Ceritasilat Novel Online

Lembah Nirmala 3

Eps 3 Lembah Nirmala - Khu Lung

Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung

Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.

Jilid 9 Sambil berteriak seperti suara guntur yang membelah bumi, tiba-tiba Kim Thi sia merangkak bangun dari atas tanah dan beriarian cepat meninggalkan tempat itu, jeritan-jeritannya yang mirip tangisan setan membuat hati siapapun menjadi bergidik.

Dua bersaudara Tong menjadi tertegun sejak terjun kedalam dunia persilatan, banyak sudah pertarungan besar maupun kecil yang mereka alami, namun belum pernah mereka temukan musuh yang susah dihadapi seperti Kim Thi sia hari ini.

Dengan perasaan tegang kedua orang itu mulai menghitung didalam hati.

"Selangkah... dua langkah, tiga langkah, lima langkah, enam langkah, tujuh langkah."

Lelaki setengah umur yang berdiri disebelah kiri seperti teringat akan sesuatu, mendadak ia menepuk bahu saudaranya sambil berseru.

"Aduh celaka Loji, kehebatan jarum mulut harimau yang mematikan korbannya dalam lima langkah telah kehilangan kemanjurannya."^ Padahal lelaki yang disebut Loji pun tak teriuklskan rasa kagetnya waktu itu, segera serunya pula.

"Lotoa, pemuda she Kim itu memang memiliki kemampuan yang luar biasa, selama ini jarum mulut harimau dari kelurga Tong menjagoi seluruh kolong lamngit, kami tak bisa kehilangan kedudukan tersebut lantaran dia......."

Tanpa terasa kedua orang itu saling bertular pandangan sekejap^, sekilas rasa sedih dan murung menghiasi wajah mereka.

sementara itu Kim Thi sia sedang berlarian seperti orang sedang kalap sambil menjerit-jerit tiada hentinya.

Dengan sepenuh tenaga dia mengerahkan hawa murninya untuk mengitari seluruh badan, dengan peredaran darah yang membalik, dia berusaha mengurangi siksaan dan penderitaan yang dialaminya akibat daya kerja racun tersebut.

siapa tahu, justri karena perbuatannya itu, tanpa disengaja ia telah berhasil meloloskan diri dari ancaman bahaya maut yang telah siap merenggut jiwanya.

sebagaimana diketahui, dia pernah mempelajari tenaga dalam yang maha sakti dari malaikat pedang berbaju perlente.

Ketika ia bermaksud mengurangi rasa sakit dengan mengedarkan darahnya secara terbalik tanpa disangka-sangka hal tersebut justru akan mendesak sari racun yang berada dalam tubuhnya keluar dari peredaran darah dan akhirnya malah terdesak keluar kulit badannya.

Ia tak sadar bahwa cara yang digunakan tersebut telah membuat keadaannya tak jauh berbeda dengan orang gila.

Entah berapa saat sudah lewat, dengan mengandalkan sedikit titik terang yang masih dimilikinya dia berusaha menelusuri jalan lebar menuju kedepan.

sebab dengan cara berlari keras dan menyiksa diri seperti ini, rasa sakit yang membuatnya menderita jadi lebih ringan.

Untung saja sepanjang perjalanan ia tidak bertemu dengan orang lain.

Kalau tidak, perbuatannya itu pasti akan mengejutkan banyak orang.

Dua bersaudara Tong sudah banyak mengalaminya pertarungan besar maupun kecil, selama ini merekapun selalu beranggapan senjata rahasianya sangat tangguh dan tiada tandingannya dikolong langit.

siapa tahu Kim Thi sia justru berhasil memusnahkan ancaman senjata rahasianya dengan cara begitu aneh, tentu saja hal semacam ini belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Begitulah, bagaikan orang kalap Kim Thi sia berlarian tanpa tujuan entah berapa saat sudah lewat, meski sepasang kakinya sudah tak mau menuruti perintahnya lagi, namun ia tetap nekad berlarian terus tanpa berhenti.

Tiba-tiba dari kejauhan sana muncul setitik cahaya api, ternyata ditengah jalan terdapat seonggokan api unggun empat orang duduk mengelilingi api unggun tersebut, mereka sama sekali tak bergerak dan entah apa yang sedang dilakukan.

Kim Thi sia yang berada dalam keadaan tak sadar menjadi berang ketika melihatjalan perginya dihadang orang.

Tanpa berpikir panjang lagi sepasang tangannya segera didorong kemuka melancarkan serangan bentaknya keras-keras.

"Minggir"

Baru saja bentakan itu berkumandang salah seorang dari keempat kakek yang duduk mengitari api unggun itu telah mendengus lalu mengebaskan ujung tangannya kemuka.

seketika itu juga Kim Thi sia merasakan dadanya seperti ditumbuk dengan martil yang berat sekali, sambil berteriak keras tubuhnya segera roboh terjungkal keatas tanah.

Tapi dengan terjungkalnya pemuda tersebut keatas tanah, ternyata ia menjadi jauh lebih sadar kembali.

Pelan-pelan pemuda itu merangkak bangun, rasa sakit yang semula menyiksa tubuhnya kini telah jauh berkurang benar kepalanya terasa agak pening, namunjauh lebih segar berapa puluh kali lipat daripada keadaan semula.

Tanpa terasa ia berpikir.

"orang bilang, barang siapa terkena karum mulut harimau maka dia akan tewas dalam lima langkah padahal sudah sekian lama aku berlari bukan saja tak sampai mampus semua rasa sakitpun lenyap tak berbekas Jangan-jangan nama besar keluarga Tong hanya nama kosong belaka........?"

Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dia makin bimbang dan tak habis mengerti apalagi setelah melihat tubuhnya penuh dengan abu dan debu buru-buru dia membersihkan pakaiannya tersebut.

Tiba-tiba terendus bau busuk yang amat menusuk hidung memancar keluar dari badannya, disusul kemudian tangannya yang menyeka badan ternyata berubah menjadi hitam dengan perasaan curiga ia berpikir lebih jauh.

"Apa yang terjadi? mengapa keringatkupun terendus bau busuk..........?"

Ia tak mengerti bahwa racun jahat darijarum mulut harimau telah berhasil dipaksa keluar dari tubuhnya tanpa dia sadari dan kini berubah menjadi keringat yang tertinggal diluar kulit itulah sebabnya keringat yang bercucuran keluar menjadi busuk sekali baunya.

setelah keringat busuk diseka, pemuda itu baru sempat memperhatikan kembali keadaan disekitar situ.

Ternyata keempat kakek itu sedang duduk mengelilingi api unggun itu masih tetap duduk tak berkutik dan mengawasi kobaran api tanpa berkedip.

rambut mereka rata-rata panjang dan terurai sepanjang dada.

sejak salah seorang diantara mereka melepaskan pukulan kearahnya tadi hingga kini ternyata tak seorangpun yang berbicara.

Keempat orang ini memiliki ketajaman mata yang menggidikkan, usianya telah lanjut dan penuh berwibawa, sehingga siapapun yang memandang tapi terasa menjadi keder sendiri Timbul perasaan ingin tahu dalam hati Kim Thi sia, diam-diam pikirnya.

"Apa sih bagusnya api? masa hidup setua ini, belum pernah mereka saksikan api?"

Dengan niat minta maaf dia segera mendekati kembali keempat orang tersebut.

Tapi dengan cepat ia telah menemukan kembali suatu kejadian yang sangat aneh.

Ternyata didepan keempat kakek itu masing-masing berbaring sesosok mayat.

Keempat sosok mayat itu semuanya memakai baju perlente dan berusia sangat muda, selain tampan merekapun kira-kira kelihatan gagah namun entah mengapa ternyata pemuda itu telah mati dibunuh orang.

Menyaksikan hal tersebut, tanpa terasa Kim Thi sia berseru dalam hati kecilnya.

"sungguh sayang........"

Sementara itu dibalik wajah keempat kakek yang datar dan dingin itu, lamat-lamat terlintas pula rasa gusar dan sedih yang amat tebal.

jelas ada suatu masalah besar yang sedang membebani pikiran masing-masing....

Keempat sosok mayat pemuda tampan itu semuanya berada dalam keadaan utuh tanpa cacad pakaiannya rapi tak kusut dan kematiannya nampak sangat tenang, tak setitik luka yang mematikanpun dijumpai diseluruh tubuh mereka.

Tiba-tiba Kim Thi sia menyangka keempat pemuda itu dibunuh keempat kakek tersebut, alis matanya yang tebal itu berkerut baru saja dia hendak membuka suara, kakek yang telah menghantamnya tadi telah bertanya.

"Anak kecil, siapa namamu?"

Kim Thi sia semakin tak senang hati, betapa tidak. ternyata kakek itu menganggap sebagai seorang bocah yang tak tahu urusan, bagaimana ia tidak menjadi marah? sambil tertawa dingin segera jawabnya.

"Kim Thi sia"

"oooh"

Kakek itu mengangkat kepalanya dan memandang pemuda itu sekejap.

ketika sepasang mata mereka saling bertemu, tiba-tiba saja Kim Thi sia menjerit kaget dan mundur selangkah.

Ia merasa kakek itu memiliki ketajaman mata yang sanggup menembusi ulu hatinya.

Dengan suara dalam kakek itu berseru.

"Jadi kau adalah jago muda yang belakangan ini menggemparkan dunia persilatan Kim Thi sia?"

Kim Thi sia jadi tercengang, ia tak menyangka baru berapa hari dirinya terjun kedunia persilatan ternyata namanya sudah terkenal orang. Tak berayal lagi segera jawabnya.

"Tepat sekali perkataanmu itu."

Kakek itu segera manggut-manggut seperti mengandung arti yang lebih mendalam ia berkata lebih jauh.

"Dan tindak tandukmu selanjutnya lebih baik bertindaklah lebih berhati-hati, paling baik lagi kalau tidak membuat nama sendiri kelewat terkenal tak usah memancing kobaran api yang bakal membakar diri sendiri sehingga kehilangan nyawa tanpa sebab musabab yang jelas........."

Selesai berkata ia segera berpaling dan tidak menggubris anak muda itu lagi.

Untuk beberapa saat lamanya suasana disekleiling tempat itupun dicekam keheningan yang luar biasa.

Hanya suara ranting yang terbakar api masih kedengaran memecahkan keheningan mendatangkan setitik suasana kehidupan ditempat tersebut.

Terpengaruh oleh ketajaman mata yang melebihi sembilu dari kakek tersebut, untuk berapa waktu lamanya Kim Thi sia tak mampu berbicara.

Tapi akhirnya dia tak sanggup menahan diri dan segera tanyanya sesudah berhasil menenangkan hatinya.

"Aku tak bisa memahami maksud dari perkataanmu itu, bagiku asal perbuatan tak sampai melukai hati seseorang, aku yakin tiada persoalan lain yang perlu kurisaukan."

Pelan-pelan kakek itu membuka matanya memandang sekejap sekeliling tempat itu sebelum akhirnya berhenti diatas wajahnya, ia berkata.

"Anak muda, kalau kau tak mau menuruti nasehatku. Cepat atau lambat kau bakal mampus dibunuh orang"

Kim Thi sia amat terkejut, serunya lagi semakin kebingungan.

"Aku masih belum juga memahami perkataanmu."

Kakek tersebut menjadi mendongkol, tiba-tiba dengan kening berkerut dia membentak.

"Kau memang tak bisa diberi nasehat."

Sebuah sapuan segera diayunkan kedepan.

segulung tenaga kekuatan seberat ribuan kati segera meluncur kemuka seperti gulungan ombak ditengah samudra......

Kim Thi sia sama sekali tak menduga kesitu sambil berteriak keras tubuhnya berjumpalitan sampai empat lima kali kebelakang, begitu keras dia terpental hingga kepalanya terasa amat penting untuk berapa saat lamanya tak mampus merangkak bangun dari tanah.

Untung saja sikakek tersebut tidak berniat untuk merenggut jiwanya kalau tidak mungkin semenjak tadi jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya.

Kim Thi sia yang diserang tanpa sebab musabab tertentu menjadi amat berang, meski perasaan tersebut diutarakan lewat kata-kata namun wajahnya kelihatan sangat tidak puas.

Dengan suara keras kembali kakek itu membentak.

"Tidak mengerti? Hmmm, lebih baik kau terjun kesungai melakukan bunuh diri saja"

"Kau tak usah mengurusi diriku"

Bantah Kim Thi sia.

"Bila aku ingin bunuh diri, hal tersebut bisa kulakukan sendiri, tak perlu kau bersusah payah ikut memikirkannya bagiku"

Kakek itu menjadi tertegun.

"Hey bocah, nampaknya kau memang amat susah dihadapi, kalau begitu nama besarmu bukan cuma nama kosong belaka."

Sementara itu ketiga orang kakek lainnya masih tetap membungkam diri dalam seribu bahasa.

Terhadap peristiwa yang terjadi didepan mata selain mereka tidak menggubris, berpalingpun tidak.

sorot mata mereka tertuju semua keatas onggokan api unggun, mukanya sebentar murung sebentar sedih, entah persoalan apa yang sedang dipikirkan.

Kim Thi sia semakin tak senang hati, teriaknya kemudian keras-keras.

"Apakah kau berniat menyusahkan aku"

Kakek itu memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, lalu berkata.

"Berbicara dari kepandaian silat yang kau miliki, sepersepuluh dari murid kupun tak mampu kau lewati, berani betul engkau bersikap kurang ajar kepadaku."

"Dimanakah muridmu sekarang?"

Seru Kim Thi sia dengan gusar.

"Aku pasti akan mengajaknya untuk beradu kepandaian."

Mendengar ucapan tersebut mendadak kakek itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

suaranya tinggi melengking dan keras sekali hingga menembusi angkasa, begitu kerasnya suara tersebut hingga seluruh angkasa serasa bergetar keras.

Kim Thi sia menjadi amat terperanjat tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, hampir saja dia tak sanggup untuk menahan diri.

selembar muka kakek itu berubah menjadi sedih marah dan mendendam.

Perasaannya bercampur aduk tak karuan, katanya kemudian sambil menunjuk kearah mayat pemuda yang berada dihadapannya.

"satu-satunya murid kesayanganku berada disini. Hey anak kecil, apakah masih ingin bertarung dengannya."

Kim Thi sia adalah seorang pemuda yang sangat perasa biarpun kakek itu belum berbicara namun dari sikap sedih bercampur gusar yang tampil diwajahnya, segera disadari olehnya bahwa kakek tersebut telah ditimpa musibah.

Benar juga, ternyata murid kesayangannya telah tewas dibunuh orang, karena itu segera ujarnya.

"Kalau toh muridmu sudah mati akupun tak ingin beradu kepandaian lagi dengannya."

Pelan-pelan paras muak kakek itu putih kembali dalam kehambaran yang luar biasa katanya lagi.

"Kau tahu apa yang menyebabkan dia mati?"

Satu ingatan segera melintas dalam benak Kim Thi sia, buru-buru katanya.

"Aku toh bukan dewa atau malaikat tentu saja tidak tahu, apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku empek tua."

Sikap permusuhannya hilang lenyap seketika, sekarang dia malah menyebutnya sebagai empek.

"Bukankah sudah kubilang tadi, bila hendak berkelana didalam dunia persilatan lain waktu, lebih baik bersikaplah lebih berhati-hati. Kalau tidak kau pasti akan mengalami nasib tragis seperti apa yang dialami muridmu."

"Kenapa?"

"sebab kalian sama-sama merupakan jago muda yang makin menonjol peranannya didalam dunia persilatan-"

"Tapi apa sangkut pautnya?"

Sekali lagi kakek itu tertawa nyaring.

suaranya keras dan sangat memekikkan telinga.

Cepat-cepat Kim Thi sia menutupi telinganya dengan jari tangan, ia saksikan sepasang mata kakek itu telah berkaca-kaca karena air mata.

"Hanya manusia yang iri hati merupakan manusia jahanam, murid kesayanganku yang telah kudidik dan kubina dengan susah payah selama belasan tahun akhirnya harus mati dibunuh orang yang iri hati sementara nama besarnya makin menanjak."

"siapakah orang itu?"

Tanya Kim Thi sia terperanjat.

"Kenapa kau tidak berusaha untuk membalas dendam sakit hatinya?"

"Orang itu mempunyai kepandaian silat yang sangat tinggi, tenaga dalamnya yang amat sempurna.

Kehebatannya seperti gelombang samudra dilaut bebas, untuk menghadapi tenaga pukulannya yang bisa-bisa membunuh orang tanpa wujudpun, segenap kepandaian silat yang kumiliki selama puluhan tahun ini masih belum cukup untuk memadahi......"

Kemudian setelah berhenti sejenak. dia berkata lebih jauh.

"Selama ini aku sudah mengembara keuatar maupun selatan sungai besar, baik perbatasan maupun gurun pasir. selama puluhan tahun terakhir tak sedikit orang pandai yang pernah kujumpai, tapi sangat menyesal ternyata aku tak mampu untuk menduga jenis pukulan yang telah dipergunakan pembunuh untuk mencelakai murid kesayanganku ini........"

"Menurut dugaanku, orang yang membunuh muridku ini sudah pasti adalah seorang iblis yang memiliki tenaga dalam amat sempurna. orang ini memiliki ilmu pukulan yang bisa membunuh orang tanpa meninggalkan bekas sudah pasti kepandaian semacam ini tak mungkin bisa tercapai bila tidak dilatih selama puluhan tahun lamanya. Aa aai.....kemunculan orang tersebut dalam dunia persilatan pasti akan menimbulkan badai pembunuhan yang mengerikan sekali didunia ini.

"Aaaah, begitu hebatkah kepandaian silat yang dimiliki orang itu?"

Seru Kim Thi sia dengan perasaan terkejut.

"Kalau begitu dia pasti adalah seorang tokoh silat yang bernama besar, tapi apa sebabnya dia begitu melakukan perbuatan yang terkutuk seperti ini?"

Kakek itu menghela napas panjang.

"Nak. kau tak tahu, orang yang belajar silat dapat dibagi menjadi dua macam, pertama adalah orang yang belajar silat untuk melakukan baktinya kepada umat persilatan didunia ini, membantu kaum lemah dan menegakkan keadilan maka jenis kedua adalah mereka yang belajar silat demi nama dan kedudukan. Untuk mencapai kedudukan yang tertinggi dalam dunia ini, mereka tak segan-segan akan menyusahkan orang lain dengan berbagai cara yang licik. Ditangan manusia inilah murid kesayanganku telah terbunuh."

"oleh sebab itu nak, turutilah nasehatku. Berusahalah keras untuk menyembunyikan kemampuan demi keselamatan jiwa. Kalau tidak....pohon yang besar tentu mudah mengundang angin-Kau masih muda masa depanmu masih cemerlang, janganlah sampai kehilangan nyawa sebelum kau berhasil mencapai cita-citamu yang tertinggi."

"Ehmmm, sekarang kau baru paham, orang yang membunuh muridmu itu pasti mempunyai ambisi untuk menguasai seluruh dunia persilatan, karena kuatir kaum muda yang menonjol ini menjadi saingan dan penghalangnya dikemudian hari sehingga menggagalkan usahanya untuk meraih kursi terhormat dalam dunia persilatan. Maka dia tak segan-segan melakukan pembantaian secara besar-besaran, bukan begitu?"

Kakek itu segera mengangguk.

"Tak nyana meski kau lugu didepan ternyata cermat didalam......."

Kemudian setelah menghela napas panjang, dia berkata lebih jauh.

"Sesungguhnya kami adalah sekelompok manusia yang sudah bosan dengan segala keramaian dalam dunia persilatan. Hidup kami selama ini ibarat bangau liar yang terbang kemana saja tanpa ikatan. sungguh tak disangka menjelang saat tua orang tersebut telah membinasakan murid kesayangan kami yang telah dibina dan dididik dengan susah payah selama banyak tahun. Aaaai.......kelihatan tenaga dalam yang dimiliki orang itu belum pernah kudengar sebelumnya, aku yakin......."

Mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, bentakan keras yang menggelegar diangkasa segera menggetarkan seluruh jagad .

Dalam waktu singkat keadaannya telah berubah menjadi seseorang yang lain semua rambutnya berdiri kaku seperti ayam jago yang siap bertarung seperti juga seekor landak yang menghadapi ancaman dari luar keadaannya yang begitu menyeramkan membuat Kim Thi sia menjadi terperanjat dan segera mundur tiga langkah kebelakang.

Terdengar orang itu berseru lagi dengan suara yang nyaring seperti bunyi genta.

"Kecuali pihak Tiang pek pay yang memiliki sejenis ilmu pukulan sakti tanpa bayangan yang bisa membunuh orang tanpa meninggalkan bekas, rasanya tiada manusia kedua didunia ini yang memiliki ilmu pukulan sehebat itu. Biarpun dunia persilatan didaratan Tionggoan sangat luas namun manusia yang mampu melawan kemampuan kami hanya beberapa gelintir saja. sebab kebanyakan jago segan memusuhi kami, hmmmm. Delapan puluh persen perbuatan ini pasti dilakukan oleh orang-orang Tiang pek pay.........."

"Hmmmm, besar amat bacot orang ini......"

Diam-diam Kim Thi sia berpikir didalam hati. Mendadak terdengar salah seorang diantara ketiga kakek lain yang selama ini hanya membungkam terus berkata.

"samte jangan kelewat yakin dengan dugaan sendiri tak dapat kau bilang kalau didaratan Tionggoan ini tidak terdapat manusia lain yang bisa membunuh orang tanpa meninggalkan bekas selain pukulan sakti tanpa bayangan dari Tiang pek pay......."

Jenggot kakek ini paling panjang lagipula sudah banyak yang memutih,jelas usianya sudah amat lanjut, namun setiap patah kata yang diucapkan justru amat tegas dan bertenaga Nampaknya kakek pertama tadi masih belum dapat meredakan hawa amarahnya kembali dia berseru.

"Toako, didaratan Tionggoan memangnya bukan cuma dia seorang yang bisa menggunakan kepandaian tersebut, seperti contohnya si selaksa pukulan ciang sianseng dia menguasai pelbagai ilmu pukulan yang ada didunia ini dan siapapun tak dapat menandingi kemampuannya tapi ia adalah seorang yang saleh, berbudi luhur dan dihormati setiap orang. Tentu saja kita tak bisa mencurigai orang saleh seperti itu sebagai seorang pembunuh. Berbeda sekali dengan pihak pek pay, sudah lama mereka hidup terpencil diluar perbatasan. Partai tersebutpun bukan sebuah partai lurus gerak gerik dan tindak tanduk mereka hanya menuruti dorongan hati dand ia sudah lama mempunyai ambisi untuk menancapkan kaki didaratan Tionggoan oleh sebab itu menurut pendapat siaute, besar kemungkinan Tiang pek paylah yang menjadi biang keladi dari kematian murid-murid kita."

Kakek yang disebut "Toako"

Tadi segera menghela napas panjang.

"Losam jangan kelewat emosi, terlepas orang itu adalah jago dari Tiang pek pay atau orang lain yang pasti orang itu tentu memiliki kepandaian silat yang tidak berada dibawah kemampuan kami, buktinya dia mampu membunuh keempat murid kita sekaligus. Manusia misterius semacam ini biasanya amat susah dihadapi."

Kakek yang disebut losam segera menyahut.

"Yaa, penjelasan toako memang betul sejak terjun kedalam dunia persilatan, kita empat naga dari Tionggoan sudah empat puluh tahun berkelana dalam dunia persilatan tetapi orang itu tak segan-segan memusuhi kita, bahkan bisa membunuh keempat murid kita berarti dia sudah pasti memiliki sesuatu kemampuan yang bisa diandalkan untuk itu memang ada baiknya kita harus kembali semua persoalan ini serta menyusun suatu rencana yang matang sebelum mengambil keputusan lebih jauh."

Kim Thi sia yang sudah tak sabar segera bertanya.

"Dimana sih letak Tiang pek pay?"

"Diluar perbatasan."

"Sedang sirasul dari selaksa pukula ..... Ciang sianseng?"

"Di Tionggoan"

Ketika menjawab pertanyaan tersebut wajahnya segera memperlihatkan sikap yang sangat menaruh hormat.

"Kalau begitu selamat tinggal, terima kasih banyak atas petunjukmu, aku merasa berterima kasih sekali."

Selesai berkata dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

"Hey nak, hendak kemana kau?"

Tegur kakek itu setelah tertegun sejenak.

"Mencari Ciang sianseng."

Kakek itu sgeera menarik wajahnya dan berkata dengan serius.

"Kau mencurigai Ciang sianseng?"

"Bukankah sudah kau terangkan tadi, hanya pihak Tiang pek pay dan ciang sianseng yang memiliki ilmu pukulan untuk membunuh orang tanpa meninggalkan bekas? Tiang pek pay terletak jauh diluar perbatasan, mustahil aku bisa mendatanginya, sedang ciang sianseng berada di Tionggoan, maka aku bermaksud menyelidiki persoalan ini dari pihaknya siapa tahu........"

"Bila kau berani bertindak demikian, bukan saja kami akan memandang hina dirimu bahkan segenap umat persilatan didunia inipun akan memusuhimu secara bersama-sama"

Hardik sikakek.

"Kenapa?"

Tanya Kim Thi sia tertegun-"

Ciang sianseng adalah seorang tokoh persilatan yang berkedudukan sangat tinggi, seorang yang salah dan berbudi luhur, banyak jago persilatan yang menaruh hormat kepadanya serta menganggapnya sebagai malaikat hidup.

jika kau berani mengusik hidupnya maka segenap umat persilatan akan memakimu dan menyumpahi dirimu"

"Kalau begitu biar aku berangkat keluar perbatasan saja."

Padahal dalam hatinya dia telah mengambil keputusan dan tak akan merubah rencananya semula.

"Nah, begitulah baru pandai"

Kata sikakek kemudian sambil manggut-manggut.

Keempat kakek itu segera bangkit berdiri, masing-masing membopong mayat muridnya dan berlalu dari situ.

Lamat-lamat dari kejauhan sana ia masih mendengar suara kakek itu berseru.

"Nak baik-baiklah menjaga diri sekarang kau sudah menjadi salah satu diantara jago muda yang menonjol, masa depanmu sudah terbuka tapi ingat baik-baik pesanku.Janganlah bersikap kelewat menonjolkan diri bila aku sudah menyelidiki duduknya persoalan ini hingga jelas. Kami pasti akan mewariskan ilmu silat kepadamu sebagai hadiah dari pertemuan kita hari ini........."

Diam-diam Kim Thi sia tertawa geli pikirnya.

"Lucu benar, sejak kapan aku menjadi jago muda yang menonjol? Benar-benar picik pengetahuanku, masa soal inipun tidak kuketa hui?Jangan-jangan aku menjadi tenar karena tahan dipukul?"

Kemudian diapun berpikir lebih jauh.

"sering kudengar dari ayah yang mengatakan bahwa empat naga dari Tionggoan adalah tokoh persilatan yang ternama dan merupakan angkatan tua dari dunia persilatan kepandaian silat mereka sudah mencapai puncak kesempurnaan. Tapi kenyataannya keempat muridnya telah dibunuh orang, jelas sipembunuh yang iri hati itu berhati jahat dan buas. Ehmmm dalam tindakanku selanjutnya memang paling baik jika aku menahan diri serta bersikap jangan kelewat menonjol bila namaku sampai dicantumkan dalam daftar hitamnya. Waaah.......bisa berabe dengan keselamatan jiwaku."

Sesaat kemudian ia berpikir lagi.

"Tapi suhu bilang tenaga dalamku masih cetek dan perlu sering melatih diri kalau tidak maka kekuatanku selamanya akan cetek dan tak akan peroleh kemajuan apa-apa bila sampai begitu bukankah aku bakal menyia-nyiakan serta harapan ayah?"

"Keluarga Kim adalah keturunan dari manusia berhati baja dan berkedudukan agung bukankah ayah sering bilang bila aku tidak mencari kemajuan nama baik leluhur Kim pasti akan rusak......"

Berpikir sampai disini semangatnya makin berkobar, tanpa terasa lagi dia berpekik nyaring dan melampiaskan keluar semua kekesalan yang mencekam perasaannya selama ini.

siapa tahu......

Baru selesai ia berpekik tiba-tiba terdengar suara seseorang mendengus tertahan dengan penuh penderitaan, disusul kemudian terdengar seseorang berseru dengan suara yang parau.

"Ternyata kau adalah manusia semacam ini"

Nada perkataan itu seperti terkejut dan mengandung perasaan tak terduga terhadap sesuatu.

seakan-akan baru sekarang dia mengerti kalau pandangannya selama ini ternyata keliru karena kenyataannya berbeda jauh dengan apa yang diketahui selama ini.

oooo0oooo Ketika Kim Thi sia mendengar suara dengusan tersebut berasal dari suatu tempat yang tak jauh letaknya dari situ rasa ingin tahu segera timbul dalam hatinya, cepat-cepat dia bergerak mendekati sumber suara tersebut.

Sepanjang jalan ia mendengar suara yang rendah dan parau itu bergema lagi, tapi kali ini diiringi dengan suara gelak tertawa yang amat menyeramkan.

"Haaaahhh.....haaahhh.....haaahhh.....kalau ingin membunuhku bunuhlah, sekalipun sudah menjadi setan gentayangan aku tetap akan membongkar kedok aslimu dihadapan umat persilatan didunia ini...haaahhh....haaahh.....silahkan turun tangan kalau kau mengharapkan kotak Hong toh tersebut? Huuuh......jangan mimpi aku bakal menyerahkan kembali kepadamu."

Kim Thi sia yang mendengar pembicaraan tersebut menjadi lebih terperanjat lagi, segera pikirnya.

"Aaaah.......orang ini menyinggung soal kotak mestika Hong toh, ini berarti dia pasti mempunyai hubungan dengan terbunuhnya Nyoo lo enghiong, siapa tahu kalau orang inilah yang telah melakukan pembunuhan tersebut?"

Semangatnya segera berkobar dengan menelusuri pepohonan yang lebat untuk menyembunyikan diri, ia bergerak maju terus mendekati tempat kejadian.

saat itulah, tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara yang keras dan tegas.

"Jika kau tak mau menyerahkan lagi.....hmmmmm jangan salahkan kalau aku akan pergunakan ilmu pembetot otot untuk menyiksamu sampai mati, terus terang saja keberitahukan kepadamu. Siksaan semacam ini tak mungkin bisa kau hadapi."

Kembali Kim Thi sia merasa terperanjat sebab dari nada pembicaraan orang itu, dia sudah menangkap kalau sipembicara tersebut memiliki kepandaian silat yang hebat sekali dan tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.

Jika dibandingkan dengan keempat naga dari Tionggoan, entah kepandaiannya itu berapa kali lipat lebih hebat.

"siapakah orang itu?"

Sekalipun nyalinya lebih besar setelah mendengar perkataan tersebut tak urung rasa percaya pada diri sendiri mulai goyah.

sementara dia masih termenung suara yang parau dan berat tadi telah berkumandang lagi.

"Sungguh tak kusangka kau adalah manusia seperti ini jika kau ingin berbuat bagaimana lakukan saja sekehendak hatimu. sekalipun harus menahan siksaan yang betapapun beratnya tak nanti akan kuberitahukan tempat penyimpanan kotak mestika Hong toh tersebut kepadamu. Hmmm aku mengira diriku pintar, tak tahunya sudah salah menilai orang kalau ingin membunuh hayolah bunuh, terserah kepadamu. Asal aku mengerutkan dahi, anggap saja tak becus menjadi pian pocu dari jauh propinsi diselatan-"

Perkataan yang terdengar Kim Thi sia segera membuktikan apa yang diduga sebelumnya.

"orang yang dicelakai ini menyebut diri sebagai Pian pocu dari tujuh propinsi, menurut ayah, pian pocu adalah melambangkan seorang pemimpin persilatan yang mempunyai nama termashur dan pengaruh yang luar biasa lagipula memiliki ilmu silat yang sangat hebat, tadi nyatanya orang tersebut mampu membekuknya, sudah pasti kepandaian silat yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa."

Berpikir demikian, gerak geriknya menjadi jauh lebih berhati-hati lagi.

setelah berjalan lagi sekian waktu, mendadak terdengar orang yang menyebut diri sebagai pian pocu dari tujuh propinsi itu menjerit kesakitan.

suaranya mengerikan sekali bagaikan jeritan iblis.

sangat tak sedap didengar.

Kim Thi sia menjadi amat terkejut, buru-buru dia menyembunyikan diri dibelakang sebuah batu cadas yang besar.

Ketika ia mengintip dari balik batu cadas dari meminjam cahaya rembulan yang redup untuk memperhatikan keadaan didepan itu, tampaklah tak jauh dari tempatnya dua sosok bayangan manusia.

seorang berada dalam posisi berdiri sementara yang lain berada dalam posisi duduk.

yang sedang duduk jelas merupakan korban dari kejahatan tersebut.

Bayangan manusia yang sedang berdiri itu memiliki perawakan tubuh yang tinggi begitu tinggi besar dan kekar, mukanya ditutupi dengan kain kerudung hitam.

seluruh tubuhnya tertutup oleh pakaian berwarna hitam tapi berkilauan tajam jelas bahwa pakaian tersebut terbuat dari yang luar biasa.

Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli dan tajam bagaikan sembilu itu benar-benar menggidikkan hati siapapun yang memandang.

Apalagi ketika sinat mata berkelebat lewat Kim Thi sia merasa seolah-olah tempat persembunyiannya sudah ketahuan.

Tanpa dia mengayunkan lengannya kebawah, orang yang sedang duduk itu segera memperdengarkan jeritan ngerinya yang menyayat hati suara jeritan yang membelah keheningan malam itu bergema sampai ketempat yang jauh sekali.

Tak bisa dilukiskan suara itu mendadak penderitaan ataukah rasa ketakutan-Terdengar orang itu berteriak lagi keras-keras.

"Kalau ingin membunuh cepatlah membunuh perbuatanmu semacam ini.......bukan terhitung perbuatan manusia."

Mungkin disebabkan harus menahan penderitaan yang luar biasa, sehingga suara teriakannyapun kedengaran parau dan tak jelas.

Terdengar manusia berbaju hitam yang tinggi besar itu berkata lagi dengan suara yang menyeramkan.

"Pingin mampus? Hmmm, tak segampang itu,aku justru akan memaksamu untuk mengatakan dimanakah kotak peta rahasia tersebut kau sembunyikan........"

Sang korban yang terduduk segera mendengus dingin-dingin, serunya sambil menggertak gigi kencang-kencang.

"Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong. Andaikata semudah itu aku dapat kau taklukan, percuma saja aku menjadi Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan"

Disatu pihak berusaha menggertak dengan kata-kata yang menakutkan, sebaliknya dipihak lain tak mau menyerahkan biar sudah dipaksa sekalipun-Jeritan-jeritan ngeri pun berkumandang tiada hentinya dan membelah keheningan.

Diam-diam Kim Thi sia mulai berpikir.

"Entah siapakah orang yang berperawakan tinggi besar ini? Kekejaman hatinya benar-benar tak pernah kujumpai sebelumnya, mana mungkin pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini sanggup untuk mempertahankan diri lebih jauh?"

Karena pikirannya bercabang, pemuda itu menjadi bersikap gegabah sehingga mematahkan sebatang ranting.

Begitu ranting tersebut patah orang yang berperawakan tinggi besar itu segera berpaling dengan sigap.

Kemudian dengan suara yang amat keras bagaikan geledek dia membentak.

"siapa disitu?"

Kim Thi sia menjadi sangat terperanjat dan cepat-cepat menutup semua pernapasannya. Terdengar orang yang terduduk itu mengejek sambil tertawa seram.

"Haaahhh.....haaahhh....haaahhh....kau sudah merasa takut bukan? Kau takut kedok aslimu terbongkar orang sehingga mereka yang selama ini menghormatimu dan menyanjungmu menjadi membenci serta menyumpahimu sepanjang masa bukan? Haaahh....haaahh.....haaahh......"

"Tutup mulut"

Sekali lagi manusia berperawakan tinggi besar itu membentak nyaring.

Ketika ujung bajunya dikebaskan kedepan pian pocu dari tujuh propinsi diwilayah selatan itu sekali lagi menjerit kesakitan dengan suara yang mengerikan sekali.

Terdengar dia berseru dengan suara terputus-putus.

"Bagus....perbuatanmu bagus sekali...... sekarang tulang dadaku sudah patah semua....biar ada obat yang mujarabpun tak akan menyembuhkan diriku lagi....jangan harap aku akan memberitahukan rahasia tersebut kepadamu......."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, keritan ngeri yang menyayat hati telah mengakhiri perkataan yang belum selesai itu.

Kim Thi sia sungguh merasa tidak tega menyaksikan siksaan keji itu, buru-buru ia menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tak berani menonton adengan yang mengerikan itu.

Apa yang terlihat kemudian segera membuat sianak muda itu terkejut bercampur gembira.

Rupanya kotak rahasia Hong toh yang dibungkus dengan kain itu ditemukan berada dibawah sebuah batu cadas raksasa, cepat-cepat Kim Thi sia mengambilnya dan disembunyikan kebalik baju dibagian dadanya.

Tapi masalah baru kembali melintas dalam benaknya.

"Andaikata Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini tak sanggup menahan siksaan sehingga mengakui tempat penyimpanan kotak rahasia tersebut. Ditinjau dari kebuasan dan kekejaman hati simanusia berperawakan tinggi besar itu, niscaya diapun akan disiksa dan dihabisi nyawanya."

Kendati begitu, diapun tak berani meninggalkan tempat tersebut dengan begitu saja.

sebab dia mengerti, orang berperawakan tinggi besar itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, ini berarti diapun memiliki ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa pula.

Bila dia beranik bergerak secara gegabah, niscaya tempat persembunyiannya akan ketahuan.

selang berapa saat kemudian, agaknya manusia berkerudung hitam itu mulai habis kesabarannya, dengan suara dingin ia segera berseru.

"Aku sudah berusaha untuk bersabar dan bersabar terus, tapi kau tetap berkeras kepala enggan menjawab. Baiklah, kalau begitu jangan salahkan kalau aku akan bertindak tanpa belas kasihan."

Dengan nada angkuh Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan itu menyahut.

"setelah terjatuh ketanganmu, apalagi yang bisa kukatakan? Boleh saja bila kau berharap agar aku mengatakan tempat penyimpan kotak mestika itu, tapi kau harus memenggal dulu batok kepalamu dan persembahkan kepadaku"

Manusia berkerudung hitam itu menjadi teramat gusar, sekilas hawa napsu membunuh yang amat keji dan mengerikan melintas dari balik matanya tiba-tiba ia mengebaskan jari tangannya kebawah.

Kali ini pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini tidak menjerit kesakitan, namun tubuhnya bergulingan diatas tanah terlihat jelas bahwa paras mukanya pucat pias seperti mayat.

Menyaksikan hal ini Kim Thi sia segera berpikir.

"Entah siapa manusia berkerudung itu?

mengapa ia bertekad untuk mendapatkan kotak mestika Hong toh tersebut?

mungkinkah isi kotak ini benar-benar merupakan benda mestika yang langka dan tak ternilai harganya?"

Tapi ia segera berpikir lebih jauh.

"Aaaah, benar orang ini berusaha keras untuk mendapatkan kotak mestika Hong toh, janganjangan diapun ingin mempelajari ilmu silat dari sirasul dari selaksa pukulan Ciang sianseng sehingga bisa menjagoi dunia persilatan.....? tapi bukankah dia sudah memiliki ilmu silat yang tak terkirakan hebatnya, kenapa dia masih tamak dan ingin mempelajari pula ilmu silat dari Ciang sianseng....."

Dengan perasaan tak habis mengerti dia berpaling kembali ketengah area.

Waktu itu ternyata pian pocu dari tujuh propinsi diselatan telah menggeletak tak berkutik lagi diatas tanah, rupanya dia sudah kehilangan kesadarannya.

Manusia berkerudung itu segera mendengus dingin, tangannya diayunkan kebawah lagi dengan keras.

^Blaaammmm........."

Seketika itu juga tulang dada Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan itu patah menjadi beberapa bagian, dan tanpa menimbulkan sedikit suarapun melayanglah selembar jiwanya.

Dengan suara rendah manusia berkerudung itu segera mengumpat dan menyumpah berulang kali setelah itu tubuhnya melesat sejauh belasan kaki dari tempat semula dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap tak berbekas.

Diam-diam Kim Thi sia menjulurkan lidahnya karena ngeri, pikirnya dihati.

"Waaah, aku bisa memiliki ilmu meringankan tubuh sehebat ini pasti akan kumanfaatkan kepandaian tersebut untuk membantu kaum lemah dan menegakkan keadilan serta kebenaran bagi umat persilatan."

Ketika ditunggunya sekian waktu tanpa ditemukan suatu kejadian, pelan-pelan pemuda itu baru munculkan diri dibalik tempat persembunyian-sewaktu lewat disamping mayat pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini, dia melongok serta memperhatikan sekejap.

Terlihat olehnya, dari tujuh lubang indera mayat itu darah kental mengalir keluar dengan derasnya dibagian bawah sinar rembulan-wajahnya yang pucat pasi nampak lebih menyeramkan hati.

sambil memejamkan matanya rapat-rapat Kim Thi sia maju dua langkah kedepan, kemudian baru menghembuskan napas panjang.

Perasaannya yang tujam secara lamat-lamat mulai menduga, bisa jadi manusia berkerudung yang baru saja beranjak pergi dari situ tak lain adalah manusia iri hati yang maksud empat naga dari Tionggoan.

Dengan suara yang amat lirih berkumandang memecahkan keheningan yang mencekam disekeliling tempat itu.

Kim Thi sia merasa tercekat, ditambah pula hembusan angin bukit yang dingin dan kicauan burung malam, suasana waktu itu tak ubahnya seperti berada didalam akhirat saja.

Cepat dia berpaling, segera ditemuinya anggoat tubuh mayat yang mengerikan itu mulai bergerak-gerak.

Dengan memberanikan diri Kim Thi sia segera maju mendekat kemudian tegurnya.

"Hey, rupanya kau belum mati?"

Kembali terdengar suara rintihan lirih bergema memenuhi angkasa suaranya lemah dan sangat pelan-Buru-buru Kim Thi sia berjongkok sambil memeriksa denyut nadi orang tersebut, terasa olehnya detak jantung orang itu sudah lemah sekali, dan seakan-akan setiap saat dapat berhenti berdetak.

Maka cepat-cepat dia membimbing bangun tubuh orang itu sambil tanyanya pelan.

"Hey siapakah manusia berkerudung tadi"

Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini nampak sangat lemah kondisinya, dia sudah tak mampu lagi untuk berbicara dengan suara yang keras.

Terpaksa Kim Thi sia harus menempelkan telinganya diatas bibir orang itu, dengan begitu secara lamat-lamat dan suara terputus-putus ia dapat menangkap perkataannya.

"Kotak.....kotak Hong toh....ber.....berada dibawah baaatu.....beeee....besar...iblisja....jahat....kau manusia munaftk.....kau manuu.....manusia babi....biar sudah matipun aku.....aku tetap akan mengejar nyawamu......."

"Hey siapak iblis jahat itu?"

Teriak Kim Thi sia dengan suara keras.

"Dia........dia adalah........adalah......"

Sayang sekali perkataan itu tak sampai diselesaikan tiba-tiba kakinya mengejang keras disusul kepalanya terkulai lemas ternyata dia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Dengan gemas Kim Thi sia segera mendepakkan kakinya berulang kali keatas tanah serunya.

"Benar-benar menjengkelkan kalau engkau bisa mengatakan namanya, aku kan dapat pula membalaskan dendam bagi kematianmu."

Sementara dia masih mendongkol, tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara yang lembut dan ramah.

"Nak, apakah dia telah mati?"

Bagaikan burung yang terkena panah, Kim Thi sia segera melompatjauh-jauh dan membalikkan badan.

Entah sejak kapan ternyata disamping mayat Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan itu telah bertambah dengan seorang kakek berwajah saleh lembut waktu itu sekulum senyuman ramah menghiasi ujung bibirnya.

Mengetahui kehadiran kakek berwajah saleh ini, Kim Thi sia merasa sangat lega sahutnya kemudian-"Empek tua, dia telah mati"

Dengan perasaan iba kakek itu memandang mayat itu sekejap lagi, kemudian tanyanya lebih jauh.

"orang ini tewas secara mengenaskan apakah dia adalah sanak saudaramu?"

Kakek ini berwajah saleh lembut dan halus penuh perasaan, bila dibandingkan dengan kebuasan dan kekejaman manusia berkerudung tadi, pada hakekatnya mereka berdua berbeda seperti langit dan bumi.

Tanpa terasa Kim Thi sia pun memberikan perbandingan yang nyata sekali atas kakek itu, otomatis rasa was-wasnya juga turut lenyap tak berbekas.

Tanpa bermaksud untuk membohong dia menyahut.

"Bukan dia adalah pian pocu dari tujuh propinsi diselatan entah mengapa telah tewas dibunuh orang, bagaimana kalau kita kubur saja jenasahnya?"

Kakek itu tersenyum.

"Baik, baik sekali, mari kita membuat liang serta mengubur mayatnya."

"Ehmmm.....pian pocu dari tujuh propinsi diselatan memang seorang tokoh persilatan yang gagah berani, sungguh tak disangka dia tewas ditempat ini, kematiannya benar-benar merupakan suatu kehilangan besar bagi segenap umat persilatan"

Kim Thi sia segera meloloskan gedang mestika Leng gwat kiamnya untuk digunakan menggali sebuah liang besar, setelah menurunkan jenasah pian pocu dari tujuh propinsi diselatan buru-buru dia menutup kembali liang tersebut dengan tanah.

"sobat, nampaknya pedangmu adalah sebilah pedang mestika yang luar biasa sekalipun aku tak mengerti benda mestika, tapi aku tahu benda tersebut pasti merupakan benda yang luar biasa."

Kim Thi sia tertawa.

"Pedang itu bernama Leng gwat kiam, warisan dari ayahku almarhum........."

"ooooh......kalau begitu ayahmu tentulah seorang tokoh persilatan yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan."

Merah jengah selembar wajah Kim Thi sia hatinya gembira sekali. ujarnya dengan bersemangat.

"sayang ayahku sudah meninggal dunia, kalau tidak ia pasti termashur diseluruh dunia....."

Kembali kakek itu tersenyum.

"sobat kecil, aku lihat kau mempunyai bakat istimewa dalam mempelajari ilmu silat bila peroleh petunjuk dari guru pandai, tak susah bagimu untuk menjadi seorang pendekar yang disanjung dan dihormati orang di kemudian hari."

"Empek kelewat memuji"

Dengan perasaan rikuh pemuda itu berseru.

"Aku cuma seorang lelaki bodoh yang takpandai bersilat secara baik. Mana mungkin bis menjadi pendekar hebat dikemudian hari? bagiku asal tidak dipandang hina orang lain saja, hatiku sudah cukup puas"

Kakek itu segera tertawa terbahak-bahak dan tidak berbicara lagi. sementara itu didalam waktu yang amat singkat ini, Kim Thi sia telah menaruh kesan baik terhadap kakek itu, kembali dia bertanya.

"Empek.

ilmu meringankan tubuhmu sangat bagus tanpa kusadari ternyata kau telah berdiri disampingku coba kau adalah musuhku niscaya aku tak akan memiliki kesempatan lagi untuk melancarkan serangan balasan."

"sobat kecil apakah kau ingin mempelajarinya?"

Tanya kakek itu sambil tertawa ramah. Kim Thi sia menjadi sangat gembira, dengan rasa terharu bercampur terima kasih sahutnya.

"Empek, kau sungguh baik, asal kau bersedia mewariskan kepadaku, aku pasti akan mempelajarinya dengan bersungguh hati"

"Haaaah.......haaaah.......haaaah pasti akan kuwariskan, pasti akan kuwariskan"

Kemudian setelah berhenti sejenak. dia berkata lebih jauh.

"Padahal ilmu meringankan tubuh semacam ini tidak sulit untuk dipelajari. Ilmu tersebut bernama It wi to kiang, merupakan hasil ciptaan dari Tat mo consu dari siau lim si dimasa lalu, bagi setiap orang yang kuat, apabila hawa murninya disalurkan menembusi setiap bagian badan, otomatis akan timbul perasaan mengambang pada dirinya, dan ilmu meringankan tubuh It wi to koang pun diambil dari inti sarinya dari keadaan tersebut."

Kim Thi sia menjadi amat terperanjat setelah mendengar perkataan ini pikirnya.

"Ayah sering bilang, ilmu meringankan tubuh yang paling hebat dalam dunia persilatan adalah ilmu meringankan tubuh It wi to kiang ciptaan Tat mo consu konon ilmu tersebut merupakan ilmu aliran lurus yang dapat mengungguli kepandaian lainnya, dalam kenyataannya empek ini menguasai ilmu meringankan tubuh It wi to kiang bisa jadi dia adalah seorang tokoh kenamaan dunia persilatan dewasa ini......."

Berpikir sampai disitu dengan perasaan kaget dia mengawasi kakek itu beberapa kejap tampak wajahnya cerah bagaikan dewa, meski senyum ramah selalu menghiasi wajahnya namun tidak menutupi pancaran sinar matanya yang tajam dan berkilat, hal mana semakin membuktikan kebenaran dari dugaannya.

setelah tertawa ramah, kakek itu berkata.

"Anak muda, kau pasti keheranan kenapa aku bisa menguasai ilmu meringankan tubuh It wi to kiang bukan? sekalipun orang yang menguasai kepandaian tersebut cuma beberapa gelintir manusia saja, namun yang benar-benar mendalami serta menguasai inti sari dari kepandaian tersebut sesungguhnya bisa dihitung dengan jari tangan sebelah."

"Apalagi diwaktu belakangan ini, dimana sebagian tokoh silat enggan mewariskan semua kehebatan ilmu silatnya kepada generasi muda dan lebih banyak yang suka membawa kepandaian tersebut masuk keliang kubur hal ini menyebabkan orang yang menguasai ilmu meringankan tubuh It wi to kiang tersebut mungkin cuma diriku seorang, tapi bila kau ingin mempelajarinya berarti didunia ini bakalada dua orang saja yang mengerti tentang ilmu meringankan tubuh It wi to kiang tersebut"

Kim Thi sia menjadi gembira, segera serunya.

"Empek, kau baik sekali, aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu."

Kakek itu menggelengkan kepala berulang kali.

"Tak usah berterima kasih, aku paling senang dengan pemuda berbakat bagus, menurut penilaianku tidak sampai lima tahun kau pasti sudah dapat menggemparkan seluruh dunia persilatan..........."

Kim Thi sia segera merasakan semangatnya berkobar-kobar.

Rasa gembiraya sekarang tidak terlukiskan lagi dengan kata-kata.

Dengan sikap yang menghormat dia berlutut dan memberi hormat kepada kakek itu kemudian baru ujarnya.

"Aku yang muda Kim Thi sia tak pernah akan melupakan budi kebaikan empek."

"oooh...jadi kaulah Kim Thi sia?"

Seru kakek itu sambil memandang kearahnya dengan perasaan kaget bercampur tercengang.

"Darimana empek bisa tahu?"

Kakek itu segera tertawa.

"sungguh tak kusangka ternyata kaulah Kim Thi sia, pertemuan ini semakin menggembirakan hatiku. Haaaahhhh.....haaahhh.....tahukah kau, berhubung kemampuanmu dalam usia muda yang berhasil menyambut lima buah pukulan ketua Tay sang pang Khu It cing dengan sepenuh tenaga, namamu sekarang sudah termasuk dalam deretan jago-jago muda kenamaan....."

"Sudah pasti, memang merekalah yang membuat berita sensasi ini........"

Ucap Kim Thi sia rasa rikuh.

"Padahal apa yang kupahami hanya sedikit kulit luar saja mana mungkin bisa dideretkan pada jago-jago muda?"

"Sudahlah kita tak usah membicarakan soal ini dulu, mari kuwariskan dulu ilmu meringankan tubuh It wi to kiang tersebut kepadamu."

Sambil tertawa Kim Thi sia manggut-manggut, baru saja dia hendak mengucapkan kata-kata terima kasih, mendadak terlihat olehnya kakek itu sedang memperhatikan sesuatu, tampaknya dia seperti telah menemukan sesuatu buru-buru serunya keheranan.

"Empek. apa yang terjadi?"

"Ada orang datang"

"Kenapa aku tidak melihat?"

"Haaaah.....haaaah......haaaah......tidak sedikit jumlah rombongan yang datang, paling tidak diatas angka lima. sekarang mereka masih berada seratus kaki dari tempat ini, bagaimana mungkin kau dapat mengetahuinya?"

"Jadi empek telah mendengarnya?"

Tanya Kim Thi sia lagi dengan perasaan terkejut.

Kakek itu hanya tertawa dan tidak menjawab selang berapa saat kemudian benar juga dari kejauhan sana telah muncul lima sosok bayangan tubuh manusia.

setelah melihat kenyataan tersebut mau tak mau Kim Thi sia harus mengagumi juga kesempurnaan dari tenaga dalam kakek itu, tapi secara diam-diam diapun merasa gembira karena ia bakal diwarisi ilmu meringankan tubuh It wi to kiang yang sangat hebat itu.

Dalam pada itu kelima sosok bayangan manusia tadi telah berjalan mendekat, makin kedepan makin mendekat.

saat itulah Kim Thi sia mendengar kakek itu berbisik.

"Kelima orang itu adalah jago-jago utama dari Pian pocu tujuh propinsi diselatan bisa jadi mereka sedang mencari pemimpinnya yang telah hilang. Aa aai......siapa yang menduga kalau pemimpin mereka yang telah meninggal dunia? bila berita duka ini mereka dengar, entah berapa sedihnya hati mereka."

Kim Thi sia merasa sangat terharu oleh perkataan itu pikirnya tanpa terasa "Andaikata setiap orang didunia ini mempunyai hati yang tulus dan saleh seperti dia tentu tiada persengketaan yang bakal terjadi didunia ini."

Sementara dia masih termenung, kelima orang itu sudah berjalan mendekat dengan sinar matanya yang tajam masing-masing memperhatikan sekejap kedua orang itu.

Tapi secara tiba-tiba mereka menjerit kaget bersama-sama menjatuhkan diri berlutut seraya berseru.

"Boanpwee menjumpai rasul selaksa pukulan disamping menyampaikan salam hormat kami semua."

Kim Thi sia yang ikut mendengarkan pembicaraan tersebut menjadi sangat terperanjat, segera tegurnya.

"Empek. jadi kau adalah Ciang sianseng?"

Kakek itu tertawa sambil maju berapa langkah kedepan, kemudian sambil membangunkan kelima orang itu, ujarnya sambil tertawa ramah.

"Kalian pasti sudah letih sekali, sayang tempat ini jauh dari rumah sehingga tiada sesuatu yang bisa dihidangkan, hatiku benar-benar tak tenteram."

Dengan wajah amat berterima kasih, kelima orang itu bangkit berdiri kembali dan serunya bersama-sama.

"Boanpwee tak berani merepotkan ciang loya."

Ternyata rasul dari selaksa pukulan ini tidak menjadi angkuh atau jumawa karena kedudukannya yang sangat terhormat didalam dunia persilatan.

Malah sebaliknya dia menyalami setiap orang dengan ramah dan lembut.

Tak heran kalau kawanan lelaki kasar yang dihari-hari biasa selalu bergelimpangan diujung golok ini menjadi kaget dan gelagapan setengah mati.

otomatis rasa kagum dan hormatnya terhadap tokoh persilatan inipun semakin bertambah tebal.

sebagai kawanan manusia yang tak pernah mempersoalkan mati hidup sendiri ini kini malah timbul suatu perasaan rela berkorban demi Ciang sianseng yang dikagumi dan dihormati itu.

serentak mereka menjura bersama-sama dan berseru.

"Ciang sianseng kelewat baik terhadap boanpwee kesemuanya ini membuat boapwee amat terharu, bila cianpwee membutuhkan tenaga kami, biarpun harus terjun kelautan api mendekati bukit bergolokpun tak akan kami tampik,"

Ciang sianseng segera mengelus janggutnya dan tertawa ramah.

"Maksud baik kalian sangat menggembirakan aku merasa cukut bangga karena mendapat sahabat seperti kalian ini......"

Dengan perasaan kaget dan senang kelima orang itu mengucapkan kata-kata merendah tapi saking gugupnya malah tak sepatah katapun yang bisa diutarakan secara lancar. Tiba-tiba Ciang sianseng bertanya.

"Jauh-jauh datang kemari, apakah kalian sedang mencari cong pian pocu kalian?"

"Ciapnwee benar-benar sangat hebat, ternyata dalam sepatah kata saja sudah dapat menebak tujuan kami."

Dengan wajah sedih Ciang sianseng menghela napas panjang, ketika kelima orang itu menanyakan apa yang telah terjadi. Ciang sianseng pun segera menuding kearah Kim Thi sia seraya berkata.

"Sobat cilik, coba kau beritahukan kepada mereka atas semua yang telah kau saksikan."

Dengan sejujurnya Kim Thi sia pun menceritakan kembali apa yang telah disaksikan tadi.

Dalam sedihnya, dengan air mata bercucuran kelima orang itu segera bersumpah akan menggerakan segenap anak buah mereka yang berada di ketujuh propinsi diselatan sungai besar untuk mencari serta membunuh manusia berkerudung yang keji dan buas itu.

sambil menghela napas Ciang sianseng berkata pula.

"Entah dikarenakan soal apa, Pian pocu kalian sampai tewas secara mengenaskan ditangan manusia berkerudung itu?"

Dengan berterus terang kelima orang itu berkata.

"Berapa hari berselang Pian pocu mendapat titipan dari seorang sobatnya ditempat jauh untuk mempersembahkan kotak Hong toh tersebut kepada Ciang sianseng dan memohon ciang sianseng mau mewariskan ilmu silat kepadanya sesuai dengan perjanjian. siapa tahu, belum lagi Ciang sianseng dijumpai dia telah mati terbunuh lebih dulu ditangan manusia berkerudung."

Jilid 10 Ciang sianseng segera menghela napas panjang.

"Aaaaaai sungguh tak disangka gara-gara urusan pribadiku, Pian pocu kalian harus mengorbankan jiwanya secara percuma peristiwa ini sungguh membuat hatiku tak tentram."

Buruburu Kim Thi sia bertanya.

"Bolehkah aku bertanya kepada kalian, siapakah yang telah menyerahkan kotak mestika Hong toh tersebut kepada Pian pocu kalian untuk diserahkan kepada ciang sianseng."

Kelima orang itu mengira pemuda kita adalah sanak atau mungkin murid ciang sianseng. Mendengar pertanyaan tersebut, mereka segera menjawab dengan sejujurnya.

"Dia adalah seorang jago kenamaan dari Kanglam. Pek kut sinkun (Malaikat sakti tulang putih)......."

Setelah mengetahui bahwa Pek kut sinkun adalah seorang yang mengirim kotak mestika Hong toh Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan, secara diam-diam diapun menyusun rencana untuk membalaskan dendam bagi kematian Nyoo lo enghiong.

Kembali dia bertanya.

"Hebatkah ilmu silat yang dimiliki Pek kut sinkun itu?"

Kelima orang itu segera tertawa.

"Berbicara dari wilayah Kanglam, Pek kut sinkun termasuk manusia nomor satu yang paling disegani orang."

Sampai disini, mereka berlimapun segera berlutut didepan kuburan Pian pocu mereka dan berdoa dengan nada serius.

beristirahatlah Pian pocu dengan tenang selama Kian an ngo hiong masih hidup, dendam sakit hati kau orang tua pasti akan kami tuntut balas."

Dengan nada penuh kebencian Kim Thi sia segera berseru.

"Aku yakin, manusia berkerudung itu tak lain adalah iblis jahat yang berhati culas dan pembunuh jago-jago muda belakangan ini, bagaimana menurut pendapatmu empek?"

Ciang sianseng termenung sejenak kemudian sahutnya.

"Akupun mendengar kalau belakangan ini telah terjadi serentetan pembunuhan keji terhadap sekawan jago muda yang baru menonjol namanya. Kalau dilihat kemampuan orang ini yang bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak rasanya peristiwa ini memang amat mencurigakan selama ini akupun telah melakukan penyelidikan secara diam-diam namun tiada sesuatu hasil yang kuperoleh padahal hanya berapa orang saja jago persilatan didaratan Tionggoan dewasa ini yang memiliki kepandaian silat sehebat ini."

"Ciang sianseng bersediakah kau untuk menyebutkan nama-nama dari para tokoh persilatan itu?"

"Kemungkinan besar simalaikat pedang berbaju perlente memiliki kepandaian tersebut, namun sudah lama ia lenyap dari keramaian dunia persilatan, bahkan menurut kabar yang tersiar, ia telah meninggal dunia.

selain itu terdapat dua orang pendeta agung dari siau lim si yang usianya telah mencapai seratus tahun lebih, namun kedua orang ini adalah pendeta saleh yang hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia serta dari semua napas dan angkara murka.

Mustahil mereka melakukan perbuatan sekejam ini."

"Ketua Tiang pek pay adalah seorang jagoan yang berada dalam posisi setengah lurus setengah sesat, meski dia hidup jauh dibukit Tiang pek san, namun dimasa mudanya dulu pernah melakukan serangkaian pembantaian secara besar-besaran. orang ini paling mencurigakan. sepuluh tahun berselang aku pernah bertemu dengannya, tapi aku dengar ia telah menutup diri untuk melatih semacam ilmu khikang yang maha dahsyat."

Tergerak perasaan Kim Thi sia sesudah mendengar perkataan itu, segera ujarnya.

"Ciang sianseng, pasti dia, bukankah pihak Tiang pek pay mempunyai serangkaian sejarah yang penuh dengan ceceran darah. Kemungkinan besar ilmu khikang tingginya telah berhasil dipelajari sehingga dia bisa membunuh orang tanpa meninggalkan jejak"

Kemudian seperti teringat akan sesuatu, dia bertanya lagi.

"Ciang sianseng, bagaimana sih bentuk badan ketua dari Tiang pek pay ini? apakah......"

"Dia berperawakan tinggi besar, kekar berbahu lebar, pinggang besar dan bermuka merah, mudah sekali untuk mengenalnya."

"Yaa, betul. Kalau begitu pasti dla^ teriak Kim Thi sia keras-keras.

"Orang yang membunuh Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan tadi memang berperawakan tubuh seperti ini. Aku telah memperhatikannya dengan seksama."

Kianan ngo hiong (lima orang gagah dari Kianan) segera manggut-manggut. Katanya kemudian sembari menjura.

"setelah pianpacu kami mengalami musibah dan tewas ditangan penjahat.Boanpwee sekalian bersumpah pasti akan mencari pembunuh tersebut sampai ketemu, agar arwah dia orang tua bisa beristirahat dengan tenteram dialam baka."

Ciang sianseng segera tertawa.

"Tapi kalian mesti berhati-hati manusia berkerudung ini sanggup mencelakai jiwa pianpacu kalian. Berarti ilmu silat yang dimilikinya hebat sekali, kalian tak boleh bertindak kelewat gegabah sehingga dipecundangi orang."

Kemudian ia merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol porselen kecil serta mengambil lima butir pil sebesar buah kelengkeng, sembari diserahkan kepada lima orang gagah tersebut katanya lagi sambil tertawa.

"Beberapa butir pil ini adalah bikinanku sendiri sekalipun tidak memiliki daya kasiat untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati, namun dapat memupuk tenaga dan merupakan obat mestika untuk meningkatkan tenaga dalam yang dimiliki seorang pesilat, terimalah pil tersebut siapa tahu akan bermanfaat bagi kalian semua."

Kian an ngo hiong saling berpandangan sekejap. tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut seraya berseru.

"Nama harum cianpwee termashur diseantero jagad, selama inipun sudah banyak melepaskan budi hitung-hitung boanpwee sekalian telah menambah pengetahuan kami tentang keluhuran budi cianpwee budi tersebut pasti akan kami balas dikemudian hari, dan sekarang boanpwee sekalian mohon diri lebih dulu."

Sesudha memberi hormat tergesa-gesa mereka beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

selanjutnya tanpa ragu-ragu Ciang sianseng mewariskan pula teori rahasia dari ilmu meringankan tubuh It wi to koang kepada Kim Thi sia.

Dengan seksama pemuda itu menghapalkan dalam benaknya saja, rasa terima kasihnya kepada Ciang sianseng semakin berlipat ganda, katanya kemudian.

"Ciang sianseng, aku dengan setiap orang yang bertemu denganmu, baik dia berasal dari kedudukan rendah atapun terhormat.

Berilmu silat tangguh atau lemah, semuanya pernah peroleh kebaikan darimu, benarkah demikian?"

Ciang sianseng segera tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah.....haaaaah....terhitung seberapakah pemberianku itu? aku memang senang berbuat begini, sebab dengan banyak melakukan amal kebajikan, hidupku pasti akan panjang usia. Haaaah.....haaaah.....sobat cilik tak usah kau pikirkan persoalan itu didalam hati."

Kemudian sesudah berhenti sejenak. dia berkata kembali.

"sobat kecil, bila dikemudian hari kau menemukan kotak mestika tersebut tolong hantarkan, aku akan mewariskan semua ilmu pukulan yang kupahami kepadamu. Haaaah......haaaah.....aku pergi dulu. Tak ada salahnya kau mencari berita secara baik-baik......."

Selesai berkata ia segera beranjak pergi dengan langkah lebar.

Hampir saja Kim Thi sia mempersembahkan keluar kotak Hong toh yang disimpan dalam sakunya, tapi ingatan lalu segera melintas dalam benaknya.

"Benda ini milik Nyoo lo eng hiong, sekaipun beliau telah tewas namun orang yang berhak untuk memperoleh kembali benda tersebut adalah Nyoo Jin Hui, aku tak boleh menyerahkan kepada Ciang sianseng dengan begitu saja."

Karena diapun segera mengurungkan niatnya.

Dengan duduk bersandar diatas dahan pohon, ia mulai memejamkan mata dan mengulang kembali teori rahasia ilmu meringankan badan yang baru saja diperolehnya.

Kemudian diapun mulai membayangkan kembali semua pengalaman yang dialaminya selama ini.......

^ Dalam semalaman saja, secara berurutan dia telah berhasil menjumpai tokoh-tokoh silat yang berilmu tinggi dan susah dijumpai dihari-hari biasa.

Kesemuanya ini mendatangkan perasaan bangga dalam hati kecilnya.

Terutama sekali atas perjumpaannya dengan ciang sianseng dimana ia telah diwarisi ilmu meringankan tubuh It wi to kiang.

Kesemuanya itu membuat dia menjadi gembira dan semangatnya terasa berkobar-kobar.

Teringat akan kekejaman serta kebuasan hati manusia berkerudung hitam itu, timbul kembali perasaan geram dan bencinya, diam-diam ia bersumpah.

"Kalau aku berhasil menjumpainya lagi dikemudian hari. Hmmm, pasti tak akan kulepaskan dirinya dengan begitu saja"

Dia teringat pula dengan Yu Kien si nona berbaju hitam beserta adiknya, mungkinkah mereka akan mengambil keputusan pendek lantaran tubuhnya terkena jarum racun mulut harimau?

Bagaimana pula dengan nasib Nyoo Jin Hui yang meninggalkan rumahnya untuk mencari musuh besarnya?

Dia merasa kuatir sekali atas keselamatan jiwa dari saudara angkatnya itu.

Matahari baru menyingsing ketika pemuda tersebut mulai mencoba ilmu meringankan tubuh It wi to kiang yang baru dipelajari sesuai dengan pelajaran ciang sianseng semalam.

Apa yang kemudian terjadi sungguh mengejutkan hatinya ternyata dalam sekali lompatan ia telah berada dua kaki tingginya dari permukaan tanah.

Kenyataan tersebut bukan saja amat menggirangkan hatinya, diam-diam diapun memuji akan kehebatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ciang sianoeng, tapi ketika tubuhnya meluncur kebawah, Ternyata apa yang terjadi tidak sesuai dengan teorinya.

Tak ampun lagi tubuhnya segera jatuh terjerembab diatas tanah.

"Jangan-jangan ciang sianseng hanya bernama kosong?"

Kim Thi sia mulai mencurigai kemampuan ciang sianseng sebab dalam kenyataannya kehebatan ilmu meringankan tubuh It wi to kiang tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan semula.

Tapi secara tiba-tiba ia teringat kembali dengan kemampuan Ciang sianseng dimana dalam sekali kelebatan saja tubuhnya sudah melintas lewat saringan burung, satu ingatan lain segera berkelebat kembali didalam benaknya.

"Jangan-jangan hal ini disebabkan tenaga dalamku tidak sempurna. Ya siapa pula yang mesti kukalahkan?"

Setelah keluar dari hutan brangkatlah pemuda itu menuju kekota.

setelah dalam semalaman dia berhasil menjumpai beberapa orang tokoh persilatan, kini pengetahuan dan pengalamannya telah peroleh banyak kemajuan.

Baru saja dia masuk kota dan bersiap-siap akan mencari sebuah rumah makan, mendadak terdengar suara cambuk yang nyaring diiringi bertakan keras berkumandang datang dengan cepat dia memburu kearah mana berasalnya suara tersebut.

Ternyata dari balik sebuah jalan raya telah berjalan mendekat sebuah kereta kencana yang dihela empat kuda.

Kereta tersebut terbuat dari perak dengan kain tirai berwarna merah, empat ekor kuda peng helanya bertubuh tegap dan berwarna putih bersih, suatu perpaduan warna yang indah sekali.

Disisi kereta tampak dua baris lelaki kekar mengawal kereta tersebut secara ketat.

semuanya berdandan buan dan membawa cambuk kulit.

Ayunan cambuk kian kemari segera menimbulkan suara jeritan mengaduh dari para penduduk yang kebetulan tak keburu menyingkir, sebaliknya orang yang berada dalam kereta itu sama sekali tidak menyingkap kain tirainya, seakan-akan kejadian seperti ini sudah lumrah baginya.

Baru saja Kim Thi sia bergerak maju kedepan mendadak terdengar suara desingan angin tajam menyambar datang dari belakang.

Buru-buru dia menghindar kesamping, siapa tahu gerakan tersebut masih terlambat juga, tak ampun lagi.........

"Taaaaaaarrrr........."

Bahunya kena dicambuk keras-keras sehingga mendatangkan rasa sakit yang luar biasa. Tampak seorang lelaki bengis bercodet melotot penuh amarah kearahnya sembari mengumpat.

"Anjing kecil, ayoh minggir"

"Sialan orang ini"

Pikir Kim Thi sia segera.

"Mana aku disebutnya anjing kecil? Hmmm aku sengaja tak mau menyingkir, mau apakahmu........?"

Melihat pemuda itu tak mau menyingkir, lelaki bengis itu semakin berang dengan pandangan mata memancarkan sinar buas.

sekali lagi dia mengayunkan cambuknya untuk menghajar.

Kim Thi sia menjadi semakin berang, tanpa menghindar dia mengayunkan telapak tangannya sambil melancarkan sebuah bacokan kilat kedepan.

Ayunan cambuk dan serangan tangan mengenai sasaran tepat pada saat yang bersamaan.

Baju dibagian bahu Kim Thi sia segera tercambuk sampai robek sebaliknya lelaki itu tak mengira akan dipukul.

Tubuhnya tak ampun mencelat sejauh berapa kaki dari posisi semula.

Dengan suara keras Kim Thi sia segera berseru.

"Kalau aku sengaja akan melihat isi kereta tersebut mau apa kamu............"

Dia memburu maju kemuka kemudian membuka tirai kereta tersebut secara tiba-tiba.

Ternyata isi kereta itu adalah seorang nona yang berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Kim Thi sia menjadi tertegun, satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya.

"Aaaai, tidak kusangka dalam dunia ini terdapat seorang nona yang begini cantik."

Belum sempat pemuda itu memperhatikan lebih jauh dari sekeliling arena telah bermunculan berapa orang lelaki kekar yang secara bengis dan kasar mengayunkan cambuknya menghajar diatas tubuhnya.

Dengan penuh kegusaran Kim Thi sia segera membentak keras.

"Rupanya kalian ingin mampus semua"

Sepasang telapak tangannya segera didorong berulang kali, diiringi serangkaian jeritan kaget.

Kawanan lelaki yang mengerubut itu roboh bergelimpangan keatas tanah.

setelah berulang kali terjadi pertarungan selama beberapa hari ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan yang pesat sudah barang tentu kawanan lelaki kekar itu bukan tandingannya .

Tatkala Kim Thi sia membuka tirai kereta tersebut untuk kedua kalinya ternyata gadis cantik bak bidadari dari khayangan itu masih juga tidak memandang sekejappun kearahnya, nona kelihatan berkerut kening entah apa yang sedang dipikirkan.

Dengan cepat Kim Thi sia menemukan kalau dandanan nona itu sangat aneh.

Gaun panjangnya yang terdiri dari tujuh warna diberi garis benang dari emas hitam rambutnya disanggul tinggi dan diikat dengan kain panjang berwarna hitam, diatas kain tersebut bersulamkan seekor burung hong yang nampak sangat hidup.

sementara disisi kain merah itu terdapat dua buah gelang kecil terbuat dari emas yang mengikat rambutnya kencang-kencang.

"Aneh betul dandanan perempuan ini"

Pemuda tersebut segera berpikir dengan keheranan.

"Rasanya tidak mirip dengan dandadan dari Nyoo soat hong maupun Yu Kien."

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, kembali terlihat ada empat lima orang lelaki kekar yang menyerbu kemuka diiringi suara bentakan keras.

sambil berkerut kening Kim Thi sia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya, kemudian menghardik.

"Jika kalian masih saja tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan membunuh orang."

Pedang Leng gwat kiam adalah pedang yang tajam sekali, begitu diloloskan dari sarungnya segera terbias selapis cahaya hijau yang amat menyilaukan mata.

Keempat lima orang lelaki kekar itu segera merasakan matanya menjadi silau, dengan perasaan kaget buru-buru mereka mengundurkan diri kebelakang.

Memanfaatkan kesempatan inilah Kim Thi sia melirik kembali kedalam kereta.

Nona itu memang sangat cantik, hidungnya mancung dengan bibir yang kecil mungil, mukanya bulat telur dan kulitnya putih halus.

Dibalik gaunnya yang panjang, lamat-lamat terlihat bentuk tubuhnya yang mungil dan montok.

sekalipun Kim Thi sia belum mengerti secara pasti soal cinta muda mudi, namun setelah melihat kecantikan nona tersebut, ia merasa pikiran dan perasaannya menjadi kalut, bimbang dan aneh sekali.

secara beruntun tubuhnya terasa sakit sekali, ia tahu rasa sakit itu merupakan hasil karya dari kawanan lelaki bengis itu, namun dia tak ambil perduli.

sambil menggertak gigi menahan rasa sakit, dia manfaatkan kesempatan yang ada untuk mengawasi wajah nona itu.

Tiba-tiba gadis yang cantik itu berpaling dan memandang sekejap kearahnya.

Matanya yang besar dan dingin sama sekali tidak nampak kaget atau takut karena tatapan tersebut, malah sekejap kemudian ia telah melengos kearah lain.

Paras mukanya yang cantik itu selalu nampak dingin dan hambar, rasanya tidak gampang untuk menebak jalan pemikirannya lewat perubahan mimik wajahnya itu.

Perasaan aneh yang datangnya dengan tiba-tiba dalam hati Kim Thi sia.

Dengan cepat dapat menjadi tenang kembali.

Dia jadi teringat pula dengan kata-kata tempo dulu.

"Aku tak lebih hanya seorang jago pedang yang rutin, Empat penjuru tiada sanak keluarga akupun tak akan rindu kepada siapapun, karena aku cuma seorang lelaki yang tidak disenangi orang"

Mendadak pemuda itu berpikir lagi.

"Yaa benar kenapa aku menaruh perasaan simpati kepadanya"

Mendadak dia menyarungkan kembali pedangnya kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Keempat lima orang lelaki kekar itu tak seorangpun berani menghalangijalan perginya.

Mereka hanya mengumpat dari kejauhan.

"Hey anjing cilik, kalau berani sekali mencampuri urusan kami. Hmmm cepat atau lambat nyawamu pasti akan hilang."

Tapi setelah mengucapkan kata-kata tersebut, kawanan lelaki itu baru sadar kalau telah salah berbicara.

Cepat-cepat mereka membungkam ditengah jalan.

sebenarnya Kim Thi sia tidak berhasrat mencampuri urusan itu, setelah mendengar perkataan ini, dia sadar dibalik kejadian tersebut pasti terdengar sebab musabab tertentu.

sebagai pemuda yang teliti, dengan cepat timbul rasa curiga didalam hatinya.

"Kenapa mereka melarangku untuk mencampuri urusan ini? Apakah perbuatan mereka adalah perbuatan jahat sehingga takut diusik orang lain?"

Berpikir sampai disini cepat-cepat dia menerobos masuk kebalik kerumunan orang banyak.

setelah lolos dari pengawasan kawanan lelaki bengis itu, secara diam-diam ia menguntil dari belakang kereta.

sayang kawanan lelaki kekar itu kelewat ceroboh.

Mereka mengira urusan telah berat dengan begitu saja.

Tentu saja tak seorangpun yang menduga kalau jejak mereka sebenarnya sedang diikuti orang.

Pelan-pelan kereta bergerak lagi menuju kemuka.

Kawanan lelaki itupUn secara ganas mengayunkan cambuknya lagi menghajar setiap orang yang tak sempat menyingkir.

Mendadak terdengar ada orang berseru dari balik gerombolan orang banyak.

"Aneh, sungguh aneh. Kereta itukan milik loya peronda dari Kanglam. Kenapa dalam perjalana kali ini justru dikawal sekelompok lelaki kasar yang buas? Padahal anak buah loya berseragam lengkap dan rapi. Masa kali ini bisa diiringi kawanan manusia kasar."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba orang itu dicambuk keras sehingga perkataannyapun terhenti ditengah jalan karena kesakitan.

Tapi menyusul kemudian dia telah berseru lagi sambil merintih.

"sipejabat peronta ini benar-benar manusia bedebah. Tahun pertamanya ia menjabat pangkat tersebut masih mendingan. sungguh tak disangka makin lama semakin kelihatan belangnya."

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergema amat keras, ditengah jeritan kaget para penduduk, tampak empat kuda dilarikan cepat-cepat.

Tampaknya penunggang kuda itu cekatan sekali.

Meskipun ditengah lautan manusia, namun mereka dapat mengendalikan kuda tersebut dengan begitu cepat dan mantap tak seorangpun yang kena diterjangnya.

Para penunggang kuda itu memakai baju kuning dengan ikat pinggang biri.

sepasang matanya bersinar tajam, sewaktu duduk dikuda kelihatan gagah dan perkasa.

Ketika keempat kuda itu hampir tiba dibelakang kereta kuda tersebut tiba-tiba larinya diperlambat dan mengikuti dibelakang kereta tadi dengan santai seakan-akan mereka memang bertugas untuk melakukan pengawalan.

Ketika rombongan lelaki kasar itu mengetahui kalau yang datang adalah orang sendiri mereka segera menyapa kemudian tidak menggubris lagi.

Keempat penunggang kuda itu segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian setelah mendengus tidak berbicara lagi.

Kim Thi sia yang menguntil dari belakang dapat melihat bahwa keempat penunggang kuda itu memiliki tenaga dalam yang sempurna.

sudah jelas bukan manusia sembarangan.

oooo0oooo setelah melewati sebuah pekarangan gedung yang megah, tiba-tiba rombongan itu berhenti lalu terdengar orang-orang yang berada dikereta berteriak keras.

"Buka pintu"

Pintu gerbang terbuka lebar dan muncullah sebuah papan nama didalamnya, berpuluh-puluh prajurit bersenjata lengkap nampak melakukan penjagaan diseputar sana, suasana terasa angker dan seram.

Keretapun bergerak masuk kedalam, sementara kawan lelaki kekar itu mengikutinya dari belakang secara tertip.

sikap mereka nampak lebih serius.

Melihat hal itu, satu ingatan segera melintas dalam benak Kim Thi sia, dengan cepat dia mengambil segenggam pasir yang digosokkan diatas wajah sendiri Kemudian dia memburu kedepan dan mengikuti dibelakang rombongan tersebut memasuki gedung itu.

Pintu gerbang segera ditutup kembali setelah rombongan itu lewat, tiba-tiba terdengar keempat lelaki berbaju kuning itu berseru lantang.

"saudara-saudara sekalian tentu sudah keletihan, kini pekerjaan telah usai dengan sukses, pergilah untuk melepaskan lelah."

Semua orang mengiakan dan membuyarkan diri Dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia memperhatikan sekejap keadaan disekitar situ.

sementara kereta kuda telah bergerak masuk kedalam gedung mengikuti serombongan lelaki kekar bersenjata lengkap.

Mereka langsung menuju kesebuah gedung berloteng.

Jarak antara tempat ini dengan loteng tersebut paling tidak mencapai puluhan kaki, meski jaraknya tak seberapa namun pasukan tentara yang melakukan penjagaan justru ketat sekali Jelas bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk melewatinya.

Agar tidak dicurigai orang, Kim Thi sia pura-pura duduk mengantuk dibawah sebatang pohon-Padahal otaknya berputar kencang dan berusaha untuk menemukan cara terbaik untuk melewati pos-pos penjagaan tersebut.

Dua orang tentara berjalan mendekati, mereka hanya melirik sekejap kearahnya kemudian beranjak pergi ketempat lain.

Melihat penyaruannya berhasil, Kim Thi sia memandang sekejap kedirinya dengan perasaan bangga.

seluruh badan penuh debu, pakaian kusut, dandanan semacam ini memang mirip sekali dengan orang yang baru saja menempuh perjalanan jauh.

Mendadak terdengar seseorang tertawa nyaring dari balik suatu ruang gedung.

"Haaaah.....haaaah...haaaahhh.....kau adalah salah seorang diantara sembilan murid simalaikat pedang berbaju perlente. Cukup mengandalkan nama gurumupun sudah dapat menggetar hati orang mana mungkin ada orang berani menyulitkan dirimu."

Suara seorang pemuda segera menjawab.

"Ko tua kelewat memuji, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya toh jatuh juga. Kita sebagai orang yang dihargai oleh loya sedikit banyak toh harus menjual tenaga untuknya."

Kim Thi sia yang mendengar tersebut menjadi sangat terkejut, sekilas bayangan gurunya yang menderita siksaan dan penderitaan hebat menjelang saat ajalnya segera terbayang kembali didepan mata, hawa amarah dengan cepat pula berkobar dalam dadanya membuat pemuda itu hilang kendali.

setelah memperhatikan sumber suara tadi tiba-tiba berlari kencang memburu kesana.

Bentakan-bentakan nyaring dari para pengawal tidak digubris olehnya, malah sebaliknya dia berlari semakin cepat lagi.

Dalam waktu singkat ia sudah memasuki sebuah gedung yang diliputi asap dupa wangi.

Bentuknya mirip sekali dengan sebuah kuil pribadi, seorang tua dan seorang muda sedang berbincang-bincang disitu penuh gelak tertawa.

Yang tua berusia lima puluh tahun, berjubah biru, dan memakai topi bulu, wajahnya cukup keren.

Sedangkan yang muda bermuka putih tampan dan menyoren sebilah pedang kayu.

Diantara senyuman terlihat kilatan matanya yang menggidik hati.

Dalam sekilas pandangan saja Kim Thi sia telah mengenali pemuda tampan tersebut sebagai dipedang kayu diantara sembilan orang murid gurunya.

Baru saja dia hendak menantangnya untuk berduel, tiga orang tentara bertubuh tinggi besar telah memburu tiba serta menerjangnya seperti harimau kelaparan.

"Manusia bedebah, kau sudah bosan hidup rupanya"

Bentakan marah menggema diudara.

Berkilat sepasang mata Kim Thi sia, dia mengigos kesamping sambil menyambar seorang prajurit yang didorongnya keras-keras kemuka akibat dari dorongan tersebut prajurit itu kehilangan keseimbangannya sehingga jatuh terjerembab dan mengucurkan darah dari kepalanya.

Dua orang prajurit lainnya menjadi bertambah berang setelah melihat lawannya berani turun tangan ditempat tersebut sambil meloloskan pedang serentak menyerbu kemuka.

Tua dan muda didalam kuil itu hanya melirik sekejap, kemudian bersikap acuh tak acuh kembali, mereka tetap melanjutkan pembicaraannya seperti semula.

Dengan geram Kim Thi sia meloloskan pedang Leng gwat kiamnya, cahaya hijau segera memancar keempat penjuru.

Malaikat itu, kedua orang prajurit tadi segera menghentikan terkamannya kemudian membentak.

"Bajingan cilik. rupanya kau sengaja menyusul kemari untuk membuat gara-gara. HHmmm....kalau begitu-jangan harap bisa keluar lagi untuk selamanya."

Kim Thi sia sama sekali tidak menggubris dia mendesak maju kemuka, lalu sambil menuding kearah pemuda berpedang kayu itu, tegurnya keras-keras.

"Kau adalah sipedang kayu?"

Pemuda tampan itu tidak berbicara lagi tatapan matanya segera dialihkan keatas pedang Leng gwat kiam ditangan lawannya kemudian memuji tiada hentinya.

"Pedang bagus, rasanya dibandingkan dnegan pedang lain juga begitu saja."

Ternyata ia tidak menggubris teguran Kim Thi sia, Kakek yang disebut "ko tua"

Itu melirik kearah Kim Thi sia, kemudian baru bisiknya kepada pemuda itu.

"Gi sauhiap, ada orang bertanya kepadamu."

"oyaaa"

Pemuda tampan itu pelan-pelan berpaling kearah Kim Thi sia lalu jawabnya.

"Betul, akulah sipedang kayu. Bila dilihat dari wajah anda yang begitu asing rasanya kita tak pernah bersua sebelumnya."

Sementara itu kedua prajurit tadi sudah saling memberi tanda, kemudian menerjang kemuka bersama-sama. Kim Thi sia mendengus marah, pedangnya langsung dibabat kesekeliling tubuhnya.

"Teaaaaaang, traaaaaaaaang......."

Diiringi dentingan nyaring, tahu-tahu pedang ditangan prajurit itu sudah patah menjadi dua bagian mereka jadi terkesiap dan segera berdiri bodoh ditempat untuk beberapa saat lamanya tak seorangpun diantara mereka yang berani berkutik, sambil tersenyum pemuda tadi mengulapkan tenaganya seraya berkata.

"Kalian bertiga boleh mundur dari sini."

Agaknya ketiga orang prajurit itu amat menaruh hormat kepadanya sesudah mendengar perkataan tersebut, masing-masing segera melotot sekejap kearah Kim Thi sia sebelum beranjak pergi dari situ.

Dengan suara dingin Kim Thi s ia segera berseru.

"Aku adalah murid kesepuluh dari malaikat pedang berbaju perlente, suheng baik-baikkah kau?"

Berubah hebat paras muka sipedang kayu serunya terkejut.

"sejak kapan suhu menerimamu sebagai muridnya? kenapa aku tidak tahu.........?"

Dari nada pembicaraan tersebut, dapat didengar kalau dia tidak percaya bahwa Kim Thi sia adalah murid terakhir dari simalaikat pedang berbaju perlente.

Agaknya kakek she Ko itupun merasakan ada kejanggalan dalam persoalan itu katanya pula seraya menggeleng.

"setiap umat persilatan hanya tahu kalau malaikat pedang berbaju perlente hanya mempunyai sembilan orang murid."

"Bagus sekali"

Seru Kim Thi sia.

"Engkau enggan mengakui diriku, belum tentu akupun bersedia mengakuimi sebagai suhengku. Hmmmm......."

Rasa terkejut dan marah yang menyelimuti wajah sipedang kayu hanya melintas sejenak saja, dalam waktu singkat dia telah menjadi tenang kembali. Katanya kemudian sambil tertawa.

"Kuakui, kuakui, kuakui. sute, coba kau perlihatkan kebolehanmu sehingga suhengpun bisa berlega hati."

Kim Thi sia segera menggetarkan pedangnya membentuk berkuntum-kuntuk bunga pedang, inilah jurus "mantap bagaikan bukit karang"

Dari ilmu pedang panca Buddha.

sipedang kayu tertegun, ia tidak kenal dengan jurus pedang tersebut, namun dilihat dari cara Kim Thi sia menggunakan pedang jelas memang berasal satu aliran dengannya.

Maka sambil tersenyum dia datang menghampirinya lalu berkata.

"Sute, ilmu pedangmu bagus sekali. Dilihat dari-jurus mu barusan suheng merasa takluk sekali."

"Gi sauhiap"

Kata sikakek Kopula.

"Gurumu memang seorang tokoh yang luar biasa, dari jurus yang diperlihatkan sutemu barusan aku sudah merasa kagum dan takluk."

Dengan sikap ramah sipedang kayu segera menepuk-nepuk bahunya Kim Thi sia setelah itu katanya sambil tertawa.

"Sute, kau belum memberitahu namamu kepadaku mana suhu? sekarang dia orang tua berada dimana?"

Karena tidak menjumpai sikap permusuhan dari orang itu Kim Thi sia malah menganggapnya seperti orang sendiri semua rasa gusarnya tak mampu dilampiaskan keluar.

Ketika mendegar perkataan tadi diapun segera menjawab.

"Aku bernama Kim Thi sia. Kim yang berarti emas. Thi adalah besi dan sia berarti kota. Tak lama setelah suhu menerimaku sebagai muridnya dia telah meninggal dunia."

"oooooh"

Sipedang kayu seperti teringat sesuatu, dia segera berseru keras.

"Suhu, oooooh suhu. sungguh tak nyana perjumpaan kita dulu merupakan perjumpaan yang terakhir. Padahal budi kebaikanmu belum sempat tecu bayar. Betapa sedih hatiku."

Dua tetes air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dia sedih sekali. sedang kakek she Ko itu nampak tertegun sesaat kemudian berseru sambil tertawa keras.

"Harap sauhiap janganlah bersedih hati, ilmu silat gurumu telah menjagoi seluruh kolong langit, banyak budi kebaikan telah dilimpahkan untuk umat persilatan, sekalipun tubuh kekarnya telah mati.

Namun semangatnya masih berkobar terus dalam hati setiap umat persilatan.

Kematiannya benar-benar menjadi kehilangan besar bagi segenap umat persilatan sungguh menyedihkan, sungguh menyedihkan........"

Sebenarnya Kim Thi sia masih dicekam rasa gusar, dendam dan sedih. Tapi setelah melihat kesedihan yang mencekam perasaan pemuda tersebut, hatinya menjadi dingin separuh, tanpa terasa pikirnya.

"Dia kelihatan sedih sekali, tadi suhu......."

Diam-diam dia mulai mencurigai suhengnya ini, kembali pikirnya lebih jauh.

"suheng berwajah simpati, bermuka tampan dan berhati mulia, kenapa suhu justru mengatakan dia sebagai manusia yang berhati binatang.....dimanakah letak kebuasannya?"

Selang berapa saat kemudian, sipedang kayu baru menyeka air matanya sambil berkata dengan sedih.

"sute, disaat dia orang tua hendak menghembuskan napas penghabisan, apakah ada pesan yang ditinggalkan?"

"Tentu saja ada"

Pikir Kim Thi sia didalam hati.

"Dia menyuruh aku membunuhmu."

Tentu saja perkataan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, sambil menggeleng katanya kemudian.

"Tidak ada, dia orang tua hanya sempat menerimaku selama dua hari sebagai muridnya. Dan hari ketiga telah wafat."

"Sute, kalau begitu dia orang tua telah mewariskan segenap kepandaian silatnya kepadamu?"

"Tidak sempat lagi, sewaktu menerimaku sebagai murid, kesadarannya sudah menurun. Dengan susah payah dia hanya sempat mewariskan dua macam kepandaian sakti kepadaku."

"sayang, sungguh sayang"

Ujar sipedang kayu menghela napas.

"Padahal kepandaian silat suhu telah mencapai tingkatan yang tiada tandingannya lagi."

Mendadak ia menutup mulut dan memandang kakek Ko sekejap. Kakek Ko segera tersenyum dan berkata.

"sauhiap tidak usah sungkan, dalam kenyataan suhumu tiada tandingannya didunia ini."

Kembali sipedang kayu menghela napas.

"Tapi dengan kematiannya banyak sekali ilmu silat maha sakti yang menjadi punah sungguh menyesal aku orang she Gi meski sudah banyak tahu mengikuti suhu yang berhasil kuperoleh cuma ilmu kucing kaki tiga belaka. sute, ilmu pukulan dari ilmu pedang apakah yang sempat suhu wariskan kepadamu?"

Kim Thi sia menjawab secara langsung, diam-diam pikirnya dulu.

"Suhu telah berpesan agar aku tidak mengatakan kepada siapapun tentang ilmu ciat khi mi khi tersebut, sebab kepandaian ini merupakan ilmu sakti yang maha dahsyat. Aku tak boleh melanggar pesan tersebut."

Karenanya dia menjawab.

"Ilmu pukulan itu adalah Tay goan sinkang sedang ilmu pedangnya adalah Ngo hud kiam hoat selain dua macam kepandaian tersebut yang lain tak sempat diwariskan kepadaku."

Mendengar nama-nama itu kakek Ko segera berseru kaget.

"Ilmu pedang Ngo hud kiam hoat merupakan sejenis ilmu pedang yang tiada taranya didunia persilatan dewasa ini. Menurut apa yang kuketahui Malaikat pedang berbaju perlente tak pernah mewariskan ilmu tersebut kepada siapapun. sobat kecil, kau benar-benar mempunyai rejeki besar"

Jelas kedengaran betapa kagumnya orang ini. sebaliknya sipedang kayu segera bergumam dengan kening berkerut.

"Tay goansinkang....? Tay goansinkang kenapa dia tak pernah memberitahukan soal ini kepadaku.......?"

Mendadak dia berseru.

"Sute, apakah kau berhasil menguasai sepenuhnya?"

Nadanya gelisah bercampur tegang. Dengan cepat Kim Thi sia menggelengkan kepalanya.

"Dasar siauwte bodoh aku cuma mengerti teorinya namun tidak mengerti bagaimana cara mempergunakannya ."

Berkilat sepasang mata si pedang kayu setelah mendengar perkataan tersebut, serunya segera.

"sayang sungguh sayang....."

Begitu selesai berseru, secepat kilat dia mendesak maju kemuka dan melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Kim Thi sia tidak menduga sampai kesitu, tubuhnya segera termakan sebuah pukulan sehingga mencelat sejauh empat lima langkah lebih segera bentaknya keras-keras.

"Kau berani memukulku?"

Dendam lama dan kemarahan, baru bercampur aduk menjadi satu dengan suatu gerakan cepat dia menerjang kemuka.

Dengan cekatan sipedang kayu berkelit kesamping menghindar diri dari serangannya kemudian sambil menggoyangkan tangannya berulang kali dia berkata.

"Harap siaute jangan marah. Aku hanya menjajal apakah perkataanmu betul atau tidak, kalau begitu kau benar-benar belum berhasil memahaminya."

Mendengar perkataan tersebut hawa amarah Kim Thi sia pun menjadi rada separuh tapi dengan nada tak senang hati dia berseru.

"Suheng, kalau toh ingin menyerang, kenapa kau tidak berbicara sama sekali."

Diam-diam pedang kayu menghembus napas lega, katanya kemudian sambil tertawa.

"Diantara kita suheng te masa ada persoalan yang perlu dirahasiakan? Mari, mari, mari kita baru bersua untuk pertama kalinya biar kusiapkan sebuah perjamuan untuk menambut kedatanganmu. Moga-moga kau sukses selalu dikemudian hari?"

Sesungguhnya Kim Thi sia menaruh kesan baik kepadanya, apalagi setelah mendengar perkataan itu, dia semakin terharu lagi tanpa terasa pemuda inipun menaruh perasaan akrab dengannya.

Dalam keadaan begini, semua pesan dari gurunya boleh dibilang sudah dilupakan sama sekali.

sambil tertawa nyaring segera katanya.

"suheng, sikapmu yang begitu ramah membuat siaute sangat terharu.........."

Sipedang kayu segera tertawa.

"Aaaaah kenapa kau mesti mengucapkan kata-kata begitu? selanjutnya hubungan kita bagaikan sesama saudara ada rejeki dinikati bersama ada kesusahan ditanggulangi berbareng bukankah keadaan semacam itu jauh lebih baik?"

Kemudian sambil menunjuk kearah kakek berjubah biru itu dia berkata lagi.

"Dia adalah Ki Jin yang disebut orang sebagai Delapan penjuru berjaya. Ilmu pukulan Bwee hoa ciangnya menggetarkan seluruh dunia persilatan dan tiada tandingannya selama ini, benar-benar berjaya didelapan penjuru angin. Kau mesti baik-baik berhubungan dengannya. Kau tahu suheng pun sangat kagum kepadanya."

Walaupun perkataannya menyanjung namun sikapnya sama sekali tidak menunjukkan perasaan kagumnya.

Bahkan maupun nada pembicaraannya bersahaja.

Kim Thi sia melihat keadaan tersebut makin memahami lagi seluk beluk hubungan antara manusia dia orang yang berkududukan tinggi sebetulnya tak perlu terlalu dihormati.

Pat bin wi hong kekjin sama sekali tidak marah, malah ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh......haaaahhhh.......haaaaahhh sobat memiliki kepandaian sakti warisan malaikat pedang berbaju perlente dikemudian hari kau tentu akan berhasil merebut kedudukan tinggi serta nama besar didalam dunia persilatan. Aku yakin kesemuanya itu bisa kau raih semudah membalikkan tangan sendiri."

"Aku dapat berkenalan dengan sobat betul-betul merupakan suatu keberuntungan. Marilah kita berangkat, kita pergi minum arak."

Sepanjang jalan, tiba-tiba dipedang kayu seperti teringat akan suatu persoalan segera tanyanya.

"sute, bagaimana caramu masuk kemari?"

"Aku menyusup masuk"

Sahut Kim Thi sia dengan wajah tersipu-sipu merah lantaran jengah. Pedang kayu segera tertawa nyaring.

"sudah kubilang, penjagaan ditempat ini kelewat kendor dan ceroboh. Nah saudara tua Kek. kali ini kau tentu setuju dengan pandanganku bukan? Kawanan pengalamanmu itu hanya bisa menggertak rakyat biasa, padahal kenyataannya cuma kawanan gentong tapi andaikata bukan begitu. Bagaimana mungkin aku bisa peroleh kesempatan untuk bertemu kembali dengan adik seperguruanku? Kalau dihitung-hitung kita malah mesti berterima kasih kepada mereka."

Dari depan sana muncul tiga, empat orang prajurit kerajaan yang bertombak panjang.

Mereka serentak memberi hormat ketika bertemu dengan Kim Thi sia berapa orang kemudian meneruskan perjalanannya dengan langkah lebar.

"Apakah tempat ini adalah gedung pembesar?"

Kim Thi sia segera bertanya dengan keheranan. Pedang kayu segera tertawa.

"Disinilah pusat pengawasan seluruh aparat pemerintahan dikawasan Kanglam. Barang siapa menduduki jabatan pangkat diwilayah Kanglam baik itu pangkatnya tinggi atau rendah, saban tahun pasti akan berkunjung sekali kemari. Tentu saja kedatangan mereka sekalian membawakan pelbagai hadiah yang indah, menarik dan berharga. haaaah.......haaaah......haaaah......."

Mendadak Kim Thi sia teringat kembali dengan nona berbaju aneh yang digusur kedalam gedung tersebut. Tanpa terasa tanyanya lagi dengan nada keheranan.

"suheng, tadi kulihat ada seorang gadis cantik sekali diangkut kemari dengan menggunakan kereta kuda. Apakah seorang pejabat pengawasan seluruh aparat pemerintahan boleh menjumpai orang semaunya sendiri?"

Sekali lagi sipedang kayu tertawa tergelak.

"Haaaah.......haaaaah.......haaaah....... seorang pejabat pengawasan aparat pemerintahan sama artinya dengan seorang raja dari kawasan tersebut. Apa yang diinginkan dapat diperbuat sesuka hati sendiri. siapa pula yang berani melarangnya........."

Seperti teringat akan sesuatu, kembali ia bertanya.

"Darimana kau bisa tahu kalau kereta kuda itu mengangkut seorang perempuan cantik? padahal kereta itu dijaga amat ketat, tak mungkin mereka membiarkan orang lain mengintip isinya........."

Dengan nada agak rikuh sahut Kim Thi sia.

"Aku memaksa melihat isi kereta itu secara paksa. sebab........"

"sudahlah, tak perlu diberi penjelasan"

Tukas pedang kayu sambil mengulapkan tangannya dan tertawa.

"Aku sudah mengerti apa yang hendak kau ucapkan."

"Untung saja kaulah orangnya. Coba saja kalau orang lain sudah pasti suheng tak akan menyudahi persoalan itu hingga disinisaja."

Sewaktu dia berpaling dan menyaksikan pakaian yang dikenakan Kim Thi sia compang camping tak karuan lagi bentuknya, apalagi ketika terhembus angin, kelihatan daging dan berapa buah mulut lukanya yang memanjang dan berdarah.

Dengan kening berkerut kembali tegurnya.

"sute, siapa yang telah menghajarmu sedemikian rupa?"

"siapa lagi, tentu saja kawanan lelaki yang mengawal kereta kuda itu."

"ooooh, rupanya telah terjadi peristiwa semacam ini. Coba katakan kepada suheng masih ingatkan kau dengan wajah-wajah lelaki kekar yang telah menghajarmu tadi?"

"suheng, apa yang hendak kau lakukan?"

Tanya Kim Thi sia agak tertegun. sipedang kayu mendengus.

"Hmmmmmm, kawanan babi goblok itu berani menyakiti adik seperguruanku. Apakah kejadian ini harus dibiarkan saja? Tidak mungkin, aku mesti menagih kembali pokoknya ditambah bunganya berapa persen paling tidak mesti memberi pelajaran yang setimpal dulu kepada mereka."

"sudahlah suheng."

Kata Kim Thi sia kemudian dengan perasaan amat berterima kasih.

"Apalagi aku toh tidak dapat mengingat kembali raut muka berapa orang itu. oyaa.....rupanya kaupun seorang yang berpangkat............?"

"suheng bukan pembesar berpangkat"

Kata pedang kayu tertawa.

"Tapi kekuasaanku justru lebih besar daripada mereka yang berkedudukan dan pangkat, kecuali pejabat pengawasan aparat pemerintah serta segelintir manusia tak seorangpun berani membangkang perintahku"

"Waaaah suheng, kau memang luar biasa"

Puji Kim Thi sia dengan perasaan kagum.

"Apanya yang luar biasa? Bila sutepun berkeinginan memiliki kedudukan seperti aku tanggung suatu ketika kau akan menyamai kedudukan suheng sekarang, yakni menjadi komandan pasukan pengawal dari pejabat pengawas aparat negara kekuasaannya amat besar mau apa bisa berbuat apa tanggung tak seorang manusiapun berani menghalangimu."

Tapi Kim Thi sia segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya cepat.

"Terima kasih banyak untuk kebaikan suheng, sayang siaute pernah berjanji dengan ayahku semasa kecil dulu, sepanjang hidup tak akan mencari sesuap nasi dengan bekerja untuk pemerintah"

Sipedang kayu segera tertawa.

"Begitupun tak ada salahnya, apalagi setiap orang memang mempunyai cita-cita yang berbeda dan cita-cita tersebut mungkin bisa dipaksakan. sute, pakaianmu kelewatjelek dan dekil, biar suheng siapkan berapa stel pakaian baru dari kwalitas unggul untukmu."

Hingga sekarang Kim Thi sia belum eprnah berpikir sampai kesitu, karena melihat bajunya memang kelewat dekil dan nyaris tak terpakai lagi maka tawaran itupun segera diterimanya.

sementara itu rasa terima kasihnya terhadap suhengnya inipun berlipat ganda, ingatan untuk membalaskan dendam sakit hati gurunya ikut tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Tak selang beberapa saat kemudian, mereka telah memasuki sebuah ruang tamu yang besar lagi nyaman.

Kim Thi sia mencoba untuk mengamati sebentar sekeliling sana.

Diam-diam ia memuji kemewahan serta kemegahan gedung tersebut.

sesudah mengambil tempat duduk masing-masing munculk serombongan dayang cantik berbaju hijau yang menghampiri mereka.

sesudah memberi hormat tanya mereka hampir bersama-sama .

"Tuan Gi tuan Kek ada perintah apa?"

"siapkan sebuah perjamuan lengkap"

Perintah sipedang kayu dengan angkernya.....

"Aku hendak menjamu suteku yang baru saja bertemu ini dan kalian harus melayaninya secara baikbaik, Bila ia senang, aku akan memerseni kalian dengan hadiah besar. Tapi kalau tak senang. Hehhhhh.......kalian pasti akan memperoleh bagian yang cukup menggembirakan."

Seketika itu-juga ketujuh delapan orang dayang cantik berbaju hijau itu mengalihkan pandangan matanya kearah pemuda asing yang berpakaian compang camping itu dengan tatapan terkejut bercampur keheranan-Kalau ditinjau dari keseriusan sipedang kayu mengucapkan ancamannya tadi, bisa diduga bahwa pemuda asing tersebut merupakan seorang penting.

Maka seorang diantara mereka segera pergi menyiapkan hidangan serta arak sementara yang lain duduk disekeliling Kim Thi sia dengan senyuman dikulum.

Hal ini kontan saja membuat paras muka Kim Thi sia berubah menjadi merah jengah dan tak mampu berkata-kata.

sejak mengerti urusan belum pernah Kim Thi sia menjumpai keadaan semacam ini mengendus bau harum semerbak yang berhembus keluar dari tubuh perempuan itu membuatnya jadi bingung dan keadaannya mengenaskan sekali.

sebagai pemuda yang pintar dan berotak tajam Kim Thi sia tak mau menunjukkan sikap yang bisa ditertawai suhengnya, maka sambil menarik muka dia hanya manggut atau mengiakan pertanyaan atau perkataan dari kawanan dayang tersebut.

sikapnya sangat acuh tak acuh.

Melihat itu sipedang kayu segera berkata sambil tertawa hambar.

"saute masih muda dan bertenaga kuat, namun justru tak suka main perempuan bila sikap semacam ini dapat mempertahankan terus, aku percaya masa depanmu pasti akan lebih cemerlang."

"Harap suheng jangan mentertawakan siaute"

Kata Kim Thi sia dengan wajah tersipu-sipu.

"Berbicara terus terang saja, siaute masih kurang begitu mengerti tentang kaum hawa."

Kek Jin kontan saja tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.....haaaaah.....haaaaah......sobat cilik adalah seorang lelaki sejati, kepandaianmu sangat tinggi. Bagaimana mungkin bisa terpikat oleh sekawanan pelayan."

Kim Thi sia semakin tersipu lagi, bahkan kawanan dayang berbaju hijau pun sama-sama berkerut kening.

Meski gusar didalam hati kecil namun tak berani unjuk perasaan-Untung saja hidangan telah siap pada saat itu, sehingga suasana yang tak sedap itu segera dapat dihilangkan.

Dengan perasaan setengah karena tugas dan setengah lagi karena perasaan ingin tahu kawanan dayang berbaju hijau itu meloloh Kim Thi sia dengan arak.

pikir mereka didalam hati.

"Mana mungkin didunia ini terdapat lelaki yang tidak suka perempuan?"

Kawanan dayang tersebut sebagian besar dibeli oleh pejabat pengawas aparat pemerintah dikawasan Kang lam ini dari penduduk miskin, meskipun kedudukannya cuma seorang dayang, tak sedikit diantara mereka yang pernah sekolah dan belajar syair.

otomatis pandangan merekapun tidak kelewat licik.

Perjamuan telah berlangsung cukup lama.

Kim Thi sia yang tidak pandai minum arak kini sudah melupakan segala tata cara dan sopan santun, mukana merah padam membawa tujuh bagian keadaan mabuk.

Kata-katanya mulai kasar dan sederhana, gelak tertawa terlepas bebas, sifat sebenarnya terbuka sama sekali.

Biarpun ia tidah termasuk ganteng, namun tubuhnya justru mengandung semacam daya tarik yang sangat aneh.

seolah-olah besi semberani yang akan menarik setiap perempuan yang belum lama bertemu dengannya.

Tubuhnya seolah-olah memiliki segumpal bara api yang misterius memancarkan kelakian serta kejantanan yang membara, keadaan seperti ini-jauh lebih menarik ketampanan seorang lelaki lemah.

sementara perjamuan masih berlangsung tadi, ketujuh delapan orang dayang berbaju hijau itu seakan-akan dibuat terbuai oleh daya tarik pemuda itu.

sebab pemdua yang periang ini justru makin lama semakin memancarkan daya tarik yang dapat membuat hati orang berdebar keras, menerbitkan suatu lamunan yang amat aneh.

Memang dalam dunia ini terdapat dua macam manusia.

Pertama adalah segolongan orang yang menimbulkan daya tarik pada pertemuan yang pertama, daya tarik tersebut menimbulkan kekaguman dan daya pesona tapi bersama dengan larutnya sang waktu rasa simpatik itu lambat laun semakin menghambar sehingga pada akhirnya justru menimbulkan perasaan muak dan bosan yang membuat orang disekelilingnya ingin secepat mungkin menjauhinya.

Tapi ada pula orang yang memberi kesan biasa dan tawar pada perjumpaan yang pertama.

sama sekali tidak memiliki daya tarik apapun, tapi setelah cukup lama bergaul cengahnya akan terasa daya tariknya yang kian lama kian bertambah dari perasaan yang biasa-biasa saja akhirnya berubah menjadi perasaan kagum dan terpesona yang mendalam.

Memang jarak antara baik dan jelek hanya selisih satu langkah, tapi selisih yang begitu sedikit justru memberikan perbedaan yang luar biasa besarnya dalam kenyataan-Kim Thi sia termasuk golongan yang terakhir.

seperti juga dalam pertemuannya dengan Nyoo soat hong serta Yu Kien sekalian-Pada jumpa pertama mereka, gadis-gadis itu tak terlalu menaruh perhatian kepadanya tapi bersama larutnya sang waktu merekapun mulai merasa timbulnya kesan aneh dalam hati kecilnya, hingga akhirnya perasaan memberitahukan sesuatu yang aneh kepada mereka.

saat itu hati mereka sudah benar-benar terpaut kepadanya.

oleh sebab itu perasaan simpatik yang timbul dalam hati kecil ketujuh delapan orang dayang berwajah cantik itupun sedikit demi sedikit tertuju kepadanya.

Namun Kim Thi sia tetap bersikap masa bodoh, ia hanya tahu meneguk araknya, meski takaran minumnya tidak terlalu hebat, namun ia meneguknya pelan-pelan Akhirnya dengan langkah terhuyung-huyung pemuda itu mendekati sisi tubuh sipedang kayu, kemudian sambil menepuk bahunya ia menegur sambil tertawa nyaring.

"Suheng, ternyata engkau memang seorang yang baik kesan jelek siaute terhadap dirimu dimasa lampau kini sudah berubah sama sekali mari kita meneguk secawan lagi"

Ia memenuhi cawannya dengan arak lalu diteguk sampai habis. Pedang kayu tersenyum, ujarnya.

"Sute, sebelum mabuk kita jangan berhenti minum hari ini, saudara Kek tua, hayolah ikut bergembira bersama kami"

Pat bin wi hong Kek Jin adalah seorang yang amat berpengalaman tentu saja ia enggan merusak suasana waktu itu, maka secawan demi secawan arakpun masuk ke dalam perut mereka.

Kim Thi sia mulai sempoyongan dan tak mampu berdiri tegak lagi, dua orang dayang cantik harus memayangnya untuk didudukkan kembali ketempat duduknya semula.

Tapi pemuda itu berseru lagi sambil tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah.....haaaah......tepat sekali perkataanmu, tepat sekali perkataanmu.....sebelum mabuk kita jangan bubaran."

Lagi-lagi secawan arak mengalir masuk kedalam perutnya. Mendadak seorang dayang cantik yang berada paling dekat dengannya berbisik lembut.

"Tuan Kim, kau tak boleh minum lagi bila meneguk lebih lanjut, mungkin kau tak bisa bangun esok pagi"

Sembari berkata, ia bermaksud merampas cawan arak yang berada ditangannya. Tapi Kim Thi sia segera mendorongnya dan bergumam dengan kata-kata mabuk.

"Apa kau melarangku minum arak. ...tidakaku justru mau minum sampai mabuk hari ini....haaah......haaah.......suheng kau tak boleh berhenti minum mari secawan lagi......mari secawan lagi......."

Sekali lagi ia meneguk berapa cawan arak.

Dayang cantik yang didorong olehnya tadi tiba-tiba melelehkan air mata dengan sedih setelah memandang sekejap kearah pemuda itu dengan pandangan yang pedih ia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Yaa, dia hanya bisa menesali nasib sendiri yang jelek. siapa suruh kedudukannya begitu rendah? kalau ia tentu punya cukup hak untuk melarangnya."

Ketika pedang kayu menyaksikan kejadian ini ia segera menarik muka sambil menegur.

"Lin lin, siapa suruh kau merusak suasana disaat kami sedang minum arak dengan gembira? Bagus sekali kau sudah tahu salah tapi sengaja melanggar, kali ini aku tak dapat mengampuni dirimu lagi"

Tampaknya pedang kayu memang menaruh sikap bermusuhan dengan dayang tersebut, sehabis berkata ia tertawa dingin tiada hentinya. Dengan lemah dan sedih Lin lin berkata.

"Yaa, memang akulah yang bersalah, silahkan tuan Gi menjauhi hukuman kepadaku."

Perkataannya amat memelas hati menimbulkan perasaan iba bagi siapapun yang mendengarnya.

sekarang Kim Thi sia baru mengetahui bahwa dayang yang didorongnya tadi sedang melelehkan air mata dengan wajah yang amat memelas hati.

sebagai seorang lelaki yang amat terbuka, ia menjadi tak tega sehingga segera serunya.

"sudahlah, ia patut dikasihi, ampunilah dirinya."

Pedang kayu kelihatan agak tertegun, tapi ia segera tertawa penuh pengertian, katanya kemudian "oooh....rupanya sute menaruh hati kepadanya.....haaaah....haaah.....tentu saja.....tentu saja......Lin lin kau memang bernasib mujur.

coba kalau sute ku tidak mintakan ampun mungkin tubuhmu sudah hancur karena siksaan-"

"Terima kasih untuk kebaikan tuan Gi...."

Kata Lin lin lagi dengan suara lirih. Kembali pedang kayu berkata.

"sute, Lin lin ini bukan saja berwajah cantik, lagipula amat pandai ilmu sastra dan syair. Kau memang bermata jeli dan bisa tertarik kepadanya dalam sekali pandangan, kehebatanmu sungguh mengagumkan suheng. Nah Lin lin-bawakanlah sebuah lagu untuk menghibur Kim ya."

Lin lin mengiakan dan segera mengalihkan matanya kewajah Kim Thi sia, seakan-akan sedang menunggu pilihan lagu dari pemuda tersebut.

Kim Thi sia memahami maksudnya, terdorong rasa ingin tahu ia segera menarik lengan Lin lin dan diajaknya duduk disampingnya, lalu sambil tertawa serunya.

"Terserah pilihanmu, apapun lagu yang kau bawakan aku tentu akan menikmatinya dengan senang."

Lin lin merasakan hatinya berdebar keras ia membiarkan tangannya ditarik pemuda itu sementara hati kecilnya merasa hangat dan gembira sekali karena jawaban pemuda itu Lagu yang merdu dengan suara yang empuk didengarcun segera bergema mengalun dalam ruangan.

Meski Kim Thi sia tidak mengerti apa maksud dari syair lagu tadi, namun ketika Lin lin selesai menyanyi iapun segera bertepuk tangan seraya memuji.

"Bagus, bagus sekali bersediakah kau menyanyikan sebuah lagu lagi untukku?"

Dengan wajah tersipu-sipu Lin lin menundukkan kepalanya rendah-rendah.

sementara hatinya berdebar amat keras.

sikap semacam ini menarik perhatian kaum pria tadi.

Tapi justru paling mudah memancing perasaan dengki dari rekan-rekan lainnya maka serentak dayang lainnya mencibirkan bibirnya dengan perasaan tak puas.

Lin Lin sebagai gadis yang pintar tentu saja dapat merasakan ketidak puasan rekan-rekan lainnya, maka setelah menghela napas sedih katanya.

"Aku tak akan menyanyi lagi. Maafkan daku tuan Kim?"

Kata-katanya kembali lembut dan sangat mengetuk perasaan-sebelum Kim Thi sia memberi jawaban mendadak sipedang kayu membentak lagi.

"Lin lin sudah bersalah, kau berani melakukan kesalahan lagi. Hmm sikapmu benar-benar menggusarkan hati, aku mesti menjatuhi hukuman yang paling berat kepadamu."

"Budak mengaku salah"

Kembali Lin lin menundukkan kepalanya rendah-rendah. Tiba-tiba Kim Thi sia melompat bangun, lalu teriaknya.

"Hey suheng, Apa-apaan kamu ini? Aku toh tak pernah menyalahkan dirinya malah aku merasa cocok sekali dengan perempuan."

"Baik-baiklah terserah pada sute sendiri, mau bagaimana terserah bagaimanalah....."

Kata pedang kayu kemudian tertawa. Kim Thi sia merasa rikuh sendiri buru-buru ia berseru.

"Suheng, memang beginilah watakku apa yang ingin kukatakan segera kuucapkan, harap kau jangan marah."

"Aaaah, mana, mana......"

Pedang kayu tertawa.

"sute tak perlu menduga yang bukan-bukan apalagi kita berasal dari satu perguruan. sebagai sesama saudara seperguruan, kitakan bukan orang luar"

"Terima kasih suheng atas kebaikanmu."

Kim Thi sia jadi amat terharu.

"siaute percaya banyak bicarapun tak ada gunanya biar kuterima kebaikanmu didalam hati saja....."

Setelah berhenti sejenak kembali tambahnya.

"Kepalaku terasa pening, kelopak mataku berat sekali, agaknya kau tak mampu minum lagi.............."

Jilid 11 Sambil tertawa terbahak-bahak pedang kayu segera bangkit berdiri, katanya kemudian.

"Lin lin, ajaklah tuan Kim beristirahat. Layani kehendaknya secara baik-baik dan jangan sampai menyinggung perasaannya besok aku tentu akan memberi hadiah besar untukmu......."

Kemudian setelah mengucapkan "Sampai jumpa esok pagi", bersama Pat bin wi hong Kek Jin ia melangkah pergi dengan langkah lebar.

Kim Thi sia benar-benar tak mampu menahan diri, tubuhnya hampir seluruhnya terjatuh kedalam pelukan Lin lin-Dengan hati berdebar keras buru-buru Lin lin memayang tubuhnya, tapi Kim Thi sia terlalu kekar, gadis itu dibuat mandi keringat dan tersengkal-sengkal napasnya.

cepat-cepat dia menghindari tatapan mata rekan-rekan dayang lainnya yang penuh rasa dengki.

Dibawanya pemuda itu menelusuri serambi samping yang panjang ketika mencapai ujung serambi sana, ia betul-betul sudah kehabisan tenaga.

Kebetulan sekali, kaki Kim Thi sia tersangkut batu waktu itu sehingga tak ampun lagi badannya roboh terjengkang kedepan.

Lin lin tak mampu menahan tubuhnya yang berat, sambil menjerit kaget, ia ikut terjatuh ketanah.

Waktu itu langit sudah gelap, tiada cahaya bintang tiada rembulan, ditengah kegelapan malam hanya angin dingin berhembus kencang menerbangkan ranting serta dedaunan.

Kim Thi sia terlelap tidur diatas badan Lin lin yang tertindih dibawahnya.

Namun angin dingin yang berhembus lewat membuatnya bersin dan setengah sadar dari mabuknya.

Ketika menjumpai Lin lin terlentang dibawah tindihan tubuhnya dalam keadaan tersengkalsengkal cepat-cepat ia membimbingnya bangun seraya bertanya.

"Lim lin, apakah kau terluka?"

"Tidak....tidak.......aku takut tuan Kim yang terluka"

Jawab Lin lin lirih.

Kim Thi sia terharu sekali, dengan maksud mencari letak luka ditubuh nona itu ia berusaha merabanya kesana kemari.

Namun malam sangat gelap hingga sukar melihat kelima jari tangan sendiri ia tak tahu tangannya telah menggerayang sampai kebagian tubuh yang mana?

"Lin lin katakan kepadaku bagian manakah tubuhmu yang terluka?"

Bisiknya lirih. Lin lin gelisah disamping jengah meski ditengah kegelapan malam yang mencekam, namun kesucian badannya sempat digerayangi pemuda tersebut tanpa terasa katanya sambil menangis terisak.

"Tuan Kim, aku tidak terluka, kau.... kau jangan berbuat begitu."

Kim Thi sia melirik kembali tangannya lalu berkata keheranan.

"Mengapa kau menangis? Aku toh tidak berbuat apa-apa padamu."

Lin lin malu sekali, ia tak mampu berkata selain memejamkan matanya rapat-rapat.

Kim Thi sia duduk bersandar diujung serambi panjang yang berlantai batu hijau, ditengah hembusan angin malam, ia menarik bajunya hingga dadanya terbuka, seketika itu juga tubuhnya terasa segar kembali.

"Mengapa sih kau menangis?"

Kembali tanyanya keheranan.

"Mari duduklah disamping ku, kita isi waktu yang senggang ini dengan bercerita. Kau tahu semasa masih digunung dulu setiap malam tiba apalagi pada malam yang gelap tak berbintang seperti hari ini aku paling senang mendengarkan cerita setan kau lain perasaan kita waktu bisa menjadi tebang, terangsang dan seru sekali Lin lin kau bisa bercerita setan?"

Lin lin yang lemah lembut justru paling takut mendengar cerita setan, tanpa terasa ia menggeser badannya hingga duduk merapat disamping pemuda itu, serunya agak gugup.

"Aku tidak pandai bercerita aku takut setan"

Agaknya Kim Thi sia masih agak mabok ia segera tertawa nyaring setelah mendengar perkataan itu, serunya.

"Setelah bernyali kecil, aku saja tidak takut, apa sih yang kau takuti?"

"Kau kan orang lelaki"

Protes Lin lini "Laki-laki manusia, perempuan pun manusia, kalau aku tidak takut setan, kenapa kau mesti takut?"

Teori yang membingungkan hati ini kontan saja membuat Lin lin melongo dan tak mampu menjawab.

Lagi-lagi segulung angin dingin berhembus lewat menggigilkan seluruh badan Lin lini Ia semakin merapatkan tubuhnya disamping Kim Thi sia bisiknya ketakutan.

"Tuan Kim........."

Kim Thi sia berkerut kening, tiba-tiba tukasnya.

"Aku bernama Kim Thi sia, kata tuan dimuka nama margaku benar-benar mengkilik-kilik hatiku......Jangan kau sebut tuan lagi kepadaku"

"Kim......Thi......sia.......kau tidak kedinginan?"

Bisik Lin lin kemudian agak tergagap. Kim Thi sia tertawa tergelak.

"Haaaah......haaaahh.......haaaahh...... sepanjang tahun aku hidup ditengah hutan belantara yang jauh dari keramaian dunia. Kedinginan, basah, lembah dan kesepian sudah menjadi kebiasaan bagiku apa artinya hembusan angin seperti ini? coba lihatlah, bukankah dadakupun kubiarkan terbuka lebar..........?"

Dengan perasaan ingin tahu Lin lin melirik sekejap hatinya segera berdebar keras kekekaran dada pemuda tersebut menimbulkan suatu perasaan yang sangat aneh didalam hatinya.

Dengan agak tersipu-sipu ia berbisik.

"Kim......Thi.......sia.......kau.......kau belum pernah berhubungan dengan kaum wanita?"

"Buat apa kau menanyakan persoalan ini?"

Tanya Kim Thi sia keheranan. sekilas warna merah menghiasi selembar wajah Lin lin ia amat jengah dibuatnya tapi selang sesaat kemudian katanya lagi.

"Aku hanya iseng saja bertanya"

"Hmmm, berhubungan sih pernah berhubungan namun kami tak pernah mempunyai hubungan yang mendalam."

"Kenapa?"

"Tidak menarik hatiku"

"Kau benar-benar seorang manusia aneh"

"Apanya yang aneh? Masa berkumpul dengan kaum wanita mesti menarik hati?"

Sekali lagi paras muka Lin lin berubah menjadi merah padam karena jengah, tetapi diapun enggan merubah pandangan sendiri kembali ujarnya.

"orang bilang setiap enghiong menyukai perempuan cantik, kau pantas disebut seorang enghiong mengapa......mengapa engkau tidak........?"

"Tidak menyukai wanita cantik maksudmu?"

Jawab Kim Thi sia sambil tertawa.

"Bukankah aku pernah berkata kepadamu, perempuan tidak mendatangkan daya tarik bagiku. Aku tidak memahami soal cinta kasih. sejak kecil aku hidup ditengah gunung yang terpencil, aku hanya tahu siapa baik kepadaku, akupun baik kepadanya. orang jahat kepadaku akupun jahat kepadanya apa sih manfaatnya memahami soal cinta kasih? Dari ayah pernah kudengar, cinta hanya mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri oleh sebab itulah aku tak pernah mau membayangkan soal yang satu itu"

Lin lin menjadi sangat kecewa setelah mendengar perkataan itu, tapi ia tak puas menyerah begitu saja segera katanya lagi.

"suatu hari kau pasti akan merubah pandanganmu yang keliru itu"

"Hmmm, tidak mungkin-Aku yakin ini tak mungkin akan terjadi pada diriku."

Jawaban itu diucapkan tegas dan penuh keyakinan membuat Lin lin hampir menangis sangking kecewanya, namun iapun tak dapat memberikan komentar apa-apa.

"Kim Thi sia, kau adalah lelaki yang tidak berperasaan"

Bisiknya kemudian.

"Omong kosong, kau sendiri yang tidak berperasaan"

"Aku bukan mengajakmu berdebat"

Pinta Lin lin pedih. Kim Thi sia tertawa, segera katanya.

"Kau mengatakan diriku tak berperasaan sebaliknya sampai dimana perasaan sendiri."

"Aku mempunyai perasaan yang amat tebal"

Kata Lin lin sambil menghela napas sedih "tapi aku tak punya tempat sebagai pelampiasan dari semua perasaanku itu."

"Kenapa?"

"......."

Tiada jawaban sama sekali. Kim Thi sia segera menggenggam tangannya dan menarik gadis itu kedalam pelukannya lalu katanya keras-keras.

"Katakan kepadaku"

Lin lin yang lemah tak bertenaga tak sanggup menahan diri begitu ditarik keras-keras pemuda tersebut, tubuhnya segera terjatuh kedalam pelukannya.

Rasa malu, menyesal dan suatu perasan yang aneh sekali, entah rasa manis atau menderita membuat nona itu amat gelisah dan tak mampu berkata-kata.

"Katakan padaku"

Kembali Kim Thi sia mendesak. tiba-tiba Lin lin menangis tersedu dengan air mata bercucuran katanya lirih.

"Jangan-jangan desak diriku Aku.....aku tak tahu bagaimana mesti menjawab"

Bau harum gadis perawan yang menusuk hidung menyebar kesekeliling sana, membuat Kim Thi sia merasa kenyamanan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Tanpa terasa ia peluk gadis itu kencang-kencang dan bertanya keheranan.

"Heran, mengapa tubuhmu begitu harum?"

Lin lin tidak tahu bagaimana mesti menjawab. Ia berusaha meronta namun tak berhasil, akhirnya sambil menangis ia meminta.

"Kim Thi sia.......lepaskan aku......."

Kim Thi sia sama sekali tidak menjawab.

Benaknya sedang diperas untuk mencari jawaban, mengapa tubuh nona itu begitu harum.

Bau lelaki yang aneh menimbulkan pula perasaan nyaman bagi Lin lin yang selama hidup belum pernah bersentuhan dengan kaum pria.

Perasaannya terbuka seketika rasa girang pun menyelimuti seluruh perasaannya.

Ditambah lagi ia memang menaruh perasaan lain terhadap pemuda tersebut, maka setelah usahanya meronta gagal, iapun tidak memberontak lagi.

Pipinya persis menempel diatas dadanya yang bidang, tubuh yang kekar berotot itu membuatnya seperti mabuk.

Teka teki yang semula mencekam perasaannya tentang laki-laki tibatiba saja seperti terjawab sama sekali.

Ia seperti baru sadar betapa mempesonanya seorang lelaki bagi pandangan gadis remaja seperti dia.

Mendadak ia memeluk pemuda itu kencang-kencang, lalu bisiknya dengan suara setengah merintih.

"Thi sia......."

"Ada apa?"

Ketika dilihatnya gadis itu memeluk tubuhnya kencang-kencang, dengan rasa iba tanyanya.

"Apakah kau kedinginan Lim lin?"

Lin lin tidak menjawab pertanyaan itu, ia bergumam lirih seolah-olah sedang menuangkan seluruh perasaan hatinya.

"Thi sia, sukakah kau dengan kehidupan semacam ini?"

Kim Thi sia berkerut kening, ia tidak mendorong gadis itu karena disangka kedinginan, sahutnya.

"Aku menyukai kehidupan yang bebas merdeka tanpa kekangan-saban hari mengembara sejauh ribuan li. Berkelana mengarungi seluruh jagad."

"Seandainya.......seandainya ada seseorang mendampingimu, sering menyanyikan lagu untukmu....bukan.....bukankah kehidupanmu akan lebih bahagia.....?"

"Ya a, tentu saja, tapi siapakah yang bersedia mendampingiku, saban hari menyanyikan lagu merdu untukku?"

Lin lin merasakan pipinya panas, agak terengah bisiknya.

"Andaikata......aku......aku bersedia....."

"ooh, alangkah bahagianya aku"

Teriak Kim Thi sia kegirangan.

"suara nyanyian merdu merayu, belum pernah kudengar suara semerdu suara nyanyianmu"

Lin lin sangat gembira, biarpun hanya beberapa patah kata yang sederhana namun mendatangkan perasaan nyaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata dalam hatinya.

Ia memeluk pemuda itu lebih kencang, lalu katanya lagi lirih.

"Thi sia, aku bersedia mendampingimu untuk selamanya. Kau adalah lelaki yang baik tak mungkin menganiaya diriku. Kau lebih gagah dan baik ketimbang orang-orang yang berada disini"

Kim Thi sia kegirangan setengah mati, dengan rangkulan yang penuh bertenaga ia peluk nona itu sampai terengah-engah.

"Lin lin kau baik sekali"

Entah karena luapan emosi atau desakan biologis, tiba-tiba saja pemuda tersebut ingi mencium wajah Lin lin yang cantik jelita terutama bulu matanya yang setengah terpejam.

Lin lin yang berada dalam pelukannya merasakan badannya gemetar keras, ia tidak menjawab, napasnya terengah karena rasa malu yang sangat.

Ya a, bagaimana mungkin seorang gadis yang masih suci bersih dan perawan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan lawan jenisnya?

Ia tak lebih hanya bisa menanti dengan perasaan sangat aneh.

sementara itu Kim Thi sia berpendapat nona itu membungkam berarti telah menyetujui permintaannya .

Maka ia segera menundukkan kepalanya dan mencium pipi, mata serta kening Lin lin dengan bibirnya yang berbau alkohol.

Suatu perasaan nyaman yang aneh membuatnya ingin mengulangi kembali perbuatan tersebut.

Ciuman demi ciuman berlangsung terus secara bertubi-tubi.

Lin lin sendiripun gemetar keras dia tak dapat melukiskan bagaimanakah perasaan nyaman yang dirasakan ketika itu seperti terkena aliran listrik bertegangan tinggi.

seluruh organ tubuhnya seolah-olah ikut bergetar keras tubuhnya gemetar dan tiba-tiba saja menangis.

Tangisan seorang wanita sering kali menandakan perasaan girang, sedih atau murung, tapi ia tak tahu mengapa air matanya meleleh saat itu........?

Tangisan yang menandakan kelemahan kaum wanita ini bukan saja tidak berhasil menghentikan niat Kim Thi sia untuk menciumnya, malah sebaliknya mengobarkan napsune makin membara.

setiap orang lelaki memang mempunyai perasaan demikian apalagi disaat kaum wanita menunjukkan kelemahannya.

Hal itu justru meningkatkan kegembiraan serta kepuasannya.

Ciuman Kim Thi sia diseluruh wajah Lin lin mendatangkan kobaran napsu yang makin membara didalam dadanya, rasa hangat dan nyaman membuat pemuda itu memeluk sinona semakin kencang.

Tindakannyapun melangkah lebih jauh lagi.......

Disaat keempat lembar pipinya saling bertemu, Lin lin merasa bagaikan disambar petir.

Hampir saja membuatnya jatuh pingsan.

"Engkoh sia, jangan..... jangan berbuat begitu......."

Pinta Lin lin sambil menangis.

"Kalau aku main paksa, mau apa kamu?"

Pikir Kim Thi sia didalam hati kecilnya.

Pemuda ini memang keras kepala.

sering kali dia senang berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki lawan, justru kesengajaannya itulah sering kali membuatnya terlibat dalam pelbagai masalah.

Dalam keadaan demikian, tentu saja Lin lin tak bisa berbuat banyak selain pasrah dan membiarkan pemuda tersebut berbuat sekehendak hatinya.

Ketika segulung angin dingin berhembus lewat, Kim Thi sia baru melepaskan rangkulannya yang kencang, meski dia agak berat hati meninggalkan pinggang Lin lin yang ramping, dadanya yang montok dan halus itu.....

Ketika ia mencoba menengok nona itu, tampak Lin lin yang lembut sedang menangis tersedusedu.

Isak tangis yang begitu memedihkan hati dari sinona membuatnya menjadi tak tenang.

Maka sambil membelai rambutnya yang halus, hiburnya pelan.

"sudahlah Lin lin, tak usah menangis terus, memang aku yang bersalah. Aku telah mempermainkan kau."

Lin lin tidak menjawab punduknya masih bergoncang keras menahan isak tangisnya sementara dadanya naik turun mengikuti napasnya yang masih tersengkal.

Kesemuanya ini menambah rasa iba bagi siapapun yang melihatnya.....

Entah darimana datangnya dorongan perasaan, tiba-tiba Kim Thi sia berbisik pelan.

"Lin lin-..aku.....aku berniat memperistri dirimu......sering kudengar dari ayah. Katanya seorang gadis hanya boleh kawin dengan seorang selama hidupnya.......lagipula tak boleh tak senonoh dengan gadis lain.....maka....aku pikir lebih baik kau menjadi istriku saja.....mau bukan?"

Lin lin semakin terbungkam dalam seribu bahasa.

Dia cuma mengangkat kepalanya dan menengok sekejap dengan matanya yang terbelalak lebar serta berkaca-kaca itu.

Mendadak timbul kembali keinginan Kim Thi sia untuk menciumnya, tapi ia tak berani berbuat sembarangan, maka sambil merangkul pinggangnya ia berbisik.

"Lin lin, aku menyesal, kuharap kau sudi memaafkan diriku. bersediakan kau menghantarku kekamar tidur?"

"Tidur?"

Dengus Lin lin dingin Kim Thi sia memutar biji matanya, mendadak paras mukanya menjadi merah padam cepatcepat katanya lagi agak tergagap.

"Lin lin-...bukan.....bukan soal itu yang kumaksud.....maksudku.......aku.....aku hendak beristirahat."

Saking gugup dan tergagapnya sehingga tak jelas yang diutarakan keluar. Lin lin menjadi kegelian, ia tertawa merdu lalu katanya.

"Baiklah, akan kuhantar dirimu."

Betapa leganya Kim Thi sia ketika dilihatnya nona itu sama sekali tidak marah sambil tertawa katanya lagi.

"sudah kuduga, kau memang orang baik. Pasti tak tega menampik keinginanku."

Sambil menggigit bibir Lin lin segera merangkul pinggang pemuda itu dan berusaha memayangnya .

Ketika Kim Thi sia mencoba mengamati wajahnya, tampak air mata nona itu belum juga berhenti menetes, hal ini membuatnya amat terharu, serunya tanpa sadar.

"Lin lin, bila kau bersedia kawin denganku aku pasti akan melayanimu secara baik-baik,"

Lama sekali Lin lin membungkam, kemudian baru sahutnya pelan.

"Aku mengerti........"

Sewaktu melewati sebuah ruangan, terlihat cahaya api melintas lewat, Kim Thi sia mencoba menengok kesana, tapi jendelanya berterali besi, sedang didekat pintu terali itu bersandar sesosok bayangan tubuh yang samar.

sayang cahaya api tadi hanya melintas sebentar lalu lenyap sehingga Kim Thi sia tak sempat melihat isi ruangan dengan jelas, maka segera tanyanya.

"Lin lin siapa sih yang berada disana?"

Lin lin menengok sekejap kedalam ruangan, lalu jawabnya.

"Seperti seorang gadis asing, konon ia diculik oleh anak buah pejabat pengawas Kang lam yang hendak dipersembahkan kepada tuan pembesar sebagai istri mudanya yang ketujuh tapi ia menolak malah melukai wajah loya akibatnya perempuan itu disekap dalam ruang tersebut"

Kim Thi sia menjadi amat mendongkol setelah mendengar keterangan itu umpatnya tanpa terasa.

"Hmmm perbuatan pembesar itu betul-betul terkutuk........"

Baru selesai perkataan tersebut diutarakan mendadak saja muncullah dua sosok bayangan hitam dari depan sana sambil membentak keras.

"Kata sandi?"

"Dia adalah adik seperguruan Gi toaya, Gi toaya memerintahkan aku untuk mengantarnya pulang kekamar."

"Lin lin kau disitu?"

Dua orang yang berada dibalik kegelapan segera menegur. Kedua orang itu segera mengiakan dan beranjak pergi dari sana, lamat-lamat terdengar suara orang itu sedang bergumam.

"Bocah keparat itu benar-benar punya rejeki."

"stt Jangan kelewat keras kalau bicara bocah itu adalah adik seperguruan tuan Gi. Ia bukan manusia sembarangan, konon ilmu silat dari malaikat pedang berbaju perlente sudah mencapai tingkatan yang luar biasa dari pembicaraan Kek loya. Katanya ilmu silat dari sang sute masih jauh lebih hebat daripada kemampuan suhengnya tuan Gi."

"Tentu saja, bocah itu kan murid terkahir dari Malaikat pedang berbaju perlente?"

Tanpa terasa Kim Thi sia melirik sekejap kearah Lin lin, lebetulan Lin lin pun sedang menengok kearahnya dengan wajah bersemu.

Lin lin segera tersenyum manis hingga kelihatan sepasang lesung pipinya yang menawan hati.

Kim Thi sia dibikin terpesona, pemuda yang baru mengenal arti cinta ini lagi-lagi berniat menciumnya, tapi Lin lin segera berkelit sambil bisiknya tertawa.

"Waktu dikemudian hari masih panjang."

"Ya a, betul"

Sahut Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak. segera dipeluknya nona itu kencangkencang.

"Waktu dikemudian hari memang masih panjang"

Setibanya didalam kamar, Lin lin segera menyulutkan lampu lentera kemudian mempersiapkan pembaringan. Mendadak Kim Thi sia seperti teringat akan sesuatu segera tanyanya.

"Lin lin katanya kau pernah membaca banyak buku tentunya kau pandai bercerita bukan?"

"Selain bercerita setan aku memang bisa menceritakan kisah lain"

Sahut Lin lin sambil tertawa hambar. Menyinggung kembali soal "setan"

Tiba-tiba ia merapatkan badannya disamping Kim Thi sia katanya lagi.

"Thi sia aku takut, aku tak berani pulang sendirian-"

"Tidak apa-apa nanti kuhantar"

Sahut Kim Thi sia tertawa.

"Yaa kalau begitu aku bakal sering mendengar cerita darimu. Kau tahu, semasa kecil dulu setiap ada waktu senggang, aku tentu merecoki ayah untuk bercerita. Tapi semenjak ayah tiada, aku kesepian itulah sebabnya aku merasa gembira bila kau bersedia bercerita untukku."

"Selain bercerita untukmu, akupun dapat menyanyikan lagu merdu untukmu setiap saat"

Kata Lin lin lembut. Kim Thi sia gembira sekali.

"ooh, alangkah gembiranya aku, mari kuhantar kau pulang kekamar......"

Sewaktu melewati bangunan rumah bertirai besi tadi, tiba-tiba terdengar suara helaan napas bergema dari situ.

Helaan napas tersebut segera mengobarkan jiwa pendekar pemuda itu.

Diamdiam ia berjanji akan memberi pertolongan kepada perempuan cantik tersebut.

0000000 Lampu lentera telah dipadamkan, Kim Thi sia telah melepaskan pakaian dan berbaring diatas pembaringan.

Entah mengapa, pikirannya terasa amat kalut, betapapun ia berusaha untuk memejamkan mata tak pernah dia bisa pejamkan mata barang sekejappun akhirnya ia bangkit membuka jendela, lalu berdiri melamun ditengah hembusan angin malam.

Tiba-tiba bergema lagi suara helaan napas Kim Thi sia tahu suara tersebut berasal dari gadis berdandan aneh yang disekap dalam kamar berterali besi tadi.

"Pembesar pengawas aparat pemerintah Kang lam benar-benar menusia bedebah."

Demikian ia mengumpat dihati.

"Masa gadis secantik bidadari dari khayanganpun disekap dalam kamar berterali besi.....ooh. Betapa sepinya hidup seorang diri disana"

Sebagai pemuda yang berjiwa besar, berkobarlah jiwa kependekarannya, sambil menyiapkan pedang mestika Leng gwat, diam-diam ia menyelinap keluar dari kamarnya.

Waktu itu tampak dua sosok bayangan manusia berkelewat lewat ditengah kegelapan disudut timur sana.

Kim Thi sia segera manfaatkan peluang tersebut dan menyelinap maju kemuka.

suasana didalam gedung besar itu amat gelap tanpa setitik cahayapun, namun meminjam cahaya bintang yang redup diluar jendela lamat-lamat masih terlihat dengan samar sesosok bayangan tubuh manusia yang tinggi semampai berdiri tak bergerak dimuka jendela.

sambil menengok rembulan diangksa, orang itu menghela napas tak hentinya.

Kim Thi sia yang seksama mengerti disekeliling ruangan tersebut tentu tersebar banyak pengawal lihay yang melakukan penjagaan, karenanya secara berhati-hati sekali ia menyusup kemuka dan bersembunyi dibalik dinding ruangan yang gelap.

Walaupun selisih jarak mereka berdua saat ini tinggal lima, enam kaki.

Namun Kim Thi sia tak berani menegurnya, ia tahu suara yang betapapun lirihnya niscaya akan mengundang perhatian dari kawanan jago lihay yang mengawal ruangan tersebut.

Ia sangat gelisah apalagi awan gelap dlangksa lambat laun makin memudar sehingga cahaya rembulan yang beningpun mulai menyinari setiap sudut ruangan.

Untung saja tempat persembunyiannya cukup rapat sehingga tiada setitik cahayapun yang memancar kesitu.

Kalau tidak tentu bayangan badannya akan memancing perhatian orang.

Mendadak nona berdandan aneh tapi berparas cantik bak bidadari dari khayangan itu duduk kembali, kepalanya masih mendongak memandang rembulan dengan terpesona.

sementara ia masih mengawasi nona yang cantik dengan tubuh yang putih bersih, tiba-tiba tampak dua sosok bayangan manusia muncul kembali dari sudut timur.

Cepat-cepat Kim Thi sia menahan napas sambil merapatkan tubuhnya diatas dinding menuggu bayangan manusia tadi sudah pergi jauh ia baru menghembuskan napas panjang.

Mendadak ia menemukan sebuah cara yang bagus, hal mana membuatnya semangatnya segera berkobar.

Cepat-cepat diambilnya sebutir batu kerikil lalu ditimpuk kedalamjendela.

"Plaaaaaaaaaak"

Nona berdandan aneh itu kelihatan terkejut dan segera bangkit berdiri.

Kim Thi sia menghindari tatapan matanya yang bening dan jeli itu, lalu menggapai berulang kali kearahnya.

Pelan-pelan gadis cantik itu berjalan mendekat lalu tegurnya.

"Ada apa?"

Kim Thi sia enggan melepaskan kesempatan yang baik itu, sambil merendahkan suaranya ia berbisik.

"Aku datang untuk menolongmu"

"Menolong aku?"

Nona cantik itu kelihatan agak tercengang.

"Mengapa kau hendak menolongku?"

Biarpun suaranya merdu merayu, sayang suaranya dingin kaku bagaikan bongkahan salju.

Kontan saja semangat Kim Thi sia yang semula berkobar seketika menjadi dingin separuh, sahutnya selang berapa saat kemudian-"Aku hanya tahu ingin menolongmu."

Mendadak nona yang cantik itu membalikkan badan dan beranjak pergi tanpa memperdulikan dirinya lagi. Kim Thi sia menjadi sangat gelisah, buru-buru serunya.

"Hey, bagaimana sih kamu ini?"

Tiba-tiba ia merasa serunya kelewat keras.

Menanti ia sadar akan hal tersebut keadaan sudah terlambat.

Dua sosok bayangan manusia yang berada disudut sebelah Timur tadi telah melaju mendekat dengan kecepatan bagaikan sambaran-"Aduh celaka"

Pekik Kim Thi sia dihati kecilnya.

Buru-buru ia menyembunyikan diri semakin rapat sementara tangannya maraba gagang pedang Leng gwat asal jejaknya ketahuan maka ia berniat menyerang secepat kilat.

Ketika tiba lebih kurang lima kaki dari tempat persembunyian Kim Thi sia.

Kedua sosok bayangan manusia itu segera memisahkan diri dan melakukan pengepungan dari dua arah yang berlawananorang yang berada disisi kiri segera bertanya lirih.

"Bagaimana? Apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

Lelaki yang disebelah kanan segera menyumpah dengan hati mendongkol.

"sialan rupanya cuma kucing.... huuh. Bikin hati orang berdebar saja"

Rupanya dari atas wuwungan rumah memang kedengaran suara kucing sedang mengeong.

Tak heran kedua orang itu segera beranjak pergi sambil menyumpah-nyumpah.

Kim Thi sia harus berterima kasih kepada kucing itu, ia sadar andaikata kucing itu tidak muncul tepat pada waktunya, besar kemungkinan jejaknya akan ketahuan-Tapi rasa tak senang terhadap gadis cantik itupun segera timbul pikirannya.

"Perempuan itu benar-benar tak berperasaan dengan susah payah aku kemari untuk menolongnya. Eeeh....siapa tahu dia tak sudi menerima uluran tanganku......sialan"

Dalam mendongkolnya hampir saja ia membalikkan badan tak sudi mengurusi persoalan itu lagi. Mendadak terdengar nona cantik itu menegur dengan suaranya yang dingin ketus.

"Hmmm.....bagus amat nasibmu"

Kim Thi sia segera berkerut kening sahutnya cepat.

"Ya a, memang aku sendiri yang mencari penyakit buat diri sendiri Air susu dibalas dengan air tuba"

Habis berkata ia segera beranjak pergi dengan uring-uringan-Tiba-tiba nona cantik itu tertawa dingin dan menjengek kembali.

"Heeeeehhh......heeeehhh.....heeehh...... kalau berbicara memang enak benar kedengarannya memangnya kau mampu menolongku?"

Kim Thi sia tertegun lalu mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, segera dijumpainya baik pintu, jendela bangunan maupun atap rumah ternyata terbuat dari besi semua ini berarti sekalipun ia berniat menyelamatkan nona itu belim tentu memiliki kemampuan untuk melakukannya.

"Nah tidak salah bukan perkataanku?"

Jengek nona itu sinis. Kim Thi sia amat sakit hati, sifat keras kepalanya kembali membara karena ucapan tersebut sambil menggigit bibir segera gumamnya.

"Hmmm,aku justru akan berusaha menolongmu lihat saja kemampuanku nanti"

Dengan gemas dicengkeramnya terali besi didepan jendela lalu ditariknya dengan sepenuh tenaga.

Tapi begitu dicoba, hawa amarahnya kontan padam, dia mencoba berapa kali lagi.

Ternyata semua usahanya tak pernah berhasil.

Pada saat itulah terdengar nona cantik itu kembali menjengek.

"Wahai pendekar besar, lebih baik berhematlah dengan tenagamu"

Ejekan tersebut kembali mengobarkan api kegusaran didalam dada Kim Thi sia dengan gemas diliriknya nona itu sekejap lalu ujarnya angkuh.

"Hmmm, lihat saja hasilnya nanti"

Dengan mempergunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya ia membetot lagi terali besi itu Tapi terali tersebut tetap utuh seperti sedia kala, biarpun peluh telah membasahi seluruh tubuhnya, karena napasnya sudah tersengkal-sengkal seperti kerbau.

Namun usahanya tidak memberikan hasil apapun, selama hidup ia memang segan mengaku kalah sekalipun ia sadar bahwa kemauan ada namun tenaga kurang tapi dengan watak keras kepalanya pemuda tersebut tak sudi menelan kegagalannya dengan begitu saja.

Maka ia mulai menggigit bibirnya kencang-kencang sampai berdarah untuk menghimpun seluruh kekuatannya.

selang berapa saat kemudian pakaiannya sudah basah kuyup oleh keringat.

Apalagi sewaktu angin malam berhembus lewat, tiba-tiba saja ia merasa agak kedinginan-Gejala semacam ini belum pernah dialami sebelumnya, akan tetapi ia tidak memikirkan masalah tersebut didalam hati.

sementara itu sinona cantik hanya memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin sekulum senyuman sinis menghiasi ujung bibirnya seakan-akan mentertawakan kebodohan pemuda tersebut.

Lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlalu dari situ.

Kim Thi sia beristirahar sebentar, mendadak ia teringat dengan pedang mestika peninggalan leluhurnya pedang leng gwat kiam.

"Dapatkah pedangku itu memotong putus terali besi itu?"

Ingatan tersebut melintas dalam benaknya.

Dengan timbulnya secerca harapan, tanpa terasa melipat gandakan kekuatan tubuhnya.

Buru-buru ia meloloskan pedangnya, agar pedang tersebut tidak menimbulkan cahaya terang yang bisa menarik perhatian pengawal ia melepaskan pakaiannya untuk membungkus senjata tersebut.

Kemudian baru pelan-pelan dicabut keluar.

Pedang Leng gwat kiam bentuknya amat panjang, sekalipun sebagian besar telah terbungkus oleh pakaiannya, masih ada sepanjang tiga inci yang muncul dibalik kain, cahaya hijau yang tajam memancar keempat penjuru.

Dalam keadaan begini, terpaksa ia mesti menyembunyikan ujung pedangnya itu dibalik sarung pedang.

Lalu cepat-cepat dibabatkan keatas terali besi itu.

Pedang Leng gwat kiam memang sebilah gedang mestika tajam.

Diiringi suara lirih terali besi sebesar kepalan itu sudah patah menjadi dua bagian.

Kim Thi sia segera menyambutnya dan pelan-pelan diletakkan diatas tanah.

Sekarang, kepalanya dapat ditongolkan kedalam ruangan tersebut melalui celah terali besi yang sudah berlubang, namun Kim Thi sia tidak berani bertindak gegabah, mengikuti cara semula, lagilagi ia memotong terali besi yang kedua.

Tampaknya ulah tersebut menarik perhatian sinona cantik berdandan aneh itu, dengan perasaan ingin tahu ia berjalan mendekat, lalu pikirnya.

"Waah, tak nyana kau benar punya akal"

Meski hanya pujian sederhana namun cukup melonggarkan dada Kim Thi sia dari ganjalan hawa amarahnya, dengan perasaan bangga ia melirik sekejap kearahnya.

Tapi lirikan itu lagi-lagi membuat hatinya dingin separuh, ternyata wajah gadis itu tetap dingin tanpa emosi, sama sekali tidak menunjukkan wajah girang karena keberhasilannya memotong terali besi diatas jendela.

Yang lebuh menjengkelkan lagi, biarpun ia memuji, ternyata tatapan mata maupun sikapnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kagum.

Masih terdengar ia berkata lagi.

"Ehmmm, pedang mestikamu memang amat bagus"

Maksud perkataan itu sudah jelas, seolah-olah ia sedang berkata begini.

"Apa yang hebat dengan dirimu? Coba kalau bukan mengandaikan pedangmu yang tajam, tak mungkin kau mampu memotong terali besi didepan jendela tersebut"

Kim Thi sia mendengus dingin, iapun tidak berbicara, sesudah menanggalkan terali-terali besi didepan jendela hingga cukup dilampaui tubuh seseorang ia baru berbisik.

"Hayo cepat keluar"

Gadis cantik itu hanya melirik sekejap kearahnya, ia sama sekali tidak bergerak.

Kim Thi sia merasa panas sekali hatinya dengan kasar ia menyambar pinggang nona itu kemudian menariknya keluar.

setelah itu ujarnya dengan rasa mendongkol.

"Menyesal aku menolong manusia macam kau. Hmmm sudah ditolong masih tak senang hati"

Dengan gemas ia menurunkan tubuh sinona keatas tanah. Paras muka nona cantik itu tetap kaku tanpa emosi. Katanya dengan suara dingin.

"Padahal kau sendiri lagi mencari penyakit buat diri sendiri Lalu siapa yang hendak kau salahkan? Kau kira aku bisa berbuat apa? Hmmm, asal kalian orang-orang Han berani mengusik seujung rambutku. Ayahku pasti akan mengirim tentara untuk membasmi seluruh bangsa Han yang ada dinegeri ini"

"Atas dasar apa kau berbuat begitu? Huuuh, apa sih hebatnya dengan bapakmu?"

Ucap Kim Thi sia tak senang hati.

"Kau berani memaki ayahku? Kau tahu, ayahku adalah kaisar dari negeri Kim"

Dari perkataan tersebut, seolah-olah ia hendak berkata begini.

"Hati-hati kamu kalau bicara, ayahku adalah raja dari suatu kerajaan, aku tidak akan membiarkan dirimu menghina aku semaunya sendiri"

Sayang sekali orang yang dihadapi adalah manusia macam Kim Thi sia . Ia tak pernah mau mengerti raja atau bukan. Ketika mendengar ucapan tersebut, dengan nada tak senang hati segera katanya.

"Apa hebatnya pula dengan seorang raja negeri Kim? Hmm, paling banter hanya seorang raja asing dari negeri kecil. Belum cukup untuk menakuti aku......."

Gadis cantik itu benar-benar sangat mendongkol sampai mukanya berubah menjadi hijau membesi dan tangannya terasa amat dingin tiba-tiba ia menampar sambil mengumpat.

"Bangsa Han busuk. ayahku pasti akan memotong lidah anjingmu itu........"

Kim Thi sia tak mau kalah, dia mencengkeram pula lengannya sambil berteriak keras.

"jika kau berani memakiku lagi, jangan salahkah kalau aku tak berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu"

Saking gemasnya tanpa sadar ia mencengkram lengan nona utu dengan penuh tenaga.

Tiba-tiba saja nona cantik itu menjerit kesakitan-butiran air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya tangannya yang lain segera diayun kembali untuk menampar muka pemuda tersebut.

Kim Thi sia segera berkerut kening baru saja ia hendak memberi pelajaran kepada gadis tersebut, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras bergema dari sisinya.

"siapa yang berani menculik tawanan kami? Hayo cepat berlutut dan cepat minta ampun"

Empat, lima sosok bayangan manusia meluncur datang secara tiba-tiba dengan kecepatan tinggi.

Melihat usaha pertolongannya tidak mendatangkan hasil, Kim Thi sia segera menyambar gadis itu dan ditariknya untuk diajak melarikan diri......

sebuah dinding pekarangan yang tinggi menghadang jalan perginya dinding tersebut tingginya mencapai berapa kaki, dalam keadaan membawa seseorang tentu saja Kim Thi sia tak mampu untuk melampauinya.

Ia mencoba untuk berpaling kebelakang tampak olehnya keempat lima orang pengejarnya.

makin lama sudah makin mendekat kini jaraknya tinggal sepuluh kaki.

orang bilang.

Anjing yang terdesak akan melompati pagar, begitu pula keadaan Kim Thi sia saat ini, tanpa memperhitungkan lagi kemampuan yang dimilikinya, dengan mengikuti teori ilmu meringankan tubuh It tok wi kang ajaran ciang sianseng, ia segera menghimpun tenaganya sambil melompat keatas.

Entah darima na datangnya kekuatan ternyata lompatannya itu berhasil menyeberangkan mereka berdua dari pagar pekarangan tersebut tapi sayang ia tak mampu menguasai diri sewaktu tubuhnya meluncur kebawah.

Takut kalau melukai nona cantik yang dinilai bertubuh lemah itu, buru-buru ia mengguling kesamping.

"B luuuuuukkkk. ......."

Akibatnya bibirnya membentur tanah sampai pecah dan berdarah, sedangkan gadis cantik itu hanya sedikit kaget dan sama sekali tidak menderita cedera apapun.

Tak sempat lagi membersihkan debu yang melekat ditubuhnya dengan sekuat tenaga ia tarik gadis itu untuk diajak melarikan diri.

Tampaknya nona cantik itu belum pernah merasakan penderitaan sehebat itu, sambil berlarian ia mengomel tiada hentinya.

"Huuuh, kalau sudah tahu tak berkepandaian, seharusnya kau tak perlu repot-repot menolongku. Coba lihat sekarang, aku jadi sangat menderita akibat ulahnya...........betul-betul gentong nasi yang tak berguna"

Dalam keadaan begini, Kim Thi sia tidak punya kesempatan untuk cekcok dengannya.

sambil mendengus, ia telan semua rasa mendongkolnya kedalam perut.

sementara itu keempat, lima sosok bayangan hitam itu masih melakukan pengejaran sambil berteriak.

"Hey sobat, pentang matamu lebar-lebar kita semua sama-sama orang persilatan apalah gunanya mesti bermusuhan yang tak ada gunanya? Kalau ingin berdamai, hentikan langkahmu, bukan saja kami tak akan menarik panjang peristiwa ini. Malah akan kami traktir saudara untuk makan sekenyangnya."

Kim Thi sia tak mau bersuara, ia lari terus dengan sekuat tenaga... suara bentakan dari belakang tubuhnya kembali berkumandang.

"sobat, arak kehormatan ditolak kau malah memilih arak hukuman. HHmmm, jika kau benarbenar tak tahu diri, jangan salahkan kalau kami akan bertindak keji."

Sebagaimana diketahui, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Kim Thi sia tidak hebat apalagi ia mesti mengempit seseorang oleh sebab itu secara lambat laun jejaknya berhasil tersusul oleh lawan-Tentu saja ia gelisah sekali pikirnya.

"Waaah, kalau keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung terus. akhirnya aku pasti akan terkejar lawan, atau kalau tidak terkejarpun, aku bakal mati kehabisan tenaga."

Berpikir sampai disini, ia mencoba untuk memeprhatikan sekejap keadaan disekeliling sana, diantara tanah perbukitan yang membentang didepan mata, disudut selatan sana terdapat sebuah gundukkan tanah bukit kecil.

satu ingatan segera melintas didalam benaknya, pikirnya.

"Mengapa tidak kusembunyikan dulu gadis tersebut, kemudian baru berusaha untuk memukul mundur musuh?"

Begitu keputusan diambil, semangat dan tenaganyapun ikut berlipat ganda.

Dengan menelusuri jalan setapak yang kian lama kian menanjak tinggi, akhirnya pemuda itu berhasil menemukan sebuah batu cadas besar ditengah rimbunnya pepohonan, tempat tersebut memang rapat sekali letaknya.

Dengan langkah cepat ia berlalu menunjuk kesana dan menurunkan gadis cantik itu disana, lalu bisiknya.

"Bersembunyilah disini dan jangan bergerak, biar kupukul mundur musuh-musuh yang datang mengejar"

Selesai berkata iapun membalikkan badan menyongsong kedatangan keempat lima orang manusia berbaju hitam itu.

Begitu kedua belah pihak saling bertemu tanpa mengucapkan sepatah katapun Kim Thi sia langsung melepaskan dua buah pukulan berantai.

Dengan suatu gerakan cepat keempat lima orang lelaki berbaju hitam itu menyebarkan diri keempat penjuru, kemudian mengurung Kim Thi sia rapat-rapat.

Dalam waktu singkat empat gulungan angin yang amat dahsyat telah meluncur kemuka membuat Kim Thi sia harus melompat mundur sejauh satu kaki dari posisi semula.

Melihat itu kelima orang lelaki berbaju hitam tersebut segera mengejek sambil tertawa dingin-"Heeeehh.....heeeh......heeeeh......dengan kepandaian serendah itupun kau berani mencari gara-gara.

Hmmm kau memang benar-benar manusia yang tak tahu diri"

Sementara berbicara, kembali terasa empat gulungan angin pukulan yang amat dahsyat menyapu kemuka.

Kim Thi sia sama sekali tak berbicara diam-diam ia kerahkan ilmu Ciat khi mi khi untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Akibatnya meskipun ia sempat terhantam hingga tergetar mundur, namun tidak sampai menderita kerugian apa-apa, malah sistim yang dianutnya adalah sistim pertarungan keras lawan keras.

Kelima orang lelaki itu saling berpandangan sekejap.

kemudian tertawa dingin tiada hentinya, lagi-lagi serangan yang amat dahsyat dilontarkan kedepan.

Kim Thi sia segera terhajar sampaijumpalitan diatas tanah, tapi dalam waktu singkat ia telah melompat bangun kembali.

Kali ini ia mengincar salah satu lawannya kemudian melepaskan serangan balasan.

Dengan sigap lelaki berbaju hitam itu menyambut datangnya ancaman dengan keras melawan keras....

"Duuuuuuukkkk. ........"

Ditengah benturan keras kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh satu langkah lebih.

Diiringi suara caci maki yang keras sekali lagi kelima orang itu melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Mendadak salah seorang diantaranya berseru keras.

"Hey coba lihat, rupanya ia belum pergi dari sini cepat hadang orang ini, biar aku yang membekuknya kembali......"

Ditengah kerepotan Kim Thi sia menyempatkan diri untuk berpaling, tapi apa yang kemudian terlihat kontan saja membuat paras mukanya berubah hebat....

Ternyata gadis aneh itu tidak menuruti nasehatnya ia sedang duduk bersandar diatas batu sambil menikmati keindahan bulan-Tatkala angin malam berhembus lewat dan mengincarkan ujung babunya, gadis itu kelihatan begitu cantik anggun bak bidadari dari khayangan-Tanpa terasa keempat orang lelaki berbaju hitam itu sama-sama menghentikan serangan mereka serta mengawasi gadis tersebut dengan terkesima......

Kim Thi sia sendiripun dibuat tertegun pikirnya tanpa terasa.

"Tak nyana gadis ini begitu keras kepala dan enggan menuruti nasehatku. Huuuh gara-gara niatnya semua usahaku selama inijadi sia-sia belaka"

Pancaran sinar kecantikan dan keanggunan gadis tersebut bukan saja tidak menimbulkan daya tarik baginya, malahan ia merasa begitu muak serta sebal.

Digertaknya bibirnya keras-keras menahan rasa mendongkol serta gejolak emosinya biarpun ia jarang membenci orang lain tapi sekarang rasa bencinya terhadap gadis tersebut serasa merasuk ketulang sum sum.

sementara itu lelaki berbaju hitam tadi telah meneruskan terjangannya kedepan sesudah berhenti sejenak....

Tiba-tiba......

Semua rasa benci yang menggelora didalam dada Kim Thi sia seperti telah berubah menjadi segumpal kekuatan sambil membentak keras ia melompat kedepan menghadang jalan pergi lelaki berbaju hitam itu, kemudian melepaskan sebuah pukulan kearahnya.

Lelaki berbaju hitam itu sangat gusar disambutnya ancaman itu dengan kedua belah tangannya.......

"Blaaaaaaaammm........"

Benturan yang keras membuat pasir dan debu beterbangan keangkasa.

orang itu tergetar mundur sejauh lima langkah dengan wajah pucat pias seperti mayat, darah segar menyembur keluar dari bibirnya.

Pelan-pelan dia mengangkat kepalanya dan menatap pemuda itu dengan pandangan penuh kebencian tapi Kim Thi sia pun ikut terpental sejauh satu kaki lebih hingga jatuh terduduk diatas tanah.

Melihat itu dia tertawa seram kembali tangannya diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan.

Walaupun isi perutnya telah menderita luka yang cukup parah, namun rasa benci dan dendam membuatnya melupakan segala ancaman bahaya yang mungkin akan menimpa dirinya.

Dalam keadaan begini dia hanya tahu berusaha untuk membunuh orang tersebut, bahkan kalau bisa hendak membinasakan orang itu diujung tangannya sendiri Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dilancarkan dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya itu.

Belum lagi angin pukulannya menyambar datang, pasir dan debu telah beterbangan menyelimuti seluruh angkasa.

Tiba-tiba Kim Thi sia melompat bangun ditengah gelak tertawa yang amat keras dia bukannya mundur malah sebaliknya menerjang maju kemuka.

Akibatnya dari perbuatannya itu, keempat jago lainnya yang berada disisi arena menjadi terkesiap sekali.

"Blaaaaam......"

Sekali lagi terjadi bentrokan kekerasan yang memekikkan telinga, akibat dari bentrokan ini lelaki berbaju hitam itu terpental sejauh tiga langkah dari posisi semula dan jatuh terduduk diatas tanah, untuk beberapa saat dia tak mampu merangkak bangun kembali.

sebaliknya Kim Thi sia terpental lebih jauh lagi hingga punggungnya menubruk diatas batang pohon-"Duuukk......"

Biarpun benturan itu sangat keras sampai daun dan ranting berguguran, malahan sambil tertawa terbahak-bahak selangkah demi selangkah dia mendesak maju kemuka.

Ditinjau dari suara ketawanya yang amat nyaring dapat diketahui bahwa isi perutnya sama sekali tidak terluka.

Berubah hebat paras muka keempat orang itu, mendadak mereka seperti teringat akan seseorang, segera teriaknya tertahan-"spbat, apakah kau bernama Kim Thi sia?"

Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak.

"Haaah....haaaaah.....haaaaah.....tepat, aku memang bernama Kim Thi sia nah sobat mari kita teruskan pertarungan ini"

Agaknya keempat orang itu sudah dibuat keder oleh nama besarnya tanpa terasa orang-orang itu mundur selangkah kebelakang.

Pada saat itulah tiba-tiba terlihat berkelebatnya tujuh, delapan sosok bayangan manusia dari kejauhan sana.

Begitu tiba diarena terdengar seseorang diantaranya membentak keras.

"Apa sih yang ditakuti dari Kim Thi sia?"

"Haaaah......haaaah.......haaaah......bagus bagus sekali"

Seru Kim Thi sia sambil tertawa keras.

"semakin banyak orang datang semakin baik mumpung tanganku sudah gatal karena sudah lama tak bertarung."

Akan tetapi begitu terjadi bentrokan Kim This ia segera merasakan datangnya tenaga tekanan yang berat sekali menghimpit dadanya, ia tak sanggup menahan diri lebih lanjut tak ampun tubuhnya mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Pelan-pelan ia merangkak bangun, diawasinya keadaan disekitar sana dengan seksama.

Dibawah sinar rembulan yang redup tampak seorang lelaki kasar bertubuh tegap beralis tebal, mata besar dengan hawa penuh kebengisan telah berdiri tegap dihadapannya.

Karena tidak melihat kehadiran sipedang kayu diantara mereka, pemuda itu merasa agak lega, katanya sambil tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah.....haaaah.....dengan senang hati kusambut kedatangan kalian semua, bagiku makin lihay ilmu silat yang kalian miliki semakin berarti pula bagiku."

Lelaki kekar tadi berusia lima puluh tahunan sambil tertawa dingin perintahnya kepada keempat orang yang pertama tadi.

"Cepat urusi perempuan itu, urusan disini serahkan saja penyelesaiannya kepadaku."

Keempat orang itu mengiakan dan segera beranjak pergi dari sana.

"Hey, tidak semudah itu kalian dapat pergi dari sini"

Bentak Kim Thi sia tiba-tiba.

Dengan suatu gerakan cepat ia meluncur kedepan dan menghadang jalan pergi keempat orang tersebut, dalam repotnya ia masih sempat melirik sekejap gadis aneh tadi.

Dengan cepat diketahuinya kalau gadis itu sedang memperhatikan tindak tanduknya.

Pemuda itu jadi kegirangan untuk mendemontrasikan kebolehannya didepan gadis tersebut, maka tidak menunggu keempat orang itu sampai bertindak melakukan sesuatu ia telah melancarkan serangan terlebih dahulu dengan menggunakan jurus "Tangguh terus sampai mati"

Dan "mengobrak abrik seluruh jagad"

Dari ilmu panca Buddha.

Dalam waktu singkat seluruh angkasa telah dilapisi oleh bayangan mangan yang bersusunsusun, angin pukulan serasa menderu-deru dan amat memekikkan telinga.

selama hidup belum pernah keempat orang itu menjumpai ilmu pukulan yang sedemikian anehnya, tanpa terasa mereka jadi tertegun dibuatnya.

Menunggu sampai mereka menyadari akan gelagat yang tidak menguntungkan, keadaan sudah terlambat sekali.

"Duuuk duuuk duuuk"

Tahu-tahu setiap orang sudah termakan oleh sebuah pukulannya hingga mencelat mundur kebelakang.

Berhasil dengan serangannya, Kim Thi sia merasakan semangatnya berkobar.

Tidak menunggu sampai keempat orang lawannya sempat mengambil sesuatu tindakan, kembali ia melancarkan serangkaian pukulan dengan jurus jurus.

"Awan hilang kabut membuyar"

Dan "rembulan hilang bintang penuh."

Ditengah deruan angin pukulan yang menggila, suara jeritan kaget terdengar bergema suara silih berganti, belum sempat keempat orang itu mengedipkan matanya tahu-tahu saja tubuh mereka kena digebuk sampai dadanya terasa sesak dan pandangan matanya berkunang-kunang .

Mendadak kakek bercabang menjadi pimpinan rombongan itu membentak keras, telapak tangannya diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan yang aman dahsyat.

Kim Thi sia tak sanggup menahan diri, badannya terhajar hingga terjungkal ditanah.

Agaknya gadis berdandan aneh itu tak tega menyaksikan adegan tersebut, buru-buru ia palingkan mukanya kearah lain-Kim Thi sia tertawa keras, lagi-lagi dia melompat bangun dari atas tanah.

"Hmmm, bocah keparat she Kim apa artinya gagah-gagahan dengan mengandalkan ilmu sesat macam begitu?"

Jengek kakek bercabang itu sambil mengernyitkan alis matanya.

"Coba rasakan dulu kehebatan ilmu pukulan beracun seratus tulangku ini."

Seraya berkata ia melepaskan sebuah pukulan berhawa dingin kedepan-Kim Thi sia sama sekali tak gentar dia sambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan, namun aneh sekali.

Ternyata dia tidak merasakan adanya tenaga pukulan dibalik serangan tersebut.

sekalipun demikian disaat angin dingin tersebut berhembus lewat dari sisi badannya tahu-tahu saja ia merasa sangat kedinginan sehingga tak kuasa badannya gemetar keras.

Sewaktu masih berada dibukit yang terpencil dahulu ayahnya sering bercerita tentang keganasan dari pelbagai ilmu pukulan beracun yang konon bisa menyerang orang tanpa menimbulkan sedikit suarapun, bahkan orang yang terserangpun tidak merasakan apa-apa.

sebagai seorang pemuda yang cerdik dan teliti, sadarlah ia kalau tubuhnya sudah terkena pukulan beracun seratus tulang dari orang tersebut.

sambil membentak keras penuh amarah ia segera menerjang maju kedepan dengan hebatnya.

Kakek bercabang itu segera tertawa dingin.

"Heeeeh.....heeeeh......heeeeh.......she Kim kau sudah terkena pukulan beracun seratus tulangku bila nasibmu agak baik, maka kau masih mempunyai berapa kesempatan untuk hidup terus tapi dengan perbuatanmu sekarang. Hmmm.....sama artinya dengan mencari jalan kematian buat diri sendiri"

Peluh dingin membasahi seluruh wajah Kim Thi sia, pikirnya kemudian-"

Omong kosong, jarum yang beracun Hon ko ciam dari keluarga Tong yang dibilang paling top pun tak mampu menewaskan aku masa ilmu pukulan beracun seratus tulang yang sama sekali tak terkenal ini bisa mencabut nyawaku"

Akan tetapi disaat dia mencoba untuk mengatur pernapasan, terasa olehnya segulung hawa dingin yang merasuk tulang menyebar dalam tubuhnya, begitu dinginnya seperti didalam gudang es sehingga tubuhnya menggigil keras.

"Habis sudah riwayatku kali ini"

Pekiknya dalam hati. Dengan perasaan dendam yang meluap ia segera mengawasi musuh besarnya tanpa berkedip kemudian teriak keras-keras.

"Andaikata aku tak dapat hidup jangan harap kaupun bisa hidup terus didunia ini."

Ketika angin berhembus lewat, hawa dingin yang telah merasuk kedalam tubuhnya itu segera menimbulkan rasa kesakitan yang hampir saja tak tertahan olehnya.

Tiba-tiba pandangan matanya menyentuh wajah sinona yang cantik itu, ia tahu bila dirinya memperlihatkan kelemahan lagi dihadapannya niscaya gadis tersebut tentu akan memperolok-olok dirinya.

Biar kematian telah diambang pintu, namun watak keras kepalanya sama sekali tidak berkurang.

sekuat tenaga dia menghimpun kedua jenis tenaga murni dan berusaha mendesak keluar hawa racun dari peredaran darahnya.

Himpunan dua jenis hawa murni yang berlainan jenis membuat anak muda itu menderita siksaan yang sangat hebat.

Mendadak ia membentak keras lalu setelah mencabut keluar pedang Leng gwat kiam, ia lancarkan sebuah bacokan kemuka.

Pantulan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata membias dan dengan mata semua orang, sehingga tak mampu membuka matanya kembali.

Kakek bercabang itu sangat terkejut, cepat-cepat ia melompat mundur untuk menghindarkan diri.

Pedang Leng gwat kiam panjang lagi tajam, sewaktu diputar kencang maka wilayah seluas sekaki diselimuti cahaya tajam yang sangat menyilaukan mata.

Terlintas setitik cahaya aneh dibalik mata nona aneh tersebut, tiba-tiba ia bergumam.

"Ooooh, betapa bahagianya hatiku bila pedang mestika itu jadi milikku. Andaikata tempat ini merupakan negeri Kim, ayah baginda tentu akan memintanya untuk diserahkan kepadaku......."

Sementara itu Kim Thi sia dengan mengandalkan pedang Leng gwat kiam telah memainkan ilmu pedang panca Buddha yang maha dahsyat.

ibarat harimau tumbuh sayap.

kawanan jago tersebut dibuat kacau balau tak karuan sehingga tak seorangpun yang berani mendekatinya.

Mendadak terdengar dua kali jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan rupanya ada dua orang lelaki berbaju hitam yang terlambat menghindarkan diri, seketika itu juga kepalanya berpisah dengan badan, darah segar segera menyembur kemana-mana.

"Aaaah......."

Gadis yang cantik itu menjerit karena ngeri. Kemudian menutup --------------------Halaman selanjutnya tidak terbaca----------

Jilid 12 Sekali lagi bahunya termakan sebuah lecutan rujung yang amat keras.

Tubuhnya terpental jauh sekali dari posisi semula sementara diatas punggungnya yang telanjang bertambah dengan sebuah mulut luka yang memanjang.

Luka tersebut merah membara dan bengkak besar sekali dengan mendongkol pemuda itu segera berseru.

"Tidak bisa jika aku tak membunuh maka merekalah yang akan membunuhku. Aaaaah garagara pikiranmu kelewat kekanak-kanakan, maka aku mesti menderita lecutan dengan percuma."

Selesai berkata ia segera mengejar orang itu dengan amarah, lalu pedangnya dibacokkan keras-keras keatas tubuhnya.

Tampak cahaya hijau berkelebat, lelaki yang melucuti dirinya tadi tak sampai sempat berteriak kesakltam, tahu-tahu badannya sudah terbelah menjadi dua bagian dan roboh binasa seketika itu juga.

Dalam waktu singkat, belasan orang lelaki yang menyusul tiba itu mengalami nasib yang sama semua, kalau bukan kepalanya terpenggal, lengan atau kakinya terpapas kutung.

Kini, hanya sikakek bercabang beserta tiga empat orang lelaki yang bertahan terus secara gigih.

Sementara itu Kim Thi sia sendiripun sudah terpengaruh oleh suasana disekitarnya, kini perasaannya seolah-olah sudah membeku biarpun berapa kali pukulan ruyung sempat mampir diatas tubuhnya, namun sama sekali tak terdengar keluhan ataupunjeritan kesakitannya, malah sebaliknya ia berteriak bagaikan orang kalap.

"Haaah...haaahhh....haaahhh....aku telah membunuh orang aku telah melanggar pantangan membunuh, ayoh maju kalian semua, hanya orang peliharaan anjing yang melarikan diri dari sini."

Mendadak terdengar sinona cantik itu berteriak keras sambil mengeruyitkan alis matanya.

"Hey kau jangan berkoak-koak begitu, suaramu tak sedap didengar."

"Kau sendiri tak usah cerewet"

Tukas Kim Thi sia sambil melotot kearahnya sehabis memaksa dua orang musuhnya.

"Kalau aku s ampai jengkel kubunuh dirimu sekarang juga."

Sinona tidak tahu kalau kesadaran pemuda tersebut sudah menjadi kaku sehingga apa yang perlu diucapkan segera diutarakan tanpa berpikir panjang lagi.

saking jengkelnya paras mukanya berubah menjadi hijau membesi, selapis hawa dinginpun menyelimuti seluruh wajahnya.

Kalau dihari-hari biasa dia selalu main perintah.

sejak kecil hingga dewasa selalu memperoleh apa yang diinginkan, tentu hatinya mendongkol sesudah memperoleh perlakuan semacam ini.

Bibirnya ternganga untuk sesaat dan tak sepatah katapun dapat diutarakan keluar.

Dipihak lain, Kim Thi sia telah mengembangkan permainan pedangnya dengan ilmu pedang Ngo hud kiam hoat dalam dua gebrakan berikut ia berhasil mencabut nyawa kedua orang lelaki lainnya dengan begitu orang yang masih terlihat dalam pertarungan sengit melawannya tinggal si kakek bercabang, serta seorang lelaki berbaju hitam yang pendek lagi ceking.

Kepandaian silat yang dimiliki kakek bercabang tersebut nyata memang cukup tangguh, ia selalu berusaha mencari kesempatan untuk melancarkan serangan-serangan balasan.

sedangkan silelaki pendek lagi ceking itu memiliki gerakan tubuh yang amat lincah, lompatnya seperti monyet, berapa kali bacokan Kim Thi sia tak berhasil menyentuh seujung rambutnyapun.

Mendadak terdengan lelaki berbaju hitam yang berbadan pendek itu berseru dengan gugup.

"Toako, lebih baik kita mengundurkan diri saja. Kepandaian silat dari bajingan she Kim ini kelewat lihay, mari kita mencari bala bantuan lebih dulu"

"Tidak bisa"

Tampik kakek bercambang itu dengan suara dalam.

"Bocah keparat tersebut sudah terkena pululan beracun seratus tulangku, aku tak percaya kalau tubuhnya terbuat dari baja murni yang tahan pukulan-"

Tampaknya lelaki ceking itu makin panik sesudah melepaskan diri dari sebuah tusukan pedang Kim Thi sia. Ia tidak balas menyerang sebaliknya berseru lantang.

"Toako, kau tak usah kelewat keras kepala seorang lelaki sejati tak akan sudi mencari kerugian didepan mata apa gunanya kita mesti........"

Tiba-tiba ia tutup mulut dan tak berbicara lagi, sorot matanya dialihkan kewajah kakek bercambang itu sementara paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Dengan suara yang amat nyaring bagaikan suara genta, kakek bercambang itu membentak keras-keras.

"Bila engkau takut mampus, lebih baik angkat kaki lebih dulu aku tak bakalan menghalangi kepergianmu cuma....masih punya mukakah dirimu untuk pulang menemui loya?"

Disatu pihak kedua orang lelaki itu saling membujuk.

maka dipihak lain semangat Kim Thi sia makin lama semakin berkobar rasa girang yang menyelimuti perasaannya sama sekali tak tersembunyi diwajahnya.

Ia tak habis mengerti apa sebabnya dia tak sampai mampus walaupun sudah berulang kali terkena senjata rahasia beracun dan pukulan beracun-Apakah hal ini disebabkan nasibnya yang mujur ataukah niscaya memang diberkahi panjang?

Padahal kesemuanya itu tak lain merupakan jasa dari Malaikat pedang berbaju perlente menjelang ajalnya.

Ilmu ciat khi mi khi yang merupakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi telah melindungi jiwanya berulang kali.

Itulah sebabnya tatkala tubuhnya terkena senjata rahasia beracun dan pukulan beracun, hawa murni yang tersimpan dibalik tubuhnya segera menerjang keluar dan mendesak keluar sari racun dari tubuhnya.

Bau busuk yang menyembur keluar dari dalam tubuhnya, mengingatkan Kim Thi sia dengan keadaan sewaktu terkena jarum beracun Hon ko ciam tempo hari.

Rasa gembiranya benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.

Akan tetapu diapun merasa amat menyesal karena bercana yang ditimbulkan olehnya terlalu besar, sambil menepuk kepala sendiri dan menarik kembali serangannya, ia berkata.

"Kalian berdua bukan tandinganku, lebih baik mundur saja dari sini mumpung masih ada waktu."

"Toako....."

Dengan gelisah lelaki ceking itu berseru. Kakek bercabang itu segera menghela napas panjang.

"Aaaaai.....habis sudah riwayatku"

Mendadak dia mengambil pedangnya dan menggorok lehernya sendiri.

Kim Thi sia berusaha untuk menghalangi perbuatannya, namun keadaan sudah terlambat kakek bercabang itu sudah tergeletak mati diatas tanah.

Menyaksikan peristiwa tersebut, lelaki ceking itu nampak bergidik, tanpa banyak berbicara lagi ia membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit-birit, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Kini tinggal Kim Thi sia seorang berdiri disitu sambil mengawasi mayat yang bergelimpangan dimana-mana, teriaknya tiba-tiba.

"Wahai Kim Thi sia, apa yang telah kau perbuat.....Kim Thi sia, apa yang telah kau lakukan?"

Sebagai seorang pemuda yang bermurah hati, ia tak mengira kalau dalam sifatnya telah membunuh sekian banyak manusia, rasa sedih dan menyesal membuat isak tangisnya secara meledak.

Ia membenamkan kepalanya dibalik lengan lalu bersandar diatas batang pohon sambil menangis tersedu-sedu.

suara tangisannya amat keras hingga bergema sampai ketempat yang jauh sekali.

Dalam pada itu, sinona cantik itu mengawasi ulahnya dari kejauhan dengan wajah yang dingin seperti es, dari balik pancaran matanya yang bulat besar terselip perasaan tak habis mengerti, pikirnya diam-diam.

"Aneh benar orang ini, apa sih yang ditangisi? tadi saja gayanya nampak galak dan bengis macam malaikat langit, tapi sekarang ia justru menyesali perbuatannya."

Kim Thi sia memang merasa masgul dan murung, dia hanya ingin menangis, maka suara tangisannyapun bergema dimana-mana.

"Kau menyesal bukan?"

Jengek sinona secara tiba-tiba dengan suara dingin. Kim Thi sia tidak menggubris, ia tetap membungkam diri dalam seribu bahasa. sambil tertawa dingin nona itu kembali mengejek.

"Heeeeh......heeeeh.......heeeeh......kalau sudah tahu begini, buat apa kau lakukannya sedari tadi?"

Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, sambil mendelik besar bentaknya keras-keras.

"Kau tak usah menyindir diriku, kau harus tahu, kesabaran seseorang ada batasnya."

Nona cantik itu mendengus dingin kemudian berpaling kearah lain, sikapnya selain dingin terlintas pula ketulusannya yang amat tebal.

selang berapa saat kemudian ia baru berkata lagi dengan suara sedingin salju.

"Tempat ini adalah wilayah Han, tentu saja aku tak dapat banyak berbicara, coba kalau disini negeri Kim. Hmmm, sebutan "kau"

"aku"

Yang kau pergunakan barusan sudah cukup untuk menjauhi hukuman yang amat berat kepadamu."

Kim Thi sia segera menyeka air matanya lalu dengan penuh amarah teriaknya.

"Lantas aku mesti memanggil apa kepadamu?"

"Aku adalah putri raja, paling tidak kau mesti memanggilku sebagai tuan putri Kim huan, mengerti"

Nada pembicaraannya sombong lagi ketus, agaknya ia sudah habis kesabarannya.

"Huuuuuh kau tak usah bermimpi disiang hari bolong......."

Umpat Kim Thi sia dengan suaranya. Kemudian seperti teringat akan sesuatu tambahnya lebih jauh.

"Yaa, aku mesti mengakui lagi sial, gara-gara kau seorang, aku telah membunuh sekian banyak manusia"

Tiba-tiba saja Kim huan kuncu pingin menangis tapi ia tahan sekuat tenaga, serunya kemudian agak mendongkol.

"Lebih baik kau antar aku kembali ketempat semula, aku tak sudi ditolong oleh manusia macam dirimu itu"

Kemudian sambil meremas genggaman sendiri tambahnya.

"sekalipun membutuhkan pertolongan aku tak sudi kau tolong, selewatnya hari ini, bila anak buahku mengetahui kalau aku menghilang mereka pasti akan datang untuk menolongku."

"Baik"

Teriak Kim Thi sia menuruti adat hatinya.

"Aku segera akan menghantarmu kembali ketempat semula, moga-moga saja kau terkurung untuk selamanya disana"

Sambil berkata ia maju mendekat dan siap memeluk tubuhnya. sambil menggigit bibirnya kencang-kencang mendadak Kim huan kuncu mengayunkan tangannya dan.....

"Plaaaaakkk"

Sebuah tamparan keras telah bersarang diatas pipinya.

Mimpipun Kim Thi sia tak pernah menyangka kalau Kim huan kuncu bakal menamparnya.

setelah tertegun sejenak.

api kegusarannya segera berkobar menyelimuti perasaannya, tanpa berpikir panjang ia segera menyambar pinggang nona itu dan memeluknya erat-erat.

Kim huan kuncu tak mampu berkutik sama sekali saking mendongkolnya ia hanya ingin menangis sepuas-puasnya.

seorang gadis yang berparas cantik, tiba-tiba menangis tersedu dengan begitu sedihnya.

Lama kelamaan Kim Thi sia menjadi tak tega sendiri dengan suara lembut katanya kemudian-"Janganlah menyindir atau memaki diriku lagi asal kau bersikap lembut akupun segera akan melepaskan dirimu."

Kim huan kuncu tidak menggubris, ia menganggap semua perlakuan anak muda tersebut terhadapnya merupakan suatu penghinaan.

Apalagi bila teringat kebebasan yang dikecapnya sebelum ini.

Mimpipun ia tak mengira kalau dirinya akan mengalami penderitaan dan cemoohan seperti saat ini.

Perasaan menyesal segera menyelimuti seluruh perasaannya.

setelah menangis beberapa saat, dengan penuh kebencian ia berseru.

"se......sekembalinya dari sini pasti akan kulaporkan semua kejadian ini kepada ayah baginda......aku akan minta kepadanya untuk membasmi semua bangsa Han semacam kalian itu........"

Kim Thi sia terkejut sekali, pikirnya.

"Waduh celaka, gara-gara perbuatan seorang, berjuta manusia bakal ikut menderita."

Dalam pekiknya cepat-cepat ia berkata.

"Kau tak boleh berbuat begitu, masa gara-gara perbuatanku seorang, kau ingin mengobarkan peperangan antara dua negeri......hal ini......hal ini........"

"Aku tak perd uli, pokoknya akan kulaparkan kejadian ini kepada ayah baginda"

Habis sudah kesabaran Kim Thi sia, teriaknya kemudian dengan gusar.

"Baik, kalau begitu biar kubunuh dirimu lebih dulu"

Tapi ia segera merasa amat menyesal sehabis mengucapkan perkataan itu pikirnya.

"Bagaimana sih kau ini, masa sedikit-sedikit sudah ingin membunuh orang, apa gerangan yang sudah terjadi atas diriku ini?"

Nampaknya Kim huan kuncu terkejut sekali ia tidak menangis lagi tapi sesudah berpikir sebentar tantangnya dengan dingini "Hmmmm, masa kau berani?"

Belum selesai perkataan tersebut diucapkan mendadak bergema suara auman nyaring dari suatu tempat yang jauh dari situ.

Kim Thi sia yang sudah lama berdiam diatas gunung segera berseru tertahan sehabis mendengar suara tadi.

"Aaaaaah, binatang buas"

Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dihadapannya telah muncul tiga sosok makhluk aneh yang tinggi badannya mencapai satu kaki lebih.

Yang membuatnya terkejut bercampur keheranan adalah ketiga makhluk tersebut berbentuk persis seperti manusia punya kepala lengan, tangan dan kaki hanya saja bila dipandang dari kejauhan maka bentuknya seperti tiga raksasa yang tingginya macam bukit kecil.

Dengan cepat Kim huan kuncu mengerling sekejap kesana tiba-tiba sekilas perasaan gembira menyelimuti wajahnya yang cantik.

Dengan gembira segera teriaknya keras-keras.

"Hey ciangkun (panglima) aku berada disini"

Sekali lagi ketiga sosok makhluk tinggi besar itu memperdengarkan suara pekikan yang keras, sementara sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi wajah Kim Thi sia tanpa berkedip.

Tanpa sadar pemuda kita mundur dua langkah kebelakang perasaan ngeri seram dan bimbang menyelimuti benaknya.

sementara itu Kim huan kuncu telah mengoceh dengan kata-kata asing yang aneh, Kim Thi sia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis tersebut, ia hanya berdiri termangu-mangu ditempat.

Ketiga makhluk raksasa yang dipanggil "panglima perang"

Itu pelan-pelan berjalan mendekat, setiap ayunan kakinya selalu melebihi jarak sejauh satu kaki. Dalam waktu singkat mereka telah tiba lebih kurang tiga kaki dihadapan Kim Thi sia.

"seakan-akan aku merasa sangsi."

Ketiga makhluk raksasa itu memandang sekejap kearah Kim huan kuncu yang berada dalam pelukan Kim Thi sia, kemudian mereka menghentikan langkahnya dan mengawasi kedua orang tersebut dengan sorot matanya yang tajam dan mengerikan.

Kim Thi sia amat terkejut, ia merasa ketiga orang tersebut adalah makhluk aneh yang manusia bukan manusia, monyetpun bukan monyet.

seluruh badan mereka ditumbuhi bulu yang amat tebal, dari tulang kening kebawah tumbuh bulu hitam yang panjang sekali seperti kepala singa, sedangkan pinggangnya yang besar memakai kulit binatang selebar tiga depa saja.

Hal ini membuat bentuknya tidak mirip seekor binatang liar.

Makhluk raksasa itu memiliki sepasang lengan yang luar biasa panjangnya dan terkulai kebawah hampir menyentuh permukaan tanah, Mulutnya yang besar bila terbuka lebar kelihatan barisan giginya yang putih runcing, agaknya barang siapa sampai tergigit olehnya, baik binatang maupun manusia niscaya akan tewas seketika.

Apalagi mereka sedang marah.

sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar menggidikkan, begitu seramnya bentuk mereka sampai Kim Thi sia yang tak takut bumi pun ikut mengucurkan keringat dingin.

satu hal yang membuatnya tak habis mengerti adalah sebutan Kim huan kuncu kepada mereka bertiga sebagai "Ciangkun"

Atau panglima perang, mungkinkah panglima perang dari negeri Kim, negeri bermusuhan dengan daratan Tionggoan macam begitu?

Diam-diam ia mulai menguatirkan keselamatan negerinya, sebab bila apa yang dibayangkan benar, jelas sudah bahwa negeri Kim merupakan negeri yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan membuat pemuda kita diam-diam menghembuskan napas panjang.

Kecantikan Kim huan kuncu memang tiada taranya, belum pernah ia saksikan gadis secantik ini, karenanya ia tak yakin kalau kaisar dari negeri Kim adalah seorang dari suku bangsa liar yang belum beradab.

sebab kecantikan serta gerak gerik nona ini tak mungkin bisa muncul dari didikan seseorang yang liar, buas dan belum beradab.

setelah termenung berapa saat lamanya ia berkata kemudian-"Kim huan kuncu apakah rakyat dinegeri Kim kalian bertampang macam mereka semua?"

Kim huan kuncu tertegun, ia tak menyangka kalau pemuda tersebut tidak berhasrat untuk melarikan diri, sebaliknya malah mengajukan pertanyaan seaneh itu Maka dengan perasaan ingin tahu sahutnya.

"Tidak"

Oooo0oooo Kim Thi sia menghembuskan napas lega katanya lagi sambil tertawa.

"ooooh....tadinya aku mengira rakyat negeri Kim adalah manusia-manusia liar yang belum beradab dan gemar minum darah manusia."

Kim huan kuncu segera berkerut kening tak terlukiskan rasa benci, muak serta mendongkolnya . Tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, kembali Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak seraya bergumam.

"Bukan cuma begitu, rakyat negeri Kim bukan manusia biasa, apa sih yang mereka miliki? Huuuh, jauh berbeda dengan bangsa Han yang memiliki negeri kaya raya dengan tanah yang luas dan subur, sejarah serta kebudayaan yang amat tingi. coba kalau raja Kim berani menyerbu, semua bangsa Han pasti akan bangkit untuk membasminya dari muka bumi, mana mungkin telur bisa diadu dengan batu? Huuuuh, itu mah berarti mencari keanehan bagi diri sendiri......"

Lalu setelah tertawa tergelak, lanjutnya.

"Haaaah......haaaah.....haaaah......"

Katanya saja.

"Biar kesuruh ayah baginda membasmi seluruh bangsa Han.....haaaah..... haaaah....... aku rasa kau sedang mengingau disiang bolong. Memangnya kau anggap bangsa Han adalah bangsa tempe? Padahal cukup dengan tenaga sejari kelingking negerimu pasti hancur dan rata dengan tanah."

Pada mulanya Kim huan kuncu masih mengawasi pemuda tersebut dengan kebingungan selesai mendengarkan perkataan tersebut tiba-tiba teriaknya keras.

"Ciangkun, orang itu jahat sekali, cepat kalian hajar dirinya habis-habisan untuk membalaskan sakit hatiku"

Ketiga makhluk raksasa tersebut segera mengepung Kim Thi sia dari tiga jurusan yang berbeda, akan tetapi mereka tak berani bergerak secara sembarangan sebab Kim huan kuncu masih berada ditengah pemuda tersebut.

Mereka kuatir bila ditindak secara gegabah hingga tuan putrinya menderita cedera, siapa yang sanggup menanggung tanggung jawab seberat itu?

Melihat ketiga makhluk itu tak bergerak sekali lagi Kim Thi sia menghembuskan napas lega.

Iapun ikut tak bergerak.

Menurut ayahnya dulu, dalam ilmu peperangan terdapat sebuah taktik yang berbunyi demikian-"

Dengan tenang mengatasi gerak, dengan ketenangan menaklukkan lawan-cari keteledoran musuh dan serangnya habis-habisan, kemenangan pasti berada dipihak kita.

Tanpa berkedip diawasinya gerak gerik ketiga orang musuhnya itu, sebaliknya ketiga makhluk raksasa itupun mengawasi dirinya lekat-lekat, tatkala sorot mata mereka saling bertemu.

Kim Thi sia cepat-cepat melihat kearah lain-Ia merasa sinar mata yang terpancar sinar dari balik mata lawan lebih tajam daripada sembilu.

sehingga ia tak mampu beradu pandangan dengannya.

Dengan tak senang hati Kim huan kuncu berseru lagi.

"Hey tak usah perduli diriku apakah kalian berani membangkang perintah?"

"Baik, akan kulaporkan peristiwa ini kepada ayah baginda."

Belum selesai perkataan itu diutarakan makhluk raksasa yang berwajah menyeramkan itu telah mendesak maju lebih kedepan. Kim Thi sia segera membentak keras.

"Barang siapa berani bergerak lagi secara sembarangan, akan kubunuh perempuan ini lebih dulu.."

Tangannya segera diangkat dan siap menghantam buru-buru Kim huan kuncu......

Tentu saja ketiga makhluk raksasa itu menjadi ketakutan, serentak mereka menghentikan langkah masing-masing.

Padahal pemuda kita berbuat demikian hanya bermaksud mencegah gerak maju lawan.

Tapi ia tak mengira bahwa tindakannya tersebut justru merupakan suatu taktik peperangan yang lihay sekali.

Kim huan kuncu membencinya setengah mati bukan saja pemuda tersebut membuatnya terkejut dan ketakutan, berulang kali ia dihina dan dicemoohkan rasa benci dan dendamnya benar-benar sudah merasuk sampai kedalam tulang sum sum.

Lagi-lagi ia membentak.

"Aku toh menyuruh kalian tak usah menggurbisku, mengapa kalian tetap berdiam diri. Aku........."

Berbicara sampai disitu, ia seperti teringat akan sesuatu, tiba-tiba matanya menjadi merah terusnya.

"Aku tahu, ayah baginda tak ada disini maka kalianpun tak sudi menuruti perkataanku lagi............."

Suaranya amat sedih, murung dan mengetuk perasaan siapapun, berbeda sekali dengan nada ketus yang diperdengarkan semula.

Kim Thi sia benar-benar beriba hati hampir saja ia meneuruti emosinya dan membebaskan gadis tersebut.

Akan tetapi ketiga makhluk raksasa itu seperti mempunyai kesulitan yang amat besar mereka saling berpandangan dengan sedih mulutnya terbungkam dan tiada reaksi apa-apapun yang diperbuatnya.

Kim Thi sia adalah seorang lelaki yang gagah dan perkasa.

Ia merasa tindakannya mempergunakan seorang gadis lemah sebagai tameng bukankah perbuatan seorang lelaki sejati.

Maka dengan secara tiba-tiba ia melepaskan dekapannya atas nona itu, kemudian katanya dengan lantang.

"Nah, dengan berbuat demikian tentunya kalian tak usah takut untuk bertindak bukan? Bila ingin berkelahi, ayolah maju bersama-sama."

Ketiga makhluk raksasa itu belumjuga bergerak.

ditunggunya sampai Kim huan kuncu pergi jauh, mereka baru terpekik girang lalu menerjang kemuka bersama-sama.

Perawakan tubuh mereka bertiga betul-betul besar lagi lebar, dalam waktu singkat Kim Thi sia hanya merasakan timbulnya deruan angin kencang dari empat penjuru, lalu terlihatlah tiga sosok bayangan hitam menyergap tiba dengan hebatnya.

Pemuda itu menjadi panik sekali, tanpa berpikir panjang ia segera menerjang kemuka dan menumbuk dengan kepalanya.

"Blaaaaammm........."

Akibat tumbukan tersebut, makhluk raksasa yang menerjang datang lebih dulu itu tergetar mundur satu langkah tapi sepasang lengannya segera menyambar dan berusaha memeluknya.

sayang usaha itu menemui kegagalan-hal ini membuat simakhluk raksasa itu mengerang penuh kemarahan-Dipihak lain, agaknya Kim huan kuncu menganggap kejadian itu sangat menggelikan, tiba-tiba saja ia tertawa cekikikan, wajahnya yang nampak begitu ceria dan cantik membuat Kim Thi sia menjadi termangu-mangu untuk berapa saat.

Tiba-tiba Kim huan kuncu mendengus dingin dan menutup wajahnya dengan ujung bajunya.

Kim Thi sia segera tersadar kembali dari lamunannya, tapi pada kesempatan itulah salah satu diantara makhluk raksasa itu sudah menerjang maju kemuka, telapak tangannya yang lebar bagaikan kipas dipentangkan dan.....

"plaaakkkk......."

Tubuh Kim Thi sia terhajar telak sehingga ia menjerit kesakitan tubuhnya mencelat sejauh empat lima kaki dari posisi semula.

Berada dalam keadaan demikian-ia tak berani bertindak gegabah lagi, ia tahu ketiga makhluk raksasa itu selain memiliki kekauatan yang luar biasa besarnya, merekapun memiliki ilmu silat yang tangguh.

Masih untung saja dia memiliki ilmu Ciat khi mi khi yang tahan pukulan cepat-cepat dia mengatur pernapasan sebentar begitu kekuatannya pulih kembali seperti sedia kala cepat-cepat dia melompat bangun kembali....

Tampaknya Kim huan kuncu merasa keheranan dengan peristiwa ini dia berseru tertahan lalu gumamnya.

"sungguh mengherankan, padahal Hon ciangkun luar biasa hebatnya. seekor harimaupun mampu dicabik-cabik secara mudah, kenapa lelaki bau itu tidak sampai mampus......?"

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagat, Kim Thi sia dapat menangkap suara gumaman itu secara cepat, diam-diam ia tertawa geli kemudian sambil membalikkan badan ia menerjang makhluk raksasa yang berada disebelah timur.

Ketika empat telapak tangan saling beradu satu dengan yang lain terjadilah suara bentrokan yang keras sekali.

"Duuuuuuk...."

Pasir dan debu beterbangan keangkasa, lagi-lagi tubuhnya mencelat sejauh empat lima kaki dari tempat semula bagaikan layang-layang yang putus benang dan terbanting keras-keras diatas tanah.

Kini, celananya sudah robek tak karuan lagi bentuknya bahkan celana dalampun sudah kelihatan tapi semuanya itu tidak membuatnya sedih, ia malah kegirangan setengah mati.

sebab pada bentrokan yang terakhir ini ia menemukan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat dan jauh berbeda dengan kekuatannya dulu.

Padahal jangka waktunya belum lama dari sini dapat disimpulkan kalau masa depannya pasti cemerlang.

Berpendapat sampai disini diam-diam pikirnya lagi dengan perasaan terkejut bercampur girang.

"Coba kalau bentrokan ini berlangsung dua tiga hari berselang, niscaya badanku akan mencelat sejauh sepuluh kaki lebih dari posisinya semula........."

Kenyataan memang membuktikan kalau tenaga dalam yang dimiliki ketiga orang makhluk raksasa tersebut tidak berada dibawah kemampuan ketua Tay sangpang sipukulan penggetar langit Khu It kim.

Jikalau Khu It kim sanggup menghajarnya hingga mencelat sejauh delapan kaki lebih berarti ketiga orang raksasa inipun mampu melakukan hal yang sama.

Tanpa terasa semangatnya berkobar dengan hebatnya, ia segera berpaling dan memperhatikan lawannya.

Waktu itu, ketiga makhluk raksasa tadipun sedang mengawasinya dengan seksama, mereka tidak bergerak karena belum mengetahui bagaimanakah nasib lawannya.

Maka sambil tertawa nyaring, pemuda kita segera melompat bangun dan maju menghampiri mereka.

Benar juga, ketiga makhluk raksasa itu segera tertegun dibuatnya, sepasang mata mereka sempat terbelalak lebar.

Raksasa yang berada disebelah kiri itu mengerang secara tiba-tiba.

Kemudian mengayunkan tangannya menyerang rekannya yang berada disisi lain, dengan cepat kedua orang tersebut disisi lain, dengan cepat kedua orang tersebut sudah saling beradu tenaga satu kali.

Ditengah bentrokan yang memekikkan telinga, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh satu langkah.

Kepandaian yang berusaha mereka lakukan membuktikan kalau ilmu silat yang mereka miliki sama sekali belum pernah, tapi anehnya serangan gabungan dari mereka bertiga tak berhasil membunuh pemuda tersebut?

Kim Thi sia amat geli, segera ejeknya.

"Hey, mengapa kalian bertiga tidak melancarkan serangan bersama-sama? Kalau menyerang secara bergilir satu demi satu. selamanya aku tetap hidup dengan segar bugar."

Ketiga orang makhluk raksasa itu saling berhadapan sekejap.

sorot mata mereka segera memancarkan sinar tajam, sambil berpekik keras, tiba-tiba mereka melancarkan serangan bersama kedepan-Gabungan tenaga mereka bertiga ternyata memang luar biasa sekali dalam waktu singkat pepohonan telah dibikin goncang, pasir dan debu berterbangan keangksa, gulungan angin serangan yang membawa suara desingan tajam yang memekikkan telinga secepat kilat kemuka.

Berubah hebat paras muka Kim Thi sia, sekarang ia baru merasa menyesal sekali dengan tantangannya.

Belum sempat ingatan kedua melintas lewat, gulungan angin pukulan yang maha dahsyat itu sudah melemparkan tubuhnya hingga mencelat sejauh belasan kaki lebih.

Berada ditengah udara, ia merasakan kepalanya pening tujuh keliling dadanya terasa sakit sekali napasnya sesak dan sekujur badannya menjadi kaku serta mati rasa.

"Aduh celaka"

Pekiknya dihati.

Tapi saat itulah badannya sudah terlempar masuk kebalik sebatang pohon dengan dedaunan yang rimbun-Batang dan ranting pohon berguguran keatas tanah diiringi suara benturan keras, tubuhnya sekali lagi terbanting keras-keras keatas semak belukar.

Dada bahu lengan dan kakinya segera terluka dan mengucurkan darah sementara bagian tubuh yang lain dipenuhi luka guratan terkena duri-duri semak yang tajam.

Walau tak sampai mampus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa daripada kematian begitu terbanting keatas tanah, ia segera jatuh tak sadarkan diri Dengan cepatnya ketiga makhluk raksasa itu memburu datang ketika dilihatnya pemuda itu sudah tak berkutik lagi, lengan dan kakinya sudah mendingin.

Mereka mengira lawannya sudah mati diiringi gelak tertawa aneh, mereka segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Kim Thi sia sudah mencoba untuk meronta apa daya seluruh badannya terasa kaku dan mati rasa, terpaksa dia mengurungkan niatnya itu.

Meski begitu Kim Thi sia tidak menyerah kepada nasib, diam-diam ia berusaha mengatur pernapasan dengan ilmu Ciat khi mi khinya.

Apalagi dalam bentrokan yang terjadi barusan ia berhasil menghisap sejumlah hawa murni yang tak sedikit jumlahnya sekalipun sekujur badannya dibikin kesemutan hingga tak mampu berkutik lagi.

Ia segera mengerti bahwa hanya meronta saja tak ada gunanya, ia membutuhkan istirahat sekarang, namun ia tak mampu mengendalikan rasa mangkelnya, beberapa kali dia ingin berteriak untuk menyatakan bahwa ia belum mampus.....

Tapi sayang ia tak mampu berbicara sehingga niatnya itu terpaksa diurungkan kembali.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Kim huan kuncu berkata dengan suaranya yang merdu.

"Ciangkun, disakunya terdapat sebilah pedang mestika yang indah sekali, aku menginginkan benda itu....."

Dibalik nada pembicaraannya ternyata tak tersalip rasa iba atau kasihan karena kematiannya, dalam sekejap mata itulah tiba-tiba Kim Thi sia merasa sangat membencinya.

"Bila aku masih mempunyai sedikit kekuatan pasti akan kucemooh dan kuhina dirinya......"

Demikian ia berpikir dihati.

sayang sekali hal tersebut tak mampu dilakukan karena tenaga untuk berbicara pun sudah tidak dimiliki lagi sekarang.

Hawa murni beredar sekali demi sekali peredaran tersebut berlangsung amat lambat membuat Kim Thi sia gelisah, masgul dan sangat mendongkol...

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yang amat berat.

Kim Thi sia segera memejamkan matanya rapat-rapat.

Tapi ia sempat mendengar gelak tertawa aneh yang makin lama semakin menjauh.

Menanti ia membuka matanya kembali pedang mestika leng gwat kiam sudah lenyap dari sisi tubuhnya.

Rasa gusar dan benci segera bercampur aduk menjadi satu, entah karena tenaga dalamnya telah pulih kembali ataulah disebabkan desakan semangatnya yang berkobar-kobar tahu-tahu ia dapat duduk kembali.

Dikejauhan sana ia saksikan ketiga orang makhluk aneh tersebut sedang berjalan meninggalkan tempat tersebut mengiringi Kim huan kuncu yang cantik.....

Ia tak sanggup menahan diri lagi dengan penuh amarah teriaknya keras-keras.

"Bajingan busuk. kembalikan pedangku"

Dengan perasaan terkejut ketiga makhluk raksasa serta Kim huan kuncu berpaling.

Kim Thi sia meronta dengan sepenuh tenaga, namun ia tak mampu berdiri kembali.

Dalam waktu singkat ketiga makhluk raksasa tadi telah berjalan balik, dari balik matanya yang lebar terpancar pancaran sinar benci dan napsu membunuh yang tebal.

Melihat kehadiran ketiga orang musuhnya Kim Thi sia kembali merasa menyesal, tapi belum lenyap ingatan tersebut, ingatan lain telah melintas kembali, dengan suara keras segera umpatnya.

"Biarpun hati ini aku Kim Thi sia bakal mampus ditangan kalian, tapi dua puluh tahun kemudian pasti akan muncul seorang Kim Thi sia lagi yang akan membalaskan dendam bagi kematianku"

Ketiga makhluk raksasa itu telah mengayunkan telapak tangannya bersama-sama dibawah sinar rembulan tampak cepat segumpal cahaya merah membara dibalik telapak tangannya ya lebar itu, entah ilmu silat apa yang mereka latih.

setelah sadar bahwa kematian segera akan tiba Kim Thi sia malah tidak merasa takut barang sedikit jua.

sambil berpeluk tangan diawasinya ketiga orang itu dengan sinis.

Jarak antara kedua belah pihak kian lama kian bertambah dekat, tiba-tiba ketiga orang raksasa itu berpekik nyaring sambil menerjang maju kedepan.

Jangan dilihat tubuh mereka yang tinggi besar hingga kelihatan lamban, ternyata ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki terbukti sangat tangguh.

Tapi sedetik sebelum serangan mereka bertiga dilontarkan, mendadak terdengar lagi Kim huan kuncu berkata merdu.

"sudahlah, lebih baik ia belum mampus kalau tidak hatiku pasti tak akan tenteram."

Agaknya ketiga makhluk raksasa itu amat menurut perkataannya.

serentak mereka hentikan perbuatannya lalu setelah melototi pemuda itu sekejap dengan penuh kebencian mereka membalikkan badan dan berjalan balik, sebelum hilang rasa gusar Kim Thi sia tentu saja ia tak sudi menerima kebaikannya, kembali umpatnya.

"Hey, kalau toh sudah berniat menjadi perampok, apa gunanya berlagak sok berwelas kasih?"

Kim huan kuncu segera menghentikan langkahnya seraya berpaling selapis hawa amarah menyelimuti wajahnya yang cantik serunya.

"Huuuh, apa sih kedudukanmu? Berani amat mencaci maki diriku......."

Serentak ketiga orang makhluk raksasa itu membungkukkan badannya siap menerima perintah. Tapi dengan lembut Kim huan kuncu mengulapkan tangannya seraya berkata lagi.

"Sudahlah, ampuni selembar jiwanya sekali lagi"

Sambil tertawa dingin Kim Thi sia segera berseru.

"Heeeh......heeeh......heeeh......sekarang kau boleh bergaya dihadapanku tapi jangan lupa aku Kim Thi sia masih akan menuntut balas atas perlakuanmu hari ini. Pergi saja kau pokoknya suatu saat aku orang she Kim pasti akan menuntut kembali pedang Leng gwat kiam tersebut......."

Kim huan kuncu mendengus dingin-"Hmmmm, apa sih hebatnya dengan sebilah pedang mestika? biar kau tak rela, biar kubeli berapapun harganya."

Sambil berkata ia mengeluarkan tiga butir mutiara yang gemerlapan dan segera diangsurkan kedepan-Mutiara itu besarnya seperti buah kelengkeng, sebutirpun nilainya sudah tak terhitung apalagi tiga sekaligus.

Boleh dibilang harganya bisa menjadikan seseorang menjadi jutawan baru.

sayang sekali orang yang dihadapinya adalah Kim Thi sia yang tak membutuhkan harta kekayaan sikap gadis tersebut hendak membeli pedangnya dengan uang justru dinilai sebagai suatu penghinaansaking gusarnya pemuda kita sampai tak mampu berkata-kata, dia hanya bisa bergumam dihati.

"Aku pasti akan menyiksamu pasti......kau terlalu menghina aku kelewat memandang rendah nilaiku sebagai seorang lelaki"

Kim huan kuncu mengira pemuda tersebut tertarik dengan mutiaranya ia semakin mencemoohnya makin memandang rendah dirinya, sehabis mendengus ia segera membalikkan badan dan beranjakpergi dari sini.

Merah membara sepasang mata Kim Thi sia tiba-tiba ia berteriak keras dan merangkak kedepan dipungutnya ketiga butir mutiara tersebut kemudian dibuang jauh-jauh dari situ teriaknya lagi sambil tertawa seram.

"Heeeeeh......heeeeeh......heeeeeeh....... perbuatanmu memang benar, bagus sekali perbuatanmu, aku Kim Thi sia benar-benar takluk. Haaaah.....haaaah......haaaah...."

Kim huan kuncu menghentikan langkahnya sewaktu mendengar seruan tersebut ia segera berkerut kening sesudah melihat kelakuan pemuda tadi katanya terkejut bercampur keheranan-"Kalau kau tak mau menerima ya sudahlah pokoknya pedang ini sudah kubeli."

Dalam pada itu dua orang makhluk raksasa telah menggotong keluar sebuah tandu kecil dari balik pepohonan.

sambil memeluk pedang Leng gwat kiam itu.

Kim huan kuncu naik keatas tandu kecil lalu diikuti tiga orang raksasa lain berlalulah mereka dari situ dengan kecepatan tinggi.

Angin malam berhembus lewat suasana disekeliling tempat itu pulih kembali dalam keheningan-Kim Thi sia termangu-mangu, mendadak ia mendengar suara petikan khim bergema datang dari kejauhan sana.

sewaktu diperhatikan dengan seksama, ternyata suara itu berasal dari tempat dimana Kim huan kuncu pergi tadi....

Entah mengapa setelah mendengar suara petikkan khim yang merdu merayu itu semua rasa benci dan gusarnya hilang lenyap seketika.

Makin didengar suara petikan khim itu semakin merayu.

Kim Thi sia segera terlelap dalam lamunan yang panjang.

"Tak nyana ia pandai sekali memetika harpa dan membawakan lagu yang begitu merdu."

Tak lama kemudian alunan suara merdu itu makin meninggi tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan pergolakan darah dalam dadanya membara. Lalu bayangan wajah Lin linpun melintas didalam benaknya.

"Entah bagaimana dengan dia sekarang?"

Ingatan tersebut memenuhi pikirannya. Tanpa terasa diapun mulai membanding-bandingkan antara Lin lin dengan Kim huan kuncu, pikirnya.

"Mereka berdua sama-sama perempuan, tapi nasib mereka mengapa terdapat perbedaan yang begitu besar? Yang satu hidup bermewah-mewahan dan sangat dihormati orang, sebaliknya yang lain..."

Entah mengapa emosinya kembali berkobar sambil mengepal tinjunya ia bergumam.

"Aku harus memperlakukan dirinya secara baik, agar dia berbahagia. Agar dia berbahagia, agar hidupnya seperti Kim huan kuncu, makan hidangan lezat, pergi kemana-mana naik kereta."

Sementara itu tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala, sekujur badannya terasa amat nyaman dengan wajah merah segar, ia segera bangkit berdiri dan memungut kembali ketiga butir mutiara tersebut.

Kemudian sambil memberanikan diri ia ebrjalan menuju kegudang pembesar semula.

sepanjang jalan ia mencoba memperhatikan sekitarnya, ia berharap bisa menemukan kembali jejak Kim huan kuncu serta meminta kembali pedang Leng gwat kiamnya.

Tapi Kim huan kuncu beserta pengawalnya entah telah pergi kemana, yang nampak saat itu hanyalah serombongan manusia berbaju hitam yang bergerak menuju kearahnya.

Dengan cepat pemuda kita mendapat tahu kalau belasan orang manusia berbaju hitam itu pastilah para begundal pembesar Kang lam yang ditugaskan mencarinya.

Ia tak ingin mencari gara-gara apalagi menguatirkan keselamatan Lin lin-dengan cepat pemuda itu menerobos masuk kebalik semak belukar dan kabur dari arah yang lain-Entah berapa lama sudah lewat, tak jauh didepan sana muncul sebuah jalan raya yang cukup lebar.

Belum lagi dia melangkah kelaur dari balik semak, mendadak terdengar dua kali gelak tertawa nyaring bergema datang dari kejauhan.

suara tertawa itu sangat keras dan menusuk pendengaran-Cepat-cepat ia berjongkok dan menyembunyikan diri kebelakang sebuah batu besar.

Tak selang berapa saat kemudian, dari depan sana muncul dua orang jago pedang berperawakan sedang, terdengar salah seorang diantaranya berkata sambil tertawa tergelak.

"Engkoh Pul, aku dengar murid-murid Tiong goan su liong telah dibunuh oleh seorang manusia berkerudung dalam semalaman saja tanpa sempat memberi perlawanan, coba bayangkan peristiwa itu menggelikan tidak."

"Ya a, menggelikan sekali"

Sahut orang she pul itu sambil tertawa.

"Keempat tua bangka Tionggoan su liong bukannya menyalahkan diri sendiri. Yang sudah tua dan mulai lemah sehingga tak mamcu mendidik murid sendiri sebaliknya malah datang kegedung kita dan melakukan penyelidikan sampai berapa kali. Hmmm, andaikata suhu tidak kasihan melihat kepanikan mereka niscaya dia akan menyindirnya dengan kata-kata pedas, kau tahu suhu tak pernah cocok dengan mereka berempat."

"Haaaaah....haaaaah....haaaah....sebenarnya Tionggoan su liong masih terhitung jagoan tapi gara-gara peristiwa itu, mereka telah kehilangan pamornya. Bukan begitu?"

"Tentu saja, tentu saja"

Sahut orang she Pul itu sambil tertawa tergelak.

"Kalau kubayangkan wajah mereka berempat sewaktu panik. oooh....benar-benar menggelikan...."

Maka kedua orang itupun tertawa terpingkal-pingkal tiada hentinya......

Kedua orang tersebut paling banter baru berusia dua puluh tiga empat tahunan, tapi kenyaringan suara tertawanya benar-benar menggetarkan perasaan siapapun.

Kim Thi sia mendongkol sekali, sebab Tionggoan su liong disebut sebagai tua bangka, lagipula nadanya amat menghina pikirnya.

"Jelek-jelek Tionggoan su liong masih terhitung juga sebagai tokoh dunia persilatan jagoan dari angkatan tua, masa mereka berdua sebagai anak muda berani mencemooh sesuka hatinya sendiri."

Akan tetapi sebelum ia sempat turun tangan, perasaannya menjadi tenang kembali.

Peristiwa yang dialaminya berulang kali pada berapa hari berselang membuat pemuda itu bertindak lebih waspada.

Ia tahu tenaga dalam yang dimiliki kedua orang tersebut telah mencapai puncak kesempurnaan hal ini bisa diketahui dari gelak tertawanya yang nyaring.

Itu berarti ia pasti bukan tandingannya daripada mencari penyakit buat diri sendiri.

Apa salahnya kalau berpeluk tangan belaka sambil menyadap pembicaraan mereka?

Karenanya diapun berpikir.

"Bila kalian berdua berani memakai lagi biar mesti pertaruhkan selembar nyawapun pasti akan kubelai martabat serta nama baik Tionggoan su liong......"

Kedua orang jago tersebut memang nyata sekali kelihayannya.

Begitu tubuhnya bergerak mereka segera merasakan kehadirannya dan berpaling.

Empat buah mata yang memancarkan sinar taham memandang sekejap kearahnya lekat-lekat.

Untung Kim Thi sia telah bersiap sedia, cepat-cepat la menyembunyikan diri kebelakang batu besar.

setelah mengamati sekejap sekitar sana kedua orang itu baru tertawa tergelak lagi.

"Haaaah......haaaah....haaaah......saudara Pui, setiap kali membicarakan soal Tionggoan su liong, mengapa sih kita jadi kebingungan macam bertemu setan saja? memangnya kita sudah takut kepadanya?"

"Omong kosong, aku mah tak bakal takut, kenapa aku mesti takut dengan empat orang tua bangka yang sudah dekat dengan liang kubur?"

"Yaa betul, toh tidak ada salahnya kita membicarakan tentang mereka berempat...."

Berbicara sampai disitu, kembali mereka berdua tertawa terbahak-bahak..... Kim Thi sia mengerutkan dahi pikirnya.

"Edan rupanya, masa tak ada persoalanpun tertawa melulu sejak awal sampai akhir tak habisnya tertawa memangnya sudah tidak waras barangkali.........."

Tak lama kemudian terdengar lelaki she Pui itu berkata lagi.

"saudaraku menurut perasaanku nampaknya nama besar kita Dua bocah ajaib berwajah tertawa kian lama kian bertambah termashur, padahal sejak meninggalkan suhu hingga kini baru lewat dua bulan tapi kenyataannya dimanapun membicarakan soal kita........"

Sekali lagi Kim Thi sia berkerut kening pikirnya.

"Dua manusia bermuka tebal masa ada orang memuji diri sendiri........."

Sementara itu rekannya telah berkata pula sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah......haaaaah......haaaaah......aku sendiripun keheranan, rasanya kita berdua tak pernah melakukan pekerjaan besar, mengapa setiap orang justru menyanjung dan menghormati kita?"

Lelaki yang disebut saudara Pui tadi segera menepuk-nepuk bahunya sambil berkata.

"Bukan cuma begitu, aku dengar ketua perkumpulan Tay sang pang yang bernama It Kim pun punya maksud untuk mengajak kita bersaudara sebagai menantunya. Aku dengar kedua orang putri kesayangannya yang dianggap bagaikan nyawanya sendiri itu hendak dikawinkan kepada kita. Menurut pendapatmu haruskah kita menerimanya....."

"Menakutkan, sungguh menakutkan-seru pemuda yang berada disebelah kiri sambil mengangkat bahu.

"Tentu saja kita tak boleh menerima lamarannya dengan begitu saja. Usia kita belum tua tapi pamor serta nama besar kita termashur dimana-mana. Berarti masa depan kita masa yang akan cemerlang. Kenapa kita mesti memendam karier dan masa depan kita hanya gara-gara dua orang perempuan?"

"Tapi......"

Pemuda yang disebut saudara Pui itu sengaja berkerut kening.

"Aku dengan Khu It kim bersikeras hendak menjodohkan kedua orang putrinya kepada kita. Apa yang harus kita lakukan? Bila diterima rasanya berat, bila ditolak Khu It kim si tua bangka itu tentu akan merengek-rengek kita dengan wajah yang memelas..........."

Sementara itu Kim Thi sia yang menyadap pembicaraan tersebut merasa mendongkol bercampur geli, namanya saja mentereng.

sepasang bocah berwajah senyum, nyatanya hampir setiap menit, setiap detik tiada hentinya mereka membuat lelucon yang menggelikan hati.

Tanpa terasa iapun berpikir.

"Kejadian aneh didunia ini memang amat banyak, kalau dihitung-hitung maka kedua orang ini bisa menempati urutan yang pertama"

Sementara itu, pemuda yang berada disebelah kiri itu sudah menundukkan kepalanya kembali sambil menunjukkan muka murung.

Akhirnya setelah berpikit setengah harian lamanya, dengan perasaan apa boleh buat ia berkata.

"Baiklah, baiklah siapa suruh nama besar kita terlalu terkenal, pohon besar tentu mengundang angin, terpaksa kita harus menghadapinya."

"saudaraku.. ...."

Kata orang she Pui itu kemudian dengan wajah murung.

"Padahal baru dua bulan kita munculkan diri didalam dunia persilatan, tapi nama besar kita sudah makin terkenal dimana-mana, bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus. Waaaah.....bukan main, nampaknya jalan yang terbaik untuk kita adalah mencukur rambut menjadi pendeta......."

Kedua orang itu saling berpandangan sekejap. kemudian sama-sama mengangkat kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Entah murid siapakah kedua orang ini?"

Pikir Kim Thi sia lagi.

"Tapijika dilihat dari gerak gerik mereka, nampaknya ilmu silat yang dimiliki guru mereka hebat sekali. Namun pasti bukan berasal dari perguruan kaum lurus......"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba dari kejauhan sana tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang tanpa menimbulkan sedikit suarapun-Gerak tubuhnya begitu cepat sehingga dalam satu kedipan mata saja bayangan tubuhnya yang tinggi kurus tadi telah berdiri dibelakang tubuh sepasang bocah berwajah senyum.

Kim Thi sia yang menyaksikan adegan itu, diam-diam menjulurkan lidahnya, kembali dia berpikir.

"Bila dalam sepuluh tahun kemudian ilmu silatku dapat mencapai tingkatan seperti ini saja, hatiku sudah merasa puas sekali, karena semua harapanku dapat tercapai."

Kim Thi sia percaya ilmu silat yang dimiliki sepasang bocah berwajah senyum sangat lihay sekali, tapi sekarang walaupun orang berperawakan jangkung itu telah berdiri dibelakang tubuh mereka, ternyata mereka masih belum juga merasakan bahkan sambil berangkulan mereka tetap tertawa terbahak-bahak.

segulung angin dingin berhembus lewat tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan dadanya menjadi sesak, hawa dingin yang berhembus membuat bulu kuduknya pada bangun berdiri.

suatu firasat jelekpun melintas dalam benaknya dengan cepat.

Diam-diam ia mencoba untuk melirik kembali kearah orang tersebut.

Tapi dengan cepatnya dia menjadi amat kaget bahkan hampir saja bersuara.......

Untung saja pemuda kita cukup menyadari akan bahaya yang sedang mengancam sehingga suara jeritan yang hampir meluncur keluar dari mulutnya itu segera ditelan kembali, napasnya segera ditahan sementara sorot matanya yang memancarkan sinar kaget dan ngeri diam-diam mengawasi manusia jangkung yang berdiri kaku dihadapannya sana.

Perawakan tubuh orang itu sangat dikenal olehnya sebab dia tak lain adalah simanusia dengki yang telah membunuh cungpiau pacu dari tujuh propinsi wilayah selatan tempo hari.

Peluh dingin yang telah membasahi seluruh telapak tangan Kim Thi sia sementara jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat daripada biasanya.

Malam yang dingin terasa makin dingin, malam yang gelap menambah seram suasana sekeliling tempat itu terutama dengan hadirnya manusia bertubuh jangkung ini, entah berapa banyak ancaman maut yang bakal tersebar dari tubuhnya.

Kim Thi sia mengerti apa yang hendak dilakukan simanusia dengki tersebut degan kehadirannya disana.

Ya a, sepasang bocah berwajah senyum telah berhasil membangun nama serta kedudukan yang cukup tinggi didalam dunia persilatan-Hampir semua orang menyinggung namanya, membicarakan kehebatannya.

Tapi justru karena itulah nasib mereka jadi tak menentu karena maut siap mencabut nyawanya .Justru karena usia mereka masih muda dan masa depannya tak terbatas.

Maka simanusia dengki itu terpancing untuk melakukan pembunuhan atas diri mereka.

Dengan sorot mata yang dingin menggidikkan manusia dengki itu mengawasi sekejam sekeliling tempat itu sinar matanya yang tajam bagaikan sembilu dan dingin bagaikan salju itu segera membuat perasaan Kim Thi sia bergidik dan ngeri hampir saja jejaknya ketahuan-Untung nyalinya cukup besar dan pikirannya cukup tajam ia berusaha untuk menahan diri serta tetap mendekam ditempat persembunyiannya.

sungguh menggelikan sepasang bocah bermuka tertawa itu ternyata mereka masih belum sadar kalau maut telah mengancam keselamatan jiwanya.

Mungkin bahan lelucon yang mereka cipta ka n kelewat batas sehingga mereka sendiripun tak mampu mengendalikan diri Dengan diliputi perasaan kaget ngeri dan kasihan Kim Thi sia berharap terjadinya sesuatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan, ia berharap manusia berkerudung yang munculkan diri saat itu bukanlah manusia berkerudung yang pernah dijumpainya tempo dulu.

Tentu saja pengharapan tersebut terasa amat tipis, bahkan boleh dibilang sama sekali tak mungkin terjadi.

Lama.....lama sekali.......keheningan yang mengerikan serasa mencekam seluruh angkasa.

Akhirnya manusia berkerudung itu buka suara, dengan suara yang lembut tapi penuh bertenaga ia bertanya.

"Apakah kalian berdua adalah sepasang bocah berwajah tertawa?"

Dengan suatu gerakan cepat sepasang bocah berwajah tertawa membalikkan badannya, paras muka mereka nampak berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat.

Perasaan terkejut dan ngeri yang luar biasa membuat kedua orang tersebut tak mampu berkata-kata.

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 25

Baca Juga: Pendekar Binal 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert