Ceritasilat Novel Online

Pendekar Panji Sakti 10

Eps 10 Pendekar Panji Sakti - Khu Lung

Baca online Pendekar Panji Sakti - Khu Lung

Cersil Pendekar Panji Sakti - Khu Lung.

"Penghidupan kami waktu itu sungguh indah dan penuh kebahagiaan, sejak pagi hingga malam kami berdua selalu bersama, begitu kesemsemnya kami menjalani penghidupan yang bahagia hingga dia nyaris melupakan semua persoalan yang sedang dihadapinya"

Setelah berhenti sejenak, tambahnya.

"Tapi.... tapi ada sementara persoalan ternyata dia tidak dapat melupakannya"

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, senyuman diujung bibirnya seolah berubah jadi kedukaan yang mendalam.

"Gara-gara ingin menuntut balas, perguruan mereka harus hidup mengasingkan diri di luar perbatasan, sesuai dengan peraturan perguruan yang berlaku, mereka dilarang mengajak serta kaum wanita dalam perjalanannya"

"Bahkan bini pun tidak boleh dibawa serta?"

Sela Gi Peng-bwee.

"Yaa, termasuk bini pun tidak boleh ikut"

Jawab Yin Siok sambil tertawa pedih.

"Ooh sungguh keji! Sungguh keji!"

Dengan mata terbelalak gumam Gi Peng-bwee berulang kali.

"Mereka tinggalkan istri karena kuatir perhatiannya terpecah ketika berlatih silat, mereka pun tidak ingin hatinya jadi lemah karena terpengaruh kasih sayang seorang ibu. Mereka melatih diri diatas bukit bersalju yang dingin, melatih anak-anak mereka dengan penuh disiplin dan peraturan yang ketat, sedemikian ketat dan kejinya hingga membuat siapa pun tidak tega untuk menyaksikannya.

"Mereka melatih putra-putrinya hingga memiliki tubuh yang keras bagai baja, merekapun menginginkan putra putrinya memiliki hati yang lebih keras dari baja, bila sang ibu turut hadir disitu maka sulit bagi mereka untuk membentuk perasaan macam begitu.

"Justru karena tanpa memikirkan resikonya aku menyusul ke luar perbatasan, maka semua kejadian tersebut dapat kusaksikan dengan mata kepala sendiri, kendatipun aku pun berhati tega, tidak urung air mataku bercucuran juga setelah menyaksikan kejadian ini"

"Jadi toaci telah menyusul ke luar perbatasan?"

Tanya Yin Ping tercengang. Yin Siok menundukkan kepalanya, kembali air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Aku sudah tujuh kali berkunjung ke situ, tapi setiap kali selalu diusir oleh ciang bunjinnya, sekalipun begitu aku tidak putus asa, sebesar apapun penderitaan dan siksaan yang harus kualami, seberapa besar dosa yang harus kupikul, aku tetap berkunjung dan berkunjung terus.

"Terkadang aku bahkan dihajar hingga babak belur, dihajar hingga menderita luka disekujur tubuhku, namun begitu luka-luka itu sembuh, aku pun berkunjung lagi ke situ.

"Ransum yang mereka miliki sangat minim, bila ada yang terbaik maka ransum tersebut diberikan kepada anak-anak, mereka berharap anak-anak bisa tumbuh lebih cepat.

"Karena harus mengejar mereka di wilayah bersalju, akupun terkadang gagal menemukan makanan, ada kalanya aku harus menahan lapar sampai dua hari lamanya, saking laparnya sampai berusaha menangkap tikus dan ular berbisa dari liang mereka, menangkapnya, memanggangnya dan memakannya untuk menangsal perut.

"Aku pernah merengek kepada mereka, asal mengijinkan aku bergabung dengan rombongan itu maka penderitaan dan siksaan macam apapun aku bersedia menerimanya, aku telah menggunakan pelbagai cara, menggunakan berbagai pembicaraan, bahkan.... bahkan berlutut dihadapan mereka.

"Tapi.... tapi mereka tidak pernah tergerak hatinya, tetap mengusirku dari rombongan...."

Mimpipun Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng tidak menyangka kalau nenek yang berada dihadapannya pernah merasakan penderitaan sebesar itu, mereka tidak menyangka kalau cintanya yang begitu mendalam membuatnya bersedia mengorbankan segala sesuatu, saking terharunya, air mata bercucuran membasahi wajah mereka berdua.

Terlebih Yin Ping, dengan nada terisak dan gemetar, bisiknya.

"Tak.... tak heran kalau toaci.... berubah setua ini...."

"Aku mengerti"

Ujar Yin Gi pula dengan air mata berlinang.

"dengan watak toaci yang tinggi hati, berlutut dihadapan orang merupakan satu siksaan yang luar biasa, waktu itu kau.... kau pasti sangat menderita"

"Toaci"

Tiba tiba Yin Ping berteriak keras.

"kalau toh kau bersedia merasakan penderitaan dan siksaan sebesar ini, sepantasnya kalau kau mengejarnya terus, kecuali.... kecuali mereka benar-benar membunuhmu!"

"Walaupun mereka tidak membunuhku"

Kata Yin Siok dengan air mata berlinang.

"tapi pada pertemuan yang terakhir mereka sempat mengancamku, katanya, bila aku merecoki mereka terus maka mereka akan.... akan membunuhku!"

"Maka kau tidak melakukan pengejaran lagi?"

Tanya Yin Ping. Dengan mulut membungkam Yin Siok manggut-manggut, dia tidak mampu berkata lagi. Sambil menghentakkan kakinya berulang kali seru Yin Ping.

"Toaci, kau ini.... kalau memang orang she-Im itu begitu tega menyaksikan kau menderita tanpa menggubris, buat apa pula kau mesti memikirkan mati hidupnya?"

"Aaaai.... dia.... dia sendiipun tidak berdaya, kecuali dia berani menghianati perguruan"

Ucap Yin Siok dengan air mata berlinang. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Leng Cing-peng, selanya dengan suara gemetar.

"Locianpwee dari.... dari marga Im itu apakah anggota Perguruan Tay ki bun?"

"Darimana kau.... kau bisa tahu?"

"Pengalaman yang dialami cici ku tidak jauh berbeda dengan pengalaman yang locianpwee alami, bahkan.... bahkan lebih mengenaskan lagi"

"Sung.... sungguh?"

"Toaci ku juga selamatkan seorang murid bermarga Im dari Perguruan Tay ki bun didalam benteng kami, gara-gara kejadian itu dia jatuh cinta bahkan sempat melahirkan seorang anak dari nya...."

"Bagaimana kemudian?"

"Kemudian.... kejadian ini ketahuan ciang bunjin dari Perguruan Tay ki bun, kakak iparku dijatuhi hukuman mati.... tubuhnya hancur setelah dipisahkan dengan lima ekor kuda!"

Cerita Leng Cing-peng sambil menangis. Sesudah menarik napas panjang, lanjutnya.

"Padahal ciang bunjin dari Perguruan Tay ki bun tidak lain adalah ayah kandung kakak iparku!"

Sekujur tubuh Yin Siok gemetar keras, sampai lama kemudian dia tidak mampu berkata-kata. Sementara Yin Ping dengan gemas berseru.

"Ciang bunjin dari Perguruan Tay ki bun itu benar-benar manusia tidak berperasaan, bila bertemu dengannya, aku pasti akan membelah dadanya, mengorek keluar hatinya dan memeriksa sesungguhnya hatinya terbuat dari apa!"

"Pengalaman tragis yang dialaminya dimasa lampau sama persis seperti kejadian itu, dulu diapun pernah mencintai seorang gadis, tapi gadis itu ada hubungan dengan keluarga musuhnya...."

Ketika secara tiba-tiba dia mengungkap rahasia besar dunia persilatan yang belum pernah terdengar sebelumnya ini, semua orang merasa terperanjat hingga tanpa terasa berseru berbareng.

"Sungguh?"

Yin Siok tertawa pedih.

"Tampaknya kejadian ini ketahuan juga oleh ayahnya. Tapi dia benar-benar tega, perempuan itu dia dorong masuk ke dalam jurang dalam keadaan hidup-hidup!"

"Lalu siapa.... siapa lelaki yang...."

Tidak tahan Leng Cing-peng bertanya.

"Suamiku bernama Im Kiu-siau, dia adalah adik kandungnya"

Untuk kesekian kalinya Leng Cing-peng terperanjat, ujarnya gemetar.

"Kalau dia.... dia sendiri pernah mengalami penderitaan semacam ini, kenapa sikapnya terhadap adik kandung dan putra kandung sendiripun begitu keji dan tega?"

Yin Siok mendongakkan kepalanya menghela napas panjang.

"Aaaai.... inilah tradisi turun temurun dari Perguruan Tay ki bun, generasi demi generasi mereka selalu terapkan peraturan semacam ini, bahkan...."

Tiba-tiba dia tertawa pedih, terusnya. Bahkan aku dengar setiap generasi murid Perguruan Tay ki bun selalu mengalami nasib tragis semacam ini!"

Kejadian ini benar-benar merupakan satu kejadian yang mengejutkan, sebuah rahasia besar yang menggidikkan hati, semua orang tertegun, semua orang terperangah, mereka seolah setengah percaya dengan apa yang didengar.

Lewat berapa saat kemudian kembali Yin Ping bertanya.

"Heran, kenapa aku tidak pernah mendengar orang membicarakan masalah ini? Toaci, darimana kau.... kau tahu akan hal ini?"

Paras muka Yin Siok bertambah misterius, sahutnya perlahan.

"Tentu saja aku tahu.... aku yakin di kemudian hari kalian pun bakal tahu dengan sendirinya bahkan tahu lebih banyak ketimbang sekarang"

"Kenapa?"

Yin Ping semakin tercengang.

"Karena Pulau Siang cun-to adalah...."

Mendadak dari puncak tebing berkumandang suara lonceng yang dibunyikan nyaring, suara itu menggaung ke angkasa dan mendengung hingga menembusi awan.

Dua orang gadis berbaju hitam dengan membawa keranjang bambu muncul dari balik suara lonceng dan berjalan mendekat, dari tempat kejauhan mereka telah berteriak keras.

"Nenek, lagi-lagi akan merepotkanmu untuk menghantar nasi"

"Menghantar nasi untuk siapa?"

Tanya Yin Gi. Belum sempat Yin Siok menjawab, nona berbaju hitam itu sudah melompat naik ke atas perahu dan berkata sambil tertawa.

"Kalian baru tiba disini, kenapa bisa begitu akrab dengan nenek?"

Rupanya mereka berdua tidak tahu kalau beberapa orang itu masih bersaudara, Yin Siok sendiripun tidak memberi penjelasan apapun, paras mukanya telah pulih kembali jadi dingin dan hambar, hanya ujarnya hambar.

"Aku akan pergi menghantar nasi, kalian boleh pergi dari sini"

"Betul"

Ujar si nona pula sambil tertawa.

"biarkan nenek pergi menghantar nasi duluan, sekembalinya nanti kita bisa berbincang-bincang lagi, kalau sampai membiarkan orang lain kelaparan, bisa berabe jadinya"

Si nona yang satunya berkata sambil tertawa.

"Kalian baru datang kemari, sementara kami pun sedang menganggur, selesai bersantap biarlah kami hantar kalian semua untuk melihat-lihat keadaan diseputar sini"

Yin Gi maupun Yin Ping hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.

Kini, mereka berempat semakin curiga, semakin tidak habis mengerti, sebenarnya Pulau Siang cun-to adalah tempat apa?

Apa pula hubungannya dengan sejarah Perguruan Tay ki bun?

Yin Siok terburu-buru pergi menghantar nasi, dia pergi menghantar nasi untuk siapa?

Dalam keadaan dan saat seperti ini, sekalipun mereka berempat penuh diliputi tanda tanya, yang bisa dilakukan hanya menunggu kedatangan Yin Siok untuk menjawab semua pertanyaan ini, maka setelah saling memberi hormat ke empat orang itupun beranjak pergi.

Cahaya sang surya telah memancarkan sinar keemasannya ke seluruh penjuru tempat, permukaan laut tenang bagaikan cermin, selapis cahaya kuning seakan menyelimuti seluruh permukaan.

Tiba tiba Leng Cing-peng berlarian balik ke tepi pantai sambil berseru keras.

"Nenek, nenek.... * "Ada apa?"

Tanya Yin Siok seraya berpaling.

"Bila dari seberang sana ada seseorang yang bernama Thiat Tiong-tong ingin datang kemari, tolong nenek, baik buruk bawalah dia kemari, jangan lupa"

Sewaktu berada diatas perahunya ratu tawon, dia sebenarnya mengira Thiat Tiong-tong sudah mati tercebur ke dalam air, tapi kemudian ketika bersama Kiu cu Kui bo mereka menyatroni istana kaisar langit, meski selama berjaga diluar istana tidak sempat menjumpai Thiat Tiong-tong, namun dia sempat mendapat kabar tentang pemuda itu, bahkan dia pun sempat mendengar kalau anak muda itu sedang melakukan perjalanan menuju Pulau Siang cun-to.

"Siapakah orang itu?"

Tanya Yin Siok kemudian dengan kening berkerut.

"Dia.... dia adalah anak murid Perguruan Tay ki bun"

"Maksudmu orang itu adalah jiko dari bocah muda dari marga Im itu?"

Tanya Yin Siok dengan kening makin berkerut.

"Betul"

Seru Leng Cing-peng kegirangan.

"dari mana nenek bisa kenal dengannya?"

Yin Siok mendengus dingin.

"Dia tidak bakal datang lagi!"

"Kenapa dia tidak bakal datang?"

"Karena dia sudah tercebur ke dalam laut, bahkan jenasahnya pun tidak berhasil ditemukan!"

"Apa.... apa kau bilang?"

Seru Leng Cing-peng terperanjat.

"Dia sudah mati!"

Leng Cing-peng merasakan tubuhnya bergetar keras, tiba-tiba kakinya jadi lemas dan seketika itu juga nona itu roboh tidak sadarkan diri ditepi pantai.

Menyaksikan tubuh Leng Cing-peng yang roboh terjungkal, kembali Yin Siok menghela napas panjang, gumamnya.

"Untung Thiat Tiong-tong sudah mati, kalau tidak, penderitaan yang bakal dialami bocah ini bakal bertambah panjang!"

Lewat berapa saat kemudian kembali dia bergumam.

"Bocah ini sudah tahu kalau anggota Perguruan Tay ki bun adalah manusia yang tidak berperasaan dan tidak kenal budi, bahkan tadipun dia sempat memaki anak murid Perguruan Tay ki bun sebagai manusia tidak berperasaan, kenapa secara tiba-tiba menaruh perhatian yang luar biasa terhadap anggota Hiat-hiat Tay ki bun? Jangan-jangan orang she-Thiat itu sama seperti Im Kiu-siau dimasa mudanya dulu, memiliki bagian yang memikat hati kaum wanita,.... aaai! untung Thiat Tiong-tong sudah mati.... untung dia sudah mati...."

BAB 28 Kaisar Malam Tapi Thiat Tiong-tong belum mati, untung dia belum mati!

Saat ini dia sedang duduk diatas batu karang, batu karang ditepi laut dengan arus dan gulungan ombak yang sangat deras.

Tebing karang itu tingginya mencapai ratusan kaki, sekalipun Thiat Tiong-tong memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa pun mustahil baginya untuk bisa merangkak naik dalam waktu singkat, oleh sebab itulah dia duduk diatas batu sambil beristirahat.

Ketika terhantam pukulan hingga tercebur ke dalam laut tadi, meski pukulan yang dilepaskan Im Ceng terhitung kuat, namun dengan kemampuan yang dimiliki Thiat Tiong-tong, apalagi dia bergerak melambung mengikuti angin pukulan yang diarahkan ke tubuhnya maka luka yang dideritanya kendatipun tidak terlalu parah, tapi tubuhnya yang tercebur ke bawah nyaris menumbuk diatas batu karang yang menonjol dari bawah air laut.

Untung saja reaksinya cukup cepat, sebuah pukulan yang dihantamkan ke atas batu karang itu membuat tubuhnya terpelanting ke sisi kanan batu karang itu meski ujung bajunya terkait disudut karangyang tajam hingga tergelantung.

Pukulan yang saling beradu dengan batu karang membuat tubuhnya mengalami getaran keras, getaran yang cukup membuatnya jatuh tidak sadarkan diri diatas permukaan laut, masih untung ujung bajunya terkait diujung karang sehingga tubuhnya tertahan dan tetap berada dalam keadaan terapung.

Itulah sebabnya Im Ceng dan Un Tay-tay yang melongok dari atas hanya sempat melihat ujung bajunya yang terkait di ujung karang namun tidak melihat tubuhnya yang terapung.

Mereka sangka pemuda itu sudah terkubur didasar laut hingga tidak dilakukan pencarian lagi Thiat Tiong-tong yang terendam dalam air laut tersadar kembali dari pingsannya karena air dingin yang membasahi tubuhnya, waktu itu dia kehilangan hampir seluruh kekuatan tubuhnya, dalam keadaan begini terpaksa anak muda itu hanya bisa merangkak naik ke atas batu karang untuk beristirahat.

Saat itulah lm Ceng dan Un Tay-tay dengan menumpang di perahu Yin Siok melakukan pelacakan, Thiat Tiong-tong yang tidak ingin segera berjumpa dengan mereka berdua segera menyembunyikan diri di belakang batu karang.

Menanti Im Ceng dan Un Tay-tay berlalu dengan kecewa karena gagal menemukan dirinya, Thiat Tiong-tong baru munculkan diri lagi dari balik bebatuan karang.

Waktu itu napas Thiat Tiong-tong tersengkal, dadanya naik turun tidak beraturan, dalam keadaan begitulah tiba-tiba dia menyaksikan ada sebuah perahu bergerak menuju ke tempatnya berada.

Perahu itu meluncur datang dengan mengikuti arus ombak, tidak heran kalau gerakannya cepat sekali.

Thiat Tiong-tong tidak dapat menebak asal usul perahu itu, namun sebagai pemuda yang selalu bertindak cermat dan hati-hati, apalagi dalam kondisi tidak bertenaga seperti saat ini, dia tidak ingin bertindak gegabah.

Melihat perahu itu meluncur datang semakin dekat, cepat dia menyelinap ke balik batu karang dan menyembunyikan diri.

Perahu makin lama makin mendekat, sekarang dia dapat mengenali orang yang berada di perahu tersebut, ternyata dia tidak lain adalah nenek berambut putih yang mendayung sampan bersama Im Ceng dan Un Tay-tay tadi.

Biar sudah tua ternyata nenek itu masih memiliki tenaga yang luar biasa untuk melawan arus, kemunculannya bersama sampan itu sudah merupakan satu kejadian yang aneh, tapi yang membuat Thiat Tiong-tong lebih tercengang adalah kemunculannya kembali di situ, apa maksud dan tujuan kedatangannya kali ini?

Sementara itu si nenek sudah memungut segulung tali dari atas geladak, selesai membuat tali simpul, dia lempar gulungan tali itu ke arah kumpulan batu karang, ternyata tali tersebut dengan tepat sekali tergaet diatas sebuah batu.

Dengan cepat nenek itu mengikat ujung tali yang lain ke atas sampannya, kemudian dengan satu lompatan dia meluncur ke udara dan melayang turun diatas kumpulan batu karang itu.

Di kiri kanan tangannya masing-masing membawa sebuah keranjang bambu, sekalipun sedang bergerak di antara batu karang yang licin, tajam lagi tidak rata, dia dapat bergerak cepat dan mantap.

Dalam berapa kali lompatan saja nenek itu sudah meluncur ke arah batu karang dimana Thiat Tiong-tong sedang menyembunyikan diri saat itu.

Dengan perasaan terkesiap Thiat Tiong-tong segera berpikir.

"Jangan-jangan dia sudah mengetahui tempat persembunyianku?"

Dalam waktu singkat nenek itu sudah melayang naik ke atas batu karang itu, namun dia tidak menuju ke arah tempat persembunyian Thiat Tiong-tong, melainkan dengan menelusuri tepi karang dia bergerak ke sisi lain, lalu setelah meletakkan keranjang bambu itu, dengan kedua belah tangannya dia cengkeram sebuah batu karang yang berbentuk runcing dan mendorongnya ke samping.

Diluar dugaan, batu karang berbentuk runcing yang sama sekali tidak mencolok itu segera bergerak ke samping dan muncullah sebuah liang gua yang dalam.

Karena bersembunyi di posisi atas, dengan sangat jelas Thiat Tiong-tong dapat melihat keadaan dibagian bawahnya, ternyata mulut gua itu luasnya sekitar tiga meter, tapi dia tidak dapat melihat keadaan didalamnya karena suasana disana gelap gulita.

Tampak nenek itu berjongkok di pintu gua dan berteriak keras.

"Kiriman nasi sudah datang!"

Menyusul teriakan itu, dari dasar gua terdengar suara gemerincing besi yang saling beradu, suara itu muncul dari balik kegelapan hingga mendatangkan perasaan menyeramkan.

Thiat Tiong-tong semakin tercengang, dia tidak berniat mencuri tahu rahasia orang lain, maka sambil menahan napas tubuhnya semakin tidak berani berkutik.

Begitu mendengar suara gemerincing besi yang beradu, dari dalam keranjang bambunya nenek itu mengeluarkan dua buah bungkusan kertas, kembali serunya.

"Terima ini!"

Dia pun melemparkan bungkusan tadi ke dalam liang gua.

Kelihatannya nenek ini merasa takut sekali terhadap orang yang berada dalam gua, begitu selesai melemparkan bungkusan kertas itu, cepat dia menutup kembali mulut gua itu dengan batu karang.

Dari balik liang gua terdengar seseorang berseru dengan suaranya yang parau.

"Balik dan beritahu kepada Jit ho, dia...."

Tapi batu karang itu sudah merapat kembali, kata berikut pun seketika terputus ditengah jalan. Tampak nenek itu menghembuskan napas lega, kembali gumamnya.

"Kasihan! Sungguh kasihan! Seorang enghiong gagah ternyata.... aaai, inilah akibat dari ulahnya sendiri, kini harapannya pudar sudah!"

Kalau didengar dari nada pembicaraan itu, bisa diduga kalau si nenek sedang merasa sayang untuk masa depan orang didalam gua itu, namun walaupun dia merasa sayang, diapun menyalahkan orang itu karena hukuman yang diterimanya sekarang merupakan akibat dari ulahnya sendiri.

Memandang hingga bayangan sampan itu lenyap dari pandangan, Thiat Tiong-tong baru berpikir.

"Kelihatannya nenek itu penghuni Pulau Siang cun-to, itulah sebabnya penghuni gua itu menyinggung soal Jit ho!"

Apalagi sewaktu teringat kalau Im Ceng dan Un Tay-tay pun pernah menumpang perahu itu untuk mencari jejaknya, dapat dipastikan si nenek berasal dari Pulau Siang cun-to.

Ketika perempuan berkerudung hitam berpesan kepada Un Tay-tay agar menggunakan peluit untuk memanggil perahu penyeberang, Thiat Tiong-tong sempat mendengarnya pula, karena itu dia berkesimpulan kalau Un Tay-tay dan Im Ceng pada saat itu pasti telah tiba di Pulau Siang cun-to dan tidak kuatir dicelakai orang lagi.

Karena kedua orang itu sudah lolos dari bahaya, Thiat Tiong-tong pun merasakan hatinya sangat lega.

Tapi siapa pula orang yang disekap dalam gua misterius itu?

Orang itu berani menyebut langsung nama Jit ho, lagi pula meski si nenek itu nampak menaruh sikap waspada namun tetap menganggapnya sebagai orang kosen, ini menunjukkan kalau dia memiliki asal-usul yang luar biasa.

Jit ho telah mengurungnya didalam gua lembab, hal ini membuktikan kalau dia amat membenci orang ini, tapi mengapa bukannya dibunuh langsung?

Thiat Tiong-tong mencoba untuk berpikir sambil menganalisa, semakin dipikir dia merasa kejadian ini semakin misterius, asal-usul penghuni gua itu pun terasa makin menarik perhatian.

Diliputi rasa ingin tahu yang tidak terbendung, Thiat Tiong-tong segera mendekati tempat itu dan membuka penutup liang gua.

Namun diapun tidak berani membuka terlalu lebar, pemuda itu kuatir bila penghuni gua itu akan menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, andainya dia bukan penjahat keji, keadaan masih mendingan, andaikata dia adalah manusia laknat sementara kemampuannya tidak sanggup mengendalikan orang itu, bukankah kejadian ini akan menimbulkan bencana besar?

Maka diapun membuka sedikit pintu liang dan mencoba mengintip ke dalam, andaikata situasi tidak menguntungkan, dia berencana untuk segera merapatkan kembali gua itu.

Dengan meminjam cahaya matahari yang menyorot masuk ke dalam liang gua, Thiat Tiong-long mulai melongok ke bawah, ternyata dibalik mulut gua terbentang sebuah lorong bawah tanah yang bentuknya terliku-liku.

Suara gemerincingnya besi kembali berkumandang dari balik lorong, menyusul kemudian tampak sesosok bayangan manusia muncul dari balik kegelapan sambil menegur.

"Siapa diluar? Mau apa datang mengusik tidur orang?"

Thiat Tiong-tong tidak sempat melihat jelas raut muka orang itu, dia hanya merasa biarpun tubuh orang itu dibelenggu rantai besi, namun cara bicara maupun gayanya amat berwibawa, lamat-lamat membawa sikap dan wibawa seorang kaisar.

Sebagai seorang kaisar, sekalipun berada dalam penjara pun seringkali tidak akan kehilangan kewibawaannya.

Tentu saja mustahil kalau orang itu adalah seorang kaisar benaran, tapi sikap dan wibawa yang ditampilkan orang tersebut dalam keadaan seperti ini segera membuat perasaan hati Thiat Tiong-tong tergerak, cepat dia membentang lebar liang gua itu.

Tampak orang itu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap, kemudian tegurnya penuh amarah.

"Manusia latah dari mana yang telah datang? Kenapa tidak segera menjawab pertanyaanku?"

Orang itu berperawakan tinggi besar, rambutnya kusut lagi awut-awutan tidak karuan, namun sikap serta penampilannya tetap gagah dan penuh wibawa.

Thiat Tiong-tong tidak menjawab teguran orang, sebaliknya malah berkata tenang.

"Kini pintu gua sudah terbuka lebar, mengapa kau tidak manfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri?"

Kelihatannya orang itupun tidak menyangka kalau akan di hadapkan dengan pertanyaan semacam ini, sesaat dia pun berdiri tertegun. Tapi kemudian sambil tertawa keras sahutnya.

"Selama hidup kapan aku pernah melarikan diri? Anak busuk yang tidak tahu diri. kau anggap aku adalah manusia macam apa?"

Gelak tertawanya keras dan nyaring, sedemikian kerasnya hingga menggetarkan gendang telinga. Kembali satu ingatan melintas dalam benak Thiat Tiong-tong, teriaknya lantang.

"Kau kenal dengan Cu Cau?"

"Cu.... Cu Cau?"

Tubuh orang itu kelihatan bergetar keras.

"Benar, Cu Cau, putra kaisar malam"

"Cu Cau.... Cu cau...."

Gumam orang itu, dia kelihatan agak tertegun dan berdiri bodoh, selang berapa saat kemudian tiba-tiba bentaknya.

"kau kenal dengan dia?"

"Tentu saja kenal"

"Berada.... berada di mana dia sekarang? Apakah.... apakah dia pun ikut kemari?"

Nada suaranya mulai gemetar, jelas sedang terjadi gejolak yang luar biasa didalam hatinya.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dia sudah dapat menduga siapa gerangan orang ini.

Tanpa sengaja dia telah bertemu dengan orang ini, walaupun pertemuan tersebut membuatnya terkejut bercampur girang, namun tidak urung timbul juga perasaan terharu dan pedihnya setelah menyaksikan penampilannya sekarang.

Kelihatan sekali orang itu sangat gelisah, kembali dia membentak.

"Cepat katakan, apakah diapun ikut datang?"

Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, sahutnya.

"Sekalipun dia tidak ikut datang, namun setiap saat setiap detik dia selalu merindukan kau orang tua, hanya.... hanya saja dia tidak tahu berada dimanakah kau orang tua sekarang"

"Darimana.... darimana kau tahu kalau dia selalu merindukan aku?"

Kembali orang itu bertanya dengan tubuh bergetar keras. Thiat Tiong-tong tertawa sedih, tiba-tiba dia membuka lebar pintu gua kemudian melompat masuk ke dalam.

"Mau apa kau?"

Bentak orang itu. Belum selesai dia membentak, Thiat Tiong-tong telah berlutut dihadapannya sambil memberi hormat, kemudian dengan kepala tertunduk katanya.

"Keponakan Thiat Tiong-tong memberi hormat untuk kau orang tua"

Orang itu membelalakkan matanya semakin lebar, dengan perasaan tercengang bercampur ragu tegurnya.

"Sebenarnya siapa kau? Dari mana bisa tahu tentang aku? Kenapa harus memberi hormat kepadaku?"

"Siautit adalah saudara angkat Cu Cau, tentu saja aku harus memberi hormat setelah berjumpa kau orang tua"

Tiba-tiba bahunya terasa sakit sekali, ternyata dia sudah dicengkeram orang itu.

Thiat Tiong-tong segera merasakan betapa kuat dan kerasnya telapak tangan orang itu, tenaga cengkeramannya begitu kuat dan dahsyat, boleh dibilang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Padahal kepandaian silat yang dimiliki Thiat Tiong-tong saat ini telah mencapai taraf yang luar biasa, menghadapi serangan dari siapa pun, secara otomatis dari dalam tubuhnya akan timbul tenaga perlawanan, tidak gampang bagi orang lain untuk mencengkeram tubuhnya.

Tapi orang ini bukan saja dapat melancarkan serangan tanpa menimbulkan suara, Thiat Tiong-tong baru menyadari akan hal itu setelah lawan berhasil mencengkeraman tubuhnya, hal ini membuktikan betapa cepat dan luar biasanya kungfu yang dimiliki orang itu.

Dengan kekuatan tubuh yang dimiliki Thiat Tiong-tong sekarang, ibarat tubuh baja otot kawat, ternyata tidak tahan juga dia menghadapi cengkeraman itu, dasar kepala batu, biarpun sakitnya setengah mati, pemuda itu tetap menggertak gigi menahan diri, jangankan menjerit, keningpun sama sekali tidak berkenyit.

Orang itu masih mencengkeram bahu lawan dengan kuatnya, sementara sorot matanya yang tajam mengawasi wajah Thiat Tiong-tong tanpa berkedip.

Thiat Tiong-tong balas mendongakkan kepalanya, balas memandang tenang ke arahnya.

Ternyata orang itu mengenakan sebuah jubah yang lebar, jubah yang semula indah kini sudah penuh dengan tambal sulam, rambutnya yang panjang nampak kacau dan terurai sebahu, sinar matanya meski tajam berkilat namun memancarkan keadaan yang mengenaskan.

Khususnya lagi borgol serta rantai besar yang membelenggu tubuhnya, kehadiran benda itu segera menimbulkan perasaan sedih, terharu di hati kecil anak muda itu.

"Jadi kau sudah tahu, siapakah aku?"

Perlahan orang itu menegur lagi.

"Benar, siautit sudah tahu siapa kau orang tua"

"Bagus, bagus, kau memang pantas menjadi saudara angkatnya Cu Cau"

Gumam orang itu lirih. Tiba-tiba dia mengendorkan cengkeramannya, kemudian setelah tertawa tergelak ujarnya.

"Kalau sudah tahu siapa diriku, sepantasnya kau panggil aku dengan sebutan empek!"

Sekarang Thiat Tiong-tong baru benar-benar yakin bila dugaannya tidak salah, ternyata orang tua yang dipenuhi borgol dan rantai besar ini tidak lain adalah Ya te Kaisar malam yang nama besarnya telah menggetarkan seluruh kolong langit.

Kejut bercampur girang, sekali lagi Thiat Tiong-tong menyembah memberi hormat, sapanya.

"Empek...."

"Hahahaha.... Cau-ji tinggi hati dan selamanya tidak pernah pandang sebelah mata terhadap orang lain, orang macam begitu bisa angkat saudara denganmu, hal ini sudah lohu duga, dia tidak bakal salah pilih"

"Terima kasih atas pujian empek"

"Kau bisa mengenaliku dalam sekali pandang, hal ini bukan termasuk hal yang aneh dan luar biasa, justru yang luar biasa adalah kemampuanmu menahan cengkeramanku tanpa berubah wajah atau menjerit, ini baru hebat, membuktikan kalau kau memang lelaki jantan!"

Thiat Tiong-tong semakin kagum terhadap orang ini, dia tidak mengira meski sudah terperosok dalam situasi macam begini, ternyata sikap kakek itu masih sangat terbuka, kalau bukan jago sungguhan, mustahil dia dapat bersikap ksatria macam begini.

"Tidak kusangka ternyata Cau-ji masih teringat akan diriku! Baik-baikkah dia?"

Tanya Kaisar malam.

"tempat kediamanku pasti sudah dia bangun makin luas, lebar dan megah...."

Rasa sedih seketika menyelimuti perasaan Thiat liong-tong, tapi sesaat kemudian dia paksakan diri untuk mengendalikan rasa pedih itu, dengan kepala tertunduk balik tanyanya.

"Sudah berapa lama empek tidak pernah pulang ke rumah?"

"Siapa perduli sudah berapa lama waktu berlalu, tapi rasanya sudah puluhan tahun lama-nya!"

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas, pikirnya.

"Kalau orang lain yang merasakan penghidupan semacam ini, sehari pasti dirasakan bagai setahun, mereka pasti akan mencatat setiap harinya dengan sangat jelas. Tapi orang ini.... berapa lama pun sudah terlupakan bahkan mengakunya tidak ingat lagi, kebesaran jiwanya sungguh mengagumkan"

Berpikir begitu ujarnya kemudian dengan sedih.

"Waktu memang selalu berjalan, dalam belasan tahun betapa besarnya perubahan yang terjadi di dunia ini...."

"Tapi tempat tinggalku jauh dari keramaian"

Kata Kaisar malam tertawa.

"aku rasa...."

"Tempat itu.... tempat itu...."

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak tega untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya, bahwa tempat tersebut sudah ludas dimakan api.

"Tempat itu kenapa?"

Tanya Kaisar Malam dengan wajah berubah. Thiat Tiong-tong sadar, tidak mungkin dia bisa membohongi kejadian itu lagi, maka dengan kepala tertunduk sedih sahutnya.

"Tempat itu sudah.... sudah ludas dilalap api"

Dia sangat kuatir orang tua itu tidak sanggup menerima pukulan batin yang berat, diapun tidak tega menyaksikan kepedihan yang bakal diderita kakek itu, maka selesai bicara diapun tundukkan kepalanya rendah-rendah, tidak sekejap pun berani menengok ke arahnya.

Siapa tahu Kaisar Malam malah mendongak-kan kepalanya dan tertawa keras, sahutnya.

"Sudah terbakar habis.... ? hahahah... ada baiknya juga terbakar habis, sejak belasan tahun berselangpun lohu sudah punya pikiran untuk membakar ludas tempat itu"

"Ke.... kenapa?"

"Sejak kecil Cau-ji sudah terbiasa hidup mewah dan suka foya-foya, ada baiknya kalau tempat itu sudah dibakar orang, paling tidak bisa merangsang dia untuk membangun lagi sebuah istana mewah yang lain, ketimbang tahunya hidup mewah dan bersenang senang melulu, cara ini bisa melatihnya menerima kenyataan.... padahal dalam segala bidang bocah ini sudah cukup lumayan, satu-satunya kelemahan padanya adalah kelewat malas!"

"Analisa dari empek benar-benar luar biasa"

Puji Thiat Tiong-tong sambil menghela napas. Kembali Kaisar Malam tertawa.

"Kau sebagai saudara angkatnya Cau-ji tentu tahu juga bukan bahwa keluarga Cu memang senang hidup mewah, senang menikmati keduniawian dalam kondisi dan keadaan seperti apapun, anggota keluarga Cu paling tidak tahan hidup menderita"

"Benar...."

"Kalau ingin menikmati hidup, dia mesti mendapatkannya dengan berjuang, berusaha, jika kau ingin hidup lebih nikmat, hidup lebih mewah ketimbang orang lain maka perjuanganmu musti lebih hebat daripada orang"

"Nasehat ini akan siautit ukir dalam sanubariku!"

"Aku mempercayai kemampuan Cau-ji, dalam kondisi sejelek apa pun, dia masih mampu untuk melakukan perubahan, oleh sebab itu aku selalu percaya dengan kemampuannya, hanya saja...."

Mendadak senyuman yang semula tersungging diujung bibirnya lenyap tidak berbekas, setelah menghela napas katanya.

"Hanya saja.... entah bagaimana keadaan ibunya sekarang?"

Perasaan Thiat Tiong-tong bergetar keras, dia tertunduk semakin rendah.

"Dia sudah kelewat menderita, kelewat tersiksa batinnya"

Ujar Kaisar Malam lebih lanjut sambil menghela napas.

"selama ini dia selalu ingin mengungguli kemampuanku, tapi berlatih silat dengan cara seperti yang dia lakukan kelewat menyiksa, apakah dia telah menyelesaikan pula semua siksaan dan penderitaannya?"

"Yaa, beliau telah menyelesaikan semua penderitaannya...."

Jawab Thiat Tiong-tong lirih, dia tidak berani mendongakkan kepalanya.

"Bagus, bagus, memang sudah saatnya dia menikmati hidupnya"

Thiat Tiong-tong semakin sedih, hatnya semakin pedih, diapun semakin tak berani mengangkat wajahnya.

"Di dalam sana tersedia arak dan hidangan lezat"

Kata Kaisar Malam lagi.

"kini kau sudah tiba disini, seharusnya pula temani aku berbincang sambil minum arak, tidak usah buru-buru pergi, mengerti? Ayoh ikut aku masuk!"

Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur keheranan, saking herannya nyaris sampai tidak mampu bersuara, setelah tertegun berapa saat kemudian dia baru berkata agak tergagap.

"Jadi empek.... masih ingin masuk ke dalam lagi?"

"Tentu saja harus masuk ke dalam"

"Sekarang siautit sudah membuka lebar pintu rahasia, kenapa empek belum juga pergi? Lebih baik siautit bersihkan dulu semua beban yang ada ditubuh empek kemudian baru...."

"Ooh, rupanya kau hendak menyelamatkan aku"

"Siautit.... siautit hanya...."

Kaisar Malam segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Hahahahaha.... kalau ingin kabur, sudah sejak dulu aku kabur dari sini, memangnya menunggu sampai kedatanganmu? Bocah, kau kelewat pandang rendah kemampuanku"

"Lantas kenapa.... kenapa empek belum pergi?"

"Tentu saja ada alasannya, nanti kau juga akan tahu sendiri"

Sahut Kaisar Malam sambil tertawa. Dia segera menarik tangan Thiat Tiong-tong dan diajaknya menelusuri jalan lorongyang berliku. Untuk kesekian kalinya Thiat Tiong-tong menghela napas, pikirnya.

"Tabiat orang tua ini memang mirip jahe semakin tua semakin pedas, sudah seusia dia sifat keras kepalanya belum juga berubah, padahal keadaan sudah begini rupa, masa dia masih enggan menerima bantuan orang. Kelihatannya aku mesti membujuknya secara perlahan-lahan, siapa tahu suatu saat nanti dia bersedia untuk pergi"

Tentu saja ucapan semacam ini tidak berani dia kemukakan, terpaksa pemuda itu mengintil di belakangnya.

Ternyata gua batu karang itu sangat dalam, bukan saja jalannya berliku-liku bahkan penuh bercabang seperti barisan Pat-kwa-tin milik Cukat liong.

Thiat Tiong-tong sadar, seandainya tidak dibimbing orang tua itu, mustahil baginya untuk lusa balik lagi ke tempat semula.

Semakin ke dalam, lorong bawah tanah itu makin gelap dan lembab hingga akhirnya mereka memasuki suatu daerah yang gelap gulita, sedemikian gelapnya sampai melihat ke lima jari tangan sendiripun susah.

Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau ayah saudara angkatnya hidup selama puluhan tahun dilempat macam neraka seperti ini, dia semakin bertekad akan membujuk orang tua itu agar mau meninggalkan tempat ini.

Entah sudah berapa lama mereka berjalan, akhirnya Kaisar Malam menghentikan langkahnya.

"Triiiing.... !"

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong mendengar suara dentingan lirih diikuti berkilatnya cahaya api, pemandangan dihadapannya mendadak jadi terang benderang, ternyata orang tua itu telah menyulut sebuah lentera.

Dinding karang dihadapannya telah dipahat orang hingga berbentuk sebuah lentera batu, belasan sumbu api berkumpul jadi satu disana, ketika Kaisar Malam mengetukkan batu apinya, dalam waktu singkat semua sumbu itu terbakar dan memancarkan cahaya terang.

Thiat Tiong-tong agak melongo menyaksikan kesemuanya itu, dia bukan heran bagaimana cara memahat batu karang itu, yang membuatnya tidak habis mengerti adalah darimana kakek itu peroleh minyak bakar?

Kalau sepanjang lorong rahasia tadi kondisinya becek, lembab dan gelap, maka tempat ini selain lebar, kondisinya sangat kering.

Disisi kiri terdapat sebuah ranjang batu, disisi kanan terdapat sebuah meja batu dengan berapa bangku yang terbuat dari batu juga.

Disisi meja batu terdapat pula sebuah kolam yang terbuat dari batu dengan ukiran sepasang naga berebut mutiara, pancuran air bersih mengalir tiada hentinya dari mulut sang naga, memenuhi kolam batu itu lalu dari kolam mengalir keluar ke arah lain, namun kolam itu selalu dalam kondisi penuh air bersih.

Disisinya lagi tersedia peralatan lengkap mandi dan sisir, semuanya terpelihara dalam kondisi bersih dan kering.

"Bagus bukan tempat tinggalku?"

Tanya Kaisar Malam sambil tertawa.

"Biarpun bagus, tidak pantas untuk ditinggali kelewat lama"

"Hahahaha.... ucapan yang bagus.... perkataan yang bagus...."

Sambil tertawa dia mulai merobek kantung kertas yang dibawanya.

Hidangan yang tersedia dalam kantung kertas itu terhitung lezat, semula Thiat Tiong-tong mengira dia akan dibujuk untuk ikut makan, siapa tahu Kaisar Malam membawa kedua kantung kertas itu ke sisi selokan kemudian membuang seluruh isinya.

"Empek.... apa yang kau lakukan?"

Tanya Thiat Tiong-tong terperanjat.

"Ada apa? Kau sangka aku akan berpuasa atau boikot tidak mau makan?"

"Tapi.... tapi...."

"Hahahaha.... jangan kuatir, sekalipun ingin mati, lohu akan mencari tempat yang nyaman untuk mati, tidak bakalan aku pilih mati kelaparan"

"Lalu, kenapa empek membuang semua makanan itu?"

Thiat Tiong-tong semakin keheranan.

"Hidangan semacam itu mah cocoknya untuk rangsum kuda, lohu toh bukan keledai, apalagi kuda, kalau tidak dibuang lantas untuk apa?"

Thiat Tiong-tong tertegun berapa saat lamanya.... sampai lama kemudian, akhirnya tidak tahan tanyanya lagi.

"Lalu dihari biasa.... apa yang empek makan?"

Kaisar Malam tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya.

"Tadi, lohu pernah bilang, seandainya mau pergi dari sini, sejak banyak tahun berselang aku sudah meninggalkan tempat ini, apakah kau kurang percaya?"

"Siautit memang sedikit kurang percaya"

"Hahahahaha.... ternyata kau sangat jujur.... baiklah! Harap kau menahan diri selama setengah jam, dalam setengah jam mendatang, apa pun yang kau saksikan, tolong jangan berbicara"

Thiat Tiong-tong semakin dibuat kebingungan, ragu dan ingin tahu, terpaksa jawabnya.

"Siautit akan turut perintah"

"Hahahaha.... baik!"

Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring, tiba-tiba dia merentangkan tangannya ke samping sambil menggetarkan tubuh, tahu-tahu semua rantai besi dan borgol yang membelenggu tubuhnya rontok dan bertebaran kemana-mana.

"Kau...."

Dengan terperanjat Thiat Tiong-tong berseru.

"Jangan lupa, kau berjanji tidak buka suara!"

Tukas Kaisar Malam sambil tertawa.

Walaupun perasaan hatinya dipenuhi rasa tercengang, kaget bercampur ingin tahu, terpaksa pemuda itu harus menelan kembali semua pertanyaannya.

Dengan amat santai Kaisar Malam berjalan menuju ke depan bak air, kemudian mencuci muka, menyisir rambut dan melepaskan jubah luarnya yang lebar, ternyata dibalik jubah iebar itu dia mengenakan satu stel pakaian sutera yang lembut, halus dan sangat indah.

Menanti dia membalikkan kembali tubuhnya, kakek yang tampil dihadapannya sudah bukan kakek mengenaskan yang dijumpainya tadi, bukan saja tidak dekil dan kusut, bahkan tampang suram pun sama sekali tidak kelihatan.

Kini kakek tersebut tampil begitu rapi, begitu bersih, bukan saja rambutnya tertata rapi, pakaian yang dikenakan pun mewah dan indah, selain tampil perkasa, terpancar pula sinar wibawa yang luar biasa.

Thiat Tiong-tong nyaris menjerit keras, walaupun dia berhasil menahan diri, tidak urung mulutnya yang terlanjur melongo tidak mampu lagi dirapatkan kembali.

Sambil tersenyum Kaisar Malam berjalan menuju ke depan ranjang batunya kemudian mendorongnya ke samping.

Begitu ranjang batu itu bergeser, segera muncullah sebuah liang gua lain, bedanya gua itu terang benderang, lorong rahasia yang ada dibalik gua pun nampak bersih dan terang.

"Ikuti aku!"

Perintah Kaisar Malam.

Seakan sedang berada dalam alam impian, bagaikan orang bodoh Thiat Tiong-tong mengintil dibekakangnya.

Sebetulnya dia termasuk seorang pemuda berbakat yang cerdas, biasanya sebelum orang melakukan sesuatu, dia sudah bisa meramalkan secara tepat delapan-sembilan bagian di antaranya.

Tapi hari ini, jangan lagi menduga, bahkan setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan Kaisar Malam boleh dibilang jauh di luar dugaan-nya.

Sepanjang lorong rahasia, setiap jarak sepuluh langkah terdapat sebuah lentera batu, setelah menelusuri puluhan langkah kemudian mereka baru tiba di depan sebuah pintu batu berbentuk bulan sabit yang tertutup sebuah tirai berwarna hijau pupus.

Tiba-tiba Kaisar Malam berpaling dan berkata sambil tertawa.

"Pejamkan matamu, kau baru boleh membuka matamu bila kusuruh nanti"

Kini, Thiat Tiong-tong sudah takluk seratus persen terhadap orang tua ini, tanpa membantah dia segera pejamkan matanya.

Kaisar Malam mengajaknya memasuki pintu bertirai itu, baru berjalan lagi berapa langkah, secara lamat-lamat dia sudah mengendus bau harum semerbak yang memabukkan.

Bau harum itu menyelimuti seluruh ruangan, lain itu, udara disitupun terasa jauh lebih hangat.

Lewat berapa saat kemudian Kaisar Malam baru berseru lagi sambil tertawa.

"Baiklah, sekarang buka matamu!"

Thiat Tiong-tong menarik napas dalam dalam, perlahan dia membuka matanya....

Masih mending kalau dia tetap pejamkan matanya, begitu membuka lebar sepasang matanya....

hampir saja dia jatuh terjerembab saking kagetnya.

Ternyata tempat dimana dia berdiri sekarang adalah sebuah gua batu berbentuk bulat, biapun hanya sebuah gua batu, namun sekeliling tempat itu terbungkus dalam sebuah tenda yang sangat indah dengan aneka kulit berbulu yang mahal harganya.

Dibandingkan ruang utama rumah orang kaya, tempat ini justru jauh lebih megah dan mewah, bahkan meja dan bangku yang tersedia disitupun terbuat dari pahatan batu hijau dengan ornamen yang indah dan hasil karya tukang pahat kenamaan.

Ada meja yang berbentuk seperti gedung megah, ada kursi tidur yang berbentuk jembatan panjang, ada pula bangku rendah yang mirip rumah pertanian, malah ada sebuah meja bulat dengan pahatan wajah Kaisar Malam dibagian tengahnya.

Setiap cawan, setiap piring yang tersedia diatas meja batu pun rata-rata berbentuk pahatan aneh dan indah, ada yang berbentuk seperti burung merak, ada yang berbentuk kebau, kuda, ada pula yang berbentuk Busu, bahkan ada pula yang berbentuk wanita telanjang.

Setiap benda yang berada disana nyaris merupakan hasil karya tangan seorang ahli, karya tukang pahat kenamaan yang bisa mewujudkan setiap hasil karyanya lebih hidup dari benda aslinya.

Bukan begitu saja....

Dibalik tenda mewah, disisi meja batu, di depan bangku rendah, ternyata berdiri pula belasan orang gadis cantik yang rupawan.

Kawanan gadis cantik itu ada yang mengenakan baju sutera tipis, ada pula yan mengenakan gaun indah, ada yang sedang bergurau, ada yang sedang bermain catur, ada pula yang sedang menyisir rambutnya dan berdandan, malahan ada pula yang sedang melukis.

Saat itu semua orang telah menghentikan kegiatannya, semua orang memandang ke arah ihiat Tiong-tong dengan terperangah, wajah mereka dicekam rasa terkejut bercampur keheranan, tidak ada yang tahu dari mana datangnya pemuda itu Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan pandangan matanya kabur, selama hidup walaupun sudah seringkali dia jumpai kejadian aneh, namun belum pernah dia alami peristiwa yang lebih aneh dari kejadian hari ini.

Untuk sesaat dia berdiri termangu, masih untung Kaisar Malam melarangnya berbicara, andaikata dia bebas berkata pun belum tentu pemuda itu sanggup mengucapkan sepatah kata pun dalam kondisi seperti ini.

"Bagaimana dengan tempat ini?"

Terdengar Kaisar Malam bertanya. Thiat Tiong-tong terbungkam dalam seribu bahasa, dia memang tidak mampu menjawab.

"Kini kau sudah boleh berbicara"

Kata Kaisar Malam lagi sambil tertawa. Thiat Tiong-tong menarik napas panjang, kemudian sahutnya.

"Siautit benar-benar tidak sanggup menjawab pertanyaan itu"

"Hahahahaha.... bagus! bagus!"

Kaisar Malam tertawa tergelak, kemudian sambil berpaling ke arah kawanan gadis itu, ujarnya lagi.

"dia adalah saudara angkat Cau-ji, putraku, ayoh kemari, kalian boleh berkenalan"

Kawanan gadis itu tertawa ringan, malah ada pula yang segera menundukkan kepalanya. Kembali Kaisar Malam tertawa, katanya.

"Sudah terlalu lama aku tidak menerima tamu ditempat ini, tidak heran kalau kawanan budak itu jadi malu-malu kucing, harap keponakan jangan mentertawakan"

Thiat Tiong-tong sendiripun tertunduk rendah, tidak sepatah katapun sanggup dia ucapkan.

"Kenapa kalian masih berdiri melongo"

Terdengar Kaisar Malam menegur lagi.

"cepat sediakan sayur dan arak, aku akan menjamu keponakanku ini"

Diiringi suara tertawa cekikikan yang ramai, serentak kawanan gadis itu bangkit berdiri dan beranjak pergi.

"Duduklah!"

Ujar Kaisar Malam kemudian. Thiat Tiong-tong pun mengambil tempat duduk.

"Setibanya disini, bagaimana perasaanmu?"

Thiat Tiong-tong mendongakkan kepalanya memandang sekeliling tempat itu sekejap, lamat-lamat dia mendengar suara cekikikan bergema dari balik tirai.

Maka setelah menghela napas panjang, sahutnya tergagap.

"Hingga kini siautit bahkan belum bisa percaya, sesungguhnya aku sedang di alam nyata atau berada dalam alam impian?"

"Hahahaha.... bukankah lohu pernah bilang, berada dalam situasi dan kondisi seperti apa pun orang-orang keluarga Cu pasti bisa berusaha untuk menikmati hidupnya"

"Empek memang terbukti memiliki kemampuan yang luar biasa"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"tapi dalam hati kecil siautit terdapat banyak pertanyaan yang tidak terjawab, bersediakah empek untuk memberitahu?"

"Pertanyaan apa? Tanyakan saja!"

"Bagaimana ceritanya empek bisa terdampar disini, lalu bagaimana pula kejadiannya sampai bisa.... sampai bisa memiliki segalanya?"

Dia memang gagal menemukan perkataan yang paling cocok untuk mengemukakan rasa tercengang dan kagetnya, karena itu sambil tertawa getir dia menuding ke sekeliling tempat itu.

Sudah jelas pada mulanya tempat itu merupakan sebuah penjara bawah tanah, penjara yang dipersiapkan Ratu matahari untuk mengurung kakek itu, tapi sekarang, sebuah penjara bawah tanah telah berubah menjadi istana megah yang penuh dengan kemewahan, bukankah kenyataan ini patut dipertanyakan?

Kaisar Malam tersenyum, sahutnya.

"Biarpun pertanyaan yang kau ajukan hanya terdiri dari berapa patah kata, namun panjang sekali untuk dijelaskan, apakah kau punya kesabaran untuk mendengarkan?"

"Siautit siap mendengarkan"

Kaisar Malam tersenyum, dicarinya dulu sebuah tempat tidur yang empuk untuk tempat duduk, kemudian ia mulai berkisah.

"Selama hidup aku yakin semua sepak terjangku benar dan tidak pernah merugikan siapa pun, hanya dalam satu hal, seluruh umat manusia mengutuk dan mencaci maki diriku, tahukah kau persoalan apa yang kumaksud? "Bagus! Kalau dilihat dari wajah senyummu, aku tahu, kau pasti sudah paham apa yang kumaksud hanya kurang leluasa atau sungkan untuk mengutarakannya keluar bukan? Padahal mau dikatakan pun tidak masalah.

"Biarpun pemogoran dianggap orang satu perbuatan yang memalukan, padahal asal niatmu tidak cabul, apa salahnya kalau kita menabur bibit cinta terhadap kaum wanita yang ada di kolong langit? "Sepanjang hidup, hal yang paling membuatku tergila-gila hanyalah para wanita yang cantik jelita lagi cerdas, sebab hanya merekalah sumber kehidupan bagi langit dan bumi, coba perhatikan, ada sementara perempuan yang bertampang buruk berbodi kasar, ada pula sementara perempuan yang lembut halus dan cantik bak bidadari dari langit, perbedaan mereka sangat besar dan mencolok, bukankah hal ini membuktikan kalau langit pun sudah membedakan mana buruk mana bagus? "Jikalau langit telah meletakkan segala sumber kehidupan ditubuh kaum wanita, itu berarti umat manusia harus menikmati dan menyayanginya, seperti juga terhadap pepohonan dan bunga-bungaan, kalau ingin menikmati keindahannya, wajib kita pupuk dan peliharanya secara seksama.

"Bila ada orang tidak mau menikmati, tidak tahu menyayangi atas semua keindahan yang tersedia, itu berarti dia adalah manusia kasar, lelaki goblok yang dungu dan tidak tahu arti hidup"

Setelah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, lanjutnya.

"Hahahaha,.... untung aku bukan orang kasar, apalagi lelaki goblok yang dungu dan tidak mengerti arti kehidupan, aku tidak pernah menyia-nyiakan kelebihan yang disediakan langit, akupun tidak pernah menyia-nyiakan perempuan cantik yang kujumpai, aku merasa wajib untuk mencintai mereka, menyayangi mereka seperti aku menyayangi harta mestika.

"Yang lebih beruntung lagi adalah biniku pun bukan manusia sembarangan, dia cukup memahami kegemaranku ini, dia tahu kalau aku hanya berniat melindungi dan merawat kaum wanita cantik dikolong langit agar mereka tidak dianiaya orang, tidak disia-siakan orang.

"Tapi yang paling membuatku beruntung adalah asalkan dia seorang gadis baik maka dia pasti akan mengetahui perasaanku, padahal hanya wanita baik yang bisa mengetahui perasaan-ku, dan harapan terbesarku sepanjang hidup adalah berkenalan dan bersahabat dengan semua wanita cantik yang ada dikolong langit, aku berharap semua wanita cantik dikolong langitpun mau menganggap aku sebagai sahabatnya, dengan begitu tujuan hidup seorang manusia baru mendekati sempurna"

Tampaknya dia sudah menganggap Thiat Tiong-long sebagai keponakan sendiri, karena itu caranya berbicara pun sangat terbuka tanpa tedeng aling-aling, hal ini membuat anak muda itu hanya bisa mendengarkan dengan wajah melongo dan tertawa getir.

Bagaimana tidak?

Apa yang dia katakan bukan saja belum pernah didengar Thiat Tiong-tong sebelumnya, bahkan merupakan teori yang belum pernah diketahui sebelumnya, pemuda itu tidak tahu apakah perkataan itu benar atau sebenarnya keliru besar.

Ketika mencoba berpaling ke arah lain, dijumpai kawanan gadis itu sudah menghidangkan sayur dan arak kemudian secara diam-diam duduk disekeliling tempat itu, mereka duduk dengan wajah penuh senyuman dan ikut mendengarkan kisah tersebut dengan seksama.

Padahal kisah cerita semacam itu entah sudah berapa kali mereka dengar, tapi kini mereka masih tetap mendengarkan dengan seksama, hal ini membuktikan kalau cara Kaisar Malam bercerita memang sangat mempersonakan siapapun.

Ternyata hidangan sayur dan arak yang tersedia sangat bagus kwalitasnya, selesai meneguk habis secawan arak kembali Kaisar Malam menghela napas panjang, katanya lagi.

"Tapi sayang di antara sekian banyak perempuan baik yang ada dikolong langit, ternyata masih ada perempuan lain yang jauh lebih bagus, jauh lebih hebat lagi, bukan saja perempuan itu tidak pernah mau menganggap aku sebagai sahabatnya, menggubris akupun tidak. Peristiwa ini betul-betul merupakan persoalan yang paling kusesali, kejadian yang paling menjengkelkan hatiku, gara-gara persoalan ini, aku pernah puasa makan puasa tidur selama tujuh hari tujuh malam, dalam berapa bulan penghidupanku selanjutnya hatiku sungguh tersiksa, makan tidak enak, tidurpun tidak nyenyak, setiap kali teringat akan dirinya, hatiku terasa sakit bagaikan ditusuk beribu-ribu batang jarum tajam, apakah kau bisa membayang-kan perasaan hatiku waktu itu? "Bagus, kau masih tersenyum tanpa bicara, itu berarti kaupun sangat memahami perasaan hatiku saat itu.

"Aaaai, berbicara dengan bocah pintar macam kau boleh dibilang merupakan satu kejadian yang menyenangkan juga, coba kalau mesti berbicara dengan orang-orang kasar, mungkin lebih mendingan aku memetik khiem di depan kerbau"

Sejak awal hingga kini dia hanya mengemukakan teori yang seakan berisi falsafah mendalam, padahal kalau ditelaah lebih mendalam, tidak jelas falsafah apa yang ingin dia kemukakan.

Sekarang, lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan bahkan mengundang Thiat Tiong-tong untuk makan minum, itulah sebabnya anak muda itu jadi tidak tahan untuk bertanya satu kali lagi.

"Bagaimana ceritanya hingga cianpwee tiba di sini?"

Kaisar Malam menghela napas panjang, sahutnya.

"Kau jangan terburu napsu, biarpun apa yang aku ceritakan barusan kedengarannya seperti tidak ada sangkut pautnya dengan persoalanku, padahal itulah yang menjadi alasan utama kenapa aku bisa tiba disini.

"Tahukah kau siapakah perempuan yang tidak pernah mengubris aku? Dia adalah....

"Bagus, lagi-lagi kau berhasil menebaknya, dia memang Jit ho Nio nio, pemilik Pulau Siang cun-to, seandainya dia hanya tidak menggubrisku, itu mah masih mendingan, paling banter aku hidup dengan perasaan masgul.

"Siapa sangka bukan saja dia tidak menggubrisku, bahkan dengan segala upaya dia berusaha membujuk perempuan-perempuan yang berada disekitarku agar pergi menjauhi aku, akibatnya sembilan puluh persen perempuan-perempuanku kabur meninggalkan aku.

"Dia menuduhku tidak setia dalam bercinta, suka pemogoran, suka hidup romantis, aku tidak lebih hanya seorang hidung belang, padahal dia mana tahu betapa mendalamnya perasaan cintaku, dia mana tahu betapa seriusnya niatku.

"Apakah dia anggap orang yang punya kegemaran menanam bunga hanya menanam sebatang bunga didalam kebunnya? Apakah orang yang hanya menanam sebatang bunga di kebunnya udah pasti orang yang bukan menyukai bunga? "Teori tersebut persis sama seperti aku, kalau aku tidak menaruh hati terhadap wanita, buat apa mesti berupaya dengan segala macam cara agar mereka mau mendampingiku, bersusah payah melindungi mereka, tidak membiarkan mereka menderita, tersiksa atau diganggu orang? Orang yang gemar bunga pasti akan menyayangi bunganya, membawa bunga-bunganya ke dalam ruang hangat di saat musim dingin tiba, menyirami air dimusim kemarau, agar bunga itu selalu tumbuh indah, dikerumuni serangga, disukai burung liar, aaai.... kalau bukan seseorang yang gemar bunga, mana mungkin dia bisa memahami betapa sulitnya untuk memelihara bunga!"

Satu penjelasan yang sangat aneh dan belum pernah terdengar sebelumnya, tidak heran Thiat Tiong-tong dibuat tertegun sampai melongo dengan mata terbelalak, biarpun kalau ditelaah teori tersebut sangat masuk diakal, akan tetapi dia sendiripun tidak bisa menjelasan dibagian mana yang masuk akal.

Sementara kawanan gadis cantik masih mendengarkan dengan terpesona, bagai orang yang kesemsem atau mabuk berat, mereka masih termangu tanpa bergerak, malah ada yang secara diam-diam melelehkan air matanya.

Maka dengan cepat Thiat Tiong-tong menyela.

"Itukah sebabnya empek mendatangi Pulau Siang cun-to?"

"Betul, waktu itu usia Cau-ji sudah tidak termasuk kecil, bibimu juga sudah menutup diri untuk berlatih, karena tidak kuasa menahan perasaan akhirnya akupun berangkat ke Pulau Siang cun-to.

"Kelihatannya Jit ho Nio nio sudah memperhitungkan langkahku ini, ternyata dia tidak berani melayani duel melawan aku, sebaliknya malah mengerahkan beratus orang jagoan yang menghuni di pulau ini untuk membentang ilmu barisan Toa ciu thiat coat sintin dan menantiku ditepi pantai, begitu aku menginjakkan kakiku di Pulau Siang cun-to, diapun segera mengambil sumpah, katanya kalau aku berhasil menjebol ilmu barisannya maka dia akan menuruti semua permintaanku, sebaliknya bila dalam tiga jam aku gagal menjebol ilmu barisan itu maka akulah yang harus menuruti perkataannya.

"Hari itu angin dan ombak sangat besar, sewaktu turun dari perahu aku sudah merasa sedikit kelelahan, selain itu akupun merasa waktu selama tiga jam tidak cukup, biarpun aku merasa sumpahnya tidak adil, toh hatiku terpikat juga untuk mencoba, akhirnya pertarunganpun berlangsung.... aaaai, dan akupun terjerumus di tempat ini"

Thiat Tiong-tong turut menghela napas panjang, setelah termenung sejenak katanya lagi.

"Sebelum pergi, apakah empek memberitahukan tujuan kepergianmu kepada Cu toako?"

"Tidak pernah, tapi bibimu sangat memahami perasaan hatiku, biarpun tidak kukatakan, dia pasti tahu kemana aku pergi"

"Dia orang tua memang tahu"

Kata Thiat Tiong-long sedih.

"hanya saja...."

Sebenarnya dia ingin berkata.

"hanya saja belum sempat mengatakan, dia sudah mati", namun akhirnya dia telan kembali perkataan itu.

"Hanya saja kenapa?"

Tanya Kaisar Malam.

"Hanya saja dia orang tua tidak memberitahukan hal ini kepada siautit"

Jawab Thiat Tiong-ong sambil tertawa paksa. Kaisar Malam mengambil cawan araknya sambil duduk termangu, lama kemudian dia baru bergumam sambil menghela napas.

"Walaupun sudah belasan tahun aku tidak kembali, ternyata diapun tidak mengijinkan Cau-ji datang mencariku"

"Kali ini tebakanmu keliru besar"

Pikir Thiat Tiong-tong didalam hati. Selang berapa saat kemudian Kaisar Malam baru melanjutkan kata katanya.

"Setibanya ditempat ini, tidak sampai setengah tahun aku telah berhasil menelusuri semua pelosok tempat disini dan menghapalnya diluar kepala, tapi belasan bulan kemudian aku berhasil menemukan kalau tempat ini sebenarnya bukan jalan buntu, kecuali pintu keluar yang satu tadi masih terdapat celah lain yang bisa berhubungan dengan dunia luar, bila aku ingin pergi waktu itu, sebetulnya aku bisa segera kabur"

"Lantas kenapa empek tidak pergi?"

"Sebagai seorang lelaki sejati, walaupun kita tidak perlu menggubris soal tetek bengek, tapi masalah kejujuran, kesetiaan dan tata krama tetap harus kita pegang kuat kuat"

"Betul!"

Sahut Thiat Tiong-tong serius.

"Asal tidak kutinggalkan tempat ini berarti aku tidak ingkar janji, sementara dengan cara apa kulanjutkan kehidupanku, itu masalah lain, hal itu menyangkut kemampuanku untuk memanjakan diri, selama aku memiliki kemampuan itu, meski tiap hari hidup bersenang-senang pun bukan masalah, toh bukan berarti aku mesti hidup sengsara di tempat ini baru dianggap pegang janji"

"Siautit paham"

Kembali Thiat Tiong-tong mengangguk, sementara dihati kecilnya diam-diam dia menghela napas, pikirnya.

"Empekku ini walaupun agak mata keranjang, terkadang pandangannya juga agak eksentrik namun jiwa ksatrianya tetap ada, dia memang tidak malu disebut jagoan paling romantis dalam dunia persilatan"

Berpikir sampai disitu, tampa terasa muncul sikap hormat diatas wajahnya. Kaisar Malam tersenyum, katanya.

"San-san, cerita selanjutnya sudah pernah kalian dengar, lebih baik kau saja yang melanjutkan kisah menarik ini"

Seorang gadis berusia dua puluh tujuh, delapan tahunan, berwajah bulat telur, beralis mata lembut, berperawakan tinggi besar, berkulit hitam tapi sehat dan penuh gairah melemparkan sekulum senyuman kearah pemuda itu, kemudian sahutnya.

"Peristiwa ini sudah terjadi belasan tahun berselang, tapi bagiku, satu kejadian yang tidak mungkin bisa kulupakan"

Sambil pejamkan matanya seolah sedang membayangkan kembali kejadian itu, dia melanjutkan.

"Waktu itu menjelang musim semi, setiap hari aku bersama Cui-ji selalu pergi mengembala sekelompok kambing, mencari tempat yang ada air, ada rumput, sembari mengembara kami pun bisa membaca sejumlah buku.

"Suatu hari, menjelang senja ketika aku siap pulang ke rumah, tiba-tiba dari bawah bukit berkumandang suara orang sedang berpantun, yang dibawakan adalah Pie pa heng gubahan Pek Kit.

"Tentu saja aku sangat terperanjat ketika mendengar ada suara orang berpantun dibawah bukit sana.

"Tapi suara orang itu sangat indah dan menawan, bait syair yang dibawakan juga merupakan syair yang amat kukenal, maka setelah mendengar beberapa saat, aku pun terperana dibuatnya.

"Waktu itu aku berpikir, andaikata dibawah bukit ada setannya, dia pasti setan yang tahu seni, maka dengan membesarkan nyali kuajak Cui-ji turun ke bawah bukit menuju ke sumber suara itu"

Senyumannya semakin menawan hati, lanjutnya.

"Kau pasti tahu bukan, khayalan seorang gadis selalu lebih banyak ketimbang orang lain, itulah sebabnya kami nekad pergi mencari setan seniman itu, coba kalau berganti sekarang, mustahil berani kami lakukan.

"Setelah mencari setengah harian akhirnya dari balik celah batu yang penuh ditumbuhi rumput ilalang kusaksikan ada sepasang mata sedang mengawasi kami.

"Sorot mata itu kelihatan sangat lembut dan halus, sama sekali tidak mengandung niat jahat, keberanian kamipun bertambah besar, akupun mulai mengajaknya bercakap cakap.

"Semenjak hari itu, saban hari kami pasti ke situ untuk mengajaknya berbicara, karena semua yang dia bicarakan belum pernah kami dengar sebelumnya, tanpa sadar kami dibuat terpesona olehnya.

"Setiap hari kami selalu membawakan susu domba baginya, diapun sering menghadiahkan benda pahatan dari batu untuk kami berdua, sampai pada akhirnya aku dan Cui-ji pun menaruh.... menaruh...."

Ketika berbicara sampai disini, selapis warna merah menghiasi pipinya, warna merah yang justru membuat dia nampak bertambah cantik. Sesudah menundukkan kepalanya sesaat dan tertawa, kembali lanjutnya.

"Sampai pada akhirnya, ketika kami merasa tidak mampu meninggalkan dirinya lagi maka dengan berbekal alat tulis dan pakaian kamipun ikut masuk ke dalam gua itu dan tinggal bersama-nya.

"Waktu itu, meski keadaan didalam gua tidak semegah sekarang namun termasuk bersih sekali, saban hari kami menemaninya bersenandung pantun, bermain catur dan melukis.

"Suatu hari tiba-tiba dia minta kepada kami untuk membawa lukisan-lukisan tersebut dan menjualnya ke pasar, lalu dengan uang hasil penjualan membeli barang keperluan lainnya, tapi diapun berpesan agar lukisan itu hanya dijual kepada para gadis saja.

"Tapi sangat jarang kaum gadis yang berbelanja di pasar apalagi berjalan jalan diluar rumah, untung kamipun wanita sehingga dapat bergerak bebas di rumah mereka, dengan mudah kamipun berhasil menjual habis ke tujuh, delapan buah lukisan itu, bahkan menjualnya dengan harga tinggi. Dengan uang hasil penjualan itu kami pun dapat membeli kain sutera, batu permata, gading dan lain-lain.

"Kali ini bukan saja dia membuat lukisan, bahkan lukisannya dihiasi dengan batu permata, gading dan lain sebagainya hingga terbentuk satu benda antik, maka kamipun membawa barang barang itu untuk dijual di pasar.

"Sewaktu kami tiba di pasar, ternyata berapa orang wanita yang pernah membeli lukisan dulu telah mengutus para dayangnya untuk setiap hari menunggu kami disana.

"Rupanya mereka dibuat kesemsem oleh lukisan yang dibeli, setiap hari kerja mereka hanya memandang lukisan sambil melamun, konon mereka merasa makan tidak enak tidurpun tidak nyenyak"

Ketika bercerita sampai disini, ke tiga empat orang gadis yang berada disampingnya segera saling bertukar pandangan sekejap sambil tersenyum. San-san ikut tersenyum, lanjutnya.

"Begitu bertemu aku, mereka nampak kegirangan setengah mati, mereka paksa aku mengajaknya bertemu dengan sang pelukis, karena didesak terus menerus akhirnya akupun kehabisan daya, kasihan melihat kepanikan mereka...."

"Huuh, siapa yang patut dikasihani?"

Tiba-tiba seorang gadis berbaju hijau pupus berteriak keras.

"justru kau yang pantas dikasihani!"

San-san tertawa geli.

"Jadi kau tidak patut dikasihani?"

Godanya.

"padahal waktu itu mata kalian sudah bengkak saking sedihnya menangis, coba kalau tidak kuajak kemari, mungkin kalian benar-benar mati karena panik"

Nona itu melirik sekejap beberapa orang rekannya, kemudian ikut tertawa cekikikan.

"Sekalipun aku panik, toh jauh lebih mendingan ketimbang yang lain!"

"Yaa, benar juga perkataanmu"

Berapa orang nona itupun ribut sendiri dengan ramainya, tapi setelah melirik Thiat Tiong-tong sekejap, mereka pun kembali tundukkan kepala dengan wajah memerah.

"Bagus! Bagus!"

Tukas Kaisar Malam kemudian sambil tertawa tergelak.

"kalian semua tidak ada yang panik, aku yang panik...."

Sampai disini, Thiat Tiong-tong merasa tidak perlu mendengar lagi karena dia sudah menduga apa kejadian selanjutnya.

Rupanya beberapa orang gadis itu dibuat mabuk kepayang setelah menyaksikan lukisan Kaisar Malam, mereka tak bisa mengendalikan diri untuk segera dapat menjumpai sang pelukis.

Menanti mereka telah bertemu Kaisar Malam, kembali gadis gadis itu terbuai oleh kegagahan dan keperkasaannya, maka mereka pun memutuskan untuk tetap tinggal disana.

Maka dengan kerja sama beberapa orang itu, Kaisar Malam berhasil mengubah gua karang menjadi sebuah istana nirwana.

Sambil tertawa kembali San-san berkata.

"Sembilan puluh persen gadis yang pernah melihat lukisan itu pasti akan terpikat dan tergila-gila, mereka akan berusaha untuk datang kemari.

"Akhirnya kami kuatir, bila keadaan berlangsung terus maka gua ini akan penuh sesak dengan kehadiran gadis cantik, maka kamipun tidak berani lagi membawa lukisan itu dijual keluar"

"Bukannya tidak berani, tapi tidak rela!"

Timbrung Kaisar Malam sambil tersenyum. Merah jengah selembar wajah San-san, serunya manja.

"Sudah, aku tidak mau bercerita lagi...."

"Baiklah, kau boleh beristirahat dulu"

Kata Kaisar Malam sambil tertawa tergelak.

"Cui-ji, kau saja yang melanjutkan"

Seorang gadis muda lain yang berdandan mirip San-san menyahut sambil tertawa.

"Baik, biar aku yang bercerita, kalau enci San cemburu, tidak mungkin dia akan mengajak kemari gadis-gadis lain, dia tahu setiap wanita yang membeli lukisan itu pastilah gadis berbakat yang pintar, kalau tidak pintar mana mungkin mereka akan terpikat oleh lukisan? Tapi, bagaimana pun toh jumlahnya tetap harus dibatasi!"

"Kelihatannya Cui-ji lebih memahami tentang diriku"

Kata San-san sambil tertawa.

"Bukan Cuma enci San saja"

Kata Cui-ji lebih lanjut sambil tertawa.

"saudara lainnya pun mengatakan agar lukisan itu jangan dijual lagi keluar, mending disimpan untuk dinikmati sendiri.

"Biarpun aku dan enci San berasal dari keluarga miskin, tapi saudara lainnya masih terhitung gadis-gadis keluarga kaya, sewaktu datang kemari, mereka membawa serta barang berharga miliknya, terutama Min-ji, nyaris dia boyong seluruh harta kekayaannya kemari"

Si nona berbaju hijau pupus itu segera mengumpat sambil tertawa.

"Aku tidak pernah mengusikmu, buat apa kau berceloteh terus tentang aku!"

"Tapi aku toh tidak berbohong"

Seru Cui-ji sambil tertawa.

"Yaa, aku bersaksi ketika Min-ji datang kemari, memboyong harta kekayaannya sampai tiga kereta besar"

Sambung San-san sambil tertawa pula.

"harta karun miliknya seorang sudah lebih dari cukup bagi kami semua hidup sepanjang masa"

"Itulah sebabnya tanpa menjual lukisan pun kami masih bisa hidup bermewah-mewah, selain mengisi perut, setiap hari kami semua disibukkan untuk mengubah tempat ini menjadi sebuah istana"

Kata Cu-ji melanjutkan.

"Cukup...."

Potong Kaisar Malam tiba-tiba sambil tertawa.

"Tiong-tong, sekarang kau sudah mengerti bukan"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"Andaikata siautit tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, kisah cerita tersebut tentu akan kuanggap sebagai isapan jempol belaka.... aaaai! seandainya bukan manusia aneh macam empek, mana mungkin bisa mengalami kejadian yang aneh pula!"

"Betul"

Kata Cui-ji sambil tertawa.

"kalau dia tidak pandai berpantun dan melukis, mana mungkin bisa terjadi peristiwa semacam ini?"

Kaisar Malam tertawa lebar, katanya.

"Aku tidak ingin Jit ho Nio nio mengetahui kejadian ini, maka setiap hari ketika waktu mengirim nasi tiba, akupun selalu berdandan macam orang mengenaskan untuk menyambut kedatangan mereka"

"Hahahaha.... bahkan siautit pun ikut tertipu"

Sambung Thiat Tiong-tong sambil tertawa geli. Didalam gua tidak jelas berjalannya sang waktu, entah sudah berapa lama mereka berbincang sambil bersenda gurau Tiba-tiba San-san berseru sambil tertawa.

"Kalian kaum lelaki tentu punya persoalan yang tidak ingin diketahui orang lain, khususnya wanita, buat apa kita tetap tinggal disini, ayo jalan!"

"Betul, setelah lelah seharian, sudah waktunya kita tidur"

Sambung Cui-ji sambil beranjak pergi.

Maka berduyun duyung kawanan gadis itu berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung mereka hingga lenyap dari pandangan, Kaisar Malam baru berkata sambil tertawa.

"Coba kau lihat lagak mereka, benar-benar berotak cerdas, belum lagi kau bicara, mereka sudah dapat menebak suara hatimu"

"Betul, mereka memang sangat memahami jalan pikiran manusia...."

Sahut Thiat Tiong-tong, setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

"siautit memang ada berapa persoalan yang tidak ingin didengar orang lain, harap empek mau menjawabnya"

"Apa masalahnya? Katakan saja!"

Thiat Tiong-tong termenung berapa saat lamanya, dia seakan merasa serba salah dan tidak tahu harus mulai dari mana.

Setelah menengok sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya dia mengambil alat tulis, menulis beberapa huruf diatas kertas dan disodorkan kehadapan Kaisar Malam.

Kakek itu membacanya sebentar, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat.

Setelah lama sekali termenung, akhirnya dia pun mengucapkan sepatah kata.

Begitu mendengar perkataan itu, paras muka Thiat Tiong-tong ikut berubah hebat, tidak jelas dia merasa terkejut atau girang.

Tidak lama kemudian dengan air mata bercucuran gumamnya.

"Ternyata begitu... ternyata begitu... Lengkong.... Cu toako.... kalian.... kalian terlalu baik!"

Apa yang sebenarnya ditulis Thiat Tiong-tong?

Apa pula yang diucapkan Kaisar Malam?

Mengapa secara tiba-tiba Thiat Tiong-tong menyinggung nama Sui Leng-kong dan Cu Cau?

BAB 29 Salah Langkah Waktu itu Cu Cau dan Sui Leng-kong berada di bawah kaki bukit Ong wo san, berjarak ribuan li dari gua istana, yang mereka dengar saat itu hanya hembusan angin gunung yang menggoyang dedaunan pohon siong, tentu saja mereka tidak akan mendengar teriakan Thiat Tiong-tong.

Bukit Ong wo san bukan sebuah gunung yang tinggi, namun sejak dulu bukit ini sudah tersohor sebagai tempat pertapa para dewa.

Ketika Cu Cau dan Sui Leng-kong tiba di kaki bukit, benar saja, mereka segera merasa suasana yang sangat berbeda di tempat itu, hanya saja tidak diketahui terletak dimanakah rumah pondok yang dimaksud.

Cukup lama mereka menelusuri seluruh tanah perbukitan itu, akhirnya dengan kening berkerut, Cu Cau berkata.

"Mana ada rumah pondok di sekitar sini? Jangan-jangan... jangan-jangan...."

"Jangan-jangan kenapa?"

Tanya Sui Leng-kong cepat. Cu Cau menghela napas panjang, katanya.

"Jangan-jangan Thiat-toakomu hanya membohongi kita berdua?"

Sui Leng-kong mendongakkan kepala memandang awan di angkasa, setelah termenung lama sekali, sahutnya.

"Semenjak berkenalan dengan Thiat Tiong-tong, belum pernah sekali pun dia membohongi aku."

Walaupun sudah cukup lama dia meninggalkan lembah berawan, namun perjalan-annya dari bukit Lau-san ke bukit Ong wo san baru benar-benar membawanya ke alam dunia keramaian.

Sepanjang perjalanan dia menyaksikan banyak kejadian yang dulu tidak pernah dilihat olehnya, menjumpai berbagai lapisan manusia yang beraneka ragam, walaupun selama ini dia tidak pernah memandang rendah siapapun, namun siapa pun yang bertemu dengannya pasti akan terbuai dan terpesona dibuatnya.

Pengalamannya selama berhari-hari membuat gadis itu makin tumbuh dewasa, dia semakin percaya diri, penyakit gagap yang dideritanya pun lambat-laun sembuh dengan sendirinya.

Kini bukan saja cara berbicara, caranya bertindak jauh pun lebih percaya diri, dia pun yakin Thiat Tiong-tong tidak bakal membohongi dirinya, dia percaya di sekitar sana pasti terdapat rumah pondok yang dimaksud.

"Tentu saja Thiat-jite tidak bermaksud jahat membohongi kita berdua,"

Ujar Cu Cau sambil menghela napas.

"Dia hanya...."

"Tidak usah kau lanjutkan, aku sangat memahami maksud hati Tiong-tong,"

Tukas Sui Leng-kong sedih. Cu Cau tertegun, tegurnya.

"Kau sepantasnya memanggil Toako...."

"Tidak, aku sengaja memanggilnya Tiong-tong... Tiong-tong, Tiong-tong...."

Cu Cau mendongakkan kepala tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, dasar bocah bengal, Jite bisa memiliki adik perempuan macam kau, dapat dipastikan hidupnya akan sengsara...."

Sui Leng-kong tertawa lebar, katanya.

"Aku selalu berpendapat, hanya kau seorang yang mirip Toako ku, Cu-toako, kau jadi Toako ku saja, aku tidak ingin kakak macam liong-tong."

Cu Cau tertawa getir, buru-buru dia mengalihkan pembicaraan.

"Ehmm, ehm, cuaca hari ini bagus juga...."

"Sudah, tidak usah mengalihkan pembicaraan, sekalipun kau tidak mau mengakui aku sebagai adikmu, aku tetap akan menganggap kau sebagai kakak ku."

Sambil menghela napas panjang Cu Cau menggelengkan kepala berulang kali, keluhnya.

"Aaai, belasan hari berselang kau masih seorang gadis yang lemah lembut, tidak disangka hari ini telah berubah jadi nakal dan susah diatur."

"Tahukah Toako apa sebabnya bisa begini?"

"Tidak."

"Karena Toako yang mengajarkan kepada-ku,"

Seru Sui Lengkong tertawa.

"Dasar Mendadak terlihat ada dua sosok bayangan manusia meluncur datang dari balik tebing, ilmu meringankan tubuh mereka sangat tangguh, tapi begitu melihat di situ ada orang lain, seketika kedua orang itu memperlambat langkahnya. Orang yang berjalan paling depan adalah seorang pemuda tampan dengan baju ringkas berwarna hitam, sebuah angkin merah melilit di pinggangnya, sekalipun dia telah memperlambat langkahnya, namun sikap maupun penampilannya tetap gagah dari perkasa, sebilah pedang panjang bersarung hitam tergantung di punggungnya, sebuah pita merah terikat di ujung gagang pedang itu. Sementara rekannya adalah seorang gadis muda bertubuh langsing dengan pakaian hijau pupus, sebilah pedang juga tersoreng pula di punggungnya. Selain cantik, dia pun memiliki sepasang mata yang besar dan bening, kedua orang itu boleh dibilang merupakan sepasang muda-mudi yang serasi. Menyaksikan kemunculan kedua orang itu, diam-diam Cu Cau serta Sui Leng-kong bersorak memuji, mereka tidak tahu kalau sepasang muda mudi itu jauh lebih terpesona ketika melihat mereka. Bahkan setelah berjalan lewat di sisi mereka berdua pun, sepasang muda-mudi itu masih menyempatkan diri berpaling beberapa kali. Satu ingatan segera melintas dalam benak Cu Cau, sambil menjura sapanya.

"Bisa minta tolong?"

Pemuda berpakaian ketat itu segera membalikkan tubuhnya sambil balas menjura. Ada urusan apa?"

Dia bertanya.

"Apakah saudara kenal daerah seputar ini?"

"Cayhe sudah lama tinggal di sini, sedikit banyak mengetahui juga seluk-beluk tempat ini"

"Bagus sekali... boleh aku bertanya tentang buah tempat?"

"Tempat mana yang kau maksud?"

"Pondok Cay-seng...."

Baru empat kata disebut, paras muka pemuda itu telah berubah hebat, tanpa terasa dia mundur selangkah.

Sebenarnya waktu itu si nona berbaju hijau pupus sedang mengawasi Sui Leng-kong sambil tersenyum, begitu mendengar keempat kata tadi, serentak dia membalikkan tubuh sambil membentak.

"Siapa yang kau cari? Buat apa mencari tahu tempat itu?"

Dengan wajah tidak berubah Cu Cau tersenyum, jawabnya.

"Ooh, aku mendapat titipan sepucuk surat yang harus diserahkan kepada pemilik pondok Cay-seng, padahal kami tidak kenal siapa pemilik pondok itu, jadi... terpaksa harus mencari tahu."

Sepasang muda-mudi itu saling berpandangan sekejap, paras muka mereka lambat-laun berubah kembali jadi lembut Setelah termenung beberapa saat, kembali pemuda itu bertanya.

"Boleh tahu nama margamu?"

"Aku dari marga Cu."

"Ooh, kalau memang bermarga Cu berarti kau boleh ke situ,"

Kata sang pemuda sambil tertawa lebar.

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Tanya Cu Cau tercengang.

"Sekalipun pondok Cay-seng bukan sebuah tempat yang rahasia, tapi bila saudara berasal dari marga Im atau marga Thiat, maka sulit bagi siaute untuk memberi petunjuk."

"Benar,"

Sambung si nona sambil tertawa pula.

"tadi kusangka kalian berdua dari marga Im, itulah sebabnya kami merasa sangat kaget, harap kalian berdua jangan marah."

Sui Leng-kong segera saling bertukar pandang sekejap dengan Cu Cau, sementara dalam hatinya timbul kecurigaan dan rasa tercengang yang besar.

Siapakah pemilik pondok Cay-seng?

Dia musuh atau sahabat?

Mengapa orang itu berusaha menghindari orang-orang dari marga Im dan Thiat?

Kalau orang ini adalah seorang musuh, mengapa pula Thiat Tiong-tong minta kepadanya untuk memandang orang itu sebagai saudara sendiri?

Bahkan pesan itu sampai diulang beberapa kali....

Jelas kejadian im merupakan sebuah kenyataan yang saling bertentangan, biar Cu Cau amat cerdas pun tidak urung dibuat kebingungan sendiri.

Dalam pada itu si nona berbaju hijau itu telah menarik tangan Sui Leng-kong dan memuji sambil tertawa.

"Cici, kenapa wajahmu begitu cantik?"

"Aaah, yang cantik itu dirimu..."

Jawab Sui Leng-kong pula sambil tertawa. Sedang pemuda berpakaian ringkas itu berkata kepada Cu Cau sambil menghela napas.

"Saudara, kau nampak begitu gagah, perkasa dan berwibawa, belum pernah Siaute menjumpai manusia sehebat dirimu, coba kalau bukan begitu, tidak mungkin Siaute akan mempercayai begitu saja perkataanmu..."

"Hahaha, andaikata kau tidak tampan, tidak mungkin aku akan menegur dirimu."

Kedua orang itupun saling berpandangan sambil tertawa tergelak. Setelah melirik Sui Leng-kong sekejap, tiba-tiba pemuda itu berbisik sambil tertawa ringan.

"Kalian berdua benar-benar ibarat naga dan burung hong, pasangan yang amat serasi...."

Biarpun perkataan itu sangat lirih, ternyata Sui Leng-kong sempat mendengarnya dengan jelas, cepat dia menukas.

"Dia adalah Toakoku...."

Kemudian setelah mengerling sekejap dan tertawa, lanjutnya.

"Aku lihat jusru kalian berdualah...."

Nona berbaju hijau itu segera tertawa, ujarnya.

"Siaumoay bernama Gi Beng, dia adalah kakakku bernama Gi Teng, kami adalah dua bersaudara."

Maka mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak, hanya saja suara tawa Cu Cau terdengar sedikit dipaksakan.

"Kebetulan kami berdua pun sedang dalam perjalanan menuju pondok Cay-seng,"

Kata Gi Teng kemudian.

"Mari kita menempuh perjalanan bersama."

"Bagus sekali,"

Sorak Cu Cau sambil bertepuk tangan.

Di tengah gelak tertawa, Gi Teng sudah berjalan lebih dulu memimpin paling depan, sekalipun dia tidak lagi menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun langkahnya enteng dan cepat, jelas pemuda ini sudah termasuk seorang jagoan kelas satu dalam dunia persilatan.

Ternyata Gi Beng, adik perempuannya pun memiliki gerakan tubuh yang tidak kalah enteng-nya, saat itu sambil menarik tangan Sui Leng-kong mereka berjalan sambil bersenda gurau, kelihatan sekali kedua orang ini cocok satu dengan lainnya.

Cu Cau sendiri pun diam-diam memuji akan kehebatan kedua orang bersaudara ini, dia tidak menyangka dengan usia mereka yang masih begitu muda ternyata sudah memiliki kungfu yang hebat, tidak tertahan ingin sekali dia mencari tahu asal-usul kedua orang ini.

Kelihatannya Gi Teng sendiri pun mempunyai pemikiran yang sama, tiba-tiba dia berkata sambil menghela napas panjang.

"Sudah lama Siaute berkelana dalam dunia persilatan, tapi dengan kemampuan silat yang kau miliki, bukan saja Siaute belum pernah menjumpainya, mendengar pun belum pernah, jika sepasang mata Siaute belum buta, semestinya kau pun seorang jago lihai dari dunia persilatan!"

Perkataan itu bukan kata pujian, sebab walaupun Cu Cau tidak menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, namun caranya berjalan sudah menunjukkan kalau dia memiliki kepandaian hebat.

Sambil tersenyum, sahut Cu Cau.

"Aaah, mana mungkin kepandaian silatku bias menandingi Go bi sim hoat yang kau miliki?"

Walau hanya kalimat yang sederhana, namun secara jitu dia telah menebak asal-usul ilmu silat kedua orang ini. Betapa terkejutnya Gi Teng sesudah mendengar perkataan itu, pujinya.

"Tajam benar pandangan matamu!"

"Kelihatannya aku sudah ketinggalan banyak, lantaran malas berkelana aku sampai tidak tahu kalau partai Go bi telah memiliki jagoan hebat macam kalian dua bersaudara."

"Aaah, tidak heran kalau Cayhe gagal mengenali dirimu, rupanya Hengtay sudah lama hidup mengasingkan diri."

"Mungkin saja dia hanya enggan menyebut nama besarnya,"

Sela Gi Beng sambil tertawa.

"darimana kau tahu kalau dia sudah lama hidup mengasingkan diri?"

"Biarpun saudara ini berhasil menebak asal aliran silat kita, namun tidak berhasil menduga siapa kita berdua, hal ini membuktikan dia memang sudah lama tidak pernah berkelana dalam dunia persilatan."

"Huuuh, tidak tahu malu,"

Umpat Gi Beng tertawa.

"memangnya kau sangka nama besarmu sudah tersohor di kolong langit? Memangnya setiap orang yang berkelana dalam dunia persilatan tentu mengenali dirimu?"

Gi Teng tertawa terbahak-bahak, kendati pun tidak menjawab, namun dari balik gelak lawanya, ketahuan kalau dia amat bangga dengan kemampuan sendiri. Diam-diam Cu Cau tertawa geli, pikirnya.

"Kedua orang bersaudara ini kelewat polos, kalau dilihat dari lagaknya, kemungkinan besar mereka sudah tersohor sejak muda, kalau tidak, mana mungkin sikapnya begitu latah."

Perlu diketahui, orang yang sudah tersohor sejak muda, biasanya memiliki pandangan sangat tinggi, terhadap urusan apapun kebanyakan mereka suka berterus terang dan bicara blak-blakan.

Tiba-tiba Gi Teng berbelok memasuki sebuah jalan setapa kyang amat sempit dan kecil.

Jalan setapak itu berliku-liku langsung menuju ke atas bukit, baru berjalan beberapa lingkah, di sisi jalan sudah terlihat ada sebuah papan nama yang bertuliskan.

"Pondok Cay-seng". Bila ada orang khusus datang ke situ untuk mencari pondok Cay-seng, biasanya mereka akan menelusuri jalan besar, siapa pun tidak akan memperhatikan jalan setapak sekecil itu. Sayangnya walaupun Sui Leng-kong dan Cu Ciu termasuk orang yang teliti, namun pengalaman mereka dalam dunia persilatan sangat cetek, mereka belum terbiasa memperhatikan hal-hal yang kecil. Jika kedua orang ini diwajibkan membangun satu usaha besar, merekalah pilihan yang paling cocok, tapi kalau suruh mereka berdua pergi mencari jalan, jelas pilihan ini merupakan satu tindakan yang keliru besar. Bagi orang lain, tugas yang belum tentu bisa diselesaikan dalam tiga tahun, mungkin mereka hanya butuh tiga hari untuk menyelesaikannya, sebaliknya bagi orang lain yang butuh waktu singkat untuk menemukan satu tempat, mungkin bagi mereka butuh tiga tahun untuk menemukannya. Cu Cau berpaling memandang Sui Leng-kong sekejap, kemudian keluhnya sambil tertawa getir.

"Ternyata berada di sini!"

"Siaute toh sudah bilang,"

Ucap Gi Teng sambil tertawa.

"Pondok Cay-seng bukan sebuah tempat yang sangat rahasia, setiap orang boleh mendatanginya, hanya saja...."

"Hanya saja tempat ini terlarang bagi mereka yang she Im dan Thiat?"

Sambung Cu Cau.

"Benar!"

"Kenapa?"

"Aku sendiri pun kurang jelas apa alasannya "Hahaha, aku lihat kalian berdua sudah terbiasa bersikap takabur,"

Ejek Cu Cau lagi sambil tertawa. Gi Beng tertawa cekikikan, balasnya.

"Menurut pandanganku, kalian berdua pun tidak jauh berbeda."

Mendadak dari balik hutan bambu di sisi jalan terdengar seseorang tertawa nyaring sambil berseru.

"Hanya Enghiong Hohan dari kolong langit yang pantas disebut orang-orang takabur."

"Ucapan yang tepat,"

Cu Cau tertawa nyaring.

"kalau bukan seorang Enghiong, mana mungkin bisa mengucapkan perkataan seperti itu... kelihatannya kau adalah pemilik pondok Cay-seng."

Tiba-tiba terlihat seseorang berjalan keluar dari balik hutan bambu sambil tertawa tergelak, dipandang dari kejauhan, orang itu nampak keren penuh wibawa, gerak-geriknya menyerupai dewa yang baru turun dari kahyangan.

Setelah berjalan mendekat barulah ketahuan kalau orang ini memiliki keanehan yang jauh berbeda dari orang biasa.

Rambutnya panjang terutai, jenggotnya mulai kelihatan memutih, namun sorot matanya justru terasa masih amat muda, membuat orang susah untuk menebak berapa usia sebenarnya.

Sekalipun gerak-geriknya lembut penuh wibawa, namun dari tubuhnya justru memancarkan hawa kekerasan yang tidak terlukis dengan kata-kata, dua sifat yang bertolak belakang justru muncul dari tubuh seorang yang sama, hal ini menciptakan semacam daya pikat yang kuat dan aneh.

Biarpun senyumannya amat cerah, dalam orot matanya justru tersimpan selapis cahaya aneh yang mencerminkan kemurungan.

Dua macam perasaan yang berbeda pun muncul di wajah orang yang sama, hal ini membuat setiap orang dapat menduga orang ini pasti memiliki pengalaman hidup yang tidak biasa.

Sebelum bertemu orang itu, Cu Cau sudah merasa perkataan orang ini jauh berbeda dari perkataan orang biasa, apalagi setelah bertatap muka, dia merasa orang ini memiliki keunikan yang tidak akan ditemui di wajah orang lain, tatapan matanya pun seolah sukar dialihkan lagi ke tempat.

Sementara itu pemilik pondok Cay-seng pun terus menatapnya tanpa berkedip, kemudian serunya sambil tertawa.

"Dua bersaudara Gi, kenapa tidak kalian kenalkan tamu agung yang datang bersama kalian?"

"Tamu tidak diundang, apakah kau merasa kedatangan kami sedikit di luar dugaan?"

Sela Cu Cau sambil tertawa.

"Hahaha, sebelum bertatap muka pun sudah kurasakan hawa lain, apalagi setelah bersua sekarang... maafkan kekerdilan pengetahuan Siaute."

"Kau memang gagah dan penuh daya pikat, tidak heran Jiteku selalu berkata kalau kau adalah seorang pria aneh di kolong langit."

"Siapa adikmu? Dia kenal aku?"

Tanya pemilik pondok Cay-seng keheranan. Mendadak terdengar Gi Beng berseru sambil tertawa merdu.

"Cici, coba lihat ulah mereka berdua, begitu bersua lantas berbincang tidak ada habisnya, membiarkan kita kedinginan di tempat ini, masa tidak mempersilakan tamunya duduk lebih dulu."

Pemilik pondok Cay-seng melirik Sui Leng-kong sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa.

"Aaah, hampir saja Cayhe lupa kalau di sini masih ada tamu agung lainnya, silakan! Silakan...."

Setelah memasuki hutan bambu, terlihatlah lima buah bangunan pondok berdiri di atas tebing bukit, di muka rumah terbentang tan ah rerumputan dengan selokan yang berair jernih, sedang di bagian belakang rumah terbentang kebun sayuran yang luas, sebuah tempat pertapaanyang indah.

Perabot yang tersedia di dalam pertapaan ini sangat lengkap dan bersih, dua orang bocah segera muncul menghidangkan air teh, teh wangi dari merek kenamaan, bahkan cawan pun terbuat dari batu pualam.

Sejak kecil Cu Cau sudah terbiasa hidup dalam suasana bangsawan, namun begitu duduk dalam pondok itu, dia segera dapat merasa tempat ini bukan sebuah tempat pertapaan biasa.

Sekilas pandang dia sudah melihat setiap benda yang berada dalam pertapaan ini merupakan benda mestika yang tidak ternilai harganya, hal ini membuatnya sangat keheranan, pikirnya.

"Setelah hidup mengasingkan diri, pemilik pertapaan ini masih tidak meninggalkan segala kemewahan dan kenikmatan hidup, jelas kalau bukan berasal dari keluarga kaya raya, mustahil dia bisa melakukannya. Jangan-jangan sebelum mengasingkan diri, dia adalah seorang perampok ulung? Tapi kalau ditinjau dari tampangnya, dia pun tidak bertampang kriminal...."

Dalam pada itu pemilik pondok Cay-seng sudah bertanya lagi sambil tertawa.

"Boleh tahu adikmu adalah...."

Sambil tersenyum potong Cu Cau.

"Jite minta aku menyampaikan sepucuk surat, itulah sebabnya secara khusus kami datang kemari...."

Sambil berkata dia mengeluarkan sepucuk surat, katanya lebih jauh sambil tertawa.

"Padahal aku sendiri pun tidak tahu apakah lite benar-benar kenal denganmu atau tidak."

"Ohhh...."

Pemilik pondok Cay-seng berteriak aneh, kemudian sambil tersenyum diterimanya surat itu dan dipandang sekejap, tiba-tiba dengan wajah berubah, teriaknya keras.

"Ooh, rupanya Jite...."

Dari nada suaranya dapat diketahui dia merasa terkejut bercampur girang.

"Kelihatannya Hengtay sangat kenal dengan liteku itu,"

Sela Cu Cau sambil tertawa.

"Ya, kenal sekali... kenal sekali... malah ingat kenal...."

Sahut pemilik pondok Cay-seng cepat. Mendadak dia menghentikan perkataannya dan berseru sambil menjura.

"Maaf, maaf, aku mesti mohon diri sejenak."

Habis berkata, dengan tergopoh-gopoh dia mengundurkan diri.

"Tampaknya pemilik pondok Cay-seng ini rada misterius,"

Bisik Sui Leng-kong lirih.

"Benar,"

Gi Beng membenarkan seraya tertawa.

"memang teramat misterius, sekalipun kami dua bersaudara sudah cukup lama kenal dengannya, namun kami sama sekali tidak tahu tentang dirinya."

"Bagaimana ceritanya sampai kalian kenal dengannya?"

"Bertemu tanpa sengaja, karena pembicaraan saling mencocoki, maka kami pun menjadi sahabat...."

Setelah tertawa, lanjutnya.

"Persis seperti perkenalanku dengan Cici."

"Dia dari marga apa?"

"Aku sendiri pun kurang tahu...."

"Aku lihat kalian berdua pun sangat aneh,"

Seru Sui Lengkong tertawa geli.

"masa berkenalan dengan orang pun tidak tahu nama marganya, bahkan aku lihat kalian anggap kejadian semacam ini sangat lumrah."

"Aku pun tahu kejadian semacam ini tidak lumrah, tapi bagiku, asal dia orang baik dan kita sudah menjadi sahabat, peduli amat dia bernama siapa, bukankah begitu?"

Sementara kedua orang nona ini berkasak-kusuk sambil tertawa, di pihak lain Cu Cau pun sedang membicarakan keanehan pemilik pondok Cay-seng itu dengan Gi Teng.

"Dalam setahun belakangan, dia memang sudah banyak berkenalan dengan para jago dan orang gagah dari dunia persilatan,"

Gi Teng menerangkan.

"tapi dari sekian banyak sahabatnya, ternyata tidak seorang pun yang tahu nama serta asal-usulnya."

"Kalau memang begitu, kenapa masih ada begitu banyak Enghiong Hohan yang bersedia berkenalan dengan-nya?"

"Orang ini Bun bu coan cay, pandai berbicara, pandai bergaul, bahkan memandang harta bagai sampah, asal ada sahabat yang kesulitan dan mohon bantuan, dia tidak pernah menampik. Sementara dia sendiri tidak pernah mohon bantuan orang lain, tentu saja siapa pun bersedia berkenalan dengan tokoh semacam ini."

"Lelaki aneh... benar-benar lelaki paling aneh dikolong langit...."

"Eei... apakah adikmu tahu tentang asal-usulnya?"

Tiba-tiba Gi Teng bertanya.

"Kalau ditinjau dari keadaannya, Jiteku pasti mengetahui asal-usulnya,"

Sahut Cu Cau sambil tertawa.

"hanya sayang sebelum bertanya jelas, aku udah buru-buru dating kemari."

"Aku percaya adikmu pastilah seorang tokoh luar biasa dalam dunia persilatan?"

"Bukan Cayhe sengaja mengunggulkan kemampuan adikku, aku rasa jarang di kolong langit saat ini ada jagoan yang memiliki kepintaran dan keberanian macam dia."

"Aaai... bukankah satu penyesalan yang amat dalam bila Siaute tidak dapat berkenalan dengan jagoan semacam ini?"

Ujar Gi Teng sambil menghela napas. Cu Cau tertawa lebar.

"Jangan kuatir,"

Janjinya.

"suatu saat aku janji akan memperkenalkan kalian berdua, hanya...."

Sesudah tertawa getir lanjutnya.

"Hanya saja jejak Jiteku susah diikuti, mungkin aku sendiri pun tidak tahu saat ini dia berada dimana...."

Berbicara sampai di situ, tanpa terasa bayangan wajah Thiat Tiong-tong muncul kembali dalam benaknya. Sebenarnya apa yang ditulis Thiat Tiong-tong dalam secarik kertas itu? Ternyata dia menulis.

"Sui Ji-song, tahun Keng-cu, bulan empat tanggal enam belas". Tulisan itu terbaca olehnya sewaktu berada dalam ruang rahasia di belakang istana Kaisar malam. Begitu membaca beberapa tulisan itu, paras muka Kaisar malam berubah hebat, sampai lama kemudian dia baru bertanya dengan suara dalam.

"Mengapa kau menanyakan persoalan ini kepadaku?"

"Sebab masalah ini sangat mempengaruhi kehidupan Siautit, itulah sebabnya... aaai! Di balik persoalan ini sesungguhnya terdapat masalah yang amat pelik, Siautit sendiri pun dibuat kebingungan...."

"Kalau kau sendiri pun kebingungan, kenapa mesti aku yang memberi penjelasan?"

Bentak Kaisar malam keras.

"Siautit hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi dalam hutan bunga tho di luar perkampungan Seng keh cung pada tahun Kengcu bulan empat tanggal enam belas?"

"Hutan bunga tho... darimana kau tahu tentang hutan bunga tho?"

Seru Kaisar malam dengan tubuh bergetar.

"Sesungguhnya Siautit...."

Tiba-tiba Kaisar malam mendongakkan kepala dan tertawa keras, tukasnya.

"Baiklah! Kau tidak usah bicara lagi, terlepas kenapa kau bertanya tentang persoalan ini, aku akan menjelaskan kepadamu."

Setelah berhenti tertawa, sekilas perasaan sedih menghiasi raut mukanya, perlahan dia berkata.

"Peristiwa ini merupakan salah satu kejadian yang paling kusesali, cepat atau lambat aku tetap akan membicarakannya pada seseorang."

Thiat Tiong-tong hanya menahan napas dan tidak berani menimbrung. Kembali Kaisar malam berkata.

"Dua puluh tahun berselang, suatu hari, tiba-tiba muncul keinginanku untuk berpesiar, jika aku pun melakukan perjalanan menuju kearah Kanglam, pada bulan keempat aku telah tiba didaratan Tionggoan.

"Kau kan tahu aku paling benci terikat oleh segala peraturan dan adat, karena itu aku tidak punya teman seperjalanan, aku pun tidak sudi menginap di rumah penginapan sambil melihat tampang jelek orang-orang kota. Setiap kali lelah menempuh perjalanan, maka aku pun menggunakan langit sebagai kelambu, menggunakan bumi sebagai alas tidurku, bukan saja hidup bebas merdeka, bahkan bisa menikmati pula keindahan alam.

"Hari itu, yakni hari tanggal enam besar, menjelang senja ketika aku mulai kelelahan, tiba-tiba kujumpai sebuah hutan bunga tho yang sangat luas terbentang di depan mata. Senja di bulan empat memang masa yang indah untuk bunga tho, dibawah cahaya senja yang kemerah-merahan, hutan bunga tho itu nampak sangat indah dan menawan, indah bagaikan nirwana."

Sekulum senyuman kembali menghiasi wajahnya, seolah-olah suasana indah kala itu masih memabukkan dirinya, tapi sekejap kemudian senyuman itu kembali lenyap, terusnya.

"Ketika tanpa sengaja kujumpai pemandangan seindah ini, tentu saja hatiku girang, maka aku pun beristirahat dalam hutan bunga tho itu sambil minum arak dan menikmati ayam panggang.

"Di saat itulah tiba-tiba dari luar hutan terdengar suara bentakan gusar diiringi makian keras, kelihatannya ada seorang lelaki sedang melarikan diri dikejar seorang wanita.

"Sebenarnya aku enggan mencampuri urusan orang dan tidak ingin melibatkan diri dalam pertikaian dunia persilatan, sekalipun aku agak jengkel karena kehadiran kedua orang itu telah merusak suasana, namun dorongan rasa ingin tahu membuatku pergi mengintip, aku ingin tahu siapa gerangan wanita itu, aaaai... ! Gara-gara mengintip inilah akhirnya aku harus terlibat dalam berbagai persoalan yang seharusnya tidak perlu kualami."

Tampaknya ada ganjalan yang masih mencekam perasaannya, setelah menghela napas beberapa saat dia baru berkata lebih jauh.

"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu cukup tangguh, gerak-geriknya pun cukup cekatan, baru saja aku melesat masuk ke balik pepohonan dan menyembunyikan diri di balik ranting pohon, sementara sayur dan arakku belum sempat kusembunyikan, mereka sudah muncul di tempat itu.

"Ternyata orang yang melarikan diri adalah seorang pemuda berpakaian ringkas yang rambutnya kusut dan napasnya ngos-ngosan, keadaannya amat mengenaskan, pedang dalam genggamannya tinggal setengah potong, kelihatannya telah melalui pertarungan yang amat seru, dia sudah terdesak hebat, sedangkan pengejarnya adalah seorang nyonya muda berwajah cantik yang mengenakan baju sutera halus, dia bersenjatakan sepasang pedang Wan yo kiam, waktu itu kondisinya pun cukup lelah, bukan cuma napasnya tersengal, sekujur tubuhnya telah basah oleh keringat.

"Ketika memasuki hutan, tampaknya pemuda berpakaian ringkas itu sudah tidak mampu menahan diri lagi, tubuhnya sempoyongan, meski berhasil melangkah beberapa meter, pada akhirnya dia roboh juga ke tanah. Nyonya muda itu seketika menubruk maju, pedang wan-yo kiamnya secara beruntun melancarkan beberapa tusukan.

"Dengan ketakutan pemuda berpakaian ringkas itu menjerit.

"Ampuni jiwaku, dengarkan dulu beberapa perkataanku..."

"Nyonya muda itu segera menghentikan tusukan-nya, sambil menempelkan ujung pedangnya di atas dada pemuda itu, bentaknya dingin.

"Kau sudah terjatuh ke tanganku, apa lagi yang hendak kau sampaikan!"

"Hari ini aku baru pertama kali berjumpa denganmu,"

Kata sang pemuda dengan suara gemetar.

"kenapa kau menyerangku sekeji ini... ?"

Bercerita sampai di sini, sang Kaisar malam menghela napas panjang,ujarnya.

"Hingga hari ini aku masih teringat dengan setiap patah kata yang mereka ucapkan, tidak sepatah kata pun yang ketinggalan."

"Tidak kusangka Empek masih teringat sedemikian jelasnya,"

Kata Thiat Tiong-tong dengan kepala tertunduk.

"Ya, hal ini disebabkan kejadian itu amat berkesan bagiku, karena kau menanyakan persoalan ini, tentunya kau sudah tahu bukan siapakah laki perempuan itu?"

"Benar...."

Tapi saat itu aku masih belum tahu, peristiwa itu membuat aku keheranan, kalau memang pemuda itu baru pertama kali bersua dengannya, kenapa wanita itu ingin membunuhnya?

"Terdengar wanita muda itu menyahut dengan suara dingin.

"Betul, kita memang baru bertemu pertama kali ini bersua, namun dendam kesumat di antara kita lebih dalam dari samudra, setelah hari ini kau terjatuh ke tanganku, kenapa aku tidak boleh membunuhmu?"

"Tanpa berkedip pemuda itu menatap wajahnya, sesaat kemudian dia berkata lagi.

"Seandainya kau yang terjatuh ke tanganku, aku... bagaimanapun aku tidak akan tega membunuhmu!"

"Sekalipun ucapan ini mengandung nada menggoda, namun bagaimanapun dia adalah seorang pemuda tampan, khususnya sewaktu mengucapkan perkataan itu, dia tampil lebih istimewa, lebih gampang meluluhkan perasaan kaum wanita.

"Dengan gusar wanita cantik itu membentak.

"Dasar lelaki hidung bangor, kau sudah bosan hidup?"

Sekalipun nada bentakannya gusar, namun diam-diam perasaannya sudah mulai luluh.

"Jika perasaannya tidak luluh, bisa saja dia ayunkan ujung pedangnya ke bawah dan menghabisi nyawa pemuda itu, buat apa dia mesti banyak bicara lagi? Memangnya aku tidak tahu jalan pikiran kaum wanita? "Tampaknya pemuda itupun dapat membaca jalan pikiran wanita itu, dia jadi lebih berani, sambil menghela napas panjang ujarnya lagi.

"Bukan aku sengaja mengumpak, sejujurnya selama hidup belum pernah kujumpai nona secantik dirimu"

"Lalu setelah menarik napas panjang lanjutnya.

"Apalagi kerlingan mata nona yang begitu indah bagai bintang di langit, senyummu yang manis bagai hembusan angin di musim semi...."

"Sambil berbicara, perlahan-lahan dia mulai mendorong ujung pedang itu dari atas dadanya.

"Paras muka nona cantik itu berubah semakin memerah, nampaknya dia sudah terbuai oleh bualan pemuda itu.

"Melihat mangsanya sudah terperangkap, pemuda itu semakin kegirangan, tiba-tiba dia melompat bangun dan memeluk wanita itu erat-erat, gumannya.

"Ooh nona, aku benar-benar tidak mampu mengendalikan diri...."

"Ucapannya makin lama semakin jorok, makin lama makin tidak sedap didengar, bahkan aku sendiri pun jadi malu oleh perkataannya.

"Tampaknya wanita cantik itu merasa malu bercampur gusar, tiba-tiba sebuah tonjokan memmbuat pemuda itu jatuh terjungkal, kusangka kali ini dia tentu akan mencabut nyawanya, siapa tahu ujung pedangnya masih tetap ditempelkan di atas dada pemuda itu dan tidak pernah ditusukkan lebih ke dalam.

"Terdengar dia membentak dengan gusar, Kau... kau sangka manusia macam apa diriku?"

Dengan gemetar jawab pemuda itu.

"Aku... aku benar-benar tidak sanggup menahan diri... jika nona mau bermesraan denganku, aku... aku... biar harus mati pun aku rela". Walaupun nada suaranya seperti orang ketakutan, bahkan sampai gemetaran, namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan perasaan takut, rupanya dia telah memperhitungkan wanita cantik itu tidak bakal membunuhnya.

"Benar saja, perasaan wanita cantik itu benar-benar luluh, kembali pemuda itu menyingkirkan ujung pedang dari hadapannya, tapi kali ini dia tidak memeluknya lagi, melainkan sambil berlutut memohon.

"Bila nona tidak bersedia, lebih baik tusuklah dadaku agar aku segera mati, bisa mati di tangan nona pun hatiku sudah merasa sangat puas"

"Caranya berbicara kali ini sungguh membuat hati orang trenyuh, ditambah lagi lagak dan nada suaranya yang mengharukan, tidak heran kaum wanita gampang tergerak perasaan-nya.

"Perempuan cantik itu menundukkan kepalanya semakin rendah, paras mukanya juga berubah makin memerah, lewat beberapa saat kemudian dia baru berkata perlahan.

"Kau toh sudah tahu kalau aku bukan seorang nona lagi"

"Tapi bagiku, kau selamanya adalah seorang nona yang suci bersih"

Jawab sang pemuda.

"Betapa trenyuhnya perasaan wanita cantik itu sehabis mendengar perkataan itu, tanpa disadari tetesan air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

"Dengan nada yang jauh lebih lembut, kembali pemuda itu berkata.

"Sudah lama kudengar sikap mertua dan suamimu kurang baik, aaaai, aku benar-benar tidak habis mengerti, kenapa begitu tega mereka bersikap demikian terhadapmu...."

"Siapa yang bilang begitu?"

Si wanita cantik itu membentak, mereka... mereka bersikap baik sekali... baik sekali terhadapku..."

Sekalipun dia berusaha menyangkal, namun sikap serta gerak-geriknya telah mengakui kebenaran hal itu.

"Kembali pemuda itu berkata sambil menghela napas panjang.

"Saudara-saudaraku pun bersikap kurang baik terhadapku... padahal tiada dendam atau permusuhan apapun yang terjalin di antara kita, kenapa kita berdua harus saling membenci dan saling membunuh...."

"Terdengar suara 'Tranggg!', ternyata pasang Wan yo kiam yang berada dalam genggaman nyonya muda itu sudah terjatuh ke tanah, kemudian terdengar dia bergumam.

"Mereka bersikap tidak baik terhadapku, buat apa aku mesti mengadu jiwa demi mereka...."

"Benar...

"teriak pemuda itu kegirangan, tapi kembali dia menghela napas sambil melanjutkan, dalam hidupku, aku selalu berharap bisa berjumpa dengan seorang nona cantik, tapi sepasang matamu... bibirmu... ternyata beribu kali lebih indah, lebih cantik daripada apa yang kuimpikan selama ini, andai aku tidak bersua denganmu, mungkin aku tidak akan percaya kalau di kolong langit benar-benar terdapat nona secantik dirimu...."

"Benarkah?"

Tanya wanita cantik itu.

"Buat apa aku membohongimu?"

"Perempuan cantik itu menghela napas sedih, perlahan-lahan dia memejamkan matanya sambil berbisik.

"Kenapa sejak dulu belum pernah ada orang mengatakan hal ini kepadaku?".

"Karena mereka adalah sekawanan lelaki kasar yang tidak mengerti keindahan,"

Jawab pemuda itu sambil menghela napas.

"yang mereka ketahui hanya saling gontok, saling membunuh, kalau setiap hari yang dipikirkan hanya tindakan kasar, mana mungkin mereka mengenal arti kelembutan dan kemesraan, tidak heran mereka menyia-nyiakan masa remaja seorang gadis yang cerdik dan rupawan. Aaai... kenapa Thian selalu tidak adil terhadap umatnya?"

"Perkataan itu sangat menusuk perasaan wanita itu, dengan mata menjadi merah karena terharu, tiba-tiba dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan pemudaitu...."

Mendengar sampai di sini, Thiat Tiong-tong seolah-olah mendengar kembali gelak tawa menyeramkan Sui Ji-song ketika berkata kepada Thiat Cing-kian.

"Dua puluh tahun berselang, kau pernah berlutut di hadapanku, mengatakan aku adalah gadis tercantik, gadis terlembut yang pernah kau jumpai... dua puluh tahun berselang, nyawamu pernah terjatuh ke tanganku, sungguh menyesal waktu itu aku percaya dengan rayuan gombalmu, bukan saja telah mengampuni nyawamu, bahkan di dalam hutan bunga tho....

". Kini Thiat Tiong-tong sudah dapat menebak duduk perkara yang sebenarnya, hanya saja dia tidak tahu bagaimana kejadian yang sesungguhnya. Diam-diam dia menghela napas panjang, pikirnya.

"Seng Cun-hau mempunyai cacad tubuh yang tidak bisa diceritakan kepada orang luar, dia pun seorang lelaki sejati, bagaimana mungkin lelaki semacam dia sanggup mengucapkan kata-kata rayuan? Padahal Sui Ji-song masih muda dan kesepian, tidak heran dia terpikat oleh rayuan gombal Thiat Cing-kian."

Tampak Kaisar malam memperlihatkan sekulum senyuman yang sangat aneh, katanya.

"Waktu itu meski aku sangat gusar dan benci terhadap pemuda itu, namun aku pun membenci suami nyonya cantik itu, karenanya aku hanya menonton sambil berpeluk tangan, aku tidak berencana mencampuri urusan ini. Kulihat kedua orang itu berbicara amat mesra, nyonya cantik itu terkadang menangis, terkadang tertawa, jelas pikirannya dibuat kalut oleh rayuan hingga kehilangan kendali. Tiba-tiba pemuda itu menemukan sayur dan arak yang kutinggalkan di bawah pohon bunga tho, katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, sungguh tidak nyana Thian memang mengaturkan segala sesuatunya, coba lihat di sana tersedia sayur dan arak"

"Tanpa berusaha mencari tahu darimana datangnya sayur dan arak itu, mereka mulai btrsantap dan minum arak dengan santainya, waktu itu malam semakin kelam, suasana dalam hutan bunga tho pun terasa makin hangat dan mesra.

"Melihat kedua orang itu menikmati hidanganku sementara aku harus makan angin di atas pohon, dalam hati aku hanya bisa tertawa getir. Takaran minum perempuan muda itu sangat cetek, ditambah lagi arak yang tersedia ndalah arak keras, maka baru saja meneguk beberapa cawan, bukan saja dia sudah mabuk, bahkan mabuk berat.

"Waktu itu dia sudah berada dalam kondisi tengah bugil, pengaruh arak membuatnya dicekam hawa napsu yang tidak ter kendalikan, ibarat air bah sungai Huangho yang menjebol tanggul, birahinya sudah tidak terkirakan lagi.

"Melihat kejadian ini, kusangka sebentar lagi mereka berdua akan melakukan hubungan intim.

"Siapa tahu tiba-tiba pemuda itu menyambar sepasang wan yo kiam yang tergeletak di tanah, lalu bergumam sambil tertawa dingin.

"Perempuan rendah, kau tidak tega membunuhku, tapi aku tega untuk menghabisi nyawamu...."

"Sementara nyonya muda itu masih merintih di atas tanah karena terangsang napsu birahi, pemuda itu justru mengangkat pedangnya langsung dihujamkan ke hulu hati wanita itu."

Thiat Tiong-tong sama sekali tidak mengira akan terjadinya perubahan ini, tidak tahan dia menjerit kaget.

"Kau tidak menyangka bukan?"

Tanya Kaisar malam.

"Ya, Siautit tidak pernah membayangkan akan terjadi peristiwa semacam ini,"

Sahut Thiat Tiong-tong sambil menghela napas.

"Waktu itu aku sendiri pun sangat terperanjat, semula kusangka pemuda itu meski licik dan busuk hatinya, dia tetap seorang pemuda romantis yang tahu menyayangi wanita. Saat itulah aku baru sadar, ternyata pemuda itu selain sadis, dia pun keji dan tidak berperasaan, aku tidak tega membiarkan dia melakukan tindakan sebusuk itu terhadap wanita itu! Terlepas apapun alasannya, aku tidak bisa membiarkan kejadian seperti ini terjadi di depan mataku, maka sambil membentak aku pun melompat turun dari atas pohon.

"Tentu saja pemuda itu sangat terperanjat, dia membalikkan pedangnya menusuk tubuhku, tapi dengan sekali sambaran, senjata itu sudah berhasil kurampas, hal ini membuat pemuda itu semakin terkesiap."

Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli, pikirnya.

"Dengan kepandaian silat yang dimiliki Kaisar malam, tentu saja mimpi pun Thiat Cing-kian tidak menyangka, tidak heran kalau dia terperanjat setengah mati."

Terdengar Kaisar malam berkata lebih jauh.

"Walaupun saat itu aku membencinya karena tidak pantas menipu wanita itu dengan cara sekeji itu, karena perempuan itu bukan wanita cabul, dia tidak lebih hanya seorang wanita kesepian yang tergoda oleh rayuan gombalnya hingga tidak kuasa menahan diri, tapi aku kasihan dengan usianya yang masih muda, meski dalam keadaan marah, aku tidak sampai hati mencabut nyawanya.

"Pemuda itu termangu beberapa saat, melihat aku tidak berniat membunuhnya, maka tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia segera melarikan diri terbirit-birit, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

"Sebenarnya aku ingin mengejar pemuda itu, namun ketika melihat perempuan muda itu masih merintih di tanah, seakan dia tidak sadar atas kejadian yang berlangsung di sekelilingnya, aku tahu dia sudah tidak sadarkan diri. Maka aku dekati perempuan itu dan bermaksud menenangkan hatinya, siapa tahu... siapa tahu, baru saja kubangunkan tubuhnya, dia malah justru memelukku erat-erat, dia sangka aku adalah pemuda itu.

"Saat itu sedang bulan purnama, cahaya lembulan menyinari tubuhnya yang indah... tubuh setengah bugil yang panas tiada hentinya gemetar dalam pelukanku, bau harum bunga yang terhembus angin membuat aku... aku tidak kuasa menahan napsuku lagi...."

Apa yang terjadi kemudian benar-benar merupakan satu peristiwa yang sangat mengejutkan hati.

Bagi Thiat Tiong-tong, selain perasaan terperanjat dia pun merasa sangat girang, untuk sesaat perasaannya jadi kalut hingga tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Kaisar malam memejamkan mata seakan sedang membayangkan kembali adegan malam itu, sekulum senyuman tersungging di bibirnya, sampai lama kemudian dia baru melanjutkan kembali kisahnya.

Terdengar Kaisar malam berkata lagi.

"Setelah selesai berhubungan intim, wanita muda itu terlelap tidur dengan nyenyaknya, dia tidur dengan senyuman puas tersungging di ujung bibirnya, bahkan mengigau dengan memanggil nama pemuda itu.

"Sebetulnya aku ingin menunggunya hingga mendusin dari tidurnya, tiba-tiba kulihat pada gagang pedang yang ditinggalkan pemuda itu terukir empat huruf besar, ketika kuamati ternyata bertuliskan Thiat hiat tay ki. Saat itulah aku baru tahu kalau dia adalah anggota perguruan Tay ki bun. Padahal waktu itu aku memang sedang mencari jejak ketua perguruan itu, karena jejak mereka sukar terlacak, maka hingga detik itu keinginanku belum tercapai.

"Mengetahui pemuda itu adalah anggota perguruan Tay ki bun, dalam terkejut bercampur girangnya, tanpa berpikir panjang lagi aku segera melakukan pengejaran, aku sangka dengan ilmu meringankan tubuhku tentu tidak sulit untuk menyusulnya.

"Siapa tahu pemuda itu sangat licik dan teliti, kuatir terkejar, maka sepanjang jalan dia telah mengatur berbagai jebakan dan memancingku mengejar ke arah yang berlawanan.

"Menanti aku gagal mengejarnya dan balik lagi ke hutan bunga tho, waktu itu hari sudah terang, wanita cantik itupun sudah pergi, tapi keadaan di dalam hutan itu kacau berantakan, banyak ranting dan dahan pohon yang bertumbangan, kelihatannya wanita itu mengumbar amarahnya dengan mengobrak-abrik tempat itu.

"Aku amat sedih, walaupun ingin sekali kususul dirinya, apa daya... dalam suasana begitu, aku bahkan tidak tahu siapa namanya."

Mendengar sampai di situ, selain merasa terkejut bercampur girang, Thiat Tiong-tong pun merasa terharu.

Sejak awal hingga akhir Sui Ji-song selalu beranggapan dia sudah dinodai Thiat Cing-kian, apalagi sewaktu mendusin dia tidak berhasil menemukan jejaknya, tidak heran sepanjang hidup perempuan ini membencinya hingga merasuk ke dalam tulang.

Thiat Cing-kian sendiri meski tahu wanita itu bukan ternoda olehnya, namun sewaktu berada dalam gua harta karun dia pun tidak berani mengatakannya secara terus terang, dia ingin menggunakan alasan 'pernah jadi suami istri semalam' untuk meluluhkan hatinya, maka dia pun mengakui anak itu adalah darah dagingnya dengan harapan Sui Ji-song tidak membunuhnya.

Siapa tahu gara-gara pikiran semacam itu, dia harus mengorbankan nyawanya dengan percuma, sementara Sui Ji-song sendiri pun harus menanggung penderitaan sepanjang hidupnya gara-gara tindakannya yang keliru.

Peristiwa ini boleh dibilang merupakan satu kejadian salah langkah, seandainya Kaisar malam tidak secara kebetulan bertemu dengan peristiwa itu, kejadian pun tidak akan berakibat seperti saat ini.

Seandainya Kaisar malam adalah seorang penjahat pemogoran, lelaki hidung belang yang suka main perempuan, dia pun pasti tidak akan membiarkan Thiat Cing-kian kabur dalam keadaan hidup.

Dalam pada itu Thiat Tiong-tong merasa sangat kegirangan, akhirnya dia tahu Sui Leng-kong bukan saudaranya, simpul mati yang bakal membuatnya sengsara seumur hidup ternyata berhasil diurai secara mukjizat.

Lewat beberapa saat kemudian kembali Kaisar malam bertutur.

"Sepanjang perjalanan aku berusaha mencari tahu identitas wanita itu, aku tidak ingin kejadian ini menjadi beban sepanjang hidupku.

"Selesai berhubungan intim, aku baru sadar perempuan muda itu ternyata masih perawan, sekalipun statusnya adalah bini orang, namun dia belum pernah terjamah oleh lelaki manapun. Aku sadar, biarpun di antara kami berdua tidak pernah punya bibit cinta, namun aku punya tanggung jawab moral terhadapnya, paling tidak bertanggung jawab atas kehidupannya, sayang sejak kejadian itu aku tidak pernah bersua lagi dengannya."

Rasa menyesal yang sangat mendalam tampak melintas di wajahnya. Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, katanya perlahan.

"Masih ada satu hal lagi... andaikata Empek mengetahuinya, mungkin kau... kau akan bertambah sedih."

"Soal apa?"

"Dia telah melahirkan seorang anak."

Dengan tubuh bergetar lantaran kaget, Kaisar malam menceng-keram bahu Thiat Tiong-tong kuat-kuat,jeritnya.

"Sungguh? Darimana kau tahu? Anak... anak itu berada dimana sekarang?"

"Bocah itu bernama Sui Leng-kong jawab Thiat Tiong-tong sambil menghela napas. Secara ringkas dia pun bercerita bagaimana dia terjerumus ke dalam jurang, bertemui Sui Leng-kong dan ibunya hingga berjumpa dengan Cu Cau. Biarpun Kaisar malam termasuk jagoan yang banyak pengalaman, tidak urung dia terbelalak juga sehabis mendengar kisah cerita itu, selain terperanjat, dia pun merasa sedih dan sedikit perasaan girang. Terdengar dia bergumam seorang diri.

"Leng-kong... Leng-kong... ternyata dia telah dewasa... apakah dia... dia berwajah menarik?"

Thiat Tiong-tong sendiri pun tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, apakah kecut, manis atau getir, yang pasti semuanya muncul dari lubuk hatinya, setelah tertawa getir dia pun mengangguk.

Kaisar malam memandangnya beberapa kejap, tidak tahan dia mendongakkan kepala dan menghela napas panjang, katanya.

"Takdir... takdir... mimpi pun aku tidak menyangka ternyata kau adalah anak murid perguruan Tay ki bun!"

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong bertanya.

"Siautit ingin sekali bertanya kepada Cianpwe, sebenarnya ada rahasia besar apa di balik permusuhan dunia persilatan dengan perguruan Tay ki bun?"

Berubah paras muka Kaisar malam sehabis mendengar pertanyaan itu, gumamnya.

"Benar... di balik peristiwa itu memang terdapat sebuah rahasia yang besar sekali, aku tahu akan rahasia itu tapi sekarang belum bisa kukatakan kepadamu."

"Kenapa Siautit tidak boleh mengetahui rahasia itu?"

"Kau bukan tidak boleh mengetahui rahasia itu, sebab... sebab saat ini kau harus memusatkan perhatianmu untuk belajar silat, selama berlatih, lebih baik pikiranmu jangan terganggu oleh persoalanlain."

"Kenapa Siautit harus memusatkan diri berlatih?"

"Karena aku berencana akan mewariskan seluruh kepandaian silatku kepadamu, dengan bakat alam yang kau miliki, aku yakin dalam tiga bulan mendatang pasti sudah nampak hasilnya, bila pikiranmu bercabang, otomatis keberhasilan-mu akan terpengaruh."

Thiat Tiong-tong merasa hatinya bergetar keras, dia tidak tahu harus merasa terkejut atau gembira, katanya tergagap. Tapi...."

"Asal kau bersedia memusatkan seluruh perhatian untuk belajar silat,"

Tukas Kaisar malam cepat.

"tiga bulan kemudian, aku pasti akan membeberkan rahasia besar dunia persilatan yang hampir punah ini kepadamu."

"Tapi... kenapa Empek ingin mewariskan seluruh ilmu silatmu kepadaku?"

Kaisar malam tersenyum, sahutnya.

"Kau adalah saudara angkat Cau-ji, kau pun terhitung sahabat senasib dengan... dengan Leng-kong, kalau tidak kuwariskan ilmu silatku kepadamu, memangnya harus kuwariskan kepada orang lain?"

Buru-buru Thiat Tiong-tong menjatuhkan diri berlutut, serunya dengan kepala tertunduk.

"Terima kasih Empek!"

Sambil mengelus jenggotnya Kaisar malam tertawa tergelak, beberapa saat kemudian setelah menghela napas panjang dia baru berkata lagi.

"Seandainya Cau-ji dan... dan Leng-kong berada di sini... aaaai! Entah apa yang sedang mereka lakukan sekarang?"

Mendadak paras muka Thiat Tiong-tong berubah hebat, jeritnya.

"Aduuuh celaka! Aku telah melakukan kesalahan besar!"

"Kejadian apa yang membuatmu gugup dan kaget?"

"Toako dan Leng-kong adalah saudara!"

Keringat sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi wajah Thiat Tiong-tong, serunya lebih jauh.

"Tapi... tapi... Siautit telah berusaha memohon bantuan orang untuk menjodohkan mereka berdua, saat ini... bila mereka berdua telah... telah...."

Dia merasa dadanya sesak, perkataan selanjutnya tidak sanggup lagi diutarakan.

Paras muka Kaisar malam ikut berubah, jenggot panjangnya bergoyang meski tidak terhembus angin, sepasang kepalannya digenggam kuat-kuat, ujung jarinya terasa dingin membeku, gumamnya.

"Bagaimana... bagaimana baiknya sekarang?"

Cahaya lentera telah menerangi pondok Cay-seng di bawah bukit Ong wo san.

Pemilik pondok yang misterius sedang membuka surat yang diberikan Thiat Tiong-tong dan membaca isinya.

Sudah beberapa kali dia membaca ulang isi surat itu, kini dia hanya duduk terpekur sambil memandang surat itu dengan pandangan mendelong, lama kemudian sekulum senyuman baru tersungging di ujung bibirnya, meski kerutan dahinya menunjukkan perasaan sedih yang mendalam.

Surat itu jelas ditulis dalam keadaan terburu-buru, bukan saja tulisannya tidak jelas, kalimatnya pun amat singkat, tapi pemilik pondok Cay-seng dapat memahami artinya.

Surat itu berbunyi.

"Surat yang lampau tentu sudah kau terima, aku dalam keadaan sehat, berhubung sesuatu persoalan aku tidak bisa datang, waktu sudah hampir tiba, harap semua saudara bersabar, tunggu saatnya.

"Pembawa surat adalah putra Kaisar malam bernama Cu Cau, saudara angkatku, orang ini berbakat aneh, bisa dipercaya, harap dilayani sebaik-baiknya, yang seorang lagi adalah Sui Leng-kong, sahabatku, sayang aku tidak bisa mendampinginya sepanjang hidup.

"Kali ini sengaja kuminta mereka datang bersama, harap aturkan perkawinan untuk kedua orang ini, bila Sui Leng-kong menolak, bujuklah, bila perlu katakan kalau aku tidak akan bertemu lagi dengannya.

"Rindu dengan enso dan keponakan, semoga kalian jaga diri baik-baik. Tertanda, Tiong-tong". Waktu itu Cu Cau, Sui Leng-kong dan dua bersaudara Gi sedang membicarakan tentang asal-usul pemilik pondok Cay-seng yang misterius, secara tiba-tiba orang yang bersangkutan muncul di hadapan mereka. Sambil tersenyum dia memandang Cu Cau dan Sui Leng-kong sekejap, sorot matanya jauh lebih hangat ketimbang tadi, mendadak setibanya di hadapan Cu Cau, dia menjatuhkan diri berlutut. Dengan perasaan terperanjat Cu Cau menegur.

"Saudaraku, mengapa kau menjalankan penghormatan sebesar ini?"

Baru saja dia bangkit berdiri untuk membalas hormat, tapi pemilik pondok Cay-seng telah menekan bahunya agar tetap duduk.

Dua bersaudara Gi maupun Sui Leng-kong ikut tercengang melihat kejadian ini, mereka tidak habis mengerti apa sebabnya pemilik pondok Cay-seng yang misterius melakukan penghormatan besar.

Terdengar pemilik pondok berkata dengan hormat.

"Harap saudara jangan menyebut Hengtay lagi kepadaku, karena kau adalah Toako Thiat Tiong-tong, otomatis merupakan Toakoku juga."

Cu Cau mengawasi rambutnya yang beruban tanpa menjawab. Dalam pada itu Gi Teng telah berseru dengan wajah berubah.

"Thiat Tiong-tong? Apakah yang dimaksud adalah anggota perguruan Tay ki bun yang belakangan menggetarkan sungai telaga dengan julukan sebagai jago pedang tercepat?"

"Benar....

"jawab Cu Cau dan pemilik pondok Cay-seng hampir berbareng, mereka ikut merasa bangga setelah mendengar pujian orang.

"Jadi kau kenal dengannya?"

Tanya Sui Leng-kong pula dengan mata terbelalak.

"Walaupun belum pernah bersua, namun sudah lama kudengar nama besarnya...."

Jawab Gi Teng setelah berpikir sejenak. Kemudian setelah berhenti sesaat, tidak tahan kembali lanjutnya.

"Aku dengar Thiat Tiong-tong pernah mengalahkan si jago pedang berhati ungu Seng-toako serta Ui koan bi gwe, sebetulnya kami berdua pun ingin sekali menjajal kemampuannya."

Satu ingatan segera melintas dalam benak Cu Cau, serunya tidak tahan.

"Jadi kalian dua bersaudara adalah...."

"Mereka adalah Ang eng kiam khek (Jago pedang elang merah) Gi Teng dan saudaranya Cui yan kiam khek (jago pedang walet hijau) Gi Beng, dua jago ternama di antara tujuh jago pedang pelangi lainnya, masa Toako belum tahu akan hal inP"

"Dulu kami memang berniat suatu hari nanti akan mencarinya untuk mengadu kepandaian,"

Ujar Gi Teng sambil tertawa getir.

"tapi setelah menyaksikan kemampuan silat yang Hengtay miliki, aku baru sadar bahwa nama kami sebenarnya hanya kosong belaka."

"Hengtay terlalu merendah."

"Sungguh,"

Sahut Gi Beng cepat.

"terus terang sampai bermimpi pun kepandaian silat kami masih bukan tandingan Toako, bisa diduga kemampuan silat Jite pun pasti amat tangguh, aku pikir pertarungan ini tidak perlu dilangsungkan lagi."

"Kelihatannya adikku cukup tahu diri...."

Ucap Gi Teng sambil tersenyum. Pemilik pondok Cay-seng tertawa tergelak, serunya.

"Hahaha, kalian berdua sungguh polos dan jujur, padahal secepat apapun ilmu pedang yang dimiliki Tiong-tong, belum tentu kemampuannya lebih hebat dari kalian berdua...."

"Bukan Cayhe sengaja membesar-besarkan kemampuan orang,"

Sela Cu Cau sambil tersenyum.

"belakangan ilmu silat yang dimiliki Jite sudah mengalami kemajuan hampir sepuluh kali lipat daripada kemampuannya dulu!"

"Sungguh?"

Teriak pemilik pondok Cay-seng kegirangan.

"Buat apa Cayhe membohongi kalian?"

Dengan wajah penuh kegembiraan pemilik pondok itu mendongakkan kepala dan tertawa tergelak, gumamnya.

"Thian maha pengasih... harapan membangun kembali kejayaan perguruan sudah terbuka...."

Sui Leng-kong terperanjat, serunya tanda sadar.

"Jadi... jadi kau... kau satu perguruan dengan... dengan Tiong-tong!"

Pemilik pondok tidak langsung menjawab, dia termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru mengangguk.

"Benar."

Tidak terlukiskan rasa kaget Cu Cau, Sui Leng-kong serta dua bersaudara Gi, hampir berbareng mereka berteriak.

"Jadi Hengtay adalah anggota perguruan Tay ki bun!"

Pemilik pondok memandang dua bersaudara Gi sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa getir.

"Bukan Cayhe sengaja merahasiakan identitasku, hanya saja... aaaai! Di balik semua ini masih tersimpan rahasia lain."

Dua bersaudara Gi saling bertukar pandang sekejap, lewat sesaat kemudian Gi Beng baru berkata sambil tertawa paksa.

"Ooh, jadi kau kuatir kami bocorkan rahasia itu hingga selama ini mengelabui kami berdua?"

"Aaah, tajam amat perkataan kalian...."

"Sekalipun kami berdua banyak bicara,"

Tukas Gi Beng lagi.

"tapi kalau persoalan itu benar-benar sebuah rahasia besar, tidak nanti rahasia itu akan bocor dari mulut kami."

Pemilik pondok Cay-seng menghela napas panjang.

"Kalau memang begitu, bila aku masih merahasiakan hal ini, berarti aku tidak menganggap kalian sebagai sahabatku."

"Benar,"

Gi Beng tertawa merdu.

"kau tidak boleh merahasiakan lagi di hadapan kami."

"Se... sebenarnya siapakah kau?"

Tanya Sui Leng-kong tergagap. Pemilik pondok Cay-seng menarik kembali senyumannya, dengan wajah berubah serius dan berat, sepatah demi sepatah sahutnya.

"Akulah murid murtad perguruan Tay ki bun...."

"Traaang!", cawan yang berada di tangan Sui Leng-kong tiba-tiba terjatuh hingga hancur berkeping, ditatapnya pemilik pondok itu dengan mata terbelalak, kemudian serunya gemetar.

"Jadi kau... kau adalahToako Tiong-tong?"

"Benar...."

Jawab pemilik pondok sambil tertunduk sedih. Paras muka Gi Teng ikut berubah, jeritnya kaget.

"Berarti Hengtay adalah Im Kian, Im-tayhiap yang... yang mengikat tali perkawinan dengan nona Leng... Toasiocia dari benteng Han hong po?"

Perlu diketahui, peristiwa itu sudah beredar dalam dunia persilatan dan menjadi bahan pembicaraan setiap umat persilatan, bahkan menjadi dongeng yang dipenuhi masalah cinta, petualangan dan tragedi sebuah keluarga.

Pemilik pondok termenung sejenak, sesudah menghela napas berat, sahutnya.

"Betul, aku adalah Im Kian!"

Dengan termangu Gi Beng mengawasi wajah orang itu, lamat-lamat cahaya semu merah menghiasi pipinya.

"Sudah lama kami mendengar tentang kisah ini,"

Gumamnya.

"tak nyana ternyata kau... ternyata kau adalah Im Kian!"

Perlu diketahui, dalam benak kaum wanita, khususnya para gadis muda, kisah romantis yang dipenuhi kemisteriusan apalagi berakhir secara tragis merupakan satu kisah yang amat mempesona.

Entah sudah berapa banyak gadis yang melelehkan air mata karena kisah percintaan itu....

Tapi setelah termenung sejenak, dengan wajah berubah serunya lagi.

"Tapi... tapi... bukankah Im Kian... bukankah dia sudah tewas karena dijatuhi hukuman mati oleh perguruan Tay ki bun?"

"Benar!"

Kembali terjadi kehebohan, paras muka semua orang kembali berubah hebat.

"Lalu... kenapa kau masih... masih hidup hingga kini?"

Im Kian menghela napas panjang, ujarnya.

"Tiong-tong Jite yang telah menyelamatkan jiwaku, coba kalau bukan dia, mungkin saat ini mayatku sudah hancur ditarik lima ekor kuda."

Semua orang menghembuskan napas panjang, mereka hanya bisa saling pandang tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun.

"Hari itu,"

Cerita Im Kian.

"kalau bicara berdasarkan peraturan perguruan, maka aku pasti akan kehilangan nyawaku, itulah sebabnya sebelum ayahku turun tangan, aku telah menghantam ubun-ubunku sendiri dengan harapan bisa menghabisi nyawaku secepatnya."

Gi Beng menghela napas sedih, katanya.

"Kau... masa kau tega turun tangan terhadap diri sendiri? Coba kalau aku... aaai! Tidak nanti aku mampu melakukan tindakan sebrutal itu!"

"Kau anggap anak murid perguruan Tay ki bun adalah manusia macam apa?"

Seru Gi Teng dengan suara dalam.

"bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan seorang nona kecil yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."

Im Kian tertawa getir, ujarnya lebih lanjut.

"Siapa sangka ketika telapak tangan hampir menyentuh ubun-ubunku, mendadak tanganku jadi lemas... aaaai! Ternyata pukulan itu gagal mencabut nyawaku sendiri!"

"Biar berganti orang lain pun belum tentu mereka mampu, bagaimana mungkin bisa menyalahkan dirimu?"

"Namun saat itu aku sudah bertekad untuk mati, oleh karena itu sepeninggal ayahku, meski aku tersadar kembali, tapi aku tetap memohon kepada Thiat Tiong-tong agar memberi sebuah kematian untukku."

"Jadi Thiat Tiong-tong adalah pelaksana hukuman mati itu?"

Tanya Gi Beng.

"Betul,"

Sahut Im Kian dengan wajah sedih.

"Jiteku ini jarang berbicara dan dia kelihatannya paling dingin, paling sadis di antara kami semua, mungkin ayahku kuatir orang lain tidak tega melaksanakan hukuman itu, maka dia yang diberi wewenang padanya menjadi sang algojo."

"Terkadang orang yang nampaknya dingin dan sadis justru memiliki perasaan yang hangat, hanya saja perasaan itu jarang diperlihatkan di hadapan orang banyak."

Tepat sekali,"

Sambung Cu Cau.

"semakin dingin wajahnya, perasaannya justru makin hangat, semakin setia kawan, sekalipun dia jarang memperlihatkan emosinya di hadapan orang, tapi bila emosinya mulai berkobar, maka dia akan jauh lebih hangat ketimbang orang lain."

Perlahan-lahan Sui Leng-kong menunduk-kan kepala dan berpikir dengan sedih.

"Tapi sikapnya kepadaku mengapa begitu tidak berperasaan, begitu dingin dan hambar...."

Berpikir sampai di situ, tidak kuasa lagi butiran air matanya jatuh berlinang.

Dari mana dia tahu, ketika cinta sudah mencapai puncaknya, maka perasaan itu akan semakin menipis, tidak berperasaan justru menunjukkan kalau dia sangat perasa.

Im Kian menghela napas panjang, katanya.

"Perkataan kalian berdua tepat sekali, Jiteku memang sangat perasa dan setia kawan, biarpun aku memohon kepadanya untuk menghabisi nyawaku, dia justru memaksa aku untuk tetap hidup."

"Dengan begitu... bukankah dia pun telah melanggar peraturan perguruan Tay ki bun?"

Tanya GiBeng.

"Tidak melaksanakan tugas sebagai pelaksana hukuman memang merupakan salah satu pelanggaran besar dalam perguruan Tay ki bun, dosanya sama beratnya dengan sebuah pengkhianatan atau bersekutu dengan musuh!"

"Berarti hukumannya Ngo be hun si (lima kuda memisahkan badan)?"

"Benar!"

Tanpa terasa semua orang menghembuskan napas dingin.

"Jadi dia... dia tidak segan menerima hukuman ditarik lima kuda dan tetap menolong nyawamu?"

Seru Gi Beng tertegun.

"besar amat nyalinya!"

Im Kian termenung beberapa saat, kemudian baru menjawab.

"Hal ini disebabkan hubungan persaudaran di antara kami berdua memang sangat mendalam, tapi selain itu masih ada alasan lain yang lebih besar."

"Masih ada alasan lain? Alasan apa?"

Dengan perasaan tercengang semua orang bertanya.

"Karena dia tidak tega menyaksikan anggota perguruan Tay ki bun secara turun temurun harus menjalani nasib yang sama, menciptakan tragedi yang sama. Dia mengambil keputusan akan mengubah jalan hidup serta nasib perguruan Tay ki bun, dia ingin seluruh dendam permusuhan yang telah berlangsung puluhan tahun, berakhir di tangannya! Dia berharap tragedi paling memilukan yang pernah terjadi dalam dunia persilatan bisa terhapus untuk selamanya...."

Semua orang tertegun, terperangah dibuatnya, hingga kini semua orang termasuk Cu Cau dan Sui Leng-kong baru tahu, ternyata Thiat Tiong-tong sedang memikul tanggung jawab dan beban yang begitu berat.

"Itulah sebabnya dia minta kepadaku untuk hidup terus,"

Kata Im Kian lebih jauh.

"paling tidak menunggu sampai menyaksikan sendiri berakhirnya drama memilukan ini."

"Dan kau... kau mengabulkan permintaan-nya?"

Tanya Gi Beng.

"Aaaai, sekalipun aku sudah bertekad untuk mati, walaupun aku tidak berani melanggar peraturan perguruan, namun setelah mendengar harapannya, bagaimana mungkin permintaannya bias ku tolak?"

Gi Beng menghembuskan napas lega, pujinya dengan tersenyum.

"Benar, tindakan semacam inilah baru pantas disebut tindakan seorang lelaki sejati!"

"Tapi saat itu luka yang kuderita sangat parah, dia pun tidak mampu membagi diri untuk merawat lukaku, dia harus berlagak seolah-olah sudah menjalankan hukuman mati itu dan memberi pertanggung jawaban kepada ayahku."

"Lantas apa daya?"

Tanya Gi Beng dengan kening berkerut.

"Waktu itu hujan sedang turun dengan derasnya, dengan menempuh hujan deras dia berlari sejauh puluhan li untuk mencari sebuah kereta besar, kemudian dengan kereta itu dia mengantar aku ke sebuah rumah penginapan kecil yang berada puluhan li jauhnya, sepanjang jalan secara beruntun dia merampok enam belas rumah dan nengumpulkan uang sebanyak tiga ribu tahil perak dan lima ratus tahil emas murni. Dengan bekal itu dia minta kepadaku untuk berdiam di kaki bukit Ong wo san, mengobati luka di situ sambil nenunggu kabar beritanya, selesai mengatur segala tesuatunya dia baru kembali ke perguruan untuk nemberi laporan. Aaaai! Dalam semalaman dia udah bolak-balik melakukan pekerjaan berat, aku telah membuatnya tersiksa."

"Apa?"

Teriak Sui Leng-kong kaget.

"dia... dia sudah merampok enam belas rumah?"

Im Kian tertawa getir, katanya.

"Bukan saja telah merampok enam belas rumah, bahkan telah membunuh seorang tuan rumah setempat dan menggunakan mayatnya untuk menggantikan posisiku, menjalani hukuman dipisah dengan lima ekor kuda!"

"Tapi ini... ini...."

Seru Sui Leng-kong gemetar.

"Begitulah baru pantas disebut tindakan seorang Toa-enghiong, Toa-hokiat,"

Tukas Gi Beng sambil menghela napas.

"kalau ingin melakukan tindakan yang menggemparkan, kita memang tidak boleh terikat oleh segala macam peraturan tetek bengek."

"Bagus, bagus sekali!"

Seru Cu Cau pula sambil tertawa tergelak dan bertepuk tangan.

"tindakan yang dilakukan Jiteku memang sangat memuaskan, perkataan nona pun amat memuaskan! Benar-benar tidak malu disebut Li-hokiat (orang gagah wanita), aku sungguh merasa kagum!"

"Hanya sayang perkataannya kelewat banyak,"

Sela Gi Teng sambil tersenyum.

"orang lain baru berbicara sepatah kata, dia sudah bertanya sepuluh persoalan."

Tampaknya dia sendiri pun tidak tahan untuk mengetahui kejadian selanjutnya, tanyanya.

"Lantas bagaimana selanjutnya?"

"Dengan melarikan kereta kuda tanpa berhenti, akhirnya tibalah aku di kaki bukit Ong wo san dan menetap di sini, tapi saat itu rumah yang kugunakan hanya dua buah gubuk bekas milik tukang penebang kayu yang sudah reyot, yang kubeli dengan uang tiga ratus tahil perak, dengan uang penjualan rumah itu si tukang penebang kayu membuka sebuah rumah makan kecil di sisi bukit sana, tampaknya kehidupannya cukup bahagia, sampai belakangan, dia masih sering datang kemari untuk mengobrol sambil membawa lima kati arak wangi untukku."

Berbicara sampai di sini, sekulum senyuman tampak tersungging di wajahnya yang murung.

"Dengan tiga ratus tahil perak untuk membeli dua buah gubuk reyot, tidak aneh jika kakek itu sangat berterima kasih kepadamu ujar Gi Beng sambil tertawa.

"tapi siapa pula yang merombak rumah gubuk reyot menjadi rumah pertapaan semacam sekarang ini?"

"Sejak berdiam di sini, hampir dua bulan lamanya aku tidak berhasil mendapat kabar berita darinya... aaai! Waktu itu aku benar-benar menguatirkan keselamatan jiwanya."

Sekulum senyuman tersungging di wajah Sui Leng-kong, ujarnya perlahan.

"Waktu itu... waktu itu dia terjerumus ke dalam jurang dan bertemu aku."

"Benar,"

Im Kian mengangguk.

"setelah kejadian, dia sempat menceritakan peristiwa itu kepadaku, saat itulah perasaanku jadi lega, sewaktu datang dia pun menghadiahkan sejumlah harta yang tidak temilai harganya untukku."

Setelah berhenti sejenak, terusnya sambil tertawa.

"Konon harta karun itu pun diperoleh dari tempat tinggalmu."

"Benar. Dia membagi harta itu menjadi beberapa bagian dan memberitahukan kepadaku kegunaan dari setiap bagian itu, tapi hanya ada satu bagian harta yang tidak pernah dijelaskan kepadaku, sampai sesaat sebelum kau bercerita, aku masih belum tahu apa kegunaannya, karena dia tidak pernah mau menjelaskan hal itu, tapi sekarang...."

Sui Leng-kong tertawa manis, terusnya.

"Sekarang aku baru tahu apa gunanya."

"Hahaha, sekarang aku pun sudah tahu kenapa pondok tempat tinggalmu nampak begini indah dan mewah, semula kusangka kau adalah pensiunan perampok yang hidup mengasingkan diri,"

Seru Cu Cau sambil tertawa tergelak.

"Dia yang memaksa aku menggunakan uang itu untuk membangun rumah ini serta bergaul dengan sahabat dunia persilatan,"

Kata Im Kian sambil tersenyum.

"bahkan sebagai pelengkapnya dia mengirim juga dua orang bocah lelaki untuk melayani keperluan tamu."

"Kedua bocah itu dia beli dari Hun Kiok-hoa,"

Sui Leng-kong menjelaskan sambil tertawa. Tiba-tiba Im Kian menghela napas panjang, katanya.

"Semenjak berpisah di tengah hujan deras malam itu, hingga sekarang aku belum pernah bersua lagi dengannya, entah saat ini dia...."

"Saat ini, bukan saja ilmu silatnya bertambah maju, kesehatan tubuhnya juga bagus sekali,"

Kata Cu Cau sambil tertawa.

"Sebenarnya dia sudah berjanji, dalam dua hari mendatang akan datang menengokku, persoalan apa sih yang membuat kedatangannya tertunda?"

Secara ringkas Cu Cau pun menceritakan kisah perjumpaannya dengan Thiat Tiong-tong hingga dia diminta datang ke situ.

Kisah ini penuh dengan liku-liku, yang membuat Im Kian menghela napas berulang kali, sedang dua bersaudara Gi pun hanya bisa mendengarkan dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Lewat beberapa saat kemudian, Gi Teng baru berkata sambil tertawa getir.

"Tokoh semacam ini memang tidak malu disebut seorang lelaki sejati, sungguh menggelikan, ternyata aku malah ingin mencarinya untuk berduel."

"Beruntung kita kenal dulu dengan Im-toako serta Cu-toako,"

Sambung Gi Beng sambil tertawa.

"seandainya benar-benar terjadi pertarungan, mungkin pihak kami berdualah yang bakal menderita kerugian besar."

Maka Im Kian pun menyajikan sayur dan arak untuk menjamu tamu-tamunya. Malam itu, ketika semua orang telah pergi beristirahat, seorang diri Im Kian mengajak Sui Leng-kong bertemu di dalam hutan bambu.

"Nona,"

Ujarnya.

"Jite berharap kau bersedia melakukan satu hal untuknya, apakah kau sudah tahu?"

"Tidak,"

Sahut Sui Leng-kong keheranan. Im Kian tertawa getir, katanya lagi.

"Sekalipun di mulut kau mengatakan tidak tahu, padahal dalam hati kecilmu sudah tahu dengan jelas bukan."

Tiba-tiba sepasang mata Sui Leng-kong berubah jadi merah, bisiknya dengan kepala tertunduk.

"Apapun yang dia minta, aku pasti akan menyetujuinya, tapi... tapi aku tidak bakal kawin dengan oranglain!"

"Cu-toako adalah seorang berbakat hebat, dia Bun bu coan cay, boleh dibilang...."

"Aku tidak pernah mengatakan Cu-toako tidak baik, tapi... biar dia sepuluh kali, seratus kali lebih hebat pun, aku tidak bakal kawin dengannya!"

Im Kian tertegun sehabis mendengar perkataan itu, sesudah menghela napas, katanya kemudian.

"Aku pun tahu cintamu terhadap Jite sangat mendalam, tapi... aaaai! Nasib mempermainkan manusia, siapa suruh kalian berdua masih terhitung saudara."

Akhirnya Sui Leng-kong tidak sanggup menahan rasa sedihnya lagi, dia menangis terisak.

"Lelaki dewasa akan menikah, wanita dewasa akan dinikahkan, kalau kalian berdua...."

"Apapun alasannya aku tidak bakal kawin dengannya!"

Tukas Sui Leng-kong sambil menghentakkan kakinya. Kembali Im Kian termenung beberapa saat.

"Jangan lupa,"

Katanya kembali.

"saat ini kau pun terhitung anggota perguruan Tay ki bun, sudah sepantasnya kau memikirkan masa depan perguruan...."

"Apa urusannya aku tidak kawin dengan masa depan perguruan?"

"Sekalipun tidak ada urusannya, tapi demi membangun kejayaan perguruan Tay ki bun, kita butuh bantuan para Enghiong dari seluruh kolong langit, tokoh silat macam Cu-toako jelas merupakan bantuan yang luar biasa."

"Jadi maksudmu, aku... aku harus kawin dengannya demi kepentingan perguruan Tay ki bun, agar dia mau membantu kita membela perguruan?"

Seru Sui Leng-kong dengan mata terbelalak.

"Benar! Jika Kaisar malam mau bergabung dengan perguruan Tay ki bun, maka situasi akan berubah total, banyak rahasia yang selama ini tertutup pun akan segera tersingkap."

"Atas dasar apa aku harus berkorban demi perguruan Tay ki bun?"

Air mata makin deras bercucuran membasahi pipi nona itu.

"Karena kau adalah keturunan keluarga Thiat, karena kau adalah putra-putri perguruan Tay ki bun, inilah kehendak Thian!"

Sekujur tubuh Sui Leng-kong gemetar keras, dengan kepala tertunduk dia menangis makin sedih.

Im Kian sendiri pun merasa dadanya berombak, lewat sesaat kemudian dia baru berkata lagi sambil menghela napas.

"Ketahuilah, gara-gara pertikaian ini, sudah banyak anggota perguruan yang mengorbankan diri generasi demi generasi. Selama seratus tahun terakhir, belum pernah ada keturunan perguruan Tay ki bun yang kabur atau bersembunyi dari kenyataan, kau sebagai keturunan Tay ki bun, anggap saja hal ini merupakan ketidak beruntunganmu."

Isak tangis Sui Leng-kong bertambah keras, nadanya bertambah sedih. Sepasang mata Im Kian turut berkaca-kaca, kembali dia menghela napas panjang.

"Apalagi kau adalah kekasih Jite, sudah seharusnya kau pun memahami maksud hatinya, kau berkewajiban membantunya agar apa yang dicita-citakan dapat tercapai."

Tapi... tapi...."

"Dengan berbuat begitu, bukan saja kau telah menyelesaikan tugasmu sebagai keturunan Tay ki bun, kau pun telah melaksanakan keinginannya, jika kau memang mencintainya, mengapa ragu untuk berkorban deminya? Lagi pula pengorbananmu tidak terhitung seberapa bila dibandingkan pengorbanan orang lain, masa kau tidak bisa membayangkan penderitaan dan siksaan yang dialami anggota perguruan Tay ki bun lainnya? Sejarah Tay ki bun memang tertulis di atas genangan darah dan cucuran air mata putra-putrinya!"

Perkataan itu ibarat pecut yang menghajar setiap bagian tubuh Sui Leng-kong, bagai tusukan jarum tajam yang menghujam di lubuk hatinya.

Siapa yang tidak luluh perasaannya setelah disodori kenyataan semacam ini?

Sui Leng-kong tertunduk sambil menangis, lama dan lama kemudian ia baru mendongakkan kepala.

"Baiklah!"

Dia berseru. Kelihatannya Im Kian tidak menyangka kalau secepat itu si nona akan menyanggupi permintaannya, dia malah tertegun.

"Apa?"

"Aku menyanggupi perrnintaanmu!"

Sekali lagi Sui Leng-kong tertunduk sedih.

Sebetulnya kejadian ini merupakan satu peristiwa yang menggembirakan, namun Im Kian justru merasa hatinya kecut dan pedih.

Sampai lama sekali dia baru dapat berbicara lagi.

"Nah, begitulah baru anak baik, tidak menyia-nyiakan pengharapan Jite... terhadapmu, selama hidup dia akan berterima kasih kepadamu...."

Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang dari luar hutan bambu. Menyusul kemudian terdengar Cu Cau berseru sambil tertawa tergelak.

"Di tengah malam secerah ini, siapa yang bisa terlelap tidur? Bagaimana pendapat kalian berdua?"

"Entah tuan rumah sudah tertidur belum?"

Terdengar pula Gi Beng berkata sambil tertawa. Buru-buru Im Kian berdehem, sahutnya cepat.

"Tidak nyana kalian masih begadang, kebetulan aku pun belum tertidur."

"Hahaha, bagus, bagus sekali,"

Cu Cau tertawa tergelak.

"Ternyata tuan rumah berada di sini. Orang kuno bilang, paling asyik berpesiar di tengah malam dengan membawa lilin, meski kami tidak membawa lilin, rasanya tidak akan mengurangi keindahan malam bukan?"

Di tengah gelak tertawa, terlihat Cu Cau bersama Gi Teng dan Gi Beng melangkah masuk ke dalam hutan. Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, kembali Gi Beng berseru sambil tertawa.

"Ternyata Enci Sui juga berada di sini, hayo, apa yang sedang kalian bicarakan? Boleh kami ikut mendengarnya?"

Diam-diam Sui Leng-kong menyeka air matanya, lalu tertawa paksa.

"Aaah, tidak ada yang dibicarakan!"

Buru-buru sahutnya. Tergerak pikiran Im Kian, cepat selanya.

"Benar, kami berdua sedang membicarakan satu masalah besar."

"Masalah besar apa?"

Sepasang mata Gi Beng terbelalak makin lebar.

"Membicarakan masalah perkawinan adikku ini,"

Ujar Im Kian sambil melirik Sui Leng-kong sekejap. Gi Beng dan Gi Teng segera bertepuk tangan sambil bersorak, serunya sambil tergelak.

"Dalam suasana malam seindah ini, memang paling cocok digunakan untuk membicarakan soal perkawinan, kalian berdua tidak seharusnya merahasiakan lagi persoalan ini."

Sementara paras muka Cu Cau kelihatan agak berubah, setelah berpikir sejenak, ujarnya.

"Kalau begitu kedatangan kami yang ceroboh telah mengganggu pembicaraan kalian berdua?"

"Justru persoalan ini menyangkut dirimu,"

Seru Im Kian tertawa. Gi Beng segera memandang Sui Leng-kong sekejap, kemudian memandang pula wajah Cu Cau, akhirnya sambil mengedipkan matanya berulang kali ia bergumam.

"Jangan-jangan antara dia... dengan dia?"

Tiba-tiba Sui Leng-kong menutup wajahnya, lalu kabur meninggalkan tempat itu. Tampaknya Cu Cau sendiri pun tidak tahu harus merasa kaget atau girang, teriaknya pula.

"Adikku, masa kau menggoda aku?"

Memandang bayangan tubuh Sui Leng-kong yang menjauh, perasaan kecut dan sedih kembali menyelimuti hati Im Kian, tapi di luar katanya sambil tertawa.

"Mana berani Siaute menggoda Toako, aku justru ingin menagih secawan arak kegirangan darimu."

"Bagus, bagus"

Kembali Gi Beng bertepuk tangan sambil tertawa.

"Cu-toako memang merupakan pasangan yang paling ideal buat Enci Sui."

"Boleh tahu, perkawinan ini kapan baru diselenggarakan?"

Tanya Gi Teng. Im Kian berpikir sejenak, sahutnya kemudian.

"Sekalipun belum ditentukan, tapi makin cepat semakin baik."

"Memang seharusnya begitu, toh kita semua adalah orang persilatan, buat apa mesti mengurus segala tetek-bengek, mau hari baik atau tidak, rasanya tidak jadi soal, lebih baik kita tetapkan saja pada...."

"Bagaimana kalau kita tetapkan tiga hari kemudian?"

Usul Gi Teng tiba-tiba. Im Kian melirik Cu Cau sekejap, katanya sambil tertawa.

"Soal ini...."

Waktu itu Cu Cau benar-benar tertegun, saking tertegunnya sampai tak mampu bicara. Sampai lama kemudian dia baru tertawa tergelak, katanya.

"Mana mungkin aku menjadi pria yang sok malu-malu kucing, baik, tiga hari kemudian...."

"Puas, puas, Cu-toako memang seorang lelaki sejati,"

Puji Gi Beng sambil bertepuk tangan.

"memang hanya lelaki macam kau yang pantas mendampingi nona Sui."

"Kebetulan tempat tinggalku berada tidak jauh dari sini,"

Kata Gi Teng sambil tertawa.

"bagaimana kalau Siaute segera memerin-tahkan orang untuk mempersiapkan segala keperluan perkawinan, hahaha, tentu saja ditambah beberapa guci arak wangi untuk kita tenggak sampai mabuk."

"Kalau begitu... merepotkan kalian berdua untuk mempersiapkan nya,"

Sahut Im Kian.

"Aaah, merepotkan apa, kami justru tidak menyangka kalau kedatangan kali ini bakal menghadiri satu pesta perkawinan akbar, sungguh bagus... bagus sekali...."

Tiga hari kemudian, pondok Cay-seng sudah dihiasi dengan berbagai pernik perkawinan, suasana dalam ruang utama pun amat meriah dengan lilin merah yang memancarkan cahaya terang.

Sebentar lagi sepasang pengantin baru akan menjalani upacara perkawinan.

Tapi siapa yang menduga bahwa di balik meriahnya suasana perkawinan justru tersimpan sebuah tragedi yang menyedihkan?

Cu Cau dan "Cu"

Leng-kong segera akan menjadi suami istri, sementara Thiat Tiong-tong dan Kaisar malam masih berada ribuan li jauhnya dari tempat itu, meski mereka menempuh perjalanan siang malam, waktu sudah tidak sempat lagi.

Apalagi saat itu mereka berdua memang mustahil bisa tiba di sana!

Kecuali mereka berdua, siapa lagi yang mengetahui rahasia di balik semua ini?

Kecuali mereka berdua, siapa pula yang bisa mencegah terjadinya drama yang amat tragis ini?

BAB 30 Tragedi Manusia Paras muka Kaisar Malam hijau membesi, lama kemudian dia baru bertanya.

"Kau serahkan masalah perkawinan Lengkong dengan Cau-ji kepada siapa? Kini orang tersebut berada di mana?"

"Dia adalah Toakoku, Im Kian, saat ini berada di bawah bukit Ong wo san."

"Bukit Ong wo san...."

Gumam Kaisar Malam, mendadak ia melompat bangun sambil berteriak keras.

"Dengan kecepatan kita berdua, kalau berangkat sekarang, mungkin masih sempat untuk menghalangi terselenggaranya perkawinan itu."

"Jadi Empek akan ikut?"

Tanya Thiat Tiong-tong kegirangan. Kaisar malam menghela napas panjang.

"Aaaai, kecuali Jit-ho Nionio yang meminta, sebetulnya tidak ada persoalan lain yang bisa memaksaku meninggalkan gua ini, tapi persoalan itu... persoalan ini...."

Setelah menghentakkan kakinya berulang kali, serunya keras.

"Bagaimanapun juga demi persoalan ini aku harus berangkat sendiri!"

Kemudian dengan suara keras dia memanggil semua nona yang ada dalam gua agar segera berkumpul.

"Ada apa?"

Tanya San-san dengan wajah mengantuk.

"Apakah ingin menambah arak?"

"Menambah arak apa? Siapkan perbekalan, aku harus pergi dari sini!"

Begitu mendengar "aku harus pergi", bagaikan disambar petir di siang hari bolong, paras muka kawanan gadis itu berubah hebat.

"Mau pergi... ada urusan apa?"

Tanya San-san dengan suara gemetar.

"Tentu saja ada urusan penting!"

"U... urusan apa?"

"Sudah, tidak usah banyak tanya,"

Hardik Kaisar malam gusar.

"cepat siapkan perbekalan untukku, cepat! Cepat!"

Padahal selama ini dia selalu hidup santai dan tenang, tapi begitu pikirannya kalut ditambah perasaannya amat cemas, wataknya kontan berubah jadi berangasan dan kasar.

Bagaimana mungkin kawanan gadis itu bisa memahami perasaannya?

Sepuluh tahun hidup berdampingan, Kaisar malam selalu bersikap lemah lembut terhadap mereka, sikap itu tidak pernah berubah, tapi sekarang tiba-tiba wataknya berubah seratus delapan puluh derajat, berubah jadi berangasan, kasar dan gampang naik darah, bahkan cara bicara pun amat kasar.

Sampai mimpi pun mereka tidak tahu karena apa sikap lelaki itu berubah drastis, untuk sesaat mereka hanya bisa saling pandang sementara air mata mulai jatuh bercucuran.

Dengan air mata berlinang dan kepala tertunduk, San-san berjalan meninggalkan tempat itu, tapi setibanya di luar pintu, tidak tahan dia berpaling lagi seraya bertanya.

"Setelah... setelah kepergianmu kali ini, apakah kau... kau akan kembali lagi?"

Tidak tega juga perasaan Kaisar malam setelah menyaksikan mimik muka para gadis itu, dia menghela napas panjang.

"Kalian tidak usah kuatir, aku pasti akan balik kemari"

"Kaa... kapan baru balik?"

Tanya Cui-ji Kaisar malam berpikir sejenak, kemudian menggeleng.

"Aku sendiri pun tidak tahu,"

Katanya.

"tapi pasti tak akan terlalu lama."

Kawanan gadis itu semakin sedih setelah mendengar dia tidak bersedia mengatakan sampai kapan baru akan balik.

"Apakah kami... kami tidak bisa diajak serta?"

Tanya San-san kemudian.

"Aaaai... persoalan ini... kalian tidak bisa ikut."

"Kenapa kami tidak boleh ikut? Sebenarnya karena persoalan apa?"

Air mata San-san berlinang makin deras. Saat itu pikiran Kaisar malam sedang dicekam kecemasan dan kepanikan, pertanyaan yang bertubi-tubi membuat amarahnya kembali berkobar, tukasnya.

"Sudah, jangan bertanya lagi, pokoknya kalian tidak bisa ikut, tidak usah bertanya lagi kenapa tidak boleh ikut."

Sekujur tubuh kawanan gadis itu gemetar keras, tidak menanti perkataan itu selesai diucapkan, mereka sudah berlari masuk sambil menutupi wajah sendiri, menutupi wajah sambil menangis tersedu-sedu Mereka sudah melewati belasan tahun kehidupan yang tenang, tenteram dan penuh kegembiraan, pukulan batin yang muncul secara tiba-tiba membuat mereka tidak mampu menahan diri, terlihat ada beberapa orang di antaranya yang berlari dengan tubuh gontai, belum sempat keluar pintu, mereka sudah roboh tak sadarkan diri.

Thiat Tiong-tong yang menyaksikan kejadian inipun ikut merasakan hatinya pedih, diam-diam dia menghela napas panjang, dia cukup memahami perasaan orang tua itu, dan dia pun tidak ingin menjelaskan alasan perjalanan ini kepada kawanan wanita itu.

Sementara itu Kaisar malam telah berpaling ke arah lain, berpaling memandang ke arah dinding ruangan, dia tidak lagi memandang ke arah kawanan perempuan itu walau hanya sekejap, namun mimik mukanya nampak sangat pedih, perubahan wajahnya sulit dilukiskan dengan perkataan.

Entah berapa saat sudah lewat, tiba-tiba terdengar suara getaran yang amat keras bergema di seluruh ruangan, sedemikian kerasnya suara getaran itu membuat seluruh ruang gua itu bergoncang keras, piring mangkuk berjatuhan, bumi serasa bergoyang tiada hentinya.

Dengan wajah berubah, teriak Kaisar malam kaget.

"Apa yang terjadi?"

Cepat dia melompat keluar.

Buru-buru Thiat Tiong-tong menyusul dari belakang, setelah melewati berapa bilik, lamat-lamat mereka mulai mengendus bau mesiu yang sangat menusuk hidung diikuti batu dan pasir yang beterbangan di udara, suasana di situ persis seperti gunung berapi yang meletus.

Tampak San-san, Cu-ji serta Min-ji perlahan-lahan berjalan keluar dari balik asap dan debu, rambut mereka bertiga awut-awutan tidak keruan, paras muka mereka pucat-pias bagai mayat.

"Karena kalian akan meninggalkan kami, maka sekarang jangan harap kau bisa pergi dari sini!"

Ujar Min-ji sambil tertawa bodoh. Tidak terlukiskan rasa gusar Kaisar malam menghadapi kejadian ini, dengan rambut berdiri tegak bagai landak, dia cengkeram tubuh san-san, kemudian bentaknya.

"Apa yang terjadi?"

San-san masih tertawa bodoh, sahutnya.

"Kami telah meledakkan lorong rahasia ini dengan sisa obat peledak yang digunakan untuk membuka lorong gua ini dulu."

"Apa? Meledakkan lorong rahasia ini?"

Teriak Kaisar malam dengan hati terperanjat.

"Benar!"

Sahut Cui-ji sambil tertawa bodoh pula.

"seluruh lorong rahasia ini sudah hancur berantakan, siapa pun jangan harap bisa keluar dari sini. Kami telah mengorbankan segala sesuatunya demi kau, maka kau pun harus selamanya menemani kami."

Kaisar malam membentak keras, dia langsung menampar wajah San-san dengan keras. Tapi San-san masih berdiri bodoh, katanya sambil tertawa.

"Hajarlah, biar dihajar sampai mampus pun jangan harap kau bisa pergi dari sini..."

Tiba-tiba tubuhnya jadi lemas dan segera roboh terjungkal ke tanah.

Kawanan gadis yang lain menjerit kaget, sedang Kaisar malam menghentakkan kakinya berulang kali, di antara sekian orang hanya Thiat Tiong-tong seorang yang tetap menjaga ketenangannya.

Sesudah berpikir sejenak, pemuda itu berteriak keras.

"Sewaktu Siautit masuk kemari tadi, pintu lorong sebelah atas tidak sempat kututup kembali."

"Benar,"

Seru Kaisar malam penuh semangat.

"ayo cepat kita ke sana!"

Buru-buru kedua orang itu berlari keluar dari dalam lorong, meninggalkan kawanan gadis yang masih menjerit sambil menangis tersedu-sedu.

Siapa tahu begitu tiba di ujung lorong, mereka lihat satu-satunya pintu keluar yang tersisa pun entah sedari kapan telah ditutup orang.

Kini seluruh lorong gua tercekam dalam kegelapan yang luar biasa, tidak nampak secercah cahaya pun di situ.

Dengan tertutupnya jalan keluar yang tersisa, berarti pupus sudah pengharapan mereka yang terakhir.

Sekalipun Thiat Tiong-tong memiliki tubuh yang keras bagai baja, tidak urung gemetar juga saat itu, dia merasa tangan dan kakinya dingin membeku, sepasang lututnya jadi lemas, nyaris dia jatuh terduduk di tanah.

Tiba-tiba terdengar Kaisar malam membentak nyaring, di tengah bentakan keras, tubuhnya melambung ke udara, secara beruntun dia melepaskan dua buah pukulan langsung yang diarahkan ke pintu keluar gua karang itu.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kedua pukulan yang dilancarkan Kaisar malam dengan segenap tenaga itu, kehebatannya tidak terlukis-kan dengan perkataan.

Terdengar suara getaran yang memekakkan telinga berkumandang di angkasa, dinding karang di sekeliling tempat itu bergoncang keras, suara pantulan yang menusuk pendengaran bagaikan gulungan ombak yang memecah di tepian bergema tiada hentinya.

Hanya suara pantulan yang dihasilkan, sementara batu karang itu sama sekali tidak bergeming, biarpun tenaga pukulan itu sangat hebat, ternyata tetap tidak mampu menandingi kekuatan alam.

Bagaimana mungkin kekuatan manusia bisa menghancurkan batu karang yang sudah terbentuk sejak ribuan tahun berselang dan setiap hari terlatih menerima pukulan ombak dahsyat?

Tubuh Kaisar malam naik turun tiada hentinya, secara beruntun sepasang tangannya melancarkan serangkaian serangan berantai, dalam waktu sekejap, kembali belasan pukulan telah dilontarkan, tapi sayang seluruh kekuatan yang dikerahkan hanya sia-sia belaka.

Sampai pada akhirnya Pa-ong (raja bengis) ini putus asa, setelah mendongakkan kepala dan menghela napas panjang, dia pun menjatuhkan diri berbaring di atas tanah.

Secercah cahaya api muncul dari belakang lorong, Cui-ji serta Min-ji dengan membawa obor berjalan keluar dari balik tikungan, cahaya api menyinari wajah mereka yang pucat, menyinari butiran air mata yang berlinang, menyinari tubuh Kaisar malam yang telentang melingkar di tanah, menyinari pula rambutnya yang putih beruban serta wajahnya yang penuh dengan cucuran darah....

Sekarang jagoan tangguh dari dunia persilatan itu benar-benar sudah runtuh, benar-benar sudah hancur pikirannya, tiada cahaya lagi di kolong langit yang mampu menyinari keputus asaan serta kepedihan yang mencekam perasaannya.

Dengan air mata bercucuran Thiat Tiong-tong berpaling ke arah lain, tidak tega menyaksikan semua itu, dia mengalihkan sinar matanya, mengawasi sejumlah makanan yang berceceran di atas tanah.

Terdengar Cui-ji berkata dengan suara gemetar.

"Lain kali, ketika si nenek datang mengantar makanan lagi, dia pasti akan membukakan pintu rahasia ini untukmu, mohon... kumohon... janganlah kelewat bersedih hati... mau bukan?"

"Tidak ada lain kali, tidak bakal ada yang datang mengantar makanan lagi,"

Kata Thiat Tiong-tong.

"Ke... kenapa?"

Tanya Cui-ji, suaranya selain gemetar, juga terdengar sangat parau.

"Sewaktu si nenek datang mengantar nasi semalam, dia telah menjumpai pintu gua dalam keadaan terbuka dan Empek Cu tidak diketahui keberadaannya, dia pasti menyangka dia orang tua telah pergi dari sini."

Setelah menyapu sekejap makanan yang berserakan di tanah, lanjutnya.

"Coba lihat, dia membuang dengan begitu saja makanan yang dibawa, jelas hal ini menunjukkan hatinya sangat terperanjat, bisa jadi dia telah melakukan pencarian di seputar sini, namun akhirnya pulang dengan kecewa, bisa jadi dia pun sekalian menyumbat mati jalan keluar gua ini. Karena menganggap gua ini sudah berada dalam keadaan kosong, tentu saja dia tidak akan datang kemari lagi."

Sebenarnya dia tidak tega untuk mengungkap kenyataan yang memedihkan hati dan penuh dengan keputusasaan ini, namun berhadapan dengan manusia luar biasa macam Kaisar malam, dia berpendapat daripada menyembunyikan kenyataan itu dalam hati, lebih baik mengatakannya secara terus terang.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang memedihkan berkumandang memecahkan keheningan.

"Lebih baik tersumbat semua..."

Teriak San-san sambil tertawa sedih.

"lebih baik selamanya tertutup, selamanya tidak ada lagi yang datang, kalau ingin hidup, kita harus hidup bersama, kalau ingin mati, kita pun harus mati bersama!"

Di tengah suara tertawanya yang mengenaskan, San-san dengan rambut awut-awutan telah muncul diiringi kawanan gadis lainnya, saat itu pipinya merah membengkak, sepasang mata yang indah pun sudah merah bengkak karena menangis, dia memang kelihatan sangat menyedihkan.

Namun bagi pandangan Thiat Tiong-tong, dia sama sekali tidak menaruh perasaan iba terhadap otak dari semua permasalahan ini, sebaliknya api amarah yang luar biasa justru berkecamuk dalam benaknya.

Begitu melihat kemunculan perempuan itu, dengan gusar bentaknya.

"Tahukah kau, karena apa dia orang tua harus pergi dari sini?"

"Kenapa? Kenapa? Katakan, kenapa?"

Jerit San-san.

"Karena...."

Hanya sepatah kata itu saja yang meluncur keluar dari mulut pemuda itu, dia segera bungkam dan tidak bicara lagi, sebab peristiwa itu memang sangat tragis, bagaimana mungkin dia tega mengutarakannya?

Tiba-tiba Kaisar malam melompat bangun, ditatapnya wajah San-san dengan sorot tajam, katanya.

"Kau ingin tahu kenapa? Baik! Biar aku beritahukan kepadamu."

Saat itu jidatnya yang membentur dinding karang masih mengucurkan darah segar, namun sorot matanya yang penuh keputus asaan dan kemurkaan justru nampak lebih merah ketimbang darah.

Bergidik hati San-san menyaksikan sorot mata yang menakutkan itu, tanpa sadar dia mundur dua langkah.

Dengan suara yang menyeramkan, kembali Kaisar malam melanjutkan.

"Aku harus pergi dari sini karena kalau aku tidak bisa menyusul ke bukit Ong wo san, putri kandungku akan menikah dengan putra kandungku!"

Biarpun perkataan itu diungkap dengan kalimat sederhana, namun di balik kesederhanaan justru tersimpan satu kisah yang sangat tragis, membuat siapa pun yang mendengar, bukan saja segera dapat meresapi, bahkan ikut merasakan kesedihan yang luar biasa.

Kawanan gadis itu tidak kuasa menahan diri lagi, mereka sama-sama menjerit kaget, malah ada beberapa orang di antaranya yang mundur dengan tubuh gontai.

Sambil menutupi mulutnya dengan kedua belah tangan, San-san memandang tertegun ke arah Kaisar malam, lama sekali dia termangu, kemudian baru bisiknya gemetar.

"Kau...."

Baru mengucapkan sepatah kata, lagi-lagi si pembuat keonaran ini roboh tidak sadarkan diri.

Cui-ji maupun Min-ji sudah dibuat termangu saking kagetnya, tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut sambil serunya.

"Kami... kami minta maaf...."

Isak tangis pun segera bergema memenuhi seluruh lorong.

Para gadis yang berada di belakang ikut menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu, dalam waktu singkat suasana di tempat itupun menjadi ramai dengan suara tangisan.

Tiba-tiba Kaisar malam tertawa seram, teriaknya.

"He, apa yang kalian tangisi? Aku tidak menyalahkan kalian... mungkin... mungkin Thian menghukum dosaku dengan kejadian seperti ini...."

Gelak tertawa yang menyeramkan mendadak terputus di tengah jalan, tubuh Kaisar malam yang tinggi besar sekali lagi roboh terjungkal ke tanah.

Buru-buru Thiat Tiong-tong membopong tubuh kakek itu dan cepat membawanya balik ke ruang batu melalui jalan lorong yang berliku-liku.

Suasana dalam ruang batu masih seperti sedia kala, namun kemewahan yang terdapat di situ, kini seolah sudah kehilangan pamornya, yang tersisa waktu itu hanya hawa dingin yang merasuk tulang.

Thiat Tiong-tong dengan sebuah mantel kulit yang mahal harganya menutupi tubuh Kaisar malam yang menggigil.

Semahal apapun mantel kulit itu, mungkinkah bisa menangkal hawa dingin yang merasuk tulang?

Sebab bukan tubuhnya yang menggigil, tapi hatinya!

Tiba-tiba terdengar lagi jeritan keras yang memilukan hati.

Seketika itu juga paras muka Thiat Tiong-tong berubah, pemuda berhati baja ini tergetar hatinya karena pukulan batin yang diterimanya sudah kelewat berat, dia tidak sanggup lagi menerima pukulan batin lain.

Tapi sayang pukulan batin itu kembali muncul, menyusul suara langkah kawanan gadis yang berlarian mendekat, terdengar mereka meraung keras sambil menangis tersedu.

"Enci... Enci San-san telah membenturkan kepalanya di atas karang, dia bunuh diri!"

Tubuh Thiat Tiong-tong bergetar, dia jatuh terduduk. Kawanan gadis itu muncul sambil membopong tubuh San-san, muka gadis itu penuh berlepotan darah, wajahnya yang cantik kini sudah penuh luka.

"Aku bersalah kepadamu... aku bersalah kepadamu...."

Rintihnya sambil menahan kesakitan. Dengan gerakan cepat Thiat Tiong-tong melompat bangun, teriaknya lantang.

"Dia belum mati, cepat tolong perempuan itu!"

"Siapa... siapa yang ingin me... menolongku? Aku tidak ingin hidup terus!"

Bisik San-san sedih. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru pula dengan suara keras.

"Kalau kau tidak ingin hidup, aku pun tidak ingin hidup!"

Ternyata Kaisar malam telah tersadar kembali dan melompat bangun. Serentak kawanan gadis itu menjatuhkan diri berlutut di hadapannya, teriak mereka.

"Bunuh... bunuhlah kami semua... kami... kami pun tidak ingin hidup."

Diam-diam Thiat Tiong-tong menggeser badannya, siap mengundurkan diri dari situ.

"Berhenti!"

Bentak Kaisar malam keras.

"siapa suruh kau pergi dari sini?"

"Siautit benar-benar tidak tahan...."

Kata Thiat Tiong-tong dengan kepala tertunduk.

"Hahaha, semua tragedi terjadi karena ulahmu, sekalipun tidak tahan, kau tetap harus menyaksikannya,"

Kata Kaisar malam sambil tertawa seram. Thiat Tiong-tong tertegun.

"Gara-gara ulah Siautit...."

Bisiknya parau.

"Benar! Kalau kau tidak datang, aku tidak akan mengetahui kejadian ini, kalau tidak tahu, mana mungkin akan merasa sedih seperti sekarang? Hmm, kalau tidak kuganjar dengan hukuman yang setimpal, tidak puas rasanya hatiku."

Sudah jelas perkataan itu bo-cengli, tidak pakai aturan!

Tapi dalam situasi dan keadaan seperti ini, Thiat Tiong-tong enggan membantah apalagi mengajaknya berdebat.

Maka dengan kepala tertunduk lesu, jawabnya.

"Apapun yang ingin Empek lakukan, Siautit akan menerima dengan pasrah."

"Sungguh?"

"Bila berbohong, biar Thian menumpas diriku."

"Baik! Aku perintahkan kepadamu, dalam tiga bulan mendatang harus berhasil menguasai seluruh ilmu silat yang kuwariskan kepadamu, kalau gagal, aku segera akan mencabut nyawamu."

Sekali lagi Thiat Tiong-tong tertegun, kagetkah dia? Atau justru kegirangan? "Selain itu,"

Kembali Kaisar malam membentak.

"aku minta kau segera tinggalkan tempat ini tiga bulan kemudian!"

"Siautit pasti akan berusaha...."

"Siapa suruh kau berusaha,"

Tukas Kaisar malam lagi penuh gusar.

"aku masih mampu mencarikan jalan untukmu, sekalipun celah lorong ini sudah diledakkan, tidak berarti seratus persen tersumbat mati. Kau anggap waktu selama tiga bulan tidak cukup untuk menggalinya?"

Tidak terlukiskan rasa girang Thiat Tiong-tong, tapi ingatan lain kembali melintas dalam benaknya, terbayang bagaimana pada tiga bulan kemudian Cu Cau sudah menikah dengan Sui Lengkong, sekali lagi perasaannya sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau.

Dalam pada itu Kaisar malam telah berpaling ke arah kawanan gadis itu sambil berkata dengan suara berat.

"Bila kalian merasa menyesal, gunakanlah waktu selama tiga bulan untuk berusaha membuat terowongan di tengah lorong yang tersumbat."

Setelah berhenti sejenak, kembali sorot matanya dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong, ujarnya kata demi kata.

"Sesudah keluar dari sini, aku harap kau segera menemukan Cu Cau dan Sui Leng-kong...."

"Untuk... untuk apa?"

Tanya Thiat Tiong-tong dengan hati bergetar. Mendadak Kaisar malam berpaling, teriaknya lantang.

"Bukankah kau telah bersumpah berat, selamanya akan menurut perintahku?"

Di balik teriakan paraunya, terdengar hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati. Thiat Tiong-tong amat terkejut.

"Benar...."

Sahutnya.

"tapi...."

"Bagus, sekali kau telah bersumpah, selamanya tidak dapat diubah kembali!"

Tukas Kaisar malam lantang.

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia membentak nyaring, suaranya keras bagai guntur yang membelah bumi, sambil melompat bangun dan menatap pemuda itu dengan sorot mata setajam sembilu, dia melanjutkan.

"Aku tidak bisa membiarkan mereka berdua hidup terus di dunia ini, karena itu kuperintahkan kepadamu untuk membantai mereka berdua."

Di tengah jeritan ngeri kawanan gadis itu, Thiat Tiong-tong jatuh tidak sadarkan diri, semaput saking kagetnya!

Suasana dalam Pondok Cay-seng, di kaki bukit Ong wo san diliputi kegembiraan, sepasang lilin berwarna merah menerangi ruang utama, pesta perkawinan segera akan berlangsung Im Kian telah menanggalkan jubah hijaunya dan berganti dengan satu stel pakaian baru.

Gi Beng dengan pakaian serba merahnya sedang mengamati dandanan Im Kian dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, kemudian setelah tertawa cekikikan, katanya.

"Tidak kusangka setelah Im-toako berganti pakaian baru, ternyata penampilanmu bertambah menawan."

"Yang menawan bukan aku, tapi kau!"

Jawab Im Kian tertawa.

"hanya saja... hanya saja...."

"Hanya saja apa, cepat katakan!"

"Cuma saja, setelah kau mengenakan gaun berwarna merah menyala, nama julukanmu pun mesti diubah, kalau masih dipanggil si walet hijau... rasanya kurang pas."

"Menurut pendapatmu, sebutan apa yang paling pas?"

Tanya Gi Beng sambil mengerling. Im Kian sengaja termenung sejenak, kemudian baru katanya.

"Walet merah muda... jelek, Dewi merah muda... kelewat kuno... ehmm, lebih baik disebut macan tutul merah saja!"

"Tepat! Tepat sekali!"

Sorak Gi Teng sambil bertepuk tangan.

"sepasang cakarnya memang mirip cakar macan betina, malah aku rasa dia lebih buas dan lebih galak ketimbang seekor macan tutul."

"Kau... kau berani memaki aku... akan kucakar kau sampai mampus...."

Jerit Gi Beng sambil menubruk ke muka, betul saja, ketika jari tangannya dipentangkan mencakar Gi Teng, sepasang cakarnya persis seperti cakar macan betina.

"Eeeh... eeh... jangan mencakar aku,"

Teriak Gi Teng sambil menghindar.

"toh bukan aku yang bilang begitu."

Dengan jengkel Gi Beng menghentakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, teriaknya.

"Sudah, aku tidak mau peduli lagi, kalian ramai-ramai menganiaya aku, aku... aku sangka Im-toako orang baik, siapa tahu dia pun seorang lelaki busuk."

Begitu mengucapkan kata "lelaki busuk", dia jadi geli sendiri hingga akhirnya ikut tertawa cekikikan. Di tengah gelak tertawa yang ramai, tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari bawah kaki bukit.

"Gi-laute! Gi-toamoaycu! Apakah kalian berada di atas sana?"

Suaranya nyaring penuh tenaga, teriakannya membumbung tinggi hingga menembus awan.

"Siapa?"

Tegur Im Kian cepat. Sambil memutar biji matanya yang jeli, Gi Beng tertawa cekikikan, katanya.

"Kalau didengar dari suaranya, agak mirip dengan suara Seng-toako, biar aku tengok kebawah sana"

Maka sambil berteriak "Aku datang", nona itupun meluncur keluar dari dalam ruangan.

Ada lima ekor kuda dengan tiga orang penunggangnya berdiri berjajar di atas bukit, pakaian yang dikenakan orang-orang itu berwarna-warni, ada yang berwarna biru, merah, kuning ada pula yang hitam, di bawah cahaya matahari, warna pakaian mereka kelihatan sangat menyolok.

Begitu memandang orang-orang itu, sambil bertepuk tangan gembira Gi Beng segera berseru.

"Bagus, bagus sekali, semuanya sudah datang... Gi Teng, cepat tengok siapa yang datang?"

"Sedari tadi aku sudah tahu siapa yang datang....

"jawab Gi Teng sambil munculkan diri. Baru selesai ia berteriak, kelima orang itu sudah melompat turun dari kudanya, kelima orang itu, tiga lelaki dua wanita memiliki gerakan tubuh yang cepat, enteng dan luar biasa. Sementara itu Gi Beng telah menarik tangan seorang nyonya muda bertubuh kecil mungil berbaju hijau dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menarik tangan seorang gadis cantik bergaun dan berbaju biru. Sambil menghentakkan kakinya dan tertawa gembira, teriaknya.

"Cepat beritahu kepadaku, cepat katakan, kenapa kalian semua bisa muncul di sini?"

"Tadi kami sempat mampir di rumahmu,"

Kata nyonya muda berbaju hijau itu sambil tertawa.

"tapi orang rumah bilang kalian berdua sedang pergi, setengah harian kami berusaha mengorek keterangan, tapi pembantu tua di rumahmu tidak mau mengatakan kemana kalian pergi."

Nyonya muda ini memiliki wajah bulat bagaikan bulan purnama, tubuhnya ramping tapi cukup montok, ketika berbicara, suaranya sambung menyambung tanpa berhenti, dia tidak lain adalah Bi gwe kiam khek Sun Siau-kiau.

"Ketimbang datang kelewat awal, mendingan datang tepat pada saatnya,"

Kata Gi Beng sambil tertawa.

"padahal kami sedang risau karena tamu yang menghadiri upacara perkawinan kelewat sedikit, dengan kedatangan kalian, bukankah suasana jadi ramai. Coba kalian endus, sudah tercium bau arak bukan?"

"Hidungku toh bukan hidung anjing, mana mungkin penciumanku begitu tajam...."

Tiba-tiba Sun Siau-kiau merasa perkataan itu sama artinya sedang memaki diri sendiri, kontan dengan wajah memerah dia cubit lengan Gi Beng. Sambil berkelit dan tertawa cekikikan, teriak Gi Beng.

"Kau sendiri yang bilang begitu, kan bukan aku... aduh... kalau mencubit jangan sakit-sakit, Enci Liu, cepat tolong aku!"

Nona berbaju biru itu hanya tersenyum sambil menonton dari samping, ia tidak ikut menimbrung, juga tidak ikut turun tangan.

Biarpun nona ini berparas cantik jelita, walaupun senyuman selalu tersungging di bibirnya, namun mimik mukanya selalu menampilkan sikap dingin dan kaku, boleh dibilang dia cantik bagaikan bunga Tho, dingin bagaikan bunga salju.

Sementara itu Gi Teng telah menghampiri pula lelaki berbaju merah, lelaki berkopiah kuning berbaju kuning serta pemuda berwajah putih bagai salju yang seluruh pakaiannya berwarna hitam pekat.

Tojin berkopiah kuning itu tidak lain adalah pasangan sehidup semati dari Sun Siau-kiau, si jago pedang berkopiah kuning Che Toa-ho, sedang lelaki berbaju merah itu adalah si jago pedang berhati merah Seng Cun-hau.

Gi Teng segera menjabat tangan mereka, kemudian katanya sambil tertawa.

"Siaute sungguh terkejut, tidak nyana kalian bisa jauh-jauh datang kemari, terlebih kehadiran Seng-toako, boleh dibilang Siaute nyaris tak percaya."

Che Toa-ho tertawa tergelak, sahutnya.

"Jangankan kau, kami sendiri pun datang kemari atas ajakan Seng-toako, tidak kau sangka bukan?"

Sewaktu tertawa, kopiah yang dikenakan orang ini ikut bergoyang kencang, meski sikapnya nampak lucu dan menggelikan, namun mimik mukanya tetap nampak kaku dan kering, ini disebabkan dalam waktu setahun belum tentu dia tertawa satu kali, itulah sebabnya dia nampak seperti tidak terbiasa dengan tertawa.

"Seng-toako jarang meninggalkan ibunya seorang diri, apalagi melakukan perjalanan jauh. Aku percaya kedatangannya kali ini pasti bukan tanpa sebab, boleh Siaute tahu apa alasannya?"

Seng Cun-hau ikut tetawa, meski sedang tertawa, namun senyuman itu tidak dapat menutupi raut mukanya yang serius dan berat, jelas sekali kalau dia mempunyai masalah besar.

Terdengar dia berkata dengan nada berat.

"Sebenarnya kedatanganku kali ini dengan mengundang kalian semua adalah atas perintah ibuku, itulah sebabnya aku menempuh perjalanan siang malam."

"Atas perintah ibumu? Boleh tahu karena persoalan apa?"

Tanya Gi Teng keheranan "Aaaai, kau sudah terlalu lama mengendon dalam rumah, tidak heran tidak mengetahui situasi dalam dunia persilatan saat ini, ketahuilah badai besar sudah mengancam keselamatan umat persilatan, mara bahaya mengintai dari empat penjuru, bukan saja para tokoh sakti dunia persilatan yang sudah lama mengasingkan diri berbondong-bondong muncul kembali, bahkan tokoh maha sakti seperti Ratu matahari, Kaisar malam serta Pecut guntur pun...."

"Apa? Lui-pian Lojin pun ikut muncul?"

Sela Gi Teng tidak tahan.

"Benar, dengan munculnya orang tua ini, dapat dipastikan berbagai badai akan melanda umat persilatan, malah dia sudah bentrok dengan para utusan yang dikirim Ratu Matahari, katanya dia akan meluruk ke pulau Siang cun-to."

Berubah hebat paras muka Gi Teng sesudah mendengar perkataan itu, tak tahan serunya.

"Tidak sembarang orang dapat mengunjungi pulau Siang cun-to, sekalipun orang tua ini memiliki kepandaian silat yang hebat pun, bisa jadi kepergiannya kali ini akan berakhir mengenaskan."

Seng Cun-hau menghela napas panjang.

"Aku rasa kau pasti pernah mendengar bukan betapa kaku dan keras kepalanya perangai orang ini, bila dia sudah memutuskan akan berkunjung, siapa lagi yang dapat mencegahnya? Sebenarnya aku pun ikut turut bersamanya...."

"Seng-toako, jangan sekali-kali kau turut serta!"

Teriak Gi Teng dengan perasaan terperanjat.

"Bukan saja dia memaksa aku untuk ikut serta, bahkan ibuku, Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian pun ikut bergabung, dalam rombongan ini masih terdapat lagi jagoan lain yang tangguh...."

"Siapa?"

"Peluru angin Hong Lo-su!"

Ucap Seng Cun-hau sambil menghela napas panjang. Gi Teng berdiri dengan tubuh gemetar, tampaknya dia sangat terkejut dengan berita itu.

"Sebetulnya aku sendiri pun tahu betapa berbahayanya perjalanan kali ini, tapi kejadian sudah berkembang jadi begini, terpaksa aku pun harus mempertaruhkan nyawa untuk ikut serta, siapa tahu.... Aaaai! Beruntung sekali meski Lui-pian Lojin berkemampuan luar biasa dia tetap gagal menemukan posisi pulau Siang cun-to, padahal kami sudah berlayar berhari-hari lamanya, karena gagal menemukan letaknya, terpaksa kami pulang dengan kecewa."

Kini Gi Teng baru bisa menghembuskan napas lega, ujarnya sambil tertawa.

"Konon pulau itu terletak di luar samudra dan dikenal sebagai pulau dewata, sebagai pulau para dewa tentu saja tidak setiap orang dapat mendatanginya."

"Biarpun kami telah balik, bukan berarti urusan sudah tuntas, setelah merapat ke daratan, ibu pun memerintahkan aku untuk mengabari kalian, kalian diminta membantu beliau."

Setelah menghela napas berat, kembali lanjutnya.

"Sebetulnya aku tidak ingin mengusik ketenangan kalian, apa daya, aku pun tidak berani membangkang perintah ibuku, harap saudara sekalian mau memandang hubungan kita di masa lalu, aaai...."

Sekali lagi dia menghela napas panjang, menundukkan kepala dan tidak bicara lagi.

Kelihatan sekali kalau kedatangan anak berbakti ini bukan muncul atas dasar kemauan sendiri, tapi sifat baktinya pada orang tua memaksa dia harus melakukan perbuatan yang sesungguhnya tidak ingin dia lakukan.

Gi Teng termenung beberapa saat, kemudian ujarnya.

"Kelihatan sekali kalau perjalanan kali ini sangat berbahaya, bahkan biar keluar tenaga pun tiada tanda jasa, andai berganti orang lain yang mengundangku, belum tentu Siaute mau menurut."

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, sambungnya.

"Tapi... Seng-toako, kau telah datang sendiri... maka biarpun kau ingin Siaute terjun ke air, Siaute tetap akan melaksanakannya, mau suruh Siaute terjun ke api pun akan Siaute lakukan...."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, dengan air mata berlinang karena terharu Seng Cun-hau telah menggenggam tangannya erat-erat, sampai lama sekali tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Tiba-tiba terdengar Im Kian berteriak keras.

"Hiante, mau kemana kau? Jangan pergi dulu, sekalian undang teman-temanmu untuk datang menikmati arak kegirangan."

Dia hanya mendengar Gi Teng mengatakan akan 'pergi', disangkanya pemuda itu benar-benar akan meninggalkan tempat itu, maka sambil berteriak dia berlari keluar, niatnya untuk menghalangi kepergian tamunya.

Tidak tahan Gi Teng tertawa tergelak, sahutnya.

"Jangan kuatir, Siaute tidak akan pergi."

Kemudian sambil berpaling ke arah Seng Cun-hau, katanya pula.

"Siaute pasti akan mengikuti Toako untuk memberi bantuan kepada bibi Seng, tapi sebelum pergi, Seng-toako mesti meneguk dulu secawan arak kegirangan ini."

"Hiante, apakah arak kegiranganmu?"

"Hahaha, Toako tidak usah menggubris hari perkawinan siapa, yang penting kita teguk dulu beberapa cawan arak kegirangan."

Tanpa peduli apakah rekannya setuju atau tidak, Gi Teng segera menarik tangan Seng Cun-hau dan Che Toa-ho sekalian.

Di pihak lain Gi Beng juga telah menarik tangan Sun Siau-kiau dan nona berbaju hijau itu naik ke bukit.

Kawanan muda-mudi ini semuanya berjumlah tujuh orang, bukan saja mereka semua berwajah cerah dan memiliki gerakan tubuh enteng, sampai warna pakaian yang mereka kenakan pun sangat menyolok mata, tentu saja mereka tidak lain adalah tujuh pedang pelangi.

Ketujuh jago pedang pelangi merupakan perhimpunan dari tujuh muda-mudi yang memiliki pandangan sama, hubungan mereka sangat akrab bagaikan saudara kandung, hanya saja pada hari biasa mereka hidup tersebar sehingga jarang punya kesempatan untuk bertemu.

Tapi hari ini mereka telah berkumpul jadi satu untuk bersama-sama menikmati arak kegirangan, jelas kejadian semacam ini merupakan satu peristiwa besar.

Sayangnya cara kerja Gi Teng bersaudara kelewat ceroboh, kelewat ngawur, mereka seolah lupa tuan rumah tempat itu adalah jagoan dari Thi hiat tay ki bun, sementara Seng Cun-hau justru merupakan keturunan dari keluarga musuh besarnya.

Menanti para tamu sudah masuk ke dalam ruangan, Gi Teng bersaudara baru teringat akan hal ini, namun keadaan sudah terlambat.

Dalam keadaan begini, kedua bersaudara itu hanya bisa saling melotot sambil menyalahkan saudaranya.

Sementara itu sambil tertawa, Im Kian telah menyapa.

"Ooh, rupanya kedatangan tamu agung dari tempat jauh, Hiante, kenapa tidak diperkenalkan kepadaku?"

Sambil berdehem berulang kali, kata Gi Teng.

"Saudara yang ini... saudara yang ini adalah...."

Gi Beng yang berada di sisinya cepat menyela.

"Cici yang paling cakep, paling cantik ini adalah Lan hong kiam khek si jago pedang burung hong biru Liu Ji-uh, delapan belas jurus ilmu pedang angin terbangnya tiada duanya dalam dunia persilatan!"

Sambil tersenyum dan memberi hormat, diam-diam gadis berbaju biru itu melotot sekejap ke arah Gi Beng, di balik kerlingan matanya yang genit tapi dingin, terselip nada menegur, tapi terkandung juga perasaan girang.

Setelah tertawa cekikikan, kembali lanjut Gi Beng.

"Enci yang cantik tentu harus berpasangan dengan ipar yang cakap, di antara semua yang hadir sekarang, orang yang paling ganteng itulah Hek liong kiam khek si jago pedang naga hitam Liong Kian-sik."

"Aku!"

Seru Gi Teng mengajukan diri.

"Aduhh mak, tidak tahu malu... memangnya kau... kau pantas?"

Sambil menarik tangan Sun Siau-kiau, kedua orang itu tertawa terpingkal-pingkal. Im Kian segera mengalihkan sorot matanya ke wajah pemuda berbaju hitam itu, sapanya sembari menjura.

"Kaukah saudara Liong?"

"Tidak berani, tidak berani, Cayhe Liong Kian-sik,"

Jawab pemuda berbaju hitam itu sambil balas memberi hormat.

Biarpun orang ini berparas pucat pasi seperti selembar kertas, walaupun sikapnya dingin dan kaku, namun dari balik sorot matanya yang tajam justru memancarkan sikap ksatria dan gagah yang luar biasa, membuat orang tidak berani memandang enteng kepadanya.

Im Kian memperhatikan pemuda itu beberapa kejap, kemudian katanya sambil menghela napas.

"Naga sakti burung hong, pasangan yang sangat serasi, setelah bertemu hari ini, terbukti nama besar kalian bukan nama kosong belaka."

"Jangan dilihat Enci Liu dan Liong-cihu selalu tampil dingin, kaku dan tanpa perasaan,"

Kata Gi Beng sambil tertawa.

"seakan-akan biarpun mereka berdua berkumpul jadi satu, tanpa bicara selama tiga hari tiga malam juga tidak jadi soal, padahal rasa cinta mereka berdua sudah begitu mendalam hingga tidak sedetik pun bisa saling berpisah."

"Dasar budak edan,"

Umpat Sun Siau-kiau sambil tertawa.

"sudah, jangan ngaco-belo lagi... kau anggap urusan cinta macam begitu pantas diucapkan seorang gadis perawan yang belum menikah macam kau?"

"Nah, coba lihat nih, baru aku memuji orang lain, Enci Sun sudah makan cuka, baiklah, biar aku pun memujinya juga, kalian tahu Enci Sun biar kecil mungil tapi orangnya lembut dan...."

"Budak setan, kau... kau berani bicara lagi!"

Maka kedua orang itupun terlibat dalam gurauan yang diramaikan suara tertawa cekikikan.

"Sudah, sudah, jangan bergurau lagi,"

Tukas Gi Beng kemudian sambil tertawa.

"masih ada dua orang lagi, yang satu adalah Sun-cihu (ipar Sun) dan yang lain adalah Toako kita."

Rupanya dia sengaja bergurau sambil berteriak, tujuannya tidak lain untuk mengelabui nama si jago pedang berhati merah Seng Cun-hau, tapi mungkinkah cara itu berhasil mengelabui tuan rumah?

Saat itu sorot mata Im Kian yang tajam telah dialihkan ke tubuh Seng Cun-hau, kemudian ujarnya perlahan.

"Kalau begitu, tujuh pedang pelangi telah hadir semua hari ini...."

Mendengar ucapan itu diam-diam Gi Teng berteriak dalam hati.

"Aduh celaka! Sekalipun Seng-toako belum tahu dia adalah anggota Perguruan Tay ki bun, namun dia justru sudah mengenali Seng-toako, bagaimana... bagaimana baiknya sekarang?"

Biasanya bila anggota perguruan Tay ki bun berjumpa dengan musuh bebuyutannya, pertempuran berdarah tidak mungkin bisa dihindari.

Bila saat ini Seng Cun-hau sampai bertarung habis-habisan melawan Im Kian, yang pasti dua bersaudara Gi akan berada dalam posisi terjepit, mereka akan kebingungan harus berpihak kemana.

Siapa tahu Im Kian sama sekali tidak memperlihatkan rasa dendam atau permusuhannya.

Setelah tersenyum, sapanya.

"Aku lihat Hengtay ini gagah dan perkasa, kalau dugaanku tidak keliru, dia pastilah orang paling berbakti dalam dunia persilatan, Seng-tayhiap."

Seng Cun-hau tidak tahu siapa lawannya, tentu saja dia segera menyambut sapaan itu dengan penuh sopan santun, dengan begitu rasa kuatir dua bersaudara Gi tentang terjadinya pertempuan berdarah pun tidak terbukti.

Dalam terkejut bercampur girangnya, Gi Teng maupun Gi Beng malah tertegun dibuatnya.

Tentu saja mereka tidak tahu kalau dalam suratnya, Thiat Tiong-tong telah bercerita tentang pertolongan Seng Cun-hau yang melepaskan dia dari kepungan dalam hutan tempo hari, bahkan berulang kali memuji jago pedang berhati merah ini sebagai seorang Enghiong Hohan, seorang lelaki sejati.

Padahal Im Kian serta Thiat Tiong-tong merupakan jago perguruan Tay ki bun yang berpandangan paling moderat, bahkan secara tegas membedakan mana budi mana dendam, ketika Thiat Tiong-tong telah menjelaskan kasusnya secara panjang lebar, bagaimana mungkin Im Kian masih menaruh perasaan dendam terhadap Seng Cun-hau?

Sejak dulu, antara Enghiong dengan Enghiong yang lain pasti menaruh perasaan simpati.

Menyaksikan penampilan Im Kian yang begitu simpatik dan bersahabat, si jago pedang naga hitam Liong Kian-sik maupun jago pedang berhati merah Seng Cun-hau segera mencari tahu nama serta asal-usulnya.

Tentu saja Im Kian tidak menjawab sejujurnya, dia hanya berkata sambil tersenyum.

"Cayhe hanya orang kuno yang sudah lama hidup dalam pengasingan, nama lama sudah hampir terlupakan."

Berkilat sepasang mata Sun Siau-kiau, selanya sambil tertawa.

"Kalau dilihat dari penampilan Toako ini, kelihatannya di masa lampau pernah mengalami kejadian yang memedihkan hati, itulah sebabnya sampai nama pun enggan disebut."

"Kali ini tebakanmu tepat sekali,"

Sahut Gi Beng.

"Kalau begitu sudah seharusnya kau hibur hatinya."

Biarpun Gi Beng seorang jago persilatan, tidak urung merah juga pipinya, teriaknya jengkel.

"Hei... kau... kau ingin mampus...."

Sambil tertawa dia berusaha menggebuk tubuh Sun Siau-kiau, tapi perempuan itu sudah kabur ke belakang Seng Cun-hau sambil berteriak.

"Adik Gi selalu mengganggu aku... Toako, masa kau hanya berpeluk tangan?"

Seng Cun-hau tersenyum.

"Yang penting dalam suatu persahabatan adalah perasaan kita, apa pentingnya sebuah nama? Jika hengtay memang ada kesulitan, kami tidak akan memaksa dirimu menjawab."

"Ternyata Seng-heng memang bijaksana, sungguh membuat aku merasa sangat kagum!"

Sebetulnya pondok Cay-seng tidak punya tamu, namun dengan kehadiran Seng Cun-hau sekalian, perjamuan pun segera berlangsung sangat meriah.

Dengan hanya tersedia sebuah meja perjamuan dengan delapan orang tamu yang hadir, sebenarnya pesta perkawinan ini kurang meriah, tapi dengan hadirnya Gi Beng serta Sun Siau-kiau yang selalu membanyol dan bergurau, suasana di situ pun terasa ramai sekali.

Maka pondok Cay-seng yang selalu dicekam dalam kesepian dan keheningan pun kini dipenuhi dengan gelak tertawa dan suara pembicaraan, sedemikian ramainya suasana hingga si naga hitam dan burung hong biru pun ikut tersenyum.

Tiba-tiba dari dalam ruangan muncul seseorang dengan langkah lebar, sambil serunya diiringi gelak tertawa nyaring.

"Waaah... ramai benar suasana di sini, kalian mesti memasukkan aku dalam rombongan ini!"

Ternyata yang muncul adalah sang pengantin lelaki. Terkejut bercampur geli Gi Beng segera berseru.

"Masa pengantin laki pun ikut kemari, hei, pernah kalian lihat ada pengantin yang minum arak kegirangan sebelum upacaya dimulai?"

Cu Cau yang selalu bersikap santai, saat inipun tetap bersikap acuh tidak acuh kendatipun dia sedang mengenakan pakaian pengantin, sambil menyambar cawan arak dan tertawa tergelak, serunya.

"Masih mending kalau kalian tidak meledek, sekarang aku tidak bisa menahan diri lagi, kalau tidak diberi jatah, akan kurebut jatah arak kalian."

"Menurut aturan, tidak seharusnya pengantin laki muncul di saat seperti ini,"

Ujar Im Kian pula sambil tersenyum.

"Hahaha, peraturan tinggal peraturan, buat aku tidak ada artinya, mari... mari... mari, kuhormati kalian dengan tiga cawan arak."

Dia benar-benar meneguk habis tiga cawan.

Biarpun tamu yang hadir saat ini merupakan kawanan jago silat yang tidak mengenal aturan, keihatannya mereka pun belum pernah bersua dengan lelaki semacam ini, maka semua orang pun menemaninya menghabiskan tiga cawan arak.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Sun Siau-kiau bangkit berdiri.

Tubuhnya mulai gontai dan sedikit sempoyongan, sepasang pipinya merah padam lantaran mabuk, teriaknya keras.

"Kalian jangan bergerak dulu, dengarkan perkataanku."

"He, setan arak,"

Tegur Gi Beng sambil cekikikan.

"siapa yang bergerak? Kelihatannya kau mulai ngelantur."

Sambil menuding ke arah Cu Cau, kembali Sun Siau-kiau berseru.

"Lelaki macam inilah baru seorang lelaki sungguhan, aku Sun Siau-kiau paling suka dengan lelaki macam begini."

"Waaah... mulai bicara ngawur, mulai mabuk berat...."

Seru suaminya, Che Toa-ho.

"Cepat duduk, cepat duduk...."

Dia berusaha menarik tangan istrinya, namun tarikannya lepas. Cepat Gi Beng tertawa terkekeh, teriaknya.

"Masih untung Cu-toako adalah pengantin hari ini, kalau tidak, Cihuku bisa menjadi guci cuka dan mengobrak-abrik suasana."

Sun Siau-kiau mengerling lagi ke arah Cu Cau, teriaknya.

"Mungkin kau tidak mengenaliku, tapi aku sangat mengenalimu... Che Toa-ho, masa kau sudah lupa dengannya?"

Che Toa-ho segera memperhatikan Cu Cau beberapa kejap, mendadak paras mukanya berubah hebat.

"Traangg!", cawan arak pun terjatuh ke lantai.

"Ter... ternyata kau!"

"Horee, coba lihat, aku belum mabuk bukan,"

Seru Sun Siau-kiau sambil bertepuk tangan.

"padahal sejak tadi aku sudah tahu siapakah dia.... He, Cu-toako, menurutmu apakah aku sudah mabuk?"

Tentu saja orang lain tidak tahu kalau sewaktu berada di muka kuil Siau-lim kecil, Che Toa-ho dan Sun Siau-kiau pernah bersua dengan Cu Cau, bahkan pernah menjajal kepandaian kungfunya yang hebat.

Hanya saja waktu itu Cu Cau mengenakan baju belacu dengan sepatu rumput, sedang hari ini dia mengenakan pakaian pengantin yang gemerlapan, tidak heran Che Toa-ho tidak mengenalinya.

Tapi setelah mengetahui siapa lawannya, berubah hebat paras mukanya.

Tampaknya Cu Cau pun segera teringat akan kedua orang itu, wajahnya agak berubah, tapi sejenak kemudian katanya sambil tertawa tergelak.

"Kusangka kenalan baru darimana kalian berdua, ternyata kalian adalah sobat lamaku."

"Hahaha, Che Toa-ho,"

Seru Sun Siau-kiau sambil tertawa terkekeh.

"kenapa masih tertegun, buat apa berubah muka, di antara kita berdua dengan Cu-toako tidak pernah terjalin permusuhan, juga tidak ada hutang-piutang, seharusnya kita gembira karena hari ini kita bisa minum arak semeja, mari, mari, Cu-toako, biar kami suami istri menghormatimu dengan secawan arak."

"Benar, Cayhe yang seharusnya menghormati kalian berdua dengan secawan arak,"

Sahut Cu Cau sambil meneguk habis isi cawannya.

Che Toa-ho tertegun beberapa saat, tapi akhirnya dia mengambil cawannya dan meneguk habis isinya.

Sejak menyaksikan perubahan wajah ketiga orang itu, sebenarnya semua orang yang hadir sudah merasa kuatir, kini mereka dapat menghembuskan napas lega.

"Baiklah Cu-toako,"

Kata Sun Siau-kiau kemudian.

"arak pun sudah kita teguk, anggap saja mulai sekarang kita adalah teman, tentunya kau bisa menyebutkan nama aslimu bukan?"

"Kalau disebut namanya, mungkin kau bakal kaget, lebih baik tidak usah!"

Sela Gi Beng sambil tertawa.

"Tidak bisa, harus disebut...."

"Baiklah, kalau begitu biar ku wakili Cu-toako, dia adalah putra Kaisar malam!"

Seandainya gadis ini bukan berada dalam keadaan setengah mabuk, mustahil dia akan menyebutkan identitas Cu Cau. Begitu perkataan itu diucapkan, paras muka semua orang berubah hebat.

"Braaak!", Sun Siau-kiau jatuh terduduk di atas bangkunya.

"Aduhh mak... biarpun sejak awal sudah kuduga dia tentu jagoan kenamaan, tapi mimpi pun tidak kusangka ternyata dia adalah... seorang Enghiong sehebat ini, Gi Beng, kenapa tidak kau perkenalkan sejak tadi!"

Sekalipun perkataan itu diucapkan dalam keadaan setengah mabuk, namun semua orang bisa merasakan ucapan itulah yang ingin mereka sampaikan.

Bagaimanapun mereka tidak menyangka kalau Cu Cau adalah putra Kaisar malam, sekalipun mereka sadar bahwa orang ini bukan manusia sembarangan.

Untuk beberapa saat, suasana tidal tenteram mencekam hati setiap orang.

Namun hanya sebentar kemudian gelak tertawa kembali ber kumandang di seluruh ruangan, apalagi sikap Cu Cau yang sangat simpatik, lambat-laun rasa takut semua orang pun berangsur hilang.

Gi Teng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, setelah menghela napas, pikirnya.

"Kelihatannya hari ini memang hari baik, karena itu semua kejadian yang memburuk segera membaik kembali, mungkin memanghokki Cu-toako."

Ketika menyaksikan dua kali perselisihan semuanya berhasil reda dengan begitu saja, diam-diam dia ikut bersyukur untuk Cu Cau dan Sui Lengkong, tentu saja mimpi pun dia tidak menyangka kalau tragedi yang mengenaskan sebenarnya sudah menghadang di depan mata.

Yang gembira sebenarnya mengenaskan, yang mengenaskan itulah baru kegembiraan sejati.

Gi Teng sebagai orang luar, mana mungkin bisa menduga kerumitan dari persoalan ini?

Bukan hanya Gi Teng, bahkan Im Kian pun saat itu sedang merasa gembira bercampur bersyukur....

Pergolakan kecil telah berlalu, upacara perkawinan segera akan diselenggarakan, apa yang menjadi harapannya pun segera akan terwujud.

Maka mereka berdua pun segera mengangkat cawan dan saling bersulang.

Ujar Gi Teng sambil tertawa.

"Toako, lebih baik cepat undang keluar pengantin wanitanya, agar mereka segera menyelenggarakan upacara perkawinan"

"Benar, memang seharusnya begitu!"

Sahut Im Kian dengan lantang.

BAB 31 Masa Silam Yang Kelam Gelak tertawa di halaman luar menembus pintu gerbang dan bergema di ruang belakang.

Ruang belakang merupakan kamar pengantin, tentu saja tempat itu dihias dengan aneka ornamen berwarna merah, Sui Leng-kong dengan mahkota pengantinnya sedang duduk di tepi mejarias.

Perlengkapan maupun perabot yang tersedia di tempat itu tidak kalah dengan perlengkapan perabot yang dimiliki putri tunggal anak pejabat tinggi atau hartawan kaya raya, bahkan perhiasan yang dikenakan pengantin wanita pun merupakan perhiasan mahal yang indah dan menawan.

Tapi sayangnya, di balik kamar pengantin yang indah, megah dan penuh kemewahan itu justru diliputi suasana dingin, sepi dan kedukaan yang mendalam, bahkan wajah sang pengantin yang cantik pun diliputi perasaan sedih serta duka nestapa.

Para dayang yang dikirim keluarga Gi untuk melayani sang pengantin sudah diusir sejak tadi, sebab Sui Leng-kong tidak ingin orang lain mengetahui kepedihan hatinya, terlebih lagi menyaksikan air matanya berlinang.

Gelak tertawa di ruang depan bertambah nyaring, sebentar-sebentar Sui Leng-kong menghentakkan kakinya, sebentar keningnya berkerut-kerut, terkadang dia harus menyumbati telinganya dengan jari tangan....

Makin gembira suara gelak tertawa yang| bergema, semakin pedih perasaannya.

Dari wajah sedihnya yang penuh air mata, tiba-tiba terlintas sebuah tekad yang amat kuat, sesudah menghentakkan kembali kakinya, dia melepas mahkota dari kepalanya, kemudian mem bantingnya ke atas ranjang.

Dia mencoba bercermin, memandang paras muka sendiri yang pucat-pias, memandang sinar mata yang sayu, biarpun pupur dan gincu telah menghiasi wajahnya, namun tidak dapat menutupi kemurungan dan kesayuan dirinya.

Sambil menggigit bibir, akhirnya dia melepas pakaian pengantin yang dikenakan, mengenakan kembali pakaian sehari hari, lalu melompat ke depan jendela dan membukanya lebar-lebar Cahaya senja memancar masuk dari luar jendela, selapis cahaya keemas-emasan menghiasi seluruhjagad.

Kembali dia menggigit bibir, tubuhnya sudah siap melompat keluar melalui daun jendela....

Andaikata dia benar-benar melompat keluar saat ini, ibarat burung walet yang terlepas dari sangkar, dia bisa terbang bebas kemana-mana.

Tapi pada saat itulah kembali dia berkerut kening, tubuhnya yang sudah siap melompat keluar kembali diurungkan, dia balik kembali ke depan cermin, berdiri termangu-mangu sambil menghela napas panjang.

Lama kemudian, akhirnya nona itu mengambil keputusan, dengan jari tangannya yang gemetar dia memoles ujung jarinya dengan gincu, kemudian mulai meninggalkan pesan di atas cermin.

"Maafkan aku Toako, aku harus pergi". Ujung jarinya kelihatan gemetar keras, goresan tulisannya kacau tidak lurus. Tapi tulisan berwarna merah yang tertera di atas cermin nampak begitu menyolok, nampak begitu segar membuat siapa pun yang lewat, pasti akan tertarik untuk memandangnya. Maka sekali lagi dia mendekati jendela, sekali lagi bersiap melompat keluar.... Andaikata waktu itu dia benar-benar melompat keluar, tragedi yang memilukan hati pun segera akan berakhir. Tapi... tampaknya nona itu tidak memiliki keberanian untuk melompat keluar, tiba-tiba dia menghela napas panjang dan kembali berdiri termangu. Sepasang alis matanya berkerut kencang, air matanya jatuh bercucuran, dia merasa serba salah, perasaannya kalut, terjadi pertentangan batin yang hebat, dia tidak sanggup mengambil keputusan... haruskah kabur? Atau jangan? Dia benar-benar menderita, benar-benar tersiksa... dia tidak mampu memutuskan pilihannya.... Pada saat itulah dari luar pintu berkumandang lagi suara Im Kian yang harus dan lembut.

"Adikku, sudah selesai kau berdandan? Semua teman sedang menunggumu!"

Sui Leng-kong merasakan tubuhnya bergetar keras, perlahan dia membalikkan tubuh dan sahutnya dengan nada gemetar.

"Aku... aku...."

"Kalau kau sudah selesai berdandan, akan kusuruh mak comblang menjemputmu."

Sui Leng-kong mencoba memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napas panjang, sahutnya.

"Suruh mereka menungguku di luar pintu... aku segera ke... keluar."

Diam-diam dia membesut air mata, lalu mengenakan kembali pakaian pengantin.

Sebelum meninggalkan ruangan, dengan sorot mata yang sayu dan pedih ditatapnya sekali lagi tulisan yang tertera di atas cermin...

tulisan itu kabur, tidak terlihat jelas, karena matanya sudah dipenuhi air mata.

Pada akhirnya dia tidak mampu mengambil keputusan untuk melakukan perlawanan, terpaksa dengan kepala tertunduk dia menerima pilihan nasib yang menimpa dirinya....

Wahai wanita lemah yang hidup di dunia ini, mengapa sebagian besar dari kalian bersikap begitu?

Diambilnya selembar saputangan dan dihapusnya tulisan yang tertera di atas cermin.

Di atas saputangan yang putih segera ternoda titik merah bagaikan cucuran darah, seperti juga bunga tho yang berguguran....

Dia tidak ingin memandang lagi wajah sendiri yang sayu, tidak ingin menatap lagi sorot mata sendiri yang penuh kepedihan...

segera teriaknya keras.

"Aku sudah siap, kalian boleh masuk!"

Seorang perempuan gemuk dengan wajah berseri segera mengayunkan langkahnya keluar ruangan, sambil bertepuk tangan serunya.

"Pengantin wanita telah datang."

Kembali gelak tertawa bergema memecah keheningan. Buru-buru Gi Teng melompat bangun, membantu Cu Cau mengancingkan pakaiannya, kemudian katanya sambil tertawa.

"Hengtay, biarpun kau tidak suka terikat segala adat, paling tidak sewaktu upacara perkawinan kau harus bersikap lebih sopan"

"Aaah, kendorkan sedikit... baiklah, tiba-tiba Cu Cau menghela napas panjang. Kembali semua orang dibuat tercengang, bukankah hari ini adalah hari baik, hari perkawinan? Mengapa pengantin lelaki malah menghela napas? Kembali Cu Cau menghela napas, ujarnya sambil menggeleng.

"Hiante, terus terang aku... aku merasa... aku merasa sedikit gugup, bagiku melangsungkan upacara perkawinan baru pertama kali ini."

Kembali gelak tertawa bergema dalam ruangan, kini semua orang sudah tahu, putra kesayangan Kaisar malam inipun seorang manusia biasa, bahkan seorang manusia biasa yang menarik.

Sambil tertawa Sun Siau-kiau segera mengejek.

"Coba kalian dengar, betapa kasihannya orang ini... dia bilang baru pertama kali... seolah-olah baginya belum cukup satu kali saja... hahaha... betul, kalau sudah berulang kali, dia tidak bakal gugup."

Waktu itu Gi Beng sudah tertawa terpingkal-pingkal sampai terbungkuk tubuhnya, dengan napas terengah, serunya.

"Dalam sejarah hidup, upacara perkawinan hanya akan dilangsungkan satu kali, memangnya kau ingin dua kali?"

Merah jengah selembar wajah Cu Cau, buru-buru dia berdehem berulang kali.

"Hiante, bagaimana kalau menemani aku?"

"Jangan kuatir, segala sesuatunya biar Siaute yang mendampingi,"

Hibur Gi Teng sambi tertawa.

"Aaah, kau tahu apa?"

Ejek Gi Beng.

"sekali saja belum pernah."

"Itu namanya pengalaman, kalau sekarang sudah berpengalaman, maka tiba giliranku nanti, aku pun tidak bakal gugup."

Seraya berkata dia segera membimbing Cu Cau menuju ke mimbar upacara.

"Hahaha, tidak tahu malu, siapa yang mau kawin dengan bebek dungu macam kau... lain kali... huuuh, lain kalipun belum tentu tiba giliranmu."

"Betul, tepat sekali perkataan itu,"

Sambung Sun Siau-kiau.

"yang mendapat giliran berikutnya adalah nona cantik dari keluarga Gi, tentu saja bukan orang lain."

Gi Beng segera mengayunkan tangannya untuk memukul, tapi saking terpingkalnya dia tidak mampu mengayunkan tangannya lagi.

Sementara itu Im Kian sudah muncul sambil membimbing Sui Leng-kong yang mengenakan pakaian pengantin dengan kain penutup kepala berwarna merah.

"Bagus, bagus...."

Teriak Gi Teng sambil bertepuk tangan.

"siapa yang akan bertindak sebagai saksi?"

Sun Siau-kiau segera mendorong suaminya, Che Toa-ho, sambil serunya.

"Suruh dia saja, bayangkan kalau dia mengenakan topi tinggi, siapa lagi selain dia yang paling cocok menjadi saksi."

"Betul, memang dia yang paling cocok...."

Akhirnya Che Toa-ho tampil ke depan setelah di tarik dan didorong istrinya.

Che Toa-ho yang pada hari biasa selalu tampil suram dan dingin, ternyata hari ini kelihatan gembira sekali, sahutnya sambil tertawa.

"Baik, biar aku yang maju, kalian harap tenang, sekarang juga upacara perkawinan akan di mulai."

Dalam pada itu Lan hong kiam khek Liu Ji-uh yang selama ini mengamati terus wajah pengantin wanita, tiba-tiba menyela sambil tersenyum.

"Coba lihat penampilan si pengantin wanita, dapat dipastikan dia adalah seorang wanita cantik."

"Kalau bukan wanita cantik, mana pantas mendampingi saudara Cu sebagai seorang Enghiong luar biasa,"

Jawab Liong Kian-sik si jago pedang naga hitam sambil tersenyum pula.

"Eeei, coba lihat,"

Teriak Gi Beng tertawa geli.

"aneh tidak, kalau Enci Liu tidak bicara, dia pun tidak bicara, begitu Enci Liu bicara, dia pun ikut-ikutan."

Sementara itu Che Toa-ho dengan suaranya yang parau telah memimpin upacara, teriaknya.

"Persembahan pertama, menyembah langit dan bumi!"

Cu Cau dan Sui Leng-kong sama sama berlutut.... Dengan suara setengah berbisik, tanya Liu Ji-uh.

"Semakin kulihat, wajah pengantin wanita ini makin cantik dan menawan, dia dari keluarga mana dan siapa namanya?"

Sementara Che Toa-ho telah berseru kembali.

"Menyembah leluhur."

Maka sepasang pengantin pun kembali menyembah. Gi Beng yang sedang berdiri kesemsem baru sadar kembali setelah Liu Ji-uh menarik ujung bajunya, sambil tertawa sahutnya.

"Ooh, siapa pengantin wanita itu? Dia bernama Sui Lengkong!"

Saat itu Che Toa-ho sudah berteriak lagi.

"Persembahan ketiga"

Tiba-tiba dia berhenti berteriak karena bingung harus mengucapkan apa, saat itulah Seng Cun-hau telah menarik tangan Gi Beng sambil menghardik.

"Apa kau bilang? Siapa namanya?"

Gi Beng merasa terkejut, keheranan dan sedikit gugup setelah melihat perubahan wajah orang, sahutnya tergagap.

"Dia... dia bernama... bernama Sui Lengkong...."

"Apa?"

Teriak Seng Cun-hau dengan tubuh gemetar, gumamnya.

"Cu Cau... Sui Leng-kong.... Gi Beng semakin tertegun, dia berdiri terbelalak dengan mulut melongo, disangkanya Seng Cun-hau tiba-tiba terserang penyakit ayan atau kumat edannya. Dalam pada itu Gi Teng telah membisikkan sesuatu ke telinga Che Toa-ho, maka sambil manggut-manggut, kembali Che Toa-ho berteriak.

"Persembahan ketiga...."

Tiba-tiba Seng Cun-hau membentak keras, dia sambar poci arak, kemudian dilemparkan ke arah sepasang pengantin itu.

"Braaaak... !", poci arak itu menimpa meja upacara dan sepasang lilin merah itu pun roboh ke tanah. Che Toa-ho tertegun, perubahan yang sama sekali tidak terduga itu membuatnya berdiri melongo. Terjadi kekalutan dan kegaduhan dalam ruang upacara, suasana jadi kalut dan dicekam ketidakpastian. Dengan wajah berubah, semua yang hadir berteriak keras.

"Seng-toako... apa yang terjadi? Mengapa kau berbuat begitu?"

Gi Teng dan Gi Beng pun saling bertukar pandang, mereka berdua menyangka Seng Cun-hau sudah tahu kalau Im Kian adalah anggota perguruan Tay ki bun hingga ia mengumbar hawa amarahnya.

Dengan satu kali lompatan Cu Cau menerjang ke hadapan Seng Cun-hau, kemudian bentaknya gusar.

"Antara kau dan aku tidak terikat dendam sakit hati, mengapa kau mengacau pada hari perkawinanku ?"

Walaupun pada hari biasa dia selalu berjiwa besar dan tidak gampang tersinggung, akan tetapi pesta perkawinan ini merupakan satu-satunya kejadian besar bagi dirinya, satu kejadian yang sangat menyentuh perasaannya, hingga tidak heran paras mukanya berubah hebat ketika melihat ada orang datang mengacau secara tiba-tiba.

Paras muka Seng Cun-hau yang dasarnya sudah merah, kini berubah semakin merah, jeritnya.

"Aku... aku...."

Kalau pada hari biasa dia selalu tegar dan tenang, ibarat ada gunung yang ambruk di hadapannya pun paras mukanya tidak berubah, sekarang dia begitu panik, dia malah tidak mampu mengucapkan separah kata pun.

Perubahan sikap semacam ini segera mengundang rasa tercengang dan bingung si Naga hitam, Burung hong biru serta Rembulan hijau.

Im Kian telah memburu maju, paras mukanya kelihatan ikut berubah.

"Seng Cun-hau!"

Terdengar Cu Cau membentak lagi.

"sebenarnya apa tujuan perbuatanmu hari ini? Kalau tidak segera kau jelaskan, aku... aku akan...."

"Mau apa kau?"

Tantang Seng Cun-hau yang nampaknya dicekam rasa gusar yang luar biasa.

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 11

Baca Juga: Peristiwa Merah Salju Gu Long

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert