Eps 4 Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id
Baca online Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id
Cersil Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id.
Gadis yang telah berusia delapan belas tahun, biasanya akan teringat akan suatu hal, yakni kawin.
Gadis delapan belas tahun manakah yang tidak ingin mempunyai kekasih dan suami ?
Sesungguhnya kejadian ini adalah suatu peristiwa yang lumrah.
Kembali Kwik Tay-lok tertawa, katanya.
"Kalau begitu kau tidak berpenyakit, lelaki yang telah dewasa akan menikah, gadis yang telah dewasa akan dinilai, siapapun tak dapat mengatakan kalau kau berpenyakit."
Lalu sambil membusungkan dada, ia bertanya lagi.
"Entah lelaki manakah yang telah berkenan di hatimu ?"
Yan Jit segera melotot besar, katanya dingin.
"Tentu saja kau !?"
"Aaaah, belum tentu !"
Walaupun dimulut ia bilang "belum tentu"
Tapi mimik wajahnya telah menunjukkan keyakinan yang seratus persen.
Sekalipun memukul gembrengan, belum tentu orang bisa menemukan lelaki ganteng seperti dia.
Jika Suan Bwe-thong tidak jatuh cinta kepadanya, ia bisa jatuh hati kepada siapa lagi ?
Suan Bwe-thong memang sedang memandang ke arahnya, tapi ia gelengkan kepalanya sambil mencibir bibir.
"Mungkin orang itu adalah kau, mungkin juga bukan,"
Katanya seraya tertawa.
"sekarang aku belum bisa mengatakannya kepadamu."
"Kenapa ?"
"Sebab sekarang masih belum tiba pada saatnya."
"Kapan saatnya baru tiba ?"
Suan Bwe-thong memutar sepasang biji matanya yang jeli, kemudian dengan kepala tertunduk sahutnya.
"Aku harus memperhatikan lebih dulu apakah dia benar-benar baik atau tidak, sebab hal ini menyangkut hidupku sepanjang masa, bagaimanapun juga aku harus berhati-hati !"
"Apakah sekarang kau belum bisa mengetahuinya ?"
Tanya Kwik Tay-lok.
"Aku.... aku masih ingin menanti beberapa waktu lagi dan memperhatikan beberapa saat lagi."
"Aku rasa lebih baik kau cepatan sedikit kalau hendak memperhatikan, ada orang sudah ingin kebelet sangat macam monyet kena terasi"
Seru Yan Jit dingin.
"Tidak menjadi soal"
Kwik Tay-lok tertawa.
"silahkan kau perhatikan pelan-pelan, orang baik selamanya tetap baik, makin dipandang makin menarik."
"Bila aku sudah merasa cukup untuk memperhatikannya, aku pasti akan memberitahukan kepadamu lebih dahulu."
Tiba-tiba Yan Jit bangkit berdiri, kemudian tanpa berpaling beranjak keluar dari situ.
"Hei, kenapa kau pergi?"
Tegur Kwik Tay lok.
"Bukankah enakan kita bercakap-cakap bersama ?"
"Apanya yang akan dibicarakan lagi ?"
"Apakah kau tak ada persoalan lagi untuk dibicarakan ?"
""Aku hanya ingin mengucapkan sepatah kata...."
Tanpa berpaling lanjutnya dengan suara dingin.
"Anak gadis sekarang, kulit mukanya makin lama agaknya semakin tebal..."
Memandang punggung Yan Jit hingga lenyap dari pandangan, Kwik Tay-lok baru menggelengkan kepalanya berulang kali. katanya sambil tertawa.
"Walaupun tabiat orang ini rada aneh, sesungguhnya dia adalah orang baik, nona Suan, harap kau jangan marah"
"Aku tidak she Suan, aku she Bwe !"
Suan Bwe-thong cepat menerangkan sambil tertawa.
"Bwe ? Bwe dari huruf Bwe-hoa (bunga sakura) ?"
Suan Bwe-thong manggut-manggut.
"Aku bersama Bwe Ji-lam !"
"Mana sudah bunga sakura, ditambah bunga anggrek lagi, wah rupanya kau ingin membuka toko bunga ?"
"Aku bukan bernama Ji-lan, lan dari arti kata bunga anggrek, aku bernama ji-lam, dengan arti lelaki."
"Bwe Ji-lam? Aneh benar namamu itu"
"Ketika mendiang ayahku memberi nama tersebut kepadaku, dia ingin memberitahukan kepadaku agar aku seperti seorang lelaki, tak boleh aleman atau manja, apa yang ingin kulakukan harus kulakukan dengan terbuka, apa yang ingin kukatakan juga harus kukatakan secara terangterangan."
"Jika arwah ayahmu dialam baka bisa mengetahui akan hal ini, dia pasti akan merasa gembira"
Tiba-tiba Ong Tiong berseru.
"Kenapa ?"
"Sebab kau memang tidak menyia-nyiakan harapannya"
Agak memerah paras muka Bwe Ji-lam karena jengah, katanya.
"Kau.... kau menganggap pekerjaan yang kulakukan lebih banyak mirip perbuatan kaum pria ?"
"Kau adalah perempuan ?"
Ong Tiong balik bertanya. Bwe Ji-lam tak bisa menahan gelinya lagi, ia tertawa cekikikan. Kwik Tay-lok juga tertawa, katanya pula.
"Caramu bertindak memang lebih kelaki-lakian daripada kebanyakan lelaki, misalkan saja...."
Ia merendahkan suaranya serendah-rendahnya, kemudian melanjutkan.
"Teman kita yang bernama Yan Jit, kadangkala ia mirip seorang gadis, bukan saja gerak geriknya agak kewanita-wanitaan, bahkan seringkali bisa marah-marah tanpa sebab."
"Apakah kau menganggap perempuanpun seringkali menjadi marah tanpa sebab ?"
Kwik Tay-lok cuma tertawa, dan tidak berbicara apa-apa. Bwe Ji-lam berkata lagi.
"Perempuan pun seperti juga lelaki, bila sedang marah, itu pasti ada alasannya, cuma saja kaum lelaki belum tentu mengetahui alasan tersebut."
Setelah tertawa, lanjutnya.
"Sesungguhnya lelaki belum tentu sepintar apa yang dibayangkan sendiri..."
Kwik Tay-lok ingin berbicara lagi, tapi akhirnya ia berusaha menahan diri.
Ia bertekad tak akan ribut dengannya, seandainya ingin mendebat, diapun baru akan mendebat setelah mengetahui siapakah orang yang dipilih olehnya nanti.
Sampai waktunya dia akan memberitahukan kepadanya, paling tidak lelaki jauh lebih pintar daripada apa yang dia bayangkan.
Sampai waktunya nanti, dia pasti akan percaya.
Sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir Kwik Tay-lok, agaknya dia sedang membayangkan kejadian pada waktu itu, Bwe Ji-lam berbaring dalam rangkulannya dan memberitahukan kepadanya bahwa "orang itu"
Adalah dia.
"Pada waktu itu, dia akan mengetahui sesungguhnya siapakah yang lebih pintar."
Hampir tertawa tergelak Kwik Tay-lok setelah membayangkan sampai ke situ.
Lim Tay-peng juga sedang tertawa.
Apakah ia juga sedang memikirkan kejadian yang sama ?
Bila seseorang tak dapat mengkhayalkan diri sendiri, mungkin ia tak bisa dikatakan sebagai seorang lelaki sejati.
Mungkin dia tak bisa terhitung sebagai seorang manusia.
Manusia bisa lebih hebat dari binatang, mungkin dikarenakan orang bisa berkhayal diri, sementara binatang tidak bisa.
Tiba-tiba Bwe Ji-lam berkata lagi.
"Padahal sekalipun orang lelaki agak kewanita-wanitaan, hal inipun tidak ada salahnya"
"Paling tidak orang semacam itu tak akan kasar, tak akan liar, bahkan pasti akan lemah lembut."
Tiba-tiba Kwik Tay-lok melompat bangun kemudian selangkah demi selangkah berjalan ke luar, tiba-tiba ia berpaling sambil bertanya kepada Ong Tiong.
"Coba kau lihat, apakah aku juga rada keperempuanan ?"
"Kau seorang lelaki ?"
Kwik Tay-lok tertawa tergelak.
"Sebenarnya aku mengira demikian, tapi sekarang bahkan aku sendiripun kurang jelas."
Rembulan sedang bersinar purnama.
Rembulan yang bundar tergantung di atas awang-awang....
Yan Jit seorang diri duduk di bawah pohon dan memandang ke tempat kejauhan dengan wajah termangu.
Tiba-tiba Kwik Tay-lok juga berjalan mendekat dan duduk disampingnya.
Yan Jit mengerutkan dahinya, kemudian dengan mata melotot tegurnya.
"Mau apa kau datang kemari ?"
"Berbincang-bincang !"
"Apa enaknya berbincang-bincang dengan aku ? Mengapa kau tidak mencari nona Bwe saja ?"
Kata Yan Jit sambil menarik muka. Kwik Tay-lok mengelus dagunya lalu berkata.
"Agaknya kau seperti tidak terlalu suka dengannya."
"Orang yang menyukainya sudah terlalu banyak, aku tak usah dimasukkan ke dalam bilangan lagi."
Kwik Tay-lok membungkam diri. Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya, kemudian berkata lagi.
"Sore tadi, kalian tampak bergembira sekali."
"Ehhhmmmmm ......!"
"Kalau memang kalian bisa berbincang-bincang dengan begitu gembira, buat apa lagi kau datang mencariku ?"
"Rupanya kau sedang cemburu?"
Tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa. Paras muka Yan Jit segera berubah memerah padam seperti kepiting rebus.
"Cemburu?"
Serunya "aku cemburu kepada siapa?"
Kwik Tay-lok segera tertawa.
"Kau tahu orang yang dia cintai adalah aku, sedang kau juga mencintainya, maka....."
Tidak menunggu sampai ia menyelesaikan kata-katanya, Yan Jit segera bangkit berdiri dan beranjak dari situ.
Ketika Kwik Tay-lok menarik tangannya, ia mengipatkan dengan sekuat tenaga, Kwik Tay-lok kembali menariknya seraya berseru.
"Aku datang kemari untuk mengajakmu membicarakan soal serius."
Yan Jit berkerut kening.
"Urusan serius?"
Katanya.
"masakah di ujung bibir masih ada persoalan yang serius?"
"Bukankah kau pernah mengatakan bahwa disekitar tempat ini terdapat suatu keluarga besar She Bwe yang mempunyai seorang toa-sauya bernama Sik-jin (manusia batu) Bwe Ji-ka?"
"Yaa, aku memang pernah berkata demikian"
"Coba pikirlah, mungkinkah Bwe Ji-lam adalah adik perempuannya Bwe Ji-ka ?"
"Yaa atau tidak, semuanya tak ada hubungan dengan diriku"
"Apakah keluarga Bwe mempunyai ikatan dendam dengan Hong Si-hu ?"
"Tidak begitu jelas"
"Aku rasa pasti ada, karena itu Bwe Ji-lam baru menggunakan akal untuk menyingkirkan Hong Si-hu, tapi bukankah antara dia dengan Lamkiong Cho juga ada dendam? Bukankah Lamkiong Cho juga ditolong olehnya? Dia menolong Lamkiong Cho apakah dengan maksud untuk mendapatkan harta karun itu?"
"Mengapa kau tidak menanyakannya secara langsung kepada orang yang bersangkutan?"
Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.
"Kalau ia sendiri tak mau membicarakannya, sekalipun aku bertanya juga percuma."
Yan Jit segera tertawa dingin.
"Aku lihat rupanya kau tak berani bertanya"
Ejeknya.
"Tidak berani?"
Cetus Kwik Tay-lok dengan mata melotot.
"Kau takut berbuat salah kepadanya, takut dia menjadi marah, oleh sebab itu...."
Tiba-tiba ia menutup mulutnya rapat-rapat dan menarik muka.
Ketika Kwik Tay-lok berpaling, dilihatnya Bwe Ji-lam sedang berjalan mendekat.
Sekulum senyuman manis masih menghiasi ujung bibirnya, dengan mata yang besar dan jeli ia berkata sambil tertawa.
"Sebenarnya persoalan-persoalan tersebut harus kalian tanyakan kepadaku, mengapa aku musti marah ?"
Yan Jit semakin menarik mukanya, lalu berseru.
"Kalau begitu semua pembicaraan kami tadi sudah kau dengar ?"
Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Aku bukan sengaja datang untuk menyadap pembicaraan kalian, aku hanya datang untuk memberitahukan kepada kalian bahwa hidangan malam telah siap."
"Kebetulan amat kedatanganmu itu."
Sesungguhnya ia sudah bangkit berdiri, maka sekarang dia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan tempat itu.
Memandang hingga bayangan tubuhnya sudah pergi jauh, Bwe Ji-lam baru menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.
"Aku toh tidak menyalahi dia, mengapa begitu berjumpa denganku dia lantas pergi dari sini ?"
"Mungkin karena dia amat mencintaimu,"
Jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa. Bwe Ji-lam mengerdipkan matanya, lalu berseru.
"Menyukai aku? Kenapa dia malah menghindarkan diri dariku"
"Mungkin dia merasa bahwa orang yang kau cintai bukan dirinya."
Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya, lewat lama sekali tiba-tiba ia baru tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?"
Tanya Kwik Tay-lok. Sambil mencibir bibir Bwe Ji-lam tertawa.
"Aku mentertawakan kalian orang laki-laki, persoalan yang seharusnya ditanyakan tidak ditanyakan, persoalan yang tidak seharusnya di tanyakan malah kau tanyakan."
Tentang beberapa persoalan yang kutanyakan tadi, apakah kau...."
Bwe Ji-lam segera menukas ucapan itu, sambil menarik tangannya, ia berseru seraya tertawa.
"Hayo jalan kita bersantap dulu, selesai bersantap nanti aku baru akan memberitahukan hal ini kepadamu"
"Mengapa tidak kau katakan sekarang juga ?"
"Aku kuatir setelah mendengar perkataan itu kau malah tak tega untuk makan"
Sahut Bwe Jilam sambil tertawa.
Ia menarik tangan Kwik Tay-lok dan diajak masuk ke dalam rumah, erat sekali genggamannya, bahkan setelah dudukpun masih menggenggamnya erat-erat.
Ong Tiong masih menatap tajam tangannya, Lim Tay-peng juga menatap tangan itu tanpa berkedip, sedang Yan Jit seakan-akan bergerak tak mau melihat, tapi urung toh melirik juga beberapa kejap.
Tak terlukiskan perasaan Kwik Tay-lok pada saat ini, maka diapun bisa bersantap luar biasa banyaknya.
Ketika ia menyeka mulutnya, tiba-tiba Bwe Ji-lam berkata.
"Dugaanmu memang tidak salah, aku adalah adik perempuannya Bwe Ji ka, keluarga kami memang ada dendam dengan Hong Si-hu. Cuma sayang aku tak pernah berhasil menjumpainya, maka terpaksa aku harus menggunakan akal ini."
Setelah tertawa, lanjutnya.
"Sejak permulaan kami sudah mengetahui kalau si tongkat dan si anjing buldok, pasti dapat menyeret keluar Hong Si hu dari sarangnya, mereka adalah petugas hukum, sudah barang tentu lebih gampang buat mereka untuk mencari orang"
Berbicara sampai di sini, tiba-tiba ia menghela napas, kemudian sambungnya.
"Hingga sampai di situ, dugaan kalian memang tidak salah"
"Selanjutnya ?"
"Kejadian selanjutnya, kalian telah salah menebak !"
Persoalan yang mana saja yang telah salah ditebak ?"
Tanya Kwik Tay-lok dengan wajah tertegun.
"Pertama orang berbaju hitam itu bukan Lamkiong Cho !"
"Kalau bukan Lamkiong Cho lantas siapa?"
Bwe Ji-lam menggigit bibirnya kencang-kencang, setelah lewat lama sekali, dia baru mengambil ketetapan dihatinya.
"Dia adalah kakakku !" (Bersambung
Jilid 10)
Jilid 10 KETIKA UCAPAN TERSEBUT Diutarakan keluar, semua orang menjadi terkejut, bahkan Kwik Tay-lok pun tak tahan menjerit keras. Lim Tay-peng merasa sangat kecewa, serunya tertahan.
"Kakakmu? Mengapa ia lakukan perbuatan semacam ini?"
Bwe Ji lam menundukkan kepalanya rendah-rendah, kemudian sahutnya.
"Setiap umat persilatan menganggap keluarga Bwe kami adalah keluarga persilatan, mereka mengira keluarga kami pasti kaya raya sebab kesosialan dan keroyalan kami selalu besar, sobat yang datang mencari kami, belum pernah kami mengecewakan dirinya!"
Paras mukanya tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih, terusnya lebih jauh.
"Padahal sejak mendiang ayah kami meninggalkan dunia, keluarga kami sudah jatuh bangkrut dan kehabisan uang, bukan saja tak mampu mendarma kepada orang lagi, bahkan kehidupan sendiri setiap harinya pun sudah menjadi masalah, oleh sebab itu...."
"Oleh sebab itu bukan saja kalian menghendaki nyawa Hong Si-hu, juga mengharapkan uangnya ?"
Sambung Ong Tiong. Bwe Ji-lam manggut-manggut.
"Benar rencana kami ini sebetulnya sudah disusun secara rapi, ketika aku datang melakukan pencurian disini, kakakku juga telah menemukan si tongkat dan si anjing buldok dan telah menjadi pengawal mereka"
"Manusia yang begitu lihay seperti si tongkat dan si anjing buldok, mengapa secara sembarangan mereka lalu percaya kalau dia adalah Lam Kiong Cho? Mengapa pula secara sembarang mereka telah menggunakannya sebagai tukang pukul ?"
"Pertama karena mereka belum pernah bertemu dengan Lamkiong Cho, kedua kakakku membawa tanda pengenal dari Lamkiong Cho, ketiga kerena mereka tak mengira kalau ada orang telah menyaru sebagai Lamkiong Cho"
"Ke empat karena nasib kalian lagi mujur"
Sambung Kwik Tay-lok.
"tapi bagaimana ceritanya sehingga kakakmu bisa membawa tanda pengenal dari Lamkiong Cho?"
"Kebetulan dia adalah sahabat kakakku!"
Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, setelah tertawa getir katanya.
"Aaaai.... tampaknya kakakmu juga seorang yang sangat berbakat, terbukti ia bisa berteman dengan manusia semacam itu"
Merah padam selembar wajah Bwe Ji-lam karena jengah, katanya kemudian.
"Sesungguhnya dia memang gemar berteman, bahkan suka membantu orang lain, tak sedikit jumlah orang dalam dunia persilatan yang pernah menerima kebaikan darinya. Justru karena temannya terlalu banyak, diapun terlalu sosial maka keluarga kami hari demi hari semakin jatuh miskin"
"Betul, hanya budak uang yang tak akan kekurangan uang"
Seru Kwik Tay-lok sambil tertawa.
"tahu dia manusia begitu, semestinya pukulanku itu harus sedikit diperingan"
Bwe Ji-lam segera menarik wajahnya, lalu pelan-pelan berkata.
"Ada dua hal yang hendak kuberitahukan pula kepadamu"
"Katakanlah !"
"Pertama aku tak senang ada orang menghina kakakku di hadapanku, kedua kalau bukan senjatanya tidak leluasa baginya, yang termakan oleh pukulan bukan dia melainkan kau sendiri"
"Sik-jin"
Si manusia batu Bwe Ji-ka tentu saja senjatanya juga terbuat dari batu, tentang soal ini Kwik Tay-lok juga pernah mendengar orang membicarakannya. Terpaksa Kwik Tay-lok tertawa, tanyanya kemudian.
"Entah bagaimana pula dengan ilmu silat yang dimiliki Lamkiong Cho asli ?"
"Bila orang yang kau jumpai adalah Lamkiong Cho asli, sekarang mungkin kau tak bisa duduk di sini lagi"
"Kalau tidak duduk di sini lantas duduk dimana ?"
"Berbaring, sekalipun tidak berbaring dalam peti mati, paling tidak juga berbaring di atas ranjang"
Kwik Tay-lok tertawa tergelak, cuma sewaktu tertawa suaranya kedengaran kurang begitu leluasa. Untung saja Bwe Ji-lam telah melanjutkan kembali kata-katanya.
"Rencana kami sejak awal sampai akhir semuanya berjalan dengan lancar, hingga...."
Ia melirik sekejap ke arah Lim Tay-peng, sebelum ia sempat berbicara, Lim Tay-peng telah berkata duluan.
"Hingga aku berjumpa dengannya tanpa sengaja?"
Bwe Ji-lam menghela napas panjang.
"Aku sebetulnya berharap agar pada hari itu kalian tidak ke kota dan tidak berjumpa dengannya."
"Ia kuatir kita akan menyelidiki rahasianya, maka dia sengaja datang untuk membunuh kami dan menghilangkan saksi ?"
Kembali Lim Tay-peng menyindir. Bwe Ji-lam menghela napas sedih.
"Dia adalah putra tunggal keluarga Bwe kami, tentu saja dia berharap agar nama baik keluarga Bwe kita yang telah berusia beberapa ratus tahun itu tidak sampai hancur di tangannya."
Ong Tiong menghela napas.
"Oleh karena itu dia lebih suka mengakui dirinya sebagai Lamkiong Cho, juga tak ingin mengucapkan asal usulnya sendiri, ia lebih suka mati daripada kehilangan muka, bukan begitu ?"
Bwe Ji-lam manggut-manggut, sepasang matanya sudah berubah menjadi merah padam. Tiba-tiba Ong Tiong menghela napas panjang lagi, katanya.
"Tampaknya untuk menjadi seorang putra tunggal dari suatu keluarga persilatanpun memiliki banyak penderitaan dan persoalan yang tak diketahui orang luar."
Di dunia ini mungkin hanya ada semacam manusia yang lebih menderita dari padanya."
Sela Kwik Tay-lok.
"Manusia macam apa ?"
Tanya Ong Tiong.
"Adik perempuannya !"
Bwe Ji-lam mengerling sekejap ke arahnya, bibirnya senyum tak senyum tapi justru kelihatan makin mempersonakan hati. Dengan termangu-mangu Lim Tay-peng memperhatikan-nya, tiba-tiba ia berkata.
"Kaukah yang mengirim peti mati itu kemari ?"
"Ehmm....."
"Karena apa ?"
Bwe Ji-lam menghela napas.
"Aku tahu hatimu tentu amat sedih setelah membunuh orang, maka kukirim peti mati kosong itu dengan tujuan ingin memberitahukan kepadamu bahwa orang yang kau bunuh sebenarnya tidak mati"
Mimik wajah Lim Tay-peng kelihatan makin tertegun, kemudian gumamnya lirih.
"Kalau begitu, bagaimanapun juga aku harus berterima kasih kepadamu...!"
Kwik Tay-lok memandang ke arahnya kemudian memandang pula ke arah Bwe Ji-lam, akhirnya dia turut menghela napas.
"Aku juga harus berterima kasih kepadamu, ia memang bersikap sangat baik kepadamu"
Yan Jit yang selama ini hanya membungkam terus, tiba-tiba menimbrung dengan suara dingin.
"Tapi, bukankah di atas peti mati itu dengan jelas tertuliskan nama dari Lamkiong Cho?"
"Yaa, bagaimanapun juga, aku tak dapat menghianati kakakku."
Matanya semakin merah, lanjutnya.
"Walaupun aku tahu kalau perbuatannya salah, tapi akupun hanya bisa menghalanginya secara diam-diam"
"Maka selama ini kau tak berani menampakkan diri !"
Sambung Yan Jit. Dengan sedih Bwe Ji-lam mengangguk.
"Yaa, aku tak berani menampakkan diri dan tak bisa menampakkan diri. Tapi aku masih bisa menggunakan segenap kekuatan yang kumiliki untuk membaiki kalian, aku cuma berharap agar kalian sudi memandang di atas wajahku dan mengampuni dirinya."
"Sekarang dia berada di mana ?"
"Pulang ke rumah."
"Apakah kau yang menolongnya ?"
"Tentu saja aku, dia adalah kakak kandungku, bagaimanapun juga aku toh tak bisa membiarkan dia tersiksa"
Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya, lalu berkata.
"Seandainya kalian tidak bersedia mengampuninya, kalianpun tak usah pergi menjumpainya, kalian boleh mencari aku, sebab aku bersedia untuk menanggung segala sesuatunya."
Mendadak LimTay-peng melompat bangun lalu serunya dengan suara lantang.
"Perduli apapun yang akan dikatakan orang lain, aku tetap menganggap bahwa kau tidak bersalah."
"Siapa bilang dia bersalah?"
Sambung Kwik Tay-lok.
"siapa berkata demikian, dia pastilah seorang telur busuk."
"Aku cuma bisa mengatakan bahwa pada hakekatnya dia bukan manusia"
Ong Tiong menambahkan. Paras muka Lim Tay-peng segera berubah menjadi merah membara, bahkan merah sampai ke telinganya, dengan mata melotot dia berteriak.
"Kau bilang dia bukan manusia?"
"Dia memang bukan manusia."
Ong Tiong menghela napas.
"karena belum pernah kujumpai manusia yang pemberani seperti dia."
Kwik Tay-lok segera bertepuk tangan, sambungnya.
"Sedikitpun tak salah, kata-kata semacam ini sesungguhnya ia tak usah memberitahukannya kepada kita, tapi ia tidak berniat untuk merahasiakannya, siapa lagi yang bisa menandingi keberanian semacam ini ?"
"Apakah kau juga tak mampu untuk menandinginya ?"
Tanya Yan Jit. Kwik Tay-lok segera menghela napas.
"Aaai... coba berganti aku, belum tentu aku berani untuk mengutarakan persoalan ini secara terus terang."
Tiba-tiba Yan Jit tertawa, katanya.
"Sekarang kau seharusnya mengerti, perempuan belum tentu berpikiran sempit seperti apa yang kau bayangkan bukan ?"
"Yaa, benar, bukan saja tidak berpikiran sempit, bahkan berjiwa mulia...!"
Sepasang mata Bwe Ji-lam kembali berubah menjadi merah, agak sesenggukan dia berkata.
"Kalian... kalian benar-benar tidak menyalahkan aku ?"
"Menyalahkan kau? Siapa berani menyalahkan kau! Malah seharusnya kami berlutut di hadapanmu sambil berterima kasih."
"Benar !"
Ong Tiong menambahkan.
"coba bukan karena kau, sekalipun kami tak akan mati keracunan, paling tidak juga akan mati kelaparan."
Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya semakin rendah.
"Padahal kakakku juga belum tentu akan...."
"Kau tak usah memberi penjelasan lagi, pokoknya kami tak ada yang menyalahkan dia."
Tukas Kwik Tay-lok.
"Sungguh!"
"Seandainya aku menjadi dia, mungkin saja akupun akan berbuat demikian"
"Kalau aku pasti akan berbuat lebih ganas lagi !"
Ong Tiong menambahkan.
"Aku hanya kuatir andaikata di kemudian hari kakakmu mengetahui kalau kaulah yang mengacau rencananya, mungkin dia akan marah, marah setengah mati."
Bwe Ji-lam segera tertawa getir.
"Sekarangpun dia sudah tahu !"
Katanya.
"Bagaimana sikapnya setelah mengetahui kejadian ini...?"
Tanya Kwik Tay-lok.
"Marahnya setengah mati !"
"Lantas apa yang kau lakukan ?"
"Akupun kabur!"
"Tapi cepat atau lambat kau toh pasti akan pulang, sebab di sanalah rumahmu"
Kata Kwik Taylok dengan kening berkerut. Sekali lagi Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi. Tiba-tiba Ong Tiong tertawa, katanya.
"Bila dia harus pulang, sudah pasti banyak penderitaan yang akan dialaminya, tapi dia toh bisa saja tak usah pulang."
"Kenapa?"
"Bila seorang gadis sudah menikah, tentu saja dia tak usah pulang ke rumah asalnya"
Kata Ong Tiong sambil tersenyum. Seperti baru saja menyadari akan persoalan ini, Kwik Tay-lok segera berseru tertahan.
"Benar, jika ia sudah menikah maka diapun sudah bukan anggota keluarga Bwe lagi, kakaknya juga tak usah mengurusi dirinya lagi"
"Oleh karena itu dia tak bisa tidak harus lekas-lekas kawin"
"Tapi kawin dengan siapa ?"
"Tentu saja kawin dengan orang yang disukainya, mungkin aku, mungkin juga kau"
Tiba-tiba saja Kwik Tay-lok menjadi tertegun.
Tiba-tiba ia menemukan bahwa Bwe Ji-lam sedang mengerling ke arahnya sambil tertawa.
Bwe Ji-lam, menundukkan kepalanya dengan wajah merah dan duduk tenang di sana, seakanakan merasa serba salah, merasa sedih sekali, tapi sekulum senyuman masih menghiasi terus ujung bibirnya.
Senyuman itu bagaikan senyuman seekor rase kecil yang baru berhasil mencuri delapan ekor ayam.
Akhirnya Kwik Tay-lok menyadari, rupanya mereka berempat lelaki tanggung telah terkecoh oleh gadis tersebut.
Berada dalam keadaan demikian, siapapun yang dia sukai, rupanya terpaksa harus kawin juga dengannya.
Rupanya tanpa mereka sadari si rase kecil itu telah memasang jerat yang menjerat leher mereka semua, sekarang asal tangannya membetot ke belakang maka salah seorang diantaranya akan tergantung untuk selamanya.
"Tampaknya kaum perempuan memang jauh lebih pintar daripada apa yang dibayangkan kaum lelaki."
Cuma....
siapakah orangnya yang bakal digantung olehnya itu?
Ong Tiong masih tertawa, tertawa bagainya seekor rase pula, seekor rase tua.
Dia seakan-akan sudah tahu kalau dirinya tak bakal kena digaet oleh perempuan itu.
Bahkan dia masih mengetahui pula sebagian persoalan yang tidak diketahui Kwik Tay-lok.
Mendadak sambil tertawa.
"Walaupun kami bukan manusia sebangsa toa-enghiong atau toa-haukiat, tapi kamipun bukan setan bernyali kecil yang melupakan budi kebaikan orang lain, bukan demikian ?"
"Betul!"
Jawab Lim Tay-peng cepat.
"Maka seandainya nona Bwe mempunyai kesulitan apa-apa, kamipun pasti akan mencarikan akal baginya untuk menyelesaikan persoalan itu, betul toh ?"
"Betul !"
Lagi-lagi Lim Tay-peng yang berbuat menjadi lebih dulu. Kwik Tay-lok memandang ke arahnya, lalu diam-diam menghela napas. Pikirnya.
"Aaai.... dasar anak muda, setiap saat setiap waktu selalu bersikap hangat yang berlebihan, baru saja orang lain menyiapkan tali gantung, kau telah berebut untuk menjiratkan di atas leher sendiri."
Belum habis dia menghela napas, terasa olehnya Ong Tiong sedang melotot ke arahnya sambil menegur.
"Bagaimana dengan kau? Benar tidak perkataan ini ?"
Sekalipun Kwik Tay-lok ingin mengatakan tidak juga tak bisa, kalau ada sebutir telur ayam di situ, dia ingin menjejalkannya ke mulut Ong Tiong yang bawel itu. Tiba-tiba Yan Jit menyela.
"Sesungguhnya kau tak usah bertanya kepadanya, soal mengasihani perempuan, menolong kaum yang lemah siapa lagi yang bisa menangkan Kwik sianseng kita ini?"
Ong Tiong manggut-manggut, seakan-akan ia sudah dibikin mengerti oleh ucapan dari Yan Jit tersebut, katanya dengan serius.
"Betul juga perkataanmu itu, tapi bagaimana dengan kau sendiri ?"
Yan Jit tertawa, sahutnya hambar.
"Asal Ong lotoa sudah berkata satu patah kata, masa aku masih ada persoalan lagi ?"
Ong Tiong segera menghembuskan napas panjang, dengan wajah berseri ia lantas berkata.
"Nona Bwe, semua pembicaraan kami tentunya sudah kau dengar semua bukan ?"
Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya sambil mengiakan, suaranya selembut suara nyamuk.
"Kalau memang begitu, bila kau mempunyai kesulitan mengapa tidak diutarakan saja?"
Tanya Ong Tiong. Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya semakin rendah, dengan wajah yang mengenaskan katanya lirih.
"Aku merasa rikuh untuk mengucapkannya keluar !"
"Katakan saja, tak usah bimbang"
Dengan wajah merah jengah, rikuh dan patut dikasihani Bwe Ji-lam termenung beberapa saat lamanya, sampai setengah harian kemudian dia baru melanjutkan kembali kata-katanya.
"Ketika kakakku mengetahui aku telah berbuat demikian, rasa gusarnya hampir saja membuat ia menjadi gila, dia mendesak aku terus menerus mengapa aku sampai melakukan perbuatan semacam ini, mengapa membantu orang luar untuk mencelakai kakak sendiri ?"
"Lantas bagaimana kau jawab ?"
Paras muka Bwe Ji-lam berubah semakin merah membara karena rasa malu yang luar biasa.
"Aku tidak berhasil menemukan alasan yang tepat."
Sahutnya.
"maka terpaksa aku bilang.... terpaksa aku bilang... terpaksa aku bilang...."
Seperti otot disekitar mulutnya mendadak menjadi kejang, dia tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya kecuali ketiga patah kata tersebut.
Kwik Tay-lok merasa tidak sabar lagi, tak tahan dia lantas bertanya.
"Kau bilang apa ?"
Bwe Ji-lam menggigit bibirnya menahan pergolakan emosi didalam hatinya, tampaknya ia sudah mengambil suatu keputusan dalam hatinya, dengan wajah memerah katanya.
"Terpaksa aku bilang, orang yang kubantupun bukan orang luar, dia lantas bertanya lagi, kalau bukan orang luar lantas siapa? Terpaksa akupun berkata bahwa dia adalah.... dia adalah...."
"Dia adalah apa ?"
Tanya Kwik Tay-lok lagi tidak tahan.
"Terpaksa aku bilang dia adalah Moayhu (suami adik) mu sendiri, karena aku telah mengikat tali perkawinan dengannya."
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, sekujur badannya seolah-olah menjadi amat lemas sehingga hampir saja terjatuh dari atas kursi. Kwik Tay-lok juga hampir terjatuh ke kolong meja.
"Bagaimana reaksi kakakmu setelah mendengar perkataan itu?"
Tanya Ong Tiong kemudian sambil mengerdipkan matanya. Bwe Ji-lam menarik napas panjang, sesudah berhenti sejenak katanya.
"Sesudah mendengar perkataan itu, hawa amarahnya baru menjadi agak mereda, tapi dia memperingatkan diriku, andaikata aku sedang membohonginya, maka dia akan menghajarku setengah mati, diapun memaksa aku untuk.... untuk mengajaknya pulang ke rumah."
"Apanya yang diajak pulang ke rumah?"
"Orangnya..."
Sahut Bwe Ji-lam sambil menggigit bibirnya kencang-kencang.
"Orang apa ?"
"Moay.... moay-hu...."
"Moay-hu siapa ?"
"Moay-hu kakak .....kakakku"
Selesai mengucapkan perkataan itu, sekujur badannya sudah menjadi lemas hingga sama sekali tak bertenaga lagi.
Kwik Tay-lok juga merasakan sekujur badannya lemas tak bertenaga.
Sekali lagi Ong Tiong menghembuskan napas panjang, seolah-olah hingga kini ia baru memahami duduknya persoalan.
Dalam kenyataannya, memang bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk memahami ucapan dari seorang gadis.
Ong Tiong tertawa.
"Agaknya persoalannya sekarang tinggal satu !"
"Persoalan apa ?"
Tanya Lim Tay-peng.
"Diantara kita berempat, siapakah yang akan menjadi Moay-hunya kakak nona Bwe ? Dan apakah ia bersedia atau tidak mengikuti nona Bwe pulang ke rumahnya ?"
"Aaaah, siapa yang tidak bersedia ? Masa dia tega menyaksikan nona Bwe dihajar oleh kakaknya?"
"Seandainya ada yang tidak bersedia?"
"Maka dia tak bisa dianggap sebagai teman kita lagi."
Seru Lim Tay-peng dengan suara lantang.
"terhadap sobat yang tidak bersahabat macam itu, kita pun tak usah berlaku sungkansungkan lagi."
Ong Tiong segera bertepuk tangan kegirangan, sahutnya.
"Betul, sekalipun ada orang yang enggan pergi, tiga orang lainnya juga harus memaksanya untuk pergi, setujukah kalian?"
"Setuju !"
"Dan kau ?"
Ong Tiong melirik sekejap ke arah Kwik Tay-lok. Dengan suara dingin tiba-tiba Yan Jit berkata.
"Tidak seharusnya pertanyaan semacam itu kau ajukan, masa kau menganggap Kwik Sianseng adalah seorang lelaki yang suka melupakan budi orang ?"
"Kalau begitu bagus sekali !"
Seru Ong Tiong sambil tertawa tergelak-gelak.
"Sekarang, semua masalahnya sudah beres.
"nona Bwe, apa lagi yang masih kau nantikan ?"
Tapi Bwe Ji-lam belum juga menjawab, seakan-akan dia sengaja membiarkan mereka menunggu sebentar lagi.
Perempuan memang sukanya berbuat demikian, selalu membikin orang lelaki merasa gelisah.
Dengan sepasang biji matanya yang jeli, gadis itu memandang wajah ke empat orang lelaki tersebut silih berganti.
Dalam keadaan demikian, Kwik Tay-lok hanya berharap, sepasang biji mata yang jeli itu jangan sampai berhenti di atas wajahnya..Sesungguhnya ia sama sekali tidak jemu terhadap "Swan Bwe-thong"
Itu, seandainya pagi tadi ia mengatakan bahwa orang yang di sukai adalah orang lain bukan dia, mungkin dia akan marahmarah besar.
Tapi suka adalah satu masalah, mencari bini adalah masalah lain.
Apalagi kalau mencari bini dalam keadaan yang dipaksakan, tentu saja keadaan ini jauh lebih berbeda lagi, seperti misalnya dia gemar minum arak, sekalipun demikian ia tak suka kalau ada orang memencet hidungnya sambil melolohkan arak ke dalam perutnya.
Dia cuma berharap semoga sepasang mata Bwe Ji-lam berpenyakit, bukan dia yang dituju melainkan orang lain.
Tapi sayangnya sepasang mata si "Swan Bwe-thong"
Ini justru sama sekali tak berpenyakit, bahkan pada waktu itu sedang menatap wajahnya lekat-lekat.
Bukan cuma memandang lekat-lekat, bahkan sedang tertawa, tertawanya begitu manis, begitu mempersonakan hati.
Siapapun orangnya, jika ia tahu kalau pancingnya sudah berhasil menangkap seekor ikan besar, senyuman yang menghiasi bibirnya tentu secerah ini.
Kwik Tay-lok ingin juga tertawa kepadanya, apa mau dikata justru ia tak sanggup untuk tertawa.
Ia menghela napas panjang dalam hatinya lalu berpikir.
"Aaaai.... anggap saja aku lagi apes, siapa suruh tampangku jauh lebih ganteng dari pada orang lain ?"
Tiba-tiba Bwe Ji-lam berkata.
"Masih ingatkah kau, bila aku sudah mengambil keputusan maka orang pertama yang akan kuberitahu adalah kau ?"
Mendengar perkataan itu, Kwik Tay-lok segera bergumam seorang diri.
"Padahal kau juga tidak usah begitu memegang janjimu itu, bukankah apa yang telah dijanjikan oleh kaum gadis, biasanya suka dilupakan kembali ?"
"Tapi aku tak pernah melupakan janjiku sendiri, apa yang telah kukatakan pasti akan kulaksanakan.... nah, hayolah ikut aku keluar dari sini, akan kuberitahukan kepadamu siapakah orang yang menjadi pilihanku itu."
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, dia lantas bangkit berdiri dan beranjak dari tempat itu.
Langkah tubuhnya tampak sangat enteng dan lincah, enteng bagaikan seekor burung walet.
Yaa, itulah seekor burung walet yang baru saja berhasil menangkap beberapa ekor ulat bulu yang besar.
Belum pernah mereka menjumpai gadis yang lincah semacam ini, begitu lincah dan riangnya sehingga mempersonakan hati orang.
Dalam waktu singkat ia sudah berada di depan pintu gerbang sana, melangkah dengan lemah gemulai bak bidadari yang baru saja turun dari kahyangan.
Kwik Tay-lok tertegun, sedang yang lain juga melongo besar.
XXXXXXXXXX Ketika tiba di pintu depan, gadis itu kembali berpaling menggape ke arah Kwik Tay-lok.
Menggape dengan tangannya yang putih dan halus.
Jika tengkukmu sudah dicekik oleh sepasang tangannya itu, bagaimanapun putih dan halusnya tangan tersebut, perasaannya pada saat itu tentu kurang sedap.
Terpaksa Kwik Tay-lok bangkit berdiri dan menengok ke arah Yan Jit.
Tapi Yan Jit tidak memandang ke arahnya.
Kwik Tay-lok memandang ke arah Ong Tiong.
Ong Tiong sedang minum arak, cawan arak telah menghalangi sepasang matanya.
Kwik Tay-lok pun memandang ke arah Lim Tay-peng.
Tapi Lim Tay-peng sedang duduk termangu-mangu seperti orang bodoh.
Akhirnya Kwik Tay-Iak menggigit bibirnya kencang-kencang, dengan gemas serunya.
"Sudah pasti nenek moyangmu dulu sudah banyak hutang budi kepada orang, kalau tidak mengapa aku bisa berteman dengan manusia-manusia macam kalian?"
Terdengar Bwe Ji-lam yang berada di luar berseru.
"Hai, apa yang sedang kau ucapkan ? Kenapa belum juga menampakkan diri ?"
Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.
"Aaaai.... aku bukan sedang berbicara, berkentut!"
Sahutnya.
"Akhirnya dia toh beranjak juga menuju ke luar ruangan. Kalau dilihat dari wajahnya yang bermuram durja dan sedih itu, tampang tersebut mirip dengan seorang terhukum yang sedang dibawa menuju ke pengadilan. Lewat setengah harian kemudian, tiba-tiba Lim Tay-peng juga menghela napas panjang, kemudian bergumam.
"Tidak kusangka orang inipun pandai berlagak pilon, dihati kecilnya dia merasa gembira setengah mati, tapi wajahnya justru menunjukkan sikap bermuram durja, sungguh membuat orang yang melihat merasa mendongkol."
Omelan tersebut kedengaran rada kecut tak sedap didengar, arak yang berada dalam perutnya juga seolah-olah berubah menjadi cuka semua (maksudnya cemburu). Ong Tiong segera tertawa.
"Lagi-lagi kau telah salah menduga !"
Serunya.
"Salah menduga dalam soal apa ?"
"Sesungguhnya dia tidak suka dengan nona itu."
"Tidak suka ? Apakah nona Bwe tidak pantas untuk mendampingi dirinya ?"
"Pantas atau tidak adalah suatu urusan, suka atau tidak adalah urusan lain."
"Darimana kau bisa tahu kalau dia tidak suka ?"
"Karena dia belum menjadi seorang bodoh dan dia belum menjadi orang bisu."
Lim Tay-peng segera mengerdipkan matanya berulang kali, rupanya ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan. Agaknya Ong Tiong juga tahu kalau ia tidak mengerti, maka jelasnya lebih lanjut.
"Ada seorang yang sangat pintar pernah mengucapkan sepatah kata yang amat masuk diakal, dia bilang.
"Bagaimana cerdiknya seseorang, bila ia benar-benar mencintai seorang gadis, maka selama berada dihadapannya maka dia pasti akan berubah menjadi ketolol-tololan, bahkan untuk bicarapun tak mampu."
Dengan pandangan sengaja tak sengaja dia melirik sekejap ke arah Yan Jit, kemudian sambil tertawa.
"Tapi selama berada di hadapan nona Bwe justru perkataan yang di ucapkannya paling banyak daripada orang lain..."
"Hal ini dikarenakan dia memang sudah dilahirkan dengan mulut yang sudah cerewet"
Tukas Yan Ji ketus.
Ong Tiang cuma tertawa dan tidak berbicara lagi.
Tak ada orang ingin menjadi orang yang cerewet, biasanya orang juga tak akan menganggap dirinya sebagai orang yang cerewet, tapi hari ini agaknya ia agak berubah, ucapannya juga lebih banyak beberapa kali lipat ketimbang biasanya.
Sesungguhnya Lim Tay-peng sudah merasa keheranan sendiri tadi.
Hari ini, mengapa orang ini bisa sedemikian cerewet ?
Kata-kata, sebanyak itu sesungguhnya sengaja dia tunjukkan kepada siapa ...."
Lim Tay-peng hanya mengetahui satu hal.
Bila tiada sesuatu alasan yang istimewa, Ong Tiong tak akan sedemikian cerewetnya, bahkan untuk menggerakkan mulut pun enggan.
Rembulan bersinar dengan indahnya.
Mungkin jarang ada orang yang memperhatikannya, tapi rembulan di musim dingin belum tentu kalah indahnya dari pada rembulan di musim semi, rembulan di musim dinginpun masih sanggup untuk menggetarkan perasaan gadis.
Rembulan yang sedang bersinar purnama berada jauh di awang-awang, Bwe Ji-lam berdiri di bawah pohon yang rimbun.
Cahaya rembulan menyoroti matanya yang jeli dan wajahnya yang cantik.
Sepasang matanya itu jauh lebih indah daripada rembulan.
Bahkan Kwik Tay-lok sendiripun tak bisa tidak untuk mengakui bahwa gadis itu benar-benar seorang gadis yang menawan hati, terutama potongan badannya yang ramping dan padat berisi itu, belum pernah Kwik Tay-lok menjumpai gadis cantik dengan potongan badan sebagus ini.
Ia tampak jauh lebih cantik daripada ketika dijumpai Kwik Tay-lok untuk pertama kalinya dulu, mungkin karena pakaiannya, mungkin juga karena senyumannya.
Pakaian yang dikenakannya hari ini sudah bukan pakaian dengan bahan kain yang kasar lagi, pinggangnya yang ramping ditutup oleh gaun yang panjang, membuat gadis itu tampak lebih cantik dan lebih menawan hati.
Kembali ia memandang ke arah Kwik Tay-lok sambil tertawa, tertawanya itu tampak lebih baik cantik dan manis.
Sesungguhnya Kwik Tay-lok paling menyukai senyuman-nya itu, tapi sekarang, hampir boleh dibilang ia tak berani memandang lagi ke arahnya barang sekejappun.
Senyuman seorang anak gadis ibaratnya pakaian atau perhiasan yang mereka kenakan, semuanya bertujuan untuk memancing perhatian orang lelaki.
Lelaki yang pintar biasanya enggan untuk memperhatikan perhiasan atau pakaian atau senyuman yang diperlihatkan para wanita.
Seandainya dihari itu Kwik Tay-lok memahami teori tersebut, tentu tidak sebanyak ini kesulitan yang bakal dihadapinya.
Diam-diam ia menghela napas panjang, pelan-pelan maju menghampirinya dan tiba-tiba berkata.
"Benarkah takaran minum kakakmu sangat baik ?"
"Bohong !"
Bwe Ji-lam sambil tertawa.
"dihari-hari biasa ia hampir tak pernah minum arak."
"Waaah... kalau begitu agak repot juga!"
Keluh Kwik Tay-lok sambil tertawa getir.
"Sebenarnya aku ada rencana untuk melolohnya sampai mabuk begitu bersua muka nanti, daripada ia menjadi teringat kembali dengan kejadian kemarin dan sengaja menjadi gara-gara denganku"
"Jika kau takut ia datang mencari gara-gara denganmu, tunggu sajalah beberapa hari lagi, setelah rasa mendongkolnya agak reda, kau baru pergi menjumpainya"
"Bukankah kau buru-buru hendak mengajakku untuk pulang menjumpainya?"
Tiba-tiba Bwe Ji-lam membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar dan memandang ke arahnya dengan mata mendelik.
"Kau kira.... kau kira...?"
Mendadak ia tertawa tergelak, tertawa terpingkal-pingkal sehingga membungkukkan badannya.
Menyaksikan keadaan dari gadis tersebut, Kwik Tay-lok menjadi tertegun, sepasang matanya terbelalak besar dan balas mendelik kearah gadis itu.
"Bukan aku....?"
Gumamnya tergagap. Bwe Ji-lam masih tertawa terpingkal-pingkal dengan kerasnya sehingga untuk berbicara tak sanggup, dia cuma bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kalau bukan aku, lantas siapa ?"
Tanya Kwik Tay-lok kemudian tak tahan. Dengan susah payah akhirnya berhasil Bwe Ji-lam menghentikan gelak tertawanya, dengan napas masih terengah sahutnya.
"Yan Jit !"
"Apa? Yan Jit...?"
Jerit Kwik Tay-lok.
"orang yang kau cintai adalah Yan Jit ?"
Bwe Ji-lam manggut-manggut berulang kali.
Sekarang Kwik Tay-lok baru benar-benar dibuat tertegun.
Sesungguhnya dia memang tidak berhasrat untuk menikah dengan Bwe Ji-lam, bahkan dengan siapapun tidak ingin.
Sekarang terbukti kalau orang yang dicintai Bwe Ji-lam bukan dia, seharusnya dia musti menghembuskan napas lega, merasa bergembira karena tidak terpilih.
Tapi entah karena apa, tiba-tiba saja dia malah merasa amat sedih, amat kecewa, bahkan sedikit merasa cemburu.
Lewat lama sekali dia baru menghembuskan rasa mengkalnya itu keluar, sambil menggeleng gumamnya.
"Aku benar-benar tidak habis mengerti, mengapa kau bisa jatuh hati kepadanya?"
Bwe Ji-lam mengerling sekejap ke arah pemuda itu dengan sinar mata yang jeli, kemudian sahutnya sambil tertawa.
"Aku hanya merasa dia sangat baik, segala-galanya baik."
"Bahkan tidak mandi pun terhitung baik?"
"Seorang lelaki yang gagah seringkali tak pernah memikirkan soal dirinya sendiri sebelum menikah, tapi bila sudah dirawat oleh isterinya, maka seringkali diapun akan berubah....!"
Mencorong sinar tajam dari balik matanya, seperti lagi mengigau, katanya lebih lanjut sambil tertawa.
"Terus terang saja kukatakan, sedari kecil aku sudah menyukai lelaki yang tidak sok perlente seperti dia, sebab hanya lelaki semacam inilah baru betul-betul berjiwa seorang lelaki. Kalau memandang lelaki yang senang berdandan dan sok perlente, melihat saja aku sudah muak."
Ketika Kwik Tay-lok memandang sepasang matanya itu, mendadak ia merasa bahwa sepasang matanya itu sama sekali tidak indah, bahkan pada hakekatnya seperti mata orang buta saja.
"Aku juga tahu kalau selama ini dia selalu menghindariku, seakan-akan merasa muak kepadaku,"
Terus Bwe Ji-lam.
"padahal begitulah watak yang asli dari seorang lelaki sejati. Aku paling benci dengan laki-laki yang macam lalat saja begitu bertemu dengan perempuan...!"
Kwik Tay-lok merasa pipinya rada panas dan merah karena jengah, ia lantas mendehem beberapa kali, kemudian katanya.
"Kalau begitu, kau benar-benar mencintainya ?"
"Masa kau sama sekali tidak mengetahuinya ?"
Kwik Tay-lok menghela napas panjang, lalu tertawa getir.
"Aku hanya merasa kau seakan-akan bersikap amat hangat dan mesra kepadaku."
Katanya.
"Itu mah sengaja kulakukan agar dia menjadi panas hatinya dan cemburu."
"Kalau toh kau memang amat menyintainya, mengapa malah kau buat sehingga dia menjadi marah ?"
"Justru karena aku mencintainya maka aku harus membuatnya menjadi marah, masa teori semacam ini tidak kau pahami ?"
Kembali Kwik Tay-lok tertawa getir.
"Kalau begitu, menjadi seorang laki-laki lebih baik jangan sampai dicintai oleh perempuan, kalau selamanya tak dicintai oleh perempuan, bukankah hidupnya akan bertambah senang dan gembira?"
"Apakah sekarang kau merasa amat gembira?"
"Yaa, tentu saja gembira sekali, bahkan saking gembiranya aku ingin berteriak-teriak"
Ketika Kwik Tay-lok berjalan masuk kembali, sekalipun seorang buta juga tahu kalau hatinya sama sekali tidak merasa gembira.
Kalau disaat keluar dari ruangan tadi keadaannya seperti terhukum yang menuju ke lapangan penembakan.
maka sekarang keadaannya tak bedanya seperti sesosok mayat.
Mungkin keadaan rada mendingan sedikit daripada mayat, karena ia masih bisa bernapas.
Keadaan didalam ruangan tersebut tidak jauh berbeda daripada suasana sewaktu dia ke luar tadi, Ong Tiong masih minum arak, Lim Tay-peng masih termangu-mangu dan Yan Jit seperti orang yang tidak melihat kedatangannya.
Kwik Tay-lok segera merampas cawan arak ditangan Ong Tiong itu, lalu berteriak dengan suara keras.
"Hei, mengapa kalian semua hari ini ? Apakah sudah menjadi guci arak semua ?"
Ong Tiong tertawa, sahutnya.
"Untuk memperingati hari perkawinan dari teman karib kita, tentu saja kita harus minum beberapa cawan lebih banyak, masakah si pengantin lelaki merasa keberatan ?"
Sebetulnya Kwik Tay-lok juga ingin tertawa, namun ia tak mampu bersuara, dikerlingnya Yan-Jit sekejap, kemudian katanya.
"Di sini memang ada seorang pengantin baru, cuma orangnya bukan aku !"
Rupanya Ong Tiong sama sekali tidak menanggapi kejadian itu sebagai sesuatu yang di luar dugaan, hanya tanyanya dengan suara hambar.
"Kalau bukan kau, lantas siapa ?"
Kwik Tay-lok tidak menjawab. Dia telah membalikkan badannya, dengan sepasang mata yang mendelik besar ditatapnya Yan Jit tanpa berkedip.
"Hei, apa yang kau perhatikan ?"
Yan Jit segera menegur.
"Aku sedang memperhatikan kau ?"
"Apa yang baik dengan diriku ?"
Sahut Yan Jit sambil tertawa dingin.
"apa kau tidak merasa salah melihat orang ?"
Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya.
"Aaaai... aku memang sedang memperhatikan dirimu dengan seksama, aku ingin tahu keistimewaan apakah yang kau miliki sehingga orang lain bisa tertarik kepadamu."
"Tertarik kepadaku ? Siapa yang tertarik kepadaku ?"
Tanya Yan Jit dengan kening berkerut.
"Siapa lagi ? Tentu saja si pengantin perempuan!"
Yan Jit baru merasa terperanjat setelah mendengar perkataan itu, teriaknya.
"Apa hubungannya antara pengantin perempuan dengan diriku ?"
"Jika si pengantin perempuan tak ada hubungannya dengan si pengantin lelaki, lantas dia musti mempunyai hubungan dengan siapa?"
Kontan saja Yan Jit melototkan sepasang matanya bulat-bulat.
"Siapa yang menjadi pengantin ?"
"Kau !"
Yan Jit menjadi tertegun.
Pada mulanya dia kelihatan agak terperanjat, kemudian secara tiba-tiba berubah menjadi gembira dan akhirnya tertawa terbahak-bahak, seakan-akan tiba-tiba ia tahu kalau lotre buntutnya tembus.
"Oooh... rupanya kau pun menyukainya"
Gumam Kwik Tay-lok kemudian sambil mengedipkan matanya. Yan Jit tidak menjawab, ia cuma tertawa terus tidak hentinya. Kembali Kwik Tay-lok berkata.
"Bila kau tidak mencintainya pula, mengapa tertawamu begitu riang dan gembira ?"
Yan Jit tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.
"Dimanakah orangnya sekarang ?"
"Sedang menunggu pengantin lelakinya di halaman depan, lebih baik janganlah kau buat ia merasa gelisah karena harus menunggu terlalu lama"
Yan Jit memang tidak membiarkan ia menunggu lama, ketika ucapan Kwik Tay-lok baru selesai diucapkan, dia sudah melompat bangun dan lari ke depan.
Kwik Tay-lok memandang ke arahnya kemudian pelan-pelan menggelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya.
"Tampaknya si pengantin lelaki jauh lebih terburu napsu daripada pengantin perempuannya."
"Apakah kau tidak merasa puas?"
Tiba-tiba Ong Tiong menegur sambil tertawa. Kwik Tay-lok melotot sekejap ke arahnya, kemudian menjawab dengan dingin.
"Aku tak lebih hanya merasa agak heran."
"Apanya yang perlu diherankan ?"
"Aku cuma heran, kenapa mata setiap perempuan tentu ada penyakitnya ?"
"Jadi kau beranggapan nona Bwe tidak sepantasnya tertarik kepada Yan Jit ? Kau anggap dia amat jelek ?"
Kwik Tay-lok berpikir sejenak, kemudian.
"Padahal ia juga tak dibilang terlalu jelek paling tidak matanya tidak jelek."
Di dalam kenyataan, sepasang mata Yan Jit bukan cuma tidak jelek, bahkan menarik sekali, terutama bila ia sedang tertawa, keadaannya ibarat air telaga di musim semi yang syahdu.
"Jelekkah hidungnya ?"
Kembali Ong Tiong bertanya. Kwik Tay-lok berpikir sebentar, lalu menjawab.
"Juga tak bisa dianggap jelek, cuma dikala tertawa maka hidungnya jadi lebih mirip dengan bak-pao"
Jika Yan Jit sedang tertawa maka hidungnya selalu berkenyit lebih dahulu, bukan saja tidak mirip bak-pao bahkan malah kelihatan lebih nakal dan indah.
"Jelekkah bibirnya ?"
Kembali Ong Tiong bertanya. Mendadak Kwik Tay-lok tertawa.
"Aku jarang sekali dapat melihat bibirnya!"
Dia berseru.
"Kenapa ?"
"Bibirnya jauh lebih kecil daripada bibir anjing cho-cho, mana aku bisa melihatnya ?"
"Apakah mulut yang terlampau kecil jelek dipandang ?"
Terpaksa Kwik Tay-lok harus menggaruk-garuk kepalanya karena dia bukan berbicara dengan suara hatinya.
"Coba katakan, bagai mana dari tubuhnya yang jelek dipandang...?"
Desak Ong Tiong lagi.
Kwik Tay-lok sudah berpikir lama sekali, tiba-tiba ia merasa bahwa dari kepala sampai kaki Yan Jit sesungguhnya indah semua.
Bahkan sepasang tangannya yang selalu dekil dan kotor itupun jauh lebih ramping, runcing dan indah daripada jari tangan orang lain.
Terpaksa Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya.
"Andaikata dia sering mandi, mungkin dia bukan seorang yang tak sedap dipandang!"
Tiba-tiba Ong Tiong tertawa, katanya.
"Seandainya dia benar-benar telah mandi, mungkin kau sendiripun akan merasa amat terperanjat."
"Aku mah sangat berharap sampai kapan dia baru akan mengejutkan diriku."
"Kalau toh kau sendiripun merasa dia tidak jelek, salahkah jika nona Bwe sampai jatuh hati kepadanya?"
"Ya, tidak salah, dia memang tidak salah...."
Mendadak dari arah ruangan depan sana mereka mendengar suara teriakan dari Bwe Ji-lam, seperti kucing yang ekornya tiba-tiba diinjak orang.
Kwik Tay-lok segera melompat bangun ingin melihat ke depan, tapi dengan cepat ia duduk kembali, sambil gelengkan kepalanya dan tertawa katanya.
"Aku tahu kalau pengantin lelaki biasanya sangat gelisah dan terburu napsu, tapi tidak kusangka kalau Yan Jit sedemikian lihaynya."
Baru habis dia mengucapkan kata-kata itu, tampaklah Yan Jit melangkah masuk. Dia masuk seorang diri.
"Dimana pengantin perempuannya?"
Kwik Tay-lok segera menegur.
"Tidak ada pengantin perempuan !"
"Kalau ada pengantin lelaki, tentu saja ada pula pengantin perempuan...."
"Juga tak ada pengantin lelaki."
Kwik Tay-lok memandangnya tajam-tajam mendadak sambil tertawa katanya.
"Apakah pengantin perempuannya sudah dibikin lari ketakutan oleh pengantin lelaki?"
Mendadak ia menjumpai di atas wajah Yan Jit terdapat tiga jalur bekas cakaran kuku yang memanjang, seperti bekas dicakar oleh kucing.
Yan Jit sama sekali tak acuh, malahan sebaliknya kelihatan amat gembira, sampai mengerdipkan matanya dan tertawa dia berkata.
"Dia memang sudah pergi, tapi bukan lari karena takut kepadaku"
"Bukan? Kalau tanganmu tidak jahil, kenapa ia sampai berteriak?"
Yan Jit tertawa.
"Seandainya tanganku benar-benar jahil, masa dia akan angkat kaki dari sini?"
"Yaa, memang tidak bisa"
Terpaksa Kwik Tay-lok mengakui. Karena diapun tahu, bila seorang perempuan telah mencintai seorang lelaki, maka dia tak akan takut menghadapi tangan jahil dari pasangannya.
"Tapi apa sebabnya dia sampai pergi?"
"Karena secara tiba-tiba ia telah berubah pikiran, dia tidak jadi kawin denganku!"
"Dia sudah berubah pikiran? Mana mungkin ?"
"Karena.... karena aku telah mengucapkan sepatah kata kepadanya"
"Aku tidak percaya"
Kata Kwik Tay-lok sambil menggelengkan kepalanya.
"jika seorang perempuan sudah mengambil keputusan untuk kawin dengan seorang lelaki, sekalipun kau mengucapkan tiga ribu enam ratus kata, ia juga tak akan berubah pikiran."
Sesudah berhenti sebentar, sambil tertawa terusnya.
"Kapankah kau pernah menyaksikan ada orang yang membiarkan ikan yang berhasil dipancingnya itu kabur kembali dari tangannya?"
Yan Jit tertawa.
"Siapa tahu kalau secara tiba-tiba ia menemukan bahwa ikan tersebut banyak durinya, mungkin juga dia memang tidak suka makan ikan..."
"Tiada kucing di dunia ini yang tidak suka makan ikan"
"Tapi dia toh bukan kucing ?"
Kwik Tay-lok menatapnya tajam-tajam, kemudian katanya sambil tertawa.
"Kalau bukan kucing, kenapa bisa mencakar orang ?"
Tentu saja Kwik Tay-lok juga tahu, bukan saja perempuan pandai mencakar orang bahkan bila sudah mulai mencakar, malahan jauh lebih ganas daripada kucing.
Jika kucing yang sedang mencakar orang, paling tidak ia mencakar karena ada alasannya, berbeda dengan perempuan.
Bila ia sedang gembira, maka ia bisa jadi mencakar dirimu.
Hanya ada satu hal yang tidak dipahami Kwik Tay-lok.
"Sesungguhnya cara apakah yang kau pergunakan sehingga membuat ia berubah pikiran ?"
"Cara apapun tidak kugunakan, aku cuma mengucapkan sepatah kata saja."
"Apa yang kau ucapkan ?"
"Itu mah urusanku, kenapa kau musti tau?"
"Karena aku ingin belajar."
"Kenapa harus belajar ?"
"Asal dia adalah seorang lelaki, mengapa tak ingin belajar ?"
Jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa.
"Kalau memang begitu, aku lebih-lebih tak bisa mengajarkannya kepadamu."
"Kenapa ?"
Yan Jit tertawa.
"Karena itu adalah rahasiaku, bila kaupun bisa, dengan apa pula aku musti mengandalkan diri ?"
Mendengar perkataan itu, Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, gumamnya.
"Aaai... aku masih mengira kau adalah Sahabatku, ternyata cuma soal itu saja..."
"Apakah diantara sesama teman tak boleh ada rahasia ?"
Tiba-tiba Ong Tiong menukas.
"Itu mah harus tergantung pada rahasia macam apakah itu ? Rahasia pribadi atau rahasia profesi ?"
"Aaaaaah... ! Rahasia yaa rahasia, semua rahasia adalah sama saja artinya."
"Kalau begitu, kau juga ada rahasia?"
Ong Tiong manggut-manggut.
"Dan kau sendiri ?"
Ia balik bertanya.
"apakah kau tidak punya rahasia ?"
Kwik Tay-lok termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, sejenak kemudian, akhirnya dengan memaksakan diri, dia manggut-manggut juga.
"Seandainya orang lain ingin mengetahui rahasiamu, bersediakah kau untuk menjawabnya ?"
Tanya Ong Tiong lagi. Kembali Kwik Tay-lok berpikir akhirnya dengan memaksakan diri dia pun menggeleng.
"Kalau memang demikian, kau tak usah bertanya pula rahasia orang"
Sesuai berkata, dia lantas membaringkan diri.
Biasanya bila ia sudah membaringkan diri, itu bertanda kalau pembicaraan telah berakhir.
Hanya kesimpulan yang benar baru bisa menyelesaikan suatu pembicaraan.
Biasanya kesimpulan dari Ong Tiong adalah suatu kesimpulan yang benar.
Setiap orang memang mempunyai rahasia.
Setiap orang mempunyai hak untuk menyimpan rahasia sendiri, sebab hal ini merupakan kebebasannya.
Kwik Tay-lok sedang duduk di bawah emper rumah, sudah lama sekali ia duduk di sana, asal masih ada pekerjaan lain yang masih bisa dilakukan olehnya, dia tak akan duduk terpekur di situ.
Ada orang lebih suka kelayapan di luar, melihat orang yang berlalu lalang, melihat anjing berkelahi dari pada mengurung diri didalam rumah.
Kwik Tay-lok adalah manusia semacam ini.
Tapi satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan olehnya sekarang hanyalah duduk termangu di situ.
Di bawah emper rumah sudah terbentuk tiang-tiang salju yang membeku, ada yang panjang ada pula yang pendek, entah berapa banyak jumlahnya.
Tapi Kwik Tay-lok tahu, semuanya berjumlah enam puluh tiga batang, dua puluh enam batang agak panjang, tiga puluh tujuh batang agak pendek.
Sebab sudah tujuh delapan belas kali dia menghitungnya.
Udara memang terlampau dingin, dijalan raya bukan saja tidak kelihatan manusia, anjinganjing liarpun entah sudah bersembunyi di mana semua.
Ia sudah hidup dua puluh tahunan, sudah melewati dua puluh kali musim dingin, tapi belum pernah menjumpai udara sedingin hari ini.
Ia sering ketimpa sial, tapi belum pernah sesial hari ini.
Sial adalah semacam penyakit menular, bila seseorang lagi sial, maka orang yang berjalan bersamanyapun akan turut kebagian sialnya.
Oleh karena itu, bukan cuma dia seorang yang duduk di sana.
Yan Jit, Ong Tiong dan Lim Tay-peng semuanya duduk di sana, duduk sambil termangumangu.
Mendadak Lim Tay-peng bertanya.
"Kalian coba tebak, berapa banyak tiang salju yang ada di atas emper rumah itu ?"
"Enam puluh tiga batang !"
Jawab Yan Jit cepat.
"Dua puluh enam batang panjang, tiga puluh tujuh batang pendek"
Sambung Ong Tiong. Kwik Tay-lok tidak tahan untuk tertawa geli, serunya pula.
"Rupanya kalian juga turut menghitung."
"Hampir empat puluh kali kuhitung jumlahnya."
"Aku hanya menghitung sebanyak tiga kali, karena aku merasa sayang untuk menghitung terlalu banyak."
Sambung Ong Tiong.
"Apanya yang disayangkan ?"
"Karena kalau kebanyakan, entar aku tak bisa menghitungnya lagi."
Kwik Tay-lok ingin tertawa, namun ia tak mampu tertawa.
Sekalipun ucapan tersebut sangat menggelikan, tapi juga amat patut dikasihani.
Mendadak Kwik Tay-lok bangkit berdiri, lalu membalikkan badan dan menghampiri satusatunya meja di tengah ruangan.
Meja itu terbuat dari kayu jati yang bagus, di atas permukaannya berlapiskan batu granit yang keras dan berkilat.
Kwik Tay-lok segera bergumam.
"Entah saat ini aku masih mempunyai tenaga untuk menggotongnya ke rumah mertua kita atau tidak ?"
"Kau tak akan kuat !"
Seru Ong Tiong.
"Bagaimana kalau dicoba dulu ?"
"Kau tak usah mencoba."
"Kenapa ?"
"Aku juga tahu kalau kau masih sanggup untuk menggotong sebuah meja kosong, tapi barang yang berada di atas meja itulah yang berbeda."
"Tapi di atas meja ini tak ada apa-apanya."
"Ada !"
"Ada apanya ?"
"Nama baik kita! Lagi pula bukan nama baikmu seorang, tapi nama baik kita semua."
Sesudah berhenti sejenak, pelan-pelan terusnya dengan suara hambar.
"Bukan saja kita sudah menerima uang sewa orang, juga sudah menerima uang tanggungan, bila kita gadaikan barang milik orang sekarang, dengan muka apa kita akan berjumpa dengan orang di kemudian hari?"
Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.
"Benar, aku memang tak sanggup menggotong meja ini"
"Yang terberat di dunia ini adalah nama baik, oleh karena itu hanya semacam manusia yang sanggup menggotong keluar meja tersebut dari sini"
"Macam manusia apa ?"
"Orang yang tak punya muka !"
"Manusia semacam itu biasanya justru paling kenyang perutnya"
Kata Lim Tay-peng sambil menghela napas.
"Babi biasanya juga selalu makan kenyang !"
Sambung Yan Jit. Lim Tay-peng segera tertawa.
"Itulah sebabnya bila seseorang ingin memikirkan soal nama baik, ada kalanya dia harus mengorbankan jeritan perut, sebab bagaimanapun juga muka lebih penting dari pada perut."
"Yaa, karena manusia bukan babi, hanya babi yang menganggap perut lebih penting daripada nama baik."
"Itulah sebabnya ada orang lebih suka mati kelaparan daripada melakukan pekerjaan yang memalukan."
"Tapi kita toh tidak mati kelaparan bukan?"
Ujar Ong Tiong.
"Benar !" (Bersambung
Jilid 11)
Jilid 11
"WALAUPUN kita sudah beberapa hari tidak makan kenyang, tapi kita toh bisa bertahan sampai sekarang."
"Siapapun tak bisa mengakui kalau tulang kita jauh lebih keras daripada tulang orang lain"
Kata Kwik Tay Lok sambil membusungkan dada.
"Yaa, makanya asal kita bisa bertahan terus suatu ketika kita pasti akan menjumpai kesempatan baik."
Wajah Kwik Tay-lok berseri sahutnya.
"Benar, kini musim dingin sudah datang, memangnya musim semi masih jauh?"
"Asal kita dapat bertahan sampai saat itu, kita masih tetap bisa bertemu orang dengan kepala terangkat, sebab kita tak melakukan sesuatu yang memalukan kepada orang lain, juga terhadap diri sendiri."
Lim Tay-peng kelihatan ragu-ragu, akhirnya tak tahan ia bertanya.
"Apakah kita dapat bertahan sampai waktu itu ?"
"Tentu saja bisa !"
Jawab Kwik Tay-lok cepat. Ia berjalan ke depan dan merangkul bahu Lim Tay-peng, lanjutnya sambil tertawa.
"Sebab walaupun kita tak punya apa-apa, paling tidak kita masih punya teman."
Lim Tay-peng memandang ke arahnya, mendadak dari dalam hatinya muncul setitik kehangatan.
Tiba-tiba saja ia merasa memiliki suatu keberanian yang cukup besar.
Bagaimanapun besarnya kesulitan, bagaimanapun dinginnya udara, dia tak ambil perduli.
Tiba-tiba ia melompat bangun dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sampai malam dia baru pulang, ketika muncul kembali dalam ruangan itu, di tangannya telah bertambah dengan sebuah bungkusan besar.
Sambil mengangkat bungkusan itu tinggi-tinggi, serunya sambil tertawa.
"Coba kalian tebak, apa yang kubawa ini?"
"Apa bukan bak-pao ?"
Tanya Kwik Tay-lok sambil mengerdipkan matanya.
"Tepat sekali jawabanmu."
Seru Lim Tay-peng sambil tertawa. Betul juga, isi bungkusan itu adalah bak-pao. Empat biji bak-pao besar, dalam setiap bak-pao tersebut masih terselip sepotong daging besar.
"Hidup Lim Tay-peng....!"
Sorak Kwik Tay-lok kegirangan. Diambilnya sebiji bak-pao, lalu katanya lagi sambil tertawa.
"Aku sungguh merasa amat kagum, sekarang walaupun kau hendak membunuh akupun aku tak bisa mendapatkan setengah potong bak-pao."
Yan Jit menatap Lim Tay-peng lekat-lekat, lalu katanya.
"Tentunya bak-pao ini bukan didapat dari menyulap bukan?"
"Mungkin datang dari langit."
Sahut Lim Tay-peng sambil tertawa, ia mengambil sebiji dan diberikan kepada Ong Tiong. Dengan cepat Ong Tiong menggeleng.
"Aku tak mau!"
Katanya.
"Kenapa ?"
"Aaai... sebab aku tak tega makan pakaianmu !"
Jawab Ong Tiong sambil menghela napas.
Kwik Tay-lok baru menggigit secuwil, ketika mendengar kata-kata tersebut ia menjadi tertegun.
Sekarang ia baru menemukan bahwa pakaian yang dikenakan Lim Tay-peng telah berkurang satu stel....
pakaian yang tertebal.
Pakaian yang dikenakan Lim Tay-peng dasarnya memang tidak banyak....
sekarang bibirnya telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
Tapi sekulum senyuman masih menghiasi bibirnya, dia berkata.
"Benar, aku memang sudah menggadaikan pakaianku untuk ditukar dengan empat biji bakpao. Karena aku amat lapar, bila seseorang sedang lapar, tidak salah bukan untuk menggadaikan pakaian sendiri untuk ditukar dengan pengisi perut."
"Kalau memang begitu, seharusnya kau makan dulu bakpao-bakpaomu itu sebelum pulang dari pada kami.
"Aku tidak bersembunyi sambil makan sendiri karena aku ini orangnya terlalu mementingkan diri sendiri ?"
"Mementingkan diri sendiri ?"
"Yaa, aku selalu merasa makan berempat jauh lebih enak daripada makan sendirian"
Inilah yang dinamakan teman.
Bila sedang susah mereka menanggulanginya bersama, bila sedang senang merekapun mencicipinya bersama.
Bila seseorang bisa mempunyai teman seperti ini, miskin sedikitpun tidak mengapa, dingin sedikitpun apa salahnya ?
Pelan-pelan Kwik Tay-lok mengunyah bakpao itu, kemudian sambil tertawa katanya.
"Terus terang kukatakan, selama hidup belum pernah aku makan makanan seenak ini!"
"Ucapanmu itu tidak jujur."
Seru Lim Tay-peng sambil tertawa.
"yang kau makan sekarang toh tidak lebih cuma sebiji bakpao yang sudah dingin"
"Walaupun cuma sebiji bakpao dingin, tapi walaupun ada orang hendak menukar bakpao ini dengan hidangan yang lezatpun aku juga tidak mau"
Sepasang mata Lim Tay-peng tampak memerah seperti mau menangis, ditangkapnya tangan Kwik Tay-lok dan digenggamnya erat-erat, serunya.
"Sesudah mendengar perkataanmu itu, akupun mulai merasa bahwa bakpao ini memang enak sekali."
Ada sementara perkataan memang menyerupai suatu mantera yang hebat, bukan saja dapat merubah makanan yang tak enak menjadi hidangan terlezat, bisa membuat udara yang dingin menjadi hangat, juga dapat membuat orang yang sudah layu menjadi berseri kembali.
Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghela napas panjang.
"Sayang aku tidak mempunyai baju bagus, bajuku ini terlampau jelek."
"Pakaian yang jelekpun bukan sesuatu yang memalukan."
"Aaaaaai.... sayang si penyayat kulit itu ogah dengan bajuku ini, kalau tidak..."
"Kalau tidak kau akan menggadaikannya untuk ditukar dengan arak bukan ?"
Sambung Yan Jit sambil tertawa.
"Tepat sekali."
Sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa. Tiba-tiba Yan Jit bangkit berdiri dan berjalan keluar.
"Tidak usah dicoba lagi, pakaianmu jauh lebih buruk dari pada pakaianku."
Teriak Kwik Taylok. Yan Jit tidak menggubris teriakannya, ia pergi dengan cepat dan kembali lagi dengan cepat. Ketika ia kembali lagi, di tangannya membawa sepoci air.
"Orang bilang kalau ada tamu ditengah malam, air teh bisa dianggap sebagai arak, kalau toh teh bisa dianggap arak, kenapa tidak dengan air ?"
Kwik Tay-lok segera tertawa.
"Sungguh tak kusangka kau juga tahu akan seni."
Yan Jit turut tertawa.
"Jika seorang jatuh miskin, ingin tidak senipun tak bisa."
Bagaimanapun juga arak, dan air memang ada bedanya.
Kalau arak, semakin diminum akan semakin panas, sebaliknya kalau air semakin diminum akan semakin dingin.
Apalagi kalau di udara sedingin ini minum air dingin.
Mendadak Kwik Tay-lok bangkit berdiri, kemudian ia mulai bersalto.
"Mau apa kau ?"
Tegur Yan Jit sambil tertawa.
"Aku sudah mempunyai pengalaman, bila badan digerakkan maka akan menimbulkan panas, mengapa kalian tidak menirukan aku?"
Yan Jit segera menggeleng.
"Karena akupun mempunyai pengalaman, semakin banyak bergerak, semakin cepat menjadi lapar."
Kwik Tay-lok tertawa.
"Terlalu banyak yang kau pikirkan"
Serunya.
"asal sekarang tidak kedinginan, buat...."
Ucapan itu tak pernah diselesaikan.
Mendadak ia menyaksikan ada sebuah benda terjatuh dari sakunya.
Itulah sebuah benda yang berwarna emas, sebatang emas murni yang amat berat.
Emas itu bukan jatuh dari atas langit, melainkan terjatuh dari dalam saku Kwik Tay-lok.
Waktu itu dia baru mulai melakukan salto yang keenam, ketika kepalanya berada di bawah kakinya ada diatas, emas itu terjatuh dari dalam sakunya.
"Traanggg...!"
Emas itu segera menggeletak di atas tanah.
Bila emas yang terjatuh di tanah bisa menimbulkan suara gemerincing, hal ini menandakan kalau emas itu berat sekali bobotnya.
Sesungguhnya benda itu memang merupakan sebuah rantai emas yang amat besar, rantai dengan sebuah leontin berbentuk hati.
Hati-hatian itu besarnya paling tidak dua kali hati ayam, mana besar, berat lagi.
Seseorang yang sudah beberapa hari tidak makan, ternyata dari sakunya ditemukan emas seberat itu, sesungguhnya kejadian ini sama sekali tidak masuk di akal.
Tapi Ong Tiong sekalian mau tak mau harus mempercayainya, sebab mereka bertiga telah menyaksikannya dengan jelas sekali.
Mereka hanya berharap bahwa dirinya tidak melihat kejadian itu.
Mereka benar-benar tak mau percaya bahwa apa yang dilihat adalah suatu kenyataan.
Lim Tay-peng saja telah menggadaikan baju hangatnya, masa Kwik Tay-lok masih menyimpan emas sebesar ini.
Seseorang yang menyimpan rantai emas seberat gajah, tapi di depan teman-temannya berlagak miskin, malah begitu mirip lagaknya, teman macam apakah itu?
Mereka benar-benar tak ingin mempercayai bahwa Kwik Tay-lok adalah seorang teman semacam ini.
Tiba-tiba Ong Tiong menguap, lalu gumamnya.
"Bila seseorang sudah kenyang, kenapa mata selalu menjadi berat dan ingin sekali tidur?"
Ia berangkat untuk tidur, ketika lewat di hadapan Kwik Tay-lok ternyata ia seperti tidak melihat ada rantai emas seberat itu tergeletak di lantai, juga tidak melihat bahwa Kwik Tay-lok berada di situ.
Lim Tay-peng menguap pula, lantas bergumam.
"Udara begini dingin, tempat mana lagi yang tidak lebih nyaman daripada didalam selimut."
Diapun pergi tidur, seakan-akan tak pernah menyaksikan apa-apa.
Cuma Yan Jit seorang masih duduk di situ, duduk sambil termangu-mangu.
Lewat lama sekali, kaki Kwik Tay-lok baru diturunkan dari udara, kemudian pelan-pelan bangkit berdiri.
Tubuhnya kelihatan seperti susah berdiri tegap lagi.
Langit tiada berbintang, tiada rembulan, di sana cuma ada sebuah lentera.
Sebuah lentera yang amat kecil, karena sisa minyak yang adapun tinggal tak banyak.
Tapi rantai emas tersebut kelihatan berkilauan, meski tertimpa sinar lampu yang amat sedikit.
Kwik Tay-lok menundukkan kepalanya memandang ke arah rantai emas itu, lalu gumamnya.
"Heran, mengapa ditempat yang bagaimana gelappun, emas selalu memancarkan cahaya terang ?"
"Mungkin disinilah kegunaan dari emas"
Sahut Yan Jit hambar.
"kalau tidak mengapa di dunia ini begitu banyak terdapat orang yang lebih memberatkan emas daripada teman."
Sekali lagi Kwik Tay-lok tertegun untuk beberapa saat lamanya, mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil bertanya.
"Mengapa kau tidak pergi tidur ?"
"Aku masih menunggu."
"Menunggu apa ?"
"Menunggu penjelasanmu !"
"Aku tidak mempunyai penjelasan apa-apa, bila kalian menganggap aku sebagai manusia macam begitu, akupun manusia macam itu!"
Teriak Kwik Tay-lok dengan suara keras.
Yan Jit menatapnya tajam-tajam, lewat lama, lama sekali, pelan-pelan ia baru bangkit berdiri, kemudian pelan-pelan berlalu dari dalam ruangan tersebut.
Kwik Tay-lok tidak memperhatikan dirinya lagi.
Angin yang berhembus di luar ruangan sangat kencang, udara terasa dingin sekali.
Minyak lampu sudah hampir kering, ketika segulung angin berhembus lewat dan memadamkan cahaya lentera tersebut.
Meskipun suasana dalam ruangan itu berubah menjadi gelap gulita, ternyata emas itu masih memancarkan cahaya berkilauan.
Kwik Tay-lok menundukkan kepalanya memperhatikan rantai emas tersebut, entah berapa lama kembali lewat, akhirnya ia baru membungkukkan badan dan memungut kembali rantai emas tersebut.
Ketika memegang rantai emas tersebut di tangannya, tiba-tiba titik air mata jatuh berlinang membasahi telapak tangannya itu.
Rantai emas itu dingin, tapi air mata itu panas....
Tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut dan akhirnya menangis, dia berusaha keras untuk menahan isak tangisnya agar tidak sampai terdengar orang lain.
Sebab dia tak ingin orang lain mendengar isak tangisnya itu.
Inilah rahasianya, juga merupakan penderitaannya yang terbesar dalam sejarah hidupnya, dia tak ingin orang lain mengetahui rahasia ini, juga tak ingin menyaksikan orang lain ikut memikul penderitaannya itu.
Oleh sebab itulah tak pernah ada yang tahu berapa dalamkah penderitaannya itu, dan berapa dalam membekas dalam hatinya.
Sekalipun peristiwa itu sudah usang, sudah terjadi lama sekali, tapi tiap kali teringatnya, ia akan merasakan hatinya hancur lebur.
Ia tahu sepanjang hidupnya penderitaan tersebut akan selalu menempel di tubuhnya, sampai matipun tak akan terselesaikan.
Kejadian yang barusan dialamipun cukup menyiksa perasaannya.
Sesungguhnya ia lebih suka mati daripada kehilangan sahabat-sahabatnya itu.
Tapi ia tidak memberi penjelasan apa-apa, sebab dia tahu mereka tak akan memaafkan dirinya, karena dia sendiripun tak dapat memaafkan dirinya sendiri.
Mungkin di dunia ini terdapat semacam penderitaan yang benar-benar menyiksa, yaitu penderitaan yang tak bisa disampaikan kepada orang lain.
"Aku tak bisa berbicara..... aku tak bisa mengatakannya...."
"Mengapa aku masih punya muka untuk tetap tinggal di sini?"
Angin yang berhembus di luar ruangan semakin kencang, udara semakin dingin, sambil menggigit bibir dia menyeka air matanya lalu bangkit berdiri, bagaimanapun keji dan tidak berperasaannya dunia luar, ia telah bersiap sedia untuk menerima dan merasakannya sendiri.
Ia telah melakukan kesalahan, tentu saja dia harus menanggungnya, tapi dia enggan memberi penjelasan, apalagi minta maaf.
Sekalipun di depan temannya, dia juga enggan.
Tapi Thian tahu, sesungguhnya dia menganggap sahabat lebih berharga daripada nyawa sendiri.
"Selamat tinggal teman-temanku, suatu hari kalian pasti akan memahami diriku. Sampai waktu itu kami masih tetap sebagai teman, tapi sekarang...."
Air matanya tak terbendung lagi dan jatuh bercucuran bagaikan sebuah anak sungai.
Ketika dia mengangkat tangannya hendak menyeka air mata di wajahnya, tiba-tiba ia melihat Yan Jit.
Bukan cuma Yan Jit saja, diapun melihat Ong Tiong serta Lim Tay-peng.
Entah sedari kapan mereka telah masuk kembali ke dalam ruangan itu dan berdiri di sana dengan tenang dan memandang ke arahnya dengan tenang.
Ia tidak melihat mimik wajah mereka bertiga, tapi dia dapat menangkap tiga pasang sinar mata yang jeli.
Diapun berharap agar mereka jangan melihat wajahnya, bekas air mata di atas wajahnya.
Dia mendehem pelan, kemudian tegurnya.
"Bukankah kalian hendak pergi tidur ?"
"Kami tak bisa tidur !"
Jawab Lim Tay-peng. Kwik Tay-lok tertawa paksa, katanya lagi.
"Sekalipun tak bisa tidur, seharusnya berbaring dibalik selimut, dalam udara sedingin ini tempat mana lagi yang lebih enak daripada dibalik selimut ?"
"Ada !"
Kata Ong Tiong.
"Tempat ini jauh lebih nyaman daripada dibalik selimut."
Sambung Yan Jit lebih jauh.
"Apanya yang enak dengan tempat ini ?"
"Hanya satu hal !"
Kata Ong Tiong lagi.
"Di sini ada teman, dibalik selimut tidak ada."
Sambung Yan Jit.
Tiba-tiba Kwik Tay-lok merasakan munculnya segulung hawa panas dari hati kecilnya yang mana seakan-akan membuat tenggorokannya menjadi tersumbat.
Lewat lama, lama sekali, dia baru bisa berbicara lagi, dengan kepala tertunduk katanya.
"Disinipun tak ada teman, aku sudah tak pantas menjadi teman kalian lagi!"
"Siapa yang bilang"
Tanya Ong Tiong.
"Aku tidak bilang!"
Seru Yan Jit.
"Aku juga tidak!"
Sambung Lim Tay-peng.
"Kami semua datang kemari hanya ingin mengucapkan sepatah kata.
"Kaa.... katakanlah"
Sahut Kwi Tay-lok sambil mengepal tangannya kencang-kencang.
"Kami semua dapat memahami dirimu dan percaya kepadamu, apapun yang telah terjadi, kau tetap adalah teman kami!"
Inilah yang dinamakan teman.
Mereka dapat membagikan kebahagiaannya kepadamu, merekapun bersedia memikulkan sebagian dari penderitaan-mu.
Bila kau ada kesulitan, mereka bersedia membantu.
Bila kau ada bahaya, mereka bersedia menolong.
Sekalipun kau benar-benar melakukan kesalahan, mereka juga dapat mengerti.
Berada di depan teman semacam ini rahasia apa lagi yang tak dapat kau utarakan.
Angin masih berhembus kencang di luar ruangan, udara masih dingin sekali.....
Suasana dalam ruangan itupun masih gelap gulita.
Tapi waktu itu yang mereka rasakan hanya kehangatan dan ketenangan.
Sebab mereka tahu dirinya telah mempunyai teman, seorang teman yang sejati.
Dimana ada teman sejati, di situ ada kehangatan, di sana suasana terasa terang benderang.
"Apapun yang bakal terjadi, kau adalah teman kami !"
Darah panas dalam tubuh Kwik Tay-lok terasa bagaikan sedang mendidih.
Sebenarnya, ia lebih suka mati dari pada mengucurkan airmata di depan mata orang lain, tapi sekarang air matanya sedang bercucuran dengan amat derasnya.
Sebenarnya dia lebih suka mati daripada mengungkapkan rahasia serta penderitaan yang terpendam dalam hatinya, tapi sekarang ia telah mengungkapkannya.
Tiada orang lain bisa membuatnya berbuat demikian selain sahabat sejati.
Akhirnya dia menceritakan rahasianya...
Di desa kelahiran Kwik Tay-lok terdapat seorang gadis yang amat cantik jelita, dia bernama Cu Cu.
Ia jatuh cinta kepada Cu cu dan Cu Cu juga jatuh cinta kepadanya.
Dengan tulus hati dan segala perasaannya dia mencintai Cu Cu, ia pernah berkata kepada gadis itu, ia bersedia mengorbankan segala-galanya, termasuk jiwa raganya demi cintanya kepada gadis itu.
Ia tidak seperti lelaki lain, hanya janji palsu atau ucapan di depan bibir saja.
Ia benar-benar sanggup melakukan seperti apa yang telah dia ucapkan itu.
Cu Cu amat miskin, tapi menanti sepasang orang tua Kwik Tay-lok sudah meninggal, ia tidak miskin lagi.
Karena dia tahu bahwa gadis itu miliknya, gadis itupun berkata bahwa seluruh badannya adalah miliknya juga.
Untuk membuat gadis itu percaya kepadanya, untuk menggembirakan hatinya, ia bersedia untuk melakukan perbuatan apapun.
Kemudian diapun menemukan suatu peristiwa yang memedihkan hatinya.
Ternyata Cu Cu tidak mencintainya dengan setulus hati.
Seperti juga kebanyakan perempuan lain, apa yang dikatakannya hanya di bibir saja.
Gadis itu pernah berjanji, kecuali kawin dengannya, dia tak akan kawin dengan siapapun.
Bahkan mereka sudah menetapkan hari perkawinan mereka.
Tapi sehari sebelum pesta perkawinan mereka, gadis itu telah kawin lebih dulu, kawin dengan orang lain.
Ia telah menghianati semua cinta kasih yang diberikan Kwik Tay-lok kepadanya, gadis itu telah minggat bersama orang lain.
Rantai emas itu adalah tanda mengikat tali perkawinan yang di hadiahkan gadis itu kepadanya.
Benda itu merupakan pula satu-satunya benda yang pernah diberikan gadis itu kepadanya.
Tak seorangpun yang bersuara, semua orang tak tahu bagaimana harus berkata.
Akhirnya Kwik Tay-lok sendiri yang memecahkan kesunyian tersebut, tiba-tiba katanya sambil tertawa.
"Selama hidup jangan harap kalian bisa menduga dengan siapakah ia minggat dari rumahku !"
"Siapa ?"
Tanya Lim Tay-peng.
"Kacungku !"
Sesudah tertawa bergelak, terusnya.
"Selama ini aku memandangnya sebagai orang yang paling agung di dunia ini, bahkan kupandang dirinya bagaikan bidadari dari kahyangan, tapi akhirnya dia telah minggat dengan kacungku, haaahhh... haaahhh... haaahhh... coba bayangkan, lucu tidak kejadian ini ?"
Tentu saja tidak lucu, tak seorangpun yang merasa kejadian ini lucu dan menggelikan.
Hanya Kwik Tay-lok seorang yang masih saja tertawa terus, sebab dia kuatir bila tertawanya terhenti, bisa jadi dia akan menangis.
Lama sekali dia tertawa tergelak-gelak, mendadak katanya lagi.
"Kejadian ini benar-benar telah memberi suatu pelajaran yang sangat baik bagiku !"
"Pelajaran apa ?"
Tanya Lim Tay-peng.
Sesungguhnya dia bukan benar-benar ingin bertanya, dia hanya merasa tidak seharusnya membiarkan Kwik Tay-lok berbicara seorang diri.
Dia merasa sudah sepantasnya kalau menunjukkan perasaan yang amat simpatik kepadanya.
"Pelajaran ini adalah seorang lelaki janganlah terlalu mengagung-agungkan perempuan, bila kau terlalu mengagungkan dirinya, dia akan menganggap dirimu sebagai orang bodoh, menganggap kau sama sekali tak ada harganya...."
Kata Kwik Tay-lok..
"Kau keliru !"
Tiba-tiba Yan Jit menukas.
"Siapa bilang aku salah ?"
"Gadis itu berbuat demikian, bukan lantaran kau terlalu mengagumkan dirinya.... bila seorang gadis sampai berbuat demikian, biasanya hanya satu alasannya."
"Apa alasannya."
"Pada dasarnya dia memang seorang gadis yang jelek perangainya."
Kwik Tay-lok termenung sampai lama sekali, akhirnya pelan-pelan dia mengangguk, sahutnya sambil tertawa getir.
"Itulah sebabnya aku sama sekali tidak menyalahkan dirinya, aku hanya menyalahkan diriku sendiri, menyalahkan aku telah salah melihat orang..."
"Pandangan inipun tidak benar!"
Tiba-tiba Ong Tiong menyela.
"Tidak benar ?"
"Selama ini kau menderita karena persoalan ini, hal mana dikarenakan kau selalu menganggap dia telah membohongi dirimu, kau selalu merasa kau telah dicampakkan orang dengan begitu saja."
"Sesungguhnya memang demikian, memangnya aku salah ?"
"Paling tidak kau harus membawa pandanganmu itu ke sudut yang lain."
"Ke sudut yang bagaimana ?"
"Kau harus mengalihkan pandanganmu ke sudut yang baik."
Kwik Tay-lok termenung, lalu sambil tertawa getir gelengkan kepalanya berulang-ulang kali.
"Sayang aku tak dapat berpikir sampai ke situ."
"Pernahkah kau menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri, ia sedang berpacaran atau melakukan sesuatu perbuatan yang tidak senonoh dengan kacungmu itu ?"
"Tidak pernah !"
"Lantas atas dasar apakah kau menuduhnya kabur bersama kacungmu ?"
Kwik Tay-lok menjadi tertegun.
"Aku..... aku bukan cuma aku seorang yang berpendapat demikian, hampir setiap orang yang berada di desaku berpendapat demikian,"
Katanya kemudian.
"Kalau orang lain berpendapat demikian, lantas kau berpendapat demikian ? kalau orang lain beranggapan kau harus makan tahi, kaupun akan turuti anggapan mereka dan makan tahi?"
Kwik Tay-lok terbungkam dan tak mampu berbicara lagi.
"Setiap orang tentu mempunyai pandangan yang sempit,"
Kata Ong Tiong lebih jauh.
"orangorang itu pada hakekatnya tidak dapat memahami perasaan gadis itu, tanpa dasar yang kuat, bisakah dikatakan pandangan mereka pasti benar? Apalagi sesama sahabat karibpun, kadangkala juga akan terjadi kesalahan paham"
Setelah tertawa, pelan-pelan lanjutnya.
"Misalnya saja peristiwa yang barusan terjadi, besar kemungkinan kami akan salah paham kepadamu, bisa jadi kami akan menganggapmu si pelit, menganggapmu tidak bersetia kawan."
"Tapi kenyataannya dia dan kacungku telah lenyap secara tiba-tiba pada hari yang sama."
Seru Kwik Tay-lok.
"Mungkin saja hal ini merupakan suatu kebetulan."
"Aaah.... mana mungkin ada suatu kejadian yang begini kebetulannya....?"
"Ada. Bukan saja ada, bahkan seringkali ada !"
"Lantas mengapa mereka bisa kabur pada saat yang bersamaan ?"
"Siapa tahu kacungmu itu merasa pekerjaannya selama ini tidak cukup berpenghasilan, maka dia ingin pindah ke tempat lain untuk mengembangkan bakatnya."
"Bagaimana dengan Cu Cu? Alasan apa yang dia miliki untuk minggat dari sana ? Bahkan tandu pengantin pun sudah kupersiapkan."
"Siapa bilang tiada alasannya untuk pergi? Siapa tahu pada malam itu secara tiba-tiba terjadi suatu peristiwa yang sama sekali di luar dugaanmu, siapa tahu karena persoalan tersebut dia dipaksa untuk segera angkat kaki dari sana ? Mungkin juga ia sudah tidak bebas lagi, atau diikat orang dan dibawa lari."
"Yaa, mungkin juga selama itu dia ingin menjelaskan sesuatu hal kepadamu, tapi ia tak mempunyai kesempatan tersebut,"
Sambung Lim Tay-peng pula. Yan Jit menghela napas panjang, katanya pula.
"Seringkali di dunia ini memang bisa terjadi peristiwa memedihkan hati, mungkin sekali dengan jelas mengetahui kalau orang lain sudah menaruh kesalahan padamu terhadap dirinya, sekalipun dirinya jelas sudah terfitnah, namun sulit untuk memberi penjelasan."
"Yang lebih memedihkan lagi jika orang lain sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk memberi penjelasan,"
Terus Lim Tay-peng.
"Dan yang paling memedihkan lagi adalah ada sementara persoalan yang hakekatnya tak bisa dijelaskan kepada orang lain misalkan saja...."
"Misalkan saja kejadian tadi,"
Sambung Kwik Tay-lok sambil menghela napas.
"Sebenarnya aku tak ingin memberi penjelasan, bila kalian datang aku sudah pergi, mungkin saja kalian akan menaruh kesalahan-paham terus kepalaku."
"Benar, sekarang tentunya kau sudah mengerti bukan?"
Kata Ong Tiong. Kwik Tay-lok manggut-manggut.
"Makanya dalam mengungkap satu kejadian, seringkali harus dikupas dari pelbagai pandangan."
Kata Ong Tiong lebih lanjut.
"Bila kau mau mengupas masalahnya dari sudut yang baik, hidupmu di dunia ini baru akan terasa senang dan gembira."
Sayang ada orang justru tak mau berbuat demikian."
Seru Yan Jit.
"justru orang lebih suka berpikir ke sudut yang jeleknya saja, justru suka mencari kemurungan buat diri sendiri."
"Orang semacam ini bukan saja gobloknya setengah mati, bahkan boleh dibilang sedang mencari kesulitan buat diri sendiri, mencari siksaan buat diri sendiri. Aku rasa tentunya kau bukan manusia semacam ini bukan."
Kwik Tay-lok segera tertawa sahutnya lantang.
"Siapa mengatakan aku adalah manusia semacam ini, kuhajar hidungnya sampai ringsek"
Ong Tiong masih berbaring di atas pembaringan, ketika secara tiba-tiba mendengar Kwik Taylok sedang berteriak dari luar sana.
"Mertua datang !"
Kwik Tay-lok tak punya mertua. Yang dimaksudkan "mertua"
Adalah penyayat kulit hidup, si pemilik rumah pegadaian.
Biasanya pemilik rumah pegadaian tentu bertampang saudagar, berbadan gemuk dan tersenyum berwajah kemerah-merahan.
Tapi si penyayat kulit hidup ini kering kerontang seperti kelinci kelaparan, mana matanya sipit, punggungnya bongkok kecil lagi orangnya, mengingatkan orang pada seekor tikus yang sedang mencuri ikan asin.
Walaupun selama ini Ong Tiong sering berkunjung ke rumahnya, baru kali ini dia berkunjung kemari.
Maka mau tak mau terpaksa Ong Tiong harus bangun dari tidurnya.
Bila seorang penyayat kulit bersedia naik gunung untuk berkunjung kepada seseorang, biasanya hanya ada satu alasan baginya.
Alasan tersebut tak jauh berbeda daripada seekor musang yang berkunjung ke rumah sang ayam.
Ketika Ong Tiong masuk ke ruang tamu, kebetulan Kwik Tay-lok sedang bertanya sambil tersenyum.
"Angin apa yang membawamu sampai ke mari?"
Dia tahu paling tidak Ong Tiong sudah menggunakan dua puluhan macam cara untuk menjual rumah ini, sayangnya sekalipun rumah itu hendak diberikan kepada orang lain, belum tentu orang bersedia menerimanya.
Si penyayat kulit hidup gelengkan kepalanya berulang kali, lalu sahutnya sambil tertawa kering.
"Mana aku mampu untuk membeli rumah sebesar ini? Sejak bertemu kalian, hampir saja modalku ludas!, tidak menjual rumah sudah termasuk mujur."
"Kalau ia bersedia menjual murah, apakah kau bersedia membelinya....?"
Desak Kwik Tay-lok.
"Buat apa kubeli rumah ini ?"
"Kau toh bisa memberikan lagi kepada orang lain, atau digunakan saja untuk diri sendiri."
Si Hoat-liok-pi (penyayat kulit hidup) segera tertawa menyeringai.
"Orang yang tak punya penyakit sinting, tak nanti bersedia tinggal di rumah ini."
Baru saja Kwik Tay-lok ingin mendesak lebih jauh, mendadak Hoat-liok-pi bertanya.
"Apakah saat ini kalian sangat membutuhkan uang?"
Ong Tiong segera tertawa.
"Kapan sih kami pernah tidak butuh uang?"
Sahutnya.
"Nah, kalau memang begitu, bersediakah kalian mendapat untung sebesar lima ratus tahil perak?"
Tentu saja semua orang ingin.
Tapi siapapun tahu, tidak gampang untuk mencari untung sebesar itu dari tangan Hoat liok pi, bahkan akan jauh lebih susah dari mencabut rumput harimau.
Walau begitu, lima ratus tahil perak merupakan suatu daya tarik yang besar sekali.
Maka sambil mengerdipkan matanya Kwik Tay-lok bertanya.
"Kau maksudkan lima ratus tahil perak"
"Yaa, lima ratus tahil perak?"
Kwik Tay-lok memperhatikannya sekejap dari atas sampai ke bawah, kemudian tegurnya.
"Mungkin kau sedang mabuk?"
"Tidak, aku sadar sekali, asal kalian setuju, sekarang juga aku boleh membayar persekot dua ratus lima puluh tahil perak!"
Ia selalu percaya dengan beberapa orang ini, sebab dia tahu walaupun orang-orang itu miskin, tapi setiap patah katanya lebih bernilai daripada emas.
Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Bagaimana caranya untuk bisa mendapat untung sebesar itu?"
"Gampang sekali asal kalian bersedia turut aku pergi ke kota sian-sia sebentar saja, uang itu bisa kalian dapatkan"
"Sebentar saja? Bagaimana caranya ke sana?"
Hoat-liok pi segera tertawa.
"Tentu saja berjalan dengan sepasang kaki"
Katanya. Kwik Tay-lok coba maju dua langkah, kemudian tanyanya lagi.
"Apakah jalan dengan cara begini?"
"Ehmm ..!"
"Kemudian ?"
"Kemudian kalian boleh membawa lima ratus tahil perak ini dan pulang kerumah!"
"Tak ada pekerjaan lain?"
"Tidak ada!"
Kwik Tay-lok segera memandang ke arah Ong Tiong, kemudian ujarnya sambil tertawa.
"Hanya berjalan sebentar saja bisa mendapat untung lima ratus tahil perak, pernahkah kau dengar kejadian semacam ini"
"Belum pernah!"
"Masih ada banyak persoalan yang belum pernah kalian dengar, tapi semuanya juga tidak bohong"
Sambung Hoat-liok-pi segera.
"Kau juga bukan bohong-bohong memberi uang kepada kami?"
Hoat-liok-pi kembali menghela napas panjang.
"Aaai... belakangan ini usahaku memang makin lama semakin sulit untuk dikerjakannya, yang menggadaikan lebih banyak dari pada yang menebus, barang yang telah digadaikan pun susah dijual lagi, modal yang kubutuhkan tidak sedikit jumlahnya"
Ong Tiong manggut-manggut, sikapnya seperti menunjukkan rasa simpatik yang besar. Kwik Tay-lok tak bisa menahan diri lagi, kembali dia bertanya.
"Kalau memang dagangmu dagang yang melulu merugi, kenapa kau masih mengerjakannya."
Hoat-liok-pi kembali menghela napas.
"Haaai.... apa boleh buat"
Katanya.
"siapa suruh aku memilih pekerjaan semacam ini sedari dulu?"
"Oleh karena itu, uang yang lima ratus tahil perak itu lebih baik kau gunakan sendiri secara pelan-pelan."
"Itu mah berbeda"
Seru Hoat-liok-pi lagi.
"kalau soal itu, aku sendiri yang bersedia memberi untung buat kalian"
"Uangmu tidak diperoleh secara gampang, sedang kami hanya pergi sebentar saja sudah mendapat lima ratus tahil, pekerjaan semacam ini mana dapat kulakukan?"
Di atas paras muka Hoat-liok-pi yang pucat kelihatan agak merah, sesudah mendehem beberapa kali, katanya lagi.
"Kenapa musti tidak enak? Apalagi aku suruh kalian menemani aku, tentu saja aku pun mempunyai tujuan tertentu"
"Apa tujuanmu?"
Sekali lagi Hoat-liok-pi mendehem beberapa kali, kemudian tertawa paksa, katanya.
"Jangan kuatir, pokoknya aku tak akan menyuruh kalian menjadi perampok, juga tak akan menyuruh kalian membunuh orang"
"Kau juga tak usah kuatir, pokoknya aku tak akan pergi"
Kata Ong Tiong. Mendengar jawaban tersebut, Hoat-liok-pi menjadi tertegun.
"Lima ratus tahil perak bukan jumlah yang kecil, apakah kau tidak menginginkannya ?"
Dia berseru.
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Tiada alasan"
Setelah termangu-mangu sekian lama, tiba-tiba Hoat liok-pi berkata lagi sambil tertawa.
"Kalau kau seorang diri tak mau pergi juga tidak mengapa, aku masih ada...."
"Dia bukan seorang diri"
Tiba-tiba Yan Ji menyela.
"Jadi kau juga tidak pergi?"
"Aku juga tidak pergi, lagi pula tiada alasan, pokoknya kalau tidak pergi yaa tidak pergi !."
Sambil tertawa Lim Tay-peng berkata pula.
"Sebenarnya aku masih mengira hanya aku seorang yang tak ingin pergi, siapa tahu semua orang juga sama saja"
Hoat-liok pi menjadi amat gelisah, teriaknya keras-keras.
"Apakah uangku tidak baik? Apakah kalian belum pernah menerimanya dari tanganku?"
"Bila kami menginginkan uang kami pasti akan membawa barang untuk digadaikan"
Kata Ong Tiong hambar.
"Aku tidak mau dengan barang kalian, asal kamu sekalian mau ikut aku pergi sebentar, uang lima ratus tahil perak segera akan menjadi milik kalian tapi kalian justru tidak mau? "Benar!"
Hoat liok pi, seakan-akan hendak melompat ke udara, teriaknya keras-keras.
"Sebenarnya kalian mengidap penyakit atau tidak...? Aku lihat cepat atau lambat suatu hari kalian bakal mati kelaparan.. manusia macam kalian bila dikatakan tidak miskin, itu aneh namanya."
Ong Tiong sekalian memang mengidap sedikit penyakit.
Mereka lebih suka mati karena kemiskinan atau mati karena kelaparan daripada menerima yang tidak jelas asal usulnya.
Mengambil barang untuk digadaikan bukan sesuatu yang memalukan, bahkan hampir berbagai macam barang sudah pernah mereka gadaikan.
Tapi mereka cuma menggadaikan barang, tidak menggadaikan orang.
Mereka lebih suka menggadaikan celana sendiri sekalipun, tapi mereka akan mempertahankan nama baik serta naluri mereka yang suci bersih.
Mereka hanya mau melakukan pekerjaan yang mereka bersedia lakukan, takkan merasa bahwa pekerjaan itu seharusnya dilakukan..Setiap orang tentu akan berkunjung ke kakus, bahkan setiap hari paling tidak juga tujuh delapan kali.
Perbuatan semacam ini tidak kotor, tidak pula lucu, tapi suatu kejadian yang umum dan lumrah, bahkan pasti dilakukan dan sesungguhnya tidak perlu disinggung lagi.
Jika ada orang hendak menulis hal tersebut, maka ceritanya akan berkepanjangan dan tak ada habisnya.
Tapi ada kalanya kejadian seperti inipun perlu disinggung, misalnya sekarang ini.
Ong Tiong memang baru saja keluar dari kakus, setiap pagi setelah bangun tidur pekerjaan pertama yang dilakukannya adalah berkunjung ke kakus.
Ketika ia kembali ke ruang tamu, dilihatnya paras muka Yan Jit dan Lim Tay-peng agak istimewa, seakan-akan dalam hati kecilnya ada persoalan yang hendak dikatakan, tapi tidak ingin pula diucapkan.
Maka Ong Tiong juga tidak bertanya, ia selalu pandai membawa diri, lagi pula dia juga tahu didalam keadaan seperti ini, bila mau ingin bertanya maka lebih baik menanti sampai mereka yang membicarakannya sendiri.
Benar juga, Yan Jit tak bisa menahan rasa hatinya, tiba-tiba ia berkata.
"Mengapa kau tidak bertanya ?"
"Bertanya apa ?"
"Tidakkah kau melihat di sini telah kekurangan seseorang ?"
Ong Tiong manggut-manggut.
"Agaknya memang kurang seorang!"
Sahutnya. Yang tidak nampak adalah Kwik Tay-lok.
"Mengapa tidak kau tanyakan kemana dan telah pergi?"
Tanya Yan Jit lagi. Ong Tiong segera tertawa.
"Kemanapun dia juga tak menjadi soal, tapi bila kau memaksa juga untuk bertanya kepadaku, tak ada halangannya pula bagiku untuk bertanya."
Pelan-pelan dia duduk, kemudian setelah berlagak mencari kian kemari, tanyanya seperti orang keheranan.
"Heeh... kemana perginya Siau Kwik?"
"Jangan harap kau bisa menebak untuk selamanya,"
Tiba-tiba Yan Jit tertawa dingin.
"Justeru karena aku tak bisa menebaknya, maka aku baru bertanya."
Yan Jit menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu berkata.
"Sudah pasti ia menyusul Hoat liok-pi, begitu Hoat liok pi angkat kaki, dia segera mengejarnya dari belakang."
Sekarang Ong Tiong baru merasa agak keheranan, dengan kening berkerut ujarnya.
"Mau apa dia mengejar Hoat liok pi.?"
Yan Jit membungkam, paras mukanya agak hijau membesi, Ong Tiong menatapnya sekejap, lalu bergumam.
"Masa dia bersedia berkomplot dengan Hoat liok pi gara-gara uang yang lima ratus tahil perak itu?"
Sesudah menggelengkan kepalanya berulang kali dia melanjutkan.
"Aku tak akan percaya dengan kejadian semacam ini, sebab Siau Kwik bukan manusia macam begitu?"
"Sesungguhnya akupun tak ingin mempercayainya, tapi mau tak mau aku harus mempercayainya juga."
"Kenapa?"
"Sebab aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri!"
"Menyaksikan apa?"
"Menyaksikan dia berbicara hampir setengah harian lamanya dengan Hoat liok pi, kemudian Hoat liok pi mengeluarkan sekeping uang yang diserahkan kepadanya dan diapun pergi bersama Hoat Iiok pi."
Ong Tiong agak tertegun sesudah mendengar ucapan tersebut.
"Mengapa kau tidak menyusul dan bertanya kepadanya? Ia bertanya kemudian. Yan Jit tertawa dingin.
"Buat apa aku harus menyusulnya? Aku toh tidak berniat untuk menjadi komplotannya Hoatliok-pi."
Tiba-tiba Lim Tay-peng menghela napas, katanya.
"Seandainya dia cuma menemaninya dia pergi sebentar ke kota, itu mah tak menjadi soal, tapi aku lihat persoalan ini tak akan sedemikian sederhananya"
Tentu saja tak akan sedemikian sederhananya...
Andaikata Hoat-liok-pi benar-benar hanya bermaksud mencari teman, tidak sedikit orang di tepi jalan yang bersedia menemaninya meski hanya di bayar lima tahil perak, mengapa pula dia musti datang kemari mencari mereka, bahkan bersedia membayar lima ratus tahil perak?
Sesudah berhenti sebentar, Lim Tay-peng berkata lebih jauh.
"Hoat-liok-pi sendiri juga telah berkata, dia berbuat sedemikian karena ada maksud tertentu, aku lihat perbuatan yang di lakukannya sudah pasti bukan perbuatan baik"
"Hanya ada semacam persoalan yang bisa membuat manusia macam Hoat-liok-pi bersedia mengeluarkan uang sebesar lima ratus tahil perak untuk diberikan kepada orang lain"
"Persoalan macam apakah itu?"
"Persoalan yang bisa memberi keuntungan lima ribu tahil perak kepadanya!"
"Betul!"
Seru Lim Tay-peng.
"andaikata persoalan itu tidak menguntungkan, tak nanti ia bersedia merogoh kocek sendiri untuk mengeluarkan lima ratus tahil perak untuk orang lain"
"Persoalan yang bisa memberi untung besarpun biasanya hanya semacam persoalan"
"Persoalan apakah itu?"
"Perbuatan yang malu diketahui orang"
"Benar, aku lihat kalau dia bukan pergi mencuri, tentu sedang pergi menipu, tapi kuatir orang lain tidak sungkan kepadanya setelah konangan, maka diapun datang mencari kita untuk menjadi tukang pukulnya..!" (Bersambung ke
Jilid 12)
Jilid 12 Setelah menghela napas panjang, terusnya.
"Masa teori semacam ini tak dapat diduga oleh Kwik Tay lok?"
Yan Jit kembali tertawa dingin.
"Bahkan kau sendiripun dapat memikirkannya, masa dia tak bisa berpikir sampai ke situ? Dia toh tidak lebih goblok dari siapapun."
Selama ini Ong Tiong memperhatikan terus perubahan mimik wajahnya, pada saat itu tiba-tiba ia berseru.
"Bila kau beranggapan bahwa ia tak pantas untuk pergi, mengapa kau tidak bermaksud untuk menghalanginya ?"
"Hmm! "
Yan Jit mendengus dingin.
"jika seseorang sudah ingin menceburkan diri ke dalam kubangan, sekalipun orang lain berniat untuk menahannya juga belum tentu bisa melakukannya." -oo0000000oo-"MAKA kaupun membiarkan dia terjun ke dalam kubangan tersebut?"
Tanya Ong Tiong lagi. Sambil menggigit bibir Yan Jit berbisik.
"Aku..... aku....."
Mendadak ia membalikkan badan dan menerjang keluar dari situ, orang yang bermata tajam pasti dapat melihat matanya berkaca-kaca ketika menerjang keluar dari sini, agaknya air mata itu melompat keluar karena....
Kebetulan Ong Tiong juga bermata tajam.
Seorang diri ia duduk termangu sampai setengah harian lamanya, kemudian setelah menghela napas gumamnya.
"Cinta yang mendalam mendatangkan tanggung jawab yang berat, tampaknya ucapan ini sedikitpun tak salah."
"Hei, apa yang sedang kau katakan?"
Tiba-tiba Lim Tay-peng menegur. Ong Tiong tertawa lebar.
"Aku sedang berkata, sampai detik ini aku masih belum percaya kalau siau Kwik bisa melakukan perbuatan semacam ini, bagaimana dengan kau ?"
Lim Tay-peng agak sangsi sejenak, kemudian sahutnya.
"Aku... aku sendiri juga kurang percaya."
"Tapi paling tidak kau menaruh sedikit rasa curiga kepadanya bukan?"
"Benar !"
"Tapi Yan Jit sama sekali tidak curiga, ia sudah yakin kalau siau Kwik pasti melakukan perbuatan itu, tahukah kau mengapa ia sampai bersikap demikian?"
Lim Tay-peng berpikir sebentar, lalu menjawab.
"Aku sendiripun merasa agak keheranan, padahal hubungannya dengan siau Kwik kelihatan luar biasa baiknya."
Kembali Ong Tiong menghela napas.
"Aaai.... justru karena hubungannya kelewat akrab, maka dia baru bersikap demikian."
Lim Tay-peng mencoba untuk berpikir sejenak, kemudian tanyanya lagi.
"Kenapa demikian? Aku tidak mengerti."
"Lenyapnya Cu Cu secara tiba-tiba kita semua bisa berpikir pada kemungkinan lain yang mungkin terjadi, tapi siau Kwik tak dapat menduganya, maka dia selalu berpikir ke sudut pandangan yang paling buruk, tahukah kau apa sebabnya demikian?"
"Karena dia sangat mencintai Cu Cu bahkan dalam sekali cintanya, karena itu..."
"Karena itu otaknya menjadi kurang jelas, betul bukan?"
Seru Ong Tiong kembali.
"Benar!"
Cinta dapat membutakan orang, teori ini tidak sedikit yang memahaminya.
"Bila kau menaruh cinta yang amat mendalam terhadap seseorang, maka kesimpulan yang kau ambil atas dirinya belum tentu selalu benar, karena biasanya kau hanya melihat kebaikankebaikannya, tapi asal ada sedikit perobahan atau pukulan saja yang kau terima, maka kau segera akan merasa kesal dan murung, maka tak tahan lagi kau akan membawa jalan pikiranmu ke sudut pandangan yang terjelek"
Tiba-tiba Lim Tay-peng tertawa, katanya.
"Aku dapat memahami maksudmu, cuma aku perumpamaan ini kurang begitu cocok"
"Oya ?"
"Kenapa kau membawa hubungan Cucu dan Siau-Kwik sebagai perumpamaan?"
Kata Lim Tay-peng sambil tertawa.
"hubungan cinta Siau-Kwik dengan Cucu mana bisa disamakan hubungan batin antara Yan Jit dengan siau-Kwik ...? Kan lucu?"
Ong Tiong ikut tertawa.
Ia seperti merasa sudah salah berbicara, diapun seperti merasa ucapannya terlampau banyak, maka dia tidak berbicara apa-apa lagi.
Cuma dia masih saja tertawa, bahkan istimewa sekali tertawanya itu.
Menanti ia saksikan Yan Jit sedang berjalan lewat halaman hendak keluar rumah, ia baru berkata lagi.
"Kau ingin pergi ?"
Sepasang mata Yan Jit masih merah membengkak, tapi dia paksakan dari untuk tertawa juga, sahutnya.
"Hari ini udara amat cerah, aku ingin ke luar rumah untuk berburu"
"Aku juga akan ikut berburu"
Kata Lim Tay-peng sambil berdiri.
"jika hari ini kita tidak berburu lagi, mungkin kita benar-benar akan mati kelaparan!"
Ong Tiong segera tertawa. katanya.
"Kalau toh di saku siau-Kwik ada uang, dia pasti tak akan membiarkan kita mati kelaparan, mengapa kau tidak menunggu sampai dia pulang lebih dahulu?"
Yan Jit segera menarik mukanya seraya berseru.
"Kenapa aku harus menunggu sampai dia pulang?"
"Anggap saja karena aku, mau bukan?"
Yan Jit segera menundukkan kepalanya dan berdiri kaku di tengah halaman rumah.
Walaupun udara amat cerah, angin berhembus kencang dan menimbulkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Tapi Yan Jit seakan-akan sama sekali tidak merasa dingin, dia berdiri termangu sampai lama sekali di sana, kemudian dengan suara dingin baru katanya.
"Andaikata ia tidak kembali?"
"Kalau dia tidak kembali, aku akan mengundang kalian makan daging anjing..."
Kata Ong Tiong sambil tertawa lagi.
"Dalam udara sedingin ini, kemana kau hendak mencari anjing?"
Tak tahan Lim Tay-peng berseru.
"Tak usah dicari lagi, disinipun masih ada seekor!"
"Mana anjingnya ?"
Sambil menuding hidung sendiri sahut Ong Tiong.
"Ini dia, disini !"
Lim Tay-peng mengerdipkan matanya berulang kali, sambil menahan rasa geli serunya.
"Kau juga seekor anjing?"
"Bukan cuma seekor anjing, bahkan seekor anjing kampungan."
Akhirnya Lim Tay-peng tak kuasa menahan gelinya lagi dan tertawa terpingkal-pingkal. Ong Tiong sama sekali tidak tertawa, dengan hambar katanya lebih lanjut.
"Bila seorang sama sekali tak bisa membedakan manusia macam apakah sahabatnya itu, kalau bukan anjing kampungan lantas apa namanya?"
Ong Tiong bukan anjing kampungan.
Dengan cepat Kwik Tay lok telah pulang kembali, bahkan masih membawa bungkusan besar, bungkusan kecil dan setumpuk bahan makanan lainnya.
Dalam bungkusan kecil terdapat daging dalam bungkusan besar terdapat bakpao, dalam bungkusan paling kecil terdapat kacang.
Kalau toh ada kacang, tentu saja tak akan lupa ada arak.
Sambil tertawa Kwik Tay lok segera berkata.
"Sekarang aku mulai agak rindu dengan Moay Lo-khong, semenjak ia pergi dari sini, agaknya ditempat ini sudah tak ditemukan lagi seorang tukang masak yang jempolan"
"Paling tidak masih ada seorang!"
Sela Ong Tiong.
"Siapa?"
"Kau, bila kau membuka restoran, sudah pasti dagangmu akan laris"
"Waah, ini memang suatu ide yang bagus"
Kata Kwik Tay-lok sambiI tertawa, cuma sayang masih ada satu hal yang tidak bagus.. ."
"Hal yang mana?"
"Bagaimanapun baiknya daganganku dan larisnya masakanku tidak sampai tiga hari pasti akan tutup pintu."
"Mengapa?"
Kwik Tay-lok tertawa, sahutnya.
"Sekalipun aku tidak menghabiskan daganganku sendiri kalian juga pasti akan melahapnya sampai ludas."
Tiba-tiba Yan Jit tertawa dingin, jengeknya.
"Tak usah kuatir aku tak akan makan milikmu."
Sebenarnya Kwik Tay-lok masih tertawa akan tetapi setelah menyaksikan paras mukanya yang dingin dan kaku itu, dia menjadi tertegun.
"Kau sedang marah?"
Serunya.
"dalam hal apa aku telah melakukan kesalahan kepadamu?.."
"Kau pasti memahami sendiri!"
Kwik Tay-lok segera tertawa getir.
"Apa yang kupahami ....? serunya.
"sedikit pun aku tidak mengerti!"
Kwik Tay-lok tidak memperdulikan dia lagi, tiba-tiba ia berjalan ke depan Ong Tiong kemudian katanya.
"Walaupun kau bukan seekor anjing kampungan, tapi di sini ada seekor anjing pesuruh, kalau anjing kampungan sih mendingan anjing pesuruh itulah yang paling tidak kutahan"
"Siapa yang menjadi anjing pesuruh?"
Teriak Kwik Tay-lok dengan mata melotot.
Yan Jit masih tidak memperdulikan dirinya, sambil tertawa dingin ia lantas berlalu dari sana.
Sepasang biji mata Kwik Tay-lok segera berputar-putar seolah-olah mendadak menyadari akan sesuatu, ia lantas maju menghalangi jalan perginya, kemudian berseru.
"Kau anggap aku telah menjadi anjing pesuruhnya Hoat liok pi? Kau mengira semua makanan ini kubeli dengan uang yang dia berikan kepadaku sebagai imbalannya!"
"Memangnya barang-barang itu bisa terjatuh dari langit, atau tumbuh sendiri dari tanah?"
Dengus Yan Jit dingin. Kwik Tay-lok memperhatikannya lekat-lekat, lewat lama sekali, ia baru menghela napas panjang, gumamnya tiba-tiba.
"Baik, baik.. kau mengatakan aku adalah anjing pesuruh, biarlah aku menjadi anjing pesuruh, bila kau sudah tak tahan, biar aku yang pergi!"
Pelan-pelan dia berjalan keluar dari sana, berjalan melewati depan mata Ong Tiong.
Pelan-pelan Ong Tiong bangkit berdiri, seperti hendak menghalanginya, tapi kemudian ia duduk kembali.
Ketika Kwik Tay lok berjalan sampai di luar halaman, ia menengadah memandang angkasa, tumpukan salju di atas pohon segera berhamburan ke bawah ketika terhembus angin dan menodai seluruh tubuh dan seluruh wajahnya.
Ia tetap berdiri tak berkutik di sana.
Bunga salju mulai meleleh di atas wajahnya dan menetes ke bawah melewati pipinya.
Ia berdiri tak berkutik.
Sebenarnya dia ingin pergi agak jauh, tapi secara tiba-tiba dia tak berjalan lagi.
Yan Jit tidak menengok lagi ke arah halaman, mungkin apapun tak terlihat lagi olehnya.
Sepasang matanya sudah merah membengkak, mendadak sambil mendepak-depakkan kakinya dia menerjang ke arah pintu lain.
Ong Tiong merentangkan tangannya menghadang jalan perginya, lalu berkata.
"Coba kau lihat dulu, apakah ini?"
Di tangannya terdapat semacam benda, selembar kertas yang berwana-warni. Tentu saja Yan Jit cukup mengenali kertas apakah itu, dalam sakunya juga masih tersimpan beberapa lembar kertas seperti itu.
"Itu adalah kertas gadai!"
"Coba kau perhatikan lebih jelas lagi, benda apakah yang telah digadaikan?"
Kata Ong Tiong..Tulisan yang tertera di atas surat gadai itu lebih hebat dari tulisan resep seorang dokter, kalau seseorang tidak berpengalaman, jangan harap bisa mengenali satu hurufpun.
Yan Jit sangat berpengalaman, sudah terlalu banyak surat gadai dari Hoat liok-pi yang pernah dibaca olehnya.
"Rantai emas rongsok seuntai, hati ayam emas rongsok seuntai, total berat tujuh tahil sembilan rence. Digadaikan lima tahil perak"
Padahal semua benda itu masih baru tapi begitu masuk pegadaian lantas dianggap kuno, rongsok.
Peraturan pegadaian dimanapun sama saja, hal ini memang tak perlu diherankan, tapi rantai emaspun ada yang dianggap rongsok, sesungguhnya perkataan itu boleh dibilang sangat keterlaluan.
Hampir tertawa Yan Jit karena geli, sayangnya dia benar-benar tak dapat tertawa.
Seperti kena ditempeleng orang keras-keras, ia hampir tertegun.
Dengan suara hambar Ong Tiong berkata.
"Surat gadai ini baru saja kucomot dari saku siau Kwik, dari tadi toh aku sudah bilang, jika aku ingin menjadi pencopet, maka sekarang aku sudah kaya raya."
Setelah menghela napas, gumamnya.
"Cuma sayangnya, aku benar-benar enggan bergerak."
Yan Jit juga tidak bergerak, tapi air matanya pelan-pelan meleleh keluar membasahi pipinya.
Sekalipun terhadap seorang sobat yang paling karibpun, kadangkala salah paham bisa saja terjadi.
Oleh karena itu, seandainya terjadi kesalah pahaman dengan kawanmu, kau harus memberi kesempatan kepadanya untuk memberi penjelasan.
"Dalam menilai satu masalah, seringkali bisa terdapat banyak sudut pandangan, jika kau selalu membawa jalan pemikirannya ke sudut pandangan yang jelek, maka hal ini sama artinya dengan menyiksa diri sendiri."
Oleh karena itu, seandainya kau menerima pukulan batin yang berat, pandangan harus sedikit terbuka, usahakanlah untuk menemukan sudut pandangan yang cemerlang.
Siapapun tidak berhak untuk menyiksa orang lain, tidak pula terhadap diri sendiri..Inilah kesimpulan dari Ong Tiong.
Kesimpulan dari Ong Tiong seringkali sangat tepat.
Kesimpulan yang tepat pasti akan selalu teringat dalam benak setiap orang.
ooo000ooo Di dunia ini tiada suatu perbuatan yang sangat baik, tidak pula sesuatu yang amat jelek.
Kegagalan meski tidak baik, tapi kegagalan adalah soko guru dari kesuksesan.
Meski sukses itu baik, tapi seringkali akan membuat orang menjadi sombong, tekebur dan angkuh, maka kalau sampai begini, kegagalan tak lama kemudian pasti akan datang.
Bila berkawan dengan seseorang, tentu saja kau berharap agar dia bisa menjadi sahabat yang paling akrab denganmu.
Teman bisa akrab tentu saja hal ini sangat baik, tapi terlampau akrab gampang menimbulkan sikap saling memandang enteng, tentu saja akan gampang pula terjadi kesalah pahaman.
Salah paham meski tidak baik, tapi bisa kau dapat memberi penjelasan yang amat jelas, maka hubungan masing-masing pihak akan mendalam, perasaan batin merekapun akan mengikat lebih lama.
Bagaimana juga, perasaan orang yang terfitnah itu tak enak.
Seandainya di dunia ini masih ada peristiwa lain yang lebih tersiksa daripada terfitnah, maka hal mana pastilah peristiwa fitnahan yang secara beruntun, menimpa orang itu sebanyak dua kali.
Yan Jit pernah difitnah orang, itu berarti ia dapat memahami perasaan Kwik Tay lok pada saat itu.
Padahal dia sendiri jauh lebih tersiksa dan menderita daripada Kwik Tay lok sendiri.
Selain tersiksa, masih ada perasaan lain lagi yang selain ia sendiri, siapapun tak akan dapat mencicipi perasaan tersebut, dia hanya ingin menyembunyikan diri dan menangis sepuaspuasnya.
Sudah cukup lama tak pernah menangis sepuas-puasnya, karena seorang lelaki sejati tidak pantas untuk menangis macam gadis.
Untuk menjadi seorang lelaki sejati, memang bukan suatu pekerjaan yang gampang.
Tentu saja dia juga tahu, sekarang ia harus pergi mencari Kwik Tay-lok, tapi apa yang harus dia ucapkan setelah berjumpa dengannya ?
Ada sementara perkataan ia tak ingin mengucapkannya keluar, ada sementara perkataan dia bahkan tak berani untuk mengeluarkannya.
Perasaannya sedang kalut dan tak tahu apa yang musti dilakukan, ketika tiba-tiba ada sebuah tangan disodorkan ke hadapannya, tangan itu memegang sebuah cawan arak.
Kemudian ia terdengar seseorang sedang berkata kepadanya.
"Minumlah dulu arak ini, kemudian kita damai, mau bukan?"
Jantungnya berdebar keras, ketika ia mendongakkan kepalanya maka tampak Kwik Tay-lok telah berdiri di hadapannya.
Paras muka Kwik Tay-lok sangat tenang, sama sekali tidak terlintas perasaan gusar atau tak senang, juga tiada perasaan menderita seperti juga dimasa-masa lampau, memandangnya sambil tertawa haha hihi.
Wajah senyum tak senyum macam tukang jamu ini sebenarnya paling dibenci oleh Yan Jit.
Dihari-hari biasa dia selalu merasa jemu untuk memandangnya.
Dia selalu beranggapan, kadangkala seorang juga perlu serius, perlu mengikuti peraturan.
Tapi sekarang, entah apa sebabnya tiba-tiba ia merasa bukan saja tampang itu sedikitpun tidak menjemukan, malahan terasa amat menarik hati.
Bahkan dia berharap tampang Kwik Tay-lok selalu dapat demikian, selamanya tak pernah berkerut kening.
Karena secara tiba-tiba dia menyadari bahwa tampang inilah tampang Kwik Tay-lok yang sesungguhnya paling dia sukai.
"Mau damai tidak?"
Kembali Kwik Tay-lok bertanya sambil tertawa. Yan Jit menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Kau... kau tidak marah lagi?"
"Sebenarnya marah sekali, tapi setelah kupikir kembali, bukan saja tidak marah, malahan aku merasa amat gembira"
"Amat gembira?"
"Ya, coba kalau kau tidak memperhatikan diriku, sekalipun aku menjadi tuyul busuk atau telur busuk anak kura-kura, hal ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu, kaupun tak usah marah kepadaku. Justru karena kau adalah sahabat yang paling akrab denganku, maka kau baru merasa amat marah kepadaku"
"Tapi... tidak seharusnya aku memfitnahmu, seharusnya aku mempercayai dirimu"
Kwik Tay-lok segera tertawa.
"Mau memfitnah aku juga boleh, menonjok aku juga tak mengapa, asal kau adalah sahabat karibku, mau apa saja terhadap diriku juga tak menjadi soal"
Yan Jit segera tertawa lebar.
Bila ia sedang tertawa, hidungnya mengernyit lebih dulu, lalu matanya yang tersenyum....
Noda air mata masih membasahi wajahnya, pipi yang sebenarnya hitam dan kotor tiba-tiba muncul beberapa jalur putih setelah tertetes air, bagaikan sinar matahari yang muncul dari balik awan gelap.
Kwik Tay-lok menatapnya, dia seakan-akan dibuat terpesona olehnya.
Yan Jit menundukkan kepalanya lagi, kemudian berbisik.
"Mengapa kau melotot terus kepadaku?"
Kwik Tay-lok tertawa, kemudian menghela napas panjang, sahutnya.
"Aku sedang berpikir, Swan Bwe-tong sungguh tajam, bila kau benar-benar mau mencuci muka, sudah pasti kau seorang bocah lelaki yang tampan, mungkin jauh lebih tampan dari diriku...!"
Yan jit ingin menarik muka, tapi akhirnya tak tahan tertawa juga, dia sambut cawan arak tersebut.
Ong Tiong memandang Lim Tay-peng, Lim Tay-peng memandang ke arah Ong Tiong, kemudian kedua-duanya sama-sama tertawa.
Sambil tertawa kata Lim Tay peng.
"Sebenarnya aku tak suka minum arak di pagi hari, tapi hari ini rasanya aku benar-benar ingin minum sampai mabuk."
Yaa, sepanjang hidup berapa kali manusia bisa mabuk?
Bila berjumpa dengan peristiwa semacam ini dan teman seperti ini, bila tak minum sampai mabuk, mau tunggu sampai kapan lagi?
Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghela napas panjang, kemudian katanya.
"Sayang sekali, hari ini aku tak dapat menemanimu untuk minum sampai mabuk."
"Kenapa ?"
Tanya Lim Tay-peng.
"Sebab hari ini aku masih ada urusan, aku harus turun gunung lagi."
Bocah muda ini, begitu saku punya uang, dia paling tak betah untuk berdiam di rumah."
Sambil menggigit bibir Yan Jit lantas bertanya.
"Ada urusan apa kau turun gunung?"
"Untuk memenuhi janji seseorang,"
Paras muka Yan Jit seperti agak berubah, dia melengos ke arah lain sambil bertanya lagi.
"Kau ada janji dengan siapa?"
"Hoat-liok-pi!"
Sepasang mata Yan Jit segera mencorong sinar tajam, tapi sengaja serunya sambil menarik muka.
"Kau punya janji dengannya?"
"Dia mah tidak berjanji denganku, tapi aku justru hendak pergi mencarinya"
"Ada urusan apa kau pergi mencari nya?"
"Ia bersedia membayar lima ratus tahil perak kepada kita, itu berarti ia pasti mempunyai maksud tertentu, maka aku ingin tahu sesungguhnya kulit siapa yang hendak disayatnya?"
Salju sudah mulai meleleh, jalan gunung penuh dengan lumpur dan becek sekali.
Tapi Yan Jit sama sekali tak ambil perduli, kakinya yang menginjak lumpur seakan-akan sedang menginjak di atas awan saja.
Sebab Kwik Tay-lok berjalan di sampingnya, bahkan ia dapat merasakan dengusan napas dari pemuda itu.
Tiba-tiba Kwik Tay lok tertawa, katanya.
"Hari ini, aku kembali telah menemukan satu hal"
"Oya ?"
"Aku menemukan bahwa Ong lotoa benar-benar sangat memahami hatiku, mungkin di dunia ini sulit untuk menemukan orang kedua yang bisa demikian memahami diriku seperti dia"
Yan Jit manggut-manggut, sahutnya dengan sedih.
"Dia memang paling memahami orang lain, bukan cuma kau, setiap orang pun bisa dia pahami"
"Tapi orang yang paling ia kasihani adalah Lim Tay-peng, aku dapat merasakannya"
Yan Jit ragu-ragu sejenak, akhirnya tak tahan diapun bertanya.
"Bagaimana dengan aku ?"
"Kau bukan cuma tidak memahami diriku, juga tidak kasihan kepadaku, bukan saja kau paling galak kepadaku, bahkan setiap saat selalu mengajak cekcok diriku, mengajak bertengkar diriku..."
Yan Jit menundukkan kepalanya rendah-rendah. Tiba-tiba Kwik Tay lok tertawa, kemudian melanjutkannya.
"Tapi entah mengapa, aku masih dapat merasakan bahwa kaulah orang yang paling baik kepadaku"
Yan Jit tertawa, mukanya seperti agak memerah, lewat lama sekali dia baru bertanya lirih..
"Bagaimana dengan kau ?"
Ada kalanya aku merasa kekinya setengah mati terhadapmu seperti misalnya hari ini jika Ong lotoa bersikap begitu kepadaku, aku malah mungkin tak akan semarah itu, mungkin segera akan memahami perasaannya tapi kau...."
"Kau hanya marah kepadaku?"
Tanya Yan Jit. Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.."Aaai... mungkin hal ini dikarenakan aku sangat baik terhadap dirimu!"
Yan Jit segera mengedipkan matanya, tiba-tiba ia tertawa.
"Seberapa baiknya sih?"
Kwik Tay-lok termenung sebentar, lalu menjawab.
"Sesungguhnya seberapa besarkah kebaikan itu, bahkan aku sendiripun tak bisa melukiskannya!"
"Kalau tak bisa melukiskannya itu berarti bohong"
"Tapi aku bisa memberikan suatu perumpamaan kepadamu"
"Perumpamaan apa?"
"Demi Ong lotoa, aku bersedia menggadaikan semua pakaianku dan pulang dengan memakai cawat."
Setelah tertawa, lanjut.
"Tapi demi kau, sekalipun cawat itu harus digadaikan juga, akupun rela."
Yan Jit segera tertawa lebar.
"Huuuh, siapa yang kesudian dengan celana robekmu itu."
Ketika selesai mengucapkan kata-kata tersebut, mendadak wajahnya berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, cawat yang dikenakan Kwik Tay lok mau berlubang atau tidak, darimana ia bisa mengetahuinya...?
Untung saja dasar mukanya itu memang hitam dan dekil, sehingga meskipun muka berubah menjadi merah padam seperti babi panggang, orang juga tak akan mengetahuinya.
Tapi penampilan perasaan yang dipancarkan lewat sepasang matanya, senyuman hangat mesra dan lembut yang tersungging di ujung bibirnya, ditambah senyuman lirih yang diikuti sikap tersipu-sipu dan kemalu-maluan itu, jika ada orang tak dapat melihatnya, maka bukan saja orang itu adalah seorang manusia yang tolol, pada hakekatnya dia adalah seorang manusia tolol yang buta matanya.
Kwik Tay lok memperhatikan sepasang matanya itu, mendadak ia tertawa dan berkata.
"Aku masih mempunyai satu perumpamaan lagi."
"Katakanlah!"
"Sekalipun aku sudah bersumpah tak akan kawin tapi seandainya kau ini seorang gadis aku pasti akan mengambilmu menjadi biniku."
"Huh siapa yang mau jadi binimu? Bisa jatuh miskin delapan keturunanku!"
Suaranya seperti agak kurang beres, mendadak ia mempercepat langkahnya dan berjalan ke depan sana.
Kwik Tay-lok tidak berusaha untuk mengejarnya, dia cuma memandang bayangan punggungnya dengan termangu-mangu.
Dia seakan-akan dibuat terpesona, dibuat terkesima dan hampir saja kehilangan sukmanya.
Sementara itu cuaca tiba-tiba menjadi cerah, serentetan cahaya sang surya yang berwarna keemas-emasan menembusi awan dan menyinari seluruh jagad, menyinari atas badan Yan Jit, menyinari pula atas badan Kwik Tay-lok.
Seakan-akan cahaya matahari itu khusus menyorot bagi mereka berdua.
ooooo0()Oooooo K U L I T siapa yang disayat ?
Rumah pegadaian milik Hoat-liok-pi disebut rumah pegadaian Lip gwan.
Rumah pegadaian itu terletak persis di depan warung Moay Lo-khong.
Sekarang, papan nama warung Moay Lo-khong sudah diturunkan, ada beberapa orang sedang mengapur dinding rumah.
Teringat akan Moay Lo-khong, baik Kwik Tay-lok maupun Yan Jit merasakan hatinya sangat kesal.
Bagaimanapun juga mereka sudah banyak memperoleh kesenangan ditempat itu.
Di depan rumah pegadaian Lip-gwan, parkir sebuah kereta kuda.
Pintu gerbang rumah pegadaian itu belum dibuka, tampaknya hari ini dia seperti tak bermaksud untuk membuka usahanya.
Kwik Tay-lok dan Yan Jit saling bertukar pandangan sekejap, baru lewat disamping sebuah lorong, tampaklah Hoat liok pi muncul dari balik pintu samping, mata setannya berkeliaran memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dalam bopongannya memeluk erat-erat sebuah bungkusan besar.
Setelah yakin kalau disekitar sana tak ada orang lain ia segera melompat masuk ke dalam kereta.
Pintu kereta tertutup rapat-rapat bahkan tirai di depan jendela keretapun diturunkan.
Dari dalam rumah pegadaian pelan-pelan berjalan seorang nenek-nenek, di tangannya membawa sebuah tong sampah.
Tentu saja Kwik Tay-lok kenal dengan nenek itu, dia bukan bininya Hoat liok pi, dia tak lebih cuma seorang pekerja serabutan.
Oleh karena usianya sudah lanjut, maka selain bersantap, sepeserpun Hoat liok pi tak pernah memberi gaji kepadanya, tapi dikala ia sedang menyuruhnya untuk bekerja, maka dia akan dianggapnya sebagai seorang babu saja.
Seringkali Kwik Tay-lok merasa heran, kenapa nenek itu mau bekerja lebih jauh dengan Hoat liok pi.
Orang yang bekerja untuk seorang kikir macam Hoat liok pi, maka seandainya pada suatu hari mengalami sesuatu, mungkin peti mati untuk tempat jenazahnya tak punya.
Terdengar Hoat liok pi sedang berteriak dari dalam kereta.
"Tutup pintu rapat-rapat, jangan biarkan siapapun memasukinya, besok pagi aku baru pulang."
Maka kusir keretapun mengayunkan cambuknya dan melarikan kereta itu menelusuri jalan raya.
Tiba-tiba Kwik Tay-lok dan Yan Jit melompat keluar dari gang disamping jalan kemudian seorang sebelah membonceng di bawah as kereta.
Jendela segera dibuka orang, menyusul Hoat liok pi menongolkan kepalanya dengan wajah terperanjat, dia lebih terperanjat lagi setelah mengetahui siapa yang turut membonceng, serunya.
"Mau apa kalian?"
"Tidak apa-apa!"
Jawab Kwik Tay lok sambil tertawa.
"aku cuma ingin menumpang keretamu sampai di kota."
Hoat liok pi segera menggelengkan kepalanya berulang kali. 000000 0 00000
"T I D A K bisa, aku sudah bilang, keretaku ini tidak menumpang orang lain,"
"Tidak bisa juga harus bisa !"
Kata Kwik Tay-lok sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Kami toh sudah naik ke atas kereta, masakah kau bisa mendorong kami turun?"
"Yaa, betul!"
Sambung Yan Jit pula sambil tertawa.
"bagaimana juga, kau toh sebenarnya memang berniat mengajak kami pergi menemanimu?"
"Yang kucari bukan kalian."
Mendadak ia seperti merasa telah salah berkata, dengan cepat mulutnya di tutup kembali.
"Bukan kami? Apakah kau sudah berubah pikiran?", desak Yan Jit. Paras muka Hoat-liok-pi agak berubah memucat, mendadak ia tertawa lebar.
"Kalau kalian bersikeras ingin numpang tentu saja boleh, cuma harus membayar uang sewa. Uang sewa kereta seluruhnya tiga tahil perak, jadi kebetulan sekali seorang membayar setahil"
Dengan tangan kiri ia menerima uang, tangan kanannya segera membuka pintu kereta.
Hoat-liok-pi memang mempunyai kebaikan, asal kau ada uang yang bisa diberikan kepadanya, maka dia tak akan membuat kecewanya dirimu.
Bahkan dia malah memberikan dua tempat yang paling baik untuk kedua orang itu.
Kini, setelah berada di atas kereta, maka Kwik Tay-lok pun mulai putar otak untuk mencari akal lain.
Hoat-liok pi masih saja memeluk buntalannya itu kencang-kencang.
Mendadak Kwik Tay lok berkata.
"Yan jit, bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Baik, bertaruh apa?"
"Aku berani bertaruh isi buntalan ini pastilah seekor tikus, percayakah kau?"
"Tidak percaya"
"Baik, aku akan mempertaruhkan sepuluh tahil perak"
Tiba-tiba Hoat liok pi tertawa, tukasnya.
"Kalian tak perlu bertaruh, aku tahu kalian hanya ingin mengetahui isi buntalanku saja, bukan begitu?"
"Agaknya aku memang mempunyai maksud begitu"
Sahut Kwik Tay lok sambil tertawa "Mau lihat juga boleh, tapi sekali melihat harus membayar sepuluh tahil perak."
Kwik Tay lok tidak menyangka kalau begitu cepat dia menyanggupi permintaannya.
Padahal menurut anggapannya dalam buntalan itu pasti terdapat sesuatu rahasia yang takut di ketahui orang.
Begitu tangan kirinya menerima uang, tangan kanan Hoat liok pi segera membuka bungkusan itu.
Ternyata isi buntalan itu cuma beberapa stel pakaian lama.
Kwik Tay lok segera memandang Yan Jit, Yan Jit pun memandang Kwik Tay-lok ke dua orang itu cuma bisa tertawa getir.
Sambil tertawa Hoat Hok pi segera berkata.
"Sekarang kalian baru merasa kalau sepuluh tahil perak itu hilang dengan percuma bukan ? Sayang sekarang sudah terlambat."
Sambil tertawa bangga dia bersiap-siap untuk membungkus kembali buntalan itu. Tiba-tiba Yan Jit berseru.
"Hei agaknya diantara beberapa stel pakaian itu ada yang kepunyaan Lim Tay-peng?"
"Agaknya memang begitulah!"
Sahut Hoat liok pi sambil mendehem.
"tapi bagaimana pun juga toh sudah ia gadaikan kepadaku"
"Tapi masa untuk digadaikan toh belum lewat, setiap saat dia bisa saja untuk menebusnya kembali, mengapa kau membawa pergi?"
Lambat laun Hoat liok poi tak bisa tertawa lagi, dia berkata.
"Bila dia hendak menebusnya kembali nanti, aku pasti ada baju yang akan diberikan kepadanya, apa yang musti dikuatirkan?"
"Berapa perak pakaian itu ia gadaikan kepadamu?"
"Satu tahil lima uang!"
"Baik, sekarang juga akan kutebus pakaian itu baginya!"
"Tidak bisa!"
"Ada uangpun tidak bisa?"
"Sekalipun ada uang juga musti ada surat gadainya, ini adalah peraturan rumah pegadaian, apakah kau membawa surat gadainya?"
Kwik Tay lok kembali memandang ke arah Yan Jit, kedua orang itu tidak berbicara lagi, tapi hati mereka merasa amat keheranan.
Mau apa Liok-hoat-pi membawa pakaian milik Lim Tay-peng menuju ke kota?
Walaupun bahan pakaian itu cukup baik, tapi sudah kuno, mengapa ia memeluknya erat-erat bahkan menganggapnya seakan-akan benda mustika?
Rahasia apa lagi dibalik ke semuanya itu?
000000( 0 )000000 Begitu kereta masuk kota, Hoat liok pi segera berkata.
"Tempat tujuan telah tiba, silahkan kalian turun dari kereta"
"Bukankah kau meminta kepada kami untuk menemanimu jalan-jalan?"
Seru Yan Jit.
"Sekarang tidak perlu lagi, daripada anak kandung lebih baik uang dalam saku, bisa menghemat setahil ada baiknya untuk menghemat setahil"
"Seandainya kami bersedia untuk menemanimu tanpa memungut bayaran. .?"
"Gratispun juga tak bisa,"
Sahut Hoat liok pi sambil tertawa.
"hanya transaksi dengan uang kontan baru merupakan suatu transaksi yang paling bisa dipercaya, biasanya hal-hal yang gratis justru merupakan sumber dari segala kerepotan"
Mendengar perkataan itu, Yan Jit segera menghela napas panjang.
"Aaaai..! Kalau begitu kami akan turun kereta"
"Tidak menghantar, tidak menghantar, silahkan!"
Baru saja mereka turun dari kereta.
"Blaam"
Pintu kereta segera ditutup rapat-rapat. Memandang bayangan karena yang melaju ke muka, Kwik Tay-lok juga menghela napas panjang.
"Aaaai...! Orang ini sungguh amat licik, aku betul-betul tak bisa menebak permainan busuk apakah yang sedang dia persiapkan"
Yan Jit termenung sebentar, lalu berkata.
"Barusan dia telah terlanjur salah bicara, dia bilang bukan kita yang dicari, apa kau tidak mendengar?"
Kwik Tay-lok segera manggut-manggut.
"Jangan-jangan orang yang hendak dicarinya hanya Lim Tay-peng seorang, sedang kita tak lebih cuma tedeng aling-alingnya?"
Seru Yan Jit kembali.
"Tapi ada keperluan apa dia mencari Lim Tay-peng?"
"Aku selalu merasa bahwa Lim Tay-peng adalah seseorang yang mempunyai rahasia besar"
Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, mendadak ia berkata.
"Eeeh.... menurut pendapatmu, mungkinkah dia adalah seorang gadis yang menyaru sebagai pria?"
Yan Jit kontan saja melotot sekejap ke arahnya, lalu mengomel.
"Aku lihat kau ini terlalu banyak membaca buku, mana mungkin ada perempuan yang menyaru sebagai pria didunia ini ?"
Kwik Tay-lok tidak berbicara lagi.
Hingga kereta itu sudah membelok di ujung jalan sana, tiba-tiba kedua orang itu mempercepat langkahnya dan menyusul ke depan sana.
Bagaimanapun juga, mereka masih tak mau menyerah dengan begitu saja.
Dengan cepat kereta itu berhenti di depan sebuah rumah penginapan yang amat besar.
Manusia macam Hoat liok pi ternyata bersedia mengeluarkan uang untuk menginap di rumah penginapan besar ini, bukankah kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh ?
Untung saja ketika itu cuaca sudah mulai menggelap.
Malam hari di musim salju memang selalu datangnya kelewat awal.
Mereka segera berputar ke belakang rumah penginapan itu dan melompat masuk melewati pagar halaman.
Siapa saja tak akan apes sepanjang masa, kali ini nasib mereka ternyata sangat mujur, baru saja bersembunyi di belakang pohon, mereka telah menjumpai Hoat liok pi masuk ke deretan kamar di halaman belakang.
Udara masih amat dingin, dalam halaman tak nampak sesosok bayangan manusiapun.
Dengan sangat berhati-hati mereka melompat ke depan, lalu dalam tiga lima lompatan sudah berada di atas atap rumah.
Mendadak kedua orang itu sama-sama menemukan bahwa ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki hebat sekali, seakan-akan sejak dilahirkan sudah ahli di bidang itu.
Dalam hati kecil mereka diam-diam mengambil keputusan, kemudian hari harus mencari akal untuk bertanya kepada lawannya, bagaimana caranya melatih ilmu meringankan tubuh tersebut.
Mereka seolah-olah secara mendadak ingin sekali mengetahui rahasia lawannya.
0000000000000 Di bawah wuwungan rumah itupun terdapat bongkahan salju, tentu saja daun jendelanya tertutup rapat.
Untung saja dalam kamar itu memasang api penghangat, maka di atas jendela itu di buka sebuah lubang hawa.
Melongok lewat jendela kecil lubang hawa tersebut, semua pemandangan didalam kamar itu dapat melihat amat jelas.
Selain Hoat-liok-pi, didalam kamar itu masih ada dua orang manusia berbaju perlente yang bermuka dingin menyeramkan, seakan-akan semua orang di dunia ini telah berhutang kepadanya.
Sekilas pandangan saja Yan-Jit sudah tahu, selain ilmu silat yang dimiliki kedua orang itu sangat tangguh, merekapun pastilah seorang jago kawakan.
Salah seorang diantaranya mempunyai sebuah codet yang memanjang di atas wajahnya sehingga ia kelihatan menakutkan sekali.
Orang kedua meski tiada codet di wajahnya, tapi lengannya hilang, setelah ujung bajunya yang kosong itu terikat di pinggang, sementara sebilah golok lengkung tersoren di pinggang.
Golok lengkung semacam itu sudah merupakan senjata yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, apa lagi orang yang berlengan tunggal masih mempergunakan golok lengkung seperti itu, sudah jelas kepandaian silat yang dimilikinya pasti tidak rendah.
Selain daripada itu, andaikata ia bukan seseorang yang sering kali masuk keluar diantara pertarungan yang menyangkut soal mati hidup, tak mungkin tubuhnya akan menderita luka separah itu.
Jika seseorang yang seringkali masuk keluar dalam pertarungan mati dan hidup ternyata masih bisa hidup sampai sekarang, sudah dapat dipastikan pamornya pasti besar dan dia tentu bukan seorang manusia yang gampang dihadapi.
Kenapa Hoat-liok-pi bisa mengadakan transaksi dagang dengan manusia semacam ini.
Hoat liok-pi telah membuka bungkusannya dan mengeluarkan pakaian milik Lim Tay-peng, ketika menyodorkan ke tangan ke dua orang itu, wajahnya kelihatan amat bangga, seakan-akan seperti lagi mempersembahkan benda mustika saja.
Sesungguhnya sampai dimanakah berharganya pakaian kumel milik Lim Tay peng tersebut?
Si lelaki bercodet itu menerima pakaian tersebut dan diamatinya sebentar dengan seksama, kemudian diserahkan kepada lelaki berlengan tunggal itu.
Ketika ia sedang membolak balikkan pakaian itu, lamat-lamat Kwik Tay-lok juga dapat melihat di ujung baju itu seperti ada sebuah sulaman, cuma tidak jelas sulaman apakah itu?
Lelaki berlengan tunggal itu telah membalik ujung baju itu dan menelitinya sekejap, pelanpelan ia mengangguk.
"Benar, memang pakaian miliknya"
Dia berkata.
"Tentu saja tak bakal salah,"
Kata Hoat liok-pi sambil tertawa.
"selamanya aku adalah seorang pedagang yang bisa dipercaya"
"Sekarang, dimana orangnya?"
Hoat-liok-pi tidak menjawab, melainkan mengulurkan tangannya.
"Sekarang juga kau akan mengambilnya?"
Tegur orang berlengan tunggal itu. Kembali Hoat-liok-pi tertawa.
"Orang yang membuka rumah pegadaian selalu membayar kontan, aku rasa kamu berdua tentu mengerti bukan"
"Baik, berikan kepadanya!"
Lelaki bercodet itu segera mengambil sebuah bungkusan dari bawah meja dan ...
"Blaaam"
Diletakkan ke atas meja. Sungguh berat bungkusan itu.
"Pekerjaan yang bisa membuat Hoat liok pi bersedia mengeluarkan lima ratus tahil perak lebih dulu hanya ada satu, yaitu pekerjaan yang bisa mendatangkan keuntungan lima ribu tahi perak baginya ". Ucapan dari Yan Jit itu memang tepat sekali, paling tidak isi bungkusan itu juga ada lima ribu tahil perak. Kwik Tay lok memandang sekejap ke arah Yan Jit, sekarang mereka mengerti sudah apa gerangan yang telah terjadi. Kedua orang itu sudah pasti sedang mencari Lim Tay-peng, bahkan amat terburu-buru maka mereka tak sayangnya mengeluarkan lima ribu tahil perak sebagai hadiah. Sudah lama Hoat liok pi mengetahui akan soal ini, tapi sampai Lim Tay-peng menggadaikan pakaiannya, dia baru menyadari bahwa Lim Tay-peng sesungguhnya adalah orang yang sedang mereka cari. Oleh sebab itu dia berharap Lim Tay-peng bisa menemaninya datang sebentar saja ke kota, kemudian menyerahkan Lim Tay-peng kepada kedua orang ini. Apabila bisa menghantar orangnya secara langsung, tentu saja hadiahnya lebih banyak. Tapi, apa yang sebenarnya telah dilakukan Lim Tay peng, mengapa dia begitu tinggi nilainya sehingga orang lain tak segan-segan mengeluarkan uang sebesar itu sebagai hadiah? Begitu melihat uang perak, tiba-tiba Hoat liok pi berubah menjadi menyenangkan sekali, bahkan sewaktu tertawapun sepasang matanya menjadi hilang seperti tidak kelihatan.
"Sekarang, tentunya kau sudah dapat menerangkan bukan, dia berada dimana ?"
Kata-kata lelaki bercodet itu.
Entah apapun yang telah dilakukan Lim Tay-peng, kalau toh dia sedang menghindari pengejaran dari kedua orang ini, maka dia tak boleh sampai ditemukan kembali oleh mereka berdua.
Kwik Tay-lok sudah bersiap-siap menerjang masuk lewat jendela.
Siapa tahu pada saat itulah mendadak senyuman di atas wajah Hoat liok pi berubah menjadi kaku.
Sepasang matanya melotot ke depan pintu dengan mata terbelalak, mulutnya melongo dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, keadaan waktu itu seakan-akan seorang yang mendadak menyumbat mulutnya dengan lumpur.
Mengikuti arah pandangan matanya, Kwik Tay-lok turut menengok ke depan, tapi dengan cepat diapun merasa terkejut.
Entah sedari kapan, di depan pintu berjalan masuk seseorang.
Orang itu cuma seorang nenek biasa yang sangat sederhana dan tiada sesuatu yang mengejutkan, tapi mimpipun Kwik Tay lok tak menyangka bakal bertemu dengannya disaat dan tempat seperti ini.
Dengan jelas ia masih melihat orang itu berdiri di depan rumah pegadaian Lip gwan sambil membawa tong sampah.
Kemudian mereka menunggang kereta datang kesana, sepanjang jalan tidak pernah berhenti, pun tidak berjalan pelan, mengapa si nenek inipun bisa sampai juga di sana?
Apakah dia bisa terbang?
Keadaan Hoat liok pi bagaikan bertemu dengan setan saja, dengan tergagap dia berseru.
"Mau... mau apa kau datang kemari?"
Di tangan si nenek membawa sebuah mangkuk, sambil berjalan masuk dengan langkah yang sangat lamban, dia gelengkan kepala dan menghela napas, sahutnya.
"Waktu minum obatmu sudah sampai, mengapa kau selalu kelupaan? Aku sengaja datang mengantarnya untukmu, hayo cepat diminum dulu."
Hoat liok pi menyambut mangkuk itu, kedengaran tutup mangkuk yang berada di tangannya berbunyi gemerutukan dengan amat nyaringnya.
Bukan saja tangannya sedang gemetar, peluh dinginpun telah bercucuran membasahi tubuhnya.
Paras muka si laki berlengan tunggal dan si lelaki bercodet itu masih tetap kaku tanpa emosi, mereka menatap sekejap ke arah nenek itu dengan pandangan dingin, tiba-tiba mereka turun tangan bersama, dua titik cahaya tajam segera meluncur ke arah depan.
Serangan kilat itu tak bisa dibilang amat lamban..Siapa tahu baru saja titik cahaya hitam itu sampai di depan si nenek, tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.
Padahal nenek itu sama sekali tak berkutik dari tempatnya semula.
Paras muka si lelaki bercodet itu agak berubah.
Sebaliknya si lelaki berlengan tunggal itu tertawa dingin, serunya tanpa emosi.
"Tidak kusangka kaupun seorang jago lihay, bagus, bagus sekali"
Tiba-tiba nenek itu tertawa, lalu menjawab.
"Tidak baik, sedikitpun tidak baik!"
"Kenapa tidak baik?,"
Tanya lelaki berlengan tunggal itu.
"Apa pula baiknya? Bila kalian telah bertemu denganku, maka kalian bakal sial, apanya yang baik?"
Lelaki berlengan tunggal itu segera melompat bangun, kemudian bentaknya keras-keras.
"Siapakah kau? Mengapa mencampuri urusan kami ?"
"Siapa yang akan mencampuri urusan kalian! Urusan kalian masih belum pantas kucampuri, mengundang aku untuk mencampuri pun belum tentu aku mau bahkan berlutut sambil memohonpun aku juga tak akan kesudian untuk mengurusinya."
"Lalu ada urusan apa kau datang kemari?"
"Aku datang untuk menyuruhnya minum obat, Cepat minum ? Habis minum obat kau harus segera tidur"
Dengan wajah murung Hoat liok pi segera memencet hidungnya dan minum obat itu sampai habis.
"Bagus!"
Kata si nenek.
"Sekarang kau harus pulang untuk tidur"
Bagaikan sedang menarik anaknya saja, sambil menyeret tangan Hoat liok pi dia lantas beranjak dari situ.
Tiba-tiba cahaya golok berkelebat lewat, sambil melompat ke tengah udara si lelaki berlengan tunggal itu sudah mengayunkan sebilah golok lengkungnya untuk membacok kepala orang.
Bisa menyerang sambil melambung ke udara tentu saja ilmu golok yang dimilikinya tak terhitung lemah.
Tapi cahaya golok itu hanya berkelebat lewat, kemudian lenyap tak berbekas.
(Bersambung
Jilid 13)
Jilid 13 SEBILAH golok lengkung yang bersinar tajam, tahu-tahu sudah kutung menjadi dua bagian dan...
"Trang!"
Jatuh ke tanah.
Terjatuhnya persis di sisi badan si lelaki berlengan tunggal itu entah apa sebabnya tahu-tahu sudah berlutut di atas tanah, berlutut di hadapan si nenek sambil bermandi keringat, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk bangkit berdiri, tapi sayang sekalipun segenap tenaganya sudah dikerahkan, ia tetap belum berhasil untuk berdiri.
Nenek itu menghela napas panjang, lalu gumamnya.
"Sedari tadi aku toh sudah bilang, terhadap urusan kalian, sekalipun kamu berlutut sambil memohon kepadaku, akupun tak akan mengambil perduli, rupanya kau benar-benar tidak menurut, jangan-jangan telingamu lebih tuli daripada telingaku"
Sambil mengomel dia lantas berjalan ke luar dari situ.
Dengan menurut sekali Hoat liok pi mengikuti di belakangnya, jangankan membangkang, untuk bernapas keras-keraspun tidak berani.
Sekujur badan si lelaki bercodet pun sudah bermandikan keringat, tiba-tiba serunya.
"Cianpwe, harap tunggu sebentar!"
"Apa lagi yang harus di tunggu? Apakah kau juga ingin berlutut di hadapanku?"
"Tatkala cianpwe sudah mencampuri urusan ini, akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi, harap cianpwe suka meninggalkan namamu, agar aku bisa memberi pertanggungan jawab kepada majikan kami nanti"
"Kau ingin mengetahui namaku ?"
"Betul!"
"Kau masih belum pantas untuk mengetahui namaku, sekalipun kukatakan juga belum tentu kau akan mengerti"
Setelah berhenti sebentar, nenek itu melanjutkan kembali kata-katanya.
"Tapi kau boleh pulang menyampaikan kepada majikanmu, katakanlah ada seorang sobat lamanya menasehati dirinya, bocah cilik itu patut dikasihani, lebih baik jangan dipaksa terus menerus, kalau tidak orang lainpun akan merasa tidak leluasa untuk melihatnya"
Selesai berkata pelan-pelan dia berjalan keluar dari ruangan.
Lelaki bercodet itu segera memburu ke depan, agaknya dia seperti ingin menanyakan sesuatu lagi kepadanya.
Tapi di luar pintu sudah tiada seorang manusiapun, baik si nenek maupun Hoat-liok pi, keduaduanya sudah lenyap tak berbekas.
000000000000000 Ternyata si nenek tukang menanak nasi ini adalah seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, sedemikian tingginya kepandaian silat yang dimilikinya itu sehingga orang lain mimpipun tak pernah menduga.
Tak heran ketika si anjing buldok dan si tongkat hendak melakukan penggeledahan ke rumah pegadaiannya dulu, sewaktu muncul kembali sikapnya begitu menghormat, kalau mereka bukannya sudah dibikin keok oleh si nenek tersebut, sudah pasti mereka telah mengetahui siapa gerangan dirinya itu.
Sekarang Kwik Tay lok dan Yan Jit baru dibikin mengerti.
Tapi mereka masih ada satu hal yang merasa tidak habis mengerti, setelah saling berpandangan sekejap serentak mereka meluncur ke arah belakang sana.
Di belakang situ terdapat sebatang pohon, sebatang pohon yang besar sekali.
Di atas pohon tiada duanya, yang ada cuma timbunan salju.
Terpaksa Yan Jit harus berjongkok di atas dahan pohon, sedangkan Kwik Tay-lok duduk dengan begitu saja, tapi kemudian ia melompat bangun dengan kaget, sebab pantatnya seperti digores dengan golok.
Salju di atas dahan pohon itu sungguh dingin dan tajam bagaikan sebilah golok.
Yan Jit menghela napas dan menggelengkan kepala berulang kali, katanya.
"Setiap kali hendak duduk, apakah tak pernah kau periksa dulu ada apanya di bawah pantatmu itu?"
Kwik Tay-lok tertawa getir.
"Aku tidak memperhatikannya, aku sedang memikirkan satu urusan"
Sahutnya. Dahan pohon itu sangat besar dan kuat, dia pun berjongkok disamping Yan Jit seraya berkata lagi.
"Aku sedang memikirkan Si nenek tadi, padahal dia adalah seorang jago persilatan yang sangat luar biasa, mengapa ia bersedia menjadi seorang tukang masaknya Hoat liok pi dari rumah pegadaian...?"
Yan Jit termenung sejenak, lalu sahutnya.
"Mungkin saja ia seperti juga Hong Si-hu, sedang menghindarkan diri dari pencarian orang lain"
"Sepintas lalu alasan ini seakan-akan sangat kuat sekali, akan tetapi sesudah direnungkan kembali, ternyata terdapat banyak hal yang tak bisa diterima dengan akal"
"Dunia bukan sedaun kelor masih terdapat banyak tempat lain yang bisa dia gunakan untuk menghindari kejaran orang, apalagi buat seorang jago silat yang begitu lihay seperti dia, anehnya, kenapa ia bersedia menjadi babunya orang lain, bersedia mendapat perintah orang dan menerima makian orang"
Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, dia melanjutkan.
"Sekalipun dia ingin menjadi seorang babu, sepantasnya kalau dia menjadi seseorang yang agak terhormat atau suatu tempat yang lebih baikan, kenapa justru Hoat-liok-pi si pelit yang dicari? Apakah hal ini tidak mengherankan?."
"Jadi kau tidak habis mengerti?"
"Yaa, aku benar-benar merasa tidak habis mengerti"
"Persoalan yang bisa membuat kau tak habis mengerti, pasti tak akan dimengerti pula oleh orang lain"
Kwik Tay-lok tertawa.
"Kalau aku pun tidak mengerti, biasanya memang tak banyak orang yang bisa memahaminya"
"Mungkin saja dia memang menginginkan agar orang tidak habis mengerti?"
"Tapi persoalan yang bikin orang tidak habis mengerti masih banyak sekali."
"Coba katakan!"
"Kalau dilihat ilmu silatnya, mungkin tidak banyak manusia di dunia ini yang sanggup untuk menandinginya."
Mendengar perkataan itu, Yan Jit manggut-manggut, sahutnya sambil menghela napas pula.
"Ilmu silat yang dimilikinya memang sangat tinggi, bukan saja belum pernah kujumpai ada orang yang memiliki kepandaian silat selihai itu, bahkan pada hakekatnya mendengar pun belum pernah. ."
"Oleh karena itu, aku beranggapan bahwa sesungguhnya ia tak perlu takut kepada orang lain, diapun tak perlu menyembunyikan diri."
"Jangan lupa, diantara manusia yang lihay masih ada yang lebih lihay lagi, diantara bukit yang tinggi masih ada yang lebih tinggi lagi."
"Itu mah pepatah kuno yang sudah usang"
"Sekalipun sudah usang, kadangkala teori yang makin usang semakin masuk diakal"
Ooooo(O)oooooo RAHASIA LIM TAY-PENG "SEANDAINYA ia benar-benar lagi menghindarkan diri dari kejaran orang"
Kata Kwik Tay-lok, paling tidak gerak geriknya pasti akan jauh lebih rahasia, tapi setiap kali kita berkunjung ke rumah pegadaian, kita selalu masuk keluar dengan leluasa, sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia kuatir dikenali orang lain"
"Pada waktu itu, apakah kau bisa menduga manusia macam apakah dirinya itu ?"
"Tidak !"
"Kalau toh orang lain tak menduga siapakah dia, kenapa pula dia musti takut bertemu orang lain?"
"Jadi menurut pendapatmu, seperti juga Hong si-hu, diapun sudah merubah wajahnya menjadi wajah yang lain ?"
"Dalam dunia persilatan, toh bukan hanya Hong si hu seorang yang pandai menyaru ?"
"Lantas, kenapa si anjing buldok dan si tongkat bisa mengenalinya hanya dalam sekilas pandangan saja ?"
"Dari mana kau bisa tahu kalau mereka dapat mengenalinya hanya didalam sekilas pandangan saja?"
"Kalau mereka tak dapat mengenalinya, mengapa pula sikap mereka terhadap Hoat-liok pi begitu menghormat dan munduk-munduk ?"
Yan Jit segera mengerdipkan matanya, lalu berkata.
"Lantas menurut pendapatmu, apa pula yang sebenarnya telah terjadi"
"Menurut pendapatku, dia dengan Hoat liok pi pasti mempunyai suatu hubungan yang agak luar biasa, mungkin saja dia adalah sobat lamanya Hoat liok pi atau mungkin familinya Hoat liok pi, apakah hal ini bukan suatu alasan?"
"Ya, memang suatu alasan"
"Tak kusangka kaupun mengakui kalau aku beralasan."
Kwik Tay lok tertawa.
"Tentu saja karena pendapatku sendiripun juga demikian,"
Sahut Yan Jit sambil tertawa pula. Kwik Tay-lok menjadi tertegun.
"Kalau toh pendapatmu sama dengan pendapatku, mengapa kau musti mengumpak aku?"
Seru sang pemuda tertegun.
"Sebab sejak dilahirkan aku memang sudah suka mengumpak orang"
Kwik Tay-lok segera melototinya sampai lama, kemudian baru berkata.
"Seandainya aku bilang salju ini putih?"
"Maka aku akan mengatakan kalau salju itu hitam" 00000000 Bagaimanapun cerdiknya kau, betapa rajinnya kau bekerja, ada kalanya akan ketanggor juga pada tandingannya, maka bila hal ini sampai terjadi, bagaimanapun hebatnya kau, semua kepandaianmu seolah-olah menjadi mati kutu. Agaknya Yan Jit adalah tandingan dari Kwik Tay-lok, apapun juga yang dilakukannya seakanakan terbentur semua pada batunya. Lewat beberapa saat kemudian, sambil tertawa dia baru berkata lagi.
"Paling tidak, ada satu hal yang mau tak mau harus kau akui akan kebenarannya."
"Soal apa?"
Kali ini Hoat-liok-pi tidak berhasil membeseti kulit seorang manusiapun,"
Kata Kwik Tay-lok sambil tertawa.
"Lagi-lagi kau keliru."
"Lagi-lagi aku keliru?"
Seru Kwik Tay-lok sambil tertawa getir.
"Yaa, paling tidak kali ini Hoat liok pi, telah membeseti kulit seseorang."
"Kulit siapa yang dibeseti?"
"Kulitnya sendiri!"
Sebenarnya siapakah manusia yang dinamakan Lim Tay-peng itu?
Apa sebabnya ada seorang yang bersedia menghamburkan uang sebesar beberapa ribu tahi perak hanya bermaksud untuk mencari jejaknya ?
Ada persoalan apa mereka mencarinya?
"Menurut pendapatmu, apa sebabnya orang-orang itu pergi mencari Lim Tay peng?"
Tanya Kwik Tay-lok. Tampaknya ia sudah lebih pandai menguasahi diri, sebab kali ini ia tidak mengemukakan pendapatnya sendiri. Yan Jit termenung sebentar, kemudian katanya.
"Seandainya kau bersedia menghamburkan uang sebesar lima-enam ribu tahil perak untuk mencari seseorang, mungkin tujuannya karena apa ?"
"Aku tak bakal melakukan perbuatan semacam ini"
Sahut Kwik Tay lok sambil tertawa. Yan Jit melirik sekejap ke arahnya lalu, berkata.
"Seandainya aku lenyap secara tiba-tiba dan kau harus menghamburkan uang sebesar lima ribu tahil perak untuk menemukan diriku, bersediakah kau untuk melakukannya?"
Tanpa berpikir panjang lagi Kwik-Tay-lok segera menjawab.
"Tentu saja bersedia, demi kau sekalipun aku musti menggadaikan batok kepalaku juga aku bersedia."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Yan Jit. Sorot mata seseorang baru akan memancarkan sinar tajam bila ia sedang merasa sangat gembira atau merasa sangat bangga.
"Karena kita adalah sahabat karib maka aku bersedia untuk melakukannya"
Kata Kwik Tay-lok lagi.
"tapi, Lim Tay-peng sudah pasti bukan sahabat karibnya kedua orang itu, dia tak nanti akan bersahabat dengan manusia-manusia macam begitu"
Yan Jit manggut-manggut, sahutnya.
"Seandainya ada orang telah membunuhku, bersediakah kau menghamburkan yang sebesar lima ribu tahil perak untuk menemukan jejak pembunuhnya?"
"Tentu saja mau, sekalipun harus beradu jiwa, aku juga pasti akan mencari orang itu sampai ketemu dan membalaskan dendam bagimu"
Tapi kemudian dia lantas menggeleng, katanya lagi.
"Tapi Lim Tay-peng belum pernah membunuh manusia, aku rasa sikap menderita dan tersiksa yang diperlihatkannya sehabis membunuh Lamkiong Cho itu sudah pasti bukan dilakukannya dengan berpura-pura."
"Bila ada orang telah merampas lima puluh laksa tahil perak milikmu, kemudian kau menghamburkan lima ribu tahil perak untuk mencarinya, tentu saja kau bersedia untuk melakukannya bukan"
"Tapi ketika Lim Tay-peng datang, sepeser uangpun tidak dimilikinya, apalagi dia toh bukan manusia semacam itu"
Yan Jit segera tertawa.
"Sekarang bukan aku yang mendebat ucapanmu, adalah kau yang terus menerus mendebat perkataanku"
Serunya. Kwik Tay-lok turut pula tertawa.
"Yaa, soalnya aku juga tahu kalau hati kecilmu yang sesungguhnya juga tidak berpendapat demikian"
Yan Jit menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.
"Terus terang saja, pada hakekatnya akupun tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat, apa sebabnya mereka mencari Lim Tay-peng."
"Walaupun tak bisa ditemukan, apakah kau lupa aku sudah banyak belajar cara menanyai orang dari diri si tongkat?"
Sinar lentera didalam kamar masih terang benderang, tidak kelihatan ada orang berjalan keluar, juga tidak kelihatan ada orang berjalan masuk.
Baru saja mereka bersiap-siap akan menanyai kedua orang itu, tiba-tiba daun jendela dibuka orang.
Seseorang sedang menggape ke arah mereka dari depan jendela.
Sementara kedua orang itu masih belum mengerti jelas siapa gerangan yang sedang di gape, sambil tertawa orang itu sudah berkata lebih dulu.
"Di atas pohon udara tentu sangat dingin, mengapa kalian berdua tidak masuk saja, ke dalam untuk menghangatkan badan?"
Api pemanas dalam ruangan itu amat besar.
Duduk di tepi perapian sudah barang tentu jauh lebih nyaman ketimbang berjongkok di dahan pohon.
Orang yang menggape mereka dari jendela tadi, kini sudah duduk kembali.
Orang itu bukan si lelaki bercodet di wajahnya, juga bukan si manusia berlengan tunggal yang berwajah bengis.
Sesungguhnya orang itu sama sekali tidak terlihat ada didalam ruangan tadi.
Sebaliknya orang-orang yang tadi berada dalam ruangan, kini sudah pergi entah ke mana.
Kwik Tay-lok tidak melihat mereka keluar dari situ, juga tidak melihat orang ini masuk ke dalam.
Hanya ada satu hal yang membuat Kwik Tay-lok merasa agak terhibur dan lega.
Dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya, orang ini jauh lebih sedap dipandang daripada kedua orang tadi.
Yang lebih penting lagi, orang ini adalah seorang perempuan.
Sesungguhnya dia sudah tidak termasuk muda lagi, tapi wajahnya masih cantik dan agak menawan hati.
Di dunia ini memang terdapat semacam perempuan yang bisa membuat kau tidak akan memperhatikan usianya.
Dan kebetulan sekali dia adalah perempuan semacam itu.
Perempuan yang cantik kebanyakan angkuh, tak tahu aturan, hanya sedikit sekali yang terkecuali.
Kebetulan dia termasuk didalam pengecualian tersebut.
Anehnya, perempuan semacam ini mengapa secara tiba-tiba bisa muncul didalam ruangan tersebut?
Setelah tertawa, katanya lebih lanjut.
"Apa pula hubungannya dengan kedua orang itu? Apa pula hubungannya dengan persoalan ini ?"
Tentu saja Kwik Tay lok ingin bertanya, tapi hingga detik itu belum juga ada kesempatan.
Setiap kali bila dia ingin bertanya, ternyata ia telah didahului terus oleh orang lain, bila ada seorang perempuan semacam itu mengajukan pertanyaan kepadamu, tentu saja kau harus menjawab lebih dulu.
"Aku she Wi"
Kata perempuan itu sambil tersenyum.
"dan kalian berdua?"
"Aku she Kwik, dan dia she Yan, Yan dari huruf Yan-cu si burung walet"
Yan Jit segera mendelik ke arahnya, tapi sebelum dia mengucapkan sesuatu, Wi hujin telah berkata lagi sambil tertawa.
"Semua teman Lim Tay-peng tak ada seorangpun yang tidak kukenal, mengapa belum pernah kujumpai kalian berdua?"
Kembali Kwik Tay lok ingin berebut menjawab, mendadak ia menjumpai Yan Jit sedang mendelik ke arahnya.
Terpaksa dia harus menundukkan kepalanya dan mendehem pelan.
Pelan-pelan Yan Jit baru mengalihkan sinar matanya ke wajah Wi-hujin, sahutnya hambar.
"Darimana kau bisa tahu kalau kami ini adalah temannya Lim Tay-peng ?"
"Kalian berdua datang dari tempat kejauhan dengan menempuh hujan salju serta angin kencang, kemudian menunggu di luar dalam udara sedingin ini, sudah barang tentu bukan dikarenakan tauke rumah pegadaian itu bukan?"
"Mengapa tidak mungkin?"
Wi-hujin tersenyum.
"Naga akan berteman dengan naga, burung hong akan berteman dengan burung hong, masih cukup jelas bagiku untuk mengetahui, siapa tepatnya berteman dengan siapa?"
Yan Jit segera mengerdipkan matanya.
Baca Juga: Amarah Pedang Bunga Iblis 7
Baca Juga: Anggrek Tengah Malam 3