Eps 6 Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung
Baca online Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung
Cersil Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung.
Ji Cin peng sadar bahwa tak mungkin baginya untuk menyusul perempuan gila itu, terpaksa dengan hati yang remuk redam dan airmata yang jatuh bercucuran membasahi wajahnya, ia menghentikan pengejaran tersebut.
Kejadian demi kejadian yang pernah dialaminya dimasa lampau terkenang kembali dalam benaknya....
Sepasang sejoli yang sesungguhnya dapat hidup bahagia, kini harus berpisah satu sama lainnya dan entah sampai kapan baru bisa bertemu kembali....
Dialam bakakah?
Atau dialam semesta....?
Ia benci, ia membenci diri sendiri!
Ia pun membenci pada takdir yang tak berperasaan.
Terbayang kembali putra kesayangannya yang hidup tanpa ayah, hampir saja hatinya hancur lebur karena sedihnya....
Kesedihan yang kelewat batas membuat pendengaran maupun penglihatannya menjadi kabur dan kehilangan ketajamannya seperti biasa, ia lupa berada dimanakah dirinya sekarang.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara helaan napas sedih, kemudian terdengar seseorang berkata.
"Inilah yang dinamakan takdir, jangan menyalahkan manusia, jangan pula membenci langit!"
Bagaikan baru bangun dari lamunan dengan cepat Ji Cin peng berpaling kebelakang.
Tampaklah seorang nyonya berambut putih telah berdiri disampingnya dan menggenggam tangannya yang lembut pelan-pelan, wajah perempuan tua itupun penuh diliputi kesedihan.
"Oooh nenek!"
Seru Ji Cin peng dengan suara yang memilukan hati.
"kau suruh hidup dengan cara apa? Bagaimana mungkin aku bisa hidup lebih lanjut?"
"Bagaimanapun juga akhir dari kalian berdua adalah suatu kematian disalah satu pihak, toh bagaimanapun juga dia harus mati"
Bisik perempuan itu lirih.
"Oh nenek, kau.... kenapa kau tidak menghalangi kepergiannya tadi? Dengan kepandaian yang dimiliki nenek dan Peng ji, kita pasti dapat menghalangi jalan perginya, kau.... kenapa kau tidak berbuat demikian....? Kenapa....?"
"Oh Peng ji tahukah kau siapa perempuan tadi?"
Tanya perempuan berambut putih itu sambil menghela napas.
"Betul dia adalah suhunya Yo Long locianpwe yang disebut orang Hay sim li, tetapi dengan ilmu silat nenek yang begitu tinggi, asal kau bersedia turun tangan maka tak nanti dia akan bisa kabur dari sini dengan sedemikian mudahnya"
Sekali lagi perempuan berambut putih itu menghela napas panjang.
"Aai....! Anak Peng, kau menilai terlampau tinggi kepandaian silat yang dimiliki nenek.... Betul andaikata aku turun tangan dan bekerja sama denganmu mungkin jalan perginya bisa dihadang, tapi tahukah kau bahwa aku tak dapat melanggar sumpahku sendiri?"
Pucat pias selembar wajah Ji Cin peng setelah mendengar perkataan itu, dengan suara gemetar katanya.
"Nenek.... aku menyesal.... aku menyesal sekali telah mengangkat sumpah tersebut...."
Dengan penuh kasih sayang perempuan berambut putih itu membelai rambutnya yang lembut, kemudian katanya dengan suara pelan.
"Anak Peng kau jangan terlampau bersedih hati bila penglihatanku tidak salah, mungkin nasibnya tidak akan sejelek itu, dan usianya tak mungkin akan berakhir dengan begitu cepat"
Ucapan tersebut dengan cepat mendatangkan setitik harapan keputus asaan yang mencekam perasaan Ji Cin peng sebelumnya.
Haruslah diketahui bahwa perempuan berambut putih itu adalah pelayan dari Lam hay sin ni, bukan saja kepandaian silatnya sudah mencapai puncak kehebatan, lagipula ia pandai sekali melihat raut wajah.
Dasar-dasar ilmu silat yang dipelajari Ji Cin peng, hampir boleh dibilang sebagian besar adalah hasil pelajaran dari perempuan berambut putih ini mungkin dahulunya perempuan itupun pernah mengalami suatu kejadian yang memilukan hatinya, sehingga tak pernah ada orang yang tahu siapa nama sebetulnya dari perempuan itu, Ji Cin peng sendiripun hanya memangil perempuan berambut putih itu sebagai Siau Nay nay.
Dengan sorot mata tajam Ji Cin peng menatap wajahnya lekat-lekat, kemudian katanya lirih.
"Nenek, kau tak akan membohongi diriku bukan!"
Perempuan berambut putih itu menghela napas panjang.
"Anak bodoh, nenek sudah berusia lanjut masakah membohongimu dengan kata-kata yang bukan-bukan, aai.... kau si bocah cilik, betul-betul berhati bajik dan lembut, cuma sayang kau tak dapat menembusi rintangan dalam soal cinta...."
Mendadak dia menghela napas panjang, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dan memandang rembulan yang telah condong kesebe1ah barat, gumamnya seorang diri.
"Tapi, siapakah dikoiong langit dewasa ini yang sanggup menghindarkan diri dari soal cinta?"
Ji Cin peng membungkam dalam seribu bahasa, ia tahu Siau Nay nay amat mencintainya, tak mungkin ia akan berbicara bohong dengannya, diam-diam iapun bersyukur atas ucapan itu.
Tiba-tiba berkumandang suara langkah manusia yang memecahkan keheningan.
Ketika Ji Cin peng menengadah, maka tampaklah Jit poh toan hun Kwik To sekalian anak buahnya dari perguruan panah bercinta telah berbondong-bondong datang kesana.
Dengan suara lantang terdengar Jit poh toan hun berseru.
"Nona Ji, pelbagai perguruan telah mengirim orang untuk mencari jejak perempuan gila tersebut, bagaimana dengan kita? Harap siocia segera memberi petunjuk!"
"Aaai.... Kwik toako, mari kitapun melakukan pencarian disekitar pulau ini!"
Maka dipimpin langsung oleh Ji Cin peng berangkatlah sekalian anak buah perguruan panah bercinta untuk melakukan pencarian disetiap sudut pulau tersebut, namun jejak dari perempuan gila berambut panjang maupun Gak Lam-kun belum juga ditemukan.
Tiga hari sudah mereka lakukan pencarian disegala penjuru pulau tersebut, sementara kawanan jago dari perguruan lain mulai melakukan pencarian diluar pulau tersebut.
Selama ini hanya pihak See thian san saja yang tetap diam dalam bangunan megah ditengah pulau tersebut tanpa melakukan suatu gerakan ataupun tindakan apapun.
000O000 ooOoo oooCooo Disudut timur dari bangunan megah yang amat luas itu, terdapat sebuah bangunan menyendiri yang menghadap kesebelah barat, seorang perempuan berambut panjang yang berwajah jelek tampak sedang duduk bersila disana.
Dibalik sepasang biji matanya yang jeli, terpancar suatu sinar termangu-mangu yang lebih mirip dengan orang yang sedang melamun, ia sedang mengawasi seorang pemuda berbaju emas yang tergeletak diatas tanah tanpa berkedip.
Tanpa berkutik barang sedikitpun pemuda berbaju emas itu tergeletak diatas tanah, dada maupun lambungnya sudah tidak bergerak naik turun lagi seperti layaknya orang bernapas, keadaan semacam itu tak ubahnya seperti orang yang telah putus nyawa.
Namun, paras muka pemuda berbaju emas itu masih belum berubah menjadi pucat pias seperti wajah sesosok mayat.
Siapa gerangan kedua orang itu?
Mereka tak lain adalah Gak Lam-kun dan perempuan gila berambut panjang Hay sim li yang telah bikin heboh para jago persilatan tiga hari berselang ketika terjadi perebutan Lencana pembunuh naga.
Sejak berhasil menangkap Gak Lam-kun dan melarikannya, selama tiga hari beruntun Hay sim li hanya mengendon dalam ruangan tersebut tanpa berkutik barang sedikitpun jua, tentu saja Ji Cin peng maupun kawanan jago lainnya tidak mengira kalau perempuan gila berambut panjang yang mereka cari-cari selama ini ternyata hanya berada dalam gedung.
Gak Lam-kun sendiripun berada dalam keadaan tak sadar semenjak dibekuk dan dilarikan kesitu, keadaan anak muda tersebut tak berbeda jauh dengan sesosok mayat.
Setelah membawa Gak Lam-kun kedalam ruangan tersebut, dan semenjak perempuan gila berambut panjang itu menemukan baju warna emas yang dikenakan sang pemuda dibalik jubah hijaunya, iapun terlelap dalam lamunan yang panjang yang tiada habisnya.
Ia seperti kehilangan ingatannya sama sekali, sepanjang hari dan malam hanya duduk disamping Gak Lam-kun sambil memandangi tubuhnya yang tergeletak ditanah itu tanpa berkedip.
Bayangan dari si setan berbakat yang termashur dalam dunia persilatan, Tok liong cuncu Yo Long pun terkenang kembali dalam benaknya, ia merasa pemuda yang tergeletak itu seakan-akan adalah kekasih hatinya, beberapa kali dia hendak menubruk kedepan serta memeluk tubuh Gak Lam-kun.
Sambil menangis terisak bisiknya berulangkali.
"Yo Long.... ooh Yo Long....!"
Senjapun kembali menjelang tiba.... Mendadak Hay sim li menubruk kedepan dan memeluk tubuh Gak Lam-kun erat-erat serunya sambil menangis tersedu-sedu.
"Oooh Yo Long, wahai Yo Long. Sungguh mengenaskan kematianmu ini...."
"Kenapa kau tak mau hidup saja? Kenapa kau begitu tega meninggalkan gurumu yang kau cintai itu? Ooh Yo Long.... Yo Long sayangku.... jangan kau tinggalkan diriku...."
Ia menangis tersedu dengan penuh kesedihan....
Ia merintih dan berteriak seperti orang gila....
Airmatanya bagaikan mutiara yang putus benang setetes demi setetes meleleh keluar dan jatuh dibawah Gak Lam-kun.
Dunia serasa menjadi kelabu, jagad serasa menjadi sepi....
suatu siksaan batin yang benar-benar mengenaskan....
Dalam keadaan beginilah, Gak Lam-kun yang telah empat hari tak sadarkan diri itu mulai meronta dan menggerakkan tubuhnya.
Sekalipun gerakan tersebut sangat lirih, tapi perempuan gila berambut panjang itu segera merasakannya ia menjerit penuh rasa kaget bercampur gembira.
"Oooh.... Long ji.... Long ji kusayang.... kau tidak mati? Kau tak akan mati!"
Rasa cinta Hay sim li terhadap Tok liong cuncu Yo Long boleh dibilang telah mendarah daging, sewaktu mendengar berita kematian Yo Long dari mulut Si Tiong pek, rasa sedih yang kelewat batas menimbulkan kembali tingkah polahnya yang sinting dan setengah sadar, selama empat hari belakangan ini lantaran Gak Lam-kun mengenakan dandanan dari Yo Long dimasa lalu, ternyata ia telah salah menganggap Gak Lam-kun sebagai Tok liong Cuncu Yo Long.
Setelah menjerit kegirangan, Hay sim li segera menyambar tubuh Gak Lam-kun dan memeluknya erat-erat, secara beruntun ia lepaskan dua totokan yang menepuk jalan darah Thian leng hiat dua buah jalan darah penting.
Biasanya, kendatipun seseorang menderita luka dalam yang bagaimanapun parahnya, asal kedua buah jalan darah penting tersebut ditepuk, maka penderita segera akan sadar kembali, tapi Gak Lam-kun masih belum juga berkutik.
Hal mana dengan cepat membuat Hay sim li menjadi tertegun dengan rasa cemas ia tekan nadi Gak Lam-kun dan memeriksa denyutan nadinya tiba-tiba ia menjerit keras.
Dengan cepat perempuan itu terlelap kembali kedalam lamunannya yang tak terhingga.
Sejak terkena pukulan Tay siu im khi dari Hoa Kok khi, kemudian anak muda itu mengerahkan ilmu sakti Huan pu hwe kong untuk memperpanjang usianya selama dua hari, sesungguhnya bila saatnya telah tiba, niscaya selembar nyawanya akan lenyap dari raganya.
Tapi beruntunglah dia menemukan suatu peristiwa lain, yaitu sewaktu melawan pengaruh ilmu Kiu hian tay boan yok sin im dari gadis berbaju perak itu, tiba-tiba saja ia dapat memahami pelajaran sim hoat ilmu Hian im kok meh (menggunakan irama menembusi nadi) yang pernah diterangkan Yo Long kepadanya.
Sim hoat Hian im kok meh tersebut merupakan semacam kepandaian untuk menyembuhkan luka yang sangat lihay, oleh karena itu dia telah memanfaatkan pengaruh gelombang irama dari Kiu hian tay boan yok sin im tersebut untuk menembusi urat-urat penting dalam tubuhnya yang terluka.
Ketika gelombang irama tersebut dikerahkan Gak Lam-kun menembusi nadi penting dan delapan urat utama, tiba-tiba saja gelombang irama berhawa panas itu saling berbenturan dengan hawa jahat Tay siu im khi yang mengendon dalam tubuhnya, akibat dari benturan tersebut ia segera jatuh tak sadarkan diri.
Ketika sadar kembali dari pingsannya, betul hawa racun Tay siu im khi dalam tubuhnya telah penuh, tapi berhubung hawa murni yang berada dalam kedelapan urat utamanya ikut tergetar buyar oleh gelombang irama Kiu hian tay boan yok sin im, akibatnya hawa murni ditubuhnya jadi mengambang dan tak sanggup dipersatukan kembali dalam waktu singkat.
Untung saja keadaan tersebut bukan suatu keadaan yang terlampau serius, asal ada cukup waktu baginya untuk mengatur kembali hawa murninya, ataupun ia paham sim hoat kepandaian untuk menggiring hawa murninya kembali kepusat, maka segenap hawa murni yang membuyar tersebut akan terhimpun, bukan cuma tenaganya saja yang bakal pulih kembali seperti sedia kala bahkan tenaga dalamnya akan bertambah sempurna lagi, hal mana tentu saja jauh diluar dugaan siapapun.
Sayangnya, ketika hawa murni Gak Lam-kun yang membuyar belum terhimpun kembali, ternyata ia terkena sebuah pukulan lagi dari Hay sim li yang berat dan mematikan, justru karena hawa murni Gak Lam-kun tidak terhimpun dipusar, ia dapat menahan pukulan dari Hay sim li tanpa tewas, akan tetapi, akibatnya hawa murni yang telah membuyar tersebut segera menyebar kedalam ketiga ratus enam puluh delapan buah jalan darahnya dan tercerai berai tak karuan.
Dalam keadaan begini, ia merasa tubuhnya seperti terlepas sama sekali dari daya tarik bumi, kesadarannya punah, napasnya seperti tak ada dan perasaannya ikut hilang sekalipun ia masih hidup segar bugar namun sepintas lalu keadaannya tak berbeda jauh dari sesosok mayat.
Selama empat hari belakangan ini, keadaan tubuh Gak Lam-kun kembali mengalami perubahan, hawa murni yang telah tersebar kedalam jalan darahnya pelan-pelan mulai menggumpal dan mengalir kembali kearah pusat, karenanya anak muda itu menunjukan gejala meronta belum lama berselang.
Untuk beberapa saat lamanya Hay sim li termenung sambil memutar otaknya, tiba-tiba timbul ingatan bahwa hawa murni yang dimiliki Gak Lam-kun mungkin telah punah sama sekali, ia lantas bertekad hendak mempergunakan hawa saktinya untuk menyalurkan hawa murni dalam tubuhnya kedalam nadi-nadi penting si anak muda itu.
Demikianlah, Hay sim li lantas duduk bersila dengan tangan kirinya ditempelkan diatas jalan darah Thian leng hiat ditubuh Gak Lam-kun, sementara tangan kanannya merangkul pinggang pemuda itu matanya melotot besar dan hawa murni disalurkan keluar.
Lewat beberapa saat kemudian, segulung aliran hawa panas telah menembusi jalan darah Jin meh dan tok meh ditubuhnya lalu melewati jalan darah Thian leng hiat segera menyebar keempat penjuru dan mengitari sekujur badan Gak Lam-kun.
Tak sampai sepertanak nasi kemudian, isi perut Gak Lam-kun telah digerakkan kembali oleh hawa murni Hay sim li dan pulih kembali kegunaannya seperti sedia kala, darah yang membekupun lambat laun bisa mengalir kembali mengitari seluruh tubuhnya.
Cuma hawa murni yang ia miliki semula masih tetap tersumbat didalam setiap jalan darah penting ditubuhnya.
Walaupun demikian, keempat anggota badan Gak Lam-kun, yang telah mengejang keras itu tiba-tiba saja dapat bergerak kembali, peluh mulai bercucuran dari ronggarongga tubuhnya, wajah yang memucatpun kini sudah memerah kembali.
Mendadak sekujur tubuh Hay sim li gemetar keras, tangan kirinya yang menempel diatas jalan darah Thian leng hiat pada tubuh Gak Lam-kun tiba-tiba saja dialihkan keatas jalan darah Mia bun hiat diatas punggung pemuda itu.
Uap putih yang mengepul keluar dari atas kepala Hay sim li kian lama kian bertambah tebal, tak sampai satu jam kemudian, lapisan uap putih yang menyelimuti seluruh badannya sudah sedemikian tebalnya sehingga berupa kabut putih yang amat tebal.
Suhu udara panas makin lama makin tinggi, mendadak paras muka Hay sim li mengalami suatu perobahan.
Kulit wajahnya yang jelek dan menyeramkan itu seakan-akan kulit kerak yang kering tahu-tahu mengelupas selembar demi selembar....
Waktu itu Hay sim li masih belum merasa bahwa kulit wajahnya mulai mengelupas, seluruh perhatiannya hanya tertuju untuk menyembuhkan luka yang diderita Gak Lamkun.
Mendadak sepasang telapak tangannya yang dirangkap didepan dadanya itu berpisah kekedua belah sisi, kemudian secepat kilat menepuk dua buah jalan darah penting ditubuh Gak Lam-kun.
Namun sepasang tangannya itu tidak segera disingkirkan dari tempat itu, sebaliknya malah menempel lekat-lekat pada setiap jalan darah yang baru ditepuknya itu, hawa panas yang mengelilingi tubuh mereka berduapun kian lama kian bertambah kurang.
Seperminum teh kemudian ia baru menyingkirkan sepasang tangannya dari atas jalan darah tersebut.
Begitulah hal tersebut dilakukan berulang-ulang sampai enam kali banyaknya, sudah dua belas buah jalan darah kematian ditubuh Gak Lam-kun yang ditepuk olehnya.
Peristiwa ini boleh dibilang merupakan reaksi bagi Gak Lam-kun, sekalipun hawa murninya tak akan pulih kembali dalam waktu singkat sesudah mendapat pengobatan, tapi dua puluh empat jam kemudian bila hawa murninya telah terhimpun kembali kedalam pusar, maka kehebatan tenaga dalamnya ketika itu hampir boleh dibilang satu kali lipat daripada kemampuannya sekarang.
Mendadak berkumandang suara helaan napas panjang....
Pelan-pelan Gak Lam-kun membuka matanya, tiada rasa girang yang memancar diatas wajahnya, ia hanya bertanya dengan suara hambar.
"Siapa kau?"
Begitu mendengar suaranya, bagaikan baru mendusin dari impian, Hay sim li berseru tertahan, ia melemparkan tubuh Gak Lam-kun keatas tanah lalu mundur beberapa depa dari situ.
Sinar rembulan memancarkan cahaya keperak-perakannya melewati daun jendela, ketika Gak Lam-kun mencoba untuk memperhatikan wajah Hay sim li, ia menjadi tertegun sebab raut wajah tersebut seingatnya begitu siang dan belum pernah dijumpai sebelumnya.
Raut wajah perempuan itu begitu cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, sedemikian ayunya sehingga siapapun yang memandang wajahnya pasti akan terpikat dan terpesona dibuatnya.
Ditengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa si anak muda itu mulai memeras otaknya dan mengingat kembali peristiwa demi peristiwa yang telah dialaminya selama ini....
Malam itu, ia menyaksikan perempuan gila berambut panjang ini berjalan menghampirinya tiba-tiba diapun jatuh tak sadarkan diri....
Berpikir sampai disitu, apalagi melihat rambut Hay sim li dan baju yang dikenakan olehnya, kontan saja Gak Lam-kun menjerit kaget.
"Haah, kau.... kau adalah dia...."
Ternyata wajah Hay sim li pada saat ini sudah tidak jelek atau menyeramkan lagi seperti tempo hari, tapi begitu cantik dan jelita bak bidadari dari kahyangan.
Wajah tersebut bukan wajah seorang perempuan tua yang berusia enam puluh tahunan tapi merupakan seraut wajah perempuan yang masih muda.
(Tentang hubungan kasih antara Hay sim li dan Yo Long, akan diceritakan pada bagian lain).
Ketika memandang untuk pertama kalinya tadi, Gak Lam-kun masih belum merasakan sesuatu yang aneh, tapi setelah memandangnya agak lama tiba-tiba ia mulai merasakan jantungnya berdebar keras, terasa olehnya betapa menarik dan memikatnya wajah Hay sim li tersebut.
Daya pesona perempuan Hay sim li tersebut, tak kalah dari daya tarik si gadis cantik yang tertera diatas lencana pembunuh naga, sudah barang tentu jauh melebihi si nona berbaju perak dari perguruan See thian san tersebut.
Ia merasa bahwa daya pikat yang dimiliki ketiga orang perempuan itu hampir sama satu sama lainnya, terutama sekali antara Hay sim li dengan si nona yang tertera diatas lencana pembunuh naga tersebut, satu-satunya perbedaan hanyalah pada alis mata nona dalam lencana pembunuh naga terdapat sebuah tahi lalat merah, dan lagi wajahnya lebih bersih dan polos.
Terkesiap Gak Lam-kun mendengar bentakan tersebut, ia jumpai paras muka Hay sim li telah berubah hebat, dengan sepasang mata yang tajam ia sedang mengawasinya lekatlekat, sementara hawa napsu membunuh yang tebal menyelimuti wajahnya.
Diam-diam Gak Lam-kun bersiap juga menghadapi kejadian tersebut, tapi ketika teringat kembali bahwa dirinya sudah terkena hawa pukulan Tay siu im khi dari Hoa Kok khi, hatinya menjadi jauh lebih tenang.
Sesudah menghela napas ringan, pemuda itupun berkata.
"Locianpwe, ada sedikit persoalan ingin boanpwe utarakan kepadamu!"
Agaknya jalan pikiran Hay sim li ketika itu telah berada dalam keadaan normal kembali, katanya dingin.
"Persoalan apa yang hendak kau katakan cepat diutarakan sekarang juga! Sebab sebentar lagi tubuhmu akan kucincang menjadi berkeping-keping...."
Tertegun Gak Lam-kun mendengar ancaman tersebut, pikirnya.
"Heran, dengan kau toh aku tak pernah punya dendam atau sakit hati, kenapa kau hendak mencincang tubuhku menjadi berkeping-keping...."
Tiba-tiba saja ia teringat kalau otak perempuan itu kurang waras, maka katanya kemudian.
"Locianpwe, apakah kau kenal dengan baju berwarna emas yang kukenakan ini? Kalau kenal, tolong tanya milik siapakah baju tersebut?"
"Kau manusia yang pantas dibunuh"
Teriak Hay sim li dengan geramnya.
"kau telah membunuh Yo Long, merampas pula pakaian miliknya, kau.... kau...."
Tampak jelas kalau perasaannya ketika itu sedang mengalami goncangan keras, dengan sorot mata yang berapi-api, dia awasi Gak Lam-kun tanpa berkedip.
Tentu saja Gak Lam-kun menjadi kebingungan setengah mati mendengar ucapan lawan yang penuh luapan rasa dendam itu, setelah menghela napas sedih, katanya.
"Locianpwe, Yo Long adalah guru boanpwe masa aku tega membunuh guru sendiri...."
"Apa? Kaupun muridnya?"
Seru Hay sim li dengan perasaan terkejut.
Ternyata Hay sim li telah menganggap Si Tiong pek sebagai murid Yo Long oleh sebab itu ketika mendengar Gak Lam-kun pun mengaku sebagai murid Yo Long, ia menjadi terkejut dan mengajukan pertanyaan tersebut.
Gak Lam-kun sendiripun agak tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, segera pikirnya.
"Kalau didengar dari perkataannya jelas ada seorang yang lain telah mengaku sebagai murid suhu, tapi siapa orang itu....?"
Berpikir demikian pemuda itupun manggut-manggut, sahutnya.
"Betul locianpwe, akulah murid yang sebenarnya dari Tok liong Cuncu Yo Long!"
"Tidak, aku tidak percaya kau pasti sedang membohongiku, kau harus mampus"
Seru Hay sim li sambil menggelengkan kepalanya berulangkali. Gak Lam-kun menghela napas panjang, kembali ujarnya.
"Locianpwe, boanpwe tidak membohongi, apakah ada orang lain yang mengaku-ngaku murid suhu"
Kali ini Hay sim li yang dibuat tertegun oleh perkataan itu, gumamnya kemudian.
"Kalau itu gadungan, kenapa bisa mengetahui kalau aku berada dalam gua itu...."
Tentu saja yang dia maksudkan adalah perkataan dari Si Tiong pek yang ditujukan kepadanya itu. Tiba-tiba perempuan itu membentak gusar.
"Bajingan cilik, kau bukan murid Long ji, kau bukan!"
Sekali lagi Gak Lam-kun menghela napas panjang.
"Aaaai.... locianpwe! Jika kau kenal guruku, tentu saja mengetahui juga dengan wataknya, mungkinkah dia akan menyerahkan pakaian miliknya ini kepada orang lain? Terus terang kukatakan kepadamu, adapun kedatangan boanpwe kali ini adalah untuk melaksanakan pesan terakhir dari suhu untuk menerima Lencana pembunuh naga dibukit Kun san serta membalaskan dendam bagi perguruan...."
Tiba-tiba Hay sim li menerjang maju kedepan lalu sambil mencengkeram urat nadi pada pergelangan Gak Lam-kun, serunya dengan penuh rasa cemas.
"Apa kau bilang? Long ji telah mati cepat katakan, cepat katakan kepadaku!"
Gak Lam-kun merasakan betapa cepatnya gerak maju perempuan itu, gerak serangannya ketika mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangannya pun aneh sekali, baik ditinjau dari sudut manapun, tak mungkin bagi sang korban untuk meloloskan diri dari cengkeraman itu.
Padahal tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun waktu itu belum pulih kembali, begitu nadinya dicengkeram Hay sim li, kontan saja ia merasa kesakitan setengah mati sehingga peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Tapi pemuda itu tidak meronta, ia menahan rasa sakit tersebut sebisanya kemudian setelah menghela napas sedih katanya.
"Delapan belas tahun berselang, suhu kena disergap orang ketika bertarung ditebing Yan po gan dibukit Hoa san, pada musim gugur tiga tahun berselang, tiba-tiba racun dalam tubuhnya kambuh, ia tewas dalam keadaan yang mengenaskan...."
Berbicara kembali soal kematian suhunya yang mengenaskan itu, tak kuasa lagi titik airmata jatuh bercucuran membasahi wajah Gak Lam-kun, rasa sedihnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Sebagaimana diketahui, Yo Long adalah tuan penolongnya yang paling dia cintai!
Ketika mendengar cerita itu Hay sim li merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil berat pandangan matanya menjadi gelap nyaris ia jatuh tak sadarkan diri....
Cengkeramannya pada urat nadi ditangan kiri Gak Lam-kun mendadak diperkencang, lalu sambil berteriak sekeras-kerasnya ia berseru.
"Kau bohong, dia tak akan mati, dia tak mungkin mati, kalau akan mati dia bakal mati disisi tubuhku...."
Oleh cengkeraman yang luar biasa kencangnya itu, Gak Lam-kun merasakan tulang pergelangan tangannya sakit hingga merasuk ketulang sumsum tapi ia masih tetap berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya itu.
"Locianpwe!"
Kembali ia berkata.
"aku berbicara sesungguhnya, suhu betul-betul sudah tiada"
"Cepat katakan kepadaku! Cepat katakan kepadaku, jenasahnya kau kubur dimana sekarang?"
Jerit Hay sim li.
"Sebelum ajalnya suhu telah berpesan tak mau dibakar, juga tak mau dikubur, maka sampai sekarang jenasahnya masih berbaring dalam sebuah gua karang dibawah air terjun tebing Yan po gan dibukit Hoa san...."
Belum habis Gak Lam-kun berbicara, teriakan keras yang memilukan hati telah berkumandang memecahkan keheningan.
"Oh Long ji wahai Long ji ku, kau jangan mati dulu! Aku pergi mencarimu Long ji...."
Seperti seekor burung rajawali dengan suatu gerakan yang amat cepat Hay sim li menerjang keluar dari jendela dan berkelebat pergi dari situ....
"Locianpwe, tunggu sebentar!"
Teriak Gak Lam-kun keras-keras.
"tempat itu sukar carinya...."
Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Hay sim li, dalam waktu singkat ia telah berada seratus kaki jauhnya dari tempat semula, betul ia mendengar teriakan dari Gak Lam-kun, tapi dalam keadaan seperti ini hakekatnya ia sudah dibikin gila oleh berita kematian Yo Long, sudah barang tentu tak akan balik kembali kesana.
Gak Lam-kun berjalan keluar dari dalam ruangan, lalu menengadah dan memandang bintang-bintang yang bertaburan diangkasa, tak kuasa lagi ia menghela napas panjang....
Teringat kembali nasibnya yang buruk dan jiwanya yang sudah tak akan hidup lama ia merasa pikirannya kosong dan hampa....
Bangunan rumah yang megah dan bersusun-susun terasa dalam keadaan yang hening, sedih dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Angin dimusim gugur ini terasa dingin dan menggidikkan tubuh, daun dan ranting bergoyang dipermainkan bayu, suasana benar-benar terasa mengenaskan.
Gak Lam-kun berjalan pelan menelusuri bangunan megah itu tanpa tujuan....
Tiba-tiba anak muda itu merasa perutnya lapar sekali, sekujur tubuhnya lemas tak bertenaga, kakinya gontai dan hampir saja tak mampu berjalan lagi.
Darimana anak muda itu bisa tahu kalau sudah empat hari empat malam ia jatuh tak sadarkan diri tanpa makan atau minum air setetespun.
Dari dalam buntalan yang menggembol dibahunya Gak Lam-kun mengeluarkan sisa ransum kering yang sudah tak seberapa lagi jumlahnya itu dan menangsal perutnya yang lapar.
Setelah agak kenyang, ia baru menghela napas sedih, pikirnya.
"Sekalipun harus mati, aku harus mati sebagai setan yang kenyang.... aku tak ingin menjadi setan kelaparan...."
Coba kalau bukan lagi berada dipulau yang terpencil, sudah pasti dia akan mencari rumah makan dan makan minum sepuasnya.
"Aaai....!"
Sekali lagi Gak Lam-kun menghela nafas panjang. Belum habis helaan nafasnya, tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara teguran yang merdu.
"Kenapa kau menghela nafas. Sebagai seorang lelaki sejati, seorang hohan tidak malukah kau menghela nafas tanpa sebab-sebab tertentu!"
Mendengar teguran itu, dengan perasaan hati yang kaget anak muda itu segera putar badan dan berpaling kebelakang.
Dibawah sinar bintang, tampaklah tak jauh dibelakang tubuhnya sana berdiri seorang gadis muda berbaju emas yang cantik jelita.
Siapakah gadis itu?
Dia tak lain adalah jago tangguh nomor dua dalam perkumpulan Thi eng pang, Kim eng thamcu Ki Li soat adanya.
Begitu berjumpa dengannya, Gak Lam-kun segera menegur dengan suara dingin.
"Nona Ki tolong tanya apakah kau datang kemari lantaran Lencana pembunuh naga itu?"
Paras muka Ki Li soat berubah hebat, lalu sambil tertawa dingin jengeknya.
"Bila aku memang menginginkan lencana tersebut, bersediakah kau untuk memberikan kepadaku?"
"Bila aku tidak bersedia memberikan kepadamu, apakah kau hendak merampasnya dengan kekerasan?"
Ki Li soat manggut-manggut.
"Tentu saja!"
"Kalau begitu coba rampas dari tanganku!"
Kata Gak Lam-kun dingin. Selesai berkata, pemuda itu segera memutar tubuhnya dan berlalu dari situ.
"Berhenti kau!"
Tiba-tiba bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan keheningan.
Tapi Gak Lam-kun pura-pura tidak mendengar, dengan langkah lebar ia berjalan meninggalkan tempat itu.
Paras muka Ki Li soat berubah hebat, dia mendengus dingin kemudian tubuhnya menerjang kedepan dan sebuah cengkeraman dilancarkan untuk mengancam bahu anak muda itu.
Meskipun hawa murni yang dimi1iki Gak Lam-kun saat ini telah buyar ilmu silatnya sama sekali tidak berkurang, kakinya cepat melangkah kesamping, dengan suatu gerakan yang sangat aneh ia telah meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Sampai detik itu, Gak Lam-kun masih juga belum berpaling untuk menengok sekejap kearahnya.
Kemarahan yang berkobar dalam hati Ki Li soat sungguh tak terlukiskan, bagaikan seekor burung walet yang terbang diudara, ia meluncur kedepan melampaui diatas kepala Gak Lam-kun, kemudian berjumpalitan dan menghadang tetap dihadapan pemuda tersebut, bentaknya.
"Berhenti kau!"
Sreet!
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.
Segulung angin pukulan yang sangat kuat, bagaikan gulungan gelombang dahsyat langsung menerjang kedepan.
Dalam keadaan seperti ini, tentu saja Gak Lam-kun tak berani menyambut datangnya ancaman itu dengan kekerasan, tubuhnya segera bergerak kesamping kiri sejauh beberapa depa untuk menghindarkan diri dari tibanya ancaman itu.
Ketika Ki Li soat menyaksikan pemuda itu tidak melancarkan serangan balasan, melainkan hanya berkelit melulu, dalam anggapannya pemuda tersebut sengaja memandang enteng dirinya, kontan saja hawa amarahnya memuncak, sambil tertawa dingin serunya.
"Bagus sekali! Malam ini ingin sekali kuminta beberapa petunjuk darimu, ingin kuketahui sampai dimanakah taraf kehebatan ilmu silat yang kau miliki itu"
Dalam pembicaraan itu, Ki Li soat bergerak maju dengan kecepatan luar biasa, secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai.
Ketika segulung angin pukulan berhembus lewat, hawa serangan yang berlapis-lapis pun segera menekan kedepan dan berhamburan keempat penjuru....
Berubah hebat paras muka Gak Lam-kun menghadapi kejadian tersebut, dengan kecepatan serangan yang dimiliki gadis itu, sekalipun dalam keadaan normal dengan tenaga dalam yang penuhpun belum tentu ia sanggup menghadapinya, apalagi dalam keadaan seperti sekarang.
Dengan sekuat tenaga Gak Lam-kun mengerahkan kembali ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.
Sekalipun demikian, tubuh Gak Lam-kun terlanggar juga oleh ekor serangan ketiga dari gadis itu, tubuhnya kontan menjadi sempoyongan dan nyaris tertelungkup.
000000O000000 Ki Li soat lebih gusar lagi setelah anak muda tersebut kembali berhasil menghindarkan diri dari serangkaian serangan tanpa melancarkan serangan balasan, dengan gusar bentaknya.
"Akan kulihat berapa gebrakan lagi yang sanggup kau hindari?"
Sementara masih berbicara, tidak diketahui gerakan apa yang telah dilakukan gadis tersebut, tahu-tahu ia sudah menerjang tiba dihadapan Gak Lam-kun, kemudian....
"Weess!"
Sebilah pukulan telah dilontarkan keatas dada pemuda tersebut. Menghadapi gerak serangan si nona yang begitu cepat dan aneh itu, untuk sesaat lamanya Gak Lam-kun menjadi tertegun.
"Blaang!"
Pukulan yang dilontarkan Ki Li soat tersebut dengan telak bersarang didada Gak Lam-kun.
Si anak muda itu mendengus tertahan, tubuhnya terlempar sejauh beberapa kaki dari posisi semula dan terkapar diatas tanah.
Ki Li soat sama sekali tak mengira kalau Gak Lam-kun tak dapat menghindarkan diri dari serangannya itu, maka begitu serangannya mengenai sasaran, dia malah tertegun dan berdiri melongo ditempat.
"Uuakk!"
Gak Lam-kun yang tergeletak diatas tanah itu muntah-muntah darah segar dengan susah payah ia merangkak bangun, kemudian dengan wajah penuh rasa dendam katanya dingin.
"Pukulan yang sangat bagus! Pukulan yang sangat bagus! Kini aku sudah tak bertenaga lagi untuk melakukan perlawanan, hayo cepat bunuhlah aku dan rampas lencana pembunuh naga itu!"
Ucapan tersebut sangat menyakitkan hati Ki Li soat, dengan suara gemetar katanya.
"Kee.... kenapa.... kenapa kau tidak mencoba untuk menghindarkan diri?"
Gak Lam-kun mendengus dingin.
"Hmm! Jika aku dapat menghindarkan diri, sebuah pukulanmu itu pasti akan kubalas"
Tiba-tiba Ki Li soat merasa bahwa gerakan tubuhnya sewaktu menghindar tadi meski tampaknya sangat aneh dan sakti, tapi sesungguhnya amat lambat, seakan-akan ia sama sekali tiada berkekuatan barang sedikitpun untuk melakukan perlawanan.
Paras muka Ki Li soat kontan saja berubah hebat, bisiknya kemudian dengan suara gemetar.
"Kau.... kau.... kau sudah tidak memiliki ilmu silat lagi....?"
Tanpa rasa jeri barang sedikitpun Gak Lam-kun mengangguk.
"Yaa benar! Sekararg tenaga dalamku telah punah sama sekali, maka bila kau menghendaki lencana pembunuh naga tersebut, jangan kau lewatkan kesempatan baik ini"
Airmata mulai bercucuran membasahi wajah Ki Li soat, katanya sambil menahan sesenggukan.
"Kau jangan salah paham, aku.... aku tidak tahu kalau tenaga dalammu telah punah sama sekali...."
Melihat gadis itu melelehkan airmata, Gak Lam-kun malah tertegun dibuatnya.
"Apakah ia menyesal setelah salah memukul orang....?"
Demikian ia berpikir. Tiba-tiba Ki Li soat mengeluarkan sebutir pil dari sakunya, kemudian berkata.
"Gak siangkong, aku tidak bermaksud untuk merampas lencana pembunuh nagamu, kau jangan membenci diriku, aku betul-betul menyesal setelah melukaimu tadi, cepatlah telan butiran pil ini"
Gak Lam-kun gelengkan kepalanya berulangkali, kembali ia berpikir.
"Sungguhkah perkataan itu?"
Butiran airmata kembali jatuh bercucuran membasahi pipi Ki Li soat, keluhnya dengan penuh kesedihan.
"Apakah kau tak bersedia memaafkan diriku?"
Tiba-tiba Gak Lam-kun menghela napas panjang, ia memutar tubuhnya dan berlalu dari situ dengan langkah lebar. Sambil berjalan pergi, pemuda itu bergumam kembali.
"Kalau memang kesalahan tersebut tidak dilakukan dengan sengaja, aku tak akan membencimu, bagaimanapun aku sudah hampir mati, sekalipun diberi tambahan sebuah pukulan juga tidak menjadi soal!"
Setelah memandang bayangan punggung dari Gak Lam-kun, lenyap ditempat kejauhan sana, tiba-tiba Ki Li soat berjongkok lalu menangis tersedu-sedu dengan amat sedihnya.
Isak tangisnya begitu menyedihkan hati seakan-akan jagad hendak ambruk dan dunia hendak kiamat saja, membuat siapapun bila kebetulan mendengarnya ikut merasa sedih.
Tubuh Gak Lam-kun bagaikan sesosok bayangan sukma gentayangan berjalan sempoyongan dibawah sinar rembulan....
Sambil berjalan terus tanpa tujuan, dalam hatinya ia berpikir tiada hentinya.
"Gak Lamkun wahai Gak Lam-kun, kau hendak mati dimana? Tempat manakah yang cocok bagimu untuk beristirahat sepanjang masa.... aai, adik peng.... mungkin sudah lama kau nantikan kedatanganku.... tahukah kau bahwa aku hendak datang....? Apakah kau telah siap menjemput kedatanganku.... adik peng.... selama hidup hanya kau seorang yang mencintai.... adik peng.... cepatlah datang menjemput diriku....! Selanjutnya kita berdua tak akan berpisah lagi untuk selamanya.... Tiba-tiba ia menjadi sempoyongan, kemudian roboh terjengkang keatas tanah. Sesosok bayangan tubuh yang ramping, dengan suatu gerakan yang amat cepat segera menerjang datang. Dengan wajah merah dadu ia bopong tubuh Gak Lam-kun, ketika memandang wajahnya yang pucat pias serta noda darah yang membekas diujung bibirnya, gadis itu merasa amat bersedih hati, ia menangis tersedu-sedu dengan suara lirih. Selang sejenak kemudian dengan paksa ia membuka mulut Gak Lam-kun lalu menjejalkan sebutir pil kedalam mulutnya. Tak lama kemudian, Gak Lam-kun telah sadar kembali dari pingsannya. Dengan cepat pemuda itu mengendus bau harum semerbak yang aneh tersiar dari sekeliling tubuhnya, ia merasa ada sesosok tubuh yang lembut dan hangat memeluknya. Cepat ia berseru dengan suara lirih.
"Adik Peng, kaukah yang telah datang menjumpaiku?"
Tiba-tiba ia membuka matanya lebar-lebar, setelah mengetahui siapa yang berada dihadapannya, pemuda itu menghela napas panjang.
"Aaaai! Nona Ki, aku tidak membencimu!"
Bisiknya.
Ternyata gadis itu adalah Ki Li soat!
Setelah melukai Gak Lam-kun dan menangis tersedu-sedu mendadak teringat olehnya bahwa anak muda itu berjalan dengan sempoyongan, karena merasa tak tega maka buruburu ia menyusul pemuda tersebut.
Setelah mendengar perkataan dari Gak Lam-kun barusan, Ki Li soat segera membesut airmatanya dan menunjukkan wajah berseri, dengan wajah merah dan senyuman yang manis menghiasi ujung bibirnya ia bertanya lirih.
"Siapa sih adik Peng yang kau panggilpanggil tadi?"
Gak Lam-kun meronta bangun dari pelukannya lalu bangkit berdiri, sahutnya sambil tertawa ewa,
Jilid 15
"Dia adalah nama dari istriku yang telah tiada!"
Ki Li soat menghela napas panjang sedih, bisiknya kemudian.
"Sungguh tak kusangka kalau kau adalah seorang laki-laki yang hidup kesepian dan mempunyai pengalaman yang memedihkan hati, aai!"
Sekali lagi ia menghela napas sedih.
"Terima kasih atas perhatian nona Ki,"
Ucap Gak Lam-kun sambil tertawa sedih.
"bila masih ada jodoh, kita pasti akan berjumpa lagi dikemudian hari"
Sehabis berkata ia putar badan dan siap pergi meninggalkan tempat itu.
"Gak siangkong, kau hendak kemana"
Tanya Ki li soat.
"Aku sendiripun tak tahu kemana akan pergi!"
Ki Li soat mengejar lebih jauh, katanya lagi.
"Sekarang.... lebih baik aku saja yang mengiringi kepergianmu?"
Dengan cepat Gak Lam-kun menggelengkan kepalanya berulangkali.
"Aku mohon kepadamu agar jangan mengikuti diriku lagi, bila kau menghendaki Lencana pembunuh naga itu, sekarang juga benda tersebut boleh kau ambil!"
Paras muka Ki Li soat berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, serunya.
"Apakah kau anggap aku datang kemari karena Lencana pembunuh naga? Kau anggap aku baru akan pergi setelah benda tersebut kudapatkan?"
Agaknya Gak Lam-kun pun merasakan juga bahwa perkataannya terlampau menusuk hati orang, cepat-cepat ia menjura seraya berkata.
"Maksud baik nona Ki biarlah kusimpan didalam hati, aku kuatir budi kebaikanmu itu tak dapat kubalas lagi dalam penghidupanku kali ini."
Ki Li soat menghela nafas panjang.
"Aaai....hatiku merasa tak tenang setelah mencelakai dirimu menjadi begini rupa, kau tidak membenciku, aku sudah merasa amat puas, siapa yang mengharapkan balas jasa darimu"
Ucapan tersebut amat merdu didengar dan sedap dirasakan, sikap maupun tingkah lakunya yang lembut semakin menambah segarnya suasana.
Gak Lam-kun agak tertegun untuk sesaat lamanya, cepat ia berpaling, ditemuinya dibalik sinar matanya yang jeli itu terpancar kelembutan hatinya yang menawan, titik-titik airmata mengembang dalam kelopak matanya itu.
Menyaksikan keadaan Ki Li soat yang menggenaskan, ditambah teringat olehnya sikap yang ketus dan dingin darinya tadi, membuat pemuda itu merasa amat menyesal.
Setelah menghela nafas panjang katanya.
"Nona pernah menyelamatkan selembar jiwaku, budi kebaikan itu masih belum kubalas hingga kini."
Baru berbicara sampai disitu, mendadak terdengar suara gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang datang dari sisi mereka, menyusul kemudian seseorang berseru.
"Haaahh....haaahh....haaaahh.... sungguh diluar dugaan, ternyata Gak lote masih berada dipulau ini."
Ketika Ki Li soat menengadahkan kepalanya tampaklah Thi kiam kuncu Hoa Kok khi dengan sikap yang santai pelan-pelan sedang berjalan mendekat, kejadian ini segera mengejutkan hatinya.
"Sungguh tak kusangka orang persilatan begitu licik dan berbahaya"
Demikian ia berpikir.
"ternyata diapun masih berada dipulau. Kalau begitu, dari setiap golongan pasti ada jago-jagonya yang sengaja ditinggalkan disini untuk berjaga dipulau ini."
Kiranya sebagian besar dari kawanan jago yang hadir disana telah meninggalkan pulau untuk mencari jejak Gak Lam-kun, tapi ketika mereka saksikan orang-orang See thian san sama sekali tidak meninggalkan tempat itu, timbullah kecurigaan dihati mereka, maka masing-masing pihak lantas mengutus seorang jago tangguhnya untuk secara diam-diam mengawasi gerak gerik dari orang-orang See thian san.
Diam-diam Gak Lam-kun merasa terkejut bercampur terkesiap setelah mengetahui bahwa orang yang muncul adalah Hoa Kok khi, tapi diapun merasa mendongkol sekali, ditatapnya orang she Hoa itu dengan sorot mata penuh penuh kegusaran, sementara mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Thi kiam kuncu Hoa Kok khi memandang sekejap kearah Gak Lam-kun, lalu sambil tersenyum katanya.
"Gak lote, sudah sembuhkah luka parah yang kau derita?"
Gak Lam-kun masih berdiri dengan wajah penuh kegusaran, ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Tiba-tiba Ki Li soat berjalan kesamping Gak Lam-kun. kemudian katanya dengan suara merdu.
"Gak siangkong mari kita pergi tinggalkan tempat ini!"
Thi kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaahh.... haaahh.... sungguh tak kusangka Kim eng thamcu dari perkumpulan Thi eng pang juga melindunginya, mungkin lencana pembunuh naga itu sudah berada dalam saku nona Ki?"
Ki Li soat mengerutkan alis matanya, lalu mendengus dingin.
"Kalau memang sudah ditanganku, lantas mau apa kau? Kalau punya kepandaian hayo cobalah merampasnya dari tanganku"
"Bagus sekali, bagus sekali"
Jawab Thi kiam kuncu Hoa Kok khi sambil tersenyum.
"daripada kita bentrok sendiri, aku harap nona bersedia menyerahkannya kepadaku"
"Ki Li soat berpaling kembali kearah Gak Lam-kun, lalu tanpa menggubris ocehan lawan katanya.
"Gak siangkong, lebih baik kau pergi lebih dahulu!"
Belum lagi terdengar jawaban, tiba-tiba terdengar lagi suara tertawa kering yang mengerikan.
"Heeehh.... heeehhh.... heeehhh.... kau anggap dia masih mampu untuk pergi meninggalkan tempat ini?"
Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, dari belakang tubuh Gak Lam-kun tibatiba muncul Kiu wi hou Kongsun Po dan Giok bin sin ang Say Khi pit yang menghadang jalan perginya.
Thi kiam kuncu Hoa Kok khi kembali tertawa katanya.
"Nona Ki, aku nasehatkan kepadamu lebih baik sedikitlah tahu diri, cepat tinggalkan tempat ini sebelum terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan atas dirimu"
Ketika menyaksikan pihak Iawan berjumlah banyak, diam-diam Ki Li soat mengeluh.
"Waah, habis sudah kali ini!"
Berpikir demikian, sambil menarik muka ia lantas berseru dengan suara dingin.
"Apakah kalian hendak mengandalkan jumlah yang lebih banyak...."
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba Kongsun Po dan Say Khi-pit telah maju bersama menghampiri Gak Lam-kun.
Dengan gerakan cepat K i Li soat memutar badannya menghadang dihadapan kedua orang itu kemudian bentaknya.
"Jika kalian berani maju selangkah lagi, jangan salahkan jika aku tak akan sungkan-sungkan kepada kalian!"
Si Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa dingin.
"Heeehh.... heeehh.... heeehh.... sedari dulu sampai sekarang yang ada hanya pelindung bunga, belum pernah kudengar ada bunga melindungi laki-laki gede!"
Jelas perkataan itu bernada menyindir, mengejek mencemooh dan menghina, kontan saja mengobarkan hawa amarah dalam hati Ki Li soat.
"Hmm....! Seorang ketua dari suatu perguruan besar, tak tahunya punya selembar mulut yang tidak bersih betul-betul manusia berhati bedebah...."
Tiba-tiba ia bergerak maju kedepan, lalu melancarkan sebuah pukulan untuk membacok tubuh lawan.
Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit yang berada disisinya mendadak maju kedepan menyongsong, telapak tangan kirinya dibalik keluar lalu menyambut datangnya serangan dari Ki Li soat tersebut dengan keras lawan keras.
Ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling membentur antara yang satu dengan lainnya paras muka Say Khi pit segera berubah hebat, sekujur tubuhnya gemetar keras, bajunya bergoncang keras, tapi ia berhasil juga untuk menerima datangnya ancaman tersebut.
Ki Li soat tertawa dingin, tiba-tiba lengan kirinya menekan diatas pergelangan lengan tangan kanannya yang sedang membacok itu, dengan adanya tekanan tersebut maka tenaga pukulannya atas diri Say Khi pit secara tiba-tiba bertambah tangguh, seakan-akan gelombang dahsyat yang datang berlapis-lapis, dengan hebatnya langsung mendesak kemuka.
Haruslah diketahui, Ki Li soat adalah seorang gadis yang cerdik sekali, setelah rneninjau sejenak situasi yang sedang dihadapinya, ia sadar bahwa keadaan ini tak mungkin bisa diselesaikan secara baik, maka andaikata ia gagal untuk melukai salah seorang diantara mereka, niscaya semakin sulitlah bagi dirinya untuk meloloskan diri dari kepungan mereka itu....
Giok bin sin ang Say Khi pit segera merasa angin pukulan yang menumbuk datang secara berlapis-lapis ini makin lama semakin kuat dan berat, bahkan serangan yang satu lebih tangguh dari serangan berikutnya, itupun datangnya secara beruntun tanpa berkeputusan, ibaratnya air sungai Huang ho yang mengalir lewat.
Tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam perasaannya, dalam waktu singkat peluh telah bercucuran bagaikan hujan gerimis jangankan meloloskan diri, untuk menggeserkan tubuhnya barang selangkahpun sudah tak mungkin ia lakukan.
Say Khi pit tidak menyangka kalau kehebatan Tamcu elang emas dari perkumpulan Thi eng pang ini betul-betul bukan nama kosong belaka, berhubung serangan musuh datangnya berlapis-lapis dan bersambung tiada hentinya, bahkan pukulan demi pukulan datang semakin hebat maka sebagai seorang jago tangguh yang berilmu tinggi dan berpengalaman, cukup dalam hal pertarungan, ia sadar bila tenaga perlawanan pada telapak tangan kirinya ditarik kembali, niscaya dia akan tewas oleh terjangan musuh yang maha dahsyat itu.
Sebaliknya bila pertarungan ini harus dilangsungkan lebih jauh, maka akhirnya diapun akan mati karena kehabisan tenaga.
Karena itu, posisinya sekarang boleh dibilang serba salah, mau maju tak bisa mau mundurpun tak mungkin, keadaannya benar-benar menggenaskan sekali.
Dalam pada itu, Hoa Kok khi serta Kong-sun Po dapat menyaksikan pula keadaan Say khi pit yang terdesak hebat dan berada dalam keadaan runyam, bila orang itu tidak diberi bantuan lagi, maka tak sampai seperminuman teh kemudian, sudah pasti dia akan tewas dalam keadaan mengerikan.
Baru saja bantuan akan diberikan, mendadak ia saksikan tangan kiri Ki Li soat yang menekan diatas pergelangan tangan kanannya itu ditarik kembali lalu melepaskan sebuah tepukan.
Tiba-tiba saia Giok bin sin ang Say Khi Pit merasa bahwa tenaga tekanan yang mendesak tubuhnya itu sebentar berkurang sebentar bertambah, goncangan demi goncangan yang terjadi secara beruntun itu dengan cepat menimbulkan pergolakan darah didalam dadanya, kepala menjadi pusing tujuh keliling, napas serasa sesak, dan tak bisa dicegah lagi tubuhnya kena digetarkan sehingga mencelat sejauh tujuh delapan langkah lebih.
"Uuakk....!"
Akhirnya Say Khi pit tak sanggup menahan diri, ia muntahkan darah segar.
GakLarn kun yang mengikuti jalannya peristiwa itu diam-diam merasa kagum sekali, ia tak menduga kalau K i Li soat memiliki ilmu silat sedemikian lihaynya.
Kiu wi hou Kongsun Po segera bertindak tangan kanannya diayunkan kedepan melepaskan sebuah angin pukulan kuat yang menyergap datang secara tiba-tiba.
Pada saat yang bersamaan, Say Khi pit yang telah terluka dalam itu membentak pula keras-keras, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan juga kearah Ki Li soat dengan membawa hawa serangan yang mengerikan.
Dalam waktu singkat hawa pukulan dari Kongsun Po telah meluncur tiba disisi tubuh sementara pada saat yang bersamaan, dari kanan serangan maut Say Khi pit membacok pula keatas batok kepalanya.
Ki Li soat bukan orang bodoh, ia dapat menyaksikan betapa dahyatnya tenaga gabungan dari kedua orang itu, tubuhnya segera berkelit kesamping, telapak tangan kirinya membacok dada Say Khi pit sedangkan telapak tangan kanannya berputar dan menyambut datangnya serangan dari Kongsun Po itu dengan kekerasan.
"Braaak....!"
Benturan keras tak bisa dihindari lagi.
Oleh tenaga benturan yang amat keras itu, Kong sun Po tergetar mundur sejauh tiga langkah, tapi Say Khi pit menerjang maju lebih kedepan telapak tangan kirinya menangkis tangan kiri Ki Li soat, sedang telapak tangan kanannya melanjutkan bacokan semula.
Hawa pukulan menderu-deru, kekuatannya sungguh hebat hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Ternyata setelah terluka dalam tadi, hawa amarahnya segera berkobar, ia bertekad ingin menghancurkan Ki Li soat diujung telapak tangannya.
Ki Li soat sendiripun bukan orang kemarin sore, ilmu silat yang dimilikinya cukup dapat diandalkan.
Ketika menyaksikan tibanya ancaman musuh yang dahsyat, dengan suatu gerakan manis ia menghindarkan diri dari ancaman itu.
lalu tangannya diputar dan berbalik membacok jalan darah Yu bun hiat ditubuh kakek sakti berwajah pualam itu.
Perubahan itu terjadi dalam waktu singkat, tapi akibatnya sukar diduga sebelumnya.
Say Khi pit adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan sekalipun lantaran kebodohannya membuat isi perutnya terluka, tapi sekarang sambil menahan rasa sakit dalam tubuhnya ia bertekad ingin membunuh lawan.
Tampaklah jari tangan dan ujung telapak tangan berkelebat silih berganti, dengan cepat ia berubah gerakan dan membabat urat nadi pada pergelangan tangan gadis itu.
Si Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa dingin, sekali lagi ia menerjang maju sambil melancarkan serangan.
Ketiga orang jago lihay itupun segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru, dalam waktu singkat beberapa jurus telah lewat tanpa terasa.
Untuk menghadapi kerubutan dari dua orang jago tangguh tersebut.
Ki Li soat segera mengembangkan pula serangkaian ilmu pukulan yang aneh sekali, dengan hawa pukulan lembut berhawa dingin sebagai pangkal kekuatan, ia manfaatkan sistim "Menempel"
Dan "membuang"
Untuk menghadapi perubahan-perubahan gerak serangan musuh.
Setiap kali menghadapi ancaman yang berbahaya cepat-cepat gadis itu meminjam kekuatan lawan untuk memunahkan tenaga lawan, dengan demikian, sekalipun Say Khi pit dan Kongsun Po telah mengembangkan sistim pertarungan dengan tenaga gabungan yang rapat dan hebat, kedua orang itupun tak mampu berbuat apa-apa terhadap lawannya.
Gak Lam-kun terpesona dibuatnya menyaksikan jalannya pertarungan itu, mendadak ia mendengar suara tertawa ringan berkumandang dari belakang tubuhnya....
Dengan perasaan terkesiap Gak Lam-kun segera melangkah kesamping lalu dengan suatu gerakan cepat menghindarkan diri dari tempat itu.
Ketika ia menengok kebelakang, maka tampaklah Hoa Kok khi dengan sekulum senyuman licik menghiasi ujung bibirnya sedang memandang kearahnya tanpa berkedip.
Ki Li soat yang sedang bertempur sengit tak pernah mengendorkan perhatiannya kearah Gak Lam-kun, maka sewaktu Hoa Kok khi bergerak menghampiri Gak Lam-kun ia lantas membentak nyaring, sepasang telapak tangannya berbareng melancarkan tujuh buah pukulan berantai kearah dua orang lawannya, kemudian sambil mundur sejauh lima depa, bentaknya lantang.
"Hoa Kok khi, sambut dulu sebuah pukulan Sam im ciang hoatku ini!"
Ketika telapak tangannya dilontarkan kemuka, segulung angin pukulan berhawa dingin yang amat dahsyat langsung menggulung kearah Hoa Kok khi....
Sam im ciang adalah sejenis pukulan beracun yang sangat lihay, barangsiapa terkena serangan hawa dingin itu, paru-parunya akan hancur dan mati dalam keadaan menggenaskan.
Walaupun Hoa Kok khi memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, toh ia tak berani bertindak gegabah.
Napasnya segera dihentikan kemudian sepasang telapak tangannya didorong sejajar dengan dada, menggunakan tenaga Tay siu im kang khi yang dimilikinya ia sambut pukulan Sam im ciang hoat dari Ki Li soat dengan keras lawan keras.
Ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling bertemu, segera terjadi gulungan angin puyuh yang amat dahsyat.
Tenaga dalam yang dimiliki Ki Li soat masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan lawannya ketika pukulan Sam im ciang yang dilepaskan itu termakan oleh hantaman tenaga musuh, kekuatannya segera membuyar keempat penjuru sementara segulung angin serangan lainnya yang dingin menggidikkan langsung menghantam tubuh Ki Li soat.
Rupanya Ki Li soat tahu Iihay dalam kejutnya ia melompat mundur beberapa kaki dari posisi semula.
Kendatipun ia berkelit cukup cepat, toh badannya sempat tersambar juga oleh sisa kekuatan itu tubuhnya menjadi sempoyongan dan nyaris jatuh tertelungkup ketanah.
Menggunakan kesempatan itu, Giok bin sin ang Say Khi pit menerjang maju kemuka, secepat kilat ia menubruk ketubuh Ki Li soat.
Gak Lam-kun yang menyaksikan kejadian itu segera menjerit kaget.
"Nona Ki, hatihati!"
Sekalipun ia tak bertenaga barang sedikitpun tapi menghadapi kejadian seperti itu serta merta tubuhnya menerkam kedepan, sepasang telapak tangannya didorong sejajar dada untuk menahan tubuh Say Khi pit.
Alhasil, dalam dorongan itu Gak Lam-kun merasa munculnya sedikit kekuatan dari tubuhnya meski tenaga tersebut masih relatif lemah sekali.
Dalam hati kecilnya Say Khi pit amat membenci Ki Li soat, maka ketika menyaksikan gadis itu sempoyongan, tiba-tiba timbul niatnya untuk membunuh gadis tersebut.
Maka ketika dilihatnya Gak Lam-kun menerjang datang, hawa amarahnya kontan berkobar, tiba-tiba hawa pukulannya diperhebat, telapak tangan kirinya diputar kemudian menghantam kedepan.
Begitu telapak tangan saling bertemu, menang kalahpun segera dapat diketahui.
Dalam keadaan tenaga dalamnya belum pulih, oleh pukulan Say Khi pit tersebut tubuhnya langsung mencelat keudara dan terbanting kembali ketanah.
Ki Li soat menjerit kaget, ia melompat kedepan dan menyambut tubuh Gak Lam-kun yang sedang meluncur kebawah itu.
Kiu wi hou (Rase berekor sembilan) Kongsun Po membentak keras, secepat kilat ia menubruk kedepan dan menghantam dua orang tersebut.
"Wees! Wees!"
Sepasang telapak tangannya diayunkan bersama.
Baru saja Ki Li soat membopong tubuh Gak Lam-kun, tenaga serangan dari Kongsun Po telah tiba dibelakang tubuhnya jika dia ingin menghindarkan diri maka satu-satunya jalan adalah melepaskan tubuh Gak Lam-kun.
Maka sambil menggigit bibir ia bersiap sedia menggunakan punggungnya untuk menyambut dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat itu.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang mengerikan berkumandang memecahkan keheningan.
Dari balik kegelapan sana melompat keluar sesosok bayangan biru yang segera menghadang dihadapan Kongsun Po.
Betapa terkejutnya si Rase berekor sembilan Kongsun Po menyaksikan kemunculan orang yang tiba-tiba dengan kecepatan tubuh yang luar biasa, buru-buru ia buyarkan pukulan sambil melompat kebelakang, kemudian mendongakkan kepalanya...."
Ternyata pendatang itu adalah seorang pemuda tampan berbaju biru, sikapnya amat romantis, cuma sayang lengan kirinya sebatas sikut telah kutung hingga kini tinggal lengan kanannya belaka.
Begitu melihat kemunculan pemuda berbaju biru itu, Ki Li-soat segera berteriak dengan manja.
"Engkoh Si, kiranya kau...."
Mendengar seruan itu, pemuda berbaju biru tersebut memutar badannya, tapi ketika ia menyaksikan Ki Li soat masih juga membopong tubuh Gak Lam-kun, selintas perasaan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata-kata muncul diatas wajahnya yang pucat.
Ketika Ki Li soat menyaksikan lengan kiri pemuda berbaju biru itu kutung, dengan kaget ia berseru kembali.
"Engkoh Si, lengan kirimu telah kutung."
Pemuda berbaju biru itu tertawa ewa, tiba-tiba ia bertanya.
"Adik Soat, siapa yang kau bopong itu?"
Akibat tenaga pukulan yang dahsyat dari Say Khi pit tadi, Gak Lam-kun jatuh tak sadarkan diri, tapi setelah lewat sekian lama, lambat laun ia telah sadar kembali dari pingsannya, ketika mendengar suara pembicaraan dari seorang yang dikenalnya, tiba-tiba ia membuka matanya kembali.
Sementara itu paras muka Ki Li soat telah berubah menjadi merah padam setelah mendengar teguran dari pemuda baju biru itu, ketika ia menundukkan kepalanya, kebetulan Gak Lam-kun telah membuka matanya kembali.
Hal mana membuat gadis itu tambah malu dengan wajah merah padam ia lepaskan bopongannya dan mundur kebelakang.
Waktu itu Gak Lam-kun telah mengetahui siapakah pemuda itu, dengan perasaan terkejut bercampur girang segera teriaknya.
"Saudara Si, kiranya kau...."
Pemuda baju biru pun telah melihat jelas wajah Gak Lam-kun, sekulum senyuman yang amat dingin segera menghiasi wajahnya. Ia berkata.
"Oooh.... aku kira siapa? Ternyata adalah saudara Gak, sedari kapan kau berdandan demikian? Hampir saja aku tidak mengenali dirimu lagi"
Pemuda berbaju biru itu tak lain adalah Si Tiong pek, komandan pasukan elang baja dari perkumpulan Thi eng pang yang telah lenyap selama beberapa hari.
Ternyata Si Tiong pek kena disekap dalam gua batu oleh Hay sim li, sudah lama ia mencari akal untuk membebaskan diri dari sekapan tersebut, akhirnya pemuda itu berkesimpulan bahwa kecuali memotong lengan sendiri, jangan harap ia bisa lolos dari sana.
Sebab bagaimanapun ia mencoba meronta gelang baja yang membelenggu pergelangan tangannya itu makin menyusut makin kencang, jepitannya pun makin dalam menjepit kulit badannya, tak terlukiskan rasa sakitnya, maka sambil menggigit bibir Si Tiong pek memutuskan lengan sendiri....
Sejak kecil, Ki Li soat memang tumbuh menjadi dewasa bersama Si Tiong pek, hubungan mereka bagaikan saudara sendiri, maka tak terlukiskan rasa girang gadis tersebut setelah mengetahui kalau Si Tiong pek belum mati.
"Engkoh Si"
Tanyanya kemudian dengan manja.
"kemana saja kau pergi selama beberapa hari ini? Siapa yang mengutungi lengan kirimu?"
"Aku yang mengutungi lenganku sendiri!"
"Mengapa kau musti mengutungi lengan sendiri?"
Tanya Ki Li soat lagi dengan wajah tertegun. Si Tiong pek tertawa pedih, sahutnya.
"Kenapa aku musti mengutungi lenganku sendiri? Memangnya kau anggap lengan kutung itu bagus dilihat?"
Seperti yang diketahui, Si Tiong pek adalah seorang pemuda yang berjiwa sempit, ketika menyaksikan Ki Li soat membopong Gak Lam-kun tadi, sudah timbul perasaan cemburu dihati kecilnya.
Ternyata secara diam-diam Si Tiong pek telah jatuh cinta kepada Ki Li soat.
Mendengar ucapan tersebut, dengan cepat Ki Li soat dapat meresapi jalan pikirannya.
Sekarang ia baru merasakan hatinya bergetar keras....
Dalam dasar hatinya, gadis itu selalu menganggap Si Tiong pek sebagai kakak sendiri tanpa diembeli rasa cinta asmara antara seorang pemuda dengan seorang gadis.
Entah mengapa sejak bertemu dengan Gak Lam-kun tiba-tiba saja ia merasakan pikirannya jadi kalut bayangan wajah Gak Lam-kun seringkali muncul dalam benaknya bagaimana pun ia berusaha untuk mengendalikan diri, usaha itu selalu gagal.
Keadaan itu ibaratnya sebuah permukaan telaga yang tenang, tiba-tiba bergelora karena kejatuhan sebutir batu cinta dari Gak Lam-kun.
Apa lacur gelombang tersebut makin lama makin membesar dan melebar, sehingga pada akhirnya menyeret gadis itu tercebur kedalam samudra cinta yang tak bertepian.
Sekarang, suatu kenyataan yang tak dapat disangkal telah muncul didepan mata!
diamdiam ia telah jatuh cinta kepadanya.
Tapi dalam keadaan seperti inilah tiba-tiba Si Tiong pek muncul pula didepan mata, kemunculannya membuat ia menjadi kalut, dan pikirannya menjadi gundah.
Ia tahu Si Tiong pek amat mencintainya, bahkan selama ini dengan segala cinta kasihnya selalu menjaga dan merawatnya....
Tiba-tiba helaan napas Gak Lam-kun menyadarkan kembali dirinya dari lamunan, terdengar pemuda itu sedang berkata.
"Perubahan cuaca sukar diramalkan, rejeki atau bencana dari manusiapun sukar diduga, aai.... Saudara Si! Selama belasan hari ini, peristiwa yang menimpa dirimu tentu amat tidak berkenan dihati bukan!"
Si Tiong pek tersenyum.
"Masih terhitung tidak jelek"
Sahutnya.
"meskipun kehilangan sebuah lengan tapi, ada hasil yang cukup berharga, baik-baikkah saudara Gak selama ini?"
Gak Lam-kun menghela napas sedih.
"Aaai....! Kalau tempo hari siaute yang menyaksikan saudara Si mendekati ambang kematian, maka sekarang hal itu sudah tiba pada giliran siaute"
Bergetar keras hati Ki Li soat setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa tanyanya.
"Gak siangkong, kau bilang apa?"
Ucapannya penuh dengan rasa kuatir dan rasa cemas yang amat tebal.
Si Tiong pek yang menyaksikan kejadian itu merasakan hatinya sangat tak enak, diam-diam ia berkerut kening, tak disangka olehnya hanya beberapa hari saja dirinya tersekap dalam gua ternyata perubahan yang amat pesat telah terjadi diluaran.
Gak Lam-kun menghela napas panjang, katanya lagi.
"Tak lama kemudian aku bakal mati"
"Gak heng, kenapa kau bicara demikian"
Seru Si Tiong pek dengan perasaan tercengang. Gak Lam-kun melirik sekejap kearah Si Tiong pek, kemudian tertawa getir.
"Memangnya aku sendiri kepingin cepat mampus?"
Ia berbisik. Diam-diam Si Tiong pek lantas berpikir.
"Tentu saja kau tak bakal ingin cepat mampus, tapi demikianpun lebin baik, kalau tidak, bila sampai kau menceburkan diri pula dalam pertikaian cinta segitiga ini, akupun akan menggunakan segala cara untuk membinasakan dirimu"
Ketika Ki Li-soat .mendengar kekasihnya berada diambang kematian, pikiran dan perasaannya menjadi sangat kalut, tanpa disadari dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Menyaksikan kejadian itu, api cemburu yang berkobar dalam hati Si Tiong pek makin membara, tiba-tiba ia perhatikan pakaian yang dikenakan Gak Lam-kun, kemudian dengan terkejut pikirnya.
"Bukankah pakaian yang dikenakan itu adalah dandanan dari Tok liong Cuncu Yo Long seperti yang sering tersiar dalam dunia persilatan?"
Baru saja ia berpikir sampai disana, mendadak terdengar seseorang tertawa ringan, kemudian menyapa.
"Lote, tolong tanya apakah kau adalah Si Tiong pek dari pasukan elang baja?"
Si Tiong pek segera berpaling, terlihatlah seorang sastrawan tampan berusia setengah umur telah berdiri dihadapannya. Dengan kening berkerut ia bertanya.
"Siapa kau?"
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... atas sanjungan dari rekan-rekan persilatan, mereka menghadiahkan julukan Thiat kiam kuncu kepadaku"
Kata Hoa Kok khi sambil tertawa tergelak.
Terkejut juga Si Tiong pek sesudah mendengar nama itu, ia tak mengira kalau Thiat kiam Kuncu yang termashyur dalam dunia persilatan tak lain adalah sastrawan yang berada didepan matanya sekarang.
Sekulum senyuman dingin segera menghiasi wajah Si Tiong pek yang pucat, katanya kemudian.
"Ooh.... kiranya kaulah Hoa Kok khi yang termashur itu, maaf maaf! Cuma.... mumpung ada kesempatan berbicara, aku ingin bertanya kepadamu sekitar perbuatan kalian yang mengerubuti Ki thamcu dari perkumpulan kami, apakah kau bisa memberikan suatu keterangan yang bisa dipertanggung jawabkan?"
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa.
"Tidak berani, tidak berani, selamanya antara kami dengan pihak Thi eng pang tak pernah terikat dendam sakit hati apapun, sesungguhnya yang sedang kami cari adalah saudara Gak Lam-kun yang merupakan murid kesayangan dari Tok liong Cuncu Yo Long itu"
Dengan sinar mata yang tajam Si Tiong pek menatapi sekejap wajah Gak Lam-kun, kemudian sambil berseru kaget, katanya.
"Saudara Gak, tidak kusangka kalau kau adalah muridnya Yo Long yang menggetarkan dunia persilatan itu"
Gak Lam-kun menghela napas panjang.
"Aai.... aku harap kau bisa memaklumi kesulitanku sehingga tidak memberi keterangan yang sejelasnya kepadamu tempo hari"
Diam-diam Si Tiong pek tertawa dingin, pikirnya.
"Bagus sekali! Selama hidup aku Si Tiong pek selalu mengembara dalam dunia persilatan, aku percaya kecerdikanku melampaui siapapun, tak kusangka akhirnya jatuh kecundang juga ditanganmu...."
Dihati ia berpikir demikian, dimulut ia berkata lain.
"Aah, mana, mana.... saudara Gak terlalu serius"
Thiat kiam Kuncu tersenyum, lalu kembali berseru.
"Si lote, dengan perkumpulan kalian boleh dibilang aku tak bermaksud bermusuhan malam ini kami mencarinya karena ingin melenyapkan bibit bencana dikemudian hari harap Si lote mau mencuci tangan dalam persoalan ini...."
"Engko Si!"
Tiba-tiba Ki Li soat berseru sambil tertawa dingin.
"mereka mempunyai tujuan lain, mereka berniat untuk merampas lencana pembunuh naga milik Gak siangkong!"
"Lencana pembunuh naga?"
Tiba-tiba Si Tiong pek membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar.
"Benar, Lencana pembunuh naga itu berada disakuku!"
Jawab Gak Lam-kun hambar.
Si Tiong pek, pemuda berakal licik yang pintar ketika mengetahui rahasia tersebut tibatiba saja paras mukanya yang pucat berubah, lalu sambil tertawa dingin ujarnya kepada Hoa Kok khi.
"Gak Lam-kun adalah sahabat karibku, selama aku orang she Si masih bisa bernapas, tak nanti akan kubiarkan sahabatku dipermainkan orang, hmm! Hmm....! Jika kalian tahu diri pergi dari sini!"
Dalam pembicaraan tersebut tiba-tiba Si Tiong pek meloloskan pedang elang baja yang tersoren dipunggungnya.
Gak Lam-kun merasa terharu sekali setelah menyaksikan kegagahan dan kesetiaan kawannya untuk melindungi keselamatan jiwanya.
Kiu wi hou Kongsun Po segera tertawa seram katanya.
"Bocah keparat yang tak tahu diri, kau bejul-betul jumawa dan tekebur, kau sangka setelah ada perkumpulan Thi eng pang sebagai tulang punggung kalian, maka kau bersikap sombong dan tidak pandang sebelah matapun kepada orang lain?" 00000O00000 Haruslah diketahui, walaupun setiap Thamcu dari perkumpulan Thi eng pang adalah seorang jago persilatan yang menggetarkan dunia persilatan, tapi kecuali keempat orang thamcu tersebut, konon Si Tiong pek dari pasukan elang baja merupakan seorang pemuda yang berhasil pula. Sekalipun demikian, dalam bayangan mereka ilmu silat yang dimiliki pemuda itu paling banter cuma setaraf dengan seorang thamcu. Berbicara sebenarnya, kalau meninjau dari ilmu silat yang dimiliki Si Tiong pek tempo hari, paling tidak ilmu silatnya setaraf dengan kepandaian silat Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur), tapi sekarang, setelah mengalami penemuan diluar dugaan, ilmu silatnya telah mencapai berkaIi-kali lipat bila dibandingkan dengan kepandaiannya dulu. Selapis hawa napsu membunuh menyelimuti wajah Si Tiong pek, dengan dingin katanya.
"Sewaktu berada dalam bangunan gedung tempo hari, berulangkali kau berusaha membunuhku, mengapa malam ini kau bersembunyi terus macam cucu kura-kura?"
Ucapan tersebut segera membangkitkan hawa amarah dihati Kiu wi hou Kongsun Po bentaknya.
"Bocah keparat, ingin kubuktikan apa yang berhasil kau pelajari selama belasan hari belakangan ini."
Pedangnya segera diloloskan, kemudian dengan jurus Hun im peng gwat ( memisah awan mencari rembulan), ia bacok tubuh lawan.
Sementara pembicaraan tersebut masih berlangsung secara diam-diam Ki li soat telah mengatur pernafasannya untuk menyembuhkan luka yang dideritanya, ia tahu ilmu silat yang dimiliki Si Tiong pek bukan tandingan Kongsun Po sebetulnya ia hendak menghalanginya, kemudian dengan suatu serangan kilat menghajarnya hingga terluka.
Siapa tahu belum sempat dia mengucapkan kata-katanya, Si Tiong pek telah tertawa dingin dengan suara yang melengking, pedang elang bajanya sebentar menusuk kekiri sebentar menyerang kekanan, dalarn sekejap mata ia telah melancarkan empat buah serangan berantai.
Keempat buah serangan tersebut, semuanya merupakan ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Hay ciong kun boh, jurus-jurus serangannya mana aneh, sukar pula diduga arah tujuannya.
Dalam waktu singkat, keempat buah serangan tersebut telah memaksa Kongsun Po mundur.
Tertegun juga si Rase berekor sembilan Kongsun Po menyaksikan keanehan dari jurus pedangnya, yang dalam sekejap mata saja telah memaksanya mundur berulangkali.
Ki Li soat dan Gak Lam-kun yang berada disisi gelanggang menjadi kaget bercampur girang setelah melihat kejadian itu.
Si Tiong pek sendiripun merasa gembira sekali setelah terbukti jurus pedang yang dipelajarinya dari kitab pusaka Hay ciong kun boh tersebut memiliki kelihayan yang luar biasa.
Keberaniannya makin memuncak, dengan dingin segera serunya.
"Hmm.... Ngakunya saja seorang ketua dari suatu perguruan besar, tak tahunya cuma berilmu begitu-begitu saja.... Huuh, masih pingin menjajal beberapa jurus tusukan pedangku lagi tidak?"
Sesungguhnya Kongsun Po telah dibikin terkesiap oleh kelihayan jurus pedang lawannya, tapi sesudah mendengar perkataan itu hawa amarahnya segera berkobar, sambil tertawa dingin ia berteriak.
"Bagus sekali! Rupanya kau benar-benar berhasil mencuri belajar beberapa jurus ilmu kucing kaki tiga!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, pedangnya telah diayunkan berulangkali melancarkan dua jurus serangan dahsyat.
Kedua jurus serangan tersebut semuanya merupakan jurus-jurus pedang dari ilmu simpanan aliran Hoa-san, kelihayannya bukan kepalang.
Kepandaian silat dari Si Tiong pek saat ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan kepandaian dulu, setelah menekuni kitab silat Hay ciong kun boh selama belasan hari ia telah memperoleh banyak tambahan dalam ilmu silat tingkat tingginya otomatis dalam gerak menghindar dan berkelitpun tak terlukiskan hebatnya.
Tampak sepasang bahunya sedikit bergerak tahu-tahu ia sudah lolos dari lingkaran pedang yang diciptakan oleh Kongsun Po.
Dengan sepasang mata yang tajam, Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi mengawasi terus gerak gerik Si Tiong pek.
namun ia toh masih tetap gagal untuk melihat jelas gerakan apa yang telah ia gunakan untuk menghindari kedua buah serangan kilat tersebut.
Dengan perasaan bergetar keras, segera pikirnya.
"Jika dilihat dari keanehan gerakan tubuhnya, jelas kepandaian yang dimilikinya sudah iauh lebih hebat daripada kepandaian dulu, waah.... kalau ditinjau dari keadaan tersebut, tampaknya untuk mendapatkan lencana pembunuh naga tersebut, aku musti melalui suatu pertempuran yang amat seru...."
Tiba-tiba terdengar Si Tiong pek tertawa tergelak, kemudian katanya.
"Coba sekali lagi ilmu kucing kaki tigaku ini menggenjot seorang ketua partai...."
Belum habis ucapan tersebut, pedang elang bajanya telah digetarkan untuk menusuk tubuh Kongsun Po.
Sementara itu si Rase berekor sembilan telah mengetahui kalau selama beberapa hari belakangan ini Si Tiong pek telah mempelajari semacam ilmu pedang yang lihay, ia tak berani gegabah lagi ketika dilihatnya pedang elang baja tersebut menusuk dadanya, ia kuatir pihak lawan menyembunyikan perubahan gerak lain yang lebih menggidikkan hati, ia tak berani menangkis dengan pedangnya, hawa murni segera dihimpun tiba-tiba tubuhnya melayang keudara dan mundur sejauh empat depa dari posisi semula.
Gerakan tubuhnya untuk menghindarkan diri ini merupakan sejenis ilmu sakti dari Hoa san yang disebut Wan Kau biau (monyet melayang).
Melotot besar sepasang mata Giok bin sin ang Say Khi pit setelah menyaksikan kejadian itu, teriaknya keras-keras.
"Kongsun heng, suatu ilmu Wan kau biau yang amat hebat, hari ini sepasang mata siaute benar-benar terbuka lebar"
Gak Lam-kun sekalipun diam-diam menghela napas panjarg, pikirnya dihati.
"Bagaimanapun juga seorang ketua dari suatu partai besar memang jauh berbeda jika dibandingkan dengan kawanan persilatan pada umumnya"
"Mana, mana, saudara Say terlalu memuji!"
Demikian Kiu wi hou Kongsun Po berkata sambil tertawa.
Walaupun ia berbicara amat enteng, sesungguhnya ia merasa tegang dan berat, sepasang matanya yang tak diinginkan.
Mendadak Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi berjalan ketengah arena dengan langkah pelan.
Ki Li soat kuatir kalau Hoa Kok khi menyergap Si Tiong pek dengan ilmu pukulan Tay siu im khinya, sambil membentak nyaring ia lancarkan dua buah pukulan dahsyat untuk menghalangi jalan pergi Hoa Kok khi.
Secara tiba-tiba Hoa Kok khi merasakan tibanya segulung tenaga pukulan yang sangat aneh menerjang kearahnya, dengan cepat ia himpun hawa murni sendiri untuk menyingkirkan ancaman tersebut.
Tiba-tiba ia merasakan tibanya kembali segulung tenaga pukulan yang jauh lebih dahsyat menekan dadanya, pukulan itu tibanya sangat mendadak dan diluar dugaan untuk sesaat Hoa Kok khi menjadi gelagapan.
Dalam keadaan begini terpaksa ia musti menghimpun tenaganya diatas dada untuk menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Terasalah dadanya bergetar keras, kuda-kudanya gempur dan ia mundur dua langkah dengan sempoyongan untung saja tenaga dalamnya terhitung sempurna, lagi pula hawa murninya keburu dikerahkan lebih dulu, coba tidak begitu niscaya isi perutnya sudah menderita luka yang cukup parah.
Perlu diterangkan disini, ilmu pukulan yang dimiliki Ki Li soat itu terhitung aneh sekali, dikala ia melancarkan dua pukulan tadi tangan kiri dan tangan kanannya masing-masing melepaskan sebuah pukulan yang menggulung datang secara berlapis dengan satu didepan yang lain dibelakang.
Hoa Kok khi yang tidak memahami keistimewaan dari pukulan tersebut, hampir saja menderita kerugian besar.
Setelah melompat kebelakang.
sambil tersenyum Thiat kiam kuncu berkata lagi, Tenaga pukulan yang dimiliki nona Ki memang amat lihay, malam ini pengalaman aku orang she Hoa betul-betul telah bertambah luas.
Ki Li soat hanya menghimpun tenaga dalamnya sambil bersiap sedia, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu.
Kongsun Po sekalian yang menyebar disekeliling arena tampaknya sudah tak sabar menunggu lebih lama, tiba-tiba mereka berebut maju sambil melancarkan serangan lebih dulu.
Pedangnya dengan jurus Siau ci thian lam (sambil tertawa menuding langit selatan) langsung menyerang tubuh lawan.
Si Tiong pek tidak melayani serangan tersebut, dengan cepat ia mundur kebelakang sambil berkelit dari ancaman itu.
Kiu wi hou Kongsun Po sudah merasakan kelihayan dari jurus pedang anehnya, tidak memberi kesempatan lagi bagi musuhnya melancarkan serangan balasan, tiba-tiba pedangnya dengan jurus Hi ang say kang (nelayan menyebar jala) mengurung tubuh lawan dengan selapis hawa pedang yang tebal.
Si Tiong pek tertawa dingin, pedangnya diangkat keatas untuk menangkis, disambutnya serangan dari Kongsun Po itu dengan keras lawan keras.
Dua buah serangan yang dilancarkan Kong sun Po tersebut semuanya merupakan jurus-jurus biasa yang bertujuan memancing musuh, maka ketika dilihatnya Si Tiong pek mengangkat pedangnya untuk menangkis, ia menjadi sangat girang, pergelangan tangannya direndahkan dan pedang yang sedang melancarkan serangan itu ditarik kembali, tiba-tiba saja ia lepaskan kembali tiga buah serangan berantai.
Bayangan pedang menyambar-nyambar, hawa tajam memenuhi angkasa, seperti gelombang samudra dengan hebatnya langsung menggulung kernuka.
Terkesiap juga Si Tiong pek menghadapi kilatan cahaya pedang yang menggulunggulung itu, pikirnya.
"Jurus pedang apaan ini? Kenapa begitu hebat dan mengerikan hati....?"
"Aku tak boleh bertindak gegabah!"
Berpikir sampai disini, Si Tiong pek segera menggerakkan pedang elang bajanya membentuk lingkaran cahaya perak untuk melindungi badan....
Tiba-tiba saja pedang Kongsun Po berubah arah ditengah jalan, dengan jurus Pek im jut siu (awan putih muncul dari bukit) tampaklah bayangan pedang yang bergetar memenuhi seluruh angkasa itu bersatu dalam waktu singkat, kemudian secepat kilat menusuk kedada Si Tiong pek.
Tak sempat bagi Si Tiong pek untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut, tibatiba satu ingatan melintas dalam benaknya, bukan mundur ia malah maju, sambil memiringkan badan ia keluarkan jurus Pah long yu hi (ikan berenang ditengah ombak) yang tercantum dalam kitab pusaka Hay ciong kun boh.
Tangan kirinya dikebaskan kuat-kuat melancarkan segulung tenaga pukulan, sementara tubuhnya menerobos lewat dari balik kilatan pedang yang amat rapat itu.
Gerakan itu memang suatu gerakan yang aneh dan sakti, tidak banyak orang didunia ini yang sanggup mematahkannya.
Sementara Kongsun Po masih tertegun, Si Tiong pek telah menyusup kesisi tubuhnya, sambil membuang pedang tangan kanannya menyambar kedepan mencengkeram persendian tulang pada sikut kanan Kongsun Po yang memegang senjata itu.
Serangan semacam itu meski bukan termasuk suatu gerakan aneh yang berada diluar dugaan, tapi kebagusannya justru terletak pada saat yang tepat serta sasaran yang menakjubkan, membuat orang sukar untuk menghindarkan diri.
Tampaknya serangan tangan kanan Si Tiong pek segera akan menyentuh sikut kanan Kongsun Po.
....
tiba tiba menggulung tiba segulung tenaga pukulan dari samping yang langsung menghajar bahu kiri Si Tiong pek....
Pemuda she Si itu mendengus tertahan, tubuhnya termakan telak oleh pukulan tersebut hingga mencelat kebelakang.
Kongsun Po segera memutar pergelangan tangan dan membacok dengan pedangnya.
Bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, Ki Li soat mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan yang amat dahsyat untuk membendung pedang Kongsun Po, sementara tubuhnya melayang keudara bagaikan burung walet, dengan suatu gerakan yang manis ia berhasil menyambut tubuh Si Tiong pek.
Tapi pada saat itulah tiba-tiba Kongsun Po melejit keudara, lalu sambil menghimpun tenaga murninya, sekuat tenaga ia menebas kedepan dengan jurus Pek hong koan jit (pelangi putih menutupi matahari) mengancam tubuh Gak Lam-kun.
Perubahan ini berlangsung terlalu cepat sehingga Ki Li soat pun tak sempat memberi pertolongan, tampaknya Gak Lam-kun segera akan tewas tertusuk dadanya oleh serangan itu.
Disaat yang paling kritis inilah, suatu bentakan keras tiba-tiba menggelegar diudara.
"Kembali kau!"
Dari sisi gelanggang tiba-tiba menyambar datang sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan kilat, dari tengah udara sebuah pukulan segera dilontarkan kebawah.
Ketika merasakan betapa dahsyatnya serangan tersebut buru-buru Kongsun Po berjumpalitan ditengah udara untuk menghindarkan diri, tapi sayang terlambat, tahu-tahu dadanya sudah terasa sesak sekali.
Tak dapat dikuasai lagi tubuh berikut pedangnya segera mencelat sejauh dua kaki kebelakang.
Walau begitu tenggorokannya toh terasa anyir, tak bisa ditahan lagi ia muntah darah segar.
Tubuhnya dengan sempoyongan kembali mundur sejauh tiga empat langkah, saat itulah ia baru sempat melihat jelas raut wajah penyerangnya, ternyata ia adalah Ji Cin peng.
Sementara itu, suara pekikan nyaring berkumandang sahut menyahut, menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat.
Perempuan tua berambut putih dari perguruan panah bercinta bersama Han Hu hoa, Jit poh toan hun Kwik To, Tam ciang ceng kan kun Siangkoan it dan delapan belas pemanah panah bercinta secara beruntun telah tiba pula disana.
Tapi dari pihak Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi telah berdatangan pula si tosu setan Thian yu Cinjin dan ketua Thian san pay, Bu seng sianseng Tang Bu kong.
Walaupun demikian, ketika Hoa Kok khi melihat semua jago lihay dari perguruan panah bercinta telah berdatangan semua, diam-diam ia mengeluh dihati.
Sesudah melepaskan sebuah pukulan tadi dengan suatu gerakan tubuh yang indah Ji Cin peng melayang turun dihadapan Gak Lam-kun, sambil menatap tajam raut wajahnya, tak terlukiskan rasa gembira yang bergelora dalam hatinya ketika itu.
Gak Lam-kun sendiripun merasakan hatinya bergolak keras, berjumpa dengan Ji Cin peng bagaikan berjumpa dengan sanak keluarga sendiri, airmata terharu sempat mengembang dibalik kelopak matanya.
Empat mata saling bertemu dan berpandangan lama, lama sekali....
Akhirnya Gak Lam-kun menghela nafas panjang, katanya.
"Tak kusargka kalau aku masih bisa bertemu untuk terakhir kalinya dengan nona Bwee!"
Ji Cin peng dapat menangkap maksud lain dari ucapannya tersebut, dengan sedih ia bertanya.
"Kenapa kau.... apakah lukamu belum sembuh?"
Gak Lam-kun menggeleng.
"Aku tahu, jarakku dengan saat kematian sudah tidak terlalu jauh lagi"
Sekalipun Ji Cin peng adalah seorang gadis yang cantik ibaratnya burung hong diantara manusia, namun iapun tak sanggup mengendalikan rasa sedih yang amat mencekam itu.
Tergetar keras tubuhnya sehabis mendengar ucapan itu.
Ketika Ki Li soat menjumpai kemunculan Ji Cin peng disitu, dari dalam hatinya tiba-tiba muncul suatu perasaan getir yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, mendadak iapun berjalan menghampiri dengan langkah pelan-pelan.
Melihat kehadirannya, dengan dahi berkerut Ji Cin peng segera maju kedepan menghadang didepan Gak Lam-kun, kemudian bentaknya.
"Mau apa kau? Hayo minggir kesanal"
Si Tiong pek menjadi marah sekali., sambil tertawa dingin serunya.
"Siapakah orang ini? Mirip betul seorang perempuan judas"
Sambil berkata ia telah bergerak maju kedepan.
Waktu itu pikiran Ji Cin peng sedang kalut begitu mendengar Si Tiong pek memakinya seorang perempuan judas, napsu membunuhnya kontan saja berkobar, sambil bertekuk pinggang secepat kilat ia melompat kesamping Si Tiong pek, lalu bentaknya.
"Kau yang mencari mati sendiri, jangan salahkan kalau aku bertindak keji kepadamu"
Dalam pembicaraan tersebut, tangan kirinya secara beruntun telah melepaskan tiga buah pukulan.
Dengan cekatan Si Tiong pek menghindar kekiri berkelit kekanan, ketiga buah serangan tersebut berhasil dihindari semua dengan manis, malah sambil memutar pergelangan tangannya ia lancarkan sebuah serangan balasan.
Ji Cin peng tidak mau mengalah, pergelangan tangannya diputar sambil dibalik entah gerangan apa yang dipergunakan, tahu-tahu secara manis ia berhasil memaksa pedang elang baja milik Si Tiong pek berbalik mental kebelakang.
Lalu menggunakan kesempatan itu, jari tangannya menyentil kedepan beberapa kali, segulung desingan angin tajam yang maha dahsyat langsung menerjang kedada pemuda itu.
Mimpipun Si Tiong pek tidak menyangka kalau gadis tersebut memiliki ilmu silat sedemikian lihaynya.
Desingan angin jari itu jelas merupakan sejenis ilmu sentilan jari sebangsa Tan ci sin tong yang maha lihay, kepandaian semacam itu jelas merupakan suatu ancaman yang cukup serius bagi korbannya.
Si Tiong pek ingin berkelit, tapi keadaan tak sempat tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, ia teringat kembali akan suatu jurus sakti yang tercantum dalam kitab Hay ciong kun boh.
Maka bukannya mundur dia malah maju sambil menyergap tubuh Ji Cin peng dengan sebuah serangan dahsyat.
"Nona Bwee, jangan lukai dia!"
Tiba-tiba bentakan keras berkumandang memecahkan keheningan.
Secara tiba-tiba Gak Lam-kun sudah menyusup kedepan dan menghadang dihadapan Si Tiong pek.
Ji Cin peng merasa amat terperanjat, segera teriaknya.
"Cepat menyingkir...."
Tapi belum habis teriakan itu, dengusan tertahan telah berkumandang memecahkan keheningan sambil mendekap perutnya Gak Lam-kun jatuh kebawah dan berjongkok ditanah karena kesakitan.
Tak terlukis rasa kaget dalam hati Ji Cin peng, segera teriaknya lagi keras-keras.
"Engkoh kun...."
Seperti anak sungai, airmatanya jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya....
Haruslah diketahui, serangan jari yang dilepaskan Ji Cin peng barusan merupakan suatu serangan yang amat lihay, setelah terkena serangan semacam itu, mana mungkin Gak Lam-kun bisa hidup lebih jauh didunia ini?
Bila sampai terjadi demikian, bukankah sama pula artinya dengan Ji Cin peng telah membunuh sendiri kekasihnya?
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi ternyata jauh diluar dugaan siapapun, terdengar Gak Lam-kun berkata lagi dengan suara gemetar.
"Nona.... nona Bwee, dia adalah sahabat karibku.... barusan akupun telah berhutang banyak budi kepada mereka atas pertolongan yang telah diberikan...."
Ketika mengetahui kalau Gak Lam-kun masih bisa berbicara, Ji Cin peng merasa terkejut bercampur gembira, katanya dengan sedih.
"Kee.... kenapa kau lari kemari, kau...."
Semua jago yang hadir disekitar gelanggang tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun telah punah tapi buktinya sekarang meski sudah termakan oleh sebuah serangan maut dari Ji Cin peng, ternyata ia tak sampai tewas, peristiwa tersebut segera menggemparkan semua orang yang berada disana.
Bahkan Ji Cin peng sendiripun tidak percaya kalau dia sanggup menerima serangan jarinya yang sangat lihay itu.
Pelan-pelan Gak Lam-kun yang berjongkok bangkit kembali, kemudian ujarnya.
"Nona Bwe, aku.... aku tidak apa-apa cuma barusan aku merasa sangat tersiksa...."
Ketika dilihatnya paras muka Gak Lam-kun yang semula memucat kini telah memerah kembali, Ji Cin peng merasa agak lega, tapi dengan penuh rasa kuatir tanyanya kembali.
"Kau benar-benar tidak apa-apa?"
Gak Lam-kun gelengkan kepalanya berulangkali, sahutnya sambi! tertawa getir.
"Sekalipun aku harus mati diujung jari nona, aku akan mati dengan perasaan lega"
Dari ucapan tersebut dapat ditangkap betapa besarnya cinta kasih pemuda tersebut kepadanya.
Ketika Ji Cin peng mengetahui kalau anak muda itu sangat mencintainya, ia merasa sedih bercampur gembira, tapi dengan cepat pula pikirannya terjerumus dalam lamunan yang penuh penderitaan.
Gak Lam-kun mengira dia masih marah, buru-buru sambil minta maaf ujarnya.
"Nona Bwee maafkanlah aku bila telah salah berbicara...."
Airmata telah membasahi seluruh wajah Ji Cin peng, dengan gemetar ia berkata "Aku.... aku bukan...."
Si Tiong pek yang menyaksikan pula cinta kasih antara dua orang itu tiba-tiba merasa cemburu sekali sehingga kemarahannya meluap.
Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya begitu keras hingga menggetarkan kesunyian yang mencekam dimalam itu.
"Apa yang kau tertawakan?"
Bentak Ji Cin peng dengan wajah gusar.
"apakah kau hendak mempergunakan suara tertawamu itu untuk memanggil semua orang-orang dari Thi eng pang untuk membantumu?"
Si Tiong pek segera menghentikan gelak tawanya, lalu menjawab dengan dingin.
"Aku tertawa sesuka hatiku sendiri, mau apa kau?"
Lagi-lagi Gak Lam-kun kuatir mereka sampai bentrok sendiri buru-buru ia menengahi.
"Nona Bwe, jika kau bersedia melihat wajahku...."
Sebenarnya Ji Cin peng hendak mengumbar kembali hawa amarahnya, tapi setelah menyaksikan Gak Lam-kun berkata demikian terpaksa ia pun rnembungkam diri.
Tiba-tiba Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi tertawa licik, kemudian katanya.
"Gak lote, kau menganggap dia sebagai sahabat karibmu, tapi sebentar lagi dia akan menganggapmu sebagai musuh bebuyutan, haahhh.... haahh.... haahh.... Gak lote, masih ingatkah kau ketika membantai seorang jago lihay dari Thi eng pang yakni Tang hay coa siu kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu?"
Rupanya sampai sekarang, peristiwa ini belum diketahui oleh para jago dari Thi eng pang?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, paras muka Si Tiong pek maupun Ki Li soat kontan berubah hebat, empat buah mata mereka bersama-sama dialihkan kewajah Gak Lam-kun dan menatapnya lekat-lekat.
"Gak siangkong, betulkah perkataannya....?"
Ki Li soat bertanya dengan suara gemetar. Gak Lam-kun manggut-manggut, sahutnya dengan sedih.
"Maaf sekali nona Ki dan saudara Si, Ou Yong hu terpaksa harus kubunuh karena kalian telah mengetahui semua bahwa Ou Yong hu adalah musuh besar pembunuh guruku, aku Gak Lam-kun pun berani berbuat berani betanggung jawab"
Sementara itu paras muka Si Tiong pek telah berubah menjadi hijau membesi sambil tertawa dingin katanya.
"Saudara Gak hubungan persahabatan kita hanya sampai disini saja, mulai detik ini hubungan kita telah putus! Nah, sekarang aku akan menuntut balas bagi kematian Ou Thamcu"
Padahal, semenjak Si Tiong pek mendengar kalau Lencana pembunuh naga berada disaku Gak Lam-kun, dalam hatinya telah mempunyai suatu rencana, dia ingin merangkul Gak Lam-kun untuk sementara kemudian diam-diam menyelakainya.
Tapi sekarang keadaannya berbeda, para jago dari perguruan panah bercinta telah berdatang semua, ia yakin dengan kekuatannya berdua tak mungkin bisa mendapatkan lencana mustika tersebut sebab itulah mumpung ada kesempatan, ia lantas memperlihatkan sikap bermusuhan.
Ji Cin peng berkerut kening lalu sekali melompat, tubuhnya telah berada disamping Si Tiong pek katanya.
"Kini ilmu silat yang dimilikinya telah punah, jika kau berani mengganggu seujung rambutnya pun aku segera akan membinasakan dirimu"
Ki Li soat yang berada disisinya, ikut pula menasehati dengan suara lembut.
"Engkoh Si lebih baik persoalan ini kita tunda dulu untuk sementara waktu, menanti Liong tau pangcu sudah tiba, barulah kita meminta nasehatnya lagi"
Si Tiong pek sendiripun sadar bahwa mustahil baginya untuk membunuh pemuda itu, setelah ia menimbang sejenak situasi yang dihadapinya, maka setelah tertawa dingin katanya.
"Saudara Gak, jika kau sampai mati tentu saja urusan jadi beres, tapi selama kau masih hidup maka selama hayat masih dikandung badan aku Si Tiong pek pasti akan menuntut balas atas sakit hati ini"
Gak Lam-kun tertawa ewa.
"Tak usah kuatir saudara Si, Gak Lam-kun lak akan hidup sampai esok pagi"
Selesai berkata, ia lantas berpaling kearah Ji Cin peng sambil berkata.
"Nona Bwe, ada satu persoalan aku orang she Gak ingin minta bantuanmu, tolong terimalah adik Kiu liong sebagai murid, atau rawatlah dia baik-baik"
Ucapan tersebut pada hakekatnya seperti pesan terakhir menjelang saat kematiannya, Ji Cin peng yang mendengar itu menjadi sedih sekali, hingga kau musti mengangguk sambil menahan airmatanya.
Untuk sesaat Gak Lam-kun merasa gembira, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak....
Suara tertawanya amat keras dan tinggi melengking....
penuh kesedihan yang membuat siapapun ikut berduka....
Selesai tertawa, dari sakunya Gak Lam-kun mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari kumala, kemudian secepat kilat menyodorkannya ketangan Ji Cin peng setelah itu dengan langkah cepat dia berlalu dari situ.
Tindakan yang dilakukan ini sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan, dengan kaget Ji Cin peng segera berteriak keras.
"Engkoh Kun, berhentilah dulu...."
Tapi Gak Lam-kun pura-pura tidak mendengar dengan langkah cepat ia berlalu dari sana.
Tiba-tiba terdengar bentakan keras bergetar diudara, menyusul kemudian muncul dua gulung angin pukulan yang amat keras menerjang ketubuh Ji Cin peng.
Perempuan berambut putih yang berdiri disamping Ji Cin peng segera membentak keras.
"Kembali kau!"
Ketika telapak tangan kanannya diayunkan kedepan segulung angin desingan yang lunak menyambar kemuka dan tanpa menimbulkan getaran barang sedikitpun tahu-tahu telah berhasil memunahkan datangnya ancaman yang maha dahsyat tersebut.
Tapi dari pihak lain, Thiat kiam kuncu serta Thian yu Cinjin telah menerjang datang seperti sukma gentayangan, kemudian....
"Weess! Weess!"
Masing-masing melancarkan dua buah pukulan yang berat dan dahsyat.
Ketika menyaksikan Gak Lam-kun pergi meninggalkan tempat itu, Ji Cin peng merasa amat sedih sekali, menanti ia tersadar kembali dari kesedihannya, serangan dahsyat dari Hoa Kok khi dan Thian yu Cinjin telah tiba didepan mata.
Dalam keadaan demikian, sekalipun Ji Cin peng bermaksud untuk menangkispun sudah tak sempat lagi terpaksa tubuhnya yang kecil mungil itu harus berjumpalitan beberapa kali ditengah udara dan melayang turun tiga kaki dari posisi semula.
Han Hu hoa menjerit kaget, dia langsung melompat kesamping Ji Cin peng sementara perempuan berambut putih itupun buru-buru menyusul kesitu....
Meskipun pada akhirnya sepasang kaki Ji Cin peng berhasil melayang turun dengan selamat keatas tanah, tapi begitu mencapai permukaan tanah, secara beruntun tubuhnya mundur empat lima langkah lagi dengan sempoyongan, akhirnya ia tak sanggup berdiri tegak dan jatuh terduduk diatas tanah.
Tampaknya tidak ringan luka yang dideritanya, setelah jatuh terduduk ditanah, ia muntahkan darah segar.
Cepat-cepat perempuan berambut putih itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna merah kemudian dicekokkan kedalam mulut Ji Cin peng, katanya.
"Anak Peng, cepat kau telan pil itu! Bangkitkan semangatmu, dan pertahankan kehidupanmu."
"Aku tidak mengapa...."
Kata Ji Cin peng sambil tersenyum. Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata kembali.
"Siau Nay nay, anak Peng mohon kepadamu untuk memberitahukan kepadaku sejujurnya, apakah dia bisa mati atau tidak?"
Ketika menyaksikan gadis itu sudah sedemikian terseretnya kedalam lembah cinta, perempuan berambut putih itu menghela nafas panjang, sahutnya kemudian.
"Jangan kuatir anak Peng, dia pasti akan menjumpai kejadian-kejadian aneh yang menguntungkan dirinya"
Dua bilah pedang dari Hoa Kok khi dan Tang Bu kong dengan kecepatan bagaikan kilat langsung meluncur ketubuh Ji Cin peng.
Setelah mendengar perkataan dari perempuan berambut putih itu, bagaikan baru saja menelan sebutir pil yang mustajab, dalam waktu singkat semangatnya telah berkobar kembali, sambil membentak keras, tubuhnya segera melayang kedepan.
Perempuan berambut putih yang berada disisinya segera bertindak cepat, ketika dua bilah pedang itu meluncur tiba, ujung bajunya tiba-tiba dikebaskan kedepan, segulung angin pukulan yang sangat kuat segera menerobos keluar lebih duluan.
Hoa Kok khi maupun Tang Bu kong segera merasakan tusukan pedangnya seakan-akan terhalang oleh selapis dinding baja yang sangat kuat, dalam kejutnya buru-buru mereka menarik kembali serangannya sambil mengundurkan diri.
Sementara itu si Tosu setan Thian yu Cin jin, Giok bin sin ang Say Khi pit dan Kiu wi hou Kongsun Po telah menerjang kearah Ji Cin peng dengan kecepatan luar biasa.
"Siapa berani mendekati aku mati, yang jauh dari aku hidup!"
Ia telah meloloskan pedang Giok siang kiamnya yang amat tajam itu, hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, tiba-tiba ia menggetarkan pergelangan tangannya, pedang dan badan segera bersatu padu dan meluncur lurus kedepan.
Sesungguhnya kepandaian ini merupakan suatu ilmu pedang terbang yang amat lihay ilmu pedang terbang terhitung sejenis kepandaian tertinggi dari ilmu pedang lainnya, bila tenaga dalam yang dimiliki sipenyerang tersebut sangat lihay, maka ia dapat membunuh orang dari jarak sepuluh kaki dari posisinya.
Sekalipun Ji Cin peng tidak memiliki tenaga dalam sesempurna itu, namun kehebatan ilmu pedang terbangnya cukup menggetarkan perasaan setiap orang.
Tampak olehnya serentetan cahaya putih menyambar lewat secepat kilat, tahu-tahu senjata tersebut telah mengurung sekujur badan Thian yu cinjin, Say Khi pit serta Kong sun Po.
Agak gugup juga ketiga orang itu ketika merasakan tibanya segulung sinar putih yang segera mengurung sekujur tubuh mereka dibawah ancaman hawa pedang lawan tanpa berhasil mengetahui dimanakah musuhnya berada, untuk sesaat mereka menjadi bingung bagaimana caranya untuk menghadapi ancaman itu.
Dalam gelisah dan gugupnya, tiba-tiba Say Khi pit mengayunkan sepasang telapak tangannya kedepan melancarkan dua gulung tenaga pukulan yang dahsyat, Thian yu cinjin memutar senjata Hudtimnya menciptakan selapis bayangan senjata, sedang Kongsun Po menggetarkan pedangnya membentuk selapis bukit pedang.
Walaupun demikian, mereka bertiga masih tetap berusaha untuk melompat mundur dari situ.
Suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, menyusul kemudian darah kental memancar keempat penjuru....
Didalam pertarungan tersebut, ternyata Si kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit telah kehilangan sebuah lengannya, pedang Kongsun Po tersayat kutung menjadi tiga bagian, sedangkan si tosu setan Thian yu Cinjin yang berilmu silat paling tinggi hanya mengalami sedikit kerugian, yakni sebagian dari bulu senjata Hudtimnya kena tersapu rontok.
Sementara hal pertarungan baru saja diketahui, Hoa Kok khi dan Tang Bu kong telah menyergap kembali dengan mempergunakan senjatanya.
Perlu diterangkan disini, ilmu pedang terbang memang merupakan sejenis ilmu pedang yang sangat lihay, akan tetapi ilmu tersebut justru paling banyak pula menyerap tenaga penyerangnya.
Jilid 16 Barusan Ji Cin Peng menderita luka dalam yang tidak enteng, kemudian harus melancarkan serangan kembali dengan ilmu pedang terbang hawa murni yang dimilikinya saat ini boleh dibilang telah berkurang banyak, menghadapi serangan musuh yang sangat lihay itu, meski dia ingin mengeluarkan ilmu pedang terbangnya lagi guna melakukan perlawanan, sayang sekali kemauan ada tenaga kurang.
Dalam keadaan demikian terpaksa dia harus melompat kesebelah kanan untuk menghindarkan diri lebih dulu dari serangan Hoa Kok khi, kemudian sambil membalikkan tubuhnya ia menyerang balik dengan jurus Hay si sinlo (pandangan fatamorgana ditengah Laut).
Pedangnya dengan menciptakan selapis cahaya tajam pelindung badan segera menghadang pula serangan kilat dari Tang Bu kong.
Si Tosu setan Thian yu Cinjin membentak keras, sepasang telapak tangannya secara beruntun melancarkan beberapa buah serangan berantai, dua gulung desingan angin pukulan tajam langsung saja menerjang kedepan.
Ji Cin peng tak berani menyambut ancaman tersebut dengan keras lawan keras, dengan gesit dia melejit ketengah udara untuk menghindarkan diri.
Baru saja badannya melambung keudara segulung hembusan angin puyuh telah menggulung lewat dari bawah kakinya, kalau dibilang berselisih maka selisih tersebut hanya beberapa milimeter saja, nyaris saja gadis itu terhajar telak.
Sementara Ji Cin peng baru saja melayang turun empat kaki jauhnya dari posisi semula, para jago dari perguruan panah bercinta telah bergerak kedepan.
Delapan belas orang ahli pemanah dari perguruan panah bercinta itu masing-masing melancarkan dua buah panah kilat untuk menghadang pengejaran dari sekawanan jago persilatan itu.
"Hei, orang-orang dari perguruan panah bercinta, dengarkan baik-baik! Kalian menginginkan Lencana pembunuh naga? Ataukah menginginkan selembar jiwanya?"
Ketika Ji Cin peng berpaling tampak lengan Si Tiong pek telah mencengkeram urat nadi pada pergelangan kiri Gak Lam-kun, sementara ujung lengan kirinya yang kutung menempel diatas jalan darah Mia bun hiat dipunggung pemuda tersebut.
"Besar amat nyalimu!"
Bentak Ji Cin peng dengan gusar, jika kau berani mengusik seujung rambutnya pun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat!" 0000O0000 Si Tiong Pek tak mau kalah, sambil tertawa dingin iapun balas mengancam.
"Jika kau berani maju selangkah lagi, aku segera hancurkan isi perutnya...."
Barusan, para jago lihay yang hadir disana hanya tahu memusatkan semua perhatian pada pertarungan, siapapun tak ada yang tahu kalau secara diam-diam Si Tiong pek telah ngeloyor pergi dan membekuk Gak Lam-kun sebagai sandera.
Kiranya Si Tiong pek telah merasa bahwa ia sama sekali tak berkemampuan untuk ikut memperebutkan Lencana pembunuh naga tersebut, sebagai seorang pemuda licik yang memiliki tipu muslihat, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.
Cinta kasih Ji Cin peng terhadap Gak Lam-kun telah menimbulkan suatu ide bagus dalam benaknya, ia merasa asal pemuda tersebut berhasil dibekuknya niscaya Ji Cin peng akan menyerahkan lencana pembunuh naga tersebut dengan begitu saja kepadanya.
Maka tanpa sepengetahuan semua orang, diam-diam ia menyusul diri Gak Lam-kun dan berusaha membekuknya.
Tentu saja dengan keadaan Gak Lam-kun pada saat ini, dengan sangat mudah ia berhasil mewujudkan maksud hatinya itu.
Tanpa membuang tenaga yang terlalu besar Si Tiong pek telah menundukkan Gak Lamkun dan membawanya kearena.
Ki Li soat yang menyaksikan kejadian itu menjadi sedih sekali, serunya dengan lirih.
"Engkoh Si kau jangan berbuat demikian!"
Si Tiong pek tertawa dingin.
"Adik Soat, kau lebih baik berdiri saja disana tanpa bergerak, kau musti tahu apa yang telah kuucapkan bisa pula kulakukan. Demi Lencana pembunuh naga, aku tak akan segansegan melakukan tindakan macam apapun juga!"
Ki Li soat tidak berdiam diri, selangkah demi selangkah ia berjalan menghampiri Si Tiong.pek katanya lagi dengan lembut.
"Engkoh Si perbuatanmu itu terlalu rendah dan memalukan hal mana akan sangat mempengaruhi nama baik dari perkumpulan Thi eng pang kita!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan tahutahu Han Hu hoa telah melambung ketengah udara lalu dengan menggunakan ikat pinggangnya ia menyambar lengan Si Tiong pek.
Dengan cekatan Si Tiong pek melejit kesamping untuk menghindarkan diri, kemudian ditariknya tubuh Gak Lam-kun kedepan tubuhnya.
"Perempuan rendah, cepat hentikan perbuatanmu!"
Bentaknya "kalau kau berani bertindak satu jurus lagi jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji"
Terpaksa Han Hu hoa menarik kembali ikat pinggangnya, setelah tertawa dingin ia berkata.
"Jika kau berani membunuhnya, maka kaupun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat!"
Dalam pada itu Ji Cin peng tidak bisa banyak berkutik, sambil menggigit bibir dia hanya bisa mengikuti jalannya peristiwa itu dengan mata melotot besar penuh kegusaran.
Sementara itu Ki Li soat telah berada satu kaki dihadapan Si Tiong pek, dengan suara lembut ia lantas berkata.
"Engkoh Si, kumohon kepadamu lepaskan dia"
Si Tiong pek tertawa dingin.
"Adik Ki, aku betul-betul merasa kuatir sekali bagi perbuatanmu yang "pagar makan tanaman"
Ini, jika kau berani maju selangkah lagi, hati-hati kalau segera kubunuh dirinya secara mengerikan...."
Tiba-tiba terdengar Gak Lam-kun mendengus tertahan, kulit wajahnya segera mengejang keras.
Tak terlukiskan rasa kaget Ki Li soat menghadapi kejadian tersebut, buru-buru ia hentikan langkahnya dan menatap wajah si anak muda itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Mendadak terdengar Ji Cin peng berkata.
"Delapan belas pemanah panah bercinta, jaga mereka semua baik-baik, siapa yang berani menerjang kemari, panah dia sampai mampus. Siau Nay nay, sekarang aku ingin memohon bantuanmu, apakah kau orang tua bersedia memenuhi keinginanku?"
Perempuan berambut putih itu menghela napas panjang.
"Aaai.... serahkan saja Lencana pembunuh naga itu kepadanya!"
Ia berkata.
"aku tak tega menyaksikan ia dibunuh orang dengan isi perut yang hancur remuk."
Dengan wajah sedingin es Si Tiong pek memandang sekejap kearah kawanan jago yang berada disekeliling tempat itu, kutungan lengan kirinya yang menempel diatas jalan darah Mia bun hiat dipunggung Gak Lam-kun telah disaluri dengan tenaga dalam, sementara sekulum senyuman dingin yang penuh perasaan bangga tersungging diujung bibirnya.
Pelan-pelan Ji Cin peng maju kedepan, kemudian sambil menatap wajah Si Tiong pek katanya dengan dingin.
"Bila kau berani menyelakainya secara diam-diam maka jangan harap kau bisa tinggalkan tempat ini dengan selamat!"
Dengan sigap Si Tiong pek menarik tubuh Gak Lam-kun dihadangkan dihadapannya lalu sambil tertawa ia berkata.
"Nona tak usah kuatir, aku cuma menginginkan Lencana pembunuh naga!"
Ji Cin peng menggetarkan pergelangan tangannya, kotak kumala yang berada ditangannya itu segera dibuang keatas tanah dua depa disisinya.
"Ambillah!"
Ia berkata.
Pada saat itulah tiba-tiba berkumandang dua kali suara dentingan khim yang memekikkan telinga.
Paras muka Si Tiong pek berubah hebat dengan cepat ia menggerakkan kaki kirinya untuk mencungkil kotak berisi Lencana pembunuh naga itu dari atas tanah, kemudian mengempitnya dengan ketiak.
Tapi pada saat itu juga Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi, Bu seng sianseng Tang Bu kong dan Kiu wi hou Kongsun Po telah berlompatan kedepan dengan kecepatan, bagaikan kilat.
Sreet!
Sreet!
Sreet....!
Delapan belas pemanah dari perguruan panah bercinta, secepat kilat membidikkan sebaris panah bercinta kearah kawanan jago persilatan itu.
Sekalipun panah-panah bercinta itu sangat lihay dan menyambar datang dengan kecepatan Iuar biasa namun tiga orang tersebut merupakan jago-jago lihay dari dunia persilatan.
Menghadapi ancaman tersebut masing-masing segera melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah panah-panah yang sedang menyambar tiba itu, begitu hujan panah berhasil ditanggulangi, merekapun menerjang kearah pemanah-pemanahnya.
"Wees....! Wees....!"
Kembali mereka lancarkan pukulan dahsyat untuk menghantam kedelapan belas pemanah tersebut.
Ternyata delapan belas orang pemanah dari perguruan panah bercinta itu cukup gesit dan cekatan masing-masing orang segera membuyarkan diri kesamping untuk menghindarkan diri.
Tapi dengan demikian maka ketiga orang jago lihay itupun langsung menerjang kearah perempuan berambut putih, Jit poh toan hun Kwik To serta Lam ciang ceng kan kun Siangkoan lt.
"Delapan pemanah panah bercinta, cepat bubar!"
Tiba-tiba bentakan gusar berkumandang memecahkan keheningan.
Sambil mengayunkan sepasang telapak tangannya, perempuan berambut putih atau Siau Nay nay itu menerjang kemuka dan membabat tiga orang musuh yang telah tiba didepan mata itu.
Seperti diketahui, ilmu silat yang dimiliki perempuan berambut putih itu sangat lihay, sekalipun serangan yang ia lancarkan ini tampak enteng seperti sama sekali tidak membawa kekuatan apa-apa, sesungguhnya itulah ilmu pukulan Boan yok ciang lip dari kalangan Budha yang amat dahsyat.
Jika Hoa Kok khi, Tang Bu kong dan Kongsun Po berani menangkis serangan tersebut niscaya ketiga orarg itu akan terpental oleh tenaga pantulannya yang maha dahsyat itu, bahkan kemungkinan juga akan mengakibatkan juga mereka terluka.
Apalagi jika tenaga tangkisan mereka makin besar, maka tenaga pantulan yang munculpun akan semakin hebat pula.
Rupanya Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi cukup mengetahui akan kelihayan pukulan dari perempuan itu, segera teriaknya keras-keras.
"Saudara Tong, saudara Kongsun, jangan kalian sambut serangan tersebut dengan kekerasan"
Mendengar peringatan tersebut, Tang Bu kong serta Kongsun Po segera miringkan badannya sambil mundur kebelakang dengan cepat mereka menghindarkan diri sejauh satu kaki lebih.
Haruslah diketahui bahwa Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi telah berhasil menguasai ilmu Tay Siu im khi yang sangat lihay, maka dia segera lepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk membendung datangnya terjangan dari tenaga pukulan Boan yok ciang lip tersebut.
"Blaaam....!"
Suatu benturan keras yang memekikkan telinga segera menggelegar diudara....
Akibat dari tenaga benturan tersebut, baik Hoa Kok khi maupun perempuan berambut putih itu sama-sama merasakan bahunya bergetar keras dan mundur tiga empat langkah, terutama sekali Hoa Kok khi, paras mukanya sampai berubah menjadi pucat pasi.
Sekilas rasa kaget dan tercengang segera tampil diatas wajah perempuan berambut putih itu, dari bentrokan yang barusan berlangsung, kedua belah pihak sama-sama dibikin terkejut oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki lawannya, untuk sesaat mereka tak berani melancarkan serangan lagi secara gegabah.
Dalam pada itu si gadis berbaju perak dari aIiran See thian san dengan diiringi See ih sam ceng (tiga malaikat dari wilayah See ih) dan empat orang dayang cantik telah muncul diarena, dengan cepat mereka berdiri tiga kaki dibelakang Si Tiong pek dan menghadang jalan perginya.
Si Tiong pek memperhatikan sekejap sekeliling ternpat itu, kemudian sambil tertawa dingin katanya kepada Ji Cin peng.
"Terpaksa aku orang she Si harus merepotkan nona dan anggota partai nona untuk menghantarkan diriku meninggalkan tempat ini"
Ji Cin peng mendengus dingin.
"Hmm....! Sekalipun kau kabur keujung langit toh sama saja, pasti ada orang yang akan mengejarmu"
"Kau menyanggupi tidak?"
Tukas Si Tiong pek dengan dingin.
Rasa benci Ji Cin peng kepadanya saat ini sudah merasuk sampai ditularg, tapi oleh sebab nyawa Gak Lam-kun berada dicengkeramannya, maka ia tak berani sembarangan mengumbar hawa amarahnya.
Terpaksa sambil mengendalikan rasa geram dalam hatinya ia berkata.
"Aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk melindungimu, tapi kaupun harus menyanggupi pula untuk tidak melukai nyawanya walau dalam keadaan apapun"
Sejak kemunculan para jago dari aliran See thian san, Ji Cin peng sudah mulai was-was dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, ia tahu jika sampai bekerja sama dengan komplotan dari Hoa Kok khi untuk melancarkan sergapan, niscaya para jagonya dari perguruan panah bercinta akan kewalahan untuk menghadapi serbuan mereka.
Dalam keadaan demikian, hal pertama yang paling menguatirkan hatinya adalah tindakan Si Tiong pek bila sampai mencelakai jiwa Gak Lam-kun terlebih dulu.
Padahal perasaan Si Tiong pek ketika itu jauh lebih gelisah dibandingkan dengan Ji Cin peng ia tahu ilmu silat yang dimiliki kawanan jago dari See thian san rata-rata amat tinggi jika mereka sampai turun tangan, sekalipun ada pihak perguruan panah bercinta yang melindunginya, belum tentu perlindungan mereka akan banyak membantu dirinya.
Berpikir sampai disitu, iapun tertawa dingin katanya.
"Seandainya kalian semua mau berusaha dengan sepenuh tenaga tentu saja kekuatan mereka bisa dibendung, heehh.... heehh.... heehh.... kalau tidak.... hati-hati saja dengan selembar nyawanya!"
Entah apa sebabnya tiba-tiba sekujur tubuh Gak Lam-kun gemetar keras kulit mukanya mengejang keras, sepasang matanya melotot besar dan mukanya merah membara, sikap semacam itu seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
Menjumpai kejadian tersebut, dengan gusar Ji Cin peng segera membentak keras.
"Apakah kau telah mencelakainya?"
Padahal Si Tiong pek sendiripun tidak tahu, kenapa secara tiba-tiba Gak Lam-kun bisa rnemperlihatkan kesakitan seperti itu.
Belum sempat dia memberikan jawabannya, dengan suara gemetar Gak Lam-kun telah berkata.
"Nona Bwe.... ra.... racun yang mengeram dalam tubuhku telah mulai kambuh.... jiwaku sebentar lagi pasti melayang, aku minta.... aku minta kepadamu untuk turun tangan dengan segera untuk merampas kembali Lencana pembunuh naga itu.... jangan biarkan benda itu dirampas orang.... Lencana pembunuh naga itu kuperoleh dengan taruhan nyawa, semoga kaupun bisa menghargai pula benda itu.... kau.... kau tak usah memikirkan keselamatanku lagi...."
Remuk redam rasanya hati Ji Cin peng menyaksikan penderitaan yang dialami pemuda tersebut, tak bisa dibendung lagi airmatanya jatuh bercucuran dengan deras.
Melihat, gelagat tidak menguntungkan, sambil tertawa Si Tiong pek segera berseru.
"Nona! Jika kau tidak menyanggupi permintaanku tadi, saat ini juga akan kubunuh dirinya!"
Kiranya Si Tiong pek kuatir kalau Gak Lam-kun keburu mati sehingga ia tak sempat mempergunakan dirinya lagi, maka dia ingin menggunakan kesempatan dikala jiwanya belum melayang, kalau bisa meloloskan diri dari kepungan tersebut dengan selamat.
Mendadak Gak Lam-kun mengayunkan tangan kirinya dan secepat kilat melancarkan sebuah bacokan ketubuh Si Tiong pek.
Semenjak pertama kali tadi, Si Tiong pek memang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan kilat dari Gak Lam-kun maupun usaha pemuda itu untuk bunuh diri, maka dengan sama sekali tak gugup ia miringkan tubuhnya kesamping, setelah serangan musuh dibiarkan lewat, cengkeraman pada tangan kirinya tiba-tiba diperkeras.
Dengusan tertahan bergema diangkasa, kepala Gak Lam-kun segera terkulai lemas kebawah.
Melihat itu, Ji Cin peng segera menjerit kaget teriaknya.
"Kau si pembunuh kejam....!"
Hawa sakti yang telah dihimpun dalam telapak tangan kanannya segera diayunkan kedepan....
Dengan gerakan yang gesit dan lincah, Si Tiong pek menyeret tubuh Gak Lam-kun dan bergeser sejauh enam depa lebih dari posisi semula, bentaknya.
"Jangan bergerak kalau aku tidak membuatnya tak sadarkan diri, ia akan bunuh diri"
Mendengar bentakan itu, buru-buru Ji Cin peng menarik kembali tenaga pukulan yang telah dilontarkan itu. Sesudah berhenti sebentar Si Tiong pek berkata lebih jauh.
"Harap nona segera membukakan jalan bagiku kalau kau masih sangsi juga, segera kuhancurkan isi perutnya...."
Dalam keadaan seperti ini, tiada pilihan lagi buat Ji Cin peng kecuali menerima syarat musuh, maka ujarnya dengan nyaring.
"Siau Nay nay kalian bertugas membendung pengejaran dari orang-orang itu"
Tiba-tiba gadis berbaju perak itu tertawa cekikikan, suaranya merdu dan merayu membuat orang terpesona rasanya. Setelah itu katanya dengan merdu.
"Barangsiapa merasa tak sanggup untuk melawan pengaruh iblis dari irama khim, harap segera mundur dari sini"
Begitu ucapan dilontarkan, See ih sam seng serta empat orang dayang cantik dari partai See thian san segera melayang mundur dari situ. Paras muka Si Tiong pek berubah hebat, perintahnya dengan cepat.
"Nona cepat halangi perempuan itu untuk memetik khimnya"
Pada saat ini, Ji Cin peng boleh dikata sudah berada dalam kekuasaan Si Tiong pek, tanpa berpikir panjang ia lantas membentak, secepat kilat tubuhnya menubruk kearah nona berbaju perak itu, sementara tangan kirinya diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat langsung menerjang ketubuh nona berbaju perak itu.
Sekulum senyuman manis yang mempesonakan menghiasi wajah si nona berbaju perak yang cantik, dengan gesit dia melejit kesamping dan meloloskan diri dari ancaman itu, kemudian....
"Criing! Criing...."
Kelima jari tangan kanannya telah memetik senar tali khim dan berkumandanglah dua dentingan nyaring yang membetot sukma.
Ji Cin peng merasakan hawa darah didalam dadanya segera bergelora keras, tenaga pukulan yang telah dipersiapkan untuk dilancarkan, tiba-tiba membuyar dengan begitu saja.
Si Tiong pek pun merasakan kedua dentingan irama khim tersebut ibaratnya, dua gulung desingan angin serangan yang tajam menyergap jalan darah dan urat-urat penting disekujur tubuhnya, serta merta ia mundur dengan sempoyongan, cengkeramannya atas pergelangan tangan kanan Gak Lam-kun pun tiba-tiba mengendor.
Sesungguhnya jalan darah ditubuh Gak Lam-kun telah ditotok oleh Si Tiong pek, ia berada dalam keadaan tak sadar waktu itu, tapi setelah mendengar irama khim tersebut, tiba-tiba saja sepasang matanya terpentang lebar, menyusul kemudian ia mendengus pelan...."
Mendadak telapak tangannya diayun kedepan, langsung menghantam tubuh Si Tiong pek. Peristiwa ini sungguh diluar dugaan orang sambil tertawa dingin Si Tiong pek segera berseru.
"Bangsat, kau kepingin mampus?"
Telapak tangan kanannya segera diayunkan kedepan, segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung menggulung kedepan.
"Blaaang....!"
Benturan nyaring menggelegar diudara.
Ketika serangan dahsyat dari Si Tiong pek itu bersarang ditubuh Gak Lam-kun ternyata pemuda itu hanya mundur tiga langkah, kemudian dengan wajah kosong ia mendongakkan kepalanya memandang bintang dan rembulan diangkasa.
Si Tiong pek amat terkejut, ia tak mengira, kalau Gak Lam-kun yang telah kehilangan tenaga dalamnya, ternyata masih mampu menerima serangan mautnya barusan.
Janganjangan tenaga dalamnya belum punah....?
Atau mungkin....
Dia tidak berpikir panjang lagi, sambil tertawa dingin tubuhnya menerjang kemuka.
Tiba-tiba bayangan putih berkelebat lewat, Ji Cin peng dengan kecepatan luar biasa telah melejit keudara, melewati atas kepala Si Tiong pek dan menghadang jalan perginya.
"Kau masih berani bertindak keji?"
Bentaknya.
Si Tiong pek mendengus dingin, telapak tangannya segera diayunkan kemuka melepaskan sebuah bacokan.
Sesungguhnya Ji Cin peng sendiripun merasa kaget bercampur tercengang ketika melihat Gak Lam-kun sanggup menerima sebuah pukulan dari Si Tiong pek, apalagi ketika dilihatnya pemuda itu berdiri termenung dengan wajah kosong, entah apa yang sedang dipikirkan?
Walau begitu, diam-diam iapun merasa girang sekali, sebab paras muka Gak Lam-kun menunjukkan sikap yang begitu tenang dan mantap, sedikitpun tidak mirip seseorang yang lagi menderita penyakit parah.
Dengan gerakan yang amat licik Ji Cin peng menyingkir kesamping, lalu jari tangannya disentilkan kedepan, segulung desingan angin tajam langsung saja menyergap nadi penting ditubuh Si Tiong pek.
Sungguh amat dahsyat serangan tersebut dengan rasa kejut bercampur ngeri buruburu Si Tiong pek melompat lima depa kebelakang kemudian memandang kearah gadis itu dengan wajah terpesona.
Ternyata dia kenali serangan jari tersebut bukan lain adalah ilmu Tam ci ta hiat (menyentil jari memukul jalan darah) yang merupakan sejenis ilmu jari paling sukar untuk dipelajari didunia ini.
Sementara itu Ji Cin peng telah berpaling sambil berseru.
"Siau Nay nay, kalian cepat melindungi keselamatan Gak siangkong...."
Ditengah seruan tersebut, bahunya kembali bergerak, sambil menerjang kemuka secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai.
Dengan gerakan yang aneh tapi sakti, Si Tiong pek berkelit kesana kemari meloloskan diri dari ketiga buah serangan tersebut, kemudian telapak tangannya dibalik menyodok kedepan dan seperti roda berputar tiba-tiba saja lengan tunggalnya itu membalas dengan beberapa buah serangan.
Serangkaian pukulan berantai dari Si Tiong pek ini sungguh hebat dan ampuh, bahkan Ji Cin peng yang berilmu silat sangat lihaypun seketika terdesak hingga berada diposisi bawah angin.
Tapi dua puluh gebrakan kemudian, Ji Cin peng mendapatkan kembali ketenangannya, begitu serangan dari Si Tiong pek dilontarkan, ia segera mematahkannya dengan suatu pukulan yang tak kalah hebatnya.
Ternyata Ji Cin peng telah nempergunakan ilmu Cing po sim hoat yang terhitung sejenis kepandaian tingkat tinggi dari perguruan Lam hay.
Cing po sim hoat ini adalah sejenis ilmu tenaga dalam tingkat tinggi yang amat sulit dipelajari, tapi bila telah berhasil dengan pelajaran tersebut, maka dengan mempergunakan sim hoat tersebut, ia dapat menyalurkannya kedalam jurus-jurus serangan dikala sedang terlibat dalam suatu pertarungan.
Oleh sebab itulah, sekalipun secara beruntun Si Tiong pek telah berganti dengan belasan macam ilmu pukulan yang berbeda-beda, ia selalu kena dikuasai oleh gerakan Ji Cin peng yang tenang, hal mana membuatnya tak sanggup melancarkan serangan mematikan lagi.
Dalam pada itu, para jago dari See thian san serta Hoa Kok khi sekalian telah berdiri kurang lebih tiga kaki disisi kalangan sambil menyaksikan kedua orang itu bertarung, jurus-jurus aneh yang sama-sama dipergunakan kedua orang itu segera mendatangkan rasa kaget dan heran dihati beberapa orang itu.
Perlu diketahui, bahwasanya beberapa orang yang hadir disekitar gelanggang saat ini adalah jagoan kelas satu dari dunia persilatan, hal ini sudah tak bisa diragukan lagi, dengan sendirinya pengetahuan yang mereka milikipun sangat luas sekali maka terkesiapnya mereka setelah menyaksikan ilmu silat aneh yang digunakan kedua orang itu.
Ki Li soat merasa amat terkejut bercampur keheranan, ia tak habis mengerti sedari kapankah ilmu silat yang dimiliki Si Tiong pek telah mencapai taraf setinggi ini, apalagi setelah melihat dari jurus-jurus serangan yang dipergunakan, mana aneh, sakti lagi jelas bukan ilmu silat yang diajarkan ayah angkatnya.
Dari sekian banyak orang yang hadir disekitar arena hanya Gak Lam-kun seorang yang berdiri tenang sambil memandang angkasa dengan terpesona, entah apa yang sedang dipikirkan, meskipun pertempuran yang berlangsung amat seru, dia tidak melihat maupun menegur.
Makin bertempur Si Tiong pek merasa makin takut, perduli jurus serangan apapun yang ia gunakan ternyata semuanya berhasil dikuasai lawan, sadarlah dia bila tidak cepat-cepat mencari kesempatan untuk melarikan diri, mungkin lebih banyak bahayanya daripada keberuntungan.
Maka dia lantas membentak keras sesudah melancarkan dua buah serangan berantai tiba-tiba tubuhnya melompat mundur sejauh satu kaki empat lima depa lebih.
Ji Cin peng tak rela musuhnya kabur dengan begitu saja, sambil bertekuk pinggang tubuhnya melambung kembali keudara, lalu seperti sesosok bayangan saja, ia menerjang kedepan dan menyambar tubuh Si Tiong pek....
Sewaktu mengundurkan diri tadi, Si Tiong pek telah meloloskan pedang elang bajanya maka menghadapi serangan musuh, dengan tenang ia putar senjata lalu seperti menotok seperti juga membacok, ia menyerang pula kedepan dengan serangan aneh.
Berubah hebat paras muka Ji Cin peng setelah menyaksikan gerakan serangan lawan ujung baju sebelah kirinya buru-buru dikebaskan, segulung tenaga dahsyat segera memaksa serangan Si Tiong pek itu tertangkis kesamping, mempergunakan kesempatan ini tubuhnya menerjang lagi kebawah.
Sungguh hebat dan sakti jurus-jurus pedang Si Tiong pek, tampak ia memutar pergelangan tangannya, tiba-tiba dengan suatu tusukan kilat ia membacok lambung Ji Cin peng.
Akibat dari serangan ini, Ji Cin peng terdesak hebat dan mau tak mau dia harus mundur.
Si Tiong pek tertawa terbahak-bahak, ia melejit kebelakang dan melayang sejauh dua kaki lebih dari posisi semula.
Tiba-tiba dengusan dingin menggema diudara, lalu seseorang menegurnya.
"Jangan pergi dulu saudara Si, siaute harap kau tinggalkan dulu lencana pembunuh nagamu"
Entah sedari kapan tahu-tahu Gak Lam-kun sudah berdiri dihadapan Si Tiong pek dan menghadang jalan perginya. Terkesiap hati Si Tiong pek menghadapi kejadian tersebut, serunya tanpa terasa.
"Apa.... apakah tenaga dalammu telah pulih kembali seperti sediakala....?"
Gak Lam-kun tertawa hambar.
"Sekalipun belum pulih kembali seperti sedia kala, akupun tak akan biarkan Lencana pembunuh naga itu kau bawa pergi dengan begitu saja"
Si Tiong pek tertawa terkekeh-kekeh.
"Haaahh.... haaahh.... haaahh.... bagus, bagus sekali, cuma andaikata saudara Gak gagal untuk merampas lencana pembunuh naga tersebut dengan kepandaian sendiri lantas bagaimana?"
"Bila aku gagal untuk merampasnya kembali, saat itu juga aku akan gorok leher bunuh diri dihadapanmu!"
Si Tiong pek segera tersenyum.
"Oooh.... bunuh diri sih tak perlu, aku cuma minta kepadamu andaikata kepandaian silatmu tak bisa menangkan diriku maka tolong lindungilah aku meninggalkan tempat ini"
Seperti yang diketahui Si Tiong pek adalah seorang pemuda licik yang banyak akal muslihatnya, ia tahu Ji Cin peng pasti akan melindungi keselamatan Gak Lam-kun matimatian, karena itu seandainya Gak Lam-kun sampai tewas, sudah pasti dia tak akan lolos dari kejarannya.
Diapun tahu tenaga dalam milik Gak Lam-kun belum pulih kembali seperti sedia kala, ia yakin pasti dapat menangkan pemuda itu seandainya Gak Lam-kun bisa dipaksa untuk melindunginya meninggalkan tempat itu, hal mana sama pula dengan ia telah meminjam kekuatan perguruan panah bercinta untuk membantunya melawan musuh-musuh tangguh.
Ji Cin peng mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia melompat kedepan dan menerjang kesamping Si Tiong pek, lalu sambil mendengus serunya.
"Kau tak usah memperhitungkan segala sesuatunya dengan seenak hatimu sendiri, kalau kau bisa menangkan dulu diriku, aku akan biarkan kau tingalkan tempat ini!"
Paras muka Si Tiong pek berubah hebat, buru buru ia mundur lima depa, lalu ujarnya kepada Gak Lam-kun sambil tertawa.
"Apakah saudara Gak hendak mengundurkan diri dan digantikan oleh dia....?"
Gak Lam-kun segera tertawa dingin.
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... sebagai seorang laki-laki sejati, lebih baik hancur sebagai kumala daripada utuh sebagai batu bata, kalau kau punya kepandaian, hayo bunuhlah aku!"
Berbicara sampai disana, ia lantas berpaling kearah Ji Cin peng sembari katanya.
"Nona Bwe, tolong pinjamkan pedangmu kepadaku!"
Ji Cin peng menghela nafas sedih, katanya dengan lirih.
"Luka dalammu sangat parah, tenaga dalammu belum pulih kembali seperti sedia kala...."
Gak Lam-kun segera tersenyum.
"Mati hidup seseorang semuanya telah digariskan oleh takdir"
Ia menukas.
"jika batas usianya belum sampai, ingin matipun tidak bakal mati. Nona Bwe, kau menaruh budi kebaikan yang sangat besar kepadaku, aku orang she Gak merasa tak sanggup untuk membalasnya, semula aku ingin menghadiahkan Lencana pambunuh naga itu kepadamu, tapi kena dirampas orang lain, karena itu bagaimanapun juga aku harus merampasnya kembali dari tangannya, lalu akan kuhadiahkan kembali untuk nona"
Mendengar perkataan itu, Ji Cin peng merasa girang bercampur terharu, dari ucapan yang pertama tadi dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun telah pulih kembali, apalagi setelah menyaksikan kebulatan tekad pemuda itu, ia tahu dinasehatipun tak ada gunanya, terpaksa ia harus putar otak untuk mencari sesuatu akal guna membantunya.
Maka pedang Giok siang kiam tersebut diambil keluar dari sakunya dan diserahkan kepada Gak Lam-kun.
"Soal perselisihan diantara kita, lebih baik diperhitungkan dikemudian hari saja, sedang dalam pertarungan hari ini lebih baik disudahi setelah saling menutul, begitu menang kalah diketahui pertarungan segera dihentikan. Seandainya siaute yang kalah nanti, tentu saja akan kuserahkan Lencana pembunuh naga itu kepadamu, sebaliknya bila siaute yang beruntung bisa menangkan pertarungan, maka aku terpaksa harus minta tolong kepada saudara Gak untuk menghantarku pergi dari sini, entah bagaimanakah pendapatmu?"
Gak Lam-kun tidak menjawab, pelan-pelan ia menghampiri Si Tiong pek, kemudian katanya.
"Saudara Si, silahkan turun tangan!"
Si Tiong pek tidak mengalah lagi, ia menggetarkan pedangnya dan segera melancarkan sebuah tusukan.
Gak Lam-kun berdiri tenang ditempat, pedang giok siang kiam pelan-pelan diangkat keudara lalu dengan jurus To coan im yang (memutar balikkan im dan yang) dia paksa mundur pedang Si Tiong pek.
Melihat itu, Si Tiong pek tertawa dingin, pedang elang bajanya berputar diudara menciptakan selapis hawa tajam, kemudian menusuk keatas, tengah dan bawah tubuh Gak Lam-kun, dalam sekejap mata tiga belas tusukan telah dilancarkan.
Terkejut juga Gak Lam-kun menghadapi serangan maut sedahsyat itu, ia miringkan tubuhnya dan buru-buru mundur lima depa.
Siapa tahu belum lagi tubuhnya berdiri tegak pedang elang baja dari Si Tiong pek dengan membawa desingan angin tajam telah menyambar kembali, sedemikian cepatnya serangan itu hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata, keanehan dan kehebatan jurus serangannya betul-betul diluar dugaan orang.
Gak Lam-kun tak sempat untuk berkelit lagi, terpaksa ia harus mengayunkan pedangnya untuk menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Tiba-tiba Si Tiong pek tertawa dingin ditengah jalan ia buyarkan serangan, pedangnya bergoyang kencang dan secara beruntun melepaskan tiga buah serangan maut dengan jurus-jurus Ya pan hong yan (asap tebal ditengah malam), Liu seng liok tee (bintang luncur jatuh ketanah) serta Thian le tee wong (jaring langit jembatan bumi).
Seketika itu juga Gak Lam-kun merasakan empat arah delapan penjuru penuh dengan bayangan pedang elang baja, hatinya merasa amat terkesiap ia tak berani menyongsong ancaman tersebut dengan kekerasan dengan cekatan tubuhnya berkelebat kesana kemari menghindarkan diri, tahu-tahu ia sudah terlepas dari kurungan cahaya pedang lawan.
Gerakan tubuh yang amat lihay tersebut tidak lain adalah gerakan tubuh Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat.
Si Tiong Pek segera tertawa dingin, serunya.
"Saudara Gak, cepat amat gerakan tubuhmu itu!"
Ditengah pembicaraan tiba-tiba pedangnya digetarkan dan menusuk kembali kedalam lawan.
Tusukan tersebut dilancarkannya dengan mempergunakan jurus pedang ampuh yang tercantum dalam kitab pusaka Hay ciong kun boh, meskipun sepintas lalu tampaknva biasa tiada yang aneh, sesungguhnya dibalik serangan tersebut terkandung tiga jurus perubahan yang luar biasa, perduli apakah Gak Lam-kun akan menangis dengan pedangnya, atau melompat untuk menghindari, sulit baginya untuk meloloskan diri dari kepungan jurus-jurus ampuh tersebut.
Siapa tahu ketika serangan itu sudah hampir mendekati tubuhnya, tiba-tiba Gak Lamkun memutar badan, lalu dengan mempergunakan ilmu langkah Liong heng sin hoat dia menyelinap kebelakang Si Tiong pek dan melancarkan sebuah tusukan.
Ketika serangannya mengenai sasaran kosong Si Tiong pek sudah tahu bahwa keadaan bakal celaka, mempergunakan kesempatan itu dia lantas bertekuk pinggang dan melompat maju sejauh sembilan depa, sebab itulah dengan mujur ia berhasil meloloskan diri dari tusukan Gak Lam-kun itu.
Dengan kecepatan luar biasa kedua belah pihak saling bergebrak beberapa jurus, kedua belah pihak sama-sama menjaga diri dan tak berani memandang enteng musuhnya lagi, dengan memusatkan segenap perhatian dan melintangkan pedangnya kedepan dada mereka berdiri sambil menantikan tibanya kesempatan yang menguntungkan.
Dalam pada itu Ji Cin peng baru merasa lega setelah menyaksikan pertarungan tersebut berjalan seru, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun telah pulih kembali seperti sedia kala, wajah yang semula menegangpun kini mengendor kembali.
Sebaliknya Gak Lam-kun merasakan juga kemajuan yang amat pesat dari kepandaian silat yang dimiliki Si Tiong pek setelah berlangsungnya pertarungan, diam-diam ia berpikir.
"Dari sini terbuktilah sudah kalau tenaga dalamku telah pulih kembali seperti sedia kala, bahkan tampaknya tenaga dalamku makin lama semakin sempurna.... tapi jurus-jurus pedang yang dipergunakan Si Tiong pek aneh juga, bahkan tenaga dalamnya telah memperoleh pula banyak kemajuan, apakah didalam belasan hari yang amat singkat ini dia telah menjumpai penemuan aneh"
Berpikir sampai disitu, Gak Lam-kun segera menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, untuk bersiap sedia menghadapi serangan lawannya....
Sesudah kedua belah pihak sama-sama dibuat terperanjat oleh kelihayan ilmu lawan mereka tak berani melancarkan serangan lagi secara gegabah, kurang lebih seperminuman teh kemudian, Si Tiong pek mulai habis kesabarannya, pelan-pelan ia berjalan mendekati diri Gak Lam-kun.
Melihat musuhnya mendekat, Gak Lam-kun mendengus dingin, tiba-tiba pedangnya digetarkan keras, kemudian dengan jurus Thian heng peng lui (guntur dan salju diujung langit) pedang pendeknya berkelebat menciptakan berlapis-lapis hawa dingin yang membawa desingan angin tajam....
Sungguh dahsyat serangan ini, sampai-sampai Ji Cin peng yang dari samping arenapun diam-diam terkejut oleh kemajuan pesat yang dicapainya didalam tenaga dalam.
Si Tiong pek tak berani memandang enteng terhadap datangnya ancaman itu, tenaga dalamnya segera dihimpun, kemudian dengan jurus Peng hong thian san (salju menyelimuti bukit thian san) salah satu serangan yang tercantum dalam Hay ciong kun boh, ia sambut datangnya serangan tersebut.
Pedang Thi eng kiamnya diputar menciptakan satu lingkaran cahaya biru yang menyilaukan mata, seluruh tubuhnya dengan cepat terlindung dibalik cahaya tersebut.
"Traang! Traang! Traang!"
Benturan demi benturan nyaring bergema memecahkan kesunyian, secara beruntun sepasang pedang itu sudah saling membentur dengan hebatnya.
Si Tiong pek segera merasakan akibatnya dari bentrokan itu, oleh getaran tenaga dalam yang sempurna dari Gak Lam-kun, seluruh pergelangan tangan kanannya menjadi kaku dan kesemutan.
Betapa terkesiapnya dia, buru-buru pedangnya diputar dengan jurus Sin liong jut im (naga sakti muncul dari mega), lalu ditusukkan kedepan....
Serangan ini sangat aneh dan mencengangkan hati, sasarannya adalah dada, tapi ancamannya seperti juga tusukan seperti pula bacokan.
Gak Lam-kun tercengang, bahunya bergerak cepat dengan suatu gerakan manis ia meloloskan diri dari sergapan itu.
Namun Si Tiong pek yang licik telah memperhitungkan sampai kesitu, walaupun serangannya amat ganas tapi bisa dipakai untuk serangan tipuan, bisa juga untuk serangan sungguhan, ia telah menduga kalau Gak Lam-kun tidak akan mempergunakan pedangnya untuk menangkis serangan tersebut.
Ia segera tertawa dingin, tidak menanti Gak Lam-kun sampai memutar pedangnya, cepat-cepat ia sudah melompat mundur sejauh lima depa selapis hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajahnya, dengan dingin ia berkata.
"Sungguh tidak kusangka kalau secepat ini tenaga dalammu pulih kembali, rupanya dalam pertarungan ini, kalau bukan kau yang harus mampus, akulah yang bakal mati?"
"Memandang pada persahabatan yang pernah kita jalani asal kau serahkan kembali lencana pembunuh naga itu kepadaku malam ini...."
Si Tiong pek marah sekali ia tertawa dingin dan menukas.
"Siapa menang siapa kalah saja masih belum dapat diduga, buat apa kau musti omong besar.... Tidak sampai selesai perkataan itu diucapkan tiba-tiba tubuhnya telah menerjang lagi kedepan. Bayangan manusia berkelebat lewat, hawa dingin menyelimuti angkasa, tiba-tiba ia melancarkan enam buah tusukan berantai. Hawa pedang segera membumbung diangkasa, bukan cuma serangannya saja yang hebat, ternyata dikombinasikan pula dengan kelincahan gerak tubuh Si Tiong pek yang sukar diduga sebelumnya, hal mana bukan mengakibatkan rasa terkejut bagi Gak Lam-kun saja, Ki Li soat sendiripun ikut terkesiap. Paras muka Gak Lam-kun berubah menjadi amat serius, pedang pendeknya diputar keras menciptakan selapis hawa pedang untuk melindungi badan serta merta ia bendung keenam buah serangan kilat dari Si Tiong pek tersebut. Pada waktu itu Gak Lam-kun merasakan hawa murni yang bergelora didalam tubuhnya makin lama semakin menghebat, saking tak kuatnya mengendalikan golakan hawa murni yang menumpuk itu, tiba-tiba ia membentak keras.... Sebuah tusukan maut secepat kilat dilontarkan kedepan.... Bentakannya itu sungguh amat nyaring bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, segera semua jago merasakan hatinya bergetar keras.... Ditengah bentakan yang amat keras itu, secepat kilat Si Tiong pek melompat mundur sejauh tujuh delapan depa untuk menyelamatkan diri, tapi....
"Breet!"
Tahu-tahu ujung baju sebelah kirinya sudah kena disambar kutung oleh hawa pedang Gak Lam-kun yang amat tajam itu.
Kejut dan gusar Si Tiong pek menyaksikan kejadian ini, ia membentak nyaring sambil maju ia melancarkan serangan balasan.
Pedangnya digerakkan seperti orang kalap, tubuhnya berputar kencang bagaikan sedang terbang.
Inilah suatu pertempuran yang jarang ditemui dalam dunia persilatan kedua belah pihak sama-sama mempergunakan gerakan tubuh yang cepat untuk berusaha saling merobohkan, kejadian ini membuat para jago yang berada ditepi arena menjadi tertegun dan melongo saking terpesonanya....
Tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun saat itu telah memperoleh kemaluan yang amat pesat, setiap bacokan yang ia lancarkan segera membawa hawa pedang yang amat dahsyat dan selalu berhasil memaksa Si Tiong pek mundur dengan kaget oleh karena itulah walaupun Si Tong pek memiliki rangkaian jurus mematikan yang lihay, selalu saja gagal untuk dikembangkan sebagaimana mestinya.
Sebenarnya kepulihan tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun baru akan terjadi dua puluh empat jam kemudian, tapi totokan keras dari Ji Cin peng yang diterimanya tadi justru telah berhasil menembuskan kembali kebekuan yang mencekam nadi-nadi pentingnya, oleh karena itu hawa murninya mengalir kembali kepusar jauh lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan.
Sebagaimana diketahui, untuk menyadarkan Gak Lam-kun dari pingsannya, perempuan gila berambut panjang Hay sim li telah beberapa kali mengerahkan tenaga murninya untuk menembusi jalan darah Jin meh dan tok meh ditubuhnya untuk memasuki Tam thian (pusar), sekalipun gagal usahanya waktu itu, tapi asal hawa murni dari Gak Lam-kun telah terhimpun kembali, maka hawa murni yang pernah disalurkan Hay sim li itu segera akan dilebur oleh kekuatannya dan dihisap semua.
Oleh karena itulah, Gak Lam-kun merasakan betapa makin lama tenaga dalamnya makin kuat dan sempurna, hanya saja waktu itu dia sama sekali tidak memahami gejala tersebut.
Ditengah pertarungan sengit yang sedang berlangsung, tiba-tiba Gak Lam-kun membentak keras.
"Lepaskan pedangmu!"
"Cring!"
Tahu-tahu pedang Si Tiong pek sudah terjatuh ketanah, sedang pemuda itu dengan wajah kaget bercampur ngeri mundur sejauh dua kaki lebih.
Gak Lam-kun melihat pedangnya didepan dada berdiri dengan wajah serius, sikapnya mantap dan wajahnya berwibawa.
Tiba-tiba ia turunkan pedang pendek itu, lalu menghela napas panjang, katanya.
"Saudara Si, harap kau serahkan dulu Lencana pembunuh naga itu kepadaku.... seorang lelaki saja dapat membedakan mana budi mana dendam, jika saudara Si ingin membalaskan sakit hati Ou Yong hu , lakukan saja dikemudian hari!"
OooooOooooo Sebelum terjadinya pertarungan antara Si Tiong pek melawan Gak Lam-kun tadi, ia pernah membekuk Gak Lam-kun dengan mudah dan tanpa mengeluarkan sedikit tenagapun, tak disangka olehnya setelah tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun pulih kembali bukan saja tenaga dalamnya jauh lebih sempurna darinya, bahkan iapun tak sanggup menangkan lawannya itu.
Lencana pembunuh naga sebagai benda mustika yang digilai oleh jago persilatan dalam dunia bahkan dengan pertaruhkan nyawapun berusaha untuk dimiliki tentu saja tak akan ia serahkan kepada Gak Lam-kun dengan demikian saja apalagi Si Tiong pek pada dasarnya memang seorang manusia licik.
Karena itu setelah termenung sejenak katanya kemudian sambil tertawa.
"Apa yang saudara Gak katakan memang benar, heehh.... heehhh.... heehhh.... Lencana pembunuh naga adalah benda mustika yang diinginkan oleh setiap umat persilatan dunia ini, jika kau yang menyimpan benda tersebut, apakah tidak kuatir kalau akan dirampas oleh orang lain...."
"Soal ini kau tak usah kuatir"
Tukas Gak Lam-kun dingin.
"sekarang harap kau serahkan kotak kumala itu dengan segera kepadaku"
Si Tiong pek tertawa dingin, ia merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan kotak kumala tersebut, kemudian katanya.
"Kalau kau bersikeras menginginkan kotak ini lebih dulu sebelum menyerahkannya kepadamu"
Gak Lam-kun menjadi teramat gusar, bentaknya.
"Kenapa kau begitu tak memegang janji?"
Si Tiong pek tertawa hambar.
"Aku toh cuma mengabulkan untuk memberikan Lencana pembunuh naga ini kepadamu. Sedari kapan aku menyanggupi untuk tidak menghancurkannya....?"
Ji Cin peng serta Gak Lam-kun segera membentak keras sambil tiba-tiba menerjang kemuka.... Si Tiong pek telah mempersiapkan diri, tiba-tiba ia melompat kebelakang sambil membentak.
"Bila kalian berani maju selangkah lagi, segera kumusnahkan lencana ini!"
"Hei jangan kau musnahkan lencana itu bila ada persoalan mari kita rundingkan secaia baik-baik!"
Teriak Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi dengan suara lantang.
Bu sin Sian seng Tong Bu kong menghimpun hawa murninya lalu berpekik nyaring, pedangnya dengan menciptakan selapis bianglala tiba-tiba melancarkan sebuah sergapan kepunggung pemuda she Si itu.
Ki Li soat sepera membentak nyaring, ia sambut kedatangan Tong Bu kong dan secara beruntun sepasang telapak tangannya melancarkan serangkaian serangan berantai dalam waktu singkat ia telah melancarkan lima buah serangan yang memaksa Tong Bu kong mundur terbirit-birit.
Dengan suatu gerakan cepat gadis itu meloloskan pedang bambu tipisnya dari atas punggung, lalu sambil mendekati Si Tiong pek, ia berseru.
"Engkoh Si, serahkan lencana itu kepada Gak siangkong!"
"Adik Soat, lucu amat perkataanmu itu!"
Jengek Si Tiong pek segera sambil tertawa dingin.
"aku mau bertanya kepadamu, jauh-jauh dari ribuan li datang kemari sebenarnya untuk apa sih kau ini?"
"Engkoh Si meskipun kita datang untuk mendapatkan Lencana mustika itu tapi apa pula yang dipegang teguh oleh setiap umat persilatan? Apakah kau hendak mengingkari janjimu sendiri dan melanggar peraturan perkumpulan....!"
Mendengar ucapan tersebut, paras muka Si Tiong pek segera berubah hebat, tapi sejenak kemudian sambil tertawa dingin katanya.
"Asal bisa kudapatkan lencana mustika ini sekalipun harus melanggar peraturan perkumpulan aku akan menggunakan keberhasilanku ini untuk menebus dosa tersebut!"
"Bajingan tengik!"
Ji Cin peng telah membentak pula.
"Jika lencana pembunuh naga tidak kauserahkan, hanya ada jalan kematian untukmu!"
Bayangan putih berkelebat lewat, sepasang telapak tangannya secara beruntun telah melancarkan pukulan dahsyat....
Dua gulung angin pukulan yang sangat kuat, dengan cepatnya segera menggulung tubuh Si Tiong pek.
Tiba-tiba Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya.
"Jangan takut Si lote, aku datang membantumu!"
Ditengah bentakan, telapak tangan kanannya diayunkan kedepan, segulung angin pukulan berhawa dingin segera menyambar ketubuh Ji Cin peng....
Tong Bu kong serta Kiu wi hou Kongsun Po tidak ambil diam saja, merekapun mengerahkan tenaga dalamnya dan melancarkan sebuah pukulan yang amat dahsyat kearah Ji Cin peng.
Perubahan yang terjadi sangat tiba-tiba ini sama sekali diluar dugaan orang-orang perguruan panah bercinta.
Seperti diketahui golongan Hoa Kok khi adalah musuh bebuyutan dari perkumpulan Thi eng pang jadi sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa kedua kelompok kekuatan tersebut bisa bersatu padu.
Gak Lam-kun membentak keras, pedangnya dialihkan ketangan kiri, sedangkan tangan kanannya melepaskan sebuah bacokan.
Segulung angin pukulan yang keras segera menyambar kedepan, ketika saling membentur dengan beberapa kekuatan lainnya, segera timbullah segulung angin berpusing yang menerbangkan debu dan pasir serta menggetarkan pepohonan yang berada disekeliling tempat itu.
Didalam pertarungan adu tenaga dalam semacam ini, masing-masing pihak tak nanti bisa mencari kemenangan dengan mengandalkan kelicikan ataupun akal muslihat, maka setelah Tong Bu kong dan Kongsun Po bersama-sama menerima sebuah tenaga gabungan dari Gak Lam-kun serta Ji Cin peng, mereka segera rasakan sekujur tubuhnya bergetar keras.
Terutama sekali tenaga pukulan yang dilancarkan Gak Lam-kun, sedemikian kuat dan hebatnya sehingga walaupun puncak dari kekuatan tersebut sudah digetarkan oleh pukulan Tay siu im khi yang dilancarkan Hoa Kok khi, akan tetapi sisa kekuatannya masih mampu untuk mendobrak segala-galanya.
Tenaga dalam yang dimiliki Tong Bu kong dan Kongsun Po terhitung paling lemah, maka kekuatan gabungan dari Gak Lam-kun dan Ji Cin peng segera menerjang kearah mereka berdua.
Begitu merasakan keadaan tidak menguntungkan.
Tong Bu kong dan Kongsun Po segera berteriak keras.
"Cepat mundur!"
Kedua orang itu bersama-sama melancarkan lagi beberapa buah pukulan, kemudian cepat-cepat tubuhnya mundur sejauh tiga kaki lebih.
Pada saat itulah, Thiat Kiam kuncu Hoa Kok khi ibaratnya sukma gentayangan tahutahu menerjang kesisi tubuh Si Tiong Pek tanpa menimbulkan suara, kemudian mencengkeram pergelangan tangan kanannya.
Kepandaian silat yang dimiliki Si Tiong pek sekarang telah peroleh kemajuan yang pesat, lagipula diapun sadar bahwa bantuan dari Hoa kok khi tadi pasti terselip maksudmaksud tertentu, maka baru saja cengkeraman orang menyambar tiba, ia sudah menyingkir sejauh lima depa lebih dari posisi semula.
Si Tiong pek segera tertawa dingin, serunya.
"Orang she Hoa, tidaklah kau merasa bahwa caramu itu sedikit terlampau kasar?"
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... kalau begitu, anggap saja memang terlalu kasar!"
Sahut Hoa Kok khi sambil tertawa licik.
Dalam pembicaraan itu, tiba-tiba ia melancarkan sebuah bacokan lagi dengan kecepatan luar biasa.
Kiranya menggunakan kesempatan dikala tanya jawab itu sedang berlangsung, Hoa Kok khi telah menghimpun tenaga dalam yang dimilikinya, jadi serangan yang kemudian dilepaskan ini boleh dibilang merupakan sebuah pukulan yang disertai dengan segenap tenaga yang dimilikinya....
Si Tiong pek tak sempat untuk berkelit lagi, terpaksa ia harus menghimpun pula hawa murninya dan mengayunkan telapak tangan kanan untuk menerima datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan.
Siapa tahu, setelah pukulan itu dilancarkan, ternyata dari serangan lawan itu sedikitpun tidak dijumpai daya perlawanan, karena tercengang, tanpa sadar ia menarik kembali tenaga pukulannya itu....
Siapa sangka, pada saat itulah tiba-tiba ia merasa ada segulung hawa dingin ikut menyusup masuk kedalam tubuhnya mengikuti tenaga dalamnya yang ditarik kembali tadi, kenyataan ini sangat mengejutkan hatinya, buru-buru ia mengerahkan tenaga untuk melindungi isi perut dan menutup semua jalan darah pentingnya dari ancaman hawa racun musuh.
Hoa Kok khi tertawa terbahak-bahak.
"Haahh.... haahh.... haaahh.... kau telah terluka oleh pukulan Tay siu im khi ku, sekalipun kau memiliki tenaga dalam yang sempurna, jangan harap bisa melewati tujuh hari, kini hanya ada satu jalan kehidupan bagimu, yakni serahkan Lencana pembunuh naga itu kepadaku....!"
Si Tiong pek tertawa dingin, ia memutar badannya dan segera melayang mundur sejauh beberapa kaki.
"Mundur kau"
Tiba-tiba bentakan nyaring menggelegar.
Cian seng (malaikat pukulan) Nian Eng hau dari pihak See thian san telah melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat ketubuh Si Tiong pek.
Menyaksikan ancaman itu datangnya amat dahsyat, terpaksa Si Tiong pek harus melayang mundur kembali kebelakang, belum lagi sepasang kakinya berdiri tegak, para jago kembali sudah mengepungnya rapat-rapat.
Dengan keadaan tersebut, sadarlah Si Tiong pek bahwa tiada harapan lagi baginya untuk melarikan diri....
Disaat yang kritis itulah tiba-tiba berkumandang gelak tertawa yang amat nyaring, menyusul kemudian dari tengah udara meluncur datang belasan sosok bayangan manusia yang berkelebat tiba, dalam sekejap mata mereka telah berada diluar lingkaran kepungan kawanan jago tersebut.
Ketika semua orang berpaling kearah kawanan jago yang datang itu, bergetarlah hati mereka semua, tampak Thi eng sin siu (kakek sakti elang baja) Oh Bu hong dipimpin kedua orang thamcu serta kedelapan belas orang elang bajanya telah tiba disana.
Oh Bu hong tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh.... haaahhh.... haaahhh.... selamat berjumpa, selamat berjumpa, kiranya kalian semua telah tiba duluan daripada aku"
Ketika dilihatnya lengan Si Tiong pek kutung sebelah, dengan cepat ia melanjutkan.
"Pek ji, kenapa kau? Siapa yang telah melukaimu?"
Pertanyaan itu diajukan dengan penuh kasih sayang dan nada memperhatikan.
"Sungguh kebetulan sekali kedatangan suhu"
Kata Si Tiong pek cepat.
"tecu sedang dikejar-kejar mereka hingga tak ada jalan mundur lagi...."
Betapa tajamnya sepasang mata Oh Bu hong, dalam sekilas pandangan saja ia telah melihat kotak kumala yang ditangan Si Tiong pek, diapun segera tahu bahwa lencana pembunuh naga yang digilai orang telah berada ditangan muridnya.
Maka biji matanya segera mengerling sekejap memberi tanda, delapan belas orang elang baja beserta Gin eng tamcu (thamcu elang perak) Kwan Kim ceng, dan Lan eng thamcu Wan kiam ciau secepat kilat menyebarkan diri keempat penjuru sambil bersiap sedia menghadapi serangan-serangan para jago yang bermaksud merampas kotak kumala itu.
Kemudian pelan-pelan Oh Bu hong berjalan masuk ketengah arena dan mendekati Si Tiong pek.
Seketika itu juga, suasana dalam gelanggang berubah jadi amat tegang hingga untuk bernapaspun rasanya sesak, setiap jago yang hadir disitu sama-sama menghimpun tenaga dalamnya sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Suatu pertempuran yang menentukan antara mati dan hidup segera akan berlangsung didepan mata.
Tiba-tiba Ji Cin peng mengayunkan tangannya kedepan, tiga biji Bodhi sian cu dengan membelah angkasa segera menyambar kemuka dan secara berpisah mengancam tiga buah jalan darah penting ditubuh Oh Bu hong, sungguh cepat serangan tersebut hanya dalam sekilas sambaran saja tahu-tahu sudah lenyap.
Agaknya Thi eng sin siu Oh Bu hong dibikin terpesona oleh kekuatan serta kehebatan Ji Cin peng dalam melancarkan serangan dengan senjata rahasianya itu, tiba-tiba ia berhenti, kemudian pedang Thi eng kiamnya diayunkan kemuka.
Seketika itu juga muncullah selapis angin serangan yang maha dahsyat, ketiga biji Bodhi sian cu tersebut segera terpukul rontok.
Gan tiong ciang (pukulan batu karang) Kwik Kim ceng membentak keras, telapak tangan kanannya segera diayun kemuka melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat.
Karena serangan yang menggulung datang amat hebat dan dahsyat mau tak mau Ji Cin peng harus memutar juga telapak tangannya sambil melepaskan sebuah pukulan.
Menggunakan kesempatan diatas pikiran Ji Cin peng sedang terpecah kearah lain, tibatiba Oh Bu hong melompat kedepan dan langsung menerjang kesisi Si Tiong pek, maksudnya dia hendak merampas kotak kumala tersebut.
Siapa tahu baik Gak Lam-kun maupun Thi kiam kuncu Hoa Kok khi telah memperhatikan hal tersebut dengan seksama baru saja Oh Bu hong bergerak, dua orang itu sudah membentak keras kemudian dari arah yang berlainan menubruk kedepan.
Betapa cepatnya gerakan tubuh kedua orang itu, dalam waktu singkat mereka telah tiba ditempat tujuan.
Dalam keadaan demikian sekalipun Oh Bu hong berilmu tinggi mau tak mau dia harus juga berusaha untuk menghindarkan diri.
Sambil tertawa terbahak-bahak, tongkat elang bajanya dengan jurus Hong sau cian kun (menyapu rata selaksa prajurit) secepat kilat menyambut datangnya bacokan dari kedua orang itu.
"Blaang....!"
Suatu benturan keras segera menggelegar diudara, Gak Lam-kun dan Hoa Kok khi masing-masing saling berhantaman dengan tongkat elang baja itu hingga suatu adu tenagapun tak terhindarkan lagi.
Akibat dari benturan tersebut Gak Lam-kun serta Hoa Kok khi segera melayang turun kembali ketanah.
Sebaliknya Thi eng sin siu Oh Bu hong kena digetarkan sehingga mundur tiga langkah dengan sempoyongan.
Akibat bentrokan ini sangat mengejutkan hati Oh Bu hong ia tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki kedua orang ini sedemikian sempurnanya.
Thi kiam kuncu Hoa Kok khi memandang sekejap kearah Gak Lam-kun, lalu sambil tertawa katanya.
"Gak lote, jika kita berdua mau bekerja sama sudah pasti musuh tangguh itu bisa kita atasi!"
Mendengar perkataan itu, Oh Bu hong tertawa tergelak.
"Haaaahhh.... haaahh.... haaahhh.... Hoa Kok khi, hampir saja lohu memandang enteng dirimu."
Ditengah pembicaraan, pedang Thi eng kiamnya sedemikian rupa melepaskan sebuah serangan lagi dengan jurus Lip say ngogak (menyapu rata lima bukit)....
Hoa kok khi tertawa ringan, cepat-cepat dia melompat kebelakang untuk menghindar....
Tapi Gak Lam-kun bukannya mundur malahan maju, sekali lompat ia sudah berebut menduduki tiang kiong.
Setelah tenaga dalamnya peroleh kemajuan pesat gerakan tubuh pemuda itu jauh bertambah cepat, telapak tangan kirinya dibabat kemuka menangkis senjata lawan kemudian tangan kanannya dengan jurus Pek thian khi hong (bianglala putih kilat menyambar) menusuk dada musuh dengan pedang giok siang kiam.
Oh Bu hong merasa terperanjat, cepat ia melompat mundur kemudian menubruk maju lagi bagaikan harimau kelaparan, pedang Thi eng kiam koaynya diputar sedemikian rupa bagaikan angin ribut, tampaknya serangan tersebut dilancarkan dengan hawa amarah yang meluap-luap.
Dalam waktu singkat bayangan senjata, desingan angin serangan telah menyelimuti seluruh angkasa.
Gak Lam-kun tak mau kalah, dia pun kembangkan serangan pukulan dan bacokan pedangnya untuk melepaskan serangkaian serangan ketat yang rapat dan hebat.
Untuk sesaat kawanan jago yang berada disekitar sana dibuat tertarik dan terpesona oleh serangkaian serangan yang dilancarkan kedua belah pihak.
Ji Cin peng amat menguatirkan keselamatan Gak Lam-kun ia kuatir pemuda itu menderita kekalahan akibat lukanya yang baru sembuh, sepanjang pertarungan berlangsung sepasang matanya mengawasi terus jalannya pertarungan tanpa berkedip.
Demikian pula kawanan jago dari Thi eng pang serentak mereka bergerombol ditepi arena sambil bersiap sedia memberi pertolongan bilamana diperlukan.
Pada waktu itulah, Si Tiong pek yang licik secara diam-diam mengundurkan diri keluar arena pertarungan....
Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa dingin, tahu-tahu si nona berbaju perak dari aliran See thian san telah menghadang dihadapannya.
Berjumpa muka dengan gadis tersebut, mau tak mau Si Tiong pek mengundurkan diri sejauh tiga langkah dengan rasa jeri.
Sambil membopong alat petiknya, gadis berbaju perak itu tertawa manis, kemudian katanya.
"Berikanlah kotak kumala itu kepadaku!"
Menyaksikan senyumannya yang menawan hati itu, Si Tiong pek merasakan jantungnya berdebar lebih keras, ditatapnya gadis itu dengan terpesona, pikirannya terasa kosong dan sepasang matanya menatap keatas wajah nona itu lekat-lekat.
Harus diketahui disini, bahwa Si Tiong pek sudah sejak lama kagum dan terpikat oleh kecantikan gadis tersebut, apalagi senyuman sang nona berbaju perak itu mengandung daya sihir yang membetot sukma, otomatis semakin terpesona pemuda itu dibuatnya.
Pelan-pelan dengan tubuh yang lemah gemulai gadis berbaju perak itu maju kedepan lalu tangannya bergerak mencengkeram kotak kumala ditangan Si Tiong pek....
Seperti baru sadar dari impian, Si Tiong pek terkejut dan cepat-cepat ia melompat tiga depa kebelakang....
"Criing! Criing....!"
Berapa kali dentingan irama khim segera menyadarkan diri Gak Lam-kun dan Oh Bu hong yang sedang terlibat dalam pertarungan.
Entah sedari kapan Si Tiong pek telah tergeletak lemas diatas tanah....
Dengan tanpa mengeluarkan banyak tenaga nona berbaju perak itu berhasil mengambil kembali kotak kumala itu dari tangannya.
Sewaktu dentingan irama khim mulai berbunyi tadi, Gak Lam-kun telah memutar tubuhnya, kebetulan saat itulah si nona berbaju perak baru akan memungut kembali kotak kumala tersebut, cepat-cepat telapak tangan kirinya diayunkan kedepan menghantam kotak tersebut....
Ilmu silat yang dimiliki nona berbaju perak itu terhitung juga berkepandaian kelas satu, ia segera tertawa terkekeh-kekeh dan melompat kesamping untuk menghindar.
Gak Lam-kun menjadi tertegun menyaksikan gerakan tubuhnya itu, ternyata gerakan tubuh yang dipergunakan olehnya untuk menghindarkan diri tadi adalah ilmu Liong heng sin hoat miliknya, bahkan saat dipergunakan kecepatannya sama sekali tidak berada dibawahnya.
Sementara ia masih tertegun, sambil tertawa merdu nona berbaju perak itu sudah balik kembali kerombongan See thian san.
Empat orang laki-laki elang baja dari perkumpulan Thi eng pang segera membentak keras, serentak mereka melompat kemuka dan menghadang jalan perginya.
Gadis berbaju perak itu sama sekali tidak menghadapi kesulitan, dengan suatu gerakan tubuh yang gesit, ia menerobos keluar dari antara bayangan pedang keempat orang itu, lalu alat musik pi pa khimnya dituding kebelakang dan...
beberapa dengusan tertahan segera berkumandang memecahkan keheningan.
Ketika termakan oleh ayunan senjata Pie pa khim tersebut, keempat orang laki-laki kekar itu segera tergetar keras hingga tubuhnya mencelat beberapa kaki kebelakang...
"Bruuuk!"
Ketika mencium tanah kembali, ternyata keempat orang itu tak berkutik lagi untuk selamanya...
Empat orang laki-laki elang baja lainnya segera maju kembali menggantikan rekanrekannya untuk melancarkan serangan.
Tiba-tiba gadis berbaju perak itu memutar balik telapak tangan kanannya, untuk kedua kalinya empat orang laki-laki yang tinggi besar dan kekar itu mencelat kebelakang dan tidak berkutik lagi diatas tanah...
Demonstrasi tenaga pukulan yang maha dahsyat itu segera menimbulkan rasa kaget yang luar biasa dihati para jago, Ji Cin peng merasa tercengang juga, karena ia pernah bertempur melawan gadis berbaju perak itu, meskipun ilmu silat yang ditampilkan olehnya ketika itu termasuk ilmu pilihan, tapi bila dibandingkan dengan kemampuannya untuk membunuh delapan orang laki-laki kekar dalam sekali kebasan tangan, sudah tentu jauh sekali bedanya.
Seperti yang diketahui delapan belas elang baja dari perkumpulan Thi eng pang bukan terhitung manusia-manusia biasa, mereka semua rata-rata berilmu silat tinggi sekalipun Ji Cin peng sendiri juga belum tentu sanggup untuk melukai delapan orang dalam waktu singkat.
Tapi kenyataannya sekarang hanya dengan dua kali kebasan yang sangat enteng, gadis berbaju perak itu telah berhasil menaklukan kedelapan orang laki-laki kekar itu, ini semua membuktikan bahwa nona itu sudah menggetar putus jantung kedelapan orang itu dengan getaran tenapa dalamnya.
Sesudah melukai delapan orang jago lihay seperti tak pernah terjadi sesuatu hal, gadis berbaju perak itu segera berpaling kearah Gak Lam kun dan tertawa manis...
Thamcu elang perak, Gak tiong ciang (pukulan batu karang) Kwan Kim ceng ikut merasa terkejut juga setelah menyaksikan kecepatan pukulan lawan yang belum pernah didengar ataupun belum pernah dilihatnya ini, tanpa memikirkan kedudukan dan nama baiknya lagi ia melompat kedepan dan secara tiba-tiba melancarkan sebuah serangan dari belakang punggung lawan...
Begitu serangan sudah dilancarkan dia baru berteriak keras.
"Bocah perempuan, sambut dulu sebuah pukulan ini!"
Gadis berbaju perak itu sama sekali tidak menghindar maupun berkelit, ternyata ia telah manfaatkan desingan angin pukulan yang membacok ketubuhnya itu untuk melayang maju jauh kedepan.
Dalam pemikiran Can tiong Kwan Kim ceng waktu itu, sekalipun pukulan yang dilepaskan gagal membinasakan gadis berbaju perak itu, paling tidak ia dapat memukulnya sehingga terluka parah...
Siapa sangka gadis berbaju perak itu masih bersikap seolah-olah tidak merasakan apapun, malahan sebaliknya ia telah manfaatkan tenaga pukulan itu untuk melayang kemuka.
Thi eng sin siu Oh Bu hong segera membentak keras, pedang Eng kiam koaynya diayun kemuka menyapu tubuh si gadis berbaju perak itu.
Gadis berbaju perak itu segera mengayunkan ujung bajunya kedepan, kakinya sebelum menepuk diatas tanah tahu-tahu sudah melambung kembali setinggi satu kaki lebih secara manis ia berhasil meloloskan diri dari sapuan maut dari Oh Bu hong itu.
Thian san ciangbunjin Bu sin siangseng Tong Bu kong secepat kilat menerjang pula kedepan, pedangnya dengan menciptakan sebuah bianglala berwarna putih langsung meluncur kemuka...
Gadis berbaju perak itu segera melengkungkan sebagian tubuhnya kemudian berjumpalitan diudara dengan suatu gerakan indah...
"Ciiit..."
Segulung desingan angin jari yang tajam berbalik menyerang kearah Tong Bu kong.
Menghadapi terjangan maut tersebut, terpaksa Tong Bu kong harus buyarkan kembali serangan pedangnya dan melayang turun keatas tanah.
Dengan lompatan maut, Thi eng sin siu Oh Bu hong segera maju kedepan telapak tangan kirinya diayun kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat, seketika itu juga hawa pukulan yang tajam menyelimuti daerah seluas satu kaki disekeliling gadis berbaju perak itu, rupanya ia berniat untuk menggetarkan musuhnya sehingga terjatuh kembali keatas tanah.
Siapa tahu seluruh tubuh gadis berbaju perak itu enteng bagaikan selembar bulu, mengikuti hembusan angin pukulannya yang maha dahsyat itu, pelan-pelan tubuhnya melambung empat lima kaki lagi ketengah udara...
Kemampuannya yang maha lihay itu, sekali lagi menimbulkan rasa kaget yang luar biasa bagi kawanan jago lihay yang hadir disitu.
Haruslah diketahui, bila seseorang tidak menempel ditanah, sulit baginya untuk berganti napas, sekalipun ilmu meringankan tubuhnya sangat lihay, toh diapun harus melayang dulu kebawah sebelum bisa berganti napas lagi.
Seperti yang telah diketahui orang bisa melayang diudara, hal ini semua sesungguhnya mengandalkan hawa murni didalam tubuhnya yang dihimpun dalam tubuh sambil menutup napas, dengan cara itulah sang badan bisa melayang, melambung dan berkelebat seenteng burung walet.
Namun demikian, sesempurnanya tenaga dalam seseorang, kecuali ia sanggup menahan napas jauh lebih lama daripada orang lain, toh pergantian napas masih diperlukan juga untuk tetap mempertahankan gerakan tubuhnya itu.
Tapi kenyataannya sekarang, hanya dengan meminjam tenaga pukulan orang untuk berganti napas, gadis berbaju perak itu sanggup bertahan terus diudara sekian lamanya, tak heran kalau semua orang menjadi tercengang dan tertegun dibuatnya.
Padahal darimana mereka bisa tahu kalau semenjak masih kecil gadis berbaju perak ini telah melatih ilmu Kiu hian tay boan yok sin ing yang maha lihay itu?
Sudah lama jalan darah penting Jin meh serta Tok mehnya telah berhubungan langsung dengan Im meh serta Yang meh, otomatis dengan tertembusnya nadi-nadi penting tersebut, kemampuannya untuk menahan napaspun berkali-kali lipat lebih hebat daripada orang lain.
Gak Lam kun yang menyaksikan demonstrasi ilmu sakti dari si nona berbaju perak itu, pelbagai pertanyaan yang mengalutkan pikiranpun segera bermunculan memenuhi benaknya.
Dia tidak habis mengerti, kenapa dikala gadis berbaju perak itu sedang beradu kepandaian dengan dirinya ternyata enggan mengeluarkan semua ilmu silat simpanannya untuk mengalahkan dia?
Ataukah mungkin ia sedang menuruti perintah dari ibunya untuk menyerahkan Lencana tersebut kepadanya, kemudian baru merampasnya kembali dari tangannya?
Sementara itu Ji Cin peng dengan alis mata berkernyit telah berkata pula dengan suara lirih.
Baca Juga: Anak Rajawali 1
Baca Juga: Duri Bunga Ju 2