Ceritasilat Novel Online

Misteri Bayangan Setan 4

Eps 4 Misteri Bayangan Setan - Khu Lung

Baca online Misteri Bayangan Setan - Khu Lung

Cersil Misteri Bayangan Setan - Khu Lung.

"Akh....! sungguh bagus sekali nama ilmu pedang tersebut, aku sudah mempunyai julukan sebagai siiblis wanita berbaju putih, kini memperoleh pula serangkaian ilmu pedang seratus tulang penyabut nyawa, lain kali orang-orang yang mendengar namaku tentu akan membayangkan bila aku adalah seorang yang berwajah seram dan sangat menakutkan.... Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng tak bisa menahan gelak tawanya lagi mereka berdua sama-sama tertawa tergelak sehingga suasana jadi ramai. Demikianlah dengan menggunakan tangan menggantikan pedang mereka mulai berlatih ilmu pedang tersebut, setelah itu Tan Kia-beng menjelaskan pula rahasia rahasia dari ilmu tersebut. Sejak kecil Hu Siauw-cian sudah mengikuti orang tuanya belajar ilmu silat, apalagi dengan pengalamannya yang luas selama beberapa tahun ini, hanya di dalam waktu yang singkat ia sudah mengerti hampir sebagian besar rahasia ilmu itu dan mulai berlatih sendiri. Tan Kia-beng yang disebabkan nanti malam harus melakukan perjalanan maka mengambil kesempatan itu lantas duduk bersila di atas pembaringan untuk atur pernapasan dan hilangkan penat dibadan. Sehari dengan cepatnya berlalu, malam hari kembali menjelang datang. Dari dalam buntalannya Tan Kia-beng segera mengambil keluar serangkaian pakaian pengemis hadiah dari si pengemis aneh, kemudian dengan separuh butir obat mengubah wajah menjadi seorang pengemis cilik yang berwajah sembab kuning. Pada saat yang bersamaan pula Hu Siauw-cian pun sudah mengenakan pakaian yang dilepaskan oleh Tan Kia-beng. Dasarnya ia memang ada pengalamannya di dalam menjura sebagai seorang lelaki, bila dipandang sepintas lagi wajahnya memang rada mirip dengan Tan Kia-beng. Mereka berdua setelah selesai menjura tak terasa lagi saling berpandangan sambil tertawa. Kembali Tan Kia-beng memberi pesan wanti-wanti kepada gadis tersebut lalu dengan kecepatan laksana petir meluncur keluar melalui jendela. Sejak itu hari Hu Siauw-cian lantas memberitahukan kepada si pemilik rumah penginapan bahwa ia sedang menderita sakit. Kalau pagi hari gadis tersebut mengurung dirinya dalam kamar dan tidak keluar, sedang pada malam hari setelah memulihkan dandanannya berlari kian kemari dijalanan. ---ooo0dw0ooo---Kita balik pada Tan Kia-beng setelah melayang keluar dari jendela kamar segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari menuju ke gunung Ui-san. Siapa sangka, sewaktu ia baru saja tiba diluar kota Swan Jan mendadak suara kejadian sudah berlangsung di depan matanya. Dari tempat kejauhan berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, jelas suara tersebut muncul dari balik sebuah bukit yang tinggi. Dengan cepat ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya berkelebat ke arah mana berasalnya suara tersebut, setelah melewati sebuah bukit sampailah dia di tempat kejadian Tampaklah di atas jalan raya menggeletak empat sosok mayat dalam keadaan sangat mengerikan, pada dada setiap mayat jelas tertera beberapa buah lubang yang sangat besar, darah segar bercampur isi perut berceceran memenuhi seluruh permukaan tanah kejadian ini benar-benar mengejutkan hatinya. Perlahan-lahan ia mulai meraba mayat tersebut, terasalah di atas badan mayat itu masih ada sedikit hawa hangat hal ini membuktikan kalau mereka mati belum lama berselang Dari pakaian yang dikenakan orang-orang itu kelihatanlah mereka adalah pengemis pengemis berpakaian butut yang usianya pertengahan, tak terasa lagi dengan hawa amarah yang bergolak di dalam dada, serunya penuh kebencian.

"Perbuatan ini tentu hasil karya dari orang-orang Isana Kelabang Emas, sungguh kejam benar tindakannya! pada suatu hari bila mereka terjatuh ketangan siauw ya mu tentu akan kubalas bersama-sama rentenya!"

Rasa gusarnya ini separoh dikarenakan terharu oleh kejadian tersebut, dan separohnya lagi karena ia punya hubungan yang erat dengan orang-orang Kay-pang.

Akhirnya ia menyeret mayat mayat tersebut kepinggiran hutan dan siap-siap dikuburnya dengan penuh cermat.

Mendadak....

"Hmm! setelah membunuh orang masih ingin melenyapkan bukti, tindakan saudara apakah tidak terlalu ganas?"

Bentak seseorang dari belakang punggungnya.

Mendengar suara bentakan tersebut dengan cepat ia putar badan.

tampaklah seorang pengemis tua bersama-sama seorang pengemis muda sedang melototi dirinya dengan penuh kemarahan.

Sebaliknya Tan Kia-beng yang sudah memandang orang-orang Kay-pang seperti orang sendiri, maka dari itu sewaktu melihat munculnya sang pengemis tua dengan cepat ia menjura dan menyapa dirinya.

"Saudara jangan keburu salah paham"

Ujarnya dengan cepat.

"Saudara-saudara ini bukan siauw-te yang bunuh. aku hanya bermaksud baik hendak menguburkan mayat mayat mereka!"

"Hmmm! siapa yang percaya degan perkataanmu itu? cukup berdasarkan tindakanmu yang menyaru sebagai anak murid perkumpulan Kay-pang, sudah cukup memaksa orang untuk turun membinasakan dirimu, ayoh cepat sebutkan nama serta asal perguruanmu!"

Si pengemis tua ini adalah salah seorang Tiangloo perkumpulan Kay-pang yang bertugas di dalam bagian Hukum ia bernama "Thiat Bian Kay"

Atau si pengemis berwajah baja Cu Ing.

Biasanya sering sekali melakukan pemeriksaan terhadap orang lain maka sekali buka suara nadapun tak bisa terlepas dari pekerjaan sehari hari.

Tan Kia-beng sebagai seorang pemuda yang tinggi hati, mana mungkin bisa tahan setelah mendengar perkataan tersebut, ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Heee.... heee.... pakaian robek siapa pun boleh pakai, apakah pakaian tersebut hanya khusus diperuntukan bagi anggota Kay-pang? kau menggunakan nada ucapan terseut memaksa siauw ya mu, apa kau kira aku adalah tawananmu? Hmmm!...."

Si "Thian Bian Kay"

Cu Ing yang melihat anak muridnya kena dibunuh orang dengan sangat kejam, dalam hatinya sudah teramat gusar apalagi setelah mendengar pula nada ucapan dari Tan Kia-beng barusan ini kegusarannya tak terbendung lagi.

Tubuhnya dengan cepat bergerak maju ke depan, sepasang telapak tangannya dengan disertai hawa pukulan yang maha dahsyat dibabatkan ke atas batok kepala pemuda tersebut.

Di dalam pukulannya ini ia sudah menggunakan tenaga lweekang hasil latihan selama puluhan tahun ini, sudah tentu kedahsyatannya tak bisa dibayangkan lagi.

Tan Kia-beng yang melihat pengemis tua itu tanpa banyak cakap sudah melancarkan serangan ke arahnya, tak terasa lagi ia tertawa panjang.

"Jikalau anggota Kay-pang berangasan semua seperti kau, seharusnya dari dulu perkumpulan kalian bakal musnah"

Serunya.

Sang telapak dengan ringan dikebaskan ke depan, angin pukulan maha dahsyat yang sudah berada dihadapan tubuhnya seketika itu juga dipunahkan tak berbekas.

Melihat kelihayan lawannya si pengemis berwajah baja jadi amat terperanjat, diam-diam ia menggertak giginya kencang kencang lalu berturut mengirim tujuh buah serangan berantai.

Setiap serangan yang menyambar lewat tentu disertai dengan hawa lweekang yang dahsyat.

Semakin diserang Tan Kia-beng semakin kheki, akhirnya dengan penuh kegusaran bentaknya keras.

"Jika dilihat dari usiamu yang sudah lanjut, seharusnya bisa dibayangkan merupakan seorang yang pinter, tidak disangka kau benar-benar tolol dan sudah pikun!"

Kakinya sedikit bergerak tahu-tahu ia sudah melepaskan diri dari lingkaran angin pukulan.

Dalam keadaan situasi semacam itu pemuda tersebut tak dapat memberitahukan asal-usulnya, sedang si pengemis tua itupun tanpa banyak cakap sudah mendesak dirinya terus menerus, sewaktu hatinya lagi cemas itulah mendadak suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya.

Tiba-tiba ia teringat kembali dengan mata uang kuno pemberian si pengemis aneh, buru-buru diambil keluarnya benda tersebut dari sakunya lalu dilemparkan ke tengah udara.

"Bila ingin mengetahui asal usul siauw ya mu. lebih baik tanyakan saja kepada pemilik uang logam tersebut, aku lagi aras-arasan berbicara dengan kau!"

Selesai berkata telapak tangannya segera didorong perlahan-lahan ke arah depan, diiringi suara ledakan yang keras di atas permukaan tanah seketika itu juga terciptalah sebuah lubang amat besar.

Kini liangnya sudah tersedia, cepat kubur mereka ke dalam tanah.

Siauw-ya masih ada urusan yang harus diselesaikan dan tak ada waktu lagi untuk banyak cekcok dengan kalian manusia-manusia buta!"

Perkataan baru saja selesai diucapkan orangnya sudah berada beberapa puluh kaki jauhnya.

Si pengemis berwajah baja yang berturut turut melancarkan serangan mendesak musuhnya tanpa berhasil mengenai pihak lawan, dalam hati sedang merasa gemas bercampur gusar.

Tetapi sewaktu melihat Tan Kia-beng mengambil keluar sebuah mata logam hatinya jadi amat terkejut.

Ia kenal dengan mata uang logam tersebut sebagai tanda kepercayaan yang paling tinggi dari perkumpulan Kay-pang, dan semuanya berjumlah tiga biji.

Yang satu ada di dalam pangcunya simalaikat ular dari Leng Lam, dan dua biji lainnya ada ditangan si pengemis aneh serta si kakek tongkat perak.

Ternyata si pengemis cilik ini memiliki benda tersebut hal ini memperlihatkan bila dia punya hubungan yang erat dengan salah satu diantara mereka bertiga.

Karena itu untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun disana tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

Saat ini melihat pula Tan Kia-beng mempamerkan kepandaian silatnya, saking kaget dan terperanjatnya keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Cukup berdasarkan tenaga dalam yang dimiliki orang lain, jikalau ia sampai balas melancarkan serangan kepadanya mungkin sekali hanya di dalam satu jurus dirinya sudah tak sanggup untuk menerimanya.

Menanti ia ada maksud untuk ke depan meminta maaf, tahu-tahu Tan Kia-beng sudah lenyap dari pandangan.

Terpaksa ia menghela napas panjang dan mengubur keempat mayat tersebut ke dalam liang.

---ooo0dw0ooo---Kita balik pada Tan Kia-beng setelah meninggalkan pengemis tua itu dalam keadaan mendongkol, setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya tiba-tiba ia memperlambat langkahnya.

"Jika ditinjau dari keadaan saat ini, jelas pihak anak buah Isana Kelabang Emas sedang melangsungkan pertempuran gelap melawan anak muda murid perkumpulan Kay-pang."

Pikirnya diam-diam.

"Entah jago-jago lihay dari tujuh partai besar sudah pada berdatangan atau belum? bilamana hanya mengandalkan kekuatan melawan Kay-pang saja ingin adu kekuatan melawan pihak Isana Kelabang Emas, aku rasa pengemis pengemis itu pasti akan menderita kerugian yang amat besar."

Perjalanan antara kota Swan Jan dengan Ui-san tidak lebih hanya terpaut seratus lie saja, dengan kecepatan kaki dari Tan Kia-beng tidak sampai satu kentongan ia sudah memasuki lingkungan daerah pengawasan dari orang-orang Kay-pang.

Tetapi pada waktu itu tak seorang pun anggota Kay-pang pun yang kelihatan berjaga jaga disana, hal ini membuat hatinya jadi keheranan.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah merombak pikiran tersebut.

"Tidak! hal ini tidak mungkin, aku sama sekali tidak mengerti kode rahasia mereka?"

Selagi ia merasa ragu-ragu itulah, mendadak dari tempat kegelapan berkumandang suara bentakan seseorang.

"Berhenti! kau anak murid dari mana?"

"Bawahan Hong Jen Sam Yu"

"Siapa namamu?"

"Maaf tak bisa aku beritahukan!"

"Kalau begitu harap kau cepat-cepat tinggalkan tempat ini!"

"Kenapa? apakah jalanan ini sudah kalian beli?"

"Suruh kau pulang yaa pulang, buat apa mencari keonaran buat diri sendiri?"

Tan Kia-beng yang dua kali ditanggor batunya, dalam hati tak terasa agak gusar juga dibuatnya, ia dongakkan kepalanya tertawa tergelak.

"Aku mau bertanya kepada si malaikat ular dari Leng Lam! menggunakan cara apakah dia sudah mendidik anggota Kay-pang, kenapa seluruh anggota bisa begitu tidak tahu diri?"

"Terhadap manusia yang tidak tahu diri semacam ini lebih baik dibunuh saja buat apa banyak cakap,"

Mendadak serentetan suara yang amat dingin bergema keluar.

Diikuti suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memenuhi angkasa, sesosok mayat mendadak terlempar keluar dari tengah hutan menuju ke arahnya.

Dalam keadaan cemas Tan Kia-beng segera membentak keras, tubuhnya menubruk ke arah depan.

Tapi sewaktu ia tiba di tengah hutan tak sesosok bayangan manusia pun yang terlihat.

Sewaktu ia menoleh lagi ke arah mayat tersebut, maka terlihatlah didada mayat itupun terdapat lima buah lobang hitam yang mengucurkan darah segar.

Di tengah malam buta apa lagi di tengah gunung yang sunyi, walaupun Tan Kia-beng memiliki kepandaian lihay tak urung bergidik juga setelah melihat kejadian ini.

Setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya, mendadak di dalam benaknya terlintas suatu pikiran bagus.

"Aaah! benar"

Pikirnya diam-diam.

"Jelas sekali orang-orang pihak Isana Kelabang Emas ada maksud hendak mencari gara gara dengan orang-orang Kay-pang, karena itu mereka sengaja turun tangan jahat terhadap mereka-mereka yang sedang menjalankan tugas ronda, kenapa aku tidak pura-pura menyaru sebagai seorang penjaga dipos ini?"

Selagi ia berpikir keras itulah mendadak telinganya secara samar-samar dapat mendengar suara ujung pakaian tersampok angin dengan cepat ia gerakkan badannya bersembunyi dibalik sebuah pohon besar.

Sedikit tidak salah, tampaklah sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir berlari mendekat.

Dengan ketajaman matanya, sekali pandang saja ia sudah menemukan bila pihaknya adalah seorang kakek tua berjubah hitam yang memakai kerudung hitam di atas wajahnya.

Karena itu sengaja dia memperdengarkan sedikit suara....

Mendadak orang itu menghentikan gerakannya, kemudian tertawa dingin dengan suara yang amat menyeramkan.

"Orang yang bersembunyi disana apakah anak murid dari pihak Kay-pang?"

Tegurnya.

"Tidak salah! siauw-ya memang anak murid dari Kay-pang, siapa kau?...."

Dari balik pohon Tan Kia-beng segera melayang keluar dan berdiri di atas jalanan gunung.

"Yaya mu adalah si Raja Akhirat pencabut nyawa. dan sengaja datang hendak mencabut nyawa kecilmu!"

Sreeet! diiringi suara deruan angin berhawa ia tampaklah berpuluh-puluh bayangan jari bersama-sama mengurung datang. Tan Kia-beng tertawa dingin.

"Oow.... kiranya kaulah yang berulang kali melakukan kejahatan!"

Pikirnya dalam hati.

Diam-diam hawa murninya segera disalurkan mengelilingi seluruh tubuh kemudian dibabatnya ke depan menyambut datangnya serangan tersebut.

Braaak!

sewaktu tubuh orang itu masih berada di tengah udara, tenaga pukulan sudah terbentur satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara bentrokan yang amat keras.

Beberapa kali ia bersalto di tengah udara, akhirnya dengan sempoyongan melayang turun ke atas tanah dan mundur kembali dua langkah ke arah belakang.

Tan Kia-beng yang ada maksud membereskan orang ini, melihat badannya baru saja melayang turun ke bawah, dengan gerakan yang ringan kembali menerjang maju ke depan, tangannya dibentangkan lebar-lebar siap mencengkeram urat nadinya.

Si orang tua berkerudung hitam itupun bukan manusia biasa hanya saja dikarenakan ia tidak menduga dari pihak Kay-pang masih ada manusia selihay ini maka hampir-hampir saja dirinya menderita luka parah.

Kini ketika dilihatnya Tan Kia-beng melancarkan serangan aneh dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, ia tak berani menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Sambil bersuit nyaring, badannya segera mencelat ke belakang kemudian berkelebat pergi.

Hanya di dalam sekejap saja bayangannya lenyap tak berbekas.

Tan Kia-beng sama sekali tidak menduga si kakek tua itu bisa demikian liciknya, menanti ia tersadar kembali waktu sudah tidak mengijinkan.

Tak terasa lagi pemuda kita mendengus berat "Hmm!

malam ini kubiarkan kau berlalu tetapi kelima lembar yawa orang-orang Kay-pang tak akan Siauw-ya mu diamkan begitu saja...."

Baru saja ia selesai bergumam, kembali sesosok bayangan manusia menyambar datang. Begitu bertemu dengan Tan Kia-beng segera bentaknya dengan suara berat.

"Hey pengemis cilik, kau melihat tidak seorang kakek tua berjubah hitam dan berkerudung lewat dari sini?"

"Lihat sih lihat, cuma sayang orang itu berhasil melarikan diri dari cengkeramanku"

"Ooouw....bocah cilik! sungguh besar benar omonganmu nyawa mu tidak sampai tercabut sudah boleh dihitung sangat beruntung sekali"

"Haaa.... haaa.... haaa.... aku rasa belum tentu!"

Seru Tan Kia-beng sambil tertawa terbahak-bahak.

"Manusia macam kau si pencuri tua, sekalipun ada delapan atau sepuluh orangpun aku masih tidak pandang sebelah mata!"

Girang yang baru saja datang memang bukan lain adalah Su Hay Sin Tou si pencuri sakti, dia yang melihat seorang anggota Kay-pang ternyata berani menghina dirinya, hawa gusar di dalam dada tak bisa dibendung lagi.

"Manusia yang tidak tahu diri, berani benar kau memandang rendah aku si pencuri tua. baik, biar aku kasi sedikit hajaran dulu kepada dirimu kemudian baru bikin perhitungan dengan simalaikat ular dari Leng Lam!"

Lima jarinya segera dipentangkan lebar-lebar kemudian dengan dahsyat menyambar ke arah dada lawan.

---ooo0dw0ooo---JILID.

11 Sejak urat penting didalam badannya berhasil ditembusi berkat bantuan Tan Kia Beng, tenaga dalamnya pada saat ini sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Cengkeramannya barusan ini benar-benar sangat hebat dan cepat.

Tanah seluas satu kaki boleh dikata sulit untuk mencari jalan keluar.

Melihat datangnya serangan tersebut Tan Kia Beng segera tertawa terbahak-bahak, dengan sebat ia berhasil meloloskan diri dari kurungan.

"Sam-ko, kau sudah tidak kenal dengan Toa ko mu lagi??"

Teriaknya dengan cepat. Su Hay Sin Tou rada tertegun, akhirnya iapun ikut tertawa tergelak.

"Bagus... bagus sekali ! ternyata kau tidak tahu diri dan berani juga bergurau dengan diriku..."

Mendadak Tan Kia Beng menarik kembali senyumannya, sambil mendekati kesisi tubuhnya diam-diam ia berbisik lirih .

"Bagaimana dengan situasi pada beberapa hari ini???"

"Heei... sangat berbahaya !"

"Dimana Jie ko?? dia sekarang ada di mana??"

"Aku dengan siular beracun melakukan pekerjaan secara berpisah, ia khusus menyelidiki dilingkungan dalam gunung Oei-san sedang aku bertugas dilingkungan luar!"

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya .

"Simalaikat ular dari Leng Lam benar-benar tidak tahu kekuatan sendiri, ia sengaja mengirim anak muridnya datang kemari untuk menerima kematian, menghadapi keadaan semacam ini apakah dianggapnya silat kelas dua kelas tigapun bisa menahan terjangan mereka???"

"Kalau begitu adanya pihak Istana Kelabang Emas sudah melancarkan serangan ??"

"Bukan saja melancarkan serangan bahkan boleh dikata tidnakan yang kalap ! selama dua tiga hari ini sudah ada puluhan orang anak murid Kay Pang yang menemui ajalnya. Aku sipencuri tua benar-benar tak tega melihat kejadian tersebut, akhirnya setelah aku desak terus-terusan baru memperoleh persetujuan dari Leng Lam Coa Sin untuk menarik kembali seluruh anak buahnya sehingga yang mati dan luka bisa dikurangi jumlahnya. Heeei... penjagalan besar besaran ini entah bagaimana akhirnya ??"

"Apakah dari pihak tujuh partai besar belum kelihatan seorang manusiapun ???"

"Menurut penglihatan dari aku sipencuri tua, disekeliling gunung Oei san sudah disebari dengan jgao-jago lihay Istana Kelabang Emas, sedang dilingkungan luar gunugn Oei san hanya kelihatan orang-orang Kay Pang saja, dari partai partai lain masih belum kelihatan seorang manusiapun?! Perlahan-lahan Tan Kia Beng mengangguk.

"Jika demikian adanya, maka siasat kejam dari pihak Istana Kelabang Emas pun sudah terbuka, bagaimana kita harus menghadapi mereka ???"

Air muka si Su Hay Sin Tou mendadak berubah jadi sangat serius.

"Kekuatan dari pihak Istana Kelabang Emas benar-benar tak boleh dipandang enteng, semua orang yang aku sipencuri tua temui rata-rata memiliki kepandaian silat yang luar biasa. Menurut penglihatanku, lebih baik kita menantikan perubahan selanjutnya dengan tenang!"

"Aaach... itu kan bukan suatu cara yang baik"

Seru Tan Kia Beng tidak setuju.

"aku ingin berusaha untuk menemui dahulu si Majikan Istana Kelabang Emas yang misterius itu, akan kulihat macam apakah manusia itu!"

Su Hay Sin Tou mengerti jelas bagaimana siat "Toako"nya ini karena itu iapun tidak terlalu memaksa.

"Kalau memang Toako ada maksud berbuat demikian, aku hanya berharap kau suka berhati-hati"

Katanya kemudian.

"aku sipencuri tua masih ada urusan lain hendak menengok kesebelah sana, jikalau ada urusan penting jangan lupa beritahu kepadaku serta siular beracun dengan menggunakan kode !"

Selesai berkata ia lantas meloncat kedepan dan berlalu dari sana.

Sepeninggalannya Su Hay Sin Tou, Tan Kia Beng pun dengan langkah perlahan berangkat menuju kepuncak Si Sim Hong dengan mengambil jalan dari sebelah Barat.

Karena sudah mendapatkan peringatann dari Su Hay Sin Tou, maka gerak geriknya kali ini sangat berhati-hati sekali.

Sedikitpun tidak salah selama ini secara samar samar ia menemukan banyak orang orang yang melakukan perjalanan malam mondar mandir disekitar sana tiada hentinya.

Karena takut gebah rumput mengejutkan ular, maka selama ini pemuda tersebut sama sekali tidak mengganggu orang-orang itu.

Demikianlah, setelah melakukan perjalanan selama satu malam dan berhasil menyelidiki garis besar dari keadaan disekitar tempat itu, menanti hari sudah terang tanah ia lantas berangkat menuu ke sebuah kota kecil dipinggiran gunung.

Kota kecil ini walaupun letaknya ditengah gunung tetapi disebabkan merupakan tempat yang penting didalam lalu-lintas maka suasana tidak begitu sepi, rumah makanpun tersebar dimana mana.

Dengan langkah lambat pemuda itu memasuki sebuah rumah makan guna bersantap.

Tidak selang berapa saat kemudian, para tamupun semakin banyak, sehingga dalam sekejap mata seluruh kedai sudah dipenuhi dengan manusia.

Jika ditinjau dari gerak gerik mereka jelas orang-orang itu bukan penduduk setempat bahkan lebih mirip dengan orang-orang dari kalangan dunia kangouw.

Hal ini membuat Tan Kia Beng paham.

"Oou... kiranya orang-orang ini pada berkumpul disini"

Pikirnya dalam hati. Pada waktu itulah mendadak telinganya dapat menangkap suara pembicaraan kedua orang dengan suara yang lirih. Terdengar salah seorang dengan logat daerah Auw Lam sedang berkata .

"Loo-jie ! kau sudah dengar belum, katanya orang-orang yang hendak melihat keramaian digunung Oei-san harus melewati dulu suatu pemeriksaan, jikalau orang itu memiliki kepandaian silat yang rendah dilarang ikut masuk, coba kau pikir sungguh mengherankan tidak???"

"Omong kosong!"

Sahut kawannya dengan menggunakan logat Cuan Kang.

"Siapa yang sudah membuat peraturan semacam itu?? apakah gunung Oei-san adalah milik mereka pribadi ???"

Menurut apa yang aku dengar peraturan tersebut dibuat oleh Liok lim sin Ci serta Yen Yen Thaysu dari Siauw lim pay!

Mungkin dikarenakan nama kedua orang itu terlalu cemerlang, maka orang tersebut tidak berbicara lagi.

Beberapa saat kemudian, kembali siorang dengan logat Auw Lam berkata lagi .

"Perduli bagaimanapun, aku sudah pastikan diri ingin melihat keramaian tersebut. Mari kita coba coba terjang masuk pos penjagaan tersebut. Dengan mengandalkan kepandaian silat kita berdua, walaupun belum bisa disebut sebagai jagoan nomor wahid dari dunia kangouw rasanya kitapun tidak sedemikian bodoh. Mana mungkin tak berhasil melewati pos penjagaan tersebut??"

"Perkataan dari Toako sedikitpun tak salah, mari kita segera berangkat...!"

Tan Kia Beng segera mendongakkan kepalanya memangdang keempat penjuru, tampaklah dasri sebelah timur bangkit berdiri dua orang.

Yang satu memiliki perawakan tinggi dengan wajah putih bersih sedang yang lain berbadan kekar dan pendek, wajahya amat keras dan buas.

Setelah membereskan rekening, kedua orang itu terburu-buru turun dari atas loteng Ketika itulah Tan Kia Beng merasakan hatinya bergerak.

"Kenapa aku orang tidak ikuti mereka dari belakang ???"

Pikirnya.

Setelah membereskan rekening buru-buru iapun menguntil dari belakang kedua orang itu naik keatas gunung.

Sewaktu ia sudah berjalan keluar dari kota kecil dan menginjak jalanan besar itulah pemuda tersebut baru menemukan bila orang orang yang pergi menonton dijalannya pertamuan puncak para jago digunung Oei san amat banyak sekali.

Tidak kuasa lagi ia menghela napas panjang!

"Heeei..

orang orang ini benar-benar tak tahu mati hidup sendiri...

Kini situasi begitu berbahaya, dimana mana sudah diliputi nafsu pembunuhan, bukankah kepergian mereka hanya menghantar kematian saja...??"

Pikirnya.

Sembari berjalan sembari berpikir tak terasa lagi langkah kakinya semakin lama semakin cepat, Hanya didalam sekejap mata ia sudah tiba disebuah mulut gunung.

Sedikitpun tidak salah, dimulut gunung tersebut berdirlah dua orang Pendeta seorang Tootiang dan seorang kakek tua, Mereka sedang gerak gerakkan tangannya berbicara dengan orang orang itu.

Diam diam Tan Kia Beng bercampurkan dirinya dengan gerombolan orang orang itu untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.

Terdengarlah salah seorang hweesio berusia pertengahan sambil merangkap tangannya didepan dada sedang berkata .

"Pinceng tiada bermaksud untuk melarang saudara saudara sekali masuk kegunung tindakan kami ini adalah bermaksud baik tahukah kalian apa yang terjadi pada beberapa waktu ini diatas gunung Oei san???..."

"Tidak akan lebih pembalasan dendam dan peristiwa bunuh saling membunuh..."

Dari antara gerombolan manusia terdengar salah seorang berteriak keras.

"Kami adalah orang orang yang datang melihat keramaian, apa sangkut pautnya dengan kami??"

Sang hweesio berusia pertengahan itu tetap bersabar.

"Urusan tidak segampang seperti apa yang kalian pikirkan"

Ujarnya kembali "Setiap orang yang melewati gunung ini kebanyakan sudah menemui ajalnya dibunuh orang.

Menurut apa yang pinceng ketahui selama tiga hari ini kurang lebih sudah ada seratus dua ratus orang yang menemui ajalnya oleh karena itu pinceng sekalian sengaja dari jauh datang kemari hendak menasehati kalian lebih baik batalkan saja maksud kalian itu.

"Sungguh ketemu dengan setan disian hari bolong !"

Dari antara gerombolan orang orang itu kembali terdengar suara teriakan teriakan keras.

"Dikolong langit mana mungkin bisa terjadi peristiwa semacam ini. Lalu kenapa kalian tidak dibunuh mati????"

"Urusan mati hidup kami lebih baik tak usah kalian rewesi, ayoh cepat pergi semua dari sini !"

"Kurang ajar... kelesai gundul itu jels bermaksud tidak baik, hajar saja dia orang"

Suara teriakan teriakan keras segera bergema memenuhi angkasa, didalam keadaan terpengaruh oleh kata kata yang tajam ada beberapa orang yang sudah menerjang kedepan.

Mendadak sikakek tua yang berdiri disisi hweesio tersebut dongakkan kepalanya tertawa terbahak bahak.

"Sungguh manusia manusia yang tidak tahu diri, ternyata menganggap kawan sebagai lawan, Siancu ! maksud baik kita sudah disampaikan, bilamana mereka paksakan diri juga mau pergi, biarkanlah mereka berlalu! Akhirnya ia menyingkir kesamping memberi jalan kepada orang orang itu, dengan cepat orang orang yang berada dipaling depan berkelebat lewat dan lari masuk kedalam gunung. Si hweesio berusia pertengahan itupun diam diam memuji keagungan sang Buddha setelah itu menyingkir pula kebelakang. Dengan cepat laksana air bah jago jago Bu lim yang datang melihat keramaian segera pada menerjang masuk kedalam mulut gunung menyusul kawan kawannya. Tan Kia Beng mengerti si hweesio tersebut bermaksud baik, tetapi orang orang itu tidak mau tahu diri. memang ada seharusnya dibiarkan saja berlalu dan menanggung resiko sendiri. Menanti semua orang sudah berlalu, dengan langkah lambat ia baru berjalan ke hadapan sang hweesio tersebut.

"Tolong tanya apakah siansu berasal dari sauw-lim pay ?"

Sapanya sembari menjura memberi hormat.

"Sedikitpun tidak salah, pinceng Ci Cin."

"Sesuai dengan apa yang siancu katakan tadi, entah tahukah kau orang siapakah yang sudah melakukan seluruh perbuatan ini ??"

Ci Sin Siansu tidak langsung menjawab pertanyaannya, dengan sepasang mata yang tajam ia memperhatikan pemuda tersebut tajam tajam lalu dengan hati ragu-ragu balik tanyanya .

"Saudara adalah anak murid dari siapa di dalam kay Pang ?"

"Murid sipengemis aneh !"

"Siapa namamu ? dan apa maksud kedatanganmu ?"

"Selamanya cayhe belum pernah menggunakan nama. orang2 memanggil diriku dengan sebutan pengemis cilik, kedatanganku sama juga dengan mereka ingin melihat keramaian."

Sikakek tua yang tadi tertawa tergelak mendadak maju kedepan sambil tertawa dingin tiada henti-hentinya.

"Heee... heee... hee.. aku rasa tentu ada tujuan yang lain bukan???"

Serunya ketus "Dandananmu itu mungkin bisa mengelabuhi orang lain tetapi tak bakal lolos dari sepasang mata Ciauw Tong Ih Shu atau sikakek nelayan dari daerah Ciauw Tong !"

Dengan pandangan yang amat dingin Tan Kia Beng melirik sekejap, kemudian dengan sombong dongakkan kepalanya keatas.

"Sekalipun aku sedang menyaru lalu apa sangkut pautnya dengan kau orang...???"

Jengeknya.

"Hmmm ! kalau begitu aku ingin maju kedepan, tangannya dengan cepat menyambar lewat mencengkeram pergelangan tangan lawan. Terasa angin berkelebat lewat, tahu tahu Tan Kia Beng sudah berada dibalik mulut gunung.

"Haaa... haaa... haaa... bilamana tidak memandang diatas wajah Liok-lim Sin Cie, menghadapi manusia semacam kau... Hmmm! akan kusuruh kau merasa malu dulu"

Serunya sambil tertawa panjang. Mendengar ejekan tersebut sikakek nelayan dari daerah Ciauw Tong jadi semakin gusar, tubuhnya segera berbungkuk siap siap menubruk kembali kearah depan.

"Cianpwee harap jangan marah dulu"

Buru buru Ci Cin Siansu turun tangan mencegah.

"Biarlah pinceng tanyai dulu dirinya"

Sambil merangkap tangannya menjura, ia berjalan mendekati diri pemuda tersebut.

"Entah sicu anak murid dari partai mana??? harap kau suka menyebutkan secara jelas sehingga tidak sampai terjadi kesalah pahaman"

"Haaa... haaa... haaa... pokoknya aku orang bukan anak murid dari Istana Kelabang Emas, buat apa kau banyak bertanya? Mendadak ia menarik kembali senyumannya, dengan wajah serius sambungnya lebih lanjut.

"Cayhe ingin tahu keadaan situasi disekeliling gunung Oei san pada beberapa hari ini harap Siansu suka memberi petunjuk."

Ci Cin Siansu yang melihat nada ucapannya terang, sopan dan tindak tanduknya bergitu tenang, bahkan agaknya memiliki serangkaian ilmu silat yang maha dahsyat, dalam hati lantas menduga bila dia orang tentu adalah seorang pendekar yang tidak ingin dikenal oleh siapapun.

Perlahan-lahan hweesio itu menghela napas panjang.

"Heee...! selama beberapa hari ini di atas gunung Oei san sering sekali muncul seorang manusia berkerudung yang tidak dikenal asal usulnya, kepandaian silat yang dia miliki sangat lihay. Barang siapa yang memasuki gunung Oei san didalam sepuluh bagian ada sembilan bagian tentu menemui ajalnya. Bahkan selama tiga hari ini sudah ada seratus orang lebih yang menemui ajalnya."

"Apakah pernah menemukan manusia macam apakah merasa mereka itu?"

"Menurut cerita dari mereka yang berhasil meloloskan diri, katanya orang orang itu adalah seorang kakek berkerudung yang memakai jubah hitam serta seorang sastrawan berkerudung."

Mendengar keterangan itu, mendadak Tan Kia Beng merasakan hatinya rada bergerak.

"Seorang sastrawan berkerudung ?"

Tak terasa lagi serunya.

"Benar ! gerak gerik orang ini sangat misterius, kepandaian silat yang dimilikipun luar biasa lihaynya, tindakannya sangat kejam, buas dan telengas, Barang siapa saja yang ketemu dirinya tak bakal ada yang bisa lolos !"

Mendadak Tan Kia Beng teringat dengan sisastrawan yang bernama Kiem Soat Leng itu, tak terasa lagi hawa amarah bergelora didalam dada. Ia mendengus berat.

"Hmmm ! aku tahu siapa dia, aku ingin mencari sisastrawan terkutuk itu dan menjejaki kepandaian silatnya."

Selesai berkata ia lantas merangkap tangannya menjura kemudian mencelat ketengah udara setinggi puluhan kaki dan bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busur meluncur masuk keatas gunung.

Dengan berlangsungnya kejadian ini seketika itu juga Ci Cin Siansu jadi berdiri tertegun, ia tidak mengerti berasal dari manakah sipengemis cilik yang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi itu...

Sebaliknya Si kakek nelayan dari daerah Ciauw Tong semakin berasa beruntung bila mana tadi dia orang bergebrak dengan orang itu, kemungkinan dirinya akan mendapat malu.

Kita balik pada Tan Kia Beng yang berkelebat pergi dalam keadaan gusar, selama ditengah perjalanan ia berpikir keras terus, sedang gerakan badanpun semakin cepat.

Menanti tubuhnya sudah menerjang sejauh seratus kaki dari mulut gunung mendadak...

Dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara jeritan kesakitan yang menyayatkan hati diikuti suara bentakan bentakan gusar yang amat memecahkan kesunyian.

Ketika ditelitinya lebih cermat, maka ia merasa agaknya suara jeritan tersebut berasal dari mulut gunung, hatinya jadi kaget.

"Aduuh celaka ! tentu Ci Cin sekalian sudah menemui musuh tangguh..."

Badannya dengan cepat berputar kembali kemudian laksana segulung asap hijau meluncur keluar kearah mulut gunung.

Tetapi...

baru saja tubuhnya tiba ditempat semula, hatinya terasa berdebar.

Ci Cin Siansu serta sikakek nelayan dari daerah Ciauw Tong sekalian yang baru saja berbicara dengan dirinya menggeletak diatas tanah.

"Aah... sungguh cepat dan ganas tindakan orang ini"

Diam-diam pikirnya dengan terperanjat.

"Entah siapakah orang itu ?"

Ketika diperiksanya dengan teliti mayat-mayat tersebut, pemuda itu menemukan kalau orang-orang itu sudah dipukul hancur jantungnya.

Sungguh tidak disangka olehnya dengan tenaga lweekang hasil latihan selama tiga, empat puluh tahun dari Ci Cin Siansu sekalian bisa menemui ajalnya dalam sekejap mata.

Cukup ditinjau dari hal ini sudah membuktikan seberapa lihaynya pihak lawan.

Pada saat ini jalanan gunung kembali berjalan datang gerombolan orang-orang kangouw yang melihat keramaian, untuk menghindarkan diri dari kesalah pahaman, buru-buru ia bangun berdiri siap-siap melanjutkan perjalanannya kedalam mulut gunung "Berhenti!"

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara dengusan dingin dari seseorang.

"Didalam Kay Pang kau termasuk anak murid siapa??"

Mendengar teguran tersebut dengan cepat Tan Kia Beng putar badan, tampaklah "Liok Lim Sinci"

Sambil bergendong tangan sudah berdiri dibelakangnya dan memandang dirinya dengan sinar mata dingin.

Selagi ia kebingungan untuk membuka rahasianya itulah, mendadak satu ingatan berkelebat didalam benaknya.

"Boanpwee adalah Tan Kia Beng dari Teh Leng Bun!"

Buru-buru katanya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.

Diatas wajah Liok lim Sin ci segera terlintaslah rasa terkejut yang tak terhingga.

Belum sempat ia berkata, Tan Kia Beng sudah menjemput lebih lanjut .

"Karena perkataan pihak Istana Kelabang Emas terhadap gerak gerik Boanpwee sangat ketat, maka aku orang terpaksa harus menjura sabagai anak murid perkumpulan Kay Pang guna mengelabuhi mereka"

Untuk bisa menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara paling sedikit sedikit seorang harus memiliki tenaga lweekan setinggi enam puluh tahun hasil latihan, walaupun dari angkatan muda ada pula beberapa orang yang menonjol tetapi diantara mereka yang berhasil mencapai tenaga dalam seperti apa yang dimiliki Tan Kia Beng saat ini, boleh dikata jarang sekali ditemui.

Oleh karena itu Liok lim Sin Ci tidak menaruh rasa curiga lagi, ia lantas menggape ajak dia pergi.

"Kalau memang Tan Sauw hiap adanya. Mari ikutilah loolap"

Serunya kemudian dengan melalui ilmu menyampaikan suara pula.

Badannya mendadak meloncat keatas kemudian melayang langsung menuju kesebuah lembah yang kecil.

Tan Kia Beng tidak terlambat langkahnya lagi, dengan kencang ia mengikuti terus dari belakang kakek tersebut.

Dengan kecepatan ilmu meringankan tubuh dari kedua orang itu, didalam sekejap mata kemudian mereka sudah melewati beberapa buah puncak gunung dan akhirnya berbelok masuk kedalam sebuah lembah yang sangat terahasia letaknya.

Setelah memasuki lembah tersebut, mereka berhenti didepan sebuah kuil yang kecil.

Sedikitpun tanpa ragu ragu lagi Liok Lim Sin Ci langsung melayang masuk ke dalam sebuah ruangan kuil yang suasananya begitu tenang.

Setelah mendorong pintu berjalan masuk, kelihatanlah di dalam ruangan pada ketika itu sudah dipenuhi dengan manusia bahkan rata rata merupakan jago dunia kangouw yang sudah memiliki nama besar dan pernah menggetarkan sungai telaga.

Ditempat itu bukan saja akan Ci Si Sangjien dari Siauw lim pay, Thian Liong Tootiang serta Leng Hong Tootiang dari Bu tong Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun pay, Phu Cing Siansu dari Ngo Thay-pay, Loo Hu Cu dari Go-bie pay, disamping itu masih ada pula seorang hweesio beralis putih yang sangat keren dan berwibawa serta banyak orang yang sama sekali tak dikenal olehnya.

Ketika semua orang melihat Liok-lim Sin Ci membawa masuk seorang pengemis cilik, terasa pada melengak semua dibuatnya.

Melihat orang-orang itu dibuat keheranan, Liok-lim Sin Ci segera tertawa tergelak.

"Haaa... haaa... haaa... mari, mari... biar aku kenalkan seseorang kawan kecil kepada kalian, dia bukan lain adalah Tan Siauw-hiap ahli waris dari Han Tan Loojien!"

Katanya lantang.

Suara teriakan kaget segera mengubah ruangan yang tenang jadi gaduh...

mereka rata rata tidak menyangka kalau sang pemuda tersebut bisa munculkan dirinya pada saat dan dalam keadaan seperti ini.

Buru-buru Tan Kia Beng merangkap tangan menjura.

"Cayhe Tan Kia Beng mengunjuk hormat buat Loocianpwee sekalian..."

Sang Hweesio beralis putih yang saat itu sedang duduk bersila sambil pejamkan matanya, mendadak membuka kedua belah matanya dan melirik sekejap kearahnya, kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya kembali .

"Sicu ! kau tidak usah banyak adat"

Seru Thian Liong Tootiang sembari mengangguk.

"Mari silahkan ambil tempat duduk!"

Orang-orang yang berada didalam ruangan tersebut kebanyakan merupakan jago jago Bu lim yang telah mempunyai nama sangat terkenal serta para Ciang bunjien dari partai besar.

Bila dibicarakan yang sepantasnya, bagi pemuda tersebut tak ada bagian untuk tetap tinggal disana.

Tetapi, berhubung kedudukan Han Tan Loojien sangat tinggi dan terhormat didalam kalangan dunia persilatan, bahkan jauh lebih tinggi setingkat dari kedudukan Thian Liong Tootiang.

Bersamaan itu pula sejak ia memperoleh penemuan aneh didasar Lembah dan dua kali munculkan diri dalam Bu-lim, didalam beberapa kali bentrokan yang terjadi berhasil menduduki tempat teratas dimata para jago Bu lim.

Maka semua orang boleh dikata sudah memandang tinggi dan menghargai dirinya.

Setelah Tan Kia Beng tempat duduk, sambil tersenyum kembali Thian Liong Tootiang bertanya .

"Kepergian sicu kali ini kegurun pasir, entah sudah membawa datang berita apa saja ???"

Mendapatkan pertanyaan ini, maka berceritalah Tan Kia Beng tentang keadaan di gurun pasir sercara garis besarnya.

Setelah mendengarkan kisahnya itu.

Thian Liong Tootiang tak bisa menahan dirinya lagi ia menghela napas panjang.

"Heeei... tak kusangka Coe Swie Tiang Cing seorang pendekar kenamaan sepanjang masa sudah dikubur digurun pasir!"

Dari Tan Cu Liang teringat kembali olehnya nasib sang sute Thiat Bok Tootiang yang ikut menemui ajalnya disana, karena itu selesai berkata kembali dia orang menghela napas panjang.

"Jika demikian adanya"

Mendadak Liok lim Sin Ci menimbrung.

"Majikan Istana Kelabang Emas tidak sah diragukan lagi tentu keturunan dari raja suku Biauw. Kini ia berani memusuhi jago-jago Bu-lim serta partai partai besar yang ada didaratan Tionggoan secara terang-terangan. Kekuatannya tak boleh kita pandang enteng. Didalam pertemuan puncak para jago digunung Oei san kali ini, entah siapakah akhirnya yang bakal menang dan siapa pula yang bakal kalah..."

Mendadak si hweesio beralis putih mementangkan sepasang matanya kemudian memuji keagungan Buddha dengan suara lirih.

"Ternyata dugaan pinceng sedikitpun tidak salah, pihak Istana Kelabang Emas telah mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk mengurung seluruh gunung Oei-san"

Katanya halus.

"Apa maksud kedatangan mereka rasanya sekarang sudah jelas tertera. Dengan demikian boleh dianggap pertarungan ini adalah suatu pertarungan yang terakhir antara jago jago Bu-lim dari daratan Tionggoan melawan jago jago dari pihak Istana Kelabang Emas. Heei...! didalam pertarungan secara besar besaran ini entah ada berapa banyak orang lagi yang bakal mau jadi korban."

"Jika menurut situasi pada beberapa hari ini"

Ujar Thian Liong Tootiang pula setelah termenung sejenak.

"Aku rasa kepandaian silat yang dimiliki jago-jago Istana Kelabang Emas rata rata tidak lemah, tetapi Majikan Istana Kelabang Emas belum pernah muncul diri secara resmi, dapatkah kita orang menahan serangan Hong Mong Ci Khie nya, heei... sukar sekali bagi kita untuk mengambil perkiraan"

Pada saat itulah mendadak Leng Hong Tootiang menoleh kearah Tan Kia Beng.

"Tan siauw hiap !"

Serunya.

"Barusan saja kamu kembali dari gurun pasir dan berhasil menyelidiki pula keadaan yang sebetulnya dari pihak Istana Kelabang Emas. tahukah kau apa maksud dari Istana Kelabang Emas dengan gerakannya kali ini??"

"Menurut dugaan cayhe, maksud tujuan dari Istana Kelabang Emas datang keselatan dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ada tidak lebih ingin menyerang dan memusnahkan seluruh jago Bu-lim yang ada didaratan Tionggoan. Sedangkan menggunakan cara apakah mereka hendak bertindak, soal ini aku rada kurang jelas."

Sang hweesio tua beralis putih itu adalah seorang Tiang-loo dari Siauw-lim pay dan bukan lain adalah Yen Yen Thaysu yang bertindak sebagai penyelenggara didalam pertemuan puncak para jago di gunung Oei San kali ini.

Ketika itulah ia bangun meninggalkan kasur semedinya.

"Yang diandalkan pihak Istana Kelabang Emas tidak lebih adalah ilmu pukulan 'Hong Mong Ci Khei' yang lihay itu"

Katanya dengan nada sangat berat.

"Aku rasa sampai waktunya tak bakal seorangpun diantara kita yang dapat menghancurkan hawa pukulan Cin Khei semacam itu."

Liok-lim Sin Ci pun pernah merasakan kelihayan dibawah pukulan "HOng Mong Cie Khei"

Tersebut dan mengetahui pula jika ilmu pukulan itu tidak lain termasuk semacam hawa pukulan Sian Thian Cin Khie yang luar biasa dahsyatnya, karena itu sehabis mendengar perkataan dari Yen Yen Thaysu, iapun menghela napas panjang.

"Jika dibicarakan memang benar-benar sangat memalukan !"

Katanya perlahan.

"Sewaktu Loohu berada dikuil Ya Hu Sian Si ternyata sudah jatuh kecundang ditangan seorang gadis perempuan. Entah siapakah perempuan tersebut dan menjabat kedudukan apakah didalam Istana Kelabang Emas!"

"Dia adalah murid termuda dari majikan Istana Kelabang Emas"

Sambung Tan Kia Beng dengan cepat.

"ia tidak ikut datang di dalam gerakan secara besar-besaran kali ini."

Liok-lim Sin Ci sebagai seorang cianpwee Bu-lim yang disanjung-sanjung dan ditakuti karena mengandalkan kelihayan ilmu Toa Thian Kang Ciang nya, ternyata tidak diduga sudah jatuh kecundang ditangan salah seorang murid yang termuda dari majikan Istana Kelabang Emas, sehabis mendengar perkataan tersebut, kecuali Tan Kia Beng rata-rata sudah dibuat terperanjat semua oleh kejadian ini.

Tan Kia Beng yang melihat orang-orang yang hadir didalam ruangan tersebut kebanyakan merupakan jago jago tua yang alim dan tidak banyak ribut sedang ia sendiripun merasa kurang leluasa untuk banyak ribut disana, apalagi tidak mengetahui pula apa yang sedang mereka rencanakan, lama kelamaan dalam hati merasa amat riku.

Akhirnya ia bangun berdiri mohon pamit.

"Boanpwee akan melakukan perondaan di sekitar gunung Oei-san disamping memeriksa adalah jejak musuh yang ditemukan, maaf cayhe mohon diri terlebih dulu."

Katanya.

Para jago-jago tua yang hadir pada saat ini kebanyakan sedang memikirkan keselamatan partainya tersendiri, sedang Tan Kia Beng walaupun merupakan seorang jagoan yang sangat terkenal didalam Bu lim bagaimana tidak lebih cuma seorang angkatan muda.

Oleh karena itu boleh dianggap tak seorangpun yang memandang sebelah mata kepada dirinya, sebab itulah sewaktu ia mohon pamit tak seorangpun yang menahan dirinya lagi.

Sekeluarnya dari pintu ruangan, mendadak Leng Hong Tootiang mengejar dari belakang ujarnya sambil mencekal tangan pemuda itu erat-erat .

"Menurut apa yang pinto ketahui, orang orang dari tujuh partai belum ada seorangpun yang bisa menahan pukulan Sian Bun Sian Thian Can Khie tersebut. Sampai waktunya harap siauw hiap suka ikut hadir pula ditengah kalangan. Kalau tidak... mungkin urusan sukar untuk diduga!"

Dengan cepat iapun mulai menerangkan rencana yang sudah dipersiapkan oleh partai partai besar didalam menghadapi persoalan ini.

Kiranya rencana Yen Yen Thaysu sekalian hendak menggunakan pertemuan puncak para jago digunung Oei san ini sebagai umpan untuk memancing orang-orang dari pihak Istana Kelabang Emas ikut serta.

Sampai waktunya, dengan mengandalkan kepandaian silat yang dimiliki Yen-Yen Thaysu serta Thian Liong Tootiang mereka akan turun tangan membinasakan dulu beberapa orang pentolan mereka, kemudian sisa-sisa anak buah Istana Kelabang Emas akan didesak dan dibasmi oleh anak murid partai-partai besar yang disebarkan diempat penjuru gunung Oei san.

Tan Kia Beng segera mengangguk selesai mendengar keturunan itu.

"Persoalan ini tak usah diperingatkan oleh Tootiang lagi"

Katanya cepat.

"perduli dari pihak partai partai besar hendak menggunakan siasat macam apa, sampai waktunya cayhe pasti akan menentang majikan Istana Kelabang Emas untuk kepandaian". Ia lantas merangkap tangannya menjura lalu mencelat ketengah udara dan melayang keluar dari kuil. Dalam hati ia sudah bulatkan tekad untuk mencari simanusia manusia berkerudung yang telah membinasakan anak murid Kay Pang, oleh karena itu setelah keluar dari pintu kuil ia berusaha keras untuk menyembunyikan jejaknya dan langsung memasuki lambung gunung Oei San dengan mengikuti jalan kecil yang dilaluinya tadi sewaktu masuk kedalam gunung. Sembari melakukan perjalanan sepasang matanya dengan tajam memperhatikan keadaan disekitar sana, tetapi sungguh aneh sekali, terasa suasana diatas gunung sunyi senyap tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun. Bahkan orang-orang yang tadi naik kegunung untuk melihat keramaianpun entah sudah pergi kemana. Hatinya merasa semakin keheranan lagi, pikirnya diam-diam .

"Sungguh aneh sekali ! kemanakah perginya orang-orang itu???"

Pada saat ini cuaca makin lama semakin menggelap, angin malam bertiup lewat membuat rumput serta ranting bergoyang meninggalkan suara berisik yang menyedihkan.

Walaupun keadaan terasa sangat aneh, tapi tidak sampai membuat pemuda ini jadi putus asa, ia melanjutkan kembali langkahnya menuju kearah depan.

Mendadak...

Badannya berjumpalitan dengan gerakan yang sangat indah ditengah udara, kemudian bagaikan seekor butung walet meluncur ke sisi gunung sebelah kiri.

Agaknya pemuda tersebut sudah menemui sesuatu ditempat itu !

Setelah melewati sebuah bukit, sampailah ia didalam sebuah lembah yang sunyi dan tersembunyi, dari tempat itu secara samar-samar kedengaran suara berisik yang memecahkan kesunyian didalam hati.

Dengan cepat Tan Kia Beng meluncur semakin mendekat, sebentar kemudian ia sudah tertawa dingin tiada hentinya.

"Oou... kiranya kalian semua bersembunyi disini"

Serunya lirih.

Kakinya dengan ringan menutul permukaan tanah, bagaikan segulung asap hijau ia melayang keatas puncak tebing kemudian bersembunyi dibalik sebuah batu besar dan mulai melakukan pengamatan kearah bawah.

Terlihatlah didalam lembah tersebut kurang lebih sudah ada berkumpul seratus orang banyaknya, dimulut lembah pintu masuk tersebut tampak berpuluh-puluh orang menghadang perjalanan mereka, seorang kakek berjubah hitam yang berkerudung serta seorang pemuda berkerudung pun berdiri dengan angkernya disana...

Terdengar sikakek berkerudung dengan suara yang dingin membentak keras .

Maksud dari Majikan Istana Kelabang Emas mengundang kalian untuk mendatangi lembah ini sama sekali tidak ada urusan lain yang penting.

maksudnya tidak lebih ingin berkenalan dengan saudara-saudara sekalian.

Sekarang silahkan saudara-saudara semua mulai laporkan nama kemudian keluar dari lembah, pihak Istana Kelabang Emas pasti tak akan mengganggu kalian barang seujung rambutpun".

Sewaktu Tan Kia Beng memperhatikan orang orang itu lebih cermat lagi, maka ditemuinya bahwa orang orang itu bukan lain adalah mereka yang sengaja datang untuk melihat keramaian, hanya entah secara bagaimana mereka bisa berkumpul disitu????

Dari antara rombongan orang orang itu ada pula jago jago lihay dari dunia kangouw, sudah tentu mereka tak akan suka menurut perintah orang tersebut dengan begitu mudah Suasana seketika itu juga jadi gaduh, semakin ada pula yang mulai berteriak-teriak dan memaki kalang kabut.

Tetapi ada pula diantara mereka yang tiada bersemangat jantan.

baru saja si kakek tua itu selesai berkata sudah ada beberapa orang mulai berjalan kemulut lembah.

"Cayhe 'Huang Hoo Tou Cio Ciauw' atau sinaga bertanduk tunggal dari sungai Huang Hoo, Liong Ngo selama ini tiada ikatan sakit hati dengan orang orang Istana Kelabang Emas, kedatanganku kemari tidak lain hanya kepingin melihat keramaian saja, harap saudara suka melepaskan diriku"

Katanya kepada sikakek berjubah hitam itu. Dengan sombong siorang tua itu mengulapkan tangannya mengijinkan dia pergi. Diikuti yang lain berseru pula setengah merengek .

"Siauw-te she Hup bernama Cu Ing, berasal dari kawan-kawan kalangan Liok lim didaerah Ci Pak, harap saudara suka mengijinkan aku orang untuk lewat."

Kembali dengan pandangan menghina orang tua itu mengulapkan tangannya. Tan Kia Beng yang melihat kejadian itu dari tempat persembunyiannya diam diam merasa keheranan.

"Permainan setan apakah yang sedang ia jalankan???"

Pikirnya dalam hati.

Ketika itulah mendadak suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, orang ketika yang ingin berjalan keluar dari lembah sudah menemui ajalnya dibawah hantaman sikakek tua tersebut.

Tan Kia Beng yang berada rada jauh dari tempat itu tak berhasil mendengar jelas apa yang sedang mereka katakan.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini seketika itu juga membuat beberapa orang yang sudah siap siap hendak melaporkan namanya pada mundur kebelakang dengan perasaan kaget serta ketakutan.

Sebaliknya siorang tua berkerudung itu dengan sikap yang tenang seperti tidak pernah terjadi peristiwa apapun sudah tertawa seram tiada hentinya.

"Heee... heee... heee... selamanya Istana Kelabang Emas kami memegang teguh kata kata yang mengatakan hutang darah dibayar darah, hutang nyawa dibayar nyawa, nama orang ini sudah terdaftar didalam daftar kematian, karena itu kami tak bisa melepaskannya dengan demikian saja. Tapi saudara saudara semua jangan takut Silahkan meneruskan laporkan nama nama kalian"

Mendadak dari antara gerombolan jago jago tersebut berkelebat datang dua sosok bayangan manusia.

"Hmmm ! orang orang Istana Kelabang Emas benar benar sangat keterlaluan, justru yayamu sengaja tidak mau laporkan namaku bentaknya keras. Sreet! Laksana kilat cepatnya mereka sudah meluncur keluar kearah mulut lembah. Kepandaian orang orang ini boleh dianggap tidak lemah, ternyata sekali loncat mereka berhasil mencapai setinggi empat, lima kaki kemudian meluncur keluar dengan kecepatan laksana petir menyambar. Mendadak,,, Segulung hawa pukulan berwarna hijau yang tipis menerjang keluar menyongsong datangnya bayangan manusia tersebut. Seketika itu juga suara jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian, badannya mencelat balik kebelakang lalu roboh keatas tanah dengan darah segar mengucur keluar dari tujuh lubangnya. Seketika itu juga orang tersebut menemui ajalnya.

"Akh...! Hong Mong Cie Khie??"

Diam diam pikir Tan Kia Beng didalam hatinya.

Dengan adanya peristiwa ini, suasana di antara para jago yang hadir disana jadi sunyi kembali, perasaan takut dan pecah nyali mulai menyelimuti mereka semua.

Setiap orang merasakan malaikat elmaut sudah berada diambang pintu, tak sepatah katapun berani diucapkan kembali dan tak ada pula seorang manusia yang berani maju kedepan untuk melaporkan namanya.

Melihat kejadian itu diam-diam Tan Kia Beng merasa kegelian.

"Naaah... sekarang rasakan !"

Pikirnya dalam hati.

"Tadi, secara baik-baik Ci Cin Siansu sudah menasehati kalian jangan naik gunung, tetapi kalian marah-marah sehingga hampir-hampir saja mau menerjang dengan menggunakan kekerasan. Sekarang sesudah terjadi peristiwa semacam ini tak seorang manusiapun yang berani berkutik, tidak berani pula munculkan diri... Hmm ! memang kalian tidak lebih cuma segerombolan gentong nasi belaka". Si kakek tua berkerudung itu sewaktu melihat orang orang tersebut berhasil dibuat ketakutan oleh kepandaiannya sehingga tidak berani membangkang, dengan amat bangga segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Heee... heee... heee... kalau memang kalian tidak suka laporkan nama untuk keluar dari lembah, terpaksa kamipun menyuruh kalian untuk tinggal selama beberapa hari didalam lembah ini. Menanti Majikan Istana Kelabang Emas berhasil menyelidiki keadaan kalian, kita baru bicarakan lagi."

Mendadak dari antara gerombolan para jago itu muncul seorang pengemis cilik yang memakai pakaian compang camping.

"Eei.... gunung Oei-san bukan milik pribadi kalian orang-orang Istana Kelabang Emas dengan mengandalkan apa kalian hendak menahan kami semua disini??"

Teriaknya lantang.

Mendengar perkataan itu siorang tua berkerudung tersebut merasa rada tertegun, ia merasa pada suara dari sipengemis cilik ini rasanya pernah dikenal hanya saja kemudian ia mengambil perhatian lebih lanjut.

Ia segera tertawa dingin.

Siapakah kau???

berani benar mengucapkan kata kata yang tidak karuan..."

Bentaknya nyaring.

Sipengemis cilik itu bukan lain adalah Tan Kia Beng.

Karena ia melihat dari para jago yang ada disana rata rata sudah dibuat ketakutan oleh kelihayan siorang tua berkerudung itu maka secara diam-diam ia sduah melayang turun dari atas tebing kemudian munculkan dirinya dihadapan orang itu.

Pemuda tersebut segera tertawa terbahak bahak.

Haaa...

haaa...

haaa...

nama dari aku sipengemis adalah 'Yau Ming Lang Tiong' atau Sipeminta nyawa ditengah ketenangan, kedatanganku kemari sengaja hendak mengobati penyakit gila yang diderita oleh kalian kaum iblis-iblis goblok!"

Serunya. Sikakek berkerudung hitam itu jadi teramat gusar, dari sepasang matanya yang kelihatan muncul dari antara kain kerudung memancarkan cahaya kehijau-hijauan yang sangat menyeramkan.

"Bagus... bagus sekali"

Teriaknya sambil tertawa seram.

"Kiranya kau sengaja datang untuk mencari keonaran, baiklah ! biar loohu sempurnakan dirimu !"

Mendadak badannya menubruk ke depan, sepasang tangannya diangkat lalu diayun ke depan.

Lima rentetan cahaya tajam yang berwarna hitam bagaikan tinta Bak dengan tajam mengurung seluruh tubuh lawannya.

Begitu Tan Kia Beng melihat munculnya kelima rentetan angin serangan berwarna hitam tersebut dalam pikirannya lantas teringat akan seseorang.

Haaa haaa haaa...

ini hari kau sudah bertemu muka dengan aku si peminta nyawa...

Aku takut gelarmu 'Koei So Sian Ong' atau sikakek dewa bertangan setan, bakal berubah jadi 'San So Koei Ong' atau sikakek bayar nyawa, haahaaahaaa..."

Ejeknya sambil tertawa panjang. Pakaian bututnya tampak berkelebat, tahu tahu ia sudah berada di belakang punggungnya.

"Haaa haaa haaa... seranganmu barusan kurang ganas, ayoh sekali lagi."

Ejeknya lagi.

Si kakek dewa berkerudung hitam itu sewaktu mendengar pihak musuhnya berhasil memecahkan asal usulnya, di dalam keadaan amat terperanjat hawa marah berkobar meliputi seluruh benaknya.

Ia membentak keras, badannya dengan cepat berputar kemudian sepasang tangannya dibentangkan lebar lebar membentuk satu lingkaran kosong ditengah udara.

Telapak kirinya digerakkan bagai sedang menangkis.

Sedang telapak kanannya perlahan lahan ditekan kedepan.

Segulung angin pukulan yang tidak berwujud dengan cepat menggulung keluar.

Tan Kia Beng mengerti telapak kanannya hanya merupakan suatu serangan tipuan belaka, serangan yang benar tentu tersembunyi dibelakang, tetapi ia pura pura tidak tahu.

Seperti halnya pada keadaan semula, kakinya kembali bergerak kemudian berkelebat kesebelah kiri.

Melihat tindakan yang diambil oleh si pengemis cilik tersebut, si kakek tua berkerudung itu jadi amat girang, ia tertawa panjang.

"Bangsat cilik! Kau tertipu."

Mendadak telapak kirinya bergerak membentuk bayangan telapak yang sangat banyak kemudian langsung mencengkeram kearah dada.

Seketika itu juga Tan Kia Beng terkurung kedalam hawa hitam yang menggulung memenuhi seluruh angkasa.

Padahal yang benar, sejak semula Tan Kia Beng sudah menduga musuhnya akan menggunakan cara semacam ini, hanya saja dia bermaksud kepingin tahu permainan setan apakah yang sedang dilakukan oleh sikakek tua berkerudung hitam ini.

Ketika itulah, mendadak terdengar suara bentakan merdu berkumandang memecahkan kesunyian .

Manusia bodoh yang tidak tahu diri, ayoh cepat menghindar, apakah kau sudah merasa bosan untuk hidup????"

Tampaklah serentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata menggulung datang dari atas tebing langsung membabat pinggang dari sikakek tua berkerudung hitam itu, datangnya serangan amat cepat dan ganas pula...

Sewaktu sikakek tua berkerudung hitam itu melihat datangnya angin serangan amat tajam, ia tidak berani berlaku ayal, telapak tangannya buru buru ditarik kembali kemudian meloncat mundur sejauh delapan depa lebih kearah belakang.

Sekilas pandang Tan Kia Beng telah menemukan kalau orang tersebut bukan lain adalah Leng Poo Sianci, karenanya ia pura-pura menunjukkan sikap baru saja menemui kekagetan dan berdiri termangu-mangu disana bahkan sepasang mata pun melototi dirinya tak berkedip.

Dengan pandagnan menghina Leng Poo Sianci mencibirkan bibirnya, mendadak ia melayang maju kedepan, sambil menuding sikakek berkerudung tersebut dengan menggunakan pedangnya ia membentak keras .

"Nona perintahkan kalian segera meninggalkan mulut lembah ini dan biarkan mereka berlalu, kalau tidak jangan salahkan pedang nonamu tiada berampun". Sikakek tua berkerudung itu memang bukan lain adalah sikakek dewa bertangan setan, ia pernah dua kali bergebrak melawan Leng Poo Sianci. Melihat gadis ini munculkan dirinya kembali, dan melihat pula sifatnya yang masih polos kekanak kanakan, sudah tentu tak suka dipandang dalam hati. Selesai mendengar perkataan itu ia tertawa terbahak bahak.

"Budak busuk! Loohu nasehati kau lebih baik janganlah mengumbar sifat nonamu yang berangasan itu. Aku takut untuk melarikan diripun pada saat ini kau tak bakal sanggup"

Serunya mengejek.

"Hmmm! Kau berani tidak mendengarkan perkataan nonamu?? Lihat pedang!"

Sreeet!

Sreet!

Berturut turut ia membabat dua buah serangan dahsyat kearah depan.

Sejak kecil ia sudah memperoleh didikan dan manja dari ayahnya Hay Thian Sin Shu sehingga terpeliharalah sifat yang sombong dan tinggi hati didalam hatinya, selama ini tak seorang pun yang berani membangkang atau mengejek dirinya.

Kini sikakek bertangan setan bukan saja berani membangkang bahkan mengejek pula dirinya, sudah tentu gadis tersebut tak bisa menahan diri lagi.

Serangan yang dilancarkan barusan ini boleh dikata telah menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya saat ini.

Tanpa memperdulikan keadaan dirinya lagi, hanya didalam sekejap mata ia sudah mengirim dua belas buah serangan dahsyat.

Seketika itu juga cahaya hijau berkelebat menyilaukan mata, dengan angin serangan memekikkan telinga.

Didalam waktu sekejap mata sikakek dewa bertangan setan sudah kena didesak mundur sebanyak beberapa langkah kearah belakang.

Diam diam Tan Kia Beng melirik sekejap keempat penjuru kemudian melirik pula ke arah lelaki-lelaki berbaju hitam yang kurang lebih berjumlah dua puluh orang.

Ketika dilihatnya jumlah orang yang menonton keramaian walaupun jauh lebih banyak tetapi tak seorangpun yang bisa bergebrak melawan jago-jago lihay dari istana Kelabang Emas, sehingga semisalnya terjadi pertarungan massal tentu banyak yang bakal menemui ajalnya atau terluka, pikirannya dengan cepat berputar.

Mendadak ia putar badan menghadap ke arah orang-orang itu, lalu bentaknya keras.

"Jikalau kalian kepingin pergi gunakanlah kesempatan pada waktu ini untuk berlalu, nanti mungkin cayhe tiada waktu lagi untuk mengurusi lagi !"

Beru saja suara bentakannya selesai diucapkan, dari dalam lembah sudah ada berpuluh-puluh orang jago yang emnerjang kearah mulut lembah...

Tiba-tiba suara tertawa dingin bergema keluar dari mulut lembah disusul menggulung datangnya serentetan angin pukulan berkabut hijau yang maha dahsyat beberapa puluh orang yang berada di tempat paling depan, bagaikan terlanda guguran salju tanpa mengeluarkan sedikit suarapun sudah roboh keatas tanah.

Orang orang yang berada dibelakangnya jadi sangat kaget, buru-buru mereka mengundurkan dirinya kembali kebelakang.

Tan Kia Beng yang selama ini berdiri menonton dari samping kalangan, ketika menemukan dari balik mulut lembah muncul pula seorang jagoan yang sangat lihay, badannya dengan cepat melayang kedepan dan langsung menubruk kearah berasalnya angin pukulan tadi.

"Heee... heee.. heee... jikalau saudara benar-benar adalah majikan Istana Kelabang Eams silahkan unjukkan diri untuk bergebrak beberapa jurus melawan aku sipengemis cilik"

Tantangannya sambil tertawa dingin.

"Kalau beraninya cuma melancarkan pukulan Hong Mong Ci Khie mu dari balik tempat kegelapan, apakah kau tidak malu kalau disebut cucu kura kura ??"

Belum habis ia berkata, segulung angin pukulan Hong Mong Ci Khie yang membawa datang selapis kabut berwarna hijau dengan cepatnya sudah menerjang datang.

Sudah lama Tan Kia Beng ada maksud untuk menemui Majikan Istana Kelabang Emas dan hendak mencari kesempatan untuk menjajal kelihayan dari ilmu Hong Mong Cie Khie nya.

Kini, setelah dilihatnya kabut hijau dari hawa pukulan Hong Mong Ci Khie tersebut jauh lebih kental daripada angin pukulan yang dilancarkan oleh sidara berbaju hijau serta Ci Lan Pak, kari hari lantas menduga orang itu pastilah seorang jagoan yang lihay dari Istana Kelabang Emas.

Hatinya rada bergerak, hawa pukulan Jie Khiek Koan Yen Kan Koan Cin Khiek nya pun kontan dikerahkan sampai terjadi mencapai sepuluh bagian, ia bersiap siap menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Tiba tiba...

"Didalam keadaan dan tempat semacam ini janganlah memperlihatkan ilmu sakti Jie Khek Koen Yen Cin Khie mu itu, cepat menyingkir..."

Dari samping telinganya telah berkumandang datang suara seseorang disertai nada cemas.

Nada suara tersebut terasa sangat dikenal karena dia adalah orang yang beberapa kali mengirim suara kepadanya.

Dengan cepat telapak tangannya ditarik dan menyedot kembali hawa murninya yang sudah dilanjutkan keluar, sedang badanpun mengambil kesempatan tersebut melayang mundur sejauh delapan depa lebih.

Selama ini sepasang matanya memperhatikan terus arah datangnya angin pukulan itu denga pandangan tajam.

Siapa sangka, pada saat ia menarik kembali serangannya itulah, angin pukulan berkabut hijau itupun ditarik kembali kemudian disusul angin ringan berkelebat lewat.

Mendadak dari atas puncak tebing berkumandang datang suara seseorang yang amat dingin .

"Kau sipengemis palsu, tidak usah jual lagak lagi dihadapan kami. Pihak Istana kami sudah tahu kalau kau bukan Kay Pang. Tetapi sekarang kami tiada maksud untuk mencari balas dengan dirimu. Tiga hari kemudian jika kau tidak mati maka pada saat itu bakal ada kebaikan buat dirimu."

Selesai berkata suasanapun jadi sunyi lagi, ia tak tahu orang itu tentu secara diam diam sudah berlalu.

Aaah...!

orang ini kalau bukan Majikan Istana Kelabang Emas sudah tentu seorang lawan tangguh yang sangat lihay"

Pikirnya dengan perasaan terperanjat.

"Lain kali aku harus memperhatikan beberapa bagian terhadap dirinya."

Tetapi keadaan situasi pada saat ini sangat kritis, orang-orang berkerudung itupun sudah mulai mendesak para jago yang datang melihat keramaian dari empat penjuru. Sedangkan si "Leng Poo Sianci"

Cha Giok Yong yang sedang bergebrakpun serangan serangan yang dilancarkan pada saat ini tidak sehebat tadi lagi, sebilah pedangnya kena terkurung rapat rapat oleh lapisan hawa pukulan hitam pihak lawan.

Jelas ia sudah terdesak dibawah angin.

Tak terasa lagi dalam hatinya diam diam mulai mengambil perhitungan.

"Cianpwee yang mengirim suara secara diam diam kepadaku tadi tidak setuju kalau aku menggunakan ilmu sakti Jie Khek Koen Yen Sian Thian Cin Thie pada saat ini"

Pikirnya dalam hati.

"Sudah tentu ia tidak ingin pula rahasia asal usulku ketahuan, lalu hendak menggunakan cara apakah dirimu untuk mengatasi sitasi semacam ini???..."

Selagi ia merasa ragu-ragu untuk mengambil keputusan, mendadak terdengarlah sang pemuda berkerudung yang semula berdiri disisi tubuh sikakek tua itu sudah bersuit panjang.

Mendadak tubuhnya satu lingkatan ditengah udara, di kuti berkelebatnya serentetan cahaya keemas-emasan meluncur keluar.

Laksana seekor kelabang warna emas yang sedang terbang menari tertiup angin, dengan menimbulkan suara desiran tajam dengan cepat mengurung jago jago ditengah kalangan bagaikan curahan hujan.

Melihat kejadian itu Tan Kia Beng merasa sangat terperanjat, dengan cepat bentaknya keras.

"Awas! senjata rahasia Pek Coe Kiam Wu Yen Wie Ciam yang sangat beracun, cepat cabut senjata tajam kalian !"

Sembari membentak keras badannya segera mencelat ketengah udara sambil mengirim dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat, bagaikan angin tiupan yang menggulung lewat dengan cepatnya hawa pukulan tersebut menerjang menyapu jarum-jarum emas tersebut.

Ketika itulah suara tertawa seram berkumandang memecahkan kesunyian, mulai bergerak kedepan.

Seketika itu juga seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan cahaya keemas-emasan yang menyilaukan mata, rapat bagaikan curahan hujan dan cepat laksana lembaran kilat, semuanya mengarah ketengah kalangan.

Jago-jago Bu-lim yang datang melihat keramaian itu rata rata merupakan jago jago kangouw kelas tiga serta kelas empat, sudah tentu mereka tak bakal kuat melawan datangnya serangan senjata rahasia beracun demikian banyaknya.

Seorang demi seorang meronta keras lalu roboh bermandikan darah keatas tanah dirinya jeritan ngeri yang menyayatkan hati didalam sekejap mata mayat-mayat bergelimpangan memenuhi seluruh permukaan tanah.

Hal ini membuat Tan Kia Beng jadi sangat cemas, sepasang mata berubah jadi memerah, disamping ia harus mengirim pukulan-pukulan kosong ketengah udara untuk pukul pental jarum-jarum terbang tersebut disamping itu iapun masih harus mengurusi orang lain.

Sudah tentu tak ada waktu baginya untuk melancarkan serangan kearah pemuda berkerudung tersebut.

---ooo0dw0ooo---JILID.

12 Selagi ia dibuat kebingungan untuk mencak-mencak kesana kemari, tiba-tiba terdengarlah Leng Poo Sianci berseru tertahan.

badannya mundur ke belakang dengan sempoyongan hampir saja roboh ke atas tanah.

Jelas badannyapun sudah terhajar jarum beracun.

Masih beruntung si kakek berkerudung itu sudah mundur dengan sendirinya sewaktu pemuda tadi melancarkan senjata rahasia, oleh karena itu walaupun sudah terkena jarum ia masih bisa berusaha keras untuk mempertahankan diri.

Tan Kia-beng yang melihat kejadian ini hatinya jadi amat cemas, badannya dengan cepat berkelebat kesisi tubuhnya.

"Nona! apakah kau sudah terluka?"

Teriaknya keras.

"Mari, biarlah cayhe lindungi dirimu untuk mengundurkan diri dari sini"

"Kau tidak usah ikut kuatir, aku percaya masih bisa mempertahankan diri!"

Sahut Leng Poo Sianci dengan alis yang dikerutkan.

Pedangnya kembali mengirim dua buah babatan ke arah depan, tetapi racun yang dipoleskan di atas ujung jarum Yen Wie Ciam ini sangat berbisa, kendati tenaga dalam yang dimilikinya sangat sempurna tapi tak berhasil juga digunakan untuk memperlambat daya kerja dari racun itu.

Apalagi setelah terkena racun berturut turut ia harus menggerakkan pedangnya pula untuk menangkisi datangnya serangan serangan jarum beracun boleh dikata tak ada waktu baginya untuk menutup seluruh aliran jalan darah, kini sesudah mengerahkan tenaga kembali, badannya tak kuasa untuk mempertahankan diri.

Sesudah membabat serangan pedang yang kedua, badannya mulai bergerak maju dua langkah dengan sempoyongan, pedang ditanganpun terasa amat berat sehingga sulit diangkat kembali.

Coba bayangkan, dibawah serangan jarum-jarum beracun yang memenuhi seluruh angkasa, mana ada waktu peluang bagi dirinya untuk beristirahat?....

masih beruntung Tan Kia-beng sudah berada disisinya.

Ia segera membentak keras, sepasang tangannya bersama-sama didorong ke depan mengirim pukulan pukulan kosong, setelah itu tangannya kembali bergerak menotok jalan darahnya.

Menggunakan kesempatan itulah ia lantas membopong badannya dan mencelat ke tengah udara kemudian menerobos keluar dari mulut lembah.

Si kakek dewa bertangan setan yang melihat pengemis tersebut dengan membawa sang gadis melarikan diri keluar lembah, ia segera bersuit nyaring, Badanpun ikut meloncat ke tengah udara melakukan pengejaran dari belakang.

Siapa sangka ketika itulah mendadak....

Serentetan cahaya kehijau hijauan bagai hujan anak panah meluncur masuk ke dalam lembah diikuti suara desiran tajam.

Melihat munculnya serangan cahaya hijau saking kagetnya si kakek dewa bertangan setan jadi menjerit tertahan.

Tangannya dengan cepat mengirim tiga buah pukulan kosong ke tengah udara.

sesudah bersusah payah akhirnya ia baru berhasil meloloskan diri dari mara bahaya.

Ketika itu badanpun sudah terdesak hingga masuk kembali ke dalam lembah, dengan hati berdesir buru-buru ia pungut senjata rahasia yang menggeletak ditanah untuk diperiksa.

"Aaakh....!"

Kiranya senjata rahasia itu bukan lain hanyalah daun pohon pisang yang lembek.

Orang ini dapat menggunakan daun pohon yang lembek untuk dijadikan senjata rahasia hal ini jelas membuktikan kalau tenaga lweekangnya sudah berhasil mencapai pada taraf memetik daun melukai kerbau.

membunuh orang tanpa berwujud!

Walaupun si kakek dewa bertangan setan terkenal akan keganasannya, tetapi ia belum berhasil melatih ilmu hingga mencapai pada taraf yang sedemikian tingginya.

Ketika itu para jago yang datang melihat keramaian sudah dibereskan semua, sedang para lelaki berkerudung itupun mulai berkumpul di depan mulut lembah.

Melihat sang pengemis serta nona tersebut tidak kelihatan lagi batang hidungnya, tak terasa mereka mulai bertanya tanya.

"Eeei....! dimanakah si pengemis cilik itu?"

"Berhasil meloloskan diri!"

Mendadak pemuda berkerudung itu menyingkap kain kerudungnya lalu tertawa dingin tiada hentinya.

"Heee.... heee.... heee.... sekalipun ia berhasil melarikan diri keujung langitpun, aku si Gien To Mo Lei akan menangkapnya kembali...."

Dengan pandangan yang dingin si kakek dewa bertangan setan melirik sekejap ke arahnya, mulutnya tetap membungkam.

Si Gien To Mo Lei yang melihat sikap si orang tua itu lantas mengerti kalau dia terlalu memandang kedudukannya sendiri dan tidak menganggap perkataannya.

Dalam keadaan gusar ia mendengus dingin kemudian meloncat ke tengah udara dan berlalu dari mulut lembah tersebut.

---ooo0dw0ooo---Kita balik pada Tan Kia-beng yang melarikan diri sambil menggendong Leng Poo Sianci.

Ia sudah mempunyai pengalaman sewaktu menolong Sak Ih lolos dari bahaya keracunan, ia tahu menghadapi senjata rahasia beracun semacam ini waktu tak boleh diulur terlalu lama, oleh karena itu ilmu meringankan tubuhnya sudah dikerahkan dengan menggunakan seluruh tenaga yang ada.

Walaupun pada saat ini Leng Poo Sianci sudah keracunan sangat berarti tetapi berhubung sejak kecil ia sudah makan obat mujarab sehingga di dalam badannya memiliki suatu daya kekuatan untuk menghadapi racun maka kesadarannya tidak sampai punah seluruhnya.

Kini merasakan dirinya digendong ke belakang punggung seseorang pengemis cilik, dalam hati benar-benar merasa tidak betah.

Ia yang sudah terbiasa mengutamakan kebersihan, setelah bertemu dengan pakaian butut yang kotor lagi bau, dalam hati benar-benar kepingin muntah dan meronta ingin turun.

Cuma sayang tenaganya sudah punah, terpaksa ia pejamkan matanya menurut saja.

Selama di dalam perjalanan, ia merasa dirinya seperti terbang diawan....

kurang lebih setelah berlari selama sepertanak nasi lamanya di tengah batuan gunung yang curam akhirnya mereka berhenti.

Perlahan-lahan matanya dibuka tampaklah si pengemis kecil itu sudah meletakkan dirinya di dalam sebuah gua dan kini sedang memeriksa luka di atas badannya.

Selama hidup Leng Poo Sianci boleh dikata belum pernah bersentuhan dengan seorang lelakipun, saat ini dia mana mau membiarkan seorang pengemis cilik meraba raba seluruh badannya.

"Cepat kau pergi!"

Dengan cemas bentaknya.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!"

Tan Kia-beng mana tahu apa yang dipikirkan olehnya pada saat ini, ia tetap melanjutkan pemeriksaannya.

"Jarum Pek Cu Kiam Wu Yen Wie Ciam ini merupakan suatu senjata rahasia yang paling beracun, jikalau tidak dicabut keluar semua mana kau bisa sembuh?"

Serunya kembali.

"Tidak! jangan sentuh aku, aku tidak membutuhkan pengobatanmu, jika kau tidak mau pergi lagi, aku segera akan memaki dirimu!"

Pada saat ini Tan Kia-beng telah menemukan bahwa jarum Yen Wie Ciam yang bersarang di dalam badannya jauh lebih banyak dari pada Sak Ih tempo dulu.

Hanya saja pada saat ini ia tidak memiliki batu sembrani, ditambah pula obat pemunah pemberian si Rasul Selaksa Racun pun sudah habis digunakan, hal ini membuat alisnya dikerutkan semakin rapat.

"Kau jangan cemas dahulu"

Ujarnya kemudian.

"Biarlah aku membawa kau pergi mencari seorang kawanku, dia adalah seorang nenek moyangnya racun yang sangat terkenal di dalam kolong langit, perduli racun macam apapun ia pasti punya cara untuk menyembuhkan!"

Selesai berkata ia lantas berjongkok dan memeluk badannya kembali.

Walaupun dalam hati Leng Poo Siancipun mengerti bila ia bermaksud baik, tetapi karena ia tak tahu si pengemis kecil ini bukan lain adalah hasil penyaruan dari Tan Kia-beng, maka hatinya merasa sangat cemas.

"Eeei.... kau ini benar manusia yang tidak tahu diri"

Teriaknya sambil meronta-ronta.

"Antara lelaki dan perempuan ada batas-batasnya, siapa yang membutuhkan bantuanmu? ayoh cepat pergi dari sini."

Mendengar perkataan itu Tan Kia-beng jadi lupa atas penyaruannya, ia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa.... haa.... bagus, bagus sekali, memang antara lelaki dan perempuan ada batas-batasnya, anggap saja aku Tan Kia-beng terlalu banyak mencampuri urusan orang lain!"

Selesai berkata ia lantas meloncat bangun dan berlalu dari sana. Sebaliknya Leng Poo Sianci jadi sangat terperanjat.

"Kau adalah Tan...."

Saking cemasnya ia jadi jatuh tak sadarkan diri.

Dengan gemas dan mendongkol Tan Kia-beng berkelebat keluar dari gua, ia bermaksud untuk mencari si Rasul Selaksa Racun untuk bantu mengobati gadis tersebut.

Siapa tahu sewaktu kakinya baru saja melayang turun ke atas permukaan tanah, serentetan suara tertawa yang amat menyeramkan sudah berkumandang memecahkan kesunyian.

"Heee.... heee.... heee.... aku mengira kau bisa terbang ke atas langit, kiranya kau bangsat cilik sedang bersembunyi di tempat ini...."

Sreet!

Sreet!

tiga sosok bayangan hitam bagaikan anak panah yang terlepas dari busur sudah meluncur datang.

Orang yang pertama adalah Gien To Mo Lei, Gok Lun, kedua bukan lain mata tunggal mulut perut rambut kuning gigi sumbing "Touw Yen Lu"

Atau Si Bangau Mata Satu.

Dan terakhir Tolunpah silhama berjubah merah.

Melihat munculnya jago-jago kelas satu dari Isana Kelabang Emas, diam-diam Tan Kia-beng merasa amat terperanjat.

Bila cuma dia seorang saja yang ada disini sudah tentu pemuda kita tak bakal jeri.

tetapi kini di dalam gua masih ada Leng Poo Sianci yang terluka, urusan tidak akan segampang itu lagi.

Begitu Gien To Mo Lei melayang turun ke atas permukaan tanah, sambil menuding Tan Kia-beng segera serunya.

"Hey pengemis cilik, kau sudah menculik pergi gadis itu kemana?...."

"Heee....heee.... soal ini kau tak perlu tahu!"

Tan Kia-beng melirik sekejap ke arahnya kemudian buang muka.

Antara Tolunpah serta Leng Poo Sianci mempunyai ikatan dendam sedalam lautan karena terbunuhnya sang sute ditangan gadis tersebut, hanya dikarenakan pada waktu itu ia tak ada disana maka dia tidak munculkan dirinya pula.

Kini setelah mendengar gadis tersebut berhasil ditolong oleh sang pengemis cilik, badannya dengan cepat meloncat maju menghampiri Tan Kia-beng.

"Bangsat cilik!"

Bentaknya keras.

"Jikalau malam ini kau tidak serahkan perempuan lonte itu, Hud-ya mu segera akan cabut nyawa anjingmu"

"Ooouw begitu?"

Ejek Tan Kia-beng dengan nada menghina, air mukanya sama sekali tidak berubah.

"Kalau kau tidak percaya, cobalah kelihayanku ini!"

Tangannya yang besar segera menyambar ke arah dada lawan, di dalam dugaan hatinya cukup di dalam satu gebrak saja pengemis cilik ini pasti berhasil ditawan hidup hidup.

Siapa sangka sebelum telapak tangannya berhasil mengenai sasaran, bayangan tubuh tahu-tahu sudah berkelebat lewat diikuti menggulung datangnya satu pukulan maha dahsyat langsung menerjang ke arah lambungnya.

Dalam keadaan gugup ia tak berani menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras, badannya dengan cepat berputar lalu menyingkir lima langkah ke samping.

Ketika ia menoleh kembali, tampaklah sang pengemis cilik tersebut masih tetap berdiri di tempat semula seperti belum pernah terjadi sesuatu urusanpun.

Kedudukan Tolunpah di dalam Isana Kelabang Emas boleh dikata tidak dibawah Sam Biauw Ci Sin sekalian, kini dihadapan seorang pengemis cilik ternyata belum sampai lewat satu jurus dirinya sudah kena terdesak mundur berulang kali, wajahnya kontan terasa amat panas.

Ia membentak keras, badannya sekali lagi menubruk ke depan sambil mengirim pula satu pukulan gencar.

Pada waktu itulah tampak bayangan manusia berkelebat, mendadak Hu Siauw-cian sudah meluncurkan dirinya dari belakang tubuh Tan Kia-beng.

Di tengah berkebutnya bayangan biru ia sudah memapaki tubuh Tolunpah yang sedang menerjang ke depan.

Berhubung ia memakai pakaian dari Tan Kia-beng apalagi dibawah sorotan cahaya rembulan yang remeng-remeng di dalam anggapan Tolunpah ia sudah berjumpa dengan Tan Kia-beng sehingga Tak terasa lagi ia berdiri tertegun, Sedangkan Hu Siauw-cian sendiri sejak semula sudah berhasil memunahkan datangnya serangan gerakan itu kemudian mengirim pula satu hantaman dahsyat menggulung badannya.

Tan Kia-beng yang secara mendadak melihat Hu Siauw-cian muncul di tempat ini, hatinya rada bergerak.

Ia pernah berjanji agar gadis ini suka berdiam di kota Swan Jiau, sehingga memperoleh berita yang sesungguhnya dari Mo Tan-hong baru meninggalkan tempat itu.

Lalu mengapa pada saat ini ia bisa munculkan dirinya secara mendadak digunung Ui san?

Selagi pikirnya berputar Gien To Mo Lei sudah menerjang maju hingga berada dihadapannya.

"Bangsat cilik....! Kau bersiap-siap minum arak hukuman?"

Teriaknya sambil tertawa seram Dalam hati dasarnya Tan Kia-beng sudah pernah berkata hendak membinasakan dirinya dengan tangan sendiri.

Kini ia sedang menyatakan sebagai seorang pengemis, karena tidak ingin terbongkar rahasianya pada saat ini maka dengan sekuat tenaga pemuda tersebut berusaha untuk bersabar.

Gien To Mo Lei yang melihat dia tidak memberikan jawaban, sang badan kembali mendesak maju dua langkah ke depan, dengan wajah diliputi napsu hawa membunuh bentaknya kembali.

"Kau masih juga tidak mau mengaku terus terang? Apakah hendak menanti sampai siauw ya mu turun tangan sendiri?"

Tan Kia-beng tertawa dingin, ia tetap tak menjawab. Pada saat itulah mendadak dari belakang punggung Tan Kia-beng kembali muncul seorang lengcu berdandan sastrawan yang lemah lembut.

"Bajingan anjing!"

Makinya sambil menuding Gien To Mo Lei.

"Kau tidak usah pentang bacot cari nama di tempat ini. Malam ini merupakan saat kematianmu!"

Serentetan cahaya tajam berkelebat lewat dan langsung membabat serta menggulung ke arahnya, hawa pedang berdesir, dahsyatnya luar biasa.

Dalam keadaan gugup Gien To Mo Lei tak sempat mencabut goloknya lagi, badannya berturut turut mundur sejauh puluhan kaki ke belakang setelah itu baru berhasil meloloskan goloknya dari sarung.

Kedatangan orang ini sangat mendadak, sampai Tan Kia-beng sendiripun dibuat tertegun, pikirnya dalam hati.

"Siapakah orang ini? Mengapa selamanya belum pernah aku menemui dirinya?"

Sewaktu melihat jurus serangan serta langkah kakinya iapun merasa seperti dikenal hanya, sudah lupa pernah bertemu dimana....

Karena selama ini hatinya selalu menguatirkan keselamatan Leng Poo Sianci, ia tak ada niat untuk berpikir kembali, dalam hatinya lantas mengambil keputusan untuk gebah pergi dulu orang-orang Isana Kelabang Emas.

Sinar matanya pelan-pelan berputar, sewaktu dilihatnya kecuali Gien To Mo Lei serta Tolunpah, kini tinggal si Bangau Mata Satu yang belum turun tangan, kembali pikirnya dalam hati.

"Luka yang diderita nona Cha, tak bisa diundur lagi, kini Hu Siauw-cian pun bisa pergi melindungi dirinya, biarlah aku pergi mencari jejak Si Rasul Selaksa Racun!"

Berpikir akan hal ini, badannya dengan cepat menerjang maju kehadapan si Bangau Bermata Satu, bentaknya.

"Jika kau tidak pergi juga dari sini, siauw-ya mu tak akan bersungkan-sungkan lagi."

Sejak semula si bangau bermata satu memangnya tidak pandang sebelah matapun terhadap si pengemis cilik ini, oleh sebab itu setelah Gien To Mo Lei sekalian turun tangan ia sama sekali tidak melirik sekejap pun terhadap pengemis itu.

Kini melihat sang pengemis cilik ternyata menantang dirinya untuk diajak bergebrak, tak terasa lagi ia mendongakkan kepalanya tertawa aneh.

"sebetulnya loohu tiada maksud untuk bergebrak melawan kalian manusia-manusia dari angkatan muda, tetapi kalau memang kau bermaksud mencari mati, akupun tidak akan sungkan sungkan lagi. Hanya saja kau jangan salahkan kalau loohu bertindak terlalu ganas dan menggunakan kedudukan angkatan tua untuk menganiaya angkatan yang lebih baik"

Tan Kia-beng yang melihat sikapnya amat sombong dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap dirinya, diam-diam dalam hati merasa kegelian.

Sepasang telapak tangannya diam-diam mulai disaluri tenaga dalam, tapi selagi ia siap-siap hendak melancarkan serangan mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan nyaring yang memekikkan telinga, suara suitan itu tinggi melengking bagaikan pekikan burung hong....

Mendengar suara suitan tersebut air muka si bangau bermata satu segera berubah hebat bentaknya keras.

"Untuk sementara kita tinggalkan urusan disini, kita bubar!"

Selesai berkata badannya dengan cepat meloncat ke tengah udara kemudian dengan gerakan yang cepat laksana sambaran kilat berkelebat menuju ke arah berasalnya suara tersebut.

Gien To Mo Lei serta Tolunpah pun cepat menarik kembali serangannya kemudian melayang pergi dari sana.

"Eeei.... sebetulnya bangsat bangsat ini sedang mainkan pemainan setan apa?"

Seru Hu Siauw-cian sambil mencekal golok lengkungnya dan berdiri tertegun.

Tan Kia-beng menjawab, sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah sang sastrawan yang datang terakhir itu.

Setelah lewat sejenak kemudian ia baru menyahut.

"Kemungkinan sekali di tempat lain sudah terjadi suatu peristiwa yang penting!"

Melihat sikap sang pemuda kebengongan Hu Siauw-cian tak bisa menahan gelinya lagi, ia tertawa cekikikan.

"Eeei.... kau lagi melongo apaan?"

Godanya "Mari aku kenalkan, saudara ini adalah Ih Jien heng yang sudah lama kau kagumi"

"Tapi.... aku sama sekali tidak kenal dengan orang ini!"

Diam-diam pikir Tan Kia-beng keheranan. Tetapi diluaran ia tidak berkata demikian, sambil tersenyum ia lantas maju dua langkah ke depan.

"Aaah.... kiranya Ih heng, selamat bertemu, selamat bertemu,"

Serunya sembari menjura.

Sang sastrawan tersebut dengan halus mengucapkan pula beberapa patah kata merendah, tetapi selama ini tidak mau juga berjalan mendekati ke arahnya.

Tetapi Tan Kia-beng tidak memperhatikan persoalan tersebut, kepada Hu Siauw-cian kembali ujarnya.

"Kenapa kaupun ikut datang kemari? jikalau peristiwa ini sampai diketahui orang-orang pihak Isana Kelabang Emas, mungkin mereka akan mengecap aku tidak bisa pegang janji"

"Hii.... hiii.... hiii.... sekarang buat apa kita takuti lagi diri mereka?...."

Seru Hu Siauw-cian sambil tertawa cekikikan "Aku tanggung Mo Tan-hong sibudak busuk itu tak bakal mati"

Mendadak si sastrawan tersebut melototi sekejap ke arahnya dengan gemas, hal ini membuat Hu Siauw-cian tertawa semakin keras. Melihat sikap dari dara tersebut Tan Kia-beng mengerutkan alisnya.

"Apakah kau sudah memperoleh beritanya yang sebenarnya?"

Tanyanya cemas.

"Sudah tentu! kalau tidak bagaimana mungkin aku bisa sampai disini?' Selagi Tan Kia-beng ingin mendesak lebih lanjut, mendadak terasa ujung baju tersampok angin disusul munculnya si Rasul Selaksa Racun dengan wajah keren.

"Toako! Pada saat ini situasi dimedan sekitar sini amat tegang dan kritis, bagaimana kau masih punya kegembiraan untuk bergurau disini?"

Tegurnya. Tan Kia-beng jadi terperanjat, mendadak ia teringat kembali tentang Leng Poo Sianci.

"Jie ko! kedatanganmu sangat kebetulan sekali"

Buru-buru serunya "Aku punya seorang kawan yang sudah terkena racun jarum Pek Cu Kiem Wu Yeng Wie Ciam, keadaannya sangat berbahaya sekali, tolong kau suka turun tangan mencabut keluar jarum tersebut"

Si Rasul Selaksa Racun mengangguk, demikianlah mereka berempat lantas besama-sama jalan masuk ke dalam gua batu.

Ketika itu racun yang mengeram di dalam tubuh Leng Poo Sianci sudah mulai bekerja.

nafasnya senin kemis tinggal menunggu saat putusnya saja.

Melihat keadaannya itu Tan Kia-beng semakin cemar lagi, dengan cepat ia mencengkeram lengan saudaranya dan ditarik semakin cepat.

"Jie ko! apakah dia masih bisa tertolong?"

Tanyanya cepat. Perlahan-lahan si Pek-tok Cuncu mencekal urat nadinya, setelah memeriksa sejenak ia tertawa panjang.

"Haa.... haa.... haa.... kalau cuma sedikit racun yang tiada harganya inipun aku tak bisa ditolong, lalu buat apa aku menggunakan gelar Pek-tok Cuncu?"

Katanya.

Walaupun dimulut ia berkata demikian tetapi tidak juga turun tangan untuk memeriksa lukanya.

Tan Kia-beng tahu hal ini dikarenakan pihak lawan adalah seorang gadis, karena itu dengan cemas ia lantas menoleh ke arah Hu Siauw-cian.

"Siauw Cian! coba kau wakili dia periksa luka-lukanya"

Dengan cepat si Pek Ih Loo Sat melirik sekejap ke arah si sastrawan tersebut, setelah itu ia tertawa cekikikan.

"Boleh sih boleh, cuma kau hendak memberi aku apa sebagai tanda terima kasihmu?"

Tan Kia-beng meringis kuda, dan cuma bisa melototkan matanya saja.

Dari dalam sakunya si Rasul Selaksa Racun lantas mengambil keluar sebuah besi semberani yang langsung diserahkan ketangan Hu Siauw-cian "Kau gunakanlah benda ini untuk menekan di atas mulut luka dan keluarkan jarum-jarum beracun itu setelah itu baru berikan obat pemunah ini kepadanya, dengan cepat ia akan tersadar kembali."

Hu Siauw-cian setelah menerima batu semberani dan obat pemunah itu lantas berjongkok dan membukakan pakaiannya untuk periksa luka luka dibadan.

Sedang Tan Kia-beng sekalianpun merasa tidak enak untuk tetap berada di dalam gua mereka bersama-sama mengundurkan diri dan menanti diluar.

Obat pemunah dari Pek-tok Cuncu benar-benar luar biasa manjurnya, tidak lama kemudian Leng Poo Sianci sudah tersadar kembali.

Cuma Hu Siauw-cian benar-benar sangat nakal dan jail, terang terangan ia tahu kalau gadis tersebut sudah sadar sengaja ia tidak bantu dirinya untuk mengenakan pakaiannya kembali, bahkan dengan ganas dan buasnya memeluk badannya kencang kencang.

Leng Poo Sianci yang jatuh tidak sadarkan diri, mendadak mencium bau yang pedas lagi kau meransang hidungnya dengan cepat membuat dia sadar kembali dari pingsannya.

Ketika membuka matanya kembali di dalam pelukan seorang pemuda berbaju biru, apalagi pakaian tersebut kepunyaan Tan Kia-beng.

Ditambah pula suasana di dalam gua sangat gelap, ia mengira orang yang sedang memeluk dirinya bukan lain adalah Tan Kia-beng yang pemuda idaman.

"Aaach.... kau?"

Teriaknya terperanjat. Dengan cepat ia berusaha untuk meronta dan meronjat bangun.

"Ehmmm....!"

Pihak lawan hanya mengia perlahan, sepasang tangannya memeluk semakin kencang lagi.

"Eeei.... cepat lepas tangan!"

Tak terasa lagi Leng Poo Sianci berteriak cemas.

Tetapi, pihak lawan bukannya menurut dan lepas tangan sebaliknya malah dengan ganas menciumi pipi gadis tersebut dengan serangan serangan gencar, hal ini membuat Leng Poo Sianci semakin malu dan cemas.

"Kau mau berbuat apa?"

Teriaknya sambil meronta.

"Kenapa tidak mau lepas tangan? jika tidak pergi lagi aku segera akan jadi gusar!"

Tetapi dengan rontaannya ini bukan saja tidak berhasil melepaskan diri dari pelukan pihak lawan bahkan gadis tersebut menemukan pula kalau pakaiannya sebelah atas sudah terbuka sama sekali sehingga teteknya kelihatan keluar.

Sepasang tangan dari orang itu dengan tiada sungkan sungkannya meraba kesana meraba kemari bahkan sangat bernafsu sekali Walaupun gadis ini menaruh hati terhadap Tan Kia-beng, tetapi diperlakukan ini hatinya jadi jengkel benar, air mukanya berubah jadi merah padam, dengan sekuat tenaga ia meronta.

"Jika kau tidak lepas tangan lagi, aku segera akan mulai memaki!"

Ancamnya.

Hu Siauw-cian setelah puas menggoda dirinya, ia tidak berani meneruskan permainan ini kelewat batas, mendadak sambil tertawa nyaring melayang keluar dari dalam gua.

Melihat dara tersebut melayang keluar, dengan hati cemas Tan Kia-beng segera maju menyongsong.

"Bagaimana keadaannya?"

Tanyanya cepat "Ia sudah sadar kau boleh berlega hati"

Sahut Siauw Cian sambil menahan rasa gelinya.

Ketika itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, Leng Poo Sian Ci pun sudah melayang keluar dari dalam gua Tan Kia-beng yang memeriksa raut muka segera menemukan kecuali ia masih rada lelah kesehatannya betul-betul sudah pulih kembali seperti sedia kala.

Tan terasa lagi dalam hatinya mulai memuji kelihayan dari si Rasul Selaksa Racun yang merupakan nenek moyangnya rasul.

Leng Poo Sianci yang sudah berada diluar gua, dengan meminjam sorotan cahaya rembulan ia memandang sekejap ke atas wajah Hu Siauw-cian, tetapi sebentar kemudian seperti baru saja dipagut ular ia menjerit melengking.

"Aaach! kiranya kau bukan dia!"

Pedang pendeknya dengan cepat dicabut keluar kemudian badannya menubruk ke depan sambil mengirim serangan-serangan gencar.

Tan Kia-beng tidak mengetahui diantara mereka sudah terjadi peristiwa apa, buru-buru ia maju melerai.

"Tahan!"

Bentaknya keras.

"Orang lain bermaksud baik tolong kau dan mengobati lukanya, kenapa kau malah mengajak orang lain berkelagi?...."

Leng Poo Sianci yang melihat si pengemis cilik itupun ikut-ikutan, hawa amarah di dalam badannya semakin memuncak.

"Urusan ini kau tidak usah ikut campur"

Jeritnya keras.

"Aku hendak bunuh bangsat cabul ini, dia sudah menghina diriku!"

"Aaah.... nonamu yang manis mengapa kau begitu tidak tahu diri?...."

Goda Hu Siauw-cian sambil berkelit kesamping.

"Barusan saja kita bermesrah mesrahan, kenapa sekarang kau malah mencabut pedang hendak membunuh aku!"

Leng Poo Sianci semakin gusar lagi, pedangnya laksana pelangi membuat tajam ke depan legaknya mirip macan betina yang terluka.

Kedatangan dari si Rasul Selaksa Racun untuk mencari Tan Kia-beng sebetulnya ada urusan penting yang hendak disampaikan kepadanya, kini melihat perempuan tersebut menyerang dengan begitu tidak tahu diri urusan pentingpun jadi lupa.

Dengan perasaan kurang senang mendadak badannya menerjang ke depan memukul getar pedang dari Leng Poo Sianci.

"Ke dalam situasi pada saat ini sedang dalam bahaya, buat apa kalian bergurau terus tiada hentinya?"

Bentaknya berat.

"Orang ini adalah Pek Ih Loo Sat, Nona Hu. ia bantu kau mengobati luka sudah merupakan suatu pekerjaan yang mulia, apalagi diantara kalianpun sama-sama perempuan, apanya yang perlu dijengkelkan lagi?"

Pek-tok Cuncu dengan kedudukannya sebagai seorang cianpwee, setelah turun tangan membereskan urusan ini ternyata benar-benar mendatangkan hasil yang manjur.

Leng Poo Sianci setelah mendengar bentakan ini, pikiranpun jadi tersadar kembali.

Cuma saja, walaupun pihak lawan adalah seorang gadis tetapi kata-kata "Pek Ih Loo Sat"

Terlalu menusuk telinganya, ia teringat kembali dengan kata-kata dari si wanita cantik dari balik kabut yang pernah mengungkap soal iblis wanita serta gadis keraton.

Kini ia menyaru sebagai Tan Kia-beng, tak usah dipikir lagi tentu inilah orangnya yang dimaksud.

Tak terasa lagi gadis tersebut tertawa dingin tiada hentinya.

"Heee.... heee.... Pek Ih Loo Sat, sekarang aku sudah kenali dirimu, lain kali aku akan bereskan hutang diantara kita secara perlahan-lahan"

Serunya gusar.

Selesai berkata ia lantas putar badan berlalu.

Tan Kia-beng yang melihat Leng Poo Sianci baru saja sembuh dari lukanya kini sudah berlalu seorang diri, dalam hati merasa amat cemas, ia takut gadis tersebut menemui hal-hal yang diluar dugaan.

"Nona Cha.... nona Cha.... kau jangan pergi"

Teriaknya sambil lari mengejar.

Tetapi bayangan tubuhnya hanya di dalam sekejap mata sudah lenyap dari pandangan Tak terasa lagi Tan Kia-beng jadi cemas, dengan nada mengomel tegurnya kemudian pada Pek Ih Loo Sat.

"Lukanya baru saja sembuh, kenapa kau goda dia sampai jadi begitu?"

"Heee.... heee.... heee.... siapakah yang kenal orang itu, aku sudah wakili kau untuk mengobati dirinya, bukannya mendapat ucapan terima kasih sekarang malah mendapat teguran.... Hmmm! kau benar-benar tidak tahu diri"

Teriak Hu Siauw-cian sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Tan Kia-beng yang kena disindir, saking mendongkolnya tak dapat mengucapkan kata-kata lagi.

Jika dibicarakan walaupun Hu Siauw-cian adalah keponakan muridnya, padahal yang benar hubungan mereka cuma sebagai kawan belaka, apalagi secara resmi Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong pernah perkenalkan putrinya itu kepadanya, oleh karena itu ia tidak dapat menggunakan kedudukannya sebagai seorang Susiok untuk menegur dirinya.

Karena jengkel ia tidak menggubris gadis itu lagi, kepada Pek-tok Cuncu tanyanya.

"Jie-ko, bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada disini?"

"Sam ko sudah kabarkan soal ini kepadaku!"

Ia merandek sejenak, kemudian sambil menghela napas panjang tambahnya lebih lanjut "

"Selamanya aku dengan si pencuri tua tak pernah mencampuri urusan dunia persilatan, tetapi kali ini demi urusan Toako, kami berdua benar-benar sudah mengalami nasib yang amat mengenaskan!"

Kiranya sejak Su Hay Sin Tou si pencuri sakti bersama-sama dengan Pek-tok Cuncu si Rasul Selaksa Racun memasuki daerah pegunungan Ui-san, mereka telah menemukan keadaan disekitar sana rada tidak beres.

Ternyata di daerah pegunungan Ui-san selama beberapa hari ini telah muncul banyak jago-jago lihay yang jarang ditemui di dalam Bulim, beberapa kali mereka berdua secara diam-diam pernah mencoba bergebrak melawan orang-orang tersebut, terasalah bahwa kepandaian mereka rata-rata tidak lemah.

Dalam batin, kedua orang jago tua ini lantas menduga kalau mereka tentu orang-orang dari Isana Kelabang Emas, tapi apakah maksud tujuan mereka datang kemari?

Karenanya, mereka berdua lantas membagi kerja dengan Su Hay Sin Tou bertanggung jawab untuk mengadakan hubungan dengan lingkungan luar sedangkan Pek-tok Cuncu melakukan pemeriksaan dilingkungan dalam.

Dengan mengandalkan kepandaian silat mereka berdua yang lihay serta pengalaman dan kecerdikan akhirnya setelah bersusay payah mereka berhasil mendapatkan kesimpulan dari seluruh rencana pihak Isana Kelabang Emas kali ini.

Mereka menemukan orang-orang Isana Kelabang Emas ternyata sudah mengatur suatu jebakan yang sangat mengerikan di daerah pegunungan Ui-san, dan boleh disebut pula suatu rencana pembunuhan secara besar-besaran yang mendekati kekalapan.

Tan Kia-beng setelah selesai mendengar perkataan tersebut, mendadak bertanya kembali.

"Apakah kalian berhasil menemukan tempat mereka untuk bermarkas?"

Setelah termenugn sejenak, akhirnya Pek-tok Cuncu menggeleng.

"Jikalah dibicarakan sungguh amat memalukan, luar gunung Ui san semuanya ada ratusan li ditambah pula kepandaian silat mereka rata-rata tidak lemah, gerak geriknya cepat bagaikan angin, hingga saat ini Loohu belum berhasil menemukan markas mereka!"

"Jie-ko tak usah merasa murung karena persoalan ini"

Tan Kia-beng mengangguk perlahan.

"Kini jago-jago lihay dari tujuh partai besar sudah pada berdatangan, apalagi Yen Yen Thaysu, Thian Liong Tootiang serta Liok lim Sin Ci sekalipun sudah turun gunung, aku pikir mereka tentu sudah memiliki suatu siasat yang baik."

"Haaa.... haaa.... haaa.... sekelompok manusia-manusia bernama kosong, sekalipun pada berdatangan semua juga tak bakal berhasil memperoleh suatu kesuksesan"

Mendadak Pek-tok Cuncu tertawa ter-bahak-bahak "Kemungkinan sakali pada beberapa waktu ini pihak Isana Kelabang Emas sengaja melakukan pembunuhan secara besar besaran dedaerah pegunungan Ui san tidak lebih ingin memancing kedatangan mereka semua kemudian sekali turun tangan menghabiskan mereka dari muka bumi"

Berbicara sampai disitu mendadak ia menarik kembali suara gelak tertawanya, dengan wajah serius tambahnya lebih lanjut.

"Di dalam pertemuan puncak para jago di gunung Ui san kali ini aku rasa tidak lebih merupakan suatu pertarungan antara golongan lurus melawan golongan sesat, Menurut pandangan Loohu kunci dari seluruh persoalan ini sudah ada ditangan Toako seorang kita tak boleh tidak harus selalu waspada!"

"Aaah.... Jie ko terlalu menyanjung diriku. jago-jago lihay yang ada didaratan Tionggoan tersebar luas dimana mana. Tidak mungkin aku seorang angkatan muda yang tak bernama digunakan tenaganya?"

"Tapi kenyataannya memang demikian mau percaya atau tidak itu terserah padamu sendiri. Apalagi masih ada banyak orang yang kedatangannya justru bermaksud mencari gara gara dengan dirimu, semisalnya saja Si Penjagal Selaksa Li, Hu Hong, Su Hay Sin Tou serta Loohu, jikalau bukan karena ada hubungan dengan dirimu, siapa yang punya semangat untuk banyak ikut campur dalam urusan orang lain?"

Diam-diam Tan Kia-beng mengakui bahwa apa yang diucapkan memang merupakan suatu kenyataan.

"Jie ko!"

Serunya kemudian "Jadi maksudmu mencari aku hanya ingin membicarakan persoalan ini saja?"

"Heeei.... terus terang saja aku beritahu Jie ko mu sudah jatuh kecundang ditangan orang lain!"

"Aaa.... siapa yang punya kepandaian begitu hebat sehingga memaksa Jie-ko jatuh kecundang?"

"Pada beberapa waktu ini mendadak di daerah sekitar gunung Ui san telah kedatangan seorang yang sangat misterius, gerak-geriknya cepat laksana angin, kepandaian silat jauh lebih lihay dari jago-jago Isana Kelabang Emas. Beberapa kali Loohu yang mengadakan pengejaran berhasil dibuat kalang kabut sendiri bahkan ada satu kali hampir hampir saja menderita luka dibawah serangan."

"Apakah kau berhasil melihat jelas wajahnya?"

"Heeei.... bila dibicarakan sungguh memalukan sekali, ternyata berulang kali Loohu tak berhasil melihat wajahnya, hanya saja orang itu berdandan seperti seorang sastrawan usianya masih sangat muda".

"Ooouw.... pasti dia!"

Mendadak Tan Kia-beng berteriak tertahan. Setelah diungkap oleh Tan Kia-beng, Pek-tok Cuncu pun jadi sadar kembali.

"Sedikitpun tidak salah, kecuali dia tak orang lain lagi". Perkataan yang hampir lebih mirip dengan teka-teki ini kontan saja membuat Pek Ih Loo Sat cemas bukan alang kepalang, sambil menarik tangan Tan Kia-beng buru-buru tanyanya.

"Kalian sudah berbicara selama setengah harian lamanya, sebetulnya siapakah yang kalian maksud? Tan Kia-beng lantas menceritakan kisahnya sewaktu bertemu dengan Kiem Soat Lang di kota Swan Jan dimana hampir hampir saja ia menemui ajal karena kena dibokong. Selesai mendengarkan kisah tersebut Hu Siauw-cian mencibirkan bibirnya yang kecil mungil.

"Huu aku tidak prcaya segala macam, bila ada kesempatan aku tentu akan berusaha untuk bergebrak melawan dirinya."

Pek-tok Cuncu melirik sekejap ke arahnya, setelah itu kepada Tan Kia-beng katanya.

"Orang ini kalau bukan Majikan Isana Kelabang Emas, sudah tentu orang penting dari Kelabang Emas. kalau tidak mana mungkin dia terus menerus sengaja mencari gara-gara dengan diriku?"

"Soal ini sukar untuk dibicarakan"

Perlahan-lahan pemuda itu menggeleng setelah termenung sebentar.

"Beruntung saja jarak antara ini hari dengan saat pertemuan puncak tinggal tiga hari lagi, sampai waktunya aku percaya urusan ini pasti akan jadi jelas dengan sendirinya".

"Ehmmm.... perduli bagaimanapun kita harus bertindak hati-hati"

Pek-tok Cuncu pun mengangguk.

"Aku masih ada janji dengan si pencuri tua, kita bertemu lagi besok hari!"

Selesai berkata badannya dengan cepat meloncat ke tengah udara dan berlalu dari sana.

Ketika itulah ia baru punya waktu untuk menoleh dan bercakap-cakap dengan Hu Siauw-cian, tetapi Pek Ih Loo Sat ini benar-benar terlalu aneh, ia malah menarik tangan sastrawan tersebut.

"Ih-heng, mari kitapun harus pergi!"

Setelah memberi tangan kepada Tan Kia-beng mereka berdua sama-sama berkelebat lenyap di tengah kegelapan.

Tak terasa lagi Tan Kia-beng jadi tertegun, terhadap Hu Siauw-cian ia sudah mempunyai suatu gambaran tersendiri.

Selama ini ia merasa gadis tersebut ada seorang perempuan yang paling aneh, rasa cintanya yang selama ini terkandung didasar hati perempuan itu belum pernah digubris sama sekali.

Tetapi kini setelah melihat dia berlalu sambil bergandengan tangan, hatinya baru merasa kecewa, ia merasa dirinya seperti baru saja kehilangan sebuah benda yang paling berharga.

Seorang diri ia berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, mendadak ia tersadar kembali.

"Eeei.... aku sedang berbuat apa? pikirnya. Ketika itulah, baru saja badannya berputar hendak berlalu mendadak suara ujung baju tersampok angin bergema datang. saat ini tenaga lweekangnya sudah mencapai pada puncak kesempurnaan, terhadap suara berisik dari rumput serta ranting pada jarak sepuluh kaki dari dirinya berdiri ia dapat mendengar dengan jelas sekali. Dengan cepat badannya berjongkok sambil mempersiapkan diri, tampak bayangan hitam tersebut dengan kecepatan laksana sambaran kilat meluncur ke arah mana letaknya markas besar Liok-lim Sin Ci. Hal ini seketika itu juga membuat Tan Kia-beng rada begerak, dengan cepat ia pun mengikuti dari arah belakang dengan kecepatan bagaikan gulungan asap hijau. Ilmu meringankan tubuhnya pada saat ini sudah menjagoi Bulim, tetapi untuk menyandaki orang itu masih terpaut jauh, diam-diam hatinya terperanjat juga.

"Siapa orang itu?"

Pikirnya dalam hati.

"Keliahtannya kepandaian silat yang ia miliki jauh lebih tinggi satu tingkat dari diriku!"

Suatu keinginan untuk merebut kemenangan mulai berkelebat di dalam benaknya, hawa murni buru-buru ditarik panjang panjang dari pusar menuju keseluruh badan, kecepatan larinyapun semakin bertambah.

Laksana sebatang anak panah yang terlepas dari busur ia berkelebat ke depan mengejar orang tersebut.

Agaknya orang yang berada di depanpun merasakan sesuatu, mendadak ia menoleh ke belakang sehingga kelihatan orang itu agaknya seorang sastrawan berwajah putih mulus.

Sangat beruntung ketika itu Tan Kia-beng sedang berada di tempat kegelapan sehingga jejaknya tidak sampai diketahui oleh pihak lawan.

Ketika orang itu tidak menemukan sesuatu dibelakang tubuhnya, kembali melanjutkan perjalanannya ke depan.

Demikianlah kedua orang itu yang satu lari yang lain mengejar hanya di dalam sekejap mata sudah tiba di depan kuil yang sangat misterius itu.

Agaknya terhadap keadaan di sekeliling kuil orang itu sudah merasa sangat hapal, sedikitpun tanpa ragu-ragu ia segera berkelebat masuk melewati tembok pekarangan.

Karena terhadap orang-orang yang ada di dalam kuil rata-rata Tan Kia-beng sudah mengenal semua maka ia pun tanpa ragu ragu lagi ikut melayang masuk ke dalam.

Siapa sangka, di dalam sekejap mata itulah bayangan tubuh orang tersebut sudah lenyap tak berbekas.

Sang pemuda yang terang-terangan melihat orang itu berkelebat masuk ke dalam kuil sudah tentu tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.

Karena menduga mungkin orang itu sudah masuk ke dalam ruang belakang, maka iapun berkelebat ke arah ruangan belakang.

Tetapi suasana disana sunyi senyap tak kelihatan seorang manusiapun, hanya saja dari balik sebuah ruangan kecil muncul sorotan sinar lampu.

"Apa mungkin ia sudah masuk keruangan tersebut?"

Diam-diam pikirnya dalam hati.

Dengan langkah yang sangat berhati-hati ia lantas berjalan mendekati ruangan tersebut, siapa tahu belum sampai melangkah dua tindak mendadak pintu ruangan terbuka disusul munculnya Yen Yen Thaysu dengan langkah lebar.

"Siapa yang sudah menyelundup masuk ke dalam ruangan?"

Bentaknya dengan nada berat. Karena takut terjadi kesalah pahaman, buru-buru Tan Kia-beng menyahut dengan suara yang keras.

"Cayhe Tan Kia-beng!"

Dari dalam ruangan segera menyusul datang Thian Liong Tootiang, mendadak toosu tua itu memandang ke atas pintu ruangan dengan perasaan terperanjat.

"Iiih?...."

Tak terasa lagi ia berseru tertahan.

Mengikuti sarah sinar matanya Tan Kia-beng serta Yen Yen Thaysu itu pendeta tua dari Siauw-lim-pay segera mengalihkan sinar matanya pula kesana.

Tampaklah di depan pintu telah tertancap sebuah leng-pay yang terbuat dari emas murni, dibawah tanda lencana emas itu terikat secarik kertas surat.

"Aaakh.... tanda leng-pay emas 'Kiem W* Leng'!"

Jerit Liok-lim Sin-ci dengan sangat terperanjat. Dengan cepat diambilnya kertas surat tersebut kemudian dibaca dengan suara yang lantang.

"Diperuntukkan Yen Yen, Thian Liong serta Liok Lim Sin Ci, Kami sudah mengetahui dengan siasat serta rencana-rencana yang kalian susun, mengingat rencana tersebut belum sampai dilaksanakan maka untuk kali ini kami akan ampuni kesalahan kalian. Aku perintahkan ini hari juga segera meninggalkan daerah pegunungan Ui San, jika perintah ini dibangkang maka suatu bencana kematian segera akan menjelang datang. Jangan coba-coba mencari bibit penyakit buat diri sendiri. Tertanda. Majikan Isana Kelabang Emas. Selesai mendengar isi surat itu, mendadak dengan sepasang mata yang memancarkan cahaya tajam Yen Yen Thaysu menengok ke arah Tan Kia-beng.

"Siauw sicu! kapan kau tiba disini?"

"Baru saja belum lama!"

"Apakah kau membawa teman?"

"Kalau teman sih tidak ada, cuma aku sedang mengejar seseorang"

"Apakah kau dapat melihat jelas bagaimanakah raut muka orang tersebut?...."

"Gerak gerik orang ini sangat cepat bagaikan tiupan angin, di tengah kegelapan sukar untuk diteliti jelas bagaimana raut mukanya."

"Lalu dimanakah orang itu?"

"Sewaktu aku mengejar sampai ke dalam kuil mendadak bayangan tersebut lenyap tak berbekas"

Yen Yen Thaysu segera tertawa terbahak-bahak.

"Aku kira tak pernah terjadi peristiwa ini bukan? rencana serta siasat kami sudah diatur sangat rapat dan rahasia, bagaimana mungkin pihak Isana Kelabang Emas bisa tahu? Aku rasa di dalam peristiwa ini sicu tak bisa meloloskan diri dari tuduhan"

Apakah Thaysu menaruh curiga kalau cayhe sudah membocorkan rahasia ini?...."

"Hmm!.... Bukan saja patut dicurigai, aku rasa asal usul dari Leng pay emas inipun kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan dirimu."

Air muka Tan Kia-beng kontan saja berubah hebat.

"Thaysu adalah seorang beribadah yang mengutamakan welas kasih serta kejujuran, Kenapa sekarang bisa mengucapkan kata-kata semacam ini?"

Liok lim Sin Ci yang ada disamping karena takut diantara mereka berdua semakin berbicara semakin panas dan tegang, buru-buru maju melerai.

"Thaysu! Kau jangan menuduh sauw hiap ini sampai begitu jauh, loohu percaya watak serta kelakuan dari Tan Sauw hiap!"

Serunya.

"Heee.... heee.... heee.... heee....heee.... Tahu orangnya. Tahu wajahnya tapi siapa yang tahu hatinya? apakah kau sudah melupakan peristiwa yang telah terjadi diperkampungan Thay Gak Cung?"

Teriak Yen-Yen Thaysu sambil tertawa dingin.

"Orang ini berasal dari perguruan Teh-leng-bun, kita harus selalu waspada dan berjaga-jaga. Apalagi kepergiannya ke gurun pasir, bagaimana mungkin dia seorang diri bisa lolos kembali dalam keadaan selamat? persoalan ini sudah cukup memberikan bibit curiga buat kita semua. Tidak mungkin ia bisa lolos dalam keadaan sehat tenteram dari kepungan jagojago Isana Kelabang Emas yang banyak laksana mega."

Tan Kia-beng yang mendengar perkataan ini dalam hati merasa sangat gusar, tetapi dia tidak ingin memberikan jawabannya.

Thian Liong Tootiang yang mendengar perkataan serta dugaan dari Yen-Yen Thaysu ini dalam hatipun merasa kurang senang, sengaja kepada Tan Kia-beng tanyanya.

"Tan Sauw hiap, bagaimana jawabanmu terhadap persoalan ini?"

Tan Kia-beng dongakkan kepalanya tertawa dingin, sepatah katapun tak dilontarkan keluar. Kembali Yen-Yen Thaysu mendengus dingin.

"Persoalan ini sudah sangat jelas sekali tertera, di dalam ruangan ini penuh tersebar jago-jago lihay, sungguh aneh sekali kalau tak seorangpun diantara mereka menemukan kalau di tempat ini sudah kedatangan seorang asing? Sewaktu Loolap mendengar suara yang berisik diluar pintu, segera melayang keluar, dan dia pun baru saja meloncat naik ke atas wuwungan rumah. Karena bentakan dari loolap ia baru berhenti. Coba sekarang kalian pikir kalau bukan dia masih ada siapa lagi?"

Persoalan ini memang benar-benar merupakan suatu pertanyaan yang sulit dan tak mangkin terjawabkan, walaupun sebagian besar orang-orang yang ada di dalam ruangan tidak percaya kalau peristiwa ini hasil perbuatan Tan Kia-beng, tetapi Yen Yen Thaysu adalah seoarang Tiang-loo dari partai Siauw-lim-si, setelah dia kukuh dengan pendiriannya ini memaksa yang lain mau tak mau harus percaya.

Diantara mereka cuma Loo Hu Cu dari Go-bie pay saja yang mengerti jelas keadaan yang sebenarnya, ia pernah bersanding dengan Tan Kia-beng sama-sama melawan orang-orang Isana Kelabang Emas, ia mengerti bagaimana kelakuan Tan Kia-beng.

Setelah mendengar tuduhan yang dilaporkan oleh Yen Yen Thaysu, ia lantas tampilkan dirinya ke depan.

"Pinto berani menjamin kalau peristiwa ini bukan hasil karya Tan sicu. lebih baik kita sekalian rundingkan dulu persoalan yang sedang kita hadapi, dan jangan karena persoalan kecil lantas menggagalkan seluruh rencana yang besar"

"Heee.... heee.... heee.... jika musuh dalam selimut tidak dibasmi bagaimana mungkin kita bisa mencapai kemenangan?"

Kembali Yen Yen Thaysu tertawa dingin tiada hentinya.

"Di dalam persoalan ini kita harus selidiki dulu sampai jelas!"

Tan Kia-beng sama sekali tidak menduga kedatangannya di tempat itu sudah menemui banyak kerepotan, saking gusarnya ia tertawa panjang.

"Haa.... haa.... haaa.... maksud tujuan pihak Isana Kelabang Emas hendak membinasakan seluruh jago-jago Bulim yang dikirim setiap partai memang tak ada sangkut pautnya dengan aku orang she Tan. Hanya saja karena aku orang she Tan tidak ingin banyak orang tak berdosa yang kena dibunuhnya maka sengaja melakukan perjalanan ribuan li mendatangi gunung Ui-san ini untuk bantu kalian. Hmmm....! Terus terang saja aku katakan, jika aku orang she Tan betul-betul ada maksud jelek terhadap partai partai besar yang ada di dalam Bulim, buat apa harus meminjamkan kekuatan dari pihak Isana Kelabang Emas? Kalian jangan terlalu pandang rendah aku orang she Tan!"

Serentetan kata-kata ini diucapkan secara blak blakan bahkan bernadakan sombong.

Maksudnya yang lebih tegas lagi.

Jikalau aku punya bermaksud jelek terhadap kalian, cukup mengandalkan kepandaianku seorang diri sudah dapat menyelesaikan semua persoalan.

Yen Yen Thaysu sebagai seorang cianpwee dari partai Siauw lim, mempunyai watak yang keras dan terlalu kokoh pada pendirian sendiri, oleh sebab itulah mengapa ia tak dapat menjabat sebagai Ciang bunjin.

Kini selesai mendengar perkataan dari Tan Kia-beng, hawa gusar tak dapat dibendung lagi, dan langsung menerjang naik ke dalam benaknya, alis putihnya berkerut.

Setelah memuji keagungan Buddha serunya.

"Manusia sombong dan tak tahu diri, kau berani berbicara tidak sopan dihadapan para cianpwee yang sedemikian banyaknya? Jika tidak kuberi sedikit hajaran tentu kau anggap kami tak berani...."

Mendadak ujung jubahnya dikebut ke depan, segulung angin pukulan Bu Siang Sia Kang tanpa mengeluarkan sedikit suarapun laksana ambruknya gunung Thaysan menekan ke arah bawah.

Sifat orang tua ini benar-benar berangasan, sekali bicara segera turun tangan sedemikian beratnya.

Tan Kia-beng tertawa dingin tiada hentinya, diam-diam ia mulai mengerahkan tenaga murni Jie Khek Kun Yen Cin Khie nya siap-siap menerima datangnya serangan tersebut.

Badannya tetap berdiri tegak, bahkan terhadap datangnya angin serangan tersebut dia tidak perduli, melirik sekejap pun tidak.

Mendadak....

"Jangan!"

Suara teriakan keras segera datang. Diikuti segulung angin puklan yang lunak dengan cepat menggulung keluar menyambut datangnya angin pukulan "Bu Sian Sia Kang"

Tersebut.

Suara ledakan keras segera bergema memenuhi angkasa, tak kuasa lagi Yen Yen Thaysu terpukul mundur dengan badan sempoyongan....

Tampak ujung jubah berkibar tertiup angin orang itu pun kena tergetar mundur sebanyak setengah langkah ke belakang.

Setelah melayang turun ke atas tanah, semua orang baru dapat melihat kalau orang itu bukan lain adalah Thian Liong Tootiang.

Dengan wajah serius toosu tua itu goyangkan tangannya berulang kali terhadap Yen Yen Thaysu.

Untuk sementara waktu Thaysu jangan mengumbar hawa amarah dahulu."

Serunya cepat.

"Pinto percaya tanda perintah Kiem Wu Leng ini dikirim datang oleh orang-orang Isana Kelabang Emas sendiri. Tan Sauw hiap tidak lain secara ekebtulan hanya lewat di tempat ini saja, kita masih ada persoalan penting yang harus dirundingkan."

Yen Yen Thaysu yang melihat semua orang pada main buka mulur membelai Tan Kia-beng, dalam hatipun segera merasa kalau persoalan ini mungkin masih ada hal hal yang lebih mendalam.

Tetapi melihat sikap Tan Kia-beng yang begitu congkak dan dingin, dalam hati masih juga merasa gusar.

Tak terasa lagi ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Sekalipun bukan dia yang melakukan, tetapi terhadap angkatan muda yang demikian sombong loolap kepingin sekali memberi sedikit hajaran kepada dirinya."

"Hmm! yang sombong aku rasa bukan Toa ko ku tapi kau si Toa Hweesio sendiri....!"

Mendadak dari atas wuwungan rumah kedengaran seseorang menyambung dengan nada yang dingin. Sreet! seorang kakek tua dengan wajah yang dingin dan kaku sudah melayang turun kesisi tubuh Tan Kia-beng.

"Jika aku si ular tua itu adalah kau, tak akan kuperdulikan urusan tetek bengek semacam ini"

Serunya sambil menoleh ke arah pemuda tersebut.

"Toako!! kita tidak usah gubris mereka lagi, ayoh cepat pergi! masih ada orang yang menantikan kedatanganmu"

Orang-orang yang hadir dikalangan pada saat itu, sewaktu melihat munculnya orang tua tersebut, diam-diam dalam hati merasa terperanjat bercampur keheranan.

Bagaimana mungkin si ular beracun ini bisa panggil dia dengan sebutan Toako?

sungguh suatu persoalan yang sangat aneh.

Pek-tok Cuncu merupakan seorang kakek moyangnya racun yang paling terkenal di dalam dunia persilatan, siapapun tidak berani secara sembarangan mengganggu dirinya.

Kini secara mendadak ia sudah munculkan diri hal ini membuat suasana yang panaspun dengan cepat mulai mereda.

---ooo0dw0ooo---JILID.

13 Walaupun sifat Yen Yen Thaysu sangat keras kepala dan kokoh dengan pendirian sendiri tetapi iapun tidak berani mendatangkan bibit bencana buat perguruan sendiri.

Dengan cepat ia merangkap tangannya memuji keagungan sang Buddha.

"Omintohud! pinceng sudah hidup selama delapan puluh tahun lamanya, sudah tentu aku tak akan mencari kerepotan dengan seorang angkatan muda tanpa alasan tertentu, Cuncu jangan salah paham, urusan sebenarnya sangat mencurigakan sekali. Pek-tok Cuncu sama sekali tidak ambil gubris terhadap perkataannya kepada Tan Kia-beng kembali tanyanya.

"Toako! sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Toa Hweesio ini sudah menaruh curiga bahwa aku mempunyai hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas dan sengaja membocorkan rahasia mereka!"

"Ooouw.... sudah terjadi peristiwa ini?"

Dari atas wuwungan rumah kembali berkumandang datang suara seseorang.

"Jika tahu demikian sejak dahulu aku serta siular beracun buat apa repot-repot mencari penderitaan buat diri sendiri. Menurut penglihatan aku si pencuri tua, orang semakin tua semakin susah dilayani, biarkanlah mereka menggoreng telur maknya sendiri! kita kakak beradik, enakan pergi keloteng Ui Hok Loo nonton keindahan alam sambil minum arak!"

Serentetan suara ujung jubah tersampok angin memecahkan kesunyian seorang kakek aneh berjubah kuning sudah melayang turun dari atas atap.

Ketika para jago melihat munculnya orang ini, kembali dalam hati mereka merasa terperanjat, karena si kakek aneh tersebut bukan lain adalah "Su Hay Sin Tou"

Si pencuri sakti yang namanya sangat terkenal di dalam dunia persilatan.

Liok Lim Sin Ci karena takut urusan ini semakin lama berubah semakin tegang, buru-buru merangkap tangannya sembari tertawa terbahak-bahak.

"Ha haa haaa Sin Tou heng serta Cuncu suka ikut campur di dalam persoalan ini, hal ini menandakan sudah mendatangkan rejeki buat kita orang-orang dari kalangan Bulim. Tadi antara Tan Sauw hiap dengan Yen Yen Thaysu hanya terjadi sedikit kesalah pahaman saja, mari kita bicarakan di dalam ruangan!"

"Hmmm! Aku si pencuri tua tiada waktu untuk mengajak kalian bergurau sambil tertawa haha hihi."

Dengus Su Hay Sin Tou dingin.

"Terus terang saja aku beritahukan kepada kalian, kami semua tidak perlu bersikeras menuduh orang lain sudah membocorkan rahasiamu. kalian sendiri sudah jatuh kecundang oleh kekuatanmu sendiri.... haaa...."

Berbicara sampai disitu ia lantas menarik tangan Tan Kia-beng.

"Toako! Mari kita pergi!"

Tubuhnya dengan cepat mencelat ke tengah udara.

laksana tiga batang anak panah dengan cepatnya mereka sudah berada di atas wuwungan rumah ruangan tengah.

Melihat kejadian itu dengan gusar Yen Yen Thaysu segera membentak keras.

"Kembali semua!"

Badanpun ikut bergerak siap hendak menghadang jalan pergi mereka bertiga, tetapi kecuru kena ditahan oleh Thian Liong Tootiang.

"Sudah.... sudahlah! Jika didengar dari nada ucapan si pencuri tua itu, agaknya dari kekuatan tujuh partai besar sudah muncul penghianat, urusan ini bagaimanapun kita harus melakukan pemeriksaan dengan teliti!"

Katanya. Kembali Yen Yen Thaysu tertawa dingin tiada hentinya.

"Jangan percaya omongan setan mereka, peraturan perguruan dari tujuh partai besar sangat ketat dan keras untuk menerima muridpun diteliti dengan copet, mana mungkin bisa terjadi peristiwa semacam ini?"

Sejak keluar ruangan besar tadi Ci Sin Sangjien selalu berdiri sambil merangkap tujuannya dan memejamkan sepasang matanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

saat ini mendadak sambil membuka matanya kembali ujarnya.

"Persoalan ini kita harus anggap serius, sewaktu pinceng berada di dalam ruangan tadi aku merasa jantungku merasa berdebar sangat keras. Kenapa ini hari sejak pagi sampai malam belum kelihatan juga seorang anak muridpun yang datang kemari memberi laporan?"

"Heei.... jika bukannya Sangjien mengungkap persoalan ini pinto sendiripun hampir hampir saja melupakan persoalan ini"

Sambung Leng Hong Tootiang pula sambil menghela napas panjang.

"Kita cuma tahu duduk bersemedi di tempat ini dan menyerahkan seluruh persoalan kepada anak murid kita, hal ini membuat kita berubah jadi seorang yang tuli lagi buta!"

Ketika itulah semua orang baru merasakan peristiwa sudah berubah sangat tegang dan kritis, sampai Yen Yen Thaysu yang terkenal akan keketusannyapun bungkam dalam seribu bahasa.

Ketika itulah, mendadak....

Dari atas wuwungan rumah sekali lagi berkumandang datang suara tertawa dingin seseorang yang sangat menyeramkan.

"Hee.... heee.... hee.... setiap orang yang sudah tiba digunung Ui-san, semuanya telah terdaftar di dalam daftar kematian, jikalau kalian sayang pada nyawa sendiri, untuk menggelinding pergi pada saat ini masih belum terlambat, jika ngotot tetap tinggal di tempat ini terus, hmm! jangan harap kalian bisa lolos dalam keadaan hidup dari tangan orang-orang Isana Kelabang Emas.

"Siapa?"

Bentak Loo Hu Cu keras.

Badannya dengan cepat mencelat ke atas wuwungan rumah.

Terdengarlah suara tertawa aneh bergema dengan amat seramnya, di dalam sekejap mata orang itu sudah berkelebat pergi sejauh puluhan kaki, dengan demikian Loo Hu Cu sudah menubruk tempat kosong.

Setelah melayang kembali ke atas permukaan tanah ia saling berpandangan dengan orang-orang disana....

diam-diam hatinya merasa rada bergidik juga menemui peristiwa semacam ini.

Dengan wajah serius perlahan-lahan Leng Hong Tootiang menggeleng, sambil memandang wajah Loo Hu Cu ujarnya.

"Jika ditinjau dari situasi pada saat ini siapa yang bakal menang dan siapa pula yang bakal kalah di dalam pertemuan puncak para jago digunung Ui-san kali ini sukar ditentukan Walaupun pihak Isana Kelabang Emas berulang kali menggunakan berbagai macam cara untuk menakut-nakuti diri kita rasanya merekapun bukan cuma pentang mulut menggertak belaka, mulai saat ini kita harus memikirkan selanjutnya kita hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka?"

Loo Hu Cu menyapu sekejap ke arah Yen Yen Thaysu serta Thian Liong Tootiang sekalian, akhirnya iapun menghela napas panjang.

"Kelalaian yang terjadi kali ini sudah menyangkut rencana kita yang maha besar, maksud pinto, lebih baik kita ikuti saja perkataan dari pihak Isana Kelabang Emas, malam ini juga kita tinggalkan gunung Ui-san sambil mengawasi gerak-gerik dari anak murid kita, setelah itu dengan tindakan yang tak terduga kita naik kembali ke atas gunung melalui mulut gunung sebelah Utara mungkin sekali dengan tindakan kita ini pihak Isana Kelabang Emas akan merasa kaget dan dibuat gelagapan sendiri."

"Ehmm! inipun merupakan suatu cara yang bagus"

Sahut Thian Liong Tootiang setuju.

"Entah bagaimana dengan pendapat kalian semua?"

Para partai-partai besar lainnya karena sudah mendengar perkataan dari Su Hay Sin Tou maka masing-masing pihak kepingin sekali melihat keadaan dari anak muridnya sendiri-sendiri.

Setelah ditanyai demikian rata-rata mengatakan setuju semua.

Bahkan sampai Yen Yen Thaysu yang terkenal akan keras kepalapun tidak memperlihatkan reaksi tidak setuju.

Demikianlah pada malam itu juga pentolah dari tujuh partai besar dibawah pimpinan Liok Lim Sin Ci segera berangkat meninggalkan gunung Ui-san.

---ooo0dw0ooo---Kita balik pada Tan Kia-beng yang melayang keluar dari kuil bersama-sama dengan Su Hay Sin Tou serta Pek-tok Cuncu.

Setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya sampailah mereka disebuat lekukan gunung yang terhindar dari tiupan angin.

Mendadak Su Hay Sin Tou menghentikan larinya.

"Sst.... di tempat ini!"

Bisiknya lirih.

Dengan cepat ia masuk ke dalam gua tersebut terlebih dahulu, gua ini terhitung sebuah gua alam yang besar, di dalam sana hawa terasa kering dan segar.

Begitu mereka berjalan masuk, dari dalam gua segera terdengarlah si pengemis aneh tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haaa.... haaa.... Loo-te, kau benar-benar membuat aku si pengemis tua harus menanti dengan hati cemas. Dengan cepat Tan Kia-beng berjalan masuk ke dalam gua tersebutk, sekali ia pandang menemukan Hong Jen Sam Yu sedang duduk dideretan sebelah kanan sedang Hu Siauw-cian serta si sastrawan yang bernama Ih Jie itupun duduk disana dengan berdempet dempetan, sikap mereka amat mesrah sekali Sewaktu melihat Tan Kia-beng berjalan masuk, mereka bersandar lebih rapat lagi bahkan kedua orang itu sambil memandang ke arah sang pemuda sambil tertawa tiada hentinya. Pada saat ini Tan Kia-beng sedang dibuat bingung oleh peristiwa yang semakin lama berubah semakin tegang, ia cuma tersenyum sambil mengangguk kemudian kepada Su Hay Sin Tou tanyanya.

"Sam ko! kau mencari aku datang kemari apakah ada urusan penting yang hendak dirundingkan?"

"Ehmmm....!"

Su Hay Sin Tou mengangguk serius, senyuman yang semula menghiasi di atas bibir sudah lenyap tak berbekas.

"Kini peristiwa yang terjadi digunung Ui san semakin lama berubah semakin tegang, kau duduklah terlebih dahulu, tidak lama kemudian Hay Thian Loo-jie pun segera akan datang kemari."

Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah si sastrawan yang bernama Ih Jien tersebut, kemudian sambil menghela nafas panjang sambungnya lebih lanjut.

"Hingga saat ini di atas gunung Ui San semuanya ada tiga golongan kekuatan yang saling berbeda, kekuatan pertama adalah pihak Isana Kelabang Emas, kekuatan kedua adalah pihak tujuh partai besar yang ada di dalam Bulim, dan kekuatan yang ketiga bukan lain adalah pihak Toako sini, tetapi kekuatan ini harus mempunyai kerja sama yang erat baru menghasilkan daya pengaruh yang hebat, tidak sukar bagi kita untuk memperoleh kemenangan!"

Kembali ia merandek sejenak, setelah tukar nafas baru tambahnya lagi.

"Menurut apa yang aku si pencuri tua ketahui, Ui Liong Tootiang, Hay Thian sin Shu, beserta suhengmu Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong pun sudah pada berdatangan ke gunung Ui San. Jikalau kekuatan kita bisa bergabung jadi satu. Hmmm! jangan dikata sebuah kekuatan yang kecil seperti Isana Kelabang Emas. sekalipun ada kekuatan yang jauh lebih besar pun kita masih sanggup untuk membereskannya. Kini persoalannya hanya tinggal asal Kita Bersatu teguh, bercerai kita runtuh, diantara kekuatan kita sendiri harus ada seseorang yang memimpin dan mengatur rencana baru kekuatan tersebut bisa memperlihatkan daya kekuatan"

Tan Kia-beng mendengar perkataan ini diam-diam lantas membatin.

ia mengerti sikap serta sifat orang-orang ini siapapun tak suka tunduk kepada yang lain.

Walaupun Ui Liong Tootiang adalah seorang cianpwee, tetapi di dalam pandangan Su Hay Sin Tou sekalian dia tidak lebih merupakan kawan kawan Bulim yang seangkatan dengan mereka, sudah tentu kedua orang siluman tua ini tak akan suka tunduk kepada mereka.

Oleh sebab itu beberapa kali ia hendak buka suara tetapi akhirnya ditahan kembali.

Pek-tok Cun-su si Rasul Selaksa Racun yang melihat pemuda tersebut termenung berpikir keras, segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haaa.... haaa.... karena urusan ini aku sudah berunding sangat lama sekali dengan si pencuri tua, ia merasa di dalam persoalan ini bagaimanapun juga kita harus mengangkat seseorang untuk mengatur seluruh persoalan tersebut dengan demikian kita baru berhasil maju. setelah pikir pulang balik akhirnya kami merasa hanya Toako seorang saja yang paling cocok."

"Haaa.... haaa.... haaa.... kalian jangan bergurau"

Tan Kia-beng tertawa keras "Mana mungkin aku seorang boanpwee bisa mengatur seluruh persoalan yang sedemikian besarnya?"

"Untuk keadilan belum tentu harus tunduk pada sang guru, kenapa kau tidak boleh duduk sebagai pimpinan?"

Seru Pek-tok Cuncu dengan serius.

"Terus terang saja aku katakan, selamanya aku serta si pencuri tua itu belum pernah mencampuri urusan dunia kangouw, tetapi kali ini kami berdua suka menjual nyawa kami demi Toako. disamping itu suhengmu Hu Hong, Ui Liong Tootang serta Hay Thien pun bukan manusia manusia yang suka ribut dengan orang lain, kedatangan mereka kali ini bukankah dikarenakan hubunganmu dengan Cuncu? oleh karena itu setelah kami ungkap persoalan rata rata mereka sudah menyetujuinya. ini kau tunggulah sebentar, tidak lama kemudian mereka bakal datang kemari semua". Baru saja perkataannya selesai diucapkan dari tempat kejauhan mendadak terdengarlah suara suitan keras berkumandang datang. Aaakh.... haa.... haa.... si Iblis Tua sudah datang"

Seru Su Hay Sin Tou sambil tertawa. Dengan gemas Pek Ih Loo Sat melototi sekejap ke arah si orang tua tersebut hal ini membuat Su Hay Sin Tou tertawa semakin keras lagi.

"Haaa.... haaa.... haa.... haa.... orang lain semua panggil dia dengan sebutan itu, lalu apa bedanya kalau aku si pencuri tuapun ikut panggil dengan sebutan tersebut?"

Serunya. Ketika itulah terdengar suara ujung baju tersampok angin, Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong sudah melayang masuk ke dalam gua. Buru-buru Tan Kia-beng bangun berdiri menyambut kedatangannya.

"Suheng! Sudah lama kita tak bertemu, selama ini kau baik-baik bukan?"

Sapanya. Dengan khekinya Hu Siauw-cian mengerling sekejap ke arah pemuda tersebut, dengan cepat ia bangun berdiri lalu menubruk ke dalam pangkuan ayahnya.

"Tia! Kenapa sampai saat ini kau baru datang?"

Serunya manja.

"Sudah.... jangan perlihatkan sifat kekanak kanakan lagi"

Sahut Hu Hong sambil membelai rambut putri kesayangannya.

"Tia masih ada urusan yang hendak dibicarakan dengan susiokmu!"

Perkataan "susiok"

Dua kata ini laksana beribu ribu batang pisau yang bersama-sama menancap di dalam ulu hatinya membuat gadis tersebut merasakan hatinya sangat menderita.

Sewaktu ia mendengar Tan Kia-beng menyapa ayahnya dengan kata-kata Suheng dalam hatinya sudah merasa tidak senang, apalagi kini ayahnya mengucapkan kata-kata tersebut hal ini membuat hatinya semakin hancur lagi.

Seluruh harapannya yang sudah tertanam sejak dahulu pada saat ini buyar bagaikan air mata dan kepala tertunduk rendah rendah balik kembali ke tempatnya semula.

Si Penjagal Selaksa Li yang melihat keadaan putrinya sama sekali tidak ambil perhatian, ia anggap putrinya lagi ngambek dan perlihatkan sifat kekanak kanakannya.

Setelah menganggap sejenak ke arah kedua orang siluman tua itu, dengan langkah lebar ia lantas berjalan mendekati Tan Kia-beng.

"Tahukah kau, bahwa urusan kembali terjadi suatu perubahan yang sangat besar?"

Tanyanya.

"Sudah terjadi peristiwa apa lagi?"

Teriak Tan Kia-beng terperanjat.

"Menurut berita burung yang aku dengar, pihak Isana Kelabang Emas dengan mengambil kesempatan sewaktu para cianbunjien partai besar sedang berkumpul semua digunung Ui-san, ternyata mereka sudah bersekongkol murid-murid partai yang berhianat untuk masing-masing dijabatkan sebagai ciangbunjin di dalam tujuh partai besar yang ada, karena waktu itu Ih-heng terburu-buru hendak melakukan perjalanan maka tak kuselidiki lebih jelas lagi persoalan ini"

"Tentang peristiwa ini si pencuri tua sudah dengar"

Timbrung Su Hay Sin Tou dari samping.

"Hanya saja aku tak berhasil membuktikan kebenaran dari peristiwa tersebut"

Mendadak....

Bayangan manusia berkelebat memasuki mulut gua, Ui Liong-ci serta si asap dan mega selaksa li, Lok Tong bersama-sama sudah melayang datang diikuti ujung baju tersampok angin.

Hay Thian Sin Shu ayah beranak pun sudah tiba semua.

Di dalam sekejap mata gua yang kecil jadi penuh sesak dengan manusia.

Setelah saling memberi hormat dan mengucapkan kata-kata merendah, bahan penbicaraanpun kembali kebahan pembicaraan yang pokok.

Ui Liong-ci ternyata jadi orang bersifat terbuka, sambil mengelus jenggot ia tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haaa.... haaa.... di dalam pertemuan puncak para jago digunung Ui San kali ini, entah sudah ada berapa banyak jago-jago lihay Bulim yang berkumpul disini, peristiwa ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang maha besar dan belum pernah terjadi selama ratusan tahun ini. Yang jelas lagi tertera adalah di dalam pertemuan para jago kali ini bukannya diselenggarakan untuk saling mengadu kepandaian tetapi merupakan suatu pertarungan besar besaran antara golongan lurus melawan golongan sesat.

"Bilamana peristiwa ini terjadi pada hari hari biasa. kemungkinan sekali cukup muncul salah seorang kawan-kawan lama yang berada disini pada saat ini urusan akan dibikin jadi beres, tetapi jika dibicarakan menurut keadaan yang kita hadapi sekarang, bukannya Pinto sengaja merendahkan kekuatan kita. Mungkin dengan mengandalkan kekuatan gabungan kitapun belum tentu bisa meredakan suasana". Berbicara sampai disitu ia mendehem sejenak, kemudian perlahan-lahan sambungnya kembali.

"Kawan-kawan serta saudara saudara semua merupakan jago-jago lihay yang tiada maksud untuk merebut nama, tujuan kita untuk ikut serta di dalam persoalan ini pun yang separuh dikarenakan hubungannya dengan Raja muda Mo dan yang separuh lagi karena Tan Sauw-hiap sebagai ahli waris dari Han Tan cianpwee. Tetapi perduli bagaimanapun tujuan kita adalah sama yaitu melawan majikan Isana Kelabang Emas. Demi tercapainya satu kesepakatan, menurut pendapatku yang bodoh kita harus memilih seorang untuk duduk sebagai pimpinan menurut saudara sekalian siapakah diantara kita yang rasanya paling sesuai?"

Sinar mata si awan dan mega selaksa li menyapu sekejap keseluruh gua. lalu sambungnya.

"Menurut pendapat siauw-te Hay Thian cianpwee lah yang paling sesuai entah bagaimana dengan kalian semua?"

Pek-tok Cuncu mendengus dingin dan tidak memberikan pendapatnya, sedangkan Su Hay Sin Tou si pencuri sakti segera tertawa terbahak-bahak.

"Bilamana dilihat dari nama besar yang sudah terkenal di dalam Bulim rasanya siapapun pantas, tetapi aku rasa siapapun tak bakal bisa melaksanakan tugas ini"

Katanya. Hay Thian Sin Shu jadi orang paling suka menyendiri dan mempunyai watak sangat aneh, sewaktu ia mendengar si Ban Lie Im Yen mengusulkan dirinya, sepasang kening segera dikerutkan rapat-rapat.

"Haaa.... haaa.... haaa.... Lok heng! buat apa kau mengucapkan kata-kata tersebut? apakah kau tidak tahu bagaimanakah watak Loohu?"

Serunya sambil tertawa tergelak.

"Selamanya loohu paling tidak suka menurut perintah orang lain dan tidak suka pula memerintahkan orang lain!"

Seketika itu juga suasana di dalam gua terasa tidak cocok dan saling bertentangan.

Tetapi dalam hati Ui Liong Tootiang suka mempunyai persiapan yang mateng.

Perlahan-lahan sambil tersenyum ia alihkan sinar matanya ke arah Hay Thian Sin Shu "Persoalan yang kita hadapi pada saat ini bukannya terletak pada siapa memerintahkan kepada siapa tetapi mengharapkan dari kerja sama kita mempunyai seseorang yang memimpin sehingga semua orang dapat bekerja dengan teratur dan menurut rencana.

Bukan saja dengan berbuat demikian kekuatan kita bakal berlipat ganda, bahkan bisa pula mengurangi penyakit penyakit yang tidak diinginkan, Menurut perasaanp pinto kalau memang semua orang begitu sayang terhadap bocah she Tan, bagaimana kalau kita suruh dia saja yang pegang pimpinan?"

"Benar....! benar....!"

Teriak Leng Poo Sianci sambil bertepuk tangan kegirangan "Jikalau engkoh Beng yang bertindak sebagai pimpinan, aku tanggung ia tentu setuju."

Selama hidup Hay Thian Sin Shu paling sayang terhadap putrinya ini, dan selama ini selalu pandang dia sebagai permata digenggamnya.

Sejak masih berada di tengah gurun pasir tempo dulu, secara diam-diam ia sudah mengetahui rahasia hati putrinya ini, karena itu sewaktu melihat dia sudah mewakili dia berbicara, tak terasa lagi ia tertawa tergelak.

"Budak busuk!"

Makinya "Kau benar-benar tidak punya aturan, di depan sebegini banyak cianpwee apakah kau anggap punya hak untuk ikut campur angkat bicara?"

Leng Poo Sianci sama sekali tidak dibuat marah oleh makian ayahnya ini, sebaliknya ia malah tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku tahu Tia tentu setuju, bahkan mereka semuapun tak bakal ada yang menolak!"

"Haaa.... haaa.... haaa.... perkataan nona sedikitpun tidak salah"

Sambung Su Hay Sin Tou sambil tertawa terbahak-bahak.

"Aku serta siular beracun nomor satu paling setuju."

Kejadian ini benar-benar diluar dugaan siasap dan mega selaksa li, mendengar muridnya yang dicalonkan ia jadi cemas setengah mati.

"Hal ini mana boleh jadi? urusan ini tak boleh dianggap sebagai suatu bahan lelucon!"

Serunya berulang kali.

Mendengar si orang tua itu berkata demikian kontan saja Leng Poo Sianci mencibirkan bibirnya yang kecil, baru saja ia ada maksud berseru mendadak Hay Thian Sin Su sudah melotot ke arahnya.

"Bocah cilik, jangan bicara sembarang"

Bentaknya cepat. Hal ini membuat dia jadi takut dan buru-buru menelan kembali ucapannya itu. Pada waktu itulah Tan Kia-beng segera bangun berdiri dan mengucapkan rasa terima kasihnya.

"Berkat kepercayaan dan rasa sayang dari Loocianpwee sekalian, boanpwee merasa sangat berterima kasih sekali. Tetapi urusan ini menyangkut suatu kejadian yang amat besar, mana mungkin boanpwee sanggup untuk memikulnya?"

Medadak air muka Pek-tok Cuncu berubah menjadi amat serius.

"Toako! Kau harus tahu"

Serunya dingin "Semua orang bisa bersikap demikian baik terhadap dirimu, disamping karena dengan dirimu mempunyai hubungan yang erat, hal lain adalah disebabkan hubunganmu dengan Han Tan Loojien, kalau tidak siapa yang suka menggubris persoalan yang tiada berharganya ini?"

"Ehmm.... benar!"

Sela Si Penjagal Selaksa Li pula.

"Situasi di dalam Bulim pada saat ini amat kritis, kaupun tak usah menolak lagi terhadap usul semua orang ini, kita harus segera merundingkan persoalan yang jauh lebih penting."

Tan Kia-beng yang melihat sikap mereka semua sudah demikian teguh ia tahu menolapun tak bisa.

Akhirnya ia mengalihkan sinar matanya ke arah suhunya siasap dan mega selaksa li Lok Tong minta persetujuannya.

Padahal yang benar, dalam hatipun Lok Tong berkeinginan agar murid kesayangannya bisa menonjol diantara para angkatan tua yang ada, karena itu dengan cepat ia putar haluan mengikuti tiupan angin.

"Kalau memang para cianpwee sekalian memandang dirimu, lebih baik kau terimalah dengan senang hati!"

Serunya.

"Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih atas perhatian para cianpwee sekalian,"

Buru-buru Tan Kia-beng bangun berdiri dan menjura kesemua orang yang hadir disana. Setelah merandek sejenak, dengan wajah serius kembali katanya.

"Sewaktu boanpwee masih berada di gurun pasir pernah dengar orang berkata bahkan pihak Isana Kelabang Emas hendak menggunakan kesempatan sewaktu diadakannya pertemuan puncak para jago di gunung Ui-san ini untuk membasmi seluruh kekuatan dan jago-jago andalan yang ada di dalam Bulim pada saat ini. Mereka bisa berbuat demikian katanya hendak membalas dendam buat rakyat suku Biauw mereka. Sedangkan mengenai siapakah Majikan Isana Kelabang Emas hingga kini tak seorangpun yang bisa menduga. Tetapi menurut dugaan dia tentu mempunyai hubungan dengan peristiwa penyerbuat Raja muda Mo tempo dulu untuk menindas pemberontakan di daerah Biauw.

"Sedangkan mengenai pihak Isana Kelabang Emas hendak menggunakan cara apakah hendak melakukan pembasmian besar-besaran ini, sampai sekarang akupun belum memperoleh berita yang sebetulnya. tetapi dapat dipikir siasat mereka tentu sangat kejam dan ganas.

"Disamping itu menurut apa yang dikatankan oleh Leng Hong Tootiang dari partai Bu-tong pay, diselenggarakannya pertemuan puncak para jago digunung Ui San kali ini merupakan siasat yang direncanakan oleh Yen-Yen Thaysu serta Liok lim Sin Ci, mereka hendak menggunakan kesempatan sewaktu diadakan pertemuan digunung Ui san ini hendak melakukan suatu pertempuran penentuan melawan orang-orang Isana Kelabang Emas dan mempunyai cita-cita untuk melenyapkan kekuatan serta pengaruh jahat pihak Isana Kelabang Emas dari Tionggoan Dengan amat teliti dan jelas ia mulai menerangkan keadaan yang dihadapi masing-masing pihak hingga saat ini, kemudian mengungkap pula beberapa pendapat.

"Menurut keadaan yang dihadapi saat ini ada beberapa persoalan yang segera dilaksanakan, Pertama. mencari berita dengan menggunakan cara dan tindakan apakah pihak Isana Kelabang Emas hendak menghadapi orang-orang Bulim didaratan Tionggaon? Kedua. Dengan kekuatan yang ada pada tujuh partai besar saat ini, apakah sanggup untuk melawan kekuatan dari pihak Isana Kelabang Emas? Ketiga. Kita hendak menggunakan cara dan tindakan apa untuk mengatasi persoalan ini?"

"Tidak lama berselang, pihak Isana Kelabang Emas pernah mengguankan cara yang paling rendah untuk turun tangan membokong Sam Kuang Sin nie dan menculik pergi Mo Cuncu"

Timbrung Ui Liong-ci mendadak.

"Karena persoalan ini pinto bersama-sama dengan Hu heng serta Lok heng telah melakukan pengejaran ke gurun pasir, tetapi sewaktu tiba di tengah perjalanan telah bertemu dengan seorang aneh yang mengatakan Mo Cuncu berhasil ditolong bahkan sudah berangkat ke gunung Ui san. Tan si-heng, apakah kau sudah bertemu dengan dirinya?"

Perlahan-lahan Tan Kia-beng menggeleng.

"Karena persoalan ini pihak Isana Kelabang Emas telah memaksa boanpwee untuk bertukar syarat dengan melarang aku ikut campur di dalam peristiwa di atas gunung Ui san, tetapi hingga ini hari aku masih belum berjumpa dengan dirinya!"

Mendadak hatinya rada bergerak, ia lantas menoleh ke arah Pek Ih Loo Sat.

"Siauw Cian, bukankah kau tahu jejak dari Mo Cuncu? sekarang dia berada dimana?"

Tanyanya. Pada saat ini Pek Ih Loo Sat sedang merasa berduka, mendengar Tan Kia-beng menanyakan soal Mo Tan-hong ia melirik sekejap ke arah sang sastrawan tersebut kemudian dengan kheki menggeleng.

"Aku tidak tahu!"

Serunya. Walaupun Tan Kia-beng tidak tahu, tapi lirikan dari Hu Siauw-cian ini tak bakal lolos dari ketajaman mata Ui Liong Tootiang tampak sinar matanya berkilat kemudian tertawa tergelak.

"Haaa.... haaa.... haaa.... budak yang bernyali kau berani main setan dihadapan pinto? ayoh cepat memberi hormat buat paman serta empek sekalian!"

Si sastrawan yang bernama Ih-jien itu tertawa, kemudian bangun berdiri dan memberi hormat kepada Ui Liong Tootiang.

"Tit-li menghunjuk hormat buat Supek!"

Katanya lirih.

Ia memakai pakaian lelaki, perempuan gerak geriknya adalah gaya seorang perempuan.

Hal ini sudah tentu memancing suara gelak tertawa dari semua orang yang berada di dalam gua.

Hanya Tan Kia-beng seorang yang masih belum tahu siapakah dia, tak terasa lagi diam-diam pikirnya.

"Siapakah dia?"

Ketika itu Ui Liong-ci sudah menarik kembali suara gelak tertawanya.

Dengan cepat ia memperkenalkan gadis tersebut kepada semua orang.

Dia adalah satu satunya keturunan dari Raja Muda Mo yang masih hidup, nona Mo Tan-hong"

Katanya. Gadis itu kembali memberi hormat kepada semua orang.

"Boanpwee Mo Tan-hong menghunjuk hormat buat Paman serta Empek sekalian...."

Ujarnya perlahan. Ketika itulah Tan Kia-beng baru mengerti bila sang sastrawan tersebut bukan lain adalah Mo Tan-hong, tak terasa lagi diam-diam makinya.

"Hu Siauw-cian sibudak cilik ini patut dihantam!"

Leng Poo Sianci yang bersandar disisi Hay Thian Sin Shu pada saat itu sebaliknya merasakan hatinya agak gusar.

"Bagus sekali"

Pikirnya diam-diam.

"Katanya kalian sudah bekerja sama untuk mempermainkan diriku. Hmmm, jika aku tidak kasi sedikit hajaran buat kalian tentu kamu semua tidak tahu kelihayan dari aku Leng Poo Sianci!"

Dengan cepat ia bangun berdiri dan berjalan ke sisi Mo Tan-hong.

"Kau yang bernama Mo Tan-hong, Mo Cuncu?"

Tanyanya lirih. Dengan kebingungan Mo Tan-hong mengangguk, setelah itu ia menoleh pula ke arah Hu Siauw-cian.

"Dan kau bernama Pek Ih Loo Sat?"

Tanyanya pula.

"Sedikitpun tidak salah"

Jawab Hu Siauw-cian dingin. Mendadak air mukanya Leng Poo Sianci berubah jadi dingin kaku.

"Nonamu adalah Leng Poo Sianci"

Serunya perlahan.

"Kalian berani benar mempermainkan diriku. Hmmm! pada satu hari aku akan suruh kalian merasakan kelihayan dari nonamu!"

Watak Mo Tan-hong rada halus dan selamanya tidak suka beribut dan mencari gara gara, mendengar perkataan tersebut iaj adi tertegun, sebaliknya Hu Siauw-cian jadi amat gusar, ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Bagus.... setiap saat tentu akan aku layani nonamu akan menungguk petunjukmu!"

"Baik, kita tentukan setelah bulan delapan tanggal lima belas pertemuan puncak digunung Ui san selesai!"

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Leng Poo Sianci lantas balik lagi ke tempat duduknya semula.

Para jago lainnya yang hadir di dalam gua tersebut rata-rata merupakan cianpwee-cianpwee yang lanjut usia, terhadap perjanjian mereka pribadi tak seorangpun yang mengambil gubris, mereka tetap melanjutkan pembicaraannya tentang rencana untuk menghadapi pihak musuh.

Pada saat ini Su Hay Sin Tou telah menceritakan seluruh keadaan dan kejadian yang diketahuinya selama beberapa hari ini disekitar gunung Ui-san, bersama itu pula tambahnya dengan wajah serius.

"Kali ini demi tegaknya panji-panji keadilan, pihak Kay-pang dengan tiada sayang telah mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap seluruh gerak gerik pihak Isana Kelabang Emas, aku rasa mereka tentu sudah menemukan hal hal yang jauh lebih banyak lagi!"

Si pengemis aneh yang selama ini duduk dipojokan tanpa membuka suara, saat inilah baru menghela napas panjang.

"Heeei.... bila dibicarakan sungguh amat memalukan sekali"

Katanya perlahan.

"walaupun pihak Kay-pang telah mengerahkan seluruh kekuatan yang ada, kecuali mereka yang mati dan terluka rasanya tiada mendapatkan hal hal yang patut dikatakan berharga."

"Haaa haaa haaa.... kini kita adalah orang sendiri, buat apa kau mengucapkan kata-kata merendah?"

Seru Su Hay Sin Tou sambil tertawa terbahak-bahak.

Sang pengemis aneh angkat bahu dan menggaruk rambutnya dengan tangan yang kurus dan hitam bagaikan arang itu, akhirnya kembali ia menghembuskan napas panjang.

"Sejak aku si pengemis tua terjunkan diri ke dalam dunia Kangouw, baru untuk pertama kali ini menemui musuh yang tangguh dan sukar diajak bertempur semacam ini. Penderitaan yang diterima pihak Kay-pang kali ini benar-benar sangat besar."

"Sudah sudahlah tidak perlu unjukkan kekuatan Kay-pang mu,"

Kembali Su Hay Sin Tou menimbrung.

"Cepat laporkan seluruh kejadian yang kau ketahui selama beberapa ini kepada Toako kami!"

"Eeei, buat apa kau ikut ribut?"

Teriak sang pengemis aneh sambil mendelik. Ia merandek sejenak, kemudian kepada Tan Kia-beng sambungnya lebih jauh.

"Yang ingin aku katakan hanya ada tiga hal saja. Pertama, menurut laporan yang diterima anak murid Kay-pang kami, selama beberapa hari ini jago-jago lihay pihak Isana Kelabang Emas yang mendatangi gunung Ui san kurang lebih berjumlah lima, enam puluh orang banyaknya, sedang mengenai apakah Majikan Isana Kelabang Emas sendiri sudah tiba atau belum hingga saat ini belum dapat kami pastikan. Kedua, seluruh jagoan lihay dari tujuh partai besar beserta Liok lim Sin Ci baru saja meninggalkan gunung, apakah maksud mereka hal ini tidak dilaporkan kepada orang-orang perkumpulan kami. Dan yang ketiga, kedatangan kalian siluman siluman tua ke gunung Ui san sudah berhasil diketahui oleh orang-orang Isana Kelabang Emas, kemungkinan sekali mereka akan pusatkan seluruh kekuatan dan perhatian terhadap pihak kita, terutama sekali kau Loo te. kau sudah menjadi paku di depan mata majikan Isana Kelabang Emas, mereka berhasrat hendak cabut dirimu secepatnya"

"Haaa.... haaa.... haaa.... perduli mereka punya maksud untuk memperhatikan kami atau tidak, baik sekarang maupun nanti akhirnya aku ingin juga bergebark mati-matian melawan sang majikan Isana Kelabang Emas itu"

Seru Tan Kia-beng sambil kerutkan alisnya. Ia menarik kembali suara gelak tertawanya, kemudian dengan keras serunya.

"Kalau memang benar saudara sekalian sudah meminta Boanpwee yang atur siasat maka sekarang juga aku akan turunkan perintah!"

Selsai berkata ia merangkap tangannya mohon maaf, setelah itu baru ujarnya.

"Jika ditinjau dari munculnya racun ganas di atas pedang Giok Hun Kiam ku, maka aku pikir dipihak Isana Kelabang Emas tentu ada seorang yang pandai menggunakan racun, maka mulai sekarang Jie-ko harus selalu waspada dan mengamat-amati mereka terus sehingga tidak sampai orang-orang Isana Kelabang Emas keburu melepaskan racun sebelum diadakannya pertemuan puncak para jago."

"Aku si ular beracun terima perintah"

Buru-buru Pek-tok Cuncu bangun diri menjura.

"Hay Thian Cianpwee mempunyai hubungan yang paling erat dengan orang-orang tujuh partai besar serta orang-orang dari kalangan Hek-to, harap secara diam-diam kau suka mengadakan hubungan dengan mereka bila perlu sampai waktunya kau kumpulkan saja seluruh kekuatan yang ada untuk bergebrak mati-matian melawan pihak Isana Kelabang Emas"

Hay Thian Sin Shu melirik sekejap ke arah Leng Poo Sianci, kemudian perlahan-lahan baru bangun berdiri.

"Loolap terima perintah"

Sahutnya hormat.

"Ui Liong Supek mempunyai hubungan yang paling erat dengan Raja muda Mo urusan ini setiap orang Bi-lim mengetahuinya sangat jelas, setelah dibukanya pertemuan puncak para jago nanti, harap kau suka mengumumkan kepada seluruh jago Bulim di kolong langit tentang peristiwa terbunuhnya raja muda Mo dan membongkar siasat jahat dari pihak Isana Kelabang Emas. Di dalam soal ini kita paling mengutamakan semangat yang berkobar!"

"Sedang Hu suheng serta Sin Tou Sam ko karena jejaknya paling sukar dicari maka kalian sejak ini hari harus menyaru sebagai orang berkerudung dan setiap saat mengontro di sekeliling gunung Ui san, kalian bertugas melindungi keselamatan dari orang-orang yang datang ke gunung melihat keramaian, bilamana perlu gunakanlah suitan panjang sebagai tanda bahaya. Hu Hong serta Su Hay Sin Tou bersama-sama terima perintah, setelah itu sinar mata Tan Kia-beng perlahan-lahan baru dialihkan ke atas wajah Hu Siauw-cian, Mo Tan-hong serta Leng Poo Sianci bertiga. dengan nada serius sambungnya.

"Untuk menghindarkan hal hal yang tidak diinginkan, mulai ini hari sampai selesai diadakannya pertemuan puncak, kalian bertiga dilarang sembarangan bergebrak melawan orang lain dan tidak boleh pula lari semaunya sendiri!"

Mo Tan-hong tersenyum dan mengangguk sedang Hu Siauw-cian dengan wajah adem mendongakkan kepalanya memandang dinding gua. Sebaliknya Leng Poo Sianci segera mencibirkan bibirnya.

"Hmmm! kau tidak berhak mengurusi diriku!"

Tak terasa lagi dengan gemas Hay Thian Sin Shu melototi sekejap ke arahnya. Terhadap kejadian itu Tan Kia-beng pura-pura tidak melihat, ia lantas bangun berdiri.

"Jikalau loocianpwee sekalian tiada persoalan yang lain sekarang boleh berlalu, setiap malam kita harus berkumpul satu kali disini"

Katanya.

Demikianlah, masing-masing orang lantas bangun berdiri dan bubaran, di dalam sekejap mata di dalam gua tinggal Hu Siauw-cian, Mo Tan-hong serta Tan Kia-beng tiga orang.

Menanti semua orang sudah bubar, Tan Kia-beng baru putar badan dan berjalan ke hadapan Mo Tan-hong.

"Sejak aku mendapatkan kabar berita yang mengatakan kau kena diculik orang-orang Isana Kelabang Emas, hatiku benar-benar sangat cemas, maukah kau menceritakan bagaimana kau bisa lolos dari mara bahaya?"

Katanya perlahan. Perlahan-lahan Mo Tan-hong menghela nafas panjang.

"Heei.... tempo dulu Ui Liong Supek terus menerus mendesak aku kembali kebiara kiranya hal ini terkandung suatu maksud yang sangat mendalam Setelah aku bertemu dengan suhu barulah dalam hati aku mengerti bila pihak Isana Kelabang Emas ada maksud hendak menculik diriku. Ketika itu aku hanya memperhatikan berlatih ilmu silat dan sama sekali tidak menggubris persoalan tersebut. Siapa sangka orang-orang Isana Kelabang Emas ternyata sudah berhasil mendapatkan beritaku. Malam itu menggunakan kesempatan sewaktu suhu sedang bersemedi mereka melancarkan serangan mendadak sehingga mengakibatkan suhu terluka dan aku terjatuh ketangan mereka. Heei....! Jikalau bukannya di tengah jalan aku berhasil ditolong oleh seorang pendekar aneh yang sangat misterius, entah bagaimanakah kelanjutannya?"

"Apakah kau berhasil melihat jelas wajah dari pendekar misterius tersebut?"

"Tidak....! Aku cuma mendengar suaranya amat halus dan ramah agaknya seorang kakek tua, tetapi kemungkinan sekali seorang hweesio."

"Ehmm....! Kalau begitu benarlah sudah."

Tan Kia-beng mengangguk.

"Semua peristiwa ini kemungkinan sekali hasil dari pekerjaan dia seorang."

"Apakah kau kenal dengan dirinya?"

"Tidak kenal, cuma aku sudah memperoleh banyak sekali bantuannya yang sangat berharga."

"Benar! Kepandaian silat orang ini benar-benar sangat lihay,"

Mendadak Pek Ih Loo Sat menimbrung pula dari samping.

"Sewaktu aku dengan Tia masih berada di gurun pasir iapun pernah bantu kami lolos dari kepungan."

Mendengar perkataan tersebut dalam hati Tan Kia-beng merasa semakin keheranan lagi.

"Siapakah sebenarnya orang itu?"

Pikirnya dalam hati.

"Setiap kali ia selalu membantu orang tetapi tak sekalipun memperlihatkan wajah aslinya sendiri. Jika ditinjau dari kepandaian silat yang dimilikinya jelas sudah mencapai pada puncak kesempurnaan yang tiada taranya, sekalipun Ui Liong Tootiang serta Hay Thian Sin Shu yang berhasil melatih ilmunya mencapai taraf kesempurnaan jika dibandingkan dengan orang ini masih kalah satu tingkat."

Berpikir sampai disini rasa waspada segera timbul di dalam hatinya, ia merasa untuk menghadapi Majikan Isana Kelabang Emas dirinya tak boleh terlalu percaya pada kekuatan sendiri.

Bilamana kepandaian dari majikan Kelabang Emas sama lihaynya dengan jagoan misterius yang selalu membantu dirinya, bukankah dirinya bakal mati konyol?

Hu Siauw-cian yang melihat pemuda tersebut terus menerus termenung tak terasa lagi sudah mendorong badannya.

"Eeei.... aku lihat kau setiap hari dari pagi sampai malam terus menerus seperti kehilangan semangat, mana punya kegagahan untuk pimpin para jago di seluruh kolong langit, mungkin menjadi penjaga pintu perkampungan orang lain tak suka menggunakan dirimu...."

"Oouw.... begitu....?"

Sahut Tan Kia-beng sekenanya.

Di dalam hatinya ia tetap termenung dan berpikir keras, ia bermaksud hendak menyelidiki dahulu keadaan serta situasi dipihak Isana Kelabang Emas kemudian baru mengambil keputusan kembali.

Sekali lagi Pek Ih Loo Sat mendorong pemuda tersebut, tetapi sewaktu dilihatnya ia cuma tertawa saja tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan gemas lantas melengos dan tidak menggubris dirinya lagi.

Sebaliknya Mo Tan-hong yang mempunyai watak halus, ia mengerti pemuda itu tentunya sedang memikirkan satu persoalan yang maha berat.

Karenany ia lantas menarik tangan Siauw Cian untuk diajak berjalan keluar.

"Siauw Cian! mari kita jalan-jalan di tempat luaran dan jangan ganggu dirinya lagi"

Sejak kecil Hu Siauw-cian dibesarkan seorang diri dan selamanya tidak mempunyai saudara untuk diajak bermain.

Keadaan di sekelilingnya membuat ia mempunyai watak dingin, kaku, sombong dan kasar.

Tetapi sejak berkenalan dengan Mo Tan-hong, lama kelamaan wataknya yang kasar berhasil sedikit demi sedikit dilarutkan oleh watak Mo Tan-hong yang halus tapi agung itu sehingga didasar hatinya timbullah suatu perasaan kagum terhadap gadis tersebut.

Dan boleh dikata terhadap omongan dari gadis keturungan Mo Cun-ong ini ia sangat penurut.

dengan berjalan bergandengan mereka berdua lantas berjalan keluar dari gua Mendadak Mo Tan-hong teringat kembali dengan janji mereka terhadap Leng Poo Sianci, tak terasa lagi dengan nada mengomel ujarnya lirih.

"Tadi, tidak seharusnya kau menyanggupi nona Cha untuk adu kepandaian. Sebetulnya urusan ini tidak lebih cuma suatu kesalah pahaman belaka. setelah dijelaskan bukankah akan jadi terang kembali, kenapa harus diselesaikan dengan suatu perkehalian?"

Hu Siauw-cian mengerutkan dahinya kemudian mendengus dingin.

"Hmm! justru aku paling tidak betah melihat gerak geriknya yang sombong dan ingin cari menang sendiri itu, bergebrak ya bergebrak, kenapa harus takuti dirinya?"

Serunya dingin. Tetapi selesai berkata kembali ia sudah tertawa cekikikan, sambungnya.

"Ia sangat baik sekali dengan engkoh Beng."

Dengan cepat gadis ini lantas menceritakan seluruh kisahnya sewaktu berada di dalam gua dimana ia menggoda gadis tersebut. Tak kuasa lagi Mo Tan-hong pun dibuat tertawa.

"Cis! tidak tahu malu.... soal inipun kau bisa-bisanya menceritakan kembali kepadaku"

Omelnya.

Kembali mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.

Tan Kia-beng setelah termenung dan berpikir lama sekali baru dongakkan kepalanya kembali.

Sewaktu dilihatnya Mo Tan-hong berdua sudah tak berada di dalam gua iapun lantas berjalan menuju keluar.

Ketika itu kedua orang gadis tersebut sedang bercakap-cakap sambil bergurau.

karena tidak ingin mengganggu mereka maka secara diam-diam ia lantas berlalu keluar dari lembah tersebut dan menuji ke dalam sebuah lembah lain yang misterius.

Ia merasa daerah sekelilingnya licin tak bertumbuhan sedang disebelah kirinya tumbuhlah pohon pohon besar yang amat lebat.

Selagi ia sedang siap-siap hendak menentukan arah itulah mendadak terdengar suara yang amat lirih bergema masuk ke dalam telinganya.

Buru-buru ia mendongak, dari balik pohon yang lebat tampaklah sesosok bayangan manusia berkelebat mendatang.

Bayangan tersebut langsing, kecil dan mungil.

tampaklah dengan ragu-ragu orang tersebut memperhatikan sekejap suasana di sekeliling hutan itu kemudian dengan sebat meluncur ke arah gua yang ditempati Tan Kia-beng tadi.

Gerakan badannya lincah, gesit dan cepat sekali kelebatan sudah mencapai sejauh tiga empat kaki.

Ketika itu Tan Kia-beng sedang murung karena tidak tahu di tempat manakah orang-orang Isana Kelabang Emas sudah bermarkas, melihat munculnya seseorang dalam hati jadi sangat girang.

"Jika aku tangkap orang ini bukankah diriku tidak usah repot repot lagi untuk mengetahui alamat markas mereka?"

Pikirnya dalam hati.

Hanya di dalam sekejap mata orang itu sudah berada tidak jauh dari dirinya, kiranya orang itu adalah seorang siucay yang berbadan kurus.

Karena ingin menangkap dirinya hidup-hidup sehingga bisa ditanyai dengan jelas rahasia pihak musuh maka pemuda kitapun tidak menggubris peraturan Bulim lagi.

Mendadak badannya mencelat ke tengah udara kemudian menubruk ke arah bawah, tangannya laksana sambaran kilat mencengkeram ujung baju sebelah belakangnya.

Orang itu agaknya sama sekali tidak menduga ada orang yang turun tangan membokong dirinya, di dalam keadaan gugup ia menjerit tertahan kemudian buru-buru tundukkan kepalanya dan berpaling beberapa kali di atas tanah, di dalam sekejap mata ia sudah menyingkir sejauh dua kaki lebih.

Tetapi, kendati begitu tak urung tutup kepalanya kena dijambret juga oleh Tan Kia-beng sehingga rambutnya yang panjang terurai.

Sekali pandang Tan Kia-beng segera kenali kembali dirinya bukan lain adalah Yen Giok Fang salah seorang dari sepasang gadis cantik dari daerah Biauw-leng yang pernah bergebrak melawan Hu Siauw-cian sewaktu berada dibekas kebun bangunan keluarga Cau.

"Iih? kiranya kau?"

Serunya tertahan.

Setelah rasa terkejut lenyap dari dalam hati, dengan membelalakkan sepasang matanya yang jeli Yen Giok Fang memperhatikan Tan Kia-beng dari atas hingga ke bawah, beberapa saat kemudian ia baru bertanya"

"Eeei.... apa hubunganmu dengan Hong Jen Sam Yu?"

"Kawan!"

"Kau kenal dengan sijagoan pedang yang membasmi bibit iblis Tan Kia-beng?"

"Apa maksud mencari diriku?"

Dalam hati Tan Kia-beng mulai berpikir dengan hati ragu-ragu. Tetapi diluaran ia tetap tenang tidak menunjukkan reaksi apa apa.

"Kenal! Apa maksudmu mencari dirinya?"

"Ada urusan penting yang hendak ajak dia berunding. Maukah kau tolong aku untuk panggil dia datang kemari?"

Tan Kia-beng adalah kawan cayhe yang paling akrab. Bila kau ada urusan katakan saja kepadaku."

"Tidak bisa jadi. Aku harus bertemu sendiri dengan dirinya."

"Jika dilihat wajahnya yang cemas dan tak tenang mungkin benar-benar ada urusan penting", pikir Tan Kia-beng kembali di dalam hatinya.

"Kemungkinan sekali dari mulutnya aku berhasil mendapatkan sedikit berita yang penting."

Karena itu dengan wajah yang serius ujarnya.

"Jika maksud nona mencari dirinya karena hendak melaporkan berita mengenai Isana Kelabang Emas, cayhe segera akan carikan dia untuk bertemu dengan dirimu, kalau cuma urusan pribadi, maaf cayhe tak akan menggubris dirimu lagi."

Sudah tentu urusan yang menyangkut Isana Kelabang Emas"

Seru Yen Giok Fang cemas.

"Saat ini waktu sangat berharga bagaikan emas. siapa yang punya waktu untuk ngobrol lagi dengan dirimu, cepatlah kau undang dia kemari"

"Haaa.... haaa.... haaa orang she Tan yang nona cari jauh ada diujung langit dekat ada di depan mata, cayhe adalah orangnya"

Ujar Tan Kia-beng sambil tertawa terbahak-bahak. Dengan ragu ragu Yen Giok Fang memperhatikan sekejap ke arahnya, mendadak ia mencibirkan bibirnya.

"Hmm! Mengandalkan watakmu semacam itu, kau tak becus untuk jadi dirinya."

Teriaknya gusar. Dari dalam pinggang Tan Kia-beng lantas mencabut keluar seruling pualamnya.

"Kalau benda ini rasanya tidak bakal palsu bukan?"

Serunya sambil menggoyang goyangkan senjata tersebut. Kembali Yen Giok Fang memperhatikan sekejap ke arahnya, terakhir ia menghela napas panjang.

Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 6

Baca Juga: Pendekar Kembar 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert