Ceritasilat Novel Online

Pendekar Cacad 2

Eps 2 Pendekar Cacad - Gu Long

Baca online Pendekar Cacad - Gu Long

Cersil Pendekar Cacad - Gu Long.

"Aku duga kau pastilah Giok-bin-giam-lo (Raja akhirat berwajah kemala) To Siau-hou, salah satu di antara Cho-yu-siang-siau (Sepasang muda kiri kanan) yang mendampingi Liong-thau Pangcu dari Kay-pang!"

Cho-yu-siang-siau dari Kay-pang jarang melakukan perjalanan di Bu-lim, oleh sebab itu nama mereka jarang diketahui orang, agak terperanjat juga hati To Siau-hou setelah nama dan julukannya berhasil disebut orang secara tepat.

Sambil melintangkan pedang di depan dada, ia segera membentak dengan suara dalam.

"Siapakah kau?"

"Jit-kaucu!"

"Bagus sekali, Jit-kaucu. Sebelum Bu-siang-long-hou-ciang dari perkumpulan kami menemui ajal, ia pernah menyinggung nama besar Jit-kaucu, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah saudara kami ini tewas di tanganmu?"

"Dia tewas di tangan Ji-kaucu (ketua kedua)!"

Jawab Jitkaucu dengan suara dingin.

"Siapakah Ji-kaucu itu?"

Bentak To Siau-hou dengan kening berkerut.

"Pertanyaanmu itu terlalu lampau bersifat kekanakkanakan, Jikaucu adalah Ji-kaucu, kau tak usah banyak bertanya lagi."

Bong Thian-gak berkerut kening mendengar ucapan itu, belum pernah ia jumpai suatu perkumpulan dengan sejumlah pimpinan begini aneh, ditinjau dari pembicaraan malam ini, lalu dianalisa kembali, dapat disimpulkan bahwa pimpinan tertinggi organisasi rahasia ini mungkin disebut "Kaucu!".

Sedang orang yang paling berkuasa di antara deretan Kaucu-kaucu itu tentulah Cong-kaucu (Kaucu nomor satu), tapi berapa banyak Kaucu yang terdapat dalam perkumpulan itu?

Dari pembicaraan malam ini, agaknya angka terbesar yang pernah disebut adalah kelima belas, yakni Cap-go-kaucu.

Sementara itu Giok-bin-giam-lo To Siau-hou tertawa dingin, lalu ujarnya.

"Jika aku berhasil membekuk kau malam ini, aku tak kuatir anak murid perguruanmu itu tak akan menampakkan batang hidungnya."

"Begitu yakin akan kemampuanmu?"

"Mengapa tidak dibuktikan saja!"

Seru To Siau-hou sambil tertawa nyaring. Mendadak terdengar Jit-kaucu berseru.

"Turunkan tandu, kalian bertiga boleh segera mengundurkan diri!"

Begitu perintah diturunkan, kedua gadis berbaju hitam segera menurunkan tandu, lalu bersama gadis berpedang mengundurkan diri dengan cepat ke sisi kiri, kanan dan belakang tandu.

Giok-bin-giam-lo To Siau-hou segera merentangkan pedang di depan dada, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, kalau begitu aku ingin mencoba sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang kau miliki!"

Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak dengan suara dalam.

"Tunggu dulu!"

Dengan langkah lebar dia berjalan mendekat, lalu sambil menjura kepada To Siau-hou, katanya.

"To-heng, harap kau bersedia memberi kesempatan bagiku mengajukan beberapa pertanyaan dulu kepadanya sebelum pertarungan dilakukan!"

Giok-bin-giam-lo To Siau-hou memandang sekejap ke arah Bong Ihian-gak, kemudian katanya.

"Silakan Ko-heng!"

Dengan suara lantang Bong Thian-gak berseru.

"Jit-kaucu, dengar baik-baik! Aku punya beberapa persoalan yang tak kupahami dan ingin minta petunjuk darimu, aku harap kau sudi memberi petunjuk!"

"Soal apa? Katakan saja!"

Ucap Jit-kaucu dari dalam tandu dengan suara hambar.

"Aku ingin bertanya, Bu-lim Bengcu Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu tewas dalam keadaan bagaimana?"

"Ada hubungan apa antara kau dan Oh Ciong-hu?"

Jitkaucu balik bertanya.

"Kami adalah sahabat!"

Jit-kaucu termenung beberapa saat lamanya, setelah itu baru berkata lagi.

"Sebab kematian Oh Ciong-hu hanya diketahui satu orang saja dan orang itu bukan diriku sehingga aku pun tak bisa memberikan keterangan apa-apa kepadamu."

"Apakah orang itu adalah Cong-kaucu perkumpulan kalian?"

"Benar!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak, kembali dia bertanya.

"Apa nama perkumpulan kalian?"

Jit-kaucu yang berada di dalam tandu tertawa riang.

"Sejak saat ini nama perkumpulan kami akan berkumandang di seluruh penjuru dunia dan membekas dalam hati setiap orang, kuberitahukan kepadamu pun tak ada salahnya, perkumpulan kami bernama Put-gwa-cin-kau!"

"Put-gwa?"

Seru Bong Thian-gak terperanjat.

"Put-gwa (tiada aku) merupakan persembahan kita terhadap partai, demi kepentingan partai, kami tak akan mempersoalkan hati sendiri, tubuh dan hati kami semua adalah milik partai."

"Benarkah Cong-kaucu kalian adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng!"

"Benar atau tidak, maaf aku tak bisa memberitahukan kepadamu."

Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Baiklah, terima kasih banyak atas jawabanmu!"

Katanya kemudian. Selesai berkata, dia lantas mengundurkan diri ke samping To Siau-hou sambil berbisik.

"To-heng, orang ini memiliki ilmu pukulan yang amat sakti dan jahat sekali, kau harus berhatihati."

"Andai aku mati, tolong Ko-heng sudi mengirim jenazahku kembali ke markas Kay-pang!"

Dalam pada itu Jit-kaucu hanya duduk diam di dalam tandu, tirai tandu masih tertutup rapat sehingga secara lamatlamat cuma nampak bayangan orang saja.

Dengan pedang terhunus To Siau-hou berjalan ke muka dan baru berhenti di depan tandu, kemudian tegurnya.

"Jitkaucu, dengan cara inikah kau hendak menerima seranganku?"

"Hm, tak usah banyak bicara, lancarkan saja seranganmu!"

Seru Jit-kaucu dingin. Dengan kening berkerut To Siau-hou segera mengayun pedang menyambar tirai tandu.

"Kau ingin mampus rupanya!"

Bentakan nyaring berkumandang.

Bagaikan sukma gentayangan tiba-tiba muncul sebuah lengan putih mulus dari balik tandu, kemudian jari tangannya yang ramping menyentil ke muka.

Pedang To Siau-hou terpental oleh suatu kekuatan maha dahsyat.

"Aduh, celaka!"

Pekik To Siau-hou.

Dia ingin membuang pedangnya sambil mundur, siapa tahu telapak tangan membalik ke atas.

Sekilas cahaya merah segera memancar keluar, segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan gelombang ombak di tengah samudra langsung menghajar tubuh To Siau-hou.

Dengusan tertahan bergema, To Siau-hou berikut pedangnya terpental oleh tenaga pukulan yang maha dahsyat itu.

Sekali pun sepasang kakinya dapat mencapai tanah lebih dahulu hingga tubuhnya tidak terbanting, tak urung tubuhnya berguncang keras, lutut gemetar dan hampir saja tak sanggup menahan diri.

Dengan cepat Bong Thian-gak memburu ke muka, serunya dengan cemas.

"To-heng, parahkah lukamu?"

Sementara itu peluh dingin telah bercucuran membasahi wajah To Siau-hou, kulit mukanya mengejang menahan penderitaan yang luar biasa, katanya dengan suara gemetar.

"Ilmu silat perempuan ini teramat hebat, harap Ko-heng jangan menghadapinya dengan kekerasan."

Kedua gadis muda itu sudah menggotong kembali tandunya dan siap berlalu dari situ. Dengan cepat Bong Thian-gak melompat ke depan sambil membentak nyaring.

"Tunggu sebentar!"

Sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan melepas dua gulung angin pukulan dahsyat ke tubuh kedua gadis muda itu.

"Turunkan tandu dan cepat mundur!"

Seruan nyaring Jitkaucu berkumandang dari balik tandu.

Tapi sayang, keadaan terlambat, kedua gulung angin pukulan Bong Thian-gak secepat sambaran petir telah menyapu ke depan.

Dua jeritan kaget segera berkumandang memecah keheningan.

Kedua gadis pemikul tandu terhantam oleh kedua gulung angin pukulan itu hingga badannya terpental dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Tandu kecil itu pun terjatuh ke tanah.

Begitu berhasil menyapu kedua gadis itu, dengan serangan bagaikan naga sakti bermain di udara, Bong Thian-gak segera menerjang tandu itu.

Mendadak sebuah pergelangan tangan menerobos keluar dari balik tandu, dengan cepat Bong Thian-gak mengayun telapak tangan kanannya melepaskan sebuah bacokan dengan kecepatan tinggi.

Tetapi telapak tangan lawan bergerak sangat lincah, sedikit menggeser tahu-tahu sudah terhindar dari bacokan, kemudian dengan lima jari dibentangkan bagaikan kaitan, dia balik mematuk pergelangan tangan kanan Bong Thian-gak.

Begitulah, kedua jago lihai masing-masing melepas serangan dengan menggunakan tangan sebelah, kedua belah pihak bergerak dengan kecepatan luar biasa serta kelincahan yang mengagumkan.

Pertarungan berlangsung bertambah sengit.

Perlu diketahui, arah ancaman serangan kedua orang itu selalu berkisar antara jalan darah Huo-ko-hiat dan Meh-bunhiat, padahal kedua jalan darah itu merupakan Hiat-to mematikan di tubuh manusia, sekali salah perhitungan maka akibatnya akan mengenaskan.

Bong Thian-gak membentak keras, tiba-tiba dia mengayun kaki kanannya menendang urat nadi pergelangan tangan lawan, kemudian tangan kanan menyambar ke bawah mencengkeram tirai yang menutup tandu itu.

Agaknya Jit-kaucu yang berada dalam tandu pun sudah dibikin berkobar amarahnya, tangannya bagaikan ular lincah yang keluar dari gua bergerak kian kemari dengan teramat cepat, secara lincah dan cekatan dia selalu berhasil meloloskan diri dari serangan gencar Bong Thian-gak.

Mendadak Jit-kaucu menarik telapak tangannya ke dalam, tapi secara tiba-tiba dikeluarkan kembali, selisih waktunya hanya beberapa detik saja.

Ketika telapak tangannya keluar dari balik tirai, sekilas cahaya merah segera memancar keempat penjuru.

Bong Thian-gak segera tahu perempuan itu hendak mengeluarkan ilmu pukulan maha saktinya, dia membentak keras, segenap tenaga dalamnya dihimpun pada tangan kiri, lalu diayun ke muka mengikuti gerakan tubuhnya yang menyelinap keluar.

Dalam waktu singkat dua gulung tenaga pukulan telah saling bentur, ledakan nyaring menggelegar, pusaran angin disertai desingan angin tajam menderu-deru di angkasa.

Bong Thian-gak melayang turun, berbareng tangan kanannya telah bertambah dengan sebuah kain cadar hitam, akhirnya wajah asli Jit-kaucu kelihatan juga di depan mata.

Setelah tirai tandu terlepas, tampaklah di dalam tandu duduk seorang gadis cantik berbaju biru, sepasang matanya jeli memancarkan sinar tajam membetot sukma, saat itu sorot matanya sedang memandang wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Sebaliknya Bong Thian-gak yang dapat melihat wajah cantik dalam tandu itu segera merasa tubuhnya gemetar keras tanpa terasa, cadar itu sudah terlepas ke atas tanah.

Ternyata raut wajah si nona cantik ini amat dikenal olehnya, sekali pun memejamkan mata Bong Thian-gak pun bisa melukiskan setiap bagian tubuhnya secara nyata dan jelas.

"Ah, rupanya dia!"

Pekik anak muda itu dalam hati. Dia menggeleng kepala berulang kali sambil memejamkan mata, kemudian sekali lagi menatap wajah gadis itu lekatlekat.

"Ya, betul! Memang dia, dialah si gadis telanjang bulat di rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau."

Sementara itu perempuan cantik dalam tandu itu seolah teringat pula akan sesuatu persoalan setelah menyaksikan sikap Bong Thian-gak yang melongo itu, dia pun berseru tertahan, lalu mukanya berubah merah padam, tubuhnya gemetar keras karena emosi.

Suasana hening menyelimuti tempat itu, sepasang mudamudi itu dengan membawa rahasia masing-masing hanya termenung sambil membungkam.

Dalam keadaan demikian, bukan cuma To Siau-hou saja, bahkan ketiga gadis berbaju hijau pun tidak habis mengerti apa sebabnya kedua orang itu tertegun dan termangu-mangu seperti orang kehilangan sukma setelah saling bertatap muka.

Mendadak terdengar Jit-kaucu yang berada dalam tandu berkata.

"Sialan, bocah keparat yang tidak tahu malu!"

Ucapan itu membuat Bong Thian-gak merasa malu sekali sehingga menundukkan kepala, namun dia tak mengucapkan sepatah kata pun. Mendadak terdengar Jit-kaucu membentak keras.

"Ing Soat, kalau tidak pergi mau tunggu apa lagi?"

Kedua gadis pemikul tandu dan gadis baju hijau yang membawa pedang buru-buru mengangkat tandu kecil itu dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun berlalu dari situ.

Suara keliningan nyaring berkumandang makin menjauh.

Menanti suara keliningan itu menjauh, Bong Thian-gak seolah baru mendusin dari lamunannya, ia berseru tertahan sambil berpaling.

Dijumpainya Giok-bin-giam-lo To Siau-hou telah menempelkan pedang di atas pinggang kiri sendiri.

"To-heng, apa maksudmu?"

Tegur Bong Thian-gak. Dengus napas To Siau-hou agak tersengal, katanya.

"Siapakah perempuan itu?"

"Siapa lagi, tentu saja Jit-kaucu!"

Sahut Bong Thian-gak dengan wajah tertegun. To Siau-hou tertawa dingin.

"Ko-heng, kau tak usah berlagak pilon, sewaktu mata kalian saling bertemu, paras muka kalian berdua segera berubah tak menentu, sudah jelas kalian adalah kenalan lama, mengapa Ko-heng mengatakan tidak tahu?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, betul, sebelumnya aku memang pernah sekali berjumpa dengannya, tapi aku tidak tahu siapakah dia. Ucapan Siaute adalah sejujurnya bila aku bohong biar Thian mengutuk aku!"

Mendadak To Siau-hou menarik kembali pedangnya, kemudian dia muntah darah sebanyak dua kali, setelah mundur sempoyongan, tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.

Menanti Bong Thian-gak membalik tubuhnya, To Siau-hou sudah tergeletak dengan wajah pucat-pias seperti mayat, tanpa terasa teriaknya dengan terkejut.

"To-heng, mengapakah kau?"

"Ko-heng, maafkanlah aku, aku telah salah sangka kepadamu,"

Bisik To Siau-hou dengan lemah.

"Aku.mungkin sudah tak bisa ditolong lagi! Ilmu pukulannya sangat jahat dan lihai ... sekarang tubuhku mulai terasa berkerut kencang, sekujur tubuhku kedinginan setengah mati."

Bong Thian-gak pernah menyaksikan bagaimana cara Jitkaucu membunuh orang, ia menjadi terperanjat sekali, segera pikirnya.

"Entah apa nama pukulan ilmu saktinya itu? Aku tak bisa ilmu pengobatan. Ai, apa yang mesti kulakukan sekarang?"

Makin dipikir hatinya semakin gelisah sehingga tanpa terasa dia menghentakkan kaki ke tanah, serunya kemudian.

"Toheng, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Agaknya To Siau-hou sudah tahu tiada harapan baginya untuk hidup, sikapnya malah tampak jauh lebih tenang, katanya.

"Ko-heng, setelah aku mati, tolong antarkan jenazahku ke markas besar Kay-pang di Sucwan, kemudian ceritakanlah nasib yang kualami ini kepada guruku, ketua Kaypang...."

"To-heng, cepat kau pikirkan sebentar apakah di sekitar sini ada tabib pandai!"

Seru Bong Thian-gak gelisah. Sambil tertawa getir To Siau-hou menggeleng kepala berulang kali.

"Tidak ada! Sebelum menemui ajal Bu-sianglong-hou-ciang pernah berkata bahwa Jit-kaucu telah berhasil memiliki sejenis ilmu pukulan maha sakti yang tiada tandingan di dunia ini, barang siapa terkena pukulannya itu, hanya kematian yang akan dialaminya, tiada obat yang hisa menyembuhkannya!"

"Ai, aku memang kelewat tinggi hati dan gegabah, sekali pun tahu kelihaian ilmu pukulan lawan, aku tetap nekat menghadapinya, aku memang patut mampus!"

Cepat Bong Thian-gak menggeleng, katanya.

"Tiada pukulan yang tak bisa disembuhkan di dunia ini, asal diketahui namanya, aku bisa mengusahakan penyembuhan bagimu. Cuma aku kuatir waktu tidak mengizinkan lagi."

"Aku pun mengerti sedikit ilmu pertabiban, menurut keadaan luka yang kuderita sekarang, mungkin tak akan bisa bertahan sampai tengah malam nanti."

Tiba-tiba Bong Thian-gak berkata.

"To-heng, mari kubimbing kau pergi ke tempat sepi, kemudian aku akan mencari Jit-kaucu, aku akan bertanya kepadanya ilmu pukulan apa yang telah dia pergunakan untuk melukai dirimu."

"Terima kasih Ko-heng!"

To Siau-hou tertawa sedih.

"Ilmu silat Jit-kaucu sudah kau ketahui sendiri, bila Ko-heng mengalami hal-hal yang tak diinginkan gara-gara urusanku, bagaimana mungkin arwahku di alam baka bisa tenteram?"

Mencorong sinar tajam di balik mata Bong Thian-gak, serunya.

"Kecuali berbuat demikian, tiada cara lain yang bisa dipakai untuk menyelamatkan nyawa To-heng."

Meski hanya beberapa patah kata yang singkat, namun terpancar sifat ksatria dan kegagahan Bong Thian-gak.

"Ko-heng, budi kebaikanmu sungguh sangat mengharukan, sampai mati pun Siaute tak akan melupakanmu."

Bong Thian-gak tak bicara lagi, dia segera memayang To Siau-hou dan membawanya ke balik semak yang agak tersembunyi, lalu katanya.

"Harap To-heng menunggu di sini, Siaute akan segera mengejar Jit-kaucu, paling lambat satu setengah jam aku akan balik ke sini."

"Tidak usah! Lebih baik menemani aku saja di sini!"

"To-heng!"

Seru Bong Thian-gak dengan suara dalam.

"Meski kau menganggap kematian bagaikan pulang ke rumah, tapi pernahkah kau bayangkan kematianmu merupakan hilangnya seorang Enghiong bagi dunia Kangouw? Pihak manusia laknat akan kehilangan musuh tangguh?"

Air mata meleleh membasahi wajah To Siau-hou, serunya pelan.

"Ko-heng, bila kepergianmu mengundang bencana bagimu sendiri, dunia persilatan lebih-lebih akan kehilangan seorang pendekar berjiwa ksatria, apa lagi dengan kematian kita berdua maka tak ada yang tahu siapakah pembunuh kita itu."

"Tak usah kuatir, To-heng"

Ucap Bong Thian-gak sambil menahan rasa pedih dalam hati.

"Aku tak bakal mati di tangan Jit-kaucu, nah, aku pergi dulu."

Tidak menanti jawaban To Siau-hou lagi, dia segera melompat bangun dan berlalu dari situ dengan mengerahkan Ginkangnya.

Sejak dapat melihat jelas raut muka Jit-kaucu, Bong Thiangak yakin dia adalah gadis yang pernah dijumpainya di Kangsan-bi-jin-lau, maka dia segera mengerahkan Ginkangnya menuju ke Kay-hong.

Tak lama kemudian Bong Thian-gak telah masuk ke kota Kay-hong, buru-buru dia menuju ke tempat hiburan dan berhenti di luar rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau.

Setelah ragu sejenak, dia membalik badan menuju ke halaman belakang, dari situ dia masuk dengan melompati pagar, ketika tiba di luar loteng, ia saksikan cahaya lentera menerangi seluruh ruangan, sesosok bayangan bertubuh indah sedang duduk di dekat jendela.

Bong Thian-gak memeriksa sekeliling tempat itu, ia jumpai cahaya lampu pun menerangi hampir setiap jendela, suara pembicaraan tiada hentinya berkumandang, tapi di halaman kecil yang terpencil itu justru suasananya amat hening, tak seorang pun ditemukan di situ.

Tanpa ragu lagi dia melompat naik ke atas pagar loteng, agaknya perempuan cantik di balik jendela telah mengetahui kedatangannya, dia menggoyang sedikit kepalanya untuk berpaling, sementara tubuhnya masih tetap duduk di kursi.

Setelah berdehem pelan, Bong Thian-gak segera menyapa.

"Jit-kaucu di dalam?"

Perempuan cantik di balik jendela tidak bergerak, tapi terdengar ia menegur dengan suara sedingin es.

"Kau adalah berandal hidung htingor, besar betul nyalimu!"

"Jit-kaucu, aku bukan berandal cabul...."

Tidak menanti Bong Thian-gak menyelesaikan katakatanya, kembali perempuan itu mengumpat.

"Kalau kau bukan berandal cabul hidung bangor, mengapa di tengah malam buta mengintip kamar tidur kaum wanita?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, pada peristiwa kemarin dulu, biar kujelaskan nanti secara pelanpelan, malam ini aku ..."

"Ada urusan apa?"

"Aku ingin bertanya kepada Jit-kaucu, dengan ilmu pukulan apakah kau melukai Giok-bin-giam-lo?"

"Dia belum mampus?"

Tanya perempuan itu hambar.

"Belum, tapi sudah tak jauh dari ambang pintu kematian."

"Kalau sudah mampus lebih baik lagi, buat apa kau menanyakan ilmu pukulan yang kupakai untuk membunuhnya?"

Bong Thian-gak mengerut dahi, lalu menjawab dengan suara dalam.

"Mengapa kau memandang enteng nyawa manusia? Ketahuilah, Thian menciptakan manusia dengan harapan banyak berbuat kebajikan, kegemaran Jit-kaucu membunuh orang benar-benar telah melanggar perintah Thian."

Tiba-tiba perempuan cantik itu tertawa dingin, suaranya amat menyeramkan penuh dengan nada membunuh, membuat orang yang mendengar berdiri bulu kuduknya.

Mendadak suara tawa itu sirap, lalu terdengar perempuan cantik itu bertanya lagi dengan hambar.

"Kau berani masuk kemari?"

Terkesiap hati Bong Thian-gak, segera sahutnya.

"Mengapa tidak?"

Sambil berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak berjalan menuju ke pintu dan mendorongnya.

Pintu itu tidak terkunci dan segera terbuka ketika didorong, Bong Thian-gak yang berilmu tinggi dan bernyali besar segera melangkah masuk dengan dada dibusungkan.

Waktu itu Jit-kaucu sedang duduk membelakangi pintu, sekali pun tahu Bong Thian-gak masuk, namun sama sekali ia tidak berpaling, hanya tangan kirinya yang putih bersih menuding ke sebuah kursi bulat di sampingnya, katanya.

"Duduklah!"

Dengan sorot mata tajam Bong Thian-gak memandang sekejap kursi bulat itu, setelah tidak melihat sesuatu gejala aneh, dia pun menurut dan berduduk.

Kini separoh wajah nona yang cantik sudah kelihatan dengan jelas.

Di bawah cahaya lentera, terlihat jelas perempuan itu memang berwajah cantik jelita, kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Diam-diam Bong Thian-gak menghela napas, pikirnya.

"Dengan wajah yang begitu cantik, mengapa justru dilahirkan dengan hati yang busuk, jelek dan jahat? Ai, benar-benar patut disayangkan!"

Mendadak terdengar Jit-kaucu menegur.

"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?"

Suaranya merdu bagai kicau burung nuri, sungguh mempesona hati siapa pun.

Entah sedari kapan Jit-kaucu telah membalikkan badan, kini jarak kedua orang itu dekat sekali, ketika angin berhembus, terendus bau harum semerbak yang membuat hati menjadi mabuk.

Bong Thian-gak menarik napas, kemudian berkata dengan suara nyaring.

"Aku sedang berpikir, mengapa Kaucu berwajah begitu cantik."

"Dan kau pun sedang berpikir, mengapa hatiku begitu kejam tak kenal perasaan begitu, bukan?"

Sela Jit-kaucu sambil tersenyum. Bong Thian-gak tertegun, kemudian ujarnya.

"Benar-benar amat lihai! Darimana kau tahu akan jalan pikiranku?"

Tiba-tiba paras muka Jit-kaucu berubah hebat, serunya lagi.

"Nyalimu sungguh besar, mungkin di kolong langit dewasa ini belum ada orang kedua yang berani duduk sedemikian dekat denganku."

"Bila Jit-kaucu hendak turun tangan keji kepadaku, tadi kau sudah turun tangan!"

Jit-kaucu segera bangkit, lalu pelan-pelan berjalan menuju ke depan pintu, dia mendongakkan kepala memandang kegelapan malam, sambil membetulkan rambutnya yang panjang terurai ia berjalan kembali.

Langkah kakinya yang lemah gemulai itu sangat menawan dan mendatangkan daya pikat, pada hakikatnya kecantikan maupun gerak-gerik perempuan itu dapat membuat orang lupa daratan.

Pelan-pelan dia berjalan ke hadapan Bong Thian-gak, kemudian secara tiba-tiba menempelkan telapak tangannya ke jalan darah Pek-kwe-hiat di ubun-ubun Bong Thian-gak.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Jit-kaucu menyingkirkan kembali telapak tangannya, lalu berkata.

"Ko Hong, sebelumnya kau sudah tahu bila aku tidak berniat membunuhmu, maka kau bersikap begini tenang dan bernyali!"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

"Ketika di hutan depan kuil, bukankah kau telah mendengar banyak rahasia perkumpulan kami?"

Mendengar itu, Bong Thian-gak menjadi terkejut, pikirnya.

"Kalau begitu dia sudah tahu aku sudah menyadap pembicaraannya dari dalam hutan! Jadi kematian Lo Gi, pelindung Sam-kaucu adalah gara-gara perbuatanku ."

Sementara itu Jit-kaucu telah berkata lagi sambil tersenyum.

"Kalau kau sudah mendengar sebagian besar rahasia kami, maka sekarang hanya ada dua jalan yang bisa kau pilih, pertama adalah jalan kematian, sedang kedua adalah masuk menjadi anggota Put-gwa-cin-kau. Asal kau bersedia, aku dapat memberi kedudukan sebagai seorang Kaucu."

"Kau mengundang aku masuk menjadi anggota Put-gwacin-kau, apakah kau tidak kuatir aku akan menyusahkan dirimu?"

"Apa maksudmu?"

"Kau belum tentu tahu riwayat hidupku dan lagi setelah menjadi anggota perkumpulan, belum tentu aku setia pada perkumpulan dengan tulus hati, apalagi menyuruh aku mencapai Put-gwa (tanpa aku)?"

Jit-kaucu manggut-manggut.

"Benar, kalau begitu kau hanya ingin menempuh jalan kematian?"

Kembali Bong Thian-gak tersenyum.

"Dari dulu hingga kini tiada seorang pun yang bisa lolos dari kematian, apa yang kutakuti? Cuma ...."

"Cuma kenapa?"

"Aku tak akan mati muda,"

Sahut Bong Thian-gak dengan sinar mata mencorong tajam. Mendadak Jit-kaucu menatap wajah Bong Thian-gak lekatlekat. Bong Thian-gak tertegun, lalu berpikir.

"Mungkinkah dia akan turun tangan keji kepadaku?"

Maka secara diam-diam dia lantas menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap. Lewat setengah jam kemudian, terdengar Jit-kaucu berkata lagi dengan suara hambar.

"Hampir saja aku kena kau kelabui, rupanya wajahmu telah kau ubah dengan obat penyamar, kalau begitu Ko Hong pun bukan namamu yang sebenarnya!"

Bong Thian-gak merasa perempuan ini lihai sekali.

"Padahal obat penyaruan yang kugunakan merupakan obat paling baik di dunia, malah penyaruanku amat sempurna, buktinya Ku-lo Hwesio dan Toa-suheng serta para jago tiada yang tahu, tak nyana dia berhasil mengetahui sekali pandang saja."

Jit-kaucu berkata.

"Sebenarnya kau telah melakukan perbuatan apa yang malu diketahui orang hingga tak berani memperlihatkan raut wajah aslimu?"

"Bukankah Jit-kaucu pun demikian?"

Jit-kaucu tertegun, lalu serunya.

"Tapi aku tidak menyaru!"

"Walaupun kau tak menyaru, tapi gerak-gerikmu sangat rahasia, tanpa nama, tanpa asal-usul, bukankah kau pun sudah melakukan suatu perbuatan yang takut diketahui orang?"

"Siapa bilang aku tak punya nama?"

Teriak Jit-kaucu gusar.

"Kalau begitu siapa namamu?"

"Kau tidak berhak mengetahui namaku."

Mendadak Bong Thian-gak menunjukkan wajah serius, katanya.

"Apa nama ilmu pukulanmu?"

"Buat apa kau menanyakan soal ini?"

"Aku hendak mengobati luka To Siau-hou."

Mendengar itu, Jit-kaucu tertawa terkekeh-kekeh.

"Kau anggap setelah mengetahui ilmu pukulanku, maka nyawa To Siau-hou bisa diselamatkan? Hehehe, kalau begitu kuberitahu kepadamu!"

"Apa namanya?"

Kembali Bong Thian-gak bertanya dengan cemas.

"Itulah pukulan Jian-yang-ciang (Pukulan cacat) salah satu jurus dari ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang!"

"Soh-li-jian-yang-sin-kang,"

Seru Bong Thian-gak terkejut.

Dengan wajah berubah hebat dia melompat bangun, kemudian bagaikan burung walet menembusi jendela, dia lantas berlalu.

Bong Thian-gak tidak menunjukkan pertanda hendak berlalu, ditambah pula gerakan tubuhnya kelewat cepat, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya tahu-tahu sudah lenyap.

Jit-kaucu yang menyaksikan kejadian itu tertegun dan duduk melongo, seperti merasa kehilangan sesuatu dia duduk dengan wajah bingung.

Sementara itu Bong Thian-gak dengan suatu gerakan yang amat cepat telah meninggalkan loteng itu, dia segera mengembangkan ilmu meringankan tubuhnya keluar kota Kayhong langsung menuju ke pinggir kota.

Malam sudah semakin kelam, tengah malam pun sudah menjelang tiba, di tengah keheningan yang mencekam terasa suatu kemisteriusan yang menyeramkan.

Dengan hati risau dan gelisah Bong Thian-gak menuju tempat persembunyian To Siau-hou, siapa tahu suasana di sekeliling tempat itu sangat hening dan tak nampak bayangan orang pun.

Dengan kening berkerut dan sorot mata tajam, Bong Thiangak memandang sekejap sekeliling tempat itu.

Angin malam berhembus menggoyang rumput dan dedaunan, kecuali bunyi jangkrik dan binatang kecil, suasana di situ amat hening hingga terasa menakutkan, ternyata tak nampak bayangan To Siau-hou.

Bong Thian-gak menjadi amat gelisah, segera teriaknya.

"To-heng! Dimana kau?"

Ia berteriak berulang kali, tapi malam tetap hening, tiada jawaban.

Bong Thian-gak tahu To Siau-hou sudah menderita luka sangat parah, mustahil dia bisa meninggalkan tempat itu, maka dia mulai berjalan mengelilingi tempat itu melakukan pencarian dengan seksama.

Aneh!

Sudah beberapa kali dia melakukan pencarian, tapi tetap tak nampak bayangan To Siau-hou?

"Jangan-jangan dia sudah ditolong orang?"

"Tapi siapakah yang menolongnya?"

Bong Thian-gak memeras otak memikirkan ini.

Pencarian pun kembali dilakukan ke sekeliling tempat itu.

Akhirnya di atas sebuah batu cadas di pinggir jalan, Bong Thian-gak menemukan sesosok bayangan sedang duduk bersila di sana.

Dengan dua kali lompat saja Bong Thian-gak sudah mencapai depan batu cadas itu.

Ternyata adalah Hwesio tua berbaju abu-abu, sepasang kakinya tertekuk membentuk sikap bersila, di atas lututnya terletak sebuah Hud-tim, sedang di atas dadanya tergantung seuntai tasbih.

Waktu itu si Hwesio duduk sambil memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Sesudah melihat jelas raut wajah Hwesio tua itu, Bong Thian-gak mefnbatin.

"Ah, Ku-lo Sinceng."

Ternyata Hwesio tua yang duduk di atas batu cadas itu adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay. Dia menjadi teringat peringatan To Siau-hou.

"Ku-lo Hwesio telah menurunkan perintah untuk membunuhmu". Dengan terkesiap dan tanpa mengucap sepatah kata pun, Bong Thian-gak segera membalikkan badan dan berlalu dari situ.

"Omitohud! Harap Sicu tunggu sebentar,"

Suara sapaan lembut berkumandang.

Bong Thian-gak membalikkan badan dengan kecepatan bagaikan kilat.

Tampak mencorong sinar lembut dari balik mata Hwesio tua itu, meski lembut tapi tajam sekali hingga menggetarkan perasaan orang.

"Sinceng ada petunjuk apa?"

Tanya Bong Thian-gak dengan suara nyaring. Hwesio tua itu tetap duduk di atas batu cadas tanpa bergerak, tapi wajahnya agak bergetar, ujarnya.

"Sicu, usiamu masih muda, tapi tenaga dalammu sudah sampai puncak kesempurnaan, tolong tanya, Siauhiap berasal dari perguruan mana?"

Bong Thian-gak tertegun, kemudian jawabnya.

"Taysu, maaf bila Wanpwe mempunyai kesulitan yang tak dapat diutarakan."

Hwesio tua itu termenung sebentar, lalu sambil mengelus jenggot putihnya dia bertanya lagi.

"Sicu, apakah kau sedang mencari To-siauhiap dari Kay-pang?"

Bong Thian-gak mengangguk.

"Tolong tanya apa Taysu melihat jejaknya?"

"To-siauhiap telah menderita luka yang cukup parah, nyawanya dalam keadaan gawat, Lolap telah memerintahkan dua orang muridku untuk mengirimnya ke suatu tempat yang tenang guna memperoleh perawatan dan pengobatan yang diperlukan."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak merasa agak lega, buru-buru dia bertanya lagi.

"Tolong tanya, apakah luka yang diderita To-siauhiap makin parah?"

"Ketika Lolap menemukannya, dia sudah pingsan, nyawanya berada di ujung tanduk. Sicu, dapatkah kau terangkan To-siauhiap terluka oleh pukulan apa?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Dia terkena pukulan Jit-kaucu, ai! Mungkin luka itu sukar untuk disembuhkan!"

Mendengar perkataan itu, paras si Hwesio berubah hebat.

"Kalau begitu, To-siauhiap telah terkena pukulan Jian-yangciang dari Soh-li-jian-yang-sin-kang?"

Dengan terkesiap Bong Thian-gak segera berpikir.

"Sungguh lihai sekali Hwesio ini, ternyata dia pun mengetahui tentang ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, mungkinkah dia sudah bertemu dengan Jit-kaucu?"

Berpikir demikian, sahutnya kemudian sambil menghela napas.

"Benar, To-siauhiap memang terkena pukulan Jianyang-ciang dari Jit-kaucu!"

Mendengar ucapan itu, tiba-tiba mencorong tajam mata Hwesio tua itu, ia menatap wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, kemudian bertanya pula.

"Sicu, darimana kau bisa mengetahui ilmu pukulan Jian-yang-ciang?"

"Wanpwe mengetahui hal ini dari mulut Jit-kaucu sendiri."

Rasa kaget dan tercengang segera menghias wajah Hwesio tua itu, segera tegurnya dengan suara dalam.

"Sicu, sebenarnya siapa kau?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Taysu, tidak usah menaruh curiga terhadap Wanpwe, aku bukan anggota Put-gwa-cin-kau!"

Hwesio tua itu semakin terperanjat, kembali dia berkata.

"Sicu, agaknya kau telah mengetahui banyak rahasia, dari sembilan partai persilatan dewasa ini, kecuali Lolap seorang, boleh dibilang tidak banyak orang yang mengetahui Put-gwacin-kau?"

Sampai di situ Ku-lo Hwesio berhenti sejenak, seolah termenung beberapa saat, dia pun melanjutkan.

"Sicu, kau enggan menyebut nama perguruanmu, tapi bersedia menyebutkan namamu bukan?"

Bong Thian-gak tertegun, lalu sahutnya.

"Aku bernama Ko Hong, buat apa Sinceng mesti menaruh prasangka jelek kepadaku?"

Terlintas cahaya tajam dari balik mata Hwesio tua itu, tibatiba dia berkata.

"Siancay! Siancay! Lolap baru pertama kali ini berjumpa dengan Sicu, sebelum malam ini kita tak pernah berjumpa, mengapa Lolap mesti berprasangka buruk terhadap Sicu? Tapi setiap ucapan Sicu justru merupakan rahasia yang sedang diselidiki semua umat persilatan, apakah hal ini tak membuat Lolap terperanjat?"

Ucapan itu membuat Bong Thian-gak tertegun, serunya kemudian dengan wajah tercengang.

"Sinceng, mengapa kau mengatakan malam ini adalah perjumpaan kita yang pertama kali?"

Secara tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasa apa yang diucapkan Ku-lo Hwesio malam ini terdapat banyak keanehan, tindak-tanduk maupun gerak-geriknya berbeda dengan tempo hari.

Mungkinkah dia bukan Ku-lo Hwesio pendeta agung dari Siau-lim-si?

"Omitohud!

Sicu, apakah kau tahu siapakah Loceng?"

Tanya Hwesio tua itu tiba-tiba. Bong Thian-gak tertegun.

"Wanpwe justru ingin menanyakan nama Sinceng!"

Serunya cepat.

Bong Thian-gak tidak percaya kalau matanya telah salah melihat orang, meski dia dan Ku-lo Hwesio hanya bersua secara sepintas saja, jika berjumpa kembali pada waktu yang sangat lama, bisa saja kekeliruan itu terjadi.

Tetapi dia baru saja berpisah dengan Ku-lo Hwesio pagi ini, lagi pula raut wajah pendeta itu sekali pun dia diharuskan melukis dengan mata terpejam pun, pemuda itu sanggup melakukannya, bagaimana mungkin bisa keliru.

Hwesio tua ini sudah jelas adalah Ku-lo Hwesio dari Siaulim-pay.

Tatkala Hwesio tua itu menyaksikan paras muka Bong Thian-gak berubah tak menentu, pelan-pelan dia berkata.

"Lolap adalah Ku-lo dari Siau-lim-si...."

"Benar! Kau memang Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si!"

Pekik Bong Thian-gak dalam hati. Sementara itu Hwesio tua itu telah melanjutkan kembali katakatanya setelah berhenti sejenak.

"Sejak delapan tahun lalu, Pinceng selalu menutup diri di dalam kuil Siau-lim-si, baru belakangan ini Pinceng menyelesaikan semediku dan buruburu menuju ke Kay-hong, sampai di sini pun paling baru beberapa jam lalu, mengapa Lolap tak boleh mengatakan pertemuanku dengan Sicu pada malam ini adalah pertemuan kita yang pertama kali?"

Benak Bong Thian-gak mendengung keras sesudah mendengar ucapan itu, pikirnya.

"Aneh, mengapa bisa muncul dua orang Ku-lo Sinceng? Yang satu sudah tiba di gedung Bulim Bengcu sejak tiga hari berselang, sedang yang lain baru tiba di Kay-hong pada malam ini, padahal raut wajah mereka berdua persis seperti pinang dibelah dua, lantas yang manakah baru Ku-lo Sinceng yang asli?"

Benar-benar merupakan suatu peristiwa besar, munculnya Ku-lo Sinceng ganda menandakan pula betapa berbahayanya situasi dalam Bu-lim dewasa ini.

Diam-diam Bong Thian-gak membayangkan gerak-gerik Hwesio tua itu serta membandingkan dengan gerak-gerik Kulo Hwesio yang dijumpainya dalam gedung Bu-lim Bengcu.

Tiba-tiba Bong Thian-gak menjerit kaget.

"Ah! Kalau begitu dia adalah Kaucu ...."

Paras muka Bong Thian-gak pada saat itu benar-benar berubah hebat sekali. Sementara Hwesio tua itu pun seakan-akan telah menyadari akan datangnya ancaman bahaya, dengan wajah serius ujarnya.

"Sicu telah menemukan masalah besar apa?"

"Celaka!"

Seru Bong Thian-gak dengan gelisah.

"Keselamatan jiwa para jago yang berada dalam gedung Bulim Bengcu terancam oleh bahaya maut."

"Bagaimana penjelasan Sicu tentang perkataan ini?"

Dengan sinar mata berkilat Bong Thian-gak menatap wajah Hwesio tua itu lekat-lekat, kemudian katanya.

"Taysu, aku ingin tahu bagaimana caramu membuktikan bahwa kau benarbenar Ku-lo Sianceng dari Siau-lim-si?"

"Apakah di Bu-lim muncul seorang Ku-lo lagi?"

Tanya Hwesio tua itu dengan paras muka berubah. Bong Thian-gak segera manggut-manggut.

"Benar, bahkan kalian berdua mempunyai wajah dan bentuk badan yang persis sama, bahkan perawakan tubuh kalian pun tidak berbeda."

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Hwesio tua itu memejamkan mata sambil termenung, tiba-tiba wajahnya berubah kembali.

"Siancay! Siancay! Sungguh tak disangka peristiwa yang terjadi pada delapan tahun berselang kini telah berkembang menjadi suatu ancaman besar yang mengerikan."

Sampai di situ, dia memejamkan kembali matanya sambil termenung seorang diri. Kurang lebih setengah peminuman teh kemudian Hwesio itu baru membuka mata, setelah menghela napas sedih, katanya.

"Sejak delapan tahun lalu, Put-gwa-cin-kau sudah melakukan pembunuhan terhadap jago-jago persilatan, setelah melewati delapan tahun yang panjang, perkembangan mereka sudah benar-benar mencapai titik yang paling berbahaya untuk keselamatan dunia persilatan."

"Ai! Andaikata Pinceng dapat menyadari akibatnya semenjak delapan tahun berselang, lalu mengambil tindakan pengamanan, niscaya keadaan tak akan berkembang menjadi begini. Oh Ciong-hu pun tak sampai terbunuh."

Bong Thian-gak berkerut kening mendengar perkataan itu.

Melalui berbagai dugaan dan analisanya, dia yakin Hwesio tua di hadapannya sekarang benar-benar adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si, tapi dia tak habis mengerti mengapa Ku-lo Hwesio yang asli ini baru keluar dari masa semedinya hari ini?

Sebab kalau didengar dari pembicaraannya, pendeta itu seperti sudah mengetahui gejala pergerakan Put-gwa-cin-kau, mengapa dia tak berusaha menghalangi penyebaran pengaruh Put-gwa-cin-kau?

Berpikir demikian, dengan penuh emosi Bong Thian-gak berkata.

"Seandainya sejak delapan tahun lalu Sinceng tahu pergerakan Put-gwa-cin-kau, mengapa kau biarkan berkembang lebih jauh?"

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang mendengar teguran Bong Thian-gak itu, ucapnya.

"Sicu jangan emosi, sebenarnya hingga sekarang punn Pinceng belum mengetahui keadaan yang sesungguhnya Put-gwa-cin-kau itu, delapan tahun berselang aku pun tak lebih hanya berjumpa seorang anak perempuan dari Put-gwa-cin-kau."

Setelah berhenti sejenak dan menghela napas panjang, Hwesio itu menyambung lebih jauh.

"Bercerita tentang kejadian delapan tahun berselang, suatu malam bulan purnama, Pinceng sedang membaca doa di ruang belakang kuil Siau-lim-si, tiba-tiba muncul seorang gadis muda di hadapanku, gadis itu berusia empat belas tahunan, berparas cantik, senyumnya menawan hati dan membuat orang terkesima. Sejak hari itulah setiap malam selama empat puluh sembilan hari berturut-turut gadis itu selalu muncul di bukit bagian belakang untuk menyaksikan Pinceng berlatih, selama itu dia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, pada malam kelima puluh itulah untuk pertama kalinya dia berbicara dengan Pinceng."

Dengan perasaan tercengang Bong Thian-gak bertanya.

"Apa yang dia katakan kepada Sinceng?"

"Dia bilang, dia murid Put-gwa-cin-kau, berhubung mendapat perintah Cong-kaucu untuk mencelakai Pinceng, maka dia minta Pinceng berbuat bajik dengan menyerahkan jiwaku kepadanya."

"Lantas bagaimana jawaban Taysu?"

"Mendengar perkataan bocah perempuan yang lucu dan sama sekali tidak membawa hawa sesat itu Pinceng cuma tersenyum, apalagi aku belum pernah mendengar di Bu-lim terdapat Put-gwa-cin-kau, Pinceng anggap ucapan itu hanya perkataan bocah kecil, itulah sebabnya Pinceng pun menjawab, 'Bila kau menginginkan jiwa Pinceng, baiklah akan Pinceng serahkan kepadamu!'."

"Maka bocah perempuan itu pun turun tangan terhadap Taysu?"

Kembali Ku-lo mengangguk.

"Benar, bocah perempuan itu segera berjalan mendekat dan memukul punggung Pinceng sebanyak empat kali, kemudian ujarnya kepadaku bahwa dia telah menggunakan ilmu pukulan untuk melukai delapan nadi penting dalam tubuhku, biasanya orang lain akan tewas pada hari ketujuh, tapi berhubung tenaga dalam Pinceng sempurna, maka saat kematiannya dapat diundur."

"Selesai mengucapkan perkataan itu, bocah perempuan itu segera pergi, sedangkan Pinceng pun tidak mengingat kejadian itu lagi, sebab pukulan bocah perempuan itu di atas punggungku amat pelan, bukan saja tak bertenaga dalam, tenaga sedikit pun tak ada. Ai, siapa tahu ilmu silat yang ada di kolong langit memang sukar diduga sebelumnya."

"Apakah Taysu menderita luka?"

Tanya Bong Thian-gak keheranan bercampur kaget. Ku-lo Hwesio menghela napas panjang.

"Sejak itulah Pinceng merasakan peredaran darahku tidak lancar, terutama bila sampai pada delapan nadi pentingku, segera akan terasa sumbatan pada aliran darahku, lambat-laun sumbatan itu terasa makin berat dan parah, saat itulah Pinceng baru merasa terperanjat sekali."

Bicara sampai di situ, dia menghela napas panjang, lanjutnya.

"Semua jago yang ada di kolong langit, termasuk juga anak murid partai kami, siapa yang menduga pengumuman pengunduran diri Pinceng pada delapan tahun berselang sesungguhnya untuk mengobati luka dalamku?"

Bong Thian-gak benar-benar terperanjat sekali.

"Hanya dengan empat tepukan ringan si bocah perempuan itu, Pinceng harus berbaring delapan tahun di atas ranjang?"

Serunya.

"Dalam masa delapan tahun duduk bersila menghadap dinding, Pinceng menyadari pukulan maut itu tak lain adalah Soh-li-jian-yang-sin-kang, tentunya Ko-siauhiap bisa membayangkan sampai dimanakah kelihaian pukulan sakti itu."

"Masa gadis cilik itu memiliki kepandaian sakti yang begitu jahat? Kalau begitu dia adalah Jit-kaucu!"

Seru Bong Thian-gak terperanjat.

"Dalam kitab ilmu silat, Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan salah satu di antara tiga ilmu pukulan sakti, kepandaian semacam ini tidak setiap orang bisa mempelajari. Konon untuk berlatih kepandaian itu, dia harus berlatih sejak berusia tiga tahun, sampai latihan itu berhasil, keperawanannya tak boleh hilang. Ketika kuperiksa keadaan luka yang diderita To-sicu dari Kay-pang tadi, segera kubuktikan bahwa dia terluka akibat pukulan Jian-yang-ciang, menurut dugaan Pinceng, orang yang telah mencelakai Tosicu itu kemungkinan besar adalah si bocah perempuan yang pernah Pinceng jumpai pada delapan tahun berselang."

Mencoba memperkirakan usia Jit-kaucu, katanya.

"Betul, Jit-kaucu adalah si bocah perempuan itu."

"Setelah delapan tahun bersemedi untuk mengobati luka yang kuderita, Pinceng telah memahami bagaimana cara mengobati luka itu, Pinceng rasa nyawa To-sicu dari Kay-pang itu tak akan terancam lagi, namun ilmu silatnya sulit pulih kembali seperti sedia kala!"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, menurut catatan dalam kitab ilmu silat, Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan pukulan yang tak terobati, sekali pun To Siau-hou harus kehilangan ilmu silatnya, bisa selamat dari ancaman kematian pun telah terhitung luar biasa, ai ... tampaknya di antara orang-orang Put-gwa-cin-kau, Jit-kaucu merupakan musuh paling tangguh bagi dunia persilatan."

"Bila dihitung bocah perempuan itu mulai berlatih ilmu Sohli-jian-yang-sin-kang mulai berusia tiga tahun, hingga hari ini mungkin sudah ada dua puluh tahun hasil latihannya, ia sudah berlatih hingga mencapai tingkat kesembilan, bila dibiarkan mendalami ilmu itu selama tiga tahun lagi, maka dia akan menyelesaikan kepandaian itu, saat itu tubuhnya akan kebal dan tiada orang yang bisa menandinginya lagi."

Ketika berbicara sampai di situ, sepintas rasa pedih melintas pada wajah Ku-lo Sinceng.

Walaupun Bong Thian-gak tidak memahami seluk-beluk ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, tapi dari sebuah kitab dia pernah membaca catatan tentang ilmu Soh-li-jian-yang-sinkang dan ilmu itu memang merupakan ilmu paling sesat dan paling dahsyat di kolong langit ini.

Tiba-tiba Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam.

"Tolong tanya Taysu, apakah di dunia saat ini sudah tiada orang yang bisa melawan Soh-li-jian-yang-sin-kang lagi?"

Sambil menggeleng kepala Ku-lo Siceng menghela napas panjang.

"Hingga kini Lolap belum berjumpa lagi dengan Jitkaucu, aku pun belum begitu jelas sampai tingkat berapakah ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kangnya, andai benar telah mencapai tingkat kesembilan, maka hal ini benar-benar gawat."

"Jauh hari sebelum Pinceng keluar dari pengasingan, telah kuutus jago-jago dari kuil kami untuk menyelidiki situasi dalam Bu-lim serta organisasi Put-gwa-cin-kau yang makin berkembang. Menurut hasil penyelidikan, Kaucu pertama sampai Kaucu kesembilan Put-gwa-cin-kau boleh dibilang merupakan jago-jago berilmu tinggi, persoalan yang paling rumit dewasa ini adalah asal-usul serta gerakan yang dilakukan kesembilan orang Kaucu itu."

"Situasi dunia persilatan sekarang, musuh berada di tempat gelap sedang kita di tempat terang, bila umat persilatan ingin mengubah situasi, maka harus mengubah diri ke tempat gelap, dengan cara gelap lawan gelap itulah usaha kita untuk menyelamatkan dunia persilatan baru akan mendatangkan hasil yang diinginkan."

"Apa yang dimaksud dengan siasat gelap melawan gelap?"

"Yang dimaksud siasat gelap lawan gelap adalah di luar lingkaran sembilan partai persilatan daratan Tionggoan, kita harus membentuk suatu organisasi penyerang yang tangguh dan khusus untuk menjegal gerak-gerik musuh."

Sesudah mendengar ucapan Ku-lo Hwesio ini, Bong Thiangak merasa Hwesio tua ini agaknya sudah mempunyai suatu rencana yang matang untuk menghadapi pertarungan melawan Put-gwa-cin-kau di masa mendatang.

Sejak delapan tahun lalu, Put-gwa-cin-kau telah turun tangan keji terhadap Ku-lo Hwesio, rencana busuk mereka ini boleh dibilang keji sekali.

Dunia persilatan dewasa ini terdapat dua pemimpin yang paling berkuasa, mereka adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si serta Oh Ciong-hu, Bengcu dunia persilatan.

Bila dua orang ini sampai terbunuh, secara otomatis dunia persilatan akan kehilangan pemimpin mereka.

Sekarang Put-gwa-cin-kau telah mengutus orang untuk menyamar sebagai Ku-lo Hwesio dan menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu Dari tindakan mereka ini, tampaknya orang-orang Put-gwa-cin-kau menyangka Ku-lo Hwesio telah tewas.

Justru karena peristiwa ini, asal umat persilatan menggunakan siasat melawan siasat, kemudian menangkap Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau yang menyaru sebagai Ku-lo Hwesio, bisa jadi orang itu akan tertangkap basah.

Maka setelah melalui pemikiran yang mendalam, Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam.

"Taysu, Wanpwe hendak memberitahu satu hal kepadamu, Put-gwa-cin-kau telah mengutus Sam-kaucu menyaru sebagai Sinceng dan kini menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu."

Secara ringkas dia lantas menceritakan semua peristiwa yang terjadi belakangan ini kepada Ku-lo Hwesio, hanya soal asal-usulnya saja yang tetap dia rahasiakan.

Sehabis mendengar keterangan itu, Ku-lo Hwesio berkerut kening, lalu menghela napas dengan sedih, katanya.

"Hanya untuk menjaga jangan sampai mengacau situasi dunia, Pinceng muncul agak terlambat, terhadap mata-mata yang menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu pun tidak melakukan suatu tindakan apa pun, ai, siapa tahu tindakanku ini justru mengakibatkan kematian Kongsun-sicu, ai ...."

"Dari berita Ko-sicu tadi, berarti musuh yang menyusup ke dalam Bu-lim Bengcu sekarang adalah Sam-kaucu (ketua ketiga) serta Cap-go-kaucu yang telah diketahui, tapi siapa pula Cap-go-kaucu itu?"

"Soal ini Wanpwe kurang begitu jelas,"

Kata Bong Thiangak sambil menggeleng kepala. Mendadak Ku-lo Hwesio berkata lagi dengan serius.

"Kosicu adalah pemuda berbudi luhur, gagah dan perkasa, sudah pasti bukan pesilat kasaran, bagaimana pun Pinceng memeras otak, tidak pernah berhasil mengetahui asal-usul Sicu, bersediakah Sicu menjelaskan asal-usulmu yang sebenarnya agar umat persilatan pun tidak menaruh curiga kepadamu?"

Dengan wajah sedih Bong Thian-gak Thian-gak menghela napas panjang, sahutnya.

"Wanpwe tak dapat menerangkan asal-usulku karena aku benar-benar mempunyai kesulitan yang tak dapat diterangkan, sebenarnya Wanpwe ingin menjauhi masalah ini dan mengasingkan diri dari dunia persilatan, tetapi dendam berdarah atas kematian guruku belum terbalas, sehingga sulit bagiku untuk mengundurkan diri begitu saja."

"Siapakah musuh besar Ko-sicu?"

"Put-gwa-cin-kau, tapi belum kuketahui siapa yang melakukan."

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang.

"Ai, Ho Put-ciang Sutit selalu murung karena tidak mengetahui asal-usul Kosicu, dia telah minta kepada Pinceng menyelidiki persoalan ini, tetapi bila Sicu mempunyai kesulitan, ya tak usah dibicarakan lagi."

"Oh, jadi Bengcu dan Taysu ...."

Agaknya Ku-lo Hwesio telah mengetahui apa yang hendak dia tanyakan, dengan cepat dia menjawab.

"Ho Put-ciang Sutit telah tahu pihak lawan telah menyaru sebagai Pinceng."

Mendengar perkataan itu Bong Thian-gak menjadi gembira, segera serunya.

"Bagus sekali bila begitu, dengan demikian kita pun tak usah menyampaikan kabar itu kepada Ho-tayhiap, kalau tidak, entah berapa banyak tenaga dan waktu yang harus kita butuhkan lagi?"

"Ko-sicu, Pinceng hendak minta bantuanmu, bersediakah kau mengabulkannya?"

"Biar mati pun Wanpwe bersedia."

"Pinceng rasa Sicu tentu sudah mengerti, apa sebabnya aku tak menampilkan diri untuk sementara waktu, cuma gedung Bu-lim Bengcu saat ini berbahaya sekali, Pinceng kuatir Hohiantit yang berada di situ sendirian tak mampu menghadapi situasi yang semakin gawat, oleh karena itu Pinceng mohon bantuan Sicu membantu mereka."

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak berkerut kening, lalu ujarnya.

"Wanpwe pernah bertempur melawan para pendekar, Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau sekalian juga telah mengenali wajah asliku, entah bantuan macam apakah yang bisa Wanpwe berikan untuk Ho-tayhiap? Harap Taysu sudi memberi petunjuk."

Ku-lo Hwesio termenung sebentar, kemudian ujarnya.

"Bantuan yang Pinceng harapkan dari Ko-sicu adalah membantu Ho Put-ciang Hiantit membekuk Sam-kaucu."

"Mengapa Sinceng tidak langsung mengambil tindakan saja?"

Kembali Ku-lo Hwesio menghela napas.

"Gerak-gerik Putgwa-cin-kau dalam Bu-lim amat rahasia, hingga saat ini bahan yang berhasil Pinceng kumpulkan tentang perkumpulan ini masih sedikit, oleh sebab itu Lolap dan Ho-hiantit telah memutuskan untuk sementara jangan menggebuk rumput mengejutkan ular."

"Sam-kaucu yang menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu saat ini telah melaksanakan siasat keji membunuh para jago persilatan satu per satu, apabila orang semacam ini dibiarkan mengendon terus di situ, kemungkinan besar akan lebih banyak jago persilatan dalam gedung bengcu yang akan menjadi korban."

Ku-lo Hwesio manggut-manggut.

"Pinceng merasa serba salah, ai, cepat atau lambat kita pasti akan bentrok juga secara kekerasan dengan pihak Put-gwa-cin-kau, tapi yang membikin Pinceng ngeri adalah tidak diketahuinya berapa banyak mata-mata Put-gwa-cin-kau yang telah diselundupkan ke berbagai perguruan dewasa ini, seandainya kita melakukan suatu tindakan, mungkinkah pihak lawan akan segera melancarkan pembantaian secara besar-besaran lewat matamata mereka itu?"

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak merasakan pula betapa gawatnya situasi yang mereka hadapi, tampaknya kekuatan serta pengaruh Put-gwa-cin-kau telah menguasai seluruh dunia persilatan dan mendesak umat persilatan, tak heran sejak awal sampai akhir Ku-lo Hwesio selalu menunjukkan sikap amat tegang dan serius.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thiangak, ujarnya kemudian dengan suara nyaring.

"Taysu, mengapa kita tidak mencoba membekuk salah seorang anggota mereka, lalu disiksa agar mengungkapkan segala persoalan yang ada?"

Ku-lo Hwesio menghela napas.

"Pusat kekuatan dan kekuasaan yang sebenarnya dari Put-gwa-cin-kau sebagian besar terletak di tangan Kaucunya, hal ini tak akan mengungkap banyak berita penting yang berguna untuk kita."

"Ah, betul! Mengapa Wanpwe tidak mencoba membekuk Jit-kaucu saja?"

Ku-lo Hwesio menggeleng kepala berulang kali.

"Jit-kaucu memiliki ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang maha dahsyat, lebih baik Ko-sicu tak usah mengusik dirinya."

"Jit-kaucu sangat telengas, membunuh tanpa berkedip, bila perempuan itu tidak dibasmi, dunia persilatan tak akan bisa tenang."

"Ko-sicu, aku minta kau jangan bertindak secara gegabah,"

Ucap Ku-lo Hwesio.

"Bukan Pinceng sengaja mengagulkan lawan dengan merendahkan kegagahan sendiri, tapi hingga kini sudah ada puluhan jago lihai persilatan yang tewas oleh pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang, delapan tahun lalu Pinceng telah merasakan empat kali pukulannya dan harus berbaring selama bertahun-tahun, hingga kini pun penyakit itu belum sembuh seratus persen, oleh sebab itu Pinceng anjurkan kepada Sicu, lebih baik jangan terlalu menuruti emosi sendiri."

Dengan perasaan apa boleh buat Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ya sudahlah, kalau begitu Wanpwe akan melaksanakan seperti apa yang Taysu perintahkan."

Ku-lo Hwesio berkata.

"Ko-sicu, Pinceng telah berkeputusan untuk turun tangan lebih dahulu terhadap Sam-kaucu, harus diketahui, kita tak boleh mengorbankan lebih banyak jago persilatan lagi di tangannya!"

Dengan berseri Bong Thian-gak bertepuk tangan kegirangan.

"Keputusan ini memang paling bagus, penyaruan Sam-kaucu atas diri Sinceng boleh dibilang demikian miripnya sehingga sukar dibedakan lagi mana yang asli dan mana yang palsu, maka Sinceng pun dapat memanfaatkan peluang itu untuk menyelundup ke dalam Put-gwa-cin-kau."

Diam-diam Ku-lo Hwesio terkejut mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian sambil menghela napas.

"Kecerdasan otak Sicu sungguh mengagumkan, sebenarnya Pinceng telah berkeputusan untuk melakukan tindakan ini, tapi berhubung Ho-hiantit sekalian menolak, maka hingga malam baru bisa dilakukan."

Tiba-tiba Bong Thian-gak merasa bahwa Ku-lo Hwesio merupakan pemimpin pasukan penyergap dunia persilatan, apabila dia sudah menyusup ke dalam barisan musuh, lalu siapa yang akan memimpin pasukan?

Apalagi menyusup ke sarang harimau merupakan suatu tindakan yang berbahaya sekali.

Berpikir sampai di sini, dengan cemas Bong Thian-gak berkata.

"Taysu, aku rasa keputusan ini...."

Sebelum anak muda itu menyelesaikan perkataannya, Ku-lo Hwesio telah menukas.

"Ko-sicu tak usah ragu-ragu, Pinceng sudah lama menyusun rencana dengan rapi untuk penyusupan ke tubuh lawan, sedang mengenai tugas Pinceng selama ini pun telah kuatur semuanya dengan rapi, yang paling penting buat Ko-sicu adalah besok pukul lima sore harap kau datang di pagoda Leng-im-po-tah yang terletak tiga li di tenggara kota Kay-hong untuk bergabung dengan seorang pendekar lagi, kemudian kita bersama-sama membasmi Sam-kaucu dari muka bumi. Sekarang Pinceng masih ada urusan penting lainnya untuk segera diselesaikan sehingga tak mungkin memberi penjelasan lebih jauh."

"Baiklah, kita berpisah sampai di sini dulu, segala sesuatunya besok harap Sicu bersedia menuruti perkataan pendekar itu saja."

Selesai berkata Ku-lo Hwesio segera bangkit, tampaknya persoalan sudah tak bisa ditunda-tunda lagi, dia mengebaskan ujung bajunya dan melompat turun dari atas batu cadas.

"Wanpwe akan mengikuti petunjuk Locianpwe!"

Seru Bong Thian-gak lantang, sementara Ku-lo Hwesio sudah pergi jauh.

Setelah menempuh perjalanan sehari penuh, Bong Thiangak merasa lelah, maka malam itu dia menginap di dalam kota Kay-hong, semalaman dilewatkan dengan tenang.

Ketika menjelang kentongan kelima, seperti apa yang dipesan Ku-lo Hwesio, Bong Thian-gak segera mengerahkan Ginkangnya menuju ke arah tenggara, setelah berjalan tiga-empat li, betul juga ada sebuah pagoda yang tinggi menjulang ke angkasa, di bawah sinar rembulan bangunan itu nampak megah dan mentereng.

Bong Thian-gak baru saja mendekati bukit kecil itu, mendadak dari atas pagoda di samping kiri melayang turun sesosok bayangan orang menyongsong kedatangannya, kemudian menegur.

"Apakah Ko-cuangsu?" ' "Betul, aku Ko Hong, siapakah saudara?"

Di bawah cahaya malam terlihat seorang pemuda berdandan sastrawan, dia mengenakan pakaian berwarna biru, memegang sebuah kipas di tangan kirinya dan bersikap amat lembut, siapa menduga kalau pemuda sastrawan ini sebenarnya merupakan seorang pendekar besar yang menggetarkan sungai telaga?

Sastrawan berbaju biru itu memperhatikan Bong Thian-gak beberapa kejap, lalu katanya.

"Aku Thia Leng-juan, atas pesan Ku-lo Sinceng khusus datang kemari untuk menanti kedatangan Ko-cuangsu."

Begitu mendengar nama "Thia Leng-juan", timbul perasaan hormat dalam hati Bong Thian-gak, buru-buru sahutnya dengan hormat.

"O, rupanya Im-ciu-tay-ji-hiap, sudah lama kudengar nama besarmu, maaf bila kau menunggu terlampau lama."

Tay-ji-hiap (pendekar sastrawan) Thia Leng-juan dari kota Im-ciu termasyhur belakangan ini, Bong Thian-gak sama sekali tak menyangka dia seperti sastrawan lemah yang berusia tiga puluh tahunan, namun merupakan seorang pendekar yang disegani orang.

Thia Leng-juan menjura, kemudian katanya.

"Ko-cuangsu tak perlu sungkan, persoalan yang dipesankan Ku-lo Sinceng tentunya telah Ko-heng pahami bukan?"

"Ya, aku siap menunggu perintah Thia-tayhiap."

"Ku-lo Sinceng berpesan agar kita bekerja sama dengan Ho-tayhengcu untuk bersama-sama menaklukkan Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau, Ku-lo Sinceng juga berpesan agar gempuran ini harus berhasil, tak boleh gagal, itulah sebabnya kita perlu merundingkan suatu cara untuk menghadapi dirinya."

"Apakah Thia-tayhiap sudah mengatur persiapan?"

Im-ciu-tay-ji-hiap Thia Leng-juan mendongak memandang cuaca, lalu katanya.

"Menjelang tengah malam masih ada satu jam, tak ada salahnya kita naik dahulu ke atas pagoda dan berunding di sana, sambari berunding kita pun bisa mengawasi gerak-gerik di sekeliling tempat itu dengan jelas."

"Ucapan Thia-tayhiap memang benar."

Seusai berkata, mereka berdua segera berjalan menuju ke arah pagoda itu.

"Mari kita berada di sebelah kiri pagoda saja,"

Ajak Thia Leng-juan kemudian.

Selesai berkata dia melompat naik ke atas lebih dahulu.

Lompatannya mencapai empat depa tingginya, lalu tampak Thia Leng-juan berjumpalitan sekali dan tangan kanan menekan di atas atap rumah pagoda tingkat empat.

Dengan meminjam tenaga tekanan itulah tubuhnya seenteng bulu melayang kembali tiga depa dan melayang turun pada tingkat teratas.

Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna itu segera menimbulkan rasa kagum Bong Thian-gak, dengan cepat dia ikut menyusul dari belakang, namun naik setingkat demi setingkat.

Gerakan tubuh yang digunakan pemuda itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa, hanya dalam beberapa kejap saja Bong Thian-gak pun sudah tiba pula di puncak pagoda itu.

Thia Leng-juan agak tertegun melihat kepandaiannya itu sehingga tanpa terasa tegurnya.

"Ko-heng, apakah ilmu meringankan tubuh yang kau gunakan itu adalah Im-ti-peng (Lari di awan)?"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Masih selisih jauh, belum berhasil mencapai ilmu lari di awan, harap Thia-tayhiap jangan menertawakan."

Walaupun dari Ku-lo Sinceng Thia Leng-juan sudah mendengar ilmu silat Bong Thian-gak lihai sekali, tapi waktu berjumpa dengan Bong Thian-gak untuk pertama kalinya tadi, sedikit banyak timbul juga rasa tak percaya di dalam hatinya.

Tapi sekarang setelah menyaksikan dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang bergitu hebat, baru ia terperanjat.

"Ternyata pemuda ini benar-benar memiliki kepandaian amat tangguh,"

Dia berpikir.

"Sudah jelas ilmu Im-ti-peng yang digunakan barusan sudah mencapai tingkatan yang amat sempurna, dari tingkatan ilmu meringankan tubuhnya itu seandainya dia mau melompat, mungkin sekali lompat saja dapat mencapai ketinggian empat depa!"

Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata sambil tertawa ringan.

"Ko-heng bisa merahasiakan kelihaian, sungguh luar biasa, tampaknya Ku-lo Sinceng memang tak salah memilih."

"Pujian Thia-tayhiap benar-benar membuat aku malu sendiri."

Thia Leng-juan tertawa.

"Ko-heng, mari kita duduk di atas wuwungan saja,"

Ajaknya kemudian. Mereka berdua pun duduk saling berhadapan.

"Thia-tayhiap,"

Ujar Bong Thian-gak kemudian.

"Sam-kaucu adalah seorang licik bagai rase, seandainya dia mengetahui titik kelemahan dalam rencana kita ini, mungkin dia tidak datang bersama Ho-bengcu, apa yang harus kita lakukan?"

"Rencana untuk menyingkirkan Sam-kaucu merupakan rencana yang ditetapkan Ku-lo Sinceng semalam, hanya Hobengcu, Ko-heng dan aku saja yang mengetahui rencana ini, jadi aku pikir tak mungkin rahasia ini bocor, Ho-bengcu sendiri pun tak mungkin membocorkan rahasia itu, jadi menurut pendapatku, yang perlu kita kuatirkan sekarang adalah seandainya Sam-kaucu berhasil meloloskan diri dari kepungan dan melarikan diri."

"Walaupun ilmu silat Sam-kaucu sangat lihai, namun Hobengcu sendiri pun bukan orang sembarangan, apalagi dibantu Thia-tayhiap, aku pikir sekali pun musuh adalah makhluk berkepala tiga berlengan enam belum tentu sanggup mempertahankan diri."

Thia Leng-juan manggut-manggut, ujarnya pula.

"Ya, semoga saja sesuatunya berjalan lancar, kalau tidak, entah bagaimana akibatnya? Cuma untuk menjaga segala hal yang tidak diinginkan, kita perlu merundingkan sesuatu rencana yang matang untuk menghadapi lawan."

"Ya, memang seharusnya begitu,"

Bong Thian-gak mengangguk. Thia Leng-juan termenung beberapa saat, ujarnya kembali.

"Sebentar bila Ho-bengcu dan Sam-kaucu tiba di pagoda Leng-im-po-tah nanti, Ho-bengcu akan membuka kartu Samkaucu dan membongkar rahasia lawan, maka pertarungan pasti segara berkobar, seandainya Ho-bengcu tidak sanggup mempertahankan diri, saat itulah aku akan terjun ke dalam arena untuk bersama-sama mengembut Sam-kaucu, sedang Ko-heng bertanggung jawab menghadang musuh yang mencoba melarikan diri, atau seandainya aku dan Ho-bengcu tidak sanggup mempertahankan diri dari gempuran lawan, harap Ko-heng segera tampil dan ikut terjun ke dalam pengerubutan itu."

"Thia-tayhiap, aku ingin bertukar tugas dengan dirimu, apakah kau bersedia?"

"Ya, begitu pun boleh juga."

"Bila Sam-kaucu sudah sampai di sini nanti, aku ingin segera muncul dan bertarung dengannya jauh sebelum Hobengcu bertarung lebih dahulu dengannya, karena Ho Putciang adalah seorang Bengcu dunia persilatan, tidak baik jika dia dibiarkan bertempur begitu saja."

Thia Leng-juan memanggut.

"Perkataan Ko-heng memang benar, cuma hal ini akan merepotkan dirimu!"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Aku ada dendam kesumat sedalam lautan dengan Put-gwa-cin-kau, merupakan musuh besarku pula, maka aku telah bertekad membasmi mereka sampai ke akar-akarnya."

"Ko-heng, sekarang harap kau periksa dulu sekeliling tempat ini, kemudian pilihlah tempat untuk menyembunyikan diri, sampai saat ini waktu yang dijanjikan tinggal tiga perempat jam saja."

"Menurut pendapatku, Thia-tayhiap lebih baik berjaga di sini saja, perlu diketahui, seandainya Sam-kaucu melarikan diri, kemungkinan besar dia akan memilih ruang kosong, maka andaikata dia kabur menuju ke arah tiga bagian dari pagoda lainnya, aku akan mencegatnya dari sebelah kanan pagoda, kita perlu berebut waktu dengannya."

Thia Leng-juan memanggut.

"Penjelasan Ko-heng memang tepat, aku yakin Sam-kaucu tak akan bisa lolos dari cengkeraman kita."

"Sekarang saatnya sudah hampir tiba, mumpung mereka belum datang, aku harus bersembunyi dulu di sebelah kanan pagoda daripada Sam-kaucu melihat jejak kita dari kejauhan."

Selesai berkata dia lantas melompat turun dan menggelinding ke arah belakang, kemudian bergerak menuju ke sebelah kanan pagoda dan duduk bersila di balik kegelapan di depan pagoda itu.

Thia Leng-juan yang berada di atas secara lamat-lamat dapat menyaksikan bayangan tubuh Bong Thian-gak.

Sementara itu suasana di sekeliling tempat itu amat sepi, malam itu tiada rembulan, hanya bintang yang bertaburan di angkasa, seluruh jagad hanya dikilapi oleh setitik sinar.

Walaupun waktu bergerak amat lambat, akhirnya tengah malam menjelang juga.

Mendadak Bong Thian-gak mendengar ada suara orang berjalan di atas tanah di kejauhan sana.

Dengan cepat dia membuka mata, tak lama kemudian dari depan pintu pagoda muncul dua sosok bayangan orang.

Orang yang berada di sebelah depan mengenakan jubah berwarna abu-abu dengan sebuah tasbih tergantung di depan dada, tangan kanan menggenggam sebuah kebutan.

Tak bisa disangkal lagi, dia adalah Sam-kaucu Put-gwa-cinkau yang menyaru sebagai Ku-lo Hwesio.

Di belakangnya mengikut seorang lelaki setengah umur yang berbadan kekar, Bong Thian-gak dapat mengenali sebagai Toa-suhengnya, si Busur raja lalim Ho Put-ciang.

Tampaknya Ho Put-ciang sudah menyusun suatu rencana yang masak, maka begitu masuk ke dalam pintu, dia segera memperlambat gerak tubuhnya untuk mencegat jalan pergi Hwesio gadungan itu.

Ternyata Sam-kaucu cukup cekatan, setelah maju beberapa langkah, mendadak dia berhenti sambari membalik tubuh, lalu menegur.

"Ho-hiantit, ada urusan apa kau mengajak Pinceng kemari?"

Sebelum Ho Put-ciang sempat menjawab, dengan cepat Bong Thian-gak melompat ke arah mereka, sahutnya.

"Hobengcu sengaja mengajakmu kemari untuk bertemu denganku."

Ketika selesai berkata, Bong Thian-gak sudah berada beberapa kaki saja di hadapan Sam-kaucu. Sam-kaucu yang menyaru sebagai Ku-lo Hwesio nampak agak tertegun, kemudian serunya.

"Oh, rupanya Ko-sicu, Pinceng dan Ho-bengcu memang sedang mencarimu."

Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, Samkaucu kau tak usah berlagak sok alim lagi, Ku-lo Taysu dari Siau-lim-si belum wafat, malam ini ada baiknya kalau kau memperlihatkan wajah aslimu, daripada harus merasakan siksaan hidup."

Beberapa patah perkataannya membuat paras muka Samkaucu berubah hebat, tanpa terasa dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Ho Put-ciang, dengan cepat dia merasa gelagat tak menguntungkan.

Walaupun begitu, dia masih bersikap tenang, katanya dengan suara lembut.

"Ko Hong apa kau katakan? Pinceng sedikit pun tidak mengerti...."

"Sam-kaucu,"

Saat itulah Ho Put-ciang buka suara.

"Asal kau bersedia menjawab beberapa pertanyaan, kami pun belum tentu akan membunuhmu, tentang penyaruanmu sebagai Ku-lo Sinceng, sudah lama aku orang she Ho mengetahuinya."

Sekarang Sam-kaucu sadar bahwa rahasianya sudah terbongkar dan kini terperangkap dalam jebakan orang.

Tapi nampaknya dia sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap dua jago lihai yang berada di hadapannya sekarang, dengan tenang dia tertawa seram.

"Hehehe, bagus sekali!"

"Aku tahu, cepat atau lambat akhirnya kita bakal bentrok juga, Kaucu memang ditugaskan untuk memusnahkan persekutuan dunia persilatan, untuk mewujudkan tugasku ini, terpaksa harus menghabisi pemimpinnya lebih dahulu."

"Sam-kaucu, dengar baik-baik, siapa Cong-kaucu Put-gwacin-kau?"

Bentak Ho Put-ciang dengan suara kereng. Sam-kaucu tertawa seram.

"Tanyakan sendiri kepada raja akhirat, dia pasti akan memberitahukan semua itu kepadamu."

Ho Put-ciang kembali mengerut dahi.

"Urusan sudah begini, apakah kau masih tetap belum sadar? Malam ini kami sengaja membuka kartu, karena kami telah bertekad akan membinasakan kau, tak nanti kami izinkan kau melarikan diri, bila kau bersedia bekerja sama, mungkin aku masih dapat mempertimbangkan mengampuni jiwamu."

"Hm, hanya mengandalkan kekuatan kalian berdua?"

Jengek Sam-kaucu sinis.

"Aku rasa kemampuan kalian masih belum cukup untuk mengendalikan gerak-gerik serta kebebasanku."

Kembali Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, mana, mana, tak ada salahnya kita mencoba kemampuan masing-masing."

Sementara itu sepasang mata Sam-kaucu yang tajam memandang sekejap ke empat penjuru dengan cepat, dari perubahan wajahnya jelas dia tidak berhasil menemukan bayangan orang lain.

Sekali lagi Ho Put-ciang membentak dengan suara keras.

"Siapa Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau? Ayo cepat jawab."

"Bila kalian mengetahui namanya berarti kalian tak bisa hidup melewati kentongan kelima, lebih baik tak usah disebut,"

Jawab Sam-kaucu hambar. Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Hehehe, aku justru tidak percaya dengan segala takhayul, ayo katakan saja!"

Dengan sepasang matanya yang tajam, Sam-kaucu memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu ujarnya.

"Dasar ilmu silat yang kau miliki amat sempurna, sebenarnya Kaucu pun bermaksud mengajakmu bergabung dengan perkumpulan kami dan memangku kedudukan tinggi, sekarang kau masih punya waktu untuk mempertimbangkan tawaranku ini, jangan kau sia-siakan kesempatan baik ini."

Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, semalam aku sudah mengetahui hal ini dari mulut seorang pelindung hukum Sam-kaucu, Jit-kaucu juga telah menyinggung masalah itu kepadaku, tapi aku menampik tawaran ini, karena aku ingin mengetahui siapa orang yang berhak memerintah diriku."

Paras muka Sam-kaucu segera berubah menjadi dingin dan kaku, katanya kemudian.

"Tampaknya banyak rahasia perkumpulan kami yang telah kau ketahui, bila kau tidak bersedia bergabung dengan kami, berarti hanya ada jalan kematian untukmu."

"Mengapa kau tidak menguatirkan keselamatanmu sendiri?"

"Tidak sampai setengah jam, wilayah seluas sepuluh li di sekitar sini akan dipenuhi oleh anak murid perkumpulan kami, mereka akan mengepung tempat ini secara berlapis-lapis, coba bayangkan, bagaimana caranya kalian meloloskan diri?"

Ketika mendengar ucapan itu, Ho Put-ciang berkerut kening, lalu tegurnya.

"Apakah kau tidak berbohong?"

Sam-kaucu tertawa.

"Tentu saja bukan gertak sambal."

"Ho-tayhiap, jangan kau percayai perkataannya itu,"

Bong Thian-gak berseru lantang. Sam-kaucu terbahak-bahak.

"Hahaha, niat untuk berjagajaga tak boleh tiada. Ketika aku dan Ho-heng datang kemari tadi, jejak kita sudah dibuntuti anak buah kami secara diamdiam, oleh karena itu kedatanganku ke tempat ini pun tak pernah lolos dari pengamatan mereka. Di sinilah kelebihan Put-gwa-cin-kau, juga kekurangan Put-gwa-cin-kau kami."

"Kelebihan dan kekurangan? Apa maksudmu?"

Tanya Bong Thian-gak tertegun.

"Kelebihannya adalah dapat berkomunikasi terus secara utuh dan tiada putus-putusnya, setiap saat kami bisa mengadakan kontak secara terus-menerus, dapat pula berjaga-jaga agar tidak terperangkap ke dalam jebakan musuh. Kekurangannya adalah tidak adanya perasaan saling percaya mempercayai antara segenap anggota Put-gwa-cinkau, sehingga mereka harus saling awas-mengawasi."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Put-gwa-cin-kau menggunakan nama Put-gwa atau tiada aku, artinya setiap orang yang bergabung dalam perkumpulan ini, dia harus mempersembahan jiwa dan raganya untuk perkumpulan sehingga mencapai keadaan 'Tanpa aku' (Put-gwa). Tapi sekarang kau berani melancarkan kritik terhadap prinsip perkumpulan, hal ini membuktikan kau merasa tak puas dengan keadaan itu, kalau memang begitu mengapa kau tak memanfaatkan kesempatan ini untuk meninggalkan jalan sesat dan kembali ke jalan benar?"

Mendengar ucapan itu, paras muka Sam-kaucu berubah hebat.

"Tutup mulut!"

Bentaknya keras.

"Kini kedudukanku adalah Sam-kaucu dalam Put-gwa-cin-kau, kedudukanku amat tinggi dan menguasai segenap jago persilatan, kekuasaanku hanya di bawah satu orang tapi di alas laksaan orang, aku pun memegang hak hidup banyak orang, siapa hilang aku tidak puas?"

"Bila demikian, terpaksa kami harus turun tangan."

Selesai berkata, Bong Thian-gak segera turun tangan, sepasang telapak tangannya secepat kilat meluncur ke depan melepas pukulan dahsyat.

Dimana serangan ini dilepaskan, segulung angin tajam yang menggiriskan dengan membawa deru angin yang mengerikan, bagaikan amukan gelombang dahsyat segera meluncur dan menyapu ke tubuh lawan.

Serangan Bong Thian-gak dilancarkan secepat sambaran petir, bahkan sebelumnya tidak pernah memperlihatkan suatu gejala apa pun, bagaimana pun lihai dan liciknya Sam-kaucu, tidak urung dibikin kelabakan juga oleh datangnya ancaman itu.

Menanti Sam-kaucu menyadari datangnya bahaya, angin pukulan yang kuat bagaikan baja itu secepat petir sudah menekan tiba.

Menghadapi situasi seperti ini, terpaksa dia harus menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.

Diiringi suara bentakan nyaring, Sam-kaucu segera merangkap sepasang telapak tangannya di depan dada, kemudian bersama-sama dilontarkan ke depan.

Suara ledakan keras yang memekakkan telinga berkumandang memecah keheningan.

Tubuh Sam-kaucu mencelat ke tengah udara melewati kepala Bong Thian-gak dan seperti seekor burung bangau langsung kabur ke atas pagoda.

Tampak Bong Thian-gak seperti sudah menduga pihak lawan akan memanfaatkan datangnya angin pukulan itu untuk melejit ke tengah udara dan melarikan diri.

Entah sedari kapan, tahu-tahu dalam genggaman Bong Thian-gak telah bertambah dengan sebilah pedang yang memancarkan cahaya tajam berkilauan.

Tampak cahaya pelangi hawa pedang secepat petir mengejar ke atas, lalu diiringi suara dentingan nyaring terciptalah beribu bayangan pedang yang segera menyebar ke empat penjuru.

Terkurung oleh cahaya pedang itu, tubuh Sam-kaucu yang sedang melejit ke udara itu segera berputar balik dan melayang turun ke bawah.

Cahaya pelangi segera sirap dan Bong Thian-gak dengan pedang terhunus sudah menghadang di depan Sam-kaucu.

Paras muka Sam-kaucu kini diliputi perasaan kaget bercampur tercengang, sepasang matanya tanpa berkedip mengawasi wajah Bong Thian-gak, mungkin keampuhan dan kelihaian ilmu silat Bong Thian-gak sama sekali di luar dugaannya.

Selama hidup belum pernah dia menjumpai suasana tegang, seram dan terancam keselamatan jiwanya seperti apa yang dialaminya hari ini.

Semenjak gempuran kekerasan itu disambut dengan keras lawan keras, dia sadar tenaga dalam musuh masih tiga bagian lebih tangguh daripada kemampuan sendiri, terutama serangan pedangnya yang amat lihai itu, kalau tadi dia tidak berkelit dengan cepat, niscaya dia sudah keok sejak tadi.

Bukan itu saja, di situ masih hadir Ho Put-ciang yang sudah diketahui ketangguhan ilmu silatnya.

Bagaimana caranya meloloskan diri dari situasi yang berbahaya ini?

Berbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya.

Tentu saja Bong Thian-gak tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berpikir, kembali dia bergerak melancarkan serangan dahsyat.

Pelan-pelan pedangnya digetarkan, lalu ditujukan ke arah jalan darah Sim-kan-hiat di tubuh Sam-kaucu.

Sepintas serangan pedang itu nampaknya amat sederhana dan seakan-akan tidak disertai tenaga, padahal di balik semua itu tersimpan suatu perubahan jurus yang amat jahat, perubahan yang tak terhingga banyaknya.

Sam-kaucu bukan manusia sembarangan, tentu saja dia tahu ancaman itu amat serius, maka setelah menyaksikan gerakan itu, dia segera berdiri kaku sambil bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Melihat musuh tidak terpancing oleh jurus pedangnya, maka dia lantas mengubah gerakan dan melepaskan tusukan secepat kilat.

Hawa tajam memancar ke depan, bayangan orang berkelebat, yahu-tahu Sam-kaucu itu sudah meloloskan diri dari ancaman lawan.

Bong Thian-gak memang memiliki ilmu silat yang mengerikan, begitu jurus serangan dilancarkan, semua dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, di antara perputaran pergelangan tangannya, hawa pedang menderu-deru, ia melancarkan serangkaian serangan ke atas maupun ke bawah.

Sam-kaucu yang kena didahului lawan jangankan melancarkan serangan balasan, untuk menghindarkan diri dari babatan pedang musuh pun sulit bukan kepalang.

Tampak dia merangkap telapak tangan di depan dada, lalu menggenggam tasbih di lehernya, berkelit ke kiri menghindar ke kanan, secara beruntun dia sudah meloloskan diri dari ketiga belas jurus serangan pedang Bong Thian-gak.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak sudah bergebrak belasan jurus, hal ini membuat Ho Put-ciang dan pendekar sastrawan Thia Leng-juan yang bersembunyi di balik pagoda merasa terperanjat.

Mereka berdua merasa kelihaian ilmu pedang Bong Thiangak pada hakikatnya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, sebaliknya Sam-kaucu pun merupakan musuh tangguh yang tak boleh dianggap remeh.

Sementara kedua orang masih bertarung dengan serunya, dari sisi pinggangnya Ho Put-ciang telah melolos busur besi baja andalannya, bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Tatkala dia menyaksikan ketujuh belas jurus serangan pedang Bong Thian-gak semuanya mengenai sasaran kosong, tanpa terasa ia berteriak nyaring.

"Ko-siauhiap, apakah kau memerlukan bantuan?"

Ho Put-ciang kuatir Bong Thian-gak tak senang bila dibantu orang, maka hingga kini dia belum turun tangan. Mendengar seruan itu, Bong Thian-gak segera menyahut dengan suara lantang.

"Ho-bengcu, silakan turun tangan, kita harus berlomba dengan waktu menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin."

Menggunakan kesempatan di saat Bong Thian-gak bicara hingga pikirannya bercabang, Sam-kaucu tertawa seram, tasbihnya diayunkan ke depan.

Seratus delapan biji tasbih bagai peluru besi segera berhamburan di angkasa dan bersama-sama menyambar ke tubuh Bong Thian-gak.

Serangan senjata rahasia yang amat dahsyat itu benarbenar luar biasa, betapa pun lihai ilmu silat seseorang, sulit rasanya untuk menghindarkan diri dari sergapan seratus delapan biji tasbih yang dilepaskan dari jarak dekat.

Tak terlukiskan rasa kaget Ho Put-ciang melihat keadaan itu, segera teriaknya.

"Ko-siauhiap ...."

Selanjutnya dia membungkam, namun panah baja tanpa bulu yang sudah disiapkan di busurnya serentak dibidikkan ke depan.

Busur Pa-ong-cian Ho Put-ciang termasyhur di kolong langit sebagai salah satu kepandaian yang tangguh di dunia ini, begitu panah dibidikkan, sulit bagi orang menangkap bayangannya, kecepatannya pun sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Begitu melepaskan serangan biji tasbih tadi, Sam-kaucu mengegos ke sebelah kanan dengan gerakan cepat, tapi kelitannya itu belum berhasil juga meloloskan diri dari ancaman Pa-ong-cian Ho Put-ciang.

Dengusan tertahan segera berkumandang memecah keheningan, panah baja tanpa bulu yang kuat itu menyambar pinggang sebelah kiri Sam-kaucu hingga tembus pinggang bagian depan, darah segar segera menyembur membasahi seluruh jubahnya.

Kendati bidikan panah itu tidak mengenai bagian tubuh yang mematikan, namun cukup membuat Sam-kaucu terluka parah.

Di saat Sam-kaucu mendengus tertahan itulah bahu kiri Bong Thian-gak juga kena terhajar oleh dua biji tasbih sehingga tembus ke dalam, darah muncrat, pedang di tangan kanannya juga kena terhajar liga biji tasbih hingga terlepas dan mencelat jauh.

Menyaksikan Bong Thian-gak terancam bahaya maut, buruburu Ho Put-ciang berseru.

"Ko-siauhiap, bagaimana keadaan lukamu?"

"Ho-bengcu, aku tidak apa-apa, cepat halangi musuh melarikan diri,"

Bentak Bong Thian-gak cepat.

Ternyata pada saat itulah Sam-kaucu sudah melejit ke tengah udara, lantas kabur menuju ke arah sebelah kiri pagoda.

Pada saat itulah Thia Leng-juan yang bersembunyi di sebelah kiri pagoda segera berpekik nyaring, secepat kilat dia menerjang turun ke bawah dan menyongsong kedatangan Sam-kaucu.

Mimpi pun Sam-kaucu tidak menyangka seorang musuh tangguh bersembunyi di atas pagoda, padahal tadi ia sudah memperhatikan ke.idaan sekeliling tempat itu, maka di saat keselamatan jiwanya terancam, terpaksa dia harus melancarkan serangan sekuat tenaga.

Tampak Sam-kaucu meletik di tengah udara, kemudian sepasang telapak tangannya didorong ke depan melepaskan pula dua pukulan maha dahsyat.

Empat gulung angin pukulan maha dahsyat diiringi suara ledakan yang memekakkan telinga saling bentur.

Untuk kedua kalinya Sam-kaucu mendengus tertahan, tubuhnya bagai layang-layang putus benang meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.

Sebaliknya Thia Leng-juan sendiri pun merasa hawa darah di dalam dada bergolak keras akibat benturan yang maha dahsyat itu, tanpa terasa dia berjumpalitan beberapa kali di tengah udara.

Ketika tubuh Sam-kaucu terjun ke bawah tadi, ternyata sepasang kakinya masih sempat mencapai tanah dengan mantap.

Wajahnya menyeringai seram sekali, darah menodai ujung bibirnya, sepasang matanya merah membara, dengan penuh gusar dia melotot ke arah Ho Put-ciang dan Bong Thian-gak yang mulai mengurungnya dari sisi kiri dan kanan.

Sementara itu Thia Leng-juan juga telah melayang turun, dia mengambil posisi di belakang Sam-kaucu.

Agaknya Sam-kaucu menyadari jiwanya terancam mara bahaya, bagaimana pun tangguhnya dia, jangan harap bisa lolos dari gencetan dan kerubutan tiga orang jago lihai sekaligus.

Tiba-tiba ia mendongakkan kepala, lalu memperdengarkan suara gelak tertawa keras yang memekakkan telinga, suara tawanya itu amat tak sedap didengar, bagai lolongan srigala di tengah malam buta.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat Sam-kaucu melejit ke tengah udara, lalu secara ganas menerjang ke arah Bong Thian-gak.

Rupanya dia berpendapat Bong Thian-gak sudah terhajar oleh tasbihnya, berarti dia adalah kunci terlemah di antara ketiga orang itu, maka sekali pun dia harus binasa hari ini, paling tidak dia pun harus membunuh salah seorang lawan untuk mendapatkan kembali modalnya.

Itulah sebabnya terjangannya terhadap Bong Thian-gak boleh dibilang dilakukan dengan ganas dan luar biasa.

Tampaknya Ho Put-ciang sudah menduga sejak tadi bahwa Sam-kaucu bakal menerjang ke arah Bong Thian-gak, oleh sebab itu baru saja pihak lawan menggerakkan tubuh, kembali Ho Put-ciang menggetarkan busur bajanya dan melakukan babatan melintang ke depan.

Walau Sam-kaucu menyerang seperti banteng terluka, melihat datangnya busur baja yang begitu kuat dan dahsyat, sepasang telapak tangannya segera dibalikkan, lalu mencengkeram busur baja itu.

"Pletaak", iga kiri Sam-kaucu kena terhajar oleh sapuan dahsyat busur baja Ho Put-ciang hingga patah sepotong. Pada saat itu Sam-kaucu melancarkan serangan balasan yang mematikan, telapak tangan kanannya bagaikan seekor ular sakti langsung membacok ke dada sebelah kiri Ho Putciang. Segulung tenaga pukulan tak berwujud menggetarkan tangan Ho Put-ciang sehingga busur besinya terlepas dan badannya terlempar. Begitu berhasil mendesak mundur Ho Put-ciang, dengan langkah lebar Sam-kaucu segera menerjang ke arah Bong Thian-gak, sepasang lelapak tangannya disilangkan ke depan dan memancarkan berlapis-lapis angin puyuh disertai kekuatan dahsyat menerjang ke arah depan. Bong Thian-gak terkesiap menyaksikan jurus serangan mengadu |iwa yang digunakan Sam-kaucu, tapi Bong Thiangak yang pada dasarnya keras kepala tak sudi menyerah begitu saja. Dia tahu musuh sudah nekat dan ancamannya tak boleh disambut dengan kekerasan, namun dia bukannya berkelit, sebaliknya malah memutar sepasang telapak tangannya membentuk satu jalur sinar herbentuk busur, lalu menyongsong datangnya ancaman itu. Benturan keras lawan ini tampaknya merupakan saat paling sial bagi Sam-kaucu. Keunggulan Bong Thian-gak justru terletak pada permainan telapak tangannya, apalagi serangan itu dilepaskan dengan tenaga pukulan maha dahsyat, pada hakikatnya bagaikan amukan gelombang dahsyat di tengah samudra yang sedang dilanda angin puyuh. Dalam bentrokan keras yang pertama ini kedua belah pihak sama-sama tetap berdiri tegak tanpa berkutik. Tatkala benturan keras terjadi untuk kedua kalinya, kedua belah pihak sama-sama mundur tiga langkah. Ketika untuk ketiga kalinya mereka akan beradu kekuatan. Mendadak Sam-kaucu menyilangkan tangan kiri dan kanannya membentuk gerakan salib, lalu pelan-pelan didorong ke depan. Sebaliknya Bong Thian-gak membentak keras, tangan kanannya setengah mengepal seperti bacokan seperti juga pukulan langsung diayun ke depan. Dengusan tertahan bergema, dengan tubuh sempoyongan Bong Thian-gak mundur lima langkah, mukanya pucat, tubuhnya langsung jatuh terduduk di atas tanah. Sebaliknya Sam-kaucu masih tetap berdiri tegak, sepasang telapak tangannya yang membuat gerakan salib masih belum sempat ditarik, sementara sepasang matanya melotot bulat seperti mata kerbau. Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang menyaksikan kejadian ini bersama-sama membentak keras, lalu serentak menubruk ke muka, bekerja sama menyerang Sam-kaucu. Siapa tahu baru saja tubuh mereka menerjang ke depan dan belum lagi melancarkan serangan, tubuh Sam-kaucu yang masih berdiri tegak tak berkutik itu tahu-tahu roboh terjungkal ke tanah dalam posisi kaku. Sekarang Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan baru sempat melihat noda darah yang membasahi wajah, kulit dan lengan Sam-kaucu, darah kental seakan memancar keluar dari beriburibu pori kulit badannya. Kenyataan ini kontan membuat kedua orang itu tertegun, siapa pun tidak menyangka Sam-kaucu menemui ajal di tangan Bong Thian-gak dalam bentrokan yang terakhir tadi. Kepandaian silat apakah yang telah dipergunakan Bong Thian-gak dalam melancarkan serangannya itu? Mengapa dia bisa menghajar tubuh Sam-kaucu hingga darah segar memancar dari pori-pori badannya? Walaupun pertempuran sengit telah berhenti, tapi keseraman pertarungan itu menggidikkan hati, kenekatan dan keberanian Sam-kaucu bertarung sampai titik darah penghabisan membuat hati mereka menciut. Akhirnya suara helaan napas panjang berkumandang memecah keheningan, pelan-pelan Ho Put-ciang berjalan ke hadapan Bong Thian-gak, kemudian sambil menjura dalamdalam ia berkata.

"Hari ini seandainya tiada bantuan Kosiauhiap yang berilmu tinggi, mungkin tak akan mudah bagi kami untuk membereskan nyawa Sam-kaucu, aku orang she Ho benar-benar sangat berterima kasih atas bantuan ini. Entah bagaimana dengan keadaan luka Ko-siauhiap?"

Walaupun paras muka Bong Thian-gak pada saat ini pucatpias seperti mayat, tapi dengan cepat dia melompat bangun, kemudian balas memberi hormat.

"Ho-bengcu, harap kau jangan berkata begitu,"

Serunya.

"Ai ... sungguh tak pernah kusangka Sam-kaucu Put-gwa-cinkau ternyata begini perkasa, seandainya hari ini tiada bantuan Ho-bengcu dan Thia-tayhiap, tak mungkin bagiku bisa menandingi keampuhannya."

Ucapan itu segera membuat paras muka semua orang berubah serius, kemurungan dan kesedihan pun menyelimuti wajah mereka.

Keperkasaan Sam-kaucu telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, kalau Sam-kaucu saja begini tangguh, dapat dibayangkan bagaimana tangguhnya Kaucu-kaucu lain, hal ini merupakan ancaman serius bagi keamanan serta keselamatan dunia persilatan.

Thia Leng-juan tertawa getir, kemudian katanya.

"Akhirnya rencana kita pada hari ini berhasil dilaksanakan dengan sukses, apakah Ho-bengcu menghendaki kepunahan jenazah Sam-kaucu?"

"Ya, tolong Thia-heng suka mengerjakannya."

Dari dalam saku Thia Leng-juan mengeluarkan sebuah botol kecil porselen putih, lalu membuka tutupnya dan menaburkan sedikit bubuk hijau di atas mayat itu.

Baik Ho Put-ciang maupun Bong Thian-gak keduanya tahu di Bu-lim terdapat semacam obat yang dinamakan Siau-kuthua-si-san (Bubuk pelenyap tulang pelumat jenazah), maka mereka tak memberikan reaksi apa-apa.

Setelah Thia Leng-juan menaburkan bubuk obat itu ke atas jenazah itu, tak lama kemudian jenazah Sam-kaucu yang kaku mulai melumat dan menyusut.

Mayat telah melumat menjadi segumpal darah, yang tersisa hnggal kuku, rambut dan pakaian.

Kedahsyatan daya kerja obat itu benar-benar mengerikan.

Setelah melumerkan jenazah Sam-kaucu, Thia Leng-juan segera membakar pakaian dan benda lainnya hingga tak berbekas.

Thia Leng-juan menghela napas panjang, katanya.

"Sekarang Samkaucu sudah dimusnahkan, tapi kita belum berhasil mengumpulkan sedikit pun bahan tentang Put-gwacin-kau, apakah kita akan tetap melanjutkan rencana menyelundupkan Ku-lo Locianpwe menggantikan kedudukan Sam-kaucu?"

"Soal ini perlu kita pertimbangkan lagi masak-masak,"

Jawab Ho Put-ciang dengan suara dalam.

"Kini Ku-lo Locianpwe sudah berada dalam gedung Bu-lim Bengcu, apa salahnya kita berunding di sana?"

"Aku tidak setuju bila harus mengirim Ku-lo Locianpwe memasuki Put-gwa-cin-kau, sebab tindakan semacam ini terlampau berbahaya,"

Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru dengan suara lantang.

"Mengapa Ko-heng tidak setuju?"

"Seandainya Ku-lo Locianpwe harus menyaru sebagai Samkaucu dan menyelundup ke dalam Put-gwa-cin-kau, maka cepat atau lambat jejaknya tentu akan ketahuan, bisa jadi jiwanya akan terancam malah, cuma kita boleh saja membiarkan Sinceng berada dalam gedung untuk sementara waktu, agar ia berhubungan terus dengan mata-mata musuh yang menyelundup dalam gedung Bengcu, dengan demikian kita bisa melanjutkan usaha menyingkirkan semua mata-mata yang berada dalam gedung itu."

"Asal semua mata-mata dalam gedung Bu-lim Bengcu berhasil dimusnahkan, kita pun boleh secara terang-terangan menantang Put-gwa-cin-kau untuk menyelesaikan persoalan secara kekerasan."

Ho Put-ciang manggut-manggut.

"Pendapat Ko-siauhiap memang bagus, kita memang harus bertindak lebih dulu, cuma Ku-lo Locianpwe mengatakan, kita hanya sedikit tahu hal yang ada sangkut-pautnya dengan Put-gwa-cin-kau, seandainya Put-gwa-cin-kau segera menarik kekuatannya, maka umat persilatan di daratan Tionggoan pun akan kehilangan titik terang."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Rencana Put-gwa-cin-kau menguasai dunia persilatan dan menteror umat persilatan akan dipersiapkan dalam satu dua hari, tak mungkin mereka menarik seluruh pasukannya hanya karena kematian Samkaucu mereka yang diselundupkan ke dalam gedung Bengcu sebagai mata-mata, menurut perhitunganku, justru karena peristiwa ini Put-gwa-cin-kau akan mempercepat rencana melakukan serangan secara terang-terangan."

"Apa yang diucapkan Ko-heng memang masuk akal,"

Kata Thia Leng-juan.

"tapi menurut pendapatku, persoalan paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah membersihkan dulu gedung Bengcu dari unsur-unsur lawan serta mata-mata yang sengaja diselundupkan ke pihak kita, mari kita bergerak dulu ke persoalan itu."

Mendadak Ho Put-ciang seperti teringat akan sesuatu, dia berseru tertahan.

"Sebelum tewas Sam-kaucu telah berkata bahwa anggota Put-gwa-cin-kau selalu menguntit di belakangnya untuk memperoleh berita, entah ucapannya itu benar atau tidak?"

"Tadi aku bersembunyi di atas pagoda, dari ketinggian aku bisa memperhatikan semua gerakan di seputar tempat ini dengan jelas, tadi aku tidak menjumpai adanya bayangan orang di sekeliling tempat ini."

"Aku rasa apa yang dikatakan Sam-kaucu tadi tak lebih hanya bermaksud mengulur waktu saja sambil mencari akal untuk meloloskan diri, Ho-bengcu, buat apa kau terus memikirkan persoalan itu?"

Kata Bong Thian-gak pula sambil tertawa.

"Orang-orang yang tergabung dalam Put-gwa-cin-kau merupakan kawanan orang yang tangguh, tiada lubang yang tak bisa mereka terobos, lagi pula gerak-gerik mereka amat rahasia, membuat hati orang bergidik, sebelum aku dan dia datang kemari, telah kuperhatikan di sekeliling tempat itu tiada orang yang menguntit, ya, mungkin saja dia hanya menggertak saja."

Siapa tahu baru saja dia selesai berkata, mendadak terdengar Bong Thian-gak berkata dengan ilmu menyampaikan suara dengan nada gelisah sekali.

"Aduh celaka! Ternyata benar-benar ada musuh yang menguntit sampai di sini, kini di sisi kiri tingkat keempat pagoda itu terdapat seorang musuh yang menyembunyikan diri, sekarang lebih baik kita jangan bersuara dulu, secepatnya mengundurkan diri dari sini, kemudian balik lagi dengan posisi segi tiga dan kepung orang itu rapat-rapat, jangan biarkan musuh meloloskan diri."

Ucapan ini kontan saja membuat Thia Leng-juan dan Ho Put-ciang terperanjat, kedua orang ini pun tidak berani celingukan memeriksa keadaan.

Sementara mereka berpikir, Bong Thian-gak berkata lagi dengan suara nyaring.

"Ho-bengcu, sekarang sudah siang, kita harus segera kembali ke gedung Bu-lim Bengcu!"

"Mari kita berangkat!"

Seru Thia Leng-juan dan Ho Putciang bersama-sama.

Mereka bertiga segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan keluar dari pintu pagoda dengan cepat, setelah itu menjauh dengan kecepatan tinggi.

Setelah cukup jauh, Thia Leng-juan baru berani bertanya dengan nada cemas.

"Ko-heng, benarkah ada jejak musuh?"

"Ya, pihak lawan memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna, entah sejak kapan ia sudah mendekam di atas pagoda itu, jika tanpa sengaja aku tidak mendongakkan kepala dan menangkap dua titik cahaya putih, tak mungkin kutemukan jejak musuh itu."

Ho Put-ciang terperanjat, serunya dengan gelisah.

"Wah, kalau begitu kita kan tak bisa melaksanakan langkah berikutnya?"

"Itulah sebabnya bagaimana pun juga kita tak boleh membiarkan orang itu lolos! Sekarang kita harus pergi menjauh setengah li lagi, kemudian serentak berpencar dan balik ke Leng-im-po-tah, usahakan agar mengepung orang itu rapat-rapat."

Sementara itu mereka bertiga sudah berlari sejauh setengah li, mendadak Bong Thian-gak putar badan dan balik ke arah semula dari sudut barat daya.

Ho Put-ciang berputar melalui timur laut dan Thia Lengjuan menelusuri jalanan semula.

Ginkang ketiga orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, maka setengah li perjalanan balik yang mereka tempuh dicapai dalam waktu singkat.

Dipimpin oleh Thia Leng-juan, dengan cepatnya mereka sudah balik ke depan pagoda Leng-im-po-tah.

Sedangkan Bong Thian-gak, Ho Put-ciang datang hanya selisih sedikit sekali, mereka menerobos masuk melalui arah barat daya serta timur laut.

Di bawah cahaya rembulan, betul juga, di tengah lapangan tampak berdiri sesosok bayangan tubuh yang langsing dan ramping.

Ketika dilihatnya Bong Thian-gak bertiga muncul kembali di situ tanpa menimbulkan sedikit suara pun, wajahnya kelihatan tertegun, peristiwa ini sama sekali di luar dugaannya.

Dengan wajah termangu-mangu, dia mengawasi ketiga orang itu berjalan mendekat ke arahnya.

Sekarang Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan harus mengagumi dan memuji ketajaman mata Bong Thian-gak, sesungguhnya mereka masih setengah percaya mendengar perkataan Bong Thian-gak tadi, namun kenyataannya musuh memang muncul di tempat itu, inilah yang membuat hati mereka terkejut bercampur tercengang.

Di bawah sinar rembulan, tampak bayangan yang ramping itu tak lain adalah seorang gadis berbaju merah, rambutnya yang disisir kepang dua terurai di belakang bahu, wajahnya bersih, cantik dan usianya antara lima-enam belas tahun, mukanya masih kekanak-kanakan.

Menyaksikan kemunculan Ho Put-ciang bertiga, dia gerakkan sepasang matanya yang bulat dan jeli memperhatikan mereka sekejap, sambil tersenyum ujarnya.

"Selamat berjumpa Hiapsu bertiga!"

"Selamat berjumpa nona,"

Sahut Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

"Entah karena persoalan apakah kau bersembunyi di tempat kegelapan sebelah kiri pagoda pada tingkat keempat?"

Mendengar pertanyaan itu, nona berbaju merah tertawa, sahutnya.

"Engkoh ini betul-betul memiliki ketajaman mata yang mengagumkan, ketika kau sedang melancarkan serangan ketiga untuk membinasakan orang, aku naik ke atas pagoda melalui belakang bangunan."

"Nona seorang yang pintar, hari ini kau sampai di sini dan menyaksikan terbunuhnya Sam-kaucu di tangan kami, kau anggota Put-gwa-cin-kau atau bukan, yang jelas kami tak akan membiarkan kau pergi begitu saja dari tempat ini."

Gadis berbaju merah mengedipkan matanya yang bulat besar, lalu serunya.

"Dengan cara apakah kalian hendak menghadapi diriku?"

Sementara itu paras muka Ho Put-ciang telah berubah serius, pelan-pelan dia berkata.

"Pertama, kami ingin mengetahui lebih dahulu siapakah nona dan berasal darimana?"

"Aku she Ni bernama Kiu-yu, rumahku ada di selatan propinsi Kamsiok, tak punya ayah dan ibu lagi, hanya ada seorang nenek yang hidup bersamaku."

Selain lincah dan genit, gadis ini pun tanpa ragu mengutarakan nama serta asal-usulnya.

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang menyaksikan hal ini segera mengerut dahinya rapat-rapat.

Hanya Bong Thian-gak seorang yang mengawasi terus gerak-gerik si nona berbaju merah lekat-lekat, sementara mulutnya membungkam.

Sekali lagi Ho Put-ciang bertanya.

"Siapakah nama nenekmu?"

"Hei, banyak amat yang kalian tanyakan,"

Omel gadis berbaju merah.

"Nenekku she Kang, setelah kawin dengan kakek, dia bernama Ni-hong!"

"Siapa yang mewariskan ilmu silat kepada nona?"

"Wah, wah, wah ... kalian betul-betul cerewet, tahu begini, aku tak akan kemari menonton keramaian."

"Nona Ni, dengarkan baik-baik,"

Kata Ho Put-ciang dengan wajah serius.

"Hari ini kau telah terlibat dalam peristiwa ini dan mendatangkan bencana bagi diri sendiri, seandainya kau tidak bersedia menjawab dengan sejujurnya, lebih baik salah membunuh satu orang daripada membiarkan kau pergi begitu saja."

"Bukankah kalian jago-jago persilatan yang berjiwa ksatria? Masa kalian akan menganiyaya seorang bocah perempuan seperti aku?"

Pertanyaan yang tajam dan mengena ini kontan saja membuat paras muka Ho Put-ciang tersipu-sipu karena malu, sesaat lamanya dia tak mampu menjawab. Thia Leng-juan menyela.

"Sekarang ucapan kami sudah diutarakan cukup jelas, paling baik nona Ni bersedia menjawab dengan sejujurnya."

Nona berbaju merah menghela napas sedih.

"Ai, sudahlah, anggap saja memang lagi apes, ilmu silat ini kuperoleh dari nenekku, nah, sudah cukup bukan?"

Sementara itu hawa membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Bong Thian-gak, sambil tertawa dingin serunya.

"Nona Ni, kau adalah anggota Put-gwa-cin-kau, sudahlah lebih baik tak usah berpura-pura lagi!"

Melihat Bong Thian-gak menuduh dengan nada serius dan bersungguh-sungguh, mau tak mau Ho Put-ciang bertanya.

"Ko-siauhiap, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

"Perempuan ini masih muda belia, tapi memiliki keberanian luar biasa, tak mungkin orang biasa memiliki kelebihan seperti apa yang dia miliki itu!"

Si nona berbaju merah mendengus dingin.

"Hm, kalian bukan setan iblis atau siluman yang berwajah menakutkan? Mengapa aku harus takut kepada kalian?"

"Nona bisa tak kuatir terhadap kami, tentu saja karena punya kemampuan yang bisa dijadikan pegangan, tapi bila kau ingin melarikan diri dari sini dengan mudah, aku pikir hal itu akan jauh lebih sukar daripada memanjat ke langit, kalau tak percaya silakan dicoba."

Nona berbaju merah tertawa.

"Kau menghendaki aku mengaku sebagai anggota Put-gwa-cin-kau? Baiklah, kalau begitu kuakui!"

"Tentu saja kau anggota Put-gwa-cin-kau, bahkan kedudukanmu di dalam perkumpulan itu pasti amat penting ...."

"Darimana kau bisa tahu?"

"Semacam perasaan halus!"

Mendadak nona berbaju merah tertawa cekikikan.

"Kau telah salah melihat, aku bukan anggota Put-gwa-cin-kau, tetapi aku tahu sedikit mengenai Put-gwa-cin-kau itu."

"Apa yang nona Ni ketahui?"

Buru-buru Ho Put-ciang bertanya.

"Aku tahu kalian telah membunuh Sam-kaucu Put-gwa-cinkau dan orang-orang dari Put-gwa-cin-kau tak melepas kalian begitu saja."

Dengan perasaan dongkol bercampur geli, Ho Put-ciang berkata.

"Soal ini tak usah kau katakan, kami pun sudah mengetahui dengan amat jelas!"

"Kalau kalian telah tahu Put-gwa-cin-kau hendak melancarkan balas dendam, mengapa kalian tidak segera kabur menyelamatkan diri?"

Mendadak Bong Thian-gak menukas sambil membentak nyaring.

"Tak usah banyak bicara lagi, sekarang hanya ada dua jalan yang bisa kau pilih, pertama ikut bersama kami kembali ke gedung Bengcu atau ingin mampus dibunuh?"

"Membunuh aku? Hm!"

Nona berbaju merah mendengus dingin.

"Tak akan semudah apa yang kau bayangkan, bila tak percaya silakan dicoba sekarang!"

"Baik, kalau begitu sambutlah seranganku!"

Seru Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

Bong Thian-gak bergerak secara aneh dan menerjang ke sisi kanan gadis berbaju merah dengan kecepatan luar biasa, kemudian telapak tangan kirinya secara aneh diayun ke depan langsung menghantam ke wajah gadis berbaju merah itu.

Menyaksikan datangnya ancaman yang begitu dahsyat, nona berbaju merah tak berani ayal, cepat kaki kirinya berputar ke dalam, sementara telapak tangan kanan menyapu keluar langsung membacok urat nadi pergelangan tangan kiri Bong Thian-gak.

Agaknya Bong Thian-gak tahu gadis itu memiliki kepandaian silat yang sangat lihai, maka begitu turun tangan jurus-jurus serangan yang dipergunakan diselipi suatu ancaman yang berbahaya.

Sementara itu telapak tangan kirinya disodokkan, membentuk gerakan setengah busur di udara, tangan kirinya seperti ular sakti menerobos melalui lubang kosong di antara tangkisan tangan kanan gadis berbaju merah dan secepat kilat menotok jalan darah Khi-hay-hiat.

Serangan ini selain ganas dan sakti, juga aneh bukan kepalang.

Paras muka gadis berbaju merah berubah hebat, kakinya segera memainkan langkah tujuh bintang, dalam waktu singkat dia sudah mundur sejauh beberapa kaki.

Begitu nona berbaju merah mundur, dia sama sekali tak memberi peluang bagi Bong Thian-gak untuk menguasai keadaan lagi, telapak tangannya diayunkan ke depan, kesepuluh jari tangannya dibentangkan dan langsung menyentil ke depan, secara tepat dia menerjang ke muka dan mengancam sepuluh jalan darah penting di tubuh Bong Thiangak.

Serangan balasan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Bong Thian-gak menjerit kaget, tubuhnya segera berkelit ke samping secara aneh, kemudian mundur sejauh tujuhdelapan kaki.

"Apakah nona anak murid Mi-tiong-bun?"

Serunya dengan wajah terperanjat. Nona berbaju merah tersenyum.

"Tadi sewaktu kau melepaskan pukulan untuk membinasakan Sam-kaucu, aku lihat di balik pukulanmu itu kau sembunyikan juga ilmu sakti dari Mi-tiong-bun yang disebut Tat-lay Lhama Sin-kang, kalau begitu kau pun anak murid Mi-tiong-bun dari Tibet?"

Bong Thian-gak benar-benar terkejut, segera tanyanya dengan suara dalam.

"Sebenarnya nona murid siapa? Cepat utarakan atau aku akan turun tangan keji kepadamu."

"Sekali pun kau berhasil mencuri belajar ilmu Tat-lay Lhama Sin-kang dari Mi-tiong-bun, bukan berarti kau pasti dapat membunuhku, buat apa kau mendesak orang terus-menerus?"

Setelah menyaksikan dua gebrakan yang barusan berlangsung dan mendengarkan tanya-jawab kedua orang itu, paras muka Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan berubah hebat.

Perlu diketahui, ilmu silat Mi-tiong-bun dari Tibet selamanya hanya diwariskan kepada kaum Lhama, selama ratusan tahun ini mereka tak pernah menurunkan kepandaian itu kepada orang lain.

Tapi kenyataan hari ini ada dua orang preman yang dapat mempergunakan ilmu sakti Mi-tiong-bun, tidak heran mereka jadi terperanjat bercampur keheranan.

Bong Thian-gak sendiri semenjak mengetahui gadis berbaju merah memiliki kepandaian silat ajaran Mi-tiong-bun, paras mukanya segera berubah menjadi serius dan berat.

Dalam waktu singkat sepasang tangannya sudah disilangkan di depan pusar, kemudian sambil memejamkan mata rapat-rapat dia berdiri diam.

Sebenarnya gadis berbaju merah itu pun bersikap acuh tak acuh, namun setelah menyaksikan cara Bong Thian-gak itu, rasa tegangnya segera menyelimuti wajahnya, cepat telapak tangannya satu di depan yang lain di belakang disilangkan di depan dada, sementara kakinya pun Iurus bergeser ke arah samping kiri, sementara sorot matanya yang tajam tiada hentinya mengawasi wajah Bong Thian-gak.

Dari sikap Bong Thian-gak yang berdiri tegak bagai batu karang, Hu Put-ciang dan Thia Leng-juan segera tahu serangan yang hendak dilancarkan pemuda itu pasti semacam kepandaian sakti yang maha dahsyat.

Ketika memandang pula ke arah gadis berbaju merah itu, dia pun teIah menghimpun seluruh kekuatan dan tenaganya untuk bersiap sedia, tampaknya dia tahu jurus serangan yang hendak dilepaskan Bong Thian-gak itu merupakan jurus serangan yang menakutkan.

Bong Thian-gak memejamkan mata, tetapi ia terus mengikuti pergeseran badan si gadis berbaju merah itu, tampaknya dia sudah mengincar korbannya secara jitu dan telak.

Suasana tempat itu diliputi keheningan, hawa membunuh yang mengerikan membuat suasana terasa menegangkan.

Sepasang kaki nona berbaju merah sudah saling silang, bagaikan siput yang berjalan saja, pelan-pelan dia bergeser menuju ke arah sebelah kiri, wajahnya telah basah oleh butiran keringat sebesar kacang kedelai.

Tampaknya gerakan semacam itu cukup memeras tenaga maupun pikiran kedua belah pihak.

Mendadak terdengar gadis berbaju merah menghela napas sedih, kemudian ujarnya.

"Sudahlah, kita tak usah bertarung lebih jauh, aku mengaku kalah saja!"

Sembari berkata dia segera menarik kembali sepasang telapak tangannya.

Akan tetapi Bong Thian-gak masih tetap memejamkan mata rapat-rapat.

Seluruh pikiran, perasaan dan hawa murninya telah terhimpun menjadi satu, dia tak menjawab atau pun bergerak.

Menyaksikan keadaan itu, paras nona berbaju merah itu berubah hebat, tampaknya dia terkejut bercampur takut, segera serunya lagi.

"Untuk bertanding, biasanya orang hanya membatasi sampai saling menutul saja, apakah kau baru puas setelah membinasakan diriku?"

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang mendengar perkataan itu mengerut dahinya rapat-rapat, mereka berdua saling pandang sekejap, kemudian bibir bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu diurungkan.

Keadaan Bong Thian-gak waktu itu tak jauh berbeda dengan seorang pendeta yang sedang bersemedi dan lupa segala-galanya, dia seperti tidak mendengar perkataan gadis berbaju merah itu.

Melihat hal itu, nona berbaju merah terkejut bercampur gugup, mendadak saking gelisahnya, dia langsung menangis tersedu-sedu, serunya dengan suara iba.

"Kau jangan membunuh aku, kau jangan membunuh diriku ... cepat kau tarik kembali seranganmu itu ...."

Perubahan ini membuat Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan bingung setengah mati.

"Benarkah Bong Thian-gak hendak membunuhnya? Sekali pun nona ini adalah anggota Put-gwacin-kau, tidak seharusnya dia membinasakan dirinya?"

Isak tangis nona berbaju merah makin memilukan, bagaimana pun juga suara tangisan gadis cilik memang gampang membangkitkan perasaan iba orang lain.

Siapa pun yang menyaksikan kejadian ini, lambat-laun hatinya akan menjadi lembek juga.

Akhirnya Ho Put-ciang menghela napas panjang, serunya.

"Ko-siauhiap, tariklah kembali ilmumu itu!"

Ketika mendengar suara Ho Put-ciang itulah Bong Thiangak membuka kembali sepasang matanya.

Tapi di saat yang sangat singkat itulah mendadak nona berbaju merah melejit ke tengah udara, kemudian dengan gerakan yang amat cepat bagaikan sambaran kilat dia berkelebat melalui atas kepala Thia Leng-juan dan melarikan diri dari situ.

Bong Thian-gak membentak, sepasang telapak tangannya dari kiri kanan segera diayun ke tengah udara melepaskan pukulan dahsyat.

Terasa segulung angin lembut berhembus, tahu-tahu gadis berbaju merah sudah berada sejauh tujuh-delapan tombak, kemudian dengan sekali lompatan, bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan sana.

Bong Thian-gak menjadi gusar, segera ia menyumpah.

"Aku sudah tahu dia bakal kabur, ternyata akhirnya termakan juga oleh siasat busuknya!"

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sekali lagi saling pandang sekejap, mereka saling membungkam, sementara paras mukanya dilapisi rasa malu dan menyesal.

Setelah menghela napas panjang, kata Ho Put-ciang.

"Semuanya gara-gara aku, coba kalau aku tidak iba, tak mungkin dia dapat lolos dari sini, aku benar-benar telah berbuat salah, aku telah membuat Ko-siauhiap kecewa."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, setelah ditatapnya wajah Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sekejap, katanya kemudian.

"Ho-hengcu tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri, ya, sesungguhnya rengekannya memang amat memelas hati, sekali pun orang yang berhati baja pun pasti akan iba mendengarnya, ai ... tiap anggota Put-gwa-cin-kau rata-rata licik bagaikan rase, nampaknya dunia persilatan benar-benar sudah terancam oleh mara bahaya besar."

"Ko-heng, apa kau yakin perempuan tadi anggota Put-gwacin-kau?"

Tanya Thia Leng-juan dengan wajah serius. Bong Thian-gak menggeleng.

"Aku tak berani memastikan, tapi sembilan puluh persen dia adalah orang penting dalam Put-gwa-cin-kau, bila dugaanku tidak keliru, gadis berbaju merah yang masih muda belia tadi adalah Kiu-kaucu."

Thia Leng-juan menghela napas.

"Ai, kalau begitu percuma saja kita membunuh Sam-kaucu, mata-mata dalam Bu-lim Bengcu-hu juga tak bisa dibasmi secara tuntas!"

Bong Thian-gak turut menghela napas.

"Ai, semua ini garagara diriku yang kurang tegas, coba kalau aku tega melancarkan serangan ganas, tak mungkin dia kabur dari sini. Yang penting sekarang kita harus segera kembali dulu ke gedung Bu-lim Bengcu dan menceritakan segala peristiwa ini kepada Ku-lo Locianpwe, kemudian kita baru berunding menyusun rencana berikutnya."

Maka ketiga orang itu pun segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh kembali ke gedung Bu-lim Bengcu.

Waktu itu sudah mendekati tengah malam, Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak langsung menuju ke loteng di sebelah timur.

Baru saja mereka bertiga tiba di bawah loteng, cahaya lampu sudah muncul dalam ruangan, tampak Ku-lo Sinceng telah menunggu di depan mulut tangga dengan wajah serius.

Ho Put-ciang bertiga pun membungkam, mereka buru-buru naik ke atas loteng.

Tampaknya Ku-lo Sinceng sudah tidak sabar menunggu lebih jauh, ia menegur.

"Bagaimana dengan tugas kalian?"

Hu Put-ciang menghela napas panjang.

"Ai, gara-gara Wanpwe bersikap teledor, usaha kita selama ini sia-sia belaka."

Dengan cepat keempat orang itu sudah duduk dalam ruang tamu, secara ringkas dan jelas Ho Put-ciang menceritakan semua peristiwa yang telah berlangsung kepada Ku-lo Sinceng.

Selesai mendengar cerita itu, Ku-lo Sinceng memejamkan mata sambil termenung sejenak, kemudian pelan-pelan berkata.

"Ho-hiantit sekalian berhasil membunuh Sam-kaucu, berarti usaha kalian sukses besar, mengapa dibilang usaha kalian sia-sia belaka? Gadis berbaju merah memang di luar dugaan siapa pun, tidak tahu bagaimana harus menghadapi, apalagi kalian telah mengerahkan segenap kemampuan."

Bong Thian-gak menghela napas, segera katanya pula.

"Semakin Locianpwe tidak menegur, Wanpwe justru merasa semakin menyesal!"

Ku-lo Sinceng menggeleng kepala berulang kali.

"Perkataan Ko-siauhiap kelewat serius, mengenai kemunculan gadis berbaju merah itu membuat Pinceng menemukan suatu petunjuk yang berharga sekali, mungkin petunjuk itu jauh lebih penting artinya daripada melenyapkan kaum mata-mata di gedung Bengcu ini."

"Kalian harus tahu, mata-mata yang diselundupkan ke dalam gedung Bengcu ini adalah orang pintar, tapi orang yang paling penting seperti Sam-kaucu yang menyaru sebagai Pinceng kini telah berhasil dilenyapkan, aku pikir sisanya sudah tidak mempunyai arti yang amat penting, sebab sisa mata-mata yang berada dalam gedung ini cepat atau lambat akan menampakkan wujudnya masing-masing dan berusaha kabur dari sini."

Dengan serius Thia Leng-juan bertanya.

"Ku-lo Supek, kau telah berhasil menemukan petunjuk penting?"

Ternyata pendekar sastrawan dari Im-ciu ini adalah murid Sute Ku-lo Hwesio yang merupakan orang preman, oleh karena itu dia memanggil Supek kepada Ku-lo Hwesio.

Pendeta agung itu termenung sejenak, lalu berkata.

"Asal kita dapat membuktikan gadis berbaju merah itu adalah anggota Put-gwa-cin-kau, ini membuktikan Cong-kaucu Putgwa-cin-kau mempunyai hubungan yang sangat erat dengan perguruan Mi-tiong-bun di Tibet."

Bicara sampai di situ, Ku-lo Sinceng mengalihkan sorot matanya yang tajam ke wajah Bong Thian-gak, kemudian lanjutnya lebih jauh.

"Ko-siauhiap, apakah kau dapat menerangkan dari siapa mempelajari ilmu sakti perguruan Mitiong-bun itu?"

Bong Thian-gak menghela napas sedih.

"Dia adalah seorang kakek penyendiri yang keempat anggota tubuhnya cacat, Wanpwe tidak tahu nama serta asal-usul orang tua itu, dia memiliki ilmu silat sangat hebat, hampir semua ilmu berbagai perguruan dapat diyakinkan olehnya."

"Dia orang tua sudah meninggal dunia, Wanpwe berkumpul selama tujuh tahun lamanya dengan orang itu, dia meninggal pada tiga bulan berselang."

"Tokoh sakti itu sudah cacat keempat anggota badannya, tapi Ko-siauhiap yang cuma menerima pelajaran teori darinya pun sudah berhasil memiliki kepandaian silat begini sempurna, sudah jelas ilmu silat orang itu hebat sekali,"

Kata Ho Putciang. Bong Thian-gak tersenyum.

"Sebelum aku bertemu dengannya, aku sudah pernah berguru selama belasan tahun, oleh karena itu meskipun hanya mendapat teori saja dari Suhuku yang kedua ini, sedikit banyak rahasia ilmu silatnya berhasil juga kupahami."

"Ko-siauhiap, tampaknya kemujuran orang memang tak dapat diminta, secara beruntun kau dapat memperoleh didikan dari dua orang guru kenamaan, hal itu patut diberi ucapan selamat."

Pelan-pelan Bong Thian-gak mengangkat kepala, lalu memandang sekejap ke arah Ku-lo Sinceng, katanya.

"Semua perkataan yang Wanpwe ucapan adalah kata-kata jujur dan sama sekali tidak bohong. Tentang ilmu silat aliran Mi-tiongbun, setahuku kepandaian mereka tak pernah diwariskan kepada orang luar, Wanpwe tahu jelas akan hal ini. Si kakek yang menyendiri itu pun bukan anak murid Mi-tiong-bun, namun ilmu silat yang diketahuinya sangat luas, bahkan ilmu sakti Siau-lim-pay juga diketahuinya dengan jelas."

"Wanpwe dan dia orang tua hidup bersama dalam gua di sebuah lembah, tujuh tahun lamanya hidup berdampingan, meski sudah kuusahakan dengan segala cara untuk mencari tahu asal-usul orang tua itu, namun usahaku itu tak pernah berhasil."

"Kalau begitu dendam Sicu terhadap Put-gwa-cin-kau merupakan masalah gurumu yang pertama?"

Tiba-tiba Ku-lo Sinceng bertanya. Bong Thian-gak mengangguk.

"Tepat dugaan Locianpwe."

Ku-lo Sinceng menghela napas dalam-dalam.

"Ai ... apakah Sicu bersedia melukiskan bagaimanakah raut wajah orang sakti itu?"

Pintanya.

"Sewaktu aku bertemu dengan Suhuku yang kedua ini, dia sudah berdiam cukup lama di dalam gua itu, badannya sudah tersiksa hingga tinggal kulit pembungkus tulang, sehingga pada hakikatnya sukar untuk dilukiskan bagaimanakah raut wajahnya."

"Dia tak pernah menjelaskan cara bagaimana keempat anggota badannya itu menjadi cacat kepadamu?"

Tanya Ku-lo Sinceng dengan kening berkerut kencang. Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Sesaat sebelum meninggal, dia orang tua hanya mengucapkan beberapa patah kata saja, 'Selama hidup Lohu sudah banyak melakukan kejahatan, terpengaruh oleh napsu sendiri sehingga menggunakan cara yang keji dan licik untuk memperoleh nama, pahala dan kekayaan, tapi akhirnya tujuh puluh tahun hidupku hanya terkurung percuma ... ai dendam kesumat dalam Bu-lim memang tak pernah berakhir, hukum karma selalu berlaku atas dosa-dosaku ini, Lohu harus merasa tersiksa selama tiga puluh tahun, hukuman memang tak akan pernah terhindar dariku ....'."

Sampai di situ, Bong Thian-gak berhenti sejenak, lalu sambungnya lebih jauh.

"Di saat dia menghembuskan napas yang penghabisan itulah dia orang tua berkata lagi padaku, 'Kau ... kau adalah orang kedua yang pernah mendapat warisan ilmu silat dariku, semoga kau dapat baik-baik mempergunakannya ....'."

Thia Leng-juan menyela bertanya.

"Siapakah orang pertama?"

Bong Thian-gak tertawa getir.

"Bila aku mengetahui hal ini, berarti aku akan mengetahui asal-usul Suhuku yang kedua,"

Jawabnya. Pelan-pelan Thia Leng-juan menggelengkan kepala berulang-kali, giimamnya.

"Tak kusangka di dunia ini terdapat banyak orang dan kejadian aneh."

"Di saat guruku yang kedua meninggal dunia, dia berusia tujuh puluh tahun, dari kata-katanya menjelang ajal, peristiwa tragis itu terjadi saat dia berusia tiga puluh tahun, keempat anggota badannya menjadi cacat dan harus hidup menyepi di gua kematian dalam lembah terpencil. Ku-lo Locianpwe, dapatkah kau merenungkan jago persilatan manakah yang mirip dengan pengalaman guruku yang kedua ini."

Di saat Bong Thian-gak selesai menuturkan pesan terakhir gurunya tadi, Ku-lo Hwesio sudah memejamkan mata termenung. Tak lama kemudian, dia baru membuka matanya dan menjawab dengan suara dalam.

"Jago persilatan yang paling termasyhur pada waktu itu adalah Bu-lim Bengcu Thi-ciangkan-kun-hoan Oh Ciong-hu, lalu Pak-hiap (pendeta dari utara) Thian-kay Lojin, Say-pit-ceng Ih Hoan, Mo-kiam-sin-kun To Tian-seng serta perempuan paling cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang...."

Sampai di sini, kembali Ku-lo Hwesio memejamkan mata rapat-rapat, kemudian baru melanjutkan.

"Dari kelima orang ini, hampir boleh dibilang mereka tidak pernah melakukan kejahatan besar, dari usia mereka, Say-pit-ceng Ih Hoan dan Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng yang agak mendekati, lagi pula asal-usul mereka memang sangat misterius."

Mendengar ini, Bong Thian-gak segera mengerut dahi, katanya kemudian.

"Mungkinkah Mo-kiam-sin-kun Tio Tianseng? Tapi waktu Tio Tian-seng terjun ke dunia persilatan baru berusia dua puluh enam tahun, ditambah tiga puluh tujuh tahun berarti usianya sekitar enam puluh lima tahun!"

"Kalau dibilang Say-pit-ceng Ih Hoan,"

Sela Ku-lo Hwesio.

"pada tiga puluh tujuh tahun lalu dia telah berusia empat puluh tahun, berarti dia berusia tujuh puluh tahun lebih."

"Selain kelima orang ini, apakah masih ada orang yang pantas dicurigai?"

"Masih ada empat orang buas lagi, mereka adalah To-cikim-kong (Malaikat raksasa berjari tunggal) Lui Ko Hoatsu, Jian-bin-hu-li (Rase berwajah seribu) Ban Li-biau, Thian-sanhim-ong (Raja beruang dari Thian-san ) Ho Lak serta Hiat-binmo (Setan muka darah) Si Jit-ciang ...."

"Tapi dari keempat orang itu, ada tiga orang di antaranya telah dibunuh oleh Suhu,"

Timbrung Ho Put-ciang cepat.

"Siapakah di antara mereka yang tidak berhasil dibunuh Oh-bengcu almarhum?"

Cepat Bong Thian-gak bertanya.

"Jian-bin-hu-li Ban Li-biau!"

"Kejahatan apa saja yang pernah dilakukan olehnya?"

Ku-lo Hwesio menghela napas sedih, katanya pelan.

"Tiga puluh tujuh berselang, Ban Li-biau merupakan tokoh penjahat ulung dunia persilatan, selain memperkosa, membunuh, mencuri dan merampok dia pun sering melakukan perbuatan jahat lainnya, hingga menimbulkan amarah segenap umat persilatan waktu itu, semua orang bergabung untuk bersamasama menghabisi orang ini "Bagaimana akhirnya?"

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang.

"Sama sekali tiada kabar beritanya."

"Mengapa?"

"Ban Li-biau berjuluk Jian-bin-hu-li, membuktikan kecerdikan dan kelicikannya, selain itu dia pun pandai menyaru dan berganti muka, jarang ada orang di Bu-lim yang pernah melihat wajah aslinya, mana mungkin orang dapat membekuknya untuk dijatuhi hukuman? Untung tiga puluh tahun lalu Jian-bin-hu-li sudah lenyap."

Bong Thian-gak menghela napas sedih.

"Ai ... sungguh tidak kusangka Suhuku yang kedua adalah Jian-bin-hu-li Ban Li-biau!"

"Apakah Ko-siauhiap yakin akan dia?"

Tanya Ho Put-ciang.

"Dari ucapan dia orang tua menjelang ajal serta rasa tobatnya dari kejahatan yang pernah dilakukan, hal ini membuktikan dia adalah Jian-bin-hu-li Ban Li-biau ...."

Ku-lo Hwesio turut menghela napas.

"Betul, guru kedua Kosiauhiap mungkin sekali adalah Ban Li-biau, sebab kecuali dia, tiada orang kedua di dunia ini yang bisa dicurigai!"

"Sebenarnya Pinceng menduga Jian-bin-hu-li adalah Congkaucu Put-gwa-cin-kau, kalau dipikirkan sekarang, kemungkinan besar Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau adalah orang lain."

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, paras muka Kulo Sinceng kembali berubah serius dan kereng, jelas benak Kulo Hwesio sekarang sedang dipenuhi persoalan lain.

Karena kecurigaan atas Jian-bin-hu-li Ban Li-biau sebagai pentolan Put-gwa-cin-kau gugur, dia berusaha memeras otak dan menduga lagi siapa gerangan orang yang cocok untuk dicurigai sebagai pentolan Put-gwa-cin-kau itu.

Bong Thian-gak memahami perasaan Ku-lo Sinceng sekarang, maka dengan perasaan berat semua orang pun bungkam.

Selang beberapa saat kemudian, barulah terdengar Ku-lo Hwesio berkata dengan lembut.

"Fajar sudah menjelang tiba, kalian bertiga pergilah beristirahat dulu!"

Ho Put-ciang bertanya.

"Ku-lo Supek, tolong tanya perlukah kita mengumumkan kepada para jago tentang peristiwa Samkaucu itu?"

"Lebih baik kita merahasiakan dulu persoalan ini, tunggu sampai tiba kesempatan yang lebih cocok sebelum diumumkan."

"Tapi ...."

Ho Put-ciang menunjukkan keraguannya.

"Kehadiran Ko-siauhiap dalam gedung Bu-lim Bengcu ini...."

"Oya ... hampir saja Pinceng lupa, antara Ko-sicu dengan para pendekar telah terjadi perselisihan ... padahal kehadiran para pendekar ke gedung Bu-lim Bengcu pun hanya untuk berbela-sungkawa atas kematian Oh-bengcu, sedang jenazah Oh-bengcu pun telah diputuskan untuk disimpan dalam gedung es, Pinceng rasa para jago persilatan boleh membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing, lebih baik besok siang kita umumkan segala sesuatunya pada mereka, di samping mengumumkan peristiwa Sam-kaucu, juga menjelaskan kepada para jago yang hendak menangkap Ko-siauhiap."

"Ku-lo Supek, tolong tanya apa tindakan kita selanjutnya untuk menghadapi Put-gwa-cin-kau?"

Tanya Thia Leng-juan pula. Ku-lo Hwesio menghela napas panjang.

"Kini bencana telah meluas di seluruh dunia persilatan, terpaksa bertemu satu membunuh satu, kita berusaha terus menumpas mereka sampai ludes."

"Kalau memang demikian, bukankah Jit-kaucu kini berada dalam kota Kay-hong, mengapa kita tidak ke situ untuk membekuknya?"

Dengan suara dalam Ku-lo Hwesio berkata.

"Mengenai Jitkaucu, hampir Lolap lupa meninggalkan pesan, perempuan ini telah berhasil memiliki ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, boleh dibilang kepandaiannya sudah tiada tandingan lagi di dunia ini, bila kalian bertemu dengannya, lebih baik menyingkir, jangan coba menghadapi dengan kekerasan."

Mendengar itu, Thia Leng-juan tertegun.

"Supek, memangnya kita harus duduk diam menunggu kematian dan membiarkan Jit-kaucu datang mencari kita?"

Serunya. Mencorong tajam mata Ku-lo Hwesio.

"Sudah delapan tahun lamanya Pinceng duduk menutup diri dalam ruangan, Lolap sudah bertekad menaklukkannya."

"Locianpwe, caramu menaklukkannya berarti kerugian besar bagi umat persilatan?"

Tiba-tiba Bong Thian-gak menimbrung dari samping. Diam-diam Ku-lo Hwesio terperanjat mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian.

"Masa dia dapat menebak suara hati Lolap?"

Pada saat itulah Thia Leng-juan bertanya lagi.

"Supek, apakah kau hendak menghadapi Jit-kaucu seorang diri?"

"Menurut apa yang Lolap ketahui, di dunia dewasa ini tiada orang kedua yang bisa lolos dari pukulan Soh-li-jian-yang-sinkang itu tanpa menemui ajal."

"Supek, kalau engkau harus bertarung melawan Jit-kaucu dan seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ...."

Thia Leng-juan tak mampu melanjutkan kata-katanya, dia bungkam dengan sedih. Ku-lo Hwesio tertawa getir.

"Setelah melakukan penyelidikan selama delapan tahun, Pinceng percaya musuh pun takkan memperoleh keuntungan apa-apa."

Mendadak Thia Leng-juan bertanya lagi.

"Apakah Supek telah menulis surat tantangan untuk berduel dengan Jitkaucu? Harap Supek jangan merahasiakan persoalan ini kepada kami...."

Begitu ucapan itu diutarakan, Bong Thian-gak dan Ho Putciang amat terperanjat, mereka membelalakkan mata lebarlebar dan menanti jawaban Ku-lo Hwesio. Agak emosi Ku-lo Hwesio menjawab.

"Lolap tidak menulis surat tantangan terhadap Jit-kaucu, tetapi telah menetapkan hari kematian untuk Pinceng."

"Apakah maksud perkataanmu itu?"

Tanya Bong Thian-gak dengan terkejut. Dari dalam sakunya Ku-lo Hwesio mengeluarkan sepucuk surat dan diletakkan di bawah sinar lentera, kemudian ujarnya.

"Surat ini baru kuterima setengah jam sebelum kalian pulang kemari."

Sementara itu Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak bersama-sama mengalihkan sorot matanya ke atas surat itu.

Di atas kertas tadi tercantum beberapa kalimat yang berbunyi.

Kepada yang terhormat Ku-lo Taysu dari Siau-lim-si.

Kematian Sam-kaucu merupakan tanggung-jawabku, apabila Cong-kaucu menegur, akulah yang mendapat hukuman.

Oleh sebab itu kumohon kepada Taysu agar berbelas kasihan dengan mengakhiri hidupmu dalam tiga hari mendatang atau pada malam hari keempat aku akan datang merenggut nyawamu, Tertanda.

Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau Selesai membaca surat itu, Ho Put-ciang bertiga menjadi gusar dan terkejut.

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak berkata.

"Sungguh amat besar nada bicara orang ini!"

Thia Leng-juan termangu beberapa saat, kemudian tanyanya.

"Dengan cara bagaimana surat ini disampaikan kemari?"

"Waktu itu Pinceng sedang duduk bersemedi di atas loteng, kudengar ada dua orang pejalan malam sedang melintas, menyusul dari balik jendela melayang masuk sepucuk surat. Waktu itu Pinceng agak ragu sejenak, ternyata si pengantar surat itu telah pergi, Ginkangnya tak malu disebut sebagai jagoan wahid di kolong langit."

Bong Thian-gak berkerut kening.

"Ketika si nona berbaju merah Ni Kiu-yu melarikan diri, jaraknya dengan waktu kita pulang cuma setengah jam, bagaimana mungkin ia bisa melapor lebih dulu berita kematian Sam-kaucu ini kepada Jit-kaucu?"

Gumamnya. Begitu nama Ni Kiu-yu disinggung, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan turut merasakan suatu keanehan.

"Tatkala kalian sedang menuturkan pertarungan melawan Sam-kaucu tadi, Lolap sudah merasa curiga,"

Kata Ku-lo Hwesio.

"Mungkin Jit-kaucu juga turut menyaksikan terbunuhnya Sam-kaucu dari atas pagoda Leng-im-po-tah, namun dia tidak muncul, di saat kalian sedang berusaha menangkap gadis berbaju merah itu, dia berangkat ke gedung Bengcu."

Thia Leng-juan manggut-manggut.

"Ya benar, kemungkinan memang begitu, namun sewaktu kami kembali ke pagoda Leng-im-po-tah untuk menangkap gadis berbaju merah itu, sama sekali tidak kujumpai ada orang melarikan diri dari situ,"

Serunya kemudian.

"Atau kemungkinan juga Jit-kaucu sudah tahu kita hendak turun tangan membunuh Sam-kaucu,"

Kata Ku-lo Hwesio.

"Bukankah persoalan ini hanya diketahui kita berempat? Siapa yang membocorkan rahasia ini?"

Tanya Bong Thian-gak.

"Tentu saja tak ada orang yang membocorkan rahasia itu. Mungkin jejak Lolap sudah diketahui oleh Jit-kaucu dan dia pun telah dapat membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan!"

Bong Thian-gak menghela napas.

"Ai... benar. Dari tulisan Jit-kaucu, tampaknya dia sudah tahu kita berencana membunuh Sam-kaucu ...."

Ku-lo Hwesio berkata lebih lanjut.

"Kehadiran gadis berbaju merah di pagoda Leng-im-po-tah pun sudah pasti bukan suatu peristiwa yang kebetulan, mungkin sekali sedang melaksanakan perintah Jit-kaucu untuk memberi bantuan, sayang kedatangannya terlambat satu langkah dan Sam-kaucu telah tewas dipukul Ko-siauhiap."

Ho Put-ciang menghela napas panjang.

"Ai, kalau begitu tindakan kita melepas gadis berbaju merah dari Leng-im-potah merupakan suatu tindakan yang keliru besar,"

Keluhnya.

"Yang sudah lewat biarlah lewat, kita tak usah menyinggungnya! Sedangkan mengenai tantangan Jit-kaucu, Pinceng bermaksud untuk menghadapinya seorang diri, itulah sebabnya aku tidak berniat memberitahukan kepada kalian."

Bong Thian-gak merasa darah panas dalam dada bergolak keras, serunya kemudian.

"Locianpwe, soal tantangan Jitkaucu, biar Wanpwe saja yang mewakili."

Ku-lo Hwesio tersenyum.

"Ko-siauhiap gagah dan mempunyai ilmu tinggi, dengan masa depan panjang, selain Jit-kaucu jangan lupa, masih ada Cong-kaucu yang merupakan musuh kita paling tangguh."

"Supek, Tecu mohon agar akulah yang pergi memenuhi janji itu,"

Pinta Thia Leng-juan. Kembali Ku-lo Hwesio menggeleng kepala berulang-kali.

"Thia-hiantit, ilmu silat yang kau miliki sekarang sudah mencapai tingkatan luar biasa dan jauh mengungguli gurumu, tapi ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Jit-kaucu bukanlah ilmu silat biasa!"

"Ku-lo Supek, bagaimana rencanamu menyambut tantangan Jit-kaucu itu?"

Ho Put-ciang bertanya. Ku-lo Hwesio menggeleng kepala berulang-kali.

"Pinceng jelas belum mengambil keputusan, tapi sudah pasti dalam empat hari ini...."

Berbicara sampai di sini, dia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya.

"Soal pertarungan Lolap melawan Jit-kaucu, harap kalian tak usah risau, terus terang Lolap sudah mempunyai rencana cukup matang."

"Jika Ku-lo Supek menghadapi musuh sendirian, bisa jadi musuh akan menggunakan cara kita membunuh Sam-kaucu ...."

Mendengar perkataan Ho Put-ciang itu, paras muka Ku-lo Hwesio berubah hebat, selanya.

"Pinceng pun telah mempertimbangkan hal ini, harap Ho-hiantit tak usah kuatir."

"Tapi aku benar-benar tidak tenang ...."

Kentongan kelima sudah berbunyi, dari luar jendela sana tampak cahaya api sudah memancar menembus kegelapan, malam yang panjang pun telah berakhir.

Pelan-pelan Ku-lo Hwesio bangkit, berjalan ke sisi jendela dan menarik napas panjang, kemudian pelan-pelan ujarnya.

"Sejak Oh Ciong-hu menjabat sebagai Bu-lim Bengcu, dunia persilatan telah melewatkan masa yang tenang dan aman, namun setiap kejadian di dunia ini seakan-akan mempunyai masa berlaku, sebab Thian telah mengatur semua kejadian ini untuk kita. Sekali pun Lolap mungkin akan mati dalam pertarungan ini, namun setelah terjadinya perubahan di Bulim, sudah pasti akan muncul seorang penolong yang akan menenteramkan kekacauan dan melenyapkan semua kejahatan dari muka bumi...."

Sampai di sini, dia membalikkan badan dan duduk kembali di atas kasurnya, setelah itu katanya lebih jauh.

"Ko-siauhiap, Ho-hiantit, Thia-hiantit, kalian bertiga merupakan tonggak dunia persilatan di masa mendatang, jaya atau kacaunya dunia persilatan di kemudian hari, keadilan dan kebenaran di dunia ini tergantung pada perjuangan kalian, oleh sebab itu keselamatan kalian jauh lebih penting daripada orang lain, aku minta kalian jangan bertindak hanya karena dorongan emosi."

"Kalian harus tahu, seorang Tay-enghiong, Tay-ho-kiat banyak membutuhkan persyaratan, bukan terbentuk mengandal keberanian saja, contoh yang jelas, di masa Samkok dulu, Lu Poh paling berani, tapi dia berani tanpa disertai rencana yang matang sehingga tak lebih hanya seorang panglima kasar. Sebagai seorang Enghiong sejati dibutuhkan penyesuaian diri dengan keadaan, bisa maju bisa pula mundur, bisa keras bisa juga lunak, segalanya harus diatur dengan perencanaan jangka panjang yang sempurna."

Nasehat Ku-lo Hwesio ini kontan membuat beban pikiran Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak semakin berat, lamat-lamat mereka merasakan suatu firasat jelek yang sudah menjelang datang di hadapan mereka.

"Nah, sekarang kalian boleh pergi beristirahat!"

Ku-lo Hwesio mengakhiri kata-katanya.

Maka Ho Put-ciang bertiga pun memberi hormat kepada Ku-lo Hwesio dan mengundurkan diri, mereka menuju ke loteng sebelah barat.

Setelah masuk ke dalam ruang tamu, Pa-ong-kiong Ho Putciang yang pertama-tama berkata.

"Ku-lo Supek telah memutuskan untuk menghadapi Jit-kaucu seorang diri, dari nada suaranya, dia orang tua telah bertekad untuk mengorbankan diri demi terwujudnya cita-cita yang luhur, sekarang bagaimana baiknya?"

"Yang kita kuatirkan Jit-kaucu merencanakan suatu pengeroyokan, atau menggunakan siasat busuk untuk mencelakainya,"

Kata Thia Leng-juan mengemukakan pula rasa kuatirnya. Pelan-pelan Bong Thian-gak berkata.

"Yang perlu kita ketahui sekarang adalah kapan dan dimanakah Ku-lo Locianpwe menerima tantangan dari Jit-kaucu?"

"Bagaimana cara kita mengetahuinya?"

Keluh Ho Put-ciang sedih.

"Mulai sekarang, secara bergilir kita harus mengawasi gerak-gerik Ku-lo Locianpwe, bila ia menunjukkan suatu tindakan, kita harus segera mengetahuinya."

"Benar,"

Kata Thia Leng-juan.

"Dengan demikian bisa dicegah pihak lawan melakukan pengerubutan."

Tapi Ho Put-ciang menggeleng kepala, ujarnya.

"Mendengar nasehat terakhir Ku-lo Supek tadi, lamat-lamat aku punya firasat dia lelah menyadari bahwa pertempuran ini lebih banyak bahayanya bagi dia daripada keberuntungan ...."

Bong Thian-gak menghela napas.

"Jauh pada delapan tahun berselang, Ku-lo Locianpwe pernah menerima serangan Jit-kaucu, mungkin selama delapan tahun ini dia orang tua telah menyelidiki dan mendalami ilmu untuk melawan Soh-lijian-yang-sin-kang, kalau dia orang tua sampai menderita kekalahan di tangan Jit-kaucu, siapa lagi di Bu-lim dewasa ini yang mampu menandingi perempuan ini?"

"Bagaimana pun juga Jit-kaucu harus dilenyapkan, cepat atau lambat Ku-lo Locianpwe juga akan berhadapan dengannya, hanya soal waktu saja, mungkin pertarungan ini berlangsung jauh lebih awal."

"Thia-heng, Ko-siauhiap, harap kalian beristirahat dulu, biar aku yang mengawasi gerak-gerik Ku-lo Supek dari sini,"

Ujar Ho Put-ciang kemudian.

"Ho-bengcu, bila kau ada urusan silakan saja, aku belum berminat tidur,"

Sahut Bong Thian-gak.

Meskipun pertarungan sengit yang berlangsung semalam amat memeras tenaga dan semua orang merasa lelah sekali, tapi setiap orang sedang dicekam perasaan tegang dan berat, maka Bong Thian-gak bertiga sama sekali tidak beristirahat.

Tengah hari itu Ho Put-ciang mengumpulkan semua jago dunia persilatan beserta Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok, untuk mengumumkan penyaruan Sam-kaucu sebagai Ku-lo Sinceng serta perubahan situasi dunia persilatan akhir-akhir ini.

Sebagai kesimpulan terakhir, para jago yang diwakili sembilan partai besar mengutus Goan-ko Taysu dari Siau-limpay, Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay, Wan-pit-kim-to (Golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam dari Tiam-jong-pay dan Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong dari Khong-tong-pay untuk berdiam dalam gedung Bu-lim Bengcu guna membantu Ho Put-ciang membangun kembali pamor Bu-lim Bengcu atau persekutuan dunia persilatan.

Sedangkan yang lain kembali ke partai masing-masing untuk melaporkan keadaan kepada ketua masing-masing, di samping secara diam-diam membersihkan mata-mata Putgwa-cin-kau yang menyusup dan meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi setiap bentrokan yang mungkin meletus dengan pihak Put-gwa-cin-kau.

Sejak itu sembilan partai dunia persilatan dalam sehari saja telah berubah menjadi kelompok kekuatan yang maha dahsyat dan sanggup menghadapi segala perubahan yang mungkin terjadi.

Mengenai tantangan Jit-kaucu kepada Ku-lo Sinceng, kecuali Bong Thian-gak, Thia Leng-juan dan Ho Put-ciang, yang lain tidak diberitahu.

Waktu berlalu dengan cepat, tiga hari sudah lewat, suasana dalam gedung Bu-lim Bengcu pun tenang, namun ratusan manusia yang berada dalam gedung itu tak sedikit pun merasa tenang.

Terutama Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan Bong Thiangak, selama beberapa hari ini paras muka mereka kelihatan kusut dan sayu.

Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si juga tak pernah meninggalkan loteng sebelah timur barang selangkah pun selama tiga hari ini.

Bong Thian-gak bertiga berada di bangunan sebelah barat, dapat menyaksikan keadaan Ku-lo Hwesio dengan jelas, ia masih tetap duduk bersila di atas kasur duduknya dengan tenang.

Matahari senja telah condong ke barat, kabut malam pun lambat-laun menyelimuti angkasa.

Kini Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak telah berkumpul di atas loteng sebelah barat.

Sambil menghela napas panjang, Ho Put-ciang berkata.

"Malam ini Ku-lo Supek tidak memasang lentera, jelas hendak melakukan tindakan pada malam ini."

"Ya, batas waktu yang diberikan Jit-kaucu bagi Ku-lo Supek untuk bunuh diri akan berakhir tengah malam nanti,"

Sambung Thia Leng-juan. Mendadak Bong Thian-gak menyela.

"Mulai sekarang, kita bertiga harus memisahkan diri mengawasi tempat itu dari tempat terpisah."

Maka mereka bertiga pun segera keluar.

Mereka berdandan sebagai pengawal gedung dan berpencar melakukan pengawasan.

Bong Thian-gak berada di balik kegelapan di sudut gedung sebelah barat laut.

Malam ini rembulan memancarkan sinar terang, membuat suasana liilak terlalu gelap, pemandangan pada radius seratus kaki masih dapat terlihat dengan jelas.

Angin malam berhembus membawa udara dingin, malam pun semakin kelam.

Mendadak tampak sesosok bayangan orang berjalan melalui mangan sebelah utara, di bawah sinar rembulan, tampak kepala orang Itu gundul, tak salah lagi inilah kepala seorang pendeta.

Dengan gerakan enteng seperti burung walet, Bong Thiangak segera melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan melakukan penghadangan dari arah timur laut.

Bukan hanya Bong Thian-gak saja yang melakukan penguntitan, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang berjaga di tenggara dan barat daya pun serentak mengerahkan Ginkangnya melakukan penguntitan.

Gerakan tubuh keempat orang itu cepat sekali, cekatan dan hati-hati.

Sekali pun penjagaan dalam gedung Bu-lim Bengcu amat ketat, ternyata tak seorang pun di antara mereka yang mengetahui jejaknya.

Tak selang beberapa lama, mereka sudah keluar pekarangan gedung Bengcu.

Pada saat itulah bayangan orang yang sedang berlari di depan sana mempercepat gerakan tubuhnya menuju ke arah tenggara.

Setelah melakukan pengejaran sejauh satu li, akhirnya Bong Thian-gak, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan bertemu satu sama lain.

Di tengah pengejaran itu, mendadak Bong Thian-gak berseru tertahan, katanya.

"Aneh, seandainya orang di depan sana adalah Ku-lo Locianpwe, mengapa dia berlari secara terang-terangan dan sama sekali tidak berusaha menyembunyikan diri?"

Rupanya Bong Thian-gak teringat tantangan Jit-kaucu atas diri Ku-lo Hwesio dirahasiakan terhadap orang lain, berarti gerak-geriknya pasti akan dilakukan dengan hati-hati sekali, paling tidak dia akan mencari tempat tertutup atau sering menengok ke belakang.

Tapi orang yang sedang berlari di depan sana tak pernah berhenti, langsung menuju ke arah hutan tanpa sangsi atau curiga.

Baru saja Bong Thian-gak mengemukakan hal itu, Ho Putciang dan Thia Leng-juan juga merasa orang di depan sedikit pun tidak mirip Ku-lo Sinceng.

Akhirnya Ho Put-ciang berseru tertahan.

"Aduh celaka, kita sudah termakan siasat memancing harimau turun gunung."

"Lantas siapakah orang di depan sana?"

Tanya Bong Thiangak kemudian.

"Mungkin Goan-ko Taysu!"

"Mari kita menyusulnya!"

Selesai berkata, mereka segera mempercepat langkah, seperti anak panah terlepas dari busur, tak lama telah berhasil menyusul di belakang orang itu.

Sementara itu orang di depan sana merasa jejaknya sedang diikuti, mendadak saja ia memperlambat gerak tubuhnya.

Bong Thian-gak, Ho Put-ciang, Thia Leng-juan bertiga segera melampaui orang itu sambil berpaling.

Tampak orang itu berwajah bulat, berkulit putih dan berwajah merah, mengenakan jubah abu-abu yang kedodoran dan panjang.

Siapa lagi orang ini kalau bukan Goan-ko Taysu?

Ketika Goan-ko Taysu menyaksikan Ho Put-ciang bertiga telah menyusul, sekulum senyuman segera menghiasi wajahnya, katanya.

"Toa-supek Pinceng menyuruh aku meninggalkan gedung Bengcu secara diam-diam pada tengah malam ini menuju ke arah tenggara, katanya aku akan segera bertemu dengan Ho-bengcu sekalian, ternyata kalian bertiga datang tepat pada waktunya, entah ada urusan apa kalian memanggil Pinceng datang kemari?"

Ketika mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak sekalian merasa gelisah bercampur geli. Ho Put-ciang tidak menjawab pertanyaan Goan-ko Taysu, sebaliknya bertanya cemas.

"Ko-siauhiap, bagaimana cara menyusul Ku-lo Supek?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Di saat kita mengejar Goan-ko Taysu tadi, Ku-lo Locianpwe sudah pasti telah berangkat untuk memenuhi janji, kemana kita harus menemukannya sekarang?"

"Kita sekarang berempat, mari kita berpencar ke empat penjuru mencarinya, ya ... apa boleh buat, lebih baik kita mengadu untung ...."

Kata Thia Leng-juan kemudian. Agaknya Goan-ko Taysu masih bingung dan tak habis mengerti akan duduknya persoalan, segera tanyanya.

"Hobengcu, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Sekarang waktu amat mendesak dan tidak mungkin diceritakan, mari kita berpencar mencari Ku-lo Supek, begitu menemukan jejaknya kita harus membantunya secara diamdiam."

"Baik,"

Sambung Thia Leng-juan.

"Kita pakai gedung Bu-lim bengcu sebagai pusat, mari kita berpencar."

Selesai berkata dia membalik tubuh dan berlalu lebih dulu.

Ho Put-ciang segera melakukan pencarian ke arah utara.

Kini tinggal Bong Thian-gak dan Goan-ko Taysu yang masih berdiri tak berkutik.

Melihat itu, Goan-ko Taysu segera bertanya.

"Ko-sicu hendak mencari ke arah mana?"

"Ke arah selatan!"

Selesai berkata, dia lantas berangkat menuju ke arah barat.

Sepeninggal semua orang, Bong Thian-gak mendongakkan kepala memandang letak bintang, lalu menyapu pandang sekeliling tempat itu, akhirnya dia bergumam.

"Ku-lo Sinceng memerintahkan Goan-ko menuju ke tenggara, menanti kita merasa tertipu dan balik kembali ... kalau begitu tempat yang dituju kalau bukan timur pasti selatan. Ke arah timur menuju ke pantai pesisir, sedang ke arah selatan merupakan kuburan dan dataran bukit... ah, betul! Sudah pasti tempat itu."

Selesai bergumam Bong Thian-gak segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna menuju ke selatan.

Ilmu meringankan tubuhnya sangat sempurna, tak lama kemudian dia telah menempuh perjalanan sejauh puluhan li dan tiba di sebuah tanah berbukit-bukit.

Sejak kecil Bong Thian-gak hidup di kota Kay-hong, maka dia pun tahu tempat ini bernama Kui-thau-nia (Tebing kepala setan).

Sejauh mata memandang, di sana-sini hanya berupa tanah berbukit yang tinggi rendah tak menentu, berlapis-lapis memanjang ke arah selatan, tiap tebing berketinggian hampir tiga puluh kaki dengan bentuk seperti kepala manusia, oleh sebab itulah tebing itu dinamakan Tebing kepala setan.

Bong Thian-gak ragu sejenak, akhirnya dia mengerahkan Ginkang menuju tebing paling tinggi dari Kui-thau-nia, dari tempat ketinggian itulah dia mencoba memeriksa keadaan di sekitar sana.

Sinar rembulan yang memancarkan sinar lembut membantu penerangan sekitar sana, tapi suasana di sekeliling Kui-thaunia amat sepi bagaikan kota mati saja.

"Mungkinkah aku salah menduga?"

Bong Thian-gak berpikir. Tapi ia segera berpikir lagi.

"Tapi selain tempat ini, di sebelah selatan tak terdapat tempat lain yang cocok untuk melangsungkan pertarungan."

Sementara dia masih tertegun dan berdiri termangu, mendadak dari arah bukit sebelah utara Bong Thian-gak menyaksikan ada sesosok bayangan orang sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi.

Waktu itu Bong Thian-gak sudah memilih tempat persembunyian, matanya mengawasi pendatang itu tanpa berkedip.

Sementara pendatang itu semakin mendekati bukit Kuithau-nia.

Ternyata pendatang ini tak lain adalah Ku-lo Sinceng dari kuil Siau-lim-si.

Ku-lo Hwesio mengenakan baju berwarna kuning, tasbihnya tergantung di depan dada, tangannya memegang Hud-tim dan berjalan naik ke atas bukit dengan langkah amat tenang.

Ku-lo Hwesio yang bermata tajam memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian berjalan ke tanah rumput dan duduk bersila di sana.

Tempat persembunyian Bong Thian-gak berada di belakang batu karang di sebelah kiri Ku-lo Hwesio, di depan batu cadas itu kebetulan tumbuh dua batang pohon pinus yang rendah sehingga menutupi batu karang tadi.

Bong Thian-gak menyangka Ku-lo Hwesio baru akan muncul pada saat ini, ketika ia mencoba mendongakkan kepala, tengah malam baru lewat seperempat jam, ia tak tahu jam berapakah Jit-kaucu menantang Ku-lo Hwesio untuk bertarung di sini?

Sementara itu Ku-lo Hwesio sudah duduk bersila di situ sembari bersemedi, Bong Thian-gak juga tak berani bertindak sembarangan, dia tahu saat Ku-lo Sinceng bersemedi, telinganya yang tajam dapat menangkap suara napas yang berada dua puluh kaki sekitar tempat itu.

Maka Bong Thian-gak segera menggunakan ilmu Kui-sihoat (ilmu napas kura-kura) dengan menempelkan diri di batu cadas itu.

Waktu berlalu detik demi detik, menit demi menit ...

tengah malam lewat...

jam satu tiba ....

Jam satu lewat, jam dua pun menjelang ...

akhirnya malam yang panjang akan berakhir.

Diam-diam Bong Thian-gak berpikir.

"Aneh, mengapa Jitkaucu belum juga datang? Atau mungkin Ku-lo Hwesio akan menunggu seharian di sini?"

Belum habis ingatan itu melintas, di keheningan yang mencekam di Kui-thau-nia, mendadak berkumandang suara teguran dingin bagai es.

"Ku-lo Hwesio, sejak kapan kau sampai di sini?"

Bong Thian-gak amat terkejut mendengar ucapan itu, dengan cepat dia mencoba mencari dengan mengarahkan ketajaman matanya.

Di tengah kegelapan malam yang paling gelap menjelang tibanya fajar, Jit-kaucu menampakkan diri.

Sesosok bayangan tubuh yang putih melayang keluar dari balik kabut yang tebal, seperti sosok bayangan setan tahutahu sudah berdiri di hadapan Ku-lo Hwesio.

Sementara itu Ku-lo Hwesio masih tetap duduk di atas tanah, sahutnya.

"Menjelang tengah malam, Pinceng sudah sampai."

"Hwesio tua, begitu pagi kau sampai di sini, apakah kuatir aku memasang jebakan di sini?"

"Pinceng tidak berani."

Kembali Jit-kaucu tertawa dingin.

"Sam-kaucu telah dikerubut di pagoda Leng-im-po-tah hingga menemui ajal, hari ini mengapa kau tak mengundang orang-orangmu itu, sehingga Kaucu tak usah repot-repot?"

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu terkejut, segera pikirnya.

"Mungkinkah dia tahu aku bersembunyi di sini?"

Sementara dia masih berpikir, Ku-lo Hwesio telah menyahut.

"Bila ada orang yang menyembunyikan diri di sini, rasanya juga tak bakal lolos dari pengintaian Li-sicu."

"Bagus,"

Kata Jit-kaucu dingin.

"Perjanjian kita pada kentongan kelima merupakan perjanjian menentukan mati hidup kita, sekarang kita boleh melangsungkan pertarungan."

"Tunggu dulu!"

Seru Ku-lo Hwesio tiba-tiba.

"Apakah kau hendak meninggalkan pesan terakhirmu?"

"Sebelum pertarungan dimulai, Pinceng ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Li-sicu.

"Persoalan apakah yang hendak kau pahami?"

"Pertama-tama, Pinceng ingin mengetahui lebih dulu apakah Li-sicu adalah Li-siausicu yang pernah muncul di ruang belakang kuil Siau-lim-si pada delapan tahun berselang?"

"Daya ingatmu sangat bagus!"

Si Hwesio sudah mengira, tapi mendengar pengakuan itu, tak urung hatinya terperanjat juga. Setelah berhenti sesaat, Ku-lo Hwesio kembali berkata.

"Delapan tahun berselang, Li-sicu telah menggunakan ilmu Jian-yang-ciang untuk menghantam Pinceng, entah perselisihan atau dendam kusumat apakah yang terjalin antara Pinceng dengan Li-sicu?"

Jit-kaucu tertawa dingin.

"Delapan tahun berselang, aku sudah menerangkan kepadamu bahwa aku mendapat perintah mencabut nyawamu, sama sekali tiada ikatan dendam atau sakit hati pribadi!"

"Omitohud!"

Puji syukur Ku-lo Hwesio untuk keagungan Sang Buddha.

"Li-sicu memiliki ilmu silat yang amat dahsyat, namun perbuatanmu justru mencelakai orang secara sembarangan, apakah kau tak merasa bahwa tindakanmu ini melanggar norma-norma hukum Thian?" .

"Suhuku telah membuang waktu selama dua puluh tahun untuk mendidikku siang malam, Hwesio tua, kau tak usah bersilat lidah lagi."

"Siapakah Suhu Li-sicu? Dapatkah memberitahu kepadaku?"

"Dia adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."

"Apakah Cong-kaucu itu pria atau wanita?"

Kembali Ku-lo Hwesio bertanya sambil menghela napas panjang.

"Perempuan! Sebenarnya persoalan itu tidak boleh kuberitahukan kepadamu, tapi mengingat kau akan kembali ke langit barat, tidak ada salahnya kuberitahukan kepadamu!"

Sekali lagi Ku-lo Hwesio menghela napas.

"Bila begitu, perkiraan Pinceng tak salah, kalau Li-sicu telah mengatakannya, mengapa tak kau sebutkan juga nama gurumu itu?"

"Sudah diberi hati minta ampela ... ai, padahal aku sendiri pun tak tahu siapa namanya."

"Masih ada satu hal lagi yang hendak kutanyakan, yaitu ilmu Soh-li jian-yang-sin-kang yang dilatih Li-sicu sudah berhasil mencapai tingkat berapa?"

"Sudah mencapai tingkat kesembilan, Hwesio tua, buat apa kau menanyakan persoalan ini?"

Dengan sedih Ku-lo Hwesio menghela napas panjang.

"Sebab dalam pertarungan ini, Pinceng sama sekali tidak mempunyai keyakinan untuk menang, andai aku tewas di tangan Li-sicu, mungkin di Bu-lim dewasa ini tidak ada orang yang bisa menghadapimu lagi."

Jit-kaucu tertawa terkekeh-kekeh.

"Kau adalah jago lihai nomor satu dalam Bu-lim, bila aku dapat membunuhmu, apakah di Bu-lim masih ada orang yang bisa mengungguli diriku lagi?"

Dengan suara dalam Ku-lo Hwesio berkata.

"Ilmu silat amat luas dan dalam, sama sekali tiada batasannya. Sejak dulu pun banyak orang berbakat yang berhasil mempelajari ilmu sakti dan menganggap dirinya tanpa tanding di kolong langit, tapi akhirnya mereka justru tewas di tangan orang lain. Li-sicu adalah seorang cerdik, tentunya kau dapat memahami perkataanku bukan?"

"Hm, kini kentongan kelima sudah lewat, kau tak usah banyak bicara lagi!"

Tukas Jit-kaucu dingin.

"Omitohud, para Nabi pernah berkata, tiada manusia yang tak pernah berbuat kesalahan, tapi siapa yang mau mengubah kesalahannya, dialah manusia bijaksana, Li-sicu mumpung belum terperosok lebih dalam lagi, lepaskanlah golok pembunuhmu, karena bila kau berpaling, di sanalah akan kau jumpai tepian."

Beberapa patah kata itu diutarakan dengan suara nyaring sehingga menggetarkan seluruh bukit dan mendengung tiada hentinya. Paras muka Jit-kaucu berubah hebat, segera bentaknya.

"Hari ini aku mengundangmu datang bukan untuk mendengarkan kuliah Taysu, bila Taysu memiliki ilmu sakti pelindung badan, gunakan saja dengan segera!"

Sementara itu fajar telah menyingsing di ufuk timur, cahaya keemas-emasan pun mulai memancar ke empat penjuru.

Jit-kaucu mengenakan pakaian berwarna putih dengan mantel yang terbuat dari bulu rase putih, begitu anggun, cantik dan memukau.

Sebaliknya Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si duduk bersila di tanah dengan sikap kereng dan serius, ia mengenakan kain berwarna kuning dengan tasbih tergantung di leher, sepasang tangannya dirapatkan menjepit sebatang Hud-tim.

Kini kedua tokoh sakti dari dunia persilatan ini berdiri dalam jarak dekat tempat mata memancarkan sinar tajam saling tatap, pertempuran sengit akan segera berlangsung.

Bong Thian-gak berada puluhan kaki dari arena, matanya yang tajam mengawasi gerak-gerik kedua orang itu tanpa berkedip.

Mendadak Jit-kaucu melejit ke tengah udara, kemudian secepat kilat menerjang ke arah Ku-lo Hwesio.

Terhadap terjangan Jit-kaucu itu, Ku-lo Hwesio bersikap seakan-akan tidak melihat, dia tetap duduk bersila sambil memegang kebutnya tanpa bergerak.

Ketika terjangan Jit-kaucu hampir mencapai tubuh Ku-lo Sinceng, mendadak dia melesat dengan cepat, lalu melayang turun, kemudian dengan suara dingin bentaknya.

"Hwesio tua, tenaga dalammu benar-benar amat sempurna, rupanya kau telah menguasai ilmu Tat-mo-khi-kang!"

Begitu selesai berkata, Jit-kaucu melejit kembali ke tengah udara.

Pertarungan sengit dengan kecepatan tinggi pun segera berkobar.

Tatkala tubuh Jit-kaucu telah berada dekat Ku-lo Sinceng, tangan kanannya diayun berulang-kali dan secara beruntun melancarkan empat serangan berantai.

Ku-lo Hwesio segera melancarkan serangan balasan, sepasang telapak tangannya yang menjepit kebut mendadak menyambar ke samping, kebut tadi telah menari-nari dengan cepat.

"Wes", hembusan tajam menderu. Untuk kedua kalinya terjangan Jit-kaucu mengalami kegagalan dan tubuhnya segera mundur. Bong Thian-gak menonton jalannya dua kali bentrokan kekerasan dari Ku-lo Sinceng dan Jit-kaucu, hatinya terperanjat, pikirnya.

"Kalau aku yang dihadapkan dengan serangan itu, mungkin serangan yang pertama Jit-kaucu pun tak mampu kutahan."

Setelah gagal dengan serangannya, tiba-tiba Jit-kaucu menghindar dengan wajah serius, selapis hawa dingin mencekam wajahnya, dihiasi pula dengan hawa nafsu membunuh yang mengerikan.

Sementara itu paras muka Ku-lo Hwesio juga berubah serius.

Mendadak Jit-kaucu mengangkat telapak tangan kirinya pelan-pelan, kemudian telapak tangan yang putih dan halus itu diluruskan ke depan, pada telapak tangannya lamat-lamat tampak cahaya merah membara seperti bola api yang berputar kencang.

Dengan kening berkerut, Bong Thian-gak membatin.

"Mungkin serangan inilah yang dinamakan ilmu Soh-li-jian-sinkang yang hebat itu!"

Belum habis ingatan itu melintas, tubuh Jit-kaucu sudah melejit lagi ke tengah udara dan melancarkan tubrukan ketiga kalinya.

Mungkin dalam serangan inilah akan ditentukan menangkalah kedua belah pihak.

Pertarungan itu mungkin tidak akan berlangsung terlampau lama, oleh sebab itu Bong Thian-gak mengalihkan sorot matanya yang tegang mengawasi jalannya pertarungan tanpa berkedip.

Tampak Jit-kaucu pelan-pelan bergerak ke depan dan lambat-laun mendekat ke arah Ku-lo Hwesio.

Tiba-tiba telapak tangan kiri Jit-kaucu yang putih memancarkan cahaya merah yang amat menyilaukan mata, ibarat matahari yang baru terbit, bola api berputar-putar.

Di saat itu pula telapak tangan Jit-kaucu segera memanfaatkan kesempatan untuk menerobos masuk.

Kenyataan membuktikan bahwa ilmu pukulan Soh-li-jiansin-kang Jit-kaucu telah berhasil memecah pertahanan Tatmo-khi-kang yang disalurkan Ku-lo Hwesio untuk melindungi tubuhnya.

Dalam waktu yang amat singkat itulah telapak tangan kedua belah pihak memainkan berbagai macam jurus serangan yang aneh tapi amat sakti.

Suara jeritan keras bergema di udara dan mengakhiri pertarungan itu.

Tubuh Jit-kaucu mencelat ke samping kanan kemudian jatuh terbanting ke tanah, kemudian tak berkutik lagi.

Sebaliknya jubah kuning yang dipakai Ku-lo Hwesio juga banyak terdapat lubang di sana-sini, namun dia masih tetap berdiri dan diam di tempat semula.

Bong Thian-gak yang menyaksikan adegan itu menjadi gembira, akhirnya Jit-kaucu berhasil juga dikalahkan.

Sebenarnya ia ingin keluar dari tempat persembunyiannya untuk memburu ke depan, tapi setelah menyaksikan Ku-lo Hwesio masih tetap berdiri tak berkutik di tempat semula, ia tertegun.

Tak lama kemudian, Ku-lo Hwesio menghembus napas panjang dengan sedih, lalu melangkah ke depan menuju ke arah Jit-kaucu yang terkapar di tanah itu.

Kini Bong Thian-gak dapat melihat muka Ku-lo Hwesio pucat-pias seperti mayat, tampaknya dia telah banyak kehilangan hawa murninya.

Setelah mengawasi beberapa kejap tubuh Jit-kaucu yang tak berkutik itu, Ku-lo Hwesio baru membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Bong Thian-gak ingin memanggil, namun setelah termenung sebentar dia lantas berpikir.

"Entah bagaimanakah keadaan Jit-kaucu?"

Teringat akan Jit-kaucu, Bong Thian-gak segera teringat pula keindahan tubuh si nona yang telanjang bulat itu.

Ku-lo Hwesio berlalu dengan sangat cepat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Pada saat itulah Bong Thian-gak muncul dari balik batu karang dan berjalan mendekat.

Matahari pagi telah memancarkan sinarnya menembus awan tebal dan menyoroti wajah Jit-kaucu.

Tampak Jit-kaucu memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya yang cantik kini pucat keabu-abuan, tiada luka di atas tubuhnya, namun ujung bibirnya tampak noda darah, pakaiannya juga penuh dengan noda darah.

Diam-diam Bong Thian-gak menghela napas panjang, pikirnya.

"Gadis yang begini cantik akhirnya harus menemui ajal dalam keadaan mengenaskan, tak lama kemudian dia akan berubah menjadi sekerat tulang-belulang."

Berpikir sampai di sini, dia lantas merenung lebih jauh.

"bagaimana pun juga dia sudah mati, kasihan jenazahnya dibiarkan telantar disinari terik matahari, ditimpa air hujan atau mungkin akan menjadi santapan serigala kelaparan .... Ai, bagaimana pun juga kematian akan mengakhiri segalagalanya, biarlah kubuatkan sebuah liang untuk mengubur jenazahnya!"

Bong Thian-gak segera mencabut pedangnya yang tajam dan menggunakan pedang sebagai sekop untuk menggali sebuah liang kubur di situ.

Setelah membuang waktu hampir setengah jam lamanya, dia telah berhasil membuat sebuah liang.

Di kala Bong Thian-gak berpaling untuk mengubur jenazah Jit-kaucu, mendadak dia tertegun.

Rupanya jenazah itu sudah lenyap entah kemana perginya.

Sementara Bong Thian-gak terkejut, tiba-tiba terdengar seorang menegur dengan suara merdu.

"Buat apa kau menggali liang kubur?"

Mendengar teguran itu kembali ia berpaling, hampir saja pemuda itu menjerit keras.

Ternyata Jit-kaucu sudah duduk di bawah pohon kurang lebih belasan kaki di hadapannya.

Jadi dia belum mati?

Bong Thian-gak sungguh terperanjat, sekali lagi ia mengawasi tubuh nona itu dengan seksama, ternyata ujung bibirnya masih penuh noda darah, pakaiannya juga masih berlepotan darah, hanya paras mukanya yang semula pucatpias, kini sudah nampak lebih baikan.

Menyaksikan Bong Thian-gak lama sekali membungkam, Jit-kaucu menghela napas sedih, kemudian katanya.

"Apakah kau membuat liang kubur itu untuk mengubur jenazahku?"

"Kau ... kau belum mati?"

Bong Thian-gak berseru tergagap.

"Kalau sudah mati, bagaimana mungkin bisa bicara?"

Jawab Jit-kaucu hambar. Bong Thian-gak segera menggerakkan badannya seraya berseru lantang.

"Jika kau belum mati, maka aku harus mencabut jiwamu."

"Mengapa engkau hendak mencabut nyawaku?"

Tegur Jitkaucu tanpa berubah wajah. Bong Thian-gak tertegun oleh pertanyaan itu, setelah termenung sebentar, ia baru menjawab.

"Kau adalah pentolan yang menerbitkan berbagai keonaran dalam Bu-lim, sebelum kau mati, dunia persilatan tak akan memperoleh kedamaian."

"Ku-lo Hwesio saja tak mampu mencabut nyawaku, apalagi kau ... kau tak mungkin berhasil."

"Jadi kau hanya pura-pura mati?"

Tanya Bong Thian-gak dengan perasaan bergetar keras.

"Aku jatuh tak sadarkan diri tapi tidak mati, ilmu silat Hwesio tua itu memang sangat lihai, sangat sempurna, cuma sayang dia ..."

"Dia kenapa?"

Seru Bong Thian-gak cepat.

"Dia tak bisa hidup lebih tujuh hari,"

Kata Jit-kaucu.

"Mengapa tak dapat hidup lebih tujuh hari?"

"Tadi dia telah menggunakan pertarungan adu jiwa yang bisa menyebabkan kedua belah pihak sama-sama terluka, pada kesempatan itu jalan darah Jin-meh dan Tok-meh Hwesio tua itu telah kulukai dengan pukulan Soh-li-jian-yangsin-kang. Dia tidak segera tewas karena tenaga dalamnya sempurna, tapi akhirnya tak akan lolos juga dari kematian."

Bong Thian-gak benar-benar terperanjat mendengar ucapan itu.

"Sungguh perkataanmu itu?"

"Apa yang kuucapkan tentu saja sungguh-sungguh."

Paras Bong Thian-gak berubah hebat, dia tak menyangka jerih-payah Ku-lo Hwesio untuk melenyapkan Jit-kaucu dari muka bumi menjadi punah tak berbekas, dia tak segan mengorbankan jiwa sendiri dengan melakukan pertarungan adu jiwa.

Baginya, asal Jit-kaucu bisa dilenyapkan, sekali pun harus mati dia tak sayang, namun ia bertindak kurang teliti, sebelum memeriksa mati-hidup lawan, ia telah berlalu begitu saja dan akibatnya usaha yang dilakukan selama ini menjadi sia-sia belaka.

Tadi selagi Jit-kaucu tak sadar, bila Ku-lo Hwesio mengetahui gadis itu belum mati tentu akan menambahi dengan sebuah pukulan mematikan, sudah pasti Jit-kaucu takkan bisa hidup lebih lama.

Bong Thian-gak pun menyesal mengapa tak memeriksa lebih dulu atau mungkin Jit-kaucu memang belum ditakdirkan untuk mati?

Terdengar Jit-kaucu berkata.

"Kau yang menjumpai aku mati ternyata tak tega membiarkan jenazahku terbengkalai di tanah terbuka, bahkan menggalikan liang lahat untuk mengubur jenazahku, meski aku tak jadi mati, namun kebajikan serta kemuliaan hatimu sungguh membuat aku terharu dan tidak akan melupakan kebaikanmu itu untuk selamanya."

Sementara itu pikiran Bong Thian-gak amat kalut, dalam keadaan dan kondisi seperti ini sudah seharusnya ia menampilkan diri dan menggunakan segenap kekuatan yang ada untuk menyelesaikan tugas Ku-lo Sinceng yang belum terselesaikan itu.

Begitu niat itu melintas, Bong Thian-gak segera mengambil keputusan dalam hati, sesudah tertawa dingin, katanya.

"Aku tidak peduli bagaimana ilmu silatmu, aku bertekad bertarung melawanmu."

"Aku pun mengambil keputusan untuk tidak mencelakai jiwamu, sebagai ucapan terima kasihku atas kebaikanmu membuat liang lahat bagiku tadi."

"Maaf kalau begitu!"

Sambil berkata dia segera maju sembari melancarkan sebuah tusukan kilat.

Ilmu silat Bong Thian-gak sekarang telah mencapai tingkat yang luar biasa, tusukan itu pun disertai tenaga yang amat dahsyat, itulah ilmu pedang terbang Cwan-sim-kiam-hoat (Ilmu pedang penembus hati).

Jit-kaucu masih duduk di bawah pohon tanpa bergerak, menanti serangan itu datang, tiba-tiba saja dia menyentilkan jari tangannya ke depan.

Bunyi bergemerincing yang memekakkan telinga berkumandang memecah keheningan.

Sambil menarik kembali senjatanya, Bong Thian-gak mundur sejauh tiga-empat langkah, kemudian serunya dengan terperanjat.

"Hm, ilmu jari Kiam-goan-ci!"

"Betul, inilah Kiam-goan-ci, ilmu sakti perguruan Mi-tiongbun di Tibet. Kiu-kaucu perkumpulan kami pernah memberitahu kau punya ilmu sakti aliran Mi-tiong-bun, nampaknya apa yang dia laporkan memang benar."

"Kau maksudkan si nona berbaju merah itu?"

"Ya, betul! Ni Kiu-yu!"

Bong Thian-gak memang sudah menduga gadis berbaju merah yang muncul di pagoda Leng-im-po-tah itu tentu merupakan anggota Put-gwa-cin-kau, ternyata apa yang diduga memang betul, gadis muda itu adalah Kiu-kaucu.

Jit-kaucu berkata lagi.

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 3

Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert