Eps 1 Pisau Kekasih - Gu Long
Baca online Pisau Kekasih - Gu Long
Cersil Pisau Kekasih - Gu Long.
PISAU KEKASIH Karya Gu Long Saduran . Ynt/Liang YL Editor . Adhi H Sumber DJVU . Manise Convert, edit, Ebook oleh . Dewi KZ
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com
http.//dewikz.byethost22.com
http.//cerita-silat.co.cc/
http.//ebook-dewikz.com
Jilid KE SATU Lim Leng-ji telah datang Jika kau belum pernah bertemu dengan Lim Leng-ji, maka kau hanya orang biasa seperti kebanyakan orang.
Jika kau melewatkan kesempatan baik bertemu dengan Lim Leng-ji, maka kau adalah orang yang sangat bodoh.
Jika kau bertemu dengan Lim Leng-ji dan tidak merasa silau atau takjub, mungkin kau seorang yang buta atau idiot.
Jika kau bertemu dengannya dan langsung berpikiran kotor, tidak bisa berkata-kata, kau pastilah seekor babi.
Orang-orang berkata inilah cermin diri Lim Leng-ji.
Jika kau bisa bertemu dan duduk berdampingan dengan Lim Leng-ji, kau pasti akan segera terpikirkan, berapa besarkah uang yang harus dikeluarkan hanya untuk bisa duduk sambil berbicara dengannya?
Kau pasti akan lebih berpikir barang berharga yang paling berharga bagaimana, agar bisa membuat kita menjadi tamu istimewanya?
Benarkah Lim Leng-ji adalah wanita yang seperti itu?
Tentu saja semua ini harus melalui penyelidikan terlebih dahulu, baru kita bisa tahu.
Kereta Lim Leng-ji masih belum memasuki jalan utama di kota Koh.
Tapi orang yang lalu lalang di jalan utama kota itu sudah mengumumkan bahwa Lim Leng-ji sudah datang.
Orang yang masih lalu lalang di sepanjang jalan utama kota itu pun langsung memasuki toko-toko dan rumah makan yang berada di dua belah sisi sepanjang jalan itu, dan para pedagang kaki lima pun memindah-kan barang dagangannya ke sudut-sudut jalan.
Jalan utama kota itu langsung menjadi sepi.
Tidak ada panji dan payung kipas juga tidak ada suara pukulan gong yang mengiringi, padahal dalam satu hari penuh, malam hari adalah waktu yang paling ramai dan penuh orang tetapi jalanan itu sekarang malah sangat sepi.
Bagaikan bak cat yang dipenuhi warna, kedua sisi kereta itu bertatahkan giok dan emas serta ditarik oleh sepasang kuda, kereta itu memasuki jalan utama tersebut.
Suara derit kereta kuda telah menenggelamkan bunyi suara yang lainnya.
Saat itu di setiap sudut jalan hanyalah terlihat kepalakepala orang yang terjulur keluar melalui pintu dan jendela toko-toko yang ada di sekitar jalan itu, mengikuti gerakan kereta kuda yang datang.
Namaku Wie Kai Seorang laki-laki yang kira-kira berumur 27-28 tahunan, berpakaian seperti umumnya tapi memiliki senyum yang sangat menawan hati orang di sekitarnya.
Anak muda ini sangatlah menarik perhatian orang, karena dia sedang berdiri di tengah jalan utama itu dan menghadang kereta kuda.
Parasnya serta sikap-nya sangat menarik perhatian orang.
Entah benar-benar kurang ajar atau menghina.
Kata orang, cara mencari perhatian adalah melakukan sesuatu yang hendak dilakukan orang lain tapi belum sempat dilakukan, atau melakukan sesuatu yang orang lain tidak berani melakukannya.
Tapi jika kau melakukan sesuatu yang tidak berani dilakukan orang lain, justru pada akhirnya akan menimbulkan rasa iri hati atau cemburu.
Hanya saja melihat kesantaian, kekurang-ajaran, serta senyum menawan anak muda ini, orang-orang yang sedang naik darah pun pasti akan segera reda marahnya.
Siapakah gerangan anak muda ini?
Pakaiannya tidak gemerlapan, sikapnya juga tidak tampak serius, malahan cenderung bersifat berandalan.
Tapi hanya sedikit orang yang tahu apakah harus menganggukkan kepala terhadapnya atau malah menggelengkan kepala.
Mungkin kemunculannya bisa dipandang sebagai hasil keberuntungan yang tidak terduga.
Kejahatan manusia justru biasanya dilandasi oleh alasan yang lemah ini.
Sekarang anak pandangannya.
muda ini malah memusatkan Kereta kuda itu memasuki kota dengan perlahan lahan.
Anak muda itu sedang berdiri menghalangi jalan.
Jika kereta itu adalah kereta yang membawa raja, maka perbuatan ini bisa disebut dengan pemberontak.
Tiba-tiba dia mengangkat tangannya, berseru.
"Oi! Nona Lim Leng-ji yang ada di dalam kereta!"
Sikapnya ini bukan hanya kasar, tetapi juga gegabah dan kekanak-kanakan.
Tapi saat itu tidak ada seorang pun yang mau menasehatinya, malah berharap kesalahan yang dilakukannya mendapat reaksi.
Tentu saja inipun yang menjadi isi hati setiap orang.
Laki-laki yang menjadi kusir kereta itu tampak sangat kuat, kelihatannya dia menangkap sebagai pengawalnya juga.
Sekali menghela cemeti, di udara langsung keluar percikan api dari lecutan cemeti itu dan kemudian menyerang anak muda itu.
Paling tidak ada sebagian orang pasti bertanya-tanya apakah serangan itu bisa mengenai anak muda itu atau tidak.
Di dunia ini kebanyakan orang pasti berpikiran seperti itu, bahkan jika anak muda itu berpikiran rasional, pastilah akan berpikiran seperti itu juga.
Anak muda itu mengeluarkan tangannya, dengan tenang menahan serangan cemeti yang membabi buta.
Hanya ada beberapa orang yang benar-benar bisa melakukan perbuatan itu dengan baik.
Pengemudi kereta yang keretanya sedang menghadap kearah matahari terbenam itu sangat marah sampai muka dan telinganya merah, karena serangan cemetinya bisa ditahan.
Sebelah tangan anak muda itu mencengkram cemeti itu dan mengangkat tangan yang sarunya lagi sambil berseru.
"Lim Leng-ji Siocia yang ada di dalam kereta, ijinkan aku melihatmu?"
Tidak akan ada seorang pun yang percaya bahwa tirai kereta itu akan terbuka.
Sebab di dalam kereta itu memang ada Lim Leng-ji.
Walaupun orang yang berpikiran seperti itu jumlahnya sangat banyak, tetapi tetap saja di antara orang yang berada dipinggir sepanjang jalan itu, ada yang mendekati depan kereta, mereka tidak mau melewatkan peristiwa yang langka yaitu terbukanya tirai kereta itu.
Prilaku seperti ini dengan anggapan bahwa tirai kereta itu tidak mungkin akan terbuka, benar-benar sangat bertolak belakang.
Kombinasi yang bertentangan.
Itulah kehidupan manusia.
Ini pastilah hanya kebetulan, tirai kereta itu perlahanlahan terbuka.
Pakaian yang berwarna putih yang membung-kus kulitbagaikan salju.
Benar-benar tidak akan ada orang yang merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya dibandingkan dengan wanita lainnya.
Tetapi pada saat yang bersamaan tidak ada satu orang pun yang pernah menjumpai wanita yang secantik dirinya.
Lim Leng-ji benar-benar Lim Leng-ji.
Ada banyak wanita di dunia ini yang bisa menggetarkan hati orang, tetapi mereka bukanlah Lim Leng-ji.
Di dunia ini ada dua jenis wanita yang tidak mungkin menerima kecemburuan yang sama, jika bukan wanita yang sangat jelek pastilah wanita sangat cantik.
Dandanan yang menarik saja tidak cukup untuk melukiskan tentang dirinya.
^ Mereka saling memandang satu sama lainnya.
Dia mungkin satu-satunya pria yang tidak memiliki rasa rendah diri, tetapi jantungnya tetap saja berdegup.
Dia percaya jika detak jantung dari orang-orang yang berada di keempat penjuru kereta itu disatukan, suaranya pasti lebih keras dibandingkan dengan tambur besar yang dipukul sekuat tenaga.
Pandangan matanya sangat tajam juga sangat serakah, sungguh salah satu jenis pandangan mata pria yang paling dibencinya.
Tapi tiba-tiba dari matanya muncul pandangan yang berbinar-binar.
Anak muda itu menggosok-gosok ujung hidung nya sambil berkata.
"Namaku Wie Kai!"
Dia tidak bisa mengerti makna kata-kata yang terkandung dalam pandangan mata Lim Leng-ji, tetapi sepertinya ada perasaan yang saling mengenal satu dengan lainnya.
Jika tidak, bagaimana mungkin mereka bisa saling memandang seperti itu?
Mereka seperti orang yang pernah bertemu di dalam mimpi saja.
Kusir kereta yang bak pengawal itu tiba-tiba saja muncul di samping anak muda itu.
Walaupun orang ini sekujur rubuhnya dibalut oleh busana yang indah, tetapi orang yang bermata tajam dengan sekali lihat pasti langsung tahu kalau dia adalah orang yang hanya patuh akan perintah.
Kepribadian yang seperti itu sudah tidak bisa dibuang juga tidak bisa dirubah.
Orang itu berkata kepada Wie Kai.
"Namamu Wie Kai, betul tidak?"
"Aku baru saja mengatakan pada nona Lim Leng-ji."
Jawab Wie kai sambil tertawa. Kata kusir itu.
"Di Ta-ih-tu-hong (wisma judi Ta-ih), kau telah berhutang pada tuan mudaku sebanyak 320 tail."
"Tuan mudamu?"
Tanya Wie Kai dengan tanpa menghilangkan senyum di mukanya.
Kusir itu membalikkan tubuhnya dan di atas undakundakan batu di depan sebuah kedai arak berdiri seorang yang berpakaian indah dan menonjol.
Penampilannya menunjukkan bahwa dia orang yang bermartabat dan air mukanya serius sehingga orang mana pun, hanya dengan melihat sekilas pasti langsung percaya bahwa dia adalah tuan muda yang berasal dari keluarga kaya atau pemuda dari keluarga yang terhormat.
Hanya saja anak muda ini dengan Wie Kai adalah dua jenis orang yang berbeda.
Wie Kai orangnya tampan, pembawaannya santai, bebas, ada sedikit sifat berandalan, tetapi malah justru menarik perhatian orang terutama di saat dia tertawa.
Hanya melihat tawanya, biarpun makan malam tidak ada semangkuk nasi, juga akan terasa seperti berada di langit ke sembilan.
Wie Kai menoleh dan memandang anak muda yang bermuka serius itu, lalu tiba-tiba berkata.
"Benar-benar orang yang berpendidikan."
Akulah Loo Cong Anak muda yang bermuka serius itu maju ke depan seraya menyatukan kedua tangan di depan dadanya.
"Margaku Loo dan namaku adalah Cong. Terhadap sikap budakku yang tidak sopan, harap Wie-heng jangan masukkan ke dalam hati."
Wie Kai berkata.
"Jika ingin menagih hutang, mengapa anda harus bersikap misterius seperti itu?"
Uang sebanyak 320 tail bukanlah jumlah yang sedikit, orang yang bermata tajam pasti bisa melihat bahwa di tubuh Wie Kai tidak akan ada uang sebesar 320 tail.
Saat itu Wie Kai membuka kepalan tangannya dan kusir kereta menarik kembali cemeti yang terjulur tadi.
Walaupun sedang membicarakan masalah 'pengembalian hutang', tapi di bawah tatapan banyak orang dia sama sekali tidak mengingkarinya.
Padahal ada sebagian orang sedang mencemas kannya, juga ada sebagian lagi yang berharap melihat gurauannya.
Pelayan yang jahat ini sengaja membuatnya malu di depan Lim Leng-ji, tapi majikannya sama sekali tidak peduli.
Kejadian yang memalukan, kali ini sudah tidak bisa dihindari lagi.
"Harap kata-katanya jangan Wie-heng masukan ke dalam hati!"
Kata Loo Cong lagi.
Hati Wie Kai terasa sangat gugup, tapi dia tetap bersikap tenang.
Lagipula tirai kereta sudah diturunkan kembali, tetapi dia percaya, Lim Leng-ji yang berada di balik tirai krrt'hi itu tetap memperhatikan dirinya.
Wie Kai adalah orang yang sangat pintar dan Pandangan mata Wie Kai menyapu ke empat penjuru, lalu tiba-tiba pandangan matanya jatuh pada seorang gadis yang berdandan sederhana dan memiliki sepasang mata yang besar, yang berjarak 5-7 langkah darinya. Saat itupun dia merasa bahwa hai yang menjengkelkan seperti ini sudah berkurang setengah-nya. Tawanya malah semakin membingungkan orang. gembira dan semakin Dia melambaikan tangannya kepada gadis itu. Gadis itu layak keluarganya saja. kenalannya atau pun anggota Tapi... mengapa gadis yang bermata besar itu justru malah datang menghampiri? Padahal mereka berdua sama sekali tidak saling mengenal, paling tidak belum pernah sekali pun bertegur sapa. Lalu mengapa setelah dia terperanjat malah datang menghampirinya. Sesudah datang mendekat, barulah gadis itu sadar dan bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa aku mau datang mendekatinya? Benar-benar tidak bisa dimengerti! Wie Kai melambai-lambaikan tangan dengan muka yang senang berkata. "Tolong berikan uangnya pada Lpo-heng ini!" "Aku?" Gadis yang bermata besar itu bertanya dengan suara kecil. Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya dan wajahnya tidak berubah sedikit pun. Memperlihatkan uang sebesar 320 tail, berkeping-keping uang saja, kenapa harus sampai ribut-ribut segala? Pembawaan gadis bermata besar itu sangat tenang, bagaimana pun juga mereka adalah manusia yang sudah berpengalaman dalam kehidupan ini. Dari ke empat penjuru jalan tidak terdapat banyak orang yang mengamati mereka berdua. Jika mereka berdua hendak adu keras kepalan, mereka benar-benar jagoan. Gadis bermata besar itu berkata dengan suara kecil. "Walaupun aku bisa menolongmu, tapi dengan sikapmu yang seperti ini, mengapa aku harus menolongmu?" Suaranya sangatlah kecil sehingga hanya mereka berdua saja yang bisa mendengarnya. Wie Kai mengangkat tangannya sambil berkata dengan suara kecil. "Karena namamu Hong Ku!" "Kalau aku Hong Ku, memangnya kenapa?" "Sebab Hong Ku adalah Sam-jiu-Koan-in (Dewi Kwanin Bertangan Tiga)." "Kalau Sam-jiu-Koan-in, memangnya kenapa? Apa urusannya denganmu?" Walaupun di mulutnya mengatakan 'apa urusan mu', tetapi raut wajahnya tersenyum. Meski Wie Kai sedang memohon uluran tangan orang, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak berubah dan tetap saja tersenyum, seperti layaknya seorang pelayan perempuan yang bersedia melakukan apa pun demi kepentingan majikannya. "Walaupun memang bukan urusanku, tapi tadi saat kau melakukan beberapa 'transaksi jual beli" , aku adalah satusatunya saksi mata.." Kata Wie Kai. Raut wajah Hong Ku sedikit berubah. "Kau?" Wie Kai berkata sambil berbisik. "Di tubuhmu ada sebuah kalung emas, selem-bar kertas uang (cek), dan sebuah tutup kepala dari batu giok yang sangatmahal." Raut wajah Hong Ku langsung berubah. "Kau!" "Setiap kali melakukan aksinya selalu bersih dan rapi, nama Sam-jiu-Koan-in benar-benar memiliki prestasi yang patut dibanggakan!" Tiba-tiba Hong Ku mengeluarkan tawa yang manis, seperti layaknya pelayan yang dipuji oleh majikannya, katanya. "Siau-kai, kau benar-benar hebat! Aku sungguh mengaku kalah olehmu!" Wie Kai menundukan kepalanya, berkata. "Terima kasih! Aku akan segera mengembalikannya." Hong Ku segera mengeluarkan selembar cek dan memberikannya kepada Loo Cong sambil berkata. "Di jalan menagih hutang, ternyata dalam keluarga terhormat juga diajarkan cara menagih hutang seperti ini." Loo Cong hanya tertawa, menggerakan rahang nya, memberi tanda memanggil kepada bawahannya. Wie Kai mengepalkan tangannya di depan dada sambil berkata. "Loo-heng, aku keluar rumah biasanya sangat jarang membawa uang, jika saja pembantuku tidak berada di sini, aku benar-benar merasa tidak enak." Hong Ku juga bukanlah orang sembarangan. Untuk pertama kalinya dia diperas orang dengan menggunakan kelemahannya, belum lagi dianggap sebagai pembantu orang lain. Hanya saja dia adalah seorang yang tahan banting alias berkepala dingin, jika membantu orang pasti sampai tuntas, jadi dia hanya bisa mempertahan-kan status 'pembantu' nya sambil tertawa kecut. Siapa suruh namanya dipanggil Wie Kai. Orang lain boleh saja tidak mengenal Wie Kai, tetapi perbuatan mereka ini mana bisa dibiarkan? Loo Cong bersoja sambil berkata. "Tadi aku sudah katakan, jangan dimasukkan ke dalam hati!" Dari begitu banyak orang, sebenarnya ada berapa banyak orang yang tahu, saat ini akan ada berapa banyak episode? Mungkin hanya Loo Cong yang tahu. Ada kemungkinan Lim Leng-ji juga tahu. BAGIAN I BAB I Segala sesuatu yang ada di kota kuno ini cukup baik, bahkan kebaikan hati orang-orangnya juga sangat terasa. Hanya ada satu yang tidak baik yaitu jika tidak ada angin maka tingginya tanah bisa mencapai 3 kaki, jika ada hujan maka sepanjang jalan pasti penuh lumpur. Bukankah ada pepatah mengatakan hujan di musim semi lebih berharga daripada minyak? Tetapi jika hujan terus turun selama 3 hari 3 malam lamanya, maka lorong kecil ini pun pasti berair dan berlumpur. Tetapi sebagian besar rumah penggadaian yang ada di dunia ini justru berada di lorong kecil ini. Baru saja Wie Kai hendak mengeluarkan labu air giok dari dalam kantongnya, saat itu dia melihat rumah penggadaian menutup pintunya. Bisa dibilang pada awalnya dia berpikir hendak menggadaikan labu air giok itu ke rumah gadai. Tetapi akhirnya Wie Kai tetap kembali