Eps 8 Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung
Baca online Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung
Cersil Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung.
"Saudara apakah benar Tan Siauwhiap yang pada waktu baru baru ini memperoleh pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam?"
"Tidak berani, cayhe memang Tan Kia-beng adanya, entah siapakah saudara sahut Tan Kia-beng sambil membalas hormat.
"Apakah kaupun merupakan manusia yang sudah menaruh perhatian terhadap pedang pusaka ini?"
"Cayhe adalah "Ci Lan Pak. atau manusia bercabang hijau Ku Sun Su adanya, Dia anak merupakan anak murid dari Isana Kelabang Emas, heng cay harap suka berlega hati, anak murid Isana Kelabang Emas tidak bakal mempunyai niat untuk merebut pedang pusaka tersebut sebaliknya ada satu permintaan yang kurang patut harap heng thay suka mengabulkannya."
"Apa yang kau maksudkan?"
"Harap heng thay suka menyerahkan itu daftar hitam milih raja muda Mo tempo hari."
Tan Kia-beng yang melihat ilmu Hong Mong Ci Khie yang dilancarkan olehnya tadi dalam hati sudah menebak beberapa bagian, kini mendengar orang itu sudah mengaku sebagai utusan dari Isana Kelabang Emas hatinya semakin tergetar.
Mendadak dia tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
"Haa.... haa.... untuk mendapatkan daftar hitam ini tidak sulit tetapi kau harus memberi tahu kepada cayhe apa kegunaannya?"
Mendadak dia menuding ke arah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang ada dibelakangnya dan berkata kembali.
"Apakah dia adalah kuku garuda yang sengaja kalian pelihara? harap heng thay suka memaafkan kalau cayhe berlaku kutang terhormat yang hendak membasmi kaum laknat dari muka bumi ini."
"Ciat Hun Kiam atau si Pendekar pedang menculik sukma Si Huan yang berdiri disampingnya sewaktu melihat Tan Kia-beng memandang Thay Gak Cungcu yang memiliki nama besar itu bagaikan manusia rendah yang tak berguna membuat hatinya rada bingung dan ragu ragu. Ci Lan Pek yang mengetahui kalau Tan Kia-beng terus menerus ingin mengetahui apa sebabnya Isana Kelabang Emas menghendaki daftar hitam itu, air mukanya rada berubah, ujarnya tiba-tiba dengan serius.
"Urusan ini Heng thay tidak usah ikut tahu, pokoknya, kita dari pihak Isana Kelabang Emas sangat membutuhkan daftar itu."
"Bilamana cayhe kukuh tidak suka menyerahkannya?"
"Itu artinya kalian memaksa pihak Isana Kelabang Emas untuk mengambil jalan terakhir,"
Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng segera tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... aku merasa heran, apakah seluruh barang yang aku orang she Tan miliki adalah barang pusaka semua, kenapa setiap orang pada ingin mendapatkan barang-barang milikku? tetapi kalian harus tahu kalau aku orang she Tan punya sifat keras kepala, sekalipun harus korbankan nyawa tak sebuah barangpun bakal aku lepaskan, perduli kalian dari pihak Isana Kelabang Emas mau menggunakan jalan terakhir atau jalan permulaan aku tak bakal akan menggubris."
Alis yang dikerutkan Ci Lan Pek semakin kencang lagi, paras mukanyapun berubah hebat lagi tapi hanya di dalam sekejap saja sudah berubah biasa kembali, ujarnya dengan perlahan ,"Tan heng adalah seorang manusia yang bentrok dengan kami dari pihak Isana Kelabang Emas hanya dikarenakan secarik kertas rongsokan?
apalagi Cayhe pun sama sekali tak bermaksud untuk memenuhi Heng Tay."
Tidak menunggu Tan Kia-beng mengucapkan sesuatu sinar matanya kembali menyapu sekejap ke arah Thay Gak Cungcu dan sambungnya.
"Sedang mengenai urusan yang menyangkut orang she Bok dan suhengmu Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong ini termasuk urusan dalam perkumpulan Teh Leng kauw kalian. Cayhe pasti tidak mau ikut campur! hanya saja seluruh perbuatannya dulu adalah atas perintah dari Isana Kelabang Emas dan akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak kita,"
Ci Lan Pek adalah seorang yang gagah dan jujur, perkataannya yang baru saja diutarakan sudah membongkar banyak rahasia Bulim selama ini maka seketika itu juga membuat air muka Thay Gak Cungcu berubah hebat, cuma saja dia tak berani membantah.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu pun merupakan jago-jago Bulim yang memiliki pengalaman yang amat luas, walaupun masih belum mengerti jelas keadaan yang sesungguhnya tetapi dalam hati sudah timbul rasa curiga, tak terasa lagi sinar matanya sudah dialihkan ke atas wajah Thay Gak Cungcu.
Tan Kia-beng yang diam-diam meresapi ucapan dari Ci Lan Pek tadi dari hatinya lantas timbul dua persoalan yang mencurigakan.
Pertama, Bok Thian-hong menggunakan kereta kencana memfitnah diri si Penjagal Selaksa Li, kenapa hal itu dikatakan merupakan urusan di dalam perkumpulan Teh Leng Kauw sendiri?
Kedua.
Apakah tujuannya Bok Thian-hong menimbulkan bencana pembunuhan massal di dalam Bulim?
Yang paling mengherankan lagi ternyata Ci Lan Pek sudah mengakui kalau semua hal itu Isana Kelabang Emas yang bertanggung jawab?
apakah semua kejadian ini dilakukan atas perintah pihak Isana Kelabang Emas?
Setelah termenung beberapa saat lamanya dia baru berkata.
"Urusan yang menyangkut soal daftar hitam tidak usah kita bicarakan lagi, menurut pendapat cayhe urusan itu adalah menyangkut keselamatan dari berpuluh puluh nyawa manusia. Siapapun jangan harap bisa mendapatkannya dari tangan cayhe, bilamana pihak Isana Kelabang Emas bermaksud hendak menggunakan kekerasan, hee.... hee.... cayhepun ingin sekali minta beberapa petunjuk dari ilmu Hong Mong Ci Khie saudara!"
Sengaja dia mengucapkan kata-kata Hong Mong Ci Khie itu dengan keras, seluruh jago yang ada disana kecuali Ci Lan Pek sendiri sampai Thay Gak Cungcu sendiripun dibuat kebingungan, karena siapapun belum pernah mendengar adanya ilmu silat semacam itu.
Sebaliknya Ci Lan Pek yang mendengar Tan Kia-beng sudah mengenali kalau ilmu yang digunakan adalah ilmu Hong Mong Ci Khie hatinya terasa tergetar amat keras tapi sebentar kemudian dia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... saudara kenal juga dengan ilmu Hong Mong Ci Khie"
Hal ini membuktikan kalau pengetahuanmu amat luas, aku Kong Sun Su ingin sekali minta beberapa petunjuk dari dirimu."
Dalam hati Tan Kia-beng sendirinya sudah tahu kalau suatu pertempuran sengit tidak bakal terhindar lagi, apalagi setelah dilihatnya kepandaian silat dari Ci Lan Pak amat dahsyat dihatinya sama sekali tidak mempunyai suatu pegangan untuk rebut kemenangan tapi iapun tidak suka memperhatikan kelemahannya.
Dengan langkah lebar ia berjalan maju dua langkah ke depan dan tertawa panjang "Hong Mong Ci Khie walaupun merupakan ilmu yang amat dahsyat dan cayhe mengerti kalau bukan tandingannya tetapi aku lebih baik mati di atas ceceran darah daripada melihat barang yang ada disakuku kena kau rampas seenaknya.
mari!
silahkan saudara mulai turun tangan."
Dengan perlahan Ci Lan Pak pun maju ke depan dan tersenyum "Tan Siauwhiap kau selalu merendah."
Si manusia bercabang hijau Kong Sun Su ini adalah murid tertua dari majikan Isana Kelabang Emas, kepandaian silatnyapun sudah memperoleh seperdelapan dari suhunya, sifatnyapun jujur dan gagah dan tindakannya menunjukkan sebagai seorang enghiong hoohan.
hal ini membuat Tan Kia-beng segera merasa kalau dia adalah satu satunya musuh yang paling dikagumi olehnya selama ini.
Masing-masing pihak pada mengerti kalau lawannya kini adalah musuh tangguh, walaupun diluarnya mereka berbicara dengan kata-kata yang lunak padahal dalam hati pasti merasa amat tegang sekali, diam-diam tenaga lweekangnya sudah dikerahkan mengelilingi seluruh tubuh dan siap-siap menantikan serangan pihak musuh.
Si Ciat Hun Kiam, Si Huan, Thay Gak Cungcu, Hwee Im Poocu serta Loo Hu Cu sekalian yang berdiri disamping kalangan pada terbetot perhatiannya oleh pertempuran yang amat dahsyat ini, saking tegangnnya untuk bernafaspun tidak berani.
Walaupun mereka semua merupakan jagoan Bulim yang memiliki kepandaian tinggi tetapi dalam hati pada mengerti bilamana mereka harus dibandingkan dengan dua orang itu maka bedanya amat jauh termasuk Thay Gak Cungcu yang amat terkenal itupun tak terkecuali.
Segulung angin bertiup dengan amat kencangnya membuat rumput dan ranting bergoyang tiada hentinya, suasana terasa semakin tegang lagi dibuatnya.
Pada saat saat yang amat tegang itulah mendadak tampak bayangan hijau dengan sangat cepatnya berkelebat ke dalam kalangan dan berdiri di tengah-tengah antara Ci Lan Pek dan Tan Kia-beng.
Orang itu ternyata bukan lain adalah gadis berbaju hijau, sambil membereskan rambutnya dia tersenyum manis ke arah si pemuda, setelah itu kepada Ci Lan Pak serunya.
"Suheng, kenapa kalian berdua jadi bertempur sendiri?"
"Kau.... kau bukankah kau sengaja bertanya walaupun sudah tahu?"
Seru Ci Lan Pak tertawa pahit, tangannya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apakah kita orang tak dapat menggunakan cara yang lain untuk melakukan penyelidikan? buat apa harus merebut daftar nama milik orang lain?"
"Maksud dari sumoay?"
"Aku melarang kalian berdua saling bergebrak."
Si "Ciat Hun Kiam"
Si Huan yang berada disamping diamdiam merasa amat geli, pikirnya;
"Kau melarang suhengmu untuk turun tangan masih boleh dikatakan cengli, lalu dengan mengandalkan apa melarang orang lainpun untuk mengikuti perkataanmu?"
Agaknya Ci Lan Pak sangat menurut perkataan dari sumoaynya ini, terdengar dia tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... kalau sumoay memangnya melarang aku untuk turun tangan, yaa sudahlah!"
Kakinya dengan amat ringan meluncur ke samping sejauh delapan depa lalu dengan amat tenangnya berdiri tak bergerak.
Dengan perlahan gadis berbaju hijau itu putar badan dan memandang ke arah sang pemuda.
"Bagaimana maksudmu?"
Tanyanya kemudian.
Sebenarnya Tan Kia-beng sendiripun tidak ingin bergebrak, karena Ui Liong Tootiang pernah memberi pesan wanti wanti kepadanya untuk sementara waktu jangan perlihatkan dulu ilmu barunya Jie Khek Kun Yen Kan Kun So.
Padahal bilamana tidak menggunakan ilmu barunya ini maka tidak bakal ia berhasil pecahkan ilmu "Hong Mong Ci Khei"
Nya pihak lawan, dengan sendirinya kesempatan untuk merebut kemenanganpun jadi menipis. Dengan cepat dia anggukkan kepalanya.
"Cayhepun mengikuti saja maksud hati dari nona!"
Sahutnya.
"Hii.... hii..... agaknya kalian berdua sangat penurut terhadap kata-kataku"
Tiba-tiba gadis berbaju hijau itu tertawa cekikikan. Selesai berkata terlintaslah satu senyuman bangga mengatasi wajahnya.
"Hmm! kau tidak usah banyak jual tampang dihadapanku, aku orang she Tan tidak ada sangkut paut apapun dengan dirimu buat apa harus mendengarkan pula perkataanmu?"
Seru pemuda itu tiba-tiba sambil mendengus dingin. Dengan cepat gadis berbaju hijau itu menerjang kehadapannya dengan wajah berubah hebat.
"Apa kau kata?"
Jeritnya keras.
Beberapa patah kata tadi agaknya sudah menyinggung perasaan halusnya sehingga membuat sepasang biji matanya yang bening penuh digenangi dengan air mata.
Tan Kia-beng yang melihat sikapnya amat menyedihkan dalam hati segera merasa tidak tegah.
"Aku cuma bergurau saja, kenapa kau harus menganggapnya sungguh sungguh?"
Katanya kemudian sambil menghela nafas panjang "Hmm! siapa yang suka bergurau dengan dirimu!"
Selesai berkata dia putar badan dan kembali tertawa cekikikan.
Tan Kia-beng segera merasa walaupun gadis itu sudah berusia enam, tujuh belasan tetapi sifat kekanak kanakannya masih belum hilang, sikapnya yang pohon dan jenaka itu membuat sang pemuda merasa tidak tegah untuk menyinggung bagi perasaannya.
"Bolehkah cayhe mengetahui nama dari nona?"
Ujarnya kemudian.
"Kenapa tidak boleh? aku bernama Gui Ci Cian, majikan Isana Kelabang Emas adalah...."
Berbicara sampai disini tiba-tiba dia menutup mulutnya lagi dan tertawa cekikikan.
"Aduh celaka, aku sudah kebanyakan bicara, Dengan cepat dia putar kepalanya memandang ke arah belakang, tetapi sebentar kemudian ia sudah menemukan kalau Ci Lan Pek sekalian telah berangkat terlebih dulu. Tan Kia-beng yang telah pusatkan perhatian untuk bercakap-cakap dengan sang nona sehingga melupakan Thay Gak Cungcu kini melihat mereka sudah pergi tak terasa lagi sudah berseru dengan amat keras.
"Aduh celaka, mereka sudah pada pergi!"
Gui Ci Cian yang mendengar perkataan tersebut segera menyangka dia lagi mengartikan suhengnya Ci Lan Pek, tak terasa lagi bibirnya sudah dicibirkan.
"Hmm! kau kira suhengku adalah manusia yang bisa diganggu seenaknya, bilamana ini hari aku tidak datang pada waktunya siapa yang bakal kalah masih sukar ditentukan."
"Suhengmu jadi orang amat jujur dan bersikap gagah, bilamana dia tidak berada pada pihak musuh kepingin sekali cayhe untuk berkenalan dengan dirinya, sampai kini cayhe sama sekali tidak menaruh sikap bermusuhan dengan dirinya. Cuma saja "Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong tidak bisa dilepaskan begitu saja"
"Agaknya kau merasa tidak cocok sekali dengan dirinya?"
Bukannya tidak cocok, manusia tak berguna bagi Bulim seperti dia ini ada seharusnya dibasmi sampai ke akar-akarnya.
"Kau sudah bulatkan tekat untuk membinasakan dirinya?"
"Untuk membalaskan dendam bagi beribu ribu sukma yang mati ditangannya, cayhe terpaksa harus berbuat demikian."
"Baik! ada suatu hari aku akan memberi kesempatan bagimu untuk melaksanakan niatmu ini, dengan demikian kau merasa puas bukan?"
Tan Kia-beng tidak mengerti maksud dari perkataannya ini adalah sungguh sungguh atau sebaliknya untuk beberapa saat lamanya tak diketahui olehnya apa yang harus dikatakan.
Si Ciat Hun Kiam, Si Huan yang selama ini menanti dengan tenangnya disamping mendadak maju ke depan dan menjura.
"Kalian berdua silahkan melanjutkan pembicaraan, Cayhe akan berangkat terlebih dulu, kita bertemu kembali di kota Wu Han!"
Waktu itulah Tan Kia-beng baru merasa kalau dia sudah mengesampingkan dirinya selama pembicaraannya dengan Gui Ci Cian tak terasa lagi paras mukanya berubah memerah, buru-buru serunya.
"Si heng tunggulah sebentar lagi, kita berangkat bersama-sama.
"Haa.... haa.... caramu bersantap kuah dengan kuah ini kurang sedap rasanya, lebih baik kita bertemu kembali sesampainya di kota Wu Han". Selesai berkata tanpa menanti jawaban Tan Kia-beng lagi dia putar badan dan berlalu dari sana. Melihat sikap dari Si Huan ini tak terasa lagi Gui Ci Cian segera tertawa cekikikan "Hii.... hii.... kawanmu itu sungguh menarik sekali"
Katanya.
Si gadis berbaju hijau itu bisa tertawa senang sebaliknya Tan Kia-beng merasakan kepahitan dihatinya, bukan saja Gui Ci Cian ini bukan kawan perempuannya bahkan ia berada pada kedudukan bermusuhan.
Sikap pihak lawan yang begitu memperhatikan dirinya ini ia sendiripun tak bisa menebak, sungguh sungguhkah itu atau masih ada maksud tertentu, dia tak ingin kesalah pahaman ini berlangsung lebih jauh Karenanya begitu melihat Si Huan berlalu diapun dengan tergesa gesa merangkap tangannya menjura.
"Cayhepun akan berangkat terlebih dulu lain kali kita berjumpa kembali"
Serunya cepat-cepat. Selesai berkata tubuhnya bergerak siap-siap meninggalkan tempat itu. Mendadak tampaklah bayangan hijau berkelebat. Cui Ci Cian sudah menghalangi kembali jalan perginya.
"Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi"
Katanya dengan manja.
"Kita bakal bertemu kembali dimana?"
"Wu Han!"
Sahut pemuda itu singkat.
Tan Kia-beng benar-benar merasa amat takut untuk bercakap-cakap lebih banyak dengan gadis tersebut, karenanya begitu selesai memberi jawaban dengan cepat ia melayang ke depan dan berkelebat mengejar Si Huan.
Dengan termangu-mangu Gui Ci Cian memandang bayangan punggungnya yang mulai lenyap dari pandangan ia merasa dirinya seperti kehilangan sesuatu, hatinya terasa sangat sedih sekali sehingga tanpa terasa suara helaan napas panjang bergema meemnuhi angkasa.
Ia adalah putri kesayangan dari istana majikan Kelabang Emas, pada hari hari biasanya mendapatkan kemanjaan yang luar biasa dari siapapun, apa yang diinginkan pasti akan terlaksana dan siapapun tak ada yang berani mencegah maksud hatinya, bahkan sampai Ci Lan Pak sebagai murid tertua pun harus mengalah beberapa bagian terhadap dirinya.
Tetapi ini hari untuk pertama kalinya ia sudah menjumpai suatu peristiwa yang tak berhasil memenuhi selera hatinya, dia sendiripun tidak tahu secara bagaimana secara mendadak ia bisa menyukai pemuda tersebut bahkan hal yang paling menjengkelkan itu ternyata keras kepala dan sama sekali tidak menggubris terhadap rasa cinta yang diperlihatkan olehnya.
Dia merasa mendongkol dan kecewa karena pemuda itu sudah tinggalkan dirinya tanpa mengucapkan sesuatu.
Hal ini membuat perasaan terhormatnya tersinggung, lama sekali dia berdiri termangu-mangu akhirnya sambil mendepak depakkan kakinya ke atas tanah gumamnya seorang diri.
"Hmm! aku tidak percaya hatinya sekeras baja, aku harus berhasil mendapatkan dirinya"
Mendadak tubuhnya meloncat ke tengah udara, diantara berkibarnya ujung baju laksana bidadari yang turun dari kahyangan dengan amat gesitnya ia berlalu dari sana.
---0-dewi-0---Kita balik pada Tan Kia-beng yang dalam hati merasa sangat tidak enak sekali berhubung kepergian dari si "Ciat Hun Kiam"
Si Huan meninggalkan dirinya berdua Dia melakukan perjalanan dengan amat cepat, sedang dalam hati tiada hentinya memikirkan beberapa persoalan.
Pertama; Berbentuk apakah organisasi Isana Kelabang Emas itu?
siapakah majikannya?
jika ditinjau dari sikap perkataan serta gerak gerik dari Ci Lan Pek serta si gadis berbaju hijau itu sepertinya tidak kehilangan sikap gagah dari jagoan Bulim dan sama sekali tidak memperlihatkan sikat sebagai iblis iblis yang bermaksud jahat lalu apa tujuan mereka untuk medapatkan daftar nama itu?
Kedua, Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong adalah anak buah dari Isana Kelabang Emas dengan sendirinya perintah untuk membinasakan para jago Bulim dan anggota partai partai besar datangnya dari Isana Kelabang Emas, apa maksud tujuannya?
Mendadak dia teringat kembali akan perkataan dari Ci Lan Pek, perbuatan Bok Thian-hong menyaru sebagai majikan kereta kencana merupakan urusan rumah tangga Teh Leng Kauw sendiri, dengan demikian jelas sekali menunjukkan kalau Bok Thian-hong bukan lain adalah murid kedua dari Han Tan Loojien atau dengan perkataan lain Ji suhengnya sendiri.
Mungkin dia berbuat demikian berhubung merasa kalau si Penjagal Selaksa Li adalah murid tertua dan ia berhak untuk menjabat sebagai ciangbunjin dari Teh Leng Kauw, asalkan lenyapkan dia dari muka bumi maka dirinya dengan kedudukan sebagai murid kedua secara terbuka bisa menjabat sebagai Ciangbunjin?
bukankah hal ini akan menambah kekuatan dan pengaruhnya di dalam percaturan Bulim dikemudian hari?
Semakin dipikir pemuda itu merasa semakin mantap hatinya, dia merasa perasaan curiga yang selama ini terkandung dihatinya sebagian besar adalah cocok dengan keadaan.
Saking bingungnya memikirkan persoalan ini tak terasa lagi Tan Kia-beng sudah salah mengambil jalan, saat ini sampailah dia di tengah sebuah pegunungan yang amat sunyi dengan empat penjuru dipenuhi oleh semak belukar.
Akhirnya sampailah dia disebuah jalan buntu yang penuh dengan akar serabut.
Pada saat dia lagi berdiri tertegun itulah mendadak dari balik semak berkumandang datang suara tertawa cekikikan yang genit disusul munculnya seorang perempuan cantik dengan gaya yang amat mempesonakan.
"Sute, kau seorang diri datang kemari ada keperluan apa? sapanya. Dengan rasa terperanjat pemuda itu dongakkan kepalanya, tampaklah Lei Hun Hweeci itu istri kesayangan dari Bok Thian-hong sudah muncul dihadapannya dengan gaya yang merangsang.
"Siapakah yang jadi sutemu?"
Bentaknya dengan wajah adem "Eeeii.... sute, hawa amarahmu sungguh luar biasa sekali. ensomu apa pernah berbuat salah terhadap dirimu?"
"Hmm! perbuatan kalian suami istri jelas mau tahu tanyalah pada dirimu sendiri, jikalau tahu diri lebih baik menyingkirlah jauh jauh, hati-hati dibawah serangan siauw yamu selamanya tanpa ampun."
"Heei....! Sute, maukah kau bersikap lebih baikan terhadap ensomu yang sudah tua ini? Terus terang kukatakan suhengmupun ada kesulitan yang tak bisa diutarakan! mari, tempat tinggal ensomu tidak jauh dari sini, masuklah kerumahku dan duduklah sebentar sembari minum teh biarlah ensomu memberi keterangan yang jelas!"
Diantara percakapan itu, Lei Hun Hweeci sudah berjalan mendekati pemuda itu kemudian menarik ujung bajunya untuk diajak pergi.
Melihat sikapnya itu Tan Kia-beng kontan mengerutkan alisnya rapat rapat, telapak tangannya dengan tajam membabat ke samping "Tidak usah tarik bajuku, sana!
menggelinding yang jauh!"
Bentaknya dengan keras.
Di dalam anggapannya perempuan itu tentu akan melepaskan tangannya, siapa tahu dia ternyata sama sekali tidak menggubris, walaupun melihat serangan dari pemuda itu hampir menghajar pergelangan tangannya ia tetap tak menyingkir atau menarik kembali tangannya.
Hal ini membuat pemuda tersebut dengan gugup terpaksa menarik kembali serangannya.
---0-dewi-0---JILID.
"Hey, apa maksudmu yang sebenarnya?"
Teriaknya dengan mata melotot lebar-lebar.
Saat ini Lei Hun Hweeci telah mengetahui kalau pemuda tersebut tidak bakal mencelakai dirinya, hal ini membuat hatinya semakin mantap "Hee....
memang nasib kami yang buruk!"
Ujarnya dengan wajah pura pura sedih.
"Sampai antara suheng-te sendiripun tidak bisa memahami keadaan dari suami istri, lebih baik aku mati saja ditanganmu."
Melihat perempuan itu tidak mau juga lepas tangan, Tan Kia-beng benar-benar dibuat amat cemas. Sebetulnya kau suka lepas tangan atau tidak?"
Teriaknya lagi sambil mencak mencak saking mendongkolnya.
"Bilamana kau tidak meluluskan permintaanku untuk duduk sebentar di dalam ruangan, sekalipun binasakan dirikupun aku tidak bakal lepas tangan."
"Kau kira aku sungguh sungguh tidak berani hajar dirimu? "Sreeet....!"
Dengan sejajar dada dia melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat menghajar tubuh pihak lawan.
Terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tubuh Lei Hun Hweeci sudah kena dihantam terpental ke tengah udara dan jatuh ke dalam semak belukar yang tebal.
"Sute, kau sungguh kejam! kau begitu tega menghantam ensomu sehingga jadi begini"
Rintihnya dengan lemah.
"Heeii!! jauh lebih baik aku mati saja daripada hidup tersia-sia, sute! kirimlah satu pukulan lagi agar aku bisa cepat mati"
Tan Kia-beng yang melancarkan pukulan tadi seaktu melihat Lei Hun Hweeci sama sekali tidak menghindar atau menangkis di dalam keadaan cemas tenaga pukulannya sudah ditarik separuh.
Dikarenakan jaraknya yang amat dekat sekalipun dia sudah berhasil menarik kembali serangannya tidak urung tangannya sudah menekan pula di atas dadanya yang menonjol keluar dan terasa amat empuk.
Dalam keadaan gugup ia lantas meloncat kesamping, walaupun begitu Lei Hun Hweeci tertahan pula sehingga terpental dan menjerit ngeri.
Sekalipun ia merasa sangat benci terhadap mereka suami istri berdua tetapi di dalam keadaan seperti ini hatinya merasa iba juga.
Terburu-buru tubuhnya melayang kesisi tubuhnya dan mengomel dengan nada perlahan;
"Bagaimana dengan lukamu? kenapa kau tidak suka menghindar? heei.... sungguh."
"Maa.... masih rada baaa.... baikkan aku tidak akan menyalahkan dirimu, tolong bimbinglah aku pulang!"
Rintih Lei Hun Hweeci pura pura kehabisan tenaga.
Dalam keadaan seperti ini Tan Kia-beng merasa tidak enak untuk menolak permintaannya, terpaksa sambil kerutkan alisnya rapat rapat dia membimbing bangun badannya dan dengan perlahan bergerak maju ke depan.
Walaupun usia dari "Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong sudah melampaui setengah abad tetapi istri kesayangannya ini Lei Hun Hwee ci tidak lebih cuma tua dua, tiga tahun dari Tan Kia-beng Dibawah bimbingan lengan sang pemuda yang kuat dan berotot, Lei Hun Hwee ci segera menjatuhkan seluruh tubuh ke dalam pelukannya.
Segulung bau harum yang semerbak dan terasa amat aneh menusuk hidung Tan Kia-beng membuat sang pemuda yang baru saja menginjak dewasa ini merasakan hatinya berdebar amat keras, napas mulai berjangkit dan hampir hampir tidak kuat menahan diri Sebetulnya perasaan ini jamak muncul dari tubuh seorang lelaki normal, tidak perduli pemuda maupun pemudi yang manapun asalkan berada di dalam keadaan seperti ini tentu akan merasakan hatinya bergolak amat keras.
Masih untung saja Tan Kia-beng memiliki tenaga dalam yang amat tinggi, tergesa gesa dia menarik napas panjang panjang dan menenangkan hatinya yang lagi bergolak.
"Eee.... Tan Kia-beng.... Tan Kia-beng, sikapmu yang kesemsem dengan perempuan isteri orang lain apakah boleh disebut sebagai sikap seorang lelaki sejati diam-diam dia memperingatkan dirinya sendiri Perjalanan yang dilakukan amat perlahan ini memakan waktu yang cukup lama, entah berapa saat lamanya terakhir sampailah kedua orang itu di depan sebuah kuil yang amat kecil. Dengan lemah gemulai Lei Hun Hweeci maju ke depan untuk mengetuk pintu, sebentar kemudian tampaklah pintu kuil terbuka dan muncullah seorang yang bukan merupakan seorang Nikou sebalinya merupakan seorang pelayan muda yang wajahnya penuh perasaan terkejut. Begitu mereka berdua masuk ke dalam ruangan buru-buru dia menutup kembali pintu itu rapat rapat. Setelah masuk di dalam biara tersebut dengan sinar mata yang tajam pemuda itu mulai menyapu sekejap memandang sekeliling tempat itu. Tampaklah di atas meja sembahyang kecuali terletak sebuah patung Koan Im sama sekali tidak nampak barang-barang untuk bersembahyang maupun bayangan dari Nikou walaupun begitu Tan Kia-beng tidak tertarik untuk mengurusinya. Setelah menghantarkan Lei Hun Hweeci ke belakang ruangan dengan nada yang amat dingin, ujarnya.
"Untuk sementara waktu aku lepaskan dirimu, lain kali bilamana berjumpa kembali janganlah salahkan aku akan turun tangan kejam."
Selesai berkata dengan langkah lebar ia berlalu dari tempat itu.
"Sute! kesalah pahamanmu terhadap kami suami istri sudah begitu mendalamnya, hal ini membuat aku susah untuk memberi penjelasan kata Lei Hun Hweeci sambil tertawa sedih.
"Ini hari kau sudah menghantar aku datang kemari, kenapa tidak minum arak dulu baru pergi? urusan selanjutnya kita bicarakan dikemudian hari saja!"
Pada saat itu tampaklah dua orang pelayang berbaju hijau sudah membawa sebuah nampan datang kehadapannya.
Dengan amat sedih sekali Lei Hun Hweeci mengambil sebuah cawan arak lalu diangsurkan kehadapan pemuda itu, ujarnya dengan perasaan murung.
"Sute biarlah ensomu menghormati satu cawan dulu kepadamu lain kali bilamana kita berjumpa kembali ada kemungkinan kau akan menganggap aku sebagai musuh besarmu."
Tan Kia-beng yang melihat arak itu berwarna hijau dan bening tak ada tanda tanda yang mencurigakan ditambah pula yang sikapnya yang terlalu menaruh rasa kasihan kepada orang lain melihat sikap dari Lei Hun Hweeci yang patut dikasihani itu ia merasa tidak tega untuk menolak.
Tanpa pikir panjang lagi dia menerima angsuran cawan itu kemudian meneguknya hingga habis.
Begitu Lei Hun hweeci melihat pemuda itu sudah mengeringkan isi cawan dengan cepat ia merangkak naik ke atas pembaringannya.
"Hiii.... hiii.... beginilah baru suteku yang baik!"
Serunya sambil tertawa. Sambil tertawa dia menarik tangan sang pemuda lalu tambahnya lagi.
"Setelah minum arak seharusnya berbaring dulu, sute! mari berbaringlah biar ensomu melayani kepuasan lelakimu!"
Tan Kia-beng rada tertegun mendengar perkataan yang tidak dimengerti olehnya itu mendadak dari pusarnya terasalah segulung hawa panas yang amat aneh bergerak naik ke atas sehingga membuat seluruh pembuluh darahnya ikut menegang.
Suatu perasaan untuk memenuhi sesuatu kebutuhan dengan cepat muncul dari dasar hatinya, ia merasa keadaannya jadi pudar sedang wajahnya berubah jadi merah padam matanya melotot lebar-lebar mulutnya mendesis sehingga keadaannya mirip dengan seekor binatang buas.
Di tengah suara napasnya yang memburu dan pentangkan tangan yang amat lebar dengan perlahan ia bergerak mendekati tubuh Lei Hun hweeci telah tidur terlentang di atas pembaringan itu.
Mendadak tubuhnya menubruk ke depan dan memeluk tubuh perempuan itu kencang terdengarlah Lei Hun Hweeci mendesis perlahan kemudian dengan pasrahnya ia menjatuhkan diri ke dalam tindihan tubuhnya.
Suara sobekan pakaian dengan cepat bergema saling susul menyusul seketika itu juga robekan pakaian beterbangan keempat penjuru Di tengah tindakan kasar sang pemuda tangannya mulai menggerayangi seluruh tubuh Lei Hun Hweeci yang pada saat itu sudah berada dalam keadaan telanjang bulat.
Di dalam sekejap saja dibawah sorotan sinar lampu tampaklah bukit-bukit putih yang montok dan empuk muncul dihadapan mata ditambah pula likukan lekukan tubuh yang mempesonakan apalagi sebuah lembah yang tak berhutan....
Keadaan dari Lei Hun Hweeci mirip dengan seekor anak kambing....Tidak lebih mirip dengan seekor ular yang tak bertulang menggeliat, bergoyang dan bergerak kesana kemari tiada hentinya dibawah tindihan dada yang lebar dari sang pemuda Bibirnya yang kecil dan berwarna merah ternganga lebar-lebar menanti serangan gencar dari sang pemuda....
Tubuh mereka berdua mulai merapat....
semakin melengket dan....
Lampu di tengah ruangan bergoyang ditiup anign, suatu pemandangan yang amat mendebarkan hati, amat indah dan mempersonakan sebentar lagi bakal berlangsung.
Suasana benar-benar mencapai pada ketegangan yang hampir mendekati pada puncaknya.
Sekonyong konyong....
Suara bentakan merdu bergema datang disusul berkelebatnya sesosok bayangan manusia, tampaklah seorang Dara Berbaju Hijau bagaikan kilat cepatnya menerjang masuk ke dalam ruangan melalui jendela Begitu melihat munculnya sang dara tersebut Lei Hun Hweeci jadi amat terperanjat.
"Aaakh!...."
Teriaknya dengan amat kaget.
Dengan sekuat tenaga dia merontah dari tindihan dari sang pemuda, begitu terlepas dari pelukan Tan Kia-beng tanpa memakai pakaian lagi dalam keadaan telanjang bulat dia berlari dengan cepatnya meninggalkan tempat itu.
Tan Kia-beng yang sudah kena dicekoki dengan obat pembangkit hawa napsu birahi oleh Lei Hun Hweeci saat ini benar-benar tak kuat untuk tidak mengumbar napsunya binatangnya melihat kelinci buruannya berhasil meloloskan diri dengan kalapnya ia menubruk ke arah Dara Berbaju Hijau yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Pada mulanya gadis berbaju hijau itu tidak mengetahui apa yang telah terjadi sehingga terburu-buru menerjang ke dalam kini melihat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat dengan mata berwarna merah darah dan amat liar menubruk ke arahnya, tak terasa lagi dengan wajah berubah merah jengah ia menjerit kaget.
"Hayaa....!"
Tangannya dengan cepat menutupi seluruh wajah kemudian putar badan dan berlalu dari sana.
Pada saat itulah tiba-tiba pinggangnya terasa dirangkul dengan amat kencangnya oleh lengan sang pemuda yang amat kuat itu diikuti tangan yang lain menyambar dan merobeknya pakaian itu yang dikenakan sehingga bagian dada hingga tubuh bagian bawahnya kelihatan jelas di depan mata Kepandaian silat yang dimiliki oleh Gui Ci Cian sebetulnya amat lihay sekali, saat ini ia berhasil kena dirangkul oleh Tan Kia-beng justru dikarenakan hatinya bingung dan gugup, tetapi setelah tubuhnya kena dirangkul dan pakaiannya kena dirobek hingga bagian tubuhnya yang terlarang kelihatan ia jadi sadar kembali.
Dengan kecerdikannya sekali pandang ia sudah tahu apa sebabnya pemuda itu jadi begini tangannya dengan cepat berkelebat menotok jalan darah tidur pada tubuh pemuda tersebut kemudian menggendongnya ke atas pembaringan.
Bersamaan itu pula dari sakunya dia mengambil keluar sebuah botol porselen dan mengambil keluar sebutir pil "Swie Nau Kiem Tan"
Untuk dijejalkan ke dalam mulut Tan Kia-beng. Pil mujarab "Swie Nau Kiem Tan"
Ini adalah obat yang paling mujarab dari Isana Kelabang Emas, baru saja gadis itu memasukkan pil itu ke dalam mulutnya mendadak....
Dari luar jendela kembali berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menyeramkan Dalam keadaan amat terperanjat Gui Ci Cian balikkan badannya melancarkan satu pukulan membebaskan jalan walet dengan gesitnya melayang keluar dari dalam ruangan.
Dibawah sorotan sinar rembulan terlihatlah seorang gadis berbaju putih dengan wajah yang amat dingin menengadah ke atas udara sedang dari mulutnya tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa yang menusuk telinga "Nonamu adalah Hu Siauw-cian!
hmm!
maaf, maaf sudah mengacau pekerjaan bagus kalian bukan?"
Bentak gadis tersebut dengan nyaring.
"Omong kosong!"
Teriak Gui Ci Cian dengan paras muka berubah jadi merah jengah Mendadak dia merasa segulung angin dingin berhembus datang membuat dada serta tubuh bagian bawahnya terasa amat dingin buru-buru dia menundukkan kepalanya.
Seketika itu juga gadis itu merasa amat malu sehingga seluruh paras mukanya berubah jadi merah padam, kiranya teteknya pada saat ini sudah menonjol keluar dari balik pakaiannya yang robek keadaannya mirip dengan perempuan yang lagi menyusui anaknya.
Hu Siauw-cian yang melihat sikapnya yang agak kikuk itu tak terasa lagi memperdengarkan kembali suara tertawa dingin yang semakin menyeramkan.
Pada saat itulah kembali terlihatlah sesosok bayangan merah berkelebat mendatang, sewaktu melihat sikap dari kedua orang itu ia rada tertegun dibuatnya.
"Bukankah kau datang bersama-sama dengan engkoh Beng?"
Tegur "Pek Ih Loo Sat"
Hu Siauw-ciang dengan suara yang amat dingin setelah melihat munculnya bayangan merah itu.
Orang yang baru datang ini bukan lain adalah Mo Tan-hong, semula ia datang mencari Tan Kia-beng di dunia kangouw, tak terkira kebetulan sudah lewat di tempat tersebut dan ketemu dengan kedua orang gadis itu.
Kini setelah mendengar suara teguran dari Pek Ih Loo Sat hatinya mulai mengerti kalau di tempat itu sudah terjadi sesuatu.
"Tidak!"
Jawabnya kemudian.
"Dia keluar jauh lebih dulu dari diriku, kau sudah bertemu dengan dirinya?"
"Bertemu sih sudah bertemu, hanya saja saat ini ia sudah dipengaruhi oleh siluman rase!"
Siluman rase?
tak terasa lagi dengan mata terbelalak lebar-lebar Mo Tan-hong memperhatikan dirinya.
Tiba-tiba....
Bayangan putih berkelebat tahu-tahu Pek Ih Loo Sat dengan gerakan yang amat gesit telah menghalangi jalan pergi dari Dara Berbaju Hijau itu "Siluman rase!"
Bentaknya dengan suara yang amat menyeramkan. Kau sudah membuat engkoh Beng jadi begitu, kini kau hendak melarikan diri pula? Hmm! jangan bermimpi di siang hari bolong."
Terhadap kedua orang gadis ini Gui Ci Cian pernah menemui semua ia tahu kalau merekapun adalah kawan karib dari Tan Kia-beng.
Kini dirinya berada dalam keadaan setengah telanjangan apalagi teteknya keluar sebagian bagaimanapun hal ini membuat ia merasa tidak enak untuk tetap berada disana setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya ia terkahir bermaksud untuk meninggalkan tempat itu.
Siapa sangka baru saja ia menggerakkan badannya telah kena dihalangi oleh si Pek Ih heng Hu Siauw-cian bahkan tiada hentinya dirinya kena dimaki sebagai siluman rase, dia sejak kecil selalu dimanja mana kuat dia menahan cemoohan tersebut?
Dalam keadaan yang amat gusar telapak tangannya dengan cepat dibabat ke depan dan melancarkan satu serangan yang gencar ke arah tubuh Pek Ih Loo Sat.
Dengan kepandaian silatnya yang begitu tinggi seketika itu juga membuat seluruh angkasa dipenuhi dengan bayangan hijau yang menyambar kesana kemari tiada henti hentinya, di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tujuh belas serangan dahsyat.
Hu Siauw-cian adalah seorang bocah perempuan yang suka mencari gara gara, seketika dia melihat sikap yang demikian mesra antara dia dengan Tan Kia-beng, hatinya sudah merasa amat marah.
Ia menyangka sikap pemuda itu terlalu baik terhadap sang gadis perduli peristiwa itu keluar dari hati Tan Kia-beng sendiri atau terpengaruh obat bius dia sendiri sama sekali tidak mau tahu.
Karenanya sewaktu melihat Gui Ci Cian melancarkan serangan ke arahnya dengan cepat dia bergerak maju untuk menyambut.
Mereka berdua sama-sama memiliki bakat baik, ditambah ilmu silat yang dipelajari pun sama-sama lihaynya membuat suasana seketika itu juga berubah jadi amat tegang.
Tampaklah bayangan putih dan hijau saling berputar dan melayang kesana kemari dengan gesitnya sebentar ke atas sebentar ke bawah masing-masing dengan gerakan yang cepat laksana kilat berusaha mengalahkan pihak lawannya.
Mo Tan-hong yang tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya setelah mendengar perkataan terakhir dari Pek Ih Loo Sat salah menyangka kalau Tan Kia-beng sudah terluka ditangan Dara Berbaju Hijau itu, di dalam keadaan yang amat cemas dengan cepatnya menjerit melengking Budak!
kau berani mencelakai engkoh Beng serahkan nyawamu!
Tubuhnya dengan amat cepat bergerak ke depan dan ikut menerjunkan diri ke dalam kancah pertempuran Dengan demikian dia bersama-sama dengan Pek Ih Loo Sat secara berbareng mengeroyok Dara Berbaju Hijau itu Sejak dirinya memperoleh pil pencuci tulang dari Ui Liong-ci, tenaga dalamnya sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat kini setelah ia terjunkan diri ke dalam kalangan maka keadaan Gui Ci Cian pun jadi semakin terdesak Pada saat yang amat tegang itulah mendadak tampak sesosok bayangan manusia dengan jalan rada sempoyongan berlari keluar dari dalam ruangan kuil.
"Jangan berkelahi.... jangan berkelahi, ayoh cepat berhenti!! semuanya adalah orang sendiri"
Teriaknya keras.
Mereka bertiga yang mendengar perkataan itu segera menghentikan gerakannya dan menoleh ke belakang.
Sebentar kemudian Pek Ih Loo Sat serta Mo Tan-hong sudah menjerit keras dan melengos ke samping dengan wajah berubah merah padam.
Kiranya Tan Kia-beng yang dicekoki dengan sebutir pil "Swie Nau Kiem Tan"
Sekalipun belum berhasil memunahkan seluruh racun yang mengeram di dalam tubuhnya, tetapi kesadarannya sudah pulih saat ini dengan jalan sempoyongan dan kebingungan ia berlari keluar tanpa penutup badan barang secarik kainpun.
Dalam keadaan telanjang bulat polos seperti jaman hawa sudah tentu membuat para gadis yang ada disana jadi menjerit kaget lalu melengos kesamping.
Dengan meminjam kesempatan itulah mendadak Gui Ci Cian dengan gerakan yang amat cepat laksana sambaran kilat berkelebat ke samping tubuh pemuda itu lalu menotok jalan darahnya kembali, kemudian dengan terburu-buru ia menerjang masuk ke dalam kuil untuk mengambil pakaiannya dan berkelebat lenyap dibalik hutan yang gelap.
Menanti Pek Ih Loo Sat serta Mo Tan-hong segera mendepak depakkan kakinya ke atas tanah dan berseru.
"Aduh celaka! engkoh Beng kembali kena diculik oleh siluman rase itu!"
Sebaliknya Pek Ih Loo Sat sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun, ia langsung menerjang masuk ke dalam kuil SUasana di dalam kuilpun sunyi sekali tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun, hal ini membuat gadis itu semakin gusar lagi dengan cepat dia menyambar lilin yang ada dimeja dan membakar setiap benda yang ditemuinya.
Seketika itu juga kuil yang megah sudah berada di tengah lautan api....
Kedua orang gadis itu kembali berjalan keluar dari kuil kemudian sambil berpandangan lama sekali tak mengucapkan sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian terdengarlah Mo Tan-hong dengan air mata bercucuran berkata;
"Siluman rase itu adalah orang dari Isana Kelabang Emas, kali ini ia pasti sudah menculik engkoh Beng untuk dibawa kembali keIsana Kelabang Emas."
Dengan pandangan yang dingin Hu Siauw-cian memandang sekejap ke arahnya, mendadak ia enjotkan badannya dan berlalu dari sana dengan amat cepatnya.
Melihat sikap dari Pek Ih Loo Sat ini Mo Tan-hong rada tertegun dibuatnya, akhirnya sambil mengusap kering bekas air mata ia depakkan kakinya ke atas tanah.
"Aku harus mengejar siluman rase itu walaupun sampai keujung langit ataupun kedasar lautan!"
Gumamnya seorang diri.
Selesai berkata iapun enjotkan badannya untuk berlalu dari sana Menanti beberapa orang itu telah berlalu dari balik hutan, kelihatanlah berkelebat keluarnya seorang perempuan muda dengan pakaian yang tak keruan, kemudian dengan gemasnya berteriak.
"Budak bangsat, tanpa sebab kalian sudah merusak permainan bagus dari Loo nio.... Hmm! Bilamana aku tidak berhasil menghancur leburkan badan kalian aku tidak akan disebut Lei Hun Hweeci"
Selesai berkata iapun melayangkan badannya ke samping dan lenyap dibalik hutan ---0-dewi-0---Kita balik kepada Gui Ci Cian yang menggunakan kesempatan sewaktu kedua orang gadis lainnya tak waspada telah menculik pergi Tan Kia-beng yang masih belum sadar.
Dengan gerakan yang amat cepat ia maju ke depan beberapa waktu lamanya kemudian ia baru berhenti di tengah sebuah hutan yang amat lebat dan meletakkan tubuh pemuda itu ke atas tanah.
Di dalam hati kecilnya ia merasa bingung haruskah dia membawa pemuda itu kembali keIsana Kelabang Emas ataukah melenyapkan dulu racun yang mengeram di dalam tubuhnya?
Akhirnya rasa cinta menangkan segala galanya ia menghembuskan napas panjang yang bergumam.
"Heei....! demi dirinya lebih baik aku berbuat demikian saja, bilamana dikemudian hari ibu menyalahkan aku baiklah aku terima saja! Dari dalam sakunya kembali ia mengambil keluar sebutir pil Swie Nau Kiem Tan dan dimasukkan ke dalam mulut sang pemuda Walaupun ia tahu pil ini adalah obet mujarab untuk menyembuhkan luka parah dan sama sekali tidak mendatangkah manfaat yang besar untuk memunahkan racun yang mengeram ditubuh seseorang, tetapi ia tak bisa apa apa selain berbuat demikian. Akhirnya setelah pil itu dimasukkan ke dalam mulut sang pemuda iapun membebaskan pula jalan darahnya yang tertotok dan menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Nau Cung hoat untuk salurkan tenaga dalam Hong Mong Ci Khei nya ke dalam tubuh sang pemuda. Dengan perlahan hawa murninya mengikuti aliran jalan darah bergerak masuk ke dalam tubuh lalu dengan perlahan mulai mendesak sisa sisa racun yang masih tertinggal di dalam tubuh Tan Kia-beng. Sebenarnya dari dalam tubuh Tan Kia-beng sendiri memiliki suatu kemampuan untuk menolak racun, barhubung racun pemabok yang digunakan oleh Lei Hun Hweeci adalah semacam bubuk "Ho Ho Sian Lok"
Yang amat beracun sekali ditambah pula ia telah mengetahui bagaimana lihaynya tenaga dalam sang pemuda itu sehingga memberi daya racun yang lipat ganda maka sekalipun pemuda itu telah menelan dua butir pil Swie Nau Kiem Tan"
Belum juga berhasil memunahkan seluruh racun yang ada di dalam tubuhnya.
Kini setelah Gui Ci Cian menyalurkan hawa murni Hong Mong Cie Khei"nya ketubuh Tan Kia-beng, seketika itu juga memancing daya kerja dari kekuatan tubuh sang pemuda tersebut, dari batok kepalanya dengan perlahan mulai mengembanglah asap putih yang secara samar-samar bercampur dengan bau harumnya arak.
Kurang lebih sepertanakan nasi lamanya terakhir Tan Kia-beng baru sadar dari maboknya, sewaktu Gui Ci Cian lagi duduk bersila disisinya sambil membantu ia dengan kekuatan tenaga dalam, dalam hati segera merasa amat menyesal.
Buru-buru ia pejamkan matanya dan mulai menyalurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh tubuhnya satu kali, menanti pemuda itu merasa badannya telah sehat kembali ia beru bangun dari tidur.
Tetapi sebentar kemudian ia sudah menjerit kaget kiranya pada saat ini dirinya telah menemukan kalau ia masih berada dalam keadaan telanjang bulat, sedang pakaiannya bertumpuk disisinya, hal ini membua pemuda itu saking malunya membuat wajah jadi berubah merah padam.
Buru-buru dia mengenakan kembali pakaiannya dan melirik sekejap ke arah Gui Ci Cian Waktu itu gadis tersebut sedang duduk bersila mengatur pernapasannya teringat perbuatan sang nona yang sudah menolong dia untuk paksa keluar racun dari dalam tubuh, dalam hatinya dia merasa semakin menyesal lagi.
Mendadak dia menemukan kembali satu peristiwa yang mengejutkan hatinya pakaian berwarna hijau yang dikenakan Gui Ci Cian pada saat ini sudah sobek amat besar sehingga kelihatanlah teteknya yang menonjol keluar dari balik robekan kain bahkan sampai tubuh bagian bawahnya yang terlarang pun kelihatan muncul dihadapan mata.
Tanpa dipikir panjang lagi ia sudah tahu kalau peristiwa itu tentu hasil perbuatannya sewaktu berada dalam keadaan tidak sadar hal ini membuat hatinya semakin malu dan menyesal.
Teringat peristiwa yang terjadi dalam kuil itu membuat keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya bilamana pada waktu itu gadis berbaju hijau ini tidak datang pada waktunya, apakah yang bakal terjadi?
Dengan perlahan wajah Dara Berbaju Hijau itu mulai berubah memerah, pemuda itu tahu sebentar lagi ia tentu bakal sadar kembali tak terasa pikirannya mulai berputar.
"Bilamana aku tidak mau pergi dari sekarang, menanti ia sadar kembali bagaimana malunya aku?"
Mendadak ia teringat pula akan janjinya dengan Si Huan, mendadak sambil depakkan kakinya ke atas tanah ia berseru.
"Aduuuhh celaka, bagaimana aku boleh mengingkari janji terhadap seorang kawan yang baru saja dikenal?"
Karenanya dalam hati ia semakin mantap untuk tinggalkan Gui Ci Cian sebelum gadis itu sadar dari semedinya. Buru-buru dengan hormatnya ia menjura ke arah Dara Berbaju Hijau itu.
"Budi dari pertolongan nona akan cayhe ingat terus selama lamanya!"
Selesai berkata laksana kilat cepatnya ia putar badan dan menuju kekota Wu Hoan.
Tan Kia-beng yang melakukan perjalanan cepat, sembari berlari pikirannya tiada hentinya berputar Teringat akan kejadian di dalam kuil yang hampir hampir membuat ia merasa menyesal selama hidup hatinya merasa rada kecewa, teringat pula akan sikap dari Gui Ci Cian yang tampak memperdulikan kesunyiannya sendiri telah menolong dan melindungi dirinya, perbuatan demikian baiknya ini jelas menunjukkan kalau gadis itu sudah menaruh rasa cinta yang amat mendalam terhadap dirinya.
Tetapi sampai kini ia belum tahu gadis itu berada dalam kedudukan lawan atau kawan bagaimana ia boleh membalas rasa cinta itu?"
Teringat akan persoalan persoalan tersebut tak terasa lagi ia menghela napas panjang.
"Heei.... tidak kusangka persoalan yang paling rumit dibawah kolong langit pada saat ini adalah budi dari wanita cantik, tidak disangka karena berlaku ceroboh telah mengakibatkan datangnya banyak kerepotan."
"Mengetahui begini kenapa tidak mencegah dari dulu?"
Tiba-tiba terdengar seseorang menyambung sambil tertawa cekikikan.
Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng jadi amat terperanjat, dia tidak menyangka kalau pendengarannya bisa macet sehingga sama sekali tidak mengetahui tibanya seseorang disamping tubuhnya.
Bilamana orang itu bermaksud jahat apa yang bakal terjadi?
---0-dewi-0---Dengan gerakan yang amat cepat pemuda itu melayang muncur sejauh tiga depa, sewaktu memandang lebih teliti lagi maka terlihatlah seorang perempuan muda yang memiliki kecantikan yang luar biasa telah berada dihadapannya.
Tubuhnya memakai seperangkat pakaian yang terbuat dari lima warna sehingga menambah kecantikan wajahnya, apalagi ujung bajunya yang tertiup angin membuat keadaannya mirip dengan bidadari yang baru saja turun dari kahyangan "Hii....
hii.....
buat apa kau bersikap demikian gugup?"
Tegur perempuan muda itu sambil tertawa terkekeh kekeh.
"bilamana aku bermaksud jahat terhadap dirinya, sewaktu kau berada dalam keadaan kehilangan sukma aku sudah turun tangan jahat."
"Siapakah saudara? ada maksud apa mencari diri cayhe?"
Tanya Tan Kia-beng sambil kerutkan alisnya rapat rapat.
"Mungkin kau sudah dibuat takut karena hendak dipukul orang ya? kenapa melihat oran glain sudah ketakutan sedemikan rupa? aku adalah Wu Mey Jien"
Atau si perempuan cantik dari balik kabut Loo Cui Thay adanya, walaupun tindakanku rada telengas tetapi melihat lihat pula terhadap siapa aku turun tangan!
terhadap saudara cilik seperti kau yang begitu penurut dan jujurnya aku sih merasa tidak tega untuk turun tangan jahat!
Tan Kia-beng yang belum lama terjunkan dirinya ke dalam dunia persilatan sama sekali tidak kenal dengan si perempuan cantik dari balik kabut ini, alisnya dikerutkan semakin mengencang lagi.
"Kalau memangnya kau tak ada urusan yang penting cayhe terpaksa minta diri terlebih dulu tetapi akupun hendak beritahukan satu urusan kepadamu aku orang she Tan bukanlah seorang manusia yang mudah diganggu seenaknya."
Dia yang sudah kena digigit oleh ular, selama sepuluh tahun takut dengan tali tambang, pemuda ini sama sekali tidak ingin berhubungan lagi dengan perempuan yang genit bagaikan ular berbisa ini.
Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak terasalah segulung bau harum menerjang datang, si perempuan cantik dari kabut ini sudah berkelebat menghalangi jalan perginya dan memperlihatkan satu senyuman yang sangat misterius;
"Apakah kau anakan iblis Tan Kia-beng yang samanya pada waktu mendekat ini amat terkenal sekali di dalam Bulim?"
Tanyanya dengan amat merdu. Kalau benar ada urusan apa?"
Dengan perbuatan dari kau bukankah sama dengan sudah tahu pura pura tanya?
"Ehmm!....
kalau begitu begitu anggaplah aku sudah tahu tadi pura pura tanya!
Tetapi aku pun boleh bicara terus terang kepadamu, munculnya aku orang she Lo kali ini sebenarnya ada dua maksud tujuan, pertama ingin menemui majikan kereta kencana yang telah membuat seluruh dunia persilatan kacau balau dan hujan darah karena kereta kencananya, yang kedua adalah bertemu dan berkenalan dengan Tan Siauwhiap, yang dikatakan orang-orang sebagai anakan iblis, aku ingin berkenalan dengan adik cilik yang demikian tampan romantisnya ini...."
"Terima kasih atas penghargaan dari dirimu, cuma sayang cayhe tidak sanggup untuk menerima penghargaanmu itu."
"Ooouw.... kau tidak setuju?"
Agaknya perempuan itu merasa jawaban tersebut berada diluar dugaannya.
Si perempuan cantik dari balik kabut ini pada dua puluh tahun yang lalu terkenal sebagai seorang iblis perempuan yang menggemparkan seluruh dunia kangouw, tak ada seorangpun yang tahu dari manakah asal perguruannya dan tak seorangpun yang bisa cocok untuk bersahabat dengan dirinya, kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar luar biasa sekali, setiap orang yang berani mencari gara gara dengan dirinya jangan harap bisa hidup dengan tenang terutama sekali terhadap orang-orang yang pernah berbuat cabul dengan perempuan lain, tindakannya semakin telengas lagi.
Karena itulah di dalam dunia kangouw jarang ada orang yang berkenalan dengan dirinya, mereka pada menaruh hormat dan menjauhi perempuan ini.
Tan Kia-beng mana mengetahui akan persoalan ini, ia tetap menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kita sama sekali tidak saling mengenal, soal bersahabat kita bicarakan lain kali saja, sekarang cayhe masih ada urusan penting."
Selesai berkata dia menjura ke arah perempuan itu lalu dengan langkah lebar berjalan ke depan.
Suatu peristiwa yang ada diluar dugaan kembali sudah berlangsung, Wu Mey Jien ternyata tidak menghalangi perjalanannya malahan menyingkir ke samping untuk memberi jalan padanya.
Tan Kia-beng yang tidak ingin tersanggut kembali dengan urusan yang merepotkan, dengan langkah lebar ia lantas melanjutkan perjalanannya ke depan, waktu itu secara samar-samar telinganya masih bisa menangkap suara helaan napas panjang dari perempuan tersebut.
Mendengar helaan napas itu tak terasa lagi pemuda itu tertawa dingin, pikirnya;
"Hmm! entah siasat setan apa lagi yang hendak dipasang untuk menjebak diriku, aku orang she Tan cukup tertipu satu kali saja, jangan harap bisa membuat aku tertipu untuk kedua kalinya"
Untuk jangan sampai kelihatan hatinya yang lemah selama perjalanan ia selalu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay.
Kurang lebih baru saja dia melakukan perjalanan sejauh tiga, lima puluh langkah mendadak terdengarlah suara tertawa aneh yang amat menyeramkan berkumandang keluar dari sisi tubuhnya.
"Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong Loo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay serta Ong Jian Poocu dari benteng Hwee Im Poo mendadak munculkan dirinya dari balik pohon dan menghalangi perjalanannya.
"Berhenti!"
Bentaknya dengan keras. Tan Kia-beng semula rada tertegun, tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa.... haa kiranya kalian bertiga, bagus, bagus sekali, aku orang she Tan memang lagi bersiap untuk mencari kalian"
Teriaknya. Waktu ini Bok Thian-hong sudah tidak memperlihatkan lagi wajahnya yang halus berbudi dan patut dihormati, dengan wajah amat dingin dan penuh kedengkian ia membentak keras.
"Hee.... hee.... pada waktu waktu mendekat ini kau benar-benar senang sekali ya! sampai saat ini aku orang she Bok baru tahu kalau kaupun merupakan anak murid dari Teh-leng-bun."
Sebetulnya kau harus mengetahui hal ini sejak dahulu!
bokonganmu sewaktu ada di gunung Go-bie serta perbuatanmu yang turun jahat terhadap aku serta Toa suheng sewaktu ada digunung Gak Lok San kesemuanya adalah hasil kerjamu!
terus terang saja aku katakan sudah lama sekali aku mengetahui kalau kau adalah jie suhengku yang telah murtad dan mengatakan sendiri telah meninggalkan Teh-leng-bun, saat ini aku orang she Tan pun cuma bisa mengeikuti pesan dari suhu tempo dulu, membersihkan perguruan dari murid murid durhaka."
"Tutup bacotmu!"
Bentak Bok Thian-hong dengan amat keras "Kau sudah mencuri kitab pusaka perguruan Teh Leng Cin Keng"
Mencuri pula seruling pualam putih milik Kauwcu, bukannya aku orang she Bok yang memaki dan menuntut terhadap dirimu justru dihadapanku orang she Bok kau berani berkata kasar, nyalimu sungguh besar sekali!
Ayoh cepat serahkan kitab pusaka serta seruling pualam itu kepada diriku!
Mendadak ia maju dua langkah ke depan kemudian dengan suara yang amat menyeramkan sambungnya kembali.
"Kau kira setelah ada Hu Hoang si iblis tua itu memegangi pinggangmu dengan tenangnya kau bisa menduduki jabatan sebagai Kauwcu? hmmm! kau jangan bermimpi di siang hari bolong murid murtad itu sejak dulu sudah diusir oleh suhu dari perguruan, urusan inipun ada beberapa orang cianpwee yang bertindak sebagai saksi bersamaan itu pula kau pun harus tahu, yang muda harus mengalah pada yang tua, sekalipun kau telah memperoleh pesan dari suhu untuk masuk jadi anggota perguruan tetapi masih ada satu orang she Bok disini, kau berani mencari gara gara dan menduduki jabatan tersebut?"
Tan Kia-beng yang merasa suling yang ada di dalam sakunya diperoleh atas pesan terakhir dari Han Tan Loojien, sama sekali tidak jadi gusar sekalipun telah mendengar perkataan yang amat kasar dari Bok Thian-hong ini, wajahnya masih tetap tenang-tenang saja tanpa sedikit perubahan apapun.
"Perkataanmu belum tentu tak ada yang cengli"
Katanya dengan amat tawar.
"Bila mana kau adalah seorang lelaki sejati walaupun ada perintah dari suhu mendiang aku orang she Tan pun tidak akan menerima jabatan sebagai Kauwcu bahkan dengan kedua tangan terbuka mengangsurkan jabatan ini kepadamu, tetapi cuma sayang perbuatan amat jahat dan terkutuk hal ini memaksa aku orang she Tan tidak punya muka lagi untuk membiarkan kau tetap hidup di dalam kolong langit, meninggalkan kau dimuka bumi sama saja dengan memelihara bibit penyakit orang-orang dikemudian hari"
Selesai berkata wajahnya berubah jadi amat angker, dari matanya memancarkan cahaya yang amat tajam melototi Bok Thian-hong.
Bok Thian-hong yang sinar matanya terbentur dengan pandangan matanya merasakan hatinya amat terperanjat, tetapi sebentar kemudian dia sudah dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... binatang! kau tidak menghormati angkatan yang lebih tua bahkan berani berbicara besar dihadapan loohu, terpaksa loohu akan mewakili mendiang suhu untuk membereskan murid murtad semacam kau!"
"Heee.... hee siapa yang jadi murid murtad umum bisa menentukan sendiri!"
Kata Tan Kia-beng sambil tertawa dingin.
"Ini hari kau bersiap-siap hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi aku orang she Tan silahkan kau gunakan sepuasnya, bagaimanapun membinasakan manusia jahanam semacam kau tidak bakal berdosa sebaliknya membantu orang Bulim membereskan seorang bibit bencana."
Tempo hari Bok Thian-hong sudah pernah merasakan kelihayan dari pemuda ini tapi ini hari dia tidak merasa jeri berhubung kecuali dirinya masih ada Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang bakal turun tangan memberi bantuan bilamana dirinya terdesak, disamping itu iapun telah menggerakkan hati seorang cianpwee yang tidak lagi bakal tiba disana untuk membantu dirinya.
Dia bersiap-siap turun tangan setelah loocianpwee bala bantuan itu tiba-tiba disana, tetapi perkataan semakin dibicarakan semakin keras mau tak mau dia harus turun tangan juga sebelum saatnya.
Karena itu diam-diam dan mulai menyalurkan hawa murninya memenuhi seluruh tubuh kemudian selangkah demi selangkah mendesak maju ke depan.
Sudah amat lama sekali Tan Kia-beng bermaksud untuk melenyapkan manusia buas yang pura pura alim ini, melihat Bok Thian-hong sudah bersiap-siap hendak turun tangan hatinya jadi amat girang.
Diam-diam iapun mulai menyalurkan hawa murninya keseluruh tubuh, walaupun pada wajahnya masih kelihatan amat tenang dan dingin kaku padahal ia sudah bersiap sedia.
Begitu persiapan telah berhenti suasana mendadak jadi tenang sekali, Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu pun saling bertukar pandangan kemudian dengan langkah perlahan mulai bergerak ke depan Sekalipun diluar kelihatannya mereka amat menguatirkan keselamatan Bok Thian-hong padahal sebenarnya dalam hati kecil mereka berdua telah tersusuk suatu maksud tertentu.
Teringat peristiwa yang terjadi dilapangan luas kuil Ya Hu Tan Sie dimana secara terbuka rahasia Thay Gak Cungcu sudah disiarkan, dengan pengalaman yang amat luas dari Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu bagaimana mungkin mereka tak mengetahuinya?
apa lagi ada Liok Lim Sin Ci serta Sam Kuang Sin nie sebagai saksi sudah tentu hal ini membuat hati mereka semakin mantap.
Hanya saja dikarenakan selama ini mereka berdua selalu mengincar pedang pusaka Giok Hun Kiam serta kitab pusaka "Teh Leng Cin Keng"
Dari Tan Kia-beng maka sengaja mereka suka bekerja sama dengan Bok Thian-hong, maksud mereka menanti kedua orang itu telah berada dalam keadaan parah, pelayan disamping tinggal memungut hasil saja.
Pada saat suasana mencapai pada saat saat yang amat kritis, mendadak....
Si perempuan cantik dari balik kabut yang pernah ditemui Tan Kia-beng buru saja telah melayang keluar dari balik hutan dan tertawa terkekeh kekeh terhadap Loo Hu Cu.
"Hee.... hee.... kalian berdua saling tukar pandangan bersikap misterius sebetulnya lagi memberi bantuan kepada Thay Gak Cungcu ataukah meminjam kesempatan untuk mencari keuntungan?"
Perkataan yang memecahkan rahasia hati kedua orang itu membuat Loo Hu Cu dan Ong Jian merasa hatinya amat terperanjat, apa lagi setelah mengetahui kalau orang itu bukan lain adalah si iblis wanita yang paling sulit untuk dilayani, hatinya merasa semakin tidak tenteram lagi.
"Hee.... hee.... Loo Li hiap, kau lagi bergurau"
Serunya berbareng sambil tertawa paksa.
Sekalipun begitu dalam hati mereka diam-diam merasa keheranan, mereka tidak mengira kalau dianakan iblis ini bisa memiliki hubungan yang begitu luas, sampai manusia yang bersifat kukoay dan berkepandaian tinggipun bisa diajak bertemu.
Tempo hari mereka tidak ingin bentrok dengan Pek-tok Cuncu dan Su Hay Sin Tou demikian pula dengan kali ini merekapun tidak ingin sampai bentrok dengan si iblis perempuan itu.
Sudah tentu hal ini bukan dikarenakan mereka takut urusan justru sebagai satu ketua partai mereka tidak ingin mendatangkan kerepotan buat dirinya sendiri.
Selesai mendengar perkataan dari kedua orang itu kembali Wu Mey Jien tertawa terkekeh kekeh.
"Hee.... hee.... kalian jangan Li hiap, Li hiap, turus ratusan sehingga membuat telingaku jadi geli! aku Loo Cui Thay tidak kuat untuk menerima sebutan tersebut asalkan kalian jangan secara diam-diam memaki aku sebagai iblis perempuan itu sudah lebih dari cukup Ciangbunjin berdua, kalian rasa bukankah begitu. Dengan perlahan dia menoleh ke arah Tan Kia-beng dan ujarnya lagi sambil tertawa.
"Adik cilik, perlukah aku sebagai encimu mewakili dirimu? haruskah kau ketahui bergebrak dengan Thay Gak Cungcu yang amat terkenal inipun merupakan salah satu harapanku."
Tan Kia-beng benar-benar merasa takut bilamana perempuan itu ikut campur di dalam urusan ini sehingga menghilangkan kesempatan untuk membersihkan perguruan dari murid durhaka, mendengar perkataan tersebut ia lantas berteriak.
"Tidak usah kau buang tenaga lagi!"
Telapak tangannya dengan cepat melancarkan satu pukulan dahsyat membabat Bok Thian-hong.
Bok Thian-hong yang menghadapi musuh tangguh sejak semula sudah mengadakan persiapan, sewaktu dirasakan telapak pihak lawan sudah hampir mendekati badannya buru-buru ia menyingkir kesamping, telapaknya diputar setengah lingkaran dan balas menggencet pemuda itu.
Di tengah berkelebatnya bayangan telapak yang menyilaukan mata di dalam sekejap saja ia sudah mengirim tujuh buah pukulan dahsyat yang mematikan.
Begitu ketujuh buah serangan tersebut menyambar seketika itu juga membuat Tan Kia-beng jadi amat terperanjat.
dia sama sekali tidak menyangka kalau ketujuh buah serangan yang dilancarkan oleh Bok Thian-hong ternyata merupakan jurus jurus serangan yang aneh dan lihay sebuahpun tidak mirip dengan ilmu dari Teh-leng-bun.
Waktu itulah ia baru percaya bilamana dia telah berguru dengan orang lain.
Pertempuran sengit yang dialaminya berulang kali membuat tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang pesat, banyak pula jurus jurus ilmu silat yang terbuat di dalam kitab pusaka "Teh Leng Cing Keng"
Berhasil dipahami, oleh karena itu walaupun ketujuh buah serangan dari Bok Thian-hong amat lihay dan dahsyat, belum berhasil jangan memaksa dirinya mundur barang setengah langkahpun.
Dengan dinginnya Bok Thian-hong mendengus mendadak dia maju ke depan lebih dekat lagi, jari jari tangannya dengan sangat cepat melancarkan satu totokan menghajar jalan darah "Than Tong Hiat"
Pada tubuh pemuda tersebut. Walaupun angin serangan sudah terasa menusuk badan. Diam-diam Tan Kia-beng merasa hatinya terperanjat, telapak tangannya dibalik dengan menggunakan jurus "Po Cau Sing Coa"
Atau membabat rumput mencari ular sisi telapaknya dibabat ke depan diikuti sambil menekuk dadanya ke belakang dengan melawan serangan menghajar jalan darah "Ci Tong Hiat"
Pada tubuh Bok Thian-hong.
Jurus serangan dari Bok Thian-hong merupakan sebuah serangan kosong, baru saja jarinya mencapai setengah jalan mendadak dia balik membabat ke arah pundaknya sepasang telapak tangannya bagaikan kilat mengancam kedua belas jalan darah penting pada tubuh pihak lawan sedangkan kakinya laksana putaran roda melancarkan tendangan kilat.
Hanya di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan beberapa serangan gencar membuat Tan Kia-beng dengan repotnya harus menggagalkan seluruh serangan itu dan berturut turut mengundurkan diri sejauh beberapa langkah.
Melihat kejadian itu si perempuan cantik dari balik kabut merasa amat cemas, mendadak tubuhnya bergerak maju ke depan.
"Adik cilik!"
Serunya dengan amat keras "Kau mundurlah, biarlah aku yang maju!"
Hwee Im Poocu yang ada disampingnya mendadak mencabut keluar pedang panjangnya, diantara berkelebatnya cahaya hijau yang disertai hawa dingin yang menusuk tulang menghalangi jalan pergi dari perempuan itu.
"Hee.... hee.... urusan orang lain buat apa Loo Li hiap pun ikut ambil bagian"
Serunya sambil tertawa dingin.
Hadangan yang mengandung maksud tantangan ini bilamana pada hari biasanya tentu akan membuat perempuan itu jadi sangat gusar dan turun tangan kosong.
Tetapi pada saat ini hatinya lagi merasa kuatir terhadap keselamatan dari Tan Kia-beng, dengan paksakan diri ia menekan hawa amarah tersebut dan berkelebat ke samping untuk memperhatikan situasi kalangan dengan pandangan tajam.
Tampaklah hanya di dalam sekejap mata pemuda itu dari sikap berjaga telah berubah jadi posisi menyerang, angin pukulan menderu laksana angin topan hingga membuat pasir dan batu kerikil beterbangan ke angkasa.
Setiap angin pukulannya yang luar biasa itu seketika itu juga memaksa Bok Thian-hong balik ke tempat asalnya.
Mereka berdua suheng te yang satu adalah pemuda yang berbakat alam dan berhati sombong sedang yang lain adalah manusia laknat yang pandai membawa diri, pada saat ini telah mengerahkan seluruh kepandaian silatnya untuk bergebrak.
Tampaklah dua sosok bayangan manusia sebentar merapat sebentar berpisah lalu berputar dengan amat kacaunya membuat pandangan jadi kabur dan telinga berdengung.
Sampai pada saat inilah Loo Hu Cu serta Ong Jiang baru dapat mengetahui bagaimanakah sesungguhnya kepandaian silat yang dimiliki oleh Bok Thian-hong pada mulanya mereka menganggap Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong adalah seorang manusia yang paling menakutkan, tetapi kini....
mereka baru mengerti kalau Bok Thian-hong lah sebetulnya manusia yang paling menakutkan.
Kedua orang itu dengan gerakan yang paling cepat dan jurus serangan yang paling ganas saling bergebrak, hanya di dalam sekejap saja empat, lima puluh jurus sudah berlalu tanpa berhasil menentukan siapa yang menang siapa yang kalah.
Tempo dulu Tan Kia-beng pernah bergebrak melawan si Penjagal Selaksa Li Hu Hong, dia merasa Hu Hong di dalam soal tenaga dalam jauh lebih menang satu tingkat dari pada Bok Thian-hong tetapi ada banyak jurus serangan yang aneh tak bisa menandingi Thay Gak Cungcu ini bilamana mereka berdua harus saling bergebrak sukar sekali untuk ditentukan siapa menang siapa kalah.
Kedua orang itu kembali melanjutkan pertempurannya sebanyak sepuluh jurus lebih, di dalam hati Bok Thian-hong mulai merasa cemas karena locianpwee yang diundangnya hingga saat ini belum muncul juga, sedang Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu pun sudah kena ditahan oleh Si perempuan cantik dari balik kabut, dia tahu bilamana waktu lebih lama lagi ia tentu akan menderita kalah.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia yang halus lembut meluncur datang sambil membentak keras.
"Tahan!"
Sreet!
sinar pedang berkelebat laksana rantai, dengan paksa dia menahan serangan dari kedua orang itu.
Buru-buru Tan Kia-beng menarik kembali serangannya ke belakang kemudian dengan tajam memandang ke arah orang itu.
Tampaklah seseorang Dara Berbaju Hijau muda dengan wajah penuh kegusaran sedang membentak ke arah Bok Thian-hong.
"Siapa yang suruh kau bersikap demikian terhadap dirinya? kau sungguh keterlaluan sekali!"
Bok Thian-hong semula rada tertegun tetapi sebentar kemudian wajahnya sudah berubah hebat.
"Urusan ini adalah urusan rumah tangga dari aku she Bok, lebih baik nona Hong tidak usah banyak ikut campur!"
Bentaknya dengan kasar.
"Hee....hee.... kau sudah menggabungkan diri dengan Isana Kelabang Emas, apakah kau kira dirimu boleh sembarangan bebas semaunya? ayoh cepat menggelinding pergi dari sini!"
Bentak nona berbaju muda itu lagi sambil tertawa dingin.
"Bilamana kau masih membandel juga jangan salahkan aku Lo Hong-ing akan bertindak kasar terhadap dirimu"
Siapa tahu Bok Thian-hong pada ini hari ternyata bersikap lain dari pada yang lain, bukannya mengundurkan diri sebaliknya malah balas mengejek.
"Kedatangan nona Hong ini hari dikarenakan memperoleh perintah dari medali Kiem Uh Leng Pay ataukah Giok Uh Leng Pay?"
Sang Dara Berbaju Hijau muda Lo Hong-ing yang ditanyai demikian kontan jadi bungkam diri apalagi dari sakunya ia tak dapat mengeluarkan medali apapun.
Melihat kejadian itu Bok Thian-hong segera memperdengarkan suara tertawanya yang tak enak didengar.
Lo Hong-ing jadi amat gusar, pedang di tangannya segera dibalik melancarkan satu babatan ke arah depan.
"Nonamu mengandalkan ini!!"
Bentaknya dengan gusar.
Walaupun Bok Thian-hong mengetahui gadis itu tak memiliki medali Giok Uh Leng Pay tetapi diapun tidak berani bergebrak secara terang terangan dengan dirinya buru-buru tubuhnya bergerak menghindarkan diri dari serangan pedang itu.
"Apa maksudmu?"
Teriaknya keras.
Lo Hong-ing yang melihat serangannya tak berhasil mencapai sasarannya dengan cepat putar pedangnya sedemikian rupa sehingga membentuk cahaya pedang yang menyilaukan mata.
Hanya di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tujuh buah serangan.
Melihat dirinya terus menerus digencet dengan serangan serangan mematikan akhirnya Bok Thian-hong tidak bisa juga menahan hawa amarahnya.
"Nona Hong!"
Bentaknya dengan keras.
"Aku orang she Bok justru karena menghormati kau adalah Toa ci dari nona Gui maka tidak ingin mencari susah dengan dirimu, apa kau kira aku benar-benar takut dengan kau?"
Lo Hong-ing tetap tidak mengucapkan sepatah katapun, pedangnya digerakkan semakin gencar lagi mengancam seluruh tubuh dari seorang tua itu.
Sampai pada detik itu Bok Thian-hong benar-benar tidak bisa menahan sabar lagi, dia tertawa dingin sedang telapak tangannya berturut turut melancarkan dua buah serangan dahsyat ke arah depan.
Segulung hawa dingin yang menusuk tulang dengan cepat menggulung ke arah depan kemudian laksana berputarnya roda dengan cepat menghantam tubuh Lo Hong-ing.
Kedua buah serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar luar biasa akibatnya.
Lo Hong-ing sendiripun lama sekali tidak menyangka kalau dia berani turun tangan balas melancarkan serangan ke arahnya.
Untuk beberapa saat lamanya dia kena didesak mundur sejauh lima enam langkah sedang pedangnya hampir hampir terlepas dari tangannya.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang takut diantara mereka sungguh sungguh bergebrak sehingga melainkan urusan besar, buru-buru pada maju melerai.
"Bok heng! hiburnya.
"Ada perkataan baik-baiklah dibicarakan buat apa harus dibereskan dengan kekerasan?"
Lo Hong-ing yang kena terdesak mundur saking khe ki dan cemasnya hampir hampir saja melelehkan air mata, kembali dia membentak keras sedang pedangnya dengan dahsyat melancarkan serangan gencar.
Sekonyong konyong....
Suara hembusan angin bergema datang disusul segulung bau harum menusuk hidung tampaklah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya menerjang datang.
Hanya di dalam sekejap saja terdengar Bok Thian-hong bertiga pada mendengus berat kemudian dengan terhuyung huyung mundur ke arah belakang.
Lo Hong-ing sendiripun dengan perasaan amat kaget mengundurkan dirinya ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan hawa hijau itu, disusul secara samar-samar terdengar suara bentakan yang amat merdu bergema datang.
"Ayoh cepat ikuti aku pergi!"
Tan Kia-beng serta Wu Mey Jien boleh dihitung sebagai jagoan nomor wahid dari Bulim, sekalipun begitu merekapun cuma bisa menangkap dua sosok bayangan manusia yang ramping dengan cepat berkelebat lewat dan hanya di dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.
Kiranya bayangan hijau itu sudah menarik tangan Lo Hong-ing untuk diajak pergi.
Sewaktu melihat kembali ke arah Bok Thian-hong bertiga, tampaklah wajah mereka amat murung sedang dari ujung bibirnya masih menetes titik titik darah segar.
Kiranya mereka semua telah menderita luka dalam yang amat parah sekali!
Peristiwa ini benar-benar amat aneh dan sukar sekali untuk dipercaya, menurut kebiasaan seharusnya Bok Thian-hong adalah manusia yang paling berjasa terhadap Isana Kelabang Emas, bagaimana mungkin saat ini bisa menderita luka karena kena dihajar oleh orang-orang Isana Kelabang Emas?
Dengan kejadian ini Bok Thian-hong sekalianpun tak punya semangat dan tenaga lagi untuk menyerang Tan Kia-beng sedang Tan Kia-beng sendiripun tidak ingin turun tangan melukai musuhnya dengan menggunakan kesempatan sewaktu mereka lagi terluka.
Dengan begitu suasanapun seketika itu juga jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Mendadak terdengar Wu Mey Jien tertawa terkekeh kekeh dengan amat merdunya.
"Hiii.... hiii.... aku mengira Thay Gak Cungcu adalah seorang manusia yang bagaimana luar biasanya, kiranya tidak lebih hanyalah anjing dan penjaga pintu dari orang lain, hmm! sungguh amat rendah kedudukannya itu"
Pada saat itu Bok Thian-hong telah dilukai oleh angin pukulan Hong Mong Ci Khei pihak lawan, sekalipun dalam hatinya merasa kheki, tetapi dia pura pura tidak mendengar dan menutup matanya untuk menyembuhkan penyakit yang sedang dideritanya.
Tiba-tiba terasalah segulung angin menyambar datang, seorang kakek tua berjubah kuning dengan tangannya mencekal sebuah huncwee telah muncul di tengah-tengah kalangan.
"Loohu sudah terlambat datang satu tindak, apakah kau sudah terluka ditangan bangsat cilik itu?"
Tegurnya dengan suara yang amat dingin.
Pertanyaan ini benar-benar membuat Bok Thian-hong gelagapan, rahasia dimana secara diam-diam dia menerima perintah dari Isana Kelabang Emas tak bisa dibiarkan secara terbuka, terhadap pukulan yang datangnya dari si Si Dara Berbaju Hijau itupun ia tak berani bicara, hal ini membuat dia jadi bungkam seribu bahasa.
Si kakek tua berjubah kuning yang melihat dia tidak berbicara dalam hati sudah salah sangka kalau dia tak ada muka lagi untuk bicara, saking khekinya ia lantas kebaskan jenggotnya dan maju selangkah ke depan.
---0-dewi-0---JILID.
"Kaukah yang bernama Tan Kia-beng?"
Tanyanya sambil menudingkan huncweenya ke depan. Sungguh bernyali kau berani melukai suhengmu, hmm.... Kau kira di dalam Teh-leng-bun sudah tak ada lagi orang yang bisa mengatur peraturan perguruan?"
Tan Kia-beng yang secara samar-samar mendengar orang itu agaknya juga anggota Teh-leng-bun, buru-buru merangkap tangannya menjura.
Boanpwee benar-benar adalah Tan Kia-beng entah siapakah sebutan dari loocianpwee?"
"Loohu Pak San tempo hari berkat kemurahan hati Kauwcu menjabat sebagai pengatur peraturan perguruan, tidak disangka akhirnya Kauwcu tinggalkan kawan kawan dan mengasingkan diri, maka dari itu loohupun terpaksa ikut mengundurkan diri dari dunia kangouw dan tak ikut mencampuri lagi."
Sehabis berkata dengan sedinya ia menghela napas sebentar kemudian sehabis menghisap hun cweenya dia berkata lagi.
"Pada waktu waktu mendekat ini aku dengar munculnya seorang ahli waris dari Kauwcu bahkan memiliki pula seruling pualam putih sebagai tanda kepercayaan Kauwcu bahkan begitu saja akupun dengar kalau orang itu hendak membangun kembali Teh Leng Kau. Urusan ini benar membuat loohu kurang percaya, menurut apa yang loohu ketahui Kauwcu semuanya cuma menerima dua orang murid saja, murid pertama Hu Hong telah diusir keluar dari perguruan sedang muridnya yang kedua adalah "Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong, bila mana dikatakan untuk membangun kembali Teh-leng-bun serta menduduki jabatan Kauwcu ada seharusnya dia yang menjabat tidak disangka kau saat ini berani bersikap keras terhadap suhengmu, loohu sebagai seorang tiangloo tidak akan berpeluk tangan di dalam urusan ini"
Tan Kia-beng mengerti kalau orang ini bukan lain adalah cianpwee dari Teh Leng Kauw tempo hari, saat ini tentunya ia sudah kena dikibulin oleh Bok Thian-hong.
Tanpa terasa lagi dia menghela napas panjang dan berkata.
"Cianpwee cuma mengetahui satu tetapi tak mengetahui kedua, boanpwee berhasil memperoleh kepandaian silat dari Kauwcu walaupun betul aku memiliki bukti tulisan asli dari Kauwcu yang memerintahkan aku untuk mendirikan kembali perkumpulan ini lain kali setelah tiba saatnya aku tentu akan mengundang seluruh cianpwee serta Teh Su Ci untuk menjadi saksi."
Berbicara sampai disini mendadak wajahnya berubah amat keren dan sambungnya lagi dengan suara amat keras.
"Cuma saja "Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong jadi orang bersifat ganas dan licik, bahkan menerima perintah dari orang lain untuk membunuhi kawan kawan Bulim.
urusan ini tak bisa didiamkan lebih lamalagi karena itu ini hari juga aku orang she Tan akan mewakili Kauwcu untuk membersihkan perguruan dari manusia laknat semacam dia!"
Pak San yang secara tiba-tiba mendengar Tan Kia-beng mengungkat nama Teh Leng Su Ci dengan perasaan heran segera bertanya.
"Kau sudah bertemu dengan Teh Leng Su Ci?"
"Benar, cayhe pernah bertemu satu kali dengan mereka, sekarang mereka tinggal didusun Tau Siang Cung"
"Heei!"
Tak kusangka merekapun masih sehat walafiat!"
Ujar Pak San sambil menghela napas panjang Kalau memangnya dari perguruan Teh-leng-bun masih terdapat begitu banyak cianpwee yang masih hidup, aku pikir urusan ini lebih baik lain kali saja dibicarakan kembali.
loohupun merasa tidak berhak untuk mengurusi peristiwa ini, tidak perduli kau yang benar-benar atau dia yang salah, dengan memandang wajah loohu harap untuk sementara waktu kau suka bersabar apalagi saat ini dia sudah terlalu di tanganmu"
"Oow.... mana bisa dia yang lukai?"
Sela Wu Mey Jien secara tiba-tiba dari samping.
"Itulah hadiah yang diberikan majikannya kepada dia!!"
Dengan dinginnya Pak San melirik sekejap ke arah tapi tak sepatah katapun yang diucapkannya dengan perlahan dia putar badan dan ujarnya terhadap Bok Thian-hong.
"Urusan ini hari sebetulnya terjadi secara bagaimana loohu sendiripun untuk sementara waktu tidak bisa mengetahui jelas, baiklah urusan ini kita bicarakan kembali setelah loohu bertemu dengan Teh Leng Su Ci; sekarang kau pulanglah!!"
Sebenarnya Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong mengatur suatu siasat yang bagus untuk menghadapi Tan Kia-beng bukan saja ia sudah mengundang datang si orang tua berbaju kuning itu bahkan di sekeliling tempat itu telah dipasangi sejumlah jago-jago lihay yang nantinya akan bersama-sama mengetahui pemuda tersebut.
Siapa sangka di tengah jalan situasi sudah berubah, bahkan dirinya tanpa bisa dicegah telah terluka dibawah serangan ilmu "Hong Mong Ci Khei"
Dari Dara Berbaju Hijau.
Bukan begitu saja bahkan cianpwee dari Teh-leng-bun yang diundang olehnya berhasil ditundukkan oleh Tan Kia-beng dengan dua tiga patah kata dia tahu bilamana tidak menggunakan kesempatan ini untuk turun dari panggung bilamana Pak San sudah pergi dirinya akan menemui bencana.
Karenanya dengan berpura pura memperlihatkan sikap yang apa boleh buat dengan mengikuti dari belakang tubuh Pak San berlalu dari tempat itu.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang tanpa angin tanpa hujan kena terhantam sehingga terluka parah saat ini melihat Thay Gak Cungcu sudah pergi meninggalkan tempat itu merekapun dengan arak arakan ikut putar badan dan berlalu dari sana.
Hanya di dalam sekejap saja beberapa orang itu telah lenyap dari pandangan.
Kini di tengah kalangan cuma Tan Kia-beng serta si perempuan cantik dari balik kabut dua orang.
Tetapi waktu itu pemuda tersebut telah terjerumus di dalam keadaan lamunan yang memusingkan kepala dia merasa heran terhadap sikap si gadis berbaju hijau Gui Ci Cian yang diperlihatkan ini hari.
Bok Thian-hong adalah kaki tangan dari Isana Kelabang Emas asalkan dia saat munculkan dirinya dan memaki sudah tentu dia tidak bakal berani melawan Lo Hong-ing secara terbuka Tetapi kenapa dia tanpa mengucapkan sepatah katapun telah melancarkan satu pukulan dahsyat melukai dirinya?
bahkan masih ada Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang tak tahu urusan kena dilukai juga?
Urusan ini benar-benar membuat dia jadi kebingungan Si perempuan cantik dari balik kabut sewaktu melihat pemuda itu melamun, tanpa terasa lagi sudah maju ke depan dan menegur dengan suara yang halus.
"Adik cilik, orang lain sudah pergi jauh! buat apa kau melamun saja di tempat ini? apa yang lagi kau pikirkan? apakah kau sudah jatuh cinta di dalam satu kali pandangan terhadap nona berbaju hijau itu?"
"Ehm..... maukah kau bicara yang genah? apa yang aku pikirkan sama sekali buakn urusan yang kau tebak itu!"
Seru pemuda itu sambil kerutkan alisnya rapat rapat.
"BAIKLAH!! Bagaimana kalau anggap saja perkataan cici yang salah? kini kedua buah harapanku sudah tercapai, akupun harus segera pergi!"
"Kau hendak pergi kemana?"
Perkataan dari Tan Kia-beng ini sebenarnya keluar tanpa disadari olehnya, tetapi bagi si perempuan cantik dari balik kabut pertanyaan ini benar-benar membuat hatinya terhibur Walaupun pemuda tersebut masih meragukan asal usul serta tindakannya tetapi tanpa disadari ia sudah mengakui juga persahabatan ini.
Dan dengan wajah tersenyum kegirangan ia buru-buru menjawab.
"Encimu tinggal diempat penjuru, jejakku sukar untuk ditentukan. Lalu kau ini hendak kemana?"
"Kekota Wu Han untuk menemui janji dengan Ciat Hun Kiam Si Huan digunung Cing Shia"
Baiklah kita kakak beradik, bertemu kembali di kota Wu Han"
Seru perempuan itu setelah selesai berkata ia meloncat pergi.
Sepeninggalannya perempuan itu Tan Kia-beng pun dengan langkah cepat melanjutkan perjalanannya menuju kekota Wu Han.
Sejak peristiwa yang terjadi dilapangan luar kuil "Ya Hu Sie"
Dimana Liok lim Sin Ci membongkar kedok dari "Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong suasana di dalam dunia kangouw terjadi pula kejadian perubahan yang amat besar.
Partai partai besar yang pernah menderita pembunuhan mulai mengalihkan seluruh dendam perhatiannya ke arah "Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong Tetapi....
dimanakah letaknya perkampungan Thay Gak CUng?
Dan kini Bok Thian-hong telah pergi ke mana?
siapapun tak ada yang tahu!
Beberapa waktu akhirnya mendadak dalam Bulim tersiar suatu berita tentang munculnya Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong bersama-sama dengan Lo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay serta Ong Jian poo cu dari benteng Hwee Im poo di luar kota Wu Han.
Dan dengan tersiaranya berita ini maka suasana dalam dunia kangouw pun menjadi gempar kembali para jago Bulim yang melakukan pengejaran mulai melakukan perjalanan jauh dan bersama-sama kumpul di kota Wu Han.
---0-dewi-0---Yang paling membuat semua orang tidak paham adalah peristiwa pembunuhan oleh kereta kencana pada waktu yang lalu karena jelas partai Go-bie pay serta benteng Hwee Im poo lah yang paling hebat mengapa kini Loo Hu Cu serta Im poocu Ong Ciang dapat bersatu dengan Thay Gak Cungcu?
Dengan pengetahuan maupun pengalaman yang diperolehnya hingga kini terhadap siasat maupun akal licik dari Bok Thian-hong seharusnya mereka sudah mengetahui sedikit jelas.
Tetapi kenapa mereka sebaliknya berbuat demikian?
sungguh suatu hal ini merupakan suatu peristiwa yang membingungkan sekali.
Sewaktu Tan Kia-beng tiba di kota Wu Han, tepatnya merupakan saat saat yang paling tegang di dalam Bulim.
Tetapi ia sama sekali tidak menggubris akan hal itu dan tanpa memperdulikan lagi semua unsur pemuda itu langsung menuju kerumah penginapan Cau Hian untuk menemui Si Huan.
Sewaktu kakinya melangkah masuk ke dalam pintu rumah penginapan itulah terlihat Si Huan serta Sak Ih sudah tiba disana terlebih dahulu.
Kecuali mereka berdua masih ada ciangbunjin dari Bu-tong-pay Leng Hong Tootiang ada disitu.
Tan Kia-beng yang dasarnya memang sudah menaruh rasa hormat dan simpatik terhadap Tootiang tua ini maka buru-buru maju memberi hormat.
"Aaakh! Tidak kusangka Tootiangpun muncul di kota Wu Han, selamat datang, selamat datang!"
"Perjalanan Siauwhiap tentu melelahkan silahkan ambil tempat duduk!"
Balas Leng Hong Tootiang sambil tersenyum.
"Haaa, haaa, si Si Dara Berbaju Hijau dari Isana Kelabang Emas itu apakah tidak ikut datang?"
Sambung Si Huan sambil tertawa terbahak-bahak. Kontan paras muka Tan Kia-beng berubah jadi merah jengah.
"Dia telah pergi!"
Jawabnya malu malu Mengungkapkan soal Isana Kelabang Emas segera memancing perhatian dari Leng Hong Tootiang.
"Tan Siauwhiap, apakah kau ada hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas?"
Selanya. Tidak bisa dikatakan ada hubungan"
Bantah pemuda itu buru-buru sembari menggeleng.
"Kami tidak lebih hanya kenal karena suatu pertemuan saja, entah Tootiang apakah mengerti jelas tentang hal ihwal tentang Isana Kelabang Emas ini? menurut analisa cayhe rasanya seluruh perbuatan maupun tindak tanduk dari "Cay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong telah menerima petunuk serta perintah dari pihak Isana Kelabang Emas"
Bicara sampai disitu iapun lantas menceritakan ungalamannya dimana Bok Thian-hong mendatangi kuil "Ya Hu Sie"
Untuk mendapatkan daftar hitam dari Mey Ling Hwesio lalu bagaimana si Si Dara Berbaju Hijau munculkan diri beserta pertemuannya dengan Ci Lan Pek di tengah jalan.
Leng Hong Tootiang termenung berpikir sejenak kemudian baru ujarnya.
"Bilamana ditinjau dari perkataanmu itu maka yang jadi pokok persoalan ada kemungkinan dikarenakan daftar hitam itu teringat sewaktu Mo Cun-ong masih hidup, ia sangat menghargai orang-orang Bulim dan hampir sebagian besar jagoan Bulim selalu mengadakan hubungan degnan dirinya. Ketika pada suatu tahun Mo Cun-ong mendapat perintah untuk menyerang daerah Biauw para jagoan Bulim yang ikut sangatlah banyak sekali sehingga aku rasa peristiwa ini tentunya timbul dikarenakan hal ini Maksud Pinto terbunuhnya Mo Cun-ong pasti ada hubungannya dengan daftar hitam itu."
"Apa mungkin nama yang semula terdaftar di dalam daftar nama itu kemudian terbocor keluar sehingga orang menaruh rasa dendam?"
Tiba-tiba si Ciat Hun Kiam Si Huan menimbrung dari samping.
"Karena ada nama yang bocor keluar sehingga orang itu mendendam Mo Cun-ong hal ini memang ada kemungkinan. Tetapi apa hubugannya dengan para jago Bulim yang ikut di dalam penyerbuan itu? Kenapa pula ia harus marah kepada semua orang?"
Kata Leng Hong Tootiang menggeleng.
"Tan heng, tahukah kamu dimanakah letaknya Isana Kelabang Emas itu?"
Sela Sak Ih pula dengan keras.
"Bilamana letaknya ada di daerah Lam Huang, maka ada delapan bagian pekerjaan ini tentu ditimbulkan karena pembalasan dendam dari rakyat suku Biauw"
Mendengar perkataan itu Tan Kia-beng menggeleng tanda tidak tahu.
"Menurut dugaan Pinto agaknya Isana Kelabang Emas letaknya ada di gurun pasir, bahkan ada kemungkinan istana tersebut bukan lain adalah partai misterius di gurun pasir yang didatangi oleh Cu Swie Tiang Ciang, Tan Ci Tiang, Leng Siauw Kiam khek dari Cing-shia-pay serta Thian Bok susiok dari partai kami pada masa yang lalu"
Ujar Leng Hong Tootiang sambil mengelus elus jenggotnya.
"Perduli benar atau salah, siauwte tentu akan pergi juga ke gurun pasir untuk memberi tahu keadaan dari suhuku, Ban Lie Im Yen atau si asap selaksa Lie Lok Tong."
Kata Tan Kia-beng.
"Bilamana Tan heng hendak pergi biarlah siauwte sekalian ikut mengawasi!"
Teriak Sak Ih Si Huan berbareng. Buru-buru Leng Hong Tootiang goyangkan tangannya mencegah.
"Untuk sementara waktu tenangkanlah hati kalian, lebih baik bila dalam menanggapi urusan ini dipikirkan lebih teliti lagi karena jelas pihak Isana Kelabang Emas ada maksud untuk mendapatkan daftar hitam itu dari tangan Siauwhiap ditambah pula Tan Siauwhiap kini menggembol pedang pusaka Giok Hun Koam serta kitab pusaka "Teh Leng Cing Keng"
Yang dincar oleh orang banyak maka lebih baik untuk sementara waktu jangan berangkat dulu.
Kini partai partai besar di dalam Bulim sudah mengirim jago-jagonya untuk menguntit Thay Gak Cungcu menurut pandangan pinto lebih baik kita tunggu sampai urusan Thay Gak Cungcu diselesaikan, kalian baru berangkat ke gurun pasir"
Jadi maksud Tootiang agar kita menginap dulu selama beberapa hari di kota Wu Han ini kemudian baru berangkat ke gurun pasir "Benar!"
Jawab Leng Hong Tootiang mengangguk.
"Tan Siauwhiap sudah melakukan perjalanan jauh, rasanya kini sudah lelah dan harus beristirahat lebih dulu, bagaimana kalau kita bicarakan pada esok hari saja"
Sejak peristiwa yang terjadi dengan Lei Hun Hweeci pemuda ini memang ada dua hari dua malam tidak dapat tidur pulas, maka setelah diikat oleh Leng Hong Tootiang buru-buru ia bangun untuk mengundurkan diri ke dalam kamar yang telah dipesankan terlebih dulu oleh Si Huan sekalian.
Selesai cuci muka dan berganti pakaian pemuda itu lantas minum secangkir teh untuk mengiringi tidurnya.
Pada saat itulah mendadak tampak bayangan manusia berkelebat.
"Miauw Pit Suseng"
Bun Ih Peng yang pernah menggebrak dengan dirinya dibangunan "Bun Hoa"
Tempo hari goyangkan kipasnya telah tindak masuk sambil tertawa "Haaa.... haaa.... selamat bertemu! selamat bertemu! selama ini apakah Tan heng baik-baik saja?"
Serunya sambil merangkap tangan memberi hormat dan tertawa terbahak-bahak. Mendengar teguran itu, hati Tan Kia-beng rada bergerak, berpikir.
"Entah permainan kembangan apa lagi yang hendak dipertontonkan?"
Karena itu iapun segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaa, haaa, terima kasih entah apa maksudmu datang kemari?"
"Terus terang saja kedatangan cayhe ini hari adalah dikarenakan menerima perintah dari majikan istana kami untuk menjenguk saudara serta menyampaikan kekaguman majikan kami"
Kata Bun Ih Peng dengan serius. Ia rada mendadak sejenak kemudian sambungnya lagi.
"Majikan Isana Kelabang Emas merasa amat kagum atas kelihayan ilmu silat yang saudara miliki. Dan bilamana kau suka suka bergabung dengan pihak Isana Kelabang Emas kami, maka majikan kami akan membantu dirimu untuk merebut gelar jagoan nomor wahid dari seluruh kolong langit pada pertemuan puncak para jago yang akan datang digunung Ui San"
"Kini aku memang lagi murung karena tak tahu alamat dari Isana Kelabang Emas itu"
Pikirnya dihati.
"Kenapa aku tidak pancing saja keluar dari mulutnya?"
Oleh karena itu segera Tan Kia-beng pun tertawa terbahak-bahak.
"Siauwte tak berbakat serta bodoh, bagaimana mungkin berani menerima pujian serta penghargaan dari majikan istana kalian. Siauwte takut tenaga mudaku ini tidak bakal bisa memenuhi harapan dari majikan istana kalian."
Bun Ih Peng yang mendengar nada suaranya rada bermaksud menyetujui hatinya jadi amat girang buru-buru jawabnya.
"Tenaga sakti Tan heng amat dahsyat dan menjabat sebagai ketua partai Teh Leng Kauw dikemudian hari bilamana usaha kita berhasil kekuasaan seluruh Bulim di daerah Tionggoan ini tentu akan diserahkan semua sedang mengenai diri majikan istana kami tak banyak hanya ingin Tan heng suka mengerjakan suatu tugas saja buat istana kami!"
Bicara sampai disitu dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah medali pualam dan diangsurkan ketangan Tan Kia-beng. Dengan cepat pemuda itu menerima medali tersebut dan tertawa tergelak gelak.
"Ooow.... ada urusan yang begitu gampangnya?"
Dan dengan amat teliti dia memeriksa medali tersebut, ketika dilihatnya medali pualam itu mirip sekali dengan medali yang diberikan Su Hay Sin Tou kepadanya kembali dia tertawa dan berkata lagi; Bukankah Thay Gak Cungcu pun mempunyai medali semacam ini?
Lalu sebenarnya siapa saja yang berhak memiliki medali ini?
dan apa kegunaannya.
"Tan heng jangan terlalu memandang rendah medali ini, dialah benda yang paling penting untuk memasuki Isana Kelabang Emas, kedudukannya ada di atas Tongcu dari ketua cabang, siapa saja yang memiliki medali ini ada hak dan kekuasaan untuk memerintahkan para siangcu yang ada dibawahnya."
Tan Kia-beng segera menggeleng.
"Cayhe sama sekali tidak tertarik dengan medali ini, lebih baik untuk sementara waktu kau bawa pulang saja!"
Apakah Tan heng merasa kedudukannya terlalu rendah?"
"Cayhe sama sekali tidak pernah memikirkan besar kecilnya kedudukan sebaliknya hanya dikarenakan sudah bertekad bulat untuk membasmi "Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong dari muka bumi bilamana aku sudah menyanggupi undangan dari majikan istana kalian bukankah aku jadi tak leluasa untuk turun tangan terhadap Bok Thian-hong?"
"Haaa.... haaa.... urusan ini adalah suatu pekerjaan yang amat mudah sekali."
Teriak si "Miauw Pit suseng"
Bun Ih Peng sambil tertawa keras.
"Bilamana kau memang sungguh sungguh sudah tekad untuk membasmi "Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-honghe membawa Tan heng pergi keperkampungan Thay Gak Cung? "Omongan macam apakah itu?"
Diam-diam maki Tan Kia-beng di dalam hati "kedudukan dari Thay Gak Cungcu sudah ketahuan umum dan tak ada harga untuk digunakan lagi, maka sekarang kalian hendak menyingkirkan orang itu dengan pinjam tanganku Hmm....!
suatu siasat keji sungguh!"
Walaupun dalam hati ia berpikir begitu tapi pada luarnya pemuda itu berpura kaget.
"Bilamana berbuat demikian apakah Heng Thay tidak takut dipersalahkan oleh majikan istana kalian?"
"Bok Thian-hong selalu bekerja tak jujur dan selalu berani membangkang perintah dari majikan istana kami, sekalipun Tan heng tidak turun tangan terhadap dirinya dari pihak istana kamipun akan menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya"
"Perbuatan ini apakah menurut maksud dari majikan kalian....?"
Walaupun majikan kami tidak memberi perintah secara jelas tetapi dari Ci Lan Pak sudah ada petunjuk yang jelas!"
"Kalau begitu heng thay silahkan berangkat lebih dulu biarlah aku orang she Tan menyusul dari belakang,"
"Miauw Pit suseng"
Bun Ih Peng segera bangun berdiri, lalu menjura dan meloncat keluar dari dalam kamar.
Menanti Miauw Pit suseng sudah pergi, Tan Kia-beng baru mulai mengadakan analisa terhadap apa yang didengarkan barusan ini.
Ia merasa tindakan dari pihak Isana Kelabang Emas ini mempunyai dua maksud.
Pertama, sudah tentu ingin mendapatkan daftar hitam itu.
Kedua sudah tentu karena kepandaian silatnya jauh melebihi Thay Gak Cungcu bahkan tak ketinggalan pula dirinya adalah Teh Leng kauwcu.
Harganya sudah tentu jauh melebihi harnya Bok Thian-hong.
Biar kehilangan seorang Bok Thian-hong yang sama sekali tak berharga dengan mendapat ganti seorang yang lihay dan sempurna seperti Tan Kia-beng sudah tentu hal ini sangat menyenangkan sekali.
Ketika kentongan kedua sudah tiba Tan Kia-beng segera bersiap-siap dan tanpa membangunkan lagi Leng Hong Tootiang sekalian dengan cepat ia sudah berlari menuju ke arah yang ditempuh Miauw Pit Suseng tadi.
Siapapun tak ada yang menyangka kalau perkampungan "Thay Gak Cung"
Yang amat misterius itu sebenarnya terletak dekat dengan kota Wu Han.
Di sepanjang jalan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat dahsyat dengan melalui padang rumput dan memasuki hutan yang gelap, tidak lama kemudian di dalam sebuah lembah yang dilingkari dengan bukit bukit yang tinggi pemuda itu menemukan juga sebuah perkampungan yang persis seperti apa yang dikatakan oleh Bun Ih Peng tadi.
Tanpa ragu ragu lagi laksana samburan anak panah Tan Kia-beng meluncur ke arah perkampungan tersebut Perkampungan itu benar luar biasa besarnya sehingga mirip dengan sebuah kuil, bangungan rumah itu berdiri hampir menggunakan separuh dari lembah itu sendiri.
Selagi pemuda itu bersiap-siap hendak meloncat masuk ke dalam lembah itulah tiba-tiba tampaklah sesosok manusi meluncur ke arahnya sembari memanggil.
"Tan heng, ikutilah diriku."
Kiranya suara dari si Miauw Pit Suseng Bun Ih Peng adanya! Tan Kia-beng yang bernyali dan berkepandaian tinggi sudah tentu tidak akan takut terhadap apapun, maka pikirnya diamdiam.
"Perduli kau mau main setan macam apa pun aku tidak percaya kau ia dapat mengapa apakan diriku"
Ia berputar setengah udara kemudian dengan cepatnya menubruk kesisi tubuh Miaw Pit Suseng. Agaknya si "Miauw Pit suseng"
Bun Ih Peng sangat hafal dengan keadaan di dalam perkampungan tersebut!
Dan dengan meminjam bayangan pepohonan serta semak belukar yang gelap dengan cepanya berhasil mendekati halaman kebun di dalam ruangan penerima tamu dari perkampungan Thay Gak Cung tersebut Waktu suasana di dalam ruangan amat ramai, kecuali Chun Tiong Ngo Kui"
Hwee Im Poocu, Loo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay.
"Sin Sie Ci"
Lie Ih Sian Sian, Jien Liong So Ong Hong Sin serta Im Yang siusu"
Ho Cian masih ada banyak sekali orang yang tidak dikenal "Thay Gak Cungcu"
Bok Thian-hong duduk di atas kursi kebesaran yang ada di sebelah kanan, sedang disebelah kirinya duduklah istri kesayangannya Lei Hun Hweeci.
Tan Kia-beng yang melihat Lei Hun hweeci pun ada disana, wajahnya kontan berubah merah.
Terdengarlah Lo Hu Cu sambil memandang wajah Bok Thian-hong bertanya dengan suara keras.
"Pinto ada suatu urusan yang sukar untuk dipahami, Kalau memangnya Bok heng ada hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas kenapa si Si Dara Berbaju Hijau itu bisa turun tangan menyerang kita semua?"
"Haa.... haaa.... urusan yang telah lewat lebih baik tidak usah diungkat kembali"
Sahut Bok Thian-hong sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kebanyakan orang perempuan sangat sombong dan ingin menang sendiri, mungkin dikarenakan siuwte sudah menghajar dayangnya Lo Hong-ing maka dia jadi marah. Kau serta aku adalah orang-orang yang sudah ada umur buat apa ribut dengan mereka."
"Heee.... heee.... aku lihat soal ini bukanlah merupakan suatu alasan yang kuat! Menurut penglihatanku ada delapan bagian soal ini tentu disebabkan oleh si wajah putih itu."
Sambung Lei Hun Hweeci sambil tertawa sinis Agaknya Bok Thian-hong merasa sangat takut untuk membicarakan lagi persoalan yang menyangkut Dara Berbaju Hijau itu, maka dengan cepat ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Perduli ia berbuat begitu dikarenakan urusan apa, pokoknya asalkan bukan maksud dari majikan Isana Kelabang Emas itu sendiri sudah cukup!"
Katanya.
"Soal terluka dalam kalangan Bulim adalah suatu peristiwa yang jamak, karena itu suatu Bok Thian-hong tak ambil pusing soal tersebut, Lo Hu Cu pun tak mengungkapnya kembali."
Sebaliknya Hwee Im Poocu yang selalu mengingat ingat soal Tan Kia-beng mendadak menimbrung.
"Kemarin malam setelah diganggu oleh nona tersebut sehingga memberi kesempatan yang bagus buat bangsat cilik itu, kini Bok heng ada maksud hendak berbuat gimana? "Hmm!"
Dengus Bok Thian-hong dengan gemasnya, napsu membunuhpun mulai meliputi sinar matanya.
"Bangsat cilik itu mengandalkan kitab pusaka peninggalan suhuku tempo dulu kini memandang sebelah mata terhadap siauwte bahkan telah sumbar akan mendirikan kembali perkumpulan Teh Leng Kauw. Manusia sesombong itu siauwte bersumpah hendak membunuhnya mati!"
"Heee.... hee.... buat apa kau pentang gaya dirumah saja?"
Sindir Kai Huan Hweeci sambil tertawa dingin.
"Bilamana sungguh sungguh berani cari orangnya, buat apa beraninya omong kosong dibelakang orangnya!"
Mendengar suara sindiran tersebut Bok Thian-hong segera bangun berdiri, dan tertawa dingin tiada hentinya.
"Hee.... heee.... kau kira aku orang she Bok benar-benar tidak bisa membereskan dirinya? Terus terang saja aku beritahu kepadamu, di sekeliling kota Wu Han sudah aku sebar jebakan yang sangat rapat hmm! Kini tidak bakal ia berhasil meloloskan dirinya kembali. Bilamana semisalnya siasat ini tidak berhasil maka aku akan pancing dia mendatangi Isana Kelabang Emas. Dan sampai waktu itu.... heee.... heee.... sekalipun ia memiliki kepandaian yang lihaypun tidak mungkin bisa berhasil meloloskan dirinya lagi."
Tan Kia-beng yang mendengar perkataan tersebut diamdiam tiada hentinya tertawa dingin pikirnya.
"Sekarang aku kasih kesempatan bagimu untuk meneruskan omongan besarmu, sampai waktunya aku akan menyuruh kalian rasakan kelihayan dari siauw ya mu."
Sewaktu ia bersiap-siap hendak melakukan gerakan, sekonyong konyong dari pojokan Timur laut berkelebat datang dua sosok tubuh manusia yang merupakan seorang hweesio serta seorang toosu.
Dengan ketajaman dari pandangan mata Tan Kia-beng, sekali pandang saja ia sudah bisa menemukan kalau hweesio serta toosu itu bukan lain adalah orang-orang dari tujuh partai besar, hanya saja ia tak bisa membedakan dari partai manakah mereka itu Dengan cepatnya kedua orang itu berkelebat ke atas wuwungan rumah dan mulau menyapu ke arah bawah.
Tidak lama hweesio serta toosu itu, tiba-tiba kembali tampak bayangan manusia berkelebat, kiranya dari arah Barat daya muncul lagi tiga sosok bayangan manusia yang dengan gerakan cepat laksana sambaran kilat lenyap di tengah kegelapan.
"Kenapa malam ini ada begitu banyak orang yang mendatangi perkampungan Thay Gak Cung ini?"
Pikir Tan Kia-beng karena hatinya rada bergerak.
"Apa mungkin kedatangan mereka untuk mengejar jejakku?"
Ketika itu pikirannya jadi tergetar, tak terasa lagi ia sudah menoleh ke arah Miauw Pit suseng.
Siapa nyana entah sejak kapan Bun Ih Peng sudah lenyap tak berbekas, tetapi pengalamannya saat ini sudah banyak akalnyapun bertambah cerdik.
Sehingga saat ini ia sama sekali tidak kaget oleh kejadian itu, sebaliknya malah ia tidak mau pikirkan dihati.
Hanya sepasang tangannya dengan cepat dikebaskan ke belakang, tubuhnya dengan sengaja menempel ke atas atap kemudian meluncur ke arah sebuah pohon dihadapannya.
Saat ini ia melihat keadaan di dalam ruangan itu lebih jelas lagi.
Terdengar "Siauw Bian Coa Sim"
Go To* Seng dari Chuan Tiong Ngo Kui mendadak buka mulut dan berkata.
"Menurut berita yang aku dengan daftar nama dari Mo Cun-ong yang lenyap tempo dulu kini sudah terjatuh ketangan bangsat cilik itu, entah saat ini sudah berhasil didapatkan belum oleh pihak Isana Kelabang Emas?"
"Menurut apa yang siauwte ketahui, agaknya daftar tersebut belum berhasil didapatkan sahut Thay Gak Cungcu sambil menggeleng "Hee.... hee.... suatu petunjuk yang amat menguntungkan kenapa pihak Isana Kelabang Emas menyingkirkannya kesamping?"
Sambung Setan Pengejar Nyawa Ong Kian dengan seramnya "Apa mungkin mereka sudah mengubah siasat?"
"Jika ditinjau dari keadaannya mungkin si Dara Berbaju Hijau itu sudah mengadakan pengacauan dari dalam tapi keadaan yang sebenarnya siauwte sendiri juga tidak jelas"
"Pada masa mekar ini kelihatannya Bok Heng sangat jarang mengadakan hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas. urusan ini kau harus menaruh perhatian! Jangan sampai dikarenakan persoalan dengan Dara Berbaju Hijau itu lantas memberi kesempatan buat bangsat cilik itu untuk mengadakan hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas. Waktu itu.... hee.... hee.... mungkin susah payahmu selama ini akan berantakan!"
Bok Thian-hong yang dikatai sana sini, hatinya mulai merasa berdebar debar, lama sekali ia berdiri termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang selama ini berdiri disamping saat ini sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Karena mereka berdua pernah bergerak di dalam istana Mo Cun-ong, dalam hatipun mungkin bisa menduga kalau di atas daftar hitam itu tentu ada tercantum namanya sendiri.
Kini mendengar nada ucapan Chun Tiong Ngo Kui yang rasanya pihak Isana Kelabang Emas menaruh maksud tidak baik terhadap nama nama yang tercantum dalam daftar hitam itu, dalam hati merasa amat terperanjat.
Mereka berdua bukannya merupakan burung-burung yang bodoh, tujuannya saat ini bekerja sama dengan Bok Thian-hong pun tidak lebih hanya bertujuan untuk menghadapi Tan Kia-beng.
Setelah diketahuinya Bok Thian-hong sebenarnya hanyalah anak buah dari Isana Kelabang Emas yang bermaksud tidak baik terhadap orang-orang Bulim, perasaan waspada muncul pula meliputi hatinya.
Lama seklai Bok Thian-hong termenung.
Mendadak sambil meloncat bangun dari tempat duduknya ia berseru dengan amat gemas.
"Bernyali kecil bukan lelaki sejati tidak kejam bukannya suami yang baik. Pihak Isana Kelabang Emas bisa bersikap tawar dan tidak senang terhadap diriku semuanya disebabkan pekerjaanku terlalu lamban dan tidak berhasil mendapatkan daftar nama itu. Hee.... hee.... menurut pikiranku lebih baik kita membuat lagi suatu daftar nama menurut ingatan masing-masing kemungkinan bilamana jumlah orangnya masih kurang, bisa kita terangkan nama nama secara sembarangan, pokoknya bisa diserahkan kepada mereka, hal ini kiranya sudah cukup."
"Bok Thian-hong, nyalimu sungguh amat besar! Terdengar suara bentakan yang amat menyeramkan berkumandang keluar memenuhi seluruh ruangan. Mendengar suara bentakan ini seketika itu juga paras muka Thay Gak Cungcu sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, saking kagetnya ia hadir melongo longo dengan mata terbelalak lebar. Sehingga untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar. Para tetamu yang ada di dalam ruangan sewaktu mendengar dari tempat kegelapan berkumandang datang suara manusia, sebagian besar sudah pada meloncat bangun. Tetapi sewaktu melihat sikap dari Bok Thian-hong yang kelabakan dan ketakutan setengah mati itu mereka jadi tertegun dan berdiri termangu ditempatnya masing-masing. Wajah Bok Thian-hong sudah berubah semakin pucat, akhirnya ia menunduk dan menghela napas panjang. Tan Kia-beng yang mendengar suara betnakan tersebut segera bisa mengetahui kalau suara tersebut tentu berasal dari Miauw Pit suseng"
Bun Ih Peng tak terasa lagi hatinya merasa amat terperanjat juga. Thay Gak Cungcu biasanya bersikap gagah dan berangasan tidak disangka kini bisa begitu takutnya terhadap pihak Isana Kelabang Emas"
Pikirnya dihati Jika ditinjau dari soal ini terang terangan pengaruh mereka tidaklah kecil.
Selagi pikirannya berputar keras itulah mendadak terdengar suara pujian kepada sang Budha yang gegap gempita kemudian dari atas wuwungan rumah muncullah seorang hweesio tua yang mencekal tongkat serta seorang Tootiang yang pada punggungnya tersoren sebilah pedang panjang.
Para jagoan yang hadir di dalam ruangan semula sudah dibuat terkejut dan hati terasa tidak tenteram oleh suara ****nga Bun Ih Peng tadi, kini mendengar lagi suara pujian kepada sang Budha hatinya semakin terperanjat.
Ketika mereka bersama mendongakkan kepalanya ke atas wuwungan rumah, maka terlihatlah orang itu bukan lain adalah Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay serta Phu Cing Taysu dari Ngo Tay san.
Jangan dilihat sikap Bok Thian-hong yang begitu ketakutan terhadap pihak Isana Kelabang Emas sehingga kini mirip dengan tikus bersemu muka kucing.
Tetapi terhadap orang-orang dari tujuh partai besar ia sama sekali tidak memandang sebelah matapun.
Kini melihat munculnya orang-orang itu ia segera menengadah ke atas dan tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... ciang bun jien berdua malam buta mengunjung perkampungan Thay Gak Cung kami entah ada urusan apa yang penting?"
Omintohud! orang beribadat tidak pernah berbohong, kedatangan pinceng hanya khusus buat menyelidiki persoalan berdarah diperkampungan Cui-cu-sian yang dilakukan oleh sicu."
Sepasang mata Kwang Hoat Tootiang laksana sambaran kilat tajamnya menyapu sekejap seluruh ruangan, sewaktu melihat Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu ada disana lantas segera merangkap tangannya menjura.
"Haa.... haa.... kiranya Lho Hu TOo heng serta Ong heng sudah pada datang semua, hal ini sungguh bagus sekali serunya sambil tertawa tawar. Mereka berdua bukannya telah melupakan peristiwa pembunuhan berdarah yang terjadi di dalam perkampungan Cui-cu-sian, darah belum kering kereta kencana masih segar membekas dibenaknya, merekapun sudah tahu kalau perbuatan itu besar kemungkinan dilakukan oleh Thay Gak Cungcu yang ada di hadapan kini. Dan kini mendengar persoalan tersebut diungkap kembali oleh Kwang Hoat Tootiang jantungnya terasa tergetar amat keras. Loo Hu Cu serta Ong Jian semuanya adalah manusia manusia yang berhati licik, walaupun hatinya tergetar tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah.
"Benar.... benar, kenapa kalian berdua tidak turun dulu untuk bercakap-cakap!"
Sahutnya berbareng.
Malam ini pihak Kun-lun-pay serta Ngo Thay-san sudah pada bulatkan tekad untuk menagih hutang berdarah dengan pihak Thay Gak Cungcu, selesai menjelaskan duduknya persoalan mereka berdua lantas melayang turun ke atas anak tangga di depan pintu ruangan tersebut.
Thay Gak Cungcu yang melihat dari pihak mereka cuma muncul dua orang semakin tidak memandang sebelah matapun terhadap mereka.
Maka begitu melihat munculnya kedua orang itu buru-buru ia merangkap tangannya menjura dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaa.... haa.... kalian berdua hendak mencari pembunuh peristiwa berdarah itu, lalu mengapa kalian mendatangi perkampungan Thay Gak Cung kami ini? Apa mungkin kalian sudah menaruh curiga kalau pembunuhan berdarah itu aku orang she Bok yang melakukan?"
Hati manusia sukar diraba, setelah peristiwa kereta kencana tempo hari, mau tak mau pinceng harus berpikir secara begini!"
"Haa.... haa kalau betul peristiwa berdarah itu aku orang she Bok yang melakukannya, lalu kalian berdua kini punya rencana untuk berbuat apa?"
"Omintohud! Walaupun Sang Buddha berwelas asih tetapi bilamana urusan sudah terdesak hingga pada puncaknya, terpaksa pinceng harus mengambil jalan hutang darah harus dibayar dengan darah!"
Mendengar perkataan itu Bok Thian-hong tertawa semakin keras lagi.
"Haa....haa Thaysu perkataanmu sungguh cepat sekali diucapkan keluar, lalu kita hendak bereskan urusan ini dikemudian hari ataukah ini hari juga?"
Tantangnya.
Mungkin disebabkan banyaknya urusan yang diluar dugaan terjatuh ke atas kepalanya membuat perasaan halous yang ada pada dirinya tempo hati kini hilang lenyap tak berbekas sama sekali.
Paras muka Bok Thian-hong kini sudah dipenuhi dengan napsu membunuh yang berkobar kobar sinar matanya berkilat tajam kemudian selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati sang hweesio serta sang toosu kedua orang itu.
Perlahan-lahan Kwang Hoat Tootiang mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung, kemudian dengan suara bentaknya.
"Ruangan ini sangat luas, dari pada kemudian hari lebih baik kita bereskan pada ini hari juga!"
Waktu itu para jagoan yang ada di dalam ruangan sudah pada meninggalkan tempat duduknya masing-masing dan berdiri dikedua belah sisi Bok Thian-hong.
Cuma Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu saja yang paling mengenaskan, terlihatlah mereka berdiri di tempat kejauhan dan rasa bingungnya entah harus berbuat bagaimana baiknya.
Bilamana ditinjau dari keadaan serta situasi pada saat ini keadaan dari Thay Gak Cungcu sangat menguntungkan sekali, tetapi justru Bok Thian-hong ingin menyelesaikan urusan ini dengan suatu akhiran yang buruk.
Mendadak merangkap tangannya menjura ke arah mereka berdua dan ujarnya.
"Telah lama aku mendengar akan kedahsyatan dari ilmu pedang aliran Go bi pay yang menjagoi seluruh Bulim, kali ini siauwte ingin sekali minta bantuan terhadap Hoo Hu Too heng agar susah sedikit berpayah menemani tantangan permainan kali ini."
Beberapa patah perkataan ini begitu diucapkan keluar bukan saja Kwang Hoat Tootiang serta Phu Cing thaysu merasa kaget dan melengak.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sendiripun dibuat tertegun.
Ia sama sekali tak menyangka kalau Bok Thian-hong bisa melakukan tindakan semacam ini.
Bilamana mengabulkan permintaannya, keretakan antara ketujuh partai selama ini yang belum pernah diakhiri dengan suatu pertumpahan darah mungkin akan merupakan suatu kejadian yang sangat mengerikan.
Partai Go-bie pay tidak akan sanggup untuk menahan serangan gabungan dari keenam partai besar lainnya.
Bilamana tidak mengabulkan permintaannya.
Seketika itu juga hubungan dengan Bok Thian-hong akan putus, dan berarti susah payahnya selama ini akan sia-sia belaka.
Karena persoalan ini lama sekali toosu tersebut tak mengucapkan sepatah katapun.
Bok Thian-hong yang melihat sikap keragu raguannya itu maka dengan cepat tertawa dingin dengan seramnya.
"Hee.... hee.... bilamana Loo Hu heng ada keberatan di dalam hal ini, maka siauwte harap bagaimana kalau Hwee Im Poocu Ong heng yang menggantikannya?"
Inilah titik kelicikan serta kepandaian dari Bok Thian-hong, sewaktu ia melihat Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu terus menerus membaiki dirinya ia sudah merasa bilamana mereka berdua tentu ada sesuatu maksud tertentu, karena itu kini sengaja memaksa mereka untuk menggantikan dirinya terjun ke dalam kalangan pertempuran.
Walaupun Hwee Im Poocu sudah kenal dengan orang-orang Tujuh partai besar, tetapi hubungannya jauh lebih jarang daripada Loo Hu Cu sendiri.
Maka itu setelah mendengar suara permintaan tersebut sinar matanya menyapu sekejap ke arah Loo Hu Cu kemudian sambil menggigit kencang bibirnya, ia mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung dan menubruk ke arah Kwang Hoat Tootiang.
Hanya di dalam sekejap saja, ia sudah kebaskan pedangnya keseluruh pihak musuhnya dan melancarkan tujuh buah serangan sekaligus.
"Bagus! Bagus!"
Teriak Kwang Hoat Tootiang dengan gusarnya.
"Demi keadilan Bulim, terlebih dulu pinto akan membalaskan dendam bagi arwah beratus ratus anggota benteng Hwee Im Poo yang telah mati, setelah itu, baru mencari pembunuh sesungguhnya untuk menuntut balas...."
Pedangnya digetarkan keras membentuk tujuh kuntum bunga pedang untuk memunahkan datangnya ketujuh serangan gencar dari Ong Jian.
Suara desiran seketika itu juga memenuhi angkasa, diantara bekerjanya cahaya keemas emasan yang menyilaukan mata seketika itu juga tubuh Hwee Im Poocu telah terbungkus ke dalam lautan bunga pedang.
Dari antara ketujuh partai besar didaalm Bulim Siauw-lim-pay serta Ngo Thay pay lah yang mengandalkan ilmu pukuklan untuk menjagoi dunia kangouw.
kalau partai Tiam-cong-pay mengutamakan ilmu menotok jalan darah, sedang sisanya empat partai lainnya semuanya mengutamakan ilmu pedang.
Kwang Hoat Tootiang yang menjabat sebagai ketua partai diambah pula melancarkan serangan di dalam keadaan gusar kedahsyatannya sungguh luar biasa.
Dia merasa benci gemas dan mendongkol karena Ong Jiang telah melupakan dendam berdarah dari Bentengnya yang kini malah membantu musuh besarnya untuk menghalang halangi dirinya untuk menuntut balas.
Oleh sebab itu begitu turun tangan dia sudah menggunakan jurus serangan yang paling dahsyat.
Dari pihak Hwee Im Poocu sendiri sebenarnya ia tak ada maksud buat bermusuhan dengan pihak Kun-lun-pay, tetapi rasa tamak serta keinginan yang muluk muluk memaksa ia tak dapat melepaskan cita-citanya itu sampai di tengah jalan.
Kini mendengar suara sindiran dari Kwang Hoat Tootiang yang menusuk telinga dalam hati merasa amat sedih seperti diiris iris, belum sempat ia memberi penjelasan tubuhnya sudah terdesak ke dalam keadaan yang sangat berbahaya sekali.
Bok Thian-hong betul-betul merupakan seorang yang amat licik dan kejam, kini melihat Ong Jiang sebentar lagi bakal dapat terluka bukannya memberi bantuan, ia malah melengos ke samping dan berdiri sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Lama kelamaan Loo Hu Cu mulai merasa tidak sabaran, tangannya meraba gagang pedang yang tersoren pada punggungnya dan bersiap-siap untuk maju memberi bantuan.
Mendadak....
"Hee.... hee.... murid durhaka yang menjual nenek moyangnya sendiri, kau bermaksud main kerubut?"
Bentak seseorang sambil tertawa dingin.
Diantara berkelebatnya cahaya pedang yang menyilaukan mata tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang amat gagah dengan menyilangkan pedangnya dihadapan badannya.
Sekali pandang saja Tan Kia-beng telah dapat menangkap kalau orang itu bukan lain adalah Sak Ih dari Bu-tong-pay pada saat yang bersamaan pula tampak bayangan bayangan manusia lain yang berkelebat Leng Hong Tootiang dari Butong-pay bersama-sama dengan si Ciat Hun Kiam Si Huan pun muncul di tengah kalangan.
Sejak semula Loo Hu Cu memang sudah mendendam terhadap Sak Ih, kini mendengar pemuda memaki semaunya seketika itu juga jadi amat gusar.
Pedangnya dengan disertai suara desiran tajam membabat ke arah depan, bersamaan itu pula bentaknya dengan gusar.
"Bangsat licik yang bermulut kotor, kau berani memaki angkatan yang lebih tua? Kau bangsat yang tak berpendidikan. Sak Ih yang melihat datangnya serangan babatan itu dengan tepat menangkisnya ke arah depan.
"Hmm! Perbuatan semalam kauj lebih mirip dengan anjing maupun babi!"
Balas makinya dengan dingin.
"Kau masih bisa mengaku dirimu sebagai cianpwee? Hee, hee sungguh tidak mempunyai malu!"
Sreet!
Sreet!
Hawa pedang berdesir segulung demi segulung, hanya di dalam sekejap mata dia telah melancarkan sembilan buah serangan gencar yang tidak memberi sedikit kesempatanpun baginya untuk bicara.
Loo Hu Cu jadi cemas bercampur gusar, pedangnya mengencang kemudian di tengah suara bentaknya yang amat nyaring tenaga dalamnya segera disalurkan memenuhi seluruh tubuh.
"Traang! Traang!"
Dengan menimbulkan percikan bunga bunga api ia sudah menangkis kesembilan buah serangan itu dengan keras lawan keras.
Sak Ih sadar kalau tenaga dalamnya amat sempurnya kini melihat toosu itu mengajak adu tenaga hatinya jadi berdesir.
Maka itu jurus serangan pedangnya segera diubah, dengan mengandalkan kegesitan badannya ia berusaha agar jangan sampai pedangnya terbentur dengan pedang lawan.
Sesaat Sak Ih lagi bergebrak dengan amat ramainya melawan Loo Hu Cu dari tengah kalangan mendadak berkumandang datang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati.
Kiranya lengan si Hwee Pocu Ong Jian berikut pedangnya berhasil terwayat putus oleh serangan Kwan Hoat Tootiang darah segar memancar memenuhi angkasa sehingga hampir hampir saja tubuhnya jatuh rubuh ke atas tanah.
Tetapi ia tidak malu disebut sebagai seorang jagoan Bulim maka dengan wajah sedih ia berusaha menutupi mulut lukanya dengan tangan sebelah dan teriaknya ke arah Kwang Hoat Tootiang.
"Toosu bangsat tindakanmu sungguh kejam! hadiahmu ini hari akan aku orang she Ong kembalikan pada tiga tahun kemudian! Selesai berkata tubuhnya segera meloncat melewati tembok dan lenyap dari pandangan mata.
"Haa.... haa Ong Poocu kau terlalu berkecil hati betapa berharganya ratusan nyawa manusia kalau diganti dengan sebuah lengan, apa kau masih tidak terima?"
Sahut Kwang Hoat Tootiang sambil tertawa dengan terbahak-bahak.
Bagaimanapun Leng Hong Tootiang dari Bu-tong-pay ini jauh lebih berpikir panjang dan tidak berani berani berlaku gegabah melihat Sak Ih serta Loo Hu Cu telah bergerak mencapai pada taraf puncaknya tak terasa dia sudah kerutkan dahi.
"Sute! Cepat berhenti!"
Bentaknya sambil maju ke depan, dan toosu ini tidak mau melihat diantara ketujuh partai besar saling bunuh membunuh sendiri.
Walaupun Sak Ih masih berada dalam keadaan gusar tetapi dia tidak berani membangkang juga perkataan dari Ciangbun suhengnya, maka itu dengan cepat serangannya ditarik kembali dan mundur sejauh delapan depa ke belakang.
Waktu itulah Leng Hong Tootiang baru maju ke depan menjura ke arah Loo Hu Cu "Atas tindakan gegabah dari suteku yang menuruti hawa napsu, harap Too heng jangan marah"
Katanya halus.
"Biarlah pinto mewakili sute untuk mohon maaf!"
Dengan wajah penuh kegusaran Loo Hu Cu mendengus berat.
"Tujuh partai besar selamanya bertindak bersama-sama, sekalipun ada kesalah pahaman, tidak sukar untuk diberesakan."
Ujar Leng Hong Tootiang lagi.
"Kenapa Too heng harus bergabung dengan pihak Thay Gak Cungcu? Apakah kau masih tidak mau percaya kalau seluruh pertumpahan darah yang telah terjadi adalah hasil kerjanya?"
Padahal Loo Hu Cu sudah jauh lebih jelas mengetahui urusan ini dari pada orang lain, hanya ia berpura pura pilon saja Kini setelah ditegur secara terbuka oleh Leng Hong Tootiang kontan saja mulutnya serasa terkunci tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.
Semula maksud tujuan Bok Thian-hong adalah ingin mengadu mereka untuk bertarung mati matian terlebih dulu, tetapi kini melihat Loo Hu Cu sudah memperlihatkan sikapnya yang menyesal maka dengan cepat segera bertindak maju ke depan.
"Loo Hu TOo heng! Bilamana kau takut menyinggung pihak Bu-tong-pay sekarang silahkan beristirahat dulu! Biarlah siauwte yang mencoba-coba bagaimanakah kedahsyatan dari ilmu silat aliran Bu-tong-pay."
"Hee.... hee.... kendati mereka sui heng te maju bersama-sama pun belum tentu pinto merasa takut."
Bantah Loo Hu Cu sambil tertawa dingin.
"Cuma saja pinto ingin untuk sementara waktu melepaskan diri dari persoalan ini."
Kemudian ia masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dan siap-siap untuk mengundurkan diri dari dalam ruangan. Melihat kejadian itu Bok Thian-hong segera tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haaa.... haa rahasia dari perkampungan Thay Gak Cung ini sudah kau ketahui, apakah malam ini kau sehidung kerbau bermaksud hendak meninggalkan tempat ini?"
Loo Hu Cu jadi melengak dibuatnya. Mendadak Bok Thian-hong menarik kembali suara tertawanya, dan dengan wajah penuh hawa nafsu membunuh bentaknya.
"Bawa kemari!"
Dan dari balik ruangan muncullah dua belas orang bocah pemunah hujan yang pada mnyoren pedang, empat yang berada di depan berjalan masuk sambil menggotong seorang lelaki yang tubuhnya sudah berlepotan darah.
Dari tempat kejauhan semua orang bisa mengetahui kalau orang itu bukan lain adalah Hwee Im Poocu, Ong Jiang yang baru saja melarikan diri itu.
Orang lain yang melihat masih tidak merasa seberapa gusar, sebaliknya bagi Loo Hu Cu sangat murka sekali.
"Apa maksudmu?"
Bentaknya dengan keras "Hee.... hee.... barang siapa yang bermaksud mencari tahu rahasia perkampungan Thay Gak Cung kami, harus dibunuh!"
Jawab Bok Thian-hong seram.
"Dia sudah dipastikan harus mati disini, demikian juga dengan dirimu, kaupun tidak bakal bisa meloloskan diri dari perkampungan Thay Gak Cung ini dalam keadaan hidup hidup. Selesai berkata, hawa napsu membunuh mulai meliputi seluruh tubuhnya, para jago yang hadir di dalam ruangan itupun kini mulai menyebar keempat penjuru. Entah sejak kapan di atas wuwungan rumah pun tampak bayangan manusia berkelebat kiranya seluruh lingkaran tempat itu telah terkurung rapat rapat. Ketika itu Loo Hu Cu benar-benar merasa amat menyesal bercampur mendongkol, pedang segera dicabut keluar kemudian sambil menuding ke arah Bok Thian-hong makinya.
"Bilamana kau berani mengganggu seujung rambut dari Hwee Im Poocu aku segera maui nyawamu"
"Hii.... hii.... hey toosu bau!"
Kau berani berbicara begitu sombong apakah tidak takut lidahnya jadi keseleo? baik biarlah loo nio bunuh dirinya terlebih dulu sebagai contoh!"
Dengan langkah yang lemah gemulai ia berjalan langsung kehadapan Hwee Im Poo cu "Kau berani!"
Bentaknya keras, karena kegusaran dihati Loo Hu Cu benar-benar telah memuncak.
Pedangnya digetarkan kemudian langsung menubruk ke arah depan.
Tiba-tiba....
segulung angin pukulan berhawa dingin yang berbau amis menggulung datang memaksa ia harus melancaran dua buah serangan untuk memunahkan datangnya serangan itu.
Ketika sinar matanya berputar tampaklah "Chuan Tiong Ngo Kui"
Sambil mencekal sebilah pedang pencabut nyawa laksana lima orang malaikat dari akhirat menyebar diri ke seluruh ruangan siap-siap melancarkan serangan.
Melihat hal tersebut hatinya segera merasa berdesir juga.
Telah lama toosu ini mendengar bagaimana keji dan dahsyatnya barisan pedang "Ngo Kui Im Hong Kiam Tin"
Tersebut.
kin isudah tentu Loo Hu Cu tak berani menerjang masuk seorang diri.
Maka dengan mengambil kesempatan sewaktu ia rada merandek itulah Lei Hun Hwee ci sudah menerima tubuh Hwee Im Poocu dari tangan keempat orang bocah pelenyap hujan itu.
Sehingga dua belas orang bocah "Hue Yu Tong Ci"
Bersama-sama mencabut keluar pedang pendeknya dan kontan membentuk barisan pedang di tengah ruangan itu.
Dari pihak tujuh partai besar bersama-sama dengan si Ciat Hun Kiam Si Huan hanya berjumlah enam orang, kalau hanya untuk menghadapi barisan pedang "Ngo Kui Im Hong Kiam Tin"
Saja masih cukup bertenanga, tetapi kecuali itu masih ada Bok Thian-hong suami istri, Jien Liong so sekalian beserta kedua belas bocah "Hua Yu Tong Ci"
Hal ini jadi tidak gampang lagi.
Apalagi pihak musuh adalah gelap sedang pihak mereka terang didalamnya masih tersembunyi berapa banyak jagoan lihay mereka sendiripun tidak tahu.
Karena itu walaupun mereka berenam sudah pada mencabut keluar senjata tajamnya tetapi siapapun tak ada yang berani turun tangan terlebih dulu.
Seketika itu juga suasana di dalam ruangan jadi sunyi senyap, dan dibawah sorotan sinar lilin wajah kelima setan itu berubah jadi semakin menyeramkan.
"Bilamana diantara kalian ada yang sayang pada nyawa sendiri lebih baik saat ini juga bersumpah untuk setia dengan aku.... hee.... hee.... sekarang masih belum terlambat!"
Ujar Bok Thian-hong secara tiba-tiba dengan seramnya.
Baru saja ia selesai berbicara, mendadak terdengar suara jeritan ngeri memenuhi angkasa, kiranya dari atas wuwungan rumah terlempar jatuh sesosok mayat lelaki berbaju hitam yang sudah berlepotan darah segar.
Bok Thian-hong jadi amat terperanjat.
"Kawan dari mana yang telah berkunung datang?"
Bentaknya gusar.
Tubuhnya segera melayang ke atas wuwungan rumah itu.
Di tengah kegelapan kembali suara jeritan bergema memecahkan kesunyian, Sreeet Sreet!
dua sosok bayang dengan cepatnya menubruk datang.
Bok Thian-hong sama sekali tidak mempersiapkan akan hal itu, maka di dalam keadaan gugup telapaknya berturut turut melancarkan dua buah serangan gencar ke depan sedang tubuhnya menggunakan kesempatan itu menyusup ke belakang.
"Platak.... platak....!"
Darah segar bagaikan curahan hujan memancur keempat penjuru, dua sosok bayangan yang menubruk datang tadi telah tergetar ke belakang sehingga menumpuk ujung wuwungan dan rubuh ke atas genting.
Kiranya kedua sosok bayangan manusia itu bukan lain adalah dua sosok mayat yang tanpa kepala.
Sewaktu Bok Thian-hong terdesak lurus ke atas permukaan tanah itulah tampak sesosok manusia laksana sambaran kilat langsung menubruk ke arah Lei Hun Hweeci.
Terdengarlah suara jeritan kaget dari Lei Hun Hweeci bergema diudara, tubuhnya dengan cepat mengundurkan diri sejauh delapan depa ke belakang.
Dan tubuh Hwee Im Poocu yang ada di tangannya kini sudah kena direbut oleh orang yang baru saja datang itu.
Laksana kitiran Bok Thian-hong berputar di tengah udara kemudian datang menerjang ke arah orang tersebut.
Melihat serangan dari Bok Thian-hong itu orang tadi sambil mengepit tubuh Hwee Im Poocu mendadak melancarkan serangan dahsyat ke depan.
Di tengah suara bentakan yang amat keras, segulung angin pukulan yang serasa membelah bumi membabat laksana roda menghantam ke depan Dalam keadaan gugup Bok Thian-hong tidak berani menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras, maka tubuhnya segera berjumpalitan di tengah udara dan melayang sejauh lima depa ke belakang.
---0-dewi-0---JILID.
26 Saat itulah ia baru menemukan kalau orang itu bukan lain adalah Tan Kia-beng sang pemuda yang paling ditakuti olehnya.
Tak terasa lagi dengan wajah menyengir kejam serunya.
"Bagus, bagus, aku memang sedang bersiap-siap untuk mencari dirimu, tidak disangka kau malah datang untuk menghantur kematian sendiri!"
Waktu Lei Hun Hweeci pun sudah melihat jelas kalau orang yang datang itu bukan lain adalah Tan Kia-beng, maka wajahnya kontan berubah jadi merah jengah.
"Manusia yang tak punya liang sim, kiranya kau"
Jeritnya keras. Wajah Tan Kia-beng pun mulai diliputi dengan napsu membunuh yang berkobar kobar, ia segera tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa, haaa ini hari adalah waktu buat perkampungan Thay Gak Cung kalian untuk musnah dari muka bumi, tidak usah banyak cingcong lagi cepat-cepatlah mempersiapkan diri!!"
Thian Sie Ci Lie Ih Sian yang masih teringat dendam satu pukulannya segera menggoncangkan sie poa besinya kemudian tertawa dingin tiada hentinya. Bersama-sama dengan "Jien Liong So"
Ong Hong Sin satu dari kiri yang lain dari kanan siap-siap menerjang ke depan.
Darah segar yang berceceran memenuhi ruangan segera memancing pula napsu membunuh dari Chuan Tiong Ngo Kui terdengar kelima orang itu bersama-sama memperdengarkan suara suitannya yang amat aneh dengan barisan pedang Ngo Kui Im Hong Kiam Tin mulai bergerak, dengan menimbulkan suara aneh yang memekakkan telinga seketika itu juga sinar pedang berkelebat memenuhi angkasa dan menerjang ke arah Loo Hu Cu sekalian.
Leng Hong Tootiang segera enjotkan badannya menerjang kesisi Loo Hu Cu bentaknya keras.
"Biarlah aku bersama-sama dengan Loo Hu Tooheng menghadapi barisan pedang "Ngo Kui Im Hong Kiam Tin"
Sak sute serta Si Siauwhiap pergilah menghadapi kedua belas bocah "Hun Yu Tong Ci"
Itu!"
Baru saja suara bentakan tersebut selesai diucapkan serangan pedang dari kelima orang setan itu sudah melanda datang, bersamaan pula barisan pedang dari kedua belas orang Hua Yu Tong Ci"
Bagaikan ambruknya gunung Thay-san sudah menggulung datang.
Seketika itu juga seluruh ruangan telah dipenuhi oleh hawa pedang yang menyilaukan mata, angin pukulan bagaikan ambruknya bukit melanda ke depan tiada hentinya.
Suatu pertempuran sengit segera berkobar dengan ramainya.
Phu Cing Caysu dari Ngo Bay Pa serta Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay yang siap-siap maju untuk membantu Leng Hong Tootiang sekalian untuk bersama-sama menghadapi barisan pedang Ngo Kui Im Hong Kiam Tin.
Tetapi mendadak dari atas wuwungan rumah berkumandang datang suara bentakan keras.
"Im Yang siu siu"
Hoa Cian dengan memimpin sejumlah busu busu yang berbaju hitam bersama-sama menerjang datang memaksa kedua orang itu mau tidak mau balikkan badan memberi perlawanan.
Saat itu kecuali Bok Thian-hong suami istri yang berdiri disamping untuk menonton jalannya pertempuran sisanya hampir boleh dikata telah turun tangan.
Tan Kia-beng yang melihat kejadian itu dalam hati merasa amat gusar bercampur mendongkol Seruling "Pek Giok Tie segera dicabut keluar, di tengah suara suitan yang amat keras dia segera melancarkan serangan dengan menggunakan jurus jurus ilmu seruling "Uh Yeh Cing Hun"
Yang sangat dahsyat.
Bayangan seruling memenuhi angkasa disertai suara yang ngeri bergema saling susul menyusul, kiranya lengan kanan dari Sin Sie cie berhasil kena dibabat putus menjadi dua.
Saat ini hawa amarahnya sampai pada puncakya, napsu mau membunuhpun sudah memenuhi seluruh benak.
Di tengah suara tertawa dinginnya yang amat seram seruling pualam ditangannya laksana kilat meluncur ke depan.
Darah segar keluar memancur memenuhi angkasa, dada "Sin Sie cie Lie Ih Sian kini sudah tertusuk tembus oleh seruling itu Tan Kia-beng yang melihat serangannya mencapai sasarannya tidak berhenti sampai disitu saja, tubuhnya berputar cepat kemudian membabat ke arah "Jen Liong So"
Serangannya kali ini semakin dahsyat hawa pukulannya telah menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian. Serangan yang datangnya mendadak membuat "Jien Liong So"
Tidak sempat menghindar lagi, terpaksa sambil menggigit kencang bibirnya melancarkan satu pukulan untuk menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Terdengar suara jeritan yang menyayat hati berkumandang keluar, tubuh Jien Liong So kena terpental setinggi satu kaki dan terjatuh ke atas anak tangga di depan pintu.
Darah segar muncrat keluar dari mulutnya mencapai sejauh dua tiga depa, sehingga binasakan dua orang musuh besarnya, semangatnya jadi berkobar kobar sedang napsu membunuhpun mulai meliputi wajahnya.
"Bangsat pembunuh serahkan nyawamu!"
Bentaknya keras.
Seruling pualamnya dengan disertai cahaya yang menyilaukan mata menerjang ke tengah udara dan menubruk ke arah Bok Thian-hong datangnya serangan ini benar-benar luar biasa sekali.
Bok Thian-hong sebagai seorang Cungcu dari perkampungan yang amat besar melihat datangnya serangan yang amat dahsyat tidak berani ayal lagi, kakinya segera melayang ke samping sejauh delapan depa dan tertawa dingin tiada hentinya.
Bilamana kau memang bermaksud hendak mencari mati, biarlah kini aku orang she Bok penuhi keinginanmu itu!"
Dan sepasang telapak tangannya berputar serta berkelebat di tengah udara kemudian bersama-sama membabatnya ke depan, segulung angin pukulan berhawa dingin yang menusuk tulang laksa tiupan angin salju menggulung ke arah tubuh Tan Kia-beng yang meluncur datang itu.
Pada saat yang bersamaan Lei Hun Hweeci melayang ke samping dan menggencet ke arah pemuda tersebut Mereka suami istri berdua telah mengetahui kalau mati hidup sukar ditentukan pada malam ini, maka begitu turun tangan mereka telah melancarkan serangan degnan sepenuh tenaga.
Angin pukulan menderu deru menggetarkan seluruh ruangan dinding tembok pada jebol tertembus pukulan, wuwungan dan atap pada rontok membuat debu mengepul menyilaukan mata, keadaannya ini benar-benar sangat berbahaya sekali.
Kini di tengah ruangan besar telah terpecah empat rombongan pertempuran sengit, Kwang Hoat Tootiang serta Phu Cing thay su yang harus melawan musuhnya dalam jumlah yang lebih banyak kini rada ngotot untuk memunahkan datangnya serangan.
Sedang Loo Hu Cu serta Leng Hong Tootiang yang paling payah diantara kesemuanya sejak tempo dulu Chuan Tiong Ngo Kui kecundang dibawah serangan Giok Hun Kiam dari Tan Kia-beng mereka telah barisannya sedemikian rupa hingga kini jauh lebih dahsyat kekuatannya.
Sehingga walaupun Loo Hu Cu adalah jagoan pedang nomor wahid dari lingkungan tujuh partai besar, sedang Leng Hong Tootiang sebagai seorang ciangbunjin Butong pay, tetapi untuk menghadapi serangan yang ganas dari barisan tersebut untuk sementara waktu tak ada kekuatan untuk balas menyerang.
Tan Kia-beng yang bergebrak melawan Bok Thian-hong sembari bertempur matanya tiada henti melirik ke tengah kalangan ia merasa jumlah orang dari perkampungan Thay Gak Cungcu semakin lama semakin banyak, bahkan sampai sebuah ruangan besar seperti itu terpenuhi dua tiga ratus orang kini sudah terjejal penuh.
Pikirannya jadi berjalan, ia merasa bilamana pertempuran ini dilanjutkan, ada kemungkinan tak akan menguntungkan bagi pihaknya.
Disamping itu dalam hati ia sudah bulatkan tekad untuk melenyapkan Bok Thian-hong malam ini juga, maka hawa murninya segera ditarik dari pusar menuju keseluruh tubuh.
Di tengah suara suitannya yang amat panjang seruling putih ditangan kanannya dialihkan ketangan kiri sedang tangannya yang lain mencabut keluar pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam.
Begitu senjata pusaka ini dicabut keluar dari sarungnya, tampaklah serentetan cahaya kebiru biruan yang menyilaukan mata memantul keluar dari ujung pedang dan kemudian menyebar kemana mana sewaktu pedang tersebut digetarkan.
"Malam ini juga aku orang she Tan hendak mewakili mendiang suhu untuk membersihkan perguruan dari manusia laknat."
Bentak pemuda itu dengan gusarnya.
"Bok Thian-hong! kalian suami istri berdua lebih baik serahkan saja nyawa kalian!"
Dengan tangan kiri mencekal seruling, tangan kanan mencekal pedang tubunya segeramenubruk ke arah depan Tampaklah cahaya biru dan cahaya putih melesat di tengah udara, laksana seekor ular dengan gesitnya meluncur ke depan dan seketika itu juga mengurung seluruh tubuh Bok Thian-hong suami istri di dalam lingkungan cahaya yang menyilaukan mata.
"Aaaakhh....! suara jeritan kaget meluncur keluar kiranya seutas rambut Lei Hun Hweeci sudah terkena terbabat hingga keakar akarnya hal ini membuat perempuan itu jadi kaget dengan wajah berubah pucat pasi menjauhkan dirinya sejauh satu kaki dua depa ke belakang Bok Thian-hong yang sedang mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan datangnya serangan gencar dari Tan Kia-beng mendadak mendengar istri kesayangannya menjerit kaget, di dalam hatinya ia sudah mengira istrinya terluka Maka buru-buru tubuhnya meloncat balik untuk memberi pertolongan, siapa sangka waktu itulah Tan Kia-beng sudah membentak keras, cahaya tajam membelah udara. Seketika itu juga lengan kiri Cay Gak Cungcu kena terbabat putus jadi dua bagian Darah segar segera mancur ke tengah udara yang diikuti tubuhnya mundur ke belakang dalam keadaan sempoyongan, dalam hati Bok Thian-hong tahu bila saat ini ia tidak cepat-cepat melarikan diri sukar juga untuk mempertahankan nyawanya lagi. Maka sambil menggigit bibirnya ia memungut kembali potongan lengannya, kemudian di ringi suara jeritan ngeri yang sangat menyeramkan bersama-sama dengan Lei Hun Hweeci melarikan diri menuju ke belakang perkampungan Kini napsu membunuh sudah meliputi seluruh wajah Tan Kia-beng, maka begitu melihat Bok Thian-hong suami istri melarikan diri dia segera tertawa tergelak dengan seramnya.
"Haa.... haa tikus tua!! Kau masih ingin melarikan diri?"
Di tengah suara gelak tawanya yang sangat mengerikan itu, mendadak tubuhnya muncul ke tengah udara.
Siapa sangka waktu tubuhnya mencapai pada ketinggian lima depa itulah dari belakang tubuhnya bergema datang suara desiran hawa pedang.
Kiranya Chuan Tiong Ngo Kui"
Telah meninggalkan Loo Hu Cu serta Leng Hong Tootiang yang kemudian bersama-sama menubruk datang untuk memaksa Tan Kia-beng mau tak mau barus melayang kembali ke atas permukaan tanah.
Bersamaan waktunya pula barisan pedang mereka mulai bergerak dan mengurung pemuda itu rapat rapat.
Tan Kia-beng dengan cepat melancarkan serangan dengan menggunakan seruling serta pedangnya, maka hanya di dalam sekejap saja ia sudah melancarkan sepuluh jurus.
Terasa hawa pedang memenuhi angkasa satu cahaya putih, yang lain cahaya kebiru biruan dua buah rentetan pelangi panjang kelihatan menari nari tiada hentinya diudara yang disertai suara suitan tajam membetot hati, keadaannya benar-benar menyeramkan.
Kali ini Chuan Tiong Ngo Kui sudah lebih berpengalaman, mereka sama sekali tidak membiarkan pedang Siang Bun Kiam nya terbentur dengan pedang Giok Hun Kiam tersebut, karena itu walaupun serangan Tan Kia-beng amat gencar tetapi untuk beberapa saat lamanya tak sanggup juga untuk meloloskan diri dari dalam barisan itu.
Pada saat itulah, tiba-tiba....
Suatu suara bentakan merdu memecahkan kesunyian dan sesosok bayangan merah dengan disertai cahaya tajam yang menyilaukan mata seloncat turun dari atas wuwungan rumah setinggi empat lima kaki itu langsung masuk ke dalam barisan.
Kecepatan gerakan ini laksana kilat dan terdengar suara jeritan ngeri mendirikan bulu roma.
Kiranya Si Setan Pengejar Nyawa Ong Kiam sudah kena tertusuk sehingga tembus ke dada, sehingga tubuh rubuh ke atas tanah dengan bermandikan darah.
Ketika melihat serangannya telah mencapai hasil orang itu segera kebutkan pedangnya kembali menggulung ke arah empat setan lainnya.
Dengan ketajaman mata Tan Kia-beng sekali pandang saja ia telah menemukan kalau orang itu adalah Cuncu, Mo Tan-hong maka buru-buru, teriaknya.
"Hong moay mereka adalah Chuan Tiong Ngo Kui yang mencelakai ayahmu"
Mendengar jeritan itu dengan sinar mata penuh kegusaran dan wajah yang kaku Mo Tan-hong menjerit keras.
"Bilamana ini hari aku tidak berhasil menghancurkan mereka, aku bersumpah tidak akan jadi orang Walaupun bicara gampang tetapi apakah Chuan Tiong Ngo Kui adalah manusia manusia yang dengan mudah diganggu? Melihat matanya si Setan Pengejar Nyawa keempat orang setan lainnya sudah dibuat gusar maka bagaikan harimau kalap mereka bersama-sama menubruk ke depan. Angin pukulan berhawa dingin segulung demi segulung melanda datang Bau amispun memenuhi ruangan suara suara aneh terdengar memekikkan telinga sedang kabut hitam yang sangat tebal meluas hingga mencapai tiga kali lebih Kini boleh dikata masing-masing pihak telah mengeluarkan seluruh kepandaian silat yang mereka miliki. Tan Kia-beng yang mempunyai maksud untuk bantu Mo Cun-cu membalas dendam disamping melenyapkan pengacau dari muka bumi, maka ujung pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya segera digetarkan hingga mencapai tiga depa lima enam diantara desiran angin yang tajam di dalam sekejap mata ia telah melancarkan lima, enam buah jurus dan terakhir menggunakan jurus Ciong Gwa Su Liuw atau sumber miskin ikut mengalir. Kontan pinggang Kouw Hun Hui atau si setan penggait sukma Chin wat terbabat putus jadi dua bagian dan di tengah suara jeritan ngeri tubuhnya rubuh di atas tanah dengan usus dan isi perut yang terbabat keempat penjuru. Hong Tiauw Kui atau si setan romantis Kong It Ming yang melihat kejadian itu hatinya tergetar, tubuhnya buru-buru mundur ke belakang Siapa tahu cahaya terang berkelebat lewat, dan jalan darah "Kie Bun Hiat"nya kena tertotok keras sehingga belum sempat ia mendengus tubuhnya sudah rubuh binasa. Hanya di dalam sekejap mata saja dari antara Chuan Tiong Ngo Kui sudah ada tiga orang yang mati sehingga "Siauw Bian Coa Sim"
Go Tou Seng serta "*** Hun Bu Biang"
Ong Thiu yang melihat saudara saudaranya pada mati hati jadi terkejut bercampur gusar.
Maka dengan gencarnya mereka melancarkan dua tusukan kilat kemudian enjotkan badan melayang keluar dari ruangan tersebut dan melarikan diri cepat-cepat.
Mo Tan-hong mana suka melepaskan mereka dengan begitu saja tubuhnya pun segera iktu berkelebat dari belakangnya.
"Hong moay untuk sementara lepaskan saja mereka pergi buru-buru teriak Tan Kia-beng dengan suara keras.
"Lebih baik kita bereskan dulu kawanan bajingan ini"
Di tengah suara jeritannya itu sang tubuh dengan cepat menerjang ke arah kawanan busu busu berbaju hitam diantara kebasan seruling serta babatan pedang suara jeritan ngeri terdengar menggetarkan angkasa potongan potongan lengan dan kutungan kaki berterbangan di tengah udara laksana setan setan yang lagi menari.
Mo Tan-hong yang mendengar teriakan dari Tan Kia-beng tadi tidak membangkang karena ia mengetahui mengejarpun tidak berguna sehingga saat ini gadis tersebut telah mengumbar hawa amarahnya di atas tubuh para busu berbaju hitam.
Sejak ia menelan pil pencuci otot yang dibuat oleh Ui Liong-ci tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang amat pesat apa lagi ditambah pula dengan pemberian beberapa pil mujarab dari Han Tan Loo jien membuat tenaga dalam yang dimilikinya pada saat ini sama dengan hasil latihan selama enam puluh tahun.
Kini napsu membunuh telah memuncak, pedangnya laksana pelangi yang terbang di angkasa berkelebat tiada hentinya kesana kemari, darahpun berceceran laksana aliran air sungai, suara jeritan sambung menyambung mirip dengan paduan suara kumpulan setan serta malaikat.
Jago-jago dari kalangan Hek-to yang ada di dalam perkampungan Thay Gak Cung ini sekalipun sudah jadi kebiasaan mereka untuk berbuat ganas, tetapi untuk menghadapi serangan serangan gencar dari Leng Hong Tootiang, Kwang Hwat Tootiang Phu Cing Thay su serta Loo Hu Cu beberapa orang sebagai ketua partai besar, semakin lama semakin terdesak juga.
Apa lagi saat ini muncul pula dua orang jagoan kecil yang ganas, keadaannya semakin mendadak, maka hanya di dalam sekejap saja sudah ada dua puluh orang yang menemui ajalnya.
Ketika Tan Kia-beng dengan menggunakan jurus yang terdahsyat untuk menghadapi para busu berbaju hitam itu mendadak matanya menemukan Hwee Im Poocu Ong Jiang berada dalam keadaan sudah payah wajahnya pucat pasi bagaikan mayat dan saat ini dengan mengandalkan tangan tunggalnya untuk menghadapi serbuan dari para bu su berbaju hitam dengan payah hatinya jadi merasa sangat tak tega.
Di tengah suara bentakan yang keras pedangnya dengan membawa cahaya kebiru biruan menubruk ke depan Sreeet....!
sreeet....!
Sreeet....!
Bagaikan menebang tebu saja, hanya di dalam sekejap, ia sudah membinasakan dua belas orang sehingga sisanya pada melarikan diri keempat penjuru.
Sebenarnya Hwee Im Poocu dapat bertahan hanya karena terpaksa, kini setelah Tan Kia-beng tiba di tempat itu sukar baginya untuk mempertahankan diri, lututnya jadi lemas dan rubuhlah ia ke atas tanah Tan Kia-beng memang mempunyai watak welas asih, sekalipun ia mengetahui kalau Hwee Im Poocu bukan seorang manusia yang betul-betul berasal dari kalangan lurus tetapi iapun bukan seorang yang terlalu jahat Dan melihat mulut luka bekas kutungan lengannya mengucurkan darah terus mengerus segera masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung, kemudian laksana sambaran kilat menotok kedua puluh delapan jalan darahnya.
Saat itu di dalam ruangan besar tampak bayangan manusia saling sambar menyambar suara jeritan kalap dan bentakan gusar bercampur baur di dalam perkelahian yang dahsyat Selesai menotokkan jalan darah pada tubuh Ong Jiang itu Poocu dari benteng Hwee Im Poo, kembali Tan Kia-beng menyalurkan hawa murninya untuk menggerakkan seruling kembali datangnya serbuan yang kalut dari para bu su berbaju hitam.
Loo Hu Cu yang melihat pemuda itu sembari menolong Hwee Im Poocu harus menahan pula serangan dari pihak musuh, rasa tamak kembali meliputi dirinya.
Pedangnya segera dibabatkan ke depan lalu meloncat kesisi Tan Kia-beng bentaknya.
"Kawanan tikus, berani menyerang orang lain dalam keadaan siap!"
Pedangnya dengan cepat membabat ke depan sedangkan tangan kirinya laksana sambaran kilat menyambar ke arah pedang Giok Hun Kiam yang ada pada pinggang Tan Kia-beng.
Tan Kia-beng yang sedang menolong Hwee Im Poocu dengan menggunakan Khie Tiauw Yen dari ilmu yang termuat di dalam kitab pusaka "Teh leng Keng"
Mendengar suara bentakan dari Loo Hu Cu pada mulanya ia mengira dia datang untuk memberi bantuan, sehingga sama sekali tidak menyangka kalau toosu itu ternyata turun tangan untuk merebut pedangnya.
Bersamaan itu pula Hwee Im Poocu baru saja tersadar kembali melihat kejadian itu hatinya jadi amat cemas Mendadak tubuhnya menubruk ke depan sambil bentaknya dengan keras.
"Loo Hu Too heng apa maksudmu?"
Sreet!
segulung angin pukulan dengan amat keras menggulung ke arah pergelangan tangan Loo Hu Cu yang hampir menyentuh gagang pedang Giok Hun Kiam sehingga terpaksa buru-buru ia menarik kembali serangannya dan menoleh ke depan.
Sewaktu ditemukan kalau orang yang melancarkan serangan ke arahnya sehingga maksudnya tak tercapai adalah Hwee Im Poocu hatinya jadi teramat gusar, dan dengan dahsyat ia kirimkan pula satu serangan gencar ke atas tubuhnya.
Hwee Im Poocu yang melihat Tan Kia-beng suka menolong dirinya, dan untuk membalas budi tersebut dengan paksakan diri ia mengirim satu pukulan untuk menghalangi maksud jahat dari Loo Hu Cu, maka kini mana dia tahan untuk menerima datangnya serangan yang amat dahsyat itu?
Di tengah suara bentrokan sepasang tangan yang amat keras terdengarlah suara jeritan ngeri bergema keluar tubuhnya sudah terjengkang sejauh tujuh, delapan depa Waktu itulah Tan Kia-beng baru sadar apa yang telah terjadi, tubuhnya mendadak berputar ke belakang kemudian dengan sadar mata yang penuh kegusaran bentaknya.
"Kau toosu bangsat yang berhati rakus, tidak lebih mirip dengan seekor babi dan anjing siauw ya ini hari juga akan tagih nyawamu!"
Di tengah berkelebatnya cahaya yang menyilaukan mata, seruling pualam tersebut berturut turut melancarkan tiga buah serangan sekaligus.
Dasar sifat Loo Hu Cu memang amat licik, saat itu ia masih pura pura berlagak pilon dengan membentak kebingungan.
"Hey apa maksudmu berbuat demikian?"
Pedang kunonya berputar melindungi seluruh tubuh, dengan cepatnya ia berhasil memunahkan datangnya ketiga buah serangan seruling dari Tan Kia-beng itu.
Melihat diantara kawan sendiri terjadi pertarungan buru-buru Leng Hong Tootiang dari Butong pay serta Phu Cing thaysu dari Ngo Thay pay meloncat memisah.
"Urusan yang telah lalu hanyalah kesalah pahaman saja, harap Tan Siauwhiap jangan turun tangan jahat"
Serunya hampir berbareng.
"Hee.... hee.... urusan tempo dulu memang benar dikarenakan kesalah pahaman, tetapi perbuatannya baru saja untuk mencuri pedangku serta memukul roboh Hwee Im Poocu tidak bisa dipungkiri lagi!"
Teriak Tan Kia-beng sambil tertawa dingin.
Leng Hong Tootiang serta Phu Cing thaysu yang mendengar perkataan tersebut jadi melengak dibuatnya, dan ketika menoleh lagi ke belakang bayangan dari Loo Hu Cu telah lenyap tak berbekas, kiranya ia mengerti dirinya tak bakal bisa menangkan pemuda itu maka secara diam-diam telah meloyor pergi Ketika mereka berdua sama-sama menghela napas panjang itulah, mereka pada melihat ke arah Hwee Im Poocu yang kelihatannya majikan dari Benteng Hwee Im Poo ini telah kempas kempis kehabisan tenaga karena lukanya yang barusan ini Tan Kia-beng yang melihat dia melindungi pedangnya sehingga jadi terluka demikian parah hatinya jadi merasa terharu, maka iapun segera membungkuk untuk memeriksa lukanya.
Tetapi saat itu Leng Hong Tootiang sudah membentak keras.
"Luka dalamnya itu untuk sementara waktu tidak akan membahayakan nyawanya. lebih baik kita bereskan dulu kawanan bajingan ini"
"Baik! sahut Tan Kia-beng sembari menggetarkan seruling pualam di tangannya.
"Untuk sementara harap tootiang suka menjaga keselamatan dari Ong Poocu biarlah cayhe turun tangan membereskan bajingan bajingan ini Tubuhnya meloncat masuk ke dalam kalangan pertempuran dan mulai mengumbarkan hawa amarahnya pada tubuh para bu su berbaju hitam itu. Di tengah babatan telapak serta hantaman seruling, dimana angin menyambar darah dan daging segera beterbangan diiringi suara jeritan yang mengerikan. Di dalam sekejap mata kembali, pemuda itu melukai sepuluh orang musuhnya. Suasana di dalam kalangan pada saat ini benar telah amat kacau, tiga rombongan dan tinggallah serombongan jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi serta bersifat ganas. Tak perduli di tempat itu sudah dipenuhi dengan darah segar serta mayat mayat yang bertumpukan, mereka tetap menerjang terus tiada hentinya. Di sudut lain kedua belas bocah Hua Yu Tong Ci dengan mengandalkan kedua belas bilah pedang pendeknya mengurung si Ciat Hun Kiam Si Huan serta Sak Ih rapat rapat. Kedua orang jagoan muda yang berasal dari partai kenamaan ini melihat lama sekali mereka belum juga berhasil membobolkan kepungan dari barisan pedang tersebut hatinya mulai merasa cemas. Maka sambil menambahi tenaga dalamnya ia mencekal pedangnya semakin erat dan mendadak Si Huan tertawa panjang.
"Haaa.... haa.... bilamana hanya sebuah barisan pedang yang kecil saja tak dapat menerjang jebol, maka julukan si Ciat Hun Kiam dari aku orang she Si jadi sia-sia belaka!"
Teriaknya.
Di tengah berkelebatnya cahaya hijau, hawa pedang semakin menajam.
Dan di dalam waktu singkat itu ia telah membabat delapan buah serangan laksana ombak disamudra tiada hentinya menggulung ke arah kedua belas bocah itu.
Kontan barisan pedang tersebut terpukul dan membuka sebuah celah yang agak lebar.
Mengambil kesempatan yang agak baik ini Sak Ih bersuit nyaring, pedangnya segera melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu pedang Bu-tong-pay yang terlihay "Jan Jan Pek Swie Siauw Tiong Han"
Sehingga di dalam sekejap mata hawa pedang berdesir disertai sambaran cahaya yang menyilaukan mata.
Suara jeritan ngeri saling susul menyusul, tiga orang bocah kontan kena terbabat putus lengan serta batok kepalanya yang membuat barisan tersebut jadi kacau.
Tepat pada waktunya Tan Kia-beng pun telah menerjang datang di tengah suara bentakan yang amat keras, telapaknya menyapu ke depan dengan menggunakan ilmu sakti "Jie Khek Kun Yen Kan Kun So"
Yang dahsyat itu.
Sekali itu juga sebuah angin taupan bagaikan melanda keluar laksana ambruknya gunung Thaysan merekahnya samudra luas.
Kembali terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, berkumandang di angkasa empat orang bocah Hua Yu Tong Ci kena tersapu hingga mencelat ke tengah dan menumbuk tembok pekarangan.
Seketika itu juga tubuh mereka kena tergencet sehingga berubah jadi empat potong kueh daging yang berlumuran darah Sisanya beberapa orang tadi pecah nyali dan melarikan diri terbirit birit.
Tan Kia-beng yang mengetahui kedua belas bocah cilik itu merupakan kuku garuda dari pihak Cay Gak Cungcu, dan hampir semua peristiwa berdarah dilakukan oleh mereka Mendadak ia tertawa seram.
"Haaa.... haa.... kalian masih ingin melarikan diri? heee.... heee, urusan tidak akan segampang ini!"
Mendadak seruling Pek Giok Siauw nya dimasukkan kembali ke dalam sakunya.
Sepasang telapak dengan tenaga Im dan Yang laksana kilat membentuk gerakan lingkaran gambar Thay Khek lalu ditekan ke tengah angkasa.
Blaaam....
Blaaam....!
Di tengah suara dengusan berat lima orang bocah Hua Yu Tong Ci beserta delapan orang Bu su berbaju hitam yang sedang menubruk datang jatuh terjengkang di atas tanah.
Dari panca indera mereka mengucurkan darah hidup yang bagaikan air mancur memancar keseluruh penjuru ruangan.
Ilmu silat yang benar-benar luar biasa ini bukan saja membuat seluruh Bu su berbaju hitam yang terjatuh tersisa di dalam ruangan jadi kaget setengah mati, sekalipun beberapa orang ciangbunjin partai besar yang hadir pun dibuat terkesima oleh kejadian ini.
Kiranya di dalam keadaan gusar dan napsu membunuh meliputi wajahnya, secara tidak sadar Tan Kia-beng sudah mengeluarkan ilmu pukulan "Djie Khek Kun Yen Kan Kun So"
Nya yang maha dahsyat itu Dengan pandangan dingin Tan Kia-beng menyapu sekejap ke arah para bu su berbaju hitam yang dibuat berdiri bagaikan patung itu, dan mendadak bentaknya keras.
"Aku orang she Tan dengan memandang kemuliaan Thian, kali ini aku ampuni kalian semua tapi bilamana dikemudian hari kalian masih juga mengikuti Bok Thian-hong untuk berbuat jahat dan jadi bibit bencana buat dunia kangouw.... hee.... hee kedua belas bocah Hua Yu Tong Ci adalah suatu contoh yang paling bagus. Sekarang ayoh cepat menggelinding pergi dari sini!"
Tadi, kawanan bajingan ini dengan tidak memperdulikan keselamatannya sendiri menyerbu dan menerjang terus seperti orang kalap kini sesudah melihat ceceran darah segar serta potongan lengan, kaki dan mata yang bergelimpangan memenuhi seluruh ruangan hatinya baru mulai bergidik Selesai mendengar perkataan dari pemuda tersebut, bagaikan memperoleh pengampunan dari kaisar, mereka putar badan dan melarikan diri terkencing kencing Mo Tan-hong yang sedang merasa gusar bercampur mangkel kini secara tiba-tiba sudah kehilangan musuhnya, tidak urung kerutkan juga alisnya rapat rapat, mendadak dia melayang kesisi Tan Kia-beng sembari menjerit melengking.
"Hmm! Kaupun bisa bertindak seperti orang baik!"
Dengan sedihnya Tan Kia-beng menggeleng dia menghela napas panjang kemudian menuding ke arah mayat serta darah yang berceceran mengotori seluruh ruangan Cukup sampai disini sudah terasa rada keterlaluan apalagi diantara mereka pun banyak yang bertindak karena keadaan yang terpaksa...."
Ujarnya. Perlahan-lahan Mo Tan-hong menunjuk ke atas lantai, tapi sebentar kemudian ia sudah menjerit keras.
"Aaaayaaaa.... sungguh menyeramkan!"
Ketika ia meraba badannya sendiri gadis itu baru mengetahui kalau seluruh tubuhnya pada saat ini sudah dibasuhi dengan darah manusia.
Jikalau bukannya pakaiannya yang dikenakan pun berwarna merah, mungkin saat ini ia sudah berubah menjadi seorang manusia berdarah Mo Tan-hong yang selamanya hidup menjadi istana dan belum pernah mengalami peristiwa pembunuhan yang mengerikan boleh dikata kali ini baru untuk pertama kali ia turun tangan menyambut nyawa orang lain, dalam hati merasa takut bercampur menyesal, sehingga hampir hampir saja air mata mengucur keluar.
"Seram....! sungguh menyeramkan!"
Serunya dengan nada sedih.
"Sungguh tak disangka aku pun bisa jadi seorang algojo aku benar merasa menyesal "Heee hee Untuk menyesal sih tidak perlu"
Sela Tan Kia-beng sambil tertawa dingin.
"Kalau sudah niat jadi pemuda pemudi Bulim kenapa harus takut saling bunuh membunuh? apakah kau pernah berpikir, bagaimanakah ayahmu menemui ajalnya? peristiwa berdarah yang terjadi diperkampungan Cui Bu Sian hasil kerja siapa? disamping itu berpuluh puluh bahkan beratus ratus macam peristiwa berdarah sudah dilakukan oleh siapa? terus terang saja aku beritahu kepadamu! membiarkan seorang bajingan hidup dimuka bumi berarti pula mengurangi satu bagian kesempatan bagi orang-orang baik, terhadap orang-orang jahat memang sudah seharusnya menggunakan cara bunuh itu untuk menyetop pembunuhan, sudah.... sudahlah kau jangan bersedih hati! Pertumpahan darah sudah mulai berlangsung di dalam Bulim. Sejak ini hari kita seharusnya menggunakan tindakan yang lebih kejam lagi urnuk menghadapi orang-orang semacam mereka itu....! Tahu? Semakin berbicara semangatnya semakin berkobar sehingga akhirnya sepasang matanya memancarkan cahaya berapi api yang memancar keempat penjuru, membuat setiap orang merasakan hatinya bergidik. Sak Ie serta Si Huan yang mendengar perkataan itu serentak tertawa bergelak dan bertepuk tangan keras keras.
"Semangat jantan dari Tan heng membuat siauwte sekalian merasa amat kagum"
Serunya keras.
"Kami sangat setuju dengan pendapat Tan heng untuk menggaris bawahi pendapatmu itu"
Lain halnya dengan Leng Hong Tootiang serta Phu Cing Siansu sekalian mereka hanya bisa gelengkan kepala sambil diam-diam berpikir.
"Orang ini mempunyai semangat yang jantan berkepandaian silat amat sempurna cuma sayang napsu membunuhnya terlalu tebal"
Waktu itu suasana di dalam perkampungan Thay Gak Cung sudah berubah jadi sunyi senyap, di dalam ruangan besarpun tinggal mereka bertujuh serta Hwee Im Poocu yang mendekati ajalnya.
Perlahan-lahan Leng Hong Tootiang berjalan kesisinya, lalu sambil gelengkan kepalanya ia menghela napas.
"Hee.... hee bilamana ditinjau dari tindakan orang ini pada waktu waktu mendekat memang seharusnya ia dihukum mati"
Katanya.
"Tetapi demi persahabatan Bulim terpaksa pinto harus menghantarnya kembali ke Benteng Hwee Im Poo"
Mendadak....
Mo Tan-hong seperti sudah teringat akan sesuatu, dengan cepat dia menyambung "Bilamana bukannya Tootiang mengungkap persoalan ini aku sendiripun hampir hampir melupakannya, dari Ui Liong supek aku telah mendapatkan sebutir pil "Sak Leng Tan"
Yang sangat mujarab, asalkan pil ini diberikan kepadanya maka seluruh luka yang diderita akan sembuh dengan sangat cepat Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengulurkan sebutir pik berwarna merah darah yang kemudian diberikan ke tangan Leng Hong Tootiang.
Toosu dari Butong pay ini segera menerimanya dan dijejalkan kemulutnya Ong Jiang.
"Bagaimana kalau Tan Siauwhiap sekali lagi bantu menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya?"
Ujarnya pula sambil menoleh ke arah pemuda tersebut Tenaga dalam "It Khie Tiauw Yen"
Merupakan suatu tenaga yang paling sempurna setelah terjadi pertempuran tadi sebenarnya Tan Kia-beng tidak ingin menggunakannya kembali.
tetapi Leng Hong Tootiang sudah buka mulut membuat ia merasa tidak enak untuk menampik.
Terpaksa dengan langkah perlahan ia bertindak maju untuk membimbing Hwee Im Poocu bangun, setelah diurut sebentar dengan menggunakan cara semula ia mulai menyalurkan hawa murni It Khie Tiauw Yen"
Nya ke dalam tubuh Ong Jiang. Pil "Sak Leng Tan"
Adalah sebuah mujarab yang dibuat Ui Liong-ci menggunakan sisa dari bahan obat pembuat pil pencuci tulang pembersih otot.
Ong Jiang sesudah menelan obat itu ditambah pula Tan Kia-beng sudah bantu salurkan hawa murni ke dalam tubuhnya, boleh dikata luka yang dideritanya sudah hampir sembuh separuh bagian cuma disebabkan banyak darah yang mengalir keluar pada waktu itu air mukanya masih kelihatan pucat pasi bagaikan mayat.
Matanya perlahan-lahan dipentangkan melihat Leng Hong Tootiang sekalian mengerubungi dirinya dan melihat pula wajah Tan Kia-beng memperlihatkan tanda tanda kepayahan bahkan duduk saling berhadap hadapan dengan dirinya, dalam hati dia lantas tahu kalau pemuda yang disebut sebagai "Anakan iblis"
Ini kembali sudah menolong jiwanya.
Budi yang demikian besarnya ini membuat ia jadi terharu tak kuasa lagi dengan sedih Hwee Im Poocu menghela napas panjang "Malam ini aku orang she Ong baru menyadari bila perbuatanku tempo dulu adalah sangat rendah bagaikan babi dan anjing, sungguh menyesal sekali"
Katanya.
"Berkat pertolongan dari Tan Siauwhiap serta saudara saudara sekalian yang sudah menolong jiwaku budi ini dikemudian hari tentu aku orang she Ong balas satu persatu."
"Kami sih tidak menginginkan pembalasan budi dari dirimu sahut Mo Tan-hong sambil tertawa. Hanya semoga saja kau masih mengingat ingat dendam berdarah yang dialami benteng Hwee Im Poocu kalian hingga jangan sampai bersekongkol kembali dengan pihak musuh dan selalu berusaha merebut pedang pusaka milik orang lain."
Sebetulnya Hwee Im Poocu sudah merasa amat menyesal, kini setelah mendengar pula perkataan dari Mo Tan-hong ia merasa semakin tak punya muka untuk berdiam lama lama disana.
Mendadak ia menghela napas panjang lalu bangun berdiri, sesudah menjura ke arah semua orang dengan jalan sempoyongan dia berlalu dari dalam ruangan.
Hanya di dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan Menanti Hwee Im Poocu sudah lenyap dari pandangan, Tan Kia-beng baru menoleh ke arah sang gadis sambil mengomel.
"Orang ini sudah merasa menyesal, buat apa kau harus menyindir dirinya lagi dengan kata-kata yang begitu pedas?!"
"Hee.... hee.... terhadap manusia yang tidak berperasaan semacam dia, diucapi dengan beberapa patah kata apa tidak boleh?"
Seru Mo Tan-hong sambil tertawa dingin.
"Bilamana dibicarakan sebenarnya ia masih merupakan tamu terhormat dari ayahku, tetapi dengan cara yang rendah dan keji dia masih juga kepingin menipu kitab pusaka Sian Tok Poo Liok dari tangan Ui Liong supekku."
Tan Kia-beng yang mendengar perkataan itu hanya bisa menghela napas sedih, dan ia jadi bungkam sendiri Pada saat ini perkampungan Thay Gak Cung boleh dikata sudah hancur berantakan, semua orang merasa tiada gunanya lagi untuk berdiam lebih lama disana.
Pertama tama Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay serta Phu Cing Siansu dari Ngo Thay-san yang berpamit dulu untuk berlalu dari sana.
"Peristiwa yang menimpa perkampungan Thay Gak Cung kini sudah selesai pinto pun ada seharusnya buru-buru kembali ke gunung Bu-tong-san guna mempersiapkan pertemuan para jago digunung Ui San yang bakal berlangsung tidak lama lagi"
Ujar Leng Hong Tootiang kemudian sambil memandang tajam wajah sang pemuda.
Apakah partai kami akan mengambil bagian dan siapa yang akan mewakili sampai kini masih belum pinto putuskan, karenanya pinto harus buru-buru kembali ke gunung untuk mengadakan perundingan.
Sedangkan mengenai perjalanan ke gurun pasir, pinto masih tetap dengan perkataan semula, harap Siauwhiap suka berpikir dulu tiga kali sebelum melakukan tindakan."
Selesai berkata dengan mengajak Sak Ie serta Si Huan mereka meloncat keluar dari ruangan dan berlalu dari sana.
Mo Tan-hong yang melihat Tan Kia-beng termenung dan berdiri mematung disana, buru-buru mendorong badannya.
"Eeei engkoh Beng, kau lagi marah dengan diriku?"
Tegurnya.
"Huuss.... kau jangan sembarangan menebak, bagaimana mungkin aku bisa marah terhadap dirimu! Aku sedang memikirkan apakah perlu aku melakukan perjalanan seorang diri ke gurun pasir!"
"Buat apa kau terburu-buru hendak berangkat ke gurun pasir! Walaupun Chuan Tiong Ngo Kui sudah mati tiga, tapi masih ada dua orang lagi yang berhasil melarikan diri, aku terka mereka tentu sudah melarikan diri dan kembali kemarkasanya di daerah Chuan Tiong, apalagi Thay Gak Cungcu suami istri pun sudah berhasil melarikan diri dan sukar untuk diduga apakah mereka hendak memperlihatkan permainan setan lagi atau tidak. Menurut pikiranku lebih baik kita berangkat dulu ke daerah Chuan Tiong lalu hancurkan sisa sisa dari Chuan Tiong Ngo Kui"
Tidak!
Menurut anggapanku Chuan Tiong Ngo Kui tidak lebih cuma bisul dikulit, Isana Kelabang Emas di gurun pasirlah baru benar-benar merupakan musuh besar dari kita orang-orang Bulim di daerah Tionggoan!"
"Hmm! Sekarang aku tahu sudah, tentunya kau hendak mencari Dara Berbaju Hijau itu bukan? Heei! Jikalau kau berubah hati, aku tidak tahu bagaimanakah diriku nantinya. mungkin.... mungkin aku bisa mengadu jiwa dengan dirinya.... mungkin pula aku bisa...."
Teringat pemandangan pada malam itu dimana hampir separuh bagian dari tubuh sang Dara Berbaju Hijau terpentang di depan mata, hatinya segera merasa amat pedih sekali, belum habis mengucapkan perkataan tersebut dua titik air mata telah mengucur membasahi pipinya.
Tan Kia-beng sendiripun tahu kalau kesapah pahaman ini ditimbulkan dari perbuatan Lei Hun Hweeci malam itu, buru-buru ia memeluk pinggangnya yang ramping dan menghibur dengan kata-kata yang halus.
"Hong moay, apakah sampai sekarang kau masih belum tahu bagaimanakah perasaan hatiku terhadapmu? ayoh, jangan berpikir yang bukan bukan aku orang she Tan bukanlah manusia yang gemar dengan perempuan"
"Akupun tahu kalau kau bukan manusia seperti itu"
Sahut Mo Tan-hong dengan sedih kepalanya menengadah ke atas memandang bintang bintang yang tersebar dilangit.
"Cuma aku selalu merasa suatu bayangan hitam yang tidak menguntungkan menutupi hatiku, aku kuatir pada suatu hari kau bisa meninggalkan diriku!"
"Tidak, tidak mungkin. Aku berani bersumpah dihadapan Thian".
Baca Juga: Kuda Putih 4
Baca Juga: Neraka Hitam 7