Eps 4 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
Padahal mereka berdua menganggap kepandaian silat yang dimilikinya telah mencapai taraf yang luar biasa dan tiada bandingannya lagi didunia ini.
Tapi dalam kenyataannya, mereka sama sekali tidak merasa kalau ada orang yang telah berdiri dibelakang tubuhnya, peristiwa semacam ini boleh dikata merupakan suatu peristiwa yang amat memainkan mereka.
Pemuda dari marga Pui itu kontan saja menunjukkan wajah tak senang hati.
Dengan pandangan mata yang dingin dan mendongkol dia awasi orang berkerudung itu dari ujung kepala sampai keujung kaki, tapi sewaktu sepasang matanya saling beradu pandangan dengan sorot mata manusia berkerudung itu, tanpa terasa cepat-cepat dia melengos...
Tapi kemudian, sekali lagi dia mengawasi kain kerudung hitam yang menutupi wajah orang itu.
Lama sekali pemuda itu tertegun, mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, sambil menjerit kaget tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang.
Perasaan kaget, ngeri takut dan seram dengan cepat menyelimuti serta mencekam seluruh tubuh mereka.
"Buuu......bukan-......bukankah kau ad..... adalah......."
Suaranya terbata-bata lagi pula bernada gemetar, dari sini bisa diketahui betapa takutnya kedua orang tersebut.
semua keangkuhan kejumawaan dan kesombongan serasa hilang dan tak berbekas.
Suatu ingatan yang mengerikan merangsang daya kerja rasa takut mereka berdua.
Kalau tadi mereka masih bisa membuat lelucon sambil tertawa tergelak.
maka sekarang untuk berbicarapun suaranya tak jelas lagi.
Paras muka kedua orang itu berubah dari merah menjadi pucat, lalu dari pucat menjadi kehijau-hijauan, akhirnya paras muka yang hijau membesi itu berubah menjadi keabu-abuan-Tak jauh berbeda seperti wajah kakek yang hampir sekarat.
Dengan sorot mata yang tetap tajam dan menggidikkan hati, kembali manusia berkerudung itu mengawasi lawannya lekat-lekat.
Lalu menegur untuk kedua kalinya.
"Benarkah kalian berdua adalah sepasng bocah berwajah tertawa?"
Bagaikan orang yang meronta disaan sekarat, kedua orang pemuda itu segera menjerit lengking.
"Benar....."
"Bagus sekali"
Kata manusia berkerudung itu kemudian-Meski hanya terdiri dari dua patah kata namun mengandung artinya yang banyak sekali.
Dengan perasaan ngeri dan takut sepasang bocah berwajah tertawa mundur terus tiada hentinya, tiba-tiba mereka mencabut pedang masing-masing.
Tapi sebelum kedua bilah pedang itu sempat dipergunakan, bagaikan sukma gentayangan saja manusia berkerudung itu sudah bergerak maju kedepan....
sementara Kim Thi sia masih menonton dengan perasaan tegang entah secara bagaimana tahu-tahu pedang yang semula berada ditangan sepasang bocah tertawa itu sudah terjepit oleh jepitan jari tangan kiri dan kanannya.
menyusul kemudian-"Criiiinggg....."
Sepasang pedang itu sudah patah menjadi dua bagian dan rontok keatas tanah.
sepasang biji mata dua orang pemuda itu melotot besar bagaikan mau melompat keluar.
Dengan penuh perasaan yang menyeramkan mereka memandang sekejap kutungan pedangnya yang tergeletak ditanah, lalu sambil menjerit ketakutan serunya keras-keras.
"Mau......mau apa kau.........."
"Bagus, bagus sekali"
Kata manusia berkerudung itu singkat.
"Ilmu silat kalian bagus nama dan pamor kalian cemerlang....aku rasa kalian berdua sudah cukup bergembira bukan."
Pemuda she Pui itu tak sanggup menerima teeor semacam ini lebih lanjut, mendadak pandangan matanya serasa menjadi gelap dan tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.
Melihat rekannya sudah roboh, pemuda kedua tak mampu mengendalikan diri lagi.
Ia menjerit histerius kemudian melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat tersebut.
Manusia berkerudung itu sama sekali tak bersuara, tidak nampak bagaimana ia menutulkan ujung kakinya keatas tanah, tidak nampak juga bahunya bergerak.
tetapi tahu-tahu tubuhnya yang jangkung itu telah berada disisi kiri pemuda tersebut menyusul kemudian sebuah totokan jari tangan dilontarkan kedepan Jeritan ngeri yang memilukan hatipun bergema membelah kegelapan malam dan memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu, tubuh pemuda itu segera nampak roboh terjungkal mencium tanah.
Manusia berkerudung itu tidak berpaling barang sekejappun-selangkah demi selangkah ia melanjutkan perjalanannya mendekati tempat orang she Pui tadi roboh.
Pelan-pelan ia membungkuk lalu jari tangan kembali melepaskan totokan kebawah.
Kim Thi sia betul-betul tak tega menyaksikan peristiwa ini, buru-buru dia melengos kearah lain-Meski begitu benaknya telah dipenuhi cekaman perasaan tegang, kaget dan ngeri, biarpun waktu berlangsung amat singkat, namun bagi perasaannya seakan-akan dia telah melewati kehidupan yang berat selama bertahun-tahun lamanya.
Tiba-tiba saja dia membenci keheningan yang mencekam sekeliling tempat itu mengapa tidak muncul serombongan manusia yang bersenjata lengkap dan menyerang manusia berkerudung tersebut habis-habisan?
Baginya, dia lebih suka mengalami ketegangan dalam pertarungan ketimbang menyaksikan suatu adegan seram yang menggidikkan hati ditempat yang begitu hening dan sepi.
Menanti Kim Thi sia mengintip kembali ketempat kejadian ternyata suasana disitu telah berubah menjadi hening kecuali selembar besar kain baju berwarna keperak-perakan, disitu tak nampak sesuatu apapun-
Jilid 13 Manusia berkerudung itu sudah lenyap kedua sosok mayat dari pasangan bocah berwajah tertawapun turut hilang tidak berbekas.
Satu ingatan yang menyeramkan segera melintas kembali didalam benaknya.
"Siapakah dia? Siapakah manusia dengki yang berkerudung dan mengerikan hati ini?"
Tapi begitu rasa takut hilang, timbul perasaan gusar dan dendam didalam hati keCilnya, segera gumamnya.
"Suatu hari aku pasti akan membasmi bajingan itu dari muka bumi, entah siapapun orangnya."
Tergesa-gesa dia meninggalkan tempat persembunyiannya sambil meneruskan perjalanan, hanya perasaannya memang berbeda sekali ketika ia baru datang tadi.
Kini sepasang kakinya terasa berat dan seakan-akan diberi beban yang banyak.
Pemuda ini baru sadar setibanya kembali digedung pembesar Kanglam, cepat-cepat dia merangkak naik dari dinding pekarangan.
Disebuah tanah lapang ia saksikan Cahaya obor telah menerangi sekeliling tempat itu.
Bahkan nampak sejumlah besar tentara kerajaan danjago silat melakukan perondaan disana.
Tampaknya bila seseorang sudah terjebak ditempat tersebut, biar punya sayappun sukar untuk meloloskan diri.
Disisi gundukan api unggun yang berada disebelah barat, tampak duduk lima orang manusia berbaju perlente yang mukanya dirundung kesedihan.
Kim Thi sia segera dapat mengenali kembali, diantara mereka terlihat juga kakek seperguruannya sipedang kayu serta sijagoan delapan penjuru Kek Jin.....
Waktu itu, sipedang kayu sedang memukul-mukul tanah dengan sebatang ranting kering.
sementara sorot matanya mengawasi jilatan api unggun tanpa berkedip.
Entah apa yang sedang dipikirkan Kim Thi sia merasa amat iba, dia mengerti apa yang dipikirkan oleh abang seperguruannya ini.
Diapun sadar apa yang menganjal dihati abang seperguruannya, tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur, disesali juga tak ada gunanya.
Maka dengan langkah yang berhati-hati sekali dia menyelinap masuk dengan jalan melompati pagar pekarangan, lalu dengan bergerak menempel diatas dinding ia berusaha menghindarkan diri dari pengawasan para pengawal tersebut.
sementara itu sipedang kayu telah bersuit keras dengan kening berkerut, ia seperti telah berhasil memikirkan sesuatu.
begitu suitan bergema, ratusan orang tentara kerajaan tadi serentak berkumpul dan membentuk barisan yang rapi sambil menantikan perintah.
Cepat-cepat Kim Thi sia menyelinap kedepan dan bersembunyi dibelakang gedung sambil mencoba menyadap pembicaraan mereka.
Terdengar sipedang kayu berkata dengan suara berat.
"Pembesar Kanglam menyatakan amarahnya karena putri Kim huan telah diculik orang, sebetulnya kejadian tersebut merupakan tanggung jawab kalian yang mendapat tugas untuk mengawal serta menjaga gedung ini. Tapi berhubung orang yang melakukan penculikan justru adalah adik seperguruanku sendiri, maka itu ceritanya menjadi lain. sampai kini rombongan kedua yang dikirim keluar belum juga datang melapor. Besar kemungkinan merekapun telah mengalami nasib yang jelek. karenanya sekarang aku pingin bertanya siapakah diantaranya kalian yang bersedia untuk berangkat sebagai rombongan ketiga? Coba angkat tangan saja bagi yang berminat Cuma ada satu hal yang perlu diingat, adik seperguruanku itu hanya boleh ditangkap hidup, hidup dan jangan dibunuh, bagi mereka yang berjasa diberi hadiah besar. Tapi bagi yang melanggar. HHmmmmm, begitu aku berhasil mengetahui pelanggaran yang diperbuatnya hukuman besar akan segera kujatuhkan. Nah, siapakah sipemberani yang bersedia angkat tangan?"
Baru selesai ucapan tersebut diutarakan, ada empat lima puluhan orang yang meng angkat tangannya tinggi-tinggi. sipedang kayu segera menghitung jumlahnya, kemudian berkata lebih jauh.
"Bagus sekali, harap bentuk sebuah barisan lain disebelah sana, tapi kalianpun harus perhatikan, adik seperguruanku itu berasal dari satu perguruan denganku. Meski dalam hal ilmu silat agak rendah dibandingkan diriku, namun selisihnya tak akan terlalu banyak, karena itu dalam pertarungan nanti jangan menaruh sikap pandang enteng. gunakan sistem pertarungan roda berputar untuk memeras habis tenaganya. Kemudian setelah dia lelah baru dibekuk hidup,hidup,"
Keempat lima puluhan orang jago itu serentak mengiakan kemudian mempersiapkan senjata masing-masing untuk berangkat, suasana berubah menjadi hiruk pikuk. Dengan suara dalam sipedang kayu berseru lagi.
"Kalian boleh ikuti diriku sekarang andaikata ada orang persilatan yang menganggap tindakan kita ini kelewat menyolok.
segala sesuatunya menjadi tanggung jawabku untuk penyelesaian awas jangan bertindak sendiri-sendiri........"
Ketika semua orang telah selesai mempersiapkan diri, berangkatlah mereka meninggalkan gedung tersebut dengan meng ikuti dibelakang sipedang kayu.....
sedangkan si jagoan delapan penjuru Kek Jin bersama sisa jago lainnya tetap melakukan perondaan didalam gedung sikap mereka serius dan tidak berani berayal tampaknya amarah dari pembesar Kanglam itu membuat semua orang tak berani bersikap main-main, sebab siapa teledor dialah yang bakal sial.
Bukan cuma menghancurkan mangkuk nasi sendiri bisa jadi akan dijatuhi hukuman mati.
selama berapa tahun memangku jabatannya, si pembesar dari kanglam inipun baru pertama kali ini marah besar, karenanya setiap petugas keamanan merasakan hatinya tak tenteram seolaholah mereka takut kalau tanggung jawab tersebut dilimpahkan keatas bahu mereka.
sementara itu Kim Thi sia telah menyelinap kebalik gedung dengan langkah yang sangat berhati-hati, dia langsung mendekati kamar tidur Lin lin-Tapi ia tak berani bergerak lebih lanjut, sebab dikedua sisi ruangan tersebut berdiri sebaris tentara kerajaan yang melakukan penjagaan dengan senjata lengkap.
Andaikata ia hendak kesitu berarti puluhan orang prajurit tersebut harus dirobohkan lebih dulu.
Padahal kepandaian silat yang dimilikinya sekarang masihamat terbatas mustahil baginya untuk merobohkan sekian banyak orang dalam satu gebrakan.
oleh sebab itu ia tak berani melakukan tindakan ibarat menggebuk rumput mengejutkan sang ular.
Bila kehadirannya sampai ketahuan semua petugas, bisa berabe akhirnya.
Lama juga dia menunggu tapi kawanan prajurit tersebut sama sekali tak beranjak dari posisinya semula.
Kim Thi sia mulai gelisah, matanya mulai dipentangkan lebar-lebar tapi selalu menggigit bibir menahan diri apa pula yang bisa diperbuat olehnya?
Ketika ia mencoba melirik kearah kamar tidur Lin lin tampak cahaya lampu menerangi seluruh ruangan disisi meja terlihat tujuh delapan orang dayang berbaju hijau sedang berkumpul disitu sambil menuding kesana sini, rupanya mereka sedang membicarakan masalah dia dengan putri Kim huan tersebut.
Lin linpun berada diantara mereka cuma keningnya nampak berkerut mukanya sedih dan bekas air mata masih membasahi pipinya, dengan termangu-mangu dia mengawasi luar jendela, tidak berbicara maupun bergerak sehingga keadaannya nampak sangat mengenaskan.
Kim Thi sia merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya serasa mendidih, hampir saja dia menerjang keluar dari tempat persembunyiannya, untung niat tersebut diurungkan kembali.
Lin lin nampak murung dan masgul, kelihatan dia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kekamar tidur dengan kepala tertunduk.
Kadangkala ia mendongakkan juga kepalanya memandang rembulan diangkasa sambil menghela napas sedih, keadaannya benar-benar mengibakan hati.
Beberapa kali Kim Thi sia menggapai tangan kearahnya, namun sayang Lin lin tidak melihat akan hal tersebut.
Hal ini membuat pemuda kita merasa bertambah gelisah.
Waktu itu Lin lin sedang berpikir.
"Mengapa aku harus berkenalan dengannya? sejak berkenalan dengannya, selain kemurungan dan kemasgulan hanya rasa rindu dan kuatir yang mencekam perasaannya......"
Kemudian dengan gemas dan mendongkol dia berpikir lebih jauh.
"Mengapa dia harus menolong perempuan asing itu? Kenapa ia harus melakukan perbuatan sebodoh itu......."
Makin dipikir nampaknya Lin lin merasa pikirannya makin kesal dan tersumbat.
Akhirnya ia mendekam dijendela dan menangis tersedu-sedu.
Kim Thi sia dapat mendengar suara isak tangisnya itu, suara tangisan yang memedihkan hati membuatnya teringat kembali peristiwa dimalam itu, waktu itu diapun pernah menangis.
Akhirnya Kim Thi sia tak sanggup mengendalikan diri lagi.
Bagaikan seekor singa kelaparan ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian tanpa memperdulikan keadaan disekelilingnya dia lari menuju kebawah jendela dan menghancurkan daun jendelanya.
Dengan cepat sepasang mata mereka saling bertemu dan beradu pandangan, hanya dalam sedetik saja.
Namun rasanya mengungguli sejuta perkataan, serasa semua kesalahan paham telah hilang.
seakan-akan dalam sedetik pandangan tersebut keluar berani bersama-sama memperoleh pengertian yang mendalam.
Dengan cepat Kim Thi sia merangkul tubuhnya, Lin lin segera terjatuh kedalam pelukannya, tapi Kim Thi sia tak sempat lagi merasakan kehangatan dan kemesraan tersebut.
sambil merangkul pinggang gadis tersebut, ia cepat-cepat kabur meninggalkan tempat itu.
Ketika bunyi tanda bahaya dibunyikan dalam gedung, dia telah berhasil melompati pagar pekarangan dan menerobos masuk kedalam hutan.
Dari balik dinding pekarangan gedung pembesar secara beruntun muncul rombongan demi rombongan prajurit kerajaan, dengan senjata terhunus mereka berlarian menuju ketanah perbukitan untuk melakukan pengejaran serta penggeledahan.
Tak lama kemudian, rombongan tentara itu telah lenyap dari pandangan suasanapun pulih kembali dalam keheningan.
Dalam keadaan beginilah Kim Thi sia baru merangkak keluar dari persembunyiannya, kemudian dengan mengambil arah yang berlawanan dia kabur menyelamatkan diri Rembulan telah condong kearah barat napas Lin lin telah tersengkal.
Namun dibalik wajahnya yang cantik terselip perasaan kejut dan garang, selain tentu saja rasa kaget bercampur ngeri.
Tanpa disadari lagi Lin lin balas memeluk tubuh Kim Thi sia yang kekar erat-erat sebab hanya dengan kata begini ia dapat merasakan kehangatan dari pemuda tersebut.
Kim Thi sia yang mulai mengenal rasa cinta mendadak menghentikan gerak larinya.
Mengawasi wajah sinona yang cantik jelita serta bau harum keperawanannya yang merangsang, tiba-tiba saja ia merasa tak kuasa untuk menahan diri lagi.
Pelan-pelan kepalanya ditundukkan lalu bersiap-siap untuk mengecup bibirnya yang mungil.
Namun sebelum niat tersebut tercapai, mendadak saja Lin lin membuka matanya lagi, kemudian dengan perasaan kaget bercampur gugup, serunya dengan napas terengah.
"Engkoh sia, jangan........."
Sambil berseru ia mencoba mendorong tubuhnya. Kim Thi sia merasa tak dapat merangkul tubuhnya lagi, karena itu dengan rasa tak habis mengerti serunya.
"Lin lin, mengapa tak boleh? Bukankah kau bersedia untuk kawin denganku? Menjadi biniku?"
"oooh......engkoh sia......"
Pelan-pelan tlin lin membalikkan badan sambil berbisik dengan sedih.
"Bunga yang cakap akan cepat pula layunya, kenapa kita harus."
Biarpun sebagai seorang dayang, telah banyak buku pendidikan yang pernah dibacanya.
Lin lin tahu sebagai seorang gadis yang punya harga diri, dia tak ingin berbuat sesuatu yang mesra dan hangat yang terlalu melampaui batas sebelum perkawinan yang resmi dilakukan.
Karenanya setelah berhasil menenangkan hatinya dan membenarkan rambutnya yang kusut, pelan-pelan dia membalikkan tubuhnya dan menatap pemuda tersebut lekat-lekat.
0000000
"Engkoh sia......maafkan daku"
Bisiknya kemudian dengan suara yang halus dan lembut.
"Akhirnya aku toh pasti menjadi milikmu, tapi......kuminta janganlah kau lakukan hal yang diluar batas, hatiku merasa amat kalut."
Tiba-tiba ia menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda tersebut dan menangis terseduh-seduh.
Kim Thi sia tahu masalah pelik apakah yang sedang mengganjal perasaan gadis tersebut, lama sekali ia berdiri tertegun, kemudian baru katanya.
"Kita tak ada yang salah, mengapa harus minta maaf kepadaku? toh meski kau menolak, akupun tak berani memaksa.....mari, jangan membuang waktu lagi disini, kita harus pergi secepatnya sebab sebentar lagi tentara kerajaan akan mengejar sampai disini."
Lin lin meras akan hatinya sakit pedih dan tak karuan rasanya dilihat dari sikap pemuda tersebut bisa jadi dia merasa sakit hati karena penolakannya tadi...tiba-tiba saja ia berpendapat bahwa penolakannya tadi merupakan suatu langkah yang keliru bisa jadi pemuda itu merasa amat sedih hanya perasaan tersebut tak ingin diutarakan keluar.......
sekali lagi Lin lin memeluk tubuh pemuda tersebut erat-erat suara isak tangis membuatnya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
seandainya Kim Thi sia mengajukan permintaan macam apapun saat itu, mungkin Lin lin tak akan menolak.
Mungkin segala permintaannya bakal dikabulkan dengan begitu saja termasuk melakukan hubungan suami istri sekalipun.....
Kim Thi sia tak berbicara lagi, diapun tak membelainya dengan kasih sayang, sambil mengempit tubuhnya kembali dia berlarian menelusuri jalanan......
Lin lin benar-benar amat sedih, suatu perasaan kecewa yang aneh membuat perasaannya tak tenang, namun dibalik kekecewaan terselip juga perasaan bersyukur.......
Yaa pikirannya saat itu amat kalut saling bertentangan satu dengan lainnya ia merasa tak mampu menolak permintaan orang namun diapun tak berani menerimanya......
Mendadak ia menjumpai luka-luka yang berada ditubuh Kim Thi sia, darah yang telah membeku membuatnya terkejut.
"Engkoh sia, masih sakitkah lukamu ini?"
Bisiknya kemudian dengan penuh pcrhatian.
"oooooh.......cepat berhenti coba kau lihat darahnya mengalir keluar kembali........"
Kim Thi sia menghentikan larinya tidak jauh disebelah depan terdapat sebuah kolam dengan air yang jernih.
Lin lin segera membasuh sapu tangannya dengan air, kemudian dengan penuh kasih sayang menyeka darah dari tubuh pemuda itu.
Kim Thi sia berdiri termangu-mangu, mengawasi suasana hening yang mencekam sekeliling tempat itu membuatnya teringat kembali dengan suasana dibukit tengkorak tempo hari disaat dia masih hidup berdua dengan ayahnya..
.tanpa sadar titik air matajatuh berlinang membasahi wajahnya.
Yaa dia melelehkan air mata, selama hidup baru pertama kali ini dia melelehkan air mata.
Lin lin yang melihat keadaan tersebut segera salah mengartikan kesoal lain tiba-tiba saja seluruh tubuhnya gemetar keras.
Ia turut melelehkan air mata lalu sambil menggigit bibir dibelainya tubuh pemuda itu dan bisiknya dengan suara terbata-bata.
"Engkoh sia.....apa......apapun yang ingin kau lakukan.......aku......aku bersedia menuruti perkataanmu.....asal......asal kau tidak marah kepadaku........."
Sambil berkata dia segera merangkul tubuh pemuda tersebut dan membelainya dengan penuh kasih sayang.
sebagai seorang lelaki yang masih normal Kim Thi sia mempunyai perasaan, diapun mempunyai napsu, rangsangan yang membangkitkan birahinya ini membuat ia tak mampu menahan diri lagi.
Dengan cepat pemuda itu memeluknya, mereka saling berpelukan dengan erat berangkulan dengan mesra.
sementara itu sepasang bibirpun saling bertemu, saling mengecup dengan penuh kemesrahan aliran hawa hangatpun menyebar keseluruh tubuh membangkitkan gairah yang lain-....
Namun dengan cepat Kim Thi sia menyadari perbuatannya dia merasa tak pantas dirinya menodai seorang gadis lemah yang masih suci bersih seperti Lin lin sekalipun sebagai lelaki normal sesungguhnya diapun membutuhkan hal tersebut.
Lama......lama sekali mereka berpelukan akhirnya waktupun dilewatkan dalam kebahagiaan dan kegembiraan.....
suatu ketika, tiba-tiba Kim Thi sia teringat kembali dengan kotak peta yang berada dalam sakunya dia mencoba meraba seluruh tubuhnya namun tak ditemukan, akhirnya ia berseru kaget.
"Engkoh sia ada apa?"
Lin lin segera bertanya dengan wajah keheranan-"Aku telah kehilangan kotak. padahal benda itupenting sekali artinya......."
Seru sang pemuda sambil memukul jidat sendiri "Benda inikah yang kau maksudkan?"
Tanya Lin lin sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Kim Thi sia menjadi kegirangan setengah mati serunya cepat.
"Yaa benar benda inilah yang kumaksudkan.....kau mendapatkannya dimana?"
Lin lin tertawa manis.
"Aku menemukannya waktu kuhantar kau pulang kekamar untuk beristirahat tempo hari sepulangku dari situ aku merasa tak bisa tidur sehingga pergi mencari tempat untuk bercakapcakap siapa tahu kakiku tersangkut sebuah benda sehingga hampir saja terjerembab ketika kulihat ternyata benda tersebut adalah sebuah kotak kecil maka akupun membawanya kembali maksudku sambil menunggu pemiliknya mencari benda tersebut, tapi kemudian kau membuat huru hara didalam gedung, akibatnya hatiku menjadi tak tenteram......."
Kim Thi sia merasa amat terharu, dia ingin menciumnya tapi Lin lin segera menghindar.
"Kenapa sih kau suka......aku tak mau....."
"Kenapa tidak mau?"
Tanya pemuda itu tak mengerti.
Rupanya sejak kecil dia hanya hidup berdua dengan ayahnya dipegunungan yang terpencil, selama itu dia tak pernah bergaul dengan orang kedua.
oleh sebab itu diapun tidak mengetahui perkataan dari muda mudi.
Kontan saja pertanyaan tersebut membuat Lin lin tertawa terpingkal-pingkal karena geli.
Kim Thi sia tak tahu apa yang ditertawakan gadis itu, maka diapun turut tertawa terbahakbahak.
"Lin lin"
Daitak berkata kemudian.
"Aku tak pandai menyimpan barang ini tak ternilai harganya. Tolong simpan benda tersebut baik-baik."
Lin lin merasa ucapan tersebut amat hangat dan mesrah, ia segera manggut-manggut dan menyimpan kembali kotak tersebut. Tiba-tiba satu ingatan aneh melintas didalam benak Kim Thi sia, pikirnya.
"Putri Kim huan sama-sama seorang perempuan, kalau bisa menikmati kemauan dan kegembiraan dengan tenang, mengapa tidak dengan Lin lin?"
Maka dia segera merogoh keluar ketiga butir mutiara tersebut, setelah itu katanya lebih jauh.
"Lin lin, besok aku akan mengundang banyak sekali jago lihay untuk melindungimu. Aku pingin melihat kau hidup senang seperti putri Kim huan........"
Lin lin nampak tertegun, lalu diawasinya pemuda itu dengan rasa tak habis mengerti.
"Kenapa begitu?"
Tanyanya tercengang.
"Kau tak mengerti ilmu silat, kaupun amat lemah, aku tak tega membiarkan kau hidup sendirian-"
Cepat-cepat Lin lin menggeleng.
"Tapi kau toh berada disisiku, kehadiranmu memberi ketentraman dan keamanan bagiku."
"Tidak. kau tidak mengerti maksudku......"
Lin lin memang tidak mengerti apa tujuan pemuda tersebut, namun diapun tidak banyak bertanya, sebab sebagai seorang istri yang baik maka semua kehendak suami jangan mencoba untuk ditanya ataupun diselidiki, apalagi diapun tak ingin menentang kehendak pemuda tersebut.
Kim Thi sia segera memeluk kembali tubuhnya dan berlarian menuju keluar kota.
Disitu ia mencari sebuah rumah penginapan.
Ketika hari sudah terang tanah, Kim Thi sia membeli setumpuk pakaian baru untuk Lin lin dan dirinya, kemudian mereka berdandan rapi sehingga hampir saja berbeda dengan keadannya semula.
Kim Thi sia berdandan sebagai seorang busu, wajah yang tampan, tubuhnya yang kekar dan langkahnya yang mantap mencerminkan ia sebagai seorang lelaki sejati.
Mereka berdua melangkah masuk kedalam sebuah rumah pengawalan barang, kehadiran mereka amat menyolok itu dengan cepat menimbulkan perhatian orang banyak.
Menyaksikan kesemuanya ini, tiba-tiba Lin lin berbisik.
"Engkoh sia, aku takut......."
"Apa yang perlu ditakuti?"
Jawab Kim Thi sia sambil berjalan lebih rapat disisinya.
"selama aku berada disampingmu, tak nanti mereka berani berbuat apa-apa terhadapmu."
Sambil berkata dia segera mengawasi sekelilingnya dengan mata melotot, akibatnya para penduduk yang semula mengawasi mereka segera melengos kearah lain atau bubaran.
Melihat itu Lin lin tertawa ringan, perasaan hatinyapun menjadi tenang kembali.
Ketika melangkah masuk kedalam perusahaan piawkiok.
Kim Thi sia segera berteriak keras memanggil keluar pemiliknya.
seorang lelaki yang kurus kering segera mengawasinya sekejap sambil tertawa.
"Apakah kek koan hendak mengawalkan sesuatu barang?"
Diam-diam Kim Thi sia merasa pipinya menjadi merah, sahutnya.
"saya bukan datang untuk mengawalkan barang, aku hanya ingin mengundang beberapa orang toa suhu untuk mengawal........"
Ia melirik sekejap Lin lin yang menunduk dengan tersipu-sipu kemudian terusnya lagi.
"Untuk mengawal adikku ini........"
Dia mengira perkataannya sudah cukup sesuai dengan keadaan apa lagi memanggil pengawal piawkiok sebagai toa suhupun mengandung nada persilatan.
siapa tahu si pemilik piawkiok tersebut segera berseru dengan nada tercengang.
"Kek koan, perusahaan Yang ti piawkiok kami hanya mengawal barang tidak mengawal orang."
Dengan kening berkerut Kim Thi sia segera menggebarak meja keras-keras, serunya.
"sauyamu jelek-jelek masih terhitung seorang jagoan dari dunia persilatan, kalau Cuma permintaan seperti inipun ditolak buat apa kalian membuka perusahaaan pengawalan?"
Baru selesai perkataan tersebut diucapkan dari dalam ruangan sudah terdengar seseorang tertawa tergelak.
menyusul kemudian tampak seorang kakek bermuka merah dan bertubuh tegap berjalan keluar dari ruangan mengiringi kakek berlima orang lelaki setengah umur yang bertubuh tegap pula.
Tampak kakek bermuka merah itu menjura sambil berseru.
"selamat jalan saudarasaudara, maaf kalau aku tidak menghantar lebih jauh."
Sambil tertawa tergelak kelima orang itu menjawab.
"Terima kasih cong piawtau........"
Sambil berkata mereka bersama-sama melirik kearah Kim Thi sia kemudian memandang kearah Lin lin dengan cepat dibuat tercengang hingga sampai lama kemudian baru menarik kembali pandangan matanya.
sementara didalam hati kecil masing-masing pun timbul sebuah ingatan yang sama.
"Cantik nian nona ini......."
Sebaliknya Kim Thi sia telah memperhatikan pula kelima orang tersebut, melihat dandanan serta sikap mereka yang begitu gagah, iapun segera menjura sambil serunya.
"Cuangsu, harap tunggu sebentar."
Waktu itu, kelima orang tadi sudah berada didepan pintu mereka segera berpaling seraya menegur mendengar seruan itu "Ada urusan apa kek koan?"
"Konon perusahan ini hanya mengawal barang dan tidak mengawal orang, apa benar demikian"
"Benar"
"Boleh aku tahu, apakah saudara sekalian bekerja diperusahan ini?"
"Berkat bimbingan dari congpiantau, kami memang bekerja disini, tapi ada urusan apa kau menanyakan tentang masalah ini?"
"Bagus sekali kalau begitu"
Seru Kim Thi sia sambil tertawa.
"Boleh aku tahu kalian?"
Kelima orang itu nampak agak tertegun, tapi segetra jawabnya sambil tertawa.
"Kami adalah lima orang gagah dari Yang wi"
"Sudah lama kukagumi nama anda, sungguh beruntung aku bisa bersua dengan kalian hari ini"
Seru Kim Thi sia segera sambil menjura.
Ternyata dia telah menirukan ucapan yang pernah diajarkan ayahnya kepada dirinya dulu untuk menghadapi orang persilatan, tentu saja kata-kata tersebut membuat paras muka kelima orang itu berseri-seri.
Meski demikian kelima jagoan itupun merasa kebingungan dan tidak habis mengerti.
sekalipun pemuda tersebut tidak menunjukkan sikap permusuhan, tapi apa maksudnya berbuat begitu?
Kalau kejadian ini berlangsung disaat lain-mungkin kelima orang tersebut segera akan beranjak pergi setelah mengucapkan kata-kata sungkan, tapi dengan kehadiran Lin lin yang cantik, keadaan menjadi berubah.
setiap orang hampir mempunyai pikiran yang sama, yaitu ingin berada disana lebih lama sehingga mempunyai kesempatan untuk menikmati kecantikan wajah gadis tersebut.
Itulah sebabnya meski Kim Thi sia bertanya terus tiada hentinya, mereka sama sekali tidak merasa jenuh.
Kembali terdengar Kim Thi sia berkata.
"Aku hendak memohon bantuan dari anda sekalian, apakah kalian bersedia untuk menerimanya?"
Kelima orang itu melirik sekejap kearah Lin lin, kemudian sahutnya sambil tertawa.
"Persoalan apakah itu? Asal kami sanggup untuk mengerjakan tentu saja akan kami terima."
"Ehmmmmm, tak nyana lima orang gagah dari Yang wi memang sangat terbuka orangnya yang kumohon kepada kalian adalah kesediannya untuk mengawal adikku. Berhubung dia tak pandai berilmu silat, aku takut terjadi sesuatu atas dirinya........"
Lima orang gagah dari Yang wi nampak tertegun, lalu dengan cepat menuding kearah Lin lin sambil berseru.
"Adikmu yang ini......."
Lin lin yang ditunjuk segera menundukkan kepalanya dengan wajah bersemu merah.
"Benar"
Kim Thi sia mengangguk.
"Apakah kalian bersedia tawaranku itu?"
Kemudian sambil mengeluarkan sebutir mutiara, katanya lebih jauh dengan wajah serius.
"sedikit balas jasa harap kalian terima."
Sebutir mutiara sudah tak ternilai harganya apalagi kelima orang itu sudah terbiasa mengawal barang, tentu saja mereka mengerti berapa harganya.
Dalam pada itu si ciangkweee perusahan telah bangkit berdiri sambil mengamati mutiara tersebut, lalu serunya.
"Untuk kali ini kita boleh melanggar kebiasaan-......."
Sudah jelas dengan perkataan tersebut ia mendesak kelima orang gagah dari Yang wi agar menerima transaksi tersebut karena kuatir Kim Thi sia membatalkannya.
Dengan kening berkerut kelima orang itu memandang sekejap kearah Lin lin, kemudian sahutnya sambil mengangguk.
"Kalau toh kek koan memang meminta dengan sungguh hati, tentu saja kami tak akan menampiknya. Tapi sebelum itu biar kami memohon petunjuk dulu dari congpiautau, harap kek koan tunggu sebentar......"
Dengan langkah tergesa-gesa kelima orang itu masuk kembali kedalam ruangansepeninggal kelima orang itu, Lin lin segera menarik ujung bajU Kim Thi sia sambil berbisik.
"Engkoh sia, batalkan saja, aku takut dengan mata mereka. Masa mengawasi diriku terus tanpa berkedip"
"Lin lin, kau tak usah menyalahkan mereka juga tak usah menyalahkan aku, tetapi harus menyalahkan dirimU sendiri siapa suruh kau mempunyai wajah yang begitu cantik"
Sahut sang pemuda sambil tertawa. Lin lin segera cemberut dengan gemas bercampur girang ia memukul bahu pemuda itu. Kim Thi sia merasa makin kegelian godanya.
"Kau tidak kuatir pukulanmu itu menghandurkan bahuku?"
"Engkoh sia, bila kau menggoda diriku terus, selama hidup aku tak akan menggubris dirimU lagi......"
Kim Thi sia tertawa semakin keras.
"Haaaaahhh.....haaaahhhh....haaaaahh....... dasar perempUan tetap perempuan......kenapa tak mau menggubrisku lagi? Aaaaah, ucapanmu sangat membingungkan hatiku tetapi rasanya juga nyaman sekali........"
Tak lama kemudian lima jagoan tersebut sudah muncul kembali. Mereka segera bertanya sambil tertawa.
"Congpiantau sudah menerima tawaran ini berapa hari kek koan hendak menggunakan tenaga kami?"
"soal itu aku sendirripun tak tahu pokoknya sampai waktunya nanti aku baru putuskan."
Maka kelima orang itupun mengiringi Lin lin berjalan-jalan menelusuri jalan raya.
Dari kejauhan Kim Thi sia dapat menyaksikan sikap Lin lin yang begitu canggung takut dan gugup, tapi ia segera berpikir.
"Kalau belum biasa memang nampaknya canggung, tapi lama kelamaan toh akan terbiasa kembali......."
Maka diapun tidak menggubris gadis itu lagi. setelah menelusuri jalan raya baru akan berbelok kesebuah tikungan mendadak terdengar seseorang menyapanya dari belakang.
"sobat cilik, sobat cilik,......."
Ketika Kim Thi sia berpaling, hatinya segera bergetar keras.
Tampaklah seorang kakek yang bertubuh tegap dan berwajah saleh setelah berjalan menghampirinya.
orang itu tak lain adalah ciang sianseng yang termashur namanya diseantero jagad itu.
Disamting ciang sianseng mengikuti seorang jago sedang setengah umur yang bertubuh tegap.
berwajah panjang dan bermata tajam bagaikan sembilu.
Dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa orang ini memiliki tenaga dalam amat sempurna.
Kim Thi sia tidak habis mengerti apa sebabnya ciang sianseng mencarinya disitu.
Maka cepatcepat dia memberi hormat seraya berseru.
"Empek. baik-baikkah kau selama ini?"
"Segala sesuatunya tetap lancar seperti sedia kala"
Jawab ciang sianseng sambil tersenyum.
sekali lagi Kim Thi sia memperhatikan jago pedang setengah umur yang berada disamping ciang sianseng.
Namun ketika sorot matanya bertemu kembali dengan sorot matanya.
Kim Thi sia segera merasakan sekujur badannya ini yang menjadi dingin, tanpa sadar ia melengos kearah lain dan tak berani menatapnya kembali.
Terdengar ciang sianseng berkata sambil tersenyum.
"Dia adalah satu-satunya muridku. orang silat menyebutnya sebagai pelajaran bermata sakti. Mari kuperkenalkan kalian berdua"
Begitu nama sipelajar bermata sakti disebutkan, lima jagoan dari Yang wi yang sudah pergi jauh tadi segera menghentikan langkahnya dan berpaling dengan rasa terkejut.
Menyusul kemudian mereka berlima berlarian mendekat dan berlutut dihadapan ciang sianseng sambil berseru.
"Rupanya kau orang tua adalah ciang sianseng....Ciang locianpwee, terimalah salam hormat kami........"
Melihat tampang muka kelima orang itu yang kesemsem bagaikan orang mabuk.
Kim Thi sia bisa membayangkan betapa terkejut dan gembiranya kelima orang itu karena bisa berada dengan ciang sianseng yang termashur itu.
Dalam pada itu dia telah menjura kearah sipelajar simata sakti sambil berkata.
"Sudah lama kukagumi nama besar anda."
Pelajar bermata sakti hanya memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, selang sejenak kemudian dia baru berkata angkuh.
"Tak usah banyak adat"
Kemudian kepada ciang sianseng katanya pula.
"Terima kasih banyak atas petunjukmu sejak kini tecu dapat mengenal kembali seorang jago muda yang terkenal"
Perkataannya dingin, kaku tanpa menunjukkan sikap hormatnya sebagai seorang murid terhadap gurunya.
Bahkan hingga detik itu, mukanya yang kurus panjang masih tetap kaku tanpa perubahan emosi.
Diam-diam Kim Thi sia merasa amat mendongkol sekali, pikirnya.
"Manusia macam apakah iyu? Huuuuh, hanya binatang yang berdarah dingin baru menunjukkan sikap begitu terhadap gurunya."
Tapi sungguh aneh, ciang sianseng sama sekali tidak menunjukkan rasa tak senangnya, malah berkata kembali sambil tertawa.
"silahkan kalian berlima bangkit berdiri, penghormatan sebesar ini tak berani kuterima........."
Namun lima orang gagah dari Yang wi tetap berlutut sambil menyembah berulang kali, mereka seakan-akan tak ingin bangkit berdiri, atau mungkin dalam anggapan mereka bisa berlutut dihadapan ciang sianseng dihadapan umum merupakan suatu kejadian yang patut dibanggakan-Dengan pandangan dingin sipelajar bermata sakti melirik sekejap kearah kelima orang tersebut lalu jengeknya sambil mendengus.
"Manusia sebangsa ini sudah sering dijumpai dalam dunia persilatan tiada sesuatu yang perlu diherankan."
Biarpun perkataan tersebut ditujukan kepada lima orang gagah dari Yang wi tetapi Kim Thi sia dapat merasa bahwa perkataan tersebut sengaja ditujukan kepadanya, rasa gusar dan mendongkol kontan saja berkobar.
Andaikata saja ciang sianseng tidak hadir disitu, ingin sekali ia melabrak orang tersebut dan ingin diketahui sampai dimanakah kepandaian silat yang dimiliki orang itu sehingga berani memandang hina orang lain Keramah tamahan ciang sianseng dan kesadisan serta kekakuan sipelajar bermata sakti persis menunjukkan dua sikap yang berbeda secara menyolok.
Kim Thi sia tidak mengira kalau ciang sianseng yang merupakan tokoh silat yang bermata jeli, kenapa memilih manusia semacam itu sebagai muridnya.
Tapi, walaupun hatinya merasa amat mendongkol namun sebisa mungkin pemuda tersebut berusaha untuk menahan diri Ketika itu ciang sianseng telah mengeluarkan obat mestika dan membagikan seorang sebutir kepada lima jagoan dari Yang wi Hadiah tersebut diterima kelima orang itu dengan linangan air mata karena gembira, akhirnya diiringi ucapan terima kasih setinggi langit mereka menyimpan pil tersebut kedalam sakunya.
Walaupun lima orang yang gagah Yang wi telah bangkit berdiri, namun mereka masih berdiri ditepi arena dengan sikap yang amat menghormat, bahkan berulang kali melirik sekejap kearah ciang sianseng, seakan-akan mereka berusaha untuk mengamati tokoh sakti ini seteliti mungkin sehingga dikemudian hari bisa digunakan sebagai bahan cerita.
Mendadak terdengar pelajar bermata sakti menjengek dengan suara dingin.
"suhu, hatimu sungguh baik.........."
Ciang sianseng hanya tertawa getir tabpa menjawab. Tiba-tiba Kim Thi sia merasakan darah didalam tubuhnya serasa mendidih tanpa berpikir panjang lagi ia berteriak keras.
"Empek. boanpwee ingin memohon sesuatu kepadamu, harap kau sudi mengabulkan"
"Katakanlah......."
Ucap ciang sianseng sambil tertawa ramah.
"Aku ingin menantang muridmu yang bernama pelajar bermata sakti ini untuk beradu kepandaian-"
Pelajar bermata sakti kontan saja dibikin tertegun lalu dengan sinar mata setajam sembilu diawasinya wajah Kim Thi sia sekejap. Lalu serunya sambil tertawa dingin.
"Bocah muda, berpa lembar nyawa yang kau miliki?"
"Hanya selembar"
Sahut Kim Thi sia dengan penuh amarah.
"Asal kau merasa mampu untuk mencabutnya, silahkan dicabut sekarang juga......."
Lin lin yang berada diujung jalan sana menjerit kaget dan cepat-cepat lari mendekat sambil menarik tangan Kim Thi sia mukanya yang cantik kini telah berubah menjadi pucat pias karena takut.
Melihat hal ini Kim Thi sia merasakan hatinya jadi lembek kembali untuk sesaat ia tak tahu apa yang mesti diperbuat.
Tatkala lima orang gagah dari Yang wi melihat Kim Thi sia sepertipunya hubungan dengan ciang sianseng.
Mereka segera mengerti kalau pemuda tersebut bukan manusia sembarangan-Tapi setelah melihat pemuda itu berniat menantang murid ciang sianseng untuk berduel.
Mereka berlima segera menganggap perbuatan tersebut merupakan suatu tindakan yang tidak cerdik, sekalipun mereka sendiripun merasa agak mendongkol terhadap pelajar bermata sakti, namun nama besar orang tersebut membuat mereka tak berani banyak berbicara.
Karenanya cepat-cepat mereka menghalangi Kim Thi sia sambil berusaha membujuk.
"sauhiap. jangan sekali-kali kau lakukan hal itu."
Dalam pada itu ciang sianseng telah berkata pula sambil menghela napas panjang.
"Muridku apakah kau berniat membunuhnya?"
"Benar"jawab pelajar bermata sakti tanpa berpikir panjang.
"Aku percaya kau tidak akan membantunya bukan?"
Mendengar perkataan itu, kemarahan Kim Thi sia kembali berkobar sambil mendorong Lin lin kebelakang, serunya lagi sambil tertawa keras.
"Mari, mari, mari......akan kubuktikan kepadamu bahwa Kim Thi sia bukan manusia bangsa tempe yang sudi diinjak-injak semau hatinya........."
Nama "Kim Thi sia"
Boleh dibilang sudah merupakan lambang dari seseorang jagoan yang paling susah dilayani.
Lima orang gagah dari Yang wi yang berpengetahuan luas sudah sering kali mendengar sepak terjang Kim Thi sia yang tak pernah kenal menyerah itu.
Berbicara sesungguhnya mereka merasa kagum sekali dengan keuletan serta kegagahan pemuda itu.
Karenanya setelah mendengar nama tersebut disebut, mereka jadi tertegun dan saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
sementara itu Kim Thi sia telah bersiap sedia untuk menghadapi sipelajar bermata sakti yang nama besarnya telah menggetarkan seantero jagad itu, meski sorot matanya yang tajam dari pelajar bermata sakti membuat kepalanya tertunduk.
namun hati kecilnya tak pernah merasa menyesal, bahkan ia ingin mencoba untuk melabrak orang itu Kembali Lin lin menarik tangannya membujuk pemuda tersebut agar mengurungkan niatnya.
Tapi Kim Thi sia yang sudah berang bukannya menurut, malah secara tiba-tiba ia teringat kembali dengan ucapan ayahnya dulu, maka dengan suara keras segera teriaknya.
"sekarang aku harus mengerti, tak heran kalau ayah sering bilang, seorang lelaki sejati jangan sekali-kali akrab dengan perempuan-Kalau tidak maka semua semangat dan keberaniannya akan turut musnah.....Lin lin, bila sekali lagi kau menghalangi niatku untuk berduel dengannya, maka aku bersUmpah tak akan meladeni dirimU lagi."
Walaupun perkataan yang diucapkan itu agak mengandung nada emosi dan kasar kedengarannya, namun tidak menutupi semangat jantan serta gagahnya sebagai seorang lelaki sejati.
Lima orang gagah dari Yang wi segera manggut-manggut dengan perasaan amat kagum.
sementara itu Lin lin kelihatan agak terkejut, dengan mata terbelalak lebar dia mengawasi wajah Kim Thi sia dengan perasaan sedih dan tak habis mengerti.
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu sambil bergumam.
"Dia bukan manusia semacam itu, bukan manusia semacam itu, dia bukan........"
Tiba-tiba matanya menjadi merah, lalu sambil menutup wajah lari meninggalkan tempat tersebut.
Pada saat itulah dari depan sana muncul serombongan kuda yang dilarikan cepat.
Rombongan kuda tadi langsung menerjang kearah Lin lin yang sedang berlarian sambil menutupi wajahnya.
Berubah hebat paras muka Kim Thi sia setelah menyaksikan peristiwa ini, segera bentaknya.
"Lima orang gagah dari Yang wi, apa kerja kalian disitu?"
Dalam cemasnya bentakan tersebut diucapkannya dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi, kontan saja lima jagoan itujadi terperanjat dan berubah hebat paras mukanya.
Untung ciang sianseng bertindak secepat kilat, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan kilat dia menyerang kedepan sambil mengebaskan ujung bajunya.
segulung tenaga yang amat besar menerjang rombongan berkuda tadi sehingga lari kuda serentak terhenti.
Dipihak lain Kim Thi sia pun telah memburu kedepan sambil menghantam kuda yang lain-Kuda tersebut segera meringkik panjang dan mundur beberapa langkah kebelakang.
Ternyata penunggang kuda itupun amat cekatan, meski terjadi secara mendadak namun ia berhasil mengendalikan kudanya secara sempurna.
Dalam waktu singkat kudanya berhasil dijinakkan kembali.
Lin lin dengan wajah pucat pias berdiri tertegun ditengah jalan, rasa kaget yang luar biasa membuatnya tak mampu bergerak untuk beberapa saat lamanya.
Lima jagoan dari Yang wipun terkejut sekali, cepat-cepat mereka memburu kedepan-Dalampada itu sipenunggang kuda yang kudanya dihadang Kim Thi sia mengayunkan cambuknya untuk menghajar tubuh anak muda itu.
Dengan cekatan Kim Thi sia menghindarkan diri kesamping, lalu bentaknya keras-keras.
"Telur busuk anak kura-kura, kalian pingin mampus rupanya"
Sebuah pukulan segera dilontarkan kedepan-Melihat datangnya seragan,jago pedang yang berada dikuda itu segera berkerut kening dan melompat turun dari kudanya.
Lalu tanpa mengucapkan sepatak katapun ia melepaskan tiga buah pukulan dan empat tendangan berantai mengancam tubuh Kim Thi sia.
serangan-serangan gencar mendesak Kim Thi sia mundur kebelakang dan hampir saja tak mampu menahan diri.
Dalam gusarnya ia segera mengeluarkan ilmu pedang panca Buddha dan melancarkan serangkaian serangan balasan yang gencar.
Begitu dahsyat serangan tersebut membuat jago pedang muda itu terkesiup, belum sempat ia berbuat sesuatu sebuah pukulan dari Kim Thi sia telah menghantamnya hingga mencelat sejauh dua tiga langkah.
Pemuda itu menjadi berang, sambil membentak keras kembali ia menerjang kedepan-Pelajar bermata sakti tak malu disebut seorang bermata sakti, walaupun berada dikejauhan namun ia dapat menyaksikan semua gerak gerik Kim Thi sia dengan jelas.
Ketika menjumpai gerak pukulannya yang begitu sakti dan rasa kaget segera pikirnya.
"Ilmu pukulan apakah itu, nampaknya kepandaian yang dimiliki orang ini tidak berada dibawahku."
Sementara dia masih tertegun, ciang sianseng sendiripun nampak berkerut kening dengan perubahan wajah tak menentu.
Dari rombongan orang berkuda tadi duduk seorang kakek berusia lima puluh tahunan, agaknya baru sekarang ia dapat melihat jelas wajah Ciang sianseng paras mukanya segera berubah hebat lalu dengan suara nyaring bentaknya.
"Tahan"
Suara yang keras membuat para penunggang kuda lainnya sama-sama menghentikan gerakan sambil bertanya.
"Ada apa?"
Namun kakek berusia lima puluh tahunan itu tidak menjawab ia segera melompat turun dari kudanya dan menyembahk dihadapan ciang sianseng dengan sikap hormat, katanya dengan nada bersungguh-sungguh.
"Boanpwee tak tahu akan kehadiran Ciang sianseng, harap kelancangan kami tadi sudi dimaafkan, kamipun bersedia hukuman apapun yang akan dijatuhkan kepada kami."
Ketika para penunggang kuda itu mengetahul bahwa kakek berjenggot panjang yang berdiri dihadapan mereka adalah Ciang sianseng yang termashur serentak mereka berseru kaget dan melompat turun dari kuda masing-masing untuk menyembah dihadapan kakek tadi.
suatu ancaman pertarunganpun seketika mereda dengan sendirinya.
sambil tersenyum Ciang sianseng berkata.
"Silahkan kalian bang kit berdiri sesungguhnya peristiwa ini terjadi karena salah paham, jadi akupun turut bertanggung jawab atas peristiwa itu, kenapa aku mesti menyalahkan kalian?"
Setelah mendengar ucapan itu, kakek berusia lima puluh tahunan itu baru bangkit berdiri bersama anak buahnya, kembali ujarnya.
"Boanpwee bersedia menerima hukuman apapun tanpa mengeluh."
"Jangan terlalu serius, anggap saja masalahnya telah usai. oya, aku belum tahu siapa nama anda sekalian?"
Dengan sikap yang amat menghormat kakek itu berkata.
"Boanpwee disebut orang pedang sakti bunga beterbangan ciang Itpeng, sedang mereka adalah murid-murid boanpwee, untuk menambah pengalaman dalam dunia persilatan boanpwee sengaja mengajaknya untuk berkelana."
"Bagus, bagus sekali angkatan tua memang sudah waktunya untuk pensiun, dunia persilatan harus diserahkan kepada generasi muda berikutnya........."
Dengan sorot mata yang tajam kakek berusia lima puluh tahunan itu mengawasi sekejap wajah Kim Thi sia, lalu katanya sambil menjura.
"Apakah yang ini adalah murid baru ciang locianpwee? Meski usianya masih muda tak nyana ilmu silatnya luar biasa masa depannya pasti cemerlang. Aaaaai......bila dibandingkan berapa orang muridku yang nakal, entah ia berapa puluh kali lipat lebih hebat, untuk itu boanpwee perlu menyampaikan ucapan selamat kepada sianseng....selain itu kami pun memohon hati Ciang locianpwee untuk memberi petunjuk kepada kami....."
Dalam pada itu Lin lin yang masih kaget telah bergerak untuk mendekati Kim Thi sia, tapi secara tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, setelah melirik sekejap kearah pemuda itu dengan pandangan kesal iapun menghentikan kembali gerakan tubuhnya.
Sambil tersenyum Ciang sianseng memandang sekejap kearah Kim Thi sia terhadap pertanyaan tadi ia tidak memberi jawaban.
Tapi hanya mengawasi Kim Thi sia ambil tersenyum.
Dengan cepat Kim Thi sia berseru.
"Dugaan empek Ciang salah besar aku bukan murid Ciang sianseng, guruku adalah simalaikat pedang berbaju perlente."
Begitu perkataan tersebut diutarakan Ciang sianseng pun kelih atan agak tertegun tiba-tiba ia bertanya.
"Jadi gurumu adalah dia?"
"Benar"
Kim Thi sia mengangguk.
"Sayang dia orang tua telah meninggal dunia."
"sudah meninggal dunia? sungguh?"
Sipedang sakti bunga beterbangan maupun lima orang gagah dari Yang wi adalah orang-orang persilatan yang berpengetahuan luas.
Saat ini mereka dibuat menjadi kaget bercampur tak habis mengerti, pikirnya dihatinya.
"Sirasul dari selaksa pedang dan sirasul dari selaksa pukulan terjalin hubungan yang kurang serasi. Diantara mereka berdua terjadi perselisihan yang dalam, bahkan persoalan ini diketahui setiap umat persilatan, tapi sekarang.....sungguh aneh, kenapa muridnya sirasul dari selaksa pedang bisa bergaul dengan Ciang siansen-Bahkan hubungan mereka berdua nampaknya begitu akrab?"
Tentu saja Kim Thi sia tidak mengetahui akan persoalan tersebut, dia mengira semua orang dibuat terkejut karena nama besar gurunya, oleh sebab itu diapun tidak mempersoalkan hal ini didalam hati.
Dengan rasa ingin tahu sipedang sakti bungan beterbangan menegur.
"sobat cilik, bolehkah aku tahu anda adalah murid yang manakah diantara kesembilan orang murid dari sirasul dari selaksa pedang?"
"Aku adalah muridnya yang paling penghabisan, jadi urutan kesepuluh. sayang dia orang tua hanya sempat mewariskan berapa hari ilmu silat kepandaian sebelum meninggal."
"Aaaaah....maaf......maaf, tak nyana pertanyaanku hanya menimbulkan rasa sedih dari siauhiap......"
Meski diluara ia berkata begitu, dalam hati keciinya justru merasa keheranan "setiap umat persilatan mengetahui kalau selama hidupnya malaikat pedang berbaju perlente cuma menerima sembilan orang murid, kenapa bisa muncul seorang lagi secara tiba-tiba, bukankah hal ini sangat aneh?"
Diam-diam kelima orang gagah dari Yang wi cun berpikir.
"Ternyata dugaan kami tak meleset, anak muda tersebut memang mempunyai asal usul yang luar biasa......"
Kemudian merekapun berpikir kembali.
"Dengan ilmu silat Malaikat pedang berbaju perlente yang begitu lihay, tak mungkin muridnya tak berkemampuan apa-apa. Tapi heran, mengapa ia tak mampu melindungi adiknya sendiri sehingga pengawalnya diserahkan kepada orang lain? Apakah kejadian seperti ini bukan suatu lelucon besar?"
Sementara itu, sipedang sakti bunga beterbangan sebagai jago kawakan segera dapat mengendalikan diri sekalipun rasa kaget dan keheranan sempat menggelitik hatinya, sambil tersenyum ia segera berkata lagi.
"Sorot mata sobat amat tajam, wajahmu cemerlang dan gagah, aku percaya tak sampai setahun kemudian kau pasti sudah bisa mendapat posisi yang baik dalam dunia persilatan-Bolehkah aku tahu nama sobat sehingga dikemudian haripun bisa saling menyebut?"
Sesungguhnya sipedang sakti bunga beterbangan adalah seorang jagoan yang termashur didalam dunia persilatan, selain namanya besar, kedudukannyapun tinggi.
Tapi sekarang ia justru bersikap ramah dan merendah, hal ini tak lain disebabkan dua hal.
Kesatu, karena rasul dari selaksa pukulan hadis disitu.
Kedua, karena orang yang diajak berbicara adalah murid terakhir sirasul dari selaksa pedang.
Itulah sebabnya dia tak ingin bersikap sembrono menghadapi dua orang yang punya nama besar ini.
Dalam pada itu Kim Thi sia telah menjawab.
"Aku bernama Kim Thi sia."
Mendengar nama tersebut, sipedang sakti bunga beterbangan segera berseru tertahan.
"Ooooh rupanya sobat kecil adalah jago muda yang belum lama muncul dalam dunia persilatan dan disebut orang sebagai manusia yang paling susah dilayani......"
Agaknya secara tiba-tiba ia merasa ucapan tersebut kurang pantas diutarakan tiba-tiba ia membungkam kembali.
sementara itu, keempat orang jago pedang muda yang berdiri dibelakangnya telah membelalakkan mata mereka lebar-lebar.
sambil tertawa nyaring Kim Thi sia menjawab.
"Perkataan empek memang tepat aku memang Kim Thi sia orang yang disebut sebagai manusia paling susah dilayani"
Sipedang sakti bunga beterbangan segera tertawa tergelak.
"Haaaahh.....haaaahh.....haaaahh......bagus bagus, bagus sekali sungguh mujur nasibku hari ini......bukan saja dapat menyambangi Ciang locianpwee, bahkan bisa berkenalan pula dengan jago muda yang namanya melejit naik baru-baru ini. Nah anak-anak sekalian perjalanan kalianpun rasanya tidak sia-sia kali ini"
Semasa masih belajar silat dulu keempat pemuda tersebut sudah sering mendengar angkatan tua mereka membicarakan tentang situasi dalam dunia persilatan, karenanya dihati kecil masingmasing sebetulnya sudah lama timbul keinginan untuk mengalami sendiri kejadian seperti itu, terutama untuk menjumpai kawanan jago kenamaan dari dunia persilatansekarang hanya didalam waktu yang relatif singkat ternyata mereka telah menjumpai beberapa orang tokoh persilatan sekaligus.
Bisa dibayangkan betapa gembiraya perasaan mereka.
Maka dari balik mata merekapun memancar keluar sinar kegembiaraan yang luar biasa, bagaikan burung-burung kecil yang baru tumbuh sayapnya dan pertama kali terbang bebas sendiri diangkasa raya.
Apa yang dilihat dan apa yang dialami kini membuat rasa gembira mereka tak terlukiskan dengan kata-kata.
sebagai seorang angkatan tua yang berpengalaman, sudah barang tentu sipedang sakti bunga beterbangan pun dapat menyelami perasaan girang dari anak buahnya maka sambil tertawa diapun berkata.
"sekawanan anak muda ini masih belum mengerti tingginya langit dan tebalnya bumi. Mereka hanya ingin keluar untuk mencari pengalaman-sobat kecil, kau sebagai jagoan yang sering berkelana didalam dunia persilatan tentu akan sering pula bersua dengan mereka. Kuharap dikemudian hari kau sudi banyak memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka untuk itu aku merasa berterima kasih sekali."
"Aaaah, mana, mana, empek kelewat sungkan"
Buru-buru Kim Thi sia berseru cepat.
Kembali sipedang sakti bunga beterbangan memimpin jago-jago muda itu untuk memberi hormat kepada Ciang sianseng sekalian, kemudian baru berlalu dari situ.
sepeninggal orang-orang itu, lima orang gagah dari Yang wi segera berbisik-bisik pula dengan suara lirih.
"Bagaimanapun jua, sepasang mata kita betul-betul sudah terbuka lebar. seandainya dia tak menyebut nama sendiri, bagaimana kita bisa tahu kalau dia adalah Kim Thi sia?"
Selama ini lin lin tidak ikut mendekat tapi berulang kali dia melirik serta mengerling kearah Kim Thi sia.
Namun setiap kali Kim Thi sia memperhatikan dirinya, sambil mencibirkan bibir ia segera melengos kearah lain-...
Ingin sekali Kim Thi sia memohon maaf kepadanya, namun ia tak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaannya itu.
Ciang sianseng mengamati pemuda tersebut berapa saat lalu dengan suara dalam tiba-tiba ia berkata.
"sobat cilik sebagai anak murid malaikat pedang berbaju perlente tentu mempunyai masa depan yang cemerlang"
Singkat kata-katanya namun tiada ujung pangkalnya, ini membuat orang lain susah memetik makna sebenarnya dar iperkataan tersebut, begitU juga bagi Kim Thi sia, ia segera dibuat tertegunsetelah berhenti sejenak.
ciang sianseng kembali berkata lebih jauh.
"Baru berpisah berapa hari ternyata keadaanmu sudah jauh berbeda. Aku merasa tenaga dalam yang sobat cilik miliki belum seb erapa hebat, tapi dua hari kemudian nampaknya banyak kemajuan yang berhasil kau capai. Hal ini hampir saja membuatku curiga, benarkah kalian adalah orang yang sama. Tapi gejala semacam inipun bukan pertanda yang baik, sebab kemajuan yang dicapai seseorang yang mempelajari tenaga dalam harus melalui tahap demi tahap secara teratur. Berbeda sekali dengan kondisimu, sekali langkah sepuluh tindak telah kau lewati. Aku jadi tak habis mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas dirimU."
"Maksud locianpwee, kemajUan yang kucapai dalam tenaga dalam jauh berbeda dengan keadaan wajah orang-orang persilatan lainnya?"
Tanya Kim Thi sia cepat. ciang sianseng manggut-manggut, dengan wajah yang berubah menjadi serius secara tiba-tiba ia berkata kembali.
"Tegasnya saja kemajuan yang kau capai sama sekali diluar ukuran normal, mungkin saja hal ini dipengaruhi pelbagai alasan, tapi yang pasti gejala seperti ini amat merisaukan hati."
Kim Thi sia amat terkejut, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesUatu, Lin lin yang turut mengikuti pembicaraan tersebut dan merisaukan keselamatan jiwa kekasihnya tiba-tiba saja menimbrung.
"Empek tua, mungkinkah dia....."
Melihat sikap sinona, Kim Thi sia segera berpikir.
"sudah jelas ia masih menguatirkan keselamatanku, tapi sengaja berlagak tak menggubris. Haaaah......haaaah......rupanya kau sedang bersandiwara untuk membohongi diriku"
Tanpa terasa ia mengerling mesrah kearah sinona.
Dengan wajah bersemu merah dan tersipu-sipu Lin lin segera menundukkan kepalanya kembali.
selapis perasaan risau melintas diwajahnya.
Ciang sianseng termenung beberapa saat kemudian tanyanya tiba-tiba.
"Kau pernah menelan cairan mestika atau buah ajaib?"
"Tidak sama sekali, tak pernah"
Kim Thi sia menggeleng.
"Pernahkan kau menemui kejadian aneh? Maksudku dalam beberapa waktu belakangan ini kau telah bersua dengan seorang tokoh silat yang memiliki tenaga dalam sempurna dan orang itu telah menyalurkan hawa murninya untuk membantu kemajuan tenaga dalammu?"
"juga tidak pernah"
Kim Thi sia tetap menggeleng. Ciang sianseng segera berkerut kening, rasa murung segera menyelimuti seluruh wajahnya.
"Atau mungkin kau memang sengaja merahasiakan kemampuanmu yang sesungguhnya......"
Gumamnya lirih. Tapi baru mencapai setengah jalan ia sudah menggelengkan kepalanya berulang kali lanjutnya.
"sekalipun kau sengaja merahasiakan kemampuanmu yang sesungguhnya, tak mungkin hal ini bisa mengelabuhi ketajaman mataku......"
Berbicara sampai disini, dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi pemuda itu lekat-lekat.
Kim Thi sia tak berani beradu pandang dengannya, dia merasa sorot mata kakek itu lebih tajam bagaikan tusukanp isau belati cepat-cepat dia menunduk.
sementara itu hatinya mulai tegang nampaknya diapun merasakan gawatnya persoalan yang sedang dihadapi.
Tapi perasaan tegang itu hanya berlangsUng sebentar tiba-tiba saja ia teringat kembali dengan ilmu Ciat khi mi khi atau pinjam tenaga manfaatkan tenaga-tenaga yang sedang dipraktekkan selama ini, sudah pasti kemajuan tenaga dalamnya diperoleh karena dia telah banyak menghisap kekuatan tubuh orang lain.
Berpikir begitu, perasaanpun menjadi tenang kembali diam-diam dia geli karena sudah merasa tegang dengan percuma selama ini.
Jilid 14
"Sobat Cilik apa yang kau gelikan?"
Tiba-tiba Ciang sianseng menegur.
Sebenarnya Kim Thi sia hendak memberitahukan kepadanya bahwa dia sedang melatih ilmu ciat khi mi khi sehingga dalam waktu singkat bisa memperoleh kemajuan yang pesat dalam tenaga dalam.
Tapi belum sempat perkataan tersebut melompat keluar dari ujung bibirnya tiba-tiba ia teringat kembali dengan pesan terakhir gurunya.
Malaikat pedang berbaju perlente yang melarang dia mengungkapkan persoalan tersebut kepada siapa saja karenanya cepat-cepat dia urungkan niatnya itu.
Dengan perasaan tak menentu ujarnya kemudian.
"Aku.....aku sedang membayangkan mimik wajah sipedang sakti bunga beterbangan yang menggelikan tadi."
Ciang sianseng nampak agak tertegun, tapi kemudian sambil tertawa ramah katanya.
"Aaaah, mungkin saja sobat cilik memiliki bakat alam yang luar biasa sehingga kemajuan dapat kau raih diluar kebiasaan. Pada umumnya, aku kelewat menguatirkan hal yang bukan-bukan-Mari, kita tak usah membicarakan masalah lain lagi. Sekarang aku ingin mencoba sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang kau miliki. Silahkan menggunakan segenap kekuatan yang kau miliki untuk melepaskan pukulan kepadaku. Tak usah ragu-ragu"
Kim Thi sia agak sangsi sebentar, tapi akhirnya dia mengangguk, dengan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya ia lepaskan sebuah pukulan kedepan.
serangan tersebut dilancarkan olehnya dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya, belum lagi angin pukulannya mencapai sasaran.
Pasir dan debu sudah nampak beterbangan diseluruh angkasa.
sambil mengebaskan ujung bajunya Ciang sianseng menyambut datangnya serangan itu.
Kim Thi sia segera merasakan segulung tenaga yang besar yang tak berwujud tapi amat lembek menyambut datangnya serangan itu, kemudian memantulkannya kembali.
Keseimbangan tubuhnya segera tergempur dan tak kuasa lagi dia tergetar mundur sejauh berapa kaki dari posisi semula.....
sambil tersenyum Ciang sianseng segera memuji.
"Bagus, bagus sekali, bila kau bersedia melatih diri dengan tekun, tak usah untuk jadi seorang jagoan lihay dikemudian hari......."
Kemudian setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh.
"Coba sekali lagi, akan kulihat sampai dimanakah taraf kemampuanmu didalam menganggulangi datangnya serangan dari luar"
Tiba-tiba ia lepaskan sebuah serangan kedepan.
Kim Thi sia segera merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu sebuah telapak tangan yang putih bagaikan salju telah berada hanya setengah depa dari hadapan tubuhnya.
Dengan sekilas pandangan pemuda itu segera dapat melihat bahwa ditengah telapak tangan ciang sianseng yang putih bagaikan kemala, lamat-lamat terbentuk sebuah lingkaran kecil setebal berapa inci.
Lingkaran tersebut amat berkilat sehingga seakan-akan menonjol keluar dari telapak tangannya itu.
Lin lin menjerit kaget, ia melihat pemuda kekasihnya sedang terancam bahaya maut.
Kim Thi sia sendiripun tak sempat lagi untuk berpikir panjang menghadapi situasi yang amat kritis ini.
Tiba-tiba ia mengeluarkan jurus "air sungai mengalir tak berhenti"
Serta "menuding langit menekan bumi"
Dari ilmu pedang panca Buddha untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Tapi sebelum seragan tersebut mencapai pada sasaran tiba-tiba ia merasa kuatir bila Ciang sianseng tak sanggup menerima dua jurus serangannya itu dalam saat yang terakhir telapak tangannya mendadak dimirngkan kesamping....
Terdengar Ciang sianseng berseru kaget, tahu-tahu seluruh badannya sudah tergulung oleh semacam tenaga kekuatan lembek yang tak berwujud hingga sama sekali tak berkemampuan untuk melakukan perlawanan lagi.
Badannya kontan terlempar sejauh delapan sampai sepuluh kaki dari posisi semula.
Lin lin maupun lima orang gagah dari Yang wi membelalakan matanya lebar-lebar karena tercengang.
Ternyata Kim Thi sia sama sekali tak cedera ia masih berdiri diposisi semula dengan perasaan terkejut.
Baru sekarang ia sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki Ciang sianseng sesungguhnya telah mencapai ketingkatan yang luar biasa sekali.
setelah berhasil berdiri tegak.
ciang sianseng berseru pula.
"sobat cilik, tampaknya kedua jurus serangan yang kau pergunakan barusan adalah ilmu pedang panca Buddha milik gurumu?"
"Benar"
Ciang sianseng segera tertawa terbahak-bahak.
suaranya yang keras bagaikan pekikan naga yang membumbung tinggi keangkasa.
Belum selesai gelak tertawa itu bergema, Ciang sianseng telah melompati kembali kesisi Kim Thi sia lalu sambil menepuk bahunya dia berseru.
"Punya harapan, punya harapan"
Kim Thi sia bersikap acuh tak acuh, dia masih dibuat tertegun oleh kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ciang sianseng.
Bukan hanya dia, selain sipelajar bermata sakti yang mengikuti jalannya peristiwa dari sisi arena hampir semua hadirin dibuat terbelalak dengan mulut melongo.
Tiba-tiba......
Kim Thi sia merasakan bahunya yang kena ditepuk Ciang sianseng itu terasa sedikit linu dan kaku.
Rasa linu tadi pelan-pelan menjalar keseluruh lengan kirinya.
Ia terkejut dan cepat-cepat mundur dua langkah, tapi rasa linu tersebut hanya berlangsung sejenak lalu lenyap tak berbekas.
Dalam waktu singkat kesegaran badannya telah pulih kembali.
Mengalami hal ini mau tak mau ia harus memuji juga kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Ciang sianseng.
"Tak heran kalau setiap orang menyebutnya sebagai Tuan pUkulan atau Ciang sianseng, rasul diantara rasul dari selaksa pukulan"
Demikian ia berpikir dihati.
"Ternyata tepukan hangat yang tidak mengandung kekuatanpun sudah cukup membuat orang tak tahan"
Sementara itu Ciang sianseng telah berkata lagi sambil tertawa.
"sobat cilik, biar kita berpisah dulu sampai disini, aku akan segera pulang kegunung bila kau menjumpai suatu persoalan yang tak dapat diselesaikan, datang dan carilah aku, tak perlu sungkan-sungkan."
Lalu setelah memberi tanda kepada si pelajar bermata sakti ia beranjak pergi dari situ.
Ketika pelajar bermata sakti berjalan melalui samping Kim Thi sia, tiba-tiba ia tertawa dingin sambil melirik sekejap kearah Kim Thi sia.
senyum mengejek dan penuh penghinaan tersungging diujung bibirnya.
Kim Thi sia amat muak terhadap orang ini, ia lebih mendendam lagi setelah melihat sikap menghina dari orang tersebut, mendadak bentaknya dengan suara keras.
"Hey, menang kalah diantara kita belum diputuskan"
"Lebih baik tak usah dilanjutkan."
Tukas pelajar bermata sakti dengan suara dingin.
"Aku hendak membataikan saja niatku untuk berduel denganmu........."
Sementara Kim Thi sia masih tertegun, mendadak terasa desingan angin tajam berh embus lewat, tahu-tahu pelajar bermata sakti telah maju kembali kehadapannya.
Cepat-cepat pemuda itu mundur selangkah sambil menyilangkan tangannya melindungi dada, tegurnya penuhama rah.
"Kau hendak main membokong?"
"Hmmm"
Pelajar bermata sakti tertawa dingin.
"Martabatku belum serendah dan sehina dina seperti itu........."
Setelah berhenti sejenak kembali menatap wajah Kim Thi sia lekat-lekat, sepatah demi sepatah kata dia berkata.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu sebetulnya kau lebih suka berhubungan dengan seseorang yang tampangnya saja kelihatan jujur dan penuh belas kasihan tapi sesungguhnya berhati keji, buas dan licik ataulah berhubungan dengan seseorang yang tampangnya nampak dingin, keji dan tak berperasaan, tapi sesungguhnya mempunyai jiwa ksatria dan bercita-cita luhur?"
"Tentu saja dengan orang yang bermuka dingin tak berperasaan tapi berhati ksatria"
Mendadak pelajar bermata sakti mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak suara tertawanya keras hingga menembusi awan sampai lama sekali gema suara tertawa nyabaru mereda.
seakan-akan ia mempunyai suatu maksud yang mendalam, setelah tertawa dingin katanya lagi.
"sayang kau sudah tidak mempunyai kesempatan seperti ini."
Sehabis berkata iapun beranjak pergi dari situ, menyusul kearah mana Ciang sianseng berlalu tadi. Kim Thi sia jadi termangu-mangu, gumamnya dengan perasaan tak habis mengerti.
"Apa maksud perkataannya itu? mengapa aku sudah tak punya kesempatan?"
Melihat Kim Thi sia hanya berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh. Lin lin yang cerdik segera tertawa geli, tegurnya.
"Hey tolol, dia tak lebih hanya bermaksud mengemukakan tentang dirinya, ia hendak mengatakan kepadamu bahwa meski dia orangnya dingin, kaku dan tak berperasaan sesungguhnya adalah orang yang berniat baik dan luhur, berbeda dengan orang yang berwajah luhur dan jujur padahal sesungguhnya merupakan manusia jahanam yang berhati keji, atau tegasnya dia hendak menunjukkan bahwa dia adalah orang yang keras diluar lunak didalam. Coba kau lihat tampangmu sekarang mana orang sudah pergi jauh kau masih berdiri melongo disitu."
"Tapi mengapa dia harus memberi pertanda kepadaku kalau dirinya adalah lelaki sejati, seorang kuncu...."
Gumam Kim Thi sia lebih jauh dengan wajah tak mengerti. Mendadak ia seperti teringat sesuatu dengan amarah yang meluap kontan teriaknya.
"Yaa, aku memang tolol, aku memang bodoh soal apapun tidak mengerti hanya kau seorang yang pintar hanya kau yang tahu urusan."
Melihat kekasaran pemuda itu lima orang gagah dari Yang wi segera menggerutu.
"Bagaimana sih Kim Thi sia ini, maka kasih sayang seorang pemuda terhadap gadispun tak dimengerti. Perempuan manakah didunia ini yang tidak manja serta bersikap macam begini? Aaaai......bila orang she Kim ini berwatak dia berpendirian seperti ini. Bagaimanakah mungkin mereka akan bisa hidup berbahagia dikemudian hari?"
Semula Lin lin masih tersenyum dan bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk berbaikan lagi dengan sang pemuda.
Tapi begitu Kim Thi sia mengumbar wataknya yang aneh, kontan saja sinona jadi sewot.
Betapapun sabarnya dia, saat ini pun tak akan mampu menahan gejolak emosinya lagi.
Mendadak ia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ tanpa mengucapkan sepatah katapun.
seandainya Kim Thi sia yang melihat gelagat tidak menguntungkan segera mengejar serta membujuknya dengan kata-kata lembut mungkin gadis itu akan kembali kesisinya.
Apa mau dikata ia justru mengumbar wataknya menuruti suara hati, bukan saja ia tak mengejar serta membujuknya, malahan dengan suara yang tajam teriaknya keras.
"Kalau mau pergi silahkan pergi. Lebih baik kita tak usah bertemu lagi selama hidup,"
Lima orang gagah dari Yang wi sudah berusia lebih dari tiga puluh tahunan pengetahuan mereka luas, pengalamanpun banyak.
Apa lagi dalam soal cinta muda mudi, sudah barang tentu merekapun cukup mengetahui tempat dimanakah akibat dari teriakan tersebut.
Namun untuk mencegah kejadian ini tak sampai lagi, dalam hati kecil mereka hanya bisa berseru.
"Waaaah bisa berabe ini......."
Ternyata dugaan mereka memang benar.
Mendadak Lin lin membalikkan badannya serta menatap wajah Kim Thi sia lekat-lekat.
Wajah cantiknya yang semula berwarna putih kemerah-merahan kini sudah berubah menjadi pucat pias karena marah bercampur sedih, sambil menggigit bibir ia segera berseru.
"Kim Thi sia, sekalipun aku bersalah kau boleh memukulku atau memakiku, tapi kau tidak seharusnya mengusirku dengan cara sekasar ini....."
Dengan perasaan sedih, pedih dan perasan yang hancur lebur ia segera lari meninggalkan tempat itu.
sementara air mata jatuh bercucuran bagaikan air hujan.
Lima orang gagah dari Yang wi bukan lelaki yang berhati keras dan dingin seperti besi mereka segera terpengaruh oleh rasa sedih yang terpancar dari wajah sinona.
Lupa dengan luka yang diderita, serentak mereka maju mendekati pemuda itu, lalu teriaknya dengan suara mendongkol.
"Kim tayhiap....."
Waktu itu Kim Thi sia mulai menyesal, tapi nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya dengan lemah katanya.
"Kalian pergilah melindungi keselamatan jiwanya,jangan biarkan dia luka atau dicelakai oleh kaum iblis dari golongan hitam"
"Bagaimana dengan Kim tayhiap sendiri? Apakah tidak ikut bersama......?"
Kembali lima orang gagah dari Yang wi menegur.
"Tidak. la sedang marah lebih baik aku tidak menemuinya dalam berapa hari mendatang."
"Kim tayhiap bermaksud akan pergi kemana?"
"Tidak tentu biar kutengok kalian dikemUdian hari saja."
Setelah tertawa getir, selangkah demi selangkah Kim Thi sia berjalan meninggalkan tempat itu. sekarang ia baru merasakan betapa sengsaranya seseorang yang terlibat dalam hubungan "asmara"
Dengan masgul ia berjalan sambil menyepaki batu-batu kecil, langkahnya terasa amat berat belum lagi mencapai dua jam, dia sudah berubah menjadi seorang yang lain.
Dengan kepala tertunduk ia berjalan menelusuri setiap jalan raya yang ditemui tapi lama kelamaan dia mulai merasa jenuh dan bosan sementara kegelapan malam sudah mulai menyelimuti seluruh angkasa.
Akhirnya sampailah dia didepan sebuah rumah penginapan sambil celingukan kedalam segera teriaknya keras-keras.
"Hey, kemana perginya sipelayan?"
Suara langkah manusia bergema tiba, sipelayan yang terluka tadi telah muncul dengan wajah senyuman dipaksa, serunya kemudian seraya menjura.
"Apakah kek koan hendak mencari tempat pemondokan?"
Senyuman yang tawar tak dapat menutupi rasa gugup, panik, takut dan perasaan tak tenteramnya. Kim Thi sia manggut-manggut. Dengan cepat pelayan itu berkata lagi.
"Maaf kek koan, hari ini penginapan kami tidak menerima langganan baru........"
"Apa maksudmu?"
Kim Thi sia segera tertegun.
Ia mencoba mengawasi keadaan didalam ruangan penginapan, tapi apa yang terlihat hanya kegelapan yang pekat, semua lentera telah dipadamkan sehingga suasana hening dan sepi.
Dengan perasaan tercengang ia bertanya lagi.
"Sudah penuh semua kamar disini?"
"Bukan begitu"
Sahut pelayan sambil tertawa getir. setelah menjura dalam-dalam kembali terusnya.
"Maaf kek koan semua kamar dalam penginapan kami telah diborong orang"
"ooooh, seharusnya hal ini merupakan berita baik untuk kalian, mengapa kau justru bermuram durja?"
Kim Thi sia tidak habis mengerti. Agaknya ada suatu kesulitan yang tak bisa diutarakan pelayan itu, dengan wajah masam ia menggeleng.
"Aaaai....lebih baik tak usah disinggung lagi, memang beginilah keadaan penginapan kami."
"Kau jangan mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, aku pingin tanya. Apakah orang yang memborong semua kamar dipenginapan ini adalah begal atau mungkin pentolan perampok?"
"Kek koan, lebih baik kau jangan banyak bertanya"
Pelayan itu tertawa getir.
"Coba lihat tulang bahuku ini......"
Sambil memegang bahunya dengan wajah kesakitan ia berhenti sejenak, tapi kemudian dengan perasaan tak puas dan nada benci lanjutnya lebih jauh.
"Belum pernah kujumpai ada nona yang begitu susah dilayani. HHmmm semenjak aku bekerja dirumah penginapan ini, belum pernah kujumpai orang yang pakai aturan seperti dia, begitu masuk kekamar, kalau bukan mengatakan ini jelek. Tentu mengatakan itu kurang baik, tempat kurang bersih, ranjang kurang empuk.....sedikit-sedikit sudah memaki dan memaki terus. Huuuh...., sungguh menjengkelkan, apa lagi kalau tak berkenan dihati, segera diundangnya sang anak buah yang besar seperti malaikat gunung untuk menggaplok atau menghajarku........"
Setelah meludah, sambil menggigit bibir katanya lebih jauh.
"Dia mengira setiap bangsa Han adalah manusia-manusia rendah yang menyukai uang setengah mati, maka asal membayar dengan uang emas atau perak. lantas orang lain dianggap seperti budak. Hmmm, engkau tahu ketika aku datang menghantar teh, sewaktu masuk kedalam kamar aku disuruh berlutut. Hmmm, tentu saja aku menolak, tapi tiga orang lelaki raksasa yang berwajah macam malaikat gunung itu segera menghajarku habis-habisan. sampai sekarangpun tubuhku terasa linu dan sakit terutama tulang bahuku, rasanya seperti sudah remuk saja tulang disekitar sana. Akhirnya diapun memaki kita orang-orang Han sebagai babi."
Belum selesai perkataan tersebut diucapkan, dengan marah yang meluap-luap Kim Thi sia telah bertanya.
"Bagaimana tampang orang itu? Apakah dia adalah seorang nona berwajah amat cantik seperti bidadari dari khayangan dan rambutnya diikat dengan tiga buah gelang emas?"
"Kek koan, kau kenal dengan perempuan itu?"
Sipelayan bertanya dengan mata terbelalak dan suara tergagap.
"Tentu saja"
Pelayan itu semakin gelisah.
"Jadi kek koan stu rombongan dengannya."
Ia nampak panik sekali, seolah-olah takut Kim Thi sia akan menjatuhi hukuman yang lebih berat lagi kepadanya karena ia telah menjelek-jelekkan gadis cantik tersebut dihadapannya.
"Kau tak usah gelisah"
Ujar Kim Thi sia sambil melangkah masuk keruang penginapan.
"Kau bukan satu rombongan dengan mereka, Ia telah merampas pedangku maka aku akan segera memintanya kembali. Hey, katakan kepadaku, ia berdiam dikamar yang mana?"
Pelayan itu segera merasakan hatinya berdebar keras, perasaan tak tenang yang semula mencekam perasaannya pelan-pelan mereka kembali, tapi seperti menguatirkan sesuatu segera katanya lagi.
"Kek koan, terus terang saja seumur hidupku baru pertama kali ini kujumpai nona yang berparas begitu cantik bak bidadari dari khayangan, aku berani mengatakan didunia ini tak akan ada gadis kedua yang bisa menandinginya, tapi sejak ia memakiku dan menyuruh orang memukulku. Aku mulai membencinya, kek koan kau harus berhati-hati dengan tiga manusia aneh yang bertubuh kekar seperti malaikat gunung itu mereka tak mudah dilayani."
Kemudian sambil menjulurkan lidahnya ia menambahkan.
"Pagi tadi, dengan mata kepala sendiri kusaksikan mereka bertiga melatih ilmu silat. Hanya dengan sekali pukulan saja, sebatang pohon besar yang tumbuh ditengah kebun sudah terhajar patah, bayangkan saja meski rasa benci dan dendamku meluap-luap mana berani kubalas sakit hati tersebut."
Makin mendengar Kim Thi sia merasa makin gusar, tiba-tiba ia mendorong pelayan itu kesamping, lalu masuk kedalam ruang penginapan dengan langkah lebar, teriaknya.
"Kau tak usah kuatir, aku akan membalaskan dendam bagimu"
Pelayan itu tak mendengarkan perkataan tersebut hingga selesai, karena tiba-tiba saja dia melarikan diri ketengah jalan dengan langkah cepat, lalu sekejap kemudian sudah lenyap dari pandangan mata.
Entah ia sudah bersembunyi dimana.
sambil menelusuri beranda rumah Kim Thi sia mengawasi keadaan disekelilingnya dengan seksama waktu itu hari sudah gelap.
Dalam berandapun tiada cahaya lentera.
Bahkan sesosok bayangan manusiapun tak nampak.
hal ini membuat penginapan yang besar terasa lengang dan menyeramkan.
"Tak heran kalau semua orang yang berada dalam penginapan telah kabur semua."
Demikian ia bercikir.
"Agaknya ketiga orang yang disebut sebagai "ciangkun"
Itu bukan cuma berwajah jelek dan berperawakan raksasa. Bahkan ganasnya setengah mati, sedikit-sedikit ia suka memukul orang lain."
Sambil mendengus dingin ia segera belokpada satu tikungan dan menelusuri beranda yang lain.
Akhirnya dari kajuhan sana ia melihat ada cahaya lentera yang memancar keluar dari balik sebuah ruangan besar, dalam seluruh bangunan penginapan yang begitu luas, hanya dari kamar itu saja tampak cahaya lentera, oleh sebab itu Kim Thi sia segera menduga secara pasti bahwa dikamar itulah Kim huan kuncu berdiam.
Ketika terbayang kemampUan tiga makhluk raksasa yang berkekuatan maha besar itu, ia hanya nampak berhenti sebentar, kemudian sambil membusungkan dada melanjutkan kembali langkahnya.
"Pedang mestika Leng gwatpo kiam merupakan mestika warisan keluargaku, mengapa aku mesti biarkan ia merebutnya? Bila arwah ayah didalam baka sampai tahu, dia pasti akan merasa tak senang hati"
Demikian dia berpikir dihati kecilnya.
Berpikir sampai disitu, keberaniannyapun semakin membara.
selisih jarak antara kedua belah pihakpun makin lama semakin mendekat, sekarang Kim Thi sia sudah dapat menyaksikan keadaan didalam kamar itu dengan jelas.
Dari ketiga orang manusia raksasa yang berwajah jelek lagi menyeramkan itu.
Hanya ada dua orang yang sedang berjongkok disisi kiri kanan pintu kamar mereka berjongkok sambil memeluk lutut sementara keempat buah mata mereka yang besar dan bersinar tajam sedang tertuju kearahnya tanpa berkedip.
Biarpun kedua orang manusia aneh itu sedang berjongkok, namun perawakan tubuh mereka justru jauh lebih tinggi ketimbang ketinggian badan Kim Thi sia dalam posisi berdiri teggk sekarang bisa dibayangkan betapa tinggi besarnya manusia-manusia raksasa itu bila mereka berada dalam posisi berdiri tegak.
Bagaikan tidak melihat kehadiran orang-orang tersebut, Kim Thi sia melanjutkan langkahnya mendekati tempat tersebut.
Dua orang manusia raksasa itu mulai memperdengarkan suara raungan rendah yang menyerupai pekik binatang liar, sementara sepasang matanya yang lebih besar dari lentera mulai memancarkan cahaya buas yang menggidikkan hati.
Ketika Kim Thi sia maju dua langkah lebih mendekat, tiba-tiba saja kedua orang manusia raksasa itu bangkit berdiri Bagaikan sebuah bukit kecil yang menghadang jalan pergi Kim Thi sia, mereka membentak dengan suara rendah.
"Kau jangan mencoba maju lagi kemari"
Ucapan tersebut disampaikan dengan bahasa Han yang kaku, suaranya kasar dan amat tak sedap didengar. Tapi Kim Thi sia dapat menangkap arti perkataannya, dengan angkuhnya dia menjawab.
"Aku hendak berjumpa dengan Kim huan kuncu."
Tiba-tiba kedua manusia raksasa itu melompat bangun seluruh beranda segera bergoncang keras bagaikan terlanda gempa bumi dahsyat.
Atap berguguran keatas tanah, dinding ruangan bergetar keras dan nyaris retak debu danpasir beterbangan diseluruh udara....
Rupanya kedua orang itu merasa terperanjat karena pemuda itu yang dapat menyebutkan nama majikan mereka dengan jelas.
begitu dapat menguasai diri kembali, dengan sepasang mata yang membelalak besar mereka awasi wajah Kim Thi sia tanpa berkedip.
sorot mata yang hijau menyeramkan bergerak dari ujung kepala hingga keujung kakinya.
Kim Thi sia tak sanggup beradu pandangan dengan mereka.
Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Tapi pemuda itu segera berpendapat bahwa tindakan semacam ini menunjukkan kelemahannya sedapat mungkin dia alihkan kembali sorot matanya untuk balas menatap wajah lawan-Tiba-tiba kedua orang raksasa itu seperti teringat siapakah Kim Thi sia ini dengan pandangan terkejut bercampur keheranan mereka saling berpandangan sekejap.
lalu tegurnya lagi dengan bahasa Han yang kaku.
"Anjing bangsa Han, rupana kau"
Kim Thi sia amat gusar, umpatnya.
"Bajingan suku asing, hati-hati sedikit kalau berbicara bila kalian berani mengusikku, maka aku tak akan perduli berapapun kehebatan kalian. sepanjang hidup aku tak akan melepaskan kalian dengan begitu saja."
Berbicara sesungguhnya, pemuda ini memang seorang yang mampu berbicara mampu pula melaksanakan.
Dua orang manusia raksasa itu segera berpekik keras, kendatipun mereka tak bisa menangkap arti kata-kata tersebut, namun bisa merasakannya dari perubahan mimik muka Kim Thi sia yang dicekam hawa amarah itu, serunya kemudian.
"Kau berani memaki kami? Aku akan patahkan tulang badanmu"
"Kentut busuk mak mu"
Umpat Kim Thi sia lagi.
sambil membentak, lagi-lagi dia mendesak maju kemuka.
Dengan demikian selisih jarak diantara kedua belah pihakpun tinggal tiga depa saja, atau dengan perkataan lain, asal kedua orang raksasa itu mengayunkan tangan mereka, maka sekali jangkauan saja sudah cukup untuk menghajar Kim Thi sia.
Namun kedua manusia raksasa itu tidak melakukan sesuatu gerakan, agaknya mereka sudah dibuat tertegun oleh sikap maupun tindakan Kim Thi sia yang amat berani itu.
"Hey, apakah kalian sudah mendengarnya?"
Kembali Kim Thi sia berteriak keras.
"Bajingan gede, cepat minggir dari situ, aku hendak bertemu dengan Kim huan kuncu"
Manusia yang berada disebelah kiri berpekik keras, sorot matanya mencekam, bukannya menyingkir kesamping.
Tiba-tiba saja dia melepaskan sebuah pukulan kedepan.
Cepat-cepat Kim Thi sia menyingkir kesamping, kemudian jengkeknya sambil tertawa nyaring.
"Haaaahh.....haaaah.....haaaah.....tempo hari aku sudah cukup kenyang menerima kebaikanmu, untung nyawaku belum sempat kabur dari dunia ini, maka kali ini aku tak akan membiarkan diriku digebuki segampang dulu lagi........"
Dengan mengeluarkan jurus "maju terus pantang mundur"
Sebuah gerak serangan dari ilmu pedang panca Buddha, tiba-tiba saja ia melepaskan sebuah pukulan kedepan.
Bunga-bunga pukulan menyebar keseluruh angksa, lalu berkuntum-kuntum melayang kembali kebawah, begitu dahsyat dan hebatnya jurus serangan ini membuat manusia raksasa tersebut menjadi gugup dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya.
"Duuuukkkk. ....."
Tak ampun lagi pukulan keras itu bersarang diperutnya dengan telak.
Ia mendengus tertahan dan mundur dua langkah kebelakang, tubuhnya terbungkuk-bungkuk sambil memengangi perutnya, jelas ia merasa kesakitan luar biasa.
Melihat itu Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak.
diangkatnya tangan sendiri dan diperhatikannya sekejap dari serangan yang dilancarkan tanpa dugaan ini dia dapat membuktikan kalau tenaga dalam yang dimilikinya telah memperoleh kemajuan yang pesat.
sementara itu manusia raksasa kedua telah menerjang datang seperti harimau kelaparan, angin serangan yang menderu-deru bagaikan amukan angin topan terasa begitu mengerikan sehingga cukup membuat keder bagi mereka yang berilmu silat agak rendah.
Namun Kim Thi sia sama sekali tak gentar, sambil mengayunkan telapak tangannya dia sambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaaammmm......."
Ditengah benturan yang amat keras tubuh Kim Thi sia jatuh beejumpalitan beberapa kali kebelakang.
Ia sudah terbiasa dengan suara yang timbul karena bentrokan tenaga pukulan dengan musuh diapun sudah terbiasa dengan penderitaan rasa sakit akibat terpukul mundur oleh kekuatan lawan, karenanya Kim Thi sia sama sekali tak berkedip ataupun mengeluh karena terlempar kebelakang.
Sambil merangkak bangun, ia menerjang lagi kearah manusia raksasa tersebut dengan jurus yang sama yaitu "maju terus pantang mundur."
Manusia raksasa itu meraung penuh amarah, sambil menerjang pula kedepan umpatnya keraskeras.
"Anjing bangsa Han, kau telah mengganggu ketenangan tidur tuan putri kami, kau jangan harap bisa pergi lagi dari sini dalam keadaan hidup-hidup........"
Sambil melepaskan serangan yang dahsyat, Kim Thi sia sengaja hendak membuat Kim huan kuncu mendongkol, dengan suara keras segera teriaknya.
"Huuuuuh......tuan putri apaan macam dirinya itu? aku lihat dia tak lebih cuma seorang kepala begal"
Secara beruntun beberapa kali benturan terjadi, tubuhnya pun terlempar sejauh tiga kaki lebih dari posisinya semula.
Dengan terjadinya berapa kali benturan keras yang memekikkan telinga, rupanya suara hiruk pikuk tersebut segera membangunkan putri Kim huan dari tidurnya.
Disaat manusia raksasa itu siap melancarkan terkaman kembali, dari balik telah terdengar suara teguran dari seorang gadis yang merdu.
"Apa yang telah terjadi diluar? mengapa begitu gaduh?"
Dua orang manusia raksasa itu serentak menarik kembali serangannya, lalu menjawab dengan hormat.
"Anjing bangsa Han itu telah....telah datang lagi mencari gara-gara......."
"oooh......"
Agaknya putri Kim huan merasa terkejut bercampur keheranan, selang sesaat kemudian ia baru berseru.
"Usir dia pergi dari sini"
Dua orang raksasa itu segera mengiakan-masing-masing dengan merentangkan telapak tangannya siap melakukan pengusiran. Umpatan "Anjing bangsa Han"
Yang tertuju kepada Kim Thi sia tadi rupanya telah membangkitkan rasa nasionalnya, ia merasa kehormatan bangsanya dihina orang, apa lagi mendengar putri Kim huan memerintahkan anak buahnya untuk mengusir dia, hawa amarahnya kontan saja berkobar dan meluap-luap.
Bentaknya dengan suara keras.
"Kepala begal, kau adalah kepala begal perempuan dari negeri asing. Kalian bangsa Kim memang tak lebih cuma sekawan bangsa perampok. termasuk juga raja dan putrinya....."
Tampaknya kedua manusia raksasa itu merasa teramat gusar hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya yang jelek agaknya mereka sudah bertekad hendak membungkam mulut anak muda tersebut untuk selama lamanya.
sayang Kim Thi sia belum sadar kalau ancaman maut telah berada didepan mata dia masih mengumpat terus dengan penuh emosi.
Dua orang raksasa itu mulai menggetarkan seluruh tubuhnya keras-keras, sepasang tangannya mulai digosokkan satu dengan lainnya, agaknya mereka sedang mempersiapkan semacam ilmu pukulan yang maha dahsyat.
Tapi....disaat yang kritis inilah mendadak pintu kamar dibuka orang, lalu tampak manusia raksasa ketiga munculkan diri seraya berseru.
"Hey, putri Kim huan menyuruh kau masuk"
Nada perkataan itu jelas bernada memerintah, kontan saja Kim Thi sia berkerut kening dan menunjukkan wajah tak senang hati.
Tapi untuk mencapai tujuan yang lain, terpaksa dia baru menahan rasa gusar dan mendongkol yang mencekam perasaannya itu dengan langkah lebar ia segera masuk kedalam ruangan.
Dua manusia raksasa itu tertawa seram, tiba-tiba mereka lancarkan terkaman kembali dengan hebatnya.
Tubuh belum mencapai sasaran angin sergapan yang menderu-deru seperti hembusan angin puyuh telah melanda tiba dengan hebatnya.
Padahal waktu itu Kim Thi sia sedang melangkah masuk kedalam ruangan, pintu kamar begitu semcit sehingga tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri Tampaknya bila serangan dahsyat dari kedua manusia raksasa itu bersarang telak ditubuh sasarannya, betapapun lihaynya ilmu silat yang dimiliki seseorang niscaya akan terbunuh juga.
Disaat yang amat kritis inilah tiba-tiba terdengar putri Kim Huan membentak keras.
"Hey, mengapa kalian tidak mentaati perintahku dan melanjutkan serangan........? sebenarnya apa maksudmu?"
Bentakan ini kontan saja mengejutkan dua orang raksasa yang sedang melancarkan serangan itu, dengan perasaan bergidik cepat-cepat mereka membuyarkan kembali ancamannya.
Kendatipun begitu, toh masih ada sebagian tenaga yang tak terkontrol sempat menerjang kemuka dan menghantam tubuh Kim Thi sia hingga maju sejauh berapa kaki dengan sempoyongan, suasana dalam ruanganpun turut menjadi gelap.
Untung saja kamar itu cukup luas dan lagi Kim Thi sia segera berhasil menyambar sebuah kursi hingga tubuhnya pun segera berhenti.
Dengan perasaan yang geram ia segera memaki.
"Dasar bajingan, tak salah lagi kalau kubilang kalian adalah kawanan perampok. Huuuh.....tahu begini, akupun akan menyergap kalian secara tiba-tiba pingin kulihat bagaimana cara kalian untuk menghindarkan diri"
"Bagaimana sih kau ini"
Putri Kim huan segera menegur dengan suara dingin.
"Mengapa kau begitu senang memakai orang?"
Walaupun suaranya dingin dan hambar namun terselip pula sikap acuh tak acuhnya, seakanakan dia baru terjaga dari tidurnya sehingga rasa kantuk belum hilang sama sekali.
Sementara itu suasana didalam ruangan telah terang benderang kembali, keadaan disitupun dapat terlihat dengan jelas.
Waktu itu putri Kim huan sedang duduk disisi pembaringan dengan mengenakan pakaian tidur yang amat tipis, kakinya yang putih mulus kelihatan telanjang, rambutnya amat kusut dan baju tidurnya tak teratur.
Namun sepasang matanya yang jeli dan besar justru memancarkan sinar yang terang benderang, tak sedikitpun rasa kantuk yang terpancar dari sana.
Ketika ia memandang sekejap kewajah Kim Thi sia dengan pandangan dingin, pemuda itu segera merasakan hatinya berdebar keras dan hampir saja melompat keluar dari rongga dadanya.
suatu perasaan hangat tapi bukan hangat, dingin pasti bukan dingin dengan cepat menyelimuti seluruh lubuk hatinya.
Dengan sekuat tenaga Kim Thi sia berusaha menunjukkan sikap acuh tak acuh, sementara dihati kecilnya ia berpikir.
"Hmmmm dia memandang hina kami bangsa Han akupun tak boleh menundukkan kepala dihadapannya"
Setelah termangu berapa saat, akhirnya pemuda itu berhasil menenangkan hatinya kembali, ia segera berkata.
"Maksud kedatanganku kemari adalah untuk meminta kembali pedang Leng gwatpo kiam tersebut. Kuharap kau jangan bermaksud menyusahkan aku, sebab bila aku sampai marah, tak akan kuperdulikan siapakah dirimu"
Sambil berkata dia segera maju dua langkah kedepan dan mengawasi gadis tersebut dengan sorot mata yang tajam, ia sedang menantikan jawabannya.
Dari arah belakang terdengar suara langkah manusia, tanpa berpaling Kim Thi sia segera tahu bahwa ketiga manusia raksasa itu sudah berdiri dibelakangnya serta mengawasi setiap gerak geriknya.
Akan tetapi ia tidak takut, setiap kali rasa ngeri muncul dalam benaknya,aliran darah angkuhnya segera menimbulkan perasaan malu dalam hati kecilnya.
Tampaknya Putri Kim huan merasa jemu dengan masalah itu, dengan kening berkerut ia segera berseru.
"Pedang Leng gwatpo kiam kubeli dengan uang, kenapa kau menuduhku.........."
"Hmmm, enak benar kalau berbicara"
Tukas Kim Thi sia sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kata-katanya.
"siapa yang telah menjualnya kepadamu? Bila kau tak pakai aturan, akan kubuat seluruh rakyat bangsa Kim menjadi malu."
Kembali putri Kim huan berkerut kening, katanya.
"sudah berapa kali kuperingatkan kepadamu, berbicaralah yang sopan dan tahu adat, jangan menyinggung perasaan orang lalu semaunya sendiri Hmmm, tapi nyatanya watakmu tersebut tak pernah berubah, atau mungkin bangsa Han kalian memang manusia-manusia yang tak tahu sopan santun?"
"Tutup mulutmu yang bau, kau belum berhak untuk mengeritik bangsa Han kami"
Bentak Kim Thi sia dengan mata melotot. Putri Kim huan kelihatan agak tertegun, lali serunya lagi.
"Jadi kau sengaja datang kemari untuk mengajakku cekcok?"
"Pokoknya selagi pedang Leng gwatpo kiam belum diserahkan kembali kepadaku jangan harap pula kau bisa peroleh kehidupan yang tenang, terus terang kukatakan kepadamu, mungkin kaupun sudah mengetahui secara jelas, didaratan Tionggoan aku dikenal orang sebagai Kim Thi sia, manusia yang paling susah dilayani........"
Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar suara yang aneh, cepat-cepat dia membalikkan badan sambil mengayunkan telapak tangannya.
Ternyata ketiga manusia raksasa itu sedang melotot kearahnya dengan wajah penuh kegusaran.
Putri Kim huan segera mengulap tangannya dan berkata.
"sebelum mendapat perintahku, kalian jangan berkelahi didalam kamarku ini....."
Tiga orang raksasa itu serentak berlutut, serunya dengan perasaan tak puas.
"Tuan putri, anjing bangsa Han itu selalu berbicara kotor dan tidak senonoh......"
Kim Thi sia kontan saja berkerut kening, agaknya dia hendak mengumbar hawa amarah. Tapi putri Kim huan telah berkata lebih dulU.
"Aku mengerti, dan sekarang adalah kesempatan yang paling akhir baginya untuk bersikap galak dan kasar kepadaku. Lain kali aku tak akan membiarkan ia berbuat semaunya sendiri"
Dengan perasaan amat tak sabar terpaksa ketiga orang itu berdiri disisi ruangan namun dari sikap mereka kelihatan jelas bahwa orang-orang itu sudah tak bisa menahan diri lagi, setiap saat hawa amarahnya bisa meledak dengan hebatnya.
Sinar lentera yang terang benderang menyinari wajah putri Kim huan yang cantik, Wajahnya yang menawan hati bakbidadari kelihatan lebih cantik dan menawan hati.
Agaknya ia sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba sambil tertawa diambilnya sebilah pedang mestika dari sisi tubuhnya.
Pedang itu tak lain adalah Leng gwatpo kiam milik Kim Thi sia.
Tampaknya kemanapun ia pergi, pedang tersebut selalu dibawanya kemana-mana dari sini dapat diketahui betapa berharganya senjata itu dalam pandangannya.....
setelah mengambil pedang tersebut putri Kim huan baru berkata lagi sambil tersenyum.
"Aku dengar suka yang indah merupakan watak setiap manusia, terutama bagi kalian bangsa Han. Apakah kau setuju dengan pendapat itu?"
Dengan wajah tak habis mengerti Kim Thi sia mengangguk.
Dia tak tahu permainan setan apakah yang sedang dipersiapkan nona itu.
Putri Kim huan segera tertawa, sepasang lesung pipinya kelihatan amat jelas, setelah termenung sesaat dengan alis mata berkenyit tiba-tiba ia bertanya lagi.
"cantikkan wajahku?"
Kim Thi sia tertegun, ia makin tak habis mengerti.
Kecantikan wajahnya sangat menonjol, bahkan setiap orang yang bisa melihat pasti dapat merasakan hal tersebut, lalu apa maksudnya mengajukan pertanyaan seperti itu?
"Huuuuh, apa artinya pertanyaan itu?"
Kim Thi sia mulai menggerutu didalam hati. Tapi diluarnya dia mengangguk. meski tak mengerti apa makna dari pertanyaan tersebut, sahutnya juga.
"Kau memang amat cantik, kuakui hal tersebut sejujurnya"
Kembali putri Kim huan tersenyum, senyuman yang membuat wajahnya nampak lebih cantik dan menawan hati.
Kim Thi sia tak berani manatap wajahnya berlama-lama, ia merasa kecantikan nona itu seperti mempunyai daya pikat yang luar biasa menjerumuskan seseorang kedalam cengkeramannya .
Ia mencoba berpaling kebelakang, ternyata ketiga orang "ciangkun"
Itupun sedang berdiri termangu-mangu macam orang bodoh. Agaknya merekapun terpesona oleh keayuan majikanya. Melihat hal ini, diam-diam ia menghela napas, pikirannya.
"seandainya ia dapat bersikap lembut dan gampang diajak berbicara seperti sekarang mungkin akupun tak akan memusuhinya terus mcnerus........"
Namun diapun tak habis mengerti mengapa terjadi semua perubahan tersebut?
Mengapa dari sikapnya yang dingin dan angkuh putri Kim huan justru menunjukkan sikap yang lembut menawan hati?
Apa gerangan yang tersembunyi dibalik kesemuanya ini?
Sementara ia masih tersenyum, putri Kim hua telah berkata lagi sambil tertawa merdu.
"Kalau memang aku berwajah cantik dan menarik, mengapa kau selalu memusuhiku? Bukankah kalian bangsa Han menyulai semua yang cantik dan menarik? Atau mungkin terkecuali kau seorang? Aaaai....sepanjang jalan sampai kemari tak sedikit lelaki yang kujumpai tapi belum pernah kutemui seorang manusiapun semacam kau, apakah kau bisa memberi tahu alasannya kepadaku?"
Kim Thi sia segera menjadi paham apa yang menjadi tujuan perempuan itu,pikir punya pikir tiba-tiba saja ia merasa seperti dihina dan dipermainkan secara halus. segera pikirnya.
"Hmmmm, kau manusia akupun manusia, setelah kau merampas pedangku semau hati sendiri, kenapa aku tak boleh memusuhimu?"
Berpikir demikian ia segera mengangkat kepalanya, tampak putri Kim huan sedang mengawasinya sambil tersenyum.
Agaknya gadis itu sedang menantikan jawabannya.
Dalam keadaan seperti ini, hampir saja dia hendak mengurungkan niatnya untuk memusuhi gadis tersebut.
Tapi perasaan tersebut hanya berlangsung sejenak, dengan cepat ia telah berkata dengan lantang.
"Baiklah, kalau toh kau bersikeras hendak mendengarkan akupun tak akan berusaha untuk merahasiakan. Kesatu aku tak kuat melihat sikapmu yang dingin dan angkuh. Kedua meskipun kau cantik bak bidadari dari khayangan namun tidak memiliki kelembutan serta kehalusan seorang gadis. Ketiga meskipun orang lain suka hal yang cantik, aku justru tidak menyenangi hal seperti itu. Hmmmm toh setiap manusia yang berada didunia ini bukan berasal dari orang tua yang sama. Kenapa setiap orang mesti memiliki watak serta kegemaran yang sama?"
Perkataan tersebut kedengarannya memang tepat dan masuk diakal, padahal dalam hati kecilnya pemuda itupun tahu bahwa pandangan tersebut hanya merupakan pandangannya seorang diri Tatkala mendengar alasan yang pertama tadi, senyum manis menghiasi wajah putri Kim huan, tapi setelah mendengar alasan yang kedua ia nampak tak senang hati.
Apa lagi selesai mendengarkan alasan yang ketiga, wajah yang dingin dan kaku telah menyelimuti seluruh wajahnya.
Ia nampak begitu mendongkol sehingga berapa saat Ia manyatak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Kim Thi sia tidak heran atau kaget menyaksikan sikapnya itu, sebab ia sudah menduga kesitu jauh sebelum itu setelah tertawa bangga ia segera mengulurkan tangannya kedepan seraya berseru.
"Nah, pedang Leng gwat kiam harus dikembalikan kepadaku bukan?"
Putri Kim huan masih tetap sadar namun penderitaan sikap batin yang dialami sekarang jauh lebih parah ketimbang ia menangis terseduh sampai setengah harian lamanya ia baru dapat menjawab dengan sepatah kata yang singkat.
"Tidak"
Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya keluar jendela, mengawasi rembulan yang bersinar diatas langit perasaan hatinya amat kalut disamping pedih, akhirnya dengan suara lirih dia bergema.
"Aku tak percaya, aku tidak memiliki kelemahan sebanyak itu, kau sedang menipuku. Aku tahu kau sengaja hendak membuatku sedih, membuatku mendongkol....."
Entah sejak kapan titik air mata ternyata sudah meleleh keluar membasahi pipinya.
Kim Thi sia segera merasakan penyesalan yang tak terhingga namun iapun merasa kegembiraan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, setiap kali melihat gadis itu menangis dengan cucuran air mata, ia selalu merasa murkanya sendiri semakin meningkat.
Diam-diam ia bergumam.
"Hmmm, siapa suruh kau memandang hina orang lain, yang lebih mengesankan lagi kau berani memandang rendah bangsa Han kami. Hmmm....rasain sekarang."
Dua perasaan yang saling bertentangan segera menciptakan suatu perasaan yang bercampur aduk dan luar biasa sekali. Dia sengaja tertawa ringan, katanya.
"Terus terang kubilang, dengan Lin lin pun kau masih ketinggalan jauh sekali......."
Menyinggung kembali soal Lin lin, senyuman yang menghiasi wajahnya hilang seketika, ia merasa terlalu banyak kesalahan yang telah diperbuatnya terhadap gadis itu, dan sekarang ia telah pergi, sedang ia merasa rindu sekali dengan gadis itu...
Dengan meningkatkan suaranya lebih tinggi, pemuda itu berkata lebih jauh.
"Dia tak pernah menyakiti perasaan orang lain, diapun tak pernah bikin susah orang, kecantikannya mencerminkan kesederhanan. ia merupakan seorang gadis yang lembut dan halus. Bila didunia saat ini masih ada yang mengatakan ia tak menarik. mungkin orang itu akan percaya kalau sang surya bisa terbit dari langit barat"
Kemudian setelah berhenti sejenak^ kembali gumamnya.
"seperti apa yang telah kukatakan tadi, kau kekurangan kesemuanya itu. Aku berani mengatakan, orang yang baru pertama kali bertemu denganmu tentu akan memuji akan kecantikan wajahmu yang tiada tandingannya didunia ini. Tapi mereka yang sudah mengetahui seluk belukmu yang sebenarnya mereka pasti akan mengatakan kau dingin, kaku, sombong dan tidak berperasaan. Akhirnya merekapun pasti akan menilaimu sebagai seorang gadis yang tidak sempurna......"
Mendadak putri Kim huan menatap wajahnya lekat-lekat, kemudian teriaknya sambil menggertak gigi.
"Jangan kau lanjutkan perkataanmu itu"
Kim Thi sia mendengus dingin, ia amat puas dengan sikap lawannya, pelan-pelan sinar matanya dialihkan keatas Leng gwatpo kiam yang berada ditangan gadis tersebut, tiba-tiba saja timbul niat untuk merampasnya.
Tapi ia tal sempat untuk melakukan hal ini, sebab putri Kim huan telah menjatuhkan diri keatas pembaringan sedang pedang Leng gwat kiam justru tertindih dibawah badannya.
saking gusar dan mendongkolnya hampir saja ia jatuh tak sadarkan diri.
Putri Kim huan seorang putri raja yang dianggap sebagai gadis paling cantik diseluruh dunia oleh rakyat negeri Kim nya, kini harus merasakan siksaan batin yang luar biasa hebatnya.
selama hidup belum pernah ia mendengar kata-kata seperti ini, diapun tak pernah menyangka ada orang berani mengucapkan kata-kata demikian kepadanya, harga diri yang banyak tahun dipupuk serta dibina hingga mencapai ketingkatan melebihi siapapun serasa tercampakkan begitu saja oleh kata-kata tersebut, membuat ia sakit hati dan tak akan melupakan untuk selama nya.
Kim Thi sia sendiripun amat menyesal gadis secantik bidadari ini boleh dibilang amat langka didunia saat ini.
Kendatipun wataknya agak keras namun iapun bukan manusia sempurna, titik kelemahannya tetap dimilikinya dan sekarang ia telah menyerang titik kelemahan gadis itu, ia merasa menyesal sekali.
Apa lagi bila teringat dengan senyuman manis sikap hangat dan lembut yang terpancar dari mukanya terutama pandangan matanya yang jeli dan begitu menawan hati......
"ploooookkkkk"
La segera memukul jidat sendiri keras-keras.
Bentakan gusarpun segera bergema dari belakang tubuhnya, salah seorang diantara ketiga raksasa itu sudah melotot kearah Kim Thi sia dengan penuh amarah, wajahnya yang jelek kini telah berubah menjadi hijau membesi.
Kalau boleh dia akan menyerang pemuda tersebut sekarang juga, ia akan mencabik-cabik tubuhnya hingga hancur berkeping-keping.
Tapi perintah dari putri Kim huan tak berani dilanggar, ia tak berani bertindak secara gegabah meski kobaran api kegusarannya sudah membara, membuat sepasang matanya yang hijau kini berubah jadi merah berapi-api.
"Anjing bangsa Han......."
Ia mulai mengumpat dengan suara yang parau.
"Kau...kau bajingan besar.....nasibmu bakal berakhir hari ini..... kurang ajar.....kau berani menghina dan mencemoohnya. Kau tahu putri kerajaan Kim kami yang cantik bukan saja memiliki wajah yang ayu rupawan bak bidadari dari khayangan. Diapun menguasahi secara sempurna ilmu main khim, membaca syair, melukis, main catur maupun sulam menyulam. Kau manusia biadab, keparat terkutuk. Hmmmm, tunggu saja sampai ia mendusin nanti, kami bertiga akan menguliti tubuhmU dan mencabik-cabik badanmU......"
Manusia raksasa yang lain segera menyambung pula.
"Anjing bangsa Han, bila kau bisa meemukan seorang gadis dari daratan Tionggoan yang memiliki kecantikan serta kecerdikan melebihi tuan putri kami, setiap saat kau boleh memenggal batok kepalaku."
Secara bergilir ketiga manusia raksasa itu meraung dan mengumpat dengan suara keras dan mata merah membara, masing-masing seperti ingin melampiaskan rasa benci dan dendamnya yang membara.
Andaikata putri Kim huan memberikan persetujuannya, bara api dendam dan benci yang telah meluap-luap itu pasti akan melanda keseluruh daratan Tionggoan dengan Kim Thi sia pribadi, mungkin dia akan merasakan siksaan yang terkeji didunia ini.
Namun putri Kim huan tidak memberikan perintah tersebut, hanya ucapnya dengan sepatah demi sepatah kata.
"Siapakah Lin lin? dia berada dimana? katakan-....cepat katakan........"
Kata-kata itu belum sempat diucapkan hingga habis namun napasnya sudah tersenkal-senkal.
Mimpipun Kim Thi sia tak menyangka kalau putri Kim huan memandang begitu tinggi terhadap harga dirinya ia menjadi tak tega akhirnya dengan suara lembut katanya.
"Lin lin adalah adikku, tapi bukan adik kandungku, sekarang ia telah pergi entah kemana"
"Kau bukan membelainya?"
Seru putri Kim huan sambil membalikkan tubuhnya ia kelihata seperti begitu lemah, bagaikan sebuah sampan kecil yang dipermalukan ombak, membuat ia tak sanggup menahan sedikit gempuranpun.
Kim Thisia agak tergagap.
keberaniannyapun makin melemah sahutnya kemudian lirih.
"Aku....aku tak tahu apakah lebih membelainya atau tidak lagi semestinya memang begitu......"
Sejak dilahirkan, baru pertama kali ini dia berbicara dengan suara tergagap.
Mendadak putri Kim huan melompat bangun, sepasang matanya yang bulat besar nampak bersinar lebih terang, sambil terengah-engah teriaknya keras-keras.
"Enyah.....enyah kau dari sini, aku....aku......"
Kim Thi sia berkerut kening, tapi akhirnya sambil menahan gejolak emosi ia menggeserkan tubuhnya dan mengundurkan diri dari situ. Mendadak terdengar putri Kim huan berseru lagi.
"ciangkun, belenggu....belenggu dia....."
Perubahan yang amat mendadak ini segera membuat Kim Thi sia tertegun sebaliknya tiga orang raksasa yang masih berlutut itu seperti mendapat anugerah yang besar, sambil meraung keras mereka menerjang kemuka dengan menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Kim Thi sia bukan manusia yang gampang menyerah dengan begitu saja, amarahnya segera berkobar, dan tanpa memperdulikan lagi segala sesuatu dia segera menyilangkan telapak tangannya dan menghajar dua orang musuh dan menerjang datang paling muka.
Tapi baru saja serangan mencapai setengah jalan, mendadak ia merasakan tangannya jadi linu dan kaku sehingga tanpa terasa berhenti bergerak.
sementara segenap tenaga yang dimilikipun seperti bola yang kempes tahu-tahu hilang lenyap dengan begitu saja.
Dengan cepat la mundur kebelakang, tapi tubuhnya sudah terbekuk oleh musuh.
Dengan cepat otaknya berputar memikirkan persoalan tersebut, rasa linu dan kaku pada lengannya membuat ia teringat kembali akan pertumpaannya dengan ciang sianseng ditengah jalan tadi, waktu itu sikapnya yang mesrah dan hangat terasa jauh berbeda dengan keadaan yang lumrah.
Tapi ingatan tersebut hanya melintas sesaat, menanti ia merasakan gelagat tak beres, rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya sudah tak tertahankan lagi, tak kuasa lagi ia menjerit keras.
Dibawah cahaya lentera, tampak wajah yang penuh diliputi perasaan benci dan dendam serta suara tertawa yang menyeramkan telah muncul didepan mata, apa lagi disaat seorang raksasa membelenggu tubuhnya dengan tali yang besar, ia sengaja menggunakan tenaganya tiga kali lipat lebih besar.
Kontan saja pemuda itu merintih kesakitan namun watak keras kepalanya membuat dia tak mau mengeluh, bibirnya digigit kencang-kencang.
"Bagaimanapun juga aku toh bakal mati, tampaknya tepukan dari Ciang sianseng telah melukai bagian penting ditubuhku, mUngkin juga nasibku memang jelek sehingga harus mengalami nasib setragis ini"
Ia hanya tahu mengeluh atas nasibnya yang jelek.
la seperti tidak menaruh curiga sama sekali apa sebabnya timbul rasa linu dan kaku pada lengannya dan mengapa kekuatan tubuhnya lenyap dengan begitu saja.
sementara itu si raksasa telah membanting tubuhnya disudut ruangan, lalu meludahi mukanya dengan riak kental, akan tetapi Kim Thi sia menerima penghinaan tersebut dengan mulutnya membungkam dan mata terpejam rapat, dia enggan banyak berbicara, bahkan melirik sekejap kearah putri Kim huan pun tidak.
Entah disebabkan rasa linu dari tubuhnya ataukah belenggu yang mengikat badannya kencangkencang menimbulkan rasa kaku.
sampai lama sekali perasaan linu dan kaku itu masih menyelimuti seluruh badannya.
Ditengah keheningan yang mencekam, mendadak terdengar suara pekikan khim bergema membelah keheningan.
suara pekikan khim seperti apa yang terdengar malam itu.
Ia tahu putri Kim huan pasti sedang memetik tali senar khimnya, dibawah sinar lentera yang terang benderang sebenarnya ia bisa menyaksikan kesemuanya itu dengan jelas.
Namun ia tak sudi melihatnya, melirik sekejappun tidak.....
Irama musik bergema kian lama melengking, tapi tiba-tiba nadanya berubah pula menjadi rendah dan berat pada hakekatnya permainan tersebut tanpa disertai irama yang teratur.
Kim Thi sia sangat keheranan, tapi dia tak ingin melihat gerak gerik maupun mimik wajah gadis itu Lambat laun diapun mulai dapat menangkap makna dari irama tersebut.....
Ketika irama lagu itu mencapai nada yang tertinggi, seakan-akan gadis itu hendak memperlihatkan sikapnya yang dingin dan angkuh, seolah-olah tiada orang kedua yang lebih tinggi daripadanya.
Kim Thi sia tak tahan lagi, ia segera berpaling kesamping, tampak putri Kim huan dengan bajunya yang longgar sedang memetik sebuah khim kecil yang berbentuk aneh sementara air matanya telah membasahi seluruh wajahnya.
Dengan wajah hijau membesi dia memusatkan perhatiannya keatas alat khim tersebut, napasnya nampak terengah-engah bahkan tangannpun kelihatan gemetar keras.
Ia mencoba berpaling lagi, tampak ketiga manusia raksasa itupun berlutut dengan wajah bercucuran air mata, tubuhnya kelihatan gemetar keras.
Walaupun ketiga manusia raksasa itu kelihatan garang dan buas seperti iblis hingga siapapun merasa seram bila menjumpainya, tapi sekarang mereka kelihatan begitu jinak dan memelas.
saat itulah mendadak......
Akhirnya salah satu diantara ketiga orang raksasa itu tak sanggup menahan diri lagi, ia merengek dengan suara pedih.
"Tuan putri.....tuan putri......kau tak boleh meneruskan permainanmu, kami kuatir bila kau lanjutkan maka.......maka......."
Kata selanjutnya ditelan kembali bersama cucuran air mata.
Kim Thi sia tak habis mengerti namun diapun tak berani bertanya, sebab ia sadar rasa benci orang-orang disitu kepadanya melebihi rasa benci seorang musuh terhadap pembunuh orang tuanya.
Putri Kim huan tidak menggubris, dia masih meneruskan permainannya,jari jemari yang putih lentik masih saja menari diatas senar khim, sementara tubuhnya turut bergoyang pula kekiri dan kekanan.
Dia seperti tak akan menghentikan permainannya sebelum kehabisan tenaga, sebelum tubuhnya menjadi lelah.
sedang air matanya bercucuran keluar terus seperti bendungan sungai yang jebol.
Lama kelamaan manusia raksasa yang berlutut disebelah kiri itu tak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba ia melompat bangun dan menotok jalan darahnya....
Putri Kim huan tidak merasa, bahkan ketika jari tangan raksasa itu menyentuh tubuhnyapun ia seperti tak merasakannya sama sekali.
Dalam keadaan seperti ini, biarpun disekeliling tubuhnya telah muncul berpuluh ekor harimau yang sedang mengaum keraspun, mungkin putri tersebut tak akan merasakan.
Begitu jari tangan raksasa itu menotok jalan darahnya, putri Kim huan segera mengenjotkan jari tangannya dan tanpa mengucapkan sepatah kata jatuh tertidur dengan nyenyak.
Dua orang raksasa yang lain segera menghembuskan napas panjang, kemudian pelan-pelan bang kit berdiri.
Tanpa berbicara ha atau hu, ketiga orang raksasan itu serentak berjalan mendekati Kim Thi sia, lalu mengayunkan tangannya yang besar dan........
"Plaaak Ploook Plaaak Plook"
Berapa kali tamparan keras membuat pemuda itu merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pening tujuh keliling, darah kental bercucuran keluar membasahi ujung bibirnya.
Diamdiam Kim Thi sia mendengus dingin, pikirnya.
Jilid 15
"Seorang lelaki yang sejati harus pandai menyesuaikan diri dengan keadaan-Hmm hari ini kalian boleh bergaya, tapi suatu ketika aku pasti akan menyuruh kalian merasakan betapa hebatnya pembalasan dari Kim Thi sia."
Mungkin lantaran tamparan tersebut kelewat keras, tak lama kemudian sudah roboh tertidur.
Entah berapa saat sudah lewat, ia terbangun dari tidurnya oleh suasana hiruk pikuk disekelilingnya serta suara langkah manusia yang berjalan mondar mandir.
cepat-cepat dia membuka matanya sambil memperhatikan sekeliling tempat itu, tapi apa yang kemudian teriihat segera membuat hatinya tertegun-Ternyata mereka sudah berada diatas sebuah loteng diatas rumah makan yang terbesar dan termegah itu.
Saat tersebut, sorot mata semua tamu yang berada disekeliling tempat itu sedang tertuju kearahnya, bahkan mengawasinya dengan keheranan dan pandangan tak habis mengerti.
Kim Thi sia mencoba untuk mengawasi sekitar sana, diapun melihat Kim huan beserta ketiga manusia raksasanya sedang minum arak sambil memandang keluar jendela sana.
Rupanya dalam keadaan terbelenggu ia dilemparkan kesudut ruangan rumah makan itu.
Dibawah pandangan orang banyak keadaannya menjadi mengenaskan sekali.
Menyadari hal itu, kontan saja dia menyumpah-nyumpah didalam hati, saking tak tahannya menghadapi rasa malu cepat-cepat pemuda itu memejamkan matanya kembali.
Ia mendengar dengan jelas suara bisik-bisik dari para tamu rumah makan itu.
Apa yang mereka bicarakan sudah bisa ditebak dengan jelas, sebab dengan perawakan tiga manusia raksasa yang luar biasa dan dandanan mereka yang aneh sudah merupakan bahan pembicaraan yang mengasyikkan bagi semua orang disitu.
Apalagi disitupun hadir putri Kim huan yang kecantikan wajahnya tak terlukis dengan perkataan, boleh dibilang semua tamu dibuat gempar bahkan orang yang berada diluar rumah pun berusaha memasuki ruangan itu untuk turut menikmati kecantikan wajahnya.
Betapapun berjubelnya orang-orang untuk menyaksikan kecantikan wajahnya, namun putri Kim huan tak ambil perduli dia acuh tak acuh, seolah-olah kejadian semacam ini sudah lumrah baginya.
Ia sendiri tetap tenang dan tentram sambil menikmati keindahan panorama diluar jendela situ.
Keningnya kelihatan berkerut, ia seperti ada persoalan yang sedang mengganjel hatinya, namun rasa simpatik dari Kim Thi sia kini telah berubah menjadi rasa benci, apa lagi membiarkan ia dibelenggu serta ditonton oleh umum.
Kejadian macam begini boleh dibilang merupakan suatu penghinaan yang tak terlukis dengan perkataan.
Apa jadinya bila peristiwa semacam ini sampai tersiar luas dalam dunia persilatan?
apa jadinya bila ada orang yang kenal dengannya melihat peristiwa ini?
Mungkin aib tersebut tak akan tercuci bersih dalam satu dua tahun.
Dengan sorot mata kebencian dia melotot kearah putri Kim huan, agaknya sang gadis merasakan hal itu, ia membalas dengan senyuman hambar.
Kim Thi sia mencoba untuk menggerakkan badannya namun tak berhasil, rasa linu dan kaku yang mengeram didalam badannya kini telah menjalar keseluruh badan, rasa sakit dan tersiksanya bukan siang kepalang.
sekarang ia baru mengerti, asal tubuhnya menggunakan sedikit tenaga saja, maka rasa linu dan kaku segera akan memaksanya untuk mengurungkan ular tersebut.
Akhirnya dia berpikir dengan sedih.
"Dari seorang manusia yang luar biasa kini sudah berubah menjadi manusia biasa mengapa bisa begitu? Gejala linu dan kaku itu seolah-olah memaksaku tak bisa pulih kembali keluar biasaanku, mengapa tepukan ciang sianseng begitujitu sehingga membuatku merasakan penderitaan seperti ini.....?^ Dari kerumunan orang banyak tiba-tiba muncul seorang j a go pedang yang muda lagi tampan, dia mengawasi wajah putri Kim huan lekat-lekat. Dengan matanya yang besar dan jeli putri Kim huan balas mengerling kearahnya, sekulum senyuman yang memikat hati dan segera tersungging diujung bibirnya. Jago pedang muda belia itu nampak agak tertegun, tanpa terasa dia maju lagi sejauh dua langkah. Beratus-ratus pasang mata lainnya segera melotot keara h pemuda itu dengan pandangan iri dan dengki..... Jago pedang muda itu tersenyum, dengan sikap yang lembut ia memberi hormat kepada putri Kim huan, yang segera dibalas pula dengan senyuman yang memikat hati. Sekali lagi jago pedang muda itu tertegun tapi kemudian setelah yakin bahwa kesemuanya ini bukan terjadi dalam impian dia melanjutkan langkahnya mendekati gadis itu "Hmmm, dasar perempuan rendah"
Umpat Kim Thi sia dalam hati. Dalam waktu singkatjago muda itu sudah tiba dihadapan gadis cantik itu, sembari men jura ia segera menegur. ^ ^ ^ "Nona, baik-baikkah kau......."
Putri Kim huan balas tersenyum.
"Aku lihat kau sopan dan lembut, mari silahkan duduk"
Bagaikan menang lotre, pemuda itu cepat-cepat mengambil kursi dan duduk.
dihadapnya.
Dengan sorot mata yang tajam dia memandang kearah Kim Thi sia tapi hanya sebentar saja sinar mata tersebut sudah dialihkan kembali kearah yang lain.
Ketiga manusia raksasa itupun melirik sekejap kearah putrinya dengan pandangan terkejut bercampur keheranan namun mereka tak berani banyak bertanya dengan mulut membungkam meneruskan minum araknya ditempat masing-masing.
"Kiam kek. siapa namamu?"
Putri Kim huan bertanya lembut. Pemuda tampan itu tertawa, setelah memberi hormat dengan sopan ia segera menjawab.
"AkusoBunpin merasa amat bangga dan terharu karena bisa berbincang-bincang dengan nona, bolehkah ku tahu siapa nama nona......."
Putri Kim huan mengerling sekejap kearah Kim Thi sia, lalu sahutnya sambil tersenyum.
"Kau tak usah mengetahui siapa namaku, yang penting aku mengetahui siapa namamu"
So Bun pin nampak agak tertegun, tapi setelah memutar biji matanya diapun segera tersenyum.
Tiba-tiba Kim Thi sia merasakan hatinya sedikit tergerak, sorot matanya tertuju keatas sebilah pedang besi yang tersoren dipinggang pemuda tampan itu.
"Nona"
Terdengar so Bun pin berkata kemudian-"Kecantikan wajahmu belum pernah kujumpai sebelum ini.
Aku benar-benar merasa amat gembira dapat duduk berbincang denganmu sekarang, pernahkah kau mendengar tentang seseorang yang disebut umat persilatan sebagai "pedang besi"?
Itulah nama julukanku dalam dunia persilatan setelah berkelana sekian lama........"
Berbicara sampai disitu, dia sengaja tertawa untuk menutupi rasa malunya karena sudah menonjolkan nama besar sendiri Kim Thi sia jadi amat terperanjat ketika mendengar perkataan itu, segera pikirnya.
"Ternyata dugaanku tidak salah, dia adalah su suheng sipedang besi......."
Sebenarnya dia bermaksud hendak menyapanya, tapi teringat keadaan sendiri waktu itu, terpaksa niar tadi diurungkan-Diamatinya sipedang besi dengan seksama, ia merasa abang seperguruannya ini mempunyai wajah yang tampan serta perawakan tubuh yang cukup kekar.
Tapi ia seperti mempunyai sesuatu kekurangan yang sukar untuk diutarakan, ia nampak seperti begitu angkuh dan lagi dari balik matanya memancarkan sinar kesesatan.
Pokoknya kekurangan tersebut begitu rawan sehingga hanya bisa dirasakan didalam hati dan tak bisa diucapkan dengan perkataan.
Putri Kim huan nampak asyik berbincang-bincang dengan pemuda tampan itu, ia seperti tidak merasakan apa-apa dari sikap lawan bicaranya.
sedangkan sipedang besi so Bun pin kelihatan amat bangga, apalagi dibawah sorot mata iri dari orang-orang yang berada kesekeliling sana.
Ia makin bangga dan gembira.
Dalam keadaan demikian ia sangat berharap ada orang yang datang mencari gara-gara sehingga waktu itu dengan andalkan pedang besinya serta ilmu silat warisan dari si Malaikat pedang berbaju perlente, ia dapat unjukkan kebolehannya didepan perempuan cantik ini.
Akhirnya apa yang diharapkan tiba juga, disisi timur meja tampak lima orang lelaki yang mabuk oleh arak sedang mengawasi wajah putri Kim huan dengan mata melotot dan wajah memerah, bahkan mereka mulai membuat kegaduhan.
sambil melanjutkan perbincangannya dengan putri Kim huan, secara diam-diam sipedang besi so Bun pin mengawasi terus gerak gerik dari berapa lelaki mabuk itu Berbicara yang sebenarnya sipedang besi memang memiliki wajah yang tampan dan mudah membuat gadis cantik jatuh hati kepadanya tapi sayang agaknya putri Kim huan tidak begitu menaruh perhatian kepadanya, disaat mengawasi gerak gerik lelaki mabut tadi, dengan kening berkerut diapun sempat melirik sekejap kearah Kim Thi sia.
Waktu itu Kim Thi sia masih memejamkan matanya sambil berpikir, namun pikir punya pikir ia belum berhasil juga menemukan jawaban yang tepat.
Akhirnya sambil menghela napas panjang dia bergumam.
"Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa kutinggalkan Lin lin sehingga ia merasa kesedihan?"
Suara gumam itu amat lirih akan tetapi bila diamati dengan seksama, suara gumam itu masih dapat didengar dengan cukup jelas.
Tiba-tiba dia membuka matanya lebar-lebar semua rasa gusar dan bencinya segera dialihkan kearah putri Kim huan, karenanya diapun mengawasi gadis tersebut dengan penuh rasa benci dan dendam.
Waktu itu secara kebetulan putri Kim huan sedang melirik pula kearahnya ketika empat mata bertemu, dengan cepat gadis itu melengos kembali kearahnya lalu kemudian katanya sambil tersenyum.
"so tayhiap. aku yakin sudah banyak tempat yang kau kunjungi, aku dengar didaratan Tionggoan penuh terdapat tempat kenamaa, dapatkah kau memberi sedikit petunjuk kepadaku karena akupun ingin berpesiar ketempat-tempat kenamaan itu?"
"ooooh, tentu saja, tentu saja."
Sahut sipedang besi so Bun pin sambil tertawa.
"Bila nona mempunyai kesenangan seperti itu aku pun bersedia menemani nona untuk mengunjungi semua tempat kenamaan serta berpanorama indah yang ada disini."
"Terima kasih"
Putri Kim huan tersenyum.
Dengan jawaban tersebut ia seperti hendak memberitahukan kepada sipedang besi so Bun pin bahwa tawarannya telah diterima dengan senang hati.
Kim Thi sia yang turut mendengarkan pembicaraan itu segera tertawa dingin pikirnya.
"Hmm, rupanya kau hendak membuat aku malu, agar setiap orang didunia ini mengetahui kalau aku sudah menjadi tawananmu? Hmmm, keji amat rencanamu itu. Awas aku tak bakal memaafkan dirimu"
Suara tertawa dingin yang menyeramkan itu kontan saja membuat paras muka putri Kim huan berubah hebat, senyumanpun segera lenyap dari ujung bibirnya.
so Bun pin yang cekatan pun dapat menangkap suara tertawa dingin itu ia melirik sekejap kearah Kim Thi sia dengan wajah tak senang hati, kemudian ujarnya dingin.
"Sobat, salah benar bila kau berniat menyakiti hati nona ini. Awas bila kau masih saja tak tahu diri bakal banyak siksaan yang akan kau alami......."
Kim Thi sia pejamkan matanya rapat-rapat, pikirnya.
"Kau adalah su suheng ku, apa pula yang bisa kukatakan?"
Ia mulai menyaksikan pesan terakhir dari gurunya, sebab kesan yang diberikan sipedang kayu kepadanya kelewat baik, kelewat mendalam.
saban kali ia teringat akan sipedang kayu Gi Cu yong, semua rasa dendam yang tersisa dalam benaknya serasa hilang lenyap tak berbekas.
Karena itulah diapun mulai menaruh kesan yang baik serta yang bersahabat terhadap abangabang seperguruan lain yang belum dijumpainya selama ini, dia percaya asal identitasnya diutarakan, maka sipedang besi pun akan bersikap sama baiknya seperti sikap sipedang kayu terhadap dirinya......"
Dari perubahan mimik wajah sipedang besi, ia dapat merasakan betapa sukanya abang seperguruan keempatnya ini terhadap putri Kim huan.
Ditambah pula nasib tragis yang dialaminya sekarang, dia tak ingin menyulitkan sipedang besi, diapun tak ingin dikasihani orang lain, dianggap sebagai seorang manusia lemah.
sindiran umpatan dan hinaan sipedang besi sama sekali tak digubris, ia tidak menaruh rasa benci kepadanya, hanya didalam hati ia berpikir.
"Seandainya dia tahu siapakah aku, sikap maupun tindak tanduknya pasti akan berubah."
Dalam pada itu, kelima orang pemabuk tapi sudah mulai bangkit berdiri Tanpa ambil perduli terhadap keselamatan sendiri mereka mulai berjalan sempoyongan dan berseru dengan suara keras.
"Nona kecil yang cantik, mari.....mari..... mari.....aku akan memelukmu sebentar......"
Kawan berandal kota ini memang tak tahu sopan santun, apalagi dalam keadaan mabuk, katakatanya kedengaran amat kotor dan tak enak didengar.
dengan berlagak gusar sipedang besi segera bangkit berdiri, lalu serunya lantang.
"Kurang ajar, kau anggap sinona ini sebagai perempuan macam apa? Hmmm, berandal yang tak tahu diri, kalian memang harus diberi pelajaran yang setimpal agar tahu sopan santun-"
Selesai berkata ia segera melompat kedepan dengan gerakan yang sangat indah dan melayang turun didepan kawanan pemabuk itu, tangannya diayunkan berulang kali dan.
"Plaaaak, plooook, plaaaak. plooook"
Berapa kali tamparan keras telah bersarang diwajah masing-masing.
Kelima orang pemabuk itu tak mengerti ilmu silat, merasa dirinya ditampar, sambil mengumpat mereka segera mengayunkan tinju dan menghantam secara ngawur.
sipedsang besi tidak menghindar, dia tangkis semua jotosan lawan tersebut dengan sebuah sapuan tangan-Jeritan kaget pun bergema berulang-ulang, kawanan pemabuk itu segera kehilangan keseimbangan badannya dan roboh terjungkal keatas tanah untuk sesaat mereka hanya duduk terkapar ditanah dengan wajah tertegun, mulutnya ternganga lebar.
sekalipun ingin mengumpat mereka tak berani mengucapkan sepatah katapun lagi.
Pedang besi itu amat kecewa berapa orang pemabuk itu sama sekali tak berkepandaian apaapa, bahkan menghadapi sebuah gempuranpun tak mampu, ini berarti ia tak punya kesempatan lagi untuk mendemontrasikan kebolehannya.
Dalam keadaan begini ia amat masgul bercampur marah, tapi tiba-tiba saja satu ingatan melintas didalam benaknya, kepala semua tamu yang berada dalam ruangan rumah makan itu segera serunya.
"sobat sekalian, bila ada diantara kalian yang merasa tidak puas, lebih baik utarakan saja sekarang .Jangan sampai akhirnya membicarakan soal ini dibelakang ku sehingga menunjukkan perbuatan orang yang kurang berpendidikan."
Jelas perkataan ini ditujukan kepada semua orang yang berada dalam ruangan tersebut, tak heran kalau banyak diantara tamu yang berangasan kontan saja mencaci maki kalang kabut.
Dengan sorot mata yang tajam sipedang basi segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu tiba-tiba saja semua umpatan terhenti sama sekali.
Agaknya semua orang telah dibuat tertegun dan ngeri oleh ketajaman mata pemuda itu sehingga siapapun tak ingin mencari penyakit buat diri sendiri.....
sambil tertawa dingin so Bun pin segera berkata.
"Bagus sekali, kalau memang ada diantara kalian yang merasa tak puas, silahkan tampil kedepan satu demi satu."
Sampai setengah harian lebih belum juga nampak ada orang yang tampilkan diri maka agak mendongkol ia segera menjengek lagi sembari tertawa dingin.
"Huuuuh rupanya kalian semua tak lebih hanya kawanan tikus yang sama sekali tak bernyali"
Ia merasa indah cukup untuk unjukkan kebolehannya maka sambil tersenyum duduk kembali ditempat semula.
"Harap nona jangan mentertawakan"
Kembali ia berkata dengan suara yang sengaja dikeraskan-"Kawanan berandal kota ini sudah terbiasa untuk bicara tak sopan dan bertingkah laku menjemukan.
Andaikata tidak diberi sedikit pelajaran niscaya mereka tak akan tahu tingginya langit dan tebalnya bumi......."
Kembali terjadi kegaduhan dalam ruangan tersebut. Beberapa orang diantara mereka yang merasa tak puas dengan sikap pemuda tersebut serentak melompat bangun seraya berteriak.
"sobat, anda terlalu menghina kami semua sikapmu yang sombong membuat kami tak puas, karenanya meski aku tak becus ingin sekali kumohon berapa petunjuk ilmu silat darimu."
Orang itu berbicara dengan suara yang nyaring dan bertenaga penuh sekilas saja dapat diketahui bahwa orang itu memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna.
sesungguhnya tak sedikit jago berkepandaian tinggi yang turut hadir didalam ruangan rumah makan itu, kalau pada mulanya mereka hanya berpeluk tangan belaka tak ingin mencari urusan disitu Maka setelah keadaan berubah lebih runyam dan tak bisa dipertahankan lagi, akhirnya tanpa berpikir panjang mereka serentak bangkit berdiri Dari suara pembicaraan lawan sipedang besi sadar kalau musuhnya berilmu tinggi, diam-diam ia merasa kegirangan, tapi diluarnya dia sengaja menunjukkan sikap tak senang hati, sambil tertawa dingin katanya cepat.
"Bagus sekali, kalau toh sobat punya kegembiraan, aku tentu akan mengiringi kehendakmu itu."
Dengan pandangan yang cepat dan memandang sekejap kewajah orang-orang itu, jumlah mereka mencapai tujuh orang.
Tapi yang bersorot mata tajam hanya ada tiga orang.
seorang sisanya tidak memperlihatkan kelebihan apapun.
seorang lelaki kekar berwajah penuh cambang yang mempunyai kening menonjol tinggi dan berdiri disisi kiri segera tampilkan diri kemuka dan mendekati pemuda itu.
Dengan suara keren sipedang besi segera menegur.
"sobat, siapa namamu? Aku bersedia memberi sedikit petunjuk kepada anda......"
"Aku hanya seorang prajurit kecil yang tak terhitung punya nama besar"
Sahut orang itu cepat.
"Tapi kalau toh anda pingin tahu, akupun tak akan keberatan untuk mengatakannya kepadamu, nama julukanku adalah simanusia bercambang."
Pedang besi agak tertegun, lalupikirnya.
"Aku dengar manusia ini punya hubungan yang cukup akrab dengan ji suheng sipedang perak. Aku tak boleh menghinanya, sebab kalau hal ini sampai ketahuan jika dikemudian hari, aku pasti akan merasa rikuh."
Tapi setelah ragu sejenak, diapun berpikir lebih jauh.
"Tapi.... perduli amat, yang penting sekarang aku mesti menonjolkan diri agar gadis itu menyegani aku. Sekalipun akhirnya jiko mengetahui akan peristiwa tersebut, asal kubilang tak tahu kalau ia sahabat jiko, paling banter persoalan akan berakhir dengan sendirinya......."
Begitu mengambil keputusan, iapun segera berkata.
"sudah lama kudengar nama besar anda. Nah, silahkan melancarkan serangan lebih dulu"
Berbicara sampai disini, ia melirik sekejap keara putri Kim huan, ketika dilihatnya gadis tersebut sedang memperhatikan gerak geriknya sambil tertawa manis, ia makin senang dan girang, ulahnyapun semakin menjadi-jadi.
Sementara itu, manusia bercambangpun tidak sungkan-sungkan lagi, segera serunya.
"Kalau begitu berhati-hatilah aku segera akan melancarkan serangan-......"
Begitu selesai berkata sebuah pukulan dilontarkan kedepan dengan hebatnya.
Pedang besi tersenyum, ia tidak melakukan gerakan apapun-Tahu-tahu manusia bercambang itu sudah menarik kembali serangannya sambil berseru.
"Ketajaman mata anda benar-benar mengagumkan, siaute merasa kagum, nah coba rasakan kelihayanku ini."
Sepasang telapak tangannya segera direntangkan sipedang besi memopang tubuhnya kebelakang menggunakan gerakan jembatan kantung, kemudian tidak menunggu sampai seorang lawan selesai dipergunakan.
Telapak tangannya telah diputar sambil melepaskan sebuah babatan kilat.
Dengan ketangguhan ilmu silatnya sekarang, seharusnya dalam dua tiga gebrakan saja manusia bercambang tersebut dapat dirobohkan, tapi ia tak berbuat begitu, ia memang berniat mendemontrasikan kebolehannya maka seranganpun dilancarkan bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat deruan angin serangan telah menyelimuti seluruh ruangan meja kursi beterbangan kian kamri, manusia bercambang itu dengan kepalan dikir dan jari ditangan kanan, secara beruntun melepaskan serangakaian kemari dengan sangat hebatnya.
sipedang besi sedikitpun tak gugup, bahkan sering kali ia meloloskan diri dari serangkaian serangan musuh yang gencar dan dahsyat dengan suatu gerakan yang manis dan indah, ulahnya tersebut tentu saja sering memancing keluhan kaget dan sorakan memuji dari para penonton-Lambat laun semua orang mulai menyadari bahwa pemuda tersebut sengaja tidak bertarung dengan tenaga oenuh, sudah jelas ia mempunyai kemampuan untuk mengalahkan manusia bercambang, akan tetapi hal tersebut tak pernah dilakukan malah sebaliknya menghindar dengan gaya yang berbahaya.
Banyak diantara penonton yang cerdik, dengan cepat mereka dapat memahami perasaan pemuda tersebut, apalagi setelah melihat pemuda itu berulang kali melirik kearah putri Kim huan.
Kim Thi sia pun ingin sekali menyaksikan kebolehan ilmu silat su suhengnya tapi setelah dipandang sekian lama namun tak nampak sesuatu yang hebat, apalagi setelah melihat ulah sipedang besi yang berulang kali melirik kearah putri Kim huan, sebagaui orang yang cantikpun ia segera dapat menarik kesimpulan kesana.
Tak tahan lagi iapun turut berpaling kearah putri Kim huan-Kebetulan sekali putri Kim huan pun sedang memandang kearahnya, maka sepasang mata merekapun segera saling bertemu satu dengan lainnya.
Kim Thi sia tertegun lalu mendengus, pikirnya keheranan-"Memangnya wajahku kelihatan lucu atau timbul jerawatnya?
Mengapa dia mengawasi diriku terus atau mungkin tampangku selama berapa hari belakangan ini telah terjadi perubahan?"
Dia ingin meraba wajahnya namun tali yang membelenggu tubuhnya membuat dia tak mampu berkutik, sabar punya sabar akhirnya meledak hawa amarah Kim Thi sia, dengan suara keras teriaknya.
"Hey, daripada disiksa lebih baik bunuhlah aku, ayoh cepat bunuh aku"
Dengan sorot mata berapi-api dia melotot kearah gadis itu, tapi putri Kim huan tak berani bertatapan muka lagi dengannya, ia berlagak menonton jalannya pertarungan diarena.
Berubah hebat paras muka Kim Thi sia saking mendongkolnya.
Kembali teriaknya dengan penuh kegusaran.
"Kau tak usah berbangga dulu. so Bun pin adalah abang seperguruanku keempat. Hmmm, tunggu saja tanggal mainnya nanti"
Putri Kim huan tak bisa berlagak pilon lagi sesudah mendengar perkataan ini, sekilas perasaan heran membayangi wajahnya ia menegur.
"Kau kenal dengannya?"
Kim Thi sia tidak ambil perduli.
sambil meludah ia pejamkan matanya kembali.
Meski pertarungan yang berlangsung diarena sudah mencapai puncaknya, namun ia tak mau membuka matanya.
Ia tak ingin menyaksikan pertarungan tersebut.
sementara dia masih melamun, mendadak terdengar so Bun pin tertawa nyaring diikuti terjadinya benturan keras, simanusia bercambang itu menjerit kaget dan tubuhnya tahu-tahu sudah terpental sejauh tiga kaki lebih dari posisi semula.
Pada akhirnya dari pertunjukkan itulah sipedang besi so Bun pin baru mengeluarkan jurus serangannya yang tangguh.
Jurus serangan itu bernama "mendekam dijembatan menembusi awan"
Selain ganas juga mematikan.
Para penonton yang hadir dalam ruangan tersebut rata-rata merupakan jago silat kawakan, tentu saja mereka mengetahui akan kelihayan tersebut, menyaksikan peristiwa ini keningnya segera berkerut dan perasaan tak tenang menyelimuti perasaan mereka.
Jago bercambang adalah seorang pendekar kenamaan, tapi kenyataan sekarang ia kena dihantam seorang pemdua hingga terpental sejauh tiga kaki lebih.
Kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus.
setelah menghela napas panjang, cepat-cepat ia membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.
sipedang besi so Bun pin merasa amat bangga, apalagi setelah memandang sekejap kearah hadirin dan melihat mereka menunjukkan rasa takut dan ngeri, ia makin berbangga hati.
Maka setelah berpikir sejenak, dengan langkah lebar ia berjalan mendekati kawanan jago lain yang menunjukkan sikap tak puas terhadap dirinya tadi.
Bersama waktunya diapun berputar otak mencari akal bagaimana caranya mendekati putri Kim huan serta mempersunting gadis cantik itu.
Meski dia tak tahu kalau gadis cantik ini adalah putri dari negeri Kim, tapi kecantikan bak bidadari membuat dia lupa untuk menanyakannya.
Dalam waktu singkat dia telah tiba dan didepan ketiga orang jago tersebut.......
Ketiga orang jago inipun merupakan jago persilatan yang berilmu tinggi, mula-mula mereka nampak agak tertegun tapi kemudian sambil menenangkan hatinya, setelah seorang diantara mereka seorang lelaki setengah umur yang bertubuh pendek dan gemuk segera menjura sambil tertawa hambar.
"Kepandaian silat anda memang hebat sekali. Kami sadar meski bukan tandinganmu"
Katanya.
"Meski begitu, kami berharap anda bersedia memberi berapa petunjuk kepadaku sekaligus untuk menambah pengetahuanmu serta pengalaman kami."
Pedang besi so Bun pin tertawa lantang sahutnya.
"Bagus, bagus sekali, akan kuingat baik-baik perkataanku ini"
Melihat sikap menghina dan memandang rendah dari pemuda tersebut berubah hebat paras muka lelaki setengah umur itu, segera serunya lagi.
"Aku benar-benar kagum dengan watakmu itu. Nah daripada banyak berbciara tak ada gunanya, silahkan anda segera memberi petunjuk"
Si pedang besi mendengus angkuh, dengan sombongnya dia mengerling sekejap kearah musuhnya, kemudian berpaling kearah putri Kim huan, dia berharap gadis itu dapat memberi dukungan kepadanya.
siapa tahu dia saksikan putri Kim huan sama sekali tidak menaruh perhatian kepadanya.
Waktu itu sorot matanya yang jeli sedang memperhatikan wajah Kim Thi sia.
Menyaksikan hal tersebut, perasaannya menjadi tercekal, rasa iri dan dengki pun menyelimuti benaknya membuat ia mendengus berat-berat.
Tanpa terasa semua hadirin pun ikut mengalihkan pandangannya mengikuti sorot mata pemdua tersebut, mereka sama-sama berpaling kearah putri Kim huan-Agaknya putri Kim huan pun segera menyadari kalau perhatian semua orang telah tertuju kepadanya, dengan wajah bersemu merah ia segera berpaling kembali dan melemparkan sekuntum senyuman hangat kepada sipedang besi....
senyuman itu begitu manis dan mesrah membuyarkan semua perasaan cemburu yang semula mencekam perasaan pemuda itu dia merasa begitu bahagia seakan-akan hanya gadis itulah yang dapat memahami perasaan hatinya saat itu.
Dalam pada itu lelaki setengah umur tadi sudah tak sabar lagi menunggu tiba-tiba ia menjura lagi sembari menegur.
"saudara harap kau segera memberi petunjuk"
Bagaikan baru sadar dari impian, sipedang besi berseru tertahan lalu tertawa nyaring.
"sobat, silahkan kau menyerang dulu"
Serentak kedua orang itu mundur selangkah kebelakang dan masing-masing mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk melangsungkan suatu pertarungan sengit.
Tapi sebelum pertarungan itu berlangsung mendadak terdengar putri Kim huan berseru.
"so tayhiap. tak usah berkelahi lagi, aku hendak berbincang-bincang denganmu"
Seperti mendapat firman dari raja, tanpa ragu sipedang besi segera berseru.
"sobat, kesempatan bagi kita untuk bertarung masih banyak. maaf aku tak bisa melayanimu hari ini"
Padahal ketiga orang jagoan itupun merasa sangsi untuk melakukan pertarungan, maka mereka jadi sangat gembira setelah mendengar perkataan itu, sebab dengan begitu mereka akan mempunyai kesempatan untuk mundur teratur.
Dengan kecewa para tamu lainnya kembali ketempat duduk masing-masing, meki sorot mata mereka masih dialihkan kearahnya.
sementara itu sipedang besi telah berkata sambil menjura.
"Nona, kau ada urusan apa? Katakanlah terus terang...."
Mengendus bau harum yang memancar keluar dari tubuh sinona, ia merasa semakin kesemsem dan terbuai dalam alam impian yang tidak-tidak.
sambil menuding kearah Kim Thi sia, putri Kim huan segera berkata.
"Ia bilang kau adalah abang seperguruannya, apa benar begitu?"
Sipedang besi agak tertegun, dengan tak habis mengerti sahutnya.
"Siapa yang bilang? sama sekali tak ada kejadian seperti itu, malah aku tidak kenal dirinya."
Kentara sekali wajahnya menunjukkan rasa tak senang hati. Putri Kim huan segera tertawa cekikikan, kembali serunya.
"Yaa, sesungguhnya aku sendiripun rada curiga......"
Kim Thi sia yang turut mendengarkan pembicaraan itu segera merasakan hatinya sakit bagaikan tersengat lebah. Dengan mata melotot besar teriaknya keras-keras.
"Atas dasar apa kau mencurigaiku? Apa pula urusannya antara aku dengan abang seperguruanku dengan kau siperempuan busuk?"
"Plooook"
Belum selesai perkataan itu diucapkan pandangan matanya terasa kabur dan tahu-tahu sebuah tamparan keras telah bersarang diatas wajahnya.
Menyusul kemudian terdengar sipedang besi mengumpat dengan penuh kegusaran.
"Hmmm, kau bocah keparat betul-betul tak tahu diri. Bukan saja berani mengaku sebagai adik seperguruanku, bahkan berani pula memaki nona yang begitu cantik. Hmmm, aku benar-benar benci melihatmu, kalau bisa ingin kutusuk perutmu sampai mampus"
Berkata sampai disini ia segera berpaling kearah putri Kim huan sepertinya menunggu persetujuan dari gadis tersebut.
Putri Kim huan hanya berkerut kening, dia tak mengucapkan sepatah katapun-Kim Thi sia juga membungkam, pikirnya.
"Kami berdua tak pernah saling mengenal, tentu saja dia tak akan percaya kalau aku adalah adik sepergurannya......."
Berpendapat begitu, dlapun segera berkata dengan nada bersungguh-sungguh.
"Suheng, aku tidak membencimu. Meski kau telah menamparku, tapi kesalahan bukan terletak padamu. sebab kau memang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya"
Dia masih mengira setelah mendengar perkataan itu maka sipedang besi pasti membelai dirinya.
siapa tahu hawa napsu membunuh telah menyelimuti perasaan sipedang besi waktu itu.
Terdengar ia menjengek sambil tertawa dingin.
"Bocah keparat, peristiwa semacam ini sudah sering kujumpai tapi belum pernah kujumpai orang yang begitu bernyali seperti kau. soal tamparanku tadi, hal ini bukan dikarenakan perbuatanmu yang mengaku-ngaku sebagai adik seperguruanku, tapi karena sikap kurang ajarmu terhadap nona cantik ini. sedang hutang piutang diantara kita belum kutuntut balas."
Sejak pandangan yang pertama tadi ia sudah tak senang terhadap Kim Thi sia karena ia dapat melihat bahwa gadis cantik yang dicintai ini sering kali melirik dan memperhatikan pemuda itu.
Dan sekarang ia sudah mempunyai kesempatan baik untuk menghajar anak muda itu sudah barang tentu ia tak akan menyia-nyiakan peluang tersebut dengan begitu saja.
Biarpun belum diperlihatkan keluar, sesungguhnya dalam hati kecilnya ia telah menganggap putri Huan sebagai pacarnya.
"sesungguhnya aku adik seperguruanmu, bila kurang percaya tanyakan sendiri kepada sipedang kayu Gi suheng, berapa hari berselang ia masih bergaul akrab denganku. sejak suhu dia orang tua meninggal dunia, aku selain berusaha mencari kalian tak disangka kita akan bersua ditempat ini"
Sipedang besi so Bun pin tertawa dingin.
"Hmmm, kau tak usah ngaco belo tak karuan. Malaikat pedang berbaju perlente hanya mempunyai sembilan orang murid dan hal ini diketahui setiap umat persilatan, tak mungkin dari bawah bumi bisa muncul lagi seorang sute macam dirimu....."
Setelah berbicara napsu membunuhnya makin berkobar, tiba-tiba saja ia meloloskan pedangnya dan menerjang pedangnya diatas leher Kim Thi sia , tangannya didorong sedikit keatas niscaya lehernya akan tembus didaerah tersebut.
Walaupun pedang itu tak seberapa tajam, namun berbeda apalagi sipedang besi yang memiliki kepandaian ilmu yang sempurna, dengan daun saja ia bisa melukai orang apalagi dengan pedang yang terbuat dari besi.
Asal menggunakan sedikit tenaga saja, niscaya jiwa Kim Thi sia akan melayang.
Tapi sebagai orang sombong dan berupaya menarik simpatik putri Kim huan, dia tak ingin bertindak secara gegabah.
sebisa mungkin dia ingin menuruti setiap patah kata dari putri Kim huan bagaikan seekor anak domba.
"so tayhiap. jangan kau bunuh orang itu"
Tiba-tiba putri Kim huan berkata seraya menggeleng.
"Asal kita memandang hina dirinya, maka ia akan lebih menderita daripada kita membunuhnya."
Sambil berkata sekulum senyuman manis segera menghiasi ujung bibirnya. sipedang besi merasa amat gembira, apalagi setelah mendengar kata "Kita"
Ia seperti sedikit lupa daratan-sambil manggut-manggut serunya cepat.
"Baik, baik nona, asal kau mengatakan jangan dibunuh. AKupun tak akan membunuhnya."
Kemudian setelah melemparkan sekulum senyuman, cepat-cepat pedangnya disimpan kembali.
Kim Thi sia sangat kecewa, ia tak menyangka abang seperguruannya yang tersohor ternyata menunjukkan sikap begitu lemah dihadapan perempuan.
Apalagi ketika sorot mata kedua orang itu menatap kearahnya dengan pandangan mata yang sinis dan menghina, seketika itu juga darah panas yang mengalir didalam tubuhnya serasa mendidih, bergolak dengan sangat hebatnya.
Dengan penuh kegemasan dia mengerahkan seluruh kekuatan yang memiliki dan berteriak keras-keras.
"Bagi seorang lelaki sejati lebih baik mati dibunuh daripada dihina, suheng lebih baik tusuk matilah aku."
Berpuluh-puluh orang tamu yang hadir dalam ruangan rumah makan dibuat terkejut, serentak mereka alihkan perhatiannya kewajah pemuda itu.
sipedang besi so Bun pin pun agak tertegun, tapi kemudian serunya sambil tertawa dingin.
"Bocah keparat, kuakui kau memang memiliki keberanian untuk berlagak sebegai seorang enghiong, tapi......apakah kau tak takut ditertawakan umat persilatan karena mengaku sebagai adik seperguruan?"
Kim Thi sia adalah seorang lelaki berpikiran polos yang masih berdarah muda ia tak mampu mengendalikan diri lagi, segera teriaknya keras-keras.
"Baik, mulai hari ini bila kusebut kau sebagai abang seperguruanku lagi, anggap saja aku bukan manusia."
"Heeeeh....heeeeh.....heeeeh......aku justru kuatir kaupingin menjadi muridku....."
Jengek sipedang besi tak senang hati.
selesai berkata ia saling berpandangan sekejap dengan putri Kim huan lalu tertawa dibalik senyuman itu tercermin sikapnya yang penuh penghinaan dan ejekan.
sekuat tenaga Kim Thi sia mencoba meronta, namun ia tak berhasil untuk meronta bangun, sebaliknya malah bersadar lemah ditepi dinding sambil bergumam.
"Kau membuatku amat kecewa, kau membuatku amat kecewa......."
Ketiga manusia raksasa yang selama ini membungkam, tiba-tiba berteriak keras.
"Anjing bangsa Han, bila kau berani berkaok-kaok lagi, hati-hati dengan batok kepalamu"
Dengan perawakan tubuh mereka yang tinggi besar, tenaga yang amat kuat, suara yang begitu nyaring.
Ucapan itu sempat menyebar luas keseluruh pelosok ruangan itu.
Reaksi yang kemudian timbul ternyata diluar dugaan, hampir semua orang yang hadir disitu sama-sama melompat bangun dengan penuh amarah.
Tapi hanya sebentar saja, akhirnya semua orang duduk kembali ketempat semula kendatipun pada wajah masing-masing tercermin sikap kemarahan yang meluap-luap.
Paras muka sipedang besipun turut berubah hebat mendadak ia melompat bangun sambil meraba gagang pedangnya, sementara sorot matanya yang tajam mengawasi wajah ketiga manusia raksasa itu tanpa berkedip.
"Nah, begini baru bersemangat"
Sorak semua orang didalam hati. Tiba-tiba putri Kim huan mengerling sekejap kearah sipedang besi dan menegur sambil tertawa merdu.
"Kau hendak kemana?"
Sipedang besi segera menghembuskan napas panjang dan duduk kembali dengan lemah wajahnya kelihatan sangat murung.
Menyaksikan hal tersebut, semua yang hadir segera mengumpat didalam hati dengan rasa gusar da gemas.
"Huuuuh, seorang jago pedang yang tak berguna, lupa dengan rasa kebangsaan, bangsa sendiri dimakipun masih tetap tenang...... keparat, keparat tak tahu diri"
Rasa benci dan muakpun segera menyelimuti perasaan semua orang. Pada saat itulah Kim Thi sia dengan kening berkerut telah membentak nyaring.
"Makhluk jelek. sekarang kau boleh saja memaki kami sebagai anjing bangsa Han, tapi ingat bila aku sudah memperoleh kebebasan nanti, kalian pasti akan kubunuh secara keji agar mulut anjing kalian tak dapat berkaok-kaok lagi secara sembarangan"
Ucapan ini segera memberi kesan baik bagi setiap orang yang hadir, pikir mereka hampir bersama.
"sayang seluruh tubuhnya dibelenggu hingga tak mampu bergerak. kalau tidak ia pasti akan melampiaskan rasa mendongkol kita semua."
Terdorong oleh rasa simpati mungkin banyak diantara mereka yang segera mendekati pemuda tersebut untuk menyuapi hidangan lezat, bahkan ada pula yang mengambil sapu tangan hangat untuk membersihkan wajahnya dari debu.
Dalam waktu singkat pemuda kita telah bersih dan gagah kembali berkat nasi yang disuapkan kemulutnya, diapun mendapatkan kembali tenaga baru.
Betapa berterima kasihnya dia kepada orang-orang tersebut, betapa terharu hatinya sehingga tanpa terasa dua titik air mata jatuh berlinang.
Untung saja putri Kim huan menghalangi kawanan raksasa tersebut untuk membunuhnya, kalau tidak umpatan Kim Thi sia yang terakhir tadi pasti akan mengundang maut baginya.
saban kali putri Kim huan menatap wajahnya, pemuda kita selalu balas menatapnya dengan sorot mata kebencian, pandangan mata yang berapi-api selalu membuat gadis tersebut tergesagesa melengos kembali kearah lain.
sipedang besi bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat menyaksikan hubungan itu dengan jelas, hatinya amat gusar namun dia tak habis mengerti apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi.
Akhirnya dia tak tahan, segera tanyanya kepada putri Kim huan.
"Nona, siapa sih orang itu?"
"Dia mengakui bernama Kim Thi sia aku sendiripun kurang tahu tentang asal usulnya"
Sahut putri Kim huan segera.
"Kim Thi sia?"
Gumamnya sipedang besi.
"Apakah Kim Thi sia yang disebut orang sebagai manusia yang paling susah dilayani dalam dunia persilatan.......?"
"Entahlah aku sendiripun kurang tahu."
Gadis itu menggeleng. Namun ketika melihat rasa murung yang melapisi wajah pemuda tersebut, satu ingatan segera melintas dalam benaknya kembali ujarnya.
"Apakah dia seorang yang termashur? Aaaah, mengerti aku sekarang, orang ini memang berwatak sangat aneh, susah dilayani dan tak mampu digebuki, benar-benar bikin pusing kepala orang lain."
"Aaaah, kalau begitu tak salah lagi, pasti dia"
Seru sipedang besi tak sadar. Tapi dengan cepat ia menambahkan lagi.
"Tapi ia bukan termasuk orang yang amat terkenal ia belum lama muncul didalam dunia persilatan jadi tidak banyak sepak terjang yang telah dilakukannya. Itulah sebabnya aku yang sepanjang tahun berkelana didalam dunia persilatan pun sedikit mengetahui tentang dirinya."
Putri Kim huan mengiakan tanpa memberi komentar apa-apa.
sementara sepasang mata yang bulat besar dialihkan keluar jendela dan mengawasi panorama disitu dengan termangu.
Tiba-tiba saja perubahan aneh melintas diatas wajah sipedang besi so Bun pin yang tampan, tanyanya kemudian.
"Apakah nona menganggap dia menjemukan sekali? Perlukah bantuanku untuk membuatnya tak mampu menjemukan diri nona lagi?"
Putri Kim huan tidak menjawab, dia tidak terlalu memperhatikan perkataan itu sebab saat itu ia sedang berpikir.
"Orang itu benar-benar luar biasa, sungguh aneh, mengapa setiap kali kupandang wajahnya, ia nampak semakin tampan dan menawan hati......"
Melihat sinona membungkam, pedang besi so Bun pin menganggap gadis itu telah menyetujui usulnya, ia menjadi kegirangan setengah mati.
Entah mengapa dia ingin selekasnya menghabisi nyawa pemuda tersebut, karena dia tahu Kim Thi sia sudah merupakan saingannya yang terberat.
"criiiiing....."
Pedangnya segera diloloskan dari sarung, kemudian dengan sepenuh tenaga ditusukkan kemuka.
Biarpun gerakan ini dilakukan amat cepat namun desingan suara yang ditimbulkan juga amat menusuk pendengaran.
Tiba-tiba putri Kim huan berpaling seraya menjerit kaget, cepat-cepat dia menarik lengannya.
seruan kaget bercampur gusar bergema pula dari sekeliling ruangan.
Walaupun putri Kim huan sempat menarik lengannya namun dengan tenaga serangan pedang besi yang begitu kuat, tarikan tersebut hanya sempat membuat miringnya sasaran serangannya itu.
semburan darah segera memancar keluar dan menodai baju dari beberapa orang tamu yang kebetulan berdiri didepan sana.
sekalipun Kim Thi sia tak berhasil lolos dari ancaman maut namun tak bisa lolos dari babatan diatas bahunya, apalagi tenaga serangan dari sipedang besi pun cukup kuat.
Akibatnya sebuah luka memanjang seluas satu depa dan dalamnya tiga inci muncul diatas bahunya.
Darah segarpun menyambar keluar menganak sungai, membuat keadaannya nampak sangat mengenaskan.
Kim Thi sia mendengus tertahan sambil meng gigit bibir kencang-kencang, dia tidak mengeluh tapi serunya sambil tertawa tergelak.
"Pedang besi, bagus sekali perbuatanmu. Haaaaah......haaaaaah............"
Berkilat sepasang mata so Bun pin dengan pancaran sinar mata penuh kebuasan serta napsu membunuh dia mendesak maju lagi kemuka. sementara pedangnya membabat batok kepalanya dengan cepat.
"Tahan"
Mendadak putri Kim huan membentak keras.
so Bu pin segera menarik kembali serangannya sambil berpaling dan mengerling sekejap kearahnya.
Putri Kim huan mundur beberapa langkah tanpa sadar, ia merasa betapa seramnya sorot mata pemuda she so itu, bukan saja penuh dengan pancaran sinar buas, sorot matanya boleh dibilang merah berapi-api.
so Bun pin hanya menghentikan gerakan serangannya sebentar saja, sambil membentak keras tiba-tiba ia melanjutkan kembali serangannya membabat tubuh lawan secara kalap.
Dengan wajah berubah hebat putri Kim huan berseru.
"Hey, kau sudah edan?"
Menyusul bentakan tadi, segulung angin puyuh menyambar lewat membuat gadis itu tak mampu berdiri tegak.
Ternyata tiga orang raksasa itu sudah menerjang kemuka, sebelum bacokan pedang dari sipedang besi mengenai sasarannya, ia sudah kena ditarik oleh manusia raksasa itu hingga tertarik kebelakang.
Dalam pada itu semua yang hadir telah melotot kewajah pedang besi dengan penuh amarah.
Rupanya ucapan Kim Thi sia yang gagah perkasa tadi telah menanamkan kesan baik dihati semua orang, maka sikap sipedang besi yang hendak membuat pemuda tersebut dengan cepat menimbulkan sikap permusuhan dari semua orang.
Pelan-pelan so Bun pin dapat mengendalikan gejolak perasaannya, diapun tak mengerti apa sebabnya dia menjadi begitu bernapsu untuk membunuh Kim Thi sia.
Apalagi dibawah tatapan mata putri Kim huan yang menunjukkan rasa tak senang hati, dia semakin tak tentram.
"So tayhiap"
Terdengar putri Kim huan menegur dengan wajah dingin.
"Dia telah menyalahi aku, dibelenggu olehku sudah seharusnya aku juga yang menghukumnya atas dasar apa kau hendak membunuhnya tadi....."
Sipedang besi menjadi gelagapan, buru-buru dia berseru.
"Maaf nona....aku.....aku hanya terdorong oleh emosi......harap nona sudi memaafkan. ....."
Pelan-pelan putri Kim huan menjadi halus kembali sikapnya, kembali dia berkata.
"Aku tahu kau berbuat demikian demi kebaikanku, tapi toh tidak seharusnya membunuh orang secara sembarangan......"
"Aku mengerti"
"Terus terang saja, orang ini tidak terhitung kelewat jahat"
Kembali putri Kim huan berkata.
"Hanya tabiatnya yang jelek. orang macam begini belum tentu harus dicabut nyawanya......."
Kim Thi sia turut mendengarkan pembicaraan tersebut, tadi dia sangat mendongkol dan segera pejamkan matanya rapat-rapat.
Putri Kim huan melirik sekejap kearah luka dibahunya tiba-tiba serunya kepada salah seorang raksasa itu.
"Hey ciangkun, darah yang mengalir dari lukanya terlalu banyak. Hal ini bisa mempengaruhi kondisi tubuhnya coba kau balut luka tersebut."
Manusia raksasa itu mengiakan dan menerima sapu tangan dari putri Kim huan lalu menghampiri Kim Thi sia.
"Kalian tak usah mengurusi lukaku"
Mendadak Kim Thi sia berteriak keras.
"Terima kasih atas kebaikanmu, sayang aku tak sudi menerima kebaikanmu itu......."
Putri Kim huan agak tertegun, namun sambil menggigit bibirnya serunya kemudian.
"Kalau begitu biarkan dia mampus"
Darah yang meleleh keluar dari bahu Kim Thi sia memang amat deras.
Wajahnya yang semula merah segar kini telah berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat.
Biarpun penderitaan yang harus dialami amat berat dan menyiksa, namun ia tak pernah mau tunduk kepada orang lain.
sewaktu kembali kedalam kamar penginapan, raksasa itu kembali melemparkan tubuhnya kesudut ruangan.
sekarang didalam ruangan tersebut selain terdapat putri Kim huan serta ketiga orang pengawal raksasanya, kini ditambah pula dengan sipedang besi so Bun pin-Dalam ruangan kamar yang lebar, berudara segar dan bercahaya terang, putri Kim huan duduk bersandar ditepi pembaringan dan mempersilahkan sipedang besi soBun pin duduk disisi tubuhnya.
sikap tersebut dengan cepat membuat sipedang besi kegirangan setengah mati namun dia tak berani menunjukkan kegembiraannya itu, dengan sikap yang munduk-munduk ia duduk ditempat yang ditunjuk.
Ketiga manusia raksasa itu menunjukkan wajah tercengang, agaknya mereka amat keheranan oleh sikap putri Kim huan tersebut, namun tak seorangpun diantara mereka yang berani mengajukan pertanyaan.
Bau harum semerbak dari keperawanan putri Kim huan segera menyebar luas diseluruh ruangan menambah merangsangnya suasana.
sambil tersenyum putri Kim huan segera berkata.
"So tayhiap. aku dengar kawasan Kanglam merupakan daerah dengan pemandangan sangat indah, dapatkah kau memberitahukan kepadaku tempat-tempat mana saja yang menarik......"
"Pertama-tama adalah telaga see oh dikota Hang ciu"
Ujar sipedang besi sambil tertawa.
"kemudian adalah bukit Kim hong di Go b i san. Ketiga......"
Mendadak ia tutup mulut karena tangan putri Kim huan yang putih bersih telah menggenggam lengannya.
Ia merasa terangsang hingga tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi, dia tak mengira akan peroleh perhatian yang begitu besar dari gadis cantik itu.
"Ketiga adalah telaga Tong ting......."
Ucap pemuda itu kemudian sambil menggeserkan duduknya lebih mendekati gadis tersebut.
Pelan-pelan diapun ingin merangkul pinggang gadis itu, ketika dengan tangan yang gemetar sipedang besi berusaha merangkulnya, ternyata gadis itu tidak menolak.
dengan cepat apa yang diinginkan pedang besi pun terkabulkan.
"so tayhiap"
Dengan suara lembut gadis itu berbisik.
"Kau pandai dalam ilmu sastra maupun silat, jago muda yang hebat seperti kau amat jarang ditemui dikolong langit dewasa ini, aku amat kagum kepadamu......"
Bagaikan orang terbuai dalam alam impian, sipedang besi so Bun pin bergumam lirih.
"Aaaaah, mana, mana.....kecantikan nonalah yang amatjarang dijumpai didunia ini...."
Sikap maupun tingkah laku dari sipedang besi seketika melenyapkan semua rasa simpatik serta kesan bagi Kim Thi sia terhadapnya, diam-diam dia mengumpat didalam hati.
"Hmmmm, semuanya hanya manusia-manusia yang tak tahu malu......"
Dengan cepat dia pejamkan matanya rapat-rapat dan mulai bersenandung dengan suara lantang.
Mendadak putri Kim huan menarik mukanya dengan wajah dingin, dia melepaskan tangan sipedang besi yang merangkul pinggangnya dan membuang muka keluar jendela, jelas terlihat kalau perasaan lamat-lamat dicekam amarah yang meluap.
sipedang besi sangat kecewa sekalipun diluarnya dia berlagak acuh tak acuh, namun disaat matanya dialihkan kewajah Kim Thi sia pancaran sinar matanya yang semula lembut dan hangat segera berubah menjadi buas, ganas dan menyeringai seram bagaikan ular berbisa.
Ia marah dan benci kepada Kim Thi sia karena suara tertawanya telah mengusik keindahan impian mereka berdua.
Peristiwa ini merupakan sebuah dosa yang tak dapat diampuni, selama hidup belum pernah ia menjumpai orang yang begitu mengemaskan seperti saat ini, sambil menggigit bibir ia bersumpah didalam hati.
"Aku akan mencabik-cabik tubuhnya hingga hancur berkeping-keping, lalu membuang mayatnya ketengah hutan biar menjadi santapan serigala dan harimau kelaparan-"
Sementara itu Kim Thi sia telah terbayang kembali tentang lin lin, teringat bagaimana gadis itu pergi meninggalkannya tanpa terasa mendadak titik air mata jatuh berlinang.
Putri Kim huan yang menyaksikan hal ini kontan saja tertawa dingin, jengeknya tiba-tiba.
"ooooh, rupanya kaupun bisa melelehkan air mata ternyata engkaupun seorang yang lemah"
Dengan jengkel Kim Thi sia mendengus.
"Hmmm, aku segan berbicara dengan manusia tak tahu malu seperti dirimu itu"
Begitu perkataan mana diucapkan, paras muka putri Kim huan segera berubah hebat, sedang sipedang besi membentak marah dan melepaskan sebuah pukulan kedepan segulung angin pukulan yang amat kuat segera menyergap tiba membuat tubuh Kim Thi sia bergulingan sejauh tiga kaki lebih dan memuntahkan darah segar.
Biarpun wajahnya menjadi kotor penuh berdebu, namun bukannya mengeluh Kim Thi sia justru tertawa tergelak penuh ejekan.
sipedang besi so Bun pin semakin mendongkol, kembali tangannya diayunkan dengan tenaga tiga bagian lebih hebat, ia siap membunuh musuhnya itu secara keji.
Tapi sebelum serangannya dilancarkan tahu-tahu telapak tangannya telah digenggam oleh putri Kim huan, berbeda dalam keadaan begini terpaksa dia harus mengurungkan niatnya.
Dengan gemas putri Kim huan segera berseru.
"Mulai besok aku hendak menyiksanya habis-habisan, agar dia berubah menjadi makhluk yang manusia tak mirip manusia, setan tak mirip setan, akan kulihat apakah ia masih bisa keras kepala terus."
Kim Thi sia yang sudah membuang jauh-jauh tentang mati hidupnya malah tertawa semakin keras setelah mendengar perkataan ini, bahkan ejeknya dengan suara sinis.
"Haaaaahh.....haaaaaahh....haaaaahh...... kuingatkan kepadamu, jangan lupa kalau aku masih mempunyai jurus simpanan yang terakhir yakni menggigit lidah untuk membunuh diri, ingin kulihat apa yang bisa engkau perbuat?"
Putri Kim huan jadi tertegun, untuk sesaat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun-Kim Thi sia semakin bangga, pikirnya kemudian-"Akan kulihat apa yang bisa kau perbuat lagi sekarang walaupun diriku sudah terjatuh ketanganmu, namun kau tak bakalan bisa menyiksamu, ini berarti belum tentu kau bisa ungguli diriku........"
Kemudian pikirnya lebih jauh.
"Bagi seorang lelaki sejati, lebih baik dibunuh daripada dihina, apa yang mesti kutakuti untuk menghadapi kematian, toh dua puluh tahun kemudian aku tetap akan muncul sebagai seorang lelaki."
Berpikir sampai disitu, keberaniannya makin membesar, segera teriaknya lagi dengan lantang.
"Hey, putri Kim huan, ayoh jawab, apa yang bisa kau perbuat?"
Sipedang besi ingin melakukan sesuatu gerakan, tapi niat segera dicegah putri Kim huan-Diam-diam so Bun pin mulai merasakan tak senang hati kenapa putri Kim huan selalu menghalangi usahanya untuk membunuh Kim Thi sia?
Mendadak....
Pada saat itulah ia menemukan suatu peristiwa aneh yang segera menggetarkan hatinya.
Ternyata dari balik jendela ia menyaksikan ada sepasang mata manusia yang tajam sedang mengawasi semua peristiwa didalam kamar.
semula dia masih mengira matanya yang melamur karena kelewat mendongkol, tapi setelah diperhatikan dengan lebih seksama dan dilihatnya biji mata orang itu bergerak kian kemari dengan jelinya, dia baru merasa betul-betul terperanjat.
Apalagi ketika sepasang mata mereka bertemu satu dengan lainnya, tanpa sadar serunya tertahan-"Tajam benar matanya"
Sungguh aneh, biarpun ia sudah menjerit lengking namun sorot mata yang tajam itu masih berhenti tak bergerak pada posisinya semula.
sebaliknya putri Kim huan berlima seketika dibikin tertegun dan tak habis mengerti.
Menghadapi kejadian begini, merah padam selembar wajah so Bun pin karena lengah, tapi dengan cepat sebuah pukulan dilontarkan kedepan-Dia gemas dan benci kepada sipemiliki mata tersebut, sebab gara-gara ulahnya sehingga dia sebagai seorang jago kenamaan dari dunia persilatan sempat perdengarkan seruan kaget.
Tak heran kalau dalam serangan yang dilancarkan kemudian, ia telah sertakan tenaga dalamnya sebesar sembilan bagian-"Blaaaaammmm......."
Ditengah benturan keras, daun jendela itu terpental sampai jauh sekali, menyusul kemudian terdengar sipedang besi membentak gusar dan melesat keluar jendela dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Pada saat itulah ia menyaksikan ada sesosok banyangan hitam menerjang kearahnya dengan amat cepat.
Berubah hebat paras muka sipedang besi so Bun pin buru-buru dia melepaskan pula sebuah pukulan kedepan.
"Blaaaaaa mmmmm"
Ditengah suara benturan keras, tahu-tahu sipedang besi merasakan sepasang lengannya menjadi kaku dan kesemutan sehingga tanpa sadar tubuhnya mundur sejauh tiga langkah lebih.
sementara bayangan hitam itu sama sekali tak berhenti, dia melesat masuk kedalam kamar dan langsung menyamba tubuh Kim Thi sia dan dibawa kabur dari situ.
Putri Kim huan menjerit keras, disusul kemudian tiga manusia raksasa itu menerjang tiba.
Namun orang tersebut sama sekali tak berpaling lagi, dengan suatu gerakan yang sederhana dia mengebaskan telapak tangannya kebelakang.
Agaknya tiga manusia raksasa itu segera menderita kerugian besar, mendengar mereka berpekik penuh kegusara.
sipedang besipun membentak nyaring.
"Sobat, jangan pergi dulu"
Dengan memutar pedang besinya menciptakan selapis hawa pedang yang menderu-deru menyeramkan, dalam waktu singkat dia mengancam semua jalan darah penting ditubuh manusia berbaju hitam itu.
"Haaaaah....haaaaah.....haaaaah....ternyata anak murid malaikat pedang berbaju perlente memang bukan bernama kosong belaka"
Orang berbaju hitam itu berseru sambil tertawa nyaring.
Tanpa menghentikan gerakan tubuhnya, dia memutar telapak tangannya sembari dikebaskan lagi kebelakang.
Hawa murni segera menyebar keempat penjuru mementalkan seluruh ancaman yang tertuju kearahnya.
sementara so Bun pin masih berdiri tercengang ia telah melesat keluar d ari jendela dan lenyap dibalik kegelapan sana.
Waktu itu kegelapan malam telah mencekam seluruh jagad, ketika manusia berbaju hitam tadi menyelinap kebalik hutan, maka sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Agaknya sipedang besi mengetahui siapakah tamu tak diundang itu, dia tidak melanjutkan pengejaran tapi serunya sambil mendengus marah.
Jilid 16
"Hmmm, kau jangan berbangga hati dulu, cepat atau lambat kita berdua tentu akan berduel untuk menentukan siapa yang lebih dulu........."
Sementara itu Kim Thi sia dibawa kabur orang berbaju hitam itu dengan kecepatan luar biasa, sepanjang jalan dia hanya merasa desingan angin tajam menderu-deru sementara tubuhnya bagaikan terapung diatas awan saja.
Dengan perasaan agak terkejut buru-buru tegurnya.
"Siapa kau? Mengapa menolong aku?"
Mendadak manusia berbaju hitam itu menghentikan gerak larinya dan menurunkan tubuh Kim Thi sia keatas tanah, setelah itu katanya dengan suara dingin.
"Sebetulnya cepat atau lambat kau bakal mampus, jadi tak perlu aku mesti bersusah payah menolongmu dari bahaya. Tapi aku menginginkan kau mati secara jelas. Aku berharap kau bisa memahami dulu apa yang disebut manusia yang bermuka dingin dan keji diluar tapi berjiwa kesatria dan pendekar didalamnya?"
Biarpun nada suara itu dingin menyeramkan namun bagi pendengaran Kim Thi sia amat dikenalnya, cepat-cepat dia mengamati wajah orang itu dengan seksama, kemudian serunya tertawa.
"Aaaah, rupanya sipelajar bermata sakti"
Orang itu memang tak lain adalah sipedang bermata sakti, satu-satunya murid dari Ciang sianseng. sambil tertawa dingin pelajar bermata sakti berkata lagi.
"Mungkin didalam hati kecilmu kau anggap aku sebagai gembong iblis yang amat keji dan tidak berperasaan. padahal tahu mukanya tahu orangnya siapa yang mengetahui hatinya? siapa pula yang mengetahui bahwa sejak terjun kedalam dunia persilatan, sudah banyak pahala dan jasa yang kusumbangkan bagi masyarakat dunia persilatan?"
Sekalipun perkataan diucapkan dengan nada dingin dan kedengaranya sombong, namun bila diperhatikan dengan seksama justru terkandung perasaan pedih dan linu yang tak terhingga.
Kim Thi sia segera berkata.
"seandainya kau adalah orang baik seperti ini, mengapa sikap maupun cara berbicara mu terhadap gurumu begitu dingin dan tak menaruh rasa hormat. Padahal ciang sianseng adalah seorang yang bajik?"
Sebagai seorang yang polos dan jujur apa yang terjadi beban dalam hatinya langsung saja diutarakan secara terbuka. sipelajar bermata sakti segera mendengus dingin, katanya.
"sebagai seseorang yang hampir mau mati, buat apa kau mengetahui kelewat banyak pokoknya salahku dapat menunjukkan waktuku yang sebenarnya berarti tujuanku telah tercapai."
Begitu selesai berkata, tanpa menunggu pertanyaan dari Kim Thi sia lagi dia segera membebaskan pemuda itu dari belenggu, kemudian berkelebat pergi meninggaikan tempat tersebut.
Menghadapi watak yang begitu aneh dan belum pernah dijumpai sebelumnya ini untuk sesaat Kim Thi sia menjadi tertegun dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Dia mencoba untuk mengerahkan tenaga namun kecuali bisa berjalan seperti manusia biasa, hakekatnya dia tak mampu mempergunakan sedikit tenaga lagi bahkan saban kali dia mencoba mengerahkan tenaga, seluruh badannya segera terasa linu dan kaku.
Dari seorang manusia yang luar biasa tiba-tiba saja berubah menjadi seorang manusia biasa kembali.
Bisa dibayangkan betapa sedihnya perasaan pemuda tersebut sekarang.
Kim Thi sia segera menjerit keras lalu roboh tak sadarkan diri Dibawah sinar rembulan yang menyinari tubuhnya, suasana disekeliling tempat itu terasa begitu hening dan tenang.
Entah berapa saat sudah lewat, disaat sorot sang surya yang panas membakar tubuhnya, ia baru siuman kembali dari pingsannya.
Yang pertama-tama terlihat adalah bungkusan obat yang ditinggalkan pelajar bermata sakti disisi tubuhnya.
Kalau dulu dia tak ingin memikirkan semua persoalan sedalam-dalamnya, maka saat ini telah terjadi perubahan yang besar sekali dalam waktu singkat ia mulai mencurigai sikap setiap orang kepadanya.
sikap baik yang mungkin belum tentu baik seratus persen, sebab saat ini dia merasa bagaikan tercampak dari pergaulan manusia.
Rasa percaya pada diri sendirinya mulai goyah, pelbagai persoalan yang pelikpun satu per satu melintas dalam benaknya, diantara kesemua itu ucapan dingin dari sipelajar bermata sakti yang paling berkesan dalam.
Ia seperti memahami akan sesuatu, seperti mendalami sesuatu, dengan mata terbelalak lebar karena kaget dan tercengang dia berteriak keras.
"Yang ia maksudkan tentu Ciang sianseng,. Ya a, pasti Ciang sianseng, ilmu silatnya yang lihay, perawakan tubuhnya yang tinggi besar serta sorot matanya yang tajam, boleh dibilang semuanya mirip dengan si Manusia dengki......delapan puluh persen aku....aku sudah dicelakainya secara diam-diam"
Dia sendiripun tak tahu mengapa dirinya mencurigai tokoh dunia persilatan yang paling disanjung dan dihormati, Ciang sianseng dulu.
Diapun berpendapat bahwa tidak percaya kepada Ciang sianseng berarti suatu penghinaan dan sikap tak hormat kepada dia orang tua, tetapi sekarang ingatan semacam itu terasa makin tipis dan padam.
Apalagi obat seorang pemuda yang membawa dendam dan hampir saja mati, amarah paling mudah berkobar ia mulai membenci keadilan takdir mulai membenci Ciang sianseng yang menghancurkan masa depannya.
sambil mendongakkan kepala teriaknya kemudian.
"ooooh....ciang sianseng, mengerti aku sekarang.....kau adalah manusia munafik, manusia keparat.....akhirnya kau pasti akan mampus dalam keadaan mengerikan........"
Teriakannya yang parau bergema dalam lembah dan bukit, mengalunkan gema suara yang keras dan menyusup kesetiap sudut tempat.
Mendadak dari kejauhan sana terdengar seseorang mengumoat dengan suara keras.
"Siapa yang telah menghina Ciang sianseng? Tampaknya sudah bosan hidup lagi didunia ini........."
Kim Thi sia segera tertegun, dia merasa suara umpatan tersebut amat dikenal olehnya, setelah dipikir sejenak.
seperti sampan kecil ditengah badai yang tiba-tiba menemukan daratan, dengan kegembiraan yang meluap-luap segera teriaknya.
"Hey lima orang gagah dari Yang wi, cepat kemari, aku adalah Kim Thi sia bagaimana keadaan Lin lini......."
Disaat ia sedang memperhatikan sekeliling situ dengan gelisah, tiba-tiba ia melihat sorot mata Lin lin yang jeli muncul dikejauhan situ.
sorot mata yang jernih dan selalu membawa sinar kehangatan, cahaya yang menggetarkan kembali perasaan hatinya yang layu.
Beribu-ribu kata serasa akan diutarakan namun ia tak tahu harus mulai berbicara darimana, ia berdiri kaku bagaikan patung.
sementara sepasang matanya yang sayu mengawasi terus gerak langkah Lin lin tanpa berkedip.
Lambat laun selisih jarak antara kedua belah pihak makin mendekat, tanpa sadar Kim Thi sia merentangkan sepasang tangannya, dia berniat memeluk Lin lin kedalam rangkulnya, tapi Lin lin telah menghentikan langkahnya dibawah sebatang pohon, lebih kurang lima kaki dihadapannya, gadis itu tidak menyapa, tidak pula mengajaknya berbicara.
Dengan kecewa Kim Thi sia duduk kembali sambil memeluk lutut, sementara dalam hati kecilnya ia mencoba berpikir.
"Kesalahan apa yang pernah kuperbuat? Mengapa kau tidak anggukkan kepala maupun mengajakku berbicara? Apakah kaupun enggan menolong orang yang hampir mati?"
Pikir punya pikir, akhirnya watak liarnya berkobar kembali, rasa bencinyapun meluap-luap. seperti gunung berapi yang meletus secara tiba-tiba, dia melompat bangun dari atas tanah dan berteriak keras.
"Kalau tidak ingin mengenal diriku lagipun tak jadi soal.
Tapi kau harus mengembalikan kotak mestika Hong toh hap tersebut kepadaku, mulai detik ini kita mengambil jalan sendiri-sendiri, kita tak usah saling menggubris lagi satu dengan lainnya."
Lin lin Mengerdipkan matanya lalu mengeluarkan kotak Hong toh tersebut dari sakunya dan dilemparkan kehadapan sang pemuda tubuhnya tetap bersandar pada pohon mukanya tenang seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun.
sikap gadis itu ibaratnya api bertemu minyak.
rasa tak puas Kim Thi sia makin berkobar-kobar, sambil menuding kearah gadis itu teriaknya keras-keras.
"Perempuan busuk. perampuan busuk. bila kusapa dirimu lagi, biar dalam penitisan mendatang aku dijadikan kuda atau kerbau."
Lin lin tersenyum hambar, katanya lembut.
"Bukankah kau pernah bilang, disaat kotak Hong toh dikembalikan kepadamu berarti saat kita untuk berkisah dan tidak saling menggubris lagi......."
"Benar"
Kim Thi sia mengangguk dengan tegas. Kembali Lin lin tersenyum.
"Nah, kalau toh memang begitu, kotak Hong toh sudah kuserahkan kembali kepadamu, dan berarti kitapun sudah menjadi asing. Moga-moga kau bisa menepati janjimu dan tidak menghalangi kepergianku lagi.....?"
Berbicara sampai disitu ia lantas memberi tanda kepada lima orang gagah dari Yang wi sambil berseru.
"Mari kita pergi"
Lima orang gagah dari Yang wi seperti hendak mengucapkan sesuatu namun niat tersebut diurungkan, tapi akhirnya mereka toh berbicara juga.
"Kim tayhiap. perselisihan apakah yang terjalin antara kau dengan ciang sianseng? Mengapa kau memaki-maki dia orang tua?"
Berapa hari berselang, dengan mata kepala sendiri mereka masih menyaksikan Kim Thi sia berbincang-bincang dengan ciang sianseng.
Hubungan mereka nampak begitu akrab dan hangat, tapi sekarang Ciang sianseng tentu saja peristiwa ini membuat mereka keheranan dan tak habis mengerti.
Kedua belah pihak telah berpapasan dan lewat, namun Kim Thi sia seperti tidak mendengar perkataan mereka, ia berdiri termangu-mangu sambil memandang ketempat kejauhan.
Entah apa saja yang sedang dipikirkan.
Melihat hal tersebut, lima orang gagah dari Yang wi segera berkerut kening, kemudian setelah saling bertukar pandangan sekejap.
katanya kepada Lin lin hampir berbareng.
"Nona tunggu sebentar, lebih baik semua kesalahan paham dibereskan didepan mata, sebab bila kedua belah pihak kukuh pada pendirian masing-masing maka kesalahan paham akan bertambah mendalam yang berakibat penderitaan bagi kedua belah pihak."
"Tidak"
Tukas Lin lin hambar.
"Kesalahan bukan terletak padaku, kesalahan pahampun tak mungkin makin mendalam, yang ada cuma impian. Impian yang berakhir......."
"Tapi nona.......Kim tayhiap hanya kelewat cepat kalau bicara, padahal hatinya justru nan tulus. Mungkin saja kata-katanya kurang berkenan dihati, tapi janganlah hubungan kalian menjadi retak gara-gara urusan yang sepele........"
Sambil berbicara dia melirik sekejap kearah Kim Thi sia tampak pemuda tersebut masih berdiri termangu dengan alis matanya berkenyit kencang. Lin lin melanjutkan langkahnya kedepan serunya ketus.
"Toako sekalian, mari kita pergi, bukankah dia telah menunjukkan sikap mengusir kita?"
Lima orang gagah dari Yang wi menghela napas panjang dan pelan-pelan menyusul dibelakangnya . seakan-akan baru sadar dari lamunannya, Kim Thi sia berseru tiba-tiba.
"Yaa, siapa yang sedang mengusir kalian? Harap kalian jangan menaruh salah paham."
Nada suaranya kedengaran lemah tak bersemangat, membuat orang lain susah untuk meraba suara hatinya, mengapa sikapnya sebentar hangat sebentar marah dan garang bagaikan singa, sebentar lagi bagaikan kucing?
Tanpa sadar kelima orang gagah Yang wi menghentikan langkahnya, sekilas rasa girang menghiasi wajahnya.
Lapisan kabut hitam yang menyelimuti wajah Lin lin pun sedikit terhapus, sepasang matanya nampaknya lebih cerah bagaikan sang surya yang mengintip dari balik awan.
Tapi dia hanya sejenak, kemudian sambil melanjutkan perjalanannya kedepan katanya lebih jauh.
"Tidak. kita sudah berjanji sejak dulu, tak mungkin apa yang telah dijanjikan bisa dirubah kembali......."
"Nona"
Dengan gelisah lima orang gagah dari Yang wi berseru.
"Kim tayhiap sudah mengungkapkan perasaan hatinya bahwa dia tidak mengusir kita, mengapa kau mesti mengajaknya cekcok kembali?"
"Toako sekalian, siapa tahu setan apa yang sedang dipikir olehnya didalam hatinya?"
Sambil bertepuk dada, lima orang gagah dari Yang wi berseru lagi.
"Nona, kami tak berani menjamin Kim tayhiap bukan manusia rendah seperti itu. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kami selama bertahun-tahun mengembara dalam dunia persilatan, dalamz sekilas pandangan saja kami sudah tahu kalau Kim tayhiap adalah orang polos yang jujur........"
Lin lin tetap menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan perjalanannya, ia berkata.
"Toako sekalian, aku merasa amat lelah, kepalaku pening ingin tidur. Ayoh hantarlah aku pulang kekota aku tak ingin banyak berbicara lagi........."
Angin lembut berhembus mengacaukan rambut Lin lin yang hitam memanjang, menelimuti pula bayangan punggungnya yang makin lama semakin menjauh.
Tiba-tiba Kim Thi sia seperti teringat akan sesuatu, sambil mencak-mencak kegusaran teriaknya segera.
"Mengerti aku sekarang, kau pasti sudah mempunyai teman baru sehingga begitu tega kau meninggalkan kawan lama, siapakah biang keladinya ini? Hmmm, selama Kim Thi sia masih hidup didunia ini, dialah yang pertama-tama akan kulumat jadi abu"
Saking gusarnya, luka yang diderita dalam tubuhnya menjadi kambuh, ia segera roboh terjungkal keatas tanah dan tak mampu merangkak bangun kembali, bahkan untuk berbicara pun susah.
Namun dihatinya dia berteriak penasaran.
"Ciang sianseng.......Lin lini.....putri Kim huan......kalian semua adalah musuh-musuh besarku......"
Entah berapa lama dia mengumpat, tahu-tahu pemuda itu sudah jatuh tertidur dengan nyenyaknya.
Tak lama kemudian tampak sesosok bayangan abu-abu munculkan diri dari balik hutan.
Dalam dua tiga lompatan saja bayangan tadi telah tiba disisi pemuda tersebut.
orang itu berperawakan jangkung dan bermuka kurus, matanya dan bibirnya terkatup rapat.
Diawasinya sekejap wajah Kim Thi sia dari atas hingga kebawah, akhirnya pandangan itu terhenti pada bungkusan obat yang masih berada dalam genggamannya.
"Dasar tolol......"
Terdengar orang itu bergumam.
"Ada obat enggan digunakan sama artinya mencari jalan kematian buat diri sendiri Kalau dilihat dari watakmu yang keras, kau nampak begitu gagah dan luar biasa, tak tahunya perasaanmu begitu lemah....."
"Ya a, kau pasti sudah terbelenggu oleh asmara. Makin terjerumus makin dalam hingga akhirnya tak tertolong, seperti juga aku."
Tapi dengan cepat ia teringat kembali semua sejak terjangan selama ini, sambil bertepuk dada gumamnya lebih jauh.
"Aku tak mengerti apa artinya asmara, aku hanya tahu berbakti, membuat orang tuaku bahagia. Aku tak pernah berharap ada gadis yang mendampingiku, aku adalah manusia sebatang kara. sejak berumur enam belas tahun aku sudah sebatang kara, tiga puluh tahun bagaikan sehari. Hingga kini aku tak pernah menyesal, tak pernah berubah pikiran-Banyak orang gagah yang tidak bisa mengatasi soal cinta, tapi aku bisa, sepantasnya kalian belajar dariku, aku disebut orang pelajar bermata sakti. Padahal yang benar aku cuma pelajar sebatang kara, sebab aku berhasil mengatasi soal cinta dari dulu hingga sekarang belum pernah ada yang mengungguliku......."
Bergumam sampai disitu dia termangu sejenak, lalu dengan wajah sedih lanjutnya.
"Tapi....tapi......bila dibicarakan sesungguhnya, aku.....akupun belum bisa membanggakan hal ini......sebab aku pernah gagal, aku pernah menderita seperti kau sekarang, seandainya bukan si malaikat pedang berbaju perlente mengakui sebagai abang seperguruannya dan selain memusuhi diriku. Aku.....aku tetap seorang lelaki biasa, akupun tak pernah bisa mengatasi masalah cinta......."
Makin bergumam pelajar bermata sakti menggumam makin jauh, jelas ia sudah dibuat tersiksa dan menderita selama banyak tahun gara-gara persoalan ini.
selang sesaat kemudian, sambil menuding kearah Kim Thi sia yang tak sadarkan diri ia berkata lagi.
"Kau adalah murid terakhir malaikat pedang berbajuperlente, kau telah memperoleh seluruh warisan ilmu silatnya, berarti kau telah mewakilinya, kau tak ambil perduli masalah aturan, aku tak perduli harus menggempur seorang angkatan muda, tapi aku akan selalu mengacau dirimu terutama dalam soal hubungan cinta, dengan segala upaya aku akan menggagalkan dirimu.......sebab dulu, gurumu si malaikat pedang berbaju perlente melalu mengacau hubungan cinta kami, membuat hatiku kecewa dan dingin, hidup tak berarti, beberapa kali hendak bunuh diri."
"Mungkin juga......"
Sorot mata sipelajar bermata sakti melotot makin berat dan makin tajam.
"Mungkin juga aku hendak berduel denganmu, aku tahu usiaku sUdah tua tak jauh dibandingkan usiamu yang muda, namun aku memiliki sepasang mata yang memiliki daya pikat bagi wanita, aku pasti akan mengungguli dirimu, bilamana perlu akan kurebut kekasihmu dengan mengandalkan mataku yang tajam, aku akan memaksamu mengikuti jejakku, menjadi seorang manusia sebatang kara."
"Dendam orang tua, anak yang harus membalas hutang angkatan tua, angkatan muda yang mesti menanggung tindakanku inipun tidak menyalahi hukum. Apalagi aku hendak menolongmu mengembalikan kekuatan tubuhmu agar kau bisa memberi perlawanan. Nah orang she Kim, disaat dia sudah memahami bagaimana beratnya penderitaan yang kualami selama ini, maka kaupun akan melupakan juga semua penderitaan pada dirimu sendiri"
Sampai disini dia segera membangunkan Kim Thi sia, melepaskan pakaiannya yang robek dan memeriksa luka yang dideritanya. Tiba-tiba ia berseru keras.
"suhu, hatimu sungguh keji, rupanya kau telah memutuskan urat penting ditangannya dengan menggunakan tenaga Ci yang cengkhi. Tak heran kalau seorang pemuda yang lincah bagaikan naga tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya, kau tak berperi kemanusian, aku benarbenar tak mengerti mengapa kau berbuat demikian, apa yang menjadi tujuanmu......."
Pelajar bermata sakti mengambil air bersih dan membuka bungkusan obat itu lalu mengoleskan kesetiap luka yang ada ditubuh Kim Thi sia merintih kesakitan dan mendusin kembali dari pingsannya.
"Jangan bergerak"
Pelajar bermata sakti segera memperingatkan.
"Disaat kutusuk jalan darahmu dengan pisau nanti, usahakan untuk bertahan jangan bersuara, kalau tidak maka hawa murnimu akan menyembur keluar hingga menyebabkan kematian."
Diam-diam Kim Thi sia bergidik, tapi ia mengangguk juga sambil melemparkan pandangan terima kasih kepadanya.
sekalipun nada suara pelajar bermata sakti dingin menggidikkan, namun bagi pendengaran Kim Thi sia justru lebih hangat dan ramah daripada suara Ciang sianseng.
"Paling baik gertak gigi keras-keras, aku segera akan turun tangan."
Sambil berkata pelajar bermata sakti mencabut keluar sebilah pisau dari sakunya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun ditusukkan keatas jalan darah Hong awan hiat ditungkai Kim Thi sia.
Darah segar segera menyembur keluar menodai tubuh mereka berdua.
Pelajar bermata sakti segera memutar pisaunya kuat-kuat, segumpal daging segera terkorek keluar dari tungkai kaki pemuda itu.
Rasa sakit yang tidak terlukiskan dengan kata segera membuat Kim Thi sia lupa akan peringatan, tidak tahan dia menjerit keras-keras.
Berubah hebat paras muka pelajar bermata sakti, secepat kilat ia cabut keluar pisaunya dan menghantam jalan darah Hek seng hiat dibahu kiri Kim Thi sia sebanyak tiga kali.
Kim Thi sia segera merasakan segulung tenaga hisapan yang amat besar menyergap tubuhnya secara otomatis ia menggerakkan tangannya untuk menangkis, saat itulah pelajar bermata sakti mendengus tertahan sambil melepaskan sebuah tendangan keras.
Kim Thi sia segera tertendang hingga mencelat sejauh berapa kaki dan jatuh terjerembab mencium tanah.
Dengan suara dingin menyeramkan pelajar bermata sakti segera menegur.
"Hey orang she Kim, apakah kau sudah bosan hidup?"
Kim Thi sia amat mendongkol, apalagi bila teringat apa yang terjadi barusan serta ucapan pelajar bermata sakti yang begitu garang, ia mengira pihak lawan snegaja hendak mempermalukannya, dengan suara keras sahutnya lantang.
"Pergi, pergi, aku tak sudi menerima pertolongan seperti in.., cepat enyah dari hadapanku, biar aku mati disini dengan tenang"
Pelajar bermata sakti mendengus lalu tertawa dingin "Heeeeh......heeeeh......heeeeh tak nyana kau adalah manusia yang tak punya keberanian.
Menahan sakit penderitaan pun tak mampu, benar-benar manusia tak becus"
Merah padam selembar wajah Kim Thi sia sebetulnya dia hendak mengumpat orang itu, namun setelah melihat wajah sipelajar bermata sakti yang berwarna kuning kehijauan dan jidatnya basah oleh keringat jelas banyak tenaga yang telah dikorbankan untuk menepuk jalan darahnya tadi, dengan nada minta maaf katanya kemudian-"Rupanya aku memang bodoh, maaf, aku telah menganggap maksud baikmu menjadi niat jahat."
Pelajar bermata sakti tertawa hambar.
"Masih membutuhkan pengobatan dariku? Gara-gara teriakanmu tadi, bukan saja usaha kita semua gagal total, hampir saja akupun tak dapat menahan diri hingga turut menderita."
"Ya a, semua ini gara-gara salahku sendiri hampir saja aku menyeretmu terjerumus dalam lembah penderitaan-"
"Sudah tak usah banyak berbicara lagi bila ingin hidup maka kau harus mendapat pengobatan-Kalau tidak. aku akan pergi dari sini."
Meski Kim Thi sia tak senang hati namun teringat kebaikan orang lain. Rasa mendongkolnya hilang separuh sambil menunjukkan senyum paksa katanya cepat.
"Tentu saja aku ingin hidup, justru yang kutakuti kau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menyelamatkan diri"
"Kesempatan memang tak banyak. bila kau tak dapat memanfaatkan peluang yang ada maka sekalipun aku berniat menolongmu niatku tersebut tak akan bisa dipergunakan-"
"Baik"
Kata Kim Thi sia kemudian sambil mengangguk.
"Mari kita coba sekali lagi, bila kali ini gagal akupun tak akan memanggilmu lagi"
Berbicara sampai disini, dia segera menggertak gigi sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
"Kalau memang begitu, manfaatkan kesempatan yang terakhir ini dengan sebaik-baiknya."
Mendadak Kim Thi sia berseru lagi.
"Sobat, aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya ciang sianseng adalah orang baik atau orang jahat? Dapatkah kau memberitahukan soal itu kepadaku.......?"
Pertanyaan yang muncul sangat mendadak ini segera membuat pelajar bermata sakti jadi tertegun, selang sesaat kemudian ia baru berkata.
"Bukankah kau tahu bahwa aku adalah murid Ciang sianseng, mengapa kau ajukan pertanyaan semacam itu kepadaku?"
"Aku lihat meski kalian punya hubungan sebagai guru dan murid, namun dalam pembicaraan maupun tindakan justru sama sekali tak cocok satu dengan lainnya."
"Persoalan tersebut merupakan masalah kami pribadi, lebih baik orang luar tidak usah mencampurinya, tidak terkecuali dirimu"
Kata sipelajar bermata sakti sambil menarik muka. Kim Thi sia segera terbungkam dalam seribu bahasa, sementara dihati kecilnya dia menggerutu.
"Masa ditanyapun tak boleh, bunuh, peraturan bau kalian kelewat banyak. tapi suatu ketika aku pasti akan menunjukkan kenyataannya agar kau pingin disembunyikanpun tak bisa menyembunyikan kembali."
Sementara itu pelajar bermata sakti telah menyeka pisau emasnya dengan kain, lalu katanya dengan suara dalam.
"sekarang aku hendak mulai lagi, bila kau takut sakit lebih baik katakan mulai sekarang, daripada aku gagal melakukan pengobatan akibatnya diriku justru terjerumus kedalam lembah kehancuran. Kau tahu, cara pengobatan yang kulakukan sekarang merupakan suatu cara pengobatan yang amat menyerempet bahaya. Keberhasilan ataupun menyerempet hampir semuanya tergantung pada kemampuan si penderita untuk menahan siksaan-"
Kemudian katanya lebih jauh.
"Aku tahu pikiran dan perasaanku sekarang sedang kalut karena perubahan yang kau alami masalah cinta, padahal perasaan yang tersumbat semacam ini justru merupakan penghambat yang hendak kulakukan. Itulah sebabnya kuharap kau bisa membuang jauh-jauh semua pikiran, asal kau bisa berbuat begitu berarti usaha kita sudah berhasil separuh."
"Darimana kau bisa tahu kalau aku retak hubungannya dengan Lin lini......?"
Pelajar bermata sakti menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya dengan suara keheranan-"Nona itu bernama Lin lin? tampaknya dia amat menaruh perhatian kepadamu?"
"Hmm. siapa bilang dia menaruh perhatian kepadaku? Takpernah ada kejadian seperti itu"
Kim Thi sia mendengus.
"Setiap kali menyinggung soal dia, hatiku menjadi sangat mendongkol. Hmmm, apanya yang hebat sih dari dirinya? Mau pergi biarkan saja pergi, aku sih tidak kelewat membutuhkan dirinya......"
"Pahit dalam perut, manis diujung bibir, kau tak perlu mengelabuhi diriku"
Kata pelajar bermata sakti cepat.
"Aku tahu rasa cintamu kepadanya sangat mendalam. Kalau bukan demikian, tak nanti kau akan begitu mendongkol dan marah"
"Sudahlah, persoalan ini tak usah disinggung kembali, gara-gara dia, aku telah melakukan perbuatan yang menyalahi abang seperguruanku sendiri setiap kali teringat akan dia....aaaai. sudahlah tak usah dibicarakan terus toh perempuan didunia ini bukan cuma dia seorang toh perempuan didunia ini belum mampus semua"
"Kau tahu, Lin lin mempunyai sebuah rahasia dan kebetulan rahasia tersebut dapat kuketahui"
Kata sipelajar bermata tajam dengan nada sungguh-sungguh.
"Apa rahasianya?"
Tanya Kim Thi sia cepat.
"Apakah dia sudah berhubungan intim dengan pria lain?"
"Bukan begitu maksudmu"
"Lalu apa rahasianya?"
Gumam Kim Thi sia makin gelisah.
"Apakah dia masih mempunyai persoalan lain yang belum pernah diberitahukan kepadaku......?"
"Orang she Kim, rasa cintamu kepadanya sudah kau perlihatkan secara jelas dalam kata-kata serta mulut wajahmu. sekarang kau jangan mencoba mengelabuhi diriku lagi"
"Tapi......aku benar-benar sudah tidak menaruh kesan baik lagi kepadanya, seandainya ada, itu dulu, sekarang aku sama sekali sudah tidak memikirkan tentang dirinya lagi"
"Inginkah kau mengetahui rahasianya?"
Tiba-tiba pelajar bermata sakti bertanya sambil tertawa dingin.
Kim Thi sia ragu-ragu sejenak, tapi toh akhirnya dia menebalkan muka seraya mengangguk.
Pelajar bermata sakti mendengus dingin sambil melirik sekejap kearahnya dengan pandangan rendah katanya.
"setelah kalian cekcok dan berpisah tadi, Lin lin berjalan terus menuju kedepan situ diikuti lima orang lelaki kekar, karena tempo hari aku pernah berjumpanya sekali, maka etelah melihat dirinya dari kejauhan, akupun segera memperhatikan dirinya secara sungguh-sungguh"
"Aku tahu"
Tukas pemuda itu cepat.
"ayoh katakan apa rahasianya"
"Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi kuikuti mereka secara diamdiam, sebetulya aku ingin mengetahui sedikit tentang keadaanmu, tapi disaat kalian sedang cekcok tadi, sesungguhnya akupun sudah mengintai tak jauh disana, aku lihat paras muka kelima orang lelaki kekar itu agak aneh, sebelum berbicarapun mereka saling memberi tanda, mula-mula kukira kelima orang lelaki itu akan berniat jahat kepadamu, tapi sesaat kemudian kurasa hal ini pun tak mirip. sebab sikap mereka terhadap dirimu cukup menghormat."
"Tatkala kalian telah berpisah dan kau jatuh tak sadarkan diri, sebetulnya aku ingin segera menolongmu, tapi tiba-tiba saja kujumpai sudut mata Lin lin telah basah oleh air mata, karena itu timbul suatu perasaan aneh dalam hati kecilku sekalipun sikap Lin lin dihadapanmu dingin dan hambar, mengapa disaat berpisah ia dapat menunjukkan sikap berat hati? Perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang singkat, sebagai lelaki yang kasar kau tak menemukannya, tapi perubahan sikap tersebut tak nanti bisa lolos dari ketajaman mata saktiku."
"Tak lama kemudian mereka telah menempuh perjalanan sejauh satu li, saat itulah tiba-tiba Lin lin menangis terseduh, isak tangisnya amat memedihkan hati, cepat-cepat kukerahkan ilmu meringankan tubuhku untuk menyembunyikan diri dibalikpohon besar, pada waktu itu kelima orang lelaki kekar tadi berusaha membujuk dan menghiburnya, tapi Lin lin tak mau menuruti, sambil menangis dia bahkan menegur kelima orang itu yang dibilang cara yang diajarkan tak benar sehingga menyebabkan kesalahan paham, diantara kalian bertambah dalam."
"sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Tanya Kim Thi sia tertegun berapa saat.
"sikap dingin dan tak acuh dari Lin lin sesungguhnya hanya sikap berpura-pura, karena sesungguhnya dia amat mencintaimu, ingin berbaikan lagi denganmu. Tapi dia menuruti nasehat dari kelima lelaki kekar tadi untuk berlagak menjauhi dirimu. Ya....kelima orang lelaki itu memang sudah berpengalaman cukup dalam masalah cinta, tipu muslihat mereka memang cukup banyak. tapi kali ini mereka salah perhitungan, akibatnya dialah yang menjadi korban-"
"Kalau begitu sikap dingin dari Lin lin tak lain dikarenakan dia ingin kembali kesisiku sehingga sengaja berbuat demikian?"
"Tentu saja, tapi kelima orang tersebut tidak memahami perasaanmu, mereka mengira cara tersebut pasti akan berhasil untuk membawamu kembali kesisi Lin lin-sayang seribu kali sayang akhirnya mereka justru melukis ular diberi kaki, bukan kebaikan yang dingin, kerenggangan hubungan yang terjadi, kalian berdua harus menjadi korban kesalahan tafsir mereka........"
Makin dipikir Kim Thi sia merasa pendapat tersebut makin mendekati kebenaran, diapun dapat merasakan betapa cinta dan mesrahnya sikap Lin lin terhadapnya.
Tak kuasa lagi hatinya menjadi kecut rasa sedih dan menyesal pun seketika menyelimuti seluruh perasaannya.
"Kalau begitu aku takpantas menegur dan memakinya dengan suara keras....."
Dia bergumam lirih.
"Yaa, berita itu boleh dibilang merupakan berita baik, terhitung juga sebuah rahasia besar, tujuanku mengutarakan rahasia ini tak lain adalah berharap agar kau jangan bertindak dan mengambil suatu keputusan hanya berdasarkan perasaan. Berdasarkan pada luapan emosi, tapi pikir dan pertimbangkan dulu sematang-matangnya."
Padahal tujuam yang sebenarnya dari pelajar bermata sakti bukanlah begitu, sudah barang tentu diapun tak bisa mengungkapkan rahasia dari tujuan sesungguhnya kepada Kim Thi sia.
sementara itu Kim Thi sia telah berteriak keras.
"Kalau begitu aku harus mencarinya hingga ketemu......."
Tanpa terasa dia mengeluarkan kotak Hong wan dan membelainya dengan penuh kasih sayang, dengan memegang kotak itu dia merasa bagaikan sedang memeluk Lin linsebaliknya sipelajar bermata sakti seakan-akan beru saja menemukan suatu peristiwa besar yang amat mengejutkan hati sepasang matanya terbelalak lebar-lebar dan mengawasi kotak tersebut tanpa berkedip.
mulutnya terbungkam sementara rasa terkejut bercampur keheranan mencekam seluruh perasaan hatinya.
Menyusul kemudian dengan suatu gerakan yang amat cepat dia berusaha menyambar kotak Hong wan tadi.
Namun Kim Thi sia sudah membuat persiapan, ketika sipelajar bermata sakti menggerakkan tangannya untuk merebut, ia segera menggunakan jurus "mengumpulkan awan membuyar kabut"
Dari ilmu pedang panca Buddha untuk menyongsong datangnya gerakan tersebut sambil bentaknya keras-keras.
"Hey pelajar bermata sakti, bila kau berani bertindak secara sembarangan, aku akan musnahkan kotak ini"
Dalam waktu singkat pelajar bermata sakti merasakan dihadapan matanya telah muncul berlapis-lapis bayangan tangan yang muncul dari empat empat arah delapan penjuru, dalam terkejutnya ia segera menarik kembali serangannya sambil berseru.
"orang she Kim, kau jangan salah paham, aku sama sekali tak bermaksud untuk merebut benda itu, sesungguhnya........"
"sesungguhnya kotak Hong wan adalah sebuah benda mestika bukan?"
Sambung Kim Thi sia setengah mengejek. Pelajar bermata sakti segera mendengus dingin.
"Kau jangan mengaco belo secara sembaragan terus terang saja kubilang barang siapa membawa benda ini maka jiwanya akan berada diujung tanduk sering kali dalam keadaan tanpa sadar dia akan kehilangan jiwanya secara percuma. Kini aku berusaha merebut benda tersebut karena terdorong niat baikku, bila kau menganggap aku berambisi untuk mendapatkan mestika tersebut, hal ini sama artinya kau punya mata namun tak berbiji."
Kim Thi sia segera tertawa mengejek.
"Heeeeh.......heeeeeh.......heeeeh......apa gunanya kau membantah? Bukankah secara terangterangan kau telah berusaha merebutnya barusan? Kalau dibilang hal tersebut terdorong oleh niat baik, Hmmm, siapa pula yang mau percaya?"
Paras muka sipelajar bermata sakti berubah hebat agaknya semenjak dilahirkan dari rahim ibunya, belum pernah ia peroleh penghinaan seperti ini, tapi hanya sejenak saja sikapnya telah pulih kembali seperti sedia kala, hanya sepasang "mata iblis"
Nya memancarkan sinar tajam yang amat menggidikkan hati.
"Aku tak akan menghalangi bila kau tak ingin hidup lebih lama"
Katanya kemudian-"Tapi kuanjurkan kepadamu, lebih baik rahasiakan benda tersebut dan jangan biarkan siapapun mengetahui rahasia tersebut, kalau tidak bukan cuma gembong-gembong jago persilatan saja yang akan mengancam jiwamu, bahkan-........"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba ia merasa seperti sudah salah berbicara hingga cepat-cepat menutup mulutnya kembali.
sementara sorot matanya yang tajam mengawas wajah Kim Thi sia tanpa berkedip.
Dasar bodoh, ternyata Kim Thi sia tidak bisa menangkap arti yang lebih mendalam dari perkataan tersebut, dia masih menganggap perkataan tersebut sebagai ucapan mendongkol seseorang.
Dengan cepat dia menyimpan kembali kotak rahasia tersebut kedalam sakunya, kemudian dengan pandangan curiga dia memandang lagi kearah sipelajar bermata sakti.
"Tak usah curiga, nilai dari kotak Hong wan tersebut akan membuat dirimu mimpipun takpernah menduganya sama sekali. Kalau bukan demikian, orang persilatan tak akan memandang tinggi benda tadi."
"Loheng, apa maksudmu?"
"Babi goblok"
Umpat pelajar ebrmata sakti tak senang hati.
"Kau bakal mendapat kembali nyawamu dengan mestika yang terkandung dalam kotak tersebut, masa soal beginipun tidak kaupahami?"
Kim Thi sia kontan saja mencak-mencak kegusaran ketika mendengar dirinya dimaki sebagai babi goblok. teriaknya keras.
"Loheng, kalau berbicara sedikitlah tahu diri, kalau kubilang tidak mengerti berarti aku benarbenar tak mengerti. sampai sekarangpun aku masih belum mengetahui dengan jelas apa gerangan yang telah terjadi. Kau jangan sedikit-dikit memaki orang, kau tahu biar sampai dimanapun Kim Thi sia tak akan takut kepadamu"
Dengan kening berkerut, pelajar bermata sakti segera berseru penuh amarah.
"Kau benar-benar manusia yang tak tahu diri, setengah hidupku sudah banyak orang yang kutolong, namun belum pernah kujumpai manusia yang tak tahu adat macam dirimu. Hmmm, anggap saja aku sudah repot selama setengah harian dengan percuma......."
"Bila kau mengajakku berbicara secara baik-baik, tentu saja aku akan berterima kasih kepadamu, tapi bila kau memaki diriku sebagai babi goblok. tentu saja aku tak terima......"
"sudah memandang pada keadaanmu yang hampir mampus, aku tak akan ribut lebih jauh tapi suatu ketika bila kau beruntung dapat hidup dan bersua lagi denganku, saat itulah aku akan memberi pelajaran yang setimpal atas kelancanganmu hari ini"
Selesai berkata dia segera membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari situ.
Kim Thi sia dengan watak kerbaunya merupakan seorang pemuda yang tak bisa dihadapi secara keras.
Ketika mendengar perkataan tersebut dia segera menarik mukanya dan berteriak keras.
"Loheng, tak usah dibilang lain kali, sekarangpun aku tak akan takut menghadapi dirimu"
Bila berada dihari-hari biasa, Kim Thi sia bakal berbuat demikian lancang, dan tak tahu diri.
Tapi berbeda sekali dengan keadaan sekarang.
Kesatu sikap aneh dari pelajar bermata sakti adalah sikap yang tak bisa dihadapi siapapun dengan begitu saja kedua sifat berangasannya akibat penderitaan putus cinta membuat pemuda itu gampang suka naik pitam dan mengumbar hawa amarahnya.
Pelajar bermata sakti sudah berjalan berapa langkah ketika mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba ia membalikkan badan dan berseru dengan suara dingin "orang she Kim, kau jangan berkaok-kaok seperti setan kelaparan, bukan aku memandang hina dirimu.
sekalipun kau beruntung bisa hidup lima tahun lagipun belum tentu kau bisa menandingiku"
Kim Thi sia yang pada dasarnya sudah gusar, kini semakin meluap amarahnya setelah mendengar perkataan itu, sedemikian gusarnya sampai tangan dan kakinya gemetar keras, kalau bisa dia ingin selepasnya memperoleh kembali seluruhnya kepandaian silatnya lalu berduel tiga jurus dengan orang tersebut.
"Orang she Kim"
Kata pelajar bermata sakti lagi.
"sekarang juga aku hendak pergi dari sini, kuharap kau bisa melanjutkan hidup segera sehat walafiat. Bila ada kesempatan carilah aku untuk berduel serta melampiaskan semua rasa kesalmu selama ini. Dan akhirnya aku perlu menganjurkan kepadamu cara yang paling aman dan paling terjamin untuk menyelamatkan diri adalah berusaha mempelajari ilmu silat yang ada didalam kotak Hong wan itu"
Tergerak perasaan Kim Thi sia sesudah mendengar perkataan itu, namun sebagai pemuda yang keras kepala, dia tak ingin mengaku kalah dihadapan orang lain, katanya acuh tak acuh.
"Mati hidup berada ditangan Thian, aku Kim Thi sia bukan manusia yang takut mampus, bila kau hendak pergi, soal ini merupakan kebebasanmu sendiri, aku tak ingin turut mencampurinya."
Pelajar bermata sakti mendengus dingin, dalam dua tiga lompatan saja ia sudah berkelebat menuju kejalan dan sesaat kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
"setan busuk"
Kim Thi sia segera bergumam.
"Lima tahun kemudian bila aku tak mampu menghajarnya sampai sekarang minta ampun, mungkin setanpun akan merasa keheranan-..."
Tiba-tiba serombongan burung gagak terbang melintas dan meninggalkan suata pekikan yang memilukan hati.
Kim Thi sia merasakan hatinya bergidik, bayangan kematian seakan-akan menyelimuti sekeliling tubuhnya.
Tiba-tiba dari kejauhan situ berkumandang datang suara nyanyian yang amat merdu.
suara itu makin lama makin mendekat, dengan gembira Kim Thi sia melompat bangun dan menengok kearah mana datangnya suara nyanyian merdu itu.
Tapi dengan cepatnya dia telah melihat suatu benda yang amat dikenal sekali olehnya, yaitu sebuah tandu kecil yang digotong oleh tiga manusia raksasa.
orang-orang itu amat dikenal olehnya dan membuat pemuda tersebut merasakan hatinya tercekal, buru-buru ia duduk kembali keatas tanah.
Untuk sementara waktu ini dia tak ingin bertemu dengan putri Kim huan beserta ketiga orang pengawal, apalagi dalam keadaan lemah seperti ini, dia tak ingin menjadi bulan-bulanan mereka lagi.
Tak lama kemudian rombongan tandu itu sudah pergi menjauh dan lenyap dikejauhan sana.
sudah satu jam lebih Kim Thi sia duduk termenung, ketika teringat akan lin lin tanpa terasa ia mengeluarkan kembali kotak Hong wan tersebut dan membelainya dengan penuh kasih sayang.
Tapi rasa sakit yang dirasakan dalam tubuhnya segera menyadarkannya kembali dari lamunan, tiba-tiba saja ia teringat dengan perkataan sipelajar bermata sakti tadi.
Akhirnya terdorong rasa ingin tahu dia membuka kotak Hong wan tersebut serta diperiksa isinya.
Namun dengan cepat ia menghela napas kecewa isi kotak tersebut bukan benda mestika melainkan sebuah lentera kecil yang terbuat dari tembaga hijau.
Lentera hijau itu tidak ada yang aneh dan nampak sederhana sekali, Kim Thi sia tidak habis mengerti dimanakah letak ke mestikaan benda tersebut hingga menjadi benda rebutan umat persilatan-......?
Dengan perasaan mendongkol ia membuang lentera kecil itu kesudut pohon, tapi saat itu juga dia seperti mendengar suara dentingan lirih dari balik lentera kecil itu.
Menghadapi kematian yang serasa makin didepan mata, Kim Thi sia merasakan pikirannya berubah menjadi semakin tenang, tiba-tiba pikirnya.
"Mengapa aku tidak membuka lentera ini dan diperiksa apa isinya? Paling tidak aku bisa mengisi waktu yang senggang ini dengan kesibukan?"
Begitu ingatan tersebut melintas lewat, dia pungut kembali lentera kecil itu serta digoyangkan berulang kali.
Dari dalam lentera segera bergema suara dentingan kecil,seolah-olah ada dua lembar besi yang saling beradu satu lainnya.
"Benar-benar aneh sekali"
Demikian dia berpikir, seharusnya dalam lentera berisi banyak, kenapa dalam lentera ini justru disimpan dua benda kecil tersebut?"
Didorong oleh rasa ingin tahu, iapun memasukkan jari tangannya kedalam lentera tadi serta dirabanya benda kecil dalam lentera tersebut.
Ternyata disitu terdapat dua benda bulat yang lunak dan halus menyerupai dua buah bola kecil, berbeda sama sekali dengan dugaannya yang semula yaitu benda sebangsa besi.
"sungguh aneh"
Kembali pemuda itu berpekik. sekarang dia baru teringat dengan ucapan dipelajar bermata sakti yang dinilai mempunyai maksud dalam satu ingatan segera melintas dalam benaknya.
"Aaaaah, ternyata benda ini memang luar biasa......"
Kembali gumamnya lirih.
Maka dengan berhati-hati sekali dia masukkan jari tangannya untuk mengorek keluar benda itu namun sayang mulut lentera kelewat kecil, biarpun sudah dikorek setengah harian lebih namun benda yang bulat lunak itu belum berhasil dikorek keluar.
semakin susah benda itu diambil, semakin besar pula rasa ingin tahu pemuda ini, dalam gelisahnya dia segera mencoba menjepit bola kecil yang empuk itu dengan jari tangannya lalu berniat menekannya lebih kecil agar bisa dikorek keluar.
Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 3
Baca Juga: Anak Berandalan Khu Lung