Eps 6 Rahasia Iblis Cantik - Gu Long
Baca online Rahasia Iblis Cantik - Gu Long
Cersil Rahasia Iblis Cantik - Gu Long.
Di malam yang begitu pekat dari luar jendela tiba-tiba ada sehelai kertas yang melayang masuk ke dalam kamar, dan berhenti di depan Liu He-ting!
Begitu Liu He-ting membaca isi kertas itu, dia mersa sangat kaget dan segera berdiri, dia berlari ke depan jendela, lalu membentak.
"Siapa kau?"
Di luar jendela terlihat hujan mulai turun, hujan yang terbawa angin menerpa jendela kertas itu dan kertas yang baru ditempel tampak basah.
Tidak ada seorang pun di luar sana.
Liu He-ting ingin meloncat dan keluar tapi dia membalikkan kepalanya dan melihat Tao Chun-chun, akhirnya dia mengurungkan niatnya.
Dia kembali membaca isi kertas itu tangannya yang terlihat kuat tampak gemetar.
Kertas surat itu berwarna putih, tertulis dengan kaligrafi yang indah, dan berisi.
"Apakah kau ingin tahu identitas istri yang baru kau nikahi itu? Apakah kau ingin menolong Jiang Su Hu Qiu, dari keluarga Xi Men? Apakah kau ingin melepaskan diri dari kesengsaraan ini? Kalau begitu kau harus datang ke Jiang Su Hu Qiu, keluarga Xi Men, di belakang kebun di sebelah barat, di luar dinding, terikat seekor kuda yang bisa melakukan perjalanan jauh, asalkan kau mengikuti jalan besar lalu mengambil jalan ke selatan, di sepanjang jalan itu pasti ada orang yang bisa membantumu mengganti kuda! Bila dalam waktu 1 hari kau bisa tiba di Jiang Su Hu Qiu, kau akan menemukan sebuah rahasia yang membuatmu bahkan tidak akan mem-percayainya, dan kau bisa menolong keluarga Xi Men, dan kau pun bisa terlepas dari keadaan yang menyiksa ini, kalau tidak.... hidup dan mati dirimu, kau sendirilah yang bisa menentukannya. Kau harus cepat berangkat, aku tidak bisa menyertaimu!"
Di bawah surat itu tidak ada tanda tangan, juga tidak tertulis tanggal, dengan rasa terkejut Liu He-ting membaca habis isi surat itu.
Gemetar di tangannya semakin hebat, dengan bingung dia kembali lagi ke tempat duduknya, wajah Tao Chun-chun tetap pucat dan kesakitan!
"Siapa yang menulis surat ini?
Apakah kata-kata di dalam surat ini adalah kenyataan?"
Liu He-ting tidak bisa menjawab pertanyaan ini, baginya sekarang ini hal yang terpenting adalah.
"Apakah aku harus mengikuti petunjuk dalam surat ini? Lalu segera pergi ke Jiang Su Hu Qiu?"
Apa yang terjadi beberapa waktu lalu, mengingat kembali sifat Tao Chun-chun yang terus berubah....
identitasnya yang tidak jelas...
sakit parah yang tiba-tiba....
Gadis berbaju hijau yang tiba-tiba menghilang di jalan rahasia bawah tanah....
botol-botol kecil yang berisi darah dan rambut manusia dan igauan Tao Chun-chun pada saat dia sedang tidak sadarkan diri....
Liu He-ting segera berdiri, semua alasan tadi membuatnya ingin segera pergi ke Jiang Su Hu Qiu, dia membalikkan kepalanya untuk melihat Tao Chun-chun, wajahnya yang cantik tampak kesakitan, dia merasa sangat sayang kepada Tao Chun-chun, dia berkata.
"Aku tidak boleh pergi dari sini, aku harus melindunginya! Walau bagaimanapun dia adalah istriku!"
Dia terus mengulang kata-kata itu.
"Walau bagaimanapun dia adalah istriku, dia adalah istriku!"
Sewaktu dia sedang mabuk di penginapan, dia telah membuat kesalahan tapi menimbulkan perasaan hangat di dalam hatinya.
Sekarang timbul perasaan manis dan juga merasa malu.
Waktu itu diam-diam dia membuka kain merah yang menutupi wajah Tao Chun-chun, lalu melihat wajahnya yang merah dan matanya yang bersorot malu.
Semalam yang begitu hangat dan manis, waktu lewat dengan cepat, tapi itu semua sudah cukup untuk Liu He-ting.
Dalam pikiran Liu He-ting ini adalah kenangan manis yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Semua ini membuat dia duduk kembali di sisi Tao Chun-chun.
Tapi igauan Tao Chun-chun yang beberapa kali terucap.
"Bunuh! Bunuh!"
Kata-kata itu begitu sadis dan menakutkan.
"Dari awal sampai sekarang di dalam hatiku masih tersisa rasa terkejut yang masih belum dapat dihilangkan, yaitu ingin menjadi nomor satu di dunia ini, jadi nomor satu di dunia persilatan!"
Liu He-ting merasa hati Tao Chun-chun kejam dan sadis serta ambisius!
Kekejaman dan ambisinya sering keluar tanpa sengaja dari matanya, tapi dengan cepat sudut mulutnya yang lembut sudah menutupi semuanya, sekarang....
Liu He-ting mengerutkan dahinya, dia berdiri lagi, lalu mengencangkan ikat pinggangnya.
"Walaupun ini benar atau bohong, aku tetap akan pergi ke Jiang Su Hu Qiu untuk melihat semuanya! Biarlah Tao Chun-chun berada di sini, tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya!"
Dia sudah bertekad di dalam hatinya, karena dia sadar selama ini sudah sering timbul kecurigaan di dalam hatinya.
Dia pun sadar bila kecurigaan ini terus tersimpan di dalam hatinya, maka kebahagiaannya seumur hidup akan hancur.
Karena kecurigaan ini akan menjadi musuh terbesar di dalam perkawinannya!
Tiba-tiba Tao Chun-chun mengigau.
"He Ting.... jangan tinggalkan aku.... kau.... kalau kau tidak melindungiku.... aku.... aku, untuk apa aku menikahimu, aku.... aku ingin menguasai dunia persilatan."
Liu He-ting terpaku dan tampak mengerutkan dahinya, secepat kilat dia berlari ke luar jendela lalu menutupnya kembali.
Kemudian dia berlari ke sebuah rumah kecil yang letaknya di sebelah kiri lalu dia mengetuk jendela rumah itu.
Terdengar ada suara menyahut dari dalam, Liu He-ting berkata.
"Harap Anda bisa mengurus Nona Tao sememtara, bila terjadi perubahan, tolong beritahukan kepada Tuan Bian!"
Suara sahutan kedua belum terdengar, Liu He-ting sudah berlari menjauh dari rumah itu.
Angin dan hujan terus menerpa wajahnya, dia melihat lampu redup dari jendela yang kertasnya baru ditempel.
Timbul perasaan dingin dalam hatinya, rasa ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hal itu membuatnya lebih cepat berlari keluar dari tempat itu, matanya tertumbuk pada seekor kuda hitam yang sehat, pelana berwarna hi tarn.
Kuda itu berdiri dengan gelisah di malam yang gelap dan turun hujan.
Liu He-ting tidak ragu lagi segera dia naik ke atas kuda, dan kuda pun berlari dengan cepat.
Hanya dalam waktu singkat kuda itu telah membawa Liu He-ting keluar dari kota itu.
Di jalanan tidak terlihat ada seorang pun, kuda itu terus berlari dengan kencang, Liu He-ting hanya merasakan ada angin kencang dan air hujan yang dingin yang berjatuhan ke wajahnya.
Sawah dan pepohonan yang berada di sisi jalan seperti mundur melewatinya.
Sekalipun kuda yang ditungganginya adalah seekor kuda yang kuat tapi bila sudah sampai pada batasnya dia pun akan kelelahan.
Kuda itu mulai berjalan dengan lambat.
Liu He-ting merasa cemas, dia tidak memikirkan nasib kuda itu, kuda itu dipecutnya dengan sekuat tenaga, dan timbul bekas pecutan di pantat kuda itu, tak lama kemudian mengeluarkan darah.
Walaupun kuda itu bisa terus berlari, tapi kelihatannya kuda itu akan segera roboh!
Hujan mulai mengecil, tapi angin malam berhembus semakin kencang, dalam suasana hening itu hanya terdengar derap langkah kuda Liu He-ting mengikuti arah angin dan hujan yang menjauh.
Liu He-ting sudah basah kuyup.
Di dalam kegelapan malam itu tidak terlihat ada seorang pun, tiba-tiba dari dalam hutan terdengar ada seseorang yang berteriak.
"Ganti kuda!"
Tampak ada seekor kuda yang lewat di sisi Liu He-ting, dan kuda itu berjalan semakin pelan, Liu He-ting melihat si penunggang kuda, badannya kurus dan memakai baju ketat, kepalanya terbungkus dengan kain berwarna hijau.
Tapi wajahnya tidak terlihat jelas.
Liu He-ting bertanya.
"Siapa nama kawan? Apa aku boleh mengetahuinya?"
Belum selesai dia bertanya si penunggang kuda itu sudah meloncat dari kudanya dan menghentak.
"Ganti kuda!"
Liu He-ting meloncat tinggi, kemudian dia mendarat di punggung kuda yang dibawa oleh orang itu.
Terdengar di belakangnya orang itu berteriak.
"Waktumu tidak banyak lagi dan perjalanan masih jauh, harap Tuan segera pergi, jangan sampai terlambat!"
Kuda yang baru saja diganti itu melesat meninggalkan tempat itu jauh di belakangnya.
Hujan sudah berhenti, awan hitam sudah menghilang, bintang-bintang mulai bermunculan, hati Liu He-ting diliputi banyak pertanyaan, dia tidak bisa berpikir siapa yang memberikan surat itu?
"Siapakah dia?
Mengapa orang itu begitu misterius?
Dan sepertinya kekuasaannya di dunia persilatan sangat kuat, dan muridnya pun sangat banyak, kalau tidak mengapa dia bisa menggunakan cara sempurna ini mengganti kudaku?"
Dia terus berpikir, tapi tetap tidak menemukan jawabannya, dia mengambil nafas dan menghibur dirinya sendiri.
"Siapa pun dia aku tidak peduli, yang penting dia tidak berniat jahat kepadaku!"
Sepanjang perjalanan pikirannya terus berlanjut, bila kuda yang ditungganginya mulai merasa kelelahan, pasti ada penunggang kuda berbaju sama dan muncul dari kegelapan hutan lalu mengganti kudanya, dan kuda yang diganti pun sama, berwarna hitam, dan penunggang kuda itu tidak bisa terlihat dengan jelas wajahnya, setelah mengganti kudanya dia langsung pergi meninggalkan Liu He-ting.
Semalaman dia terus menunggang kuda, Liu He-ting sudah mengganti kudanya sebanyak 4 kali.
Dia sudah melewati banyak desa dan kota, dia sendiri pun tidak tahu sudah menempuh perjalanan berapa kilometer.
Dia hanya merasa di ufuk timur ada cahaya putih, dan rasa dingin di pagi hari semakin menusuk.
Tidak lama kemudian cahaya mulai terlihat dengan jelas, dari sawah terdengar nyanyian dan suara orang mencangkul.
Liu He-ting melihat ke sekelilingnya, suasana berwarna kuning dan kuda yang ditungganginya mulai terlihat lesu, seharusnya orang yang mengganti kudanya akan segera muncul, tapi pada suasana begitu terang bagaimana cara orang itu menutupi identitasnya?
Baru saja dia memikirkan hal ini, terdengar suara derap kuda, hati Liu He-ting tergerak, dia segera menghentikan kudanya dan berbalik untuk melihat, terlihat ada 2 ekor kuda bagus.
Kuda-kuda itu berlari di depannya, yang satu tidak ada penunggangnya sedangkan yang satu lagi terlihat ada penunggang kuda berbaju hitam, tangan kanannya memegang tali kuda, tangan kirinya menutupi wajahnya dengan topi caping.
Liu He-ting tertawa dingin, sebelum laki-laki itu membuka mulut, dia sudah meloncat ke atas kuda yang kosong.
Dan dengan cepat dia mencengkram topi caping orang itu.
Laki-laki berbaju hitam itu baru saja selesai bicara.
"Ganti kuda!"
Dia merasakan tangannya dicengkram dengan kuat oleh Liu He-ting, topi caping yang menutupi wajahnya sudah berada di tangan Liu He-ting.
Dia merasa kaget segera dia memecut kudanya supaya segera berlalu dari sana, tapi Liu He-ting sudah melihat wajahnya, ternyata dia seperti seorang perempuan!
Keadaan ini membuat Liu He-ting merasa kaget, dia berpikir.
"Ternyata orang-orang berbaju hitam itu tidak ingin wajahnya terlihat, karena mereka adalah perempuan, sebenarnya aku tidak mengenal mereka, untuk apa mereka menutupi wajahnya?"
Di jalan bercabang, terlihat Liu He-ting merasa ragu, kuda yang ditungganginya terlihat sudah lemas dan akan roboh.
Petani yang sedang bekerja di sawah dengan sorot mata aneh terus melihatnya tapi Liu He-ting tetap berlari ke arah selatan dan tiba di sebuah kota agak besar.
Dia berjalan di sisi kota, sama sekali tidak berhenti.
Lain kali bila dia harus mengganti kuda dia tidak perlu melihat wajah si penunggangnya.
Tampak di kantong pelana kuda itu ada sekantong daging yang diasinkan dan masih ada sebotol arak hangat.
Berlari terus di bawah sinar matahari sore, ditambah lagi tidak perlu melihat orang yang berada di sisinya.
Tapi kecepatan kudanya tidak bisa menyamai kecepatan kuda kemarin malam.
Tapi pada saat mengganti kuda hari akan terang, dia mendengar ada suara air, ternyata di depan sana ada sebuah sungai besar yang airnya sedang bergejolak.
Kuda Liu He-ting sudah berlari hingga ke sisi sungai, dia sedang mencari-cari sebuah perahu untuk menyeberang, Tiba-tiba di belakangnya ada seseorang yang tertawa.
"Sekarang Tuan sudah berada di Chang Jiang, kota Su Zhou tidak jauh dari sini, Tuan sudah melakukan perjalanan panjang, pasti sudah merasa lelah!"
Liu He-ting membalikkan badan, terlihat ada seorang laki-laki setengah baya yang terlihat terpelajar dan luwes, badannya sedikit gemuk.
Wajahnya tidak berkumis.
Dengan tertawa dia berdiri di belakang Liu He-ting sambil tertawa dia berkata.
"Sungai sangat lebar, kau tidak bisa terbang, lebih baik lepaskan kuda ini dan naiklah perahu menuju seberang!"
Liu He-ting tertawa, dia turun dari kudanya.
Tapi dalam hati, dia tidak tertawa sama sekali.
Sepanjang jalan kuda itu terus berlari, walaupun ilmu silatnya tinggi, baju yang semalam dibasahi oleh air hujan baru saja kering, sekarang basah lagi oleh keringat, sekarang dia mulai merasakan kalau kakinya lemas dan tubuhnya melayang.
Laki-laki setengah baya itu tertawa dan berkata.
"Tuan benar-benar orang kuat, kalau aku dalam keadaan seperti Tuan, mungkin aku sudah roboh di sisi sungai ini!"
Sambil mengobrol, dia membantu Liu He-ting memanggil sebuah perahu bersih untuk menyebrangi sungai.
Liu He-ting diam dan tidak bertanya juga tidak mendengar perkataannya, dia hanya tersenyum dan duduk di sebuah kursi di dekat jendela, lalu dia melemaskan tangan, kaki, dan juga meredakan ketegangan otot-ototnya.
Dia mengira laki-laki ini hanya menolongnya memanggilkan perahu, ternyata orang ini pun memilih sebuah kursi dan duduk di depan Liu He-ting.
Dia terus menatap Liu He-ting.
Sorot matanya kuat tapi tampak terus berubah.
walaupun sorotnya dingin tapi wajahnya selalu tertawa.
Liu He-ting mengambil teh panas yang baru saja diantar dan meminumnya, dia melihat air yang mengalir di sungai itu, dia tidak mau melihat laki-laki itu.
Perahu mulai berjalan.
Liu He-ting membalikkan badannya dan bertanya, Tuan menyebrang bersama denganku dan juga telah memberikan sepucuk surat kepadaku, tapi aku belum tahu siapa nama dan marga Tuan?
Aku benar-benar merasa malu!"
Laki-laki setengah baya itu tersenyum dan berkata.
"Namaku hanya mewakili seseorang dan itu tidak penting. Yang memberikan surat itu kepada Tuan bukan diriku, aku hanya diperintahkan oleh seseorang untuk membantu Tuan!"
Liu He-ting mengerutkan dahinya dan terus melihat dia. Dalam hati dia berpikir.
"Mata orang ini terlihat sangat licik, kata-katanya pun sangat licin, berarti dia banyak akal, tapi gerakannya sangat tenang dan sikapnya sangat luwes, matanya tampak bersemangat, kulitnya mulus, kelihatannya tenaga dalamnya pun sangat tinggi. Orang berbakat seperti dia apakah ada orang yang bisa diperintah begitu saja? Siapa yang menjadi dalang semua rencana ini?"
Dia teringat sepanjang jalan yang teratur serta perempuan-perempuan berbaju hitam, dia mulai waspada menghadapi lawan yang baru saja ditemuinya ini!
Terdengar laki-laki setengah baya itu berkata lagi.
"Sekarang kau pasti sedang diam-diam menebak, siapa sebenarnya orang yang mengaturku?"
Liu He-ting mengangguk dan menjawab.
"Betul, aku memang merasa aneh, orang seperti Tuan yang begitu berbakat, siapa yang berani memerintah Tuan?"
Tawa laki-laki itu segera berhenti. Dengan serius dia berkata.
"Orang itu setinggi Tai Shan, seluas laut timur, seterang matahari dan bulan. Aku mendengarkan perintahnya, benar-benar menerimanya dari dalam hati, aku merasa ini tidak aneh."
Tiba-tiba sikapnya menjadi sangat serius, begitu juga dengan nada bicaranya, kata-kata yang diucapkan sangat sungguh-sungguh.
Hati Liu He-ting tergerak, dia terpaku lalu menarik nafas dan berkata.
"Orang ini bisa membuat Tuan menjadi kagum kepadanya, dia pasti seorang pesilat tangguh, apakah aku berjodoh untuk bertemu dengannya!"
Laki-laki itu tersenyum dan menjawah
"Asalkan Tuan bisa tepat waktu tiba di Jiang Su He Qiu, Tuan pasti bisa bertemu dengan orang ini Dan Tuan masih bisa mengetahui rahasia yang tidak disangka Tuan sama sekali...."
Liu He-ting mengerutkan dahinya dan berkata.
"Kalau aku datang tidak tepat pada waktunya, apa yang akan terjadi?"
Laki-laki setengah baya itu hanya diam, setelah lama dia baru menarik nafas dan menjawab
"Kalau Tuan tidak datang tepat pada waktunya...."
Dia diam tidak bicara lagi.
Suara tarikan nafas yang berat seperti mengandung kesedihan, membuat Liu He-ting terus menatap langit yang ada di luar jendela.
Sifat Liu He-ting sangat aneh, dia tidak akan menghabiskan tenaga untuk mengerjakan hal yang tidak mungkin bisa dilakukan dan memang tidak perlu dilakukan.
Sekarang dia sadar dia tidak akan bisa mendapatkan keterangan apa pun dari laki-laki ini, karena itu dia tidak bertanya lagi!
Tapi pikirannya terus melayang-layang memikirkan hal ini....
Perahu melewati tengah sungai.
Laki-laki setengah baya yang terdiam lama ini, tiba-tiba berjalan ke depan Liu He-ting yang sedang berpikir.
Dia berkata.
"Demi Tuan, aku sudah menghabiskan banyak waktu dan pikiran. Demi Tuan supaya dengan kecepatan maksimal dan tepat waktu tiba Su Zhou, itu saja sudah sangat sulit, kalau ada sedikit kesalahan maka semua itu akan mengganggu ketepatan waktu atau jika pada saat mengganti kuda telah terjadi kesalahan, maka Tuan tidak akan bisa dalam waktu 10 jam lebih, berjalan dari San Dong sampai ke Yang Zi Jiang."
Dia berhenti sebentar, dengan tersenyum dia berkata lagi.
"Aku mengatakan ini bukan untuk memuji diriku dan juga bukan untuk mengeluh kesulitan yang kualami, hanya saja aku berharap Tuan bisa mengatasi semua kesulitan ini. Dan tiba pada waktu yang tepat di Hu Qiu, kalau bisa seperti itu maka perjuangan kami tidak sia-sia."
Dia berkata dengan sungguh-sungguh.
Liu He-ting mengerutkan dahinya, dia tidak bisa berbicara apa pun lagi, tapi dalam hati dia berpikir.
"Dari pembicaraannya tadi sepertinya dari sini ke Hu Qiu, perjalanannya mungkin akan terjadi banyak kesulitan dan mungkin juga akan menemui bahaya!"
Dia hanya tertawa melihat ke luar jendela, matahari hampir terbenam, air mengalir seperti biasa.
Liu He-ting mulai berpikir.
"Di dunia ini banyak hal yang terjadi bukan karena bisa dihindari oleh manusia, seperti bulan yang terbenam, memang indah tapi matahari tidak akan terlihat. Air terus mengalir dari dulu hingga sekarang, siapa yang bisa menahan matahari terbenam dan air yang mengalir?"
Memikirkan hal ini hatinya merasa sedikit terhibur, sekarang dia bisa tenang, kesedihan dan rasa sakit adalah hal yang tidak bisa dihindari, dia harus siap menerima semuanya.
Perahu sudah tiba di seberang sungai, laki-laki setengah baya itu sudah mengantarnya sampai ke seberang, terlihat di kegelapan sore, ada seekor kuda berwarna hitam menunggunya.
Angin bertiup, air bersuara dengan riang membuat pemandangan indah yang ada di sana bertambah sedih.
Laki-laki itu dengan teliti menunjukkan jalan untuknya dan terus berpesan.
"Jangan sampai waktu Tuan terganggu. Kalau Tuan terlambat tiba di sana, Tuan akan menghancurkan hidup Tuan!"
Sambil mengangguk, Liu He-ting naik ke atas kuda.
Baru saja kudanya berjalan beberapa langkah, dia membalikkan badan dan berkata.
"Aku berharap nanti kita bisa bertemu lagi. Waktu itu aku berharap Tuan bisa memberitahukan nama Tuan."
Sifat Liu He-ting memang seperti itu.
Kata-katanya datang dari lubuk hati, bukan dibuat-buat!
Suaranya belum selesai, dia melesat pergi hanya meninggalkan kepulan debu.
Laki-laki yang melihat sosok belakang tubuhnya, tiba-tiba dia menarik nafas panjang dan berkata.
"Perubahan ini mempermainkan nasib orang.... mempermainkan nasib seorang. pemuda yang begitu tampan yang jatuh ke dalam perangkap seorang perempuan. Kelihatannya iblis perempuan itu mempunyai cara yang jitu, benar-benar tidak bisa terbayangkan!"
Dia masih berbicara pada dirinya sendiri, dia berdiri melihat perahu itu juga melihat laki-laki penjaga kuda itu.
Orang itu mengenakan topi caping dan berbaju ungu ketat.
Laki-laki itu dengan langkah besar berjalan ke arahnya.
Dia tertawa dan berkata.
"Tuan Jin, kau lihat bocah itu, apakah kali ini nyawanya akan selamat?"
Orang ini sudah mendorong topi capingnya ke belakang.
Kedua alisnya tebal, matanya bulat, dia adalah orang yang sudah lama tidak bisa ditemukan, Shen Dao Jiang Jun, Sheng Kui Ying.
Laki-laki setengah baya yang dipanggil dengan sebutan Tuan Jin itu tersenyum dan menjawab.
"Kali ini perjalanannya ke sana pasti akan menemui bahaya, tapi kau tidak perlu merasa khawatir. Kalau dia terus hidup bersama dengan perempuan itu -setiap saat dia bisa kehilangan nyawanya."
Suara dan nadanya terdengar sangat berat.
Shen Dao Jiang Jin, Sheng Kui Ying menarik nafas dan berkata.
"Aku pernah bertemu dengan perempuan itu tapi.... tapi aku tidak melihat kalau dia orang seperti itu. Tuan Jin, sejak awal aku sudah mengikuti rencana ini, tapi sampai sekarang aku belum mengerti keadaan sebenarnya, sepertinya.... keluarga Xi Men, walaupun beberapa tahun ini orang berbakat tidak banyak seperti dulu, tapi mereka adalah orang yang berpandangan sangat lurus, tidak pernah mempunyai dendam dengan orang lain. Mengapa mereka mempunyai hubungan dengan semua rencana ini? Dan perempuan yang merupakan orang begitu, mengapa dia masih ingin menikah dengan Liu He-ting, masih ada lagi.... .walaupun perempuan itu sangat kuat, tapi dia tetap seorang perempuan, dia mempunyai ilmu sihir apa, sehingga bisa menguasai ilmu Wu Yi Shen Mo yang begitu jahat?.... benar-benar membuat orang tidak percaya!"
Dia berbicara terpotong-potong, berarti pikirannya memang sedang kacau!
Tuan Jin mengerutkan dahinya dan berkata.
"Memang masalah ini sangat rumit, banyak masalah yang tampaknya tidak ada hubungannya tapi sebenarnya semua ini sangat berhubungan erat. Jika tertinggal satu hal saja, maka kau tidak akan bisa melihat jelas semua ini!"
Dia tersenyum dan berkata lagi.
"Kalau bukan karena tuan besar begitu pintar, kalau bukan karena tuan besar mempunyai kekuatan yang begitu hebat dan mau mengurusi masalah ini, aku pun tidak akan percaya, siapa yang bisa mengetahui rencana busuk perempuan itu."
Sheng Kui Ying mengangguk. Tuan Jin berkata lagi.
"Apakah kau ingat beberapa tahun lalu ada peristiwa yang menggegerkan dunia persilatan? Putra sulung keluarga Xi Men, yang bernama Xi Men Xiao Ao secara misterius menikah, tapi secara misterius juga tiba-tiba dia menghilang...."
"Apakah ini ada hubungannya dengan masalah yang kita tangani sekarang ini?"
Tuan Jin Kedua mengangguk dan menjawab.
"Menurut perkiraanku, calon istri Xi Men Xiao Ao adalah perempuan itu. Semakin lama Xi Men Xiao Ao sering menemukan kejanggalan perempuan itu, tak lama kemudian perempuan itu pun membunuh Xi Men Xiao Ao.... mengapa perempuan itu selalu menggoda pesilat yang berasal dari keluarga silat yang berpandangan lurus atau pemuda berbakat yang mempunyai ilmu silat tinggi, lalu menikahi mereka? Setelah dipikir-pikir, alasan hanya satu yaitu perempuan itu ingin meminjam identitas laki-laki yang dicarinya untuk menutup perilaku aslinya. Tapi kalau hanya dengan alasan ini sepertinya tidak sempurna!"
Dia berhenti bicara. Sheng Kui Ying mengerutkan dahinya.
"Apakah masih ada hal yang belum Tuan Jin jelaskan?"
Tuan Jin Kedua menarik nafas dan menjawab.
"Bukan aku saja yang tidak tahu, tuan besar pun sepertinya tidak tahu semuanya. Sampai sekarang banyak kelakuan perempuan itu yang sudah tertebak tapi belum mempunyai bukti yang kuat!"
Dia menarik nafas dan berkata lagi.
"Mungkin alasan sebenarnya bukan seperti yang kita tebak!"
Shen Dao Jiang Jun, Sheng Kui Ying mengerutkan dahi dan berkata.
"Kalau kita salah tebak.... hei!"
Tuan Jin Kedua tertawa dan berkaa.
"Kalau kita salah menebak, di dunia ini tidak ada orang yang akan mengetahui tentang 'rumah yang berada di dalam hutan' dan tidak akan ada yang tahu tentang siapa 'Shi Guan-yin' Shi Qi yang sebenarnya!"
Suara Tuan Jin berhenti dan dilanjutkan lagi.
"Walaupun rencana kita hanya berasal dari tebakan, tapi 80% hampir benar. Di penginapan itu perempuan yang bernama Feng Er dan Ye Er tiba-tiba saja menjadi gila, itu karena mereka dibius dengan obat kuat yang diberikan oleh perempuan itu. Obat ini sangat kuat, bisa membuat orang menjadi hilang ingatan. Kalau sudah melebihi dosis, obat ini akan membuat orang kehilangan sifat aslinya, benar-benar membuatku tidak habis mengerti."
Hati Sheng Kui Ying tergetar, kemudian dia tertawa.
"Yang paling aneh adalah identitas Wu Yi Shen Mo. Ilmu silat mereka sangat kuat, kadang-kadang gerakan mereka seperti orang gila. Kadang-kadang dalam satu malam bersama-sama muncul di dunia persilatan, tapi mereka bukan jago silat lebih-lebih tidak bisa sekaligus muncul dalam satu malam. Kalau begitu mereka datang dari mana? Hal ini membuatku tidak mengerti sampai sekarang. Semenjak Feng Er dan Ye Er diracun, aku mulai bisa menebak sedikit demi sedikit."
"Apa yang bisa kau tebak?"
Tuan Jin Kedua berjalan ke sisi sungai, dia berhenti berjalan dan berkata lagi.
"Walaupun aku mulai bisa menebak, tapi semua ini belum sempurna."
Dengan tenang dia naik ke atas perahu siap untuk menyebrang lagi.
Shen Dao Jiang Jun, Sheng Kui Ying masih berdiri dengan bengong.
Dia berkata pada dirinya sendiri.
"Sekarang kalau mengatakan itu masih terlalu pagi, lalu aku harus menunggu sampai kapan?"
Walaupun hal ini tidak ada hubungan dengannya tapi hatinya diliputi dengan pertanyaan dan juga merasa aneh.
Dia ingin cepat-cepat mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, dia sudah tidak sabar lagi.
Perahu kembali lagi ke seberang, tadi perahu itu berlayar dengan tergesa-gesa, sekarang sewaktu kembali perahu itu berjalan dengan perlahan.
Tuan Jin Kedua duduk di sebuah kursi.
Dia tampak sedang berpikir, tapi tidak terlihat merasa cemas, karena semua yang harus diatur, sudah diaturnya dengan baik.
Yang belum diatur, dicemaskan pun rasanya percuma!
Perahu sudah sampai di tengah sungai.
Malam sudah tiba, bintang-bintang mulai bermunculan.
Tiba-tiba ada sebuah perahu dengan kecepatan tinggi datang ke arah perahunya dari seberang sungai.
Perahu itu sangat gelap, lampunya bersinar sangat redup.
Mata Tuan Jun tampak berputar dan dia balik bertanya.
"Apakah kalian tahu mengapa perahu itu berlayar dengan tergesa-gesa?"
Shen Dao Jiang Jun, melihat sebentar lalu menjawab.
"Perahu itu adalah perahu Tie Yu Bang (Perkumpulan Ikan Besi). Mereka selalu hidup di sungai, kehidupan mereka pun selalu begitu tergesa-gesa!"
Tuan Jin Kedua hanya menjawab.
"Oh!"
Terdengar Sheng Kui Ying berkata.
"Tie Yu Bang yang berasal dari Yang Zi Jiang, semenjak ketuanya yang bernama Yu Sheng Yu menghilang secara tiba-tiba beberapa tahun yang lalu, keadaan mereka sudah tidak seperti dulu, dunia persilatan sangat berbahaya dan kehidupan berlangsung seperti gelombang, hidup terus di dunia persilatan pun akan semakin sulit."
Sebenarnya dia adalah orang yang terkenal di dunia persilatan, hanya saja karena dia kurang beruntung, maka posisinya selalu berada di bawah nama orang lain, karena itu hatinya selalu diliputi dengan kekesalan.
Tuan Jin Kedua tersenyum, dia tidak menjawab, kedua perahu itu berpapasan, setelah itu masing-masing berlalu dari sana, di atas perahu yang melaju dengan cepat itu terlihat ada dua orang laki-laki yang tidak mengenakan baju atasan, melihat perahu yang ditumpangi oleh Tuan Jin Kedua, mereka hanya berkata.
"Wei! Kalau dilihat-lihat apakah dia adalah Sheng Kui Ying yang beberapa tahun lalu pergi bersama dengan ketua kita?"
Laki-laki yang lainnya menjawab.
"Siapa pun dia, kita tidak pernah melihatnya."
Laki-laki pertama tadi dengan terpaksa mengangkat bahunya, tidak sengaja dia melihat perempuan yang duduk di dekat jendela perahu, lalu dia berkata dengan suara kecil.
"Apakah kau tahu perempuan yang ada di dalam perahu itu? Wajahnya tampak kekuning-kuningan dan pucat, seperti sudah lama menderita sakit, tapi sewaktu dia datang...."
Dia berhenti sebentar dan melanjutkan lagi.
"Dia menaiki seekor kuda kuat, setelah kuda itu sampai di sisi sungai, kuda itu terus meludah dan akhirnya roboh, tapi dia sendiri tidak menunjukkan perasaan apa pun. Dia hanya meloncat sebentar lalu turun dari kudanya!"
Laki-laki yang satu lagi mengangkat wajahnya, terlihat dia pun kaget. Dia berkata.
"Hal ini ada sedikit kejanggalan, aku sudah lama berkelana di dunia persilatan, tidak ada orang yang pernah lolos dari mataku, tapi.... tapi perempuan itu, aku tidak tahu dia datang dari mana?"
Dia melihat lagi ke dalam perahu dan berkata.
"Anehnya lagi, perahu Tie Yu Bang sudah lama tidak dipinjamkan kepada orang lain, tapi begitu dia naik ke atas perahu ini, dengan cepat dia bisa membuat Tuan Zhu Ge tunduk kepadanya akulihat...."
Laki-laki yang satunya lagi tiba-tiba berkata "Diam!"
Terlihat pintu perahu itu terbuka lalu muncullah seorang laki-laki kurus kering, dia melihat kedua laki-laki itu yang berdiri di kegelapan malam dan berkata.
"Cepat hubungi saudara kita yang ada di darat, suruh mereka untuk mempersiapkan kuda!"
Kedua laki-laki itu mengangguk dan bayangan laki-laki kurus itu masuk lagi ke dalam perahu dan menu tup pintu.
Terdengar suara batuk dari dalam perahu kemudian terdengar suara merdu.
"Kata orang-orang, perahu Tie Yu Bang dari Yang Zi Jiang bisa terbang, tapi hari ini aku hanya melihat keadaannya seperti ini! Hai! Orang-orang dunia persilatan yang jujur memang sudah tidak banyak lagi!"
Kedua laki-laki itu saling memandang, tapi mereka pun tetap mendengar percakapan itu dengan sepenuh hati.
Terdengar laki-laki kurus kering itu berkata lagi.
"Iya!"
Sepertinya laki-laki kurus kering itu sangat menghormati perempuan itu.
Cahaya lampu sangat redup tapi cukup untuk menyinari perahu tua itu.
Keadaan perahu yang kasar dan perabot seperti kursi dan meja di dalam perahu itupun tampak sudah tua.
Semua barang yang ada di dalam perahu tampak bergoyang-goyang mengikuti gelombang sungai.
Di bawah temparamnya sinar lampu, terlihat di sebuah kursi duduk seorang perempuan yang rambutnya berantakan.
Dia memakai baju berwarna merah, wajahnya terlihat letih, sikapnya tidak tenang dan merasa cemas.
Tapi dia berusaha menutupinya dengan mencoba bersikap tenang dan alami, dia duduk di kursi kayu itu, dia terlihat seperti seorang ratu yang duduk di tempat tidur mewahnya.
Laki-laki kurus itu duduk di depannya, kedua tangannya terkulai tapi matanya terlihat bersemangat.
Dia melihat sebuah ikan hijau yang terbuat dari besi hitam yang saat itu berada di dalam tangan gadis cantik itu!
Mulutnya beberapa kali tampak bergerak-gerak seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi dia tidak berani membuka mulut.
Gadis cantik itu tampak tersenyum, dia memberikan Tie Yu kepada laki-laki kurus kering itu, dia berkata.
"Chang Jiang Tie Yu (Ikan Besi dari sungai panjang), siapa pun yang berhasil mendapatkan ikan besi ini maka dia akan menjadi ketua Chang Jiang, apakah kau tahu itu?"
Wajah laki-laki kurus kering itu berubah, matanya tampak berbinar-binar, dia seperti merasa sangat senang, perempuan itu melanjutkan perkataannya.
"Chang Jiang Tie Yu memimpin Chang Jiang...."
Dia baru berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi.
"Nona Tao, Ketua Yu sudah 3 tahun menghilang, selama 3 tahun entah dia berada di mana? Tidak ada seorang pun yang tahu, apakah aku boleh bertanya kepada Nona? Plakat Tie Yu ini, Nona dapatkan dari mana?"
Gadis cantik yang duduk di depannya itu tidak disangsikan lagi, dia adalah Tao Chun-chun yang beberapa hari lalu tiba-tiba saja pingsan lalu tidak sadarkan diri.
Sekarang ini dia bisa berada di atas perahu, matanya berputar kemudian dia tertawa, lalu pelan-pelan dia berkata.
"Ketua Yu menghilang, bukankah semua ini menjadi suatu kebaikan untukmu?"
Laki-laki kurus kering itu terpaku, wajahnya tampak berubah, terdengar Tao Chun-chun sambil tertawa dia berkata lagi.
"Tenangkanlah dirimu, Ketua Yu tidak akan kembali lagi ke sini, sewaktu dia akan mati aku sudah membantunya, karena itu dia memberikan plakat Tie Yu nya untukku, dia menyuruhku menjadi ketua dari Chang Jiang 52 daerah...."
Wajah laki-laki kurus kering itu tampak berubah lagi, kursi yang didudukinya terdengar berbunyi terus.
Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Aku adalah seorang perempuan yang tidak mempunyai ambisi besar, apalagi kau adalah Tuan Zhu Ge, sudah lama kau mengurus perkumpulan air di Chang Jiang ini, kau mengurusnya dengan begitu sempurna, aku tidak bisa bersaing denganmu, apakah kau tega melihat perkumpulan yang begitu besar ini akan hancur di tanganku?"
Laki-laki kurus kering yang dipanggil Tuan Zhu Ge ini, diam-diam merasa senang dan berkata.
"Terima kasih atas pujian Nona Tao, aku tidak berani melakukan semuanya dengan tiba-tiba, tapi saudara-saudaraku yang ada di Chang Jiang adalah para laki-laki kasar, mana mungkin menyuruh Nona yang begitu cantik untuk menjadi...."
Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Sebenarnya aku menyukai laki-laki kasar...."
Wajah Zhu Ge yang tadinya sudah santai sekarang terlihat tegang lagi, Tao Chun-chun melihat perubahan wajahnya yang terus terjadi sejak tadi, tawa di wajah Tao Chun-chun seperti air sungai di musim semi.
Satu tangannya tampak sedang membereskan rambutnya yang berantakan.
Sedangkan tangannya yang lain tampak sedang memainkan Ikan Besi Chang Jiang.
Dengan pelan Tao Chun-chun berkata.
"Walaupun aku menyukai laki-laki kasar tapi aku pun menyukai orang yang punya keberanian dan banyak akal, dan satu lagi dia mempunyai ilmu silat yang tinggi."
Tuan Zhu Ge segera berdiri tapi dia duduk kembali, dia berkata.
"Di dunia ini yang mempunyai keberanian dan juga banyak akal serta ilmu silat yang tinggi sangat sulit dicari. Aku belum pernah bertemu dengan orang seperti itu."
Tao Chun-chun tertawa, tawanya seperti bunga yang mekar di musim semi.
Tawa itu menutupi keletihan yang terlihat di wajahnya juga menutupi kecemasan hatinya.
Terlihat Tao Chun-chun berkata sambil tersenyum.
"Memang orang seperti itu tidak banyak, tapi sekarang ini di depanku sudah ada satu...."
Tuan Zhu Ge merasa sangat gembira, tapi dia berusaha menutupi perasaannya, tapi dia tidak berhasil melakukannya.
Tangan yang tadinya dia letakkan di sandaran kursi sekarang entah hams disimpan di mana.
Terdengar Tao Chun-chun berkata sambil tersenyum.
"Tadinya aku masih merasa ragu, di mana aku harus menyimpan Tie Yu ini, tapi setelah bertemu denganmu, aku merasa kau lah orang yang pantas untuk memimpin 52 daerah di Chang Jiang ini, aku berharap kau mau menerima tawaran ini!"
Tuan Zhu Ge tampak bersemangat dan berkata.
"Aku mau menerima tawaran ini, Nona, Anda tenang saja!"
Tao Chun-chun tersenyum dan berkata lagi "Ini sangat baik...."
Tiba-tiba senyum di wajahnya menghilang, dia berkata.
"Tapi plakat ini pun tidak kudapatkan dengan mudah...."
Dia berhenti bicara. Tuan Zhu Ge mengerti apa yang dimaksud oleh Tao Chun-chun, dia berkata.
"Apa yang Nona perintahkan, asalkan aku bisa melakukannya, aku pasti akan melakukannya untuk Nona."
Tao Chun-chun mengangguk dengan puas tapi tawanya segera menghilang, dia berubah menjadi lata ingin mendekat tapi tidak berani, tidak berani mendekat tapi ingin mendekatinya lagi'.
Tao Chun-chun melihat laki-laki kurus kering yang ada di hadapannya, seperti patung Budha melihat orang yang sedang bersembahyang kepadanya.
Dia mengeluarkan tiga jarinya dan berkata.
"Kali ini aku ingin pergi ke Jiang Su Hu Qiu, untuk melakukan suatu hal yang sangat penting, harap kau memberi kode kepada saudara-saudaramu yang ada di darat, perintahkan mereka untuk menyiapkan seekor kuda yang kuat setiap 100 kilometer, kau harus mempersiapkan kuda pengganti untuk mengganti kudaku yang lelah!"
Tuan Zhu Ge tampak sedang berpikir, sepertinya dia merasa kesulitan untuk memenuhi permintaan Tao Chun-chun.
Tao Chun-chun tampak melotot dan berkata.
"Apakah kau tidak sanggup melakukannya?"
Dengan cepat Tuan Zhu Ge segera tertawa dan berkata.
"Tidak masalah menyiapkan kuda di darat, aku akan menuruti kemauan Nona untuk mempersiapkan kuda setiap 100 kilometer...."
Kata-katanya baru saja selesai, Tao Chun-chun sudah tertawa dingin dan berkata.
"Dengan sebuah koin berwarna hijau, aku dibantu oleh Luo yia Bang (Perkumpulan Kuda Keledai), lalu dari He Nan mengganti kuda, apakah kau sebagai pemimpin Tie Yu Bang tidak bisa melakukan sama seperti yang dilakukan oleh Luo Ma Bang, padahal mereka hanya perkumpulan kecil."
Alis Tuan Zhu Ge tampak berkerut dan dia berkata.
"Bukan aku tidak sanggup, tapi aku takut waktunya tidak akan cukup."
Kedua matanya tampak melebar, tawanya menghilang, dia berdiri dari kursinya dan dengan dingin dia berkata.
"Apakah kau tidak menginginkan plakat Tie Yu ini?"
Tuan Zhu Ge tidak berani mengangkat kepalanya, kedua alisnya tampak berkerut, dia berkata dengan pelan.
"Aku benar-benar tidak sanggup melakukan hal ini, dengan plakat ini hanya bisa melakukannya sampai pada batas 50 kilometer sedangkan waktunya begitu mepet, aku tidak bisa menyuruh orang dalam radius ratusan kilometer, kalau Nona bisa memundurkan waktu kepergian Nona, aku bisa membereskan semuanya dengan rapi!"
Wajah Tao Chun-chun yang tadinya terlihat lembut sekarang menjadi marah dan dia berkata.
"Apa? Mundur satu hari?"
Tuan Zhu Ge menunduk! Tao Chun-chun menarik nafas panjang.
"Jangankan satu hari, satu jam saja sudah terlambat!"
Wajah Tuan Zhu Ge memucat, matanya tidak berani menatap wajah Tao Chun-chun yang sudah seperti es, Tuan Zhu Ge tetap menundukkan kepalanya, dan dia hanya berkata.
"Aku mohon maafl"
Wajah Tao Chun-chun menjadi pucat, dia berdiri dengan diam, tiba-tiba dia tertawa dan berkata.
"Kalau begitu, kau tidak perlu minta maaf!"
Dalam suara tawanya, pelan-pelan ctta mengangkat telapak tangannya seakan ingin membereskan rambut Tuan Zhu Ge yang berantakan, Tuan Zhu Ge merasa senang dan dia melihat wajah Tao Chun-chun yang dipenuhi dengan tawa manis, dia merasa sedikit tenang, tapi begitu telapak tangan Tao Chun-chun berada di dekat kepalanya, dengan cepat Tao Chun-chun memotong tenggorokan Tuan Zhu Ge.
Mata Tuan Zhu Ge menjadi melotot, kemudian tubuhnya menjadi limbung, suaranya belum sempat keluar dia sudah roboh dan tidak bernafas lagi.
Pandangan Tuan Zhu Ge terakhir seperti menyiratkan keterkejutannya, kecurigaan, juga rasa benci, tapi Tao Chun-chun tidak melihatnya lagi.
Tao Chun-chun melihat plakat yang ada di tangannya, di sudut mulutnya terlihat tawanya yang manja.
Pelan-pelan dia berjalan ke jendela perahu, dia melempar plakat itu ke dalam sungai, kemudian dia menarik nafas dan berkata pada dirinya sendiri.
"Aku harus bagaimana sekarang.... .bagaimana?"
Dia berjalan melewati mayat Tuan Zhu Ge dan keluar dari ruangan itu.
Langkahnya begitu hati-hati, seperti seorang ibu baik yang takut akan menginjak anaknya yang sedang bermain.
Dia membuka pintu, lalu berkata kepada kedua laki-laki itu.
"Kalian sudah lihat dan sudah mendengarnya bukan? Apakah ini sudah cukup?"
Kedua laki-laki itu melihat tangan Tao Chun-chun yang putih, sepasang tangan yang telah membunuh orang diiringi dengan suara tawanya.
Wajah mereka menjadi gelap, tubuh mereka yang tegap pada saat mendengar tawa Tao Chun-chun menjadi gemetar.
Tawa Tao Chun-chun terus terdengar, dia berjalan ke arah kedua laki-laki itu, sekarang perahu itu sudah tidak terlalu jauh dari daratan.
Tao Chun-chun pun semakin mendekati kedua laki-laki itu.
Di darat di kepekatan malam terlihat ada sosok laki-laki berbaju hitam membawa seekor kuda sehat, dia berdiri di pinggir sungai.
Kedua laki-laki itu terdiam, mereka tidak berani bergerak.
Tao Chun-chun memutar matanya, dia tertawa.
Kedua laki-laki itu terus melihat tawanya dalam hati mereka timbul perasaan dingin yang tidak tertahankan, mereka berkata.
"Nona, kuda.... kuda sudah disiapkan!"
Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Apakah kudaku sudah siap...."
Tawanya terlihat lebih lembut lagi.
Kedua laki-laki itu sudah berlutut dan berkata dengan suara gemetar.
"Kami tidak bersalah kepada Nona, harap Nona mau melepaskan kami."
Tao Chun-chun tertawa dan menjawab.
"Semua orang Chang Jiang Tie Yu Bang adalah orang bodoh, contohnya adalah kalian, karena kalian telah mengganggu pekerjaanku...."
Suaranya baru berhenti dia tertawa lagi.
"Kalian begitu ketakutan seperti itu, lebih baik kalian mati saja dari pada ketakutan seperti itu!"
Kedua laki-laki itu lebih gemetar lagi, tapi mereka tetap tidak berani melihat Tao Chun-chun.
Tubuh Tao Chun-chun yang ramping dengan ringan berjalan ke depan mereka.
Kemudian dia menjulurkan telapak tangannya, dan memukul kepala mereka.
Gerakannya begitu lembut, tawanya pyn terdengar begitu lembut seperti sedang membereskan rambut anaknya.
Laki-laki yang satu berteriak, belum selesai dia berteriak, tangan Tao Chun-chun yang lain sudah memegang kepalanya, suaranya tertinggal di tenggorokan.
Nadi-nadinya terputus, tubuh yang masih berlutut segera roboh ke tanah!
Ooo)odw-kzo(ooO BAB 10 Keluarga Xi Men Laki-laki yang berada di sebelah kanan melihat kaki Tao Chun-chun yang bergerak, dia telungkup di lantai perahu, pinggang, kaki, dan tangannya bergerak-gerak, lalu terguling-guling, dia jatuh sejauh kurang lebih 5 kaki, tapi dahinya tetap terkena jari kuku Tao Chun-chun yang tajam, sakit terasa begitu menusuk, seperti terkena rantai besi yang sudah dipanaskan di atas api kemudian ditempel ke kulit, juga seperti terkena gigitan ular beracun.
Tubuh Tao Chun-chun berputar dengan ringan, dia tidak sudi menginjak mayat laki-laki yang baru saja dibunuhnya, dia tertawa dan berkata.
"Kau memang pintar berkelit!"
Laki-laki itu tidak bisa menjawab, kaki dan tangannya dingin seperti es, dia ingin meloncat ke dalam sungai melarikan diri!
Tetapi setibanya di sisi perahu dan hanya tinggal meloncat ke dalam sungai, saat sebelum dia bergerak, hidungnya mencium wangi yang menggigit, matanya melihat seseorang berbaju merah, telinganya mendengar suara Tao Chun-chun yang lembut.
"Kau memang pintar berkelit, tapi tetap tidak bisa lolos dariku...."
Laki-laki tegap itu tampak roboh kembali, tangan kirinya berada menjulur ke bawah sedangkan tangan kanannya menahan pada pinggir perahu, kakinya yang satu tampak lurus sedangkan yang satu lagi terlipat, tubuhnya kaku tidak bisa bergerak sama sekali, dia melihat kaki Tao Chun-chun yang berjalan mendekatinya, terdengar laki-laki itu bicara.
"Nona, ampuni aku tolong biarkan aku hidup...."
Tao Chun-chun hanya berkata "Mengampunimu?"
Mulut yang tadinya terlihat lembut sekarang menjadi dingin dan sadis terdengar Tao Chun-chun berkata lagi.
"Kalian sudah merusak rencanaku, walaupun aku membunuh kalian para anggota Tie Yu Bang, masih belum cukup bagiku untuk melampiaskan semua kebencianku!"
Laki-laki yang roboh di bawah itu tidak berani bergerak, karena dia takut sekali kalau dia bergerak maka perempuan yang cantik seperti bunga tapi berlakunya sadis seperti ular, akan timbul lagi niat membunuhnya.
Dengan suara gemetar dia berkata.
"Chang Jiang Tie Yu Bang selalu bergerak di atas air, mengenai kuda, kami pasti tidak bisa menandingi keahlian Luo Ma Bang...."
Tao Chun-chun tertawa dingin dan mengangkat tangannya.
"Apakah perkataanmu betul?"
Baju Tao Chun-chun tampak berkibar-kibar, laki-laki itu bertambah gemetar, segera dia berkata lagi.
"Tapi aku mempunyai cara untuk membantu Nona, dalam waktu semalam Nona pasti bisa tiba di Su Zhou!"
Tangan Tao Chun-chun tampak berhenti.
"Cepat katakan caramu...."
Sekarang Laki-laki itu baru berani bangun dari posisi terbaringnya, tapi dia tetap berlutut dan berkata.
"Setelah aku memberitahukan caraku, aku harap Nona tidak akan membunuhku."
Mata Tao Chun-chun tampak berputar, tiba-tiba dia tertawa, lalu dengan lembut dan wajah berseri-seri dia berkata.
"Asalkan caramu berguna, aku tidak akan membunuhmu, dan...."
Dengan suara lembut dia tertawa, matanya tampak dimainkan, tiba-tiba dia berhenti bicara.
Laki-laki itu menatap Tao Chun-chun, matanya seperti terpaku, laki-laki yang baru terlepas dari ancaman kematian, nafsu birahinya timbul seketika.
Sorot mata Tao Chun-chun menjadi dingin, tapi dengan wajah masih tersenyum dia berkata.
"Hayo beritahukan padaku!"
Laki-laki itu bangkit dan menegakkan dadanya berkata.
"Walaupun aku orang bodoh, tapi sewaktu masih muda aku sering berkelana ke beberapa tempat, keselatan aku pernah ke Gunung Miao, juga pernah ke gurun pasir Mongolia. Saat aku masih muda dan kuat. Sepanjang perjalanan aku pun mendapatkan pengalaman yang bermanfaat...."
Sorot mata Tao Chun-chun tampak melembut, laki-laki itu terus mengagulkan dirinya.
Alis Tao Chun-chun tampak berkerut, ternyata dia sudah tidak sabar lagi, begitu reaksi Tao Chun-chun terlihat oleh laki-laki itu, hatinya mulai timbul rasa takut, segera dia berkata.
"Nona pasti tahu keadaan di dunia persilatan, orang yang paling pandai menunggang kuda adalah orang Mongolia...."
Mata Tao Chun-chun tampak berbinar, dia tertawa, tawanya kali ini benar-benar datang dari hatinya, jika ada orang yang bisa membuatnya dalam waktu semalam tiba di Hu Qiu, apa pun akan dikorbankannya.
Laki-laki itu melihat tawa Tao Chun-chun yang tulus, dia berhenti bicara dan pura-pura sedang berpikir, tiba-tiba dia berkata.
"Banyak orang tidak tahu melakukannya, tapi setelah mendapatkan cara, masalah itu segera dapat diatasi...."
Laki-laki itu sengaja berkata lagi.
"Sewaktu aku masih di Mongolia, kehidupanku sangat sulit tapi menjalani hidup sulit membuatku menimba banyak pengalaman, termasuk cara yang akan kuberitahu kepada Nona sekarang ini."
Mata Tao Chun-chun tampak berputar lagi segera dia menarik tawa yang keluar dengan tulus tadi, dengan pandangan menghina dia melihat laki-laki yang masih berada di depannya.
Gigi Tao Chun-chun tampak berkilau, dia menggigit bibirnya yang kecil, kemudian terpasang tawa yang bisa membuat laki-laki menjadi tergila-gila karenanya.
Terdengar Tao Chun-chun berkata.
"Mengapa kau masih berlutut?"
Dia menarik laki-laki itu berdiri dan dengan jarinya yang lembut dia mengusap-usap laki-laki itu, Tao Chun-chun berkata.
"Aku tahu mempelajari ilmu yang orang lain tidak bisa, merupakah hal yang sulit.... Aku sangat iri kepadamu, di kepalamu begitu banyak pengetahuan, kau boleh menyombongkan diri dibandingkan dengan orang yang hanya mempunyai ilmu silat tinggi...."
Diiringi tawa manisnya, Tao Chun-chun berjalan semakin mendekati laki-laki itu.
Walaupun dia adalah laki-laki bodoh tapi dia adalah seorang yang sangat licik.
Tao Chun-chun membersihkan debu yang menempel di baju laki-laki itu.
Laki-laki yang bodoh seperti babi tapi karena ditempa kehidupan sulit selama bertahun-tahun, mengasahnya menjadi seorang laki-laki licik seperti seekor rubah, dalam wajah laki-laki kasar dan jelek, muncul tawanya yang senang dan dia terus berkata.
"Aku tidak berani memegang tangan Nona yang putih, itu adalah suatu dosa."
Tawa Tao Chun-chun terlihat lebih genit, ujung jarinya yang lancip mengelus wajah kasar laki-laki itu, dengan lembut Tao Chun-chun berkata.
"Jangan berkata seperti itu, dalam hidupku.... yang kusukai adalah orang yang berpengalaman, jika tadi aku tahu kau adalah orang pintar, aku.... aku tidak akan memperlakukanmu seperti itu...."
Sambil malu-malu Tao Chun-chun tertawa, dia mengeluarkan daya tarik seorang perempuan yang tidak bisa ditolak oleh laki-laki, kelembutan perempuan ini membuat laki-laki bodoh itu lupa kalau tadi Tao Chun-chun hampir saja membunuhnya.
Laki-laki itu tertawa dan menangkap tangan Tao Chun-chun, lalu dia berkata.
"No.... Nona.... tangan.... Anda.... .benar. benar.... putih...."
Suara laki-laki itu bergetar, kali ini bukan karena dia kaget atau takut tapi karena keinginannya sudah memuncak, keinginannya menutupi tenggorokannya.
Anehnya Tao Chun-chun memenuhi keinginannya....
Setelah agak lama Tao Chun-chun baru berontak dan melepaskan diri dari laki-laki itu dan dia berkata.
"Lihat, perahu sudah hampir sampai di darat, kau lihat di darat sudah ada orang...."
Tapi laki-laki bodoh itu masih tenggelam di dalam kenikmatannya, setelah tersadar dia melihat ada seorang -laki-laki membawa seekor kuda, dengan takut-takut dia bertanya.
"Melihat apa?.... Kalau dia sudah melihat.... orang itu harus dibunuh...."
Ternyata laki-laki itu selain bodoh seperti babi, dia juga licik seperti seekor rubah, dan kejam seperti seekor cheetah, tapi penakut seperti seekor tikus.
Tao Chun-chun tampak mengerutkan alisnya lalu berkata.
"Apakah kau akan membunuhnya?"
Laki-laki itu mengangguk dan berkata.
"Ya tentu saja harus dibunuh, harus dibunuh.... kalau dia melihat ada mayat di perahu ini dan juga melihat kita.... celaka, ini sangat celaka!"
"Bila kau ingin membunuhnya, bunuhlah sendiri!"
Kata Tao Chun-chun.
Sekarang Tao Chun-chun terlihat baik, keinginan membunuh malah datang dari laki-laki itu, dia menganggap orang yang telah dibunuh oleh Tao Chun-chun semua dilakukan karenanya.
Si bodoh itu masih berkata.
"Dengarkan kata-kataku, bunuhlah dia...."
Kata-katanya belum habis, tubuh Tao Chun-chun yang ramping bergerak seperti seekor burung walet melewati permukaan sungai dan mendarat di sisi sungai hanya dalam waktu singkat dia membawa seorang laki-laki yang tadi membawa kuda dan dilemparkannya ke atas perahu.
Sikap Tao Chun-chun tampak begitu tenang, orang yang tadi dibawanya, dianggapnya seperti seekor kelinci yang lembut.
Laki-laki itu tertawa.
"Aku sudah menotok nadinya, kalau kau ingin membunuhnya, kau sendiri saja yang membunuh orang ini."
Laki-laki bodoh yang sadis itu segera mengeluarkan pisaunya yang tajam, dia menunjuk laki-laki yang sudah tidak bisa bergerak dan membentak.
"Lihat! Kau lihat! Aku suruh kau untuk melihat!"
Dia menghujamkan pisau ke mata laki-laki itu.
"Kau dengar! Aku menyuruhmu mendengar!"
Dia menghujam lagi ke telinga.
Di pinggiran sungai yang sepi terdengar lengkingan kesakitan dan teriakan.
Laki-laki yang tidak bersalah ini sudah kehilangan sepasang mata dan telinganya.
Mata Tao Chun-chun terpejam, seperti tidak ingin menyaksikan kekejaman ini, dia berkata.
"Sudahlah.... melihatnya hatiku menjadi tidak enak!"
Seekor cheetah yang sadis berubah lagi menjadi seekor babi bodoh, dia melihat pisau yang berlumuran darah itu lalu membentak.
"Orang ini memang harus dihajar!"
Suaranya besar, dadanya dibusungkan, sikapnya seakan-akan dia telah melakukan satu pekerjaan yang patut untuk dipuji, kemudian dia melihat Tao Chun-chun, tawanya yang sadis berubah menjadi tawa serakah, dia menurunkan pisaunya lalu tertawa.
"Kau mengatakan sudah, aku menurut permintaanmu!"
Tiba-tiba dia berjalan ke sisi Tao Chun-chun, dia berbisik di telinga Tao Chun-chun, segera wajah Tao Chun-chun menjadi merah, dia tertawa, lalu menggelengkan kepalanya.
Laki-laki itu berbisik lagi di telinganya, satu tangan Tao Chun-chun tampak mengelus-elus rambutnya dan tertawa dengan manja, dia berkata.
"Kau jahat.... aku.... bertanya.... kepadamu.... terhadapku.... bagaimana perasaanmu?"
Mata laki-laki itu terbuka lebar, dia memamerkan otot-ototnya, menandakan kalau dia adalah seorang laki-laki kekar, kemudian dia berkata.
"Aku sangat menyukaimu, sangat suka."
Kemudian dia bertanya.
"Kau ingin pergi ke Hu Qiu, ada keperluan apa kau ke sana?"
Tao Chun-chun menatap langit, wajahnya terlihat cemas lagi, tapi dia tetap tersenyum dan menjawab.
"Ceritanya sangat panjang, nanti aku akan menceritakannya kepadamu."
Alis laki-laki itu tampak terangkat dan berkata.
"Nanti...."
Tao Chun-chun tertawa dan berkata "Nanti.... suatu hari!"
Wajah laki-laki itu merah dan dari matanya terlihat kalau dia sangat senang dan berkata
"Apakah nanti kita masih bisa bertemu lagi?"
"Tentu!"
Laki-laki itu berteriak, hampir saja dia meloncat ke dalam air, tiba-tiba senyum di wajah Tao Chun-chun menghilang, lalu dengan dingin dia berkata.
"Kau menyukaiku, mengapa tidak sejak tadi kau katakan kepadaku? Apakah kau ingin mengancamku?"
Laki-laki itu terpaku. Tao Chun-chun tertawa lagi dan berkata.
"Sebenarnya kau tidak perlu mengancamku, aku.... aku...."
Dia menundukkan kepalanya tidak bicara lagi.
Laki-laki itu bediri di sisi Tao Chun-chun, seperti terbangun dari mimpi, lalu dia berkata.
"Aku akan memberitahu kepadamu.... aku akan memberitahu."
Suaranya berubah menjadi besar dan berkata.
"Kecuali mengganti kuda sepanjang perjalanan kau bisa dalam waktu setengah hari tiba di Hu Qiu, dan satu-satunya cara adalah...."
Mata Tao Chun-chun terbuka dengan lebar.
"Dengan cara apa?"
"Mengeluarkan darah!"
Alis Tao Chun-chun tampak berkerut dan bertanya.
"Mengeluarkan darah?...."
Laki-laki itu menegakkan dadanya dan menjawab.
"Benar, mengeluarkan darah! Setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer, seekor kuda pasti akan merasa lelah dan kecepatannya pasti akan berkurang, sekalipun dewa dia tidak akan bisa menyuruh kuda itu berlari lebih cepat lagi, tapi...."
Laki-laki itu dengan tertawa senang berkata lagi.
"Hanya dengan mengeluarkan darah, orang Mongolia berburu atau mengejar musuh, bila kuda tidak cukup, maka mereka selalu melakukan cara ini yaitu mengeluarkan darah supaya bisa sampai di tempat tujuan!"
Tao Chun-chun bertanya lagi.
"Apakah harus mengeluarkan darah seperti itu? Bagaimana cara mengeluarkannya?"
Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak, dia berjalan mendekati Tao Chun-chun dan memegang pundak Tao Chun-chun lalu menjawab.
"Setelah melakukan perjalanan cukup lama, darah kuda pasti akan memanas, kalau kau menusuk pantatnya hingga sobek, maka darah akan keluar sedikit, maka kecepatan kuda akan kembali seperti semula. Cara ini tampaknya aneh, tapi inilah cara yang paling jitu, hanya saja bagi kuda hal ini terlalu kejam!"
Tao Chun-chun mengangguk dan berkata.
"Memang ini sangat kejam tapi terpaksa...."
Sambil menarik nafas dia menjulurkan tangannya, dan mengelus dahi laki-laki itu, laki-laki itu tertawa senang dan perasaannya menjadi hangat.
Tao Chun-chun tertawa dengan manja dan berkata.
"Apakah kau menyukainya?"
Dia mengangkat kelima jari tangannya lalu dilipatnya, laki-laki itu tertawa dan berkata.
"Bersamamu aku merasa sangat senang -"
Suaranya belum habis, jari Tao Chun-chun sudah menotok nadinya di tiga tempat.
Mata laki-laki itu terbuka, dalam sorot matanya terlihat dia mulai ketakutan.
Tao Chun-chun tertawa dengan dingin "Apakah sekarang kau masih merasa senang?"
Tubuh laki-laki itu sudah lemas dan jatuh terkulai ke bawah, otot wajahnya sudah membeku tapi masih terlihat wajah serakahnya!
Tao Chun-chun tidak membunuhnya, hanya meletakkan laki-laki yang tidak bersalah tadi di dekat si bodoh.
Tao Chun-chun berkata pada laki-laki itu.
"Aku sudah meletakkan musuhmu tepat di sisimu, tadi dia memperlakukanmu dengan cara apa, sekarang balaslah kepadanyai"
Laki-laki yang wajahnya berlumuran darah itu sempat beberapa kali pingsan karena sangat kesakitan, setelah rintihannya berhenti, tiba-tiba dia mengeluarkan serangan yang sadis!
Diiringi tawa yang memecahkan keheningan, Tao Chun-chun dengan ringan meloncat ke darat, meninggalkan laki-laki iicik, sadis, penakut, dan bodoh.
Terdengar tawanya yang sadis tapi agak sedikit gemetar.
Dia laki-laki bodoh, licik, dan sadis, juga seorang penakut, walaupun dia terlambat dari temannya dia masih sempat menikmati kehangatan semu, sekarang dia mati lebih mengenaskan dari temannya.
Terdengar derap langkah kuda menjauh dari sisi sungai.
Tawa yang panjang tertutup oleh suara derap langkah kuda.
Malam semakin larut.
Di hutan yang berada di sisi sungai tiba-tiba muncul sesosok bayangan putih.
Pelan-pelan dia berjalan ke arah perahu yang berlumuran dengan darah, dia melihat keadaan di sana, dari mulutnya keluar tawa dingin dan seram.
Angin meniup bajunya yang putih, tubuhnya yang kurus dan tinggi tidak bergerak, dia hampir sama seperti bayangan pohon yang ada di dalam hutan itu, pohon yang sudah puluhan tahun berdiri dengan kokoh di sana, dalam hembusan angin malam dan di dalam hutan yang gelap berdiri tanpa bersuara.
Tiba-tiba orang berbaju putih membalikkan badannya, cahaya bintang menyinari wajahnya dan memantulkan cahaya hijau, dia mempunyai ilmu silat yang tinggi, dan identitasnya sangat misterius, gerakannya tidak dapat ditebak.
Sepasang matanya tersembunyi di balik topeng yang seram, matanya bersinar tajam, dia terus melihat ke arah hutan yang gelap, terdengar ada yang bergerak di balik semak-semak, tiba-tiba dari balik semak-semak muncul seseorang, bajunya berwarna hijau, rambutnya berantakan, wajahnya terlihat lelah, tapi kelihatan kalau dia sedang merasa gembira, di bawah cahaya bulan terlihat sapasang matanya yang terus memandang orang berbaju putih, dia tidak terlihat takut sama sekali.
Dia terus melihat orang berbaju putih yang misterius itu.
Pandangan dingin dan seram dari orang berbaju putih sama sekali tidak membuatnya merasa takut.
Dia terus melihatnya dan terus memandangnya dengan terpana, setelah itu dia mendekatinya dan tersenyum sambil berkata.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu!"
Suaranya terdengar gembira seperti seorang ibu yang gembira bertemu dengan anaknya yang sudah lama menghilang, juga seperti seseorang yang telah menemukan harta karun.
Orang berbaju putih terlihat kaget dengan dingin bertanya.
"Siapa kau?"
Dengan perlahan gadis itu berjalan w depannya, lalu berkata.
"Akhirnya aku bisa bertemu juga denganmu...."
Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya, jarinya membentuk seperti pedang, dan dengan cepat menotok ke dada orang berbaju putih.
Mata orang berbaju putih tampak berputar dengan mudah dia memegang tangan yang datang dengan cepat menuju kepadanya, gadis itu seperti sengaja membiarkan tangannya dipegang dan dia tidak terlihat takut sama sekali juga tidak merasa kaget, dia malah senang, terdengar orang berbaju putih dengan dingin bertanya.
"Siapa kau? Ada permusuhan apa denganku?"
Gadis itu tertawa terus bicara.
"Ternyata benar dirimu! Ilmu silatmu sangat bagus, kau bisa menggunakan ilmu yang terlihat sangat sederhana menjadi sebuah ilmu yang bagus, pantas dia terus memujimu!"
Orang berbaju putih terpaku dan dengan dingin bertanya.
"Siapa dia?"
Mata gadis itu berputar, dia membiarkan tangannya terus dipegang, malah dia tertawa dan berkata.
"Jarimu begitu panjang dan ramping, tapi ibu jari dan telunjukmu tebal. Aku rasa sewaktu berlatih pedang kau pasti sudah berusaha dengan keras, tapi.... .mengapa kau tidak membawa pedang?"
Jaman itu, hubungan laki-laki dan perempuan dibatasi dengan aturan yang sangat ketat.
Tapi kelakuan gadis ini membuat sepasang mata orang berbaju putih merasa aneh.
Dia segera melepaskan tangan gadis itu.
Terdengar gadis itu menjawab pertanyaan yang diajukan tadi.
"Orang yang memujimu mungkin kau tidak mengenalnya, tapi dia pernah bertarung denganmu...."
Kata-katanya belum selesai, orang berbaju putih berkata dengan terkejut.
"Liu He-ting.... apakah dia benar-benar memujiku...."
"Kau benar-benar pintar, sekali menebak langsung benar...."
Mata orang berbaju putih terlihat sangat serius, dia berkata dengan pelan.
"Orang yang benar-benar pernah bertarung denganku, hanya dia dan orang yang masih hidup bertarung denganku sampai sekarang hanya dia, sekarang dia masih memujiku...."
Kedua kalimat yang baru keluar dari mulutnya benar-benar terdengar sangat dingin, siapa pun yang mendengar kalimat yang begitu dingin pasti akan takut.
Tapi gadis itu tetap tertawa dan menarik nafas, tapi tidak ada rasa marah, malah terlihat kalau dia iri dan sikapnya tampak terus memuji.
Orang berbaju putih dengan terpana melihatnya, tiba-tiba dia bertanya kepada gadis itu.
"Apakah kau tidak menganggap caraku terlalu sadis dan tidak manusiawi?"
Gadis itu tertawa dan menjawab.
"Hukum rimba selalu berlaku yang kuat akan hidup, sedangkan yang lemah akan mati. Ini adalah hal yang biasa dan masuk akal. Orang yang tingkat ilmu silatnya di bawahmu, kenapa mengajak bertarung denganmu, sepantasnya mereka mati. Kalau ilmu silatmu di bawah mereka, bukankah kau akan terbunuh oleh mereka? Aku menganggap yang disebut duel adalah kedua belah pihak bertarung tidak menggunakan cara licik, yang kuat membunuh yang lemah itu bukan hal yang sadis, apakah menurutmu betul?"
Mata orang berbaju putih tampak bercahaya dan bersinar aneh, sorot matanya seperti orang yang sedang berkhayal, ketika dia berada di tempat lain tiba-tiba bertemu dengan keluarganya, atau juga seperti seseorang yang sudah lama menyendiri tiba-tiba bertemu dengan orang yang mengerti keadaannya.
Sekarang orang berbaju putih memperhatikan gadis itu.
Dia berkata.
"Apakah aku telah bertarung dengan adil? Liu He-ting pasti telah memberitahunya kepadamu!"
"Kalau kau tidak bertarung dengan adil, dia tidak akan mau memujimu!"
Dua pasang mata mereka bertemu, mereka saling memandang, sorot mata dingin orang berbaju putih itu tiba-tiba mengeluarkan tawa hangat.
Sifat orang berbaju putih memang sangat aneh, seumur hidupnya belum pernah dia menyukai seseorang, kata-kata gadis tadi benar-benar tepat dan masuk ke dalam hatinya.
Air sungai terus mengalir, gadis itu mengangkat tangannya membereskan rambutnya yang berantakan.
Sorot mata orang berbaju putih terus mengikuti gerakan tangan gadis itu, dia berkata.
"Tangan kananmu sangat kuat, tapi tangan kirimu juga selalu memegang ujung pedang, tampaknya terhadap ilmu pedang kau sudah mencurahkan begitu banyak tenaga, apakah betul pendapatku?"
Orang berbaju putih sudah bisa berkata dengan tenang, berbeda sekali dengan kata-katanya tadi yang dingin and kaku.
Gadis itu terpaku, tiba-tiba dia menarik nafas panjang dan menjawab.
"Benar, aku sudah berusaha dengan keras.... Hai, jujur kukatakan, seumur hidupku kecuali berlatih pedang, aku belum pernah melakukan apa pun, aku tidak pernah memikirkan soal apa pun, tapi lmu pedangku tetap...."
"Dalam satu jurus, aku bisa mengalahkan jurusmu!"
Dia tidak bermaksud sombong juga tidak mengandung hinaan, dia benar-benar berkata jujur, seperti seorang guru yang sedang mengajar muridnya.
Dan gadis itu pun tidak merasa kalau kata-kata orang berbaju putih tadi menusuk telinganya.
Dia hanya berkata.
"Aku tahu.... tadi aku menyerangmu, di belakang jurusku sebenarnya masih ada 3 serangan susulan yang lebih lihai, tapi begitu kau mengangkat tangan kau telah memecahkan semua seranganku."
Orang berbaju putih pelan-pelan mengangguk dan berkata.
"Kalau begitu, kau mencari aku bukan untuk bertarung denganku bukan?"
Gadis itu mengangguk dan menjawab.
"Aku memang sedang mencarimu. Pertama, aku ingin mencoba bagaimana ilmu silatmu, apakah benar ilmu silatmu seperti yang dikatakan orang-orang. Kedua, aku.... aku...."
Dia menunduk tidak bisa berkata-kata lagi.
Orang berbaju putih mengangkat tangannya seperti ingin membantu gadis itu membereskan rambut yang terus tertiup angin tapi setelah ditengah jalan, dia berkata.
"Ada apa, bicaralah!"
Gadis itu menatapnya lalu pelan-pelan berkata.
"Aku ingin kau menjadi guruku, apakah kau mau menerima murid seperti diriku?"
Orang berbaju putih terpaku, karena kata-kata gadis ini benar-benar di luar dugaannya.
"Ingin menjadi muridku?'' Gadis itu menegakkan dadanya dan berkata.
"Benar! Aku ingin menjadi muridmu, kata Liu He-ting, kau adalah jago pedang nomor satu. Seurrrur hidup aku belajar ilmu pedang sampai sekarang ilmu pedangku masih sangat rendah. Kalau aku tidak bisa menjadi muridmu, aku akan mencari suatu tempat sepi -untuk mati...."
Gadis itu berbicara dengan tegas dan sama sekali tidak terlihat ragu-ragu, tampaknya dia sudah bertekad.
Orang berbaju putih walaupun senang menyendiri dia juga tidak menyukai aturan-aturan di dunia, tapi dia tidak menyangka kalau di dunia ada juga gadis yang begitu istimewa, dia melihat gadis itu tapi tidak bisa menjawab.
Gadis itu terus melihatnya dengan lama.
Dia menarik nafas dan berkata.
"Kalau kau tidak setuju...."
Dia menarik nafas dan membalikkan badan kemudian berlari sekencang-kencangnya.
Mata orang berbaju putih tampak berkilau.
Dia bergerak dan berteriak.
"Jangan pergi...."
Suaranya baru keluar, dia sudah menghadang di depan, gadia itu tertawa dengan senang dan berkata.
"Apakah kau setuju dengan permintaanku?"
Orang berbaju putih menarik nafas panjang dan menjawab.
"Kau salah. Dunia ini sangat luas dan sangat aneh, orang yang berilmu silat lebih tinggi dariku sangat banyak, kalau kau belajar ilmu pedang kepadaku, kau memang bisa mendapatkannya, tapi ilmu pedangku hanya begitu saja, kelak kau pasti akan menyesal. Ilmu pedangku memang dahsyat tapi bukan berasal dari golongan putih, walaupun ilmu ini cepat tapi agak sesat, aku bisa mengalahkan orang lain karena aku mengerti dengan apa yang disebut 'menunggu'. Musuh tidak bergerak, aku tidak bergerak. Musuh tidak menyerang, aku pun tidak menyerang, ilmu pedangku kalah dari Liu He-ting, karena ilmu pedangnya berasal dari kalangan lurus, kau sangat mengerti ilmu pedang, kau pasti tahu aku tidak berbohong kepadamu."
Pesilat tangguh yang aneh, kejam, dan juga jarang bicara sekarang menarik nafas panjang, dia juga bisa berbicara dengan suara hatinya, benar-benar menakjubkan.
Mata gadis itu terus berputar, wajahnya penuh dengan kegembiraan, dengan lembut dia berkata.
"Asalkan kau setuju, aku tidak akan merasa menyesal...."
Orang berbaju putih terpaku, dia berkata.
"Aku hanya sebatang kara di dunia ini, di mana pun aku berada itu adalah rumahku, kadang-kadang aku bermalam di kuil tua, kadang-kadang bermalam di gunung terpencil. Kau masih muda, apalagi kau seorang perempuan mana boleh...."
Gadis itu mengerutkan alisnya dan berkata.
"Jika seseorang bisa mendapatkan guru sepertimu, susah sedikit tidak menjadi masalah, apalagi...."
Matanya terpejam dan dia berkata lagi.
"Semenjak aku mendengar kata-kata Liu He-ting, diam-diam aku telah meninggalkan ayah dan mencarimu, semenjak itu hidupku pun mulai sulit!"
Dia menarik nafas dan menundukkan kepalanya, sinar bintang menyinari rambutnya yang panjang.
Orang berbaju putih mengeluarkan telapak tangannya lalu mengelus rambut gadis itu.
Tiba-tiba gadis itu menatapnya, matanya penuh dengan cucuran air mata tapi dia tetap merasa sangat senang dan berteriak.
"Kau setuju, apakah benar kau setuju?"
Mata Orang berbaju putih tampak berputar.
Dia melihat telapak tangannya yang panjang dan kuat, lalu pelan-pelan dia menrunkan tangannya.
"Aku akan mengajarkan semua keahlianku kepadamu."
Kata-kata ini sangat berat seperti diucapkan dengan tenaga besar baru bisa diungkapkan.
Mata gadis itu berbinar-binar, dia harnpir meloncat dan berteriak.
"Apakah benar?"
Orang berbaju putih terdiam. Gadis itu bertanya lagi.
"Apakah benar semua perkataanmu?"
Terlihat sorot mata orang berbaju putih melembut, tiba-tiba dia tertawa sinis, dia berkata pelan-pelan.
"Kau tahu kalau ada orang yang bertanya kepadaku, aku tidak akan mengijinkan dia berkata untuk kedua kalinya karena aku tidak mengijinkan orang lain merasa sangsi apakah kata-kataku ini benar atau tidak."
Gadis itu menundukkan kepalanya, dari wajahnya terlihat kalau dia sangat mengagumi orang berbaju putih.
"Aku belum pernah mencurigai Anda.... Guru."
"Aku akan mengajarkan ilmu silatku, tapi aku tidak mau menjadi gurumu!"
Gadis itu terlihat kaget, dia bertanya.
"Mengapa?"
Orang berbaju putih terdiam, mulut gadis itu terus bergerak, dia ingin menanyakan sesuatu, tapi dia mengurungkan niatnya.
Orang berbaju putih berkata lagi.
"Banyak masalah di dunia yang tidak memerlukan alasan, walaupun ada alasan tapi tidak perlu dijelaskan, kalau kau mau ikut denganku berlatih pedang, kita akan menjadi sahabat, menjadi sahabat bukankah lebih nyaman, menjadi guru dan murid terikat banyak aturan, dan membuat kita merasa tidak nyaman, untuk apa semua ini?"
Gadis itu menjadi terpana, akhirnya dia berkata.
"Baiklah, aku berjanji...."
Dia seperti teringat sesuatu dan berkata lagi.
"Kita sudah bersahabat, tapi siapa namamu? Aku belum tahu...."
Orang berbaju putih tiba-tiba berubah menjadi dingin dan berkata.
"Apakah kau mau melihat wajahku yang sebenarnya?"
Mata gadis itu tampak berputar dan berkata.
"Kau tenang saja, walaupun kau sangat tua, sangat jelek, cacat bibir, atau bopeng, semua tidak menjadi masalah bagiku, kau tetap seorang sahabat terbaik karena yang kusuka darimu adalah sifat dan ilmu silatmu, hal lain, aku tidak akan peduli."
Hanya orang jujur dan polos baru bisa berkata seperti itu, apalagi untuk seorang laki-laki yang baru dikenalnya.
Sorot mata orang berbaju putih yang tadinya dingin sekarang kembali melembut, dia memandang gadis itu, lama dan lama....
tiba-tiba dia tertawa seperti orang gila.
Gadis itu terkejut dan tidak terasa dia melangkah mundur, dia terkejut bukan karena mendengar tawanya yang tinggi dan keras, melainkan dia tidak menyangka sifat orang berbaju putih begitu penyendiri, melakukan semua pekerjaan yang kasar sampai-sampai bicara pun tidak pernah lebih dari satu kalimat, tapi sekarang dia bisa tertawa begitu keras.
Dalam tawanya itu pelan-pelan dia mengangkat telapak tangannya....
Telapak tangannya mengarah ke topeng yang sedang dipakainya, suara tawanya semakin keras.
Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, dia maju selangkah, pelan-pelan menarik tangannya, dengan lembut berkata.
"Kalau kau tidak mau memperlihatkan wajahmu, tidak apa-apa, mengapa harus tertawa seperti itu?"
Suara tawa orang berbaju putih semakin mengecil, dia berkata dengan tersenyum.
"Ketika kau melihatku tertawa, apakah kau merasa kaget dan takut?"
Gadis itu dengan lembut mengangguk, orang berbaju putih tertawa lagi dan berkata.
"Apakah kau tahu kalau tawaku adalah tawa gembira, mengapa kau harus kaget dan takut? kau harus tahu, kalau aku bukan benar-benar merasa gembira, aku tidak akan tertawa."
Gadis itu memegang tangannya dengan erat, matanya terpejam sebentar, lalu dia meneteskan air mata.
Orang berbaju putih berhenti tertawa dan berkata.
"Mengapa kau menangis?"
Gadis itu menghapus air matanya dengan lengan baju dan menjawab.
"Aku.... aku pun merasa terlalu gembira, apakah kau tahu semenjak aku dilahirkan, tidak pernah ada seorang pun yang begitu baik kepadaku?"
Orang berbaju putih terdiam, mereka bersama-sama menarik nafas, mereka saling memandang dan tidak berkata apa pun.
Keadaan mereka sangat aneh, mereka pun sangat kukuh terhadap suatu masalah, mereka menentang kepada orang yang ada di dunia.
Bila ada orang persilatan tidak baik kepada mereka secara otomatis mereka pun akan bertambah kukuh, adat orang seperti ini sangat banyak, tapi jarang ditemukan, begitu bertemu, salah satu dari mereka pasti mengeluarkan unek-uneknya karena mereka merasa hati dan jitua mereka sangat dekat, gadis dan orang berbaju putih adalah orang seperti itu.
Sepi, susana sepi yang lama, kemudian terdengar tarikan nafas berat.
Orang berbaju putih menggeser tubuhnya, sejak tadi dia tidak bergerak.
Dia menarik nafas dan berkata.
"Aku pun sama sepertimu, seumur hidup kecuali berlatih pedang, tidak ada masalah lain yang bisa kulakukan. Hanya saja nasibku lebih beruntung karena mempunyai seorang guru yang hebat, meskipun tidak sayang kepadaku tapi ilmu silatnya sangat tinggi...."
Gadis itu melihat wajahnya dan berkata.
"Apakah dalam hidupmu tidak ada seorang pun yang berbuat baik kepadamu atau benar-benar mencintaimu?"
Orang berbaju putih mengangguk, matanya melihat wajah gadis itu.
"Aku tahu kau tidak mau kalau ada orang melihat wajahmu karena kau merasa orang di dunia ini tidak baik kepadamu, apakah benar pendapatku?"
Orang berbaju putih tidak bergerak, tapi dia terus melihat gadis itu....
tiba-tiba tangannya terangkat, dia membuka topeng hijau itu....
Gadis itu berteriak.
Orang berbaju putih berkata pelan-pelan.
"Apakah kau tidak menyangkanya?"
Gadis itu dengan bengong melihatnya, tiba-tiba dia tertawa dan berkata.
"Aku tidak menyangka.... benar-benar tidak menyangkanya sama sekali!"
Malam remang-remang, bintang pun bersinar dengan redup, tampak wajah orang berbaju putih begitu tampan, meski wajahnya sedikit pucat, kalau bukan karena garis wajahnya begitu jelas dan hidungnya mancung seperti yang diukir, wajah itu benar-benar seperti wajah seorang perempuan cantik.
Suasana begitu sepi, gadis itu terus melihat orang berbaju putih, orang berbaju putih tersenyum, dia kembali memakai topengnya.
gadis itu berkata.
"Aku mohon kau jangan memakai topeng itu lagi."
"Kenapa?"
Gadis itu menundukkan kepalanya dan tertawa.
"Kalau kau jelek atau cacat, kau ingin memakai topeng itu lagi, aku tidak akan melarangmu dan juga tidak akan merasa aneh. Tapi kau...."
Dia tertawa dengan malu dan berkata.
"Mengapa kau masih ingin memakai topeng itu, aku benar-benar tidak mengerti?"
Mulut orang berbaju putih yang tipis dan kuat segera terlihat ada tawa, pelan-pelan dia berkata.
"Kau tidak mengerti?.... Lebih baik aku beritahu kepadamu. Aku tidak mau mukaku dilihat orang-orang karena aku berharap bila orang melihatku dengan topeng ini, mereka akan takut dan sungkan kepadaku. Pada saat aku memakai topeng ini walaupun bertarung dengan siapa pun, orang itu akan takut lebih dulu kepadaku, jadi jika aku tidak memakai topeng ini, apakah orang akan merasa takut kepadaku!"
Orang berbaju putih tertawa dan berkata.
"Apakah kau pernah mendengar cerita tentang Jenderal Di Qing, jika bertarung dengan musuh harus membuat musuh takut terlebih dahulu kepada kita, apakah kau mengerti?"
Gadis itu seperti mengerti dan mengangguk lalu berkata.
"Bertarung dengan musuh harus membuat musuh takut terlebih dulu...."
Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan berkata.
"Ini adalah cara yang sangat pintar, tapi apakah kau merasa tidak jujur karenanya?"
Orang berbaju putih mengerutkan alisnya dan bertanya.
"Tidak jujur? Bagian mana yang tidak jujur?"
"Semua orang persilatan pada saat bertarung harus mengandalkan keahlian mereka untuk menentukan siapa yang kalah dan menang. Kalau menggunakan siasat untuk menang, boleh dikatakan kalau dia menang tidak dengan cara jujur, apakah betul menurutmu?"
Orang berbaju putih menunduk dan bengong, terdengar gadis itu berkata lagi.
"Apakah kau pernah mendengar pepatah jangan sombong, jangan putus asa, jangan berbohong, jangan berpura-pura, harus adil dan lurus, walaupun kalah tapi tetap kalah dengan jujur.' Kata-kata ini sejak kecil sampai aku besar sudah sering kudengar, ayah sering menasihatiku, dalam keadaan bagaimanapun kata-kata ini jangan sampai dilupakan. Jangan memalukan nama keluarga Xi Men."
Tiba-tiba wajah orang berbaju putih berubah dan berkata.
"Siapamu Jiang Su Hu Qiu, Wisma Fei He ketua wisma Xi Men He?"
Gadis itu tertawa dan menjawab.
"Pantas ayah sering mengatakan bahwa nama pamanku pasti diketahui oleh semua pendekar dunia persilatan. ternyata kau pun tahu nama pamanku...."
Alis orang berbaju putih tampak berkerut, matanya yang terang menjadi redup.
Dia menundukkan kepalanya dan berkata.
"Tidak disangka, ternyata kau dari keluarga Xi Men...."
Suaranya berubah, dengan serius dia berkata lagi.
"Apakah kau tahu Wisma Fei He akan mendapatkan bencana, kemungkinan mulai malam ini Wisma Fei He akan terhapus dari dunia persilatan."
Wajah gadis itu segera berubah, tapi dia segera tertawa dan berkata.
"Walaupun selama beberapa tahun orang berbakat dari keluargaku semakin sedikit, tapi dengan pedang panjang milik pamanku dan murid-murid yang dilatihnya sendiri sekalipun bertemu dengan musuh kuat, kami tidak akan kalah banyak, apakah kau tidak terlalu mengada-ada?"
Orang berbaju putih tertawa dingin.
"Terlalu mengada-ada?"
Dia berhenti sebentar, lalu menarik nafas lagi dan berkata.
"Apakah kau tahu setengah bulan yang lalu Wisma Fei He selalu diincar oleh Wu Yi Shen Mo dan kelompok Wu Yi Shen Mo sudah mendapat perintah dari ketuanya. Malam ini mereka akan membunuh semua orang yang ada di Wisma Fei He, tidak boleh tersisa satu orangpun. Mereka sangat rapi dalam mengerjakan hal ini, tapi gerakan mereka telah diketahui oleh seseorang yang selalu mengawasi gerak-gerik Wu Yi Shen Mo. Dia mengetahui cara mereka mengontak satu sama lain dan mengetahui rencana busuk mereka. Mungkin kau sudah lama meninggalkan Wisma Fei He, dan mereka belum mengenalmu, kalau tidak siapa pun yang keluar dari keluarga Xi Men, mereka pasti akan membunuhnya!"
Orang berbaju putih belum tahu bahwa bapak dan putri Xi Men Ou sudah lama tidak pulang ke Jing Su Hu Qiu!
Wajah gadis itu yang tadinya memang pucat, sekarang bertambah pucat lagi.
Dia memegang erat tangan orang berbaju putih, dengan ketakutan dia bertanya.
"Apakah semua benar? Lalu aku harus berbuat bagaimana?"
Orang berbaju putih terpaku, lalu dia berkata dengan pelan.
"Bagaimana? Tidak ada cara lain, sekalipun sekarang kita mempunyai sayap, kita tidak bisa segera pulang ke Wisma Fei He!"
Walaupun sifat orang berbaju putih dingin dan kejam, tapi tanpa sadar dia mulai suka pada gadis yang akan belajar silat padanya, dia merasa sangat kasihan kepada nasib gadis itu, perasaan gadis yang tadinya bergejolak sekarang menjadi tenang, kemudian dia menundukkan kepalanya dan tampak sedang berpikir, kemudian dia menarik nafas dan berkata.
"Kalau tidak ada cara lain, kelak aku harus rajin belajar ilmu pedang dan membalas dendam kepada mereka."
Orang berbaju putih terpaku dia mengerutkan dahinya dan berkata.
"Menghadapi masalah ini apakah kau hanya bisa berkata seperti itu?"
Gadis itu malah merasa aneh dan bertanya.
"Lalu apa yang aku harus katakan?"
Orang berbaju putih dengan aneh melihatnya, kemudian dengan pelan dia berkata.
"Apakah kau tidak mau tahu apa alasan mereka melakukan ini? Dan mengapa Wu Yi Shen Mo ingin membunuh seluruh keluarga Xi Men? Karena apa mereka melakukan semua ini? Dan apakah kau tidak mau mengetahui siapa yang diam-diam telah mengetahui rencana busuk Wu Yi Shen Mo? Dan apa hubungannya orang itu dengan Wu Yi Shen Mo?"
Gadis itu hanya mengerjapkan matanya dan bertanya.
"Apakah kau mengetahui semuanya?"
Orang berbaju putih menjawab dengan dingin.
"Benar, aku memang mengetahui sedikit keterangan, kalau kau tidak bertanya aku rasa aku pun tidak perlu memberitahukan padamu."
Dia memegang topeng logamnya kemudian dia membalikkan tubuh dan pergi.
Gadis itu tidak bergerak, dia hanya melihat baju putihnya berkibar tertiup angin, jalannya sangat perlahan, sepertinya dia berharap gadis itu akan menghalangi kepergiannya....
Langkahnya sangat perlahan, dan saat itu di tempat lain, kuda yang ditunggangi oleh Tao Chun-chun berlari dengan cepat, terlihat pantat kuda itu berlumuran darah dan belum mengering, kuda itu sudah mengeluarkan darah tapi kuda itu masih terus berlari, dahi Tao Chun-chun yang mulus juga tampak mulai berkeringat.
Tapi dia semakin bersemangat, sorot matanya tajam, keadaannya sekarang sama seperti elang yang berada di gurun pasir yang sedang mengincar mangsanya.
Hutan yang berada di sisi jalan, pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi, sinar bintang tampak di atas pepohonan itu, bayangan pohon seperti kilat lewat di depan matanya.
Dari dalam hutan terlihat ada sebuah bangunan kuil, dan terlihat lonceng yang tergantung di serambi kuil itu, lonceng itu memantulkan cahaya kuning.
Mata Tao Chun-chun tampak berbinar lalu pelan-pelan dia menghentikan kudanya, dia meloncat turun dan mengikat kuda itu, dia langsung berlari masuk ke dalam kuil.
Sebuah lampu dengan cahaya sebesar biji kacang menyinari kuil itu.
Tampak kuil itu sangat sepi dan menyedihkan, diatas meja terdapat patung Budha, 10 hari lalu, dia berdoa di depan patung Budha untuk Liu He-ting, lalu dari atas atap menetes cairan darah, kemudian Bian Ao-tian memimpin banyak orang siap membunuh mereka, lalu boneka yang ada di balik tirai....
semua keadaannya masih sama.
Dengan cepat dan ringan dia masuk ke kuil, dia melihat keadaan kuil itu, dan dia memeriksa kuil itu, di sana tidak ada seorang pun, lalu dengan cepat dia berlari ke tempat sembahyang dan mencari alas untuk sembahyang, jarinya yang panjang dan lentik menarik alas sembahyang yang sudah usang dan menarik keluar sehelai kain berwarna abu.
Di atas kain tidak tertulis huruf apa pun, tapi begitu kain itu direndam, di atas kain muncul huruf-huruf.
Di bawah sinar redup, dengan cepat Tao Chun-chun membaca tulisan itu, kemudian terlihat wajahnya yang cemas menjadi tersenyum gembira, dia berkata pada dirinya sendiri, Tak disangka, Guan Wai Wu Long banyak akalnya, kelihatannya walaupun aku tidak bisa mengejar waktu sampai di Hu Qiu, tetap tidak menjadi masalah!"
Karena itu dengan tenang dia berjalan keluar dari kuil, kali ini karena tidak ada Liu He-ting di sisinya, dia tidak perlu pura-pura berdoa lagi.
Malam ini di kuil sama seperti malam kemarin.
Bintang-bintang memenuhi langit, malam terasa dingin seperti air, jarak dari kuil ke Jiang Su Hu Qiu sudah tidak terlalu jauh tapi tetap memerlukan waktu.
Jarak dari kuil ke Jiang Su Hu Qiu kira-kira 3-5 kilometer, Liu He-ting masih berlari dengan kencang dengan kudanya, walaupun dia mempunyai tenaga dalam yang kuat tapi karena ketegangan menjelang pernikahannya dan perubahan yang terjadi setelah dia menikah, setelah beberapa hari berkuda, Liu He-ting sudah tidak tahan lagi.
Sekarang waktu menunjukkan waktu pukul 1 malam, bulan dan bintang bersinar cukup terang, kuda yang ditungganginya masih terus berlari dengan kencang, dia duduk tegak di atas kuda, matanya dipejamkan dan dia menarik nafas, tapi dia tidak bisa berkonsentrasi.
Dia terus bertanya kepada dirinya sendiri.
"Berapa jauh lagi ke Hu Qiu? Apakah sudah hampir sampai?...."
Dia segera melihat hutan yang ada di kedua sisi jalan seperti ada kilauan pedang dan golok.
Karena diam dia mendengar suara senjata yang beradu, suara bentakan dan amarah mengikuti tiupan angin ke arahnya, kemudian terdengar teriakan yang membuat hati orang tidak tahan mendengarnya.
Saat itu beberapa pikiran terlintas di benaknya!
Pernah dia berpikir.
"Apa yang sedang terjadi di depan sana? Apakah ada perampok yang menodong seseorang? Atau ada orang-orang dunia persilatan yang bertarung untuk balas dendam pada malam hari seperti ini?"
Dia berpikir lagi.
"Sekarang aku mempunyai keperluan penting, tidak usah berhenti untuk melihat semua yang terjadi di sana, semua tidak ada hubungannya denganku, masalah yang sedang kuhadapi sekarang saja belum selesai, mana bisa aku mengurusi masalah orang lain!"
Waktu itu dia berpikir bolak-balik dan sulit untuk mengambil keputusan yang tegas, jeritan ketiga terdengar, dia mengerutkan dahi dan berpikir.
"Perampokan dan orang terluka telah terjadi di depanku, kalau aku pura-pura tidak melihat, apakah aku bisa disebut sebagai seorang pendekar? Aku harus membantu orang itu dan ini tidak akan memakan banyak waktu!"
Pikiran ini walaupun sekilas lewat di benaknya, dia telah mengarahkan kudanya supaya berlari dengan cepat dan dia pun masuk ke dalam hutan menuju orang yang sedang bertarung, terdengar ada seseorang yang membentak dari dalam hutan.
"sahabat yang sedang melewati Jiang Nan Qi Gai ada di sini, harap sahabat mau mengurusi persoalan yang terjadi di sini."
Mata Liu He-ting tampak melotot, darahnya naik, begitu dia mendengar nama Jiang Nan Qi Gai, dia sadar kalau orang-orang itu bukan orang baik-baik, karena itu dia tidak ragu lagi, segera tangan kirinya menghela kuda supaya berlari lebih cepat, kuda itu meringkik dan berhenti berlari, dari dalam hutan terdengar ada yang membentak lagi.
"Kau jangan ikut campur, kami adalah Jiang Nan Qi Gai, kalau kau turun dari kudamu dalam jarak 5 langkah, kau akan berdarah."
Suaranya belum habis, tubuh Liu He-ting sudah melayang seperti seekor burung kemudian di tengah udara bersalto dan masuk ke dalam hutan.
Cahaya pedang tampak berkilauan dari dalam hutan, Liu He-ting baru saja memasuki hutan, terdengar ada yang berteriak.
"Ilmu meringankan tubuh yang bagus! Cepat berpencar!"
Kemudian mereka pun melarikan diri dengan berpencar, ada yang ke barat, ada yang ke timur, ada yang ke kiri ada pula yang ke kanan, hanya dalam waktu sekejap mereka sudah menghilang di dalam kegelapan.
Liu He-ting segera berhenti, dia melihat ke sekeliling, dia ingin marah.
"Nama Jiang Nan Qi Gai yang mengejutkan dunia persilatan ternyata pengecut, benar-benar tidak disangka!"
Walaupun dia ingin mengejar mereka tapi dia langsung mengurungkan niatnya karena dia masih mempunyai keperluan lain yang jauh lebih penting, jadi dia merasa tidak perlu mengejar.
Matanya melihat ke bawah ternyata ada senjata yang terputus dan tampak beberapa senjata rahasia yang berserakan di bawah, mungkin juga ada bekas darah yang menetes di bawah hanya karena gelap dia tidak bisa melihatnya.
"Siapakah yang telah terluka, apakah orang itu pun dibawa pergi oleh mereka?"
Sewaktu dia sedang bertanya-tanya, tiba-tiba terdengar suara rintihan kesakitan yang datang dari balik semak-semak, Liu He-ting segera berlari ke arah suara itu, dan dia menyibak semak-semak itu.
Di bawah sinar bulan terlihat ada seseorang dengan baju compang camping dan di seluruh tubuhnya berlumuran darah, dia terbaring di tanah dan darahnya masih terus mengalir dari sela-sela jarinya.
Kelihatannya selain ada luka bacok, wajahnya pun terluka berat.
Darah, bekas bacokan pisau, dan suara rintihan kesakitan, membuat hati Liu He-ting benar-benar kaget dan dia merasa kasihan kepada orang itu.
Lalu Liu He-ting menggendongnya, Liu He-ting melihat walaupun orang itu badannya penuh dengan darah tapi luka di tubuhnya tidak terlalu parah, hanya luka diluar saja!
Liu He-ting merasa sedikit tenang, dia yakin orang ini tidak akan mati karena itu dia berkata.
"Kawan, kau tidak perlu merasa khawatir, luka yang kau derita tidak terlalu mengkhawatirkan...."
Siapa tahu begitu Liu He-ting selesai bicara, tiba-tiba orang itu menangis, Liu He-ting terkejut dan mengerutkan dahinya, tapi dengan ramah dia berkata.
"Bagi seorang laki-laki yang berkelana di dunia persilatan, jika tubuhnya terluka sedikit adalah hal yang biasa."
Liu He-ting adalah seorang laki-laki yang bersifat keras, melihat laki-laki ini begitu ketakutan, dia tidak senang, tampak kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
Liu He-ting segera berkata, Turunkan tanganmu, aku akan melihat luka di wajahmu...."
Laki-laki yang kepalanya terbungkus dengan kain berwarna ungu dan tubuhnya yang berlumuran dengan darah sejenak berhenti menangis, tapi tiba-tiba dia menangis lagi sejadi-jadinya!
Liu He-ting merasa terkejut dia pun langsung berhenti bicara, terdengar dia berteriak.
"Luka ringan.... luka ringan."
Dia membuka telapak tangan orang itu dan berkata.
"Kau lihat, bukankah ini hanya luka ringan?"
Mata Liu He-ting tadinya berputar karena kesal, sekarang tidak bisa berputar lagi, rasa dingin dengan cepat muncul di dalam hatinya....
Di dalam kegelapan malam terlihat wajah orang itu memang penuh dengan darah, kecuali hanya terlihat matanya bagian wajahnya yang lain tidak terlihat, darah masih terus menetes.
Dalam pengalamannya, walaupun dia sudah banyak menyaksikan kematian orang, dan dia pun sering menyaksikan hal-hal yang menyedihkan, tapi tidak ada satu peristiwa pun yang bisa membuatnya membeku seperti sekarang, hatinya bergejolak karena melihat reaksi orang ini, wajahnya hancur tapi dia masih hidup, dan inilah yang mengejutkan Liu He-ting.
Tawanya terdengar seperti orang gila, rintihan kesakitannya terngiang terus di telinga Liu He-ting, walaupun Liu He-ting mencoba untuk menahan dirinya, dia mencoba untuk tidak berkata-kata dulu.
Terdengar laki-laki itu mulai berkata "Apakah kau sekarang sudah merasa puas?"
Liu He-ting berkata.
"Sahabat.... Kakak.... kau.... Hai."
Liu He-ting menarik nafas dan dia berkata.
"sahabat, tidak apa-apa.... tidak apa-apa...."
Sambil berkata dia mengambil obat yang sudah ada di tangannya, tangan Liu He-ting tampak gemetar, obat yang dipegangnya berhamburan ke bawah.
Laki-laki yang berlumuran darah tadinya matanya tampak serius sekarang bersorot aneh, tawanya yang besar tiba-tiba melemah, tiba-tiba dia berteriak dan berkata.
"Aku.... aku sudah.... tidak...."
Suaranya berhenti dan tidak terdengar apa pun. Hati Liu He-ting bergetar, lalu dia berkata.
"Kau.... merasa di bagian mana yang sakit?"
Obat yang ada di tangan Liu He-ting tampak berjatuhan lagi, orang itu masih tidak bersuara, dadanya yang tadinya naik turun, sekarang tampak datar, Liu He-ting menarik nafas dan berkata.
"Dia sudah mati!"
Liu He-ting berpikir orang itu sudah mati, dia hanya bisa menolong sampai di sini, maka dia pun bersiap-siap pergi menuju Hu Qiu, walaupun dia tidak mengenal orang itu, tapi paling sedikit dia harus menguburkan orang itu.
Karena itu dengan perlahan dia mengangkat mayat orang itu....
"Kalau kau tidak dalam waktu yang tepat tiba di Jiang Su Hu Qiu, kau tidak akan mengetahui rahasia yang akan menghancurkan kebahagianmu seumur hidup...."
Tubuhnya yang sudah berada dalam posisi siap menggendong tiba-tiba berdiri dengan tegak, karena teringat isi surat yang dilayangkan kepadanya tiba-tiba berkelebat di dalam otaknya.
"Tapi walau bagaimanapun aku harus meletakkan mayat orang ini di tempat tersembunyi, aku tidak akan membiarkan mayat ini terkena hujan dan matahari, atau diinjak-injak binatang!"
Segera dia memangku mayat itu, tiba-tiba Liu He-ting melihat ada suatu keanehan, dada orang itu mulai bergerak, dia merasa kaget.
"Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa tadi aku tidak memeriksa nadinya dulu, mungkin saja dia belum mati!?"
Rasa cemas, lelah, dan khawatir membuatnya merasa kacau, dia menjulurkan tangannya, dengan pelan dia memeriksa nadi orang itu, tapi -Sekalipun musuhnya adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan, jangan harap dalam satu jurus bisa mengalahkan Liu He-ting, tapi kali ini karena Liu He-ting sama sekali tidak ada persiapan, maka mimpi pun Liu He-ting tidak menyangkanya, dia mengorbankan segala-galanya untuk menolong orang yang terluka parah tapi orang itu malah berbalik mencengkramnya, Liu He-ting benar-benar sangat marah, tangannya terasa kaku, dan Liu He-ting sudah ditotok orang itu.
Walaupun Liu He-ting berusaha memberontak dengan sekuat tenaga tapi usahanya sia-sia.
Orang licik itu tertawa dengan senang dan berteriak.
"Kalian kemarilah, orang ini sudah kubekuk!"
Sambil membentak, tangan kananya tetap memegang nadi Liu He-ting, dan tangan kirinya menotok dada Liu He-ting, nadi di bawah ketiak pun ditotoknya....
Malam begitu pekat, angin berhembus dengan kencang, udara seperti berubah terus, dj sekeliling tempat itu bertambah gelap!
Dalam pekatnya malam, orang yang terluka berat dan hampir mati itu sekarang meloncat bangun, melihat Liu He-ting yang roboh di bawah.
Dia membersihkan wajahnya yang penuh darah dengan tangannya, kemudian dia tertawa dengan senang!
Tangannya bergerak, darah yang memenuhi wajahnya, mengalir dari sela jarinya, tapi dia sama sekali tidak terlihat kesakitan, dia hanya tertawa dan berkata.
"Hei marga Liu, kali kau benar-benar terkena tipuku!"
Dia membersihkan darah di wajahnya, muncullah seraut wajah yang mengerikan -kulit wajahnya terkelupas, bila dilihat-lihat seperti bola daging jelek berwarna merah muda, dengan sepasang matanya yang tampak bercahaya!
Dia tertawa dengan aneh, di malam begitu sunyi dan angin malam yang berhembus dengan kencang, menambah suasana seram di gunung itu.
Liu He-ting masih terbaring di bawah dia sama sekali tidak bisa bergerak, si jelek yang terluka parah itu membalikkan badan Liu He-ting dan tertawa dengan aneh.
"Kau mana tahu wajahku memang seperti ini, tadi aku bukan dipukuli orang, mungkin dalam mimpi pun kau tidak menyangkanya sama sekali.... Ha ha ha, sampai sekarang.... di dunia persilatan, kecuali kau, belum pernah ada yang melihat wajahku, tapi sayang, kau pun tidak bisa hidup lebih lama...."
Liu He-ting melihat wajahnya yang jelek dan menakutkan.
Mata Liu He-ting terus menatap orang itu, karena untuk memutar matanya pun dia merasa sangat sulit!
Dia hanya bisa berpikir dengan diam.
"Siapakah orang ini? Dia mempunyai permusuhan apa denganku? Mengapa dia harus mencelakaiku....?"
Hatinya tergerak lagi, segera dia berpikir lagi.
"Apakah dia adalah anggota Wu Yi Shen Mo?"
Angin malam masih terus berhembus, di sekeliling tempat itu terdengarnya suara tawa aneh dan semakin mendekat....
Kemudian orang-orang tadi yang berpencar melarikan diri , mengikuti suara tawa aneh itu muncul dari dalam hutan yang gelap!
Mata orang yang luka parah itu terputar, dia menunjuk Liu He-ting yang masih terbaring di bawah dan berkata.
"Kau sudah beberapa kali merusak rencana kami, kalau tidak memandang ketua, sewaktu berada di Yi Shan, kau sudah mati bersama-sama dengan Huang Ling Hei Jian. Hei! Hei! Kau memang hebat bisa bertahan hidup sampai sekarang, kau benar-benar sangat beruntung!"
Sambil bicara kedua tangannya mengangkat tubuh Liu He-ting kemudian dilemparkan ke bawah, segera anggota Wu Yi Shen Mo yang ada di sekeliling tempat itu tertawa terbahak-bahak, mereka mengelilingi Liu He-ting.
Angin malam terus berhembus, bayangan pepohonan terus menari-nari, tawa mereka seperti tawa sekelompok siluman pemakan manusia.
Liu He-ting dalam keadaan kaku terbaring di tanah, dia berusaha membuat hatinya tenang, akhirnya dia mendengar ada seseorang dengan suara serak dan besar berkata.
"Bocah tengik ini begitu halus dan lembut kulitnya, kelihatannya dagingnya enak untuk dimakan...."
Yang satu lagi tertawa seperti orang gila dan berkata.
"Hei bocah tengik, jangan mengira karena kau tampan maka kau bisa berbuat seenaknya sebelum aku dilumuri dengan darah pun, aku lebih tampan darimu...."
Kemudian ada yang berkata.
"Bocah tengik ini harus kita apakan sekarang? Apakah ketua sudah memberikan perintah?"
Ada yang menjawab.
"Sepertinya ketua belum tahu, karena anggota ke-37 melihat dia sedang menunggang kuda seorang diri, dan sepanjang jalan dia terus berganti kuda. Kebetulan ketua tidak ikut, karena itu anggota ke-37 merasa aneh, dan dia menghadang bocah tengik dengan cara seperti ini. Ha ha ha! Bocah ini walaupun pin tar tapi tetap saja bisa tertipu!"
Anggota ke-37 itu tampaknya adalah laki-laki yang berlumuran darah tadi dan dia sangat jelek.
Sekarang dengan senang dia tertawa dan berkata.
"Menurutku, lebih baik sekarang dia kita bunuh saja! Karena dia telah membohongi ketua kita, dan dia ikut campur mengurusi masalah keluarga Xi Men, bila kita membunuhnya sekarang kita pasti tidak disalahkan!"
Terdengar orang-orang yang ada di sana menyetujui pendapatnya, hati Liu He-ting terasa dingin, walaupun dia tidak takut pada kematian, tapi sekarang dia masih mempunyai banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Kalau mati di tangan orang-orang ini, orang-orang yang tidak bermarga dan tidak bernama, dia benar-benar tidak rela!
Tapi sekarang dia dalam keadaan ditotok, badannya tidak bisa bergerak sama sekali, kecuali menunggu kematiannya, apa lagi yang bisa diperbuatnya?
Dalam gelak tawa anggota Wu Yi Shen Mo, terdengar anggota ke-37 terus tertawa senang, dia berkata.
"Anggota ke-7, mengapa kau tidak bersuara, apakah kau tidak setuju dengan usulku?"
Liu He-ting mendengar anggota ke-7 dengan pelan berkata.
"Kalian memutuskan semuanya sendiri, kalau ketua marah siapa yang akan bertanggung jawab?"
Mendengar kata-kata tadi semua tawa dan ejekan langsung berhenti, hati Liu He-ting terasa dingin, dia berpikir.
"Siapakah ketua mereka? Yang mempunyai kekuasaan dan tenaga begitu hebat sehingga bisa membuat Wu Yi Shen Mo membunuh orang tanpa berkedip, mereka begitu menakutkan."
Dalam suasana sepi terdengar si anggota ke-7 berkata lagi.
"Menurutku, sebaiknya kita bawa orang ini ke tempat sepi, kemudian baru kita beritahukan semuanya kepada ketua...."
Terdengar suara kasar berkata.
"Tapi sekarang ketua masih berada di Jiang Nan!"
Anggota ke-7 itu berkata lagi.
"Orang itu sudah berada di sini tidak mungkin ketua jauh dari sini. Di depan ada tempat rahasia untuk mencari berita, bila ketua ada di sini, kita bisa segera mengetahui kabarnya, yang terpenting sekarang orang ini sudah berada dalam kekuasaan kita, dia mempunyai sayap sekalipun dia tidak akan bisa sampai di Wisma Fei He lebih awal, membereskan dia atau nanti sama saja!"
Anggota ke-37 tertawa dan berkata.
"Betul, lebih awal atau akhir membereskannya sama saja, dia adalah seekor burung yang terkurung di dalam sangkar, atau bagai ikan yang berada di dalam jala, nasibnya akan berakhir sama seperti Xi Men Xiao Ou, hanya saja orang ini belum sempat menikmati kesenangan hidupnya, dia harus menjadi setan di bawah tanah, benar-benar sangat kasihan.... ha ha ha!"
Si anggota ke-37 berkata.
"Mengapa selama beberapa hari ini kau selalu bicara yang tidak-tidak? Kalau semua terdengar oleh ketua...."
Dia diarn tidak melanjutkan lagi.
Mata anggota ke-37 tampak aneh dan dingin dia seperti ketakutan, lalu dia menundukkan' kepalanya, sekarang dia tidak berani bicara apa-apa lagi.
Kata-kata mereka tidak sampai di telinga ketua mereka tapi terdengar jelas oleh Liu He-ting, dia merasa kaget, sedih, dan juga marah!
"Apakah ketua yang mereka maksudkan adalah Tao Chun-chun?"
Tapi dia berpikir lagi.
".... akan bernasib sama seperti Xi Men Xiao Ou.... , Apa hubungan semua ini dengan Xi Men Xiao Ou? Antara Xi Men Xiao Ou dan Tao Chun-chun ada hubungan apa?"
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat Liu He-ting menjadi sedih, karena dari percakapan antar anggota Wu Yi Shen Mo, dia bisa mengambil kesimpulan kalau ketua mereka tak lain adalah istri tercintanya, tapi masih banyak pertanyaan yang masih belum terjawab.
"Tao Chun-chun dan Shi Guan Shi Qi, apakah kedua naraa ini adalah satu orang?"
Terempuan itu begitu lembut, dengan kekuatan apa dia berhasil menguasai Wu Yi Shen Mo?"
"Bagaimana dengan rumah misterius yang berada di tengah hutan itu, apakah itu juga ada hubungannya dengan Wu Yi Shen Mo?"
"Semua anggota Wu Yi Shen Mo mempunyai ilmu silat sangat tinggi, tapi mereka begitu misterius dan sifat mereka sangat sadis. Mereka tidak mempnyai marga dan nama, lalu siapakah mereka? Mereka tidak mempunyai dendam denganku mengapa mereka harus membunuhku?"
"Apa hubungan Xi Men Xiao Ou dengan semua ini?"
"Siapa yang mengetahui rahasia mereka?"
Pertanyaan-pertanyaan ini membuatnya merasa pusing, membuat dia tidak berani berpikir lebih jauh.
"Karena apa Chun-chun memperlakukanku seperti ini?"
Hatinya yang terdalam masih menyimpan harapan dan kecurigaan, dia berharap Tao Chun-chun tidak ada hubungannya dengan masalah ini, dan dia berharap semua perkiraannya salah!
Orang yang bersuara serak itu terdengar membentak lagi.
"Aku akan pergi ke tempat rahasia itu."
Sambil bicara dia langsung berlari jauh. Hati Liu He-ting tergerak lagi.
"Tempat rahasia...."
Tiba-tiba dia teringat malam di kuil yang terpencil.
"Apakah Chun-chun sedang mencari kabar saat itu? Kalau bukan karena diriku, lalu untuk apa dia berdoa di dalam kuil itu?"
Semua masalah sudah terlihat dengan jelas bahwa semua masalah ini berhubungan erat.
Liu He-ting ingin mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, walaupun semua ini menyangkut perasaannya.
Karena itu secara diam-diam dia melancarkan aliran darahnya supaya bisa terlepas dari totokan, dia mengatur nafasnya dengan tenaga dalam dia berusaha membuka totokan.
Terdengar anggota ke-7 Wu Yi Shen Mo berteriak, ada seekor kuda yang berlari dengan cepat ke arah mereka!
Anggota ke-37 itu tertawa sinis, dia menggendong Liu He-ting dengan sinis dia tertawa.
"Hei bocah tengik, kau jangan berbuat macam-macam, supaya aku mudah memperlakukanmu.'' Dia sudah berlari keluar hutan dan menaiki kudanya, dia berkata.
"Bukankah kau ingin pergi ke Hu Qiu? Sekarang aku akan mengantarkanmu ke Hu Qiu...."
Logat bicaranya adalah logat Shan Dong, dia tertawa sinis lagi, kalau tidak benar-benar mendengar ucapannya, sulit untuk mengerti apa yang sedang dibicarakan olehnya.
Kuda mulai berlari.
Liu He-ting dibaringkan di atas pelana, kepala dan kakinya terkulai di punggung kuda, dengan satu tangan anggota ke-37 itu memegang tali kuda sedangkan tangan yang lainnya terus memukul punggung Liu He-ting, dia tertawa dengan senang dan berkata.
"Bocah tengik, apakah kau merasa lebih enak? Ha ha ha!"
Dia sangat ahli berkuda, satu tangan memegang kendali kuda dan sengaja membuat kuda meloncat dengan tinggi, kadang ke kiri kadang ke kanan, walaupun dia duduk di atas pelana, tapi dia duduk dengan mantap seperti duduk di kursi biasa, sedangkan Liu He-ting yang berada di atas pelana bergoyang-goyang seperti pohon Yang Liu yang tertiup angin!
Sedangkan orang yang duduk di atas pelana dengan posisi normal malah terlihat sangat senang, melihat tubuh Liu He-ting semakin terguncang keras, dia semakin keras tertawa.
"Bocah, apakah kau merasa senang...."
Karena terus menerus terguncang-guncang, Liu He-ting hampir saja terjatuh!
Tapi Liu He-ting sama sekali tidak marah, dalam hati dia malah merasa sangat berterima kasih dan senang.
Karena dengan bergoyang terus di atas kuda, malah membantu Liu He-ting melancarkan aliran darahnya.
Berkali-kali getaran yang terjadi membuat dia bisa membentur nadinya dengan tubuh kuda dan hal itu membuat nadi yang ditotok menjadi terbuka.
Tenaga dalamnya mulai pulih kembali.
Anggota ke-37 itu masih terus bicara.
"Bocah, apakah kau merasa senang, apakah kau merasa nyaman...."
Diam-diam Liu He-ting ingin tertawa, tapi dia tetap tidak bergerak, dia ingin tahu bagaimana dan di mana Wu Yi Shen Mo melakukan aksinya?
Dan siapa ketua mereka sebenarnya?
Bulan sudah menghilang bersama-sama dengan bintang, hari menjelang pagi, dini hari adalah hari yang paling gelap selama satu hari itu.
Begitu gelap sampai debu yang terbawa oleh lari kuda pun tidak dapat terlihat.
Di sisi jalan di sebuah pohon besar, terikat 2 ekor kuda berwarna hitam, yang satu berpenunggang, sedangkan yang satu lagi penunggangnya tampak sangat cemas, dia terus melihat ke kejauhan, tak lama terdengar derap kuda milik anggota Wu Yi Shen Mo datang, dia langsung memanjat ke atas pohon.
Begitu kuda-kuda itu tiba, dia bersembunyi di atas pohon yang rimbun dan tidak bergerak, tidak bergoyang sampai Wu Yi Shen Mo menjauh, dengan terkejut dia berkata.
"Yi."
Karena dia melihat di antara banyak kuda anggota Wu Yi Shen Mo, terlihat seekor kuda yang sedang dicari-cari oleh perkumpulan mereka, kuda itu bernama Hei Shen Ma.
Kecuali ada hal penting yang terjadi dalam perkumpulan mereka, Hei Shen Ma jarang keluar.
Tapi kali ini Hei Shen Ma keluar dari kandangnya.
Hei Shen Ma keluar karena ada Liu He-ting, tapi mengapa Hei Shen Ma bisa terjatuh ke tangan Wu Yi Shen Mo?
Dia merasa aneh, pelan-pelan dia turun dari pohon kemudian menunggang kudanya dan mengikuti gerombolan Wu Yi Shen Mo dari belakang.
Liu He-ting telungkup di atas kuda, walaupun sekarang dia tidak tahu sedang berada di mana, tapi diam-diam dia melihat arah sepanjang perjalanan, dia tahu Wu Yi Shen Mo sedang membawanya ke Su Zhou.
Ketika mereka memasuki kebun arbei, tiba-tiba anggota ke 37 menghentikan kudanya, dia menjambak rambut Liu He-ting dan tertawa lalu bertanya.
"Kau lihat, apa ini?"
Dia mengambil sebuah pecut yang tergantung di pelana kudanya, tangannya menunjuk ke arah selatan.
Liu He-ting bertindak sangat berhati-hati supaya tidak terlihat kalau nadinya sudah terbuka, dia berusaha menguasai kemarahan yang timbul di dalam hatinya.
Liu He-ting mengikuti arah tangan anggota ke-37 dan melihat arah yang ditunjuk, terlihat bumi tertutup oleh kegelapan, di tempat yang ditunjuknya terlihat ada api yang menyala dan berwarna merah.
Anggota ke-37 itu menggoyangkan kepala Liu He-ting sambil tertawa dia berkata.
"Aku kasih tahu padamu, tempat itu adalah Hu Qiu dan itu adalah wisma Fei He yang sangat terkenal di dunia persilatan....
Ha, ha ha!
Wisma Fei He sudah rata dengan tanah, ketua Wisma Xi Men sekarang pasti sudah menjadi setumpuk arang!'' Suara tawanya terdengar begitu senang, begitu gila, dia berdiri di atas penderitaan dan kesulitan orang lain.
Liu He-ting merasa sangat marah, dengan sekuat tenaga dia berusaha menahan kemarahannya, kalau tidak sejak tadi dia sudah membunuh orang yang berdarah dingin ini.
Dalam tawanya, anggota ke-37 itu menarik Liu He-ting turun dari atas kuda, terpaksa Liu He-ting menjatuhkan dirinya ke bawah dengan berat, di hutan arbei, di lapangan yang dibuat orang, ada beberapa rumah beratap jerami, begitu turun dari kuda, mereka langsung menjenggut rambut Liu He-ting sambil berjalan ke rumah itu.
Liu He-ting seperti sebuah mayat yang diseret, dia tidak melawan sama sekali, tanah yang terasa dingin dan basah mengotori bajunya.
Liu He-ting menahan dirinya.
"Sabar, bertahanlah...."
Walaupun Liu He-ting masih muda tapi dia tahu dengan menahan kesabaran dia baru bisa mendapatkan kemenangan.
Rumah beratap jerami itu dari luar terlihat usang tapi begitu memasuki pintu usang itu mereka melewati sebuah ruangan sangat sederhana, mereka menggeser sebuah meja kuno.
Di bawahnya terlihat sebuah lorong yang gelap kemudian Liu He-ting melihat keadaan di sana begitu berbeda jauh dengan rumah yang ada atasnya, di kamar di bawah lorong itu ditata dengan rapi dan mewah.
Anggota ke-37 itu mendorong Liu He-ting dengan kasar ke sudut dinding, di dalam ruangan itu terdapat 4 buah lampu yang menyala dengan terang.
Liu He-ting melihat wajah anggota ke-37 itu ternyata lebih jelek daripada penjahat yang ada di cerita legenda.
Matanya penuh dengan dendam dan terlihat sadis, dia seperti mendendam dan benci kepada orang yang berada di dunia ini!
Ada enam anggota Wu Yi Shen Mo lainnya disitu, wajah mereka tertutup oleh sehelai kain berwarna hitam, maka Liu He-ting tidak bisa melihat wajah mereka.
Tapi sorot mata mereka sama persis dengan anggota ke-37.
Hal ini membuat Liu He-ting sulit untuk mengerti, bagaimana sekelompok orang ini bisa bertahan hidup?
di dalam hati mereka hanya ada dendam dan kesadisan, tidak ada hati yang menyayang dan saling memaafkan, hati mereka selalu kosong, kecewa, dan sedih.
Terlihat anggota ke-37 itu mengeluarkan nafas panjang, dengan santai dia duduk di sebuah kursi, seorang anggota Wu Yi Shen Mo mengambil sebotol arak keras lalu meminumnya.
Tiba-tiba dia menyemprotkan arak itu ke wajah Liu He-ting, sambil tertawa dia berkata.
"Bocah tengik, bagaimana rasa arak ini? Aku kasih tahu padamu, arak ini bernama arak Mao Tai. Arak ini umurnya sudah ratusan tahun, kau bisa menjulurkan lidahmu untuk menjilatnya. Aku tanggung kau bisa menikmati rasanya...."
Suaranya belum habis, suara-suara tawa langsung memenuhi ruangan, dia minum lagi kemudian menarik kain yang membungkus kepalanya -Liu He-ting menjadi terpaku karena rambut orang itu berwarna merah, merah seperti nyala api, hati Liu He-ting tergerak....
Angin malam terasa dingin, pohon yang terlihat dingin....
Suara teriakan ketakutan yang pendek, darah yang menempel di pohon, tubuh cacat Ru Yun Lon,g Jin Lao-si.
"Tidak disangka.... mereka.... aku punya...."
Kemudian tangan yang digenggam erat, kain hitam, rambut berwarna merah....
Ru Yun-long, Jin Lao-si dibunuh oleh si rambut merah anggota no-37 sampai mati."
Sorot mata Liu He-ting terlihat menjadi serius, hatinya diliputi dengan kemarahan, beberapa kali hatinya bergejolak dan marah, hampir dia tidak sanggup menahan kesabaran dan tidak berhasil menguasai dirinya.
Tiba-tiba di luar ada yang terbatuk, tawa yang memenuhi ruangan itu langsung berhenti.
no.
37 langsung berdiri dengan ceoat dari balik dadanya dia mengambil dan memasang kembali topeng hitamnya, lalu dia keluar.
Jantung Liu He-ting berdegup dengan kencang, darahnya maik ke atas kepala, pertanyaan yang sudah lama tersimpan di dalam hatinya, akan segera terbuka dan dia akan mengetahui semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan, dan tentu saja mungkin akan membuatnya terguncang, serta bisa membuat dunia persilatan menjadi geger.
Karena itu walaupun dia berusaha membuat dirinya tenang, tapi dia tetap merasa tegang, hingga sulit untuk bernafas!
Ruangan yang tadinya sangat ribut sekarang sepi seperti kuburan, anggota Wu Yi Shen Mo yang ada di dalam ruangan semua berdiri dengan tegak, ada yang berdiri dan sambil melihat ke arah pintu, ada yang menahan nafas, mereka seperti ketakutan....
Pintu ruangan itu hanya terbuka sedikit, orang di dalam tidak bisa melihat keadaan di luar, lampu bergoyang-goyang, Liu He-ting merasa otot di sekujur tubuhnya bergetar....
Nafasnya semakin menderu, jantungnya berdetak lebih kencang, semakin cepat....
Tiba-tiba pintu terbuka....
Tampak bayangan seseorang masuk ke dalam ruangan itu, tangan Liu He-ting terkepal, kukunya menancap ke dalam daging.
Ternyata bayangan itu adalah no.7 yang baru datang, semua orang yang ada di dalam ruangan itu terlihat mengendurkan ketegangan hati Liu He-ting seperti panah yang berada di dalam busur, sekarang busur itu mengendur.
Liu He-ting tidak mengerti jalan pikirannya sendiri, apakah sekarang dia merasa kecewa atau hanya sekedar mengendurkan ketegangannya?
Karena orang tidak berani menghadapi sesuatu yang tidak pasti.
Lampu terus bergoyang-goyang, tiba-tiba no.
7 menepuk tangannya, selangkah demi selangkah dengan pelan dia mendekati Liu He-ting.
"Apakah ketua tidak datang ke sini?"tanya no 37
"Karena ketua takut keadaan Wisma Fei He akan berubah, maka dia ke sana terlebih dulu."
"Apakah marga Liu ini sudah diserahkan ketua kepadamu?"
"Benar"
No. 37 tertawa dan berkata.
"Baiklah! Baiklah! Aku ingin melihat bagaimana dia mati."
Terlihat sosok no.
7 adalah seorang laki-laki kurus dan tinggi, kedua mata yang tadinya berwarna hitam sekarang menjadi ungu, dari ungu berubah menjadi merah.
Telapak tangannya berwarna merah seperti api, setiap dia melangkah ke depan, jarinya terlihat bertambah kasar.
Liu He-ting memandang telapak merahnya, semua jarinya sama panjang, dan telapak tangannya membentuk persegi, seperti papan besi yang sudah dibakar di dalam api!
Liu He-ting berpikir.
"Bukankah ini yang disebut dengan Tai Yang Zhu Sha Shen Zhang (Telapak matahari sakti tangan pasir merah)?"
Baru saja memikirkan hal itu no.
7 sudah membentak, tulang-tulangnya terdengar berderak dan sepasang tangannya yang merah seperti api siap memukul kepala Liu He-ting.
Telapak tangan itu belum sampai tapi panasnya sudah terasa.
No.
37 dengan senang berkata.
"Wajah mulus dan putih bila dipanaskan dan dicetak telapak tangan Lao Qi, pastinya akan sangat bagus...."
Telapak tangan Lao Qi hampir mengenai wajah Liu He-ting, semua anggota Wu Yi Shen Mo yang ada di dalam ruangan itu tertawa dan mata mereka tampak berbinar-binar, mereka terlihat lebih senang dibandingkan saat merayakan Imlek.
Tangan no.
7 semakin mendekati wajah Liu He-ting mereka terlihat semakin senang, tidak ada yang mengerti mengapa peristiwa berdarah seperti ini membuat mereka begitu gembira?
Tawa mereka yang membahana masih terdengar, Liu He-ting tiba-tiba bersiul dan meloncat ke tembok, no.
37 ikut bergerak, kedua tangannya terjulur ke atas....
Tawa gila anggota Wu Yi Shen Mo bersamaan berubah menjadi teriakan terkejut.
Saat itu api lampu di ruangan itu tampak menari-nari, bayangan orang terus bergerak, bersamaan mereka menerjang ke arah Liu He-ting.
Ooo)odw-kzo(ooO BAB 11 Rahasia Liu He-ting melihat anggota Wu Yi Shen Mo siap menyerangnya, segera dia mengatur nafasnya, lalu tubuhnya menempel di langit-langit, tapi no.
7 tampak menyusulnya dengan melayang ke atas, dia tertawa sinis dan berkata.
"Hei marga Liu, apakah kau ingin melarikan din?"
Tangannya menyerang, satu tangan menyerang ke dada dan tangan yang lain menyerang ke perut Liu He-ting.
Liu He-ting menarik bahunya, tubuhnya yang menempel tiba-tiba bergeser di atas langit-langit hingga serangan no.
7 tidak mengenai Liu He-ting, tapi Liu He-ting menghentakkan tubuhnya dan meluncur ke bawah.
Tadinya Liu He-ting seperti seekor cecak yang menempel di dinding, sekarang dia terjun dengan posisi kedua kaki dan tangan terbuka seperti sehelai daun gugur yang terjatuh dari pohonnya.
Tubuhnya seperti tidak ada pertahanan dan banyak kelemahan, hal ini melanggar aturan dunia persilatan, karena dengan adanya kelemahan ini Liu He-ting mudah untuk diserang!
Anggota Wu Yi Shen Mo yang ada di dalam ruangan itu mengira Liu He-ting sudah kelelahan sehingga dia terjatuh dari atas!
Segera terdengar suara bentakan, bersama-sama mereka menyerang Liu He-ting ke arah dada dan perut, no.
37 berlari ke kiri, dia menyerang ke arah punggung dan pantat kiri Liu He-ting!
Di dalam ruangan itu hanya terdengar suara telapak yang berbunyi, dan semua terarah kepada Liu He-ting.
Liu He-ting mengetahui semua serangan anggota Wu Yi Shen Mo, mereka mengerahkan tenaga mereka sepenuhnya, karena mereka sadar kalau Liu He-ting sampai keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup maka nasib mereka tinggal menunggu kematian!
Tiba-tiba kedua tangan Liu He-ting berputar, tubuhnya bersalto dua kali di tengah udara, semakin lama semakin cepat dan semakin tinggi.
Wu Yi Shen Mo yang ada di dalam ruangan itu merasakan ada angin kencang yang menyerang mereka, membuat mereka tidak bisa berdiri tegak dan terus mundur, mereka hanya terpana melihat tubuh Liu He-ting yang bergerak seperti kincir angin, mereka merasa terkejut karena ilmu silat seperti itu tampak begitu aneh.
Liu He-ting bisa melihat jurus apa yang dipakai oleh anggota Wu Yi Shen Mo!
Kecuali no.
7 yang menggunakan jurus Tai Yang Zhu Sha Zhang yang tidak pernah dituariskan kepada orang lain, anggota Wu Yi Shen Mo yang lain menggunakan jurus yang bermacam-macam.
Ada yang menggunakan ilmu Shao Lin, ada yang menggunakan jurus yang sudah umum di dunia persilatan yaitu Wu Hu Duan Men Dao, ada yang menggunakan jurus kepalan tangan yang jarang terlihat dan berasal dari Zhong Yuan, dan ada juga yang lainnya.
Begitu semua jurus itu terlihat oleh Liu He-ting, dia langsung tahu harus dengan jurus apa menghadapi mereka.
Dengan kecepatan tinggi dia mendekati dua anggota Wu Yi Shen Mo yang berada di paling depan, begitu melewati mereka tiba-tiba telapak tangan Liu He-ting berganti arah, dia menotok pundak mereka, dan dengan sikunya dia menyodok orang yang menyerangnya dari belakang lalu menendang kedua kaki orang itu.
Terdengar 3 kali suara getaran dan 3 kali teriakan, ketiga orang itu langsung roboh!
Dalam satu jurus, Liu He-ting sudah menyerang 5 kali, saat itu musuhnya banyak sedangkan dia hanya sendiri, dia berhasil menotok musuh dengan gerakan paling ringan dan tepat mengenai nadi mereka.
Ilmu silat Liu He-ting benar-benar tinggi, dan jurusnya dikeluarkan dengan kecepatan tinggi, dan begitu tepat pada sasaran, benar-benar menggetarkan hati yang melihat!
Laki-laki berambut merah yaitu no.
7 mundur 3 langkah, kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam dadanya, kedua tangan si no.
7 bergerak dan dia berkata.
"Perhatikan titik-titik, burung kutilang, jadikan burung walet."
Dalam keadaan seperti itu dia mengeluarkan kata-kata aneh dan tidak dimengerti, Liu He-ting langsung berpikir.
"Apakah Wu Yi Shen Mo mempunyai formasi lain dalam menyerang?"
Dia berdiri dan melihat, ternyata anggota Wu Yi Shen Mo begitu mendengar kalimat itu, mereka berkumpul dan mendekat ke tengah ruangan itu.
Kecuali no.
37 dan ketiga anggota Wu Yi Shen Mo yang sudah roboh, sekarang anggota Wu Yi Shen Mo yang tersisa hanya ada 4 orang.
Mereka tidak menyerang Liu He-ting lagi tapi tangan mereka diletakkan di dada, mereka melihat Liu He-ting dengan konsentrasi penuh dan mendekati no.
7, mereka bergerak seperti sedang menyusun sebuah barisan.
Liu He-ting sudah melihat tingkah mereka, tiba-tiba kakinya bergerak, dia berlari ke sisi no.
7, tiba-tiba no.
7 menyerang dengan jurus Bai Hua Ban Liu (Ratusan bunga berteman pohon Yang Liu), telapak kirinya miring lalu berputar setengah lingkaran, kemudian pelan-pelan mendorong dengan miring!
Satu jurus dua kali perubahan aneh, bayangan telapak tangan terus bergerak dan angin yang dikeluarkan dari telapak keluar dengan deras, semua terlihat sangat menakutkan, tapi terlihat telapak kirinya dengan perlahan mendorong, jurus ini terlihat sangat biasa sehingga seperti tidak terasa.
Belum lagi ketiga anggota Wu Yi Shen Mo sampai di samping no.
7, tangan Liu He-ting turun menutupi kepala no.
7, melihat itu no.
7 menggerakkan tangan kirinya segera membuat lingkaran merah untuk menyambut serangan Liu He-ting dengan jurus Bai Hua Ban Liu.
Telapak tangan berubah menjadi jari, jari membentuk pedang, dengan cepat menusuk ke mata kanan Liu He-ting!
Jika seorang jago silat bertarung, dalam satu jurus saja segera dapat mengetahui berisi atau tidak lawannya, ternyata ilmu silat no.
7 bukan ilmu silat biasa, dia bisa melihat tangan kanan Liu He-ting yang bergerak lihai, tapi kekuatan yang sebenarnya dari tangan kiri.
Karena itu perhatian no.
7 hanya tertuju pada tangan kiri Liu He-ting, dia menyerang tangan kiri Liu He-ting yang saat itu sedang menyerang, dengan kecepatan tinggi dia menyerang Liu He-ting yang bergerak perlahan, dia melihat ini adalah kesempatan!
Jurus tangan kiri Liu He-ting sebenarnya adalah ilmu silat yang hampir musnah di dunia persilatan yang bernama Pan Gu Fu!
Jurus ini merupakan hasil gabungan dari berbagai ilmu silat yang terbaik dan sangat dahsyat, perubahan juga sangat sangat aneh, mana bisa no.
7 bisa memecahkan jurus ini!
Terdengar Liu He-ting bersiul lagi, telapak kanannya ditarik, angin dengan deras mengikuti gerakan tangan kirinya dan terus menyerang ke no.
7, terdengar suara PUSH, no.
7 sama sekali tidak bisa bersuara, dadanya terasa panas dan nadinya terasa membeku.
Kedua tangannya terbuka, dia jatuh dengan posisi terlentang, telapak tangannya yang merah hanya dalam sekejap seperti tidak berdarah lagi!
Dari serangan mereka tadi, Liu He-ting sudah tahu kalau no.
7 adalah anggota yang paling lihai di antara para anggota Wu Yi Shen Mo lainnya, karena itu Liu He-ting tahu bahwa dia harus menaklukan dulu no.
7 dengan sekuat tenaga, dia berpikir bila ingin menangkap perampok harus menangkap dulu kepalanya!
Walaupun no.
7 mempunyai ilmu silat tertinggi di antara anggota Wu Yi Shen Mo, tapi no.
7 tetap tidak bisa menahan serangan Liu He-ting, baru saja bertarung dia sudah jatuh terhempas.
Peristiwa ini terjadi dalam sekejap, hanya dalam satu jurus Liu He-ting menyerang dan no.
7 sudah kalah, tapi ketika dia membalikkan tubuh, ketiga anggota Wu Yi Shen Mo lainnya malah menyerangnya dengan nekad!
Walaupun ilmu ketiga orang itu tidak begitu tinggi tapi bila mereka bergabung tetap saja akan menguras tenaga!
Liu He-ting menggeser kakinya dan mundur 3 langkah untuk menghindari serangan mereka.
Baru saja Liu He-ting berdiri dengan tegak, tiba-tiba dia merasa ada angin yang menyerang ke arah ketiaknya, walaupun Liu He-ting di depan dan di belakang terjepit oleh musuh, tapi dia tetap tidak menjadi gugup, tangannya dibalikkan kebelakang, dia sudah menyambut senjata rahasia yang dilepaskan oleh laki-laki berambut merah itu.
Dia mengerutkan dahinya, gerakan telapak tangannya berobah, tubuhnya masuk ke dalam lingkungan telapak ketiga Wu Yi Shen Mo.
Tampak dia seperti terkurung tapi sebenarnya Liu He-ting bertindak sengaja, supaya no.
37 tidak bisa melepaskankan senjata rahasianya karena terhalang oleh temannya sendiri.
Melihat ketiga orang itu menyerangnya secara bersamaan, walaupun tenaganya sangat dahsyat tapi karena terus-menerus tidak mengenai sasaran, barisannya tampak menjadi kacau.
Liu He-ting tahu bahwa kemenangan sudah berada dipihaknya.
Kedua telapak tangan orang berambut merah yang memegang beberapa buah senjata rahasia terus memperhatikan gerakan Liu He-ting.
Walaupun dia tidak berani melepaskan senjata rahasianya, tapi dia tetap sabar menunggu kesempatan datang, melihat temannya menyerang Liu He-ting, dia merasa bersemangat.
Segera dia berkata, Totok dulu bocah itu, biar dia merasakan apa yang telah dirasakan Xi Men Xiao He!"
Suaranya baru selesai, Liu He-ting tertawa panjang, kedua tangannya digerakan dengan miring, dia mengangkat kaki orang yang berada di sebelah kirinya dan menendang orang yang menyerangnya kemudian mengangkat tangan orang yang ditendangnya, memukul wajah orang yang berada di sebelah kanan kemudian tubuh Liu He-ting berputar ke belakang, kedua tangannya mendorong.
Dia tidak melihat bagaimana ketiga orang itu, dengan cepat dia berlari ke hadapan no..No.
37 berteriak, kedua tangannya melepaskan 10 butir lebih senjata rahasia.
Tapi Liu He-ting sudah berputar ke belakang no..Dan belum sempat tubuhnya berputar, dia merasakan kalau tangan kanannya kesemutan, akhirnya dia pun terjatuh di depan Liu He-ting, begitu Liu He-ting memutar tubuhnya dia menotok ketiak no.
37 dengan lengan bajunya.
Dalam waktu bersamaan mereka bertiga akhirnya tidak mengendalikan dirinya, mereka saling memukul, semua telah diatur oleh Liu He-ting!
Karena mereka saling memukul, akhirnya mereka bertiga pun roboh secara bersamaan dan senjata rahasia yang mereka lepaskan ke arah Liu He-ting terjatuh dan malah mengenai tubuh mereka sendiri.
Terdengar teriakan dan mereka roboh di samping no..Liu He-ting melihat Wu Yi Shen Mo yang tadinya begitu bersemangat dan sadis, sekarang telah roboh dan tidak bisa bangun lagi!
Dengan cepat Liu He-ting berlari ke arah no..Tangan kiri menarik baju, tangan kanannya membuka kain penutup wajah.
Begitu Liu He-ting melihat wajah aslinya, Liu He-ting berteriak dan hatinya bergetar!
ternyata wajah no.
7 pun sama seperti rambut merah no.
37, sama tidak beralis, tidak berhidung, tidak berbibir, apa pun tidak ada dimukanya.
hanya ada bulatan daging merah dan 3 lubang di bulatan daging itu -mungkin lubang hitam itu tadinya adalah tempat 2 mata dan satu mulut!
Liu He-ting mengelap keringat dingin yang mengalir di dahinya dan menaruh kembali tubuh no.
7, kemudian dia menarik semua penutup wajah anggota Wu Yi Shen Mo yang ada di sana!
Ternyata semua wajah Wu Yi Shen Mo hanya berupa gumpalan daging jelek dan menakutkan.
Begitu dUihat, ternyata semua Wu Yi Shen Mo hanya mempunyai satu bentuk, seperti bayangan satu orang juga seperti siluman yang kabur dari neraka!
Api lampu terus bergoyang, di gua yang begitu seram dan menakutican, Liu He-ting yang sedang bersandar di dinding merasa dia bukan sedang berada di dunia nyata melainkan berada di neraka.
Kalau tadi dia tidak mendengar mereka bicara dan tertawa, dia lebih-lebih tidak percaya kalau Wu Yi Shen Mo yang terbaring di bawah adalah manusia yang lahir dari seorang perempuan dan mempunyai daging dan darah!
Angin dingin terus berhembus dari luar pintu, angin yang menerpa badan, lebih dingin daripada angin musim gugur yang ada di atas bumi di mana pun.
Tiba-tiba terdengar ada suara mengikuti arah angin.
"Liu He-ting, Adik Liu.... Liu He-ting, AdikLiu...."
Teriakan pertama terdengar lemah, teriakan kedua agak jelas, tampaknya orang itu sedang berlari dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Liu He-ting merasa kaget, diam-diam dia keheranan!
"Siapakah orang itu?
Mengapa dia memanggilku?"
Tidak diketahui orang ini musuh atau bukan, seharusnya dia tidak boleh memanggil namanya, Liu He-ting merasa aneh, jika orang itu adalah musuh, dia pasti datang untuk membunuh Liu He-ting, kalau orang ini temannya, di sarang musuh dia berani berteriak memanggil namanya, bukankah hal ini akan mengagetkan musuh-musuh yang ada di sini?
Liu He-ting segera berlari ke depan pintu, di luar pintu adalah lorong gelap, pintu tadi sudah tertutup.
Liu He-ting sedikit ragu, apakah dia harus menjawab panggilan orang itu?
Tiba-tiba terdengar suara keras, ada cahaya bersinar dari atas!
Liu He-ting mengumpulkan tenaganya dan bersembunyi di balik pintu, dia mengintip keadaan di sana, terlihat pintu masuk lorong itu sudah dibuka oleh orang.
Kemudian terdengar suara yang sangat kuat turun dari atas.
"Orang yang di bawah siapa pun dia, sahabat atau musuh, cepatlah keluar dan menemui aku!"
Suaranya terdengar sangat berwibawa dan memerintah.
Dia seperti seorang raja yang memerintah bawahannya, tidak mirip orang dunia persilatan yang masuk ke sarang musuh?
Sebelum tahu situasai yang sedang terjadi dia berani memerintah!
Begitu mendengar suara itu, hati Liu He-ting langsung bergerak, dia tiba-tiba teringat pada seseorang, pasti dia....
, kecuali dia tidak ada seorang pun yang begitu terus terang!
Terdengar suara PENG.
Pintu masuk ditendang orang, dari bawah terlihat seseorang yang mengenakan celana sutra berdiri di sisi pintu, walaupun dari atas tidak bisa melihat ke bawah, tapi orang yang berada di bawah bisa melihat kalau orang itu tinggi besar.
Baru saja Liu He-ting ingin bersuara, orang itu sudah berkata.
"Jika Adik Liu He-ting tertipu oleh kalian dan berada di sini, kalian harus membebaskannya, kalau tidak, awas -"
Liu He-ting mengetahui siapa yang datang, dia ingin tertawa dan juga berterima kasih.
Dia merasa jika di sini benar terdapat musuh, hanya mengandalkan ilmu silatnya dia pasti akan celaka, tapi mendengar suara orang itu, rasanya dia bisa mengalahkan musuhnya.
Liu He-ting hanya bertemu satu kali dengannya, tapi dia selalu menolong setiap kali dia berada dalam bahaya.
Kehangatan dan persahabatan ini membuat Liu He-ting terharu, darah Liu He-ting sudah bergolak.
Segera dia berteriak.
"Tetua Xi Men.... Tetua Xi Men!"
Dia keluar dan dari luar masuk sesosok bayangan.
Pandangan mereka bertemu, mereka saling memegang pundak dan berpelukan tapi tidak bisa berkata apa-apa, perasaan ini seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
Dia pernah bertemu dengan Liu He-ting, karena cocok mereka menjadi sahabat, apalagi Liu He-ting adalah orang yang berperasaan.
Setelah beberapa hari berpisah, sifat Xi Men Ou masih tetap seperti dulu, wajahnya tampak sedikit lelah.
Liu He-ting melihatnya, segera bertanya, Tetua Xi Men, bagaimana Anda bisa tahu aku berada di sini?"
Tangan besar Xi Men Ou yang berada di pundak Liu He-ting dengan senang terus bergoyang.
Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak dan menjawabnya.
"Panjang ceritanya, nanti aku akan ceritakan...."
Tiba-tiba dia berhenti tertawa dan berkata.
"Bukankah kau terkurung di sini, mana musuhmu?"
Liu He-ting ingin tertawa.
"Kalau di sini ada musuh, begitu Anda tertawa dan berteriak, mereka tentu sudah memasang jebakan dan menyerang, Anda berkata pelan pun tidak ada gunanya. Tapi itupun semakin membuat orang merasa Anda begitu lucu dan lurus."
"Apakah musuhmu sudah dibereskan semua!"
Xi Men Ou tertawa dan berkata.
"Baiklah, baiklah, aku juga pikir mereka tidak akan bisa mengurungmu!"
Kata-kata yang terucapkan begitu enteng, seperti sudah seharusnya begitu.
Dia tidak tahu perjuangan Liu He-ting yang begitu sulit, sudah melewati banyak bahaya dan hinaan baru bisa lolos dari tangan Wu Yi Shen Mo!
Baru saja tawa Xi Men Ou berhenti.
Dia berkata.
"Adik Liu, walaupun kita berpisah belum lama tapi dalam waktu yang singkat kita sudah melewati banyak peristiwa. Putriku yang gila pedang setelah bertemu denganmu, langsung pergi tanpa pamit, hanya meninggalkan sepucuk surat, katanya dia ingin mencari ilmu pedang yang tertinggi di dunia persilatan, yaitu jago silat berbaju putih dan bertopeng...."
Xi Men Ou tertawa lagi dan berkata.
"Aku tidak mempunyai anak laki-laki, hanya mempunyai seorang anak perempuan, sekarang dia telah pergi tanpa pamit, aku merasa sangat sedih, tapi aku tidak akan menyalahkannya. semua salahku.... Hai, karena ilmu silatku tidak tinggi jadi tidak bisa mengajar ilmu pedang yang tinggi kepadanya, tapi aku berharap dia bisa menjadi jago pedang nomor satu."
Liu He-ting juga menarik nafas dan berkata.
"Semua juga salahku, seharusnya aku tidak memberitahunya...."
Xi Men Ou menggoyang tangan dan memotong kata-kata Liu He-ting, dia berkata.
"Walaupun putriku sudah besar tapi menghadapi kehidupan, dia masih belum dewasa. Sekarang dia seorang diri berkelana di dunia persilatan, aku merasa tidak tenang dan ingin mencarinya. Tapi aku sudah berjanji denganmu untuk menolong kedua gadis yang keracunan, aku menjadi serba salah. akhirnya aku membawa kedua gadis itu pergi ke Jiang Nan. Pertama, aku ingin mencari tahu asal usul racun itu, setelah itu baru mencari keberadaan putriku."
Dia terus berkata tapi Liu He-ting sudah merasa sangat cemas, karena Wu Yi Shen Mo yang rebah di ruangan itu belum sempat dibereskan dan bagaimana keadaan Wisma Fei He sekarang, apakah telah terjadi sesuatu di sana?
"Apakah Tetua sudah mendapatkan kabar tentang asal usul racun itu?"
Xi Men Ou tertawa terbahak-bahak dan menjawab.
"Di dunia ini tidak ada persoalan yang tidak bisa di kerjakan olehku."
Tiba-tiba dia bertepuk tangan dan berteriak.
"Xi Men Ye, Xi Men Feng, kalian turunlah! Sekarang Tuan Muda Liu ada di sini!"
Alis Liu He-ting terangkat dan merasa aneh.
"Siapakah Xi Men Ye dan Xi Men Feng? Apakah mereka juga kenal denganku?"
Setelah berpikir lama, terdengar dari atas mereka ada yang menyahut.
"Ayah, kami sudah datang."
Liu He-ting baru mengerti.
"Ternyata dia sudah bertemu dengan putrinya...."
Tiba-tiba terlihat ada 2 bayangan meloncat turun.
Mereka adalah dua orang gadis berbaju putih dan panjang.
Mereka segera melakukan penghormatan kepada Liu He-ting.
Xi Men Ou tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Ini kedua putxiku, apakah kau masih belum mengenal mereka?"
Sambil membalas hormat, Liu He-ting melihat mereka. Dia tertawa dan berkata.
"Ternyata kalian!"
Liu He-ting membalikkan badannya dan berkata kepada Xi Men Ou. Dengan nada memuji dia berkata.
"Tetua ternyata sudah mendapatkan obat penawar. Selamat, Tetua juga telah mendapatkan 2 orang putri."
Ternyata kedua orang perempuan berbaju putih itu tak lain adalah kedua pelayan Nan Huang yang gila karena memakan racun.
Xi Men Ou tertawa dan berkata.
"Demi mencari obat penawarnya, sepanjang perjalanan aku sudah mencoba 700 macam rumput obat. Ternyata racun ini berasal dari India. Pohon ini buahnya bernama Ying Su (madat), dicampur dengan akar-akaran yang lain yang berjumlah 7 macam, semua disatukan dan dijadikan semacam racun. Obat ini jika diminum sedikit bisa membuat orang menjadi bersemangat dan segar tapi juga bisa membuat orang menjadi ketagihan."
Liu He-ting terus mendengar perkataan Xi Men Ou. Dia bertanya.
"Kalau sudah ketagihan, apa yang akan terjadi?"
Xi Men Ou menarik nafas dan menjawab.
"Jika sudah ketagihan, dan orang itu tidak mempunyai obat ini, rasa sakitnya susah ditahan, tapi jika kau mempunyai sebutir obat saja, kau bisa menyuruhnya mengerjakan apapun, sampai memotong untuk hidung sekalipun dia tidak akan menolak...."
Kata-kata Xi Men Ou berhenti sebentar.
Liu He-ting berpikir, kedua alisnya berkerut, matanya melihat ke bawah, dia sedang memikirkan sesuatu yang penting!
Tidak lama kemudian Liu He-ting berkata dengan pelan.
"Kalau ada orang membuat obat sejenis ini untuk diminumkan kepada orang lain, begitu orang-orang ini sudah ketagihan, apakah mereka bisa memakai obat ini mengancam orang lain? Dan orang yang berada di bawah ancaman itu, apakah mereka sama sekali tidak bisa memberontak?"
Xi Men Ou berkata.
"Betul sekali!"
Liu He-ting menarik nafas panjang.
"Kalau begitu banyak persoalan mulai terlihat titik terangnya, tampaknya tidak sulit mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi -"
Tiba-tiba Liu He-ting teringat sesuatu, dia bertanya kepada Xi Men Ye dan Xi Men Feng.
"Malam itu apakah kalian tahu siapa yang memberi kalian obat itu? Apakah kalian berdua sempat melihatnya?"
Xi Men Ye menggelengkan kepalanya dan menjawabnya.
"Aku tidak tahu."
Xi Men Feng berpikir sebentar lalu berkata.
"Waktu itu, di kegelapan aku melihat ada bayangan seseorang, dengan cepat dia berlari keluar, karena cahaya lampu sangat redup, aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dari bentuk tubuhnya terlihat dia bukan orang yang tinggi dan besar!"
Liu He-ting mendengar semuanya dan mengangguk. Xi Men Ye melihat ayahnya, Xi Men Ou, lalu berkata.
"Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi!"
Xi Men Ye menundukkan kepalanya dan pelan-pelan berkata.
"Malam itu kami merasa sangat lelah, maka kami pun tidur lebih awal, kira-kira jam 3 dini hari, nona yang datang bersama dengan Tuan, tiba-tiba masuk dari jendela...."
Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan.
"Waktu itu aku baru terbangun, terlihat dia membawa dua mangkuk masuk dari jendela, tapi dia masuk tanpa bersuara, walaupun tidak ada lampu tapi sinar bulan yang masuk dari jendela membantuku melihat tawanya yang sangat lembut. Dia membangunkan kami dan mengatakan kalau dia takut kami merasa lapar, karena itu dia mengantarkan makanan untuk kami."
Dia menarik nafas dan berkata lagi.
"Waktu itu kami benar-benar merasa berterima kasih, segera dua mangkuk kuah biji teratai kami minum sampai habis."
Liu He-ting mengerutkan dahinya, wajahnya menjadi pucat dan bertanya.
"Setelah minum kuah itu apakah...."
Liu He-ting merasa marah sekaligus sedih, karena itu suaranya terdengar gemetar.
Xi Men Ou menarik nafas dan berkata.
"Begitu obat itu diminum, tidak ada bereaksi secara langsung...."
Wajah Liu He-ting terlihat marah. Xi Men Ou berkata lagi.
"Sebenarnyalah seperti itu, tapi malam itu kami berdua masih sempat makan makanan yang lain.... Hai! Nona yang bersamamu kelihatan lembut, siapakah dia dan apakah kau tahu identitasnya? Kalau dia sama sepertimu menjadi murid dari perkumpulan lurus, tidak akan membuat orang curiga."
Liu He-ting menundukkan kepalanya dan berkata.
"Sekarang dia adalah istriku...."
Xi Men Ou mengelus-elus janggutnya dan berkata dengan terkejut.
"Apakah benar?"
"Sebenarnya kami bertemu secara tidak sengaja. Sampai hari ini.... Heh!"
Dengan sedih dia menceritakan pertemuan mereka yang aneh kepada Xi Men Ou.
Dengan serius Xi Men Ou mendengar semua ceritanya, Liu He-ting berkata.
".... suatu hari kami melewati sebuah kuil tua, aku melihat tiba-tiba saja dia berlari masuk ke dalam kuil tua itu. Di depan patung Budha, dia berdoa untuk diriku. Aku benar-benar terharu melihatnya...."
Wajah Xi Men Ou terlihat sangat serius, tiba-tiba dia berkata.
"Kuil tua.... kuil tua...."
Liu He-ting dengan aneh melihatnya.
Xi Men Ou dengan serius melihat Liu He-ting.
Mereka saling memandang, setelah lama baru terlihat wajah Xi Men Ou sangat marah juga merasa kasihan.
Pelan-pelan dia berkata.
"Kau pernah bertanya kepadaku tentang Xi Men Xiao Ou. Apakah hal ini ada hubungan dengannya, apakah kau bisa memberitahuku?"
Liu He-ting mengangguk.
Dari balik baju, dia mengeluarkan sebuah botol hitam....
Liu He-ting teringat kepada gadis berbaju hijau yang memberikan botol ini -dia yang dikatakan Shi Guan-yin oleh Tao Chun-chun.
Liu He-ting berpikir lagi.
Xi Men Ou terus dengan cemas menunggu jawabannya.
Xi Men Ye dan Xi Men Feng berdiri dengan tegak, tidak berani mengeluarkan suara.
Baca Juga: Dendam Asmara 1
Baca Juga: Kekaisaran Rajawali Emas 5