ke kamar kecilnya dengan muka tersenyum. "Cuh..." Terdengar suara orang, membuang ludah. Di atas sebuah meja kecil terdapat lima buah makanan yang dipanggang yang terdiri dari setengah ekor ayam panggang dan kacang lima bumbu. Dia segera duduk di sebelah meja kecil itu dan mengambil lentera yang ada di atas meja. Di atas meja itu juga terdapat selembar kertas yang di atasnya tertulis. ' Makanan ini mengandung racun, jika kau tidak berani memakannya, maka kau bukan Wie Kai. Di pojok bawah kertas itu tertulis huruf 'Lim'. Tulisannya sangat indah dan ditilik dari caranya menulis, dia pasti orang yang pernah belajar silat. Wie Kai malah mendaratkan ciuman di atas kertas itu, lalu mulai makan sepuasnya. Wie Kai sama saja dengan kota kuno ini, semuanya baik, hanya ada satu yang tidak. Dia tidak pandai mengendalikan uang. Menjadi orang budiman sampai titik darah penghabisan merupakan gambaran yang indah bagi-nya, dan jika dia menginginkan kehidupannya menjadi lebih nyaman dan enak sedikit, baginya itu semudah membalikkan telapak tangan saja. Sesudah kenyang, barulah dia bersiap-siap untuk masuk ke alam mimpi. Maka dalam sekejap mata dia langsung tertidur. Jika malam ini tidak tidur, mana ada tenaga untuk esok hari. Bisa dikatakan di sisi lain, dia itu mirip seperti layaknya anak orang kaya. Entah sudah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba dia terbangun. Ini adalah salah satu hal yang mencengangkan orang, mau tidur langsung tidur, mau bangun langsung bangun. Walaupun saat itu kamar kecil itu tidak ada cahaya lentera, tetapi dia bisa melihat ada bayangan orang yang berdiri di sebelah meja kecil itu. Wie Kai berkata. "Sobat, kau datang bukan pada waktu yang tepat." Orang ini berusaha menghampiri mulut jendela, tetapi Wie Kai langsung menghadang di depan mulut jendela itu. Kedua orang itu tidak bergerak sedikit pun, mereka saling mereka-reka gerakan yang bakal dilaku-kan pihak lawan. Tiba-tiba orang ini menghampiri ranjang dan malah berbaring di atasnya. Tindakan ini malah membuat Wie Kai termangu, begitu dia menghampiri ranjang, orang itu langsung menyemburkan sejenis serbuk dari tangan-nya. Wie Kai tidak bisa tidak harus menghindar dan dalam sekejap mata pihak lawan langsung melarikan diri lewatjendela. Melihat ilmu meringankan tubuh orang itu, Wie Kai jadi tidak ingin mengejarnya. Serbuk yang disemburkan melalui tangan orang tadi ternyata adalah kulit kacang yang berada di atas meja kecil yang berasal dari kacang yang dimakan-nya tadi. Kulit kacang yang begitu ringan bisa mengeluarkan suara. "Set... set..." Dia menyalakan lentera dan melihat kamar kecil yang seperti tidak ada penghidupan itu, semua sama sekali tidak ada yang berubah, hanya ada selem-bar kertas yang hilang. Apakah orang itu datang hanya demi selembar kertas itu? Tentu saja, orang ini bisa membawa pergi kertas itu tanpa harus menyalakan lentera, bisa ditebak orang itu pasti datang karena benda ini. Bisa dilihat betapa pentingnya kertas itu bagi orang itu. Di daerah ini, tulisan yang ditulis oleh Lim Leng-ji sendiri jika dibawa ke rumah gadai untuk digadaikan, bisa dihargai beberapa puluh tail. Di saat itu tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Jika di pemukiman kumuh terjadi keributan maka tidak akan ada orang yang bertanya, tetapi Wie Kai adalah pengecualian. Malam ini, ditempat ini tiba-tiba menjadi ramai. Tempat ini hanyalah kamar kecil dari kayu yang terdapat di sudut kota ini. Walaupun kau mengirimkan tandu guna mengundang datang Sam-jiu-Koan-in Hong Ku, takutnya dia tidak akan memandang sebelah mata pun ke kamar kecil ini. Sebenarnya Lim Leng-ji itu membawa keberuntungan atau malah kesialan baginya. "Ada apa?" Sahut Wie Kai. Orang yang berada di luar pintu itu berkata. "Aku Yo Lim, petugas keamanan yang ber-patroli di Kabupaten Lu-lam-kong, sengaja datang untuk bertemu dengan Wie-tayhiap." Wie Kai bukan saja tidak pernah mendengar nama orang ini sekalipun, bahkan jabatannya apa pun dia sama sekali tidak tahu. Pada jaman dinasti Beng, petugas keamanan (Sun-cian) tugasnya hampir sama dengan penjaga keamanan yang bertugas menyelidiki suatu masalah atau kasus. Wie Kai belum pernah berhubungan dengan orang seperti ini sebelumnya. Tetapi dia membukakan pintu juga untuknya. Pakaian yang dikenakan Yo Lim sangat praktis, orangnya pun sederhana, sama sekali tidak terlihat tampang seperti pegawai pemerintah. Wie Kai mempersilahkan tamunya duduk lalu berkata. "Kamar ini terlalu kecil." Yo Lim berkata. "Seperti pejabat mengendarai kuda kurus, kerendahan hati Wie-tayhiap sangat menyentuh hati." Di gedung pemerintah kabupaten ini, anggota nya hanya terdiri dari tiga orang saja, selain Bupati, juga ada kuli tinta yang hanya bertujuan untuk mengisi perutnya saja dan sesuai dengan nama mereka, Cian-kok (lembah uang) dan Bun-ang (menutupi perkara). Petugas keamanan ini memiliki gaya bicara yang bisa membuat kecemasan Wie Kai berkurang. Wie Kai berkata. "Jika Yo-heng ada keperluan, mengapa tidak langsung bicara saja?" "Di hadapan Wie-tayhiap mana mungkin aku boleh berkata sembarangan?" Wie Kai semakin tidak mengerti untuk apa petugas keamanan ini datang mencari dia? Yo Lim mengeluarkan sebuah kertas yang hurufnya ditulis dengan darah, menaruhnya dengan sopan di hadapan Wie Kai sambil berkata. "Silahkan Wie-tayhiap periksa." 'Tentang Lim Hujin yang merupakan orang pesimis serta telah memutuskan hubungan dengan kehidupan dunia luar, itu adalah urusan pribadinya, orang luar untuk apa ikut campur?' Huruf di atas kertas itu bertuliskan seperti itu. Wie Kai mengusap-usap belakang kepalanya, dia sedang berpikir apakah dia sedang bermimpi, bahkan dia sampai harus berurusan dengan petugas keamanan segala. Orang yang bernama Yo Lim inipun mengeluarkan sebuah Ki-jiu dan menaruhnya di hadapan Wie Kai. Wie Kai tiba-tiba merasa bahwa dia telah menjadi seorang tersangka pembunuhan, bagi manusia dan hewan, yang telah melakukan kesalahan dan harus menerima hukumannya. Tiba-tiba Wie Kai tertawa dan berkata. "Petugas Yo, apa hubungannya ini dengan diriku?" Yo Lim tertawa,tampak mukanya seperti kain sutera yang kusut oleh tangan, lalu berkata. "Aku merasa memang ada sedikit hubungan-nya dengan dirimu." Wie Kai memandang padanya, melihatnya baik baik untuk menentukan apakah dia benar-benar tidak salah mengenali dirinya. Wie kai bertanya. "Ada sedikit hubungannya denganku?" "Hanya sedikit, lagi pula kejadiannya baru hari ini terjadi." Lagi pula kejadiannya baru hari ini terjadi! Wie Kai segera menjulurkan tangannya dan mengusap jidatnya untuk memeriksa apakah dirinya panas atau tidak. Tetapi Wie Kai tetap saja mempertahankan mimik tersenyum di wajahnya sambil berkata. "Apa yang sebenarnya telah terjadi?" "Lebih baik kita tidak membicarakan masalah itu terlebih dahulu, apakah Wie-tayhiap mengenal istri Lim Put-hoan?" Jantung Wie Kai langsung berdegup kencang, lalu dia menjawab. "Aku pernah mendengarnya." Tiba-tiba Yo Lim tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata. "Wie-tayhiap hanya pernah mendengarnya?" Wie Kai mengangkat tangannya sambil berkata. "Selain pernah mendengarnya, apa lagi yang harus aku ketahui?" "Mestinya bisa tahu sedikit lebih banyak." Lagi-lagi Wie Kai mengusap-usap belakang kepalanya sambil berkata. "Apakah Yo-heng bisa bicara lebih jelas lagi, apa yang dimaksud dengan perkataanmu tadi?" Yo Lim menjawab. "Bisa, tentu saja bisa. Apakah Wie-tayhiap mengira Lim hujin telah memutuskan hubungan dengan dunia luar?" "Dia?" Tanya Wie Kai. "Waktu Lim Put-hoan meninggal dunia, dia baru saja berusia 27 tahun 8 bulan." "Wah, ingatanmu boleh juga." "Nama besar hujin beserta... beserta teman-nya... Apakah Wie-tayhiap benar-benar tidak pernah mendengarnya?" Tiba-tiba Wie Kai bertanya kepada Yo Lim. "Petugas Yo, menurutmu apakah kedua mata kita ini sedang bermimpi atau kita yang sedang bermimpi?" Yo Lim tertegun sejenak, lalu berkata. "Wie-tayhiap benar-benar pandai bergurau." Wie Kai menjentik-jentikkan jarinya mengeluarkan bunyi "ctak.. .ctak...", lalu berkata. sampai "Bagaimana kalau sekarang kita bicarakan tentang masalah Lim hujin?" "Hujin adalah orang yang senang mengoleksi barangbarang antik, kabarnya nyonya telah menerima barang mihk Yo Kui-hui (selir) berupa pispot yang telah digunakannya bertahun-tahun yang lalu, kemudian setelah menyadari bahwa barang itu ternyata palsu, dia memutuskan hubungan dengan siapa pun." "Bukankah Lim hujin adalah orang yang sangat kaya?" Tanya Wie Kai. "Benar, menurut perkiraan orang, kekayaannya mencapai seratus tiga puluh juta tail, pendapatan negara tahun kemarin saja baru mencapai delapan puluh tujuh juta tail." Wie Kai berkata. "Sudah begitu kayanya, tetapi hanya karena sebuah pispot saja dia sampai tega memutuskan hubungan dengan siapa pun?" Yo Lim buru-buru menjawab. "Justru itulah mempercayainya." Yang membuatku tidak bisa Wie Kai kembali lagi ke masalah yang semula. "Apakah kau merasa bahwa aku ada hubungan nya dengan kasus ini?" Yo Lim bertanya dengan serius. "Kalau Wie-tayhiap sendiri sebenarnya siapa?" "Aku siapa?" Yo Lim mengepalkan tangannya, berkata. "Sesudah ceritaku selesai, aku sendiri akan memberitahukan pada Wie-tayhiap tentang hubungannya dengan kasus ini." Wie Kai berkata. "Lim hujin sangat muda tetapi tetap menjanda bahkan tidak pernah menikah lagi, benar-benar setia dan patut dipuji." Yo Lim tertawa pahit sambil berkata. "Kekayaannya begitu banyak,-bahkan disisinya seringkali ada 3-4 orang Siau-pek-lan (pacar gelap), untuk apa menikah lagi?" "Siau-pek-lan tiga kata itu biasanya jarang digunakan orang," Kata Wie kai. Yo Lim berkata. "Kenyataannya semua adalah penjilat." "Masa yang bermuka agak hitam sedikit pun tidak ada?" "Tidak ada." "Sepertinya hujin tidak pernah mendapatkan piagam keperawanan." "Wie-tayhiap lagi-lagi bergurau." "Apakah yang mendapatkan piagam keperawanan itu pasti perawan?" "Pertanyaan ini rasanya sama saja dengan apakah orang yang bunuh diri itu karena merasa hidup ini sudah cukup, suatu pertanyaan yang sulit dijawab. Di desa asalku ada wanita yang pernah mendapatkan piagam keperawanan, kata orang tumit kakinya penuh dengan bekas luka." Wie Kai terkesiap, tidak menyangka bahwa untuk mendapatkan piagam keperawanan begitu penuh perjuangan. Yo Lim mengira Wie Kai tidak dapat menang kap katakatanya, jadi dia berkata lebih lanjut. "Pada musim semi waktu suhu udara mulai naik, mau tidak mau harus menggunakan tusukan untuk mencocokkan tumit kaki, untuk memadamkan api (hasrat)." Api ini mungkin api yang paling hebat di dunia, begitulah pemikiran Wie Kai. "Di antara 3-4 orang yang di samping hujin, tentu ada satu yang paling disayang, iya kan?" "Orang yang lalu misterius, menerima ini she Liauw dan bernama In. Bertahun-tahun seorang hweesio Lama pernah berkata dengan katanya ada hubungannya dengan yang kasih sayang-nya." Jawab Yo Lim "Apakah orangsheLiauw masih ada?" "Seharusnya masih ada, orang ini sudah berkeluarga dan malahan istrinya adalah seorang dukun beranak." "Jika Lim Hujin ingin mencari orang untuk disayang, harusnya mencari yang masih bujangan." "Setelah Lim Hujin melahirkan seorang anak perempuan, hubungannya dengan Liauw In menjadi renggang, bahkan ada orang yang mengatakan kalau Liauw In sudah menghilang." "Petugas Yo, dilihat dari perkataanmu seperti-nya ini sebuah kasus pembunuhan, lalu apa hubungan-nya dengan diriku?" "Ini harus kembali ke pokok permasalahannya. Wietayhiap kenal dengan Lim Leng-ji?" Wie Kai malah menjawab. "Apa aku masih kurang meyakinkanmu?" "Jika tidak saling kenal, siapa yang bisa menghadang kereta di tengah jalan dan begitu memanggil dia langsung membuka tirai keretanya?" Kata Yo Lim Wie Kai juga agak sedikit bingung, tapi apa yang bisa dia katakan. Yo Lim berkata lagi. "Kata orang Lim Leng-ji adalah anak dari Lim Put-hoan, Lim hujin." Wie Kai terdiam sebentar, lalu bertanya. "Lalu apa hubungannya?" "Hari ini di jalan, majikan dari pengawal yang kejam yang menagih hutang padamu juga ada hubungannya dengan kasus ini." "Loo Cong?" YoLim mengangguk-anggukkan kepalanya. Bukannya Wie Kai ingin main-main karena tidak ada pekerjaan, tetapi dia jelas-jelas tidak pernah mengenal Lim Leng-ji, pertemuan hari ini justru merupakan pertemuan yang pertama. Jika dia tidak salah, makan malam hari ini Lim Leng-ji juga yang mengantarkannya. Dia tidak berani seenaknya menentukan bahwa antara dia dan Lim Leng-ji sama sekali tidak ada hubungan apa pun, hanya saja sama seperti impian yang sudah lama, hanya teringat sedikit bayangannya saja. "Petugas Yo adalah pengawal keamanan yang bertugas di Kabupaten Lu-Iam-kong, tetapi kenapa malah sampai bertugas di kota Koh ini?" Kata Wie Kai Wie Kai menggosok-gosokkan belakang kepalanya sambil berkata. "Bukankah masih ada satu orang lagi?" Yo Lim tertawa tapi tidak menjawabnya. Sambil menggosok-gosok bagian bawah hidung nya sendiri, Wie Kai berkata. "Aku juga kan?" Yo Lim lagi-lagi menggangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu apa peranku dalam kasus ini?" "Tentu saja kalau bukan muka merah mungkin muka hitam." "Apa maksudnya itu?" "Di dalam sandiwara opera, orang yang memegang peranan penting selalu bermuka merah atau hitam." "Wie-tayhiap, pada dasarnya Lim Put-hoan memang orang yang berasal dari Kabupaten Lu-lam-kong, kasus ini tentu saja ditangani oleh Kabupaten Lu-lam-kong. Hanya saja orang-orang yang memiliki peranan dalam kasus ini selalu saja bergerak, tentu saja aku pun tidak bisa tinggal diam." "Siapa yang meninggalkan Ki-jiu dan kertas ini?" Kata Wie Kai " Tidak tahu, tetapi ada orang yang menulis surat padaku yang berkata tahu tentang seluk beluk kasus ini dan orang itu ingin dibayar 500 tail. Aku pergi mencari orang itu tetapi orang i tu malah menghilang." "Kau tidak pergi sambil membawa uangnya?" Kata Wie Kai "Aku membawa uang kertas, ini adalah alamat orang itu." Sebuah surat ditaruh di atas meja. Wie Kai melihat-lihat tulisan yang ada di atas kertas itu, langsung bisa menebak orang rendah macam apa orang itu. Orang itu menandatangani surat itu dengan guratan yang sulit, namanya sama sekali tidak dikenal. -oo0dw0ooBAB II Langit baru saja gelap. Kelihatan sekali pondok kayu kecil ini semakin kecil dan semakin reyot. Walaupun anjing piaraan milik keluarga kaya sekali pun tidak akan tinggal di kandang yang seperti ini. Perasaan Wie Kai sedikit banyak bisa mengerti perasaan orang yang tinggal di tempat seperti ini. Orang yang tinggal di kamar seperti ini, jika bukan karena sangat miskin, pastilah orang yang sudah tidak punya harapan lagi. Seorang yang membuat dirinya bejat, cemar dan kacau, itu adalah lambang dari diri orang ini. Pintu kamar pondok kayu itu sangat reyot, sekali disentuh langsung terbuka. Begitu orang masuk ke dalam kamar ini, pasti langsung tersedak oleh bau yang aneh. Kamar yang ditinggali Wie Kai saja sudah cukup buruk. Tapi di tempat ini orang pasti langsung terpikir kan akan tempat tinggal seekor babi. Dia mengangkat lentera tinggi-tinggi dan memandang sekeliling kamar itu dengan matanya yang besar untuk melihat keadaan di sekeliling kamar itu. Ada sebuah meja papan dari kayu dan sebuah kursi yang sudah kehilangan satu kakinya. Di atas meja itu penuh dengan mangkuk-mangkuk, piring-piring, cangkir-cangkir, sumpit-sumpit, dan banyak peralatan makan lainnya. Tentu saja tidak ada satu pun yang dicuci, bahkan sudah berdebu dan ada sarang laba-labanya. Pemandangan di dalam kamar ini bagi orang yang hidupnya bersih dan sehat, tentu saja sangat tidak bisa dibayangkan, mengapa bisa ada begitu banyak mangkuk, piring serta peralatan makan yang lainnya? Jika sudah dicuci mungkin malah bisa mem-buka toko peralatan makan. Wie Kai justru bisa memahami orang yang memiliki kehidupan seperti ini. Orang ini sama sekali tidak pernah mencuci mangkok dan piring, ini membuktikan bahwa erang ini begitu selesai makan maka dia tidak akan pernah menyentuh lagi peralatan makan yang telah digunakannya, begitu selesai digunakan maka dia akan segera membeli yang baru. Jika ini berlangsung terus maka dalam kurun waktu satu tahun kemungkinan besar tempat untuk berjalan pun sudah tidak ada lagi. Di bawah lantai rnasih berserakkan bekas kulit kacang dan kulit kuaci. Di atas ranjang terdapat sebuah selimut yang semula seharusnya berwarna biru tetapi sekarang telah berubah menjadi warna hitam yang telah sobek di sana sini serta mengeluarkan gumpalan-gumpalan kapas yang sudah meng-hitam. Bantal yang ada di atas ranjang juga terlihat berminyak. Wie Kai sama sekali tidak berani bernafas dengan normal. Dia menyadari orang maupun benda apa pun ada kalanya tidak ada gantinya di dunia ini. Tetapi jika mau kotor atau jorok, maka orang ini sudah pasti tidak tertandingi jorok dan kotornya. Di kepala ranjang masih terdapat sebuah meja kecil reyot yang di atasnya terdapat tulisan yang dituliskan dengan tulisan cakar ayam di atas selembar kertas rombeng dan hurufnya sama persis dengan yang ditulis di atas kertas yang dibawa oleh Yo Lim. Jika seseorang ingin meniru tulisan huruf kuno ini mungkin seumur hidup pun tidak akan bisa. Di atas kertas itu tertulis. 'Bauw Toh di Peng-hoa-louw tanggal satu dan lima belas, Siau Kin-ya tanggal dga puluh, Pek Cu-sian di gang Hu-kui tanggal dua puluhan setiap bulannya.' Wie Kai tentu saja mengenal tempat ini. Semua tempat ini adalah tempat pelacuran kelas dua di kota Koh ini. Tetapi apa maksud dari tanggal yang tertulis di belakang nama tiga orang gadis yang paling terkenal ini? Hanya orang yang menuliskannya yang tahu. Begitu matanya beralih ke bantal di atas ranjang itu, tibatiba m ata Wie Kai bersinar-sinar. Tidak ada satu barang pun di ruangan ini yang tidak hitam dan tidak kotor. Tetapi hanya ada 13 buah sekop terbang kecil yang mengkilap. Benda ini bukanlah pisau terbang, walaupun banyak orang yang beranggapan kalau benda ini sama saja dengan pisau terbang. Ini adalah sekop kecil yang terbuat dari baja, tajamnya tiada duanya, walaupun tidak sama seperti pedang tetapi bendaini sangatlebar. Tidak peduli betapa jorok dan kotornya orang ini. Tidak peduli orang lain beranggapan dia itu seekor babi atau anjing. Hanya dengan melihat 13 buah sekop baja kecil yang mengkilap dan tajam ini, orang-orang bisa langsung mengetahuinya kalau dia itu adalah seorang pembunuh tingkat tinggi pembunuh tingkat tinggi yang menggunakan pisau terbang.... Saat itu, tiba-tiba Wie Kai mendengar suara aneh. Orang yang berada di luar pintu tertawa dingin sambil bertanya. "Apakah kawan atau lawan?" "Aku adalah Sun-cian (petugas Kabupaten Lu-lam-kong, datang membicarakan urusan bisnis." Keamanan) dari kemari ingin Orang di luar pintu itu menyahut. "Kau bukan!" "Wah, kau terlahir dengan hidung anjing rupanya." Kata Wie Kai. Orang di luar pintu itu berkata. "Anggap saja aku tidak tertarik dengan bisnis ini." "Masa dengan bisnis sebesar ini kau malah tidak tertarik?" "Bisnis ini jalannya tidak b^ik, tidak terima ya tidak terima!" Wie Kai membawa bungkusan dari kulit yang berisikan 13 pisau terbang itu dan membuangnya keluar sambil berkata. "Kalau yang ini diterima, kan?" "Kau ini sebenarnya orang yang seperti apa?" "Bukankah setidaknya perlu ada sedikit pengorbanan uang untuk mendapatkan suatu jawab-an?" "Benar! Kau jangan menyesal!" "Kau tenang saja..." Tiba-tiba sebuah percikan api serta diikuti oleh hawa dingin bagaikan membentuk suatu benda. Ternyata pemikiran orang ini lebih maju satu langkah. "Wush...." Wie Kai langsung jatuh ke tanah. "Bodoh! Kau seharusnya mencari tahu lawan-mu, sedang melakukan apa ...." Orang yang berada di luar pintu itu masuk ke dalam. Kantung berisi pisau itu sudah menggantung di pinggangnya. Biji mata orang itu tajam bagaikan teropong serta penuh dengan kelicikan. Gerakan tangan seorang pembunuh tentu saja berbeda dengan gerakan tangan orang biasa. "Terimalah pisau ini...." Lagi-lagi Wie Kai bangun dengan Lee-hie-ta-ting (Ikan meloncat), dia sudah berubah bagaikan pegas yang mengkerut. Dalam sekejap mengkerut dan mengembang, mengarah pada tujuh posisi dan sudut yang berbeda. "Tak....Tak....." Tujuh buah pisau terbang itu sebagian ada yang menancap pada dinding dan ada juga mendarat di atas ranjang. Bahkan tiga diantara tujuh pisau terbang itu dilemparkan lawan dengan cepat dan memaku lengan baju kirinya pada papan pintu. Melawan orang seperti ini sungguh tidak mudah. Saat itu di kedua tangannya sudah ada sebilah pisau terbang. Kedua pisau terbang itu bagaikan dilapisi oleh ratusan ribu sisik ikan dari baja. Wie Kai jadi menggelengkan kepalanya, dasar sialan! Gerakan serta perpindahannya yang berubah ubah menimbulkan halusinasi bagi lawannya. Dalam waktu beberapa detik ini dia menghentakkan sebelah kakinya dan menahan leher sebelah kiri lawan. Di atas selembar kertas rombeng dia menulis-kan dua huruf 'Wie Kai' dan di bawahnya ditulis lagi huruf 'Orang dan Gudang', lalu pergi. Yo Lim bangkit dan menyongsong kedatangan Wie kai. Dia merasa kepulangan Wie Kai ini terlalu cepat. "Wietayhiap, apa dia kabur?" "Bagaimana kau bisa tahu?" "Karena dia tidak ikut kembali dengan Wie-tayhiap." Wie Kai tertawa sambil berkata. "Si sialan ini, aku jadi benar-benar tertarik dengan orang ini." "Tertarik?" "Ya, maka aku baru mau melumpuhkannya." "Apakah Wie-tayhiap sudah memberi dia pelajaran?' Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya. "Maaf telah membuatmu menunggu lama!" "Tidak apa-apa, malah aku merasa kepulangan mu ini terlalu cepat." Kata Yo Lim Wie Kai tertawa-tawa. "Apakah pelajaran?" Orang itu akan kembali setelah diberi Wie Kai lagi-lagi menganggukkan kepalanya. "Apakah dia pernah punya kasus di Kabupaten Lu-lamkong ini?" "Tidak, tidak pernah." "Baguslah kalau begitu." Pada saat itu, seorang pelayan berkata dari luar pintu. "Sun-cian Tay-jin, di depan ada seorang tamu yang mencari Wie-tayhiap." "Siapa namanya?" "Ada, tadi kalau tidak salah dia menyebut namanya Hong Kie!" Yo Lim memandang pada Wie mengibaskan tangannya sambil berkata. Kai, Wie Kai "Suruh dia masuk." Tiba-tiba Yo Lim merasa jabatan Sun-cian ini terlalu sepele dan tidak berarti, dia pernah mendengar orang besar yang bernama Hong Kie. Jika tahu dia orangnya, dia tidak akan berani mengusik Hong Kie. Saat itu di luar pintu berdiri seorang lelaki yang berumur kurang lebih tiga puluh tahunan, wajahnya kasar iIjii penuh benjolan tidak rata yang mengganggu, tubuhnya sangat super kurus, tetapi dadanya mem-lur.ung seperti seorang gadis. Orang ini membungkuk memberi hormat. "Wie-tayhiap, Wie-cianpwee!" Yo Lim terpana, mengikuti ukuran usianya, dengan usia Wie Kai saat ini mana bisa dia disapa seperti itu? "Cianpwee, Boanpwee apaan, namaku adalah Wie Kai!" "Wie-tayhiap, di dunia persilatan ini tidak ada orang yang tidak tahu nama besar Cian-thauw-siau-kai?" (Kai kecil si pemburu kepala). "Kalau sudah tahu terus mau apa?" "Apakah kepala 'anjingku ini juga layak untuk kau buru?" Wie Kai menunjuk pada Yo Lim sambil berkata. "Perkenalkan Yo Sun-cian." "Sun-cian Tay-jin....." Yo Lim bukanlah orang yang mudah dipermainkan tetapi sikap Wie Kai membuat dirinya kagum seda!am-d alamnya. Tentu saja, bagaimana dia tahu apakah Wie Kai sama kagumnya pada Hong Kie? Kelak dia pasti akan lebih memperhatikan kata-katanya jika berbicara di depan orang yang demikian terkenal. Yo Lim bercakap-cakap sebentar lalu berpamit-an dan pergi. Tiba-tiba Hong Kie berlutut dan menyembah. "Apaapaan ini?" "Aku mau berguru!" "Bangun!" Wie Kai berkata. "Aku tidak menerima murid seperti dirimu, jika kau bisa berubah dan kembali ke jalan yang benar, kau boleh mengikutiku." "Baik." Hong Kie bangkit berdiri. Di luar pintu ada seseorang yang menyapa Wie Kai dan saat dia membalikkan tubuhnya, serangan yang sangat dashyat dan tidak kenal teman tiba-tiba datang dari depan dan belakang. Orang yang satu lagi ternyata Sam-jiu-Koan-in Hong Ku. Mereka marganya sama dan sekaligus adalah sepasang kekasih. Jika orang seperti mereka bergabung tentu saja bukan lawan yang mud ah untuk dihadapi. Bagian punggung Wie Kai seperti terpasang mata, di satu sisi mengelak serangan dari kedua kaki Hong Ku, di sisi lain menangkis serangan tinju dan pukulan telapak tangan dari Hong Kie. Walaupun kedua belah pihak masih belum terlihat pihak mana yang tidak beruntung, tetapi hasilnya sudah terlihat dengan jelas. Sebagai orang yang hidup di dunia persilatan setidaknya pastilah harus memiliki kemampuan. Hanya saja Wie Kai tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk bertukar pikiran, dalam sekejap mata serangannya langsung mengenai bagian vital dari tubuh mereka berdua. Mereka berdua membungkukkan pinggang kesakitan. Mereka langsung berlutut. Hong Ku berkata. "Tolong terimalah kami sebagai muridmu." "Mengapa?" "Kami merasa tidak ada orang yang lebih layak ilantnu." "Pandangan kalian terhadap dunia persilatan ini terlalu sempit." "Walaupun begitu, kami beranggapan dengan berguru padamu barulah kami tidak akan bisa tergoyahkan." "Tidak perlu! Jika ada niat baik, pasti bisa berhasil, barulah setelah itu boleh mengikuti aku." Keduanya saling memandang satu sama lain-nya, lalu sepakat untuk bersumpah. Yang satu bersumpah tidak akan pernah berpura-pura lagi menjadi orang yang terpelajar dan yang satu lagi tidak akan lagi menjadi Hong-yauw-kai (pelacur) yang menjual diri untuk hidup. Semua itu atas kemauan mereka sendiri. Hong-yauw-kai semua memerlukan perlindungan, setiap bulannya rela mengeluarkan uang puluhan tail demi memohon agar segala sesuatunya lancar. Hong Kie berkata bahwa kemarin dia bertemu dengan Lim Leng-ji di luar kota yang berjarak 300 li dari kota. Kata-kata ini sama sekali tidak relevan, Wie Kai berkata. "Kau tanya saja pada Hong Ku, kemarin kita berdua bertemu dengan Lim Leng-ji di jalan utama di kota ini." "Jika keluar rumah, kalau tidak naik kereta dia pasti naik tandu, bagaimana bisa tahu kalau dia itu yang asli atau yang palsu?" "Bagaimana bisa membuktikannya bahwa yang kau lihat itu adalah yang asli?" Tanya Wie Kai. "Karena aku berada di sampingnya sehingga bisa melihatnya dengan jelas." Wie Kai menggelengkan kepalanya. "Sungguh! Waktu itu tengah malam, aku melihat dia memasuki sebuah rumah penduduk dan kepandaiannya tidak jelek." "Jika dibandingkan dengan kalian berdua bagaimana?" Hong Kie tertawa sambil berkata. "Tentu saja jelek sekali." "Lanjutkan!" "Dia bertemu dengan seseorang dan orang itu bernama Thiat-sim. Dia bertanya kepada Thiat-sim apakah dia tahu tentang seseorang yang bernama Cia Peng. Thiat-sim rupanya mempunyai maksud jahat padanya dan hendak berlaku tidak senonoh padanya." "Lalu selanjutnya bagaimana?" "Lim Leng-ji rupanya hendak mengetahui keberadaan orang yang bernama Cia Peng itu, lalu membohonginya dengan merayunya jika dia bisa memberitahukan di mana Cia Peng berada, maka dia bisa mempertimbangkannya." Wie Kai berkata. "Hong Kie, kita pergi! Hong Ku kau tunggu saja di rumah agar bisa bergabung dengan Yo Lim, tetapi jangan beritahukan padanya ke mana tujuan kami." Hong Kie bukanlah orang yang penurut dan mudah patuh. Tetapi di samping Wie Kai dia sama sekali berbeda. Begitu menemukan tempat yang langsung ditundukkan oleh Hong Kie. dituju, Tiat-sim "Tuan Hong, maaf aku tidak mengenal anda." "Kalau tahu ini aku, lalu mau apa?" "Tentu saja, aku tidak akan berani melawan anda." "Apakah kau tahu yang seorang lagi siapa?" "Mungkinkah orang yang satu lagi lebih terkenal daripada tuan Hong?" "Sudahlah!" Wie Kai mengangkat tangannya sambil berkata. "Thiat-sim, di mana Cia Peng berada?" "Aku juga tidak tahu Hong Kie menyodokkan lututnya tepat pada -tulang iganya. "Auw.." Tiat-sim berteriak kesakitan. "Kau kan Thiat-sim (hati besi), pasti tidak masalah, coba sekali lagi bagaimana?" Kata Hong Kie. "Akan aku katakan...Cia Peng tinggal di Tiang-ciu, dia adalah seorang seorang dukun beranak, jadi tidak ada seorang pun yang tidak mengenalnya." "Apa lagi yang kau ketahui?" "Aku......" Belum selesai bicara, tiga buah pisau terbang menyerang secara tiba-tiba. Wie Kai dan Hong Kie keduanya bisa segera menghindari serangan yang datang, tetapi malang bagi Tiat-sim, satu dari ketiga pisau itu menancap mengenai ulu harinya. "Hong Kie, kau di sini melindungi Tiat-sim, aku akan pergi mengejar dan menangkap orang itu." "Tiat-sim, cepat katakan! Apa lagi yang kau ketahui?" Kata Hong Kie. "Ak...aku juga tahu Liauw In...80% dialah yang membunuhku untuk..." Thiat-sim telah mati. Wie Kai juga kembali dengan tangan kosong. Hong Kie menebarkan tangannya, berkata. "Wie-tayhiap, aku tidak bisa menyelamatkannya. "Apa yang dikatakannya sebelum dia mati?" "Katanya orang yang membunuh untuk menu-rup mulutnya itu ada kemungkinan adalah Liauw In." "Sayang sekali." "Apanya yang sayang sekali?" Wie Kai menghela nafas sambil berkata. "Rahasia yang diketahui orang ini tidak sedikit." "Wie-tayhiap, apa yang akan kita lakukan untuk masalah ini?" "Mencari Cia Peng" "Rahasia apa yang sebenarnya diketahui oleh Cia Peng? Apa hubungannya antara rahasia ini dengan Lim hujin, Lim Leng-ji, juga Liauw In?" Mereka keluar dari tempat tinggal Thiat-sim dan pergi menuju keTiang-ciu. "Berdasarkan pada Cia Peng sebagai seorang dukun beranak, ditambah lagi suaminya adalah kenalan lama dari Lim Hujin, tentu saja hal ini mudah membuat orang berprasangka yang bukan-bukan." "Wie-ya, otakku memang tidak berguna." "Dasar kau ini!" "Wie-ya, bisakah kita menyingkap sisi gelapnya?" "Hong Kie, aku rasa Lim Leng-ji ada dua, kau percaya tidak?" Hong Kie tertegun kemungkinan." Sejenak lalu berkata. "Ada "Apa yang menjadi dasar sehingga kau mengatakan ada kemungkinan?" "Bukankah kita sudah membicarakan tentang kecurigaan akan Lim Leng-ji yang muncul terlebih dahulu dengan Lim Leng-ji yang muncul belakangan?" "Benar, ternyata isi otakmu tidak semuanya berisi cairan." "Apakah Wie-ya berpendapat karena istrinya Liauw In adalah seorang dukun beranak, lagipula jika pada dasarnya bayi yang dilahirkan nyonya ternyata ada dua bayi dan Cia Peng mengambil salah satunya, justru inilah yang merupakan rahasia sebenarnya?" "Hong Kie, ternyata otakmu lumayan juga." "Tetapi kata Hong Ku pikiranku tidak terbuka." Raut wajah Wie Kai berubah menjadi serius, lalu berkata. "Hong Kie, apakah kau tahu 'Kai-kiau' (pikiran terbuka) dua kata itu di dunia persilatan merupakan senjata yang mematikan?" "Wie-ya, aku sama sekali tidak mengerti." "Kata orang, Lim hujin punya ilmu Pit-kiau-tay-hoat (ilmu menutup pikiran) dan Kai-kiau-tay-hoat (ilmu membuka pikiran), keduanya adalah ilmu rahasia dari negeri India." "Kalau soal ini aku lebih tidak mengerti lagi." "Kata orang ilmu Pit-kiau-tay-hoatbisa mem-buat seseorang melupakan semua masa lalunya dan untuk membukanya kembali mau tidak mau harus menggunakan ilmu Kai-kiau-tay-hoat, lagipula setelah dibuka efeknya bisa membuat kita menjadi muda kembali." "Wie-ya, apakah ini tidak terlalu mustahil?" Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak bisa memberikan penjelasan mengapa hal itu tidak mustahil. Dia selalu berharap bisa memiliki merasakan ilmu semacam Kai-kiau-tay-hoat. pengalaman Tentu saja ini pasti merupakan hal yang luar biasa. "Apakah maksud Wie-ya, Liauw In dan istrinya mengambil salah satu dari bayi itu dengan tujuan untuk merebut harta dari keluarga Lim?" "Ini hanyalah pandangan luar saja karena keluarga Lim memang terlalu kaya." "Kalau begitu tujuan Liauw In dan Cia Peng tidak semata-mata hanya demi harta?" "Bagaimana pun juga penilaian ini terlalu subjektif, tetapi tujuan utama mereka pastinya adalah demi Pit-kiau-tayhoat dan Kai-kiau-tay-hoat yang dimiliki Lim hujin." "Apa gunanya ilmu yang mustahil seperti ini haj-i dunia persilatan?" "Untuk orang yang baik memang tidak »k»n .ula gunanya, tetapi untuk orang yang jahat tentu saja lain " "Wie-ya, aku tetap saja tidak mengerti." "Pada dasarnya banyak hal di dunia im \.nin memang tidak mudah dimengerti oleh banyak i >i .n ty Nama Cia Peng di Tiang-ciu tidaklah begitu terkenal. Tetapi jika mencari seorang dukun beranak yang berparas jelek m aka tid aklah sulit dicari. Wie Kai dan Hong Kie ternyata menerobos tempat yang kosong. Cia Peng sama sekali tidak ada di rumah dan juga tidak tahu dia pergi ke mana. "Orang yang hendak membunuhnya sebagai saksi mata pastinya telah membocorkan informasi, sehingga Cia Peng bergegas melarikan diri." "Wie-ya, apakah kasus yang ditangani Yo Lim dan kasus kita ada hubungannya?" "Sepertinya ada hubungan dengan Lim Leng-ji." "Lalu apa hubungan Lim Leng-ji dengan kasus kita?" "Kemungkinan ada hubungannya denganku." "Kau?" Tiba-tiba Wie Kai keluar melalui jendela. Hong Kie juga ikut melesat keluar. Di bagian belakang rumah itu ada sebuah kebun sayuran yang panjangnya kurang lebih 20 tombak dan di sana lagi-lagi menemukan seseorang, orang itu adalah Yo Lim. Yo Lim dan Wie Kai sama-sama berdiri. Hong Kie benar-benar mengabdi pada Wie Kai, hanya berdasarkan pendengaran yang peka saja, dia bisa mengacaukan dunia persilatan. "Yo Sun-cian, ada apa kau datang kemari?" Walaupun pertanyaan Hong Kie terkesan tidak sopan, tetapi justru itulah yang diharapkan Wie Kai. Yo Lim tertawa sambil berkata. "Hong lote, apakah kau lupa kalau aku ini Sun-cian dari kabupaten Lu-lam-kong? Jika kasus Lim hujin belum tuntas, bagaimana mungkin aku diam saja dan tidak peduli?" "Tetapi bagaimana kau bisa tahu tempatini?" Tidak bisa menutup mulut terkadang ada guna nyajuga. Bagi Wie Kai, apa yang tidak bisa dia tanyakan, Hong Kie justru sudah mewakilinya untuk bertanya. Yo Lim menggoyang-goyangkan tangannya. "Setidaknya kali ini aku tidak mengecewakan orang, sesudah menyelidiki ke sana ke mari barulah tahu Cia Peng tinggal di tempat ini." "Memangnya kenapa kalau Cia Peng tinggal di sini?" Yo Lim agak sedikit tersinggung, dia sama sekali tidak berurusan dengan Hong Kie tetapi dia tidak bisa tidak harus memberi muka pada Wie Kai. Hanya saja Wie Kai sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikit pun, apa yang ada di benaknya sama sekali tidak terbaca, hal ini membuat Yo Lim semakin panas. "Lote, apakah kau tidak memandang terlalu rendah diriku?" Hong Kie adalah jenis orang yang kasar tetapi juga cermat. Di dalam dunia persilatan, jika ingin bisa bertahan hidup bagi orang dewasa maupun anak-anak, tidaklah cukup hanya mengandalkan keahlian silat saja. "Yo Sun-cian, kau adalah ahlinya dalam memecahkan kasus, aku hanya ingin belajar darimu saja." "Lote, lagi-lagi kau ingin menyindir aku, ya?" "Mengapa berkata seperti itu? Aku hanya ingin tahu saja bagaimana kau bisa tahu kalau Cia Peng tinggal di tempat ini?" Yo Lim menjawab. "Kasus ini terjadi di kabupaten Lu-lam-kong dan orang yang ada sangkut pautnya dengan Lim hujin sudah berada di dalam genggamanku. Cia Peng adalah istri dari Liauw In dan juga seorang wanita yang tangguh, bagaimana mungkin aku tidak tahu?" Hong Kie tertawa sambil berkata. "Yo Sun-cian, mohon jangan diambil hati, aku hanya sedikit merasa semuanya terlalu kebetulan." BAB III Wie Kai sedang minum arak bersama dengan Hong Kie. Mereka tetap saja belum bisa menemukan Cia Peng sampai sekarang. Yo Lim sudah pergi. Kata Hong Kie. "Yo Lim si kurang ajar itu ternyata tidak terlalu jelek." "Di bagian bagusnya?" "Reaksinya." "Jika dia itu meniru bagaimana?" "Maksudnya dia belajar dari kita?" Wie Kai menghirup araknya. Dia mempunyai prinsip, baik arak yang baik maupun arak yang murahan, semuanya bisa dia minum, maka dari itu dia bisa mempertahankan senyumannya. "Dasar Yo Lim sialan!" Kata Hong Kie. Wie Kai tetap saja tidak bersuara, malah dia berdiri dan berkata. "Kita pergi!" Kali ini di tempat kediaman Cia Peng ada orang. Ternyata orang mendebarkan hati. itu seorang gadis yang sangat Hong Kie termangu-mangu sejenak, katanya "Wie-ya, aku berani jamin orang ini pasti Lim Peng-ji." Wie kai menyuruh menutup mulut nya Dengan mengintip ke dalam ruangan dari atas atap rumah, dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh gadis ini. Jika dilihat sekilas saja, memang dia adalah Lim Leng-ji. "Apakah kau merasa kalau dia bukanlah Lim Leng-ji?" Kata Hong Kie. Wie Kai menggeleng-gelengkan mengangguk-anggukkan kepalanya. kepalanya juga Hong Kie mengusap-usap bagian belakang kepala nya sambil berkata. "Bagaimana ini?" "Kau cari angin saja di sini, aku akan turun untuk melihat-lihat." Mendadak Wie Kai memasuki rumah itu, membuat gadis itu segera berdiri, dengan raut wajah yang cerah berkata. "Nyalimu besar juga!" Wie Kai tertawa-tawa. "Siapa Kau?" Wie Kai merasa gadis ini sama sekali tidak mengenalnya, jadi dia bukanlah Lim Leng-ji, lagi pula kelihatannya dia tidak berpura-pura. "Siapa aku sebenarnya sama sekali tidak penting." "Lalu apa yang penting?" "Tujuanku datang ke tempat ini." "Benar! Apa maksudmu datang ke tempat ini?" Dia benar-benar persis seperti Lim Leng-ji, baik postur tubuhnya maupun parasnya. Tetapi daya tariknya sama sekali berbeda. Orang bisa meniru seseorang dari bagian luar dan gaya bicara sekaligus, tetapi tidak akan bisa meniru daya tariknya. "Apa kau memiliki saudara perempuan?" "Aku yang bertanya padamu, apa maksudmu datang ke tempat ini?" "Pertanyaan yang baru saja kutanyakan pada-mu, itulah jawabannya." "Jadi bertanya padaku apakah aku memiliki saudara perempuan atau tidak, itukah tujuanmu?" "Benar!" "Apa urusannya denganmu, perempuan atau tidak?" Memiliki "Hubungannya denganku tidaklah denganmu itu justru besar hubungannya." Saudara besar, tetapi "Bukankah ini hanya omong kosong belaka?" "Ini bukan omong kosong!" "Mengapa aku harus menjawabnya?" "Demi asal usul dirimu, kau harus menjawabnya." "Demi asal usul diriku?" "Benar." "Namaku Liauw Swat-keng, anak tunggal Apakah asal usulku penting untuk diselidiki?" "Kau seharusnya she Lim." Dia membelalakkan matanya menatap Wie kai lalu berkata. "Berani sekali kau!" "Apa maksudnya itu?" "Jika bukan karena tampangmu bukan bertampang orang jahat, kau sudah pasti mati." "Wah, sungguh tidak kelihatan kalau kau ini cukup sadis juga!" "Maksudku yang melakukannya adalah ayah dan ibuku!" "Ayahmu adalah Liau w In?" "Dari mana kau tahu?" "Ibumu adalah Cia Peng, dia adalah seorang dukun beranak, betul tidak?" "Ternyata kau menyelidiki latar belakangnya juga ya?" "Memang dari mula memang ada sedikit." "Apa maumu sebenarnya?" "Memperjelas jati dirimu yang sebenarnya, untuk membalaskan dendam ayahmu." "Kau sebenarnya bicara apa sih?" Gelagatnya sangat menyentuh hati. Memang pada umumnya bagi gadis yang cantik, walau pun sedang menangis pun pasti terlihat cantik. Pokoknya tidak ada tindak tanduk dari gadis cantik yang tidak menyentuh hati orang. "Jika aku berkata kau memiliki seorang saudara perempuan dan orang tuamu yang sekarang bukanlah orang tua kandungmu, balikan mereka adalah musuh-mu, kau pasti tidak akan percaya." Matanya yang indah terus menatap Wie Kai. Wie Kai pun terus memandangnya sambil tersenyum. "Dasar orang ini! Jika kau seorang pembohong, pastilah pembohong yang sudah sangatberpengalam-an." Wie Kai menggoyang-goyangkan lengannya. "Aku berbohong apa padamu?" "Harta, kekayaan, dan lain-lain." Wie Kai lagi-lagi tertawa, lalu berkata. "Buatku dua hal itu, seharusnya sangat mudah untuk diperoleh." "Kau membual!" Liauw Swat-keng tiba-tiba mundur dua langkah. "Aku memang sangat senang membual! Tetapi demi membuatmu percaya pada perkataanku, aku sama sekali tidak main-main, bagaimana pun caranya aku harus bisa membuatmu supaya percaya." "Bagaimana caranya agar bisa membuatku percaya?" "Dengan tangan!" Liauw Swat-keng langsung waspada, berkata. "Kau mau coba? Jangan menyesal." Wie Kai langsung menyerang. Gerakan Liauw Swat-keng sangat cepat, tidak kalah dibandingkan dengan Hong Ku. Pada saat yang bersamaan, Wie Kai sekaligus bisa merasakan kehebatan ilmu Liauw In dan Cia Peng. Tetapi setelah mengeluarkan sepuluh jurus, dia bisa menahan gerakan Liauw Swat-keng. Seperti lingkaran baja, Wie Kai menahan persendian siku Liauw Swat-keng. "Orang tuaku pasti akan membesetmu!" "Sudah pasti itulah yang akan mereka lakukan j i ka aku sampai jatuh ke dalam tangan mereka." "Apakah kau bersedia untuk bertemu deng.Mii saudara kandungmu?" Kata Wie Kai. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? Apakah kau tidak salah mencari orang?" "Tentu saja tidak, hanya saja kau lah yang salah melihat orang." "Kau berpikir bahwa ada masalah mengenai jati diriku, kalaupun ada, lalu apa urusannya dengan dirimu?" "Bisa dikatakan asal usul dirimu sangat ber-kaitan erat dengan masa depan dunia persilatan." "Kau benar-benar bekerja bukan demi harta atau kekayaan?" Wie Kai mengendurkan tangannya, berkata. "Jangan suka menuduh orang sembarangan." Tiba-tiba Liauw Swat-keng menyerang dengan gerakan yang lebih cepat dan lebih mematikan. Tadi memang dia belum mengeluarkan ilmu yang dirasanya paling dikuasainya. Sekarang dia telah menggunakannya tetapi tetap saja belum sampai sepuluh jurus, lagi-lagi serang-annya bisa ditahannya. "Siapa kau sebenarnya?" "Kau berharap aku ini siapa?" "Bukan orang jahat!" Wie Kai lagi-lagi mengendurkan pegangannya. "Kau dengarkan, tidak peduli apa kau percaya pada perkataanku atau tidak, jangan sampai menjadi wanita yang bodoh, ayahmu adalah Lim Put-hoan dan ibumu adalah istrinya Lim Put-hoan, mereka tinggal di Kabupaten Lulam-kong ini." Mata Liauw Swat-keng lagi-lagi membesar. Wie Kai berkata lagi. "Bertahun-tahun yang lalu, Liauw In adalah kekasih gelap Lim Hujin, setelah Lim Put-hoan meninggal dunia, di samping Lim Hujin ada beberapa laki-laki, tetapi dia tetap salah satu laki-laki yang paling di sayang olehnya." "Kau bohongi" "Kau dengarkan aku dulu sampai habis cerita-nya, bisa kan?" Wajah Liauw Swat-keng dipenuhi oleh amarah. Tidak ada satu anak perempuan pun yang tidak marah mendengar ayahnya jadi gula-gula seseorang. "Sewaktu Lim hujin melahirkan, kemungkinan anak yang dilahirkannya adalah anak kembar, tetapi di samping Lim hujin ternyata hanya ada satu anak dan dia adalah Lim Leng-ji, sedangkan yang satunya lagi adalah kau." "Lim Leng-ji?" "Benar." "Rasa-rasanya aku pernah mendengar orang tuaku menyebut-nyebut nama ini." "Jangan sekali-kali kau bertanya pada mereka karena hal itu malah bisa memperkeruh suasana." "Lalu mengapa ibuku menyisakan aku dan bahkan membohongi Lim hujin?" "Semua orang pasti berpikir dari sisi 'menculik'." "Tetapi kau seperti tidak berpikir demikian." "Ini hanyalah salah satu dari tujuannya, di balik itu masih ada tujuan yang lebih besar." "Tujuan apa?" "Ilmu silat rahasia dari dunia persilatan yang berasal dari negeri India yaitu Pit-kiau-tay-hoat (Ilmu menutup pikiran) dan Kai-kiau-tay-hoat (Ilmu mem-buka pikiran) dan kedua ilmu ini ada di tangan Lim Hujin. Tujuan utama mereka adalah mendapatkan kedua ilmu tersebut." "Tapi bukankah Lim Hujin sudah meninggal?" "Jika tebakanku benar, Lim Hujin pasti telah memberikan rahasia ilmu silat itu pada Lim Leng-ji, yang juga merupakan saudara perempuanmu." "Aku mengerti sekarang!" "Baguslah jika kau sudah mengerti!" "Kau juga salah saru orang yang menghendaki ilmu tersebut." Wie Kai menghela nafasnya tetapi sama sekali tidak bersuara. "Kenapa? Apa karena kedokmu sudah terbongkar. .. betul kan?" "Tidak peduli kau percaya atau tidak, yang penting jangan bertanya pada orang tuamu." "Kalau bertanya, lalu kenapa?" "Itu ibarat sudah susah payah membesarkanmu tetapi kau sama sekali tidak membawa keuntungan bagi mereka." "Jadi maksudmu Lim Put-hpan adalah orang yang sangat kaya?" "Kekayaan keluarganya berkisar ratusan juta tail. Jika dibandingkan Ho-sian (Dewa harta), orang yang suka menyita barang orang, tentu saja orang itu masih kalah jauh, pendapatan dia baru mencapai sekitar 80 juta tail sedangkan pemasukan negara baru mencapai 70 juta tail." Liauw Swat-keng menatap lama, lalu berkata. "Siapa namamu?" "Wie kai." Dia sedikit terkejut dan membelalakan matanya yang besar kepada Wie Kai. "Ternyata kau lah yang bernama Wie Kai." "Dibandingkan dengan Wie Kai yang ada dalam bayangan mu, lebih bagus atau lebih jelek?" "Tidak bagus juga tidak jelek, rasanya ayah dan ibuku juga pernah menyebut namamu." "Lalu bagaimana pandangan mereka terhadapku?" "Biasa saja." "Apakah kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan jika orang bijaksana tidak mati, maka tidak bisa menjadi pencuri?" Liauw Swat-keng mencibirkan bibirnya. "Kalau begitu apa gunanya Pit-kiau-tay-hoat?" "Kegunaannya sangat besar, hanya saja aku sendiri saat ini tidak begitu jelas." "Apa yang kau mau dariku?" "Aku berharap kalian dua bersaudara saling bertemu." "Apa maksudmu?" "Hanya dengan kalian saling bertemu muka barulah percaya bahwa kalian memang memiliki saudara yang lain. Pokoknya singkat kata, kau tidak percaya, dia juga tidak percaya." "Kau pernah mencobanya pada dia?" "Belum." "Jika belum pernah mencoba, bagaimana bisa tahu kalau dia tidak akan percaya?" "Bukankah kau ini contohnya?" Tiba-tiba di luar terdengar suara gaduh. Hong Kie sedang bertarung dengan seorang wanita setengah baya di tengah taman. Wanita ini bisa bertahan demikian lama terhadap serangan Hong Kie dan tidak kalah, Hong Kie benar-benar kesal. Hong Kie hendak menggunakan pisau terbang. Setidaknya dia merasa percaya diri dalam meng gunakan pisau terbang. Wie Kai bisa melihat bahwa ilmu silat wanita itu bukanlah ilmu sembarangan. "Hong Kie, minggirlah!" Wanita itu ternyata adalah Cia Peng dan walaupun usianya sudah mencapai sekitar 45-46 tahun, tetapi dia kelihatannya seperti wanita yang baru berusia sekitar 30 tahunan. Sebenarnya pikiran Cia Peng hampir sama dengan Hong Kie, tidak bisa mengalahkan lawannya benar-benar membuat dirinya tidak bisa menerimanya. Tetapi begitu mendengar lawannya bernama Hong Kie, dia tidak bisa tidak merasa terkejut. Untuk apa Hong Kie datang ke tempat ini? Lalu dia melihat pada orang yang baru datang, walaupun usianya jauh lebih muda dibandingkan dengan Hong Kie tetapi bisa memerintahnya. Hati Cia Peng agak sedikit tidak tenang, ialu bertanya. "Siapa kau?" "Hanya orang biasa yang tidak terkenal!" Cia Peng tentu saja tidak percaya begitu saja, jika benar hanya orang biasa yang tidak terkenal tentu saja tidak mungkin begitu rendah hati. Ada kalanya 'rendah hati' bisa merupakan sebuah senjata, bahkan merupakan senjata yang paling mematikan "Apa yang kalian lakukan di rumah milik pribadi ini?" Tanya Cia Peng. "Apa itu juga harus ditanyakan? Orang yang datang bersama dengan Hong Kie, jika bukan demi barang-barang berharga, lalu demi apa?" "Kalian benar-benar merusak pemandangan!" Cia Peng tiba-tiba mengeluarkan pedang lenturnya. Wie Kai tetap menghadapinya dengan tangan kosong. Setelah bertarung lima jurus, hati Cia Peng mulai gamang. Dia memang orang yang memiliki kecemasan, tidak berani mengakuinya tetapi juga khawatir akan puterinya. "Siau-keng........Siau-keng......." Di dalam rumah itu tidak ada suara orang sedikit pun, Cia Peng berkata sambil memaki. "Apa yang telah kalian lakukan pada puteri-ku?" "Untuk itu kau tidak perlu khawatir! Walaupun teman Hong Kie ini bukanlah barang yang bagus, tetapi tidak akan berani mengambil keuntungan dalam kesempitan," Jawab Wie Kai. Cia Peng mengira Liauw Swat-keng tidak berada di rumah itu, dia menyapukan pedangnya ke arah lawan dengan keras lalu melarikan diri. Hong Kie tidak mengejarnya. Wie Kai menepuk tangannya beberapa kali dan terlihat Hong Kie keluar mengapit Liauw Swat-keng. Di kota Koh ini Lim Leng-ji bukanlah bagian dari anggota keluarga kerajaan juga bukan berasal dari keluarga pejabat. Nama Lim Put-hoan hanya terkenal di tempat ini saja, tidak sampai ke tempat lain. Hanya saja harta kekayaan yang dimiliki oleh sebagian besar pejabat negara tidak ada yang bisa menandingi kekayaannya. Rumah dan halaman yang ada di kota Koh ini pun jauh lebih megah dibandingkan dengan dengan kediaman menteri sekalipun. Warna tengah malam benar-benar indah. Lim Leng-ji sedang menyesap teh di dalam paviliun di tepi air. (sejenis saung Cina yang biasanya berada di tengah kolam yang dihubungkan dengan jembatan yang meliukliuk). Permukaan air yang beriak itu memantulkan bayangan dari paviliun yang meliuk-liuk. Di dunia ini terdapat banyak orang dan benda yang sama seperti bayangan, yang meliuk-liuk. Dia berjalan keluar dari paviliun itu dan berdiri di samping jembatan yang meliuk-liuk itu sambil memandangi permukaan air. Wie Kai yakin tidak ada pelukis terkenal mana pun yang bisa melukiskan daya tariknya saat ini. Dia dan Liauw Swat-keng sedang bersembunyi di atas pohon dan jarak paviliun dari pohon ini tidak lebih dari 4-5 tombak. Otak Liauw Swat-keng serasa tumpul. Dia seakan-akan melihat bayangan dirinya. Liauw Swat-keng ingin berteriak tetapi bibirnya terasa ada yang menahan. "Biar aku turun lebih dulu." Bisik Wie Kai "Mengapa tidak sama-sama saja?" "Menurut pendapatku, lebih baik memanggilmu dulu, barulah kau keluar." Aku yang Secara tiba-tiba di samping Lim Leng-ji ada bayangan seseorang berkelebat. Lim Leng-ji agak terkejut. Reaksi dirinya tentu saja wajar dan dirinya tanpa sadar mundur sampai tiga langkah. "Ini aku," Wie Kai melambai-lambaikan tangannya lalu berkata. "Maaf, aku sedikit lancang." Lim Leng-ji memandangnya sekilas dengan matanya yang bersinar laksana bintang di langit, lalu katanya. "Apakah kau memiliki perasaan yang kuat kalau kita akan bertemu lagi?" "Ada," Wie Kai tiba-tiba merasa tersanjung dengan katakata tadi. Walau seorang walikota sekali pun yang menga takan kalimat itu kepadanya, dia tidak akan merasakan perasaan tersanjung seperti itu. "Apakah kau masih mengingat hal yang lain?" "Sepertinya ada, ini sungguh seperti bayangan yang ada di dalam mimpiku, benar-benar aneh! Tiba-tiba Lim Leng-ji tertawa, lalu katanya. "Kau sama sekali tidak berubah." "Aku? Dari mana kau tahu?" Lim Leng-ji termenung sambil menerawang seakan-akan membayangkan hal yang telah lampau, lalu berkata dengan berguman. "Apakah kau masih ingat tentang kita bertiga?" "Kita bertiga?" "Yang seorang adalah aku, yang satu lagi adalah Loo Cong, dan yang lainnya adalah kau........" "Ada kau dan juga ada Loo Cong?" "Kira-kira waktu berumur 5-6 tahun atau mungkin lebih kecil sedikit, kita setiap hari selalu bersama." Wie Kai berusaha mengingat masa yang telah lalu, tetapi bayangan yang samar-samar selalu saja tampak menyelubungi, berkerumun untuk menghalau ingatan. Wie Kai tidak bisa mengatakan kalau dia tidak ada sedikit pun ingatan akan hal itu. Lim Leng-ji berkata sambil berguman. "Jika anak kecil sudah bersama-sama, pastilah akan bermain rumah-rumahan. Kau pura-pura sebagai penyamun, aku pura-pura sebagai pengantin perem-puan Loo Cong, ceritanya aku diculik oleh penyamun dan Loo Cong datang menolongku dan merebutku kembali." "Aku selalu berpura-pura sebagai penyamun?" "Seringnya begitu." "Aku belum pernah berpura-pura sebagai pengantin lakilaki?" Tanya Wie Kai. "Sepertinya belum pernah." "Apakah karena aku tidak bersedia berpura-pura menjadi pengantin laki-laki atau kau yang tidak bersedia berpurapura menjadi pengantin perempuan-ku?" "Aku juga sudah lupa! Sepertinya Loo Cong yang selalu ingin agar aku yang berpura-pura menjadi pengantin perempuannya." "Loo Cong benar-benar beruntung." "Bagaimana pun itu hanyalah kenangan masa lalu anak kecil." "Tetapi beberapa tahun ini, bukankah setiap kali mengingatnya selalu menjadi sesuatu yang layak untuk dibanggakan?" "Jika pada waktu itu kau yang menjadi pengantin lakilakinya, apakah sekarang ini kau akan merasa sangat bangga?" "Tentu saja." Wie Kai tiba-tiba bertanya. "Waktu dulu Loo Cong selalu ingin kau yang pura-pura menjadi pengantin perempuannya dan kau tidak pernah sekali pun menolaknya?" Lim Leng-ji menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangan mata Wie Kai jatuh ke permukaan air, tetapi sinar mata Wie Kai jauh lebih terang dibandingkan dengan permukaan air. "Kenapa? Apa kau sedikit pun tidak ingat akan hal ini?" "Aku juga sukar untuk mengatakannya, entah mengapa ingatanku tiba-tiba menjadi sangat jelek." "Coba kau pikir-pikir lagi, masa sekali pun tidak pernah ingat?" "Yang kau maksud itu yang mana?" "Pada saat Loo Cong tidak menjadi pengantin laki-laki." "Sudah tidak ingat lagi! tampaknya tidak pernah." Wie Kai lagi-lagi bertanya sambil memandang padanya. "Ingatanmu memang tidak begitu bagus, tetapi ingatanku justru lebih parah, karena tiba-tiba aku merasa tidak pernah ingat padamu!" Lim Leng-ji tertawa dingin..Walaupun hanya sekedar sebuah tawa dingin, tetapi mungkin ada sebagian orang yang bakal ber-terima kasih seumur hidup karena senyum itu. Tetapi karena Lim Leng-ji sedikit demi sedikit sudah membuka kunci dari ingatannya, dia tiba-tiba merasa agak sedikit meremehkan Lim Leng-ji. Mengapa bisa begitu? Dia tidak berani mengemukakan ingatan akan anganangan yang ada di dalam otaknya. Itu sepertinya kejadian yang belum lama terjadi. Sepertinya hubungan mereka tidak hanya begitu saja. Hanya saja jika semakin diusut dan semakin diingatkan kembali, ingatan yang tidak berarti dan sayup-sayup itu lagi-lagi seperti kabut yang meng-hilang. Karena i tu dia sering memukuli kepalanya sendiri. Karena itu dia juga sering penasehati diri sendiri, masa lalu tidak peduli baik atau buruk, tidak perlu dipikirkan, tidak boleh dipikirkan, juga kadang kala bukan sesuatu hal yang baik. Karena itu dia sering kali bisa tersenyum dengan ramah dan membuat orang lain menjadi senang. Tiba-tiba Lim Leng-ji menatapnya dengan tekad yang bulat dan berkata. "Mengapa waktu itu sekali pun kau tidak pernah meminta menjadi pengantin laki-laki?" Ketika menanyakan hal ini, dia agak sedikit manja dan malu-malu. Kata orang saat-saat tercantik bagi seorang pi-rempuan justru pada waktu dia tersipu malu. "Betulkah aku tidak pernah sekali pun meminta untuk menjadi pengantin kali-Iaki?" Dia menggelengkan kepalanya pelan-pelan. "Sekali pun tidak pernah?" Lim Leng-ji lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Mengapa aku bisa begitu?" Lim Leng-ji berkata dengan nada menyesal. "Kau bukan hanya tidak pernah menjadi seorang pengantin laki-laki, kau juga sering memukul-ku." "Memukulmu? Aku bahkan memukulmu?" "Iya, setiap kali kau memukulku, Loo Cong pasti balas memukulmu." Ingatan Wie Kai lagi-lagi muncul ke permuka-an. Dia memukul bagian punggung Lim Leng-ji dengan perlahan. Dia memukul lengannya dengan perlahan. Dia menarik kepang rambutnya dan Lim Leng-ji menangis sambil memanggil-manggil nama Loo Cun. Tetapi Wie Kai sendiri tahu, dia memukulnya serta menarik kepang rambutnya, bukanlah karena dia benarbenar ingin memukulnya. Wie Kai hanya menyukai salah satu reaksi yang dikeluarkan Lim Leng-ji. Tetapi tidak banyak orang yang memahami cara ini, juga bagi perempuan lainnya pada umumnya. Sering kali demi membela Lim Leng-ji, Loo Cong terlihat berani dan perkasa. Tentu saja balasan dari Wie Kai juga sama terlihat berani dan perkasa. Walaupun dia bukan sungguh-sungguh ingin memukul Lim Leng-ji. Tetapi pukulan balasannya terhadap Loo Cong sama sekali tidak asal-asalan. Pintu ingatannya hanya terbuka sampai di situ saja, yang lainnya masih membingungkan dan samar-samar. Tiba-tiba Lim Leng-ji menaikkan alis matanya, menatap tajam padanya sambil berkata. "Mengapa ada kesan penyesalan di wajahmu?" "Kapan?" "Sekarang ini." Wie Kai tertawa pahit sambil menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Ada masalah yang aku agak sedikit tidak enak untuk memberitahukannya padamu." "Jika sudah datang kemari, ada hal apa lagi yang tidakbisa dibicarakan!" Wie Kai menggosok-gosokkan tangannya, mengayunkan kepalanya ke depan dan ke belakang, bahkan mengangkatangkat bahunya. Semua adalah gerakan yang tidak pernah ditunjukkannya sebelumnya, prilaku yang menunjuk-kan keragu-raguan dan ketidak pastian. "Tiba-tiba saja aku baru teringat, hubungan antara kau dan aku bisa menjadi dua kutub yang tidak seimbang." "Waktu masih anak-anak?" "Bukan, justru waktu belum lama ini." "Tidak seimbang yang bagaimana?" Wie Kai lagi-lagi menggosok-gosok tangannya, lalu berkata. "Kau tidak akan keberatan jika kukatakan?" "Asal bukan direka-reka seenaknya, untuk apa aku keberatan?" "Sebelum melangkah lebih jauh, mohon perhati arinya! Ini bukanlah inspirasi atau ilham yang tiba-tiba muncul atau terlihat dari ingatan, sepertinya aku dan kau I i nggal bersama-sama." "Tinggal di mana?" "Sudah tidak ingat lagi! Hanya saja kadang-kadang tinggal bersama, bahkan....bahkan seperti layaknya suami istri saja." Lim Leng-ji tiba-tiba memandangi Wie Kai dengan pandangan agak meremehkannya. Seorang perempuan seperti itu, meskipun pandangan meremehkan orang seperti itu ditujukan ki-pada siapa pun, mereka akan tetap merasa terJika seorang perempuan yang luar biasa yang dapatmenggerakkan hati seseorang memandangi seorang laki-laki dengan pandangan seperti itu, kecuali jika laki-laki itu adalah suaminya atau teman baiknya, biasanya laki-laki ini tidak bisa memastikan pikirannya hanya melihat dari ekspresi mukanya saja, juga tidak bisa menyadari suasana hatinya yang dicerminkan oleh ekspresinya. Karena pandangan matanya sangat tajam menusuk seperti kilat yang menyambar. Semua orang dalam hal ini hanya bisa terkejut. Segala macam pemikiran untuk sementara terhenti. "Aku tahu kau pasti akan merasa tidak pantas atau marah." "Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?" "Ini kan hanyalah potongan kecil dari kenangan masa lalu! Mengapa kau malah bertanya mengapa aku bisa berpikir seperti itu?" "Jika siang hari ada pikiran, maka malam hari ada mimpi. Semuanya hanya menjadi sebuah impian." Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan mimpi?" "Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas antara mimpi dan ingatan." "Bagus...bagus.... sudahlah jangan bicarakan lagi hal yang membosankan ini. Apa lagi yang masih kau ingat?" Wie Kai berjalan perlahan-lahan mengelilingi paviliun pinggir air itu. Lim Leng-ji pun mengikuti, berjalan mengelilingi paviliun itu. Bayangan kedua orang itu terpantul di permukaan air, benar-benar seperti sepasang bayangan kembar. Liauw Swat-keng yang berada di atas pohon tiba-liba merasa seakan-akan harta yang telah berada di tangannya tiba-tiba jatuh ke tangan orang lain. Kemungkinan bahwa gadis ini adalah bayangannya, bisa saja terjadi. Perasaannya saat ini benar-benar kacau. Wie Kai bolak-balik tetap saja menatapnya. Setiap kali Wie Kai menatap gadis itu sekali, orang yang berada di atas pohon juga menggertakkan giginya s "-kali. "Kau masih belum menjawab pertanyaanku." Wie Kai merendahkan suaranya sehingga hanya mereka berdua saja yang bisa mendengarnya. Bahkan orang yang berada di atas pohon pun tidak bisa mendengarnya. "Rasa-rasanya kita sudah memiliki hubungan sa mpai tidur di bantal dan kamar yang sama seperti suami istri." Lim Leng-ji nyaris saja menamparnya. Hanya saja dalam kata-katanya terkandung dua kata 'rasa-rasanya'. 'Rasa-rasanya' dua kata itu kegunaannya sangat brsar, ada kalanya bukanlah kata yang hanya omong kosong belaka. Walaupun ada orang yang membenci kata 'rasa-i asanya', 'mungkin', bahkan 'kurang lebih', dan lain-lain. Wie Kai membalikkan kepalanya memandang dan melihat raut wajah Lim Leng-ji yang tampak sangat tidak menyenangkan. Lim Leng-ji lalu berkata. "Loo Congpasti tidak akan pernah mengeluar-kan katakata seperti itu." Wie Kai berkata. "Loo Cong adalah Loo Cong, aku adalah aku." "Karena itu, dulu kau menjadi......" Kata Lim Leng-ji. tidak pernah sekalipun Dia tidak melanjutkan perkataannya. Sebenarnya dikatakan atau tidak sama saja. Seorang anak kecil pun pasti bisa menebaknya. Kedua orang itu tetap saja berjalan perlahan-lahan mengelilingi paviliun itu sampai 2-3 putaran sambil tetap tidak mengeluarkan suara. Tiba-tiba Lim Leng-ji bertanya. "Kau masih ada ingatan aneh apa lagi tentang masa lalu?" "Untuk sementara ini tidak ada!" '"Untuk sementara' dan 'tidak ada' adalah kata yang saling bertentangan, betul tidak?" "Aku hanya takut kau marah." "Semua yang paling membuatku marah sudah kau katakan tadi." "Ingatan akan masa lalu yang sedikit ini mungkin malah bisa membuatmu tambah marah." Lim Leng-ji sedang mempertimbangkan apakah perlu mendengar kata-kata yang kurang ajar ini. Atau mungkin dia sedang menebak apa sebenar nya isi kata-kata itu? Mungkin kata-kata tadi adalah kata-kata yang kotor. Lim Leng-ji tahu dirinya jelas-jelas sama sekali belum ternoda. Tetapi dia malah mendengar desas-desus yang disebarkan orang lain tentang dirinya yang disebarkan di belakang punggungnya. Seseorang tidak peduli betapa kaya dan makmur nya dia, tetap saja tidak bisa menghindar dari kecemburuan orang lain. Lihat saja Baginda Raja, entah berapa banyak rakyat jelata yang merasa cemburu dan iri di dalam hati padanya? Lim Leng-ji mengayunkan tangannya, berkata. "Jika memang ada yang perlu dibicarakan, katakan saja!" "Sebenarnya aku mengatakannya." Sama sekali tidak ingin "Kecuali ini hanya rekaanmu saja!" "Untuk apa aku mereka-reka hal seperti itu?" Perasaan Lim Leng-ji mengatakan, jika orang ini datang hanya untuk bermanis-manis alias menjilat, kata-katanya benar-benar berbahaya, benar-benar bisa mencelakakan orang lain. Wie Kai sejenak ragu lagi lalu berbisik. "Kau dan orang itu malah sudah memiliki seorang jnak laki-laki kecil... tentu saja kemungkinan anak laki-laki kecil itu bukanlah anakmu, tetapi anak orang itu dengan wanita lain........." Tiba-tiba Lim Leng-ji melayangkan tamparan padanya. Tamparan ini benar-benar sangat keras. Bagi penonton yang berada di atas pohon, tamparan tadi ibarat sengsara membawa nikmat Paling tidak tamparan tadi menunjukkan kalau "barang berharga"nya masih terjaga dengan baik. Tetapi bagi Wie Kai, tamparan tadi membuat-nya sedikit tersadar. Bagi Lim Leng-ji sendiri, dia merasa kalau tamparannya tadi memang agak sedikit kelewatan. "Berani-beraninya kau berkata seperti itu!" Wie Kai berkata dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak main-main dengan perkataanku tadi, paling tidak aku tidak mengarang-ngarang." "Di dunia ini mana ada hal yang seperti itu? Siapa yang telah menyuruhmu untuk menghina diriku?" Wie Kai mengusap-usap mukanya tanpa ber-kata sepatah kata pun. "Rupanya kau menyesal telah mengeluarkan kata-kata seperti itu, ya kan?" Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sebenarnya masih ada yang harus dikatakan." "Masih ada?" "Aku masih ingat secara samar-samar, tetapi aku tidak ingin mengatakannya!" "Semua perkataan yang kurang ajar itu sudah kau katakan semuanya, masih ada yang mana lagi yang belum kau katakan?" "Aku kan tadi sudah bilang, itu hanyalah ingatan yang setengah tidur, aku tidak berani terlalu membenarkannya." "Jika semua itu bukan bohong, katakan saja semuanya secara terus terang!" Wie Kai menghela nafas. "Jika bicara terus terang, nanti kau akan memukulku lagi." "Kau takut dipukul?" "Ya tidak juga, hanya takut membuatmu marah!" "Aku tidak marah!" "Kau pasti tidak akan percaya, karena sebenar-nya nku memang sengaja menghinamu." "Apakah benar segawat itu?" "Itu tergantung apakah kau percaya atau tidak?" "Coba kau ingat-ingat lagi, apakah semua ini ,idalah khayalan saja ataukah mimpi yang benar-benar nyata?" Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau begitu kau mungkin sudah mengidap penyakit lupa ingatan yang ringan." "Mungkin saja, belakangan ini aku juga ber-pikir demikian, tetapi di lain pihak, aku sama sekali tidak memiliki gejala akan penyakit tersebut." "Baiklah, kalau begitu katakan saja!" Wie Kai berhenti dan bersandar pada pagar paviliun itu lalu berkata. "Kau masih marah padaku karena menying-gung soal anak laki-laki kecil tadi." Lim Leng-ji lagi-lagi mengangkat tangannya tetapi sebelum memukul dia sudah menurunkan kembali tangannya dan bertanya dengan bersuara keras. "Penyakitmu benar-benar sudah tidak tertolong lagi." "Mungkin tidak lah terlalu berat, tetapi adalah sedikit." "Kau tengah malam begini datang menemuiku, apa hanya untuk mengatakan hal ini?" "Tidak. Aku datang demi mengungkapkan jati dirimu yang sebenarnya, juga jati diri adik perempuan kembarmu.'' " Apa maksudmu dengan adik perempuan kembarku?" Lim Leng-ji menduga penyakit yang dideritanya benarbenar parah karena semua hal ini tidak mungkin terjadi pada dirinya. Lim Leng-ji menatapnya dengan tajam. Wie Kai berkata. "Kau sama sekali tidak mempercayai hal ini, aku sedikitpun tidak merasa aneh." "Kau ini mengarang cerita apa lagi?" "Dulu Lim Hujin pernah mempunyai seorang teman yang bernama Liauw In, apakah kau pernah men dengarnya?" "Pernah." "Kalian Keluarga Lim adalah keluarga yang kaya raya, kata orang kekayaan keluarga kalian sampai ratusan juta tail, apakah kau mengetahuinya?" "Wah, ternyata orang luar lebih tahu dibandingkan dengan keluarga kami sendiri." Dia hampir saja mengatakan termasuk Wie Kai di dalamnya. "Kau jangan salah paham dulu, katanya Liauw In mempunyai seorang istri yang bernama Cia Peng dan dia adalah seorang bidan, sewaktu nyonya melahirkan, dia melahirkan sepasang anak kembar (" Tapi dia mengira hanya melahirkan seorang anak saja." Lim Leng-ji sangat terkejut. Tetapi setelah rasa terkejutnya lewat, tiba-tiba dia U'i tawa lalu berkata. "Perkataanmu malam ini benar-benar bisa membuat orang yang sudah meninggal tidak bisa beristirahat dengan tenang." "Aku sudah tahu kau tidak akan percaya, jika kau percaya maka orang yang melakukan tipu muslihat ini, apakah masih memiliki masa depan?" "Wie Kai, yang selanjutnya aku sudah tidak ingin mendengarnya lagi." "Mengapa?" "Aku juga tidak berani memastikan, lagi pula tidak mungkin persoalan mengenai kakak-beradik kembar seperti ini bisa muncul secara tiba-tiba." "Pikiran ini memang yang paling masuk akal, ?ikan tetapi di dunia ini ada kalanya timbul persoalan aneh yang tidak pernah terpikirkan orang sebelum-nya." "Apakah adasaksi atau barang bukti?" "Aku telah membawa adik kembarmu kemari." Lim Leng-ji lagi-lagi terkejut dan bertanya. "Di mana dia?" Wie Kai bertepuk tangan lalu. "Swat-keng, silahkan keluar!" Sekarang bisa dilihat betapa paniknya Lim Leng-ji. Dia mengikuti arah pandangan mata Wie Kai, tetapi di atas pohon itu tidak terdapat gerakan sedikit pun. Wie Kai tahu Liauw Swat-keng adalah seorang gadis yang nakal, tetapi itu juga tergantung sekali suasana hatinya, membuat dirinya cemas saja! Wie Kai lagi-lagi bertepuk tangan, berkata. "Swat-keng .... Swat-keng di saat hendak bertemu dan mengenal saudara perempuan kembarmu kau malah nakal? Kau ini benar-benar keterlaluan!" Sama seperti sebelumnya, tetap saja di atas pohon itu tidak aToakorakan apa pun. Wie Kai memandangi Lim Leng-ji dan melihat dia sama sekali tidak bereaksi apa pun. Dari pada ada reaksi, tidak ada reaksi sama sekali malah membuatnya semakin tidak tenang. Wie Kai sedikit naik pitam dan berseru. "Liauw Swat-keng, jangan kurang ajar! Aku ini benarbenar lari kesana kemari demi orang lain, jangan membuatku tambah repot, bisa kan?" Di atas pohon itu sama sekali tidak ada orang. Berdasarkan kemampuan pendengaran Wie Kai dan jarak dengan pohon itu demikian dekat, dia bisa tahu bahwa di atas pohon itu sudah tidak ada orang dan itu membuatnya naik pitam. Lim Leng-ji sama sekali tidak berkata sepatah kata pun. ^ Bahkan saat itu keinginan Lim mengeluarkan pendapat pun sudah sirna. Leng-ji untuk Pada teman sejak kecil yang setelah sekian lama baru bertemu kembali, sebenarnya dia sudah berhasrat untuk merencanakan pertemuan kembali. Tetapi perjumpaannya kali ini telah memadamkan hasrat hatinya. Wie Kai sangat murka, tanpa menggerakan bahu dan kakinya, tubuhnya melesat melewati kolam tanpa menghindari ranting daun pada pohon. Lim Leng-ji hanya mendengar suara "aduh" Yang tiada hentinya dari tengah pohon itu. Suara ini mau tidak mau membuat sudut mulut nya terangkat. Liauw Swat-keng merasa jika dia tidak muncul di hadapan Lim Leng-ji, walaupun Wie Kai berbicara sampai langit terang dan bibir bengkak, Lim Leng-ji tidak akan mungkin percaya. Jika Lim Leng-ji tidak percaya maka dia bukanlah pilnikyang kalah. Masalah di antara pria dan wanita memang ?aili-rhana seperti itu. Apakah seorang wanita itu bahagia atau tidak, mencintai atau tidak, memang begitulah cara membedakannya. Selama di dalam perjalanan dari propinsi Tiang-i m menuju ke kota Koh ini, Liauw Swat-keng sudah mengetahui bagaimana perasaan dirinya terhadap Wie h ai Hanya saja masalah di antara pria dan wanita memang tidak lah sesederhana itu. Lim Leng-ji menengadah melihat warna langit lalu birkala. "Sudah larut!" "Memang, sudah waktunya bagi mengundurkan diri," Jawab Wie Kai tamu untuk Apakah seorang tamu sudah waktunya pergi atau belum semuanya tergantung tuan rumah yang memutuskannya. Jika tuan rumah tidak memutuskan maka tamulah yang membuat kepurusan sendiri. BAB IV Sebagian besar orang tidak dapat dipungkiri pasti mempunyai perasaan aneh terhadap mereka. Hweesio Lama (Hweesio Budha dari Tibet) ini sepertinya tidak terlalu menarik perhatian orang, perawakannya juga tidak gemuk, usianya sekitar 50 tahun, dan di wajahnya terlihat ada sedikit senyuman. Dia berjalan tidak cepat-cepat juga tidak lambat, pastinya dia adalah seorang pengikut Budha yang taat. Dia memasuki lorong kecil lalu tiba-tiba dia mengangkat kedua alis matanya dan raut wajahnya berubah menjadi berseri-seri. Begitu membalikkan badannya dan dengan menggunakan ilmu meringan-kan tubuh dalam waktu sekejap mata dia sudah memasuki taman sebelah kiri di dalam sebuah rumah penduduk. Rumah ini memiliki taman yang luas dan dipenuhi oleh bunga-bunga dan pepohonan. Sinar lentera yang keluar dari sebuah ruangan kecil menerpa bunga-bunga dan pepohonan yang ada di sekitarnya sehingga membuat taman ini menjadi mem pesona. Kegelapan malam bermandikan cahaya. di tempat ini seakan-akan Sewaktu hweesio Lama itu berdiri di depan pintu mangan kecil itu, dia menunduk memberikan hormat. Di dalam ruangan kecil itu terdapat sebuah dipan (bangku panjang jaman dulu yang menyerupai ranjang) yang di atasnya terdapat seorang wanita separuh baya. "Maaf Boan-lai mengganggu Ciasicu." Wanita separuh baya itu membuka matanya seraya menjulurkan tangannya sambil berkata. "Orang sendiri tidak perlu sungkan." Padahal dia sendiri tahu bahwa orang yang datang itu adalah hweesio Lama itu, tetapi sampai hweesio Lama itu mengeluarkan suara dia sama sekali tidak menyambutnya. Hweesio Lama itu masuk ke dalam ruangan kecil itu lalu duduk di kursi yang ada di depan dipan itu dan berkata. "Apakah ada kabar dari majikan?" "Masih belum ada, apakah taysu ada keperluan penting dengan majikan?" Jawab wanita itu. "Orang she Wie itu kelakuannya benar-benar sangat mencolok mata, bahkan sampai mencari Liauw Kouwnio. Apakah hal ini tidak akan semakin memperburuk keadaan?" "Majikan juga sudah memperhatikan hal ini." Pan Lai Lama bertanya lagi. "Apakah Cia Sicu ada perintah untuk di laksanakan?" "Mohon Taysu dapat secepatnya," Kata wanita itu. menemukan Siau-keng Pan Lai Lama berkata. "Lo-na (saya) juga sedang mengusahakannya." Wanita itu menggangguk. "Taysu sudah menghilang?" Tahu dari dulu kalau Siau-keng "Belum lama." Jawab Pan Lai Lama "Berapa lama?" "Tidak sampai sepuluh hari." "Bagaimana cara Taysu sampai bisa mengetahuinya?" Pan Lai berkata terus terang. "Semua hal yang terjadi di desa ini, hanya sedikit yang Lo-na tidak tahu." Wanita itu tertawa sambil berkata. "Taysu benar-benar luar biasa." "Ah, sama sekali tidak." "Tolong terus beri kabar, kalau bertemu dengan nya langsung bawa dia kembali." Pan Lai bertanya. "Jika Liauw Kouwnio bersama-sama dengan orang she Wie itu, bagaimana?" "Mengapa dia mesti bersama dengan orang itu?" "Karena mereka memiliki arah tujuan yang sama yaitu dari arah Tiang-ciu menuju kota Koh." Wanita ini seharusnya merasa senang setelah mendengar berita ini, tetapi raut wajahnya tetap saja ilingin tanpa ekspresi sama sekali bahkan suaranya pun tajam bagaikan pedang. Wanita itu berkata. "Kalau begitu, maaf merepotkan membawanya pulang kemari." Taysu untuk "Apakah Sicu bermaksud untuk sementara waktu t ii lak ingin bermasalah dengan she Wie ini?" "Taysu, memangnya perkataan ini harus diulang berapa kali?" Sekali saja sudah lebih dari cukup, pastinya Pan I ai tidak akan berani untuk bertanya kedua kalinya. Pan Lai berdiri d an memohon pamit. Wanita itu lagi-lagi berkata secara tiba-tiba. "Soal Cianthauw-siau-kai (Kai kecil si pem-buru kepala) ini, biar orang-orang di atas yang meng-urusnya, kau dan aku tidak perlu repot-repot meng-urusinya." "Apakah maksud Sicu itu berarti untuk seterusnya?" Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hweesio Lama itu baru saja pergi. Di dalam ruangan itu tiba-tiba ada seseorang yang muncul. Bahkan sepertinya orang itu memang sudah ada dari tadi dan berdiri di tengah ruangan itu tanpa disadari. "Yang di atas memangnya ada kabar apa?" Nada bicara serta prilaku wanita itu saat ini dengan sewaktu berbicara dengan Pan Lai Lama tadi amat sangatberbeda. Begitu juga dengan keadaannya, yang dari tadi hanya berbaring saja di atas dipan panjang dan sama sekali tidak bergerak, sekarang tiba-tiba berlutut di atas tanah. "Tidak perlu memberi hormat secara berlebihan seperti itu!" Orang yang baru datang itu berkata dengan tegas dan wanita itu langsung segera berdiri. Terhadap siapa pun dia bisa bersikap tidak peduli dan masa bodoh. Karena di dalam dunia persilatan, pendekar wanita yang lebih hebat dari dirinya sudah tidak banyak. Hanya saja begitu bertemu dengan orang yang di atas tentu saja berbeda, apa lagi kalau bukan disebab kan ilmu dan kekuatannya sangat tinggi. Orang yang berasal dari jajaran atas ini memiliki kekuatan yang misterius. Sungguh kekuatan yang hebat dan misterius. Sang majikan itu berkata dengan lemah lembut. "Kalian suami istri demi masalah Oh-tiap-go (Sarang kupu-kupu), sudah bekerja tiada siang atau pun malam tanpa mengenal lelah, aku sudah menge-tahuinya ilan menyimpannya di dalam hati." Wanita itu membungkuk sambil berkata. "Hamba hanya berusaha sekuat tenaga!" "Berusahalah terus!" Kata Sang majikan. "Baik!" "Cia Peng." "Ya, Tuan." "Bagaimana menurutmu tentang Pan Lai?" "Tuan tentu lebih mengerti Pan Lai daripada aku." Cia Peng menyahut dengan kesopanan yang tangat dalam juga dengan kata-kata yang sangat menjunjung tinggi. "Aku justru ingin tahu bagaimana pandangan-mu terhadap dia." Cia Peng tahu dia tidak bisa tidak bicara, lalu heikata. "Barusan dia datang kemari. Dia membicarakan masalah yang terjadi di desa ini dan hal yang tidak dia ketahui sangatlah sedikit." Sang majikan itu sama sekali tidak bergerak. Cia Peng juga berdiri tanpa bergerak sedikit pun. Orang yang bisa dipercayai oleh orang ini baru bisa berjaya. Jika majikan saja langsung datang untuk ber-tanya padanya, itu tandanya dia menaruh kepercayaan padanya. "Bagaimana menurutmu mengenai orang-orang dari Liok-san-bun (Perkumpulan Enam Kipas)?" "Sampai saat ini boleh dikatakan masih bisa diandalkan, tetapi tidak cukup waspada." Sang majikan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata. "Dalam pandanganku, orang yang tidak cukup waspada tidak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa diandalkan." Perkataan ini sama sekali bukan ditujukan kepada Cia Peng. "Ya, Tuan." Tetapi dia tetap saja merasa begitu. Tiba-tiba Cia Peng dengan hati-hati membuka simpul kancing dari baju luarnya yang terbuat dari kain satin lunak mulai dari bawah dagunya hingga membuka. Lagipula memang sudah saatnya untuk membicarakan hal yang panas. Di saat-saat tertentu ada kalanya sinar saja tidak lah cukup, tetap saja harus menyalakan api baru bisa. Jika kau ingin memberikan bingkisan kepada orang tertentu, tentu saja dibutuhkan suatu kepandaian sehingga pada saat orang tersebut menerima bingkisan atau hadiah itu, dia akan merasa nyaman dan wajar. Yang paling penting lagi adalah jika diberikan pada waktu yang tepat. Hanya dua buah kancing saja yang baru terbuka. Mungkin saja dia hanya merasa panas, atau mungkin merasa agak terlalu ketat. Akan tetapi gerakan ini sangat jelas artinya dan luar biasa di mata majikannya. Sang majikan sama sekali ti dak bergerak. Apakah sang majikan menyadari dua buah kancing bajunya yang sudah terbuka? Cia Peng tidak berani memastikannya. Pandangan mata Cia Peng menunduk memandang ujung atas sepasang sepatu sulamnya. Dia juga tahu banyak gadis-gadis muda dari keluarga terpandang yang memiliki kaki yang indah, tetapi tidak pernah diketemukan ada yang memiliki kaki yang lebih indah daripada sepasang kakinya yang mengenakan sepatu bersulam. Ada juga orang yang pernah memegang kaki-nya yang telanjang. Orang itu mengelusnya sembari berkata. "Indah sekali!" Sayangnya hanya terucap dua patah kata saja. Walaupun hanya dua patah kata 'indah sekali' saja. Tapi pada waktu itu hati Cia Peng merasa sangat bangga sekali, bahkan tubuhnya serasa tumbuh sepasang sayap. Tetapi apa yang sedang dipikirkan oleh Cia Peng sama sekali berbeda dengan situasi yang akan terjadi ??ikarangini. Tiba-tiba sang majikan berkata dengan suara lembut. "Aku ingin menyampaikan sebuah pesan, kau dengarkan baik-baik." Pikiran Cia Peng langsung terfokus jawabnya. "Baik!" "Hati keras bagaikan besi, mengantar Budha ke langit barat, tiga hari tidak ada kabar, kapas terbang musim semi sudah berakhir." Ekspresi yang sebelumnya ada di mata Cia Peng langsung hilang dalam sekejap. Seperti layaknya tiupan angin musim dingin yang datang menghembus, panas yang ada di dalam tubuh hilang sampai tidak berbekas sedikit pun. Cia Peng benar-benar bisa merasakan kekuatan yang di atas penalaran manusia. "Sudah mengerti belum?" "Ada sebagian sudah mengerti, ada sebagian lagi yang tidak mengerti." Sang majikan berkata dengan lembut. "Tidak apa jika tidak mengerti. Jika tidak mengerti tidakboleh berlagak seolah-olah mengerti." "Baik!" "Bagian mana yang tidak dimengerti. Coba keluarkan dan tanyakan!" Nada bicara serta tutur katanya sangat halus sama seperti layaknya perkataan yang d "itujukan kepada orang yang lebih tua saja. Cia Peng berkata. "Hati keras bagaikan besi, apakah itu menunjuk pada hati besi yang digantungkan?" Sang majikan menggangguk-anggukkan kepala nya. Cia Peng menengadah memandangi sang majikan sambil berkata lagi. "Mengenai mengantar Buddha ke langit barat, hamba juga mengerti. Artinya adalah mengantar Buddha pergi." "Ng!" "Tapi kalau berakhir.........." Kapas terbang musim semi sudah Dia menengadah menatap sang majikan. Tidak peduli dalam situasi apa pun, dia selalu menengadah menatap sang majikan. Dengan suara lembut sang majikan berkata. "Kapas terbang itu berasal dari mana?" Mata Cia Peng langsung bersinar-sinar, reaksi-nya sangatlah cepat. Tentu saja, kesusastraan Cia Peng walaupun rendah tapi tidaklah jelek. Dulu Liauw In pernah berkata sambil ber-kelakar bahwa jika membelah kulit perut Cia Peng maka bisa le-.rlihatisi tinta yang ada di dalam perutnya. Sang majikan berkata dengan lembut. "Jika belum mengerti masih boleh bertanya!" Nada bicaranya seperti berbicara kepada anak kecil saja. "Hamba sudah mengerti! Kapas terbang datang nya dari tempat Yang-liu." "Ng! Bagus sekali. Kau masih belum mengata-kan mengerti atau tidak tentang kalimat yang ketiga?" Raut wajah Cia Peng tiba-tiba berubah. "Tidak mengerti ataukah ada sesuatu yang tidak beres?" Cia Peng lagi-lagi berlutut sambil menjawab. "Apakah majikan bisa memberikan kepadanya untuk menebus dosa? Sekali saja!" Kesempatan "Sebenarnya tidak bisa, tetapi melihat kesetiaan kalian berdua suami istri selama ini, aku akan memberikan satu kali kesempatan kepadanya, hanya satu kali ini saja!" "Terima kasih Tuan." "Kau tahu kan yang dimaksud dengan satu kali itu apa?" "Silahkan Tuan jatuhkan hukuman!" "Jika dalam setengah bulan dari sekarang dia tidak pulang baik-baik untuk mengaku dosa, maka kalian berdua yang akan menanggung akibatnya!" Begitu Cia Peng menengadah lagi, bayangan dari orang itu sudah tidak ada lagi. Suasana di paviliun air sangat sunyi. Malam hari tidak berangin. Di atas air hampir tidak terdengar suara dari gerakan sirip ikan yang berenang. Dua cangkir arak ditaruh di atas meja di hadapan dua orang. Yang seorang adalah Lim Leng-ji dan yang seorang lagi adalah seorang pria yang tampan dan memakai pakaian yang indah, yaitu Loo Cong. Loo Cong tiba-tiba berkata. "Dasar Siau-kai! Dia benar-benar telah lupa akan kejadian di masa lalu." Lim Leng-ji tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Loo Cong lagi-lagi berkata. "Justu karena aku sudah tahu bahwa dia sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu, maka dari itu tidak bisa dikatakan betapa sedihnya diriku. Maka-nya aku sengaja menyuruh bawahanku untuk mencobanya. Siapa sangka bahkan aku pun tidak diingatnya!" "Mengapa seseorang tanpa sebab bisa kehilang-an ingatannya?" Kata Lim Leng-ji. "Apakah karena ada perasaan memandang hina terhadap orang kaya?" "Menjadi orang kaya benar-benar serba salah, banyak orang yang memandang hina kepada orang kaya tetapi justru banyak karya tulis terkenal yang berisikan kalimat tentang emas, giok, mutiara, dan barang-barang berharga lainnya. Lalu apa maksud-nya?" "Leng-ji, kata-kata itu seperti layaknya jarum bertemu d arah." Lim Leng-ji menghela nafasnya sambil berkata. "Kita sama sekali tidak membencinya karena dia miskin." "Bagaimana mungkin?" Kata Loo Cong. "Dia nampaknya sangat kecewa." "Kecewa sih boleh-boleh saja, tetapi jangan menyamaratakan semua orang. Dia sepertinya sudah terjangkit penyakit ini." "Orang jaman dulu berkata, jika tidak mengendalikan kelahiran maka kelak akan menyusahkan orang, jika tugas penting ditukar dengan kesenangan maka kelak akan kelelahan." "Leng-ji, di dalam hati aku merasa sangat sedih, terutama ketika mengingat tentang kejadian di masa lalu." Lim Leng-ji tenggelam dalam pikirannya. Lim Leng-ji lagi-lagi menghela nafasnya dalam-dalam dan berkata. "Kita harus menolongnya." "Tentu saja, aku justru sedang berpikir bagaimana cara kita menolongnya." "Cara untuk menolong orang banyak macamnya." "Hanya saja kita harus tahu dulu orang yang seperti apa yang mau kita tolong sehingga tahu harus memakai cara apa untuk menolongnya. Kita harus tahu dulu pangkal penyakitnya." Lim Leng-ji tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tahu penyebab dari penyakitnya." "Kau tahu? Benar-benar tahu?" Lim Leng-ji menggangguk-anggukkan kepala "Makanya dari dulu aku selalu menganggap kau sebagai wanita yang genius." Lim Leng-ji berkata. "Hanya saja alasannya, ketika kita bertiga m.mi bersamasama sewaktu masih anak-anak dulu yang menjadi pengantin prianya selalu kau." Loo Cong terpaku. "Kau tidak percaya?" Kata Lim Leng-ji. "Ucapan dari wanita genius, mana mungkin aku tidak percaya?" "Apakah menurutmu penyakitnya?" Ini bukan penyebab dari "Bisa jadi, tapi bisa juga bukan," Loo Cong menghela nafas dan bertanya. "Waktu kita bertiga bermain bersamasama sewaktu masih anak-anak dulu, memangnya dia tidak pernah sekali pun menjadi pengantin prianya?" Lim Leng-ji menggeleng-gelengkan kepalanya. Loo Cong menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela nafasnya. "Mengapa kau menghela nafas seperti itu?" "Aku sedang berpikir, mengapa kau tidak pernah membiarkan dia melakukannya satu kali pun?" "Bukankah kau yang tidak membolehkannya?" "Aku sudah tidak bisa mengingatnya lagi." "Kalian berdua sering berkelahi, tetapi selalu karena diriku." "Sewaktu kita sering berkelahi, siapa yang sering menang?" "Masing-masing pernah menang dan kalah." Loo Cong mengangkat cangkirnya, berkata. "Mari kita bersulang demi menolong Siau-kai." Arak sudah habis diminum. Lim Leng-ji pelan menggelengkan kepalanya. "Aku agak sedikit kesal." "Kesal kenapa?" "Jika kita menolongnya, aku takut dia nanti bicara sembarangan di luaran! Jika kita tidak menolong nya, aku juga sedikit tidak tega!" Wajah Loo Cong memucat, lalu berkata. "Leng-ji, hubungan persahabatan kita pada dasarnya tidak selaras, betul tidak?" "Betul!" "Apa yang dikatakan mungkin hanya mimpi." "Tentu saja bukan!" "Bagaimana kalau kita biarkan saja dia mau berkata apa? Lagi pula kita berdua tahu kalau yang dia bicarakan hanya omong kosong belaka." "Siau-loo, dia mengatakan hal yang kurang ajar seperti itu, apa kau tidak jengkel?" "Jika mau dikata, sedikit pun tidak. Itu bukan perkataan yang jujur dan terus terang. Tetapi hubung-an di antara kita bertiga memang pada dasarnya benar-benar mengambang." Kata-kata yang diucapkannya sangat serius dan penuh martabat, serta disusun dengan cermat. Siapa pun juga hanya dengan sekali pandang pasti akan langsung tahu bahwa dia adalah orang yang setia kawan. Demi teman dia tidak pernah menghitung untung dan rugi. Ada orang yang mengatakan ... menolong teman sendiri mudah, menolong istri dan gundik sulit, menolong pejabat luar biasa sulitnya. Kata-kata ini walaupun benar adanya tetapi lidak sepenuhnya benar. Sebenarnya untuk menolong teman sendiri juga tidaklah mudah. Jika ada orang mengatakan bahwa hubungan kita dengan orang tertentu sangat akrab, kemungkinan besar justru hubungan mereka sama sekali tidak akrab. Karena hubungan akrab adalah hubungan dengan hati, bukan hubungan di mulut saja. Yo Lim datang untuk mencari Wie Kai sambil membawa serta seorang anak buahnya. Yo Lim berkata. "Hari ini aku ingin bersulang secangkir arak dengan Wietayhiap." Ini adalah kejadian yang langka. Setiap kali mereka berdua bersama-sama, Yo Lim selalu saja berkata kalau dia baru saja makan. Tapi Wie Kai bisa mengerti dirinya. Jika seorang Sun-cian tidak melakukan pemerasan disana-sini, penghasilan bersih setiap bulannya sekitar 10 tail lebih, bagi mereka yang sudah memiliki rumah dan sebagainya, tentunya banyak kesulitan yang harus diatasi alias tidak cukup. Karena itu Wie Kai berkata. "Tetap saja aku yangharus mentraktir." "Tidak... tidak... kali ini biar aku yang membayarnya." "Apakah hari ini ada sesuatu hal yang menggembirakan bagi Yo-heng?" "Tidak juga, tahun lalu ada sebuah kasus yang kutangani dengan sangat cekatan dan rapi, dan Pak Bupati sudah melaporkannya ke pusat dan setelah dilakukan pemeriksaan lalu diberi hadiah sebesar 50 tail." Yo Lim bertanya kepada Wie Kai apakah dia menyukai Ceng-sim-koan (rumah makan Ceng-sim)? Jawaban dari Wie Kai sangat sederhana. Tempat makan yang bagaimana pun dia suka. Ketika uang sedang melimpah ruah, dia justru tidak mau pergi ke tempat makan yang terkenal. Ketika sedang tidak ada uang, justru di mejanya terhidang semangkuk mie dan beberapa jenis daging panggang. Yo Lim memesan 4-5 macam masakan, benar-benar berubah seperti orang lain saja. Hanya dengan uang 50 tail saja ternyata sudah bisa membuat seseorang menjadi berubah. Jika bukan karena uangnya terlalu keras, tentu orangnya lah yang terlalu lemah. "Yo Sun-cian, kasusnya bagaimana?" "Kasusnya pasti segera terpecahkan." "Apakah Cia Peng berhasil ditemukan?" "Masih belum, menemukannya?" Apakah Wie-tayhiap sudah "Belum." "Apakah sudah berhasil menemukan suami dan anak perempuan Cia Peng?" "Belum." Sesudah Yo Lim meminum araknya, Wie Kai sama sekali tidak bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikan pada raut wajahnya. Ceng-sim-koan waktu tutupnya sampai tengah malam. Hari ini waktunya untuk tutup sudah sampai, tetapi mereka masih belum meminum habis arak mereka. Pelayan sudah mulai menutup pintu masuknya, hanya menyisakan sebuah pintu kecil yang masih terbuka. Pada saat itu tiba-tiba ada sekilas bayangan manusia di luar pintu kecil itu. Hanya bayangan sekilas, orangnya sama sekali tidak masuk. Jika ada hal seperti ini, pandangan orang pada umumnya pasti mengarah keluar pintu kecil itu untuk melihatnya. Pada kenyataannya yang melihat bayangan sekilas itu hanya Wie Kai seorang. Pada saat dia melihat bayangan orang yang sekilas itu, pada saat yang bersamaan di lantai atas terdengar suara jeritan. Suara jeritan ini serasa terdengar tidak asing lagi, Wie Kai segera teringat akan Liauw Swat-keng. Sebelum jeritan itu berakhir, Wie Kai sudah bangkit dari tempat duduknya. Begitu terdengar jeritan itu, pemilik rumah makan dan pelayannya tentu saja terkejut dan terpana sambil menatap ke lantai atas karena mereka tabu di lantai atas sama sekali tidak ada orang. Bahkan sebetulnya di lantai atas juga tidak ada lentera sama sekali. Karena itu mereka sama sekali tidak melihat Wie Kai yang sudah bangkit dari duduknya. Tetapi Yo Lim yang duduk di kursi di hadapan Wie Kai justru melihatnya dengan jelas sambil berteriak keras. "Hebat!" Pada saat Wie Kai hendak sampai di lantai atas, dia menyadari di lantai atas sama sekali tidak ada orang sehingga baru setengah jalan dia langsung kembali menuruni tangga. Dia melihat pemandangan mengerikan yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya. Wie Kai pernah membunuh orang bahkan pernah melukai orang, tetapi pemandangan yang dilihat nya benarbenar membuat otot jantungnya serasa dicabut, benar-benar membuatnya mual. Kepala Yo Lim sudah terlepas dari tubuhnya, sedangkan tubuhnya masih dalam keadaan duduk dan tangan kanannya masih memegang sumpit. Tentu saja ini taktik membunuh orang mengacaukan suara dari arah yang berlawanan. dengan Terlebih dulu melintas di pintu luar lalu membuat suara teriakkan di lantai atas. Lalu kemudian dari arah pintu luar terbanglah sebuah pisau baja. Punggung Yo Lim menghadap ke pintu luar sehingga dia sama sekali tidak tahu apa pun. Sialnya pisau baja terbang itu menebas di posisi yang tepat sehingga kepala pun langsung melayang bahkan mulut pun masih menganga. Karena pada saat dia melihat Wie Kai melesat ke atas dengan ilmu meringankan tubuhnya dan berteriak "hebat", pada saat itu pula kepalanya terpisah dari tubuhnya. Oleh karena itu seringainya masih terpatri di mukanya. Tetapi ekspresi itu segera menjadi kaku. Bahkan berangsur-angsur menghilang. Darah terlihat mengalir deras jatuh bagaikan arak dari lubang leher pada tubuh mayat itu dan juga pada lubang yang ada di kepala yang tertebas itu. Pemilik rumah makan dan pelayannya mengeluarkan suara yang aneh, itu adalah suara ringkikan parau ketakutan. Kalau dulu mereka disuruh mendengarkan suara yang seperti itu, mereka pasti tidak akan meng-akui kalau suara itu adalah suara yang mereka keluarkan dari mulut mereka. Kepala Yo Lim yang tertebas masih belum jatuh sampai ke tanah dan pisau baja itu baru saja keluar memutar kembali ke arah pintu kecil itu, tubuh Wie Kai sudah melesat ke luar pintu kecil itu. Pisau yang cepat! Orang yang cepat! Wie Kai cepat, pihak lawan pun cepat. Karena itu begitu Wie Kai keluar, yang dilihatnya hanyalah bayangan tubuh manusia yang melesat dan meng-hilang di atas atap rumah. Hujan di tengah malam. Mendengarkan suara hujan di tengah hutan rimba yang liar di tengah gunung memiliki kesan menarik tersendiri. Ini adalah sebuah rumah kayu yang terbuat dari kayu gelondongan dari tengah hutan rimba, hanya terdiri dari dua kamar. Ini adalah tempat berteduh bagi pemburu di kala ingin menghindari angin dan hujan. Tempat ini dulu dibangun oleh Hong Kie dan Hong Ku ketika masih berburu. Sekarang Wie Kai dan Hong Kie sedang minum arak. Hong Ku sedang berjaga-jaga di atas pohon yang ada di luar sana. Kewaspadaan mereka sangat tinggi. Sebab jangkauan musuh mereka sangat panjang. Di dalam rumah kayu itu hanya terdapat sebuah meja dari kayu dan sebuah kursi dari kayu, karena itu Hong Kie minum arak sambil berdiri. Tidak peduli Wie Kai mengganggapnya sebagai bawahannya atau rekannya, Hong Kie tetap saja menganggap dirinya sendiri sebagai budaknya. Arak yang mereka minum adalah Cin-lian-hoa-toh, tetapi sayangnya hidangan yang menemaninya hanya ada daging sapi. Walaupun makanan kecilnya hanyalah kegembiraan mereka tetap saja tidak berubah. kacang, Hujan jatuh menimpa di atas pepohonan yang ada di hutan rimba itu dan dari atas pohon itu air hujan jatuh ke atas atap dari rumah kayu itu. Tidak ada yang lebih menarik dari suara jatuhnya air di atap rumah kayu. Hong Kie berkata. "Wie-ya (tuan Wie), dulu aku selalu mengira jika tidak berpendidikan justru malah sangat menguntungkan." "Tidak berpendidikan justru menguntungkan?" Kata Wie Kai malah sangat "Ya, dulu aku memang selalu berpikir seperti itu karena terlalu banyak membaca buku bagi orang yang belajar ilmu silat juga tidak akan ada gunanya." "Mengapa?" "Memangnya Wie-ya pernah bertemu dengan sarjana yang lulus baik dalam bidang pelajaran maupun ilmu silat?" Wie Kai menjawab. "Sampai saat ini memang belum pernah." "Betulkan!" Hong Kie berkata. "Tetapi belakangan ini aku baru menyadari bahwa jika tidak berpendidikan tidak ada bedanya dengan orang buta. Jika pendidikannya tidak banyak dan tidak memahami secara mendalam, dia benarbenar seorang yang berpengetahuan dangkal." "Seseorang memang harus merasakannya dahulu baru dia bisa berkembang," Kata Wie Kai. "Wie-ya, aku mendengar ada seorang yang misterius yang berbicara dengan Cia Peng lalu ber-pesan padanya tentang sesuatu hal, sepertinya sebuah sajak." Wie Kai tertawa sambil berkata. "Jika bisa mengerti sajaknya, bagaimana bisa mengatakan dirimu orang yang berpengetahuan dangkal?" Hong Kie menjawab. "Aku juga tidak berani memastikan apa sebenar nya yang dikatakan oleh orang misterius itu kepada Cia Peng, hanya saja kalimat itu terdiri dari empat rangkaian kalimat dan aku langsung menebaknya bahwa itu adalah sajak." "Coba perdengarkan padaku!" Kata Wie Kai. Hong Kie berpikir sejenak lalu berkata. "Hati keras bagaikan besi, mengantar Budha ke langit barat, tiga hari tidak ada kabar, kapas terbang musim semi sudah berakhir." Wie Kai langsung berkata. "Ini memang sebuah sajak yang menyindir." "Itulah yang dikatakan oleh orang misterius itu kepada Cia Peng. Cia Peng berhasil menebak tiga rangkaian kalimat, kalimat yang pertama artinya hati besi yang digantungkan." Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apakah Wie-ya bisa menebak arti dari tiga kalimat yang selanjutnya?" Kata Hong Kie. "Waktu itu di ruangan kecil itu, apalagi yang kaulihat?" Tanya Wie Kai "Seorang Lama yang bernama Pan Lai datang menemui Cia Peng dan bertingkah laku sangat sopan terhadap Cia Peng." Kata Hong Kie "Benar kalau begitu! Seharusnya memang ada seorang Lama." "Mengapa seharusnya memang ada seorang Lama?" Tanya Hong Ku "Sebab Yo Lim pernah berkata dulu sewaktu Lim hujin memiliki kekasih gelap, yang paling dekat dengannya adalah Liauw In dan Liauw In memiliki hubungan yang misterius dengan seorang Lama." "Dekatnya hubungan Liauw In dengan Lama itu, apa hubungannya dengan Lim Hujin?" Tanya Hong Kie. "Banyak hal-hal yang bisa disimpulkan hanya berdasarkan satu hal saja, lalu segala sesuatunya menjadi jelas." "Aku tidak mengerti." "Almarhum Kaisar terdahulu sangat dekat dengan Lama, besar kamungkinan dia mempelajari keahlian mereka, atau mempelajari cara membuat dan memakan pil hidup abadi. Ini semua dipelajari hanya untuk menaklukkan semua wanita yang ada di istana. Tetapi ada kemungkinan besar juga malah jadi pendek umur dan malah ditaklukkan oleh wanita. Sudah banyak Kaisar dalam sejarah yang mati justru karena memakan pil seperti ini." Hong Kie berkata. "Apakah maksud Wie-ya, Pan Lai Lama mengajarkan Liauw In cara memakan pil ini?" "Paling tidak sedikitnya dia sudah mempelajari keahlian para Lama itu." "Apakah ini alasannya mengapa Lim Hujin bisa jatuh cinta kepadanya?" Tanya Hong Kie. Wie Kai mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana dugaan Wie-ya selanjutnya?" "Kalimat yang kedua artinya adalah jika sudah berhasil maka orang tersebut harus disingkirkan." "Mengantar Buddha ke langit barat, apakah artinya membunuh Lama?" Wie Kai menganggukkan kepalanya. "Kalimat yang ke empat mengacu pada pembunuhan Yo Lim, kelihatan sekali kapas terbang musim semi sudah berakhir ditujukan kepada Yo Lim." "Kalau kalimat yang ketiga?" Wie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apakah kalian berhasil menemukan Liauw Swat-keng?" Hong Ku memasuki ruangan. Hong Kie menyumpit 3-4 lembar daring sapi dan menyuapkannya ke dalam mulut Hong Ku. Sedangkan untuknya. Wie Kai menuangkan secangkir arak Hong Ku berkata dengan mulut yang terisi penuh. "Aku baru saja melihat bayangan Liauw Swat-keng, dia sangat licin sekali, aku tidak dapat mengejarnya." Wie Kai berkata sambil menggerutu. "Sewaktu Swat-keng sedang dalam keadaan bahaya, Cia Peng tetap saja mementingkan keadilan daripada keluarganya." Hong Kie dan Hong Ku tertegun. Wie Kai berkata lagi. "Kata " Tiga hari' dari kalimat tiga hari tidak ada kabar, bukankah bukankah huruf 'Keng'? " (Dalam huruf kanji 'hari' ditulis dengan huruf 'Jit' yang artinya matahari dan huruf kanji 'Keng' terbentuk dari tiga buah huruf 'jit'). Pada saat yang bersamaan Hong Kie dan Hong Ku menepuk dahi mereka sambil mengerang. Kata Wie Kai. "Kita harus secepatnya menemukan Liauw Swat-keng, pada dasarnya orang yang pernah di man-faatkan dan juga yang berbahaya karena bisa mem-bocorkan rahasia, mereka semuanya pasti akan di-bunuh." Hong Ku berkata. "Hong Kie, kita pergi sekarang juga." "Makanlah dulu sampai kenyang baru mencarinya," Kata Wie Kai. Hong Ku berkata. pergi "Mau makan apa begitu kita masuk kota?" Baru saja Hong Ku dan Hong Kie keluar dari rumah kayu itu, belum seberapa jauh. Dari dalam hutan yang gelap, ada sebuah bayangan manusia yang sangat besar seperti segumpal awan yang jatuh dari langit, yang berkelebat di antara pepohonan. "Hati-hati!" Teriak Hong Kie. Serangan tujuh buah pisau lidah api terbang menembus di tengah hujan. Dan Hong Ku menyambut serangan itu dengan tebasan goloknya. Terdengar suara teriakkan dan tidak lama kemudian bayangan manusia yang besar itu akhirnya jatuh juga ke tanah. Hong Ku dan Hong Kie hampir saja menjadi orang yang tidak bernyawa lagi. "Seorang Lama." Hong Ku menggunakan kakinya untuk membalikkan mayat itu. "Dia orangnya," Kata Hong Kie "Ilmunya ternyata tidak hebat-hebat amat!" "Jika di tengah kegelapan tadi tidak ada orang yang turut campur, mungkin sekarang dia masih bisa hidup." "Apa? Ada orang yang mencelakakan dia secara diamdiam?" Hong Kie mengarahkan jarinya menunjuk pada pusat urat syaraf yang berada di tengah-tengah punggung mayat itu. Hong Ku jadi mengamati dengan cermat dan ternyata pada urat syaraf itu terdapat jarum sebesar tulang ikan. Urat syaraf ini merupakan pusat dari seluruh tubuh yang menghubungkan kinerja antara bagian atas tubuh dengan bagian bawah tubuh, jika urat syaraf ini terkena senjata rahasia maka hubungan antara bagian atas dan bagian bawah tubuh akan terputus. Hong Kie menghela nafas sambil berkata. "Benar-benar mengantar Budha ke langit barat." (Dalam agama Budha, langit barat adalah Nirwana). "Siapa pula yang 'mengantarkan'nya ke langit barat?" Kata Hong Ku. "Dia adalah sang majikan," Kata Hong Kie. Wie Kai lagi-lagi sedang menuangkan arak. Arak yang di dalam botol arak sudah tidak banyak lagi. Tiba-tiba di luar ada orang yang berseru padanya. "Jangan dituang, tolong sisakan sedikit untukku!" Tentu saja Wie Kai segera berhenti menuang-kan arak, bahkan dia segera melompat bangkit dari tempat duduknya. Terdengar suara "Sing" Sebuah pedang panjang mengarah pada tempat kaki Wie Kai berpijak tadi dan menghantam kursi yang didudukinya tadi, bahkan pedang itu masih terus bergerak sambil menimbulkan suara "wung...wung...". Wie Kai mendarat tepat di atas batang pedang itu. Terdapat gelombang air di bola mata Liauw Swat-keng. Itu adalah salah satu bentuk emosi wanita pada saat ada sesuatu yang tidak mau diungkapkan oleh seorang wanita. "Jangan suka menyombongkan diri, bisa tidak? Cianthauw-siau-kai." Wie Kai malah duduk sambil tetap menuang-kan arak ke dalam cangkir yang tadi dipakai oleh Hong Ku sambil berkata. "Aku bersulang untukmu." Liauw Swat-keng berkata. "Aku sudah mencelakaimu dengan membuat orang lain menyangka kau mengalami sakit ingatan, tapi kau malah tidak membenciku?" "Mengapa aku harus membencimu?" "Waktu aku pergi hari itu, Lim Leng-ji sudah menganggapmu sebagai seorang penipu." Wie Kai tertawa lalu berkata. "Tidak masalah, yang penting asalkan jangan seumur hidup orang beranggapan bahwa aku adalah seorang penipu." Liauw Swat-keng menegak arak yang ada di cangkir lalu tertawa masam. "Kau seharusnya percaya pada kata-kataku." "Kata-kata apa?" "Lim Leng-ji adalah saudara kembarmu." "Mengapa aku harus percaya?" "Apakah di dunia ini ada orang yang begitu serupa denganmu?" Liauw Swat-keng hanya menegak arak, berkata. "Aku rasa tidak semirip itu." "Matamu kelihatan tidak terlalu jelek," Kata Wie Kai. "Mataku memang tidak jelek." "Hanya saja kau malah berkata kalau dia tidak mirip denganmu." Liauw Swat-keng berkata. "Walaupun ada sedikit kemiripan, apakah pasti bahwa mereka adalah kakak adik? Jika benar demikian, maka di dunia ini akan ada banyak sekali kakak adik!" "Aneh! Kau malah sama sekali tidak berharap untuk diakui." "Aneh! Mengapa kau selalu memikirkan urusan orang lain dan tidak memikirkan tentang diri sendiri." "Diri sendiri? Aku sama sekali tidak kehilangan apa pun!" "Apakah kau tidak menyadari bagaimana sikap Lim Leng-ji terhadapmu?" Tentu saja Wie Kai menyadarinya, hanya saja dia tidak begitu mempedulikannya. Di depan mata Wie Kai lagi-lagi terbayang ilusi yang samar-samar dan kabur. Di tepian sungai, di bawah naungan pohon-pohonan, dan di atas pematang sawah, terlihat bayang-an tiga orang anak-anak yang sedang berlari dan tertawa, lalu kemudian terlihat bayangan anak-anak itu sedang bermain pengantinpengantinan atau berkelahi. Terlintas lagi sebuah bayangan di mana Lim Leng-ji menggunakan sebilah golok kayu menebas ke arah Loo Cong dan Loo Cong membusungkan dadanya serta menerima satu tusukan. Semua bayangan akan ingatan ini terlihat samar-samar serta seakan-akan sama sekali tidak saling berhubungan. Lagi pula entah mengapa dia punya perasaan bahwa dia pernah tidur bersama dengan Lim Leng-ji beberapa kali. Dia memeluk tubuh Lim Leng-ji yang lembut bagaikan tidak bertulang. Dia pun mencium leher dan dadanya yang empuk itu serta pernah menghitung berapa banyak jumlah bulu matanya. Tapi terbersit dalam ingatannya sepertinya Lim Leng-ji adalah orang yang mampu menjadi otak dalam hal memeras atau menculik anak orang kaya. Wie Kai mulai tidak menyukai Lim Leng-ji. Tapi entah mengapa sepertinya dia menyanggupinya untuk melakukan hal seperti itu. pernah Mengapa dia bisa memiliki bayangan seperti itu, dalam ingatannya yang bahkan dia sendiri tidak tahu apakah hal itu nyata atau tidak? Bahkan dia sama sekali tidak bisa menghubungkan antara ingatan yang satu dengan yang lainnya. Walaupun dia tidak bisa menghubungkan satu dengan yang lainnya, tetapi dia juga percaya kalau ini semua bukan ilusi sembarangan, bahkan kejadiannya sepertinya belum lama berselang. Jika semua ini benar adanya, mengapa dia sama sekali tidak bisa mengingatnya dengan jelas? Apakah penyakit hilang ingatan itu memang seperti ini? Wie Kai, apa yang sedang kau pikirkan?' "Aku sedang berpikir, mengapa kau tidak mengakui saudara kandungmu itu? Aku benar-benar tidak mengerti?" "Aku menghargai niat baikmu itu, mungkin suatu saatnanti aku akan coba untuk memikirkannya." Wie Kai menuangkan arak yang terakhir pada-nya dan ketika hendak meminumnya, Wie Kai malah menahan cangkir itu dengan tangannya, berkata. "Tolong dengarkan dulu nasihatku!" Liauw Swat-keng berkata dengan tidak sabar. "Apa sebenarnya maumu dengan mencampuri urusan orang lain?" "Ada orang yang hendak membunuhmu dan aku hanya ingin memperingatkanmu agar kau lebih berhati-hati. Apakah ini juga termasuk turut campur?" "Siapa yang menghendaki nyawaku?" "Cia Peng." Liauw Swat-keng tertawa dengan suara yang dapat menggetarkan hati orang seperti tawa Lim Leng-ji, walaupun tentu saja belum sebanding dengan tawa Lim Leng-ji. "Kau sepertinya tidak percaya." "Tentu saja tidak percaya, lagi pula untuk apa pakai kata 'sepertinya' segala?" • Kata-kata Wie Kai memang agak menyindirnya karena dia telah menyaksikan pembunuhan atas Yo Lim dan pendeta Lama itu dengan mata kepalanya sendiri. Liauw Swat-keng tetap saja tidak percaya. Tetapi apakah dia benar-benar percaya atau tidak, tidak seorang pun yang tahu karena hati manusia sukar ditebak. Liauw Swat-keng berkata dengan seenaknya. "Kalau begini bagaimana?" "Apa maksudmu dengan bagaimana?" "Sementara waktu aku akan mengikutimu dulu, untuk membuktikan apakah perkataanmu itu benar atau tidak, setelah itu baru kuputuskan untuk menemui Lim Leng-ji atau tidak." Wie Kai menghela nafasnya sambil berkata. "Kalau yang bersangkutan saja tidak peduli, bahkan terhadap hidup dan mati pun hanya dianggap sebagai angin lalu saja, untuk apa aku bersusah payah mengkhawatirkanmu?" Wie Kai bangkit serta melemaskan rubuhnya lalu mengibaskan tangannya untuk memadamkan lentera. Jangan berkata bahwa Liauw Swat-keng tidak pernah waspada, sebab waspada sekali pun dia tetap tidak akan bisa menghindar. Wie Kai menutup pintu lalu melesat pergi dengan menggendong tubuh Liauw Swat-keng. Wie Kai orang yang percaya bahwa di dunia ini terdapat bermacam-macam orang. Tetapi dia juga percaya bahwa Lim Leng-ji juga punya pemikiran yang sama seperti dirinya, di dunia ini terdapatbermacam-macam orang. Lim Leng-ji sudah tertidur. Maka Wie Kai berdiri di depan pintu kamarnya serta membangunkannya. Sebenarnya begitu Wie Kai tiba, dia sudah terbangun. Hanya saja dia tidak mengeluarkan suara ter-lebih dahulu karena menurutnya perempuan itu harus lebih mementingkan etika daripada laki-laki. Lim Leng-ji menggunakan jubahnya lalu pergi ke luar. Dia memandanginya dengan tidak sabar, lalu tiba-tiba dia menyadari di atas kursi yang ada di luar sana terdapat sesosok tubuh seorang perempuan. Tidak terkatakan betapa terkejutnya dia. Wie Kai berkata. "Maaf, sudah mengganggumu!" "Tidak apa-apa." Lim Leng-ji bertanya. "Siapa gadis ini?" "Coba kau perhatikan dulu baik-baik." Lim Leng-ji berjalan mendekat dan memperhatikan wajah Liauw Swat-keng dengan seksama, lalu tiba-tiba bersuara dengan keras. "Dia!" "Mirip tidak denganmu?" Kata Wie Kai. "Mirip, sangat mirip! Benar-benar seperti bayanganku saja." "Dialah orang yang kubawa malam itu dan yang kusuruh untuk bersembunyi dulu di atas pohon, Liauw Swat-keng Kouwnio. Entah mengapa waktu itu dia tiba-tiba pergi lebih dulu." Lim Leng-ji benar-benar kehilangan kata-kata, dia hanya bisa mengatakan. "Cepat, bangunkan dia!" "Aku beritahu, gadis ini benar-benar nakal sekali." "Bagaimana pun nakalnya, tetap saja bisa tertangkap olehmu, bukan?" "Kau saja yang tidak tahu!" Kata Wie Kai. Tetapi dia akhirnya membuka juga totokan pada Liauw Swat-keng. Liauw Swat-keng bangun dan duduk sambil mengucekngucek matanya. Dalam sekejap dia langsung tersadar tentang apa yang sedang terjadi. Bagaimana pun juga dia mau berbuat sesuai dengan caranya, karena itu dia langsung melompat ke samping Lim Leng-ji sambil berkata. "Cici, cepat tolong aku, dia adalah seorang pria hidung belang." Wie Kai berkata. "Liauw Swat-keng, jangan buat ulah lagi! Cepat mengaku, dia adalah saudara kandungmu!" "Cici, orang ini benar-benar bejat. Belum lama ini dia telah sengaja merobek pakaian bawahku dan sekarang dia menyuruhku untuk mengaku saudara." Lim Leng-ji sama sekali tidak mengeluarkan suara. Dia memandangi Wie Kai lalu memandangi Liauw Swat-keng. Wie Kai tertawa pahit. Lim Leng-ji tertawa dingin lalu berkata. "Nona, bagaimana kau bisa membuktikan bahwa dia benar-benar seorang pria hidung belang?" "Pria hidung belang mudah sekali dikenali, orang seperti itu selalu tersenyum kepada perempuan mana pun dan senyumnya pun sangat memikat hati. Kata-kata yang diucapkannya bisa memabukkan dan gombal. Bahkan dia mengatakan hal yang tidak-tidak tentang hubungannya denganmu." Lim Leng-ji memberikan tatapan yang tajam sambil berseru. "Wie Kai!" "Leng-ji, kau percaya pada kata-katanya?" "Bagaimana bisa membuktikan kalau kau bukan orang semacam itu?" "Bukankah dia berkata kalau aku telah sengaja merobek pakaian bawahnya?" Lim Leng-ji menjulurkan tangannya, menarik Liauw Swat-keng ke dalam kamar sambil berkata. "Coba ku lihat pakaian bawahmu." "Cici, untuk apa repot-repot?" "Untuk membuktikan bahwa seseorang bersalah, terpaksa menyusahkanmu sebentar." Itu tidak "Baik!" Liauw Swat-keng merenggangkan ke dua kakinya, Lim Leng-ji menundukkan tubuhnya untuk melihatnya dan ternyata di bagian celana panjangnya memangbenar terdapat sobekan. Lim Leng-ji sedikit naik darah. Dia benar-benar tidak ingin melihat bukti yang menunjukkan bahwa Wie Kai benar-benar adalah seorang hidung belang. Loo Cong sudah berkali-kali berpesan supaya jangan karena kehilafan Wie Kai sesaat membuat hubungan persahabatan mereka yang berharga menjadi terputus. Tetapi batasnya. kesabarannya benar-benar sudah sampai Dia tidak bisa membiarkan orang bejat seperti dia berada disampingnya. Wie Kai benar-benar terpana. Wie Kai merasa perbuatan Liauw Swat-keng kali ini benar-benar keterlaluan. Maka begitu Lim Leng-ji muncul, walaupun wajahnya menunjukkan kemarahan, tetapi dia tetap tertawa dingin sambil berkata. "Nona ini benar-benar banyak akalnya." "Benar, gadis yang banyak akal bulusnya tidak hanya dia seorang." "Leng-ji, kau tidak mungkin mempercayai semua omong kosong yang dikatakannya, bukan?" "Sebenarnya siapa yang sedang beromong kosong?" Lim Leng-ji berkata sambil berdesis marah. "Memang dari semula aku sudah salah menilaimu!" "Leng-ji." "Sejak kau berkata kalau kita sering tinggal bersama dan sudah seperti layaknya suami istri........." Wie Kai tiba-tiba merasa orang-orang ini benar-benar aneh. Dia merasa justru orang-orang inilah yang mungkin hilang ingatannya. Yang satu tidak bersedia mengakui saudaranya sendiri, malah air susu dibalas dengan air tuba. Yang satu lagi entah mengapa tiba-tiba menjadi bodoh, sesuatu yang anak kecil pun tidak akan percaya tapi justru dia malah percaya. Wie Kai tertawa terbahak-bahak. Wie Kai tertawa sambil berjalan ke luar. Tidak lama kemudian tawanya tiba-tiba berhenti. Pada saat itu tiba-tiba ada seseorang yang menghadangnya. Orang itu adalah Loo Cong. Sebenarnya dia sudah lupa akan keberadaan orang ini tetapi Lim Leng-ji selalu saja mengingat-kannya sebagai teman sepermainan mereka sewaktu kecil. "Wie Kai, kau betul-betul tidak ingat padaku sama sekali atau hanya berpura-pura saja?" Wie Kai sangat gusar. Yang diingatnya pada waktu anak-anak dulu, selalu saja Loo Cong yang memerankan pengantin laki-lakinya. Dia berseru dengan suara keras. "Minggir!" Loo Cong malah tidak beranjak sama sekali dari tempatnya berdiri. Wie Kai mendorong Loo Cong dengan tenaga-nya yang besar tetapi dia bisa berkelit. Loo Cong lagi-lagi menghalanginya, katanya. "Wie Kai, apakah kau masih ingat akan puisi panjang Tiong-kan-seng'? Walaupun di dalam puisi itu hanya mengisahkan tentang dua orang, dan kita memang ada tiga orang, tetapi kasih sayang serta rasa persahabatan kita di masa lalu jangan sampai terbelah dua hanya karena permasalahan kecil belaka!" "Minggir!" "Wie Kai!" "Kau tanya saja pada Lim Leng-ji." "Tanya apa padanya?" "Dia anggap apa Wie Kai ini!" Loo Cong bertanya dengan suara yang keras. "Leng-ji, apa yang sebenarnya telah terjadi?" "Mengapa tidak kau tanyakan sendiri pada gadis ini?" Jawab Lim Leng-ji "Leng-ji, urusan kita bertiga mengapa harus bertanya pada orang lain?" "Benar!" Lim Leng-ji menjawab. "Hanya saja gadis ini mengatakan Wie Kai telah merusak pakaian bawah gadis ini dan sudah terbukti." Loo Cong terkejut lalu bertanya. "Wie Kai, menurutmu apakah kejadian seperti ini bisa terjadi pada dirimu?" Wie Kai berkata dengan dingin. Baca Juga: Golok Kumala Hijau 2 Baca Juga: Meteor Kupu Kupu Dan Pedang Gu Long