Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bayangan Setan 4

Eps 4 Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung

Baca online Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung

Cersil Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung.

"Gerakan Ngo Ing Lian Tan atau lima suaru menyentil bersama ini baru betul-betul merupakan ilmu sakti yang jarang terlihat di dalam kolong langit. Walaupun pada mulutnya dia berbicara begitu merendah padahal tangannya sejak tadi sudah berubah jurus, kakinya maju ke depan sedang tubuhnya berputar ke belakang punggungnya ujung jubahnya bagaikan sambaran kilat berturut turut melancarkan lima buah serangan gencar. Kelima buah serangan ini dilancarkan begitu cepat bagaikan berkelebatnya kilat membelah langit, tampaklah bayangan jubah berkelebat memenuhi angkasa dan mengancam seluruh jalan darah penting pada tubuh Tan Kia-beng Dalam hati Tan Kia-beng merasa sangat terperanjat sekali, dia merasa nama besar dari ciangbunjin Siauw-lim-pay ini bukanlah nama kosong belaka kepandaian silatnya jauh lebih tinggi beberapa kali lipat dari Siong Hok Tootiang sekalian. Tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali, dengan cepat dia bersuit panjang tubuhnya menerjang kembali ke dalam kurungan bayangan telapaknya, jurus jurus aneh dari Teh-leng-bun segera dilancarkan keluar dengan sengitnya, berebut serang menyerang dengan dirinya. Suatu pertempuran yang sengit menyeramkan seketika itu juga sudah berlangsung dengan amat ramainya. Tua muda dua orang ini yang satu adalah gunung Thay-san dari Bulim, ciangbunjin dari Siauw-lim-pay yang namanya sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan sedang yang lain adalah manusia berbakat aneh yang merupakan jelmaan dari Han Tan Loojien itu Kauwcu dari Teh Leng Bun. Disatu pihak berusaha mempertahankan nama baik dari Siauw-lim-pay yang sudah ada ratusan tahun lamanya menjagoi Bulim dilain pihak hendak menggunakan pertempuran ini untuk merebut kedudukan bagi Teh Leng Kauw nya di dalam dunia kangouw, membuat pertempuran ini semakin beruntung semakin dahsyat, ilmu ilmu silat yang ditemui semuanya sudah dikerahkan keluar. Tetapi pertempuran diantaramereka sama sekali berbeda dengan pertempuran yang terjadi seperti biasanya masing-masing pihak berganti jurus serangan dengan amat cepatnya belum sempat satu jurus digunakan habis di tengah perjalanan sudah berganti lagi dengan jurus yang lain, adakalanya pula satu jurus belum sampai digerakan masing-masing pihak sudah menggunakan sembilan gerakan yang berbeda, bahkan serangan yang digunakanpun merupakan gerakan yang amat aneh. Ci Si Thaysu mempunyai tenaga dalam yang dilatih hampir mendekati seratus lamanya, apalagi mendapatkan pula seluruh inti sari dari ilmu silat Siauw-lim-pay, setiap jurus jurus yang digunakan tidak ada yang bukan jurus jurus sakti yang menggetarkan dunia kangous, setiap gerakannya mempunyai perubahan yang amat banyak sekali Sedangkan Tan Kia-beng yang dikarenakan waktu yang amat singkat buatnya untuk memperdalam ilmu silat yang termuat di dalam kitab pusaka Teh Leng Cin Keng membuat banyak rahasia yang belum sempat dipahami olehnya dengan adanya pertempuran ini maka sama saja artinya memberi satu kesempatan yang paling bagus buat dirinya untuk mendalami ilmu silat tersebut. Ci Si Thaysu tidak malu disebut sebagai seorang ketua partai besar, serangan yang digunakan semuanya dilakukan dengan benar-benar dan sungguh sungguh, tidak perduli jurus serangan itu bagaimana ganas serta dahsyatnya disemua tempat dia menaruh belas kasihan yang berlebih lebihan, membuat keadaan pertempuran itu tidak mirip dengan suatu pertempuran sengit yang sering terjadi. Dengan demikian hal ini merupakan satu kesempatan yang paling baik bagi Tan Kia-beng untuk memahami jurus silatnya. Pada permulaannya dan masih ada sedikit gugup dan kacau, ada beberapa kali dia kena terserang oleh gerakan yang amat aneh dari Ci Si Thaysu sehingga membuat dia terdesak mundur dalam keadaan yang menggemaskan. Tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang yang cerdik, setiap kali keadaanya terdesak, dari dalam benaknya yang sudah betul-betul hapal terhadap seluruh isi kitab pusaka Teh Leng Cin Keng itu dia bisa memperoleh jawaban yang memuaskan, setiap menghadapi keadaan yang sangat berbahaya cukup dengan satu dua gerakan yang amat aneh dia sudah berhasil mendesak Ci Si Thaysu untuk kembali Setelah lewat seratus jurus kecerdasan dari Tan Kia-beng pun semakin bertambah tajam, jurus jurus serangan yang dipahami pun bertambah banyak sehingga setiap kali melancarkan serangan dia bisa memunahkan serangan lawan dengan amat mudah bahkan serangannyapun semakin lama semakin cepat Ci Si Thaysu yang melihat lawannya makin lama makin bertambah lihay hatinya menjadi amat terperanjat, sewaktu turun tangan tadi dia sudah merasakan pemuda ini sekalipun tenaga dalamnya amat tinggi tapi jurus serangannya terbatas dan tidak begitu hapal, dia percaya tidak membutuhkan waktu yang lama dia sudah berhasil menawan dirinya. Siapa sangka pekerjaan yang kelihatannya gampang ini ternyata amat sukar sekali, sewaktu keadaannya sudah berhasil dia desak sehingga amat berbahaya ternyata dia pandai menggunakan jurus jurus aneh yang belum pernah ditemuinya untuk mematahkan jurus serangannya sendiri. Berbarengan pula dia merasa terkejut juga atas kedahsyatan dari tenaga dalam pemuda itu yang seperti mengalirnya air di tengah samudra yang mengalir keluar tidak ada habis habisnya. Waktu makin lama tenaga dalam yang dimilikinya bukannya bertambah lemah sebaliknya semakin menghebat, pukulannya pun makin lama makin dahsyat. Di dalam sekejap saja dua ratus lima puluh delapan jurus sudah berlalu dengan cepatnya, Tan Kia-beng makin lama makin lancar di dalam melancarkan serangannya, hawa pukulan yang ditimbulkan oleh serangannya pun laksana angin topan yang mengamuk, jurus serangannya selalu berhasil merebut posisi penyerangan terlebih dahulu membuat tubuh Ci Si Thaysu yang tinggi besar seketika itu juga terkurung di dalam bangunan telapak yang mengaburkan pandangan. Ci Si Thaysu yang melihat nama baiknya terancam bahaya, sekalipun dia adalah seorang pendeta beribadat tinggi yang napsu ingin menangnya sudah lenyap tetapi pada saat ini dia mau tidak mau harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya juga untuk melakukan perlawanan. Tiba-tiba terdengar suara pujian Buddha yang amat keras, seluruh tubuhnya mendadak berkeruduk dengan amat keras, tubuhnya yang sudah tinggi besar membesar lagi sebanyak lima cun. Telapak tangannya yang putih halus dengan perlahan-lahan diulur keluar dari balik jubah. Di tengah berkelebatnya telapak serta tendangan kilat yang tajam hanya di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan dua puluh satu pukulan serta tujuh buah tendangan maut Kehebatannya kali ini sama sekali berbeda dengan keadaan semula hampir hampir setiap jurus serangannya tentu mengakibatkan hawa pukulan yang membelah bumi, dimana serangan melanda suara menderunya angin pukulan segera memekikkan telinga membuat para penonton yang ada disamping kalangan pada mengundurkan diri ke belakang terburu-buru. Saat ini Tan Kia-beng merasakan semangatnya berkobar kobar, melihat datangnya serangan dari sang hweesio yang begitu lihay dia segera tertawa panjang, tubuhnya meloncat ke atas menyambut datangnya serangan musuh. Demikianlah mereka berdua dari pertempuran jurus melawan jurus kini telah berubah menjadi adu tenaga dalam untuk berusaha merebut kemenangan Semula perhatian para jago yang hadir disamping kalangan terkena sedot oleh keanehan dan kesaktian dari jurus serangan mereka berdua bahkan menaruh harapan terhadap Ci Si Thaysu, tetapi sewaktu melihat semangat dari Tan Kia-beng semakin lama bertambah hebat tidak terasa mereka mulai menaruh rasa kuatir atas keselamatan dari Ci Si Thaysu itu ciangbunjin dari Siauw-lim-pay.

"Bagaimana?"

Tiba-tiba yang LOo Hoo Cu kepada Si Pendekar Satu Jari, Ko Cian Sim sambil menggerak gerakkan jarinya, dia yang jadi orang amat licik dan banyak akal, saat ini wajahnya sudah diliputi oleh napsu membunuh yang membara.

Maksudnya dia hendak mengundang keenam orang cianbunjin lainnya untuk bersama-sama bergebrak maju mengerubuti Tan Kia-beng seorang, cuma saja dia merasa tidak enak untuk berbicara terang terangan.

si Pendekar Satu Jari Ko Cian Djen adalah seorang yang bersifat pendekar, dia merasa dengan kedudukannya sebagai seorang ciangbunjin satu partai besar bila mana diharuskan bertempur melawan seorang angkatan muda hal ini sudah sangat memalukan sekali, apalagi harus mengerubuti bersama-sama?

dengan hati kurang senang dia gelengkan kepalanya perlahan, sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke arah Leng Hong Tootiang dari Bu-tong-pay.

Leng Hong Tootiang segera menghela napas panjang, ujarnya.

"Dia bukanlah Si Penjagal Selaksa Li.... apalagi Ci Si Thaysu pun tidak akan menyetujui."

Dengan langkah perlahan dia mendekati ke tengah kalangan.

---0-dewi-0---Ketua partai dari sebelah Selatan ini jadi orang paling cermat dan berbudi, kini dia merasakan hatinya amat murung sekali dia kuatir nama baik dari Ci Si Thaysupun harus menemui kehancuran di dalam pertempuran kali ini, tetapi diapun menaruh rasa kasihan terhadap pemuda itu karena dia selalu menganggap bahwa peristiwa pembunuhan berdarah yang terjadi di dalam perkampungan Cui-cu-sian ini pasti bukan hasil pekerjaan dari pemuda ini.

Phu Cing Thaysu serta Kuang Hoat Tootiang yang melihat Leng Hong Tootiang sudah maju ke depan segera sudah salah menganggap dia sudah menyetujui maksud hati dari Lo Hu Cu maka merekapun mulai bergeser mendekati tengah kalangan terpaksa Si Pendekar Satu Jari Ko Cian Djin pun mengikuti dari belakang Loo Hu Cu mulai bergerak maju ke depan....

Begitu kelima orang ciangbunjin itu bergerak Cap Pwee Loo Han dari Siauw-lim-pay kecuali dua orang yang terbunuh dan tiga orang kehilangan lengan, tiga belas orang hweesio dengan mencekal toyanya masing-masing dengan pusatkan seluruh perhatiannya memperhatikan gerak gerik di tengah kalangan mereka siap turun tangan bilamana melihat ciangbunjin mereka sudah tidak tahan lagi Sedangkan Kun lun Pat To untuk membalas rasa malu dimana pedang mereka sudah terbabat putus dan lengan pada terluka sejak semula dengan mencekal kencang kencang delapan bilah pedang sudah tersebat di sekeliling kalangan dan membentuk satu barisan pedang yang amat kuat, atau tidak perduli Tan Kia-beng menang atau kalah mereka sudah siap-siap melancarkan serangannya.

Waktu ini keadaan dari Tan Kia-beng benar-benar sangat berbahaya sekali.

TEtapi kedua orang yang sedang bertempur di dalam kalangan itu sama sekali tidak memperhatikan akan hal ini, seluruh perhatian mereka dipusatkan untuk berusaha merebut kemenangan Sebetulnya buat Ci Si Thaysu sendiri dia sejak semula sudah tidak mempunyai keinginan untuk merebut kemenangan, tetapi dikarenakan untuk menjaga Nama besarnya terpaksa dia harus berbuat demikian.

Sejak dua puluh tahun yang lalu untuk pertama kalinya dia menjabat sebagai ciangbunjin belum pernah bergebrak melawan seseorang, pertempuran malam ini boleh dikata untuk kedua kalinya dia bertempur secara kekerasan melawan musuhnya bahkan pihak lawanpun tidak lebih cuma seorang pemuda yang kelihatannya amat lemah.

Sampai saat ini jurus serangan yang mereka berdua lancarkan sudah ada di atas lima ratus jurus banyaknya, Ci Si thaysu yang tidak berhasil menguasahi pihak lawannya makin lama kesempatannya makin berkurang sedang posisinyapun makin terdesak hatinya tidak terasa lagi mulai merasa cemas bercampur kaget, kelihatannya dia sudah tidak punya harapan lagi untuk memperoleh kemenangan bahkan kemungkinan sekali bakal menemui kekalahan ditangan pemuda itu.

Pikirannya dengan cepat berputar di dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk memperoleh kemenangan dengan cara bagaimanapu.

Jurus serangannya dengan cepat berubah.

Telapak tangannya dengan mendatar dada mendesak didorong ke depan dengan hebatnya, segera terasalah segulung tenaga hawa yang amat santer disertai suara menggeletarnya guntur menyambut datangnya Tan Kia-beng dengan dahsyat.

Tan Kia-beng sama sekali tidak menyangka di dalam keadaan seperti ini, dia bisa secara tiba-tiba mau mengadu kekerasan dengan dirinya, di dalam keadaan gugup kecuali menerima serangan tersebut dengan kekerasan satu satunya jalan cuma mundur ke belakang Dengan sifatnya yang jumawa dia mana mau memperhatikan kelemahannya?

dengan cepat hawa murninya disedot lalu disalurkan satu lingkaran mengelilingi tubuhnya, sepasang telapak tangannya dengan membuat lingkaran dengan cepat didorong ke depan dengan mendatar.

Dengan santaranya tenaga Im serta tenaga Yang itu bentrok menjadi satu sehingga mengakibatkan suara ledakan yang amat keras masing-masing pihak tidak kuasa lagi pada mundur dua langkah ke belakang.

Ci Si thaysu segera memuji keagungan Buddha.

"Omintohud.... omintohud, Siauwhiap apakah berani menerima jurus "Djin Mo Kiam Ci"

Dari Loolap?"

Serunya. Tan Kia-beng tertawa terbahak-bahak.

"Napsu membunuh sudah timbul, cayhe memangnya sudah terjerumus ke dalam golongan iblis kenapa takut jurus kawanan iblis hilang lenyap dari dirimu itu?"

Teriaknya mengejek.

"Bluum....!"

Di tengah kalangan segera menggulung datang rentetan hawa pukulan yang amat keras Ci si thaysu berturut turut mundur tiga langkah ke belakang sebuah jubah hwesionya yang amat besar mendadak bergelembung seperti bola menahan datangnya serangan itu.

Air muka dari Tan Kia-beng segera berubah memerah, tubuhnya dengan amat cepatnya mengundurkan diri tiga langkah ke belakang Mendadak dia membentak kembali.

Silahkan Taysu merasakan jurus Can Pek Put Hun ku yang lihay.

Tubuhnya sekali lagi menubruk maju ke depan, dari tengah udara dia kirim satu pukulan dahsyat ke depan.

Jurus pukulan ini datangnya laksana angin topan yang bertiup di tengah udara, kecepatannya luar biasa, ternyata dari hawa pukulan Im dia sudah mengubah jadi pukulan hawa Yang yang amat hebat.

"Iiihh....."

Tiba-tiba Ci si taysu menjerit tertahan.

Karena dia segera merasakan datangnya serangan ini amat kuat bahkan tenaga pukulannya merupakan hawa khe kang dari aliran lurus yang amat hebat, ilmunya ini sama sekali berlainan dengan jurus jurus serangan yang termuat di dalam aliran Teh-leng-bun, karena itulah dia merasa amat keheranan bercampur terperanjat.

Tetapi saat ini hawa Khie kang yang amat dahsyat itu sudah melanda datang laksana tindihan gunung Thay-san, hal ini tidak memberikan dia berpikir panjang lagi, tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping sepasang telapaknya bagaikan berputarnya roda kereta melancarkan bayangan telapak yang amat banyak menyambut serangan tersebut.

Dua gulung angin pukulan yang amat dahsyat bertemu di tengah udara dan meledak dengan amat kerasnya, pasir serta debu pada beterbangan memenuhi angkasa membuat pandangan menjadi kabur.

Pada saat itulah tubuh Tan Kia-beng sudah terpental oleh tenaga pukulan dari Ci si taysu sehingga tergetar mundur tida depa ke tengah udara, dia cuma merasakan dadanya amat sesak sehingga sukar untuk bernapas, dengan meminjam kesempatan ini tubuhnya dengan cepat berputar mengelilingi udara mendadak dia membentak keras lalu menerjang ke bawah dengan amat cepatnya.

Bersamaan pula waktu itu tubuh Ci si Taysu sedang meloncat ke atas sehingga serangan mereka kembali bertemu di tengah udara....

"Braakk.... empat telapak bertemu kembali sehingga mengakibatkan getaran yang amat keras, tubuh mereka berdua sama-sama melayang turun kembali ke atas tanah. Para jago lainnya yang melihat kejadian ini tidak terasa lagi menjadi sangat terkejut sekali, Cap Sah Loo Han dari siauw lim pau yang mengira Ciangbunjin sudah menemui bencana bersama-sama dengan gusarnya membentak keras lalu menerjang ke depan. Terlihatlah Ci Si thaysu dengan duduk bersila meninggalkan permukaan kurang lebih setengah depa, sepasang tangannya disilangkan di depan dada membentuk gaya seperti pagoda, kini sepasang telapaknya menempel rapat rapat dengan tangan kiri Tan Kia-beng. Sebaliknya tubuh dari Tan Kia-beng laksana seekor capung dengan sepasang kakinya berada di tengah udara. tetapi sepasang telapaknya dengan kencangnya merapat dengan sepasng telapak dari Ci si Thaysu. Melihat kejadian ini walaupun di dalam hati Ca Sah Loo Han merasa rada lega tetapi toja yang ada ditangannya bagaikan titiran air hujan tetap melancarkan serangan gencar menghajar ketubuh Tan Kia-beng. Pada saat ini jangan dikata toja yang amat berat apalagi disertai tenaga pukulan yang hebat, sekalipun sebuah kayu kecil saja jikalau dipukulkan ke atas tubuhnya dia tentu akan terkejut dan dengan demikian dirinya akan terpukul binasa oleh getaran tenaga dalam Ci si thaysu. Kelihatan sekali ketiga belas toja yang memancarkan sinar keemasan dan menyilaukan mata itu desertai suara desiran angin pukulan yang amat keras hampir mendekati tubuh Tan Kia-beng. Mendadak.... Terlihatlah serentetan sinar keperak perakan bagaikan kilat cepatnya berkelebat dari arah samping.

"Traaang.... traang....!"

Seluruh toya tersebut sudah berhasil dipukul pental. tampaknya Leng Hong tootiang dari Bu-tong-pay dengan wajah angker berdiri didamping tubuh kedua orang itu.

"Siauw-lim-pay adalah sebuah partai yang lurus bagaimana kalian bisa melakukan pekerjaan seperti ini dengan meminjam kesempatan orang sedang menghadapi bahaya melancarkan serangan bokongan?"

Ujarnya dingin.

"Apa kalian tidak takut dibuat bahan tertawaan oleh jago-jago Bulim lainnya? Walaupun orang ini bisa berbuat banyak kejahatan, tetapi kalian bisa menunggu setelah menang kalah sduah terlihat kalian baru bersama-sama melancarkan serangan gabungan, saat ini kalian dilarang mengganggu seujung rambutnyapun."

Cap sah Loo Han yang tadi merasa kuatir atas keselamatan dari ciangbunjinnya tanpa berpikir panjang sudah mengikuti nafsu melancarkan serangan.

kini setelah mendapatkan tegoran dari Leng Hong Tootiang tidak terasa lagi dengan perasaan menyesal pada menundukkan kepalanya menjura, dengan perlahan-lahan mereka mengundurkan diri kembali ke tempat semula Tiba-tiba terlihat Loo Hu Cu dari Go-bie Pay dengan wajah yang menyengir licik berjalan mendekati Leng Hong Tootiang yang masih berdiri di tengah kalangan dengan angkernya itu.

Perkataan dari Leng Hong Too heng sedikitpun tidak salah, kita orang mana boleh beruntungan dengan menggunakan kesempatan orang lain lagi dalam keadaan bahaya?

Dia jadi orang amat licik sekali, dia tahu pertempuran mengadu tenaga dalam semacam ini keadaannya sangat berbahaya sekali, sedikit lengah saja pihak yang menderita kalah akan menemui suatu akibat yang sangat berat sedang pihak yang lain menang pun akan kehilangan tenaga murninya dalam jumlah yang besar.

Misalnya mereka berdua sedang seimbang maka akhirnya kedua belah pihak pun sama-sama akan menderita kekalahan Di dalam hati dia paham kalau diantara tujuh partai besar tenaga dalam dari Ci Si Taysu paling sempurna, dia adalah satu satunya musuh tangguh di dalam perebutan gelar jagoan nomor wahid dikemudian hari.

Bilamana pada saat ini kedua duanya dibiarkan menemui kerugian maka tanpa bergebrak secara langsung dia sudah kehilangan dua orang musuh tangguh, karena itulah dia pun tidak mau mengusulkan kepada yang lain untuk melukai Tan Kia-beng sebelum mereka berdua memperoleh keputusan tiap menang tiap kalah.

Pada saat ini begitu tubuh Tan Kia-beng mencapai di atas permukaan tanah dengan cepat dia duduk bersila saling berhadap hadapan dengan Ci Si Taysu.

Selama semalaman in berturut turut Tan Kia-beng harus melawan Cap Pwee Loo Han dari Siauw-lim-pay kemudian Kun-lun-pay To serta Siong Hok Tootiang.

tenaga murninya sudah banyak berkurang.

Saat ini diapun diharuskan beradu tenaga dalam lagi dengan Ci Si Taysu membuat dia akan mereka badannya amat lelah sekali.

Apalagi para jago yang berdiri diluar kalangan pada saat ini sedang memandangi dirinya dengan mata melotot, hal ini membuat pikirannya tambah terbayang dan tidak dapat memusatkan perhatiannya.

Dengan demikian dia semakin merasa tenaga dalam dari pihak lawan semakin berat laksana tindihan gunung Thay-san, hawa murninya sendiri yang ada di dalam pusar hampir hampir terasa mau buyar dibuatnya.

Di dalam hati dia merasa amat cemas, mendadak hawa murninya disalurkan keluar sesuai dengan ajaran ilmu Lweekang "Pek Tian Sin Kang."

Hawa murninya dari golongan Im kini berubah jadi tenaga Yang yang amat dahsyat.

Tetapi karena dia menarik hawa murninya terlalu keras itulah mendadak dia merasakan dadanya bergolak keras, hawa Im serta hawa Yang yang ada di dalam tubuhnya bersama-sama mencampur jadi satu dengan hawa murninya yang sebenarnya.

Laksana gulungan ombak yang dahsyat dengan tidak henti hentinya hawa murninya mengalir keluar dan menerjang kebadan musuh.

Dia sudah ada pengalaman satu kali, sekalipun dia tidak tahu hal ini diakibatkan oleh pil sakti dari ular ribuan tahun serta tenaga murni dari Han Tan Loodjin yang belum mencair dan bergabung menjadi satu tetapi dia tahu hal ini tentu ada sebab sebabnya, Sembari mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan pihak musuh diam-diam dia mulai menyalurkan hawa murninya dengan perlahan-lahan mencairkan kedua buah tenaga murni itu sehingga bersatu dengan tenaga murninya sendiri.

Begitu mulai melancarkan serangannya Ci Si Thaysu sudah memperoleh posisi yang amat baik membuat hatinyapun semakin manatap; Dengan cepat dia mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dilatihnya selama puluhan tahun ini untuk mendesak pihak lawannya.

Mendadak dia merasakan tenaga dalam dari pihak lawan semakin dahsyat lagi, sebentar keras sebentar lunak dengan dahsyatnya mengalir keluar menerjang badannya membuat dia tak terasa lagi menjadi sangat terkejut.

Dia segera menggigit kencang bibirnya sendiri tenaga dalamnya dikerahkan jadi sepuluh bagian untuk menahan datangnya serangan yang bertubi tubi itu.

Walaupun untuk sementara dia bisa menahan serangan itu tetapi badannya terasa amat tersiksa.

Tidak sampai seperminum teh kemudian dari keningnya mulai mengucur keluar keringat sebesar kacang kedelai wajahnya berubah jadi merah darah jubahnya yang dipakai seketika itu juga sudah dibuat basah kuyup.

Sebaliknya pada saat ini Tan Kia-beng duduk bersila dengan amat tenangnya, satu senyuman manis menghiasi bibirnya.

bahkan kelihatan tidak ngotot hal ini menunjukkan kalau tenaga dalamnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari pihak lawannya.

Semua jago yang ada di dalam kalangan ketika dapat melihat keadaan seperti ini tidak terasa lagi pada menaruh rasa kuatir juga bagi keselamatan Ci Si thaysu apalagi ketiga belas Loo han itu dengan mencekal toyanya kencang kencang mereka mulai bergerak menerjang masuk ke tengah kalangan.

Toyanya diangkat ke atas siap-siap melancarkan serangan, agaknya mereka sudah mengambil keputusan sedikit Ci Si taysu kelihatan berbahaya maka mereka bersama-sama akan turun tangan membinasakan Tan Kia-beng.

Pada saat semua orang merasakan hatinya berdebar debar dan suasana semakin tegang itulah....!

Mendadak....

Dari tengah udara tiba-tiba berkumandang datang suara tertawa aneh yang amat menyeramkan sehingga mirip dengan suara gekikan burung hantu yang mendirikan bulu roma, sesosok bayangan manusia bagaikan sambaran kilat cepatnya melayang turun ke tengah kalangan kemudian menerjang masuk mendekati kedua orang itu.

Secara samar-samar para jago dapat melihat orang ini agaknya adalah seorang kakek tua berjubah hitam mukanya berkerudung.

Ketiga belas orang Loohan segera bersama-sama membentak keras, tiga belas buah toya yang memancarkan sinar keemas emasan mendadak berkelebat membentuk satu dinding sinar yang amat kuat dihadapan kedua orang itu dan menahan datangnya terjangan dari orang tersebut.

Orang itu segera tertawa dingin, tubuhnya bagaikan bayangan setan dengan amat cepatnya berputar di tengah udara untuk menerjang masuk ke dalam dinding sinar itu kemudian dengan mengayunkan tangannya dia melancarkan satu pukulan dahsyat yang amat dingin dan laksana ambruknya gunung Thay-san menekan Ci si Thaysu berdua agaknya dia bermaksud untuk membinasakan kedua orang itu sekaligus.

---0-dewi-0---JILID.

11 Perubahan yang terjadi diluar dugaan ini berlangsung terlalu mendadak, sekalipun di tengah kalangan berdiri berpuluh puluh orang jagoan berkepandaian tinggi ternyata tak seorangpun yang sempat menghalangi datangnya angin pukulan itu.

Pada saat itulah dari luar kalangan mendadak berkumandang datang suara pujian kepada Sang Buddha, sesosok bayangan abu abu dengan cepatnya melayang masuk ke tengah kalangan kemudian, diikuti segulung angin pukulan yang lunak mengalir keluar menyambut datangnya angin pukulan si orang tua berjubah hitam itu.

Seketika itu juga suara ledakan yang amat bergema memenuhi seluruh angkasa, terdengar kakek tua itu mendengus berat mendadak tubuhnya meloncat setinggi tujuh delapan kaki kemudian bagaikan seekor burung elang dengan cepatnya berkelebat meninggalkan tempat itu.

Kedatangan maupun kepergiannya amat cepat bagaikan tiupan angin berlalu, semua jago yang ada disana ternyata tidak sempat untuk melihat siapakah bayangan manusia yang baru saja berkelebat itu.

Bayangan abu abu yang datang terakhir pun agaknya tergetar olah angin pukulan tersebut, tubuhnya berturut turut mundur beberapa depa ke belakang baru berhasil berdiri tegak kiranya orang itu bukan lain adalah Sam Koan Sin nie yang namanya sudah menggetarkan seluruh Bulim.

Dengan wajah yang amat murung sekali dia gelengkan kepalanya lalu menghela napas panjang, mendadak tubuhnya mencelat kembali ke atas diantara berkibarnya ujung baju tubuhnya dengan cepat meluncur ke depan mengejar ke arah bayangan hitam yang meninggalkan tempat itu terlebih dulu.

Untung sekali Ci Si Thaysu serta Tan Kia-beng yang sedang mengadu tenaga dalam tidak sampai terpukul oleh angin pukulan yang dilancarkan kakek tua berjubah hitam yang berkerudung itu, sekalipun begitu mereka pun tergetar juga oleh dorongan angin pukulan tersebut sehingga pada mendengus berat kemudian berpisah dan masing-masing menggelinding di atas tanah sejauh dua kaki.

Sewaktu semua orang merasa sangat terkejut dan bingung dengan kejadian yang sudah berlangsung barusan ini.

kembali terlihat sesosok bayangan merah bagaikan kilat cepatnya berkelebat masuk ke tengah kalangan kemudian bungkukkan badan mengendong tubuh Tan Kia-beng.

Sedikit ujung kakinya menutul permukaan tanah tubuhnya dengan amat ringannya sudah meloncat keluar dari tembok pekarangan dan melayang ke arah hutan diluar perkampungan Cui-cu-sian.

Loo Hu Cu yang melihat Tan Kia-beng berhasil ditolong oleh dia jadi amat gusar sekali, dengan cepat dia membentak keras tubuhnya dengan dahsyatnya menubruk ke arah tembok pekarangan itu.

Tetapi pada waktu dia menubruk ke depan itulah sinar pedang dari Kun lun Pat To sudah berkelebat memenuhi angkasa kemudian bersama-sama mengejar dari belakangnya.

Pada saat itu kembali terasa segulung angin pukulan berhawa dingin menggulung datang, terlihat sesosok bayangan putih diiringi suara tertawanya yang amat merdu meloncat keluar dari balik tembok kemudian dahsyat ke arah para jago Melihat datangnya serangan yang amat gencar itu mereka semua pada terdesak turun dari atas tembok.

"Pek Ih Loo Sut!"

Seru mereka berbareng dengan terkejut.

Tetapi di dalam sekejap mata itu pula bayangan putih itu sudah lenyap tak berbekas.

Ilmu pukulan yang digunakan kakek berjubah hitam yang berkerudung tadi adalah ilmu pukulan "Teh Yang Mo Ciang"

Yang merupakan ilmu tunggal dari si "Penjagal Selaksa Li"

H Hong, sedang orang yang menahan kejaran para jago pun adalah putrinya si Pek Ih Loo Sat"

Hu Siauw-cian adanya.

Dengan adanya kejadian ini maka para jago dari tujuh partai besar semakin menganggap kalau pembunuhan berdarah yang terjadi di dalam perkampungan Cui-cu-sian adalah perbuatan dari si Penjagal Selaksa Li Hu Hong serta Tan Kia-beng.

Setelah rasa terkejut yang mencekam di hati para jago dapat diredakan terdengarlah dari Lo Hu Cu memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan Semula pinto masih menaruh sembilan bagian rasa welas asih kepada mereka, tetapi kini loohu tidak bisa berbicara lagi kami Go bi pay bersumpah akan menggunakan cara apapun untuk bergebrak dan mencari gara gara dengan kawanan iblis itu.

Leng Hong Tootiang dengan termenung menundukkan kepalanya rendah rendah dia merasa amat malu sekali dengan kejadian yang baru saja terjadi ini.

Tujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar ada lima orang yang hadir dikalangan tetapi tidak disangka mereka berlima tidak berhasil mencegah orang lain untuk melukai dan menolong kawannya.

Semula si kakek tua berkerudung itu yang ada kemungkinan adalah si Penjagal Selaksa Li Hu Hong munculkan dirinya kalau dia sih masih mendingan tetapi kemudian orang yang menolong Tan Kia-beng jelas adalah dua orang gadis yang usianya masih muda.

Bilamana peristiwa ini sampai tersiar di dalam Bulim mau kemanakan wajah dari tujuh partai besar?

Bagaimana mereka bisa memimpin Bulim lagi?

dengan sangat menyesalnya dia menghela napas panjang kemudian tubuhnya meloncat melewati tembok pekarangan seorang diri dia meninggalkan perkampungan Cui Cu Sian itu terlebih dulu.

Ketiga belas orang Loo Han dari Siauw-lim-pay pun segera menggotong pergi Ci Si Thaysu yang sudah jatuh tidak sadarkan diri saking kagetnya, bersama-sama dengan ketiga orang hwesio yang terluka mereka meninggalkan tempat itu dengan hati yang murung.

Diikuti para jago dari partai lainnyapun berturut turut saling susul menyusul meninggalkan tempat tersebut.

Demikianlah peristiwa pembunuhan massal yang terjadi diperkampungan Cui Cu Sian dengan amat cepatnya sudah tersiar di seluruh kalangan dunia persilatan bagaikan api yang membakar lapangan siang siang dengan cepatnya berita itu sudah menjalar keseluruh pelosok tempat bahkan sudah menggemparkan para jago baik dari kalangan Pek-to maupun dari kalangan Hek-to.

Para partai yang kehilangan orangnya di dalam pembunuhan itu semakin dibuat gusar lagi mereka bersumpah hendak membunuh iblis ganas penyebab kekacauan di Bulim ini.

Si Penjagal Selaksa Li yang namanya sudah menggetarkan seluruh sungai telaga saat ini sudah dianggap sebagai duri di depan mata, dimana saja dia sampai tentu ada orang yang mengejar dan hendak membunuh dia, sebaliknya Tan Kia-beng yang dikarenakan memiliki pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam memancing pula keinginan orang lain untuk merebutinya.

Dengan demikian hampir boleh dikatakan dimana mana berkelebat bayangan iblis setiap langkah bergerak maju keadaan situasi sangat berbahaya sekali setiap kali ada ancaman bahaya maut Tetapi sejak Tan Kia-beng ditolong pergi oleh bayangan merah itu ternyata lama sekali dia tidak munculkan dirinya kembali di dalam Bulim, sebetulnya dia pergi ke mana?

Dan bagaimana dengan keadaan lukanya?

---0-dewi-0---Kita balik pada Tan Kia-beng yang berada di dalam keadaan tidak sadar sudah ditolong oleh orang lain dan dibawa lari meninggalkan perkampungan Cui Cu sian itu.

Entah sudah berlari seberapa lamanya akhirnya gadis berbaju merah itu baru berhenti berlari dan dengan perlahan meletakkan badan Tan Kia-beng ke atas tanah.

Sepertanakan nasi kemudian Tan Kia-beng baru sadar dari pingsannya, dia membuka matanya dengan perlahan tampaklah orang yang menolong dirinya ternyata adalah gadis berbaju merah yang mukanya berkerudung.

Gadis ini pernah ditemuinya satu kali di dalam kebun bunga dibelakang bangunan "Cun Ong Hu"

Waktu itu dia merasa potongan badannya sangat dikenal olehnya.

Saat ini setelah berhadap hadapan mata dia merasa potongan badannya semakin terasa pernah dikenal olehnya, tetapi pada waktu itu tidak ada kesempatan buatnya untuk banyak bertanya.

Diam-diam dia menyalurkan hawa murninya untuk mengitari seluruh tubuhnya satu kali saat itulah dia baru merasa kalau hawa murninya mulai membuyar, ada beberapa buah urat nadi serta jalan darahnya yang tersumbat Tidak terasa lagi dia menghela napas panjang Mendadak terdengar gadis itu membuka mulutnya bertanya dengan suara yang amat halus sekali.

"Bagaimana dengan keadaan lukamu?"

"Tiga urat nadi tersumbat delapan jalan darah sukar ditembusi"

"Lalu bagaimana sekarang?"

"Soal ini aku percaya masih ada cara untuk mengeatasi cuma saja aku membutuhkan waktu tiga hari baru bisa menembusi kembali urat nadi serta jalan darah tersebut...."

Selesai berkata dengan terhuyung huyung dia merangkak bangun menjura kepada gadis itu.

"Budi pertolongan dari nona untuk selamanya cayhe tidak bakal lupakan, dapatkah cayhe mengetahui nama besar dari nona?"

Ujarnya. Gadis itu segera tersenyum.

"Bertemu kenapa harus berkenalan?"

Ujarnya kemudian dengan nada yang penuh rasa kuatir sambungnya lagi.

"Saat ini jejak musuh tersebar di seluruh penjuru dunia badanmupun sedang menderita luka walaupun boleh dikata tiga hari kemudian badanmu bisa pulih kembali seperti sedia kala tetapi bilamana tidak ada orang yang menjaga dirimu bagaimana hal ini bisa terjadi? Heei sungguh membuat hatiku cemas, suhukupun melarang aku...."

Bicara sampai disini mendadak dia menelan kembali kata-katanya kemudian menghela napas panjang.

"Nona sudah menolong cayhe meloloskan diri dari mulut macan. budi tersebut aku tidak dapat melupakan untuk selamanya bagaimana sekarang cayhe berani minta nona untuk susah susah menjagakan diriku lagi?"

Ujarnya Tan Kia-beng sambil tertawa pahit Bilamana nona ada urusan silahkan berlalu"

Sehabis berkata dia merangkap tangannya siap berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan cepat gadis berbaju merah itu melayang ke depan menghalangi perjalanan.

"Kau tidak boleh berlari seenaknya!"

Teriaknya dengan cemas.

"kita pergi mencari satu tempat persembunyian yang baik dulu kau lantas mengobati lukamu disana sedang aku pergi mengerjakan perintah dari suhu, setelah urusan selesai aku segera akan kembali lagi bagaimana? Kau rasa baik tidak cara ini"

Tan Kia-beng cuma merasakan nada ucapan itu amat halus dan mesra sekali membuat orang merasa hatinya sedikit berdebar debar disamping itu diapun merasa suara itu sangat dikenal olehnya membuat dia semakin tertegun dibuatnya.

Sepasang matanya terbelalak lebar-lebar dan memperhatikan dirinya mulut melongo, untuk sesaat lamanya ternyata dia sudah lupa untuk memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

Ketika gadis itu melihat dia berkesikap demikian, tidak terasa senyuman manis kembali menghiasi bibirnya.

"Eeei kau kenapa?"

Tanyanya perlahan.

"Kenapa memandang aku terus tanpa berbicara apakah dibadanku ada gulanya? Saat itulah Tan Kia-beng baru merasa kalau sikapnya sekali tidak sopan, air mukanya seketika itu juga berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus. Sekonyong konyong.... Terdengar suara yang amat merdu bergema datang disusul dengan suara ketawa cekikikan yang amat ramai.

"Walaupun badanmu tidak bergula tapi mulutmu ada madunya.... hiii.... hii...."

Mendengar perkataan tersebut si gadis berbaju merah yang berkerudung itu jadi sangat terperanjat.

"Kau siapa?"

Bentaknya dengan keras.

Tampaknya bayangan merah berkelebat dengan cepat menubruk ke arah mana berasalnya suara tadi.

Baru saja gadis berbaju merah itu menubruk keluar dari hutan tersebut kembali tampak bayangan putih dengan cepat bagaikan kilat sudah menerjang kehadapan Tan Kia-beng kemudian menotok jalan darah tidurnya.

Setelah itu ia menggandeng tubuhnya ke dalam pelukan dan kembali melayang meninggalkan tempat itu Hanya di dalam sekejap saja mereka berdua sudah lenyap tak berbekas.

Tan Kia-beng yang urat nadinya serta jalan darahnya tersumbat pendengaran serta ketajaman matanya sudah tidak tajam lagi, menanti dia merasa adanya serangan bokongan dan siap hendak meronta waktu sudah terlambat dengan mudahnya dia berhasil ditawan oleh orang tersebut.

Entah lewat beberapa saat lamanya dia baru sadar kembali dari pingsannya, dengan cepat dia membuka matanya, dia menemukan dirinya berbaring disamping sebuah hutan bambu.

Si iblis wanita berbaju putih Hu Siauw-cian dengan mencekal tangannya.

Ketika Tan Kia-beng melihat dirinya tidak kuasa hawa amarahnya sudah berkobar kembali, dengan cepat meloncat bangun.

"Hmm tidak aneh kalau orang-orang kangouw pada siap sedia hendak bunuh kalian ayah beranak,"

Makinya dengan gusar.

"Kiranya kalian beranak memang berhati kejam dan buas."

"Eeeei.... kau bertemu dengan ayahku?"

Balik tanya Hu Siauw-cian dengan keheranan, sepasang biji matanya yang hitam dan jeli itu dengan amat menggiurkan memandang tajam dirinya.

"Hmm, bilamana aku bertemu dengan dirinya dia tidak bakal bisa lolos dengan begitu mudah dari tanganku"

"Heee heee, kau jangan mengira dengan kepandaianmu yang tidak seberapa itu lalu boleh bersikap sombong, kau kira ayahku mudah diganggu?"

Seru Hu Siauw-cian tertawa dingin "Perduli dia mudah diganggu atau tidak, aku orang she Tan bersumpah akan bunuh dirinya."

"Kau.... kau.... kau manusia tidak berbudi...."

Di tengah sembarang angin yang amat tajam mendadak Hu Siauw-cian meloncat maju ke depan kemudian ayunkan tangannya persen beberapa gaplokan ke atas pipinya.

Tan Kia-beng yang sekarang bukanlah seperti Tan Kia-beng dahulu, mana dia mau membiarkan dirinya terkena gaplokan tersebut?

"Kau cari gara gara...."

Bentaknya dengan keras Kakinya sedikit bergerak....

Sreet....

dengan disertai suara desiran yang amat keras dia melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan....

Tetapi sebentar kemudian dia sudah dibuat tertegun Bukankah urat nadi serta jalan darahku sudah tersumbat?

bagaimana sekarang aku bisa mengerahkan tenaga kembali?

pikirnya dalam hati.

Diam-diam dia segera menyalurkan hawa murninya untuk mengitari seluruh tubuh dia segera merasakan badannya sangat nyaman tidak terasa ada sedikit gangguan pun seketika itu juga dia jadi paham kembali.

Dia tahu tentunya setelah si iblis wanita berbaju putih Hu Siauw-cian menotok jalan darahnya yang tersumbat.

Ketika akan teringat sikapnya yang berangasan barusan ini di dalam hati dia jadi merasa riku dengan sendirinya, dengan perlahan-lahan dia angkat kepalanya memandang ke arahnya.

Tampak Hu Siauw-cian seperti juga keadaan semula sambil menyekal bambu dia memandang dirinya sambil tersenyum, sikapnya yang polos dan nakal itu benar membuat orang jadi kewalahan, mau marah pun dibuat tidak jadi.

Dengan langkah yang lebar dia segera berjalan maju ke depan lalu mengangkat tangannya menjura "Cayhe Tan Kia-beng mengucapkan banyak terima kasih atas budi kebaiakn dari nona yang menolong jiwaku"

Ujarnya halus Hu Siauw-cian segera menutup mulutnya dan tertawa cekikikan "Aduuhh.... aduhh.... dari mana datangnya begitu banyak adat yang konyol?"

Ejeknya. Tan Kia-beng tidak mau menggubris ejekannya itu, dengan kata-kata yang serius itu kembali ujarnya.

"Seorang lelaki sejati dapat membedakan mana yang berbudi mana yang dendam, walaupun nona ada budi terhadap cayhe tetapi peristiwa pembunuhan berdarah yang sudah terjadi dalam perkampungan Ciu Cu Sian cayhe tidak bisa untuk tidak bertanya kalau tidak berbuat berbuat demikian, bagaimana cayhe bisa bertanggung jawab terhadap orang-orang yang sudah mati itu?"

"Eeei kau sedang main sandiwara apa apa itu dendam.... apa itu sakit.... aku sama sekali tidak paham, baiknya kau bicara lebih jelas lagi."

"Apa kau tidak melihat sendiri kepala kepala manusia yang tergantung di depan pintu masuk perkampungan Cui-cu-sian? aku mau tanya padamu orang-orang itu sebenarnya ada dendam sakit hati apa dengan kalian ayah beranak? Kenapa kalian hendak menggunakan cara yang begitu kejam dan ganas untuk menghadapi mereka?"

"Aku minta kau jangan bicara sembarangan teriak Hu Siauw-cian tiba-tiba dengan gusar sedang badannya dengan cepat menerjang kehadapannya Ayahku sejak kembali dari gunung Go-bie sudah mengambil keputusan mau pergi cari perhitungan dengan si kakek berkerudung yang memalsu kami ayah beranak, sampai saat ini beritanya sama sekali tidak kedengaran."

Berbicara sampai disini dia merasa hidungnya jadi kecut dia titik air matanya menetes keluar membasahi pipinya, kemudian ujarnya lagi dengan sedih.

Dia takut kepergiannya kali ada bahaya maka dia ngotot tidak memperkenankan aku ikut serta bahkan menitipkan aku disuatu tempat yang tersembunyi aku yang harus berada di tempat yang begitu sunyi seorang diri lama kelamaan merasa tidak kerasan juga karena itu secara diam-diam aku kembali lagi keperkampungan Cui-cu-sian, siapa tahu tepat aku sudah bertemu dengan peristiwa berdarah tersebut akhirnya karena ingin melindungi dirinya aku tidak sempat lagi untuk menanyakan peristiwa ini lebih lanjut.

"Lalu apa kau tahu ayahmu sudah pergi ke mana?"

Tanya Tan Kia-beng keheranan.

"Bilamana aku tahu dia hendak pergi ke mana sekalipun dia tidak memperkenankan aku ikut akupun bisa secara sembunyi sembunyi mengikutinya."

"Kalau begitu urusan ini amat aneh sekali."

"Apanya yang aneh? urusan ini pastilah perbuatan dari orang yang mau mencelakai dan memfitnah kami, kau jangan mengira ayahku suka membunuh orang, padahal dia adalah seorang yang berperasaan halus, cuma saja sifatnya memang rada keras kukoay sekali. Selama ini dia selalu menganut. kau tidak mengganggu akupun tidak mengganggu orang lain. bilamana bukannya pihak lawan terlalu mendesak dirinya diapun tidak bakal mau turun tangan membunuh orang lain, aku berani memastikan kalau peristiwa yang terjadi di dalam perkampungan Cui-cu-sian bukanlah hasil pekerjaannya."

Tan Kia-beng sudah ada dua tiga kali bertemu muka dengan si penjagal sekasa li Hu Hong, dia pun merasa perkataan dari Hu Siauw-cian ini bukannya sedang membela ayahnya, sikap serta tindak tanduk dari Hu Hong agaknya memang seperti apa yang dikatakan ulhnya tidak terasa lagi di dalam hati dia mulai merasa ragu ragu.

Orang yang secara diam-diam mengacau dan sengaja memfitnah dirinya pasti bukan dikarenakan ada dendam sakit hati dengan si Penjagal Selaksa Li Hu Hong sasa pikirnya di dalam hati.

Dia tentu masih ada tujuan lain yang lebih besar bilamana dia mau memintah saja kenapa dia harus harus membunuh orang sebegitu banyaknya?

apakah dia tidak takut setelah peristiwa ini terseingkap maka dirinya bakal mengikat permusuhan dengan banyak orang?

Hu Siauw-cian yang melihat lama sekali dia tidak menjawab dengan perlahan lantas berjalan kehadapannya dan goyang goyangkan pundaknya.

"Eeei apa kau tidak percaya dengan omonganku?"

Tanyanya sambil mencibirkan bibirnya.

"Bukannya tidak percaya,"

Ujar Tan Kia-beng sambil menggelengkan kepalanya.

"Aku sedang berpikir apa tujuan dia sengaja memfitnah kalian berdua?"

"Apanya yang perlu dipikirkan lagi?"

Seru Hu Siauw-cian secara tiba-tiba dengan amat gusarnya.

"Dia tentu sedang berusaha untuk menimbulkan berbagai persoalan agar orang lain pada datang mencari balas dengan ayahku. Hmm! aku tidak akan takut kita lihat saja bagaimana akhirnya."

"Sekarang bukan persoalan takut atau tidak takut"

Bantah Tan Kia-beng dengan cepat.

"Bilamana kita diharuskan menerima angus dari pantat kuali bukankah hal ini sangat menyakitkan hati sekali? apalagi nama kalian ayah beranak di dalam dunia kangouw pun sudah tidak terlalu baik, apa kalian tidak ingin mencuci bersih noda tersebut? "Heei.... kita jangan membicarakan soal ini lagi, hatiku benar-benar jadi murung setiap kali mendengar soal itu baiknya kita bicarakan lagi persoalan tersebut sesudah ayahku kembali"

Walaupun dimulutnya Tan Kia-beng mengatakan demikian tetapi untuk beberapa saat lamanya diapun tidak memperoleh satu cara yang bagus untuk mengatasi persoalan tersebut.

Hal inipun dikarenakan waktu baginya untuk berkelana di dalam dunia kangouw masih terlalu pendek, situasipun tidak begitu paham ditambah lagi diapun tidak mempunyai kawan erat yang dapat dimintai kabar maka itu satu satu cara buatnya untuk mencari berita adalah terjun kembali kedunia kangouw dan menerjang kesana kesini dengan ngawur.

Kini setelah Hu Siauw-cian berbicara demikian diapun merasa pada waktu ini cara tersebut adalah satu cara yang baik.

Kemungkinan sekali dikarenakan dia sudah menerima pandangan yang jelek terhadap Siauw Cian sewaktu ada dikebun bunga dibelakang bangunan Cun Ong Hu walaupun pada saat ini dia merasa Hu Siauw-cian bukanlah seorang gadis yang tersesat tetapi di dalam hati kecilnya dia tidak ingin bergaul lebih rapat dengannya.

Selesai berkata dia segera merangkap tangannya siap meninggalkan tempat itu.

"Eeei! kau hendak kemana?"

Teriak Hu Siauw-cian tiba-tiba dengan suara keras Terpaksa Tan Kia-beng menghentikan langkahnya.

"Manusia gelandangan seperti aku ini mana ada tempat tinggal yang bisa dituju, aku suka kemana segera akan menuju kemana!"

Sambungnya sambil tertawa nyaring.

"Jikalau kau tidak mempunyai urusan yang penting, bagaimana kalau aku temani kau pergi melihat satu keramaian?"

Secara tiba-tiba saja aku merasa kedua orang kangouw yang hendak pergi kebangunan Cun Ong Hu itu pasti ada sebab sebabnya bagaimana kalau kita pergi menyelidiki secara diam-diam?

Setelah disadarkan oleh perkataan dari Hu Siauw-cian ini Tan Kia-beng pun segera merasakan juga kalau peristiwa ini sangat mencurigakan sekali, atau paling sedikit urusan ini pasti ada hubungannya dengan peristiwa dibunuhnya Cun Ong oleh orang-orang Bulim Ketika teringat akan peristiwa inilah mendadak dia teringat pula akan si gadis berbaju merah itu karenanya dia lantas tertawa.

"Menemani kau pergi akupun bisa menyetujui, asalkan kau sanggup untuk menerima satu pekerjaanku,"

Ujarnya.

"Coba kau katakanlah bilamana aku merasa bisa dikerjakan tentu aku boleh menerimanya."

"Kau tahu siapakah gadis berbaju merah itu?"

"Aku boleh menjawab separuh buatmu, tetapi kau dilarang bertanya lebih jelas lagi"

"Asal aku tahu siapakah namanya sudah lebih dari cukup, buat apa aku tanya yang lainnya?"

Pikir Tan Kia-beng di dalam hati. Karenanya dia segera mengangguk.

"Baiklah separuhpun sudah lebih daripada cukup."

Hu Siauw-cian segera tertawa cekikikan.

"Dia adalah anak murid dari si Ni kouw tua itu, dia bernama...."

"Kenapa kau tidak katakan sekalian siapakah namanya?"

Seru Tan Kia-beng dengan cemas "Janji kita tadi aku cuma dapat menjawab separuh saja, separuhnya lagi pada kemudian hari tentu kau bakal tahu dengan sendirinya"

Saking khekhinya Tan Kia-beng tidak dapat berbuat apa apa lagi, terpaksa dengan menahan rasa mendongkol dia segera berteriak.

"Sudah.... sudahlah, ayoh jalan."

Dengan langkah yang lebar dia segera berjalan terlebih dulu Hu Siauw-cian yang ada dibelakangnya dengan kencangnya segera menyusul dan menarik tangannya.

"Eeei, agaknya kau sangat marah sekali yaa? Aku beritahu saja padamu, kepergian kita kali ini ke rumah Cun Ong-hu ini ada kemungkinan bisa bertemu dengan dirinya."

Tan Kia-beng termenung tidak menjawab tetapi setelah mendengar perkataan tersebut sikapnyapun jauh berubah, dia tidak lagi mendongkol seperti tadi.

Segera terlihatlah dua sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat ke depan, bagaikan sepasang kekasih mereka saling bergandengan tangan melakukan perjalanan menuju ke kota Tiang An.

---0-dewi-0---Kota Tiang-sah kuno keadaannya seeprti juga keadaan semula tidak ada sedikit perbedaan pun, yang berbeda adalah pada beberapa hari ini mendadak di dalam kota tersebut sedang kedatangan dengan berpuluh puluh orang jagoan Bulim dengan dandanan yang aneh aneh dan mengerikan ada yang berdandan dengan pakaian singsat dengan menggembol senjata tajam ada pula dengan berjubah yang lebar dengan ujung baju yang besar bahkan ada pula kaum toosu hweesio maupun nikouw sampai pengemis pun secara tiba-tiba bertambah banyak hal ini membuat rumah penginapan jadi penuh sesak tak ketinggalan sebuahpun.

Para jago Bulim yang mempunyai perasaan lebih tajam segera sadar kalau suatu hujan badai yang amat deras bakal melanda kota Tiang-sah Bahkan ada kemungkinan suatu pembunuhan berdarah secara besar besaran akan berlangsung disana.

Tan Kia-beng serta si iblis perempuan berbaju putih Hu Siauw-cian dengan cepatnya sudah tiba di kota Tiang-sah, dengan keadaan mereka berdua yang jarang sekali berkelana di dalam dunia persilatan sama sekali tidak mereka ketahui kalau mereka harus menyembunyikan jejak dengan terang terangan mereka berjalan masuk ke dalam kota Dengan munculnya kedua orang iblis ganas yang sudah diincar terus oleh para jago Bulim seketika itu juga menimbulkan kegadahan di dalam kota Tiang-sah tersebut.

Jago dari setiap partai yang ada di dalam kota tersebut segera pada mengumpulkan orang untuk merundingkan siasat menghadapi kedua orang iblis itu bahkan ada pula yang sudah mulai mengirim orang untuk membuntutinya dari tempat kejauhan.

Masih untung saja kaum jagoan dari kalangan Hek-to tidak menaruh perhatian kepada mereka sehingga untuk sementara waktu tidak sampai terjadi suatu peristiwa apapun.

Mereka berdua berputar agak lama di dalam kota itu dan akhirnya setelah membuang banyak waktu mereka baru berhasil mendapakan sebuah penginapan setelah semuanya beres mereka baru pergi kesebuah rumah makan untuk bersantap.

Rumah makan ini adalah satu satunya rumah yang paling terkenal di seluruh kota Tiang-sah dengan menggunakan merek Ciu-sian-kie Pada saat ini keadaan sangat ramai sekali semua tempat duduk yang ada di dalam ruangan sudah penuh sesak dengan jago-jago Bulim, tetapi jago-jago tersebut kebanyakan memakai baju dengan dandanan yang sangat aneh aneh.

Walaupun Tan Kia-beng tidak kenal dengan orang-orang yang ada disana tetapi sekali pandang saja dengan ketajaman matanya dia bisa melihat diantara para jago-jago itu kebanyakan merupakan jago-jago yang memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi.

Tidak terasa lagi di dalam hatinya dia mulai menaruh rasa curiga, walaupun kota Tiang-sah besar tetapi biasanya tidak tampak orang Bulim dalam jumlah yang begitu banyaknya.

di dalam hal ini tentu ada soal soal lain yang tidak beres.

Pada saat itulah dari bawah loteng mendadak berkumandang datang suara tertawa terbahak-bahak yang amat nyaring sekali, diikuti suatu langkah manusia yang naik melalui anak tangga tampaklah seorang pengemis dengan pakaian yang dekil dan rambut yang awut awutan sudah berjalan mendatang.

Begitu sampai di atas loteng matanya yang amat tajam segera menyapu kesekeliling loteng itu, kemudian dengan langkah yang lebar berjalan mendekati ke depan meja Tan Kia-beng.

Tan Kia-beng kenal dengan orang ini yang bukan lain adalah si pengemis aneh dari antara "Hong Jen Sam Yu dengan tergesa gesa dia bangkit berdiri dan merangkap tangannya memberi hormat.

"Loocianpwee selama ini apakah baik-baik saja?"

Tanyanya.

Sinar mata dari si pengemis aneh itu melirik sekejap ke arah si iblis perempuan berbaju putih Hu Siauw-cian kemudian dia baru tertawa terbahak-bahak.

Setiap hari aku si pengemis tua bekerja untuk orang lain hampir hampir sepasang kakiku terasa mau putus saking lelahnya, bila dibilang repot memang repot sekali, bilamana dikata nganggur yaa....

nganggur sekali!"

Sahutnya keras Dengan terburu-buru Tan Kia-beng segera memperkenalkan Hu Siauw-cian kepadanya.

Hu Siauw-cian yang selamanya paling suka kebersihan waktu itu melihat keadaan dari pengemis yang amat dengkil dan bau itu tidak terasa sudah mengerutkan alisnya.

Tetapi si pengemis aneh itu tidak mengambil urusan itu.

"Ha ha ha.... tidak usah dikenalkan lagi, tidak usah dikenalkan lagi,"

Sahutnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sejak semula aku pengemis tua sudah mendengar nama besarnya?"

Sehabis berkata tanpa permisi lagi dia lalu jatuhkan pantatnya ke atas kursi dan menyikat teko arak yang ada dimejanya kemudian dengan lahapnya meneguk hingga habis hanya di dalam sekejap arak yang semula masih penuh itu sudah diteguk hingga habis tak berbekas.

Setelah benar-benar merasa puas dia baru menyeka mulutnya dengan ujung jubah dan kemudian menghembuskan nafas panjang.

Tan Kia-beng, tahu, Hong Jen Sam Yu yang sudah lama berkelana di dalam dunia kangouw pengalamannya serta hubungannya sangat luas, apalagi jadi orang pun paling mengutamakan kejujuran karena itu banyak urusan yang tidak diketahui sebetulnya ditanyakan kepadanya, karena itulah begitu dia selesai menyikat habis arak tersebut dia terburu-buru membuka mulutnya.

"Eeei perkataan lain bagaimana kalau kita bicarakan nanti saja?"

Seru si pengemis aneh sambil melemparkan satu lirikan kepadanya kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Arak serta sayur yang begitu lezat kalau tidak disikat lebih dulu bukankah amat sayang sekali."

Tan Kia-beng segera mengerti maksud hatinya, dengan cepat dia tutup mulutnya tidak berbicara lagi.

Si pengemis aneh tidak sungkan sungkan lagi dengan tanpa banyak komentar dia melalap semua sayur yang dihidangkan di atas meja, setelah semuanya ludas dia berulah bangkit berdiri.

"Arak sudah cukup perut sudah kenyang, kita harus segera pergi dari sini,"

Serunya dengan cepat.

Dari dalam sakunya Tan Kia-beng segera mengambil keluar setahil perak dan dilemparkan ke atas meja, dan bersama-sama dengan kedua orang lainnya mereka berjalan keluar meninggalkan rumah makan Cui Sian Kie itu.

Baru saja berjalan beberapa puluh langkah mendadak si pengemis aneh membawa mereka memasuki sebuah lorong yang kecil dan berliku liku, semakin berjalan semakin sepi suasana disekitar sana, akhirnya setelah hampir jauh meninggalkan kota dia baru membawa mereka ke dalam kuil bobrok.

Tindak tanduk dari si pengemis aneh yang amat membingungkan ini segera membuat Tan Kia-beng mereasa murung sekali, tetapi dia tahu dia berbuat demikian tentulah ada sebabnya karenanya selama di dalam perjalanan dia tidak pernah mengucapkan sepatah katapun.

Sebaliknya siiblis perempuan berbaju putih Hu Siauw-cian mulai merasa rada tidak sabaran, bibirnya yang kecil segera dijibirkan.

Setelah memasuki ke dalam kuil bobrok itu kembali si pengemis aneh menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ketika dilihatnya suasana disana amat tenang tidak tampak bayangan yang mencurigakan dia baru mengehembuskan napas lega.

Nyali kalian berdua sungguh terlalu besar, omelnya dengan perlahan.

Kini keadaan lagi tegang tegangnya, para jago dari kalangan Hek-to maupun dari kalangan Pek-to pada bersiap-siap berusaha untuk membinasakan diri kalian, kenapa kalian tidak menyamar saja untuk menghindari pandangan mereka?

Tan Kia-beng rada tertegun dibuatnya tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa panjang.

"Jejak dan tindak tanduknya cayhe selamanya terus terang tanpa tedeng aling aling dan belum pernah menyalahi rel kebenaran buat apa aku harus menghindari orang-orang lain?"

Bantahnya.

"Bilamana semisalnya sungguh sungguh ada orang yang tidak tahu diri dan mau berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan cayhe. cayhe pun tidak bakal mau menyerahkan diri dan menerima hinaan dari orang lain tanpa membalas."

"Heeei.... aku si pengemis tuapun tahu dengan kepandaian silat yang kalian berdua miliki pada saat ini bilamana para jago-jago lainnya ingin mengganggu kalian bukanlah urusan yang gampang"

Ujar si pengemis aneh itu sambil menghela napas panjang.

"Tetapi sepasang telapak sukar menandingi empat tangan, apalagi musuh yang mencari kalian bukanlah satu dia saja seharusnya kalian menghindarkan diri dulu untuk sementara waktu". Tan Kia-beng tahu dikarenakan peristiwa pembunuhan berdarah yang sudah terjadi di dalam perkampungan Cui-cusian, semua orang-orang Bulim sudah menaruhkan dendam dan benci yang sedalam lautan terhadap "Si Penjagal Selaksa Li"

Hu Hong ayah beranak beserta dirinya bilamana dia tidak berhasil membuka kedok dan tabir rahasia yang menyelimuti peristiwa pembunuhan massal tersebut sehingga kesalah pahaman ini dapat dibikin terang maka dirinya tidak mungkin dapat berhasil melepaskan diri dari persoalan ini Dengan mengerutkan alisnya rapat rapat dia lantas berkata.

"Aku tahu mereka bersikap demikian terhadap kami hal ini disebabkan oleh peristiwa pembunuhan berdarah yang terjadi diperkampungan Cui-cu-sian, tetapi aku berani bersumpah kalau perbuatan ini bukanlah dilakukan oleh si "Penjagal Selaksa Li"

Hu Hong. sekalipun misalnya dia yang berbuat hal inipun tidak ada sangkut pautnya dengan aku!"

"Walaupun aku Si pengemis tua juga berpandangan demikian, tetapi orang lain tidak mau berpendapat demikian!"

Ujar Sipenegmis aneh sambil mengangguk.

"Maksud dari aku Sipenegmis tua lebih baik untuk sementara waktu kalian menghindar dulu, pada suatu hari peristiwa ini pasti dapat dibikin terang. Menurut apa yang aku si pengemis tua ketahui bukan saja cuma kami "Hong Jen sam Yu"

Saja yang sudah munculkan diri untuk menyelidki urusan ini bahkan "Liok Lim Sin Cu"

Serta "Sam Koan Sin nie"

Itupun sudah terjunkan diri ke dalam dunia persilatan, bila ada dua orang manusia aneh ini yang turun tangan sekalipun urusan itu maha besar dan maha sulit aku rasa tidak sukar untuk memecahkan.

Ketika dia berbicara sampai disini dan melihat sepasang alis dari kedua orang pemuda itu sudah dikerutkan rapat rapat bahkan secara samar-samar terlintas hawa membunuh dia lantas tahu kalau perkataannya ini tidak sesuai dengan cara berpikir mereka berdua.

dengan tergesa gesa dia lantas berganti bahan pembicaraan.

Kalian berdua datang kekota Tiang-sah ini ada urusan apa?

apakah dikarenakan persoalan yang terjadi dirumah bangunan Cun Ong-hu itu"

Tidak salah sahut Tan Kia-beng mengangguk.

kedatangan kami berdua memang dikarenakan peristiwa yang sudah terjadi di dalam bangunan Cun Ong-hu itu, tetapi tujuan kami tidak lebih cuma ingin menonton keramaian saja, hal yang sebenarnya terjadi kami sendiripun tidak tahu.

Mendengar perkataan itu si pengemis aneh segera tertawa tergelak.

Kalalu begitu soal ini sungguh aneh sekali peristiwa ini sudah tersiar merata di dalam Bulim, bagaimana kalian bisa tidak tahu?"

"Kalau tidak ada yang memberitahu kepada kita bagaimana kita bisa tahu? Nyeletuk si iblis perempuan berbaju putih Hu Siauw-cian secara tiba-tiba.

"Bilamana kau sudah jual mahal dengan kita!"

Air muka pengemis aneh segera berubah jadi sangat serius, ujarnya dengan perlahan-lahan.

"Tempo hari waktu raja muda she Mo ini mendapat perintah dari kaisar untuk menindas pemberontak yang terjadi di daerah Biauw secara kebetulan saja di dalam sebuah kuburan tua dia sudah mendapatkan se

Jilid kitab pusaka bertuliskan huruf Cian Tok (kini india) sebuah pedang Pualam serta seutas bahan obat obatan"

"Karena waktu itu lagi dalam keadaan perang dia tidak terlalu memeriksa lebih dulu barang-barang tersebut disimpan di dalam saku akhirnya setelah tugasnya selesai dan kembali kerumah berkat bimbingan dari seorang manusia aneh dari kalangan kaum agama Ui Liong Tootiang, Mo Cun Ong baru tahu kalau kitab pusaka tersebut sebetulnya bernama "Sian Tok Poo Liok"

Dan merupakan satu kitab ilmu silat yang amat lihay dan tak ada tandingannya dari kalangan beragama, sedangkan pedang pualam itu adalah sebilah pedang Pusaka yang amat tajam sekali sedangkan mengenai bahan obat itu boleh dibilang merupakan bahan obat yang paling mujarab dan sangat berharga."

"Raja muda she Mo ini paling gemar berlatih silat, waktu itu dia lantas suruh Ui Liong-ci untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa Han Ui Liong Tootiang ini adalah seorang pandai yang amat aneh dan merupakan kawab akrab dari Mo Cun-ong, dia lantas menyuruh raja muda Mo yang mau belajar ilmu silat ini untuk menunggu tiga tahun lagi setelah dia selesai menterjemahkan seluruh kitab tersebut dan menanti pula setelah dia berhasil membuat semacam pil pencuci tulang pembersihan otot baru mulai belarjar ilmu silat tersebut."

"Raja muda she Mo ini mempercayai Ui Liong Tootiang itu, dengan rasa gembira dia segera menyanggupi dan menyerahkan kitab pusaka tersebut beserta bahan obatnya untuk dibawa pulang olehnya ke gunung."

"Janji tiga tahun yang sudah ditetapkan jatuh pada malam ini, siapa sangka pada setahun yang lalu Raja muda she Mo ini sudah dibunuh orang, maka kedatangan dari Ui Liong Tootiang ini malam boleh dikata bakal sia-sia belaka."

"Baah.... sekarang aku paham sudah!"

Tiba-tiba Tan Kia-beng berseru dengan suara yang keras.

"Orang-orang ini datang ke kota Tiang-sah tentunya sedang berusaha untuk merebut kitab pusaka sian Tok Poo Liok serta obat pencuci tulang pembersih otot itu."

Si pengemis aneh segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa ha haa.... boleh dihitung kau pandai sekali."

Tetapi sebentar kemudian dia sudah menghela napas panjang.

"Beberapa tahun mendatang ini di dalam Bulim selalu saja terjadi pergolakan dan pertumpahan darah yang melanda dimana mana. Heeh.... dengan adanya kejadian ini entah ada berapa banyak orang lagi yang bakal menemui ajalnya di dalam bangunan raja muda itu."

"Heeeh.... heeeh.... sekalipun mereka mati semua juga lebih bagus lagi, tiba-tiba saja nimbrung dengan dinginnya. Siapa yang suruh mereka begitu serakah ingin mendapatkan barang milik orang lain?"

Tan Kia-beng jadi orang amat perasa dan tidak bakal melupakan kejadian yang lalu, kini setelah mendengar perkataan tersebut dia teringat kembali dengan situasi sewaktu para jago hendak merebut pedang pusaka Kiem Cing Giok Hun Kiamnya, semakin dipikir dia merasa semakin gemas dan merasa tak terima terhadap sikap para jago yang hendak menghadapi Ui Liong Tootiang itu.

Sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat, kemudian dengan amat gusarnya dia berseru.

"Sekalipun raja muda she Mo sudah meninggal tetapi dia masih ada keturunannya, bilamana mereka bermaksud hendak merampas barang itu bukankah tidnakan mereka seperti tindakan dari kaum penjahat? Sekalipun kepandaian aku orang she Tan tidak becus tetapi urusan ini aku telah ambil keputusan untuk ikut campur."

Saat ini dalam hati Hu Siauw-cian merasa semakin cemas lagi daripada yang lain mendadak dia meloncat ke atas dan berteriak teriak;

"Eei, waktu sudah tidak pagi lagi ayoh cepat kita berangkat kesana!"

"Kenapa kau begitu tergesa gesa mau ke sana?"

Seru si pengemis aneh sambil tertawa.

"Teringat akan si Ui Liong-ci adalah seorang manusia aneh apalagi selama tiga tahun ini dia telah memahami isi kitab dari "Sian Tok Poo Liok"

Itu pula, apa kau kira dia adalah manusia yang dapat diganggu seenaknya? soal ini lebih baik kau berlega hati saja."

Pada saat ini kentongan kedua sudah berlalu, rembulan memancarkan sinarnya dengan amat jernih laksana menyinari seluruh pelosok jagat.

Dengan perlahan sepasang mata dari pengemis aneh berkelebat memandang sekejap ke arah sepasang muda mudi ini, tampaklah olehnya yang memiliki wajah yang tampan dengan sikapnya yang amat gagah sebaliknya yang perempuan cantik bagaikan bidadari sepasang matanya memancarkan sinar yang berkilauan tidak terasa di dalam hati diam-diam dia memuji.

"Kedua orang ini boleh dikata merupakan kekasih yang amat cocok dan sukar untuk ditemui di dalam u lim"

Pikirnya di dalam hati Aku pengemis tua ada sedikit hubungan persahabatan dengan "Ban Li Im Yen"

Lok Tong kemungkinan sekali walaupun harus kehilangan nyawa akupun sedikit berusaha buat kawan lamaku ini"

Di dalam hati dia dapat menduga dengan munculnya Tan Ka Beng serta Hu Siauw-cian pada malam ini maka urusan ini pasti akan jadi semakin kacau bahkan ada kemungkinan sekali badai akan melanda kembali terhadap diri mereka.

Apalagi dibadan Tan Kia-beng sudah menyimpan sebilah pedang pusaka "Kiem Cing Giok Hun Kiam"

Bukankah benda itu sduah lama diincer oleh jago dari kalangan sungai telaga?

Setelah si pengemis tua itu memikirkan urusan tersebut dengan amat teliti dia baru berseru dengan suara yang amat gagah.

Ayoh cepat kita berangkat, sekalipun ada selaksa tentara malam ini kita bertiga juga harus coba-coba bertahan.

Selesai berkata kembali dia tertawa seram.

Mendengar perkataan itu Hu Siauw-cian segera tertawa cekikikan.

Naah begitu baru mirip dengan perkataan seorang yang sudah punya nama di dalam dunia kangouw serunya.

Sungguh tajam perkataan budak ini, diam-diam maki sipenegmis aneh di dalam hatinya.

Pakaian bututnya sedikit bergerak tubuhnya bagaikan segulung asap hitam sudah berkelebat menuju ke arah bangunan Cun Ong-hu itu.

Sekali lagi Hu Siauw-cian tertawa cekikikan, tampak bayangan putih berkelebat dengan cepatnya dia membuntuti si pengemis itu dari belakang agaknya dia bermaksud hendak bertanding ilmu meringankan tubuh dengan si pengemis aneh salah satu dari anggota Hong Jen Sam Yu ini.

Karenanya begitu tubuhnya bergerak dia segera melancarkan ilmu meringankan tubuh Mo Ho Sin Li yang amat dahsyat itu tidak selang beberapa kaki jauhnya dia sudah berhasil menyandak dirinya, diikuti sedikit kakinya merambahi dengan beberapa bagian tenaga dengan disertai suara desiran tajam tubuhnya sudah berhasil melewati dirinya.

Walaupun si pengemis aneh itu tidak bermaksud untuk bertanding ilmu meringankan tubuh dengan angkatan muda tetapi di dalam keadaan sadar diapun sudah mempercepat lagi gerakan kakinya.

Dibawah sorotan bayangan rembulan tampaklah dua sosok bayangan hitam satu besar yang lain kecil bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dengan kecepatan yang luar biasa sudah meluncur ke depan.

Tan Kia-beng yang melihat mereka berdua secara diamdiam sudah saling beradu ilmu dalam hati dia merasa amat geli sekali.

Jarak antara kuil bobrok itu dengan bangunan Cun Ong-hu cuma ada tiga lima li saja, dengan kecepatan gerak dari mereka bertiga yang sedang beradu ilmu itu hanya di dalam sekejap saja sudah tiba.

Hu Siauw-cian segera menarik kembali tenaganya dan tertawa cekikikan kemudian menoleh ke belakang, Tampaklah dengan disertai suara sampokan angin si pengemis aneh dengan cepatnya sudah tiba disisinya, sambil menggaruk garuk kepalanya dia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Waah.... tidak bisa jadi. tidak bisa jadi. kalau berlari lebih jauh lagi aku Si pengemis tua akan kecapaian!"

Tan Kia-beng tahu dia sengaja berbuat demikian, padahal bilamana membicarakan soal soal tenaga dalam Hu Siauw-cian masih kalah satu tingkat dengan Si pengemis aneh itu, karenanya dia segera tersenym.

"Kepandaian silat dari Loocianpwee sudah mencapai pada taraf kesempurnaan buat apa kau begitu merendahkan diri?"

Ujarnya.

"Siapa yang bilang aku sengaja merendahkan diri?"

Teriak si pengemis aneh sambil mendelik. Selama dua puluh tahun ini baru untuk pertama kali ini aku Si pengemis tua mengerahkan seluruh tenagaku apa kau kira masih kurang konyol?"

Tiba-tiba dia mempertajam pendengarannya kemudian mengerem perkataan selanjutnya setelah itu dia menggape kepada mereka berdua dan meloncat melewati tembok pekarangan untuk bersembunyi disebuah pohon song.

Tan Kia-beng serta Hu Siauw-cian dengan cepat mengikuti dari belakangnya dan pada bersembunyi dibalik sebuah pohon besar Karena mereka berempat terlalu dekat Tan Kia-beng segera merasakan bau harum yang amat aneh dari sang gadis menusuk hidungnya membuat hatinya jadi sedikit tidak tenang.

Tidak terasa lagi dia sudah menoleh memandang sekejap ke arahnya, tampak Hu Siauw-cian dengan pandangan mata yang amat polos sedang memandang ke arah dirinya pula, hatinya masih suci bersih abgaikan secarik kertas putih, dia cuma tau asal apa yang dia sukai maka dia akan memperhatikan perasaannya tersebut, sikapnya ini tidak lebih menunjukkan sikap dari seorang bocah cilik.

Dia cuma merasa setiap kali dia bisa berkumpul dengan Tan Kia-beng dalam hatinya tentu merasa amat tenteram sekali, sehingga tak terasa lagi dia sudah menarik tangannya.

"Beng ko, kau pikir Ui Liong Tootiang bisa datang menepati janji tidak?"

Tanyanya.

Tan Kia-beng yang tangannya dipegang segera merasakan bagaikan terkena strom tegangan tinggi badannya tergetar dengan sangat keras, gadis ini adalah gadis yang kedua memanggil dia dengan sebutan Beng ko atau kakak Beng, bahkan dia merasa nada suaranya mengandung daya sembrani yang amat sehingga membuat hatinya rada gugup.

Dengan termangu-mangu dia memperhatikan dirinya lama sekali, tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Hu Siauw-cian yang melihat dia termangu-mangu tak terasa lagi sudah goyang goyangkan tangannya.

"Eei, kau sedang pikirkan apa? kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"

Tanyanya dengan manja.

"Ooo...."

Seketika itu juga Tan Kia-beng sadar kembali dari lamunannya.

"Aku pikir Ui Liong Tootiang sebagai seorang pendekar yang sudah punya nama di dalam Bulim tidak bakal akan melanggar janjinya sendiri."

Mendadak Hu Siauw-cian mengangguk agaknya dia sudah teringat akan sesuatu.

"Hi hi hi hi.... sekarang aku paham sudah!"

Serunya manja.

"Tentu kau lagi merasa sedih dan merindukan kawannya bukan?"

"Kawanku? kau bilang aku sedang merindukan Cuncu? Hmm! tidak ada urusan ini!"

"Hmm.... kau mau menipu aku?"

"Kalau ada ya ada, kalau tidak ada yang tidak ada, untuk apa aku menipu dirimu"

Belum sempat Hu Siauw-cian mengucapkan kata-kata lagi mendadak Tan Kia-beng sudah goyangkan tangannya mencegah.

Tampaklah sesosok bayangan manusia bagaikan seekor burung elang dengan amat cepatnya sudah menubruk masuk ke dalam pekarangan, setelah memeriksa sebentar keadaan di sekeliling tempat itu di dalam sekejap saja dia sudah bersembunyi dibalik kegelapan.

Tan Kia-beng lalu menempelkan mulutnya kedekat telinganya dan berbisik dengan suara perlahan.

"Si Pendekar Satu Jari Ko Cian Djien dari partai Thian cong."

Baru saja dia selesai berbicara mendadak kembali tampak bayangan manusia berkelebat tak henti hentinya, berturut turut kelihatan berpuluh puluh bayangan hitam kembali melayang masuh ke dalam pekarangan dan bersembunyi dibalik kegelapan.

Serombongan orang-orang ini walaupun jelas sudah bertemu dengan pihak lawan tetapi tak seorang pun yang buka mulut untuk berbicara.

Mulai saat itulah tidak ada henti hentinya ada orang yang meloncat masuk ke dalam pekarangan itu, tetapi seperti juga dengan keadaan orang terdahulu setelah sampai di dalam pekarangan mereka lantas mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya, tak seorang pun diantara mereka yang mengucapkan sepatah katapun.

Orang-orang ini apakah semuanya datang untuk menanti kehadiran dari Ui Liong-ci?

pikir Tan Kia-beng di dalam hati dengan keheranan Jika ditinjau dari keadaan ini jelas sekali sifat serakah sukar terhindar dari hati setiap manusia.

eeei....

sungguh menyesal sekali entah ada berapa banyak orang lagi yang bakal mati di dalam pekarangan ini dikarenakan pertempuran untuk memperebutkan kitab pusaka tersebut.

Sewaktu seorang diri dia sedang berpikir itulah mendadak terdengar dari tembok kota berkumandang datang suara kentongan tiga kali yang amat nyaring.

Dan pada saat itu pula mendadak di tengah anak tangga ruangan tengah sudah menanti seorang Toosu tua dengan rambut serta jenggot laksana perak dan mempunyai perawakan badan yang sangat gagah.

Terdengar dengan suara yang rendah toosu tua itu berseru.

"Iiih? apakah raja muda Mo sudah pada pindah rumah?"

Tan Kia-beng yang secara tiba-tiba mendengar suara tersebut di dalam hati tidak urung merasa terkejut juga, pohon siong dimana dia menyembunyikan diri tubuh tepat dihadapan ruangan besar tersebut.

bagaimana kedatangan dari Toosu tua ini sama sekali tidak dia rasakan?

Ditinjau dari hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau kepandaian silat dari toosu itu amat tinggi sukar diukur dan jika di dengar dari nada suaranya tadi bukankah dia adalah Ui Liong Tootiang yang sengaja datang kemari untuk menghantar kitab pusaka tersebut?

Agaknya Ui Liong Tootiang sama sekali tidak mengetahui kalau keluarga raja muda She Mo ini sudah menemui bencana dia masih mengira mereka telah berpindah rumah sehingga dengan seorang diri sudah berdiri termangu-mangu di tengah ruangan.

Terdengar dia menghela napas panjang lagi, kemudian gumamnya seorang diri.

"Perpisahan selama tiga tahun ini tidak kusangka telah menghasilkan pemandangan yang berbeda di tempat ini apakah kawan kawan sudah tiada lagi?.... Heeei."

"Dugaan dari Tootiang sedikitpun tidak salah"

Mendadak terdengar suara seseorang menyambung dengan nyaring Raja muda She Mo sudah dibunuh oleh musuh besarnya!"

Mendengar perkatan itu Ui Liong Tootiang jadi sangat terkejut sekali mendadak tubuhnya sedikit bergerak menerjang kehadapan orang itu kemudian mencengkeram pergelangan tangannya.

"Kau bilang apa?"

Orang tersebut bukan lain adalah Sute dari Siong Hok Tootiang itu Ciangbunjin dari Heng-san-pay. Si "Jagoan dari Pegunungan"

Semula dia berjalan mendekati toosu tua tersebut sambil menggoyang goyangkan kipasnya.

tetapi siapa sangka secara tiba-tiba pergelangan tangannya sudah dicengkeram oleh Ui Liong Tootiang sehingga badannya terasa kaku dan pergelangannya amat sakit membuat dia jadi gusar.

"Apakah ini caramu untuk menghormat kawan lama?"

Bentaknya keras. Waktu itulah Ui Liong Tootiang baru sadar kembali kalau tidnakannya rada kasar dengan cepat dia lepaskan tangannya dan minta maaf.

"Ooo.... maaf.... maaf.... Pinto terlalu cemas mendengar berita tersebut sehingga berlaku kurang hormat kepadamu entah raja muda Mo sudah dibunuh oleh siapa?"

Sembari mengerut pergelangan tangannya yang tercengkeram sakit.

"San Liem Ci Cu"

Gelengkan kepala.

"Tentang hal ini cayhe sendiripun tidak tahu"

Padahal di dalam soal ini dia mengetahuinya paling jelas, cuma saja dia tidak ingin berbuat dosa terhadap diri "Couan Tiong Ngo Kui".

Mendadak sepasang mata dari Ui Liong Tootiang melotot lebar-lebar dengan sinar mata yang amat tajam dia memeperhatikan San Liam Ci Cu dengan amat tajamnya.

"Orang lain mungkin bilang tidak tahu karena ada sebabnya tetapi kau pun merupakan tamu yang sering mengunjungi raja muda Mo bagaimana di dalam hal ini kau sudah tidak mengadakan penyelidikan? omelnya dengan keras. Perkataan dari Tootiang sedikitpun tak salah aku sudah mengadakan penyelidikan dengan teliti. urusan ini adalah hasil perbuatan dari Couan Liong Ngo Kui. Ui Liong Tootiang segera angkat kepalanya memandang, terlihatlah orang baru saja menjawab itu adalah si Pendekar Satu Jari Ko Cian Djien dari Thiam Cong Pay. tidak terasa dia segera tertawa dingin serunya kembali. Ko heng sebagai seorang ciangbunjin satu partai besar. apakah kau pun tidak mau membalaskan dendam buat sahabat lama dan membiarkan pembunuhnya main pentang sayap di tempat luaran? Si Pendekar Satu Jari Ko Cian Djien yang kena disemprot dengan kata-kata yang sangat tajam itu air mukanya segera berubah jadi merah padam.

"Bukannya aku tidak ingin membalaskan dendam bagi Raja muda She Mo, tetapi pengaruh dan kekuatan pihak lawan amat besar sekali dan sukar untuk dibereskan dalam waktu yang singkat,"

Sahutnya dengan gugup. ---0-dewi-0---JILID. 12 Mendengar perkataan tersebut Ui Liong Tootiang segera tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya.

"Lima ekor tikus dari Chuan Tiong itu manusia manusia rendah terhitung barang macam apa? Bilamana Pinto tidak berhasil membasminya sehingga bisa membalaskan dendam buat kawan lama, dihadapan langit dan bumi aku bersumpah tidak akan kebali lagi ke atas gunung....!"

Ujung jubahnya segera dikebut ke depan sehingga menimbulkan segulung angin pukulan yang amat dahsyat melanda ke arah depan.

"Braaak"

Dengan menimbulkan suara ledakan yang amat keras sekali, sebuah tugu batu cadas yang setinggi manusia segera terkena hantaman tersebut sehingga hancur berantakan bagaikan bubuk halus dan berceceran di atas tanah Pendekar berkepandaian tinggi dari golongan agama ini dikarenakan merasa sedih karena kawan lamanya sudah binasa membuat dia seketika itu jadi gusar sekali sikapnya yang tenang dan berwibawa pada biasanya ini sudah lenyap.

Rambutnya berdiri berdiri seperti kawat jenggotnya yang berwarna keperak perakan bergoyang tidak henti hentinya jelas sekali dia sudah merasa gusar sehingga mencapai pada keadaan yang memuncak.

Dia secara tak sengaja sudah memperlihatkan kepandaian ternyata seketika itu juga membuat si Pendekar Satu Jari berdiri terbelalak, sama sekali tidak disangka olehnya perpisahan selama tiga tahun ini dia sudah berhasil melatih tenaga dalamnya sehingga mencapai pada taraf yang demikian tingginya.

Setelah mengumbar hawa amarahnya tadi Ui Liong Tootiang jadi rada tenang kembali.

"Entah Cuncu apakah ikut menemui bencana?"

Tanyanya lagi.

"Soal ini lebih baik Tootiang tanya dengan siauw li Ong Ceng-ceng saja dia tahu urusan ini dengan amat jelas"

Secara tiba-tiba tampak Hwee Im Poocu berjalan keluar dari balik kegelapan, kemudian sambunya lagi.

"Chuan Tiong Ngo Kui sebenarnya memang punya rencana untuk membasmi keluarga Mo Cun-ong sampai keakar akarnya bahkan sudah kirim Chuan Lam Sam Sah untuk turun tangan, tetapi berkat siauw li beserta murid kesayangannya dari San Liem Ci Cu Cek Lok Suseng dan anak murid dari Lo heng si cambuk burung Hong Ting-hong yang bekerja sama mereka berhasil dipukul mundur."

Ui Liong Tootiang segera melirik sekejap ke arahnya kemudian tertawa dingin dengan nyaringnya.

"Siancay! Siancay!"

Serunya "Bagaimana malam ini saudara saudara sekalian dapat bersama-sama datang kerumah Ong hu yang sudah lama ditutup ini?

Apa mungkin kalian sudah mengandung rencana rencana tertentu?

Sehabis berkata sepasang matanya dengan amat tajamnya menyapu sekejap kesekeliling tempat itu kemudian tertawa panjang dengan amat nyaringnya.

"Haaa haaa. saudara saudara sekalian yang bersembunyi di tempat kegelapan silahkan pada keluar untuk bertemu, haaa.... yang pinto baru tahu, kiranya kalian telah menduga akan kedatangan dari pinto malam ini dan sekarang sudah mempunyai maksud untuk merebut kitab pusaka Sian Tok Poo Liok serta sebotol pil pencuci tulang pembersih otot yang ada di dalam sakuku. Hm! ingatan ini sangat jahat sekali, kalian harus dihajar masuk ke dalam neraka tingkat ke delapan belas, agar selamanya tidak bisa bahagia lagi."

Tan Kia-beng yang bersembunyi di atas pohon Siong tua cuma merasakan sepasang matanya laksana dua batang anak panah yang menancap dihatinya, diam-diam di dalam hati segera pikirnya.

"Kepandaian silat dari Ui Liong Tootiang ini benar-benar mengejutkan sekali, cukup dengan demonstrasinya ini saja suah dapat menundukkan para jago, jelas sekali maksud hati dari orang-orang ini tidak bisa mendapatkan hasil"

Para jago yang bersembunyi di sekeliling tempat itu setelah mendapat bentakan dari Ui Liong tootiang ternyata untuk sementara waktu tidak ada seorang pun yang buka mulut untuk menjawab.

sebaliknya Hwee Im Poocu bertiga walaupun di dalam hati mempunyai rencana tertentu tetapi mereka pun tidak berani tangan.

Ui Liong Tootiang yang melihat semua orang tidak mau munculkan dirinya sekali lagi dia tertawa dingin kepada Hwee Im Poocu dia segera merangkap tangannya menjura.

"Pinto mengucapkan terima kasih kepada Poocu yang suka turun tangan melindungi Cuncu tapi entah dimanakah Mo Cuncu sekarang berada?"

Ujarnya. Hwee Im Poocu segera tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

"Dikarenakan keadaan pada saat ini sangat berbahaya dan setiap kali terancam bahaya pembasmian dari pihak musuh, maka demi keselamatannya terpaksa cayhe sudah kirim orang untuk sementara waktu berdiam di dalam Benteng cayhe."

"Kentutmu!"

Maki Tan Kia-beng di dalam hati Dari tindakanmu yang sedang berbohong ini jelas sekali memperlihatkan kalalu maksud hatimu amat jahat."

"Dia sekarang ada di dalam Benteng Hwee Im Poo?"

Tanya Ui Liong Tootiang dengan ragu ragu, agaknya dia merasa tidak terlalu percaya.

Dia tahu dengan tepat kalau pengaruh dari Hwee Im Poo di daerah Si Lam dan sekitarnya sangat luas dan merupakan markas besar dari orang-orang kalangan Liok lim Pan sering sekali mereka mengadakan hubungan dengan Chuan Tiong Ngo Kui.

Sedangkan Hwee Im Poocu sendiri pun jadi orang tidak terlalu bersifat pendekar, bagaimana dia mau arang melindungi Mo Cuncu sehingga mengakibatkan terikatnya permusuhan dengan Chuan Tiong Ngo Kui?

Dia sekarang bersama-sama dengan Siauw li berdiam di dalam Benteng"

Terdengar Hwee Im Poocu berkata lagi.

"Bilamana Tootiang bermaksud hendak bertemu dengan dirinya, bagaimana kalau Tootiang ikuti cayhe menunjuk ke benteng Hwee Im Poo?"

Ui Liong Tootiang yang sedang merasa sedih karena kehilangan sahabat lamanya saat ini bermaksud ingin cepat-cepat menemui Cuncu kemudian membawanya serta meninggalkan tempat itu untuk kemudian diberikan kepada seorang pendekar wanita sebagai muridnya.

Karenanya setelah mendengar perkataan tersebtu dia lantas mempercayainya seratus persen.

"Kalau begitu kita berangkat sekarang juga!"

Ujarnya kemudian.

Dalam hati diam-diam Hwee Im Poocu merasa girang karena siasatnya sudah termakan oleh pihak lawan dengan bangganya di dalam hati dia mengambil perhitungan.

Dia menganggap sekalipun ilmu silat dari Ui Liong Tootiang amat tinggi tetapi setelah berada di dalam benteng Hwee Im Poo yang sudah dipasangi alat alat rahasia sekalipun mempunyai sayap juga tidak bakal bisa lolos lagi dari dalam perangkapnya sudah tentu oleh karena hal ini di dalam hati dia merasa dangat senang.

Siapa sangka baru saja mereka berdua berjalan tidak jauh, dari pintu sebelah luar tiba-tiba terdengar suara menggelindingnya roda kereta yang amat berisik sekali berkumandang datang Tampaklah sebuah kereta kencana yang amat megah sekali berjalan mendatang dua orang lelaki berbaju hitam yang sudah ada di dalam halaman tersebut terlebih dulu segera meloncat mendekati pintu dan menyambut kedatangannya.

Dibelakang kereta kencana itu tampaklah seorang kakek tua yang memakai baju sutra dengan mata elang hidung bengkok memimpin dua belas orang bocah cilik yang menggembol senjata berjalan masuk dengan langkah lebar.

Kepada Ui Liong Tootiang dia segera rangkap tangannya menjura.

"Sikap Tootiang semakin mantap sebagai gunung Thay-san kepandaian silatnya tentu menambah kemajuan, cayhe benar-benar merasa amat kagum sekali"

Ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak. Tidak terasa Ui Liong Tootiang jadi melengak tapi diapun dengan cepat balas memberi hormat.

"Sicu terlalu memuji"

Sahutnya perlahan.

"Dia sama sekali tidak kenal dengan dia, siapakah orang ini?"

Tampak Ko Cian Djien Sam Liem Ci Cu serta Hwee Im Poocu segera berebut maju ke depan untuk menjura.

"Cungcu selamanya tidak mencampuri urusan dunia kangouw tidak disangka malam inipun bisa muncul disini? Kepada Ui Liong Tootiang mereka segera memperkenalkannya.

"Tootiang, dia adalah Thay Gak Cungcu yang namanya sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, orang lain menyebutnya sebagai "Cun Hong Hua Yu"

Atau Siangin semi melenyapkan hujan Bok Toa Cungcu! Terdengar Siangin semi melenyapkan hujan, Bok Thian-hong tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.

"Aaah.... mana.... mana...."

Ujarnya dengan cepat.

"Cayhe tidak becus, bagaimana berani menggunakan julukan sebagai Siangin semi melenyapkan hujan? kawan kawan Bulim terlalu memuji!"

Ui Liong Tootiang agaknya menaruh simpatik terhadap Thay Gak Cungcu ini, setelah diperkenalkan oleh ketiga orang itu dia segera merasa kalau orang yang mendapatkan penghormatan luar biasa sekali merupakan seorang pendekar yang suka menolong orang Pandangannya terhadap diapun dengan cepat berubah, sekali lagi dia merangkap tangannya memberi hormat.

"Entah ada keperluan apa malam ini Cungcu datang kemari?"

Tanyanya dengan perlahan. Bok Thian-hong segera menghela napas panjang.

"Kau, aku semuanya adalah teman, karena aku dengar Tootiang ada perjanjian tiga tahun dengan Mo Cun-ong, maka sengaja ini malam cayhe menghantar Cuncu datang kemari untuk menyambangi kau orang tua, sekalian membawa serta pula batok kepala dari pembunuh orang tuanya untuk bersembahyang dihadapan makam Mo Cun-ong...."

Selesai berkata dia lantas memberi perintah.

"Silahkan Mo Cuncu turun dari kereta. barang keperluan sembahyang sekalian dipersiapkan"

Dengan beberapa patah kata dari Bok Thian Mong ini seketika itu juga membuat Ui Liong Tootiang jadi kebingungan setengah mati tidak terasa lagi dia sudah memandang tajam Hwee Im Poocu.

"Sebenarnya sudah terjadi urusan apa?"

Bentaknya dengan keras.

"Bagaimana dari perkampungan Thay gak Cung pun muncul kembali seorang Cuncu?"

Hwee Im Poocu yang rencana busuknya terbongkar dan ketahuan pihak lawan di dalam hati diam-diam merasa sangat terperanjat, tetapi dia tidak malu disebut sebagai jagoan yang sudah berpengalaman.

air mukanya sedikitpun tidak menunjukkan perubahan apapaun, mendengar suara bentakan dari Ui Liong Tootiang ini dia lantas tertawa dingin.

"Siapa yang benar siapa yang palsu sebentar lagi bisa ketahuan buat apa kau merasa cemas?"

Serunya.

Si Pendekar Satu Jari Ko Cien Djien serta Sam Liem Ci Cu semuanya adalah tetamu tetamu dari Mo Cun-ong sudah tentu mereka masih ingat selalu wajah dari Mo Tan-hong sejak dia masih kecil kini mendengar dari perkampungan Thay Gak Cung pun secara tiba-tiba muncul kembali seorang Mo Tan-hong di dalam hati diam-diam merasa sangat geli.

"Hm, aku mau lihat kau Hwee Im Poo cu akan taruh kemana wajah tuamu itu,"

Pikirnya di dalam hati.

Pada saat ini tampaklah seorang gadis berbaju merah yang memancarkan sinar berkilauan dengan genitnya berjalan keluar dari dalam sebuah kereta kencana tersebut dibelakangnya berjalanlah tiga orang lelaki yang masing-masing membawa sebuah nampan yang berisikan batok kepala manusia yang masih berdarah.

Tan Kia-beng yang ada di atas pohon dapat melihat kejadian yang berlangsung di bawah dengan amat jelas sekali, sewaktu melihat munculnya gadis berbaju merah itu diamdiam di dalam hatinya merasa terperanjat bukankah dia adalah Mo Tan-hong Mo Cuncu?

"Iiii....?"

Tiba Hu Siauw-cian berteriak tertahan dengan kerasnya.

"Bagaimana dia bisa ada di dalam perkampungan Thay Gak Cun, bukankah soal ini sangat aneh sekali? Dia yang sudah beberapa kali bertemu dengan Mo Tan-hong pun pada saat ini ternyata tidak dapat membedakan mana yang benar mana yang palsu. Hampir hampir boleh dikata Tan Kia-beng sudah mencurahkan seluruh perhatiannya untuk memandang perkembangan selanjut dari keadaan dibawah, terhadap seluruh gerak gerik dari Hu Siauw-cian dia sama sekali tidak perhatian. Tampak gadis berbaju merah itu dengan lemah lembutnya berjalan kehadapan Ui Liong Tootiang kemudian sedikit membungkukkan memberi hormat. Keponakan perempuan Mo Tan-hong menemui Tootiang sepasang sinar mata yang tajam dari Ui Liong Tootiang memandang ke arah gadis berbaju merah itu tanpa berkedip sedikit pun lama sekali baru dia menampik.

"Cuncu tidak perlu banyak adat pinto tidak kuat untuk menerimanya"

Nada ucapannya amat dingin sekali sedikitpun tidak disertai nada mesra yang menghangatkan.

Tan Kia-beng yang melihat kejadian ini diam-diam di dalam hati merasa keheranan teringat akan hubungan antara Ui Liong Tootiang serta Mo Cun-ong tempo hari bagaimana mungkin setelah bertemu dengan putri kawan lamanya ternyata dia sedikitpun tidak memperlihatkan rasa terharu?

Kiranya Ui Liong Tootiang yang dahulu dikarenakan merasa tulang dari kawan karibnya Mo Cun-ong sudah tua dan sukar untuk bertaktik silat tanpa terasa dia telah menaruh perhatian yang khusus terhadap putrinya Mo Tan-hong.

Dia merasa walaupun Mo Tan-hong lahir di tengah keluarga kaya tetapi dia memiliki tulang serta bakat yang bagus buat berlatih ilmu silat.

Karenanya setelah membuang tempo tiga tahun dia berhasil membuat sebotol pil pencuci tulang pembersih otot siap-siap hendak diberikan kepadanya sehingga menciptakan dirinya sebagai sekuntum bunga yang menggetarkan seluruh Bulim.

Tidak disangka malam ini sekalipun dia bisa melihat wajah serta bentuk badan dari Cuncu yang ada dihadapannya ini mirip sekali dengan Mo Tan-hong tetapi tulang serta bakatnya sama sekali berbeda, di dalam hati dia lantas mengetahui kalau urusan ada sedikit tidak beres, tidak terasa lagi perasaan curiga dihatinya itupun sudah diperlihatkan pada air mukanya.

si Kun hong Hoa Yu Bok Thian-hong ternyata memiliki sepasang mata yang amat tajam pula, sekali pandang saja dia sudah tahu kalau di dalam hati Ui Liong Tootiang sudah timbul rasa curiga, tetapi dia sama sekali tidak mengambil tindakan terhadap hal ini.

"Siapkan meja sembahyang dan bawa kemari papan nama dari Mo Cun-ong!"

Perintahnya lebih lanjut.

Si Pendekar berbaju satu Hwee Im Poocu serta San Liem Ci Cu semuanya adalah jago-jago Bulim yang sudah kawakan apa lagi merupakan tamu tetap pula dari Mo Cun-ong serta Thay Gak Cungcu tidak pernah mendengar kalau diantara Mo Cun-ong serta Thay Gak Cungcu tidak pernah ada ikatan persahabatan.

Walaupun Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong ini mempunyai nama yang baik di dalam dunia persilatan tetapi diapun membawa sedikit suasana yang misterius semakin tak ada orang yang tahu pula asal usulnya yang sebetulnya.

Karena itulah walaupun mereka bertiga tidak mengucapkan sepatah katapun tetapi di dalam hati mereka menaruh rasa curiga yang amat sangat terutama sekali Hwee Im Poocu sendiri.

Sepasang matanya dengan amat tajamnya memperhatikan nona berbaju merah yang disebut sebagai Cuncu tersebut.

Cuncu tersebut waktu melihat banyak orang sedang memperhatikan dirinya tidak urung sikapnya rada rikuh juga, dengan perlahan-lahan menundukkan kepala rendah rendah.

Pada saat ini anak buah dari Thay Gak Cungcu sudah mulai mengatur meja sembahyang di tengah-tengah ruangan kemudian membawa pula sepasang lilin mengapit papan nama dari Mo Cun-ong Suasana amat ribut sekali kelihatannya.

Tiga butir batok kepala manusia yang masih meneteskan darah segar menggantikan sebagai sesajen di atas meja sembahyang, setelah semuanya beres tiba-tiba tampaklah seorang perempuan dengan dandanan pakaian keraton bagaikan kilat cepatnya melayang datang "Semuanya sudah siap harap Cuncu mulai memasang hio!"

Ujarnya terhadap Cuncu tersebut.

Menurut keadaan yang seharusnya, pada saat ini dihadapan kawan kawan lama serta sahabat sahabat karib ayahnya almarhum Mo Cuncu harus merasa amat sedih sekali.

Tetapi air muka gadis itu sama sekali tidak kelihatan bersedih hati sebaliknya malah merasa amat takut terhadap si perempuan berpakaian keraton itu.

Mendengar perkataan tersebut dengan gugupnya dia lantas menyahut.

"Baik.... baik.... sekarang juga aku pergi melakukannya!"

Di tengah goyangan pinggul yang amat menggiurkan dia berjalan ke depan meja sembahyangan itu. Ui Liong Tootiang yang melihat kesemuanya ini, diam-diam mendengus dingin.

"Boh heng tolong tanya ketiga butir batok kepala ini milik siapa?"

Tanyanya secara tiba-tiba. Bok Thian-hong melirik sekejap ke arah setelah itu wajahnya berubah amat keren sekali.

"Ketiga orang itulah Khun Lam Sam Sah yang merupakan bibit bencara pembunuh Mo Cu Ong!"

Sahutnya dengan suara yang amat keras.

Dengan meminjam sinar lilin yang memancar Tan Kia-beng pun bisa melihat kalau ketiga butir batok kepala manusia itu memang betul-betul adalah batok kepala dari Chuan Lam Sam Sah, hal ini memaksa dia tidak punya alasan untuk menaruh curiga atas kepura puraan dari Bok Thian-hong ini.

Setelah memasang hio Mo Cuncu berdiri disamping dengan termangu-mangu dia sama sekali tidak menangis maupun bersembahyangan.

Ui Liong Tootiang dengan langkah yang lebar segera berjalan ke depan meja sembahyangan itu lalu jatuhkan diri berlutut dan menjalankan empat kali penghormatan besar.

"Cun-ong! teriaknya dengan suara yang amat sedih "Kedatanganku kali ini hendak memenuhi janji dengan Hian ong.... tidak disangka perjanjian tiga tahun diantara kita selamanya tak bakal terjadi lagi, sukma Hian ong tidak jauh dari sini. Pinto bersumpah pasti akan menyuruh Cuncu turun tangan melaksanakan pembalasan dendam ini sendiri sehingga Hian ong bisa beristirahat dengan tenang di dalam tanah...."

Ui Liong Tootiang ini termasuk orang yang bersifat terbuka, suara tangisannya yang amat menyayatkan hati itu seketika itu juga membuat para jago lainnya ikut merasa kecut hati.

Sebaliknya Mo Cuncu dengan termangu-mangu berdiri disisi meja sembahyangan, dia menundukkan kepalanya tidak mengucapkan sepatah katapun.

Menurut adat yang berlaku, maka Mo Cuncu pada saat ini adalah Putrinya yang lagi berkabung, seharusnya dia berlutut, di depan meja sembahyangan untuk membalas hormat, tetapi dia tidak berbuat demikian.

Peristiwa ini seketika juga mendatangkan rasa curiga yang lebih tebal baginya.

Mereka berdua adalah San Lim Ci Cu serta si pengemis aneh yang bersembunyi di atas pohon siong, menurut pemikiran mereka Mo Tan-hong yang menginjak dewasa di tengah didikan yang amat keras bagaimana cuma soal itupun dia tidak tahu?

Setelah Ui Liong Tootiang selesai bersembahyang maka disusul Bok Thian-hong, Hwee Im Poocu dan lainnya saling susul menyusul untuk bersembahyang Demikianlah, suatu sembahyangan terhadap kawan lama yang sudah tiada berlangsung hingga selesai dibawah situasi yang saling curiga mencurigai Mendadak Ui Liong Tootiang maju ke depan memberi hormat kepada Thay Gak Cungcu itu.

"Pinto dengan membawa serta Cungcu segera akan berpamit dulu"

Ujarnya.

"Tootiang silahkan berlalu!"

Jawab Bok Thian-hong sambil membalas hormatnya. Mendadak perempuan berpakaian keraton itu maju ke depan menimbrung;

"Aku rasa di dalam urusan ini kita harus meminta persetujuannya dahulu dari Cuncu sendiri!"

"Siapa kau?"

Tanya Ui Liong Tootiang dengan dingin, sepasang matanya dipentangkan lebar-lebar.

"Dia adalah istriku!"

Sambung Bok Thian-hong dengan gugup.

"Haaa.... haa.... maaf.... maaf, kiranya Bok Hujien!"

Seru Ui Liong Tootiang sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lantas menoleh ke arah gadis berbaju merah itu dan tanyanya.

"Pinto bermaksud hendak membawa Cuncu pergi menemui seorang pendekar sakti entah bagaimana maksud hati dari Cuncu?"

Dengan ragu ragu sinar mata gadis berbaju merah itu dialihkan sekejap ke arah perempuan berpakaian keraton itu.

"Aku sudah mengangkat guru, bagaimana berani memutuskan di tengah jalan?"

Katanya.

"Entah kau sudah angkat siapa sebagai gurumu?"

"Boh Hujien ini"

"Oooh....!! Soal ini adalah maksud Cuncu sendiri ataukah maksud dari Thay Gak Cungcu?"

"Maksudku sendiri kalau memangnya sudah angkat guru maka selamanya aku harus berbakti kepadanya"

"Haaa.... haaa.... kalau begitu terserah maksud dari Cuncu sendiri!"

Teriak Ui Liong Tootiang sambil tertawa terbahak-bahak. Mendadak dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah botol perselin serta sebuah kitab tebal yang di

Jilid dengan kulit berwarna kuning lalu diangsurkan ketangan Cuncu itu.

"Kitab ini adalah pusaka Sian Tok Poo Liok yang diserahkan Mo Cun-ong kepada pinto pada tiga tahun yang lalu setelah mengalami susay payah akhirnya buku ini sudah pinto terjemahkan semua ke dalam bahasa Han, sedang sebotol obat inipun merupakan obat pencuci tulang pembersih otot yang khusus pinto buat untuk Cuncu, harap cuncu suka menerimanya semua!"

Si gadis berbaju merah itu lantas bermaksud untuk menerima barang-barang tersebut mendadak....

"Tunggu dulu! Aku orang she Than mau menanyai sesuatu kepadanya."

Dari atas pohon Siong dengan amat cepatnya Tan Kia-beng meloncat turun ke bawah.

Dari antara para jago yang hadir di dalam kalangan pada saat ini tiada seorangpun diantara mereka yang lebih mengenali Mo Tan-hong dari pada Tan Kia-beng sendiri, selama beberapa bulan ini sering sekali dia berpegangan tangan sambil bercakap-cakap dikebun binatang dari menteri negara.

bahkan dia sendirilah yang mengantarkan gadis itu ke ibu kota, bagaimana mungkin secara tiba-tiba Mo Cuncu ini sudah munculkan dirinya di perkampungan Thay Gak Cung?

Sewaktu untuk pertamanya gadis itu munculkan dirinya di dalam hati dia sudah curiga, karena walaupun dandanan serta wajahnya mirip dia menganggap mereka semua adalah asal satu perguruan dengan dirinya Mo Cuncu yang belajar silat sama sekali tidak memberitahu kepadanya dari mana perguruannya itu, karena hal itu dengan bersabar dia selalu bersembunyi Tetapi akhirnya sewaktu dia merasa nada suara dari Mo Cuncu ini berlogat Hoo Lam sedang Mo Cuncu yang sering ditemui berlogat ibukota, saat itulah dengan rasa tidak sabar lagi ia munculkan dirinya untuk mencegah.

Dengan kemunculannya ini suasana seketika itu juga berubah sangat sunyi, tetapi sebentar kemudian bagaikan meledaknya sebutir bom belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun tampak bayangan hitam menyambar bagaikan kilat disusul berkelebatnya sinar golok memenuhi angkasa.

Tan Kia-beng sama sekali tidak memperdulikan akan hal itu begitu tubuhnya tiba di tengah kalangan dia segera mereangkap tangannya memberi hormat kepada gadis berbaju merah itu.

"Cuncu, kenalkan kau dengan cayhe?"

Tanyanya.

"Siapa kau?"

Teriak gadis berbaju merah itu dengan terkejut sehingga matanya terbelalak lebar-lebar.

"Haaa, haaa, bilamana sampai akupun kau tidak kenal, maka Cuncu ini pasti adalah Cuncu yang palsu!"

Seru Tan Kia-beng sembari tertawa bergelak.

Sejak munculnya Tan Kia-beng di tengah kalangan air muka Bok Thian-hong sudah terlintas hawa membunuh yang amat tebal.

tetapi hanya sekejap saja wajahnya sudah menjadi tenang kembali.

Dia segera maju ke depan memberi hormat.

"Cayhe mengucapkan banyak terima kasih kepada Siauwhiap atas bantuan yang diberikan sewaktu tempo hari Chuan Lam Sam Sah yang datang mengacau istana, saat itu ada kemungkinan hatinya lagi merasa kaget sehingga sekarang sudah terlalu ingat lagi dengan dirimu."

Dia lantas menoleh ke arah gadis berbaju merah itu dan sambungnya.

"Malam itu orang yang melawan Toa tah dari Chuan Lam Sah adalah Tan tay hiap ini, dia adalah anak murid dari Ban Li Im Yen Lo Tay hiap, Cuncu. apakah kau sudah lupa?"

Dengan gugupnya si gadis berbaju merah itu segera maju ke depan memberi hormat.

"Aaah, kiranya Tan Siauw moay sudah melupakan dirimu"

Katanya perlahan. Dengan dinginnya Tan Kia-beng melirik sekejap ke arahnya setelah itu kepada Ui Liong Tootiang ujarnya sambil menjura.

"Dibawah perlindungan cayhe Mo Cuncu pada saat ini sudah ada dirumah pamannya di ibukota pamannya itu adalah seorang menteri negara Ong Sian Seng harap Tootiang jangan sampai ditipu mentah mentah oleh orang lain"

Terhadap dirinya Ui Liong Tootiang segera memperhatikan dengan amat teliti, setelah itu dia tertawa dingin tak ada henti hentinya, terhadap perkataannya itu toosu ini tidak mengatakan kepercayaannya juga tidak menanyakan lebih lanjut.

Kepalanya didongakkan ke atas dan berpikir dengan keras.

Hwee Im Poocu yang selama ini berdiri didamping walau sudah lewat beberapa waktu lamanya masih belum juga mendapatkan satu akal untuk mencegah Ui Liong Tootiang menyerahkan kitab pusaka tersebut kepada Cuncu palsu itu.

Walaupun dia mengetahui kalau urusan ini sangat mencurigakan tetapi Thay Gak Cuncu yang nama besarnya sudah terkenal diseluruh Bulim dan jadi orang adil dan pernah membuat dia tidak berani turun tangan mengganggu pekerjaannya.

Saat itu melihat Tan Kia-beng munculkan diri untuk memecahkan rahasia tersebut di dalam hati diam-diam merasa girang.

"Haa.... pengacau ini paling sukar untuk dicegah, biarlah aku pancing mereka sehingga saling bergebrak dengan seru"

Berpikir sampai disini dengan wajah yang memperlihatkan rasa gusar dia lantas membentak.

"Nama besar dari Boh Cuncu sudah terkenal diseluruh Bulim bagaimana mungkin dia berani melakukan pekerjaan yang sangat memalukan ini? Terang terangan kau anak iblis yang berniat untuk mendapatkan kitab pusaka Sian Tok Poo Liok itu, sekarang kau sengaja mendatangkan kekacauan saja disini!"

Baru saja dia selesai berkata mendadak terasa ada segulung angin keras yang menyambar datang, di pengemis aneh sambil tertawa terbahak-bahak sudah melayang turun di tengah kalangan.

"Kalau memangnya Cuncu yang ini sungguh sungguh maka Cuncu yang ada di dalam benteng Hwee Im Poo tentunya palsu bukan?"

Ejeknya. Mendengar perkataan tersebut air muka Hwee Im Poocu segera berubah memerah.

"Siapa yang benar siapa yang palsu apa sangkut pautnya dengan dirimu?"

Teriaknya sambil tertawa dingin.

"Aku si pengemis tua yang hidup di dalam Bulim merasa sangat mual sekali melihat manusia manusia yang rakus seperti kalian bukan barang miliknya juga diperebutkan. Hmm, sungguh tidak tahu malu!"

Teriak si pengemis aneh itu sambil melotot lebar-lebar.

Dengan dinginnya Hwee Im Poocu segera mendengus dengan pakasa dia menahan rasa gusar hatinya.

Dikarenakan beberapa orang otaknya tidak melakukan gerakan apapun maka suasana di tengah kalangan untuk sementara waktu menjadi tenang kembali, sebaliknya Ui Liong Tootiang sambil memegang kitab pusaka dan botol pualam masih tetap berdiri termenung disana Sekonyong konyong....

Di tengah suara bentakan yang amat nyaring perempuan berpakaian keraton itu bagaikan serentetan sinar keemas emasan dengan cepatnya berkelebat dari hadapan Tan Kia-beng menubruk ke arah punggung dari Ui Liong Tootiang....

disusul satu jeritan ngeri segera berkumandang datang memecahkan kesunyian dimalam yang tenang itu "Braaak!"

Seorang jagoan dari kalangan Hek-to yang secara diam-diam hendak membokong Ui Liong Tootiang dari belakang sudah terkena hajaran dari perempuan berpakaian keraton, itu sehingga seketika itu juga menemui ajalnya.

Pada saat untuk kedua kalinya si perempuan berpakaian keraton itu berkelebat dari depan tubuh Tan Kia-beng itulah mendadak di dalam hati sang pemuda rada merasa bergerak.

"Iiih? bukankah gerakan tubuh yang ia gunakan adalah ilmu meringankan tubuh dari aliran Teh-leng-bun."

Pikirnya.

Terhadap peristiwa yang sudah terjadi di belakang punggungnya Ui Liong Tootiang sama sekali tidak perduli, seperti juga urusan itu tiada sangkut pautnya dengan dirinya sampai menoleh pun dia tidak melakukannya.

Terhadap Cuncu yang ada dihadapannya mendadak dia merangkap tangannya memberi hormat.

"Siauw sicu ini bilang kau adalah palsu pinto rasa perkataannya ini tidak dapat dipercaya sepenuhnya. tetapi ada beberapa urusan pinto harap Cun-cu suka menjawabnya dengan benar"

Katanya dengan angker.

"Tootiang silahkan berbicara! asal boanpwee mengetahui tentu boanpwee akan menjawab dengan sebenarnya"

"Tahukah kau darimana asalnya kitab pusaka Sian Tok Pit Liong ini? "Ayahku mendapatkannya sewaktu menumpas pemberontakan di daerah suku Biauw! "Semuanya ada berapa macam?"

"Se

Jilid kitab pusaka, setumpukan bahan obat obatan dan sebilah pedang pualam"

"Apakah nama pedang pualam itu dan sekarang berada dimana?"

"Pedang pualam itu bernama Kiem Ceng Giok Hun Kiam saat ini sudah diperoleh seorang anakan iblis dari aliran Teh Leng Kauw!"

"Kau jangan sembarangan bicara. siapa yang jadi anakan iblis?"

Timbrung Tan Kia-beng tiba-tiba. Mendadak Ui Liong Tootiang melototkan sepasang matanya yang tajam memperhatikan Tan Kia-beng lalu bentaknya.

"Pedang pualam ini sudah kau dapatkan bagaimana kau bisa dapatkan pedang itu? cepat katakan".

"Kenapa tidak kau tanyakan saja kepada Cuncu sendiri"

Sela Tan Kia-beng sambil tertawa.

"Kalua begitu silahkan Cuncu memberikan jawabannya."

"Malam itu sewaktu kau hendak berangkat dia bantu aku membereskan buntalan siapa tahu pedang itu sekalian dia selipkan ke dalam pinggangnya hingga sekarang belum dikembalikan kepadaku?"

"Apakah perkataanmu itu sungguh?"

Air muka Tan Kia-beng segera berubah sangat hebat.

"Oooh sungguh?"

Serunya dengan dingin Mendadak Ui Liong Tootiang maju ke depan melancarkan satu serangan mencengkeram pergelangan tangan dari Tan Kia-beng serangan kali ini dilancarkan cepat laksana menyambarnya kilat Mendadak terlihatlah sesosok bayangan manusia berkelebat, Tan Kia-beng sudah lolos dari kalangan "Lebih baik untuk sementara waktu kau jangan sembarangan turun tangan dulu ujarnya sambil mengerutkan alisnya rapat rapat, Biarlah urusan dibikin jelas dulu kemudian baru dibicarakan lagi.

Ui Liong Tootiang yang melihat serangannya mencapai pada sasaran yang kosong dalam hati diam-diam merasa sangat terperanjat, dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda ini memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi dari apa yang diduga semula.

Pada saat dia hendak melancarkan serangannya kembali itulah mendadak....

Sreeet, sreeet, sreet, diantara bertiupnya angin sambaran yang amat tajam berturut turut berkelebat mendatang puluhan sosok bayangan hitam yang bersama-sama menubruk ke arah Tan Kia-beng "Semuanya menggelinding dari sini!"

Bentak Ui Kiong Tootiang secara tiba-tiba Ujung jubahnya segera dikebutkan ke depan segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepatnya melanda ke depan.

Bayangan bayangan hitam yang semula bermaksud hendak menubruk ke arah Tan Kia-beng saat ini mau tidak mau harus melancarkan satu pukulan kemudian mengundurkan diri kesamping.

Beberapa orang itu sebetulnya sedang menanti saat kedua orang itu bergebrak dengan serunya lalu bersama-sama maju merebut pedang, siapa tahu ketika dilihat Ui Liong Tootiang setelah melancarkan satu serangan ternyata tidak mencapai pada sasarannya di dalam anggapan mereka ke tempat yang baik sukar untuk didapatkan lagi karena itu mereka lantas bersama-sama maju menyerang Tan Kia-beng Setelah Ui Liong Tootiang berhasil menggetarkan mundur para jago dengan satu pukulannya dia segera tertawa dingin "Urusan ini adalah urusan pribadi keluarga Mo yang akan pinto putuskan sendiri, buat apa kalian bermaksud untuk merebut?"

Bentaknya.

Pada saat para jago menubruk ke arah Tan Kia-beng itulah tiba-tiba terdengar gadis berbaju merah itu sudah berteriak kepada kedua belas bocah cilik yang membawa pedang dibelakang Bok Thian-hong itu.

"Pedang itu adalah milik keluarga kami, harap kalian suka mewakili aku untuk merebutnya kembali."

Kedua belas bocah cilik itu segera menyahut kemudian bersama-sama mencabut keluar pedangnya dan menerjang ke depan.

Seketika itu juga Tan Kia-beng terkurung rapat rapat di tengah kalangan tersebut.

Si pengemis aneh yang selama ini berdiam diri dengan gusarnya lantas meloncat kehadapan Bok Thian-hong.

"Boh heng.... permainanmu kali ini sungguh persis sekali"

Teriaknya sambil tertawa seram. Dengan gemasnya Bok Thian-hong melotot sekejap ke arahnya, setelah itu sambil tersenyum paksa ujarnya.

"Apakah kau si pengemis sakti juga menaruh curiga kalau aku orang she Boh bermaksud tertentu kau sendiri tentu tahu, haruslah kau ketahui, walaupun kau sudah atur permainan macam apapun jangan harap bisa lolos dari sepasang mata aku si pengemis tua."

"Kalau Sin Kay sudah menaruh kesalah pahaman yang begitu mendalam dengan aku orang she Boh, hal ini membuat diriku sulit untuk membantah. heei.... maksud baik dari cayhe untuk melindungi Cuncu boleh dibuktikan kemurniannya dihadapan para jago persilatan."

Sehabis berkata tidak kuasa lagi kembali dia menghela napas panjang.

Tay Gak Cungcu Bok Thian-hong ini merupakan satu jagoan yang sudah menanam pengaruh yang amat luas diseluruh Tionggoan pada beberapa tahun ini, semua jago yang ada di Bulim pada mengetahui kalau dia adalah seorang yang suka memutuskan suatu persoalan dengan adil, orangnyapun ramah dan suka menolong karenanya sengaja menghadiahkan julukan sebagai Cun Hong Miauw Hoa atau si angin semi yang melenyapkan hujan walaupun begitu tetapi tak seorangpun yang tahu dari mana asal usulnya bahkan seberapa tinggi kepandaian silat yang dimiliki siapapun tidak ada yang mengetahuinya.

Setiap jago Bulim pada mengetahui akan perkampungan Thay Gak Cung ini, tetapi siapapun tidak pernah pergi keperkampungan Thay Gak Cung tersebut sehingga boleh dikata letak yang sebenarnya dari perkampungan itu masih diliputi oleh kemisteriusan.

Sewaktu si pengemis aneh lagi bercakap-cakap dengan Bok Thian-hong itulah mendadak terdengar suara pujian yang amat gegap gembira, dari luar ruangan tersebut muncullah Go-bie Nio cu, serta Ci Yang Cu dengan memimpin berpuluh puluh orang Toosu menerjang masuk ke dalam ruangan dan mengepung Tan Kia-beng dari empat penjuru Dengan langkah yang perlahan Im Yang-cu segera maju ke depan, kemudian memberi hormat kepada Bok Thian-hong.

"Oooh, kiranya Bok Toa cungcu pun ada disini,"

Ujarnya.

"Aaah sungguh bagus sekali.... sungguh bagus sekali. untuk sementara waktu silahkan anak muridmu beristirahat dahulu, biarlah pinto sekalian membereskan sedikit utang lama dengan bajingan kecil ini."

Bok Thian-hong dengan gugup segera balas menghormat.

"Aaa.... silahkan.... silahkan, Tootiang sekalian silahkan mulai terlebih dulu, biarlah cayhe perintah mereka mengundurkan diri."

Selesai berkata dia segera mengulapkan tangannya kedua belas bocah cilik itu bersama-sama lantas menarik kembali posisinya dan meloncat mundur ke belakang tubuhnya.

Tan Kia-beng yang melihat kemunculan dirinya segera memancing perhatian dari semua orang tidak terasa dalam hati merasa amat gusar sekali.

dalam hati dia lantas mengambil satu keputusan.

"Haa.... haa haa.... teriaknya sambil tertawa tergelak. Sejak aku orang she Tan munculkan dirinya di dalam dunia kangouw selamanya belum pernah mencari gara gara dengan orang lain sebaliknya para jago dari semua partai memandang demikian rendah dan bencinya terhadap cayhe hal ini membuat cayhe benar-benar merasa amat tercengang, tetapi menurut penglihatan dari cayhe.... hee.... hee.... kalian meminjam kata-kata hendak membalas dendam sebagai alasan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya bermaksud hendak merebut pedangku.... haa.... ha.... pedang pualam ini adalah hadiah dari Mo Cuncu kepadaku bilamana kalian ingin merebutnya hal itu boleh dikata sama dengan impian disiang hari bolong cayhe cuma takut setelah bergebrak tangan kaki tidak bermata dan menyalahi saudara waktu itu kalian akan memaki aku tidak mengerti sopan santun...."

"Omong kosong!"

Bentak Im Yang-cu dengan gusar.

"siapa yang bilang kami bermaksud hendak merebut pedang pualam itu? kalian guru bermurid memiliki sifat kejam dan membunuh orang sebagai kegemaran, bilamana bajingan bajingan iblis semacam ini tidak cepat-cepat dibasmi bagaimana kami harus bertanggung jawab dengan para jago? dimanakah keadilan yang harus ditegakkan?"

Selesai berkata dengan gusarnya dia mencabut keluar pedang panjangnya disusul kawan kawan serta anak muridnya bersama-sama meggerakkan senjata dan bergerak maju ke depan.

Terhadap gerakan mereka ini Tan Kia-beng sama sekali tidak mengambil gubris, dengan dinginnya dia melengos ke atas.

Si pengemis aneh yang melihat orang Go-bie pay secara mendadak bermaksud hendak turun tangan menyeroyok dengan terburu-buru dia lantas menerjang dengan suara yang keras.

"Peristiwa benar atau palsunya Mo Cuncu belum diselesaikan, buat apa kalian hidung hidung kerbau mencari gara gara di tempat ini."

"Hmm, urusan lalu masih bisa dirundingkan tetapi di dalam urusan ini lebih baik sin Kay jangan ikut campur!"

Teriak Im Yang-cu dengan gusarnya,"Nyawa berpuluh puluh orang dari tujuh partai besar apakah harus dibikin beres dengan demikian saja?"

"Apakah kalian sudah memastikan pembunuh berdarah yang terjadi diperkampungan Cui-cu-sian adalah perbuatannya?"

"Soal ini buat apa dibicarakan lagi?"

"Hmm, tidak disangka orang-orang dari tujuh partai besar ternyata pada goblok semua, dikibuli orang lain juga tidak tahu..."

"Hmm, sekalipun peristiwa berdarah yang terjadi diperkampungan Cui-cu-sian itu bukan hasil perbuatannya, pinto tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja."

Mendengar perkataan tersebut si pengemis aneh tertawa tergelak.

"Nama besar dari Go-bie Ngo cu sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw. ini hari aku si pengemis tua mau melihat kalian hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi dirinya."

Air mukanya berubah sangat adem, dengan perlahan-lahan tambahnya lagi.

"Tetapi.... hee.... hee.... di dalam Bulim orang mengutamakan kejujuran aku si pengemis akan menerangkan terlebih dahulu, bilamana kalian bertempur satu lawan satu aku si pengemis tua tidak akan ikut campur tetapi bilamana ada orang yang mau main keroyok dengan saudara cilik ini.... Hemm waktu itu janganlah mengalahkan aku si pengemis akan ikut campur di dalam urusan ini."

Sejak munculnya dirinya, orang-orang dari partai Go-bie pay ini sudah bermaksud untuk main keroyokan, tetapi setelah mendengar perkataan dari si pengemis aneh tersebut seketika itu juga Go-bie Sam Cu jadi melengak dibuatnya.

Ui Liong Tootiang yang melihat urusan semakin kacau, dia tidak dapat menahan sabar lagi, mendadak tubuhnya bergerak maju ke depan sambil membentak keras.

"Pada waktu yang lampau kalian tidak mau cari balas. kenapa justru pada ini waktu baru bermaksud mencari balas.... sungguh kurang ajar...."

"Siapakah nama besar dari Too yu ini?"

Tanya Im Yang-cu melengak. Ui Liong Tootiang segera mendengus, dia tidak menggubris dirinya lagi, kepada Tan Kia-beng lantas bentaknya kembali.

"Cepat serahkan pedang itu kepadaku."

Dari nada suaranya jelas kedengaran mengandung sifat memerintah.

"Heee, hee.... pedang ini adalah Cuncu sendiri yang menghadiahkan kepadaku seru Tan Kia-beng sambil tertawa dingin kecuali dia datang sendiri jangan harap kau bisa memintanya dari tanganku."

"Kau sungguh sungguh tidak mau serahkan kepadaku?"

"Benar."

"Hmm, sampai waktunya kau akan menyesal sendiri, walaupun Too ya adalah seorang dari kalang beragama tetapi sifatku tidak akan seramah yang kau duga."

"Haa.... haah.... haaa.... soal itu aku tidak akan takut. aku nasehatkan kepadamu lebih baik bikin jelas dulu persoalan Mo Cuncu ini kemudian baru membicarakan soal pedang pualam, kalau tidak kau bakal menerima akibat yang tidak kau inginkan, aku orang she Tan yang bersifat sombong, tidak akan melarikan diri dari sini."

Tiba-tiba terlihatlah Thay Gak Cungcu maju ke depan dan berhenti di tengah-tengah antar kedua orang itu.

"Cuncu dengan kau cuma ada jodoh sekali bertemu saja, bagaimana mungkin dia bisa menghadiahkan pedang pusaka yang sangat berharga itu kepadamu?"

Ujarnya kepada Tan Kia-beng.

"Jelas di dalam persoalan ini kaulah yang sengaja mencuri. Hee.... hee.... orang muda! tidak seharusnya kau mempunyai maksud serakah aku lihat lebih baik kau ambillah keluar pedang itu dan serahkan kembali kepada Tootiang!"

Dengan dinginnya Tan Kia-beng melirik sekejap ke arahnya tetapi sepatah katapun tidak diucapkan keluar.

Sejak kemunculannya di dalam Bulim apa yang dialaminya selama ini bilamana bukannya menemui pembunuhan kejam tentulah bertemu dengan peristiwa saling rebut merebut barang milik orang lain, dan selamanya belum pernah bertemu dengan seorang yang jujur.

karena itu secara tidak sadar dia sudah memiliki satu sifat yang tidak percaya terhadap siapapun juga.

Kedatangan dari Bok Thian-hong kali ini sebenarnya ada suatu maksud tertentu, sewaktu dilihatnya dia tidak mengucapkan sepatah katapun dia lantas menyambung kembali.

"Barang pusaka hanya cocok buat orang yang berbudi. bilamana kau masih ngotot saja hendak menyimpan benda tersebut maka hal ini tidak lebih cuma bakal mendatangkan bencana saja saudara cilik aku lihat lebih baik kau serahkan saja pedang itu kepada Tootiang itu, buat apa kau mendatangkan kerepotan buat dirimu sendiri? Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong ini wajahnya kelihatan jujur padahal dihati kecilnya mengandung sifat yang amat licik dan jadi orang sangat kejam, karena hal hal itulah maka orang-orang kangouw memberi julukan sebagai "Cun Hong Hoa Yu"

Kepadanya.

Terhadap ketiga macam barang pusaka itu dia sudah lama sekali mengincer.

cuma saja dikarenakan dia mendengar kabar kalau ketiga macam barang itu sudah dibawa pergi oleh Ui Liong Tootiang untuk diterjemahkan maka sela ini dia tidak pernah melakukan gerakan apapun.

Kini melihat ketiga macam barang pusaka itu sudah muncul semua di tengah kalangan hal ini membuat dia sejak tadi sudah mengiler.

tapi pada wajahnya masih sengaja memperlihatkan kejujuran hatinya sehingga rasa serakah dihatinya jadi tidak kentara.

Im Yang-cu yang disemprot oleh si pengemis aneh dan kini menerima penghinaan pula dari Ui Liong Tootiang, dalam hai merasa amat gusar sekali.

Pada saat ini mana dia bisa bersabat lagi, mendadak tubuhnya maju dua langkah ke depan lalu membentak keras; Dengan bajingan bajingan ganas semacam ini buat apa Cungcu banyak berbicara, biarlah pinto sekalian cepat-cepat beresin nyawanya.

Pedangnya digetarkan sehingga terjadilah bunga bunga pedang yang amat banyak, diselingi suara desiran yang amat keras pedangnya itu sudah membabat ke arah tubuh Tan Kia-beng Pada waktu ini Tan Kia-beng pun sedang merasa amat gusar, terhadap datangnya serangan pedang itu dia sama sekali tidak menghindar, mendadak tangan kirinya menyabet ke depan sedang telapak tangan kanannya dengan disertai satu pukulan yang maha dahsyat menghantam ke depan Dengan kedahsyatan dari tenaga dalamnya seketika itu juga Im Yang-cu terdesak mundur tiga depa ke belakang sambil dengan terburu-buru menarik pedangnya kembali.

Dimana jagoan berkepandaian tinggi sekali pandang saja sudah dapat diketahui kalau pukulannya tadi mempunyai kekuatan tenaga dalam sebesar seratus tahun latihan Ui Liong Tootiang yang melihat kejadian itu diam-diam menganggukkan kepalanya memuji, sebaliknya Bok Thian-hong yang di dalam hatinya mempunyai rencana tentu merasa amat terperanjat.

Hwee Im Poocu San Liem Ci Cu serta It Ci Hwee Hiap sekali yang bersama-sama melihat kedahsyatan tenaga pukulannya itu pun pada menjerit kaget.

Im Yang-cu yang mempunyai kedudukan sebagai pimpinan di dalam Go-bie Ngo Cu ternyata dihadapan orang pada saat ini sudah dipukul mundur oleh seorang pemuda tidak terasa dari rasa malu dia menjadi amat gusar.

Di tengah suara auman yang amat keras tubuhnya kembali maju ke depan, pedang berkelebat laksana lautan ambruk, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan dua belas serangan gencar.

Terlihatlah hawa pedang memenuhi angkasa, sinar keemas emasan kelebat laksana kilat menyambar....

sinar lilin menerangi ruangan seketika itu juga menjadi redup.

Tan Kia-beng tertawa dingin, telapak tangannya membabat tiada hentinya diselingi tendangan kilat yang menyambar, di dalam waktu yang amt singkat diapun sudah melancarkan tujuh pukulan serta ilmu tendangan dahsyat, sekali lagi Im Yang-cu berhasil didesaknya sehingga mundur keujung ruangan Pertempuran sengit berlangsung, para jagoan dari Go-bie pay pun sambil mencekal pedangnya erat erta siap mengeroyok ke arah depan.

Si pengemis aneh yang melihat kejadian ini air mukanya segera berubah amat gusar sambil maju ke depan sepasang matanya dengan amat gusarnya melototi para toosu itu.

Sikapnya ini jelas sekali bersikap menantang, asalkan ada toosu yang bermaksud untuk melakukan suatu gerakan yang merugikan Tan Kia-beng dia tentu akan segera menerjang ke dalam kancah pertempuran iu.

Selamanya "Hong Jen Sam Yu"

Tidak pernah berpisah.

kini si pengemis aneh sudah munculkan dirinya, sudah tentu si Hweesio berangasan dan si Toosu dengkilpun ada di sekeliling tempat ini.

Cin Yang Cu serta Ci Yang Cu yang melihat situasinya sangat tidak menguntungkan dalam hati mulai merasa menyesal kenapa mereka turun tangan terlalu keburu-buru bilamana menanti kedatangan dari tujuh partai besar yang lain bukankah pada waktu itu pihaknya sudah pasti memegang posisi kemenangan?

Waktu ini keduanya sudah terlambat sekalipun mereka harus membuat dosa dengan Hong Jen Sam Yu hasil yang didapatkan pun tidak akan seberapa banyak, karenanya sambil mencekal pedang tanpa menggubris perkataan dari si pengemis aneh lagi mereka bersama-sama mendekati kalangan pertempuran.

Hu Siauw-cian yang bersembunyi dibalik pepohonan, bilamana menuruti sifatnya sejak semula dia sudah kepingin munculkan dirinya dan berdampingan dengan Tan Kia-beng melawan musuh musuhnya, tetapi dia yang merupakan seorang cerdik, sejak mendengar perkataan dari sipengamis aneh sewaktu ada di dalam kuil bobrok di dalam hati kecilnya telah mengetahui kalau orang-orang Bulim sudah pada benci mereka ayah beranak, karenanya bilamana dia berani munculkan dirinya maka bukannya memberi bantuan kepada Tan Kia Bneg mungkin malah mendatangkan kerepotan.

Bersamaan itu pula dia merasa kedatangan dari Cuncu palsu ini sangat mendadak, terang terangan dia pernah beberapa kali main petak dengan Cuncu yang asli bagaimana di tempat inipun bisa muncul kembali seorang Cuncu?

karenanya dalam hati dia lantas mengerti kalau di dalam persoalan ini pasti ada hal hal yang tak beres Disamping itu diapun menemukan kalau wajah Thay Gak Cuncu, suami istri itu walaupun amat jujur tetapi hatinya amat licik sekali, oleh sebab itu dia lantas mengambil keputusan untuk melihat perubahan yang terjadi itu dengan hati terang, kalau Tan Kia-beng tidak menemui bahaya dan tidak akan munculkan dirinya.

Tan Kia-beng sendiripun tidak ingin bergebrak dengan Im Yang-cu, dia kepingin cepat-cepat menyelidiki persoalan Cuncu palsu ini, karena itu setelah menerjang Im Yang-cu sehingga mundur berulang kali mendadak tubuhnya berkelebat menubruk ke arah si gadis berbaju merah tersebut.

Sewaktu si perempuan berbaju keraton itu melihat gerakannya ini dengan cepat diapun melayang ke depan menghalangi perjalanannya.

"Kau mau berbuat apa?"

Bentaknya.

Tan Kia-beng yang melihat gerakan badannya itu kembali hatinya jadi bergerak mendadak dia tertawa terbahak-bahak dengan sangat kerasnya.

Mo Cuncu dengan cayhe saling kenal mengenal, aku mau berbicara beberapa patah kata dengan dirinya.

Air muka perempuan berbaju keraton itu segera berubah sangat adem.

"Mo Cuncu adalah putri raja muda yang hidup di tengah didikan kesopanan, bagaimana mungkin dia bisa berkenalan dengan kau anakan iblis?"

Bentaknya dengan dingin.

"Soal ini tentu kalian tidak pernah menyangka bukan?"

Teriak Tan Kia-beng sambil tertawa keras kembali.

Bilamana sejak dulu kalian mengetahui akan hal ini maka cerita bohong ini pasti akan mencapai tujuan dengan lancar.

---0-dewi-0---Mendengar perkataan tersebut air muka si perempuan berbaju keraton itu segera berubah sangat hebat, nafsu membunuh mulai meliputi seluruh wajahnya.

Thay Gak Cungcu yang melihat sikapnya ini karena dia takut urusan jadi kacau dengan gugup lantas maju ke depan "Siauwhiap lebih baik jangan sembarangan memfitnah orang, aku orang she Bok selamanya melakukan pekerjaan dengan terus terang dan diketahui pula oleh orang-orang Bulim, bagaimana mungkin aku orang she Bok bisa melakukan pekerjaan yang sangat memalukan ini?"

Katanya. Si pengemis aneh yang ada disampingnya segera tertawa terbahak-bahak.

"Ha.... haa.... haa.... tahu orangnya tahu mukanya belum tentu tahu hatinya sekarang dunia sudah berubah! jika dipandang dari luar kelihatannya seperti orang baik tetapi di dalam dadanya sudah penuh dengan siasat siasat yang licik.... haa.... ha.... Bok Toa Cungcu, bukankah perkataanku ini sedikitpun tidak salah?"

Pada wajah Bok Thian-hong segera terlintaslah satu senyuman yang amat menyeramkan kemudian mengangguk.

"Perkataan dari Sin Kay sedikitpun tak salah"

Jawabnya.

"Tetapi aku orang she Bok tidak menginginkan apa dan tidak meminta apa apa dari Cuncu kesemuanya ini aku berjalan cuma dikarenakan hubungan perasahabatan antara cayhe dengan Mo Cun-ong sejak tempo hari sehingga mau tidak mau aku harus bantu putrinya untuk membalaskan dendam ayahnya ini Bilamana kawan kawan Bulim menaruh curiga kalau ak uorang she Bok memelihara Cuncu karena ada maksud yang laink bukankah hal itu sama saja dengan memfitnah diriku"

Si pengemis aneh segera tertawa terbahak-bahak "Tempat ini tiada uang perak tiga ratus tahil aku si pengemis tua sama sekali tak menuduh dirimu! buat apa kau merasa begitu tegangnya?"

Ui Liong Tootiang sebenarnya adalah seorang yang bersifat berangasan, walaupun selama puluhan tahun lamanya dia memperlajari soal keagamaan tetapi sifatnya itu tidak dapat berubah juga.

Melihat mereka berdua bersilat lidah tiada hentinya dalam hati sudah merasa amat marah sekali.

dengan langkah yang lebar dia segera menerjang ke depan sambil tertawa dingin.

"Tempat ini bukan rumah makan atau kedai minum, perkataan yang tiada berguna itu lebih baik kalian hentikan saja"

Bentaknya dengan keras. Setelah itu dia menoleh kembali ke arah Tan Kia-beng dan ujarnya lagi.

"Tidak perduli pedang itu adalah hadiah dari Cuncu atau bukan tetapi pedang yang berharga jikalau dibawa terus dibadan bakal mendatangkan bencana saja, demi keselamatan sicu sendiri lebih baik kau serahkan saja pedang tersebut kepada pinto untuk aku simpan, lain kali setelah urusan ini menjadi jelas kembali atau kepandaian silat sicu sudah mencapai taraf kesempurnaan aku baru kembalikan lagi kepadamu".

"Hmm! aku sudah sering sekali menjumpai orang yang berbicara seperti apa yang kau katakan itu, hee.... hee.... omong pulang pergi tidak lebih cuma ingin merebut pedang ini. Walaupun aku orang she Tan tidak becus tetapi bilamana kau inginkan pedang ini lebih baik turun tangan sendiri, jikalau kau suruh aku angsurkan kepadamu dengan rela.... haa.... haa.... itu kau mimpi"

Seru Tan Kia-beng sambil tertawa dingin. Mendengar perkataan tersebut Ui Liong Tootiang jadi amat gusar, bentaknya dengan keras.

"Aku beri kau arak kehormatan kau tidak mau sebaliknya malah minta arak hukuman. Hmm, kalau begitu kau janganlah menyalahkan Too yamu akan memberi sedikit hajaran kepadamu"

"Haa, haa.... di dalam ilmu silat siapa yang mencapai dulu dialah jago, bilamana kau ingin mengerahkan senjata bicarakan terus terang saja buat apa pura pura tidak karuan."

Ejek Tan Kia-beng sambil tertawa keras.

---0-dewi-0---JILID.

13 Walaupun dia bicara dengan seenaknya tetapi diam-diam tenaga murninya sudah disalurkan keseluruh tubuh siap-siap menanti datangnya serangan dari pihak musuh.

"Coba bayangkan, dengan sifat yang berangasan dari Ui Liong Tootiang mana mungkin dia kuat menahan diri setelah mendengar kata yang sangat menghina itu?"

Sambil tertawa dingin ujung jubahnya segera dikebutkan ke depan, segulung angin pukulan berhawa khie kang yang amat keras dengan cepatnya menggulung keluar.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang dari kalangan lurus, walaupun hatinya teramat gusar, tetapi pukulannya ini cuma menggunakan lima bagian saja.

Walaupun begitu angin pukulannya sudah menderu deru dengan sangat hebat kedahsyatannya benar-benar mengejutkan sekali.

Dalam keadaan yang amat terperanjat, dengan terburu-buru Tan Kia-beng menyingkir ke samping, telapak tangannya sambil putar satu lingkaran ke depan segera menyambut datangnya serangan tersebut.

"Braak! dari tengah kalangan segera meledak satu pusaran angin yang amat keras sekali, masing-masing pihak laksana mantapnya gunung Thay-san sama sekali tidak bergetar sedikitpun dari tempatnya semula, untuk sementara waktu mereka dalam keadaan seimbang. Orang yang berada di dalam kalangan pada saat ini semuanya merupakan jago-jago Bulim nomor satu, apalagi Thay Gak Cungcu yang tidak pernah menampakkan ilmu silatnya itu, diam-diam dia dapat menduga kalau kebutan dari Ui Liong Tootiang itu disertai dengan tenaga pukulan empat lima puluh tahun latihannya semula dia menganggap Tan Kia-beng tidak bakal kuat menerimanya siapa tahu mereka berdua ternyata seimbang. Dengan kejadian ini hatinya jadi benar-benar merasa sangat terperanjat sedangkan maksud hati untuk melenyapkan Tan Kia-beng pun semakin mantap lagi. Kepandaian silat dari Ui Liong Tootiang ini sebenarnya boleh dikata termasuk ilmu silat dari kalangan kaum agama, setelah berlatih rajin selama tiga tahun lamanya menurut apa yang termuat di dalam kitab pusaka "Sian Tok Poo Liok"

Tenaga dalamnya saat ini benar-benar sudah mencapai taraf yang paling sempurna.

Serangannya tadi sebenarnya hanya bermaksud memberi peringatan saja agar Tan Kia-beng suka menyerahkan pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam itu kepadanya siapa tahu ternyata sang pemuda itu malah menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras.

Dengan benturan itu dia tahu merasa kalau tenaga dalam yang dimiliki pemuda ini luar biasa sekali dalam hati dia merasa amat terkejut bercampur heran Tidak kuasa lagi sambil mengangguk dia memuji.

"Tidak heran kalau kau bocah cilik begitu sombong tidak disangka ilmu yang kau miliki lumayan juga. mari. mari....! Pinto akan mencoba lagi jurusmu yang kedua! Kakinya dengan amat ringannya berkelebat ke depan hanya di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tiga serangan yang amat dahsyat. Tan Kia-beng segera merasakan ketiga buah jurus serangannya itu amat cepat dan amat lihay, masing-masing jalan darahnya tidak terasa sudah berada dibawah ancaman jari jari tangannya hal ini membuat dia jadi amat terkejut. Dengan gugup tubuhnya menyingkir ke samping sepasang telapak tangannya bersama-sama didorong ke depan melancarkan tujuh serangan sekaligus. Akhirnya dengan susah payah dia berhasil pula memecahkan ketiga buah jurus dari Toosu tua itu, tetapi tubuhnyapun sudah kedesak mundur sejauh lima depa. Setelah Ui Liong Tootiang melancarkan tiga jurus serangan itu dia tidak mengejar lebih lanjut.

"Haa haaa sekarang seharusnya kau tahu bukan kalau dengan kepandaianmu yang sangat cetek itu masih belum bisa mempertahankan pedang pualam itu dari rebutan orang lain?"

Ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Tan Kia-beng yang kehilangan kesempatan baik sehingga berturut turut sehingga terdesak mundur ke belakang dalam hati merasa amat malu, kini sesudah mendengar kata-kata Ui Liong Tootiang hatinya seperti terbakar, dengan gusarnya dia lantas tertawa dingin.

"Hmm! Aku rasa belum tentu harus begitu"

Serunya.

Sekali lagi tubuhnya menubruk ke depan pukulannya laksana gunung ambruk tanah merekah dengan cepatnya melancarkan sembilan pukulan gencar, kesembilan pukulan itu dilancarkan bagaikan sambaran kilat cepatnya amat cepat dan amat ganas!

Bahkan mengandung pula sembilan macam gaya yang berbeda beda.

Seketika itu juga terasalah angin pukulan yang amat dingin mengalir keluar tiada henti hentinya, laksana mengemukan ombak serta tiupan angin taupan dengan cepat tubuh Ui Liong Tootiang sudah terbungkus di dalam kurungan telapak yang memeningkan kepala.

Ui Liong Tootiang sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu bisa melancarkan serangan dengan demikian mendadak.

Dengan amat gusar ia segera membentak diantara berkibarnya ujung jubah terdengar suara ledakan yang memekikkan telinga memenuhi angkasa kedua orang itu segera terpisah dan masing-masing mundur setengah langkah ke belakang.

Tan Kia-beng mengerutkan alisnya rapat rapat wajahnya sudah berubah memerah bagaikan kepiting rebus di dalam hati dia bernar benar merasa sangat terperanjat.

Sejak terjunkan diri ke dalam dunia kangouw, musuh tangguh yang pernah ditemuinya cuma si "penjagal seribu lie"

Hu Hong seorang saja boleh dikata kecuali dia yang bertempur seru melawan dirinya sisanya yang lain dia sama sekali tidak pandang sebelah matapun!

Tetapi kepandaian silat dari Ui Liong Tootiang ini sungguh luar biasa sekali dahsyatnya dalam hati dia benar-benar merasa sangat terperanjat.

Sebaliknya Ui Liong Tootiang seketika itu juga terjerumus ke dalam lamunan, lama sekali dia baru angkat kepalanya kembali dan memandang ke arah Tan Kia-beng dengan sinar mata yang amat tajam "Hey bocah cilik, kau anak murid yang keberapa dari Han Tan Loojien?"

Tanyanya.

Pertanyaan ini diajukan sangat mendadak sekali, kecuali Tan Kia-beng seorang siapapun tidak mengerti siapakah Han Tan Loodjien itu, karena semasa Han Tan Loodjien mengembara di dunia kangouw tempo hari hari kebanyakan dia munculkan dirinya sebagai Teh Leng Kauwcu karena siapapaun tidak kenal siapakah Han Tan Loodjien itu.

Karenanya sewaktu Ui Liong Tootiang menanyakan soal Han Tan Loodjien semua orang jadi dibuat kebingungan kecuali seorang yaitu si Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong, kelihatan tubuhnya tergetar amat keras sedangkan air mukanya sudah berubah sangat hebat.

Tetapi....

seluruh perhatian orang lain lagi ditujukan pada Tan Kia-beng sehingga perubahan wajahnya itu sama sekali tidak diketahui oleh semua orang.

Sewaktu Tan Kia-beng mendengar Ui Liong Tootiang menyebut nama dari Han Tan Loodjien, dengan sangat hormatnya dia lantas menyahut.

"Dia adalah suhuku yang telah meninggal dunia..."

"Aaah....!"

Tiba-tiba Ui Liong Tootiang tertawa, kemudian dengan langkah lebar dia berjalan mendekati Tan Kia-beng dan menepuk nepuk pundaknya.

"Pinto percaya apa yang tadi kau ucapkan bukankah kata-kata yang bohong, kecuali dia si orang tua tidak mungkin bisa muncul seorang anak muridnya yang begitu bagus"

"Heeei, cuma sayang nasib boanpwee tak mujur, cayhe sama sekali tak pernah menerima pelajaran dari orang tua dan apa yang aku pelajari bukan lain berasal dari kitab pusaka Teh Leng Cin Keng pengalaman dia orang tua saja"

Serunya Tan Kia-beng dengan sedih "Haaa....!

Soal ini semakin luar biasa lagi, tempo hari berkat dia orang tua yang tidak pendang rendah aku, pinto sudah mengikat persahabatan dengan dirinya.

Bilamana Loo te ada waktu luang datanglah ke tempatku, mari kita bersama-sama menyelidiki kembali ilmu silat kita masing-masing ajaknya dengan gembira.

Saat ini Ui Liong Tootiang benar-benar sangat gembira, sifatnya yang congkak tadi sekarang sama sekali sudah lenyap bahkan dia telah berubah menjadi seorang Toosu tua yang baik hati.

Tan Kia-beng yang mengetahui Toosu tua ini adalah kawan lama dari Han Tan Loojin sikapnyapun jadi semakin hormat.

"Perbuatan boanpwee tidak keruan harap sejak ini hari loocianpwee suka banyak memberi pentunjuk,"

Ujarnya sambil bungkukkan badannya menjura.

Dengan baiknya hubungan antara kedua orang ini maka Thay Gok Cungcu yang ada disamping jadi sedemikian cemas lagi, walaupun dia memiliki kecerdikan yang luar biasa tetapi pada saat ini tak sebuah akal pun berhasil dia dapatkan untuk mendapatkan kitab pusaka serta pedang pualam tersebut.

Si perempuan berbaju keraton itu segera mengerutkan alisnya rapat rapat, mendadak dia maju ke depan memberi hormat kepada Ui Liong Tootiang "Lama sekali aku mengagumi nama Tootiang kenapa ini hari kau tidak memanjakan kembali barang pusaka keluarga Mo Cun-ong yang didapatkan orang lain?"

Ui Liong Tootiang melirik sekejapnya setelah itu dengan dinginnya dia menyahut.

"Walaupun hubungan persahabatan antara pinto dengan Mo Cun-ong sangat rapat tetapi pinto tak ada kekuasaan melarang Mo Cun-ong untuk menghadiahkan barang itu kepada orang lain."

"Bagaimana kau bisa membuktikan kalau pedang pualam itu Cuncu yang hadiahkan kepadanya?"

Teriak si perempuan berbaju keraton itu sambil tertawa dingin.

"Apalagi Cuncu sekrang ada disini, kau boleh tanya lebih jelas lagi kepadanya. karena aku kagum atas kejujuran Tootiang maka sengaja mempersilahkan dirimu untuk membereskan urusan ini tetapi bilamana Tootiang tak mau melaksanakan pekerjaan ini dengan baik aku sebagai suhu dari Cuncu mau tak mau harus menanyakan juga"

"Kapan Pinto pernah berkata kalau pinto sama sekali tak menanyakan urusan ini?"

Bentak Ui Liong Tootiang dengan gusar. Dengan langkah lebar dia segera berjalan kehadapan gadis berbaju merah itu, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan wajahnya.

"Lebih baiknya kau berterus terang saja mengaku sudah menerima perintah dari siapa datang menyamar sebagai Cuncu?"

Bentaknya dengan keras.

"Haruslah kau ketahui pinto sudah lama berkelana di dalam Bulim, hatiku tidak mungkin bisa kalian lamuri dengan sedikit permainan setan ini Si gadis berbaju merah yang dibentak oleh Ui Liong Tootiang itu seluurh tubuhnya segera gemetar amat keras "Tootiang bagaimana bisa berbicara demikian?"

Katanya. Mendadak tampak sesosok bayangan manusia berkelebat datang, Thay Gak Cungcu sambil tertawa terbahak-bahak sudah maju ke depan.

"Tootiang! kenapa kau berbicara demikian?"

Serunya.

"Coba kau ingat ingat akan dendam berdarah dari Cungcu, apalagi musuh musuhnya tersebar diseluruh pelosok tempat siapa yang berani menembus bahaya dengan menyamar? Apalagi urusan ini bisa mengikat banyak permusuhan dengan orang Bulim siapa yang mau ikut banyak urusan? haa.... haa.... mungkin cuma aku orang she Bok seorang saja"

"Perkataan dari Cungcu walaupun benar tetapi apakah kau tidak takut dirimu sudah ditunggangi orang lain?"

Ujar Ui Liong Tootiang sambil mengangguk.

"Apalagi menurut perkataan dari Tan Si heng ini katanya dia sudah mengantarkan Cuncu ke ibu kota bagaimana mungkin disini pun bisa muncul kembali seorang nona yang mengaku sebagai Cuncu? apakah Cungcu pernah menyelidikinya dengan teliti?"

Thay Gak Cungcu pura pura termenung sebentar, setelah itu baru menjawab.

"Cayhe selalu bekerja dengan teliti rasanya tidka bakal ada orang bernyali begitu tinggi untuk main gila di depan mata aku orang she Bok, apalagi Cuncu itu pun sengaja caye kirim orang untuk mengundangnya keperkampungan kami bagaimana urusan ini bisa salah lagi?"

Belum sempat Ui Liong Tootiang melanjutkan katanya, si perempuan berpakaian keraton itu sudah menyambung lagi sambil tertawa dingin.

"Terang terangan ada orang sengaja hendak merebut kitab pusaka itu, kini sengaja hendak menggunakan kesempatan ini untuk menipu dirinya apa kau kira aku tidak tahu? Selesai berkata dia segera menoleh ke arah gadis berbaju merah itu dan berkata kembali.

"Mo Tan, kau tidak usah cemas pihak Thay Gak Cung akan membantu untuk menyiarkan urusan ini seluruh Bulim, sampai saatnya tentu ada orang yang akan mengambil jalan keadilan Hmm! Kau jangan takut kalau barang itu tidak sampai dikembalikan kepadamu."

Beberapa perkataan ini seketika itu juga membuat Ui Liong Tootiang jadi amat gusar sekali, sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat, sedang sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam "Kau tidak usah banyak omong kosong"

Bentaknya dengan keras "Bilamana pinto punya maksud ini maka perjanjian tiga tahun ini tidak akan pinto hadiri, urusan malam ini bukanlah terletak pada menyerahkan barang itu atau tidak tetapi asal usul dari Cuncu yang asli harus diselidiki sampai jelas".

Bok Thian-hong yang melihat suasana mejadi semakin panas dengan cepat dia maju setindak ke depan "Tootiang....

sudah....

sudahlah!"

Ujarnya.

"Maaf perkataan dari isteriku terlalu kasar. harap kau suka sedikit sabar! Mengenai kebenaran asal usul dari Cuncu ini mumpung sekarang banyak terdapat kawan kawan erat Mo Cun-ong tempo hari, bagaimana kalau suruh mereka saja yang menentukan apakan dia palsu atau aslinya?"

"Itupun bagus sekali"

Sahut Ui Liong Tootiang mengangguk. Setelah itu dia lantas menoleh ke arah San Liem Ci Cu, tanyanya.

"She heng tempo hari sering sekali berjalan pulang pergi dari istana raja muda Mo, terhadap Cun-cu tentunya kenal bukan?"

Sambil menggoyangkan kipasnya San Liem Ci Cu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah haaahh, aku si siucay miskin cuma bisa membuat syair dan sama sekali tidak pernah memperhatikan anak gadis orang lain. Bukankah Ong Poocu dari benteng Hwee Im Poo juga ada seorang Cun-cu lagi, kenapa tidak suruh dia saja yang menebak?"

San Liem Ci Cu ini jadi orang amat licik dan berakal, terang terangan dia tahu kalau di dalam urusan ini ada hal hal yang tidak beres, tetapi dikarenakan dia merasa kalau urusan ini tidak mendatangkan keuntungan baginya maka dia tidak ingin menyalahi siapapun sehingga dengan terburu-buru sudah mengalihkan persoalan ini kepada Hwee Im Poocu."

Hwee Im Poocu yang melihat dia mengalihkan persoalan tersebut kepada dirinya, walaupun dalam hati merasa rada kelabakan tetapi karena dalam hati dia pun sudah punya maksud tertentu maka sambil tertawa bergelak lantas jawabnya;

"Haaa haaa sulit, jikalau aku orang she Ong mengatakan Cuncu ini adalah palsu maka semua orang akan menganggap aku orang she Ong punya suatu tujuan tertentu di dalam hati, jikalau mengatakan Cuncu itu benar, maka bukankah dengan demikian mengartikan pula kalau Cuncu yang ada di dalam Bentengku adalah palsu? Karena itu.... heee.... heee.... lebih baik usah dibicarakan lagi. Ui Liong Tootiang jadi orang amat jujur dan suka terbuka, dia paling tidak terbiasa dengan cara cara manusia kerdil seperti ini, melihat mereka berbicara dengan amat waspada dan liciknya maka dia tidak suka bertanya lebih lanjut lagi sebaliknya dengan dingin segera mendengus "Tidak perduli Cuncu ini palsu atau benar, kitab pusaka ini akan pinto simpan terlebih dahulu, setelah urusan dibikin jadi jelas kita baru bicarakan kembali"

Ujarnya.

"Keputusan dari cianpwee ini boanpwee setuju penuh,"

Sambung Tan Kia-beng dengan cepat.

"Aku bertanggung jawab di dalam waktu singkat akan mengajak Cuncu yang asli untuk menyambangi Tootiang"

Ui Liong Tootiang segera mengangguk.

"Aku percaya dengan dirimu, mari kita pergi saja"

Katanya.

Toosu yang sudah mengikuti pelajaran agama ini walaupun sudah memisah diri dari keramaian dunia tetapi rasa persahabatannya dengan mendiang Han Tan Loojin membuat sikapnya terhadap Tan Kia-beng amat mesra dan ramah sekali.

Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang sudah membuang banyak waktu dan tenaga untuk melaksanakan cita-citanya kini melihat susah payahnya ternyata ludes di tengah jalan sudah tentu tidak mau melepaskan dirinya dengan begitu saja Dia lantas memberi tanda kepada perempuan berbaju keraton itu setelah itu sambil tertawa keras lantas menyambung kata-kata dari Ui Liong Tootiang tersebut.

Pekerjaan dari Tootiang sungguh sungguh luar biasa sekali, cuma saja dengan kejadian ini maka nama besar dari aku she Bok di dalam Bulim akan mengalami sedikit gangguan, apakah Tootiang bermaksud hendak mengundurkan diri tanpa memikirkan keadaan dari aku orang she Bok?"

"Apa maksud dari perkataanmu itu?"

Tanya Ui Liong Tootiang melengak.

"Buat apa kau pura pura berlagak pilon?"

Teriak si perempuan berbaju keraton itu sambil menjerit keras.

"Kami dari orang-orang perkampungan Thay Gak Cung selamanya boleh dipercaya, kejujuran dari Bok Cuncu pun sudah dihormati oleh semua jagoan di dalam Bulim, tidak disangka karena urusan Mo Cuncu harus mengalami kegagalan dan nama besarnya jadi berantakan, bilamana urusan ini sampai tersiar di dalam Bulim bukankah kami tidak punya muka lagi untuk tancapkan kaki terus di dalam sungai telaga?"

"Aku "Lie Hun Hwee cu"

Atau Permaisuri pencabut sukma walau pun dari seorang kaum wanita tetapi menghadapi setiap urusan tidak pernah mungkin, ini malam bilamana Tootiang tidak suka menyerahkan kitab pusaka itu kepada Cuncu maka aku sebagai pelindungnya terpaksa akan membuat dosa dengan dirimu."

Semula setelah mendengar perkataan itu Ui Liong Tootiang agak melengak tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa, karena saat ini hatinya sudah mengetahui apa maksud yang sebenarnya.

"Haaa.... bagus! Bagus sekali! Bilamana bukannya ada teman cilik ini aku, Ui Liong hampir-hampir kena tipu olehnya! Pada saat itulah dari ruangan sebelah dalam mendadak berjalan keluar dua orang. Yang seorang memakai jubah panjang yang amat kasar dengan sebuah Sie poa besi ditangannya sedang yang lain mempunyai perawakan yang tinggi besar dan sangat berotot, jika ditinjau dari wajahnya mungkin dia sudah berusia setengah abad. Baru saja kedua orang itu berjalan masuk ke dalam ruangan, San Liem Ci Cu sambil goyang goyangkan kipasnya sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaa haaa selamat bertemu! Selamat bertemu! Sin poa Lie heng serta 'Cin Liong To' Ong heng selama ini mencari nama di tempat mana?"

Katanya. Si pengemis aneh yang selama ini berdiri disamping mendadak merasakan hatinya tergetar keras, pikirnya.

"Kedua orang iblis ini selamanya tidak pernah munculkan dirinya di dalam Bulim, malam ini kenapa secara tiba-tiba bisa munculkan dirinya disini? Apakah mereka sudah menggabungkan diri dengan pihak perkampungan Thay Gak Cung?"

Si pengemis aneh yang sering berkelana di Bulim sudah tentu pengalaman yang didapat amat luas.

Sekali pandang saja dia sudah mengerti akan duduknya persoalan.

---0-dewi-0---Beberapa tahun ini secara tiba-tiba pihak perkampungan Thay Gak Cung menggerakkan dunia kangouw walaupun cuma dengan orang memuji muji perbuatan baiknya tetapi jejak manusianya tidak kelihatan, karena soal ini dalam hati ia sudah merasa kuatir, karena menurut anggapannya orang kalangan lurus setiap gerak geriknya tentu terang terangan, perbuatan yang secara sembunyi sembunyi dan misterius kebanyakan mengandung satu maksud tertentu Ditambah pula walaupun Bok Thian-hong memiliki gelar sebagai Cun Hong Hua Yu tetapi tak seorangpun yang mengetahui asal usulnya cukup beberapa soal ini saja sudah patut menaruh rasa waspada terhadapnya.

Saat itu si Sin Sie-poa atau sisiepoa sakti sambil menggoyang goyangkan Siepoa besinya sudah tertawa terbahak-bahak.

"Cayhe pun sama seperti keadaan Sieheng walaupun julukanku adalah Thiat Sie poa tetapi bukannya mencari keuntungan dipasaran dagang sebaliknya sengaja mencari balas dengan manusia manusia kerdil...."

Sembari berkata dia sudah berjalan ke depan Ui Liong Tootiang.

"Heeee.... hee.... aku orang she lie sudah pernah mendengar nama Ui Liong dari kawan kawan Bulim, tetapi persoalan malam ini cayhe rasa kurang sedikit cemerlang, katanya sambil mengerutkan alisnya rapat rapat."

Walaupun Ui Liong Tootiang mengerti perkataannya satu lagi menyindir dirinya tetapi dia tidak menjawab, sambil mendengus dia lantas menoleh ke arah Tan Kia-beng.

"Malam ini pinto mewakili Han Tan Loo Jien hendak melihat kepadamu apakah sudah sempurna atau belum aku mau melihat kau sudah memahami berapa bagian dari ilmu yang kau dapatkan dari dia orang tua,"

Katanya. Tan Kia-beng segera mengerti akan maksud perkataannya, dia lantas tertawa keras.

"Perintah dari angkatan tua tak dapat dibantah, terhadap urusan lain mungkin boleh dibangkang tetapi untuk menggebuk pergi beberapa ekor anjing, cayhe rasa bukan persoalan yang berat."

Sejak Lie Hun Hwee cu mengatakan bebarapa perkataan itu, air mukanya seperti juga sudah berganti dengan orang yang lain wajahnya menyengir seram, sambil menjerit keras perintahnya.

"Cin Liong serta Sin Sie-poa kalian berdua cepat turun tangan tangkap kedua orang yang bermaksud hendak memiliki barang pusaka dari orang lain itu, kalau turun tangan tidak usah ragu ragu lagi!"

Sin Sie-poa segera menyahut, sambil menggetarkan sie poa besinya sehingga mengeluarkan suara yang berisik dengan dahsyatnya segera melancarkan satu pukulan dahsyat menghantam tubuh Pei Liong Tootiang.

Saat ini Tan Kia-beng sudah menyalurkan hawa murninya ketangan begitu tubuh Thian Sie Poa bergerak sambil membentak keras sepasang telapaknya segera didorong ke depan.

Segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan santernya menerjang ke depan.

Sin Sie-poa ini sesungguhnya bernama Lie Ih Sian yang merupakan seorang jagoan aneh dari Bulim sifatnya yang setengah lurus setengah jahat membuat dia banyak melakukan pekerjaan menuruti kemauan hatinya saja, selama ini dia cuma pernah mendengar nama dari Ui Liong Tootiang saja sedang terhadap Tan Kia-beng sama sekali tidak kenal.

Kini melihat datangnya serangan dari pemuda itu amat dahsyat dan lihay dalam hati merasa sangat terkejut, pergelangan tangannya cepat diputar ke depan tangan kirinya dengan menggunakan jurus Nan Bun khie hauw atau menghalangi pintu menangkap macan melancarkan satu pukulan gencar terdengar suara ledakan yang amat keras, pukulan dari Sin Sie-poa ini terkena pantulan sehingga membuat tubuhnya melayang sejauh lima enam depa, sedangkan Tan Kia-beng sendiri berturut-turut mundur, dua langkah ke belakang.

Kerugian yang diderita oleh Sin Sie-poa kali ini tidak lebih karena dia terlalu memandang enteng musuhnya, bersamaan pula melancarkan serangan dalam keadaan tergesa gesa.

Begitu tubunya mencapai permukaan tanah dia lantas merasakan dadanya bergolak amat keras, dengan gugup hawa murninya segera disalurkan kedada untuk menekan pergolakan tersebut, setelah itu disertai dengan suara bentakan yang amat gusar sekali lagi dia menerjang ke arah Tan Kia-beng.

Selama berkelana di dalam Bulim dia belum pernah merasakan kerugian seperti ini hari, di dalam keadaan gusar senjatanya diputar sedemikian rupa sehingga menyerupai mega di tengah awan, hanya di dalam sekejap saja dia telah melancarkan serangan cengkeramannya dengan amat gencar.

Seketika itu juga seluruh ruangan itu dipenuhi dengan angin dingin yang menyambar nyambar di sekeliling suara bentakan yang memekikkan telinga.

Tan Kia-beng yang selama satu malaman harus menahan rasa kesal saat inipun segera melancarkan serangannya dengan seluruh tenaga, di tengah suara suitannya yang amat nyaring mendadak tubuhnya menerjang masuk ke tengah kurungan bayangan senjata itu, sepasang telapak tangannya bagaikan jeratan besi sebentar merontok sebentar membabat dengan amat gencarnya meneter pihak musuh.

Pada saat Sin Sie-poa lagi menerjang Tan Kia-beng itulah, Cin Liong-so Ong Ci mendadak berkelebat ke samping tubuh Ui Liong Tootiang dan melancarkan serangan cengkeramannya dengan amat gencar.

Ui Liong Tootiang yang sedang bergendong tangan memandang jalannya pertempuran antara Tan Kia-beng dengan Sin Sie-poa, kini melihat Ciu Liong So melancarkan serangan bokongan kepadanya membuat hawa amarahnya segera berkobar.

"Kau cari mati!"

Bentaknya sambil mendengus dingin.

Ujung jubahnya segera dikebutkan ke depan segulung hawa khie kang yang amat dahsyat dengan cepatnya menghantam dada Cin Liong-so tersebut.

Cin Liong-so benar-benar memiliki kepandaian yang amat tinggi sekali, baru saja dia melancarkan satu serangan tubuhnya dengan amat gesitnya sudah molos ke belakang punggung Ui Liong Tootiang sepasang kepalnya bagaikan pancingan dengan cepatnya mencengkeram jalan darah Kwie Pang Hing Wie, serta Cing Toh tiga buah jalan darah penting.

Selama puluhan tahun ini tak seorangpun yang berani melancarkan serangan bokongan terhadap Ui Liong Tootiang dengan demikian bernyalinya hawa amarahnya benar-benar meledak.

"Heee.... heee.... kalian manusia manusia yang tidak takut mati?"

Bentaknya sambil tertawa dingin tak ada hentinya.

Setelah mendalami ilmu silat andalan kitab pusaka Sian Tok Poo Liong kepandaian silatnya pada saat ini benar-benar sudah mencapai pada taraf yang sangat tinggi di tengah suara tertawa dinginnya yang amat seram tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat lenyap dari pandangan.

Ong Hong Ci juga merupakan satu jagoan yang memiliki pengalaman amat banyak di dalam Bulim, ketiga dia merasakan serangannya tidak mencapai sasarannya, dia lantas mengerti keadaan sangat berbahaya.

Tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya dengan cepat berputar ke belakang, sedangkah sepasang telapak tangannya bersama-sama melancarkan satu serangan ke depan.

Walaupun dia merasa dengan cepat, tetapi gerakan tubuh dari musuh jauh lebih cepat lagi, terasa olehnya satu hawa Khie kang yang amat dahsyat laksana ambruknya gunung Thay-san dengan hebatnya membentur angin pukulan yang baru saja dilancarkan ke depan itu Seketika itu juga dia merasakan dadanya seperti ditekan dengan sebuah godam besi yang beratnya ada ribuan kaki, saking tak tertahannya sambil menjerit keras tubuhnya terlempar sejauh satu kaki lebih, darah segar yang dimuntahkan keluar dari mulutnya pun segera berceceran mengotori seluruh lantai.

Mendadak....

Tampak bayangan manusia berkelebat, tubuh Ong Hong Kie yang sedang melayang di tengah udara itu sudah diterima oleh Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong kemudian bagaikan kilat cepatnya dia menotok beberapa buah jalan darahnya dan memasukkan sebutir pil mujarab ke dalam mulutnya.

Setelah itu barulah dia perintah untuk duduk mengatur pernapasan.

Disini Cin Liong-so hanya di dalam satu jurus berhasil dipukul pental oleh tenaga khie kang dari Ui Liong Tootiang sehingga terluka parah disebelah sana Sin Sie-poa pun sudah berhasil kena dihajar pundaknya oleh Tan Kia-beng dengan menggunakan jurus Djie Ceng Tiong Thian seketika itu juga tubuhnya dengan sempoyongan mundur tujuh atau delapan depa jauhnya, wajahnyapun sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

Senjata Sie poa yang ada ditangannya tidak kuasa lagi terjatuh ke atas tanah, sambil muntahkan darah segar teriaknya dengan seram "Heee....

heee....

karena Loohu tersebut gegabah kali ini menderita kekalahan ditangan kau bangsat cilik"

Bilamana malam ini tidak mati aku Sin Siepoa pada suatu hari akan mencari dirimu lagi untuk menuntut ganti rugi beserta bunganya.

Sehabis berkata tanpa menyapa Thay Gak Cungcu lagi dengan terhuyung huyung dia meninggalkan tempai itu!

Lie Hun Hwei cu yang melihat kedua orang jagoannya hanya dalam beberapa jurus saja sudah menemui kerugian hawa napsu membunuh mulai meliputi wajahnya pergelangan tangannya segera diulapkan ke depan, kedua belas bocah cilik sambil menggerakkan pedangnya dengan dahsyat segera menggulung tubuh Tan Kia-beng.

Tan Kia-beng yang melihat gerakan tubuh dari kedua belas bocah cilik itu hatinya jadi sedikit bergerak, seruling pualam putih yang semula diselempitkan dipinggangnya lantas dicabut keluar.

Belum sempat dia mengucapkan sesuatu mendadak....

Terasa hawa pedang memenuhi angkasa, dua sosok bayangan putih serta merah dengan membawa segulung sinar pedang yang menyilaukan mata berkelebat datang dari tengah udara menerjang ke arah kedua belas bocah cilik itu.

Gerakannya amat cepat dan ganas, membuat seluruh jago yang ada disitu jadi merasa terkejut.

Kedua belas bocah cilik yang sudah menerima didikan amat lama dibawah pengawasan Thay Gak Cungcu walaupun secara tiba-tiba diserang oleh musuh barisannya tidak sampai menjadi kacau balau.

Tampak bayangan tubuh berkelebat, di tengah berkelebatnya sinar pedang kedua sosok bayangan manusia yang baru datang itu sudah terjerumus di dalam lautan pedang yang amat rapat.

Walaupun gerakan tubuh dari bayangan putih serta merah itu amat cepat tetapi tak dapat mengelabuhi ketajaman mata dari Ui Liong Tootiang maupun Tan Kia-beng.

Tampak sambil menoleh ke arah sang pemuda tanya Ui Liong Tootiang dengan perlahan.

"Kenalkah kau dengan kedua bocah perempuan itu?"

Sejak tadi Tan Kia-beng sudah dapat melihat kalau orang berbaju putih itu adalah Hu Siauw-cian sedangkan gadis berbaju merah itu adalah orang yang pernah menolong dirinya dari bahaya.

Selama ini dia selalu merasa kalau potongan badan dari gadis itu sangat dikenal olehnya walaupun dia sudah peras tenaga tak berhasil juga mengetahui siapakah dia.

Kini setelah ditanya demikian oleh Uk Liong Tootiang hatinya jadi sadar kembali bukankah ilmu pedang yang digunakan gadis berbaju merah itu adalah serangkaian ilmu pedang yang dilatih Mo Tan-hong sewaktu ada dibelakang kebunnya?

Tak kuasa lagi dia lantas berseru.

"Dialah Cuncu Mo Tan-hong."

Mendengar perkataan itu Ui Liong Tootiang jadi melengak, tetapi sebentar kemudian sambil membentak keras tubuhnya sudah menubruk ke depan.

Para jago cuma merasakan sesosok bayangan abu abu berkelebat dengan tiada hentinya diantara kepungan dari kedua belas bocah itu hanya di dalam sekejap saja barisan itu sudah dipukul pecah sehingga membuat mereka dengan rasa terkejut pada menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri ke belakang.

Si Pek Ih Loo Sat yang sudah mengetahui asal usul dari Ui Liong Tootiang dengan terburu-buru diapun lantas menarik kembali serangannya sebaliknya gadis berbaju merah yang wajahnya berkerudung itu sambil melintangkan pedangnya di depan dada sudah memaki dengan amat gusarnya.

"Siapa kau? Bilamana ingin bergebrak cepatlah turun tangan! Buat apa mata anjingmu selalu memperhatikan diriku?"

"Hiat tit li!"

Seru Ui Liong Tootiang dengan nada gemetar.

"Apakah sampai pinto pun kau sudah tidak kenal?"

Mendengar perkataan tersebut gadis berbaju merah itu jadi tercengang, sebentar kemudian sambil melemparkan pedangnya ke atas tanah dia maju menubruk ke depan.

"Supek, kiranya kau orang tua adanya! kau sungguh sungguh membuat Hong jie merasa sedih"

Teriaknya sambil menangis.

Dengan terharunya Ui Liong Tootiang membelai rambutnya kemudian dengan perlahan membuka kembali kerudung yang menutupi wajahnya sehingga terlihatlah wajahnya yang sangat menarik itu.

Setelah wajah dari Mo Tan-hong ini terbentang dihadapan mata para jago suasana dengan cepatnya berubah jadi amat tegang, setiap orang merasa hatinya berdebar debar, mereka menantikan perubahan selanjutnya dengan hati cemas.

Sudah tentu orang yang paling merasa kuatir adalah Tan Kia-beng, Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong serta Mo Thian-hong palsu tersebut.

Saat ini keadaan sudah dibikin jelas, si pengemis aneh ini sambil tertawa terbahak-bahak, segera berseru.

"Haa.... haa.... haa.... sungguh tidak disangka di dalam kolong langit pada saat ini masih ada orang yang begitu tidak tahu malu, dihadapan orang banyak mengaku sebagai putri orang lain dan sandiwara dihadapan cian pwee orang lain pula."

San Liem Ci Cu pun hatinya jadi terang saat ini sambil menggoyang goyangkan kipasnya diapun tertawa tergelak.

"Bagus.... bagus sekali,"

Serunya.

"Di tempat ini ternyata sudah muncul sebegitu banyak orang yang mau bergabung.... ha.... sukma Mo Cun-ong yang ada diakherat tentunya merasa amat senang sekali Saat itulah dengan cepatnya Tan Kia-beng sudah berkelebat ke samping Mo Cuncu, dengan membawa nada mengomel serunya.

"Bagus, kau berani mengelabuhi diriku! kiranya kau sudah berkelana di dalam Bulim Dengan perasaan malu Mo Tan-hong segera menundukkan kepalanya dan tertawa.

"Aku ada keberatan sendiri, bukannya maksudku sengaja menipu dirimu!"

Ui Liong Tootiang yang melihat putri kawan lamanya sewaktu bertemu dengan murid kawan lamanya pula bersikap demikian mesra dan rasa cinta itu diperlihatkan dari kata-katanya tak kuasa lagi merasa amat girang, dia lantas tertawa terbahak-bahak.

Sejak Tan Kia-beng menghantarkan Cuncu keutara hingga ini hari Pek Ih Loosat terus menerus memperhatikan sikap dari kedua orang itu sudah tentu hal inipun dikarenakan rasa cintanya pada pandangan pertama terhadap Tan Kia-beng.

Cuncu yang kepandaiannya sudah jadi dan berkelana di dalam Bulim, dengan kedudukan sebagai lihiap berkerudung dia pun mengetahui dengan jelas, tetapi justru tidak dia ceritakan kepada Tan Kia-beng, dia selalu berharap dengan rasa harusnya hati Tan Kia-beng bisa tertarik kepadanya, lalu merebutnya dari tangan Mo Tan-hong.

Saat ini melihat terhadap kemunculannya Tan Kia-beng sama sekali tidak menggubris, sebaliknya bersikap begitu mesranya terhadap Mo Tan-hong dalam hati tidak terasa sedikit merasa sedih.

Dia sebetulnya adalah seorang yang bersikap congkak dan biasanya bersikap seperti ratu, orang-orang Bulim banyak yang tertarik terhadap dirinya, tetapi semua orang itu tak dipandang sebelah matapun olehnya kecuali Tan Kia-beng seorang dia sama sekali tidak menaruh rasa tertarik.

Sebaliknya Tan Kia-beng yang sudah berkenalan dengan Mo Tan-hong terlebih dulu ditambah pula nama mereka ayah beranak sangat jelek di dalam Bulim membuat sikap Tan Kia-beng terhadap dirinyapun tidak begitu cemerlang lagi.

Dengan sorang diri dia berdiri termangu-mangu disana, hatinya benar-benar merasa amat sedih sekali.

Dengan mengambil kesempatan sewaktu seluruh perhatian orang lain tertuju pada Mo Tan-hong, dengan pelahan dia mengundurkan diri dari situ dan lenyap di tengah kegelapan.

Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang melihat munculnya Mo Tan-hong di sana dalam hati segera mengerti kalau usahanya ini telah mengalami kegagalan, kini melihat pula kata-kata sindiran dari pengemis aneh, serta San Liem Ci Cu dalam hati merasa semakin gemas lagi.

"Kalian berdua jangan merasa bagga dulu"

Pikirnya dihati.

"Ada satu hari kalian bakal mengetahui bagaimana lihaynya aku orang she Bok."

Tetapi dia yang jadi orang amat licik, walaupun gusar tidak diperlihatkan di atas wajahnya, dengan wajah yang amat tenang dia bertindak maju mendekati Mo Tan-hong.

"Kaukah Mo Tan-hong Tit li?"

Tanyanya.

"Dapatkan kau mengajukan bukti yang kuat untuk dibuktikan kalau kau benar-benar adalah Mo Tan-hong yang asli? Mendengar perkataan tersebut Mo Tan-hong jadi melengak, dia tidak kenal dengan Bok Thian-hong dengan sendirinya tidak mengerti pula apa maksud dari perkataannya itu. Tan Kia-beng yang ada disamping lantas tertawa.

"Dia adalah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong katanya dengan menggunakan kereta kencana dia pun sudah membawa datang seorang Cuncu karena niatnya menaruh curiga kalau kau adalah yang palsu maka dia minta bukti dari dirimu."

Tidak kuasa lagi Mo Tan-hong segera tertawa dingin.

"Hmmm! aku kepingin melihat Cuncu yang dia bawa itu bagaimana macam mukanya. Pada saat itulah Hwee Im Poocu, si pengemis aneh, San Liem Ci Cu sudah pada berdatangan ke depan. Terdengar tiba-tiba Hwee Im Poocu tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa.... aku mengakui nona ini lah baru putri yang sesungguhnya dari Mo Cun-ong sisanya palsu"

Katanya.

"Omong kosong!"

Bentak Lie Hun Hwieku dengan amat gusar.

"Dengan mengandalkan bukti apa kau mengatakan Hong djieku adalah palsu?"

Hwee Im Poocu sebagai majikan suatu benteng besar mana mau menerima makian itu dengan senang hati, mendadak air mukanya berubah sangat hebat.

"Mulutmu kalau berbicara lebih baik sedikit tahu adat"

Tegurnya dengan dingin. Aku orang she Ong bukanlah seperti anjing anjing yang ada diperkampunganmu itu."

Sebetulnya Lie Hun Hwie cu lagi merasa mangkel dan gemas, kini mendengar perkataan tersebut dengan gusarnya mendadak maju ke depan.

"Kau mau apa?"

Bentaknya.

"Haa.... haa.... aku orang she Ong tak akan bertempur melawan kaum wanita, bila mana sungguh sungguh ingin bergebrak lebih baik kau panggil saja Bok Cungcu untuk mewakili dirimu."

"Hmm! kau kira dengan kepandaian silatmu itu berhak untuk bergebrak sendiri dengan Cungcu."

"Haa.... haa.... kalau memangnya kau berbicara demikian aku orang she Ong malah kepingin sekali meminta beberapa jurus petunjuk dari ilmu silat Thay Gak Cungcu"

Hwee Im Poocu pada saat ini benar-benar sudah teramat gusar, dengan langkah lebar dia segera menerjang ke hadapan Bok Thian-hong Bok Thian-hong yang berakal licik mana mau mencari gara-gara dengan orang pada saat begitu, dengan cepat dia mengulapkan tangannya dan tertawa paksa.

"Bila mana Ong heng ingin minta petunjuk ada seharusnya cayhe melanjutkan, tetapi pada saat ini maaf aku tidak bisa mengiringi maksud hatimu itu, lebih baik kita membereskan dulu urusan yang menyangkut keluarga Mo ini. Waktu ini Ui Liong Tootiang sudah dapat menentukan kalau Mo Tan-hong benar-benar adalah putri dari raja muda Mo, kini melihat kepandaian silatnya pun sudah menjadi dalam hatinya merasa semakin girang lagi. Tanpa perduli orang, lalu sembari menggandeng tangan Mo Tan-hong, ujarnya.

"Hian tit li bilamana tidak ada urusan lagi disini, mari kita pergi saja?"

Dengan pandangan yang mesra dan penuh cinta kasih, Mo Tan-hong melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng.

"Tit li turut perintah!"

Sahutnya dengan malu malu.

Pada saat itulah mendadak dari tengah kalangan terdengar suara bentakan yang amat keras disusul meloncatnya Lie Hun Hwee cu ke tengah kalangan dengan wajah pucat kehijau hijauan menghalangi perjalanan dari Ui Liong Tootiang.

"Tunggu dulu!"

Bentaknya dengan keras urusan belum diselesaikan, kau mana boleh pergi!"

"Jadi kau ingin menghalangi jalan pergi dari Pinto?"

Teriak Ui Liong Tootiang dengan marah.

"Bila mana kau tidak jelaskan dulu urusan ini hee.... hee.... hee mau pergi boleh, tapi barang-barang itu harus kau tinggalkan disini."

Mendengar perkataan tersebut Oie Liong Tootiang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa yang asli dan yang palsu bukankah sudah dibedakan di depan para jago, apanya yang tidak beres lagi? sandiwara dari perkampungan Thay Gak Cungpun sudah bubaran!? Hmm.... lebih baik kalian jangan terlalu memaksa pinto sehingga jadi marah, waktu itu kalian tidak bakal lolos dari sini dalam keadaan hidup! Selama ini Bok Thian-hong selalu munculkan diri di dalam dunia kangouw dengan wajah yang halus, berbudi dan jujur, kini melihat rencana busuknya terbongkar dihadapan orang banyak dalam hati lantas merasa bilamana urusan ini dilanjutkan lebih panjang ada kemungkinan malah merugikan dirinya sendiri. Karena itu alisnya segera dikerutkan rapat rapat, mendadak dengan wajah penuh rasa gusar teriaknya dengan keras.

"Tootiang serta para saudara saudara dari Bulim harap tunggu sebentar, biarlah aku orang she Bok menyelesaikan dahulu urusan ini!"

"Hong jie kau kemarilah! teriaknya kemudian sambil putar badannya. Si Cuncu palsu tidak mengetahui dikarenakan urusan apa Bok Thian-hong jadi marah marah dengan hati berdebar debar dia lantas maju ke depan.

"Cungcu memanggil Hong jie ada keperluan apa?"

Tanyanya.

"Siapa yang sudah perintahkan kau untuk datang kemari?"

Bentak Bok Thian Bong dengan suara yang dingin dan wajah yang penuh napsu membunuh.

"Siapa yang suruh kau menyamar sebagai Cun dan pura pura datang keperkampunganku? Ayoh cepat bicara"

Baca Juga: Anak Naga 2

Baca Juga: Sepasang Golok Mustika Chin Yung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert