Eps 1 Pendekar Cacad - Gu Long
Baca online Pendekar Cacad - Gu Long
Cersil Pendekar Cacad - Gu Long.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ . Pendekar Cacad Karya . Gu Long Saduran . Tjan ID
Jilid 1.
Matahari telah tenggelam di langit barat, sinar keemasemasan membias di angkasa dan menyinari suasana senja yang amat indah.
Di tengah sebuah jalan raya yang lebar, mendadak terdengar suara ringkik kuda yang amat keras, bergema memecah keheningan.
Di bawah sinar keemas-emasan yang membias di angkasa, dari kejauhan di sebelah barat terlihat seekor kuda berbulu kuning berlari dengan kencang.
Anehnya, kuda jempolan yang sedang berlari kencang sambil meringkik tiada hentinya itu tanpa penunggang di atas pelananya.
Kuda tanpa penunggang itu berlari kencang menuju ke arah timur dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Akhirnya sampailah kuda jempolan tadi di muka sebuah gedung megah yang dikelilingi tembok pekarangan berwarna merah.
Empat orang pria berbaju hitam yang membawa tombak berdiri berjaga di kedua sisi pintu gerbang gedung itu, ketika menyaksikan kehadiran kuda itu, paras muka mereka berubah hebat.
Mendadak kuda jempolan itu meringkik panjang, suaranya keras dan sangat memilukan hati.
Belum habis suara ringkiknya, keempat kaki kuda sudah menjejak tanah, lalu seperti anak panah terlepas dari busurnya, ia menubruk ke patung singa yang berada di sebelah kanan pintu.
Terdengar suara benturan diikuti bunyi remuknya tulang, darah dan hancuran daging beterbangan, ternyata kuda itu melakukan bunuh diri dan mati seketika itu juga.
Tindakan yang amat mendadak dan sama sekali tidak terduga ini berlangsung dalam sekejap, mimpi pun keempat orang pengawal itu tidak menyangka kuda jempolan itu akan melakukan bunuh diri di hadapan mereka, sesaat mereka terbelalak lebar dengan mulut melongo.
Tampaknya kuda itu adalah kuda jempolan yang berperasaan, karena majikannya tewas, maka ia pun bunuh diri menyusul tewasnya sang majikan.
oo Gedung nomor satu di kota Kay-hong, gedung yang ditinggali Bu-lim Bengcu, disebut pula Bu-lim Bengcu-hu.
Gedung itu tinggi dan amat megah dengan pintu gerbang besar serta bangunan yang beratus-ratus banyaknya.
Tengah hari baru menjelang, matahari bersinar dengan teriknya, tiang lentera yang tingginya enam-tujuh kaki di tengah halaman gedung Bu-lim Bengcu ini tampak bendera putih berkibar dengan megahnya, di antara kain putih tertera huruf-huruf yang mengartikan duka-cita.
Pada halaman depan gedung megah itu tampak banyak kereta diparkir di situ, banyak pula orang yang berlalu-lalang melalui pintu gerbang itu.
Tapi mereka harus melalui pemeriksaan dan pengawasan seksama oleh dua puluh empat Busu berbaju hitam sebelum masuk ke dalam.
Semua Busu berbaju hitam itu membawa senjata lengkap, pada lengannya dibalut kain hitam yang menandakan berduka-cita, wajah mereka rata-rata serius, dengan sorot mata tajam mengawasi setiap orang yang keluar masuk di dalam gedung.
Mendadak di sudut lapangan di luar gedung muncul seorang sastrawan berbaju hitam berwajah tampan, bertubuh kekar, tapi kalau berjalan, kaki kirinya pincang.
Paras mukanya pucat kekuning-kuningan, seperti wajah seorang berpenyakitan, kesepian dan kehilangan semangat.
Lama sekali pemuda berbaju hitam itu berdiri termenung di situ, akhirnya selangkah demi selangkah secara terpincangpincang menaiki anak tangga batu dan mengikuti kerumunan orang banyak bersama-sama memasuki pintu gerbang.
Tiba-tiba dari sisi jalan melompat keluar dua orang Busu berbaju hitam yang menghadang jalan perginya, kemudian terdengar Busu yang di sebelah kanan menegur.
"Saudara, harap berhenti dulu!"
Agak tertegun sastrawan berbaju hitam itu mendengar teguran itu, ia berhenti dan segera menjura dalam-dalam.
"Aku datang hanya untuk menyampaikan duka-citaku terhadap kematian Bengcu,"
Buru-buru ia menerangkan.
"Harap saudara sudi memperlihatkan surat duka-citanya."
"Surat duka-cita?"
Pemuda itu tertegun.
"Ah, benar, lantaran tergesa-gesa melakukan perjalanan, aku lupa membawanya."
Busu itu segera menggeleng.
"Jauh-jauh saudara datang ke kota Kay-hong untuk melawat, arwah Bengcu di alam baka pasti mengetahui dan berterima kasih sekali, sayang aku tak mengizinkan kau memasuki gedung Bengcu ini."
"Ai ...."
Pemuda itu menghela napas.
"Sudah lama kukagumi Oh-bengcu yang gagah perkasa, apakah aku tidak boleh masuk sebentar untuk menyampaikan hormatku di depan layonnya?"
Agak tercengang juga Busu itu ketika dilihatnya sepasang mata pemuda berpenyakitan itu berkaca-kaca waktu bicara, namun ia tetap menggeleng kepala.
"Aku pun berterima kasih atas kehadiranmu yang tulus untuk turut berduka-cita atas kematian Oh-bengcu, sayang panitia pemakaman telah memerintahkan, siapa yang tak diketahui identitasnya dilarang menghadiri upacara ini. Jadi terpaksa kehadiranmu kami tolak!"
Pemuda berbaju hitam itu nampak semakin sedih sesudah mendengar perkataan itu, dia menghela napas sedih, rasa kesepian dan kehilangan semangat makin kentara.
Ia membalikkan tubuh, lalu dengan terpincang-pincang menuruni anak tangga batu.
Dalam hati ia bergumam dengan penuh kesedihan.
"Sepuluh tahun dipelihara dan dididik, budi kebaikan ini lebih dalam dari samudra, aku harus menyembah di muka layon guruku, meski aku Bong Thian-gak adalah murid yang sudah dikeluarkan dari perguruan. Tapi budi Suhu tak akan kulupakan. Oh! Suhu, maafkanlah aku! Bong Thian-gak akan mengingkari larangan kau orang tua dan melangkah masuk ke dalam gedung Bu-lim Bengcu!"
Malam sudah kelam, langit sangat gelap, tiada rembulan, tiada bintang, yang ada hanya awan gelap yang menyelimuti seluruh angkasa.
Dari balik hutan di sebelah timur laut gedung Bu-lim Bengcu, mendadak muncul sesosok bayangan.
Dengan sepasang matanya yang tajam, dia memandang sekejap halaman gedung Bu-lim Bengcu yang terang benderang bermandikan cahaya, kemudian dengan menyeret kakinya yang pincang, pelan-pelan dia berjalan menuju ke sudut dinding.
Tampak pemuda itu tanpa bertekuk lutut atau menggerakkan pinggang, dengan enteng melompat naik ke atas tembok pekarangan.
Ilmu meringankan tubuh yang sempurna, betul-betul amat hebat orang tidak akan menyangka seorang pemuda pincang dapat memiliki kepandaian sedemikian hebatnya.
Perlu diketahui, untuk bisa melompat naik tanpa menekuk lutut dan menggerakkan pinggang, orang harus menggantungkan tenaga pantulan kedua belah lengannya, padahal ia harus melampaui tembok pekarangan setinggi satu tombak lebih, hal itu tak mungkin bisa dilakukan seandainya dia tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna.
Bong Thian-gak tidak berhenti lama di atas tembok pekarangan, secepat kilat dia meluncur turun dan menyembunyikan diri.
Saat itulah bergema suara langkah orang, dari depan sana muncul tiga orang pengawal berbaju hitam sedang melakukan perondaan.
Dengan amat teratur dan berdisiplin tinggi, mereka melakukan pemeriksaan seksama ke sekeliling halaman, sementara sebilah pedang pendek tergantung di pinggang masing-masing.
Ketika tahu hal ini, lagi-lagi ia terperanjat.
"Heran!"
Ia berpikir.
"Mengapa gedung Bu-lim Bengcu harus dijaga sedemikian ketat, bahkan beberapa kali lebih ketat daripada dulu?"
Mendadak ia teringat kejadian siang tadi, sewaktu ia dilarang penjaga pintu memasuki gedung. Berbagai kecurigaan segera berkecamuk dalam benak pemuda itu. Kembali ia berpikir.
"Semasa masih hidupnya dulu, Suhu adalah seorang Bengcu persilatan angkatan kedua puluh sembilan yang namanya menggetarkan seluruh sungai telaga, kini dia orang tua telah tiada, sepantasnya kalau setiap umat persilatan diberi kesempatan menyampaikan penghormatan yang terakhir, mengapa hanya orang yang menerima surat duka-cita saja yang diizinkan hadir?"
Belum habis dia berpikir, mendadak terdengar salah seorang di antara tiga pengawal itu berkata.
"Ah Jiang, sejak kematian Oh-bengcu, selama empat puluh sembilan hari ini gedung Bengcu dijaga sedemikian ketatnya sehingga burung pun tidak bisa lewat, tindakan ini benar-benar tidak habis kumengerti."
"Hm, selama empat puluh sembilan hari ini kita benarbenar tersiksa,"
Rekannya mendengus.
"Coba kalau sikap Ohbengcu semasa hidup dulu tidak baik terhadap kita, maknya, aku benar-benar akan mencaci-maki kawanan telur busuk itu sampai tujuh turunan."
Pengawal yang bernama Ah Jiang tampaknya merupakan ketua regu, dengan cepat membentak.
"Kalian berdua jangan sembarangan bicara, kalian tahu apa? Konon sejak kuda tunggangan Bengcu kembali ke Kay-hong dengan membawa warta kematian Bengcu dan bunuh diri di depan patung singa, lima jago lihai yang secara kebetulan bertamu dalam gedung Bu-lim Bengcu pun secara beruntun menemui ajal secara aneh."
Mengikuti suara langkah mereka yang makin menjauh, suara pembicaraan itu pun tak terdengar lagi.
Tetapi serangkaian pembicaraan itu cukup membuat Bong Thian-gak terperanjat.
Sekarang ia sudah tahu apa sebabnya suasana dalam gedung Bu-lim Bengcu sedemikian tegang dan pengawasan dilakukan seketat itu, sebenarnya ia mengira Bengcu mati karena sakit, tapi kini ia mulai menduga kematian gurunya merupakan kematian yang tidak wajar.
Kalau begitu, besar kemungkinan gurunya mati dibunuh orang.
Thi-ciang-kan-kun-hoan (Pukulan baja gelang jagad) Oh Ciong-hu merupakan jagoan bernama besar dalam Bu-lim, kesempurnaan ilmu silatnya meskipun belum dapat dikatakan nomor wahid, namun orang persilatan pun belum tentu dapat menangkan ilmu Thi-ciang-kan-kun-hoannya yang maha dahsyat.
Bong Thian-gak, si pemuda pincang itu tidak sanggup menahan diri, dengan enteng dia melompat bangun, lalu dengan mengembangkan Ginkangnya melewati beberapa bangunan.
Setiap jalanan maupun bangunan yang ada di dalam gedung Bu-lim Bengcu ini sangat dikenal olehnya, sekali pun ia hanya memejamkan mata, dia pun bisa melukiskan peta tempat itu, karena tujuh tahun berselang dia pernah tinggal di situ.
Walaupun penjagaan di dalam gedung Bu-lim Bengcu amat ketat, bahkan pada hakikatnya tiap tiga langkah satu pengawal, setiap langkah satu pos penjagaan, tetapi berhubung udara sangat gelap, ditambah lagi Bong Thian-gak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, maka ia dapat menyelundup masuk dengan leluasa.
Seperti segulung asap, dia menyusup ke dalam dan akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan besar.
Tengah malam sudah menjelang tiba, angin malam berhembus mengibarkan kain putih di atas tiang lentera, suasana amat hening, hanya tujuh buah lentera menerangi ruangan itu.
Cahaya lentera yang redup menyinari setiap benda yang ada di situ, karangan bunga di tengah ruangan yang lebar, keranjang bunga di depan pintu gerbang dan kain-kain putih dengan huruf hitam yang tergantung di setiap dinding.
Pada bagian paling belakang ruangan itu tampak sebuah meja abu, di depannya terpajang nama Oh Ciong-hu dan di dinding tergantung lukisan wajahnya.
Bong Thian-gak menjatuhkan diri berlutut di depan sebuah Hiolo berwarna kuning tembaga, air mata bercucuran membasahi wajahnya, seluruh badan gemetar keras menahan isak tangis, walau tiada suara tangis yang terdengar, akan tetapi kesedihan tanpa suara tangis terasa jauh lebih menyedihkan.
Dalam waktu singkat, kenangan lama melintas di depan mata.
Ia teringat kejadian pada tujuh belas tahun berselang, waktu itu hujan salju turun dengan derasnya, ketika ia sedang tergeletak di suatu sudut jalanan kota Kay-hong sambil menahan lapar dan kedinginan, tiba-tiba muncul seorang seperti malaikat menunggang kuda jempolan menyelamatkan jiwanya.
Kemudian orang itu telah memeliharanya, tiga tahun kemudian bahkan ia melanggar kebiasaan dengan menerimanya sebagai murid terakhir.
Begitulah, dia pun merasakan kasih sayang dan kehangatan keluarga dari kakek penolongnya itu.
Sekarang melihat tulisan turut berduka-cita yang memenuhi ruangan, tak tahan ia memanggil dengan sedih.
"Oh, Suhu!"
Ia menubruk ke atas meja altar, lalu sambil memeluk tulisan nama gurunya, ia bergumam lagi.
"Suhu, aku Bong Thian-gak benar-benar sangat berdosa. Suhu, walaupun kau orang tua telah mengusirku dari perguruan, namun dalam hati tak akan kulupakan budi pertolongan dan didikan Suhu selama belasan tahun. Suhu, sebenarnya aku kemari untuk memohon kepadamu agar menerimaku kembali dalam perguruanmu ... tapi kini kau orang tua takkan bisa mengabulkan permintaanku lagi! Selama hidup Bong Thian-gak akan menjadi manusia berdosa yang telah dikeluarkan dari perguruan, oh, Suhu la tak kuasa menahan rasa sedih yang mencekam perasaannya, meledaklah isak tangisnya yang amat memilukan. Sementara Bong Thian-gak masih tercekam dalam suasana sedih, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara helaan napas. Bong Thian-gak segera sadar dari kesedihan dan segera berpaling. Entah sejak kapan di tengah ruangan telah muncul seorang pendeta tua berjubah abu-abu. Telapak tangan kirinya disilangkan di depan dada, sementara tangan kanannya membawa tasbih, wajahnya ramah dan saleh, waktu itu ia sedang bergumam membaca doa. Setelah dapat melihat jelas raut wajah pendeta tua itu, dengan terperanjat Bong Thian-gak berpikir.
"Bukankah pendeta tua ini adalah Ku-lo Siansu, pendeta suci dari Siaulim-pay?"
Ku-lo Siansu, pendeta suci dari Siau-lim-pay adalah Supek ketua Siau-lim-pay sekarang, kedudukannya dalam Bu-lim boleh dibilang adalah angkatan tua.
Bong Thian-gak masih ingat, tujuh tahun berselang, sebelum dia dikeluarkan dari perguruan, pemuda itu pernah mendengar orang berkata, Ku-lo Siansu telah menutup diri dan tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi.
Tak heran kemunculannya sekarang kontan membuat anak muda itu tercengang.
Beberapa saat lamanya pendeta tua itu memejamkan mata sambil berdoa, akhirnya dia membuka mata dan menatap wajah Bong Thian-gak dengan sorot mata setajam sembilu.
"Omitohud! Limpahan perasaan sedih di hadapan layon Ohbengcu benar-benar suatu pelimpahan perasaan yang sebenarnya, bila arwah Oh-bengcu di alam baka tahu, dia pasti akan terhibur, harap Sicu segera menghentikan kesedihanmu itu!"
Dari kata-katanya itu, Ku-lo Siansu dapat melihat Bong Thian-gak telah menderita luka dalam akibat kesedihan yang kelewat batas.
Dengan amat hormat Bong Thian-gak menjura kepada pendeta saleh itu, sahutnya.
"Terima kasih banyak atas nasehat Losiansu."
"Sicu, bolehkah Pinceng tahu, apa hubunganmu dengan Oh-bengcu?"
Tergerak hati Bong Thian-gak.
"Wanpwe pernah menerima budi pertolongan jiwa dari Ohbengcu, budi ini dalamnya melebihi samudra, maka ketika kudengar berita kematiannya, aku menjadi sedih sekali, apalagi bila teringat budi kebaikannya belum sempat kubalas."
Ku-lo Hwesio menghela napas panjang.
"Kegagahan dan kebajikan Oh-bengcu telah mendatangkan berkah dan keuntungan bagi seluruh umat manusia, kini dia telah tiada, kehilangan ini terasa berat dan menyedihkan buat kita, ai ... limpahan perasaan Sicu pasti akan menghibur arwah Oh-bengcu di alam baka."
Mencorong sinar mata tajam dari balik mata Bong Thiangak sesudah mendengar perkataan itu, katanya kembali.
"Aku sudah banyak berhutang budi kepada Oh-bengcu, sekali pun malam ini aku datang untuk menyampaikan rasa dukaku di hadapan layonnya, namun semua itu belum dapat membayar budi kebaikan yang pernah kuterima, kejadian ini benar-benar membuat hatiku sedih."
Untuk kesekian kalinya Ku-lo Hwesio mengamati wajah Bong Thian-gak.
"Bila Sicu ingin membalas budi kebaikannya, sudah sepantasnya bila kau lanjutkan cita-cita Oh-bengcu untuk mendatangkan keuntungan dan berkah bagi umat persilatan, sebab hanya dengan cara ini saja kau dapat membalas budi Oh-bengcu."
"Losiansu,"
Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya.
"ada satu persoalan ingin kutanya padamu, apa yang menyebabkan kematian Oh-bengcu?"
"Omitohud, Lolap pun baru saja kemari dari kuil Siau-lim-si, aku sendiri kurang jelas tentang keadaan yang sesungguhnya. Bila ingin mengetahui hal ini, lebih baik besok saja ditanyakan langsung kepada para ahli warisnya!"
Baru selesai berkata, mendadak dari luar ruangan berkumandang suara bentakan nyaring.
"Siapa di dalam ruangan? Cepat laporkan namamu!"
Delapan sosok bayangan orang berkelebat di depan pintu ruangan, delapan orang pengawal berbaju hitam dengan senjata terhunus telah menghadang di depan pintu.
"Aduh celaka!"
Pikir Bong Thian-gak dengan terperanjat. Baru lewat ingatan itu, Ku-lo Hwesio telah menyahut dengan suara rendah.
"Omitohud, harap Sicu sekalian suka melaporkan, Ku-lo dari Siau-lim-si datang untuk menyambangi layon sahabat karibnya."
Nama Ku-lo dari Siau-lim-si ibarat guntur yang membelah bumi di siang bolong, kontan membuat kedelapan pengawal berbaju hitam itu buru-buru membungkuk badan memberi hormat.
"Kehadiran Losiansu sungguh di luar dugaan, maafkan Tecu sekalian yang tidak datang menyambut sepantasnya ...."
Tidak menanti ucapan itu selesai, Ku-lo Hwesio telah menukas.
"Omitohud, malam sudah semakin kelam dan tidak baik mengganggu tidur orang, biar Lolap menanti dalam ruangan ini sampai kentongan kelima saja, saudara sekalian silakan berlalu!"
Pemimpin regu rombongan pengawal itu adalah seorang lelaki setengah umur berperawakan jangkung, dia segera menjura seraya berkata.
"Panitia pemakaman ada perintah, bila Losiansu datang di gedung ini, maka kami diwajibkan melaporkan kedatangan Siansu."
"Kalau memang begitu, harap Sicu sekalian sudi membuka jalan!"
Ujar Ku-lo Hwesio kemudian sambil mengangguk. Belum habis perkataan itu, dari luar ruangan sudah bergema suara nyaring seseorang.
"Sinceng datang berkunjung kemari, Heng-sui sengaja datang menyambut...."
Berbareng dengan menggemanya ucapan itu, tampak cahaya lentera bergoyang terhembus angin, seorang pemuda berbaju hijau, berwajah tampan, dingin, gagah dan bermata tajam telah berdiri di depan kedelapan pengawal itu sambil memberi hormat kepada Ku-lo Hwesio.
Menyaksikan kemunculan orang itu, sekujur badan Bong Thian-gak gemetar keras, dalam hati dia berpekik.
"Ji-suheng ..."
Ternyata pemuda berbaju hijau itu adalah murid kedua Thiciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu yang bernama Toan-conghong-liu (usus putus darah mengalir) Yu Heng-sui.
Kini ia sudah menjabat sebagai komandan pasukan pengawal gedung Bu-lim Bengcu, orang yang berkuasa di ruang hukuman dan berkuasa penuh dalam menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada sembilan partai besar dalam Bu-lim, kedudukannya tinggi dan terhormat sekali.
Ternyata persekutuan dunia persilatan ini merupakan dibentuk bersama sembilan partai besar dunia persilatan untuk menyatukannya menurut sejarah, Bengcu hanya dipilih oleh anggota sembilan partai besar dan berkuasa penuh mengatur segala tindak-tanduk sembilan partai.
Atau dengan perkataan lain, kekuasaan Bu-lim Bengcu masih berada di atas kekuasaan sembilan ketua partai.
Sedang anggota pengurus penting lainnya dalam persekutuan dunia persilatan ini pun harus dinilai dan diteliti lebih dulu oleh sembilan partai besar sebelum melakukan pengangkatan, kekuasaan mereka meski hanya terbatas dalam satu bidang, akan tetapi mempunyai tingkatan yang sejajar dengan kedudukan para ketua partai lainnya.
Tampaknya Ku-lo Hwesio pernah bersua Yu Heng-sui, maka sambil tersenyum segera ujarnya.
"Yu-hiantit, tak usah banyak adat."
Si Pemutus usus darah mengalir Yu Heng-sui mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak yang berada di belakang Ku-lo Hwesio, keningnya nampak berkerut, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, ujarnya.
"Maaf, kalau aku tak kenal dengan saudara ...."
Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Bong Thian-gak telah menukas sambil menjura.
"Yu-tayhiap tak perlu sungkan-sungkan, aku she Ko bernama Hong."
"Ko Hong", nama yang asing dan belum pernah terdengar di Bu-lim, sebagai tokoh persilatan yang berpengalaman luas Yu Heng-sui tetap tak mengenalnya. Namun dalam hati kecilnya dia merasa heran, diam-diam pikirnya.
"Heran! Meski baru berjumpa pertama kalinya, namun orang ini seperti pernah kutemui, tapi kalau kuamati lagi dengan seksama, kembali terasa begitu asing."
Yu Heng-sui tersenyum, lalu ujarnya.
"Tampaknya Ko-heng baru saja terjun ke Bu-lim bukan?"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Benar, sudah lama aku tinggal di hutan terpencil, kali ini memang merupakan perjalanan perdanaku."
Sementara berbicara, pemuda ini pun diam-diam berpikir.
"Ji-suheng, tak heran kau tak kenal lagi Sutemu yang telah dikeluarkan dari perguruan ini, tujuh tahun ... ya, betapa lamanya tujuh tahun ini. Apalagi hidup dalam suasana yang penuh penderitaan dan kesengsaraan, oh, betapa keji dan mengenaskan pengalamanku selama ini."
"Aku ... ai, Bong Thian-gak pada tujuh tahun berselang tentu saja berubah banyak kalau dibanding tujuh tahun kemudian."
"Sewaktu meninggalkan gedung Bengcu, aku baru berusia delapan belas tahun, mukaku putih, keempat anggota badanku utuh dan gagah, tapi hari ini aku muncul sebagai seorang pincang, apalagi wajahku telah kuubah dengan obat penyaru, tentu saja kau tak mengenali diriku lagi."
Berbagai ingatan dan perasaan segera berkecamuk dalam benak Bong Thian-gak.
"Omitohud!"
Terdengar Ku-lo Hwesio berkata.
"Aku lihat Kosicu amat gagah dan perkasa, aku pun dapat menyaksikan kepandaian saktimu yang tersembunyi, aku yakin kau pasti berasal dari suatu perguruan tersohor."
Yu Heng-sui berdiri tertegun.
Sebenarnya dia mengira Bong Thian-gak merupakan kenalan lama Ku-lo Hwesio yang datang ke sana bersamanya, tapi sekarang tampaknya Ku-lo Hwesio baru saja berkenalan.
Kejadian ini menimbulkan kecurigaan dan perasaan serba salah dalam benak Yu Heng-sui, bibirnya bergetar hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tak sepotong kata pun yang meluncur keluar.
Bong Thian-gak bukan pemuda bodoh, ia dapat merasakan hal itu, maka ujarnya.
"Beberapa tahun lalu, jiwaku pernah diselamatkan oleh Oh-bengcu sewaktu berada di Kang Tang, budi kebaikan ini besar bagaikan bukit, maka ketika kudengar kabar kematian Oh-bengcu, sengaja aku kemari untuk memberi penghormatan terakhir kepadanya, Ya, hanya sayang budinya tak sempat kubalas, itulah sebabnya bila selanjutnya In-jin ada persoalan yang belum terselesaikan, sekali pun tubuh harus hancur, aku bersedia mewakilinya untuk menyelesaikan masalah itu. Yu-tayhiap, aku harap kau suka menerima ketulusan hatiku ini dan tidak memandang asing."
Beberapa patah kata itu diutarakan dengan bersungguh hati dan tulus ikhlas, kendatipun Yu Heng-sui menaruh curiga, tentu saja ia tidak bisa bersikap kelewat batas, apalagi sampai mengusir tamunya.
Tapi dia berpikir juga.
"Asal-usul orang ini tidak begitu jelas, mana mungkin dia dibiarkan hadir dalam masalah besar Bu-lim Bengcu?"
Sementara Yu Heng-sui masih ragu dan tidak tahu bagaimana harus bertindak, Ku-lo Hwesio telah berkata.
"Kosicu seorang yang gagah dan berjiwa besar, bila persekutuan persilatan bisa mendapat bantuan pikiran dari Sicu, ini benarbenar satu keberuntungan bagi umat persilatan."
Ku-lo Hwesio adalah Locianpwe yang paling disanjung dan disegani dalam Bu-lim dewasa ini, tentu saja Yu Heng-sui tidak berani ragu lagi, dia pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Ko-heng gagah perkasa dan berjiwa besar, aku orang she Yu merasa cocok denganmu, mana berani memandang asing ...."
Sesudah berhenti sejenak, ia berpaling ke arah Ku-lo Hwesio sambil melanjutkan.
"Ku-lo Supek, silakan. Silakan menuju ke ruang rapat, banyak jago lihai yang tergabung dalam panitia pemakaman sudah berada dalam ruangan menantikan kedatangan Supek."
Ku-lo Hwesio manggut-manggut.
"Kalau begitu harap Yu-hiantit membuka jalan."
Seusai berkata, Ku-lo Hwesio mengebaskan ujung bajunya dan berjalan keluar ruangan itu mengikut di belakang Yu Heng-sui dan kedelapan orang pengawal berbaju hitam itu, Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bong Thian-gak turut pula di belakang Ku-lo Hwesio beranjak pergi.
Setelah melewati tiga lapis halaman luas dan sebuah tanah lapang, sampailah mereka di sebuah gedung yang berpenjagaan amat ketat.
Gedung ini berloteng tingkat tiga yang megah seperti keraton, empat penjuru penuh pengawal bersenjata lengkap, suasananya begitu ketat, tegang dan menyeramkan seperti hendak menghadapi serbuan musuh tangguh saja.
Menyaksikan keadaan itu, timbul suatu perasaan bimbang di dalam hati Thian-gak, ia tidak habis mengerti, kematian gurunya sebenarnya menyangkut masalah besar apa sehingga suasana dalam gedung Bu-lim Bengcu dijaga dengan sedemikian ketatnya.
Sementara itu Yu Heng-sui telah berpaling ke arah Ku-lo Hwesio sambil berkata.
"Jenazah Suhu disemayamkan di loteng sana!"
Sementara pembicaraan berlangsung, dari balik pintu tampak bermunculan belasan orang laki perempuan, ada pendeta, Tosu, ada pula orang preman, ketika menyaksikan kehadiran Ku-lo Hwesio, serentak mereka memberi hormat seraya berkata.
"Kami tidak dapat menyambut kedatangan Sinceng dari jauh, harap sudi dimaafkan."
"Omitohud, kalian tidak usah banyak adat, Lolap sudah datang mengganggu tidur kalian, sesungguhnya Lolaplah yang harus minta maaf."
Bong Thian-gak yang berdiri di belakang Ku-lo Hwesio menggunakan kesempatan itu mengawasi wajah para tokoh silat yang berada di sana, tapi dengan cepat hatinya bergetar keras.
Ternyata puluhan orang Enghiong yang hadir hampir meliputi semua inti kekuatan yang ada di Bu-lim, bahkan semuanya merupakan ketua-ketua partai persilatan yang sudah termasyhur puluhan tahun lamanya.
Ketika sorot matanya dialihkan ke wajah seorang lelaki setengah umur berbaju biru yang beralis tebal, bermata besar, muka bulat, telinga persegi dan seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian berkabung, kembali sekujur tubuhnya gemetar karena luapan emosi.
Ternyata lelaki setengah umur berbaju biru itu adalah Toasuhengnya, Pa-ong-kiong (si Busur raja lalim) Ho Put-ciang, sedang gadis berbaju putih itu adalah puteri tunggal gurunya, Oh Cian-giok.
Sorot mata semua jago hampir sebagian besar dicurahkan ke wajah Ku-lo Hwesio, maka tidak ada yang memperhatikan Bong Thian-gak, apalagi Bong Thian-gak mengenakan baju berwarna hitam, sehingga semua mengira dia adalah salah seorang pengawal gedung Bu-lim Bengcu.
Hanya Oh Cian-giok, si nona baju putih itu yang memperhatikan kehadiran Bong Thian-gak, hanya sekali lirikan saja paras mukanya berubah hebat, tapi dengan cepat wajahnya kembali seperti sediakala.
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Ku-lo Hwesio bersama rekan-rekan pendekar lainnya beranjak masuk ke ruang besar yang terang benderang itu.
Baru saja Bong Thian-gak hendak turut melangkah masuk, tiba-tiba terdengar Oh Cian-giok yang berada di sisinya berkata lantang.
"Ji-suheng, Siangkong ini adalah jago lihai dari perguruan mana?"
Tidak menanti Yu Heng-sui yang berada di belakangnya menjawab, Bong Thian-gak segera membalik badan dan menjura kepada Oh Cian-giok sambil memperkenalkan diri.
"Aku Ko Hong, tolong tanya apakah nona puteri kesayangan Oh-bengcu?"
Sekarang Oh Cian-giok sudah bisa melihat jelas wajah Bong Thian-gak yang pucat-pias bagai mayat, keningnya berkerut, lalu sambil menggeleng, pikirnya.
"Heran, sekilas pandangan tadi, raut wajahnya seperti pernah kujumpai di suatu tempat, tapi setelah diperhatikan lebih seksama, serasa tak kuingat siapa gerangan orang ini?"
"Sumoay,"
Terdengar Yu Heng-sui menjawab lantang.
"Kosiauhiap datang bersama Sinceng."
"Oh ...."
Buru-buru Oh Cian-giok menjura kepada Bong Thian-gak sambil berkata.
"Ko-siauhiap, terima kasih banyak atas kehadiranmu turut melawat ayahku."
"Ai, kematian ayahmu benar-benar suatu kehilangan besar bagi umat persilatan,"
Bong Thian-gak menghela napas.
"Ko-heng, kematian guruku secara lamat-lamat menyangkut suatu ancaman maut bagi keamanan Bu-lim,"
Kata Yu Heng-sui pula.
"Malam ini, sengaja kuundang kehadiran, Ku-lo Sinceng untuk bersama-sama membahas ancaman bahaya yang telah semakin dekat ini .... Ko-heng sebenarnya kau bukan termasuk anggota perserikatan, bilamana tidak ada keperluan yang mendesak, lebih baik janganlah melibatkan diri di dalam pertikaian ini."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Sewaktu berada di loteng tadi, aku telah mengemukakan suara hatiku, sejak kini biarpun harus terjun ke lautan api, aku tidak akan menampik."
"Baiklah,"
Kata Yu Heng-sui sambil manggut-manggut.
"KaJau begitu, silakan Ko-heng mengambil tempat duduk."
Sementara itu Ku-lo Sinceng dan para pendekar sudah mengambil tempat duduk masing-masing.
Puluhan orang berkumpul membentuk suatu pertemuan.
Murid pertama Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu, yakni Pa-ong-kiong Ho Put-ciang, murid kedua si Pemutus usus Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok duduk di kursi tuan rumah sebelah timur, Ku-lo Sinceng duduk di sebelah barat, sedangkan Bong Thian-gak duduk di sebelah kanan Ku-lo Hwesio.
Setelah semua orang duduk, si Busur raja lalim Ho Putciang segera membuka suara.
"Para pendekar dan orang gagah sekalian, hari ini kita sengaja mengundang kehadiran Ku-lo Sinceng yang telah menutup diri selama sepuluh tahun untuk menghadiri pertemuan ini, tujuannya tak lain adalah untuk menyelidiki sebab-sebab kematian guruku."
"Sesungguhnya siapa yang telah membunuh guru kami? Dan apa yang menyebabkan kematiannya? Meski sudah diperiksa dan diselidiki oleh semua jago berpengalaman, alhasil hingga kini tetap merupakan suatu teka-teki yang mencurigakan."
"Yang lebih mengherankan lagi adalah pada empat puluh sembilan hari berselang, kuda tunggangan guru kami telah pulang sendiri ke gedung Bu-lim Bengcu untuk mewartakan kematiannya, kemudian kuda itu telah membunuh diri dengan menerjang patung singa di depan pintu gerbang, disusul pula lima orang tokoh persilatan yang kebetulan sedang bertamu di dalam gedung ini ditemukan tewas secara misterius, sebabsebab kematian mereka pun tidak berhasil ditemukan, karena di tubuh masing-masing tidak dijumpai cidera atau luka, mereka seakan-akan mati secara wajar, persis seperti keadaan yang dialami guru kami."
"Omitohud!"
Ku-lo Hwesio memuji keagungan sang Buddha.
"Siapa-siapa saja kelima tokoh persilatan itu?"
"Mereka adalah si Pukulan nomor wahid dari kolong langit Ma Kong Loenghiong dari perguruan Sin-kun-bun, Liong-thau Pangcu dari perkumpulan Hek-huo-pang Kwan Bu-peng, Congpiauthau dari tujuh perusahaan ekspedisi gabungan wilayah Kanglam Lui-hong-khek (Jago angin guntur) Gi Pengsan, Loapcu dari benteng Jit-seng-po Tui-hun-pit (Pena pengejar sukma) Cia Liang dan Thi-koan-im (Koan-im baja) Han Nio-cu yang namanya disegani kaum Hek-to maupun Pekto."
Begitu nama kelima tokoh persilatan itu diungkap, Bong Thian-gak serta sekalian pendekar mengerutkan dahi dengan wajah serius.
Ternyata kelima tokoh silat itu tiada seorang pun yang merupakan tokoh tanpa nama dalam Bu-lim, boleh dibilang mereka merupakan pemimpin persilatan yang namanya termasyhur dalam Bu-lim.
Siapa pun tak menyangka kalau di kolong langit terdapat seorang gembong iblis yang mampu membunuh nyawa kelima orang tokoh persilatan itu bersama-sama.
Dengan wajah sedingin es, pelan-pelan Ho Put-ciang berkata.
"Sampai dimanakah taraf kepandaian silat kelima orang tokoh ini rasanya sudah diketahui setiap orang, kenyataan mereka ditemukan tewas pada saat bersamaan dalam gedung Bu-lim Bengcu, bayangkan saja betapa mengejutkan peristiwa ini."
Ketika mendengar sampai di situ, mendadak Ku-lo Hwesio memejamkan mata sambil termenung. Si Busur raja lalim Ho Put-ciang menghela napas, sambungnya lebih jauh.
"Malam ketiga setelah kematian kelima tokoh silat itu, tahu-tahu kelima sosok mayat itu lenyap secara misterius."
"Apakah kelima sosok mayat itu lenyap dari dalam gedung ini?"
Mendadak Ku-lo Hwesio mementang mata lebar-lebar.
"Benar, kelima sosok mayat itu telah dicuri orang."
Perasaan setiap jago yang hadir di situ kembali terasa berat, sekarang mereka mulai sadar bahwa kasus ini merupakan suatu peristiwa yang amat rumit dan aneh, bahkan jika berita itu sampai bocor keluar, niscaya akan menimbulkan pergolakan yang amat hebat di Bu-lim.
Kematian Oh Ciong-hu sendiri sudah membuat dunia persilatan diliputi selapis kabut gelap, apabila peristiwa yang lebih parah ini sampai meledak, mungkin bisa menciptakan kemusnahan bagi seluruh umat persilatan.
Ku-lo Hwesio maupun para pendekar termenung memikirkan persoalan itu, suasana dalam ruang rapat diliputi ketegangan, keseraman dan kengerian, tekanan yang sangat berat serasa menindih dada setiap orang.
Mendadak dari antara para jago melompat bangun seorang kakek kurus berperawakan pendek.
"Menurut dugaan Lohu,"
Ia berkata.
"Kematian Ma Kong berlima diliputi suatu masalah maha besar ...."
Sorot mata semua orang segera dialihkan ke wajahnya.
"Kongsun-tayhiap berhasil menemukan apa?"
Ucap Ku-lo Hwesio pelan.
"Coba utarakan lebih jelas agar bisa didengar setiap orang yang hadir di sini."
Ternyata kakek yang berperawakan pendek kecil ini adalah salah satu di antara tiga sesepuh Ciong-lam-san, yakni To-cising (Si bintang banyak akal) Kongsun Phu-ki.
Kongsun Phu-ki memutar sepasang biji matanya yang kecil, kemudian pelan-pelan berkata.
"Menurut dugaan dan perasaan indera keenam Lohu, sesungguhnya Ma Kong berlima hingga kini belum ... mati."
Suasana gempar segera menyelimuti seluruh ruangan, para jago berbisik-bisik menanggapi perkataan itu. Ho Put-ciang tak dapat menahan sabar, dia segera bertanya.
"Apa bukti yang menjadi dasar pertimbangan Kongsun-tayhiap, hingga kau berani mengatakan Ma Kong berlima sesungguhnya belum mati?"
Kongsun Phu-ki tertawa dingin.
"Sesungguhnya kelima orang itu memang cuma pura-pura mati, belum lama Lohu mendengar orang berkata bahwa Koan-im baja Han Nio-cu mempunyai semacam obat mustika, bilamana pil itu ditelan, maka satu jam kemudian jantung akan berhenti berdenyut dan keempat anggota badannya jadi dingin dan kaku. Keadaannya tak jauh berbeda dengan keadaan orang mati."
"Ah, itu pil Tong-bian-wan!"
Mendadak terdengar Bong Thian-gak berseru tertahan.
Seruan itu segera mengejutkan para jago, berpuluh pasang mata serentak dialihkan ke arahnya.
Setelah semua pendekar melihat jelas raut wajahnya, sambil berkerut kening diam-diam mereka berpikir.
"Heran, siapakah dia?"
Paras muka Kongsun Phu-ki berubah hebat, buru-buru serunya.
"Darimana kau bisa tahu pil itu bernama Tong-bianwan?"
Bong Thian-gak merasa amat tak leluasa ditatap sekian banyak orang, segera jawabnya.
"Aku pernah membaca kupasan tentang obat itu serta sifat Tong-bian-wan dari catatan se
Jilid kitab, menurut kitab itu, barang siapa menelan pil ini, maka semua organ tubuh akan berhenti bekerja, keadaan itu seperti ular yang tidur panjang di musim dingin, tapi bila sifat dan daya kerja obat itu sudah habis, maka kehidupan pun akan pulih seperti sedia kala."
"Dimanakah kau pernah membaca kitab itu?"desak Kongsun Phu-ki lebih jauh.
"Dalam sebuah gua terpencil,"
Bong Thian-gak tersenyum rawan. Kongsun Phu-ki menatap tajam wajah anak muda itu beberapa saat lamanya, mendadak ia berkata lagi.
"Siapakah kau?"
"Aku she Ko bernama Hong."
"Anak murid dari perguruan mana?"
"Tanpa partai tanpa perguruan."
Mendadak Kongsun Phu-ki melompat ke tengah udara setinggi satu tombak, kemudian tanpa menimbulkan sedikit suara melayang turun tiga kaki di hadapan Bong Thian-gak, bentaknya dengan suara keras.
"Bila kau tidak menyebutkan asal-usul perguruanmu, jangan harap kau bisa meninggalkan gedung ini dalam keadaan hidup."
Ancaman yang diutarakan amat keras ini kontan membuat suasana dalam ruang berubah menjadi tegang.
Sementara itu Ku-lo Hwesio dan Yu Heng-sui tetap duduk tenang di tempat masing-masing tanpa melakukan sesuatu tindakan, rupanya mereka pun ingin tahu asal-usul Bong Thian-gak.
Mendadak di saat yang kritis itulah dari atas wuwungan rumah berkumandang suara tawa dingin seseorang yang amat mengerikan.
"He, monyet tua, lebih baik jangan menganiaya anak kecil."
Dampratan secara tiba-tiba itu kontan membuat paras muka para pendekar yang berada di ruang rapat berubah hebat.
Kongsun Phu-ki membentak gusar, sementara di belakangnya mengikut Yu Heng-sui.
Untuk sesaat tampak bayangan orang berkelebat, para jago serentak menerjang keluar ruangan.
Kini dalam ruangan tinggal Ku-lo Hwesio, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang, Oh Cian-giok dan Bong Thian-gak berempat yang masih tetap duduk diam.
Namun paras muka mereka pun diliputi perasaan tegang, bahkan Ho Put-ciang tiada hentinya mengawasi wajah Bong Thian-gak dengan sorot matanya yang sangat tajam.
Akhirnya terdengar Ku-lo Hwesio menghela napas panjang, kemudian berkata.
"Sebenarnya ucapan tadi dipancarkan dengan menggunakan ilmu Jian-li-hui-im (suara pantulan seribu li) yang dikerahkan dengan menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi, ketika kalian mendengar suara itu, sang pembicara telah berada satu li jauhnya dari sini. Ai, tampaknya Bu-lim kembali dihadapkan pada suatu ancaman maha besar."
Baru selesai pendeta itu berkata, tampak Kongsun Phu-ki dengan wajah gusar telah muncul kembali dalam ruangan, tangan kirinya membawa segulung kain putih, sedang di belakangnya mengikut enam-tujuh orang jago.
Sambil melompat bangun dari tempat duduknya, Ho Putciang segera bertanya.
"Kongsun-tayhiap, apa yang telah engkau temukan?"
Kongsun Phu-ki membentang kain putih dalam genggamannya itu ke atas meja, lalu serunya dengan gusar.
"Coba kalian saksikan sendiri!"
Setelah kain putih itu dibentang di meja, terbacalah sederet tulisan di atas kain putih itu.
"To-ci-sing Kongsun Phu-ki tak akan hidup melebihi bulan setan". Yang dimaksud bulan setan adalah bulan ketujuh, sedangkan hari ini adalah tanggal dua puluh tiga, berarti dia takkan bisa hidup melebihi tujuh hari lagi. Kontan semua orang terbelalak dengan mulut melongo, mereka sama-sama memandang ketiga belas patah kata itu dengan terkesima. Sementara itu Yu Heng-sui dan para jago lainnya pun telah pulang dengan tangan hampa. Sewaktu mereka menyaksikan ketiga belas patah kata yang tertera di atas kain putih itu, semua orang terbungkam dan saling pandang. Akhirnya Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menarik napas panjang; katanya.
"Kongsun-tayhiap, kau menemukan kain putih ini dimana?"
"Di atas tiang lentera di tengah lapangan sana,"
Sahut Kongsun Phu-ki sambil tertawa dingin.
"Penjagaan di gedung Bengcu ini dilakukan amat ketat, bahkan jauh lebih ketat daripada penjagaan dalam keraton kaisar, kenyataan pihak lawan dapat keluar masuk dengan leluasa, malah mengganti kain putih di tengah lapangan tanpa diketahui orang, kelihaian orang itu pada hakikatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata!"
"Sebenarnya siapakah orang ini?"
Bentak Kongsun Phu-ki dengan suara lantang. Tangan kirinya menuding Bong Thiangak, sementara sorot matanya yang tajam melotot gusar ke arah Ho Put-ciang.
"Ko-siauhiap datang ke gedung Bengcu ini bersama Ku-lo Sinceng!"
Buru-buru Yu Heng-sui berkata.
Yu Heng-sui cukup cerdas dan cekatan, dia dapat melihat situasi malam ini telah mengubah Bong Thian-gak menjadi orang yang amat mencurigakan, bila kesepakatan tidak ditemukan, bisa jadi keadaan akan berkembang mengerikan.
Para pendekar yang hadir dalam ruangan rapat rata-rata adalah anggota pengurus perserikatan dunia persilatan, kedudukan mereka amat tinggi dan kekuatannya amat besar, merekalah yang akan bertanggung jawab dalam pemilihan pergantian Bengcu.
Tapi kini ia membicarakan seseorang yang tidak jelas identitasnya yang telah memasuki ruang sidang, bahkan turut dalam perundingan rahasia itu, jelas tindakan ini merupakan suatu pelanggaran peraturan yang sangat besar.
Itulah sebabnya maka ia lantas memutar otak dan melimpahkan semua tanggung jawab itu ke atas pundak Ku-lo Hwesio.
Goan-hui Taysu, ketua Siau-lim-pay sekarang merupakan ketua pengurus Bu-lim Bengcu, padahal Ku-lo Sinceng adalah Supek dari Goan-hui Taysu, dia pun ketua pengurus yang lalu, bisa dibayangkan betapa tingginya kedudukan orang ini.
Betul juga, Kongsun Phu-ki segera menarik kembali hawa amarahnya sesudah mendengar perkataan Yu Heng-sui, sambil berpaling ke arah Ku-lo Hwesio, tanyanya.
"Tolong tanya Sinceng, orang ini berasal dari perguruan mana?"
"Kongsun-tayhiap,"
Jawab Ku-lo Hwesio cepat.
"Harap kau segera menenangkan hatimu, Ko-sicu adalah orang dari aliran kita."
Dengan dasar ucapan itu, serentak para jago membuang sebagian rasa curiganya terhadap Bong Thian-gak. Dengan suara dalam, Ho Put-ciang lantas berkata.
"Para pendekar, silakan duduk kembali untuk melanjutkan perundingan kita."
Para pendekar secara beraturan menempati tempat duduknya masing-masing, kemudian Ui-hok Totiang dari Butong-pay angkat bicara, katanya.
"Pihak lawan telah meninggalkan tiga belas patah kata itu dalam gedung Bengcu, menurut pendapat Pinto, lebih baik dalam tujuh hari ini Kongsun-tayhiap meningkatkan kewaspadaan."
Kongsun Phu-ki tertawa dingin.
"Hehehe, terima kasih banyak atas perhatian Ui-hok Totiang, Lohu percaya paling tidak aku masih dapat hidup sepuluh tahun lagi."
"Kongsun-tayhiap, harap kau jangan gusar,"
Kembali Ui-hok Totiang berkata serius.
"kau harus tahu, musuh yang datang pasti bermaksud jelek, orang yang bermaksud baik tak akan begini cara datangnya, sekarang mereka sudah berani menantang kita secara terang-terangan, sudah pasti hal ini bukan cuma gertak sambal belaka."
Kongsun Phu-ki kembali tertawa dingin.
"Lohu tidak percaya dengan segala macam kepandaian setan mereka. Hehehe ... sudah puluhan tahun Kongsun-loji malang melintang dalam Bu-lim tanpa kuatir bertemu setan, aku minta kalian tak usah menguatirkan tentang diriku."
Setelah berhenti sebentar, sambungnya.
"Sekarang aku punya suatu persoalan yang membuat hatiku bingung, tadi ketika aku mendengar suara lawan, sesungguhnya selisih waktu kami hanya sekejap mata, kendatipun orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat, sulit rasanya untuk menghindar dari pengawasan mata Lohu, apalagi di sekeliling halaman ini penuh dengan pengawal yang berjumlah tiga puluhan orang, tapi kenyataannya tak seorang pun di antara mereka yang menemukan jejak musuh."
Yu Heng-sui pun diliputi perasaan berat, ujarnya.
"Tadi secara beruntun aku telah menanyai para pengawal yang berjaga di ketujuh lapis halaman gedung, ternyata tak seorang pun di antara mereka yang menemukan jejak musuh, juga tidak mendengar sedikit suara pun."
"Pernahkah Sicu sekalian mendengar semacam kepandaian yang disebut Jian-li-hui-im?"
Ujar Ku-lo Hwesio pelan.
"Dengan menghimpun tenaga dalam, seseorang dapat menghimpun nada suaranya menjadi gelombang suara dan dipancarkan ke dalam telinga manusia dari jarak ratusan kaki."
Begitu mendengar uraian itu, paras muka para jago berubah hebat.
"Ai, kalau begitu ilmu silat lawan benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan?"
"Kepandaian lawan memang bukan sembarangan, cuma di antaranya justru terdapat kelicikan ...."
Bicara sampai di sini, Ku-lo Sinceng memejamkan mata sambil berpikir sejenak, kemudian mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain.
"Ho-hiantit, kau paling lama mengikuti Oh-bengcu, tahukah kau selama hidup gurumu pernah terjadi peristiwa besar? Mungkinkah orang-orang itu akan membalas dendam terhadap gurumu?"
"Selama hidup Suhu bersikap amat baik terhadap siapa pun, berjiwa sosial dan suka membantu orang, boleh dibilang tak punya seorang musuh pun, sekali pun ada, itu pun manusia-manusia kurcaci dunia rimba hijau, Sutit sudah membuang waktu selama setengah bulan melakukan penyelidikan, sebagian besar di antara mereka telah meninggal, yang belum mati pun telah dihukum Suhu hingga cacat, cuma di antaranya terdapat tiga orang yang sangat mencurigakan, hingga kini jejak mereka masih belum ditemukan."
"Siapa ketiga orang itu? Harap Hiantit jelaskan."
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang termenung sejenak, lalu ujarnya dengan suara dalam.
"Pertama adalah Suci Suhu kami yang bernama Ho Lan-hiang."
Mendengar nama Ho Lan-hiang disinggung, paras muka Ku-lo Hwesio berubah, ujarnya.
"Pada sepuluh tahun lalu, Ho Lan-hiang sudah termasyhur sebagai perempuan paling cantik di wilayah Kanglarn, tapi dia hanya muncul sebentar saja dalam Bu-lim, kemudian lenyap, hingga kini jejaknya tidak jelas, semasa gurumu masih hidup, Lolap pun pernah mendengar ia membicarakan Ho Lan-hiang, kalau dia adalah Suci (kakak seperguruan) gurumu, tentunya tak mungkin punya perselisihan dengan gurumu, jadi aku rasa tidak sepantasnya kita mencurigai dia sebagai orang yang membunuh Oh-bengcu."
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang mengangguk berulang kali, kembali katanya.
"Orang kedua adalah Tio Tian-seng, seorang jago silat yang pernah menggemparkan dunia persilatan pada tiga puluh tahun lalu ...."
Mendengar nama Tio Tian-seng, kembali para jago saling berbisik, seakan-akan setiap orang mengetahui nama itu.
Rupanya Tio Tian-seng sudah termasyhur di Bu-lim sejak tiga puluh enam tahun lalu, dia hanya tiga tahun berkelana dalam Bu-lim, mengandalkan pedang sesatnya, beruntun dia berhasil merobohkan delapan puluh satu jago pedang kenamaan sehingga dijuluki Mo-kiam-sin-kun (Malaikat sakti pedang iblis).
Di masa lalu, bila orang menyinggung Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, maka baik jagoan dari golongan sesat maupun golongan putih, rata-rata orang menaruh rasa hormat dan gentar kepadanya.
Ku-lo Hwesio termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru pelan-pelan berkata.
"Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng memang seorang pendekar aneh dunia persilatan, pertarungan sengit antara Tio Tian-seng melawan almarhum Oh-bengcu di puncak Im-soat-hong di bukit Si-ciang-san pada tiga puluh tujuh tahun berselang memang betul-betul merupakan suatu pertarungan yang paling mengagumkan sepanjang sejarah...."
"Ku-lo Supek,"
Tiba-tiba Yu Heng-sui menyela.
"Ketika Tio Tian-seng menantang Suhu kami bertarung di puncat Im-soathong, bukankah Supeklah yang bertindak sebagai juri?"
Ku-lo Hwesio manggut-manggut.
"Benar, waktu itu memang Lolap bertindak sebagai wasit... pertarungan sengit itu berlangsung tiga hari tiga malam sebelum akhirnya tahu siapa menang siapa kalah, waktu itu almarhum Oh-bengcu hanya berhasil menang setengah jurus."
Ku-lo Hwesio berhenti sebentar, kemudian baru sambungnya.
"Sejak menderita kekalahan di puncak Im-soathong di bukit Si-ciang-san, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan, selama tiga puluhan tahun belakangan ini sudah tidak pernah terdengar lagi namanya, juga tiada orang yang mengetahui jejaknya ... benar, Tio Tian-seng pernah keok di tangan Thiciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu, mungkin dia akan melakukan balas dendam."
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang segera melanjutkan perkataannya tentang orang ketiga yang dicurigai.
"Orang ketiga adalah Bong Thian-gak, seorang murid Suhu yang dikeluarkan dari perguruan."
Hampir saja Bong Thian-gak yang duduk di sampingnya menjerit kaget mendengar ia dituduh sebagai orang ketiga yang dicurigai telah membunuh gurunya.
Mimpi pun dia tak menyangka kalau dirinya bisa dicantumkan sebagai salah seorang yang dicurigai.
"Apakah dia adalah bocah cilik yang diterima almarhum Ohbengcu sebagai muridnya yang terakhir?"
Tanya Ku-lo Hwesio.
"Benar,"
Sahut Pa-ong-kiong Ho Put-ciang setelah menghela napas sedih.
"Bong Thian-gak memang adik seperguruanku yang terkecil."
Sambil menghela napas, Ku-lo Hwesio segera menggeleng.
"Siau Gak si bocah cilik ini sangat penurut dan alim, dia pun cerdik, terutama bakatnya yang bagus, dia juga amat berbakat belajar silat ... sebenarnya apa yang telah terjadi? Waktu itu Lolap sudah menutup diri dalam kuil Siau-lim-si, harap Hiantit suka memberi keterangan."
Kembali Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menghela napas panjang.
"Bong Thian-gak Sute memang seorang bocah yang menyenangkan, sekali pun dia telah dikeluarkan dari perguruan, Suhu beserta segenap saudara seperguruannya masih tetap merindukan dia."
Setelah berhenti sejenak, lalu sambungnya.
"Peristiwa ini terjadi pada musim panas tujuh tahun berselang, Sam-sute Siau Cu-beng dan Su-sute Bong Thian-gak mendapat perintah Suhu untuk berangkat ke Ci Kang guna menjemput Subo pulang ke Kay-hong, di tengah jalan mereka kakak beradik seperguruan saling berdebat tentang ilmu silat, akhirnya perdebatan itu dilanjutkan dengan pertarungan di puncak bukit, dasar keduanya berdarah muda dan ingin mencari menang sendiri, mereka saling tak mau mengalah hingga pertarungan tak dapat dihindari lagi ... dan Sam-sute Siau Cu-beng kena dihajar oleh Su-sute Bong Thiangak hingga tercebur ke dalam jurang, hingga kini mayatnya tak pernah ditemukan."
Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu diam-diam hatinya amat sakit, pekiknya di hati.
"Toa-suheng, wahai Toasuheng, kau tidak mengetahui rahasiaku, tak mungkin aku berebut soal ilmu silat dengan Sam-suheng hingga membunuhnya. Sesungguhnya aku mempunyai rahasia yang tidak bisa diberitahukan kepada Suhu dan kalian, oleh sebab itu mau tak mau aku harus mengarang sebuah cerita kepada kalian guna menutupi kenyataan yang sesungguhnya."
Sementara itu Ku-lo Hwesio telah bertanya setelah selesai mendengar kisah itu.
"Siapa yang menyaksikan Bong Thiangak telah menghajar Siau Cu-beng hingga terjatuh ke dalam jurang?"
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menggeleng kepala berulang kali.
"Mereka kakak beradik sedang berada dalam perjalanan menuju ke wilayah Ci Kang, saat peristiwa itu terjadi, kami tahu dari pengakuan Bong Thian-gak sendiri kepada Suhu sekembalinya dari Kay-hong."
"Ketika Suhu mendengar peristiwa itu, beliau gusar sekali, hampir saja dia orang tua hendak membunuhnya, tapi entah mengapa Suhu tidak melanjutkan serangan itu, ditambah Susute dan Ji-sute serta Oh-sumoay memohon ampun baginya, akhirnya Suhu pun mengampuni dosa Su-sute dan mengusirnya dari perguruan serta putus hubungan antara guru dan murid."
Bong Thian-gak merasa sedih sekali, kembali ia bergumam.
"Oh, Toa-suheng! Tahukah kau, sewaktu kuhajar Siau Cubeng Sam-suheng hingga jatuh ke dalam jurang, ada seorang yang menyaksikan kejadian itu, orang itu adalah Subo ... ketika kubunuh Sam-suheng, waktu itu dalam perjalanan pulang dari Ci Kang menuju ke Kay-hong setelah menjemput Subo."
"Siancay! Siancay! Sungguh tak kusangka selama Lolap menutup diri, dalam keluarga almarhum Oh-bengcu telah berlangsung peristiwa semacam ini, ai! Bong Thian-gak si bocah itu meski memiliki hawa membunuh yang berat, namun dia adalah seorang bocah yang berhati mulia dan baik."
"Ai, sejak dikeluarkan dari perguruan, selama tujuh tahun ini Bong Thian-gak tak diketahui jejaknya lagi, mati hidupnya hingga kini belum diketahui!"
Diam-diam Bong Thian-gak mengucurkan air mata, kembali ia membatin dengan sedih.
"Toa-suheng, wahai Toa-suheng, tahukah kalian, selama tujuh tahun ini aku telah merasakan banyak penderitaan dan siksaan ... ketika aku baru dipecat dari perguruan, pembunuh-pembunuh yang dikirim Subo telah datang mengejekku ... hampir saja aku tewas dalam penghadangan itu. Kaki kiriku menjadi pincang adalah hadiah dari Subo. Aku amat membenci kebejatan moral Subo, sebenarnya ingin kuungkap semua rahasianya, tapi aku terlampau menghormati dan menyayangi guruku, terpaksa semua penderitaan ini hanya kusimpan dalam hati, itulah sebabnya hingga kini tujuh tahun kemudian aku belum pernah membocorkan rahasia ini kepada siapa pun, oh Toa-suheng, kalian jangan salah menuduh diriku sebagai pembunuh Suhu!"
Sementara itu terdengar Yu Heng-sui berkata dengan wajah serius.
"Su-sute Bong Thian-gak adalah pemuda yang perasa, dia gampang menaruh dendam pada orang, kami kuatir lantaran dia diusir dari perguruan oleh Suhu, hingga akhirnya timbul niat untuk menghabisi nyawa Suhu."
Oh Cian-giok yang selama ini hanya membungkam diri tibatiba turut berbicara dengan air mata bercucuran.
"Yu-suheng, aku rasa Su-sute tak akan bertindak sekejam ini, dia ... keesokan hari setelah ia dikeluarkan dari perguruan, aku pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan Bong Thian-gak Sute waktu itu, tampaknya dia seperti menyimpan suatu rahasia besar yang sukar untuk diutarakan."
Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian ini dari sisi arena ingin sekali melompat keluar dan membeberkan semua kejadian yang sebenarnya.
Selama tujuh tahun ini, dia telah merasakan penderitaan dan siksaan yang tak mungkin bisa ditahan oleh kebanyakan orang, sehingga semua itu menciptakan suatu kemampuan untuk mengendalikan diri yang luar biasa, hingga akhirnya segala sesuatunya dapat ditahan dan dilewatkan begitu saja.
Ia tidak dapat membuka rahasia identitasnya, lebih-lebih lagi tak boleh mengungkap rahasia memalukan antara Subonya dengan Sam-suhengnya, kendatipun kini gurunya telah tiada, namun hal itu tetap akan merugikan nama baiknya.
Ku-lo Hwesio menghela napas panjang, katanya.
"Walaupun Bong Thian-gak boleh saja dicurigai sebagai pembunuh gurunya, tapi menurut pendapat Lolap kemungkinannya kecil sekali, harus diketahui, orang yang bisa membunuh almarhum Oh-bengcu jelas bukan seorang murid yang baru tujuh tahun meninggalkan perguruan, kepandaian silat Oh Ciong-hu Bengcu sedemikian hebat, Lolap sendiri pun sulit menangkan dia, apalagi seorang muridnya."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Tentu saja lantaran Bong Thian-gak belum diketahui kabar beritanya hingga sekarang, kita boleh saja menuduhnya sebagai salah seorang yang dicurigai ... cuma menurut pendapat Lolap, dari tiga orang yang dicurigai Ho-hiantit, aku lebih mencurigai Mokiam-sin-kun Tio Tian-seng."
"Kau harus tahu, sewaktu masih berkelana di Bu-lim dahulu, Tio Tian-seng mempunyai ambisi menjadi manusia paling kosen di Bu-lim, tapi ambisi itu buyar setelah ia dikalahkan oleh Oh Ciong-hu Bengcu, kekalahan yang dideritanya ini membuat pamornya sewaktu berhasil mengalahkan delapan puluh satu jago pedang pun buyar dalam semalam saja, pukulan batin yang begini berat bagi orang yang berwatak aneh macam dia, kadangkala bisa berubah menjadi dendam kesumat yang dalam sekali, oleh karena itu kukatakan bahwa Tio Tian-seng adalah orang yang paling mencurigakan."
"Di samping itu keberhasilan Tio Tian-seng pada tiga puluh tahun berselang sudah seimbang dengan Oh Ciong-hu Bengcu, bila selama tiga puluh tujuh delapan tahun ini dia berlatih secara tekun, bisa jadi kepandaiannya akan berhasil melampaui Oh Ciong-hu Bengcu."
Mendengar uraian Ku-lo, para jago tak membantah lagi, semua orang pun menganggap pentolan yang berada di balik kabut kegelapan di Bu-lim adalah Tio Tian-seng.
Bahkan Bong Thian-gak sendiri pun berpendapat demikian, diam-diam dia mengertak gigi sambil bertekad hendak membunuh Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng untuk membalas dendam bagi kematian gurunya.
Ku-lo Hwesio mengangkat kepala dan memandang sekejap suasana gelap di luar jendela, kemudian ujarnya lagi.
"Membalas dendam bagi almarhum Oh-bengcu dan melenyapkan bibit bencana serta menegakkan kembali keadilan dan kebenaran di Bu-lim bukankah pekerjaan yang dapat diselesaikan sehari dua hari saja, kini musuh berada dalam kegelapan dan kita berada di tempat terang, terpaksa untuk sementara kita berada di posisi yang diincar, karenanya bila Sicu sekalian tidak mempunyai urusan penting, tak ada salahnya tinggal dahulu di gedung Bu-lim Bengcu untuk sementara waktu."
Para pendekar dari sembilan partai besar tidak memberi komentar apa-apa, mereka menyetujui usul itu. Mendadak Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berkata.
"Hingga hari ini Suhu sudah mati empat puluh sembilan hari, tapi jabatan Bu-lim Bengcu masih tetap kosong, entah bagaimanakah pendapat Ku-lo Supek dalam hal ini?"
"Soal itu gampang untuk diselesaikan, bagaimana pun juga Sicu yang hadir di sini sekarang adalah anggota pengurus perserikatan dunia persilatan, soal Bengcu baru tentu saja harus dipilih, tapi bukan mesti dipilih dalam waktu singkat, meski demikian, untuk sementara kita memang boleh saja memilih seorang wakil Bengcu yang akan mengurus semua masalah."
Ku-lo Hwesio adalah ketua pengurus perserikatan generasi lalu, setelah ia mengusulkan demikian, semua menyatakan persetujuannya, sedang mengenai siapa yang akan dipilih, tidak ada yang mengajukan usul.
Kembali Ku-lo Hwesio berkata.
"Orang yang dipilih menjadi wakil Bengcu paling baik bila seorang yang mengerti berbagai masalah dalam Bu-lim, daripada kita harus membuang waktu untuk mengajar padanya mengurusi soal-soal itu, itulah sebabnya Lolap usulkan paling baik jika 1 Iiantit saja yang menduduki jabatan itu, entah bagaimanakah pendapat saudara sekalian?"
Semua jago segera menyatakan persetujuannya mendengar perkataan itu. Buru-buru Ho Put-ciang menampik, katanya.
"Ku-lo Supek, Sutit kurang berpengalaman, kurang cocok memikul tanggung jawab yang berat ini."
"Ho-tayhiap,"
Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay berkata.
"Kau merupakan Tongcu yang mengurusi masalah luar dan dalam Bu-lim dewasa ini, setelah Oh-bengcu berpulang ke alam baka dan Bengcu baru belum terpilih, rasanya kecuali Ho-tayhiap yang cocok untuk jabatan ini, sulit buat kita mencari pengganti lainnya, buat apa Ho-tayhiap meski menampik?"
"Dunia persilatan dewasa ini sedang terancam oleh suatu badai pembunuhan yang mengerikan,"
Ujar Ho Put-ciang dengan suara dalam.
"aku kuatir...."
Ku-lo Hwesio tidak memberi kesempatan padanya melanjutkan perkataan itu, segera ia menukas.
"Sudah dua puluh tahun Ho-hiantit mengikuti Oh-bengcu almarhum, bicara soal ilmu silat, kau telah mendapat seluruh warisan ilmu silat Oh Ciong-hu, selain itu kau jujur dan berbudi luhur, cocok untuk jabatan pemimpin dunia persilatan. Kau pun tak usah menampik lagi, bersiap-siaplah untuk menerima jabatan itu."
Sebagai seorang yang berpengalaman, sudah tentu Ho Putciang dapat menangkap maksud yang lebih mendalam di balik perkataan Ku-lo Hwesio itu, terpaksa dia pun mengiakan.
"Atas kepercayaan serta kasih sayang Cianpwe sekalian, aku orang she Ho mengucapkan banyak terima kasih, tapi selanjutnya aku masih membutuhkan banyak petunjuk serta nasehat dari para Loheng."
Bong Thian-gak bersyukur dalam hati mendengar Toasuhengnya terpilih sebagai wakil Bengcu, ia cukup tahu kebijaksanaan dan kejujuran Toa-suhengnya, terutama soal ketenangan dan ketegasan menghadapi persoalan, ia memang berbakat menjadi seorang pemimpin dunia persilatan.
Bicara soal ilmu silat, kepandaiannya pun tidak di bawah kemampuan Ciangbunjin partai mana pun, meski di hari-hari biasa Toa-suhengnya memang jarang bertanding melawan orang lain, namun menurut apa yang diketahuinya, tenaga dalam gurunya belum tentu lebih tinggi daripada kemampuan Toa-suhengnya ini.
Oleh sebab itu Bong Thian-gak amat bersyukur karena dunia persilatan telah memperoleh seorang pemimpin yang jujur, bijaksana dan berwibawa.
Tiba-tiba Ku-lo Hwesio bangkit seraya berkata.
"Lolap rasa perundingan kita malam ini cukup sampai di sini saja, besok baru akan kuperiksa lagi jenazah Oh-bengcu."
"Yu-sute!"
Dengan cepat Ho Put-ciang ikut beranjak bangun.
"cepat siapkan tempat penginapan buat Ku-lo Supek serta Ko-cuangsu. Malam ini telah merepotkan para pendekar sekalian."
Sesudah hampir sebulan lamanya kawanan jago silat itu berdiam dalam gedung Bengcu, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Toan-cong-hong-liu Yu Heng-sui juga berangkat lebih dulu untuk mempersiapkan tempat pemondokan bagi Ku-lo Hwesio dan Bong Thian-gak.
Dengan demikian dalam ruang pertemuan tinggal Ku-lo Sinceng, Ho Put-ciang, Bong Thian-gak dan Oh Cian-giok berempat.
Menanti semua orang berlalu, Ku-lo Hwesio baru berkata sambil menghela napas panjang.
"Ho-hiantit, pihak musuh telah menyelundup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, apakah kau belum merasakan hal itu?"
Diam-diam Bong Thian-gak dan Oh Cian-giok merasa terperanjat, mata mereka serentak dialihkan ke wajah pendeta agung itu. Dengan sedih Ho Put-ciang manggut-manggut.
"Ya, Sutit memang sudah merasa pihak lawan telah menyelundup ke dalam gedung ini, tapi Sutit tak mampu menyelidik siapa gerangan mereka."
"Untuk sementara waktu, berita ini lebih baik kita simpan dulu rapat-rapat, jangan sampai diketahui anggota pengurus lain,"
Ujar Ku-lo Hwesio dengan sinar mata berkilat.
"Siapa tahu mata-mata yang dikirim pihak lawan justru berada di antara kawanan pendekar itu."
"Entah bagaimana rencana Ku-lo Supek menyelidiki matamata ini?"
Tanya Ho Put-ciang kemudian. Ku-lo Hwesio termenung beberapa saat, mendadak dia berpaling ke arah Bong Thian-gak dan berkata.
"Ko-sicu, Lolap mempunyai suatu permintaan, entah Sicu bersedia mengabulkan atau tidak?"
"Aku merasa berhutang budi pada Oh-bengcu yang telah tiada, sekali pun harus terjun ke lautan api pun aku bersedia."
Ku-lo Hwesio manggut-manggut.
"Lolap ingin memohon kepada Sicu agar secara diam-diam melindungi Kongsun Phuki selama tujuh hari ini, mengawasi pula gerak-geriknya, entah tugas ini dapat kau laksanakan atau tidak?"
"Aku siap melaksanakan tugas ini!"
Sahut Bong Thian-gak dengan cepat.
Setelah menyaksikan Ku-lo Hwesio begitu mempercayai Bong Thian-gak, Ho Put-ciang dan Oh Cian-giok merasa lega juga, cuma mereka berdua kelewat menghormati Ku-lo Sinceng, sehingga tidak ada yang berani memberi komentar apa-apa.
Kembali Ku-lo Hwesio berkata.
"Kecuali Ko-sicu yang bertugas mengawasi gerak-gerik Kongsun Phu-ki secara diamdiam, Ho-hiantit, Yu-hiantit, serta Oh-titli juga harus meningkatkan kewaspadaan mengawasi gerak-gerik para pendekar secara diam-diam, terutama para pengawal dalam gedung. Jika dugaan Lolap tidak salah, di antara para pendekar sudah pasti terdapat mata-mata, kemudian oleh mata-mata ini berita itu disampaikan kepada musuh yang bertugas sebagai pengawal dalam gedung."
Terhadap ketelitian dan keseksamaan Ku-lo Hwesio berpikir, Ho Put-ciang, Bong Thian-gak, serta Oh Cian-giok merasa kagum sekali. Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya.
"Ku-lo Taysu, aku masih ada satu persoalan yang kurang jelas, mohon petunjuk."
"Soal apa, Ko-sicu? Katakan terus terang."
"Tadi Taysu menyinggung ilmu Jian-li-hui-im, masa di Bulim dewasa ini ada orang yang mampu melatih ilmu Khikang tingkat tinggi itu hingga mencapai tingkatan sempurna, sehingga dia sanggup mengirim suara ke telinga orang dari jarak ratusan kaki?"
Agak terkejut juga Ku-lo Sinceng mendapat pertanyaan dari anak muda itu, pikirnya.
"Tampaknya anak muda ini benarbenar memiliki ilmu silat yang luar biasa, kalau tidak, darimana dia bisa mengetahui rahasia ilmu Jian-li-hui-im?"
Berpikir sampai di situ, ia lantas menjawab sambil tersenyum.
"Pengetahuan Ko-sicu amat luas, tentunya kau tahu bukan tiada manusia di dunia ini yang sanggup melatih kepandaian sakti itu seperti apa yang didongengkan."
Mendengar ucapan itu, seperti memahami sesuatu, Bong Thian-gak berkata.
"Jadi Taysu sudah tahu yang dikirim lewat Jian-li-hui-im itu sesungguhnya berasal dari dalam ruang pertemuan?"
Ku-lo Hwesio tersenyum.
"Benar, pada saat itu juga Lolap sudah tahu! Tapi waktu itu, Lolap juga tak bisa menemukan suara itu berasal dari siapa. Agar mata-mata yang menyelundup masuk tidak menyadari, sengaja aku menggunakan cerita Jian-li-hui-im untuk mengaburkan suasana."
Ho Put-ciang dan Oh Cian-giok jadi bertambah bingung mendengar tanya jawab itu. Oh Cian-giok berkata.
"Ku-lo Supek, sebenarnya ilmu Khikang macam apa Jian-li-hui-im itu?"
Ku-lo Hwesio tertawa.
"Jian-li-hui-im adalah sejenis ilmu Coan-im-ji-im atau Gi-hi-coan-im, hanya bedanya ilmu Coanim-ji-im dan Gi-hi-coan-im merupakan pancaran hawa Khikang yang memaksa nada suara seseorang berubah menjadi getaran gelombang yang bisa dikirim ke tempat tujuan dalam jarak puluhan kaki saja, kecuali orang yang bersangkutan, yang lain tidak dapat mendengar suara itu."
"Sedang ilmu Jian-li-hui-im justru merupakan kebalikannya, pancaran gelombang suaranya tidak mengelompok ke satu tujuan saja, melainkan memancar kemana-mana dengan lebih mengutamakan getaran baliknya atau gaung suara pantulannya."
"Seperti misalnya orang yang mengucapkan kata-kata makian tadi, sesungguhnya musuh yang memancarkan ilmu itu berada dalam ruang pertemuan juga, tapi berhubung suara itu dipancarkan dengan ilmu Jian-li-hui-im, akibatnya suara tadi menyebar dan memantul kembali setelah membentur langit-langit ruangan."
Oh Cian-giok hanya bisa membelalakkan mata mendengar penjelasan itu, ia benar-benar merasa kaget bercampur keheranan. Mendadak sambil berpaling ke arah Bong Thian-gak, ia berkata.
"Mengapa kau pun mengetahui rahasia itu?"
Pertanyaan ini diucapkan dengan nada polos dan kekanakkanakan, membuat orang tidak bisa menampik pertanyaan itu. Bong Thian-gak merasa sangat geli, sahutnya.
"Sebab aku sendiri pun memahami rahasia ilmu Jian-li-hui-im itu."
"Jadi kau ... kau juga bisa ...."
Bong Thian-gak seperti memahami apa yang dimaksudkan, dengan wajah bersungguh-sungguh katanya.
"Tak usah kuatir nona Oh, aku adalah orang sendiri."
"Ai, kalau memang begitu, apa sebabnya kau merahasiakan asal-usul perguruanmu?"
Kata Oh Cian-giok sambil menghela napas sedih.
"Ai, dalam hal ini aku harus minta maaf kepada kalian, sebab aku benar-benar punya kesulitan yang membuatku tak dapat menjelaskan asal-usul perguruanku."
Ho Put-ciang kuatir desakan Oh Cian-giok akan menyinggung perasaan Bong Thian-gak, buru-buru teriaknya.
"Sumoay, kau jangan memaksa orang mengutarakan persoalan yang jadi beban pikirannya, mungkin Ko-cuangsu benar-benar memiliki kesulitan yang tidak bisa diutarakan, padahal soal asal-usul bukan soal besar, asal saja hatinya bersih dan berpihak pada kita, dia tetap merupakan sahabat kita."
Meskipun Oh Cian-giok tidak bertanya lagi, namun dalam hati berpikir juga.
"Kecuali kau tak menggunakan jurus seranganmu, kalau tidak, suatu saat aku pasti dapat menduga asal-usul perguruanmu."
Sementara itu Ho Put-ciang telah berkata kepada Ku-lo Hwesio.
"Waktu sudah larut malam, Supek, Ko-cuangsu, silakan beristirahat."
Selesai berkata Ho Put-ciang lantas membawa kedua orang tamunya meninggalkan gedung pertemuan.
Gedung Bu-lim Bengcu memang besar, dengan bangunan yang berlapis-lapis, di situ terdapat beratus-ratus buah kamar yang berderet-deret, Ku-lo Hwesio dan Bong Thian-gak mendapat sebuah kamar yang terletak di dekat gedung besar.
Aneka warna bunga tumbuh di seputar halaman, di situ terlihat ada gunung-gunungan, air sungai, jembatan kayu, gardu serta dekorasi lain yang menawan hati.
Di sisi sebelah timur dan barat menjulang bangunan berloteng, sedang di seputar loteng itu berderet puluhan halaman kecil.
Rupanya halaman besar itu merupakan gedung penerima tamu yang khusus disiapkan untuk para jago persilatan yang datang dari jauh, hampir sebagian besar tamu yang hadir sekarang tinggal di sana, tapi setiap orang mendapat kamar tersendiri dan tidak bercampur dengan yang lain.
Ku-lo Hwesio seorang diri tinggal di bangunan loteng sebelah timur, sedang Bong Thian-gak berada di bangunan loteng sebelah barat.
Antara loteng sebelah timur dan sebelah Jbarat berjarak puluhan kaki, mungkin Ho Put-ciang memang sengaja mengatur demikian agar lebih mudah mengawasi gerak-gerik para jago lainnya, maka kedua orang itu dipisahkan ke dua loteng yang berbeda hingga wilayah pengawasan pun mencakup ke seluruh bagian.
Angin dingin berhembus menggigilkan badan, saat itu kentongan keempat sudah lewat, udara benar-benar terasa amat dingin.
Bong Thian-gak berdiri seorang diri di tepi pagar loteng sambil memandang ke seluruh bangunan Bu-lim Bengcu, terkenang kejadian masa lampau, tanpa terasa dia menghela napas panjang.
Tujuh tahun berselang, sebelum dia diusir dari perguruan, sering dia berdiri seorang diri di loteng itu, seperti malam ini, dia menikmati keindahan malam dari tempat ketinggian.
Tapi kini tujuh tahun kemudian, meski dia kembali ke sana, pemandangan masih seperti sedia kala, namun perasaan sudah jauh berbeda, jauh lebih berat dan masgul.
Akhirnya Bong Thian-gak membalikkan tubuh, pelan-pelan balik ke kamarnya, membaringkan diri untuk tidur, namun bolak-balik kian-kemari, mata tak mau terpejam.
Mendekati kentongan kelima dia baru tidur.
Ketika mendusin keesokan harinya, matahari sudah jauh di angkasa.
Tiba-tiba Bong Thian-gak menyaksikan di atas ranjang tergeletak sebuah kartu merah.
Dengan kening berkerut, pemuda itu segera bergumam.
"Semalam Toa-suheng sendiri yang mengantarku naik loteng, seingatku di atas pembaringan tidak kuketemukan kartu merah seperti ini."
Cepat disambarnya kartu merah itu, kemudian diperiksa.
Bong Thian-gak segera tertegun, dia coba berpaling memeriksa sekeliling ruangan, pintu kamar masih tertutup rapat, tapi meja dan lantai sudah bersih, jelas sudah ada pelayan yang membersihkan kamar itu.
Ketika kartu merah itu dibuka, tertulis di situ tiga huruf yang sangat besar, berbunyi.
"PERINTAH MENGUSIR TAMU". Kemudian di bawahnya tercantum sederet tulisan yang berbunyi.
"Diperingatkan kepada saudara agar meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu sebelum senja hari ini atau nyawamu tak akan selamat sampai besok kentongan kelima". Bong Thian-gak tidak menyangka pihak musuh mencari gara-gara padanya, bahkan bersikap terang-terangan semacam ini. , Dilihat dari kemunculan kartu merah itu, dapatlah disimpulkan bukan saja pihak musuh telah menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, bahkan sempat berakar di situ, kalau tidak, mustahil mereka berani bersikap menantang seperti ini. Lama Bong Thian-gak termenung, akhirnya dia memutuskan untuk merahasiakan peristiwa kartu merah itu, pemuda yang keras kepala ini ingin tahu sampai dimana keberanian musuh menghadapinya. Mendadak dari luar ruangan berkumandang suara langkah kaki, buru-buru Bong Thian-gak menyembunyikan kartu merah itu ke dalam sakunya. Dari luar pintu segera terdengar seseorang menyapa dengan suara lembut.
"Ko-siangkong, sudah bangunkah kau?"
Pintu kamar dibuka, muncul seorang dayang berbaju hijau berusia lima-enam belas tahun.
Bong Thian-gak segera mengamati wajah dayang itu dengan seksama, ia segera mengenalinya sebagai salah seorang di antara empat bocah perempuan yang khusus melayani kebutuhan Suhunya pada tujuh tahun lalu, bernama Siau Kiok.
Kini ia telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik dengan tubuh ramping dan tinggi, berkulit putih bersih dan sangat menawan.
Dayang berbaju hijau itu nampak agak terperanjat setelah mengetahui Bong Thian-gak sedang mengamatinya lekatlekat, buru-buru dia menegur.
"Siangkong, ada apa?"
"Ah, tidak apa-apa,"
Bong Thian-gak menggeleng.
"Oya, betul, siapa namamu?"
Dayang itu tersenyum manis.
"Aku bernama Siau Kiok, panggil saja namaku!"
"Ehm, bagus sekali, aku akan memanggilmu Siau Kiok, kapan kau masuk kemari dan membersihkan ruangan ini?"
"Kurang lebih dua jam berselang, aku lihat Siangkong masih tertidur nyenyak, maka tak berani kubangunkan dirimu."
Siau Kiok seperti tidak merasa takut terhadap wajah Bong Thian-gak yang kuning penyakitan serta kakinya yang pincang itu, justru menaruh rasa iba dan kasihan.
Bong Thian-gak termenung sesaat, lalu katanya.
"Selanjutnya kau tidak usah membersihkan kamarku sepagi ini, sebab bagi kami yang biasa hidup malam, seringkali baru naik ke tempat tidur menjelang pagi."
"Siangkong, aku telah menyiapkan air untukmu, silakan membersihkan muka dan kemudian bersantap."
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Pelayananmu sangat teliti dan menyenangkan, entah bagaimana caraku menyatakan rasa terima kasih kepadamu."
Mendadak Siau Kiok mengedipkan sepasang matanya yang jeli dan memandang wajah Bong Thian-gak sekejap, kemudian katanya.
"Siangkong, sebagai seorang jagoan berilmu tinggi, kau tidak nampak sombong, jumawa dan takabur seperti kebanyakan jago lain, sebaliknya sikapmu begitu merendah dan sopan, benar-benar seorang jagoan tulen."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Darimana kau tahu ilmu silatku sangat tinggi?"
"Ruang khusus dalam gedung Bu-lim Bengcu ini hanya khusus disediakan untuk para jago persilatan yang berilmu tinggi, terutama bangunan loteng di sebelah timur dan barat, biasanya khusus disediakan bagi tamu agung."
"Wah, kalau begitu kau pun khusus disediakan untuk melayani kebutuhan tamu agung?"
Goda sang pemuda sambil tertawa. Siau Kiok menunduk kemalu-maluan, bisiknya sambil tertawa.
"Ah, Siangkong pandai menggoda!"
"Siau Kiok, kau pandai bersilat?"
Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya. Siau Kiok mengangguk.
"Siocia pernah mengajarkan beberapa jurus silat kepadaku."
"Bukankah kau melayani Oh-bengcu?"
Bicara sampai di situ, pemuda itu baru sadar kalau sudah salah bicara. Ternyata Siau Kiok cukup cermat, dengan cepat dia balik bertanya.
"Darimana Siangkong tahu aku adalah dayang yang khusus melayani Loya?"
"Beberapa tahun berselang, ketika menyambangi Ohbengcu, aku seperti pernah melihat kau sebagai salah seorang di antara empat bocah perempuan yang melayani Oh-bengcu."
"Siangkong memiliki ketajaman mata yang mengagumkan,"
Puji Siau Kiok setelah mengamati wajah Bong Thian-gak beberapa saat lamanya.
"Walaupun hanya bertemu sekilas, apalagi sudah lewat beberapa tahun, ternyata kau masih dapat mengingatnya dengan jelas, benar-benar luar biasa!"
Bong Thian-gak kembali tertawa.
"Ya, aku memang mempunyai kemampuan khusus untuk mengingat setiap wajah yang pernah kujumpai, apalagi terhadap raut wajah mungil, cantik dan menarik seperti kau, mana mungkin aku bisa melupakannya?"
Diumpak seperti itu oleh Bong Thian-gak, Siau Kiok menjadi senang setengah mati, buru-buru dia berkata.
"Ah, Siangkong memang pandai bergurau. Ketika berjumpa dengan Siangkong tadi, aku pun seperti merasa pernah berjumpa, namun tak bisa kuingat kembali dimanakah kita pernah bersua!"
Setelah berhenti sejenak, dia baru berkata agak kaget.
"Ah, aku mengajak Siangkong mengobrol terus, hampir saja lupa Siangkong belum sarapan!"
Dengan cepat dayang itu mengundurkan diri dari ruangan. Memandang bayangan punggungnya lenyap di balik pintu, Bong Thian-gak kembali berpikir.
"Heran, siapa sebenarnya yang mengantar kartu merah itu untukku? Mungkinkah Siau Kiok? Akan tetapi selain Siau Kiok, siapa lagi yang dapat memasuki loteng ini? Ah, buat apa mesti memikirkannya, malam ini aku memang hendak menanti kedatangan musuh? Kecuali dia tak datang, kalau tidak ... hm, jangan harap dia bisa lolos dari cengkeramanku!"
Dengan perhitungan yang meyakinkan, Bong Thian-gak mulai mempersiapkan diri.
Hari itu sepanjang waktu Bong Thian-gak mengurung diri dalam loteng itu, dia hanya mengawasi kamar tempat tinggal Kongsun Phu-ki lewat jendelanya.
Hari itu tampaknya Kongsun Phu-ki juga seperti tak pernah pergi keluar, sedang para jago yang tinggal di kamar lain pun tak ada yang keluar.
Bong Thian-gak dapat menyaksikan pula Toa-suhengnya, Ho Put-ciang dan Ji-suhengnya, Yu Heng-sui, mengunjungi Ku-lo Hwesio di loteng sebelah timur pada tengah hari, kemudian mereka baru berlalu menjelang sore.
Penjagaan di sekitar gedung Bu-lim Bengcu pun tampak jauh lebih kendor, terutama di sekeliling ruangan itu, boleh dibilang tak nampak seorang pengawal pun.
Matahari tenggelam di langit barat, senja pun menjelang tiba, Bong Thian-gak berdiri di tepi pagar loteng sambil memandang sinar sang surya di kejauhan, mendadak ia teringat akan pesan yang ditulis dalam kartu merah tadi pagi.
"Diperingatkan kepada saudara untuk meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu sebelum senja hari ini atau nyawamu tak akan melewati kentongan kelima". Tanpa terasa Bong Thian-gak mulai meningkatkan kewaspadaan, dia berpikir.
"Tak mungkin musuh menyerangku secara terang-terangan, besar kemungkinan mereka akan mencelakai diriku menggunakan segala tipu muslihat licik."
Bong Thian-gak memerintahkan Siau Kiok agar mengundurkan diri sejak tadi, bahkan berpesan kepadanya agar balik lagi ke situ besok pagi.
Biasanya para pelayan perempuan baru boleh meninggalkan tempat tugas masing-masing menjelang tengah malam.
Langit semakin gelap, angin berhembus kencang, terasa makin dingin, akhirnya malam pun tiba.
Bong Thian-gak memasang lentera, lalu turun dari loteng dan berjalan-jalan di halaman luar, tampaknya seperti mencari angin, padahal sedang mengawasi para jagoan.
Mendadak ia menyaksikan Kongsun Phu-ki berjalan keluar dari kamarnya, dia mengenakan jubah berwarna putih yang masih baru, nampaknya seperti akan keluar rumah.
Bong Thian-gak mendapat tugas mengawasi dan melindungi keselamatan Kongsun Phu-ki, karena itu dengan cepat ia melakukan penguntitan.
Betul juga, Kongsun Phu-ki memang keluar rumah, dia langsung berjalan keluar dari pintu gerbang gedung Bu-lim Bengcu.
Sudah cukup lama Bong Thian-gak tinggal di kota Kayhong, boleh dibilang jalanan di situ sangat dikenal olehnya, jalan besar lorong kecil tak sebuah pun yang tak dikenal, maka dalam penguntitan itu ia bertindak amat hati-hati.
Ia cukup tahu Kongsun Phu-ki termasyhur karena kecerdasannya, itulah sebabnya ia harus bertindak cermat agar jejaknya tak ketahuan.
Suasana di kota Kay-hong menjelang senja sangat ramai, banyak orang berlalu-lalang di jalanan.
Tampaknya Kongsun Phu-ki seperti mempunyai tujuan tertentu, langkahnya tetap dan tak pernah berhenti, ternyata dia langsung menuju ke arah jalanan dimana terletak tempat hiburan malam.
Dengan kening berkerut, Bong Thian-gak berpikir.
"Ah, masa tua bangka ini hendak berbuat iseng dengan perempuan penghibur."
Ternyata jalanan itu panjangnya setengah li dan merupakan pusat hiburan malam kota Kay-hong, di sepanjang jalanan itu terdapat tiga puluhan rumah pelacuran.
Bunyi musik, suara tertawa bergema dari sana sini, suasana benarbenar amat romantis.
Sejak kecil sampai dewasa belum pernah Bong Thian-gak mengunjungi tempat hiburan semacam ini, tanpa terasa dia menjadi ragu dan kemudian berhenti.
Saat itulah Kongsun Phu-ki telah melewati desakan orang banyak dan hampir lenyap dari pandangan matanya.
Berada dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus mengeraskan hati melanjutkan pengejarannya.
Ucapan cabul, pelukan hangat membuat Bong Thian-gak benar-benar merasa amat rikuh, tapi akhirnya dia berhasil juga melalui rumah-rumah pelacuran kelas rendah itu dan sampai di depan sarang pelacuran kelas menengah.
Bong Thian-gak segera berpikir kembali.
"Tak nyana tua bangka itu pandai memilih, mau bermain iseng pun mencari yang kelas tinggi."
Belum habis ingatan itu melintas, Kongsun Phu-ki telah berhenti di depan sebuah gedung pelacuran yang sangat besar.
Bong Thian-gak segera bertindak cekatan, dengan cepat dia segera menyelinap ke samping dan menyembunyikan diri di balik kerumunan orang banyak.
Benar saja, Kongsun Phu-ki segera celingukan memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru melangkah masuk ke dalam gedung pelacuran itu.
Di bawah sinar lentera yang berwarna-warni, Bong Thiangak mengenali tempat itu sebagai rumah pelacuran "Kangsan-bi-jin-lau".
Sebagai penduduk lama kota Kay-hong, tentu saja pemuda itu tahu bahwa rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau ini merupakan sarang pelacur terbesar di kota itu.
Semua penghuni gedung itu selain berwajah cantik jelita, mereka pun pandai memetik harpa dan membawakan tarian serta nyanyian, bahkan ada pula yang pandai bersyair sehingga mutunya boleh dibilang terjamin.
Bong Thian-gak tak berani memasuki gedung itu dan terpaksa dia menanti saja di luar, selain kuatir ketahuan jejaknya oleh Kongsun Phu-ki, dia pun merasa tidak tertarik dengan hiburan semacam itu.
Di tengah alunan bunyi musik yang diselingi gelak tawa cekikikan, Bong Thian-gak merasa kehidupan semacam ini benar-benar memuakkan dan menjemukan.
Malam semakin larut, tamu yang mengunjungi rumah pelacuran ini pun kian lama kian bertambah sedikit.
Seorang demi seorang pencari hiburan pulang dalam keadaan mabuk dan berjalannya pun sempoyongan!
Bong Thian-gak melototkan mata melakukan pengawasan, namun dari sekian banyak tamu yang beranjak pulang, hanya Kongsun Phu-ki seorang yang belum juga nampak batang hidungnya.
Tanpa terasa pemuda itu menyumpah dalam hati.
"Sialan betul si kunyuk tua itu, benar-benar tak tahu diri, sepagi itu dia masuk ke dalam, masa sampai sekarang belum juga keluar? Jangan-jangan ia sudah mampus dijepit paha perempuan."
Sambil menggerutu Bong Thian-gak menunggu lagi beberapa jam, kini tengah malam sudah lewat.
Tapi aneh, belum nampak juga Kongsun Phu-ki muncul dari gedung pelacuran itu.
Biasanya gedung pelacuran akan ditutup selewatnya tengah malam, bila sesudah lewat tengah malam belum nampak, berarti dia memutuskan untuk menginap di sana.
"Jangan-jangan kunyuk tua itu menginap di sini?"
Bong Thian-gak berpikir.
Dengan mata melotot dia mengawasi jalanan itu, tapi suasana sudah sepi, hanya tinggal dia seorang diri yang bersembunyi di sudut dinding sana.
Suara musik sudah reda sedari tadi, lampu pun sudah banyak yang dipadamkan, akan tetapi bayangan tubuh Kongsun Phu-ki belum nampak juga.
Tergerak hati Bong Thian-gak, segera pikirnya.
"Aduh celaka! Jangan-jangan dia sudah tahu aku sedang menguntitnya, maka dia telah kabur sedari tadi?"
Berpikir sampai di situ Bong Thian-gak segera membalikkan badan siap berlalu dari situ. Namun baru beberapa langkah, dia berpikir kembali.
"Tapi siapa tahu dia memutuskan untuk menginap di sini."
Bong Thian-gak punya tugas melindungi keselamatan Kongsun Phu-ki, bila gagal menemukan keadaan yang sebenarnya, dia merasa tak lega.
Akhirnya diputuskan untuk melakukan pemeriksaan seksama terhadap setiap ruangan dalam gedung pelacuran itu.
Dengan gerakan cepat dia melompat naik ke tembok pekarangan, lalu melayang naik ke atas atap rumah, dengan Ginkang yang sempurna, Bong Thian-gak berkelebat secepat sambaran petir.
Satu kamar demi saru kamar diperiksa oleh Bong Thian-gak dengan seksama, matanya yang tajam mengamati setiap wajah yang berada dalam kamar, namun kecuali sepasang laki perempuan yang sedang bermesraan atau bertempur sengit, tak nampak sesuatu yang lain.
Yang lebih aneh lagi, dari tujuh belas kamar yang diperiksanya, dia hanya menemukan delapan pasang sejoli yang lagi berbuat mesum, namun dari sekian banyak orang, tak nampak Kongsun Phu-ki.
Bong Thian-gak menarik napas panjang, pikirnya.
"Sekarang tinggal gedung bertingkat itu saja yang belum kuperiksa, jika di sana pun tak ada, sudah pasti kongsun Phuki telah pergi karena mengetahui dirinya aku kuntit!"
Berpikir sampai di situ, dia segera menggerakkan tubuhnya dan melompat ke arah bangunan loteng itu.
Setitik cahaya lentera memancar keluar dari balik loteng itu, tanpa pikir panjang Bong Thian-gak segera melompat naik ke atas loteng.
Kemudian daun jendela dibukanya pelan-pelan dan mengintip ke dalam ruangan.
Hampir saja Bong Thian-gak menjerit kaget, jantungnya serasa mau melompat keluar dari rongga dada, ternyata dia menyaksikan suatu lukisan yang sangat indah.
Bukan, bukan lukisan sungguhan, melainkan seorang yang masih hidup, tubuh indah yang mempesona hati, tubuh indah dalam keadaan bugil.
Dari sekian banyak pemandangan seram yang diintipnya malam ini, tak satu pun di antara yang dapat mendebarkan hatinya.
Tapi kali ini jantungnya berdebar keras, darah panas serasa mendidih dalam tubuhnya.
Ternyata di dalam ruangan kecil di atas loteng terdapat sebuah lentera berwarna merah, sinar merah memancar ke sebuah pembaringan, di mana berbaring seorang perempuan cantik menawan, perempuan itu berbaring dalam keadaan telanjang bulat.
Wajahnya cantik menarik bagai bidadari dari kahyangan, rambutnya yang hitam memanjang dan terurai di antara sepasang payudaranya yang montok, putih dan halus.
Lekuk tubuhnya menawan, pinggangnya ramping, benar-benar perempuan bertubuh menarik.
Karena perempuan sangat cantik ini, hampir saja Bong Thian-gak tidak percaya dengan apa yang dilihat, ia memejamkan mata tetapi kemudian membuka matanya kembali.
Cantik, benar-benar cantik, makin dilihat makin indah, makin dipandang makin mendebarkan hati.
Bong Thian-gak berusaha menenangkan hati, kemudian sambil menggeleng, pikirnya.
"Tak nyana di rumah pelacuran ini ada juga seorang perempuan yang begitu cantik, ai ... sungguh sayang, sungguh sayang sekali...."
Entah mengapa Bong Thian-gak menghela napas panjang.
Mendadak ia menyaksikan perempuan cantik yang sedang tidur itu membuka mata, kemudian terasa dua gulung cahaya mata yang amat tajam menggidikkan dialihkan ke arah matanya.
Bagaimana pun juga Bong Thian-gak adalah lelaki sejati, ditatap seperti itu oleh seorang perempuan bugil, dia menjadi ketakutan setengah mati, dengan jurus ikan Lehi meletik ia berjumpalitan, lalu secepat kilat melejit pergi dan lari terbiritbirit meninggalkan sarang pelacuran itu.
Tak selang beberapa saat kemudian, Bong Thian-gak sudah balik ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, namun jantungnya masih berdebar keras, dia menyesal dirinya telah mengintip perempuan telanjang.
Pemuda itu tidak masuk melalui pintu gerbang, melainkan meluncur dari balik tembok pekarangan sebelah barat, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, tanpa mengusik orang lain tahu-tahu ia sudah balik ke tempat tinggalnya.
Bong Thian-gak berdiri sejenak di tengah halaman menenangkan hatinya yang bergolak, setelah agak tenang baru ia berpikir.
"Coba kuintip, benarkah si kunyuk tua itu sudah kembali ke kamarnya?"
Untuk membuktikan dugaannya, secara diam-diam Bong Thian-gak menyusup ke dalam kamar yang ditinggali Kongsun Phu-ki, lalu mengintip ke dalam lewat daun jendela.
Apa yang dilihat?
Ternyata Kongsun Phu-ki telah berbaring di atas ranjangnya, malah tertidur amat nyenyak.
Bong Thian-gak menyumpah dalam hati.
"Kunyuk tua, kau benar-benar sudah membuatku menderita, aku berdiri makan angin di situ, tak tahunya kau malah enak-enakan tidur di rumah."
Sebaliknya Kongsun Phu-ki tanpa sepengetahuan dirinya telah membuktikan bahwa ia telah dikuntit Bong Thian-gak.
Itulah sebabnya anak muda itu benar-benar merasa mendongkol.
Dengan perasaan murung dan masgul ia balik ke kamarnya, tampak cahaya lampu masih menerangi kamarnya, maka dia melompat naik, memeriksa sekejap sekeliling situ, kemudian baru masuk ke dalam.
Setelah memadamkan lentera, Bong Thian-gak membaringkan diri di atas ranjang, namun mata tak mau berpejam, rasa mendongkolnya membuat dia sukar tertidur, sampai lewat kentongan ketiga pikirannya baru pelan-pelan menjadi tenang kembali.
Di depan matanya segera terbayang tubuh perempuan bugil yang baru saja dijumpainya itu.
Mendadak tergerak hatinya, ia segera berpikir.
"Tajam amat sepasang mata perempuan itu!"
Kalau tadi ia tak begitu memperhatikan hal itu, tapi sekarang setelah dibayangkan kembali, tanpa terasa Bong Thian-gak berkerut kening, pikirnya lebih jauh.
"Dia mempunyai sepasang mata yang tajam seperti sambaran kilat, tajam melebihi mata pedang, mustahil sorot mata biasa setajam itu, kalau begitu, sudah pasti dia pun seorang jago persilatan."
Kejadian itu benar-benar aneh.
Seorang perempuan cantik menarik yang berilmu tinggi ternyata membaurkan diri di sarang pelacuran.
Kendati Bong Thian-gak telah memeras otak habis-habisan, belum juga menemukan alasan yang tepat untuk memecahkan teka-teki itu.
"Bagaimana pun juga aku harus mengunjungi kembali rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau itu, akan kuselidiki peristiwa aneh ini sampai tuntas,"
Demikian anak muda itu mengambil keputusan dalam hati, dengan begitu pikirannya yang bergolak pun menjadi reda kembali.
Malam semakin larut, suasana amat hening, dalam suasana seperti inilah tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sangat lirih berkumandang dari luar kamarnya.
Bong Thian-gak terkesiap, dengan cepat ia teringat kembali akan kartu merah jambu itu!
"Bagus sekali, ternyata kau benar-benar datang!"
Tanpa berkutik Bong Thian-gak tetap berbaring di ranjangnya.
Tapi secara diam-diam dia telah menghimpun tenaga dalamnya mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, hanya saja dia tak mau bergerak sebelum musuh bertindak lebih dulu.
Suara langkah manusia itu berhenti tepat di depan kamarnya.
"Mungkinkah dia membuka pintu dan bergerak masuk?"
Belum habis ingatan itu berkelebat.
"Krek", suara pintu didorong orang. Dengan ketajaman matanya yang mengagumkan, Bong Thian-gak dapat menyaksikan pantek kayu yang mengunci pintu kamar itu terdorong patah oleh tenaga orang yang dahsyat. Menyusul seseorang berbaju hitam menerjang secepat sambaran kilat, telapak tangannya tahu-tahu sudah diayun ke batok kepalanya. Sergapan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, pada hakikatnya sama sekali tidak memberi peluang bagi lawan untuk mempersiapkan diri, banyak jago persilatan dan orang gagah yang ti'was oleh serangan kilat yang sama sekali tak terduga semacam ini. Apalagi pihak musuh menggunakan jurus pukulan yang paling keji, buas dan sakti, sekali pun di hadapannya berdiri seseorang yang lelah bersiap pun, belum tentu serangan itu dapat dibendung atau dihindari. Agaknya Bong Thian-gak cukup memahami kelihaian jurus serangan lawan, dia tidak mencoba berkelit ke samping, sebaliknya ilrngan kelima jari tangan kirinya yang dipentang lebar-lebar dia sambut "lalangnya serangan itu.
"Plak", terdengar benturan keras, penyergap mendengus tertahan dan sempoyongan, secara beruntun tubuhnya kena terdorong hingga mundur sejauh empat-lima langkah. Bong Thian-gak segera memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya untuk melompat bangun dari pembaringan, kemudian diawasinya penyergap itu dengan sorot mata penuh kegusaran. Ternyata pihak lawan adalah seorang berbaju hitam bertubuh ramping, jelas seorang wanita, memakai secarik kain hitam untuk menutupi sebagian wajahnya. Tampaknya penyergap sama sekali tak menyangka sergapannya bakal mengalami kegagalan, dari balik matanya segera terpancar rasa kaget dan tertegun.
"Siapa kau?"
Bong Thian-gak segera membentak.
"Lebih baik menyerah saja daripada mampus secara mengerikan!"
Gadis penyergap itu berseru tertahan, kemudian untuk kedua kalinya dia menerjang ke muka dengan kecepatan luar biasa.
Kali ini dia menyerang dengan sebilah pisau belati di tangan, serangannya buas dan nekat, membuat hati orang bergidik.
Bong Thian-gak mendengus dingin, sepasang kakinya sedikit membengkok, lalu sepasang tangannya seperti cakar burung elang balas menyambar ke depan.
Jeritan kaget terdengar, tubuh si gadis penyergap itu mengelak ke belakang bagai layang-layang putus benang, kemudian menggelinding keluar pintu.
Bong Thian-gak tak tinggal diam, dengan lompatan lebar dia menyusul keluar.
"Sreet", serentetan cahaya dingin menyambar. Bong Thian-gak bertindak sigap, dia miringkan tubuhnya sambil menyambar benda itu, tahu-tahu pisau belati tadi sudah berpindah ke tangannya. Gadis penyergap itu memang lihai, gerak-geriknya lincah dan cekatan. Di saat Bong Thian-gak merontokkan serangan pisau belati tadi, ia segera melompat ke depan, lalu melarikan diri turun ke bawah loteng. Bong Thian-gak membentak gusar menyaksikan musuh hendak kabur, tangannya cepat diayun ke depan, pisau belati yang berhasil disambarnya tadi tahu-tahu sudah disambitkan balik ke tubuh lawan. Serangan balasan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, tampak cahaya tajam berkilau, tahu-tahu gadis penyergap itu menjerit kesakitan. Pisau belati itu menancap telak di bahu kirinya, darah segera berhamburan kemana-mana, setelah sempoyongan sesaat, ia melarikan diri dari situ. Bong Thian-gak mengejar secepat angin puyuh, tapi si gadis penyergap sudah kabur sejauh tujuh-delapan depa. Terkejut juga Bong Thian-gak menyaksikan pihak musuh masih sanggup melarikan diri kendatipun tubuhnya sudah terluka parah, kuatir musuh keburu kabur, cepat dia melompati atap rumah dan berniat menghadang jalan perginya dengan cepat. Siapa tahu baru saja Bong Thian-gak melompati dua buah rumah, gadis berbaju hitam itu sudah berbelok ke samping dan menyusup ke dalam bangunan rendah di sisi loteng, langsung kabur menuju ke halaman belakang. Dengan begitu selisih kedua belah pihak menjadi semakin lebar. Bong Thian-gak segera menjejakkan kaki ke tanah, seperti burung bangau raksasa dia melambung ke angkasa dan mengejar dari belakang. Kejar-kejaran segera berlangsung sengit, setelah melalui tiga halaman rumah, gadis berbaju hitam itu sudah berada tiga depa saja di hadapannya, tapi pagar pekarangan menuju ke tempat tinggal kaum wanita dalam Bu-lim Bengcu pun tinggal beberapa depa lagi. Bong Thian-gak mengerti, seandainya gadis itu berhasil kabur ke gedung sebelah dalam, pasti dia akan menjumpai banyak kesulitan, buru-buru dia melepaskan sebuah pukulan yang amat lihai. Angin pukulan yang menderu-deru seperti amukan ombak di tengah samudra, dengan cepat melesat ke depan. Gadis berbaju hitam itu mendengus tertahan, tubuhnya mencelat ke udara, lalu terbanting keras ke atas tanah. Tubuhnya terkapar lemas di atas tanah, setelah berkelejetan beberapa kali, akhirnya sama sekali tak berkutik lagi. Bong Thian-gak menyusul datang dari belakang, buru-buru dia membungkukkan badan memegang nadi pergelangan tangan lawan, namun pemuda itu segera tertegun, ternyata denyutan nadi lawan sudah berhenti, musuh tewas dalam keadaan mengerikan. Menghadapi keadaan itu, Bong Thian-gak menghela napas sedih, serunya sambil mendepak-depakkan kakinya berulang kali.
"Ai, dengan susah payah aku berhasil mengungkap titik terang ini, siapa tahu ia justru sudah mampus!"
Baru saja dia bergumam, segulung angin berhembus, lalu terdengar seorang berkata.
"Omitohud, ilmu pukulan Ko-sicu benar-benar kuat, tajam dan berdaya kemampuan menghancurkan bebatuan cadas, kini isi perut musuh sudah hancur, nadinya sudah putus, mana mungkin hidup lebih jauh?"
Bong Thian-gak berpaling ke tengah-tengah kegelapan malam, tampak Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si sudah berdiri tegak di situ.
Menyusul kemudian bayangan orang berkelebat berulang kali, secara beruntun jago-jago lainnya bermunculan pula di sana.
Yu Heng-sui dan Ho Put-ciang juga hampir bersamaan waktunya muncul di tempat kejadian.
Memperhatikan jenazah yang membujur di sana, Ho Putciang berkata dengan wajah serius.
"Ji-sute, coba kau lepaskan kain kerudung hitamnya!"
Sementara itu paras muka para jago pun berubah menjadi amat serius, berpuluh pasang mata bersama-sama dialihkan ke wajah jenazah itu.
Pelan-pelan Yu Heng-sui merobek kain kerudung mukanya, dengan cepat muncul seraut wajah yang mengerikan, dari tujuh lubang indranya darah kental masih mengucur hingga muka jenazah itu penuh berlepotan darah.
Tapi bagi Yu Heng-sui maupun Ho Put-ciang, raut wajah itu tak asing lagi bagi mereka, mereka cukup tahu siapa gerangan perempuan penyergap itu.
Kontan saja paras muka kedua orang itu berubah hebat, jelas perempuan itu pun anggota gedung Bu-lim Bengcu.
Bong Thian-gak tidak kenal perempuan itu, mungkin orang itu baru masuk ke gedung Bu-lim Bengcu setelah ia meninggalkan tempat itu, kalau dilihat dari raut wajahnya, gadis itu kira-kira baru berusia dua puluhan tahun, mungkin dayang atau pelayan.
Cepat Ho Put-ciang memerintahkan kepada adik seperguruannya.
"Yu-sute, cepat gotong pergi jenazah ini dan bersihkan lantai dari noda darah, jangan mengganggu ketenangan tidur orang lain."
Kemudian sambil menjura kepada para jago, orang she Ho itu berkata lebih jauh.
"Toa-heng sekalian, asal-usul pembunuh itu baru akan kuumumkan besok pagi, bagaimana kalau sekarang dipersilakan kembali ke kamar masingmasing?"
Berhubung para pendekar tidak mengenali siapakah perempuan yang tewas itu, tentu saja tak seorang pun di antaranya yang bersuara, ditinjau dari paras muka Ho Putciang, dapat diduga orang itu adalah salah seorang anggota gedung Bu-lim Bengcu.
Waktu itu malam masih kelam, terpaksa semua orang balik ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Menanti semua jago telah berlalu, Bong Thian-gak baru berkata tertahan dalam hati, dia seperti menemukan sesuatu yang tidak beres.
Ternyata di antara para jago yang bermunculan, ia tidak nampak kemunculan Kongsun Phu-ki si kunyuk tua itu.
Ho Put-ciang memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu ujarnya sambil tertawa getir.
"Harap Ko-cuangsu sudi memaafkan, ternyata pihak musuh benar-benar telah menyusup ke setiap bagian gedung Bu-lim Bengcu ini, perempuan tadi adalah salah seorang dayang Subo kami."
Mendengar nama 'Subo' disinggung, hati Bong Thian-gak bergetar keras, bagaikan dihantam martil berat, sekujur tubuhnya gemetar keras.
"Omitohud!"
Ku-lo Hwesio berkata.
"Ho-hiantit mungkin masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, untuk sementara waktu Lolap kembali dulu."
Selesai berkata, pendeta itu segera berlalu lebih dulu.
Bong Thian-gak tahu Toa-suhengnya bakal menjumpai banyak kesulitan dalam melakukan penyelidikan, agar tidak menyusahkannya, maka dia pun segera mohon diri pula.
Kembali ke kamar, ia tidur di pembaringan sambil membayangkan peristiwa yang baru saja lewat, diam-diam ia merasa menyesal karena lurun tangan kelewat berat.
Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak bergumam.
"Konon pembunuh itu adalah salah seorang dayang Subo, mungkinkah Subo masih seperti tujuh tahun berselang, hatinya belum puas sebelum pembunuh yang dikirimnya berhasil membunuh diriku?"
Saat itulah dalam benak Bong Thian-gak melintas peristiwa yang berlangsung tujuh tahun lalu, peristiwa tragis yang sangat memalukan.
Peristiwa itu terjadi pada suatu malam di musim panas, waktu itu dia bersama Sam-suhengnya Siau Cu-beng sedang dalam perjalanan pulang setelah menjemput Subonya di kota Ci Kang.
Malam itu berhubung mereka tersesat di atas bukit hingga kemalaman, maka terpaksa harus bermalam di tengah gunung.
Udara pada malam itu panas sekali, karena tak tahan, maka di tengah malam buta secara diam-diam dia pergi ke sungai untuk menyegarkan badan, tetapi ketika selesai mandi dan kembali ke tempat semula, dia tidak menemukan Subo dan Sam-suhengnya.
Maka dengan gelisah, ia melakukan pencarian di sekeliling tempat itu dan akhirnya di dalam sebuah hutan kecil, ia saksikan suatu adegan yang menyeramkan, tapi juga amat memalukan.
Di atas tanah berumput di bawah sinar rembulan, tampak sepasang laki perempuan sedang saling berpelukan dalam keadaan telanjang bulat, waktu itu mereka sedang bersenangsenang menikmati surga dunia, berbuai mesum seperti apa yang sering dilakukan antara suami istri.
Yang memegang peranan sebagai sang suami ternyata Sam-suhengnya Siau Cu-beng, sedangkan yang memegang peranan istri tak lain adalah ibu gurunya sendiri.
Kontan saja hawa amarah menggelora di dalam dadanya, dengan geram ia keluar dari tempat persembunyian dan mengagetkan sepasang sejoli yang sedang berbuat mesum.
Beberapa saat kemudian, Sam-suhengnya Siau Cu-beng telah selesai berpakaian dan pelan-pelan berjalan keluar dari hutan dengan senyum menyeringai menghias wajahnya, lalu disusul ibu gurunya.
Dilihat dari paras muka Siau Cu-beng dan ibu gurunya, dapat diketahui mereka hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi.
Kemarahan dan kesedihan yang melampaui batas membuat ia menerjang Siau Cu-beng seperti binatang buas, ia bertekad hendak melenyapkan pengkhianat itu dari muka bumi dan membersihkan nama gurunya yang ternoda.
Pertempuran sengit tak bisa dihindari lagi, seorang diri dia harus bertarung menghadapi kerubutan Siau Cu-beng dan ibu gurunya.
Entah siapa yang membantunya, dalam pertarungan itu makin bertarung ia nampak makin gagah ...
akhirnya dalam suatu kesempatan dia berhasil menghajar Siau Cu-beng hingga terjatuh ke dalam jurang.
Jerit kaget Siau Cu-beng yang terjatuh ke dalam jurang telah mengagetkan ibu gurunya, ia segera berhenti menyerang, kemudian sambil menutup muka menangis tersedu-sedu, seperti merasa menyesal dengan perbuatannya itu.
Diiringi isak-tangis yang memedihkan hati, ibu gurunya lantas menceritakan bagaimana dia dirayu oleh Siau Cu-beng untuk berbuat iseng, bagaimana dirangsang....
Dalam kesedihan itu, ia hanya memohon kepada dirinya agar tidak menceritakan peristiwa yang memalukan itu kepada gurunya.
Mendengar ucapan ibu gurunya, gejolak emosinya segera menjadi reda, kesadarannya pun pulih, ia sadar bila gurunya yang berhati bajik sampai mengetahui peristiwa tragis yang memalukan itu, sudah pasti gurunya akan menderita tekanan batin.
Padahal gurunya merupakan seorang Bu-lim Bengcu yang memimpin seluruh umat persilatan di dunia, ia begitu dihormati, disanjung oleh setiap orang, bagaimana jadinya bila berita yang memalukan itu sampai bocor ke dunia persilatan?
Sudah pasti nama baik dan wibawa gurunya akan hancur.
Bila sampai terjadi hal ini, sungguh tragis akibatnya.
Ibu gurunya ini merupakan istri ketiga, waktu itu umurnya baru tiga puluh tujuh tahun, masih muda, bila Suhu sampai mengetahui penyelewengannya, apakah ibu gurunya akan dibiarkan hidup terus?
Demi menyelamatkan nama baik gurunya, demi menjaga semangat gurunya agar tidak menderita tekanan batin, juga demi kaselamatan ibu gurunya, maka dia lantas mengarang suatu cerita untuk merahasiakan kejadian yang sesungguhnya.
Siapa tahu Subonya begitu keji, ternyata dia telah mengirim pembunuh bayaran untuk mencari jejak dan melenyapkan jiwanya.
Berpikir sampai di situ, sepasang mata Bong Thian-gak berkaca-kaca, ia bergumam.
"Perempuan rendah yang tak tahu malu, apakah kau tahu bahwa aku Bong Thian-gak telah kembali ke sini? Kau kuatir aku membocorkan perbuatan terkutukmu yang tak tahu malu itu, sehingga segera kau kirim pembunuh-pembunuhmu untuk melenyapkan aku dari muka bumi."
"Hm"
Seorang diri Bong Thian-gak mendengus berulang kali, ia menyumpah lebih jauh.
"Perempuan terkutuk, aku benar-benar tak menyangka kau masih bisa bertebal muka tetap tinggal di dalam gedung Bu-lim Bengcu ini, masih punya perasaan hidup terus di dunia ini."
"Hm, kau sepantasnya mampus, suatu ketika aku Bong Thian-gak pasti akan membunuhmu, aku takkan membiarkan kau tetap hidup di dunia ini hanya untuk berbuat kejahatan!"
Bicara sampai di situ, mencorong sinar buas yang menggidikkan dari balik mata anak muda itu, ia sudah mengambil keputusan bulat. Mendadak satu ingatan melintas kembali dalam benak Bong Thian-gak.
"Mungkinkah Subo adalah mata-mata yang diselundupkan musuh kemari?"
Pendapatnya itu ibarat sumber air yang ditemukan di tengah gurun pasir, segera membuat semangatnya berkobar kembali.
Dilihat dari perbuatan ibu gurunya yang mengkhianati cintanya dengan berbuat mesum bersama Siau Cu-beng, kemudian ditinjau pula dari ilmu silat pembunuh perempuan yang muncul pada malam ini, Subonya itu memang satusatunya orang yang paling mencurigakan.
Setelah berhasil menemukan titik terang itu, hati Bong Thian-gak agak tenang, tanpa terasa dia pun tertidur dengan cepat.
"Tok, tok, tok", dari luar gedung sana berkumandang lima kali kentongan sebagai pertanda kentongan kelima telah tiba. Entah lama saat sudah lewat, akhirnya Bong Thian-gak bangun dari tidurnya oleh suara pembicaraan yang gaduh. Tampak Siau Kiok yang manis sudah berdiri di sisi pembaringan, begitu melihat pemuda itu membuka mata, dia lantas berkata.
"Siangkong! Siangkong! Nona telah datang ...."
Bong Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya ke arah lain, sambil berseru tertahan buru-buru dia melompat bangun dan duduk.
Ternyata di kursi dekat dinding kamarnya telah duduk kakak seperguruannya, Oh Cian-giok.
Bong Thian-gak melompat turun dari pembaringan dan menuju ke arah Oh Cian-giok sambil katanya.
"Nona Oh, sejak kapan kau sampai di sini? Maaf jika aku bersikap kurang sopan."
Oh Cian-giok masih mengenakan pakaian putih tanda berkabung, hanya wajahnya nampak amat murung, selapis hawa dingin menghiasi raut wajahnya.
"Ko-siangkong,"
Ujarnya.
"maaf jika aku mengganggu tidurmu, tapi berhubung dalam gedung telah terjadi suatu peristiwa besar, terpaksa Toa-suheng mengutusku kemari mengundang kedatangan Ko-siangkong."
"Apa yang terjadi?"
Seru Bong Thian-gak dengan terperanjat.
"Kongsun-tayhiap ditemukan tewas!"
Berita buruk ini segera membuat Bong Thian-gak amat terkesiap, serunya tertahan.
"Apa? Kau mengatakan Kongsun Phu-ki telah tewas?"
Pelan-pelan Oh Cian-giok mengangguk.
"Benar ia mati terbunuh."
"Bagaimana tewasnya?"
"Ketika datang memanggilnya pagi tadi, ia ditemukan mati kaku di atas pembaringan, anggota badannya telah kaku dan mendingin, jelas sudah putus nyawa cukup lama, tapi sebab kematiannya belum jelas. Kini Ku-lo Hwesio dan sebagian jago sedang menantikan kedatangan Ko-siangkong di ruangan bawah sana."
Bong Thian-gak tidak banyak bicara lagi, cepat ia membetulkan pakaiannya, lalu mengikuti Oh Cian-giok menuju ke kamar Kongsun Phu-ki.
Waktu itu para jago sudah berkumpul dalam ruang tamu yang kecil, kebetulan Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui sedang berjalan keluar ilari dalam kamar, para jago segera bertanya.
"Apa yang menyebabkan kematian Kongsun Phu-ki?"
Baik Ho Put-ciang maupun Yu Heng-sui tidak menjawab, mereka hanya menggeleng kepala berulang kali. Menyaksikan Bong Thian-gak muncul, Ho Put-ciang berkata hambar.
"Ko-cuangsu silakan masuk, Ku-lo Sinceng sedang menanti kedatanganmu di dalam sana."
Bong Thian-gak mengiakan dan buru-buru ia masuk ke dalam kamar.
Di atas pembaringan kayu dalam ruangan, tergeletak kaku seorang kakek kurus kering, dialah Kongsun Phu-ki, salah satu di antara Ciong-lam-sam-lo.
Di sisi pembaringan duduk Ku-lo Hwesio, dia sedang meneliti setiap bagian tubuh Kongsun Phu-ki.
Bong Thian-gak ikut mengamati jenazah itu, tampak paras muka Kongsun Phu-ki pucat-pias, kulit wajahnya cekung ke dalam sehingga boleh dibilang tinggal kulit pembungkus tulang belaka.
Keadaannya saat ini mirip seorang yang tewas setelah puluhan tahun menderita penyakit parah.
Ku-lo Hwesio mendongakkan kepala dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, mendadak ia bangkit dan berkata.
"Di atas tubuhnya tidak ditemukan luka apa pun, juga tidak ditemukan gejala keracunan, kalau begitu ...."
Mendadak ia berhenti sejenak sambil beranjak keluar dari kamar, kemudian baru melanjutkan sambil menghela napas.
"Itu berarti dia tewas akibat sari darah dan tulang sumsumnya mengering."
Dugaan itu segera disambut para jago dengan wajah berubah hebat, hampir bersamaan mereka berseru.
"Sari darah dan tulang sumsum mengering? Mengapa sari darah dan tulang sumsum bisa mengering dalam semalaman saja?"
Dalam ruangan itu hanya Bong Thian-gak seorang yang secara lamat-lamat bisa menduga apa gerangan yang terjadi, tapi karena dilihatnya Oh Cian-giok hadir pula di situ, maka ia merasa agak sungkan untuk bertanya lebih jauh kepada Ku-lo Hwesio.
Mendadak Ku-lo Hwesio berkata lagi dengan wajah amat serius.
"Ko-sicu, Lolap ingin bicara empat mata denganmu sebentar, datanglah ke loteng sebelah timur bersama Hohiantit dan Yu-hiantit "Baik, aku akan segera ke sana!"
Jawab Bong Thian-gak dengan suara lantang.
Selesai berkata, dia mengikut di belakang Ku-lo Sinceng keluar ruangan itu.
Tak selang beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di ruang tamu loteng sebelah timur.
Ternyata Ho Put-ciang dan Yu Hengsui telah berada pula di sana.
Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Ku-lo Hwesio barulah berkata.
"Kongsun-sicu tewas akibat sari darah dan tulang sumsumnya mengering atau dengan kata lain dia mati akibat air maninya telah kering."
"Jadi dia benar-benar tewas akibat air maninya telah mengering?"
Ku-lo Hwesio manggut-manggut.
"Ya, Kongsun-sicu memang lewas di tangan seorang perempuan."
"Ah, kematiannya benar-benar di luar dugaan."
"Ko-sicu, semalam kau yang menguntit di belakang Kongsun-sicu, tentunya kau tahu bukan kemana dia telah pergi?"
Diam-diam Bong Thian-gak terkejut juga, dia tidak menyangka perbuatannya menguntit di belakang Kongsun Phu-ki tak lolos dari pengawasan Ku-lo Hwesio. Dengan cepat lantas dia menjawab.
"Kongsun-tayhiap telah berkunjung ke rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau, tapi berhubung aku tidak masuk ke dalam, maka tidak kuketahui apa yang dilakukannya!"
Maka Bong Thian-gak menceritakan secara ringkas bagaimana dia menguntit Kongsun Phu-ki semalam, hanya soal mengintip seorang perempuan cantik dalam keadaan telanjang saja yang sengaja dia rahasiakan.
Seusai mendengar penuturan itu, Yu Heng-sui berkata sambil menghela napas.
"Ah, sudah satu bulan lebih Kongsuntayhiap berdiam di sini, tiap hari dia tentu keluar satu kali, aku pun pernah menguntitnya secara diam-diam, dia memang pergi ke sarang pelacuran untuk melepaskan napsunya."
"Lolap sendiri pun pernah mendengar Kongsun-sicu tak mampu mengendalikan birahi, tapi dia cukup berjiwa jujur dan lurus, selama ini belum pernah mengganggu anak gadis atau istri orang. Namun kalau dibilang ia mengalami musibah akibat peristiwa ini, rasanya juga tak mungkin."
Bong Thian-gak pun merasakan banyak hal yang mencurigakan dalam kejadian itu, dia berkata.
"Kalau dibilang Kongsun Phu-ki mati akibat dia kehabisan air mani setelah berbuat iseng dengan pelacur, mengapa justru tewas dalam gedung Bu-lim Bengcu, apalagi dia seorang jago yang memiliki tenaga dalam amat sempurna, tak mungkin dia berbuat iseng hingga kelewat batas, sampai air maninya mengering dan berakibat kematian."
"Kalau bukan suatu musibah, apa. mungkin suatu pembunuhan?"
Kata Ho Put-ciang tiba-tiba.
"Menjelang tengah malam Lolap menyaksikan Kongsun-sicu pulang seorang diri, menyusul kemudian Ko-sicu baru pulang setengah jam kemudian, waktu itu Ko-sicu pernah menjenguk pula ke kamar Kongsun-sicu."
Bong Thian-gak semakin terkejut mendengar ucapan itu, ia tidak menyangka semua gerak-geriknya tak lepas dari pengawasan Ku-lo Hwesio, maka jawabnya dengan lantang.
"Apa yang dikatakan Taysu memang tepat sekali, oleh karena aku kuatir Kongsun-tayhiap belum sampai di rumah, sengaja aku datang ke kamarnya untuk mengintip dan membuktikan apakah dia telah kembali ke rumah atau belum!"
"Biasanya orang yang mati akibat kehabisan sumsum tulangnya, dia akan mati seketika setelah selesai melakukan senggama,"
Ku-lo Hwesio menerangkan.
"Mustahil berjalan pulang lebih dulu dari jauh sebelum akhirnya tewas di rumah. Ah! Mungkin Kongsun-sicu tidur semalaman tak pernah mendusin untuk selamanya!"
"Supek, lantas berada dalam keadaan apakah Kongsuntayhiap menemui ajalnya?"
Tanya Yu Heng-sui kemudian.
"Dua ratus tahun berselang, di Bu-lim pernah beredar se
Jilid kitab Tay-im-keng yang mencantumkan sejenis ilmu yang disebut Soh-li-sut (kepandaian perempuan suci), tegasnya kepandaian itu merupakan sejenis ilmu penghisap hawa Yang dari tubuh lelaki untuk memupuk kekuatan Im tubuh perempuan yang digauli.
Ilmu sesat semacam itu pernah muncul di Bu-lim sebelum ini, tapi bila dibicarakan, gejalanya persis seperti gejala kematian Kongsun-sicu sekarang, itulah sebabnya Lolap jadi teringat kitab aneh Tayim-keng itu."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak sesudah mendengar penjelasan itu, katanya cepat.
"Jadi maksud Taysu, kematian Kongsun-sicu disebabkan oleh perbuatan seorang perempuan yang mengerti ilmu Soh-li-sut, dan telah menghisap hawa Yangnya hingga mengering?"
"Ya, sebab kematian Kongsun-sicu memang demikian adanya."
Bong Thian-gak menjerit kaget.
"Ah, mungkinkah dalam rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau terdapat perempuan semacam ini?"
"Kalau dibilang dalam rumah pelacuran bisa muncul perempuan seperti ini, sesungguhnya sesuatu yang mustahil dan sukar untuk dipercaya, sekali pun ada, tak mungkin dia mencelakai orang tanpa sebab, ah ... itulah sebabnya Lolap sekali lagi ingin bertanya kepada Ko-sicu, kemarin malam Kongsun-sicu telah pergi kemana?"
Bong Thian-gak tertegun.
"Jadi Taysu tidak percaya dengan perkataanku?"
Tanyanya.
"Sejak beberapa hari berselang, musuh telah menetapkan hari kematian untuk Kongsun-sicu, mungkin hal ini disebabkan pihak lawan tahu Kongsun-sicu gemar bermain perempuan, maka ia sengaja menyiapkan seorang perempuan yang pandai ilmu Soh-li-sut untuk merayunya di tengah jalan sehingga rencana pembunuhan mereka tercapai, apabila dibilang di dalam rumah pelacuran bisa terdapat perempuan macam begini, sesungguhnya hal ini sukar untuk dipercaya."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, apa yang kukatakan sebenarnya merupakan kenyataan, namun bila Taysu sekalian tidak percaya, aku pun tidak bisa berbuat apaapa."
Padahal Bong Thian-gak pun terkejut bercampur keheranan atas kematian Kongsun Phu-ki.
"Baiklah,"
Kata Ku-lo Hwesio kemudian.
"Untuk sementara waktu Lolap tak usah membicarakan dulu kematian Kongsunsicu semalam."
Dilihat dari sikap Ku-lo Hwesio yang bernada memeriksa dirinya, Bong Thian-gak segera sadar bahwa Hwesio tua yang teliti ini pun sudah mulai menaruh curiga padanya, siapa tahu Hwesio itu sudah lama menaruh curiga padanya, sehingga sengaja mengajaknya turut menghadiri rapat rahasia itu.
Kemudian mengintai dan menyelidikinya secara diam-diam.
Terdengar Ku-lo Hwesio berkata.
"Pembunuh gelap yang dibunuh Ko-sicu itu merupakan salah satu dayang kepercayaan Oh-bengcu Hujin. Kini Lolap ingin bertanya kepada Sicu, mengapa dayang itu mencari Sicu sebagai sasaran pembunuhan?"
Bong Thian-gak segera mengeluarkan kartu merah dari dalam sakunya, kemudian berkata dengan lantang.
"Silakan Taysu memeriksa kartu ini terlebih dahulu!"
Ku-lo Hwesio menerima kartu itu dan diperiksa sebentar, kemudian diberikan kepada Ho Put-ciang, setelah itu dia baru berkata.
"Seandainya Sicu adalah orang dari golongan kami, setelah musuh memberikan kartu peringatan itu kepadamu, Sicu pasti akan berusaha menawan mata-mata itu, kemudian disiksa supaya mengaku, apa sebabnya kau malah membunuh orang itu secara keji?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, tentang kesalahan tanganku, aku membunuh pembunuh gelap itu, aku merasa menyesal sekali."
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Ku-lo Hwesio, dia menatap wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan suara dalam.
"Maaf jika Lolap menaruh prasangka kepada Sicu, harap Sicu dapat memberikan bantahan setelah tuduhanku ini kuucapkan."
"Katakan saja, Taysu."
"Seandainya Lolap menuduh Sicu adalah utusan lihai musuh yang mendapat perintah untuk menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, entah bagaimanakah sanggahan Sicu?"
Bong Thian-gak untuk kesekian kalinya menghela napas panjang.
"Ah, asal kuutarakan asal-usulku, sudah pasti Taysu tak akan menaruh curiga lagi kepadaku, bila seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya tiba-tiba muncul dalam gedung Bu-lim Bengcu, bagaimana pun juga hal ini memang mencurigakan orang lain!"
"Apa yang hendak Sicu tanyakan?"
"Apa yang ingin kuketahui adalah soal kematian Kongsun Phu-ki, benarkah dia tewas akibat kehabisan sumsum Goanyang?"
Tiba-tiba paras muka Ku-lo Hwesio berubah, tapi sebentar saja sudah lenyap, pelan-pelan dia berkata.
"Ko-sicu telah menyaksikan jenazah Kongsun-sicu dengan mata kepala sendiri, bagaimana tanggapanmu tentang kematiannya?"
Bong Thian-gak tertegun, sahutnya pula.
"Dilihat dari gejala kematiannya, dia memang tewas akibat kehabisan sumsum Goan-yang!"
"Kalau begitu, apa lagi yang Sicu sangsikan?"
"Ah, aku harus membuktikan dulu sebab kematian Kongsun Phu-ki sebelum menyelelidiki siapa pembunuhnya."
"Sicu, setelah sampai di sini, Lolap terpaksa mesti berterus terang kepadamu!"
Kata Ku-lo Hwesio kemudian dengan suara dalam.
"Semua jago yang hadir di sini maupun pejabat Bengcu merasa keberatan bila ada seorang yang tak jelas identitas dan asal-usulnya turut serta dalam persoalan persekutuan dunia persilatan ini."
Sambil tertawa getir Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Aku akan segera meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu ini, tapi jangan harap bisa mengetahui asal-usulku yang sebenarnya!"
Tiba-tiba Yu Heng-sui tertawa dingin.
"Ko-heng, jika kau tidak mengungkap asal-usulmu, mungkin kau tak akan dapat mengundurkan diri dari gedung Bengcu ini dengan selamat."
Mendengar itu, Bong Thian-gak berkerut kening, lalu ujarnya lagi dengan suara dalam.
"Kalian tak mau mengurusi masalah yang sesungguhnya, buat apa mendesak diriku mengungkap asal-usulku?"
"Semua ini mengikuti keinginan para jago,"
Sahut Yu Hengsui tertawa.
"Kini mereka telah menanti dirimu di bawah loteng sana."
Bong Thian-gak menghela napas panjang mendengar ucapan itu.
"Ai, bila kalian tak mau percaya kepadaku, suatu ketika kalian akan menyesal."
Setelah menghela napas lagi, dia berpaling ke arah Ho Putciang, lalu ujarnya lebih jauh.
"Kalau kalian tak percaya kepadaku sejak awal, mengapa kalian izinkan diriku mencampuri urusan ini? Sekarang kalian pun tidak memperkenankan aku pergi dari sini, sebenarnya apa yang hendak kalian lakukan?"
"Ko-cuangsu, mengapa kau tidak mengungkap asal-usulmu secara jujur?"
Bong Thian-gak menggeleng.
"Maaf, aku tidak bisa menjawab."
"Jika kau enggan menjawab, para jago akan menghalangimu pergi dari sini."
Kembali Bong Thian-gak tertawa.
"Bila hal ini terjadi, terpaksa aku suruh mereka saksikan kelihaian ilmu silatku!"
Selesai berkata, pemuda itu segera beranjak turun dari loteng itu.
Yu Heng-sui tertawa dingin, dia segera melompat bangun sambil bersiap-siap melancarkan serangan.
Tiba-tiba Ho Put-ciang berkata dengan suara dalam.
"Jisute, jangan bertindak gegabah!"
Yang dikuatirkan oleh Bong Thian-gak selama ini adalah bilamana dia mesti bertarung melawan Toa-suhengnya, betapa lega hatinya setelah Toa-suhengnya mencegah Jisuhengnya turun tangan.
Selangkah demi selangkah dia turun dari anak tangga, setelah tiba di depan pintu gerbang, tampak kawanan jago itu benar-benar telah berdiri mengelilingi halaman gedung, puluhan pasang mata yang tajam bersama-sama ditujukan ke tubuhnya.
Bong Thian-gak bersikap acuh tak acuh, seakan-akan sama sekali tidak melihat kehadiran mereka, dengan dada dibusungkan dia langsung berjalan menuju ke tengah halaman.
Sementara itu Ku-lo Hwesio bersama Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui telah turun dari loteng pula, mereka bertiga berdiri di depan pintu gerbang dengan wajah serius.
Ketika Bong Thian-gak sudah hampir keluar pintu halaman, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring.
"Berhenti!"
Bayangan orang berkelebat, seorang lelaki kekar bercambang hitam pekat seperti pantat kuali, dengan perawakan tinggi besar dan berjubah biru telah menghadang di depan Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak segera mengenali orang ini sebagai salah seorang dari Tiam-jong-siang-kiat yang dijuluki Wan-pit-kim-to (golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam.
"Ang-tayhiap, apakah engkau hendak memberi sesuatu petunjuk kepadaku?"
Tegurnya. Golok emas berlengan monyet Ang Thong-lam tertawa terbahak-bahak.
"Aku orang she Ang ingin mohon petunjuk dari saudara!"
"Silakan turun tangan, Ang-tayhiap."
Sikap santai dan tenang Bong Thian-gak ini membuat si Golok emas berlengan monyet tertegun dan berdiri termangumangu di tempat. Setelah tertawa dingin, kembali Bong Thian-gak berkata.
"Ang-tayhiap, mengapa tidak melancarkan serangan?"
Tiba-tiba saja Ang Thong-lam menganggap Bong Thian-gak berniat mempermainkan dirinya, dia jadi naik darah dan segera membentak nyaring.
"Bagus sekali, akan kulihat seberapa hebat kepandaian silatmu hingga begitu sinis padaku."
Begitu selesai berkata, dia lantas mengayun tinjunya menghantam wajah Bong Thian-gak, serangannya dahsyat, tenaga pukulannya mematikan.
Bong Thian-gak tertawa dingin, kaki kanannya maju ke Tiong-kiong, lalu telapak tangan kanan diayun ke muka membabat urat nadi pergelangan tangan musuh.
Sekali orang menyerang, segera akan diketahui berisi atau tidak, seketika itu juga paras muka para jago di sekeliling halaman itu berubah hebat.
Ang Thong-lam merupakan adik seperguruan ketua Tiamjong-pay sekarang, kesempurnaan ilmu silatnya termasuk juga kemampuan seorang ketua partai, ia segera menyadari pukulan tangan kanannya akan meleset.
Sambil membentak keras bagaikan harimau ganas keluar dari sarang, secepat kilat tangan kirinya menghantam pinggang musuh.
Serangan ini merupakan ilmu pukulan Kiong-ciang-kun (Pukulan busur panah) yang amat termasyhur dari Tiam-jongpay, serangannya dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, hebat luar biasa.
Semua jago yang menyaksikan jalannya pertandingan itu dari samping, segera dapat merasakan pukulan Ang Thonglam itu sangat hebat dan membuat orang sukar menghindarkan diri.
Sikap Bong Thian-gak cukup tenang, tampak dia berjongkok, kemudian membentak nyaring.
"Lihat serangan!"
Suara benturan keras menggelegar di udara, badan Ang Thong-lam berguncang keras, kemudian dengan sempoyongan mundur sejauh liga-empat langkah, lengan kirinya terkulai lemas, sementara wajahnya basah oleh keringat.
Dalam bentrokan itu, para jago dapat mengikuti kejadian itu dengan jelas, rupanya di saat yang paling kritis, Bong Thian-gak telah mengubah babatan tangan kanannya yang mengancam urat nadi pada lengan kanan Ang Thong-lam itu menjadi serangan menyikut, di antara posisi setengah berjongkok itulah dia berhasil menyikut persendian hilang lengan sebelah kiri musuh.
Dalam bentrokan barusan, kedua belah pihak memang belum menggunakan kepandaian yang sebenarnya, tapi menang kalah di antara mereka sudah ditentukan.
Seorang jago lihai yang termasyhur namanya di Bu-lim ternyata menderita kalah total di tangan seorang pemuda tak dikenal, kejadian ini benar-benar di luar dugaan siapa pun.
Hasil pertempuran yang mengejutkan ini kontan saja membuat paras muka para jago berubah hebat.
Kepada Ku-lo Hwesio kata Ho Put-ciang.
"Ku-lo Supek, sodokan sikutnya benar-benar dilakukan dengan amat jitu dan hebat, ilmu silat orang ini tidak boleh dipandang enteng."
Ku-lo Hwesio manggut-manggut.
"Betul, sodokan sikut itu dilancarkan di antara sela-sela peralihan jurus pertama ke jurus kedua, dari sini dapat diketahui ilmu silat orang ini benar-benar hebat sekali."
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah menjura kepada semua jago setelah berhasil mengalahkan Ang Thong-lam, katanya dengan lantang.
"Ang-tayhiap, terima kasih atas kesediaannya mengalah!"
Setelah berkata, dia lantas beranjak pergi.
"Tunggu sebentar saudara! Lohu ingin mohon petunjuk pula,"
Tiba-tiba seseorang berkata dengan suara parau.
Tampak seorang kakek berbaju hitam menggembol pedang, pelan-pelan berjalan keluar dan menghadang di depan Bong Thian-gak.
Setelah melihat jelas paras muka kakek itu, dengan kening berkerut Bong Thian-gak berkata.
"Yu-koancu, harap kau sudi memberi jalan untukku!"
Ternyata kakek baju hitam berperawakan jangkung dan berwajah kurus ini adalah Koancu kuil Hian-thian-koan di bukit Khong-tong, Yu Ciang-hong adanya.
Dengan sebilah pedang Ci-thian-kiam, dia berhasil menguasai tiga belas macam ilmu pedang Khong-tong-pay hingga mencapai puncak kesempurnaan, menurut berita di Bu-lim, konon Yu Ciang-hong telah berhasil pula menguasai Yu-kiam-sut atau ilmu pedang terbang.
Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong tersenyum.
"Ko-cuangsu, Lohu mohon petunjuk beberapa jurus seranganmu untuk menambah pengetahuanku, apa tidak boleh?"
Bong Thian-gak sadar, andai dia tidak memperlihatkan kelihaian ilmu silatnya pada hari ini, mustahil dia bisa pergi meninggalkan tempat itu dengan mudah.
Setelah berpikir sebentar, katanya dengan suara nyaring.
"Kalau memang begitu, terpaksa aku mengiringi keinginanmu."
"Selama hidup Lohu menekuni ilmu pedang, boleh dibilang pedang tak pernah terlepas dari tanganku, entah senjata apakah yang hendak saudara pergunakan? Silakan saja segera dilolos."
"Aku lebih meyakini ilmu telapak tangan, silakan Yu-koancu melancarkan serangan!"
Yu Ciang-hong agak tertegun, kemudian ujarnya.
"Kalau begitu terpaksa Lohu bertindak lancang."
Begitu selesai berkata, Yu Ciang-hong segera mundur setengah langkah, dengan cepat tangan kanannya menyambar ke belakang untuk melolos pedangnya.
"Sret", cahaya tajam segera berkilauan memenuhi angkasa. Begitu Ci-thian-kiam dilolos, tanpa banyak bicara lagi ia melepas sebuah tusukan kilat ke arah dada Bong Thian-gak . Yu Ciang-hong adalah jago pedang kenamaan di Bu-lim, cukup dilihat dari caranya mencabut pedang bisa diketahui sampai dimana taraf kesempurnaan orang ini. Sudah lama para jago persilatan tahu bahwa Yu Cianghong termasyhur karena ilmu pedangnya yang lihai, kendatipun demikian jarang ada orang menyaksikan dia memainkan ilmu pedangnya di depan umum, oleh sebab itu semua orang lantas memusatkan segenap perhatiannya menyaksikan jalannya pertarungan itu. Agaknya Bong Thian-gak pun sadar ilmu pedang lawan lihai sekali, dia tak berani memandang enteng, dengan sorot mata berkilau tajam dia mengawasi gerak pedang lawan, sementara telapak tangan kirinya dengan setengah ditekuk mengebas pergi serangan pedang lawan. Paras muka Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong berubah hebat menyaksikan datangnya ayunan telapak tangan kiri Bong Thian-gak, mendadak dia tekuk pinggang sambil menarik senjatanya. Setelah itu pedang Ci-thian-kiam sekali lagi digetarkan ke muka, dari kiri menusuk ke kanan, lalu dari kanan menyapu ke tengah, dalam waktu yang singkat dia telah melepaskan tiga serangan berantai. Tampak cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, dengan gerakan pedang yang aneh, seperti menotok juga menggunting, dia menghajar musuh. Ku-lo Hwesio yang menonton jalannya pertarungan itu dari sisi arena segera saja menghela napas panjang, katanya.
"Kebasan tangannya itu merupakan ilmu Hud-meh-ceng-hiat (Menyapu nadi menggetarkan jalan darah) yang hebat sekali, ilmu silat orang itu benar-benar mencapai tingkatan yang luar biasa!"
Baik Ho Put-ciang maupun Yu Heng-sui dapat menyaksikan pula kebasan tangan Bong Thian-gak tadi, dengan wajah serius bercampur tegang mereka mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.
Sementara itu Bong Thian-gak telah terdesak mundur sejauh tiga langkah oleh gencetan tiga serangan berantai lawan, tapi secara mudah sekali dia berhasil meloloskan diri dari ancaman itu.
Yu Ciang-hong memang tak malu disebut jago pedang yang termasyhur, ia tak memberi kesempatan pada musuh untuk melepaskan serangan balasan, kaki kirinya segera maju selangkah, lalu pedangnya ditebaskan ke samping, sebuah tusukan kuat disodokkan ke muka.
Kini Bong Thian-gak tidak menghindar lagi, mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah membentak nyaring, pergelangan tangan kanannya diayunkan ke muka membabat punggung pedang, seketika itu juga muncul segulung angin pukulan yang mendesak pedang lawan miring ke samping.
Sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, tiba-tiba saja ia mencengkeram pergelangan tangan kanan musuh yang menggenggam pedang.
Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong amat terkejut, cepat dia mundur tiga langkah, tiba-tiba saja gerakan pedangnya berubah.
Terdengar angin menderu, cahaya kilat berkilauan di angkasa, segulung angin puyuh yang maha dahsyat menggulung tiba.
Bong Thian-gak mendengus dingin, ujung bajunya berkibar terhembus angin, dengan cepat dia menerjang ke tengah gulungan angin pedang Yu Ciang-hong yang gencar, dengan tangan kiri menangkis pedang, tangan kanan menyerang musuh, sepasang telapak tangannya berubah silih berganti, bagaikan dua naga bermain di air, kelihaiannya benar-benar luar biasa.
Kawanan jago persilatan itu rata-rata adalah pemimpin suatu perguruan besar, ilmu silat mereka tentu saja lihai sekali, tatkala mereka menyaksikan jalannya pertarungan itu, serentak keningnya berkerut.
Rupanya mereka tidak bisa membedakan lagi mana gerakan tubuh Bong Thian-gak dan mana jurus pedang Yu Ciang-hong.
Dalam waktu singkat kedua belah pihak sudah saling bertarung puluhan gebrak.
Tiba-tiba terdengar dengusan tertahan memecah keheningan.
Di tengah lapisan bayangan pedang yang menyelimuti udara, mendadak Bong Thian-gak melejit ke tengah udara dan melayang turun, kemudian dia membalik tubuh dan dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik halaman gedung sana.
Perubahan yang berlangsung tiba-tiba ini amat mencengangkan semua orang, membuat semua jago yang hadir di arena tak seorang pun sempat melakukan penghadangan, mereka hanya berdiri tegak di tempat dengan wajah termangu.
Akhirnya suara helaan napas panjang menyadarkan para jago dari lamunan, sewaktu mereka mengangkat kepala, tampak Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong berdiri lemas dengan pedang Ci-thian-kiam terkulai ke bawah.
"Kalah total ... kalah total ... tiga puluhan tahun Lohu berlatih dengan tekun, siapa tahu hari ini mesti menderita kekalahan di tangan jago muda yang sama sekali tak dikenal,"
Gumamnya lirih.
"Koancu, bukankah kau berhasil melukai lengan kirinya?"
Seru Yu Heng-sui dengan nyaring.
"Siapa yang menderita kekalahan?"
Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong mendongakkan kepala dan dengan sedih sahutnya.
"Betul, Lohu memang berhasil melukai lengan kirinya, namun telapak tangannya justru berhasil menghantam dadaku lebih dulu, coba kalau pukulan itu disertai dengan tenaga dalam, Lohu sudah tewas sejak tadi, bagaimana mungkin masih dapat melukai lengannya dengan pedang?"
Rupanya dalam gebrakan penentuan yang berlangsung dengan amat cepat tadi, kecuali Ku-lo Hwesio, Ho Put-ciang, Ui-hok Totiang dan beberapa orang yang sempat melihat jelas, sisanya masih belum tahu bagaimana kedua belah pihak menentukan menang kalahnya, mereka cuma menyaksikan Bong Thian-gak melarikan diri dengan membawa luka.
Dalam pada itu Ku-lo Hwesio telah memejamkan mata rapat-rapat seakan sedang mengambil suatu keputusan yang amat penting, tiba-tiba dia membuka mata, lalu berkata dengan suara dalam.
"Kelihaian ilmu silat orang ini benarbenar jauh di luar dugaan, terutama aliran ilmu silatnya, susah buat kita untuk menduganya, andaikata dia adalah musuh, hal ini benar-benar amat merisaukan buat kita."
Paras muka Ho Put-ciang berubah menjadi serius sekali, setelah .termenung sejenak, tiba-tiba bisiknya kepada Ku-lo Hwesio.
"Ilmu pukulan orang ini sangat aneh dan sulit diduga, akan tetapi tidak kehilangan sifat jujur dan terbukanya, bahkan gaya serangannya pun mirip sekali dengan...."
Ketika berbicara sampai di situ mendadak dia tutup mulut, kemudian setelah menggeleng kepala dia melanjutkan.
"Akan tetapi di balik sikapnya yang gagah dan perkasa membawa juga serangan keji yang licik dan tak kenal ampun, sungguh membuat orang tidak mengerti!"
Ku-lo Hwesio menatap wajah Ho Put-ciang lekat-lekat, kemudian tanyanya pelan.
"Menurut Ho-hiantit, ilmu silat orang itu mirip aliran mana?"
"Mirip sekali dengan ilmu pukulan guruku, tapi bila diamati lagi dengan seksama seperti tak mirip, ya, ilmu silat di dunia memang bersumber satu, mungkin otakku kelewat tumpul hingga telah salah melihat!"
Mendengar itu, Ku-lo Hwesio membungkam, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat seperti sedang bersemedi. Mendadak terdengar Ku-lo Hwesio berkata dengan suara yang dalam dan berat.
"Ho-hiantit, cepat kirim orang untuk mengejar dan membunuh Ko Hong!"
Ho Put-ciang tertegun oleh seruan itu.
"Mengapa Ku-lo Supek mengambil keputusan begini?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku-lo Hwesio, serunya kemudian.
"Lolap sudah teringat sekarang, kemungkinan besar orang itu adalah anak murid Mo-kiam-sinkun Tio Tian-seng."
Begitu ucapan itu diutarakan, paras muka para jago segera berubah hebat.
Gara-gara dugaan itu, Bong Thian-gak bakal menjumpai banyak kesulitan dalam pengembaraannya di Bu-lim di kemudian hari.
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melewati atap rumah dan kabur dari gedung Bu-lim Bengcu.
Ia langsung menuju ke tempat terpencil yang jauh dari keramaian, tiga li kemudian pemuda itu baru berhenti berlari, sementara lukanya mulai terasa sakit.
Ternyata darah segar telah membasahi lengan kirinya, sakitnya bukan kepalang.
Sambil menggigit bibir dia lantas merobek secarik kain dan membalut luka itu, kemudian setelah menghembuskan napas kesal, gumamnya seorang diri.
"Ilmu pedang Khong-tongkiam-hoat milik Yu Ciang-hong memang benar-benar lihai, bila tujuh tahun belakangan ini aku tidak belajar ilmu sakti yang kutemukan tanpa sengaja, bisa jadi aku tewas di ujung pedang orang itu!"
Pelan-pelan dia berjongkok dan duduk bersila di bawah rimbunnya pohon. Memandang awan di angkasa, tanpa terasa gumamnya lagi.
"Masa depan suram, dunia amat luas, besok aku akan kemana dan berbuat apa? Ai, sungguh tak kusangka setelah aku memasuki gedung Bu-lim Bengcu dan bisa menginap di sana, sehari kemudian aku dipaksa berkelana lagi tanpa tujuan."
"Oh, Suhu! Apakah arwah kau orang tua yang tidak berkenan aku memasuki pintu gerbang gedung Bu-lim Bengcu lagi? Oh Suhu! Seandainya arwahmu di alam baka tahu, kau harus mengerti bahwa tujuh tahun berselang aku tidak melakukan kesalahan apa-apa, kubunuh Siau Cu-beng dikarenakan aku hendak membersihkan perguruan kau orang tua dari manusia-manusia laknat!"
Keluh-kesah Bong Thian-gak ini makin lama semakin memilukan, dia merasa nasib sendiri benar-benar amat buruk, sepanjang hidup harus berkelana tanpa tujuan, dimana-mana mendapat kesulitan, seakan-akan perjalanan hidup penuh dengan duri.
Teringat akan nasibnya yang buruk, tanpa terasa ia teringat pula pada ibu gurunya, Pek Yan-ling, yang menggemaskan, tak tahu malu dan menjengkelkan itu.
Andai bukan gara-gara perbuatan cabul Pek Yan-ling, mungkin dia tak akan mengalami nasib yang begini tragis seperti saat ini.
Sambil menundukkan kepala dan membelai kaki kirinya yang pincang, api kebencian membara lagi dalam benaknya, saking tak kuasa menahan diri, dia segera mencaci-maki kalang-kabut.
"Perempuan jalang, tujuh tahun berselang kau telah membacok otot kaki kiriku hingga membuatku pincang, semalam kau lagi-lagi mengirim orang untuk membunuhku. Ah, aku Bong Thian-gak bersumpah tak akan melepaskan dirimu begitu saja."
Pikir punya pikir sambil bersandar di pohon dan dibuai angin yang berhembus silir-semilir, tanpa terasa akhirnya Bong Thian-gak jatuh tertidur.
Ketika mendusin dari tidurnya, matahari sudah tenggelam di langit barat, cuaca mulai remang-remang.
Sambil melemaskan otot-ototnya yang kaku, Bong Thiangak melompat bangun, tiba-tiba berhembus segulung angin yang membawa bau harum daging semerbak.
Seketika pemuda itu merasa perutnya lapar sekali sehingga sukar ditahan, sambil menelan air liur dia mulai celingukan ke sana-kemari mencari sumber datangnya bau harum itu.
Akhirnya dari balik sebuah hutan kecil tak jauh dari situ, dia saksikan ada selapis cahaya api yang sedang berkobar, di sampingnya duduk berjongkok seseorang berdandan pengemis, tampak di atas jilatan api sedang terpanggang sesuatu, dari situlah bau daging tadi terendus.
Waktu itu Bong Thian-gak lapar sekali, dia lantas berpikir.
"Untuk membeli makanan di kota, aku mesti berjalan dua-tiga li, mengapa tidak kubeli separoh ayam dari pengemis itu untuk menangsal perut?"
Berpikir sampai di situ, dia lantas berjalan menuju hutan kecil itu.
Benar juga, ternyata benda yang sedang dipanggang adalah seekor ayam yang sangat gemuk, waktu itu si pengemis sedang mencongkel bara api di bawah panggangan dengan sebatang ranting, dia seperti belum tahu kehadiran Bong Thian-gak.
"Permisi sobat!"
Bong Thian-gak segera menegur. Pengemis itu tidak berpaling, juga tidak mengangkat kepala, sambil meneruskan pekerjaannya dia berkata.
"Hihihi, silakan duduk, silakan duduk sobat aku tahu perutmu lapar."
Mendengar perkataan itu, dengan perasaan rikuh Bong Thian-gak berkata.
"Aku ingin membeli separoh ayam panggangmu itu, berapa pun harganya pasti kubayar."
Tiba-tiba pengemis itu mendengus dingin.
"Hm, harta kekayaan seperti awan di angkasa, uang seperti kotoran manusia, kalau berbicara soal uang, lebih baik tidak kujual saja!"
Bong Thian-gak tertegun.
"Kita tak pernah mengenal satu sama lain, bagaimana boleh kuminta ...."
Belum selesai dia berkata, pengemis itu sudah menukas dengan suara dingin.
"Kalau begitu lebih baik pergi saja dengan menahan lapar!"
Bau harum yang semerbak membuat Bong Thian-gak harus menelan air liur berulang-kali, sebagai orang jujur, dia kasihan kalau harus meminta makanan yang mungkin didapat dari dermaan orang, berpikir sampai di situ ada baiknya bilamana diberi sedikit uang sebagai imbalan separoh ayam itu, bagaimana pun juga ia tetap merasa rikuh untuk minta makanan dari seorang pengemis.
Karena ragu-ragu, untuk sesaat dia hanya berdiri di tempat.
Mendadak terdengar pengemis itu berseru dengan gembira.
"Sudah matang, sudah matang!"
Ia segera membuang ranting itu dan mencengkeram panggang ayam yang masih panas itu dengan tangannya. Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak.
"Hati-hati, jangan sampai menyengat tangan!"
Belum habis dia berkata, pengemis itu sudah menyobek paha ayam dan dimakan dengan lahapnya.
Saat itulah Bong Thian-gak melihat dengan jelas paras muka pengemis itu, tanpa terasa keningnya berkerut kencang.
Ternyata usia pengemis itu sangat muda, kurang lebih dua puluh tiga-empat tahun,wajahnya amat tampan, telinga besar dan mata jeli, bukan saja hidungnya mancung, kulit tubuhnya juga putih, halus dan bersih.
Coba kalau dia tidak mengenakan jubah panjang yang penuh tambalan, siapa yang percaya kalau orang ini adalah pengemis?
Orang tentu akan menganggapnya sebagai seorang Kongcu yang romantis!
Pengetahuan Bong Thian-gak cukup luas, sekarang dia sudah menduga, besar kemungkinan pengemis muda ini adalah anggota Kay-pang yang termasyhur di Bu-lim selama seratus tahun belakangan ini.
Kay-pang atau perkumpulan pengemis merupakan perkumpulan terbesar di Bu-lim, selain anggotanya sangat banyak, jumlah mereka pun tersebar rata di setiap pelosok dunia.
Mereka tidak pernah menggabungkan diri dengan persekutuan dunia persilatan, selamanya bekerja sendiri tanpa terikat oleh perguruan lain, selain jarang mengadakan hubungan dengan berbagai perguruan silat, perkumpulan ini pun merupakan satu-satunya perkumpulan yang berdiri antara aliran lurus dan sesat.
Belasan tahun berselang, ketika guru Bong Thian-gak masih menjadi Bengcu persekutuan dunia persilatan, pihak Kun-lun-pay sebagai anggota persekutuan pernah bentrok dengan orang-orang Kay-pang.
Gara-gara peristiwa itu hampir saja pihak Kay-pang melakukan pertarungan terbuka dengan pihak persekutuan dunia persilatan.
Akhirnya Bu-lim Bengcu harus berkunjung ke markas besar Kay-pang untuk minta maaf kepada ketua perkumpulan itu sebelum urusan bisa didamaikan.
Ditinjau dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa pengaruh Kay-pang dalam Bu-lim waktu itu sama sekali tidak berada di bawah kemampuan sembilan partai besar daratan Tionggoan.
Sementara itu si pengemis muda menyaksikan Bong Thiangak hanya berdiri termangu, mendadak dia menyambar sepotong paha ayam dan dilempar ke depan Bong Thian-gak, serunya.
"Nih, sambutlah!"
Paha ayam itu meluncur dengan kecepatan tinggi, Bong Thian-gak dengan gugup segera menerimanya.
Kini dia sudah menduga pengemis itu kemungkinan besar adalah anggota Kay-pang, maka sikapnya pun tidak sungkansungkan lagi.
Dia lantas berjongkok dan melalap paha ayam itu dengan lahapnya malah lebih lahap daripada pengemis muda itu, dalam waktu singkat paha ayam tadi sudah disikat hingga tinggal tulangnya.
Dengan mata melotot dan tertawa cekikikan, pengemis muda rtu berkata "Ujung langit seperti tetangga, empat samudra adalah saudara sendiri silakan makan, silakan makan!"
Bong Thian-gak tertawa bodoh, tanpa sungkan lagi dia pentang kelima jarinya dan merobek sepotong daging ayam gemuk itu, langsung dikirim ke dalam mulutnya.
Hanya dalam waktu singkat seekor ayam gemuk seberat tiga-empat kati itu sudah tinggal tulang.
Setelah kenyang, Bong Thian-gak baru bertanya dengan suara lantang.
"Bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Pengemis muda itu melototkan matanya, kemudian sahutnya.
"Dilihat dari tampangmu, sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang pelajar, tapi heran, tingkahlakumu justru penuh dengan segala tetek-bengek, siapa namamu sendiri?"
Bong Thian-gak menaruh kesan baik terhadap pengemis muda itu, setelah tertawa nyaring dia menyahut.
"Aku she Ko bernama Hong."
"Nama palsu, shenya juga palsu!"
Bong Thian-gak jadi tertegun.
"Maksudmu?"
"Tiada manusia yang bernama demikian di Bu-lim."
Diam-diam Bong Thian-gak terperanjat, pikirnya kemudian.
"Pengemis muda ini sudah pasti seorang yang punya kedudukan tinggi dalam Kay-pang, kalau dilihat dari kemampuannya merobek daging ayam tadi, pasti tenaga dalamnya telah sempurna!"
Berpikir demikian, sambil tersenyum Bong Thian-gak berkata.
"Kalau begitu kau pun seorang dari dunia persilatan?"
"Jika kau sudah tahu aku anggota Kay-pang, buat apa kau mesti banyak bertanya?"
"Tapi kau belum memberitahukan namamu kepadaku?"
"Aku she To bernama Siau-hou!"
"Oh, rupanya To-heng, terima kasih banyak atas hidangan daging ayammu pada malam ini!"
"Ayam gemuk itu dapat kucuri dari dalam gedung Bu-lim Bengcu, jadi berterima kasihlah kepada mereka!"
Bong Thian-gak tertegun mendengar itu, segera serunya.
"Jadi kau pun telah berkunjung ke gedung Bu-lim Bengcu?"
"Aku pun telah menyaksikan pertarunganmu melawan Yu Ciang-hong. Hm, orang-orang dari sembilan partai memang benar-benar tak tahu malu, sudah kalah masih menghadiahkan tusukan kepada orang!"
Bong Thian-gak terkejut mendengar ucapan terakhir itu, To Siau-hou ini selain sudah menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu tanpa diketahui siapa pun, bahkan setiap gerakan serangan yang digunakan sewaktu bertarung melawan Hianthian-koancu pun dapat diketahuinya, dari sini dapat disimpulkan kepandaian silatnya benar-benar sangat lihai.
To Siau-hou memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian tanyanya.
"Bukan memujimu, ilmu silatmu memang sangat tinggi, orangnya juga jujur dan terbuka, kami orangorang Kay-pang paling suka dengan orang macam dirimu, apakah kau ingin masuk menjadi anggota?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Sekarang aku tak punya beban tak punya ikatan, hidup bebas tanpa terikat oleh suatu apa pun, buat apa To-heng mesti memberi belenggu padaku?"
To Siau-hou ikut menghela napas panjang.
"Cara untuk menjadi anggota perkumpulan kami selamanya sangat ketat, justru lantaran aku merasa amat berkesan kepada Ko-heng sejak pertemuan pertama, seakan-akan kita seperti sudah berteman lama saja, maka ... sudahlah! Ko-heng, di kemudian hari bila kau bersedia menjadi anggota perkumpulan kami, katakan saja kepadaku."
"To-heng memiliki watak yang gagah, terbuka, berjiwa besar dan hangat terhadap setiap orang, Siaute benar-benar telah mendapat seorang sahabat sehati."
Tiba-tiba To Siau-hou bangkit, kemudian katanya.
"Kini aku sedang mendapat tugas rahasia dari Pangcu kami untuk menyelidiki beberapa persoalan di kota Kay-hong, tugas yang amat berat itu mesti kulakukan secepatnya, hingga tak ada waktu buat kita untuk banyak bicara, kalau begitu kita bersua lagi di lain waktu saja!"
Selesai berkata dia lantas menjura dalam-dalam kepada Bong Thian-gak, setelah itu membalik badan dan beranjak pergi dari situ.
"Baik-baiklah menjaga dirimu To-heng, sampai jumpa lain waktu,"
Seru Bong Thian-gak lantang. Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba To Siau-hou berhenti dan membalik tubuh, katanya.
"Ko-heng, kini Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay telah menurunkan perintah untuk mencari dan membunuh dirimu, kau harus lebih waspada untuk menjaga diri!"
Mendengar itu Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Terima kasih banyak atas peringatan To-heng, aku bisa menghadapinya dengan hati-hati."
To Siau-hou tidak banyak bicara lagi, dia membalik badan dan melompat pergi, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.
Memandang bayangan punggung To Siau-hou yang menjauh, tiba-tiba Bong Thian-gak seperti kehilangan sesuatu, sobat barunya ini seakan-akan meninggalkan kesan yang amat mendalam dalam hatinya.
Pesan sebelum kepergian To Siau-hou tadi membuat Bong Thian-gak makin bertambah kesal, perintah yang diturunkan Ku-lo Hwesio itu kemungkinan besar bisa mengakibatkan dia saling bentrok dengan sesama saudara seperguruannya.
"Ai, apakah sebaiknya aku mengundurkan diri dan mengasingkan diri di tengah gunung yang terpencil?"
Bintang-bintang bertaburan di angkasa dan berkelip tiada henti, persis seperti perasaan Bong Thian-gak yang tak menentu sekarang, dia tidak tahu harusnya dia tetap tinggal di Kay-hong ataukah melanjutkan penyelidikannya atas pembunuh yang membinasakan gurunya itu?
Dia tahu, meski dunia persilatan kehilangan dia, namun dia bertekad tetap melakukan penyelidikan terhadap kematian gurunya.
Agar mereka jangan sampai salah sasaran, dia memang sepantasnya mengundurkan diri dari keramaian dunia.
Angin dingin berhembus mengibarkan ujung baju Bong Thian-gak, dengan pikiran kusut pelan-pelan dia berjalan meninggalkan tempat itu.
Malam terasa aneh dan penuh misteri.
Mendadak terdengar suara keliningan yang nyaring, membuat suasana malam menjadi bertambah misterius.
Mendengar suara itu, Bong Thian-gak segera berpaling, di tengah kegelapan malam segera terlihat olehnya bayangan sebuah tandu yang muncul dari balik kegelapan.
Rupanya suara keliningan itu berasal dari tandu itu.
Dengan kening berkerut Bong Thian-gak segera menyelinap ke balik semak belukar dan menyembunyikan diri, tampak olehnya tandu itu makin lama makin mendekat.
Itulah sebuah tandu kecil yang digotong dua orang, yang lebih mengherankan lagi, pemikul tandunya adalah dua orang gadis yang masih berusia muda, di sisi kanan tandu tampak pula seorang gadis mengiringi.
Tirai tandu ditutup rapat, sehingga tidak diketahui siapakah yang duduk dalam tandu itu.
Sekilas pandang kedua gadis muda itu nampak lemahgemulai dan halus sekali, meski sedang memikul tandu, langkah mereka tetap cepat dan ringan, jelas orang-orang itu mempunyai kepandaian silat sangat tinggi.
Dengan cepat tandu misterius itu lewat di hadapan Bong Thian-gak dan bergerak menuju ke arah barat daya.
Memandang bayangan tandu yang menjauh, pelan-pelan Bong Thian-gak berjalan keluar dari balik semak belukar, kemudian dengan perasaan tidak mengerti ia menggeleng kepala berulang kali, pikirnya.
"Pada umumnya pemikul tandu adalah laki-laki kekar, mana ada gadis muda yang menggotong tandu? Hendak kemanakah mereka?"
Perasaan ingin tahu yang meluap membuat anak muda itu segera mengerahkan tenaga dan mengejar ke arah bayangan tandu itu lenyap.
Kurang lebih empat li sudah lewat, tapi anehnya bayangan tandu itu tidak nampak juga, malah suara keliningan yang amat nyaring itu pun sudah tak terdengar lagi.
Dengan tertegun Bong Thian-gak segera berpikir.
"Masa secepat itu pemikul tandu itu berjalan? Mengapa bayangan mereka bisa lenyap? Ah, mungkinkah aku telah salah arah!"
Berpikir demikian, Bong Thian-gak segera membalik badan dan mencari kembali ke tempat semula.
Sekali pun dia sudah kembali ke semak belukar dimana dia menyembunyikan diri tadi, tandu itu belum juga ditemukan.
"Benar-benar aku sudah bertemu setan,"
Gumam Bong Thian-gak dalam hati, untuk sesaat dia berdiri termangu di situ.
Mendadak di tengah heningnya suasana, lagi-lagi muncul seorang pejalan malam, ilmu meringankan tubuh orang itu hebat sekali, berjalan di tengah kegelapan seakan-akan segulung hembusan angin saja.
Dengan cekatan kembali Bong Thian-gak menyembunyikan diri di balik semak belukar.
Tak selang lama kemudian, pejalan malam itu sudah berhenti di hadapannya, sepasang matanya yang tajam tiada hentinya celingukan ke sana kemari melakukan pemeriksaan.
Melihat itu Bong Thian-gak berpikir.
"Mungkin dari kejauhan orang ini melihat di sini ada bayangan orang!"
Ternyata dugaannya benar, terdengar orang itu bergumam.
"Mungkin bayangan pohon cemara!"
Dia lantas mengembangkan Ginkangnya dan lewat di hadapan liong Thian-gak, orang itu bergerak menuju ke arah barat daya.
Dengan sepasang mata Bong Thian-gak yang tajam, dia dapat melihat pakaian yang dikenakan orang itu adalah pakaian seragam pengawal gedung Bu-lim Bengcu.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-gak.
Dengan cepat ia mengembangkan Ginkang pula dan melakukan pengejaran.
Ginkang Bong Thian-gak telah mencapai puncak kesempurnaan, dengan selisih jarak puluhan depa, bagaikan sukma gentayangan saja dia menguntit dari belakang.
Setengah jam kemudian mendadak ia menyaksikan orang itu menyelinap ke balik hutan lebat di sisi jalan.
Bong Thian-gak segera melanjutkan penguntitannya melalui arah lain.
Hutan itu gelap gulita tak ada setitik sinar pun, tentu saja sulit bagi pemuda itu untuk mengawasi orang itu dengan lebih seksama.
Untung Bong Thian-gak memiliki ketajaman pendengaran, dari suara langkah kaki si pejalan malam menginjak dedaunan, ia bisa menduga orang itu berada di depannya dan sedang menerobos ke arah selatan hutan itu.
Setelah berjalan masuk ke dalam, tiba-tiba dari depan sana muncul setitik cahaya, ternyata di situ berdiri sebuah kuil.
Mimpi pun Bong Thian-gak tidak mengira dalam hutan lebat ini bisa tersembunyi sebuah kuil, dengan perasaan ingin tahu ia segera bersembunyi dalam hutan itu sambil menanti perkembangan selanjutnya yang akan terjadi.
Tampaknya kuil itu tidak berpenghuni, di dalam ruang gelap gulita tak nampak setitik cahaya lentera pun, lagi pula sebagian tembok pekarangannya sudah roboh, rumahnya juga kuno dan bobrok, suasana amat menyeramkan.
Dengan memperingankan langkah kakinya, orang itu langsung bergerak menuju ke dalam kuil bobrok itu.
Mendadak dari ruang tengah kuil berkumandang suara teguran seorang perempuan.
"Apakah kau adalah utusan yang dikirim Sam-kaucu (ketua ketiga)?"
Ketika mendengar teguran itu, orang itu nampak terperanjat, lalu buru-buru menjawab.
"Be ... benar, hamba adalah Huhoat (pelindung) di bawah pimpinan Sam-kaucu, apakah Jit-kaucu (ketua ketujuh) sudah datang?"
Sekali lagi dari dalam ruang kuil berkumandang suara dengusan dingin perempuan itu.
"Hm, Jit-kaucu telah datang sedari tadi, mengapa kau tidak segera berlutut menerima perintah?"
Lelaki berbaju hitam itu benar-benar bertekuk lutut mendengar perkataan itu, wajahnya nampak gugup dan tegang.
Sementara itu Bong Thian-gak yang bersembunyi dalam hutan pun diam-diam merasa terperanjat.
"Sam-kaucu, Jitkaucu, sebenarnya perkumpulan macam apakah itu? Kalau lelaki berbaju hitam itu salah satu di antara pengawal gedung Bu-lim Bengcu, penemuanku pada malam ini boleh dibilang penting sekali."
Dalam pada itu, dari dalam ruang kuil berkumandang lagi suara pembicaraan perempuan lain, perempuan itu sedang bertanya dengan suara hambar.
"Kau adalah Huhoat nomor berapa di bawah Sam-kaucu?"
Suara perempuan ini merdu bagaikan burung nuri yang sedang berkicau, tapi di balik suara yang merdu itu terselip kewibawaan yang menggidikkan.
Dengan suara gemetar, lelaki berbaju hitam itu segera menjawab.
"Hamba adalah pelindung nomor dua puluh sembilan Lo Gi."
"Lo Gi?"
Kembali suara perempuan itu bertanya.
"Tahukah kau di antara Kaucu dalam perguruan kita, Kaucu nomor berapakah yang mempunyai peraturan paling ketat?"
"Jit-kaucu!"
Perempuan dengan suara berwibawa itu kembali berkata.
"Aku telah menunggu hampir setengah jam lamanya di tempat ini, persoalan apakah yang membuat kedatanganmu terlambat tiga perempat jam?"
"Secara tiba-tiba di gedung Bu-lim Bengcu diadakan pemeriksaan pasukan, oleh sebab itu hamba datang terlambat, harap Jit-kaucu sudi memaafkan dosa hamba ini."
Kepala Bong Thian-gak serasa mendengung keras sesudah mendengar tanya jawab itu, apa yang didengarnya ini ternyata benar, orang adalah mata-mata musuh yang sengaja diselundupkan ke dalam gedung Bu-lim Bengcu.
Ini berarti perguruan rahasia itulah yang sesungguhnya musuh umum seluruh umat persilatan.
Sementara itu dari dalam ruang kuil kembali terdengar Jitkaucu berkata.
"Perintah apakah yang diberikan Sam-kaucu untuk disampaikan kepadaku? Cepat katakan."
"Sam-kaucu hanya menyerahkan tiga hal, pertama, ia minta pada Jit-kaucu untuk menyelidiki seorang yang bernama Ko Hong."
"Manusia macam apakah Ko Hong itu? Mengapa harus Kaucu yang melakukan penyelidikan ini?"
Tegur Jit-kaucu dari dalam ruangan dengan suara sedingin es.
"Sam-kaucu yang mengharapkan demikian, menurut Samkaucu, Ko Hong mempunyai ciri khas, dia berwajah kuning macam orang penyakitan, kaki kirinya pincang, ilmu silatnya amat lihai dan usianya antara dua puluh tujuh-delapan tahunan."
"Sam-kaucu menitahkan kepada Jit-kaucu untuk menyelidiki asal-usulnya dan berusaha menariknya agar bergabung dengan perkumpulan kita, apabila usaha ini mustahil, mumpung belum menimbulkan ancaman, dia mesti cepat disingkirkan dari muka bumi."
Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu menjadi amat terkesiap, dia tidak menyangka perkumpulan ini pun akan turun tangan keji terhadapnya.
Jit-kaucu yang berada dalam ruangan kuil nampaknya sedang termenung, selang beberapa saat kemudian ia baru bertanya.
"Masih ada persoalan apa lagi, cepat katakan."
"Kedua, menurut Sam-kaucu, beberapa hari mendatang mungkin Yu Heng-sui hendak menuju ke kantor cabang kita untuk melakukan penyelidikan, bila perlu Jit-kaucu boleh mengambil keputusan sendiri untuk menentukan mati hidupnya."
Berita ini lagi-lagi membuat Bong Thian-gak terperanjat, cepat pikirnya.
"Entah dimanakah letak kantor cabang mereka? Bila aku tidak berusaha keras memberitahu kabar ini kepada Ji-suheng, bisa jadi keselamatan Ji-suheng akan terancam mara bahaya!"
Sementara itu lelaki berbaju hitam berkata lagi.
"Soal ketiga, kata Sam-kaucu, Cap-go-kaucu (ketua kelima belas) pernah mengirim pembunuh ke gedung Bu-lim Bengcu untuk melenyapkan jiwa Ko Hong, tapi usaha pembunuhan itu menemui kegagalan, malah rahasia Sin-li-tui (pasukan gadis suci) perkumpulan kita ikut bocor, kemungkinan hal itu akan mempengaruhi rencana kita secara keseluruhan, Sam-kaucu minta Jit-kaucu menyampaikan berita ini kepada Cong-kaucu untuk menetapkan langkah selanjutnya dari Cap-go-kaucu."
"Hanya tiga soal inikah yang dipesankan Sam-kaucu?"
Tanya Jit-kaucu hambar.
"Benar!"
Pelan-pelan Jit-kaucu berkata lagi.
"Peraturan perkumpulan kita amat ketat, tak mengizinkan anggota partai melakukan kesalahan?"
Lelaki berbaju hitam itu nampak tertegun, kemudian sahutnya.
"Bagi yang melakukan kesalahan berat hukumannya mati, sedangkan yang ringan disekap untuk menyesali dosanya."
"Lo Gi, kemari kau,"
Tiba-tiba Jit-kaucu berkata dengan suara pelan.
Tampaknya lelaki berbaju hitam itu belum tahu bencana besar sudah berada di ambang mata, dengan menurut sekali dia berjalan m.isuk ke dalam ruangan.
Ruangan itu gelap gulita tak nampak setitik cahaya pun, semenjak lelaki berbaju hitam itu masuk ke dalam, suasana sekeliling tempat itu hei ubah menjadi hening, sepi dan tak terdengar sedikit suara pun ....
Dengan mengerahkan segala kemampuannya, Bong Thiangak mencoba memeriksa sekeliling ruang itu, namun belum juga ditemukan suatu gerakan pun, lama-kelamaan timbul juga rasa curiga dalam hatinya, dia segera berpikir.
"Aneh! Paling tidak dalam ruangan itu terdapat dua orang atau lebih, ditambah orang berbaju hitam yang masuk ke dalam, mengapa dalam waktu singkat suasana berubah menjadi hening dan tak terdengar sedikit pun suara?"
Bong Thian-gak menunggu lagi hingga setengah jam lamanya, akan tetapi suasana dalam ruangan tetap hening.
"Jangan-jangan mereka sudah kabur melalui ruang belakang?"
Ingatan itu dengan cepat melintas dalam benaknya. Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak segera menyumpah dalam hati.
"Siluman rase, benar-benar licik kau!"
Dia segera melompat keluar dari dalam hutan dan berlari ke arah gedung utama dengan kecepatan tinggi.
Mendadak Bong Thian-gak menyaksikan lelaki berbaju hitam itu masih berlutut di depan pintu kuil itu.
"Jangan-jangan mereka belum pergi?"
Diam-diam Bong Thian-gak hrrpikir.
Tapi untuk menyelidiki asal-usul perkumpulan lawan dan untuk membalas dendam bagi kematian gurunya, bagaimana pun juga dia harus menawan musuh dalam keadaan hidup.
Tanpa rasa jeri barang sedikit pun, selangkah demi selangkah Bonng Thian-gak berjalan menuju ruang kuil.
Siapa tahu kendati dia sudah berdiri di belakang lelaki berbaju hitam itu, suasana dalam ruangan kuil masih tetap hening tak terdengar suara apa pun, lelaki berbaju hitam yang sedang berlutut itu pun tak berpaling.
Bong Thian-gak tertawa dingin, dengan satu lompatan lebar dia menerjang masuk ke dalam ruangan tengah, lalu tangan kirinya secepat kilat mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan lelaki itu.
Siapa tahu tangannya yang berhasil mencengkeram nadi lawan hanya menyentuh tubuh yang telah dingin dan kaku, tubuh lelaki itu tahu-tahu roboh terjengkang ke tanah.
Di bawah cahaya bintang yang menyinari sekitar situ, Bong Thian-gak menemukan wajah yang amat tak sedap dipandang dari lelaki berbaju hitam itu, saking kagetnya ia sampai melepas cengkeramannya dan mundur.
Ternyata lelaki itu sudah tewas, wajahnya pucat-pias, seluruh daging wajahnya telah lenyap sehingga wujudnya sekarang tinggal kulit membungkus tulang.
"Ah, keadaan seperti ini agaknya seperti amat kukenal!"
Pikir pemuda itu kemudian.
Tapi dengan cepat Bong Thian-gak teringat mayat Kongsun Phu-ki, mayat mereka berdua pada hakikatnya mirip sekali.
Menurut penilaian Ku-lo Hwesio, sebab kematian Kongsun Phu-ki adalah kehabisan sumsum akibat hubungan senggama yang kelewat batas, tapi lelaki berbaju hitam ini tak melakukan hubungan senggama, mengapa dia pun tewas akibat kehabisan sumsum?
"Ilmu silat apakah itu?
Ya, ilmu silat apakah itu?
Mengapa dia bisa menghisap sari tubuh lelaki kekar yang nampak bertubuh segar menjadi sesosok mayat yang bertubuh kulit membungkus tulang hanya dalam sekejap mata?"
Betul-betul suatu peristiwa yang amat mengerikan.
Sebetulnya perempuan macam apakah Jit-kaucu itu?
Dari sini dapat disimpulkan bahwa kematian Kongsun Phuki pun.
disebabkan perbuatan Jit-kaucu ini.
Dengan cepat Bong Thian-gak masuk ke ruang tengah, menembus dua halaman dan di belakang kuil dia menemukan sebuah hutan yang amat lebat.
Tanpa pikir panjang lagi, dia segera memasuki hutan lebat itu.
Dari balik hutan yang sangat lebat dan seakan-akan tak bertepian itu, mendadak terdengar suara bentakan nyaring.
Bagaikan seorang yang tersesat di padang gurun pasir dan secara tiba-tiba menemukan sumber mata air saja, Bong Thian-gak segera mengerahkan Ginkangnya menyusul ke depan.
Di tengah semak belukar yang lebat, akhirnya ia temukan sebuah landu kecil diparkir di sana, dua gadis muda berbaju hijau memikul tandu itu, sedang gadis berbaju hijau lainnya berdiri di muka tandu dengan senjata terhunus.
Di depan gadis berbaju hijau yang bersenjata terhunus itu berdiri seorang pemuda berbaju compang-camping yang berwajah tampan.
Dengan cepat Bong Thian-gak dapat mengenali pemuda itu sebagai To Siau-hou, anggota Kay-pang yang baru saja dikenalnya semalam.
Sementara itu To Siau-hou juga sudah mengenali Bong Thian-gak, paras mukanya segera berubah hebat.
Rupanya To Siau-hou salah mengira Bong Thian-gak berasal sealiran dengan gadis-gadis itu, sambil tertawa dingin ia menyindir.
"Sungguh tak kusangka kau adalah pelindung bunga. Hahaha, bila begitu aku telah salah memilih teman."
"To-heng, jangan salah paham,"
Buru-buru Bong Thian-gak berkata.
"Aku sama sekali tak punya hubungan apa-apa dengan mereka."
"Kalau memang demikian, harap Ko-heng berpeluk tangan saja di sisi arena!"
Sementar itu si gadis bersenjata pedang telah menuding ke arah To Siau-hou sambil membentak.
"Hei, kau si pengemis, mengapa berdiri menghadang di tengah jalan? Memangnya telah bosan hidup?"
To Siau-hou tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, tidak sulit bila tandu nona ingin lewat tempat ini, cuma aku harus memeriksa dulu orang macam apakah yang sedang duduk di dalam tandu itu."
Bong Thian-gak menyaksikan semua itu, dengan cepat ia dapat menduga orang yang berada dalam tandu itu pasti adalah Jit-kaucu yang keji dan tak berperi-kemanusiaan itu.
Ketika nona baju hijau selesai mendengarkan ucapan itu, alisnya segera bekernyit, hawa membunuh menyelimuti wajahnya, dia segera membentak.
"Rupanya kau ingin mampus!"
Mendadak dia menekuk pinggang, lalu secepat sambaran petir menerjang ke muka dan melepas bacokan kilat.
To Siau-hou menggoyang bahu berkelit tiga kali ke samping, kemudian melangkah maju menghampiri tandu kecil itu Gadis berbaju hitam itu membentak nyaring, jurus pedangnya segera berubah, beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai, cahaya tajam yang berkilau bagaikan beribu bintang dengan cepat menyapu ke depan dan mengurung sekujur badan To Siau-hou.
Terdesak oleh tiga serangan berantai itu, To Siau-hou mundur dua langkah, bayangan orang berkelebat, lagi-lagi gadis berbaju hitam itu sudah melintangkan pedangnya menghadang di depan tandu.
Rupanya To Siau-hou dibikin gusar pula oleh perbuatan musuh, keningnya berkerut dan matanya memancarkan cahaya berkilauan, pelan-pelan tangan kanannya mencabut sebatang tongkat bambu dari balik bahunya.
Dengan tangan kiri menggenggam tongkat bambu, tangan kanan pelan-pelan bergerak ke muka, sebilah pedang tajam tahu-tahu sudah dilolos pula dari sarungnya.
Pada saat itulah dari dalam tandu berkumandang suara merdu dan lembut menegur hambar.
Baca Juga: Rahasia Mo Kau Kaucu 1
Baca Juga: Sang Ratu Tawon 2