Eps 4 Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung
Baca online Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung
Cersil Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung.
Sungguh Coh Liu-hiang tidak habis mengerti.
Semakin dipikir dan diselidiki, semakin sulit dia memahami.
Semakin gugup dan risau pula hatinya.
Masgul dan gelisah seperti semua terkurung di kuali panas, tak henti-hentinya dia lari keluar masuk dari bilik ini ke bilik lain, putar kayun dan sibuk setengah mati.
Setelah jerih payahnya gagal, terakhir baru dia temukan secara mendadak di atas kursi tempat duduk yang dia sukai, terdapat segunduk pasir kuning yang mengkilap.
Di atas gundukan pasir ini terdapat sebutir mutiara hitam yang cemerlang.
Tempat ini sebetulnya paling gampang ditemukan, namun seseorang kalau sudah terangsang oleh gugup dan gelisah, justru sering mengabaikan atau melalaikan perhatiannya pada tempat yang paling menyolok.
Coh Liu-hiang meremas secomot pasir kuning itu, pasir berjatuhan dari sela-sela jari-jarinya sederas hujan air.
Maka dilihatnya pula secarik kertas tertindih di bawah gundukan pasir kuning ini, dimana terdapat dua baris huruf-huruf yang ditulis rapi dan bagus sekali.
Coh Liu-hiang mencuri kuda di pinggir danau.
Hek-cin-cu menculik si cantik di atas lautan.
* * * Kini Coh Liu-hiang bercongklang di punggung kuda Hek-cin-cu.
Hari itu ia tiba di sebuah kota kecil di pinggir Ma lian ho.
Matahari amat terik, deru angin membawa tebaran pasir, sebuah kota kecil serba miskin dan kekurangan.
Seorang perempuan tua yang berpakaian tidak lengkap sedang menuntun seorang bocah laki-laki yang pucat hijau seperti warna sayur, sedang sembunyi di belakang daun pintu sambil mengintip ke dalam, menunggu sedekah dari tamu-tamu budiman.
Tapi di atas dataran tinggi bertanah kuning yang miskin dan tandus ini, kota kecil ini sudah merupakan tempat yang makmur dan serba mewah, karena di lingkungan ratusan li sekitarnya, hanya disini saja yang ada air jernih.
Oleh karena itu, walau dalam kota ini terdapat beberapa bilangan rumah-rumah tembok, beberapa toko dan rumah makan.
Setelah Coh Liu-hiang menempuh perjalanan jauh yang menyulitkan, seolah-olah dia sedang memasuki sebuah sorga di kota kecil ini.
Boleh dikata hampir siang malam ia menempuh perjalanan di atas punggung kudanya, hampir terlupa olehnya betapa lezat dan nikmatnya hidangan dan bau arak, tidur, serta kejadian tempo hari.
Jikalau ia tidak menunggang kuda ini bahwasanya tak mungkin secepat ini ia sudah tiba di kota kecil ini, di sini, pada cuaca terang yang tiada angin puyuh, dari kejauhan dapat kau terawang kemegahan bangunan tembok besar yang melingkar-lingkar di atas gunung gemunung di udara sana.
Hari ini angin berhembus kencang, pasir kuning berterbangan membumbung ke angkasa, pelayan-pelayan toko dan pemilik warung makan di pinggir jalan tak henti-hentinya menyapu bersih debu pasir yang hinggap di atas kue kongpiang atau barang dagangan lainnya.
Cukup semenit saja kau menghentikan pekerjaanmu, kue-kue itu akan terbungkus oleh lapisan debu pasir warna kuning laksana minyak sapi.
Kue macam itu, di tempat seperti ini, sudah merupakan makanan paling lezat dan berharga untuk mengenyangkan perut.
Sebuah kereta bobrok ditarik seekor kuda sedang mendatangi dari ujung jalan sana, kusir kereta adalah laki-laki kekar yang tidak sabaran, seakan-akan ia hendak mencambuk dan menghabiskan tenaga kuda yang kurus kering itu supaya kereta berlari lebih kencang lagi.
Tepat pada saat itu, seekor kucing berlari keluar dari sebuah warung arak, agaknya hendak menyebrang jalan.
Kebetulan kereta berkuda itu sedang mencongklang pesat mendatangi, terang si kucing takkan bisa terhindar lagi, tergilas atau terinjak mampus.
Pada saat itu pula, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang menerjang keluar pula dari warung arak itu, begitu cepat laksana anak panah meluncur tiba, ia tubruk dan tangkap kucing itu, dengan badan raganya ia lindungi kucing itu dari injakan kaki kuda dan tergilas roda kereta yang berat.
Maka kaki kuda menginjak punggungnya, demikian pula roda kereta menggilas lehernya.
Sudah tentu kejadian yang luar biasa ini membuat banyak orang-orang di jalanan menjerit kuatir.
Coh Liu-hiang sendiripun berubah air mukanya.
Dengan pertaruhkan jiwa sendiri ini melindungi seekor kucing, apakah dia berotak miring?
Demikian pula kusir kereta melihat keretanya menggilas seseorang, kejutnya bukan kepalang.
Lekas ia tarik kendali menghentikan kereta, lompat turun lalu berlari ke belakang, ingin ia memeriksa dan menolong.
Dilihatnya orang itu masih rebah di tanah, sebelah tangannya memeluk kucing itu sembari tawa berseri, katanya lucu.
"Pus mungil, lain kali kalau menyebrang jalan harus hati-hati, jaman seperti ini banyak manusia yang buta matanya, kalau kau tergilas mampus oleh keparat seperti itu, memangnya tidak sia-sia dan penasaran?"
Kaki kuda dan roda kereta menginjak dan menggilas badan orang ini, dari atas kepala sampai ke ujung kaki, ternyata tak terlihat sedikit lukapun di atas badan laki-laki ini, hanya baju rombeng yang dipakainya itu tambah berlobang dua tempat.
Sudah tentu kejut dan gusar pula kusir kereta, bentaknya memaki.
"Siapa keparat yang kau maksud, jika kau mampus, bapakmu ini harus kena perkara,"
Saking gusar kontan ia layangkan kakinya menendang.
Tangan kanan orang itu masih memeluk kucing, mata melirikpun tidak, cukup tangan kiri sedikit bergerak, entah apa yang terjadi, badan kusir kereta yang tinggi kekar itu tahu-tahu melayang naik ke atas seperti disurung ke atap rumah orang.
Kaget dan geli pula orang-orang yang menonton kejadian lucu di tengah jalan ini, baru sekarang kusir kereta itu tahu takut dan kaget, jikalau orang sedang kerepotan dan mencak-mencak di atap rumah.
Orang itu sebaliknya pelan-pelan bangkit terus masuk ke warung arak sambil memeluk kucing manis itu, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa atas dirinya.
Sinar matahari menyoroti selebar mukanya yang kehijauan ditaburi cambang bauk lebat dan kasar, nampak seri tawanya yang kemalas-malasan, sepasang matanya yang besar hitam dan bercahaya.
Tadi badannya bergerak secepat anak panah, gerak-geriknya gesit laksana naga mencari harimau ngamuk, kini langkah kakinya malah bergoyang gontai seperti ogah berjalan, ingin rasanya cepat-cepat ada orang yang menggotong dirinya masuk ke dalam warung arak.
Mendadak Coh Liu-hiang melompat turun dari punggung kudanya, teriaknya keras-keras.
"Oh Thi-hoa, Oh hongcu (Oh si gila), kenapa kau bisa berada di sini?"
Orang itu berpaling dan melihat Coh Liu-hiang pula, seketika ia berjingkrak kegirangan, serunya tertawa besar.
"Coh Liu-hiang, kau ulat tua yang busuk ini, dengan cara bagaimana pula kau bisa berada di sini?"
Tanpa hiraukan kucing dalam pelukannya lagi ia memburu ke depan, sekali pukul ia hantam pundak Coh Liu-hiang.
Coh Liu-hiang tidak mau rugi, sekali sodok iapun pukul perut orang.
Saking kesakitan keduanya menjerit mengaduh, namun tawa riang mereka membuat mata berkaca-kaca hampir menangis saking kegirangan akan pertemuan yang tak terduga ini.
"Tak heran selama beberapa tahun belakangan ini aku tidak melihatmu, kukira kau sudah mampus karena malas, kiranya kau sembunyi di tempat ini."
Demikian kata Coh Liu-hiang.
"Kau Lo co jong ulat tua busuk inipun bagaimana bisa tiba di sini, apa diusir oleh gendak-gendakmu itu sampai ngacir ke tempat ini?"
Kembali mereka saling pukul dan tertawa berhadapan, dengan langkah semula mereka masuk ke kedai arak, mereka duduk di pinggir meja yang sudah reot, kucing kembang itu segera loncat naik ke atas meja.
Sekali jewer Oh Thi-hoa segera menariknya turun ke bawah, katanya tertawa.
"Pus mungil, jangan kau cemburu, ulat tua busuk ini adalah teman baikku, dia sudah datang, terpaksa kau mendekam di samping saja..."
Dalam ocehannya Coh Liu-hiang ternyata dinamakan ulat busuk, kalau dipikir dia sendiri hampir pecah perut saking geli. Kata Coh Liu-hiang tertawa besar.
"Sekian tahun tak bertemu, tak nyana kau kucing malas ini sudah punya teman baru.. mari! Pus mungil, kau minum dua cangkir bersamaku!"
"Apa, minum dua cangkir?"
Tanya Oh Thi-hoa membelalak.
"Hari ini kalau tidak kucekok kau dua ratus cangkir, anggap aku bukan teman baikmu."
Lalu ia gebrak meja dan berkaok-kaok.
"Arak! Arak! Lekas antarkan arak, memangnya kau hendak membuat temanku mati kekeringan."
Seorang nyonya kurus, kecil hitam dan kering, menenteng sebuah poci arak keluar.
"Blang,"
Ia banting poci arak yang terbuat dari tanah liat itu ke atas meja, putar badan lalu tinggal pergi.
Tanpa bersuara melirikpun tidak kepada Oh Thi-hoa.
Sebaliknya kedua mata Oh Thi-hoa terbelalak seperti hendak mencolot keluar, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip, seolah-olah dia mengawasi seorang perempuan yang tercantik di seluruh jagad ini.
Coh Liu-hiang tertawa geli, batinnya.
"Mungkin kucing malas ini sudah terlalu lama tidak melihat cewek, macam apa sebenarnya bentuk seorang perempuan jelita, mungkin sudah dia lupakan."
Sebetulnya nyonya ini tidak begitu jelek, usianya pun belum tua.
Matanyapun bening bundar dan tidak sipit, cuma badannya kurus kering bobot dagingnya tidak cukup empat kati, seperti ayam babon yang kelaparan dan kering dihembus angin.
Setelah bayangan orang menghilang ke balik pintu sana, baru Oh Thi-hoa berpaling, dia tuang dua cangkir arak, katanya tertawa.
"Coh Liu-hiang, kau harus rada hati-hati. Oh Thi-hoa yang sekarang kau hadapi takaran minumnya tidak sama dengan Oh Thi-hoa masa lalu. Masih segar dalam ingatanku kau cekoki aku sampai mabuk sebanyak delapan puluh delapan kati, sekarang aku harus mulai menuntut balas."
"Delapan puluh sembilan... masakah kau sudah lupakan kejadian dalam genteng besar itu?"
"Mana bisa aku melupakan, kali itu aku hanya mencampur sesendok obat urus-urus dalam arakmu, kau malah ceburkan badanku ke dalam gentong arak keluarga Thio itu, sehingga aku mabuk tiga hari tiga malam."
"Apakah kau masih ingat kapan peristiwa itu terjadi?"
"Delapan belas... mungkin hampir genap sembilan belas, waktu itu, aku bocah yang baru berusia delapan sembilan tahun. Jikalau tidak berkawan dengan kau teman jelek ini, masakah aku bisa belajar minum arak."
Coh Liu-hiang berkakakan, ujarnya.
"Jangan kau lupa, pertama kali kami minum, arak itu toh hasil curianmu."
"Apa benar?"
Ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa getir.
"Aku sudah lupa."
Akhirnya ia berkakakan pula, serunya.
"Bicara terus terang, arak curian rasanya memang lebih nikmat, selama hidup ini aku takkan bisa merasakan arak seenak itu,"
Dia hanya menengadah kepala, arak semangkok besar itu, sekejap saja sudah habis. Coh Liu-hiang melihat perbuatan orang, diapun habisi araknya, lalu tanyanya mengerut alis.
"Apakah ini arak?"
"Apa kalau bukan arak?"
"Tadi kukira cokak!"
Oh Thi-hoa terbahak-bahak, kembali dia tuang arak dan berkata.
"Di tempat seperti ini ada arak seperti ini pula, sudah terhitung besar rejekimu."
Coh Liu-hiang terima arak yang diangsurkan, gumamnya.
"Agaknya kucing malas ini bukan saja sudah lupa akan paras jelita yang sesungguhnya, sampaipun rasa arak yang tulenpun sudah dia lupakan."
Puluhan poci arak, dalam sekejap sudah tertenggak habis ke dalam perut, sudah tentu nyonya kurus kecil itupun berulang kali keluar masuk puluhan kali.
Setiap kali ia banting poci arak di atas meja terus putar badan tinggal pergi.
Belakangan setiap orang menongol keluar pintu, hati Coh Liu-hiang menjadi tegang, hampir tak tertahan dia hendak menutupi kedua telinganya, apa boleh buat, kedua tangannya dengan tersipu-sipu harus pegangi meja, kalau tidak meja reot itu pasti bisa remuk dan rontok seluruhnya.
Sebaliknya setiap kali nyonya kurus kecil itu muncul, biji mata Oh Thi-hoa lantas bersinar cemerlang, suara tawanya pun lebih lantang, sikapnya yang semula malas dan ogah-ogahan seketika bersemangat.
Tak tertahan akhirnya Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya.
"Anak muda yang harus dikasihani, bahwasanya berapa lama kau sudah menetap di tempat seperti setan ini."
Oh Thi-hoa mengedip-ngedip matanya, sahutnya.
"Masihkah kau ingat, berapa tahun sudah berselang sejak terakhir kali aku bertemu dengan kau?"
"Tujuh tahun, tak nyana sekejap saja sudah tujuh tahun."
Mata Oh Thi-hoa memandang keluar nan jauh di sana, katanya rawan.
"Waktu itu musim panas, di Mo-jin-ouw danau jangan murung. Tahun itu kembang teratai berkembang biak amat indahnya di Mo-jin-ouw, kami gunakan daun kembang teratai sebagai cawan arak, setiap kali tenggak habis melempar selembar daun, belakangan daun-daun teratai itu hampir saja menenggelamkan perahu yang kita tumpangi, daun teratai di pinggirmu sudah bertumpuk setinggi hidungmu."
Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya.
"Musim panas tahun itu, sungguh cepat berlalu!"
Mendadak Oh Thi-hoa berkakak, serunya.
"Masihkah kau ingat siapa pula yang tahun itu berada bersama kami?"
"Seumpama kita sudah melupakan kehadiran manusia dalam dunia ini, tentu takkan terlupakan kepada Ko Ah-nam, waktu itu dia baru saja berhasil mempelajari Wi hong li-kiam dari Hong-san, setiap kali mabuk, tentu dia mainkan ilmu pedang itu di hadapan kami sehingga Kim-leng yang suka iseng setiap hari merubung di pinggir danau tak mau pergi ingin menonton pertunjukan gratis, sudah tentu di antara mereka ada yang ingin mencuri belajar ilmu pedangnya itu."
"Bicara terus terang, ilmu pedangnya itu tidak begitu bermutu, belakangan setiap kali ia berlatih ilmu pedangnya, aku lantas terkencing-kencing. Sungguh aku heran, nama julukan Leng-hong-ji kiam-khek gelarnya itu entah cara bagaimana dia dapatkan."
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Katamu ilmu pedangnya tidak baik, tapi Ki Bing-yam malah bilang bahwa ilmu pedangnya itu tiga puluh persen lebih bagus dari Hoa-san-pay Ciangbun Ji Siok-tin."
"Benar!"
Seru Oh Thi-hoa mengelus tapak tangan.
"Jago mampus itu bisa tiga hari tidak bicara, namun begitu buka suara selalu mengagulkan ilmu pedangnya sendiri. Kukira delapan puluh persen dia sudah jatuh hati kepadanya."
"Tapi dia sebaliknya malah jatuh hati kepada kau, kalau tidak masakah dia sudi bergaul dan keluntungan dengan laki-laki setan arak seperti kami ini, apa kau masih ingat waktu hari kau mabuk, pernah kau berjanji hendak menikah dengan dia."
Oh Thi-hoa menyengir, ujarnya.
"Masa aku tidak ingat, hari kedua setelah aku sadar sudah kulupakan peristiwa itu, siapa tahu dia justru tidak lupa, malah dia menuntut dan desak aku ingkar janji, dia takkan punya hidup lagi, dia hendak bunuh diri, terpaksa malam itu juga aku terjun ke dalam air, dan selulup sejauh mungkin melarikan diri."
Belum habis cerita orang, Coh Liu-hiang sudah mendekap meja karena perut sakit tertawa terpingkal-pingkal, katanya dengan nafas ngos-ngosan.
"Tak heran, hari kedua setelah terang tanah, tiba-tiba kudapati kalian berdua sudah tidak kelihatan pula bayangannya, itu waktu aku kira kalian sudah kawin lari. Oleh karena itu Ki Ping-yam yang menjadi masgul dan murung, malam itu hampir saja dia mampus karena mabuk, hari ketiga ternyata diapun menghilang, sampai sekarang belum pernah aku melihatnya."
Oh Thi-hoa tertawa getir, katanya.
"Kalau bukan lantaran Ko Ah-nam mengejarku mati-matian, memangnya aku bisa lari ke tempat nan jauh ini?"
"Sejak tujuh tahun kau lari ke sini, kau tetap tinggal di sini?"
"Tiga tahun setelah dia mengejarku, baru aku lari ke tempat ini."
"Jadi kau sudah empat tahun menetap di sini?"
Oh Thi-hoa teguk araknya, katanya pula.
"Tiga tahun sepuluh bulan."
"Soal apa yang menyebabkan kau kerasan tinggal di tempat setan seperti ini selama itu, sungguh aku tidak habis mengerti."
Kembali Oh Thi-hoa tenggak araknya, mendadak ia pelototi Coh Liu-hiang, serunya.
"Kau ingin aku bicara kepadamu?"
"Lekas katakan!"
Oh Thi-hoa dekatkan mulutnya ke telinga Coh Liu-hiang, katanya.
"Sudahkah kau melihat tegas perempuan yang mengantar arak tadi?"
Coh Liu-hiang berjingkrak berdiri, serunya.
"Kau... jadi lantaran dia kau menetap sedemikian lama di tempat ini?"
"Tidak salah!"
Lekas Coh Liu-hiang berpegangan meja, agaknya dia kuatir kalau dirinya jatuh semaput.
Dari atas ke bawah bolak-balik ia amati Oh Thi-hoa dengan seksama, seperti setua ini baru pertama kali ia pernah melihat laki-laki brewok di hadapannya ini.
Ia lalu pelan-pelan duduk kembali di tempatnya, setelah tenggak secangkir arak, berkata pelan-pelan.
"Aku ingin mohon sesuatu kepadamu."
"Soal apa?"
"Perempuan itu dari kaki sampai kepala, dalam hal apa dia lebih elok dari Ko Ah nam, bisakah kau jelaskan?"
Kembali Oh Thi-hoa habiskan tiga cawan arak, sahutnya.
"Biar kuberitahu kepadamu, Ko Ah-nam hendak mengejar aku, sebaliknya aku mengejar dia malah empat tahun lamanya aku tak berhasil menyanderanya, disitulah letak kebalikannya, kau tahu tidak?"
Mata Coh Liu-hiang menatap mukanya, melotot sepeminuman teh lamanya, baru dia unjuk rasa senang dan tertawa besar pula, sambil mendekap meja, katanya.
"Karena baru sekarang aku mau percaya, bahwa karma memang bisa terjadi di dunia ini."
Oh Thi-hoa manggut-manggut, dengusnya.
"Apa yang kau tertawakan, aku memang tahu perasaan hati manusia yang paling suci dan bersih ini, orang kasar dan awam seperti kau, selama hidup pasti takkan mengerti."
Coh Liu-hiang menekan perut, katanya.
"Oh Tuhan! Cinta suci nan setia! Sukakah kau ampuni aku? Aduh, perutku hampir pecah!"
Dengan bersungut-sungut Oh Thi-hoa diam saja, sekaligus dia habiskan tiga cawan lagi.
Mendadak iapun terbahak-bahak, keduanya mendekap meja, dan tertawa besar berhadapan saling pandang dan tuding, air mata sampai bercucuran.
Bersambung ke
Jilid 13
Jilid 13
"BAGAIMANA bisa terjadi asmara suci murni ini coba kau kisahkan kepadaku."
"Setelah kuceritakan kau jangan tertawa lho!"
"Tidak! Tanggung tidak tertawa!"
"Pertama kali aku tiba di sini, sudah tiga bulan aku tak pernah melihat perempuan, begitu melihat dia, kau boleh mengatakan dia kurang cantik, tapi aku beranggapan ditempat ini ia merupakan perempuan yang paling cantik."
"Aku mengakui."
"Oleh karena itu aku ingin.......... bermain-main dengan dia, dalam anggapanku, sekali raih tentu berhasil, siapa tahu dia justru pandang aku sebagai orang mati, melirikpun tidak sudi kepadaku. Coh-Liu-hiang tahan rasa gelinya, katanya.
"Memangnya Hong-liu 'bajul Kaucu Hoa-tiap oh 'kupu kembang', dipandang sepele oleh perempuan kecil itu, sungguh keterlaluan dan penasaran! Sampai akupun ikut merasa jengkel"
Semakin ia tidak hiraukan aku, Semakin merupakan daya tariknya dalam pandanganku.
aku siap dalam bulan, siapa tahu dua bulan kemudian, sedikitpun aku tidak mendapat kemajuan maka aku persiapkan dari tiga bulan, siapa tahu..."
Ia tertawa getir.
"Tak usah kukatakan kaupun sudah melihatnya, aku sudah berjerih payah selama tiga tahun sepuluh bulan penuh, dalam pandangan matanya tetap sebagai orang mati, malah unjuk tawa atau tersenyum kepadakupun dia tidak pernah."
Coh Liu hiang memang tahan geli dan tak tertawa, memang dia takkan bisa tertawa. Ikut prihatin akan usaha teman karibnya yang gagal ini. Kembali Oh Thi-hoa habiskan tiga cawan arak, katanya keras.
"Jikalau kau unjuk sedikit rasa kasihan kepadaku, biar kutuang arak sepoci ini ke dalam hidungmu."
"Aku tidak kasihan kepadamu, aku malah kagum kepadamu, kagum hampir mampus."
Oh Thi hoa terkial-kial sampai arak dalam mulutnya menyemprot keluar membasahi selebar meja.
"Sekarang."
Katanya.
"Aku ingin dengar ceritamu, kenapa pula kau bisa sampai disini? Memangnya ada siapa yang hendak paksa kau untuk mengawini dia menjadi binimu?"
Sikap riang Coh Liu hiang tadi seketika sirna, mukanya tampak masgul dan kesal, sesaat ia berdiam diri, lalu katanya pelan-pelan.
"Apa kau masih ingat Soh Yong-yong, Li Ang siu dan Song-Thiam ji?"
"Sudah tentu masih ingat, waktu itu mereka masih gendak genduk cilik, sekarang tentunya sudah tumbuh dewasa menjadi perawan jelita, masakah mereka hendak menikah dengan kau, tak heran kau lari ke tempat sejauh ini."
"Orang lain sama menyangka hubunganku dengan mereka rada kurang genah, bahwasanya sejak berusia dua belasan mereka sudah ikut padaku, tidak lebih mereka pandang aku sebagai toakonya sendiri, anggap aku sebagai teman karib, dan aku... tentunya kau tetap percaya kepadaku, sejak mula aku pandang mereka sebagai adik kandungku."
"Orang lain tidak percaya kepada kau, tapi aku tahu kau ulat tua busuk ini, kalau bertindak rusuh memang bikin kepala orang lain pusing tujuh keliling, tapi bila kau bertindak baik, orang lain mimpipun tidak pernah menduganya."
Coh Liu hiang menarik napas panjang, ujarnya rawan.
"Kini mereka bertiga sama diculik oleh orang."
Tersirap darah Oh Thi-hoa, serunya.
"Diculik orang? Siapa orangnya yang punya nyali sebesar itu?"
"Pernahkah kau dengar nama Ca Bok-hap raja padang pasir?"
"Keparat itu berani mencari gara-gara terhadapmu? Biar kubeset dia menjadi umpan anjing!"
"Bukan dia, tapi putranya Hek tin-cu."
"Persetan dia Hek tin-cu atau Pek tin-cu 'mutiara putih' berapa banyak sih dia punya nyali, berani mengganggu usik saudara kami?"
Tiba-tiba ia gebrak meja seraya berdiri, serunya lantang. 'Hayo berangkat! Kita buat perhitungan kepadanya!"
"Kau ingin ikut aku?"
"Kau ulat tua busuk ini."
Damprat Oh Thi-hoa gusar.
"Kau pandang aku apa? Kau menghadapi kesulitan, kalau tidak aku membantumu siapa yang bantu kau? Coh Liu hiang berjingrak berdiri, serunya.
"Dengan kau sebagai teman seperjalananku, kalau padang rumput tidak kuobrak-abrik jangan panggil aku sebagai Maling kampiun!"
Mendadak ia hentikan tawanya, sekilas ia melirik ke pintu belakang, katanya.
"Tapi bagaimana dia? Kau tidak mau perdulikan ia lagi?"
Oh Thi hoa tertawa lebar, ujarnya.
"Cukup asal sepatah katamu saja, batok kepalaku ini pun boleh kuserahkan, masakah aku tidak tega meninggalkan dia?"
Dengan tertawa besar, mereka beriring keluar pintu.
Tak nyana nyonya kurus kecil itu mendadak memburu keluar dengan langkah seperti terbang dari belakang pintu, dengan kencang dia tarik lengan baju Oh Thi-hoa, teriaknya lantang.
"Kau hendak tinggal pergi demikian saja?"
Sekilas Oh Thi-hoa melengak, tanyanya.
"Apa rekening arakku belum kubayar?"
"Siapa sudi terima uangmu."
Suruh nyonya kecil kurus dengan suara serak.
"Yang kuinginkan adalah kau sendiri."
Kata-kata ini seketika membuat Oh Thi-hoa terpaku di tempatnya, demikian juga Coh Liu hiang menjublek tak bergerak. Berkata Oh Thi-hoa tersendat.
"La... lalu kenapa kau selama ini tidak hiraukan sapa tegurku?"
"Aku tidak mau hiraukan kau, lantaran aku tahu, kau menyukai aku karena aku tak mau hiraukan kau!"
Jawab nyonya kurus kecil. Kembali Oh Thi-hoa melenggong, katanya tertawa getir.
"Coh Liu hiang, kau sudah dengar? Jangan sekali-kali kau pandang perempuan siapa saja sebagai manusia pikun, siapa bila pandang perempuan seorang pikun, dia sendiri yang pikun."
Bercucuran air mata nyonya kurus kecil, katanya.
"Kumohon kepadamu jangan tinggalkan aku, asal kau tidak pergi, segera aku rela menikah dengan kau."
Kata-kata 'menikah' laksana sengat kala yang menusuk ulu Oh Thi-hoa, dengan kaget ia tarik lengan bajunya, seperti kelinci yang ketakutan dikejar harimau lapar cepat ia melarikan diri.
Walau gerak-gerik Coh Lui-hiang tidak lambat, kuda tunggangannya dapat berlari sekencang angin puyuh, tapi dia harus kerahkan segala tenaganya, barulah berhasil menyandak Oh Thi-hoa, serunya tertawa besar .
"Kau tak usah takut, dia takkan menyandak kau, dia tidak memiliki Ginkang setinggi Ko Ah-nam."
Baru sekarang Oh Thi-hoa kendorkan larinya, katanya tertawa getir.
"Kau dengar, ternyata dia tahu bahwa aku menyukai dia lantaran dia tidak mau hiraukan aku! Kau bunuh akupun, aku takkan mau percaya, perempuan tampangnya itu, ternyata sedemikian cerdik."
"Sebodoh-bodoh perempuan, tentulah seorang ahli pula dalam bidang ini, mungkin selama hidupnya ini memang dia sedang menjebak dan memancing laki-laki goblok seperti kau ini terjerat muslihatnya, memangnya dia tidak bisa pentang mata lihat orang?"
"Perempuan!"
Ujar Oh Thi-hoa menghela napas.
"Selama hidupku ini, mungkin takkan bisa menyelami jiwa perempuan."
"Tapi perempuan justru paling paham menghadapi laki-laki, mereka tahu kebanyakan laki-laki itu bertulang kere!"
Akhirnya Oh Thi-hoa bergelak tertawa, katanya .
"Maksudmu tak lain hanya ingin mengatakan bahwa aku ini memang balong(tulang) kere"
"Kalau toh kau berpikir demikian, kenapa aku harus menyangkal!"
Dia sudah lompat turun dari kudanya, jalan berjajar dengan Oh Thi-hoa, beberapa jauh kemudian baru ia sadari bahwa Oh Thi-hoa membawanya menempuh perjalanan yang keliru, segera ia bertanya.
"Kemana kau hendak pergi?"
"Lan-ciu"
"Lan-ciu! Heng-tin-cu tinggal di padang pasir di luar perbatasan, untuk apa kita menuju ke Lan-ciu?"
"Demikian saja kita berdua hendak pergi ke padang pasir, setelah kau berhadapan dengan Hek-tin-ciu, mungkin tanganmu sendiripun kau tidak mampu mengangkatnya, memangnya kau ingin melabrak orang?"
Coh Liu-hiang mengerutkan keningnya, katanya .
"Aku sudah tahu bahwa padang pasir serba berbahaya."
"Berbahaya? Memangnya kau sangka cukup dilukiskan dengan sepatah kata 'berbahaya' saja? Orang yang belum pernah ke padang pasir, mimpipun tak pernah terpikir olehnya betapa menakutkan padang pasir itu."
"Kau sedang gertak dan menakuti aku?"
Oh Thi-hoa pejamkan mata, ujarnya .
"Ditengah padang pasir nan luas tak kelihatan ujung pangkalnya itu, jiwa seseorang manusia merupakan sebutir kerikil yang tak berarti sama sekali, seumpama Coh Liu-hiang si maling kampiun yang kenamaan itu mampus ditelan pasir kuning di sana juga merupakan kejadian biasa, tak terhitung istimewa."
"Kau takkan bisa membuatku takut!"
Oh Thi-hoa tidak hiraukan ocehannya, katanya pelan-pelan.
"Disana begitu terik sehingga ingin rasanya kau sendiri membeset kulitmu, sebaliknya kalau malam dinginnya bisa bikin darahmu membeku dalam badan. Gundukan gunung dalam sedetik bisa berubah menjadi tanah yang datar, tanah datar tiba-tiba menjadi tanah yang tinggi, dikala angin badai melanda tiba, sebuah kota besarpun mungkin bisa terpendam dan dikubur didalam pasir, ditambah air yang merupakan barang termahal melebihi jiwa, khabarnya dalam setiap jam, sepuluh manusia yang berada di padang pasir mati kekeringan."
"Tempat yang sepuluh kali lebih berbahaya dari padang pasirpun pernah ku datangi,"
Sela Coh Liu-hiang tertawa. Terbuka mata Oh Thi-hoa, katanya keras.
"Yang kau hadapi dulu hanya manusia, tapi yang harus kau hadapi di sana adalah kebesaran alam serta kekejamannya! Apalagi kau tidak tahu menahu tentang seluk beluk padang pasir, sebaliknya Hek-tin-cu sejak kecil dibesarkan di padang pasir, cuaca, situasi bumi, tata kehidupan manusia serta pergaulan adat istiadat bangsa minoritas di sana, tiada yang kau ketahui, mengandalkan apa kau hendak mengikuti dia?"
Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.
"Ucapanmu ini memang benar!"
"Apalagi, sampai sekarang kau sendiri belum tahu dimanakah dia sebetulnya berada, benar tidak?"
Coh Liu-hiang manggut sambil mengiakan.
"Kalau demikian, hakekatnya kau takkan bisa menemukan dia, kau kira padang pasir hanya sebesar taman kebun rumahmu? Di sana langit tersentuh bumi, bumi bersambung dengan langit, sehingga kau sulit membedakan arah, dan lagi bahasa pergaulan bangsa gembala sepatah katapun kau tidak mengerti. Jikalau kau hendak menjelajah kesana, membentur nasib, cukup dua putaran jalan, kau pasti sudah tersesat jalan, dalam jangka tujuh hari kau akan mati kering karena dahaga,"
Matanya semakin melotot mengawasi Coh Liu-hiang, tambahnya keras .
"Sebetulnya kau seorang yang punya otak jernih dan pikiran pandai, memangnya kali ini kau sudah gila saking gelisahnya?"
Sesaat lamanya Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya kemudian dengan tertawa getir .
"Memang aku gila saking gelisah, tapi betapapun sukar dan berbahayanya, aku tetap akan menyusul kesana, jikalau kau.................."
"Kau ulat busuk ini,"
Damprat Oh Thi-hoa gusar .
"Kau sangka aku gentar?"
"Jadi maksudmu.............."
"Maksudku, jika kita memang harus pergi, kita harus bekerja dengan sempurna dan mempersiapkan diri. Urusan harus berhasil dengan gemilang, jangan seperti orang pikun terima menghantar kematian secara sia-sia belaka. Kita harus bertindak dengan tenang dan kepala dingin."
"Apa sekarang kau tenang dan dingin kepala?"
Tanya Coh Liu-hiang tertawa. Oh Thi-hoa ikut tertawa, ujarnya .
"Melihat kau bersikap seperti anak kecil yang diburu nafsu, sungguh tak tertahan aku ingin marah, kita sekarang sudah cukup dewasa, pekerjaan seorang dewasa harus menunjukkan gengsi dan pamor orang dewasa pula."
Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, katanya gemas .
"Beberapa hari ini, pikiranku memang terlalu kusut!"
"Kau bisa berpikir demi keselamatan orang lain, jelas bahwa kau ini memang anak mungil, tidak seperti tutur kata orang lain, adalah seekor rase, seekor ular beracun."
Kembali ia berkaok-kaok keras ."
Jika kita ingin menolong mereka, kita harus menjadi rase atau ular berbisa, ditempat seperti itu manusia yang berpegang pada prikemanusiaan takkan bisa berumur panjang."
Coh Liu-hiang mengamat-amatinya, katanya geleng-geleng .
"Mungkin aku masih bisa menjadi rase, tapi ular beracun.................akupun tak kuasa berbuat demikian apalagi kau."
"Oleh karena itu, kita harus mencari orang yang dapat merubah kita menjadi ular beracun itu."
"Siapa?"
"Si-kong-ke Ayam jantan mati."
Maksudmu Ki Ping-yan? Kau tahu dimana ia berada? "Dia berada di Lan-ciu."
"Dia? memangnya dia amat hapal dan sudah menjadi lurah di padang pasir?"
"Ketahuilah dia sudah kaya raya, kekayaannya itu dia keduk dari padang pasir. Setelah dia berpisah dengan kau, langsung dia menuju ke padang pasir, dan dalam lima tahun dia sudah menjadi pedagang yang paling pintar dan cerdik, dia sekarang seorang hartawan besar."
"Sebaliknya kau tetap laki-laki yang paling rudin yang serba miskin!"
Olok Coh Liu-hiang.
"Maka itulah pernah kukatakan, laki-laki yang gagal dalam permainan bidang perempuan, dia akan lebih sukses dalam usahanya."
Coh Liu Hiang terloroh-loroh godanya.
"Memangnya kau sendiri kira, kau seorang ahli dalam bidang perempuan?"
Lan-ciu, merupakan kota besar yang termasyhur, ramai, makmur dan pusat perdagangan yang terletak di persimpangan jalan, pusat dari segala kekayaan alam, pusat perdagangan, pusat berkumpulnya orang-orang kaya yang suka berpetualang.
Di tempat seperti ini, kekayaan bukan apa-apa dalam pandangan manusia, tapi bila kau benar-benar memiliki kekayaan yang berlimpah, masyarakat tetap akan bersikap hormat dan tunduk kepadamu.
Ki Ping-yang adalah salah satu dari sekian banyak hartawan yang menimbulkan hormat dan disegani, itu pertanda hartawan seperti dia ini, dimanapun sukar dicari keduanya.
Sebetulnya dia tidak punya usaha dagang yang menentu, setiap usaha dagang apapun asal mendatangkan keuntungan uang, ia pasti sukar menanamkan modal dan kaki atau tangannya, berbagai perdagangan didalam kota Lan cui kalau uang yang berputar sepuluh prosen keuntungannya, satu persen adalah miliknya.
Orang yang begini luas pergaulan dagangnya orangnya yang dihormati dan disegani, siapa pula yang tidak mengenalnya?
Oleh karena itu, dengan gampang Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa menemukan tempat tinggalnya.
Seorang laki-laki menyambut tamu berbadan tegap kekar membawa mereka memasuki pekarangan yang lebat ditumbuhi pepohonan dan pemuda berbaju putih bersih mengantar mereka memasuki sebuah pendopo yang luas dan terpanjang mewah dan megah, dan setiap orang yang mereka temui bersikap hormat dan sopan santun, walaupun mereka mengenakan pakaian seorang penyambut tamu.
Ruang tamu yang besar terbuka ini dilembari kerai-kerai bambu, sehingga terik matahari di musim kemarau ini, teraling di luar angin lalu menghembus deras sehingga kerai bergoyang, selintas pandangan didalam kerai seolah-olah ada burung walet sedang terbang bebas diangkasa.
Oh Thi-hoa menghela napas ujarnya.
"Beginilah pamor seorang hartawan, umpama kacung-kacung itu sama memandang rendah kami, mimik muka mereka masih hormat dan sopan. Jago mampus kita itu seperti ditakdirkan lahir untuk kaya, sedikitpun tidak memperlihatkan sikap kasar sebagai tuan tanah atau keluarga penindas."
Sorot mata Co-Liu-hiang mengawasi bayangan kembang di atas jendela, kupingnya mendengar suara air gemerisik, tangannya menumpang secangkir air teh bening wangi merangsang hidung, katanya tiba-tiba.
"Menurut hematku ini amat sulit."
"Soal apa amat sulit?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Memangnya kau belum paham karakternya, ingin menariknya keluar dari tempat semewah ini ke padang pasir yang terik dan sering terbit badai itu, kukira siapapun takkan mampu dan sudi."
"Tepat! Memang dia seorang laki-laki sejati, laki-laki yang keras kepala dan berhati baja selamanya tak pernah minta bantuan orang lain, selamanyapun tiada maksud ingin membantu kesulitan orang lain, tapi kau jangan lupa, betapapun dia adalah teman karib kita."
Coh Liu-hiang tersenyum.
"Bagaimanapun teman takkan lebih baik daripada diri sendiri."
"Jangan masgul, aku pasti punya akal untuk menyeretnya ikut kami, kalau terpaksa biar kita bakar saja rumah mewah ini, coba lihat dia mau pergi tidak?' Baur saja kata-katanya habis, terdengar seorang batuk-batuk di luar kerai. Dua gadis berpakaian serba putih berparas elok dengan rambut tersanggul tinggi, pelan-pelan melangkah masuk sambil memikul sebuah usungan kursi empuk, seseorang rebah semendeh di atas kursi empuk ini, mulutnya terpentang lebar, serunya tertawa lebar.
"Coh Liu-hiang, Oh Hong cu, tak nyana kalian setan arak ini, kiranya kalian belum lupa kepadaku."
Meskipun tertawa lebar dengan sikap gembira, namun kedua biji matanya tetap dingin tajam laksana burung elang yang buas.
oh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa lekas menyongsong maju dengan tertawa besar pula.
Kata Oh Thi-hoa.
"Gengsimu semakin besar, berapa sih harga kebesaranmu ini, melihat kawan lama, masih enak-enak rebah tak mau berdiri."
Ki Ping Yan tertawa-tawa, sambutnya .
"Jikalau kau bisa membuatku berdiri, seluruh milikku kuhadiahkan kepadamu."
Oh Thi-hoa tertegun, matanya mendelong mengawasi kedua kakinya yang tertutup selimut kain beludru, teriaknya .
"Kakimu?"
Ki Ping-yan menghela napas, ujarnya .
"Kedua kakiku ini sudah tak berguna lag."
Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa seketika menjublek. Tak tahan akhirnya Oh Thi-hoa menjerit keras .
"Sebetulnya kapan hal ini terjadi? Keparat siapa yang melakukan Biar kupukul hancur kedua kaki keparat itu!"
"Kalau kau ingin bantu aku menuntut balas agaknya harus bikin kau kecewa saja."
Ujar Ki Ping-yan. Oh Thi-hoa gusar, serunya.
"Jikalau aku dan Coh Liu-hiang tidak mampu menuntaskan balas sakit hatimu, dalam dunia ini mungkin tiada orang lain yang mampu menebus sakit hatimu."
"Memang tiada orang yang bisa menuntut balas bagi sakit hatiku."
Ki Ping-yang menegaskan.
"Kenapa?"
Suaran Oh Thi-hoa menjerit. Ki Ping-yan geleng-gelengkan kepala ujarnya .
"Yang bikin kedua kakiku ini lumpuh, sebenarnya bukan manusia, tapi padang pasir! Matahari yang patut mampus dan angin yang harus mati ditengah padang pasir..."
Ia tertawa getir lalu melanjutkan.
"Selama lima tahun penuh kau mengembara dan keluntang-lantung ditengah samudra padang pasir, bagaimana aku melewatkan kehidupan lima tahun dipadang-padang pasir mungkin tiada orang yang bisa membayangkan. Suatu ketika secara hidup-hidup aku terpendam di bawah tumpukan pasir dua hari kemudian baru aku tertolong oleh rombongan unta yang kebetulan lewat. Padang pasir yang harus mampus itu memang memberikan berkah harta benda yang takkan habis kumakan selama hidup, namun mendapatkan penyakit rematik di seluruh badanku, sekarang sudah mending, tinggal kedua kakiku ini yang lumpuh dan tak mampu bergerak lagi. Oh thi-hoa melongo pula, ujarnya.
"Ki Ping-yan, Ki Ping-yan! kukira kau ini manusia besi bertulang baja, selama ini kukira tiada sesuatu dalam dunia ini yang bisa membuatmu cidera atau luka-luka, siapa tahu..."
Tiba-tiba ia sepak mencelat sebuah kursi disampingnya, suaranya gemuruh.
"Padang pasir yang patut mampus, kenapa dalam dunia ini terdapat tempat-tempat setan seperti itu? Kenapa pula kita diharuskan meluruk kesana?' Ki Ping-yan menjerit kaget dan kuatir, tanyanya.
"Kalianpun hendak pergi ke padang pasir?' Dengan rasa berat Coh Liu-hiang menganggukkan kepala.
"benar."
Sahutnya.
"Dengarlah nasehatku, selama hidup ini jangan kalian pergi ke padang pasir, kau boleh percaya kepadaku, tempat itu tidak patut didatangi oleh seorang manusia yang berotak jernih dan sadar."
Coh Liu-hinag tersenyum kecewa, ujarnya.
"Siapa bilang sekarang aku ini orang yang berpikiran jernih?"
Ki Ping-yang kaget katanya. memangnya ada persoalan apa dalam dunia ini yang bisa bikin Maling Kampiun pusing kepala?"
Kembali Oh Thi-hoa menyela bicara .
"Sebetulnya kami hendak ajak kau ikut serta, dari para pelancong yang pulang dari padang pasir, kami mendengar pengalamanmu menjadi kaya. Kami kira kau sudah menundukkan padang pasir, siapa tahu....sekarang kau...."
Mendadak Ki Ping-yan pegang kedua kakinya yang terbungkus di bawah selimutnya, serunya serak.
"Tapi kini kedua kakiku ini, aku hanya mendelong awasi teman-teman baikku pergi...pergi..."
Orang yang biasanya bersikap dingin tenang ini, ternyata terharu dan terbawa emosi, seperti hendak meronta bangun, tapi kedua kakinya tak mampu bergerak seperti kayu, rasa sakit merangsang ulu hati lagi, akhirnya ia meloso jatuh dari kursi empuknya.
Lekas Oh Thi-hoa memayangnya, melihat keadaan temannya yang harus dikasihani ini hampir saja Oh Thi-hoa mengucurkan air mata saking kasihan, tapi mulutnya tertawa lebar serunya.
"Kaupun tak perlu bersedih, tanpa kau, aku dan ulat busuk tetap bisa bikin padang pasir porak poranda. Tunggulah saja kabar baik di sini sekaligus kami akan lampiaskan penasaranmu."
Matanya sudah berkaca-kaca.
Setelah mengucek matanya kembali ia berkata tertawa besar "Jikalau kau sangka tanpa kau ikut, kami berarti mengantar kematian, tentulah otakmu ini perlu disikat dan diperbaiki lagi.
Aku dan ulat busuk bukan nona besar yang lemah takut dihembus angin besar."
Dengan kedua tapak tangan Ki Ping-yan dekat mukanya. Seluruh badan bergetar menahan emosi dan gejolak hatinya. Coh Liu-hiang menyela.
"Tapi kalau kau tidak lekas sediakan arak seumpama aku menggendongmu pergi kau akan ku seret pergi ke padang pasir pula."
Pelan-pelan Ki Ping-yan kembali tenang. Iapun tertawa besar, serunya.
"Sudah sekian lama Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa datang kemari kenapa tidak lekas kusiapkan arak bagus dan hidangan lezat, memang aku pantas mampus...."
Piring, mangkok dan cangkir serta perabotan-perabotan antik yang berisi hidangan lezat memenuhi meja besar, cangkir arak terbuat dari batu pualam hijau, berisi arak warna merah jambrud, dalam pandangan seorang penggemar arak, merupakan suatu perjamuan yang paling mewah dalam dunia ini, apalagi yang melayani mereka makan minum adalah dua gadis cantik rupawan yang bisa membuat laki-laki ngiler dan terpesona.
Tapi kali ini Coh Liu-hiang tidak perlihatkan sikap biasanya untuk menikmati hidangan dihadapannya, menikmati kecantikan kedua pelayan ini, karena sikap mesra kedua gadis rupawan ini adalah sedemikian keluar batas terhadap Ki Ping yan, umpama seorang anakpun bisa merasakan keganjilan ini.
Memang diapun sedang menikmati arak bagus temannya ini, tapi ia cukup sadar, jangan sekali-kali kau bikin teman lamanya ini merasa jelus.
Demikian juga Oh Thi-hoa, dia melirikpun tidak kepada mereka, yang dia ingat hanya gegares sekenyang dan sepuas hatinya, memang kebanyakan orang bilamana hati sedang risau dan kusut, sering mereka lampiaskan gejolak hatinya dengan makan minum sebanyak banyaknya.
Bukan saja dia mengisi perut sendiri secangkir demi secangkir, diapun cekoki kepada Ki Ping-yan, dia berpendapat asal seseorang masih bisa minum makan dan minum, seumpama kaki sudah buntung, juga tidak menjadi soal.
Sekonyong-konyong Oh Thi-hoa bergelak tertawa, serunya.
"Ki Ping yan legakan saja hatimu kau pasti takkan mati seseorang yang masih bisa minum begini banyak, paling cepat masih bisa hidup tiga puluh tahun"
Ki Ping yan tersenyum, sahutnya.
"Arak kau bukan diminum dengan kaki, benar tidak?"
"Benar! Seumpama kedua kakimu sudah rusak anggota badanmu yang lain masih segar bugar baru sekarang aku bisa berlega hati."
Tiba-tiba Ki Ping yan menarik napas panjang, katanya pula.
"Tapi aku rada kuatir."
"Apa pula yang masih kau kuatirkan?"
"Begini saja kalian hendak pergi ke padang pasir?"
"Setelah perutku kenyang! Segera kami berangkat!"
"Kalian hendak pergi ke padang pasir, aku berani tanggung kalian takkan kuat menahan hidup sepuluh hari."
Coh Liu-hiang tersenyum, timbrungnya.
"Berapa lama orang lain bisa hidup disana, berapa lama pula kami harus hidup, kecuali semua manusia dipadang pasir sudah mampus seluruhnya kalau tidak, kitapun tetap akan bertahan hidup."
"Itu berlainan, manusia yang hidup ditengah padang pasir, mereka sudah digembleng sekeras baja, sedemikian keras dan kuat pertahanan mereka sampai kalianpun takkan pernah bisa membayangkan, sebaliknya kalian..."
Oh Thi-hoa marah, semprotnya.
"Memangnya kau kira aku dan Coh Liu-hiang tidak ungkulan dibanding mereka?"
"Kepandaian silat kalian dan kecerdikan otak sudah tentu jauh lebih unggul dari orang lain, tapi hati kalian, tulang dan anggota badan kalian, sudah lama terendam oleh arak, permainan perempuan, dan menjadi lemas oleh kehidupan yang foya-foya. Jadi kehidupan di padang pasir jauh sekali tidak mencocoki selera dan kondisi kalian."
Coh Liu-hiang tersenyum pula, katanya.
"Kau kira kami hidup foya-foya dan serba kesenangan?"
"Paling tidak sepuluh kali lebih senang dari kehidupan manusia ditengah padang pasir, karena kuatir air dalam badan mereka terkuras dan menguap, mereka boleh seharian tidak bicara, tidak bergerak, apa kalian mampu? Dikala perut mereka lapar, mereka bisa tangkap kadal dan dibakar, gegares kadal sebagai ganti paha ayam, apa kalian sudi? Bila mulut dahaga, mereka menggali pasir sampai beberapa tombak dalamnya hanya dengan kedua tangan saja, tujuannya hanya sekedar menghisap air di bawah pasir, dengan mengandal setitik air itu, mereka kuasa bertahan hidup tiga hari lagi, apakah kalian bisa minum kencing unta, apa kalian mau? Cukup asal kalian mengendus baunya yang sedap saja perut kalian pasti berontak dan muntah-muntah, dan sekali kalian muntah, elmaut sudah menunggu, ajal kalian akan semakin cepat."
Ki Ping-yan menghela napas, katanya pula.
"Manusia ditengah padang pasir, apa saja yang mereka lakukan demi bertahan hidup, bukan saja kalian takkan mampu melakukan, malah berpikirpun tentu takkan berani."
Oh Thi-hoa tertawa getir, katanya.
"Memang paling tidak aku takkan berani minum kencing, apalagi kencing unta!"
"Disaat perlu kalau kau tidak berani minum, jiwamu akan mampus, sebaliknya mereka berani minum, maka mereka kuat bertahan hidup, oleh karena itu, mereka jauh lebih kuat dari kalian, ini persoalan tentang hidup, jauh bedanya dengan kepandaian ilmu silat dan tiada hubungan kepintaran otak lagi."
Sekian lama Coh Liu-hiang menepekur lalu katanya sepatah demi sepatah.
"Ada kalanya menghadapi sesuatau urusan, meski kau tahu bakal mati, tapi kau tetap akan melaksanakan juga."
"Sudah tentu akupun tahu"
Ujar Ki-Ping yan menghela napas "Bila Coh Liu-hiang berketetapan hendak melaksanakan suatu urusan, siapapun takkan bisa menghalanginya, tapi kalau kalian berkukuh hendak pergi, janganlah pergi demikian saja."
"Bagaimana kita harus berangkat?"
"Kalian harus mempersiapkan banyak perbekalan."
"Apa saja yang harus kami persiapkan?"
"Paling sedikit kalian harus membawa lima ekor unta, air yang banyak, makanan dan banyak pula barang-barang keperluan lainnya. Kelihatannya memang tak berguna, tiba saatnya semua itu adalah barang-barang yang amat berguna dan besar manfaatnya, disamping harus mencari seorang tukang yang ahli dalam memelihara binatang tunggangan."
"Barang-barang itu."
Katanya lebih lanjut dengan tertawa.
"Sudah tidak perlu kalian sendiri berjerih payah, besok sore sebelum magrib aku akan siapkan seluruhnya dengan lengkap dan sempurna."
Coh Liu-hiang tertawa ujarnya.
"Tapi tujuan kami kesana bukan hendak melancong atau ingin hidup foya-foya, jangan kau bikin kita hidup kemewahan di sana. Soal binatang tunggangan aku bisa mempersiapkan sendiri dua ekor kuda, beberapa kantong air dan ransum, kukira sudah berkecukupan. Jikalau kau bisa siapkan beberapa arak untuk si gila she Oh ini sudah tentu lebih baik!"
Ki Ping-yan menghela napas, gumannya.
"Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang! Tak nyana watak kerbaumu tak berubah selama sepuluh tahun ini!"
Oh-Thi hoa bercokol di atas kudanya, kuda ini merupakan tunggangan yang terpilih diantara ribuan kuda yang lain, tapi tindak tanduknya seperti jeri mendekati kuda tunggangan Coh Liu-hiang, kuda hitam milik Hek-tin-cu itu, meski Oh-Thi hoa sudah melecut dan mengepraknya sampai jengkel, kuda itu tetap tak berani lari berendeng.
Terpaksa Oh-Thi hoa hanya mengintil di belakang Coh Liu-hiang, karena kurang senang mulutnya terus mengoceh dan menggerundel.
Sebaliknya sikap Coh Liu-hiang biasa saja, sedikitpun ia tidak memperhatikan sesuatu gejala, cuma sejak berpisah dengan Ki-Ping yan sampai sekarang dia tak pernah buka suara.
"Coh Liu-hiang!"
Seru Oh-Thi hoa tak tahan.
"Tahukah kau, sekarang aku mulai curiga apakah kau begitu setia kawan seperti yang pernah kubayangkan dulu."
"O? Kenapa?"
"Kedua kaki jago mampus putus, ternyata sedikitpun kau tidak memperlihatkan prihatin dan simpatik atas kesengsaraannya, aku tahu kau dulu bukan orang macam begituan."
Sesaat Coh-Liu hiang berdiam diri, tiba-tiba ia berpaling dan tertawa, katanya.
"Berapa lama kau kenal baik dengan Ki-Ping yan?"
"Walau tidak selama kau, sedikitnya ada sepuluh tahun!"
"Pernahkah kau dengar dia suka omong begitu panjang lebar?"
Tanpa pikir Oh-Thi hoa segera menjawab.
"Sudah tentu tidak! Siapapun tahu kalau ingin jago mampus bicara jauh lebih sukar untuk mengundangnya makan minum."
"Pernahkah kau dulu melihat sikap sedih dan emosinya seperti itu?"
"Kemarin waktu aku lihat dia jatuh dari atas kursi hampir saja ingin aku menangis sepuas-puasku, tapi kau... matamu berkedip pun tidak, kau malah masih tertawa geli."
"Sudah belasan tahun kau mengenalnya, masakah kau belum tahu akan wataknya, jikalau kedua kakinya itu benar-benar putus, masakah dia suka omong sedemikian panjang lebar, dipengaruhi emosinya lagi?"
Oh-Thi hoa tertegun, mendadak ia berjingkrak dengan berteriak keras.
"Apakah maksud ucapanmu ini?"
"Kau belum paham apa maksudku?"
"Apakah kau maksudkan, bahwa apa yang dia lakukan itu hanyalah pura-pura untuk dipertontonkan kepada kita?"
"Pernahkah kau perhatikan kedua nona jelita yang melayani kita itu?"
"Maksudmu Ing-yan dan Poan-ping kedua gadis ayu itu?"
"Benar, pernahkah kau perhatikan sikap dan tindak-tanduk mereka terhadap Ki Ping-yan?"
Oh Thi-hoa bergelak tertawa, serunya.
"Apa kau merasa jelus? Perempuan dikolong langit ini, kan tidak semua baik terhadap Coh Liu-hiang, ada kalanya ada satu dua orang yang pandang sepele kepada Coh Liu-hiang."
"Kau lihat sikap mesra mereka terhadap Ki Ping-yan, apakah sikap terhadap seorang laki-laki yang sudah cacat badannya? Pernahkah kau perhatikan kerlingan mata mereka, serta sorot mata mereka bila mengawasi Ki Ping-yan?"
Tiba-tiba lenyap tawa Oh Thi-hoa, mulutnya melongo. Berkata Coh Liu-hiang lebih lanjut.
"Kaupun seorang yang cukup berpengalaman menghadapi perempuan, tentunya kaupun bukan seorang picak."
"Benar!"
Gumam Oh Thi-hoa mendelong.
"Seorang laki-laki bila tidak bisa memuaskan perempuan, tiada perempuan yang bersikap seperti itu terhadapnya, apalagi seorang laki-laki cacat, selamanya takkan bisa membuat puas orang lain..."
Mendadak ia menjerit keras.
"Kenapa waktu itu kau tidak katakan kepadaku?"
"Kalau toh dia tidak mau pergi, buat apa aku harus memaksanya?"
"Jago mampus yang pantas mati, bukan saja menipuku, malah membuat hatiku ikut pilu dan kasihan, berani dia gunakan akal liciknya ini terhadap kawan karib yang sudah dikenalnya belasan tahun."
"Terhadap kita, dia tidak perlu dicela."
"Kau masih memujinya?"
"Dia bicara panjang lebar, itu pertanda bahwa sanubarinya terketuk, pertanda dia masih pandang kita sebagai temannya, kalau tidak bisa saja dia menolak terus-terang "tidak mau ikut", memangnya kita bisa menelikung dia serta menggusurnya pergi, benar tidak?"
Melotot mata Oh Thi-hoa, serunya.
"Begitu tercela sikapnya terhadapmu, sedikitpun kau tidak marah?"
"Kalau kau ingin berkenalan dengan seorang teman, kau harus paham dan menyelami wataknya, jikalau dia punya kekurangan, kau harus memaafkan dia, waktu aku mengenalnya dulu, aku sudah tahu memang begitulah wataknya, buat apa aku harus marah.... Coh Liu-hiang terloroh-loroh, katanya lebih lanjut.
"Apalagi bisa membuat seorang teman baik, aku sudah amat puas."
Oh Thi-hoa gusar, serunya.
"Tapi aku tidak sebaik dan sesabar kau, memberi maaf apalagi, aku..."
"Memangnya kau sendiri kira sudah setia kawan? Beberapa teman baik kumpul bersama, tapi kau tega tinggal pergi begitu saja tanpa pamit, minggat sampai tujuh delapan tahun, memangnya orang lain tidak marah kepada kau?"
"Tapi aku... aku tidak seperti dia..."
"Benar! Kau tidak seperti dia, dikala teman menghadapi kesulitan kau takkan mundur, tapi kaupun punya kekurangan sendiri, seperti pula Ki Ping-yan mempunyai kebaikannya sendiri."
Oh Thi-hoa mengelus hidung, tanpa bicara lagi.
Betapapun tak malu dia menjadi kawan dekat Coh Liu-hiang, penyakit Coh Liu-hiang yang suka mengelus hidung, dia bisa mempelajarinya begitu mirip dan persis.
Menjelang lohor, mereka menemukan suatu tempat untuk istirahat, ingin Coh Liu-hiang membuat suatu rencana untuk mempermudah perjalanan ini, siapa tahu waktu ia berpaling, ternyata Oh Thi-hoa sudah menghilang.
Terpaksa Coh Liu-hiang hanya menyengir tawa getir, terpaksa dia harus menunggu.
Seumpama hatinya gelisah dan gugup, apa pula gunanya, perangai Oh Thi-hoa yang melebihi bara panasnya, lebih liar dari kuda binal, lebih dogol dan bandel dari keledai, memangnya dia belum bisa memahaminya selama ini.
Sudah tentu cepat sekali ia sudah dapat meraba kemana tujuan Oh Thi-hoa.
Terbukti dia pulang tidak sendirian.
Tampak di belakangnya kuda pilihannya itu, mengintil pula seekor kuda lain, seorang diri dia menarik dua tali kekang, kuda di sebelah belakangnya ternyata dinaiki dua orang.
kedua orang ini bukan lain adalah Ing-yan dan Poan-ping.
Rambut sanggul mereka yang mengkilap sudah buyar terhembus angin, kulit mukanya yang halus jelita diliputi rasa kaget, ketakutan jari-jari tangan mereka yang halus mungil diikat kencang oleh Oh Thi-hoa.
Selama itu Coh Liu-hiang tetap menunggu di luar pintu kedai kecil sambil memandang ke tempat jauh, tapi setelah melihat bayangan mereka mendatangi segera ia kembali masuk ke dalam kedai, duduk membelakangi pintu di luar.
Setelah kudanya tiba di depan pintu baru Oh Thi-hoa lompat turun lalu iapun tarik tali kekang kuda di belakangnya, pelan-pelan satu persatu ia tolong kedua gadis di punggung kuda itu melompat turun.
Kuda mereka kuda jempolan, perbawa Oh Thi-hoa sedemikian gagah dan kereng, ditambah dia menggusur dua nona jelita yang terikat kedua tangannya lagi.
Semua orang di pinggir jalan sama melotot matanya mengawasi mereka, jikalau mereka tidak gentar menghadapi sikap Oh Thi-hoa yang garang itu, mungkin mereka sudah merubung maju.
Tapi Coh Liu-hiang sebaliknya tidak berpaling muka, bahwasanya melirikpun dia tidak memandang kepada Oh Thi-hoa.
Dengan langkah gemulai Oh Thi-hoa datang menghampiri, katanya tawar .
"Aku kembali!"
"Ehm!"
Coh Liu-hiang bersuara dalam mulut.
"Akupun bawa dua orang tamu kemari."
Oh Thi-hoa menambahkan.
Coh Liu-hiang berdiri, menarik dua kursi dengan senyum manis ia persilahkan kedua gadis yang ketakutan itu duduk, lalu ia menarik muka pula dan duduk kembali ditempatnya tanpa hiraukan Oh Thi-hoa.
Oh Thi-hoa minta sepoci arak, dia tuang dan tenggak sendiri, mulutnya mengerundal .
"aku tahu kau tidak senang, tapi Ki Ping-yan memang keterlaluan terhadap teman, jikalau aku tidak bongkar permainan sandiwaranya ini, mungkin seumur hidupku takkan bisa tidur nyenyak."
Akhirnya Coh Liu-hiang menghela napas, katanya .
"Tapi kenapa kau menghadapi mereka? Kaum wanita tiada sangkut pautnya dengan persoalan ini!"
Hanya cara ini yang bisa kukalukan! kata Oh Thi-hoa sejujurnya. Disaat kau pergi, apakah Ki Ping-yan sedang tidur siang? tanya Coh Liu-hiang.
"Aku tahu penyakit lamanya itu takkan bisa berubah, maka kuperhitungkan tepat pada waktunya aku meluruk kesana, ternyata benar dia sedang tidur, coba kau pikir, asal kuundang kedua nona ini kemari dalam jangka satu jam, dia pasti sudah menyusul tiba."
Saking senang ia bergelak tawa serunya pula .
"Seperti juga diriku karena orang membawa Soh Yong-yong melancong, tidak segan-segan kau hendak mengejarnya ke padang pasir. Bicara terus terang, cara yang kugunakan ini aku menelat perbuatan Hek-tio-cu."
Tapi cara ini betapapun terlalu rendah dan memalukan. Menghadapi orang seperti dia itu, kalau tidak menggunakan cara yang rendah seperti ini kau mampu menghadapinya?"
Oh Thi-hoa berdiri, lalu pelan-pelan menjura kepada kedua nona jelita yang pentang kedua matanya lebar-lebar, katanya tertawa .
"Kali ini meski bikin susah kedua nona, tapi dari kejadian hari ini dapatlah membuktikan rasa cintanya terhadap nona berdua, sedikit banyak kalian mendapat hasil juga"
Ong yan membuka mulut tertawa lebar, katanya .
"Kalau demikian kami berdua malah harus berterima kasih kepada Kongcu."
"Memang kalian harus berterima kasih kepadaku, kalau tidak jangan mengharap seumur hidup kalian melihat sikap Ki Ping-yan yang gelisah dan gugup lantaran kalian berdua..."
Tak tertahan dia terloroh-loroh geli. Tak urung Coh Liu-hiang ikut tertawa pula, ujarnya .
"Bicara soal tebalnya muka, mungkin aku tidak akan ungkulan dibanding kau."
Poan Ping cekikikan, katanya .
"Kalau demikian, mohon Kongcu suka membuka belenggu kedua tangan kami, jikalau kami tidak meladeni Kongcu berdua makan minum, mana kami bisa perhatikan betapa besar rasa terima kasih kepada Kongcu."
Tapi satu jam telah berselang, dua jam telah berlalu, bayangan Ki Ping-yan belum juga kunjung tiba setelah hari menjelang tengah malam, Ki Ping-yan masih belum menyusul datang, lambat laun Poan ping dan Ing-yan sudah tak bisa tertawa pula.
Poan-ping berkata hampir menangis .
"Mungkin rekan kongcu melesat, mungkin dia tidak begitu prihatin akan diri kami seperti yang Kongcu bayangkan. Oh Thi-hoa pun mulai gundah, namun mulutnya masih tertawa lebar katanya .
"Tak usah kuatir, dia pasti datang."
"Kalau dia tidak datang?"
Tanya In-yan, Oh Thi-hoa tertegun. lekas ia berpaling kepada Coh Liu-hiang.
"Sudah tentu ini urusanku kau kira kau gelisah dan gugup? Sudah kuperhitungkan dengan tepat, dia pasti akan datang..."
"Kalau dia mau datang, sejak tadi tentu sudah berada di sini..."
Sela Poan-ping. Oh Thi-hoa tak bisa tertawa pula katanya tergagap-gagap .
"Mungkin... mungkin dia kesasar ke lain tempat."
"Dia sendiri yang mengantar kami berangkat, masakan dia tidak tahu jalan di daerah ini? "Memangnya?"
"Kecuali dia tidak menduga bila kaulah yang melakukan gara-gara ini."
"Aku sengaja meninggalkan beberapa tanda yang mencolok, seumpama orang lain tidak kenal tanda khasku itu, tapi Ki Ping-yang usia lima tahun, mungkin dia sudah bisa membedakannya."
Berkerut alis Coh Liu-hiang, katanya .
"Kalau demikian, kenapa sampai sekarang dia tidak kunjung datang?"
Poan-ping menyela pula .
"Jikalau dia benar-benar tidak kemari, apa yang Kongcu hendak lakukan terhadap kami?"
"Ini..."
Oh Thi-hoa menyengir kecut.
"Ini... aku..."
Berputar biji mata Ing-yang, tiba-tiba ia tertawa cekikikan katanya .
"Dia tak datang tak menjadi soal, biar kami berdua ikut Kongcu saja. Oh Thi-hoa menjingkrak seperti disengat kala, teriaknya .
"itu tidak mungkin!"
"Kongcu anggap kami jelek dan tidak setimpal?"
Desak Ing-yan.
"Aku... bukan begitu maksudku, cuma tapi..."
"Memangnya apa maksud Kongcu sebenarnya?"
Desak Ing-yan pula. Timbrung Poan-ping .
"kongcu menggusur kami kemari tidak sudi bawa kami sekalian! kami... apakah selanjutnya kami bisa berhadapan muka dengan orang lain?"
Suaranya semakin pilu matapun merah berkaca-kaca. Sembarang waktu air mata dapat bercucuran.
"Nona-nona baik, kumohon kalian sekali-kali jangan merengek dan menangis. Setiap kali melihat anak perempuan nangis hatiku jadi bingung dan tak bisa berketetapan !"
Kata Poan-ping dengan mata merah .
"Lalu kenapa Kongcu tidak mau terima kami?"
Kembali Oh Thi-hoa melompat sambil berteriak .
"Maksudmu cuma supaya jago mampus itu kehilangan orangnya, sekali-kali tiada maksudku hendak merebut bininya, aku... walau aku amat suka kepada kalian tapi..."
Seketika berseri tawa muka Ing-yan, katanya nyaring.
"Jikalau Kongcu suka kepada kami, kami berjanji akan ikut setia kepada Kongcu."
Poan-ping ikut menyela bicara.
"Kalau toh dia tidak perhatikan kami berdua kenapa kami harus ikut dia?"
Saking gugup Oh Thi-hoa menggosok-gosok kedua tapak tangannya.
Coh Liu-hiang sebaliknya duduk ongkang-ongkang di tempatnya, dengan tersenyum geli ia habiskan araknya.
Oh Thi-hoa menerjang maju merebut cawan araknya, suaranya menggembor gusar.
"Coh Liu-hiang masih tidak lekas kau bantu mencari akal?"
"Sejak tadi sudah kukatakan, urusanmu sendiri apalagi dua gadis cantik rupawan seperti mereka janji setia hendak ikut kau, aku harus memberi selamat dan ikut senang bagi rejekimu yang besar, sekaligus mendapat dua bini."
Oh Thi-hoa berteriak aneh, dampratnya.
"Coh Liu-hiang kau ulat busuk ini, perduli apa yang sedang kau pikirkan dalam benakmu, jika tidak temani aku antar mereka pulang, biar aku adu jiwa dengan kau!"
Sepanjang jalan, tak henti-hentinya Poan-ping dan Ing-yan cekikikan geli. Berkata Ing-yan.
"Kalau kami harus diantar pulang, kenapa pula semula kami direbut dan digusur pergi secara kekerasan?"
Poan-ping ikut tertawa, katanya.
"Kalau aku tidak kasihan melihat sikap gugup dan gelisahmu ini, bagaimanapun juga aku tidak mau pulang."
Menghadapi rau muka Oh Thi-hoa yang bersungut-sungut ini, tak terasa Coh Liu-hiang terkial-kial geli, katanya.
"Oh Thi-hoa kuharap selanjutnya kau tahu diri perempuan dalam dunia ini, tidak semuanya sama seperti Ko Ah-nam gampang dihadapi, kau merasa Ko-Ah nam enak dihadapi lantaran kau menyukainya."
"Benar,"
Ujar Oh Thi-hoa getir.
"selanjutnya aku tak berani bilang aku pandai menghadapi perempuan, sekarang ingin rasanya aku berlutut di hadapan Ko Ah-nam, mencium kakinya yang bau."
Coh Liu-hiang terbahak-bahak.
"Kau bisa paham akan pengertian ini, terhitung kau masih bisa ditolong."
"Kalau kau begitu pintar, tentu kau tahu kenapa Ki Ping-yan tidak menyusul kemari?"
Tanya Oh Thi-hoa sambil mendekap mulut.
"Jikalau dia sudah memperhitungkan kau pasti akan mengantar mereka pulang, buat apa dia susah menyusul sejauh ini?"
Oh Thi-hoa tidak bicara, sesaat kemudian ia berkata pelan.
"Jikalau dia berpikir demikian tentu dia salah! Tiada manusia bodoh sebanyak itu dalam dunia ini, cuma ada kalanya sementara orang tidak mau melakukan sesuatu urusan yang memperlihatkan kecerdikan otaknya."
"Disitulah letaknya kenapa Ki Ping-yan bisa menjadi kaya raya dalam waktu yang begitu singkat, dan sebab kenapa kau selamanya takkan punya uang, lantaran setiap orang suka bilang kenapa kau ini mungil dan jenaka."
"Ternyata apa aku ini mungil jenaka? Baru hari ini aku tahu..."
Gelak tawanya mendadak berhenti, karena dilihatnya jauh di depan sana mendatangi sebuah barisan, ada kereta, ada kuda, agaknya masih terdapat tujuh delapan ekor unta.
Tatkala itu sudah tengah malam, sepanjang jalan ini boleh dikata bayangan setanpun tak kelihatan, kenapa rombongan besar manusia dan binatang ini melakukan perjalanan ditengah malam buta rata?
Bertaut alis Oh Thi-hoa, dalam tubuhnya mengalir darah yang suka turut campur urusan orang lain, setiap menghadapi kejadian ganjil, jikalau kau melarang dia pergi melihatnya biar jelas, boleh dikata jauh lebih menderita daripada kau gorok lehernya.
Kata Coh Liu-hiang tertawa sambil mengawasinya.
"Apa pula yang tengah kau pikir dalam benakmu?"
Alis berkerut, tangan meraba dagu, mengumam mulut Oh Thi-hoa.
"Tengah malam buta rata, menggiring kereta dan binatang kuda dan unta sedemikian banyaknya, sudah tentu bertujuan mengelabui mata kuping orang lain, menurut hematku, jikalau orang-orang itu bukan brandal, tentu kawanan perampok."
"Apa kau ingin hitam mencaplok hitam?"
Oh Thi-hoa tertawa senang.
"Kau lho yang mengusulkan."
Segera dia keprak kuda terus memapak ke depan.
Tampak rombongan yang berbaris panjang ini terdapat kereta, kuda dan unta, tapi hanya terdapat dua orang saja, seorang adalah kusir kereta yang duduk bercokol di tempatnya, seorang lagi adalah laki-laki kekar yang berkulit hitam.
Laki-laki ini mencekal seutas cambuk panjang setombak lebih, mengenakan kaos yang terbuat dari kulit kambing, nampak jelas otot-otot dan daging badannya yang kekar sekeras baja.
Laki-laki hitam ini berjalan di barisan paling belakang, meski hanya satu orang, kuda dan unta dapat ia kendalikan dengan baik dan rapi, satu demi satu berbaris memanjang menelusuri jalan menuju ke depan, tiada seekor kuda yang binal, tiada seekor untapun yang meninggalkan barisan, seolah-olah mereka ini pasukan besar yang sudah dapat gemblengan dalam latihan berat.
Bentuk kereta besar itupun amat ganjil, empat persegi, mirip benar dengan sebuah peti mati, pintu jendela tertutup rapat, entah apa yang berada didalamnya.
Semakin dipandang dan ditegasi Oh Thi-hoa semakin merasa aneh dan janggal, bukan saja tidak mirip rombongan brandal atau perampok dan begal, tidak mirip pedagang, atau suatu perusahaan ekspedisi segala.
Tak tertahan ia lecut kudanya menghampiri laki-laki kekar yang bertubuh keras seperti menara itu, sapanya tertawa lebar.
"Saudara tengah malam buta rata tergesa-gesa menempuh perjalanan, masakah tidak letih?"
Laki-laki besar kekar itu cuma melirik kepadanya tanpa bersuara.
Baru sekarang Oh Thi-hoa melihat jelas raut muka orang seperti kulit jeruk yang dikeringkan, kulit dagingnya lekak-lekuk tiada sesentipun kulit mukanya yang bersih dan mengkilap.
Mengawasi sepasang matanya bersinar guram remang-remang hampir putih hitam biji matanya susah dibedakan siapapun takkan pernah membayangkan dalam dunia ini ada manusia yang memiliki sepasang mata begini rupa.
Biji matanya melotot kepada Oh Thi-hoa, namun seolah-olah tidak melihat Oh Thi-hoa, dulu jelas sorot matanya mengandung hawa ganjil namun seperti kosong melompong dan hampa.
Ditengah malam buta rata, bertemu dan berhadapan dengan manusia seperti ini, sungguh bukan suatu kejadian yang menarik, ingin ketawapun Oh Thi-hoa tak kuasa mengeluarkan suaranya.
Dasar wataknya memang kukuh, namblek, kalau orang tidak hiraukan dirinya, semakin getol dia mengganggu orang, ingin dia bertanya biar jelas, lekas kudanya ia putar balik mengejar ke depan, katanya keras.
"Hanya orang yang ada setannya, tidak mau menjawab pertanyaan orang, saudara apakah ada setan dalam hatimu?"
Kali ini melototpun tidak laki-laki ini kepadanya, hakekatnya orang tidak perdulikan dirinya. Oh Thi-hoa tertawa dingin, jengeknya.
"Sementara orang boleh kau tak usah hiraukan mereka, meski dia marah, apa boleh buat orang toh tak dapat berbuat apa-apa terhadap kau, tapi aku ini bukan orang macam begituan, jikalau aku sampai marah..."
Dari dalam kereta tiba-tiba menongol keluar sebuah kepala manusia, katanya sambil tertawa tawar.
"Kau tidak perlu marah, hakekatnya dia tidak mendengar ocehanmu, dia seorang tuli."
Hampir saja Oh Thi-hoa terjungkal roboh dari atas tunggangannya, teriaknya keras.
"Ki Ping-yan, kaukah itu! Kau jago mampus ini, sebetulnya permainan apa yang sedang kau lakukan?"
Orang yang berada di dalam kereta ternyata adalah Ki Ping-yan.
Dari dalam kereta itu ulurkan sebuah tangannya memberi ulapan tangan sebagai isyarat, barisan segera berhenti, lalu ia buka pintu kereta, pelan-pelan melangkah turun.
Hampir gila Oh Thi hoa saking marahnya, dampratnya menggembor.
"Bukankah kedua kakimu sudah buntung? Sekarang kenapa bisa berjalan?"
Seolah-olah Ki Pin-yang tidak pernah mendengar ocehannya, langsung dia memapak ke arah Coh Liu-hiang yang kebetulan sedang mendatangi.
Coh Liu-hiang lekas lompat turun dan memapak maju pula.
Mereka berpandangan sambil tertawa lebar, kata Ki Ping-yan.
"Aku sudah datang."
"Bagus sekali!"
"Karena aku harus mempersiapkan diri dalam perjalanan keluar perbatasan, sehingga aku datang terlambat."
Sekilas Coh Liu-hiang pandang barisan ini, katanya tersenyum.
"Terlalu banyak persiapanmu."
"Kebanyakan lebih mending daripada kekurangan."
"Pengalamanmu jelas lebih luas daripadaku, aku dengar petunjukmu."
"Kereta itu boleh untuk istirahat, besok pagi saja boleh kau periksa segala keperluan kita ini ya."
"Baik."
Coh Liu-hiang tidak banyak komentar.
Keduanya tak pernah menyinggung soal kaki putus, tidak bicarakan Ing-yan dan Poan-ping seolah-olah peristiwa hakekatnya tidak pernah terjadi.
Saking gusar dan menahan amarahnya Oh Thi-hoa sampai memburu napasnya, raut mukanya membesi hijau, tak tahan ia memburu maju.
Ki Ping-yan menyambutnya dengan tawa tawar, katanya.
"Di atas kereta ada arak, jikalau kau belum mabuk, mari silahkan minum beberapa cangkir lagi!"
Sekian lama Oh Thi-hoa melotot mengawasinya, akhirnya ia bergelak tertawa, serunya.
"Bagus! Meski kau buat aku tertipu mentah-mentah, tapi aku tidak boleh bersikap kasar terhadap teman baik, kami boleh terhitung seri, mari naik, kuhaturkan tiga cangkir kepada kau!"
Setelah berada di atas kereta, baru Oh Thi-hoa mengerti, kenapa Ki Ping-yan membuat petak kereta ini mirip dengan peti mati, karena dengan bentuk seperti ini, ruangan kereta ini menjadi lebar dan nyaman.
Boleh dikata bukan kereta tapi sebuah petak rumah yang berjalan.
Dalam kereta terdapat beberapa balai besar yang empuk, beberapa kain beludru tebal sebuah meja, setiap benda yang berada di sini agaknya sudah diatur sedemikian rupa setelah dipertimbangkan dengan masak, meski banyak jumlah barang, kelihatannya tidak saling berdesakan.
"Mana araknya?"
Baru saja Oh Thi-hoa hendak bertanya.
Ki Ping-yan sudah ulur tangan menekan sesuatu di bawah balai-balai, dari kolong balai-balai mendadak meluncur keluar sebuah laci terdapat enam gelas perak yang mengkilap dan sepuluh botol persegi yang terbuat dari perak pula.
Kata Ping-yan.
"Di sini terdapat sepuluh macam arak, dari Motai, Toabin, Bu-yap ceng sampaipun arak susu kambing dari luar perbatasanpun ada, kelihatannya botol ini tidak begitu besar, namun isinya tiga kati duabelas tahil. Kau ingin minum apa? katakan!."
Oh Thi-hoa sudah terbelalak mengawasi laci itu. lama baru dia berkata menghela napas.
"Sekali rekan berbagai macam arak sudah diantar keluar seolah-olah sebuah khayalan indah bagi seorang setan pemabuk tak heran manusia siapa saja ingin punya harta kaya memang banyak manfaatnya. Tiga orang sudah menghabiskan tiga botol arak Oh Thi-hoa tak tahan lagi katanya .
"Kini kalau ada udang besar dari Kangpak cakar merak dan pupu menjangan dari Kim-hoa untuk teman arak, tempat ini boleh dikata menyerupai sorga, cuma sayang..."
Belum habis ia bicara dari kolong selimut tebal itu mencelat keluar pula laci yang lain, dimana bukan saja terdapat udang besar dari Kang-pak, cakar merak dan pupu menjangan dari Kim-hoa, malah ada ikan rendam arak dari Hikian angsa panggang ulat laut dari Hayling, daging tulang dari bagi tapak biruang dari Tiang pek san dan lain-lain pendek kata setiap makanan yang paling lezat untuk teman sudah lengkap tersedia didalam laci ini.
Kontan Thi-hoa berjingkrak girang teriaknya .
"E, eh, apa kau sekarang sudah pandai main sulapan!"
"Manusia hidup sedapat mungkin harus menikmati segala kesenangan terutama orang yang punya dosa dan banyak membuat kesukaran orang lain, pernah suatu ketika, aku kelaparan sampai rasanya aku kupas kulit dagingku sendiri untuk isi perut, oleh karena itu, sekarang dimanapun aku berada, lebih dulu aku tumpuk berbagai macam makanan, sampaipun kolong ranjang, tempat tidurku ada arak ada daging. Ingin rasanya Oh Thia-hoa tertawa mendengar omongan lucu ini, tapi setelah ia pikir kau secara seksama, bukan saja tak bisa tertawa, malah ingin rasanya ia menangis. Katanya yang datar dan tawar ini, bahwasanya mengandung penderitaan pahit getir, dikala manusia ketakutan menghadapi kelaparan perutnya, maka boleh kau bayangkan betapa besar derita dan kesengsaraan yang pernah dialaminya Lama Oh Thi Hoa melongo, bergegas dia tenggak habis tiga cangkir arak, lalu ia katanya menghela napas dengan menengadah.
"Mungkin memang tidak pantas aku paksa kau kemari."
Ki ping-yan berkata dingin.
"Kau tidak paksa aku, jikalau aku benar-benar tak sudi datang, siapapun jangan harap bisa paksa aku kemari."
Oh Thi-hoa tertawa kecut, tiba-tiba ia bertanya.
"Bagaimana dengan kedua nona jelita itu?"
Bersambung ke
Jilid 14
Jilid 14
"Kenapa tidak kau undang mereka kemari ikut makan dan minum?"
"Mereka sudah pulang"
"Biar apa kau keburu buru suruh mereka pulang, aku dan Coh Liu hiang cukup tahu dan suka humor, kami pasti akan beri kesempatan kepadamu untuk bercengkerama dengan mereka"
"kini tiada waktu lagi, sejak kini kita mulai perjalanan menuju ke padang pasir nan luas, selanjutnya kereta ini takkan berhenti selewat dua kali minuman teh, dan lagi setiap kali hanya boleh berhenti tiga kali aku percaya mengandal tenaga dan kekuatan kita, sedapat mungkin sudah harus dapat kendalikan diri untuk tidak berak dan kencing."
Oh Thi-hoa angkat pundak, tanyanya.
"Masakah turun kereta untuk jalan kakipun tak boleh?"
"Sekali-kali tidak boleh!"
"Kenapa?"
"Memang kita belum tahu apakah pihak musuh sudah menyebar mata-matanya diberbagai tempat untuk menyelidiki dan mencari tahu jejak dan gerak-gerik kita, oleh karena itu kita harus berjaga-jaga untuk hal ini."
"Kukira itu tidak perlu,"
Sela Oh Thi-hoa.
"Jikalau kita ingin berhasil segala kemungkinan, harus kita perhitungkan secara matang, jikalau musuh berani, mengganggu Coh Liu-hiang, pastilah dia bukan sembarang orang."
"Memangnya kita ini orang sembarangan?"
"Sudah kukatakan orang-orang yang tumbuh dan hidup di padang pasir, mereka sudah digembleng sedemikian rupa sampai lebih kuat bertahan dari unta, lebih cerdik dari rase, lebih buas dari serigala, sebaliknya di dalam padang pasir itu kita selemah seekor kelinci yang tidak tahu seluk-beluk di sana."
"Kau terlalu mengunggulkan kebolehan musuh, memangnya kami begitu tidak becus."
"Karena aku tidak mau mampus di padang pasir, elang memakan daging busukan, serigala gegares tulang belulang, sekarang aku masih hidup dan ingin hidup foya-foya."
"Tapi aku berpendapat..."
"Aku tidak ingin tahu pendapatmu, cuma ingin tahu kalau toh kalian ingin aku kemari apakah segala sesuatunya dalam perjalanan ini kalian suka mendengar petunjukku?"
Selama ini Coh Liu-hiang tinggal diam mendengarkan percakapan mereka, baru sekarang ia menyahut tersenyum.
"Kau bisa keluar dari padang pasir dengan tetap hidup membawa kekayaan itu, apa yang kau katakan tentunya masuk akal dan boleh dipercaya, selalu aku mau menerima dan tunduk kepada omongan yang masuk akal."
"Bagaimana dirimu?"
Tanya Ki Ping-yan melotot kepada Oh Thi-hoa. Oh Thi-hoa geleng-geleng sambil menghela napas, ujarnya.
"Aku hanya bisa bilang tidak seharusnya aku paksa kau kemari, kalau kau sudah di sini apa pula yang dapat kulakukan."
"Bagus!"
Ujar Ki Ping-yan, tiba-tiba ia turunkan semua arak dan sayuran dari atas meja sekali tekan, lembaran meja itu tiba-tiba bergerak terbalik ternyata muka sebelahnya bergambar sebuah peta yang jelas sekali dengan tulisan-tulisan petunjuk.
Dengan sumpit dibasahi arak Ki Ping-yan menggambar sebuah garis lempang, katanya.
"Seharusnya kita tidak boleh menempuh jalan ini untuk keluar perbatasan, soalnya kau tidak kenal jalan, tapi kebacut sudah berada di sini maka terpaksa kita harus menyelusuri jalan ini."
"Apakah disini letak Hongho?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Ya, disini letak hulu Hongho, kita boleh menyelusuri sungai terus sampai di Ginjwan, aku tahu pengaruh Ca-Bok-hap dulu, belum meluas sampai selatan Linsan, maka di sepanjang jalan ini kita tak perlu mengharap memperoleh sumber dari mereka, namun harus berjaga-jaga terhadap mata kuping mereka."
Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Oleh karena itu,"
Ki Ping-yan melanjutkan.
"Besok setelah kita tiba di Lo-liong-wan "teluk naga tua"
Kalian harus menitipkan kuda di sana, di sana aku punya langganan, kau tak usah kuatir."
"Kudaku itu aku harus membawanya", kata Coh Liu-hiang.
"Tidak boleh!"
Kata Ki Ping-yan tegas dan tandas.
"Mengapa?"
"Bukan saja kuda itu terlalu menyolok mata, juga bisa mendatangkan banyak kesulitan, apalagi milik mereka, kalau kita bawa kuda itu, itu berarti membawa pertanda yang gampang dikenali, sekali-kali kita tidak bole menempuh bahaya sebodoh ini!"
Setelah dipikir-pikir, akhirnya Coh Liu-hiang bungkam.
"Kau harus tahu, sekarang bukan saja pihak lawan secara diam-diam sedang menunggu dengan segala persiapannya, malah mereka sudah mendapat keuntungan secara situasi alam dan bumi adat istiadat, bahwasanya kita tidak punya persyaratan dalam hal ini, jikalau ingin menang kita hanya main sergap secara di luar dugaan, oleh karena itu sebelum kita menemukan jejaknya, jejak kita sekali-kali jangan sampai konangan oleh mereka. Jikalau mereka pinjam keuntungan persyaratan tadi, kita akan mati konyol tanpa liang kubur."
Lama Coh Liu-hiang menepekur, katanya menghela napas.
"Memang tidak sebanyak itu yang pernah kupikirkan, aku..."
"Kau harus ingat,"
Kata Ki Ping-yan sepatah demi sepatah.
"Musuh tahu karena ditempat mana saja tak berhasil membunuh kau, maka kau dipancingnya ke padang pasir, kalau dia memancingmu kemari, tentulah karena dia yakin dan punya pegangan membunuhmu di padang pasir, inilah suatu perjuangan hidup yang paling besar rumit dan sulit selama hidupmu, mana boleh kau tidak lebih banyak berpikir?"
Coh Liu-hiang menyengir kecut, ujarnya.
"Tapi ada kalanya sesuatu tidak boleh dipikir terlalu banyak dan luas."
Ki Ping-yan menenggak seteguk arak, katanya.
"Baik! Sekarang persoalan apapun tak perlu kita pikirkan, tidurlah lebih dulu, meski tak bisa tidur harus dipaksa untuk tidur, karena sejak sekarang kita jangan membuang tenaga."
Balai-balai itu cukup besar, ketiganya sudah rebah dan tidur. Tangan Oh Thi-hoa masih pegangi sebuah cangkir, tiba-tiba berkata dengan tertawa.
"Bagaimanapun, sekarang terhitung kami bisa tidur bersama pula, seperti puluhan tahun yang lalu...! Kehidupan manis dan indah masa lalu."
"Hari-hari itu belum tentu indah, waktu itu kita minum arak kecut, rebah di atas rerumputan yang dingin, sekarang kita justru tidak di atas ranjang yang empuk dan hangat."
Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya menggeleng.
"Kehidupan masa silam selamanya merupakan kenangan manis, sayang soal demikian selamanya kau takkan mengerti, karena kau kurang romantis, terlalu jujur dan suka menghadapi kenyataan terlalu kasar, kau hanya tahu..."
