Ceritasilat Novel Online

Rahasia 180 Patung Mas 11

Eps 11 Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl

Baca online Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl

Cersil Rahasia 180 Patung Mas - Gan Kl.

Cara bicaranya dengan Sam-bi-sin ong tadi dilakukan dengan bisikan gelombang suara, maka sama sekali Boh-to Siangjin tidak tahu menahu apa yang dibicarakan mereka, sekarang padri tua itu bertanya dengan suara tertahan,"

Apakah Sam-bi-sin ong sudah pergi?"

"Ya, sudah pergi,"

Kiam-eng mengangguk.

"Apa yang kau bicarakan dengan dia?"

"Semula dia hendak merampas ke-26 potong medali emas ini, ketika aku berunding dengan dia dan minta dia menyampaikan berita kepada guruku di Hanyang, supaya bekerja sama untuk menumpas Thian-ong-pang, ia pun merasa perlu menumpas dulu Thian-ong-pang baru dapat merampas ke 180 patung emas itu, sebab itulah ia berjanji akan bekerja sama denganku, sekarang dia sudah berangkat ke Han-yang untuk memberi kabar kepada guruku."

"Setelah rombongan gurumu datang segera dapat menumpas kawanan Thian-ong-pang ini?"

Tanya Boh-to Siangjin.

"Kira-kira bisa,"

Ujar Kiam-eng.

"Bagus jika begitu."

Ucap Boh-to dengan gembira."

Namun untuk pergi datang ke Han-yang entah diperlukan waktu berapa hari?"

Kiam-eng coba menghitung sekadarnya, lalu tae jawab,"

Kira-kira perlu sebulan."

"Wah, mana boleh jadi?"

Kata kata Boh-to.

"Kan sudah kujanjikan kepada Thian ong-pangcu bahwa untuk menyalin seluruh tulisan pada medali emas ini diperlukan waktu 17-18 hari, bilamana naskah terjemahannya ini sudah selesai ku-kerjakan, mana dia mau tinggal lagi di sini?"

"Betul, maka mulai besok hendaknya Siang-jin memperlambat cara bekerjamu, sehari cukup menyalin lima medali saja dan jangan lebih."

"Untuk itu kan diperlukan alasan?"

"Siangjin boleh pakai alasan kuatir salah menterjemahkanya, maka sengaja memperlambat cara bekerja, jika dia tidak setuju, boleh juga Siangjin pakai alasan kurang sehat dan perlu istirahat beberapa hari, dengan cara mengulur waktu begitu, kukira dapat ditarik panjang hingga sebulan."

Boh-to Siangjin berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa,"

Ya, kukira hanya begitulah jalan yang terbaik."

Esok paginya, selesai Boh-to dan Kiam-eng sarapan pagi, datanglah Thian-ong-pangcu di atas pagoda, ia ambil naskah terjemahan dan dibaca, lalu menatap Boh-to-Siangjin serta menegur dengan aseran.

"Mengapa tidak kau betulkan?"

"Semalam sudah kucocokkan lagi hingga belasan helai dan tidak menemukan sesuatu kesalahan, memangnya cara bagaimana harus kubetulkan!"

"Omong kosong!"

Omel Thian ong-pangcu sambil melemparkan naskah terjemahan.

"Kalau tidak ada kesalahan, mengapa tidak dapat ku selami dengan baik?"

"Mengenai hal ini, maaf, aku pun tidak mengerti,"

Ucap Boh-to tenang.

"Hm, biar kukatakan padamu, kini sudah kuterima kabar ada lagi seorang yang mahir bahasa Thian-tiok, selang beberapa hari lagi dapat kudatangkan dia ke sini, bilamana nanti diketahui sengaja kau terjemahkan dengan salah, hm, lihat saja kalau tidak kubeset kulitmu."

"Baiklah, jika begitu biar kita menunggu saja, hari ini aku ingin istirahat,"

Kata Boh-to.

"Tidak, kamu tetap harus bekerja seperti biasa, ini kesempatan terakhir yang kuberikan padamu."

Habis berkata, Thian-ong-pangcu mengeluarkan lagi sepuluh potong medali emas dan ditaruh di meja.

"Ke sepuIuh potong medali ini hendaknya kau simpan kembali saja,"

Kata Boh-to sambil menggeleng.

"Kamu berani membangkang perintahku?"

Seketika Thian-ong-pangcu mendelik.

"Bukankah kau minta kucocokkan lagi naskah terjemahanku?"

Tanya Boh-to.

"Semalam sudah ku cocokkan belasan lembar dan masih bersisa 16 lembar yang belum kukoreksi, maka malam ini jelas tak dapat kuterjamahkan yang baru."

"Untuk mencocokkan 16 helai naskah terjemahan masa perlu waktu sehari penuh, kan terlalu lambat!"

Seru Thian-ong-pangcu.

"Mengoreksi tidak lebih sederhana daripada menterjemahkannya, bila Sicu tidak percaya, lain hari boleh kau tanya kepada orang undanganmu yang baru itu."

Thian-ong-pangcu mendengus pelahan dan menyimpan kembali ke-l0 potong medali emas itu, lalu tinggal pergi.

Kiam-eng coba mendengarkan dengan cepat di ambang pintu, setelah yakin orang sudah turun ke bawah pagoda barulah ia berkata kepada Boh-to Siangjin.

"la bilang beberapa hari lagi akan mengundang seorang ahli bahasa Thian-tiok untuk mengantikan Siangjin, apakah dapat dipercayai?"

Boh-to tersenyum, katanya.

"Aku tidak berani di dunia ini tidak ada orang kedua lagi yang mahir bahasa Thian-tiok, yang jelas jika dia ingin mencari lagi satu orang kemari, kukira tidak semudah itu."

"Betul, jika benar dia mendapatkan seorang ahli bahasa yang lain, tentu tadi dia tidak perlu minta Siangjin menerjemahkan lagi ke-l0 medali baru itu."

Boh-to mengangguk dan coba mendekati jendela dan memandang jauh keluar, tiba-tiba dilihatnya si Thian Hok pada berdiri,di ruang pendopo biara sana sedang kasak-kusuk bicara dengan Thian-ongpangcu.

Tampaknya Thian-ong-pangcu bersikap khawatir, dapat diduga tentu terjadi sesuatu urusan, maka ia berpaling dan memberi isyarat kepada Kiam-eng.

Waktu anak muda itu mengintai ke sana, ia pun merasa Thian-ong-pangcu seperti lagi berunding sesuatu urusan penting cuma jaraknya terlampau jauh sehingga sukar diketahui apa yang dibicarakan mereka.

"Ya, meIihat sikap mereka yang agak tegang itu, salah apa telah terjadi?"

Seru Kiam-eng.

"Apakah tidak dapat kau dengar?"

Tanya Boh-to Sianjin.

"Tidak, jaraknya terlampau jauh..."

Tengah bicara, terlihat si Theng Hok gadungan memberi hormat kepada pemimpinnya, lalu bergegas-gegas pergi. Menyusul lantas terdengar Thian-ong-pangcu berteriak ke arah pendopo,"

Nomor empat dan nomor lima, kau kemari"

Kedua orang kuat itu mengiakan dan muncul, mereka memberi hormat dan berkata.

"Suhu ada perintah apa?"

Thian ong-pangcu bicara perlahan beberapa kata kepada mereka, kedua orang tampak menganggak, lalu melangkah ke arah pagoda.

Kiam-eng mengira mereka diperintahkan ke atas pagoda untuk melakukan sesuatu, tapi ternyata mereka lantas berdiri di tempat setelah berada di bawah pagoda sehingga mereka menempati posisi segi tiga bersama penjaga yang sudah berada di situ.

Tergerak hati Kiam-eng, cepat ia menarik Boh-to menjauhi jendela, katanya dengan suara tertahan,"

Wah, melihat gelagatnya, sangat mungkin kedatangan orang lagi."

"Betul, cuma tidak diketahui siapakah gerangan pendatang baru ini?"

"Pada saat ini memang banyak orang persilatan yang ikut mengincar ke-180 patung emas, misalnya Kui-kok ji busiang, Tok-pi-sin-kun Pau Thian-bun dan lain-lain..."

"Apakah mereka itu sangat lihai!"

Tanya Boh-to Siangjin.

"Ya, cuma kalau dibandingkan Thian-ong-pangcu jelas selisih jauh."

"Jika mereka bukan tandingan Thian-ong-pangcu mengapa mereka berani main berebut dengan dia."

"Soalnya daya tarik ke-180 patung emas itu terlampau besar sehingga membuat mereka melupakan nyawa sendiri,"

"Wah, jika benar ada penguntit baru ke sini rasanya tidak baik bagi kita."

"Jika mereka berani muncul dan bertarung dengan Thian-ong-pangcu, kita kan dapat menyaksikan pertarungan antara mereka dengan menarik keuntungan tanpa susah, kenapa Siangjin bilang tidak baik."

"Apakah kamu tidak kuatir Thian-ong-pang-cu akan pergi dari sini? jika dia tinggal pergi, tentu gurumu akan tukar menemukan kita."

"Kupikir, apabila yang datang adalah Tok-pi-sin-kun atau Kui-kok-ji-bu-siang, tentu Thian-ongpangcu takkan meninggalkan tempat ini, sebab pertama, ke-180 patung emas itu kan tidak berada di sini. Kedua, Thian-ong-pangcu tidak perlu gentar terhadap pendatang-pendatang ini, Ketiga, bila pindah dari sini, Tok-pi-sin kun dan yang lain tetap akan menguntit lagi. Nah, buat apa dia bertindak demikian?"

Boh-to pikir beralasan juga ucapan Kiam-eng itu, katanya tertawa.

"Betul juga, cuma tujuan mereka mungkin tidak terletak pada ke 180 patung emas melainkan pada Lo han-kiam-hoat yang sakti ini."

"Jika mereka ingin merampas ke-178 potong medali emas dari tangan Thian-ong pangcu kan juga bukan pekerjaan mudah?"

Ujar Kiam-eng. Bicara sampai di sini tiba-tiba teringat olehnya untuk mencoba memancing keterangan dari ketiga orang yang berjaga di bawah itu, segera ia mendekati jendela dan berseru ke bawah.

"Aha, mengapa kamu telah bertambah dua orang kawan?!"

Salah seorang di antaranya menengadah dan mengomel.

"Keledai gundul cilik, jangan gembar-pmbor seperti di rumahmu."

Dari suaranya Kiam-eng serasa seperti suara Kwa Eng-seng, si pedang perak, dengan tertawa ia menjawab,"

Apa salahnya berteriak di tengah siang bolong?"

Orang itu mengomel pula,"

Keledai gundul cilik macam mu ini tidak mirip orang beribadat ... Eh, tahun ini berapa umurmu?"

"Enam belas, dan engkau"

Jawab Kiam-eng "Aku kenapa?"

Orang itu menegas.

"Berapa usiamu tahun ini?"

"Untuk apa kau tanya usiaku? Yang jelas cukup untuk menjadi bapakmu."

"Menurut tukang nujum, nasibku ditakdirkan buruk, waktu aku dilahirkan sudah kematian ayah, kemudian aku diangkat anak oleh seorang sial, tidak berapa hari dia juga mati, katanya lantaran "ciong"

Oish diriku."

"Dasar keledai gundul cilik, bisa juga kamu memaki orang dengan main putar kayun."

Damperat orang itu.

"Soalnya kami kalian kurung di sini, sungguh kesal sekali, maka ingin mencari teman mengobrol. Dua hari yang Ialu hanya ada seorang penjaga di sini, mengapa sekarang bertambah lagi dua orang, apakah karena kuatir kami melarikan diri?"

"Huh, biarpun kamu tumbuh sayap juga sukar kabur dari sini, masakah kami takut kalian..."

Seorang temanya mendadak menyela,"

Lau-go, untuk apa kamu mengoceh dengan dia?"

Orang tadi mengangkat pundak, lalu tidak menggubris Kiam-eng lagi. Kiam-eng pura-pura menggerundel, lalu meninggalkan jendela, katanya dengan tertawa kepada Bohto Siangjin.

"Ya, tampaknya memang betul pasti mereka memergoki orang lain mengintai di sekitar sini, maka memperketat penjagaan untuk menjaga segala kemungkinan."

"Ada lagi sesuatu yang menarik, si Theng Hok palsu itu tadi bergegas-gegas pergi dari sini, entah menuju ke mana?"

Ujar Boh-to Siangjin.

"Besar kemungkinan mencari musuh yang sembunyi di sekitar sini ... Eh, ada tiga orang naik ke sini, lekas Siangjin duduk di tempat."

Cepat Boh-to Siangjin duduk di depan meja dan berlagak lagi mengoreksi naskah terjemahannya. Tidak lama, pintu kamar terbuka, Thian-ong-pangcu masuk dengan membawa dua anak buahnya.

"Ada, urusan apa?"

Tanya Boh-to dengan lagak heran. Thian-ong-pangcu ambil medali emas dan naskah terjemahan di atas meja, katanya dengan tertawa.

"Hari ini Siangjin tidak perlu bekerja lagi. Dengarkan saja perintahku ini."

La!u ia berpaling dan berkata kepada kedua anak buahnya.

"Baik, mulai"

Serentak kedua anak buahnya menanggalkan pakaian sendiri, satu potong demi satu potong dilemparkan ke onggokan rumput kering sana.

Boh-to Siangjin dan Su Kiam-eng benar-benar heran dan terkejut, tanya Boh-to dengan bingung.

"He, ada apa kau suruh mereka melepas pakaian di depanku?"

"Jangan banyak bertanya, sebentar tentu Siangjin tahu sendiri."

Kata Thian-ong-pangcu tertawa.

Terlihat kedua anak buahnya terus melepas pakaian sehingga tersisa baju dan celana dalam saja, akhirnya ikat kepala dan sepatu juga ditanggalkan, habis itu baru berhenti.

Thian-ong-pangcu berpaling dan berkata kepada Boh-to Siangjin dan Su Kiam-eng.

"Nah, sekarang giliran kalian yang lepas pakaian."

"Memangnya apa artinya ini?"

Tanya Boh-to dengan gusar.

"Jangan tanya, Iekas buka baju,"

Jawab Thiat-ong-pangcu. Dengan tegas Boh-to Siangjin berbangkit katanya dengan gusar "jika tidak kau katakan urusannya, mati pun aku tidak mau lepas pakaian!"

"Baik,"

Thian-ong-pangcu tertawa.

"Boleh juga kukatakan padamu. Soalaya ada orang bermaksud mencelakai Siangjin, maka akan kugunakan akal melarikan dirimu ketempat lain dan menyuruh mereka menyaru sebagai kalian."

"Memangnya siapa yang akan mencelakai diriku?"

Tanya Boh-to.

"Kukatakaa juga kamu tidak tahu,"

Ujar Thian-ong-pangcu.

"waktunya tidak banyak lagi, ayo lekas buka pakaian."

"Sebab apakah orang ingin mencelakai diriku? "tanya Boh to pula. Thian-ong-pangcu memperlihatkan sikap tidak sabar lagi, katanya dengan aseran.

"Untuk merintangimu menerjemahkan kitab pusaka bagiku, ... Nah, engkau mau melepas pakaian atau tidak?"

Boh-to Siangjin menghela napas dan terpaksa membuka baju.

Kiam-eng tahu maksud lawan hendak menyuruh mereka berdua menyaru sebagai kedua anak buahnya dan kedua anak buahnya berbalik menyamar sebagai dirinya dan Boh-to, ia pun tahu dengan cara demikian, maka dirinya tentu akan putus kabar dengan rombongan gurunya.

Namun keadaan sudah mendesak dan tidak ada pilihan lain, terpaksa ia pun ikut membuka pakaian.

Tidak lama mereka pun tersisa baju dan celana dalam saja.

"Baiklah, sekarang kalian berganti pakaian dan dikenakan lagi,"

Kata Thian-ong-pangcu.

Kedua anak buahnya lantas memakai pakaian padri milik Boh-tin dan Kiam-eng, sedangkan Kiam-eng dan Boh-to juga mengenakan baju mereka.

Lantaran wajah tidak berubah sehingga dandanan mereka kelihatan lucu dan janggal.

Thian-ong-pangcu lantas mengeluarkan sebuah kotak dan menyodorkan dua lembar kedok kulit kepada kedua anak buahnya.

"lni, boleh kalian memasang ini pada Siangjin dan hwesio cilik itu."

Kedua orang itu menerima kedok kulit dan mulai mengubah muka Boh-to dan Su Kiam eng, hanya sebentar saja Boh-to dan Kiam-eng sudah berubah tuntas menjadi dua lelaki kekar.

Dengan sendirinya, mereka pun merubah Boh-to dan Su Kiam-eng, hanya sebentar saja Boh-to dan Kiam-eng sudah berubah tuntas menjadi dua lelaki kekar.

Dengan sendirinya, mereka pun melengkapi Boh-to dan Kiam-eng masing-masing dengan sebatang golok.

Habis itu Thian-ong pangcu sendiri yang merias wajah kedua anak buahnya sehingga mirip wajah Boh-to dan Kiam-eng, lalu mencukur pula rambut mereka ...

Tidak kurang dari satu jam barulah selesai pekerjaan merias itu, bergantian Thian-ong-pangcu mengamati keempat orang, akhirnya ia manggut-manggut tanda puas, lalu berkata kepada Boh-to Siangjin.

"Nah, mulai sekarang kalian harus berlagak sebagai anak buahku, kamu nomor enam, Ngo-liau nomor tujuh, Tahu tidak?"

Belum lanjut ucapan Boh-to segera Thian-ong-pangcu rassoEorig.

"Terhadap diriku kesan harus mengaku hamba!"

"Baik namun hamba kan tidak mahir ilmu silat,"

Kata Boh-to dengan menyengir.

"lni tidak menjadi soal, cukup kalian mengikuti segala perintahku saja."

"Apakah aku ... apakah hamba akan dibawa pergi dari sini?"

Tanya Boh-to pula.

"Betul."

Thian-ong-pangcu mengangguk.

"Tempat ini sulit untuk dipertahankan, maka hendak kubawa kalian ke suatu tempat yang aman."

"Tempat apa?"

Tanya Boh-to.

"Setiba di sana nanti kau tahu sendiri,"

Ujar Thian-ong-pangcu.

"Sekarang ayolah ikut padaku turun ke bawah."

Habis bicara ia lantas mendahului keluar.

Boh-to dan Kiam-eng mengikutinya meninggalkan pagoda dan masuk ke pendopo biara sana, tertampak di situ sudah duduk dua orang, melihat kedatangan sang Pangcu, serentak mereka berdiri.

"Sudah selesai berbenah?!"

Tanya Thian ong-pangcu. Seorang di antaranya mengiakan dengan hormat. Lalu Thian-ong-pangcu berkata kepada Boh-to Siangjin.

"Sementara ini mereka boleh duduk di sini, hendaknya jangan kalian berusaha kabur!"

"Jangan kuatir, biarpun ingin kabur pun rasanya sulit,"

Jawab Boh-to.

"Ya, kuyakin Siangjin juga tidak berani kabur, sebab sekalipun Siangjin dapat kabur, kan ke-800 anggota Tai-hin si juga sulit melarikan diri."

Kata Thian-ong-pangcu dengan tertawa.

Baru lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara derap kuda lari yang riuh di luar biara.

Waktu mereka memandang keluar, tertampak Theng Hok sudah datang lagi dengan menggiring enam ekor kuda.

Segera Thian-ong-pangcu memberi perintah kepada salah seorang anak buahnya.

"Baiklah, sekarang bawa kemari kereta di tengah hutan itu."

Anak buahnya mengiakan dia berlari pergi. Tidak lama terdengar suara gemerisik roda kereta, sebuah kereta kuda sudah berada di depan biara. Thian-ong-pangcu meninggalkan pendopo dan berseru,"

Nomor empat dan nomor lima, naik keatas dan bawa kemari Boh-to Siangjin dan si hwesio cilik Ngo-liau, yang lain angkat semua perbekalan ke dalam kereta."

Anak buahnya sama mengiakan dan segera melaksanakan tugas, Hanya sebentar saja si nomor empat dan nomor lima sudah turun lagi dengan membawa"

Boh-to Siangjin"

Dan "Ngo-liau".

Kiam-eng tahu aksi yang diatur Thian-ong-pangcu itu adalah Boh-to Siangjin dan Ngo-liau palsu itu akan dimuat dalam kereta, lalu beramai-ramai mereka mengawal kereta kuda itu meninggalkan daerah pegunungan agar musuh yang sedang mengintainya dapat mengikuti jejak mereka kemudian Boh-to dan dirinya diam-diam akan diselundupkan ke tempat lain.

Dengan begitu bilamana si penguntit mengetahui Boh to Siangjin yang berada di dalam kereta itu palsu, tentu Boh-to yang asli sudah menghilang entah ke masa perginya.

Sungguh suatu akal yang bagus.

Namun bagi Su Kiam-eng untuk tujuan mencuri kitab pusaka memang tidak menambah kesulitan soalnya hanya mengenal bagaimana caranya mengadakan kontak dengan gurunya nanti.

Ia tahu pihak lawan pasti takkan memberitahukan ke mana mereka tuju, namun sekarang tak tertahan ia coba tanya seorang anak buah Thian-ong-pang di sebelahnya.

"Eh, Sicu, sekarang aku bukan lagi Ngo-liau, tentunya boleh kau beritahukan padaku ke mana kami hendak di-bawa?"

Orang itu tertawa.

"Huh, lucu juga caramu bicara si keledai gundul cilik ini."

"lngat, jangan kau sebut lagi diri sebagai keledai gundul ciiik,"

Kata Kiam-eng sambil menuding hidung orang.

"Jika kau bilang begitu lagi, tentu segala usaha gurumu akan sia-sia belaka."

"Oya, betuI, seharusnya kusebut dirimu sebagai nomor tujuh ..."

Dengan lagak "orang sendiri", Ialu Kiam-eog menarik ujung baju orang dengan mendesis.

"Jika kita sudah orang sendiri, tentunya dapat kaukatakan padaku, ke mana kita akan pergi sekarang?"

Orang itu menggeleng,"

Entah, aku sendiri tidak tahu."

Mestinya Kiam-eng bermaksud memancing keterangan orang agar diam-diam ia dapat meninggalkan isyarat bagi gurunya bila kelak rombongan sang guru menyusul tiba, sekarang pihak lawan ternyata juga tidak tahu kemana mereka mau pergi, diam-diam ia menghela napas, pikirnya,"

A", tampaknya sudah ditakdirkan aku harus melabrak Thian-ong-pangcu sendirian."

Sementara itu Boh-to Siangjin dan Ngo liau palsu sudah digiring ke dalam kereta, segera Thian-ongpangcu berkata kepada Boh-to dan Kiam eng "Nomor enam dan nomor tujuh, segera naik kuda dan mengikut di belakang kereta, paham tidak!"

Boh-to mengangguk sebagai tanda tahu, lalu bersama Su Kiam-aag menaiki kuda masing masing, Menyusul Thian-ong-pangcu memberi tanda agar semua orang naik kuda, ia sendiri lantas duduk di dalam kereta, Theng An tetap menjadi kusir, rombongan mereka terus berangkat meninggalkan pegunungan itu.

Theng Hok mendahului di depan sebagai pembuka jalan menuju ke jurusan timur, Boh to Siangjin dan Su Kiam-eng mengintil di belakang kereta sesuai perintah Thiaa-ong-pangcu tadi, ke-enam anak buah yang lain juga mengawal di belakang.

Malamnya kereta mereka sampai dikota Po-ting, setelah bermalam, esoknya mereka melanjutkan perjaIanan.

Waktu lohor mereka telah melintasi kaki gunung Hoa-san, dan ketika magrib tiba, rombongan mereka sudah sampai di benteng yang termashur, yaitu Ciongkoan.

Ciongkoan terletak suatu belokan sungai Kuning, merupakan suatu benteng yang strategis, di belakang menjulang gunung tinggi, di depan menghadapi sungai Kuning atau Hongho yang deras arusnya.

Benteng penting itu merupakan sebuah kota besar dengan penduduk yang padat dan merupakan tempat berkumpulnya kaum pedagang, lalu lintas dalam kota sangat ramai.

Setelah Theng Hok membawa kereta ke dalam kota, lalu berhenti di depan sebuah hotel tua yang cukup megah.

Melihat kedatangan rombongan tamu, kaum pelayan hotel lantas menyambut keluar, ada yang membawa kuda ke istal, ada yang membongkar muatan kereta, dengan sendirinya mereka memandang Thian-ong-pangcu dan Boh-to Siangjin palsu di dalam kereta sebagai tamu utama, maka sikap mereka sangat menghormat dan membawa mereka ke dalam hotel!"

Thian-ong-pangcu minta tiga buah kamar besar, ia sendiri bersama Boh-to dan Ngo-liau palsu menepati satu kamar, ke delapan orang yang terbagi dalam dua kamar, Baru saja berada di kamar, segera tiga orang setengah baya dengan dandanan sebagai saudagar muncul dari sebuah kamar yang berdekatan dan diam-diam masuk ke kamar Thian-ong-pangcu.

Sesudah berada dalam kamar, ketiga orang berdandan sebagai saudagar itu memberi hormat kepada Thian ong-pangcu dan berkata.

"Hamba Lu Yan-sin, Ong Ji dan Khong Cing-ilo menyampaikan sembah bakti kepada Pangcu!"

Thian-ong-pangcu mengangguk dan menjawab ketus.

"PerIihatkan Thian-Ong-hu!"

"Yang mengaku bernama Lu Yan-sin, Ong Ji dan Khong Cing-lia itu cepat mengeluarkan sebuah medali yang berukir malaikat serta disodorkan ke depan. Thian-Ong-pangcu mengamat-amati ketiga tanda pengenal itu, lalu manggut-manggut dan mengembalikan medali tanda pengenal itu kepada mereka kemudian bertanya.

"Sudah berapa lama kalian masuk Pang kita?"

"Hamba sudah masuk hampir setengah tahun."

Jawab Lu Yan-sin.

"lmbalan jasa setiap bulan sudah diterima dengan cukup?"

Tanya sang Pangcu.

"Ya, sudah terima cukup,"

Jawab Lu Yan sin..

"Konon kamu Thi-sofl-sin jarang ada tandingannya dengan ilmu pukulanmu yang lihai itu, bahwa Thian-ong-pangcu mendapatkan anggota seperti dirimu, sungguh aku sangat senang,"

Kata Thian-ongpangcu. Dengan merendah Thai-soa-cio Lu Yan-si menjawab,"

Ah, terima kasih atas pujian Pangcu, Seterusnya masih diharapkan bimbingan Pangcu."

Thian-ong-pangcu mengangguk, lalu berpaling dan tanya Ong Ji.

"Bagaimana dengan Lin-boi piaukiok yang kau buka di kota ini, cukup maju bukan?"

"Terima kasih Pangcu, lumayan juga perusahaan kami itu,"

Jawab Ong Ji dengan sikap hormat.

"Mestinya hamba hendak menutup piaukiok berbuat demikian."

"Ya, tentu saja tidak perlu,"

Ucap Thian-ong-pangcu.

"Sebelum ada tugas baru yang kuberikan padamu, kamu si Kim jia--jie (si tumbak emas) Ong Ji tetap menjabat pemimpin umum Sin-heng-piaukiok."

Habis ini ia berpaling dan tanya Khong Cing-lin.

"Dan kamu, kabarnya kamu si Jiau-bin-hou (si macan ketawa) ini jebolan Lo-han-tong dari Siau-lim-si, apa betul?"

"Betul,"

Jiau-bin hou Khong Cing-lin menjawab dengan hormat.

"Cuma sudah lama hamba bukan lagi anak murid Siau-lim."

Dengan tertawa Thian-Ong pangcu berkata pula,"

Dsri lebih 1208 orang anggota Pang kita sekarang, hanya kalian bertiga yang untuk pertama kalinya diberi kesempatan untuk bertemu dengan sang Pangcu.

Maka kuharap kalian harus bekerja sebaik baiknya bagi Pang kita, kelak tentu akan mendapat kenaikan tingkat yang lebih terpercaya."

Dengan gugup dan bersyukur cepat Lau Yan-sin, Ong Ji dan Khong Cing-lin menjawab dengan hormat.

"Baik, hamba bersumpah akan bekerja mati-matian bagi kejayaan Pang kita."

"Sekarang ada tugas yang perlu kalian laksanakan, apakah kalian faham ilmu merias muka?"

Tanya Thian-ong pangcu.

"Paham sedikit,"

Jawab Lu Yan-sin. Thian ong-pangcu menunjuk Boh-to Ngo-liau palsu, katanya,"

Ada maksudku mengirim kedua orang ini ke Thangtian, tapi berhubung sesuatu hal, aku dan dua orang ternyata harus segera menuju ke tempat lain sehingga tidak dapat mengawal sendiri, sebab itulah kupanggil kalian bertiga untuk membantu..."

"Apakah maksud Pangcu hendak menyuruh hamba bertiga menyaru sebagai Pangcu dan kedua orang kepercayaan untuk mengirim kedua orang ini ke Thiguaa?"

Tanya Lu Yan-sia.

"Betul,"

Thian-ong pangcu mengangguk,"

Hwesio tua ini adalah Boh to Siangjin dari Tiang-an, dia sedang melakukan sesuatu pekerjaan penting bagi Pang kita, maka keselamatannya menjadi sangat penting bagi Pang kita."

"Pangcu jangan kuatir, hamba bertiga bersama akan melindungi siangjin sampai di Thai guan dengan selamat,"

Ucap Lu Yan-sin.

"Bagus, sekarang coba paafgil kemari nomor enam dan nomor tujuh,"

Kata Thian-ong pangcu. Si macan ketawa Khong Cing-lin lantas keluar dan menuju ke kamar sebelah, ia memberi hormat kepada keempat orang yang berada di situ dan menyapa,"

Numpang tanya, siapakah di antara kalian nomor enam dan nomor tujuh?"

Boh-to Siangjin dan Su Kiam-eng menjawab, Kami berdua, ada urusan apa?"

Tentu saja Khong Cing-lin tidak tahu bahwa orang yang mengaku nomor enam di depannya sekarang sebenarnya adalah Boh-to Siangjin, dengan sangat hormat ia berkata,"

Pangcu mengundang kalian sekarang juga ke kamar beliau."

Boh-to saling pandang sekejap dengan Su Kiam-eng, tanpa bicara mereka lantas ikut menuju ke kamar Thian-ong-pangcu.

Melihat mereka sudah datang Thian-ong-pangcu menyuruh Khong Cing-lin menutup pintu, lalu menunjuk Boh to Siangjin dan Su Kiam eng serta berkata kepada Lu Yan-sin bertiga,"

Kedua orang inilah orang kepercayaanku, seorang bergelar nomor enam dan yang lain nomor tujuh. Sekarang juga kalian bertiga boleh merias wajah sendiri sesuai dengan wajah kami."

Lu Yan-sin mengiakan dan segera mengeluarkan peralatan rias, mereka mulai bersolek dengan menggunakan model sang pangcu dan Boh-to Siangjin serta Kiam-eng.

Tidak terlalu lama, Lu Yan-sin bertiga sudah berubah menjadi Thian-ong-pangcu bersama kedua orang kepercayaannya, yakni nomor enam dan nomor tujuh.

Berbareng Thian-ong-pangcu juga bekerja sendiri dengan merias wajah si nomor enam dan nomor tujuh, ia pun merias Boh-to Siangjin menjadi Kim-jio-jiu Ong Ji dan "Ngo-liau"

Menjadi Jiau bia-hou Khong Cing-lin.

Akhirnya ia sendiri pun menyamar sebagai Thi-soa-cio Lu Yan-sin.

Kemudian kedua kelompok lantas saling tukar pakaian, maka jadilah Lu Yan-sin bertiga menjadi Thian-ong pangcu dan kedua anak buahnya si nomor enam dan si nomor tujuh, sebaliknya Thian-ong-pangcu bertiga juga berubah menjadi rombongan Lu Yan-sin bertiga.

Kemudian Thian ong-pangcu memanggil masuk Theng Hok, ia perintahkan Lu Yao-sin bertiga harus bertindak menurut petunjuk Theng Hok-lalu ia membawa kedua orang yang menjadi pengikutnya, yaitu Boh-to yang menyaru sebagai Ong Ji dan Su Kiam-eng yang kembali menjadi Khong Cing-lin meninggalkan kamar dan masuk ke kamar yang semula ditempati Lu Yan-sin bertiga.

Dengan sendirinya Boh-to Sianjin tahu apa maksud Thian-ong-pangcu main tukar itu, namun sekarang ia pura-pura tidak tahu dan sengaja tanya.

"Sicu, kau rias kami menjadi nomor enam dan nomor tujuh, sekarang dari nomor tujuh berubah lagi menjadi Kim jio-jiu Ong Ji dan Jiau-bia-hou Khong Cing-lin, sesungguhnya apakah kehendakmu?"

Thian-ong-pangcu tertawa, jawabnya.

"Maksud tujuanku, supaya si penguntit membuntuti Boh-to Sianjin palsu, sebaliknya Siangjin yang asIi kubawa ke suata tempat yang lain."

"Berulang Sicu bilang ada orang menguntit, namun selama dua hari kan tidak terlihat munculnya orang lain yang tak dikenal?"

Gemerdep sinar mata Thian-ong-pangcu, katanya.

"Soalnya penguntit itu adalah seekor rase tua yang licik dan licin. tidak nanti dia dipergoki olehmu dengan mudah."

"Memangnya siapakah rase tua yang Sicu maksudkan?"

Timbrung Kiam-eng mendadak.

"Terus terang, sampai saat ini pun aku tidak tahu siapa dia,"

Tutur Thian-og-pangcu.

"Cuma jelas kutahu ada orang sedang menguntit jejak kita."

"Berdasarkan apa Sicu tahu jelas sedang dibuntuti orang?"

Tanya Kiam-eng pula.

"Berdasarkan bekas tapak kaki,"

Tutur Thian-ong~pangcu.

"Di sekitar biara kuno sudah kulabur selapis pasir, pada esok hari kuminta kingjin dan-ngorski apakah terjamah kemasukan beberapa bekas kaki di atas pasir, dari bekas kaki itu dapat kuduga pendatang itu adalah seorang tokoh terkemuka dunia persilatan, tampaknya penyatron itu ada maksud hendak naik ke atas pagoda, sebab itulah hendak kupindahkan kalian ke suatu tempat lain yang lebih aman untuk menghindari terjadinya sesuatu di luar dugaan. Dari keterangan ini Kiam-eng tahu bekas kaki itu pasti tinggalan Sam-bi-sin-ong tempo hari diam diam ia merasa menyesal. Tapi ia berlagak heran dan coba tanya lagi.

"Jika begitu, lantas Sicu hendak membawa kami ketahui bukan?"

"Besok pagi!"

Esok paginya Thian-ong-pangcu palsu dan rombongan Theng Hok lantas membawa berangkat Boh-to Sianjin dan Ngo-liau palsu menuju ke Thaiguan.

Tidak lama setelah mereka berangkat, Thi-soa cio Lu Yan-sin yang telah menyamar sebagai Thian ong-pangcu bersama Ong Ji dan Khong Cing-lin yang juga sudah menyamar itu lantas meninggalkan hotel dengan membawa Boh-to Siangjin dan Su Kiam-eng dengan menyewa kereta lalu menuju ke selatan, arah yang mereka tempuh justru terbalik dengan jurusan yang diambil rombongan Theng Hok.

Siang melanjutkan perjalanan dan malam menginap.

lewat lohor hari kelima, selagi kereta dilarikan di jalan raya sekitar Hantung, Thian-ong pangcu yang menumpang dalam kereta entah menemukan apa, tiba-tiba ia bersuara.

"Hm, kenapa bisa terjadi begini ..."

"Ada urusan apa?"

Tanya Boh-to Siangjin.

"Hm, tadinya kukira si penguntit sudah dapat kita tinggalkan, tak tersangka sekarang muncul lagi penguntit yang lain!"

Jengek Thian-ong-pangcu.

"Siapa yang sedang membuntuti kita?"

Tanya Boh-to.

"Seorang hwesio tua."

Kata Thian-ong-pangcu. Boh-to Siangjin merasa hal itu agak luar biasa ucapnya keras.

"Mengapa bisa seorang hwesio tua?"

"Aku juga heran."

Ujar Thian-ong-pangcu.

"Ku-dapatkan dia membuntuti kita mulai pagi tadi."

Mendengar seorang hwesio tua membuntuti mereka, hal ini juga agak di luar dugaan Si Kiam-eng, ia coba membuka pintu kereta dan melongok keluar sambil bertanya.

"Dimanakah hwesio tua itu?"

"Agak jauh di belakang kita Thian ong-pangcu tertawa.

"Dia memakai jubah kelabu, memanggul tongkat hajar. Ada tidak?"

Kiam-eng memandang jauh ke belakang, benar juga terlihat seorang hwesio tua dengan memanggul tongkat berada 20-50 meter di belakang, dari kecepatannya menempuh perjalanan jelas memang sedang membuntuti kereta mereka, Tentu saja ia heran, pikirnya "Aneh, dari manakah hwesio tua ini?"

Sembari berpikir ia pun menoleh dan berkata kepada Thian-ong-pangcu.

"Dari mana Sicu tahu dia sedang membuntuti kita? Mungkin ia juga sedang menempuh perjalanan sendiri serupa kita."

"Tidak, sejak pagi dia terus mengikuti kereta kita dalam jarak tetap, gerak-geriknya mencurigakan, jelas memang sedang membuntuti kita."

Sampai di sini, ia membuka jendela depan dan memberi pesan kepada kusir kereta.

"Hei, setelah membelok pada jalan simpang di depan, hendaknya kereta diberhentikan!"

"Baik tuan."

Jawab kusir.

"Apakah kalian hendak membuang air?"

"BetuI, selama perjalanan sejauh ini, kan perlu turun untuk melemaskan otot,"

Ujar Thian-ongpangcu.

Rupanya tidak jauh di depan adalah sebuah bukit, setelah kereta membelok tentu akan menghilang dalam pandangan si penguntit, sebaliknya si penguntit tidak tahu bahwa kereta berhenti di balik pengkolan sana, tentu dia akan menampakkan diri dan tidak dapat main kuntit lagi.

Benar juga, setelah si kusir melakukan perintah dan membelokkan kereta dan berhenti di pengkolan sana, dan baru saja Thian-ong-pangcu dan Boh-to Sianjin turun dari kereta, segera si hwesio tua tadi tampak muncul dari dari belokan.

Usia Hwesio itu lebih 60-an, tubuhnya kekar welas-asih, namun tongkat padri yang di pegang terbuat dari baja, bobotnya seratus kati lebih itulah sekali pandang.

hwesio tua ini pasti seorang jago tangguh Menyadari bahwa jejaknya telah diketahui, maka begitu melihat kereta sudah berhenti di situ, seketika ia melenggong dan berhenti.

Dengan tersenyum Thian-ong-pangcu menyongsongnya dan menegur dengan tertawa.

"Eh siapakah gelar terhormat suhu ini?"

Sikap hwesio tua ini cukup tenang juga, jawabnya.

"Jika Sicu tidak tahu siapa gelaranku, kan dapat kau tanya dia!"

"Tanya siapa?"

Thian ong-pangcu menegas dengan heran.

"Dia!"

Jawab si hwesio sambil menuding Su Kiam-eng. Keruan Kiam-eng melengak, ucapnya.

"He, dari mana kukenal dirimu?"

Thian-ong-pangcu juga melengak namun segera ia menyadari si hwesio tua tentu telah menyangka "Ngo-Iiau"

Sebagai Khong Cing-lin, maka tergelaklah dia. Ia tahu siapa dia.

"Terhadap dia, ki daripadakii,"

Ujar hwesio itu... Sembari bicara, sorot matanya mendadak berubah tajam mengkilat, katanya terhadap Jiau-bin-hou dengan meinbantak.

"Nah, binatang, lekas berlutut untuk menerima kematian!"

Su Kiam-eng berlagak kaget, ro-yd ia tidak tahu Khong Cing-lin adalah bekas murid siau-lim pay yang telah dipecat, tapi begitu melihat sikap keras si hwesio tua, segera ia mengerti antara Khong Cing-lin dan hwesio tua ini pasti ada hubungan yang luar biasa.

Yang membuatnya serba susah adalah dirinya harus tetap bertindak sebagai Khong Cing-lin atau lebih baik memberitahukan kepada si hwesio tua bahwa sesungguhnya dirinya cuma menyamar dan bukan Khong Cing-lin.

Sungguh suatu pilihan yang serba sulit baginya, sebab itulah seketika ia tidak berdaya dan cuma berdiri bingung.

Sebaliknya Thian-ong-pangcu lantas tahu, tujuan si hwesio tua bukan terhadap dia, maka hatinya terasa lega, dengan berlagak melerai ia coba membujuk si hwesio tua.

"Jangan marah du!u, Toasuhu, ada urusan apa marilah bicarakan baik-baik"

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, pendek kata hari ini aku cuma melaksanakan tugas pembersihan perguruan kami saja,"

Kata si hwesio tua gusar.

"Oo, kiranya Taisu ini padri saleh dari Siau-Iim-pai. Numpang tanya siapakah gelar suci Taisu!"

Tanya Thian~ong-pangcu.

"Aku Hoat-keng, pejabat pengawas biara,"

Jawab si hwesio tua.

"Ah, kiranya Hoat-keng Taisu adanya, maaf jika aku kurang hormat tadi."

"Hm, Sicu tidak perlu sungkan, Hari ini aku hanya ingin menumpas kaum sampah bagi perguruan kami dan tidak ada sangkut-paut dengan orang lain."

"Betul juga,"

Ujar Thian ong pangcu."

Cuma pernah kudengar khabar, katanya sudah lama Khong Cing-Iin telah dipecat oleh perguruan kalian, jika hal ini betuI, maka segala tindak tanduk tanduk Khong Cing lin di luaran seyogyanya tidak ada sangkut paut lagi dengan pihak Siau-lim-pai dan untuk apa lagi Taisu selalu ikut campur urusan orang lain?"

"Biarpun dia sudah dipecat oleh perguruan kami, namun tindak-tanduknya yang buruk diluaran selalu merugikan nama anak murid Siau-lim-pai, malahan baru bulan yang lalu ia membunuh seorang muridku."

"Oh, jika damikian, jadi Taisu sudah jelas akan membuat perhitungan dengan dia?"

"Betul, maka kuminta Sicu menyingkir dulu,"

Kata Hoat-keng Taisu. Thian-ong-pangcu terbahak-bahak, katanyg.

"Khong-heng dan aku adalah sahabat sehidup-semati, jika sekarang dia menghadapi kesulitan, mana boleh kutinggal diam tanpa ikut campur, Apabila Taisu hendak membunuh dia, lebih dulu Taisu harus bereskan dulu diriku."

Melihat kedua pihak sukar mencapai sepakat Kiam-eng tahu pertarungan sengit sulit dihindarkan lagi dan Hoat-keng Taisu tentu bisa celaka, ia pikir kalau seorang padri tua Siau-lim-pai sampai mati konyol begitu saja sungguh akan terasa sayang, maka cepat ia memberi pesan kepada Boh-to Siangjin dengan bisikan gelombang suara.

"Harap Siangjin lekas membujuk si iblis agar jangan main bunuh, kalau tidak jiwa Hoat-keng Taisu pasti akan segera melayang."

Boh-to Siangjin tampak mengangguk, lalu berseru.

"Lo-heng, mohon dengarkan dulu pendapatku."

"Ong-heng mau bicara apa?"

Tanya Thian-ong-pangcu selaku Lu Yan sia palsu.

"Soalnya hari ini aku tidak ingin menyaksikan pembunuhan apabila Lu heng masih menghendaki tenagaku, kuharap engkau jangan bertindak melampaui batas,"

Kata Boh-to.

Dengan sendirinya Thian-ong-pangcu dapat menangkap arti perkataan Boh-to itu, ia pikir bila dirinya terang-terangan membunuh orang segolongan agamanya, teatu akan menimbulkan antipati si padri tua dan mungkin takkan rela menerjemahkan kitab pusaka dengan sejujurnya, Pula kemunculan Hoat-keng bukan untuk merecoki dirinya, biarkan hari ini kuampuni jiwanya.

Setelah mengambil keputusan demikian, segera ia menjawab.

"Baiklah, mengingat kehormatan Ong-heng, biarlah kuberi jalan hidup baginya."

Hoat-keng Taisu tidak tahu seluk-beluk persoalannya, ia sangka mereka sengaja berolok-olok, seketika ia naik pitam, sekali tongkatnya tergerak, dihati bengis ia membentak.

"Sicu mau menyingkii atau tidak?"

"Tetap seperti ucapanmu tadi, jika Taisu hendak mengganas, harus menerobos dulu rintanganku ini."

Kata Thian-ong-pangcu dengan ketus. Hoat-keng Taisu tidak tahan lagi, sambil angkat tongkatnya ia membentak.

"Baik, boleh terima beberapa jurus seranganku"

Berbareng tongkat terus mengempIang kepala Thian-ong-pangcu secepat kilat.

Ilmu silat Siau-lim-pai terkenal karena kekerasannya, sekarang Hoatkeng Taisu mengemplang sekuatnya, tentu saja dahsyatnya luar biasa, tenaga hantamannya dengan batu raksasa ribuan kati yang menimpa dari udara, sungguh lihai tak terperikan.

Namun bagi Thian ong-pangcu, Hoat-keng Taisu sungguh merupakan lawan yang paling tidak berarti yang pernah ditemuinya, bilamana bukan karena keadaan, betapapun ia sungkan bergebrak dengan orang.

Maka ketika tongkat lawan menyambar tiba, ia masih tetap berdiri diam saja, ketika tongkat sudah tinggal beberapa senti di atas kepala barulah ia angkat tangan kanan menyambut sambaran senjata musuh.

Pada hakikatnya Hoat-keng tidak tahu bahwa lawan yang dihadapinya adalah tokoh yang tidak ada tandingannya di jaman ini, ia tambah murka demi nampak orang hendak menangkap tongkatnya begitu saja, maka ia pun tidak mengganti gerak serangan lagi melainkan tetap mengemplang sekuatnya.

Menurut kebiasaan, apabila pihak lawan terlihat berani menyambut serangan keras juga, ini menandakan kemampuan lawan pasti melebihi dirinya maka bila tahu gelagat, seharusnya lekas menarik kembali serangannya agar tidak terperangkap oleh musuh yang lebih kuat.

Namun sekarang Hoat-keng Taisu tidak berbuat demikian, sebab ia anggap To-soa-sio Lu Yan-sia yang dihadapinya sekarang tidak nanti sanggup menangkis kemplangan tongkatnya yang dahsyat, jika lawan tidak tahu diri, biarkan saja fe'sr dia tabu rasa.

Begitulah, maka terdengar suara "brak"

Yang keras, tongkat beradu dengan telapak tangan.

Hoat-keng mengira tangan orang pasti akan hancur, selagi ia merasa senang, tak terduga mendadak tongkat yang tergenggam itu terasa sukar dipertahankan lagi dan kena direbut lawan.

Sungguh kejadian ini sama tak terduga olehnya seketika ia melongo, dan pada detik itulah terdengar "blang"

Sekali, dadanya tersodok oleh gagang tongkat yang dihantamkan kembali oleh Thian-ong pangcu.

Serangan balik Thian-ong pangcu ini dilakukan dengan cepat dan tepat, namun juga terbatas, sehingga Hoat-keng tidak sampai binasa melainkan cuma menyemburkan darah segar saja, lalu jatuh terduduk, Kuatir Thian-ong-pangcu menambahi serangan lain, cepat Boh to Siangjin membentak,"

Sudah cukup, Lu-heng!"

Thian-ongpangcu melemparkan tongkat, katanya dengan tertawa.

"Baiklah, sekarang kita kembali dan melanjutkan perjalanan."

Melihat Hoat-keng Taisu terluka parah dan tidak dapat bergerak, segera Kiam-eng berkata kepada Boh-to Siangjin.

"Ong-heng, hwesio itu terluka cukup berat, jika tidak ada yang menolongnya, cepat atau Iambat dia bisa mati di tempat sunyi ini."

Bohto mengangguk.

"BetuI, dan dapatkah Lu-heng menyanggupi suatu permintaanku?"

Thian-ong-pangcu terbahak, jawabnya.

"Rasanya Ong-heng takkan memohon kutolong dia bukan?"

"Tidak, maksudku hanya Lo-heng membawa dia dengan kereta kita, setiba di tempat yang ada orang barulah kita lepaskan dia, dengan demikian dia akan mendapatkan kesempatan untuk hidup.

"Ong-heng tidak perlu kuatir baginya,"

Ujar Thian ong-pangcu tertawa.

"Lukanya tidak terlampau parah, takkan mati."

"Permohonanku kan tidak merugikan Lu heng, maka kuharap Lu heng suka mempertimbangkannya,"

Kata Boh-to.

"Jangan kau kira dia tumpah darah dan luka parah, yang benar dia masih sanggup membunuh orang, bila kupondong dia ke dalam kereta bisa jadi dia akan bertindak keji terhadap kalian."

"Tidak, Lu-heng dapat menutuk dulu hiat-to kelumpuhannya,"

Sela Kiam-eng. Thian ong-pangcu melenggong, ia pandang Kiam-eng dan berkata.

"Aneh, sukar dimengerti bahwa kamu paham sebanyak ini ..."

"Kudengar cerita dari nomor tiga, katanya engkau mahir menutuk hiat-to orang, sekali tutuk seketika orang akan lumpuh, bahkan dapat kau-bikin dia roboh berapa lama pun sekehendakmu tanpa dia bisa berkutik, betuI tidak?"

"Oo, kiranya kaudengar dari cerita si nomor tiga ..."

Kata Thian-ong-pangcu dengan tertawa.

"Ucapan Khong-heng memang benar,"

Tukas Boh-to Siangjin.

"Nah, Lu-heng, boleh kau tutuk dia lebih dulu dan membawanya ke dalam kereta, menolong jiwa satu orang melebihi awal membangun candi tujuh tingkat, jika Lu-heng menolong dia, selanjutnya dia pasti takkan mencari balas lagi padamu."

Thian-ong-pangcu termenung sejenak, lalu angkat pundak dan berkata.

"Ya, sudahlah, berada bersama orang semacam kalian sungguh hanya membuat repot saja."

Habis berkata ia terus mendekati Hoat-keng Taisu. Tentu saja Hoat-keng terheran-heran mendengar percakapan mereka tadi, namun ia tetap tidak percaya bahwa permintaan "Ong Ji"

Terhadap "Lu Yan-sin"

Itu memang bermaksud baik terhadapnya. Maka ketika didekati "Lu Yan-sin"

Ia menjadi kuatir dan murka, bentaknya,"

Bangsat, karana kurang hati-hati sehingga aku dicederai olehmu, sekarang mau bunuh boleh kau bunuh, jika kamu ingin menghina diriku, tentu Budha takkat mengampunimu."

Hoat keng Taisu membalikkan badan untuk menghindarkan tutukan orang, tongkat diraihnya dan sekuatnya menyerampang kaki lawan.

Thian ong-pangcu tergelak, sama sekali ia tidak menghindar, sebaliknya mendepak malah dengan kaki.

"blang", kontan tongkat Hoat keng mencelat jauh ke sana, Hoat-keng sendiri tergetar jatuh terjungkal, kesempatan itu digunakan lagi Thian ong-pangcu untuk menutuk, baru saja Hoat keng terguling, lalu menggeletak kaku dan tak bisa berkutik lagi.

"Wah, lihai amat"

Teriak Kiam-eng."

Bagian hiat-to mana yang kau tutuk?"

"Hiat-to kelumpuhan,"

Jawab Thian-ong-pangcu.

"Diperlukan waktu berapa lama baru dapat bergerak lagi?"

Tanya Kiam-eng pula.

"Paling cepat satu setengah jam."

Kiam-eng maju mendekati Hoat-keng Taisu, katanya.

"Biarlah kupondong dia ke dalam kereta."

"Kau kira aku sanggup mengangkat dia atau tidak?"

"Jika tidak kuat, lebih baik kamu menjadi cukong saja."

Thian-ong-pangcu berseloroh.

Setelah mengangkat tubuh Hoat-keng Taisu, diam-diam Kiam-eng menjejalkan secarik kertas ke dalam baju orang, lalu berlagak kepayahan mengangkat tubuh Hoat-keng dan dibawa ke dalam kereta, lalu berucap dengan napas yang dia buat terengah.

"Wah, berat juga, tapi dapat juga kupikul dia."

Thian-ong pangcu tertawa, ia memberi tanda dan berkata.

"Baiklah, sekarang semua naik kereta lagi dan meneruskan peijalanan."

Maka kereta berangkat lagi berdetak-detak, kira kira belasan li, tertampaklah di depan ada sebuah kota kecil.

Thian-ong-pangcu menyuruh kusir mengangkat Hoat-keng Taisu dan dibaringkan di tepi jalan, lalu melanjutkan perjalanan ke depan.

"Bilakah hiat-to yang tertutuk itu akan terbuka?"

Tanya Kiam-eng kemudian.

"Kira-kira setengah jam lagi akan terbuka dengan sendirinya,"

Jawab Thian-ong-pangcu.

"Hari sudah hampir gelap, malam ini Sicu bermaksud menginap di mana?"

Tanya Kiam-eng pula.

"Seadanya. lihat saja nanti kalau ada tempat di situ juga kita bermalam."

Chapter 27. Rahasia 180 Patung Mas Kiam-eng berlagak keisengan, ucapnya dengan setengah menggerundel.

"Ai, setiap hari hanya menumpang kereta, entah sampai kapan baru akan berakhir?"

"Apakah kamu merasa bosan menumpang kereta?"

Tanya Thian-ong pangcu tertawa.

"jika begitu, biarlah esok lusa kita ganti menumpang kapal saja,"

"Menumpang kapal?"

Kiam-eng pura-pura heran."

Di manakah dapat menumpang kapal?"

"Di sungai, di laut, di sana banyak kapal"

"Lalu, kita akan menumpang kapal sungai atau kapal laut?"

"Coba kau terka?!"

Sahut Thian-ong-pangcu tertawa. Kiam-eng berlagak garuk-garuk kepala dan berpikir sejenak, lalu menggeleng kepala dan berkata,"

Wah, aku tidak dapat menebaknya, selamanya aku tidak pernah meninggalkan biara, pada hakikatnya tidak kenal jalan mana pun, dan masa kutahu di mana ada kapal sungai atau kapal laut?"

Tiba-tiba Boh-to menyela dengan tertawa "Ngo-liau, tempat ini adalah daerah perbatasan antara Siamsai dan Ohpak, jika Thian-ong-pangcu bilang esok lusa dapat ganti menumpang kapal itu berarti esok lusa akan dapat mencapai Tiang kang, maka yang akan kita tumpangi adalah kapal sungai."

Benar juga, pada waktu menjelang lohor hari ke tujuh kereta mereka tiba di tempat tambang sungai Tiangkang, yaitu Thian-ho kau.

Setelah menunggu tidak terlalu lama, dengan lancar mereka bertiga dapat menumpang sebuah kapal terus berlayar menuju ke hilir.

Berada di kapal yang melaju di tengah sungi Thian-ong-pangcu yakin Boh-to dan Ngo-liau tidak nanti kabur, maka pengawasannya tidak ketat lagi seperti sebelumnya, ia sendiri sempat berjalan-jalan ke atas geladak kapal.

Untuk pertama kalinya selama tujuh hari dalam perjalanan ini Boh-to mendapat kesempatan untuk bicara langsung dengan Su Kiam-eng.

Kiam-eng sengaja membuka pintu kamar lebar-lebar agar pada waktu Thian-ong-pangcu turun dapat melihatnya langsung, dengan demikian supaya percakapannya dengan Boh-toh Siangjin tidak sampai didengar olehnya.

Begitulah ia lantas berkata terhadap Boh-to Siangjin.

"Apakah Siangjin tahu ke manakah tempat tujuan perjalanan kita yang terakhir ini?"

"Sukar untuk diraba,"

Jawab Boh-to.

"Cuma tempat yang akan dituju sangat mungkin adalah markas besar Thian-ong-pang mereka."

Kiam-eng mengangguk "Ya, aku pun berpikir demikian, maka baginya boleh dikatakan mencari penyakit sendiri dengan membawa kita ke sana."

"Akan tetapi kamu sudah putus kontak dengan pihak gurumu, dengan tenaga dirimu sendiri mungkin sukar membereskan mereka."

"Betul, namun bila Hoat-keng Taisu mengetahui kita menumpang kapal ini, bisa jadi akan dapat mengadakan kontak lagi dengan guruku."

"Hoat-kong Taisu apa? Dia kan terluka parah dan tidak dapat bergerak, memangnya dia sanggup lagi membuntuti kereta kita"

"Kutahu lukanya tidak terlampau parah, dengan kekuatan lwekangnya, asal minum obat dan istirahat sementara waktu, kuyakin dia akan sembuh seperti sediakala. Soalnya, sesudah dia sembuh dan dapat bergerak, dapatkah dia menyusul kereta kita ..."

"Sekalipun dia dapat menyusul kereta kita, tapi dia kan tidak tahu siapakah kita ini, cara bagaimana dia akan menyampaikan kabar kepada gurumu?"

"Tempo hari waktu kuangkat dia ke dalam kereta, diam-diam telah kujejalkan secarik kertas pada bajunya, bila dia membaca suratku itu dan kalau dapat menyusul kereta kita, tentu dia akan terus menguntit sehingga menyaksikan kita menumpang kapal, lalu dia akan putar ke Hanyang untuk memberitahukan kepada guruku."

"Oo, kiranya begitu,"

Ucap Boh-to.

"Pantas waktu itu Siausicu memberi isyarat agar aku berusaha menolong Hoat-keng Taisu, rupanya Siau-sicu sudah mempunyai rencana tertentu."

"Tecu hanya berbuat sepenuh tenagaku saja, soal apakah dapat terlaksana sesuai harapan kita, semua itu terserah kepada nasib."

"Umpamanya Hoat-keng Taisu dapat menyusul kereta kita dan melihat kita menumpang kapal namun dia tidak dapat ikut naik kapal, memangnya cara bagaimana dia dapat melacak lebih lanjut?"

"Dia dapat mengejar mengikuti sepanjang sungai,"

Ujar Kiam-eng.

"Jangan Siangjin sangka kungfunya rendah sehingga dengan mudah dapat dilukai oleh Thian-ong-pangcu, sesungguhnya hal itu disebabkan dia tidak tahu siapa lawannya, bilamana Iebih dulu dia tahu lawannya ialah Thian-ongpangcu, sedikitnya dia mampu bergebrak beberapa puluh jurus. Betapapun dia terhitung tokoh utama Siau-lim-pai, kungfunya tentu bukan jago silat kelas rendah, jika sekarang dia mau mengejar pelayaran kapal sepanjang sungai, kukira dengan mudah dapat dilakukannya."

Selagi Boh-to mau bicara lagi, tiba-tiba terlihat Thian-ong-pangcu turun dari atas cepat ia ganti pokok pembicaranya.

"Orang beragama janganlah memikirkan soal mati dan hidup, biarpun ajal sudah di depan mata pun akan berarti hidup paham tidak?"

"Ya, tecu tidak berani sembarangan berpikir lagi,"

Jawab Kiam-eng.

"Eh, apa yang sedang kalian perbincangkan?"

Segera Thian-ong-pangcu bertanya begitu melangkah masuk kamar.

"Ngo-Iiau merasa kuatir setelah selesai kuterjemahkan ke-178 potong medali emas itu, lalu kami akan kau bunuh, maka aku sedang memberi petuah kepadanya,"

Jawab Boh-to. Thian-ong-pangcu melirik Kiam-eng sekejap, lalu bertanya.

"Ngo-liau, mengapa kamu bisa punya kecurigaan begitu?"

Kiam-eng angkat bahu dan menjawab dengan tertawa.

"Memangnya Sicu tidak mempunyai kehendak begitu!"

"Tidak ada,"

Jawab Thian-ong-pangcu serius.

"Biarpun aku bukan lelaki sejati, sedikitnya juga tidak nanti membalas susu dengan air tuba makanya kalian jangan kuatir."

"Mudah-mudahan begitu adanya,"

Kata Kiam-eng tertawa.

"Padahal Siangjin dan diriku kan orang yang tidak memiliki sesuatu kepandaian lain jika engkau membunuh kami tentu akan mencemarkan nama kebesaran Thian-ong-pangcu yang terhormat."

"Ya, tentu saja, maka sekali lagi kalian jangan kuatir,"

Kata Thian-ong-pangcu.

"Dan sekarang tentunya Sicu dapat memberitahukan kepada kami ke mana kami akan dibawa?"

Tanya Boh-to Siangjin.

"Sekarang belum dapat kukatakan, kita masih perlu menempuh perjalanan sungai selama beberapa hari lagi."

"SeteIah menggunakan kapal tersebut, apakah perlu menempuh parjalanan darat lagi?"

Tiba-tiba Kiam-eng ikut bertanya.

"Ya, masih perlu menempuh belasan hari perjalanan baru akan tiba di tempat tujuan."

"Apakah tempat itu merupakan markas besar Thian-ong-pang kalian?"

Kiam-eng menegas. Thian-ong-pangcu bekernyit kening, sahutnya "Hai, kamu si keledai gundul cilik ini sungguh ceriwis, ada-ada aaja pertanyaanmu. Untuk apa kau tanya hal ini?"

"Aku cuma tanya sekenanya, jika keberatan janganlah Sicu jawab, kenapa mesti marah pada ku?"

Thian-ong-pangcu mendengus dan tidak menanggapi lagi, ia berpaling dan berkata kepada Boh to Siangjin "Tadi sudah kupinjam alat tulis kepada juragan kapal, sebentar juga akan diantar kemari Hendaknya Sangjin meneruskan terjemahan seperti sebelumnya."

"Kapal ini berguncang terus menerus, aiii! bagaimana aku dapat menulis?"

Ujar Boh to Sangjin.

"Siangjin boleh menulis dengan pelahan, sedikit atau banyak tidak menjadi soal, dengan demikian Siangjin juga dapat membuang waktu ehm betul tidak?"

Boh-to tahu sukar untuk menolak, terpaksa mengangguk dan menjawab.

"Baiklah, bisa menulis akan kutulis, kalau tidak dapat terpaksa berhenti. Tengah bicara, terlihat seorang kelasi kapal membawa alat tulis dan tatakan tinta turun ke ruang kabin, setiba di depan kamar ia berhenti dan bertanya.

"Apakah tuan tamu di kamar ini perlu alat tulis?"

Thian-ong-pangcu menunjuk sebuah meja kecil sambil dia berkata.

"Betul, taruh saja di atas meja."

Setelah menaruh alat tulis di meja, kelasi itu pun mengundurkan diri. Thian-ong-pangcu merapatkan pintu kamar lalu mengeluarkan tiga potong medali emas dan diserahkan kepada Boh-to Siangjin katanya.

"Inilah medali ke-27, 28 dan ke-29, harap Siangjin kerjakan."

Maka sejak hari ini Boh-to Siangjin mulai lagi dengan pekerjaan penerjemah, Su Kiam-eng tetap melayani di sampingnya dan diam-diam mengapalkan isi kitab pusaka..."

Empat hari kapal itu berlayar, hari ini kapal berlabuh di Ciat-kang. Tiba-tiba Thian-ong-pangcu datang berkata.

"Lekas bebenah, di sinilah kita mendarat!"

Tidak banyak perbekalan Boh-to dan Kiam-eng, maka dalam waktu singkat mereka sudah selesai bebenah dan ikut Thian-ong-pangcu meninggalkan kapal dan menuju ke kota.

Baru saja sampai di piatu gerbang kota, mendadak sebuah kereta kuda membedal keluar dari dalam kota, pengemudi kereta adalah seorang tua bermuka codet.

Begitu sampai di depan Thian-ong-pangcu, mendadak kereta berhenti, si kusir melompat turut dan memberi hormat sambil menyapa.

"Apakah anda ini Thi-soa-no Lu Yaa-sin!"

"BetuI, siapakah saudara terhormat ini?"

Jawab Thian-ong-pangcu.

"Namaku Coa Ji, berjuluk Goa-to-kui (setan golok),"

Jawab kusir bermuka codet itu".

"Ada perintah untuk menyambut kedatangan Lu-heng bertiga, sekarang silakan kalian naik kereta."

"Adakah Coa-heng membawa Thian-ong-hu (jimat raja langit) tanda pengenal?"

Tanya Thian ongpangcu.

"Ada, apakah Lu heng perlu lihat."

Tanya Coa Ji.

"Betul, coba kulihat dulu."

Coa Ji mengeluarkan sepotong medali emas yang berukir gambar malaikat, setelah Thian-ong pangcu memeriksa sejenak dan tampaknya memang asli lalu ia berkata kepada Boh-to dan Kiam-eng.

"Ayo, kita menumpang kereta ini."

Berturut-turut mereka naik ke dalam kereta, selesai merapatkan pintu barulah Coa Ji melompat ke atas, kereta diputar dan dilarikan kembali ke dalam kota.

Di dalam kereta tersedia rangsum dan air minum, sebab itulah kereta tidak berhenti di dalam kota melainkan terus dilarikan keluar gerbang seIatan.

Rupanya Coa Ji itu belum lagi tahu bahwa yang menyamar Lu Yan-sin justru adalah Thian-ongpangcu sendiri, ia merasa dirinya sederajat dengan Lu Yan-sin bertiga, sama-sama anak buah Thian-ongpang, sekarang dirinya yang harus menjadi kusir dan memapak mereka, dinilai demikian rasa harga dirinya turun satu tingkat, sebab itulah ia rada mendongkol.

Setelah jauh meninggalkan kota, Coa Ji lantas menyingkap terpal kabin kereta dan bicara dengan Lu Yan-sin,"

Katanya.

"Lu-heng, maaf bila kutanya sesuatu padamu, hendaknya Lu-heng jangan marah."

"Ehm, boleh taja, silakan bicara,"

Sahut Thian-ong-pangcu acuh tak acuh.

"Nama kalian bertiga sudah kudengar cukup lama, sekarang dapat berjumpa langsung, sungguh aku merasa sangat beruntung dan bahagia, Ehm . ...ehm, kukira kalian bertiga tentunya juga Busu Thian ong-pang."

"Memang betul,"

Jawab Thian-ong-pangcu.

"Sudah berapa lama kalian masuk menjadi anggota?"

Tanya Coa Ji pula.

"Kira-kira setengah tahun. Dan Coa-heng sendiri sudah berapa lama?"

Coa Ji terkekeh bangga.

"Hehe, sudah setahun lebih kumasuk Thian-ong-pang."

"Wah, jika demikian, seharusnya Coa-heng adalah Toako kami, sekarang Coa-heng harus menjadi kusir kami, sungguh hati kami merasa tidak enak."

"Ah, tidak apa, mungkia cara mengatur Sam-sucia yang kurang tepat dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian."

"Tapi kan bikin susah Coa-heng?"

Ujar Thian ong-pangcu dengan lagak menyesal.

"Tidak apa, kan urusan dua tiga hari saja, bilamana disuruh menjadi kusir jangka panjang, biarpun sebulan aku digaji selaksa tahil perak juga akan kutinggalkan."

"Betul juga, betapapun Coa-heng adalah tokoh yang terkenal di wilayah selatan dan utara sungai, kalau Pang kita dapat menarik Coa-heng untuk menjadi anggota dan hanya memberi tugas sebagai kusir yang rendah ini, sungguh terlampau tidak pantas."

Rupanya Coa Ji itu suka disanjung orang, dia sangat senang dan berkata.

"Ah, mana! Haha, selama hidupku berkecimpung di dunia kangouw, rasanya baru sekarang aku bertemu dengan seorang kawan sejati yang kenal perasaanku."

"Sudah setahun Coa-heng masuk Thian ong-pang, kuyakin engkau pasti cukup kenal baik terhadap Thian-ong-pang, entah bagamana pula pandangan Coa-heng terhadap sang Pangcu?"

"Tidak baik, juga tidak jelek!"

Jawab Coa Ji.

"Apa artinya, dapatkah Coa-hscg memberi sedikit penjelasan?"

"Apa yang kukatakan tidak baik, pada garis besarnya ada dua butir. Pertama, beliau kurang pandai menggunakan pembantu, kedua, dia tidak percaya kepada anak buah, Yang kumaksudkan tidak pandai menggunakan pembantu dapat ku beri contoh seperti kejadian sekarang, aku diperintahkan menjadi kusir kereta untuk memapak kaIian. Bagi siapapun pekerjaan demikian kan cukup dikerjakan pembantu rendahan saja. Apa yang ku katakan ini sama sekali bukan maksudku hendak meremehkan Lu-heng bertiga. Betul tidak menurut pendapat Lu-heng?"

"Betul, betul!"

Thian-ong-pangcu mengangguk "Kedua, apa yang kumaksudkan tidak percaya kepada anak buah, kukira hal ini pun Lu-heng sependapat denganku.

Misalnya sejak Lu-heng masuk Thian-ong-pang hingga sekarang, pernahkah bertemu muka dangan sang Pangcu?".

"Belum pernah?"

Jawab Thian-ong-pangcu.

"Dan apakah kautahu siapa nama dan akt sang Pangcu?"

"Tidak tahu,"

Kembali Thian-ong-pangcu menggeleng.

"Nah, inilah yang kumaksudkan tidak percaya kepada anak buah,"

Ucap Coa Ji.

"Coba pikir, pada waktu kita bersumpah menjadi anggota, meski setiap bulan kita digaji seribu tahil perak, namun kita diharuskan mutlak tunduk kepada setiap perintah, mendaki gunung golok atau terjun ke laut minyak mendidih juga tidak boleh membantah. ini kan sama seperti sudah menjual diri kepadanya, sebaliknya siapa Pangcu kita sama sekali tidak kita ketahui, ini kau lelucon yeog tidak lucu?"

"Betul, cara demikian sang Pangcu tidak percaya kepada annk buah, sungguh bukan cara yang tepat untuk mencari pembantu setia."

"Cuma, peduli amat, persetan dia, bilamana pada suatu hari benar-benar kita disuruh mengantar nyawa, hehe ...."

"Coa-heng kau bicara demikian, apakah tidak kuatir kuIaporkan?"

Tanya Thian-ong-pangcu tertawa. Berubah pucat juga air muka Coa Ji, cepat ia berkata dengan menyengir.

"Ah, kuyakin Lu-heng takkan berbuat demikian, betul tidak? Kita sama-sama alat Thian-ong-pangcu, kukira sedikit-banyak Lu-heng juga kurang puas terhadap Thian-ong pang, bukan?"

"Betul Coa-heng jangan kuatir, aku cuma bergurau saja,"

Jawab Thian ong pangcu.

"Cuma persoalannya juga harus ditinjau kembali, Thiao-ong-pang juga mempunyai sisi yang baik,"

Ujar Coa Ji.

"Misalnya honorarium seribu tahil perak tiap bulan, imbalan ini sesungguhnya tidak jelek, jauh lebih bagus daripada seorang kepala regu di larang mereka."

"Entah, aku tidak pernah menjadi garsaf, dari mana kutahu?"

"Paling-paling cuma satu per sepuluh honorarium kita, hanya seratus tahil perak sebulan!"

"Oo, itu pun lumayan!"

Ujar Thian-ong-pangcu,.

"Makanya kubilang honorarium seribu tahil perak sebulan bagi kita boleh dikatakan sangat tinggi dan tidak tercela."

"Kecuali hoaorarium yang tinggi, Coa-heng menganggap dalam hal apa lagi Thian ong pang dapat dipuji."

"Wah, sukar untuk kukatakan!"

Coa Ji menggeleng.

"Ada juga sesuatu yang sukar kupahami,"

Kata Thian-ong-pangcu pula.

"Selama itu menyuruh kita masuk Thian-ong pneg, semua tidak pernah menjelaskan sesungguhnya apa yang dilakukan Thian-ongpang. Apakah Coa-heng tahu sebenarnya apa yang dikerjakan Thian-ong-pang?"

"Menurut perkiraanku, Thian-ong-pangcu pasti seorang tokoh top dunia persilatan,"

Ujar Coa Ji.

"Dia membentuk Thian-ong-pang, tujuannya tidak lalu hanya ingin menguasai dan merajai dunia persilatan."

"Hanya untuk merajai dunia persilatan apakah kelop bila setiap bulan harus mengeluarkan biaya beberapa ratus ribu tahil perak?"

Akan tetapi dia kan mempunyai sumber pendapatan yang lain?!"

Ucap Coa Ji.

"Dia dapat menarik uang pelindung kepada berbagai aliran dan perguruan. Kabarnya sekarang sudah ada beberapa perguruan dan aliran besar yang membayar uang pelindung kepadanya."

"Di dunia persilatan juga tidak kurang orang sakti, caranya bertindak secara tidak semena-mena, bilamana merangsang kemarahan beberapa tokoh sakti jaman ini, mungkin dia takkan berhasil merajai dunia persilatan sebagaimana harapannya."

"Hehe, masakah dia gentar?"

Jengek Coa Ji.

"Kiam-ong Ciongli Cin adalah tokoh nomor satu di dunia persilatan sekarang, akan tetapi kabarnya dia juga sudah terbunuh oleh seorang anak buah Thian-ongpang. Yang tersisa sekarang tinggal Kiam-ho Lok Cing-hui dan kelompok It-sik-sin-kai, hanya mirip kunang-kunang saja, masakah mampu menandingi kemilau cahaya rembulan. Maka tak dapat kubayangkan siapa lagi yang sanggup menandingi Thian-ong-pangcu?"

"Jika begitu, kau berarti kita kesa4sr?"

"Memang betul juga,"

Coa Ji mengangguk "Cuma kalau Thian-ong pangcu tidak mengubah caranya memakai orang, mungkin kekuasaannya juga takkan tahan lama. Entah orang lain, yang jelas aku sendiri..."

"Engkau kenapa?"

Thian-ong-pangcu menegasi dengan tertawa.

"Bila aku disuruh menjadi Busu boneka selamanya, lebih baik kujadi garong saja, Lebih baik menjadi kepala nyata daripada menjadi ekor kerbau. Betul tidak?"

"BetuI, ucapan Coa-heng cocok dengan pikiranku... Eh, ya, menurut perintah, Coa-heng di suruh mengirim kami ke mana?"

"Ke Kam-li-koan, tengah malam nanti dapat sampai di sana."

Tutur Coa Ji.

"Memangnya ada urusan apa Lu-heng bertiga diperintahkan di Kam-li-koan sana?"

"Maaf, ini rahasia, tidak dapat kuberitahukan,"

Ujar Thian-ong-pangcu.

"Kita kan sama-sama orang Thian-ong-pang, apa halangannya kau katakan?"

"Oo, jika Coa-heng ingin tahu, boleh juga kubeberkan sedikit, cuma Coa-heng harus juga rahasia."

"Tentu Lu-heng tidak perlu kuatir."

"Begini, kami bertiga diperintahkan membereskan nyawa seseorang di Kam-li-koan..."

"Ah, memangnya membereskan nyawa siapa?"

"Dia juga Busu Thian ong-pang, namanya Ok-poan koan Tong Pin..."

"Hah! Ok-poan-koan Tong Pin juga menjadi Busu Pang kita?"

"Betul, Coa heng kenal orang ini bukan?"

"Tidak cuma kenal saja, sebab dia adalah kakak seperguruanku."

Thian-ong-pangcu berlagak kaget, katanya.

"Ai, kiranya Tong Pin adalah suhengmu, wah, ini.... ini..."

"Jika suhengku itu juga anggota pang kita, sebab apa jiwanya hendak dibereskan?"

Potong Coa Ji cepat.

"Aku sendiri tidak jelas, konon disebabkan dia tidak setia terhadap pang kita."

"Wah, kenapa suhengku itu bisa tidak setia terhadap pang kita?"

Seketika Coa Ji berubah tegang.

"Menurut dugaanku, mungkin suhengmu serupa pikiran Coa-heng yang bercabang, sering mengunjukkan rasa tidak puas terhadap pang kita."

Kembali Coa Ji terperanjat dan menghentikan kereta, ia berpaling dan berkata lagi dengan prihatin.

"Wah, janganlah Lu-heng mencampur adukkan urusan suhengku dengan diriku. Mungkin aku ini suka bicara terus terang dan sering mencerocos seperti kentut, padahal terhadap pang kita sesungguhnya aku sangat patuh dan tetap setia tenagaku sudah tidak diperlukan, kalau tidak tentu aku akan bekerja mati-matian dan setia sampai akhir hayat."

Melihat sikap Coa Ji yang mendadak sontak berubah 180 derajad dan bicara dengan gugup, tentu saja Boh-to dan Kiam-eng tertawa geli. Thian-ong-pangcu juga terbahak, katanya.

"Coa-heng jangan kuatir, bahwa Coa-heng mau bicara terus terang padaku, itu menandakan engkau memandang diriku sebagai sahabat sejati, masakah aku tega membuat laporan tentang ucapan Coa-heng tadi, kan terlalu?"

Coa Ji merasa lega, berulang ia mengucapkan terima kasih.

"Nah, begitulah jadi tidak sia-sia perkenalan kita ini."

"Cuma,"

Ucap Thian-ong-pangcu dengan kening berkernyit.

"Jika Ok-poan-koan Tong Pin itu adalah suhengmu, lalu cara bagaimana aku harus turun tangan padanya?"

"Tidak soal, tidak menjadi soal!"

Sahut Coa Ji cepat.

"Biarpun Tong Pin itu suhengku, namun selama ini kami tidak begitu akrab, pribadinya memang sulit bergaul, pikirannya cupat, sudah lama kami tidak saling berhubungan. Silahkan saja Lu-heng turun tangan sebagaimana mestinya, bila Lu-heng tidak menolak, jika perlu ddapat kubantu malah."

"Jika demikian, kami bertiga boleh tidak perlu sangsi lagi,"

Ujar Thian ong-pangcu tertawa.

"Bicara terus terang, inilah tugas pertama yang diberikan atasan, betapapun kami tidak berani menolak dan membangkang."

"Ya, ya, tentu saja tidak boleh membangkang."

Seru Coa Ji.

"Cuma, pada waktu turun tangan hendaknya kalian hati-hati. Bukan sengaja aku membual, kepandaian suhengku itu beberapa kali lebih tinggi daripadaku, senjata andalannya Poan koan-pit sudah pernah mengalahkan gembong bandit ternama di beberapa propinsi selatan."

"Wah, bila begitu, entah kami bertiga mampu membereskan dia atau tidak?"

Ujar Thian-ong pangcu dengan berlagak kuatir.

"Lu-heng jangan kuatir,"

Ucap Coa Ji.

"tiba saatnya nanti boleh kuberi bantuan seperlunya, dengan tenaga kita berempat masakah dia mampu terbang ke langit."

"Baiklah, sllakan Coa-heng meneruskan perjalanan,"

Thian-ong-pangcu mengangguk.

"Menurut perintah atasan, tengah malam nanti suheng-mu akan lalu di Kam-li-koan dengan meEUi ,. keres, kalau kita tidak keburu mencegatnya tiba lebih dini, urusan kan bisa runyam."

Berulang Coa Ji mengiakan, segera ia melarikan kereta kuda ke depan dengan cepat.

Diam-diam Boh to Siangjin dan Su Kiam-eng tahu sekali ini Coa Ji pasti akan tamat riwayatnya.

Tapi lantaran orang memang penjahat yang pantas menerima ganjarannya, maka mereka tidak merasa cemas baginya sebaliknya bersyukur akan kematiannya.

Sepanjang jalan Coa ji tidak berani membual lagi dengan membungkam dia mengendarai keretanya, Menjelang tengah malam sampailah mereka di kota Kam-Ii-koan.

Ketika sampai di pintu gerbang kota, Coa Ji berpaling dan bertanya.

"Lu-heng, apakah kita akan menunggunya di dalam kota?"

"Tidak, hendaknya Coa-heng membawa kereta ini keluar gerbang selatan, biarlah kita menunggunya di sana."

Sahut Thian-ong-pangcu.

Segera Coa Ji melarikan kereta ke dalam kota, setelah menyusur jalan raya lalu keluar pintu gerbang selatan.

Karena di tengah malam buta, jalan raya sudah sepi dari orang lalu lalang.

Ketika kereta sampai di dekat sebatang pohon tua, Thian-ong-pangcu berseru.

"Nah, sudahIah, boleh berhenti di sini!"

Coa Ji mengiakan dan menghentikan kereta, lalu berpaling dan bertanya.

"Lu-heng, apa benar suhengku akan lalu di sini?"

Thian ong-pangcu menyodorkan sebuah lentera berkerudung dan menjawab.

"Ya, harap Coa heng menyalakan lentera ini!"

Coa Ji menerima lentera itu, mendadak ia berkata dengan terkejut.

"Oya, pada waktu kuterima perintah dari atasan untuk membawa kalian bertiga, aku juga diharuskan membawa sebuah lentera ini, sekarang Lu-heng minta lentera ini dinyalakan, jangan-jangan nyala lentera ini ada manfaat khusus?"

Thian-ong-pangcu melangkah keluar kereta sambil menjawab.

"Betul, harap Coa-heng menyalakan lentera!"

Coa Ji merasa sangsi namun tidak berani bertanya lebih lanjut, segera ia keluarkan alat ketik api dan menyalakan lentera, lalu bertanya "Digantung di mana?"

Thian ong pangcu menunjuk ke depan.

"Silahkan Coa-heng membawa lentera ke tengah jaIan sana, harap lentera digoyang-goyangkan 18 kali ke arah depan!"

Coa Ji tambah heran dan was-was, tanyanya bingung.

"Apa artinya Lu-heng menyuruhku berbuat demikian?"

"Sesudah kau laksanakan tentu Coa-heng akan tahu"

Ucap Thian-Ong-pangcu.

Coa Ji merasa ragu pula sejenak, akhirnya ia menurut juga, ia bawa lentera ke tengah jalan dan digoyang-goyangkan 18 kali ke kanan dan ke kiri.

Hanya dalam sekejap seja lantas terdengar suara gemertak roda kereta bergerak dari jalan depan sana.

Tidak lama kamudian, sebuah kereta kuda tampak mendekat dengan cepat.

Coa Ji merasa keadaan ini sangat berbeda seperti apa yang diceritakan "Lu Yan-sin,"

Ia merasa tidak tentram, cepat ia putar balik ke depan Thian-ong-pangcu dan bertanya.

"Lu-heng, kereta yang datang dari depan itu apa benar kereta yang ditumpangi suhengku?"

"Yang mengendarai kereta itu adalah seorang Busu lain dari pang kita, suhengmu duduk di dalam kereta,"

Sahut Thian-ong-pangcu dengan tertawa. Coa Ji tambah heran.

"Jadi suhengku memang sudah tahu akan menerima hukuman dan atas perintah sengaja datang kemari untuk pelaksanaan hukumannya?"

"Tidak, dia belum lagi tahu,"

Thian-ong-pangcu menggeleng.

Tengah bicara, kereta tadi sudah sampai di bawah pohon Pengendaranya adalah seorang kakek berbaju hitam dan segera melompat turut, dari dalam kereta berbareng juga melompat keluar seorang tua dengan menyandang sepasang senjata Poan-koan-pit di punggung, mereka lari ke depan Thian-ongpangcu dan sama menyembah sambil berucap.

"Hamba Tong Pin dan Soa Goat menyampaikan sembah bakti kepada Pangcu."

Demi mendengar Tong Pin menyebut "Lu Yan-sin"

Sebagai Pangcu, seketika muka Coa Ji berubah pucat serupa mayat dan melongo.

Thian-ong-pangcu tidak ambil pusing terhadap Coa Ji yang kaget setengah mati itu, ia hanya bicara terhadap Tong Pin dan Soa Goan-hiong "Perlihatkan Thian-ong-hu!"

Cepat Tong Pin berdua mengeluarkan Thian ong-hu dan dipersembahkan.

"Mohon pangcu memeriksanya!"

Thian-ong-pangcu hanya memandang sekali Thian-ong-hu yang dipegang mereka itu tanpa menerimanya, lalu berkata.

"Baiklah, simpan kembali!"

Setelah Tong Pin berdua menyimpan kembali Thian-ong-hu, segera Thian-ong-pangcu bertanya pula.

"Bagaimana keadaan di sana?"

"Semuanya baik,"

Jawab Tong Pin dengan hormat.

"Apa tidak terjadi sesuatu yang tak terduga!"

Tanya lagi Thian-ong-pangcu.

"Tidak ada, segalanya berjalan lancar,"

Tutur Ok-poan-koan Tong Pin. Thian-ong-pangcu manggut-manggut, lalu menuding Coa Ji dan bertanya.

"Katanya Coa Ji ini adalah adik seperguruanmu?"

"Betul, biasanya dia dapat bekerja giat dan cepat, mohon Pangcu memberi bantuan seperlunya,"

Jawab Tong Pjn sambil memandang Coa Ji sekejap. Dengan tertawa Thian-ong-pangcu menjawab.

"Setiap busu pang kita, asalkan bekerja giat dan cepat, melaksanakan tugas dengan setia, dengan sendirinya akan kuberi kebaikan dan kenaikan pangkat yang wajar sebaliknya kalau cuma lahirnya saja tunduk, tapi dalam batin membangkang malahan di belakangku suka berolok-olok terhadap pribadiku, maka sulitlah bagiku untuk mengangkatnya ke atas."

Air muka Tong Pin berubah pucat, tanyanya gugup.

"Apakah suteku ini telah berbuat sesuatu kesalahan?"

"Boleh kautanya sendiri padanya,"

Jengek Thian-ong-pangcu. Segera Tong Pin tanya Coa Ji dengan suara agak gemetar.

"Sute, apa yang telah kau lakukan"

Dengan gemetar mendadak Coa Ji berlutut dan menyembah terhadap Thian-ong-pangcu, katanya.

"Ooh, hamba sungguh punya mata tapi buta, dosa hamba sungguh harus dihukum mati seribu kali, mohon... mohon Pangcu sudi mengampuni hamba satu kali ini, selanjutnya hamba pasti tidak berani sembarangan mengoceh lagi dan hamba bersumpah akan mengabdi dengan setia terhadap pang kita..."

Mendadak Thian-ong-pangcu memotong.

"Baik, dapat kuampuni satu kali kematianmu..."

Girang Coa Ji seperti putus lotere, beruIang ia menyembah dan berucap.

"Banyak terima kasih atas budi kebaikan Pangcu, beribu terima kasih..."

Tiba-tiba Thian-ong-pangcu tergelak.

"Hahaha, namun kau sendiri bilang dosamu harus dihukum mati seribu kali, sekarang aku cuma mengampuni kematianmu satu kali saja, lalu cara bagaimana menyelesaikan akan hukuman mati yang masih 999 kali?"

Coa Ji melenggong, segera air muka tambah pucat lagi, kembali ia menyembah tanpa berhenti dan memohon.

"Mohon belas kasihan Pangcu, sungguh hamba memang suka banyak omong, sekali bicara laatas menerocos serupa kentut, padahal..."

Thian-ong-pangcu tidak mau mendengar lagi lebih lanjut, ia berpaling dan berkata kepada Tong Pin.

"Nah, Tong-busu, jika kujatuhkan hukuman sesuai peraturan pang kita, bagaimana dengan pendapatmu?"

"Hamba tidak ada pendapat lain,"

Jawab Tong Pin dengan menunduk takut "Jika suteku berbuat salah, mohon Pangcu memberi hukuman setimpal sesuai peraturan pang kita,"

"Dia adalah busu pang kita, namun dia justru menilai diriku selaku pangcu dengan segala kejelekan, katanya aku tidak pandai menggunakan tenaga pembantu, katanya dia tidak sudi menjadi busu boneka selamanya, katanya bila tiba saatnya dia akan kabur meninggalkan Pang kita, waktu kuberitahu bahwa aku mengemban tugas hendak mencabut nyawa Tong Pin yang tidak setia terhadap Pang kita, ia menjadi takut dan segera menyatakan bersedia membantu membunuhmu."

"Coba, manusia yang takut mati dan tamak hidup, orang yang tidak setia dan tidak berbudi seperti ini, menurut pendapatmu cara bagaimana harus membereskan dia?"

"Pantas dihukum mati,"

Jawab Tong Pin.

"Nah, mengingat dia itu sutemu, maka boleh kau suruh dia membereskan diri sendiri,"

Ucap Thian-ong-pangcu. Segera Tong Pin berpaling dan membekuk terhadap Coa Ji.

"Dengar tidak keputusan pangcu Sute?"

Muka Coa Ji seketika berubah pucat serupa kertas, ia mengangguk tanda menurut.

segera ia merogoh pinggang dan mengeluarkan sebilah belati, ujung belati mengarah hulu hati sendiri seperti siap membunuh diri, mendadak ia berteriak keras sekali, ujung belati membalik terus menikam ke perut Thian-ong-pangcu.

Itulah perbuatan nekat antara hidup atau mati, asalkan sergapannya berhasil, maka ada harapannya untuk menyambung hidup.

Akan tetapi Ok-poan-koan Tong Pin yang terdiri di sebelahnya sudah siap siaga, begitu nampak ujung belatinya membalik, serentak ia maju menendang sambil membentak.

"Kau mau apa?"

Tujuan Coa Ji dengan tindakan nekat itu adalah berharap akan mencari hidup, sama sekali ia tidak menduga suheng sendiri akan merintanginya, maka baru saja belatinya terjulur setengah jalan, lebih dulu kepalanya sudah kena tendangan Tong Pin.

"Plak,"

Kontan kepala pecah dan otak berhamburan, sambil menjerit ngeri kontan ia terjungkal, setelah berkelojotan beberapa kali, lalu putus nyawanya.

Habis menendang mati sutenya, Tong Pin masih kuatir sang Pangcu belum puas, cepat ia berlutut dan menyembah.

"Ampun Pangcu jika suteku ini berani berbuat khianat!"

Thian-ong-pangcu tertawa, katanya.

"Bangunlah! Dia bukan kamu dan kamu bukan dia, urusannya tidak ada sangkut-pautnya denganmu silahkan kau tanam mayatnya dan segera kita berangkat"

"Tidak perlu ditanam, dibuang saja!"

Tong Pin sambil berbangkit Lalu ia angkat jenazah Coa Ji dan dibawa ke tepi jalan sana serta dilemparkannya ke tengah semak belukar, kemudian putar balik."

Thian-ong-pangcu mendekati kereta dan berkata kepada Boh-to dan Kiam-eng.

"Silakan kalian turun, kita harus ganti kereta!"

Boh-to dan Kiam-eng menurut saja dan berganti menumpang kereta yang dibawa kemari oleh Sia Goan-hiong tadi setelah Thian-ong-pangcu juga sudah di atas kereta, ia keluarkan dua potong kain hitam dan berkata.

"Maaf, demi keamanan, mulai sekarang terpaksa kututup mata kalian."

"Apa artinya ini?"

Protes Boh-to dengan mendongkol.

"Artinya tempat yang hendak kita tuju itu tidak boleh diketahui oleh kalian,"

Kata Thian ong-pangcu.

"Aku kan bukan orang persilatan, apa salahnya biarpun kutahu tempat tujuan kita?"

Ujar Boh-to Siangjin.

"Betapapun kukuatir kelak akan kau bocorkan tempat yang kita datangi nanti,"

Sahut Thian-ongpangcu.

"Sicu tidak perlu kuatir, tidak nanti kuberitahukan tempat itu kepada siapa pun,"

Kata Boh-to tegas.

"Tidak, lebih baik tetap kututup saja mata kalian"

Kata Thian-ong-pangcu.

"Apakah begini caranya Sicu memperlakukan tamu"

"Ya, jika Siangjin ingin pulang ke Tai-hin-si dengan hidup, mau-tak-mau mata kalian harus ditutup."

"Baiklah, memangnya kami ini tawananmu, apa dayaku?"

Kata Boh-to menyesal.

Tanpa omong lagi segera Thian ong pangcu menutup mata Boh to dan Kiam-eng dengan kedua potong kasa hitam, Ialu menyuruh Sia Goan-hiong melarikan keretanya, sedangkan Tong Pin mengintil dari belakang dengan mengendarai kereta yang dibawa Coa Ji tadi.

Perjalanan kedua kereta itu berlanjut dari tengah malam hingga pagi, setelah berhenti tidak lama di suatu tempat yang sepi, lalu meneruskan lagi perjalanan, sebentar belok ke timur, Ialu putar ke barat sehingga Boh-to Siangjin dan Kiam-eng yang berada dalam kereta tidak tahu berada di mana.

Dua hari kemudian, kereta sampai di suatu tempat, dengan dipapah Tong Pin dan Soa Goan-hiong, Boh-to dan Kiam eng dipindahkan lagi ke suatu kapal dan entah berlayar menuju ke mana.

Kira-kira setengah hari kapal berlayar, kembali Boh-to dan Kiam-eng dibawa mendarat dan berganti menumpang tandu serta digotong ke tempat yang tidak jelas.

Akan tetapi pada saat itu juga Kiam-eng pun tahu sudah tiba di "markas besar"

Thian-ong-pang. Benar juga, tidak lama mereka menumpang tandu, berhentilah mereka dan dibawa masuk ke sebuah rumah, Mereka didudukkan di kursi, lalu terdengar Thian-ong-pangcu berkata.

"Baiklah, sekarang boleh buka penutup mata mereka!"

Karena dikerundung selama dua hari dua malam, pada waktu kain hitam dibuka, seketika Boh-to dia Kiam-eng merasa silau dan sukar memandang.

SeIang agak lama barulah daya pandang mereka pulih seperti biasa.

Waktu mereka mengamati sekitarnya, ternyata mereka berada di dalam sebuah kamar tulis yang dipajang sangat indah, Mereka sama merasa heran karena tak terduga.

Maklumlah, semula mereka mengira Thian-ong-pangcu pasti akan memasukkan meraka ke kamar tahaanan, sekaraag tempat mereka berada ternyata sebuah kamar tulis indah, dengan sendirinya mereka heran dan terkejut.

Mereka coba mendekati jendela dan memandang keluar, terlihat di luar kamar adalah sebuah taman bunga yang kecil indah dikitari pagar bambu sekeliling, di tengah taman ada kolam dan gardu pemandangan segala, tanaman teratur rajin indah, terasa menyenangkan sekali.

"Seterusnya apakah kami akan tinggal di kamar ini?"

Boh-to coba tanya Thian-ong-pangcu.

"Betul, sampai Siangjin selesai menerjemahkannya,"

Sahut Thian-ong~pangcu.

"Jika begitu, bolehkan pulihkan wajahku yang dulu."

"Tentu saja boleh, silakan mengaso sebentar, segera kuperintahkan mencuci muka kalian."

"Maaf jika kutanya lagi, apakah tempat ini merupakan pangkalan pusat pang kalian?"

"Siangjin tidak perlu urus hal ini, cukup satu hal saja perlu Siangjin ingat, pada waktu istirahat kalian boleh bergerak bebas di taman, namun dilarang keras keluar taman barang selangkah pun."

"Mengapa dilarang melangkah keluar taman?"

Tanya Boh-to Siangjin.

"Alasannya sama seperti kututup mata kalian."

"Baiklah, sekarang yang paling kuharapkan adalah mencuci badan..."

Thian ong-pangcu mengangguk setuju, ia memberi tanda kepada Tong Pin dan Soa Goan-hiong, ketiganya lantas mengundurkan diri.

Kiam-eng memandangi mereka keluar taman, lalu tersenyum senyuman gembira dan akhirnya tidak tertahan ngikik tawanya.

"Apa yang kau tertawakan, Ngo-liau?"

Tanya Boh-to heran. Kiam-eng mendekati padri tua itu dan berbisik lirih.

"Apakah Siangjin tahu tempat apakah ini!"

"Tldak tahu,"

Jawab Boh-to.

"Tempat ini adalah sebuah pulau kecil yang terletak di tengah danau Tongling, sudah dua kali pernah kudatang kemari"

Tutur Kiam-eng tersenyum.

"Ooh, jadi kita berada di tengah sebuah pulau kecil?"

Boh-to menegas dengan heran.

"Betul, bukan saja pernah dua kali kudatang ke pulau ini, bahkan kamar ini pun pernah kumasuki."

"Lantas, apakah nama pulau kecil ini?"

"Li-hun-to!"

"Li-hun-to? Ehmm... rasanya pernah kudengar nama pulau ini..."

"Pemilik pulau ini sebenarnya seorang perempuan buta, namanya Liehun-nionio Leng Jing-jing!"

"Ahh, jadi Li-hun-nionio yang memiara ribuan perempuan cacat itu?"

Boh to menegas.

"Betul,"

Kiam-eng mengangguk.

"Sekarang dia berada di sini atau tidak?"

"Tidak ada, sudah sejak beberapa bulan yang lalu Thian-ong-pangcu mengutus ketiga utusannya ke sini untuk memaksa dia menggabungkan diri dengan Thian-ong-pang, tapi tidak digubris olehnya. Maka ketiga duta itu lantas melakukan penyerbuan ke pulau ini. Waktu itu aku baru saja pulang dari wilayah selatan dan bermaksud menceritakan pengalaman perjalananku mencari kota emas itu, ada maksudku hendak memberi bantuan padanya untuk melawan kawanan penyerbu, namun wataknya ternyata sangat keras, dia menolak bantuanku, akibatnya banyak anak buahnya terbunuh akhirnya tetap kubantu dia lolos dari bahaya maut dengan meledakkan sebuah granat berasap."

"Ribuan perempuan cacat yang dikumpulkannya itu juga terbunuh?"

"Tidak, pada waktu dia menerima surat tantangan ketiga duta Thian-ong-pang, semua perempuan cacat itu lantas dipindahkan ke Moko san, Maka yang terbunuh waktu diserbu musuh hanya para perempuan yang menguasai ilmu silat."

"Oh, sudah lama juga kudengar Li-hun-to adalah sorganya kaum perempuan cacat, ternyata Thian-ong-pangcu tega melakukan perbuatan ganas terhadap kaum wanita yang tidak berdosa ini. sungguh perbuatan keji dan menggemaskan."

"Waktu itu aku pun tidak mengerti sebab apa mengincar Li-hun-to, baru sekarang kupaham maksud tujuan meraka menduduki pulau ini."

"Memangnya apa tujuannya?"

Tanya Boh-to.

"Menduduki pulau ini untuk dijadikan markas pusat Thian-ong-pang mereka!"

"Oya....".

"Kita lihat, Li-hun-to ini dikelilingi danau, posisinya sangat strategis untuk dipertahankan, sebab itulah pulau itu terpilih untuk dijadikan markas pusat mereka."

"Oh, kiranya begitu, sepanjang jalan Thian ong-pangcu mengerudungi mata kita, maksudnya agar kita tidak tahu ke mana hendak dibawa, Tak terduga akhirnya sampai di tempat yang sudah ku kenal. Bisa jadi ini melambangkan riwayatnya sudah hampir tamat."

"Memang betul, yang paling menggelikan adalah kita justru ditaruh di kamar ini....".Kata Kiam eng lagi.

"Kamar ini kenapa?"

"lni kan bekas kamar tidur Li-hun nionio Leng Jing-jing, waktu itu justru dari kamar inilah kubawa Lihun-nionio lolos dari pulau ini."

"Ah, maksudmu ada jalan rahasia di kamar ini?"

Boh-to melengak.

"Betul, cuma orang Thian-ong-pang sudah merombak kamar ini, entah waktu merombak jalan rahasia itu ditemukan mereka atau tidak?"

Bicara sampai di sini, Kiam-eng coba melongok keluar karnar, melihat keadaan sepi, lalu ia mendekati sebuah almari pakaian dinding di pojok sana, ia buka piatu elmari lalu memutar sepotong kayu gantungan baju, beberapa kali diputar, terdengarlah suara berkeriut, pelahan dinding yang terletak di balik almari lantas bergerak menurun sehingga terlihatlah sebuah jalan bawah tanah yang gelap gulita.

Melihat itu, Boh-to terkejut dan bergirang, sahutnya.

"Omitohud! Tampaknya jiwa kita belum ditakdirkan harus tamat di sini!"

Kiam-eng juga sangat girang, segera ia putar lagi kayu gantungan baju sehingga pintu rahasia itu merapat kembali seperti semula, lalu pintu almari ditutup katanya dengan gembira.

"Thian-Ong-pangcu pasti tidak tahu di dalam kamar ini ada jalan rahasia, maka kita masih ditaruh di sini. Haha, sungguh Thian memang tidak pernah membuat buntu bagi umatnya."

"Jalan bawah tanah ini menembus ke mana?"

Tanya Boh-to Siangjin.

"Ke tepi pantai, keluar dari lorong adalah danau,"

Tutur Kiam-eng.

"Jika begitu, bila tidak ada kapal, tetap kita sukar kabur dari pulau ini."

"Untuk ini kita dapat berusaha nanti. Asalkan Thian-ong-pangcu tidak tahu jalan rahasia ini menembus kemana, tentu kita masih sempat berdaya."

Selagi Boh-to hendak bicara lagi, tiba-tiba Kiam-eng mendengar ada orang melangkah datang, cepat ia memberi tanda diam sambil mendesis.

"Sst ada orang datang!"

Tidak lama, muncul empat lelaki berbaju ringkas dengan membawa dua ember penuh air panas dan beberapa alat mandi setelah masuk kesana peralatan itu ditaruh di situ, seorang di antaranya mengeluarkan sepotong garam kristal dan ditaruh di meja, katanya.

"Pangcu bilang dengan garam ini dapat membersihkan hiasan pada wajah kalian, boleh kalian cuci sendiri saja."

"Baiklah, terima kasih."

Kata Kiam-eng.

Ke empat orang itu memberi hormat dan segera mengundurkan diri.

Setelah menutup pintu kamar dan merapatkan tabir jendela, Kiam-eng dan Boh-to membuka baju untuk mandi.

Hanya sebentar saja keduanya sudah pulih pada wajah semula.

Dengan sendirinya Su Kiam eng kembali pada wajah si hwesio cilik "Ngo Iiau"

Kemudian ke empat lelaki tadi datang kembali menyingkirkan peralatan, tidak lama pula dua lelaki datang membawakan makanan selesai menaruh makanan di meja, seorang diantaranya berkata.

"Pangcu bilang, perjalanan jauh tentu membuat kalian lelah, selesai bersantap boleh silakan istirahat bebas, Besok pangcu akan datang menemui kalian."

Habis bicara mereka terus tinggal pergi.

"Dengan sendirinya Boh-to dan Kiam-eng berpikir dan tanpa terasa bergumam "Ehm, rasanya boleh coba kuselidiki walaupun harus menyerempet bahaya..."

"Menyelidiki apa?"

Tanya Boh-to Siangjin.

"Ooh, maksudku mencari Wi-ho Lojin dan Ih Keh-ki,"

Jawab Kiam-eng.

"Kau kira mereka juga terkurung di Li-hun-to ini?"

Tanya Boh-to.

"Betul, juga ke-180 patung emas itu, kukira berada semua di pulau ini."

"Maksudmu hendak keluar untuk menyelidikinya?"

"Ya, bagaimana pendapat Siangjin?"

"Kukira, Thian-ong-pangcu pasti menaruh penjaga di luar untuk mengawasi kita, bila Siau-sicu keluar, mungkin akan kepergok..."

"Betul juga, cuma Thian-ong-pangcu kan tidak tahu aku ini samaran Su Kiam-eng, maka pengawasannya terhadap kita mungkin tidak seketat dugaan kita, Asalkan aku berlaku lebih hati-hati, mungkin dapat menghindari pengawasan penjaga."

"Tujuanmu kan terletak pada kitab pusaka ilmu pedang, sekarang nasksh ilmu pedang belum selesai kuterjemahkan, bilamana asal-usulmu ketahuan, kan berarti tamat segalanya".

"Yang kupertimbangkan justru hal ini,"

Ujar Kiam-eng."

Namun dengan susah payah barulah kita sampai di sini, bila kesempatan baik iai tidak kugunakan uatuk menyelidik kan berarti sia-sia perjalanan ini, Pula kalau urusan kitab pusaka dibandingkan dengan Wi ho Lojin, jelas kurasa lebih penting menolong dulu manusianya..."

"Ya, menolong orang memang penting, Bila kelak yang dapat membantu Siausicu menumpas kawanan iblis mungkin juga berdasarkan ilmu pedang sakti ini."

"Benar, cuma sayang bangsat tua itu tidak mau menyerahkan seluruh ke-178 potong medali itu kepada Siangjin, bila sisa ke-144 potong itu mau dia serahkan padamu, tentu urusan akan mudah diselesaikan."

"Tempat ini adalah daerah kekuasaannya, bisa jadi besok juga dia akan menyerahkan sisa ke-144 potong medali itu kepadaku,"

Ucap Boh-to dengan tersenyum. Kiam-eng merasa hal itu memang bukan mustahil, maka katanya dengan tertawa.

"Betul, jika benar dia serahkan seluruh sisa medali emas pada Sianjin, lebih dulu akan kuapalkan seluruh isi kitab pusaka itu, habis itu baru kupergi menyelidiki keadaan pulau ini, bila dapat menemukan Wi-ho Lojin dan nona Ih, langsung aku berusaha menolong mereka dan kubawa kemari untuk kemudian bersama-sama melarikan diri melalui jalan rahasia di sini".

"Omitohud!"

Ucap Boh-to.

"Biarpun perhitungan Siausicu itu terlampau muluk-muluk, bisa jadi Budha akan memberkahimu sehingga usahamu berhasil."

Selesai bersantap, keadaan di luar sudah mulai remang-remang magrib, karena ingin tahu keadaan taman di luar itu, segera Kiam-eng keluar Boh-to Siangjin dan berjalan-jalan di sekeliling taman.

Taman itu hanya dikelilingi pagar bambu, sebab itulah keadaan di luar taman dapat terlihat dengan jelas.

Ternyata perumahan di luar taman tidak banyak berbeda dengan keadaan beberapa bulan yang lalu.

Satu-satunya yang tidak sama adalah diberbagai jalan dan halaman dijaga oleh orang bersenjata yang cukup ketat, suasana terasa kereng dan seram.

Diam-diam Kiam-eng mendengus melihat keadaan begitu, setelah berada kembali dalam kamar, Boh-to berkata dengan lirih.

"Sudah kau lihat sebanyak itu penjaga di mana-mana, cara bagaimana kamu dapat menyusup keluar?"

"Tidak menjadi soal, tidaklah sulit untuk menghindari pengawasan kawanan penjaga ini,"

Ujar Kiam-eng."

Yang sulit adalah tidak diketahui Wi-ho Lojin dan dan nona Ih apakah terkurung di pulau ini? Dan kalau terkurung di sini, maka disekap di kamar mana?"

"Kaubilang pernah dua kali datang ke pulau ini, masakah tidak dapat kau raba tempat yang sangat mungkin menjadi tempat tahanan mereka?"

Seru Boh-to.

"Meski pernah dua kali kudatang kemari, namun tidak pernah tinggal lama di sini sehingga sukar bagiku untuk meraba dimana mereka di tahan."

"Sesungguhnya berapa luasnya Li hun-to ini?"

"Dibilang besar memang tidak besar, dikatakan kecil juga tidak kecil. Yang jelas perumahan di pulau ini kira-kira ada 300 buah."

"Ya, memang tidak mudah untuk menemukan tmpat tahanan mereka di antara ke-300 buah kamar itu, menurut pendapatku, untuk sementara ini, lebih baik dibatalkan dulu keinginan Siau-sicu akan menyelidiki keadaan pulau ini."

"Baiklah, biar kita tidur nyenyak semalaman, segala urusan tunggu sampai besok saja,"

Kata Kiam-eng.

Di dalam kasar ada dua tempat tidur, tanpa pusing lagi mereka lantas buka baju dan tidur.

Untuk pertama kalinya mereka mendapatkan tempat tidur yang baik sejak mereka jatuh dalam cengkeraman Thian-ong-pangcu, sebab itulah hanya sebentar saja mereka rebah dan segera terpulas.

Akan tetapi mungkin tidur mereka terlampau dini sehingga ketika Kiam-eng mendusin, ia coba melongok keluar jendela, ternyata saat itu baru tengah malam.

Ia merasa cukup segar dan bersemangat sehingga tidak merasa mengantuk lagi, timbul suatu pikirannya, ia coba mendekati Boh-to Siangjin, terlihat padri tua itu pun mendusin, dengan suara tertahan ia tanya,"

Siangjin juga mendusin!"

"Ya, saat ini seperti baru tengah malam bukan?"

Jawab Boh-to.

"Memang, masih cukup lama tibanya pagi,"

Kata Kiam eng.

"Jika begitu, ayolah tidur lagi."

"Tidak, tecu tidak dapat tidur pula."

Boh-to bangun duduk, katanya,"

Jika demikian, di bawah rak buku kulihat ada papan catur bagaimana kalau kita main catur untuk membuang waktu."

"Tidak, kuingin turun untuk melihat keadaan,"

Ujar Kiam-eng.

"Turun melihat keadaan apa!?"

"Maksudku ingin masuk ke jalan bawah tanah sana untuk menyelidiki keadaan di sana,"

Sahut Kiam-eng sambil menunjuk almari.

"Bisa jadi Thian-ong-pang sudah menemukan jalan rahasia itu dan jalan tembusnya sudah disumbat"

"Ya, boleh juga coba kau periksa keadaan di situ,"

Boh-to mengangguk setuju.

"Akan tetapi, bilamana kau masuk ke situ, lalu mendadak mereka datang lantas bagaimana?"

"Pada saat tengah malam begini kukira takkan terjadi,"

Ujar Kiam-eng.

"Apabila mereka datang, janganlah Siangjin membuka pintu begitu saja melainkan dengan suara keras kau tanya dulu apa keperluan kedatangan mereka, dengan demikian tentu suara Siangjin dapat kudengar di bawah sana dan cepat kukeluar lagi ke sini."

"Baiklah, silakan Siausicu lekas turun ke sana"

Su Kiam-eng lantas melompat ke depan almari dia pelahan membuka piatu almari, diputarnya tangkai gantungan baju, takala pintu rahasia terbuka, cepat ia melangkah turun ke bawah.

Jalan di bawah tanah gelap gulita, jari sendiri pun tidak terlihat.

ia keluarkan geretan api sekedar penerangan dan maju ke depan.

Ia ingat di tengah jalan rahsia itu ada sebuah kamar yang cukup luas, di langit kamar terpasang sebutir mutiara mestika yang bercahaya, di depan kamar dirintangi sebuah pintu besi, harus menembus pintu besi itu baru dapat mencapai tepi pantai.

Ia juga ingat waktu masuk ke situ bersama Li-hun-nionio dahulu, pernah dia culik juga ketiga busu Thian-ong-pang dan dibawa ke kamar rahasia itu, di situlah kemudian Li-hun-nionio membunuh mereka.

Ai, bilamana ketiga sosok mayat mana menggeletak di sana, tentu baunya tak terperikan.

Benar juga, baru saja ia melangkah lebih maju lagi, segera tercium bau mayat yang busuk, Untung bau busuk mayat itu tidak terlampau bacin sebagaimana bayangannya.

Sebaliknya bau mayat itu pun seakan-akan memberi petunjuk baik padanya, yaitu menandakan pihak Thian-ong-pang belum lagi mengetahui adanya jalan rahasia ini, kalau tidak tentu mayat itu sudah disingkirkan dan kamar rahasia itu di bersihkan.

Setelah yakin jalan rahasia ini belum diketahui musuh, ia tambah semangat, dengan penuh gairah ia melangkah ke depan dengan cepat, maka cuma sebentar saja ia sudah sampai di kamar rahasia itu.

Siapa tahu, baru saja sebelah kakinya selangkah masuk kamar rahasia itu, sekonyong-konyong bagian pinggang terasa kesemutan.

kontan sekujur badan tak bisa berkutik dan langsung roboh terkapar Ia tahu terperangkap, akan tetapi tidak tahu siapakah yang menyergapnya itu, sebab mutiara mestika yang bercahaya terang dan terbingkai di langit-langit kamar itu sudah hilang dan keadaan kamar gelap gulita.

Selagi ia bermaksud bersuara untuk menegur, terasa sebuah tangan yang dingin terjulur tiba dan mencengkeram kuduknya, menyusul hiat-to bisu pun tertutuk sehingga ingin berteriak pun tidak mampu Iagi.

Kemudian lawan mengangkatnya bagai mencengkeram anak ayam saja sambil tertawa terkekeh lagi, terdengar orang mengomel.

"Huh, akhirnya berhasil kutangkap seekor, agaknya malam ini nyonya besar dapat mencicipi bagaimana lezatnya hati manusia panggang."

Dari suaranya Kiam-eng dapat menduga pihak lawan adalah seorang perempuan setengah baya.

Rada heran juga Kiam-eng setelah mengetahui pihak lawan adalah seorang perempuan, Tapi demi mendengar orang menyatakan ketidak merasakan enaknya hati manusia panggang, mau-tak-mau ia mengkirik juga dan kuatir.

"Wah. celaka! Rupanya siluman pemakan manusia yang kupergoki ini."

Cuma, apa pun dia belum lagi khilap, ia tahu, pihak lawan sama sekali bukanlah setan atau siluman, malahan ia dapat memastikan lawan pasti seorang anak buah Li hun-nionio yang tidak sempat kabur dari pulau ini dan terpaksa sembunyi di lorong bawah tanah ini.

Bahwa orang bermaksud makan hati manusia, alasannya mungkin ada dua.

Pertama, karena sulit mendapatkan makanan, dalam keadaan lapar apa pun tentu akan disantapnya, Kedua, bisa jadi saking bencinya terhadap pihak Thian-ong pang, maka setiap musuh yang tertangkap ingin dilalapnya sekadar melampiaskan rasa dendamnya.

Akan tetapi, meski sudah tahu siapa pihak lawan, namun hati Kiam-eng tetap tidak tenang, sebab hiat-to kelumpuhan dan hiat-to bisu tertutuk, selain tidak bisa bergerak juga tidak sanggup berbicara sehingga sulit baginya untuk menerangkan siapa dirinya, karena itu dia tetap sukar terhindar dari nasib menjadi santapan lezat orang.

Betapa dia berharap lawan akan membuka hiat-to bisunya, asalkan dia dapat bersuara, begitu lawan tahu siapa dirinya, seketika dia akan bebas dari bahaya, Akan tetapi terlampau kecil harapannya hiat-to bisunya akan dibuka oleh lawan, sebab pada hakikatnya orang menyangkanya pasti anak buah Thian-ong pang.

Yang dipikir Iawan sekarang hanya ada satu, yaitu membuat tawanan tidak dapat lolos dan juga tidak mampu berteriak minta toIong, dengan begitu dapatlah dia menikmati hati manusia panggang yang lezat.

Berpikir demikian, diam-diam Kiam-eng menyesal, pikirnya.

"Ah, sudahlah! Mungkin indah suratan nasibku harus berakhir secara begini..."

Selagi menyesali nasib sendiri, tiba-tiba Kiam-eng merasa tubuhnya dilemparkan orang.

"bluk", rupanya dia telah dilemparkan ke pojok dinding kamar. Menyusul terdengar pihak lawan lagi berguman.

"Mengapa cuma turun satu orang ini saja? jangan jangan keparat ini baru saja menemukan lorong rahasia ini dan belum sempat melapor kepada atasannya lantas turun lebih dulu ke sini?"

Sejenak kemudian mendadak cahaya terang berkelebat.

Rupanya pihak lawan telah mengetik api untuk menyalakan lentera minyak di situ.

Ketika lentera menyala sehingga Kiam-eng dapat melihat jelas wajah pihak lawan, tanpa terasa ia bsrterlak.

"Ah, kiranya engkau!"

Akan tetapi teriakannya tidak mengeluarkan suara, sebab pada saat itu lidahnya kaku kelu.

Kiranya orang perempuan yang menyatakan ingin mencicipi rasanya hati manusia panggang itu tak-Iain-tak-bukan adalah Li-hun-nionio Leng Jing-jing.

Dengan sendirinya Leng Jing-jing tidak tahu tawanannya itu adalah Su Kiam-eng pula.

"Dia seorang buta total, maka ia pua tidak tahu tawarannya itu berbentuk seorang hwesio cilik, Selagi menyalakan lentera, lalu ia mengeluarkan sebilah belati dan mendekati Kiam-eng, ia berjongkok di depan anak muda itu sambil terkekeh, tanyanya kemudian.

"Nah, sudah kau lihat jelas tidak? Kau kenal siapa nyonya besar bukan?"

Dia bertanya begitu tanpa mengharapkan jawaban dari tawanannya, maka segera ia menyambung lagi dengan tertawa.

"Haha, bisa jadi kau tidak tahu siapa nyonya besarmu ini. Biarlah ku-beritahu, nyonya besar adalah pemilik Li-hunto ini, aku inilah Li-hun-nionio Leng Jing-jing?!"

Pada waktu lawan menyalakan lentera, timbul juga rasa girang Kiam-eng, sebab ia perkirakan bila pihak lawan melihat dirinya adalah seorang "hwesio cilik", tentu orang akan heran dan sangat mungkin akan membuka hiat-to blsuaya uatuk diraiotai keterangan.

Akan tetapi setelah tahu jelas pihak Iawan adalah Li-hun-nionio, seketika juga ia menyadari keadaan bisa runyam, sebab Leng Jing jing itu seorang buta, pada hakekatnya orang takkan tahu dia seorang "hwesio cilik"

Sehingga tidak mungkin tertarik untuk menanyainya.

Padahal dinyalakannya lentera minyak itu sebenarnya tidak perlu bagi seorang buta namun Leng Jing-jing mungkin sengaja hendak membuat tawanannya melihat jelas siapa dia sekadar untuk melampiaskan kepuasan batin saja.

Kiam-eng menyadari bilamana malam ini dirinya tidak sempat bicara, maka dia pasti akan mati di tangan Li-hun-nionio, sebab itulah ia sangat gelisah, dalam hati ia menjerit.

"Wahai Leng-tocu! Apabila engkau tidak tanya sejelasnya siapa diriku dan segera membunuhku, maka engkau pasti akan menyesal selama hidup!"

Namun sama sekali Li-hun-nionio tidak dengar jeritan hati Su Kiam-eng, sebaliknya tertampak air muka nyonya buta itu mulai beringas, dengan terkekeh ia berkata pula.

"Nah, tentu kamu tidak menyangka nyonya besar dapat menyusup kembali ke pulau ini bukan? Hehehe, biar kuberitahu, semula kukira tidak mudah untuk menuntut batas kepada Thian-ong-pang kalian. Akan tetapi kemudian kupikir maksud tujuan penyerbuan kalian ke Li-hun-to ini bukanlah ingin menaklukkan nyonya besar, juga bukan ingin memaksa aku membayar uang pelindung. Tetapi kalian menduduki Li-hun-to tidak lain ingin menjadikan pulau ini sebagai pusat perkumpulan Thian-ong-pang kalian. Sebab itulah segera aku menyusup pulang kemari, inilah kesempatan baik bagiku untuk menuntut balas, Nyonyamu ingin melalap kalian satu persatu, bilamana Thian-ong-pangcu dan ketiga duta kepercayaanmu itu mengetahui anak buahnya menghilang berturut-turut, tentu mereka akan mencari dan menyelidiki seluruh pelosok pulau ini, dan akhirnya pasti juga akan menemukan lorong rahasia ini. Tatkala itu akan tibalah saat runtuhnya Thian-ong-pang kalian, hehehe..."

Senang dan juga ngeri hati Su Kiam-eng mendengar uraian tersebut, berulang ia berteriak dalam hati.

"Sungguh jalan pikiran bagus! Akan tetapi Leng-tocu, aku adalah Su Kiam-eng dan bukan orang Thian-ong-pang..."

Terlihat Li-hun-nionio berhenti sejenak, lalu mendengus pula.

"Hehe, sekarang akan kukorek hatimu untuk kumakan, bila kau anggap caraku ini terlampau kejam, maka kamu harus menyalahkan pangcu kalian dan ketiga dutanya, sebab tanpa alasan mereka membunuhi sekian banyak anak buahku, bahkan membuat ribuan anak perempuan cacat kehilangan tempat berteduh..."

Bicara sampai di sini, sebilah tangannya lantas meraba ke arah Su Kiam-eng.

Maksudnya hendak merobek dada baju tawananya untuk kemudian dada orang akan ditubles dengan belati.

Tapi lantaran kedua matanya buta, sebelah tangannya itu tidak berhasil meraih dada baju Su Kiam-eng, sebaliknya kena meraba kepalanya yang gundul.

Keruan Lang Jing-jing terkejut dan heran, serunya.

"Hah, mengapa kepala gundul? Apakah kau anak kecil?"

Tersembul rasa sangsinya, ia coba meraba sekujur tubuh Su Kiam-eng, akhirnya dia berseru kaget.

"Hah, aneh, jangan-jangan kamu seorang hwesio?!"

Girang sekali Kiam-eng, teriaknya dalam hati.

"Betul memang betul! Ayolah lekas membuka hiat-to bisuku dan menanyai aku!"

Tetapi Li-hun-nionio tidak membuka hiat-to bisunya melainkan cuma termenung dengan miringkan kepala, sejenak kemudian, mendadak ujung belatinya mengacung ke hulu hati Su Kiam-eng sambil mendengus.

"Huh, orang beragama ternyata juga masuk komplotan Thian-ong-pang, ini membuktikan kamu pasti sampah masyarakat kaum agana budha. Nah, lekas mengatakan kamu berasal dari perguruan mana?!"

Karena sampai sekian lama belum mendapatkan jawaban, barulah teringat oleh Leng Jing-jing bahwa hiat-to bisu orang tertutuk olehnya, segera ia menutuk lagi untuk membuka hiat-to bisu Kiam-eng, lalu bertanya pula.

"Nah, lekas katakan, kamu ini berasal dari perguruan atau aliran mana?"

Begitu hiat-to bisu terbuka, hal ini sama saja menemukan kembali jiwanya bagi Su Kiam-eng, tanpa terasa ia menghela napas lega yang panjang lalu berseru.

"Aiii, Leng-tocu, hampir saja jiwaku, melayang ditanganmu!"

"Hei, jangan mimpi! Memangnya kaukira nyonya besar dapat mengampuni jiwamu?"

Teriak Leng Jing-jing. Kiam-eng tertawa.

"Haha, bilamana Leng-tocu tahu siapa aku ini, tentu engkau akan berkeringat dingin!"

"Huh, peduli apakah kamu ini hwesio setan atau ketua Siau-ilas-pai sekalipun, sekali kamu sudah masuk Thian-ong-pang, tetap berani kubinasakan dirimu!"

Jawab Leng Jing-jing tegas.

"Aii, sampai sejauh ini masakah Leng-tecu belum lagi mengenali suaraku?"

Tanya Su Kiam-eng.

"Peduli siapa kamu, yang pasti selamanya nyonya basar tidak sudi berkenalan dengan hwesio.

"Aku ini kan Su Kiam-eng adanya, Leng-tocu!"

Seru anak muda itu. Seketika Li-hun nionio Leng Jing-jing melenggong, ucapnya dengan bingung.

"Apa katamu?"

"Aku ini Su Kiam-eng, Leng-tocu!"

Kata Kiam-eng pula dengan tertawa.

"Apabila Leng-tocu tidak percaya, biarlah kusebutkan tiga orang saksi."

"Tiga ... tiga saksi siapa?"

Tanya Leng Jing-jing dengan suara agak gemetar.

"Pertama Pui Piu, kedua Ban Hui-siu, ketiga Tang Jian-sik, bau busuk mayat mereka masih memenuhi seluruh ruangan ini,"

Tutur Kiam-eng. Cepat Leng Jing-jing menarik kembali belatinya, tanpa terasa ia rangkul Su Kiam-eng, teriaknya dengan kejut dan girang.

"Oo, Su Kiam-eng! Mengapa kamu bisa datang kemari?!"

"Sudilah Leng-tocu membuka dulu hiat-to keiumpuhanku?"

Pinta Kiam-eng. Cepat Leng Ling-jing memenuhi permintaan anak muda itu sembari berkata.

"Terima kasih terhadap langit dan bumi, untung aku tidak telanjur membuat kesalahan besar. Cuma, sungguh sukar dimengerti, mengapa Su-siauhiap bisa berubah menjadi hwesio kepala gundul?"

Kiam-eng bangun dan duduk, jawabnya dengan tertawa,"

Kalau aku tidak menjadi hwesio, tentu aku takkan sampai di sini."

"Ai, janganlah jual mahal, lekas ceritakan cara bagaimana kau datang ke pulau ini?"

Tanya Leng Jing-jing tidak sabar.

"Panjang sekali jika kuceritakan,"

Kata Kiam-eng,"

Bagaimana kalau kita kembali dulu ke lorong rahasia sana barulah nanti kuceritakan sejelasnya."

"Bukankah lebih aman bila kau ceritakan di sini?"

Ujar Leng Jing jing heran.

"Tidak, biarlah kita bicara di sana saja,"

Kata Kiam-eng sambil berbangkit.

"Supaya aku dapat segera masuk lagi ke kamar tidur sana bila keburu ada ada orang datang, dengan demikian penyamaranku dapatlah tetap dipertahankan."

Sembari bicara ia terus mendahului melangkah ke ujung lorong sana. Li-hun nionio menyusulnya dari belakang sembari bertanya pula.

"Apakah Su-siauhiap tidur di kamar tulis itu?"

"Betul, sekamar denganku ada lagi Boh-to Siangjin dari Tai-hin-si di kota Tiang-an."

"Hahh, cara bagaimana kalian datang ke pulau ini?"

Tanya Leng Jing-jing.

"BermuIa daripada Thian-ong-pangcu mengundang Boh-to Siangjin dari Tai-hin-si untuk menerjemahkan kitab pusaka yang tersembunyi dalam medali emas yang ditemukan pada ke-180 patung emas itu. Sudah kuduga akan tindakannya itu, maka lebih dulu kutemui Boh-to Siangjin untuk mengatur siasat, akhirnya kucukur rambut menjadi hwesio cilik pelayan Boh-to Siangjin dan bergelar Ngo liau..."

"Aha, bagus sekali! Su siauhiap sungguh hebat, setiap lubang selalu kaususupi. Dan sekarang Boh-to Siangjin itu sudah mulai bekerja baginya?"

"Betul, lebih dulu kami ditempatkan di suatu biara kuno, kemudian Thian-ong-pangcu mengetahui kemunculan Sam-bi-sin-ong yang sedang menguntitnya, lalu dia menggunakan akal mengelabuhi musuh, kami dibawa lagi ke sini. Ketika tiba di sini menjelang magrib. Sebelum tiba di sini, lebih dulu mata kami dikerudungi Thian-ong-pangcu. Akan tetapi setiba di pulau ini segera ku-kenali Li hun-to milik Leng-tocu ini, Yang lucu ini."

Chapter 28.

Rahasia 180 Patung Mas Yang lucu adalah kami ditempatkan di kamar tulis Leng tocu pula, Kutahu dia belum lagi menemukan jalan rahasia ini, maka pada tengah malam sunyi ini sengaja kuturun kemari untuk menyelidiki keadaaa, tak tersangka di sini juga aku dikerjai Leng-tocu dan hampir saja mati konyol, untung tadi Leng-tocu sempat meraba kepalaku yang gundul, kalau tidak, wah, tidak berani kubayangkan apa yang akan terjadi..."

"Sudah setengah bulan kusembunyi di lorong rahasia ini, selama itu tidak pernah memergoki seorang pun, baru tadi kurasakan ada orang turun kemari, siapa sangka yang kubekuk justru adalah Su-siauhiap sendiri."

Setelah berhenti sejenak, kemudian Leng Jing-jing menyambung.

"Su-siauhiap menyamar sebagai hwesio cilik dan menjadi pelayan Boh-to Sianjin, apakah tujuanmu hendak mencuri kitab putaka ilmu padang itu?"

"Betul, di antara ke-180 jurus ilmu pedang itu sudah berhasil kuapalkan 34 jurus,"

Tutur Kiam eng.

"Apakah ilmu pedang itu sedemikian lihai?"

Tanya Boh-to "Ya, dibandingkan ilmu pedang Kiam-ong dan guruku, rasanya berlipat kali lebih lihai,"

Tutur Kiam-eng.

"Meski diri Su-siauhiap mencuri ilmu pedang sakti itu sangat bagus, namun Thian-ong-pangcu kan juga dapat menguasainya dengan cara yang sama?"

Kata Boh-to pula.

"Tidak, yang akan diperolehnya tidak lebih hanya kitab pusaka yang sudah susut kualitasnya, tidak nanti dia berhasil melatihnya dengan baik,"

Ucap Kiam-eng tertawa. Li-hun nionio tahu apa yang dimaksudkan kitab yang susut kualitasnya, ia tertawa dan berkata,"

Apakah dia takkan curiga?"

"la pun pernah sangsi Boh-to Siangjin ada main, tapi lantaran tidak menemukan bukti, maka sekarang dia tidak curiga lagi."

Tengah bicara sampailah mereka di ujung lorong bawah tanah itu, Koam-eng coba melongok kamar di atas, keadaan terasa sunyi dan aman, maka ia muncul kembali beberapa tindak mendekati,"

Masih ada dua jam menjelang fajar, mungkin Thian-ong-pang cu takkan datang kemari."

"Jika begitu, kita dapat bicara tanpa kuatir,"

Ucap Li-hun nionio Leng-jing."

Nah, harap Su-siauhiap bercerita dulu, sesungguhnya orang macam apakah Thian -ong-pangcu itu?"

"Sungguh memalukan, sampai detik ini pun hanya kuketahui dia adalah si orang berkedok dan berbaju hijau yang mengaku sebagai Raja Rimba serta yakin dia adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh persilatan di Hwe-Iiong kok dahulu itu."

"ltu berarti Jian-lian-hok-leng yang kaubawa pulang dari hutan purba di daerah selatan itu belum dapat memulihkan daya ingatan In Ang-bi?"

"Tidak, justru daya ingatan nona In kini sudah pulih kembali."

"Oo, jika begitu, apakah dia dapat menyebut siapa si pengganas itu?"

"Ya, ia menyaksikan sendiri si pengganas membunuhi ke 18 tokoh persilatan itu secara keji, cuma si pengganas yang dia sebut itu ternyata bukan lain daripada tokoh utama dunia persilatan jaman ini, yaitu Kiam-ong Ciongli Cin."

"Hah, Kiam ong Ciongli Cin! Mana bisa jadi?!"

"BetuI, kami pun menganggap tidak mungkin Kiam-ong Ciongli Cin, sebab itulah guruku dan It sik-sin-kai serta nona In dan diriku berempat lantas berangkat ke Pek-ho san-ceng untuk menemui Kiam-ong..."

Begitulah ia lantas bercerita apa yang terjadi setelah bertemu dengan Ciongli Cin. Tentu saja Leng Jing jing melongo heran, katanya.

"Sungguh aneh, jika demikian, jadi Kian-ong Ciongli Cin sebenarnya sudah sama mengetahui siapa si pengganas itu tapi apa sebabnya dli menyimpan rahasia itu selama ini?"

"Tidak saja dia simpan rahasia itu, bahkan dia menyatakan bersimpati terhadap si pengganas. Sebab itulah guruku menyangsikan kemungkinan si pangganas itu adalah sute Ciongli Cin, yaitu Hia-thian-kisu Lo Cing-yang."

"Oh, Ciongli Cio mempunyai seorang sute bernama Lo Cing-yang?"

"Betul, cuma menurut cerita Kiam-ong sendiri, sutenya sudah dibunuhnya 30 tahun yang lalu."

"Apa pula artinya itu? jika Hia-thian-kisu Lo Cing-yang sudah dibunuh Ciongli Cin, mengapa pula gurumu menyangsikan si pengganas adalah orang yang sudah mati itu!"

"Yang dimaksud terbunuh adalah Ciongli Cia memukul sutenya hingga terjerumus ke dalam jurang yang tak terkira dalamnya bisa jadi Lo Cing-yang tidak terbanting mati di jurang itu."

"Lantas, mengapa Ciongli Cin sampai tega membunuh sute sendiri?"

"Konon prilaku Lo Cing-yang itu sangat buruk, berjiwa sempit, dengki dan sombong, sedikit urusan lantas main bunuh, Suatu kali dia membunuh anak murid Siau-lim-pai sehingga tokoh Siau lim-pai sama datang mencarinya. Saking marahnya Ciongli Cin memukul sutenya hingga terjatuh ke dalam jurang. Mungkin Lo Cing-yang tidak mati terbanting dan Ciongli Cin menyangka sutenya itu terbanting hancur lebur di dalam jurang, karena merasa menyesal telah membunuh sute sendiri sehingga timbul rasa berdosa, Kemudian diketahuinya Lo Cing-yang tidak mati, dengan sendirinya timbul pula semacam perasaan lega dan bersyukur.

"Kemudian ia pun merahasiakan tentang belum matinya Lo Cing-yang, namun benci Lo Ging-yang kepadanya justru merasuk tulang, maka dia sengaja memalsukan identitas Kiam-Ong Ciongli Cin untuk membunuh ke-18 tokoh persilatan agar orang persilatan umumnya mencari perkara padanya, sebaliknya karena Ciongli Cin tidak sampai hati untuk kedua kalinya membunuh Lo Gin-yang, maka sedapatnya ia tahan perasaan atas muslihat keji sang sute."

"Akan tetapi, bila Lo Ging-yang sengaja memfitnah Ciongli Cin, mengapa dia tidak menyiarkan tentang keganasan yang diperbuat Ciongli Cin terhadap ke-18 tokoh itu?"

"Bisa jadi lebih dulu Ciongli Cin sudah mengetahui perbuatan sang sute, maka sebelum muslihat keji itu di siarkan oleh Lo Ging-yang, sang sute itu lantas ditawan olehnya dan mungkin disekap di sesuatu tempat."

"Dan akhirnya mengapa sutenya dilepaskan lagi?"

Tanya Li-hun-nionio.

"Wah, hal ini pun sukar kuterka,"

Kata Kiam-eng.

"Pada masa masa Lo Ging-yang disekap, mungkin dia pernah menyatakan rasa penyesalan nya kepada Ciongli Cin. Kemudian ketika Ciongli Cin mendengar berita tentang maksud guruku hendak mencari Jian-lian-hok-leng untuk menyembuhkan penyakit linglung nona In, kuatir kalau pulihnya daya ingat nona In akan berarti dapat membocorkan rahasia pembunuhan ke-18 tokoh persilatan maka dia berunding dengan Le Ging yang dan membebaskannya, menyuruhnya berusaha sekuatnya untuk merintangi usaha kami mencari Jian lian-hok leng.

"Ketika usaha merintangi mereka gagal dan Ciongli Cin mendapat kunjungan rombongan guruku, ada maksudnya akan menceritakan duduk perkara yang sebenarnya, sebaliknya oleh karena Lo Ging yang sudah berhasil merebut segala benda mestika kota emas, pula sudah berhasil membentuk organisasi kuat Thian ong-pang, ia tidak mau asal-usulnya sebagai Hian-thian-kisu diketahui orang, maka secara kejam ia membunuh sekalian sang suheng."

"Cara menganalisa Su-siauhiap ini sangat masuk akal, tampaknya orang yang mengaku sebagai Thian-ong-pangcu itu pasti Hin-thian-kisu adanya,"

Ujar Leng Jing-jing.

"ltu cuma dugaanku saja, benar atau tidak masih harus dibuktikan bilamana Thian-ong-pangcu sudah kita tangkap."

"Adakah akal Su-siauhiap untuk menangkapnya?"

Tanya Leng Jing-jing,.

"Tidak ada, penyamaranku sebagai hwesio cilik ini sekarang, tujuanku hanya hanya ingin mencari kitab pusaka dan menolong Wi-ho Lojin sama nona Ih, sejauh ini pun aku belum sempat mengadakan kontak dengan rombongan guruku, maka sampai saat ini belum ditetapkan akal cara menumpas musuh."

"Mengapa wi-ho Lojin sampai ditawan musuh?"

Tanya Leng Jing-jing.

"Kejadian itu berlansung setelah kupulang dari selatan dengan membawa Jing-lian hok Ieng, sebelum musuh sempat memperalat nona Ih untuk memaksa aku menyerahkan Jian-lian-hok-leng, sekaligus mereka lantas menawan Wi-ho Lojin, Dengan kedua sandera itulah mereka hendak memaksa aku menuruti kehendak mereka. Namun guruku tidak dapat diancam dengan cara kotor begitu, akhirnya mereka pun tidak segera membunuh Wi-ho Lojin dan nona Ih, maka dapat kuduga mereka pasti dikurung di pulau ini."

"Seumpama benar mereka terkurung di pulau ini, namun kekuatan musuh jauh di atas kita, jika ingin menolong mereka rasanya terlampau sulit,"

Ujar Leng Jing-jing.

"Betul, maka jalan paiing baik sekarang, terpaksa menunggu datangnya rombongan guruku, setelah bergabung barulah kita mulai bertindak."

"Cara bagaimana kamu akan mengadakan kontak dengan gurumu!"

Tanya Leng Jing-jing.

"Pada waktu berangkat kemari, di tengah jalan pernah kuselamatkan jiwa Hoat-keng Taisu dari Siau-lim-si, diam-diam telah kusodorkan secarik kertas kepadanya dan minta dia meneruskan penguntitan kepada kami, bilamana sudah diketahui di masa rombongan Thian-ong-pangcu tinggal, barulah kuminta dia pergi ke Hanyang untuk menyampaikan berita kepada guruku, Cuma waktu itu Hoat-keng Taisu sendiri terluka parah. apakah kemudian dia sanggup membuntuti kami atau tidak?"

"Jika Hoat-keng Taisu mengetahui kalian berada di sini dan cepat menyampaikan kabar kepada gurumu, kira-kira dalam berapa hari baru rombongan gurumu sanggup menyusul kemari?"

"Tempat ini dengan Hanyang berjarak tidak terlalu jauh, kukira dalam waktu setengah bulan dapat menyusul kemari."

"Jika begitu, bolehlah coba kita menunggu bilamana rombongan gurumu sudah sampai di sini barulah beramai-ramai kita bertindak dan sekaligus menjaring mereka seluruhnya."

"Leng tocu pernah bilang akan pergi ke Mo-ko-san, mengapa kemudian putar balik ke sisi?"

Tanya Kiam-eng.

"Aku sudah sampai di sana, kemudian kurasakan sebabnya Thian-ong-pangcu menyerbu Li-hun-to kami ini tujuannya pasti bukan lantaran kami tidak mau membayar uang pelindung yang cuma satu laksa tahil perak itu, juga pasti bukan sengaja hendak memaksakan supaya kami menyerah padanya melainkan ingin menduduki Li-hun-to ini untuk menjadi pangkalan utama Thian-ong-pang mereka. Sebab pulau ini sangat strategis, sekeliling pulau adalan laut, sungguh suatu tempat yang sulit dicari, Sebab itulah diam-diam aku pulang kemari, dan ternyata tidak meleset dugaanku, setiba di sini segera kutemukan banyak orang Thian-ong-pang bekerja di sini."

"Cara bagaimana Leng-tosu menyusup pulang kesini?"

Tanya Kiam-eng.

"Aku menggunakan sepotong balok kayu dan meluncur pulang ke sini, karena di tengah malam buta sehingga tidak kepergok musuh. Pula setiba di pantai segera kuterobos ke dalam lorong rahasia di bawah tanah, maka sampai detik ini belum lagi diketahui musuh."

"Pernahkah Leng-tocu keluar dari tempat sembunyi ini untuk menyelidiki keadaan lawan?"

Tanya Kiam-eng pula.

"Tidak pernah, Mataku buta, tentu tidak menguntungkan, musuh dapat melihat diriku, sebaliknya aku tidak dapat melihat siapa pun, Maka sejauh ini aku habya sembunyi di sini, kupikir bila nanti Thian-Ong-pangcu sudah pindah ke sini aku akan berdaya memancingnya supaya menemukan pintu rahasia jalan di bawah tanah ini, dan bila dia masuk ke sini, dengan sebisanya akan kubinasakan dia."

"Selama setengah bulan ini apa yang dimakan Leng-tocu?"

Tanya Kiam-eng.

"Ikan, ikan mentah,"

Tutur Leng Jing-jing tertawa.

"Di dekat mulut gua sana terdapat banyak ikan dan udang segar."

"O, kiranya begitu. Kemarin waktu kusampai di pulau ini, kulihat bangunan di sini tidak mengalami perubahan, jika Wi-ho Lojin dan nona Ih terkurung di sini, menurut Leng-tocu kemungkinan mereka akan ditahan di ruang mana?"

"Hm, apakah kau hendak keluar untuk menyelidiki keadaan musuh?"

Tanya Leng Jing-jing kuatir.

"Betul, meski Thian-ong-pangcu memberi pesan agar kami jangan keluar dari taman, namun aku sangat ingin melihat keadaan di luar sana."

"Bukankah sangat berbahaya?"

Ujar Leng Jing-jing.

"Kuyakin dapat mengatasi keadaan bahaya apa pun,"

Kata Kiam-eng tertawa.

"Tempat kurungan mereka sangat mungkin berada di sebuah kamar bawah tanah,"

Tutur Leng Jing-jing."

Kamar bawah tanah itu terletak dibelakang ruang tamu.

jika kamu dapat memasuki ruang tamu, di belakang ruang tamu itu ada sebuah kamar kecil cat merah, setelah memasuki kamar merah itu, bukalah pintu besi di situ akan langsung mencapai ruang bawah tanah itu, Cuma ingin kuberi nasihat, akan lebih baik janganlah menyerempat bahaya.

Tunggu saja kedatangan gurumu barulah kita turun tangan."

"Cara bagaimana membuka pintu besi di kamar tanah itu"

Tanya Kiam eng.

"Pada pintu itu ada sebuah pegangan bulat, putar ke kanan tiga kali, lalu putar lagi tiga kali ke kiri dan didorong."

Kiam-eng mengingatnya dengan baik, lalu berkata pula dengan tertawa.

"Leng tocu, dahulu pernah kukatakan padamu, bilamana ke 180 patung emas itu pasti kudapatkan, maka seluruhnya akan kusumbangkan kepadamu sebagai dana sosial bagi ribuan wanita cacat yang kaurawat itu. Sekarang segalanya terjadi dengan sangat kebetulan, seperti sudah ditakdirkan harus terjadi begitu!, sangat mungkin Thian-Ong-pangcu sudah mengangkut ke 180 patung emas itu ke puIau kalian."

"Yang kuharapkan sekarang adalah ingiin membunuh Thian-ong-pangcu itu untuk membalas dendam kematian ratusan anak buahku yang dibunuh olehnya, lalu menata kembali Li-hun-to ini agar segenap wanita cacat yang berjumlah ribuan itu dapat hidup layak. Soal patung emas sebanyak itu, syukur kalau benar bisa kudapatkan kalau tidak juga tidak menjadi soal."

"Apakah Leng-tocu mau menemui Boh-to siangjin di kamar tulis sana?"

"Tidak perlulah, bilamana kepergok kan bisa...."

Belum lanjut ucapanya, sekonyong-konyong terdengar suara suara pintu kamar di atas diketuk orang. Bergetar hati Leng Jing-jing, cepat ia mendesis,"

Lekas naik ke atas, mungkin Thian-ong-pangcu yang datang!"

Kiam-eng tidak berani ayal, cepat ia melompat ke balik almari yang yang berbatasan dengan jalan rahasia itu, dengan gesit ia melangkah keluar, sembari merapatkan pintu almati sambil bertanya.

"Siapa itu?"

Sementara itu Boh-to SlangjIn yang berbaring di tempat tidur itu pun sudah bangkit duduk, ia sangka perbuatan Su Kiam-eng masuk ke lorong rahasia itu telah diketahui lawan, maka sikapnya agak tegang dan kuatir.

Cepat Kiam-eng memberi tanda agar jangan kuatir, lalu ia berseru pula.

"siapa itu yang mengetuk pintu?"

Terdengar suara Thian-ong-pangcu menjawab di luar,"

Aku, lekas buka pintu!"

Segera Kiam-eng membuka pintu, dengan lagak mata sepat karena terjaga bangun ia tanya."

Fajar kan belum tiba, Pangcu?"

Thian-ong-pangcu melangkah ke dalam kamar, dipandangnya Boh-to, katanya dengan tertawa,"

Maaf jika akhirnya tidur Siangjin terganggu."

Boh-to turun dari tempat tidur dan menjawab,"

Tidak apa, Entah ada urusan apa sedini ini Pangcu berkunjung kemari?"

Thian-ong-pangcu duduk di bangku, ucapnya dengan tersenyum misterius.

"lngin kuberitahukan sesuatu berita kepadamu. Yaitu tadi anak buahku berhasil menangkap seorang mata-mata musuh di tepi pantai."

"Ooh, berhasil menangkap seorang mata-mata?"

Boh-to menegas dengan tercengang.

"Betul untuk dia pernah Siangjin mintakan ampun baginya, dan di luar kebiasaanku juga telah kuampuni dia. Akan tetapi rupanya dia memang sudah bosan hidup dan kembali menyusuI kemari."

"Ooh, apakah yang dimaksudkan Sicu ialah Hoat-keng Taisu?"

Tanya Boh-to dengan melenggong.

"Habis siapa lagi?"

Jengek Thian-ong-pangcu "Tampaknya hadiah pukulanku tempo hari tidak cukup berbobot baginya, maka dia masih terus membuntuti kita, Satu jam yang lalu, dengan menyewa perahu dia menyusul kemari, Si tukang perahu justru adalah anak buahku.

Karena melihat gerak gerik keledai gundul itu mencurigakan, maka dia sengaja menenggelamkan perahu dan menawannya."

Dengan kening bekernyit Boh-to bertanya.

"Lantas cara bagaimana Sicu hendak menyelesaikan dia?"

Thian-ong-pangcu memandang Kiam-eng sekejap, lalu menjawab.

"Cara bagaimana menyelesaikan dia, urusan ini biarlah dibicarakan nanto. Yang perlu kuberitahukan adalah setelah anak buahku berhasil menawan dia, dari tubuhnya dapat digeledah secarik surat yang ditulis tangan orang..."

Bicara sampai di sini, ia tidak melanjutkan melainkan menatap Su Kiam-eng dengan sorot mata yang tajam, air mukanya pun berubah beringas.

Hulu hati Su Kiam-eng serasa digodam dengan keras, namun ia tahu inilah saat mati hidup baginya, maka sebisanya ia bersikap tenang, seperti tidak ada sesuatu ia bertanya.

"Eh, apakah yang tertulis pada surat itu!"

"Haha, meski surat itu sudah basah terkena air, namun masih terbaca dengan jelas,"

Jengek Thian-Ong-pangcu.

Namun Kiam-eng dapat menduga setelah terkena air, tentu surat yang dituilsnya itu pasti sudah kumal dan sulit dibaca lagi, Mungkin hanya satu-dua huruf secara remang-remang masih dapat terbaca sehingga timbul rasa curiganya terhadap dia dan sekarang sengaja datang hendak menjajakinya."

Maka hatinya bertambah mantap dan tidak gugup lagi, dengan tertawa ia berkata,"

Ah, Sicu sungguh pandai berkisah, pakai tahan harga segala, toIonglah jelaskan apakah yang tertulis pada surat itu?"

"Artinya menyuruh keledai gundul itu menguntit kami, lalu mengundang bala bantuan untuk menyerang pang kani,"

Ucap Thian-ong-pangcu geram.

"Jadi maksud Sicu menyangsikan surat itu ditulis olehku?"

Tanya Boh-to.

"Tidak,"

Thian-ong-pangcu menggeleng sambil memandang Kiam eng."

Sebab kutahu Siangjin sama sekali tidak menyentuh keledai gundul itu..."

"Oya, aku yang menyentuh dia,"

Tukas Kiam eng."

Wah, jangan jangan lantas diriku yang dicurigai Sicu?"

"Hehe, surat itu menyuruh dia tetap membuntuti kami, nada surat itu seperti bukan ditulis orang luar melainkan serupa komplotan sendiri,"

Jengek Thian-ong-pangcu.

"Hehe, Ngo-liau, usiamu masih muda belia, tapi caramu bekerja ternyata boleh juga."

Dengan tenang Kiam-eng menjawab dengan tertawa,"

Terima kasih atas pujian Sicu, Cuma, bilamana Sicu mencurigai diriku, Bagaimana jika kuajukan suatu pendapat, entah Sicu bisa menerima atau tidak?"

"Coba katakan."

Ucap Thian-ong pangcu.

"Umpama Sicu menghadapkan Hoat-keng Taisu ke sini untuk di tanyai secara langsung, apabila Hoat-keng Taisu mengaku bahwa surat itu benar diterima dariku, maka aku pun tidak perlu menyangkal dan terima dihukum secara apa pun oleh Sicu."

"Bagus, memang begitulah maksudku,"

Kata Thian-ong-pangcu. Lalu ia berpaling dan berteriak ke luar kamar "Coba bawa kemari keledai gundul tua itu!"

Terdengar suara orang mengiakan, lalu muncul Tong Pia dan Soa Goan-hiong sama memegang lengan Hoat-keng Taisu dan digusur masuk.

Muka Hoat-keng tampak pucat pasi, sekujur badan basah kuyup, melihat gelagatnya sudah kenyang minum air danau dan baru saja siuman.

Sesudah dibawa ke dalam kamar, Hoat-keng memandang sekejap terhadap Boh-to dan Kiam-eng berdua, lalu menunduk tanpa bersuara apa pun.

"Thian-ong-pangcu berdiri dan mendekati Hoat-keng, ia tunjuk Boh to dan Kiam-eng sambil mendengus.

"ltu, biar kuperkenalkan padamu, itulah Boh-to Siangjin dari Tai-hin-si di Tiang-an dan yang itu adalah Ngo-liau, pendamping Siang-jin. Mereka dan aku bertiga beberapa hari yang lalu menumpang kereta dalam perjalanan jauh di wilayah Hantiong dalam penyamaran sebagai Lu Yan-sia, Ong Ji dan Khong Cmg-lin. Tempo hari kamu salah sangka Ngo-liau ini sebagai Kong Cing lin. Pada waktu kamu terluka dan dia mengangkatmu ke dalam kereta, diam-diam dia menaruh secarik kertas dalam bajumu, betul tidak?"

Hoat-keng diam saja seperti tidak mendengar apa yang dikatakan orang, dia tutup mulut tanpa bersuara.

"Coba dengarkan lagi, asal kamu mengaku terus terang, untuk kedua kalinya jiwamu akan kuampuni pula,"

Ucap Thian-ong-pangcu. Pelahan Hoat-keng mengangkat kepala dengan tersenyum pedih ia menegas.

"Apa betul?"

"Kenapa tidak? Kujamin pasti betul,"

Kata Thian ong-pangcu.

"Nah, lekas mengaku terus terang saja."

Pandangan Hoat-keng beralih ke arah Su Kiam-eng, seperti berguman ia tanya,"

Dia... bukankah Siau-bia-hoa Koan Cing-lin?"

"BetuI, wajahnya yang asli adalah seperti sekarang ini?"

Kembali Thian-ong-pangcu mengangguk. Melihat Hoat-keng Taisu bermaksud memberi pengakuan, tentu saja Kiam-eng agak cemas, pikirnya,"

Wah, celaka! Tampaknya Hoat-keng ini juga takut mati, maka tamatlah riwayatku."

Meski dalam hati sangat tegang, namun lahirnya dia tetap berlagak tenang, malahan ia dengan berkata kepada Hoat-keng.

"Omitohud! Tempo hari yang menyamar sebagai Kong Cing-lin memang betul diriku. Coba Taisu ingat-ingat kembali, apakah pernah kuberikan secarik surat padamu?"

Hoat-keag Taisu termenung sejenak, tiba-tiba ia berpaling dan berkata pula kepada Thian-ongpangcu.

"Harap Sicu mengulangi satu kali lagi, apabila kubicara terus terang, pasti Sicu akan membebaskan diriku?"

"Betul, tidak nanti aku mengingkari janji,"

Jawab Thian-ong-pangcu.

"Jika begitu, baiklah kukatakan urus terang,"

Ucap Hoat-keng.

"Dari... dari dia, sama sekali tidak pernah kuterima sesuatu apa pnn."

Tadinya Kiam-eng mengira Hoat-keng akan mengaku sejujurnya, hatinya berdebar keras, siapa tahu Hoat-keng justru bicara kebalikannya, tentu ia menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa cerah.

"Wah, demikian jawaban Taisu, tentu hal ini akan sangat mengecewakan Sicu ini!"

Thian-ong-pangcu mendengus dengan pandangan tajam ia menegas.

"Benar dia tidak tengah menjejalkan secarik surat ke dalam bajumu?"

"Tidak,"

Jawab Hoat-keng.

"Tentunya Sicu tahu orang beragama tidak nanti berdusta."

"Jika begitu, siapa yang memberikan surat yang terdapat dalam bajumu itu?"

"Surat yang kutulis sendiri,"

Jawab Hoat-keng "Hehe, kan aneh, kau tulis surat dan menyuruh dirimu sendiri meneruskan penguntitan, begitu?"

Thian-ong-pangcu menegas.

"Tidak, soalnya kutulis surat itu untuk menitipkan kepada seseorang agar disampaikan ke Siau-limsi, tapi lantaran tidak mendapatkan seorang kenalan, maka belum sempat terkirim."

"Ooh, apa betul begitu?"

Jengek Thian-ong-pangcu sangsi.

"Betul,"

Jawab Hoat-keng "Sebab Kon Cing-Im yang kulihat waktu itu tidak diketahui apakah Kong Cing-lin tulen atau bukan, dan lantaran aku sudah bersumpah akan membunuh bangsat itu, maka meski terluka parah, setelah hiat-to yang tertutuk lancar kembali, tetap kuteruskan penguntilan kepada kalian.

Dan supaya orang Siau-limsi mengetahui jejakku, maka kusiapkan surat ini dengan harapan akan mengirimkannya ke Siau-lim-si.

Di luar dugaan sepanjang jalan tiada seorang kenalan pun yang kutemui, maka surat yang kutulis itu tetap tersimpan padaku."

Karena penjelasan Hoat-keug terasa beralasan dan masuk di akal, maka rasa sangsi Thian ongpangcu terhadap "Ngo-liau"

Juga muiai berkurang, segera ia memberi tanda kepada Tong Pin dan berkata.

"Baiklah, Tong-busu, boIeh kau bawa dia pergi dari sini dan bebaskan dia." 0k-poan-koan Tong Pin mengiakan dan segera hendak menggusur pergi Hoat-keng Taisu. Tiba-tiba Boh-to Siangjin berseru.

"Eh, nanti dulu ada yang ingin kukatakan!"

Thian-ong pangcu memberi tanda agar Tong Pin jangan pergi duIu, ia tanya Boh-to.

"Siangjin ingin bicara apa?"

"Sicu bilang hendak membebaskan Hoat-keng Taisu, kukuatir takkan terjadi dengan sesungguhnya,"

Kata Boh to.

"Mengapa Siangjin merasa kuatir?"

Tanya Thian-ong pangcu.

"Maklum, aku tidak ingin menyaksikan seorang padri saleh terbunuh begitu saja,"

Jawab Boh to.

"Maka bila Sicu masih menghendaki tenaga bantuanku kuminta untuk sementara ini Hoat keng Taisu dikurung dahulu, nanti setelah uiai pekerjaanku menerjemahkan yang Sicu minta barulah dia pergi bersamaku."

"Dan bagaimana kalau kutolak permintaan taisu?"

Ucap Thian-Ong-pangcu.

"Apa yang kuminta ini adalah soal kecil yang dapat Sicu penuhi dengan mudah, jika sedikit permintaan ini saja tidak dikabulkan, wah, sungguh aku akan sangat kecewa."

Ujar Boh-to Siangjin."

Agar padri tua itu mau bekerja dengan sungguh hati baginya, betapapun Thian-ong pangcu tidak berani terlampau bertindak keras terhadapnya, juga segala permintaannya sedapatnya dipenuhi, maka sekarang ia pun menyadari bila permintaan orang ditoIak, itu berarti menandakan dirinya memang bermaksud membunuh Hoat-keng.

Jikalau sampai Boh-to nekat dan tidak mau menerjemahkan kitab pusaka dengan baik, itu berarti suatu kerugian besar baginya.

Setelah ditimbang lagi, akhirnya itu mengangguk dia menjawab.

"Baiklah, memang ada maksudku untuk membebaskan dia pulang ke Siau-lim -si, karena Siangjin merasa curiga, terpaksa untuk sementara ini tetap kutahan dia."

"Selain itu, kuminta setiap berselang satu hari hendaknya Sicu memperlihatkan dia kepadaku, sebab kalau tidak kulihat dia, tetap kucuriga dia telah dibunuh olehmu,"

Kata Boh-to.

"Baik, baik, kuturuti semua permintaanmu"

Ucap Thian-ong-pangcu kewalahan "Dan sekarang, kalau Sicu sudah tidak mencurigai Ngo-liau lagi, bolehkah kami melanjutkan beristirahat?"

Tanya Boh-to.

Thian-ong-pangcu memberi tanda silakan, lalu ia memberi isyarat kepada Tong Pin dan Sou Gan-hiong untuk meninggalkan kamar itu.

Kiam-eng menutup pintu dengan baik, lalu pasang telinga mendengarkan sejenak, sesudah yakin Thian-ong-pangcu bertiga telah meninggalkan taman dengan membawa Hoat-keng Taisu barulah ia berpaling dan menjulur lidah terhadap Boh-to Siangjin, ucapnya lirih.

"Wah, hampir saja urusan bisa runyam!"

"Jika Hoat-keng Taisu sudah tertangkap musuh, lalu cara bagaimana kita akan mengadakan kontak dengan gurumu?"

Tanya Boh-to.

"Tidak menjadi soal."

Kata Kiam-eng.

"Sekarang kita sudah bertambah seorang kawan, biarlah kita mencari jalan keluar yang baik."

"Kau kira Hoat-keng Taisu masih dapat membantu kita?"

Tanya Boh-to deagaa tersenyum getir. Kiam-eng mendekati orang dan berbisik di tepi telinganya.

"Tidak, yang kumaksudkan bertambah seorang kawan bukanlah Hoat-keng Taisu melainkan Li-hun-nionio Leng Jing-jing."

"Hahh, Li-hun-nionio Leng Jing-jing? Di mana dia?"

Tanya Boh-lo bingung.

"Kiam eng menunjuk balik almari pakaian, ucapnya.

"Ya, dia berada di sana. Sudah lama Li hun-nionio menyusup pulang ke pulau ini, sekarang dia bersembunyi di lorong bawah tanah sana."

"Oh, bisa terjadi demikian. Untuk apa dia sembunyi di lorong bawah tanah sana!"

Tauya Boh-to Siangjin.

"Menanti kesempatan baik untuk menyergap musuh,"

Tutur Kiam-eng.

"Menurut pikirannya, ia yakin cepat atau lambat Thian ong-pangcu pasti akan menemui lorong bawah tanah rahasia ini..."

Lalu ia pun bercerita pengalamannya bertemu dengan Li-hua-nionio Leng Jing jing di lorong bawah tanah itu. Boh-to Siangjin melongo heran oleh kejadian tersebut, katanya.

"Seorang perempuan buta seperti dia ternyata mampu menyusup pulang ke pulau ini tanpa bantuan siapa pun, sungguh keberanian dan kecekatannya sukar untuk dicari bandingannya di dunia ini."

"Silakan Siangjin tidur lagi, tecu ingin turun lagi ke sana untuk bicara dengan dia"

Ujar Kiam-eng.

Habis berkata, ia coba melongok ke luar jendela dan keadaan sunyi tenang, lalu ia melompat ka depan almari pakaian, pelahan ia tarik tangkai pintu hingga terbuka, segera pula ia melangkah ke dalam sana.

Li-hun-nionio berada di dekat lorong bawah tanah itu, begitu mendengar suara langkah orang, dengan suara tertahan ia lantas menegur.

"Apakah Su-siauhiap adanya?"

"Betul,"

Jawab Kiam-eng.

"Apa yang terjadi tadi di atas apakah sudah terdengar oleh Leng-tocu?"

"Ya, dapat kudengar,"

Jawab Li-hun-nionio.

"Hoat-keng Taisu itu sungguh bodoh sekali sehingga sampai tertangkap oleh anak buah keparat Thian-ong-pangcu itu."

"Tentu tidak dapat menyalahkan dia,"

Ujar Kiam-eng.

"Soalnya ia tidak tahu bahwa Tong-ting-oh sudah menjadi wilayah pengaruh Thian-ong-pangcu, mungkin juga dia tidak mahir berenang, maka dengan mudah dia terperangkap."

"Dan sekarang apa yang hendak kau lakukan?"

Tanya Li-hun-nionio.

"Kupikir, melulu tenaga kita berdua, jelas bukan tandingan Thian-ong-pang, maka kita harus berusaha mengadakan kontak dengan rombongan guruku."

"Jika begitu, biarlah aku saja yang menyampaikan kabar kepadanya,"

Kata Leng Jing-jing.

"Tidak bisa jadi,"

Ujar Kiam-eng.

"Pandangan Leng-tocu terganggu, cara bagaimana engkau sanggup lolos dari danau luas ini?"

Li-hun-nionio tertawa, katanya,"

Coba jawab, setengah bulan yang lalu, cara bagaimana aku menyeberangi danau ini untuk menyusup kemari?"

"Hal ini boleh dikatakan nasib Leng-tocu lagi mujur, namun kemujuran kan tidak akan selalu ada,"

Kata Kiam-eng.

"Betul juga ucapanmu, namun sesuatu pekerjaan kalau tidak menyerempet bahaya sedikit, siapa lagi yang dapat menyampaikan berita kepada gurumu?"

"Aku mengemban tugas melindungi Boh-to Siangjin, kalau tidak niscaya aku dapat melaksanakan pekerjaan ini..."

"Hari ini baru tanggal muda, bulan belum lagi terang, aku dapat dapat menggunakan balok kayu itu untuk menyeberang ke sana seperti waktu kudatang kemari, kukira takkan terjadi sesuatu alangan. Yang menjadi alangan rasanya justru mengenai di mana beradanya gurumu, Menurut ceritamu tadi, tempo hari pernah kau-minta bantuan Sam-bi-sin-ong untuk menyampaikan kabar kepada gurumu di Hanyang, dan sekarang rombongan gurumu mungkin sudah tidak berada di Hanyang lagi."

"Memang,"

Ucap Kiam-eng dengan kening bekernyit."

Menurut perhitungan waktu, saat ini rombongan guruku mungkin sedang dalam perjalanan menuju ke Le-san untuk mencari kami jika Leng-tocu hendak mencari mereka mungkin sangat sulit.."

"Dari sini ke Le-san kira-kira memerlukan perjalanan setengah bulan, setiba di sana mungkin rombongan gurumu sudah meninggalkan pegunungan itu,"

Kata Leng Jing-jing.

"Betul,"

Kiam-eng mengangguk setuju."

Cuma jarak Hanyang ke Ls-san lebih jauh daripada berangkat dari sini, Jika Leng-tocu dapat mencapai Le-san lebih cepat tiga hari kukira masih sempat menemui mereka."

"Wah, untuk mencapai Le-san dalam waktu 12 atau 13 hari rasanya sangat sulit,"

Leng Jing-jing menggeleng kepaIa.

"Jika begitu, apabila Leng-tocu benar mau pergi ke sana, maka tinggal satu cara saja,"

Kata Kiam-eng "Sebab kuyakin rombongan guruku keberangkatan rombongan guruku dari Hanyang pasti belum lebih dari tiga hari, Berdasarkan perhitungan ini, saat ini paling banter mereka baru sampai di sekitar Ciong-siang-koan.

Dan kalau malam ini Leng-tocu dapat lolos dari Tong ting-oh ini dan meneruskan perjalanan dengan kecepatan penuh sehingga dalam lima hari dapat sampai di Sianyang, maka bukan mustahil Leng-tocu akan dapat memergoki mereka di sana."

"Apakah Siangyang merupakan tempat yang pasti akan dilalui mereka?"

Leng Jing-jing menegas.

"Menurut perhitungan secara umum seyogyanya mereka lewat di sana."

Kata Kiam-eng.

"Baiklah, jika begitu aku akan menuju ke Siangyang secepatnya untuk menunggu mereka di sana,"

Ucap Leng Jing-jing."

Akan tetapi, biIamana tidak bertemu dengan mereka, lalu bagaimana?"

"Leng-tocu dapat mencari orang Kai-pang dan minta bantuan mereka,"

Ujar Kiam-eng."

Anggota Kai-pang tersebar di seluruh kolong langit ini, mereka pun dapat menggunakan merpati pos untuk mencari keterangan di mana beradanya Pangcu mereka, Asalkan jejak It-sik-sin-kai diketahui, maka guruku pasti juga akan diketemukan."

"Ehm, cukup beralasan,"

Leng Jing-jing mengangguk.

"Jika dapat kutemui rombongan gurumu segera kubawa mereka menyusul kembali kesini. Setiba di sini tentu akan kuberitahukan padamu dengan menirukan bunyi tikus. Cuma selama menunggu kedatanganku hendaknya Su-siauhiap jangan sembarangan bertindak supaya tidak membuat runyam urusan."

Kiam-eng mengangguk "Baiklah, hendaknya Leng-tocu juga hati-hati, saat ini di mana-mana terdapat begundal Thian-Ong-pang..."

Setelah kedua orang bicara lagi pengalaman masing-masing selama berpisah, sementara itu fajar sudah hampir tiba, lalu Kiam-eng meninggalkan lorong bawah tanah untuk tidur lagi.

Pikirnya, belum lama setelah sarapan dan Thian-ong-pangcu lantas datang.

Dengan ramah ia berkata kepada Boh-to Siangjin dengan tertawa.

"Semalam telah banyak mengganggu ketenangan Siangjin, sungguh tidak pantas. Apakah Siangjin dapat tidur dengan baik?"

"Tidak, sulit tidur,"

Jawab Boh-to.

"Wah, jika begitu, apakah hari ini Siangjin dapat bekerja dengan bersemangat?"

Tanya Thian-ongpangcu. Boh-to tahu sekarang harus berusaha mengulur waktu sebisanya agar rombongan Lok Cing hui sempat menyusul kemari maka dengan tertawa ia menjawab.

"Sudah sekian hari bekerja keras, semalam juga kurang tidur, memang semangat terasa lesu, Bilamana Sicu sudi memberi cuti satu hari untuk istirahat, sungguh aku akan sangat berterima kasih."

Thian-ong pangcu termenung sejenak, katanya kemudian.

"Baiklah, hari ini Siangjin tidak perlu bekerja, tapi mulai besok, setiap hari engkau harus menerjemahkan sepuluh potong medali emas itu. Kuharap sisa ke-144 potong medali emas itu dapat digarap seluruhnya dalam waktu setengah bulan."

"Pekerjaan menerjemah tampaknya saja ringan, yang benar sangat makan tenaga dan pikiran,"

Ujar Boh-to."

Apalagi Sicu minta kuterjemahkan secara cepat dan terburu-buru, jangan-jangan nanti akan banyak kesalahan."

"Asalkan Siangjin tidak sengaja menerjemahkan secara salah, kuyakin takkan terjadi kesalahan,"

Kata Thian-ong-pangcu.

"Wah, tampaknya sicu belum lagi percaya penuh padaku,"

Ucap Boh to dengan tersenyum kecut.

"Kenal orangnya, tahu wajahnya, tidak tahu hatinya. Bilamana Siangjin minta dipercaya sepenuhnya, untuk itu masih diperlukan waktu yang panjang,"

Kata Thian-ong-pangcu.

"Ya, apa boleh buat, memang antar manusia biasanya sukar untuk bisa saling mengerti, jika Sicu tidak percaya kepadaku, apa yang dapat kukatakan lagi?"

Thian-ong pangcu seperti tidak mau banyak bicara, ia berbangkit dan berkata,"

Baiklah, sekarang silakan Siangjin istirahat dengan santai, aku tidak mengganggu lagi."

Habis bicara, ia memberi salam terus tinggal pergi. Melihat orang sudah keluar taman, segera Kiam-eng berkata kepada Boh-to,"

Mari kita bicara secara mendalam."

"Baik, boleh berlagak main catur,"

Jawab Boh-to Siangjin.

"Kiam-eng lantas memindahkan meja catur yang terletak di bawah rak buku itu, setelah dipasang dan keduanya duduk berhadapan, mulailah mereka main catur. Untuk langkah-langkah pembukaan, keduanya sama tidak banyak pikir, maka sembari menaruh biji catur Boh-to bertanya,"

Bagaimana baiknya dengan batas waktu setengah yang dia berikan agar ke 144 potong medali emas itu selesai kuterjemahkan."

"Rombongan guruku mungkin dapat menyusuI tiba dalam waktu setengah bulan,"

Ujar Kiam eng.

"Akan tetapi hal ini pun sukar dijamin kepastiannya. Maka kita sendiri harus berusaha mengulur tempo, betapapun kita harus dapat menunda sehingga sebulan atau lebih kalau bisa."

"Cara bagaimana mengulurnya?"

Tanya Boh-to.

"Terkadang, misalnya Siangjin boleh pilh alasan badan kurang sehat, kepala pusing atau badan meriang dan sebagainya jika dia tidak memberi kesempatan istirahat kepada Siangjin, maka Siangjin boleh sengaja bilang sakit keras sekalian."

"Haha, betul juga ini merupakan suatu langkah catur yang tepat!"

Kata Boh-to dengan tertawa. Sambil menaruh biji caturnya Kiam eng berkata.

"Oh langkah ini juga tidak jelek, boleh silakan Siangjin peras pikiran dengan lebih cermat."

Boh-to memperhatikan langkah catur yang dilakukan Kiam-eng itu dan berpikir sebentar, pujinya kemudian.

"Ya, ternyata langkah yang lihai, Tak tersangka Siausicu pun mahir main catur... Begitulah seharian mereka hanya main catur untuk melewatkan waktu senggang, Oleh karena kekuatan catur kedua orang seimbang, maka keduanya terkadang kalah dan terkadang menang, makin lama pun makin keranjingan sehingga tanpa terasa sehari penuh telah dilalui. Selesai bersantap malam, Boh-to Siangjin dan Kiam-eng main catur lagi dua-tiga babak, melihat sudah cukup malam, keduanya baru mapan tidur. Lewat tengah malam, diam-diam Kiam-eng bangun, ia membuka pintu almari dan memutar tangkai pintu rahasia, lalu menyusup ke bawab. Li-hun-nionio sedang menunggu tidak jauh di ujung lorong, mendengar suara datangnya Su Kiam-eng, segera ia menegur.

"Sebelum Su-siauhiap datang kemari, sama sekali tidak kurasakan kesepian bersembunyi di sini, tapi sekarang sungguh aku merasa sehari seakan-akan setahun lamanya..."

"Apakah sekarang juga Leng-tocu hendak berangkat?"

Tanya Kiam-eng.

"Adakah pesan Su-tiauhiap yang perlu kusampaikan kepada gurumu?"

Tanya Leng Jing-jing.

"Keadaan di sini kukira Leng-tocu sudah paham, maka bila bertemu dengan guruku, diharapkan beliau mengajak bala bantuan beberapa orang lebih banyak."

Lihun-nionio mengeluarkan tiga buah Yan-mo-tan, granat tabir asap, katanya,"

Harap Su-siauhiap terima ini, bilamana terjadi hal-hal yang gawat, boleh digunakan untuk meloloskan diri."

Dengan ucapan terima kasih Su Kiam-eng menerima ketiga biji granat itu. Segera Leng Jing jing melangkah ke ujung lorong sana diikuti Su Kiam-eng.

"Biarlah ku antar Leng-tocu sampai di lubang keluar sana,"

Kata Kiam-eng.

"Engkau tidak kuatir mendadak keparat itu datang ke kamar kalian?"

Ujar Li-hun-nionio Leng Jing jing.

"Kukira tidak,"

Ujar Kiam eng.

"Dia minta Boh-to Siangjin menerjemahkan kitab pusaka itu, tidak nanti berani mengganggu ketenangan di tengah malam buta."

Begitu sembari bicara sambil berjalan, Tidak lama kemudian sampailah mereka di mulut gua.

Terlihat di mulut gua sana air danau mendampar-dampar dan menerbitkan suara gemersik, di permukaan air mengapung sepotong balok kayu besar.

"Apakah kayu balok isi yang digunakan Leng-tocu untuk menyeberangi danau kian kemari?"

Tanya Kiam-eng.

"Betul,"

Jawab Leng Jing-jing.

"Bila kudengar ada suara kapal lalu, cepat kusembunyi di balik kayu semuanya berjalan dengan lancar."

"Sebelum fajar tiba apakah Leng-tocu dapat mencapai pantai danau di seberang sana?"

Tanya Kiam-eng pula.

"Dapat, asalkan mendapatkan angin buritan, dalam waktu satu jam dapat mencapai pantai danau sana,"

Jawab Leng Jing-jing.

Habis berkata, langsung ia melangkah ke tengah air, ia dorong balok raksasa itu ke lubang keluar, ketika air mencapai sebatas dada, ia angkat tangan memberi salam kepada Kiam-eng, lalu selulup ke dalam air, balok kayu itu didorong meluncur ke tengah danau dan hanya sebentar saja lantas lenyap.

Diam-diam Kiam-eng berdoa semoga Thian memberkahi Leng Jing-jing agar mencapai pantai danau dengan selamat dan berhasil menemui gurunya sehingga kawanan iblis tertumpas dan dunia persilatan mendapatkan ketenangan..."

Selesai berdoa, dengan langkah cepat Kiam-eng lari kembali ke kamar.

Setiba di kamar, keadaan ternyata aman tanpa terjadi apa pun.

Pelahan Boh-to Siangjin menyingkap kain kelambu dan bertanya dengan lirih.

"Dia sudah berangkat?"

"Sudah, baru saja,"

Jawab Kiam-eng. Pelahan Boh-to Siangjin menyebut budha dan berdoa.

"Semoga Budha memberkati dia mencapai tempat tujuan dengan selamat."

Paginya sehabis sarapan, kembali Thian-ong-pangcu datang lagi, Ia pandang air muka Boh-to Siangjin yang kelihatan cukup segar, katanya dengan tertawa.

"Bagaimana, hari ini Siangjin dapat mulai bekerja lagi bukan?"

"BoIeh, silakan Sicu menyerahkan mendali emas,"

Kata Boh-to. Thian ong-pangcu mengeluarkan sepuluh potong medali emas dan ditaruh di meja, ucapnya.

"Ke sepuluh mendali emas itu rasanya sudah cukup, harap menjelang magrib nanti Siangjin dapat menyelesaikan terjemahannya."

"Biarlah kukerjakan sedapatnya"

Ucap Boh-to.

"Nah, aku tidak mengganggu lagi, silahkan bekerja!"

Kata Thian-ong-pangcu sambil meIangkah.

"Eh, nanti dulu,"

Seru Boh-to mendadak "Kuharap Sicu jangan melupakan janjimu!"

"Janji apa?"

Tanya Thian-ong-pangcu dengan melengak.

"Kan sudah kukatakan, setiap berselang sehari ingin kulihat Hoat-keng Taisu itu, maka kuharap hari ini dia diperlihatkan padaku,"

Pinta Boh-to.

"Oya baiklah segera kuperintahkan orang membawa Hoat-keng ke sini,"

Kata Thian-ong-pangcu dengan tertawa.

"Cuma kuharap janganlah Siangjin bicara dengan dia, jika Siangjin bicara dengan dia, maka selanjutnya takkan dapat bertemu lagi dengan dia."

Habis berkata segera ia tinggal pergi.

Kiam-eng lantas mulai membentang kertas dan menggosok tinta untuk meladeni Boh-to Siangjin yang akan menerjemahkan kitab pusaka dari medali emas itu.

Baru saja selesai dia menggosok tinta, tiba-tiba terlihat Tong Pin dan Soa Goan-hiong menggusur Hoat-keng Taisu memasuki taman bunga itu.

Setiba di depan kamar mereka lalu berhenti, terdengar Tong Pin berseru di luar.

"Silakan Siangjin melihatnya, Hoat-keng Taisu dalam keadaan baik-baik bukan?!"

Boh-toh Siangjin mengangguk, katanya dengan tertawa.

"Ya, sangat bagus, Terima kasih! Pangcu kalian melarang kubicara dengan dia, terpaksa aku hanya memandangnya saja tanpa bicara."

Kalau Boh-to tidak mengajak bicara pada Hoat keng, kesempatan baik ini justu tidak disia-siakan oleh Su Kiam-eng, dengan kepala menunduk ia coba tanya dengan ilmu gelombang suara.

"Hoat-keng Taisu, apakah engkau dapat menjawab dengan mengirim gelombang suara?"

Hoat-keng tampak melenggong ketika mendengar bisikan suara lembut serupa bunyi nyamuk itu, tapi segera ia tahu suara itu datangnya dari Su Kiam-eng, ia berpaling ke kanan dan ke kiri untk isemandang Tong Pin dan Soa Goan-hiong di sebelahnya, dengan berpaling ke kanan dan kiri itulah sebagai tanda dia dapat mendengar suara Kiam-eng.

Cukup cerdik Kiam-eng, ia tahu orang mendengar apa yang dikatakannya, kembali ia mendesis,"

Ya, Taisu menang tidak leluasa untuk bersuara sekarang, maka harap ditulis saja tempat tahananmu dan keadaan penjaganya, boleh kau-bawa tulisanmu esok lusa dan buang saja di tanah pada waktu engkau digusur kembali ke sana."

Hoat-keng berkedip-kedip sebagai tanda mengerti. Dengan sendirinya Tong Pin dan Soa Goan-hiong tidak tahu terjadinya komunikasi secara diam antara Kiara eng si "Ngo liau"

Dengan Hoat-keng Taisu. Mereka merasa geli melihat Boh-to Siangjin hanya memandangi Hoat-keng Taisu dengan membisu, maka dengan tertawa mereka tanya,"

Siangjin sudah cukup memandangnya tidak? Bila sudah cukup, biarlah kami membawanya pergi."

"Baiklah, boleh kalian membawanya kembali,"

Boh-to berlagak menyesal. Segera Tong Pin berdua menggiring Hoat-keng keluar rumah, Sesudah mereka pergi jauh barulah Boh-to berkata kepada Kiam eng.

"Konon di antara kalian yang mahir kungfu tinggi dapat bicara dengan gelombang suara segala, adakah hal itu kau lakukan tadi dengan Hoat-keng Taisu?"

"Ya, sudah,"

Jawab Kiam-eng."

Cuma lantaran musuh berjaga di sebelahnya, Hoat-keng Taisu tidak berani menjawab, maka kuminta agar Hoat keng Taisu memberitahukan tempat tahanan dia, keadaan penjaga secara tertulis saja dan dibawa kemari hati lusa, bilamana dia dibawa ke sini lagi."

Boh-to mengangguk setuju, lalu duduk di depan meja dan mengambil sepotong medali emas, katanya,"

Baiklah, sekarang biar kumulai bekerja!"

Sehari suntuk, sampai magrib hanya tujuh patung medali emas itu yang dapat diselesaikan terjemahannya.

Thian-ong-pangcu agak kurang puas, tapi lantaran tidak ada tanda kesengajaan Boh-to Siangjin, maka ia cuma mengomel beberapa kata saja, lalu tinggal pergi dengan membawa tujuh potong medali beserta tujuh helai naskah terjemahannya.

Dengan sendirinya yang dibawanya pergi adalah naskah terjemahan yang telah"

Dikerjai", yang mendapatkan barang tulen adalah Su Kiam-eng.

Esok paginya, kembali Thian-ong-pangcu datang dengan membawa tujuh potong medali emas, yang ikut datang bersamanya adalah si duta perak nomor satu dan nomor dua, lalu si padang emas Sih Hou, pedang perak Kua Eng-sing serta pedang baja Ku Taihong bertiga.

Tanpa bicara mereka menyaksikan Boh-to Siangjin menerjemahkan tuIisan Hindu kuno pada medali emas itu, tidak lama rombongan Thian-ong-pangcu itu pun pergi.

Setelah jelas keenam orang itu sudah lenyap di luar taman barulah Boh-to tanya Kiam-eng dengan suara tertahan.

"siapakah pengikut Thian-ong-pangcu itu?"

"Yang berdiri di sebelah kirinya adalah si duta nomor satu dan nomor dua, sedang ketiga orang yang di sebelah kanan adalah tiga pedang emas perak baja", orang-orang ini pun pernah ikut berjaga di pagoda Le-san tempo hari, semuanya adalah murid Thian-ong pangcu."

"Pagi-pagi mereka ikut datang menyaksikan cara bekerjaku, entah apa maksudnya?"

Kata Boh-to Siangjin.

"Mungkin tidak ada maksud tertentu,"

Ujar Kiam-eng.

"Tempo hari mereka membawa Ngo-liau palsu dan Siangjln palsu pergi ke Congkoap, bisa jadi baru kemarin mereka pulang lagi, maka pagi hari ini juga ikut kemari untuk melihat Siangjin."

"Sekian banyak begundal mereka, bilamana rombongan gurumu dapat datang kemari, mungkin juga sangat sulit untuk mengalahkan mereka,"

Ujar Boh-to kuatir.

"Ya, memang,"

Kiam-eng menghela napas.

"Harapan kita sekarang, rombongan guruku datang kemari dengan membawa bala bantuan yang lebih banyak."

"Apakah ada kemungkinan gurumu akan mengajak bala bantuan?"

Tanya Bo to.

"Ada,"

Kiam-ong mengangguk.

"Suhu pernah menyatakan, bilamana sarang Thian-ong-pangcu sudah diketahui dengan jelas, maka beliau akan mengundang para ketua berbagai aliran dan perguruan untuk bersama-sama menghadapinya."

"Biia benar terjadi begitu barulah ada harapun akan menumpas Thian-ong pang,"

Kata Boh-to Siangjin.

"Nah, hendaknya gosok tinta ini sediklt lebih kental. Sehari ini Boh to dapat menerjemahkan satu potong medali lebih banyak daripada kemarin, seluruhnya dia menyerahkan isi kitab delapan medali. Tampaknya Thian-Ong-pangcu mulai merasa puas dan memperlihatkan tanda suka dengan prestasi yang dicapai Boh-to ini. Esok hari ketiga, kembali Ok-poan-koan Tong Pin dan Hek-kau-liong Soa Gan-hiong menggusur datang Hoat-keng Taisu untuk diperlihatkan kepada Boh-to Siangjin. Karena merasa sudah cukup banyak menerjemahkan kitab pusaka yang diminta Thian-ong-pangcu, Boh-to yakin biarpun dirinya mengajak bicara Hoat-keng beberapa patah kata rasanya juga takkan menimbulkan amarah Thian ong-pangcu, maka ia coba bertanya.

"Hoat-keng Taisu apakah mereka membikin susah dirimu?"

"Tidak, cukup baik keadaanku..."

Jawab Hoat-keng. Melihat terjadi tanya jawab di antara mereka, cepat Ok-poan-koan Teng Pin menyela,"

Eh, hendaknya Siangjin jangan melupakan perintah Pangcu kami, engkau hanya diperboIehkan memandang dan dilarang bicara, apalagi bertanya."

Boh-to tertawa, ucapnya,"

Kutanya keadaan memangnya kenapa? Masa Sicu sedemikian kikir?!"

Muka Tong Pin menjadi merah, katanya dengan menyengir,"

Ai, kami kan cuma melaksanakan tugas dan menjalankan saja untuk melarang Siangjin bicara dengan dia, bila Siangjin ingin bicara dengan dia, sebelumnya perlu minta izin kepada pangcu kami."

Boh-to Sianjin memperlihatkan rasa tidak sabar untuk banyak bicara, ia memberi tanda dan berseru.

"Ya, sudahlah, boleh kalian membawanya pergi, kan sudah kupandang dia."

Segera Tong Pin dan Soa Goan-hong menggiring Hoat-keng Taisu keluar taman, Pada waktu Hoat keng putar tubuh, Boh-to dan Kiam-eng sama melihat ada secuil kain putih jatuh dari baju Hoat-keng Taisu.

Hati Kiam-eng dan Boh-to sama tegang sekali, sebab meski hal itu tidak diketahui oleh Tong Pin dan Soa Goan-hiong, namun bilamana mereka menoleh sengaja atau tidak, kain putih kecil yang jatuh di lantai itu pasti akan dilihat mereka.

Untung, sejauh itu Ok-poan-koan Tong Pin serta Hek-Kay-hiong Soa Goan-hiong tidak berpaling, langsung mereka membawa Hoat-keng taisu.

Cepat Kiam-eng memburu maju dan memungut kain putih itu, ia celingukan kian kemari dan jelas tidak terlibat orang lain barulah ia masuk kamar dan merapatkan pintu.

"Apa yang tertulis di situ!"

Tanya Boh-to Siangjin tidak sabar. Kiam-eng membentang kain putih itu di atas meja, ternyata yang tertulis di situ jelas adalah huruf berdarah, bunyinya.

"Aku ditahan di sebuah kamar merah di bawah tanah persis terletak di belakang ruang pendopo. Kamar itu berpintu besi, putarlah tangkai pintu lima kali ke kanan dan putar tiga kali ke kiri, dengan sendirinya pintu besi akan terbuka. Turun ke bawah dan akan tiba di ruang bawah tanah. Ada dua kamar di sini, yang sekarang denganku ada Wi-ho Lojin dan kamar lain terkurung Ih Kih-ki. Ruang di bawah tanah itu hanya dijaga satu orang, Hanya untuk memasuki ruang pendopo itu yang mungkin agak sulit, maka Wi-ho Lojin minta kuberitahukan kepada Siausicu agar lebih dulu berusaha mengirim kabar kepada gurumu agar cepat datang membantu, bila gurumu sudah tiba barulah turun tangan bersama. Entah bagaimana pendapat Siausucu, harap balas esok lusa."

Hampir saja Kiam eng melompat-lompat saking gembiranya, katanya.

"Wah, sungguh bagus sekali! Ternyata tepat seperti dugaanku, Wi-ho Lojin dan nona Ih memang benar terkurung di sini."

Dengan prihatin Boh-to Siangjin berkata.

"Namun apa yang dikatakan Wi-losicu juga tidak salah, handaknya menunggu setibanya rombongan gurumu barulah dapat bertindak menurut gelagat."

Akan tetapi Su Kiam eng justru sangat ingin bertemu dengan Ih Keh-ki selekasnya, maka dia sangat bersemangat hendak mendahului bertindak, katanya.

"Jalan dari sini menuju ke ruang pendopo itu sudah sangat apel bagiku, mungkin dapat ku selidiki keadaan di sana pada malam hari."

"Namun bila sampai jejakmu kepergok musuh, maka segala apa pun akan tamat."

Ujar Boh-to Siangjin.

"Makanya kuharap Siausicu bersabar barang beberapa hari lagi."

Kiam eng tertawa, katanya.

"Siangjin jangan kuatir, bilamana tidak ada akal bagus padaku mutlak aku tidak berani menyerempet bahaya."

Boh-to manggut-manggut dan tidak bicara lagi, ia angkat pensil dan mulai bekerja pula.

Kiam-eng menyembunyikan kain putih itu di tempat yang sukar ditemukan, ia pun mulai menggosok tinta sembari mengepalkan naskah kitab pusaka yang diterjemahkan padri tua itu.

Lewat lohor tiba-tiba Kiam-eng berkata kepada Boh-to, Siangjin bagaimana kalau hasil terjemahanmu kau kurangi satu atau dua potong?"

"Memangnya Siau sicu mempunyai rencana apa?"

Tanya Boh-to.

"Tidak ada rencana apa-apa,"

Jawab Kiam-eng.

"Cuma kupikir, apabila kita bertekad menunggu kedatangan rombongan guruku, maka sebisanya kita harus main ulur waktu, betul tidak?"

"Kemarin dulu dapat kuterjemahkan tujuh potong medali, kemarin delapan potong, jika hasil pekerjaanku hari ini terlampau sedikit, cara bagaimana harus kuberi alasan kepadanya?"

Ujar Boh to Siangjin.

"Ya, bisa juga Siangjin berlagak sakit kepala, dengan demikian tentu dia takkan mengetahui!"

Kata Kiam-eng. Boh to Siangjin menaruh penanya, katanya dengan tertawa.

"Betul juga, kepalaku memang terasa agak pusing..."

Menjelang magrib, ketika tiba waktunya Boh-to Siangjin harus beristirahat, kembali Thian-ongpangcu muncul pula untuk mengambil naskah terjemahan.

Ia berkerut kening ketika dilihatnya hasil terjemahan hanya lima halaman, tegurnya,"

Apa yang kaukerjakan hari ini, masa cuma sekian?"

Boh-to Siangjin memijat pelipis dan menjawab.

"Petang hari ini kepalaku terasa pusing maka hasilnya kurang memadai."

Thian-ong-panggcu mengawasi air muka orang katanya.

"Mengapa Siangjin sampai kepala pusing?"

"Mungkin terlampau banyak memeras otak,"

Sahut Boh to dengan tersenyum getir.

"Sudah lama aku tidak pernah bekerja seberat ini, rasanya lelah sekali."

"Apakah Siangjin merasa terlampau pusing?"

Tanya Thian ong-pangcu.

"Terlampau pusing sih tidak, cuma tidak tahan duduk terlalu lama, mendingan kalau berbaring,"

Kata Boh-to.

"Baiklah, jika begitu silahkan istirahat sebanyaknya, sehabis bersantap malam hendaknya jangan main catur lagi melainkan lekas tidur saja."

"Ya, semoga besok dapat kuselesaikan pekerjaaku lebih banyak bagiku. Terus terang, sesungguhnya aku pun ingin lekas pulang ke Tai-hin-si"

Malamnya, setelah makan, Boh to tetap main catur dengan Kiam-eng, hanya main dua-tiga babak saja mereka lantas tidur.

Lewat tengah malam, diam-diam Kiam-eng bangun lagi, ia coba membuka kelambu tempat tidur Boh-to Siangjin, dilihatnya padri tua itu tidur dengan nyenyak, ia mengguncangkan pelahan sambil mendesis,"

Siangjin! Siangjin!"

Boh-to terjaga bangun, tanyanya.

"Ada urusan apa?"

"Tidak ada apa-apa, aku ingin keluar Iagi."

Bisik Kiam-eng. Boh-to agak kuatir.

"Apakah Siausicu tidak merasa terlampau bahaya?"

"Sudah lima hari kita berada di sini,"

Baca Juga: Pendekar Gelandangan 6

Baca Juga: Pukulan Si Kuda Binal 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert