Eps 1 Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl
Baca online Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl
Cersil Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.cc/.
RAHASIA 180 PATUNG MAS Disadur oleh .
Gan KL Chapter 1.
Rahasia 180 Patung Mas Wi-ho-lau, Wisma Bangau Kuning, sebuah gedung terletak di tepi sungai Yang-tse, provinsi Oh-lam, Tiong-kok Tengah, sebuah tempat tamasya yang termashur.
Oleh karena kota Bu-jiang dan Wi-ho-lau banyak terdapat tempat yang menimbulkan kenang-kenangan masa lampau, maka banyak pula pelancong dari golongan sastrawan dan seniman yang suka pesiar ke situ, terutama pada wisma Bangau kuning tersebut, malahan banyak pula orang persilatan juga suka ngendon di situ.
Di antara beberapa tempat minum di depan wisma Bangau Kuning itu justru terdapat sebuah rumah minum yang khusus sering menjadi tempat berkumpulnya orang persilatan, yaitu Bu-lim-teh-co, artinya warung minum orang persilatan.
Pemilik Bu-lim-teh-co bernama Wi-ho Lo-jin, si kakek bangau kuning, dulu juga seorang tokoh persilatan yang kini sudah purnawirawan alias pensiun.
Ilmu silat yang dikuasai Wi-ho Lo-jin tergolong tidak tinggi, tapi juga tidak rendah.
Selama beberapa puluh tahun berkecimpung di dunia kang-ouw, dia satu-satunya tokoh yang disukai baik oleh golongan putih maupun oleh kalangan hitam (kaum penjahat), sebab dia tidak pernah bersengketa dengan siapa pun, sebaliknya ia sangat suka menjadi juru damai.
Setiap kali bila terjadi pertengkaran di antara golongan putih dan golongan hitam, bilamana ia pandang urusannya dapat didamaikan, maka dia lantas tampil ke muka untuk melerai.
Mungkin karena caranya menjadi juru damai sangat pandai, maka setiap kali bila ia turun tangan selalu membuat kedua pihak sama puas dan gembira, lama-lama orang persilatan memandang si kakek Bangau Kuning ini seakan-akan semacam bumbu masak yang tidak boleh berkurang bagi dunia persilatan.
Beberapa tahun yang lalu, dalam perjamuan ulang tahunnya yang ke 80, di depan umum ia menyatakan mengundurkan diri dari dunia persilatan, tempat tirakatnya bukan di pegunungan sunyi atau lautan terpencil melainkan hendak berusaha sebuah rumah minum di Wi-ho-lau, diharapkan agar para kawan dunia persilatan sudi mampir sekedar pelepas dahaga di Wi-ho-lau bilamana kebetulan lalu.
Lantaran itulah, pada hari pembukaan Bu-lim-teh-co, suasana menjadi sangat ramai dikunjungi sobat andal, bahkan sampai sekarang keramaian pengunjung itu tidak pernah surut.
Sebenarnya, menurut adat umum, tempat berkumpulnya orang persilatan sukar terhindar dari percekcokan dan perkelahian.
Hanya Bu-lim-teh-co saja harus dikecualikan.
Para pengunjung rumah minum ini, baik dari golongan putih maupun dari kalangan hitam, semuanya dapat berkumpul dengan damai dan sopan-santun, padahal para pengunjung sesungguhnya juga terdiri dari aneka ragam golongan dan aliran, mereka datang dari berbagai penjuru, ada yang cuma kebetulan lalu dan sengaja istirahat melepas lelah di situ, ada yang khusus berkumpul di rumah minum ini untuk membicarakan urusan bisnis, ada yang cuma berjanji untuk mengobrol saja di situ.
Selain itu masih banyak pengunjung dari berbagai kalangan, seperti tukang obat, tukang nujum, tukang sayur, pedagang keliling dan macam-macam lagi.
Terkadang, bilamana lagi iseng, Wi-ho Lo-jin sendiri juga suka duduk di tengah para pengunjungnya dan ikut mengobrol, terutama bercerita mengenai peristiwa menarik di dunia persilatan umumnya.
Dasar Wi-ho Lo-jin memang berbakat mendongeng, setiap kali dia duduk bersama para tetamunya tentu dia dikerumuni orang banyak, seperti kawanan anak kecil yang ribut minta dia bercerita atau berkisah.
Suatu hari, sehabis tidur siang, karena iseng kembali Wi-ho Lo-jin muncul pula di rumah minumnya.
Ia duduk di suatu tempat yang luang, pelayan bernama Su-Jit yang masih muda cepat membawakan sebuah mangkuk minum dan menuangkan semangkuk penuh air teh.
Melihat cara Su-Jit menuang air teh yang cekatan, cepat lagi tepat tanpa tercecer setetes pun, sering orang suka bersorak memujinya dan banyak pula yang percaya pelayan muda itu pandai kung-fu.
Setelah Su-Jit menuangkan air teh bagi Wi-ho Lo-jin, segera ada beberapa orang persilatan mengerumuni lagi kakek itu, seorang di antaranya lantas menyapa.
"Lo-jin, kisah apa yang akan engkau ceritakan hari ini?"
"Tidak ada, hari ini aku cuma ingin menikmati teh saja."
jawab Wi-ho Lo-jin dengan tertawa sambil menggeleng kepala.
Seorang tamu yang merupakan langganan rumah minum ini segera menukas "Harap berceritalah seadanya, sedikitnya 50 tahun Lo-jin berkecimpung di dunia kang-ouw, engkau dikenal sebagai tokoh tertua yang masih ada di dunia persilatan sekarang, apa yang lo-jin lihat dan dengar pasti jauh lebih banyak daripada orang lain, aku yakin pasti masih banyak kisah simpananmu yang belum pernah diceritakan."
"Tidak ada lagi, sudah habis!"
Ujar Wi-ho Lo-jin sambil menggeleng."Segenap isi perutku sudah lama dikuras habis oleh kalian."
"Haha, setiap kali Lo-jin selalu berkata demikian, akhirnya setiap kali pula engkau tetap berkisah lagi sesuatu kejadian yang menarik."
Seru orang itu dengan tertawa.
"Kalian tidak tahu, kisah-kisah itu sebagian besar hanya karangan kosong belaka."
Ujar si kakek dengan tersenyum. Orang pertama tadi menukas.
"Karangan Lo-jin juga cukup menarik, apa pun mohon engkau sudi berkisah lagi."
Wi-ho Lo-jin mengusap jenggotnya yang putih bagai perak, sejenak kemudian ia berdehem lalu berkata.
"Kisahnya, sesungguhnya memang sudah terkuras habis. Biarlah sekarang kita bicara hal-hal yang terjadi di dunia persilatan paling akhir ini."
"Memangnya apa yang terjadi di dunia persilatan akhir-akhir ini?"
Tanya orang itu.
"Aku sendiri tidak begitu jelas."
Ujar si kakek.
"cuma aku dengar banyak tokoh dunia persilatan, baik golongan putih maupun kalangan hitam, semuanya lagi mencari jejak sepasang suami-istri, konon antara suami-istri itu, yang lelaki adalah seorang cacat badan, dan yang perempuan justru seorang nyonya muda yang sangat cantik"
"Oo, bagaimanakah kisahnya?"
Desak orang itu.
"Aku pun tidak begitu jelas. Cuma selama setengah tahun terakhir ini pernah beberapa kawan Bu-lim datang mencari kabar padaku tentang sepasang suami-istri itu, sebab itulah aku tahu ada peristiwa demikian."
"Apakah kawan-kawan Bu-lim yang mencari keterangan kepada Lo-jin itu semuanya tokoh kalangan hitam dan golongan putih?"
"Betul."
"Wah, siapakah mereka?"
"Untuk ini, maaf, tidak dapat aku beritahukan."
"Engkau tidak tanya apa maksud tujuan mereka mencari keterangan suami-istri itu?"
"Aku tanya, tetapi mereka tidak mau menjelaskan."
"Wah, aku kira pada suami-istri itu pasti terdapat sesuatu benda mestika atau barang berharga yang sangat menarik."
Ujar orang tadi.
"Aku kira tidak."
Kata Wi-ho Lo-jin."sebab beberapa orang yang mencari keterangan padaku itu, dua di antaranya terhitung tokoh terhormat dan bersih, dengan kedudukan dan nama baik mereka, mutlak tidak mungkin mereka ikut campur dalam gerakan berebut benda mestika atau harta karun segala."
"Jika begitu, sungguh aneh sekali."
Kata orang tadi.
"Apakah tidak mungkin bahwa suami-istri itu adalah sampah masyarakat dunia persilatan dan setiap orang Bu-lim ingin menumpasnya?"
Tukas kawannya.
"Mungkin juga tidak."
Ujar Wi-ho Lo-jin."Sebab menurut kabar, yang lelaki itu cacat badan berat, yaitu buntung kaki dan tangannya, untuk makan nasi saja harus disuapi oleh istrinya.
Jika dibilang dia adalah barang rongsokan dunia persilatan, buat apa pula orang mesti menumpas manusia yang sudah cacat total itu?"
"Betul, seorang yang sudah buntung kedua kaki dan tangannya, keadaannya boleh dikatakan lebih baik mati dari pada hidup, buat apa lagi membunuhnya?"
Waktu itu, belasan orang tamu yang duduk di sekitar sana ikut tertarik juga oleh cerita Wi-ho Lo-jin ini sehingga beramai ramai mereka pun ikut berkerumun.
Si kakek minum seteguk air teh yang masih hangat itu, ia pandang sekeliling orang banyak lalu bertanya dengan tersenyum.
"Apakah ada di antara hadirin ini tahu lebih jelas peristiwa ini?"
Tiba-tiba seorang tua berusia 50-an dengan golok tergantung di pinggang menanggapi dengan wajah serius.
"Aku kira, sebaiknya kita jangan membicarakan urusan ini!"
"Oo, sebab apa?"
Tanya Wi-ho Lo-jin dengan melengak.
Si kakek baju hijau seperti menguatirkan sesuatu, ia celingukan ke sana-sini, habis itu baru menghela napas perlahan, akhirnya berkata dengan sikap yang tetap serius dan prihatin.
"Aku datang dari Jiang an, sepanjang jalan aku dengar cerita dari dua orang temanku di tempat yang berbeda, baru saja mereka mulai bercerita tentang kedua suami-istri itu, kontan mereka terbunuh oleh am-gi (senjata rahasia) yang tidak jelas dilakukan oleh siapa."
"Hah, bisa terjadi begitu?"
Seru Wi-ho Lo-jin. Si kakek baju hijau mengangguk, katanya.
"Betul terjadi begitu. Pertama kali terjadi di Cip-eng-lau, kota Liong-ki. Seorang kawan bernama Ji-Kiat berjuluk Te-ling-kui (setan bumi cerdik) sedang minum arak dengan beberapa teman, setelah menegak beberapa mangkuk arak, langsung ia menyerocos bercerita tentang suami-istri yang aneh itu. Ketika dia bicara bahwa ia tahu asal-usul kedua suami-istri itu, mendadak ia jatuh terjungkal dari tempat duduknya. Kemudian beberapa temannya menemukan sebatang jarum berbisa di punggungnya."
Ia berhenti sejenak, sesudah celingukan lagi kian kemari, kemudian ia menyambung ceritanya.
"Kejadian yang kedua juga di rumah minum, di kota Siang-yang. Yang berkisah adalah Hu-Jiu-hong, berjuluk Tiang-ci-siu-cai, si sastrawan lidah panjang alias cerewet. Dia juga sedang mengobral ceritanya mengenai suami-istri aneh itu kepada beberapa sahabatnya. Ketika dia menyatakan ia melihat sendiri kedua suami-istri aneh dan kenal sang suami itu adalah ... Pada saat ia hendak mengucapkan nama orang, kontan ia pun roboh terjungkal, senjata yang membinasakan dia juga sebatang jarum berbisa."
Rupanya keterangan kakek baju hijau ini membuat para pendengarnya merasa tegang, air muka hadirin yang berkerumun itu sama berubah pucat dan merinding, mereka sama berpaling dan menoleh kian kemari, seperti kuatir mereka pun akan terbunuh oleh jarum berbisa yang entah akan menyambar dari jurusan mana.
Seketika suasana rumah minum itu berubah sunyi dan mencekam.
Suasana sunyi itu berlangsung hingga cukup lama, akhirnya si pelayan Su-Jit yang memecahkan kesunyian, dia menaruh teko tembaga yang besar itu dengan keras, lalu berseru.
"Hadirin yang terhormat, apakah boleh hamba ikut menimbrung sepatah kata?"
Wi-ho Lo-jin menoleh dengan tercengang, katanya.
"Su-Jit, kau mau bicara apa, silakan bicara!"
Dengan sungguh-sungguh Su-Jit berkata.
"Mengenai kedua suami-istri aneh itu, menurut pendapat hamba sudah bukan sesuatu rahasia lagi. Maksud tujuan orang yang membunuh si setan bumi cerdik Ji-kiat dan si Siu-cai cerewet Hu-Jin-hong jelas adalah untuk menghilangkan saksi hidup."
"Apa ... apa katamu?"
Seru Wi-ho Lo-jin dengan melengong.
Bahwa seorang pelayan rumah minum yang tidak paham ilmu silat ikut bicara kisah rahasia dunia persilatan sudah merupakan kejadian aneh, sekarang dia malahan menyatakan kisah itu bukan lagi suatu rahasia, tentu saja hal ini membuat semua orang melengak heran.
Begitulah semua orang sama memandang Su-Jit dengan tercengang, sebaliknya Su-Jit memberi hormat kepada Wi-ho Lo-jin dan berkata dengan serius.
"Lo-ya (tuan besar), apa yang hamba katakan itu ada dasar buktinya dan bukan cuma bualan belaka."
"Oo, dari mana kau tahu?"
Tanya Wi-ho Lo-jin heran."
"Hamba dengar dari seorang hwe-sio tua."
Tutur Su-Jit.
"Kemarin dulu hwe-sio tua itu minum teh di sini dan menceritakan semua kejadian itu kepadaku ..."
"Mengapa hwe-sio tua itu mau menceritakan kisah misteri dunia persilatan kepadamu?"
Tanya Wi-ho Lojin.
"Dia bilang umumnya orang kuatir rahasia akan bocor, dia justru tidak takut, dia malah minta hamba untuk menceritakan pula kepada setiap orang yang minum teh di sini agar setiap orang persilatan sama tahu peristiwa ini."
"Coba jelaskan, bagaimana ceritanya?"
Tanya pula Wi-ho Lo-jin dengan cepat.
"Dia bilang yang lelaki itu adalah ..."
Baru bicara sampai di sini, mendadak Su-Jit mendongak, wajahnya penuh mengunjuk rasa kaget dan bingung, lalu sinar matanya mulai buram, tubuh pun perlahan terkulai dan akhirnya roboh terjengkang, binasa.
"Jarum berbisa! ... Jarum berbisa!"
"Dia juga terkena jarum berbisa!"
Seketika suasana rumah minum itu menjadi kacau-balau, semua orang sama menyurut mundur sehingga beberapa meja tertumbuk dan terjungkir balik dengan suara gemuruh pecahnya mangkuk piring.
Inilah peristiwa malang pertama yang terjadi di Bu-lim-teh-co selama beberapa tahun menjadi tempat berkumpulnya orang persilatan.
Tentu saja Wi-ho Lo-jin terkejut dan juga gusar.
Cepat ia angkat jenazah Su-Jit, dengan mata melotot dan penuh emosi ia pandang para pengunjung yang berdiri melengong itu, lalu berkata dengan tersenyum pedih.
"Sesungguhnya sia ... siapakah sahabat yang sengaja mencoreng mukaku yang tua bangka ini?"
Hadirin yang berdiri termangu di sekitar situ sama bermuka pucat dan saling pandang belaka tanpa ada yang bersuara.
Kulit muka Wi-ho Lo-jin tampak berkerut-kerut, dengan melotot ia pandang orang banyak dan berkata pula.
"Silakan sahabat tampil ke depan, biar belajar kenal dulu dengan diriku yang tua bangka ini ... Silakan tampil!"
Tapi semua orang tampak berdiri kaku, tiada seorang pun bergeser dari tempatnya. Wi-ho Lo-jin mendengus gusar, tiba-tiba ia berkata kepada dua kakek di sebelahnya.
"Kedua sahabat Sin dan Ko, mohon kalian bantu menjagakan pintu, siapa pun dilarang keluar."
Habis berkata, ia pondong jenazah Su-Jit dan dibawa ke ruang dalam.
Di belakang rumah minum itu masih ada lagi beberapa rumah yang bergandengan dengan rumah minum bagian depan, itulah tempat tinggal pribadi Wi-ho Lo-jin.
Ia bawa Su-Jit menuju ke sebuah kamar yang terletak paling belakang, setelah merapatkan pintu kamar dan dipalang, ia taruh Su-Jit di tempat tidur.
Pada saat itu juga Su-Jit yang dibaringkan di tempat tidur itu mendadak melompat bangun dengan perkasa, ia tanya si kakek dengan suara lirih.
"Siapa yang menyerang dengan senjata rahasia?"
"Seorang lelaki setengah umur berbaju hijau, dia membawa golok, pada kiri dahinya ada bekas luka sepanjang dua-tiga senti, kini masih berbaur di tengah para tetamu, lekas engkau menyamar dan mengeluyur ke luar dari pintu belakang."
jawab si kakek Bangau Kuning dengan tersenyum.
Cepat Su-Jit mendekati almari pakaian, ia keluarkan sebuah rangsel dan mulai menyamar di depan cermin perunggu almari.
Lebih dulu ia tempelkan kumis pendek di atas bibir, alisnya juga ditempel dengan lebih tebal, kemudian ia ganti pakaian sehingga berwujud seorang lelaki setengah baya dengan wajah kereng.
Melihat anak muda itu sudah selesai menyamar, segera Wi-ho Lo-jin membuka pintu kamar, ia melongok dulu keluar, habis itu baru menoleh dan memberi tanda kepada Su-Jit.
"Aman, boleh berangkat sekarang!"
Su-Jit berhenti di samping pintu, katanya dengan hormat kepada Wi-ho Lo-jin.
"Paman Wi, kepergianku ini mungkin tidak leluasa untuk putar balik lagi ..."
Wi-ho Lo-jin menepuk bahu anak muda itu katanya dengan tersenyum.
"Tidak apa, Bila bertemu dengan gurumu, sampaikan saja salamku."
Su-Jit mengangguk, setelah yakin di luar kamar tiada orang lain, cepat ia menyelinap keluar.
Ia buka pintu pagar tembok belakang, setelah mengitari beberapa rumah, sampailah dia di halaman depan Bu-lim-teh-co.
Pada waktu itu juga Wi-ho Lo-jin pun sudah keluar lagi di sana, melihat kemunculan si kakek, orang banyak yang sedang ribut membicarakan kejadian tadi seketika diam.
Segera kakek she Sin yang diminta bantuannya untuk menjaga pintu tadi bertanya.
"Bagaimana anak muda itu, Wi-heng?"
Wi-ho Lo-jin menggeleng kepala, sahutnya sedih.
"Jarum berbisa itu sangat jahat, sukar ditolong lagi!"
Ia menghela napas panjang, lalu berkata pula sambil menatap orang banyak.
"Hadirin sekalian, dulu sebelum aku buka warung minum ini, berulang pernah aku mohon para kawan kang-ouw agar jangan bikin perkara di sini, akan tetapi hari ini toh terjadi juga ... Ai, bilamana Su-Jit seorang persilatan, maka kematiannya masih bisa dimengerti. Namun dia justru tidak paham ilmu silat apa segala, malahan dia anak tunggal keluarga miskin..."
Habis berucap, kembali ia menghela napas menyesal tak terhingga.
"Sekarang silakan Wi-lo-cian-pwe mulai menggeledah, coba siapa yang kedapatan membawa jarum berbisa serupa, maka jelas dia itulah si pengganasnya, biarlah beramai-ramai kita membinasakan dia!"
Yang bicara ini adalah seorang lelaki setengah berbaju hijau, golok tampak tergantung di pinggangnya dan bagian kiri dahi ada bekas luka panjang.
Wi-ho Lo-jin memandangnya sekejap diam-diam ia mendengus, namun lahirnya ia berlagak setuju katanya dengan mengangguk.
"Betul, memang begitulah maksudku, cuma aku kuatir akan membuat susah para sahabat ..."
Orang berbaju hijau itu menukas dengan sikap penasaran.
"Jiwa manusia maha penting, masa harus kuatir bertindak secara tegas. Pendek kata, barang siapa yang hadir di sini saat ini tentu juga patut dicurigai, untuk membebaskan diri dari tuduhan harus siap untuk digeledah tubuhnya."
"Betul, silakan Wi-ho Lo-jin menggeledah saja, kami akan menerimanya dengan baik."
"Benar, setiap orang harus memperlihatkan barang yang dibawanya, satu persatu harus digeledah!"
Begitulah beramai-ramai orang banyak sama menyatakan setuju untuk digeledah, sampai akhirnya, tanpa disuruh sebagian besar orang sudah mendahului mengeluarkan segenap barang bawaan masing-masing dan ditaruh di atas meja.
Maka dengan lagak cermat Wi-ho Lo-jin memeriksa setiap benda yang tertaruh di atas meja, dan lantaran tidak menemukan jarum berbisa, lalu sasaran penggeledahan dilaksanakan atas tubuh setiap orang.
Padahal tahu jelas tak akan menemukan sesuatu, namun caranya menggeledah tetap dilakukan dengan teliti.
Dengan sendirinya, hasilnya tetap nihil.
Wi-ho Lo-jin menghela napas, katanya kepada orang banyak.
"Baiklah, maaf jika telah aku ganggu hadirin, bagi mereka yang ada urusan dan tidak dapat tinggal lama di sini boleh silakan pergi dengan bebas."
"Hai, mana boleh jadi, kan pengganasnya belum ditemukan?"
Seru si kakek she Sin.
"Dari pemeriksaan tadi, para kawan yang hadir di rumah minum ini tidak terdapat membawa jarum berbisa apa pun, mana bisa aku temukan lagi si pembunuh?"
Ujar Wi-ho Lo-jin dengan tersenyum getir. Ia menghela napas, lalu menyambung.
"Tentang kematian Su-Jit, biarlah nanti aku beri santunan pantas kepada ayah-bundanya, hanya ada suatu harapanku yaitu semoga selanjutnya para kawan yang mau minum di sini jangan lagi membikin onar."
Habis berkata ia lantas memohon diri dan masuk lagi ke ruangan belakang.
Karena itulah orang persilatan yang minum teh pun sama membayar dan tinggal pergi, hanya beberapa orang saja yang masih duduk di situ.
Pada saat para tamu sama meninggalkan rumah minum itu, si lelaki baju hijau tadi justru masuk ke ruangan belakang bersama Wi-ho Lo-jin.
Su-Jit yang mengawasi di luar rumah minum segera merasakan gelagat tidak enak.
Ia pikir jika pembunuh itu ikut masuk ke dalam rumah Wi-ho Lo-jin tentu dia mempunyai rencana sesuatu pula, dirinya harus cepat masuk ke sana untuk membantu si kakek.
Begitu timbul pikiran demikian dapat ia masuk ke rumah minum dan langsung menuju ruang belakang.
Para tamu beramai-ramai sedang meninggalkan tempat minum itu, para pelayan juga sibuk membersihkan barang pecah belah yang berserakan di lantai, sebab itulah si lelaki baju hijau dan Su-Jit yang sudah menyamar itu dapat masuk ke ruangan dalam tanpa diperhatikan orang lain.
Untuk mencapai ruangan belakang, lebih dulu harus melalui sebuah serambi kecil, ketika Su-Jit sampai di serambi dilihatnya lelaki berbaju hijau sedang berdiri di situ dan lagi bicara dengan Wi-ho Lo-jin, melihat keadaan itu, cepat Su-Jit menyurut mundur beberapa langkah dan berdiri di balik daun pintu serta berlagak mengangkat sebuah cangkir dan pura-pura minum.
"Mengganggu Wi-lo-cian-pwe pada saat demikian, sungguh tidak pantas."
Kata si lelaki baju hijau.
"Tidak apa."
Ujar Wi-ho Lo-jin."Siapakah nama adik yang terhormat?"
"Cai-he Ih-Wan-hui, berjuluk si tulang besi, Pok-Hong-tai dari Soa-sai adalah guruku."
"Oo, kiranya adik ini murid Pok-tai-hiap. Gurumu terkenal berjiwa luhur dan berhati baik, hal ini sama dikagumi setiap orang persilatan. Dahulu pernah beberapa kali bertemu dengan gurumu. Entah ada urusan apa adik mencari diriku sekarang?"
"Aku dengar tabib sakti dunia persilatan Sai-hoa-to (si duplikat Hoa-To) Sim-Tiong-ho mengasingkan diri di sekitar Wi-ho-lau sini, entah Wi-lo-cian-pwe tahu tidak tempat tinggalnya?"
"Eh, ada urusan apa adik mencari Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho?"
"Soalnya beberapa tahun yang lalu, dalam perjalanan ke arah selatan yang masih liar, sungguh sial guruku ketularan penyakit beracun sehingga sekarang masih terbaring dan belum sembuh. Konon Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho mahir mengobati penyakit darah panas, maka sengaja aku datang mengundangnya untuk mengobati guruku. Bila Wi-lo-cian-pwe tahu tempat tinggal, tolong memberi tahu padaku, sungguh Cai-he akan sangat berterima kasih."
"O, kiranya begitu. Apabila Lau-te (adik) ingin bertemu dengan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, mungkin perlu kau tunggu lagi satu dua hari ..."
"Mengapa harus tunggu lagi satu-dua hari?"
"Kau tahu, watak Sim-lo-ji (Sim tua) sangat aneh, suka menyendiri, meski dia tinggal di sekitar sini namun alamatnya yang jelas juga tidak aku ketahui. Cuma ..."
"Cuma apa?"
"Sim tua juga sering minum teh di sini, bila Lau-te datang kemari besok atau lusa mungkin akan dapat bertemu dengan dia."
"Apakah hari ini dia takkan datang kemari."
"Ya, biasanya tiga atau lima hari dia datang sekali, kemarin dulu dia baru datang ke sini, maka paling cepat besok atau lusa baru datang lagi."
"Jika begitu ..."
"Malam ini Lau-te boleh bermalam dulu di kota, coba datang lagi besok. Jika Lau-te ada urusan lain, silakan meninggalkan alamatmu, bila Sim tua datang, segera aku kirim kabar kepadamu."
"Ah, biarlah besok saja aku datang lagi."
"Boleh juga. Hari ini aku pun harus mengurus jenazah Su-Jit dan tidak dapat melayani Lau-te, sungguh kurang hormat."
"Tidak apa, banyak terima kasih atas petunjuk Wi-lo-cian-pwe, biarlah aku mohon diri saja sekarang."
Bicara sampai di sini, si baju hijau lantas memberi hormat kepada Wi-ho Lo-jin dan memutar tubuh serta lewat di sisi Su-Jit serta meninggalkan Bu-lim-teh-co.
Su-Jit ikut keluar rumah minum dan mengawasi kepergian orang hingga jauh, lalu ia masuk lagi ke dalam, dilihatnya Wi-ho Lo-jin masih berada di serambi, segera ia mendekatinya sambil menyapa dengan tertawa.
"Paman Wi, ucapan si pembunuh itu sudah aku dengar seluruhnya."
"Tampaknya kamu berubah pendirian?"
Ujar Wi-ho Lo-jin dengan tertawa. Su-Jit mengangguk.
"Ya, jika dia ingin mencari Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, biarlah sementara ini tidak perlu aku buntuti dia."
"Kau lihat dia murid Ban-hoa-to Pok-Hong-tai atau bukan?"
"Tentu saja bukan."
Jengek Su-Jit."Tapi dia mencari Sai-hoa-to memang tidak dusta."
Wi-ho Lo-jin tersenyum."Aku tahu kau dengarkan di belakang pintu tadi, juga tahu pendirianmu pasti akan berubah setelah mendengar ceritanya.
Sekarang kau keluar lagi sana, akan aku tunggu di pintu belakang, mari kita pergi bersama mencari Sim tua."
Su-Jit mengiakan dan segera keluar melalui pintu depan rumah minum itu, lalu mengitari ke pintu belakang.
Wi-ho Lo-jin memang sudah menunggu di situ.
Keduanya lantas berangkat ke Wi-go-san dengan langkah cepat.
Wi-go-san umumnya dikenal sebagai Coa-san alias gunung ular, diberi nama ini karena lereng pegunungan itu membentang panjang serupa ular, di bawah gunung terletak sungai Yang-tse dan di tepi sungai berdiri Wi-ho-lau dengan megahnya yang terletak di pangkal gunung.
Jalan yang di ambil kedua orang itu justru bagian ekor dari pegunungan itu.
Setelah melintas lereng gunung dan menyusur hutan beberapa li jauhnya, akhirnya kedua orang itu sampai di depan sebuah rumah gubuk di tepi sungai.
Rumah gubuk itu sudah tua dan bobrok, tapi pemandangan sekitarnya yang indah menandakan penghuni rumah gubuk itu pasti bukan manusia biasa.
Saat itu, tidak jauh di depan rumah gubuk itu terdapat seorang kakek berbaju rombeng sedang berjongkok di tepi sungai, agaknya asyik mengail.
Ketika mendengar suara langkah orang, kakek itu berpaling, demi melihat Wi-ho Lo-jin, kakek itu berseru perlahan.
"Aha tumben! Angin apakah yang membawa Wi-ho Lo-jin ke sini?"
Meski nadanya rada jenaka, namun air mukanya kaku, sekali pandang saja akan tahu kakek ini pasti seorang yang berwatak ketus dan angkuh. Wi-ho Lo-jin tergelak, katanya.
"Haha, tidak ada urusan tentu tidak masuk istana. Sim tua, hendaknya simpan dulu pancingmu."
Kiranya si kakek inilah tabib sakti dunia persilatan, si duplikat Hoa-To (seorang tabib maha sakti di jaman Sam-Kok) Sim-Tiong-ho.
Dia tidak mengangkat pancingnya seperti di minta Wi-ho Lo-jin, ia cuma tersenyum hambar dan menjawab.
"Ada urusan apa kan sama saja dibicarakan di sini."
"Boleh juga."
Ucap Wi-ho Lo-jin, bersama Su-Jit mereka lantas mendekat ke sana. Su-Jit memberi hormat kepada Sim-Tiong-ho sambil menyapa.
"Sim-lo-cian-pwe, terimalah hormatku."
Mestinya Sim-Tiong-ho telah menoleh kembali ke sana untuk memeriksa pancingnya, demi mendengar ucapan Su-Jit, agaknya merasa di luar dugaan, ia berpaling dan memandang Su-Jit dengan heran, katanya.
"Eh, rasanya sudah aku kenal suaramu."
"Coba ingat ingat, mirip siapa suaranya?"
Tanya Wi-ho Lo-jin. Sai-hoa-to diam sejenak, tiba-tiba ia berseru.
"Aha, ingat sekarang. Kamu mirip Su-Jit si pelayan rumah minum itu."
"Betul."
tukas Wi-ho Lo-jin dengan tertawa."Dia memang Su-Jit yang sering kau puji dan pernah ada maksudmu menerimanya sebagai ahli-warismu."
"Haah!"
Sai-hoa-to melengak dan bersuara heran.
"mengapa dia menyamar begini?"
"Ceritanya panjang."
Ujar Wi-ho Lo-jin."Apa bila Sim tua mau mengorbankan beberapa kali arak, bagaimana kalau kita bicara sambil makan di rumahmu?"
Dengan suka ria Sai-hoa-to menyatakan setuju, ia angkat alat pancingnya dan berkata.
"Mari, siang tadi aku masak tiga ekor belut dan belum habis aku makan, kebetulan dapat kita gunakan sebagai teman minum arak."
Ke tiga orang lantas masuk ke rumah gubuk, Sai-hoa-to mengeluarkan arak dan santapan yang tersedia serta menyilakan duduk Wi-ho Lo-jin dan Su-Jit, sembari makan minum ke tiga orang lantas asyik mengobrol.
"Teringat pada tiga bulan yang lalu waktu anak Su-Jit ini baru datang di Bu-lim-teh-co ..."
Demikian Wi-ho Lo-jin mulai bicara dan diseling dengan minum seteguk arak, lalu menyambung sambil menatap Sai-hoa-to dengan tertawa.
"ketika itu Sim tua pernah bilang anak ini sangat berbakat dan menyatakan sayang anak ini sampai bekerja sebagai pelayan, betul tidak?"
Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho mengangguk "Betul! Memangnya aku salah lihat?"
Wi-ho Lo-jin tidak menjawab, ia meneruskan ucapannya.
"Kemudian, kau katakan pula bilamana aku berkenan, kau mau menerima dia sebagai murid, betul tidak?"
"Betul, dan sekarang engkau setuju?"
Sai-ho-to menegas.
"Tidak."
Wi-ho Lo-jin menggeleng dengan tertawa."Hari ini hendak aku katakan terus terang padamu, Su-Jit si anak ini memang sudah menguasai kung-fu yang bagus."
Seketika Sai-hoa-to merasa kurang senang, dengusnya.
"Hm, jika begitu, mengapa tidak kau katakan sejak dulu?"
"Waktu itu, berhubung sesuatu alasan, tidak leluasa aku beri tahu kan duduknya perkara, dan sekarang sudah boleh."
Ujar Wi-ho Lo-jin.
"Yang jelas gurunya bukan dirimu toh?"
Ucap Sai-hoa-to dengan hambar.
"Memang bukan, gurunya ialah Kiam-ho Lok-Cing-hui."
jawab Wi-ho Lo-jin.
Kiam-ho Lok-Cing-hui, si jago pedang sakti terhitung tokoh dunia persilatan nomor dua pada jaman ini, tergolong tokoh sakti yang jarang ada bandingannya, biarpun watak Sai-hoa-to biasanya dingin dan angkuh, tidak urung ia terkejut juga oleh keterangan Wi-ho Lo-jin itu, serunya dengan terbelalak.
"Oo, jadi anak ini murid Kiam-ho Lok-Cing-hui?"
"Betul, aslinya bernama Su-Kiam-eng!"
Tutur Wi-ho Lo-jin dengan tertawa. Dengan tercengang Sai-hoa-to memandangi Su-Kiam-eng, kemudian pandangannya beralih pada wajah Wi-ho Lo-jin, tanyanya dengan tidak mengerti.
"Lantas, sebab apa Kiam-ho Lok-Cing-hui menyuruh muridnya bekerja sebagai pelayan rumah minum?"
"Yang menjadi pelayan adalah Su-Jit dan bukan Su-Kiam-eng!"
Kata Wi-ho Lo-jin. Segera Sai-hoa-to paham maksudnya, kembali ia pandang Su-Kiam-eng dan bertanya.
"Apa maksud tujuan gurumu menyuruhmu menjadi pelayan rumah minum?"
"Mencari seorang Su-heng."
jawab Su-Jit alias Su-Kiam-eng.
"Ada seorang su-heng mu kehilangan jejak?"
Sai-hoa-to menegas.
"Betul."
Su-Kiam-eng mengangguk."Su-heng bernama Gak-Sik-lam, tiga tahun yang lalu atas perintah su-hu menuju ke daerah liar di selatan untuk mencari sejenis bahan obat, yaitu Jian-lian-hok-leng (bahan obat berumur ribuan tahun) ..."
Sampai di sini ia merandek sejenak, dengan tersenyum kemudian meneruskan.
"Sim-lo-cian-pwe adalah tabib sakti dunia persilatan yang tiada bandingannya, tentu engkau tahu khasiat Jian-lian-hok-leng."
"Ya, jian-lian-hok-leng adalah benda mestika yang sukar dicari"
Ucap Sai-hoa-to.
Jika bahan obat mujarab itu diminum orang yang belajar ilmu silat, maka kekuatannya akan bertambah sekali lipat.
Padahal lwe-kang gurumu jelas sudah mencapai puncaknya, untuk apa lagi mencari bahan obat itu?"
"Bukan maksud su-hu hendak menggunakan obat itu untuk menambah tenaga melainkan hendak digunakan sebagai campuran obat untuk menyembuhkan daya ingat seorang nona."
Tutur Su-Kiam-eng.
"Oo, memulihkan daya ingatan?"
Sai-hoa-to menegas dengan tercengang.
"Betul."
Sahut Su-Kiam-eng."Apakah Sim-lo-cian-pwe masih ingat peristiwa malapetaka yang menimpa ke-18 tokoh bu-lim di Hwe-liong-kok lima tahun yang lampau itu?"
"Masih ingat. Tahun itu ke-18 tokoh bu-lim sekaligus dibunuh orang secara keji di Hwe-liong-kok, tapi siapa pengganasnya justru tidak diketahui dan sampai kini masih tetap merupakan perkara buntu yang belum terpecahkan. Memangnya nona yang kau katakan itu ada sangkut-paut apa dengan peristiwa berdarah di Hwe-liong-kok?"
"Nona ini adalah putri salah seorang dari ke-18 tokoh bu-lim yang terbunuh itu, yaitu putri Bu-tek-sin-pian (si ruyung sakti tanpa tandingan) In-Giok-san, namanya In-Ang-bi, usianya sekarang 18 tahun, tapi pada lima tahun yang lampau, setelah ayahnya tertimpa nasib malang, daya ingatan nona In lantas terganggu dan sampai sekarang belum lagi sembuh."
"Mengapa dia bisa kehilangan daya ingatan?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Entah."
jawab Su-Kiam-eng."Akan tetapi ketika terbunuhnya ke-18 tokoh Bu-lim di Hwe-liong-kok, diketahui nona In juga berada di sekitar lembah itu.
Maka menurut pendapat guruku, jika daya ingat nona In dapat disembuhkan, bila jadi akan diketahui siapa pengganas di Hwe-liong-kok itu."
Sai-hoa-to mengangguk.
"Ya, mungkin nona In itu menyaksikan sendiri ketika ayahnya terbunuh, saking sedih dan terguncang perasaannya sehingga kehilangan daya ingat. Tapi di antara tokoh yang tertimpa malang itu ada 12 orang pimpinan atau ketua berbagai aliran dan perguruan, jika ingin mengusut si pengganas, itu kan urusan berbagai aliran dan perguruan mereka, mengapa gurumu perlu mengirim suheng mu jauh-jauh ke daerah liar di selatan sana untuk mencari Jian-lian-hok-leng yang amat sukar ditemukan. Ini kan agak ..."
"Sebabnya guruku mau ikut campur urusan ini."
tukas Su-Kiam-eng dengan tertawa.
"pertama, karena Bu-tek-sin-pian In-Giok-san adalah sahabat karib guruku. Kedua, banyak kawan Bu-lim menyatakan Kiam-ong (raja pedang) Ciong-Li-cin dan guruku adalah jago nomor satu, dan nomor dua dunia persilatan sekarang, adalah pantas bila mereka tampil ke muka untuk bantu mengusut siapa pembunuh itu. Namun Kiam-ong Ciong-Li-cin dikenal sebagai orang yang suka ketenangan dan tidak suka bergerak, maka guruku memutuskan tampil untuk ikut campur urusan ini.
"Ke tiga, kami guru dan murid sama berpendapat, apabila daya ingatan In Ang-bi dapat disembuhkan dan tetap tidak sanggup menerangkan siapa si pengganas di Hwe-liong-kok itu, hal ini pun tidak menjadi soal, yang penting kewarasan seorang nona dapat dipulihkan juga sesuatu amal kebaikan. Aku kira Sim-lo-cian-pwe pun sependapat dengan kami."
Habis berkata ia angkat poci dan menegak arak. Muka Sai-hoa-to tampak merah, ia angkat bahu dan menjawab.
"Mungkin kau benar. Coba teruskan lagi!"
Su-Kiam-eng menaruh kembali cangkir araknya dan menyambung.
"Su-heng ku itu tahun ini berusia 32 tahun, sejak kecil hingga tiga tahun yang lalu ketika dia berangkat ke daerah selatan, selama itu ia gemar memelihara burung merpati, sering ia membawa burung dara piaraannya dalam perjalanannya dan dilepaskan dari tempat jauh agar burung-burung itu terbang pulang ke rumah. Ketika ia berangkat ke daerah liar di selatan itu dengan sendirinya kesempatan itu tidak di-sia-sia-kan, sekaligus ia bawa enam ekor burung dara piaraannya. Ia meninggalkan pesan, katanya bila menemukan Jian-lian-hok-leng, lebih dulu ia akan mengirim berita melalui burung merpatinya."
Sampai di sini ia mengeluarkan dua helai kertas surat penuh bekas lipatan, lalu berumur pula.
"Delapan bulan kemudian, melalui burung merpatinya kami menerima suratnya yang pertama. Tapi surat ini ternyata bukan surat pertama yang ditulisnya melainkan surat ke tiga, atau dengan lain perkataan suratnya yang kedua dan ke tiga yang dikirim melalui merpatinya tidak kami terima, bisa jadi burung merpatinya tersesat di tengah jalan.
"Surat ke tiga ini tertulis demikian, 'Te-cu sudah tiba di Mo-pan-san, cuma sampai di sini Te-cu pun menghadapi jalan buntu. Tiga kuli pemikul yang aku sewa di Teng-ciong sama takut binatang pegunungan dan sama kabur di tengah malam, rangsum yang aku bawa juga sudah habis beberapa hari yang lalu, sekarang Te-cu hidup dari makan buah-buahan liar atau daging binatang. Cuaca di sini pun berubah tidak menentu, sebentar dingin lain saat panas, malam pun sukar pules. Mestinya Te-cu dapat putar balik, namun perjalanan sudah sejauh ini, sebelum menemukan Jian-lian-hok-leng rasanya tidak rela. Apalagi aku tahu Su-hu dan Su-te sedang menantikan kepulanganku dengan membawa Jian-lian-hok-leng, maka semoga Thian memberkahi agar selekasnya dapat aku temukan obat mujarab tersebut ..."
"Dari surat itu barulah kami tahu Su-heng mengalami penderitaan di daerah liar itu dan setiap saat jiwanya bisa amblas. Selang sebulan pula, kembali kami menerima sepucuk suratnya. Tapi surat ini ada tanda 'enam', rupanya sebelum surat ke enam ini kembali ada dua ekor burung merpatinya tersesat pula dan tidak pernah pulang ke rumah.
"Surat ke-enam itu tertulis. 'Aku tahu tangan elmaut yang dingin itu tidak lama lagi akan meraba mukaku, pada detik terakhir ini harapanku hanya semoga peta bumi yang dibawa merpati ke-lima itu akan sampai di tangan Su-hu dengan selamat, dengan damikian Su-hu atau Kiam-eng akan tahu di mana letak Kim-sia, Kota Emas yang terpendam selama ribuan tahun ini sungguh megah dan cemerlang sehingga sukar untuk dipercaya di dunia ada bangunan sehebat ini. Di kota emas ini ada istana emas murni dan gedung megah yang dibangun dengan balok batu raksasa, yang paling berharga adalah ke 180 patung emas yang aku ceritakan dalam suratku yang ke lima, yaitu mengandung sejurus ilmu pedang yang tidak ada taranya. Sayang ajalku sudah dekat, sukar bagiku untuk mempelajarinya, semoga Su-hu atau Kiam-eng Su-te tidak lama lagi dapat datang kemari, dengan demikian jerih-payahku takkan tersia-sia dan mati pun aku akan tentram' ..."
Habis membaca isi surat, Su-Kiam-eng memandang Sai-hoa-to dengan tersenyum getir, katanya.
"Sekarang Sim-lo-cian-pwe tentu paham duduknya perkara."
Dengan penuh rasa heran Sai-hoa-to bertanya.
"Jadi maksudmu di tengah hutan belukar di daerah selatan sana su-heng mu menemukan sebuah kota purba?"
"Begitulah."
Su-Kiam-eng mengangguk."Cuma sayang peta bumi yang dikirim melalui merpati ke-lima itu tidak pernah kami terima."
Makin menjadi rasa heran Sai-hoa-to, gumamnya sambil menatap Wi-ho Lo-jin.
"Istana emas? 180 patung emas? Cara bagaimana menilai harta benda sebanyak itu? Apa lagi di dalam ke-180 patung emas itu tersembunyi pula sejurus ilmu pedang yang tiada taranya? Masya Allah!"
"Hm, tampaknya Sim tua juga tergelitik?"
Ucap Wi-ho Lo-jin dengan tersenyum.
"Mengapa tidak?"
Seru Sai-hoa-to bersemangat.
"Jika dapat membawa pulang emas sebanyak itu, bukankah akan lebih kaya daripada negara, bahkan dapat menjadi seorang ahli pedang tiada tandingan sejagat."
"Hm, biar aku beri tahukan padamu."
Jengek Wi-ho Lo-jin."Saat ini sudah banyak tokoh dari berbagai kalangan yang berkepandaian jauh lebih tinggi daripada dirimu sedang mengincar kota emas itu, tokoh semacam Sim tua kalau ikut-ikutan hendak berebut harta karun, aku kira sama dengan mengantar kematian belaka."
"Oo, jadi rahasia ini sudah tersiar?"
Sai-hoa-to menegas dengan air muka berubah. Wi-ho Lo-jin mengangguk, katanya kepada Su-Kiam-eng.
"Coba ceritakan lanjutannya, nak!"
Su-Kiam-eng menghela napas perlahan ucapnya.
"Setelah kami menerima surat terakhir su-heng itu, sungguh rasa cemas kami sukar dilukiskan, tapi lantaran kami tidak tahu persis tempat su-heng menghadapi bahaya, pula dari nada isi suratnya, agaknya dia sudah tiba sampai di titik yang sukar dipertahankan lagi, jangankan dalam waktu singkat tidak mungkin kami menuju ke Mo-pan-san yang terletak beribu li jauhnya, seumpama dapat mencapai tempatnya juga sukar menemukan su-heng di tengah hutan belukar seluas itu. Sebab itulah terhadap nasib su-heng yang sedang menghadapi maut itu terpaksa aku tidak mampu berbuat apa pun.
"Dengan sendirinya pernah aku mohon agar Su-hu mengizinkanku pergi ke Mo-pan-san untuk mencari su-heng, waktu itu su-hu pun bermaksud meluluskan, tapi pada saat itu juga tiba-tiba kami dengar ada orang menemukan sepotong Jian-lian-ho-siu-oh (bahan obat Ho-siu-oh berumur ribuan tahun) di Tong-pek-san, su-hu menganggap Ho-siu-oh sebagus itu juga dapat menyembuhkan penyakit In-Ang-bi, maka su-hu lantas mengajak wan-pwe menuju ke sana. Siapa tahu setiba di Tong-pek-san, baru diketahui berita tentang ditemukannya Ho-siu-oh itu cuma isyu belaka, tentu saja kami sangat kecewa. Lantaran itu kami telah membuang waktu tiga bulan dengan percuma, maka su-hu lantas mengutamakan menyuruh wan-pwe mencari jejak su-heng di Mo-pan-san sekaligus juga mencari Jian-lian-hok-leng. Akan tetapi ketika kami pulang dari Tong-pek-san, sampai di rumah kami justru menemukan sesuatu peristiwa aneh."
"Peristiwa aneh apa?"
Cepat Sai-hoa-to menegas.
"Kami menemukan tulisan yang ditulis su-heng di dinding kediaman kami."
"Hah, maksudmu su-heng mu tidak meninggal?"
Seru Sai-hoa-to.
"Betul."
Tutur Su-Kiam-eng dengan prihatin."Cuma tulisan di dinding itu bukan tulisan tangan su-heng melainkan diuraikan oleh su-heng dan ditulis oleh seorang perempuan."
"Oo, jadi tulisan itu palsu?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Tidak palsu, meski tulisan di dinding itu bukan ditulis sendiri oleh su-heng, namun pada akhir tulisan itu ada kode istimewa, kode itu hanya diketahui oleh kami bertiga antara guru dan murid. Sebab itulah dapat dipastikan tulisan itu asli diuraikan oleh su-heng dan ditulis oleh seorang lain."
"Mengapa su-heng mu tidak menulis sendiri?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Sebab su-heng sudah berubah menjadi seorang cacat buntung kaki dan tangan!"
"Hahh, mengapa bisa begitu?"
"Begini bunyi tulisan di dinding itu. 'Su-hu tentu tidak menyangka te-cu dapat pulang ke rumah dengan hidup? Ya, bilamana tidak ditolong oleh Kalana yang berbudi, tentu te-cu sudah terkubur di tengah hutan belukar daerah liar sana. Hari ini, dengan penuh rasa gembira te-cu dapat pulang kemari, namun ternyata Su-hu dan Kiam-eng Su-te tidak berada lagi di sini, aku yakin kalian pasti menerima surat dan peta bumi yang aku kirim pulang itu dan sekarang telah berangkat ke sana untuk mencari ... bukan?' ..."
"Mencari apa lanjutannya?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Dengan sendirinya Kota Emas yang dimaksud, cuma kedua huruf itu sudah dihapus orang!"
"Oo, siapa yang menghapusnya!"
"Entah. Pada akhir tulisan su-heng itu diberi tanggal 28 bulan 11, sedangkan kami pulang sampai di rumah adalah tanggal 2 bulan 12. Itu berarti empat hari sesudah su-heng meninggalkan tulisan itu kami lantas sampai di rumah juga. Dan di dalam empat hari itu pasti ada orang persilatan masuk juga tempat hunian kami dan menghapus kata-kata yang penting pada tulisan su-heng itu. Apa yang diperbuat orang itu tentunya sengaja membuat kami guru dan murid tidak tahu bahwa su-heng menemukan kota emas dengan harta karunnya."
"Hm, jika begitu, peta bumi yang dikirim su-heng mu itu pasti telah didapatkan oleh orang itu."
"Ya, aku pun berpikir begitu."
"Apakah cuma begitu saja tulisan di dinding itu?"
"Tidak, ada lanjutannya, begini tulisnya 'Sungguh bagus sekali, asalkan kalian mencarinya menurut peta, pasti ... itu akan ditemukan dan juga Jian-lian-hok-leng yang te-cu simpan di ... itu, dengan demikian tidak sia-sia pengalaman pahit te-cu.'"
"Su-hu, bilamana engkau dan Kiam-eng pulang dari ... dan membaca tulisan di dinding ini, tentu kalian akan merasakan tulisan ini bukan tulisan tangan te-cu. Memang betul, tulisan ini memang ditulis oleh Kalana, yaitu lantaran sesuatu sebab, te-cu kini sudah berubah menjadi orang cacat buntung tangan dan kaki, karena itulah te-cu sudah putus asa, tapi lantaran cinta Kalana yang teguh dan murni membuat te-cu tidak sanggup meninggalkan dia, maka selanjutnya te-cu akan menyambung sisa hidup di bawah perawatan Kalana."
"Untung juga ... yang kami bawa dari ... ini rasanya cukup untuk bekal selama hidup kami. Tentu Su-hu sangat ingin tahu sebab musabab cacatnya te-cu. Namun te-cu tidak ingin memberi tahukan hal ikhwal ini, pula te-cu tidak ingin bertemu lagi dengan kalian, Kalana sudah memutuskan akan membawa te-cu mengasingkan diri ke suatu tempat yang terpencil, harap Su-hu menganggap te-cu sudah meninggal saja!' ..."
Sampai di sini tanpa terasa air mata Su-Kiam-eng bercucuran, duka luar biasa.
"Sudah habis?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Ya, cuma sekian."
Kiam-eng mengangguk.
"Dan kamu lantas mulai mencari su-heng mu Gak-Sik-lam ke mana-mana?"
Kembali Kiam-eng mengangguk.
"Ya, sebab pada hakikatnya kami tidak pernah menerima peta bumi yang dikirim su-heng itu, dengan sendirinya kami pun tidak mampu menemukan kota emas itu, sebab itulah wan-pwe bertekad menemukan kembali su-heng, dengan sendirinya tujuan kami bukan mengenal kota emas dan ilmu pedang sakti, kami cuma menghendaki Jian-lian-hok-leng yang ditinggalkan su-heng di kota emas itu. Kami menganggap membuat pulih kesehatan In-Ang-bi jauh lebih berharga dari pada mendapatkan kota emas itu."
Sai-hoa-to manggut-manggut, katanya dengan gegetun.
"Ya jiwa luhur kalian guru dan murid sungguh membuatku malu dan juga kagum. Tapi kedatangan Su-lau-te menemuiku ini, jika maksudmu meminta aku obati penyakit anak perempuan itu maaf, terpaksa harus aku katakan aku pun tidak sanggup. Sebab seperti apa yang dikatakan gurumu, penyakit anak perempuan hanya dapat disembuhkan dengan obat campuran Jian-lian-hok-leng atau Ho-siu-oh."
"Eh, jangan terburu-buru, Sim tua."
tukas Wi-ho Lo-jin dengan tertawa.
"Yang diminta adalah bantuanmu untuk mencari su-heng nya dan bukan minta tolong mengobati anak perempuan she In itu."
Sai-hoa-to melengak.
"Minta bantuanku mencari su-heng nya?"
"Betul, entah sebab apa, misteri tentang su-heng nya menemukan kota emas di tengah rimba purba dan pulangnya dia ke Tiong-goan mulai diketahui orang luar. Karena itulah banyak tokoh dari berbagai kalangan lama ingin mencari su-heng nya dan memaksa dia menceritakan di mana letak kota emas. Malahan melihat gelagat akhir-akhir ini, sangat mungkin su-heng nya telah jatuh dalam cengkeraman seorang tokoh tertentu ..."
"Tapi aku kau tidak tahu su-heng nya berada dalam cengkeraman siapa, cara bagaimana dapat aku bantu dia?"
Ujar Sai-hoa-to dengan bingung.
"Sim tua, engkau dapat membantunya, jika mau cukup engkau mengangguk saja."
Ujar Wi-ho Lo-jin dengan tersenyum.
****** Lewat lohor esoknya, Bu-lim-teh-co yang terletak di depan Wi-ho-lau itu kembali ramai lagi serupa rumah minum yang lain.
Satu-satunya perbedaan antara Bu-lim-teh-co dengan rumah minum lain adalah tamu Bu-lim-teh-co kebanyakan terdiri dari tokoh bu-lim, maka langganan tetap tidak banyak, yang masuk keluar hampir seluruhnya berwajah asing.
Akan tetapi dalam pandangan pelayannya hari ini justru ada sebuah wajah yang cukup dikenalnya.
Dia bukan lain daripada orang yang kemarin juga datang minum, orang yang membunuh Su-Jit dengan jarum berbisa, kemudian mencari keterangan alamat Sai-hoa-to kepada Wi-ho Lo-jin dan mengaku sebagai murid Ban-hoa-to Pok-Hong-tai serta memperkenalkan namanya sebagai Ih-Wan-hui itu.
Pagi-pagi dia sudah datang di Bu-lim-teh-co, setelah tegur sapa dengan Wi-ho Lo-jin segera ia ambil tempat duduk di suatu sudut sana dan berlangsung sampai sekarang.
Wi-ho Lo-jin sendiri, seperti biasa, setelah tidur siang, kembali ia muncul lagi di ruang depan rumah minumnya serta menegur sapa dengan kawan bu-lim yang menjadi langganannya.
Akhirnya ia mendekati Ih-Wan-hui yang berjuluk Thi-kut alias tulang besi, tanyanya dengan tertawa.
"Apakah sudah makan siang?"
Ih-Wan-hui menjawab dengan hormat.
"Sudah, tentu Wi-lo-cian-pwe juga sudah makan."
Wi-ho Lo-jin mengangguk, ia pandang keluar rumah minum, katanya.
"Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho yang kau tunggu itu biasanya muncul pada waktu seperti sekarang ini, bilamana sebentar lagi tidak datang ... aha, itu dia, baru datang ... Lihat, itu orang tua yang berbaju tambalan itu."
Benar juga, si tabib sakti Sim-Tiong-ho saat memang sedang memasuki rumah minum.
Ia seperti sudah mempunyai tempat duduk yang tetap, begitu masuk langsung ia menuju ke sebuah meja yang terletak bagian dalam di sebelah kanan.
Cepat Wi-ho Lo-jin berseru.
"Hei, Sim tua, duduklah kemari!"
Sai-hoa-to berpaling dan bertanya.
"Ada urusan apa?"
Wi-ho Lo-jin menuding Ih-Wan-hui yang duduk bersamanya.
"Ih-lau-te ini hendak mencarimu, dia sudah menunggu sejak kemarin."
Sai-hoa-to memandang Ih-Wan-hui sekejap, lalu mendekat sambil menanggalkan caping dan ditaruh di atas meja, dipandangnya pula Ih-Wan-hui, lalu memandang juga Wi-ho Lo-jin, tanyanya.
"Ada urusan apa mencari diriku?"
Lebih dulu Wi-ho Lo-jin memperkenalkan mereka berdua, lalu berkata kepada Sai-hoa-to.
"Menurut cerita Ih-lau-te ini, gurunya Pok-tai-hiap, terserang penyakit gas racun, maka hendak minta pertolonganmu untuk mengobatinya, sejak kemarin ..."
"Tidak, letak Soa-sai terlalu jauh, aku tidak dapat pergi ke sana."
Potong Sai-hoa-to sebelum ucapan Wi-ho berakhir.
"Eh, biasanya Sim tua terkenal lebih unggul daripada tabib lain, baik ilmu pertabiban maupun cara pelayanannya. Mengapa sekarang kau tolak menolong orang?"
Ujar Wi-ho Lo-jin. Dengan santai Sai-hoa-to menjawab.
"Letak Soa-sai hampir ribuan li jauhnya, pergi-pulang sedikitnya diperlukan waktu sebulan. Coba pikir, dalam waktu sebulan bukankah dapat aku tolong orang sakit terlebih banyak di sini?"
"Sin-lo-cian-pwe."
Mohon Ih-Wan-hui dengan sangat.
"kedatanganku dari jauh ini, bila tidak berhasil mengundang Sim-lo-cian-pwe ke sana, sungguh Cai-he malu untuk pulang lagi ke rumah. Maka sedapatnya mohon Sim-lo-cian-pwe suka mengingat sedikit kebaktianku terhadap guru ini, apa pun juga mohon Sun-lo-cian-pwe sudi berangkat ke Soa-sai untuk mengobati penyakit guruku, sungguh budi kebaikanmu tentu takkan kami lupakan, tentang biaya pasti juga akan kami tanggung sepenuhnya."
Sai-hoa-to melirik Wi-ho Lo-jin sekejap, katanya kemudian.
"Ehmm, umpama dapat aku sembuhkan penyakit gurumu, kira-kira kau berani bayar berapa?"
"Silakan Lo-cian-pwe menyebutkan saja jumlahnya."
Kata Ih-Wan-hui.
"Ucapanmu agak kurang jelas."
Ujar Sai-hoa-to.
"Lebih baik kita pastikan saja honorarium yang harus kau bayar."
"Jika begitu, hendaknya Sim-lo-cian-pwe jangan sungkan, silakan mengatakan jumlahnya."
Kata Ih-Wan-hui.
"Coba katakan dulu, gurumu terkena penyakit gas racun apa?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Hal ini pernah kami minta keterangan beberapa tabib setempat, ada yang bilang racun ini dan ada yang mengatakan racun itu, tapi obat yang diberikan tidak ada yang manjur. Sebab itulah sesungguhnya terkena gas racun apa sukar untuk aku katakan."
Sai-hoa-to manggut-manggut dan berpikir sejenak, aku tanya kemudian.
"Wah, tentu gas racun yang sangat lihai. Begini saja, gurumu juga tokoh bu-lim yang dihormat dan disegani, mengingat sesama kaum, biarlah aku hitung agak ringan, boleh kalian bayar saja seribu tahil perak."
"Baik."
jawab Ih-Wan-hui tanpa ragu sedikitpun.
"asalkan penyakit guruku dapat disembuhkan, biarpun tambah lagi sedikit juga tidak menjadi soal."
"Dan, dari jumlah tersebut harus dibayar separuh lebih dulu."
Sambung Sai-hoa-to. Segera Ih-Wan-hui mengeluarkan lima potong emas murni dan disodorkan kepada Sai-hoa-to, katanya.
"Ke lima potong emas ini kalau di nilai dengan perak tepat berjumlah 500 tahil, harap lo-cian-pwe menerimanya."
Tanpa sungkan Sai-hoa-to menerima ke lima potong emas itu dan disimpan dalam baju, lalu ia tanya pelayan yang datang menuang teh.
"Li-Hok, mengapa hari ini tidak aku lihat bocah Su-Jit itu?"
"Kiranya Sim-lo-ya-cu belum tahu, Su-Jit sudah mati dianiaya orang kemarin."
Tutur si pelayan bernama Li-Hok dengan sedih.
"Hahh, apa betul?"
Seru Sai-hoa-to kaget dan memandang Wi-ho Lo-jin.
"Betul."
jawab Wi-ho Lo-jin dengan menghela napas duka.
"Begini peristiwanya ..."
Lalu ia ceritakan apa yang terjadi kemarin. Sai-hoa-to menggeleng kepala penuh penyesalan, ucapnya.
"Ini namanya penyakit masuk melalui mulut, petaka timbul dari mulut. Jika kalian dapat meniru diriku, setiap hari selain mengobati orang dan mencari duit, terhadap urusan lain tidak perlu tahu, kan segalanya menjadi aman tentram?"
Tampaknya Ih-Wan-hui tidak tertarik untuk membicarakan kejadian kemarin, segera ia menukas.
"Sim-lo-cian-pwe, ada suatu permohonanku yang kurang pantas ..."
"Urusan apa?"
Potong Sai-Hoa-To.
"Penyakit guruku terasa sudah gawat, apakah lo-cian-pwe sudi segera berangkat bersamaku?"
Sai-hoa-to tertawa.
"Paling cepat kan juga perlu tunggu selesai aku minum teh dulu?"
Ih-Wan-hui tidak berani banyak omong lagi, ia mengangguk.
"Ya, tentunya lo-cian-pwe juga perlu pulang dulu untuk bebenah."
"Tidak perlu, sepanjang tahun selalu beginilah pakaianku, bilamana mengobati orang juga aku laksanakan di tempat, obat kan terdapat di mana-mana, maka tidak pernah aku bawa peti obat segala."
Segera Wi-ho Lo-jin menukas.
"Begitulah tabib sakti kita ini memang punya kepandaian sejati, sama sekali berbeda daripada tukang obat dunia kang-ouw umumnya, untuk ini Ih-lau-te tidak perlu kuatir."
"Betul."
Sambung Ih-Wan-hui.
"sudah sering aku dengar Sim-lo-cian-pwe sanggup menghidupkan orang mati, terlebih dalam hal mengobati keracunan bahkan sukar ada tandingannya ..."
Sampai di sini, ia pandang Sai-hoa-to dan bertanya.
"Apakah waktu muda Lo-cian-pwe dahulu pernah mengunjungi daerah selatan yang masih liar itu?"
Sai-hoa-to mengangguk, jawabnya dengan pongah.
"Ya, malahan pernah aku tinggal di sana selama sepuluh tahun hingga cukup memahami segala macam gas racun."
"Wah, dapatkah Lo-cian-pwe memberi sedikit petunjuk, sesungguhnya gas racun itu benda macam apa?"
Tanya Ih-Wan-hui dengan rasa kagum. Sai-hoa-to minum teh seceguk, lalu bertutur.
"Gas racun artinya hawa beracun sangat banyak ragamnya dan kebanyakan ditemui di hutan belukar daerah panas. Dari berbagai macam gas racun itu terbagi pula gas racun berwujud dan tidak berwujud. Yang berwujud dapat berbentuk serupa kabut atau mega, yang tidak berwujud adalah sejenis bau busuk atau bau harum yang tersebar di udara dan menyerang orang tanpa dapat dijaga. Ada lagi sejenis gas racun maha lihai, ketika mula-mula berjangkit di tengah hutan belukar akan terpancar cahaya emas dan tersebar di udara bagai hujan, lalu tercerai-berai dan memancarkan cahaya aneka warna dengan bau harum merangsang, barang siapa mencium bau harum itu seketika akan keracunan, kalau berat bisa binasa seketika."
Ih-Wan-hui tampak sangat kagum oleh cerita tabib sakti itu, tanyanya pula.
"Gas racun seperti apa yang digambarkan Lo-cian-pwe itu apakah tidak dapat ditangkal dengan obat?"
"Dapat."
jawab Sai-hoa-to.
"Dahulu waktu aku tinggal di daerah selatan, pernah juga aku buat beberapa macam pil penangkal gas racun. Cuma obat ini hanya berguna bagi orang yang kenal berbagai jenis gas racun itu, bagi orang yang tidak tahu, biarpun aku beri obat penangkal racun itu juga percuma, sebab jenis gas racun itu tidak kau kenal, tentu kau pun tidak tahu harus menggunakan obat penangkal yang mana maka kendati kau bawa obat penangkalnya juga sama saja seperti tidak ada."
"Minum saja satu biji setiap macam obat penangkal itu, kan jadi?"
Kata Ih-Wan-hui.
"Hm, enak saja kau bicara."
Jengek Sai-Hoa-To.
"Setiap macam obat penangkal racun adalah obat berkadar keras, bila diminum seperti gagasanmu itu, sebelum kau mati kena gas racun sudah mati lebih dulu keracunan obat yang kau minum itu."
Ih-Wan-hui menjulurkan lidah, katanya.
"O, kiranya demikian, Cai-he memang tidak paham soal obat-obatan, kalau tidak ada penjelasan Lo-cian-pwe sekarang, bisa jadi ... Eh, lo-cian-pwe, aku kira kira dapat berangkat sekarang?"' Sai-hoa-to menghabiskan isi mangkuknya, ia ambil capingnya dan dipakai, lalu berbangkit dan berkata.
"Baik mari berangkat!"
Segera Ih-Wan-hui mengucapkan terima kasih kepada Wi-ho Lo-jin dan membayarkan rekening minum Sai-hoa-to, habis itu baru mereka meninggalkan Bu-lim-teh-co.
Setelah meninggalkan rumah minum itu, segera Sai-hoa-to bertanya.
"Ih-lau-te, cara bagaimana perjalanan kita ke Soa-sai ini?"
"Apakah Lo-cian-pwe biasa naik kuda?"
Tanya Ih-Wan-hui.
"Boleh juga, naik kuda akan jauh lebih enak daripada berjalan kaki."
Ujar Sai-hoa-to.
"Jika begitu, setelah kita menyebrang sungai segera kita membeli kuda."
Kata Ih-Wan-hui.
Begitulah sambil bicara mereka terus meninggalkan Wi-go-san, setelah beberapa li menuju ke utara, sampailah mereka di suatu jalan sunyi.
Tiba-tiba Ih-Wan-hui menuding hutan tidak jauh di sebelah kiri sana dan berkata.
"Lo-cian-pwe, marilah kita istirahat dulu di hutan sana."
"Hei, usiamu baru 40-an, terkenal sebagai murid Pok-Hong-tai yang disegani itu, mengapa baru menempuh perjalanan sekian jauh lantas merasa lelah?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Ah, bukan lantaran lelah melainkan kemarin malam aku mondok di kelenteng bobrok dalam hutan sana, ada sesuatu barangku tertinggal di sana dan sekarang hendak aku ambil."
Tutur Ih-Wan-hui jangan tertawa.
"Jika begitu, bolehlah sekalian kita istirahat dulu baru lewat lohor, panas sinar matahari memang menyengat."
Sai-hoa-to menyatakan setuju.
Masuk ke dalam hutan, benar juga terlihat sebuah biara bobrok, segera Ih-Wan-hui mendahului masuk ke situ, dari bawah meja sembahyang dikeluarkannya sebuah bungkusan.
Lalu duduk di lantai, mengeluarkan handuk untuk mengusap keringat yang membasahi dahinya.
"Lo-cian-pwe tidak tampak berkeringat, suatu bukti memiliki lwe-kang luar biasa sungguh sangat mengagumkan."
Katanya dengan tertawa. Sai-hoa-to ikut duduk di lantai, jawabnya dengan tersenyum.
"Ah, tidak berkeringat bukan lantaran lwekang ku tinggi melainkan karena ketenangan batin menjadi tubuh pun sejuk."
"Apakah dahulu Lo-cian-pwe pernah bertemu dengan guruku?"
Tanya Thi-kut Ih-Wan-hui, si tulang besi. Sai-hoa-to menggeleng.
"Belum pernah bertemu. Nama kebesaran gurumu sudah lama aku dengar, cuma sayang tidak sempat berkenalan langsung."
Ih-Wan-hui memandang kanan-kiri beberapa kejap tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula.
"Ada suatu urusan hendak aku katakan terus terang, mohon nanti Lo-cian-pwe jangan marah."
"Oo, urusan apa?"
Sai-hoa-to menegas dengan terbelalak.
"Begini."
Ucap Ih-Wan-hui dengan tersenyum.
"sesungguhnya cai-he bukan murid Ban-hoa-to Pok-Hong-tai dari Soa-sai, apa yang aku katakan di rumah minum itu semuanya cuma karangan belaka."
Seketika berubah air muka Sai-hoa-to dan serentak ia berdiri, katanya.
"0, kiranya begitu. Memangnya antara kita pernah ada sesuatu sengketa?"
"Tidak pernah, hendaknya Sim-lo-cian-pwe jangan salah paham."
Sahut Ih-Wan-hui sambil goyang-goyang kedua tangan.
"Jika tidak pernah bersengketa apa pun, mengapa kau tipu diriku ke sini, apa tujuanmu?"
Tanya Sai-hoa-to dengan gusar.
"Cai-he ingin membicarakan sesuatu urusan dengan Sim-lo-cian-pwe harap duduk saja agar dapat bicara dengan baik."
Sai-hoa-to mendengus, perlahan ia duduk kembali, dengan sikap bermusuhan katanya.
"Jika kamu bukan murid Pok-Hong-tai, rasanya perlu aku belajar kenal dulu dengan namamu yang terhormat."
"Nama dan julukanku tidak palsu, cai-he memang benar Thi-kut Ih-Wan-hui adanya."
"Tentunya juga kawan dari segolongan?"
Tanya Sai-hoa-to dengan ketus.
"Boleh juga dikatakan demikian. Tapi mohon Lo-cian-pwe percaya padaku, sama sekali tidak ada maksud jahat aku ajak Lo-cian-pwe ke sini."
"Baik, silakan bicara saja, sesungguhnya urusan apa yang hendak kau bicarakan denganku?"
"Kami ingin mengundang Lo-cian-pwe berangkat bersama ke suatu tempat dalam batas waktu setengah tahun, untuk itu kami sediakan honorarium 10 kati emas murni. Entah bagaimana pendapat Lo-cianpwe?"
Tutur Ih-Wan-hui. Sai-hoa-to terbelalak mendengar honorarium 10 kati emas murni itu, serunya tanpa terasa.
"Hah, kau bilang 10 kati emas murni?"
"Betul, Lo-cian-pwe bersedia atau tidak?"
Ih-Wan-hui mengangguk dengan tertawa. Sampai sekian lama Sai-hoa-to termangu-mangu dengan terbelalak, katanya kemudian dengan ragu.
"Kalian membayar honorarium sebanyak itu, memangnya urusan apa yang perlu aku kerjakan?"
"Mengobati kami."
jawab Ih-Wan-hui.
"Apabila kami sakit, hendaknya Lo-cian-pwe mengobati kami, selain itu tiada pekerjaan lain lagi"
"Sungguh aku tidak paham."
Sai-hoa-to menggeleng kepala.
"Biarlah aku tuturkan terlebih jelas. Soalnya kami merencanakan menuju ke suatu tempat tertentu, tempat itu sangat berbahaya, sangat mudah terjangkit penyakit dan membuat orang mati. Sebab itulah kami merasa perlu membawa seorang tabib ternama dalam perjalanan bersama kami."
"Kalian hendak pergi ke mana?"
Tanya Sai-hoa-to. Ih-Wan-hui menggeleng.
"Hal ini baru akan aku beri tahukan apabila Lo-cian-pwe sudah menerima permintaan kami."
"Apa maksud tujuan kalian mendatangi tempat itu?"
"Begini, sebabnya kami mau membayar 10 kati emas murni sebagai honorariummu, maka ini pun merupakan suatu syarat, yaitu diharap Lo-cian-pwe jangan tanya urusan di luar tugasmu mengobati orang sakit. Tidak peduli apa yang Lo-cian-pwe lihat atau dengar, hendaknya dianggap tidak pernah lihat dan tidak pernah mendengar."
Kening Sai-hoa-to berkerenyit.
"Hm, jelek-jelek aku pun cukup ternama, memangnya kalian ingin ..."
"Jika kami tambah lima kati emas murni, Lo-cian-pwe bersedia atau tidak?"
Potong Ih-Wan-hui.
"Bilamana tidak aku terima, lalu bagaimana?"
Tanya Sai-hoa-to. Ih-Wan-hui tidak langsung menjawab, ia cuma tertawa dan berkata.
"Dengan hati setulusnya aku harap Lo-cian-pwe jangan menolak."
"Jika aku diharuskan membuta dan bertuli, rasanya 15 kati emas murni menjadi tidak banyak ..."
Gumam Sai-hoa-to.
"Kalau aku tambah lagi lima kati, bagaimana?"
Ih-Wan-hui menegas. Sai-hoa-to mengusap jenggotnya sambil berpikir, jawabnya kemudian.
"Lantas kapan kalian akan membayar 20 kali emas murni padaku?"
"Begitu genap jangka waktu setengah tahun, kontan kami bayar!"
"Tapi kalau tiba saatnya kalian ingkar janji, lantas bagaimana?"
"Mutlak takkan terjadi demikian."
Ujar Ih-Wan-hui dengan tertawa.
"Meski kami tidak berani tepuk dada dan mengaku sebagai ksatria sejati tapi pasti juga kami bukan manusia yang tidak pegang janji. Bila locian-pwe merasa sangsi, biarlah aku beri lagi 500 tahil perak dan menuliskan sehelai surat perjanjian."
Sai-hoa-to mengangguk perlahan, katanya "Tunggu sebentar, biar aku pertimbangkan dulu."
Ih-Wan-hui tampak tidak sabar, terpaksa menjawab.
"Baik, hendaknya lekas ambil keputusan."
Setelah termenung sejenak, tiba-tiba Sai-hoa-to berkata.
"Begitu tiba jangka waktu setengah tahun, kalian yakin sanggup menyediakan 20 kati emas murni."
"Pasti dapat!"
Ih-Wan-hui tegas. Sai-hoa-to tersenyum.
"Jika begitu, rasanya aku mulai paham urusannya. Tentu tempat yang hendak kalian datangi bersamaku itu, meski sangat berbahaya, tapi juga akan mendatangkan keuntungan yang sukar dinilai. Mungkin 20 kati emas murni yang hendak kalian bayar padaku itu cuma sekelumit saja daripada hasil yang akan kalian keduk itu. Betul tidak?"
"Ingat, Lo-cian-pwe."
Ucap Ih-Wan-hui dengan serius.
"20 kati emas murni bukan jumlah kecil. Jika kami tidak menemuimu, satu peser pun engkau tidak dapat. Pendek kata, kami berharap engkau menerima undangan kami. Paham tidak, Lo-cian-pwe?"
"Aku paham."
Sai-hoa-to mengangguk.
"Dan engkau setuju tidak?"
"Tidak."
Berubah air muka Ih-Wan-hui, ia menegas dengan tertawa seram.
"Apa pun engkau tidak mau terima?"
"Tidak."
jawab Sai-hoa-to dengan santai.
"Aku hanya mau terima bilamana persyaratannya sudah disetujui kedua pihak."
Mendadak Ih-Wan-hui menggebrak lantai, teriaknya dengan gusar.
"Apa? Memangnya 20 kali emas murni masih kau anggap sedikit?"
Ia menepuk lantai tidak terlalu keras, akan tetapi ubin lantai serupa dipukul dengan palu dan hancur seketika. Namun Sai-hoa-to tidak gentar sedikit pun, jawabnya dengan tersenyum.
"Betul, 20 kati emas murni bagiku terasa terlalu sedikit."
Air muka Ih-Wan-hui menampilkan nafsu membunuh, tampaknya hendak menggunakan kekerasan, tapi entah teringat apa, akhirnya tidak jadi berdiri, ia hanya mendengus saja.
"Hm, jika begitu berapa kau minta?"
"Ingin aku tahu lebih dulu, seluruhnya kalian berjumlah berapa orang?"
"Tiga, selain beberapa orang kuli."
"Baik begini syaratku Kalian harus mengakui diriku sebagai salah seorang anggota, keuntungan yang akan diperoleh dibagi empat. Selain itu kalian juga harus beritahukan lebih dulu padaku tempat yang akan didatangi dan barang yang dicari."
Belum lenyap suaranya, mendadak di luar kelenteng ada orang membentak.
"Jangan turun tangan dulu, Sam-te!"
Cepat orang itu bersuara, namun gerakan Ih-Wan-hui terlebih cepat, terlihat tangan kanannya terayun ke depan, sebatang jarum hitam sudah menyambar ke depan tenggorokan Sai-hoa-to.
Namun Sai-hoa-to sempat sedikit mendoyong ke belakang, sambil mendongak mulut pun mengap "krak", jarum hitam yang menyambar tiba dapat digigitnya terus ditumpahkan ke lantai, katanya dengan tertawa.
"Ai, Ih-lau-te, hendaknya jangan terlalu keji begitu!"
Ih-Wan-hui hanya mendengus saja dan tidak menyerang pula, sebab pada saat itu juga dari pintu samping kanan-kiri telah menyelinap masuk dua orang.
Kedua pendatang ini yang seorang berusia 50 an, alis tipis dan jenggot pendek, perawakan kurus kecil, memakai jubah warna kelabu agak kedodoran sehingga kelihatan lucu.
Seorang lagi berumur 46 47 tahun, alis tebal dan mata elang, muka lebar dan hidung pesek.
Bertubuh kekar kuat, berbaju ringkas ketat, sepasang tumbak pendek terselip di punggungnya, sikapnya gagah dan garang.
Begitu melihat kedua orang ini, seketika hati Sai-hoa-to terkesiap, ia pandang si kakek berjubah longgar itu dan menyapa.
"Hei, bukankah anda ini ketua Hing-ih-bun, Coa-hun-jiu Bun-In-tiok?"
Memang benar, orang tua ini memang betul ksatria perguruan Hing-ih-bun bernama Bun-In-tiok dan berjuluk Coa-hun-jiu, si tangan peraih awan.
Menurut pandangan dunia persilatan umum nya, apa yang disebut Ciang-bun-jin atau ketua ke-12 perguruan besar, yaitu Siau-lim, Bu-tong, Hoa-san, Cong-lam, Khong-tong, Go-bi, Jing-sia, Tiang-pek, Tiam-jong, Thai-kek dan Hing-ih-bun, tiada seorang pun di antaranya tergolong tokoh jahat.
Chapter 2.
Rahasia 180 Patung Mas Tapi sekarang seorang ketua Hing-ih-bun yang terkenal ternyata bersaudara dengan Thi-kut Ih-Wan-hui yang suka menggunakan jarum berbisa untuk mencelakai orang, pantas juga bilamana membuat Sai-hoa-to tercengang.
Rasa heran Sai-hoa-to itu ternyata tidak membuat Coa-hun-jiu Bun-In-tiok merasa canggung sedikit pun, ia malah memberi salam anggukan kepala kepada Sai-hoa-to dengan tertawa sewajarnya dan menyapa.
"Sai-hoa-to, sungguh tidak aku sangka engkau adalah seorang licik dan licin begini."
Dengan cepat Sai-hoa-to pulih kembali ketenangannya, jawabnya dengan tertawa.
"Ah, apabila aku kau katakan sebagai orang licik dan licin, maka kau sendiri Bun-ciang-bun-jin terlebih adalah seekor siluman rase."
Coa-hun-jiu Bun-Ia-tiok terbahak-bahak, ia memberi isyarat tangan kepada lelaki penyandang tumbak itu agar duduk, lalu ia sendiri pun duduk di antara Sai-hoa-to dan Ih-Wan-hui, dengan serius ia pun berkata.
"Bicara dengan sungguh-sungguh, Sim-hong, bagaimana kalau aku tambah lagi 10 kati emas murni bagimu?"
Sai-hoa-to menggoyang kepala.
"Tidak, tanpa diriku, kalian pasti gagal mencapai tempat yang kalian tuju dan takkan mendapatkan barangnya. Maka aku minta seperempat bagian."
Dengan kening berkerenyit Bun-In-tiok berpikir sejenak, lalu berkata dengan suara ikhlas.
"Baik, tapi cara bagaimana supaya aku yakin Sim-hong benar-benar mau bersekutu dengan jujur?"
"Untuk ini, terpaksa aku gunakan ucapan saudaramu she Ih ini untuk menjawab Bun-ciang-bun-jin."
Sahut Sai-hoa-to.
"Yaitu, biarpun aku tidak berani mengaku sebagai lelaki sejati, tapi aku pun bukan manusia yang tidak bisa pegang janji."
"Bagus, cukup dengan ucapanmu ini, sekarang akan aku jelaskan urutannya padamu ..."
"Nanti dulu."
Mendadak Sai-hoa-to memotong sambil menuding lelaki penyandang tumbak itu.
"hendaknya Bun-ciang-bun-jin memperkenalkan dulu saudara ini kepadaku."
"O, dia adalah ji-te (adik ke dua) Pia-mia-han Gu-Thong."
Sahut Bun-In-tiok. Sai-hoa-to mengangguk dengan tertawa terhadap Pia-mia-han Gu-Thong alias si lelaki suka adu jiwa, lalu berpaling lagi dan berkata.
"Baiklah, sekarang silakan Bun-heng mulai bercerita."
"Ceritanya harus dimulai dari awal."
Tutur Bun-In-tiok setelah membersihkan kerongkongan dengan berdehem.
"Tentunya Sim-heng tahu siapa Kiam-ho-Lok-Cing-hui, bukan?"
Sai-hoa-to mengangguk.
"Kiam-ho-Lok-Cing-hui adalah tokoh nomor dua dunia persilatan jaman ini, siapa yang tidak tahu?"
"Bagus."
tukas Bun-In-tiok.
"Meski kung-fu Kiam-ho-Lok-Cing-hui sedikit lebih asor daripada Kiam-ong Ciong-Li-cin, tapi kepribadiannya justru tidak dapat dibandingi oleh Ciong-Li-cin. Kira-kira tiga tahun yang lalu, di suatu tempat Lok-lo-ji (Lok tua) menemukan seorang nona gendeng yang hilang ingatan, timbul pikiran Lok tua untuk memulihkan kesehatan nona itu, maka ia suruh muridnya Gak-Sik-lam ke daerah selatan untuk mencari obat mujarab Jian-lian-hok-leng.
"Akibatnya Gak-Sik-lam tidak cuma menemukan Jian-lian-hok-leng, secara di luar dugaan dia juga menemukan sebuah kota purba di tengah rimba raya pegunungan Mo-pan-san. Konon kota itu berumur ribuan tahun di dalam kota terdapat banyak emas murni dan 180 patung yang terbuat dari emas.
"Setelah menemukan kota emas itu, Gak-Sik-lam lantas membuat sebuah peta bumi letak kota purba itu dan dikirim kembali ke Tiong-goan melalui merpati pos. Sayang merpati pos yang membawa peta pusaka itu tidak tempat pulang ke Ciok-lau-san, tempat kediaman Lok-Cing-hui, tapi ditemukan oleh seorang ..."
"Siapa orang itu?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Entah, apa yang aku ceritakan ini sesungguhnya juga cuma aku dengar dari orang lain dalam perjalanan."
"Jika cuma desas-desus saja, kau percaya begitu saja?"
"Coba dengarkan ceritaku lebih lanjut.
"Tutur Bun-In-tiok.
"Sesudah mendengar berita itu, tidak lama aku dengar pula kabar kepulangan Gak-Sik-lam ke Tiong-goan, tapi entah sebab apa, dia sudah berubah menjadi seorang cacat total, tidak punya kaki dan tangan, ia hanya didampingi seorang istri cantik yang selalu menggendongnya ke mana-mana.
"Kemudian aku dengar pula banyak orang yang sedang mencari orang yang menemukan peta bumi ini juga Gak-Sik-lam sendiri, tujuannya ingin merebut kota emas yang bernilai sukar ditaksir itu. Setelah mencari tahu lagi kian kemari dan terbukti berita itu memang betul, akhirnya aku pun ikut terjun dalam gerakan mencari kota emas.
"Tentang Mo-pan-san, pada waktu muda pernah juga aku pergi ke sana, di pegunungan itu penuh hutan purba dan rawa belaka, lereng pegunungan itu memanjang ratusan li, bahkan banyak binatang liar dan penuh gas racun, pada hakikatnya tempat yang sukar dicapai manusia. Maka kalau ingin masuk ke pegunungan itu untuk mencari kota emas, terkecuali diperlukan peta bumi dan petunjuk Gak-Sik-lam sendiri, masih diperlukan lagi persiapan yang cukup. Yang paling penting adalah cara bagaimana melawan gas racun pembunuh yang tak berwujud itu.
"Karena itulah aku lantas teringat kepada Sai-hoa-to kita, Sim-heng adalah tabib sakti dunia persilatan yang tiada bandingannya, terhadap gas racun juga mempunyai pengetahuan khusus, jika engkau ikut dalam ekspedisi kami ini, tentu segala persoalan dapat diatasi."
"Aku memang menguasai cara-cara melawan berbagai gas racun, tapi seperti apa yang dikatakan Bun-ciang-bun-jin. Lereng gunung Mo-pan-san memanjang beratus li, tanpa peta bumi dan petunjuk Gak-Sik-lam mungkin sangat sulit menemukan kota emas yang dimaksud."
Kata Sai-hoa-to.
"Betul juga, namun hal ini sekarang tidak menjadi soal lagi."
"Oa, maksud Bun-ciang-bun-jin, peta bumi itu sudah didapatkan?"
"Betapa bagusnya peta kan tidak lebih bagus daripada orang yang menggambar peta itu, bukan?"
"Hah, jadi Bun-ciang-bun-jin sudah menemukan Gak-Sik-lam?"
"Betul, sekarang kira-kira ada lebih ratusan tokoh persilatan sedang mencari Gak-Sik-lam dan orang yang menemukan peta bumi. Rupanya nasibku lagi mujur, pada suatu pertemuan secara kebetulan dapat aku pergoki Gak-Sik-lam."
"Dan sekarang Gak-Sik-lam berada di mana?"
"Di suatu tempat yang sangat rahasia."
"Bun-ciang-bun-jin sudah berhasil memaksa dia menceritakan letak kota emas itu?"
"Belum, tapi sekarang setelah Sim-heng mau bekerja sama dapatlah kita mendesak dia mengatakan letak kota emas."
Bicara sampai di sini, serentak Coa-hun-jiu Bun-In-tiok berdiri, katanya dengan tertawa.
"Mari berangkat Sim-heng, urusan tidak boleh tertunda lagi."
Sai-hoa-to ikut berdiri, tanyanya.
"Apakah berada di sekitar sini?"
"Tidak."
Bun-In-tiok mendahului melangkah keluar kelenteng sambil menjawab.
"tapi juga tidak terlalu jauh."
Ke empat orang meninggalkan kelenteng rusak itu.
Pia-mia-han Gu-Thong memasukkan jari ke mulut dan bersuit, segera terdengar suara gemertak roda dari sebelah kanan hutan, muncul sebuah kereta kuda.
Karena itu berhenti di depan kelenteng, dengan tertawa Bun-In-tiok berkata kepada Sai-hoa-to.
"Menumpang kereta kan tidak mudah diketahui orang. Silakan Sim-heng naik!"
Sai-hoa-to tersenyum dan naik ke dalam kereta disusul oleh Bun-In-tiok bertiga.
Kusir kereta segera mengayun cambuknya dan menghalau kereta menerobos hutan sana terus menuju ke selatan dengan cepat.
Pembicaraan mereka di dalam kereta tetap tidak meninggalkan soal kota emas.
Dengan nada kereng Sai-hoa-to berkata.
"Ini merupakan suatu pertaruhan besar. Apakah terpikir oleh Bun-ciang-bun, bagaimana akibatnya bilamana diketahui oleh Kiam-ho-Lok-Cing-hui bahwa engkau menculik muridnya?"
Bun-In-tiok tersenyum licik.
"Sekarang cuma kita berempat saja yang tahu Gak-Sik-lam berada dalam tawanan kita, asalkan persekutuan kita berlangsung dengan baik, dari mana Kiam-ho-Lok-Cing-hui bisa tahu?"
"Setelah Gak-Sik-lam berhasil didesak melukiskan peta bumi letak kota emas itu, lalu cara bagaimana Bun-ciang-bun hendak membereskan dia?"
Tanya Sai-hoa-to. Kembali Bun-In-tiok tersenyum licik.
"Menurut pendapat Sim-heng, sebaiknya cara bagaimana membereskan dia?"
"Jika dilepaskan, tentu dia akan jatuh ke tangan kawan bu-lim yang lain dan ini akan merugikan kita ..."
"Tidak cuma begitu saja, bila kita bebaskan dia, tentu Kiam-ho-Lok-Cing-hui juga akan mengetahui kita pernah menculik muridnya, akibatnya kita bisa celaka."
"Betul", kata Sai-hoa-to.
"dengan gabungan kepandaian kita berempat jelas bukan tandingan Lok-Cing-hui, melulu muridnya yang kedua, yaitu Su-Kiam-eng saja bukan lawan empuk."
"Makanya kalau menurut pendapat Sim-heng, sebaiknya cara bagaimana kita membereskan Gak-Sik-lam?"
Tanya Bun-In-tiok.
"Haha, aku kira Bun-ciang-bun tentu sudah mempunyai perhitungan sendiri, kita sudah tahu sama tahu, buat apa kau tanya pula?"
Ujar Sai-hoa-to dengan tertawa. Bun-In-tiok tertawa, ia ganti pokok pembicaraan.
"Jika segalanya lancar, esok atau lusa kita dapat berangkat, cuma Sim-heng harus menyiapkan dulu obat-obatan yang diperlukan."
"Bun-ciang-bun jangan kuatir."
Kata Sai-hoa-to.
"Setiba di Teng-ciong, tentu akan aku beli obat-obatan selengkapnya menurut keperluan."
"Selain itu, selanjutnya sebaiknya Sim-heng mengubah sedikit wajahmu agar orang lain pangling padamu sebagai Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho."
Ujar Bun-In-tiok. Sai-hoa-to melengak.
"Masa perlu begitu?"
"Pada saat ini, orang yang memenuhi syarat untuk mencari kota emas di lereng Mo-pan-san hanya ada dua kelompok saja."
Tutur Bun-In-tiok dengan tertawa.
"Kelompok pertama adalah rombongan kita. Yang kedua adalah orang yang menemukan peta bumi itu. Namun orang yang memegang peta itu bila tidak mengadakan persiapan melawan gas racun dengan baik, andaikan dia dapat menemukan kota emas dengan hidup juga sukar untuk pulang lagi dengan hidup. Maka aku pikir, kelompok mereka tentu juga akan teringat kepada Sim-heng, bilamana wajah Sim-heng tidak dirias sedikit, mungkin sebelum terjadi perebutan kota emas akan terjadi dulu perebutan diri Sim-heng."
"Haha, bilamana benar aku menjadi sasaran perebutan antar kalian tentu akan sangat menarik."
Seru Sai-hoa-to dengan tergelak.
"Sedikit pun tidak menarik."
Jengek Bun-In-tiok.
"Kau pikir, Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho hanya ada satu, bila pihak lawan gagal berebut, bukan mustahil mereka akan melakukan tindakan penghancuran total, kalau begitu, rejeki seperempat bagianmu tentu juga akan lenyap."
Sai-hoa-to tidak tertawa lagi, ia manggut-manggut.
"Ya, betul juga. Biarlah nanti aku rias mukaku pada saat mau berangkat."
Roda kereta menggelinding dengan cepat, hari mulai gelap, menurut perkiraan sudah habis 30 li meninggalkan Wi-go-san.
Mendadak kereta kuda membelok ke sebuah kampung, langsung masuk ke sebuah perbentengan kampung yang luas.
Perbentengan kampung itu seperti dihuni keluarga kaya, kompleks perumahannya lebih dari 50 buah, dikelilingi tembok yang tidak terlalu tinggi, di depan ada sebuah kolam ikan, sekilas pandang tidak terlihat berbau orang persilatan pada penghuni perbentengan ini."
Ketika kereta berhenti di depan perbentengan, seorang lelaki setengah baya berbadan gemuk dan berpakaian perlente dituntun oleh seorang centeng yang membawa sebuah lentera mendekati kereta.
Berturut-turut Bun-In-tiok berempat turun dari kereta, lelaki setengah baya berpakaian mewah itu cepat memberi hormat dan menyapa.
"Aku kira Bun-ciang-bun baru akan tiba esok pagi, bila penyambutanku agak terlambat, mohon dimaafkan."
Bun-In-tiok mengangguk dengan tertawa, lalu diperkenalkan kepada Sai-hoa-to.
"Sim-heng, inilah Ci-ceng-cu, putranya mengangkat guru padaku, kini belajar dalam perguruan kami."
Kemudian ia pun berkata terhadap Ci-ceng-cu.
"Ci-ceng-cu, inilah tabib sakti Sai-hoa-to, tentu nama kebesarannya sudah kau kenal."
"Betul, betul."
Seru Ci-ceng-cu sambil memberi hormat.
"Nama kebesaran Sim-sian-sing sudah lama aku dengar, sungguh beruntung dapat bertemu."
Sikap Sai-hoa-to memang dingin dan angkuh, terhadap orang awam biasa tidak begitu digubrisnya, maka ia hanya mengangguk sekadarnya terhadap tuan rumah tanpa membalas hormat.
Namun Ci-ceng-cu itu pun tidak memperlihatkan rasa kurang senang, berulang ia memberi hormat lagi kepada mereka berempat dan berkata "Silakan, silakan masuk!
Sudah aku siapkan perjamuan, tentunya kalian sudah lapar setelah menempuh perjalanan jauh ..."
"Eh, bagaimana dengan keadaan kedua suami istri itu?"
Potong Bu-In-tiok.
"Baik, sangat baik."
jawab Ci-ceng-cu.
"Segalanya telah aku kerjakan menurut pesan Bun-ciang-bun, mereka pun tinggal di lorong bawah dengan tenang."
"Bagus, sekarang biarlah kita makan dulu"
Kata Bun-In-tiok.
Setelah berada di ruang tamu centeng membawa air bersih, ke empat orang lantas cuci muka lalu makan minum mengelilingi meja perjamuan.
Dalam perjamuan, dari percakapan antara Bun-In-tiok dan Ci-ceng-cu dapat diketahui oleh Sai-hoa-to bahwa Ci-ceng-cu memang seorang hartawan, lantaran kekayaannya berlimpah sehingga kuatir akan mendapat incaran orang jahat, maka putranya sengaja dikirim belajar silat pada perguruan Hing-ih-bun.
Apakah hasilnya baik atau tidak, yang penting asalkan orang lain tahu anaknya adalah murid Hing-ih-bun dan itu pun sudah cukup.
Agaknya Bun-In-tiok juga tahu tujuan Ci-ceng-cu, maka dia terima pelayanan yang diberikan oleh keluarga Ci tanpa merasa malu.
Habis makan malam, segera Bun-In-tiok membawa Sai-hoa-to ke ruang bawah tanah, yaitu kamar tahanan dengan maksud memaksa Gak-Sik-lam melukis peta letak kota emas.
Ruang bawah tanah itu seluas belasan meter persegi dan terbagi menjadi tiga kamar, dinding terbuat dari bata merah, mestinya digunakan sebagai gudang penyimpanan harta berharga Ci-ceng-cu, tapi sekarang kamar paling depan digunakan sebagai penjara, di situ dikurung seorang lelaki dan seorang perempuan.
Yang lelaki memang benar murid pertama Kiam-ho-Lok-Cing-hui, yaitu Gak-Sik-lam yang cacat.
Dan yang perempuan adalah istrinya, Kalana.
Aslinya Gak-Sik-lam adalah seorang pemuda tampan, juga terhitung jago muda terkemuka dunia persilatan.
Tapi sekarang pemuda yang rebah di atas dipan bambu itu sama sekali sudah bukan lagi Gak-Sik-lam yang dulu, wajahnya yang cakap itu jelas pernah mengalami luka berat, sekarang berubah menjadi sangat jelek dan membuat orang mengkirik, matanya satu besar satu kecil, bekas luka memenuhi kedua belah pipinya, bibir pun sumbing sehingga kelihatan baris giginya yang putih, sekilas pandang orang akan mengira dia sebagai drakula.
Selain itu, ke dua lengan baju dan lengan celananya kelihatan kosong melompong dan kempis tak berisi sehingga dia lebih mirip sebuah bola manusia.
Kalana, usianya seperti belum melebihi 20, kulit badan putih bersih laksana salju, perawakan ramping indah, rambut panjang mengkilat, mata besar dan alis lentik, mulut kecil mungil, berita yang tersiar memang bukan omong kosong, dia memang benar seorang nona cantik.
Cuma, setiap orang pun dapat mengetahuinya bahwa dia jelas bukan gadis daerah Tiong-goan, bukan bangsa Han.
Ketika Bun-In-tiok berempat menuruni ruang bawah tanah itu, secara naluri ia terus memeluk Gak-sik-lam yang menggeletak di dipan itu, sorot matanya memancarkan rasa takut dan seram.
"Tutup pintunya."
Kata Bun-In-tiok kepada Gu-Thong yang masuk paling akhir, lalu langsung mendekati Gak-Sik-lam.
Dengan tenang Sai-hoa-to menyusul ketat di belakang Bun-In-tiok.
Ke empat orang berhenti tepat di depan dipan Gak-Sik-lam.
Tubuh Kalana tampak gemetar dan merangkul Gak-Sik-lam seeratnya, seperti rela mengorbankan jiwanya asalkan sang suami dapat dilindunginya.
"Ka ... kalian mau apa?"
Tanyanya dengan suara gemetar kepada Bun-In-tiok berempat.
Bun-In-tiok terkekeh beberapa kali dan tidak segera menjawab.
Sebaliknya Gak-Sik-lam yang mendahului buka suara, seperti tidak ada orang lain, ia kecup pipi Kalana dengan mesra dan menghiburnya dengan suara lembut.
"Jangan takut, Kalana. Kan sudah aku katakan, dia ketua Hing-ih-bun, dia takkan mencelakai kita."
"Betul, sahabat Gak."
Sambung Bun-In-tiok dengan tertawa.
"asalkan kau katakan di mana letak kota emas, tidak nanti aku bikin susah kalian."
Air muka Gak-Sik-lam berubah ucapnya dengan terperanjat.
"Oo, jadi sebabnya Bun-ciang-bun-jin menawan kami suami-istri ke sini adalah karena kota emas itu?"
"Betul, sebelum ini tentu tidak pernah terpikir olehmu, bukan?"
"Ya, memang tidak pernah terpikir olehku, sebab engkau kan seorang ketua suatu perguruan besar yang terhormat?"
Jengek Gak-Sik-lam. Sama sekali Bun-In-tiok tidak kikuk oleh sindiran Gak-Sik-lam, ucapnya dengan tertawa.
"Seorang Ciang-bun-jin juga manusia, asalkan manusia bila mendengar di Mo-pan-san ada sebuah kota emas, aku yakin hati siapa pun akan tergerak."
"Lantaran itu sehingga kulit mukamu pun tidak kau pikirkan lagi."
Jengek Gak-Sik-lam dengan menahan gusar. Bun-In-tiok tampak tersinggung, ucapnya dingin.
"Dalam keadaan dan saat begini, hendaknya cara bicaramu perlu pakai aturan sedikit."
Sorot mata Gak-Sik-lam memancarkan cahaya tajam, tanyanya kemudian.
"Dari mana kau tahu di lereng Mo-pan-san ada sebuah kota emas?"
"Dari cerita orang."
jawab Bun-In-tiok dengan tersenyum.
"Mungkin kau sendiri belum lagi tahu bahwa peta bumi yang kau kirim pulang kepada gurumu itu telah dicegat orang lain di tengah jalan."
Terlintas rasa kaget pada sorot mata Gak-Sik-lam, tanyanya pula.
"Siapa yang menemukan merpati pos itu?"
"Entah."
jawab Bun-In-tiok.
"Cuma, bisa jadi orang yang menemukan merpati pos itu kurang hati-hati sehingga rahasianya bocor, saat ini ada berbagai orang persilatan sedang sibuk mencari orang yang memegang peta bumi itu dan juga sahabat Gak sendiri. Nasibku terhitung mujur dan berhasil menemukan dirimu lebih dulu."
Kejut dan juga gusar Gak-Sik-lam ia pandang Bun-In-tiok sejenak, mendadak berkata dengan tegas.
"Biar aku katakan padamu, Bun-In-tiok, bilamana hendak kau paksa aku menceritakan letak kota emas, itu berarti kamu sedang mimpi!"
"Sebaiknya kau pertimbangkan lagi dengan masak."
Kata Bun-In-tiok dengan tersenyum licik.
"Kamu kan orang cacat, jika kau mau ceritakan letak kota emas itu, tentu keselamatan kalian suami-istri akan aku lindungi, bahkan aku jamin kehidupan kalian selanjutnya dapat berlangsung dengan menyenangkan."
"Cih, lekas enyah!"
Semprot Gak-Sik-lam dengan beringas.
"Kamu tua bangka! Memangnya kau kira aku Gak-Sik-lam manusia takut mati dan tamak hidup?"
"Mungkin kamu tidak takut mati, tapi apakah tidak kau pikirkan diri istrimu?"
Tanya Bun-In-tiok sambil menuding Kalana.
"Memangnya apa kehendakmu?"
Teriak Gak-Sik-lam dengan muka pucat dan menggereget.
"Asalkan kau bilang satu kata tidak, segera kamu akan tahu apa yang terjadi atas istrimu."
Ancam Bun-In-tiok. Gak-Sik-lam hanya mendengus murka dan tidak menanggapi. Bun-In-tiok tahu titik lemah lawan telah kena dipukulnya, segera ia berkata pula dengan tersenyum licik.
"Bagaimana, akan kau katakan atau tidak?"
Kulit muka Gak-Sik-lam tampak berkerut-kerut, seperti ingin menelan lawan bulat-bulat, seperti juga sedang menahan bara murka sekuatnya, tapi akhirnya sukar ditahan, mendadak ia meraung dengan beringas.
"Tidak, takkan aku katakan. Coba apa abamu?"
Dengan tenang Bun-In-tiok mengangguk dan menyurut mundur dua tindak serta duduk di kursi, lalu ia mengedipi Pia-mia-han Gu-Thong dan berkata.
"Ji-te, bolehlah mulai!"
Gu-Thong mengangguk dan melangkah maju, terjulur telapak tangannya yang berbulu lebat, serupa elang mencengkeram anak ayam saja segera Kalana diangkatnya.
Jelas Kalana seorang nona yang tidak paham ilmu silat, ia meronta dan berteriak sekuatnya, namun betapa dia meronta tetap sukar terlepas dari cengkeraman Gu-Thong.
Gak-Sik-lam juga ingin meronta bangun, tapi lantaran tidak punya tangan dan tiada kaki, hendak membalik badan saja sukar, sebab itulah biarpun urat hijau tampak menongol pada dahinya tetap tak berdaya, terpaksa ia hanya dapat meraung murka.
"Lepaskan dia! Lepaskan! Kamu jahanam keparat!"
Pia-mia-han Gu-Thong menyeringai, ia malah menutuk pinggang Kalana sehingga tubuh nona itu menjadi kaku dan tidak sanggup berkutik lagi.
Ia taruh Kalana dan mengambil seutas tali, dilemparnya tali melintasi sepotong belandar, kemudian tangan Kalana diikat serta dikereknya ke atas.
Dalam keadaan begitu Bun-In-tiok yang duduk di kursi itu kembali buka suara dengan tertawa.
"Nah, sahabat Gak, jika tidak ingin menyaksikan istrimu dihina, hendaknya lekas kau bicara saja."
Biarpun hiat-to kelumpuhan Kalana tertutuk, namun mulut masih dapat bersuara, mendadak ia berteriak.
"Tidak, Sik-lam, jangan kau katakan, sekali-kali jangan kau beri tahu. Sekali kau katakan letak kota emas itu, segera pula mereka akan membunuhmu."
Dengan sendirinya Gak-Sik-lam juga tahu bilamana dia memberi tahukan letak kota emas, dirinya dan Kalana pasti sukar lolos dari kematian.
Sebaliknya bila menyuruh dia menyaksikan istri kesayangan dianiaya orang, hal ini pun sukar ditahannya.
Seketika ia menjadi bingung, mata merah membara dan menggertak gigi sekuatnya sehingga mulut pun berdarah.
Melihat Gak-Sik-lam tidak bicara lagi.
Bun-In-tiok memberi tanda kepada Gu-Thong.
"Baiklah, boleh kau copot bajunya!"
Segera Gu-Thong menanggalkan pakaian Kalana, dengan cepat baju luar Kalana telah ditarik terlepas.
Waktu itu musim panas, baik lelaki maupun perempuan tidak banyak memakai baju rangkap, maka begitu baju luar Kalana ditanggalkan, seketika kelihatan kutangnya, apabila kutang juga dilepaskan ...
Air mata ksatria Gak-Sik-lam menitik, hati terasa hancur lebur, teriaknya murka.
"Lepaskan, turunkan dia! Biar aku katakan!"
"Jangan, tidak perlu kau katakan!"
Yang bicara ini bukan Kalana melainkan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho.
Tentu saja Gu-Thong dan Ih-Wan-hui yang berdiri di samping sama merasa heran, mereka sama memandang Sai-hoa-to dengan tidak mengerti.
Tapi sekali pandang, seketika air muka mereka berubah hebat.
Kiranya sebelah tangan Sai-hoa-to saat itu tampak mencengkeram Pek-hwe-hiat bagian ubun-ubun kepala Bun-In-tiok, sebaliknya wajah Bun-In-tiok kelihatan pucat pasi seperti mayat, rasa kejut dan takut pada wajahnya sukar dilukiskan.
Sambil memaki segera Ih-Wan-hui melolos golok dan bergaya hendak menerjang maju, bentaknya.
"Orang she Sim, sesungguhnya apa maksudmu ini?"
"Tenanglah sedikit dan jangan sembarang bergerak."
Jengek Sai-hoa-to.
"Apakah kalian tidak menghendaki jiwa Ciang-bun-jin sendiri?"
Merasa terdesak, dengan sendirinya Ih-Wan-hui tidak berani sembarang bertindak, ia cuma dapat meraung gusar.
"Keparat! Hendaknya kau tahu jika kamu ingin mengangkangi sendiri kota emas itu, betapapun tidak mungkin terjadi!"
Sai-hoa-to tidak menggubrisnya, ia memberi tanda kepada Gu-Thong, katanya.
"Menyingkir ke sana, berdiri mepet dinding sana!"
Pia-mia-han Gu-Thong hanya mendelik dan tetap berdiri di tempatnya. Sai-hoa-to tertawa, katanya kepada Bun-In-tiok.
"Bun-ciang-bun, bagaimana jika kau suruh Ji-te dan Sam-te mu berdiri mepet dinding sana."
Coa-hun-jiu Bun-In-tiok merasakan tangan orang yang menahan ubun-ubunnya keras luar biasa sehingga mata pun berkunang-kunang, ia tidak berani membantah, serunya segera.
"Lek ... lekas kalian berdiri di pojok sana."
Ih-Wan-hui dan Gu-Thong saling pandang sekejap, mereka tampak ragu, tapi akhirnya terpaksa menurut dan menyingkir ke pojok dinding.
Sai-hoa-to tersenyum, segera ditutuknya hiat-to kelumpuhan Bun-In-tiok, lalu menyeretnya ke depan dipan Gak-Sik-lam dan membiarkannya menggeletak di lantai serta menginjaknya dengan sebelah kaki, kemudian ia buka hiat-to Kalana dan menurunkannya, dengan tenang ia kerjakan semua itu, habis itu barulah ia mengusap muka sendiri, selapis salep perias muka dibersihkannya.
"Hai, adik Kiam-eng?"
Seru Gak-Sik-lam kejut-kejut girang.
"Hah, bukankah engkau ini ... si pelayan Su-Jit di Bu-lim-teh-co itu?"
Ih-Wan-hui juga berteriak kaget. Hanya Gu-Thong saja yang kelihatan bingung. Su-Kiam-eng tertawa terhadap sang su-heng, lalu berkata kepada Ih-Wan-hui.
"Betul, aku memang si pelayan Su Jit, sangat diluar dugaan bukan?"
Bukan cuma di luar dugaan saja, bahkan Ih-Wan-hui terheran-heran, ia pandang Su-Kiam-eng sekian lamanya dengan melongo, akhirnya berteriak pula.
"Ti ... tidak, kamu bukan Su Jit!"
Su-Kiam-eng tertawa.
"Aku bekerja sebagai pelayan selama tiga bulan, masa kamu sudah pangling?"
"Engkau menyaru sebagai pelayan, tujuanmu memang menunggu aku di sana?"
Tanya Ih-Wan-hui dengan terkesiap.
"Betul."
jawab Kiam-eng dengan tertawa.
"Beberapa bulan yang lalu aku dengar cerita orang persilatan bahwa bila ada orang bicara mengenai sepasang suami-istri aneh, seketika orang itu terbinasa oleh jarum berbisa. Aku yakin ke dua suami-istri itu pasti su-heng dan su-so (kakak ipar seperguruan), aku tahu juga mereka pasti berada dalam cengkeraman kalian. Agar rahasia kota emas itu tidak diketahui orang lebih banyak, selalu kau bunuh orang yang banyak omong itu dengan jarum berbisa. Tapi waktu itu aku tidak tahu siapa dirimu, maka aku putuskan menanti kemunculanmu di Bu-lim-teh-co, setiap kali bila ada tamu yang mencurigakan segera Wi-ho-Lo-jin pura-pura mengobrol dengan beberapa kawan mengenai 'pasangan suami-istri yang misterius' itu. Haha, coba katakan, bagus tidak perangkap yang aku atur ini?"
"Ya, memang sangat pandai."
Jengek Ih-Wan-hui, ketenangannya sudah mulai pulih.
"Sesungguhnya apa yang kau pakai pada tubuhmu?"
"Dari cerita orang aku tahu orang yang kau bunuh itu semuanya terkena jarum berbisa pada Leng-tai-hiat bagian punggung, sebab itulah sengaja aku pasang sepotong besi tipis di punggungku."
"Hm, dasar kamu memang bocah licin."
Jengek pula Ih-Wan hui.
"Dan sekarang apa kehendakmu?"
Su-Kiam-eng melolos pedang yang selalu dibawa Coa-hun-jiu Bun-In-tiok dan melangkah maju, ucapnya dengan tersenyum.
"Akan aku beri kesempatan kepada kalian, apabila kalian berdua mampu membunuh aku, kalian tetap ada harapan untuk mendapatkan kota emas itu."
Terlintas rasa girang pada wajah Ih-Wan-hui, ia tanya.
"Kau ingin menghadapi serangan kami berdua?"
Su-Kiam-eng menimbang-nimbang pedang yang dipegangnya, jawabnya dengan tertawa.
"Betul, kalau tidak pakai cara ini, kan kurang adil bagi kalian."
Segera Ih-Wan-hui mengedipi Gu-Thong, katanya.
"Ji-ko, kurang hormat rasanya kalau kita menolak kehendak Su-siau-hiap, biarlah kita belajar kenal ilmu pedang ajaran Kiam-ho yang termashur!"
Gu-Thong mengangguk, dilolosnya kedua tumbak pendek dari punggungnya, bernama Ih-Wan-hui segera mereka hendak mengerubut Su-Kiam-eng.
Su-Kiam-eng berdiri tenang dengan tersenyum, ujung pedang menjulai ke bawah, dengan mantap.
Ia tunggu gerak serangan musuh.
Kiam-ho-Lok-Cing-hui disegani orang persilatan karena Ping-lui-kiam-hoat atau ilmu pedang geledek menyambar, belasan tahun yang lalu, dalam suatu pertemuan para jagoan, dengan mudah ia mengalahkan jago pedang dari berbagai aliran dan golongan, akhirnya ia bertanding sehari semalam dengan Kiam-ong atau raja pedang Ciong-Li-cin dan kalah satu jurus sehingga ke luar sebagai juara ke dua.
Walaupun begitu, dalam pandangan orang persilatan tidak ada yang menganggap dia lebih rendah daripada Ciong-Li-cin, baik Kiam-ong maupun Kiam-ho sama-sama merupakan tokoh sakti bagi orang persilatan, anak murid ke dua tokoh besar itu juga tokoh pujaan orang persilatan.
Sebab itulah dua tokoh Hing-ih-bun seperti Ih-Wan-hui dan Gu-Thong harus menghadapi murid ke dua Kiam-ho yang masih muda belia itu sama sekali tidak berani meremehkan lawan."
Begitulah kedua pihak sama siap tempur, setelah saling melotot sekian lama, mendadak Gu-thong mendahului menerjang maju, ia membentak, ke dua tumbak bergerak, sekaligus ia tusuk leher dan hulu hati Su-Kiam-eng.
Serangan keras dan ganas tanpa kenal ampun.
Akan tetapi sebelum kedua tumbak musuh mendekat, serentak pedang Su-Kiam-eng pun bergerak, di tengah berkelebatnya sinar pedang terdengarlah suara "trang-tring"
Dua kali, kedua tombak Gu-thong yang menusuk ke depan sama terguncang ke samping.
Menyusul sinar pedang masih terus menyambar ke depan, secepat kilat muka Gu-Thong terancam.
Jadi Su-Kiam-eng telah menangkis serangan lawan dan sekaligus balas menyerang, hanya satu jurus saja ia sudah di atas angin.
Kung-fu Pia-mia-han Gu-Thong terhitung keras dan lihai juga, tapi begitu tombak terguncang ke samping, kedua lengan pun tergetar sakit, hal ini baru terjadi pertama kali sejak ia berkecimpung di dunia kang-ouw, keruan ia terkejut, seketika ia lupa pada julukan sendiri sebagai Pia-mia-han alias lelaki nekat.
Cepat ia melompat mundur.
Untung Ih-Wan-hui keburu melancarkan sabetan goloknya ke pinggang Su-Kiam-eng dan memaksa lawan muda itu harus menjaga diri, kalau tidak, betapapun Pia-mia-han tetap sukar terhindar dari sambaran pedang Su-Kiam-eng.
Dalam pada itu, ketika pedang Su-Kiam-eng beradu dengan golok Ih-Wan-hui, sekalian ia tahan pedang ke bawah terus berputar dan menebas pinggang lawan.
Jurus ini pun sangat sederhana kabagusannya terletak pada sedikit putar pedang, dan segera membuat Ih-Wan-hui menghadapi jalan buntu.
Untung juga waktu itu Gu-Thong masih berdiri di situ, melihat Ih-Wan-hui terancam bahaya, cepat ia sambitkan sebelah tombaknya dan dapat menahan sambaran pedang Su-Kiam-eng tepat pada waktunya.
"Trang", pedang menyampuk tombak dan tombak menerjang Ih-Wan-hui dan memaksanya melompat ke samping. Setelah menimpukkan sebuah tombaknya, tombak Pia-mia-han yang lain menyusul lantas tertusuk dada Su-Kiam-eng. Sebaliknya setelah melompat mundur segera pula Ih-Wan-hui menubruk ke arah Gak-Sik-lam yang rebah di dipan. Tujuan Ih-Wan-hui cukup jelas, dia ingin membekuk Gak-Sik-lam sebagai sandera untuk memojokkan Su-Kiam-eng supaya menyerah. Namun Su-Kiam-eng tidak gelisah, juga tidak marah, di tengah suara tertawanya ia hindarkan tombak Pia-mia-han Gu-Thong, berbareng ia berputar dan pedang menyabat ke arah Ih-Wan-hui yang sedang menerjang ke arah Gak-Sik-lam. Terdengar suara jeritan ngeri "ahhh", Ih-Wan-hui jatuh terjungkal dari udara, begitu menyentuh lantai, sebagian tubuhnya terpental ke kiri dan sebagian lagi tersungkur ke kanan, yang tertinggal di tengah adalah isi perut dan darah. Pia-mia-Han Gu-Thong dan Kalana yang mendekap ketakutan di samping Gak-Sik-lam sama mengeluarkan jeritan kaget. perlahan Su-Kiam-eng menarik kembali pedangnya dan berputar menghadapi Gu-Thong, jengeknya.
"Gu-Thong, kabarnya kamu seorang lelaki keras, maka bila kau mau membawa pergi Bun-ciang-bun ..."
Mendadak teriakan orang kalap memotong ucapannya, dengan nekat Gu-thong menerjang maju dengan tombaknya.
Su-Kiam-eng menjengek sekali dan menggeser ke samping, pedang berputar dengan cepat dan sinar perak berkelebat, kembali terdengar jeritan "ahhh"
Yang ngeri, tubuh Gu-Thong yang kekar itu terjengkang, tombak pendek jatuh lebih dulu ke lantai, habis itu baru tubuhnya roboh dan menerbitkan suara keras.
Ternyata pada perutnya terbuka sebuah lubang dengan darah segar merembes keluar bagai air mancur.
Dengan sikap kereng Su-Kiam-eng menghela napas, lalu ia berpaling dan berseru pedih terhadap Gak-Sik-lam.
"Su-heng, engkau..."
Ia tidak sanggup meneruskan ucapannya, kerongkongan serasa tersumbat.
Sungguh peristiwa yang teramat memilukan, seorang pemuda yang semula segar-bugar, gagah tangkas, setelah pergi ke daerah selatan yang masih liar itu, pulangnya sekarang sudah berubah menjadi orang cacat total, buntung kaki dan tangan, sungguh kejadian yang tragis, kejadian yang kejam.
Mengapa sang su-heng bisa cacat seperti itu?
Mengapa dia tidak memberi tahukan sebab musabab kecacatannya itu?
Benarkah dia menemukan sebuah kota emas purba di tengah rimba di pegunungan Mo-pan-san?
Jika benar dia sudah menemukan Jian-lian-hok-leng, mengapa obat mujarab itu tidak dibawanya pulang?
Semua tanda tanya itu akhirnya akan mendapatkan jawabannya sekarang!
Sebab itulah perasaan Su-Kiam-eng sekarang di samping pedih juga ada rasa gembira.
Akan tetapi pada saat dia baru menyebut "su-heng"
Tadi, selagi perasaannya masih belum tenang, mendadak "blang"
Sekali, suara daun pintu didobrak timbul di belakangnya.
Tergetar tubuh Su-Kiam-eng, secara naluri ia berjongkok dan cepat meraih kembali pedang yang dibuangnya ke lantai tadi.
Sekilas pandang terlihat pintu kamar tahanan yang dijebol itu sedang terpental ke dalam, seorang berkedok dan berbaju hitam dengan perawakan tinggi kurus menyelinap masuk dengan pedang terhunus.
Malahan di belakang orang ini terdapat pula dua orang berkedok dan juga berbaju hitam.
Akan tetapi hanya sekian saja yang dapat dilihat Su-Kiam-eng, apa yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak dilihatnya lagi.
Sebab begitu orang berkedok yang tinggi kurus menyelinap masuk kamar tahanan, serentak ia melemparkan sesuatu dan "blang", terdengar suara letusan dan seluruh kamar lantas penuh diliputi asap kuning.
Malahan setelah mencium asap yang aneh itu, segera kepala Su-Kiam-eng terasa pusing, dunia seperti berputar dan bumi terbalik, dengan cepat ia kehilangan kesadaran ...
Entah berselang berapa lama, perlahan pikiran sehatnya mulai pulih, ketika ia membuka mata, pemandangan di depan masih samar-samar dan bergoyang-goyang, kepala terasa sakit seperti mau pecah, maka kembali ia memejamkan mata.
Tidak lama, waktu ia buka mata pula, kini semua dapat dilihatnya dengan jelas.
Ia merasa dirinya masih berada di tempat semula, asap kuning tadi sudah lenyap.
Baru sekarang ia teringat kepada apa yang terjadi tadi, terkesiap hatinya.
Cepat ia merangkak bangun.
Waktu ia memandang sekitarnya, ternyata su-heng nya dan Kalana sudah hilang, dengan sendirinya ke tiga orang berkedok pun sudah lenyap, mayat Ih-Wan-hui, Gu-Thong dan Bun-In-tiok masih menggeletak di situ, tapi ketika pandangannya hinggap pada tubuh Bun-In-tiok, ia jadi terkejut, sebab diketahuinya pada hulu hati Coa-hun-jiu Bun-In-tiok tertancap sebilah belati.
Siapakah yang membunuh Bun-In-tiok?
Ya, pasti ke tiga orang berkedok tadi.
Jelas ke tiga orang berkedok itu tentu juga lagi mengincar kota emas yang terletak di Mo-pan-san itu.
Mungkin mereka mendapat kabar Coa-hun-jiu telah berhasil menawan su-heng, maka diam-diam mereka menguntit begitu melihat Ih-Wan-hui dan Gu-Thong sudah dibunuhnya, segera mereka menerjang masuk dan meledakkan granat berasap yang dapat membuat orang jatuh pingsan, habis itu lantas menculik su-heng dan su-so.
Terpikir sampai di sini, tanpa terasa Su-Kiam-eng menghela napas panjang, bukan menyesali kematian Bun-In-tiok yang merupakan seorang ketua suatu perguruan besar melainkan berduka atas nasib jelek sang su-heng dan usaha diri sendiri yang sia-sia.
Selain itu juga menyesali angkara murka manusia ternyata sedemikian menakutkan sehingga bila perlu tindakan apa pun dapat dilakukannya.
Teringat olehnya waktu dirinya untuk pertama kali melihat nama "kota emas"
Yang tertulis di surat sang su-heng itu, tatkala itu tidak timbul setitik pun hasrat ingin menguasai atau memilikinya, yang dipikir hanya ingin mengambil Jian-lian-hok-leng yang disembunyikan sang su-heng di kota emas itu agar daya ingatan In-Ang-bi dapat dipulihkan.
Tapi sekarang justru ada orang sebanyak ini rela mengorbankan jiwa raga untuk berusaha mengangkangi kota emas itu ...
Ia coba mencabut belati yang menancap ulu hati Bun-In-tiok itu, setelah diperiksa dengan teliti, ternyata tidak menemukan sesuatu kode apa pun.
Ia buang belati itu dan meninggalkan kamar tahanan di bawah tanah itu.
Di luar, terlihat Ci-ceng-cu juga menggeletak kaku di tengah genangan darah, dari baju yang dikenakan tuan rumah itu, jelas waktu berada dalam kamar dia mendengar pintu diketuk, begitu dia membuka pintu untuk menerima tamu, pada saat itulah dia terbunuh.
Kiam-eng coba melongok keluar halaman, suasana gelap dan sunyi, tampaknya baru lewat tengah malam, mungkin belum ada orang yang tahu sang ceng-cu terbunuh, semuanya lagi tenggelam di alam mimpi.
Kiam-eng tidak heran oleh keadaan perkampungan ini, sebab keluarga Ci-ceng-cu ini bukan orang persilatan, bilamana perkampungan mereka dimasuki orang persilatan jelas mereka takkan tahu.
Cara bekerja ke tiga orang berkedok dan berbaju hitam itu sungguh cukup bersih, sedikit pun tidak meninggalkan jejak yang dapat digunakan pengusutan.
Su-Kiam-eng ragu apa yang harus dikerjakannya?
Setelah berpikir sejenak, ia menyelinap keluar dan melompat ke atas rumah, secepat terbang ia lari ke luar perkampungan itu.
Setiba di depan perkampungan, segera ia bersuit.
Hal ini baru saja timbul dalam benaknya, itu sesudah dia memutuskan menyaru sebagai Sai-hoa-to, lalu Wi-ho-Lo-jin mengatur lagi suatu langkah berikutnya dengan mengirim seorang membuntuti jejaknya untuk berjaga-jaga bilamana terjadi sesuatu dapat memberi bantuan seperlunya.
Orang yang disuruh membuntuti Kiam-eng itu juga langganan tetap Bu-lim-teh-co, ialah si kakek she Sin, nama lengkapnya Sin-Giok-ki, berjuluk Thi-ih-peng, si rajawali sayap besi.
Kung-fu kakek Sin itu tidak terlalu menonjol, tapi gin-kang nya sangat tinggi.
Su-Kiam-eng merasa kakek Sin sangat cocok untuk membuntuti dia.
Kemarin setiba di sini Bun-In-tiok tidak menemukan orang lain yang dicurigai, dapat dipercaya kakek Sin pasti sudah menguntit tiba juga dan pasti juga menyaksikan masuk-keluar nya ke tiga orang berkedok.
Sebelumnya Kiam-eng sudah berjanji dengan kakek itu untuk berhubungan dengan suara suitan, maka sekarang ia bersuit sekali.
Namun meski sudah ditunggu sekian lama, ternyata Sin-Giok-ki tidak muncul juga kendati ia bersuit lagi sekali.
Tentu saja Kiam-eng heran, pikirnya.
"Malam sunyi begini, jika Thi-Ih-peng berada di sini tentu dia dengar suara suitanku. Jangan-jangan kemarin dia tidak menyusul kemari? Namun laju keretaku kemarin tidak terlalu cepat dengan gin-kang nya yang terkenal mustahil dia tertinggal? Mungkin lantaran dia melihat Gak-su-heng dibawa lari oleh ke tiga orang berkedok dan tidak terlihat aku mengejar ke luar, maka diam-diam ia membuntuti musuh?"
Berpikir demikian ia menjadi girang, sebab kalau tidak salah terka, bilamana sekarang ia pulang ke Bu-lim-teh-co untuk menunggu pulangnya Thi-ih-peng, maka ke mana diculiknya sang su-heng tentu pula akan diketahui.
Segera ia berlari pula menuju ke Wi-go-san.
Akan tetapi baru saja bergerak, pada waktu lewat di bawah pohon siong yang tinggi, sekonyong-konyong terasa pundaknya tertetes oleh setitik air embun yang dingin.
Apabila benar air embun tentu takkan diperhatikan oleh Su-Kiam-eng, soalnya segera diketahuinya bahwa titik air itu bukan air embun melainkan setitik darah segar.
Terkesiap hati Kiam-eng begitu mengetahui darah, cepat ia menahan gerak lompatnya ke depan dan putar balik ke bawah pohon.
Nyata di bawah pohon ada genangan darah, bahkan darah segar masih terus menetes dari atas pohon setitik ...
dua titik dan terus menitik ...
Begitu lihat segera Kiam-eng tahu di atas pohon ada orang mati, waktu ia mendongak, benar juga ada seorang terbaring di cabang dahan pohon dengan kaki dan tangan terjulur.
Segera ia melompat ke atas pohon.
Dalam sekejap itu secara naluri sudah dapat diterkanya orang mati yang terbaring di dahan pohon itu mungkin adalah Thi-Ih-peng Sin-Ciok-ki.
Ternyata benar, begitu di atas pohon segera dapat dikenali yang mati itu memang si kakek Sin, pada punggungnya menancap sebilah belati, cuma ketika jari Kiam-eng menyentuh tubuhnya dirasakan masih ada sedikit rasa hangat, jelas napas kakek itu belum putus.
Cepat ia angkat Sin-Ciok-ki dengan hati-hati, dengan ringan ia lompat turun.
Wajah si kakek Sin pucat pasi dan kehilangan kesadaran, meski tampaknya belum putus napas, namun sudah tidak jauh lagi dari kematian.
Kiam-eng tidak berani mencabut belati yang menancap di punggung si kakek, ia hanya memanggil perlahan "Sin-lo-cian-pwe", karena tidak mendapat jawaban, ia tidak berani ayal, segera ia pondong kakek Sin dan dibawa lari cepat ke Wi-gok-san.
Ia teringat pada Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, meski diketahuinya luka Sin-Ciok-ki sangat parah dan belum tentu Sai-hoa-to sanggup menyelamatkannya, tapi kalau dapat membuatnya sadar sejenak, bisa jadi kakek Sin dapat memberi tahukan siapa ke tiga orang berkedok berbaju hitam itu.
Dari perkampungan Ci-ceng-cu sampai Wi-ho-lau di Wi-gok-san jauhnya kira-kira 40 li, naik kereta kuda saja diperlukan satu jam lebih, tapi dalam waktu setengah jam saja Su-Kiam-eng dapat mencapai Wi-ho-lau.
Waktu itu fajar belum lagi tiba, pintu Bu-lim-teh-co dan warung minum lain sama tutup rapat, Kiam-eng membawa Sin-Ciok-ki masuk melalui pintu belakang Bu-lim-teh-co dan langsung menuju kamar Wi-ho-Lo-jin.
Di luar dugaan, kamar tidur Wi-ho-Lo-jin ternyata masih ada cahaya lampu, malahan ada suara orang sedang bicara.
Baru saja Kiam-eng sampai di luar kamar, segera terdengar Wi-ho-Lo-jin menegur di dalam.
"Siapa itu kawan yang datang?"
"Aku, paman Wi."
jawab Kiam-eng. Terdengar Wi-ho-Lo-jin bersuara kaget dan cepat membuka pintu sambil berseru.
"Lekas masuk, gurumu dan nona In ... Hei, siapa itu yang kau pondong?"
Seketika lenyap senyum Wi-ho-Lo-jin dan berubah heran dan terkejut. Kiam-eng menyelinap masuk ke kamar sembari menjawab.
"Dia Sin-lo-cian-pwe ... Ah, mengapa Su-hu berada di sini?"
Kiranya pada saat itu dalam kamar Wi-ho-Lo-jin ada tiga orang, yang seorang adalah Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, seorang lagi berusia 60-an, berwajah kereng dan berbaju biru, orang ke tiga adalah gadis berbaju putih dengan wajah cantik namun sikapnya seperti orang linglung.
Kakek berbaju biru itu memang betul Kiam-ho-Lok-Cing-hui, guru Su-Kiam-eng.
Dia berperawakan tinggi kekar, wajahnya mirip Kwan-Kong di jaman Sam-kok, matanya besar dan bersinar tajam, jenggotnya panjang dan hitam gelap gagah dan berwibawa.
Jago pedang yang termashur itu tidak sempat menjawab pertanyaan Kiam-eng ketika dilihatnya yang dibawa sang murid itu adalah Sin-Ciok-ki serentak ia berdiri dan bertanya.
"Bagaimana keadaannya, Kiam-eng?"
Su-Kiam-eng tidak menjawab, lebih dulu ia taruh kakek Sin di tempat tidur Wi-ho-Lo-jin, lalu berkata kepada Sai-hoa-to.
"Sim-lo-cian-pwe, mohon periksa dulu keadaan Sin-lo-cian-pwe, dia belum lagi putus napas!"
Melihat belati yang menancap di punggung Sin-Ciok-ki, kening Sai-hoa-to berkerenyit rapat, ia coba mendekat dan membuka kelopak mata kakek Sin, setelah dipandang beberapa kejap, akhirnya ia menggeleng kepala dan berucap.
"Percuma, sukar diselamatkan lagi!"
"Jika begitu, dapatkah membuatnya sadar sebentar?"
Tanya Kiam-eng dengan cemas.
"Bisa."
Sai-hoa-to mengangguk.
"Tapi setelah sadar segera ia akan putus napas. Adakah yang hendak kau tanya dia?"
"Ya."
jawab Kiam-eng.
"Yang membunuh dia adalah tiga orang berkedok dan berbaju hitam, mungkin dia tahu asal-usul ke tiga orang berkedok itu."
Sai-hoa-to mengangguk, lalu berpaling dan tanya Wi-ho-Lo-jin.
"Wi-lo-ji, sahabat Sin ini adalah kawanmu, bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"
Wi-ho-Lo-jin juga sudah tahu luka Sin-Ciok-ki terlampau parah dan sukar dihidupkan kembali, terpaksa ia mengangguk dan berkata.
"Baiklah, jika memang tak tertolong lagi, membuatnya sadar sejenak juga boleh."
Sai-hoa-to lantas memegang gagang belati yang menancap di punggung kakek Sin dan mendadak dicabutnya.
Sin-Ciok-ki yang tiarap di tempat tidur itu menjerit serupa mendadak ditikam orang, ia menoleh dengan mata mendelik, muka pun mengejang dengan hebat.
Ia tidak bicara melainkan cuma memandang Kiam-ho-Lok-Cing-hui, Wi-ho-Lo-jin, Sai-hoa-to dan Su-Kiam-eng berempat dengan air muka menderita dan merasa seram, habis itu mendadak kepala terkulai dan putus napas.
Cukup lama ke empat orang berdiri terdiam, akhirnya Kiam-eng berucap dengan kecewa.
"Ai, mengapa satu patah pun tidak dia katakan?"
"Waktu dia tertikam, apakah kau hadir di tempat?"
Tanya Lok-Cing-hui dengan kereng.
"Tidak ..."
Kiam-eng menggeleng.
"Jika begitu, jelas dia tertikam mendadak tanpa mengetahui apa pun, memangnya kau suruh dia bicara apa?"
Ujar Lok-Cing-hui. Tanpa bersuara Wi-ho-Lo-jin membalik tubuh Sin-Ciok-ki, perlahan ia pejamkan mata kawannya yang mendelik itu dan ditutup dengan selimut, lalu tanya Su-Kiam-eng.
"Nah, sesungguhnya apa yang terjadi?"
Dengan sedih dan lemas Kiam-eng menjatuhkan diri di kursi, lalu bertutur dengan menghela napas.
"Begini peristiwanya. Semalam wan-pwe menyamar sebagai Sim-lo-cian-pwe dan menguntit Ih-Wan-hui meninggalkan tempat ini ..."
Begitulah ia ceritakan pengalamannya kemarin setelah meninggalkan Bu-lim-teh-co sehingga menemukan Sin-Ciok-ki terluka parah di atas pohon. Kiam-ho-Lok-cing-hui tampak termenung, katanya kemudian.
"Jika begitu, jadi meski sempat kamu berjumpa dengan su-heng mu, namun belum sempat bicara dengan dia?"
"Betul, agaknya ke tiga orang berkedok itu sebelumnya sudah menanti di luar kamar tahanan begitu mengetahui te-cu berhasil membunuh Pia-mia-han segera mereka menerjang masuk dan meletuskan granat asap yang dapat membuat pingsan itu ..."
"Kalana itu gadis macam apa?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Gadis suku asing, usianya sebaya dengan nona In, sangat cantik."
Tutur Kiam-eng.
"Kau lihat apakah dia sangat menyukai su-heng mu?"
Tanya Lok-Cing-hui pula.
"Ya, jelas dia sangat mencintai su-heng."
jawab Kiam-eng pasti.
"Kabarnya gadis suku asing di selatan sana memang berbudi, cuma su-heng mu kan sudah cacat namun dia tetap mencintainya dan mau melayaninya tanpa kenal lelah, gadis sebaik ini sungguh sukar dicari. Aku kira ... mungkin cacat badan su-heng mu ada sangkut-pautnya dengan dia ..."
Kiam-eng mengangguk sependapat dan tidak bersuara. Lok-Cing-hui berpaling dan tanya Wi-ho-Lo-jin.
"Pengalaman dan pengetahuan Wi-heng sangat luas, mungkin kau tahu siapa-siapa yang pernah menggunakan granat asap pada masa lampau?"
"Setahuku di dunia persilatan ada seorang Sam-bi-sin-ong (si kakek sakti tiga rasa) yang mahir membuat tiga macam granat tabir asap berbau harum, busuk dan pedas."
Tutur Wi-ho-Lo-jin.
"Tapi ke tiga macam granat tabir asap buatannya itu tidak dapat membuat pingsan orang, sedangkan senjata Sam-bi-sin-ong sendiri adalah tongkat bertangkai kepala ular dan bukan pedang, padahal selama ini tidak pernah aku dengar granat tabir asap sebagaimana dialami Kiam-eng itu ..."
"Di dunia persilatan masih ada seorang yang gemar menggunakan granat tabir asap, masa Wi-heng lupa?"
Tukas Sai-hoa-to.
"Yang dimaksudkan Sun-heng apakah Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing?"
Tanya Wi-ho.
"Betul."
Sai-hoa-to mengangguk.
"Karena ke dua mata Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing buta, maka setiap kali bertempur dengan orang selalu dia pasang tabir asap dalam ruang lingkup seluas satu li agar pihak lawan terpaksa harus main raba dalam kegelapan serupa dia."
"Tapi anak buah Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing seluruhnya orang perempuan, sedang ke tiga orang berkedok yang dilihat Kiam-eng itu ..."
Sampai di sini Wi-ho-Lo-jin mendadak berpaling dan tanya Kiam-eng.
"Nah, ke tiga orang berkedok itu lelaki atau perempuan?"
"Seperti lelaki."
jawab Kiam-eng.
"Cuma wan-pwe juga tidak berani memastikan, sebab wan-pwe cuma sempat memandang sekejap lantas pingsan oleh tabir asap."
"Bagaimana perawakan mereka?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Yang seorang bertubuh tinggi kurus, dua lainnya bertubuh sedang, bisa jadi lelaki, tapi juga bukan mustahil orang perempuan ..."
Cing-hui menghela napas, kembali ia tanya Wi-ho-Lo-jin.
"Apakah Wi-heng tahu di mana tempat tinggal Sam-bi-sin-ong?"
Wi-ho-Lo-jin menggeleng kepala.
"Dia seorang aneh, pergi datang tidak menentu, jika ingin mencarinya mungkin sangat sulit."
"Bagaimana dengan Li-hun-nio-nio?"
"Dia tinggal di suatu pulau kecil di tengah danau Tong-ting, pulau itu diberinya nama Li-hun-to (pulau tanpa arwah), penghuni pulau tiada seorang pun lelaki, dan setiap orang perempuan yang tinggal di situ sama cacat badan."
"Cacat badan seluruhnya?"
Lok-Cing-hui menegas dengan heran.
"Ya."
Tutur Wi-ho-Lo-jin.
"Sejak kecil Leng-Jing-jing sudah buta dan dibuang ayah-bundanya, dia sudah kenyang menderita di kang-ouw, kemudian mendapatkan ajaran kung-fu dari seorang kosen, maka dia bercita-cita hendak menolong setiap orang perempuan cacat di dunia ini, ia membawa mereka untuk tinggal di Li-hun-to agar mereka tidak lagi menderita dianiaya dan sukar mencari nafkah."
"Jika begitu, Leng-jing-jing kan seorang perempuan yang harus dihormat dan dikagumi, tidak pantas kita mencurigai dia."
Ujar Lok-Cing-hui.
"Apa yang dilakukan Leng-Jing-jing itu memang harus dipuji, tapi demi untuk menghidupi ribuan orang perempuan cacat, dia tidak segan merampok harta benda. Demi merampok harta benda, akhirnya dia berubah menjadi seorang iblis perempuan yang banyak membunuh orang."
"Hal ini tidak dapat menyalahkan dia."
Ujar Lok-Cing-hui.
"Mereka kan orang perempuan cacat, dalam keadaan kepepet karena tidak ada bantuan, terpaksa mereka merampok untuk menyambung hidup."
Setelah berhenti sejenak, lalu ia pandang Kiam-eng dan berkata.
"Anak Eng, apa bila pada suatu hari kau temukan kota emas itu, hendaknya dapat kau gunakan emas sebanyak itu untuk kesejahteraan sesamanya."
Kiam-eng mengiakan, perlahan pandangannya beralih ke wajah In-Ang-bi yang duduk linglung di samping sana, pikirnya.
"Ya, termasuk nona In ini, harus aku dapatkan Jian-lian-hok-leng untuk memulihkan daya ingat nona yang harus dikasihani ini."
Tiba-tiba Wi-ho-Lo-jin berdiri, katanya.
"Silakan kalian bicara lagi, mumpung fajar belum tiba, biar aku kubur dulu jenazah Sin-heng ..."
Sembari bicara ia terus mengangkat mayat Sin-Ciok-ki.
"Paman Wi, biarkan wan-pwe saja yang mengerjakannya."
Seru Kiam-eng.
"Tidak, kami adalah sahabat karib selama berpuluh tahun, biarlah aku saja memenuhi sekadar kewajibanku sebagai sahabat lama."
Habis berkata Wi-ho-Lo-jin lantas membawa keluar jenazah si kakek Sin. Terpaksa Kiam-eng duduk kembali, katanya kepada Sai-hoa-to.
"Selanjutnya harap Sim-lo-cian-pwe waspada sedikit, bilamana tidak salah dugaanku, mungkin masih ada orang yang akan mencari setori terhadap Lo-cian-pwe"
"Memangnya ke tiga orang berkedok juga berani mencari diriku?"
Ujar Sai-hoa-to.
"Umpama mereka tidak berani, kan masih ada orang yang menemukan peta pusaka itu, dia tentu akan datang. Dunia persilatan jaman ini hanya Sim-lo-cian-pwe saja yang mahir mengobati gas racun, jika mereka ingin menemukan kota emas purba, mereka pasti juga akan berpikir memperalat Sim-lo-cianpwe.
"Kalau benar begitu, kan dapat kau palsukan diriku juga, boleh kau tinggal digubukku itu untuk menantikan datangnya sasaran."
Ujar Sai-hoa-to dengan tertawa.
"Walaupun boleh juga, tapi orang yang dapat aku tunggu mungkin orang yang menemukan peta itu, padahal aku rasakan tugas yang paling utama sekarang harus aku selamatkan dulu su-heng ku."
Kata Kiam-eng.
"Tidak, tugasmu yang utama tetap mencari kota emas purba itu dan mengambil Jian-lian-hok-leng."
tukas Kiam-ho-Lok-Cing-hui.
"Tapi... tapi bagaimana dengan Gak-su-heng?"
Tanya Kiam-eng dengan cemas sambil memandang sang guru. Dengan kereng Lok-Cing-hui menjawab.
"Dengan sendirinya su-heng mu juga perlu diselamatkan, tapi diantara kedua urusan, mengambil Jian-lian-hok-leng terlebih penting."
Kiam-eng merasa tidak mengerti, katanya.
"Te-cu merasa seharusnya menyelamatkan Gak-su-heng lebih dulu, sebab setiap saat Gak-su-heng dan Kalana ada kemungkinan akan dibunuh musuh. Sedangkan kita juga cuma tahu Jian-lian-hok-leng disembunyikan di kota emas dan tidak tahu tempatnya yang persis, kalau tidak menyelamatkan dulu Gak-su-heng untuk dimintai keterangan yang lebih jelas, biarpun dapat menemukan kota emas juga ..."
Kiam-ho-Lok-Cing-hui memberi tanda agar Kiam-eng tidak melanjutkan, ucapnya perlahan.
"Jika suheng mu dapat menemukan Jian-lian-hok-leng di lereng Mo-pan-san sepanjang beberapa ratus li, masakah tidak dapat kau temukan Jian-lian-hok-leng di tengah kota emas kecil itu?"
Muka Kiam-eng menjadi merah, jawabnya dengan menunduk.
"Teguran Su-hu memang tepat. Cuma te-cu tetap merasa menyelamatkan Gak-su-heng terlebih penting, sebab ..."
"Kiam-eng."
Kembali Lok-Cing-hui memotongnya dengan menghela napas.
"sekarang ingin aku tanya padamu, bagaimana pikiranmu atas perasaanku terhadap kalian su-heng dan su-te?"
"Su-hu selama ini memandang Gak-su-heng dan te-cu seperti anak kandung sendiri, sedikit pun te-cu tidak meragukan hal ini."
jawab Kiam-eng dengan hormat.
"Bagus, sekarang aku tanya lagi, pada waktu kalian mengangkat guru padaku, pernah aku tanyai kalian satu kalimat, apa pertanyaanku itu masih kau ingat?"
"Ingat."
Kiam-eng mengangguk.
"Su-hu tanya kepada te-cu apa tujuan belajar silat, te-cu menjawab demi menggembleng jiwa raga, menumpas kelaliman dan membantu kaum lemah serta menegakkan keadilan bagi dunia persilatan."
"Ada lagi?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Berani membela kebenaran sekalipun harus mengorbankan nyawa."
Kata Kiam-eng dengan khidmat.
"Tepat."
Ucap Lok-Cing-hui.
"makanya aku pandang mengambil Jian-lian-hok-leng terlebih penting daripada menolong su-heng mu."
Tanpa terasa Kiam-eng berpaling memandang In-Ang-bi yang duduk termenung seperti orang linglung itu, lalu memandang pula sang guru dan bertanya dengan ragu.
"Apakah Su-hu berpendapat nona In ini mengetahui si pembunuh ke-18 tokoh bu-lim di Hwe-liong-kok dahulu?"
"Betul. Tadi waktu kau tiba pernah tanya sebab apa kami berada di sini, sekarang biar aku katakan padamu, sejak kau tinggalkan tempat kita, ada orang berusaha membikin celaka nona In, berulang dua kali aku dapatkan banyak ular berbisa yang berkeliaran di depan gua tempat kediaman kita, syukur dapat aku ketahui lebih dini dan segera aku bawa nona In meninggal Ciok-lau-san kita.
"Coba, mengapa orang itu ingin membunuh seorang anak perempuan yang sudah kehilangan daya ingatan? Ini mudah diterka, yaitu waktu ke-18 tokoh Bu-lim terbunuh di Hwe-liong-kok lima tahun lampau, tentu nona In ini pernah ikut menyaksikan di tempat kejadian, maka si pengganas telah menyerangnya pula dan membuatnya kehilangan daya ingat, dengan demikian pembunuh itu yakin di dunia ini tiada orang ke tiga lagi yang tahu perbuatannya. Namun tak terduga olehnya bisa timbul pikiran teguh untuk menyembuhkan In-Ang-bi maka ia menjadi ketakutan, kuatir bila kita berhasil menyembuhkan In-Ang-bi, tentu akan kelihatan belangnya, karena itu sekarang dia bertekad turun tangan untuk membinasakan In-Ang-bi."
Sampai di sini, ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan perlahan.
"Kau tahu, di antara ke-18 tokoh bu-lim yang terbunuh itu ada 12 orang adalah ketua berbagai perguruan besar jaman ini, jelas ada maksud tujuan tertentu si pengganas itu membunuh mereka, atau dengan lain perkataan, bisa jadi hal itu merupakan langkah pertama untuk melaksanakan sesuatu ambisinya.
"Karena itulah, urusan ini merupakan kasus besar yang menyangkut seluruh dunia persilatan, padahal sampai saat ini belum lagi ada orang persilatan yang berhasil menyelidiki siapa si pengganas itu. Hal ini pun membuktikan pengganas itu adalah seorang tokoh yang maha culas, licik dan keji. Tokoh semacam ini hanya dapat dihadapi oleh Kiam-eng dan muridnya atau kita guru dan murid.
"Cuma Kiam-ong Ciong-Li-cin akhir-akhir ini selalu bersemadi dan berlatih ilmu sakti, tidak nanti berhenti setengah jalan dan tampil untuk menyelidiki peristiwa berdarah di Hwe-liong-kok itu. Maka kasus ini lantas jatuh ke tangan kita guru dan murid. Jika kita dapat lekas menyembuhkan otak In-Ang-bi, sebelum elmaut menimpa bu-lim, umumnya boleh dikata merupakan suatu pahala yang tidak ada taranya.
"Lantaran itu juga aku anggap mengambil Jian-lian-hok-leng itu jauh lebih penting daripada menolong su-heng mu. Berbareng aku pun percaya, terhadap jalan pikiranku ini, su-heng mu pasti setuju dan takkan menyesal, sebaliknya jika lebih dulu kau pergi mengambil Jian-lian-hok leng, inilah yang akan membuatnya mati pun tidak tentram."
Uraian Lok-Cing-hui yang tegas lagi berbudi inilah yang melahirkan julukannya sebagai Kiam-ho atau jago pedang berbudi luhur. Seketika terbangkit semangat jantan Su-Kiam-eng, ucapnya sambil berdiri.
"Jika demikian, sekarang juga te-cu akan berangkat ke Mo-pan-san untuk mencari Jian-lian-hok-leng.
"Tidak, tunggu bila sudah tahu persis letak kota emas itu baru kau pergi."
Kata Lok-Cing-hui.
"Meski luas Mo-pan-san ada beberapa ratus li, asalkan te-cu membuang waktu beberapa bulan untuk mencarinya dengan cermat, rasanya tidak sulit untuk menemukan kota emas itu."
Ujar Su-Kiam-eng.
"Soalnya, dapatkah kau pastikan kota emas itu memang terletak di sekitar Mo-pan-san?"
Ujar Lok-Cing-hui.
"Masa bukan?"
Kiam-eng melengak. Cing-hui tertawa, ia berpaling dan tanya Sai-hoa-to.
"Dahulu Sim-heng pernah ke daerah selatan?"
"Ya, di daerah selatan yang masih liar itu banyak bahan obat-obatan, pernah tiga kali aku pergi ke sana."
jawab Sai-hoa-to.
"Adakah suku bangsa Ih yang tinggal di lereng pegunungan Mo-pan-san?"
Tanya Lok-Cing-hui.
"Ada, namun semuanya tinggal di sekitar kaki gunung."
Tutur Sai-hoa-to.
"Sekalipun tinggal di kaki gunung, bilamana di tengah gunung ada sebuah kota emas, mustahil mereka tidak tahu."
Ujar Lok-Cing-hui.
"Maka aku pikir kota emas itu tidak pasti terletak di tengah gunung Mo-pan-san."
"Akan tetapi menurut cerita Coa-hun-jiu Bun-In-tiok, katanya su-heng menemukan kota emas itu di pegunungan Mo-pan-san."
tukas Su-Kiam-eng.
"Su-heng mu kan belum memberi keterangan letak kota emas yang pasti, kalau Bun-In-tiok bilang kota emas terletak di Mo-pan-san, bisa jadi juga cuma kabar berita yang dia peroleh dari orang lain."
Ujar Cing-hui dengan tertawa.
"Ucapan Lok-heng memang benar."
Sambung Sai-hoa-to.
"Mungkin muridmu memang mendapatkan Jian-lian-hok-leng di Mo-pan-san dan menemukan kota emas di pegunungan lain."
Lok-Cing-hui berkata pula terhadap Kiam-eng.
"Maka dari itu, lantaran pegunungan dan hutan belukar di daerah selatan itu terlampau banyak, kalau lebih dulu tidak kau dapatkan peta bumi itu, tentu sulit menentukan kota emas. Dengan sendirinya, apabila dalam usahamu mencari peta dapat menyelamatkan su-heng mu tentu akan terlebih baik lagi."
"Maksud Su-hu, te-cu perlu menyamar sebagai Sim-lo-cian-pwe untuk menunggu di rumah gubuk beliau?"
Tanya Kiam-eng. Lok-Cing-hui mengangguk, lalu tanya Sai-hoa-to dengan tertawa.
"Apakah Sim-heng sudi berdiam lagi beberapa hari di tempat Wi-ho-Lo-jin ini?"
"Baik."
jawab Sai-hoa-to dengan suka hati.
"Lok-heng sendiri juga hendak tinggal sementara di sini?"
"Betul. Sudah sekian tahun berpisah dengan dia, kalau tidak tinggal lagi beberapa hari, tentu dia takkan membiarkanku pergi."
"Bagus sekali, biar kita main catur dan minum teh untuk melewati waktu senggang ini."
Ujar Sai-hoa-to dengan tertawa. Paginya.
"Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho"
Sudah pulang ke rumah gubuknya di Wi-gok-san dalam keadaan lesu dan lelah.
Ia menanggalkan capingnya dan dilemparkan ke meja, lalu berbaring di tempat tidur tanpa melepas baju lagi.
Waktu mendusin, ia merasa dirinya tidak lagi rebah di dipan bambu di rumah gubuknya itu melainkan berbaring di tempat tidur yang sangat empuk dan indah.
Nyata rumahnya gubuk sudah berubah menjadi sebuah kamar tidur yang mewah.
Ia ragu apakah dalam mimpi, ia coba mencubit paha sendiri, terasa sakit juga, ia tahu bukan lagi mimpi, karena kagetnya serentak ia melompat bangun.
Pada saat itulah mendadak pintu kamar pun terbuka, seorang kakek bertongkat melangkah masuk dan menegur dengan tertawa.
"Baik-baik kah selama berpisah, Sim-lo-te?"
Usia si kakek jelas di atas 80, rambutnya putih serupa perak, kedua alisnya panjang melambai di bawah ujung mata, mata bulat dan hidung besar seperti biji bawang merah, muka merah bercahaya, sikapnya ramah, berbaju perlente.
"Sai-hoa-to"
Menyurut mundur dengan terperanjat, serunya dengan siap siaga.
"He, engkau siapa?"
Dengan santai si kakek menyandarkan tongkatnya dan duduk di sebuah bangku porselin, lalu menjawab dengan tertawa.
"Ai, masa Sim-lo-te sudah pangling padaku?"
"Sai-hoa-to"
Berkedip-kedip dengan bingung, tiba-tiba seperti teringat, serunya.
"Aha, engkau ini Hu-kui-ong Liong-Uh-kong!"
Hu-kui-ong Liong-Uh-kong atau si kakek kaya-raya, terhitung salah seorang tokoh aneh dunia persilatan, 50 tahun yang lampau dia tergolong salah seorang tokoh terkemuka.
Wataknya kemaruk harta dan nama, pernah dia meninggalkan ilmu silat untuk belajar sastra, pada usia 32 tahun dia mendapat gelar sarjana muda dan diangkat menjadi bupati kota Yang-ciu.
Tapi lantaran korupsi, kemudian dia dipecat.
Akhirnya berkecimpung lagi di dunia persilatan.
Karena ilmu silatnya tinggi, caranya mengumpulkan harta juga mempunyai jalan tertentu, maka jadilah dia seorang hartawan dalam dunia persilatan.
Dalam usia tua, ia menjuluki diri sendiri sebagai "Hu-kui-ong"
Alias si kakek kaya raya dan tinggal tirakat di perkampungan Hu-kui-san-ceng, selama ini jarang bergerak lagi di dunia kang-ouw.
Tapi karena namanya termashur, pula gemar berdandan, maka biarpun orang yang belum pernah melihat dia, asal bertemu dengan sendirinya dapat menduga dia inilah Hu-kui-ong Liong-Uh-kong.
Dan memang betul, kakek perlente yang muncul di depan "Sai-hoa-to"
Sekarang memang betul Hu-kui-ong Liong-Uh-kong adanya. Dengan tertawa ia menjawab.
"Betul, aku kira engkau tidak kenal lagi padaku!"
Rasa kejut "Sai-Hoa-To"
Belum lagi lenyap, mengamati sekelilingnya sekejap, lalu bertanya dengan sangsi.
"Meng ... mengapa aku bisa di sini?"
"Aku lah yang sengaja mengirim beberapa anak buahku mengundangmu ke sini."
Tutur Hu-kui-ong Liong-Uh-kong.
"Mereka kuatir engkau menolak datang kemari dari lompat jauh, maka selagi engkau tidur ... Ah, pendek kata, tidak ada maksud jahatku mengundangmu kemari, apabila engkau tidak senang terhadap caraku mengundangmu ini, biarlah sekarang juga aku mohon maaf kepada Sim-heng."
Habis berkata berulang ia memberi hormat dan minta maaf. Rada tenang pikiran "Sai-hoa-to"
Oleh keterangan itu, tanyanya kemudian.
"Jadi tempat ini adalah Hu-kui-san-ceng tempat kediaman Liong-heng.
"Begitulah."
jawab si kakek kaya raya sambil mengangguk.
"Wah, jika begitu entah sudah berapa hari aku tenggelam dalam tidurku?"
Tanya pula "Sai-hoa-to"
Dengan kening berkerenyit.
"Lima hari."
jawab si kakek kaya raya.
"Selama lima hari engkau tertidur pulas dan baru saja tiba di sini."
"Hm, tak tersangka aku pun diselomoti Bi-hun-hiang (dupa bius) ..."
Dengus "Sai-hoa-to"
Perlahan.
"Lalu ada keperluan apa Liong-heng menculik diriku ke sini?"
Hu-kui-ong berdiri, katanya dengan tertawa.
"Urusan ini biar dibicarakan nanti saja. Setelah tidur lima hari, saat ini Sim-heng sangat lapar, marilah kita makan dulu."
Sai-hoa-to berdiri.
"Boleh juga, toh ingin lari pun tidak mungkin!"
"Ah, jangan omong begitu."
Ujar Hu-kui-ong dengan tertawa.
"Marilah Sim-lo-te ikut aku."
Segera ia pegang tongkatnya dan meninggalkan kamar itu.
Sai-hoa-to ikut dia ke sebuah ruang makan, di situ sudah siap satu meja perjamuan dengan aneka macam santapan yang lezat.
Hu-kui-ong menyilakan Sai-hoa-to duduk, segera ada pelayan gadis cantik menuangkan arak.
Sai-hoa-to memang sudah lapar, maka tanpa sungkan lagi ia makan dengan lahapnya.
Setelah minum tiga cawan, Hu-kui-ong menghela napas dan berkata dengan gegetun.
"Apakah Sim-heng masih ingat tujuh tahun yang lalu kita ..."
"Jangan bicara kejadian masa lampau, bicaralah urusan sekarang!"
Potong Sai-hoa-to.
"Oo, boleh juga."
Kata Hu-kui-ong dengan tertawa.
"Biar sekarang kita bicara urusan pokok, undanganku padamu ini adalah ingin berkongsi denganmu untuk mendapatkan satu partai harta karun."
"Hahh, satu partai harta karun?"
Sai-hoa-to berlagak terkejut.
"Betul, asalkan kau mau, aku jamin tidak lebih dari setahun engkau akan berubah menjadi orang kaya!"
Sai-hoa-to mengunjuk rasa tidak percaya, ucapnya dengan hambar.
"Ah, masa ada pekerjaan seenak itu?"
"Benar bila, aku tidak bergurau."
Ucap Hu-kui-ong dengan serius. Sejenak Sai-hoa-to mengamati kakek kaya itu, lalu bertanya dengan tersenyum.
"Jika begitu mengapa bisa timbul pikiran Liong-heng untuk bersekutu denganku?"
"Sebabnya, hanya kalau bekerja sama denganmu baru urusan ini dapat sukses."
Ujar Hu-kui-ong Sai-hoa-to mengangkat bahu.
"Aneh, coba ingin aku dengarkan penjelasanmu."
Chapter 3. Rahasia 180 Patung Mas Lebih dulu Hu-kui-ong mengajak minum satu cawan, lalu bicara.
"Paling akhir ini apakah Sim-heng pernah mendengar kabar bahwa murid pertama Kiam-ho-Lok-Cing-hui yang bernama Gak-Sik-lam menemukan sebuah kota emas purba di tengah hutan belukar di daerah selatan yang masih liar sana?"
Sai-hoa-to berlagak tertarik oleh cerita itu, serunya girang dan kejut.
"Oya, pernah aku dengar kabar itu. Jangan-jangan Liong-heng telah menemukan Gak-Sik-lam?"
"Tidak."
Hu-kui-ong menggeleng dan tertawa "Cuma dapat aku beli sehelai peta."
"Hahh, siapakah yang menjual peta mestika itu kepadamu?"
Tanya Sai-hoa-to dengan melengak.
"Maaf, aku sudah berjanji pada kawan itu takkan membocorkan namanya."
jawab Hu-kui-ong.
"Mengapa sahabat itu mau menjual peta mestika itu kepada Liong-heng?"
Tanya Sai-hoa-to dengan terheran-heran.
"Alasan yang paling kuat adalah karena ia sendiri tidak sanggup mendatangi daerah liar sejauh ribuan li itu untuk mencari kota emas yang dimaksud."
Tutur Hu-kui-ong.
"Maka dia mengambil keputusan untuk menjual petanya. Tempo hari dia datang menemuiku dan tanya padaku berani bayar berapa. Aku jawab asalkan dijamin tidak palsu, aku berani bayar 100 tahil emas murni, tapi dia minta 500 tahil dan caranya menjamin adalah menggunakan pribadinya sebagai sandera, ia rela ditahan di tempatku ini sampai kota emas itu aku temukan berdasarkan petunjuk peta dan aku pandang pekerjaan sudah selesai. Maka tanpa sangsi lantas aku beli petanya."
"Sekarang dia berada di tempatmu ini?"
Tanya Sai-hoa-to.
"Betul, aku kurung dia di suatu tempat yang sangat aman."
"Dan bagaimana dengan peta itu?"
"Dengan sendirinya sudah berada padaku."
Sai-hoa-to berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Jadi maksud Liong-heng ingin bekerja sama denganku ..."
"Betul."
tukas Hu-kui-ong.
"karena di tengah rimba raya di daerah selatan yang masih liar itu di mana-mana terdapat gas racun, sedangkan Sim-heng terkenal sebagai ahli gas racun, maka aku harap dapat bekerja sama denganmu."
Sai-hoa-to mengangguk.
"Baik, lalu setelah menemukan kota emas, berapa banyak bagianku?"
"Sim-heng mengharapkan berapa?"
Hu-Kui-ong balas tanya.
"Aku minta sepertiga bagian kota emas itu."
Ucap Sai-hoa-to. Hu-kui-ong melonjak kaget, teriaknya dengan mendelik.
"Busyet! Sepertiga bagian katamu? Wah, mengapa napsu makanmu sebesar itu?"
"Mestinya ingin aku minta setengah bagian, tapi mengingat peta itu dibeli olehmu, maka aku cuma minta sepertiga. Jika Liong-heng merasa keberatan, apa boleh buat, biarlah anggap tidak ada dan batal saja."
Kening Hu-kui-ong berkerenyit.
"Baiklah, memang sudah aku duga kamu ini pasti akan ..."
Sai-hoa-to terbahak-bahak.
"Hahaha, janganlah Liong-heng bicara demikian, kalau aku tidak ikut dalam ekspedisi ini, betapapun Liong-heng tidak dapat menjelajahi rimba purba itu. Kalau aku cuma minta sepertiga bagian kan pantas dan adil?"
"Jika begitu, biarlah kita pastikan persekutuan ini."
Kata Hu-kui-ong.
"Dan bilakah kiranya Sim-heng siap berangkat?"
"Kalau Sim-lo-te tidak perlu membawa apa-apa, biarlah tengah malam nanti kita boleh berangkat."
Kata Hu-kui-ong.
****** Dengan cepat sang waktu berlalu, sang surya terbenam dan tidak lama rembulan pun terbit.
Akhirnya tengah malam pun tiba.
Di tanah lapang di depan Hu-kui-san-ceng saat itu menyala sebuah lentera, di bawah cahaya lampu terlihat di tanah lapang itu diparkir empat buah kereta kuda, di samping setiap kereta berdiri seorang centing dan beberapa langkah dari samping kereta berdiri pula satu baris terdiri dari tujuh orang bersenjata.
Usia ke tujuh orang itu rata-rata 50-60 tahun dengan wajah berlainan, namun sama berseragam pakaian hijau ringkas, senjata mereka terdiri dari pedang, golok, ruyung, tombak dan sebagainya.
Semuanya bersinar mata tajam dengan pelipis menyembul, suatu tanda orang yang memiliki lwe-kang tinggi.
Saat ini juga Sai-hoa-to dan Hu-kui-ong muncul dari dalam perkampungan, di belakang Hu-kui-ong ikut seorang perempuan cantik dengan dandanan mewah beserta dua orang dayang cilik, keduanya membawa bungkusan kecil, tampaknya perempuan cantik itu seperti istri muda Hu-kui-ong dan bermaksud membawa si cantik dalam perjalanan.
Setiba di tanah lapang, Hu-kui-ong memandang sekeliling kepada ke tujuh kakek berbaju hijau, habis itu ia berpaling dan berkata terhadap Sai-hoa-to dengan tertawa.
"Ke tujuh orang ini adalah jago pengawalku, pada masa lampau nama mereka pun cukup beken di dunia kang-ouw, biarlah aku perkenalkan mereka padamu."
Lalu ia mulai menuding dari sebelah kanan.
"Ini Kui-kiam (pedang setan) Ko-Tong-leng!"
"Ini Yau-to (golok siluman) Lu-Gi-sam!"
"Ini Coa-long-kun(si ular cakap) Kiong-Thian-eng!"
"Ini Hek-sat-sin (si malaikat maut hitam) Giam-Hian!"
"Ini Thong thian pit (si potlot penembus langit) Ko-It-hui!"
"Ini Thian-lui-ciang (si pukulan geledek) Tio-Ban-san!"
"Dan Itu Hek-liong-ciau (si cakar naga hitam) Ting-Pia-sin!"
Satu per satu Sai-hoa-to menegur sapa dengan mereka, dalam hati terperanjat tak terkatakan, sebab ke tujuh nama dan julukan yang didengarnya sekarang memang terdiri dari jago kalangan hitam termashur masa lampau, semuanya manusia yang terkenal kejam dan buas, dan tokoh-tokoh yang namanya membuat rontok nyali orang ini sekarang justru menjadi jago pengawal Hu-kui-ong, sungguh kejadian yang sukar dibayangkan.
Sehabis memperkenalkan ke tujuh jagonya, lain Hu-kui-ong bertanya kepada Ko-Tong-leng.
"Apakah semua orang siap?"
"Sudah siap seluruhnya."
jawab Kui-kiam Ko-Tong-leng dengan hormat.
"Baik, biar aku dan Hu-jin (nyonya) menumpang kereta pertama, Sim-sin-ih dan kalian bertujuh terbagi menjadi tiga kereta. Sekarang marilah berangkat"
Sesudah mengatur dan berada dalam kereta.
Hu-kui-ong lantas memberi perintah berangkat kepada kusir keretanya, suara roda kereta lantas berdetak menggelinding ke depan, beriring-iring ke empat kereta itu meninggalkan Hu-kui-san-ceng.
Tengah malam buta dengan sendirinya sepi orang berlalu lalang, setelah kereta kuda meninggalkan jalan pegunungan, akhirnya melintas ke jalan raya terus menuju ke selatan.
Di tengah jalan sama sekali belum menemui orang lain.
Sai-hoa-to dan Kui-kiam Ko-Tong-leng bersama dalam kereta kedua dan menyusul erat di belakang kereta pertama.
Tidak lama meninggalkan jalan pegunungan, tiba-tiba Ko-Tong-leng berkata lirih terhadap Sai-hoa-to.
"Sim-heng boleh istirahat, aku perlu keluar sebentar."
Habis bicara, segera ia melompat keluar kereta dan lari masuk ke tengah hutan di tepi jalan.
Sai-hoa-to tersenyum, tanpa sungkan ia lantas berbaring di dalam kereta dan pejamkan mata untuk tidur sekadarnya.
Dia, orang yang kita sebut sebagai "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho"
Ini, dengan sendirinya dia adalah samaran Su-Kiam-eng.
Sekarang tidak sedih atau kuatir sedikit pun, sebab ia tahu bilamana ingin mencari peta mestika itu dari tubuh Hu-kui-ong jelas sangat sulit, maka sudah dibatalkan niatnya main curi, ia mengambil keputusan akan "bekerja sama"
Dengan Hu-kui-ong dalam kedudukannya sebagai Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho. Ia pikir "kerja sama"
Demikian dapat dilaksanakan sebab yang dituju Hu-kui-ong adalah kota emas sedang sasaran sendiri adalah Jian-lian-hok-leng apalagi harus masuk ke rimba purba di daerah yang masih biadab, kalau dapat menempuh perjalanan beramai tentu jauh lebih aman daripada pergi sendiri.
Jadi prinsipnya sekarang asalkan Hu-kui-ong tidak mengetahui kepalsuannya, maka ia sendiri pun tidak mau sembarangan bertindak.
Karena pikirannya tidak ada sesuatu ganjalan maka begitu mata terpejam akhirnya ia benar-benar terpulas.
Tapi tidak lama tidur ia lantas terjaga bangun oleh sesuatu getaran, waktu membuka mata, dilihatnya Kui-kiam Ko-Tong-leng sudah berada lagi di dalam kereta dan duduk di sebelah segera ia bangun dan bertanya dengan tertawa.
"Baru saja Ko-heng pergi ke mana?"
Dengan tersenyum Ko-Tong-leng menjawab.
"Buang air sekalian melihat-lihat ..."
"Adakah kelihatan dibuntuti orang."
Tanya Kiam-eng pula. Ko-Tong-leng mengangguk dengan tertawa.
"Betul, sangat mungkin ada kawan dari segolongan sedang giat mencari dan menyelidiki Gak-Sik-lam dan peta mestika itu, maka kita harus waspada."
"Kawan yang menjual peta itu, sebelum menjualnya kepada Liong-heng apakah pernah menyuruh orang lain menjual kemari?"
Tanya Su-Kiam-eng.
"Dia bilang tidak. Cuma, apa pun kita hati-hati."
Tutur Ko-Tong-leng.
"Sungguh aku tidak habis mengerti."
Ucap Kiam-eng setelah termenung sejenak.
"jika kawan itu memperoleh peta, mengapa dia tidak mencari sendiri kota emas itu menurut petunjuk peta, sebaliknya malah menjual peta kepada orang lain!"
"Tentang ini masa ceng-cu kami belum bercerita kepada Sim-heng?"
"Liong-ceng-cu mengatakan sahabatnya itu tidak sanggup pergi ke daerah liar yang jauh itu, tapi aku tidak paham, tidak sanggup yang dimaksudkan itu dalam hal apa?"
"Sim-heng sekarang sudah merupakan orang kita sendiri, biarlah aku beberkan sedikit keterangan ini. Kawan yang menjual peta itu adalah seorang yang buntung sebelah kaki."
"Oo, kiranya demikian. Apakah dia mahir kung-fu?"
Tanya Kiam-eng.
"Tidak hanya mahir, malahan tergolong seorang tokoh, cuma dia kehilangan sebelah kaki, untuk menempuh perjalanan yang jauh ke rimba purba di daerah yang masih belukar tentu tidak leluasa, makanya diputuskan menjual peta sekadar mendapat keuntungan."
"Lima ratus tahil emas murni bukan lagi jumlah sekadar."
Ujar Kiam-eng.
"Betul, tapi yang diperolehnya ini mungkin tidak ada satu per seribu dari nilai keseluruhan kota emas itu."
"Benar juga ucapanmu."
Kiam-eng mengangguk.
"Dan cara bagaimana dia memperoleh peta mestika itu?"
"Hal ini dia tidak mau bercerita."
Kata Ko-Tong-leng.
"Yang jelas dia bersedia aku kurung di tempat kami sampai kota emas itu ditemukan, maka kesungguhan atau kejujurannya tidak perlu disangsikan."
"Dahulu pernah aku pergi ke Mo-pan-san tempat itu memang bukan tempat manusia."
Tutur Kiam-eng.
"Selain seluruh lereng gunung penuh gas racun, juga banyak binatang buas. Yang paling celaka adalah cuacanya yang tidak tetap, sebentar panas, lain saat dingin sangat sukar menyesuaikan diri."
"Kabarnya suku bangsa In di sana suka membunuh manusia, entah betul tidak?"
"Betul, cuma yang paling menakutkan bukan hal ini melainkan para kepala suku di sana yang pandai main tenung."
"Oo, lantas bagaimana baiknya?"
Seru Ko-Tong-leng dengan jeri, agaknya cukup luas juga pengalamannya, maka ia tahu betapa lihainya ilmu hitam itu.
Kita harus hati-hati, sebelum kita melintas daerah kekuasaan mereka, sebaiknya kita memberikan sedikit hadiah kepada kepala suku setempat.
"Urusan ini apakah pernah Sim-heng bicarakan dengan ceng-cu kami?"
Tanya Ko-Tong-leng.
"Sudah pernah aku singgung."
Kiam-eng mengangguk.
"Maka Liong-ceng-cu sudah menyiapkan banyak hadiah ... Hei, terjadi apa?"
Kiranya sebelum habis bicaranya, mendadak kereta berhenti.
"Kasihan Tuan! Kasihani pengemis yang miskin dan sakit-sakitan ini, tidak mampu bekerja cari nafkah, mohon belas kasihan..."
Begitulah kereta berhenti, segera terdengar suara orang minta-minta yang mohon belas kasihan.
Air muka Ko-Tong-leng berubah, serentak ia pun melompat keluar kereta.
Segera Su-Kiam-eng juga ikut melompat ke luar.
Terlihatlah di depan kereta pertama yang ditumpangi Hu-kui-ong Liong-Uh-kong itu terhalang oleh seorang pengemis tua yang berdiri di tengah jalan.
Usia pengemis tua itu antara 70 an, rambut kusut dan muka kotor, bajunya compang-camping penuh tambalan, tangan memegang tongkat bambu, mukanya jelek dan dekil, jelas bukan manusia baik-baik.
Pada saat itu Hu-kui-ong Liong-Uh-kong masih duduk senang di dalam keretanya dan tidak keluar, ketika mendengar Ko-Tong-leng memburu tiba, segera ia berseru.
"Tong-leng, pengemis ini memang harus dikasihani, berilah sedikit uang perak dan dia pergi!"
Seorang pengemis menghadang di tengah jalan pada tengah malam buta dan minta sedekah, dengan sendirinya keadaan ini tidak bisa, sekali lihat saja setiap orang akan tahu berdatangan pengemis tua ini pasti mempunyai tujuan tertentu.
Dengan sendirinya Hu-kui-ong juga tahu munculnya pengemis itu tidak bermaksud baik, tapi ia tidak ingin mencari perkara, pendiriannya jika pihak lawan menghendaki uang, maka berikan saja.
Sudah tentu Ko-Tong-leng paham kehendak sang majikan, segera ia mengeluarkan sepotong uang perak seberat lima tahil dan dilemparkan kepada pengemis tua itu sambil membentak.
"Ini, ambil!"
Pengemis itu menangkap uang perak yang dilemparkan padanya itu, dengan lagak yang dibuat-buat ia mengamati uang perak itu, lalu perak itu dibuangnya ke tanah sambil mendengus.
"Hm, setengah malam an pengemis tua menunggu di sini tanpa tidur, akhirnya para tuan besar baru tiba, tak tersangka sedekah yang aku peroleh cuma lima tahil perak. Hehe, bukankah kalian sengaja hendak bergurau dengan pengemis tua?"
Sampai di sini Ko-Tong-leng pun tahu maksud kedatangan lawan, segera ia balas mengejek.
"Siapakah nama sahabat yang terhormat?"
"Huh, macam apa pertanyaanmu ini?"
Jawab si pengemis dengan ketus.
"Karena nasib malang aku terjerumus menjadi pengemis dan terpaksa minta-minta, tapi kau tanya namaku segala, memangnya sengaja kau hina kakek moyangku?"
"Jika begitu, ayolah bicara saja blak-blakan apa maksud kedatanganmu ini?"
Tanya Ko-Tong-leng. Dengan angkuh si pengemis menjawab.
"Sudah lama aku dengar kekayaan Hu-kui-ong yang tiada bandingannya, sekarang aku datang untuk minta sedekah."
"Bicara yang lebih jelas."
Jengek Ko-Tong-leng. Mendadak pengemis tua itu tertawa, katanya sambil menuding Ko-Tong-leng.
"Serupa dirimu, pengemis juga ingin menjadi pegawai Hu-kui-ong."
"Bagus sekali, tapi untuk ini harus lulus ujian."
Ujar Ko-Tong-leng.
"Boleh saja asalkan Liong-ceng-cu sudah menyatakan setuju."
Ujar si pengemis. Mendengar itu, Hu-kui-ong membuka tirai keretanya dan melongok keluar, ia pandang si pengemis tua beberapa kejap, tiba-tiba berseru.
"Aha, kiranya Kai-pang-tiang-lo To-kau-seng-jiu, maaf, maaf, Ai, mengapa Ki-heng sengaja bergurau denganku?"
Kiranya pengemis tua ini memang betul salah seorang Tiang-lo atau sesepuh Kai-pang (organisasi pengemis), namanya Ki-Go dan berjuluk To-kau-seng-jiu atau si tangan sakti pejagal anjing.
Karena dirinya dikenali Hu-kui-ong, segera pengemis tua alias Ki-Go memberi hormat dan menjawab dengan tertawa.
"Ah, mana aku berani bergurau dengan Liong-ceng-cu. Soalnya pengemis tua suka cari perkara sehingga saking marahnya bulan lalu aku diusir Pang-cu, sekarang pengemis tua serupa anjing yang tidak punya majikan, terpaksa mesti memohon pertolongan kepada Liong-ceng-cu."
Hu-kui-ong tahu urusan tidak mudah diselesaikan, segera ia turun dari keretanya, katanya dengan tersenyum.
"Ai, Ki-heng sungguh pintar berkelakar. Padahal aku ini cuma seorang keroco dunia persilatan, mana sanggup menerima tokoh besar To-kau-seng-jiu seperti dirimu ini."
"Jika begitu, jadi Liong-ceng-cu memandang hina pada pengemis tua?"
Jengek To-kau-seng-jiu Ki-Go.
"Ah, mana aku berani."
Sahut Hu-kui-ong dengan tertawa.
"Bila Ki-hong kekurangan ongkos, mengingat sesama orang persilatan, tentu akan aku beri sekadarnya."
"Hahaha, biasanya pengemis tua berkelana kian kemari dan diberi makan di mana pun, untuk apa aku minta ongkos segala?"
"Lantas apa maksud kedatangan Ki-heng malam ini, harap katakan terus terang."
Tanya Liong-ceng-cu.
"Sudah tahu kenapa Liong-ceng-cu tanya pula?"
Ujar Ki-Go.
"Kedatanganku ini tidak lebih hanya ingin minta bagian secangkir minuman saja."
"Bagian secangkir minuman apa?"
Tanya Hu-kui-ong dengan tenang. Ki-Go angkat pundak dan tertawa, katanya.
"Ai, Liong-ceng-cu sungguh pandai berlagak pilon. Saat ini setiap orang persilatan tahu Liong-ceng-cu telah mendapatkan peta mestika, bila Liong-ceng-cu ingin mengangkanginya sendiri, wah, kan terlalu serakah namanya."
"Kabar ini Ki-heng dengar dari siapa?"
Tanya Hu-kui-ong dengan muka kecut.
"Hal ini tidak penting, yang jelas sudah banyak orang yang tahu."
jawab Ki-Go dengan tertawa.
"Lantas, apa kehendak Ki-heng?"
Jengek Hu-kui-ong.
"Takaran makan pengemis tua tidak banyak, yang aku harapkan cukup bila Liong-ceng-cu mau mengakui satu bagian hak pengemis tua."
"Hm, memangnya bagaimana kalau aku tolak?"
Jengek Hu-kui-ong. Ki-Go mengangkat bahu.
"Aku kira lebih baik Liong-ceng-cu pertimbangkan lagi lebih masak. Apabila Liong-ceng-cu bersedia memberi satu bagian padaku, dengan sendirinya pengemis tua akan membantu Liong-ceng-cu, kalau tidak, mungkin sukar bagi Liong-ceng-cu untuk lolos dari jarak seratus li di sekitar sini."
"Hahahaha!"
Hu-kui-ong bergelak tertawa.
"Sungguh usul yang baik, sungguh gagasan yang bagus! Tapi belum lagi aku ketahui apakah kemampuan To-kau-seng-jiu sudah memenuhi syarat untuk menjadi pembantuku."
"Eh, apa barangkali Liong-ceng-cu ingin menguji pengemis tua?"
Tanya To-kau-seng-jiu Ki-Go dengan tertawa. Mendadak Hu-kui-ong berhenti tertawa, jengeknya.
"Betul. Tadi kau bilang ingin menjadi pembantuku, untuk itu perlu diuji."
"Baik, pengemis tua siap."
jawab Ki-Go dengan hormat. Hu-kui-ong berpaling dan berkata kepada ke tujuh jagonya yang berdiri di belakang itu.
"Ping-sin, coba maju dan belajar kenal beberapa jurus dengan Ki-tiang-lo!"
Hak-liong-jiau, si cakar naga hitam Ting-Ping-sin mengiakan, segera ia tampil ke depan, ia berdiri dua tiga meter di depan To-kau-seng-jiu Ki-Go, lalu berkata dengan normal.
"Mohon pengajaran Ki-tiang-lo!"
"Jangan sungkan."
jawab Ki-Go sambil membalas hormat.
"Pengemis tua yang menerima ujian, maka diharap kemurahan hati Ting-tai-hiap!"
Kendati di mulut ia bicara dengan santai, yang benar sedikit pun dia tidak berani ayal, matanya menatap tajam kedua telapak tangan Ting-Ping-sin, sebab pernah didengarnya ke dua telapak tangan si Cakar Naga Hitam itu lain daripada yang lain, kecuali lengannya yang lebih panjang daripada manusia umumnya, setiap kuku jarinya yang dipiara panjang lebih lima senti itu mengandung racun, barang siapa tercakar olehnya, jiwa segera melayang.
Sama halnya, Ting-Ping-sin juga tidak berani meremehkan lawannya, sebab ia pun pernah dengar ke 36 gerak permainan tongkat To-kau-seng-jiu yang disebut "Pak-kau-pang-hoat" (ilmu tongkat penggebuk anjing) juga sangat lihai.
Kedua pihak sama berhadapan dengan diam sejenak, tiba-tiba To-kau-seng-jiu menengadah dan tertawa.
"Haha, bagaimana, pengemis tua yang akan diuji, masakah ..."
"Haiit!"
Mendadak Hek-liong-jiau Ting-Ping-sin menerjang maju sambil membentak, telapak tangan kanan terpentang bagai cakar, secepat kilat ia cengkeram muka lawan.
Tak tahunya To-kau-seng-jiu justru sengaja memancingnya turun tangan lebih dulu, tapi ketika melihat serangan musuh sedemikian aneh dan cepat mau tak mau ia terperanjat juga, cepat ia menggeser ke samping, tongkat berputar, segera ia sodok perut lawan.
Ternyata sodokan tongkatnya cuma gerak pura-pura saja, selama ini dia suka menggunakan siasat tertentu, yaitu tidak menyerang secara sia-sia, ia pasti menunggu saat yang meyakinkan sekali serang berhasil baru mau melancarkan serangan maut, kalau tidak, biasanya ia hanya pura-pura menyerang saja untuk membingungkan lawan.
Dengan sendirinya Ting-Ping-sin kenal kebiasaan aneh pengemis tua itu, ia pun tahu meski serangan musuh cuma gerakan pura-pura saja, tapi bilamana dirinya ayal dan sudah siap menghindar atau bertindak tepat mematahkannya, tentu kesempatan tersebut akan digunakan pihak lawan untuk menyerang lebih lanjut.
Cuma sekarang timbul jalan pikirannya yang lain, ia merasa serangan tongkat lawan meski cukup lihat, tetapi bilamana tidak terkena bagian yang fatal, rasanya dirinya masih sanggup menahan sodokan itu dan berbareng juga mencakar pihak lawan.
Ia yakin dengan cara "luka bersama"
Ini akan lebih menguntungkan dirinya, sebab asalkan kulit daging lawan terkena kuku cakarannya yang berbisa, maka pertarungan ini pun akan berakhir.
Sebab itulah, begitu timbul pikiran demikian serentak ia pun melaksanakan serangan berbahaya yang penuh risiko itu.
Maka ketika sodokan tongkat To-kau-seng-jiu itu kelihatan cuma gerakan palsu, serentak ia menerjang maju kedua telapak tangan bergerak terus mencakar seraya tertawa aneh.
Dalam sekejap itulah terdengar suara "bret"
Dan "plok"
Dua kali, kalah menang pun terjadi.
Baju dada To-kau-seng-jiu tercengkeram robek meski orangnya tetap berdiri di tempatnya.
Sebaliknya Hek-liong-jiau Ting-Ping-sin terkena sodokan tongkat, tulang iga patah dua, tubuhnya pun terpental beberapa meter jauhnya.
Namun si Cakar Naga Hitam teramat senang, cepat ia merangkak bangun dan bergelak tertawa, katanya sambil menuding si pengemis tua.
"Haha, roboh, robohlah!"
Namun si pengemis tua To-kau-seng-jiu tidak roboh, ia berbalik menanggapi dengan tertawa, roboh telur busuk nenekmu, untuk apa kau suruh pengemis tua roboh?!"
Ting-Ping-sin terkekeh senang, katanya dengan suara penuh semangat.
"Hah, tampaknya kamu belum lagi menyadari, biar aku katakan padamu, dadamu indah terkena cakar naga hitam berbisa."
To-kau-seng-jiu coba menunduk dan memeriksa sekadar baju dadanya yang robek itu, lalu berucap dengan tertawa.
"Memangnya lantas kenapa?"
"Kenapa? Huh, sudah hampir mampus belum lagi tahu."
Jengek Ting-Ping-sin.
"Cakarku yang berbisa ini bilamana merembes ke pembuluh darah, hari ini pada tahun depan adalah hari ulang tahun kematianmu si pengemis sialan ini."
"Hahaha, memang benar cakar naga hitam berbisa yang jahat ini dapat mematikan korbanmu bilamana racun sudah masuk darah."
Sahut To-kau-seng-jiu dengan terbahak.
"Tetapi, coba tanya kepada dirimu sendiri, apakah cakaranmu telah melukai si pengemis tua?"
"Kau bilang belum terluka, bukankah dadamu sudah robek?"
Seru Ting-Ping-sin seraya menunjuk baju dada si pengemis tua yang koyak itu.
"Hihihi!"
To-kau-seng-jiu tertawa sembari menyingkap baju dadanya.
"coba kau lihat sendiri."
Dengan sendirinya, serangan balasan hanya gerakan palsu belaka dan tidak menyerampang benar, sebaliknya Hu-kui-ong juga lantas menarik tongkatnya, lalu berubah menyabet kepala lawan.
Kedua orang sama-sama tokoh terkemuka dunia persilatan, kepandaiannya mereka pun seimbang maka pertarungan berlangsung hingga puluhan jurus tetap belum ketahuan unggul dan asor.
Hanya bajuku yang robek terkena cakaranmu, di bawah baju kan ada kulit tubuhku yang tidak lecet sedikit pun, sebab di sini masih ada lagi satu lapis kulit yang lain."
Betul juga, di bawah bajunya ternyata masih ada baju lain lagi, yaitu baju yang terbuat dari kulit binatang.
Melihat itu, sungguh tidak kepalang kaget, gusar dan juga malu Ting-Ping-sin, ia menjerit sekali dan roboh terjengkang, semaput seketika saking kekinya.
Sebenarnya luka Ting-Ping-sin sendiri cukup parah, sebab tulang iganya patah dua, sebabnya dia tidak seketika jatuh pingsan adalah lantaran terdorong oleh rasa gembira kemenangannya.
Tapi ketika diketahui pihak lawan ternyata tidak terluka oleh cakarannya yang berbisa itu, seketika juga ia lemas seperti balon gembos dan jatuh semaput.
Hu-kui-ong juga tidak menyangka anak buah sendiri yang akan roboh lebih dulu, keruan ia menjadi murka, dengusnya sekali dan berkata kepada ke enam pengawalnya.
"It-hui, angkat dia ke atas kereta!"
Thong-thian-pit Ko-It-hui mengiakan dan tampil ke muka, ia angkat Hek-liong-jiau Ting-Ping-sin ke atas keretanya. Hu-kui-ong sendiri lantas mendekati To-kau-seng-jiu, dengan wajah masam ia menjengek.
"Hm, ternyata boleh juga pengemis tua, akan tetapi jika kamu ingin bekerja padaku, kamu masih perlu aku uji sendiri. To-kau-seng-jiu mengangguk dan menjawab.
"Boleh, cuma harus kita bicarakan di muka, bilamana beruntung pengemis tua yang menang, tatkala mana yang diminta pengemis tua tentu tidak cuma satu bagian saja."
"Tentu saja."
Ujar Hu-kui-ong tegas "Jika aku kalah, biarlah aku persembahkan peta pusaka kepadamu."
"Bagus, sekarang silakan Liong-ceng-cu memberi petunjuk."
Seru si pengemis tua.
Baru saja lenyap suaranya, serentak Hu-kui-ong sudah melancarkan serangan, sekali tongkat bergerak, langsung ia sodok dada pengemis tua To-kau-seng-jiu.
Betapa cepat serangannya sungguh sukar dilukiskan.
To-kau-seng-jiu tidak berani ayal, sama cepatnya ia geser ke samping, berbareng tongkat penggebuk anjing balas menyerampang kaki Hu-kui-ong.
Begitulah tongkat dan pentung silih berganti saling serang dan menimbulkan suara gemuruh laksana angin badai.
Su-Kiam-eng dan ke enam jago pengawal asyik mengikuti pertarungan itu di samping, sudah tentu ia tidak pusing siapa di antara kedua orang itu yang akan keluar sebagai pemenang, sebab ia tahu biarpun To-kau-seng-jiu yang menang juga dirinya tidak bakalan ikut susah, bahkan dirinya takkan absen dalam perjalanan ke Kota Emas, maka posisi dirinya sekarang boleh dikata seteguh gunung, sedikit pun dia tidak perlu resah.
Malahan dia berharap kedua orang itu sama-sama terluka atau boleh juga mampus seluruhnya.
Atau biarkan To-kau-seng-jiu saja yang menang, sebab ia merasa Hu-kui-ong yang sudah kaya raya itu toh masih ingin berebut Kota Emas segala, sungguh terlalu serakah.
Pertarungan Hu-kui-ong dan To-kau-seng-jiu terus berlangsung hingga ratusan jurus dan tetap belum jelas siapa yang akan keok, lama-lama Kiam-eng merasa sebal, katanya terhadap Ko-Tong-leng.
"Ko-heng, kau kira pertarungan ini ..."
"Jangan kuatir."
Potong Ko-Tong-leng.
"pasti Ceng-cu kami yang akan menang."
"Dari mana kau tahu?"
Tanya Kiam-eng dengan tersenyum. Tiba-tiba Ko-Tong-leng menahan suaranya dengan tertawa.
"Biar aku katakan padamu, kung-fu andalan Ceng-cu kami sampai saat ini belum lagi dikeluarkan."
"Oo, dia mempunyai kung-fu andalan apa?"
Tanya Su-Kiam-eng.
"Sebentar lagi Su-heng akan tahu sendiri."
Sahut Ko-Tong-leng dengan menyengir.
"Jika benar ada kung-fu andalan Ceng-cu yang ampuh, mengapa tidak lekas dikeluarkannya?"
Ujar Kiam-eng dengan kening berkerenyit.
Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar teriakan aneh To-kau-seng-jiu sambil tergetar mundur dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh terduduk.
Melihat si pengemis tua mendadak kalah, Kiam-eng terkejut dan heran, waktu ia memandang dengan cermat, ia menarik napas dingin, diam-diam ia membatin.
"Busyet, kiranya inilah kung-fu andalan Hu-kui-ong"
Kiranya terlihatnya pada dahi To-kau-seng-jiu yang jatuh terduduk itu menancap sebatang jarum hitam.
Bahwa warna jarum itu, tidak perlu ditanya lagi tentu berbisa.
Terlihat kening si pengemis tua yang terkena jarum itu mulai bersemu hitam, lambat laun pun menjalar hingga selebar mukanya.
Dengan sendirinya To-kau-seng-jiu sendiri menyadari terkena jarum berbisa, tapi tenaga untuk mencabut jarum pun tidak punya lagi, ia hanya melotot dengan sorot mata yang buram, ucapnya dengan suara gemetar.
"Jadi ... Jadi dalam batang tongkatmu itu tersembunyi jarum berbisa?"
Dengan sikap santai Hu-kui-ong mengangkat pundak, sahutnya dengan tersenyum senang.
"Dalam bajumu boleh pakai baju kulit lagi, masa dalam tongkatku tidak boleh tersembunyi jarum berbisa?"
To-kau-seng-jiu tidak dapat bicara lagi, begitu kepalanya tergolek ke samping, kontan tubuhnya roboh dan putus napas. Berulang Su-Kiam-eng menghela napas, pikirnya.
"Manusia mati karena harta, burung mati karena pangan. Inilah orang ke empat yang binasa demi memperebutkan Kota Emas ..."
Tampaknya membunuh orang bagi Hu-kui-ong merupakan pekerjaan rutin saja, sama sekali dia tidak memandang lagi terhadap mayat To-kau-seng-jiu, segera ia putar tubuh dan memberi tanda.
"Ayo, semuanya naik kereta dan berangkat!"
Tetapi pada saat semua orang beramai-ramai hendak naik kembali kereta masing-masing, tiba-tiba seorang menyelinap keluar dari kegelapan di tepi jalan dan mendekati mayat To-kau-seng-jiu, ia berjongkok dan memeriksanya sekejap, lalu berlagak terkejut dan berteriak.
Baca Juga: Amanat Marga 4
Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak 2