Tiba-tiba ia gerakan mulutnya, karena ia dapati Ki Ping-yan sudah mendengkur.
Hari kedua menjelang magrib, mereka tiba di Lo-liong-wan.
Di dalam sebuah perkampungan petani milik Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang bertiga turun dari kereta, mendadak hatinya merasa berat berpisah dengan kuda hitam ini, tanpa sadar ia menggumam dengan tertawa getir.
"Mungkin aku memang sudah tua hatiku semakin lembek, kuda itupun meringkik sedih."
Coh Liu-hiang mengelus punggungnya yang datar dan bidang, katanya tertawa.
"Apa kau pun berat berpisah dengan aku? Kuatir setelah berpisah hari ini, selamanya takkan berjumpa lagi?"
Oh Thi-hoa sebaliknya seperti amat bersemangat, bersama Ki Ping-yan mereka sedang periksa kereta dan unta, setiap benda harus diperiksa dengan teliti, tanya ini tanya itu.
Sekarang dia sudah tahu laki-laki kekar tinggi bisu tuli itu bernama Ciok Tho "unta batu", tapi sungguh ia tidak habis berpikir, kulit daging manusia bagaimana bisa berubah begitu rupa.
Kini dia pun sudah tahu anak muda yang pegang kendali itu bernama Siau-Phoa, Siau-phoa sebetulnya bukan anak muda lagi, sedikitnya sudah berusia tiga puluhan tahun cuma pembawaan mukanya mungil seperti raut muka orok kecil sebelum bicara mukanya sudah tertawa, setelah bicara masih tertawa juga, sehingga setiap orang yang menghadapinya tak bisa marah meski hatinya mendongkol.
Semakin dipandang Oh Thi-hoa merasa orang ini amat menarik, tak tahan ia menghampiri dan tanya.
"Siau-phoa, tahun ini apa usiamu sudah tiga lima?"
"Bicara terus terang, satu bulan lagi, usiaku sudah genap empat puluh tiga."
"Hah, empat puluh tiga, sungguh luar biasa... laki-laki usia empat puluhan tahun, kau msih suka dipanggil Siau-phoa (phoa sikecil), emangnya kau begitu senang?"
"Umpama aku sudah berusia delapan puluh, orang tetap memanggilku Siau-phoa, tapi ini bukan soal yang harus ditonjolkan, malah boleh dikata suatu yang memalukan!"
"Ki Ping-yan mau membawamu, kau tentu mempunyai sesuatu kepintaran yang luar biasa, coba kau punya kebolehan apa? Pertunjukkan kepadaku mau tidak?"
Siao-phoa unjuk tawa berseri, sahutnya.
"Kebolehanku justru aku tidak bisa apa-apa, apapun aku tidak mengerti. Seseorang setelah mencapai usia empat puluhan, namun apapun tidak bisa dan diketahui, kukira suatu hal yang sulit dilakukan orang lain, coba pikir, benar tidak?"
Oh Thi-hoa terkial-kial serunya.
"Kau bisa bicara demikian, ini menunjukkan bahwa kepintaranmu tentu luar biasa."
Lama kelamaan, lebih jelas ia mengetahui bukan saja Siau-Phoa ini setiap kali bertemu dengan orang bisa bicara dan berkelakar bertemu setan menggunakan bahasa setan, malah dia memiliki suatu kepandaian istimewa.
Bahasa daerah dari dua pinggiran sungai besar, dari Hokkian sampai ke Kwiciu dari Tibet sampai ke Sinkiang bahasa dari suku bangsa dan daerah dapat diucapkan dengan lancar dan logat yang mirip sekali, seolah-olah dia memang penduduk asli dari daerah-daerah itu, hubungan apapun dan persoalan apapun terhadap orang lain itu, boleh pasrahkan kepadanya dengan lega hati, seumpama dia bekerja dengan pejamkan mata, tanggung takkan bisa dirugikan.
Sebaliknya Ciok Tho meski bisu dan tuli tak bisa bicara dengan manusia, tapi dia bisa bercakap-cakap dengan binatang peliharaannya, seolah-olah dia menguasai sesuatu bahasa rahasia yang luar biasa untuk hubungan antara pikiran dan raganya dengan binatang-binatang itu.
Apapun yang sedang dipikirkan dalam benak keledai, kuda atau unta, dia bisa tahu dengan baik, apa yang hatinya ingin supaya binatang itu lakukan, ternyata binatang itu menurut berbuat seperti petunjuknya.
Kadang kala Oh Thi-hoa berpikir-pikir dan tak habis mengerti entah dengan cara apa Ki Ping-yan berhasil menemukan kedua orang ini, sungguh tidak bisa tidak ia harus memuji dalam hati.
Kereta berjalan terus siang malam tak hentinya.
Siau-phoa dan Ciok Tho seolah-olah tidak pernah tidur, tapi beberapa hari kemudian semangat Siau-phoa masih segar bergairah, mukanya selalu berseri tawa riang dan gembira, sementara Ciok Tho pun tak pernah menundukkan kepala.
Berkata Oh Thi-hoa.
"Apakah kedua orang itu boleh tak usah tidur?"
"Ada sementara orang, apapun yang sedang dia lakukan, dia boleh bekerja sambil tidur."
"Waktu pegang kendali menjalankan kereta juga bisa tidur?"
"Kuda sudah tahu jalan, kenapa kusirnya tidak boleh tidur?"
Oh Thi-hoa berpikir-pikir, ujarnya.
"Benar. Waktu kendalikan kereta ia tetap duduk tapi Ciok Tho bukan saja tidak pernah duduk, malah berdiri tegakpun dia tidak pernah, memangnya sambil berjalan diapun bisa tidur?"
"Ya, memang begitulah kejadiannya."
Sahut Ki Ping-yan tawar. Oh Thi-hoa terloroh-loroh, serunya.
"Kau anggap aku ini bocah umur tiga tahun?"
Ki Ping-yan menarik muka dan tunduk kepala, mulutnya terkancing rapat. Coh Liu-hiang malah menyela tertawa.
"Memang ia tak menipu kau, memang ada orang yang bisa tidur sambil berjalan, karena kedua kakinya bergerak, tapi semangatnya sudah lepas dan pikiranpun kosong, mirip benar dengan orang tidur."
"Suatu kebolehan lain yang tidak kecil artinya."
Ujar Oh Thi-hoa tertawa.
"Kebolehannya itu bukan pembawaan sejak dilahirkan, tapi merupakan hasil tumpuan dan gemblengan yang luar biasa, seorang bila dia digusur dengan cambuk, tanpa berhenti berjalan satu tahun lamanya, asal pejamkan mata cambuk pasti melecut badannya, lama kelamaan seumpama dia berjalan diatas salju dengan kaki telanjang, diapun bisa tidur dengan nyenyak."
"Apakah Ciok Tho dulu pernah mengalami penderitaan begitu rupa?"
"Em! berat suara Ki Ping-yan.
"Tapi kenapa orang lain menyuruhnya terus berjalan, sampai setahun lamanya?"
Sesaat kemudian baru Ki Ping-yan berkata.
"Pernahkah kau melihat keledai yang menarik gilingan?"
"Pernah"
"Nah, dia pernah dipandang sebagai keledai untuk menarik gilingan, cuma sudah tentu keadaannya jauh lebih sengsara dari keledai, keledai punya waktu-waktu tertentu untuk istirahat, kakinya justru tak pernah berhenti, dia menarik gilingan setahun penuh. Bergidik Oh Thi-hoa dibuatnya, katanya naik pitam.
"Siapa orang itu? Kenapa begitu kejam? Kenapa pula menyiksanya sedemikian rupa?"
Ki Ping-yan geleng-geleng kepala, tak bersuara lagi. Terpaksa Oh Thi-hoa tenggak arak sebanyak banyaknya, sungguh hatinya kurang percaya.
"Mana mungkin seseorang bisa tidur diwaktu berjalan?"
Akhirnya dia berkeputusan hendak membuktikan diri.
Seumpama kereta ini merupakan kereta paling nyaman, segar dan mewah di seluruh kolong langit, tapi setiap hari harus dikurung didalamnya, tidak bisa bergerak tidak boleh keluar lama kelamaan Oh Thi-hoa merasa sebal dan gerah, hampir saja ia menjadi gila karenanya.
Memangnya dia ingin mengerjakan sesuatu pekerjaan.
Maka dia mendekam d pinggir jendela kereta, dengan mata terpentang lebih dia awasi Ciok Tho, ingin dia melihat bagaimana dia tertidur dikala kakinya melangkah.
Biji mata Ciok-Tho yang berwarna kelabu itu, selalu terbelalak lebar, dengan kosong memandang jauh ke depan, seolah-olah dapat melihat suatu pemandangan indah, yang tak mungkin terlihat oleh orang lain.
Dengan seksama Oh Thi-hoa selalu memperhatikan dirinya, sendiri kemudian, mendadak ia tertawa gelak-gelak katanta .
"Keparat benar jago mampus kau ini, ternyata menipuku lagi."
Heran Ki Ping-yan dibuatnya tanyanya mengerut alis .
"menipu apa kau ?"
"Matanya selalu terbuka dan tidak pernah terpejam, mana bisa dia tertidur?"
"Dia tidur tanpa pejamkan mata."
Sahut Ki Ping-yan.
"Memangnya kenapa pula?"
Karena dia memangnya seorang buta. Buta? Oh thi-hoa berjingkrak bangun. Maksudmu bukan saja dia bisu dan tuli, matanya pun buta?"
Ki Ping-yan bungkam, selamanya tak pernah dia memberi keterangan kedua kalinya.
"Tak heran kedua biji matanya itu kelihatan begitu aneh, tapi... seorang buta kenapa bisa berjalan seperti dia? Sungguh aku lebih tidak mengerti."
"Binatang disampingnya tiada binatang?"
"Dia akan berusaha mencarinya seekor."
"bicaramu semakin membingungkan, seperti dongeng belaka, memangnya dia itu seekor binatang?"
"Ada kalanya memang dia boleh dianggap seekor binatang, karena dia sendiripun menganggap bahwa dia itu seekor binatang buas malah dia beranggapan berkumpul sama binatang buas, jauh lebih gampang dan aman daripada dengan manusia"
"kalau begitu, kenapa dia mau bekerja bagi kau?"
Mulut Ki Ping-yan terkancing lagi, Oh Thi-hoa melihat bukan saja orang tidak sudi menjawab pertanyaan ini, orangpun tidak mau memperbincangkan persoalan ini.
Siapa tahu sesaat kemudian, dengan kalem sepatah demi sepatah Ki Ping-yan malah bilang .
"Itulah karena aku pernah menolong jiwanya."
Kini Oh Thi-hoa yang berdiam diri, katanya menghela napas kemudian .
"Jadi kenapa kau suka membawa seorang yang buta tuli dan bisu itu untuk menempuh bahaya di padang pasir?"
Karena bila di padang pasir, dia jauh lebih berguna dari sepuluh orang yang tidak buta, tidak tuli dan tidak bisu.
Padang pasir.
akhirnya mereka tiba di padang pasir.
Itulah sebuah kota kecil di pinggiran padang pasir, berdiri didekat pintu sebuah penginapan satu-satunya yang terdapat di kota kecil itu menyawang jauh ke depan sana, ke padang pasir nan luas tak berujung pangkal.
Dalam kota kecil itu hanya terdapat beberapa keluarga saja, mereka hidup dengan penuh penderitaan ditengah badai pasir yang tak kenal kasihan itu.
Barang mustika satu-satunya kolektif mereka hanyalah sebuah perigi yang birisi air yang tidak boleh dikatakan jernih.
Dengan harga yang sepuluh lipat lebih mahal dari harga arak.
Ki Ping-yan membeli puluhan kantong air itu, lalu dengan harga yang jauh lebih murah dari daging babi dia jual beberapa ekor kuda yang sudah kelihatan itu kepada penghuni kota kecil itu, lalu menyulut api membakar petak kereta itu, itulah barang-barang kesayangannya dia tak bisa membawanya, terpaksa dibakar saja.
Dia paling pantang segala miliknya yang paling dia sukai terjatuh ke tangan orang lain.
Tak tahan bertanya Coh Lui-hiang .
"aku tahu kenapa kau bakar kereta besar ini. Tapi tak mengerti kenapa kuda-kuda itu kau jual? Seumpama kau ini seorang kikir, memangnya kau ingin menambah beberapa keping uang perak sebagai ongkos jalan?"
"Jikalau kita bawa kuda-kuda ini ke padang pasir, dalam jangka tiga hari, mereka sudah akan mampus keletihan."
"Kenapa tidak kau lepas mereka saja? Kuda tahu jalan dan bisa pulang, mungkin dia bisa tiba dirumah."
"Mereka pasti takkan bisa pulang."
"Kenapa?"
"Sepanjang jalan ini, bukan hanya saja banyak begal, kuda yang malang melintang sepanjang tahun tidak sedikit jumlah manusia yang kelaparan, jikalau aku melepas mereka pulang, seumpama mereka tidak tertangkap oleh kawanan begal kuda, mereka bahkan menjadi santapan perut orang-orang kelaparan itu.
"Kau anggap penghuni kota kecil ini bakal memeliharanya baik-baik?"
"Ya, mereka penduduk genah, suka menghemat dan berhati baik, terhadap kuda peliharaan pasti menyayanginya, aku yakin kuda-kuda itu akan dipelihara dengan baik,"
Baru sekarang ujung mulutnya menyungging senyuman katanya pula.
"Dengan demikian, kalau mereka menjual kuda-kuda itu, tentu harga yang lebih tinggi, maka orang itu sekali-kali takkan membunuh kuda itu untuk dimakan."
"Kalau demikian kenapa tidak kau berikan saja kuda itu kepada mereka?"
"manusia biasanya terlalu sayang dan eman terhadap sesuatu barang yang dibelinya jikalau barang sumbangan atau pemberian orang sedikit banyak tentu dipandangnya sepele dan kurang berharga."
Lama Oh Thi-hoa menepekur, katanya kemudian dengan menarik napas.
"Kat nyana kau bisa berpikir begitu cermat bagi kuda-kuda itu, agaknya belakangan ini kau sudah sedikit berubah."
"Kau kira itu maksudku sendiri?"
"Bukan maksudmu, memangnya maksud siapa?"
Pertanyaan ini tidak perlu dijawab oleh Ki Ping-yan, karena saat itu dia sudah melihat raut muka Ciok Tho yang dingin kaku, buruk seperti diukir dari batu batu keramik.
Raut muka yang seperti diukir dari batu batu keramik ini, tatkala itu sedang menampilkan perasaan sedih, seolah-olah sedang sedih karena harus meninggalkan teman baiknya, sementara ringkik kuda-kuda itupun terdengar sumbang dan lemah seperti helaan napasnya.
Kini Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yang sudah berdandan, samaran mereka mirip benar dengan pedagang pelancongan yang hendak menempuh perjalanan jauh ditengah lautan pasir nan luas ini.
Ciok Tho sebaliknya berdandan seperti orang Mongol, selembar kain putih yang lebar dan panjang dia ikat di atas kepalanya, tujuannya bukan untuk menutupi batok kepalanya dari terik matahari, tujuannya adalah untuk menutupi selembar mukanya.
Mengenai Siau-phoa?
Dia boleh sembarangan suka mengenakan pakaian apa saja, meski kau campurkan dia dengan segala macam bangsa, kehadirannya tidak akan menyolok mata.
Disaat hari hampir mendekati magrib mereka berangkat memasuki lautan pasir.
Tatkala itu, walau sang surya sudah terbenam, hawa panas sedang mengepul naik dipermukaan padang pasir, maka panasnya luar biasa, ingin rasanya mencopoti pakaian yang melekat dibadan.
Tapi tak menjelang lama suhu panas itu dengan capat sudah menghilang, disusul hawa dingin yang menusuk tulang menerpa muka terasa pedas dan perih seperti diiris dengan pisau.
Ingin rasanya Oh Thi-hoa menyembunyikan badannya di bawah perut unta, duduk di punggung unta, rasanya seperti naik perahu yang diombang-ambingkan ditengah samudera raya.
Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Siau-phoa pun duduk d ipunggung unta, melihat gaya duduk Oh Thi-hoa diatas unta, hampir saja mereka terpingkal-pingkal.
Memang siapapun yang duduk di atas punggung unta takkan enak dan sedap dipandang mata.
Hanya Ciok Tho yang mengikuti langkah unta-unta itu selangkah demi selangkah berjalan tak kenal lelah, perduli di padang pasir, di tanah datar, di padang rumput atau ditengah rawa-rawa, dingin atau panas..........segala perubahan seolah tiada pengaruh apa-apa bagi manusia cacat yang satu ini.
Jikalau dulu, pasti Oh Thi-hoa sudah mengajukan pertanyaan .
"Kenapa kaupun tidak duduk diatas unta?"
Kini dia tak perlu mengajukan pertanyaannya, dia tahu Ciok Tho takkan sudi duduk di punggung kuda, unta atau keledai, karena dia pandang mereka sebagai teman baiknya.
Malam semakin larut, hawa dingin semakin merangsang dan menjadi-jadi.
Saking kedinginannya Siao-phoa sudah gemetar di punggung unta, untung tak lama kemudian Ki Ping-yan berhasil menemukan sebuah tempat untuk berlindung dari hembusan angin badai.
Mereka mendirikan kemah di belakang gundukan bukit pasir, membuat api unggun dari kotoran binatang.
Ciok Tho jejer unta-unta itu menjadi semacam bundaran, punuk unta untuk menutupi cahaya api.
Diatas api unggun dimasak sewajan sayur, mereka duduk mengelilingi api, minum arak, mencium hawa yang berbau campuran merica, lombok dan berambang dimasak campur daging sapi dan kambing.
Baru sekarang Oh Thi-hoa merasa lebih nyaman dan segar.
Sebaliknya Ciok Tho, tetap duduk dikejauhan sana, di bawah penerangan bintang-bintang yang kelap kelip di padang pasir ini, bukan saja raut mukanya lebih dingin kaku, lebih buruk, malah terunjuk pula mimik dan sikap yang aneh.
Pada tempat yang semakin kosong dan luas, diwaktu yang sunyi dan lebih tenang, sikap dan mimiknya ini jauh lebih jelas dan menyolok, kini dia duduk menyendiri ditengah padang pasir yang tak berujung pangkal, ditengah kegelapan malam yang dingin pula, kelihatannya dia seperti seorang raja yang terusir dari negeri dan rakyatnya, dia sedang mengecap kesunyian, penderitaan dan penghinaan yang kelewat batas dengan diam-diam.
Sampaipun Coh Liu-hiang, tak terasa diapun mulai tertarik akan petualangan masa lalu dari manusia misterius yang sudah mengalami akibatnya dulu, namun sukar dia berhasil menyelami isi hatinya dan jalan pikiran orang yang misterius ini.
Tapi tak pernah Coh Liu-hiang menanyakan kepada Ki Ping-yan.
Dia tahu Ki Ping-yan takkan mau menjelaskan atau memang dia sendiripun mungkin tidak tahu.
Setelah larut malam, mereka masing-masing menyelinap masuk ke dalam kemah untuk tidur.
Ciok Tho cukup membungkus badannya dengan selimut tebal, tidur disamping unta, celentang menghadap langit dimana bintang-bintang bercokol di cakrawala.
Coh Liu-hiang pun tidak tahu apakah orang sudah tidur belum, namun ia maklum orang lebih suka tidur di pinggir unta, matipun dia tidak mau tidur disamping orang lain.
Sudah tentu Oh Thi-hoa pun ada perhatian akan hal ini, tidak seperti Coh Liu-hiang, dia tidak bisa menyimpan didalam hatinya.
Setelah ditahan-tahan setengah harian akhirnya ia tak kuat menahan sabar, tanyanya.
"Kenapa dia tidak masuk kemari tidur bersama kita?"
"Karena dia tidak pandang sama derajat dengan kita."
Oh Thi-hoa berjingkarak bangun serunya marah ."
Dia pandang rendah kita?"
"Siapapun dia pandang rendah."
"Terhadap kaupun dia memandang rendah?"
Tanya Oh Thi-hoa melengak. Ki Ping-yan tertawa tawar, ujarnya ."
Ya, sampai akupun tidak terpandang sebelah matanya."
"Dia pandang rendah dirimu, kenapa mau bekerja demi kau?"
"Bila kau melakukan sesuatu hal untuk orang lain, tidak mesti harus memandangnya , benar tidak?"
Tanya Ki Ping-yan.
"Sekarang dia bekerja demi aku, karena dia merasa hutang budi terhadapku, bila dia merasa hutangnya lunas, meski aku turut berlutut minta bantuannya dia takkan sudi tinggal bersama kami."
Kembali Oh Thi-hoa menjublek di tempatnya, lekas ia tuang sebuah cawan besar penuh arak terus ditengaknya, dia ingin lekas bisa tidur, tapi bolak-balik selalu matanya terbayang akan raut muka buruk yang bermimik aneh itu.
Siapakah sebenarnya orang ini?
Siapa pula yang membuatnya begitu rupa?
Sudah tentu dia tak mendapat jawaban, tanpa sadar mulutnya menggumam.
"Tempat setan seperti ini, sulit juga hidup dalam hari-hari seperti ini."
Ki Ping-yan yang seperti sudah pulas, saat itu tiba-tiba menyeletuk dingin ."
Sekarang kau sudah merasa sedih dan sengsara ya? Hari-hari yang betul-betul penuh derita belum lagi mulai lho!"
Dumulai sejak Oh Thi-hoa berani terjun ke dalam sungai di belakang rumahnya untuk berenang, ia sudah menyukai matahari, sejak itupula setiap hari cerah, matahari menyinarkan cahayanya yang gemilang, tak tahan lagi dia pasti mencopot pakaian, menjemur diri dipasir.
Yang-ci-kiang di puncak Ai-ho-lau, di puncak Ceng-shia diatas budur, ditempat teduh di puncak Hoa-san, ditempat yang paling tinggi di Thaysan, dia pernah melihat bermacam-macam matahari.
Ada yang terik dan panas seperti bara, laksana laki-laki kebakaran jenggot, ada pula yang halus lembut laksana pemuda perlente yang romantis, ada yang remang-remang gelap seperti pandangan si kakek yang sudah lamur, dan ada pula yang cemerlang menakjubkan seperti seraut muka gadis jelita.
Berani mati, selama hidup belum pernah dia lihat dan menghadapi terik matahari seperti ini.
Meskipun matahari yang satu ini pula, tapi matahari ditengah padang pasir ini, mendadak berubah menjadi sedemikian kejam, ganas luar biasa, seolah-olah seluruh padang pasir ini hendak dibakarnya sampai menyala oleh teriknya itu.
Sedemikian panas terik matahari ini sampai Oh Thia-hoa tiada selera minum arak, hatinya pepat dan mengharap sang surya lekas terbenam keperaduannya, seorang pemabokan bila sampai tiada selera minum arak lagi, tentu dia sudah amat menderita serasa ingin mati saja.
Tiada angin, sedikitpun tak terasa adanya angin berlalu, tiada suara yang paling lirihpun ditengah terik mentari ini, seluruh jiwa kehidupan ditengah padang pasir ini, semuanya sudah terbenam dalam keadaan teler-teler hampir mati.
Sungguh tak tahan lagi, ingin rasanya Oh Thi-hoa melompat ke punggung unta dan mencak-mencak seperti orang kesetanan...
pada saat itulah, entah dari mana datangnya, sayup-sayup ia mendengar suara rintihan.
Rintihan yang amat lemah, tapi ditengah padan pasir yang tenang sunyi seperti tiada kehidupan ini, kedengarannya begitu jelas seperti seseorang berbisik di pinggir telinganya.
Tanpa berjanji, Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa serempak menegakkan punggung duduk pasang kuping.
"Kalian mendengar suara itu?"
Tanya Oh Thi-hoa melebarkan matanya.
"Em!"
Coh Liu-hiang mengiakan dengan suara dalam tenggorokan.
"Menurut pendengaranmu, suara apa itu?"
Tanya Oh Thi-hoa yang suka cerewet.
"Disekirar sini ada orang."
Sahut Coh Liu-hiang.
"Tidak salah! Ada orang, tapi orang yang sudah dekat ajalnya."
"Dari mana kau tahu?"
Jengek Ki Ping-yan dingin. Oh Thi-hoa menyeringai, ujarnya.
"Walau aku tidak suka membunuh orang, tapi suara rintihan orang meregang jiwa melayang ajal, sudah sering kudengar, menurut hematku, kalau orang itu bukan hampir mati kekeringan oleh terik matahari tentu melayang ajal karena dahaga."
Pada saat itu pula, terdengar suara erangan lain kumandang, Oh Thi-hoa sudah tau suara rintihan ini datang dari belakang gundukan pasir tinggi di sebelah kiri sana.
Kontan Oh Thi-hoa lompat turun dari punggung ontanya, serunya.
"Di sana orangnya, lekas kita tengok kesana."
"Seseorang yang melayang ajal, apanya sih yang enak kau tonton?"
Tukas Ki Ping-yan dingin.
"Apanya yang bisa ditonton?"
Teriak Oh Thi-hoa.
"Kau tahu ada orang hampir mati, memangnya kau cuma melihat saja tanpa sudi menolongnya?"
"Sejak mula sudah kuberi tahu, kepada kau, di atas padang pasir ini, setiap hari kau bisa bertemu dengan sepuluh manusia yang meronta-ronta menjelang ajal, jikalau kau ingin menolong orang, jangan kau lakukan pekerjaan lain."
Oh Thi-hoa berjingkrak, serunya.
"Kau... memangnya kau tidak mau menolong orang yang hampir mati?"
"Memangnya kedatangan kita kemari hanya untuk menolong orang hampir mati?"
"Begitu kejam hatimu!"
"Ditempat setan seperti ini, hanya orang yang berhati baja saja yang bisa tetap bertahan hidup, bilamanapun kau hampir mampus, jelas takkan ada orang yang mau menolong kau, karena bila ada orang sudi membagi air kepadamu dia sendiri bakal mati karena dahaga."
Coh Liu-hiang tersenyum, timbrungnya.
"Tapi bukankah air kita sekarang cukup berlebihan?"
"Terdapat sejenis manusia lain di dalam padang pasir ini jikalau kau menolong dia disaat tenaganya pulih badan menjadi segar kembali, malah mungkin dia membunuhmu, lalu merampas ramsum dan binatang tungganganmu tinggal lari!"
"Mengandalkan kekuatan kami bertiga, manusia mana dalam dunia ini yang mampu membunuh kami?"
"Benar!"
Sela Oh Thi-hoa memberi dukungan.
"Siapa bisa membunuh kita?"
Lalu ia melotot kepada Ki Ping-yan, sambungnya.
"Agaknya bukan saja hatimu semakin kejam dan telengas, malah nyalimu justru semakin kecil, seorang bila mempunyai uang terlalu banyak, mungkin bisa berubah seperti keadaanmu sekarang."
Membeku roman muka Ki Ping-yan, ia tak banyak bicara lagi.
"Peduli kau sudi tak pergi menolong orang, aku pasti akan kesana melihatnya."
Coh Liu-hiang tersenyum.
"Kalau mau pergi mari kita bersama-sama."
Sudah tentu kata-katanya itu ia tujukan kepada Ki Ping-yan, sesaat lamanya Ki Ping-yan diam saja, akhirnya dia menghela napas, maka barisan segera membelok ke arah kiri.
Gundukan bukit pasir di sebelah kiri sana tidak luas dan tinggi, begitu mereka tiba di pengkolan bukit pasir sebelah sana, dari kejauhan mereka melihat dua orang, begitu melihat kedua orang ini, hati Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa serasa hampir membeku dingin.
Kedua orang ini sudah tidak mirip seperti manusia umumnya, tapi mirip dua bongkah kerat daging kambing yang dipanggang di atas api unggun, dengan telanjang bulat kedua orang disalip di atas pasir pergelangan kedua kakinya yang telanjang bulat, jidat dan lehernya masing-masing terikat kencang oleh kulit sapi, kulit kerbau umumnya basah, tapi setelah dijemur matahari dan menjadi kering, maka libatan ikatannya menjadi semakin kencang dan erat, melesak masuk ke dalam kulit daging.
Seluruh kulit badan mereka hampir sudah gosong karena terik matahari, bibirpun sudah retak, kelopak matanya setengah terpejam, biji matanya sudah kering, seperti dua buah lubang yang tak terukur dalamnya.
Baru sekarang Oh Thi-hoa benar-benar maklum dan mengerti cara bagaimana kedua biji mata Ciok Tho itupun menjadi buta.
Mata Ciok Tho mirip pula dengan kedua biji mata kedua orang ini, picak karena dijemur terik matahari secara hidup-hidup.
Meski Ciok Tho tidak bisa melihat, tak dapat mendengar, tapi begitu ia berada ditempat itu sekujur badannya mendadak gemetar keras, seolah-olah dia punya indera istimewa yang aneh, bisa merasakan gejala yang tidak wajar di sekelilingnya serta bencana yang bakal menimpa mereka.
Tali kulit kerbau diputus, dengan selimut tebal Coh Liu-hiang membungkus badan kedua orang ini, lalu dengan handuk yang dibasahi air dimasukan ke dalam mulut supaya mereka pelan-pelan menghisapnya.
Lama kelamaan, baru kedua orang ini bisa bergerak dengan gemetar, suara rintihannyapun semakin keras.
"Air... Air..."
Mereka bisa mengeluarkan suara, tak henti-hentinya menjerit mengeluh dan minta tolong.
Coh Liu-hiang tahu bila sekarang mereka lantas diberi air secukupnya, mereka bisa segera mati.
Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.
"Sahabat jangan kau kuatir, disini air cukup banyak, berapa kau ingin minum boleh sesuka hatimu."
Orang yang hampir mati itu dengan melongo hampa membuka mata, mulutnya tetap merintih.
"Air... Air..."
Oh Thi-hoa tertawa katanya.
"Kau tidak lega hati?"
Lalu ia berdiri menepuk kantong kambing di punggung onta katanya pula.
"Coba lihat, disinilah airnya."
Ki Ping-yan mendadak menghardik dengan bengis.
"Siapa yang menyalib kalian disini?"
"Dosa apa yang pernah kalian lakukan"
Orang yang hampir mati ini menggeleng-geleng kepala sekeras-kerasnya, sahutnya tergagap.
"Tidak, tidak... perampok."
"Perampok?"
Seru Oh Thi-hoa.
"Dimana?"
Orang hampir mati ini meronta-ronta angkat sebelah tangannya menunjuk ke satu arah yang jauh sana, lalu sekuatnya pula menjambak rambut sendiri, raut mukanya kembali bergetar dan berkerut-kerut kejang, badanpun gemetar semakin keras.
Berkata Ki Ping-yan dengan bengis.
"Menurut apa yang kutahu, disekitar sini tiada jejak kawanan perampok, apa kalian membual ya?"
Kedua orang kembali geleng kepala, agaknya kedua biji mata hampir berlinang air mata. Berkata Oh Thi-hoa keras.
"Mereka sudah dalam keadaan begini mengenaskan, buat apa kau hendak kempes mereka? Memangnya kenapa umpama mereka membual, badan mereka tidak mengenakan selembar benangpun, masakah bisa mencelakai kami?"
Kembali Ki Ping-yan bungkam tidak melayaninya.
Soalnya ucapan Oh Thi-hoa memang kenyataan kedua orang ini bukan saja telanjang bulat dengan badan kering dan kusut masai, bertangan kosong lagi tanpa bawa senjata, seumpama mereka tidak terluka, tiada sesuatu tanda-tanda yang menunjukkan gejala yang mencurigakan, mau tak mau Ki Ping-yan merasa lega hati juga.
Kata Oh Thi-hoa berpaling ke arah Coh Liu-hiang.
"Kini boleh memberi air lebih banyak sedikit bukan?"
Coh Liu-hiang masih termenung sebentar akhirnya manggut-manggut sahutnya.
"Tetapi sedikit saja."
Sembari bicara ia melangkah ke arah kantong air, tapi belum lenyap suaranya, kedua manusia yang kempas-kempis hampir mampus itu, mendadak selincah kelinci mencelat bangun.
Kedua tangan mereka yang semula meremas-remas rambut di atas kepalanya itu mendadak pula diayunkan secepat kilat, dari jari-jari tangan, mereka berbareng melesat puluhan bintik-bintik hitam luncurannya tak kalah dari sambaran kilat.
Jelas sekali itulah senjata rahasia yang mirip disemprot keluar dari sebuah bumbung yang diberi alat rahasia semacam pegas.
Jadi senjata rahasia itu bisa mereka sembunyikan di dalam rambutnya yang awut-awutan itu.
Begitu kedua tangan mereka terayun, Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan serempak melejit tinggi seenteng asap segesit burung walet, meski mereka menghadapi sergapan mendadak di luar dugaan, namun reaksi dan gerakan mereka sungguh teramat cepat, jarang ada senjata rahasia yang mampu melukai mereka.
Siapa nyana senjata rahasia itu justru tidak mengarah mereka, yang diincar justru kantong-kantong air itu, maka terdengar "Bles, bles, bles."
Beruntun puluhan kali, puluhan lobang yang memancurkan air serempak menyembur keluar dari kantong air kulit kambing itu.
Belum lagi semua orang insaf apa yang telah terjadi, kedua orang yang hampir mampus tadi, tiba-tiba melejit bagaikan terbang melarikan diri.
Meledak amarah Oh Thi-hoa, bentaknya murka.
"Kunyuk sialan! Lari kemana kau?"
Dengan gerakan yang hampir lebih cepat dari Coh Liu-hiang, ia mendahului menubruk kearah dua orang itu.
Belum lagi mereka lari sejauh sepuluh tombak, tahu-tahu terasa segulung angin kencang merangsang lehernya, mereka hendak putar badan melawan, tapi belum sempat berpaling, badannya tiba-tiba sudah tersungkur ke depan.
Bahwasanya siapa yang turun tangan dan cara bagaimana mereka dirobohkan tidak melihat jelas.
Tahu-tahu Oh Thi-hoa sudah duduk seperti mencongklang kuda di atas punggung salah seorang itu, kedua tangan bergerak pergi datang menampar muka orang, dampratnya.
"Ku tolong kau, kau malah hendak mencelakai aku? Kenapa? Kenapa?"
Orang ini tidak menjawab, karena selamanya tak mampu membuka mulut lagi, waktu Oh Thi-hoa merenggutnya dari atas tanah, lehernya teklok lemas seperti batang padi yang putus menjadi dua.
Seorang lagi juga rebah di atas tanah, Coh Liu-hiang tidak bergerak menghajarnya, cuma berdiri di depannya dengan tenang dia awasi orang, sepatah pertanyaanpun tidak ia ajukan.
Diwaktu mendengar tulang leher temannya putus, badan orang itu tiba-tiba melingkar seperti trenggiling, mulutnya malah menggembor seperti orang gila.
"Bunuhlah aku! Tidak menjadi soal yang terang kalianpun takkan bisa hidup lebih lama lagi, biar kutunggu kalian diambang pintu neraka, saat itu akan kubuat perhitungan dengan kalian."
Berkedip pun tidak mata Coh Liu-hiang, katanya kalem.
"Aku takkan bunuh kau, asal kau bicara terus terang, siapa yang suruh kau kemari?"
Mendadak orang ini terloroh-loroh menggila seperti orang kesetanan, serunya.
"Kau ingin tahu siapa yang suruh aku kemari? Memangnya kau masih ingin mencari dia?"
"Memangnya aku hendak mencari dia, masa kau merasa amat menggelikan?"
Meleleh air mata orang ini karena terpingkel-pingkel, katanya dengan napas ngos-ngosan.
"Sudah tentu amat menggelikan, siapapun dia bila bukan seorang gila, takkan mau mencari dia, kecuali orang itu sudah bosan hidup."
Oh Thi-hoa sudah memburu kemari, serunya hampir menggembor.
"Apakah putra Ca Bok-hap yang suruh kau kemari?"
"Ca Bok hap?"
Orang itu tertawa besar, Ca Bok-hap itu barang apa, menggosok sepatu beliaupun tidak setimpal."
Berkerut alis Coh Liu-hiang, tanyanya.
"Bukan Ca Bok-hap, memangnya siapa?"
"Kau tak usah kuatir, disaat jiwamu menjelang ajal, dengan sendirinya akan bertemu dengan beliau... aku boleh bertaruh dengan kau jiwamu takkan hidup lebih lima hari lagi."
Damprat Oh Thi-hoa gusar.
"Biar aku bertaruh dengan kau, jikalau kau tidak mau bicara terus terang, lima jam pun kau tidak akan bisa hidup lagi. Ternyata orang itu tertawa pula, katanya.
"Bahwasanya aku memang tidak ingin hidup lima jam lagi."
Sudah tentu Oh Thi-hoa melengak dibuatnya, tanyanya.
"Kau tidak takut mati?"
"Kenapa aku harus takut mati?"
Jawab orang itu terloroh-loroh.
"Bisa mati demi beliau, boleh dikata hatiku teramat girang, lebih senang dari mendapat rejeki nomplok."
Suara tawanya mendadak menjadi lemah, sebaliknya sorot matanya memancarkan cahaya yang aneh.
"Celaka!"
Seru Coh Liu-hiang kaget. Dalam mulut orang ini mengemut obat beracun untuk bunuh diri."
Benar juga waktu Oh Thi-hoa merenggut badan orang, segera ia dapatkan napas orang sudah berhenti. Lama sekali bari Oh Thi-hoa melempar badan orang, katanya berputar kepada Coh Liu-hiang.
"Pernah kau melihat manusia yang tidak takut mati seperti ini?"
"Belum pernah!"
Sahut Coh Liu-hiang pendek.
"Aku tahu banyak orang gila ketangkap oleh musuh, mereka bisa bunuh diri dengan menelan obat beracun tapi mereka mencari jalan pendek lantaran terpaksa, sebaliknya orang ini mati dengan riang dan gembira lihat mulutnya mengulum senyum lagi."
Coh Liu-hiang hanya menghela napas tanpa bicara lagi, sekilas otaknya terbayang akan Bu Hoa yang menelan obat beracun pula dihadapannya, teringat akan Bu Hoa, tak tahu lagi ia menghela napas rawan.
Oh Thi-hoa menghela napas juga, ujarnya.
"Kurasa otak orang ini rada kurang normal kalau tidak..."
Mendadak ia memandang Ki Ping-yan, tangan mengelus hidung dan tak melanjutkan kata-katanya lagi.
Selama ini Ki Ping-yang tertunduk mengawasi mayat dihadapannya bahwasanya melirikpun tidak kepadanya.
Lama juga Oh-Thi hoa menahan sabar dan menunggu-nunggu, akhirnya mengguman sendiri.
"Senjata rahasia mereka tersembunyi di dalam rambutnya, hal ini baru sekarang dapat kupikirkan, tapi kenyataan mereka sudah dijemur sampai kering kerontang sampai badan gosong terbakar bagaimana mungkin bisa punya kekuatan untuk bergerak?"
Roman muka Ki Ping-yan tidak menunjukkan perobahan mimik apa-apa, perlahan-lahan ia berjongkok begitu merah rambut salah satu mayat terus disentak ke atas, tangannya tahu-tahu mencekal sebuah rambut palsu yang dilapisi selembar kulit tipis dan halus, aneh benar seketika terlihatlah seraut muka dengan kulit halus dan putih bersih.
Lama juga mata Oh-Thi hoa melotot, lalu katanya sambil tertawa getir.
"Ternyata mereka menggunakan ilmu rias dan rambut palsu segala malah keahliannya tidak lebih asor dari Maling kampiun, dalam padang pasir terdapat seorang berbakat begini, sungguh mimpipun tak terduga."
Kata-katanya ini dia tujukan kepada Ki Ping-yan, tapi belum habis ia bicara Ki Ping-yan sudah tinggal pergi.
Terpaksa Oh Thi-hoa ikut pergi, tampak puluhan kantong-kantong kambing berisi air ini sama berlobang dan memancurkan air di dalamnya, namun air di dalam kantong itu belum mengalir habis.
Sementara itu Ki Ping-yang dan Siau-phoa bekerja sama menanggalkan semua kantong-kantong air itu, diletakkan di atas pasir, bagian yang berlobang menghadap ke atas, masing-masing masih berisi setengah kantong air.
Oh Thi-hoa girang, katanya.
"Kedua orang itu sia-sia saja mengantar jiwa, tujuannya hendak mencelakai kami tidak berhasil, air toh masih banyak untuk bekal perjalanan!"
Ki Ping-yan tidak banyak komentar, satu persatu kantong-kantong yang berlobang itu dia tuang airnya sampai habis. Tersirap darah On Thi-hoa, jeritnya.
"E, apa yang kau lakukan?"
Ki Ping-yan tetap tidak bicara. Lekas Coh Liu-hiang menghampiri, katanya dengan nada berat.
"Senjata rahasia itu beracun, racun sudah bercampur dalam air, sudah tentu air ini tak boleh diminu."
Oh Thi-hoa terhuyung-huyung tiga langkah hampir saja ia terjengkang jatuh.
"Aku sudah menemukan bumbung rahasia mereka untuk menyambitkan jarum-jarum berbisa itu,"
Coh Liu-hiang menerangkan.
"Betapa hebat dan sempurna buatannya, ternyata lebih unggul dari Kiu-thian-cap-te. Thian-mo-sin ciam yang menggetarkan Bulim puluhan tahun yang lalu. Sungguh tak pernah terpikir olehku, tokoh macam apakah yang mampu membuat senjata rahasia seperti ini dalam kalangan Kang-ouw?"
Dimana jari-jarinya terbuka masing-masing terdapat sebuah bumbung besi warna hitam mengkilap. Hanya sekilas Ki Ping-yan melihat bumbung besi itu, katanya tawar.
"Tunggulah setelah malam tiba baru kita bicara, sekarang perlu kita mengejar waktu melanjutkan perjalanan."
Tetap ia tidak pernah melirik kepada Oh Thi-hoa. Akhirnya tak tahan Oh Thi-hoa dibuatnya, serunya sambil berjingkrak.
"Memang gara-garaku yang suka usil, suka ikut campur urusan orang lain, mataku buta, kau... kau, kenapa tidak kau maki aku, tidak kau hajar aku? Tidak sudi bicara lagi? Maki dan hajarlah diriku, hatiku tentu jauh lebih enak dan tentram. Benar juga Ki Ping-yan berpaling kepala pelan-pelan, dengan tenang ia pandang muka orang, katanya kalem.
"Kau ingin supaya aku mencacimu?"
"Tidak kau caci aku, kau keparat! Telur busuk!"
Sikap Ki Ping-yan tetap tak berubah, pelan-pelan ia mencemplak naik ke punggung unta, katanya tawar.
"Kenapa aku harus caci kau? Menolong orang toh perbuatan bajik, apalagi yang picak matanya toh bukan kau saja, yang tertipu juga bukan kau pula."
Baru sekarang Oh Thi-hoa menjublek dan melongo, lama ia tak buka mulut.
Coh Liu-hiang menghampiri dari belakang, katanya tersenyum sambil menepuk pundaknya "Jagi mampus kiranya tidak sebrutal yang pernah kau bayangkan dulu, ya tidak?"
Malam itu, seperti pula Ciok Tho, Oh Thi-hoa duduk seorang diri di bawah sinar bintang yang kelap-kelip ditengah cakrawala, duduk di atas pasir yang masih panas dan mengeluarkan hawa membara, lambat laun ia duduk di tengah kabut yang dingin dan tak berujung pangkal luasnya.
Hembusan angin tidak lagi membawa bau lombok, merica, berambang dan daging kambing.
Karena yang mereka miliki sekarang tidak lebih hanya sebuah kantong air kecil yang selalu tidak pernah berkisar dari badan Ki Ping-yan itu.
Tiada air, tentu tiada masakan hangat, tiada hidangan, tak sempat makan minum bersuka-ria, tiada jiwa kehidupan.
Tidak jauh di sana Ciok-Tho duduk seorang diri pula, sejak mengalami peristiwa ini meskipun dia tak melihat, tak mendengar sendiri, namun tindak tanduk dan sikapnya jelas mulai berubah.
Badannya yang tegap laksana tonggak itu, seolah-olah berubah mulai loyo dan patah semangat, raut mukanya yang seperti terukir dari batu-batu kramik itu, kinipun mulai menampilkan rasa ketakutan dan mulai tidak tentram.
Tapi Oh Thi-hoa belum sempat memperhatikan perubahannya ini.
Oh Thi-hoa sedang repot menyalahkan diri sendiri, marah kepada diri sendiri.
Di dalam kemah terpasang sebuah pelita, sinar pelita guram seperti cahaya bintang di langit, di bawah penerangan sinar pelita, yang memang remang-remang lembut ini, persoalan yang sedang dirundingkan dan dibicarakan oleh Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan justru membawa suasana yang kurang tentram dan tak membawa kelembutan.
Bumbung jarum yang hitam mengkilap itu di bawah pancaran sinar pelita yang guram ini kelihatan lebih seram jahat dan dingin.
Kata Coh Liu-hiang sambil mengawasi bumbung jarum ini.
"Sungguh salah satu senjata rahasia yang paling menakutkan diantara sekian banyak senjata rahasia yang pernah kuhadapi selama hidup ini. Kupikir dalam dunia ini hanya tiga orang yang mampu membuat alat senjata rahasia seperti ini."
"Siapa saja ketiga orang itu?"
Tanya Ki Ping-yan.
"Orang pertama adalah Ciang-bun-jin keluarga Tong di Siok-tiong. Kedua adalah Cu losiansing dari Kou-ki-theng di Kanglam, tapi jelas kedua orang ini sudah pasti takkan datang kepadang pasir ini."
"Benar... masih satu lagi?"
Coh Liu-hiang tersenyum dulu, katanya.
"Seorang lagi adalah aku sendiri, sudah tentu alat senjata rahasia ini juga bukan ciptaanku."
Tak terunjuk rasa geli dalam sorot mata Ki Ping-yan, katanya tandas.
"Walau kau hanya tahu tiga orang saja, tapi aku berpendapat tentu masih ada orang ke empat, cuma siapa orang ini, kau dan aku masih belum tahu."
Sesaat Coh Liu-hiang menepekur, katanya kemudian menarik napas.
"Dapat membuat alat rahasia semacam ini sih tidak perlu ditakuti, yang ditakuti justru dia dapat membuat semua anak buahnya begitu setia dan rela mati demi kepentingannya."
"Kau kira si 'dia' pasti bukan lawanmu Hek-tin-cu itu?"
"Terang bukan Hek-tin-cu tidak sedemikian kuat, diapun tak sedemikian kejam dan buas."
"Menurut hematmu, orang macam apakah si dia itu?"
"Kukira dia seorang sahabat dari kalangan hitam di Tionggoan yang teramat lihay dan sudah menanam akar di sini, atau mungkin pula seorang gembong perampok di padang pasir, tujuannya bukan melulu terhadap Maling kampiun saja, juga belum mengincar Ki Ping-yan tidak lebih dia hanya pandang kami sebagai pelindung kambing gemuk yang sedang dia incar, dari kita mereka pingin memperoleh harta dan uang."
"Ya!"
Ki Ping-yan setuju akan pendapat ini.
"Dia sudah perhitungkan kita pasti akan lewat dari sini, maka sebelumnya sudah mengatur perangkap hendak menjebak kita, atau mungkin mereka memang hendak mengincar jiwa kami, tapi waktu kedua orang itu melihat bahwa kita bukan seperti kaum pedagang umumnya, kuatir sekali kerja tak berhasil terpaksa mereka melihat gelagat merubah haluan bukan kita yang diincar senjata rahasia mereka berobah sasaran mengarah kantong-kantong air kita."
Setelah tertawa getir, ia melanjutkan.
"Dia hendak tunggu setelah kita kehabisan air dan dahaga setengah mati, baru akan turun tangan, waktu itu tenaga untuk melawan saja tiada, bukankah tinggal pasrah nasib membiarkan mereka menggorok leher kita?"
Ki Ping-yan menyambung dengan prihatin.
"Mungkin dia tidak ingin segera menghabisi jiwa kami, bahwasanya dia ingin supaya kami menderita pelan-pelan kehabisan tenaga meregang jiwa."
Berkerut alis Coh Liu-hiang, tanyanya.
"Kenapa berpikir demikian kau...?"
Tiba-tiba ia hentikan mulutnya, karena tiba-tiba ia mendapati sorot mata Ki Ping-yan yang dingin membeku keras itu, kini seperti mengandung perasaan takut dan tidak tentram.
Ini benar-benar belum pernah dialami oleh Ki Ping-yan selama ini, sesuatu yang membuat orang seperti Ki Ping-yan takut dan kurang tentram, tentulah urusan amat gawat dan menggetarkan sukma.
Segera Coh Liu-hiang juga merasa kurang tentram, tanyanya coba-coba memancing.
"Apa kau sudah dapat menerka siapa si 'dia' itu sebenarnya?"
Agaknya Ki Ping-yan ingin mengatakan apa-apa, sekilas matanya melirik keluar kemah dimana Ciok Tho sedang duduk diam, kata-kata yang sudah tiba di ujung mulut ketika ia telan kembali, mendadak ia unjuk tawa dan berkata.
"Perduli siapa orang itu, jikalau ia hendak membuat kami mati karena dahaga, tindakannya itu terang keliru."
Coh Liu-hiang tidak bertanya lebih lanjut, katanya tertawa.
"Ada kau disini, selamanya aku tidak perlu takut bakal mati dahaga disampingmu."
Ki Ping-yan tertawa, ujarnya.
"Aku tahu kira-kira seratus li jauhnya, ada sebuah sumber air yang amat tersembunyi, besok sebelum matahari terbenam, kita pasti sudah bisa tiba ditempat itu, tadi tidak kukatakan, karena aku ingin supaya Oh Thi-hoa kebingungan dan gugup setengah mati, lalu dengan tersenyum senang ia rebahkan diri, sebentar saja seperti sudah lelap dalam tidurnya. Sebaliknya dengan diam-diam Coh Liu-hiang menyelinap keluar dari kemah, duduk di pinggir Oh Thi-hoa bukan ingin bicara dengan Oh Thi hoa, cuma ingin duduk rada dekat sekaligus untuk mengawasi dan menyelidiki tindak tanduk Ciok Tho, orang serba misterius ini. Lapat-lapat ia sudah merasakan di dalam dada Ciok Tho yang sekeras batu cadas itu tersembunyi suatu rahasia, rahasia yang menakutkan sepuluh kali lipat lebih seram dari jarum beracun yang seketika menamatkan jiwa manusia. Hari kedua, Ki Ping-yan membagi rata sisa air yang ada menjadi lima bagian, katanya tawar.
"Inilah sisa air yang terakhir, kita boleh sekarang meminumnya sampai habis, juga boleh disimpan untuk diminum perlahan-lahan. Yang terang sisa air ini paling lama hanya bisa bertahan selama dua tiga hari."
Mengawasi kantong yang kosong itu, berkata Oh Thi hoa.
"Itulah air tinggalanmu sendiri, aku tak mau minum. Putar badan lekas ia hendak tinggal pergi. Coh Liu-hiang menariknya, katanya tertawa.
"Jangan kau main purian dengan Ping-yan, kau bisa tertipu bila marah-marah kepadanya."
Tiba-tiba Oh Thi hoa pun tertawa lebar, ujarnya.
"Hal apa yang kubuat marah sama dia, kemarin malam, aku sudah dengar nanti sore dia sudah akan bisa mendapatkan air, cuma aku sendiripun masih punya sepoci arak, kenapa aku harus minum airnya yang hitam berlumpur itu?"
Tak terasa Ki Ping-yan ikut tertawa, mengawasi ketiga sahabat karib yang sama terpingkal-pingkal sambil bergandengan lengan ini, seketika bangkit semangat Siau-phoa, lenyap rasa takutnya.
Ikut bersama tiga orang-orang gagah seperti mereka ini, apa pula yang perlu ditakuti?
Cuma raut muka Ciok Tho yang semakin lama semakin guram, kaku, orang satu yang punya mata ini, seolah-olah sudah melihat malapetaka yang tak terlihat oleh orang lain bakal menimpa mereka.
Ki Ping-yan hanya mengulap sebelah tangannya, Ciok Tho segera menghentikan barisan ini, unta-unta sama mendekam rebah, lekas Oh Thi hoa lompat turun dari punggung unta, langsung lari mencari Ki Ping yan, tanyanya.
"Kau yang menyuruh Ciok Tho menghentikan barisan, benar tidak?"
"Memangnya kenapa?"
Balas tanya Ki Ping yan. Oh Thi hoa heran, tanyanya.
"Asal kau mengulap tangan, dia lantas tahu akan maksudmu?"
"Ya, begitulah!"
Ki ping-yan mengiakan. Semakin keras suara Oh Thi-hoa.
"Tapi kau katakan dia seorang bisu, tuli dan buta, darimana dia bisa melihat tanda ulapan tanganmu?"
Ki Ping-yan tertawa tawar, katanya.
"sudah tentu aku punya caraku sendiri sehingga dia bisa menangkap maksudku."
"Kau punya setan apa? Kenapa tidak mau kau jelaskan?"
"Apa benar kau sendiri tidak mengetahui?"
"Hanya sundel bolong saja yang bisa melihatnya."
Ki Ping-yan berputar kearah Coh Liu-hiang, tanyanya.
"Bagaimana kau?"
Berkata Coh Liu-hiang pelan-pelan.
"Kau gunakan sebuah krikil untuk menyampaikan perintahmu, jikalau kau ingin barisan berhenti, maka kau timpuk pundak kiri Ciok Tho, jikalau ingin barisan berangkat, kau timpuk pundak kanannya."
Lalu sambil tersenyum ia berpaling kearah Oh Thi hoa, katanya.
"Cara ini kukira bukan hanya sundel bolong saja yang bisa melihatnya, benar tidak?"
Oh Thi hoa angkat kedua tangannya datar ke depan, katanya tertawa kecut.
"Kau bukan sundel bolong, baru sekarang aku menyadari bahwa diriku ternyata tidak lebih pandai dari sundel bolong itu."
Tempat itu merupakan salah satu bagian dari padang rumput yang ditaburi pasir-pasir kuning juga, tiada bedanya dengan tempat-tempat lain ditengah gurun pasir ini, cuma ada sesuatu yang menyolok mata, adalah ditempat itu terdapat sepucuk pohon.
Pohon yang tumbuh di pinggir sebuah batu cadas yang sudah mengering juga, pohon itupun sudah layu dan kering.
Setengah harian Oh Thi hoa celingukan kian kemari, tanyanya tak tahan.
"Di sini ada air?"
"Em!"
Sahut Ki Ping-yan manggut-manggut. Kata Oh Thi hoa sambil mengelus batok kepalanya.
"Dimana airnya, kenapa tidak kulihat? Apakah otakku ini sudah tak mampu untuk bekerja, matakupun sudah lamur?"
Lalu ia pegang lengan Coh Liu-hiang, tanyanya.
"Bicaralah terus terang kau sudah melihatnya belum?"
Coh Liu-hiang ragu-ragu, katanya.
"Konon didalam gurun pasir terdapat sumber air yang tersembunyi, di dasar pasir yang cukup dalam."
"Tidak salah kau..."
Ki Ping-yan urung bicara.
Matanya memandang Oh Thi-hoa ingin bicara, apa yang dia hendak ucapkan tentunya bukan omongan yang enak didengar kuping, tapi belum lagi kata-katanya selesai, Oh Thi-hoa sudah angkat kedua tangannya pula, tukasnya.
"Tak usah kau katakan bicaraku akui aku tidak tahu apa-apa?"
Lalu ia mengelus batok kepalanya pula, sambungnya.
"Bukan semula aku cukup pintar? kenapa begitu bergaul sama kalian, aku lantas jadi pikun, memangnya aku ketularan penyakit linglung orang lain?"
Tak tertahan Siau-phoa tertawa geli, timbrungnya.
"Jikalau benar-benar Oh-ya ketularan penyakit linglung, tentulah aku yang menulari kau."
Ki Ping-yan menarik muka, jengeknya.
"Mana mungkin kau menulari dia, dia malah jauh lebih goblok dari kau."
Belum habis ucapannya tak tertahan diapun tertawa keras. Bersambung ke
Jilid 15
Jilid 15 Tapi tak lama mereka tertawa-tawa sudah satu jam mereka membuang waktu jerih payah mengeduk pasir mencari sumber air, siapa tahu setitik airpun tidak mereka ketemukan.
Ki Ping-yan menjublek duduk lemas di tempatnya seperti patung batu.
Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas kepalanya, seperti hendak mengucapkan kata-kata lelucon yang menggelikan, serta melihat keadaan Ki Ping-yan, seketika terpikir juga olehnya mara bahaya yang segera akan menimpa mereka.
Mana mulutnya bisa berkelakar lagi.
Mana bisa ia tertawa.
Sedapat mungkin Coh Liu-hiang bikin suaranya datar dan wajar, katanya .
"Coba kau pikir lebih seksama, adakah salah pilih tempat ?"
Ki Ping-yan melompat bangun, teriaknya .
"Kau tidak percaya kepadaku?"
Coh Liu-hiang tahu saat ini hatinya tentu berpuluh lipat lebih pedih dari orang lain, tak diduga ia melanjutkan kata-katanya, Ki Ping-yan sebaliknya seperti mendadak luluh dan lemas, badannya menggelendot di batang pohon yang kering itu.
Siau-phoa tertawa dibuat-buat, katanya .
"Sumber air di bawah pasir, ada kalanya bisa juga menjadi kering, adakalanya pula nyasar ke jurusan lain, anggap saja yang berkuasa sedang main-main dengan kita, siapapun takkan bisa menentukan nasib sendiri."
"Aku tahu."
Ujar Coh Liu-hiang maklum. Berkata Ki Ping-yan sambil mengawasi Coh Liu-hiang .
"Jangan kau salahkan aku, aku..."
"Aku dapat merasakan perasaanmu, kalau aku jadi kau, bukan saja bisa marah-marah kepadamu, mungkin sumbarku lebih besar."
"Benar!"
Tukas Oh Thi-hoa riang .
"Diwaktu seseorang sedih hati, kalau tidak marah-marah kepada teman sendiri, kepada siapa dia harus marah? Jikalau teman baik itu tidak mau memahami perasaannya, siapa yang mau memberikan pengertian ini ?"
Menghadapi ketiga orang ini, Siau-phoa merasa seakan-akan tenggorokannya tersumbat sesuatu, katanya hambar serak .
"Siaujin memberanikan diri turut bicara..., siapapun bila bisa berkenalan dengan Coh-ya, dan Oh-ya berdua dialah seorang yang paling bahagia dan mendapat rejeki dalam dunia ini."
Tetapi pada saat itulah, dari kejauhan terdengar derap kaki kuda yang dilarikan kencang.
Oh Thi-hoa terperanjat, sigap sekali reaksinya secara reflek dia bergerak hendak memapak kesana.
Lekas Coh Liu-hiang menarik pundaknya, katanya kereng .
"Pada saat seperti ini ditempat ini pula, jangan sekali-kali kita gegabah sembarangan bertindak, tenangkan dulu hatimu menunggu perubahan apa yang akan terjadi ?"
Di sana, Ki Ping-yan, siau-phoa dan Ciok Tho sedang repot menarik unta-unta itu masuk ke dalam galian, karena mencari sumber air tadi, maka galian pasir yang mereka kerjakan cukup lebar dan dalam.
Di depan galian ini terdapat batu cadas itu yang menutupi pandangan dari arah yang berlawanan sana, di gurun pasir nan luas tak berujung pangkal ini, sungguh tiada tempat lain yang lebih daripada galian ini untuk menyembunyikan diri.
Baru saja Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa menyembunyikan diri, lantas dilihatnya beberapa ekor kuda gagah yang sedang berlari kencang bagai terbang, lambat laun bayangan mereka semakin jelas ditengah pasir-pasir kuning yang berterbangan ditengah angkasa.
Beberapa ekor kuda itu berlari kencang ke arah mereka, orang-orang yang bercokol di punggung kuda mendekam rata di punggung kuda, seolah-olah sedang lari dari sesuatu yang menakutkan sedang mengejar mereka.
Tapi selepas mata memandang ke gurun pasir nan luas dan datar ini, matahari sudah mulai doyong ke arah barat, memancarkan cahaya kuning yang cemerlang, kecuali beberapa ekor kuda itu, di belakang mereka tak terlihat bayangan manusia atau kuda yang mengejar datang.
"Apakah yang terjadi?"
Teriak Oh Thi-hoa tertahan.
"kenapa mereka lari menyingkir seperti dikejar setan?"
Rona muka Ki Ping-yang membeku kaku amat menakutkan, katanya serak .
"Dalam gurun pasir sering terjadi peristiwa yang seram dan menakutkan serba misterius lagi, asal urusan tidak menyangkut kami berlima, lebih baik kita anggap mata sendiri buta, anggap kau tidak pernah melihatnya. Tapi kuda-kuda itu berlari langsung menuju ke arah mereka.
"Jikalau menyangkut ke diri kita bagaimana ?"
Tanya Oh Thi-hoa.
Belum lagi Ki Ping-yan buka suara, kuda-kuda itu sudah kehabisan tenaga dan sama-sama terjungkal roboh, orang-orang yang duduk dipunggungnya seketika berguling-guling, namun cepat sekali mereka sudah berlompatan bangun.
Seluruhnya ada lima ekor kuda, tapi hanya ada empat orang, ke empat orang ini sama berseragam sebagai Busu dari Tionggoan, pakaian ketat bergaman golok pendek, dari gerak-gerik mereka kelihatan kepandaian mereka tentu tidak lemah.
Selama hidup Oh Thi-hoa boleh belum pernah dia melihat orang yang begitu mengenaskan serba runyam lagi.
Ke empat orang seluruh kepala dan badan sama berlepotan pasir dan debu, sama-sama melototkan mata mengawasi teman-teman sendiri dengan napas ngos-ngosan, tampak betapa takut dan jeri hati mereka yang membayang pada raut muka mereka, penulis yang paling pintar menggoyangkan penapun takkan bisa melukiskan keadaan mereka saat itu.
Mengawasi tingkah laku dan keadaan ke empat orang ini, hati Oh Thi-hoa dan lain-lain menjadi tegang.
Bahwasanya sesuatu apakah yang begitu menakutkan pernah dilihat oleh ke empat orang ini?
Kenapa kelihatan begitu ketakutan?
Sekonyong-konyong terdengar lolong panjang dan jeritan yang menyakitkan hati, tahu-tahu ke empat orang itu sama mencabut golok terus ditarikan saling bacok membacok seperti orang gila yang kesurupan setan!
Masing-masing orang keluarkan seluruh kepandaian permainan goloknya, sampaipun setaker tenaga merekapun sudah diboyong keluar.
Tapi mereka seperti sedang latihan, hakekatnya di hadapan mereka seperti tiada orang.
Yang dibabat, dibacok golok-golok itu hanyalah pasri kuning yang beterbangan membumbung ke angkasa.
mereka sudah tumplek seluruh kekuatannya, ternyata bertempur melawan debu dan pasir yang kosong, sudah tentu musuhnya itu selamanya takkan kena dibacoknya roboh.
Tak tertahan Oh Thi-hoa bersuara pula.
"Apakah orang-orang itu melihat setan?"
Ki Ping-yan membenamkan mukanya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Siau Phoa bergidik, katanya gemetar.
"Konon di gurun pasir terdapat iblis jahat yang tak kelihatan bentuknya, suka makan jantung dan empedu manusia, mungkin mereka... mereka..."
"Jangan cerewet!"
Sentak Ki Ping-yan.
Siau Phoa kontan tutup mulut, badan semakin gemetar, gigipun beradu keras.
Dengan pandangan mohon pendapat, Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang.
Coh Liu-hiang sebaliknya sedang arahkan pandangannya kepada Ciok Tho.
Orang yang sudah buta dan tuli ini, saat itu badannya sedang melingkar seperti ular, sedang gemetar tak hentinya, memangnya kenapa pula dia?
Oh Thi-hoa merasa tapak tangannya berkeringat dingin, tak terasa keringat dingin membasahi seluruh badan, gurun pasir nan luas tak kenal kasihan ini, ternyata benar-benar sering terjadi banyak peristiwa-peristiwa yang begini seram menakutkan.
Waktu ia berpaling kesana, dua orang yang sudah roboh terkapar, dua orang yang lainpun sudah hampir kehabisan tenaga, suara nafasnya yang memburu keras seperti kerbau hampir disembeleh.
Tapi asal sisa tenaga terakhir masih ada, mereka takkan berhenti, tarian golok mereka semakin kencang.
Sekonyong-konyong Ki Ping-yan bersuara dengan suara dalam.
"Itulah Peng-keng to-hoat."
"Akupun sudah melihatnya, orang dari keluarga Peng mana mungkin bisa menjadi begitu rupa?"
Setelah mengamati dengan seksama, Oh Thi-hoa ikut teriak tertahan.
"Tidak salah! Itulah Ngo hou-om-bun to tulen! Malah dinilai dari permainan ilmu golok dan lwekang ke empat orang ini pastilah mereka terdiri dari murid-murid pandai yang punya nama dan tingkatan tinggi dalam keluarga Peng itu."
"Ngo-hou-toan-bun-to biasanya tidak diajarkan kepada orang luar,"
Ujar Ki Ping yan prihatin.
"Ke empat orang ini kebanyakan adalah putra atau keponakan Peng Hou, empat bersaudara dari Peng-bun-hoat-hou (tujuh harimau dari perguruan Peng). Laki-laki berewok itu mungkin adalah Peng It-hou."
"Apakah Peng-bun-chit-hoa sekarang sudah mewarisi Pian-kiok milik Peng-hun?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Ya!"
Ki Ping-yang mengiakan sambil manggut-manggut.
"Kalau demikian, tentu mereka kemari melindungi sesuatu."
"Tentu begitulah,"
Timbrung Siau-phoa.
"Hanya orang-orang kalangan Piau-kiok yang sedang melakukan tugasnya saja tidak menunggang unta di padang pasir. Terdengar lolong jeritan seperti harimau kelaparan sebelum ajal, satu orang kembali terjungkal terguling-guling. Mendadak Oh Thi-hoa bangkit, serunya keras.
"Peng Hun si tua itu orangnya tidak jelek, tak bisa aku menonton putranya mati konyol seperti orang edan, aku hendak menolongnya."
"Cara bagaimana kau hendak menolong dia?"
Tukas Ki Ping-yan.
"Kau mampu menolong mereka?"
Oh Thi-hoa sudah siap melompat dan kulit daging badannya sudah mengejang tegang itu, seketika menjadi kendor.
Sesaat melongo, belum lagi bersuara pula, orang ke empat itu sudah kejungkal juga.
Berkata Coh Liu-hiang dengan suara dalam tenggorokan.
"Kalau ke empat orang ini hanya roboh karena kehabisan tenaga, tentu jiwanya belum ajal. Cuma mungkin..."
"Peduli mereka bakal mati atau tidak, paling tidak kita sekarang harus menengoknya kesana."
"Sekarang belum boleh ke sana,"
Ki Ping yan tidak setuju.
"Kenapa?"
Teriak Oh Thi-hoa, matanya bersungut, tanyanya.
"Memangnya keempat orang itupun pura-pura?"
Sudah tentu keempat orang ini takkan bisa bermain sandiwara, karena keadaan seperti itu siapapun takkan bisa melakukan dengan pura-pura.
Kali ini Oh Thi-hoa sudah memperhitungkan dengan masak, hatinya punya keyakinan dan punya pegangan, cuma ingin dia menunggu reaksi dan jawaban Ki Ping yan.
"Tentunya ke empat orang ini takkan jadi begini bila tanpa sebab, benar tidak?"
"Sudah tentu ada orang yang mencelakai mereka!"
Ujar Oh Thi-hoa.
"Orang mencelakai mereka tentunya dengan suatu sebab, ya tidak?"
"Besar kemungkinan hendak merebut barang yang mereka lindungi."
"Kalau demikian, sekarang mereka sudah roboh semua, masakah orang-orang itu tidak akan datang mengambil buruannya itu? Jikalau sekarang satu diantara kita keluar, bukankah bakal menjadi musuh dan sasaran empuk mereka?"
"Tapi selepas pandang matamu, bayangan setanpun kau tidak melihatnya, memangnya orang-orang itu betul-betul bisa menghilang?"
Belum habis ucapan Oh Thi-hoa, tiba-tiba ia merasa sebuah bayangan hitam melayang di atas kepalanya.
Disusul angin kencang menderu, seekor elang besar terbang mendatangi dengan cepat sekali, berputar sekali di atas sekeliling kuda dan orang-orang yang roboh itu, tiba-tiba sayapnya kuncup.
Elang itu menukik turun bagai meteor jatuh, dari punggung sebuah kuda ia mematuk sebuah kotak, waktu pentang sayap terbang lagi, hanya sebentar saja kedua sayapnya itu mengebas di angkasa.
Bayangannya sudah semakin jauh dan menghilang di kejauhan sana.
Cepat sekali kedatangan elang ini, perginya pun mendadak, belum lagi Oh Thi-hoa menginsafi apa yang terjadi, elang itu sudah terbang tak kelihatan lagi bayangannya.
"Suatu rencana yang amat sempurna,"
Puji Coh Liu-hiang.
"cara kerja yang cepat, cekatan dan lihay pula. Tanpa menggunakan tenaga seorangpun, sebuah kotak barang kawalan Peng-bun-chit-houw dengan gampang mereka rebut dan digondol pergi oleh seekor burung elang."
"Kau kira barang mestika yang berada di dalam peti itu?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Kalau bukan mestika, memangnya kau kira daging babi?"
Coh Liu-hiang tertawa.
"Kalau daging babi sih rada logis, kalau tidak umpama elang tadi utusan orang-orang itu, memangnya dia bisa tahu kalau dalam peti itu berisi barang-barang mestika?"
Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, ujarnya.
"Sudah tentu di atas peti itu sudah diberi tanda khusus supaya elang itu mengenalinya. Sudah tentu elang itupun sudah mendapat latihan yang amat baik. Masakah kau tidak bisa pikirkan hal ini?"
"Agaknya penyakit pikunku memang bertambah berat."
Orang-orang itu sudah berhasil dengan tujuannya,"
Timbrung Ki Ping-yan tiba-tiba.
"tentu takkan datang lagi. Kau ingin lihat keadaan mereka, sekarang boleh kau kesana."
Tiga diantara empat orang itu sudah meninggal, hanya laki-laki berewok yang roboh terakhir, dadanya masih bergerak turun naik, namun denyut jantungnyapun sudah amat lembah, sembarang waktu bisa berhenti mendadak.
Oh Thi-hoa cekal mulutnya sampai terbuka, setengah botol sisa araknya dia tuang masuk ke dalam mulutnya, jantung orang yang sudah hampir berhenti, baru mulai bekerja dan berdetak rada keras.
Lekas Oh Thi-hoa bertanya.
"Apakah kau Peng Ti hou? Sebetulnya kejadian apa yang telah kalian alami?"
Pelan-pelan orang itu membuka kelopak mata, tampak oleh Oh Thi-hoa mata orang masih menyorotkan rasa ketakutan, sebaliknya Coh Liu-hiang mendapatkan, kelopak mata orang secara aneh dan luar biasa sudah membesar satu kali lipat dari biasanya.
Lama kelamaan nafas orang mulai keras dan memburu pula, sekuat tenaga meronta, agaknya hendak berdiri, namun jari tangannya saja ia tak kuasa bergerak, seluruh badannya sudah lemah lunglai, tak punya sedikitpun tenaga.
Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas jidatnya, tanyanya keras.
"Katakan, kau masih bisa bicara tidak?"
Kalamenjing orang itu turun naik, akhirnya dari bibirnya yang sudah pecah kekeringan itu, tercetus suara yang lirih, suara yang tidak mirip dikeluarkan dari mulut manusia.
Itulah suara teriakan kosong dan hambar, gemboran lirih yang putus asa.
"Iblis jahat... setan iblis! Ribuan ratusan iblis... bunuh!"
Keringat Oh Thi-hoa bercucuran, tanyanya pula lebih keras.
"Mana ada iblis jahat? Iblis jahat dimana?"
Biji mata orang ini melotot lempang ke arah depan, katanya dengan suara serak.
"Jangan harap kau bisa merebutnya! Kau... kau..."
Tiba-tiba ia meronta dan melompat dari pelukan Oh Thi-hoa, terus menerjang ke depan, tapi hanya dua langkah, kembali terangsur jatuh, selamanya takkan bergerak lagi.
Arak Oh Thi-hoa membangkitkan sisa tenaganya yang masih terpendam dalam badannya.
Kini sisa tenaga yang bangkit itupun sudah habis dipakainya.
Siau-phoa meloso lemas di atas tanah, katanya gemetar.
"Dia sudah melihat iblis yang tak kelihatan itu, disinilah tempatnya. Lari... tidak lekas kita melarikan diri, mungkin bisa terlambat."
Oh Thi-hoa tahu mulut orang hanya mengoceh belaka, namun tak urung bergidik bulu kuduknya waktu ia melihat muka Ciok Tho yang buruk seperti batu-batu keramik itu, ternyata kinipun dihiasi butir-butir keringat segede kacang.
Di sana Ki Ping-yan sedang berjongkok memeriksa salah satu mayat, lama juga dia telah memeriksa.
Baru sekarang pelan-pelan ia berdiri, namun lama juga dia tidak bisa buka suara.
"Kau sudah menemukan sebab musabab kematian mereka?"
Tanya Coh Liu-hiang. Berkata Ki Ping-yan pelan-pelan.
"Kehabisan tenaga, lapar dan dahaga, agaknya terkena pula semacam racun yang amat aneh. Kadar racun itu agak mirip ganja, tidak membahayakan jiwa, tapi cukup membuat pikiran orang gila seperti kerasukan setan."
"Orang yang mencelakai mereka, mungkin pula orang yang hendak mencelakai kita. Cara yang digunakan sama, dibuatnya dulu mereka kehabisan air, seorang yang lekas mati kekeringan sering timbul bayangan khayal dalam pandangannya. Tapi sebelum mereka tiba di sini, mereka sudah terkena semacam racun, maka khayal yang terbayang dalam pandangan mereka seperti ada ribuan dan ratusan iblis jahat sedang mengepung dan menyerang mereka, maka mereka lari terbirit-birit. Setelah tidak bisa melarikan diri, kemudian melawan mati-matian sampai titik tenaga terakhir merekapun habis baru berhenti."
"Kita... kalau kita selalu tak punya air minum, apakah juga bisa berubah seperti mereka?"
Tanya Oh Thi-hoa terbelalak.
Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan tidak menjawab pertanyaan ini.
Oh Thi-hoa pandang mereka bergantian, lalu mengawasi mayat di tanah, akhirnya iapun tak bicara lagi.
Selepas mata memandang pasir kuning melulu.
Tak berujung pangkal, takkan habis-habis dicapai.
Tiada air, tiada kehidupan, juga tiada harapan.
Siang hari yang membara itu akhirnya sudah silam.
Mereka angkut mayat-mayat kuda dan manusia ke dalam galian besar itu, dengan pasir pula mereka dipendam begitu saja.
Lalu mereka duduk di atas batu cadas, menghabiskan waktu sambil menunggu munculnya sinar bintang.
Tiada yang bicara, mereka sama segan menggerakkan mulut.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kemana mencari air?"
Pertanyaan ini selalu bergolak dalam relung hati Oh Thi-hoa, namun ia dalam hati tak diutarakan karena ia tahu umpama dia utarakan isi hatinya, belum tentu ia mendapat jawaban.
Lapar dan dahaga, letih...
berbagai macam perasaan yang bisa mengetuk hati, sekaligus merangsang datang mengikuti datangnya tabir malam.
Siau-phoa ingin makan ransum kering, tapi disampuk jatuh oleh Ki Ping-yan.
"Jangan makan, setelah makan kau akan lebih dahaga dan tak tahan lagi."
Oh Thi-hoa mengelus dada, mendadak tertawa, katanya.
"Tadi waktu aku memboyong Peng-It-hou, terasa olehku bagian pundaknya menonjol keluar sesuatu yang bundar dan keras, bentuknya seperti telur ayam. Coba katakan, aneh tidak?"
Ucapannya ini sebetulnya cuma mengada-ada saja, dia sendiri tahu kata-katanya ini terlalu iseng.
Ki Ping-yan mendadak bergegas bangkit, langsung ia menghampiri Ciok Tho dan duduk di sebelahnya, kedua tangan mereka saling genggam dengan erat, duduk berhadapan, siapapun tak bergerak.
Di tengah tabir malam yang semakin gelap ini, kelihatan rona muka Ciok Tho semakin seram menakutkan.
"Coba lihat, apa yang sedang mereka lakukan?"
Tercetus pertanyaan dari mulut Oh Thi-hoa yang suka usil ini.
"Mereka sedang bercakap-cakap,"
Sahut Coh Liu-hiang.
"Bicara?"
Oh Thi-hoa menegas heran.
"Kalau ingin bicara dengan seorang yang buta, tuli dan bisu, sudah tentu harus menggunakan cara yang aneh, mungkin mereka sedang menulis sesuatu dengan gerak cepat di tengah tapak tangan masing-masing, untuk tukar pikiran masing-masing!"
"Betapapun memang otak malingmu itu lebih cerdik, agaknya apa saja sudah kau ketahui ya!"
"Aku hanya ingin tahu apa yang sedang mereka perbincangkan sekarang,"
Ujar Coh Liu-hang tertawa getir. Tampak akhirnya Ki Ping-yan berdiri dan jalan kembali. Sikapnya lebih prihatin, ia duduk di pinggir Coh Liu-hiang, lama juga dia menunggu, baru berkata tiba-tiba.
"Orang yang hendak mencelakai kita adalah orang yang dulu mencelakai Ciok Tho sampai dia cacat begitu rupa."
Tersirap darah Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang malah berkata.
"Hal ini semalam sudah pernah kupikirkan."
"Siapakah dia sebenarnya?"
Tanya Oh Thi-hoa. Ki Ping-yan menghela nafas, ujarnya.
"Ciok Thopun tak mau menyebut nama orang itu."
"Menurut apa yang kuketahui, bukan saja ilmu silat orang ini amat tinggi, malah dia pun punya ratusan anak buah yang setia dan berani mati demi kepentingannya."
"Ilmu silatnya tinggi, aku tidak takut. Anak buahnya banyak akupun tak takut. Tapi tipu muslihatnya yang sembunyi-sembunyi ini, sungguh membuat aku tak tahan lagi."
Mendadak Oh Thi-hoa berjingkrak bangun, teriaknya.
"Sekarang bukan saja cara apa pula yang hendak dia gunakan untuk menghadapi aku, aku tidak tahu, malah tidak tahu orang macam apa pula dia sebenarnya, jikalau jiwaku sampai melayang secara sia-sia, sungguh penasaran sekali!"
Ki Ping-yan menjengek dingin.
"Jikalau kau kuat tahan diri dan bertindak melihat gelagat, mungkin jiwamu takkan mati."
Dengan lesu Oh Thi-hoa mendeprok duduk kepala di dekapnya, katanya.
"Agaknya akupun bisa gila, jangan kalian pedulikan aku."
Hening sejenak, tiba-tiba Ki Ping-yan berkata dengan suara berat.
"Kesulitan yang kita hadapi sekarang bukan air, adalah orang itu! Ada Ciok Tho dan aku berada di sini, air itu pasti akan bisa kita temukan, tapi orang itu..."
Sampai di sini ia menghela nafas, sambungnya.
"Kalau orang itu sudah mengincar kita, pasti takkan lepas tangan, situasi sekarang adalah kalau bukan kita yang bunuh dia, kitalah yang akan dibunuh."
Coh Liu-memberikan saran.
"Apa kita sementara tak bisa menyingkir dulu, setelah menemukan Hek-tin-cu baru kita luruk dia."
"Tiada orang yang bisa menyingkir dari pandangan matanya, sebelum persoalan ini kita selesaikan berhadapan dengan dia, segala urusan lain jangan harap kau bisa selesaikan lebih dulu, kemungkinan Hek-tin cu lah yang mengutus orang ini menghadapi kau."
Coh Liu-hiang menarik nafas, sesaat ia termenung, katanya tertawa.
"Kalau begitu mari kita adu jiwa sama dia, kukira tidak perlu kita gentar menghadapinya. Betapapun lihay musuh kita, kita sudah sering menghadapinya, benar tidak?"
Oh Thi-hoa angkat kepala sambil bertepuk tangan, serunya.
"Nah, baru mirip kata-kata yang harus diucapkan oleh Maling Kampiun, selama dua hari ini boleh dikata baru pertama kali ini aku benar-benar mendengar ucapan seorang manusia tulen."
"Cuma, bagaimana harus..."
Berkerut alis Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa pun bungkam.
Ketiganya duduk tak bergerak namun seperti tiga batang golok yang sudah keluar dari serangkanya, seluruh badan diliputi mara bahaya, sembarang waktu kuasa menghabisi jiwa seseorang.
Dalam keadaan seperti ini, seseorang yang berotak cerdik, lebih baik jangan mengganggu usik mereka.
Ada orang datang.
Dua puluhan bayangan orang, serempak merubung maju dari berbagai penjuru, langkah mereka seenteng kucing, beranjak di atas pasir sedikitpun tak mengeluarkan suara.
Tapi gerak-gerik mereka tidak bisa mengelabui mata Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan.
Lekas sekali tiga orang ini sudah saling tukar pandangan, tanpa bersuara mereka masing-masing sudah berketetapan.
"Tenang mengatasi aksi, lihat situasi dan bergerak menurut gelagat dan perubahannya."
Meski tak bicara, ketiga orang ini dulu entah pernah mengalami perjuangan berapa banyaknya, berdampingan di medan laga, gerak gerik mereka seolah-olah mempunyai semacam tata tertib yang ketat satu sama lain dan tak mungkin bisa diselami orang lain.
Maka mereka sama menundukkan kepala, seperti orang lelah dan ngantuk.
Lekas sekali kedua puluhan orang itu sudah mengepung mereka di tengah-tengah lingkaran, namun mereka tetap berdiam diri seolah-olah tidak tahu dan merasakan kedatangan mereka.
Sudah tentu kedua puluhan orang ini menjadi was-was dan heran sendiri.
Orang-orang ni semuanya mengenakan pakaian ketat warna hitam, kepalanya digubat handuk hitam pula, gerak-gerik mereka rata-rata cekatan dan tangkas, lincah lagi jelas semuanya merupakan musuh-musuh berbahaya.
Dalam jarak tertentu mereka berhenti dan menunggu lama, akhirnya satu sama lain menggerakkan tanda memberi isyarat.
Maka berkatalah seseorang diantara mereka dengan suara kereng.
"Jikalau kalian cukup cerdik, lebih baik duduk saja jangan bergerak. Tanganpun jangan terangkat. Aku tidak ingin menggertak kalian, tapi asal jari-jari kalian bergerak, jiwa kalian akan kita habisi,"
Kata-katanya diucapkan begitu kalem, seperti tidak ingin menakuti orang lain.
Tapi justru itulah cara yang lihay, kawanan Kangouw pasti maklum hanya dengan cara begitulah baru bisa benar-benar menggertak orang.
Sudah tentu Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa tidak bergerak, Ciok Tho lebih tak bisa bergerak lagi, cuma Siau-phoa yang benar-benar menjadi ketakutan sampai tak bisa bergerak.
Dalam kegelapan malam samar-samar kelihatan tangan masing-masing orang ini sama membawa sesuatu benda yang mengeluarkan sinar mengkilap hitam, sudah tentu benda-benda itu adalah bumbung-bumbung alat senjata rahasia yang mematikan itu.
Orang yang bicara melangkah lebar ke depan, katanya pula.
"Baik sekali, kalian memang tahu diri, sekarang serahkan barang itu!"
Baru sekarang Coh Liu-hiang angkat kepala, katanya tersendat.
"Barang-barang kita semua berada di punggung unta, silahkan tuan-tuan mengambilnya sendiri."
Orang itu tertawa dingin.
"Jangan pura-pura pikun, tentunya kau sudah tahu barang apa yang kami inginkan?"
"Aku... sungguh aku tidak tahu."
"Masih berani pura-pura bodoh,"
Damprat orang itu, tahu-tahu tapak tangannya melayang menampar ke muka Coh Liu-hiang.
Mengikuti gerakan tangan orang, Coh Liu-hiang roboh ke belakang, tapi orang yang memukulnya itu malah melongo dan terkesima.
Terang tapak tangannya seperti mengenai muka orang, tapi seperti memukul tempat kosong pula, jelas muka orang kena digamparnya, tapi tapak tangan sendiri seperti tidak pernah menyentuh sesuatu sehingga tenaganya amblas begitu saja.
Melihat sikap kaget orang, sungguh geli dan dongkol pula hati Oh Thi-hoa.
"Kau kira bisa mengenai Coh Liu-hiang? Jika kau benar-benar memukulnya sampai rubuh, jiwamu tentu sudah melayang."
Laki-laki hitam ini agaknya juga tahu gelagat ganjil, cepat ia merubah sikap. Katanya rada sabar.
"Tugas penting dari rombongan kita, asal barang itu kita dapatkan berarti kita sudah menunaikan tugas dengan baik. Kita segera berlalu, sekali-kali takkan mengganggu seujung rambut kalian."
Tiba-tiba ia terloroh tawa, sambungnya.
"Coba lihat, jikalau kami ingin membunuh kalian, bukankah sejak tadi kita sudah turun tangan."
Coh Liu-hiang tahu omongan orang bukan gertakan belaka, tentunya tugas mereka terpecah, mereka hanya bertugas menghadapi Peng-bun-chit-hou, sebelum mendapat perintah pasti takkan berani mencelakai orang lain.
Jelas sudah bahwa diri mereka terang sementara takkan menghadapi bahaya, maka legalah hatinya.
Setelah menunggu sesaat lamanya, melihat tidak mendapat reaksi, laki-laki baju hitam itu berkata.
"Asal kalian serahkan barang itu, bukan saja aku sudah berjanji takkan mengganggu usik kalian, tidak mengambil barang milik kalian lainnya, malah... bolehlah kita berikan sekantong air kepada kalian."
Waktu mengutarakan kata-katanya ini, agaknya dia sudah berkeputusan dalam hati, ini bukan gertak atau ancaman, tapi menyerah secara tidak disadari pancingan belaka.
Terang barang yang mereka incar itu tentu teramat penting artinya.
Jikalau mereka tidak bisa mendapatkan barang itu, terang mereka bakal mendapat hukuman yang setimpal bila pulang nanti.
Arti daripada air dalam situasi seperti ini sungguh amat besar sekali.
Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa jikalau mereka tahu dimana barang itu berada, mungkin mereka benar-benar mau menukar dengan air mereka.
Cuma sayang mereka benar-benar tidak tahu apa-apa.
Oh Thi-hoa menghela nafas, tanyanya.
"Sebenarnya barang apa yang kalian inginkan? Asal kau katakan pasti kuserahkan kepadamu sekarang. Barang mestika betapapun banyaknya yang kau inginkan untuk menukar sekantong air dengan senang hati akan kuberikan kepadamu."
Laki-laki baju hitam melotot, tanyanya menegas.
"Kau benar-benar tidak tahu?"
"Siapa tahu barang setan apa itu, dialah kurcaci,"
Sahut Oh Thi-hoa. Diam-diam Coh Liu-hiang geli, batinnya.
"Dalam keadaan seperti ini, bocah ini tak lupa memaki orang juga."
Laki-laki baju hitam belum menyadari bahwa orang anggap dirinya kurcaci, seketika ia menarik muka, katanya.
"Masakah kalian belum menggeledah dan mendapatkan barang itu dari mayat-mayat itu?"
"Aduh. Tidak percaya lagi."
Oh Thi-hoa berkeluh kesah.
"Umpama kita ini benar-benar bedebah, sekali-kali kita takkan mencuri barang milik orang yang sudah ajal."
Kembali kata-katanya memaki dengan kata-kata yang cukup sopan. Baru sekarang laki-laki hitam seperti menyadari kata-kata orang berarti sedang memaki dirinya.
"Bedebah,"
Keruan ia naik pitam. Dampratnya.
"Kau masih tidak mau mengaku, baik, hayo kawan-kawan geledah mereka!"
Seluruh badan Oh Thi-hoa sudah mengejang keras, hampir saja ia sudah mengumbar adat. Lekas Coh Liu-hiang menangkisnya, katanya tawar.
"Biar mereka menggeledah, toh mereka takkan mendapatkan apa-apa."
Tatkala itu dari kegelapan kembali menerobos maju beberapa bayangan berseragam hitam, dengan cekatan seluruh badan mereka sudah digeledah.
Oh Thi-hoa menahan amarah yang hampir meledak, sungguh ia tidak habis mengerti, kenapa Coh Liu-hiang harus menahan sabar.
Ki Ping-yan justru tahu maksud temannya, pikirnya.
"Coh Liu-hiang mulai kumat lagi penyakit lamanya, agaknya iapun mulai ketarik kalau belum melihatnya sendiri, dengan bukti-buktinya yang nyata, mana dia mau lepas tangan begini saja."
Peduli dimana, terhadap siapapun, jikalau tidak terpaksa Coh Liu-hiang pasti takkan mau sembarangan turun tangan.
Memang dia bukan seorang yang suka berkelahi.
Setelah menggeledah orang-orangnya kembali laki-laki seragam hitam itu menggeledah unta, sudah tentu mereka tak berhasil menemukan barang yang mereka cari.
Salah satu di antaranya tiba-tiba berpikir, kataya.
"Bukan mustahil barang itu masih berada di atas badan Peng-keh-chit-hou!"
Maka kembali mereka gali mayat-mayat yang sudah terpendam di bawah pasir itu, dengan golok mereka telanjangi pakaian mayat-mayat itu.
Oh Thi-hoa kertak gigi, lekas ia berpaling muka tak tega melihat kelakuan mereka.
Terdengar seseorang berkata pula.
"Di atas badan merekapun tiada."
Laki-laki pemimpin itu mulai gelisah, katanya membanting kaki.
"Tidak mungkin tiada. Cari lagi lebih teliti, kalau tidak ketemu, bagaimana tanggung jawab tugas kita terhadap beliau?"
Sorot mata laki-laki baju hitam itu kini sudah memancarkan rasa takut dan gelisah, setelah mencari ubek-ubekan tetap tidak berhasil, keruan mereka semakin ribut dan sibuk, gugup lagi.
Hampir boleh dikata mereka sudah lupa mengawasi Coh Liu-hiang beramai.
Berkilat biji mata Ki Ping-yan, tiba-tiba ia berkata kalem.
"Barang apakah yang sebenarnya kalian cari? Kalau dikatakan, mungkin kami bisa bantu kalian mencarinya."
Karena sudah gugup dan gelisah, seperti sudah kehilangan kontrol dan kepercayaan kepada diri sendiri, tanpa banyak pikir laki-laki baju hitam itu menjawab.
"Ki-loh-ci-sing."
"Apa itu Ki-loh-ci-sing?"
Tanya Oh Thi-hoa keheranan. Ki-loh-ci-sing maksudnya bintang di surga.
"Akupun kurang jelas,"
Sahut laki-laki baju hitam.
"Aku hanya tahu diantara barang-barang kawalan mahal dari Peng-keh-chit-hou, diantaranya ada benda mestika yang tak ternilai harganya bernama Ki-loh-ci-sing."
Oh Thi-hoa menghela nafas dengan kecewa, katanya.
"Kukira sih barang mestika apa sampai diributkan, ternyata tidak lebih hanya sebutir benda mestika."
Memang mestika betapapun tinggi nilainya, tak terhitung apa dalam pandangan mereka. Berkata laki-laki baju hitam lebih lanjut.
"Kita kemari lantaran perintah. Menurut rencana dengan gampang kita pasti berhasil memperoleh seperti mestika itu, tak nyana Ki-loh-ci-sing yang menjadi sasaran utama justru tak berada di dalam peti itu..."
Saking gelisah, tanpa sadar mulutnya mengoceh sendiri. Tiba-tiba Ki Ping-yan berkata.
"Jikalau aku tahu dimana Ki-loh-ci-sing itu berada, apa kalian sudi menukar dengan air?"
Sungguh kaget, gugup dan kegirangan pula laki-laki baju hitam, teriaknya.
"Tentu!"
"Kalian betul-betul punya air?"
Tanya Ki Ping-yan menegas.
"Sudah tentu punya!"
"Dimana? Keluarkan dulu supaya kulihat."
Berubah air muka laki-laki baju hitam, katanya kasar.
"Kau tidak percaya kepadaku?"
Ki Ping-yan berpikir sebentar, katanya.
"Baik, sekali ini aku biar percaya kepadamu. Ki-loh-cising boleh kuserahkan dulu kepadamu, tapi air..."
Laki-laki baju hitam girang, tukasnya.
"Asal Ki-loh-ci-sing kau serahkan, soal air tidak menjadi soal."
Dari samping Oh Thi-hoa sedang menonton dan mendengarkan dengan perasaan heran.
Sungguh ia tidak habis mengerti kenapa Ki Ping-yan mau percaya begitu saja akan omongan orang, lebih tak mengerti kenapa Ki Ping yang mau mengeluarkan Ki-loh-ci-sing, hakekatnya dimana Ki-loh-ci-sing belum diketahui.
Tampak Ki Ping-yan sudah berpaling kemari, roman mukanya menunjukkan keyakinan, demikian pula roman muka Coh Liu-hiang sembari tersenyum, sedikitpun tidak kelihatan gugup.
Tak tahan Oh Thi-hoa memapak maju, katanya berbisik.
"Kau benar tahu dimana Ki-loh-ci-sing itu berada?"
Berkata Ki Ping-yan pelan-pelan.
"Tadi waktu kau memayang Peng It-hou, katamu kau rasakan bagian pundaknya seperti menonjol bundar keras, benar tidak?"
Oh Thi-hoa keheranan, sahutnya.
"Tapi..."
Belum sempat dia bicara lebih lanjut, Ki Ping-yan sudah menghampiri ke samping Peng It-hou.
Pakaian orang ini sudah ditelanjangi.
Badan yang sudah telanjang bulat ini, dimana ada Ki-loh-cising segala.
Tapi Ki Ping-yan segera jongkok, dengan ujung jarinya ia menggores sekali diikuti daging pundaknya Peng It-hou, tabir malam sangat gelap, di bawah penerangan bintang kelap-kelip, tahu-tahu terlihat dari pundak orang memancarkan cahaya kemilauan terang benderang.
Disusul sebutir jamrud sebesar telur burung dara yang memancarkan cahaya kemilau cemerlang menggelinding keluar dari kulit daging di pundak Peng It-hou, jatuh di tapak tangan Ki Ping-yan.
Ternyata Ki-loh-ci-sing yang dimaksud terjahit oleh Peng It-hou di kulit daging pundaknya.
Semua orang sama melongo dan tertegun melihat kejadian yang tak terduga ini.
Di atas cakrawala memang tak dapat tak terhitung banyaknya bintang-bintang, tapi pancaran Ki-loh-ci-sing di atas bumi ini, sungguh membuat sinar bintang-bintang di langit menjadi guram dan kelelap dibuatnya.
Ki Ping-yan sendiripun tak terasa terkesima, katanya.
"Kim-kong-ciok yang amat bagus, tak heran sedemikian banyak jiwa manusia yang siap berkorban demi kau."
Seperti serigala kelaparan laki-laki baju hitam itu segera menubruk maju, sekali raih ia rebut Kiloh-ci-sing di tangan Ki Ping-yan.
Ki Ping-yan diam saja seperti orang linglung berdiri menjublek di tempatnya, dengan mendelong ia awasi benda mestika itu direbut orang lain dari tangannya.
Agaknya laki-laki baju hitam itupun tak mengira urusan dapat dicapainya demikian gampang dan tak terduga, sungguh senang bukan main sampai mulut serasa sulit dibuka.
Sungguh heran, jengkel pula hati Oh Thi-hoa, untung sebelum dia mengumbar adatnya terdengar Ki Ping-yan sudah bicara.
"Ki-loh-ci-sing sudah kuberikan kepadamu, mana airnya?' Laki-laki baju hitam terloroh kesenangan, serunya.
"Tuan-tuan besar ini keluar menunaikan tugas, mana membawa air sebanyak itu? Kau ingin air, tidak bisa kau cari sendiri? Tuan-tuan besar hari ini tidak menggorok lehermu, sudah terhitung sungkan terhadap kalian, tahu!"
Sembari tertawa tangan dia ulapkan, segera ia pimpin anak buahnya tinggal pergi dengan masih terkial-kial.
Sungguh hampir meledak perut Oh Thi-hoa.
Dia sudah siap bergerak melabrak orang-orang itu, tapi keburu ditarik oleh Coh Liu-hiang.
Ingin mengejar, sudah dirintangi pula oleh Ki Ping-yan.
Sungguh dia tak habis paham, kenapa kedua teman baiknya ini kini menjadi sedemikian pengecut dan penakut?
Mengawasi orang-orang itu pergi begitu saja, sedikitpun Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.
Sungguh Oh Thi-hoa tak tahan lagi, jengeknya dingin dengan keras.
"Menggelikan, sungguh menggelikan! Maling kampiun yang bernama besar, ternyata menjadi pengecut dan bernyali kecil seperti tikus. Sungguh menggelikan Ki Ping-yan yang biasanya mengagulkan kepintarannya, hari ini dengan mentah-mentah sudi ditipu orang lain."
"Siapa yang ditipu orang?"
Tanya Ki Ping-yan.
"Kau begitu pintar, tahu bila Ki-loh-ci-sing tersembunyi di dalam badan Peng It-hou kenapa kau tidak tahu bahwa para keparat itu terang takkan memberi air kepadamu!"
Ki Ping-yan tertawa tawar, ujarnya.
"Sejak pertama mereka datang, aku sudah melihat bahwasanya mereka tiada yang membawa kantong air."
"Kalau kau sudah tahu mereka tidak punya air, kenapa kau berikan Ki-loh-ci-sing kepada mereka? Kau sedang kentut apa?"
Tanpa hiraukan ocehan orang, Ki Ping-yan berkata kepada Coh Liu-hiang.
"Orang yang kelana di gurun pasir, ada dua barang tidak boleh kekurangan, pertama adalah air, kedua adalah unta. Tanpa kedua barang-barang ini, jiwa sukar terlindungi, benar tidak?"
Coh Liu-hiang selalu unjuk senyuman, sahutnya.
"Tidak salah!"
"Tapi bukan saja orang-orang itu tiada yang membawa air, malah meluruk kemari berjalan kaki, itu pertanda bahwa tempat tinggal mereka sementara ini, tentu tidak jauh dari sini, benar tidak?"
"Benar!"
Sahut Coh Liu-hiang pendek.
"Setelah mereka memperoleh barang yang dicarinya, tentu tak sempat memperdulikan kami pula, yang terpikir hanya lekas-lekas pulang memperoleh jasa dan persen, ya toh?"
Kali ini tanpa menunggu Coh Liu-hiang buka suara, Oh Thi-hoa sudah menanggapi sambil tepuk tangan.
"Benar, asal kita kuntit mereka, langsung kita bisa meluruk ke sarangnya. Daripada kita menunggu iblis durjana itu mencari perkara kepada kita, lebih baik kita labrak dia dulu... benar tidak?"
"Benar,"
Sahut Coh Liu-hiang tersenyum.
"Itu dinamakan menindak orang lebih dulu!"
Seketika Oh Thi-hoa berjingkrak bangun, teriaknya.
"Kalau begitu, apa pula yang harus kita tunggu di sini?"
Berkata Ki Ping-yan pelan-pelan.
"Di tengah gurun pasir dilarang menguntit buruanmu terlalu dekat, yang terang mereka toh takkan bisa melarikan diri,"
Lalu ia menengadah mendengarkan deru angin, tersenyum lebar dan berkata.
"Kalau kau sudah tak sabar lagi, sekarang boleh mulai berangkat."
Dari tempat mereka sekarang kira-kira memakan waktu setengah jam perjalanan ke arah tenggara, terdapat beberapa petak rumah yang dibangun dari kayu, disini dulu merupakan perkampungan kecil, salah satu pos di luar tapal batas untuk mengawasi gerak-gerik musuh dan pengamatan perubahan cuaca.
Sekarang berubah menjadi sarang berkumpul kawanan perampok yang berkuasa di gurun pasir.
Rumah kayu itu sudah reyot dan keropos, beberapa jendela di antaranya terpentang lebar.
Sejak tadi pelita sudah dipasang di dalam rumah, tentunya di dalam rumah selalu dihuni dan ditunggu orang.
Coh Liu-hiang bertiga berhenti di belakang tiga pucuk pohon berjarak sepuluh tombak di luar jendela, dilihatnya rombongan orang banyak itu sambil tertawa-tawa berbondong-bondong masuk ke dalam rumah kayu.
Tapi begitu berada di dalam rumah, suara tawa dan senda gurau mereka seketika silap dan berhenti.
Dari jendela yang terbuka itu, jelas kelihatan sikap mereka amat hormat dan jeri, semuanya tundukkan kepala dan berdiri tegak tak berani bergeming, jangan kata bicara, nafaspun ditahan-tahan.
Oh Thi-hoa berkata senang.
"Dari keadaan mereka itu, jelas pemimpin mereka memang berada di dalam rumah ini."
Ki Ping yan mengiakan dengan manggut-manggut.
"Mari sekarang juga kita terjang ke dalam, ingin aku melihat macam apa sebenarnya iblis durjana itu?"
"Tunggu lagi sebentar,"
Sela Ki Ping-yan.
"Apa lagi yang harus ditunggu?"
Desak Oh Thi-hoa.
"Keadaan kelihatan rada ganjil."
"Kau sendiri yang mengusulkan, kenapa sekarang kau merasa rada ganjil?"
"Setelah melihat rumah kayu itu baru aku melihat adanya keganjilan... coba kau pikir, dengan kekuasaan si iblis yang besar, memangnya dia sudi tinggal di tempat yang jorok dan keropos seperti itu?"
Baru saja Oh Thi-hoa melengak dan belum bersuara, dari dalam rumah kayu tiba-tiba berkumandang irama musik yang mengalun halus, serasa menyedot semangat dan mencabut sukma, sehingga pendengarnya menjadi lemas dan seperti hendak melayang jiwanya.
Begitu irama musik itu mengalun, para laki-laki baju hitam yang berdiri tegak itu kelihatan badannya melingkar dan bergetar, seolah-olah mereka ingin menari-nari menurut alunan lagu nan merdu menyedot sukma ini.
Tapi sekonyong-konyong mereka serempak roboh saling tindih.
Nada lagi yang menyedot sukma itu masih terus mengalun, cuma lama kelamaan suaranya datar dan rendah.
Orang-orang yang roboh itu tiada satupun yang bangkit berdiri.
Mendengar irama musik ini, seketika Oh Thi-hoa rasakan mukanya panas dan jantung berdebar keras, namun kejut dan aneh pula ia melihat adegan-adegan yang seram itu, katanya sember.
"Apa pula yang terjadi?"
Membeku dingin muka Ki Ping yan, mulutnya terbungkam kencang. Roman muka justru tiba-tiba berubah hebat, teriaknya tertahan.
"Celaka!"
Belum hilang suaranya, badannya bagaikan burung walet sudah melesat ke arah rumah kayu itu.
Sudah tentu Oh Thi-hoa tidak mau membuang waktu, sigap sekali ia pun memburu maju dengan kencang.
Coh Liu-hiang masih melongok-longok di jendela, Oh Thi-hoa langsung tendang daun pintu terus menerjang masuk seraya membentak keras.
"Jangan harap kau...!"
Hanya tiga patah kata yang terucapkan, tiba-tiba mulutnya terpentang lebar tak kuasa meneruskan kata-katanya.
Ternyata rumah kayu seluas ini tak kelihatan bayangan seorangpun.
Kalau mau dikatakan sesungguhnya, rumah kayu ini sudah tak dihuni oleh seorang manusia yang masih hidup segar bugar.
Dua puluhan laki-laki yang masuk kemari tadi kini sudah menggeletak malang melintang saling tindih di atas tanah, tiada satupun yang ketinggalan hidup.
Badan mereka sama melingkar, seolah-olah ular yang saling belit membelit, namun roman muka mereka sama menunjukkan cahaya cemerlang yang aneh, bukan saja mereka mampus tanpa menunjukkan sesuatu derita, malah seperti suka rela dan senang hati menemui ajalnya.
Lama sekali Oh Thi-hoa terlongong, baru ia menarik nafas panjang, katanya.
"Sungguh gila... orang-orang inipun sudah gila."
Coh Liu-hiang membanting kaki, katanya.
"Seharusnya sejak tadi sudah kupikirkan bahwa mereka akan sama bunuh diri."
Rumah kayu yang sudah bobrok ini, boleh dikata tiada isi apa-apa, tapi tengah-tengah rumah sana berdiri sebuah berhala pemujaan yang amat besar, ditengah-tengah berhala terdapat sebuah patung Buddha, sehingga menambah seram dan serba aneh keadaan rumah ini.
Hembusan angin lalu membuat Oh Thi-hoa bergidik seram dan sadar dari lamunannya.
Serunya tak mengerti.
"Kenapa mereka suka bunuh diri?"
Kata Coh Liu-hiang menghela nafas.
"Gembong iblis itu tentu sudah tahu bahwa jejak mereka sudah dikuntit oleh kita, kuatir kita mengudak tiba sampai di sini, terpaksa ia bunuh mereka semua."
"Kalau toh mereka didesak orang untuk bunuh diri, kenapa pula mereka menghadapi kematian ini dengan riang hati?"
Terpancar rasa jeri dalam sorot mata Coh Liu-hiang, mulut menggumam.
"Dalam hal ini tentu ada latar belakangnya yang amat misterius, musik kematian yang menyedot sukma itu mungkin..."
Belum habis kata-katanya, tiba-tiba terdengar Siau-phoa menjerit-jerit di luar rumah.
"Ciok Tho menjadi gila... gila Ciok Tho kumat..."
Jeritnya mengandung rasa ketakutan yang tak terperikan.
Di tengah gurun pasir yang tak kenal kasihan di dalam rumah kayu yang menyendiri dan bobrok ini, sekonyong-konyong mendengar jerit dan tangis yang begini mengerikan, sungguh bikin bulu roma berdiri seram.
Oh Thi-hoa berjingkat kaget, tanpa berjanji bersama Coh Liu-hiang, Ki Ping yan melesat keluar hampir bersamaan.
Tampak raut muka Siau-phoa berkerut-kerut seperti meringkel, keringat membasahi seluruh kepala, mulutnya masih menjerit keras-keras.
"Ciok Tho gila."
Kontan Ki Ping-yan ayun tapak tangan menggamparnya, bentaknya bengis.
"Kau sendiri jangan menggila, katakan apa yang terjadi."
Karena gamparan ini, Siau-phoa melongo sesaat lamanya, lambat laun baru kembali ketenangan hatinya, katanya dengan suara bergetar.
"Setelah kalian masuk ke dalam rumah, tak tahan lagi akupun ingin kemari melihat-lihat. Tapi Ciok Tho seorang diri kutinggal di sana, hatiku jadi rada kurang tenteram. Lekas kutarik dia supaya ikut."
"Apa benar kau kuatir meninggalkan dia sendirian? Kukira kau mengajak dia untuk membesarkan nyalimu."
Tertunduk kepala Siau-phoa, katanya lebih lanjut dengan suara tersendat.
"Siapa tahu... setiba di depan rumah ini Ciok Tho seolah-olah melihat setan, putar badan terus lari sipat kuping. Sungguh betapa rasa takutnya waktu itu, meski aku tidak melihat apa-apa, tapi aku sendiripun teramat kaget dan tak tertahan lantas berkaok-kaok sekeras suaraku."
Orang yang punya mata tidak melihat apa-apa, memangnya orang yang buta matanya melihat sesuatu yang menakutkan?
Tapi Coh Liu-hiang bertiga sudah tak sempat pikirkan hal ini lebih lanjut, belum selesai keterangan Siao-phoa, serempak mereka sudah berlari kencang mengundak ke arah mana tadi Ciok Tho melarikan diri.
Angin menderu kencang, pasir berterbangan.
Tabir malam di gurun pasir sudah mulai memperlihatkan kekuatannya yang begitu menakutkan.
Akhirnya mereka melihat bayangan Ciok Tho, yang sedang lari lintang pukang, seorang yang tak bisa mendengar, terpaksa harus berlari jatuh bangun dengan setaker tenaganya di gurun pasir yang tak kenal kasihan.
Di tengah malam gelap yang pekat ini, betapa takkan menyedihkan dan memilukan keadaan seperti ini.
Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan berbareng melesat ke depan, keduanya berbareng mengempit badan orang, tapi Ciok Tho seperti binatang buas yang terluka meronta dengan kekuatan yang besar luar biasa, terus lari pula ke depan dengan lebih kencang.
Tenaganya yang begitu besar dan kuat seperti orang gila benar-benar, sampaipun Coh Liu-hiang tak kuasa menahannya.
Sementara itu Oh Thi-hoa pun sudah mengundak tiba dari belakang.
Langsung ia menubruk maju seperti harimau menubruk mangsanya, ia sekap pinggang orang terus diajak berguling-guling di tanah berpasir.
Lekas Ki Ping yan memburu maju pula dan mendekap sebelah pundaknya.
Semula Ciok Tho masih hendak meronta, serta merta Ki Ping yan dengan kencang menggenggam tangannya, baru lambat laun ia mulai tenang, tapi nafasnya masih ngos-ngosan.
"Lekas kau tanya dia,"
Usul Oh Thi-hoa dengan memburu.
"Sebetulnya apa yang dia ketemukan."
Di bawah sinar bintang, tampak raut muka Ciok Tho yang buruk dan kaku itu penuh dibasahi butiran keringat, diikuti ketegangan dan kekuatiran.
Jangankan Siau-phoa jadi ketakutan melihat raut mukanya ini, sampai pun Oh Thi-hoa pun bergidik dan dingin hatinya.
Berselang cukup lama baru Ki Ping yan angkat kepala, katanya.
"Sudah kutanya dia, tapi apapun dia tidak mau menjelaskan."
Pandangan mata Coh Liu-hiang menatap ke tempat gelap nan jauh sana, katanya pelan-pelan.
"Bukan mustahil dia memiliki indera ke enam yang amat peka, terasa olehnya bahwa iblis yang mencelakai dirinya itu berada di dalam rumah kayu itu."
"Tapi dalam rumah kayu hakikatnya tiada ketinggalan orang hidup... boleh dikata tiada sesuatu benda apapun dalam rumah itu, seumpama iblis itu menyembunyikan diri juga tak mungkin lagi."
Berkata Coh Liu-hiang sepatah demi sepatah.
"Apa benar rumah itu tiada sesuatu apapun?"
"Kecuali meja kursi yang sudah reyot, tinggal patung pemujaan itu."
"Sudahkah kau jelas patung apa yang berada di tempat pemujaan itu?"
"Kalau tidak salah seperti sebuah patung Kwan Im posat yang terbuat dari batu..."
Sekonyong-konyong suaranya seperti membeku, badannya seolah-olah kena lecutan cambuk bergetar keras.
Lalu seperti kerasukan setan, tiba-tiba ia putar badan berlari sekencang-kencangnya kembali ke rumah kayu itu.
Keadaan dalam rumah kayu telah berubah.
Angin menghembus kayu gorden yang menutupi ruang pemujaan itu.
Tapi ruang pemujaan ini kosong melompong.
Patung batu yang berdiri di sana tadi kini sudah lenyap tak keruan paran.
Keringat segede kacang bercucuran di atas kepala Oh Thi-hoa, lama sekali dia menjublek di tempatnya, baru didapatinya di atas meja ketambahan sebuah wajan besi.
Wajan yang masih panas mengepulkan asap dan bebauan sedap, bau daging rebus yang enak rasanya.
Di bawah wajan terselip selembar kertas yang ada tulisannya berbunyi, Tuan-tuan datang dari tempat ribuan li jauhnya, seharusnya aku sendiri harus menyambut dengan sebuah meja perjamuan besar.
Sayang anak buahku bodoh dan tak becus bekerja, bikin malu dan menusuk perasaan belaka.
Maka akan aku siapkan sewajan daging rebus sekedar sebagai pernyataan maksud baikku.
Untung menghilangkan rasa lelah dan kelaparan serta dahaga, harap tuan-tuan tidak menampik maksud baik kami!
Hormat, Orang dalam pemujaan Orang dalam ruang pemujaan?
Siapa pula orang di dalam pemujaan?
Oh Thi-hoa berpaling, maka dilihatnya Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan sama s edang menatap kertas yang berada di tangannya, agaknya mereka pun melongo dan tertegun.
Sesaat lamanya, baru Ki Ping-yan bersuara dengan tertawa getir.
"Jejak kami bertiga, toh konangan juga oleh si dia!"
"Tapi siapakah orang dalam ruang pemujaan ini? Bayangannya saja toh tidak kita lihat."
Dengan nanar Coh Liu-hiang memandang ke arah ruang perjamuan yang sudah kosong itu, katanya sepatah demi sepatah.
"Itulah Ciok-koan im."
Berjikat merinding bulu kuduk Oh Thi hoa, serunya.
"Ciok koan im? Maksudmu adalah perempuan yang diakui umum sebagai orang yang paling cantik, paling galak dan tak mengenal kasihan, tapi ilmu silatnya amat tinggi dan sudah diakui kawanan Kangouw pada masa lalu itu?"
Coh Liu-hiang tertawa getir.
"Kecuali dia, siapa pula yang mampu membuat alat rahasia yang begitu lihay dan baik? Siapa pula yang punya kepandaian ilmu rias yang begitu hebat? Siapa pula yang kuasa mengatur tipu daya yang begitu sempurna dan seksama?"
Ki Ping yan menyambung dengan suara kalem.
"Kecuali dia, siapa pula yang bisa mengheningkan cipta atau semedi merubah diri seperti patung-patung tulen, sehingga dengan mudah mengelabui pandangan mata kita?"
Oh Thi-hoa melongo dan menjublek, meski ia belum pernah melihat Ciok-koan-im, tapi berbagai dongeng dan cerita yang sering tersiar di kalangan Kangouw mengenai manusia yang satu ini, boleh dikata dapat membuat setiap orang yang mendengar merasa bergidik seram dan dingin dari kepala sampai ke kaki.
Bau asap mengepul dari wajan semakin tebal, daging yang sudah matang dan dilapisi kuah berminyak kelihatan begitu sedap dan lezat, inilah hidangan yang sedang mereka harapkan selama ini.
Mendadak Oh Thi-hoa bergelak tawa, katanya.
"Katanya yang tersiar di kalangan Kangouw memang tidak keliru, Ciok-koan-im memang siluman tukang mencelakai jiwa orang. Apapun tiada yang dia tinggal di sini, kecuali wajan dan daging rebus ini, supaya kita hanya melihatin saja, dengan mengalirkan air liur tanpa berani menyentuhnya."
Tiba-tiba seekor anjing menerobos masuk ke dalam rumah, langsung lompat naik ke atas meja, kepala dijulurkan lidah menjilat seperti sedang mencicipi, lalu mulut terpentang menggigit sekerat daging bertulang.
Maki Oh Thi-hoa dengan tertawa.
"Anjing ini sudah gila lantaran kelaparan? Memangnya dia tidak takut keracunan?"
Segera ia menghampiri dan menjinjing anjing itu lalu diturunkan ke atas tanah, tapi dengan lahap dan tergesa-gesa anjing itu sudha melalap sekerat daging bertulang itu ke dalam perutnya.
Oh Thi hoa, Coh Liu-hiang, Ki Ping yan, tiga orang enam biji mata dengan mendelong mengawasi reaksi perubahan anjing ini.
Tapi setelah ditunggu-tunggu setengah jam, Ki Ping yan membalik mata anjing untuk diperiksa, lalu memeriksa lidahnya lagi, katanya perlahan.
"Masakan dalam wajan ini tak beracun."
Dengan keras Oh Thi-hoa menggebrak meja, teriaknya.
"Siluman jahat itu sudah perhitungkan kita takkan berani makan daging rebus itu, malah antar seekor anjing untuk membuat jengkel. Dia kira kita sudi memakan daging rebus sisa dari anjingnya ini."
"Daging yang sudah dimakan anjing, masakah orang tidak boleh memakannya?"
Kata Ki Ping-yan tawar. Matanya mengawasi Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang tidak memberi komentar. Oh Thi-hoa sudah jinjing wajan itu terus dilempar keluar jendela, mulut masih berkaok-kaok.
"Kita tidak boleh makan makanan sisa anjing, seumpama harus mati kelaparan, jangan kita bikin malu diri."
Ki Ping yan menghela nafas, jengeknya.
"Jikalau aku bisa pulang dengan selamat, di dalam rumah akan kudirikan sebuah tugu peringatan untuk mengingat budi keluhuranmu ini, dimana akan ku ukir, 'Kelaparan sampai mati urusan kecil, bikin malu muka orang urusan besar!'"
Oh Thi-hoa bergelak tertawa, serunya.
"Jikalau aku bisa pulang dengan jiwa masih hidup akan ku... akan ku..."
Ingin dia mencari kata-kata yang setimpal untuk balas mengolok Ki Ping yan, dalam waktu dekat mulutnya justru tak kuasa mengeluarkan kata-katanya.
"Watak manusia berangasan seperti anjingmu ini, mungkin takkan bisa pulang dengan hidup segar,"
Jengek Ki Ping yan pula.
"Itupun belum..."
Belum lagi Oh Thi-hoa berkata lebih lanjut, tiba-tiba terdengar jeritan mengerikan di luar rumah, tiga orang serempak melesat keluar, tampak Siau-phoa yang tadi menjagai Ciok Tho kini sudah terguling-guling di atas tanah.
Wajan yang berisi daging itu berada di sisinya, ujung mulutnya masih berlepotan kuah berminyak, roman mukanya pun putih halus dan jenaka itu, kini sudah merah abu-abu dan berkerut-kerut mengejang, mulutnya mendesis dan megap-megap, ingin berteriak keras, namun yang terdengar hanya suara lirih.
"Daging beracun..."
Ternyata di luar rumah ia mendengar percakapan di dalam yang mengatakan daging dalam wajan ini tak beracun, maka sisa kuah yang tidak tertumpah di dalam wajan ia hirup seluruhnya.
Lekas Coh Liu-hiang memburu ke samping badannya, baru saja ingin memeriksa keadaannya, badan Siau-phoa sudah kelejetan dan mengejang, sebentar saja jiwanya tahu-tahu sudah melayang gara-gara minum sisa kuah daging dalam wajan itu.
Di tengah gurun pasir yang luas ini, jiwa manusia ternyata sedemikian rendah dan tak berharga sama sekali.
Pelan-pelan Coh Liu-hiang katupkan kelopak matanya, katanya prihatin.
"Racun yang hebat, keras benar kadar racunnya sampai tak sempat ditolong lagi."
"Orang lihay benar,"
Ujar Ki Ping yan.
"Dia sembunyikan kapsul beracun itu di mulut anjing, begitu anjing menjilat kuah kapsul beracun itu lantas jatuh ke dalam wajan karena masih panas cepat sekali kapsul itu lantas mencair dan kuah yang semula tidak beracun menjadi mengandung racun yang begitu jahat."
Tersirap darah Oh Thi-hoa.
"Apakah anjing itupun sudah dilatihnya sedemikian rupa?"
Ki Ping -yang manggut-manggut sebagai jawaban. Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya .
"Agaknya berkat watak anjing Oh Thi-hoa tadi sehingga aku dan kau tidak kena tertipu oleh Ciok-koan im."
Membayangkan tipu muslihat berantai yang berhubungan satu sama lain secara licik dan licin ini, boleh dikata jiwa mereka tadi sudah diambang kematian...
tak terasa tapak tangan mereka berkeringat dingin.
Bersambung ke
Jilid 16
Jilid 16 Hari kedua, air tetap tak mereka dapatkan.
Mereka tak mau membiarkan sisa air didalam badan mereka terjemur kering oleh terik matahari, maka setelah sang surya terbenam, baru mereka bergerak lagi.
Giok Tho, laki-laki misterius dan harus dikasihani ini, kini sudah memperoleh kembali tenaga dan keberaniannya yang tak terhingga sebaliknya Oh Thi-hoa bertiga sudah semakin loyo dan lemas.
Betapapun tinggi kepandaian seseorang didalam dunia ini, masa kuasa memerangi kekuatan kebesaran alam semesta.
Sang surya sudah terbenam, sering Ciok Tho Mendekam di atas pasir, menggunakan hidungnya mengendus dan membaui pasir, seperti srigala yang mengejar jejak mangsanya merangkak di atas pasir, Oh thi-hoa menjilat bibirnya yang sudah kering dan pecah, tanyanya tak sabar .
"apa yang sedang dia lakukan?"
"Dia sedang mencari sumber air di bawah tanah."
"Apa dia bisa mengendus dengan hidungnya?"
"Kalau ada air, tentu ada suhunya, suhu panas tertentu itu dapat terendus oleh hidung yang berpengalaman."
Oh Thi-hoa masih ingin bicara, tapi orang sudah tak perdulikan dia lagi.
Karena ditempat seperti ini dalam keadaan seperti ini pula bicara mengeluarkan tenaga dan membuang-buang energi, mengeringkan ludah lagi, disaat-saat seperti ini, kedua macam keperluan ini hampir senilai dan semahal jiwa mereka.
Setelah malam mendatang, tiba-tiba seperti kumat gilanya Ciok Tho menggali pasir dengan kedua tangannya.
"ada Air!"
Seketika Oh Thi-hoa berjingkrak kegirangan.
Serempak mereka lompat turun dari punggung unta, menggunakan segala alat apa saja yang mereka ketemukan, beramai-ramai mereka menggali pasir sekuat tanag, tapi dengan susah payah mereka bekerja satu jam lamanya, akhirnya tetap kecewa, tiada air.
Oh Thi-hoa menyengir sedih .
"Hidungnya itu mungkin sudah tak berguna lagi."
Ki Ping-yan membenamkan mukanya tak menanggapinya.
Cuma Ciok Tho masih belum putus asa, dia tetap mengeruk dan menggali.
Mendadak ia mencelat bangun mencomot segenggam pasir diangsurkan kepada Ki Ping-yang.
Ki Ping-yan jejalkan pasir itu ke dalam mulut, seketika mukanya berseri girang.
Pasir ini terasa hangat.
Beramai-ramai mereka masukkan pasir ke dalam mulutnya, sekuatnya menghisap air yang terkandung didalam pasir.
Air, memang terlalu minim, tapi bagi seseorang yang sudah dekat ajal karena dahaga sudah cukup untuk merenggut pulang jiwanya dari cengkeraman elmaut.
mereka mengeduk lebih giat, lebih keras dan mati-matian, menghisap sekeras kerasnya.
Malam itu mereka lelap dalam impian didalam galian pasir yang bersuhu hangat ini, saking bernapsu menghisap air tadi, lidah Oh Thi-hoa terasa linu kemeng, tak tertahan ia mengumpat caci .
"Boleh dikata seluruh tenaga untuk menghisap sudah kukerahkan, namun belum bisa kulihat setetes air yang berhasil keperas dari pasir setan yang keparat ini, menghisap dengan cara begini terus apakah tidak bikin lidah putus dan leher kejang ?"
"Didalam gurun pasir, bila setiap hari kau dapatkan pasir hangat seperti ini, sudah terhitung kau beruntung, meski amat minim air dalam pasir ini, tanpa dia kau takkan bisa hidup"
Memang tidak salah ucapannya, hari ketiga jangan kata air, pasir hangat seperti itupun tak berhasil mereka temukan, tenaga untuk berjalan pun sudah tiada, untunglah hari ke empat, Ciok Tho berhasil menemukan lagi.
Pasir di sini lebih banyak mengandung air.
Berkata Ki Ping-yan menerangkan .
"Ciok Tho menyelusuri jalur-lajur urat air bawah tanah baru berhasil menemukan yang ini, dilihat keadaan tempat ini, tak jauh dari sini tentu kita bisa menemukan sumber iar yang lebih besar."
Dengan badan lebih segar, mereka kerahkan tenaga dan menghimpun semangat bergerak maju lebih lanjut.
Sekonyong-koyong dikejauhan sana mereka melihat pemandangan serba hijau, seperti permadani terbentang luas kehijauan itulah oase, tanah subur yang banyak air dan tetumbuhan yang hidup subur di gurun pasir.
Dengan sekuat tenaganya Oh Thi-hoa kucek-kucek matanya, katanya .
"Apakah mata ku sudah lamur ?"
"Semoga ini bukan pandangan didalam khayalan kita."
Coh Liu-hiang tertawa getir.
Setelah dekat, terdengar diantara pepohonan yang menghijau subur ditengah-tengah oase sana, kumandang gelak tawa orang-orang yang riang gembira.
Tapi bagi seseorang yang baru saja lolos dari cengkeraman mara bahaya ditengah gurun pasir yang tak kenal kasihan ini, gelak tawa riang gembira itu kedengaran amat menusuk dan seram menakutkan.
Oh Thi-hoa dilliputi ketegangan pula katanya.
"apa disinikah sarang rahasia Ciok-koan im? Kecuali siluman jatah itu, siapa pula yang masih bisa begitu riang gembira ditengah gurun pasir yang tengah sengsara ini ?"
Ditunggu-tunggu tak terdapat reaksi teman-temannya, lalu ia menyambung perkataan sendiri.
"apalagi dua hari ini, dia tidak mencari kesulitan kita, bukan mustahil dia sudah memperhitungkan kita akan bisa menemukan tempat ini?"
Sekian lama Coh Liu-hiang tidak berkutik, tiba-tiba ia bangkit berdiri katanya .
"Kalian tunggu aku di sini biar kuperiksa keadaan di sana."
Oh Thi-hoa ikut berdiri serunya .
"Aku ikut."
"Aai, ginkangmu lebih tinggi dari maling kampiun ?"
Olok Ki Ping-yang.
Oh Thi-hoa meloso duduk pula, mulutnya terkancing.
Bukan saja oase ini amat indah, ternyata cukup luas pula, ditengah gurun pasir yang serba buruk ini, mendadak muncul tempat seindah ini boleh dikata seperti dalam dongeng saja.
Ditangah rimbunnya dedaunan, sering terdengar tawa cekikikan medru bagai kelintingan.
Apa benar ini alam khayal didalam dongengan itu?
atau alam iblis?
dan yang tersembunyi didalam rumpun dedaunan itu, apakah bukan siluman perempuan yang suka memincut dan akhirnya memakan orang-orang pelancongan yang kesasar jalan?
Setelah menarik napas dengan hati-hati Coh Liu-hiang meluncur kesana walau ginkangnya sekarang jauh berkurang dari keadaan biasa, tapi tak perlu disangsikan masih termasuk tingkat tinggi jarang ditemukan tandingannya.
Dengan ringan seperti burung ia hinggap di puncak pohon.
Dari sela-sela dedaunan yang rimbun ini, seketika ia melihat suatu pemandangan yang bisa bikin hati kebat-kebit, membuat orang linglung dan sukar dipercaya.
Disana terdapat dua empang besar kecil yang berair bening menghijau.
Di sini empang yang rada besar ditempat yang rada jauh sana terdapat tiga bangunan kemah yang indah dan mewah, di depan kemah berdiri tegak beberapa Busu yang bersenjata tombak mengkilap berpakaian serba berkilauan pula.
Sementara empang kecil itu dipagari beberapa lembaran kain sari sehingga keadaan di sini tertutup dan teraling tak kelihatan seorang gadis jelita berambut panjang sedang mandi di dalam empang.
Berat dan hampir berhenti napas Coh Liu-hiang.
Dalam keadaan seperti ini, malah tiada seleranya menikmati kecantikan seorang gadis, tapi gadis telanjang dengan lekak-lekuk badannya yang berisi montok basah dengan hiasan butiran-butiran air dipaparkan di depan mata, mau tidak mau matanya jadi melotot dan tergerak hatinya.
Begitu indah tubuh semampai yang halus putih itu, di bawah pancaran sinar sang surya yang mulai terbenam di ufuk barat, mirip benar sebentuk patung dewi yang sempurna tiada cacatnya, butiran air yang berkilauan kekuningan, berderet di atas jidatnya yang bidang terus mengalir turun ke tengah dua bukit menonjol yang putih menyusul suara tawanya semerdu kicauan burung senyaring kelintingan, tak ubahnya laksana ratusan kuntum kembang mekar bersama.
Masih ada tiga empat gadis lainnya pula yang bersanggul berdiri berjajar di pinggir empang, ada yang membawa handuk, ada yang membawa kain sari panjang, ada pula yang membawa alat-alat mandi, mereka sama cekikikan riang gembira, mereka bersenda gurau saling mendulang air dicipratkan ke muka teman temannya.
Coh Liu-hiang yang baru saja keluar dari siksaan derita kekeringan di tengah padang pasir, perut kelaparan, mulut kekeringan badan terlalu letih, lolos dari mara bahaya lagi, mendadak terhadap adegan atau tontonan yang begini mengasyikkan, sungguh sukar dia percaya atas pandangannya sendiri bahwa dirinya sudah berada di kahyangan di sorga.
Dalam keadaan seperti ini Coh Liu-hiang lupa akan tugasnya, lupa apa yang harus dia lakukan, lupa bahwa teman-temannya masih menunggu kabar di gurun pasir sana.
Semula raut muka gadis mandi itu tertuju ke arah sana, kini kerlingan matanya tiba tertuju ke arah tempat persembunyian Coh Liu-hiang, insaf bahwa jejaknya sudah diketahui oleh orang.
Gadis lain bila ketahuan ada orang apalagi laki-laki dewasa sedang mengintip dirinya sedang mandi, tentu menjerit dan lekas-lekas berusaha mengenakan pakaian, tapi gadis ini mengerling, lambat-lambat dia malah berdiri dan tegak laksana sekuntum kembang teratai yang baru saja mekar dan menongol dari permukaan air.
Muka Coh Liu-hiang serasa panas malah, sekilas ia melihat kesempurnaan seluruh badan si gadis yang semampai dan montok itu, lekas sekali orang sudah sembunyi dalam libatan kain sarinya yang panjang.
Lalu memutar badan ke arah Coh Liu-hiang, katanya kalem.
"Orang yang mengintip itu memangnya kau belum puas?"
Suaranya memang merdu dan halus mengalun, seperti kicauan burung kenari, cuma logat bicaranya kedengaran rada kaku dan sember, seperti gadis gunung yang baru saja belajar bahasa kota.
Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas dengan tertawa getir, dia lompat turun dari pucuk pohon, selama hidupnya, boleh dikata belum pernah dia mengalami keadaan serunyam seperti hari ini.
Sungguh ia tidak suka kalau dirinya disangka dan dimaki sebagai pemuda pemogoran yang mata keranjang, lebih baik tak ia harapkan di dalam keadaan seperti ini dia harus menemui dan berhadapan dengan gadis jelita bagai bidadari ini.
Tapi dia tak mungkin lari terpaksa ia keluar dengan mengeraskan kepala.
Dari atas ke bawah gadis ini mengamat-amati dirinya, sorot matanya yang semula ditandai kobaran api dalam hatinya, lambat laun seperti berubah menjadi tenang, katanya melompat kepada Coh Liu-hiang "Tidak kecil ya, nyalimu, tidak kau melarikan diri."
Coh Liu-hiang unjuk tawa getir, sahutnya ."
Meskipun cayhe tidak sengaja, tapi aku harus menyatakan penyesalan yang luar biasa, jikalau mau lari, masakah tidak memalukan ?"
Berkilat kerlingan mata si gadis, katanya.
"Jadi kau mengakui salah dan kemari mau terima hukuman?"
"Ya begitulah "
Coh Liu-hiang mengiakan. Terunjuk senyuman geli pada sorot mata si gadis, katanya pelan-pelan ."
Kau berani mengakui kesalahan, memang tidak malu kau jadi laki-laki sejati, tapi tahukan kau dosa apa yang telah kau perbuat ?"
Coh Liu-hiang menghela nafas, katanya "seharusnya nonapun harus menutup sebelah sini dengan kain panjang itu."
Melotot lagi mata si gadis, semprotnya "kau mengintip aku mandi, memang masih menyalahkan diriku?"
"Cayhe kemari tanpa sengaja, mana aku tahu bahwa di tempat ini ada gadis jelita sedang mandi?"
"Kalau kau tahu?"
"Kalau aku tahu di sini ada seorang gadis secantik nona sedang mandi di sini, tahu pula bila sebelah sini tidak tertutup dengan kain panjang"
"Memangnya kau tidak akan datang kemari?"
Tukas si gadis. Coh Liu-hiang tertawa sahutnya.
"seumpama kedua kaki ini putus, meski merambat akupun akan kemari dengan merangkak."
Jawaban ini seketika membuat si gadis menjublek.
Laki-laki keparat, mana ada laki-laki yang punya muka begini tebal, tidak tahan malu dan punya nyali besar?
Sungguh mimpipun tak pernah terpikir olehnya ada laki-laki yang berani bicara begitu dihadapannya.
Hatinya memang dongkol, tapi ia tak kuasa mengumbar amarahnya, ingin tertawa, tapi ia tahan-tahan.
Sebaliknya gadis-gadis disampingnya tertawa cekikikan geli sambil mendekap mulut.
Setelah tertawa baru mereka sadar tidak pantas mereka tertawa.
Serempak mereka menarik muka, dan melotot marah, dampratnya.
"Laki-laki yang bernyali besar, berani kau bicara begituan terhadap Tuan Putri?"
"Tuan putri"
Panggilan ini sungguh membuat Coh Liu-hiang menjura, katanya.
"Sebetulnya Cayhe tak perlu berkata demikian, tapi sebagai laki-laki sejati apalagi selama hidup aku tidak pernah berbohong!"
"Tak nyana diantara bangsa Han kalian ada juga laki-laki yang berani bicara sejujurnya, aku pernah dengar, ditempat kalian itu orang yang punya nyali bicara terus terang malah sering dipandang rendah dan hina oleh orang lain."
Diam-diam Coh Liu-hiang menarik napas, sudah tentu diapun tahu bahwa banyak manusia dalam dunia ini yang sering bermuka-muka dan bermulut manis, yang suka bohong dan mengelabui orang dengan lidahnya yang lihai, memang jarang ada orang yang suka menghargai orang yang mau bicara jujur dan terus terang, mereka memang sering dipandang sebagai Siau-jin 'orang kecil'.
Tapi Coh Liu-hiang hanya tertawa tawar, katanya.
"Jadi ditempat tuan putri ini, paling suka menghargai orang yang suka bicara jujur dan terus terang?"
"Ya, begitulah!"
Sahut tuan putri.
"Kalau demikian seharusnya tuan putri memaafkan kesalahanku yang tak disengaja ini."
Lama tuan putri ini menatap Coh Liu-hiang, tiba-tiba terkulum senyum mekar di wajahnya yang cantik rupawan ini, katanya .
"Mungkin bukan saja aku menjatuhi hukuman kepadamu, malah kupandang kau sebagai tamu agung, tapi ini harus kulihat dulu, kecuali keberanianmu tadi, apakah kau memiliki suatu kepandaian yang lainnya?"
Lalu dengan jari tangannya yang halus dan bening ia membetulkan letak rambutnya, katanya sambil berputar badan ."
Tadi karena kau tidak melarikan diri, sekarang bolehlah kau mengikut padaku?"
Didalam perkemahan yang indah dan megah ini, tak henti-hentinya terdengar irama musik dan gelak tawa yang riang gembira.
Para busu yang berjaga di luar kemah justru melotot seperti mata elang mengawasi Coh Liu-hiang.
Saat mana tuan putri yang cantik molek ini sudah langsung beranjak ke dalam kemah dan sedang melambaikan tangan padanya.
Dengan tersenyum Coh Liu-hiang menepuk pundak kedua busu yang garang ini, dengan langkah lenggang kangkung ia beranjak masuk.
Sejak tadi dalam hati diam-diam ia sudah persiapkan diri, betapapun bahaya yang menunggu dirinya didalam kemah ini dia tidak akan kaget dibuatnya, didalam gurun pasir yang kejam dan serba seram ini terhadap apapun yang bakal dihadapinya, dia sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala akibat yang paling buruk.
Tapi didalam kemah ini, sedikitpun ia tidak mendapatkan tanda-tanda sesuatu yang melambangkan keganasan dan mara bahaya, bahwasanya didalam kemah ini boleh dikata sebagai tempat yang paling aman dan tak mengenal mara bahaya di seluruh dunia.
Di luar kemah terbentang tanah rerumputan yang menghijau elok dan empuk, didalam kemah sebaliknya justru dilapisi permadani yang puluhan kali lebih empuk dan puluhan kali lebih elok dari sesuatu yang empuk dan elok.
Di atas permadani berjajar beberapa meja pendek, di atas meja ini bertumpuk berbagai macam buah-buah, arak dan sayur mayur yang serba lezat dan nikmat, beberapa orang yang mengenakan pakaian serba mewah perlente sedang riang gembira mengelilingi meja-meja pendek itu, makan dan minum sepuas-puasnya.
Yang kelihatan paling riang adalah seorang laki-laki jubah merah yang mengenakan topi kebesaran berkilauan, bermuka lebar cambang bauk lagi, dia duduk di atas kursi pendek yang tepat berada ditengah-tengah, tangan kiri memegang cangkir emas, sementara tangan kanan sedang memeluk pinggang seorang gadis cantik, serunya dengan tertawa riang ."
Silahkan kalian lihat, Pipop kongcu 'tuan putri pipop' setelah mandi, bukankah lebih cantik molek?"
Sorot matanya berputar dan beralih kearah Coh Liu-hiang, katanya pula dengan tertawa ."
Tapi putriku yang baik, siapa pula tamu yang kau bawa kemari ini? Kuingat disekitar sini sejauh ratusan li, tiada seorang laki-laki yang lebih tampan seperti dia?"
Pipop kongcu unjuk tawa manis, selincah burung walet ia menghampiri ayahnya dan duduk disampingnya dengan membungkukkan badan, dia berbisik-bisik dipinggir telinga ayahnya.
Mendengar entah apa yang dikatakan putrinya, laki-laki jubah merah itu manggut-manggut, sorot matanya tetap berputar-putar mengawasi Coh Liu-hiang, memang roman mukanya mengulum senyum mekar, tapi sorot matanya mengandung wibawa besar yang menundukkan hati orang lain.
Dengan tersenyum Coh Liu-hiang balas menatap orang, hatinya ikut riang, terasa olehnya arak di sini cukup wangi, sayur mayurnya lezat, gadis-gadis disinipun sama elok dan mungil, orang jubah merah ini kelihatannya pasti bukan orang jahat.
Sekonyong-konyong empat batang tombak gantolan tanpa suara menusuk datang dari belakang punggungnya.
empat batang tombak gantol, dua di atas dan dua di bawah, masing-masing panjangnya dua tombak, bagi busu yang bersenjata tombak gantolan umumnya berkepandaian rendah, tapi bertenaga raksasa, tusukan tombak gantolan ini laksana ular beracun menerjang keluar dari sarangnya.
Seorang yang tiga hari tak pernah berkenalan dengan sebutir nasi dan minum setetes air, ingin berkelit dari bokongan keji dan telengas seperti ini boleh dikata tak mungkin terjadi, tragedi mengenaskan dengan banjir darah agaknya bakal terjadi, tapi orang-orang yang duduk berjajar makan minum itu, satupun tak ada yang melirik ke arah sini.
Seolah-olah perduli kejadian apapun, takkan bikin hati mereka tertarik.
Hanya biji mata tuan putri Pipop saja terbelalak lebar, dengan jelas ia melihat keempat ujung tombak gantolan itu hampir sudah mengenai punggung Coh Liu-hiang, sedikitpun Coh Liu-hiang tidak memberikan reaksi apa-apa, serta merta sorot matanya mengunjuk rasa ngeri, gugup dan menyesal, tubuh yang semampai itupun bergegas hendak bangkit dan terhuyung.
"Creng,"
Terdengar benturan senjata keras yang nyaring berkumandang menusuk telinga.
Coh Liu-hiang tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming, juga tidak berpaling, tapi entah apa yang terjadi, ke empat ujung tombak gantolan itu, tahu-tahu sudah terkempit di bawah ketiaknya.
Ke empat busu itu sampai terperosok ke depan dan saling bertumbuk, saking kuat getarannya, tangan mereka tak bisa terangkat lagi.
Lima orang yang duduk makan minum di pinggir meja itu baru sekarang bersama angkat kepala mengawasi Coh Liu-hiang, sorot mata mereka menunjukkan rasa keheranan.
Sementara laki-laki jubah merah itu sudah bertepuk tangan dan memuji .
"Kepandaian bagus. Memang hebat kepandaianmu! Putriku memang tidak salah pandang."
Berkata Coh Liu-hiang dengan tawar .
"Tapi Cayhe justru salah lihat orang, sungguh Cayhe tidak menduga bahwa tuan seorang yang pandai membokong orang lain."
Laki-laki jubah merah itu terbahak-bahak, serunya .
"Jangan kau salahkan aku, kejadian itu tiada sangkut pautnya dengan aku,"
Lalu ditariknya tangan tuan putri Pipop, sambungnya dengan tertawa .
"Putriku inilah yang ingin mencoba kau, katanya asal kau bisa terhindar dari sergapan ini, kau adalah tamu agungnya."
Pipop kongcu tersenyum manis, selanya .
"Bagaimanapun juga, kau sudah berhasil meluputkan diri, itu terhitung kau sebagai tamu agungku, seorang tamu tidak pantas marah kepada tuan rumah bukan?"
Coh Liu-hiang menghela napas, katanya tertawa .
"Memang Cayhe tidak patut marah."
Seorang laki-laki yang duduk di sebelah kiri berwajah pucat, berbaju hijau dan berhidung melengkung seperti paruh burung, tiba-tiba berkata dengan menjengek dingin .
"Saudara hebat benar kepandaianmu. entah tokoh sakti darimana kau?"
Coh Liu-hiang mengelus hidung, sahutnya tertawa .
"Cayhe Lau Hiang, tidak lebih hanya seorang keroco tak bernama."
"O......."
Laki-laki baju hijau bersuara lesu, badannya kembali rebah, melirikpun tidak kepada Coh Liu-hiang.
Memang nama 'Lau Hiang' biasa dan tabu, dia merasa tak perlu dirinya ikat hubungan atau berkenalan dengan orang yang tak bernama.
Tapi sejak tadi Pipop kongcu selalu mengawasi Coh Liu-hiang, kembali ia unjuk tawa manis dan berkata .
"Kalau kau sudah diterima sebagai tamu agung disini, kenapa tidak mau duduk?"
"Kalau Cayhe berdiri, nyaliku rada besar,"
Ujar Coh Liu-hiang tertawa. Pipop kongcu cekikikan, katanya .
"Jikalau tadi kau merasa kaget, bagaimana kalau sekarang kuberi sekedar hiburan?"
Lalu dia bersimpuh, seorang gadis sudah mengangsurkan sebuah rebab kepadanya, terus diletakkan di atas kedua pahanya, dimana jari-jarinya bergerak halus gemulai.
Seketika mengalun irama harpa nan merdu mengasyikkan, seperti dewi kahyangan sedang menari, laksana mutiara berdering di atas piring pualam.
Seluas alam semesta di sekeliling oase ini tak terdengar suara apapun kecuali petikan lagu-lagu yang kumandang dari senar-senar rebab.
Sejak dinasti Tong, tak sedikit jumlah tokoh ahli seni musik yang suka menggunakan rebab lurus berdiri, kalau dipetik senarnya harus dipeluk didepan dada, lain justru cara Pipop kongcu ini memainkan rebabnya, orang justru merebahkan rebabnya di atas kedua lututnya, semula Coh Liu-hiang tidak mengharap bisa mendengarkan petikan lagu-lagu dari rebab yang mengasyikkan ini.
Saking asyiknya hampir saja dia kehilangan semangat, lupa lapar, lupa dahaga dan penat, lupa segalanya.
Setelah irama rebab berhenti, dia masih terlongong tanpa bergerak.
"Bagaimana?"
Tanya Pipop kongcu tertawa lebar. Coh Liu-hiang tersentak sadar oleh pertanyaan ini, katanya menghela napas .
"Tak nyana di tanah gersang nan jauh ini, aku masih sempat mendengar suguhan yang luar biasa."
"Kenapa harus dibuat heran?"
Ujar laki-laki jubah merah.
"Seni rebab memang berasal dari sini, terus diajarkan ke tanah bangsa Han kalian."
"O....?"
Coh Liu-hiang bersuara dalam mulut. Tanya laki-laki jubah merah .
"Pernahkah dengar nama Soh-ci-po!"
Coh Liu-hiang mendadak maju selangkah dan berdiri tegak, katanya dengan hati bergetar .
"Apakah tuan ini Kui-je-ci-ong?"
Bersinar tajam mata laki-laki jubah merah, serunya sambil mengelus cambang bauknya ."
Akhirnya kau tahu juga siapa aku, sungguh aku nyana hari ini seni rebab yang asli kebentur kepada seorang ahli, mari, mari, mari biar ku suguh tiga cangkir kepadamu."
Sekonyong-konyong terdengar seseorang berkaok-kaok di luar.
"Ulat busuk! Dimana kau?"
Disusul suara bentakan dan caci maki yang riuh rendah, disusul suara jeritan kesakitan dan suara sesuatu yang tercebur ke dalam air.
Coh Liu-hiang tahu pasti ada orang yang dibuang masuk ke dalam air oleh Oh Thi-hoa.
Laki-laki baju hijau bermuka pucat penyakitan itu mendadak bangkit, katanya mengerut alis .
"Siapa bernyali besar berani bertingkah di sini, biar kulihat."
"Sungguh maaf, itulah temanku,"
Lekas Coh Liu-hiang berkata.
Dari atas ke bawah dan sebaliknya laki-laki baju hijau ini mengamati dirinya sekian lamanya, akhirnya pelan-pelan orang itu duduk kembali di tempatnya.
Kui-ji-ong tertawa pula katanya .
"Keledai bagus takkan tercampur dengan kuda jelek, temanmu itu tentunya seorang seniman pula, silahkan mereka masuk saja!"
Sebaliknya Pipop kongcu tertawa sambil mendekap mulut, katanya .
"Kelak kau harus beritahu padaku, kenapa orang lain panggil kau ulat busuk?"
Walau Oh Thi-hoa sudah melempar dua busu yang berpakaian lengkap itu ke dalam air, serta menghajar tiga orang lain sampai mata biru hidung keluar kecap, tapi hatinya masih merasa penasaran.
Dia merasa kali ini Coh Liu-hiang terlalu tidak setia kawan.
Seorang diri dia makan minum di sini, orang lain sebaliknya harus berjuang mengadu nasib, kuatir bagi keselamatannya lagi.
Setelah beberapa cangkir arak masuk ke dalam perutnya, terhitung terlampias rasa dongkolnya, terutama dihadapi gadis cantik rupawan yang meladeni dirinya minum arak ini, begitu elok dan mungil sehingga dia merasa terlalu kasar bila mengumbar marah di sini.
Sekarang Coh Liu-hiang sudah tahu, orang-orang macam apa saja yang duduk berkerumun makan minum di sini, kelima orang ini adalah tokoh-tokoh yang cukup tenar dan dijunjung tinggi tingkatnya di kalangan kang ouw.
Tiga orang yang duduk disebelah kiri, kiranya adalah dua bersaudara dari keluarga Go Yu Hong-kiam yang kenamaan, seorang lagi adalah begal tunggal yang menggoyahkan daerah dua sungai gede Suicu Lin-che adanya.
Laki-laki baju hijau yang pucat pasi itu, namanya lebih tenar dan tingkatannya lebih tinggi, dia bukan lain adalah Sat-jiu-bu-ceng tangan gagah tak kenal kasihan Toh Hoan yang terkenal kejam dan suka membuat pusing kepala kawan-kawan dari aliran putih dan hitam.
Rekor orang ini dalam membunuh, konon jarang ada bandingannya, orang lain pandang dirinya laksana ular dan kalajengking, dia sendiri merasa bangga dan pongah.
Tapi setelah mengenal orang ini, mau tidak mau berkerut alis Coh Liu-hiang.
Cuma seorang lagi yang duduk disamping Toh Hoan bernama Ong Tiong, mukanya seperti berpenyakitan, tak punya semangat selalu lesu dan ngantuk, juga kelihatannya raut mukanya takkan mengejutkan orang, namanya pun tak begitu terkenal.
Tapi Coh Liu-hiang justru merasa pandangannya rada lain terhadap orang ini.
Setelah satu persatu perkenalkan beberapa orang ini, Kui-je-ong angkat cangkir dan katanya pula.
"Siau-ong tiada hobi apa-apa, selama hidupku cuma suka menjamu tamu, kelima orang ini adalah tamu agungku yang ku undang dari tempat jauh. Tentunya kalian bertiga pernah mendengar ketenaran nama mereka."
Oh Thi-hoa tertawa besar, katanya ."
Ketenaran nama-nama saudara-saudara ini, memang sudah lama kudengar, silahkan ku suguh secangkir kepada kalian."
Bahwasanya sedikitpun ia tidak kagum dan belum pernah mendengar nama mereka, tak lain dia hanya cari kesempatan untuk minum lebih banyak. Kui-je-ong mengawasi Ki Ping-yan, katanya .
"Sekarang hanya nama besar saudara saja yang belum kuketahui."
"Ki!"
Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 2
Baca Juga: Duri Bunga Ju 6