa muncul seorang aneh ini yang mengaku dirinya sebagai ayah Lamkiong Giok?

Siapakah manusia aneh ini?

Kenapa bisa berada di sini?

Di atas gulungan kain itu bukankah dengan jelas tertera storang nyonya eantik dan seorang anak lelaki?

Apakah ....

Ketika melihat gadis itu diam saja, manusia aneh itu menghela napas, lalu berkata.

"Tak perlu kaupikirkan lagi, pergilah cepat! Aku hanya berharap bisa kau temukan mereka ibu dan anak berdua, beritahukan keadaanku kepada mereka, bila kau lihat anakku kelak, suruhlah dia membunuh Lamkiong Hiao ..."

Diam2 Tong Yong-Ung bertekad hendak menyelesaikan tugas titipan manusia aneh ini, ia sambut gulungan lukisan itu dan dilihatnya sekali lagi dengan saksama.

"Jangan kuatir Cianpwe, aku pasti akan berusaha sepenuh tenaga ..."

Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, buru-buru ia berkata lagi "Wanpwe masih mempunyai seorang teman yang terkurung di sini, entah dia ..."

"Mungkin dia sudah mendusin,"

Kata orang aneh itu sambil tertawa misterius.

"keluarlah lewat tempat ini, lalu berbelok ke jalan batu nomor tiga di sana kau akan bertemu dengan dia. Tapi aku hendak memperingatkan dirimu, kalau hendak kau-tolong anak itu tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, itu berarti kau cari kematian buat dirimu sendiri, aku tak sanggup menolong kalian lagi, apalagi aku juga tak bisa keluar ruangan ini barang selangkah pun!"

Ketika mengetahui Bok Ji-sia juga terkurung di situ, Tong Yong-liog merasa gembira sekali, hakikatnya peringatan manusia aneh itu sama sekali tak terdengar olehnya, buru-buru ia lari ke arah yang ditunjuk manusia aneh itu.

Ketika ia berbelok ke lorong ketiga, gadis itu baru ingat tidak tanya lebih jelas cara melewati tempat itu, tapi dengan wataknya yang angkuh, tanpa pikir panjang lagi ia terus melayang turus ke bawah.

Tiba-tiba terbit suara gemuruh, ia terkejut, waktu ia berpaling, ternyata jslsn mundurnya sudah tersumbat, hanya jalan ke depan yang masih terbentang lebar.

Lorong itu gelap gulita, tercium bau busuk yang menusuk hidung berembus datang, beberapa kali.

ia ingin tumpah, buru-buru ia menahan napas dan maju lebih jauh.

Mendadak terdengar seorang membentak gusar.

"Siapa di situ? Berani maju selangkah lagi, jangan menyesal jika kulancarkan sarangan mematikan!"

Sulit bagi Tong Yong-ling untuk membedakan arah suara orang itu di tengah kegelapan, cepat ia menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil melompat ke samping, lalu dengan sangat berhati-hati kembali maju ke muka.

Baru selangkah maju, tiba-tiba dari balik kegelapan menyambar tiba angin pukulan yang luar biasa kuatnya, hampir saja ia tak sanggup mempertahankan diri, sambil mengertak gigi buru-buru dia balas sesuatu pukulan ke depan.

"Blang,"

Pantulan tenaga pukulan menyebar keempat penjuru, menggetar ruangan dan mendengung tiada hentinya.

Suasana lalu kembali dalam keheningan, Tong Yong-Iing maju beberapa langkah taf i dengan hati-hati, ternyata ia tidak mengalami seraogan lagi, tahulah gadis itu bahwa jago lihai yang berjaga di sana telah pergi, maka dengan tabah ia maju lebih jauh.

Mendadak ada orang berteriak dari sisi kiri "Air!

Air!"

Tubuh nona itu bergetar, hampir saja ia jatuh terjerembab, suara yang amat dikenalnya ini jelas suara Bok Ji-sia, cepat ia memburu ke sani.

"Engkoh Bok, kau berada di mana?"

Serunya.

.Tak jauh sana tergeletak sesosok tubuh, kepalanya sedang dibenamkan pada sebuah kubangan dan minum dengan rakusnya, tampaknya ia, haus sekali.

Agak lega Tong Yong-ling setelah menyaksikan kejadian itu, ia tak menyangka luka Bok Ji-sia telah sembuh dengan sendirinya, buru-buru ia berjongkok dan memandangnya dengan sorot mata kuatir bercampur tercengang.

Setelah minum air, Bok lli-sia menghela napas seraya berkata.

"Ai, nona Tong. untuk kedua kalinya kita hidup berbareng dan mati bersama, tempo hari kita alami nasib yang sama di penjara air Thian-seng-po, kini dalam lorong yang gelap ini ..."

Sinar lembut terpancar dari mata Tong Yong-ling, terhadap perkataan Bok Ji-sia itu ia seakan-akan tidak mendengar, ia hanya menatap pemuda itu dengan mesra, seakan-akan pada wajah Bok Ji-sia itu hendak ditemukan sesuatu ....

Lama, dan lama sekali, ia bertanya dengan agak sangsi.

"Lukamu benar telah sembuh?"

"Aku sendiri juga tak tahu apa yang terjadi!"

Jawab Bok Jisia sambil tertawa.

"ketika sadar kembali dari pingsan, aku merasa haus sekali, sementara luka dalam tubuhku telah sembuh dengan sendirinya, kenapa bisa begini aku sendiri kurang tahu"

Tong Yong-lieg menghela napas.

"Asal kau tidak apa-apa, akupuo merasa lega hati." . Sambil berkata ia mendekat sehingga bahu mereka saling berdempetan. Ji-sia meiengak, ia mencium bau harum anak perawan yang khas, hal ini membuat hatinya bergetar keras dan hampir saja tak tahan, Maklumlah, semenjak berada dalam penjara air di Thian-seng-po sudah timbul semi cintanya kepada Tong Yong-ling, hanya saja lantaran sakit hatinya belum terlampiaskan, ia tak berani menunjukkan rasa cintanya Itu dan terpaksa menahannya di dalam hati saja. Sebaliknya Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling scndiripun jatuh cinta yang sangat mendalam terhadap Bok Ji-sia, raga cintanya itu begitu mendalam sehingga ia bertekad untuk memberikan tubuhnya kepada pemuda i u, sayang Ji-sia selalu bersikap dingin dan kaku, hal ini membuatnya sukar mendekatinya. Demikianlah ketika tubuh mereka saling menempel, mereka seakan-akan dialiri listrik, sekujur badan menjadi kaku, tanpa sadar keduanya merapat lebih kencang sehingga dengus napas pun terdengar jelas. Tong Yong-ling memejamkan matanya rapat-rapat, dengan malu-malu dan manja ia menyongsong, kan mukanya ke depan, bibirnya yang kecil merah itu setengah merekah seolah-olah sedang menantikan sesuatu .. Menyaksikan sikap malu-malu dan manja perawan itu makin dipandang makin tertarik, akhirnya tak tahan lagi Ji-sia menundukkan kepalanya dan menempelkan wajahnya .... Sepasang bibir yang merah merekah itu kian mendekat, beberapa inci lagi bibir akan saling menempel, Ciuman! Dalam hati masing-masing terasa akan kebutuhan tersebut, mereke merasa perlu pelampiasan .. -. Tapi tiba-tiba . .. peristiwa tragis masa lalu seakan-akan terbayang kembali di depan mata Bok Ji-sia, sekujur tubuhnya kontan gemetar keras, cepat ia menarik kembali tubuhnya dan berkelit ke samping. Waktu itu Tong Yong-ling sudah pasrah dan gedang menantikan tibanya detik-detik penuh keindahan, ketika dirasakan Bok Ji-sia menggeserkan tubuhnya, dengan terkejut ia membuka matanya dan menatap pemuda itu dengan sorot mata keheranan.

"Engkoh Bok, kau ..."

Bisiknya jengah.

Perasaan Ji-sia ketika itu sungguh tak keruan diam-diam ia sedang memperingatkin dirinya sendiri agar jangan merusak masa depan gadis tersebut.

Berpikir demikian, sambil menegakkan tubuhnya sengaja ia berkata dengan dingin, ''Nona Tong sebaiknya kita berpikir dengan sadar agar tidak..."

"Berpikir dengan sadar? kau ingin menyiksaku sampai mati dengan kata-kata tersebut!"

Teriak Yong-ling dengan gemas.

"berulang kali aku menerima pukulan batin yang berat tanpa kasihan darimu, apakah aku Tong Yong-ling tak pantas menjadi isterimu, menjadi kekasihmu? Bok Ji-sia!..sesungguhnya apa maksudmu bersikap demikian kepadaku?..."

Saking sedihnya, sambi!

menutup muka sendiri ia menangis tersedu-sedu.

Bicara sesungguhnya, memang tak sedikit siksaan btitin yang dialaminya selama ini, dia hanya tahu mencintai pemuda itu dengan tulus ikhlas, ia tak mau tahu ada kesulitan apa atas diri anak muda itu Bok Ji-sia cuma menggeleng kepala sambil menghela napas panjang, terunjuk pemsaan apa boleh buat, dengan sedih ia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Pada saat itulah mendadak dari balik lorong bawah tanah itu berkumandang semacam suara beradunya batu yang aneh sekali, suara itu seakan-akan berasal dari sebelah kiri, seperti juga dari sebelah kanan, terkadang terasa di atas kepalap membuat orang sukar menentukan arah yang sebenarnya.

Dengan sorot mata tajam Ji-sia memandang sekitar tempat itu dan berusaha menemukan sumber datangnya suara itu, tapi keadaan gelap gulita, untuk sesaat sulit baginya menemukan sumber datangnya suara itu.

"Nona Tong, kaudengar suara apakah ini?"

Katanya kemudian, Sebenarnya sejak tadi Tong Yong-ling sudah mendengar suara itu, tapi dalam sedihnya ia enggan menyelidiki hal itu, karena Bok Ji-sia menegur, dia baru pagsng telinga dan mendengarkannya dengan saksama.

Perempuan biasanya memang lebih teliti daripada lelaki, tak lama setelah mendengarkan dengan saksama, segera ia berseru.

"Ah, kiranya di sini "

Sambil melompat ke depan, ia menarik tangan Ji-sia dan diajak lari ke dalam gua itu.

Setelah berbelok beberapa kali, sampailah mereka di ujung lorong, empat penjuru berupa dinding tebing yang keras dan tiada jalan tembus lain-nya, tapi suara itu kian lama kian nyaring agaknya tempat itu tak jauh letaknya dari sumber suara tersebut, Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling meraba sebentar sekitar dinding lorong itu, setelah termenung sejenak, lalu katanya.

"Di sini pasti ada sebuah jalan tembus, atau mungkin tersumbat oleh batu besar, tak ada salahnya kalau kita mencarinya secara terpencar."

Gadis itu segera melolos pedangnya, cahaya pedang terpancar membuat suasana dalam gua itu jadi remang-remang.

Dengan teliti nona itu mulai mengetuk dinding sambil mendengarkan, diperiksanya sekeliling dinding itu mengikuti datangnya sumber suara itu, kian lama air mukanya berubah makin serius.

Menyaksikan ketelitian orang, dengan amat kagum Ji-sia bertanya.

"Nona Tong, kau berhasil menemukan sesuatu?"

Dengan seksama ia coba memeriksa sekeliling dinding itu, akhirnya ditemukan sebuah retakan kecil di situ, sewaktu diketuk dengan jari segera menimbulkan suara "tuk, tuk"

Yang nyaring.

"Jangan jangan di sini ada sebuah pintu?"

Demikian ia pikir. Ia coba menolak dindng tersebut, tapi tak bergerak, kedua tangan segera digunakan, hawa murni dihimpun pada telapak tangan dan pelahan mendorongnya.

"Krek!"

Diiringi bunyi keras, remukan batu beterbangan disertai debu pasir yang berguguran, celah tersebut makin lama semakin jelas dan membesar, akhirnya muncul sebuah pintu batu.

Ia tak berani ayal lagi, serunya.

"Nona Tong, cepat ikuti aku!"

Dengan cepat Bwe-hoa-siaa-kiam Tong Yong-ling menariknya sambil berbisik.

"Hati-hati ada orang!"

Dengan sangat berhati-hati kedua oracg menuju ke dalam, lalu secepat kilat bersembunyi di belakang sebuah batu sambil mengintip ke sana.

Ruangan di situ luar biasa besarnya, empat per juru penuh dengan batu-batu ansh yang berserakan, hanya tempat ini saja yang sama sekali tidak kacau dan teratur.

Tiba-tiba terdengar suara ujung baju terembus angin, menyusul muncul dua sosok bayangan yang meluncur datang dengan ctpat luar biasa.

Ketika mereka mengintip keluar, tertampak dua orang sedang berdiri di atas sebuah batu dan sedang menghitung batu-batuan yang berserakan itu.

Terkejut sekali Bok Ji-sia setelah menyaksikan wajah kedua orang itu, ternyata mereka tak lain adalah Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian dan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat dari Thian-seng-po.

Dalam kejutnya iapun berpikir.

"Aneh, selama Ini Thian-seng-po tak pernah akur dengan pihak Kian-hong-ceng, kenapa kedua orang ini bisa muncul bersama di sini? Jangan-jangan mereka sudah menyelesaikan perselisihan lama dan sekarang bergandengan tangan!"

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling lantas menggenggam tangan Bok Ji-sia erat-erat, peluh membasahi telapak tangannya, jelas ia merasa tegang sekali, Melihat Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, tanpa terasa Bok Jisia teringat lagi pada ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian miliknya, dengan mata berapi-api ia siap melompat bangnn untuk menerjangnya.

Buru-buru Tong Yong-ling menahannya sambil berbisik.

"Tunggu sebentar, coba kita lihat dulu permainan apakah yang akan mereka lakukan."

Dalam pada itu. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat telah menghitung sampai pada batu yang kedelapan puluh satu, sambil berhenti ia berkata.

"Saudara Lamkiong, mungkin di bawah batu besar inilah letaknya!"

Kiam-hong-cetigeu Lamkiong Hian tertawa seram.

"Kalau sudah ditemukan, marilah kita turun tangan!"

Ia lantas bertepuk tangan tiga kali, tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki orang bergema tiba, dalam waktu singkat dari tiap sudut muncul belasan orang lelaki kekar, masing-masing membawa alat mencangkul.

Sambil menunjuk batu besar yang aneh bentuknya itu, Oh Ku-gwat berkata.

"Rahasia di balik batu itu hanya diketahui kita berdua, kuharap ..."

Mendadak terdengar seseorang mendengus sambil menukas.

"Aku juga tahu!' Baik Kiam-hong-cengeu Lamkiong Hian maupun Thiaa-kang-kbm Oh Ku-gwat sama terkejut, serentak kedua orang itu menubruk ke arah suara itu sambil melancarkan pukulan.

"Blang,"

Angin pukulan menyambar, tapi kecuali batu-batu cadas yang berserakan tak nampak sesosok bayangan pun.

Diam-diam kedua orang itu terkejut oleh ke-lihayan rnusuh yang dapat menghioda tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Lamkiong Hiao menyapu pandang sekeliling tempat itu, lalu serunya dengan suara menyeramkan.

"Jago lihai darimanakah yang datang? Kenapa tidak menampilkan diri!"

Suasana tetap hening tiada jawaban. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat mendengus.

"Hm, paling banter cuma seorang tak bernama tak perlu digubris lagi, ayo kita turun tangani"

Orang-orang pembawa cangkul sama mengiakan, mereka mulai bekerja mencangkul sekeliling batu cadas itu.

"Saudara Lamkiong,"

Ujar Thian-kang-kiam Ob Ku-gwat dengan tertawa seram.

"apakah Te-ti-hian-hu (istana bawah tanah) hanya terdapat sebuah jalan masuk saja?"

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian termenung sejenak, kemudian jawabnya.

"Menurut keterangan dalam peta, kecuali di sebelah selatan terdapat sebuah jalan tembus, hampir semua jalan di bawah tanah ini merupakan jalan buntu, meskipun orang bisa masuk, tapi tak mungkin bisa keluar lagi ...."

"Trang!"

Tiba-tiba dari bawah batu cadas itu berkumandang suara nyaring, semangat kedua orang segera berkobar, wajah pun berseri-seri.

Segera Oh Ku-gwat melolos sebuah ruyung panjang yang memancarkan sinar emas, setelah diteliti sejenak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Tergetar hati Bok Ji-sia menyaksikan itu, sebab ruyung emas yang berada di tangan Oh Ku-gwat sekarang tak lain adalah Jian-kim-si-han-pian yang dihadiahkan Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak kepadanya.

Cepat Tong Yong-ling menahan bahunya sambil berbisik.

"Jangan bergerak dulu engkoh Bok, rahasia di tempat ini kemungkinan besar ada hubungannya dengan ruyung rnestika lian-kim-si-hun-pian!"

Ji-sia termenung, ia teringat pada pesan Suhunya menjelang ajal dulu.

"Harus kau bela ruyung ini dengan segenap jiwa ragamu, ruyung ada orang hidup, ruyung hilang orang mati. ruyungnya sendiri terhitung benda rnestika yang tak ternilai harganya? lebih-lebih sarung ruyung Jian-kim-si-hun-pian, nilainya tak terlukiskan, karena di situ tersimpan suatu rahasia yang maha besar ... Dalam pada itu Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian tampak tertawa seram setelah memandang ruyung mestika itu sekejap, katanya.

"Saudara Ku-gwat, meskipun rahasia itu kau yang menemukan, letak Te-ti-hian-hu justeru di dalam Kianchong-ceng milikku, bila benda tersebut berhasil ditemukan, entah bagaimana cara pembagiannya ...."

Air muka Oh Ku-gwat berubah menjadi dingin, sahutnya, '"Tetap seperti kataku dulu, kita masing-masing mendapat setengah bagian."

Setelah bergelak tertawa, katanya lebih jauh "Bukan aku sengaja mengibul, rahasia dalam Jian-kim-si-hun-piam ini kecuali diriku seorang biarpun Jiteku Oh Kay-gak juga belum tentu tahu ...

"Ah, belum tentu,"

Tiba-tiba seorang menyela lagi dengan sinis.

"buktinya aku jauh lebih tahu daripadamu ... ."

Menyusul perkataan itu, dari balik kegelapan muncul lima orang, tiga gadis dan dua lelaki, dengan wajah dingin pelahan mereka menghampiri kedua orang itu.

Oh Ku-gwat dan Lamkiong Hian terkesiap, sadarlah mereka bahwa keadaan tidak menguntungkan.

"Hehehe, tak kusangka nona juga akan mengambil bagian dalam persoalau ini...."

Jengek Oh Ku-gwat sambil tertawa seram.

"Tidak boleh?"

Tanya nona cantik paling depan sambil tertawa cekikikan.

"ketahuilah bahwa persoalan ini ada hubungannya dengan perguruan kami, mana mungkin kami menyia -nyiakan kesempatan baik ini untuk mendapatkan benda mestika ini?"

Oh Ku-gwat termenung, pelbagai ingatan dengan cepat terlintas dalam benaknya, sayang kepandaian musuh terlalu tinggi, siapa yang akan memenangkan perebutan pada malam ini masih sukar untuk diduga.

Kemunculan ketiga gadis dan dua lelaki ini sungguh merupakan suatu pukulan bagi Lamkiong Hian maupun Oh Ku-gwat, tak bisa disangkal lagi kelima orang itu merupakan musuh tangguh yang paling memusingkan kepala mereka.

Sementara itu para pekerja telah menghentikan pula usaha mereka untuk mencangkul tanah, dengan bimbang mereka mengawasi kemunculan kelima orang itu dan diam-diam menggerutu.

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling yang bersembunyi di balik kegelapan pun merasa tercengang, mereka heran kenapa dalam setiap peristiwa besar yang berlangsung dalam dunia persilatan, pihak Hek-liong-kang tentu turut menghadirinya?

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat maju ke depan lalu menegur.

"Kedatangan nona pada malam ini merupakan suatu ketidak sengajaan ataukah memang sengaja hendak kemari?"

"Sengaja boleh, tidak sengaja juga boleh, pokoknya kita melakukan pekerjaan sendiri-sendiri, siapapun tidak mencampuri urusan orang lain!"

Dengus si nona baju biru bercadar itu sambil melirik hina. Sehabis berkata ia lantas memberi tanda ke belakang dan katanya lagi.

"Suheng, bongkar batu padas itu!' Yang ditunjuk adalah batu padas nomor dua puluh tujuh. Kakek berambut putih itu segera maju sambil mengentakkan tongkatnya.

"Trang", bunyi nyaring menggema. Sambil tertawa dia maju ke depan, sedangkan Hoa Hong-hui di belakangnya juga tertawa angkuh, bersama kakek itu iapun melangkah ke depan.

"Kalian berdua hendak ke mana?"

Mendadak seorang menegur, Kiara-hong-cengcu Lamkiong Hian angkat tangannya, segulung angin kuat men-dampar kedepan.

Kakek berambut putih dan Hoa Hong-hui merasa majunya teralang, seketika itu juga tubuh mereka tergetar.

Demonstrasi khikang (tenaga dalam) tak berwujud itu seakan-akan sengaja diperlihatkan kepada si nona baju biru, tampak nona itu menyapu pandang sekejap wajah Lamkiong Hian dengan sorot mata d'mgm.

Tergetar oleh khikang tak berwujud itu, tak kuasa lagi tubuh Hoa Hong-hui terdesak mundur dua langkah, sebagai orang yang tinggi hati dan biasa takabur, sudah barang tentu ia tak tahan menghadapi kejadian tersebut, sambil tertawa seram tegurnya dengan murka.

"Toacengeu, kenapa kau mengalangi pekerjaanku?"

Lamkiong Hian tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, sebab tempat ini adalah perkampungan Kiam-hong-ceng, jadi kalian jangan bertingkah semaunya sendiri!"

"Aku tak percaya Kiam-hong-ceng bisa berbuat apa-apa kepadaku!"

Seru si kakek berambut putih sambil mengertakan lagi tongkatnya. Lamkiong Hian tersenyum.

"Ketiga kali pukulan tongkatmu saja tak bisa mengapa-apakan aku, memangnya Ingin coba-coba lagi?"

Kakek berambut putih itu sangat gusar, setiap orang persilatan menyaksikan ketiga kali pukulannya yang dihantamkan ke tubuh Lamkiong Hian dengan segenap tenaga di muka panggung Kiam leng tay tempo hari, ini kenyataan, dan ia memang tidak bisa melukai Lamkiong Hian sedikit-pun.

N Nona berbaju biru itu segera tertawa dingm, katanya.

"Ilmu gerak tubuh In-si-huan-in masih belum terhitung kepandaian yang luar biasa, meskipun tiga kali pukulan tongkat gagal membunuhmu, lapi dengan tiga kali serangan jari aku sanggup mencabut nyawamu, kalau kau tidak percaya, mari kita buktikan sekarang juga!"

Lamkiong Hian terkejut, walaupun ia belum pernah bertarung khusus melawan nona berbaju biru itu.

tapi dilihat dari caranya bicara, dapat di-duja ilmu silatnya pasti lihai sekali.

Maka sambil tersenyum sahutnya.

"Tak perlu, biar kita tunggu pada kesempatan lain!"

"Hrnm! Memangnya kau berani!"

Ejek nona baju biru itu. Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian cuma tersenyum belaka pura-pura tidak mendengar, sementara dalam hati diam-diam ia menyumpah.

"Budak sialan, jangan kira kujeri padamur justeru lantaran keadaan malam ini berbeda, bila tidak demi menyelamatkan rencana besarku, tentu sekarang juga akan kuberi hajaran padamu "

Bok Ji-sia juga tercengang melihat kejadian itu, sebagai seorang ketua suatu aliran, Lamkiong Hian mempunyai kedudukan yang tinggi dalam dunia persilatan, kenapa ia malah bersenyum belaka membiarkan nona dari Hek-liong-kang itu mengejeknya habis-habisan?

Sementara itu Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat telah mengayunkan ruyung ' Jian-kirn-sl-hun-pian tambil tertawa terbahak-bahak-katanya.

"Bila kedatangan nona juga untuk benda ini, aku bersedia mempersembahkannya kepadamu cuma, hehehe ...besarnya istana bawah tanah Te-ti-hian-bu bagaikan sebuah bukit, sekalipun kau memiliki kecerdasan seperti dewa juga takkan bisa mengetahuinya dengan jelas ... kecuali ... haha ... ."

Nona berbaju biru itu tertawa dingin, ejeknya.

"Memangnya aku heran kenapa pada malam ini kau begitu baik hati, rupanya karena kau memiliki peta biru Te-ti-hian-tu ... Hm, terus terang saja kukatakan, nonamu tak pernah melakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan, setelah kumuncu! di sini berarti punya cara untuk menemukan benda itu, contohnya caraku masak kemari, bukankah kalian mengatakan kecuali sebuah jalan tembus sudah tiada jalan lain? Kenapa kami bisa masuk pula di sini!"

Seketika itu juga Thian-kang kiam Oh Ku-gwat dan Kiam-hong cengcu Lamkiong Hian terkesiap, lama sekali kedua orang itu saling pandang tanpa bicara, sadarlah mereka bahwa hal ini sudah bukan rahasia lagi.

"Betul juga perkataannya,"

Demikian mereka pikir.

"bagaimana cara mereka sampai di sini? Jelas jalan tembus itu tak bisa dimasuki tanpa peta' tapi mereka .."

Terdengar nona berbaju biru itu berkata lebih lanjut.

"Semua jalan di sini adalah jalan tembus, tapi di mana-mana terdapat pula jalan mati, cuma harus dicari sendiri deigan kecerdasan masing-masing. Tempat ini luas sekali, gua batu semacam ini-pun jumlahnya puluhan, setiap gua mempunyai keadaan yang persis sama seperti yang lain Huh, kalian anggap kepandaianmu sangat hebat, siapa tahu justeru telah terjebak oleh perangkap pemilik gua ini...."

"Dari mana nona mengetahui sejelas ini? Kami betul-betul merasa kagum!"

Seru Oh Ku-gwat dengan terkejut.

Nona berbaju biru itu tertawa, lalu berpaling ke arah lain dan tidak berbicara lagi, hal ini membuat kedua jago tangguh itu menjadi sangsi.

Satu ingatan cepat terlintas dalam benak Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat.

pikirnya.

"Agaknya apa yang diketahui gadis Hek-Jiong-kang ini jauh lebih lengkap daripada apa yang kuketahui, walaupun kami berdua mempunyai peta biru penunjuk rahasia istana, tempat mestika itu tersimpan belum juga ditemukan, setelah nona baju biru ini tahu rahasianya berarti dia berniat pola untuk merampas mestika tersebut, lebih baik semua jago lihai yang telah masuk Te-ti-hian-hu ini dibasmi saja sampai habis!"

Ia melemparkan kerlingan misterius, lalu serunya"

"Saudara Lamkiong, malam ini kita.."

Sudah barang tentu Kiam-hong-eeogcu Lamkiong Hian dapat memahami aiti kata-katanya itu, sambil tertawa sahutnya.

"Segala sesuatunya terserah pada kehendak Oh-ceng!"

"Sudah hitung dengan suipoa belum?"

Ejek nona baju biru itu sambil tertawa.

"hati-hati, sekali salah hitung, maka langkah selanjutnya akan sulit dilalui!"

Sementara itu, Hoa Hong-hui dan kakek berambut putih telah kembali ke samping nona berbaju biru itu, agaknya mereka sudah menduga akan maksud jahat Oh Ku-gwat serta Lamkiong Hian.

Mendadak, ruang gua itu terang benderang setelah cahaya hijau itu berkelebat, lalu di atas dinding muncul empat baris huruf kecil yang berbunyi.

Pintu istana selalu terbuka lebar, Hanya jalan masuk tanpa jalan keluar.

Pusaka hanya bagi mereka yang berjodoh Bila tak berjodoh nyawa akan kembali ke neraka!

Setelah huruf-huruf kecil itu lenyap, suasana dalam gua pulih kembali dalam kegelapan.

Terdengar kesiur angin, tiba-tiba Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat membentak.

"Saudara Lamkiong, cepat!"

Bayangan orang segera berkelebat, angin pukulan yang kuat dengan cepat menghantam tubuh nona berbaju biru itu.

"Suheng, cepat hadapi dia!"

Dengus nona itn.

"Wess!"

Cahaya hitam menyambar dan mengurung batok kepala Tliian-kaog-kiam Oh Ku-gwat, serangan tongkat kakek berambut putih itu sungguh sangat lihai.

Oh Ku-gwat terkejut, ia tak berani menyambut serangan itu dengan kekerasan, begitu melihat gelagat tidak menguntungkan, buru-buru dia menarik kembali tangannya, lalu membalik ke atas, pada kesempatan itu suatu serangan dilancarkan, lalu buru-buru mundur.

"Hai, kenapa tidak kau sambut serangan tongkat ku ini!"

Ejek si kakek berambut putih itu dengan tertawa dingin.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tak tahan akan sindiran tersebut, ia sangat gusar tapi ketika berpaling, hatinya mrnjadi dingin separuh, dilihatnya Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian sedang berdiri berpangku tangan di situ sambil mendongakkan kepalanya, lagaknya seakan-akan tidak melihat serang menyerang yang baru terjadi.

Dengan mendongkol Oh Ku gwat menegur.

"Saudara Lamkiong, kau .. .."

Tiba-tiba Lamkiong Hian tersenyum.

"Jika urusan kecil tak terkendali-mana mungkin bisa melaksanakan urusan besar? Saudara Gh, buat apa kau gelisah seperti ini?"

Nona berbaju biru itu tertawa sinis, sindirnya "Kalau rase berkomplot dengan serigala, kalian berdua memang pasangan yang cocok."

Dalam waktu yang amat singkat itulah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat melihat Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian telah berubah menjadi begitu dingin menyeramkan.

"Diam-diam Lamkiong Hian sudah menunjukkan sikap yang misterius,"

Demikian ia berpikir.

"meskipun aku pura-pura memperalat tenaganya untuk menemukan harta rnestika di sini setiap saat aku harus waspada dan berjaga-jaga atas dirinya."

Berpikir sampai di sini, sambil tertawa dingin ia menegur pula.

"Saudara Lamkiong, bagaimana menurut pendapatmu?"

Lamkiong Hian tertawa terbahak-bahak.

"Ha-haha, menurut pendapatku, lebih baik kita tinggal-kan saja tempat ini ...."

"Tidak mungkin!"

Seru Oh Ku-gwat cemas. Kembali Lamkiong Hian terbahak-bahak.

"Ha-haha, apakah kau tidak membaca bait terakhir dari huruf-huruf kecil tadi? Bila tak berjodoh nyawa akan kembali ke neraka? Kalau kita tak berjodoh biarlah kita berikan kesempatan kepada perempuan dan Hek-liong-kapg ini untuk beradu nasib!' Tanpa menunggu pendapat Oh Ku-gwat lagi, ia lantas menarik tangannya dan diajak msnyingkir ke samping. Tiba-tiba dari samping sana meluncur keluar dua sosok bayangan, dengan cepat mereka melayang turun dihadapan Lamkiong Hian.

"Mau pergi?"

Ejek orang itu dengan gusar.

"boleh, tapi tinggalkan dulu barang itu!"

Di antara remang keadaan Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling muncul di situ, kontan saja kehadiran mereka menambah tegangnya suasana. Lamkiong Hian segera tergelak, serunya.

"Orang hidup di mana pun dapat berjumpa haha, saudara Bok, tak tersangka kita berjumpa lagi di sini!"

Kiranya Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling yang bersembunyi di tempat kegelapan dapat menyaksikan semua kejadian di situ dengan jelas, ketika dilihatnya Oh Ku-gwat hendak pergi, hatinya menjadi gelisah.

Maklumlah, Jian-kim-si-hun-pian mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupannya, dengan susah payah dia sampai di sini.

tentu saja pemuda itu tak ingin kehilangan kesempatan untuk merebut kembali ruyung rnestika miliknya itu9 maka dengan cepat dia menampilkan diri dari tempat sembunyinya.

Sebagai pemuda yang angkuh, pada mulanya mengingat "kebaikan"

Lamkiong Giok ia masih menaruh rasa hormat kepada Lamkiong Hian, tapi setelah menyuksikan sendiri bagaimana Lamkiong Hian berkomplot dengan Oh Ku-gwat yang licik, rasa hormatnya itu kontan tersapu lenyap tak berbekas.

"Selama berjumpa! Selamat berjumpa!"

Serunya kemudian sambil tnerdengus, lalu kepada Oh Ku-gwat ia membentak.

"Berikan benda itu kepadaku!"

Untuk mendapatkan Jian-kim-si-hun-pian, entah berapa banyak pikiran dan tenaga telah dikekarkan oleh Oh Ku-gwat, tak heran ia tertawa seram demi mendengar perkataan itu.

Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 3

Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert