Eps 3 Pendekar Cacad - Gu Long
Baca online Pendekar Cacad - Gu Long
Cersil Pendekar Cacad - Gu Long.
"Hingga sekarang aku belum berhasil menduga riwayat hidupmu, tapi dari aliran ilmu silat yang kau miliki, bukan saja memahami ilmu silat Mi-tiong-bun dan menguasai seluruh aliran ilmu silat semua partai di kolong langit, bila dugaanku tidak salah hanya dua orang di kolong langit dewasa ini yang bisa mengajar seorang murid semacam kau ini."
"Siapakah kedua orang itu?"
Tanya Bong Thian-gak keheranan.
"Pertama adalah Cong-kaucu perkumpulan kami!"
"Kau maksudkan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?"
Seru Bong Thian-gak tertegun.
"Hari ini aku ingin kau bicara blak-blakan, benarkah kau utusan khusus yang dikirim Cong-kaucu untuk mengawasi diriku?"
Semakin mendengar, Bong Thian-gak semakin bingung, tapi dari perkataan Jit-kaucu ini pula dia tahu bahwa antara sesama anggota Put-gwa-cin-kau sebenarnya saling tidak percaya dan curiga.
Kemungkinan besar Put-gwa-cin-kau terbentuk karena usaha Cong-kaucu yang mempengaruhi orang dengan kekerasan.
Sekarang Bong Thian-gak dihadapkan pada suatu masalah penting yang harus diputuskan dengan cepat, tanpa terasa dia berkerut kening sambil termenung.
Dengan sorot mata tajam Jit-kaucu mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, gumamnya.
"Selama puluhan tahun terakhir ini, Suhu amat baik terhadapku, mengapa aku harus mencurigai dia?"
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah Jit-kaucu, kemudian katanya.
"Tadi Ku-lo sanseng telah berkata kepadamu, dari dulu hingga sekarang terdapat pentolan persilatan yang ingin menjadi raja dunia persilatan, coba berapa banyak orang yang tewas dengan nama rusak dan tubuh binasa? Bilamana kau pintar, sudah seharusnya berpaling ke jalan benar, mumpung sekarang masih belum terlambat."
"Kau menginginkan aku berbuat apa?"
Tanya Jit-kaucu dengan suara hambar.
"Melepas jalan sesat kembali ke jalan yang benar."
Jit-kaucu tersenyum.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi?"
Serunya.
"Aku bukan anggota Put-gwa-cin-kau!"
Jawab Bong Thiangak.
"Oh, kalau begitu kau adalah muridnya?"
"Murid siapa?"
"Jian-bin-hu-li Ban Li-biau!"
Mendengar itu kontan paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, tanyanya.
"Kau pun kenal nama itu?"
"Tiada nama jago lihai di dunia ini yang tidak kukenal."
Diam-diam Bong Thian-gak terkejut, dengan cepat dia berpikir.
"Sebelum menemui ajal. Suhu kedua telah berkata, ada seorang lain pernah memperoleh pelajaran ilmu silat darinya, mungkinkah orang itu adalah Jit-kaucu?"
Berpikir sampai di situ Bong Thian-gak segera bertanya.
"Kau pernah berjumpa dengannya?"
"Kau ini bagaimana? Mengapa tidak menjawab dulu pertanyaan orang?"
"Ya, betul! Dia adalah guruku,"
Jawab Bong Thian-gak kemudian dengan suara tegas. Paras muka Jit-kaucu berubah hebat, tanyanya.
"Sudah matikah dia?"
"Ya, baru beberapa bulan berselang."
Jit-kaucu menghela napas.
"Ai, pernahkah dia menceritakan sesuatu tentang diriku?"
"Sebenarnya ada hubungan apakah antara kau dengan dia orang tua?"
"Guru yang memberi pelajaran ilmu silat selama empat puluh sembilan hari kepadaku."
Dengan terkejut Bong Thian-gak berkata.
"Jit-kaucu, kau adalah orang pertama yang memperoleh warisan ilmu silat dari dia orang tua?"
"Benar, peristiwa itu berlangsung dua puluh tahun berselang, aku hanya empat puluh sembilan hari berada bersamanya."
"Dua puluh tahun berselang? Lantas pada umur berapa kau bertemu dengan dia orang tua?"
"Waktu berumur lima tahun."
Bong Thian-gak menggeleng kepala berulang-kali.
"Sejak usia lima tahun sudah berlatih silat, bahkan memperoleh pelajaran silat selama empat puluh sembilan hari."
"Waktu itu aku masih belum memahami ilmu silat, tapi dia orang tua membacakan teori ilmu silat dan suruh aku menghafal di luar kepala, maka aku pun ingat terus sampai sekarang."
Bong Thian-gak menghela napas sedih.
"Ai, sebelum meninggal, Suhu Ban Li-biau telah berkata kepadaku, 'Selama hidup Lohu hanya melakukan kejahatan, kemaruk akan nama, harta dan kedudukan, selalu berusaha mencapai harapan dengan menggunakan cara apa pun, tapi akibatnya tujuh puluh tahun hidupku di dunia ini sia-sia belaka ... Ai budi dendam dalam Bu-lim selamanya merupakan perputaran dari hukum karma, siksaan hidup yang Lohu alami selama tiga puluh tahun ini betul-betul merupakan suatu hukuman yang paling adil....'."
"Hanya mengucapkan kata-kata itu saja?"
Tanya Jit-kaucu.
"Dia masih berkata bahwa ia pernah mewariskan ilmu silat kepada seorang lain, dia suruh aku baik-baik mempergunakan ilmu itu."
"Ai, dia orang tua memang kelewat mengenaskan nasibnya, kelewat kesepian,"
Ujar Jit-kaucu menghela napas.
"Tahukah kau mengapa dia orang tua menjadi cacat seperti itu?"
"Tidak!"
Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata.
"Kau dan aku boleh dibilang berasal dari perguruan yang sama, kata-kata terakhir dari Jian-bin-hu-li Ban Li-biau sudah jelas menerangkan bagaimana akibatnya bila seseorang melakukan kejahatan, sekarang bagaimana perasaanmu?"
Paras muka Jit-kaucu berubah.
"Kau jangan menasehati aku,"
Katanya.
"Aku harus memberi peringatan padamu agar jangan bercerita kepada siapa pun bahwa kau pernah belajar ilmu silat dari Ban Li-biau, sebab bila rahasia ini sampai bocor, maka keselamatan jiwamu akan terancam."
"Aku tidak takut menghadapi kematian, asal kematianku itu berharga, setiap saat aku bersedia mengorbankan diri demi keadilan dan kebenaran."
"Ya, kini kau dan aku sudah menjadi Suheng-moay,"
Ucap Jit-kaucu sedih.
"Tapi kita pun berhadapan sebagai musuh, bagaimana aku harus menyelesaikan persoalan ini?"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, wajahnya menampilkan perasaan sedih dan murung yang tak berlukiskan.
Bong Thian-gak sendiri pun merasa betapa cepatnya perubahan Itu berlangsung, sebetulnya hari ini dia bertekad akan mengadu jiwa dengannya, tapi kenyataan membuktikan bahwa mereka adalah sesama saudara seperguruan, bagaimana mungkin dia bisa turun tangan?
Mendadak Bong Thian-gak menarik kembali pedangnya dan berkata dengan wajah serius.
"Tentang usulku agar kau kembali ke jalan yang benar harap dipikirkan masak-masak, tindak-tandukmu di kemudian hari yang akan menentukan segalanya."
Usai berkata dia membalikkan badan dan siap berlalu dari situ. Mendadak Jit-kaucu berseru.
"Tunggu dulu!"
Pelan-pelan Bong Thian-gak membalikkan badan, lalu bertanya.
"Masih ada urusan apa lagi?"
Dengan wajah dingin Jit-kaucu berkata.
"Apabila Ku-lo Hwesio masih ingin mempertahankan jiwanya atas luka yang dideritanya, suruh dia mengutungi sepasang kakinya sebatas lutut dalam tiga jam, biarkan darah mengalir keluar hingga berubah menjadi merah segar, kemudian baru hentikan aliran darah itu, bila melewati waktu yang ditentukan, maka dia akan berubah menjadi cacat!"
Bong Thian-gak tertegun.
"Mungkin dia mempunyai cara pengobatan yang lebih baik,"
Katanya kemudian.
"Hanya cara ini saja yang bisa mempertahankan ilmu silatnya hingga tidak punah, percaya atau tidak terserah kepadamu."
"Siapa tahu dia tidak menderita begitu parah seperti apa yang kau ucapkan?"
"Ku-lo Sinceng memang telah berhasil menemukan ilmu silat yang bisa menandingi Soh-li-jian-yang-sin-kang, namun dia telah salah memperhitungkan kesempurnaan tenaga dalamku."
Sampai di situ dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
"Aku bernama Thay-kun, di Bu-lim hanya kau seorang yang mengetahui namaku itu."
"Thay-kun? Kau berasal dari marga apa?"
Tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut.
"Belum kuketahui apa margaku."
Walaupun Bong Thian-gak agak tercengang oleh jawaban itu, namun dia juga tidak banyak bertanya, katanya kemudian.
"Sampai jumpa lain waktu!"
Dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari tempat itu. Jit-kaucu Thay-kun memandangnya hingga bayangan punggung pemuda itu lenyap dari pandangan, kemudian sambil menghela napas gumamnya.
"Mengapa aku memberitahu banyak hal kepadanya ... mengapa aku harus memberitahu namaku kepadanya ...."
Dia pun bangkit dan mengayunkan langkah meninggalkan tebing Kui-thau-nia itu.
Bong Thian-gak mengerahkan Ginkang menuju gedung Bulim Bengcu.
Sepanjang jalan, banyak persoalan yang dipikirkan olehnya.
Dia sama sekali tidak menyangka Jit-kaucu adalah ahli waris lain Jian-bin-hu-li Ban Li-biau.
Di usia lima tahun, ternyata selama empat puluh sembilan hari dia digembleng ilmu silat oleh Ban Li-biau, peristiwa itu membuat orang sukar percaya.
Dari keberhasilan Jit-kaucu Thay-kun menguasai ilmu silat, mau tak mau orang harus percaya juga.
Dia adalah salah seorang ahli waris Ban Li-biau, bagaimana pun juga dia harus memberi kesempatan baginya untuk menempuh hidup baru.
Ai, perubahan yang terjadi atas segala persoalan ini memang berlangsung sangat mendadak, perlukah masalah itu diberitahukan kepada Ku-lo Sinceng?
Teringat akan Ku-lo Hwesio, Bong Thian-gak segera mempercepat langkahnya, setengah jam kemudian dia telah tiba di depan pintu gerbang gedung Bu-lim Bengcu.
Pengawal pintu yang menyaksikan kedatangan Bong Thiangak, segera menyongsong seraya berkata dengan penuh rasa hormat.
"Ko-siauhiap, Bengcu telah berpesan, bila Siauhiap telah kembali dipersilakan segera menuju loteng sebelah timur."
Bong Thian-gak sudah menduga akan duduk masalahnya, dia segera menerobos ke dalam gedung dan menuju ke loteng sebelah timur.
Begitu masuk ke loteng, ia saksikan di ruang tamu sudah menunggu Ho Put-ciang, Thia Leng-juan, Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui, Oh Cian-giok, Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay, Wan-pit-kim-to Ang Thong-lam, Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong serta Goanko Taysu.
Sedang di atas kasur duduk bersila Ku-lo Hwesio, saat itu dia sedang memejamkan mata dengan wajah memucat, mukanya sama sekali tidak nampak warna darah.
Begitu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menyaksikan Bong Thian-gak kembali, buru-buru dia menyongsong seraya berseru.
"Ko-siauhiap, Ku-lo Supek ada pesan yang hendak disampaikan kepadamu."
Sorot mata Bong Thian-gak yang tajam dengan cepat menyapu semua wajah orang dengan serius, murung dan sedih, ia segera mengetahui apa gerangan yang telah terjadi.
Buru-buru dia maju, menjatuhkan diri dan berlutut, ujarnya kepada Ku-lo Sinceng.
"Wanpwe menjumpai Sinceng, entah Sinceng ada pesan apa yang hendak disampaikan?"
Waktu itu Ku-lo Hwesio sudah memejamkan mata rapatrapat, namun bibirnya masih dapat bergerak mengeluarkan suara yang amat lirih, terdengar dia berbisik.
"Ko-siauhiap, Pinceng sudah tak dapat hidup lebih lama lagi... Jit-kaucu juga telah mati...."
Sebenarnya Bong Thian-gak hendak memberitahu kepadanya bahwa Jit-kaucu belum mati, namun kuatir Ku-lo Hwesio terlalu kaget, maka dia hanya berkerut kening dan untuk sementara waktu tidak berkata apa-apa.
Terdengar Ku-lo Hwesio berkata lebih jauh.
"Selanjutnya musuh-musuh tangguh dari Put-gwa-cin-kau ... harus ... harus kalian dan Ho-hiantit menghadapinya! Pinceng sengaja menunggumu karena aku hendak mewariskan ilmu Tat-mokhi-kang kepadamu ... sayang bila ilmu sakti ini sampai hilang dari dunia ini ... Tat-mo-khi-kang sudah ratusan tahun lenyap dari dunia persilatan, Pinceng pun harus mengorbankan waktu delapan tahun untuk mencapai tingkat tiga."
"Dari tingkat empat sampai tingkat sepuluh ... kitab itu sudah hilang sejak tiga puluh tahun lalu, kitab itu dicuri orang dari tempat penyimpanan oleh orang tak dikenal... orang itu mungkin adalah ...."
"Toa-supek, siapakah orang itu?"
Goan-ko Taysu berseru keras. Ku-lo Hwesio tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya berkata lebih lanjut.
"Meskipun ia berhasil mencuri kitab Tatmo-khi-kang dari tingkat keempat hingga sepuluh, tapi tak pernah berhasil mempelajari ilmu sakti itu, sebab dasar utama ilmu Tat-mo-khi-kang justru terletak pada tingkat pertama dan kedua, bila dasarnya tak ada, maka sulit untuk mencapai tingkat keempat yang jauh lebih dalam isinya ...."
"Bila seseorang bisa melatih ilmu Tat-mo-khi-kang hingga tingkat ketujuh, maka sudah cukup menjagoi kolong langit dan sukar untuk dicari tandingannya."
"Bila dugaan Pinceng tak salah dan bila orang yang mencuri kitab pusaka Tat-mo-khi-kang dari tingkat keempat sampai kesepuluh itu benar-benar dia, maka Ko-siauhiap sudah pasti telah memperoleh ilmu warisan darinya."
Ketika Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan mendengar sampai di situ, mereka tahu siapa orang yang dimaksud Ku-lo Hwesio, sudah pasti orang yang mencuri kitab pusaka Tat-mo-khi-kang dari tingkat empat sampai sepuluh itu adalah Jian-bin-hu-li Ban Li-biau.
Bong Thian-gak sendiri ketika mendengar ucapan itu, segera teringat suatu peristiwa di saat Ban Li-biau hendak mewariskan ilmu silat kepadanya.
Maka dengan cepat Bong Thian-gak menjawab.
"Apa yang diduga Sinceng memang benar, orang yang mencuri kitab itu memang dia orang tua."
Ku-lo Hwesio memejamkan mata rapat-rapat, dia lantas bertanya.
"Mengapa kau merasa yakin?"
"Suatu waktu tatkala dia orang tua sedang memberi pelajaran ilmu silat kepadaku, beliau telah mewariskan ketujuh kupasan ilmu itu dengan catatan aku hanya boleh menghafal tidak boleh melatihnya dengan akibat bisa mendatangkan bibit bencana. Pada saat itu meski aku merasa heran, besar kemungkinan ilmu itu adalah Tat-mo-khi-kang."
Paras muka Ku-lo Hwesio segera nampak berseri, tanyanya dengan cepat.
"Ko-siauhiap, apakah kau masih hapal semua ilmu itu?"
Bong Thian-gak menjawab.
"Ai, waktu itu dia orang tua berkata, hanya menghapal dan jangan dilatih, karena bisa mengakibatkan bencana, oleh sebab itu Wanpwe merasa ilmu itu tak ada gunanya, maka aku tidak mengingatnya secara baik, bahkan dua-tiga bagian yang tei akhir berhubung ada huruf dan kata yang asing, seperti bukan huruf Han, pada hakikatnya sulit buatku untuk mengingatnya."
Mendengar itu Ku-lo Hwesio menghela napas panjang.
"Sayang, sayang sekali, kalau begitu ilmu Tat-mo-khi-kang tak pernah akan menjadi utuh ... perkataan Ko-siauhiap memang benar, kitab pusaka Tat-mo-khi-kang memang ditulis sendiri oleh Tat-mo Cosu pendiri kuil Siau-lim-si kami, ketika itu semua tulisan dicatat dalam huruf negeri Thian-tiok sehingga sulit bagi orang yang tidak memahami. Selama ratusan tahun belakangan ini, banyak sudah tokoh Siau-lim-si yang mendalami ilmu itu, namun selama ini hanya seorang saja yang berhasil hingga mendalami tingkat ketujuh, sebab kecuali tingkat satu sampai tingkat tujuh yang ada terjemahannya dalam bahasa Han, dari tingkat delapan sampai sepuluh memang ditulis dalam huruf Sansekerta!"
"Kecuali tiga bagian yang terakhir tidak mampu Wanpwe hafalkan secara baik, empat bagian yang pertama mungkin masih bisa diingat dengan baik."
Dengan gembira Ku-lo Hwesio berkata.
"Bagus sekali kalau begitu, berarti dunia persilatan bisa ditolong."
Cepat Bong Thian-gak berkata.
"Walau Locianpwe sudah terkena pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang, belum tentu luka itu menyebabkan kematian, sebab Wanpwe mempunyai cara untuk menyelamatkan Locianpwe, sekarang paling baik kalau kita mengobati dulu luka yang diderita Locianpwe."
"Ko-siauhiap, dengarkan baik-baik,"
Ku-lo Hwesio berkata dengan cemas.
"Kematian Pinceng tiada sesuatu yang perlu disayangkan, persoalan yang paling Pinceng kuatirkan adalah hilangnya Tat-mo-khi-kang ini dari dunia persilatan, sebab hanya ilmu Tat-mo-khi-kang yang merupakan dasar ilmu silat, asal Tat-mo-khi-kang ini bisa diwariskan kepada seseorang, maka ilmu sesat macam apa pun jangan harap bisa menandinginya."
"Oleh sebab itu sekarang aku harus memanfaatkan kesempatan yang amat pendek ini untuk mewariskan ketiga bagian Tat-mo-khi-kang itu kepadamu, asal kau mampu menguasai ilmu itu, berarti dunia persilatan akan menemukan bintang penolong."
Bong Thian-gak tahu Ku-lo Hwesio tidak percaya bila dia mampu menyembuhkan luka itu, dalam keadaan demikian dia tak berani lagi mengungkapkan bahwa Jit-kaucu sebetulnya belum mati.
Kini ia dihadapkan pada persoalan yang sukar untuk diputuskan.
Terdengar Ku-lo Hwesio berkata.
"Pinceng pun mempunyai cara untuk mengobati luka ini, tapi tidak terlalu yakin, maka Pinceng lebih suka mengorbankan nyawaku daripada membuang waktu dengan percuma. Ko-siauhiap, kau orang pintar, kau harus mempunyai pilihan yang tepat. Sekarang cepat kau kumpulkan semua perhatian dan pikiranmu untuk mendengar pelajaranku ini .... Semua orang yang berada di loteng harap mengundurkan diri dari sini dan jaga keamanan di sekitar pagoda ini, jangan biarkan orang memasuki tempat ini."
Begitu Ku-lo Hwesio selesai berkata, Ho Put-ciang sekalian segera beranjak dan mengundurkan diri dari situ. Bong Thian-gak segera berteriak.
"Ho-bengcu, jangan pergi dulu, aku masih ada persoalan yang hendak disampaikan."
Dengan paras muka serius, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berpaling, kemudian sahutnya.
"Ko-siauhiap, bila kau tidak memiliki keyakinan seratus persen, lebih baik menurut saja perkataan Sinceng."
"Sinceng adalah tokoh persilatan yang berilmu tinggi, apakah kita harus membiarkan dia mati begitu saja?"
"Sinceng setia kawan dan rela mengorbankan jiwa, lebih baik Ko-siauhiap pusatkan segenap perhatianmu ...."
Belum selesai berkata, dia sudah membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ.
Bong Thian-gak berpaling ke arah Ku-lo Hwesio, dilihatnya pendeta itu sedang memejamkan mata, kulit mukanya yang kurus kering nampak kekuning-kuningan, tak tahan lagi ia berbisik.
"Locianpwe!"
Kembali ia menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.
Ternyata pada saat itu Bong Thian-gak teringat cara penyembuhan yang diajarkan Jit-kaucu Thay-kun kepadanya, untuk menyembuhkan luka Ku-lo Hwesio memang belum tentu bisa.
Berada dalam keadaan seperti ini, dia tak berani banyak bicara, ditambah Ku-lo Sinceng telah memusatkan perhatiannya mewariskan Ilmu rahasia itu.
"Tingkat pertama Tat-mo-khi-kang berbunyi. Dasar pernapasan melupakan akar kepandaian, kendorkan badan, atur pernapasan, aliran darah harus dasar...."
Dalam kejutnya, cepat Bong Thian-gak duduk bersila di atas tanah dan mulai memejamkan mata mengikuti pelajaran itu dan dihapalkan dalam hati.
Sepatah demi sepatah Ku-lo Hwesio membaca rahasia Tatmo-khi-kang dengan sabar dan jelas.
Sementara Bong Thian-gak juga menghimpun segenap pikiran dan perhatiannya mendengarkan dan mengingat sambil memahami.
Dalam waktu singkat kedua orang itu seakan-akan lupa akan segala persoalan, mereka memusatkan pikiran dan pendengaran dalam mempelajari kepandaian sakti Tat-mo-khikang, biar di samping mereka ada suara ledakan keras pun belum tentu mereka mendengar.
Waktu berlalu dengan cepat....
Tengah hari telah lewat ...
matahari pun mulai tenggelam, Ku-lo Hwesio dan Bong Thian-gak yang berada di atas loteng masih melanjutkan pelajaran Tat-mo-khi-kang, Bong Thiangak mengulangi ketiga tingkat ilmu itu, kemudian kedua pihak saling membahas dan memecahkan.
Dalam pada itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang dan para jago yang ada di luar pendopo tak berani lengah, tak pernah mengendorkan tugas mengawasi dan melindungi daerah sekitar situ, sekeliling pendopo dijaga sedemikian ketatnya ibarat sebuah benteng yang terbuat dari baja.
Kini senja telah lewat, namun Ku-lo Hwesio dan Bong Thian-gak yang berada di atas loteng masih belum nampak sesuatu gerakan.
Pada saat itulah dari depan halaman gedung Bu-lim Bengcu tiba-tiba berkumandang suara tambur bertalu-talu, menunjukkan keadaan dalam bahaya.
Mendengar tanda bahaya itu, paras muka Ho Put-ciang dan sekalian jago segera berubah hebat.
Dengan cepat Ho Put-ciang menurunkan perintah.
"Ada musuh tangguh menyerang gedung Bu-lim Bengcu, harap semua orang tetap berjaga di sini, Yu-heng! Oh-sumoay, kalian berdua menengok keadaan di luar, segera utus orang untuk memberi laporan!"
Toan-cong-hong-liu Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok menerima perinlah dan segera berangkat menuju ke halaman depan. Kemudian Ho Put-ciang berkata kepada Thia Leng-juan.
"Thiaheng, harap naik ke loteng dan bertahan di anak tangga, Goan-ko Taysu dan Ang Thong-lam berjaga di pintu gerbang, sedangkan Ui-hok Totiang, Yu-koancu dan aku bertiga masing-masing bertahan pada tiga lorong tembus halaman samping."
Ho Put-ciang tak malu disebut pemimpin dunia persilatan, selain reaksinya cepat, perintahnya tegas.
Begitu menerima perintah, kawanan jago segera membubarkan diri untuk melakukan tugasnya masing-masing.
Dalam tempo singkat suasana berubah menjadi tegang, seram dan mengerikan.
Dari depan gedung sana lamat-lamat terdengar suara benturan senjata, teriakan, jerit kesakitan serta gelak tawa melengking seperti jeritan setan dan lolong serigala.
Begitu mendengar suara gelak tertawa yang mengerikan itu, paras muka Ho Put-ciang berubah hebat, ternyata dari gelombang suara tertawa lawan yang melengking, Ho Putciang tahu musuh memiliki tenaga dalam yang luar biasa.
Mendadak dari luar halaman sana terdengar suara langkah kaki berlari mendekat, ternyata orang itu adalah Oh Cian-giok.
Ho Put-ciang menyongsong kedatangannya sambil bertanya.
"Sumoay, musuh tangguh darimanakah yang telah menyantroni kita?"
Paras muka Oh Cian-giok pucat-pias seperti mayat, sahutnya dengan cemas.
"Tenaga dalam pihak lawan sangat tangguh, dalam sekejap ia telah melukai dua puluh orang pengawal gedung ... Ji-suheng telah terjun ke gelanggang, tapi agaknya dia tak sanggup bertahan."
"Hanya seorang?"
"Ya, hanya seorang! Musuh berperawakan tinggi besar kurus seperti mayat hidup."
"Yang datang pasti tak bermaksud baik, yang bermaksud baik tak akan datang, musuh berani menyerang gedung Bulim Bengcu sudah pasti kepandaian silatnya amat lihai, dengan kemampuannya sudah pasi i para pengawal gedung tak mampu bertahan, daripada korban berjatuhan lebih banyak, cepat turunkan perintah agar semua mundur ke dalam, suruh Yu-sute segera mundur kemari!"
Baru saja Oh Cian-giok mendapat perintah dan berlalu, mendadak berkumandang gelak tawa yang tajam menyeramkan dan memekakkan telinga.
Sesosok bayangan orang secepat sambaran kilat sudah meluncur datang dari arah depan sana.
Dengan terkejut Pa-ong-kiong Ho Put-ciang membentak keras.
"Siapa yang datang? Harap melaporkan nama!"
Di tengah bentakannya, dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat sudah dilontarkan ke depan.
Ilmu silat orang itu betul-betul sangat lihai, tubuhnya yang sedang meluncur datang itu sudah berjumpalitan dan meloloskan diri dari sambaran kedua gulung serangan maut itu, kemudian tubuhnya melayang turun.
Tidak begitu saja, mendadak lengannya yang panjang diayun melepaskan segulung pukulan hawa dingin dari kejauhan, berbareng badannya meluncur ke arah sebelah kiri.
Ho Put-ciang adalah seorang Bu-lim Bengcu, pengetahuannya tentu saja sangat luas, begitu menyaksikan datangnya pukulan hawa dingin musuh, dia segera tahu serangan itu beracun.
Dalam keadaan begini, dia tak berani menyambut datangnya serangan itu dengan kekerasan, cepat badannya mundur.
Posisi dimana Ho Put-ciang mundur persis menyambut datangnya serangan musuh dari sebelah kiri.
Agaknya orang itu tidak menyangka gerakan tubuhnya yang begitu cepat bisa dihadang oleh lawan.
Dalam keadaan tertegun, dia segera menghentikan gerak badannya dan tak melakukan serangan lagi.
Dengan demikian Ho Put-ciang dapat melihat jelas paras muka pendatang itu dengan jelas.
Musuh mempunyai sepasang mata cekung ke dalam, kedua bola matanya berwarna hijau, rambutnya panjang terurai sebahu, tidak laki tidak perempuan, perawakannya tinggi ceking hingga pada hakikatnya tinggal kulit pembungkus tulang, ibarat bambu menancap di atas tanah saja.
Yang paling istimewa adalah sepasang tangannya yang begitu panjang hingga terkulai melebihi lutut, dilihat dari kejauhan bentuknya menyerupai dua kaki cadangan.
Makhluk aneh itu melototi wajah Ho Put-ciang dengan bola matanya yang hijau mengerikan, kemudian sambil tertawa seram, ia berkata.
"Kaukah Bengcu baru dari gedung Bu-lim Bengcu ini?"
Paras muka Ho Put-ciang amat serius, jawabnya cepat.
"Benar, akulah Ho Put-ciang, tolong tanya siapa nama anda?"
"Hehehe ...."
Orang aneh itu tertawa seram.
"Aku adalah Liok-kaucu (ketua nomor enam) Put-gwa-cin-kau!"
Mendadak dari delapan penjuru gedung Bengcu berkumandang suara tambur yang dibunyikan bertalu-talu. Paras muka Ho Put-ciang segera berubah hebat, tegurnya tanpa terasa.
"Berapa orang yang dikirim Put-gwa-cin-kau kemari hari ini?"
"Untuk melenyapkan gedung Bu-lim Bengcu dari muka bumi, buat apa mesti mengutus banyak orang?"
Jawab Liokkaucu dengan suara menyeramkan.
"Liok-kaucu dan Kiu-kaucu (ketua nomor sembilan) dari Put-gwa-cin-kau pun sudah lebih dari cukup!"
"Hanya kalian berdua?"
Tegur Ho Put-ciang pula dengan kening berkerut kencang.
Rupanya dari empat penjuru gedung Bu-lim Bengcu sudah terdengar suara pertempuran yang berlangsung amat seru, agaknya di seputar gedung sudah kedatangan musuh dalam jumlah banyak.
Liok-kaucu tertawa.
"Masih ada lagi tiga orang pengawal tanpa tanding yang biasanya mengawal di samping Congkaucu."
"Kalau begitu dari perkumpulan kalian telah datang lima orang jago bukan?"
"Benar."
"Hm, hanya mengandalkan kekuatan lima orang perkumpulan kalian pun sudah ingin menumpas gedung Bulim Bengcu, apakah kalian tidak merasa perbuatan itu benarbenar kelewatan."
Liok-kaucu tertawa dingin.
"Hehehe, apabila tidak percaya, mengapa tidak dilihat sendiri?"
Mendadak pada saat itulah dari depan sana berlarian mendekat Oh Cian-giok, dengan napas tersengal-sengal dia berkata.
"Lapor Toa-suheng, Ji-suheng telah dilukai olehnya. Dari arah timur, barat, utara dan selatan telah muncul musuh tangguh melancarkan serbuan, pengawal gedung kita banyak yang terluka dan tewas."
Paras muka Ho Put-ciang berubah amat serius, katanya kemudian dengan suara dalam.
"Cepat turunkan perintah agar semua pengawal mengundurkan diri, tak usah menghalangi serbuan musuh!"
Tindakan yang dilakukan oleh Ho Put-ciang ini memang sangat lumrah, pada saat itu segenap kekuatan inti gedung Bu-lim Bengcu dipusatkan di sekitar loteng itu untuk melindungi keselamatan Bong Thian-gak, mereka boleh dibilang tak mampu bergeser dari posisi masing-masing, itulah sebabnya satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh adalah membiarkan musuh menyerang sampai ke halaman itu, kemudian para jago berusaha membendung serbuan lawan.
Jika tidak demikian, mereka akan terkena siasat memancing harimau turun gunung yang sengaja dilakukan pihak lawan.
Liok-kaucu tertawa seram.
"Hehehe, bocah perempuan jangan pergi dulu!"
Di tengah bentakannya, lengan kiri diayun ke muka melancarkan sebuah pukulan dahsyat, langsung menghantam tubuh Oh Cian-giok yang berada di depannya.
Ho Put-ciang sama sekali tidak menyangka pihak lawan bakal melancarkan serangan ke arah Oh Cian-giok, buru-buru teriaknya.
"Sumoay, jangan kau sambut serangan itu!"
Sayang terlambat, diiringi jeritan tertahan, tubuh Oh Ciangiok sudah tertumbuk oleh angin pukulan itu hingga mencelat dan roboh terkapar di atas tanah.
Ho Put-ciang gusar, dengan suara menggeledek ia membentak nyaring.
"Tua bangka sialan, kau berani berbuat kejahatan?"
Dengan garang dia menubruk ke depan, kelima jari tangan kanannya diputar melepas lima gulung desiran angin tajam yang secara langsung menghajar bagian mematikan tubuh lawan.
Serangan Ho Put-ciang yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini menggunakan ilmu silat perguruannya yang paling hebat, yakni ilmu Thi-ciang-sin-ci (Telapak tangan baja jari sakti).
Lima gulung desiran angin tajam dengan kecepatan tinggi langsung meluncur ke depan dan menghajar lawan.
Liok-kaucu bukan orang bodoh, agaknya dia tahu juga kelihaian jurus ini, sambil tertawa seram, telapak tangannya secara beruntun melancarkan beberapa serangan berantai, sementara kaki juga berputar secepat sambaran petir, menjauh dari serangan lawan.
Melihat serangan dahsyatnya tidak mengenai sasaran, Ho Put-ciang siap menerjang ke depan, tiba-tiba terdengar Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay berkata.
"Ho-bengcu, cepat ke depan dan periksa luka adik seperguruanmu itu, biar Pinto yang menghadapi lawan!"
Sementara itu Ui-hok Totiang dengan pedang terhunus sudah memburu ke depan, pedangnya diputar menciptakan beribu titik cahaya bintang, kemudian bersama-sama menggulung ke tubuh Liok-kaucu.
Ui-hok Totiang adalah jago pedang kenamaan dari Bu-tongpay, ilmu pedangnya sudah tentu lihai sekali, begitu turun tangan dia segera mengembangkan ilmu pedang Thay-khekkiam-hoat yang lihai.
Hawa dingin yang lembut menyusul gelombang pedang yang datang menggulung, langsung mengurung sekujur tubuh lawan secara ketat.
Ho Put-ciang tahu akan kesempurnaan tenaga dalam Uihok Totiang, kendati bukan tandingan musuh, untuk sementara tak sampai kalah, maka buru-buru dia menghampiri Oh Cian-giok.
Tampak paras muka si nona pucat-pias oleh penderitaan yang hebat, dia sedang meronta dari tanah dan duduk.
Ho Put-ciang segera membimbingnya sembari menegur.
"Sumoay, parahkah lukamu?"
Oh Cian-giok menggerakkan bibir seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian dia memuntahkan darah segar dan tak sadarkan diri.
Ho Put-ciang benar-benar sakit hati menyaksikan kejadian itu, sambil membopong tubuh Oh Ciang Giok, dengan cepat dia melayang masuk ke dalam loteng sebelah timur.
Pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan yang bertugas di loteng segera menegur dengan cemas.
"Bagaimana keadaan Oh-sumoay?"
"Thia-tayhiap, lindungi keselamatan Sumoayku ini, keadaan di luar amat gawat, mungkin pihak musuh akan melancarkan sergapan kilat."
Belum habis dia berkata, Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay yang bertugas di depan pintu gerbang berteriak.
"Sicu, harap berhenti!"
Segera Ho Put-ciang membaringkan tubuh Oh Cian-giok ke atas tanah, lalu mengangkat kepala.
Entah sejak kapan di depan pintu telah muncul orang berbaju hitam berkerudung yang menggembol sepasang pedang di punggung, orang itu sedang berjalan menuju pintu gerbang dengan langkah lebar.
Goan-ko Taysu cepat bertindak, dia melejit ke depan dan menghadang di depan pintu gerbang.
Orang berkerudung berbaju hitam itu membungkam dalam seribu bahasa, begitu melangkah ke depan, mendadak ia mendesak sambil melancarkan terkaman, sepasang telapak tangan diayunkan kian kemari, secara beruntun dia telah melepaskan tiga serangan berantai ke arah Goan-ko Taysu.
Ketiga serangan itu hampir semuanya merupakan jurus serangan yang lihai, setiap gerakan dilancarkan dari sudut yang tak terduga, meluncur datang secara beruntun dalam waktu singkat, seluruh angkasa bagaikan diselimuti oleh hawa serangan yang tajam.
Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang melihat situasi itu amat terperanjat, mereka tahu Goan-ko Taysu bakal celaka.
Betul juga, Goan-ko Taysu tak mampu menghindarkan diri dari ketiga serangan itu, bahu kirinya kena pukulan hingga mundur dengan sempoyongan dan terjatuh menindih palang pintu sebelah kiri.
Dengan gusar Ho Put-ciang membentak.
"Siapa kau?"
Secepat kilat tubuhnya menerjang ke depan, telapak tangan kirinya menciptakan beribu bayangan telapak tangan yang menyelimuti angkasa, segulung demi segulung diayunkan ke depan tiada hentinya.
Serangan yang dilancarkan ini ibarat hembusan angin lembut di musim semi, meluncur dan menyapu tiada hentinya, dalam satu gebrakan saja seolah-olah terdiri dari seribu pukulan.
Selapis hawa pukulan yang dahsyat ibarat amukan ombak di tengah badai, menggulung ke depan mengikuti gerak serangan tadi.
Mencorong sinar tajam yang menggidikkan dari balik mata orang berkerudung berbaju hitam itu, bentaknya dengan suara rendah.
"Ah, Te-jian-thian-ciu-jian-jiu (Seribu telapak tangan mengguncang bumi mengaduk langit)."
Tubuhnya tidak mundur, malah maju dan langsung menyongsong datangnya serangan itu, tiba-tiba sepasang lengannya bergetar secara aneh.
Beberapa benturan nyaring berkumandang.
Akibat benturan itu, orang berkerudung berbaju hitam maupun Ho Put-ciang sama-sama tergetar mundur tiga langkah.
Paras muka Ho Put-ciang diliputi rasa kaget dan tercengang, dia tak menyangka pihak musuh dapat menyebut nama pukulan sakti yang digunakannya itu dalam waktu cepat, bahkan berhasil pula mematahkan serangan Te-jian thian-ciu-jian-jiu yang sudah puluhan tahun lamanya merajai dunia persilatan.
Sesungguhnya siapakah orang ini?
Ho Put-ciang membelalakkan mata mengawasi lawan tanpa berkedip, apa mau dikata, muka lawan ditutupi cadar hitam yang tebal menutupi seluruh wajah aslinya.
Mendadak orang berkerudung menggerakkan telapak tangannya ke belakang bahu, dua bilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam langsung digenggam di telapak tangan kiri dan kanan.
Kemudian tubuhnya menerjang ke muka, tanpa mengucapkan sepatah kata pun sepasang pedangnya menusuk dada Ho Put-ciang.
Ho Put-ciang tahu tenaga dalam lawan sangat lihai, gerak serangannya mungkin menggunakan jurus yang amat sederhana dan biasa, namun hakikatnya cukup mematikan siapa pun yang berani menghadapinya.
Menyaksikan datangnya tusukan pedang yang menyambar amat cepat itu, serta-merta ia mundur dua langkah.
Siapa tahu jurus serangan orang itu hanya jurus tipuan belaka, di saat Ho Put-ciang mundur, sepasang bahunya bergerak dan menerobos masuk melalui sisi kiri-kanan Ho Putciang, langsung menerjang ke arah mulut tangga.
Pada waktu itu Thia Leng-juan telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan, sambil menghentak kipas di tangan menciptakan berlapis-lapis bayangan serangan yang mengancam berpuluh titik darah penting di separoh bagian tubuh orang berkerudung itu.
Dengan cekatan orang itu membalik badan menghindari serangan kipas Thia Leng-juan, bersamaan pula sepasang pedang di tangannya diputar secepat kilat, gerakan pedang bergetar bagaikan cahaya bintang membelah angkasa.
Jurus pedang dipakai menghindar, juga untuk melancarkan serangan ini betul-betul luar biasa hebatnya.
Thia Leng-juan merasa terkecoh oleh gerakan lawan.
"Crit", tak ampun lengan kirinya tersambar oleh sabetan pedang lawan hingga terluka memanjang ke bawah, darah segar segera muncrat membasahi seluruh lengannya. Rasa kaget Ho Put-ciang kali ini benar-benar luar biasa, dia tak mengira pihak musuh memiliki ilmu silat yang begitu lihai, sadarlah jagoan ini bahwa keadaan yang dihadapi hari ini sangat gawat. Berada dalam situasi seperti ini, dia tidak peduli kedudukan lagi, sekali melompat tahu-tahu tubuhnya sudah melayang turun di samping Thia Leng-juan, maksudnya mereka akan menggunakan kekuatan dua orang untuk bersama-sama menghadapi serangan musuh. Orang berkerudung itu tertawa dingin, jengeknya.
"Apabila kalian berdua tahu diri, cepatlah melarikan diri! Kalau tidak, hm ... hm ... sudah pasti kalian akan terkubur di sini!"
"Siapa kau? Mengapa tidak kau tunjukkan paras aslimu?"
Tegur Ho Put-ciang.
"Hm, aku adalah komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau!"
Ho Put-ciang tahu tak mampu memaksa lawan mengutarakan nama aslinya, maka dia bertanya lagi.
"Apakah kau adalah pimpinan penyerbuan ke gedung Bu-lim Bengcu malam ini?"
"Benar, akulah orangnya!"
"Apa maksudmu menyerbu gedung Bu-lim Bengcu malam ini?"
Orang berkerudung itu tertawa riang.
"Untuk membalas dendam kematian Sam-kaucu!"
Sahutnya.
"Akulah orangnya yang telah membunuh Sam-kaucu, bila ada persoalan boleh disampaikan kepadaku,"
Seru Ho Putciang dengan suara berat dan dalam. Orang berkerudung tertawa dingin.
"Hehehe, hanya mengandalkan kemampuan Ho-bengcu seorang juga ingin membunuh Sam-kaucu kami? Hm ... hm ... pembunuhnya terdiri dari empat orang, yang menjadi otak pembunuhan ini adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay, pembunuhnya adalah Ho-bengcu, Thia Leng-juan serta seorang yang bernama Ko Hong!"
Terkejut juga Ho Put-ciang mendengar perkataan itu, katanya dengan kening berkerut.
"Benar, kami bertiga pembunuhnya, mau apa kau sekarang?"
"Siapa berhutang nyawa, dia harus membayar dengan nyawa, kalian bertiga harus mengembalikan nyawa Samkaucu!"
"Sekarang kalian harus mengundurkan diri dari gedung Bengcu lebih dulu, besok kami bertiga pasti akan menanti kedatanganmu."
Kembali orang berkerudung tertawa dingin.
"Hehehe, masih ada satu hal lagi, aku hendak berjumpa dengan Ku-lo Hwesio!"
Baru selesai dia berkata, dari atas loteng berkumandang suara sahutan seseorang dengan suara nyaring.
"Belum lama Ku-lo Sinceng telah kembali ke alam baka, sayang kedatanganmu terlambat!"
Ucapan itu kontan membuat ketiga orang yang berada di situ menjadi amat terperanjat, Ho Put-ciang dan Thia Lengjuan serentak berpaling ke belakang.
Ternyata orang yang barusan berbicara adalah Bong Thiangak, saat ini dia sedang berdiri di mulut anak tangga dengan wajah murung, sedih dan pedih.
Thia Leng-juan berseru.
"Ko-heng, apakah Ku-lo Supek dia orang tua ...."
"Ai ... dia orang tua telah menghembuskan napasnya yang penghabisan,"
Jawab Bong Thian-gak sambil menghela napas sedih.
Walaupun Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sudah tahu Kulo Hwesio bakal tewas akibat luka parah yang dideritanya, namun tidak menduga kepergiannya begitu cepat, maka mendengar jawaban itu mereka malah tertegun sampai tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Dengan sinar mata tajam dan menggidikkan, orang berkerudung mengawasi Bong Thian-gak dari ujung kepala sampai ujung kakinya, Kemudian menegur dengan dingin.
"Kaukah yang bernama Ko Hong?"
"Ya, akulah orangnya!"
Jawab Bong Thian-gak hambar.
Sejak tiba di situ, sikap maupun gerak-gerik orang berkerudung itu amat angkuh, jumawa dan tidak pernah memandang sebelah mata terhadap orang lain, tapi jawaban Bong Thian-gak sekarang justru terasa pula amat menghina dan memandang rendah lawan.
Kontan dia tertawa terkekeh-kekeh seram, kemudian menegur lagi.
"Aku dengar Sam-kaucu tewas di tanganmu, benarkah itu?"
"Semua iblis dan siluman yang bergabung dalam Put-gwacin-kau bakal mampus di telapak tanganku!"
Ucapan itu segera disambut orang berkerudung dengan gelak tawa.
"Sudahkah kau mendengar suara jeritan ngeri dan lolong kesakitan yang berkumandang dari luar sana? Hahaha, tahukah kau malam ini gedung Bu-lim Bengcu akan berubah menjadi gedung mati!"
Sementara itu suara bentrokan nyaring, jeritan ngeri dan rintih kesakitan masih berkumandang tidak hentinya dari luar sana, jelas halaman depan gedung sudah berubah menjadi ajang pertarungan yang amat sengit.
Mendadak Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam.
"Ho-bengcu, Thia-tayhiap, cepat keluar membantu rekanrekan lain, serahkan orang itu kepadaku!"
Ho Put-ciang sudah mendengar jeritan ngeri dan rintih kesakitan yang berkumandang dari kawanan jago di luar ruangan, namun dia kuatir musuh yang dihadapinya ini berilmu silat kelewat tinggi hingga Thia Leng-juan tak mampu menghadapinya, itulah sebabnya dia tak berani gegabah.
Kini mendengar ucapan itu, segera ujarnya kepada Thia Leng-juan.
"Thia-heng, kau tetap tinggal di sini membantu Kosiauhiap, aku akan keluar membantu mereka!"
Seusai berkata, Ho Put-ciang segera melompat ke udara dan menerobos keluar melalui pintu gerbang utama.
Di dalam ruang gedung bertingkat itu sekarang tinggal Thia Leng-juan, Bong Thian-gak dan orang berkerudung berbaju hitam.
Sementara itu Bong Thian-gak sudah melangkah turun dari anak tangga, kemudian tegurnya dengan suara dingin.
"Ada urusan apa kau hendak berjumpa dengan Ku-lo Sinceng?"
Dengan sepasang pedang terhunus, orang berkerudung berdiri tegak di tempat, dia menjawab.
"Aku hendak memeriksanya, apakah dia benar-benar Ku-lo Sinceng ataukah bukan!"
"Dia adalah Ku-lo Sinceng yang keasliannya terjamin, sedikit pun tak bakal salah!"
"Kau mengatakan Ku-lo Hwesio telah mati, sekarang dimanakah jenazahnya?"
"Jenazah Sinceng tidak boleh dipertontonkan di hadapan kaum kurcaci dan sampah masyarakat seperti kau."
Orang berkerudung tertawa seram.
"Hehehe, aku tak percaya kau mampu menghalangi jalan pergiku."
Bicara sampai di situ pedang pendek di tangan kirinya segera diayun menciptakan beribu bayangan pedang, sementara pedang di tangan kanannya secepat kilat menusuk ke dada Bong Thian-gak.
Dua jurus serangan pedang yang amat dahsyat digunakan secara bersamaan, kedahsyatannya benar-benar tak boleh dianggap enteng.
Bong Thian-gak menyaksikan jurus pedang itu dengan berkerut kening, kemudian serunya sambil tertawa dingin.
"Mundur!"
Dia bukannya mundur, namun malah maju, tangan kanan diayunkan ke depan menyongsong datangnya tusukan pedang kanan orang berkerudung, sementara tangan kiri secepat kilat mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri lawan.
Sekali pun serangannya dilancarkan belakangan, tetapi sampai sasaran lebih dahulu, berbareng badannya turut menerobos maju.
Tatkala Thia Leng-juan menyaksikan orang berkerudung itu melancarkan serangan tadi, sesungguhnya dia pun hendak turun tangan mengerubut, akan tetapi setelah menyaksikan jurus serangan yang digunakan Bong Thian-gak ternyata jauh lebih tangguh dari lawan, dia malah tertegun.
Tampaknya orang berkerudung cukup tahu kelihaian serangan itu, cepat dia menarik kembali sepasang pedangnya sambil mundur.
Dengan sinar mata mencorong, rasa kaget dan tercengang, ia segera bertanya.
"Ilmu silat apakah ini?"
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Hehehe, inilah ilmu Tatmo-boan-sian-jiu dari Siau-lim-pay. Hari ini jangan harap kau bisa meloloskan diri dari maut."
Seusai berkata, tubuh Bong Thian-gak bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya langsung menerjang ke depan, sepasang telapak tangannya diayun berulang kali melepaskan tiga serangan berantai.
Ketiga serangan itu seluruhnya gerakan yang aneh dan sakti, seperti pukulan telapak tangan dan juga bagai ilmu mencengkeram Kim-na-jiu yang amat dahsyat.
Orang berkerudung membentak dingin, sepasang pedangnya meluncur ke depan dengan pancaran sinar tajam yang membias kemana-mana, dengan pedang mengunci telapak tangan, secara beruntun dia melancarkan tiga bacokan berantai dan maha dahsyat.
Gerak serangan yang digunakan kedua orang itu samasama dilakukan dengan kecepatan luar biasa, sekali pun tenaga dalam Thia Leng-juan amat sempurna, masih susah untuk melihat perubahan jurus yang digunakan mereka.
Kedua orang itu telah beralih dua kali dari posisi semula.
Mendadak terdengar orang berkerudung mendengus tertahan, sambil menarik kembali pedang, ia mundur empat langkah, sepasang matanya memancarkan rasa kaget dan tercengang.
Pada saat itulah tiba-tiba Bong Thian-gak menyaksikan Oh Cian-giok yang sedang berbaring tak berkutik di sisi kiri anak tangga, dalam kagetnya dia segera menyelinap ke depan sana sambil bertanya.
"Thia-tayhiap, mengapa dengan nona Oh?"
Setelah ditegur, Thia Leng-juan baru teringat pada Oh Cian-giok yang terluka parah, segera sahutnya.
"Nona telah dihantam musuh hingga terluka parah!"
Oh Cian-giok adalah adik seperguruan Bong Thian-gak, sejak kecil mereka dibesarkan bersama dalam gedung Bengcu, hubungan batin kedua insan ini pun boleh dibilang cukup mendalam.
Maka sewaktu Bong Thian-gak menyaksikan gadis itu tergeletak tak berkutik di atas tanah dengan wajah pucat dan noda darah membasahi bibir, dia menjadi sangat gelisah.
"Siapa yang telah melukainya?"
Ia menegur.
Dalam pada itu tangan kanan Bong Thian-gak sudah memegang nadi pergelangan tangan Oh Cian-giok, sembari memeriksa denyut nadinya, dengan sorot mata penuh amarah dia pelototi wajah orang berkerudung tanpa berkedip, hawa membunuh menyelimuti wajahnya.
Tiba-tiba orang berkerudung berpekik nyaring, dengan sepasang pedangnya diluruskan ke depan, secepat sambaran petir ia menerjang ke arah Bong Thian-gak.
Perubahan yang amat mendadak dan di luar dugaan ini sungguh membuat Thia Leng-juan tertegun dan dalam posisi tak memungkinkan hakikatnya mustahil baginya memberikan bantuan.
Dalam terperanjatnya, jagoan ini segera berteriak.
"Koheng! Terdengar Bong Thian-gak mendengus tertahan, bahu kirinya yang tak sempat menghindar kena tertusuk pedang lawan, darah segera memancar keluar bagaikan semburan mata air. Tapi di saat bersamaan tangan kanan Bong Thian-gak diayunkan pula ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat. Kembali terdengar dengus tertahan menggema. Pedang pendek orang itu terlepas, sementara tubuhnya terpental ke belakang dan darah segar muntah dari mulutnya. Kemudian dengan sepasang bahu yang gemetar keras dan tubuhnya yang sempoyongan, mendadak ia membalikkan badan dan kabur dari ruangan itu. Sebenarnya Thia Leng-juan ingin mengejar, namun berhubung dia sangat menguatirkan luka yang diderita Bong Thian-gak, maka dengan cepat dihampirinya anak muda itu sembari menegur.
"Ko-heng, parahkah luka yang kau derita?"
Darah kental mengucur dari bahu kiri Bong Thian-gak dan membasahi lantai, sudah jelas luka yang dideritanya itu cukup parah.
Dengan cepat Bong Thian-gak menggunakan jarinya menotok beberapa jalan darah penting di tubuh sendiri, setelah menghentikan darah yang mengalir, sahutnya sambil tertawa rawan.
"Thia-heng, aku tidak apa-apa, dia berilmu tinggi dan sangat hebat, bila sampai keluar dari sini, sudah pasti tiada orang yang mampu menahannya, tolong kau jaga baik-baik nona Oh, aku hendak keluar menghadapi musuh."
Jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang susulmenyusul di luar sana, jelas orang berkerudung sedang melakukan pembantaian secara besar-besaran di sana.
Thia Leng-juan yang menyaksikan luka Bong Thian-gak amat parah menjadi gelisah, serunya lagi.
"Ko-heng, luka pedang itu sangat parah, harap kau balut dahulu luka itu, biar aku saja yang menyambut serangan mereka."
Sementara itu Bong Thian-gak sudah bangkit, mendengar ucapan itu dia segera menggeleng, kemudian katanya dengan suara nyaring.
"Kini darah sudah berhenti mengalir, luka ini pun tak akan merenggut nyawaku."
Tidak sampai selesai perkataan itu diutarakan, tubuhnya sudah melompat keluar dari ruangan, ketika memandang ke depan ....
Di tengah lapangan sedang berlangsung beberapa kelompok pertarungan, sementara di atas tanah tergeletak mayat-mayat para pengawal gedung Bu-lim Bengcu, darah yang menganak sungai, mayat membukit, membuat pemandangan di situ tampak sangat mengerikan.
Sementara itu di luar lapangan sedang berlangsung pertarungan yang amat seru.
Ho Put-ciang sedang bertarung melawan seorang gadis berbaju merah, dia adalah Kiu-kaucu Ni Kiu-yu.
Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong dari Khong-tong-pay sedang bertarung melawan seorang lelaki berbaju perlente.
Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay dan Ang Thong-lam dari Tiam-jong-pay bersama-sama menghadapi lelaki berbaju perlente lainnya.
Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay bertarung seorang diri melawan orang aneh berambut panjang, dialah Liok-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Sementara di luar arena pertarungan, di sekeliling lapangan berdiri berlapis-lapis para pengawal gedung bersenjata lengkap, namun waktu itu orang berkerudung berbaju hitam sudah menerjang masuk ke dalam kelompok pengawal gedung, pedang pendeknya yang tinggal sebelah membabat kian kemari tanpa tandingan, jeritan ngeri dan lolong kesakitan bergema silih berganti, darah segar pun bercucuran menganak sungai.
Bong Thian-gak yang menyaksikan adegan itu menjadi gusar sekali, sambil berpekik nyaring ia melejit ke udara seperti burung alap-alap dan melayang turun di depan orang berkerudung.
Melihat munculnya pemuda sakti ini, orang berkerudung menjadi ketakutan, cepat dia berteriak dengan keras.
"Liokkaucu, Kiu-kaucu ... semuanya mundur!"
Begitu perintah diturunkan, dia segera melejit lebih dulu dan melarikan diri dengan terbirit-birit dari tempat itu.
"Mau kabur kemana kau?"
Bentak Bong Thian-gak dengan suara menggeledek.
Tubuhnya segera melejit ke udara dan melakukan pengejaran.
Siapa tahu pada saat itulah berkumandang suara dengusan tertahan, tertampak Ui Hiok Totiang dari Bu-tong-pay yang sedang bertarung melawan Liok-kaucu kena dihajar oleh musuh sehingga mencelat ke udara dan langsung menumbuk tubuh Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak berjumpalitan, tangan kanannya dengan cepat menyambar ke muka mencengkeram tubuh Ui-hok Totiang, kemudian melayang turun ke permukaan tanah dengan tenang.
Tampak paras muka Ui-hok Totiang pucat seperti mayat, kulit wajahnya mengejang penuh penderitaan, teriaknya dengan suara parau.
"Terima kasih banyak, Ko-siauhiap ...."
Belum habis dia berkata, orangnya sudah roboh tak sadarkan diri di atas tanah. Mendadak terdengar Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berseru dengan suara lantang.
"Biarkan musuh mengundurkan diri, jangan dikejar!"
Dengan cepat Bong Thian-gak meletakkan Ui-hok Totiang ke tanah, baru saja dia akan melakukan pengejaran, ketika mendongakkan kepala, ternyata kawanan musuh yang sedang bertarung sengit sudah membubarkan diri, pertarungan telah berhenti, di bawah sinar kegelapan nampak para musuh sedang melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap.
Kemudian dia saksikan Ho Put-ciang sedang berjalan mendekat dengan langkah sempoyongan, lalu ujarnya kepada Bong Thian-gak.
"Ai ... korban yang berjatuhan kelewat banyak ... korban yang berjatuhan kelewat banyak...."
Hanya ucapan itu saja yang mampu diucapkan, sementara air matanya berderai dengan deras.
Ya, siapa bilang Enghiong tidak bisa mengucurkan air mata?
Hanya saat bersedih saja ....
Ketika jumlah korban dihitung ...
ternyata tujuh puluh enam pengawal mendapat celaka, dua puluh lima orang menderita luka termasuk Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui, Oh Cian-giok dan lainnya, semuanya mencapai seratus tujuh orang.
Lima musuh ternyata dalam waktu satu jam berhasil menciptakan korban seratus tujuh orang, prestasi itu benarbenar merupakan suatu peristiwa yang memilukan.
Paras muka Bong Thian-gak pucat-pias seperti mayat, dia mengangkat kepala dan memandang sekejap tumpukan mayat yang berserakan dimana-mana, mendadak mencorong sinar tajam dan buas penuh dendam dari balik matanya, ia berdiri tegak di tempat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Yu Ciang-hong, Goan-ko Taysu dan Ang Thong-lam bersama-sama berjalan mendekat pula dengan kepala tertunduk sedih.
Untuk beberapa saat suasana di situ diliputi kesedihan yang tebal.
Helaan napas sedih bergema memecah keheningan, Thia Leng-juan berjalan keluar dari balik ruang loteng dengan langkah perlahan, katanya.
"Hari ini seandainya Ko-heng tidak berada di sini dan memukul mundur lawan, korban yang berjatuhan dalam gedung Bengcu sudah pasti akan lebih banyak."
Benar, lima orang musuh dari Put-gwa-cin-kau yang muncul itu, terutama orang berkerudung berbaju hitam benarbenar berkepandaian silat amat tinggi, pada hakikatnya tiada orang yang mampu memberikan perlawanan.
Andaikata bukan Bong Thian-gak yang memukul mundur, akibat yang timbul sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Selang beberapa saat kemudian, pelan-pelan Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berhasil menenangkan kembali gejolak perasaan sedih yang mencekam hatinya, melihat darah bercucuran dengan derasnya dari bahu kiri Bong Thian-gak, buru-buru dia menegur.
"Ko-heng, parahkah luka yang kau derita?"
"Gara-gara mengurusi nona Oh, Ko-heng telah kena ditusuk musuh,"
Seru Thia Leng-juan dari samping.
"Namun pihak lawan pun terkena pukulan Ko-heng, nampaknya tidak ringan luka dalam yang dideritanya, dia kabur sambil muntah darah."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, walaupun orang itu terkena pukulanku hingga muntah darah, namun luka pada sisi perutnya tidak seberapa parah, ai ... kawanan siluman dari Put-gwa-cin-kau memang tangguh dan rata-rata berilmu tinggi, kenyataan ini di luar dugaan siapa pun."
Sementara itu Ho Put-ciang telah berseru kepada para pengawal dengan suara nyaring.
"Kalian harap segera membereskan jenazah rekan-rekan lain, usahakan menolong dan menyelamatkan jiwa mereka yang terluka terlebih dulu."
Selewatnya pertempuran itu, kekuatan gedung Bu-lim Bengcu benar-benar menderita kerugian besar.
Setelah memperoleh pengobatan dan perawatan yang tekun, Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui, Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay berhasil diselamatkan jiwanya.
Hanya Oh Cian-giok yang menderita luka agak parah, sehingga meski sudah memperoleh pengobatan, ternyata belum sadar.
Dalam pada itu para jago sudah berkumpul di bawah loteng.
Dengan seksama Bong Thian-gak memeriksa denyut nadi Oh Cian-giok, kemudian ia bertanya lirih.
"Dia terluka di tangan siapa?"
"Cian-giok dan Ui-hok Totiang sama-sama terluka di bawah pukulan Liok-kaucu,"
Jawab Ho Put-ciang cepat.
"Dasar tenaga dalam nona Oh amat cetek, pukulan musuh telah melukai isi perutnya, bila ingin menyadarkan dia, kita membutuhkan seorang jago bertenaga dalam sempurna, dengan pengerahan tenaga melalui jalan darah Ciang-tay-hiat, gumpalan darah yang menyumbat dalam tubuhnya baru akan terbebaskan."
"Ciang-tay-hiat terletak hanya dua inci di bawah puting susu orang, padahal Oh Cian-giok adalah seorang perawan, tentu saja sulit bagi seorang pemuda untuk memberi pertolongan."
Tentu saja Ho Put-ciang cukup mengetahui pantangan itu, tapi dengan suara dalam dia berkata.
"Demi menyelamatkan jiwa Sumoayku, harap kalian tak usah mempersoalkan pantangan lagi."
"Ho-bengcu, nona Oh adalah adik seperguruanmu, paling baik bila Ho-bengcu sebagai Toasuhengnya yang turun tangan memberikan pertolongan,"
Usul Bong Thian-gak cepat. Ucapan itu menyulitkan Ho Put-ciang.
"Aku tidak pandai ilmu pengobatan, bagaimana seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan?"
Serunya.
"Nona Oh sudah dijodohkan dengan Yu-sute, seandainya luka yang diderita Yu-sute bisa cepat sembuh dan pulih, hal ini lebih baik lagi,"
Sambung Thia Leng-juan.
Mengetahui Oh Cian-giok sudah bertunangan dengan Yu Heng-sui, Bong Thian-gak menjadi sedih, murung dan kosong pikirannya.
Di samping Suheng-moay sekalian, hanya Bong Thian-gak yang berhubungan agak rapat dengan Oh Cian-giok.
Sejak kecil mereka sudah bermain dan bergurau bersama, di antara kedua orang itu sesungguhnya sudah tertanam semacam perasaan.
Betul di antara mereka terjalin hubungan cinta, namun semacam perasaan senang tertanam juga di dalam hati kecil masing-masing.
Seandainya Bong Thian-gak tidak diusir dari perguruan, tentu saja antara Oh Cian-giok dan Bong Thian-gak sudah merupakan sepasang kekasih ideal.
Dalam pada itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menggeleng kepala sambil berkata.
"Yu-sute masih terluka, sekali pun bisa disembuhkan namun paling tidak masih membutuhkan waktu tiga-empat hari, apalagi tenaga dalamnya kurang sempurna, aku pikir lebih baik kita memohon bantuan Ko-siauhiap saja untuk mengobati Sumoay, cuma Ko-siauhiap menderita luka pada bahu kirinya ... apakah kau mampu memberikan pertolongan?"
Bong Thian-gak segera menggeleng kepala berulang-kali.
"Sampai besok aku baru bisa mengerahkan tenaga dalamku, namun luka nona Oh amat parah dan harus diobati sekarang juga, apabila tidak dilakukan pencegahan, bisa jadi keadaan lukanya akan mengalami perubahan."
Ho Put-ciang berkata lagi.
"Ai, walaupun antara kaum lelaki dan wanita dibatasi norma kesusilaan, namun tabib dan sebangsanya tidak terkena batasan itu, harap Ko-siauhiap sudi memberi pertolongan!"
Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas.
"Ai, keselamatan nona Oh berada di ujung tanduk dan memang tak bisa ditunda-tunda lagi, baiklah harap Ho-bengcu suka mengundang dua orang dayang untuk membantu!"
Tentu saja semua orang tahu maksud Bong Thian-gak memanggil dua orang dayang itu. Ho Put-ciang manggut-manggut sembari berkata.
"Sebelumnya atas nama Sumoayku, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan Ko-siauhiap!"
Maka di bawah bimbingan beberapa orang dayang, Oh Cian-giok diantar menuju sebuah ruangan dan dibaringkan di atas ranjang, kemudian kecuali menahan Siau Kiok dan Siau Hiang, dua orang dayang kepercayaan Oh Cian-giok, para dayang lainnya segera diperintahkan meninggalkan tempat itu.
Kedua dayang ini merupakan dayang-dayang cilik yang pernah melayani Oh Ciong-hu dahulu, tentu saja Bong Thiangak kenal mereka berdua.
Dengan suara lirih Bong Thian-gak berkata kepada Siau Kiok dan Siau Hiang.
"Sekarang harap kalian melepaskan dulu pakaian luar nona."
"Ko-siangkong, luka yang kau derita amat parah, apakah tidak beristirahat terlebih dahulu?"
Seru Siau Kiok merdu. Bong Thian-gak menggeleng.
"Ah, hanya luka luar yang tak seberapa tidak menjadi soal."
Siau Kiok mengedipkan mata setelah memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, katanya.
"Ko-siangkong, kau mirip sekali dengan seseorang."
"Mirip siapa?"
"Su-suheng nona!"
Bong Thian-gak terkejut sekali, dia tak menyangka Siau Kiok memiliki ketajaman mata luar biasa, untuk menutupi rasa kagetnya itu, dia tertawa tergelak.
"Ah, jangan bergurau lagi, ayo kita segera turun tangan."
Tiba-tiba Siau Kiok menghela napas sedih, kembali katanya.
"Ai, sudahlah! Seandainya Bong Thian-gak masih hidup, mungkin Yu Heng-sui akan bersedih."
Ucapan itu segera menggigilkan sekujur tubuh Bong Thiangak, diam-diam dia berpikir.
"Entah apa maksud Siau Kiok berkata demikian? Mungkinkah Sumoay selalu teringat akan diriku?"
Terbayang bagaimana dia dan Sumoaynya hidup berdampingan sejak kecil...
segala sesuatunya terasa syahdu dan nyaman ....
Bong Thian-gak masih ingat, suatu ketika ia bersama Sumoaynya bermain jadi pengantin, mereka berdua bersamasama tidur dalam gua yang dijadikan kamar pengantin mereka ....
"Siangkong, apa yang sedang kau pikirkan? Pakaian luar nona sudah dilepas."
Seperti baru tersadar dari impian, Bong Thian-gak berpaling.
Tampaklah tubuh bugil Oh Cian-giok muncul di depan mata, kulit yang halus dan putih itu membuat gairah setiap pria ....
Buru-buru Bong Thian-gak memejamkan mata rapat-rapat, lalu berkata lagi.
"Sekarang lepas pakaian dalamnya, kemudian letakkan tangan kananku di atas jalan darah Ciangtay-hiat di atas payudaranya."
"Ah, Siangkong benar-benar lelaki jujur,"
Puji Siau Kiok.
Sementara itu Bong Thian-gak telah memejamkan mata dan duduk bersila di sisi pembaringan, segenap perhatian terpusat menjadi satu, sementara hawa murninya dihimpun.
Selang beberapa saat kemudian Bong Thian-gak bertanya.
"Sudah siap?"
"Sudah siap."
"Kalau begitu, lakukan seperti apa yang kukatakan tadi!"
Siau Hiang segera mengangkat telapak tangan kanan Bong Thian-gak dan pelan-pelan diletakkan di atas puting susu payudara sebelah kanan Oh Cian-giok.
Hati Bong Thian-gak tergetar begitu tangannya menyentuh tubuh Oh Cian-giok.
Untung Bong Thian-gak memiliki tenaga dalam sempurna, buru-buru dia memusatkan seluruh perhatiannya mengerahkan tenaga dalam.
Tak selang lama kemudian, dari dasar telapak tangannya muncul segumpal bola api yang bergetar, membakar seputar payudara si nona.
Telapak tangannya menggosok dan memijit payudara sebelah kanan si nona hampir seperempat jam lamanya, baru kemudian beralih ke atas jalan darah Ciang-tay-hiat pada payudara sebelah kiri.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya terdengar Oh Cian-giok merintih.
Bong Thian-gak terkejut, buru-buru dia menarik tangannya dan turun dari pembaringan, bisiknya cepat.
"Sebentar dia akan sadar, cepat kenakan pakaiannya, harap kalian jangan memberitahu kepadanya bahwa aku telah menyembuhkan lukanya."
Selesai berkata, masih dalam keadaan terperanjat, dengan cepat Bong Thian-gak membuka pintu kamar dan berlalu dari situ.
Tak lama setelah Bong Thian-gak keluar ruangan, Oh Ciangiok membuka mata sambil berkata dengan sedih.
"Siau Kiok, barusan apakah Ko-siangkong?"
Siau Kiok serta Siau Hiang sama-sama terperanjat, serentak berseru tertahan.
"Nona telah sadar kembali?"
Sambil tetap berbaring, Oh Cian-giok manggut-manggut.
"Ya, sebelum dia berlalu tadi, aku telah mendusin, Ai! Dia benar-benar seorang Kuncu sejati."
"Nona, enci Kiok bilang dia mirip sekali dengan Bong Thiangak,"
Tiba-tiba Siau Hiang berkata. Perih hati Oh Cian-giok mendengar perkataan itu, tanyanya.
"Bong Thian-gak? Maksudmu Suheng Bong Thiangak?"
Siau Kiok mengerling sekejap ke arah Siau Hiang, kemudian buru-buru katanya.
"Budak hanya merasa dia agak mirip dengan Bong-siangkong, aku pun hanya iseng bertanya saja!"
"Lantas bagaimana jawabnya?"
Tanya Oh Cian-giok gelisah.
"Dia tidak menjawab."
Mendadak Oh Cian-giok berseru tertahan, katanya.
"Ya, ya, teringat aku sekarang, waktu dia baru datang ke gedung ini tempo hari, aku pun merasa seperti raut wajahnya kukenal, seperti pernah kujumpai di suatu tempat, namun tak bisa kuingat lagi. Ya, betul! Dia memang agak mirip dengan Susuheng Bong Thian-gak."
Setitik sinar terang itu segera mengalutkan pikiran dan perasaan Oh Cian-giok, untuk beberapa saat dia melamun seorang diri.
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah meninggalkan ruangan kecil dan menuju ke ruang tengah.
Di sana para jago sudah menunggu untuk merundingkan suatu masalah besar.
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang yang pertama-tama berdiri lebih dulu, segera tegurnya.
"Apakah Oh-sumoay telah mendusin?"
Bong Thian-gak mengangguk.
"Ya, gumpalan darahnya telah hilang, sekarang kesehatannya sudah tidak membahayakan lagi."
"Ko-siauhiap pasti sudah banyak kehilangan tenaga murni, silakan segera beristirahat!"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Kesegaranku masih baik, bukankah begitu?"
Sambil berkata dia lantas menatap orang-orang dengan sorot mata berkilauan, sedikit pun tidak menunjukkan keletihan.
Hanya paras mukanya saja yang memang berwarna kuning pucat macam orang penyakitan.
Thia Leng-juan memuji.
"Ko-heng, sungguh amat sempurna tenaga dalammu, membuat orang kagum."
"Ai, tampaknya tenaga dalamku telah memperoleh kemajuan pesat dalam sehari saja,"
Ucap Bong Thian-gak sedih.
"Padahal semua ini pemberian Ku-lo Sinceng."
Bicara sampai di situ, Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Sebelum menghembuskan napas penghabisan, Kulo Sinceng telah membantuku menembus urat mati hidupku, sehingga taraf tenaga dalamku mencapai suatu keadaan yang luar biasa. Budi kebaikan yang ditanam Sinceng kepadaku benar-benar tak terlupakan selamanya."
"Ai, sekarang aku masih ada satu persoalan penting yang hendak kusampaikan kepada kalian."
"Persoalan apa? Harap Ko-siauhiap suka menerangkan secara langsung,"
Kata Ho Put-ciang.
"Jit-kaucu belum mati!"
Ucapan itu bagaikan guntur di siang hari bolong, seketika saja menggetarkan hati setiap orang yang hadir dalam ruangan itu.
"Bukankah kematian Ku-lo Supek merupakan pengorbanan yang sia-sia,"
Teriak Thia Leng-juan dengan suara menggeledek.
"Sebenarnya luka Ku-lo Sinceng masih bisa disembuhkan, tetapi untuk membantu ilmu silatku, dia telah mengorbankan diri."
"Ai, waktu itu luka yang diderita Sinceng amat parah, lagi pula dia menganggap Jit-kaucu sudah tewas di bawah pukulan Tat-mo-khi-kang, maka aku tak berani memberitahu yang sebenarnya kepada dia."
"Tindakan yang diambil Ko-siauhiap memang benar, bagi orang yang berlatih silat, jika mengetahui kegagalan yang dideritanya, maka kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan saat itu mungkin jauh lebih parah daripada mati,"
Kata Ho Putciang. Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Sudah tujuh-delapan tahun lamanya Sinceng melatih diri untuk menguasai ilmu Tat-mo-khi-kang, tujuannya tidak lain adalah untuk mematahkan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Jit-kaucu."
"Ai, apa mau dikata, Soh-li-jian-yang-sin-kang terlalu sempurna, sedangkan Tat-mo-khi-kang Sinceng baru mencapai tingkat ketiga, itulah sebabnya Ku-lo Sinceng mengalami kekalahan."
Maka secara ringkas Bong Thian-gak mengisahkan pertarungan Ku-lo Sinceng melawan Jit-kaucu Thay-kun. Selesai mendengar kisah itu, dengan wajah serius, Ho Putciang berkata.
"Dengan masih hidupnya Jit-kaucu, berarti dunia persilatan tak akan memperoleh ketenangan untuk selamanya!"
Bong Thian-gak termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya.
"Bibit bencana yang sebenarnya bagi umat persilatan sekarang sesungguhnya bukan Jit-kaucu!"
"Apa maksudmu?"
Maka Bong Thian-gak menceritakan bagaimana dia menggali liang kubur, bagaimana bertarung dan berbincang dengan. Mendengar kisah itu, Thia Leng-juan lantas bertanya.
"Koheng, menurut kau, Jit-kaucu adalah murid Jian-bin-hu-li Ban Li-biau?"
Bong Thian-gak mengangguk.
"Benar, pada usia lima tahun dia telah memperoleh warisan ilmu silat guruku yang kedua."
"Lantas atas dasar apa Ko-heng mengatakan bibit bencana bagi dunia persilatan bukan Jit-kaucu?"
Bong Thian-gak termenung beberapa saat lamanya, kemudian haru berkata.
"Dari pembicaraan Jit-kaucu, pentolan atau dalang semua bencana di Bu-lim dewasa ini adalah orang yang mengajarkan ilmu silat kepadanya saat ini, yakni gurunya, Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau!"
"Ucapan Ko-siauhiap memang benar,"
Ho Put-ciang manggut-manggut.
"Tentang ilmu silat, kemungkinan besar ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang Jit-kaucu sudah jauh melampaui Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, tapi dari tindakan Jit-kaucu yang memberi petunjuk kepada Ko-siauhiap agar mengobati penyakit yang diderita Ku-lo Sinceng serta pertanyaan kepada Ko-siauhiap apakah dia adalah utusan rahasia Cong-kaucu ... hal itu membuktikan watak Jit-kaucu yang sebenarnya adalah saleh dan baik, dia terpaksa membunuh orang atas petunjuk serta desakan orang lain."
"Apabila dugaanku tidak salah, tiap kali Jit-kaucu membunuh orang, hatinya merasa menyesal."
Bong Thian-gak mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah semua orang, kemudian katanya.
"Kalau dihitung, Jit-kaucu masih terhitung Sumoayku, aku berkewajiban menyelamatkannya dari jurang kehancuran, seandainya ia tak bisa dididik jadi baik, aku yakin masih mampu menandinginya."
Bong Thian-gak berhenti sejenak, kemudian baru sambungnya.
"Padahal hampir setiap orang yang tergabung dalam Put-gwa-cin-kau memiliki ilmu silat yang sangat lihai, dari kepandaian silat kelima orang itu boleh dibilang mereka adalah gembong-gembong iblis berilmu tinggi."
"Kemampuan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau untuk menaklukkan serta mengendalikan kaum iblis di bawah kekuasaannya, bisa diduga sampai dimanakah kemampuannya? Ai ... apa yang diucapkan Ku-lo Sinceng memang benar, musuh paling tangguh bagi kita sesungguhnya adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau ... Ku-lo Taysu adalah tokoh agung dari Siau-lim-pay, mungkin dia telah menyiapkan segala sesuatunya untuk kita."
Ho Put-ciang manggut-manggut membenarkan.
"Ucapan Ko-siauhiap memang benar, beberapa hari berselang Sinceng memang telah memberi dua buah kantung kepadaku dan berpesan agar yang satu untuk Ko-siauhiap dan satu untukku. Dia orang tua berpesan kantung hanya boleh diserahkan kepada Ko-siauhiap, bila dia sudah berpulang alam baka. Tadi oleh karena ada serangan musuh tangguh, aku telah melupakan hal ini."
Mendengar ucapan itu, segera terlintas rasa girang di wajah Bong Thian-gak, serunya dengan cepat.
"Ah, rupanya dugaanku memang benar, Sinceng telah menyiapkan segala sesuatunya."
Sementara itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang sudah merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan dua buah kantung yang terbuat dari kain yang amat indah.
Ho Put-ciang mengambil satu di antaranya dan diserahkan kepada Bong Thian-gak, sambil berkata.
"Yang ini buat Ko-siauhiap!"
Bong Thian-gak menyambut kantung itu, lalu bertanya.
"Apakah Ho-bengcu telah memeriksa isi kantung itu?"
"Belum, Ku-lo Sinceng telah berpesan, apabila ia sudah kembali ke alam baka, isi kantung itu baru boleh dibuka, maka aku masih belum mengetahui apa isinya."
"Sekarang mungkin kau sudah boleh membukanya, bukan?"
Bong Thian-gak segera merogoh ke dalam kantung itu dan mengeluarkan isinya, ternyata di situ terdapat tiga pucuk sampul surat yang dilipat menjadi empat persegi, di antara sampul tertera huruf satu, dua dan tiga secara berurutan.
Bong Thian-gak mengambil sampul surat pertama, kemudian membaca tulisan di atasnya.
"Saat membuka sampul pertama, Sinceng sudah kembali ke alam baka."
Pelan-pelan Bong Thian-gak merobek sampul itu, tampak di atas kertas dalam sampul tertulis beberapa huruf yang berbunyi.
"Selamatkan Jit-kaucu!"
Di sisi sebelah kiri ditulis nama, tertera pula dua deret kalimat yang ditulis dalam huruf kecil.
"Bila Jit-kaucu sudah tewas sebelum kematian Pinceng, isi surat ini batal"
Membaca petunjuk itu, untuk beberapa saat Bong Thiangak termenung dan mengerut dahi, dia seperti tidak memahami apa arti petunjuk itu.
Waktu itu kendati para jago lain terdorong oleh rasa ingin tahu ingin turut membaca apa isi surat Ku-lo Sinceng, namun oleh karena bong Thian-gak bungkam seribu bahasa, maka tak seorang pun yang berani bertanya.
Semua orang hanya mengawasi Bong Thian-gak dengan wajah termangu-mangu.
Bong Thian-gak termenung sampai lama sekali, akhirnya dia meletakkan surat itu ke atas meja sembari berkata.
"Silakan kalian baca isi surat itu, kemudian pikirkan apa artinya?"
Sementara itu para jago sudah dapat melihat jelas tulisan itu, kontan semua orang mengerut dahi. Thia Leng-juan pun tidak habis mengerti, katanya kemudian.
"Menyelamatkan Jit-kaucu? Tulisan itu mengandung dua arti yang berbeda, satu di antaranya adalah menyelamatkan roh atau jiwanya dan yang lain berarti menjaga keselamatannya."
"Apa pula bedanya antara roh, jiwa dan keselamatan?"
Tanya Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay keheranan.
"Menyelamatkan roh atau jiwanya, berati Jit-kaucu sudah terlalu banyak membunuh orang, banyak melakukan kejahatan sehingga kita diharuskan membawanya dari jalan sesat kembali ke jalan yang benar serta tidak melakukan kejahatan lagi."
"Kalau menolong keselamatannya berarti keselamatan jiwa Jit-kaucu terancam bahaya dan kita harus menolongnya, jangan sampai dia tewas terbunuh oleh orang lain."
"Penjelasan Thia-tayhiap tepat sekali!"
Seru Ang Thong-lam pula.
"Memang tulisan itu bisa punya dua maksud, tapi dengan kedudukan Jit-kaucu sekarang, kecuali kita hendak membunuhnya, masa ada orang lain yang hendak membunuhnya pula?"
"Ku-lo Supek adalah seorang pintar dan pandai menganalisa suatu keadaan, perintahnya memang mengandung arti mendalam, sehingga aku sendiri pun tak dapat memastikan."
"Tulisan 'Selamatkan Jit-kaucu' memang mengandung arti yang dalam, untuk sementara waktu sulit bagi kita menduganya, aku rasa kita turuti saja perintahnya dan menyelamatkan Jit-kaucu,"
Sela Ho Put-ciang. Sementara itu Bong Thian-gak sedang memejamkan mata sambil memutar otak memikirkan sesuatu. Setelah melalui pemikiran yang panjang, akhirnya Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, perintah Ku-lo Sinceng ini memang benar-benar sukar dipahami pikiran kita, ya, mungkin cuma waktulah yang bisa membuktikan hal ini!"
"Kantung berisi surat yang ditinggalkan Ku-lo Supek untukku belum sempat kubuka, siapa tahu surat itu menyinggung tentang hal ini?"
Kata Ho Put-ciang tiba-tiba. Selesai berkata dia segera mengambil kantung yang ditujukan kepadanya itu. Dalam kantung hanya tersimpan sepucuk surat saja, di atas sampul surat tertulis.
"Surat wasiat Siau-lim Ku-lo."
Membaca tulisan itu, hati semua orang bergetar keras, mereka berpikir.
"Ternyata Ku-lo Hwesio telah mengetahui tentang kematiannya, maka dia sengaja menulis surat wasiatnya."
Pelan-pelan Ho Put-ciang mengeluarkan surat dari dalam sampul dan membaca isinya yang berbunyi.
"Siancayl Kehidupan di jagad ini berlangsung karena perputaran bumi, pertemuan antara unsur Im dan Yang serta perputaran lima unsur Ngo-heng, maka terwujudlah kehidupan yang ada di alam semesta ini dengan kehadiran manusia yang berakal budi. Takdir menetapkan kehidupan Ku-lo harus berakhir pada tahun Kau bulan Sin hari Cu dan saat Yu. Itulah sebabnya kematian Pinceng merupakan kemauan takdir. Ku-lo tahu pertempuran melawan Jit-kaucu akan lebih banyak bahayanya daripada keberuntungan, andaikata beruntung Pinceng bisa merenggut nyawa Jit-kaucu, maka pasti ia akan mati pada hari ini, kemungkinan besar situasi dunia persilatan akan berubah menjadi semakin tidak menguntungkan bagi kita. Sebaliknya jika Jit-kaucu tidak mati, sedang Ku-lo mati lebih dulu, hal ini bisa berakibat munculnya suatu perubahan besar. Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah berhasil menciptakan seorang tokoh tangguh seperti Jit-kaucu dengan bekal ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, bila ilmu itu mencapai tingkat kesepuluh, maka orang akan menjadi kebal dan tahan pukul maupun dibacok. Saat itulah bisa jadi Jit-kaucu akan menjadi seorang jagoan yang tak ada tandingannya di kolong langit. Itulah sebabnya bila Pinceng meninggal, sudah pasti Congkaucu Put-gwa-cin-kau akan berusaha keras melenyapkan Jit-kaucu guna menghilangkan bibit bencana di kemudian hari. Demi perubahan situasi dalam Bu-lim, terutama bagi keuntungan pihak kita, kalian harus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi keselamatan jiwa jit-kaucu. Saat ini Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah berhasil mempelajari berbagai macam ilmu sakti, hanya ilmu Soh-lijian-yang-sin-kang serta Tat-mo-khi-kang saja yang mampu membunuh biang keladi itu. Oleh sebab itu tugas pertama kalian adalah menyelamatkan Jit-kaucu terlebih dahulu. Ingati Ingati Dapatkah dunia persilatan kita dipertahankan? Semuanya tergantung pada tindakan ini."
Setelah para jago membaca isi surat Ku-lo Hwesio, hampir semuanya terkejut bercampur kagum.
Sudah jelas terbukti sekarang bahwa dalam pertarungan Ku-lo Hwesio melawan Jit-kaucu, agaknya pendeta itu tidak bermaksud membinasakan perempuan itu.
Dengan kening berkerut Ho Put-ciang berkata.
"Ku-lo Supek pandai ilmu rahasia langit, dari isi surat wasiatnya, bisa diduga dia sudah tahu siapa gerangan Cong-kaucu Put-gwacin-kau itu."
"Ai, tak perlu ditebak lagi,"
Ujar Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang.
"Mungkin dia orang tua sudah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau itu."
Mendadak Thia Leng-juan berkata.
"Bukankah Ku-lo Supek masih memberi dua pucuk surat lagi untuk Ko-siauhiap? Bagaimana kalau Ko-siauhiap keluarkan surat itu dan sekalian diperiksa isinya?"
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera membuka sampul kedua dan sampul ketiga, namun di atas sampul itu ternyata sudah dicantumkan saatnya untuk membuka.
Di atas sampul kedua ditulis dengan jelas saat untuk membuka surat itu.
"Surat ini dibuka saat Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng muncul."
Sedangkan sampul ketiga bertuliskan.
"Di buka saat hendak menaklukkan Cong-kaucu Put-gwacin-kau."
Di samping lain sampul surat itu dicantumkan pula peringatan agar jangan membuka surat itu apabila saatnya belum sampai.
Bong Thian-gak tentu saja tak berani melanggar peringatan itu, maka pemuda itu menyimpan kembali kedua pucuk surat itu.
Mendadak Thia Leng-juan berseru tertahan.
"Ah, mungkinkah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau adalah Mo-kiam-sinkun Tio Tian-seng?"
"Dari surat wasiat Ku-lo Supek, tampaknya Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau agak mirip dengan Tio Tian-seng,"
Sahut Ho Put-ciang.
"Aku rasa bukan Tio Tian-seng,"
Seru Bong Thian-gak.
"Atas dasar apa Ko-heng mengatakan bukan dia?"
Tanya Thia Leng-juan cepat.
"Seandainya orang itu adalah Tio Tian-seng, tak mungkin Ku-lo Sinceng jual mahal pada kita. Ai ... siapakah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau? Cepat atau lambat kita akan mengetahui juga. Persoalan paling penting yang harus kita hadapi sekarang adalah bagaimana caranya melaksanakan perintah Sinceng serta menyelamatkan jiwa Jit-kaucu."
Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong yang selama ini hanya membungkam mendadak berkata.
"Ah, agaknya Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau akan mulai melaksanakan rencananya membunuh Jit-kaucu begitu mendengar berita kematian Sinceng, bisa jadi saat ini Cong-kaucu sudah berada di kota Kay-hong."
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Ya, benar! Tujuan yang sesungguhnya serbuan musuh ke gedung bu-lim Bengcu hari ini adalah untuk mencari tahu mati-hidup Ku-lo Sinceng, ya ... segala sesuatunya memang berjalan seperti apa yang di tulis Sinceng dalam surat wasiatnya, kalau begitu kita tak boleh ayal dalam usaha kita menyelamatkan jiwa Jit-kaucu."
"Tapi tindakan apakah yang harus kita ambil? Harap kalian semua sudi mengajukan pendapat,"
Seru Ho Put-ciang. Dengan suara berat Thia Leng-juan berkata.
"Ku-lo Supek telah menyerahkan isi kantung itu kepada Ko-heng, jelas tugas ini hanya Ko-heng seorang yang mampu memikulnya, mana mungkin orang lain bisa mencampurinya."
Seperti menyadari sesuatu, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berkata, betul, tampaknya Ku-lo Supek sudah tahu Jit-kaucu pun ahli waris Jian-bin hu-li Ban Li-biau seperti juga halnya Ko-siauhiap."
"Ai, Ku-lo Sinceng benar-benar merupakan tokoh sakti yang luar biasa,"
Kata Bong Thian-gak.
"Tampaknya ia sudah tahu asal-usul semua lnknh di Bu-lim."
"Ai, kematiannya benar-benar merupakan suatu kerugian besar bagi dunia persilatan."
"Dalam surat wasiatnya, Ku-lo Supek berpesan bahwa kematian merupakan kemauan takdir, apakah seorang kaisar bisa memperpanjang usianya bila saat ajalnya sudah tiba? Kosiauhiap, aku rasa kau tak perlu bersedih karena kematiannya!"
"Jika begitu aku harus segera mencari Jit-kaucu sekarang juga."
"Aku rasa persoalan ini pun tak perlu dikerjakan terlalu tergesa-gesa, kini luka pada bahu kiri Ko-siauhiap masih belum sembuh, lagi pula telah berjuang sehari semalam, tak ada salahnya kau beristirahat dulu selama tiga-empat hari sebelum melakukan sesuatu tindakan."
"Luka yang kuderita tidak jadi soal. Yang kukuatirkan sekarang seandainya orang-orang Put-gwa-cin-kau melakukan penyerbuan sekali lagi kemari."
Ho Put-ciang tertawa sedih.
"Walaupun pada pertempuran hari ini pihak gedung Bengcu menderita kerugian besar, tapi asalkan yang datang bukan Cong-kaucu atau Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau, gedung Bengcu yakin masih bisa mempertahankan diri."
Bong Thian-gak termenung beberapa saat, kemudian katanya pelan-pelan.
"Ho-bengcu, ada satu hal perlu kuingatkan kepadamu, ketahuilah bahwa dalam gedung Bu-lim Bengcu sekarang bersembunyi seorang pentolan Put-gwa-cinkau, kalau tak salah pentolan itu adalah Cap-go-kaucu! Aku harap kau bertindak lebih waspada."
"Sekarang orang yang menjadi kekuatan inti gedung Bu-lim Bengcu adalah Ko-siauhiap, Thia Leng-juan Laute, Angtayhiap, Goan-ko Taysu, Ui-hok Totiang beserta kami Suhengte. Semua rahasia yang kita ketahui tak mungkin bocor ke telinga orang lain, bila rahasia itu sampai bocor, berarti Capgo-kaucu Put-gwa-cin-kau berada di antara kita bersembilan dalam gedung Bu-lim Bengcu, entah bagaimana pendapat kalian?"
Kata Ho Put-ciang.
"Betul,"
Ujar Thia Leng-juan cepat.
"apa yang kita bicarakan hari ini menyangkut keselamatan dunia persilatan, jelas siapa pun dilarang membocorkan keluar."
Yu Ciang-hong, Ang Thong-lam dan Goan-ko Taysu sekalian segera bersumpah pula untuk memegang rahasia itu rapat-rapat.
Malam itu lewat tanpa kejadian, para jago pun kembali ke kamar masing-masing untuk mengatur pernapasan dan merawat luka.
Keesokan harinya, luka yang diderita Ui-hok Totiang serta Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui telah sembuh, sementara luka yang diderita Oh Cian-giok sudah jauh membaik.
Bong Thian-gak dan Thia Leng-juan bersama-sama tidur di loteng sebelah barat, pada hari ketiga luka tusukan pada bahu kiri Bong Thian-gak pun telah sembuh.
Selama tiga hari itu dari pihak Bu-lim Bengcu telah mengirim banyak mata-mata untuk menyelidiki keadaan serta gerak-gerik orang-orang Put-gwa-cin-kau, anehnya puluhan li di seputar kota Kay-hong ternyata tidak dijumpai satu pun orang persilatan, tentu saja tidak diketahui pula gerak-gerik orang-orang Put-gwa-cin-kau.
Keadaan itu tentu saja mendatangkan perasaan tak tenang bagi para jago yang berkumpul dalam gedung Bu-lim Bengcu.
Setiap orang tahu, sebelum datangnya hujan badai biasanya didahului oleh suasana sunyi senyap yang aneh.
Tengah hari itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang bersama pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak bertiga berkumpul di ruangan tengah bangunan loteng sebelah barat.
"Ho-toako, menurut pendapatmu mungkinkah orang-orang Put-gwa-cin-kau telah mengundurkan diri secara diam-diam dari kota Kay-hong?"
Pertanyaan itu ditujukan kepada Ho Put-ciang dengan suara lantang. Ho Put-ciang menggeleng.
"Dalam tiga hari ini suasana memang terasa kurang beres. Jika orang-orang Put-gwa-cin-kau masih berada di kota Kay hong, mata-mata yang kita kirim paling tidak akan menemukan jejak mereka."
"Aku pikir Jit-kaucu tak mungkin meninggalkan tempat ini begitu cepat,"
Seru Bong Thian-gak pula.
"Ko-heng, apa maksudmu?"
Tanya Thia Leng-juan cepat.
"Jit-kaucu mendapat tugas menghancurkan gedung Bu-lim bengcu, sebelum tugas yang dibebankan ke atas pundaknya diselesaikan, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan kota Kay-hong? Menurut dugaanku, Put-gwa-cin-kau masih akan melakukan penyerangan secara besar-besaran terhadap gedung Bu-lim Bengcu kita!"
"Bagaimana Ko-heng bisa berkata demikan? Kalau dibilang Jit-kaucu mendapat perintah untuk menghancurkan gedung Bu-lim Bengcu, apa sebabnya pada penyerbuan musuh tempo hari kita tak menjumpai Jit-kaucu?"
"Sebab rencana penyerbuan gedung Bengcu yang terjadi dua hari lalu bukan atas prakarsa Jit-kaucu."
"Kalau bukan diprakarsai dia, lantas siapa?"
"Orang berkerudung berbaju hitam itu!"
Tiba-tiba Thia Leng-juan berseru tertahan, sambil berpaling ke arah Ho Put-ciang katanya.
"Ho-toako, orang berkerudung itu pernah memperkenalkan diri. Katanya dia adalah pentolan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau, dengan kepandaian silatnya yang hebat serta sikapnya yang angkuh, mestinya pasukan pengawal tanpa tanding mempunyai kedudukan tinggi dalam Put-gwa-cin-kau."
"Bisa jadi pasukan pengawal tanpa tanding merupakan pelindung Kaucu Put-gwa-cin-kau,"
Pendapat Ho Put-ciang.
"Benar, pasukan pengawal tanpa tanding adalah para pelindung Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."
Thia Leng-juan segera termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya.
"Perkataan Ko-heng memang benar, kemungkinan besar Put-gwa-cin-kau akan melakukan serbuan kedua terhadap gedung Bu-lim Bengcu kita ini."
"Tapi anehnya mengapa hingga kini belum juga dilakukan?"
Tanya Ho Put-ciang dengan kening berkerut.
"Sebuah pukulan dahsyat Ko-heng yang bersarang tepat di tubuh orang berkerudung berbaju hitam itu menyebabkan mereka tak berani menganggap enteng kekuatan kita,"
Kata Thia Leng-juan mengemukakan pendapatnya.
"Selain itu, nampaknya mereka masih menaruh curiga terhadap kematian Ku-lo Supek."
Ho Put-ciang manggut-manggut.
"Benar, Jit-kaucu pun terhajar hingga terluka oleh Ku-lo Supek dan dengan jumlah anggota Put-gwa-cin-kau yang berada di kota Kay-hong + -sekarang, mereka memang belum berani melakukan penyerbuan lagi. Kemungkinan mereka belum berani berkutik dalam beberapa hari mendatang, bisa jadi sedang minta bala bantuan sambil menyiapkan serangan berikutnya."
"Ai, tapi yang pasti, orang yang memimpin penyerbuan kedua ini pun pasti bukan Jit-kaucu!"
Kata Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang.
"Ko-heng, siapa menurut dugaanmu?"
"Kemungkinan besar Cong-kaucu yang akan memimpin secara langsung penyerangan ini."
Paras muka Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berubah hebat mendengar perkataan itu, katanya cepat.
"Lantas bagaimana cara kita menghadapi?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, hari ini aku baru menemukan gelagat kurang baik, bila kita hendak meminta bantuan orang sembilan partai besar, aku rasa air yang berada di tempat jauh tak mungkin bisa memadamkan api di depan mata!"
"Tapi kita bisa membendung air bah, kita hadapi serbuan lawan dengan kekuatan, asal kita bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan, aku rasa kekuatan musuh masih dapat kita imbangi."
"Aku pikir lebih baik kita mundur saja dari gedung ini sambil melindungi kekuatan yang tersisa,"
Ucap Bong Thian-gak dengan wajah serius.
Belum habis perkataan Bong Thian-gak, mendadak dari bawah anak tangga sana terdengar suara langkah kaki, disusul kemudian munculnya Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui.
"Yu-sute, ada urusan penting apa?"
Ho Put-ciang segera berpaling dan menegur. Dengan suara lantang Yu Heng-sui menyahut.
"Seorang mata-mata yang kita utus untuk mencari berita telah berjumpa dengan seorang perempuan misterius di luar kota Kay-hong sebelah barat. Perempuan itu telah menitipkan sepucuk surat kepada mata-mata kita supaya diampaikan kepada Kosiauhiap."
Sembari berkata, dari dalam sakunya dia mengeluarkan sepucuk iiiiat berwarna biru.
Bong Thian-gak segera menerima surat itu, di atas sampul tertera beberapa huruf dengan gaya tulisan yang sangat indah.
"Ditujukan khusus untuk Ko Hong."
Bong Thian-gak berkerut kening, setelah berpikir sebentar, lalu tanyanya.
"Siapakah perempuan itu?"
Terus saja ia merobek sampul surat itu dan membacanya isinya.
"Tidak mudah untuk mempertahankan hidup ini, cepat pergi dari sini untuk hidup seratus tahun lagi."
Di bawah surat tidak dicantumkan tanda tangan. Selesai membaca, Bong Thian-gak segera menyerahkan surat itu kepada Ho Put-ciang serta Thia Leng-juan sekalian.
"Siapa penulis surat ini?"
Thia Leng-juan bertanya kemudian.
"Jit-kaucu,"
Sahut Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang. Ho Put-ciang menghela napas pula.
"Kejadian ini semakin membuktikan dugaan kita tak salah, Put-gwa-cin-kau memang sudah mempersiapkan diri memusnahkan gedung kita."
"Ai, belum tentu begitu, kemungkinan juga sasaran mereka hanya aku seorang."
"Bukankah dia sudah memberi peringatan kepada Ko-heng? Tak mungkin dia turun tangan keji terhadap Ko-heng!"
Kata Thia Leng-juan lagi.
"Jit-kaucu adalah seorang gadis yang berwatak aneh, senang gusarnya tidak menentu, lagi pula semua gerakgeriknya seakan-akan sudah berada di bawah cengkeraman Cong-kaucu."
Ho Put-ciang bertanya kepada Yu Heng-sui.
"Yu-sute, siapakah mata-mata itu? Cepat kau panggil dia agar menghadap kemari."
"Baik!"
Sahut Toan-jong-hong-Iiu Yu Heng-sui dari bawah loteng.
Tak selang lama kemudian Yu Heng-sui telah muncul kembali diikuti seorang lelaki berbaju hitam.
Begitu melihat raut wajah lelaki itu, Pa-ong-kiong Ho Putciang segera mengetahui dia adalah komandan pasukan matamata angkatan kedelapan yang bernama Tan Thiam-ka.
Sesudah memberi hormat kepada semua orang, Tan Thiam-ka segera berdiri di samping dengan kedua tangan diluruskan ke bawah.
"Komandan Tan, darimana kau dapatkan surat ini?"
Ho Putciang berkata dengan suara nyaring.
"Di sebelah barat kota Kay-hong, lebih kurang empat-lima li di luar kota."
"Macam apakah bentuk wajah orang yang menyerahkan surat itu kepadamu?"
Sela Thia Leng-juan.
"Dia adalah seorang gadis yang berusia enam-tujuh belas tahunan, berwajah jelek tapi bersuara amat merdu dan manis. Awalnya dia bertanya kepadaku apakah merupakan anggota gedung Bengcu, setelah itu ujarnya lagi, katanya dia ada surat yang hendak diserahkan kepada Ko Hong Siauhiap, maka surat itu pun diserahkan kepada hamba sebelum pergi meninggalkan tempat itu."
Mendengar penjelasan itu, paras muka Ho Put-ciang sekalian segera berubah hebat, dalam hati mereka berpikir.
"Berwajah jelek? Kalau begitu orang itu bukan Jit-kaucu?"
Walaupun Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sekalian belum pernah menyaksikan raut wajah Jit-kaucu, namun Bong Thiangak pernah melukiskan paras mukanya yang cantik ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan, lagi pula usianya juga tidak cocok.
"Komandan Tan, apakah kau tidak salah melihat?"
Ho Putciang segera bertanya.
"Tecu tak bakal salah melihat."
Ho Put-ciang manggut-manggut. 'Baiklah kalau begitu, komandan Tan dan Yu-sute boleh mengundurkan diri dari sini."
"Baik!"
Seru mereka berdua bersama-sama. Seusai berkata, mereka membalikkan badan siap meninggalkan Irmpat itu.
"Tunggu sebentar!"
Mendadak Bong Thian-gak berseru.
"Ada urusan apa Ko-siauhiap?"
Ho Put-ciang segera bertanya.
"Ho-bengcu, aku ingin membawa komandan Tan berkunjung ke tempat penyerahan surat itu."
"Apakah luka Ko-siauhiap telah sembuh?"
"Tak usah kuatir, Bengcu, lukaku sudah tak jadi masalah lagi."
"Apakah Ko-siauhiap kenal si pengantar surat itu?"
"Tidak!"
Bong Thian-gak menggeleng.
"Belum pernah kujumpai wanita itu."
"Musuh kita amat licik dan mempunyai banyak tipu muslihat, mungkinkah kepergian Ko-siauhiap akan terjebak siasat licik mereka?"
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Aku kuatir Ko-siauhiap salah menduga akan si pengirim surat itu."
"Andaikan musuh menantangmu secara terang-terangan untuk berduel, mereka kuatir kita mempersiapkan diri lebih dahulu, maka dia sengaja mengirim surat itu untuk memancing rasa ingin tahumu hingga kau melakukan penyelidikan seorang diri. Akhirnya kau termakan oleh tipu muslihat mereka."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak tersenyum.
"Untuk mewujudkan tugas yang dibebankan Ku-lo Sinceng kepadaku, sudah seharusnya aku mulai bertindak sekarang."
"Kalau begitu apakah Ko-siauhiap membutuhkan bantuan orang kami?"
"Tidak usah,"
Bong Thian-gak menampik sambil menggeleng.
"Sekarang juga aku akan berangkat."
Ho Put-ciang lantas berpaling ke arah lelaki berbaju hitam itu sambil berpesan.
"Komandan Tan, dampingi Ko-siauhiap, kau harus menuruti semua petunjuk dan perintah Ko-siauhiap tanpa membantah."
"Baik!"
Sahut Tan Thiam-ka dengan hormat. Setelah berkata, dia lalu berpaling ke arah Bong Thian-gak sambil bertanya.
"Ko-siauhiap, apakah akan berangkat sekarang juga?"
Bong Thian-gak berkata kepada Ho Put-ciang sekalian.
"Setiap saat aku akan mengadakan kontak dengan kalian, harap Bengcu tak usah kuatir, kami segera akan berangkat."
Selesai berkata Bong Thian-gak dan Tan Thiam-ka segera pula berangkat meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu.
Setelah perjalanan selama setengah jam lebih, sampailah Tan Thiam-ka dan Bong Thian-gak di depan sebuah hutan buah-buahan.
"Di sinikah kau bertemu dengan gadis berwajah jelek itu?"
Bong Thian-gak bertanya.
"Ya, waktu itu hamba sedang duduk beristirahat di bawah pohon kelengkeng, mendadak muncul perempuan berwajah jelek itu."
Bong Thian-gak mendongakkan kepala memandang sekejap ke arah hutan buah-buahan itu.
Kebun buah-buahan itu luas sekali, mungkin mencapai belasan hektar lebih.
Empat penjuru dikelilingi pagar pendek terbuat dari bambu, jelas tempat itu merupakan kebun buahbuahan yang dijaga orang.
Bong Thian-gak bertanya.
"Apakah sekeliling tempat ini terdapat perkampungan atau dusun?"
"Dua li dari sini terdapat sebuah dusun kecil, hanya sekitar dua puluh kepala keluarga."
"Apa hasil penyelidikanmu terhadap dusun itu?"
Tan Thiam-ka termenung sejenak, kemudian sahutnya.
"Di tempat itu tidak kutemukan sesuatu, pada pagi dan siang hari kebanyakan rumah petani tutup, hanya ada beberapa anak kecil bermain di luar pagar rumah, benar-benar suasana dusun kaum petani."
Pada saat itulah mendadak dalam kebun buah-buahan itu berkumandang suara bentakan serta caci-maki. Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berkata.
"Mari kita tengok!"
Suara bentakan itu berasal setengah li dari tempat itu, suaranya tidak begitu keras.
Buru-buru Bong Thian-gak dan Tan Thiam-ka berputar ke kebun buah sebelah utara, di situ mereka menyaksikan sekelompok orang mengerubuti seseorang.
Menyaksikan itu, hati Bong Thian-gak terkesiap.
Rombongan itu terdiri dari tiga belas orang, mereka mengenakan baju hijau penuh tambalan, tak usah ditanya lagi mereka adalah orang-orang Kay-pang.
Orang yang sedang dikepung ketiga belas orang Kay-pang itu adalah seorang gadis berbaju hitam.
Bong Thian-gak dapat melihat pula raut wajah gadis berbaju hitam ttu dengan jelas, dia berkulit hitam dengan hidung besar, mulut lebar dan mata melotot.
Tampang semacam itu benar-benar jelek setengah mati.
Bong Thian-gak terkejut, sambil menarik tangan Tan Thiam-ka menuju ke tempat peristiwa itu, bisiknya lirih.
"Komandan Tan, coba kau perhatikan, diakah yang menyampaikan surat itu kepadamu?"
Setelah melihat jelas paras muka gadis berbaju hitam itu, Tan Thiam-ka berseru tertahan.
"Ah, betul! Ko-siauhiap, dialah orangnya."
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Bagus sekali, mari kita lihat keadaan dan berpeluk tangan dulu."
Sementara itu kawanan pengemis Kay-pang dan gadis berwajah jelek itu sudah melihat pula kehadiran Bong Thiangak serta Tan Thiam-ka.
Sebenarnya orang-orang Kay-pang itu mengira Bong Thiangak dan Tan Thiam-ka adalah teman gadis berwajah jelek itu, mereka baru menyadari kesalahan itu setelah menyaksikan kedua orang itu berhenti.
Mendadak terdengar gadis berwajah jelek itu tertawa, kemudian menegur.
"Kalian kawanan pengemis tak tahu diri, di siang hari bolong begini pun berani membegal aku?"
Salah seorang di antara pengemis itu, yang berusia agak lanjut, tertawa aneh.
"Hehehe, bocah perempuan jelek, pentang matamu lebar-lebar, kami anggota Kay-pang bukan manusia yang membiarkan diri dihina orang semaunya sendiri. Sekarang aku si pengemis tua hanya ingin bertanya saja kepadamu, siapa dua orang gadis yang baru saja kau bunuh itu?"
Gadis berparas jelek itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Hehehe, kalian kawanan pengemis rudin, untuk mencari makan sehari tiga kali saja sudah sulit, ternyata berani mencampuri urusan orang lain. Aku cuma menasehatimu secara baik-baik, kalau mau hidup langgeng, lebih baik cepat tinggalkan tempat ini dan jangan ceritakan apa yang telah kau lihat tadi, kalau tidak, kalian akan mampus di sini tanpa liang kubur."
Mendadak pengemis tua itu membentak gusar.
"Bocah perempuan jelek, kenalkah kau dengan Lohu?"
"Kau tak lebih dari seorang pelindung hukum ruang siksa Kay-pang?"
Kata si nona hambar. Pengemis tua itu tertawa dingin.
"Seorang pelindung hukum ruang siksa Kay-pang mempunyai hak menurunkan perintah membantai setiap musuh yang dijumpai. Bila tahu diri, lebih baik cepat sebutkan identitas serta asal-usul kedua orang itu."
Mendadak gadis yang berwajah jelek itu menarik muka dan mencorongkan sinar membunuh dari balik matanya, dengan suara dingin dia berkata.
"Sekarang kalian sudah mengetahui rahasiaku membunuh orang, kukira sudah sepantasnya bila kubunuh kalian agar rahasia ini tidak bocor ke orang lain, hm, belum lagi aku melakukan pembunuhan itu, sungguh tak nyana kalian telah memojokkan aku dengan perkataanmu itu."
Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian ini berpikir dalam hati.
"Aduh celaka, gadis ini sudah diliputi hawa membunuh."
Sementara dia berpikir, pengemis tua telah berteriak.
"Bagus sekali! Arak kehormatan tidak mau, kau justru memilih arak hukuman. Pengawal! Tangkap dulu budak jelek itu!"
Begitu bentakan dilontarkan, empat orang anggota Kaypang segera menerjang ke depan sambil memutar tongkat bambu mereka.
Siapa tahu, dengan satu lejitan tahu-tahu gadis berwajah jelek itu sudah menyongsong kedatangan keempat orang itu.
Menyusul "Plak!
Plokl Plak!
Plok!", empat kali tamparan nyaring berkumandang memecah keheningan.
Keempat orang pengemis yang melakukan terjangan itu masing-masing mendengus tertahan, kemudian tergeletak di tanah dan tidak berkutik lagi.
Ilmu pukulan yang demikian cepat dan luar biasa ini membuat Hong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu mengerut dahi.
Sementara para pengemis Kay-pang diliputi perasaan kaget, ngeri dan tertegun.
Agaknya gadis berwajah jelek itu sudah didorong nafsu untuk melakukan pembunuhan secara besar-besaran guna melenyapkan semua saksi hidup, dengan suatu gerakan yang amat cepat dia menyerbu ke tengah kerumuman orang banyak.
Segera berkumandang jeritan kaget tertahan serta jerit kesakitan disana-sini.
Bayangan orang mencelat dan berkelebat ke sana kemari, dalam waktu singkat telah ada dua belas orang anggota Kay-pang tergeletak di tanah.
Dalam keadaan seperti ini, Bong Thian-gak tidak mengetahui apakah dia harus mencampuri urusan ini atau tidak?
Sementara itu si nona berwajah jelek sudah berjalan menuju ke depan pengemis tua itu begitu berhasil membinasakan kedua belas anggota Kay-pang tadi.
Mendadak Bong Thian-gak membentak nyaring.
"Tahan!"
Waktu itu si nona berwajah jelek sudah mengangkat telapak tangan siap melancarkan serangan maut, ketika mendengar suara bentakan itu, gerakannya segera dihentikan.
Dengan suatu gerakan cepat Bong Thian-gak menghampiri nona berwajah jelek itu, kemudian katanya.
"Nona, jangan kau lakukan pembantaian secara besar-besaran."
"Ko-siangkong, harap menyingkir dulu,"
Kata gadis berwajah jelek itu pelan.
"Sekarang aku telah membinasakan dua belas orang anggota partainya dan aku tak boleh membiarkan dia kabur untuk membocorkan rahasia ini."
Paras muka Bong Thian-gak berubah hebat sesudah mendengar perkataan itu, ujarnya.
"Nona, kepandaian silat yang kau miliki lihai sekali, justru karena aku tak bisa mengambil keputusan dengan cepat, akibatnya aku tak sempat mencegah perbuatan kejimu."
"Siangkong, apabila kau menghalangi perbuatanku ini, maka kau bakal menyesal sepanjang masa. Harap kau segera menyingkir."
Dalam pada itu si pengemis tua masih berdiri di situ dengan wajah termangu. Bong Thian-gak yang menyaksikan hal itu segera membentak.
"Hei, mengapa kau tak segera melarikan diri? Kau hendak menunggu sampai kapan?"
Pengemis tua itu terkejut sesudah mendengar seruan itu. Dia segera membalikkan badan dan melarikan diri. Mendadak gadis itu mengayunkan pergelangan tangan kanan.
"Sret", setitik cahaya bintang yang terang bagaikan sambaran petir dengan cepat menyambar ke belakang tubuh si pengemis tua itu. Mimpi pun Bong Thian-gak tidak mengira gadis berwajah jelek itu bakal melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasianya, ia membentak keras, telapak tangan kirinya segera diayun ke depan melepaskan pukulan kosong membabat ke titik cahaya bintang itu. Walaupun dia bertindak agak terlambat, senjata rahasia tadi tersapu juga oleh sambaran angin pukulannya, dengan begitu kekuatan serangannya menjadi berkurang dan tak menyeramkan lagi.
"Aduh!"
Berkumandang jerit kesakitan yang memilukan hati.
Pengemis tua itu sempoyongan, lalu melarikan diri makin cepat meninggalkan tempat itu.
Di saat Bong Thian-gak mengayunkan telapak tangan kirinya melancarkan serangan tadi, tangan kanannya juga secepat kilat menghantam bahu gadis berwajah jelek itu.
Dengan cekatan gadis berwajah jelek itu mundur tigaempat langkah, ujarnya setelah menghela napas sedih.
"Siangkong, dengan perbuatanmu ini hanya akan menambah kesulitanku saja, bahkan bisa jadi akan mempengaruhi situasi dunia persilatan."
"Mengapa?"
Tanya Bong Thian-gak dengan suara dalam.
"Siangkong, tahukah kau siapakah kawanan pengemis itu?"
Tanya gadis berwajah jelek itu sambil menghela napas sedih.
"Para anggota Kay-pang!"
"Kay-pang adalah perkumpulan paling besar di Bu-lim dewasa ini. Pengaruh organisasi itu meliputi hampir setiap pelosok dunia persilatan, kini kau telah membiarkan pengemis tua itu melarikan diri, mungkin tidak sampai dua belas jam kemudian, pihak Kay-pang sudah akan mengutus jagojagonya datang kemari mencari balas."
"Nona, kalau kau tak ingin disusahkan oleh orang-orang Kay-pang, mengapa pula kau membunuh anggota mereka?"
Dengan polos gadis berwajah jelek itu menjawab.
"Asalkan kau tidak menghalangiku tadi, maka aku akan berhasil membunuh mereka semua, perbuatanku ini tak akan diketahui siapa pun, bahkan aku bisa mengalihkan balas dendam mereka ke arah yang salah. Bukankah ini justru akan mendatangkan keuntungan bagi diriku?"
"Nona kau berasal dari perguruan atau aliran mana?"
Tanya Bong Thian-gak kemudian dengan kening berkerut. Gadis berwajah jelek itu tertawa cekikikan.
"Aku tidak punya perguruan maupun partai."
"Bukankah nona yang menyuruh dia mengantar surat untukku?"
I.inya Bong Thian-gak lagi dengan suara dalam. Sembari berkata dia menunding ke arah Tan Thiam-ka yang berdiri di samping.
"Betul! Aku yang menitipkan surat itu kepadanya,"
Gadis berwajah jelek itu membenarkan.
"Seingatku belum pernah berjumpa atau berkenalan dengan nona, darimana nona mengenali diriku? Apa pula maksud nona mengirim surat itu kepadaku?"
"Walaupun aku tidak kenal padamu, tapi besar kemungkinan majikan kami kenal Ko-siangkong."
"Ai, apakah kau masih mempunyai majikan? Siapakah nama majikan kalian itu?"
"Aku juga tidak mengetahui siapa nama majikan kami."
Kali ini Bong Thian-gak benar-benar dibikin bingung dan tak habis mengerti, sebenarnya dia mengira Jit-kaucu Thay-kun yang menyuruh gadis ini menyampaikan surat kepadanya, siapa tahu kenyataan sama sekali berbeda dengan apa yang diduganya semula.
Lantas siapakah majikannya?
Ilmu silat gadis berwajah jelek itu kelihatan amat aneh dan istimewa, boleh dibilang Bong Thian-gak sama sekali tak mengenalinya.
Setelah termenung dan memutar otak, Bong Thian-gak bertanya.
"Nona, dapatkah kau mengajakku pergi menjumpai majikanmu?"
"Tentu saja boleh, cuma aku kuatir majikan tidak bersedia bertemu denganmu."
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thiangak, katanya.
"Dalam surat itu, dia menyuruh aku datang menjumpainya."
"Kau tidak bohong?"
Gadis berwajah jelek itu menegas.
"Tidak!"
Gadis itu memandang ke arah Tan Thiam-ka sekejap, kemudian katanya.
"Majikan kami tak mengizinkan orang lain menjumpainya."
Tentu saja Bong Thian-gak cukup memahami maksud ucapannya itu, maka katanya kepada Tan Thiam-ka.
"Komandan Tan, kau boleh pulang lebih dulu."
"Baik!"
Sahut Tan Thiam-ka. Dengan mengerahkan Ginkang, dia lantas kembali ke gedung Bu-lim Bengcu. Sepeninggal Tan Thiam-ka, gadis itu baru berkata sambil tersenyum.
"Siangkong, mari kita berangkat!"
Selesai berkata dia lantas membalik badan dan berangkat ke arah utara.
Bong Thian-gak juga tidak banyak bicara, dengan ketat dia mengikut di samping kiri gadis bermuka jelek itu.
Mendadak gadis itu berkata.
"Siangkong, apakah kau tidak mencurigai diriku sebagai anggota Put-gwa-cin-kau?"
"Ehm, aku sudah menduga ke situ,"
Sahut Bong Thian-gak dengan suara hambar.
"Seandainya aku benar-benar anggota Put-gwa-cin-kau, apa yang hendak Siangkong lakukan?"
"Akan kubunuh dirimu sekarang juga!"
Gadis bermuka jelek itu tertawa cekikikan.
"Tak usah kuatir,"
Katanya.
"kedua gadis yang kubunuh tadi tak lain adalah anggota Put-gwa-cin-kau."
"Mengapa kau membinasakan mereka,"
Tanya si pemuda dengan terkejut bercampur keheranan.
"Sebab aku sedang melaksanakan perintah majikan!"
"Sesungguhnya siapa majikanmu itu?"
Desak Bong Thiangak tiba-tiba sambil menghela napas.
"Bagaimana pun juga kau bakal bertemu dengannya, setelah bersua nanti kau akan tahu dengan sendirinya."
"Majikanmu itu seorang lelaki atau perempuan?"
"Seorang perempuan."
Kini Bong Thian-gak diliputi perasaan bimbang, tidak habis mengerti dan curiga, namun dia tidak berdaya mengatasi kecurigaan itu, maka selain membuang jauh-jauh pikiran itu untuk sementara waktu, sorot matanya dialihkan ke sekeliling tempat itu sambil mengawasi pemandangan alam.
Lambat-laun matahari tenggelam di langit barat, senja pun menjelang tiba.
Suasana tengah malam yang sepi berlapiskan cahaya keemas-emasan yang sangat indah.
Akhirnya sampailah mereka di depan sebuah hutan kecil, dari balik hutan lamat-lamat nampak sebuah kuil.
"Kita sudah hampir sampai,"
Bisik gadis itu tiba-tiba.
"Apakah kuil di depan sana?"
Pemuda itu bertanya.
"Ya, kuil kaum Nikoh!"
Sementara pembicaraan berlangsung, mereka berdua sudah memasuki halaman muka kuil itu.
Saat itulah si nona yang bermuka jelek itu baru menghentikan langkahnya dan berpaling ke arah Bong Thiangak, katanya.
"Harap kau suka menunggu sebentar di luar kuil!"
Tidak menanti jawaban Bong Thian-gak, dia sudah menerobos ke balik pintu gerbang kuil itu.
Meminjam sinar senja berwarna keemas-emasan, Bong Thian-gak mencoba mengawasi kuil itu, ternyata kuil itu bernama Keng-tim-an.
Kuil Keng-tim-an tidak terhitung besar, namun juga tidak kecil.
Seluruh bangunan terdiri dari lima lapis halaman.
Waktu itu di ruang tengah amat sepi dan tidak nampak sesosok bayangan orang pun.
Suasana diliputi oleh keheningan, kesepian yang luar biasa.
Diam-diam Bong Thian-gak berpikir.
"Andaikata tempat ini hanya merupakan suatu perangkap Put-gwa-cin-kau, bagaimana caraku menghadapi mereka dan meloloskan diri?"
Belum habis dia berpikir, tiba-tiba nampak gadis bermuka jelek itu sudah berjalan keluar dari ruang tengah, kemudian katanya dengan suara dingin.
"Siangkong, kau pandai berbohong. Dalam suratnya, majikan kami tidak mengundangmu kemari!"
"Tak usah marah-marah, nona, sesungguhnya terdorong oleh rasa ingin tahuku, maka aku kemari ingin berjumpa dengan majikan kalian."
"Gara-gara ulahmu itu, akibatnya aku yang didamprat majikan habis-habisan. Untung majikan mempunyai pandangan lain kepadamu sehingga dia bersedia bertemu dengan kau."
"Terima kasih banyak atas bantuan nona, harap kau suka membawaku masuk ke dalam!"
"Setelah masuk ke dalam kuil nanti, harap kau jangan mengusik para Nikoh."
"Apakah ada Nikoh yang berdiam di sini?"
"Ya, mereka adalah Nikoh yang menjalani pantangan berat, jumlahnya mencapai tujuh puluhan orang."
Sementara berbicara, gadis itu sudah berjalan lebih dahulu untuk menunjukkan jalan.
Sesudah memasuki pintu kuil, benar juga pada sisi pagar bangunan itu nampak ada puluhan orang Nikoh sedang menyirami bunga, menanam sayur dan membabat rumput.
Mereka langsung menuju ke ruang tengah.
Di depan patung Buddha di ruang tengah, nampak asap dupa mengepul memenuhi angkasa, tiga orang Nikoh sedang berdoa di situ dengan khidmat.
Gadis bermuka jelek itu langsung mengajak Bong Thiangak menuju ke halaman lapis keempat.
Waktu itu dalam semua kamar di masing-masing halaman telah diterangi cahaya lentera.
Gadis berwajah jelek itu membawa Bong Thian-gak menuju ke depan sebuah rumah yang terpencil di tengah halaman.
Dari luar tampak sesosok bayangan orang sedang duduk di tepi jendela.
Bayangan tubuh seorang perempuan cantik dan menarik, Bong Thian-gak seakan-akan pernah mengenalinya di suatu tempat.
Pada saat itulah, gadis itu berkata dengan sikap hormat.
"Lapor majikan, Ko-siangkong telah tiba."
Dari dalam ruangan segera berkumandang suara merdu dan lembut.
"Silakan Siangkong masuk!"
"Siangkong, silakan masuk!"
Kata gadis itu.
Sekali pun Bong Thian-gak diliputi perasaan bingung dan penuh curiga, namun terdorong rasa ingin tahunya yang besar, ia segera beranjak memasuki ruangan itu.
Setibanya dalam ruangan dia mendongakkan kepala.
"Ah, kau!"
Bong Thian-gak segera menjerit kaget.
Di bawah cahaya lentera yang terang-benderang, seraut wajah yang cantik jelita muncul di hadapannya.
Waktu itu Jit-kaucu tidak menampilkan perasaan girang, gusar maupun murung, dia hanya berkata hambar.
"Suheng, silakan duduk."
Dipanggil "Suheng"
Oleh gadis itu, Bong Thian-gak merasakan suatu perasaan canggung.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia lantas mengambil tempat duduk.
Pelan-pelan Jit-kaucu Thay-kun bangkit dan menuang secawan air teh, kemudian disodorkan ke hadapan Bong Thian-gak, katanya.
"Silakan minum air teh!"
Memandang kesepuluh jari tangannya yang putih dan ramping, tanpa terasa Bong Thian-gak menerima angsuran cawan teh itu dengan cepat, namun tidak segera meneguknya.
Beberapa saat sesudah termenung, pemuda itu baru berkata.
"Jadi kau yang menulis surat itu?"
"Ya, aku yang menulis,"
Jit-kaucu Thay-kun mengangguk.
"Tindak-tandukmu sungguh membuat aku bingung dan merasa tak habis mengerti."
Jit-kaucu menarik wajah, kemudian berkata.
"Cong-kaucu telah menurunkan perintah agar aku membinasakan dirimu."
"Cepat atau lambat perintah ini akan diturunkan juga!"
"Kau memang tolol,"
Tegur Jit-kaucu dingin.
"Memang kau harus memperlihatkan kebolehanmu? Seandainya pada tiga hari lalu kau tidak melukai komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding, tak nanti Cong-kaucu memandang serius dirimu."
Mendapat teguran itu, timbul perasaan aneh dalam hati Bong Thian-gak, dia tidak bisa melukiskan bagaimana perasaannya waktu itu, karenanya dia hanya menerima teguran itu dengan mulut bungkam.
Kembali Jit-kaucu Thay-kun berkata.
"Sembilan hari lagi, Cong-kaucu akan datang sendiri ke kota Kay-hong ini."
"Kalau begitu sembilan hari lagi merupakan saat ajal bagimu,"
Kata Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. Paras muka Jit-kaucu Thay-kun lantas saja berubah hebat, serunya tanpa terasa.
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Setelah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau memerintahkan kau membunuh Ku-lo Hwesio dan aku, maka sasaran ketiga adalah dirimu sendiri! Sesungguhnya kehadirannya di kota Kay-hong tak lain adalah untuk membunuhmu!"
"Ku-lo Sinceng benar-benar telah meninggal dunia?"
Bong Thian-gak mengangguk.
"Ya, sudah meninggal dunia! Tapi dia bukan mati lantaran terhajar oleh pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang."
"Ai, dunia persilatan telah kehilangan seorang tokoh yang luar biasa,"
Gumam Jit-kaucu sedih.
"Sumoay,"
Bisik Bong Thian-gak lirih.
Dia hanya mampu menyebut itu saja, kemudian paras mukanya berubah merah padam dan tak mampu berkata lebih lanjut.
Jit-kaucu sendiri paras mukanya mengunjuk suatu perubahan sangat aneh mendengar panggilan "Sumoay"
Itu. Sepasang mata mereka saling pandang tanpa berkedip ... lama-lama ... lebih kurang sepeminunan teh kemudian Bong Thian-gak baru melanjutkan kata-katanya.
"Semua perkataanku bukan cuma bualan belaka."
Jit-kaucu Thay-kun berkerut kening, lalu gumamnya.
"Dengan susah-payah Suhu mendidikku selama dua puluh tahun lebih, entah berapa banyak pikiran dan tenaga yang telah dikorbankan untukku, mungkinkah dia akan ...."
Bicara sampai di situ, mendadak gadis itu menghentikan gumamannya dan tidak dilanjutkan. Bong Thian-gak menghela napas sedih, ujarnya.
"Dari dulu hingga sekarang, banyak benggolan dunia persilatan yang cuma mengutamakan keuntungan dan keberhasilan pribadi mereka, seakan sudah kehilangan hati nurani, bahkan terhadap anak kandung sendiri pun tega untuk di korbankan."
"Suhu mendidik dan membinaku justru karena ingin mewujudkan cita-citanya menguasai dunia Kangouw, kenapa dia harus melenyapkan aku?"
"Untuk mencapai ambisi gilanya, dia telah mengubah kau dari seorang gadis biasa menjadi luar biasa, tujuannya tak lain adalah untuk menjadikan kau sebagai alatnya dalam menaklukkan dunia persilatan. Kini orang yang dia segani dan takuti telah mati semua, maka dia pun tidak memerlukan alat itu lagi, bila alat yang lihai ini dibiarkan hidup terus, hal itu akan menimbulkan ketidak-tenangannya di masa-masa mendatang."
"Mengapa bisa begitu?"
"Alasan yang terutama adalah karena ilmu Soh-li-jian-yangsin-kang yang kau miliki justru merupakan tandingan kepandaian silatnya."
Jit-kaucu Thay-kun berkerut kening.
"Darimana kau tahu Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan tandingan segenap kepandaian sakti guruku? Apakah kau sudah mengetahui asalusul Cong-kaucu?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai ... aku memang tidak jelas tentang asal-usul Cong-kaucu, namun persoalan ini diketahui Ku-lo Sinceng sesaat sebelum dia meninggal dunia."
Thay-kun tertawa dingin.
"Begini cara sembilan partai besar dari daratan Tionggoan mengadu domba kekuatan kami?"
Ejeknya. Bong Thian-gak menarik muka dan berkata dengan wajah serius.
"Semua perkataan yang kuucapkan hari ini adalah sejujurnya, kuucapkan dengan maksud dan tujuan baik."
Mendadak Jit-kaucu Thay-kun bertanya.
"Apakah si jelek telah menyampaikan sesuatu kepadamu?"
"Si jelek? Si jelek yang mana?"
"Gadis yang membawamu kemari itu."
Bong Thian-gak menggeleng.
"Tidak!"
"Mengapa kau tidak menyayangi keselamatan jiwamu sendiri?"
Pelan-pelan Jit-kaucu Thay-kun bertanya.
"Dilahirkan saja sukar, siapa bilang aku tidak menyayangi jiwaku?"
"Sekarang Cong-kaucu sudah berhasrat melenyapkan kau dari muka bumi, apa rencanamu untuk menghadapinya?"
"Melawan sampai titik darah penghabisan."
"Kau harus tahu, Put-gwa-cin-kau memiliki kekuatan luar biasa, mengertikah kau akan hal ini?"
"Kecuali kau, aku yakin masih mampu menghadapi yang lain."
"Tampaknya kau menaruh kepercayaan yang kelewat besar terhadap kemampuan ilmu silatmu?"
"Aku sudah pernah mengalahkan beberapa orang jago lihai Put-gwa-cin-kau."
"Bagaimana menurut pendapatmu tentang ilmu silat komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding itu?"
"Lihai sekali."
"Sampai dimanakah taraf kelihaianmu?"
Bong Thian-gak termenung beberapa saat, kemudian baru berkata.
"Jauh lebih lihai daripada Sam-kaucu, tapi aku yakin masih bisa mengalahkan dia, bahkan sekalian mencabut jiwanya."
Jit-kaucu Thay-kun menghela napas sedih.
"Ai, orang itu merupakan salah seorang jago muda yang berhasil dididik Cong-kaucu hanya dalam tujuh tahun. Dari tingkat ilmu silat orang itu, tentunya kau bisa membayangkan bukan sampai taraf macam apakah kepandaian silat Cong-kaucu!"
"Selain Cong-kaucu, ilmu silat Ji-kaucu (ketua kedua) serta komandan nomor satu pasukan pengawal tanpa tanding juga luar biasa hebatnya, sampai dimanakah kehebatan mereka bahkan aku sendiri pun tak bisa menduganya secara tepat."
"Terutama Ji-kaucu, bukan saja ilmu silatnya sangat lihai, dia pun memiliki berbagai ilmu hitam dan ilmu sesat lainnya yang mengerikan. Dia menjabat sebagai Kunsu (juru pikir) Put-gwa-cin-kau, semua rencana dan ide keluar dari benak orang ini, aku benar-benar kuatir dia datang ke kota Kay-hong ini."
Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu diam-diam terperanjat, tapi rasa terkejut tidak diperlihatkan di mukanya.
"Dapatkah kau sebutkan nama mereka?"
Tanyanya kemudian dengan suara lembut. Paras muka Jit-kaucu Thay-kun bertambah berat, tegasnya dengan nada dingin,"Sudah terlalu banyak rahasia yang kuutarakan kepadamu."
"Terima kasih banyak, Sumoay!"
"Untuk menyelamatkan jiwamu, hari ini aku telah menitahkan si jelek untuk membunuh anggota Put-gwa-cinkau. Dengan matinya mereka, untuk sementara rahasia pertemuan kita dapat dipertahankan, oleh sebab itu dalam sembilan hari kau harus menghindarkan diri, kau harus menghindari pengejaran dan usaha pembunuhan orang-orang Put-gwa-cin-kau."
Bong Thian-gak menghela napas pelan.
"Sumoay, belakangan ini gara-gara aku, kau telah mengkhianati Put-gwa-cin-kau, mengapa kau tidak melepaskan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar saja?"
Jit-kaucu Thay-kun menghela napas sedih.
"Aku harus menanti...."
Sampai di situ dia berhenti dan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Sumoay, apa yang sedang kau nantikan?"
"Aku tidak percaya Cong-kaucu adalah seorang yang tidak berdarah dan berdaging, masakah dia sama sekali tak berperasaan."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak jadi girang, pikirnya.
"Dari kata-katanya, bukankah terbukti dia sudah punya perasaan tidak percaya terhadap Cong-kaucu .... Kalau sekarang dia masih belum menantangnya secara langsung dan terang-terangan, sesungguhnya kejadian ini pun merupakan peristiwa yang lumrah. Bagaimana pun juga Cong-kaucu adalah gurunya, penolong yang telah memelihara dan mendidiknya hingga dewasa. Perasaan itu memang lebih dalam daripada samudra dan mustahil bisa dilupakan orang begitu saja. Oleh sebab itu kendati dia tahu pada akhirnya Cong-kaucu hendak turun tangan keji kepadanya, tapi untuk membuktikan hal ini terpaksa dia harus menanti sampai Congkaucu benar-benar memperlihatkan wajah yang sesungguhnya."
Kemudian Bong Thian-gak bertanya.
"Apakah kuil Kengtim-an ini merupakan salah satu markas besar Put-gwa-cinkau?"
Jit-kaucu Thay-kun menggeleng.
"Put-gwa-cin-kau sama sekali tidak tahu aku sedang berada di kuil Nikoh ini."
"Siapakah Hongtiang (ketua) kuil Keng-tim-an ini?"
"Suhunya si jelek."
"Mengapa si jelek menyebutmu sebagai majikan?"
Jit-kaucu Thay-kun mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian dia tersenyum sambil berkata.
"Aku adalah majikan kuil Keng-tim-an ini, termasuk Hongtiangnya, mereka memanggilku sebagai majikan."
"Aku tidak mengerti,"
Kata Bong Thian-gak sambil menggeleng kepala dengan perasaan tidak mengerti. Jit-kaucu Thay-kun termenung sejenak, katanya.
"Sekarang masih belum waktunya, aku tak ingin membongkar rahasia ini lebih dulu. Sebentar akan kuperkenalkan dirimu dengan Kengtim Suthay, apabila kau menemui kesulitan di kemudian hari, mereka akan membantumu."
Jit-kaucu Thay-kun segera bangkit, setelah mengangkat kepala memandang cuaca, dia pun berbisik lirih.
"Waktu sudah tidak pagi, aku tak bisa berdiam lebih lama di sini."
Baru selesai dia berkata, mendadak dari luar ruangan terdengar suara langkah kaki berkumandang datang, menyusul terdengar seorang berkata dengan suara yang lembut dan manis.
"Lapor majikan, apakah akan bersantap di sini?"
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera tahu orang yang berada di luar sana adalah si nona muka jelek.
"Tidak usah,"
Jawab Jit-kaucu Thay-kun dengan suara merdu.
"Aku akan segera pergi meninggalkan tempat ini, lebih baik kau sediakan hidangan malam untuk Ko-siangkong saja."
Bong Thian-gak ikut bangkit, katanya.
"Tidak usah, aku harus buru-buru kembali."
Tidak menanti Bong Thian-gak berkata lebih jauh, Jit-kaucu Thay-kun menukas.
"Si jelek, apakah Keng-tim Suthay telah menyelesaikan semedinya?"
"Ibu telah menyelesaikan sembahyang malamnya,"
Jawab nona itu dengan hormat, dia melangkah masuk ke dalam ruangan dengan pelan.
"Jika begitu harap kau mengundangnya kemari,"
Perintah Jit-kaucu.
"Baik!"
Sahut si nona. Dia segera membalikkan badan dan berlalu dari ruangan itu. Sepeninggal nona bermuka jelek, Jit-kaucu berkata kepada Bong Thian-gak.
"Suheng, tak ada salahnya kau bersantap malam dulu di sini sebelum pergi, kau pun perlu berbincangbincang dengan Keng-tim Sulhay dan si jelek agar kedua belah pihak saling kenal lebih mendalam."
Sesungguhnya Bong Thian-gak memang menaruh perasaan bingung, curiga dan ingin tahu terhadap kuil Keng-tim-an.
Dalam hati pemuda itu bersedia tetap tinggal di situ melakukan penyelidikan.
Selang beberapa saat kemudian dari luar ruangan terdengar lagi "nara langkah kaki manusia, dengan cepat muncul bayangan orang dari luar ruangan.
Tampak seorang Nikoh setengah umur yang mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu, membawa tasbih di tangan, berdiri di depan pintu, di belakangnya mengikut si nona bermuka jelek itu.
Dengan sorot mata tajam Nikoh setengah umur itu memandang sekejap wajah Bong Thian-gak, kemudian dia merangkap tangan dan memberi hormat kepada Jit-kaucu Thay-kun.
"Pinni sedang bersemedi dalam ruangan hingga tak mengetahui kedatangan majikan di sini, bilamana tak menyambut kedatanganmu harap majikan sudi memaafkan."
Sekarang Bong Thian-gak baru sempat melihat wajah Nikoh setengah umur itu, mukanya bulat dengan kulit putih bersih, panca indranya sempurna dan memancarkan keanggunan.
Menyaksikan hal itu, tanpa terasa dia berpikir.
"Mungkinkah dia adalah ibu si jelek?"
Lalu ia memperkenalkan diri.
"Namaku Ko Hong, harap Suthay sudi banyak memberi petunjuk."
Jit-kaucu Thay-kun menuding ke arah Nikoh setengah umur itu sembari berkata.
"Dia adalah Hongtiang kuil ini, Keng-tim Suthay, sedang ini adalah Ko-siauhiap."
Keng-tim Suthay tersenyum dan manggut-manggut, katanya.
"Ko-siauhiap, belakangan ini nama besarmu menggetarkan dunia persilatan, sudah lama Pinni mendengar nama besarmu."
"Ah, aku hanya seorang pemuda yang baru terjun ke dunia persilatan, Suthay terlampau memuji!"
"Keng-tim Suthay,"
Kata Jit-kaucu pula.
"harap kalian menemani Ko-siangkong berbincang-bincang, bilamana Siangkong membutuhkan bantuan kalian di kemudian hari, harap kalian suka membantu sepenuh tenaga. Maaf, aku harus segera pergi."
"Apakah majikan masih akan meninggalkan pesan lain?"
"Sembilan hari lagi, bila aku belum kembali di kuil Kengtim-an ini, kau boleh menyampaikan semua petunjuk itu kepada Siangkong."
Selesai berkata ia segera berkelebat dan tanpa menimbulkan sedikit suara pun berlalu dari situ.
Menyaksikan ilmu meringankan tubuh Jit-kaucu Thay-kun ya begitu sempurna, diam-diam Bong Thian-gak berpikir.
"Kepandai silatnya benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan."
Sementara dia masih termenung, Keng-tim Suthay berkata dengan suara lembut.
"Siangkong, harap minum air teh."
Sembari berkata, nona bermuka jelek dan Keng-tim Suthay masing-masing mengambil tempat duduk, kemudian memenuhi cawan Bong Thian-gak dengan air teh baru. Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Suthay, ucapannya sebelum pergi tadi sungguh membuat hati orang merasa kuatir."
Keng-tim Suthay tersenyum.
"Ko-sicu tak usah murung. Segala sesuatunya telah diatur oleh takdir."
"Suthay, aku mempunyai beberapa persoalan yang tak kupahami, bersediakah kau memberi petunjuk?"
Tanya Bong Thian-gak kemudian dengan kening berkerut. Keng-tim Suthay tertawa.
"Majikan telah berpesan, oleh karena saatnya belum tiba, kurang baik untuk membongkar rahasia itu. Maaf apabila Pinni tak bisa banyak membantumu."
Mendengar ucapan itu, kembali Bong Thian-gak berpikir.
"Kalau dilihat dari kemampuan si nona bermuka jelek dalam melakukan pembunuhan atas kedua belas orang anggota Kaypang itu, sudah dapat diketahui dia adalah seorang jago lihai yang berilmu tinggi, sedangkan Keng-tim Suthay juga bermata amat tajam, tampaknya kesempurnaan tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan. Dengan bekal kepandaian ilmu silat yang begitu tinggi, nyatanya sikap mereka terhadap Jit-kaucu Thay-kun begitu hormat, sesungguhnya hubungan apakah yang terjalin di antara mereka bertiga?"
Sementara dia termenung memikirkan persoalan itu, mendadak tampak paras muka Keng-tim Suthay berubah hebat, kemudian tanyanya dengan lirih.
"Siangkong, apakah kau datang bersama sahabatmu?"
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera pasang telinga baik-baik, segera ia tahu di atas atap rumah telah kedatangan dua orang pejalan malam.
Bong Thian-gak agak kuatir kalau mereka adalah anggota gedung Ilu-lim Bengcu, siapa tahu mereka tidak tega membiarkan dia pergi seorang diri, maka secara diam-diam mengutus orang menguntit.
Maka untuk beberapa saat dia tidak mampu menjawab pertanyaan Keng-tim Suthay.
Sementara itu Keng-tim Suthay sudah membentak dengan suara dalam.
"Sicu darimanakah yang telah mengganggu ketenangan kami? Mengapa tidak segera turun?"
"Hehehe,"
Suara tawa menyeramkan berkumandang memecah keheningan malam.
Kemudian "Sret", di tengah halaman telah bertambah dengan dua sosok manusia.
Dengan suatu lompatan kilat, Bong Thian-gak menyusup keluar melalui jendela, sementara Keng-tim Suthay dan nona bermuka jelek itu pun telah keluar ruangan.
Di bawah cahaya lentera yang memancar keluar dari dalam ruangan, tampak dua orang aneh berbaju putih telah berdiri di tengah halaman, jubah putih mereka diberi beberapa tambalan dari kain kuning.
Begitu melihat siapa gerangan dua orang tamu tak diundang itu, diam-diam Bong Thian-gak mengeluh dalam hati.
"Aduh celaka! Rupanya anggota Kay-pang yang telah kemari."
Sementara itu si nona bermuka jelek pun mengeluh dalam hati. Dalam pada itu Keng-tim Suthay telah merangkap tangan di depan dada sambil menegur.
"Omitohud, apakah Sicu berdua adalah anggota Kay-pang?"
Kedua orang lelaki berbaju putih itu berusia empat puluh tahunan, orang di sebelah kiri berperawakan tinggi kekar, memelihara jenggot pendek.
Sedangkan orang di sebelah kanan berwajah bersih tapi mencorong tajam sinar matanya, jelas dia lebih cekatan dan hebat.
Sejak menampakkan diri di situ, mereka berdua dengan tajam mengawasi nona bermuka jelek dan Bong Thian-gak tanpa berkedip, wajah mereka dihiasi hawa amarah yang amat tebal.
Mendadak terdengar lelaki berwajah bersih menyahut sambil tertawa dingin.
"Benar, kami berdua adalah Hiangcu ruang hukuman Kay-pang."
Dari mimik wajah mereka yang kurang cerah, Keng-tim Suthay tahu kedatangan mereka disebabkan suatu persoalan, dia merangkap tangan kembali, tanyanya.
"Entah ada urusan apa Hiangcu berdua berkunjung ke kuil kami?"
"Hm, tanyakan kepadanya bila ingin tahu,"
Seru lelaki bermuka bersih sambil menunjuk ke arah nona bermuka jelek itu. Keng-tim Suthay berpaling dan memandang sekejap ke arah nona bermuka jelek itu, tanyanya pula.
"Si jelek, apa yang telah kau lakukan sehingga membuat marah mereka berdua? Ayo cepat minta maaf kepada kedua Sicu ini!"
"Minta maaf?"
Jengek lelaki bertubuh kekar itu ketus.
"Hm, tak segampang itu urusan bisa dibikin selesai."
"Ibu, aku telah membunuh dua belas orang mereka,"
Bisik nona bermuka jelek itu lirih. Setelah mengetahui duduk persoalannya, Keng-tim Suthay baru menyadari betapa gawatnya persoalan itu, dengan suara dalam dia lantas menegur.
"Si jelek, mengapa kau melakukan perbuatan tolol itu?"
Bong Thian-gak tahu semua kesulitan itu gara-garanya, coba kalau dia memberi kesempatan nona bermuka jelek itu menghabisi nyawa pengemis terakhir tadi, sudah pasti tak akan terjadi kesulitan seperti ini.
Kay-pang merupakan perkumpulan terbesar yang mempunyai kekuasaan paling luas dalam Bu-lim, jago-jago lihainya banyak, tak bisa dihitung, cara kerja mereka pun antara sesat dan lurus, baik golongan putih maupun hitam biasanya suka mengalah terhadap masalah-masalah yang melibatkan pihak kaum pengemis.
Menghadapi situasi saat ini mau tak mau Bong Thian-gak harus memutar otak mencari akal.
Mendadak terdengar lelaki berwajah bersih itu berkata dengan suara dingin.
"Hutang uang bayar uang hutang nyawa harus dibayar nyawa, kami akan pergi dari sini bila pembunuhnya telah diserahkan!"
Tiba-tiba Bong Thian-gak maju sembari menjura, kemudian katanya.
"Saudara berdua, peristiwa terbunuhnya beberapa orang anggota perkumpulan kalian di tangan nona ini, di kemudian hari aku pasti akan berkunjung sendiri ke markas besar kalian di Sucwan untuk memberikan keadilan kepada kalian. Bagaimana kalau kalian berdua menyudahi persoalan sampai di sini dulu?"
Lelaki berwajah bersih itu tertawa dingin.
"Siapa namamu? Apakah dengan bekal beberapa katakatamu itu kami harus menghabisi dendam kesumat sedalam lautan begitu saja?"
"Aku she Ko bernama Hong. Harap kau sudi memberi petunjuk,"
Kata Bong Thian-gak menahan sabar. Nama "Ko Hong"
Ini sudah berubah menjadi nama yang amat termasyhur dalam Bu-lim dewasa ini, paras muka kedua orang Hiangcu Kay-pang itu segera berubah hebat.
"Bagus!"
Seru lelaki bertubuh kekar sambil tertawa tergelak.
"Ji-siauya partai kami Giok-bin-giam-lo (Raja akhirat berwajah pualam) To Siau-hou pernah menyinggung nama besarmu setelah sadar dari pingsannya tempo hari, katanya bila ingin mengetahui Put-gwa-cin-kau paling baik menemukan dirimu. Hari ini kau harus mengikuti kami pergi dari sini."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Sebetulnya aku bersedia mengikuti kalian pergi dari sini, sayang aku masih ada urusan penting lainnya yang harus segera diselesaikan, hingga...."
"Kuanjurkan kepada saudara, lebih baik jangan mengikat tali permusuhan dengan Kay-pang!"
Bentak lelaki kekar itu dengan wajah membesi. Tiba-tiba saja paras muka Bong Thian-gak berubah pula, dingin seperti es, ucapnya ketus.
"Kalian tak akan mampu menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik, kuanjurkan kepada kalian lebih baik cepat pulang saja, tak usah mencari penyakit buat diri sendiri."
Beberapa patah kata itu kontan membuat kedua orang Hiangcu itu naik darah.
Kedudukan Hiangcu dalam Kay-pang hanya sedikit di bawah Tongcu, merupakan orang ketiga yang berkuasa dalam perkumpulan, apalagi mereka adalah Hiangcu ruang hukuman, kekuasaan maupun kedudukannya tinggi sekali.
Lelaki berwajah bersih itu tertawa seram.
"Hehehe, mendengar perkataanmu itu, kami jadi tak tahu diri dan ingin sekali mengetahui apa yang menjadi modalmu hingga berani bersikap jumawa!"
Si nona bermuka jelek yang selama ini hanya diam saja, mendadak berkata.
"Bukankah kalian berdua ingin mengajakku pergi? Baiklah, aku bersedia pergi bersama kalian."
Si jelek berpaling ke arah Keng-tim Suthay, kemudian berkati pelan.
"Ibu, siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawa pula, putrimu merasa sudah sepantasnya mengikuti mereka untuk menerima hukuman, harap kau orang tua jangan kuatir."
Kemudian sambil berpaling ke arah kedua orang itu, dia berkata lagi.
"Semua perbuatan itu merupakan tanggungjawabku, mari kita pergi!"
Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu punya firasat permainan apakah yang hendak dilakukan gadis bermuka jelek itu.
Namun berhubung perkembangan peristiwa itu telah mencapai keadaan seperti ini, tentu saja dia tak dapat menghalangi niatnya lagi.
Dalam hati dia hanya bisa berdoa secara diam-diam.
"Semoga Thian mengampuni dosa-dosanya!"
Begitulah dua orang Hiangcu dari Kay-pang segera membawa nona bermuka jelek itu berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggung mereka lenyap dari pandangan, Keng-tim Suthay menghela napas sedih, katanya.
"Dosa! Dosa! Dendam berdarah ini makin lama semakin mendalam, tampaknya ikatan permusuhan ini tak bakal berakhir untuk selamanya."
"Semoga saja sejak kini hilang semua bukti-bukti nyata, kalau tidak, entah bagaimana akhirnya nanti?"
"Omitohud,"
Bisik Keng-tim Suthay pelan.
"Ko-siangkong, silakan duduk di dalam."
Bong Thian-gak dan Keng-tim Suthay masuk dan duduk di ruang dalam. Saat itulah Keng-tim Suthay berkata.
"Siangkong, apakah kau telah menyaksikan pertarungan itu?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Menjelang senja tadi, putrimu dikejar oleh tiga belas jago Kay-pang ...."
Secara ringkas Bong Thian-gak menceritakan bagaimana peristiwa pembunuhan itu terjadi. Begitu selesai mendengar penuturan itu, Keng-tim Suthay menghela napas panjang dan berkata.
"Ai, perbuatan yang dilakukan si jelek memang tugas yang dibebankan majikan kepada kami menyangkut keselamatan seluruh umat persilatan, apabila rahasia itu sampai dibocorkan anggota Kaypang, bukan saja keselamatan jiwa majikan kami terancam bahaya, bahkan akan menyangkut keselamatan jiwa puluhan orang lainnya."
Bong Thian-gak terperanjat mendengar perkataan itu, katanya.
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Di kemudian hari Siangkong bakal tahu dengan sendirinya, ai! Kekuatan Put-gwa-cin-kau saat ini mengancam keselamatan umat persilatan, kekuatan sembilan partai besar dunia persilatan pun sudah dipaksa musuh hingga berada dalam posisi tak mampu melawan lagi."
Keng-tim Suthay berhenti sejenak, lanjutnya pula.
"Untuk menyelamatkan dunia persilatan dari berbagai pembunuhan itu, Put-gwa-cin-kau harus ditumpas sampai ke akar-akarnya dan untuk itu tampaknya hanya ...."
Berkata sampai di sini Keng-tim Suthay menutup mulut. Makin mendengar Bong Thian-gak makin memahami akan suatu rahasia besar dunia persilatan, lekas dia bertanya.
"Hanya apa? Mengapa Suthay tidak melanjutkan perkataanmu dengan terus-terang?"
Keng-tim Suthay memandang sekejap ke arah Bong Thiangak, lalu ujarnya.
"Siangkong adalah orang pandai, tentunya telah menduga garis besar duduknya persoalan bukan? Yang jelas sembilan hari lagi di Bu-lim akan muncul suatu organisasi baru yang berkekuatan besar."
"Ah! Mengapa aku belum mendengar persoalan ini,"
Seru Bong Thian-gak dengan terperanjat.
"Siapa yang memimpin perkumpulan baru ini? Apakah dia?"
Pada saat itulah dalam ruangan telah berjalan masuk si nona bermuka jelek itu, hanya kali ini dia muncul dengan pakaian bernoda darah dan peluh membasahi jidat.
Bong Thian-gak maupun Keng-tim Suthay tahu apa yang telah diperbuat nona itu, kendatipun demikian dia tak tahan untuk tidak bertanya.
"Nona, bagaimana caramu menghukum mereka?"
"Membantainya sampai mampus!"
Sahut nona itu dengan hambar. Bong Thian-gak berkerut kening dan bergumam.
"Korban yang mengenaskan nasibnya."
"Bila kita tidak melenyapkan mereka, pihak Kay-pang pasti akan mencari balas tiada hentinya."
"Apa sebabnya nona tak menyembunyikan diri sementara waktu? "Si jelek, perkataan Ko-siangkong memang benar,"
Sahut Keng-tim Suthay.
"Untuk sementara waktu kau bersembunyi saja dalam kuil sembari menunggu petunjuk selanjutnya dari majikan."
Bong Thian-gak segera bangkit, kepada Keng-tim Suthay ia berkata.
"Aku tak bisa berdiam lebih lama lagi di sini, untuk sementara waktu mohon diri dahulu, tapi sebelum pergi bolehkah aku bertanya kepada Suthay, apakah kau mengetahui tempat tinggal majikan kalian?"
"Majikan pernah memberitahu kepada Pinni bahwa Putgwa-cin-kau telah menurunkan perintah untuk membunuh Siangkong. Kini Siangkong menanyakan tempat kediaman majikan, apakah kau hendak mengantar diri ke mulut harimau?"
Paras muka Bong Thian-gak berubah serius, katanya dengan nada sungguh-sungguh.
"Kini keselamatan jiwanya berada dalam bahaya, bagaimana pun juga aku harus melindunginya secara diam-diam."
"Majikan telah dilindungi keselamatan jiwanya oleh empat orang jago lihai, aku pikir keselamatan jiwanya tidak terlampau berbahaya."
"Tapi lebih banyak yang melindunginya lebih baik? Kehadiranku hanya akan mendatangkan keuntungan saja baginya?"
"Tapi jika sampai terjadi mengusik rumput mengejutkan ular, bagaimana?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, aku mendapat perintah melindungi keselamatan jiwanya, bagaimana pun juga aku harus berupaya dengan segala kemampuanku untuk melaksanakan tugasku sebaik-baiknya, andai aku harus mencari secara membuta, tindakan itu malahan akan mengusik rumput mengejutkan ular dan mempengaruhi situasi."
"Omitohud, tak nyana ketajaman lidah Siangkong tidak berada di bawah kepandaian ilmu silatmu,"
Kata Keng-tim Suthay kewalahan. bong Thian-gak tersenyum.
"Sungkan! Sungkan, harap Suthay utarakan dengan cepat!"
"Kantor cabang Put-gwa-cin-kau didirikan di kota Kay-hong, berada dalam sebuah kampung petani kecil, lebih kurang tiga puluh li di luar kota sebelah utara, kepala kampung tempat itu pun anggota Put-gwa t in-kau, apabila Siangkong ingin menyelundup ke dalam dusun itu, aku rasa hal ini jauh lebih sulit daripada mendaki langit."
"Terima kasih banyak atas petunjuk Suthay, sekali pun harus mendaki bukit golok atau menembus sarang naga gua harimau, aku akan tetap berupaya menyusup ke sana."
Kembali Keng-tim Suthay menghela napas panjang.
"Ai, baiklah kalau Siangkong berkeras kepala, tampaknya Pinni harus menanggung resiko bakal ditegur majikan."
Sembari berkata, dari sakunya Keng-tim Suthay mengeluarkan sebatang panah pendek tanpa bulu.
Panah itu panjangnya cuma tiga inci dengan kepala panah terbuat dari emas murni, sementara batang panah berwarna hitam, agaknya terbuat dari kayu besi.
Di atas panah itu tertera banyak ukiran, hanya tidak diketahui ukiran apakah itu.
Sambil memegang panah kecil tak berbulu itu, Keng-tim Suthay berkata.
"Panah kecil ini merupakan lencana Put-gwakim-ciam-leng dari Put-gwa-cin-kau, lencana itu melambangkan Cong-kaucu. Di dalam Put-gwa-cin-kau, orang yang mempunyai lencana panah emas ini pun hanya Ji-kaucu sampai Kiu-kaucu ditambah tiga orang komandan pasukan pengawal tanpa tanding."
Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh.
"Aku harap lencana emas ini kau simpan dengan sebaik-baiknya!"
Setelah menerima anak panah kecil itu, Bong Thian-gak berkata.
"Apakah anak panah emas ini milik majikanmu?"
Keng-tim Suthay menggeleng.
"Bukan!"
Sahutnya sambil tertawa. Mendadak satu ingatan melintas dalam benak pemuda itu, katanya kemudian.
"Kalau begitu, Suthay juga ...."
"Ya, dulu Pinni memang anggota Put-gwa-cin-kau, tapi sekarang bukan."
"Bolehkah aku tahu apa kedudukan Suthay dalam perkumpulan tempo hari?"
"Pinni adalah seorang di antara tiga komandan pasukan pengawal tanpa tanding, ai! Kejadian sedih di masa lampau tak usah dibicarakan lagi."
Dalam diamnya Bong Thian-gak mengangguk, pikirnya pula.
"Sungguh tak kusangka dia pun salah seorang anggota Putgwa-cin-kau, tampaknya pada waktu yang lampau dia mengalami suatu peristiwa yang amat memedihkan hatinya."
Berpikir sampai di situ, anak muda itu segera bertanya.
"Tolong tanya Suthay, bagaimana caraku mempergunakan anak panah emas ini?"
"Kecuali terhadap dua belas orang pentolan Put-gwa-cinkau, terhadap anggota perkumpulan yang lain kau boleh menggunakan lencana panah emas ini dan memberikan perintah kepada mereka."
"Dengan membawa lencana ini kau bisa masuk keluar di dalam perkampungan itu dengan leluasa."
"Terima kasih banyak, Suthay!"
Untuk kesekian kalinya Keng-tim Suthay memberi peringatan.
"Ingat baik-baik, kedua belas pentolan Put-gwacin-kau itu saling mengenal wajah masing-masing, kau tak boleh membiarkan mereka tahu lencana panah emas ini!"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Aku pasti mempergunakannya dengan hati-hati,"
Sahutnya. Keng-tim Suthay mengangkat kepala dan termenung beberapa saat, kemudian berkata.
"Harap Siangkong suka memperhatikan baik-baik, terutama terhadap Ji-kaucu, orang ini licik, berbahaya, kejam dan penuh dengan tipu daya, selain matanya tajam, dia pun gampang menaruh curiga terhadap seseorang, boleh dibilang dia merupakan manusia paling berbahaya di dunia ini, dengarkan baik-baik, Pinni akan mencoba melukiskan raut wajah orang itu."
"Suthay begitu menaruh perhatian kepadaku, sungguh membuat aku merasa berterima kasih sekali."
Keng-tim Suthay tersenyum.
"Di kemudian hari kita akan menjadi rekan seperjuangan dalam Bu-lim, harap Siangkong tak usah sungkan-sungkan lagi."
Setelah berhenti sejenak, sambungnya pula.
"Ji-kaucu berusia lima puluh tahun, tapi dipandang dari luar, usianya seperti jauh lebih muda, berdandan seorang sastrawan dan gemar memakai jubah warna hijau, potongan badannya tinggi gagah seperti potongan seorang dewa. Yang menjadi ciri khas darinya, ia mempunyai sebuah tahi lalat berwarna hitam pada ekor alis mata sebelah kirinya, dia pun suka menggembol pedang tembaga hijau di pinggangnya."
"Dandanan semacam ini tidak sukar untuk dikenal,"
Kata Bong Thian-gak.
"Tentang ilmu silat Ji-kaucu ini, kepandaian silatnya yang lihai adalah ilmu beracun yang membunuh orang tak nampak darah, bila bertemu dengannya, lebih baik jangan berdiri bertentangan dengan arah datangnya angin."
"Majikan kalian pernah menyinggung pula tentang berbahayanya Ji-kaucu ini, aku pasti akan bertindak menurut keadaan. Beruntung sekali aku telah bertemu dengan Suthay hari ini sehingga banyak rahasia Put-gwa-cin-kau yang berhasil kuketahui, umat persilatan pasti akan berterima kasih atas petunjuk Suthay ini."
"Aku minta kau jangan memberitahukan apa yang kita bicarakan hari ini kepada orang lain, tentunya Siangkong dapat menjaga rahasia secara baik-baik bukan?"
"Mengapa?"' "Ada satu hal mesti kau tahu, dalam gedung Bu-lim Bengcu terdapat mata-mata yang mendekam di situ, bahkan orangorang Put-gwa-cin-kau menganggap Pinni sudah meninggal dunia sejak belasan tahun berselang. Apabila rahasia ini sampai terbongkar, sudah pasti pihak Put-gwa-cin-kau akan turun tangan membekuk semua jago, hal ini dapat mempengaruhi berpuluh-puluh jiwa jago berilmu tinggi."
Bong Thian-gak termenung beberapa saat lamanya, setelah itu katanya.
"Hingga sekarang di dalam gedung Bu-lim Bengcu masih terdapat seorang mata-mata yang mendekam di situ, konon adalah Cap-go-kaucu. Apakah Suthay mengetahui asalusul Cap-go-kaucu ini?"
"Sudah belasan tahun Pinni tak pernah mencampuri urusan perkumpulan, rahasia semacam itu hanya diketahui majikanku saja."
"Persoalan ini tak mungkin bisa ditunda-tunda lagi, aku ingin mohon diri sekarang juga."
"Apakah Siangkong tidak bersantap dulu? Bersantaplah sebelum pergi!"
"Terima kasih banyak, sampai bertemu lagi di lain kesempatan."
Selesai berkata, dengan cepat pemuda ini berangkat meninggalkan kuil Nikoh itu.
Setelah keluar dari kuil, Bong Thian-gak menentukan arah tujuannya, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya buru-buru berangkat kembali ke gedung Bu-lim Bengcu.
Sementara Ho Put-ciang sekalian sudah menunggu di halaman tengah, mereka sedang menanti dengan perasaan sangat gelisah.
Orang-orang itu menjadi amat gembira setelah menyaksikan Bong Thian-gak muncul kembali dalam keadaan selamat.
Pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan segera bertanya.
"Ko-heng, apakah menemukan sesuatu perkembangan baru?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Ya, tidak sia-sia perjalananku kali ini."
"Apa yang berhasil Ko-siauhiap temukan? Apakah kau dapat memberitahukan?"
Dengan cepat Bong Thian-gak menggeleng.
"Aku telah berjanji kepada orang lain untuk tidak membocorkan rahasia itu, harap saudara sekalian sudi memaafkan, cuma kalian pun tak akan menanti terlalu lama."
"Sembilan hari lagi segala sesuatunya akan menjadi terang."
"Sebagai anggota persilatan, janji memang harus ditepati, kalau begitu Ko-siauhiap tak usah mempersoalkan itu."
"Sembilan hari lagi, dunia persilatan akan mengalami suatu perubahan yang amat pesat, sekarang aku harus melaksanakan tugas pertama yang dibebankan Ku-lo Sinceng sebelum ajal, yaitu melindungi keselamatan Jit-kaucu."
"Apakah kau telah berhasil menemukannya?"
"Ya, aku telah berhasil menemukan jejaknya!"
"Jadi orang-orang Put-gwa-cin-kau belum meninggalkan kota Kay-yang?"
Tiba-tiba Thia Leng-juan berkata.
"Oya, hampir saja aku lupa memberi keterangan kepada kalian, dalam sembilan hari ini, pihak Put-gwa-cin-kau akan mendatangkan semua jago intinya ke kota Kay-hong, mungkin pertempuran akan segera berlangsung, kita harus bersiap menghadapi setiap perubahan."
"Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau pandai dalam ilmu beracun dan membunuh orang tanpa wujud, kita harus berhati-hati terhadap orang Ini, jangan sampai dia berhasil menyelundup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu dan meracuni kita semua. Ciri muka Ji-kaucu adalah.... Secara ringkas Bong Thian-gak melukiskan raut wajah maupun ciri khas Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau ini kepada para jago. Setelah para jago dalam gedung Bu-lim Bengcu mendapat berita itu dari mulut Bong Thian-gak, mereka mulai melakukan persiapan menghadapi setiap perubahan yang bakal terjadi. Sementara itu Bong Thian-gak sendiri sudah meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu berangkat ke tempat tujuan. oo Sebelah utara kota Kay-hong merupakan sebuah padang rumput, luasnya mencapai puluhan li, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh Bong Thian-gak melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa. Kurang lebih setengah jam kemudian dia sudah menempuh perjalanan dua puluh li. Diam-diam Bong Thian-gak berpikir.
"Menurut keterangan Keng-tim Suthay, perkampungan itu terletak tiga puluh li di sebelah utara kota ini, berarti aku sudah makin mendekati sasaran."
Berpikir demikian, dia lantas mempertinggi kewaspadaan dan melanjutkan perjalanan ke depan.
Padang rumput yang liar kini telah menjadi sawah yang berpetak-petak, luasnya mencapai puluhan li.
Bong Thian-gak harus berjalan menelusuri jalan yang diapit ole hektaran sawah yang tiada batasnya, akhirnya dia menangkap titik-titi cahaya lampu di kejauhan sana.
Rupanya dia telah mendekati sebuah perkampungan deng bangunan yang berlapis-lapis.
Sekeliling perkampungan itu dipagari dinding kayu besar ya amat tinggi, sepintas keadaan mirip sebuah benteng yang kokoh.
Bong Thian-gak segera memperlambat gerak tubuhnya, bebera kali lompatan saja dia sudah mencapai bawah dinding sebelah barat.
Setelah mendongakkan kepala dan memperhatikan sekej keadaan sekeliling tempat itu, tanpa menimbulkan sedikit suara pun menyelinap ke balik pagar yang tingginya mencapai satu depa lebih.
Mendadak segulung bayangan hitam dengan membawa bau busuk menerkam datang dengan kecepatan luar biasa, Bong Thian-gak sangat terkejut, dengan cepat dia memutar tubuh seperti gangsingan dan menyelinap, menanti dia membalikkan badan, pemuda itu terperanjat.
Rupanya di hadapannya mendekam seekor serigala yang besarnya seperti anak kerbau, bulunya yang putih dengan sepasang mata berwarna hijavi sedang melotot gusarnya ke arahnya, dilihat dari gayanya, dia sedang bersiap melancarkan tubrukan kedua.
Selama hidup belum pernah Bong Thian-gak menyaksikan serigala sebesar itu, hatinya kontan bergidik, cepat dia memutar otak mencari suatu akal, pikirnya.
"Kalau aku melarikan diri, pasti serigala itu akan menggonggong, sebaliknya kalau tidak pergi, bisa jadi serigala-serigala lain akan berdatangan dan semakin memusingkan kepala."
Baru saja ingatan itu melintas, serigala itu sudah menerjang datang lagi bagai segulung angin puyuh yang menderu-deru.
Bong Thian-gak menghindar, dia hanya sedikit menggeser bahu kirinya, lalu tangan kiri disodokkan ke atas, secara telak mencengkeram serigala itu, menyusul telapak tangan kanan diayunkan ke bawah melancarkan sebuah bacokan maut.
Ilmu silat Bong Thian-gak telah mencapai puncak kesempurnaan, cengkeraman ini dilakukan setajam bacokan pedang atau golok.
Seketika itu juga tulang leher serigala itu terbabat putus, apalagi ditambah bacokan telapak tangan kanannya, tak sempat bersuara lagi mampuslah serigala besar itu.
Selesai membinasakan serigala itu, Bong Thian-gak segera membuang bangkai serigala itu ke tengah sawah, kemudian melompat melewati tembok pekarangan, tanpa berhenti dia meluncur naik ke atas atap rumah.
Malam itu tak berbulan, hanya bintang bertaburan di angkasa membiaskan cahaya redup, namun bagi Bong Thiangak yang bertenaga dalam sempurna, ia dapat menyaksikan pemandangan yang berada setengah li di sekeliling tempat itu.
Sambil mendekam di atas atap rumah Bong Thian-gak mencoba mengamati keadaan sekeliling sana.
Rupanya tempat itu merupakan sebuah perkampungan yang terdiri dari dua ratus orang kepala keluarga, kebanyakan merupakan rumah petani yang sederhana, hanya di sudut utara sana berdiri kokoh sebuah gedung yang sangat besar.
Satu-satunya keistimewaan dusun ini adalah setiap rumahnya teratur rapi dan bersih dengan jalan raya yang lebar, di tepi jalan tertanam pepohonan yang rindang, betulbetul sebuah perkampungan yang sangat nyaman.
Mendadak Bong Thian-gak menyaksikan dari jalan raya dalam perkampungan bermunculan kawanan serigala melakukan perondaan kian-kemari, tampaknya serigalaserigala itu memang sengaja disebar di setiap sudut perkampungan sebagai penjaga.
Terkesiap Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, diamdiam pikirnya.
"Tak heran perkampungan petani ini tanpa seorang pun, rupanya mereka menggunakan serigala untuk melakukan perondaan malam."
Hampir saja Bong Thian-gak kehabisan daya setelah menyaksikan begitu banyak anjing serigala yang berkeliaran di sana, dia tak tahu dengan cara bagaimana dirinya harus menyelundup ke perkampungan petani itu.
Waktu itu baru menjelang malam, namun perkampungan petani yang amat luas itu tak nampak seorang pun yang berlalu-lalang, dari dua ratus kepala keluarga yang berdiam di situ, hanya beberapa rumah saja yang memancarkan cahaya.
Kembali Bong Thian-gak berpikir.
"Kepala perkampungan tani ini mungkin berdiam dalam gedung yang megah itu, bila Jit-kaucu Thay-kun berada dalam perkampungan ini sudah pasti dia berada di dalam situ."
Berpikir demikian, dengan berhati-hati Bong Thian-gak melompat ke atas atap rumah dan bergerak menuju ke arah gedung megah di sebelah timur laut dengan gerakan hati-hati sekali.
Dia tahu betapa tajam daya penciuman serta pendengaran serigala-serigala itu, tubuhnya bergerak seperti burung walet dan secepat sambaran kilat meluncur ke muka tanpa menimbulkan sedikit suara pun.
Akhirnya dia berhasil melewati pengawasan kawanan serigala itu dan melayang turun di atas sebatang pohon Pekyang yang berada di balik bangunan gedung megah itu.
Setibanya di atas pohon Pek-yang yang rimbun itu, sekali lagi Bong Thian-gak mengamati keadaan sekeliling tempat itu.
Di sekitar halaman bangunan itu tidak nampak seekor serigala pun, juga tak nampak orang melakukan perondaan, semua itu membuat Bong Thian-gak lega.
Dia hanya takut terhadap serigala, namun tidak takut kepada para peronda.
Dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan burung hantu Bong Thian-gak memusatkan segenap perhatian memeriksa keadaan di situ, siapa tahu dia menemukan sesuatu.
Mendadak dari kejauhan sana terdengar suara langkah kaki manusia yang berkumandang makin mendekat.
Dengan cepat Bong Thian-gak mendongakkan kepala.
Dari balik sebuah pintu gerbang, tampak dua orang berjubah hijau muncul dan berjalan ke arah pohon Pek-yang dimana Bong Thian-gak bersembunyi.
Dengan terkesiap anak muda itu berpikir.
"Ah, janganjangan dia sudah mengetahui jejakku?"
Berpikir demikian, tanpa terasa dia meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Tampak kedua orang berjubah hijau itu berjalan menuju ke bawah pohon Pek-yang dan tiba-tiba berhenti.
Orang yang agak pendek sebelah kiri berdehem pelan, lalu dengan suara rendah, berat dan parau ia berkata.
"Hay-heng, bukankah Ji-kaucu akan datang pada malam nanti?"
Mendengar nama Ji-kaucu, Bong Thian-gak berkesiap, segera pikirnya.
"Ah, gembong iblis itu akan datang, betulbetul suatu kejadian yang sama sekali di luar dugaan, mungkin keadaan rada kurang beres."
Berpikir sampai di situ, orang she Hay itu menjawab agak dingin.
"Angheng, Ji-kaucu memang seharusnya sampai di sini sejak kemarin malam."
"Hay-heng, tahukah kau bahwa kehadiran Ji-kaucu di kantor cabang kota Kay-hong ini menunjukkan duduk persoalan agak sedikit luar biasa?"
Kembali orang berjubah hijau she Ang itu bertanya.
"Ya, betul! Duduknya persoalan memang terasa agak luar biasa, kalau tidak, Ji-kaucu tak akan mengutus kita berdua untuk datang kemari tiga hari lebih awal!"
Orang she Ang itu tertawa kering.
"Kita berdua adalah utusan pembuka jalan Ji-kaucu, setiap kali Ji-kaucu hendak berkunjung ke suatu tempat, kita berdualah yang selalu diutus melakukan penyelidikan terlebih dahulu keadaan di sekitar daerah kunjungannya, kebanggaan seperti ini sesungguhnya kita patut gembirakan."
Dari pembicaraan itu Bong Thian-gak segera tahu bahwa kedua orang ini adalah orang kepercayaan Ji-kaucu, menyaksikan cara mereka berjalan maupun bertingkah-laku, bisa diduga ilmu silat yang mereka miliki bukan kepandaian silat kelas dua.
Kenyataan itu membuat Bong Thian-gak semakin tak berani bertindak gegabah, bahkan untuk bernapas pun dia telah menggunakan ilmu Kui-si-hoat (ilmu bernapas kura-kura).
Tiba-tiba terdengar orang she Hay berkata kembali.
"Sekali pun tugas yang dibebankan kepada kita merupakan suatu kebanggaan tersendiri, namun tanggung-jawabnya besar sekali, bahkan sedikit kesalahan pun tak boleh terjadi. Ketika kemari, sebenarnya aku merasa sedikit kurang tenang."
"Mengapa?"
"Mengapa? Tidakkah kau lihat, berapa banyak sudah pentolan dari tingkat lencana panah emas yang berdatangan ke gedung ini?"
"Kan baru Jit-kaucu, Liok-kaucu, Kiu-kaucu serta komandan pasukan pengawal tanpa tanding nomor dua!"
"Dari empat orang pentolan tingkat lencana panah emas yang telah hadir itu, tiga di antaranya adalah murid Cong kaucu yang paling disayang, terutama sekali kedudukan Jitkaucu, mereka sama-sama mempunyai kekuasaan besar."
"Hay-heng, keanehan apa yang terdapat di balik semua itu?"
Tanya orang she Ang itu keheranan. Orang she Hay tertawa dingin.
"Ehm, masa kau tak pernah mendengar pepatah mengatakan, 'Di atas sebuah bukit tak boleh dihuni sepasang harimau'? Baik Jit-kaucu maupun Jikaucu boleh dibilang sama-sama punya kekuasaan besar dalam Put-gwa-cin-kau, menurut pendapatmu, apa sebabnya Cong-kaucu mengirim mereka berdua ke satu tempat yang sama? Itulah sebabnya bisa kuduga di sini telah terjadi suatu peristiwa maha besar."
Orang she Ang termenung beberapa saat, lalu berkata.
"Hay-heng, menurutmu, kekuasaan Jit-kaucu dan Ji-kaucu sama besarnya, tapi menurut pendapatku, kedudukan Ji-kaucu jauh lebih tinggi."
"Ah, kau ini tahu apa?"
Kata orang she Ang dingin. Setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh.
"Ang-heng baru tiga tahun bergabung dengan perkumpulan kita, tentu saja kau tidak mengetahui rahasia besar Cong-kaucu kita itu."
"Rahasia besar apa?"
Tiba-tiba orang she Hay itu merendahkan suaranya dan berkata.
"Ang-heng, aku bersedia memberitahu soal ini kepadamu, tapi jangan beritahukan lagi kepada orang lain."
"Tak usah kuatir Hay-heng, aku merasa amat cocok denganmu, bahkan kau sudah kuanggap sebagai saudara sendiri, masa aku bakal mengkhianati dirimu?"
"Kalau begitu kuberitahukan kepadamu, meski Jit-kaucu adalah anak angkat serta murid Cong-kaucu, padahal yang benar Jit-kaucu merupakan Suhu Cong-kaucu."
Orang she Ang seperti terkejut sekali, segera tanyanya dengan perasaan tidak habis mengerti.
"Hay-heng, kau bilang Jit-kaucu adalah guru Cong-kaucu? Atas dasar apa kau berkata demikian?"
"Sebab ilmu silat Cong-kaucu adalah atas ajaran Jit-kaucu,"
Bisik mang she Hay.
"Beberapa tahun berselang, aku pernah ditugaskan memikul tanggung-jawab sebagai komandan pasukan pengawal dari istana bagian dalam, itulah sebabnya aku mengetahui persoalan ini."
Ketika mendengar perkataan itu, dengan suara heran orang she Ang berseru.
"Jadi kalau begitu ilmu silat Jit-kaucu masih jauh di atas kepandaian Cong-kaucu?"
Dengan cepat orang she Hay menggeleng kepala berulangkali.
"Soal itu aku kurang tahu,"
Sahutnya. Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Ang-heng, oleh sebab itu hubungan Jit-kaucu dengan Cong-kaucu sesungguhnya sangat kacau, kendatipun dibilang kedudukan serta kekuasaan Jitkaucu masih di bawah Ji-kaucu, namun karena Jit-kaucu mempunyai hubungan yang amat istimewa dengan Congkaucu maka atas dasar apa kau mengatakan kedudukan siapa lebih tinggi dari siapa?"
Mendadak orang she Ang merendahkan suaranya, sambil berbisik.
"Hay-heng, menurut pendapatmu, kejadian apakah yang mungkin akan terjadi di sini?"
Dengan cepat orang she Hay menggeleng kepala berulangkali.
"Aku kurang jelas dan tak berani memastikan. Pokoknya kita berdua harus melaksanakan tugas seperti apa yang diperintahkan Ji-kaucu, setia dan taat pada pekerjaan serta perintah."
Bicara sampai di situ, dia mendongakkan kepala dan memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian melanjutkan.
"Ang-heng, malam ini kau bertugas sampai tengah malam nanti, sedang tengah malam nanti sampai pagi adalah giliranku!"
"Ah, tanpa terasa setengah jam sudah kita lewatkan untuk berbincang-bincang. Hay-heng, silakan pergi beristirahat!"
"Silakan Ang-heng!"
Seru orang she Hay.
Sembari berkata, orang she Hay membalikkan badan dan masuk kembali ke dalam gedung.
Kini di bawah pohon Pek-yang tinggal lelaki berjubah hijau she Ang itu seorang.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thiangak, segera pikirnya.
"Mengapa aku tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melenyapkan kedua orang ini lebih dulu."
Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya.
"Bila mereka dilenyapkan dan Ji-kaucu tiba kemari, bagaimana jadinya?"
Baru saja dia berpikir sampai di situ, mendadak orang she Ang itu sudah lenyap tak ketahuan kemana perginya. Bong Thian-gak berkerut kening, pikirnya.
"Ilmu silat orang ini sangat lihai, tak nyana gerak-geriknya sama sekali tak menimbulkan suara."
Untuk beberapa saat Bong Thian-gak duduk termangu di bawah pohon Pek-yang, selang tak lama dia baru mengeluarkan sebuah botol obat dan mengambil sebutir di antaranya, lalu dengan kukunya merobek kulit obat tadi, diletakkan di atas telapak tangan dan digosok-gosok sebentar, kemudian dioleskan ke wajah sendiri.
Paras muka Bong Thian-gak yang semula pucat-pias itu mendadak berubah merah padam, usianya yang berumur sekitar dua puluh lima-enam tahun pun sekarang nampak sepuluh tahun lebih tua.
Ternyata isi botol obat itu adalah Pek-pian-gi-yong-wan (Pil perubah selaksa wajah) peninggalan Jian-bin-hu-li Ban Li-biau di masa lampau.
Pil obat semacam ini merupakan obat sangat mujarab, ketika Ban Li-biau dikejar umat persilatan di masa lampau, dengan mengandalkan pil penyaru muka inilah dia berhasil meloloskan diri dari pengejaran sehingga orang persilatan tak pernah menemukan dirinya.
Selesai mengubah wajah, sementara itu Bong Thian-gak sudah melompat turun dari atas pohon Pek-yang.
Dia lantas berpikir.
"Sekarang aku telah mengubah wajah, meski berjumpa orang yang kukenal, belum tentu mereka bisa mengenali diriku dengan gampang."
Karena berpendapat demikian, nyali Bong Thian-gak semakin besar, pertama-tama dia mengelilingi gedung itu satu lingkaran lebih dulu, kemudian melakukan penelitian terhadap setiap sudut halaman gedung itu.
Mendadak dari balik pintu halaman sebelah kiri Bong Thiangak mendengar suara nyaring, dengan cekatan pemuda itu menyelinap di balik pepohonan dan menyembunyikan diri.
Tampak sesosok bayangan menerobos keluar dari balik jendela.
Di bawah cahaya bintang yang redup, dia dapat melihat orang itu seorang dayang berbaju biru.
Usia dayang itu antara tujuh-delapan belas tahun, dengan amat seksama dia memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, kemudian berjalan menuju ke sebuah kebun bunga kecil di sebelah utara.
Bong Thian-gak merasa betapa mencurigakan gerak-gerik dayang itu, didorong perasaan ingin tahu, secara diam-diam dia menguntitnya.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna, tentu -a)a gerak-geriknya tidak diketahui pihak lawan.
Setelah masuk ke dalam kebun bunga, mendadak dayang berbaju bini itu duduk di atas gunung-gunungan sambil bertopang dagu, sementara sorot matanya dialihkan ke atas entah sedang memikirkan apa?
Atau mungkin juga ia sedang menantikan seseorang?
Dengan sabar dan tenang Bong Thian-gak menunggu beberapa saat, ketika tidak menjumpai sesuatu yang mencurigakan, sebenarnya dia hendak berlalu dari sana.
Siapa tahu pada saat inilah dari balik kebun bunga muncul sesosok bayangan orang yang bergerak seperti sukma gentayangan.
Orang itu berjubah panjang berwarna hijau, berperawakan gemuk tapi kekar.
"Ah! Bukankah dia orang she Ang."
Ya, orang itu memang salah satu di antara dua petugas yang diutus Ji-kaucu dan tadi sedang berbincang-bincang di bawah pohon Pek-yang itu.
Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 3
Baca Juga: Bentrok Para Pendekar 1