Ceritasilat Novel Online

Pedang Pusaka Dewi Khayangan 1

Eps 1 Pedang Pusaka Dewi Khayangan - Khu Lung

Baca online Pedang Pusaka Dewi Khayangan - Khu Lung

Cersil Pedang Pusaka Dewi Khayangan - Khu Lung.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya .

Khu Lung Tiong chiu berlalu Angin yang bertiup pada saat musim rontok membawa kesejukan.

Matahari juga lebih cepat menarik diri di bandingkan musim panas Saat ini hari belum terlalu senja.

Namun kegelapan mulai menyebar.

Di daerah Kwaciu terdapat sebuah tapal batas yang mengandung sejarah Di jalanan mulai terlihat penerangan dinyalakan Di ujung sebelah utara ada sebuah rumah makan kecil.

Di depan pintu tergantung sebuah lentera yang redup.

Mungkin hampir kehabisan minyak.

Cahayanya makin pudar karena tiupan angin.

Papan-papan cantang hanya disandarkan di tembok.

Ruangannya tidak besar Hanya adalima meja dan kursi Semuanya dirapatkan dengan tembok Namun semua meja itu tensi penuh Tamu tamu ini tentu saja tak tergesa gesa menyeberangi Sungai.

Kalau tidak, mereka pasti tidak akan mempunyai waktu bersantap dengan tenang.

Tamu-tamu yang duduk dilima meja tersebut mempunyai penampilan yang berbeda Tiga orang yang duduk paling depan adalah laki-laki bertubuh tinggi besar.

Masingmasing membawa sebuah bungkusan kain yang bentuknya panjang.

Isinya pasti pedang atau golok Wajah mereka tampak garang Dapat diduga bahwa ketiga orang itu bukan dari golongan baik baik.

Di pintu bagian kiri duduk dua orang laki-laki Tampang mereka kelihatan jujur.

Kemungkinan besar dari kalapgan pedagang.

Yang satu bertubuh gemuk dan yang satunya lagi malah kurus D atas meja terdapat tumpukan kain berwarna-warni.

Ternyata pedagang kain.

Di tengah tengah ruangan ada dua meja.

Yang kiri merupakan seorang pemuda berusia dua puluhan.

Alisnya hitam berbentuk golok.

Bibirnya merah dan giginya putih bersih Bukan hanya penampilannya saja yang enak dipandang tingkahnya pun lembut dan berpendidikan.

Sekali pandang sudah dapat dipastikan bahwa pemuda ini seorang su-seng (pelajar).

Meja dalam sebelah kanan diisi oleh seorang perempuan berusia kira kira dua puluh tiga atau empat tahun Dia hanya seorang diri.

Pakaiannya adalah stelan celana berwarna hijau pupus Rambut kepalanya diikat dengan sehelai selendang berwarna hijau pula.

Pinggangnya ramping hanya kulitnya saja yang agak hitam, namun malah menambah kemanisan wajahnya Meskipun dandanannya seperti seorang perempuan desa, tapi penampilannya tidak kampungan.

Di bagian paling pojok dekat pintu rumah menuju dapur duduk seorang pemuda.

Bajunya lusuh Wajahnya kotor dan hitam.

Mungkin sedang mengadakan perjalanan jauh.

Dia duduk disudut yang gelap.

Kepalanya tertunduk.

Sama sekali tidak memperdulikan keadaan sekitarnya.

Dia menikmati bakmi dihadapannya dengan penuh selera.

Pemilik rumah makan ini adalah seorang laki laki tua berpungggung bungkuk.

Kepalanya tertutup sebuah topi kecil.

Di pundaknya tersampir sehelai kain lap berwarna biru.

Tampaknya sudah kumal dan berminyak Dia juga bertindak sebagai koki, bagian tukang potong sayur, menuangkan teh, mengantar makanan dan melap meja Pokoknya semua pekerjaan ditanganinya sendiri.

Tentu saja dia sangat kerepotan dalam melayani tamu.

Blangg!!!

terdengar suara keras seseorang yang menggebrak meja Kemudian dilanjutkan dengan bentakan yang kasar....

"Hei Lao pan .. aku menyuruh kau membawakan lagi tiga kendi arak, tapi kau tidak melayani sejak tadi. Apakah telingamu tuli. Toayamu masih banyak urusan yang harus diselesaikan setelah kenyang makan dan minum, Cepat!" . Dari bentakan itu saja, biarpun tidak usah melihat siapa orangnya sudah dapat dipastikan tamu-tamu yang berwajah garang di depan pintu yang mengeluarkan suara itu. Mata mereka mendelik Di kening terlihat urat hijau yang menyembul keluar Tampaknya mereka sudah minum cukup banyak. Gebrakan yang keras di meja, hamplr saja membuat lilin yang sedang menyala tumpah. Baju ketiga orang itu telah terbuka. Bulu-bulu dada yang lebat membuat orang-orang yang menatap mereka semakin ketakutan, Mungkin mereka sengaja memperiihatkan kegarangan mereka agar dilayani lebih cepat. Tamu-tamu yang lain memang sudah sejak pertama tidak menyukai tampang ketiga orang tersebut. Perbuatan mereka yang kasar semakin membuat para tamu membungkam. Pemilik rumah makan tersebut cepat-cepat memberikan reaksi sebelum orang-orang kasar itu bertambah marah.

"Baik baik,"

Sahutnya tergopoh-gopoh.

Orang tua itu segera masuk ke dalam dapur untuk memenuhi pesanan mereka Dalam waktu sekejap dia sudah keluar lagl dengan tangan membawa arak Langkahlangkahnya bagai orang kelabakan Dia meletakkan pesanan tersebut di atas meja.

Wajahnya dibuat secerah mungkin.

"Sam wi khek kuan. Harap maafkan Tidak biasanya rumah makan saya seramai hari ini Sedangkan yang melayani hanya seorang, jadi agak terlambat memenuhi pesanan para tuan,"

Katanya. Laki-laki kasar yang duduk di sebelah dalam, dengan tidak sabar merebut arak dl tangan orang tua itu.

"Sudah.

Sudah.

Jangan banyak omong!

Pergisana !

bentaknya.

Orang tua itu mana berani bicara lebih banyak lagi.

Ia hanya mengiakan saja, lalu ngeluyur untuk melayan, tamu yang lain, Laki-laki kasar tadi menuangkan arak bagi kedua rekannya, kemudian memenuhi cawannya sendiri.

Diangkatnya cawan tersebut Sekali teguk saja, arak itu telah berpindah ke perutnya matanya memandang laki laki di hadapannya dengan seksama.

Laki-laki yang dipandangnya adalah seorang setengah baya dengan bercak-bercak putih di wajah.

Tampaknya orang itu merupakan Lao toa dari rombongan tersebut.

Sedangkan rekan yang satu lagi menikmati araknya dengan kepala mangut-mangut.

Laki-lak kasar yang tadi menggebrak meja bangkit dari duduknya Kaki sebelah kirinya ditangkringkan dikursi kayu.

Matanya menatap tajam kepada kedua orang yang diduga pedagang tadi.

"Apakah sam wi datang dari Si Pao?" . tanyanya. Si Pao merupakan daerah perdagangan paling besar di tenggara. Mendengar nada yang kurang ramah dari laki lak kasar itu kedua orang tersebut segera berdiri. Yang bertubuh lebih gamuk segera memamerkan seulas senyuman.

"Betul.. betul Enghiong"

Sahutnya.

"Toaya bernama Pek Phi Long (Sengala berhidung putih) Pek Seng Bukan segala macam Enghiong atau keturunan beruang (Hiong dalam bentuk tulisan yang lain artinya beruang),"

Jawab laki-laki kasar itu.

"lya lya maaf,"

Kata pedagang bertubuh gemuk itu gugup.

Tangannya saling menggenggam dengan gemetar.

Waiahnya tampak pucat Dia sudah ketakutan sekali.

Kalian datang dari tempat yang jauh, di sepanjang perjalanan tidak pernah terjadl apaapa tahukah kalian apa sebabnya?"

Tanya Pek Phi Long kembali. Pedagang bertubuh gemuk itu memandang dengan terkesima. Dia bingung mendapat pertanyaan seperti itu.

"Siaute tidak tahu ."

Sahutnya gagap-gugup. Pek Phi Long tartawa kering.

"Kalian harus mengerti. Perjalanan Kang Wi selamanya tidak amanPara penguasa di jalan jalan yang kalian lalui tidak mungkin membiarkan dua ekor kambing gemuk seperti kalian lewat begitu saja Bahkan mencium baunya pun tidak "

Katanya. Pedagang bertubuh gemuk itu tidak tahu arah tujuan percakapan Pek Phi Long Dia terpaksa mengangguk saja berkali-kali.

"Betul! Betul" . Pek Phi Long mengalihkan pandangannya ke arah laki laki setengah baya dengan bercak bercak putih di wajah itu. Dia tertawa terkekeh kekeh.

"Hal ini merupakan jasa besar Ma Bin Long (Srigala berwa|ah bintik bintik) Sen Lo toa dan Lao sam Toan bwe long (Srigala berekor putus) Tio Cau Selama dalam perjalanan kalian di lindungi oleh kami tiga kakak beradik" , katanya sambil memandang para pedagang itu secara bergantian. Pedagang bertubuh gemuk itu merasa bersyukur mendapat perlindungan mereka. Dia masih belum sadar bahwa peristiwa ini masih berbuntut.

"Kami kakak beradik mengucapkan beribu-rlbu terima kasih atas perllndungan Sam wi enghiong,"

Sahutnya sambi!

menjura dalam-dalam.

Pek Phi Long kembali tertawa terkekeh-kekeh.

Hengte tadi sudah mengatakan, Kami bukan segala macam enghiong Kami adalah serigala Wi Pak sam ong (Tiga srigala dari Wi Pak)."

Katanya.

Pedagang bertubuh gemuk itu tampak terperanjat Dia sudah dapat meraba siapa orang orang yang ada di hadapannya itu.

Mengerti mengerti Siaute sering berkelana di daerah Lam pak dan sungai telaga, Kami berdagang kain keliling.

Nama besar Wi Pak sam long sudah pernah kami dengar,"

Sahutnya sambil mengerling saudaranya yang kurus "Tangannya diulurkan untuk mengambil buntalan dibahu si kurus.

Setelah merogoh kian kemari akhirnya dia mengeluarkan uanglima tail dalam bentuk recehan.

Dia meletakkannya dengan hati hati di atas meja para laki laki kasar itu Wajahnya mengembangkan senyuman.

"Siaute adalah rakyat kecil. Bisa mendapat perlindungan ketiga orang toaya, merupakan kebanggaan kami. Ini sedikit uang yang kami dapatkan sepanjang perjalanan. Kami memberikannya dengan rela kepada para Toaya..."

Katanya kemudian.

Sepasang mata Pek Phi Long yang memancarkan warna kemerahan menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Pedagang bertubuh gempal itu melihat reaksi yang kurang menyenangkan.

Dia menatap kepada pedagang bertubuh gemuk.

Mereka sibuk mengeluarkan isi yang tersisa dan dalam buntalan tersebut Jumlahnya mencapai tiga ratus tail perak.

"Uang ini tentu tidak berarti buat Toaya, tapi harap jangan menganggapnya sebagai balas jasa. Siaute memberikannya karena rasa hormat semata,"

Kata pedagang bertubuh gemuk itu dengan tangan gemetar.

Pek Phi Long mengangkat cawannya yang masih tensi separuh.

Dia mengebaskannya ke arah muka pedagang bertubuh gemuk itu, Gerakan tangannya wajar sekall Seakan sedang mengadakan sebuah pertunjukan saja.

Pedagang bertubuh gemuk itu terpana.

Wajah dan sebagian baju bagian dada basah semua.

Pek Phi Long merasa lucu melihat tampangnya.

Dia tertawa terbahak-bahak, Bulu kuduk pedagang bertubuh gemuk itu berdiri mendengar suaranya yang menyeramkan itu.

Dla tidak merasakan tubuhnya yang basah kuyub.

Tanpa sadar, kakinya mundur selangkah.

Tampaknya bernafas agak keras pun, dia tidak berani.

Tawa Pek Phi Long lenyap.

Sinar matanya semakin dingln rnenusuk Seperti sebilah pisau yang tajam.

Dia memandang pedagang bertubuh gemuk dari atas kepala sampal ujung kaki.

"Kau kira Wi Pak sam long menndungimu sampai sekian Jauh hanya untuk uang senilal tiga ratus tail?"

Tanyanya ketus. Pedagang bertubuh gemuk itu mengerutkan badannya.

"Tentu tidak tentu tidak,,."

Sahutnya gemetar. Sampai saat itu, dia baru berani mengusap air yang membasahi waJahnya.

"Bagus sekali kalau kau tahu"

Kata Pek Phi Long sambil mengelus dagunya.

"Kami merupakan orang-orang yang suka berterus-terang. Toaya melindungi kalian dari Wi Pak tentu mempunyai niat tertentu Kami hanya menginginkan barang berharga di buntalan yang satu lagL Kalian tentu mengerti apa yang kami maksudkan bukan?"

Pek Phi Long melanjutkan perkataannya tadi,. Wajah kedua pedagang itu pucat seketika.

"Kami hanya dua orang pedagang kecil kata pedagang bertubuk gemuk gugup.

Pek Phl Long megeluarkan sebatang go-lok baja dari buntalan di mejanya.

Dia mengibas-ngibaskan di hadapan kedua pedagang tersebut, Di waiahnya terpancar segumpal hawa pembunuhan,.

"Toaya tldak ada waktu untuk berdebat dengan kalian, Jawab saja... mau harta atau sayang nyawa?"

Bentaknya. Pedagang bertubuh gemuk itu gemetar. Wajahnya pucat pasi.

"Kau . mengancam nyawa kami untuk merampok harta?"

Tanyanya panik. Pedagang yang kurus diam-diam menjawil lengan baju adiknya.

"Loji..., Jangan berkata apa-apa lagi. Sam wi eng hiong mengikuti kita sejauh ratusan li. Mereka tentu sudah menyelidiki keadaan kita sampai jelas. Untung saja barang pesanan ini jumlahnya tidak seberapa. Paling-paling laksaan tail saja. Kita masih harus serlng melewati wilayah para toaya ini. Ang-gaplah barang ini sebagai tanda persahabatan Orang yang serlng mengadakan perjalanan seperti kita, memang harus banyak bergaul. Ini yang disebut, kehilangan harta namun hati tenang,"

Kata pedagang tubuh kurus tersebut.

Wi Pak sam long tadinya mengira barang yang dibawa kedua pedagang itu, paling paling bernilai ribuan tall, sakarang mereka mendengar sendiri bahwa jumlahnya jauh melebihrperklraan mereka.

Tentu saja hal ini membuat Wi Pak sam long kesenangan.

pedagang bertubuh gemuk itu mengang-gukkankepalanya berkali-kalL.

"Kaiau lotoa sudah berkata begitu, aku loji mana berani membantah Namun perjalanan kita kali ini boleh dl bilang sia-sia saja,"

Sahutnya sambil menghela nafas,.

"Tidak apa-apa.

Selama gunung masih menqhijau, tidak usah takut kekurangan kayu bakar.

Kali Ini Wi Pak sam long mau mengampuni jiwa kita, sudah termasuk suatu keburuntungan, kata pedagang bertubuh kurus.

"Tidak salah! Kami Wi Pak sam long biasanya tidak membiarkan korban kami lolos dalam keadaan hidup. Namun kali ini kami bisa membuat pengecualian. Melihat keJujuran kalian berdua, biarlah kami mengampuni jiwa kalian"

Sahut Pek Phi Long.

Kedua pedagang itu bagaikan mendapat pengampunan dari kaisar.

Mereka tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

Dan buntalan yang satunya lagi, mereka mengeluarkan serenceng mutiara yang besar-besar.

Keduanya saling berebutan meletakkannya di atas me|a laki-laki besar tadi.

Pek Phi Long sudah lama berkecimpung di rimba hijau.

Matanya setajam burung elang, Dia melihat buntalan yang berisi mutiara itu belum kempes seluruhnya.

Dl dalamnya pasti masih tersisa sesuatu.

Dia mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Apakah seluruh isi buntalan itu telah dikeluarkan?"

Tanyanya sinis. Pedagang bertubuh gemuk itu menganggukkan kepala berkali-kali.

"BetuL semuanya telah di keluarkan,"

Sahutnya terbata-bata,. Peh Phi Long mendengus keras, Dia menarlk kerah baju pedagang gemuk pendek itu.

"Keluarkan semuanya! Jangan kau anggap aku manusla tolol"

Bentaknya, Wajah kedua pedagang itu semalyn pucat Mereka memaksakan sebuah senyuman di bibir.

"Terus-terang saja, Toaya.. Yang sisa ini adalah modal.....Pek Phi Long mengibaskan tangannya menghentikan pembicaraan pedagang bertubuh gemuk,.

"Rupanya kalian belum gentar kalau melihat peti mati. Mau keluarkan atau tidak" . bentaknya sekali lagi Dia tidak memberi kesempatan kepada pedagang tersebut melanjutkan penjelasannya.

"Lotoa.... Bukankah ini sama saja dengan meminta nyawa kita?"

Tanya pedagang gemuk itu kepada saudara tuanya,.

"Hal ini juga tidak dapat dikelabui lagi, Kalau sam enghiong memang ingin melihat, lebih baik kita tunjukkan saja,"

Sahut pedagang bertubuh kurus. Pedagang bertubuh gemuk itu tampaknya serba salah. Dia menatap saudaranya kebingungan.

"Tapi, kalau di tunjukkan, kita bisa kehilangan nyawa,"

Katanya.

"Tidak dikeluarkan |uga sama kehilangan nyawa,"

Sahut Pek Phi Long sambil mendengus.

"Betul! Betul!"

Kata si pedagang bertubuh kurus. Saudaranya terpaksa merogoh kembali buntalan tersebut Wajahnya terlihat tegang.

"Lotoa.. Kau saja yang mengeluarkan milikmu lebih dahulu." . Mata pedagang bertubuh kurus Itu mendelik Dia menganggap saudaranya terlalu bodoh. Mestinya ketiga laki-laki kasar itu tahu bahwa di sakunya masih tersimpan sesuatu, Perkataan lojinya sama dengan memberitahukan, Benar saja! Wajah Pek Phi Long tampak cerah.

"Oh,.. kau juga punya sesuatu...Hayo... keluarkan sekalian!"

Bentaknya.

Gerakan pedagang kurus itu leblh slgap, Mungkin dia menganggap hal tersebut tidak dapat disembunyikan lagi.

Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan balik sakunya.

Tang!!!

Bunyinya berdenting.

Tampaknya bungkusan itu berat ]uga isinya Dia membuka kain penutup benda tersebut Wa-jahnya menunjukkan senyuman terpaksa.

"Siaute hanya mempunyai sepasang inl saja..."

Katanya,.

Kain pembungkus yang, diletakkan di meja sudah lusuh sekali.

Isinya ternyata bukan segala permata atau uang emas, hanya sepasang potlot besi berwarna hitam pekat.

Wajah Pek Phi Long berubah seketika Dia tarperanjat sekali.

"Sepasang potlot besi..."

Gumamnya. Pedagang bertubuh gemuk juga segera mengeluarkan isi dalam buntalannya. Dia menyodorkannya ke hadapan Pek Phi Long. Wajahnya masih tetap tersenyum.

"Siaute hanya mempunyai sebuah cakar baja saja Apakah para enghiong menyukainya?" . Biarpun dia tidak menerangkan, Pek Phi Long juga sudah melihat dengan jelas. Tangan kanan pedagang gemuk itu sekarang, mengenakan sebuah cakar elang denganlima kuku yang terbuat dari baja. Sekelebatan angin menerpa wajah pek Phi Long, cakar baja itu bergerak cepat dan berhenti di depan dadanya. Cakar baja itu menge-luarkan sinar berwarna kebiruan. Hal ini membuktikan bahwa senjata itu telah direndam racun yang ganas. Pek Phi Long bukan orang baru dalam kalangan nmba hijau. Sedikit banyak, pengetahuannya cukup luas juga. Tentu saja dia pernah mendengar tentang kedua senjata tersebut.

"Thi pit, Kang jiau, Ai mia pai cu (Potlot besi, cakar baja, pedagang peminta nyawa)!"

Serunya gemetar.

Lo toa dari Wi Pak sam long baru saja menyumpit sebuah tahu untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.

Tanpa sempat mengunyah lagi, tahu itu langsung ditelannya.

Dia terkejut mendengar keterangan saudaranya yang kedua.

Tadinya dia menyerahkan urusan jual beli tersebut di tangan lojinya.

Dia hanya duduk dan makan sambil menunggu hasil.

Dia segera bangkit dari tempat duduknya.

Tangannya menjura kepada kedua pe-dagang tersebut.

"Cayhe hengte benar-benar ada mata tapi tak berbiji, tidak mengenali kedua Hiap khek. Kalau tadi ada sedikit kesalahpahaman, harap kedua Taihiap maafkan"

Katanya sambil membungkukkan badan dengan hormat. Mata pedagang bertubuh gemuk itu seperti setengah terpicing. Bibirnya masih mengulum senyum.

"Kiu lotoa Kata-katamu terlalu sungkan. Kami heng te bukan sembarang taihiap. Tapi pedagang. Pedagang peminta nyawa!"

Sahutnya ramah.

Ma bin long merasa ucapan itu agak tidak beres Kenngat dingin mulai mengucur di keningnya.

Thi pit, kang jiau, Ai mia pai cu, memang bukan sembarang pendekar.

Mereka selalu mengadakan jual beli di daerah.

tenggara.

Hati keduaorang itusangat kejam.

Tangan mereka juga amat telengas Ma Bin Long berdiri di Wi Pak mempunyai sedikit nama, tapi kalau di bandingkan dengan kedua orang pedagang peminta nyawa ini, mereka ibarat tiga ekor semut di telapak kaku mereka.

Meskipun dia dapat dikatakan seorang penguasa di daerahnya, namun dia juga tahu Asalkan telunjuk saiah satu orang itu terulur.

Nyawa mereka bertiga terpaksa dikorbankan.

Malam ini merupakan malam sial bagi mereka.

Mengapa tidak mengikuti orang lain, malah bisa bertemu dengan kedua iblis ini?

Siapa pun tidak akan menyangka bahwa akhir kejadian itu bisa berubah demikian.

Padahal kedua pedagang itu tampak sungguh-sungguh ketakutan ketika diancam tadi.

Ma bin long segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan kedua pedagang tersebut.

"Harap kedua Taihiap berjiwa besar. Siaute mempunyai mata tapi tidak melihat gunung Thaisan yang menjulang. Orang yang ,berjiwa besar tidak akan menganggap serius seorang manusia tolol. Harap Taihiap mengampuni jiwa kami beberapa hengte ini,"

Katanya sambil membenturkan kepala ke lantai berkali-kali.

Pedagang bertubuh gemuk itu melebar-kan senyumannya Ma bin long terkesiap.

Dia sudah mendengar kebiasaan kedua orang ini.

Yang gemuk jika semakin tertawa semakin berbahaya.

Sedangkan yang kurus semakin sering menartk nafas, semakin kuat keingmannya untuk membunuh.

"Sam wi enghiong makin tidak benar. Bukankah tadi siaute sudah menerangkan, bila barang ini dikeluarkan bisa meminta nyawa. Namun memang siaute juga ikut bersalah Sebetulnya nyawa yang dimmta bukan nyawa kami, tapi nyawa kalian. Barang yang merupakan modal kami tni sangat aneh. Kalau sudah dikeluarkan pasti akan melukai orang Siaute juga tidak mengertl apa sebabnya"

Sahut si Cakar baJa,. Pek Phi Long, Toan bwe long segera ikut berlutut di samping Ma bin tong. Mereka bagai sebuah kelompok penyanyi koor.

"Taihiap, ampuni jiwa kami!"

Kata mereka serentak. Kepala mereka terangguk-angguk bagai burung pelatuk, Tentu saja kening itu bercucuran darah segar.

"Tampaknya sam wi enghiong lebih menyayangi nyawa daripada harta. Mengapa aku Ho loji. tidak menyimpannya lebih dulu?"

Katanya seorang din Dia mengulurkan tangan dan meraup uang parak yang tersedia di atas meja tadi.

Semuanya dimasukkan kembali ke dalam buntalan.

Pedagang yang bertubuh kurus tampaknya tidak tega melihat ketiga orang itu Dia menank nafas panjang.

"Loji, Begini saja... melihat keadaan mereka yang begrtu ketakutan, apalagi mereka juga sudah cukup sopan terhadap kita, leblh baik kita bermurah hati sedikit Suruh mereka masing-masing memotong sebelah ta-ngan lalu biarkan mereka pergi. Bagaimana"

Katanya memberi usul. Pedagang bertubuh gemuk tertawa-tawa.

"Apa yang dikatakan Lotoa, selamanya tldak pernah kutawar. Namun rasanya terlalu murah bagi mereka. Ya... sudahlah... sahutnya.

"Wi Pak sam long .. Kalian dengar! Manusia yang bertemu dengan Ai mia pai cu, selamanya tidak ada yang berhasil meninggalkan tempat dalam keadaan hidup. Lie lotoa hanya mengingat bahwa tadi kau pun bersedia melepaskan din kami. Namun kalian diharuskan meninggalkan sebuah tangan di atas meja untuk peringatan. Mengerti"

Bentak Lie Lotoa. Bertemu dengan Ai mia pai cu tanpa kehilangan nyawa, benar-benar terhitung rejeki besar Wi Pak sam long mana berani banyak bertingkah, Mereka menganggukkan kepala serentak.

"Terima kasih untuk pengampunan jiwa kedua Taihiap'"

Seru Ma bin long mewakil-kan saudara saudaranya "Mereka bangun bersama.

Golok ba|a yang masih tergeletak di atas meJa segera diambil Ketiga orang itu bersiap-siap mengutungi tangan kiri mereka Pemiiik rumah makan mengeluarkan sepatah kata.

"Eh!"

Dia menghampiri Wi Pak sam long dengan langkah tergesa-gesa. Kedua tangannya digoyanggoyangkan.

"Tuan tuan, harap tunggu dulu. Ini tidak boleh jadi,"

Katanya panik Golok baja di tangan Ma bin long sudah hampir diturunkan Gerakannya terhenti mendengar perkataan pemillk rumah makan itu.

"Tuan-tuan harap maafkan, Siaulo pernah berjanji di depan para dewa, bahwa tidak akan ada darah yang mengalir dalam rumah makan ini Tuan-tuan hendak mengutungi tangan, tentu ada darah yang mengalir Oleh sebab itu siaulo memberanikan diri untuk mencegah. Sedangkan ayam, bebek, serta lainnya saja selalu siaulo pesan dari luar. Setelah dibersihkan. baru diantar kemari. Harap tuan tuan mengerti kesulitan siaulo. Bila memang harus mengutungi tangan sendiri, mohon tuan tuan melakukannya di luar pekarangan saja,"

Kata pemilik rumah makan itu dengan senyum dipaksakan.

"Ciang kuijin.... Siapa yang mendirikan peraturan seperti itu?"

Tanya pedagang kain bertubuh gemuk. Orang tua itu meluruskan pinggangnya sejenak. Kemudian dia menoleh ke arah orang yang bertanya dengan senyum semakin lebar.

"Peraturan di rumah makan ini, tentu siaulo sendiri yang menentukan,"

Sahutnya. Pedagang bertubuh kurus menatap orang tua tersebut dengan pandangan tajam, Dia merasa tidak sabar melihat sikap orang tua itu.

"Bagaimana kalau peraturan Hu tidak diindahkan?"

Tanyanya.

"Bagaimana mungkin.Ada pepatah yang mengatakan.

Bo khua hud bin, khua kim bin (Tidak memandang muka buddha, pandanglah muka dewata) Tuan-tuan tidak memberi muka kepada siaulo tidak apa-apa, tapi setidaknya tuan-tuan harus memandang muka para dewa, sahut orang tua tersebut dengan senyum datar.

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut tangannya menunjuk ke arah sebuah meja sembahyang di bagian dalam.

Meja itu terlihat kotor.

Sedangkan gambar yang tergantung di atasnya juga telah berwarna kehitaman karena terkena asap dari dapur Gambar itu adalah sebuah lukisan hasil kerja tangan dengan menggunakan tinta mopit.

Setelah diperhatikan dengan jelas, baru terlihat bahwa yang dilukis adalah seekor harimau hitam.

Di atas meja sembahyangan itu juga ter-dapat dua buah tempat lilin dan sebuah pedupaan.

Tampaknya pemilik rumah makan itu seorang yang fanatik sekali dalam memuja dewa tersebut.

Bila tidak, dia tentu ti-dak akan berarn berkata seperti itu di depan Ai mia pai cu.

Pedagang bertubuh kurus itu sama sekali tfdak mendongakkan wajahnya.

Otomatis dia juga tidak tahu dewa apa yang disembah orang tua tersebut Dia bahkan menatap orang tua itu dengan pandangan sinis.

"Kalau kami memang ingin mengalirkan darah di rumah makan ini, apakah dewamu sanggup menghalanginya"

Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada dingin. Pemilik rumah makan itu tersenyum lebar.

"Kalau tuan-tuan memaksa melakukan hal yang dilarang dj rumah makan ini, dewapasti bisa menghalanginya "

Sahutnya yakin.

Tepat pada saat perkataannya selesai, sebuah tertawa yang merdu terdengar dl kedai kecil tersebut Sekali dengar saja, orang su-dah bisa mengetahui bahwa suara Itu keluar dari mulut seorang perempuan Di dalam rumah makan Itu, hanya ada satu orang perempuan Dia adalah tamu yang duduk di sebelah kanan dalam.

Suara tawanya sudah sirap.

"Thi pit, Kang jiau, dua orang taihiap dengan nama begitu besar Masa tldak dapat menduga dewa apa yang disembah orang tua itu? Tentunya pengalaman kahan sudah cukup banyak bukan?" .katanya dengan bibir mencibir. Jangan di llhat dari cara berpakaiannya yang seperti orang desa Sekali buka mulut, orang sudah dapat menduga kalau perempuan ini tidak seperti orang biasa. Thi pit Lie Pak tou (pedagang bertubuh kurus) mengangkat kepalanya seketika. Dia memandang perempuan berbaju hijau itu sekejap, kemudian tatapannya berallh ke lukisan yang tergantung di atas meja sembahyang Dja memang sudah lama merantau ke segala penjuru Begitu mendengar kata kata perempuan itu, sebuah ingatan berkelebat di j benaknya. Dia pernah mendengar tentang seorang Jago di kalangan kangouw yang sudah lama mengundurkan din Julukannya adalah Hek houw sin. Nama aslinya Chao Kuang Tu Hatinya tergetar. Orang ini tidak boleh dipandang ringan. Slapa yang menyangka bahwa dia sekarang membuka sebuah rumah makan kecil di desa ini. Lie Pak Tou cepat-cepat menjura dalam dalam ...

"Cahye kakak beradik tidak tahu kalau lojin adalah Hek houw sin Chao cianpwe. Ucapan yang kurang ajar tidak disengaja. harap Cianpwe maafkan."

Katanya. Pemilik rumah makan itu tampak terpana, Dia segera membalas penghormatan. tersebut.

"Tuan-tuan jangan begitu Yang siaulo puja adalah dewa reJeki. Ini pun baru dimulai se| ak tanggallima awal tahun ini,Ada orang yang memberikannya kepada siaulo. Katanya kalau siaulo menempelkan lukisan dewa inl di dinding dan bersembahyang dengan pasang hio setiap che it, cap go, maka rejeki akan mengalir terus. Kenyataannya memang rumah makan siaulo lebih ramai dari biasanya sejak memuJa dewa tersebut,"

Sahut orang tua ilu dengan tampang ketolol-tolol-an, Dia menelan ludah sejenak.

Kemuchan bibimya tersenyum kembalL "Harap tuan-tuan jangan mendengar gurauan niocu itu, Slaulo bukan orang besar apa-apa,"

Lanjut-nya dengangaya merendahkan diri. Thi pit Lie Pak Tou mana mau percaya dengan omongan orang tua tersebut. Dia mengallhkan pandangan kepada Wi Pak sam long.

"Karena Chao lo cianpwe Sudah membuka mulut emasnya, berarti hukuman kalian mengutungf tangan tidak usah ddanjutkan lagi. Cepat menggeHnding»"

Bentaknya. Wi Pak sam long mengiakan serentak Ma bin tong sebagai lotoa segera merangkapkan kedua tangannya. Dia menjura dalam-dalam kepada pemillk rumah makan tersebut "Terima kasih, Chao lo yacu"

Katanya.

Mereka segera membalikkan tubuh dan me-nlnggalkan tempat tersebut dengan tergesa-gesa Mungkin merekatakut kalau salah satu dan ketiga orang tersebut berubah pikiran.

Pemuda yang duduk di sebelah kiri dalam, sejak tadi hanya makan dan minum tanpa memperdulikan sekitarnya.

Sandiwara yang berlangsung seru di hadapannya, seperti tidak menarik perhatiannya sama se-kali.

Dla tidak pernah melirik atau mendo"

Ngakkan kepala untuk melihat adegan itu.

Begitu melihat kepergian Wi Pak sam long, dia juga tampaknya tergesa-gesa ingin me-ninggalkan tempat tersebut.

Ditetakkannya mangkok yang sudah kosong di atas meja.

Dari balik sakunya, dia mengeluarkan beberapa keping uang receh dan diletakkan di samping mangkok tadi, Dengan langkah terburu-buru dla ketuar dan sebentar saja su-dah menghilang dalam kegeiapan.

Pemilik rumah makan itu melirlknya sekejap.

Dia menggelengkan kepala melihat tingkah pemuda tersebut.

Kain lap yang tersampir di pundaknya, diambil untuk membersihkan meJa Mangkok dan cawan arak dibereskan.

Usianya yang sudah tua membuat gerakannya kaku dan lambat.

Thi pit dan ang ciau tidak melihat bahwa Orang tua itu mengerti ilmu silat Apakah orang tua ini benar-benar Chao Kuang Tu yang sudah mengundurkan diri dari Bu lim?

Bukankah menggelikan bila hanya karena selembar lukisan yang ditempel di dinding lalu menganggap orang tua itu adalah Hek houw sln?

Dengan kedudukan seperti Thi pit dan Kang jiau, seandalnya mereka sa!ah lihat dan kabar ini tersebar luas dl luaran, bukankah akan menjadi bahan tertawaan?.

Oleh sebab itu, dalam hati Ue Pak Tou merasa bahwa kata katanya terhadap Wi Pak sam long sudah terlanjur diucapkan.

Orang toh sudah pergL mau diapakan lagi?

Namun otaknya mempunyai rencana tersen-diri.

Dia menunggu sampai orang tua itu membalikkan tubuh dan membelakanginya.

Dijumputnya sebuah tulang ayam lalu disentilnya ke arah tulang punggung pemilik rumah makan itu.

Dia hanya bermaksud mengujl orang tua tersebut Tenaga yang digunakannya tentu saja tidak seberapa besar, namun gerakannya cepat sekali.

Siapa sangka pemilik rumah makan yang sudah tua Itu memang membersihkan meja dengan setengah hati Dia hanya melap secara serampangan saja, kemudian pindah lagi ke meja lainnya.

Ketika tulang ayam yang disentil oleh Lie Pak Tou hampir mengenai punggungya, dia sudah berpindah ke meja lain.

Tentu saja timpukan itu jadi meleset dan terjatuh ke lantai tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Orang tua itu tampaknya tidak menyadari perbuatan Lie Pak Tou, Dia menyampirkan kembali kain lap yang sudah kotor itu di pundaknya dan dengan langkah gontai menuju ruangan dapur.

Lie Pak Tou yang gagal menguji orang tua tersebut, semakin penasaran.

Dia menoleh kepada adiknya sekejap Pedagang bertubuh gemuk yang bernama Ho Pak Tung itu sangat mengerti perasaan kakaknya itu, Kalau dipikirkan secara seksama, orang tua tersebut memang tidak mengakui dirinya adalah Hek Houw Sin Yang mengatakannya adalah perempuan berpakaian hijau di dalam.

Dia segera mengalihkan pandangan kepadanya SekeJap kemudian dia bangkit dan berjalan menuju meja yang diduduki perempuan tersebut Wafahnya menampilkan senyuman, Pipinya yang gemuk membuat se-pasang matanya bertambah sipit kalau sedang tertawa.

"Siau niocu. Maaf menganggu..."

Katanya. Wajah perempuan itu berbentuk bulat telur. Dia mengangkat kepala dan membalas tatapan pedagang gemuk itu dengan tersipu-sipu.

"Oh Tidak apa-apa. Ho ya menghampiri meja Siau nu budak cilik) tentu mengandung maksud tertentu?"

Tanyanya. Ho Pak Thung benar-benar bertampang padagang. Wajahnya selalu tersenyum Penampilannya bagai saudagar besar. Dia malah bersikap ramah sekali.

"Cayhe dua bersaudara selalu berdagang di wilayah tenggara. Baru kali ini mencoba mengadu peruntungan di wilayah Kang wi, Terima kasih atas petunjuk Siau niocu yang berharga tadi,"

Katanya sopan. Perempuan itu membalas senyuman pedagang gemuk itu.

"Aku juga datang dari tenggara. Oleh se-bab itu, sekali mendengar nama besar liong wi tayhiap, aku segera tahu Mengenal perkataan petunjuk, Siau nu sama sekali tidak berani menerimanya.Tapi pemilik rumah ma-kan ini adalah Hek Houw sin, memang sejak semula siau nu sudah mengenalinya,"

Sahut perempuan itu.

Dia tertawa dengan suara merdu.

Sederetan gigi yang putih bersih membuat wajahnya semakin'manis.

Gayfc nya juga sangat menawan.

Ho Pak Thung terpesona.

Namun dla juga agak terperanjat.

"Siau'niocu mengenali Hek Houw sln Chao Kuang Tu Apakah dia merupakan ciang kui Jin rumah makan ini?"

Tanyanya sekali lagi Dia tampak masih kurang yakin. Perempuan berbaju hpau menjebikan bibirnya. Sesaat kemudian diatersenyum nakal,.

"Ho ya bicara sampai kemana,... Siau nu kapan pernah berkata bahwa pernah mengenal Hek Houw sin?"

Alis matanya dlkerutkan. Lalu dia melanjutkan kembali.

"Siau nd tadi melihat kedua taihiap tidak mengetahui dewa apa yang dipuja pemilik rumah makan ini, makanya Siau nu menjelaskan kepada taihiap berdua." . Chao Kuang Tu, Julukannya Hek How sin memang dewa harimau yang dipuja orang,. Mungkin saja perempuan ini memang bukan orang kangouw sehingga kata-katanya jadi kacau. Namun sinar matanya menyembunyi-kan sesuatu. Ho Pak Thung bukan anak ke-marin sore yang dapat dikelabui begitu saja. Dia tahu perempuan itu memang berlagak pllon. Ho Pak Thung tersenyum.

"Siau njocu datang dari tenggara. Entah darirnana pernah mendengar nama cayhe bersaudara? tanyanya. Perempuan berbaju hijau itu tertawa. Dia menunjuk keranjang yang terletak di sampingnya.

"Siau nu selaiu berjualan bunga di Pek Toa hu thong (Pintu masuk sebuahkota ) sahutnya Orang yang keluar masuk di Pek Toa hu thong memang berdiri dari berbagai macam kalangan. Tidak heran kalau perempuan itu pernah mendengar nama mereka disana . 'Kemana Siau niocu hendak pergi kali ini?"

Tanya Ho pak Thung kembali. Be hua niocu (Perempuan penjual bunga) itu melirik Ho Pak Thung sekilas, Wajahnya tertunduk.

"Pertanyaan Ho ya terasa seolah-olah me-naruh kecurigaan terhadap Siau nu. Tapi tidak apa-apa. Orang tua Siau nu tinggal di Yang ciu. Maksud kepergian siau nu kali ini adalah ingm menjenguk ibu,"

Sahutnya. Ho Pak Thung terlawa terkekeh-kekeh,.

"Kalau rumah orang tua siau niocu me-mang berada di Yang ciu, seharusnya tidak melalui jalan ini bukan?" . Be hua niocu mendengus sekali Senyumnya tidak dipamerkan lagi.

"Temyata Ho ya memang menaruh kecungaan terhadap siau nu Rumah orang tua siau nu memang di Yang ciu, tapi paman slau nu justru tinggal di ujung desa ini. Siau nu toh sudah melakukan perjalanan jauh Apa salahnya sekalian mampir menengok pamanku"

Sahutnya ketus.

"Budak ini berlidah tajam. Kata-katanya tidak boleh dipercaya sepenuhnya,"

Pikir Ho pak Thung dalam hati.

"Otaknya bekerja, belum sempat lagi dia bertanya lebih lanjut, tibatiba seseorang menerobos darl luar.

Meskipun langkahnya limbung namun g-rakannya sangat cepat.

Begitu bayangannya terlihat, orangnya sudah masuk ke ruangan dalam.

Ternyata dia adalah pemuda berwajah kotor dan hitam tadi.

Bukankah dia keluar dari rumah makan itu setelah Wi Pak sam long?

Pada saat ini, terlihat bahu dan pahanya mengucurkan darah terus-menerus.

Bajunya yang memang lusuh semakin tidak karuan.

Tampaknya dia baru saja diserang oleh seseorang dengan golok yang taJam.

Nafasnya masih tersengal-sengal.

Tanpa berkata sepatah kata pun, dia langsung duduk di atas kursi.

Kemudian mengeluarkan sebotol obat dari ikat pinggangnya dan segera menaburkan obat itu di atas luka-lukanya.

Be hua niocu segera menghampirinya.

Dia bertanya dengan suara lembut.

"Siau hengte (adik kecil) Mengapa kau kembali tadi?'. Pemuda itu acuh tak acuh. Dia menunjuk ke arah luar rumah makan.

"Kau tanya sa|a pada mereka!"

Sahutnya ketus. Kamudian dia memejamkan matanya Orang yang mengalirkan darah begitu banyak, pasti membutuhkan istirahat. Namun perkataannya "Kau tanya saja pada mereka,"

Membuat orang yang mendengarnya merasa tidak mengerti.

Tepat pada saat itu, dari luar masuk lagi beberapa orang.

Tampak Wi Pak sam long saling memapah satu sama lainnya.

Tubuh mereka lebih rusak dari pemuda tadi.

Jalannya juga terhuyung-huyung.

Bukan saja go-lok baja yang sudah mereka bawa lidak ke-lihatan, bahkan pakalan mereka pun sudah koyak disana sini.

Tubuh mereka berlumur-an darah.

Mungkin tidak kurang dari sepuluh bacokan yang diterima oleh ketiga orang tersebut.

Begitu masuk ke dalam rumah itu, mereka tidak dapat mempertahankan diri lagi.

Semuanya jatuh terduduk di atas lantai.

Melihat keadaan tersebut, orang yang ada di ruangan segera menduga-duga kemungkinan besar, pemuda itu mengejar Wi Pak sam long karena ada dendam pribadi Dan setelah berhasil menyandak, dia jangsung menyerang-Tentunya terjadi pertarungan sengit.

Akhirnya kedua belah pihak sama-sama terluka.

* * *.

Pemuda hitam itu masih belia usianya.

Dia dapat menghadapi Wi Pak sam long dan melukai mereka demikiap-parah, sedangkan luka di tubuhnya sendiri tidak separah ketiga orang tersebut.

Hal ini membuktikan bahwa ilmunya tidak dapat dianggap enteng.

Be hua niocu berdiri.

Langkah lemah-gemulai.

Dia menghampiri Wi Pak sam Long.

"Kaliah buat apa mencari kesulitan Sedikit sedikit main senjata Lihat darah yang mengalir dari tubuh kalian bukankah menakutkan?"

Katanya, Dia membalikkan tubuh. Pandangannya terjatuh kepada pedagang bertubuh gemuk.

"Hoya.

Di tubuh liong wi, mungkm ada membawa obat untuk menyembuhkan luka.

Kita tidak dapat melihat kematian tanpa menolong Cepat keluarkan.

Biar siau nu membantu mereka memborehkan di atas luka.

Ho Pak Thung tampak kagum terhadap perempuan ini.

"Ada... ada!"

Sahutnya.

Dari ikat ping-gangnya, dia mengeluarkan sebuah botol obat.

Dia menghaturkan dengan kedua tangan.

Be hua niocu segera menyambutnya-Dia membuka botol tersebut dan menuang-kan ismya.

Dengan hati-hati diborehkannya di atas luka ketiga Wi Pak sam long.

Obat pembenan Ai mia pai cu ternyata sangat manjur.

SekeJap saja darah sudah berhenti mengalir.

Otomatis rasa sakit juga berkurang.

Ma bin long menatap Be hua nlocu,.

"Terima. kasih. Kouwnio,"

Katanya.

"Tidak perlu bertenma kasih untuk hal sekecil ini,"

Sahut Be hua niocu dengan suara lembut. Namun sejenak kemudian, dia melanjutkan lagi.

"Lihat tampang kalian, tiga orang besar berkelahi dengan seorang bocah ingusan. Sekarang rasakan, empat orang sama terluka, baikkah kelakuan kalian ini?.

"Bukan .. bukan dla .."

Wajah Ma Mn long pucat pasi. Tatapan matanya mengarah ke depan plntu. Yang terlihat hanya kegelapan semata. Namun sinar mata Ma bin long jelas ketakutan.

"Di luarsana ...."

Kata-katanya tidak sanggup diteruskan lagi Tubuhnya gemetar. Thi pit Lie Pak Tou segera berdiri dan berjalan beberapa langkah. Dia berhenti di depan pintu masuk.

"Adaapa di luar"

Tanyanya. Ma bin long berusaha menenangkan hatinya.

"Di luar.., ada Si sin (Dewa kematian) sahutnya tergagap-gagap.

"Kau melihat Si sin?"

Tanya Lie Pak Tou kurang percaya.

"Tidak.. kata Ma bin long.

"Bagaimana, cara kaiian mendapat iuka-luka Itu?"

Tanya Lie Pak Tou kembali. Ma bin long tidak segera men|awab. Dia mengatur nafasnya yang memburu.

"Golok... Sebilah golok yang tldak ter-lihat, ada yang menggenggamnya sahutnya.

"Golok yang tidak ada pemegangnya, bisa melukai Orang"

Tanya Lie Pak Tou semakin bingung. Ma bin long menganggukkan kepaia secara yakin.

"Bisa.., bisa Kami beberapa bersaudara justru dilukai golok semacam itu sahutnya.

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa itu adalah Si sin?

tanya Lie Pak Tou.

Ma bin iong semakin keiakutan.

Wajahnya lebih putih dari seiembar kertas.

Hampir saja dla tidak sanggup menjawab.

Lie Pak Tou mengguncang bahunya dengan keras.

Rasa sakit membuat pikiran Ma bin long agak sadar.

"Sebelum golok terbang itu muncul, terdengar suara seseorang,"

Sahutnya.

"Apa yang dikatakannya?"

Tanya Lie Pak Tou.

"Suaranya sangat anelr Seperti meng-gantung di udara. Kadang-kadang timbul dari sebelah tlmur, kadang-kadang berpindah ke sebelah berat. Dia bilang,.. dia bilang...'. Be hua nlocu ikut panic.

"Apa yang dikatakannya?' tanya perempuan tersebut.

"Dia mengatakan Si sin so cik, kei sou put liu (Peraturan dewa kematian, binatang ayam pun tidak ditinggalkan dalam keadaan hidup),"

Sahut Ma bin long.

"Apa yang kei sou put liu, sedangkan ter-hadap kalian Wi Pak sam long, dia hanya sanggup melukai. Beium pantas di sebul Si sin,"

Kata Lie Pak Tou sambil tertawa terbahak-bahak. Bacu saja ucapannya selesai. Dari arah luarterdengarsegulung hembusan angin.

"Lie. Pak.,. Tou... Cepat. keluar....!"

Suara itu benar-benar seperti tergantung di udara.

Sulit menentukan dari mana tepatnya asal suara tersebut Tarikan nadanya panjang sekali.

Seperti ratapan seorang hantu perempuan.

yang mati penasaran.

Bulu kuduk orang yang mendengarkannyat lang-sung berdin seketika!".

Tamu yang had»r di rumah makan kecil itu terkejut semua.

Wajah mereka berubah he bat Bahkan pelajar yang mengenakan pakalan hijau juga ikut terpana.

Sejak tadi dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa Baru se"

Karang dla terlihat agak takut Meskipun seperti sebuah permalnan anak-ar.ak, tapl tam-paknya bukan Mau tidak mau mereka harus menerima kenyataan itu,. Pek Phl Long semakin mengkeret.

"Lotoa, Hu dia!"

Katanya panik. Tubuh Ma bin long ikut bergetar.

"Sudah datang... sudah datang ..!"

Teri-aknya sambil menunjuk ke depan. Thi plt Lie Pak Tou menyingsingkan lengan bajunya Dia mengeluarkan kembali sepasang potlot besi yang sudah disimpannya tadi.

"Sahabat dari mana yang bergurau segal ini?"

Tanyanya. Tidak terdengar sahutan dari luar.

"Mengapa kau tidak beranl menjawab?"

Tanya Lie Pak Tou kembali.

"Lie ., Pak Tou... Cepat... keluar."

Terdengar suara itu berkumandang kembali.

"Keluar ya keluar ,, Apakah Lie lotoa harus takul dengan setan jadi-jadian macam dirimu."

Tenaknya sambil melangkah keluar. Ho Pak Thung bermaksud mencegahnya.

"Lotoa. .!" . Lie Pak Tou menepiskan tangannya. 'Jalanl Lo ji . Thi pit, Kang jiau sudah merajalela sampai segala penjuru dunia. Aku tidak percaya di dunia ini benar-benar ada setan jejadian! "

Bentaknya.

Sepasang potlot besi dibagi ke tangan kanan dan kiri Dia meiangkah keluar de-ngan langkah lebar Ho Pak Thung yang melihat kakaknya sudah berjalan lebih dahulu.

terpaksa mengikuti dan arah belakang.

Mata setiap tamu yang ada dalam rumah makan kecil itu semua terpaku pada drri Thipit dan Kang jiau.

Be hua nlocu cepat-cepat maju beberapa langkah.

Dia menyingkap kain penutup kepalanya, supaya dapat melihat kejadian di luar lebih jelas, Namun karena keadaan sangat gelap, mereka ha-nya dapat melihat bayangan tubuh Lie Pak Tou dan Ho Pak Thurig secara samar-samar, Lambat-laun langkah kedua orang semakin menjauh dan tidak terlihat lagi.

Rembulan menyembunyikan diri.

Suasana semakin mencekam.

Memandang sampai arah jauh, tetap tidak apa-apa Hanya desir-an angin yang berhembus membawa suara be Pak Tou lapaMapat.

Terdengar dia me-ngoceh dan berteriak seorang din Tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, tamu yang hadir tidak dapat mengetahui apa yang telah terjadi.

"Lie Pak Tou sudah keluar Siapa pun yang ada di iuar... mengapa tidak menunjukkan diri untuk bertemu dengan orang she Lie ini?"

Teriakannya berkumandang di kegelapan malam. Tidak terdengar jawaban apa-apa.

"Lie Pak Tou sudah berani keluar untuk memenuhi undangan. Apakah engkau yang merasa takut"

Teriaknya sekali lag. Keheningan tetap merayap.

"Baik,.. baik. Mungkin kau sudah berada di depansana . Lie Pak Tou ingm melihat kau mempunyai pertunjukkan apa lagi"

Dia kembali maju beberapa langkah.

Ho Pak Thung mengikuti di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dia waspada terhadap keadaan sekeiilingnya.

Keadaan Ini tidak teriihat oleh tamu'-tamu dalam rumah makan kecil itu.

Mereka hanya dapat menunggu dengan hati tegang.

Me-reka tidak mendengar jawaban dari suara yang menggema tadi, Hanya hembusan angin kadang-kadang menyemilirkan suara perkataan Lle Pak Tou.

Tampaknya dia seperti sedang menggumam, lalu membentak dan terakhir tertawa terbahak-bahak Tamu-tamu yang ada di rumah makan tersebut saling pandang Mereka tidak dapat meraba apa yang terjadi dan dialami oleh Thi pit dan Kangjiau.Apakah Lia PakTou tiba-tiba menjadi gila atau kesurupan setan?.

Wi Pak sam long sudah lebih baik ke-L adaannya Darah sudah berhenti mengalir.

Rasa sakit Juga jauh berkurang.

Hati mereka juga amat tegang, Mereka memaksakan din untuk bangkit dan duduk di tempat semula Ma bin long mengangkat cawannya yang masih ada sisa arak-Sekali teguKdikerlng-kan isinya.

Kemudian dia meraih arak yang tergeletak di atas meja.

Dia.menuang kem-bah sampai penuh Sekali lagi dia mengeringkan isi cawan tersebut.

Tarnpaknya dia ingin mengurangi ketegangan hatmya de~ ngan minum sebanyak sebanyaknya,.

Pemuda berwajah hitam yang duduk di pojokan, tiba-tiba membuka matanya.

"Mereka tldak bisa lari jauh..."

Katanya. Be hua niocu meliriknya setelas-.

"Bagaimana kau bisa tahu'?"

Tanyanya. Pemuda berwajah hitam itu membalas kerlingan si perempuan. Dia mendengus. 'Tentu saja aku tahu."

Sahutnya.

"Mengapa kau tidak menjelaskan"

Tanya Be hua niocu. Suaranya merdu namun mengandung sesuatu kekuatan yang mengharuskan siapa pun menJawab pertanyaannya Pemuda itu menatapnya dengan tajam.

"Mereka tidak akan membiarkan tamu yang ada dalam rumah makan ini pergi"

Sahutnya. Pemuda pelajar yang duduk di seberang perempuan penjual bunga tampaknya ikut menaruh perhatian.

"Mengapa?"

Tanyanya. Be hua niocu melirik ke arahnya. Akhirnya kau membuka mulut juga! pikirnya dalam hati.

"Siapa yang tahu apa alasannya,"

Sahut pemuda berwajah hitam sambil mengangkat bahu. Be hua niocu memamerkan deretan giginya yang bagus.

"Bukankah kau mengatakan bahwa kau tahu tadi?"

Tanyanya Gayanya selalu memi kat siapa pun yang memandangnya.

"Aku hanya tahu bahwa mereka tidak akan membiarkan kita nlemnggalkan tempat ini, Apa alasannya, aku tidak tahu,' sahut pe-muda berwaiah hitam tersebut.

Pada saat itu, suara benturan golok terdengar Dan jauh menjadi dekat.

Pemuda berwajah hitam itu melebarkan senyumnya.

"Mereka didesak kembali ke tempat ini,"

Katanya.

Be hua niocu mengarahkan pandangannya keluar.

Di kegelapan terlihat dua bayangan manusia.

Dari tikungan jalan mundur ke arah mereka.

Yang mengejar mereka adalah sinar kelebatan golok.

Terkadang mengarah ke atas, lalu ke bawah, kemudian ke kiri lantas menyerang sebelah kanan.

Gerakannya mengambang di udara.

Kedua orang itu berusaha melawan sekuat tenaga.

Namun tampaknya mereka tidak sanggup menandingi golok terbang itu Langkah kaki mereka semakin kacau, tapi pasti mundur ke arah rumah makan tersebut.

Jarak mereka semakin dekat Sekarang, para tamu dapat melihat dengan jelas.

Orang yang menyerang Thi pit dan Kang jiau adalah bayangan berbentuk tinggi kurus.

Jarak antara dirinya dengan kedua pedagang tersebut masih ada tiga depa lebih.

Namun goloknya tetap menyerang dengan ganas.

Sepasang potlot besi Lie Pak Tou terlihat separti menari-nari dengan kalang kabut.

Laksana sebuah tanan yang tidak sesuai dengan iramanya.

Dia berusaha keras untuk melindungi Ho Pak Thung agar dapat mundur terlebih dahulu.

Dia sendiri parlahanlahan juga menyurutkan diri ke cumah makan kembali.

Bayangan tinggi kurus itu makin mendesak semakin mendekat.

Sekarang semua orang dapat melihat.

Dia mengenakan pakaian berwarna hitam.

Lengan bajunya panjang dan besar Wajahnya kehijauan dengan dua taring tajarin menyeringai Sekali lagi orang dapat mengetahui bahwa dia menge-nakan sebuah topeng setan.

"Dia adalah Ho cong au bo ki (Harimau penagih utang yang sombong tidak kepalang)'"

Seru Be hua niocu terkejut. Pelajar berpakaian hijau itu penasaran.

"Siapa Ho cong au bo ki itu?"

Tanyanya. Be hua mocu tiba-tiba mengembangkan senyuman.

"Dia adalah pembunuh andalan Hek Houw sin,"

Sahutnya.

"Apakah pembunuh andalan itu?"

Tanya pelajar itu kembali.

"Aduh!"

Be hua niocu meliriknya sekilas, Kau ini, pembunuh andalan saja tidak tahu Pembunuh andalan hampir sama dengan pembunuh bayaran.

Orang yang membunuh untuk melaksanakan parintah majikannya.

Apakah kau sudah mengerti sekarang?"

Kata Be hua niocu. Wajah pelajar itu merah padam.

"Terima kasih atas petunjuk Kouwnio. ."

Sahutnya sambil merangkapkan kedua tangan dan menjura dalam-dalam.

Ho pak Thung sudah terdesak sampai depan pintu rumah makan Pandangan se-tiap orang terpaku kepadanya Thi pit, Kang jiau ai mia pai cu telah berkecimpung di kangouw selama puluhan tahun Biia han ini mengalami kejadian yang mengenaskan ini, apa bedanya dengan Wi Pak sam long?

Kalau penstiwa ini tersebar di luaran, bukankah nama besar yang telah dipupuk lebih dan sepuluh tahun, akan amblas begitu saja?

Karena pandangan semua orang tertuju kepadanya dan dia terdesak dalam keadaan begini menyedihkan, membuat Ho Pak Thung tidak sanggup menerimanya Dia meraung dengan keras Tubuhnya berputar.

Gsrakannya bagai seekor burung Tangan kirinya diulurkan, menyambut golok yang menyerang dengan cakar bajanya Meskipun tubuhnya gemuk, gerakannya sama sekali tidak lamban Dia laksana seekor rajawali yang sedang mengamuk.

Gerakan ini sama saja dengan mengadu nyawa Namun dia tidak memperdulikan lagi, Cakar baja di tangan kirinya mencengkeram golok yang datang Sikapnya ini benarbenar diluar dugaan bayangan tinggi kurus itu Takk!!!

Sebuah suara yang menyakitkan telinga berkumandang Golok itu telah terpe-gang oleh cakar baja Ho Pak Thung Sekarang semua orang mengerti mengapa golok itu dikatakan bisa terbang oleh Wi Pak sam long.

Ternyata di bagian gagangnya, meling-kar sebuah rantai yang halus.

"Cari mati!"

Bentak bayangan tinggi kurus tersebut.

Lengan baju sebelah kirinya yang pan jang dikibaskan Sekilas sinar keperakan memancar keluar Ho Pak Thung yang sedang mencengkeram golok menundukkan kepala untuk menghindar Gerakan bayangan itu sangat cepat Ho Pak Thung bermaksud melepaskan golok yang dicengkeram oleh tangannya Namun tampaknya tidak ada waktu untuk melaksanakan matnya lagi.

Lie Pak Tou sama sekali tidak menyangka adiknya akan senekad itu Hatinya tergetar.

Dia mengambil keputusan untuk membantu Ho Pak Thung, namun terlambat juga Be hua niocu ikut terkesiap.

Setiap orang yang melihat peristiwa itu menahan napas.

Pada saat yang genting itu terdengar suara.

"Trang!!'" . Gotok terbang yang berhamburan menyerang Ho Pak Thung mental ke udara Ternyata ada seseorang yang mengibaskan golok terbang tersebut dengan tenaga dahsyat. Bayangan tinggi kurus itu tergetar dan mundur beberapa langkah.

"Siapa?"

Bentak bayangan tersebut sambil menyimpan kembali golok terbangnya. ke dalam saku.

"Lo hu!"

Sahut sebuah suara yang terdengar serak.

Perkataannya selesai, orangnya pun muncul Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut Pakaiannya berwarna hijau tua Lie Pak Tou dan Ho Pak Thung segera mengundurkan diri.

Mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Kedua orang itu juga mendapat luka-luka di beberapa bagian tubuhnya Bajunya koyak di sana-sini Dan celah-celah luka terlihat darah masih mengalir.

Mata bayangan tinggi kurus itu menatap orang yang baru datang dengan pandangan menusuk.

"Siapakah saudara?"

Kami sedang menyelesaikan masalah pribadi, apakah saudara tidak merasa terlalu ikut campur urusan orang lain? "

Tanyanya.

"Lohu tidak ingin melihat anda berbuat kejahatan di tempat ini,"

Sahut manusia berpakaian hijau itu. Tiba-tiba terdengar seseorang berbicara dengan suara rendah.

"Kau orang tua apakah bukan Wi Yang tayhiap Hui Lo yacu?" . Sebuah bayangan, bagaikan hantu yang muncul entah danmana, mendadak berdiri di belakang orang tua berbaju hijau. Tanpa me-ngeluarkan suara sedikit pun, telapak tangannya di arahkan ke punggung Wi Yang taihiap. Bayangan tinggi kurus memperdengarkan suara tertawa yang aneh. Sepasang lengan bajunya dikibaskan. Dari dalam lengan yang longgar menghambur golok terbang sebanyaklima batang, Semuanya terarah ke manusia berpakaian hijau itu. Kedua orang nu menyerang dari depan belakang Namun orang tua berpakaian hijau itu bagai tidak perduli Dia memejamkan mata dan bergumam .

"Tidak tahu diri '" . Tangan kin menepuk golok yang beterbangan ke arahnya. Dan tanpa menolehkan kepala sedikit pun, dia menghantam ke belakang. Terdengar suara ser ! ser ! beberapa kali. Golok bayangan tinggi kurus yang mengarah kepadanya jatuh ke atas tanah Sedangkan tangan kanan yang menghantam ke belakang juga menerbitkan suara keras Blammmmm Dia masih berdiri dengan tegak, sedangkan lawannya terhuyung-huyung tiga langkah ke beiakang. Tamu-tamu yang berada di rumah makan tersebut serasa rnengenal suara orang yang menyerang dan belakang tersebut Rasanya seperti pemilik rumah makan itu Seteiah dia terpukul mundur dan terhuyung huyung, mereka baru melihat bahwa dugaan mereka memang tidak salah Mereka merasa agak heran Jelas tadi dia menuju ke ruangan daiam Entah sejak kapan dia bisa berpindah di luar. Be hua niocu mendengus sekali.

"Hm... Sejak semula aku sudah menduga tentu dia!"

Katanya.

"Siapa?"

Tanya beberapa tamu serentak.

"Houw jiau Sun (Sun si cakar harimau)"

Sahut Be hua niocu. Pelajar yang juga mengenakan pakaian hijau merasa Be hua niocu mengetahui banyak hal Dia menoleh ke arahnya.

"Pemilik rumah makan ini bernama Houw jiau Sun?"

Tanyanya. Be hua niocu tersenyum manis, Dia mem-balas tatapan pelajar itu.

"Dia memang dipanggil Houw jiau Sun. Nama aslinya Sun Bu Hai. Dia adalah satu pembunuh andalan Hek Houw sin. Juga merupakan cakar kaki tangannya Itulah sebabnya orang kangouw memberi julukan Houw jiau Sun."

Sahutnya perempuan itu. Pelajar itu merangkapkan kedua tangannya.

"Kouwnio benar-benar mengagumkan,"

Katanya. Wajah Be hua niocu merah padam,.

"Tenma kasih"

Sahutnya tersipu-sipu. Ho cong au bo ki menatap orangtua berpakaian hijau dengan sinar mata dingrn.

"llmu thi jou kang (Sebuah iimu yang me-ngerahkan tenaga dalam pada bagian lengan baju sehingga kaku seperti besi) saudara benar-benar hebat. Cayhe minta pelajaran,"

Katanya ketus. Orang tua itu tetap berdiri dalam kegelapan malam.

"Lohu hanya ingin kalian meninggaikan tempat ini,"

Sahulnya datar. Houw jiau Sun Bu Hai mengerutkan sepasang alisnya,.

"Kata-kata Hui tayhiap ini bukankah sama saja dengan ingin menyulitkan kami berdua?"tanyanya.

"Apakah kallan tidak berani mengambii keputusan? Kalau begitu Cu jin kalian mung-kin ada di sekitar sini kata Hui tayhlap.

"Cu Jin memang ada di sekitar sini, sahut Houw jiau Sun tertawa lebar. Kata-katanya befum selesai semua, dari jauh sudah berkumandang suara siulan yang aneh,. Wajah Be hua niocu berubah hebat.

"Coba dengar. Itu siulan sang harlmau!"

Katanya.

"Apakah maksudmu Hek Houw sin yang datang?"

Tanya pelajar berpakaian hijau. Be hua niocu berdehem sekali. Dia meiirik ke arah pemuda itu.

"Jangan banyak bicara,"

Katanya,.

Suara siulan semakin lama semakin dekat.

Angln tetap berhembus.

Kegelapan ma-sih menyelimuti hulan rimba, Dari arah jauh muiai tertampak bayangan seseorang.

Gerakannya terlihat lambat dan santai.

Namun suara siulannya belum habis menggema, orangnya sudah berdiri di hadapan orang tua berpakaian hijau.

Tidak usah dikatakan lagi.

Dia tentu Hek Houw sin Chao Kuang Tu.

Tampangnya me-mang angker Orang tua berpakaian hijaii menunjukkan ketenangan yang dalam Dia tersenyum kepada laki-laki yang baru da-tang itu.

"Chao heng bisa berada di tempat ini. benar-benar di luar dugaan semua orang katanya.

"Huk heng juga berada di tampat ini, Sama-sama berada di luar dugaan siaute,"

Sahul Hek Houw sin.

"Anak buah Chao heng melakukan kejahatan di daerah ini. Aku orang she Hui baru saia menegur mereka,"

Kata orang tua berpakaian hijau tersebut. Chao Kuang Tu yang mengenakan pakaian berwarna hitam tampak heran.

"Oh ya? Aku sama sekali tidak tahu"

Se-pasang mata harimaunya melirik sekilas kepada Ho cong au bo ki dan Houw jiau Sun.

"Apakah ada kejadian seperti itu?"

Tanyanya garang.

"Lapor kepada Cu jin. Kejadlan sebetulnya beglni. Karena para tamu yang datang di kedai cayhe rada mencungakan, maka cayhe memberitahukan kepada Au heng. Kalau ada yang bermaksud meninggalkan tempat ini, lebih baik ditahan dulu sampai cayhe mengetahui jetas maksud kedatangannya. Cayhe sama sekali tidak bermaksud buruk,"

Sahut Houw jiau Sun,. Hek Houw sin mengangguk kecil.

"Hmm Hui heng sudah mendengar dengan jelas. Anak buah hengte sama sekali tidak sungguhsungguh ingin melukai me-reka,"

Katanya.

"Kalau begilu bagus sekafi. Sekarang Chao heng sudah boleh membawa anak buahmu meninggalkan tempat Ini,"

Ucap Hui taihiap. Di waJah Hek Houw sin tersiral hawa amarah Dia mendelik ke arah lawannya. 'Apa maksud perkalaan Hui heng ini?"

Tanyanya.

"Di daerah Wi Yang tidak boleh ada yang berbuat kejahalan. Chao heng lebih baik membawa mereka pergi,"

Kata Hui taihiap. Hek Houw sin lertawa lerbahak-bahak i mendengar perkalaan tersebul.

"Maksud Hui heng, aku harus meninggalkan daerah Wi Yang ini?"

Tanyanya sinis.

"Chao heng membawa dua anak buah yang tangannya berlumuran darah. Tentunya rakyat Wi Yang tidak bisa menyambutnya dengan riang gembira sahut"

Hui tai-hiap.

"Aku menghormati dirimu sebagai Wi yang laihiap Namamu memang sudah terkenal berpuluhpuluh tahun Namun bukan berarti aku harus lunduk kepada setiap pe-nnlahmu, Apakah Hui heng lidak merasa bahwa lindakan ini rada keterlaluan?"

Lanyanya garang. Sopan santun tidak diperduli lagi dalam pembicaraan itu,.

"Ini adalah perminlaan penduduk Wi yang. Kalau Chao heng mau memberi muka kepa-daku, tentunya aku sangat berterima kasih. Meninggalkan tempat ini, berarti tidak melanggar peraturan yang berlaku di Bulim" , kata Hui taihiap dengan nada dlngin.

"Kalau aku tidak pergi sama dengan melanggar peraturan kaum Bulim tanya Hek Houw sin sambil tertawa lerbahak-bahak.

"Lebih baik aku peringatkan. Kalau Hui heng masih ingin berkecimpung lama di dunia kangouw dengan nama besar seperti sekarang... lebih baik kurangi ikut campur urusan orang lain" , sahut Hek Houw sin selanjutnya. Manusia berpakaian hijau tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku harus ikut campur"

Sahutnya tegas. Pelajar yang sejak tadi mendengar percakapan orang-orang itu merasa agak heran.

"Mereka tidak mau saling mengalah. Kedua-duanya tldak mau meninggalkan tempal ini. Apakah di sini ada sesuatu yang diperebutkan? tanyanya. Be hua niocu tersenyum simpul,.

"Tenlu saja ada" , sahutnya. 'Apa ilu? tanya pelajar itu kembali "Jangan banyak bertanya. Nanti aku akan memberilahukan kepadamu,"

Sahut Be hua niocu. Pada saat itu, manusia berpakaian hitam yang di panggil Hek Houw sin tersenyum lebar.

"Hui heng tidak dapat dibujuk Apakah kita harus menyelesaikannya dengan kepandaian masing-masing?"

Tanyanya.

"Mungkin ini adalah cara yang terbaik,"

Sahut Hui taihiap.

"Kau benar-benar ingin bergebrak denganku?"

Tanya Hek Houw sin sekali lagi.

"Silahkan Chao heng mengeluarkan senjata,"

Kata Hui taihiap.

"Heng te ingin menggunakan sepasang telapak ini untuk meminta pelajaran dari Hui heng,"

Kata Hek Houw sin.

"Baik . Kalau begitu aku juga akan melayani dengan tangan kosong,"

Sahut Hui tayhiap.

Hek Houw sin mengulurkan tangannya perlahan-lahan Telapak kanannya menyerang ke depan Gerakannya memang lambat Namun seorang ahli tentu dapat men-ge-tahui tenaganya sangat kuat.

Dan semua tersalur ke ujung telapak tersebut.

Orang tua berpakaian hijau itu masih berdiri terpaku.

Telapak tangan Hek Houw sin secara lambat laun mendarat di dadanya.

Begitu tertempel, telapak tangan itu merubah gerakannya.

Dan lambat menjadi cepat.

Siapa pun tidak akan menyangka adanya perubahan seperti itu.

Namun gerakan manusia berpakaian hijau juga tidak kalah cepat.

Ketika telapak tangan lawannya tinggal seujung jari dari dadanya, tiba-tiba dia bergeser ke sebelah kiri Telapak tangannya diulurkan.

Dia mern-alas serangan Hek Houw sin.

"Perlawanan yang bagus!"

Seru lawannya yang berpakaian hitam.

Tangan kanannya berubah arah.

Dengan kelima cakarnya yang tajam dia mencengkeram ke arah manusia berpakaian hijau.

Hui taihiap tidak berani memandang enteng lawannya.

Tangan kanan ditarik kembali Tangan kiri berganti menyerang dengan jurus Awan Hitam Beterbangan.

Sebuah serangan yang mudah.

Dengan sekuat tenaga Hek Houw sin meloncat ke atas.

Tubuhnya berputar di udara Hui taihiap juga meluncur menghindari serangannya.

Gerakan mereka makin lama makin cepat.

Akhirnya yang terlihat hanya dua guiungan angin yang berdesir.

Orang orang yang menonton pertarungan itu tidak bisa membedakan lagi mana lawan dan mana kawan.

Mereka hanya dapat menduga-duga dengan hati tegang.

Tampaknya hanya Houw jiau Sun seorang yang penuh keyakinan dengan ilmu cu jinnya.

Dia menatap orang-orang dalam rumah makannya dengan sebuah senyuman lebar Mukanya yang berkeriput makin tidak sedap dipandang.

Tuan-tuan sekalian Siaulo punya beberapa patah kata yang ingin disampaikan "

Katanya. Be hua niocu menarik keranjang bunganya ke samping.

"Ada perkataan apa? Lekas katakan'"

Bentaknya.

"Siaulo ingin mempenngatkan kalian. Keadaan sekarang amat gawat Kalian hanya mempunyai satu jalan hidup "

Katanya Dia sengaja tidak meneruskan perkataannya.

"Jalan hidup yang bagaimana?"

Tanya Ma bin long.

"Siapa yang menunduk pasti tidak mendapat kematian,"

Sahut Houw Jiau Sun tersenyum lebar. Pemuda berwajah hitam yang sejak ladi diam saja. Sekarang mendengus sinis.

"Tuan tuan dapat melihat. Dengan mengandalkan Wi Yang taihiap saja tentu tidak bisa menandingi Cu jin. Dan apabila kalian beberapa orang bergabung pun masih tidak sanggup melawan aku dan Ho cong au bo ki. Bukankah sama dengan membuang nyawa secara sia-sia'?"

Kata Houw jiau Sun selanjutnya. Be hua niocu tertawa dingin.

"Houw jiau Sun. Kau tidak usah banyak bicara lagi. Kouwnio tidak akan terjerat dalam perangkapmu,"

Katanya.

"Budak cilik. Kau mempunyai kesabaran seberapa banyak?. Kau hanya bocah ingusan yang tidak tahu bagaimana rasanya mati. Kecuali menunduk pada Cu jin siaulo, apa-kah kalian sanggup meninggalkan tempat ini hidup-hidup?"

Tanya Houw jiau Sun terkekeh-kekeh. Be hua niocu mencibirkan bibirnya.

"Tidak perlu kau perduli urusan kami,"

Katanya.

Baru saja ucapannya selesai di ajang pertarungan terdengar suara mengaduh.

Bayangan saling melesat.

Kedua orang itu telah memencarkan diri.

Pandangan setiap orang tertuju ke sana.

Terlihat wajah orang yang berpakaian hijau sangat kelam.

Sedangkan orang mengenakan pakaian hitam berdiri dengan mata mendelik.

Ikat rambutnya telah terlepas dan menap-nap karena hembusan angin.

Wajahnya tampak pucat.

Rupanya kedua orang itu sama-sama mengeiuarkan jurus mautnya masingmasing sama terkejut melihat kelihaian lawan.

Tanpa sadar mereka mencelat mundur.

"llmu Toa siok hun ciu dari Hui heng memang luar biasa!"

Kata orang berpakaian hitam itu sambil tertawa aneh.

"Cao heng punya Houw hong pat sut juga bukan nama kosong"

Sahut orang berpakaian hijau.

"Hui heng memuji terlalu tinggi"

Kata orang berpakaian hitam.

Telapak tangan kanannya terulur.

Sedangkan lengan kiri ditekuk Orang berpakaian hijau itu mengibaskan lengan bajunya Angin kencang menggulung Tampaknya kibasan itu amat lemah dan tidak bertenaga, namun membawa pengaruh besar.

Sebentar menyerang bagian atas, sebentar menyerang bagian bawah.

Semuanya mengarah ke bagian bagian penting tubuh si orang berpakaian hitam.

Telapak tangan kanan orang berpakaian hitam itu segera ditarik kembali.

Kaki kirinya digeser ke samping dan tangan kinnya menekuk seperti cakar hanmau.

Gerakannya sangat cepat.

Dia menyerang dengangaya mencengkeram.

Yang dituju adalah urat bagian pundak si orang berpakaian hijau.

Tapi laki-taki itu sudah waspada sejak tadi, belum lagi cakar orang berpakaian hitam itu sempat mencengkeram pundaknya dia sudah menggeser setengah langkah dan tangan kanannya kembali mengibas.

Kali ini berbeda dengan sebelumnya.

Tadi dia menggunakan tenaga lunak sehingga lengan bajunya berkibar kibar.

Sekarang dia menggunakan tenaga keras Lengan bajunya kaku seperti sebuah pelat besi.

Itulah ilmu Tik Jiu sin Kang andalan orang berpakaian hijau.

Bagi orang awam, tampaknya pertarungan itu sudah kalah gencar dari semula.

Sebetulnya tidak demikian.

Mereka bahkan berlomba mengeluarkan ilmu andalan masing-masing.

Sebentar cepat makin lama makin lambat.

Pertarungan itu sudah mencapai puncaknya.

Pihak satu menyerang, lawannya segera memutar otak untuk memecahkan jurus tersebut.

Begitu juga sebaliknya.

Siapa pun tidak memberi kesempatan pada lawannya untuk meraih keuntungan.

Cara bertarung seperti ini memang memerlukan ketajaman mata Pihak manapun yang menunjukkan sedikit saja kelemahannya, maka dalam waktu sekejap akan menjadi pihak pecundang.

Kedua orang itu terus saling mencakar dan mengibaskan lengan baju.

Semua gerakan sesuai ilmu simpanan masing-masing Setelah sesaat, terdengar siulan aneh dan mulut orang berbaju hitam Kedua tangan diJulurkan secepat kilat.Lima jari mencengkeram.

Tubuhnya menerjang ke arah orang berpakaian hijau itu.

Pada saat itu, terdengar tulang belulang di tubuhnya bergemerutuk.

Disusul dengan suara ledakan-ledakan kecil Mata setiap orang memandang dengan terkesima.

Tubuh orang berpakaian hitam itu tiba-tiba membengkak menjadi hampir dua kali lipat.

"Hui heng, terimalah cakar mautku'"

Tenaknya.

Baglan Tiga.

Seperti seekor harimau menerkam, tubuhnya mencelat ke udara.

Orang berpakaian hijau sudah memperhatikannya sejak tadi.

Dalam hatinya ia berpikir .

Melihat perkembangannya, rasanya tidak salah lagi kalau ini yang disebut ilmu Hek houw tok jiau.".

Begitu ingatan itu melintas, seluruh tenaga dalamnya dikumpulkan.

Dia tidak menunggu sampai serangan lawan mencapai dirinya.

Mulutnya berteriak lantang.

Lengan bajunya terangkat tinggi kemudian dikibaskan.

Pertarungan kedua belah pihak kali ini tampaknya sama mengeluarkan seluruh kekuatan Kemudian terdengar suara benturan keras.

Terjangan orang berpakaran hitam itu terhenti di tengah jalan.

Dia merasa ada tolakan yang kuat menerpa dirinya.

Tubuhnya menggeser.

Tanpa dapat ditahan, dia terdesak mundur dua langkah.

Orang berpakaiah hijau itu juga mengalami hal yang sama Setelah mengaduh satu kali, tampaknya dia hampir kehabisan tenaga.

Tubuh bagian atasnya sempoyongan.

Langkahnya terhuyung-huyung perlahan-lahan dia terdesak mundur satu langkah.

Dalam bentrokan kali ini, orang berpakaian hitam memang terdesak mundur sejauh dua langkah.

Namun karena dia bertindak sebagai penyerang, tentunya kedudukannya lebih di bawah angin dibandingkan orang yang berpakaian hijau tadi.

Sedangkan orang yang berbaju hijau hanya terdesak mundur satu langkah.

Tapi hal ini disebabkan karena dia berperan sebagai pihak penahan.

Kakinya berdin terpaku dengan kuda-kuda yang mantap Dengan de-mikian, boleh dikatakan kedudukan mereka benmbang Siapa pun tidak ada yang kalah dan lawannya.

Tetapi, setelah terlepas dari bentrokan tadi.

mata keduanya sama-sama terpejam.

Mereka sedang mengatur nafas untuk memulihkan tenaga.

Tidak ada satu pun yang membuka suara.

Tepat pada saat itu, terdengar sebuah suara dan seorang perempuan setengah baya..

"Lan Ji, mengapa bersembunyi di dalam rumah makan kecil itu?, Cepat keluar". Be hua kouwnio terpana mendengar ucapan itu. Sekejap kemudian dia berdiri dengan tergesa-gesa. 'Niang (ibu)'"

Teriaknya panik.

"Siapa?' Bentak Ho cong au bo ki.

"Tidak usah memperdulikan dirinya. Kau keluar saja,"

Terdengar sahutan perempuan setengah baya itu. Be hua niocu mengangkat keranjangnya. Dengan wajah berseri-seri dia menoleh ke arah pelajar berpakaian hijau.

"Ibuku sudah datang kau ikut aku keluar dan tempat ini,"

Katanya. Pelajar berpakaian hijau itu mendongakkan kepalanya.

"Kouwnio ". Be hua mocu rada kelabakan melihat sikapnya yang pelintat pelintut.

"Aihh . Kau ini. Ayo cepat keluar,"

Ajaknya. Tanpa segan-segan lagi dia rnengulurkan tangannya menarik pemuda berpakaian pelaJar itu keluar dari tempat tersebut.

"Apakah kalian dapat berlalu begitu saja '?"

Tanya Ho cong au bo ki.

"Bon minuman Ling wi masih belum di bayar,"

Lanjut Houw jiau Sun. Kedua orang itu menghadang di depan Be hua niocu dan pelajar berpakaian hijau itu.

"Kalian tidak menanyakan dahulu siapa lao nio, berani-beranian menghadang kepergian putriku?"

Terdengar perempuan setengah baya itu berseru dengan suara tajam.

Be hua niocu menarik pemuda itu menerjang keluar.

Terlihat cahaya bintik-bintik memercik, mengeluarkan suara mendetak-detak seperti bunyi hujan deras yang diterpa angin melewati samping kedua orang tersebut Di belakang mereka terlihat sebuah bayangan kurus kecil Kecepatannya seperti sebuah anak panah.

Bayangan itu menghambur di kegelapan malam itu menghilang.

"Tian li san hua (Bidadari menyebar bunga)! Apakah kau Be hua po po Ciok sam ku?"

Teriak Houw jiau Sun.

"Kalau tahu, malah bagus,"

Sahut perempuan setengah baya itu sambil tertawa merdu.

Ternyata Tian Li san hua adalah ibu dan Be hua niocu yang juga mendapat panggilan Be jua po po (Nenek penjual bunga) Dia yang melesat melindungi putrinya dan pelajar berpakaian hijau.

Be Hua niocu terus menarik tangan pemuda pelajar tersebut dan diajaknya lari sejauh puluhan depa luar kota Dia menghentikan langkahnya Kepatanya mendongak seakan sedang mencan seseorang.

"Niang Di mana engkau?"

Tanyanya.

"Aku masih ada urusan lain kau jalan dulu. Eh Siapa bocah itu'?"

Dalam kegelapan malam hanya terdengar suara perempuan setengah baya itu. Orangnya entah sembunyi di mana. Tangan Be hua niocu tetap menggenggam lengan baju pemuda pelajar itu.

"Dia. ."

Be hua niocu sendiri tidak tahu siapa pemuda itu, bagaimana dia harus menjawabnya oleh karena itu, setelah mengucapkan kata 'dia' Be hua niocu tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi.

"Tidak usah dikatakan lagi. Tempat ini tidak aman Jangan diam di sini lama-lama. Kalian pergilah!"

Kata perempuan setengah baya itu.

"Niang, ke mana aku harus mencarimu nanti?"

Tanya Be hua niocu.

"Tidak usah mencari aku. Kalian masih tidak cepat-cepat menmggalkan tempat ini?"

Bentaknya. Mendengar nada suara ibunya, Be hua niocu dapat merasakan kalau keadaan sa-ngat genting Dia tidak berani banyak bertanya. Tubuhnya membalik ke arah pemuda pelajar tersebut.

"Cepat kita pergi'"

Ajaknya.

Pemuda pelajar itu diam saja ketika sekali lagi tangannya ditarik oleh Be hua niocu Mereka menuju luar kota Pemuda pelajar itu tahu bahwa Be hua niocu bermaksud baik, dia tidak enak hati menolaknya.

Dibiarkannya tangan perempuan itu menyeretnya berlari.

Sekali melesat kedua orang itu tetah mencapai puluhan li.

Nafas Be hua niocu sudah tersengal sengal Wajahnya yang hitam manis telah basah oleh kenngat Tanpa terasa, kakinya sudah muiai pegal Dia melepaskan pegangannya pada pemuda itu Kemudian menank nafas panjang.

"Kita istirahat dulu sejenak baru melanjut kan perjalanan,"

Katanya.

"Terima kasih atas kebaikan hati Kouwnio. Cayhe menaruh hormat atas apa yang kouwnio lakukan,"

Sahut pemuda pelajar tersebut. Di antara wajah yang kemerahan, tersembul senyuman manis. Be hua niocu menatap pemuda itu lekat-lekat.

"Tidak perlu bertenma kasih Aku hanya ingin bertanya sedikit kepadamu,"

Katanya.

"Entah apa yang ingin diketahui kouw-nio?"

Tanya pemuda itu.

"Apakah kau bisa ilmu silat?"

Tanya Be hua niocu.

"Cayhe pernah belajar beberapa tahun."

Sahut pemuda itu.

"Bagus Rupanya kau menyembunyikan kepandaian Hm .. Kalau sejak tadi aku tahu kau bisa ilrnu silat, buat apa repot repot menarikmu?"

Kata Be hua niocu kesal.

"Meskipun cayhe bisa ilmu silat, tapi selama ini belum pernah bergebrak dengan siapa pun,"

Sahut pemuda pelajar itu. Be hua niocu mencibirkan bibirnya dengan gaya mengejek.

"Melihat cara berlarimu yang demikian jauh dan tidak ada kesan letih ataupun nafas yang rnemburu, sudah dapat membuktikan bahwa kepandaianmu lebih tinggi dan aku "

Katanya.

"Kouwnio terlalu memuji cayhe tidak berani menerima,"

Sahut pemuda pelajar tersebut.

Be hua niocu memandangnya dengan seksama.

Penampilan pemuda ini sangat sederhana.

Tidak seperti orang yang biasa bergerak dalam dunia kangouw.

Dia tidak dapat memadamkan perasaan ingin tahu dalam hatinya.

"Aku masih belum menanyakan nama Siangkong yang mulai "

Katanya.

"Jangan sungkan Cayhe she Yok, nama Sau Cun Nama besar kouwnio" . Hati Be hua niocu berdebar-debar. Dia sudah lama berkelana di dunia persilatan. Selama ini tidak ada satu hal pun yang dapat membuatnya jengah Sekarang dia malah tersipu hanya arena ditanya nama oleh pemuda itu.

"Kau tidak dengar bagaimana ibu memanggilku?"

Tanyanya dengan kepala tertunduk.

"Tidak Ketika itu hatiku sedang tegang. Apa yang diucapkan oleh ibumu tidak sempat kudengar dengan jelas "

Sahut pemuda pelajar itu. Be hua niocu tertawa merdu. Dia sengaja mempermainkan pemuda itu.

"Tidak dengar, ya sudah Aku tidak ingin membentahukan kepadamu "

Dia berlagak tidak ambil perduli terhadap pemuda tersebut. Dia lalu duduk di sebuah batu besar yang ada di pinggir jalan.

"Harap kouwruo maafkan aku yang ceroboh,"

Sahut pemuda itu dengan wajah merah padam.

"Lihat. Kau persis kutu buku Aku hanya bergurau denganmu. Namaku Ciok Ciu Lan,"

Kata Be hua niocu.

"Satam jumpa untuk Ciok kouwnio,"

Kata pemuda pelajar itu sopan.

"Tecima kasih,"

Gumamnya. Dia mendo-ngakkan kepalanya yang sejak tadi ditundukkan Sekarang baru dia berani menatap pemuda itu kembali.

"Nama kouwnio sangat indah"

Kata Yok Sau Cun. Mendengar pujian itu, hati Ciok Ciu Lan terasa nyaman. Wajahnya merah padam kembali Matanya melirik penuh arti.

"Ciu lan ju giok,' kata pemuda itu.

"Apa yang kau katakana?"

Tanya Ciok Ciu Lan tidak mengerti.

"Ciu lan adalah bunga lan hua yang tum buh di musim gugur (Ciu) Artinya lalah bunga lan hua yang tumbuh di musim gugur seperti keindahan batu kumala,"

Kata pe muda itu menjelaskan. Mata Ciu Lan yang mdah mengerling beberapa kali.

"Kau mengutip dan buku-buku pelajaran Aku tidak mengerti,"

Sahutnya Dia tidak me-nunggu Yok Sau Cun meneruskan kata-kata nya "Yok siangkong. Apakah kau datang untuk mencari pedang'?"

Tanyanya kembali.

"Can pedang?"

Wajah Yok Sau Cun menampilkan keheranan "Cayhe hanya kebetulan melewati tempat ini.

Maksudnya ingin menyeberangi sungai, tapi sudah terlambat Terpaksa menunggu esok pagi Apa yang kouwnio maksudkan dengan mencan pedang tadi?"

Tanyanya. Ciok Ciu Lan nampaknya kurang percaya. Alis matanya berkerut kerut Dia seolah sedang berpikir keras.

"Apakah kau benar benar tidak tahu. Lalu mengapa Houw jiau Sun tidak mau meiepaskan dirimu?".

"Cayhe benar-benar tidak tahu. Entah apakah kouwmo sudi menjelaskan kepada cayhe'?" . Ciok Ciu Lan menggeser sedikit Dia me ngetuarkan sehelai sapu tangan lalu dikibas kannya pada batu di samping tempat duduknya.

"Kau duduk dulu, nanti aku ceritakan,"

Katanya.

Perempuan itu begitu supel Di tentu saja tidak enak hati menolak Dengan tenang dia ikut duduk di batu besar tersebut Yok Sau Cun dilahirkan dalam keluarga berpendidikan keras Dia belum belum psrnah begitu dekat dengan seorang perempuan Apalagi duduk berdampingan Hatinya berdebar-debar.

Perasaannya sangat tegang.

Untung saja, rembulan tidak sedang penuh, sehingga Ciok Ciu Lan tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

"Mencari pedang ke Kwa ciu adalah benta yang paling menank di Bulim saat ini Apakah Yok siangkong sama sekali belum pernah mendengarnya?' tanya Ciok CHJ Lan.

"Cayhe belum pernah berkelana di dunia kangouw, juga belum pernah ada orang yang mencentakan hal itu Apakah kouwnio tidak percaya?" .

"Hm Tentu aku percaya Begini cerita nya Asal mulanya kisah ini dimulai pada jaman dinasti Song d! bagian selatan " .

"Sudah begitu lama kisahnya?"

Tanya Yok Sau Cun terpana.

"lya Di Kwa Ciu ada sebuah sungai yang bercabang Namanya Sam ca ho Di dekat nya ada sebuah fembatan Ketika tentara Kim menyerbu selatan, mereka melewati jembatan ini Pasukan besar itu mengeiar pemberontak-pemberontak negara yang melankan din Pada waktu itu, ada seorang pendekar berjiwa besar yang bernama Man Siau Kuang Dia bersama putnnya Man Cen ku melawan pasukan tersebut mati-matian Mereka adalah rakyat Song yang setia Ha-nya berdua dengan putnnya. dia berhasil membunuh ribuan prajurit Kim. Sejak itu dinasti Song arnan kembali Dengan demikian juga daerah Kiang san dapat direbut balik Tapi karena luka yang diatami ayah dan anak itu terlalu parah, merekatidak sempat menik-mati jerih payah perjuangan mereka Dalam perjalanan mereka mati kehabisan darah,"

Kata Ciok Ciu Lan.

"Apakah kisah ini ada hubungannya dengan pedang yang sedang dicari-cari?"

Tanya Yok Sau Cun.

"Tentu saja ada hubungannya"

Sahut Ciok Ciu Lan.

"Tolong jelaskan "

Kata Yok Sau Cun.

"Pada saat bertarung dengan pra}unt Kim Man Cen ku menggunakan dua buah sen jata Tangan kanannya mengenggam sebuah tombak pendek dengan ujung bercagak Sedangkan tangan kinnya mengenggam pe dang pusaka Konon, pedang itu bernama Sit kim kiam' (pedang penyedot emas) pedang. Itu dibuat dan bahan besi yang berusia ribuan tahun yang terpendam di sebuah pulau kecil bernama Tong ya to. Kekerasannya melebihi baja pilihan. Tajamnya tidak usah diceritakan lagi Dan ada lagi keistimewaannya Yaitu pedang itu dapat menyedot senjata lawan Men Cen Ku dengan tangan kin menghalau senjata prajurit prajurit dan tangan kanan membasmi mereka dengan gerakan serentak. Ketika terluka parah, Men Cen Ku terdesak terus. Menurut sejarah, pedang pusaka tersebut terjatuh ke bawah jembatan,"

Sahut Ciok Ciu Lan. Dia behenti sejenak Mungkin agak terharu mengingat kisah kepahlawanan itu. Terlihat dia menarik nafas berulang kali Yok Sau Cun tidak ingin mengganggunya Dia menunggu dengan sabar.

"Setelah peristiwa itu berlalu, para rakyat banyak yang merasa bertenma kasih atas pengorbanannya gadis itu Mereka harus mencari pedang tersebut. Sejak itu mereka menamakannya 'Cen ku kiam"

Sesuai dengan nama gadis tersebut Sampai belum lama ini, seorang nelayan berhasil menemu-kan sebuah pedang tua yang terjerat dalam aringnya.

Tempatnya tepat di bawah jembatan tersebut.

Apa yang menyebabkan pedang itu menghilang sekian lama, tidak ada yang tahu.

Apakah pedang itu yang pernah menjadi legenda rakyat setempat.

Tapi ada satu hal yang mungkin dapat meyakinkan Yaitu pedang yang ditemukan nelayan tersebut masih berkilau.

Bahkan ketika diangkat ke atas perahu Semua peralatan nelayan itu seperti mata kail dan segalanya tersedot oleh pedang tersebut Berita ini dengan cepat menyebar, dan satu menjadi sepuluh orang.

dari sepuiuh orang menjadi seratus Orang.

Dengan demikian, berita itu juga menarik perhatian orang orang di dunia Bulim.

Mereka berbondongbondong datang ke Kwa ciu untuk mendapatkan pedang tersebut,' kata Ciok Ciu Lan.

"Sebuah pedang tua yang dapat menyedot segala macam senjata juga bukan hal yang terlalu istimewa Untuk apa diperebutkan sampai mengorbankan nyawa?"

Tanya Yok Sau Cun.

"Pedang ini akan membawa pengaruh besar bagi dunia-dunia bulim Senjata yang digunakan kaum Bulim kebanyakan terbuat dari bahan logam. Asalkan dapat menemukan pedang pusaka tersebut, maka dengan tangan kiri menghalau senjata musuh dan tangan kanan sekali gerak saja dapat mem-bunuh lawan lagipula dengan pedang Cen Ku kiam maka semua seniata rahasia yang disembunyikan di balik baju juga akan tersedot keluar. Dengan demikian kita tidak takut lagi bila menghadapi serangan gelap Ada satu hal lagi yang mungkin perlu dijelas-kan Menurut centa, apabita orang yang menggunakan pedang itu mempunyai Iwekang yang tinggi, maka daya sedot pedang itu makin besar. Coba kau bayangkan Pedang itu mempunyai begitu banyak kegunaan. Siapa jago-jago Bulim yang tidak menginginkannya''"

Sahut Ciok Ciu Lan.

"Apakah tujuan kouwnio datang ketempat ini adalah |uga untuk memperebutkan pedang?"

Tanya Yok Sau Cun sambil tersenyum simpul.

"Aku hanya memenuhi perasaan ingin tahu saja Juga ingin menonton keramaian. Dalam kangouw ada begitu banyak jago kelas tinggi Semuanya berkumpul di Kwa ciu Dengan kepandaian yang begini rendah mana mungkin aku berani bersaing dengan mereka?"

Sahut Ciok Ciu Lan. Tiba-tiba terdengar sebuah suara menukas pembicaraan perempuan penjual bunga itu.

"Apakah ucapan Kauwnio tidak terlalu merendahkan diri sendiri?" . Ciok Ciu Lan segera membalikkan tubuh dengan siap siaga.

"Siapa?"

Bentaknya.

"Tentu Siaulo, siapa lagi?"

Sebuah bayangan berkelebat. orang yang datang ternyata adalah pemilik rumah makan, Houw pau Sun. Wajah Ciok Ciu Lan berubah hebat.

"Untuk apa kau datang ke sini'?"

Tanyanya dengan pandangan menyelidik Hou jiau Sun tersenyum simpul.

"Cu jin siaulo baru tahu kalau kouwnio adalah puteri Ciok sam ku Oleh sebab itu Siaulo sengaja diperintahkan untuk mengundang kouwnio" .

"Mengundang aku?"

Tanya Ciok Ciu Lan bingung.

"Betul,"

Sahut Houw jiau Sun.

"Apakah Hek Sin yang memben perintah kepadamu'?"

Tanya Ciok Ciu Lan.

"Tentu . Tentu saja,"

Sahut Houw jiau Sun "Kalau bukan cu jin yang memberi perintah, meskipun aku, Houw jiau Sun mempunyai sepuluh kotak batok kepala, juga tidak berani melancanginya" .

"Untuk apa dia mengundang aku ke sana?"

Tanya Ciok Ciu Lan dingin.

"Untuk apa Siulo tidak tahu,"

Sahut Houw jiau Sun.

"Aku tidak pergi,"

Kata Ciok Ciu Lan.

"Siaulo hanya menjalankan perintah, kouwnio tentu tidak akan menyulitkan kedudukan siaulo bukan?"

Sahut Houw jiau Sun sambil tertawa.

"Sekali aku katakan tidak, tetap tidak!"

Kata Ciok Ciu Lan tajam.

"Kalau kouwnio tidak mau memenuhi undangan bagaimana siaulo harus menyampaikannya kepada cu jin'" ' tanya Hauw jiaui Sun, masih tetap sabar.

"Itu urusanmu!"

Kata Ciok Ciu Lan ketus.

"Siaulo toh sudah sampai ke tempat ini, bagaimana mungkin tidak mengajak kouwnio ke tempat Cu jin?"

Tanya Houw jiau Sun pelan, tetap mendesak.

"Apakah kau sanggup?"

Baru saja kata-katanya selesai, dua buah bayangan kembali berkelebat Yang satu bertubuh gemuk, yang [ainnya kurus.

Mereka ikut meramaikan suasana yang mulai panas itu Ternyata Thi pit, Kang jiau, Ai mia pai cu, Lie pak tou, dan Ho Pak Tung yang dating.

Mata Ciok Ciu Lan melirik sekilas Bibirnya tersenyum mengejek.

"Apakah mereka berdua juga menerima penntah cu jinmu?"

Sindirnya.

"Betul.. betul Kami Berdua sudah menjadi anak buah Hek Houw Sin Kedatangan kami memang untuk menjalankan perintahnya,"

Sahut Ho Pak Tung sambil tersenyum-senyum.

"Cu jin kami meminta kouwnio datang untuk bertemu. Dia sudah memenntah Houw Jiau Sun mengundang kouwnio Hal ini berarti Cu jin telah memandang tinggi din kouw nio Menurut cayhe, lebih baik kouwnio penuhi undangan tersebut"

Lanjut Loe Pak Tou. Dari tadi Yok Sau Cun diam saja sekarang dia baru menghampiri mereka.

"Ciok kouwnio tidak ingin kesana. Manusia mempunyai hak masing-masing. Mangapa kalian harus memaksa'?" . Houw jiau Sun memperhatikan Yok Sau Cun dengan seksama.

"Menurut Siaulo, mungkin Ciok kouwnio tidak ingin pergi kalau seorang diri. Mengapa siangkong ini tidak menemaninya saja?"

Katnya, bernada licik. Ciok Cu Lan segera menghadang di depan Yok Sau Cun.

"Yok siangkong . Yang mereka cari adalah aku, di sini tidak ada urusanmu tagi,"

Katanya.

"Apakah ucapan itu berarti kouwnio setuju ikut dengan kami?"

Tanya Houw jiau Sun.

"Tidak'"

Sahut Ciok Ciu Lan.

Pada saat berbicara, tangannya dengan diam-diam menyusup ke dalam keranjang bunga Permukaan keranjang ditutupi oleh tumpukan bungan-bunga itu.

Houw Jiau Sun menatapnya sekali lagi Bibirnya tetap tersenyum.

"Kouw rno menjawab dengan demikian tegas Ini berarti kouwnio tidak mau menyam-but arak kehormatan, malah meminta arak hukuman,"

Katanya.

Tangan kanan Ciok Ciu Lan diangkat.

Terlihat dia mengambil sebatang pedang yang lentur dari dalam keranjang.

Sinarnya berkilauan.

Bila dikibaskan terdengar suara angin menderu.

Pedang itu lemas sekali.

Siapa pun yang melihat tentu dapat menduga kalau pedang itu adalah sebatang pedang yang sangat bagus buatannya Sebelah tangan Ciok Ciu Lan memegang pedang, tangan yang satunya lagi tetap menenteng keranjang.

"Houw Jiau Sun, aku tidak tahu bagaimana cara merninum arak hukuman Dapat kah kau memberikan contohnya?"

Tanyanya dingin.

"Buat apa kouwnio bergebrak dengan mereka'?"

Yok Sau Cun berkata dengan suara rendah. Ciok Ciu Lan tersenyum mengejek.

"Aih, Yok siangkong, orangnya saja sudah sampai di sini. Mungkinkah dia akan melepaskan aku begitu saja'-'" . Houw tiau Sun diam-diam menganggukan kepalanya kepada Lie Pak Tou Laki-laki itu memang sejak tadi sudah mengeluarkan sepasang potlot besinya. Dia maju selangkah ke depan.

"Kouwnio bermaksud memberi pelajaran, bagaimana kalau cayhe yang menemani?"

Katanya.

"Kalian maju bertiga sekaligus saja,"

Sahut Ciok Ciu Lan, kalem. Lie Pak Tou tertawa terbahak-bahak.

"Untuk menghadapi kouwnio, rasanya aku, Lie pak Tou seorang sudah kelebihan,"

Katanya.

"Baik, lihat pedang!"

Tenak Ciok Ciu Lan Gerakannya sangat cepat Jurus yang dikeluarkannya sangat mengagumkan. Koji dan tepat. Le pak Tou cepat-cepat menggeser tubuhnya sedikrt Pedang Ciok Ciu Lan luput di samping.

"Rupanya kouwrno memang mempunyai sedikit kepandaian,"

Katanya.

Sebelumnya, dia tidak memandang sebelah mata kepada be hua niocu ini, tapi dalam sekali gebrakan saja, mau tidak mau dia terpaksa mengakui bahwa ilmu silatnya termasuk lumayan juga.

Sepasang potlot besi dibagi ke tangan kiri dan kanan Potlot sebelah kiri ditujukan ke arah pangkal lengan perempuan itu.

Sedangkan potlot sebelah kanan bersiap-siap mengeluarkan jurus yang sebenarnya.

Sebetulnya serangan potlot kiri tadi hanya tipuan Apa bila lawan ketabakan menghindari ancaman potlot besi tersebut, maka tangan kanannya akan menyerang dengan jurus maut.

Benar saja, Ciok Ciu Lan hampir tertipu Baru saja tubuhnya bergeser sedikit untuk meloloskan diri dan serangan potlot besi sebelah kiri, potlot besi yang lainnya sudah mengancam salah satu urat nadi terpenting di bagian bahu Untung saja reaksinya cukup cepat.

Dengan memutar dua kali, dia berhasit meluputkan diri dan bahaya tersebut Namun tak urung, pedangnya berbentur dengan potlol besi itu juga Trangg!!!

Tapi, bagaimana pun juga, Ciok Ciu Lan kalah tenaga dan Lie Pak Tou Meskipun dia ber hasil menghindar, kakinya terpaksa mundur dua langkah.

Manusia macam apa Lie pak Tou itu?

Bagaimana seorang perempuan yang baru menginjak dewasa berani berkhayat mengalahkannya7 Dia tidak menunggu sampai tubuh Ciok Ciu Lan berdiri mantap Sekali berseru nyaring, serangan demi serangan dengan gencar menyerbu perempuan itu.

Sepasang potlot besinya bagai sedang menari-nari di udara.

Tiga jurus sekaligus dikeluarkan Ciok Ciu Lan terdesak mundur beberapa langkah Tetapi dia juga bukan orang yang ilmunya boleh dipandang ringan Dia memperkuat kuda-kuda kakinya pedangnya diputar melingkar Membentuk bulatan ber-cahaya Sekali hentak, dia menerjang ke arah Lie Pak Tou.

Yok Sau Cun berdiri di sampingnya.

Dia memandang sambil meremas-remas jari tangannya.

Alis matanya berkerut.

Kentara sekali bahwa dia sedang mengkhawatirkan keadaan Ciok Ciu Lan namun dia tidak sang-gup memben bantuan.

Thi pit Lie Pak Tou sudah sangat terkenal di dunia Bulim Dengan membalik setengah lingkaran, serangan Ciok Ciu Lan luput me-ngenai din'nya.

Dia bertenak dengan lantang sekali.

Sepasang potlot besi kembali menerjang ke bagian bahu perempuan itu Tampaknya dia belum puas karena sarangannya yang gagal tadi Dia merangsek terus Ciok Ciu Lan kerepotan.

Langkahnya mulai tidak teratur.

Sebetulnya dalam pertempuran itu, Ciok Ciu Lan sudah mengalami kerugian besar.

Dengan sebatang pedang emas dia menghadapi sepasang potlot milik Lie Pak Tou, bagaikan satu lawan dua Apalagi Lie Pak Tou usianya lebih tua dan pada perempuan itu, pengalamannya dalam bertarung juga lebih banyak Sepasang potlotnya menyerang terus Sebentar ke bawah, sebentar ke atas Asalkan ada satu titik kelemahan dan Ciok Ciu Lan yang berhasil ditangkapnya, dia tentu dapat segera mengalahkannya.

Biarpun seseorang melatih ilmu pedang selama sepuluh tahun.

tetap sulit menghindari diri dan kelemahan Meskipun Liong gi kiam hoat"

Yang amat terkenal dan Butong pai ataupun Tat mo kiam hoat dan Siaulim pai, tetap ada kelemahannya masing-masing.

Apalagi Ciok Ciu sebagai anak perempuan.

Kekuatan staminanya tentu kalah dengan laki-laki Tidak lama kemudian dia sudah berada di bawah angin Dalam keadaan kalang kabut seperti itu, pasti dengan mu-dah Lie Pak Tou menemukan titik kelemah annya.

Sekali lagi Lie Pak Tou bersecu lantang Sepasang potlotnya dengan cepat menuju titik terbuka itu Ciok Ciu Lan mengeluh, urat nadi bagian bahunya telah tertotok Meskipun tenaga yang dipergunakan oleh Ue Pak Tou tidak seberapa besar namun urat nadi bagian bahu adalah salah satu dan urat lerpenting dalam tubuh Dengan totokannya urat nadi tersebut, semua tenaga dalam akan punah seketika Tangan Ciok Ciu Lan segera rnenjadi lunglai Ting!!' Pedang lenturnya terjatuh ke atas tanah.

Yok Sau Cun yang sejak tadi menonton pertarungan itu menjadi terkejut Dia meng hampin Ciok Ciu Lan dengan tergesa-gesa.

"Ciok kouwnio, bagaimana keadaanmu?" . Houw jiau Sun membalikkan tubuh dan memberi isyarat kepada Ho pak Tung Tanpa dibentahukan iaki-laki itu sudah mengerti apa yang harus dilakukan olehnya. Tentu dia harus menngkus Yok Sau Cun juga Ho pak Tung menghadang di hadapannya.

"Sungguh seorang siangkong yang romantis Kau memang seharusnya menemani kouwnio ini,"

Katanya.

Perkataannya baru seiesai, tangannya juga terulur mencengkeram Julukannya memang cakar baja Biasanya dia menggunakan sebuah cakar yang terbuat dari baja dan dipasangkan di antara jari-jari tangannya.

Tetapi untuk menghadapi seorang bocah ingusan seperti pemuda pelajar itu, tentu dia tidak usah memasang cakar baja tersebut.

Yok Sau Cun marah Ho Pak Tung menghadang di depannya.

"Mengapa kau menghalangi aku?"

Tanyanya.

Tepat pada saat itu, cengkeraman Ho Pak Tung sampai Yok Sau Cun menggeser tubuhnya sedikit Pandangannya menatap tajam kepada laki-laki itu.

Dia menekuk tangan yang dicengkeram itu dan memuntirnya.

Cengkeraman itu pun terlepas.

Ho Pak Tung terkejut Sinar mata pemuda itu mengandung tenaga yang kuat sekali.

Dalam hatinya, dia merasa curiga.

Apakah anak muda ini mempunyai tenaga dalam yang tinggi?

Apakah dia menyembunyikan kepandaiannya?

Untuk sesaat dia lupa menyerang.

Tiba-tiba tangan Yok Sau Cun terulur.

Dia berbalik mencengkeram lengan kin Ho pak Tung.

"Enyah kau!"

Bentaknya Kakinya mendepak pinggul Ho Pak Tung Tubuh laki-laki itu mencelat sejauh tiga depa.

Hatinya sedang memikirkan keadaan Ciok Ciu Lan.

Dia tidak memperdulikan lagi Ho Pak Tung.

Dia segera mendekati Ije Pak Tou.

"Cepat lepaakan Ciok kouwnio!"

Bentaknya.

Rupanya setelah menotok jalan darah Ciok Ciu Lan Dia bermaksud menngkusnya Kaiadian yang dialami oleh Ho Pak Tung sama sekali tidak diketahuinya karena posisinya membelakangi kedua orang itu.

"Apa yang hendak kau lakukain?"

Tanyanya. Yok Sau Cun memungut pedang lentur Ciok Siu Lan.

"Cayhe meminta kau melepaskan Ciok kouwnio'"

Teriaknya lantang.

Tadi dia cemas sekali melihat keadaan Ciok Ciu Lan sehingga tanpa aadar dia mengeluarkan ilmu yang diajari suhunya dan menyepak Ho Pak Tung Tapi seumur hidupnya dia belum pernah menggunakan pedang lentur semacam itu pedang tersebut di tangannya seperti seekor ular mati Orang macam dinnya mana mungkin bisa mengertak Lotoa dan Ai mia pai cu Lie Pak Tou.

Kang jiau Ho Pak Tung bermimpi pun ti dak menduga kalau dia akan mengalami kejadian seperti ini Dengan mudah dia disepak oleh seorang bocah kemann sore.

Dia bangkit dan tempatnya jatuh dan mengibas-ngibaskan pakaiannya yang kotor Dengan mengendap-endap dia menghampin Yok Sau Cun.

"Bocah busuk Ternyata kau mempunyai sedikit simpanan'"

Kali irn dia tidak seyakin tadi.

Tangan kanannya mencengkeram, kelima jarinya direntangkan.

Sasarannya adalah bahu Yok Sau Cun.

Meskipun dia tidak menggunakan cakar baja, tapi dari julukannya sa|a sudah dapat dibayangkan sampai di mana kehebatan cengkeraman itu Kalau sampal bahu Yok Sau Cun kena dicengkeramnya, paling tidak persendian lengannya akan putus.

Yok Sau Cun tentu saja tidak membiarkan bahunya dicengkeram oleh Ho Pak Tung Tubuhnya segera memutar, tangan kirinya menangkis.

Sedangkan tangan kanan dengan kecepatan yang mengagumkan ber balik meraih tangan Ho Pak Tung Gerakannya sangat aneh Tidak terduga-duga.

Ho Pak Tung yang biasanya paling ahli mencengkeram orang malah kena dicengkeram oleh pemuda itu Malah dia tidak sempat melihat bagaimana pemuda itu melakukannya Hatinya tergetar.

Tubuhnya sudah men-celat ke udara.

Yok Sau Cun sama sekali tfdak terpikir Dia hanya sembarangan mengulurkan ta ngannya dan mencengkeram Ho Pak Tung Tanpa disadannya, dia sudah mengangkat tubuh laki-laki itu dan melemparkannya sampai sejauh satu depa lebih.

Sekarang, Lie pak Tou dapat melihat dengan jelas pihak lawan hanya mengulurkan tangan dengan gerak asal-asalan saja, sudah berhasil melemparkan adiknya sejauh itu.

Dengan mengandalkan ilmu yang dimiliki Ho Pak Tung dan dirinya sendiri, bagaimana mungkin begitu mudah dikalahkan orang.

Dia melepaskan pegangannya pada Ciok Ciu Lan.

Meskipun perempuan itu telah tertotok jalan darahnya, dia masih dalam keadaan sadar.

Hanya tubuhnya saja yang tidak dapat digerakkan sama sekali.

Pandangan mata Lie Pak Tou menatap ke arah Yok Sau Cun dengan tajam.

"Sungguh tidak diduga. Begitu pandai kau menyembunyikan kepandaian, sehingga kami hengte salah tafsir. Mari mari Potlot besi Lie mou juga ingin membuka mata,"

Katanya.

Tanpa menunggu persetujuan si pemuda, dia langsung menyerang Potlot di tangan kanannya mengarah ke pelipis, sedangkan potlot dia tangan kirinya ditujukan dada Yok Sau Cun.

Pemuda itu meloncat mundur beberapa langkah.

Dia tidak bermaksud bergebrak dengan siapa saja Dia juga tidak mengharapkan kalau akhir peristiwa ini harus diselesaikan dengan pertarungan Lie Pak Tou menarik kembali serangannya.

Sekarang dia bersiap dengan kuda uda yang kuat.

Dia tidak berani memandang rendah lawannya lagi Dia menunggu pemuda itu menyerangnya tarlebih dahulu.

Tangan Yok Sau Cun tetap mengenggam pedang lentur milik Ciok Ciu Lan.

"Cayhe selamanya belum pernah berta-rung dengan siapa juga Kalau katian sudi melepaskan Ciok kouwnio, bukankah tidak ada persoalan lagi?"

Dalam pikirannya yang polos, masalahnya begitu sederhana saja.

"Bocah ini entah berasal dari mana Apa kah dia hanya pura pura bodoh?"

Pikir Lie Pak Tou dalam hati Dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Mudah saja kau mengucapkannya'".

"Lalu apa yang kau inginkan?"

Tanya Yok Sau Cun. 'Kami menginginkan nyawamu!"

Bentak Lie pak Tou.

Bayangan tubuh memutar Auman j'ian-mau terdengar Mengarah di bagian belakang Yok Sau Cun Orang yang menyerang adalah Ho Pak Tung Dua kali dia berhasil dilempar oleh pemuda itu dengan cara yang membingungkan Hawa pembunuhan mulai merasuki pwanya Tangan kiri membentuk cakar hanmau, tubuhnya melesat ke udara Dia menyerang dan atas Ai mia pai cu memang merupakan tokoh dari golongan hitam Mana mungkin dia bisa diajak mengenal aturan dunia Bulim.

Apalagi mereka baru pertama kali menerima perintah dari Hek houw sin, tentu harus menunjukkan kesetiaan mereka pada maJikannya yang baru Be hua niocu Ciok Lan telah tertotok jaian darahnya Kalau saja mereka berhasil meringkus pemuda ini, maka boleh dikatakan mereka telah membuat jasa besar.

Lie Pak Tou melihat Ho Pak Tung telah membukaserangan.

Dia tertawa lantang.

Kedua tangannya menghantam ke depan Dia ingin menyerang dan atas dan bawah Potlot besi menimbulkan dua titik bayangan.

Kecepatannya melebihi bintang kejora di langit Cahaya betecbangan di udara.

Serangannya juga tertuju ke bagian punggung Yok Sau Cun.

Tubuh Ciok Ciu Lan tidak dapat digsrak-kan Mulutnya tidak dapat bicara Namun kesadarannya masih penuh Dia meman dang dengan mata terbelalak.

Cahaya dan matanya menunjukkan ketakutan yang men cekam.

Dia tidak berani membayangkan ba-gaimana akibat ter|angan kedua orang itu pada diri Yok Sau Cun Tanpa terasa air matanya meleteh.

Yok Sau Cun marah sekah melihat sikap kedua orang itu Di antara kedua bola matanya terlihat smar yang tajam dan menggidikkan hati.

Tangannya tetap menggenggam pedang lentur milik Ciok Ciu Lan Sekali tangannya terulur, pedang itu terulur menjadi kaku seperti pelat baja Kakinya digeser sedikit, serangan kedua orang itu luput begitu saja Pedangnyadiangkat Dengan jurus Sin Liong to ca, dia membalas Terlihat sinar memerctk laksana petangi Tangi Tang sepa-sang potlot besi Lie Pak Tou telah terlepas dan tangannya, disusul dengan suara Bret'!

Bagian tubuh pedang menyabet pangkal le-ngan kin Ho Pak Tung Dia tidak menggunakan bagian yang tajam untuk menyayat Ho Pak Tung, hal itu menandakan bahwa dia masih menaruh belas kasihan.

Perlu diketahui, Yok Sau Cun memang belum pernah bertarung dengan siapa juga.

Namun orang yang mengajarkan ilmu silat kepadanya adalah seorang tokoh kelas tinggi dan mempunyai nama besar di dunia Bulim.

Oleh karena itu, sekali dia turun tangan, dengan tidak banyak menemui kesulitan dia dapat meraih kemenangan dan mengalah dua orang tokoh golongan hitam.

Thi pit Lie pak Tou hanya merasa ada sekumpulan tenaga keras yang menerpa dirinya.

Tanpa sempal berbual banyak, tangannya sudah kesemutan dan terpaksa melepaskan sepasang senjata andalannya itu Sedangkan Ho Pak Tung yang menerjang dan belakang dengan tangan berbentur cakar harimau dan bermaksud mencengke ram pundak Yok Sau Cun, hanya merasa ada bayangan yang melesat di hadapannya Belum lagi serangannya sampai dia sudah merasa ada benda dingin yang menyabet pangkal lengan kinnya Dan pemuda yang diserangnya itu dengan mudah melepaskan diri.

Semestinya, setelah dua kali dia berhasil dilempar oleh pemuda itu dia sudah harus tahu diri Tapi pada dasarnya, dia memang orang yang keras kepala dan menyombongkan kepandaiannya sendin Dia masih ber usaha menghibur hannya sendiri bahwa apa yang terjadi hanya kebetulan saja.

Ho Pak Tung menatap pangkal lengan kirinya yang terkena sabetan pedang tadi Warna bagian yang terkena sabetan itu sudah menjadi merah legam Menimbulkan memar yang cukup lebar Hal ini membuktikan bahwa seandainya Yok Sau Cun menggu-nakan ujung pedang, tentu lengannya sen-din yang sudah terkutung.

Yok Sau Cun hanya menggunakan satu jurus saja Hasilnya sudah demikian menak jubkan Dan kenyataan ini, Houw jiau Siin yang menyaksikan secara diam diam menjadi terkesima Dia mencoba memperhatikan dengan seksama, namun masih belum berhasil mengetahui sampai di mana tingginya ilmu silat dan dari perguruan mana asalnya pemuda itu.

Dia menjadi penasaran.

Setelah berhasil mendesak Lik Pak Tou dan Ho Pak Tung, Yok Sau Cun segera menghampin Ciok Ciu Lan Dengan sekali tepukan saja, jalan darahnya sudah terbebas dan totokan.

"Ah "

Ciok Ciu Lan sudah bisa membuka suara Dia menank pinggangnya ke kiri dan kanan untuk melepaskan ototnya dan kekakuan Kemudian pandangannya beraiih ke-padaYokSau Cun...

"Yok siangkong, ilmu silatmu bagus seka|i,"

Katanya.

"Kouwnio terlalu memuji Cahye baru pertama kali bertarung dengan orang lain"

Sahut Yok Sau Cun.

Thi pit Lie Pak Tou dan Kang jiau Ho pak Tung memang tokoh dari golongan hitam Selama ini sifat mereka keji dan kalau turun tangan telengas sekali Meskipun dalam satu jurus, mereka berhasil didesak oleh Yok Sau Cun, namun mereka belum teriuka parah padahal dalam hati mereka tahu bah wa Yok Sau Cun tidak mudah dihadapi Mana mungkin mereka mau menyerah begitu saja.

Setelah saling lirik sekilas, kedua orang itu berteriak nyaring dan menyerbu kembali ke arah Yok Sau Cun.

Houw jiua Sun segera mencegah.

"Tunggu dulu"

Serunya Kedua orang itu tidak berani membantah Terpaksa mengeraskan hati dan menggeser posisi mereka ke samping Pandangan mata Houwjiau Sun sekali lagi menelusuri seluruh tubuh Yok Sau Cun.

"Kepandaian Yok siangkong amat tinggi Bolehkah siaulo tahu nama gurumu yang mulia?"

Tanyanya dengan wajah tersenyum.

"Suhu disebut Bubeng rojin (orang tua tanpa nama),"

Sahut Yok Sau Cun,. Houw jian Sun tertawa terbahak-bahak Dia mengira pemuda itu pandai bersandiwara.

"Siaulo belum pernah mendengar ada tokoh berilmu tinggi yang mendapat julukan seperti itu Apakah kata kata Siangkong benar adanya?" .

"Buat apa cayhe harus berbohong?"

Tanya Yok Sau Cun.

"Bagus Siaulo tidak perduli kekuatan sendiri, tetapi ingin mendapat pelajaran dari siangkong,"

Kata Houw jiau Sun.

"Kau juga ingin bertarung denganku'" ' ta-nya Yok Sau Cun. Houw jiau tersenyum licik. 'Betul Dalam sepuluh jurus, Siaulo pasti dapat menerka asal usul ilmu silatmu."

Katanya.

"Mendengar nada pembicaraanmu, tampaknya kau tidak percaya apa yang kukatakan tadi,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Kalau memang mau bertarung, bertarunglah' Apakah kau kira Yok siangkong akan gentar menghadapimu?"

Teriak Ciok Ciu Lan yang kesal melihat sikap Houw Jiau Sun yang licik.

"Siaulo hanya ingin saling menguji de ngan Yok Siangkong Batasnya hanya pada siapa yang berhasil menutul tubuh lawannya Bukan benar-benar ingin mengadu nyawa,"

Kata Houw Jiau Sun. Ciok Ciu Lan mendengus dingin.

"Anak buah Hek Houw Sin selamanya bertindak telengas dan keji Sekali hutang tetap hutang Pepatah ini sudah lama menjadi peraturannya Mengapa han ini tiba tiba berubah menjadi orang baik?"

Sindirnya.

"Kata-kata kouwnio seakan menuduh siaulo sebagai pembunuh berdarah dingin. Teman-teman di dunia bulim memang keterlaluan Soal kecil suka dibesar-besarkan. Membunuh satu katanya seputuh Berbuat satu kesalahan seakan harus dijebloskan ke dalam neraka,"

Kata Houw jiau Sun sambil tersenyum simpul. 'Dengan cara apa Lao cang (panggilan kepada yang lebih tua) hendak bertarung denganku? tanya Yok Sau Cun menukas pembicaraan mereka.

"Terserah Yok siangkong saja,"

Wajah yang penuh kerlput itu menampilkan senyuman.

"Kaiau Yok siangkong memang bia-sa pergunakan pedang, silahkan Siaulo selamanya tidak pemah menggunakan senjata apa-apa.

"Julukanmu adalah Houw jiau. Kau menggunakan sepasang jari tanganmu yang seperti cakar harimau itu untuk bertarung. Ten-tu saja kau tidak memerlukan senjata lainnya lagi,"

Ejek Ciok Ciu Lan.

Kata-kata ini sengaja diucapkannya untuk memperingatkan Yok Sau Cun bahwa pada dasarnya Houw jiau Sun bukan orang yang boleh dipercaya begitu saja.

Siapa sangka pemuda itu sedang meman-dang ke arah lain.

Dia tidak begitu memperhatikan kata-kata Ciok Ciu Lan.

"Kalau Lao cang tidak menggunakan senjata, tentu cayhe juga akan melayani dengan tangan kosong,"

Katanya santai,. Yok Sau Cun mengembalikan pedang lentur yang tadi dpakainya kepada Ciok Ciu Lan. Perempuan itu cemberut menerimanya.

"Benar-benar kutu buku gerutunya diam-diam.

Tapi dia tidak boleh membuat Yok Sau Cun rriengingkari kata-kata yang telah di-ucapkannya Dfa terpaksa menggulung pedang tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam keranjang.

"Yok siangkong, silahkan!"

Kata Houwjiau Sun. Yok Sau Cun balas menjura kepada orang tua itu.

"Cayhe belum pernah bertarung selama ini Lebih baik Lao cang yang memulai saja,"

Sahutnya.

Houw jiau Sun merasa sedikit ragu Entah sampal tingkat apa tingglnya ilmu silat pemu-da itu?

Kalau mendengar nada btcaranya, dia seperti anak muda yang baru terjun dalam dunia persilatan Tapi melihat caranya yang mudah dan gesit dalam menghadapi Lie Pak Tou dan Ho Pak Tung, hatinya kem-bali bimbang.

Biarpun seorang tokoh kelas tinggi dunia Bulim )uga tidak akan melebihinya.

Tentu bukan hal yang mudah bagi houw jlau Sun untuk dapat menjadi orang kepercayaan Hek Houw Sin, Malam im dia diutus untuk mengundang Ciok Ciu Lan.

Apabila dia tidak sanggup mengalahkan pemuda pela|ar itu, pasti Ciok Ciu Lan pun tidak akan berhasil diundang olehnya.

Maksud turun tangannya kali ini mempunyai dua tujuan.

Pertama, dia tentu saja berharap dapat me-ngalahkan pemuda itu.

Kedua, seandainya dia tidak sanggup, dengan pengalamannya selama ini di dunia kangouw, dia yakin dirinya pasti akan mengetahui dari perguruan mana asalnya pemuda Hu.

Dengan demikian, dia dapat memberikan tanggung jawab apa-bila ditanya oleh sang majikan.

Sedangkan untuk mengetahui asal uaul pemuda itu, tentu tidak dapat terlaksana dalam pertarungan satu atau dua jurus.

Diam-diam Houw jiau Sun sudah mempunyai rencana sendiri.

Dalam pertarungan kali Ini yang entah memerlukan berapa jurus, dia tetap akan mengerahkan seluruh kepadaiannya.

Meskipun akibatnya adalah mati atau hidup Paling bagus kaiau dia berhasii me-ngalahkan pemuda tersebut.

Kalau ternyata tidak berhasil, maka dia akan bertarung mati-matian.

Dengan demikian dia juga dapat mengetahui sampai di mana tingginya ilmu silat Yok Sau Cun.

"Yok siangkong tidak mau merugikan ke-dudukan Siaulo. Daiam hal ini, s aulo benar-benar merasa kagum. Kalau memang demikian kemauan siangkong, baiklah. Siaulo akan menyerang terlebuih dahuiu,"

Kata Houwjiau Sun.

Begitu ucapannya selesai, kakinya segera mundur dua setengah langkah Tubuhnya menekuk, kedua tangannya mengambii si-kap menyembah di dada.

Kelima jari direntangkan.

Mulutnya mengeiuarkan suara auman harimau.

Jangan dianggap remeh ba-dannya yang begitu kurus.

Gerakannya saja sudah dapat membuktikan berapa tinggi ilmu yang dimiiikinya.

Kedua tangannya belum teruiur, namun kesepuluh jari tangannya talah mengancam dada Yok Sau Cun.

Jyrus ini sangat keji sekali,.

Yok Sau Cun sama sekali belum menge' tahui bahaya yang sedang mengancamnya.

Wajahnya masih tenang-tanang sa|a.

Rupa-nya sejak kecil dia diajar oleh orang tua yang sangat suka membaca berbagai macam buku.

Dia tidak mengerti bagaimana cara menggunakan pedang ataupun senjata iainnya.

Namun banyak kiam hoat ataupun ciang hoat yang dijelaskan oleh guru itu.

Terutama cara memecahkan setiap serang-an.

Sedangkan arti memecahkan setiap serangan yang dipahaminya adaiah cara menangkis semua kiam hoat atau clang hoat yang dilancarkan orang lain.

Biasanya, orang belajar bagalmana menggunakan jurus-jurus kiam hoat dan ciang hoat dari perguruan masing-masing.

Tapi apa yang di-pelajari Yok sau Cun maiah kebalikannya.

Dia harus menunggu sampal pihak iawan mulai menyerang, baru dia bisa tahu bagai-mana cara menangkisnya-Oleh sebab itu, dia tadi menolak mulal menyerang,.

Houw jiau Sun tidak berani memandang enteng pemuda ini iagi.

Sarangannya penuh pemikiran yang matang.

Ho Pak Tung adalah seorang ahli daiam iimu siiat cakar harimau, namun dengan mata kepaianya sendiri dia melihat bagaimana tokoh itu dipermalukan dan dikalahkan dengan mudah.,.

Yok Sau Cun hanya berdiri dengan te-nang Kuda-kuda kakinya pun belum dipa-sang.

Dia terus menunggu pihak lawan mulai menyerang.

Kaki kirinya bergeser satu langkah, tubuh memutar setengah lingkaran, kedua telapak tangan di kembangkan, dari atas menekuk ke bawah.

Serangan Houw jlau Sun kali ini sangat hebat Dia tidak mau bermain-main lagi.

Yang dikeluarkan adalah salah satu jurus andalannya, Entah berapa banyak lawan yang telah dikalahkan dengan jurus yang satu ini.

Sepasang cakarnya ber-putaran, biar bagaimana lawan mencoba berkelit tetap tidak akan terlepas dari se-rangannya, Daiam pikiran Houw jiau Sun, kalau Yok Sau Cun tidak mati seketika, pa' llng tidak akan mengalami luka parah Tetapi apa yang dibayangkan jauh berbeda dengan kenyataan.

Melihat jurus yang keji itu, Yok Sau Cun sama sekall tidak menghindar Dia membiarkan telapak tangannya membentur cakar harimau itu, Houw Jiau Sun sama se-kali tidak menduga akan berakhir demikian Sekarang dia malah yang takut dan bergeser dua tindak,.

"Hai ku totian (kura-kura menatap langit), jurus ini adalah salah satu ilmu aliran agama To di selatan,"

Pikir Houw jiau Sun dalam hati.

Dia terkejut sekali, namun biar bagai-mana pun dia tetap seorang yang sudah banyak pengalaman di dunia kangouw De-ngan cepat dia bisa menenangkan hatinya.

Mereka kembali bergebrak Houw jiau Sun tetap memperhatikan setiap jurus yang digu-nakan oleh Yok Sau Cun.

"Yok siangkong, tenmalah beberapa jurus siauio ini"

Katanya.

Tubuhnya berputar lak-sana angin puyuh.

Dalam waktu sekejap sudah sampai di depan muka Yok Sau Cun.

Sebelah lengan diacungkan.

Jarak antara keduanya tinggal enam cun.

Lima jan tangannya seperti kaltan besi yang tiba-tiba mengulur dan mencengkeram bahu Yok Sau Cun.

Entah bagaimana tangannya bisa terulur sampai dua kali lipat dari biasanya.

''.

Yok Sau Cun tampaknya memahami setiap jurus yang dikeluarkannya Begitu sasarannya hampir mencapai, pasti dia menemukan Jalan untuk meloloskan diri dan membalas Gerakannya bahkan makin lama makin lambat dan tidak bertenaga, Tetapi begitu mencapai lawan baru menimbulkan kesan yang mengejutkan Berkali-kali Houw jiau Sun yakln serangannya akan mengena, namun iuput kembali.

Yang lebih mengherankan adalah jurus-jurus yang digunakan pemuda itu.

"Ini Jurus Ciu cuan liong jiau dari Siauiim si,"

Pikirnya dalam hati,.

"Mungkinkah pemuda ini murid tidak resmi dari Siaulim pai?

Bisa jadi' Mamun hanya sesaat hatinya ragu kembali.

Pemuda itu sudah merubah gaya mempertahankan dirinya.

Kali ini Houw jiau Sun yakin ilmu yang digunakannya adalah salah satu jurus Kui kiong ciang1 dart Mo kau, Kemudian dia beralih kembali pada gaya semula, Jurus yang digunakannya kali ini adalah 'Huan ciu pat ciang yang juga berasal dari Siaulim pai, Tapi Houw jiau Sun memang ttdak malu disebut sebagai salah satu tokoh di dunia Bulim.

Daya tangkapnya sangat cepat Setiap kali Yok Sau berhasll memecahkan jurus serang-an yang dikerahkannya, dia segera mengganti jurus lain lagi Begitulah berturuturut berlangsung, Satu hal yang membuat hatinya kesai, yaitu dia masih belum bisa juga menebak asal-usul pemuda itu.

Sedangkan tadi dia sudah membuka suara bahwa dalam sepuiuh |urus dia akan berhasil mengetahuinya.

Sekarang limabelas jurus telah berlalu.

Sebelumnya dia hampir yakin bahwa Yok Sau Cun adalah murid Siaulim Siapa tahu setelah lewat limabelas jurus, dia melihat Yok Sau Cun menggunakan ilmu Ciongsan pai, Hua san, Butong, Pat kua Heng gi, juga ilmu dan perbatasan yaitu Cang pak, Hun kui dan Tiam cong pai llmu yang digunakan oleh Yok Sau Cun seperti gado gado Ja ngan harap dapat meraba kepandaian dan asal usulnya dan jurus yang dia perguna-kan Satu hal lagi yang membuat Houw jiau Sun terperanjat Ada beberapa jurus darialir-an tertentu yang tadinya biasa-biasa saja Namun Yok Sau Cun dapat memainkannya menjadi jurus yang lihai.

Houw jiau Sun sudah lama berkec'mpung dalam dunia persilatan Selama mi dia belum pernah menemukan lawan seaneh ini Sema-kin bertarung semakin menurun dan terde sak di bawah angin Sedangkan Yok Sau Cun semakin gencar Dia bagaikan men-dapat latihan praktek yang dapat mengsm bangkan pengetahuannya.

Tiba-tiba Houw jiau Sun tertawa keras.

"Bagus'"

Serunya Dia masih penasaran Dikerahkannya ilmu yang tidak pernah digunakannya kecuali sudah terdesak Sekali ini dia terpaksa menelan pil pahit pula Dengan gaya sederhana dan mudah Yok Sau Cun berkelit ke samping pertarungan ditanjut-kan Sekarang sudah mencapai tigapuluh jurus lebih.

Bagaimana pun, Houw jiau Sun sudah berusia lanjut Daya tahannya tentu tidak sebaik Yok Sau Cun.

Lagipula dia merasa pemuda itu makin maju ilmunya setelah ber-tarung sekian lama.

Oleh karena itu, dia me rasa lebih baik menghentikan pertarungan tersebut.

"Tahan!"teriaknya. Yok Sau Cun menank kembali serangannya.

"Apakah Lao cang sudah berhasil menge-tahui asal-usul cahhe'" . Wajah Houw tiau Sun merah padam karena malu.

"llmu silat Yok siangkong memang tinggi sekali Siaulo bukan tandinganmu. Terpaksa mengaku kalah saja,"

Katanya.

Mata Ciok Ciu Lan terbelalak.

Ketika pertarungan itu baru dimulai, dia masih mengkhawatirkan keadaan Yok Sau Cun.

Namun pada akhir pertarungan itu, gerakan tubuh pemuda itu makin tidak jelas lagi.

Tampaknya Houw jiau Sun juga tidak berhasil melukainya Perasaannya mulai mantap.

Sekarang dia mendengar sendiri bahwa Houw jiau Sun mengaku kalah.

Hampir saja dia tidak mempercayai pendengarannya.

llmu silat Houw jiau Sin dalam dunia Bulim sudah sulit dicari tandingannya Bagaimana mungkin dia mau mengaku kalah begitu saja'?

Tapi ucapan itu didengarnya dengan telinga sendiri, tentu tidak salah lagi Ciok Ciu Lan membalikkan tubuhnya dan memandang pemuda tersebut.

"Yok siangkong, kau benar-benar sudah menang,"

Katanya riang. Yok Sun Cun tersipu-sipu Dia mengibaskan tangannya berkali-kali.

"Lao cang hanya memuji llmu silatnyalah yang amat tinggi Cayhe sungguh kagum,"

Katanya.

Apa yang dikatakan Yok Sau Cun juga tidak satah Bagi Houw jlau Sun, setiap kali dia menyerang.pasti pemuda itu sempat kelabakan untuk beberapa saat Sedangkan bagi Yok Sau Cun, meskipun dia akhirnya berhasil meloloskan diri dan maut, namun dia harus melihat dulu serangan yang dikerahkan lawan dan memikirkan cara peme cahannya Dia harus berpikir keras jurus mana yang cocok untuk menandingi Jurus yang dikerahkan lawan Hal ini disebabkan pengalamannya yang masih cetek serta belum terbiasa.

Mungkin kalau dia sudah pernah bertarung beberapa kali ceritanya akan lain lagi.

Houw jiau Sun melink Ciok Ciu Lan sekilas.

"Mari kita pergi' Tiga bayangan itu melesat dengan cepat Dalam sekejap mata mereka sudah menghilang di kegelapan malam. Ciok Ciu Lan memandang sambil tersenyum.

"Houw Jiau Sun sudah berhasil diusir olehmu Ilmu silat Yok Siangkong demikian tinggi, mengapa harus menutupinya?" .

"Cayhe sungguh-sungguh belum pernah bertarung dengan siapa juga Malam ini adalah untuk pertama kalinya"

Sahut Yok Sau Cun.

"Oh "

Matanya yang indah telap menatap pemuda itu lekat-lekat"

Yok Siangkong, benarkah suhumu bernama Bubeng lojin'?"

Tanya Ciok Ciu Lan.

"Betul, Orang tua itu adalah guru yang banyak menanamkan budl kepada cayhe,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Dia memang mewariskan ilmu silainya kepadamu, tentu sudah banyak menanam budi,"

Kata Ciok Ciu Lan.

"Bukan. Maksud cayhe, sebeiulnya dia adaiah seorang guru baca dan tulis di rumah cayhe,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Dia mengajar engkau baca dan tulis, juga menurunkan ilmu silat Bagaimana kau tidak tahu siapa namanya?"

Tanya ciok Ciu Lan heran. Wajah Yok Sau Cun merah jengah.

"Mungkin ayah tahu. Cayhe sejak kecil memanggilnya Lao huji Tidak tahu siapa nama aslinya Setelah menginjak dewasa cayhe juga pernah menanyakan persoalan ini. Dia berkata "

Lohu sudah lama tidak pernah menggunakan nama asli Anak, bila kau tetap ingin mengetahuinya Lohu menamakan diri sendin Bubeng lojin. Kau juga boleh memanggil dengan sebutan itu."

Sahutnya. Ciok Ciu Lan mengedipkan matanya beberapa kali.

"Dia pasti orang yang aneh"

Katanya.

"Dia adalah orang tua yang welas asih, sama sekali tidak aneh,"

Sahut Yok Sau Cun. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dibenak Ciok Ciu Lan.

"Oh ya.. Yok siangkong, kau belum menjelaskan kepadaku, apa maksudmu datang ke Kwa Ciu?"

Tanyanya.

"Cayhe hanya kebetulan lewat saja Cayhe hendak menyebrangi sungai menuju Cen kiang,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Apakah kau berasal dan Cen kiang?"

Ta-nya Ciok Ciu Lan.

"Bukan Cayhe pergi ke Cen kiang karena ada sedikit urusan,"

Sahut Yo Sau Cun.

"Sejak berita tentang pedang Cen ku kiam tersebar. Banyak tokoh kelas tinggi yang berdatangan dari segala penjuru Meskipun ilmu silatmu cukup tinggi, rasanya masih belum dapat menandingi Hek Houw Sin. Kau sudah lihat sendiri, anak buahnya saja sudah begitu hebat kepandaiannya. Maka dari itu, lebih baik kau tidak usah kembali lagi ke Kwa ciu kalau niatmu hanya ingin menyeberangi sungai,"

Kata Ciok Ciu Lan.

"Apa yang dikatakan Kouwnio memang benar, namun...."

Wajah Yok Sau Cun merah padam.

Ciok Ciu Lan yang melihat pemuda itu tersipu-sipu, segera teringat bahwa Yok Sau Cun baru pertama kali berkelana, pasti belum mengenal jalan daerah tersebut Dia tersenyum penuh pengertian.

"Tempat ini tidak seberapa jauh lagi ke Cen ciu Di sana juga ada sebuah dermaga penyeberangan Seteiah sampai di ujung sebetah sana, hanya perlu jalan sedikit untuk mencapai Cen kiang,"

Katanya menjelaskan. Yok Sau Cun menjura dalam-dalam.

"Terima kasih atas petunjuk kouwnio,"

Sahutnya.

"Kau ini terlalu banyak adat. Man.. aku temani kau kesana ,"

Kata Ciok Ciu Lan.

"Ini... Cayhe mana berani merepotkan'?". Ciok Ciu Lan tertawa merdu Dia merasa lucu sekali.

"Lihat . aku baru belum lama mengatakan kau terlalu banyak peradatan sekarang mulai lagi. Kau toh tidak mengenal jalan, maka aku yang mengantarkan. Apanya yang merepotkan? Mari, siangkong Silahkanl" '. Kata-kata 'siangkong yang diucapkannya, membuat pipinya sendiri merah padam. Dalam ucapan sehari-hari, 'siangkong dan 'niocu' merupakan panggilan antara suami istri Namun boleh juga diucapkan sebagai kata pergaulan Wajah Ciok Ciu Lan tertunduk Dia tidak berani menatap mata pemuda tersebut Dia berjalan di muka. Yok Sau Cun mengikuti di belakangnya Setelah berjalan cukup jauh, Yok Sau Cun tidak dapat menahan hatinya untuk bertanya.

"Ciok kouwnio, apakah masih jauh untuk mencapai Cen Ciu'?" . Ciok Ciu Lan mengacungkan tangannya di kejauhan.

"Di depansana Yang hitam pekat itu adalah tembokkota Hendak menyeberangi sungai, kita tidak perlu masuk ke dalamkota . Dermaga tersebut adanya di luar tembok,"

Katanya menjelaskan. Tempat yang ditunjuknya tampak ada sedikit penerangan Langkah kakmya tiba-tiba terhenti Dia menolehkan kepala dan memandang Yok Sau Cun.

"Dari sini jaraknya tinggal tiga li Maka kau akan sampai di dermaga Song kun cian li, cung si it piek (mengantar Tuan seribu li, akhirnya harus berpisah jua) Aku masih harus mencari ibuku Sampai di sini saja aku mengantar dirimu." . Yok Sau Cun menank nafas panjang.

"Terima kasih atas kesudian Kouwnio mengantar Cayhe ".

"Lihat Mulai lagi Apakah aku mengantarmu hanya karena ingin mendapat kata terima kasihmu?"

Tukas Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun terpana Setelah ah uh.

ah uh dia titiak dapat melanjutkan kembali Ciok Ciu Lan tertawa sekali lagi Dia mencoba membuka mulut beberapa kali, seakan ada yang ingin dlkatakannya, namun dia hanya menggigit bibir saja, tanpa dapat berkata apaapa Kira kira sepeminuman teh, kemudian.

"Yok siangkong aku ingin aku hendak memberikan sesuatu kepadamu " . Yok Sau Cun melihat sikap perempuan itu tidak seperti biasanya.

"Kouwnio ." . Ciok Ciu Lan merogoh ke dalam keranjang yang ditentengnya. Dia mengambil sebuah bola kecil yang terbuat dan logam.

"Ini .. Pedang yang tadi kau gunakan untuk bertarung dengan para penjahat itu Aku lihat kau tidak membawa senjata apa-apa. Kau adalah seorang pelajar Memang lebih baik tidak usah membawa pedang supaya tidak menarik perhatian. Tapi kau mengerti ilmu silat, apalagi pernah bentrok dengan anak buah Hek houw sin. Pedang fentur ini, meski bukan pedang pusaka, namun dia terbuat dari bahan besi yang lunak pedang yang biasa saja akan tertebas putus olehnya Bila hendak digunakan dapat disentak menjadi paniang, Bilatidak, kau dapat menggulungnya kembali seperli ini. Tidak akan ada orang yang tahu bahwa ini adalah sebatang pedang. Lagipula kau dapat menyelipkannya di ikat pinggang Mudah bukan? Paling sesuai untuk dirimu,"

Katanya. Yok Sau Cun menggoyangkan tangannya berkali-kali.

"Cayhe benar benar tidak dapat menerimanya Kebaikan kouwnio biar cayhe simpan dalam hati,"

Sahut Yok Sau Cun."

Kata kataku belum selesai.

Pedang ini ibu dapatkan dari seorang tokoh golongan hitam.

Karena merasa aneh, aku lalu menyimpannya.

Tapi menggunakan pedang lentur semacam ini, harus orang yang ilmunya sesuai Bagaimana pun aku menggunakannya, tetap tidak berhasil dengan memuaskan karena tidak cocok dengan ilmu yang kupelajari.

Tadi aku melihat kau menggunakannya untuk bertarung Ternyata hebat sekali Ini yang dinamakan jodoh.

Setidaknya aku telah berhasil mendapatkan majikan yang pantas untuk pedang ini Kau jangan sungkan lagi.

Terimalah!' kata Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun masih juga tidak berani menerimanya.

"Pedang in! adalah senjata untuk melindungi diri kouwnio, mana aku berani menerimanya?"

Dia menggelengkan kepala berkali-kali. Ciok Ciu Lan mendelik ke arahnya.

"Kau ini suka berbelit-belit. Laki-laki tidak boleh bersikap demikian, Kita bisa berlemu hari ini aih, kalau kau menganggap aku teman, maka kau harus menerima pedang ini. Aku masih banyak barang lain di dalam keranjang,"

Kata Ciok Ciu Lan.

"Tidak, kouwnio ". Ciok Ciu Lan kesal melihat kekerasan hatinya Dia mendengus satu kali.

"Bagaimana sih. Aku, toh sudah mengeluarkannya, bagaimpna mungkin aku menyimpannya kembali'?" . Tiba-tiba dia menank tangan Yok Sau Cun Di selipkan gulungan bola besi itu ke dalam tangan pemuda tersebut.

"Cepat simpan, ada yang datang,"

Kata-katanya selesai orangnya sudah melayang jauh sekali.

Yok Sau Cun menolehkan kepatanya Tidak ada siapa-siapa yang datang Ketika dia sadar dirinya telah ditipu bayangan Ciok Ciu Lan sudah menghilang Dalam kegelapan, hanyatinggaldia seorang diri Diatidaksem pat memanggii perempuan itu lagi.

Tangannya menimang-nimang bola besi tersebut.

Bibirnya menunjukkan seulas senyum getir.

Dalam sesaat dia mengerti mengapa Ciok Ciu Lan tidak rnau mengantarkannya sampai ke dermaga dan berhenti di tempat itu saja.

Karena di dermaga ada penerangan Hal itu berarti di sana ada orang.

Dan dia tidak ingin ada yang melihatnya memberikan pedang kepada Yok Sau Cun.

Begitulah perasaan hati anak perempuan Yok Sau Cun merasa di tangannya masih tersisa kehangatan yang ditinggalkan Ciok Ciu Lan ketika menank tangannya tadi.

Dia menatap ke arah perempuan itu menghilang Ada sesuatu yang hilang juga dari hatmya Seandainya dia berkeras mengejar Ciok Ciu Lan dia pasti tidak mau menerima kembali pedang itu Lagipula sekarang belum tentu dapat terkejar lagi Oleh sebab itu, dia terpaksa menerima pedang itu untuk sementara Dia menyimpannya di balik baju.

Setelah itu ia menuju dermaga pernyeberangan.

Jarak tiga li di tempuhnya dalam sekejap.

Keadaan di dermaga itu gelap sekali.

Sama sekali tidak ada penerangan Sinar lampu yang dilihatnya dan jauh adalah dua buah lentera kecil yang tergantung di tiang perahu.

Tampaknya perahu itu akan segera berangkat Di dermaga itu ada dua tukang perahu yang sedang bersandar Yok Sau Cun berjalan dengan tergesa-gesa Dia tidak menengok lagi perahu apa yang ada disana .

Dia hanya mernperhatikan bahwa perahu itu sudah melepas sauh dan akan berangkat.

Dia mendekat dengan tangan rnelambai lambai.

"Cuan cia (Tukang perahu), tunggu dulu Apakah tujuan perahu inikota Cen kiang? Aku ingin menumpang Biayanya " . Disana ada dua laki-laki bertubuh tinggi besar Salah satunya tidak membiarkan Yok Sau Cun melanjutkan kata-katanya.

"Berhenti! Apa yang kau lakukan?"

Tenaknya lantang.

"Apabilatujuan kaliankota Cen kiang, aku ingin menumpang ' kata Yok Sau Cun sambil terus melambaikan tangannya. Laki-laki tinggi besar tadi mendelik ke arahnya. 'Apakah kau tidak lihat lebih tegas, perahu apakah ini? Masih tidak cepat-cepat menggelinding!"

Bentaknya. Yok Sau Cun mendongkol juga mendengar nada bicaranya yang kasar.

"Cayhe hanya bertanya, apakah tujuan kahankota Cen kiang'? Kalau betul, cayhe ingin menurnpang Andaikata bukan, ya tidak apa apa Mengapa kau demikian tidak tahu sopan santun?"

Sahutnya. Laki-laki tinggi besar itu berdiri tegak Dia berkacak pinggang dan melotot ke arah Yok Sau Cun.

"Bocah busuk! Matamu sudah buta'"

Ben taknya. Melihat kekasaran laki-laki itu, tanpa sadar Yok Sau Cun marah juga.

"Meskipun kau yang mengurus perahu ini, juga tidak boleh, ngoceh sembarangan!"

Tenaknya.

"Locu mengoceh atau menyakiti hatimu karena matamu memang sudah buta Mengapa masih tidak cepat-cepat enyah dari sini?" .

"Lagak kalian sungguh besar Entah menenma penntah siapa?"

Teriak Yok Sau Cun kesal. Laki-laki yang satunya lagi juga ikut berkacak pinggang.

"Buat apa kau ribut-ribut dengannya? Orang rendah yang tidak membuka matanya lebar lebar Mengapa kau tidak melemparkannya saja ke dalam sungai?"

Katanya menyarankan.

"Betul'"

Sahut yang pertama Dia segera menghampiri Yok Sau Cun. Tangannya diulurkan dengan cepat Dia mencengkeram baju bagian dada pemuda itu.

"Kalian manusia-manusia jahat Buka mulut menyakiti hati, gerak tangan langsung pukul Apakah tidak ada hukum lagi di negara ini?"

Katanya tajam Ditariknya tangan yang sedang mencengkeram bajunya itu Sekali sentak tangan itu sudah terlepas Dengan kecepatan yang sukar diraba, dia mengangkat tubuh laki-laki itu dan melemparkannya sejauh tujuh depa.

Laki-laki yang kedua melihat temannya dilemparkan dengan begitu mudah jadi marah sekali,.

"Bocah busuk1 Kau sudah bosan hidupi"

Teriaknya Sekali meloncat, tangannya terulur untuk mencengkeram bahu Yok Sau Cun Gerakan pemuda itu masih menggunakan jurus yang sama Laki-laki itu pun mengalarm nasib seperti rekannya, terlempar jauh.

Keributan ini sudah membuat orang-orang yang berada di atas perahu terkejut Dua laki-Jaki tmggi besar itu terlempar sampai babak belur Mereka segera bangkit dan ingin menerjang Yok Sau Cun kembali Tiba-tiba tercium bau harum memancar dari atas perahu, disusu!

dengan teguran suara yang merdu.

"Dengan siapa kalian bertengkar?"

Kedua laki-laki yang mencan gara-gara itu, segera berdiri dengan sikap hormat.

"Cui kouwnio "

Panggil mereka serentak. Orang yang dipanggil Cui kouwnio itu adalah seorang gadis berpakaian hijau dan sangat cantik Matanya mendelik ke arah dua orang itu.

"Aku bertanya dengan siapa lagi kalian berkeiahi kali ini'?"

Sebetulnya mata gadis itu sedang mengerling Sejak semula dia sudah meiihat Yok Sau Cun, tapi dia pura-pura tidak tahu. Laki-laki yang pertama menyerang segera menuding ke arah pemuda itu.

"Bocah ini tidak bertanya lagi, langsung menerjang ke dermaga Siaujin hanya menyuruh dia pergi dari sim dan mendorongnya Mana tahu dia perlakukan Siaujin dengan kasar,"

Katanya.

"Hanya begitu?"

Tanya Cui kouwnio Matanya menatap sekilas kepada Yok Sau Cun Kemudian menoleh lagi kepada anak buahnya "Pemuda ini hanya seorang pelajar Pasti kalian yang menghinanya lebih dahulu, bukan?"

Tanyanya dengan suara berwibawa.

"Cui kouwnio, Jangan lihat tampangnya yang seperti pelajar llmunya lumayan juga,"

Sahut laki-laki yang kedua. Alis mata Cui kouwnio agak berkerut Bibirnya tetap tersenyum.

"Siangkong ini . Tengah malam menyerbu ke dermaga ini, apakah memang ingin mengganggu karm?"

Tanyanya.

"Kouwnio harap maklum Cayhe sedang tergesa-gesa ingin menyebrangi sungai. Melihat ada sebuah perahu yang segera berangkat, cayhe bermaksud menumpang Cayhe menanyakan kedua laki-laki itu dengan cara baik baik, apakah perahu ini menuju kota Cen kiang'. Siapa tahu mereka tidak mengenal sopan santun dan mengucapkan kata kata yang kasar,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Bagaimana cara kasar mereka? Apa yang diucapkannya?"

Tanya Cui kouwnio.

"Cuan cia itu buka mulut langsung menyuruh cayhe enyah Dan mengatakan mata cahye buta,"

Sahut Yok Sau Cun. Cui kouwnio tersenyum simpul.

"Kau menyerbu ke dermaga ini, lagipula berani sembarangan hendaK menumpang Mereka menyuruhmu enyah, masih termasuk sungkan Andaikata matamu tidak terbuka, kau toh masih mempunyai telinga untuk mendengar, siapakah pemilik perahu ini'?' katanya.

Yok Sau Cun merasa darahnya naik ke atas kepala.

"Memangnya siapa pemilik perahu ini'?"

Tanyanya. Cui kouwnio tertawa lebar.

"Itulah sebabnya merekamengatakan matamu buta". Yok Sau Cun tertawa dingin.

"Cayhe melihat wajah kouwnio cantik jelita. Mestinya dan keluarga terpandang dan terpelajar. Siapa sangka satu komplotan dengan laki-laki kasar itu,"

Katanya sims Wajah Cui kouwnio berubah hebat "Kau berani mengeiek aku?"

Bentaknya "Manusia mesti mengoreksi diri sendiri lebih dahulu, sebelum orang lain yang mengoreksinya Kalau kauwmo tidak membuka mulut dengan kata-kata kasar cayhe juga tidak melakukan hal yang sama."

Kata Yok Sau Cun. Wajah gadis itu merah padam Kekesalan hatinya memuncak.

"Aku rasa ada yang sudah menelan nyali hanmau, rupanya memang sengaja rnencari garagara di sini Hm. Aku tidak percaya kau mempunyai-keberanian sebesar ini dan ingin mencan masalah di atas perahu siocia kami,"

Katanya Kemudian pergelangan tangannya di angkat, sepasang gefang diso rongkan ke depan.

"Kalian rupanya memang turunan manu sia manusia rendah,"

Sahut Yok Sau Cun di ngin Dia menoleh pun tidak, tangannya diki baskan seenaknya Sepasang gelang tangan yang sedang mengarah kepadanya langsung tersentak ke samping Untung saja yang menyerangnya adalah seorang anak gadis, kalau tidak dia tentu akan melamparkannya seperti kedua laki-laki kasar tadi Tidak!

Tangannya membentur sesuatu yang lembut, Oleh karena itu dia baru sadar bahwa dirinya tidak boleh memperlakukan seorang gadis dengan kasar Dengan demikian dia melepaskan lengan yang berhasil dicengkeramnya.

Cui kouwnio sangat penasaran melihat pergelangan tangannya dicengkeram begitu saja.

Hatinya tergetar Setelah mengaduh sekali, dia menank tangannya dengan se kuat tenaga Namun dia tidak berhasil, sampaiYou Sau Cun merenggangkan pegangannya barulah dia dapat terlepas Wajahnya yang bersemu dadu seketika menjadi merah padam Dia meraba pergelangan tangan yang masih terasa agak sakit karena cengkeraman yang keras itu Ditatapnya Yok Sau Cun dengan mata mendelik Dia marah sekali.

"Bagus' Berani menghma aku! Malam ini aku tidak akan mengampuni jiwamu! Teriaknya Gaunnya melambai, dalam sekejap saja tangannya SLfdah menggenggam sebatang pedang Sinarnya berkilauan Pedang itu diacungkan ke depan "

Manusia jahat lihat pedang!"

Dengan sengit dia melancarkan se buah serangan yang hebat. Tepat pada saat itu, terdengar sebuah suara merdu berkumandang dari dalam perahu.

"Siau cui, tidak boleh kurang ajar". Cui kouwnio segera menank kembali pedangnya. Wajahnya cemberut.

"Siocia, dia yang tidak tahu aturan,"

Katanya.

Yok Sau Cun mengalihkan pandangannya ke arah suara itu.

Dia melihat seorang perempuan berdiri di ujung perahu Pakaiannya berwarna hijau muda Wajahnya ditutupi sehelai cadar tipis, sehingga tidak terlihat bagaimana rupanya dan berapa usianya Tetapi dan gayanya yang anggun dan jari tangannya yang tersembul dan balik lengan bajunya, mestinya dia seorang wanita yang cantik jelita.

"Aku sudah mendengar semuanya, kalian yang memulai pertengkaran. Sikap kalian sangat memalukan. Lekas minta maaf kepadanya'"

Bentak wanita berbaju hijau itu.

"Siau cui minta maaf kepada siangkong,"

Katanya seperti terpaksa. Yok Sau Cun tertawa datar Dia nnenjura kepada wanita berbaju hijau itu.

"Cayhe telah nnengganggu ketenangan siooa, cayhe merasa tidak enak hati Selamat tinggal"

Perkataannya selesai, dia segera membalikkan tubuh dan berjalan'.

"Siangkong, harap hentikan langkah!"

Terdengar suara lembut wanita baju hijau itu. Yok Sau Cun membalikkan tubuhnya "Apakah Siocia ada pertanyaan lagi'?"tanyanya.

"Bukankah kau tergesagesa hendak ke kota Cen kiang? Perahu im kebetulan memang menuju ke sana Kalau siangkong tidak keberatan, silahkan naik ke atas perahu,"

Kata wanita baju hijau itu.

Yok Sau Cun terpana Tadinya dia memang ingin menumpang Tapi dia tidak menyangka kalau dalam perahu itu hanya ada seorang wanita.

Lagiputa wanita ini tampaknya sangat supel dan mempunyai pandangan yang terbuka Sejak kecil dia memang belum pernah berdekatan dengan kaum perempuan Dia merasa kikuk.

"Ini Rasanya kurang leluasa bukan?"

Tanyanya gugup. Mata yang cemerlang menembus lewat cadar yang tipis dan berarti di wajah Yok Sau Cun.

"Tujuan kami memang ingin menyeberangi sungai. Siangkong kebetulan mempunyai tujuan yang sama. Tidak ada yang dapat disebut kurang leluasa Siangkong tidak usah ragu, silahkan naik ke atas perahu,"

Kata si wanita baju hijau. Dia segera berjalan masuk ke dalam perahu. Cui kouwnio mengerling sejenak kepada Yok Sau Cun Ada sesuatu yang mulai dimengerti olehnya. Dia mendengus sekali.

"Siocia kami sudah menyuruh kau naik ke atas perahu, mengapa tidak melakukannya segera''"

Katanya dengan nada ketus.

Gadis itu menunggu di atas Jembatan Dia menunggu Yok Sau Cun naik lebih dahulu Yok Sau Cun merenung se|enak, kemudian dia meloncat ke atas jembatan penyeberangan itu Cui kouwnio mengikuti di belakangnya Setelah ikut meloncat ke atas jembatan, dia segera mendahului Yok Sau Cun dan membuka tirai perahu tersebut.

"Siangkong, silahkan,"

Katanya. Yok Sau Cun hanya ingin menumpang perahu itu Apalagi pemiliknya adalah seorang wanita, dia tentu tidak enak masuk ke ruangan dalam Oleh sebab itu, dia mengulapkan tangannya berkalikali.

"Tolong katakan tenma kasih kepada Siociamu Lebih baik aku beristirahat di geladak saja. Itu juga lebih dan lumayan"

Sahut Yok Sau Cun. Cui kouwnio mencibirkan bibirnya.

"Tampaknya ilmu silatmu cukup tinggi Mengapa pelintat pelintut seperti kutu buku?"

Sindirnya. Sebelum Yok Sau Sun sempat menjawab, terdengar suara lembut tadi kembali berkumandang dan ruangan dalam.

"Kalau Siangkong sudah naik ke atas pe rahu, mengapa tidak masuk ke dalam kabin. Menyeberangi sungai juga memerlukan waktu yang cukup lama Ruangan geladak itu sempit sekali Lagi pula angin kencang, ombak bergelombang Bagaimana kami boleh melayani tamu dengan cara demikian? Lebih baik Siangkong tidak usah banyak peradatan lagi." . Tangan Cui kouwnio menarik tirai penghubung sekali lagi.

"Betul Siocia sudah mengundang kau masuk Buat apa sungkan?"

Katanya dengan nada menyindir.

Ruangan dalam perahu itu luas sekali.

Tirai tirai terpasang dengan rapi dan indah Di kedua sisinya terdapat jendela kaca.

Karena saat itu han sudah malam, maka jendelajendela itu sudah ditutup.

Tadinya wanita berbaju hijau itu duduk di samping sebuah me| a kecil.

Dia berdiri ketika melihat Yok Sau Cun masuk.

"Siangkong, silahkan duduk!"

Katanya. Yok Sau Cun mengibaskan tangannya dengan gaya kebingungan.

"Cayhe merasa tidak enak hati telah mengganggu Siocia,"

Sahutnya. Wanita berbaju hijau itu melinknya sekilas Dia megenakan cadar penutup wajah. Tentu saja Yok Sau Cun tidak tahu gerak-gerik mukanya.

"Kita bertemu secara kebetulan Boleh dibilang ada jodoh. Buat apa Siangkong merasa sungkan terus?"

Katanya.

"Siangkong, silahkan duduk! Siau Cui akan menuangkan teh untukmu,"

Lanjut Cui kowvnio Tingkahnya sungguh menyebalkan Yok Sau Cun Di depan siocianya dia mengambi!

hati Tapi di belakangnya dia ketus sekalf.

Setelah mengucapkan kata-kata tadi, dia baru melangkah keluar meninggalkan mereka.

"Mengapa Siangkong berdiri terus'? Silahkan duduk,"

Kata wanita berbaju hijau itu.

"Tenma kasih,"

Sahut Yok Sau Cun sambi!

duduk di atas sebuah kursi pendek dekat pintu.

Perahu itu sudah mulai berangkat Malam hari angin sangat kencang Begitu memnggalkan pelabuhan, perahu itu terombang-ambing.

Tentu saja harus duduk baru bisa tenang.

Wanita berbaju hij'au itu tertawa merdu melihat sikap Yok Sau Cun.

"Siau Cui mengatakan kau adalah seorang kutu buku. melihat tampangmu yang [ugu, kau memang minp kutu buku,"

Katanya. Yok Sau Cun hanya tersenyum mendengar perkataan itu.

"Tampaknya kau bukan orang dunia Bulim?"

Tanya wanita itu mengalihkan arah pembicaraan.

"Cayhe memang bukan orang Bulim,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Kau adalah putera keluarga baik-baik Seorang pelaiar bukan?"

Tanya wanita itu kembali.

"Cayhe belum pernah benar-benar belajar ilmu silat Hanya pernah berlatih selama beberapa tahun di rumah,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Begitu baru betu! Hanya orang yang belajar membaca dan menulis baru mengerti sopan santun "

Kata wanita tersebut. Pada waktu itu Siau cui masuk dan meletakkan secangkir teh di atas meja.

"Sayangnya sedikit pemarah,"

Sahutnya,.

"Siau cui, jangan mengoceh sembaranganl' kata wanita baju hijau itu Cui kouwnio mengiakan Dia menoleh ke arah Yok Sau Cun.

"Siangkong, silahkan minum ".

"Tenma kasih, Cui kouwnio,"

Sahut Yok Sau Cun. Cui kownio seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak jadi Wanita berbaju hijau itu mengangkat kepalanya.

"Aku masih belum tahu nama Siangkong yang mulia,"

Katanya.

"Cayhe Yok Sau Cun.".

"Siocia kami bernama Hui Fei Cin,"

Siau cui menjelaskan. Wanita berbaju hijau itu tampak panic.

"Siau cui !"

Bentaknya Cui kouwnio tertawa-tawa.

"Siocia sudah menanyakan nama or'ang Seharusnya memperkenalkan diri sendiri juga Siocia tentu malu hati mengatakannya, maka Siau cui yang mewakili,"

Katanya.

"Aku toh tidak bermaksud menyembunyikan nama,' kata wanita yang bermana Hui Fei Cin itu. Dia menoleh kembali kepada Yok Sau Cun.

"Yok siangkong menyeberangi sungai dengan tujuan kemana'?".

"Cen kiang,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Ada apa Yok Siangkong ke kota tersebut'?"tukas Siau Cui.

"Cayhe bermaksud mencan seseorang,"

Sahut Yok Sau Cun.

"Kalau begitu Yok Siangkong pasti tidak akan tama menetap di kota itu. Dua hari lagi kami akan kembali ke Yang ciu. Setelah urusan Yok Siangkong selesai, boleh ikut kami ke Yang ciu untuk berpesiar,"

Kata Siau Cui. Di balik cadar penutup wajahnya, mata Hui Fe Cin bersinar cerah.

"Kalau Yok Siangkong sudi mampir di kota kami siaumoi pasti akan menyambut dengan senang,"

Dia sendiri telah menyebut dirinya sebagai Siaumoi. Hal ini membuktikan bahwa dia masih seorang gadis remaja. Yok Sau Cun yang mendengar nada bicaranya begitu senus, menjadi agak terkejut.

"Kalau cayhe ada waktu luang tentu akan memenuhi undangan dengan senang hati,"

Sahutnya.

"Siaumoi bermaksud merubah kata kalau ada waktu luang' Yok Siangkong,"

Kata Hui Fei Cin.

"Entah bagaimana cara Siocia merubahnya?"

Tanya Yok Sau Cun.

"Merubah dengan kata "

Kalau urusan Cen kiang sudah selesai' Bagaimana pendapat Yok Sia'ngkong? ". Sekali lagi Yok Sau Cun terpana Dalam hati dia berpikir "

Kalau melihat perkataan yang dirubahnya, maka berarti kalau urusan Cen kiang sudah selesai, mau tidak mau aku harus berkunjung ke rumahnya Dia adalah seorang gadi.s yang cerdik tentu tidak mau mengatakan secara terus terang kepada seorang laki-iaki Dia bermaksud mengajak aku ke rumahnya.

Oleh sebab itu dia merubah perkataan 'kalau ada waktu fuang' menjadi kalau urusan di Cen kiang sudah sele sail Bukankah maksudnya sudah jelas?

" .

Yok Sau Cun memandang kepada Hui Fei Cin Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana harus membenkan jawaban Cui kouwnio diam diam meninggalkan mereka berdua.

Hui Fei Cin menunggu beberapa saat Dia belum mendapat jawaban dan Yok Sau Cun.

"Kau tidak bersedia?"

Tanyanya dengan nada pilu.

"Siocia jangan menduga yang bukan-bukan Cayhe "

Sahutnya panic.

"Aku tak tahu Mungkm aku menganggap pertemuan kita hanya kebetulan Tidak perlu saling mengenal lebih mendalam Namun entah mengapa aku bisa bisa'?"

Nada suaranya semakin menyedihkan. Setelah berhenti sejenak Dia memaksa kan diri untuk menatap pemuda itu.

"Yok Siangkong adalah seorang laki-laki sejati Penampiiannya pun amat sopan Benar benar membuat siaumoi kagum Aku menyesal mengapa dilahirkan sebagai seorang anak gadis Kalau tidak, aku akan mengangkat persaudaraan dengan Yok Siangkong Hal mi memang menyedihkan Ada sebuah pepatah zaman duiu yang sangat bagus Jin sin tek it ce yi, si el bo han jAsalkan bisa mendapatkan apa yang di dambakan, mati pun tidak percuma) lanjut Hui Fei Cin.

Mendengar kata-kata itu, Yok Sau Cun semakin terperanjat.

Dia mengibaskan tangannya dengan panik.

"Tenma kasih atas cinta kasih Siocia, cayhe tidak berani menyambutnya.".

"Kalau Siangkong tidak keberatan nama kecilku adalah Fei Cin Harap Siangkong memanggil nama itu saja,"

Kata Hui Fei Cin.

"Ini...."

Yok Sau Cun semakin gugup.

"Aku tadi sudah mengatakan, seorang manusia asal bisa mendapatkan apa yang didambakan mati pun tidak sia sia. Aku percaya diriku tidak berumur pendek, Yok Siangkong juga akan hidup lama. Itu hanya sebuah perumpamaan Siaumoi bermaksud baik. Mengundangdan berkunjung ke rumah untuk saling mengenal lebih dalam. Benarkah kau tidak bersedia'" ' tanya Hui Fei Cin sendu. Yok Sau Cun jadi serba salah.

"Sio cia jangan menduga yang bukan-bukan. Cayhe tidak ada maksud demikian. Hanya. .".

"Kalau begitu kau, ."

Tangannya dengan lembut menarik cadar yang menutupi wajahnya.

Tia (ayah) yang menyuruh aku mengenakan cadar ini.

Orang tua itu mengatakan bahwa merantau di dunia kangouw sangat berbahaya.

Lebih baik jangan menunjukkan wajah asli pada siapa pun Yok Siangkong adalah laki-laki yang jujur Siaumoi sengaja membuka cadar ini agar bila kelak kita bertemu lagi, Yok Siangkong tidak lupa."

Katanya.

Cadar itu telah dilepas Dia adalah seorang gadis remaja dengan wajah berbentuk kuaci.

Hidungnya mancung.

Wajahnya tenang dan lembut Meskipun dia tidak secantik pelayannya Siau cui yang sangat rupawan.

Setelah melihat wajah aslinya, Yok Sau Cun malah lebih tenang Dia tersenyum lernbut.

"Harap Sio Cia mengenakan cadar itu kembali,"

Katanya. Huei Fei Cin mengerlingkan matanya yang seperti telaga berair jernih. Dia juga tersenyum manis.

"Apakah YokSiangkong sudah mengingat wajah siaumcn?"

Tanyanya Sebetulnya, meskipun wajahnya biasa saJa namun sepasang matanya yang sayu dan giginya yang putih memberi kesan menawan Yok Sau Cun menganggukkan kepaianya.

"Cayhe sudah ingat betul"

Sahutnya. Hui Fei Cin mengenakan kembali cadar penutup wajahnya.

"Yok siangkong belum menjawab permlntaan siaumoi Apakah setelah urusan di Cen kiang selesai, Yok Siangkong bersedia mampir ke rumah?" . 'Melihat kesediaan Siocia mengundang, setelah urusan ini selesai, tentu cayhe akan berkunjung ke sana."

Sahut Yok Sau Cun.

"Ternyata aku memang tidak salah memlai Yok Siangkong benar-benar seorang laki laki sejati,"

Kata Hui Fei Cin. Tiba-tiba Slau cui masuk ke dalam ruangan dengan sikap tergesa-gesa.

"Siocia, di pelabuhan terdapat sinar terang jangan jangan Ku Taiya mengutus orang untuk menjemput kita,' katanya.

"Meskipun Ku ku (paman) tahu aku akan datang, juga tidak mungkin menyuruh orang menyambut dan jarak demikian jauh "

Sahut Hui Fei Cin. Siau Cui tersenyum penuh rahasia.

"Belum tentu Meskipun Ku loya tidak menyuruh orang menyambut, tentu ada orang lain yang ".

"Saiu cui, jangan ngoceh sembarangan'"

Tukas Hui Fei Cin.

Siau cui meniulurkan lidahnya dengan cepat dia keluar kembali ke depan perahu perlahan lahan menepi Akhirnya bersandar Terdengar suara tenakan Siau cui di muka pintu.

'Sio cia Piau siauya sendiri yang datang menjemput Tandu sudah tersedia di d^r maga Silahkan Siocia keluar!

Hui Fei Cin tampak menank nafas panlang Dia berdiri dan menoleh kepada Yok Sau Cun.

"Yok siangkong, silahkan!"

Katanya.

"Siau cui masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Sio cia, kau saja yang naik lebih dahulu Yok Siangkong biar menunggu sebentar lagi,"

Katanya dengan suara rendah.

"Mengapa harus begitu? perahu toh sudah bersandar. Yok Siangkong adalah tamuku. Dengan sendirinya harus didahulukan Kau Jangan banyak mulut'"

Sahut Hui Fei Cin sambil mendelikkan matanya. Siau cui tidak berani banyak bicara lagi. Dia mundur keluar dan membukakan tirai penghubung.

"Yok Siangkong jangan melupakan perjalanan ke Yang cui. Jangan membuat siaumoi mendambakan siang malam,"

Kata Hui Fei Cin.

Dia tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menjawab.

Dia hanya mengulurkan tangannya dan mengucapkan.

Silahkan!".

Yok Sau Cun mulai bisa menenangkan diri.

Dia tidak sungkan lagi.

"Terima kasih,"

Sahutnya kemudian mendahului Hui Fei Cin melangkah ke luar dari anjungan perahu.

Hui Fei Cin mengikuti di belakangnya Tukang perahu sudah menyediakan papan untuk meniti Dia membiarkan Yok Sau Cun berjalan di muka dengan diiringi Hui Fei Cin dan Siau cui.

Di sekitar pelabuhan terlihat delapan orang laki-laki bertubuh tinggi besar.

Mereka memakai baju tanpa lengan Tangan masing-masing membawa obor Mereka berjajar berbentuk bansan yang rapi Di samping mereka terdapat sebuah tandu berwarha hijau.

Di depan orang-orang itu ada seorang pemuda yang berwajah tampan.

Dia sedang berdiri menghadap jembatan titian Pakaiannya berwarna biru langit Ikat pinggang merupakan sulaman dengan batu kumala menjuntai di uJungnya Sepatunyajuga bersulam indah.

Selain itu dia mengenaRan ikat rambut berwarna biru langit juga Alisnya hitam lebat.

Raut wajahnya persegi dan gagah Bibir nya kemerahan Sayangnya ada sedikit ke san sombong pada diri pemuda itu.

Pemuda berpakaian biru langit itu melihat bahwa yang pertama-tama turun adalah seorang pemuda yang tidak pernah d;kenalnya Dia agak terpana Dengan sendirinya Yok Sau Cun juga sudah melihat pemuda tersebut Pikirannya membayangkan katakata Siau Cui yang meminta Siocianya naik lebih dahulu.

Dalam sekejap hatinya mulai yakin Kemungkinan besar pemuda inilah yang disebut sebagai Piau siauya tadi.

Yok Sau Cun terpaksa menjura dengan hormat kepadanya.

Meskipun pemuda berpakaian biru langit ilu iiicmporhnlikan Yok Sflii Cun donfian sek Gaina lapi dia [icldk mGmpordulikan peng hormatan yang dilakukan olehnya Matanya malah dialihkan kepada Hui Fei Cin Wajahnya menampilkan senyum.

'Piaumoi, mengapa sampai saat im kau baru tiba?

Sejak sore han aku sudah bergegas datang ke sini Aku menunggu terus sampai sekarang Aku kira kau tidak jadi datang malam ini."

Katanya.

"Siaumoi minta maaf karena piauko menyambut dari tempat yang jauh Siaurnoi ada urusan sedikit sehingga terlambat Siapa suruh kalian menyambut dari kemann sore?"

Sahut Hui Fei Cin.

"Tia tidak tenang Dia mengatakan bahwa dalam beberapa han ini perjalanan kurang aman. Dia mengharuskan aku menunggu di smi,"

Kata pemuda itu.

"Paman juga ketedaiuan Aku toh bukan anak kecil lagi. Masa aku bisa menghilang'?"

Gerutu Hui Fei Cin dengan wajah cemberut. Mata pemuda itu melink ke arah Yok Sau Cun.

"Piaumoi Orang ini ".

"Ah Aku lupa memperkenalkan kalian berdua Ini adalah Yok Siangkong ..." . Yok Sau Cun tidak menunggu sampai kata-katanya selesai Dia segera memper kenalkan diri sendiri kepada pemuda tersebut.

"Cayhe Yok Sau Cun Tadi menumpang perahu Siocia untuk menyeberang "

Selesai memperkenalkan diri, dia segera menoleh kepada Hui Fei Cin "Tenma kasih atas ke baikan hati Siocia membiarkan cayhe menumpang Sampai jumpa".

Di balik cadar penutup wajahnya, Hui Fei Cin tergetar.

"Yok Siangkong tidak perlu sungkan,"

Sahutnya. Pemuda berpakaian biru langit itu mengerling ke arah Hui Fei Cin Dia memaksakan diri untuk tersenyum.

"Yok heng, silahkan "

Katanya. Tanpa melihat lagi kepada Yok Sau Cun, dia segera berkata dengan suara rendah.

"Piaumoi han sudah larut. Cepat naik ke a.tas tandu,"

Lanjutnya.

Yok Sau Cun melewati kedua orang itu, dengan iangkah santai dia melanjutkan perjalanan Mata Hui Fei Cin menatapnya sampai menghflang di kegelapan Setelah itu dia baru naik ke atas tandu Siau cui menurunkan tirainya.

Pemuda baju biru itu tentu dapat merasakan kebimbangan hati Hui Fei Cin yang tidak seperti biasanyaAda sesuatu yang hilang dan sinar matanya yang bening.

Dia mengangkat tangannya memben isyarat kepada beberapa laki-laki tadi Tandu segera diusung Pemuda itu sendiri naik ke atas kudanya Dia mengawa!

dari belakang.

Oborobor di tangan laki-laki tinggj besar itu membuat daerah sekitar itu terang benderang.

Orang banyak sudah berlalu Tidak lama kemudian, tampak sebuah sampan muncul di permukaan sungai.

Karena cuaca gelap maka tidak terlihat jelas apa yang ada diper.

mukaan sungai Sampan itu kecil sekali OIeh sebab itu, lebih sulit lagi diketahui orang.

Sampan kecil itu bergerak cepat Tidak sampai sepeminuman teh sudah tiba di dermaga.

Terlihat bayangan seseorang Dia melayang dan atas sampan tersebut Sebentar saja sudah sampai di jembatan titian.

Dia adalah laki laki berus.ia pertengahan.

Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja Wajahnya putih bersih Dalam kegelapan, ma tanya berkilauan Sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah orang yang berilmu tinggi.

Setelah mencapai daratan, matanya di edarkan ke sekelilmg tempat itu, kemudian mengarah kepada tandu yang sudah berada di jarak yang jauh Tubuhnya melesat cepat.

Dia mengikuti rombongan orang tadi secara diam-diam Dari caranya melayang dan mengintil tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, dapat dibayangkan sampai di mana ginkang yang dimilikinya.

Siapakah orang itu'?

Apa tujuannya^ Apakah dia ditugaskan oleh seseorang?

Mungkm selain orang itu sendiri, tidak ada orang lain yang akan mengetahui jawabannya.

Cen kiang, sebuah kota yang menjadi persimpangan antara dua sungai In ho dan Cang kiang Kota kecil itu juga menjadi pusat perdagangan Keadaannya ramai sekali Kehidupan di sana cukup makmur oleh karena itu, meskipun malam hari tetap saja semarak, lentera-lentera besar memenuhi jalan.

Rumah makan, kedai minum Tempat hiburan banyak terdapat di kota itu Pada musim apa pun, selalu ada saja tamu yang keluar masuk penginapan-penginapan di kota kecil tersebut.

Yok Sau Cun memilih sebuah penginapan di dalam kota.

Dia melangkah masuk Tepat pada saat itu, ada seseorang yang mengintil d' belakangnya Ketika Yok Sau Cun sudah masuk ke dalam dia mendongakkan kepafanya ke atas seakan hendak menghapalkan nama pengmapan tersebut Sesaat kemudian baru dia mengundurkan diri.

Kalau melihat dan pakaiannya bukankah dia yang tadi menggotong tandu Hui Fei Cin dan merupakan anak buah pemuda berbaju biru langiP Mengapa dia harus mengintil di belakang Yok Sau Cun?

Keesokan paginya Yok Sau Cun mfin bayar sewa kamarnya.

Dia juga menanyakan kepada pengurus penginapan tersebut, kemana arah harus ditempuhnya apabiia hendak menuju Cang ciu Setelah itu dia melan jutkan perjalanan.

Sebetulnya dia mempunyai seekor kuda sebagai alat transportasi Namun ketika di Kwa ciu, dia diseret oleh Ciok Ciu Lan meninggalkan kedai minum Kuda itu di tambat di bawah sepatang pohon liu Karena keadaan waktu itu sangat tergesa-gesa maka kuda itu tidak sempat diambilnya Sekarang dia terpaksa menempuh perjalanan dengan sepasang kakinya.

Siang hannya dia sudah sampai di Tan yang Dia tidak masuk ke dalam kota itu Dia mengisi perut di sebuah kedai kecil di pinggir jalan Tempat itu merupalan perbatasan penting menuju Lam pak Banyak orang yang menempuh perjalanan benstirahat di sana Apalagi tengah hari seperti ini, banyak tamu yang sedang bersantap Kedai yang hanya berisi beberapa meja itu sudah penuh semuanya Terpaksa la bergabung dengan orang lain.

Yok Sau Cun memesan semangkok mi dan seporsi bakpao.

Baru saja dia mulai makan dan minum, ketiga orang yang duduk semeja dengannya sudah selesai bersantap dan menmggalkan kedai tersebut Tidak lama kemudian, seorang tamu berpakaian hijau dan bertubuh sedang menggantikan mereka di hadapannya Usia orang itu seki tar empatpuluhan Dia menjura kepada Yok Sau Cun.

'Apakah Siangkong hanya seorang d'ri?"

Sapanya. Yok Sau Cun mendongakkan kepalanya.

"Cayhe hanya seorang diri Silahkan hengtai duduk,"

Sahutnya.

"Terima kasih "

Laki-laki itu tanpa segan segan lagi duduk di hadapan pemuda itu.

Pelayan mengantarkan sebuah ceret tah Dia menanyakan apa yang hendak dipesan oleh laki-laki setengah baya itu Sesudah itu ia segera mengundurkan diri.

Yok Sau Cun juga tidak memperdulikan,.

Dia menyantap hidangan di depannya dengan penuh selera.

Setelah kenyang, dia membayar semuanya.

Dia bermaksud melanjutkan kembali perjalanannya.

Terlihat seseorang dengan dandanan pengawal menghampinnya dengan tergesa-gesa.

Dia membungkukkan tubuhnya di hadapan Yok Sau cun.

"Apakah anda Yok Siangkong?"

Sapanya. Yok Sau Cun agak terpana mendengar teguran itu.

"Cayhe memang Yok Sau Cun Anda ..". Laki-laki itu mengunjukkan senyuman lebar.

"Siau ya menerima perintah Kongcu untuk mengundang Yok siangkong,"

Katanya. 'Siapa kongcu saudara?"

Tanya Yok Sau Cun. 'Kalau Yok Siangkong sudah bertemu dengan Kongcu kami, dengan sendirinya akan tahu,"

Sahut pengawal itu.

"Cayhe dengan kongcu saudara belum mengenal dengan akrab Dia mengutuskan untuk mengundang aku, entah apa keperluannya?"

Tanya Yok Sau Cun "Kongcu kami hanya memmta siau jin lengundang Yok siangkong. ada perlu apa, siau Jin tidak dibentahu,"

Sahut pengawal itu.

Meskipun Yok Sau Cun merasa penstiwa ini agakaneh Dan diatidaktahu siapa kong cu laki-laki di hadapannya ini, namun dia tidak dapat menghiiangkan penasaran yang ada di hatinya.

0!eh karena itu dia menganggukkan kepalanya.

"Baiklah Di mana kongcumu sekarang'?"

Tanyanya.

"Kongcu kami berada di depan sana Dia sedang menantikan kedatangan Yok Siang kong,"

Kata pengawal itu. Yok Sau Cun mengibaskan tangannya.

"Tolong saudara menunjukkan jalan,"

Katanya.

"Baik . baik Harap Yok Siangkong mengikuti siau jin,"

Ajaknya setelah mengiakan berkali-kali.

Pengawal itu berjalan di depan Yok Sau Cun mengikuti di belakangnya.

Setelah menempuh perialanan sejauh tiga li, pemuda itu merasa cunga Tidak seorang pun yang ter lihat di sekitar itu Dia tidak dapat menahan sabar lagi.

"Sebetulnya di mana kongcu saudara menunggu?"

Tanyanya. Pengawal itu menunjuk ke arah depan.

"Di tempat peristirahatan itu,"

Sahutnya Yok Sau Cun mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjuk pengawai tersebut.

Di ujung jalan yang letaknya masih cukup jauh terdapat sebua+i bangunan berbentuk segi enam Di depannya ada seekor kuda putih yok Sau Cun terkejut melihat kuda itu.

"Bukankah kuda itu yang ditunggangi si pemuda berbaju biru kemarin?"

Pikirnya dalam hati.

Pikiran itu baru mehntas di kepalanya, pe ngawal tersebut sudah mengaiaknya berlan ke arah bangunan itu Setelah dekat Yok Sau Cun baru melihat dengan jelas Di dalamnya terdapat sebuah meja batu untuk beberapa bangku mengelilinginya.

D| atas salah satu bangku tersebut duduk seseorang Siapa lagi kalau bukan pemuda yang kemarin menyambut Hui Fei cin!.

Di atas meja yang ada di hadapannya, terdapat sebuah teko teh berwarna keemas an dua buah cawan dengan bahan yang sama melihat keadaan itu, agaknya dia me mang sedang menanti kedatangan seseorang.

Di dekat tiang sebelah kanan ada sebuah perapian, Apinya sedang menyala dan berwarna merah terangAda sebuah ceret yang terbuat dari tanah liat di atasnya.

Tampaknya dia sedang memasak air untuk menyeduh teh.

Yok Sau Cun menghampiri dengan tergesa gesa Pemuda itu bangkit dan menyambutnya dengan bibir tersenyum.

"Teh hangat menyambut tamu Hengte sudah menunggu sejak tadi,' sapanya. Yok Sau Cun men]ura dalam-dalam.

"Hengtai mengutus orang untuk mengundang cayhe Entah ada keperluan apa?"

Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa Gan Kl

Baca Juga: Golok Bulan Sabit 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert