Eps 2 Rahasia Benteng Kuno - Chin Yung
Baca online Rahasia Benteng Kuno - Chin Yung
Cersil Rahasia Benteng Kuno - Chin Yung.
Keruan Kun-hiap makin mendongkol, Tanpa bitjara ia masih berlari terus.
Tidak lama kemudian, tertampaklah Koh-po jang tinggi itu menegak dikaki gunung sana.
Setelah berlari sampai didepan pintu benteng kuno itu, barulah Kun-hiap berhenti.
Sedjak awal hingga achir sinona selalu mengintil dibelakang, Kun-hiap.
Tapi ketika berhenti, napas Kun-hiap kelihatan ter-engah2 sebaliknja sinorna sedikitpun tidak nampak letih atau memburu napasnja, sama sadja seperti orang berdjalan beberapa tindak djauhnja.
Dalam pada itu nona tjantik itu lagi mengamat-amati bangunan kuno itu, kemudian sambil melelet lidah ia berkata.
"Wah, seram sekali benteng kuno ini, mungkin didalamnja banjak setannja!" ,,Huh, masakah kau takut setan? Seharusnja setan jang takut kau!"
Kata Kun-hiap.
"Benar,"
Kata sinona dengan tertawa genit.
"Sekarang djuga sudah ada satu setan tjilik jang sangat ketakutan padaku."
Keruan Kun-hiap mati kutu. Ber-ulang2 ia di-olok2 dan digoda, baru sekarang ia ingin balas meng-olok2 atau segera sudah dibalas oleh sinonoa. Dengan mendongkol terpaksa ia berkata.
"Nah, marilah masuk kedalam!"
Waktu, daun pintu gerbang bangunan kuno itu didorong sigadis, maka terdengarlah suara mentjitjit, pintu lantas terpentang.
Dan belum beberapa langkah Kun-hiap dan gadis itu masuk kedalam hangunan Kuno itu, mendadak pintu gerbang itu menutup sendiri hingga menerbitkan suara keras.
Dengan terperandjat Kun-hiap dan sigadis berpaling, tiba-tiba mereka melihat ditempat jang gelap dekat pintu sana berdiri seorang wanita jang berbadju putih mulus, rambutnja jang pandjang terurai.
Dalam keadaan gelap menjeramkan tiba2 muntjul seorang wanita yang aneh bagaikan genderuwo, sudah tentu Kun-hiap terkedjut.
Tapi segera ia mengenali wanita itu tak-lain-tak-bukan adalah Thay-san-yau-ki Pek Yu-yu.
Maka ia agak lega dan sengadja tinggal diam, ia ingin lihat apakah sigais nakal tadi ketakutan atau tidak.
Tapi waktu ia berpaling kearah sinona, diluar dugaannja air muka sinona ternjata tenang2 sadja, bahkan se-akan2 anggap tiada terdjadi sesuatu apa, hanja kelihatan ia merasa agak heran dan tiba2 terdengar ia membuka suara.
"Eh, Pek A-ih, mengapa kau berada disini?"
Seperti diketahui sedjak tadi Pek Yu-yu masih bersembunji didalam Koh-po itu, Ketika melihat Kun-hiap berdua masuk kesana, segera ia hendak menggunakan tjaranja menggertak dan menjergap Wan Kian-liong itu untuk mengenjahkan kedua muda-mudi itu.
Tapi baru sadja badju putih jang dia pentang dan segera hendak ditolak kedepan dengan tenaga dalam jang kuat, saat itulah ia mendengar teguran sinona tadi.
Karena itu, mendadak Pek Yu-yu urung bertindak, bahkan ia menurunkan kemhali badju putihnja sambil melangkah mundur.
Waktu ia menegas pula, kembali ia melangkah mundur lagi dan air mukanja mendadak berubah hebat.
Sungguh Kun-hiap hampir2 tidak pertjaja kepada matanja sendiri.
Thay-san-yau-ki Pek Yuyu terkenal sebagai iblis wanita jang gapah dan kedji, ilmu siiatnja tinggi pula, biasanja sangat disegani dunia persilatan dari Sia-pay maupun Tjing-pay.
Siapa duga demi melihat sinona nakal tadi, mendadak ia mendjadi ketakutan malah.
Sebaliknja sinona nakal tadi telah memangga Pek Yu, sebagai "A-ih" (bibi), adakah hubungan kekeluargaan diantara mereka?
Begitulah selagi Kun-hiap ter-heran2 dan tjuriga, saat itu terdengar Pek Yu-yu telah mendjawab dengan suara jang di-bikin2.
"O, kiranja Samkohnio adanja, selamat bertemu, sekarang engkau sudah sekian besarnja, hampir2 aku tidak kenal kau lagi!"
"Wah, untung Pek A-ih masih mengenali aku, kalau tidak, entah tindakan apa jang akan kau lakukan atas diriku?"
Udjar sinona dengan tertawa.
"Ah, djanganlah Samkohnio berkelakar,"
Demikian Pek Yu-yu mendjadi serba susah.
"Aku ........ aku mohon diri sadja".
"Silakan, silakan! Aku tidak menghantar, ja!"
Sahut sinona cantik. Lalu Pek Yu-yu mundur lagi kebelakang, tapi baru setindalk tiba2 ia teringat sesuatu, lalu menanja.
"Samkohnio, apakah kau jang telah bergurau dengan kami barangkali?"
"Bergurau tentang apa?"
Balas tanja sinona dengan heran.
"Jaitu suruh kami berkumpul kesini,"
Tutur Pek Yu-yu.
"Tidak"
Sahut sinona sambil geleng kepala.
"Bagaimana sih duduknja perkara?"
"O, tiada apa2, tiada apa2!"
Iekas2 Pek Yu-yu menjahut sambil melangkah keluar pintu.
"Nanti dulu, Pek A-ih tjoba kembali sini!"
Tiba2 sinona meneriakinja.
Sungguh aneh, biasanja orang lain jang ketakutan setengah mati kepada Pek Yu-yu dan tentu tunduk kepada perintahnja.
Sekarang Pek Yu-yu ternjata seperti tikus ketemu kutjing dia, betapapun ia tidak berani membantah peritah nona itu.
Maka ia lantas melangkah masuk kedalam lagi, ia mengeluarkan, surat dan diangsurkan.
"Samkohnio, silakan batja surat ini dan segera akan tahu duduknja perkara."
Begitu djeri kepada "Samkohnio" (sinona ketiga) itu hingga Pek Yu-yu tidak berani terlalu mendekat, maka dengan tenaga dalam jang kuat ia tolak kertas surat itu hingga terbang kearah sigadis.
Dengan segera kertas surat itu dapat diterima sinona dan dengan tjepat isinja telah dibatjanja.
Tiba2 air mukanja tampak ber-seri2 dan katanja dengan tertawa.
"He, menarik sekali! Sungguh menarik sekali permainan ini!"
"Djuga tidak terlalu menarik, Im-kautju sudah terluka parah, bahkan djiwa Lo Pit-hi dan Lui Tay-keh djuga sudah melajang!"
Demikian kata Pek Yu-yu.
"Haha, lebih2 menarik, lebih2 menarik! ......... Ha, apa katamu? Lo-sioksiok sudah meninggal? Ngatjo kau!"
Sembari berkata sigadis terus mendesak madju.
Keruan Pek Yu-yu ketakutan, tjepat ia melesat keluar pintu sembari menarik daun pintu hingga tertutup rapat.
Rupanja ia terlalu gugup hingga tanpa merasa udjung badjunja terdjepit diantara daun pintu itu, ketika ia berlari pula setjepatnja, maka terdengarlah suara "bret" , sebagian badjunja telah robek dan ketinggalan digigit daun pintu, Sinona tjantik tertawa ter-pingkal2.
"Haha,haha! Aku tidak mengantar, ya! Tentu sadja Kun-hiap heran dan sangat terperandjat, dengan suara tak lampias segera ia menanja.
"Sia ............ siapakah kau sebenarnja?" ---ooo0dw0ooo--D
Jilid 2 Sebenarnja pertanjaan Wi Kun-hiap itu sudah ditahan sedjak tadi, ketika dilihatnja Thay-san-yau-ki Pek Yu-yu sangat segan kepada sigadis ini, mestinja ia sudah ingin tanja, tapi belum ada kesempatan membuka suara.
Begitulah maka gadis itu telah berpaling dan tanja kembali.
"Tjoba katakan, siapakah aku ini?"
"Darimana aku bisa tahu? Makanja aku tanja kau!"
Sahut Kun-hiap dengan tersenjum pahit. Pelahan2 sigadis mendekatinja, dengan senjuman jang menggiurkan ia tanja pula.
"Tjoba lihat dan katakan, aku mirip siapa?"
Tapi Kun-hiap hanja berdiri terkesima tidak sanggup mendjawab.
Dia baru selengah harian bertemu dengan sigadis, tapi gadis itu sudah membuatnja kewalahan dan serba berabe.
Siapakah gadis itu?
Pertanjaan ini sudah timbul entah berapa kali didalarn hatinja, namun sampai sekarang ketjuali diketahui gadis itu adalah nona ketiga (Sam-kohnio), maka ia tidak tahu apa2 tentang asalusul sigadis.
Bahkan gadis itu adalah nona ketiga djuga tjuma didengarnja dari panggilan Pek Yu-yu tadi.
Begitulah karena melihat Kun-hiap hanja mendjublek diam sa-dja, sigadis tertawa geli dan berkata pula.
"Patung, dimanakah djenazah Lo-sioksiok? Tjoba tundjukan padaku!"
"Diatas loteng"
Kata Kun-hiap.
"Tjoba tundjukan, buat apa berdiri terpaku disini?"
Udjar gadis itu.
Tanpa bitjara lagi segera Kun-hiap mendahului naik keatas loteng.
Tidak lama.
sampahlah mereka d=depan kamar diraana Kunhiap meninggalkan Lo Pit>hi jang sudah tak bernjawa itu.
Pela-han2 Kun-hiap mendorong daun pintu, ia mendjadi kuatir djangan-djangan djenazah Lo Pit-hi mendadak hilang lagi, hal ini tentu akan mengakibatkan dia di-olok2 dan ditertawai lagi oleh gadis nakal »ltu.
Tapi sjukurlah, baru daun pintu itu terpentang sedikit, sekilas lantas dilihatnja djenazah simonjet sakti dari Thian-san itu masih menggeletak didalam situ.
Maka dengan lagak seorang jang menang Kun-hiap lantas berseru.
"Nah, lihatlah, bukankah Lo-tayhiap meninggal disitu? Sekarang apa jang akan kau katakan lagi?"
Gadis -itu melangkah madju dan melongok kedalam kamar, ia mendjadi tertegun djuga dan takbisa mendjawab, sebab jang mati didalam kamar itu memang benar adalah Thian-san-sinkau Lo Pit-hi, malahan sikapnja sebelum mati itu masih tetap, jaitu djarinja menuding kepodjok dinding kamar.
Melihat sigadis sekali ini tidak berani mendjawab, Kun-hiap merasa senang, segera ia mengadakan serangan balasan.
"Hm, tadi kau ngotot terus, katanja Lo-tayhiap tak bisa mati, nah, sekarang bagaimana?'* Tiba2 gadis itu mendengus, sahutnja.
"Huh, manusia banjak jang mirip, binatang djuga banjak jang sedjenis. Setan ini tampak nja memang mirip Lo-sioksiok, tapi darimana bisa tahu persis bahwa dia betul2 adalah Lo-siok-siok?"
Sungguh dongkol Kun-hiap tidak kepalang, sudah terang gamblang orang mati menggeletak didepan matanja, tapi gadis itu masih tidak mau kalah. Segera katanja pula dengan dingin.
"Ha, masih kau menjangkal dia bukan Lo-tayhiap? Habis siapa?"
Tapi gadis itu bersikap atjuh-tak-atjuh se-akan2 dunia ini dia kuasa, ia berpaling dan mendjawab dengan seenaknja.
"Siapa tahu......"
Baru sekian utjapannja, tiba2 dilihatnja lukisan jang terbingkai di dinding itu. Ia bersuara heran sekali dan katanja.
"Eh. apakah itu?"
Sedjak mula Kun-hiap selalu di-olok2 dan selalu kalah berdebat, dan baru sekarang ia merasa menang angin dan ada kesempatan untuk balas meng-olok2 sigadis, maka ia tidak mau lepaskan begitu sadja, segera ia kata lagi.
"Tadi kau bilang Lo-tayhiap takbisa mati, kenapa sekarang dia mati disini?"
Tapi sinona tidak menggubrisnja, sebaliknja terus mendekati lukisan itu dengan gaja lenggang-lenggok jang menggiurkan. Tiba2 ia berkata.
"Aha, kiranja lukisan ini menggambarkan kau!"
"Bukan aku!"
Seru Kun-hiap dengan dongkol dan kaku. Nona itu geleng2 kepala, katanja.
"Bukan kau. habis siapa? Ehm, lukisan ini amat bagus, gajanja hidup dan mirip benar dengan orangnja. Eh, tanda tangan 'Hoan Su-tjay dari Gulam*. Pantas, Hoan Su-tjay adalah pelukis kenamaan dikolong langit ini, makanja lukisan ini sedemikian hidupnja. Tapi, ai, idak benar........."
Sampai disini mendadak gadis itu menoleh dan memandang Kun-hiap dengan tertjengang, Kun-hiap sendiri sebenarnja djuga sangat heran dan mentjuri-gai lukisan aneh itu, tjuma dia sendiri sedang menghadapi hal2 jang aneh, bahkan terkadang ia tidak berkuasa sama sekali, maka ia belum sempat meneliti dan memikirkan sebab apakah lukisan itu menggambarnja dia sedemikian miripnja, padahal ia merasa tidak pernah dilukis siapapun djuga.
Kini demi mendengar utjapan gadis itu, baru diketahuinja bahwa lukisan itu adalah buah tangan pelukis "Hoan Su-tjay"
Jang termasjhur.
Hoan Su-tjay itu adalah seorang tokoh Bu-lim serta terkenal pula sebagai pelukis besar jang dikagumi.
Diam2 Kun-hiap merasa pula mengapa dirinja bisa dilukis disitu, kalau bukan dirinja, habis siapa lagi jang sedemikian miripnja dengan dia?
Sungguh kalau bisa ia ingin tanja pelukisnja itu siapakah sebenarnja jang dimaksudkan didalam lukisan itu?
Dalam pada itu sigadis telah berkata pula.
"Ja, orang jang dilukis 'ini memang bukan kau. Sebab sudah sedjak 27 tahun jang lalu Hoan Su-tjay menjimpan golok .dan pensilnja itu, tidak mungkin kau dilukis pada masa sebelum itu."
"Memangnja sedjak tadi aku djuga mengatakan lukisan 'Ini bukan gambarku,"
Sahut Kunhiap.
"Ja, padahal gambar ini memang mirip benar dengan kau, bukan?"
Sigadis menukas.
"Makanja djangan sok ngotot bahwa orang jang mati Ini djuga belum tentu adalah Losioksiok."
Mestinja Kun-frap merasa dirinja sudah menang bukti dan ingin belas meng-olok2, siapa tahu achirnja kena diputar-balik oleh sigadis hingga dia tetap terdesak dipihak jang kalah.
Keruan dongkolnja tidak kepalang, segera sahutnja.
"Ja, sudah, apakah jang mati itu Lo-tayhiap atau bukan, mosa-bodohlah, maaf, aku akan pergi sadja!"
Dan tanpa banjak tjintjong lagi ia lantas bertindak Keluar.
Sigadis hanja tersenjum sadja memandangi Kun-hiap dan tidak menahannja.
Setelah melangkah keluar, sekalian Kun-hiap merapatkan daun pintu, tapi baru beberapa langkah ia bertindak pergi, tiba2 didengarnja didalam kamar tadi ada suara tersedusedan orang, njata bigadis itu sedang menangis.
Kun-hiap sangat heran dan sangsi, setelah ragu2 sedjenak, pe-lahan2 ia lantas menggermet kembali keluar pintu kamar itu.
Koh-po atau kastil (benteng) kuno itu sudah sangat tua dan tak terawat, maka daun pintu itu banjak tjelah2 dan lubangnja.
Segera ia mengintip melalui tjelah2 pintu.
Ia lihat gadis tadi sedang ber-djongkok disamping djenazah Lo Pit-hi, dan memang betul sedang menangis, sebab air matanja kelihatan meleleh dipiplnja, anehnja gadis itu sedang me-raba2 badan Lo Pit-hi jang sudah tak ber-njawa itu, entah apa jang hendak ditjarinja.
Setelah diraba dan digagap sebentar, tiba2 gadis itu merogoh keluar sesuatu benda dari dalam badju djenazah simonjet sakti dari Thian-san itu.
Kun-hap sangat heran, tapi ia tidak djelas benda apakah jang diketemukan nona itu.
jang kelihatan hanja benda itu ke-hitam2an dan kira2 sebesar kepalan orang.
Setelah menemukan benda itu, sinona tidak menangis lagi, ia membolak-balik barang itu dan mengamat-amatinia hingga lama.
Dan baru sekarang Kua-hiap melihat djelas bahwa benda itu adalah sebuah kuda2an besi dan sangat bagus tjetakannja.
Sebentar kemudian, tiba2 nona itu tersenjum-slmpul dengan memandangi mainan kuda2an itu walaupun air matanja masih membasahi pipinja karena belum lagi diusap.
Lalu ia simpan mainan kuda itu kedalam badjunja dan pe-lahan2 berbangkit.
Kuatir kalau dipergoki, segera Kun-hiap bermaksud mendahului pergi.
Tapi tiba2 dilihatnja gadis itu mendekati lukisan jang terbingkai didinding ;tu.
Setelah memandangi sedjenek, se-konjong2 ia menoleh dan berkata dengan tertawa.
"Apa lagi jang hendak kau intip?"
Keruan Kun-hiap kaget, sama sekali tak terduga olehnja bahwa sebenarnja perbuatannja mengintip itu telah diketahui nona itu.
Dalam gugupnja ia terus melangkah mundur dan bermaksud kabur lekas2.
Tak terduga ada sebagian papan loteng 'itu sudah terlalu tua dan lapuk, dalam gugupnja Kun-hiap sama sekait tidak memperhatikan keadaan disekitarnja, maka ia mendjadi kaget ketika mendadak tempat jang di'indjak itu amblong kebawah sambil menerbitkan suara keras, tubuhnja djuga lantas kedjeblos.
Tjepat ia berusaha seb;sanja buat memegang papan loteng selagi tubuhnja bagian bawah sudah ter-katung2 diudara, tapi tjialat, papan loteng jang sudah lapuk itu tidak kuat menahan pegangannja, papan, itu sempal dan tubuhnja terus terbanting kebawah.
Dan untunglah karena pegangan terachir itu hingga daja turun-nja terhambat sedikit dan teibanting djatuhnja itu tidak terlalu hebat.
"Bluk"
Sekali Kun-hiap terdjatuh dilantai, tjepat ia dapat melompat bangun lagi dan tidak sampai terluka.
Tapi baru sadja Kun-hiap berdiri tegak, tahu2 sinona djuga sudah melajang turun dan berdiri didepannja.
Keruan Kun-hiap mendjadi malu dan serba kikuk seperti maling ketangkap leher, diam2 ia memikir entah apa jang akan diperbuat sinona kepada dirinja.
Seketika ia hanja mendjublek sadja seperti pesakitan jang tunggu vonnis hakim.
Sebaliknja sinona djuga sangat djahil, ia djusteru tidak lantas mendamperat atau menegur, tapi dia hanja ter-senjum2 sadja sambil mengamat-amati Kun-hiap dengan mimik wadjahnja jang nakal, djadi mirip seekor kutjing jang dapat menangkap seekor tikus ketjil, tikus itu tidak lantas ditjaplok, tapi digoda dan dipermainkan dulu sesuka hatinja.
Achirnja Kan-hap mendjadi dongkol djuga, segera ia bermaksud mendahului mendamperat sigadis, tapi belum lagi ia membuka suara, tiba2 diluar gedung itu terdengar suara seruan orang jang kasar dan serak.
"Sam-moay! Sam-moay! Dimana kau?"
Suara itu serak dan petjah lagi djadi seperti genderang bobrok ditabuh, tapi terang suara kaum wanita.
Suara itu kalau dibandingkan suara sinona jang berdiri dihadapan Kun-h.ap ini sungguh boleh dikata langit dan bumi bedanja.
Maka sinona telah mencjawab suara seruan tadi.
"Dji-tji, aku berada disini!"
"Lekas keluar sini!"
Seni suara tadi.
Sinona tampak ogah2an, tapi toh tidak berani membangkang, setelah melirik sekedjap lagi kepada Kun-hiap, lalu ia melesat keluar dengan tjepat luar biasa.
Seketika Kun-hiap merasa seperti pesakitan jang baru bebas dari bui dengan perginja gadis itu.
Pikirnja.
"Kalau sekarang aku tidak tinggal pergi mau tunggu kapan lagi?"
Semula ia hendak keluar melalui pintu gerbang itu, tapi kuatir kalau dipergoki sigadis lagi, waktu ia memandang sekitarnja, dilihatnja disamping sana djuga ada sebuah pintu, tanpa pikir lagi segera ia membiluk kesana.
Tapi ia mendjadi terkedjut ketika melangkah kedalam ruangan samping itu, sebab disitu djelas kelihatan djuga menggeletak serangka majat.
Waktu ditegaskan, malahan orang mati itupun adalah kenalannja.
Ia masih ingat orang ini pernah berkundjung kerumahnja bersama para kesatria waktu ajahnja merajakan ulang tahun ke-50 dahulu, jaitu Lui-tjengtju, Lui Tay-keh dari Lui-keh-tjeng.
Sudah tentu sama sekali tak tersangka oleh Kun-hiap akan dapat melihat djenazah Lui Tky-keh jang terkenal dikalangan Kan-gouw itu, keruan ia terperandjat.
Kemudian dilihatnja pula dilantai sebelah djenazah itu ada setjarik kertas, ia tjoba mendekati dan dapatlah membatja apa jang tertulis dlatas kertas surat itu.
Kiranja ruangan diraana Kun-hiap berada sekarang adalah bekas tempat berkumpulnja Pek Yu-yu, Nio Hoat dan Im Som semalam.
Setelah membatja surat berlubang karena-ditubles oleh kj>as Im Som semalam itu, baru sekarang Kun-hiap mengetahui beberapa orang jang dilihatnja semalam itu adalah tokoh2 jang diundang kesitu oleh surat kaleng aneh itu.
Tapi kuii ia buru2 ingin meninggalkan Koh-po itu, maka tak semoat mempeladjari duduknja perkara jang penuh rahasia itu, segera ia bermaksud melangkah pergi.
Tapi diluar dugaan kakinja telah menjenggol siku tangan djenazah Lui Tay-keh, mendadak terdengar suara "klotak", suara djatuhnja sesuatu benda keras dari tangan djenazah itu.
Waktu Kun-hiap memandang kebawah, dilihatnja tidak djauh didepannja terdapat sebuah kuda2an besi sebesar kepalan, manusia.
Itulah dia mainan kuda2an besi jang mirip dengan apa jang diketemukan sigadis tadi dari djenazah Lo Pit-hi.
Sudah tentu Kun-hiap sangat heran, ia tidak tahu apa gunanja kuda2an besi itu dan mengapa b.sa tergenggam ditangan Lui Tay-keh.
Ia merasa dibalik mainan kuda besi ini tentu ada sesuatu jang tidak beres sebab benda jang serupa djuga diketemukan didalam djenazahnja Lo Pit-hi oleh sinong jang terkenal dengan panggilan "Sam-kohnio"
Itu.
Segera Kun-hiap mendjemput kuda besi itu, ia merasa bobotnja tjukup lumajan, tanpa pikir lagi ia terus simpan didalam badjunja.
Lalu ia mendekati djendela, terus sadja ia melompat keluar dari situ.
Diluar situ rumput alang2 tumbuh sangat lebat dan tinggi melebihi manusia.
Dan selagi ia hendak mentjari djalan buat tinggalkan tempat itu, tiba2 cPdepan sana ada suara seruan sigadis tadi.
"Dji-tji (kakak kedua), aku akan masuk sebentar kesana, segera aku akan kembali lagi!"
Tapi suara wanita jang serak dan petjah itu telah mentjegah.
"Djangan, nanti kau akan bikin gara2 lagi!"
Diam2 Kun-hiap merasa sjukur dirinja tadi tidak grusah-grusuh bingga tidak dipergoki kedua orang itu, kalau kepergok, wah, tentu runjam.
Seorang gadis tadi sadja susah dilajani, apalagi ditambah seorang kawannja jang tentu djuga bukan wanita peramah, demikian kesimpulan Kun-hiap.
Ia tjoba mengintip kearah suara2 itu, ia lihat dibawah sebatang pohon besar berada dua wanita, jaitu sigadis jang telah dikenalnja dan seorang wanita berbadju hitam.
Wanita badju hitam itu berdiri membelakangi Kun-hiap hingga mukanja tidak kelihatan.
Sementara itu terdengar sigadis sedang berkata pula.
"Dji-tji, hanja sebentar sadja dan segera aku kembali!"
"Tidak, hajo lekas berangkat!"
Sahut siwanita badju hitam sambil tarik tangan sigadis terus diadjak pergi.
Sekilas Kun-hiap melihat tubuh kedua wanita itu mendadak terapung keatas terus melajang kedepan setjepat angin, sungguh Kun-hiap tidak pertjaja bahwa didunia ini adalah orang memiliki Ginkang setinggi itu, ia kutjek2 mata sendiri dan memandang pula, tapi hanja sekedjap itu sadja kedua wanita itu sudah lenjap dari pandangannja.
Ber-ulang2 Kun-hiap menjatakan heran pada diri sendiri ia pikir djika sebentar ketemu Susiok pasti akan tanja keterangan tentang asal-usul kedua wanita aneh itu, sebab kalau kedua wanita itu bukan tokoh2 jang luar biasa, tidak mungkin memiliki kepandaian setinggi itu, malahan Thay-san-yau-ki Pek Yu yu djuga ketakutan demi ketemu gadis jang masih muda belia itu?
Sedjenak kemudian, Kun-hiap keluar dari tempat sembunjinja dan melandjutkan perdjalanan.
Kira2 beberapa puluh meter djauh-nja, ia menoleh untuk memandang benteng kuno jang penuh teka-teki itu.
Sebenarnja Koh-po atau kastil kuno itu tiada sangkut-paut apa2 dengan dia, kedatangannja kesatu djuga atas adjakan Lo Pit-hu monjet sakti dari Thian-san itu minta dia mentjarikan satu orang, tapi sampai adjalnja tokoh itu tidak sempat menerangkan .siapa orang jang akan ditjari itu.
Maka kini demi memandang lagi Koh-po itu dari djauh, tiba2 timbul sematjam firasat aneh dalam hati Kun-hiap, kastil kuno itu bukan mustahil ada hubungan erat dengan dirinja.
Djalan pikirannja ini timbul dari sebab lukisan itu.
Memang banjak manusia jang sama, tapi kalau sedemikian miripnja, hal ini mau tidak mau menimbulkan rasa tjuriga.
Akan tetapi ada hubungan apa sih antara dirinja dengan kastil kuno itu, sudah tentu tiada seorangpun jang dapat memberi djawaban.
Begitulah kemudian ia memutar tubuh dan berlari terus.
Semalam ketika ia dibekuk oleh siorang berkedok, ia tidak sempat memberi tanda kepada sang Susiok, sebaliknja ia dapaat mendengar suara panggilan sang Susiok jang penuh rasa kuatir itu.
Kini siorang berkedok jang pendek ketjil itu.
entah menghilang kemana, maka urusan paling penting sekarang adalah mendjumpai sang Susiok jang sementara itu tentu lagi kalabakan mentjarinja.
Segera Kun-hiap mengeluarkan Ginkangnja, setjepat mungkin ia berlari dan dalam waktu singkat sadja sudah belasan li djauhnja Tidak lama kemudian hamp.r sampailah dia didjalanan jang menudju ke Li-keh-tjeng, dimana sang Susiok menitipkan barang kawalan nja itu.
Tapi pada saat itu djuga tiba2 didengarnja suara alat2 tiupan jang ramai, ketika dipandangnja, dari djauh kelihatan Suatu iring2an orang sedang mendatangi.
Iring2an jang didahului oleh lima-enam orang tukang tiup dan gembreng itu tampak membiluk kearah djalan ketjil jang menudju kekastil kuno ini.
Semula Kun-hiap menjangka iring2an itu tentu adalah iring2an kemanten desa dan sebagainja, maka ia tidak memperhatikan, dan tetap berdjalan kedepan.
Tapi sedjenak kemudian mendadak ia merasakan sesuatu jang agak djanggal.
Teringat olehnya urusan tentu tidak begitu sederhana seperti apa jang dipikirnja.
Sebab telah diketahui bahwa sepandjang puluhan li disitu terang tiada seorang pendudukpun, djalan ketjil itupun tjuma menudju ke kastil kuno, mengapa iring2an kemanten melalui djalanan sepi ini?
Sementara itu iring2an orang itu sudah makin dekat.
Ketika mereka melalui samping Wi Kun-hiap, perasaan pemuda itu mendjadi gopoh dan ber-debar2, walaupun hawa pada waktu itu tidak panas, tapi keringat se-akan2 bandjir datangnya membasahkujup badannya.
Sambil memandengi iring2an itu lewat didepannja, Kun-hiap tahu ada sesuatu jang tidak beres, tapi dalam keadaan begitu ia pun tdak berani banjak urusan.
Setelah menghirup napas pandjang2, lalu ia berlari lagi kedepan.
Tapi tidak lama kemudian, kembali terdengar pula sesuatu suara dari depan sana, sekali ini adalah suara derapan kaki binatang jang tjepat.
Waktu Kun-hiap mengangkat kepalanja, ia lihat dari djauh segumpal barang aneh sedang mendatangi, meski ia memperhatikan sampai matanja mendelik, tapi tetap tidak djelas machluk apakah diatas binatang jang ber-lari2 dari depan ttu.
Tengah Kun-hiap tercengang, machluk jang datangnja tjepat sekali itu tahu2 sudah mendekat.
Karena heran, segera Kun-hiap mentjurahkan perhatiannja untuk melihat apakah sebenarnja machluk aneh ini.
Dan setelah melihat djelas.
tanpa merasa ia tertawa geli sendiri.
Kiranja binatang jang mendekat setjepat terbang itu bukanlah machluk aneh apa2, tapi adalah seekor keledai biasa, tjuma warna bulu keledai ini putih mulus sebagai saldju, diatas punggung-nja menunggang seorang tinggi kurus dan berbadju hitam mulus, saking tinggi tubuhnja orang ini dan menunggangnja mungkur pula.
maka drri djauh tampaknja mendjadi sangat aneh dan susah diketahui benda apakah sebenarnja diantara warna putih dan hitam ini?
Segera Kun-hip berd.ri kepinggir djalan untuk memberi djalan kepada keledai dengan pentmggangnja itu.
Maka dengan tjepat sekala keledai itu berlari lewat.
Tapi ketika keledai itu sudeh dua-tiga meter lewat dislsi Kun-hiap, se-kcnjong2 binatang itu dihentikan.
"srek", bagaikan memakai "rem angin"
Sadja.
keledai itu dapat mendadak menahan kakinja, dan tiba2 penunggang keledai itu mendjulurkan tubuhnja kearah Kunhiap.
Ternjata tidak melulu tubuh orang itu sadja jang pandjang, bahkan lehernja djuga pandjang seperti leher burung bangau, dan karena tubuhnja mendelong kearah Kun-hiap hingga hidungnja hampir saling tjium dengan pemuda itu.
Keruan Kun-rrap kaget dan Iekas2 melangkah mundur.
Waktu ia memperhatikan, tiba2 ia merasa geli.
Ternjata potongan orang itu memang istimewa, tidak hanja tubuhnja djangkung dan lehernja pandjang, sebaliknja kepalanja sangat ketjil sehingga pantjainderahnya jang tumbuh dibagian kepala itu saling ber-desak2an, saling ber-djedjal2 kuatir tidak kebagian tempat.
Dan setelah Kun-hiap terkaget mundur, barulah orang aneh itu menegakkan duduknja, lalu ia tanja.
"Apakah kau datang dari Koh-po sana?"
Karena pertanjaan jang mentjurigakan itu, Kun-hiap pikir orang kosen didunia persilatan teramat banjak, ada lebih baik djangan tjari penjakit dan pura2 bodoh sadja, maka djawabnja sambil geleng kepala.
"Koh-po apa maksudmu? Entah, aku tidak tahu, aku hanja orang lalu disini!"
"Hm", demikian orang itu mendengus sekali.
"Botjah dungu, djalan ini hanja menudju ke Koh-po itu, kenapa kau djawab tidak tahu? Kau kira aku mudah dibohongi?"
"Djika kau sudah tahu, mengapa sengadja tanja?"
Sahut Kun-hiap dengan mendongkol. Tiba2 orang aneh itu tertawa ter-kekeh2, lalu katanya pula.
"Dan mereka sudah datang semua tidak?"
Kun-hiap melengak, ia tanja kembali.
"Siapa jang kau maksudkan?"
"Kau datang dari Koh-po itu, masih pura2 tidak tahu?"
Kata orang itu. Hati Kun-hiap tergerak, maka sahutnja.
"O, djadi kau inikah orang jang menulis surat kaleng untuk mengundang tokoh2 Bu-lim itu agar berkumpul disana? Mereka memang sudah datang semua!"
Orang itu tampak girang, segera tanja lag;.
"Dan semuanja sudah mereka bawa serta, bukan?"
Setiap pertanjaan orang itu selalu membingungkan Kun-hiap, maka dengan mendongkol ia mendjawab.
"Apa jang dibawa serta? Darimana aku bisa tahu? Apa sangkutpautnja dengan aku?"
Entah marah atau karena urusan lain, mendadak tubuh orang itu mendojong lagi kearah Kun-hiap.
Tadi ketika hampir saling tjium, tjepat Kun-hiap telah mundur selangkah.
Tapi aneh, sekarang djarak mereka kembali sedemikian dekatnja hingga hampir saling "ngok"
Lagi se-akan2 tubuh orang aneh itu bisa mulur mengkeret sadja. Keruan Kun-hiap kaget lagi dan tjepat melompat mundur pula. Orang itu menjeringai, katanja.
"Sudahlah, botjah, mengingat ajahmu, biarlah aku tidak bikin susah padamu."
Kembali Kun-hiap merasa heran.
Djika orang aneh seperti ini pernah dilihatnja dulu, rasanja tak mungkin terlupa.
Sebaliknja kalau tidak kenal, diarimana orang tahu tentang ajahnja segala?
Dan selagi ia hendak tanja, tiba2 orang itu sudah mendepak keledainja dan dilarikan tjepat kedepan.
Tapi baru beberapa meter djauhnja, mendadak keledai itu dihentikan, orang itu berkata pula kepadanja.
"Nak, selama beberapa tahun ini, Kim-kong-goan-hoat jang dilatih ajahmu itu tentu sudah madju pesat, bukan? Djika pulang nanti, sampaikanlah salamku."
Mestinja Kun-hiap djuga sudah putar tubuh hendak melangkah pergj, demi mendengar utjapan orang itu, kembali ia merandek.
Selama ini ajahnja terkenal sebagal "Kim-liong-kiam-khek", ter-hitung seorang ahli pedang paling ternama didjaman.
ini, sendjata andalannja berbentuk sebatang pedang jang pandjang dan lebar, semua orang tjukup mengetahui bentuk pedangnja jang agak berbeda daripada pedang biasa itu.
Tapi mengapa orang aneh tadi bertanja tentang "Kim-konggoan" (gelang emas) segala, padahal selamanja ia tidak pernah melihat ajahnja bersendjatakan itu.
Tengah Kun-hiap tertegun, sementara itu keledai putih siorang aneh sudah dilarikan lagi dan hanja sebentar sadja sudah lenjap dari pandangan.
Dengan tetap tidak habis heran, Kun-hiap lalu menudju kearah nja sendiri, menudju kearah Li-keh-tjeng.
Sepandjang djalan ia-pun memikirkan terus tentang pesan Thian-sansin-kau Lo Pit-hi jang setengah2 itu, jang diketahui tjuma disuruh menari seorang, tapi siapakah jang harus ditjarinja itu tidak djelas baginja.
Dasar Kun-hiap memang mempunjai kemauan keras apa jang menjangkut dirinja pasti akan ditjari tahu dengan djelas dan diselesaikan dengan baik.
Ia merasa apa jang dialamnja itu sangat aneh, penuh teka-teki, dan kedjadian2 itu satu-sama-lain seperti mempunjai sangkut-paut jang erat, tjuma bagaimana sangkut-paut itu setjara terperintji ia sendiri tidak dapat mendjelaskan.
Begitulah sambil memikir sambil berdjalan, tidak lama kemudian, tertampaklah empat penunggang kuda sedang mendatangi lagi.
Setelah dekat, penunggang2 kuda itu lantas melompat turun serta memberi hormat kepada Kun-hiap.
Kiranja mereka adalah para Piauthau jang ikut dalam rombongan Wan Kian-liong itu.
Setelah ketemu Kun-hiap, dengan wadjah gugup keempat Piau-thau itu lantas berseru.
"Wah, baru ketemu disni! Wi-kongtju. lekaslah datang ke Li-keh-tjeng, Wan-tjongpiauthau sedang keselabakan setengah mati "
"Kelabakan urusan apa?"
Tanja Kun-h.ap.
"Sudah tentu tentang dirimu!"
Sahut para Piauthau.
"Sudahlah, lekas dikit, Wi-kongtju! Kepada ajahmu kita sudah menjampaikan berita kilat melalui kawan2 Bu-lim sepandjang djalan!"
"Ai, kembali mengganggu ketenteraman beliau lagi!"
Udjar Kun-hiap sambil mengerut ken.ng.
"Sudahlah, mari lekas Wi-kongtiu! Engkau sedang dinantikan, marilah tjepat!"
Seru para Piauthau itu.
Dan segera mereka menarik Kun-hiap keatas salah seekor kuda mereka terus dilarikan dengan tjepat.
Tidak lama kemudian, dari djauh sudah tertampak Li-keh-tjeng atau perkampungan keluarga Li jang ditudju itu.
Tapi aneh djuga, perkampungan jang besar dan ramai itu ternjata sepi2 sadja dan tiada nampak ada orang memapak kedatangan mereka.
Setelah mendekati djalan masuk perkampungan itu, tetap keadaan sepi, padahal biasanja banjak orang mondar-mandir dengan ramai, sekarang perkampungan itu mirip tiada penghuninja.
Kun-hiap berlima saling pandang dengan heran.
Pada saat itulah tlba2 terdengar suara riuh ramai dibelakang perkampungan sana, suara meringkiknja kuda dan roda kereta.
Kunhiap tjoba pandjat keatas pohon jang tinggi ditepi djalan, ia lihat dibelakang perkampungan sana terdapat berpuluh kereta besar sedang dilarikan ke arah barat, menjusul dibelakang kereta adalah penduduk perkampungan she Li itu banyak yang menggendong buntalan dan tangan menuntun chewan peliharaan.
Melihat gelagatnja itu terang antero penduduk perkampungan ini sedang mengungsi.
Dengan heran dan tjuriga tjepat Kun-hiap melompat turun, segera ia keprak kudanja kegedung tempat tinggal Li Siu-goan.
Tapi baru masuk pintu atau tiba2 Wan Kian-liong sudah kelihatan memapak keluar.
Luka sang Susiok itu belum lagi, sembuh, air mukanja murung, demi melihat Kun-hiap, terus sadja orang tua itu berkata.
"Sjukur lah kau sudah pulang, Kun-hiap. Semoga ajahmu dapat pula menjusul kemari dan tentu urusan akan mudah diselesaikan!"
Kembali Kun-hiap heran, ia sudah pulang dengan selamat buat apa mesti menghendaki kedatangan ajahnja lagi?
Dan selagi ia hendak tanja, tiba2 dari ruangan dalam sudah keluar pula seorang tua jang masih gagah tegap.
Tapi wadjahnja djuga kelihatan menanggung rasa kuatir dan murung Tjepat Kun-hiap memapak madju dan memberi hormat.
"Li-tjengtju, harap maaf telah banjak mengganggu!"
"Kun-hiap."
Kian-liong berkata.
"kita telah menimbulkan ben-jana bagi Li-tjengtju".
"Ah, WanJote suka bergurau sadja,"
Sahut Li Siu-goan dengan tertawa.
"utjapanmu itu membuat aku merasa malu diri. Djangan-kan kita adalah kenalan lama, biarpun tjuma sesama kawan persilatan djuga aku siap melakukan apa jang aku mampu berikan, kenapa Wan-lote mesti bitjara tentang bentjana segala?"
Kun-hiap mendjadi heran mendengar pertjakapan itu, ia menduga tentu sudah terdjadi sesuatu. Segera ia tanja.
"Apakah jang telah terdjadi?"
Selagi Wan Kian-liong hendak bitjara, namun Li Siu-goan sudah mendahului.
"Silahkan Wihiantit masuk keruangan dalam dan tentu akan djelas duduknja perkara."
Segera Kun-hiap ikut tuan rumah keruangan tengah jang luas itu, ruangan ini biasa dipakai berkumpul berpuluh, bahkan mungkin beratus orang Bu-lim djika mengadakan musjawarah dan dengan sendirinja dapat dibajangkan betapa megah dan luasnja.
Empat tiang nja sadja bulatan tengahnja serangkulan tangan orang, tingginja hampir sepuluh meter.
Dan baru sadja Kun-hiiap masuk kesitu, se gera ia melihat ada jang tidak beres, dua diantara tiang raksasa itu sudah meleset keluar dari batu penggandjelnja hingga atapnja ikut tergetar rusak dan genting sama petjah.
Tentu sadja Kun-hiap terperandjat, ketika ia periksa sekelilingnja pula, ia lihat diatas sebuah tiang itu terdapat sesuatu jang luar biasa, suatu bagian tiang ini telah kena dipapas kulitnja dan ditempat jang rata itu lalu terukir delapan huruf jang berbunji.
"Serahkan baik2 barang kawalanmu dan segala sesuatu akan berdjalan beres!"
Gusar dan kuatir djuga Kun-hiap.
Dari tulisan itu, terang penjatron itu bermaksud merampas barang kawalan mereka.
Sedangkan barang kawalan mereka sudah djelas dittipkan kepada Kim-tiau Li Sau-goan, sigaruda mas, tapi penjatron itu toh tidak pandang sebelah mata kepada tuan rumah, hal ini menandakan bahwa penjatron itu sudah mempunjai rentjana rapi jang telah diperhitungkan.
Dan kalau dilihat dari tjara meninggalkan tulisan itu, penjatron telah menggeser dua tiang besar sehingga terlepas dari batu-alasnja, maka betapa hebat tenaganja sudah dapat dibajang-kan, pantas kalau penjatron itu berani berbuat seenaknja.
Sedapat mungkin Kun-hiap berlaku tenang, tanjanja kemudian "Perbuatan siapakah ini, sama sekali tidak pandang kehormatan Li-pepek?"
"Sungguh memalukan, siapa jarog berbuat, aku sendiri tidak mengetahui"
Sahut Li Siugoan.
Kun-liiap bertambah heran, ia kenal tuan rumah ini bukanlah djago kerotjo, didalam rumahnja tentu djuga tidak sedikit orang pandai, mengapa ada orang mengatjaukan rumahnja tanpa diketahui olehnja.
Maka dengan penuh tanda tanja ia pandang Li Siu-goan dengan ter-mangu2.
Siu-goan tampak serba kikuk, tuturnja kemudian.
"Tatkala itu aku berada dikebun belakang, diruangan sini tiada seorangpun. Waktu kami mendengar suara mentjurigakan dan memburu kemari, namun musuh sudah menghilang dan meninggalkan keadaan demikian ini."
Untuk sedjenak semua orang terdiam. Tiba2 Kian-liong berkata.
"Li-tjengtju, sebaiknja kami lantas berangkat sadja dengan barang kawalan kami, dengan demikian Li-tjengtju akan terlepas dari persoalan ini."
"Hahahaaha!"
Siu-goan tertawa lepas, sikapnja wadjar, tapi menentukan. Katanja kemudian.
"Wan-lote, pabila kalian berangkat pergi, lantas mukaku harus ditaruh kemana? Aku sudah mengungsikan sanak keluargaku, harta-benda disini djuga sudah kuringkas kelain tempat. Tinggal Lohu seorang sadja apa jang mesti kukuatirkan? Pendek kata djiwaku jang sudah tua bangka ini biarlah mendampingi sobat lama sampai detik terachir disini."
Makin bitjara makin semangat, mendadak tangannja melolos ke-pinggang, tahu2 sebatang Boan-koan-pit, sendjata adalannja jang sudah lama tak digunakan telah dilolosnja keluar.
Lalu ia meng-gores2 beberapa kali diatas pilar hingga tulisan jang ditinggalkan penjatron itu ditjoret dan tak terbatja lagi.
Melihat ketekadan tuan rumah itu, dengan terharu Kian-liong mendekati dan mendjabat tangannja, katanja.
"Li-tjeng-tju, atas budi kebaikan Li-tjengtju mungkin hidup Wan Kan-liong ini tidak mampu membalas, semoga pada djelmaan jang akan datang dapatlah membalas kebaikanmu ini!"
Lalu kedua orang saling berdjabat tangan dengan erat2, djabatan tangan dua kawan sedjati jang konsekwen menghadapi penjerbu, menghadapi bandit jang se-wenang2.
Sungguh kagum tak terkatakan Kun-hiap menjaksikan betapa gagah kesatria kedua orang tua itu.
Dan pada saat itulah.
tiba2 seorang tjenteng jang masih tinggal mendjaga rumah itu masuk memberi lapor.
"Tjengtju, diluar seorang wanita she Pek minta bertemu,"
"Wanita she Pek?"
Demikian Siu-goan menegas dengan ragu2. ,Ja, dia mengaku sebagai Thay-san-sin-ki!"
Lapor pula sitjenteng.
Kiranja jang dimaksudkan adalah Thay-san-yau-ki Pek Yu-yu.
Orang menjebutnja "Yau-ki", sigenit siluman, tapi ia sendiri suka mengaku sebagai "Sin-ki", siwanita sakti.
Keruan Li Siu-goan dan Wan Kian-liong terkedjut, begitu pula Kun-hiap.
Mereka saling pandang sekedjap dan sama memikir.
Apakah dia penjatro itu?
Segera Siu-goan memberi perintah menjilahkan masuk tetamunja.
Tidak lama kemudian, tjenteng tadi telah membawa masuk Pek Yu-yu dengan lenggang-lenggoknja jang genit menggiurkan.
Siu-goan lantas memapak madju sambil sodja, katanja.
"Kami sudah siap sedia menantikan kedatangan nona Pek! Sebagai sesama orang Kangouw. sebenarnja kita tidak perlu main sembunji2 segala, setiap persoalannja kami siap menghadapi dengan berhadapan."
Pek Yu-yu tampak bingung dan heran, sahutnja.
"Apakah maksud utjapan Li-tjengtju ini, sungguh aku merasa tidak mengarti?"
Tapi belum lagi Siu-goan bitjara lebih djauh, se-konjong2 tjenteng tadi berlari masuk pula dan memberitahu.
"Lapor Tjengtju, ketua Hoa-san-pay dan ketua Djing-sia-pay minta bertemu!"
Sungguh girang Siu-goan tak terkatakan demi mendengar kedatangan dua tokoh itu, mereka ialah Tji-kim-sin-to Njo Hoat dan Thian-go Lodjin.
Kedua tokoh ini terhitung djago kelas satu dari Tjing-pay, golongan jang baik.
Dengan hadirnja kedua tokoh ini, betapapun lihaynja musuh jang akan datang djuga tidak perlu ditakuti lagi.
Maka tjepatan sadja Siu-goan berkata.
"Lekas silakan masuk, lekas!"
Dan segera tjenteng itu berlari keluar untuk mengundang tetamunja.
Sebaliknja Pek Yu-yu mendjadi kuatir, sungguh tjelaka, di-mana2 selalu ketemukan orang jang ingin dihindarinya itu.
Tapi datam keadaan demikian iapun tak bisa tinggal pergi, terpaksa ia harus menghadapi apa jang akan terdjadi nanti.
Tidak lama kemudian tertampak Njo Hoat dan Tfran-go Lodjin telah datang dengan langkah lebar.
Perawakan kedua orang ini hampir sama2 tinggi-besarnja, jang seorang berdjenggot pandjang dan putih sebagai perak, jang lain berewok pekat sebagai duri landak.
Dan belum lagi mendekat, rupanja Njo Hoat sudah melihat keadaan diruangan situ, terus sadja ia berseru.
"Li-lauthau (kakek Li), apa barangkali ada orang hendak bubut bulu garuda mas kau"
Li Siu-goan tersenjum getir, sahutnja. ,Ja, memang ada orang sengadja hendak tjari perkara padaku, kebetulan kedua Lauheng datang kemari, silakan duduk dan sebentar salakan menonton sadja! "
"E-eh, bagaimana kau Bisa bitjara begitu?"
Kata Njo Hoat dengan mendelik.
"Kukira kau bukan lagi garuda emas segala, tapi leb'h tepat disebut seekor elang kondor. Habis, kami sudah datang kedini, masakah kami disuruh menonton segala? Eh, benar tidak Lodjin?"
Njo Hoat adalah seorang berangasan, ditambah lagi persahabatannja dengan Li Siu-goan sangat kekal, sudah tentu ia siap sedia membantu dengan segenap tenaganja bila sahabatnja itu ada kesukaran.
Sebaliknja Thian-go Lodjin adalah seorang pendiam dan pandai berpikir pandjang.
Sedari masuk keruangam situ ia sudah melihat tergesernja kedua yang besar itu, diam2 ia telah terkedjut, sebab itulah ia tidak lantas mendjawab utjapan Njo Hoat tadi.
Ketika dilihatnja Pek Yu-yu sudah berada disitu, seketika air mukanja berubah, katanja.
"Litjergtju, setan ibbs dlkalangan Bulim sekarang bermuntjulan. namamu disini terlalu dikenal, boleh djadi ada sedikit iblis2 gentajangan jang sengadja tjari2 kesini, untuk ini rasanja kau perlu waspada."
Utjapan ini sudah terang ditudjukan kepada Pek Yu-yu.
Keruan jang paling senang adalan Wan Kian-liong, ia sudah pernah ketjundanq ditangan iblis wanita itu, kini ada kesempatan, terus sadja ia ikut ber-olok2.
"Benar, Li-tjengtju, apa jang dikatakan Lodjin memang tepat, terhadap setiap tetamu jang berkundjung kemari, sebaiknja kau berlaku hati kepada segala kemungkinan!"
Sungguh gusar Pek Yu-yu tak terkatakan, tapi toh tjidak berani balas membuka suara, sebab kata2 orang tidak terang2an ditudjukan padanja, bila ia memberi reaksi, itu berarti ia sendiri mengakui dirinja adalah golongan setan iblis jang dimaksudkan itu.
Maka Li Siu-goan hanja terkekek beberapa kali sadja dan tidak menjalakan apa2 lagii, sudah tentu kedatangan Pek Yu-yu itu tidak disukainja, tapi toh orang sudah datang lebih dulu, dengan sendiri-nja tidak mungkin diusirnja lagi.
Dan kalau dia diam sadja.
harapan nja ialah supaja Pek Yu-yu kenal gelagat dan mohon diri sendiri.
Tak terduga Pek Yu-yu tetap diam2 sadja dan duduk ditempatnja.
Sesudah ambil tempat duduk masing2 lalu Tji-kim-sin-liong Njo Hoat mulai mengomel pandjang lebar tentang peristiwa dibenteng kuno jang penuh rahasia itu.
Iapun misuh2 karena telah dipermainkan pengirim surat kaleng itu, bahkan menjesalkan kematian Lui Tay-keh dan Lo Pit-hi tanpa diketahui siapa pembunuh-nja.
Sudah tentu tjerita itu tidak terlalu menarik bagi Wan Kian-liong dan Li Sui-goan karena mereka diluar garis dari kedjadian itu.
Sebaliknja Wi Kun-hiap jang berdiri dibelakang sang Susiok diam2 tergerak hatinja, ada maksudnja hendak memberitahu tentang apa jang diketahuinja.
jaitu bahwasanja sipengirim surat kaleng itu adalah "sipandjang"
Naik keledai jang aneh itu.
Tapi karena dihadapannja adalah tokoh2 persilatan angkatan tua, ia tidak berani sembarangan membuka suara kalau tidak dimintai keterangan.
Dan selagi ia hendak membisiki sang Susiok, se-konjong2 dari djauh diarah tenggara sana berkumandang suara bunji burung kenari jang njaring merdu.
Kitjauan burung kenari itu terang adalah tiruan manusia, malahan Lwekang orang itu tentu sangat tinggi, sebab suara itu berkumandang dari tempat djauh.
Kitjauan burung kenari itu djuga sangat merdu dan terang hingga mirip burung ketjil itu menghinggap dipundak sipendengarnja, seperti burung piaraan jang sudah lulut.
Djika semua orang mendjadi ketarik oleh suara burung jang enak didengar itut adalah Pek Yu-yu jang lantas kelihatan tidak tenteram, air tnukanja berubah dan mendadak berdiri.
Karena semua orang sedang terpesona oleh kitjauan burung kenari jang merdu itu, maka kelakuan Pek Yu-yu itu tidak banjak menimbulkan perhatian mereka.
Selang sedjenak, suara burung kenari itu mendadak berhenti, lalu dari djurusan baratlaut bergema suara kitjauan burung kokokbeluk jang sangat menjeramkan hingga perasaan semua orang ikut gelisah dan pilu.
Lwekang Thian-go Lodjin dan lain2 tjukup tinggi, tapi tanpa terasa merekapun terpengaruh oleh suara burung hantu jang menjedihkan, itu.
Apalagi Kun-hiap jang paling tjetek Lwekangnja, hanja sebentar sadja mata sudah basah terpengaruh suara kokok-ieluk jang menjedihkan itu.
Suara burung hantu itu rupanja membuat Pek Yu-yu mendjadi ketakutan djuga, tiba2 ia berkata.
"Li-tjengtju, maaf, biar kumohon diri sadja!"
Dan tanpa menunggu djawaban tuan rumahnja, terus sadja ia memutar tubuh dan melangkah pergi dengan tjepat.
Sesudah suara burung hantu berhenti, tiba2 dari arah tenggara berbunji pula suara burung lajang2, suara merdu jang' menjegarkan hingga tanpa merasa Kun-hiap tertawa.
Mendengar suara tertawa Kun-hiap itu, Kian-liong menoleh, ia mendjadi heran melihat murid keponakan itu matanja mengembeng air mata.
"Kenapa kau, Kun-hiap?"
Baru ia tanja, tiba2 ia merasa pipi sendiri djuga basah, waktu diraba, ternjata ia sendiri djuga sudah meneteskan air mata.
Keruan ia kaget, tanpa sebab mengapa dirinja telah menangis»?
"Tjelaka, suara burung itu tidak beres!"
Tjepat Kian-liong berseru".
Memangnja Thian-go Lodjin, Njo Hoat dan Li Siu-goan djuga sedang mendengarkan suara burung tadi dengan matjam2 perasaan, tjuma Lwekang mereka tjukup kuat, maka mereka masih dapat menguasai diri.
Ketika mendengar seruan Wan Kian-liong itu, mereka mendjadi tertegun dan merasa suara2 burung itu memang benar ada suatu jang tidak beres Sementara itu suara kitjauan burung lajang2 tadi sudah berhenti, sebagai gantinja dari arah barat-laut tadi berbunji pula suara burung meliwis, suara burung meliwis jang terpentjar dari induk rombongannja, suaranja sedih memilukan, djauh lebih mengharukan daripada suara burung hantu tadi.
Malahan suaranja sekarang kedengaran semakin dekat hingga makin menggetarkan perasaan setiap pendengarnja.
Saking tak tahan, achirnja Njo Hoat berteriak.
"Kawan dari manakah itu? daripada djual suara, disitu, mengapa tidak tundjukkan mukamu sadja!"
Mestinja Li Siu-goan hendak mentjegah Njo Hoat agar jangan menanggapi suara burung aneh itu, tapi sudah terlambat.
Benar sadja, begitu suara Njo Hoat lenjap, segera terdengarlah suara burung geredja jang njaring dan tjepat, suara burung geredja jang me-lontjat2 tjepat dan riuh ribut Se-konjong2 Njo Hoat seperti kesetanan, terus sadja ia berbangkit dan me-nari2 seperti orang gila.
Kalau jang menari itu seorang gadis djelita tentu akan menarik, tapi kini jang menari adaiah seorang laki2 kasar berewok matjam Njo Hoat, keruan tampaknja mendjadi seram dan lutju.
Tjepat Thian-go Lodjin membentak sekali, segera ia ulur sebelah tangannja menahan dipundak Njo Hoat.
Tapi tenaga Njo Hoat selisih tidak djauh dari Thian-go Lodjin hingga orang tua itu tidak dapat menahannja.
Segera Li Siu-goan lantas bertindak djuga, mendadak ia bersuit pandjang sekali sambil melontjat keatas.
"Plak' tahu2 punggung Njo Hoat kena dihantamnja sekali.
Tapi tenaga jang digunakan itu adalah tenaga kosong, djadi hanja keras diluar, tapi tidak luka didalam.
Njo Hoat lantas tergentak madju dan ter-hujung2, dalam pada itu Li Siu-goan dan Thian-go Lodjin berbareng lantas bersuit pandjang dengan keras.
Rupanja Lwekang Li Siu-goan memang kalah kuat daripada Thian-go Lodjin sebab segera suara suitannja lantas tertelan oleh suara suitan Thian-go Lodjin jang lebih keras dan pandjang itu.
Maka Li Siu-goan lantas menghentikan suitannja, segera ia melangkah madju untuk memajang bangun Njo Hoat jang sementara itu mukanja kelihatan putjat dan semangatnja lesu.
"Njo-heng, kau tidak berhalangan, bukan?"
Tanja Siu-goan. Karena itu, Njo Hoat telah menghela napas lega, katanja.
"Ai, apakah aku habis mimpi?"
Siu-goan mendudukan Njo Haot keatas kursi.
Untuk sedjenak ia sendiripun tertjengang, ia tidak tahu orang kosen matjam apakah jang main suara burung itu?
Dalam pada itu Tian-go Lodjin djuga sudah berhenti bersuit.
Suara burung geredja tadipun sudah lenjap sedjak tadi.
Habis itu tiada terdengar pergantian suara burung lain lagi.
Ditengah mangan itu mendjadi sunji sepi, jang terdengar hanja suara pernapasan Njo Hoat jang masih ter-engah2.
Sedjenak kemudian barulah Siu-goan membuka suara.
"Lodjin, apakah Pek-kim-tjin-djin Kongya Tjiau jang telah datang itu?*' Pek-kim-tjindjin Kongya Tjiau, sidewa beratus burung, adalah seorang ahli bahasa burung, ilmu silatnja djuga tinggi, dan aneh-nja setiap gerak-gerik ilmu silatnja itu ditirukannja menurut gaja burung.
Watak Kongya Tjjau sangat aneh dan susah didekati orang, setiap orang Bu-lim jang ketemu dia tentu akan pusing kepala dan mengerut kening.
Tapi Thian-go Lodjin telah mendjawab.
"Kongya Tjiau hanja paham bahasa burung, tapi tidak pernah diketahui bahwa dia djuga dapat menirukan bunji kitjauan burung itu, apalagi suara burung itu terang berkumandang dari tempat beberapa li djauhnja, pula sekali membuka suara lantas Njo-heng masuk perangkapnja, rasa-nja Kongya Tjiau tiada memiliki kekuatan sehebat itu' Siu-goan terkedjut oleh keterangan itu.
"Habis, apakah seorang kosen jang djauh lebih lihay daripada Kongya Tjjau?"
Tapi Thian-go Lodjin diam sadja tanpa mendjawab.
Pada saat itulah baru semua orang mengetahui bahwa sedjak tadi Pek Yu-yu sudah tinggal pergi.
Keruan Njo Hoat dan Thian-go Lodjin agak terperandjat, sebab dengan menggelojor perginja Pek Yu-yu itu tanpa dirasakan oleh mereka, hal ini bukan disebabkan Ginkang Pek Yu-yu jang lihay, tapi adalah lantaran tadi mereka lagi tenggelam didalam pengaruh suara kitjauan burung itu hingga keadaan disekitar mereka itu tak diperhatikan Iagi.
Untuk sedjenak mereka lantas tjelingukan kian, kemari, dan untunglah tiada seoraag asingpun jang kelihatan berada diantara mereka.
",Djangan2 orang jang bersuara burung itu adalah orang jang meninggalkan tulisn diatas tiang itu?"
Demikian pendapat Wan Kian-liong.
Mendadak Li Siu-goan mentjabut keluar sebentuk sendjata jang gemerlapan.
Bentuk sendjata itu sangat aneh, pandjangnja kira2 30 senti, besarnja serupa dengan Boan-koan-pit, udjung sendjata itu mirip tjakar elang mentjengkeram dan sangat tadjam.
Nama sendjata itu adalah "Kimtiau-hoan"
Atau tjakar garuda emas..Karena sendjata itu dapat digunakan menutuk dan mentjakar, djadi serba guna pula Li Siu-goan chusus mejakinkan 72 djurus ilmu permainan Kim-tiau-hoan jang lihay, dari itu ia.
mendapatkan djulukan pula sebagai sigaruda emas.
Sekali Siu-goan mengeluarkan sendjatanja jang istimewa itu, terus sadja ia sambitkan keatas medja hingga udjung sendjata jang berbentuk tjakar itu terus mentjengkeram permukaan medja dengan kentjang.
Pada saat itu djuga tiba2 terdengar angin berkesiur dan tahu2 ditengah ruangan Itu sudah bertambah seorang.
Begitu tjepat datangnja orang itu, pula sebelumnja tiada sesuatu suara atau tanda, maka semua orang mendjadi terkesiap.
Waktu diperhatikan, kiranja pendatang, itu adalah seorang nona djelita.
Dan orang jang pertama kaget adalah Kun-hiap, sebab segera dikenalnja nona, djelita itu tak lain-tak-bukan, adalah "Sam-koh-nio"
Jang telah diketemukan serta telah menggodanja dibenteng kuno jang misterius itu.
Sebenarnja Kun-hiap ingin menjembunjikan diri sadja daripada ketemu lagi dengan nona djahil itu.
Tapi sudah kasip, terpaksa ia tjuma melengos sadja kesamping dengan harapan semoga sigadis tidak memperhatikannja.
Tak terduga nona itu sudah lantas tertawa, katanja.
,.Aha, tak perlu kau pura2 tidak tahu, biarpun kau mengumpet djuga aku sudah melihat kau"
Memangnja semua orang sudah terkesiap oleh datangnya sinona jang mendadak itu, kini mendengar utjapannja jang tak keruan djentrungannja, keruan semua orang tambah bingung.
Segera Siu-goan membuka suara.
"Siapakah nona? Adakah sesuatu keperluanmu datang kemari?"
Tapi sigadis tidak mendjawabnja, sebaliknja, ia mendekati medja dan segera hendak mentjabut Kim Tiau-hoan jang menantjep di-atas medja itu.
Sendjata itu adalah persenjawaan Li Siu-goan, meski, ia tidak tahu apa maksud kedatangan, nona djelita itu, tapi sendjata andalannja itu sudah tentu tidak boleh senmarangan dipegang orang.
Sebab itulah, ketika melihat sinona hendak memegang Kimtiau-hoan itu, tjepat Siu-goan mendahului hendak menahannja.
Dalam dugaan Siu-ggan pasti dia akan lebih dulu memegang sendjatanja sendiri itu, siapa tahu tangannya telah meraba tempat kosong, tahu2 Kim-tiau-hoan itu sudah diambil oleh tangan si nona.
Keruan Siu-goan terperandjat.
sungguh susah dibajangkan hanja dalam sekedjap dan setjepat itu Kim-tiau-hoan sudah djatuh ditangan nona itu.
Dan sesudah tertegun sedjenak, selagi ia hendak membuka suara, tiba2 nona itu sudah berkata.
"He, kiranja barang ini bukan Put-kiu-djin. Tapi buatannja sungguh sangat bagus sekal;!"
Mendengar itu, seketika wadjah Li Siu-goan berubah, apa jang mestinja akan diutjapkan mendjadi urung. Sungguh mendongkolnja tidak kepalang, masakah "Kim-tiau-hoan"
Jang merupakan sendjata andalannja dan disegani kawan dan lawan itu sekarang oleh nona itu dianggap seperti "Put-kiu-djin"
Buatan dari bambu jang, biasanja hanja dipakai untuk menggaruk tempat gatal. Maka dengan muka bersengut iapun mendengus.
"Hm, emangnja kau kira Put-kiu-djin?"
"Eh; kalau bukan Put-kiu-djin, habis apa namanja barang ini? Kukira dapat djuga dipakai menggaruk gatal, bukan?"
Kata pula sinona.
Dan berbareng Kim-tiau-hoan jang dipegangnja itu terus ditjakarkan kemuka Li Siu-goan.
Sudah tentu sama sekali Siu-goan tak menduga akan serangan Sinona, apalagi gerakan nona itupun teramat tjepat, djangankan tidak menduga, biarpun tahu dan hendak berkelit djuga tidak keburu lagi.
Maka tahu2 sinar mengkilap berkelebat, kedua pipinja terasa didjawil pelahan oleh sendjata miliknja sendiri itu.
"Nah, ini namanja 'sendjata mentjium tuan', tahu?"
Demikian terdengar sinona meng-olok2 malah.
Seketika air muka Li Siu-goan berubah putjat pasi, dengan lemas ia mendjatuhkan diri diatas kursinja.
Ia tidak berkata apa2, soalnja.
ia mendjadi putus asa, ia merasa kepandaiannja jang dilatih berpuluh tahun uu kini ternjata sama sekali tak berguna, bahkan dibandingkan sinona masih selisih sangat, djauh.
"Nah, katamu ini bukan Put-kiu-djin?"
Dengan dengan tertawa sinona mengedjek lagi dan mendadak ia tantjapkan kembali sendjata Li Siu-goaa itu keatas medja pula, lalu ia menoleh dan tersenjum genit kepada Kun-hiap jang berada dibelakang Wan Kian-liong itu (Put-kiu-djin = tidak mohon bantuan orang.
Nama benda berbentuk garuk buatan dari bambu atau gading-Gunanja, untuk menggaruk gatal dipunggung atau ditempat lain jang susah ditjapai tangan.) Dasar gadis manis, senjumnja itu benar2 sangat menggiurkan, lebih2 dekik dipipinja dikala tersenjum itu bisa membikin semaput siapapun jang memandangnja.
Tjoba kalau Kunhiap tidak kapok sebelumnja karena pernah digoda, tentu dia akan kesemsem kepada nona tjantik itu, bahkan lekas2 ia melengos kearah lain, ia mendjadi kuatlr malah seperti ketemukan setan iblis jang menakutkan.
Dalam pada itu Wan Kian-liong mendjadi terperandjat djuga demi menjaksikan gerakan sigadis tadi, katanja kemudian mewakilkan tuan rumah.
"Siapakah nona? Sebenarnja ada keperluan apakah kedatanganmu ini?"
"Oooh, kalian masih belum tahu?"
Seru sigadis dengan gajanja jang genit.
"Kedatanganku ini adalah untuk 'timbang terima' barang kawalanmu itu!"
Seketika Wan Kian-liong mendjadi putjat dan tak sanggup membuka suara lagi.
Ia insaf djika betul nona ini jang telah meninggalkan tulisan diatas tiang itu, maka terang barang kawalannja itu susah dipertahankan lagi Disebelah sana Kun-hiap mendjadi murka mendengar maksud nona itu, segera ia hendak mendamperat walaupun insaf dirinja bukan tandingannja.
Namun Thian-go Lodjin sudah keburu mentjegahnja,.
lalu ia menanja.
"Siapa nama nona?"
"Karena Thoan-go Lotjianpwe jang tanja, biarlah kuberitahukan terus terang,"
Sahut sigadis dengan tertawa.
"Aku she Tian, bernama Hui-yan."
Sekilas itu pikiran Th.an-go Lodj'in sudah lantas keliling ke-mana2 untuk meng-ingat2 siapakah gerangan tokoh Bu-lim she Tian jang terkenal itu, baik dan kalangan, Tjingpay maupun dari golongan Sia-pay.
Meski ada djuga satu-dua orang kenalannja she Tian.
tapi ilmu silat mereka hanja biasa sadja, lagipula tiada sama seperti sinona sekarang ini.
Tapi iapun tahu dunia ini terlalu luas, tidak sedikit terdapat orang kosen jang tak dikenalnja.
Maka ia tanja lagi.
"Nona Tian, djadi kedatanganmu ini hendak membikin susah Wan-heng? Tapi kukira waktu jang kau pilih ini agak tidak kebetulan."
"Hihihi, apakah kau maksudkan karena kebetulan kau berada disini?* sahut sinona dengan tertawa. Thian-go Lodjin hanja meng-usap2 djenggotnja jang pandjang itu dan tidak mendjawab.
"Tapi kau lupa, Lotjianpwe,"
Kata pula sinona jang mengaku bernama Tian Hui-yan itu.
"pohon kalau sudah tua tentu keropos, dan manusia jang sudah tua, hihi, rasanja djuga akan lapuk." ,.Hm, rupanja memang benar orang mengatakan banteng tjilik tidak takut harimau,"
Kata Thian-go Lodjin dengan tersenjum tawar."
"Siut" , mendadak Tian Hui-yan menjendal sekali dan seutas sinar perak jang halus mendadak menjambar kemuka Thian-go Lodjin. Saking tjepatnja nona, itu bergerak hingga Thian-go Lodjin sampai tidak tahu sendjata apakah jang digunakan sinona. Hanja terdengar nona itu lantas berseru djuga.
"Biarlah kubeladjar kenal dulu dengan Thian-go Lodjin!"
Tjepat Thian-go Lodjin mendojong kepalanja kebelakang sedikit, berbareng lengan badjunja mengebas hingga djalur sinar perak tadi kena dikurung kebawah. Maka terdengarlah suara "tak"
Sekali, lengan badju Thian-go Lodjin rapat nenutup diatas medja, sedang sinar perak tadi djuga lantas lenjap.
Sebagai gantinja sekarang tertampak djelas ditangan Tian Hui-yan memegang seutas rantai perak sebesar djari, pandjangnja kira 2 satu meter lebih, udjung rantai perak itu tertahan dibawah lengan badju Thian-go Lodjin diatas medja.
Untuk sedjenak kelihatan Tian Hui-yan agak terkedjut, tapi segera ia tenang kembali, lalu rantai perak jarig masih dipegangnja itu sedikit ditekan kebawah.
Karena itu, mendadak udjung rantai perak jang tertutup dibawah lengan badju Thian-go itu melondjak2 hingga mirip ada beberapa ekor tikus jang terkurung dibawah lengan badju itu dan sedang berlari kiian kemari untuk mentjari djalan keluar Sekuat mungkin Tian Hui-yan kerahkan tenaganja untuk menjendal rantainja agar terlepas dari djepitan lengan badju Thian-go lodjin.
Sebaliknja lengan badju Thian-go itu meski benda lemas, tapi kini telah berubah mendjadi benda maha kuat karena saluran tenaga dalamnya.
Beberapa kali Tian Hui-yan menarik dan menjendal hingga udjung rantai dibawah lengan baju itu me-lonjak2 makin hebat, tapi tetap tidak berhasil dilolos keluar dari tindihan lengan badju, Lambat laun pipi Tiari Hui-yan kelihatan mulai bersemu merah, udjung hidungnja jang mantjung itu djuga sedikit berkeringat, suatu tanda bahwa ia sudah tjukup keras mengerahkan tenaganja.
Sebaliknja wadjah Thian-go Lodjin tampak tenang2 sadja, bahkan dengan dingin ia berkata "Nona Tian, sebaiknja lekas kau pergi dari sini sadja?"
Tapi Tian Hui-yan memang tidak gampang disuruh mengalah dengan tersenjum ia menjahut.
"Thian-go Lotjianpwe, urusanku belum lagi selesai, mana boleh akii tinggal pergi begini sadja?"
"Djika kau ngotot tak mau pergi sekarang, mungkin sebentar lagi akan susahlah bagimu untuk pergi,"
Udjar Thian-go Lodjin dengan dingin. Tiba2 Tian Hui-yan mengikik tawa, sekali tubuhnja menarik mundur, mendadak terdengar suara "krak, krak"
Jang keras.
Kira-nja ia telah tarik sekuatnja rantai perak jang ditindih lengan badju Thian-go Lodjin itu, tapi karena tindihan itu terlalu kentjang hingga medja jang mestinja sangat kukuh itu tidak tahan lagi dan patah keempat kakinja.
Dan disaat kaki medja itu sudah patah, mendadak Tian Hui-yan menahan tangannja kebawah.
"siut" , tahu2 rantai perak jang dipegangnja itu disendal kesamping hingga lolos keluar dari bawah lengan badju Thian-go Lodjin. Baru sekarang semua orang dapat melihat djelas bahwa pada udjung rantai perak itu terikat sebuah roda bergigi jang bergigi sangat tadjam. Sungguh sedjenis sendjata aneh jang tidak pernah ter tampak. Dari dimana rantai perak itu menjambar, segera terdengar suara mendesing jang njaring. Air muka Thian-go Lodjin rada berubah karena rantai lawan dapat ditarik lolos, tjepat lengan badjunja mengetes lagi membalik dan dikala rantai perak itu belum ditarik kembali oleh Tian Hui-yan, kembali lengan badjunja dapat melilitnja lagi dengan kentjang. Untuk sedjenak Hui-yan tampak terkesiap, ia tjoba menarik lagi sekuatnja, namun tak bisa terlepas lagi. Segera Thian-go Lodjin menarik lengan badjunja dengan maksud membetot sinona kedekatnja. Menurut perhitungan Thian-go Lodjin, bila sinona sudah terbetot madju, segera lengan badjunja jang lain akan bekerdja lagi untuk membelit badan lawan, dengan demikian nona itu tentu takbisa berkutik lagu sedangkan lengan badjunja itu djuga takkan melukainja, dan ini akan menghindarkan permusuhan lebih mendalam dengan perguruan sinona ja»ag mungkin akan menuduhnja orang tua menghina anak muda. Diluar dugaan, perhitungan ternjata meleset, meski ia sudah menarik, tapi tubuh sigadis tidak lantas ikut terbetot. Keruan Thian-go terkesiap. Meski sudah ditaksirnja ilmu silat nona itu memang sangat tinggi, tapi ia jakin Lwekangnja sendiri pasti lebih kuat daripada lawannja. Siapa tahu tarikannja itu ternjata tidak berhasil membuat sigadis terseret madju, lekas2 ia kerahkan tenaga dalam lebih kuat untuk menarik lagi. Dan kembali ia tertipu lagi, meski dia sudah menarik berlipat lebih kuat, sebaliknja Tian Huiyan sama sekali tidak melawannja, malahan terus membiarkan dirinja terbetot. Sudah tentu Thian-go Lodjin tak menduga akan hal demikian, sedangkan tenaga jang dikerahkan sudah kadung dikeluarkan, keruan badan Tian Hui-yan terus sadja terbetot mentjelat dan menubruk kearahnja. Djika Thian-go Lodjin tinggal diam, maka pasti tubuh sinona akan menumbuk kepalanja, dalam keadaan kelabakan, tjepat Thian-go mendojongkan tubuhkan kebelakang, maka terdengarlah suara "Buk"
Sekali, tokoh jang banjak pengalamannja itu telah hantamkan sebelah tangannya kelantai dari djauh hingga tubuhnja jang setengah terdjengkang itu tidak sampai; djatuh, hal ini berarti tidak sampai membuatnja kehilangan muka didepan orang banjak.
Sebaliknja setjepat angin Hui-yan lantas melajang lewat diatas kepalanja.
Namun begitu, tidak urung rambut Thian-go Lodjin jang sudah beruban itu djuga terkupas setjomot oleh roda diudjung rantai perak jang tadjam itu.
Dan bila kemudian Thian-go Lodjin dapat berdiri tegak lagi, sementara itu sinona djuga sudah melompat beberapa meter djauhnja kesana Lalu ia memutar tubuh dan memberi hormat kepada Thian-go Lodjin, katanja.
"Maaf. maaf!"
Seketika Thlan-go Lodjin terkesima demi melihat setjomot rambut sendiri jang terbawa oleh sendjata nona itu.
Ia tahu.
djika mengadu tenaga dalam, dengan keuletan latihan sendiri jang berpuluh tahun lamanja, pasti sinona tidak mampu melawannja.
Tapi sekarang dia kena diselomoti hingga sinona mendapat kemenangan.
Dengan kedudukan Thian-go Lodjin sudah tentu pertandingan ini harus diachiri sampai disini.
Setelah tertegun sedjenak, kemudian ia menghela napas pandjang.
sekali lengan badjunja mengebas, tanpa bitjara lagi ia terus melesat pergi, dan hanja sekedjap sadja tubuhnja jang tinggi besar itu sudah menghilang diluar sana.
Thian-go Lodjin sudah pergi, ketinggalan orang2 jang masih berada diruangan situ hanja bisa saling pandang sadja dengan kebat-kebit.
"Nah, Thian-go Lodjin sudah kabur, tampaknja Tji-kim-sin-liong dan Li-tjengtju djuga enggan bergebrak dengan aku,"
Demikian kata Tian Hui-yan dengan tertawa.
"Sedangkan luka Wan-sinkiam sendiri rupanja belum sembuh, tampaknja barang kawalan-mu sudah waktunja untuk ditimbang-terimakan kepadaku, bukan?"
"Dan masih ada aku!"
Teriak Kun-hiap mendadak dengan gusar.
"Aha, memang aku telah melupakan Wi-siauhiap djuga berada disini, ah, maaf, maaf!"
Demikian kata Hui-yan.
"Eh, apakah Wi-siauhiap pikir akan mempertahankan 'piau' jang kalian kawal ini?"
Kun-hiap sungkan untuk banjak bitjara lagi, terus sadja pedang Kim-liong-k'iam dilolosnja dan berbareng lantas menusuk kearah sigadis.
Tapi sedikit Hui-yan melangkah mundur, segera rantai peraknya menjendal keatas.
Dan belum lagi Kun-hiap sempat menarik kembali pedangnja, tahu2 pergelangan tangan sudah terasa kentjang, njata telah terlilit oleh rantai perak sinona, bahkan menjusul tubuhnja serasa dibetot oleh suatu tenaga raksasa, orangnja terus melajang seperti terbang keluar ruangan sana.
Wan Kian-liong terkedjut, tjepat ia menubruk madju.
Tapi Tian Hui-yan tidak melawannja lagi, dengan tertawa mengikik ia terus mundur djuga keluar ruangan setjepat meluntjur.
Dengan penasaran Wan-liong memburu, mendadak Hui-yan berhenti diluar sana, katanja dengan tertawa.
"Eh, tidak perlu hantar, tidak perlu hantar!"
Berbareng iapun angkat tangan memberi sodja.
Kontan sadja Kian-liong merasa serangkum tenaga maha kuat menumbuk kedadanja hingga mau-tidak mau ia tergentak mundur beberapa tindak.
Pada saat itulah kebetulan tubuh Kun-hiap jang melajang diudara itu djatuh keatas kepala Tian Hui-yan, dengan mengangkat sebelah tangannja keatas, dengan enteng sadja tubuh Kun-hiap telah disanggah oleh sinona.
Dengan gemas Kun-hiap terus mengajun pedangnja membabat, tapi sedikit menunduk, pedang itu menjambar lewat diatas kepada Tan Hui-yan, sebaliknja pedang itu hampir2 membatjok dibahu sendiri djika Kun-hiap tidak keburu menahannja kembali.
Dengan masih menjanggah tubuh Kun-hiap jang terapung di-udara, berkatalah sinona dengan tertawa.
"Wan-piauthau, tidak perlu kau kuatir, aku tjuma ingin bitjara sedikit dengan keponakan mu ini!"
Saat itu Wan Kian-liong sedang melongo ditempatnja.
Ia telah menjaksikan Thian-go Lodjin jang berpengalaman luas itu djuga kena diselomoti nona djahil itu hingga dalam gusarnja terus tinggal pergi tanpa pamit, tinggal dirinja sekarang apa jang bisa diperbuat?
Terpaksa ia menjaksikan Kun-hiap digondol pergi sinona.
Sambil tetap mengangkat tubuh Kun-hiap dengan sebelah tangan, Tign Hui-yan terus berlari kedepan setjepat terbang.
Anehnja meski Kun-hiap tjoba meronta dan berusaha melepaskan diri tapi sedikitpun tak berdaja, rupanja bagian Hiat-to tertentu didada kena ditjengkeram tangan sinona hingga tenaga susah dikerahkan.
Saking murkanja achirnja Kun-hiap mendjerit.
"Kau hendak mengapakah diriku?"
"Tidak apa2, hanja ingin bitjara sedikit dengan kau,"
Sahut Hui-yan.
"Lepaskan aku!"
Teriak Kun-hiap pula.
"Baik!"
Sahut sinona.
Sama sekali tak diduga Kun-hiap bahwa sekali nona itu bilang baik lantas benar2 dia dilepaskan.
Maka ia mendjadi kesima malah ketika tubuhnja sudah menegak kembali diatas tanah.
Setelah ter-mangu2 sedjenak achirnja ia menegur sambil simpan kembali pedangnja.
"Nah. kau ingin bitjara apa?"
"Se............ sebenarnja djuga tiada apa2,"
Sahut Hui-yan dengan ter-senjum2.
Sungguh dongkol Kun-Wap tak terkatakan.
Ia tahu djawaban sinona itu memang bukan omong kosong, sebenarnja tiada sesuatu apa jang hendak dibitjarakan sinona padanja, sebabnja dia ditjulik dan mengatjaukan Li-keh-tieng, maksud sinona hanja melulu hendak menggoda dirinja sadja.
Tentu tidak terpik.r oleh nona -itu bahwa gara2 perbuatannja itu, perasaan Li-tjengtju telah dilukai, Njo Hoat terdjungkal dan Thian-go Lodjin mungkin seterusnya malu untuk muntjul lagi didunia persilatan, semuanja itu adalah karena pikiran iseng sinona jang djahil itu.
Karena itu, dengan mendongkol Kun-hiap menjemprot.
"Djika tiada apa2, untuk apa kau membawa lagi aku kesini ?"
"Sebenamja tiada............
tiada apa2, tapi.........
tapi rasanja toh ada djuga sedikit urusan' sahut Hui-yan dengan gaja jang genit.
Kun-hiap mendjadi serba runjam menghadapi gadis nakal itu.
Ia dengar Tian Hui-yaa berkata pula.
"Eh, bukankah sebelum meninggal Lo-sioksiok telah pesan padamu agar suka mentjarikan seorang? Mengapa kau tidak melaksanakan pesannja itu?"
"Dia tidak menerangkan, siapa jang harus ditjari, bagaimana aku bisa mentjarikan orangnja itu?"
Sahut Kun-hiap dengan muka ber-sengut.
"Tap. aku djusteru tahu siapa gerangan jang hendak ditjari Lo-siok-siok itu?"
Udjar Hui-yan dengan tertawa.
"Siapa dia?' tanja Kun-hiap.
"Sebelum meninggalnja Lo-siokslok, menurut tjeritamu, dia telah menuding lukisan diatas dinding itu, bukan?"
Tanja Hui-yan.
"Dan aku jakln pasti itulah orang jang dia maksudkan."
"Lukisan itu adalah diriku!"
Teriak Kun hiap.
"Kau? Apakah kau pernah dilukis oleh Hoan Su-tjay, Hoan-tayhiap?"
Tanja Hui-yan dengan mendjengek.
Kun-hiap tertegun oleh pertanjaan itu.
Memang benar, selamanja ia tidak pernah dilukis oleh Hoan Su-tjay, sedangkan kenal sadja belum dengan pelukis kenamaan itu.
Tapi mengapa didalam benteng kuno itu terdapat gambar dirinja jang djelas tertera tanda tangan pelukisnya adalah Hoan Su-tjay.
Kun-hiap termenung sedjenak, pikirannja mendjadi kusut.
Tian Hui-yan lantas berkata pula.
"Orang jang dilukiskan itu sudah tentu bukan kau sendiri, tapi pasti sangat erat sangkut-pautnja dengan dirimu ja, boleh djadi adalah kakakmu."
"Omong kosong!"
Kata Kun-hiap.
"Atau barangkali adalah ajahmu,"
Kata Hui-yan lagi. Kun-hiap mendjadi gusar, bentaknja.
"Djangan kau sembarangan mengoceh! Bagaimana matjam ajahku, masakah aku tidak dapat mengenalnja?"
Mendadak Tian Hui-yan ketawa ter-kikik2, kemudian berkata pula.
"Eh, bisa djadi ibumu telah kawin lagi dan kau adalah anak tiri ajahmu sekarang dan kau sendiri tidak tahu........."
Belum habis utjapan Tian Hui-yan itu.
saking tidak tahan lagi Kian-hiap sudah mendjerit.
Tjepat sekali pedang Kim-liong-kiam lantas menusuk kedepan.
Tapi Tian Hui-yan masih tetap ketawa, tanpa menggeser sedikitpun, namun dengan gaja jang indah dan tepat tusukan itu telah dapat dihindarkan.
Kun-hiap tahu tidak mampu menangkan nona itu, maka ia tarik kembali pedangnja, ia putar tubuh terus tinggal pergi.
"He, he! Tunggu!"
Tiba2 Tian Hui-yan, berseru. Tapi Kun-hiap tidak menggubris. Maka sinona berkata lagi.
"Ja, dah, anggap omonganku tadi salah, maaf, ja?"
Namun Kun-hiap tetap tidak mendjawabnja dan masih berlari kedepan. Tapi suara sigadis djusteru masih tetap terdengar kira2 satu-dua meter dibelakangnja, tiba2 terdengar gadis itu berkata lagi.
"He, gimana sih kau ini? Apa kau tidak ingin mentjari keterangan se-djelas2nja kepada Hoan Su-tjay?"
Tapi Kun-hiap masih tidak peduli.
Ia pikir berdebat kalah, berkelahi tidak menang, hendak melepaskan diri dari godaannya djuga susah, ia tidak tahu tjara bagaimana harus menghadapi nona itu.
Sementara itu telah sampai disuatu djalan simpang tiga, tanpa pikir Kun-hiap terus biluk kekiri.
"He, he! Salah! Kerumah Hoan Su-tjay harus biluk kekanan,"
Seru sinona pula dari belakang. Kun-hiap mendjadi geregetan, mendadak ia berteriak.
"Siapa mau pergi kerumah orang she Hoan itu?"
"Bukankah kau?"
Sahut Tian Hui-yan dengan tertawa.
Dan belum lagi Kun-hiap bersuara lagi, se-konjong2 serangkum angin menjambar kepundaknja.
Tjepat Kun-hiap mengegos, tapi tidak keburu lagi, tahu2 ia merasa punggungnja sudah ditjengkeram sigadis terus dilemparkan kesana.
Ternjata lemparan itu tepat sekali, Kun-hiap djatuh tegak ditengah djalan sisi kanan sana, berbarenn terdengar lagi sinona berkata.
"Hajolah, djalan!"
Saking gusarnja Kun-hiap lantas ngambek, ia sengadja berdiri terus disitu takmau bergerak.
"He, kenapa tidak djalan?"
Kata Hui-yan lagi dari belakang.
"Apakah kau perlu digiring seperti orang menggiring bebek?"
Tapi Kun-hiap semakin bandel, ia pikir aku djusteru tidak mau djalan, tjoba tjara bagaimana kau bisa menggiring aku.
"Plak,"
Mendadak bokongnja kena didepak sekali dan "Wi-tiong-hiat"
Dibagian belakang dengkul terasa linu, tanpa kuasa ia terus berlari kedepan sampai belasan langkah djauhnja.
Dan baru dia berhenti, tahu2 depakan kedua sudah kena pula, maksud Kun-hiap hendak membangkang untuk berdjalan, tapi "Wi~tiong-hliat."
Dibagian dengkul itu tahu2 tergetar hingga kedua kaki bekerdja sendiri dan berlari kedepan pula.
"Nah, ini namanja giring bebek, tahu?"
Demikian didengarnya suara Hui-yan jang njaring itu lagi berkata dibelakangnja.
"Apakah kau mau djalan sendiri atau perlu digiring terus, boleh kau pilih" . Sungguh gemas Kun-hiap tidak terkatakan, tapi serba susah djuga. Untunglah disitu sunji sepi, tapi sebentar lagi djika sampai didjalan besar, kan tjelaka kalau kelakuannja itu dilihat orang? Maka ketika sinona mendepaknja lagi, ber-ulang2 Kun-hiap memutar pedangnja dan memukul dengan sebelah tangannja ke-belakang. Tapi pertjuma, sedikitpun tidak berguna, la tetap dipermainkan tanpa berdaja. Ketika dada Kun-hiap benar2 sudah hampir meledak, dengan kalap ia mengajun tangannja kebelakang dengan maksud memaksa sinona tidak berani mendekat. se-konjong2 ada sesuatu jang kena ditangkapnja. Itulah dia sebuah tangan jang empuk. Dengan tenaga tarikan itu hingga Kun-hiap dapat, memutar balik, terus sadja pedang ditangan lain terangkat, segera ia bermaksud membatjok keatas kepala sinona jang djahil itu, kalau menuruti perasaan gemasnja pada waktu itu, ia benar2 ingin, mentjintjang badan Tang Hui-yau hingga hantjur luluh Tapi ia msndjadi tertegun ketika dilihatnja gadis itu diam sadja tidak melawan, bahkan matanja setengah terpedjam mukanja senjum-tak-senjum, pipinja ke-merah2an. Sedjenak kemud.an, barulah Tian Hui-yan membuka matanja lebar2 dan menatap Kun-hiap dengan tadjam. Kemudian iapun tertawa demi melihat sikap sipemuda jang serba runjam itu. Katanja.
"Aku tahu kau takkan tega membunuh aku. Habis, memangnja kenapa?"
Kun-hiap tertegun sedjenak pula, kemudian iapun kipatkan tangan sigadis. katanja dengan marah2.
"Nona Tian. rasanja kau-pun sudah tjukup mempermainkan aku. sekarang aku hendak kembali ke Li-keh-tjeng, kuharap kau djangan menggoda aku lagi."
"Bukankah kau mesti pergi kerumahnja Hoan Su-tjay?"
Kata sinona sambil mengerut alis. Kun-hiap mendjadi gusar pula, sahutnja ketus.
"Kemana aku harus pergi, masakah aku sendiri tidak tahu?' Tiba2 Hui-yan melengos kesamping sambil memain udjung badjunja, lalu katanja.
"Sebenarnja maksud tudjuanku adalah demi kebaikanmu."
"Djika untuk kebaikanku, paling baik ialah lekas kau tinggalkan aku,"
Seru Kun-hiap.
Belum lenjap suara Kun-hiap, tiba2 dari sana terdengar suara kaki binatang jang berlari kemari, seekor keledai dengan penunggangnja jang bertubuh amat tinggi sedang mendatangi setjepat angin.
Sesudah dekat, mendadak orang aneh itu mendjulurkan tubuhnja kehadapan Kun-hiap dan berseru.
"Ha, kembali kau botjah ini Serupa bapakmu, selalu suka menggoda wanita, ja?"
Orang aneh itu bukan lain adalah sipandjang, badan pandjang, leher pandjang, tapi kepala ketjil jang pernah ditimpai Kun-hiap sebelumnja itu.
Dari apa jang telah didengar, diketahui pula sipandjang ini, adalah orang djahil jang telah mengirim surat2 kaleng untuk mengundang para djago silat supaja berkumpul di Koh-po itu.
Kini setelah ketemu pula, datang2 orang aneh Itu lantas mengutjapkan kata2 jang tidak keruan djentrungannja hingga membuat Kun-hiap bingung.
Kemudian tubuh orang aneh j»ang pandjang itu menegak lagi.
"Kenapa Tjianpwe sembarangan omong dan menghina nama baik ajahku?"
Demikian Kun-hiap lantas menjemprot.
"Ha,"
Kembali orang itu berseru dan badannja merodok kedepan lagi hingga hampir saling tjium dengan Kun-hiap. Lalu sahut-nja dengan tertawa.
"Kau kira ajahmu itu kutu busuk matjam apa? Biarpun aku memakinja dengan kata2 jang lebih kotor djuga pantas. Huh, kau tahu apa?"
Memangnja Kun-hiap lagi kemeropok karena sedjak tadi digoda sinona dan belum lagi terlampias, sekarang datang2 orang aneh itu meng-olok2 ajahnja setjara semberono, keruan ia tambah dongkol, ia melangkah mundur setindak terus tuding hidung orang aneh jang tubuhnja masih merodok seperti angsa hendak menjosor itu dan mendamperat.
"Kalau bitjara, hendaklah pikir dulu, tahu?"
Orang aneh itu melengak sedjenak. Tapi mendadak ter-bahak2.
"Hahahaha! Aneh bin adjaib! Geli bin lutju! Kau anak tengik ini bersok aksi dihadapanku? Eh, emangnja kau kira ajahmu itu seorang djantan? Nah, tjoba kau tjeritakan."
"Nama baik ajahku berkumandang di mana2, siapa orangnja jang tidak kenal?"
Teriak Kunhiap dengan murka.
"Keliru satu huruf didalam utjapanmu itu, jang benar ialah nama busuknja berkumandang ke-mana2,"
Udjar orang aneh itu.
"Ngatjo, kau berani menghina Kim-liong-kiam-khek Wi Ki-thian?"
Bentak Kun-hiap.
"Haaa?"
Mendadak orang itu berseru kaget.
"O, kiranja ibumu kawin lagi, kau adalah anak bawaan ibumu!"
Sungguh gusar Kun-hiap tak terkatakan.
Ia pikir orang aneh ini kiranja adalah sedjalan dengan Tian Hui-yan, kembali dirinja kena dipermainkan lagi.
Teringat sigadis, ia tjoba melirik kearahnja, ia lihat waktu itu Hui-yan berdiri mungkur dibawah pohon sana tanpa bergerak.
Kun-hiap sangat heran, bukankah nona itu paling suka bikin onar, kenapa sekarang diam2 sadja dan berubah begitu alim?
Melihat Kun-hiap tidak bersuara, kembali sipandjang berkata pula.
"Ha, selama hidup ajahmu paling suka merebut anak bini orang lain, kenapa achirnja dia punja isteri djuga kena direbut orang? Nah, tjoba katakan apa sebabnja?"
Sedapat mungkin Kun-hiap tadi telah menahan perasaannja biar pun nama baik ajahaja ditjemarkan.
orang aneh itu, tapi kini nama baik ibunja djuga dihina.
Ia benar2 tidak tahan lagi, sambil membentak sekali, terus sadja telapak tangannja hendak menempiling orang itu.
Akan tetapi baru sadja tangan itu terangkat, mendadak "Djiok-tik-biat"
Disiku tangan itu terasa kesemutan dan tidak kuat diangkat lagi.
Dipihak lain rupanja, orang aneh itu djuga tjuma meng-olok2 Kun-hiap sadja dan tiada maksud meladeni lebih lama, maka sesudah berkata lagi, sambil ter-bahak2 ia terus larikan keledainja, suara "keteprak-keteprak"
Kaki binatang itu dalam sekedjap sadja sudah mendjauh. Tiba2 terdengarlah suara orang aneh itu berkumandang dari djauh.
"Nak, djanganlah kau mengingkari anak dara itu. Kalau bitjara serobabat, kalian berdua memang setimpal."
Mestinja Kun-hiap hendak balas mendmperat, tapi orang itu sudah pergi djauh. Terpaksa ia hanja memaki sadja.
"Gila!"
"Untunglah dia sudah pergi!"
Tiba2 Tian Hui-yan membuka suara. Tampaknja nona djahil ini agak djeri kepada orang aneh tadi. Kun-hiap tertjengang sedjenak, tapi ia lantas meng-olok2.
"Hm, djadi ada kalanja kaupun takut kepada orang, ja?"
Namun Hui-yan telah mengundjuk muka setan padanja, lalu menjahut.
"Huh, kau kira hanja kau jang berani? Tadi djiwamu sudah hampir melajang kau tahu tidak?"
"Hm, ngatjo!"
Djengek Kun-hiap.
"Ai, ai, tjelaka! Sudah ditolong malah balas dengan pentung! Benar2 tidak kenal maksud baik orang"
Seru Hiu-yan dengan uring2an. Kun-hiap mendongkol melihat lagak sinona, sahutnja.
"Huh, sudah menggoda orang setengah mati, sekarang mengaku sebagai penolong Emamgnja dimana kau telah menolong aku?"
"Eh, kau tidak pertjaja?"
Kata sigadis.
"Bukankah tadi kau telah angkat tanganmu hendak memukul orang aneh itu? Hm, tjoba kalau aku tidak tutuk Hiai-to ditanganmu hingga pukulanmu tidak djadi diteruskan, kalau tidak, tentu kau sudah kena pukul dia!'* "
Ja, djusteru aku hendak memukul dia,"
Kata Kun-hiap.
"Dan djiwamu sekarang tentu sudah melajang,"
Sahut sinona.
"Hendaklah diketahui bahwa orang ini terkenal sebagai dipukul tidak pernah membalas. Tapi bila pukulanmu mengenai badannja, maka tenaga 'Sam-yang-tim-gi didalam tubuhnja tentu akan bekerdja dan seketika kau bisa binasa kena tenaga dalamnja jang lihay itu" . Mendengar istilah ''Sam-yang-tjin-gi"
Atau hawa murni tiga susun positip, seketika air muka Kun-hiap putjat dan tidak dapat bitjara lagi. Setelah terkesima sekian lamanja barulah ia dapat menegas.
"Apa benar Sam......... Sam-yang-tjin-gi?"
"Sudah tentu benar,"
Sahut Hui-yan.
"Djadi....... djadi dia ini tadi, orang jang naik keledai ini adalah tokoh nomor satu diluar Tjing-pay dan Sia-pay, itu Totju (pemilik pulau) Bek-hun-to dilaut selatan. Koaon Sam-yang adanja?"
Demikian Kun-hiap menegas lagi dengan suara gemetar.
"Memangnja kau kira siapa dia?"
Balas Hui-yan.
"Dia berdjuluk 'Eng-put-hoten-djiu' (selamanja tidak pernah balas tangan), sebab dia tidak pernah balas serangan orang biarpun dia sendiri malah kena dihantam."
Kun-hiap ter-mangu2 sedjenak, diam2 ia pikir djika orang aneh tadi memang betul adalah Koan Sam-yang jang tersohor itu, maka Hui-yan tadi memang betul telah menolong djiwanja.
Ia pandang.
Sigadis dengan maksud hendak berkata apa2 sebagai tanda terima kasih, tapi demi teringat sepandjang djalan dirinja telah dipermainkan, maka Kun-hiap mendjadi tidak sudi.
"Nah, bagaimana, sekarang kau pertjaja tidak? Mengapa kau mendjadi ketakutan djuga?"
Kata Hui-yan.
"Kenapa aku harus takut?"
Sahut Kun-hiap."
Aku malah tahu bahwa orang jang mengirim surat kaleng mengundang beberapa djago silat untuk berkumpul di Koh-po itu tak-laintak-bukan adalah dia."
"Dia? Dia siapa? Kau maksudkan Koan Sam-yang?"
Mendadak Hui-yan berdjingkrak.
"Wah, djika begitu, bagus sekali! Hajo lekas kita berangkat!"
Seru Hui-yan. Habis itu, mendadak ia melompat madju, ia tarik tangan Kun-hiap terus diadjak berlari pergi.
"He, he! Nanti dulu! Hendak kemana?"
Kun-hiap menegas dengan gugup.
"Tidak perlu tanja, pendek kata kau ikut sadja, tentu akan membawa manfaat bagimu' sahut Hui-yan sambil menarik terus.
"Manfaat apa? Aku tidak pingin! Lekas lepas tangan!"
Seru Kun-hiap pula. Namun sigadis anggap tidak dengar sadja, ia tetap seret Kun-hiap dan dilarikan setjepatnja kedepan.. ---ooo0dw0ooo--D
Jilid ke-3 Ringkasan tjerita jang lalu.
Sesudah mengalami kedjadian2 aneh dtbenteng kuno, dimana terdapat sebuah lukisan jang mirip dirinya kemudian Kun-hiap telah digoda sepandjang djalan oleh seorang nona jang disebut sebagai Tian Hui-yan alias Sam-kohnio dan menolongnja pula ketika Kun-hiap bermaksud melabrak seorang ianeh jang menunggang keledai.
Habis itu Kun-hiap diseret oleh Sam-kohnio jang hendak mengadjaknja pergi mentjari Hoan Su-tjay.
Begitulah Kun-hiap mendongkol luar biasa karena dirinja diseret begitu sadja seperti anak ketjil jang bandel.
Akan tetapi, apa daja?
Untuk melepaskan diri tidak dapat, untuk melabrak orang djuga tidak ungkulan.
Maka terpaksa ia hanja pasrah nasib sadja, seperti kerbau jang ditjotjok hidungnja ia hanja menurut sadja kemana ia hendak dibawa pergi nona itu.
Sampai magrib, achirnja mereka sampa* disuatu kota ketjil, mereka mentjari suatu rumah makan untuk tangsal perut dan sekalian untuk menginap.
Tapi belum lagi selesai mereka isi perut, tiba2 terdengar suara kaki binatang ber-detak2 diluar sana, me-njusul bajangan seorang jang djangkung tampak melompat turun dari seekor keledai.
Tiba2 air muka Tian Hui-yan berubah hebat, tjepat ia tarik Kun-hiap dan menjelinap kedalam kamar.
Kiranja orang jang datang itu bukan lain adalah siorang aneh berleher pandjang dan berkepala ketjil, Koan Sam-yang adanja.
Kun-hiap sendiri tidak tahu mengapa nona jang biasanja nakal itu mendjadi begitu ketakutan kepada tokoh aneh itu.
Namun ia sendiripun tidak ingin tjari penjakit, maka ia hanja menurut sadja diseret masuk kedalam kamar.
Hui-yan melelet lidah dan perlihatkan muka badut jang di-buat2 kepada Kun-hiap, lalu memberi tanda agar djangan bersuara sambil menuding keluar kamar.
Keruan Kun-hiap.
serba runjam menghadapi nona djahil itu, ia hanja tersenjum ketjut dan atjuh-tak-atjuh.
Sementara itu Koan Sam-yang sudah melangkah masuk kedalam hotel merangkap rumah makan itu.
Terdengar ia berteriak memanggil pelajan dan memesan daharan, lalu minta disediakan pula sebuah kamar besar.
Tjelaka pikir Hui-yan, kenapa tokoh aneh itu setjara kebetulan djuga hendak menginap dihotel ini.
Terpaksa ia.
tak berani sem-barangan bergerak saimbil mengerut kening.
Sjukurlah tidak antara lama, selesai dahar, lalu Koan Sam-yang kembali kekamarnja sendiri jang dipesannja itu.
Baru sekarang.
Hui-yan.
merasa lega.
Mestinja ia hendak segera berangkat sadja dan tidak djadi menginap disitu.
Tapi mendadak timbul pula pikirannja jang djahil.
Segera ia duduk tenang untuk mengumpulkan semangat.
Sudah tentu jang.
tidak sabaran adalah Kun-hiap, beberapa kali ia ingin menegur nona itu, tapi urung, ia kuatir suaranja akan membikin ribut sinona sehingga diketahui pula oleh Koan Sam-yang.
Maka sedapat mungkin ia mengawani didalam kamar itu dengan rasa mendongkol.
Kira2 beberapa djam kemudian, achirnja tampak Hui-yan membuka matanja dan beroangkit dari tempat duduknja.
Katanja kepada Kun-hiap tiba2.
"Aku akan keluar sebentar, kau boleh tidur sendiri disini, tapi awas, djangan tinggal pergi sendiri, kau harus tunggu aku, besok pagi2 kita akan berangkat bersama."
Kun-hiap tidak mendjawab, tapi djuga tidak membantah.
Ia hanja tersenjum ewa sadja .sambil menjaksikan nona itu menjelinap keluar dari kamar sesudah tjelingukan dulu kian kemari seperti maling kuatir konangan, lalu nona.
itu berdjalan.
keruagan belakang dengan berdjindjit2.
Diam2 Kun-hiap tahu tempat Jang akan ditudju Hui-yan itu tentu adalah kamarnja siorang aneh, Koan Sam-yang.
Kelihatannja nona itu sangat djeri kepada, tokoh aneh itu;, tapi toh tetap djahil dan berani mengintai .kekamarnja.
Kun-hiap duduk ter-menung2 sedjenak dan masih tidak terdengar kembalinja Hui-yan, tiba2 hati Kun-hiap tergerak, ia pikir kalau sekarang tidak tinggal pergi mau tunggu kapan lagi?
Maka tjepat ia bebenah seperlunja, ia membuka daun djendela dan melompat keluar terus tinggal pergi melalui pintu belakang hotel itu.
Sesudah sampai didjalan raja dan tetap tidak kelihatan baja-ngan Hui-yan, barulah ia menghela napas lega.
Segera ia angkat langkah lebar dan menudju keluar kota.
Diam2 ia berharap lebih baik Hui-yan jang mengintip siorang aneh itu telah dipergolki se-hinnga dibekuk, dengan demikian dfirinia akan terhindarlah unhrk seterusnja dari godaan nona nakal itu.
Ia berdjalan terus dengan tjepat, ia taksir sedikitnja sudah 30 li djauhnja, tapi bajangan Hui-yan tetap tidak kelihatan mengedjar, maka ia mulai melambatkan langkahnja kedepan.
Sementara itu sudah lewat tengah malam.
Terpaksa ia mentjari suatu tempat menginap-darurat, ia lihat ditepi djalan banjak terdapat pepohonan, ia berhenti disitu untuk mengaso, ia duduk sambil ber-sandarkan pohon dengan tidur2 ajam untuk melewatkan, malam itu.
Sesudah terang tanah, segera ia melandjutkan perdjalanan lagi.
Sekarang ia benar2 puas dan lega, ia merasa dirinja telah bebas dan dapat pergi kemana ia suka.
Ia pikir sekarang harus mentjari Wan-susiok lebih dulu untuk kemudian akan pulang dan iapor kepada ajahnja tentang pengalamannja itu.
Tengah Kun-hiap ngelamun sendiri, tiba2 dari atas pohon jang baru sadja dilaluinja itu melajang turun sesuatu benda, menjusul, belum lagi Kun-hiap sempat menoleh untuk memperhatikan apa jang terdjadi, tahu2 pundaknja terasa dipegang oleh sebuah tangan.
Keruan kaget Kun-hiap tidak kepalang.
Tapi sekilas pikir segera ia mendjadi gusar.
Dengan, suara keras ia terus mendamperat.
"Nona Tian, sebenarnja apa jang kau kehendaki, mengapa kau terus menggoda diriku?"
"Nona Tian?"
Mendadak suara seorang menegas utjapan Kun-hiap itu.
Njata, dari suaranja itu terang bukan Hui-yan seperti dugaan Kun-hiap semula, dari nada suaranja terang adalah seorang laki2 setengah umur.
Maka tahulah Kun-hiap bahwa dirinja telah salah sangka, tjepat ia berpaling.
Benar djuga, segera dilihatnja dihadapannja berdiri seorang laki2 berewok setengah umur, perawakkannja pendek ketjil.
Ka)au melihat mukanja jang gagah itu seharus-mempunjai badan jang tinggi besar, tapi tubuh laki2 ini djusteru lebih pendek malah daripada Wi Kun-hiap sehingga kelihatan-nja sangat djanggal.
Lapat2 Kun-hiap merasa muka orang seperti sudah pernah dikenalnja, tjuma seketika tidak ingat.
Iapun tidak ingin ijari perkara pada orang, maka segera ia berkata.
"O, maaf, aku telah salah mengenali orang.'' Tiba2 orang itu tertawa dengan suaranja jang aneh, seperti bebek. Lalu katanja.
"Salah mengenali orang adalah kedjadian biasa, tapi salah sangka aku sebagai seorang nona, inilah jang menggelikan!"
Kun-hiap mendjadi djengah djuga, tjepat ia memberi pendje-lasan.
"Soalnja ........, soalnja ada seorang nona Tian jang selalu berkelakar dan, suka menggoda diriku, makanja sebelum melihat muka tuan kukira jang memegang pundakku tadi adalah nona nakal itu."
Kembali orang itu tertawa dengan suaranja jang serak2 bebek, lalu serunja.
"Wah, bagus!
Ada seorang nona jang selalu menggoda kau, wahai, sobat, redjekimu ini benar2 sangat besar!'* Kun-hiap mendjadi serba runjam, untuk sedjenak ia mendjadi bingung jara bagaimana harus memberi pendjelasan.
Achirnja ia berkata.
"Ah, djanganlah sobat bergurau."
"Masakah bergurau"
Orang itu mengulangi.
"Apa salah omongan,ku? Atau mungkin nona lah seorang nona sedjelek siluman suka padanja?"
Kun-hiap menggeleng kepala sahutnja .
"Tidak nona itu sangat tjantik, ja, bahkan' sangat menggiurkan." ,.Nah, djika begitu, bukankah redjekimu sangat besar, mengapa bilang aku bergurau?"
Udjar orang itu.
"Sedangkan orang iain menguber gadis susahnja seperti memburu roket, tapi sekarang kau jang diburu sigadis malah merasa tidak senang?"
Kun-hiap hanja geleng2 kepala sadja, seketika ia .mendjadi susah untuk memberi pendjelasan. Maka !aki2 berewok itu berkata lagi.
Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 4
Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 10