Eps 13 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id
Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id
Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.
Pek leng siancu So Bwe leng sudah terbiasa menuruti adat sendiri pada hakekatnya dia tak mau menuruti perkataan dari Sam ku sinni maupun kakeknya Tiang pek lojin So Seng pak, dia bersikeras hendak bertarung habis habisan melawan Hian im li Ciu Lan.
Akhirnya Keng thian giok cu Thi Keng yang maju ke depan dan memberitahukan kepadanya kalau Thi Eng khi sudah hampir tak mampu menahan diri.
Berita itu membuat Pek leng siancu So Bwe leng jadi terperanjat dan tak sempat melanjutkan pertarungan melawan Hian im li Ciu Lan lagi, cepat cepat dia kabur mencari Thi Eng khi.
Keng thian giok cu Thi segera memperingatkan Hian im li Ciu Lan agar tidak berbuat kejahatan lagi dan menganjurkan kepadanya untuk kembali ke jalan yang benar.
Berhasil lolos dari kematian, Hian im li Ciu Lan nampak sangat terharu, beberapa kali dia seperti hendak mengucapkan sesuatu namun selalu tiada kesempatan dan tak berhasil mengutarakan isi hatinya.
Menanti Keng thian giok cu Thi Keng sudah selesai berkata dan berlalu dari situ.
Hian im li Ciu Lan berdiri sambil termenung beberapa saat, dia merasa bila isi hatinya diutarakan kepada para pendekar, tindakan tersebut bisa jadi akan memancing pandangan hina orang lain kepadanya.
Terpaksa dia menghela napas sedih dan segera berlalu pula dari situ.
Thi Eng khi yang menyaksikan usaha mereka telah sukses, semangatnya pun mengendor, dia setuju untuk mencabut keluar jarum emas dari tubuhnya dan segera tertidur pulas.
Hui cun siucay Seng Tiok sian dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya mengurut tiada hentinya disekujur badan Thi Eng khi, kalau dilihat dari sikap tegang yang menghiasi wajahnya dapat diketahui kalau tertidurnya Thi Eng khi bukan suatu gejala yang wajar....
Pek leng siancu So Bwe leng buru buru lari mendekat, melihat keadaan dari Thi Eng khi tersebut, tanpa berpikir panjang lagi dia lantas menjerit .
"Engkoh Eng!"
Dia hendak menubruk ke atas tubuhnya.
Untung sekali Ciu Tin tin bertindak cepat dan menghalanginya, sehingga tidak sampai kejadian tersebut mengganggu Hui cun siucay Seng Tiok sian yang sedang melakukan pengobatan.
Setelah berhasil menghalangi Pek leng siancu So Bwe leng, Ciu Tin tin segera menariknya ke samping dan ujarnya .
"Adik Leng, jangan gelisah, adik Eng tidak apa apa, seandainya dia terjadi sesuatu, coba lihatlah masa cici dapat bersikap tenang seperti ini?"
Bicara punya bicara suaranya menjadi parau dan tak terbendung lagi air matanya segera jatuh bercucuran.
"Enci Tin!"
Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru lirih.
Mereka saling bergenggaman tangan erat erat, dua hati seperti mempunyai perasaan yang sama, seakan akan menghadapi perubahan cuaca yang tak menentu sehingga napasnya terasa menjadi sesak sekali.
Lama sekali Hui cun siucay Seng Tiok sian bekerja keras sampai sekujur tubuhnya basah oleh keringat, akhirnya sekulum senyuman mulai menghiasi ujung bibirnya, dia berkata.
"Saudara Thi memang benar benar memiliki bakat yang luar biasa sekali, sekarang kesempatannya untuk hidup sudah tumbuh dan pelan pelan kekuatannya akan pulih kembali, sekarang biarkan saja dia tidur barang sepuluh atau setengah bulan lamanya!"
"Apa? Tertidur sampai sepuluh hari atau setengan bulan? Apakah dia tak akan mati kelaparan?"
Seru Pek leng siancu So Bwe leng dengan terkejut. Ciu Tin tin segera memperingatkan Pek leng siancu So Bwe leng .
"Adik Leng, jangan lupa orang yang menggunakan ilmu Ku si toa hoat hun bisa bertahan untuk hidup selama setengah tahun tanpa dahar, sepuluh hari atau setengah bulan masih belum terhitung seberapa..."
"Tenaga dalam yang dimiliki engkoh Eng sudah punah, bagaimana mungkin dia dapat mempergunakan ilmu Ku si toa hoat lagi?"
"Seng tayhiap telah melaksanakan ilmu Ci liong jiu hoat diatas tubuh Adik Eng, kasiatnya tidak berbeda jauh dengan ilmu ku si toa hoat, cuma yang satu secara otomatis sedangkan yang lain dilakukan orang."
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Thi Eng khi yang tertidur ditemani oleh Pek leng siancu so Bwe leng dan Ciu Tin tin.
Tatkala Keng thian giok cu Thi Keng sekalian menyaksikan persoalan tentang Thi Eng khi sudah beres, mereka lantas meminta kepada Hui cun siucay Seng Tiok sian untuk menolong Hian im Tee kun dengan maksud agar menyelamatkan selembar jiwanya yang sedang kritis...
Waktu itu Hian im Tee kun memang sudah bernafas lemah sekali, jaraknya dengan kematian pun sudah tidak jauh lagi.
Secara beruntun Hui cun siucay Seng Tiok sian menotok tujuh buah jalan darah Hian im Tee kun dan mencecoki sejumlah obat obatan ke dalam mulutnya, kesempatan hidup dari Hian im Tee kun pun lambat laun pulih kembali.
Hui cun siucay Seng Tiok sian memeriksa dahulu denyutan nadi kanan Hian im Tee kun, kemudian memeriksa pula denyutan nadi sebelah kirinya.
Dengan tiga jari tangannya menempel di nadi sebelah kiri Hian im Tee kun, dia segera merasakan denyutan nadinya menunjukkan gejala aneh.
Sebab dia pernah mendengar orang berkata lengan kiri Hian im Tee kun sudah terpapas sebagian oleh sambaran pedang terbang Thi Eng khi, namun sewaktu memeriksa denyutan nadinya sekarang, dia menemukan sebuah lengan kiri yang masih utuh.
Begitu timbul perasaan curiganya, untuk membuktikan kebenaran dari kecurigaannya tersebut Hui cun siucay Seng Tiok sian segera melepaskan balutan tangan kiri Hian im Tee kun.
Apa yang diduga ternyata benar, dia berhasil menemukan sebuah lengan yang utuh.
Ketika semua orang menyaksikan hal tersebut, maka timbullah kecurigaan kalau orang ini bukan Hian im Tee kun yang sesungguhnya.
Hui cun siucay Seng Tiok sian mencoba untuk memeriksa raut wajah Hian im Tee kun, akan tetapi tidak dijumpai pula topeng kulit manusia atau sebangsanya disitu, hal mana semakin membingungkan para jago.
Tapi, kalau toh lengan kirinya tetap utuh bagaimana mungkin dia adalah Hian im Tee kun yang asli?
Perasaan heran, kaget dan curiga segera meliputi seluruh wajah para jago bahkan mereka lupa untuk memikirkan suatu kenyataan yang sesungguhnya mudah untuk membuktikan hal tersebut.
Pelan pelan Hian im Tee kun sadar kembali dari pingsannya, dengan lemah tak bertenaga dia memandang sekejap ke wajah empat tokoh sakti itu dan akhirnya berhenti diwajah Keng thian giok cu Thi Keng, setelah menunjukkan senyuman getir yang lemah, bisiknya dengan lesu .
"Thi lojin, lohu sudah melatih diri selama empat puluh tahun namun nyatanya belum berhasil menangkan dirimu, apa artinya bagiku untuk hidup lebih jauh?"
Selesai berkata dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya yang baru pulih untuk memutuskan urat nadi sendiri tak ampun dia segera muntah darah segar dan tewas seketika.
Sekarang para jago baru teringat akan seseorang, serunya kemudian tertahan.
"Ooh... rupanya Hian im Tee kun gadungan ini hasil penyaruan dari Huan im sin ang Ui Sam ciat!"
Keng thian giok cu Thi Keng menghela napas pula sembari berkata .
"Ilmu menyaru muka dari Huan im sin ang Ui Sam ciat memang betul betul sangat lihay, seandainya dia tidak mengungkapkan sendiri identitasnya, lohu benar benar tidak habis mengerti apa sebabnya tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun tak mampu menandingi lohu..."
Rupanya semenjak istana Ban seng kiong nya dirampas dan diduduki Hian im Tee kun, Huan im sin ang Ui Sam ciat sadar kalau dia tak akan berhasil merebut kembali istana dari tangan musuh maka dengan mewujudkan suatu sikap yang sangat hormat dan berbakti, Hian im sin ang Ui Sam ciat berusaha untuk bekerja dengan bersungguh hati.
Ditambah pula dia memang pandai menarik kepercayaan Hian im Tee kun, akhirnya selain memperoleh kepercayaan, bahkan tenaga dalamnya yang punah berhasil diperoleh kembali.
Bukan cuma begitu, diapun banyak memperoleh pelajaran ilmu silat dari bekas lawannya ini.
Sejak pertarungannya melawan Thi Eng khi, selain Hian im Tee kun kehilangan separuh tangannya, baik bagian luar maupun isi perutnya telah peroleh luka yang cukup parah.
Hian im Tee kun sadar kalau Thi Eng khi bukan seorang musuh yang mudah dihadapi, maka diapun meminta kepada Huan im sia ang Ui Sam ciat untuk menyaru sebagai dirinya dan menduduki istana Ban seng kiong, sementara pelbagai tugas dan kewajiban diserahkan kepada Hian im ji li.
Hian im Tee kun sendiri menyembunyikan diri di suatu tempat yang rahasia dan terpencil untuk mempelajari beberapa macam kepandaian yang lebih hebat sebagai persiapan untuk menghadapi Thi Eng khi.
Sekarang sudah semua orang tahu bahwa Hian im Tee kun gadungan hasil penyaruan dari Huan im sin ang otomatis pikiran semua orangpun dialihkan ke masalah Hian im Tee kun yang asli, maka pelbagai pertanyaan pun segera bermunculan .
"Ke mana perginya Hian im Tee kun? Ke mana perginya Hian im Tee kun...?"
Pertanyaan tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh istana Ban seng kiong. Bu im sin hong Kian Kim siang mendongkol sekali, dengan penuh amarah serunya .
"Mari kita segera mencari kawanan anak iblis yang terluka itu, coba ditanyakan ke mana kaburnya Hian im Tee kun!"
Sim ji sinni yang menyaksikan kegusaran orang segera tersenyum dan menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .
"Sekalipun Huan im sin ang hidup kembali, belum tentu dia akan tahu ke mana perginya Hian im Tee kun, apalagi orang orang lainnya."
"Masa kita harus menyudahi persoalan sampai disini saja?"
Seru Bu im sin hong Kian Kim siang sambil menghela napas. Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata pula .
"Sehari Hian im Tee kun belum berhasil dilenyapkan dari muka bumi, dunia persilatan tak akan pernah mengecap ketenangan dan kedamaian, sudah barang tentu kita tak boleh melepaskan dirinya dengan begitu saja, cuma persoalan toh tak usah terburu buru harus diselesaikan dalam sehari, lebih baik kita selesaikan dulu kawanan iblis yang berada di istana Ban seng kiong, kemudian baru berunding lebih jauh."
Menyelesaikan kawanan iblis dari Ban seng kiong memang merupakan tugas yang harus segera diselesaikan secepatnya, karena sekali salah bertindak, bisa jadi akan menimbulkan bibit bencana yang lain, maka para jago mau tak mau harus bertindak dengan berhati hati sekali.
Untung saja semua orang mempunyai sikap berbesar hati dan berpandangan luas dengan tak bosan bosannya mereka membujuk dan menasehati kawanan ibis itu sampai mereka dapat menghilangkan sifat jahatnya sebelurn dilepaskan pergi dengan harapan mereka dapat hidup sebagai manusia lain.
Sedangkan kawanan iblis kecil yang tidak masuk hitungan, ditugaskan pendidikannya kepada Ban li tui hong Cu Ngo, si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu untuk diselesaikan.
Kini, meskipun istana Ban seng kiong berhasil dilumpuhkan namun Hian im Tee kun belum berhasil dilenyapkan.
Para jago sekarang boleh dibilang baru berhasil menyelesaikan setengah dari tugasnya, sedangkan tujuan untuk melenyapkan ancaman bahaya bagi keselamatan dunia persilatan masih ada setengah lagi yang belum terselesaikan.
Dari posisi terang Hian im Tee kun telah beralih ke tempat kegelapan, tugas untuk melenyapkan dirinya sekarang pun akan menjadi suatu tugas yang tidak gampang.
Karena para jago sadar kalau untuk mengumpulkan kekuatan seperti ini bukan suatu pekerjaan yang gampang, maka untuk sementara waktu semua orang berkumpul di istana Ban seng kiong guna mempermudah tugas dan tujuan mereka menghadapi Hian im Tee kun.
Bu tong pay terletak paling dekat dengan istana Ban seng kiong, ketua Bu tong pay Keng hian totiang segera mengundang datang jago jagonya dalam jumlah yang lebih banyak agar lebih mempermudah pengawasan.
Sedangkan ketua ketua dari partai lain pun segera menurunkan perintah kepada anak buahnya agar melakukan penyelidikan yang teliti atas jejak Hian im Tee kun sehingga mempermudah usaha mereka untuk membasminya.
Dalam jangka waktu yang cukup lama ini, jago jago yang belum berhasil memulihkan kembali tenaganya seperti Ci kay taysu dan Ci liong dari Siau lim pay, Keng it dan Keng ning totiang dari Bu tong pay, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, atas bantuan dari Ciu Tin tin dapat pula memperoleh kembali tenaga dalamnya.
Masalah yang masih tersisa sekarang tinggal bagaimana caranya untuk memulihkan kembali kekuatan dari Thi Eng khi.
Padahal Thi Eng khi sudah berhasil melatih tubuhnya sehingga kebal dan luar biasa, masalah untuk memulihkan kembali kekuatannya sudah bukan menjadi masalah lagi, karena tinggal menunggu waktu belaka.
Akan tetapi berhubung para jago tidak jelas mengetahui sampai dimanakah kekuatan tubuh serta kepandaian yang dimilikinya, maka penilaian mereka terhadap Thi Eng khi pun menurut penilaian orang orang pada umumnya, jadi sebenarnya merupakan suatu kekeliruan yang cukup fatal.
Namun dengan makin berlarutnya sang waktu, oleh karena paras muka Thi Eng khi juga mengalami perubahan yang menggembirakan, maka rasa kuatir serta perasaan murung para jago pun secara otomatis turut menjadi lenyap.
Pada hari kesembilan puluh setelah Ban seng kiong berhasil direbut para jago, Thi Eng khi juga berhasil memulihkan kembali tenaga dalamnya.
Namun selama beberapa waktu itu, jejak Hian im Tee kun ibaratnya sebatang jarum ditengah dasar samudra yang luas, sulit untuk menemukan kembali jejaknya.
Hari ini para jago kembali melanjutkan perundingan mereka tentang bagaimana caranya menemukan jejak Hian im Tee kun yang menghilang.
Thi Eng Khi yang berhasil memperoleh kembali tenaga dalamnya turut pula didalam perundingan tersebut.
Sementara semua orang masih berunding dengan serius, mendadak Thi Eng khi teringat akan satu persoalan yakni ketika pertama kalinya berjumpa dengan Hian im Tee kun.
Waktu itu Thi Eng khi baru saja memperoleh Kim khong giok lok wan dari gua Yang sim tongnya Cu sim ci cu Thio Biau liong dan bermaksud baik untuk memenuhi undangan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, namun dituduh orang sebagai pembunuh Ting tayhiap dari bukit Huan keng san sehingga persoalan harus diakhiri dalam keadaan tidak gembira.
Ketika Thi Eng khi yang harus menyelamatkan jiwa Pek leng siancu So Bwe leng harus berangkat kembali ke Sah si, tak beruntung ia dijebak oleh Huan im sin ang dan dijebak dalam sebuah kuil dimana nyaris dia mati dibakar hidup hidup.
Kemudian Thi Eng khi dengan menggunakan ilmu Heng kian sinkang berhasil menyembunyikan diri dibawah tanah dan tanpa sengaja terjerumus ke dalam sebuah lorong rahasia dan menemukan sebuah gua batu.
Waktu itu berhubung dia harus buru buru kembali ke bukit Siong san dan tak ingin mencari gara gara maka dia tidak langsung masuk ke gua untuk melakukan penyelidikan lebih jauh.
Akan tetapi sewaktu hendak keluar dari lorong rahasia tersebut, dijumpainya seorang kakek berwajah putih berjubah hijau bersama seorang gadis yang cantik jelita sedang keluar dari lorong rahasia tersebut.
Oleh sebab itu, tak sulit untuk diduga kalau kedua orang tersebut memang berdiam dalam istana dibawah lorong rahasia tersebut....
Kemudian Thi Eng khi baru tahu kalau tua dan muda itu bukan lain adalah Hian im Tee kun serta Hian im li Cun Bwee.
Atau bila diduga selangkah lebih maju, bisa jadi gua tersebut merupakan sarang dari Hian im Tee kun.
Bahkan sekarang pun bisa diduga kalau Hian im Tee kun besar kumungkinannya sedang bersembunyi didalam sarangnya tersebut.
Setelah mempunyai pemikiran demikian, maka diapun lantas mengungkapkan hal tersebut kepada semua orang.
Jilid 45 Sambil menepuk bahu Thi Eng khi, Bu im sin hong Kian Kim siang segera berseru .
"Saudara cilik, mengapa tidak kamu katakan sedari dulu dulu sehingga membiarkan Hian im Tee kun hidup tiga bulan lebih lama? Kali ini, Kita empat tua bangka harus bertarung mati matian dengannya!"
Thi Eng khi tersenyum .
"Kian tua!"
Katanya.
"tenaga dalam Eng khi telah pulih kembali seperti sedia kala, aku tak berani merepotkan kalian empat orang tua lagi!"
Mendengar ucapan tersebut, Bu im sin hong Kian Kim siang segera mencak mencak serunya .
"Tidak bisa! Tidak bisa! Usiamu masih begitu muda, saatmu untuk sukses dan berhasil masih panjang, tidak seperti kami tua bangkotan yang semakin dekat dengan ajal, siapa tahu setelah ini tiada kesempatan sebaik ini lagi bagi kami untuk berbakti kepada dunia persilatan? Aku tahu tenaga dalammu memang lebih sempurna dari kami, toh tidak sepantasnya jika kau berebut jasa dengan kami bukan?"
Baru saja Thi Eng khi hendak berbicara, Pek leng siancu So Bwe leng telah menukas sambil tertawa .
"Kian yaya! Kau memang tak tahu malu, siapa sih yang akan berebut jasa denganmu?"
"Budak ingusan!"
Bu im sin hong Kian Kim Siang tertawa.
"tidak besar tidak pula yang kecil, siapa sih yang menyuruh kau banyak berbicara?"
Pek leng siancu So Bwe leng segera mencibirkan bibirnya yang kecil, lalu berkata lagi .
"Kian yaya, kau tidak adil, kau memanggil engkoh Eng sebagai saudara cilik, itu berarti aku Leng ji adalah adik kecilmu pula, siapa bilang tidak yang besar tidak yang kecil."
Pek leng siancu So Bwee leng memang binal sekali, ucapan mana kontan saja menimbulkan gelak tertawa seisi ruangan.
Tiang pek lojin So Seng pak tak tahan turut pula tertawa terbahak bahak, kemudian sambil sengaja menarik wajahnya dia berkata dengan suara dalam .
"Leng ji, kau benar benar tak tahu aturan, siapa suruh kau berbuat binal?"
"Kenyataannya memang begitu?"
Bantah Pek leng siancu So Bwe leng sambil ngotot.
"Kian yaya menganggap engkoh Eng adalah saudaranya dan engkoh Eng menganggap Kian yaya sebagai engkoh tua nya, bukankah ini berarti pula diapun terhitung engkoh tua dari anak Leng?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak setelah mendengar perkataan tersebut .
"Haaahhhh... haaahhh.... haaahhhh..... tepat sekali! Tepat sekali! Anak Leng, aku dan yayamu saling menyebut sebagai saudara, apakah kaupun hendak saling menyebut saudara dengan yayamu?"
"Kian yaya!"
Pek leng siancu So Bwe leng tak mau kalah "kau dan engkoh Eng saling menyebut saudara, mengapa kau tidak suruh engkoh Eng saling menyebut saudara dengan Thi yaya?"
Menyusul kemudian sambil tertawa cekikikan dia berkata lebih lanjut .
"Kita toh berhubungan secara terpisah dan tiada ikatan satu sama lainnya!"
Bu lm sin hong Kian Kim siang benar benar mati kutunya, sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas dia berseru .
"Aaaai, dunia sudah berubah! Dunia benar benar sudah berubah, aku memang kalah diharuskan bersilat lidah denganmu!"
Dari tempat kejauhan buru buru Pek leng siancu So Bwe leng menjura, kemudian katanya lembut .
"Kian yaya, harap kau jangan marah, terimalah hormat dari anak Leng!"
Perbuatan dari gadis ini benar benar membuat Bu im sin hong Kian Kim siang mati kutunya, mau tertawa tak bisa, mau menangispun tak dapat.
Persoalan tidak berhenti sampai disitu saja, mendadak Pek leng siancu So Bwe leng berkata lagi dengan wajah serius .
"Kembali ke persoalan yang utama, anak Leng merasa masalah mengerubuti Hian im Tee kun adalah masalahku dengan engkoh Eng...."
Keng thian giok cu Thi Keng segera tersenyum .
"Anak Leng,"
Dia berkata.
"apa alasanmu? Mengapa kau bersikeras mempertahankan pendapatmu itu?"
Berada dihadapan Keng thian giok cu Thi Keng, sudah barang tentu Pek leng siancu So Bwe leng tak berani sembarangan berbuat binal, katanya dengan serius .
"Locianpwe berempat sudah lanjut usia, pamor dan kedudukan kalian sudah cukup termashur dalam dunia persilatan, kalian pun sudah lama disanjung dan dihormati orang, apabila kalian berempat harus mengerubuti Hian im Tee kun, sekalipun dapat menang, orang lain pasti akan menambah bumbu pula didalam ceritanya sehingga akan mempengaruhi nama baik kalian."
Kemudian setelah berhenti sejenak dia melanjutkan .
"Ini kalau menang, sebaliknya kalau sampai terpeleset sehingga menderita kekalahan total, bukankah nama baik kalian akan hancur berantakan tak karuan lagi wujudnya?"
Keng thian giok cu Thi Keng segera manggut manggut setelah mendengar perkataan itu, katanya .
"Anak Leng, perkataanmu memang sepintas lalu kedengarannya sangat masuk diakal, namun kami berprinsip untuk menolong umat persilatan dan melenyapkan bibit bencana, soal kehilangan nama atau kedudukan bukan menjadi masalah buat kami."
"Seandainya di dalam dunia persilatan memang benar benar sudah tiada manusia lagi yang bisa mengalahkan Hian im Tee kun, demi ditegakkannya keadilan dan kebenaran, locianpwe berempat memang wajib berbuat demikian sekalipun harus berkorban jiwapun, karena hal ini memang merupakan watak dan tujuan dari cianpwe berempat, namun keadaan yang kita hadapi sekarang toh sama sekali berbeda dengan keadaan tersebut?"
Bu im sin hong Kian Kim siang yang mendengar sampai disitu, tak tahan lagi segera menggoda .
"Leng ji, berbicara pulang pergi nampaknya kau nekad hanya dikarenakan engkoh Eng?"
"Siapa bilang? Aku berbuat demikian demi kepentingan umat persilatan....."
"Omitohud!"
Bisik Sim ji sinni sambil menukas pembicaraan Pek leng siancu So Bwe leng.
"perkataan dari anak Leng memang ada benarnya, kita semua sudah berlanjut usia, sekarang memang bukan waktunya bagi kita untuk menarik otot lagi. Thi sauhiap gagah dan perkasa, dia memang satu satunya pilihan untuk memimpin dunia persilatan, selain melenyapkan Hian im Tee kun, dia pun bertugas membina serta melindungi keselamatan umat persilatan dimasa mendatang, aku pikir seharusnya kita memberi kesempatan untuk mereka."
"Yaa, ketika siaute meninggalkan perbatasan kali ini, sebenarnya akupun datang dengan membawa cita cita yang besar,"
Ucap Tiang pek lojin So Seng pak.
"namun kenyataannya aku mesti menanggung malu berulang kali, hanya kesuksesan dari anak Eng lah yang dapat menghibur hatiku yang kecewa."
Sedangkan Keng thian giok cu Thi Keng tidak berkata apa apa, dia cuma tersenyum belaka. Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak, serunya kemudian .
"Tampaknya lohu harus mengibarkan bendera putih untuk menyerah dan mundur teratur, anak Leng, kau memang akan menjadi luar biasa di kemudian hari."
Dengan serius Pek leng siancu So Bwe leng menjura dalam dalam, kemudian katanya .
"Dimasa masa mendatang aku masih membutuhkan banyak petunjuk serta bimbingan dari Kian yaya!"
Ucapan tersebut segera membuat Bu im sin hong Kian Kim siang tertegun, serunya kemudian .
"Anak Leng, kau maksudkan aku si tua bangka masih harus menempuh perjalanan jauh demi kalian? Tidakkah kau merasa tindakan tersebut kelewat batas?"
Sam ku sinni tertawa.
"Kian lo sicu, dihari hari biasa kau suka memuji angkatan muda, itulah sebabnya kau tak bisa bermalas malasan lagi sekarang, apalagi Thi sau sicu memang tak bisa kekurangan bantuanmu!"
Padahal Bu im sin hong Kian Kim siang memang benar benar berhasrat sekali untuk membantu Thi Eng khi, akan tetapi dia tak mau mengalah dengan begitu saja, sambil menggelengkan kepalanya dia berkata lagi .
"Tidak bisa! Tidak bisa! Sudah terlalu lama aku meninggalkan Tin kui, aku mesti pulang untuk menengok teman teman lama, selain itu aku pun masih pingin menjadi raja di wilayah Barat daya selama beberapa tahun lagi!"
Thi Eng khi segera maju ke muka sambil menjura katanya kemudian .
"Kian tua, Eng khi merasa sangat membutuhkan bantuanmu apalagi keberhasilanku sekarangpun berkat bimbinganmu, harap Kian tua sudi mengabulkan permintaan ini!"
Wajah Bu im sin hong Kian Kim siang segera berseri seri, sambil tertawa tergelak katanya .
"Sudahlah, tak usah menempelkan emas lagi diwajahku, lohu tak mau jual muka kepada siapa pun tapi saudara cilik begitu memandang tinggi diriku, terpaksa aku pun harus menjual nyawa tuaku ini untukmu!"
Sekali lagi Thi Eng khi menjura dalam dalam .
"Terima kasih banyak atas cinta kasih Kian tua!"
"Jangan berterima kasih, jangan berterima kasih,"
Bu im sin hong Kian Kim siang menggoyangkan tangannya berulang kali.
"aku hanya berharap kau memperketat pengawasanmu saja terhadap bocah perempuan ini, asal dia tidak mencari gara gara lagi denganku, aku sudah merasa berterima kasih sekali."
Pek leng siancu So Bwe leng tertawa .
"Kian yaya, kau tak ingin menjadi raja barat daya lagi?"
Godanya. Bu im sin hong Kian Kim siang segera melotot besar.
"Urusan di barat daya sudah lohu atur semua, siapa sih yang menyuruh kau banyak mulut?"
Pek leng siancu So Bwe leng segera membuat muka setan, sambil memandang ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang, dia cuma tertawa belaka.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera berpaling dan mengeluarkan sebuah tanda pengenal yang diserahkan kepada Hui cun siucay Seng Tiok sian, kemudian katanya .
"Tiok sian, ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang lohu miliki, sudah kuwariskan kepadamu, soal barat daya di kemudian hari pun lohu serahkan penyelesaiannya kepada mu, bawalah tanda pengenal ini dan beritahu kepada semua orang, kini lohu tak bisa memisahkan diri, jadi untuk sementara waktu tak akan pulang ke wilayah barat daya."
Dengan wajah menjadi tegang, Hui cun siucay Seng Tiok sian berseru .
"Boanpwe masih muda dan belum berpengalaman, mungkin aku hanya akan menyia nyiakan kasih sayang supek saja!"
"Saudara cilik Thi masih lebih muda daripadamu tapi dia toh berkeberanian untuk memikul tanggung jawab yang berat, masa kau sama sekali tidak berkeberanian untuk memikul tanggung jawab sekecil ini?"
Kata Bu im sin hong Kian Kim siang dengan wajah bersungguh sungguh.
Hui cun siucay Seng Tiok sian adalah seorang pemuda berdarah panas, dia disulut oleh Bu im sin hong Kian Kim siang, tak tahan lagi dia segera berseru .
"Boanpwe tak dapat membuat kau orang tua kehilangan muka, baik aku akan turut perintah!"
Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa nyaring .
"Nah, begitu baru benar, sebagai seorang pemuda, kau harus memiliki keberanian, aku percaya di bawah pimpinanmu, wilayah barat daya sana pasti akan berjaya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi .
"Sekarang, pulanglah dulu ke wilayah barat daya!"
Setelah berpamitan dengan para cianpwe dan kawanan jago yang pernah hidup berjuang bersama, dengan berat hati Hui cun siucay Seng Tiok sian menjanjikan saat perjumpaannya dengan Thi Eng khi dan berangkat menuju wilayah See lam.
Setelah berpisah dengan Hui cun siucay Seng Tiok sian, Thi Eng khi berunding kembali dengan keempat tokoh sakti dan sekalian para jago, kemudian ditetapkan Bu im sin hong Kian Kim siang, Thi Eng khi, Ciu Tin tin, So Bwe leng, Bu Nay nay, Bu Im, Unta sakti Lok it hong, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po serta Ban li tui hong Cu Ngo sekalian berdelapan berangkat ke Sah si untuk mengobrak abrik sarangnya Hian im Tee kun.
Saat kejadian ini, dengan puluhan hari mundur ke belakang.
Tempat kejadiannya, di luar kota Sah si sarang Hian im Tee kun si gembong iblis tua itu.
Sejak pertarungannya melawan Thi Eng khi tempo hari, walaupun Hian im Tee kun berhasil melukai Thi Eng khi, namun dia sendiripun tergetar oleh hawa pedang yang dipancarkan Thi Eng khi sehingga isi perutnya terluka, malahan separuh lengannya terpapas kutung...
Atas terjadinya peristiwa ini, otomatis sikap angkuh Hian im Tee kun yang menganggap dirinya sebagai Tokoh nomor wahid dikolong langit pun menjadi pudar.
Hian im Tee kun memang tidak malu disebut seorang gembong iblis berpengalaman ternyata reaksinya terhadap kenyataan tersebut cukup tajam.
Mula pertama dia menyelesaikan lebih dulu segala persoalan di istana Ban seng kiong, kemudian seorang diri pulang ke markasnya untuk melatih beberapa macam ilmu beracun sebagai persiapan menghadapi Thi Eng khi lagi dikemudian hari.
Dua bulan lebih sudah dilewatkan, ilmu sakti yang dilatih Hian im Tee kun pun menurut rencana sudah berakhir.
Saat tersebut bukan lain adalah saat dimana Thi Eng khi bersama para jago persilatan berhasil menghancurkan istana Ban seng kiong, dan saat itu, Hian im Tee kun sebetulnya sudah bersiap siap hendak berangkat ke istana Ban seng kiong, pada saat itulah dia menjumpai Hiat im li Cun Bwee kabur pulang dengan rambut yang kusut serta menceritakan kisah kekalahan dan kehancuran istana Ban seng kiong.
Menyusul kemudian, Hian im li Ciu Lan pulang pula ke sarang tersebut.
Hian im Tee kun memang tak malu disebut gembong iblis tua yang paling tersohor sejak ratusan tahun terakhir ini.
Walaupun mengalami pukulan sedemikian beratnya dan bagaimanapun gusarnya dia, namun perasaan tersebut tak sampai diungkapkan keluar.
Dia hanya berkata dengan suara hambar .
"Sekarang, kalian pergilah beristirahat dulu, aku dapat mengatasi sendiri persoalan ini."
Kemudian Hian im Tee kun termenung seorang diri memikirkan masalah tersebut, kemudian dipanggilnya kedua gadis itu dan menyampaikan pesan kepada mereka, Hian im ji li segera berangkat lagi meninggalkan tempat itu.
Menunggu Hian im ji li sudah pergi, kembali Hian im Tee kun membenahi sekitar guanya, yang paling hebat adalah di sekitar mulut gua dan lorong gua tersebut, dia menanamkan berapa puluh ribu kati obat peledak, asal ada orang berani memasuki gua itu, niscaya obat peledak itu akan meledak dan mencabik cabik tubuh korbannya.
Ternyata Hian im Tee kun adalah seorang yang amat teliti dan cerdik, rupanya dia teringat kembali dengan kisah lolosnya Thi Eng khi dari kurungan api di kuil kecil tempo dulu.
Setelah dilakukan penelitian yang seksama, akhirnya ditemukan cara pemuda tersebut untuk meloloskan diri, maka serta merta diapun lantas menduga kalau guanya ini sudah diketahui lawan.
Dimasa lalu, oleh sebab ada Huan im sin ang yang munculkan diri dalam istana Ban seng kiong dengan wajahnya, sudah barang tentu Thi Eng khi tak akan pikir sampai ke gua ini.
Akan tetapi setelah Huan im sin ang mati deminya dan seandainya rahasia penyaruan dari Huan im sin ang diketahui orang, niscaya Thi Eng khi akan teringat pada gua tersebut.
Dan bila Huan im sin ang sudah mati dan rahasianya diketahui pemuda itu, jikalau Thi Eng khi hendak mencarinya, mungkin dia akan punya rencana untuk mendatangi gua rahasia itu.
Walaupun kesemuanya itu hanya dugaan Hian im Tee kun belaka, tapi kenyataannya memang berhasil tertebak semua olehnya.
Maka persiapan yang dilakukan olehnya untuk menghadapi segala kemungkinan ini mendatangkan ancaman yang serius bagi Thi Eng khi, bahkan membahayakan jiwa anak muda tersebut, cuma kejadian ini berlangsung belakangan nanti, jadi untuk sementara waktu tidak diceritakan dulu.
Sementara itu, Hian im Tee kun yang sudah selesai melakukan persiapan di dalam sarangnya, di sepanjang jalan dia meninggalkan tanda rahasia, dan membawa rencana busuknya yang sudah dipersiapkan dengan matang, berangkatlah dia menuju ke wilayah Siang kui.
Gembong iblis ini memang licik dan banyak akal muslihatnya, sekalipun sudah puluhan tahun dia tak pernah munculkan diri dalam dunia persilatan, padahal situasi dunia persilatan selama puluhan tahun ini dikuasai olehnya dengan jelas sekali.
Sekarang, dia sudah berencana untuk menguasai daerah pemukiman dari si Pembenci raja akhir Kwik Keng thian.
Perlu diketahui, tempat tinggal si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian ini terletak di tengah pegunungan yang terpencil dengan sekelilingnya merupakan tanah bukit yang tinggi, jalan menuju ke situ pun cuma satu yakni melalui gua yang panjangnya puluhan li, boleh dibilang tempat itu selain terpencil, rahasia pun mudah dalam pertahanan.
Atau dengan perkataan lain tempat itu merupakan markas besar umat persilatan yang diidamkan setiap orang.
Bila perkampungan Huan keng san ceng dapat dikuasai pula hingga tempatnya lebih strategis, usahanya untuk membangun kembali istana Ban seng kiong dan bertarung melawan Thi Eng khi akan semakin cerah.
Hian im Tee kun terhitung seorang manusia yang berakal licik dan berpengalaman luas, dia berhasil menyelidiki dengan segala watak si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.
Maka dengan membawa beberapa macam obat obatan yang langka dan berperan sebagai seorang pencari obat, dia munculkan diri disekitar tempat kediaman si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian...
Semenjak terjadi kesalahan paham yang tidak menyenangkan dengan Thi Eng khi tempo hari, menyusul kemudian tersiar dalam dunia persilatan tentang gugurnya Huang oh siansu di istana Ban seng kiong serta pertarungan Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun.
Berhubung pertarungannya ini, Thi Eng khi menjadi ternama dan menjadi lambang keadilan dunia persilatan.
Tentu saja berita ini tersiar pula ke dalam telinga si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian serta Jit gwat siang beng, dengan perbuatan Thi Eng khi yang begitu mulia dan gagah, bila dikatakan pemuda itu adalah seorang manusia rendah yang mengincar harta orang lain niscaya semua orang tak akan percaya.
Maka, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bersama Jit gwat siang beng dan Hui cun siucay Seng Tiok sian sekali lagi mengadakan pemeriksaan dengan seksama.
Persoalan yang semula sudah disimpulkan, tapi berhubung sudah memperoleh pandangan lain, maka penyelidikan dan kesimpulan yang kemudian berhasil dikumpulkan membuktikan kalau mereka telah salah menuduh Thi Eng khi.
Dengan demikian, tanpa perantara dari Bu im siang hong Kian Kim sing sebagai penengah pun mereka sudah mempercayai seratus persen atas perkataan dari Thi Eng khi ini.
Justru karena itu pula, Hui cun siucay Seng Tiok sian baru membawa kuda Hek liong kou untuk dikembalikan kepada Thi Eng khi selain mohon maaf darinya.
Malah secara kebetulan pula dia turut serta dalam penumpasan terhadap istana Ban seng kiong.
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sendiri, sehabis mengutus Seng Tiok sian terjun ke arena persilatan, kemudian mendengar pula tentang munculnya tokoh tokoh lama untuk menyertai perjuangan menumpas Hian im Tee kun, diam diam timbul pula semangat tuanya untuk ikut terjun pula ke dalam dunia persilatan.
Dalam hati kecilnya dia pun mengambil keputusan, menanti Hui cun siucay Seng Tiok sian sudah kembali nanti, dia akan melakukan pula pergerakan.
Untuk mengisi waktu senggang mereka sambil menunggu kedatangan Seng Tiok sian, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian dan Jit gwat sian beng To bersaudara rnengisi waktu dengan mengenang kembali kegagahan mereka di masa silam.
Ada kalanya, mereka pun turun gunung untuk berjalan jalan, tidak mendekam terus seperti dulu lagi.
Hian im tee kun yang secara diam diam mengintip gerak gerik si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian selama banyak hari, pengertiannya atas orang ini semakin mendalam, itulah sebabnya dia dapat menciptakan kesempatan yang baik untuk mengulurkan cengkeraman mautnya terhadap Kwik Keng thian.
Berita tentang ditumpasnya Ban seng kiong oleh Thi Eng khi, tersiar pula di sekitar tempat tinggal mereka, akan tetapi oleh sebab beritanya tidak jelas, hal mana tidak memuaskan hati si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.
Pagi ini, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bersama To bersaudara turun gunung menuju ke kota yang terdekat untuk mencari berita.
Siong tho adalah sebuah kota yang tidak begitu besar, akan tetapi oleh sebab tempat itu merupakan urat nadi perdagangan antar propinsi, maka manusia yang berlalu lalang dikota itu amat banyak, rumah makan dan rumah penginapan pun tak terhitung jumlahnya.
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bersama Jit gwat siang beng To bersaudara memasuki sebuah rumah makan yang disebut Ban hoa lo, setelah berpesan beberapa macam sayur dia pun bersantap bersama kedua orang rekannya.
Tentu saja minum arak bukan tujuan yang pertama, sebab tujuan mereka adalah mencari kabar tentang ditumpasnya istana Ban seng kiong.
Sementara mereka sedang memasang telinga untuk mencari kabar dari gemuruhnya suara pembicaraan orang, mendadak dari arah anak tangga muncul seorang kakek berwajah putih yang mengenakan jubah berwarna tembaga, pada pinggangnya tergantung sebuah kantung obat dan sikapnya nampak seperti dahaga dan lapar sekali.
Begitu muncul dihadapan mereka, dengan dialek Zhuchuan yang medok dia bertanya .
"Masih ada tempat kosong?"
"Aaah, orang yang baru datang dari Zhuchuan!"
Ingatan tersebut segera melintas dalam benak pembenci raja akhirat Kwik Keng thian hingga semangatnya segera bangkit, bahkan dia pun hendak mencari kesempatan untuk dapat berdekatan dengannya.
Sementara itu pelayan telah membawa tamu itu mencari tempat duduk, jaraknya cuma selisih satu meja dengan tempat dimana si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian duduk, sekalipun diantaranya terdapat dua meja lain, namun arahnya boleh dibilang saling berhadap hadapan.
Setelah meneguk dua cawan arak, orang itu nampak lebih bersemangat, malah mulai mengalihkan pandangan matanya mengawasi para tamu lainnya.
Beberapa kali sorot matanya memandang wajah si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, tapi seperti tidak memperhatikan saja, dalam sekilas pandangan saja dia lantas melengos ke arah lain......
Waktu itu, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sudah tidak tahan ingin berkenalan dengannya.
Mendadak kakek itu menarik kembali sorot matanya sambil berseru .
"Pelayan!"
Sang pelayan mengiakan dan segera memburu mendekat, tanyanya dengan cepat .
"Kek koan, kau ada urusan apa?"
"Lohu ingin mencari tahu tentang sebuah alamat, entah kau tahu tidak?"
"Harap kek koan menyebutkan lebih dulu, bila hamba tidak tahu, tentu akan kutanyakan kepada orang lain!"
"Baik!"
Seru si kakek sambil tertawa nyaring.
"berdasarkan ucapanmu barusan, lohu merasa perlu untuk menghadiahkan uang sebesar lima tahil perak!"
Dari sakunya dia mengeluarkan lima tahil perak dan diletakkan keatas meja, kemudian katanya lagi .
"Pelayan simpan dulu uang itu, kemudian lohu baru akan bertanya kepadamu."
Daerah pedalaman memang tidak banyak orang kaya, apalagi sekali memberi persen mencapai lima tahil perak, seingatnya belum pernah kejadian ini pernah berlangsung.
Tak heran kalau pelayan itu dibuat gelagapan setengah mati, agak tergagap segera serunya .
"Kek koan ini..... ini... ini terlalu banyak, hamba... hamba tidak berani..... tidak berani menerimanya....!"
Rupanya dia pun kuatir, kuatir kalau uang itu tidak gampang untuk menerimanya. Sambil tertawa hambar kakek itu berkata .
"Kau tak usah kuatir, sekalipun pertanyaanku tak mampu kau jawab lohu tak akan minta kembali uang tersebut!"
Dengan perkataan tersebut, pelayan tersebut baru berani menerima uang tadi, bahkan agak emosi dia bertanya .
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah disekitar tempat ini terdapat suatu tempat yang bernama Lembah batu hitam?"
Pelayan itu memutar otaknya sambil berpikir beberapa saat, kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, ia berkata .
"Hamba tidak mengetahui tentang tempat ini, harap kau orang tua menunggu sebentar, hamba akan menanyakan kepada orang lain."
Selasai berkata dia membalikkan badan siap berlalu.
"Siau ji ko, kau tak usah pergi, lohu mengetahui alamat tersebut...."
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian yang sudah tidak tahan semenjak tadi segera menimbrung.
Dengan senyum menghiasi wajahnya, kakek itu segera menjura kepada si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sambil ujarnya .
"Terima kasih banyak atas petunjuk lotiang, bagaimana kalau kalian bertiga pindah kemari untuk minum bersama?"
Memanfaatkan kesempatan tersebut si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian dan Jit gwat siang beng To bersaudara segera berpindah tempat.
Kata si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sambil tertawa lebar .
"Lotiang datang dari jauh sebagai tamu, biarlah aku yang menjadi tuan rumahnya."
Dia lantas menitahkan kepada pelayan untuk menyiapkan hidangan baru.
Tapi kakek itu menampik dan bersikeras hendak menjamu ketiga orang tamunya.
Dengan wajah serius si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera berkata .
"Bila totiang menampik lagi, ini menunjukkan kalau kau memandang rendah orang dusun dan tak sudi berteman!"
Setelah mendengar perkataan itu, si kakek baru tidak berbicara lagi dan buru buru mengucapkan terima kasih kepada si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.
Dalam pembicaraan selanjutnya yang berlangsung lebih akrab, kakek itu mengaku bernama Ong See ing, dia mengaku sebagai seorang umat persilatan yang tujuannya pergi ke Hek Sik kok adalah mendapat pesan seseorang untuk mencoba mencari semacam obat mustajab yang amat langka.
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menyebutkan nama marganya tanpa menyinggung tentang nama lengkapnya sedangkan Jit gwat siang beng To bersaudara malah mengatakan secara terang terangan nama lengkap mereka.
Dengan sikap yang hormat dan serius Ong See ing memuji muji To bersaudara, pujian mana membuat Jit gwat siang beng merasa gembira sekali.
Oleh karena sikap Jit gwat siang beng terhadap si pembenci raja akhirat amat hormat maka keadaan ini memberitahukan pula kepada Ong See ing bahwa kakek tersebut berkedudukan amat tinggi.
Kesemuanya ini membuat sikap Ong See ing terhadap si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian pun makin menaruh hormat.
Manusia memang demikianlah, asalkan kedua belah pihak sudah saling mengenal maka hormat menghormat pun akan tumbuh apalagi penampilan Ong See ing yang luar biasa, selain menaruh hormat kepada orang lain, dia sendiripun menampilkan sikapnya yang anggun sehingga si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian pun tak berani memandang rendah kepadanya.
Menggunakan kesempatan mana si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menanyakan kisah cerita tentang keberhasilan Thi Eng khi menumpas istana Ban seng kiong.
Dengan mencorongkan sinar tajam dan wajah berseri, Ong See ing berkata .
"Saudara Kwik, terus terang saja kukatakan, siaute ikut serta didalam peristiwa besar itu."
Kemudian secara ringkas diapun bercerita bagaimana dia mengikuti Thi Eng khi menumpas istana Ban seng kiong.
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menjadi kegirangan setengah mati, seakan akan dia sendiripun turut serta didalam peristiwa besar tersebut.
Tiba tiba Ong See ing merendahkan suaranya sambil berbisik .
"Kedatanganku kali inipun sesungguhnya atas pesan dari Thi sauhiap..."
Ketika berbicara sampai ditengah jalan sengaja dia menghentikan perkataannya dan menantikan perubahan wajah dari si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sekalian.
Benar juga paras muka si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian agak berubah, katanya dengan cepat .
"Apakah kau datang mencari seseorang?"
Berbicara sampai disitu, dengan kening berkerut dia lantas berpikir kembali .
"Kalau dibilang lohu yang dicari, mengapa dia tidak menyuruh anak Tiok?"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia mengawasi beberapa kali wajah Ong See ing dengan seksama. Sambil tersenyum Ong See ing berkata .
"Lotiang memang hebat sekali, sekali tebak sudah dapat menduga maksud kedatanganku!"
Tiba tiba dia memberi penjelasan lagi.
"Sebenarnya Hui cun siucay Seng sauhiap yang hendak ditugaskan kembali ke rumah, akan tetapi berhubung Thi sauhiap masih memerlukan bantuan dari Seng sauhiap oleh sebab itu akhirnya akulah yang diutus kemari."
Dengan adanya penjelasan tersebut, seketika itu juga kecurigaan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menjadi hilang lenyap tak berbekas katanya sambil tertawa nyaring .
"Kalau begitu akulah orang yang sedang saudara Ong cari, kalau toh kau sebagai sahabat Thi sauhiap, akupun rasanya tak bisa mengelabuhi dirimu lebih jauh."
Ong See ing berlagak sangat terkejut serunya kemudian agak tertahan .
"Apakah lotiang adalah Kwik tayhiap, Kwik Keng thian tayhiap....?"
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera tertawa terbahak bahak .
"Haaahhh.... Haaahhh....haaahhh...... apabila lohu bersikap kurang hormat, harap saudara Ong sudi memaafkan....."
Buru buru Ong See ing menjura.
"Aku benar benar punya mata tak berbiji sehingga tidak mengenali bukit Thay san, harap kau jangan menertawakan."
Kedua orang itu segera tertawa terbahak bahak dengan gembiranya, selang berapa saat kemudian, Ong See ing baru mengeluarkan sebuah kotak kemala hijau dan diangsurkan ke hadapan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sambil berkata .
"Tatkala Thi sauhiap berhasil menumpas istana Ban seng kiong, dari dalam gudang harta Ban seng kiong telah ditemukan benda Pek giok cian gi ini, itulah sebabnya aku diutus kemari untuk mengembalikannya kepada Kwik tayhiap, sekalian menitipkan satu persoalan."
Sambil tertawa terbahak bahak si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menerima kembali Pek giok cian gi tersebut, kemudian setelah memandang sekejap ke arah Jit gwat siang beng To bersaudara, katanya lagi .
"Thi sauhiap begitu berjiwa besar, kejadian ini benar benar membuat lohu malu kepada orang yang telah tiada."
Dengan perasaan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sekarang, jangan lagi Thi Eng khi hanya meninggalkan satu pesan saja, sekalipun beribu macam masalah pun tentu akan disanggupi semua.
Ong See ing memang pandai sekali melihat keadaan, tidak sampai si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bertanya lagi, dia sudah berkata lebih jauh .
"Tempat ini banyak orang dan kurang leluasa untuk berbincang, bagaimana kalau kita berpindah ke tempat yang lebih aman dan tenang saja?"
Si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera menarik tangan Ong See ing seraya berkata .
"Lote, rumahku tak jauh letaknya dari sini, apabila kau tidak menampik, bagaimana kalau kita berbicara di sana saja?"
Tenaga dalam Ong See ing sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali, hal ini membuat wajahnya kelihatan jauh lebih muda ketimbang si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.
Sekarang, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sudah menganggap istimewa Ong See ing, dengan sendirinya diapun bersikap hangat seperti terhadap sobat lama saja.
Mengikuti sikap raja akhirat Kwik Keng thian, Ong See ing pun turut berganti sebutannya .
"Saudara Kwik, inilah keinginan siaute sebelum jauh jauh datang kemari, harap saudara Kwik membawa jalan."
Mereka berempat segera berangkat meninggalkan loteng Ban hoa lo, diiringi perbincangan yang hangat dan gelak tertawa yang riang gembira berangkatlah mereka menuju ke tempat kediaman si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.
Di tengah jalan Ong See ing menuturkan pula maksud kedatangannya ke situ.
Menurut penuturan Ong See ing, dalam pertarungan menumpas istana Ban seng kiong, walaupun Thi Eng khi berhasil menumpas semua gembong iblis yang berada disitu, namun pentolannya berhasil kabur, sehingga hal ini menambah ancaman bagi dunia persilatan.
Kemudian diperoleh kabar yang mengatakan Hian im Tee kun telah kabur ke situ, maka diapun sengaja diutus kemari untuk membantu si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian dalam usahanya menghimpun para jago yang berada di sekitar sana untuk bersama sama menghadapi Hian im Tee kun.
Di samping itu, Hian im Tee kun pun konon berhasil membuat semacam obat beracun yang mematikan bila terkena tubuh manusia, itulah sebabnya si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian diminta menyelidiki obat pemunahnya sebagai persiapan bila digunakan dikemudian hari...
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian yang pernah menuduh Thi Eng khi dimasa silam, selalu menyesal di hatinya, maka untuk menebus kesalahan ini, apa saja yang dikehendaki Thi Eng khi segera dipenuhinya.
Setibanya di dalam lembah Hek sik kok, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera mencari suatu tempat yang tenang, kemudian membawa obat racun dari Hian im Tee kun yang diserahkan Ong See ing kepadanya itu untuk diselidiki obat penawarnya.
Di samping itu, diapun berpesan kepada Jit gwat siang beng To bersaudara agar menyebarkan Eng hiong tiap dan mengundang segenap jago yang tinggal diseputar situ untuk bersama sana berkumpul di perkampungan Huan keng san ceng sambil menuruti perintah Ong See ing.
Begitulah, dengan suatu cara yang sangat sederhana, Ong See ing berhasil menghimpun suatu kekuatan baru.
Tak lama kemudian Thi Eng khi mengutus datang pula beberapa jago lihay yang semuanya terjebak oleh tipu muslihat Ong See ing dan dikendalikan olehnya.
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sendiri sepanjang hari sedang dibikin pusing oleh persoalan pelik yang diajukan Ong See ing tersebut, siang malam ia selalu bekerja keras untuk menyelidiki obat penawar racun, otomatis diapun tidak mengetahui kalau para jago yang berada di sekitar daerah itu sudah terjebak semua oleh tipu muslihat Ong See ing.
Walaupun akhirnya Jit gwat siang beng To bersaudara melihat kalau gelagat kurang beres, tapi oleh sebab mereka tidak berkekuasaan apapun, ditambah pula selalu diawasi oleh Ong See ing secara ketat, maka kecuali memperalat mereka untuk mempengaruhi para jago, mereka tak mampu berbuat apa apa.
Begitulah, Hian im Tee kun berhasil menginjakkan kakinya di wilayah See lam.
Dalam keadaan seperti inilah, Hui cun siucay Seng Tiok sian pulang ke lembah Hek sik kok, tempat tinggal gurunya dengan menunggang kuda Hek liong kou nya.
Ong See ing sama sekali tidak menyangka kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian dapat kembali sedemikian cepatnya.
Hui cun siucay Seng Tiok sian sendiri mimpi pun tidak menyangka kalau daerah yang bakal dikembangkan olehnya dikangkangi orang lain.
Semenjak tiba di kota Bau sian, Hui cun siucay Seng Tiok sian sudah merasakan ketidak beresan tersebut.
Sebagai seorang pemuda yang cerdas, setelah melihat kecurigaan mana maka Hui cun siucay Seng Tiok sian memutuskan untuk tidak pulang secara langsung melainkan kembali dulu ke rumahnya sendiri.
Tempat ini tak lain adalah tempat di mana untuk pertama kalinya Hui cun siucay Seng Tiok sian berkenalan dengan Thi Eng khi.
Walaupun perencanaan dari Hian im Tee kun sangat cermat dan seksama, namun ia sama sekali tidak menduga kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian masih mempunyai rumah lain, salah perhitungan yang amat kecil ini membuat Hui cun siucay Seng Tiok sian berhasil lolos dari bencana kematian.
Ketika Hui cun siucay Seng Tiok sian pulang ke rumah sendiri, pembantunya Seng Liang segera menggelengkan kepalanya dan menghela napas seraya berkata .
"Kongcu, sahabatmu Thi ciangbunjin jelas bukan seorang manusia baik baik!"
"Seng Liang,"
Tegur Hui cun siucay Seng Tiok sian sambil berkerut kening.
"apa maksud perkataanmu itu? Seandainya aku tidak memandangmu sebagai orang tua dari keluarga Seng kita, aku sudah bersikap tidak sungkan sungkan lagi kepadamu."
Dengan wajah sedih Seng Liang berkata .
"Kongcu, aku Seng Liang tidak akan berkata demikian seandainya aku tidak melihatmu semenjak masih kecil dulu tumbuh hingga dewasa, hamba pun sudah banyak menerima budi kebaikan dari loya berdua, untuk itu, walaupun kongcu hendak membunuhku pada hari ini, hamba tetap bersikeras hendak mengutarakan keluar semua uneg uneg didalam hatiku!"
Menyaksikan kesetiaan Seng Liang tersebut, Hui cun siucay Seng Tiok sian segera menghela napas panjang.
"Baiklah asal ucapanmu itu cengli, aku tak akan menjadi marah, akan tetapi bila ucapanmu itu ngaco belo tak karuan, selanjutnya kau pun tak usah berbincang bincang lagi denganku!"
"Kongcu!"
Kata Seng Liang kembali dengan serius.
"apabila kau menganggap ucapan hamba tidak seharusnya diutarakan, hamba pun tak akan memperepotkan kongcu, aku bisa menempuh perjalananku sendiri..."
Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak berbicara lagi, dengan tenang dia menantikan kata kata berikutnya dari Seng Liang. Sekali lagi Seng Liang menghela napas panjang, lalu berkata .
"Wilayah barat daya kita ini sudah dibikin kacau tak karuan oleh orang orang yang diutus oleh Thi sauhiap!"
"Thi sauhiap telah mengirim orang? Siapakah dia?"
Tanya Hui cun siucay Seng Tiok sian dengan wajah tertegun.
"Dia mengaku bernama Ong See ing, apakah kongcu tidak kenal dengan orang ini?"
Hui cun siucay Seng Tiok sian segera berteriak keras keras .
"Sejak aku berpisah dengan Thi ciangbunjin, sepanjang jalan tanpa berhenti langsung pulang kemari, bila kuketahui tentang peristiwa ini, buat apa kutanyakan lagi kepadamu?"
"Sudah hampir dua bulan lebih Thi sauhiap mengutuskan orang datang kemari, sekarang semua jago dari sekitar tempat ini telah terjatuh ke tangannya, suasana yang kacau balau tidak seperti beberapa waktu berselang lagi."
"Sudah dua bulan lebih?"
Hui cun siucay Seng Tiok sian bergumam seorang diri.
"Waktu yang lebih tepat adalah dua bulan lebih delapan belas hari,"
Seng Liang menerangkan lebih jelas lagi. Dengan wajah serius dan nada yang panik Hui cun siucay Seng Tiok sian segera berseru.
"Tujuh puluh delapan hari berselang Thi ciangbunjin masih berada dalam keadaan sakit, pada waktu itu hakekatnya dia tidak mencampuri urusan apa pun. disamping itu tiada seorang manusia pun diantara para jago yang bernama Ong See ing."
Kemudian setelah berjalan bolak balik sambil termenung tiba tiba ia bertanya lagi .
"Seng Liang, apakah kau pernah bersua dengan manusia yang bersama Ong See ing itu?"
"Dari kejauhan aku pernah melihat dirinya satu kali, dia mengenakan jubah berwarna tembaga dengan usia sekitar enam puluh tahunan, wajahnya putih bersih tanpa berkumis, semangatnya segar seperti pemuda tapi berwajah penuh kewibawaan."
Hui cun siucay Seng Tiok sian termenung sebentar, lalu tanyanya lebih jauh .
"Ciri khas apa lagi yang dimilikinya? Seperti kedua belah tangannya apakah mempunyai kelainan?"
"Dia selalu mengenakan jubah yang lebar dengan menyembunyikan sepasang tangannya dibalik pakaian, belum pernah ada orang yang menyaksikan bentuk lengannya."
"Selain Ong See ing, masih ada siapa lagi?"
"Konon yang diutus kemari semuanya sudah berusia lanjut, tapi hamba pernah menyaksikan ada seorang gadis yang masih muda dan cantik lagi, hamba lihat hubungannya dengan Un sangat akrab..."
"Apakah tiada dua orang gadis muda?"
"Yang terlihat sekarang baru seorang, mungkin rekannya belum sampai sini. Apakah kongcu kenal baik dengan mereka?"
Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak menjawab pertanyaannya dari Seng Liang tersebut, hanya dalam hati kecilnya diam diam ia berpikir keras .
"Heran, di antara Hian im ji li, mengapa baru seorang yang munculkan diri?"
Melihat majikannya Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak menjawab, Seng Liang segera sok pintar, katanya lagi .
"Bagaimanakah watak nona Un, kau bersua dengan mereka nanti, lebih baik berlagaklah seakan akan belum pernah mengenal."
Baru saja Seng Liang menyelesaikan kata katanya, dari luar pintu sana sudah terdengar suara ujung baju yang terhembus angin berkumandang datang.
Buru buru Hui cun siucay Seng Tiok sian menggoyangkan tangannya mencegah Seng Liang berkata lebih lanjut.
Sesaat kemudian terdengar seseorang berseru dari luar pintu .
"Engkoh Tiok, kau ada di rumah?"
Bayangan merah berkelebat lewat, nona Ting Un dengan mengenakan baju berwarna merah sudah menyelinap masuk ke dalam ruangan.
Dengan senyuman dikulum Hui cun siucay Seng Tiok sian segera menyongsong kedatangannya seraya menegur .
"Adik Un, darimana kau tahu kalau aku sudah kembali?"
Ting Un tertawa katanya .
"Sanjin merasa hati berdebar, maka setelah dihitung hitung, kuketahui bahwa kau telah datang."
"Ooooh, kau mendapat tahu dari mulut mereka?"
"Kalau toh sudah pulang, mengapa kau tidak datang menengok diriku....?"
Seru Ting Un lagi dengan wajah mendongkol. Melihat gadis itu sengaja mengalihkan pembicaraan ke arah lain, dengan perasaan gelisah dia mendepak depakan kakinya berulang kali seraya berseru .
"Adik Un, sekarang bukan waktunya untuk mengumbar watak nonamu, kau harus tahu Ong See ing sesungguhnya adalah hasil penyaruan dari Hian im Tee kun, cepat katakan kepadaku, apakah ada orang yang sengaja memberitahukan kepadamu bahwa aku telah pulang?"
Begitu mendapat tahu kalau Ong See ing adalah Hian im Tee kun, Ting Un merasa terkejut sekali serunya kemudian cepat cepat .
"Tapi apa sangkut pautnya dengan kita?"
"Sangkut pautnya besar sekali orang justru memperalat dirimu untuk mengajak mereka datang kemari!"
"Yaa, mungkin aku benar benar sudah terjebak oleh siasat budak itu,"
Seru Ting Un kemudian sambil menyumpah nyumpah. Baru selesai dia berkata, dari luar pintu sudah kedengaran seseorang berseru .
"Sayang sekali terlalu lambat kau mengetahui akan hal ini...."
"Siapa diluar?"
Bentak Hui cun siucay Seng Tiok sian setengah menghardik.
Dengan cepat dia menarik Ting Un kebelakang tubuhnya, sementara senjata kipas emasnya sudah dicabut keluar, hawa murni segera dihimpun dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ting Un dan Seng Liang yang berdiri dibelakang Hui cun siucay Seng Tiok sian serentak meloloskan pula senjata masing masing untuk menghadapi segala kemungkinan.
Nona Ting Un mempergunakan sebilah pedang Gin kong kiam, sedangkan senjata andalan Seng Liang adalah sebilah golok raksasa.
Pada saat itulah dari luar pintu berjalan masuk Hian im li Cun Bwee, sambil berdiri ditepi pintu dan memandang ke arah Ting Un katanya sambil tertawa dan manggut manggut tiada hentinya.
"Adik kecil, enci mesti berterima kasih kepadamu, coba kalau kau tidak bertindak sebagai petunjuk jalan, enci tak pernah akan menyangka kalau Seng tayhiap memiliki rumah yang begini indah disini......"
"Hmmm!"
Ting Un mengumpat keras keras.
"sekarang kedok palsu kalian sudah terbongkar, kami jago jago dari See lam tidak akan percaya lagi dengan kalian."
"Siapa bilang kedok kami sudah terbongkar?"
Hian im li Cun Bwee tertawa licik.
"Tentu saja, sebab kami sudah mengetahui identitas kalian yang sebenarnya!"
Hian im li Cun Bwee segera tertawa terkekeh kekeh.
"Heeehhh... heeehhh.... heeehhh... walaupun kalian bertiga tahu akan persoalan ini, namun aku yakin kalian tak akan mampu untuk mengatakan kepada siapa pun."
"Hmmmm, setan baru tak bisa berbicara!"
Seru nona Ting Un sambil menarik wajahnya. Buru buru Hui cun siucay Seng Tiok sian mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya memperingatkan Ting Un dan Seng Liang .
"Kalian harus berhati hati, mereka hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi, lebih baik kalian saksikan saja cara kerjaku, siapa tahu dengan cara itu kita masih bisa lolos dari kepungan ini..."
Ketika Hian im li Cun Bwee menyaksikan Hui cun siucay Seng Tiok sian berkemak kemik tanpa kedengaran suaranya, sadarlah dia bahwa lawan lawannya tak akan takluk dengan begitu saja, maka sambil tertawa seram katanya .
"Seng sauhiap, aku lihat kau tak usah membuang waktu dan tenaga dengan percuma, kalian tak akan mempunyai kesempatan lagi untuk meloloskan diri dari sini!"
Berbicara sampai disitu dia lantas berpekik nyaring, menyusul suara pekikan itu dari sekeliling bangunan rumah itupun bergema suara sahutan yang nyaring.
Hal ini menunjukkan kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian sekalian sudah terkepung rapat rapat.
Setelah bergemanya suara pekikan itu, sambil tertawa kembali Hian im li Cun Bwee berkata .
"Orang orang yang berada diluar rumah merupakan komplotan kepercayaan dari Hian im Tee kun, tak seorangpun diantara mereka merupakan sahabat kalian."
"Tidak kabur yaa tidak kebur, siapa sih yang takut kepadamu?"
Seru Ting Un sangat gusar.
Perkataannya ini sangat polos dan lucu, dianggapnya sangat lihay dan tidak kuatir menghadapi kepungan tersebut.
Padahal dalam pendengaran orang lain, hal ini sangat menggelikan sekali.
"Saat ini, hanya ada dua jalan yang dapat kalian tempuh!"
Kata Hian im li Cun Bwee lebih jauh.
Hui can siucay Seng Tiok sian pernah menderita kerugian di tangan Hian im li Cun Bwee, diapun cukup mengetahui akan kelihayannya, semenjak kemunculan perempuan iblis tersebut, dia jarang sekali berbicara, sementara otaknya berputar terus mencari akal bagaimana caranya meloloskan diri dari situ, itulah sebabnya dia membiarkan Ting Un berteriak teriak tiada hentinya.
Tapi kalau dilihat dari situasi yang berada didepan mata, nampaknya mereka sudah tidak memiliki kesempatan apapun untuk meloloskan diri dari situ.
Dalam keadaan demikian, timbullah gagasan Hui cun siucay Seng Tiok sian untuk beradu jiwa dengan lawannya, sambil tertawa terbahak bahak dia lantas berseru .
"Haaahhhh... haaahhhh..... haaahhhh.... siluman perempuan, kepandaianmu sudah pernah kurasakan, sekarang kita pun tak usah banyak berbicara lagi, lihat serangan!"
Dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang lihay, dia menyelinap ke hadapan Hian im li kemudian senjata kipas emasnya dengan disertai segulung tenaga serangan yang sangat kuat langsung membacok pinggang Hian im li Cun Bwee.
Mimpi pun Hian im li Cun Bwee tak pernah menyangka kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian pernah mempelajari ilmu Hu kong keng im, gara gara keteledorannya hampir saja dia termakan oleh serangan lawan.
Berada dalam keadaan seperti ini, kontan saja dia kena terdesak oleh sapuan kipas emas Hui cun siucay Seng Tiok sian sehingga mundur ke samping.
Dengan cepat Hui cun siucay Seng Tiok sian menyerbu ke depan pintu dan menghadang jalan mundurnya.
Agaknya Hian im li Cun Bwee sudah dapat menduga maksud hati Hui cun siucay Seng Tiok sian, dengan cepat dia berjalan ke arah tengah, lalu sambil melirik sekejap wajah ketiga orang itu dengan pandangan sinis.
Katanya sambil tertawa dingin .
"Hanya mengandalkan kalian bertiga sudah ingin mengancam diriku? Huuuh......kalian masih ketinggalan jauh sekali...."
Selesai berkata dia lantas merentangkan sepasang tangannya, seakan akan sedang berkata begini .
"Untuk menghadapi kalian, aku tak perlu mempergunakan senjata lagi."
Ting Un sudah memperoleh segenap warisan ilmu keluarganya, dalam lingkungan perkampungan Huan keng san ceng terhitung seorang manusia yang luar biasa.
Dengan keadaan seperti ini, tak heran kalau dia mempunyai pandangan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi.
Dialah yang pertama tama tidak tahan dulu menghadapi sikap angkuh dari Hian im li Cun Bwee.
Pedang Gin kong kiamnya segera dimasukan kembali ke dalam sarungnya, lalu serunya sambil tertawa dingin .
"Nonamu tak ingin mencari keuntungan diatas senjata, akan kusuruh kau sadari bahwa di atas langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia lain!"
Gadis ini memang berwatak demikian begitu ingin bertarung lantas turun tangan dengan cepat.
Sambil bertekuk pinggang dia melompat ke depan, lalu dengan jurus Giok li tou huan (gadis suci masuk ke dalam pelukan) dia menyambarkan telapak tangannya ke depan menghantam jalan darah Jit kan hiat di dada Hian im li Cun Bwee.
Hui cun siucay Seng Tiok sian cukup mengetahui akan kelihayan Hian im li Cun Bwee, melihat nona Ting Un bersikap tak tahu diri, dia sadar dalam satu gebrakan pun nona ini bakal menderita kerugian di tangan lawannya maka sambil berkerut kening bentaknya keras keras .
"Lihat serangan!"
Lagi lagi dia menyelinap maju ke depan nona Ting Un dengan gerakan Hu kong keng im lalu menghalangi dihadapannya sehingga nona Ting Un tak mampu melanjutkan serangannya, kemudian tangannya bergerak cepat memainkan jurus Hong seng im tong (angin muncul awan bergerak) menciptakan selapis bayangan kipas yang bersama sama membabat pinggang Hian im li Cun Bwee.
Jilid 46 Tujuannya yang terutama di dalam melancarkan serangan ini adalah untuk menyelamatkan nona Ting Un dari kegegabahannya melancarkan serangan, karenanya sementara tangan kanan melepaskan serangan, tangan kirinya dipergunakan untuk menahan nona Ting Un agar tidak maju lebih ke muka.
"Adik Un,"
Teriaknya keras keras.
"untuk menghadapi manusia jahat seperti ini, lebih baik kita bertiga sama sama mencabut senjata..."
Maksud dari teriakannya itu adalah menyadarkan nona Ting Un agar secepatnya meloloskan pedangnya.
Hian im li Cun Bwee sendiri ketika menyaksikan sikap Ting Un begitu polos dan kekanak kanakan, bahkan ingin menghadapinya dengan tangan kosong belaka, dengan perasaan geli dia lantas berhenti bergerak, dia ingin melihat dulu gerak serangan dari lawannya sebelum turun tangan meringkus gadis tersebut.
Menurut perhitungannya, seandainya Ting Un berhasil dibekuk dan dijadikan sandera, niscaya dia tak perlu repot repot lagi untuk melangsungkan pertarungan.
Siapa tahu Hui cun siucay Seng Tiok sian sangat menguatirkan keselamatan Ting Un dan tiba tiba saja menyerobot maju ke depan sambil melepaskan serangan.
Tatkala Hui cun siucay Seng Tiok sian mempergunakan gerakan Hu kong keng im untuk pertama kalinya tadi, oleh karena kecepatannya diluar dugaan Hian im li Cun Bwee, maka walaupun tenaga dalam yang dimiliki gadis itu cukup lihay, namun berhubung dia tak tahu kalau ilmu Hu kong keng im yang dipelajari Hui cun siucay Seng Tiok sian sudah mencapai pada kesempurnaan, dalam gugupnya dia kena terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.
Sebagai gadis yang cerdik, Ting Un segera dapat merasakan betapa kasihnya Hui cun siucay Seng Tiok sian untuk melindungi keselamatannya tadi, dia menjadi terperanjat.
Sekarang dia baru menduga kalau Hian im li adalah seorang manusia yang sukar dihadapi, itulah sebabnya Hui cun siucay Seng Tiok sian baru menghadang dihadapannya untuk melindungi keselamatan jiwanya.....
Maka setelah mundur ke belakang, dengan cepat dia meloloskan kembali pedang Gin kong kiamnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Setelah bergeser tiga langkah ke samping, Hian im li Cun Bwee segera mendengus dingin seraya berseru .
"Baru berpisah beberapa hari, kemajuan yang kauperoleh benar benar pesat sekali, sejak kapan kau berhasil mempelajari ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im nya si Kian tua?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi .
"Dengan dasar kepandaian silat yang kau miliki sudah pingin pelajari ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im? Hmmm, aku lihat akhirnya toh tiada gunanya juga."
Telapak tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat yang membuat bayangan kipas dari Hui cun siucay Seng Tiok sian tergetar keras dan mencelat ke samping.
Diantara kalangan angkatan muda, Hui cun siucay Seng Tiok sian termasuk seorang jagoan yang menonjol, apalagi setelah memperoleh banyak kebaikan dari Bu im sin hong Kian Kim siang selama berada di istana Ban seng kiong, tenaga dalamnya boleh dibilang sudah maju setapak lagi.
Siapa tahu serangan yang dianggapnya cukup dahsyat tersebut dalam kenyataannya berhasil dipunahkan oleh Hian im li Cun Bwee dengan sangat gampang, ini menyebabkan hatinya tercekat, segera bentaknya keras keras .
"Adik Un, Seng Liang, mari kita maju bersama sama."
Dengan jurus Keng to pak an (ombak dahsyat memecah ditepian) kipas emasnya disodok kembali menyerang Hian im li Cun Bwee.
Seng Liang dengan mengayunkan golok raksasanya memainkan jurus Heng sau cian kun (menyapu rata seribu prajurit), segulung desingan angin golok segera menyambar di udara dengan amat dahsyat.....
Nona Ting Un tidak ambil diam, pedang Gin kong kiamnya memainkan jurus Tin go ci hou (Tin go menusuk harimau) dan memancarkan serentetan cahaya perak yang amat menyilaukan mata.
Tampak Hian im li Cun Bwee memutar badannya dua lingkaran serta menghindarkan diri dari sambaran pedang Gin kong kiam dari nona Ting Un dan bacokan golok dari Seng Liang, kemudian tiba tiba saja dia memutar pergelangan tangannya dan secara beruntun melepaskan tiga jurus serangan berantai ke arah Hui cun siucay Seng Tiok sian.
Ketiga jurus serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan disertai kekuatan yang amat dahsyat, arah yang diserangpun berupa jalan darah penting diseluruh badan Hui cun siucay Seng Tiok sian, kontan saja pemuda itu terdesak sehingga mundur empat langkah ke belakang.
Begitu berhasil mendesak mundur Hui cun siucay Seng Tiok sian, Hian im li Cun Bwee membalikkan lengan dan bertekuk pinggang, tangan kiri serta tangan kanannya digerakkan bersama sama, lagi lagi dia berhasil mendesak mundur nona Ting Un dan Seng Liang sejauh tujuh langkah lebih dalam satu gebrakan saja.
Selesai mendesak mundur Hui cun siucay Seng Tiok sian, nona Ting Un dan Seng Liang bertiga mendadak Hian im li Cun Bwee membentak nyaring .
"Sekarang, kalian pun saksikan kelihayanku ini!"
Mendadak dia melompat ke tengah udara, kemudian tubuhnya bergerak lemas seperti daun yang liu yang bergoyang terhembus angin, tahu tahu sesosok bayangan manusia sudah berkelebat di dalam ruangan itu.
Hui cun siucay Seng Tiok sian segera mengerti bahwa Hian im li Cun Bwee bermaksud memamerkan kekuatan tenaga dalamnya dalam gerakan ini, dia tidak berani berayal lagi, sambil mengembangkan ilmu Hu kong keng im nya yang lihay, dia bergerak mengikuti perubahan lawan.
Tiba tiba saja dari dalam ruangan bergulung lewat angin puyuh yang menderu deru, hawa serangannya maha dahysat tersebut segera memancar ke empat penjuru.
Bayangan kipas, cahaya pedang, sinar golok, angin pukulan seketika bercampur aduk menjadi satu, suatu pertarungan yang sengit dan menggidikkan hati pun berlangsung di sana.
Kurang lebih seperminum teh kemudian, mendadak terdengar Seng Liang menjerit keras dan.....
"Traaaang!"
Golok raksasanya terhajar oleh pukulan Hian im li Cun Bwee sehingga mencelat ke belakang dan jatuh ke tanah.
Sementara orangnya ikut terhajar pula sampai mundur sejauh lima langkah lebih, akhirnya dia jatuh terduduk ke tanah dan memuntahkan darah segar.
Pada saat Seng Liang menderita luka, nona Ting Un menjerit pula dengan suara keras, pedang Gin kong kiamnya terlepas dari tangan dan tubuhnya mundur ke sudut ruangan dengan wajah pucat pias seperti mayat dan napas tersengkal sengkal, akhirnya setelah bersandar di dinding dengan tubuh gemetar, ia jatuh terduduk ke atas tanah.
Rupanya jalan darah Cian keng hiatnya sudah terhajar Hian im li Cun Bwee sehingga gadis tersebut kehilangan kemampuannya untuk melanjutkan pertarungan.
Walaupun demikian, masih untung isi perutnya tidak sampai terluka parah, namun begitu si nonapun untuk sementara waktu tak dapat menerjunkan diri lagi dalam arena pertarungan.
Setelah berhasil melukai dua orang lawannya, kini Hian im li Cun Bwee tinggal menghadapi Hui cun siucay Seng Tiok sian seorang saja.
Dengan kemampuan yang dimiliki Hui cun siucay Seng Tiok sian, bayangkan saja bagaimana mungkin dia bisa menandingi kelihayan Hian im li Cun Bwee?
Untung saja dia baru mempelajari ilmu Hu kong keng im yang sangat lihay, sehingga kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Hian im li cukup lihay, untuk sesaat dia tak mampu merobohkan lawannya.
Tapi hal itu sudah jelas tertera pula menang atau kalah adalah masalah waktu belaka.
Kecuali Bu im sin hong Kian Kim siang, ketua Siau lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang bertiga yang selama hidup tak pernah menunggang kuda, atau para jago anggota Siau lim pay dan Bu tong pay kurang leluasa menunggang kuda, maka Thi Eng khi, Pek leng siancu So Bwe leng, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, si Unta sakti Lok It hong serta kakak beradik Bu Nay nay dan Bu Im bersama sama menunggang kuda jempolan dan menuruni bukit Ban seng kiong menuju ke kota Sah si dimana sarang Hian im Tee kun berada.
Tentu saja Thi Eng khi telah menunggang kuda kesayangannya Hek liong kou lagi.
Bu im sin hong Kian Kim siang, ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang bertiga tetap berjalan kaki mengikuti dibelakang.
Bagi penglihatan umat persilatan, jarak dari Ban seng kiong yang berada di bukit Wu san sampai di kota Sah si tidak termasuk suatu perjalanan yang terlampau jauh, apalagi dengan menunggang kuda tanpa berhenti, tak sampai berapa hari kemudian mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Sekarang mereka melakukan tindakan kilat, bagaikan segulung angin puyuh, seluruh daerah di sekitar sarang Hian im Tee kun sudah terkepung rapat rapat.
Begitu melayang turun dari kudanya, semua orang mengepung pohon besar dimana mulut masuknya terletak, kemudian setelah berunding sejenak, diputuskan Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang berdua yang melakukan penyelidikan lebih dulu.
Sedangkan sisanya dipimpin oleh Ciu Tin tin, bertugas untuk mencegah usaha Hian im Tee kun kabur dari situ.
Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang dengan cepat melompat masuk ke balik batang pohon dan lenyap dari pandangan mata.
Dengan Thi Eng khi berjalan di muka, Bu im sin hong Kian Kim siang menyusul dibelakangnya, secepat kilat mereka sudah selesai menelusuri lorong rahasia itu.
Dihadapan mereka sekarang sudah nampak cahaya terang yang memancar keluar dari balik gua.
Pintu gua berada dalam keadaan terbuka lebar, seperti apa yang dilihat Thi Eng khi tempo hari, keadaannya sama sekali tidak berubah, cahaya itu memancar keluar dari balik penyekat dan menyinari sebagian dari lorong rahasia tersebut.
Setibanya di depan pintu gua, Thi Eng khi bersiap siap akan menerjang masuk secara langsung.
Tapi Bu im sin hong Kian Kim siang yang berpengalaman segera menarik tangan Thi Eng khi dan berbisik dengan ilmu menyampaikan suara .
"Saudara cilik, harap tunggu sebentar! Hian im Tee kun bukan manusia sembarangan, pintu gua yang terbentang lebar lebar ini cukup mencurigakan sebab sama sekali berlawanan dengan kejadian yang wajar, kita tak boleh menyerempet bahaya tanpa perhitungan, dari pada akhirnya mesti menderita kerugian besar."
Merah jengah selembar wajah Thi Eng khi setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian .
"Perkataan Kian tua memang benar, dari pada kita terperangkap oleh tipu muslihatnya, lebih baik kita tantang saja gembong iblis tersebut secara terang terangan."
"Betul, kita tantang saja secara terang terangan, agar gembong iblis tua itu terperanjat."
Thi Eng khi segera menghimpun tenaga dalamnya, kemudian berseru dengan nyaring .
"Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi datang menyambangi Hian im Tee kun!"
Suaranya yang keras dan nyaring segera menggema ke dalam gua tersebut, lama sekali suara itu mendengung, akan tetapi tidak terdengar seorang manusia pun yang memberi tanggapan.
Dengan kening berkerut Thi Eng khi segera berseru .
"Jangan jangan Hian im Tee kun sudah merasakan gelagat tidak beres dan melarikan diri?"
Dengan suara menggeledek Bu im sin hong Kian Kim siang turut berteriak lantang .
"Gembong iblis tua, jika kau tidak menjawab, lohu akan menyerbu langsung ke dalam!"
Suasana didalam gua masih tetap sepi dan tidak kedengaran sedikit suarapun, seakan akan gua tersebut memang berada dalam keadaan kosong.
Menyaksikan keadaan ini, Bu im sin hong Kian Kim siang segera berkata .
"Saudara cilik, entah permainan setan apakah yang sedang dipersiapkan Hian im Tee kun? Mari kita lakukan penggeledahan secara besar besaran, lancarkan dulu sebuah pukulan dari kejauhan, dengan demikian dia tak akan berkesempatan untuk menunjukkan permainan busuknya."
Thi Eng khi segera menghimpun tenaga dalamnya dan siap melepaskan sebuah pukulan ke depan.
Seandainya serangan ini dilancarkan, niscaya anak muda itu akan terjebak oleh siasat busuk Hian im Tee kun dan tubuhnya hancur berkeping keping oleh ledakan keras.
Tapi sebelum serangan dahyat itu sempat dilancarkan, tiba tiba saja dari dalam gua itu terdengar suara yang amat lirih bergema memecahkan keheningan.
Padahal tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, serta merta dia menarik kembali pukulannya dan berbisik .
"Dari dalam gua terdengar suara yang bergema......."
Bu im sin hong Kian Kim siang mencoba untuk memasang telinga dan mengamati suasana di dalam situ, benar juga, dari dalam gua dia mendengar ada seseorang sedang berbisik dengan suara terputus putus.
"Harap kalian jangan bertindak secara gegabah, kalau tidak, siapa pun tak akan bisa lolos dalam keadaan selamat!"
Orang yang berseru itu nampak lemah sehingga suaranya tidak keras kedengarannya, coba kalau tidak mengerahkan tenaga sudah pasti suara tersebut tak gampang terdengar.
"Siapakah kau?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menegur. Suaranya yang lemah di dalam gua itu menyahut .
"Kalian harus mengabulkan sebuah syarat ku lebih dulu sebelum kuberitahukan siapakah diriku!"
Ternyata orang itu cukup cerdik dan licik, berada dalam keadaan seperti inipun dia tidak ingin dirugikan. Bu im sin hong Kian siang kembali berseru .
"Kami datang kemari mencari Hian im Tee kun, kalau toh Hian im Tee kun tidak berada disini, kami pun belum tentu harus mengetahui siapakah kau, jikalau engkau berkeberatan untuk mengutarakan, kami pun tak akan memaksa lebih jauh!"
Kemudian dia berkata lagi .
"Saudara cilik, mari kita pergi!"
Bu im sin hong Kian Kim siang dapat mendengar kalau orang yang berada dalam gua itu sedang menderita luka parah dan perlu pertolongan cepat, itulah sebabnya dia memanfaatkan situasi tersebut dengan sebaik baiknya.
Siapa tahu orang yang berada dalam gua itu berkata lagi .
"Bila kalian enggan menyanggupi syaratku ini maka jangan harap bisa lolos dengan selamat dari tempat ini."
"Tahukah kau siapakah kami? Seandainya kami betul betul hendak pergi, siapa yang mampu menghalangi kepergian kami?"
"Siapakah kalian, aku rasa kalian sudah menyebutkannya tadi, siapa bilang aku tidak tahu?"
Ucap orang yang berada dalam gua itu dengan suara yang lemah. Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh .
"Cuma sayangnya kalian telah berdiri ditengah kurungan alat rahasia yang sengaja dipersiapkan oleh Hian im Tee kun, asal kalian meninggalkan daerah seluas lima depa ini, maka sumbu bahan peledak yang telah dipersiapkan pasti akan bekerja, waktu itu bukan hanya kalian saja bahkan aku pun akan turut menjadi korban peledakan tersebut"
Orang itu betul betul licik, selesai berkata sampai disitu, dia masih menambahkan lagi .
"Bila kalian tak percaya, silahkan dibuktikan sendiri, cuma kalau sampai hal ini terjadi, dalam dunia persilatan mungkin tiada orang lagi yang mampu menandingi Hian im Tee kun!"
Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan ini, untuk beberapa saat dia tak mampu mengambil sesuatu keputusan. Thi Eng khi segera berkata .
"Kian tua, apakah kita benar benar termakan oleh gertak sambalnya itu?"
"Apakah kau sudah dapat mengenali siapakah yang sedang berbicara dengan kita saat ini?"
Tanya Bu im sin hong Kian Kim siang seraya berpaling, Thi Eng khi segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tampaknya dia sengaja memaraukan suaranya sehingga sulit untuk kita kenali."
"Aku pikir, lebih baik percaya dengan apa yang dia katakan barusan dari pada sama sekali tidak mempercayainya, bagaimana kalau kita bicarakan dulu prasyaratnya dengan orang itu?"
Thi Eng khi agak marah bercampur mendongkol oleh ucapan mana, dia berkata .
"Hei, syarat apa sih yang hendak kau ajukan? Ayo cepat diutarakan....."
"Syaratku sederhana sekali, cukup asal kalian berjanji tidak akan membunuhku, setelah itu sudah lebih dari cukup untukku!"
Kata orang yang berada didalam gua itu tetap parau.
"Aku bukan manusia yang gemar membunuh, kenapa kau menilai diriku dengan pikiran picik seorang siaujin?"
"Biar siaujin juga boleh, Kuncu juga boleh, mau tak mau aku mesti mempersoalkan hal tersebut, karena persoalan itu mempunyai arti yang amat penting bagiku. Ayo jawab, bersedia tidak?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera memberi tanda dengan anggukan kepalanya. Terpaksa Thi Eng khi menghela napas panjang dan menyahut dengan cepat .
"Baiklah menolong orang memang merupakan suatu kewajiban bagiku, bukan saja aku tak membunuhmu, bahkan akan kusembuhkan pula lukamu itu, nah, kau sudah merasa puas dengan jawabanku ini?"
Untuk beberapa saat lamanya suasana dalam gua tersebut menjadi hening dan tak kedengaran sedikit suara pun. Akhirnya suara helaan napas sedih bergema kembali memecahkan keheningan, dia berkata .
"Sekarang aku baru mengerti, tampaknya orang baik dan orang jahat memang berbeda sekali!"
"Sebenarnya siapa sih kau ini? Mengapa belum kau sebutkan juga namamu?"
Suara parau orang yang berada dalam gua itu segera berubah sama sekali, napasnya meski makin lemah namun suaranya berubah menjadi suara seorang wanita. Kedengaran dia berkata .
"Kalian pasti tak pernah menyangka bukan, aku adalah Hian im seng li Ciu Lan!"
"Ooooh........, rupanya kau,"
Thi Eng khi berseru. Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh .
"Kami toh sudah pernah mengampuni selembar jiwamu, buat apa kami mencelakai dirimu lagi? Kau benar benar kelewat menaruh curiga, kesulitan apa sih yang sedang kau hadapi? Mari, sekali lagi kubantu dirimu!"
Sembari berkata dia lantas beranjak dan menuju ke arah dalam gua tersebut.
Tatkala Hian im seng li Ciu Lan mendengar Thi Eng khi hendak memasuki gua tersebut, dia segera menjerit kaget, kemudian serunya keras keras .
"Kalian jangan sembarangan bergerak, kalau sampai bergerak niscaya kita semua akan tewas!"
"Memangnya kau menyuruh kami berdiri terus di tempat ini sepanjang masa?"
Seru Bu im sin hong Kian Kim siang.
"Tentu saja kita mesti mencari sebuah akal yang bagus untuk mengatasi keadaan ini!"
Kemudian setelah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh .
"Satu diantara kalian berdua harap meninggalkan rekannya untuk sementara waktu, sedang yang lain tetap tinggal di tempat, dengan cara ini maka sumbu bahan peledak yang terinjak di bawah kaki tak akan sampai terbakar dan meledak."
Mendengar perkataan itu, Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak .
"Haaahhh..... haaahhh..... haaahhh..... apa sulitnya ini? Saudara cilik, ambillah beberapa buah batu besar dan tekankan diatas alat rahasia tersebut, bukankah pada saat yang bersamaan kita bisa meninggalkan tempat ini?"
Thi Eng khi pun merasa bahwa cara ini memang paling tepat, dia segera ke sisi lorong gua dan mengambil dua batu besar yang kemudian diletakkan di tempat depan pintu gua dimana mereka berdiri, dengan tertekannya alat rahasia itu maka sumbu menuju ke bahan peledak pun segera tertekan.
Kemudian mereka bersiap siap akan masuk kembali ke dalam ruang gua.
Tapi suara dari Hian im seng li Ciu Lan kembali berkumandang .
"Di dalam gua ini penuh dengan obat peledak yang mudah terbakar, setiap langkah bisa mendatangkan resiko yang besar sekali, apabila kalian hendak masuk lebih baik kaki jangan sampai menginjak tanah terlalu keras, tubuh pun jangan sampai menyentuh setiap benda yang berada di sini, dengan demikian ancaman bahaya baru dapat dikurangi."
Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka dan menyusup masuk ke dalam ruang gua.
Dinding gua tersebut dari batu kemala berpanca warna, di bawah pantulan sinar mutiara nampak membiaskan berbagai cahaya pelangi yang sangat indah.
Bukan cuma begitu, bahkan setiap perabot maupun dekorasi yang berada dalam gua itu rata rata megah, mewah dan luar biasa, mungkin jauh lebih mewah dan megah daripada keraton seorang kaisar sekalipun.
Dengan sorot mata yang tajam kedua orang itu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, namun bayangan tubuh dari Hian im seng li Ciu Lan belum juga ditemukan.
Baru saja Bu im sin hong Kian Kim siang hendak bertanya, mendadak suara dari Hian im seng li Ciu Lan telah berkumandang lagi dari belakang gua.
"Aku telah menderita luka yang sangat parah sehingga gerak gerikku kurang leluasa, bagaimana kalau kalian membawaku keluar dari gua ini?"
Mengikuti sumber dari suara tersebut, Thi Eng khi segera membalikkan badan dan lari masuk ke dalam gua.
"Saudaraku, berhati hatilah!"
Pesan Bu im sin hong Kian Kim siang dari kejauhan.
Sementara itu Thi Eng khi sudah mendekati sisi dinding ruangan, pada saat itulah dia baru menjumpai sebuah pintu kecil di atas dinding gua tersebut, pintu itu tertutup oleh cahaya pelangi yang berwarna warni sehingga bila orang tidak berjalan mendekati tempat itu sukar rasanya untuk menemukan.
Mau tak mau Thi Eng khi harus mengagumi kelihayan Hian im Tee kun dalam mengatur tata ruangan tersebut, dengan cepat dia melayang masuk ke dalam ruangan.
Di balik pintu adalah sebuah kamar tidur yang sangat mewah dan megah, Hian im seng li Ciu Lan berbaring di tengah ruangan itu dimana dalam genggamannya memegang se
Jilid kitab kecil berkulit kambing, sekujur tubuhnya telah dilapisi hawa berwarna merah.
Rupanya si nona tersebut bukan cuma terluka parah, bahkan menderita luka keracunan yang sudah mendalam.
Thi Eng khi segera mengambil keluar sebutir pil Kim khong giok lok wan, kemudian serunya .
"Pentangkan mulutmu lebar lebar!"
Hian im li Ciu Lan menurut dan segera membuka mulutnya lebar lebar, dengan cepat pil Kim khong giok lok wan tersebut meluncur masuk ke dalam mulutnya.
Dengan suatu gerakan yang cepat Thi Eng khi menotok tujuh buah jalan darah penting ditubuh Hian im li Ciu Lan, kemudian perintahnya .
"Sekarang kau boleh bangkit berdiri!"
Hian im li Ciu Lan masih belum percaya tapi begitu hawa murninya coba dihimpun, tanpa menimbulkan kesulitan dia segera bangkit berdiri bahkan kesempurnaan tenaga dalamnya tidak selisih banyak ketimbang sebelum terluka tadi.
Kejut dan girang segera menyelimuti perasaannya.
Dia berseru tertahan.
"Aaaaah, luka racunku telah sembuh sama sekali!"
"Aku hanya menggunakan ilmu tiam hiat kui goan hoat untuk membangkitkan hawa murnimu sementara waktu, soal penyembuhan luka tersebut baiklah kita bicarakan sekeluarnya dari gua ini!"
Kemudian dia menambahkan pula .
"Masih ada barang lain yang hendak kau ambil?"
Dengan cepat Hian im li Ciu Lan menggelengkan kepalanya berulang kali .
"Andaikata aku tidak kembali kemari untuk mengambil benda sialan ini, tak mungkin akan menderita bencana seperti hari ini, setiap benda yang berada disini nampaknya tak boleh dijamah lagi, mari kita cepat cepat keluar dari sini!"
Sembari berkata dia memperlihatkan kitab kecil bersampul kulit kambing di tangannya.
Namun Thi Eng khi sama sekali tidak memperhatikan benda tersebut...
Dengan cepat mereka bertiga melayang keluar dari gua itu dan muncul melalui batang pohon.
Tatkala Pek leng siancu So Bwe leng menyaksikan kemunculan Hian im li Ciu Lan, tanpa terasa jengeknya sambil tertawa dingin tiada hentinya .
"Siluman perempuan, kau tak mengira bukan akan menjumpai hari seperti ini?"
Hian im li Ciu Lan membungkam diri dalam seribu bahasa, rupanya dia dibikin malu dan menyesal sekali. Sambil tertawa, Thi Eng khi segera mencegah pandangan permusuhan dari So Bwe leng, katanya cepat .
"Adik Leng, kaupun jangan marah, andaikata dia tidak memberi peringatan tadi mungkin aku dan Kian tua tak bisa keluar dari sini dalam keadaan selamat!"
Ucapan tersebut tentu saja membuat sepasang mata Pek leng siancu So Bwe leng terbelalak lebar lebar, beberapa saat lamanya dia memperhatikan Hian im li Ciu Lan dari atas sampai ke bawah, akhirnya sambil menghela napas panjang katanya .
"Kalau begitu, aku pun tak mendendam kepadamu lagi....."
Buru buru Hian im li Ciu Lan menjura dalam dalam .
"Terima kasih banyak atas kebesaran jiwa nona!"
Thi Eng khi merasa kurang leluasa untuk turun tangan sendiri menguruti seluruh badan Hian im li Ciu Lan guna menyembuhkan lukanya, maka dia mengeluarkan lagi sebutir pil dan menyuruhnya menelan, kemudian baru minta bantuan Ciu Tin tin untuk mewakilinya menguruti gadis tersebut.
Tidak sampai setengah pertanak nasi kemudian, luka keracunan yang diderita Hian im li Ciu Lan telah sembuh kembali seperti sediakala, saking terharu dan berterima kasihnya atas pertolongan ini.
Hian im li Ciu Lan pun mulai membeberkan semua rahasia yang diketahui olehnya selama ini.
Rupanya Hian im ji li mendapat perintah dari Hian im Tee kun untuk berangkat lebih dulu menghubungi sisa sisa kekuatan mereka yang tercerai berai agar bersama sama berkumpul di sekitar wilayah See lam...
Mungkin lantaran terlalu tergesa gesa sehingga Hian im li Ciu Lan lupa membawa serta se
Jilid kitab pusaka ilmu silat yang diperolehnya secara tak mudah.
Tatkala tugas yang dilakukan olehnya sudah selesai dikerjakan, ia baru teringat akan hal ini dan pulang ke gua untuk mengambilnya.
Tentang sudah dipersiapkannya gua tersebut dengan bahan peledak, gadis ini memang tahu garis besarnya, dengan berhati hati sekali dia berhasil menghindari ancaman peledakan tersebut.
Siapa tahu sebelum meninggalkan gua tersebut Hian im Tee kun telah mempersiapkan permainan busuk lainnya, hal ini menyebabkan dia terluka parah dan keracunan lagi.
Seandainya Thi Eng khi tidak datang tepat pada saatnya, mungkin ia sudah mati semenjak dulu dulu.
Dan sekarang, selembar nyawanya sama halnya seperti sudah dipungut kembali, penderitaan yang dialaminya tersebut membuatnya sadar akan kesalahan yang pernah dilakukannya dulu, hingga timbullah niatnya untuk kembali ke jalan yang benar.
Tak terlukiskan rasa kaget para jago setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya terutama sekali Bu im sin hong Kian Kim siang yang sangat menguatirkan keselamatan sahabat sahabat lamanya di wilayah See lam, tanpa berhenti sedetikpun, dia tinggalkan rombongan dan berangkat lebih dulu ke situ.
Thi Eng khi kuatir Bu im sin hong Kian Kim siang seorang diri menyerempet bahaya maka dia minta kepada ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang yang didampingi Hian im li Ciu Lan tetap tinggal ditempat untuk menyelesaikan sarang dari Hian im Tee kun.
Sedangkan dia sendiri bersiap siap menyusul Bu im sin hong Kian Kim siang menuju ke See lam.
Hian im li Ciu Lan segera berkata .
"Dalam gua tersebut sudah penuh ditanami bahan peledak yang sulit sekali diatasi, menurut pendapat siau li, lebih baik Thi ciangbunjin segera turun tangan untuk memusnahkannya saja, kemudian kita berangkat bersama sama."
Ucapan mana segera menyadarkan Thi Eng khi, cepat dia berkata .
"Perkataan nona memang betul dan masuk diakal, seandainya kurang sempurna dalam penyelesaiannya nanti, bisa jadi akan merupakan bibit bencana dikemudian hari. Apabila kita musnahkan sekarang juga, urusan akan menjadi beres dan tiada ancaman lagi dikemudian hari, cuma waktu tidak mengijinkan kita berbuat demikian, bagaimana baiknya?"
"Tenaga dalam yang Thi ciangbunjin miliki amat sempurna, asal kau melancarkan sebuah pukulan ke arah lorong gua sehingga menggetarkan isi gua tersebut, niscaya bahan peledak itu akan meledak serta menghancurkan segala sesuatunya."
Thi Eng khi segera menghimpun segenap tenaga dalamnya dan melontarkan sepasang telapak tangannya ke dalam lorong gua tersebut.
Setelah dilepaskan tiga puluh enam buah pukulan, terdengarlah suata ledakan yang memekikkan telinga menggema keluar dari bawah tanah sana.
Walaupun jaraknya amat jauh, tapi berhubung lorong itu saling berhubungan, maka tenaga serangannya dapat mencapai ke dalam sana.
Tak lama kemudian ledakan keras yang menggelegar dari permukaan tanah berpusat pada tempat dimana bekas kuil tokoan tersebut berada, asap tebal disertai percikan bunga api memancar ke seluruh angkasa.
Sarang Hian im Tee kun pun termakan oleh pukulan Thi Eng khi yang dahsyat sehingga menyebabkan bekerjanya alat rahasia dan meledaknya bahan bahan peledak.
Begitu selesai membereskan tempat itu, maka semua orang segera berangkat ke arah barat daya karena mereka beranggapan Bu im sin hong memerlukan bantuan secepatnya.
Kuda hitam Hek liong kou yang ditunggangi Thi Eng khi bergerak paling cepat, setelah meninggalkan beberapa pesan kepada Ciu Tin tin, tanpa memperdulikan rombongan yang lain, dia mencemplak kudanya dan berangkat lebih dulu.
Ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang dimiliki Bu im sin hong Kian Kim siang memang termasuk suatu kepandaian maha sakti di kolong langit dewasa ini tapi sayang perjalanan yang harus ditempuh kelewat jauh, hal ini menyebabkan kecepatan geraknya tak dapat selalu berimbang.
Sebelum tiba di kota Goan leng, dia berhasil disusul oleh Thi Eng khi.
Waktu itu Bu im sin hong Kian Kim siang yang mesti menempuh perjalanan dengan tergesa gesa sudah kelelahan hingga badannya bertambah kurus.
Atas bujukan Thi Eng khi berulang kali, terpaksa untuk melanjutkan perjalanan dia mesti mengubah kebiasaan sehari hari dengan membeli seekor kuda jempolan untuk meneruskan perjalanan.
Waktu itu, walaupun Hui cun siucay Seng Tiok Sian telah berangkat pulang lebih dulu, namun berhubung dia tidak menempuh perjalanan dengan tergesa gesa, perjalanan pun dilakukan dengan amat lambat, maka berbicara soal waktu, meski Thi Eng khi mesti berputar dulu ke kota Sah si, tapi oleh sebab perjalanan yang kemudian ditempuh siang malam tak pernah berhenti, akibatnya selisih waktu tibanya di tempat tujuan pun tidak terlalu banyak.
Selain itu, Thi Eng khi berdua pun datang dengan membawa suatu maksud tujuan tertentu, gerak gerik mereka selalu dirahasiakan, ditambah lagi Bu im sin hong Kian Kim siang sangat menguasai keadaan medan disitu, maka sepanjang perjalanan mereka tak berhasil diketahui jejaknya oleh anak buah Hian im Tee kun.
Dikala Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang berada dalam perjalanan melalui jalan gunung diluar tempat tinggal Hui cun siucay Seng Tiok sian, ternyata Kuda Hek liong kou yang ditunggangi Thi Eng khi tidak menuruti perintah lagi, bahkan kabur terus menuju ke tempat tinggal Hui cun siucay Seng Tiok sian.
Sudah puluhan tahun lamanya Bu im sin hong Kian Kim siang tak pernah pulang ke dusun, tentu saja dia tidak mengetahui tentang tempat kediaman Hui cun siucay Seng Tiok sian ini.
Tatkala dilihatnya perjalanan mereka diselewengkan ke arah jalan setapak yang sempit, buru buru dia memerintahkan kepada Thi Eng khi untuk berganti melewati jalan besar.
Mendadak tergerak hati Thi Eng khi, segera ujarnya .
"Tempat tinggal Hui cun siucay Seng heng berada diatas bukit ini, kalau dilihat dari kecerdasan kuda ini, mungkin dia sudah mempunyai hubungan batin yang amat akrab dengan kuda Hek liong kou milik saudara Seng, karena tahu saudara Seng sudah pulang ke rumah, maka dia hendak menuju ke sana. Kian tua, mengapa kita tidak menengok dulu ke sana? Bila saudara Seng sudah berada di rumah, dari mulutnya kita bisa mendapatkan kabar cerita tentang situasi akhir akhir ini, bukankah hal tersebut jauh lebih baik lagi...?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Baik, mari kita larikan kuda kita lebih cepat!"
Dua ekor kuda itu segera dilarikan lebih kencang menelusuri jalan setapak yang membujur didepan mata.
Dan pada saat itulah secara kebetulan mereka dapat mendengar suara teriakan Hian im li Cun Bwee serta sekalian kawanan iblis yang sedang mengepung rumah kediaman Hui cun siucay Seng Tiok sian.....
Mendengar suara hiruk pikuk tersebut, buru buru Bu im sin hong Kian Kim siang berseru.
"Ayo cepat, dalam rumah kediaman Tiok sian telah terjadi kekalutan...."
"Kian tua, untuk lebih merahasiakan jejak kita, bagaimana kalau kita tinggalkan kuda disini?"
"Baik!"
Sahut Bu im sin hong Kian Kim siang cepat.
Dia segera melompat bangun dari kudanya dan menerjang ke depan dengan kecepatan tinggi.
Thi Eng khi tidak ketinggalan, dia melejit dari punggung kudanya dan menyusul di belakang Bu im sin hong Kian Kim siang....
"Saudara cilik!"
Dengan perasaan yang tulus Bu im sin hong Kian Kim siang segera memuji.
"ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im mu benar benar jauh lebih hebat daripadaku, di kemudian hari gerakan ini pasti akan banyak membonceng ketenaranmu, bila engkoh tua terbayang akan hal ini, ooooh..... betapa gembiranya diriku hingga tak terlukiskan dengan kata!"
Dengan agak rikuh buru buru Thi Eng khi berkata .
"Oleh sebab siaute mendengar dari arah rumah kediaman saudara Seng bergema suara pertarungan maka aku pikir lebih baik kita selekasnya tiba di situ, aku kuatir jika sampai terlambat mungkin keadaan sudah tak sempat lagi!"
Tubuhnya secepat sambaran kilat segera meluncur ke depan, dalam waktu singkat Bu im sing hong Kian Kim siang telah ditinggalkan jauh jauh.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut selain gembira juga terhibur hatinya, tanpa terasa ia bergumam seorang diri .
"Ya, nampaknya Hu kong keng im baru kelihatan kehebatannya bila saudara cilik yang mempergunakan, bila aku yang menggunakan rasanya cuma menyia nyiakan kehebatan kepandaian saja...!"
Sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dia segera mengejar dari belakang.
Padahal seandainya tiada manusia berbakat macam Thi Eng khi, siapakah dikolong langit dewasa ini yang mampu menandingi kesempurnaan Bu im sin hong Kian Kim siang didalam mempergunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im?
Dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir dalam waktu sekejap mata Thi Eng khi sudah berada hanya sepuluh kaki saja di depan rumah kediaman Hui cun siucay Seng Tiok sian.
Suara pertarungan yang sedang berlangsung dari dalam rumah terdengar makin jelas, bahkan seorang manusia biasa yang tidak memiliki ketajaman pendengaran pun dapat mendengar suara tersebut dengan nyata.
Thi Eng khi yang sudah berapa lama berkelana dalam dunia persilatan, pengalaman maupun pengetahuannya saat ini boleh dibilang telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat, walaupun dia memiliki tenaga dalam yang tiada tandingannya, namun dia toh tak ingin berbuat gegabah dengan melakukan tindakan sombong.
Sebaliknya dengan sikap berhati hati sekali dia mulai melakukan pemeriksaan yang amat seksama disekitar bangunan rumah Tiok sian tersebut.
Dalam waktu singkat Thi Eng khi sudah dapat mengetahui siapa siapa saja gembong gembong iblis yang dibawa oleh Hian im li Cun Bwee.
Thi Eng khi segera mengerahkan ilmu gerakan tubuhnya yang amat lihay, dalam suatu keadaan yang mimpi pun tak pernah mereka bayangkan, seorang demi seorang roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan jalan darah tertotok.
Selesai dengan pekerjaan tersebut, ia baru berdiri di luar pintu dan bersiap sedia membantu Hui cun siucay Seng Tiok sian bilamana diperlukan.
Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah sampai di tempat tujuan, ketika menyaksikan pertarungan yang sedang berlangsung antara Hui cun siucay Seng Tiok sian melawan Hian im li Cun Bwee tersebut, dia menggelengkan kepalanya berulang kali sembari berkata .
"Kemampuan yang dimiliki Tiok sian sangat terbatas, gerakan tubuh Hu kong keng im yang dilakukan olehnya sungguh membuat lohu merasa amat bersedih hati."
Thi Eng khi segera tertawa .
"Saudara Seng kan baru belajar, tenaga dalamnya selisih jauh pula dari Hian im li dia bisa bertahan tanpa kalah, hal ini sudah bukan termasuk suatu kejadian yang enteng baginya. Kian tua, apakah perkataanmu barusan tidak kebangetan?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa .
"Selama hidup, engkoh tua hanya merasa takluk dan tunduk kepada kau seorang, baiklah apa yang kau bilang yaa bilanglah, cuma Tiok sian merupakan satu satunya pewaris engkoh tua disekitar wilayah See lam kau tak boleh membiarkan dia kehilangan muka..."
Thi Eng khi tertawa.
"Cu sim ci su Thio locianpwe memiliki serangkaian ilmu kipas Toalo san hoat yang sesuai bagi saudara Seng, siaute pun sudah membawakan kitab pusaka tersebut bagi saudara Seng, apabila kejadian disini telah usai, bila saudara Seng bersedia melatih diri selama tiga tahun lagi, niscaya ilmu kipasnya akan merupakan manusia nomor wahid di kolong langit, sampai saatnya, mungkin engkoh tua akan menyalahkan siaute lagi yang telah membantu saudara Seng sehingga pamor engkoh tua menjadi berkurang!"
Bu im sin hong Kian Kim siang dibuat kegirangan setengah mati, ia segera berteriak keras .
"Tidak menjadi soal, tidak menjadi soal, jiwa engkoh tua mah tak akan sedemikian sempitnya, kalau begitu kuutarakan rasa terima kasihku dulu untukmu!"
Kali ini Bu im sin hong Kian Kim siang berbicara dengan suara lantang sehingga mereka yang bertarung dalam gedungpun dapat mendengar pembicaraan itu dengan jelas.
Cuma saja siapa pun tidak menduga kalau orang yang barusan berbicara tak lain adalah Bu im sin hong Kian Kim siang.
Hui cun siucay Seng Tiok sian yang dibikin kacau ketenangan hatinya, kontan saja dibuat kalung kabut dan tak sanggup menangkis serangan lawan berikutnya.
Sebaliknya Hian im li Cun Bwee mengira orang yang sedang berbicara diluar adalah anak buahnya, dengan kening berkerut ia lantas membentak .
"Hei, siapa yang sedang berteriak teriak diluar? Ayo cepat menggelinding pergi dari hadapanku!"
Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak, bersama Thi Eng khi mereka berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Siluman perempuan cilik!Pentangkan matamu lebar lebar dan coba lihat siapakah lohu!"
Diam diam Hian im li Cun Bwee merasa terkejut setelah mengetahui siapa yang datang, diam diam dii berpikir .
"Waaah, nampaknya jika aku tak berhasil membekuk seseorang untuk dijadikan sandera, sulit bagiku untuk meloloskan diri dari tempat ini."
Berpikir demikian tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia langsung menerjang ke arah nona Ting Un.
Siapa tahu Thi Eng khi bertindak jauh lebih cepat daripadanya, tahu tahu saja dia sudah melayang turun dihadapan nona Ting Un, bahkan sambil tertawa dingin jengeknya .
"Selama aku berada disini, kuharap kau jangan mempunyai pikiran jahat!"
Walaupun Hian im li Cun Bwee tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain, sesungguhnya dia benar benar merasa jeri terhadap Thi Eng khi.
Tanpa sadar secara beruntun dia mundur sejauh enam tujuh langkah dari posisi semula, kemudian dia meloloskan senjata Hian im kui jiu nya, dia berpekik untuk mengumpulkan segenap anak buahnya.
Melihat perbuatan gadis itu, sambil tertawa Bu im sin hong Kian kim siang segera berkata .
"Siluman perempuan kecil, segenap orang orangmu yang berada diseputar ruargan ini telah dibasmi sampai habis oleh saudara cilikku ini, sekarang tinggal satu jalan saja yang dapat kau tempuh yakni menyerah saja untuk kami bekuk!"
Hian im li segera memutar biji matanya memandang kesana kemari, tampaknya dia sedang berusaha untuk mencari kesempatan guna melarikan diri dari situ.
Sementara itu, Hui cun siucay Seng Tiok sian telah mengundurkan diri ke samping, setelah mencekoki sebutir pil ke mulut Seng Liang, dia mulai mengobati luka yang diderita oleh nona Ting Un.
Nona Ting Un yang membelalakkan matanya, kebetulan menangkap biji mata Hian im li Cun Bwee yang sedang berputar kian kemari serta merta dia berteriak keras .
"Hati hati, perempuan siluman itu sedang merencanakan siasat busuk untuk melarikan diri."
Mendengar niatnya dibongkar secara blak blakan, tak terlukiskan rasa gusar Hian im li Cun Bwee, alis matanya sampai berkerut kencang, tapi diapun tak bisa berbuat banyak terhadap nona Ting Un.
Dengan suara dalam Thi Eng khi segera berkata .
"Asal kau bersedia meninggalkan jalan sesat dan kembali ke jalan benar, aku tak akan menahanmu atau menyiksamu lebih jauh, seperti misalkan sumoaymu Ciu Lan saja merupakan seorang contoh yang baik."
"Apa yang telah kau lakukan terhadap adikku?"
Teriak Hian im ii Cun Bwee dengan perasaan terkejut.
Dari ucapan mana dapat terlihat bahwa dia menaruh hubungan yang amat akrab dengan saudaranya, sehingga dia amat menguatirkan keadaan Ciu Lan.
Titik kelemahan didalam hubungan tersebut mungkin tidak terlihat oleh Thi Eng khi namun tak dapat lolos dari ketajaman mata Bu im sin hong Kian Kim siang.
Dengan cepat orang tua itu berkata .
"Thi ciangbunjin telah menyelamatkan jiwa adikmu, karena kejadian mana adikmu menjadi bertobat dan melepaskan jalan sesat untuk kembali ke jalan benar. Kalau bukan lantaran dia, bagaimana mungkin kami bisa tahu kalau kalian semua berada disini?"
"Sekarang Ciu Lan berada dimana?"
"Dia datang bersama sama rombongan yang lain, tak lama kemudian tentu akan tiba di sini."
Hian im li Cun Bwee termenung dan berpikir beberapa saat lamanya kemudian katanya .
"Kami kakak dan adik berdua sebenarnya merupakan anak yatim piatu, kemudian kami dipelihara oleh Tee kun dan diwarisi ilmu silat yang tinggi, walaupun kami melepaskan jalan sesat dan kembali ke jalan yang benar, bukan berarti kami mempunyai alasan untuk memusuhi Tee kun. Apabila kalian mengijinkan aku dan adikku pergi meninggalkan tempat ini dan menyingkir sejauh jauhnya, kami pasti akan bertobat dan tidak melakukan kejahatan lagi, tapi hari ini kami tak bisa membantu kalian untuk menghadapi Tee kun. Bila kalian menyetujui hal ini, akupun akan berjanji kepada kalian, kalau tidak, biar sampai mati pun kami tak akan takluk."
Walaupun perempuan ini termasuk seorang manusia sesat yang banyak melakukan kejahatan, namun beberapa patah kata ini diutarakan dengan alasan yang cukup matang, dan begitulah watak dan sikap seorang umat persilatan sejati.
Baik Bu im sin hong Kian Kim siang maupun Thi Eng khi segera memperoleh pandangan lain terhadap Hian im li Cun Bwee, mereka tahu biasanya bila manusia semacam ini sudah bertobat dan kembali ke jalan yang benar, mereka tak akan melakukan kejahatan lagi di kemudian hari.
Seketika itu juga mereka berdua mengabulkan permintaannya, begitu Ciu Lan sudah tiba mereka berdua dipersilahkan meninggalkan tempat tersebut dan tidak memaksa mereka untuk memusuhi Hian im Tee kun...
Bahkan untuk menghormati kesetiaan tersebut, baik Thi Eng khi maupun Bu im sin hong Kian Kim siang, tak seorangpun diantara mereka yang mencoba mencari berita tentang Hian im Tee kun dari mulutnya.
Melihat kegagahan dan kebesaran jiwa Thi Eng khi serta Bu im sin hong Kian Kim siang, Cun Bwee dibuat sangat terharu, kesannya terhadap kawanan jago dari golongan kaum lurus pun semakin mendalam.
Akhirnya malah dia sendiri yang tidak tahan dan menceritakan keadaan yang sesungguhnya secara garis besar kepada Thi Eng khi...
Ternyata, walaupun Hian im Tee kun berhasil membohongi kawanan jago persilatan dari wilayah See lam namun oleh karena waktu yang terlampau singkat, kecuali sebagian berbakat kurang baik sehingga kemampuan mereka hanya bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan ringan ringan, sebagian lainnya harus melalui proses pembujukan yang mendalam lebih dulu sebelum benar benar dapat dimanfaatkan kekuatannya.
Berada dalam keadaan seperti ini, demi keamanan dalam pengendalian selanjutnya Hian im Tee kun menempatkan komplotan dan orang orang kepercayaannya di tempat kediaman si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, sementara para jago persilatan dari See lam serta sebagian dari orang orang persilatan yang telah mereka kendalikan ditempatkan didalam perkampungan Huan keng san ceng.
Hui cun siucay Seng Tiok sian sangat menguatirkan keselamatan gurunya si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, menggunakan kesempatan tersebut dia berkata .
"Saat ini guruku berada dimana? Bagaimana keadaannya sekarang....?"
"Gurumu merupakan lambang kepemimpinan umat persilatan wilayah See lam setelah Bu im sin hong Kian tua, Hian im Tee kun menganggap dia memiliki nilai yang amat berharga untuk diperalat kemampuan dan pamornya, maka sampai sekarang dia belum diapa apakan, tapi hanya dibelenggu oleh sebuah persoalan pelik yang sengaja diajukan kepadanya, mungkin hingga sekarang dia masih terkecoh dan belum menyadari kalau dirinya sedang dibohongi orang. Tentang berada dimanakah dia sekarang, kami tidak begitu tahu..."
Selanjutnya dia pun menjelaskan bagaimana Hian im Tee kun meminta kepada si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian untuk menciptakan sejenis obat penawar racun.
Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, Hui cun siucay Seng Tiok sian baru bisa menghembuskan napas lega.
Kesempatan baik segera akan hilang lenyap dengan begitu saja, maka Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang dengan cepat mengambil sebuah keputusan.
Thi Eng khi seorang diri langsung menuju ke tempat kediaman Hian im Tee kun untuk menyumbat jalan keluarnya, agar Hian im Tee kun tidak melarikan diri setelah mengetahui datangnya ancaman mara bahaya.
Sedangkan Bu im sin hong Kian Kim siang dengan mengajak nona Ting Un langsung menuju ke perkampungan Huan keng san ceng dengan kewajiban menyadarkan umat persilatan wilayah See lam yang terpengaruh dan mengalihkan kekuatan mereka untuk bersama sama mengepung Hian im Tee kun.
Sebaliknya Hui cun siucay Seng Tiok sian, Seng Liang dan Cun Bwee bertiga mendapat tugas untuk menyambut kedatangan rombongan Ciu Tin tin ditengah jalan dan memberitahukan kepada mereka agar segera berkumpul dilembah Hek sik kok.
Di saat semua orang berpisah, nona Ting Un menunjukan perasaan kuatir karena Hui cun siucay Seng Tiok sian menempuh perjalanan sama sama Cun Bwee.
Akan tetapi berhubung Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi menaruh kepercayaan penuh terhadapnya, dia merasa kurang leluasa untuk mengungkapkan rahasia hatinya, terpaksa dengan sikap yang berat hati dan kuatir dia memandang ke arah Hui cun siucay Seng Tiok sian.
Sebagai manusia yang cerdik Cun Bwee segera dapat menebak rahasia hati nona itu, buru buru digenggamnya tangan nona Ting Un sambil berkata .
"Nona Un, kau tak usah kuatir, aku bukan seorang manusia yang lain di mulut lain di hati!"
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... .haaahhh.... haaahhh... budak Un, masa terhadap aku si orang tuapun kau tidak percaya? Ayo cepat berangkat..."
Dia segera menarik tangan nona Ting Un dan mengajaknya berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.
Gerakan tubuh Thi Eng khi sewaktu meninggalkan tempat tersebut jauh lebih cepat lagi, sampai sampai Cun Bwee tidak sempat menyaksikan dengan cara apakah pemuda tersebut berlalu dari situ.
Dengan wajah termangu mangu Cun Bwee memandang kepergian mereka, sementara dalam hati kecilnya muncul suatu perasaan ngeri dan takut yang tak terlukiskan dengan kata kata, dia tahu nasib akhir dari Hian im Tee kun sudah ditetapkan.
Mendadak ia mendengar suara dari Hui cun siucay Seng Tiok sian bergema di sisi telinganya .
"Nona Cun Bwee, kita pun harus segera melakukan perjalanan!"
Dalam pada itu, Thi Eng khi yang akan berhadapan dengan musuh tangguh merasa kurang leluasa untuk membawa kuda Hek liong kou kesayangannya.
Jilid 47 Untuk mempermudah gerak geriknya dia menetapkan untuk melanjutkan perjalanannya dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im.
Walaupun begitu ternyata kecepatan geraknya tidak berada dibawah kecepatan lari kuda Hek liong kou tersebut.
Tidak sampai setengah harian, dia telah tiba di depan lembah Hek sik cun, tempat kediaman si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.....
Gua yang panjangnya mencapai beberapa li dengan mulut gua yang lebar, kini telah siap menantikan kedatangannya.
Adapun tujuan Thi Eng khi yang terutama adalah memutuskan hubungan para gembong iblis yang berada di dalam gua dengan dunia luar, maka begitu sampai ditempat tujuan, dia langsung berdiri tegak di depan mulut gua sambil bersiap siaga.
Belum lama dia berdiri tegak disitu, mendadak dari balik gua berkumandang suara langkah kaki manusia yang cukup ramai, menyusul kemudian terlihat munculnya empat orang kakek.
Thi Eng khi tidak kenal dengan mereka, namun keempat kakek tersebut rupanya cukup mengenalinya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka menjerit kaget, membalikkan badan dan melarikan diri terbirit birit.
Nampaknya mereka tak berani memusuhi Thi Eng khi yang dipandang sebagai momok oleh mereka.
Sambil tertawa nyaring Thi Eng khi segera berseru .
"Sekarang aku telah hadir disini, akan kulihat kemanakah kalian mau lari!"
Suara seruan yang menggaung dalam lorong gua itu bergema sampai beberapa li jauhnya dan mendengung di sisi telinga Hian im Tee kun.
Begitu awal kemunculan Thi Eng khi di situ, pada hakekatnya sangat mencengangkan Hian im Tee kun, bahkan membuatnya sama sekali diluar dugaan, terutama sekali sikap Thi Eng khi yang berjaga jaga di depan mulut gua, hal ini membuatnya semakin kesulitan untuk menghadapinya.
Sebab mulut gua itu amat sempit, dalam keadaan seperti ini boleh dibilang komplotannya tak mampu dimanfaatkan lagi kekuatannya.
Sebaliknya kalau mesti bertarung seorang diri?
Kecuali dia sendiri, siapakah yang mampu menandingi kelihayan dan kehebatan Thi Eng khi?
Kalau dikeroyok saja beramai ramai?
Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin dia dapat main kerubut...?
Kalau dia pasti muncul sendiri untuk menerima tantangan Thi Eng Khi?
Dia pun tidak tahu berapa banyak konco yang diajak Thi Eng Khi datang kesana, padahal konco konconya tak bisa dimanfaatkan kemampuannya disitu, bila sampai terjebak ke dalam perangkap Thi Eng khi bukankah hal tersebut akan semakin berabe?
Oleh karena itu, Hian im Tee kun tetap membiarkan Thi Eng khi berpekik tiada hentinya di luar gua, sementara dia sendiri hanya memutar otak dan membungkam dalam seribu bahasa.
Hingga keempat kakek yang siap keluar gua tadi datang melaporkan kalau cuma Thi Eng khi seorang yang berjaga jaga diluar gua.
Hian im Tee kun baru memutuskan untuk memanfaatkan peluang ini guna menghadapi Thi Eng Khi.
Dia segera memimpin langsung sejumlah kawanan iblis untuk menyerbu keluar dari gua dan siap melangsungkan pertarungan mati hidup dengan si anak muda tersebut.
Semenjak pertarungannya melawan Thi Eng khi tempo hari, walaupun Hian im Tee kun merasa masa depan si anak muda itu cukup cemerlang dan di kemudian hari bakal menjadi seorang musuh yang sangat menakutkan, namun dia yakin seyakin yakinnya bahwa kemampuan yang dimilikinya sekarang masih cukup untuk mengungguli Thi Eng khi, terutama sekali setelah pengasingan dirinya selama ini dan mempelajari beberapa macam kepandaian lagi, dia semakin tidak memandang sebelah mata terhadap pemuda itu.
Boleh saja Hian im Tee kun mempunyai perhitungan demikian, dan hal ini memang tak dapat menyalahkan dia, sebab penampilan Thi Eng khi dikala penumpasan terhadap Ban Seng kiong tempo hari memang tidak memperlihatkan kelebihan kelebihan lain yang dapat mengungguli atau melampaui dirinya.
Begitulah, dengan membawa keyakinan yang sangat besar Hian im Tee kun memimpin sejumlah kawanan iblis munculkan diri dari dalam gua pertahanannya.
Benar juga, dia menyaksikan Thi Eng khi berdiri seorang diri diluar gua.
Namun gembong iblis tua ini masih kuatir apabila pemuda itu mempersiapkan jago jagonya disekitar tempat itu, yaa, siapa tahu kalau kemunculan Thi Eng khi seorang diri dimulut gua tersebut hanya sebuah pancingan belaka?
Setelah berpikir sebentar, dia memutuskan untuk melangsungkan pertarungannya melawan Thi Eng khi di dalam gua, asal Thi Eng khi berhasil dibunuh, maka dia lebih lebih tak usah kuatir menghadapi kerubutan kawanan jago lainnya.
Setelah berpikir pulang pergi, akhirnya Hian im Tee kun menganggap jalan pemikirannya tak bakal salah lagi, apalagi bila dia menyerbu keluar gua dan bertarung melawan Thi Eng khi, dibawah komandonya langsung, dikombinasikan dengan kerja sama para iblis, mungkinkah Thi Eng khi bisa mempertahankan diri?
Padahal tindakan Hian im Tee kun tersebut justru telah menghemat banyak tenaga dan kekuatan dari Thi Eng khi.
Sambil memandang kearah Thi Eng khi, Hian im Tee kun tertawa dingin tiada hentinya, kemudian ejeknya .
"Beranikah kau untuk melangsungkan duel satu melawan satu denganku di dalam lorong gua ini?"
Mendengar tantangan tersebut, Thi Eng khi segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh .....haaahhh... haaahhh.... iblis tua, pokoknya asal kau yang turun tangan sendiri, dimanapun dan pada saat apapun pasti akan kulayani!"
Hian im Tee kun segera memerintahkan kepada kawanan iblis yang berada dibelakangnya agar mengundurkan diri, sementara dia sendiripun ikut mundur sejauh tiga kaki lebih.
Dengan langkah lebar Thi Eng khi berjalan masuk ke dalam gua tersebut kemudian setelah saling berhadapan dengan Hian im Tee kun, dia berkata .
"Iblis tua, kali ini kau seharusnya yang mempergunakan senjata tajam!"
Sudah barang tentu maksud dari perkataan ini adalah pernyataan bahwa dia sendiri akan menghadapi tantangan tersebut dengan sepasang tangan kosong belaka.
Rasa benci Hian im Tee kun terhadap Thi Eng khi boleh dibilang sudah merasuk sampai ke tulang sumsum, kalau bisa dia ingin sekali dapat membinasakan Thi Eng khi dalam satu gebrakan saja, kemudian mencincang tubuhnya sehingga hancur berkeping keping.....
Sudah barang tentu, untuk mewujudkan keinginannya tersebut, dia tak akan memberi kesempatan kepada lawannya untuk lebih banyak meraih keuntungan.
Tatkala mendengar perkataan tersebut, dia segera tertawa terbahak bahak saking gusarnya, kemudian berkata .
"Aku bukan seorang manusia pengecut yang ingin meraih kemenangan dengan mengandalkan senjata tajam, bila kau ingin memakai senjata pedang emas naga langit, silahkan saja digunakan, buat apa sih membuat alasan yang tidak tidak?"
Kembali Thi Eng khi tertawa .
"Aku lihat, seandainya kau tidak mempergunakan senjata mungkin kau tak akan mampu menghadapi diriku sebanyak seratus gebrakan pun...."
"Sudah, tak usah banyak ngomong, rasain dulu sebuah pukulan ku ini....!"
Teriak Hian im Tee kun gusar.
Begitu selesai berbicara, Hian im Tee kun segera berdiri tegak dengan wajah serius, pelan pelan hawa murninya dihimpun menjadi satu, sementara paras mukanya yang semula putih bersih, dalam waktu singkat saja telah dilapisi oleh hawa hijau yang sangat tebal.
Kemudian tak lama setelah itu, paras mukanya telah berubah menjadi hijau membesi.
Kalau menurut catatan dalam Hian im cing khi, maka bilamana hawa murni seseorang sudah dihimpun sehingga paras mukanya berubah menjadi hijau membesi, maka secara otomatis udara disekeliling tempat itupun akan turut terpengaruh sehingga berubah menjadi dingin sekali sampai merasuk ke dalam tulang sumsum.
Tapi kenyataan yang terbentang di depan mata sekarang bukankah demikian, bukan saja Thi Eng khi tidak merasakan hawa dingin yang mencekam bahkan malah sebaliknya dia merasakan udara yang hangat dan sangat nyaman.
Thi Eng khi yang hadir hari ini, meski usianya masih sangat muda namun dia telah membekali segenap pengetahuan yang terdapat di dalam kitab kitab pusaka milik Cu sim ci cu Thio Biau liong.
Atau dengan perkataan lain, si anak muda ini sudah berpengetahuan begitu luas sehingga sukar bagi orang lain untuk mengimbanginya...
Namun dia merasa kaget dan terperanjat juga setelah menyaksikan kejadian ini, segera pikirnya .
"Benar benar tak kusangka, hanya didalam beberapa bulan yang demikian singkatnya, ternyata dia telah berhasil melatih Hian im ceng khinya hingga mencapai taraf apa yang disebut Im khek yang seng (puncak dingin yang menimbulkan kehangatan) tampaknya dia bukan musuh sembarangan musuh, aku tak boleh memandang terlalu rendah tentang dirinya."
Perlu diketahui apabila ilmu Hian im ceng khi telah dilatih mencapai tingkat ke sepuluh, bila ingin mencapai taraf apa yang dinamakan Im khek yang seng atau puncak dingin yang menimbulkan kehangatan, maka seseorang harus melewati dulu suatu percobaan yang berbahaya sekali.
Dengan tenaga dalam Hian im Tee kun yang begitu sempurna, dia sendiripun tak berani mencoba secara sembarangan, sampai pertarungannya kemudian melawan Thi Eng khi, dan menyadari betapa mengerikannya kemampuan Thi Eng khi, dia baru nekad menyerempet bahaya dengan menyelesaikan taraf terakhir yang belum pernah diselesaikan olehnya selama puluhan tahun ini.
Begitu menyadari akan datangnya ancaman bahaya, diam diam Thi Eng khi menghimpun segenap hawa murninya untuk melindungi semua jalan darah penting didalam tubuhnya, lalu bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Pelan pelan Hian im Tee kun mengangkat telapak tangan kanannya yang digoyangkan berulang kali dengan lambat, seketika itu juga muncullah segulung tenaga kekuatan yang sangat dahsyat tapi hangat dan memabukkan langsung menerjang ke atas tubuh Thi Eng Khi....
Thi Eng khi sadar bahwasanya tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun sekarang sudah melewati taraf hawa dingin dan menuju ke peralihan hawa panas dan hawa racunnya sudah menyebar sampai ke mana-mana.
Berada dalam keadaan begini, entah tubuhnya berlatih tenaga im kang ataupun tenaga yang kang, mustahil bisa membendung hawa serangan ini.
Apalagi jika sampai terkena hajaran secara telak, sekalipun tidak sampai mati paling tidak isi perutnya pasti akan terpengaruh oleh hawa serangannya hingga menimbulkan reaksi yang cukup serius sebagai akibatnya sudah barang tentu penderitaan yang diperoleh pun tidak terlukiskan....
Sementara itu, Thi Eng khi sudah buru buru mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi seluruh tubuhnya, bersamaan itu pula hawa sakti tay kim sinkang yang dilatihnya dihimpun ke dalam tangan dan mengayunkannya ke muka untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Segulung hawa pukulan yang lembek dan bersih dengan cepat saling beradu dengan tenaga im kang yang telah berubah jadi hawa yang kang tersebut.
"Blaaammmmm!"
Ledakan yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan.
Sebagai akibat dari bentrokan kekerasan itu, Thi Eng khi terdorong tubuhnya sampai terhuyung mundur, sedangkan Hian im Tee kun tak sanggup menahan dorongan yang kuat dan secara beruntun mundur sejauh tiga langkah lebih.
Dengan wajah tenang namun serius Thi Eng khi segera berkata lagi .
"Iblis tua, nampaknya aku benar benar sudah menilai dirimu kelewat rendah!"
Ketika Hian im Tee kun menyaksikan serangan dahsyatnya ternyata tidak berhasil melukai Thi Eng khi, secara diam diam diapun merasa terkejut.
Mendadak saja dia melangkah maju dengan tindakan lebar, begitu menerjang ke sisi badan Thi Eng khi, telapak tangannya langsung diayunkan ke muka melepaskan sebuah bacokan kilat.
Thi Eng khi segera mengeluarkan jurus Sia ci yang khi (mengibarkan bendera dengan posisi miring) yang disertai tenaga Tay kim ceng khi untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
Di dalam bentrokan yang kemudian terjadi untuk kedua kalinya, Hian im Tee kun merasakan tenaga serangan sendiri seolah olah sedang menghantam diatas kapas yang lunak, ternyata tenaga pukulannya tak mampu mewujudkan kekuatan penghancurnya yang maha dahsyat tersebut.
Untuk kesekian kalinya dia merasa terperanjat sekali, segera pikirnya .
"Tenaga Tay kim ceng khi yang dimiliki bocah keparat ini benar benar sangat aneh, mungkinkah dia telah memperoleh penemuan aneh lainnya?"
Sementara otaknya masih berputar memikirkan hal tersebut, telapak tangannya sekali lagi telah melancarkan bacokan maut ke tubuh Thi Eng khi...
Di dalam serangan yang dilancarkan kembali dia telah menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, tentu saja kedahsyatan luar biasa sekali, hawa serangan yang hangat tapi kuat itu seolah olah berdatangan dari empat arah delapan penjuru dan bersama sama menubruk ke arah Thi Eng khi.
"Serangan yang bagus!"
Bentak Thi Eng khi keras keras.
Kembali dia menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dalam bentrokan kali ini, kedua belah pihak sama sama menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki.
Hian im Tee kun yang termakan tenaga Tay kim ceng khi dari Thi Eng khi segera tergetar mundur sejauh lima langkah lebih.
Sebaliknya Thi Eng khi termakan juga oleh tenaga pukulan Hian im Tee kun sehingga tergetar mundur sejauh satu langkah.
Sesudah mundur ke belakang, dengan cepat Thi Eng khi memejamkan matanya untuk mengatur napas dan memulihkan kembali kekuatannya.
Sedangkan Hian im Tee kun tertawa rawan lalu berkata .
"Tahun ini usiaku sudah mencapai puncaknya, baik, aku akan beradu jiwa denganmu!"
Berbicara sampai disini, dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebutir pil yang segera ditelannya.
Paras mukanya yang semula berwarna hijau membesi segera berubah menjadi merah darah, sambil memutar sepasang telapak tangannya, dia membentak nyaring .
"Sambutlah sebuah pukulanku lagi, coba kau rasakan sampai dimanakah kelihayanku!"
Tenaga pukulan yang terpancar keluar dari balik telapak tangannya terasa panas menyengat badan, bahkan secara lamat lamat terlihat juga cahaya merah darah yang menyelimuti seluruh angkasa....
Thi Eng khi sama sekali tidak menghindar ataupun bermaksud untuk berkelit, dia mengayunkan pula sepasang telapak tangannya melepaskan pukulan dengan tenaga Tay kim ceng khi.
Tatkala kedua gulung tenaga pukulan tersebut saling membentur untuk kesekian kalinya, ternyata keadaan yang kemudian terjadi jauh berbeda.
Akibat dari bentrokan ini, Hian im Tee kun cuma tergetar mundur sejauh satu langkah, sebaliknya Thi Eng khi sendiripun tidak berhasil memperoleh suatu keberuntunganpun, malah dia sendiri terpaksa mundur juga sejauh satu langkah.
Ternyata kekuatan yang mereka miliki sekarang telah meningkat menjadi berimbang.
Hian im Tee kun hanya menelan sebutir saja, namun kenyataannya dari posisi yang terdesak dan dibawah angin, ternyata dia pun mampu memperbaiki posisinya menjadi berimbang.
Menghadapi Hian im Tee kun yang tak segan segan mempertaruhkan jiwa raganya dengan menggunakan sebutir obat untuk merangsang seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya guna beradu jiwa dengannya, diam diam pemuda ini gelisah dan merasa sangat tidak tenang.
Dikala Hian im Tee kun melancarkan serangannya lagi, Thi Eng khi tak berani beradu kekerasan lagi dengan Hian im Tee kun, terpaksa dia harus mempergunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng irn untuk berkelit kesana menghindar kemari sembari mencari kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.
Dalam waktu singkat udara di dalam lorong gua itu dipenuhi oleh hawa pukulan yang menderu deru, batu gunung dan pasir segera berguguran ke atas tanah membuat kawanan gembong iblis tersebut tak mampu berdiam terus di dalam gua, terpaksa mereka mundur keluar dari gua tersebut.
Dengan begitu, didalam lorong gua yang panjangnya mencapai beberapa li ini hanya diisi oleh dua orang saja yakni Hian im Tee kun serta Thi Eng khi yang terlihat dalam pertarungan mati hidup.
Bersamaan waktunya dengan berkobarnya pertarungan sengit antara Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun, dipihak lain, Bu im sin hong Kian Kim siang beserta nona Ting Un telah sampai pula di perkampungan Huan keng san ceng.
Mimpipun nona Ting Un tak pernah menyangka kalau dalam kolong langit dewasa ini terdapat ilmu meringankan tubuh yang begini sempurna.
Dia hanya merasakan lengan sendiri ditarik oleh Bu im sin hong Kian Kim siang dan tubuhnya segera melayang layang di tengah udara seperti layang layang.
Bukan cuma kakinya saja yang tidak menempel permukaan tanah, bahkan badannya turut melayang di udara.
Malah saking cepatnya mereka bergerak nona ini merasa dadanya sesak dan sukar untuk bernapas.
Kendatipun dalam hati kecilnya masih terdapat banyak persoalan yang hendak dibicarakan, akan tetapi dia merasa tak mampu untuk membuka suara.
Hingga mereka berada tak jauh dari perkampungan Huan keng san ceng, Bu im sin hong Kian Kim siang baru memperlambat gerakan tubuhnya.
Pada saat itulah, Ting Un baru dapat menghembuskan napas panjang, katanya kemudian .
"Kian yaya, hari ini sepasang mata Un ji betul betul sudah terbuka lebar, lewat beberapa hari, kau harus mengajarkan kepandaian sakti ini kepadaku."
Nada pembicaraannya selain lincah, polos, juga tidak sungkan sungkan, bahwa di tengah keterus terangannya terlintas pula sifat kekanak kanakannya.
Dianggapnya ilmu Hu kong keng im tersebut sudah pasti akan diwariskan Bu im sin hong Kian Kim siang kepadanya.
Pada dasarnya Bu im sin hong Kian Kim siang memang bukan seorang manusia yang terlalu terikat dengan segala macam peraturan, malah sebaliknya dia justru gembira dan senang sekali dengan kejujuran, keterusterangan serta kepolosan gadis ini.
Walaupun begitu, ia sengaja menunjukkan mimik wajah yang serius dan keren, kemudian setelah mendengus, katanya dengan suara rendah .
"Mengapa lohu harus mewariskan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im ini kepadamu?"
Tampaknya nona Ting Un tak pernah menduga bakal memperoleh pertanyaan semacam ini, dia menjadi tertegun, lalu serunya .
"Mengapa? Mengapa harus mengapa? Kau orang tua kan tak punya anak murid, masa kau hendak membawa pulang ilmu sakti yang menggetarkan dunia persilatan ini sampai ke dalam liang kubur?"
Tampaknya apa yang terlintas dalam benak gadis ini segera dilontarkan keluar olehnya tanpa dipikir lebih jauh, tak bisa disangkal lagi, inilah watak dari seorang budak liar yang sudah terbiasa hidup dimanja.
Sikap semacam ini selain menggelikan bagi yang memandang, juga mendatangkan rasa hangat yang jauh mengakrabkan hubungan.
Jalan permikiran nona Ting Un masih sangat polos, dia menganggap Bu im sin hong Kian Kim siang sebagai lambang kepemimpinan dari umat persilatan di wilayah See lam, sedangkan dia pun sebagai angkatan muda diwilayah See lam, sudah pasti permintaan yang diajukan itu akan dipenuhi.
Bu im sin hong Kian Kim siang sendiri pun terhitung seorang manusia yang sangat aneh, andaikata nona Ting Un memohon kepadanya secara beraturan dan lemah lembut agar ilmu Hu kong keng im tersebut diwariskan kepadanya, mungkin belum tentu dia akan mewariskan kepandaian itu kepadanya.
Tapi sekarang, cara dari gadis itu telah menimbulkan rasa gembira dalam hatinya, tanpa berpikir panjang lagi dia menyatakan persetujuannya dihati.
Hanya saja untuk menggoda gadis tersebut, sengaja dia menarik muka sambil berkata lagi .
"Ilmu silat maha sakti hanya diwariskan untuk murid berbakat, apakah kau menganggap berkemampuan untuk mempelajari ilmu sakti Hu kong Keng im tersebut?"
Nona Ting Un segera tertawa lebar.
"Kalau hanya masalah itu mah bukan persoalan, dikala yayaku masih hidup dulu beliau sering kali berkata demikian . Anak Un pandai dan cekatan, apabila dapat bersua dengan Kian loko dan mempelajari ilmu Hu kong keng im miliknya, sudah pasti kau akan menjadi sekumtum bunga aneh dari wilayah See lam. Percayakah kau dengan perkataan yayaku ini?"
Mendadak gadis itu menyinggung kembali tentang sobat lamanya, pudarlah keinginan Bu im sin hong Kian Kim siang untuk menggoda gadis tersebut lebih jauh, dia segera menghela napas panjang.....
"Aaaai, kalian manusia manusia angkatan muda, nampaknya makin hari mukanya semakin tebal satu inci...."
"Yaya aku pun sering berkata begini,"
Kembali nona Ting Un berkata dengan wajah serius "bilamana menghadapi persoalan, manfaatkanlah waktu dan janganlah mengalah bilamana tidak perlu untuk mengalah.
Bila kau orang tua pergi dan lenyap lagi selama tujuh delapan puluh tahun, bagaimana mungkin aku bisa mempelajari ilmu Hu kong Keng im mu lagi?"
Bu im sin hong Kian Kim siang semakin gembira lagi dibuatnya, tak tahan dia tertawa terbahak bahak .
"Haaahhh.... haaaahhh.... Haaahhh.... sayang sekali ilmu Hu kong keng im ku sudah mempunyai ahli warisnya!"
"Bolehkah ahli warisnya diperbanyak seorang lagi?"
Rengek nona Ting Un.
"Bukan saja aku telah memperbanyak ahli warisku dengan seorang, bahkan sudah mencapai tiga orang banyaknya!"
Nona Ting Un segera tertawa lebar.
"Sudah ada dua pasti tiga, sudah tiga tentu ada empat, toh kau sudah mempunyai tiga orang ahli waris, berarti kau pun dapat menerima ahli waris yang keempat, atau dengan perkataan lain aku pasti mempunyai bagian untuk itu, baik sekarang juga aku akan mengangkatmu sebagai guruku!"
Tanpa menunggu apakah Bu im sin hong Kian Kim siang setuju atau tidak, dia segera bertekuk pinggang dan menjatuhkan diri berlutut.
Pada hakekatnya Bu im sin hong Kian Kim siang memang bukan tandingan dari gadis cilik itu terpaksa ujarnya kemudian sambil tertawa .
"Aaaai, angkatan muda patut disegani, angkatan muda patut disegani, baiklah, memandang diatas wajah yayamu itu rasanya sungkan kalau kutampik keinginanmu untuk mempelajari ilmu Hu kong keng im, cuma soal pengangkatan guru mah tidak usah, ayo bangun, kita harus menyelesaikan dulu urusan penting yang sedang berada di depan mata."
Cepat dia menyambar tangan Ting Un dan tidak menanti gadis itu berbicara dia memaksanya untuk bangkit berdiri. Terpaksa nona Ting Un harus bangun berdiri, katanya kemudian sambil tertawa .
"Kian yaya, kau jahat amat! Padahal aku tahu sejak tadi kau sudah berencana hendak mewariskan ilmu Hu kong keng im tersebut kepadaku, tapi kau sengaja hendak menggoda aku rupanya..."
Ucapan tersebut membikin Bu im sin hong Kian Kim siang tak sanggup menahan diri lagi, kontan saja dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
Baru saja pulang ke kampung halaman yang sudah lama ditinggalkan puluhan tahun lamanya, kini Bu im sin hong Kian Kim siang berjumpa dengan seorang nona cilik yang binal, pintar, dan membuat hati orang gembira, hal tersebut membuatnya kegirangan setengah mati.
Tidak heran kalau gelak tertawanya itu berkumandang sampai beberapa li jauhnya dan membumbung tinggi menembusi lapisan awan di angkasa.
Belum habis gelak tertawanya berkumandang, dari arah perkampungan Huan keng san ceng telah meluncur keluar empat sosok bayangan manusia yang menerjang tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Sebagaimana diketahui, Bu im sin hong Kian Kim siang sudah puluhan tahun lamanya berkelana di luar daerah, dengan demikian dia pun tidak kenal dengan keempat manusia yang merupakan jago jago lihay dari wilayah See lam tersebut.
Sebaliknya ke empat jago pun merupakan jago jago angkatan terakhir dari wilayah See lam, mereka muncul agak terlambat dalam dunia persilatan sehingga tak seorangpun diantara mereka yang pernah bersua muka dengan Bu im sin hong Kian Kim siang.
Itulah sebabnya ketika kedua belah pihak saling berjumpa muka, kedua belah pihak sama sama tidak mengenal.
Nona Ting Un segera menyongsong kedatangan orang orang itu, lalu serunya dengan lantang .
"Empek dan paman berempat, Kian yaya telah datang, ayo cepat kalian memberi hormat kepada Kian yaya!"
Dari keempat orang tersebut, Jit gwat siang beng To bersaudara termasuk pula diantaranya.
Hingga sekarang Jit gwat siang beng To bersaudara masih belum mengerti keadaan yang sebenarnya, tatkala mereka mulai curiga dengan situasi, waktu itu gerak gerik mereka sudah dapat dibatasi oleh Hian im Tee kun, bahkan keadaan dunia persilatan untuk wilayah See lam telah dikuasai gembong iblis tersebut.
Terjadinya peristiwa mana cukup membuat kedua orang bersaudara itu menjadi sedih dan menyesal setengah mati, sayang mereka tak berkemampuan untuk menolong keadaan.....
Nona Ting Un memang terkenal sebagai seorang gadis yang binal, manja dan cerdas, apalagi dia memang dsayang oleh cikal bakalnya perkampungan Huan keng san ceng, hal mana menyebabkan semua orang merasa segan dan sungkan kepadanya.
Sekarang, Jit gwat siang beng To bersaudara mengira si nona lagi lagi hendak menyusun permainan setan untuk menjebak mereka berdua karenanya walaupun sudah menghentikan gerakan tubuhnya, dengan nada kurang percaya mereka berseru .
"Nona Un, permainan busuk apalagi yang sedang kau persiapkan? Ayo cepat pulang ke rumah, tahukah kau kepergianmu kali ini tanpa pamit telah membuat gegernya perkampungan Huan keng san ceng....?"
Menyaksikan orang orang itu tak mau mempercayai perkataannya, nona Ting Un menjadi sangat gelisah, sambil mendepak depakkan kakinya berulang kali, serunya keras keras .
"Goblok, pikun, tolol! Bukankah saban hari kalian merindukan kedatangan Kian yaya? Sekarang Kian yaya sudah muncul disini tapi kalian justru enggan mempercayainya betul betul membuat hati orang mendongkol saja!"
Jit gwat siang beng To bersaudara pernah terkecoh oleh gadis ini semenjak saat itu mereka tak mau percaya dengan setiap perkataan nona Ting Un maka ketika mendengar ucapan mana mereka lantas membalikkan badan dan berjalan mendekati Bu im sin hong Kian Kim siang, katanya kemudian seraya menjura.
"Nona Un memang paling senang bergurau dengan kamu, bilamana lotiang juga terkecoh oleh ulahnya, harap kau sudi memaafkan..."
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa tergelak.
"Haaaahhh.. haaahhh... haaahhh... lohu adalah Kian Kim siang, boleh kutahu siapa nama kalian berdua?"
Untuk beberapa saat lamanya Jit gwat siang beng To bersaudara menjadi tertegun melongo, tak sepatah katapun yang mampu diutarakan keluar.
Selang berapa saat kemudian mereka gelengkan kepalanya berulang kali artinya mereka tak ingin mempercayai kenyataan tersebut dengan begitu saja, mereka harus menyelidiki persoalan tersebut dan membuktikan kebenarannya lebih dulu sebelum mempercayainya secara seratus persen.
Pada saat itulah, dari arah perkampungan Huan keng san ceng kembali muncul tiga sosok bayangan manusia, begitu bertemu dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, mereka segera menjerit kaget .
"Aaaai, Bu im sin hong Kian Kim siang ....."
Ketiga orang ini merupakan orang orang kepercayaan dari Hian im Tee kun, sewaktu berada di istana Ban seng kiong tempo hari, mereka pernah berjumpa muka dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, itulah sebabnya mereka cukup mengenal tokoh sakti tersebut, tidak heran kalau mereka langsung menjerit kaget begitu bersua muka sekarang.
Akan tetapi mereka pun terhitung manusia yang cerdas dan berpengalaman luas, sekilas pandangan saja, mereka sudah mengenali situasi yang berada di depan mata.
Tampaknya orang belum mengenali si Bu im sin hong Kian Kim siang sebagai pemimpin mereka, terutama sekali umat persilatan dari wilayah See lam.
Maka dengan perasaan menyesal buru buru mereka menutup mulutnya rapat rapat.
Sekalipun mereka tutup mulut dengan cepat, toh ucapan tadi sudah terlanjur diutarakan, hal ini menimbulkan perhatian khusus dari Jit gwat siang beng To bersaudara.
Dengan cepat kedua orang bersaudara itu berpaling, kemudian tanyanya .
"Jadi dia orang tua adalah Bu im sin hong Kian Kim siang, Kian locianpwe?"
Salah seorang diantara ketiga orang kepercayaan Hian im Tee kun itu segera menggeleng.
"Tidak bisa dikatakan demikian, sebab kalau dibilang dia mirip Bu im sin hong Kian Kim siang, agaknya perawakan Bu im sin hong Kian Kim siang yang sesungguhnya masih lebih rendah lima inci daripada perawakan tubuhnya!"
Dengan perasaan lega, Jit gwat siang beng To bersaudara menghembuskan napas panjang.
"Nah kalau begitu tak bakal salah lagi!"
Mereka betul betul merasa kuatir apabila telah melakukan suatu kesalahan besar sebab hal ini akan menyebabkan mereka merasa malu terhadap umat persilatan wilayah See lam dikemudian hari.....
Bu im sin hong Kian Kim siang yang mendengar perkataan tersebut, dengan cepat mengerahkan ilmu Sut kut sin kang (ilmu sakti menyusut tulang) nya hingga perawakan tubuhnya segera berubah menjadi lebih pendek lima inci, setelah itu, ujarnya lagi sambil tertawa .
"Nah, sekarang lohu pasti sudah mirip dengan Bu im sin hong Kian Kim siang bukan?"
Jit gwat siang beng To bersaudara yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi tertegun, tapi senyuman segera menghiasi wajah mereka berdua .
"Lotiang, ilmu saktimu betul betul sangat hebat, boanpwe sekalian sungguh dibuat kagum sekali!"
Kalau didengar dari nada pembicaraan ini, tampaknya mereka masih belum mau mengakuinya sebagai Bu im sin hong Kian Kim siang... Tiba tiba nona Ting Un berteriak karas .
"Nah sudah datang! Sudah datang! Orang yang kenal dengan Kian yaya telah datang!"
Ketika semua orang berpaling ke arah perkampungan Huan keng san ceng, maka terlihatlah seorang nenek yang dihari hari biasa dipanggil Popo oleh nona Ting Un sedang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
Begitu mendekat, nenek itu segera berteriak keras .
"Nona Un ke mana saja kau telah pergi? Membuat aku si nenek merasa panik setengah mati!"
Sambil melayang maju ke muka untuk menyambut kedatangan nenek tersebut, nona Ting Un segera berseru .
"Popo, aku telah berhasil mengundang datang Bu im sin hong Kian Kim siang, cuma mereka tak mau mempercayainya dengan begitu saja......!"
"Ooo... ada kejadian seperti ini?"
Seru si nenek cepat. Ia segera melayang turun dihadapan Bu im sin hong Kian Kim siang lalu sambil memperhatikan Bu im sin hong Kian Kim siang beberapa saat lamanya, dia menggeleng seraya berseru .
"Kau bukan Bu im sin hong Kian loyacu!"
"Popo, kau jangan ngaco belo!"
Kontan saja nona Ting Un melompat bangun sambil berteriak marah. Sambil tersenyum Bu im sin hong Kian Kim siang yang berada di sampingnya menimbrung .
"Tang soat, atas dasar apa kau tidak mengenali lohu sebagai Bu im sin hong Kian Kim siang?"
Tang soat merupakan nama kecil si nenek di saat masih muda dulu, semenjak yayanya Ting Un meninggal dunia, selama puluhan tahun terakhir ini boleh dibilang belum pernah ada orang yang memanggilnya dengan nama tersebut.
Bukan cuma tiada orang saja yang memanggil dengan nama itu, mungkin selain si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, mungkin cuma Bu im sin hong Kian Kim siang seorang yang mengetahui nama kecilnya tersebut.
Ternyata Tang soat adalah dayang dari nenek Ting Un sebelum kawin dulu, sejak kecil dia sudah mengikuti keluarga Ting hingga kini, bukan saja masa remajanya dikorbankan, orangnya pun amat setia dengan keluarga.
Itulah sebabnya dia selain disegani juga dihormati oleh semua anggota keluarga Ting semenjak dari yang tua sampai yang muda.
Maka dari itu, sejak Ting Un dapat berbicara, dia selalu membahasai dirinya sebagai popo.
Si nenek itupun amat menyukai Ting Un bahkan pada hakekatnya menganggap gadis ini sebagai nyawa sendiri.
Dalam pada itu, kulit wajah si nenek telah mengejang beberapa saat lamanya, lama kemudian dia baru berkata .
"Budak masih ada satu persoalan yang tidak mengerti, bila kau benar benar adalah Kian loyacu, mengapa perawakan tubuhmu Nampak jauh lebih pendek daripada Kian loyacu yang dulu?"
Sebagaimana diketahui, walaupun orang sudah meningkat tua, walaupun raut wajahnya mungkin bisa berubah namun sebagian besar masih dapat dikenali dengan jelas.
Tentang perawakan tubuhnya, sekalipun karena usia tua mungkin akan menjadi membungkuk, namun perbedaannya tidak akan lebih banyak daripada perawakan dulu.
Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa Tang soat tidak berani mengenali Bu im sin hong Kian Kim siang, lantaran perawakan tubuhnya dia rasakan terlalu pendek.
Sambil tertawa Bu im sin hong Kian Kim siang segera berkata lantang.
"Barusan ada orang mengatakan perawakan tubuhku kelewat tinggi, sekarang kau mengatakan perawakanku terlalu pendek, waaah.... nampaknya makin tua nasibku semakin jelek!"
Sambil berkata dia lantas membungkukkan tubuhnya dan memulihkan kembali ukuran perawakan tubuhnya seperti semula. Dengan sikap yang sangat hormat si nenek segera berkata .
"Harap Kian loyacu sudi memaafkan kelancangan Tang soat barusan...!"
Baru saja senyuman cerah menghiasi ujung bibir Bu im sin hong Kian Kim siang mendadak paras mukanya berubah, kemudian ia membentak nyaring .
"Mau kabur ke mana kalian?"
Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat ia segera menerjang ke arah tiga orang anggota Ban seng kiong itu.
Rupanya ketiga orang penjahat tersebut dapat merasakan kalau gelagat tidak beres, mereka bersiap siap hendak mengundurkan diri ke perkampungan Huan keng san ceng dan bersiap sedia turun tangan lebih dulu untuk mempengaruhi jago jago See lam dan bersama sama menghadapi Bu im sin hong Kian Kim siang.
Sayang sekali perbuatannya segara ketahuan Bu im sin hong Kian Kim siang dan jalan pergi mereka segera dihadang.
Bagaimana mungkin ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang gembong iblis tersebut bisa melebihi ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im dari Bu im sin hong Kian Kim siang yang amat tersohor tersebut.
Belum lagi mencapai beberapa kaki dari posisi semula, mereka bertiga sudah berhasil disusul oleh Bu im sin hong Kian Kim siang bahkan jalan perginya segera dihadang.
Menyusul kemudian si nenek Tang soat dan nona Ting Un memburu pula ke depan dan melangsungkan pertarungan sengit melawan ketiga orang itu.
Hanya Jit gwat siang beng To bersaudara dan kedua orang lainnya yang tidak berniat turun tangan meski sudah ikut memburu ke depan, malah salah seorang diantaranya segera mencoba melerai .
"Kian locianpwe, bila ada masalah lebih baik dibicarakan saja secara baik baik, buat apa Kita mesti saling gontok gontokan sendiri?"
Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi gusarnya setengah mati, kontan saja dia mengumpat .
"Manusia goblok, kenapa kalian masih berpeluk tangan belaka? Ayo cepat turun tangan membantu Un ji untuk membekuk kawanan anak iblis tersebut!"
Sambil berbicara, dia sendiripun mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk meneter musuhnya lebih gencar.
Kontan saja orang yang bertarung melawannya itu dibuat keteter hebat dan kalang kabut sendiri, tak lama kemudian ia sudah terdesak di bawah angin.
Sedang Jit gwat siang beng To bersaudara masih tetap berdiri tertegun dengan wajah melongo dan kebingungan, mereka tidak turun tangan melainkan hanya mematung.
Berada dalam keadaan demikian, Bu im sin hong Kian Kim siang tahu bahwa banyak berbicara tak ada gunanya, dengan mempergencar serangannya dia meneter musuhnya habis habisan kemudian merobohkannya dengan sebuah totokan jalan darah.
Menyusul kemudian dia melayang ke depan menerjang orang yang sedang bertarung melawan Ting Un, tapi tak sampai empat lima gebrakan kemudian, diapun dapat merobohkan kembali seorang lagi.
Rupanya tokoh sakti kita ini bertekad akan menyelesaikan pertarungan di dalam waktu singkat, dengan cepat dia menerjang pula anakan iblis yang sedang bertarung melawan Tang soat itu, tidak sampai tiga gebrakan kembali dia sudah berhasil merobohkan.
Begitu selesai merobohkan orang orang itu, ia baru melayang turun di hadapan Jit gwat siang beng To bersaudara dan menegur dengan penuh kegusaran .
"Mengapa kalian enggan melaksanakan perintah?"
Agaknya Jit gwat siang beng To bersaudara mempunyai alasan mereka yang cukup kuat, segera ujarnya .
"Kian locianpwe, harap kau jangan marah dulu, perlu diketahui Kwik locianpwe dewasa ini masih berada di tangan mereka, demi keselamatan Kwik locianpwe, mau tak mau kami harus berpikir tiga kali sebelum mengambil keputusan dalam menghadapi setiap persoalan..."
Oleh karena alasan tersebut, Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi sungkan untuk mengumbar hawa amarahnya lagi, terpaksa dia mengisahkan kembali tindakan dari Thi Eng khi di lembah Hek sik kok serta bakal tibanya serombongan besar jago jago lihay.
Jit gwat siang beng To bersaudara baru kegirangan setelah mendengar perkataan tersebut, segera ujarnya .
"Kian locianpwe, sekarang juga kami akan memberitahukan hal ini kepada semua orang yang ada di perkampungan, agar mereka bekerja sama menumpas kawanan iblis yang mengawasi kami selama ini, kemudian kami baru berangkat bersama sama menuju ke lembah Hek sik kok untuk membantu usaha Thi sauhiap!"
Begitu selesai berkata, secepat terbang mereka lari masuk ke dalam perkampungan. Sambil tertawa getir, Bu im sin hong Kian Kim siang segera berkata .
"Tampaknya puluhan tahun tidak pulang kampung halaman, umat persilatan di wilayah See lam ini sudah banyak yang melupakan diri lohu ....."
Ucapan ini meluncur keluar tanpa disadari olehnya, sebab kenyataan yang memperlihatkan bahwa umat persilatan wilayah See lam sudah melupakan dirinya ini pada hakekatnya merupakan suatu peristiwa yang sangat melukai martabat dan nama baiknya.
Padahal dia mana tahu kalau Jit gwat siang beng mempunyai watak yang sangat istimewa, yakni mereka bukan bermaksud tidak takluk kepadanya.
Nona Ting Un yang cerdik dan teliti, dengan cepat dapat merasakan kalau kesepian dan kesedihan Bu im sin hong Kian Kim siang timbul akibat dari ulah Jit gwat siang beng, sambil tertawa dia lantas berkata .
"Paman To berdua memang berwatak demikian, walaupun sesungguhnya mereka termasuk jago jago berdarah panas, di kemudian hari kau orang tua pasti akan mengetahui bagaimanakah watak mereka yang sebenarnya ...."
"Aaaah, dasar kawanan katak dalam sumur, tempo hari pun hampir saja kalian mencelakai saudara cilik Thi gara gara salah paham ......"
Umpat Bu im sin hong Kian Kim siang sambil tertawa tergelak.
Dengan gelak tertawanya itu, pembicaraan pun segera diakhiri....
Sementara itu, suara pertarungan sudah mulai berkumandang dari dalam perkampungan, jelas para jago See lam sudah bangkit dan sadar kalau dirinya terkecoh hingga pertarungannya melawan kawanan iblis yang semula menjaga perkampungan pun berkobar.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera mengajak nenek Tang soat dan nona Ting Un untuk bersama sama menyerbu ke dalam perkampungan Huan keng san ceng.
Walaupun kepandaian silat yang dimiliki kawanan iblis dari Ban seng kiong amat tinggi, namun jumlah mereka jauh lebih sedikit ketimbang kawanan jago dari wilayah See lam, ditambah pula kehadiran Bu im sin hong Kian Kim siang yang memiliki kepandaian silat jauh melebihi kawanan iblis tersebut.
Tidak heran kalau pertarungan massal yang berkobar ini yang menyebabkan kawanan iblis yang berhasil lolos dari situ tidak banyak jumlahnya.
Tanpa banyak mengalami kesulitan, perkampungan Huan keng san ceng telah dibebaskan kembali dari cengkeraman maut kawanan iblis dari Ban seng kiong.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera memilih dua tiga puluhan jago lihay dan bersama sama berangkat menuju ke lembah Hek sik kok.
Pertarungan sengit antara Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun yang berlangsung didalam gua lembah Hek sik kok berlangsung dengan ketatnya, ribuan jurus sudah lewat namun pertempuran belum juga mereda, sementara menang kalah juga belum diketahui.
Tatkala Bu im sin hong Kian Kim siang beserta rombongannya tiba di situ, Ciu Tin tin sekalianpun belum lama tiba pula ditempat tersebut.
Setelah satu sama lainnya menggabungkan diri menjadi satu, selain melototkan matanya lebar lebar memperhatikan deruan angin puyuh yang berhembus keluar dari balik gua, tak seorang pun diantara mereka yang bersuara.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera berpaling ke arah Ciu Tin tin, kemudian katanya .
"Apakah Thi sauhiap sedang bertarung mati matian melawan gembong iblis tua itu di dalam gua?"
Pertanyaan tersebut sesungguhnya merupakan pertanyaan yang sudah tahu tapi ditanyakan juga, hal ini disebabkan rasa kuatirnya terhadap Thi Eng khi menjadi jadi sehingga tidak tahan dia mengajukan pertanyaan tersebut.
Ciu Tin tin segera menganggukkan.
"Barusan boanpwe telah mengadakan kontak langsung dengan adik Eng melalui ilmu menyampaikan suara, menurut adik Eng kepandaian silat yang dimiliki gembong iblis itu sudah melemah, dia sudah mulai mempergunakan bahan obat obatan untuk menambah tenaganya, jelas iblis tua itu sudah mulai nekad dan ingin beradu jiwa ...."
Mendengar perkataan tersebut, Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi sangat terkejut, segera serunya dengan cepat .
"Kalau sampai hal ini terjadi, mana mungkin saudara cilik sanggup menahan diri? Mengapa kita tidak masuk ke dalam gua untuk membantunya?"
"Ruang gua itu terlampau sempit, siapa pun tak mungkin bisa turut serta di dalam pertarungan tersebut, apalagi di dalam ruang gua itu sudah dipenuhi hawa pukulan yang sangat kuat, aku pikir tiada seorang manusia pun dalam kolong langit dewasa ini yang sanggup menerobos masuk ke dalam gua itu."
"Kau sudah pernah mencobanya?"
Tanya Bu im sin hong Kian Kim siang dengan kening berkerut.
"Tenaga dalam yang boanpwe miliki masih belum mampu menandingi Hian im Tee kun, apalagi dengan tenaga gabungan Hian im Tee kun bersama adik Eng, buat apa aku mesti mencobanya lagi? Jelas percuma saja ...."
"Lantas apakah kita harus berpeluk tangan belaka membiarkan mereka sendiri yang menentukan menang kalahnya pertarungan tersebut....?"
"Satu satunya cara yang dapat kita tempuh adalah menunggu sampai pertarungan mereka mencapai pada puncaknya dan kedua belah pihak sama kelelahan dan kehabisan tenaga. Waktu itu tenaga pancaran yang dihasilkan di seputar ruang gua pasti akan melemah, didalam keadaan seperti inilah kita baru mempunyai harapan untuk menerobos masuk kedalam."
Bu im sin hong Kian Kim siang adalah seorang tokoh persilatan yang sangat menonjol diantara kelompok jago jago kenamaan lainnya, sudah barang tentu dia memahami teori tersebut, Maka setelah menghela napas panjang, dia pun membungkam diri dalam seribu bahasa.
Siapa tahu pada saat itulah mendadak dari kerumuman orang banyak meluncur keluar sesosok bayangan manusia, kemudian dengan kecepatan yang luar biasa bagaikan sambaran kilat di tengah angkasa langsung menyusup ke dalam gua.
Dengan perasaan terperanjat, Ciu Tin tin segera berteriak keras keras .
"Sangkoan tayhiap, jangan bertindak gegabah, ayo cepat mundur dari situ...."
Belum selesai peringatan itu diutarakan tampak Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sudah mencapai tepi mulut gua.
Sayang sekali sebelum tubuhnya sempat menerobos masuk ke dalam gua itu, segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menggetarkan tubuhnya dan melemparkan orang tua itu sejauh dua kaki lebih ke tengah udara.
Ketika terjatuh kembali ke atas tanah dia muntah darah segar dan tak mampu bangkit kembali.
Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera melompat ke depan dengan niat menolong Sangkoan Yong, siapa tahu dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya, ia belum berhasil juga mendekati lokasi tersebut.
Tentu saja peristiwa ini menimbulkan perasaan kaget dan terkesiap bagi kawanan jago tersebut, tanpa terasa semua orang menjulurkan lidahnya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
Akhirnya semua orang harus merepotkan Bu im sin hong Kian Kim siang yang maju ke tempat lokasi, dengan demikian Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang terluka pun dapat dikeluarkan dari lingkaran hawa murni tersebut.
Ditinjau dari kenyataan ini, dimana hanya salah seorang dari empat tokoh sakti yaitu Bu im sin hong Kian Kim siang yang sanggup melewati lingkaran hawa murni itu, para jago seangkatan dengan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sama sama menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.
Sebagai jagoan yang berpengalaman, sebetulnya Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong cukup menyadari resikonya apabila dia menerjang masuk ke dalam gua itu.
Tapi dia nekad juga menyerbu ke depan, hal ini disebabkan ia selalu merasa menyesal dan berhutang budi kepada Thi Eng khi, terutama setelah hatinya benar benar ditaklukkan anak muda tersebut.
Ia selalu berusaha untuk mencari kesempatan guna membalas budi kebaikan pemuda mana.
Semenjak diketahui olehnya bahwa Thi Eng khi Sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan Hian im Tee kun dalam gua, bahkan pertarungan yang sudah berlangsung lama belum juga menghasilkan kemenangan, ditambah lagi sudut pandangan tak mampu mengikuti jalannya pertarungan itu, kesemuanya ini membuat rasa kuatirnya mencapai tingkat tak terkendali.
Pada dasarnya dia memang seorang manusia yang berdarah panas, walaupun kepandaian silatnya masih jauh dibawah kepandaian silat Ciu Tin tin, Bu im sin hong Kian Kim siang atau Pek leng siancu So Bwe leng, namun dalam keadaan gelisah yang tak tertahankan, emosi menguasah seluruh benaknya yang membuat dia tidak memperdulikan segala resikonya.
Bukan cuma dia, Pek leng siancu So Bwe leng yang berdiri disisi Ciu Tin tin pun berperasaan demikian, coba kalau tiada Ciu Tin tin yang setiap saat mencegahnya maju, mungkin sedari tadi dia sudah menyerbu masuk ke dalam gua.
Setelah Cang cong sin kiam Sangkoan Yong tertolong, Hui cun siucay Seng Tiok sian segera turun tangan untuk mengobati luka yang dideritanya.
Namun perasaan kuatir dari para jago ketika itu sudah mencapai tingkatan yang hampir saja tak terkendalikan.
Apalagi pada saat yang bersamaan dari dalam gua lamat lamat kedengaran Hian im Tee kun sedang membentak keras.
"Kau anggap bisa kabur dari sini?"
Menyusul kemudian terdengar ledakan keras yang memekikkan telinga diikuti pusaran angin pukulan yang menyapu keluar dari dalam gua.
Hampir copot rasanya jantung semua orang setelah mendengar kejadian itu.
Kalau didengar menurut nada suara Hian im Tee kun barusan, siapapun dapat mendengar, sudah pasti dalam pertarungan yang berlarut lama Thi Eng khi tak sanggup menahan pengaruh daya kerja obat yang membuat tenaga dalam Hian im Tee kun berlipat ganda lebih dahsyat hingga timbul niatnya untuk melarikan diri.
Namun usahanya itu agaknya tak berhasil karena Hian im Tes kun menghalangi usahanya tersebut secara mati matian....
Situasi semacam ini, dimana mau kabur namun tak berhasil dapat dirasakan para jago sebagai suatu keadaan yang amat pelik bahkan jauh lebih menderita ketimbang dihalangi golok oleh orang lain diatas tengkuk sendiri.
Bu im sin hong Kian Kim siang tak sanggup menahan diri lagi, dia segera membentak keras .
"Lohu akan beradu jiwa!"
Seraya berkata dia langsung menerjang ke arah mulut gua dan bersiap siap membantu Thi Eng khi.
Siapa tahu baru saja badannya mencapai tepi mulut gua, segera terasa olehnya munculnya segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung menghantam dadanya.
Buru buru Bu im sin hong Kian Kim siang mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk mencoba melakukan perlawanan.
Apa mau dikata tenaga yang memancar keluar tersebut betul betul menggidikkan hati, dia dipaksa mencelat ke belakang tanpa berhasil menahan diri.
Coba andaikata ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im yang dimilikinya tidak mencapai tingkatan yang amat sempurna di mana tenaga dalamnya dapat dipergunakan semau hatinya sendiri, mungkin akibat yang dideritanya akan jauh lebih parah daripada keadaan yang dialami Cang ciong sin kiam.
Walaupun dia tidak sampai menderita luka dalam, toh hawa darah yang mengelora didalam dadanya membuat napasnya menjadi sesak dan sukar bernapas.
Cepat cepat dia mengatur napas dan bersemedi sejenak, sebelum segala sesuatunya dapat pulih kembali seperti sedia kala.
Mendadak....
Suasana didalam gua itu menjadi hening, sepi dan tidak kedengaran sedikit suarapun.
Suara pertarungan yang semula bergema dengan ramai, kini telah lenyap, angin puyuh yang menderu deru pun kini mulai memudar dan hilang ....
Semua orang mulai menduga, agaknya nasib Thi Eng khi telah berakhir secara tragis ...
Pek leng siancu So Bwe leng yang pertama tama tak sanggup menahan diri, bagaikan orang yang kehilangan ingatan, dia menjerit keras lalu tanpa memperhitungkan apa akibatnya, dia langsung menerjang ke arah mulut gua.
Ciu Tin tin tidak ketinggalan, dia pun menyusul dibelakang Pek leng siancu So Bwe leng menuju ke arah mulut gua yang diliputi keheningan.
"Mari kita bersama sama mencari gembong iblis tua itu untuk beradu jiwa dengannya!"
Demikian dia berteriak dengan nada amat sedih.
Menyusul kemudian serombongan manusia mengikuti dibelakang mereka, langsung mendekati mulut gua.
Gerakan tubuh Ciu Tin tin dan Pek leng siancu So Bwe leng paling cepat, ketika mencapai mulut gua, para jago masih tertinggal sejauh dua tiga kaki di belakang.
Siapa tahu pada saat itulah, mendadak dari balik gua menggulung keluar lagi sebuah hawa pukulan yang begitu kuatnya, sehingga Ciu Tin tin dan Pek leng siancu So Bwe leng segera terpental dan mundur kembali ke belakang.
Masih untung disamping Pek leng siancu So Bwe leng hadir Ciu Tin tin yang memiliki tenaga dalam amat sempurna, dengan demikian ia berhasil lolos tanpa terluka.
Coba kalau dia berada seorang diri, sudah pasti gadis tersebut akan menderita luka dalam yang parah.
Dengan terjadinya peristiwa ini, suasana diantara para jago menjadi kalut, masing masing pihak segera mengundurkan diri kembali ke tempat semula.
Menyusul kejadian ini, suasana didalam gua pun diliputi keheningan dan ketenangan yang luar biasa.
Setelah ada pengalaman pertama, saat ini siapa pun tak ada yang berani untuk menerjang masuk ke dalam gua.
Pek leng siancu So Bwe leng yang dibuat amat gelisah tak mampu berbuat lain selain menangis tersedu sedu dengan amat sedihnya...
Ciu Tin tin yang lebih tenang, mencoba mencari kabar dengan mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya, akan tetapi tidak memperoleh jawaban dari Thi Eng khi.
Kenyataan ini mulai menggelisahkan gadis tersebut, baru saja dia bersiap hendak menerjang masuk lagi ke dalam gua.
Mendadak terdengar ada orang berteriak dengan suara keras.
"Aaaah, itu dia, sudah muncul! Sudah muncul!"
Tapi menyusul kemudian bergema lagi suara keluhan bernada amat kecewa.
"Aaaah, ternyata dia!"
Nada suaranya penuh diliputi nada sedih.
Tampak Hian im Tee kun munculkan diri dari balik gua dengan langkah sempoyongan, dia menerjang keluar tanpa memandang ke kiri maupun ke arah kanan.
Namun belum sampai satu kaki dia meninggalkan mulut gua tersebut, mendadak ia terhuyung kemudian roboh terjengkang ke atas tanah.
Ciu Tin tin, Bu im sin hong Kian Kim siang, Pek leng siancu So Bwe leng, Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, ketua Siau lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang, si unta sakti Lok It hong, kakak beradik Bu serta Hui cun siucay Seng Tiok sian dan nona Ting Un serentak berlarian seperti angin melewati tubuh Hian im Tee kun yang terkapar ditanah dan menyerbu masuk ke dalam gua.
Sementara di luar gua, kawanan jago dengan wajah murung dan sedih berdiri mematung ditempat semula, Hian im Tee kun telah roboh binasa dengan darah kental bercucuran melalui ke tujuh lubang inderanya.
Hian im ji li Ciu Lan dan Cun Bwee meski sudah meninggalkan jalan sesat dan kembali ke jalan kebenaran, namun setelah menyaksikan iblis tua yang telah memelihara serta mendidik mereka selama belasan tahun tewas dalam keadaan yang begini mengenaskan, tanpa terasa titik titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Selanjutnya...
Suasana disekeliling tempat itu diliputi keheningan yang luar biasa, sedemikian heningnya sampai keadaan terasa mengerikan sekali....
Padahal kenyataan yang sesungguhnya bukan demikian, kejadian tersebut hanya berlangsung di dalam setengah penanak nasi belaka, namun di dalam perasaan semua orang, mereka seakan akan sedang menunggu ribuan tahun saja....
Mendadak, dari balik gua sana berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring.
Menyusul kemudian tampak Thi Eng khi dengan wajah yang cerah, segar dan senyuman dikulum munculkan diri dari dalam gua dengan langkah lebar.
Tempik sorak yang gegap gempita segera bergema memecahkan keheningan.
Ciu Tin tin dan Pek leng siancu So Bwe leng tak mampu menahan diri, serentak mereka berlarian menyongsong pemuda pujaannya dengan pelukan yang mesra.
Beberapa bulan kemudian, Thi Eng khi melangsungkan perkawinannya dengan Ciu Tin tin dan Pek leng siancu So Bwe leng, kehidupan mereka amat bahagia, apalagi setelah kedua istrinya memberi putra putri untuknya, dunia terasa bagaikan sorga.
Sampai disini pula kisah ini dan sampai jumpa lain kesempatan.
TAMAT
Baca Juga: Bara Maharani 4
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 8