Ceritasilat Novel Online

Rahasia Kampung Setan 8

Eps 8 Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id

Baca online Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id

Cersil Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id.

Ia berdiri menghadapi Tio Kang sambil memulihkan kekuatan tenaganya.

Terhadap bantuan tenaga Lam-kiang Tay-bong ia agak bingung.

Ia benar-benar tidak mengerti apa sebabnya Lam-kiang Tay-bong turun tangan membantu dirinya?

Tio Kang sangat marah atas perbuatan Lam-Kiang Tay-bong, katanya.

"Sahabat Lam-kiang, aku tadi sudah kata, setelah membereskan bocah ini, baru mengadu kekuatan denganmu, tetapi tanpa sebab kau berani turun tangan merintangi tindakanku, apakah sebetulnya maksudmu itu."

"Maksudku ada tiga, satu aku tidak puas menyaksikan sepak terjangmu, terutama di hari t ua kau telah berubah tujuanmu dengan mengabdikan diri kepada Kakek penjinak garuda, hal ini sangat menggemaskan. Dua, aku benci terhadapmu karena kau menyebut nama julukanku yang lama, sehingga membangkitkan kedukaanku. Dan ketiga, jiwanya pemuda ini masih perlu ditinggalkan untuk menghadapi Kakek penjinak garuda sendiri, kau hanya seorang hamba saja, tidak ada harganya mengorbankan jiwa untukmu. Tiga sebab ini kau pikir bagaimana?"

Jawabnya tenang.

"Kalau demikian halnya, kau saudara Lam lie memang bermaksud mencari onar denganku."

"Bukan, bukan, aku hanya tidak suka menyaksikan ia mati terlalu lekas!"

"Sungguh enak omonganmu, padahal dalam hatinya sebetulnya menyumpahi supaya aku mati lebih dulu. Betul tidak?"

"Jikalau kau anggap demikian, aku terpaksa mengakui."

"Pikiranmu memang bagus, tetapi aku Tio Kang bukanlah seorang yang tidak ada gunanya, seranganku tadi, hanya suatu percobaan saja, tak kusangka telah mengejutkan kau. Nampaknya kau juga hanya mendapat nama kosong belaka."

"Aku memang seorang yang mendapat nama kosong belaka, perlu apa kau selalu ingat saja. Ha ha ha!"

Sehabis berkata, matanya mementang ke arah Tangsiang Sucu, agaknya mengandung maksud dalam.

Tang siang Sucu mengerti maksud gurunya tetapi senjata rahasia paku Thian-moting teng diluar tahu gurunya sudah digunakan sampai habis.

Maka sesaat itu menjadi bingung, tidak tahu bagaimana harus menghadapi gurunya.

Ho Hay Hong sementara itu selesai dalam usaha memulihkan kekuatan tenaganya, selagi hendak melancarkan serangan lagi, Pat-kwa Yu sin mendadak mengeluarkan suara jeritan mengerikan kemudian rubuh telentang.

Liong-eng Houw-cia buru-buru menghampiri, tetapi pahlawannya itu ternyata sudah putus jiwanya, hingga wajahnya berubah seketika.

Dengan mata beringas, ia menyapu orang-orang di sekitarnya, tetapi tidak ada yang dicurigainya hingga amarahnya lalu ditimpahkan kediri Ho Hay Hong.

Ia berkata sambil tertawa dingin.

"Saudara, kejam sekali perbuatanmu, sesungguhnya tidak kuduga"

Belum habis ucapannya, Hok-kauw-cia juga mendadak mengeluarkan jeritan ngeri dan rubuh mati di tanah.

Dengan demikian, suasana menjadi kacau, anak buah yang dibawa oleh Liong-eng Houw pada lompat keluar, mencari-cari disekitarnya dengan perasaan tidak tenang.

Akan tetapi, kecuali orang-orang yang ada disitu, tidak terdapat bayangan orang lain lagi.

Keadaan semakin kalut, mereka bersama-sama memperbincangkan kejadian aneh itu.

Dalam waktu sekejap, semua anak buah Liong-ceng Houw-sie pada berpencaran mengurung tempat itu, seolah-olah berhadapan dengan musuh tangguh.

Liong-ceng Houw-sie berkata dengan suara gusar.

"Houw Bengcu, kau harus mengaku bahwa kematian The Kang dan Hok-kauw-cia adalah perbuatanmu seorang. Coba kau pikir, kecuali mereka berdua, anak buahku tidak ada lagi yang bertempur denganmu."

"Aku dengan mereka berdua tidak mempunyai permusuhan apa-apa, diwaktu pertempuran hanya melukai mereka sedikit saja, yang tidak mungkin mengakibatkan kematian mereka. Kejadian ini hanya hal yang sangat mencurigakan, kau harus menggunakan pikiranmu dengan tenang untuk memikirkan soal ini dengan tenang"

Kata Ho Hay Hong.

"Houw Bengcu, juga merupakan salah seorang pemimpin golongan rimba Hijau, fakta demikian meyakinkan, apakah masih perlu dibantah?"

Kata Liongceng Houw-sie marah.

Dengan napsu berkobar-kobar ia menghunus senjatanya yang sudah terkenal, maju menghampiri Ho Hay Hong.

Suasana semakin gawat, semua anak buahnya tahu bahwa Liong-ceng Houw-sie mempunyai satu kebiasaan, jikalau sudah mengeluarkan senjatanya, senjata itu harus menghirup darah musuhnya baru dimasukkan lagi.

"Apa boleh buat, jikalau Bengcu telah menyalakan api, aku terpaksa mengiringi kehendakmu!"

Berkata ia. Ho Hay Hong sambil tertawa getir. Dalam amarahnya Liong-ceng Houw-sie lantas mengeluarkan sumpah.

"Jikalau dalam tiga puluh jurus aku tidak berhasil memindahkan batok kepala Houw Bengcu, aku rela melepaskan kedudukanku sebagai Bengcu rimba hijau daerah selatan dan kemudian aku akan bunuh diri dihadapan Houw Bengcu!"

Sementara itu Tio Kang yang menyaksikan dua pemimpin dari golongan rimba hijau saling bertengkar sendiri, ia lalu berdiri beristirahat seraya berkata.

"Bagus, aku mengijinkan kau bereskan musuhmu lebih dulu."

Liong Ceng Houw-sie segera hendak membuka suara lagi, tak diduga salah satu dari pembantunya ialah orang tua hidung bengkok kembali menjerit dan mati disaat itu juga.

Kematian tiga anak buahnya secara misterius, benarbenar sangat mengejutkan, hingga saat itu juga keadaan semakin kalut.

Liong-ceng Houw-sie selama menduduki kursi Bengcu rimba hijau daerah selatan, belum pernah mengalami pukulan demikian hebat, di samping marah ia juga merasa sedih atas kematian beberapa pahlawannya.

"Houw Bengcu, jikalau bukan kau biarlah aku yang mati!"

Ia berdiri tegak, senjata tombaknya yang ujungnya merupakan bulan satu mendadak di angkatnya dan menyerang Ho Hay Hong. Ho Hay Hong juga merasa heran, dalam hati ia berpikir.

"Apakah sebab musabab yang sebenarnya, mengapa tanpa sebab orang orang itu mati mendadak? Dan orang-orang mati itu justeru orang-orang yang pernah bertempur denganmu?"

Siapakah sebetulnya yang membokong secara keji, yang hendak memindahkan dosanya diatas pundakku?

Selagi pikirannya bekerja, Liong-ceng Houw-sie sudah berada dimukanya.

Dalam waktu sesingkat itu, ia sudah dapat lihat bahwa diujung senjata Liong-ceng Houw-sie timbul asap putih, ia segera mengetahui senjata itu ada mengandung barang beracun yang sangat jahat.

Ia tidak berani berlaku gegabah, dengan cepat menggunakan pedangnya untuk menangkis, setelah itu ia geser kakinya kesamping.

Liong-ceng Houw-sie maju mendesak lagi, senjatanya menyontek keatas kemudian membabat bahu kirinya sedikitpun tidak memberikan kesempatan bagi lawannya.

Ho Hay Hong selagi hendak menangkis dengan pedangnya lagi, matanya mendadak melihat seseorang anak buah Liong-ceng Houw-sie lagi berkutetan dengan maut.

Menyaksikan penderitaan orang itu, bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, ia lalu membatalkan maksudnya hendak memberi perlawanan dan lompat mundur sejauh setombak lebih.

Tak lama ia lompat mundur, orang itu sudah mengeluarkan suara jeritan mengerikan, kemudian jatuh rubuh ditanah, hanya mengeliat dua kali, kemudian putus nyawanya.

Ia buru buru berseru.

"Liong-ceng Houw-sie, kau periksa dulu orangmu ini, dia pernah bertempur denganku atau tidak?"

Liong-ceng Houw-sie baru tahu bahwa anak buahnya itu adalah Cit-Sa ciang yang terkenal kebuasannya, namun ia belum pernah bertempur dengan Ho Hay Hong.

maka seketika itu ia lantas berdiri tertegun.

Kini ia bukan lagi hanya terkejut atau marah lagi, bahkan agak bingung.

Ia pikir.

"seandainya ada orang membokong, tidak mungkin terlepas dari mataku, lagi pula, mereka semua merupakan orang-orang punya pilihan, mengapa mereka sendiri juga tidak merasa kalau diserang orang ? Apakah didalam tubuh kita sendiri terdapat penghianat yang lebih dulu menggunakan obat berbisa?"

Ia mengingat-ingat kembali semua orang-orangnya dan pelayan pelayannya, t api orang-orangnya itu semua adalah orang kepercayaan, juga sudah beberapa puluh tahun mengikuti dirinya, tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu.

Ia berdiri bingung, sementara itu terdengar pula suara jeritan ngeri dari anak buahnya, beberapa anak buahnya rubuh binasa saling susul.

Peristiwa misteri itu menyakiti hatinya, kalau memikirkan anak buahnya yang setia pada binasa dengan penasaran hampir saja ia mengeluarkan air mata.

Kini ia tidak lagi mencurigai Ho Hay-Hong, sebab orang-orang yang binasa sebagian besar belum pernah bertempur dengan Ho Hay Hong.

Kalau begitu, siapakah yang harus di curigai?

Anak buahnya yang masih hidup, semua berdiri tertegun dengan badan gemetaran, ada juga ketakutan dirinya sudah kemasukan racun.

Suasana diliputi oleh perasaan ngeri dan sedih, kecuali Liong cing Houw sie, siapapun rasanya tidak sanggup menyingkirkan perasaan ngeri itu.

Tio Kang juga merasa heran, karena urusan tidak menyangkut dirinya, ia tidak mau ambil pusing.

Liong ceng Houw sie mendadak menggeram.

"Semua jangan bergerak !"

Hakekatnya, tanpa ia keluarkan perintah, semua anak buahnya juga tidak ada satupun yang berani melangkahkan kaki.

Dalam ot aknya diliputi oleh berbagai pertanyaan, membuatnya hampir seperti orang gila.

Dengan mendadak, rasa dingin bergerak dalam tubuhnya, seolah-olah binatang semut yang menggeremet, melalui sekujur badannya, sehingga gemetar.

Wajahnya pucat seketika, ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Apakah aku juga"

Perasaan nyeri menyerang dingin tiba-tiba, sesaat itu keadaannya seperti para korban yang terdahulu, meronta-ronta sambil memegangi lehernya.

Ia menggeram dengan suara seram, masih mempertahankan kekuatan tenaganya dengan mengempos tenaga dalamnya, tetapi hawa dingin dalam tubuhnya tidak berhasil ditekannya, perlahan-lahan mengalir kedekat jantung.

Ia agaknya tahu bahwa ajalnya sudah dekat, maka lantas menggeram sambil mendongakkan kepala.

"Ya Tuhan, sebelum aku mati, tolonglah tunjukkan siapa orangnya yang berani melakukan perbuatannya keji! Jikalau tidak, aku akan mati penasaran !"

Suaranya itu demikian menakutkan dan menyedihkan bagi semua anak buahnya, yang sudah tahu bagaimana garangnya pemimpin mereka, juga belum pernah melihat sikap demikian mengherankan hingga semua anak buahnya pada mengucurkan air mata.

Ho Hay Hong yang menyaksikan keadaan itu juga merasa terharu.

Ia lompat keluar dan membentak dengan suara keras.

"Siapakah yang melakukan perbuatan keji ini, kalau memang satu laki, silahkan keluar untuk mengakui perbuatannya."

Lam kian Tay bong dengan sinar matanya yang dingin memandang Tang-siang Sucu sejenak, sinar mata itu mengandung teguran.

Cee-siang Sucu agaknya juga sesalkan perbuatannya, dengan perasaan tidak tenang ia menundukkan kepala.

Gerakan yang tidak berarti itu ternyata sudah menarik perhatian Ho Hay Hong, sesaat itu darahnya mendidih.

Dengan suara keras ia berkata Sambil menuding Cee siang Sucu.

"See siang Sucu, lekas mengakui, supaya ia lekas berangkat dengan mata meram!"

See siang Sucu mendadak angkat muka, wajahnya menunjukkan perubahan yang menyeramkan.

"Kau gila."

Demikian ia berseru dengan suara nyaring.

Liong ceng Houw-sie sudah akan roboh, t etapi ketika mendengar suara itu, mendadak terbangun semangatnya, matanya yang beringas memandang wajah See-siang Sucu, kemudian berkata sambil terbawa terbahak-bahak.

"Tidak salah lagi, See siang Sucu, ini memang perbuatanmu. Suaramu penuh rasa takut sehingga gemetaran."

Wajah See-siang Sucu berubah, dengan tiba-tiba lompat melesat setinggi lima tombak tanpa menghiraukan suhunya, lantas kaburkan diri.

Semua anak buah Liong ceng Houw-sie berteriak marah, lalu mengejarnya.

Ho Hay Hong juga merasa marah, segera menggunakan ilmunya pedang terbang, hingga pedang melesat keluar dari tangannya, mengejar See-siang Sucu.

Melihat dirinya dikejar demikian rupa, See siang Sucu diam-diam juga merasa ketakutan, dalam keadaan bingung, pedang Ho Hay Hong berhasil menembusi badannya.

Sebelum putus nyawa, ia masih mengeluarkan jeritan menakutkan, dengan badan mandi darah, ia roboh tersungkur.

Lam kiang Tay bong yang menyaksikan kematian muridnya, membentak dengan marah.

"Bocah she Ho, kau berani ..."

Cepat bagaikan kilat, ia sudah lompat ke hadapan Ho Hay Hong, selagi hendak menyerang dengan menggunakan seluruh kekuatan tenaganya, tiba-tiba terdengar suara bentakan Liong ceng Houw sie.

"Lam kiang Tay bong, kalau kau berani membunuh sahabatku setanku nanti akan merampas nyawamu!"

Lam kiang Tay bong dalam hidupnya sebetulnya belum pernah kenal apa artinya takut, tetapi ketika melihat wajah dan sikap pemimpin rimba Hijau yang menyeramkan itu, teringat pula kematian yang tidak wajar dari pemimpin rimba hijau itu, tanpa sadar lantas ia membatalkan maksudnya.

Liong ceng Houw-sie meninggalkan pesan terakhir kepada anak buahnya.

"Hai, saudara-saudaraku dengar! Selanjutnya kita harus menyatukan diri dengan saudara-saudara didaerah utara tidak boleh ada perpecahan lagi. Siapa yang tidak mau turut pesan ku ini, aku akan minta Ho Beng-cu untuk menghukum dengan keras. Tentang nona baju ungu itu, setelah kalian pulang kemarkas, segera bebaskan, ingat baik-baik pesanku ini!"

Sehabis meninggalkan pesan kepada anak buahnya ia berpaling dan berkata kepada Ho Hay Hong.

"Aku sangat menyesal bahwa persahabatan kita tidak lama, untuk selanjutnya, semua urusan kuserahkan padamu. Selamat tinggal, Sahabatku."

Sehabis berkata demikian, matanya dipejamkan, tubuhnya yang besar, roboh bagaikan pohon raksasa yang tumbang.

Semua anak buahnya lalu maju menggerung dan menangis dengan sedihnya.

Lam-kiang Tay-bong yang menyaksikan keadaan demikian juga merasa terharu.

"Murid durhaka, meskipun setengah dari umurmu kau mengikuti aku, namun aku juga tidak dapat menuntut balas untukmu."

Demikian ia berkata sendiri.

Dengan mata terpejam, ia perintahkan empat bintang dan pengawalnya mengubur jenazah Cee-siang Su-cu.

Hanya dalam waktu sekejap mata saja ia telah berubah banyak dilihat sepintas lalu, seperti sudah jauh lebih tua dari biasanya.

Mungkin karena kesedihan atas perbuatan dan kematian salah satu muridnya yang tersayang.

Dari fihak anak buah Liong-ceng Houw-sie, kini repot mengurus jenazah-jenazah para saudaranya yang mati secara mengenaskan.

Sikap garang yang tadi d iunjukkan ketika baru tiba kini telah lenyap seluruhnya dan diganti dengan kedukaan.

Dalam keadaan demikian mereka meninggalkan lapangan dan pulang kembali kemarkas.

Ho Hay Hong lalu menghampiri dan membimbing Tiat Chiu Khim, napas gadis itu nampak semakin lemah, hingga Ho Hay Hong diam-diam merasa khawatir.

Dengan hati penuh dendam, ia maju menghampiri T io Kan seraya berkata.

"Mari kita lanjutkan, kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati!"

Tio Kang kini merasa sangat menyesal atas perbuatannya, sebab apabila gadis itu binasa, bagaimana ia harus pertanggung jawabkan perbuatannya kepada si kakek penjinak garuda?

Lagi pula, si kakek yang tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, sudah pasti akan marah bahkan akan menghukum dirinya.

Menghadapi Ho Hay Hong penuh dendam dalam hatinya, ia masih bingung terlongong-longong.

Ketika ia merasa hembusan angin, ia baru sadar, tetapi Ho Hay Hong sudah berada di tengah udara.

Ia lalu mengarahkan seluruh kekuatan tenaganya ketelapak tangannya, hendak menyambut serangan Ho Hay Hong.

Sementara itu Ho Hay Hong juga sudah mulai menyerang dengan sepenuh tenaganya.

Serangannya kali ini ada mengandung sari dari gerak tipu kedua ilmu silat garuda sakti.

Ini adalah berkat kecerdasan otaknya yang dengan secara tiba-tiba dapat menemukan satu cara yang lebih ampuh.

Tio Kang yang pikirannya masih belum tenang, meskipun sudah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, tetapi ketika menyaksikan Ho Hay Hong mengadakan perobahan gerak tipunya secara memadai, dalam hati agak terkejut dan terpaksa melepaskan maksudnya hendak menyerang lebih dulu, tarik mundur dirinya.

Ho Hay Hong sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya, selagi hendak menukik, mendadak mendapat satu akal, dengan menggunakan pedang terbang untuk memegat mundurnya musuh.

Dengan cepat ia menghunus pedangnya dan disambilkan kearah musuhnya.

Tio Kang mendorong keluar dua tangannya, hembusan angin kuat meluncur keluar, hembusan angin itu diikuti oleh cahaya merah, membara.

Dengan mendadak suara halus mendesir, pedang terbang Ho Hay Hong ternyata berhasil menembusi hembusan anginnya secara aneh.

Bagaikan sambaran kilat cepatnya, pedang Itu menikam kearahnya.

Ia sungguh tidak menyangka adanya perubahan yang tidak terduga-duga itu, hingga sesaat gerakannya menjadi kalut.

Lam kiang Tay bong yang menyaksikan semua kejadian itu, berkata kepada diri sendiri.

"Bocah ini sungguh besar rejekinya, pantas ia bisa menanjak demikian pesat."

Ho Hay Hong sendiri juga tidak menyangka ilmu pedangnya kali ini demikian ampuh, ia mengempos lagi kekuatan tenaga dalamnya menambah kekuatan pedangnya, untuk menyerang musuhnya.

Bersamaan dengan itu, ia juga hendak menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, ia lompat melesat lagi set inggi tiga tombak, menggunakan gerak tipu keempat dari ilmu silat garuda Sakti, serangan itu dilakukan dengan kekuatan tenaga sepenuhnya.

Tio Kang sedang repot mengelakkan sambaran pedang terbang dengan menggunakan lengan jubahnya semakin repot ketika diserang berulang-ulang oleh Ho Hay Hong.

Suatu kali, serangan Ho Hay Hong telah mengenakan dengan telak bagian tulang diatas pundaknya, hingga menimbulkan rasa nyeri yang menyusup sampai kesekujur badan.

Berhasil dengan serangannya itu, Ho Hay Hong tidak mau berlaku ayal lagi.

Dua tangannya menyerang dengan beruntun, sehingga orang tua bermuka merah itu mulutnya menyemburkan darah.

Dalam keadaan demikian Lam kiang Tay bong mendadak menghampiri dan berkata padanya.

"Tio Kang dalam hidupmu terlalu banyak kejahatan kau lakukan, maafkan aku terpaksa tidak dapat memandang kau sebagai Sahabat aku terpaksa bantu Ho Hay Hong melaksanakan tugasnya!"

Dimasa yang lampau, Lamkiang Tay bong, memang sudah ada permusuhan dengan Tio Kang, hanya karena kekuatan mereka berimbang.

Satu sama lain tidak bisa berbuat apa-apa.

Kini jiwa Tio Kang berada dalam keadaan berbahaya, sudah tentu Lam kiang Tay bong tidak mau melewatkan kesempatan baik itu.

Satu tangannya bergerak, hembusan angin hebat telah menghancurkan tulang siku Tio Kang.

Dengan demikian, sekalipun Tio Kang terbuat dari besi, juga tidak bisa tahan lagi.

Ia jatuh roboh ditanah sambil menggeram.

Lam-kiang Tay-bong masih khawatir musuhnya itu belum mati, hingga dikemudian hari bisa menimbulkan onar lagi.

maka dengan secara kejam ia menyerang lagi tanpa kenal kasihan.

Serangannya itu satu mengenakan bagian perut, satu lagi mengenakan dada, Tidak ampun lagi, jiwa Tio Kang seketika itu juga melayang pergi menemui raja akherat.

Ho Hay Hong yang sudah berhasil menuntut balas sakit hati ibunya, sudah merasa puas.

Tetapi ia merasa kurang senang atas perbuatan Lam kiang Tay bong, yang membinasakan lawannya selagi dalam keadaan tidak berdaya, selagi hendak menegur, Lam kiang Tay bong sudah berkata lebih dulu.

"Rejekimu memang besar, jikalau tidak lantaran kau membunuh muridku, dalam hidupmu jangan harap kau dapat mengganggu seujung rambutnya!"

Teringat nasib cee-siang sucu, wajah Lam kiong Taybong nampak murung, matanya menatap wajah Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong anggap ucapan Lam-kiong Tay-bong itu mengandung maksud mengejeki dirinya, maka lantas berkat sambil tertawa dingin.

"Apa maksud ucapanmu ini?"

"Benar-benar kau tidak tahu?"

Balas menanya Lamkiong Tay-bong.

"Sudah tentu tidak tahu, maka aku bertanya padamu,"

Jawabnya sambil menggelengkan kepala.

"ilmu serangan naga berbisa yang dipelajari oleh Tio Kang, memang ampuh sekali, tetapi juga ada kelemahannya, ialah pantang terhadap darah manusia!"

Sejenak ia berdiam, lalu sambungnya.

"Pedangmu masih ada bekas darah muridku, maka bisa menembusi serangan Tok-liang-ciang nya, dan membingungkan dirinya. Dengan demikian kau mendapat kesempatan baik melukai dirinya. Jikalau tidak demikian."

Ia tidak suka banyak bicara, dengan singkat ia melanjutkan kata-katanya.

"Pendek kata, kau dapat menuntut balas dendam sakit hati ibumu, ini sebetulnya berkat kematian muridku. Aku percaya, hal ini pasti diluar dugaanmu."

Mendengar ucapan itu, Ho Hay Hong memikirkan kembali apa yang telah terjadi tadi.

Memang ada banyak bagian yang mirip seperti apa yang dikatakan oleh orang tua itu.

Oleh karena itu, ia merasa menyesal atas perbuatannya yang sudah membinasakan murid nya, maka ia lalu berkata.

"Cianpwee berulang-ulang membantu aku, sebaliknya aku sudah membinasakan salah satu muridmu. Tetapi hal itu sebetulnya karena terpaksa, cianpwee juga sudah menyaksikan sendiri bagaimana kelakuan muridmu, kiranya cianpwee dapat memaafkan perbuatanku."

"Muridku yang durhaka itu menggunakan senjata rahasianya Thian-mo-teng secara sembarangan, membunuh beberapa anggauta golongan rimba hijau yang tak berdosa, mungkin karena perbuatannya itu hingga membangkitkan amarah Tuhan dan mengambil jiwanya dengan meminjam tanganmu. Apa mau dikata!"

Lam-kiang Tay-bong sebetulnya hendak marah, tetapi karena melihat sikap Ho Hay Hong yang merendah dan jujur, segera merubah maksudnya.

Pada saat itu, dari jauh nampak set itik bayangan lari ke arah mereka, dari sudah terdengar suaranya.

"Ho koko. Ho koko "

Mendengar sebutan itu, ia segera mengetahui siapa orangnya. Dalam hatinya lalu berpikir.

"celaka dan seorang wanita cemburu, apabila mengetahui aku masih mempunyai kawan seorang gadis cant ik entah bagaimana marahnya ?"

Ia menunggu dengan perasaan tidak tenang, benar saja, ketika gadis baju ungu itu melihat Thiat Chiu Kirim, kegirangan lantas lenyap seketika, katanya dengan nada suara dingin.

"Ho koko, kau memang benar!"

"Adik jangan marah, dia adalah tuan penolongku, sekarang dalam keadaan terluka, kita harus lekas tolong jiwanya"

Demikian Ho Hay Hong memberi keterangan. Gadis baju ungu itu mengawasi Tiat Chiu Khim sejenak lalu berkata.

"Ho koko, dia cantik bukan?"

"Apa maksudmu menanyakan soal itu?"

Balas menanya Ho Hay Hong.

"Kau melakukan perjalanan keselatan secara ke buru2, apakah lantaran ingin menemui dia ?"

Tanya gadis baju ungu sambil mencibirkan bibirnya. Ho Hay Hong tidak lekas menjawab dengan suara gelagapan ia berkata.

"Kau menanya itu apa maksudnya?"

Tang-siang Sucu tiba-tiba berjalan menghampiri dan berkata sambil memberi hormat.

"Sudah lama kita tidak bertemu, nona!"

Gadis baju ungu tercengang, ia balas menanya.

"Kau siapa ?"

Ia segara mengetahui bahwa wajah pemuda itu mirip dengan Ho Hay Hong, seolah-olah saudara kembar. Timbullah perasaan curiganya, maka lalu bertanya pula.

"Kau kenal aku ?"

"Namaku Ho Hay Thian, aku rasanya tidak asing dengan nona, maka aku tadi berani menyapamu !"

Gadis itu kembali dikejutkan oleh keterangan itu, katanya mendumel.

"Ho Hay Thian. Eeeh nama kalian berdua hanya beda satu huruf saja. Bagaimana sebetulnya ?"

"Ini bukan soal aneh, dia memang saudaraku !"

"Oh, apakah yang Ho koko sering sebut itu adalah kau ini ?"

"Benar !"

"Kalau begitu kau juga saudara angkatku."

Semula Tang siang Sucu agak heran, tetapi kemudian mengerti.

"Adik marilah kita pergi ! Sekarang waktu hampir malam!"

"Hay Hong koko, aku tadi dengar orang yang membebaskan diriku berkata, bahwa mereka kehilangan banyak saudara, sehingga Bengcunya sendiri juga turut berkorban ditempat ini, betulkah itu ?"

Ho Hay Hong mengangguk dan berkata.

"Jalan sebentar nanti beritahukan padamu."

Gadis itu memanggil Tang siang Sucu.

"Hay Thian koko, mari kita berjalan berjalan bersamasama !"

Tang siang Sucu yang mendapat perlakuan manis dari sicant ik semangatnya seperti terbang keatas awan.

Sebagai seorang pemuda yang gemar paras cantik segera timbullah n iat jahatnya.

Ia sengaja menunjuk Tiat Chiu Khim yang masih belum sadar dan berkata.

"Apakah jalan bersamanya ?"

Ditunjuknya Tiat Chiu Khim, hati gadis itu merasa tidak senang.

"Entah bagaimana kehendak Hay Hong koko, aku sendiri juga tidak tahu !"

"Ia terluka parah, sudah tentu memerlukan perawatan. Apa kau tega hati meninggalkan begitu saja ?"

Kata Ho Hay Hong.

"Kau sudah punya hutang budi kepada nona ini, sudah tentu aku tidak boleh berlaku demikian kejam."

Berkata gadis baju ungu dengan suara sedih.

"Begini saja, ia terluka parah, memerlukan pengobatan tabib dengan cepat. Biar bagaimana kita tidak ada urusan penting, biarlah Hay Hong dengannya jalan lebih dulu, kita boleh mengikuti pelahan-lahan!"

Kata Tang siang Sucu. Ho Hay Hong sudah tahu bahwa saudaranya itu gemar pipi licin dan banyak akalnya, maka lalu berkata.

"Adik kalau mau jalan, kita harus jalan bersama-sama !"

Tang siang Sucu mendadak berbisik di telinganya.

"Hay Hong, urusan sudah menjadi begini aku lihat sebaiknya kau berikan dia padaku, biarlah aku yang urus!"

"Kau hendak menggertak aku?"

Tanya Ho Hay Hong tidak senang.

"Mana aku berani? Aku hanya meminta, kau menurut atau tidak, terserah padamu!"

"Meminta? Hm! Enak kau omong, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan?. Kuberitahukan padamu, dengannya aku tidak ada hubungan apa-apa, kau jangan pikir yang bukan bukan!"

Kata Ho Hay Hong.

"Sudah tentu, kedudukanmu sekarang sudah berlainan, sudah tentu tidak pandang mata lagi padaku."

Kata Tang siang Sucu. Long-gee-mo yang sejak tadi diam saja, mendadak berkata dengan suaranya yang tajam.

"Tunggu dulu kalian berdua jangan bertengkar lagi. Nona ini, harus diserahkan padaku. Dia adalah muridnya kakek penjinak garuda, denganku ada mempunyai permusuhan dalam set idak-tidaknya harus meninggalkan sebelah lengan tangannya, jika tidak, aku akan marah!"

Gadis baju ungu mengawasi padanya sejenak, alisnya dikerutkan, tanyanya pelahan.

"Hay Hong koko, siapakah orang ini !"

"Dia adalah muridnya Ing Siu, tetapi aku tidak pandang mata padanya!"

Jawab Ho Hay Hong sejujurnya.

Karena ia benci kesombongan pemuda berbentuk aneh itu, maka ia ucapkan kata-katanya itu sengaja demikian nyaring.

Benar saja, Long-gee-mo yang mendengar ucapan itu, wajahnya berubah seketika.

"Apakah Ing siu dari Suat giam-san yang muncul secara mendadak itu?"

Tanya gadis baju ungu kaget.

"Benar!"

Gadis itu memandangnya lagi sejenak, katanya dengan perasaan khawatir.

"Hay Hong koko, sekali-kali jangan kau ganggu, dia, bukankah saya sudah pesan padamu?"

"Dia sendiri yang datang mencari onar, bukan aku yang mencari padanya! Aku selalu tidak suka mengganggu orang, tetapi juga tak suka diganggu orang. Aku tidak takut dia berkepala tiga atau berlengan enam."

Jawab Ho Hay Hong sambil tertawa dingin. Tang siang Sucu lantas berkata.

"Hay Hong kau keliru, Kakek penjinak garuda adalah musuh kita bersama, semua seharusnya kita bersatu padu menghadapi padanya tidak boleh lantaran paras cant ik muridnya, sehingga hendak meninggalkan maksud kita yang semula!"

Gadis berbaju ungu yang mendengar kata-kata itu, sinar matanya yang bening ditujukan kewajah Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong bukan seorang bodoh, ia segera memahami maksud ucapan Tang siang Sucu.

Long-gee-mo mendorong Tang siang Sucu berjalan menghampiri Ho Hay Hong, berkata sambil tertawa cengar cengir.

"Saudara tidak perlu lantas ingin melindungi si jelita hingga bermusuhan denganku. Kau harus tahu bahwa suhu setelah bertapa dan mempelajari ilmu silat selama banyak tahun, kali ini muncul lagi kedunia Kangouw, kepandaian ilmu silatnya sudah jauh lebih tinggi daripada kakek penjinak garuda. Suhu dalam hidupnya paling benci kepada Kakek penjinak garuda, telah bersumpah hendak menumpas seluruh rumah tangganya untuk menuntut balas dendam. Nona ini adalah murid kakek penjinak garuda yang dididik langsung olehnya, hingga hubungan mereka sangat erat, sudah tentu suhu tidak mau melepaskan begitu saja. Aku lihat saudara tokh bukan saudara seperguruan dengannya juga bukan sanak famili, sehingga tak perlu menjual nyawa untuknya!"

Tanpa menunggu Ho Hay Hong membuka mulut, ia sudah bicara lagi.

"Saudara dalam tanganmu memegang emas lambang kebesaran sebagai Bengcu golongan rimba hijau daerah utara, memimpin ribuan bahkan laksaan orang-orang gagah rimba hijau, kedudukanmu tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa, Suhu juga berdiam digunung suat giam-san daerah utara.

"Satu sama lain masih merupakan tetangga dekat, sudah seharusnya saling membantu. Tetapi kalau saudara tidak mengingat permusuhan suhu dan bertindak menurut kemauan sendiri, mungkin akan menimbulkan akibat tidak baik bagi kedua pihak.

"Kalau hal ini telah terjadi, walaupun saudara berkepandaian tinggi, juga tidak dapat menghindarkan bencana yang akan menimpa nasibmu dan semua anak buahmu!"

Ho Hay Hong menundukan kepala memandang Tiat Chiu Khim, gadis itu matanya dipejamkan napasnya lemah meskipun masih terdapat warna merah dikedua pipinya tetapi keadaannya sangat mengkhawatirkan.

Ia tahu apabila tidak diberi pertolongan dengan lekas, mungkin akan membahayakan jiwanya.

Hatinya semakin sedih, tanpa sadar sikapnya menjadi kalut.

Long-gee-mo mengira bahwa gertakannya tadi berhasil, tanpa ragu-ragu, lantas berkata lagi.

"Saudara perlu apa lantaran seorang perempuan, mengorbankan hari depanmu yang gilang gemilang? Dengan kepandaian yang kau miliki, tak usah takut tidak dapat menemukan gadis yang lebih cantik daripadanya."

Sewaktu bicara matanya terus berputaran kearah gadis berbaju ungu.

"Long-gee-mo apa maksudmu? Apakah kau kira aku takut kepada suhumu Ing siu?"

Kata Ho Hay Hong.

Long-gee-mo, melihat wajah Ho Hay Hong berubah dingin, alisnya berdiri telah mengetahui bahwa pemuda itu sudah marah.

Tetapi dengan mengandalkan pengaruh gurunya, ia tak takut.

Katanya sambil tertawa dingin.

"Saudara keliru, bagaimana siaotee berani menganggap demikian, hanya mengharap supaya saudara suka memberikan sedikit muka, jangan merintangi tindakanku."

"Baik, aku berikan kau kelonggaran, hari ini aku ampuni jiwamu satu kali!"

Kata Ho Hay Hong, Kemudian berpaling dan berkata kepada gadis berbaju ungu.

"Jalan, jangan perdulikan dia lagi."

"Ho koko, benarkah kau hendak membela dia?"

Tanya gadis berbaju ungu. Melihat gadis itu mengajukan sikap tidak senang, Ho Hay Hong mengerti bahwa gadis itu tidak puas dengan tindakannya. Maka lalu berkata dengan sabar.

"Adik, dia adalah penolongku, budinya terhadap diriku tidak boleh diabaikan begitu saja. Sekarang dia dalam bahaya, bagaimana aku boleh tinggalkan begitu saja?"

"Ho koko, kau terus mengelabui mataku sekarang aku sudah mengerti segala-galanya. Jiwamu sendiri dalam keadaan bahaya kau masih tidak melupakan pikiranmu kedaerah selatan. Semuanya semata-mata lantaran ingin menemui kekasihmu. Kau dengannya adalah sepasang kekasih yang setimpal, aku aku hanya hanya ."

Berkata sampai disitu, air matanya berlinang, membasahi pipinya, kemudian dengan tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan lari.

"Adik. adik kau jangan salah paham dengarlah keteranganku "

Kata Ho Hay Hong cemas.

Tetapi gadis itu tidak menghiraukan, dengan hati remuk redam, ia mempercepat gerak kakinya sebentar saja sudah menghilang di jalan raya.

Ho Hay Hong mengerti bahwa hati gadis itu sudah kalut dan resah.

Ia teringat bagaimana cinta kasih gadis itu kepada dirinya, hatinya merasa pilu hampir saja mengeluarkan air mata.

Tetapi dua duanya sama-sama berat, hingga ia tidak bisa mengambil keputusan.

"Hay Hong sebenarnya kau seorang yang tak berbudi dan berperasaan, berani perlakukan adik angkatmu demikian kejam. Percuma saja kau duduki kursi pemimpin rimba hijau daerah utara."

"Tutup mulut Hay Thian, dengan hak apa kau berani menegur aku?"

Tanya Ho Hay Hong marah.

"Sabar. tenanglah sedikit, kau benar-benar sudah mabok pipi lic in"

Kata Tang-siang Sucu.

"Saudara aku selamanya berlaku adil. Sekarang kau boleh pilih sendiri, Sebetulnya hendak bertempur atau hendak berdamai?"

Kata Long gee mo. Ho Hay Hong yang sedang gelisah mendengar perkataan itu lantas naik darah.

"Kalau bertempur mau apa?"

Jawabnya dengan suara keras.

Long gee mo mengeluarkan suara dari h idung, dengan mendadak maju menyerbu dan menyerang.

Ho Hay Hong dengan cepat meletakkan Tiat Chiu Khim ditanah, menggunakan gerak tipu garuda sakti terjun kelaut dari ilmu silat garuda Sakti, melompat setinggi lima tombak lebih kemudian menukik dan menyergap lawannya.

Disergap secara hebat demikian, Long-gee mo terpaksa mundur.

Ho Hay Hong sudah menyaksikan kepandaian ilmu silat Long gee mo.

mengetahui jelas set iap jurusnya terutama kebiasaannya menggunakan tangan kiri untuk menyerang lawannya.

Ia tidak berani berlaku gegabah, sebelum turun ketanah.

lebih dulu menggunakan gerak tipunya dari ilmu silat Kun-hap Sam-kay menutup bagian muka dan bagian bawah.

Long gee mo dengan gemas melancarkan dua kali serangan sambil memaki-maki.

Ho Hay Hong tidak menghiraukan, dengan gaya yang manis sekali geser kakinya ke-samping, mengelakkan serangan Long gee mo kemudian balas menyerang dengan hebat.

Long gee mo terkenal dengan kelincahannya, ia bertempur sambil bergerak kesana kemari, mulutnya saban-saban mengeluar bentakan.

Tiba-tiba lompat mundur setombak lebih, lima jari tangannya dipentang, tetapi tidak digunakan untuk menyerang Ho Hay Hong, sebaliknya menyerang Tiat Chiu Khim yang masih dalam keadaan pingsan.

Ho Hay Hong tidak menduga pemuda itu demikian keji dan ganas, maka lalu membentak.

"Long gee mo ! Kau ini termasuk orang gagah ataukah binatang buas? Lihat serangan!"

Serangan segera dilancarkan, merintangi maksud Long gee mo. Long gee mo juga seorang beradat berangasan, karena maksudnya digagalkan, timbullah nafsunya hendak membunuh, ia berkata dengan suara gusar.

"Bocah! Hari ini kalau tidak mampu menghancurkan tulang-tulangmu dan membeset kulitmu, selanjutnya aku tidak akan muncul didunia Kang-ouw lagi !"

Dalam keadaan marah, ia keluarkan seluruh kepandaiannya.

Dengan beruntun ia melancarkan serangannya tiga kali, yang dilakukan demikian cepat dan dahsyat ditujukan kepelbagai bagian jalan darah terpenting ditubuh Ho Hay-Hong.

Wajah Ho Hay Hong berubah, sebab yang nampaknya tidak ada apa-apanya yang istimewa, tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, serangan itu seolah-olah terdiri dari banyak tangan yang menyerang dari berbagai sudut.

Dalam keadaan demikian, kemana saja ia menyingkir, pasti akan kena serangannya, serangan itu merupakan ilmu tunggal yang sangat ampuh warisan Ing siu guru anak muda itu.

Ia tidak berani menempuh bahaya, satu-satunya jalan hanya lompat melesat setinggi tiga tombak mengelakkan serangan hebat itu.

Diluar dugaannya, bahwa maksud Long-gee mo bukan ditujukan padanya, maka ketika Ho Hay Hong melesat tinggi, serangannya lantas dialihkan kepada Tiat Chiu Khim.

Serangan hebat itu telah melontarkan tubuh Tiat Chiu Khim sejauh setombak lebih.

Bukan kepalang terkejut Ho Hay Hong matanya beringas memandang musuhnya.

Gerakannya berhenti seketika ia berdiri tegak bagaikan patung.

Dengan tangan Tiat Chiu Khim yang putih halus tampak babak belur karena kebentur batu, sehingga mengucurkan banyak darah.

Hati Ho Hay Hong merasa pilu menyaksikan keadaan kekasihnya, setindak demi set indak ia berjalan menghampiri musuhnya, dan gerak kakinya yang berat dapat diduga diserang menggunakan suatu ilmu luar biasa set idak-tidaknya juga sedang mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Lam kiang Tay bong yang menyaksikan, kejadian itu.

lalu berkata sambil menghela napas.

"Sungguh tidak ada harganya lantaran seorang perempuan."

Siulan itu panjang dan nyaring, hingga lama menggema diudara.

"Apa katamu Cianpwee !"

Bibir Lam Kiang Tay-bong tersungging senyuman mengejek jawabnya.

"Dunia bukan sedaun kelor Ho siaohiap, perempuan ini serahkan saja padanya !"

"Cianpwee, ini adalah pikiranmu sendiri yang terlalu egois. Seandai gadis ini bukan dia, kau tentu tidak berpikir demikian, betul tidak ?"

Kata Ho Hay Hong tidak senang.

"Kau masih terlalu muda, masih belum mengerti kedudukanmu sendiri. Kau berbuat hanya menuruti hawa napsumu, dikemudian hari kau pasti akan menyesal. Kalau tidak percaya, sepuluh tahun kemudian kau boleh pikirkan kembali perkataanku ini, betul atau tidak?"

Ho Hay Hong tidak menghiraukan orang tua itu, karena orang tua itu ada permusuhan dengan si Kakek penjinak garuda, dengan sendirinya kata-katanya juga banyak mengandung sentimen.

Karena ia tidak suka perbuatan dan pikiran Lam Kiang Tay-bong, maka lalu berkata.

"Cianpwee, perkataanmu mungkin benar, tetapi itu ada urusan sepuluh tahun kemudian."

Long gee mo tahu bahwa pertempuran mati-matian ini tidak bisa dicegah lagi, maka lalu mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya sambil memandang lawannya.

Dua musuh terpisah semakin dekat.

Ho-Hay Hong berkata.

"Kau coba seranganku ! Dengan terus terang, ini adalah serangan dari kekuatan seluruh tenagaku. Kalau masih belum mampu menjatuhkan kau, aku akan cuci tangan, meninggalkan penghidupan dunia Kang-ouw !"

Ia memusatkan seluruh kekuatan tenaganya, mendadak mendongakkan kepala dan bersiul nyaring.

Siulan itu panjang dan nyaring, lama menggema diudara.

Sementara itu, kakinya bergerak perlahan, kemudian merandak, mendorong tangannya ke-depan dan melancarkan serangannya.

Hembusan angin hebat meluncur dari tangannya menuju Long gee mo.

Bunyi menggelegar menggema diudara, Long gee-mo mundur terhuyung-huyung, hingga empat lima langkah baru berhenti.

Rambutnya kusut awut-awutan.

Dilain pihak, Ho Hay Hong kegirangan, sebab serangannya itu adalah serangan percobaan.

Seharusnya serangan itu dilakukan secara menukik dari atas udara tetapi kali ini ia gunakan dengan kaki menginjak tanah.

Diluar dugaannya, telah berhasil sangat memuaskan.

Berhasil dengan serangannya, pikirannya tenang kembali, dua tangannya terus bergerak, melanjutkan serangannya Long-gee-mo terpaksa menyambuti serangan hebat Ho Hay Hong, tetapi sekali lagi ia terpukul mundur.

Kini ia bukan cuma merasa heran saja tetapi juga mulai ketakutan.

Ia sudah salah hitung mengenai kekuatan Ho Hay Hong!

Ia hendak melawan, tetapi begitu beradu dengan kekuatan Ho Hay Hong, ia sendiri yang terdorong mundur.

Entah bagaimana pemuda itu dapat mematahkan ilmu Ing Siu, gurunya sendiri?

Bahkan maju ia menjadi kalap!

Seluruh kekuatan tenaganya dipusatkan ketangan kanan, lalu maju merangsak sambil melancarkan serangannya.

Ho Hay Hong geser maju kakinya dua kali, hingga posisi dua pihak bukan lagi berhadapan, melainkan miring.

Tangan kanannya bergerak bagaikan kilat sedang jari tangan kirinya menotok jalan darah Thay-heng dan Pek hwe dibadan Long gee-mo.

Badan Long-gee-mo berputaran laksana titiran, mengelakan serangan dari dua jurus, sedang tangan kanannya balas menyerang batok kepala Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong semakin tebal kepercayaannya terhadap kekuatan sendiri, apalagi dalam keadaan marah, maka serangannya semakin lama semakin hebat, sebaliknya dengan Long-gee-mo karena menyaksikan lawannya semakin gagah, apalagi setelah dua kali mengadu kekuatan, telah membuktikan keunggulannya Ho Hay Hong, maka semangatnya menurun.

Long-gee-mo yang dibentak terus menerus, akhirnya lompat mundur setombak lebih, sementara itu, tangannya menyambar tubuh Tiat Chiu Khim, sedang mulutnya berseru.

"Kalau kau berani maju lagi, aku akan hancurkan nona itu lebih dulu!"

Tang-siang Sucu yang menyaksikan pertempuran itu, mendadak mengeluarkan suara dari hidung, bersamaan dengan itu, tangannya mendadak bergerak menyerang perut Long-gee-mo Ho Hay Hong terkejut, ia menghentikan serangannya dan berkata.

"Tang siang sucu, kau"

Belum lagi melanjutkan kata-katanya, serangan Tang siang sucu mendadak berubah, dengan kecepatan bagaikan kilat, jari tangannya dipentang, menyambar tubuh Tiat Chiu Khim.

Dilain saat, lengan kirinya ditekuk menghajar batok kepala Long gee-mo.

Serangannya itu dilakukan secara aneh, ternyata merupakan Salah satu gerak tipu dari ilmu silat garuda sakti yang sudah dirubah.

Lam kiang Tay bong sendiri juga merasa bingung, buru-buru mencegah.

"Thian-jie, lekas batalkan seranganmu, jangan mencari onar dengan musuh tangguh!"

Long-gee-mo yang menghadapi musuh dari dua pihak meskipun berkepandaian tinggi, juga kewalahan.

Sambil menggeram hebat, ia tinggalkan Ho Hay Hong dan balik menyerang Tang siang Sucu.

Ia sangat benci atas perbuatan Tang siang Sucu, sehingga dirinya terjepit.

Maka ia bertekad hendak membinasakan Tang siang Sucu, sekalipun ia sendiri berada dalam keadaan berbahaya.

Perbuatan Tang siang Sucu, segera menyadarkan Ho Hay Hong kini ia tahu apa maksudnya Tang siang Sucu turun tangan menyerang Long gee-mo.

Sementara itu, tangan Tang siang Sucu yang sudah berhasil menjambret ujung baju Tiat Chiu Khim, mendadak diserang hebat oleh Long-gee-mo, hingga terjadilah pertempuran segi tiga yang masing-masing memperebutkan dirinya seorang gadis.

Lam kiang Tay-bong yang menyaksikan perbuatan muridnya, dengan marah perintahkan Tang siang Sucu supaya melepaskan Tiat Chiu Khim.

Ho Hay Hong yang menyaksikan Tiat Chiu Khim dalam bahaya tanpa ragu-ragu menyerang tangan Tang siang Sucu yang menjambret ujung baju nona itu.

Namun ia takut melukai tubuh kekasihnya, maka serangan itu di tujukan ke lengan Tang siang Sucu dengan hebat.

Tang siang Sucu terpaksa menarik kembali tangannya, melepaskan tangannya yang sudah berhasil menjambret ujung baju Tiat Chiu Khim.

Oooo-dw-oooO Bersambung

Jilid 26 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID

Jilid 26 TETAPI ia agak masih penasaran, dalam keadaan kalut seperti itu, tangannya menyerang Long-gee-mo, kemudian lompat mundur setombak lebih sambil memaki-maki Ho Hay Hong.

"Hay Hong, kau benar-benar seperti patung, tidak mengerti maksud orang baik."

Pada saat itu, Long-gee-mo mendadak rubuh terlentang, Tiat Chiu Khim terlepas dari tangannya.

Ho Hay Hong dengan cepat menyambar tubuh sinona, dan lompat mundur.

Pada saat itu, ia baru tahu bahwa Long-gee-mo bergulingan ditanah sambil menggeram, dahinya penuh air keringat, keadaan sangat menyedihkan.

Tak lama kemudian, Long-gee-mo mengeluarkan suara jeritan mengerikan, mulutnya mengeluarkan darah, sejenak tubuhnya mengeliat akhirnya berhenti.

Diluar rubuhnya Tang siang sucu sendiri, serangannya tadi secara kebetulan mengenakan bagian yang paling lemah ditubuh Long gee-mo.

Karena Long gee-mo mempelajari ilmu weduk, yang tidak mempan senjata tajam, tetapi di bagian yang paling lemah, sedikitpun tidak boleh diganggu.

Apa mau, serangan Tang siang Sucu tadi dengan tepat mengenakan bagian yang paling lemah itu, hingga kekuatan tenaga dalamnya buyar semua dan jiwanyapun turut melayang.

Sebetulnya, maksud Tang siang Sucu hanya hendak merebut Tiat Chiu Kim, bukannya membantu Ho Hay Hong.

Tetapi kini setelah berbuat kesalahan ia lantas minta upah, kepada Ho Hay Hong.

"Ho Hay Hong Saudaramu demikian baik hati terhadap kau, bagaimana kau hendak membalas budi?"

Demikian ia berkata. Lam kiang Tay-bong sangat marah, dengan satu tamparan ia memukul muridnya sehingga terlempar jatuh.

"Binatang! Aku mau lihat bagaimana kau menghadapi Ing-siu?"

Sang guru itu menegur.

Tang siang Sucu merayap bangun selagi masih ketakutan, lantas mendengar teguran demikian dari mulut suhunya.

Ia tahu bahaya telah mengancam dirinya, maka buru-buru berlutut di hadapan gurunya seraya berkata.

"Tecu telah kesalahan bertindak, ampunilah dosa muridmu!"

"Binatang! Bagaimana aku dapat mengampuni dosamu? Kau sudah menimbulkan bencana seharusnya kau tanggung sendiri akibatnya!"

Ho Hay Hong merasa tidak enak, maka lalu berkata.

"Cianpwee adalah suhunya, sudah tentu dapat mengambil keputusan. Apakah...."

Ia sengaja berhenti sejenak, kemudian berkata pula.

"apakah cianpwee jeri terhadap Ing siu? Maka tidak berani membela murid sendiri ?"

Mendengar perkataan itu Lam-kiang Tay-bong tenang kembali, katanya dingin.

"Kau jangan turut campur!"

"Sekarang Long-gee-mo telah binasa ditangan muridmu. Kalau suhunya mengetahui ini, pasti tidak mau, mengerti. Saat itu haha."

Kemudian ia berkata kepada Tang-siang Sucu.

"aku tahu maksudmu, membinasakan Long gee mo, adalah hendak merebut nona ini dari tangannya, bukan hendak membantu aku dengan sejujurnya. Tetapi Long-gee-mo kini sudah mati aku tidak akan sesalkan kau lagi. Kesalahan ini harus kita pikul berdua. Untuk selanjutnya kita akan merupakan kawan, dalam satu barisan, jangan mempersulit satu sama lainnya lagi!"

Ia memondong tubuh Tiat Chiu Khim dan berkata pula.

"Cianpwee, tanggung jawab kita tanggung bersama-sama, kau pikir bagaimana?". Lam-kiang Tay-bong diam-diam berpikir.

"kesalahan ini seharusnya menjadi tanggung jawabku, tetapi ia suka menanggung sebagian apa salahnya aku terima?"

Sebagian orang yang banyak akal ia anggap hanya menerima baik permintaannya saja rasanya belum cukup menggerakkan hati Ho Hay Hong, maka ia hendak memberi sedikit budi, supaya ia lekas membereskan permusuhan dengan kakek penjinak garuda.

"Siaohiap benar, kesalahan sudah terjadi, kita harus tanggung bersama!"

Demikian ia berkata. Ho Hay Hong mundur dua langkah, katanya dingin.

"Cianpwee, maafkan aku akan berkata secara blakblakan. Jelasnya, ucapanmu ini bukan keluar dari hatimu yang sejujurnya !"

"Mengapa kau berkata demikian ?"

"Cianpwee mengatakan hendak damai, tetapi tindakanmu tidak demikian. Bukankah itu merupakan suatu bukti yang nyata bahwa ucapanmu tidak sesuai dengan tindakanmu."

"Apa kau kira tindakanku ini tidak menguntungkan kau? Kalau p ikir demikian, itu salah besar. Aku bukannya mengandung maksud jahat tetapi sebaliknya hendak membantu kau !"

"Membantu aku? Cianpwee ingin membantu apa ?"

"Kau jangan tanya dulu, berikanlah nona itu dulu padaku, aku hendak periksa keadaannya !"

"Tidak, aku tahu sifatmu suka berubah tidak menentu, kalau aku menuruti perintahmu, berarti aku serahkan jiwa nona ini kemulut harimau !"

Mendengar perkataan itu, Lam kiang Tay bong tertawa terbahak-bahak.

"Siaohiap, kau terlalu menghina diriku. Kau pikir, aku adalah satu dari lima orang terkuat dalam rimba persilatan dewasa ini, bagaimana aku bisa melakukan perbuatan demikian? Legakan hatimu, jangan sia-siakan waktu lagi, ini tidak menguntungkan bagi dia"

Ho Hay Hong diam-diam berpikir.

"Apa ia hendak berbuat? Bukankah ia sudah melihat sendiri, mengapa perlu memeriksa lagi ?"

Ia masih ragu-ragu, sedangkan Lam kiang Tay bong sudah berada dihadapannya.

Mendadak ia mengambil keputusan.

Karena jiwa nona itu memang sangat berbahaya, biarlah ia periksa, barangkali ia juga tidak berani melakukan perbuatan yang akan merendahkan martabatnya sendiri.

Maka ia tidak merintangi lagi, membiarkan Lam kiang Tay bong memeriksa sinona.

Maka Lam kiang Tay bong memandang wajah sinona tanpa berkedip, lama baru berkata.

"Masih untung, kekuatan tenaga dalamnya sudah sempurna, hingga keadaan dalam tubuhnya tidak terdapat kerusakan. Masih ada sedikit harapan !"

Kedudukan Lam kiang Tay-bong tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa, tidak mungkin berani mengucapkan perkataan sembarangan.

Maka hati Ho Hay Hong mulai lega.

Ia masih belum mengerti, mengapa orang demikian buas dan kejam seperti Lam kiang Tay bong dengan mendadak berlaku demikian baik terhadapnya?

Dan sikap yang ditunjukkan oleh orang tua itu sejak semula, juga sikap persahabatan yang tiada mengandung sifat permusuhan, hal ini ia benar-benar sangat bingung.

"Dalam tubuhnya terluka parah, hingga hanya murninya buyar dan membeku di dalam tubuhnya, jikalau tidak lekas diobati, barangkali tidak bisa hidup sampai empat puluh delapan jam!"

"Cianpwee paham ilmu tabib?"

Tanya Ho Hay Hong.

"Terpaksa harus minta pertolongan tabib, aku barang kali tidak sanggup."

Jawab Lam kiang Tay bong sambil menggelengkan kepala. Hati Ho Hay Hong merasa cemas.

"Kalau begitu, aku harus menggunakan waktuku sebaik-baiknya, untuk mencari tabib pandai!"

"Dengan terus terang, luka ini harus di bantu oleh obat Liong yan-Hiang. Obat itu adalah buatan kakek penjinak garuda sendiri yang ia selalu banggakan. Dalam badan nona ini tidak mungkin tidak sedia!"

Ho Hay Hong diam-diam mengeluh. celaka, Liong yan hiang yang terakhir pada dirinya semua sudah diberikan padaku, mana sekarang masih ada lagi."

Lamkiang dapat lihat sikap gelisah sianak muda, ia pura-pura menanya.

"Apakah ia tidak mempunyai persedian obat itu?"

"Kecuali Liong yan-heng, apakah sudah tidak ada obat lain lagi?"

"Bukannya tidak bisa, tetapi kalau menggunakan lain obat, khasiatnya agak kurang. Walaupun dapat menyembuhkan luka dalam tubuhnya, juga tidak menyembuhkan seluruhnya. Dengan sisa luka yang masih ada, sudah cukup untuk memusnahkan kekuatan tenaganya, hingga harus menderita penyakit selamalamanya. Penderitaan ini lebih berat dari kematian."

Mendengar keterangan itu, bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong.

"Cianpwee, benarkah kau sudah tidak berusaha?"

Lam-kiang Tay-bong dengan jelas dapat memahami perasaan hati Ho Hay Hong.

Ia tahu bahwa anak muda itu selamanya tidak pernah meminta pertolongan orang, tetapi kini atas kemauan sendiri minta pertolongannya jelas betapa dalam cintanya terhadap gadis itu.

Maka lalu berkata.

"Mengapa kau tidak mencari Kakek penjinak garuda, ia sudah pasti mempunyai persedian cukup obat Liong-yanhiang!"

Perkataan itu menyadarkan Ho Hay Hong, dengan alis berdiri ia berkata.

"Ow, ya. Kakek penjinak garuda pasti mempunyai banyak persedian!"

Tetapi, kemudian ia berpikir lagi.

"aku sendiri sudah bertengkar dengannya, dengan cara bagaimana aku bisa mendapatkan obat itu darinya?"

Apalagi sekarang ia sudah membunuh pembantunya yang diandalkan Tio-kang, kejadian ini membawa akibat lebih meruncingnya percekcokan mereka.

Mungkin Kakek penjinak garuda sudah mendapat kabar kematian pembantunya itu mungkin juga ini sedang mengadakan pengusutan.

Ia tahu bahwa Tiat Chiu Khim sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Andaikata si Kakek, itu sendiri masih belum mengetahui bahwa gadis itu sudah tahu riwayat dirinya, hingga mau memberikan obatnya, tetapi bagi gadis itu sendiri barangkali lebih suka mati, juga tidak, mau menerima pemberiannya.

Ia kenal baik perangai gadis itu, ia juga tahu sifat keras kepala dan tinggi hati gadis itu.

Kini ia menghadapi persoalan yang sangat rumit ini, benar-benar memusingkan kepalanya.

"Sekarang ini, jiwanya benar-benar sedang, terancam bahaya maut, akibat bubarnya hawa murni, ia tidak bisa sadarkan dirinya. Kalau tidak lekas mendesak keluar hawa murni yang mengeram dalam tubuhnya, dalam waktu tiga jam, pasti binasa!"

Kata Lam-kiang Tay bong.

"Benarkah kata-katamu ini?"

Tanya Ho Hay Hong terkejut.

Tetapi kemudian ia merasa bahwa pertanyaannya itu sia sia saja karena seorang seperti Lam-kiang Tay bong baik tentang kepandaian ilmu silatnya, maupun kedudukannya dalam rimba persilatan, sudah merupakan salah satu dari tokoh tokoh yang terkenal namanya, bagaimana ia bisa melakukan perbuatan rendah, yang seolah-olah memukul anjing yang kecemplung dalam air.

"Orang yang menyembuhkan lukanya itu harus seorang wanita, Sebab siaohiap kau juga tahu bahwa bagian penting untuk mengalirkan hawa itu letaknya ditempat tersembunyi. Maka itu aku lebih dulu sudah peringatkan kau, harap kau lekas mencari seorang sahabat wanita yang sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya untuk membantu kau."

Muka Ho Hay Hong merah, sementara dalam hatinya berpikir, aku muncul dikalangan Kang ouw masih belum lama, kenalan tidak banyak, kemana harus mencari sahabat wanita yang demikian tinggi kepandaiannya?

Dalam hati mengeluh, kecuali gadis berbaju ungu, Toan bok Bun Hwa dan Su-to Cian Hui, sudah tidak ada lain kawan wanita lagi.

Namun dari tiga wanita itu, Su-to Cian Hui dan Toan bok Bun Hwa sudah tidak tahu dimana jejak mereka juga sudah lama tidak ada kabar beritanya, sudah tentu tidak dapat diketemukan dalam waktu singkat.

Sedangkan gadis berbaju ungu juga sudah pergi dengan hati panas, sekalipun dapat diketemukan barangkali juga tidak mau menyembuhkan luka Tiat Chiu Khim.

Sementara itu, Lam-kiang Tay-bong mendesak lagi.

"Ho Siaohiap, waktu sangat berharga, hingga tidak dapat dibeli dengan emas. Kau jangan sia-siakan lagi, pergilah lekas!"

Ho Hay Hong seperti baru tersadar dari mimpinya, tanpa pikir lagi, ia lalu mengucapkan terima kasihnya kepada Lam kiang Tay bong.

Dalam keadaan bingung, tanpa banyak pikir lagi, Ho Hay Hong lantas pondong tubuh Tiat Chiu Khim lari menuju ke selatan dan sebentar saja sudah menghilang.

Waktu itu cuaca gelap, suasana sunyi jalan yang sepi hanya terdengar suara langkah kakinya yang menginjak jalan raya.

Ia berjalan sambil menundukkan kepala, mendadak terdengar suara bunyi ringan, buru buru menghentikan kakinya.

Bagai orang yang kepandaiannya mencapai taraf tertinggi, asal mendengar suara rumput tertiup angin saja, segera dapat membedakan baik atau jahat.

Ia berkepandaian demikian tinggi, sudah tentu tidak terkecualikan.

Suara itu seolah-olah suara jatuhnya daun kering tetapi juga mirip dengan suara orang rimba persilatan yang melayang turun selagi kakinya menginjak tanah.

Oleh karena itu, maka ia tidak berani berlaku gegabah.

Ia juga tahu bahwa maksud kedatangannya kedaerah selatan kali ini, tanpa disengaja telah menimbulkan permusuhan, hingga meletakkan dirinya seolah-olah terkepung oleh musuh-musuhnya.

Ia pasang mata mencari-cari, tetapi tidak menemukan tanda apa-apa.

Tetapi, ia juga tidak percaya bahwa pendengarannya sendiri tadi salah, maka ia percaya bahwa orang yang melayang turun itu tadi sudah sembunyikan diri d itempat gelap.

Ia menemukan satu akal, ia sengaja perdengarkan suara tertawa dingin, kemudian melanjutkan perjalanannya, seolah-olah tidak tahu apa-apa.

Dengan mendadak.

Tiat Chiu Khim mengeluarkan suara rintihan pelahan, suara itu meski pun tidak nyata tetapi dalam telinga Ho Hay Hong sudah cukup membangkitkan rasa girangnya.

Dengan cepat ia menanyakan.

"Chiu Khim, kau sudah sadar?"

Bulu mata Tiat Chiu Khim yang panjang nampak bergerak-gerak dua kali, kemudian membuka matanya perlahan-lahan.

Ho Hay Hong berusaha keras menekan perasaannya yang tidak tenang, diam-diam memperhatikan keadaannya.

Ia sangat terkejut ketika menyaksikan betapa lemah keadaan gadis itu.

Cahaya matanya tidak bersinar lagi, tetapi biji matanya yang jeli itu masih tetap mengandung rahasia yang mendebarkan hatinya.

Gadis itu merintih dua kali, mengawasi keadaan sekitarnya sebentar, agaknya juga mengetahui dirinya berada dalam pelukan seorang lelaki hingga ia coba meronta.

Ho Hay Hong berkata dengan suara perlahan.

"Chiu Khim. inilah aku, kau beristirahatlah dengan tenang."

Mendengar namanya disebut, ia segera berhenti meronta dan bertanya.

"Kau siapa?"

Suaranya itu tidak bertenaga, seolah-olah mengambang.

"Aku Hay Hong!"

Jawab Ho Hay Hong dengan lemahlembut. Ia mengerti perasaan si gadis pada waktu itu, lalu ia segera memberi keterangan.

"Kau sudah terluka, orang yang melukai kau itu, kini sudah kubinasakan. Kau beristirahatlah dengan hati tenang"! "Hay Hong, ini tempat apa?"

"Ditengah perjalanan!"

Jawabnya sangat hati-hati.

"Hay Hong, aku sudah hampir mati, aku minta tolong padamu, supaya mengabarkan kepada ibu bahwa aku."

Berkata sampai disitu, air matanya mengalir keluar. Jantung Ho Hay Hong berguncang keras, katanya tegas.

"Tidak, Chiu Khim kau tidak bisa mati. Aku Ho Hay Hong, asal aku masih bisa bernapas, tidak akan membiarkan kau mati di tangan iblis itu. Lekas dengar kata-kataku, beristirahatlah dengan tenang."

Tiat Chiu Khim pelahan-lahan memejamkan matanya, berkata sambil tersenyum getir.

"Hay Hong, aku tahu kau sedang menghiburi aku, terima kasih atas kebaikanmu, tetapi aku barangkali tidak bisa hidup lebih lama lagi."

"Chiu Khim, kau tidak boleh mengeluarkan perkataan seperti orang tua putus asa. Kau tidak b isa mati, dengan terus terang, hatiku bahkan lebih cemas daripada kau sendiri"

Ia mengepal-ngepal tinjunya dan-berkata pula.

"Chiu Khim, kau harus tabahkan hatimu, apakah kau sudah lupa musuh ayahmu?"

"Takkan kulupakan, takkan kulupakan."

Gadis itu meskipun mulutnya mengatakan demikian tetapi kepalanya pelahan-lahan menunduk, rambutnya yang hitam panjang terurai kebahunya dan menutupi wajahnya.

Jantung Ho Hay Hong dirasakan hampir loncat keluar, ia pikir, apakah benar sudah dekat ajalnya?"

Pikiran yang menakutkan itu sekilas terlintas dalam otaknya, sesaat kemudian ia bingung sendiri. Ia buruburu menggoyang-goyangkan tubuhnya seraya memanggil-manggil.

"Chiu Khim, kau sadarlah, sadarlah!"

Tiat Chiu Khim yang sudah pingsan, ketika digoyang tubuhnya, terganggulah luka dalam tubuhnya, hingga mulutnya mengeluarkan darah, sedangkan orangnya juga sadar dengan segera.

Dengan suara hampir tidak bertenaga ia bertanya.

"Ada urusan apa? Hay Hong !"

"Pertahankanlah kekuatanmu, aku akan mencari orang untuk menolong dirimu !"

"Aku sudah tidak ada harapan lagi, kau tak usah mencapekkan hati !"

"Tidak, bagaimanapun juga, aku harus menolong dirimu."

"Hay Hong, demikian baik kau terhadap diriku, kalau aku bisa melihat ibu sekali lagi. Sekalipun mati juga tidak menyesal."

Hati Ho Hay Hong tercekat, selagi memikirkan ucapan gadis ini, hembusan angin mendadak menyerang dirinya.

Meskipun pikirannya sedang risau, tetapi karena kekuatan tenaga dalamnya sudah sempurna, dengan sendirinya panca indranya sangat tajam.

Maka begitu merasa ada hembusan angin menyambar, ia segera mengerti ada orang membokong dirinya.

Ia masih tetap melanjutkan perjalanannya, sedang tangan kirinya secepat kilat balas menyerang.

Diluar dugaannya, serangan secepat kilat itu ternyata mengenakan tempat kosong.

Menurut perhitungannya, betapapun tinggi kepandaian orang itu, juga sulit mengelakkan serangannya yang ganas itu, tapi apa yang terjadi, ternyata diluar dugaannya.

Dengan cepat ia menoleh, matanya segera melihat pemimpin golongan Lempar batu, Chim Kiam sianseng berdiri tidak jauh dibelakangnya.

Pemimpin itu masih tetap mengenakan kerudung mantel yang terbuat dari kulit harimau, hingga nampak semakin keren.

Pikiran mulai tenang, tetapi ia merasa curiga, maka lalu bertanya.

"Sianseng ada keperluan apa?"

"Keperluan apa? Hm! Tanyalah kepada dirimu sendiri."

Jawab Chim Kiam sianseng. Ho Hay Hong berpikir.

"Pemimpin ini dahulu ramah tamah terhadapku, belum pernah bersikap demikian bengis, apakah terjadi perkara lagi?"

"Aku benar-benar tidak mengerti, harap Sianseng memberikan penjelasan!"

Demikian ia berkata. Chim Kiam sianseng dengan sinar mata dingin memandang gadis dalam pondongannya, lalu berkata dengan nada suara dingin.

"Apakah lantaran nona ini kau bermusuhan denganku? Memang benar, nona ini memang cant ik jelita, tetapi bagi orang gagah yang tulen tidak nanti sampai terjerumus kedalam perosok pipi licin!"

Ho Hay Hong semakin tidak mengerti, ia berkata.

"Sianseng jangan coba main lidah, katakanlah maksudmu yang sebenarnya!"

"Baik, aku sekarang jelaskan. Pribahasa ada kata orang, yang membunuh jiwa orang harus mengganti jiwa pula. Ho Siaohiap, kau membunuh paman guruku, maka sekarang aku minta kau ganti jiwanya !"

Kini tersadarlah Ho Hay Hong bahwa kedatangan pemimpin partay itu adalah hendak menuntut balas dendam kematian paman gurunya.

"Memang benar, sinaga api Tio Kang adalah paman gurumu, tetapi aku membinasakan dia ada sebabnya, kalau kau tidak percaya, tanyalah kepada Lam Kiang Tay-bong locianpwee. Tio Kang itu adalah musuh besarku yang dahulu merenggut jiwa ibuku!"

"Kau bohong, siapapun tahu bahwa kau siaohiap dengan suka rela suka menjadi anjing nona ini !"

"Katakanlah dengan sebenarnya, apa maksud dengan ucapanmu suka rela tadi? Apa maksud pula dengan ucapan anjing itu? Hm, hm, apakah aku Ho Hay Hong yang hidup sebagai orang laki-laki, tidak bisa menuntut balas dendam sakit hati ibuku?"

"Mulutmu ingatkan menuntut balas, padahal yang sebenarnya adalah supaya kau menyenangkan hatinya. Apa kau kira aku tidak tahu ?"

"Kalau kau tidak percaya, sudahlah, kau menghendaki bagaimana, terserah denganmu sendiri, jangan demikian menghina aku"

Ketika teringat bahwa luka kekasihnya justru atas perbuatan Tio Kang, maka seketika hawa amarahnya memuncak. Dengan suara marah ia berkata pula.

"Nona ini tanpa sebab dilukai olehnya kau adalah keponakan muridnya, sungguh kebetulan dapat kugunakan untuk melampiaskan kemarahan hatiku."

"Bocah she Ho, disini bukan daerah utara yang kau boleh berbuat sesukamu, kau harus tahu bahwa aku sudah memasang jaring, set iap waktu dapat mengunci jiwamu!"

Berkata Chim Kiang sianseng sambil tertawa dingin.

"Kalau aku takut kau gertak, Sekarang aku tidak akan berani berlaku salah terhadapmu. Jangan banyak bicara majulah!"

Berkata Ho Hay Hong sambil tertawa terbahakbahak.

Ia sudah yakin benar kepandaiannya sendiri, meskipun lawannya itu merupakan seorang lawan tangguh yang besar pengaruhnya, tetapi ia tidak menghiraukan, dengan menudingkan jari tangannya, ia berkata pula.

"Mari, mari kita boleh bertempur sepuas-puasnya, biar darah merah nantinya menyelesaikan persengketaan kita!"

"Bengcu rimba hijau daerah utara benar saja hebat. Baik, mari disinilah kita putuskan!"

Berkata Chim Kiam sianseng sambil tertawa besar.

Suara tertawa demikian nyaring, hingga mengejutkan serombongan burung-burung malam, begitupun Tiat Chiu Khim juga sampai terkejut.

Gadis itu bertanya dengan heran.

"Hay Hong. kau ribut dengan siapa?"

"Chim Kiam sianseng."

Jawab Ho Hay Hong. Tiat Chiu Khim berulang-ulang menyebut nama itu, mendadak berkata.

"Bukankah dia itu pemimpin golongan Lempar batu?"

"Benar."

"Apakah yang dia ingin Hay Hong, jikalau ia hendak mencari onar denganmu, sekalian kau mintakan kembali pedang pusaka garuda sakti,"

Ho Hay Hong berpikir.

"Y a, hampir saja aku lupa". Matanya segera mengawasi pemimpin itu, benar saja ia melihat pedang pusaka itu berada diatas punggungnya.

"Chiu Kim, pedang pusakamu benar berada diatas punggungnya!"

Berkata Ho Hay Hong sambil tertawa nyaring.

"Kau yakin dapat merampas kembali."

Tanya Tiat Chiu Kim.

Karena berbicara terlalu banyak, napas gadis itu menurun, dan kemudian mulutnya menyemburkan darah Menyaksikan keadaan itu, Ho Hay Hong mendadak dengan kecepatan seperti kilat tangannya bergerak melancarkan serangan keatas sebuah pohon besar, kemudian disusul oleh suara jeritan manusia, dari atas pohon itu melayang seorang laki-laki yang jatuh ditanah.

Dengan marah sekali, ia mengambil sebuah jarum halus dari bahu Tiat Chiu Kim, kemudian bertanya kepada Chim kiam sianseng.

"Aku hendak tanya, apakah ini perbuatan mu ?"

"Ho Siaohiap kau jangan mengoceh saja, lihatlah dulu biar jelas kau nant i boleh lagi."

Ho Hay Hong menyambar orang tua itu dan diangkat tinggi tinggi, setelah diperiksanya ia baru melihat bahwa orang itu mempunyai laut muka yang dicoreng-coreng mendadak ia berseru.

"Oh! Manusia hutan. Penemuan itu telah menggerakkan hatinya, matanya berputaran diwajah coreng-coreng manusia liar, lalu tangannya dimasukkan ke dalam saku orang itu, seolah-olah mencari apa-apa."

Sebentar kemudian, ia mengeluarkan tangannya dengan perasaan kecewa, sebab di dalam tubuh orang itu tidak didapatkan obat Liong Yen hiang yang dibutuhkan.

"Ho siaohiap, aku kira meskipun kau sudah menduduki kedudukan tinggi sebagai Bengcu rimba hijau daerah utara, t etapi kekuatanmu yang sebenarnya masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian kakek penjinak garuda. Akibat perbuatanmu ini kau nanti akan merasakan sendiri"

Berkata Chim kiam sianseng sambil tertawa dingin.

"Jangan khawatir, aku berniat membinasakan orangnya sudah tentu tidak takut ia datang menuntut balas."

Berkata Ho Hay Hong.

kemudian mengangkat tangannya, sinar gemerlapan meluncur dari tangannya menuju kearah barat.

Kiranya, senjata rahasia tadi adalah jarum yang dibawa oleh manusia liar itu.

Ho Hay Hong sangat tajam pandangan matanya, ia sudah lama melihat ada orang tersembunyi digerombolan batu yang berada diarah barat maka dengan senjatanya orang itu ia sambitkan kepada orang tersembunyi itu.

Benar seperti apa yang d iduganya, orang tersembunyi ditumpukan batu itu mengeluarkan suara jeritan ngeri sesosok bayangan orang lompat tinggi satu tombak kemudian suaranya habis dan orangnya jatuh ditanah, binasa seketika itu juga.

Chim Kiang sianseng dengan matanya yang tajam, segera dapat melihat bahwa dijidat orang itu menancap sebuah jarum, hingga dalam hati diam-diam juga terkejut.

Ia sungguh tidak menduga bahwa kepandaian pemuda itu mendapat kemajuan demikian pesat.

Ho Hay Hong berkata sambil tertawa dingin.

"Tak kusangka sianseng juga rela menjadi anjingnya Kakek penjinak garuda, aku hendak tanya padamu apakah manusia-manusia liar ini, kau yang membawa dari kampung setan?"

"Ho siaohiap, tak ada gunanya kau banyak bicara, aku membawa perintah Kakek penjinak garuda dari jauh datang kemari, mencari kau membuat perhitungan dan menangkap kembali muridnya yang mengkhianati dirinya!"

"Bagus, bagus, sekarang kau perintah manusia liar, kemudian kumpul disatu tempat dan mengundurkan diri diam-diam."

Ho Hay Hong sementara itu sudah meletakan Tiat Chiu Khim ke tempat yang aman, kemudian bertanya kepada Chim Kiang sianseng sambil tertawa dingin.

"Dengan seorang diri saja kau hendak bertempur denganku?"

"Kau jangan sombong, dengan seorang diri sudah cukup aku menundukkan kau."

Tangannya segera bergerak membabat Ho Hay Hang, tetapi serangan itu mendadak beralih dan berganti menjadi gerakan memotong.

Yang aneh ialah set iap gerakannya itu menimbulkan suara mengaum.

Ho Hay Hong mundur selangkah, kemudian maju menyerbu, dua lawan itu mengadu kekuatan tenaga masing-masing lantas lompat mundur sejauh satu tombak.

Ho Hay Hong diam-diam berpikir.

"Menurut hasil percobaan ini, kekuatan tenaga dalam ku ternyata tidak kalah dengannya, mengapa aku tidak menggunakan ilmu silat garuda Sakti?"

Sehabis berpikir, ia lantas bersiul nyaring, kemudian lompat setinggi lima tombak.

Gayanya dan perobahan gerakannya, Chim Kiam sianseng sudah pernah melihat dari kakek penjinak garuda, maka wajahnya berubah seketika, mulutnya berseru.

"Ah ! Kau ternyata pandai ilmu garuda sakti."

Dengan mendadak ia menghentikan perlawanan, mungkin kepandaian ilmu silat luar biasa itu sudah tergores dalam sekali dalam sanubarinya, sehingga menimbulkan rasa takut.

Ketika tangan Ho Hay Hong sudah mendekati dirinya, ia baru sadar dengan tiba-tiba.

tetapi pedang pusaka garuda Sakti diatas punggungnya sudah direbut oleh Ho Hay Hong yang hebat hanya menumbangkan Pohonpohon yang berada disitu tidak mengambil jiwa manusia.

Ho Hay Hong menghunus pedangnya, ujung pedang mengeluarkan suara mengaum dan menimbulkan percikan seperti bunga mekar, secepat kilat menikam diri Chim Kiam sianseng.

Chim Kiam Sian-seng segera mengeluarkan ilmu serangannya yang dibanggakan.

Selama itu serangan itu menimbulkan suara angin menderu bagaikan angin puyuh.

Ia sudah tahu bahwa hari itu menemukan lawan tangguh yang dalam hidupnya belum pernah ia ketemukan.

Pandangannya berubah seketika.

Setiap serangannya dilakukan dengan hebat dan ganas, karena serangan yang hebat itu, maka perlahan-lahan dapat merubah kembali keadaan.

Ho Hay Hong yang menggunakan ilmu pedangnya yang bisa digunakan untuk menghadapi lawan tidak begitu tangguh, tetapi mendadak ia berpikir.

"Ilmu pedangku ini meskipun aneh dan hebat, tetapi untuk menghadapi lawan kelas satu seperti dia ini, agaknya kurang leluasa, mengapa aku tidak gunakan ilmu pedang terbangku, mungkin lebih hebat."

Pikiran itu hanya sekejap saja terlontar dalam otaknya, sedang pedang panjangnya sudah di sodorkan lagi tiga dim.

Hawa.

dingin timbul mendahului ujung pedang, Cim Kiam sianseng yang dalam hidupnya pernah bercanda dengan senjata tajam, saat itu.

juga timbul perasaan jeri.

Dengan cepatnya tangannya bergerak menyerang pedang yang mengancam dirinya, kemudian menggunakan kesempatan itu, ia maju selangkah dan menyerang dengan tangan kanan.

Lengan tangannya itu ada mengandung kekuatan tenaga besar sekali, apalagi serangan itu merupakan serangan yang mematikan yang sulit dijaga oleh lawannya.

Pada saat itu, Ho Hay Hong Sudah tahu benar bahwa serangan lawannya itu hebat sekali ia juga tahu kecuali lompat tinggi untuk mengelakkan serangan itu, sudah tidak ada jalan lain yang lebih baik.

Oleh karena keadaan mendesak, terpaksa ia lompat tinggi menghindarkan serangan itu..Tetapi secepat kilat pikirannya berubah pula, dalam anggapannya Chim Kiam sianseng bukanlah lawan sembarangan, jikalau dirinya sendiri tidak berani menempuh bahayanya untuk menjatuhkannya, karena kekuatan kedua pihak yang berimbangan dalam waktu singkat tidak mungkin bisa ditentukan.

Tujuannya ingin lekas menyelesaikan pertempuran itu supaya tidak menghambat waktu, karena waktu baginya memang benar-benar sangat berharga.

Oleh karena itu maka ia telah mengambil keputusan, bertekad hendak menyelesaikan pertempuran sesingkat mungkin.

Bersamaan pada saat ia mengambil keputusan itu, dan tubuhnya bergerak, dan digeser maju dengan tiba-tiba menyambitkan pedang garuda sakti dari tangannya.

Pertempuran dengan cara mengadu jiwa itu adalah caranya yang bisa dilakukan oleh orang-orang Kang ouw yang kepandaiannya biasa.

Dengan cara yang buruk itu Ho Hay Hong telah gunakan untuk menghadapi jago tua yang sudah ulung, sebaliknya malah membuat jago tua itu terheran-heran tidak habisnya.

Karena timbulnya pikiran semacam itu, mau tidak mau telah mempengaruhi gerakannya.

Sementara itu sinar pedang yang berkilauan sudah berada dihadapan matanya.

Detik-detik yang sangat berbahaya itu, yang masih sanggup mengendalikan perasaan yang tergoncang hebat, tetapi pedang yang tajam itu juga terpisah hanya tiga dam saja dihadapan perutnya.

Ketika ia tersadar ujung pedang sudah menyentuh bajunya, bukan kepalang terkejutnya.

Dia mengerahkan seluruh kekuatannya, tangannya menyapu.

Setelah terdengar suara benturan hebat, Ho Hay Hong tidak dapat berdiri tegak, badannya terhuyung-huyung dan rubuh terjengkang.

Sedangkan Chim Kiam sianseng mengeluarkan suara jeritan ngeri, juga rubuh ditanah.

Dengan mengertak gigi, tangannya memegang perutnya perlahan-lahan ia mencoba bangun, tetapi baru saja berdiri kakinya tidak kuat mengimbangi tubuhnya, hingga akhirnya rubuh lagi.

Pedang garuda sakti menancap diperutnya sedalam setengah kaki, usus keluar berantakan.

Darah merah mengalir dari bekas lukanya sehingga membasahi tanah disekitarnya.

Rasanya sudah tidak jauh dengan ajalnya, tetapi dengan mengandalkan latihan yang tidak terputus, selama beberapa puluh tahun, ia masih dapat mempertahankan dirinya.

Wajahnya putih bagaikan kertas, keringat dingin ngucur keluar, jago tua kawakan yang pernah malang melintang didunia Kangouw itu, kini harus merasakan betapa hebatnya penderitaan sebelum putus nyawanya.

Dengan perasaan gusar ia mencabut pedang dari perutnya, lalu disambitkan kepada Ho Hay Hong.

Tetapi Ho Hay Hong dapat mengelak, sehingga pedang itu meluncur terus dan menancap disebuah pohon besar.

Dari sini dapat diukur betapa hebat kekuatan tenaga pemimpin itu, di saat menghadapi mautpun, ia masih dapat menggunakan tangannya sedemikian hebat.

Dengan mata penuh kebencian ia memandang Ho Hay Hong, mulutnya menggumam.

"Bocah, disamping merasa puas, kau jangan lupa pembalasan atas perbuatanmu di kemudian hari."

Menyaksikan keadaan yang mengenaskan itu. Ho Hay Hong merasa menyesal.

"Chim Kiam sianseng, matilah dengan tenang, aku nanti akan kubur jenazahmu dengan baik ..."

Chim Kiam sianseng tidak menghiraukan, ia mendongak dan berkata sambil menghela napas.

"Oh Tuhan, aku Chim Kiam sianseng pernah menjagoi kalangan Kangouw hampir seumur hidupku, tak kusangka bisa binasa ditangannya. Apakah ini lantaran dosaku dahulu yang sudah membunuh banyak jiwa."

Entah sejak kapan matanya mengembang air, dalam keadaan demikian, ia menarik napas yang penghabisan.

Ho Hay Hong menghampiri, selagi mau mengangkat tubuhnya untuk dikubur, mendadak terdengar riuh suara tambur.

Cepat ia menarik kembali tangannya, dalam hatinya berpikir.

"mereka sudah tentu bisa mengurus jenazahnya, tidak perlu aku campur tangan"

Ia lalu memondong tubuh Tiat Chiu-Khim kemudian melanjutkan perjalanannya. Pada waktu itu, Tiat Chiu Khim kembali membuka matanya mulutnya mengeluarkan suara pelahan.

"Suhu. suhu"

Ho Hay Hong terkejut, pikirnya.

"apakah ia memanggil kakek penjinak garuda?"

Mendadak timbul kebenciannya, katanya kepada diri sendiri.

"Tua bangka biadab itu, apa ada harganya untuk dipikiri."

Terdengar pula suara keluhan Tiat Chiu Khim.

"Ah, suhu aku sudah dekat mati."

Mendengar suara kekasihnya seperti orang mengigau Ho Hay Hong bercekat.

Ia kira lukanya kambuh, sehingga menimbulkan panas dalam tubuhnya, maka perlu segera ditolong.

Tetapi, kemana harus mencari seorang wanita yang berkepandaian tinggi?

Ia berjalan sambil memandang wajah si nona, ketika menampak wajah sigadis semakin pucat, diam-diam merasa sangat khawatir.

Buru-buru ia mengerahkan ilmunya lari pesat, lari menuju kekota.

Tiba didalam kota, ia lalu mencari rumah penginapan dan memesan sebuah kamar.

Ia letakkan tubuh Tiat Chiu Khim diatas pembaringan sedang ia sendiri keluar lagi.

Untuk mencari seorang wanita yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna.

Tetapi, bagaimana caranya untuk menemukan wanita demikian ?

Ia tidak pikirkan lagi.

Ia menyusuri hampir set iap jalan dalam kota, tetapi tidak menemukan seorang wanita yang dimaksudkan.

"Apakah kau harus menyaksikan ia mati dalam tanganku?"

Demikian ia berpikir dan bertanya-tanya kepada diri sendiri.

Hatinya sedih, pikirannya semakin risau.

Ia mulai menyesal, mengapa Liong-yan-hiang yang tinggal sisanya itu dihabiskan semua, kalau tidak, mungkin ia sekarang masih bisa di tolong.

Tempat itu terpisah dengan kampung setan hanya seperjalanan kira-kira seratus pal saja, kalau ia harus pergi kesana, pulang baik Sudah menggunakan waktu kira-kira setengah hari, ini masih belum terhitung kesulitan-kesulitan yang harus d ihadapi dalam sepanjang jalan, apalagi kalau menghadapi Kakek penjinak garuda sendiri.

Dengan putus asa ia balik ke rumah penginapan.

Semua pelayan rumah penginapan merasa heran menyaksikan sikapnya, yang tergesa-gesa dan gelisah, tetapi ia tidak menghiraukan.

Baru saja membuka pintu kamar, sudah menyaksikan Tiat Chiu Khim sedang bergulingan sambil merintih.

Dengan hati pilu ia berlutut dipinggir pembaringan, tetapi kecuali menghibur, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Tetapi, seratus patah kata hiburan, apa gunanya ?

Suara rintihan si nona, seolah-olah ketukan martil mengetuk hatinya, hingga semakin pilu.

Airmata mengalir turun tanpa dirasa, ia berkata sendiri sambil mendongakkan kepala.

"Apakah aku harus berpeluk tangan menyaksikan kematiannya? Apakah kecuali orang perempuan, sudah tidak ada orang lagi yang dapat meringankan penderitaannya?"

Mendadak suatu pikiran terlintas dalam ot aknya, apa yang dibutuhkan oleh sinona hanya kekuatan tenaga dalam untuk membuyarkan hawa murni yang membeku dalam tubuhnya, tidak menentukan harus kaum wanita saja yang boleh menyembuhkan.

Ia mulai menyesalkan kebodohannya sendiri, mengapa sejak tadi ia tidak dapat memikirkan.

Orang lelakipun dapat melakukan, hanya bagi kaum wanita sebetulnya lebih leluasa dan lebih pantas daripada seorang lelaki apalagi kalau bukan suaminya.

Ia menjadi girang, tetapi ketika tangannya diulurkan untuk meraba tubuh si nona, segera menemukan kesulitan lagi.

Bagaimana seandai nanti timbul kesalah pahaman dari pihak si nona ?

Pikirannya bimbang menghadapi gadis cant ik itu, perasaan rendah diri timbul lagi dalam pikirannya.

Selama itu ia tidak berani mengutarakan rasa hatinya terhadap Tiat Chiu Khim, sebab dalam hatinya sudah teraling o leh jaring yang tidak dapat ditembus, karena ia tidak mempunyai keberanian untuk menembus jaring itu.

Karena ia sebagai pemuda sebatang kara, apalagi tidak ketahuan asal usulnya, maka selama itu ia selalu dihinggapi oleh rasa rendah diri yang terlalu mencekam hatinya.

Dengan demikian maka ia tak berani membuka mulut menyatakan cintanya.

Ia anggap Tiat Chiu Khim bagaikan bidadari yang tidak dapat dijamah oleh tangannya sendiri, sebab ia adalah seorang biasa.

Ia berdiri sekian lama dengan hati bimbang tidak tahu bagaimana harus berbuat ?

Sementara itu, penderitaan Tiat Chiu Khim semakin hebat.

Hati Ho Hay Hong semakin gelisah, beberapa kali ia mengulurkan tangannya, tetapi kemudian ditariknya kembali.

Mendadak ia bangkit dan memadamkan penerangan lampu lilin, hingga keadaan dalam kamar menjadi gelap gulita.

Kini ia agaknya mulai tenang.

Dalam anggapannya, seolah-olah perbuatannya itu tidak ada orang yang menyaksikan, ketika mengulurkan tangannya lagi untuk membuka pakaian si nona, jantungnya berdebar semakin keras.

Ia pejamkan matanya, pakaian Tiat Chiu Khim lembar demi lembar dibukanya, setelah tinggal baju didalamnya, pikirannya baru tenang lagi.

Diam-diam ia yang bernyali kecil, mengapa baru menghadapi seorang wanita cantik saja sudah demikian tegang ?

Tetapi ketika tangannya meraba tubuh si nona, ketenangan mulai lenyap lagi, tangan itu gemetaran, ia mengharap bahwa yang diraba itu adalah sebuah patung.

Dilain pihak, ia juga takut kalau-kalau Tiat Chiu Khim nanti mendusin, bagaimana anggapan nona itu kepada dirinya?

Salah-salah ia bisa dituduh sebagai lelaki bangor yang hendak menodai kesuciannya.

Ketika tangannya menyentuh tubuh sinona dapat masakan hawa hangat dari tubuh si nona yang kemudian terus seperti masuk kedalam hatinya.

Ia susut keringat yang membasahi jidanya, sambil memejamkan matanya ia membuka baju penghabisan yang menutupi tubuh si nona hingga tak ada selembar kain menutup tubuh yang padat montok itu.

Meskipun keadaan gelap gulita, tetapi Ho Hay Hong seperti dapat memandang tubuh yang putih halus padat itu, hingga jantungnya berdebar keras sekali.

Akhirnya, ia tidak dapat mengendalikan perasaan sendiri, ia seperti sudah lupa akan dirinya sendiri, pelahan-lahan menundukkan kepala, mencium pipi si nona.

Pada saat itu.

Tiat Chiu Khim seperti terjaga, sebentar ia merintih, kemudian membuka matanya.

Ho Hay Hong tidak menduga dalam keadaan demikian gadis itu tersadar, hingga sesaat itu ia menjadi gugup, terkejut dan ketakutan.

Sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.

Ia harus bertindak secepat kilat, buru-buru menotok jalan darahnya dan merebahkan diri sinona lagi.

Ia menghitung-hitung waktu, dua jam telah berlalu.

Ia buru-buru mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, ia disalurkan kedalam tubuh Tiat Chiu Khim, melalui jalan darah sinona yang berada dibawah perutnya.

Tidak ada seorangpun yang menyaksikan, tetapi Ho Hay Hong merasa panas.

Hawa panas bergerak dari telapak tangan Ho Hay Hong masuk kedalam tubuh Tiat Chiu Khim pelahan lahan mencairkan hawa yang membeku dalam tubuh.

Tak lama kemudian, Tiat Chiu Khim, mulai perdengarkan suara rintihan pelahan, dan kali ini suara itu agaknya tidak mengandung penderitaan.

Bahkan sebaliknya, suara itu seperti mengandung rasa nikmat, hingga diam diam hati Ho Hay Hong merasa terhibur.

Ia terus menyalurkan kekuatan tenaga dalam ke tubuh gadis itu.

hingga dalam waktu singkat ia sendiri sudah mulai lelah.

Dengan pandangan mata yang tajam, ia dapat lihat wajah sinona sudah mulai agak ke merah-merahan, tapi ia tahu, bahwa saat itu sangat penting baginya, maka ia tidak berlalu berlaku lengah, ia buru-buru menyalurkan terus tenaganya.

Gadis itu mendadak mengeluarkan suara rintihan lagi kemudian mengoceh.

"Suhu, maafkan perbuatanku terhadapmu."

Ho Hay Hong terkejut, tetapi ia tidak menghiraukan, sebab itu bukanlah maksud yang sesungguhnya dari si nona.

"Suhu suhu. terimalah aku kembali. Aku bersedia mengabdi kepadamu seumur hidup."

Demikian si nona mengoceh lagi.

Dari ocehan gadis itu, Ho Hay Hong dapat menarik kesimpulan perangai gadis itu sebetulnya lembut dan halus serta mengenal budi orang.

Meskipun dengan Kakek penjinak garuda sudah berubah menjadi musuh, tetapi ia masih tidak melupakan budinya yang sudah membesarkan dan mendidiknya menjadi orang kuat.

Ia diam-diam merasa bersyukur bahwa mendapatkan pasangan yang cantik dan baik hati.

Dilain pihak, ia merasa benci terhadap kepribadian Kakek penjinak garuda, orang yang usianya sudah demikian lanjut, masih ingin mengawini seorang gadis yang pantas menjadi cucunya.

Karena pikirannya bercabang, ia merasakan terlalu letih, badannya gemetaran.

Ia terkejut dan diam-diam berpikir.

"Kalau ditilik dari keadaanku ini, kekuatan tenagaku rasanya belum cukup untuk menyembuhkan lukanya."

Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menempuh bahaya, dengan menggunakan ilmunya Cie-yang Cinkhie, karena Selain itu, tidak ada jalan lain lagi.

Tetapi ilmu itu tidak mudah didapatkan, apabila digunakan secara sembarangan, salah-salah bisa membawa akibat yang membahayakan dirinya sendiri.

Tetapi, ia sudah mengambil keputusan, maka tidak memikirkan segala rintangan.

Dengan mengerahkan ilmunya keujung jari tangannya, lalu disalurkan melalui jalan darah dan masuk kedalam tubuh si gadis.

Tatkala hawa kedua pihak saling beradu, badan kedua orang tersebut menimbulkan getaran hebat sejenak, Tiat Chiu Khim mendadak berteriak dan membuka matanya.

Ho Hay Hong baru hendak mengucapkan syukur atas berhasilnya tindakannya, apa mau selagi baru hendak menarik kembali ilmunya, tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan Tiat Chiu Khim, sehingga hawa dalam badannya terus naik kekepala, dan seketika itu juga matanya gelap lalu jatuh pingsan.

Tiat Chiu Khim mengawasi dengan perasaan dingin, matanya yang lebar sudah pulih cahayanya.

Meskipun berada ditempat gelap, tetapi agaknya dikejutkan oleh jatuhnya tubuh Ho Hay Hong, hingga lama tidak bisa membuka mulut.

Matanya menatap wajah Ho Hay Hong, agaknya baru dapat mengenali dengan tegas, maka ia lalu berseru.

"Oh, kau Ho Hay Hong."

Selanjutnya ia memikirkan apa yang sebetulnya telah terjadi.

Dari lobang jendela menghembus angin malam yang dingin hingga badannya menggigil.

Rasa dingin telah menyadarkan dirinya, ia baru tahu bahwa kini tak ada selembar benangpun melekat pada tubuhnya.

Rasa malu timbul pada dirinya hingga wajahnya berubah seketika.

Sejenak nampak ia ragu-ragu, kemudian tangannya bergerak dan menyerang Ho Hay Hong !

Ho Hay Hong yang masih dalam keadaan pingsan menggelinding jatuh, jidanya membentur tembok, hingga mengeluarkan darah.

Tiat Chiu Khim masih, marah, untuk ke dua kalinya ia hendak menyerang.

Serangan kali ini agak berat, apabila jatuh dibadan Ho Hay Hong, pasti akan menghancurkan tulang-tulangnya.

Tiat Chiu Khim sedang marah, tidak biasa memikir terlalu banyak, Tetapi selagi hendak turun tangan, tiba tiba pikiran yang jernih timbul dalam ot aknya, dan telah membatalkan maksudnya.

Ia tidak suka membinasakan seorang yang tidak berdosa, sebelum tahu betul apa salahnya.

Ia menarik kembali lengannya, tetapi hembusan angin yang sudah keluar dari tangannya telah menggempur tembok sehingga menimbulkan suara nyaring.

Dimalam hari sunyi, suara gempuran pada tembok pada dinding itu, telah mengejutkan para tamu yang menginap dalam rumah penginapan itu.

Sebentar para tamu berduyun-duyun keluar dari masing-masing kamarnya dengan membawa penerangan lilin.

Tiat Chiu Khim terheran heran, ia bertanya kepada diri sendiri.

"Mengapa ia bawa aku kemari?"

Sebagai gadis yang tinggi hati, ia tidak dapat menahan perlakuan seperti itu, maka tangan diangkat lagi hendak penyerang.

Ho-Hay Hong yang masih pingsan, sudah tentu tidak berdaya.

Selagi dalam keadaan bahaya, t ibatiba terdengar suara orang mengetuk pintu, kemudian disusul oleh suara teguran dari luar.

"Hai, hei apa yang kalian lakukan?"

Tiat Chiu Khim membatalkan maksudnya buru-buru mengenakan pakaiannya, kemudian membuka pintu dan bertanya.

"Kau siapa ?"

Orang itu lalu menjawab.

"Maaf aku telah mengganggu kalian. Aku adalah pelayan rumah makan ini. aku hendak tanya apa tadi yang telah terjadi didalam kamar kalian ini? Mengapa terdengar suara gempuran demikian nyaring?"

"Tidak ada apa-apa, silahkan kembali!"

Ia menutup kembali pintunya, tidak perduli pelayan tadi sudah pergi atau belum, ia mengambil korek api untuk menyalakan lilin.

Sebentar kemudian kamar menjadi terang benderang, sementara suara langkah kaki pelayan juga semakin lama semakin menjauh.

Ho Hay Hong masih tetap dalam keadaan pingsan, napasnya lemah, Karena menggunakan tenaga terlalu banyak, wajahnya pucat sekali.

Tiat Chiu Khim memandangnya sejenak lalu berkatakata sendiri.

"Hm! Kau manusia rendah yang tidak tahu malu, masih berlagak mati."

Ia menghampiri, diangkatnya tubuh Ho Hay Hong, dipandangnya dengan seksama.

Tetapi kenyataannya tidak seperti apa yang ia pikirkan, Saat itu wajahnya putih bagaikan mayat, keringat dingin membasahi sekujur badannya napasnya sangat lemah, seolah-olah habis menggunakan tenaga terlalu banyak.

Ia terkejut menyaksikan keadaan demikian, lalu bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Kenapa dia?"

Ia kini mulai memikir, sebentar segera dapat mengetahui dari keadaan itu bahwa pemuda pujaannya itu seperti seorang kehabisan tenaga.

"Mengapa ia jadi demikian?"

Ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.

Timbullah pikirannya pula untuk menanyakan lebih dahulu sejelas-jelasnya, kemudian baru ditolongnya.

Mukanya dirasakan panas, wajah yang tadinya putih mulai memerah hingga membuat dia nampak semakin cant ik pada ketika itu.

Ia yang seumur hidupnya tidak pandang mata kepada orang laki, tak disangka kini seluruhnya telah disaksikan semua oleh Ho Hay Hong.

Jikalau mengingat itu, kemarahannya lantas berkobar.

Maka ia lalu menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk menyadarkan pemuda itu.

Ho Hay Hong pelahan-lahan tersadar.

Ia menarik napas panjang, perlahan-lahan membuka matanya.

Dalam hati Tiat Chiu Khim benci sekali padanya, ia sebetulnya sudah pikir hendak membinasakannya saja.

Tetapi ketika melihat pemuda tersebut, membuka mata gadis ini coba mengendalikan hawa amarahnya, purapura tertawa, dan menanya dengan suara lemah lembut.

"Kau sudah berasa enakan?"

Ho Hay Hong tidak tahu apa yang terkandung dalam hati gadis itu, ketika melihat sang gadis dalam keadaan sehat dan segar bugar, dalam hati merasa terkejut bercampur girang.

Ia tidak dapat mengendalikan lagi perasaannya, segera mengulurkan tangannya menggenggam dengan tangan Tiat Chiu Khim, dan berkata dengan girang.

"Oh, kau sudah sembuh, aku sangat girang sekali!"

Tiat Chiu Khim membiarkan lengannya di pegang, namun kemarahan dalam hatinya masih belum padam, ia ingin segera memberi hajaran lagi kepada pemuda yang tidak sopan itu.

"Terima kasih atas perhatianmu, untung tidak terjadi apa-apa atas diriku!"

Demikian ia berkata. Ho Hay Hong tidak tahu bahwa ucapan tu mengandung sindiran, ia berkata sambil tertawa.

"Chiu Khim, sekarang hanya kurang semacam obat saja, dan kau akan sembuh sama sekali. Kita harus segera berusaha untuk mengambilnya, supaya jangan terjadi perubahan lagi."

Tiat Chiu Khim tercengang, dalam hatinya bertanya.

"Apa maksud perkataannya ini?"

Dengan menekan perasaannya ia bertanya.

"Obat apa?"

"Liong-yan-hiang !"

"Oh! Obat seperti itu hanya kakek penjinak garuda seorang saja yang memiliki."

"Ya, justru karena itu maka tak mudah diambilnya, nampaknya sekali ini kita harus menempuh bahaya."

Berkata Ho Hay Hong sambil menganggukkan kepala. Melihat wajah gadis yang berseri-seri hampir ia tidak dapat menahan perasaan birahinya, ia berkata pula. -oo0dw0oo-Bersambung

Jilid 27 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID

Jilid 27

"CIU KHIM, kau ada harganya bagiku untuk pergi menempuh bahaya, segalanya kau jangan kuatir, aku akan mengeluarkan seluruh tenaga untukmu!"

Tiat Chiu Kim masih tetap tersenyum dan berkata.

"Ah, kau begitu baik perlakukan diriku, tidak tahu aku bagaimana harus membalas budi mu?"

Ucapannya itu sebetulnya hanya sekedar untuk menutupi perasaannya sendiri, tetapi setelah diucapkannya, mendadak pikiran jernih dalam ot aknya.

"Pada akhirnya, sikap pemuda itu demikian sungguhsungguh dan selalu menyatakan maksudnya hendak mengeluarkan tenaga baginya, apakah sebetulnya yang telah terjadi?"

Memikir itu, ia jadi bimbang. Dicobanya untuk menenangkan kembali pikirannya, mendadak merasa bahwa urusan itu agak aneh. Pikirnya.

"Jikalau ia ada maksud hendak berbuat jahat terhadap diriku, niscaya sudah lama berhasil, mengapa?"

Mukanya menjadi merah, ia teringat kembali bagaimana ketika dirinya diserang oleh Tio Kang.

Ilmunya Pan Ciok Sin-kang orang tua itu sudah lama ia kenal, dahulu ia sering minta orang tua itu supaya menurunkan pelajaran itu padanya, tetapi selalu tidak berhasil membujuk nya, tak ia duga orang tua yang dahulu demikian baik hati itu, ternyata sudah menggunakan ilmunya itu untuk menyerang dirinya.

Biasanya orang yang terkena serangan ilmu itu, binasa seketika itu juga, tetapi oleh karena Tio Kang mempelajari ilmu itu hanya setengah jalan saja, maka belum mengerti betul sedalam-dalamnya Walaupun demikian, ia berani memastikan bahwa orang yang terkena serangan itu, jarang yang dapat di tolong jiwanya.

Ia tahu bahwa ia sendiri jelas sudah terkena serangan ilmu itu, tetapi mengapa sekarang masih segar bugar?

Dalam hal ini jelas masih mengandung banyak rahasia yang tidak mengerti!

Berpikir sampai disitu, hawa amarahnya baik seketika, dengan perasaan bingung ia bertanya pada Ho Hay Hong.

"Betulkah aku terkena ilmu Pan-Ciok Sin kang dari Tio Kang?"

"Benar, aku sebetulnya tidak tahu ilmu apa yang digunakan, tapi setelah diberitahukan oleh Lam-Kiang Tay-Bong, aku diberi tahu bahwa jahanam itu menggunakan ilmu dari kalangan Budha yang tertinggi."

"Mengapa aku sekarang masih dalam keadaan selamat?"

"Aku sudah mengeluarkan hawa murni yang membeku dalam tubuhmu, sudah tentu tidak ada halangan lagi!"

Terkejut gadis itu bukan main setelah mendengar keterangan Ho Hay Hong.

"Apa katamu?"

Ketika ditanya secara itu dan dipandang demikian rupa oleh sinona, segera Ho Hay Hong menundukkan kepala dan dengan kemalu-maluan ia menjawab.

"Maaf aku oleh karena aku dalam bahaya, aku tadi terpaksa.melakukan....."

Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya untuk menjelaskan perbuatannya.

Menyaksikan sikap jujur pemuda itu, tersadarlah Tiat Chiu Khim atas kekeliruannya.

Bahwa pemuda itu tadi berlaku demikian atas dirinya semua, hanyalah hendak menolong dirinya dari cengkeraman maut.

Ia ingin membuktikan kebenaran dugaannya, maka bertanya pula.

"Dengan cara bagaimana kau tadi menolong aku?"

Sejenak Ho Hay Hong nampak ragu-ragu, akhirnya ia berkata juga.

"Aku mendapat keterangan dari Lam-kiang Tay bong orang yang terkena serangan ilmu itu dalam waktu tiga jam pasti binasa, kecuali jika menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk mengeluarkan hawa murni yang mengeram dalam tubuhnya. Oleh karena itu, Aku buruburu minta diri kepada Lam kiang Tay bong dan menggunakan waktu yang sangat berharga pergi mencari seorang wanita yang sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya, hendak minta tolong padanya untuk membantu menyembuhkan kau!"

Ia berkata sambil melirik sinona, ketika melihat gadis itu tidak marah, ia lalu melanjutkan keterangannya.

"Tetapi aku lama mencari, tidak menemukan wanita semacam itu. Karena melihat jiwamu dalam bahaya, dengan mengambil resiko akan kau damprat aku terpaksa turun tangan sendiri, menyembuhkan lukamu!"

"Waktu aku mendusin, mengapa aku melihatmu ditanah dalam keadaan pingsan?"

"Kekuatan tenaga dalamku kurang sempurna, maka kulakukan setengah jalan. Aku merasa tidak kuat. Dalam keadaan kritis itu, terpaksa aku menempuh bahaya menggunakan ilmuku Ci-yang Cin-khie. Tindakanku akhirnya berhasil. Tetapi, waktu kau membuka mata aku takut kau marah. Hatiku terlalu cemas, hingga tidak mengendalikan tenagaku, oleh karenanya aku lantas jatuh pingsan dan tidak ingat orang lagi."

Tiat Chiu Kim mengingat kembali apa yang dilihatnya setelah dia tersadar dan menyalakan lampu, maka ia anggap bahwa keterangan itu tidak salah lagi Kini ia merasa terharu dan menyesal atas perbuatannya tadi yang sudah memukul pada pemuda tersebut, bahkan hampir saja membunuhnya.

Ho Hay Hong melihat gadis itu termenung memikirkan apa yang telah terjadi, pikirannya merasa tidak tenang, lalu berkata sambil menundukkan kepala.

"Nona, barangkali kau akan marah atas perbuatanku yang lancang dan kurang sopan aku bersedia menerima hukumanmu, tetapi aku minta kau maafkan atas perbuatanku tadi !"

Mata Tiat Chiu Khim yang jeli memandang Ho Hay Hong, pemuda itu menundukkan kepala dengan sikap tidak tenang.

Tangannya diulur, mengusap-usap muka Ho Hay Hong dengan sikap mesra dan berkata dengan suara duka.

"Kau t idak perlu sesalkan perbuatanmu sendiri, akulah seharusnya yang mengucapkan terima kasih padamu."

Ia menghela napas pelahan.

Saat itu, lenyaplah semua perasaan marah dan mendongkolnya diganti dengan perasaan menyesal.

Ia tidak tahu apa sebabnya ia bisa berubah demikian lemah.

Dahulu anggapnya bahwa dia adalah seorang gadis berderajat tinggi sehingga nampak tegas kesombongannya.

Tiada seorang lelaki dipandang dalam matanya, tak disangkanya kali ini ia benar-benar sudah ditundukkan oleh Ho Hay Hong.

Ketika Ho Hay Hong merasa mukanya di raba oleh gadis itu, tergoncanglah hatinya.

"Chiu Khim, kau suka memaafkan aku?"

Tiada jawaban keluar dari mulutnya, ia mengedipngedipkan matanya, sesaat itu seolah-olah berada di awan.

Tanpa dapat lagi mengenakkan perasaannya dengan mendadak jatuhkan dirinya kedalam pelukan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong terperanjat, hampir tidak dapat membuka mulut untuk menyatakan kegembiraannya, hanya.

"Chiu Khim kau....adik Khim."

Kata-kata itu saja yang dapat dikeluarkan dari mulutnya.

Apa yang dirindukan selama itu, apa yang dipikirkan, dalam kamar yang sempit itu kini sudah mendapat jawabannya.

Semua usaha dan jerih payahnya selama ini telah mendapat imbalan yang setimpal.

Dalam matanya kecuali si dia, sudah tidak ada lain orang lagi.

Sedang dalam mata si gadis, juga kecuali si dia, sudah tidak ada siapa-siapa lagi.

Dengan tangan agak gemetaran Ho Hay Hong memeluk erat-erat tubuh kekasihnya.

seolah-olah takut terlepas lagi.

Sang waktu berjalan terus tanpa dirasa.

Dua insan yang kelelap dalam arus asmara itu tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang mengintai mereka dari luar Diluar jendela, dibawah sebuah pohon beringin, tanpa satu kepala orang dengan jenggot dan rambutnya yang putih bagaikan perak menongol mengintip kedalam kamar.

Dari rambut dan jenggotnya yang sudah putih, dapat diduga bahwa orang yang mengintip itu adalah seorang yang sudah lanjut usianya.

Sepasang matanya yang bercahaya terus ditujukan kepada dua tubuh yang sedang berpelukan didalam kamar itu adalah Ho Hay Hong dengan Tiat Chiu Khim.

Mendadak orang tersebut menghunus pedang dari pinggangnya, yang ternyata terdapat ukiran dari hurufhuruf kecil "KIM AP SIN KIAM"

Ho Hay Hong masih belum tahu bahwa pedang KIM AP SIN KIAM itu akan ditujukan kepadanya.

Ia Sudah kelelap dalam lautan asmara, ia anggap bahwa dalam dunia ini hanya ia berdua Tiat Chiu Khim.

Ia berkata dengan suara pelahan kepada kekasihnya.

"Adik Chiu Khim, tahukah kau betapa besar cintaku terhadapmu? Tetapi selama itu aku tidak berani mengutarakan isi hatiku, karena aku takut kau akan marah. Ow, keadaanmu masih terlalu lemah, maukah kalau aku bantu dengan kekuatan tenaga dalamku?"

"Tidak usah, kau sendiri masih memerlukan waktu istirahat yang cukup."

Jawab sinona.

Ho Hay Hong mengusap-usap rambutnya yang hitam dan panjang, pelahan menundukan kepalanya, memandang wajah sinona yang cantik jelita.

Wajah itu kini nampak sangat tenang, tidak lagi ketus dingin dan agung seperti yang sudah-sudah.

"Chiu Khim, sekarang aku baru tahu aku sebetulnya serupa saja dengan manusia biasa, yang membutuhkan cinta dan kehangatan. Selama itu aku suka berbuat atas kehendakku sendiri dengan sendirinya sering mengalami kejadian-kejadian yang agak mengecewakan. Tetapi dengan sejujurnya, aku sedikitpun tidak membenci kelakuanmu dahulu yang demikian dingin terhadapku. Chiu Khim, ada kalanya karena memikirkan dirimu, tidak jarang aku mengucurkan air mata dengan diam-diam. Adakalanya juga timbul pikiran hendak mengundurkan diri dari dunia Kangouw dan mengasingkan diri di tempat sunyi."

Demikian ia berkata sambil tersenyum. Kemudian ia tersenyum getir dan berkata pula.

"Akan tetapi, sekarang aku harus bangkit, aku sudah dapat memahami, betapa indahnya jiwa dan penghidupan itu. Kadang-kadang mendung dan kadang cerah."

Ia masih hendak melanjutkan kata-katanya, satu tangan yang hangat tiba-tiba meraba mukanya. Dengan bernapsu ia memegang erat-erat tangan yang hangat dan halus itu katanya dengan suara pelahan.

"Chiu Khim, marilah kita bergandengan tangan meninggalkan dunia yang terlalu banyak panca roba ini, pergi kedunia yang penuh damai!"

"Engko Hong, aku seperti mendapat firasat tidak baik."

Berkata Tiat Chiu Khim sambil menghela napas. Ho Hay Hong terperanjat.

"Firasat apa?"

"Aku merasa diantara aku dengan kau segera dialingi oleh kabut gelap, mungkin tak bisa berkumpul lebih lama.".

"Kenapa? Kenapa?"

Tanya Ho Hay Hong semakin heran.

"Adik Khim jangan kau pikirkan yang bukanbukan. Asal kita saling mengerti, betapapun besarnya urusan, semua dapat dipecahkan. Kau cantik dan pintar, mengapa bisa timbul pikiran dan kekuatiran demikian rupa?"

"Tetapi aku selalu merasa bahwa antara kita agaknya masih seperti asing."

Tidak menunggu kata-kata selanjutnya Ho Hay Hong mempererat cekalannya.

Bibir gadis itu dilumatnya habis.

Tiat Chiu Khim semula masih coba meronta-ronta, tetapi akhirnya memejamkan matanya.

Segala-galanya menjadi tenang.

Pikiran Tiat Chiu Khim yang selalu risau, membutuhkan hiburan seperti itu.

Tetapi hidupnya belum pernah mengalami kejadian serupa itu hingga sekujur badannya gemetaran.

Dengan tiba-tiba Ho Hay Hong dapat menangkap suara desiran angin, kemudian disusul dengan meluncurnya sebuah benda berkeredepan dari luar jendela.

Dengan wajah berubah, buru-buru di dorongnya tubuh Tiat Chiu Khim.

Sedang ia sendiri terus menjatuhkan diri ke lantai.

Benda itu ternyata adalah sebilah pedang pendek terus menancap diatas meja.

Ia tidak memperdulikan pedang pendek itu, lebih dahulu melesat dahulu melesat kedepan jendela untuk melihat siapa orangnya yang melempar pedang tersebut.

Dalam keadaan gelap ia hanya menampak sesosok tubuh manusia lari kabur dengan kecepatan kilat, sebentar sudah lenyap dari pandangan mata.

Ilmu meringankan tubuh orang itu sungguh hebat, hingga Ho Hay Hong hampir tidak percaya matanya sendiri.

Ia berdiri terpaku sambil berpikir.

Orang ini tengah malam buta menyerang aku, entah siapa dia dan apa pula maksudnya.

Kertas diambil oleh Ho Hay Hong yang segera dibacanya.

Bunyinya kira-kira sebagai berikut.

"Bocah! Sungguh berani kau membinasakan murid kesayanganku. Dosamu tak dapat diampuni. Dalam waktu tiga hari ini, akan kuambil jiwamu. Dengan ini sudah kuperingatkan padamu lebih dahulu, supaya jangan sampai orang-orang dunia Kang-Ouw menyesalkan dan mentertawakan, aku sebagai orang tingkatan tua menghina orang dari tingkat muda!"

Dibawah tertanda tulisannya .

Ing-siu.

Ho Hay Hong terkejut, cepat sekali dia mendapat kabar.

Begitu pikirnya.

Rupanya dia juga d ia sudah tahu!

Memikir lagi sampai disitu, Ho Hay Hong jadi teringat kembali kepada kejadian-kejadian sebelumnya, apa yang telah dilakukan bersama Tiat Chiu Khim.

Ia menengok kearah gadis itu, mukanya menjadi merah sendiri.

Melihat Ho Hay Hong melihat kearahnya, Tiat Chiu Khim bertanya.

"Hay Hong, apa benar kau membunuh muridnya?"

"Ya. Muridnya adalah Long-gee-mo!"

Jawab Ho Hay Hong sambil menunduk. Mendengar disebutnya nama Long-gee-mo, gadis itu rupanya merasa tidak senang. Tetapi karena urusan itu bukan biasa lagi, maka ia lalu berkata.

"Habis, kau pikir bagaimana?"

"Aku juga tidak tahu harus berbuat apa."

"Kita tokh tidak boleh berpeluk tangan menunggu kematian "

"Memang !"

Sahutnya agak cemas. Tetapi setelah melihat pandangan mata Tiat Chiu Khim seolah-olah hendak menjajagi isi hatinya, ia lalu berkata pula.

"Musuh yang mengganggu kita harus lawan. Aku Ho Hay Hong juga bukan anak kemarin sore, takut apa?"

Belum lagi menutup mulut, pintu kamar mendadak terbuka.

Sesosok tubuh manusia melompat masuk bagaikan setan.

Ho Hay Hong terkejut, buru-buru ditariknya tangan Tiat Chiu Khim, sedang tangan kirinya menyerang orang itu.

Orang yang menyerbu masuk itu agaknya tidak menduga akan disambut dengan hebat Ho Hay Hong.

Tetapi hanya terdengar suara dengusannya dari hidung, tubuhnya tidak bergerak.

Kemudian dengan gesit sekali tahu tahu telah menerobos masuk antara Ho Hay Hong dan Tiat Chiu Kim.

Pedang yang menancap diatas meja sudah tercabut, Setelah itu dia lompat keluar lagi melalui jendela.

Namun demikian Ho Hay Hong masih sempat melihat tegas wajahnya.

Teringat akan ancamannya segera ia berseru.

"Ow, dia adalah Ing-siu?"

Mendengar seruan Ho Hay Hong, Tiat Chiu Khim terperanjat, ia bertanya.

"Kau kenal dia?"

"Tidak, tetapi aku dapat memastikan dialah orangnya!"

Mata Tiat Chiu Khim mengawasi pohon beringin di luar jendela, katanya dengan suara perlahan.

"Hay Hong, ia demikian berani dan kurang ajar, pasti ada yang diandalkan. Bukannya aku tidak memandang dirimu, Hay Hong. Dengan sejujurnya, kau tidak ada gunanya melawan dia!"

Ho Hay Hong sedikitpun tidak marah, katanya.

"Justru karena itu, maka aku hendak belajar kenal dengannya, tua bangka itu mungkin anggap kepandaian dirinya sendiri terlalu tinggi, sedikitpun tidak pandang mata kau dan aku. Sesungguhnya sangat menjemukan, biar bagaimana aku harus melawan dia!"

"Dalam waktu kesulitan seperti ini, aku tenang sehingga tidak menimbulkan kesalahan!"

Ha Hay Hong menganggukan kepala, ia mengerti maksud gadis itu, yang merasa kuatirkan keselamatannya.

"Aku tahu benar riwayat dirinya. Pada enam puluh tahun berselang, ia sudah merupakan seorang rimba persilatan yang tergolong orang kuat. Tempat ini sudah diketahuinya dengan jelas kalau kira tetap berdiam disini, sungguh berbahaya. Kita harus lekas pergi!"

"Kemana saja kita boleh pergi, setidak-tidaknya jauh lebih baik daripada tetap kita di sini. Mari jalan !"

Lebih dulu Ho Hay Hong lompat keluar melalui lobang jendela, dengan sangat hati-hati ia menghunus pedang pusakanya memeriksa keadaan di sekitarnya. Tiat Chiu Khim agaknya ingat sesuatu, ia bertanya.

"Hay Hong, pedang emasnya itu, apakah ada keistimewaannya dari pedang biasa?"

"Adik Khim, kau sungguh pintar. Aku sebetulnya hendak menyebutkan nama pedang itu, tetapi mendadak lupa. Mungkin, rimba persilatan yang selama ini tenang, sudah waktunya akan diganggu oleh kawanan iblis. Pedang itu adalah pedang sakti peninggalan dari zaman purba yang dinamakan pedang Kim Ap Sin kiam iblis tua itu mendapatkannya dari gunung sua-giam-san daerah utara, benar-benar tidak oleh dipandang ringan!"

"Pedang itu masih asing bagiku, agaknya belum pernah dengar nama itu. Tetapi dari namanya saja dapat diduga pasti pedang pusaka dari jaman kuno yang tajamnya luar biasa!"

Berkata sampai disitu, wajah Tiat Chiu Kim yang cantik nampak mulai diliputi oleh perasaan murung, katanya pula.

"Kepandaiannya sendiri entah sampai dimana tingginya, aku belum pernah menyaksikan tetapi dari kepandaian muridnya yang tidak di bawah kepandaianku, dapat diduga, aku barang kali sulit dihadapi!"

"Ya, aku sendiri sudah pikir begitu. Akan tetapi, sekarang aku sudah menjadi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara, Biar bagaimana, juga tidak boleh merendah terhadapnya!"

Dua muda mudi itu berjalan diatas jala raya yang sepi sunyi dan gelap gulita.

Ho Hay Hong tidak takut Ing-siu, hanya dalam hati masih merasa berat buat meninggalkan kekasihnya.

Jikalau dahulu, sedikitpun ia tidak perlu kuatirkan semua ini, dengan hati tabah dapat ia menghadapi jago dari tingkat tua itu.

Tiat Chiu Khim memandang dirinya, mendadak menghela napas, dari pandangan matanya yang sayu, dapat diduga bagaimana perasaan hatinya pada saat itu!

"Kalau kau mau mengendalikan hawa marahmu, aku lebih suka mengikuti kau mengasingkan diri kegunung yang sepi, untuk menghindarkan bencana ini!"

"Jikalau tidak beruntung aku harus mati, tidak apalah. Tetapi jiwaku akan hidup terus didalam hati saudarasaudara golongan rimba hijau, aku tidak menyesal lagi!"

Tiat Chiu Khim tidak berkata apa-apa lagi, ia dapat mengerti bahwa kata-kata Ho Hay Hong itu dengan secara tidak langsung menolak usulnya.

Sambil menggenggam gagang pedang pusakanya, mata Ho Hay Hong memandang pedang pusaka yang memancarkan sinar berkilauan, sementara dalam hatinya berpikir.

"Selewatnya malam ini, adalah besok pagi. Waktu itu aku Ho Hay Hong yang menjadi pemimpin golongan rimba hijau, harus menentukan sendiri hari depanku. Namaku akan menjadi harum atau ludas, dalam waktu satu hari itu dapat ditentukan. Maka aku harus mengeluarkan seluruh kepandaianku, kalau perlu adu jiwa dengannya."

Ia berjalan sambil melamun.

Ketika berpaling kearah kekasihnya buat menghibur beberapa patah.

Sang kekasihnya ternyata sudah tidak ada di sampingnya.

Bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, sejak kapan Tiat Chiu Khim meninggalkan dirinya, ia juga tidak tahu.

Dalam cemasnya ia buru-buru lari balik sambil berderu memanggil-manggil nama kekasihnya.

Sekaligus ia sudah lari sepuluh pal lebih tetapi tidak menemukan jejak sang kekasih maka ia mengira sudah terjadi apa-apa atas dirinya.

Ia mengingat kembali apa yang telah terjadi, belum lama berselang bukankah nona itu mengikuti dibelakangnya?

Kecuali ia yang menyingkir sendiri, dalam rimba persilatan dewasa ini tidak mungkin ada orang lain bagaimanapun lihaynya dia, yang bisa menyomot Tiat Chiu Khim dari dekatnya tanpa diketahui sama sekali olehnya.

Selain daripada itu jikalau orang yang menangkap gadis itu berkepandaian amat tinggi, agaknya tidaklah perlu sampai menggunakan cara demikian untuk merampas Tiat Chiu Khim.

Bukankah ada lebih baik bila merampas secara terang-terangan?

Ho Hay Hong berdiri terpaku.

Ia bertanya kepada dirinya sendiri.

"Pasti ia yang pergi sendiri! Tetapi apa sebabnya? Ilmu meringankan tubuhnya lebih mahir dari padaku, lagipula karena pikiranku sedang risau, sudah tentu tidak tahu."

Semakin dipikir semakin kuat dugaannya!

sebab kecuali itu, kemungkinan lainnya sedikit sekali, bahkan boleh dikata tidak mungkin sama sekali.

Pikirannya pelahan-lahan mulai reda, tetapi sebentar kemudian perasaannya tidak tenang lagi.

Ia sesungguhnya tidak dapat memikirkan apa sebabnya yang sebetulnya.

Apa sebab Tiat Chiu Khim berlalu?

Dan apa pula maksudnya.

Ia mulai memikir yang bukan-bukan.

"Apakah oleh karena aku menolak keinginannya yang baik lantas ia menjadi marah?"

Demikian ia bertanya pada dirinya sendiri.

Tetapi, itu juga belum tentu, Karena ia tahu benar sifat dan perangainya.

Ia tahu asal gadis itu jauh berbeda dengan orang biasa, adanya sombong dan tinggi hati, tetapi pikirannya tidak sampai demikian sempit.

"Mungkin ia pergi mencari bala bantuan!"

Demikian ia berpikir lagi.

Kalau benar demikian halnya, mengapa tidak berunding dulu dan lantas pergi?

Apalagi kesehatannya belum pulih kembali seluruhnya, darimana ia harus minta bantuan?

Rupa-rupa pikiran berkecamuk dalam benaknya, pelahan-lahan ia jadi kesal sendiri.

Apakah ia merasa kecewa terhadapku?

Ia mengingat-ingat kembali apa-apa yang telah diucapkan Tiat Chiu Khim didalam rumah penginapan.

Alisnya lalu dikerutkan dan berkata kepada diri sendiri.

"Apakah ia sudah mempunyai kekasih? Jikalau tidak, mengapa ia selalu merasa bahwa hubungan kita diliputi oleh kabut? Ucapan itu jelas mengandung maksud menolak cinta-ku."

Oleh karena itu maka ia segera menarik kesimpulan.

"Mungkin, karena hendak membalas budiku yang menolong jiwanya, ia pura-pura berlaku cinta terhadapku. Aa, aa, aku tidak menduga bahwa perbuatannya itu semata-mata hanya untuk membalas budi. Akh. Tiat Chiu Khim mengapa kau tidak mau mengatakan secara terus terang? Mungkin pikiranku b isa agak tenang, tetapi Sekarang, aih."

Pikirannya semakin risau, penderitaan hatin itu dirasakan lebih berat daripada penderitaan lahir.

Ia tertawa getir sendiri dan akhirnya memutuskan untuk melupakan gadis idamannya itu.

Ia melanjutkan perjalanannya dengan hati berat dan putus harapan.

Ia memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi sekali.

Dengan pikiran yang kusut ia berlari, mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melanjutkan perjalanannya.

Ia tidak memikirkan tempat mana yang harus dituju, matanya memandang kearah jauh, membiarkan kakinya lari bagaikan bergeraknya mesin.

Dengan mendadak, dibelakangnya terdengar serentetan orang tertawa.

Dalam keadaan terkejut, ia berpaling matanya segera menatap kepada orang yang tertawa itu.

Ia terkejut karena mata orang itu bagaikan sinar bintang dipagi hari, yang seolah-olah ingin menembusi hatinya.

Ia tidak berani memandang terus, tanpa disadari ia menundukkan kepala, sedang dalam hatinya berpikir.

"Siapakah dia? Apakah,.,., dia Tiat Chiu Khim."

Teringat kekasihnya pikirannya terbuka.

Ia maju beberapa langkah.

ia baru lihat tegas bahwa orang itu mengenakan kedok kulit manusia, sewaktu mengeluarkan suara tertawa kulitnya tidak bergerak.

Sebagai seorang pintar, ia segera dapat mengenali dari tubuh orang itu, maka seketika itu ia lantas berkata.

"Tidak perlu menyaru lagi, Ing-siu bukalah kedokmu."

Orang yang bertubuh tinggi besar itu berkata sambil tertawa.

"Bocah, kau benar-benar pintar". Sementara itu ia juga sudah membuka kedoknya, selembar muka merah tertampak didepan mata Ho Hay Hong. Mata Ho Hay Hong ditujukan kepada pedang pusaka dipinggang orang tua itu, kemudian berkata.

"Jangan main gila lagi, kembalikan nona Chiu Khim ku,"

Orang tua itu terkejut dan bertanya.

"Siapa nona Chiu Khim?"

Tetapi kemudian ia segera mengerti, sambil tertawa terbahak-bahak ia berkata pula.

"Bocah, kau benar-benar tolol, sehingga sahabat perempuanmu hilang juga tidak tahu. Sungguh sangat memalukan, kau masih berani menganggap dirimu sebagai pemimpin rimba hijau daerah Utara ?"

Menyaksikan sikap yang sungguh-sungguh, agaknya memang tidak tahu benar, maka Ho Hay Hong lalu berpikir.

"Apakah benar-benar Chiu Khim pergi atas kemauannya sendiri.?"

Seketika itu ia merasa sedih lagi, karena dari sini dapat membuktikan dugaannya sendiri.

Namun demikian, karena sedang berhadapan dengan musuh tangguh, maka buru-buru mengendalikan perasaannya.

Ia berkata.

"Ing-siu, kau merintangi perjalananku, apakah hendak menuntut balas buat kematian muridmu?"

Mata Ing-siu menatap wajah Ho Hay Hong, jawabnya.

"Benar, aku sebetulnya hendak membunuhmu sekarang juga, tetapi setelah melihatmu, pikiranku berubah lagi. Aku menghendaki supaya kau mati dihadapan jago rimba persilatan seluruh dunia, supaya semua orang rimba persilatan tahu bahwa aku Ing-siu bukan saja belum mati, bahkan lebih hebat daripada Ingsiu pada enam puluh tahun berselang!"

"Bicara memang gampang. Tetapi aku bukanlah patung, mana aku mau membiarkan diri ku diperlakukan dengan sesuka hatimu?"

"Hebat, hebat. Aku tahu bahwa kau yang masih muda belia, sudah berhasil menduduki kursi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara. Kepandaian ilmu silatmu sudah pasti tak dapat dibandingkan dengan orang biasa. Tetapi kalau dibandingkan dengan aku, itu seperti telur diadu dengan batu."

Ho Hay Hong semangatnya bangun seketika, mendengar perkataan itu bukan saja tidak marah, sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak. Ia berkata dengan suara keras.

"Bagus, bagus. Aku jadi ingin sekali mencoba kepandaianmu?"

Ia maju lagi tiga langkah dan berkata dengan suara berat.

"Aku mau tanya padamu. Bagaimana pertarungan ini kita mulai?"

"Bocah! Keberanianmu memang patut dipuji, benar tidak kecewa kau jadi jago muda. Tapi Sayang kau terjatuh di tanganku Tentang pembukaan mudah saja. Tempat boleh kau pilih, aku nanti akan datang untuk mengambil jiwamu!"

Ho Hay Hong seketika itu melupakan rasa sedihnya dengan semangat menyala nyala ia berkata.

"Aku tahu bahwa pedang pusakamu itu Kim Ap Sin Kiam, benda peninggalan zaman purba. Tetapi pedang garuda Saktiku juga bukan pedang biasa, marilah kita mengadu pedang siapa yang lebih tajam."

Ing-siu tampak terkejut ia bertanya "Kau pernah apa dengan kakek penjinak garuda ? Mengapa kau membawa-bawa pedang garuda saktinya?"

"Tentang ini kau tidak perlu tanya!"

Sahut Ho hay Hong.

"Kalau waktunya sudah tiba, kau datang saja berhadapan denganku !"

"Baik, besok tengah hari kita bertemu lagi."

Ia melirik Ho Hay Hong sejenak, lantas berlalu. Baru saja orang tua itu memutar tubuhnya, Ho Hay Hong melihat sebuah makam menonjol maka lalu bertanya.

"Tunggu dulu! Aku mau tanya padamu, ini kuburan siapa?"

"Tang-Siang Sucu!"

Jawabnya sambil tertawa dingin.

Mendengar jawaban itu, bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, sehingga seketika itu berdiri menjublek.

Tang-siang Sucu meskipun jahat, tetapi bagaimanapun juga masih terhitung saudara sekandungnya sendiri.

Ia berdiri terpaku sekian lama, mendadak wajahnya berubah.

Ing-Siu juga tidak lantas pergi.

Menyaksikan sikap Ho Hay Hong, lantas bertanya.

"Kau berdua sama-sama membunuh muridku, sudah seharusnya menerima hukuman mati. Kau menyesal juga sudah terlambat."

Ia tidak tahu bahwa Tang-siang Sucu adalah saudara sekandung Ho Hay Hong, dianggapnya kawan biasa saja. Katanya pula.

"Meskipun kau merasa kasihan, tidak urung kau sendiripun akan mati. Kau juga tidak usah pura-pura, hari ini adalah hari kematian kawanmu, dan besok adalah giliranmu. Aku selamanya dapat membedakan dengan tegas, siapa musuh siapa tuan penolong tidak pernah membunuh orang yang tidak berdosa, t etapi juga belum pernah melepaskan musuh-musuhku begitu saja. Siapa suruh kau tidak mencari keterangan dulu?"

Sehabis berkata demikian, lantas berjalan meninggalkan Ho Hay Hong.

"Berhenti!"

Kemudian berkata dengan gemas.

"Ing-siu! Kau membunuh saudaraku, maka sekarang kau adalah musuh besarku, serahkanlah jiwamu!"

"Bocah, telah kuberikan kesempatan padamu untuk hidup satu hari lagi. Apakah kau masih kurang puas!"

Ho Hay Hong mendekati Ing-siu dengan langkah lebar, dengan mata beringas ia berkata.

"Orang lain boleh takut padamu, tetapi aku Ho Hay Hong tidak ! Lekas hunus pedang pusakamu, mari kita bertempur mati-matian!"

Dengan cepat menghunus pedang garuda saktinya dan pasang kuda-kuda. Matanya menatap wajah Ing-siu, katanya gusar.

"Lekas ! Jikalau tidak, aku akan berlaku kurang ajar terhadapmu!"

Sejak dahulu, enam puluh tahun berselang Ing-siu pernah menjagoi dunia Kang-ouw dan namanya dikenal orang di seluruh rimba persilatan.

Belum pernah ia melihat seorang yang tidak takut mati seperti anak muda didepan matanya ini.

Maka alisnya lalu dikerutkan kemudian berkata.

"Bocah, apa kira aku mudah kau hadapi?"

"Aku tidak perduli kau mudah di hadapi atau tidak. Ganti jiwa saudaraku lebih dulu, jangan banyak bicara!"

Ing-siu tertawa terbahak-bahak, lama baru berkata .

"Bocah, menang atau kalah besok sudah tentu dapat diketahui, perlu apa kau begitu tergesa-gesa?"

Ing-siu adalah seorang yang kejam dan banyak akalnya.

Meskipun ia tahu sedang bermusuhan, tetapi ia masih dapat berlaku sabar.

Ia telah mengambil keputusan, besok saja membinasakan anak muda itu dihadapan jago-jago rimba persilatan.

"Baik. besok ya besok. Jikalau tidak datang pada waktunya, jangan sesalkan kalau aku datang kerumahmu."

Berkata Ho Hay Hong marah. Ing-siu tertawa terbahak-bahak, dengar membawa hawa amarahnya ia terlalu. Ho Hay Hong mengawasi dengan hati panas, kemudian ia memandang tanah kuburan dan menggumam.

"Hay Thian. Hay Thian, hendaknya kau mati dengan meram. Aku akan menuntut balas dendam untukmu!"

Untuk pertama kalinya ia mengucurkan air matanya bagi saudaranya yang jahat dan banyak dosa itu.

Dibawah sinar bintang di langit, dengan ditiup oleh angin malam yang dingin, untuk pertama kalinya ia mengungkapkan perasaannya !

Lama ia berdiri di depan kuburan, mendadak dikejutkan oleh suara burung malam.

Kini hatinya telah dipenuhi oleh hawa amarah dan permusuhan, pikirannya terhadap kekasihnya telah lenyap sama sekali.

Setelah bersembahyang didepan kuburan Tang-siang Sucu, ia lantas berlalu.

Perlahan-lahan ia menghilang di tempat gelap, ia memulai perjalanannya untuk membuka lembaran baru yang gilang-gemilang atau mati sebagai ksatria.

Keesokan pagi-pagi sekali, di kalangan Kang-ouw mendadak tersiar berita yang mengejutkan.

Berita itu bagaikan halilintar disiang hari bolong, merupakan suatu kejadian besar sejak adanya riwayat dunia Kang ouw.

Berita besar itu adalah akan dilakukannya pertandingan antara Ing-siu, jago tua kenamaan sejak enam puluh tahun berselang dengan pemimpin golongan rimba hijau daerah utara.

Berita besar ini ditiup-tiup demikian rupa sehingga belum sampai satu hari, sudah menggemparkan seluruh rimba persilatan.

Hampir set iap orang yang pernah menginjak dunia Kang ouw atau yang mengerti ilmu silat, tidak ada yang tidak tahu berita yang mengejutkan itu.

Hanya dalam waktu satu hari saja, hampir diset iap rumah makan, jalan besar dan set iap gang, semua orang membicarakan berita itu.

Sebab nama Ing-siu sudah lama terkenal, tiada orang rimba persilatan yang tidak tahu.

Sedangkan pemimpin golongan rimba hijau daerah utara yang baru muncul juga telah banyak perbuatannya yang patut dipuji.

Dua manusia besar itu hendak melakukan pertarungan, berita itu benar-benar telah menggemparkan seluruh rimba persilatan.

Oleh karena itu juga saudara-saudara dari golongan rimba hijau dari daerah utara yang dekat daerah selatan, pada berbondong-bondong menuju ke selatan, untuk menyaksikan pertandingan besar itu.

Dalam waktu satu hari saja, golongan rimba hijau daerah selatan juga gempar.

Pemimpin daerah utara yang sudah lama dijeleki oleh mereka, kini ternyata bertindak demikian berani, hingga pandangan mereka berubah seketika.

Tempat ditunjuk oleh Ho Hay Hong untuk mengadakan pertandingan itu, adalah tempat sebagai daerah ternama didaerah selatan, yang letaknya kira-kira sepuluh pal dari propinsi Ciat-kang.

Tempat itu merupakan sebuah danau yang mempunyai pemandangan alam indah.

Hari itu, mulai dari pagi hari, jalanan yang menuju kedanau itu telah dipenuhi oleh manusia-manusia yang menuju ketempat itu untuk menyaksikan pertandingan besar.

Hari itu udara cerah diatas langit hanya terdapat beberapa gumpal awan putih yang tersebar dimanamana.

Ho Hay Hong dengan berpakaian ringkas dan seorang diri, jalan diatas jalan raya yang menuju kedanau.

Sepanjang jalan tampak banyak mata ditujukan padanya hingga semangatnya semakin menyala nyala.

Ia mengerti bahwa ini adalah Satu ujian paling berat dalam seluruh hidupnya, mati hidupnya tergantung dalam pertempuran hari ini.

Bukan hanya itu saja, bahkan nama baik golongan rimba hijau daerah utara juga tergantung di dalam tangannya.

Ia berusaha keras menekan emosinya, supaya melupakan berlalunya dua kekasihnya dan kematian saudaranya.

Ia berusaha setenang mungkin, supaya dapat melawan musuhnya dengan sebaik-baiknya.

Ia tidak berani membayangkan apakah ia akan berhasil, tetapi ia harus bertahan sekuat tenaga.

Sekalipun bukan tandingannya, atau harus hancur lebur di medan pertempuran, ia juga akan melawan dengan gigih.

Dalam keadaan demikian, ia tiba ditempat yang hendak dijadikan medan pertempuran.

Sebelum ia tiba, tempat itu sudah penuh dengan manusia yang berjejal-jejal ingin menyaksikan pertempuran bersejarah itu.

Ho Hay Hong yang suka ketenangan, juga tak mau mengagulkan diri.

Begitu melihat Ing siu masih belum datang, ia segera mencari suatu tempat yang agak tenang, dan duduk seorang diri.

Baru saja ia duduk, dibawah sebuah pohon besar yang tidak jauh dari tempat ia duduk mendadak terdengar suara orang berkata.

"Saudara-saudara, Ho Hay Hong yang menduduki kursi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara itu, kabarnya adalah seorang muda yang usianya terpaut tidak jauh dengan kita. Belum lama ia muncul didunia Kang Ouw, sudah menggemparkan rimba persilatan, benar-benar sangat mengagumkan!"

"Ng !"

Demikian terdengar jawaban suara lain orang.

"aku mempunyai satu pandangan lain, aku anggap seorang muda paling pantang namanya terlalu menonjol. Meskipun ia sudah menjadi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara, tetapi kalau dibandingkan dengan Ing-siu, masih selisih jauh. Dalam pertempuran ini mungkin ia akan rugi!"

Terdengar pula suaranya orang ketiga.

"Hm, jieko! Aku lihat belum tentu seperti apa yang kau duga. Orang sengaja hendak menunjukkan kepandaiannya dirimba persilatan daerah selatan, tidak mungkin memikirkan rugi atau tidak rugi!"

Jelas suara orang itu mengandung nada mengiri dan mengejek. Hati Ho Hay Hong tergerak. Dan ia mendengar suara lain berkata.

"Sam suheng, sudahlah, semua tidak perlu bertengkar memperbincangkan urusan orang lain. Biar bagaimana sebentar lagi kita tokh akan dapat menyaksikan sendiri."

Ho Hay Hong berpaling kearah orang-orang itu, dibawah pohon besar itu ternyata ada duduk empat orang muda, yang masing-masing menyoren pedang.

Ketika empat pemuda itu melihat Ho Hay Hong memandang mereka dengan sinar matanya yang tajam, semua terperanjat.

Ho Hay Hong juga segera mendapat kenyataan bahwa mereka itu bukan orang-orang dari golongan jahat, maka tidak menghiraukannya, tetap duduk sambil mendongakkan kepala menantikan kedatangannya Ingsiu.

Dengan mendadak, terdengar suara tertawa nyaring menggema diudara.

Suara itu diulangi lagi berulang-ulang hingga menimbulkan perhatian semua orang yang ada disitu.

Empat pemuda itu juga lantas diam, celingukan mencari cari.

Ho Hay Hong juga dapat merasakan bahwa kekuatan tenaga dalam orang itu tidak dimiliki oleh orang sembarangan.

Ketika ia angkat muka, matanya segera dapat lihat seorang yang mengenakan pakaian panjang warna kelabu, berdiri menghadap kebarat.

Ditengahtengah orang banyak, orang itu nampak sangat menyolok.

Setelah Ho Hay Hong melihat tegas siapa adanya orang itu, diam-diam terkejut, karena orang itu adalah orang luar biasa berbaju kelabu dari kampung setan, yang kepandaian ilmu silatnya didapatkan dari Kakek penjinak garuda.

Ia heran mengapa orang itu juga datang kemari, agaknya juga tertarik oleh pertempuran yang akan datang.

Ho Hay Hong tidak takut, tetapi ia tidak ingin orang itu mengacau jalannya pertempuran.

Ia tidak ingin dirinya diketahui oleh orang itu, maka ia pindah ke bawah pohon, duduk berhadapan dengan empat pemuda tadi.

Tak disangka-sangka, baru saja ia duduk dihadapannya sudah berdiri tiga orang laki-laki berbadan tegap berpakaian warna ungu, membentak padanya dengan suara kasar.

"Bagus, Tang Siang Sucu, kita cari-cari kau kemanamana, tak disangka kau berada sini mencari angin. Haha, bangun, bangun Jangan berlagak gila!"

"Tuan-tuan ada keperluan apa?"

Balas menanya Ho Hay Hong agak heran.

"Keperluan apa?"

Jawab tiga orang itu berbareng.

"Kurang ajar. Tang siang Sucu, kau juga pandai berlagak, Tiga bulan berselang, kau telah membunuh habis serumah tangga toako kita, dosamu apakah masih perlu kita jelaskan lagi."

Mereka memandang Ho Hay Hong dengan seksama, kemudian berkata pula sambil tertawa.

"Sungguh kebetulan, suhumu sekarang tidak berada disini, maka kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk menuntut balas dendam. Sehabis berkata orang itu memberi isyarat dengan matanya, salah seorang lantas berkata dengan suara keras.

"Bocah durhaka kita sudah mengundang seorang pandai, untuk mengambil jiwamu !"

Orang itu jarinya menunjuk kepada seorang pertengahan umur dengan berpakaian seperti pelajar. Lalu berkata pula sambil memperkenalkan orang itu.

"Tuan ini adalah ahli silat yang baru diundang oleh golongan kita, Tiat bin Sie-Seng dari gunung Lo losan. Haha, bocah, kau sekarang boleh mati dengan mata meram !"

Ho Hay Hong mengerti bahwa karena perbuatan saudaranya, tidak nyana kini mereka telah salah faham dan anggap ia yang melakukan kejahatan itu.

Ia tahu mereka datang dengan penuh amarah, maka juga tahu bahwa pertempuran ini tidak dapat dielakkan lagi.

Ia berpikir.

"saudara sudah mati, keluarga Ho hanya tinggal aku sendiri, biarlah aku yang menalangi tanggung jawabnya."

Bagaimanapun juga Ho Hay Hong adalah saudara sekandungnya.

Meskipun ia tidak setuju perbuatannya, tetapi kejadian sudah terjadi demikian rupa, juga tidak bisa tinggal diam, maka ia lalu berkata dengan gagah.

"Baik, aku Tang siang Sucu akan melayani kehendak kalian!"

Tiga orang dengan serentak mundur. Tiat bin Sie seng lalu tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Sudah lama aku mendengar namamu yang besar, hari ini bertemu muka, benar saja memang bukan seorang sembarangan. Sebetulnya aku ingin bersahabat denganmu, tetapi karena tugas, aku tidak bisa berbuat apa-apa, harap kau suka memaafkan!"

Ho Hay Hong tahu bahwa waktu sangat berharga baginya, maka ia tidak mau membuang waktu dengan cuma-cuma. Katanya sambil memberi hormat.

"Tuan datang dengan membawa tugas, sudah tentu bukan atas kehendakmu sendiri. Jangan khawatir, aku tidak akan membawa tuan kedalam kancah permusuhan!"

"Awas!"

Kata Tiat bin Sie-Seng sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.

Tangannya bergerak melakukan serangan membacok dengan tangan kosong.

Hanya satu gerakan, Ho Hay Hong sudah tahu sampai dimana tingginya kepandaian pelajar itu, diam-diam terkejut.

Lelaki berpakaian ungu ketika menyaksikan Ho Hay Hong menggeser kakinya, lantas berkata sambil tertawa menyeringai.

"Ha ha, haha! Bocah! Kau tahu juga, ini adalah ilmu silat dari golongan Lo lo san yang sangat terkenal didaerah selatan!"

Ho Hay Hong yang tahu bahwa ia berhadapan dengan lawan tangguh, lalu memusatkan seluruh kepandaiannya, dengan satu tangan ia maju menyerang dengan cepat.

Empat pemuda berbaju kuning nampaknya tertarik oleh pertempuran itu, semua bangkit dari tempat duduknya.

Tiat bin sieseng sendiri diam-diam juga mengakui kepandaiannya Ho Hay Hong.

Ia juga segera mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawannya yang masih sangat muda itu.

Pertempuran itu dengan cepat sudah menarik perhatian orang banyak, hingga pada datang berduyunduyun untuk menyaksikan.

Ho Hay Hong sangat khawatir hal itu akan menarik perhatiannya lelaki berbaju kelabu dari kampung setan maka ia hendak mengakhiri pertempuran itu dengan cepat.

Serangan hebat segera dilancarkan kepada lawannya.

Tiat bin sieseng terkejut, ia tidak menduga lawannya yang masih muda belia, memiliki kekuatan tenaga yang demikian hebat.

Kalau semula ia pikir hendak memperkembangkan ilmu silatnya dari golongan Lo-losan, yang dianggapnya akan dapat menggemparkan rimba persilatan, kini harapan itu telah buyar sebagian.

Selagi Tiat-bin Sie seng memikirkan diri lawannya, Ho Hay Hong mendadak lompat melesat menyingkir meninggalkan lawannya.

Tiat-bin Sie seng heran atas sikapnya Ho Hay Hong sebab belum kalah sudah lari, maka segera mengejarnya.

Sebaliknya dengan tiga lelaki baju ungu, mereka itu mengira Ho Hay Hong tidak berani melawan hingga kabur, lalu sambil tertawa.

"Manusia tidak tahu malu! Kita lihat kau hendak lari kemana!"

Dengan serentak mereka juga lari mengejar.

Ho Hay Hong lari meninggalkan tempat dekat danau yang akan dijadikan medan pertempuran, kemudian berhenti disuatu tempat.

Tempat itu sangat tersembunyi, tiada manusia jalan disitu, oleh karenanya ia boleh menunggu dengan tenang.

Atau kalau harus bertempur lagi, juga tidak takut akan dikerumuni oleh banyak orang yang menonton.

Setelah mereka berlalu, diantara penonton seorang anak muda tampan yang muda sekali, yang usianya kirakira baru enam belas tahun juga turut mengejar.

Orang banyak menganggap hanya ingin menonton, maka tiada seorangpun yang menghiraukannya.

Belum lama Ho Hay Hong tiba ditempat itu, Tiat bin sieseng segera menyergap sambil berseru.

"Kau belum kalah mengapa lari? Apakah maksudmu yang sebenarnya?"

Ho Hay Hong tanpa bicara segera menyambut Tiat-bin Sie-seng dengan serangan hebat, sehingga lawannya terpaksa mundur.

Tiat bin Sie seng agak mendongkol, ia kembali mengeluarkan kepandaiannya untuk menyerang lagi.

Ia menggunakan gerakan-gerakan yang sangat lincah menghujani Ho Hay Hong demikian rupa dengan serangan-serangannya yang aneh-aneh, sehingga Ho Hay Hong seolah-olah terkurung dalam serangan tangannya.

Ho Hay Hong juga merasa heran menghadapi serangan yang demikian aneh itu, maka ia tidak berani gegabah.

Ia lalu menggunakan ilmu silatnya Kun-hap Samkay, melayani lawannya dengan seru.

Di bawah teriknya sinar matahari dua orang itu bertempur sengit.

Difihaknya Tiat-bin Sie-seng nampaknya sudah bertekad bulat hendak menjatuhkan lawannya, sedangkan Ho Hay Hong agak heran, sebab lawannya itu hanya diundang untuk membantu saja, mengapa bertempur mati-matian demikian rupa, agaknya seperti musuh besar.

Tetapi sudah menjadi kenyataan demikian, ia juga tidak perlu berpikir terlalu banyak, maka dengan tekad bulat pula hendak merubuhkan lawannya.

Ia tidak tahu bahwa Tiat-bin Sie Seng ada maksud hendak menjagoi rimba persilatan, meskipun diluarnya nampak berlaku merendah, tapi dalam hatinya hendak menjatuhkan semua orang kuat dalam rimba persilatan.

Sementara itu tiga lelaki berbaju ungu, terus siap sedia untuk menantikan kesempatan, apabila Ho Hay Hong terdesak, segera akan dibinasakan!

Pemuda tampan yang ikut menonton tadi, telah sembunyikan dirinya jauh-jauh, bukan saja Hay Hong tidak tahu, sedangkan dipihaknya orang-orang berbaju ungu juga tiada seorang pun yang tahu.

Pertempuran berlangsung semakin seru, serangan masing-masing juga semakin hebat.

Kini dari f ihak orangorang berbaju ungu agaknya juga sudah mulai mendapat firasat bahwa Tiat bin sie seng tidak mungkin dapat merebut kemenangan, hingga mereka diam-diam merasa khawatir.

Yang mengherankan ialah Tiat-bin Sie seng sendiri nampaknya tidak bisa merasa khawatir, bahkan sebaliknya, diwajahnya yang putih bersih, setiap saat terlintas suatu perasaan girang Perasaan girang itu semakin nyata tertampak mengikuti jalannya pertempuran, seolah-olah sudah yakin benar ia pasti akan dapat meraih kemenangan.

Hal ini tidak mengherankan, karena ilmu silatnya dengan tangan kosong yang dinamakan gerak tipu membelah awan, memang benar-benar luar biasa aneh.

Juga keampuhannya, keistimewaan ilmu silatnya itu, ada mempunyai suat kesanggupan mencari jalan kelemahan lawannya dan kemudian dicecer secara hebat.

Ia semakin girang, karena mengetahui bahwa serangan lawannya kalau dilihat dari luar memang hebat sekali, tetapi kalau diperhatikan benar-benar, lawannya, itu pikirannya seperti terpengaruh oleh perasaan kikuk dan bingung.

Setiap kali melakukan serangan, sebelum serangannya mengenakan sasarannya, telah dibatalkan dengan tibatiba.

Dengan tiba-tiba satu pikiran terlintas dalam otak Tiatbin Sie-seng, ia segera menarik kesimpulan bahwa lawannya itu mungkin belum memiliki kekuatan mahir seperti kekuatan tenaga dalamnya Sementara itu Ho Hay Hong yang sedang bertempur terus makin lama nampak makin gelisah sebab dalam pikirannya selalu terganggu oleh bayangan Ing-siu yang dikiranya saat itu sudah tiba dan menghinanya tidak berani datang memenuhi janji.

Pikirannya semakin gelisah, serangannya semakin tidak teratur.

Ia sendiri juga merasa heran, karena belum pernah demikian bingung.

Dalam keadaan demikian, telinganya mendadak dapat menangkap suara sambaran angin, dengan sendirinya ia mengelak dan menggerakkan tangan kirinya untuk menangkis serangan lawannya, sedang tangan kanannya membuat satu lingkaran yang ditujukan kepada dua bagian jalan darah lawannya.

Setelah mengeluarkan serangannya itu, ia mulai memusatkan kekuatan tenaganya dan pikirannya Selagi berusaha untuk memusatkan pikirannya, suara keras terdengar pula, dalam waktu sekejap mata, suara itu sudah mendekati dirinya.

Bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, ia tidak menduga bahwa perubahan gerakan lawannya demikian pesat, bahkan bisa menembusi serangannya sendiri yang rapat.

Disamping terkejut, pikirannya seketika itu jernih kembali, tetapi hendak menarik kembali tangannya untuk menangkis serangan lawannya sudah tidak keburu lagi.

Diantara suara ledakan keras ia terpaksa mengempos hawa murni dan membusungkan dadanya.

Karena keadaan mendesak walaupun ia berhasil menghindarkan diri dari serangan depan, tetapi tidak berhasil mengelakkan sambaran angin dari serangan tersebut, hingga bajunya robek sebagian.

Diantara sorak-sorai dari orang-orang berbaju ungu, Ho Hay Hong dapat menampak tegas bahwa wajah Tiatbin Sie-seng menunjukkan sikap puas, bangga dan jumawa, bibirnya tersungging satu senyuman yang mengandung sindiran.

Ini membuat panas hatinya, hingga dengan tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan bersiul panjang.

Tiat-bin Sie seng terkejut, ia dapat merasakan bahwa suara siulan itu agak aneh, samar-samar seperti mengandung kemarahan sangat besar.

Ia melihat lagi wajah Ho Hay Hong, Saat itu nampak pucat pasi, sedang kedua matanya bersinar buas, dua tangannya dirangkapkan didepan dadanya, bergerak tidak berhenti-henti.

Dalam hati lalu berpikir .

"Apa yang akan dilakukan oleh anak muda ini ? Sikapnya yang buas ini, sungguh menakutkan"

Selagi pikirannya belum tenang, suara bentakan nyaring tiba-tiba keluar dari mulut Ho Hay Hong .

"Tiat-bin Sie-seng, serahkan jiwamu!"

Dua tangannya yang satu disodorkan yang satu ditarik kembali, lambat-lambat bergerak kehadapan Tiat-bin Sie Seng. O-oodwoo-O Bersambung

Jilid 28 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID

Jilid 28 TIAT-BlN SIE-SENG kembali dikejutkan oleh perbuatan pemuda itu, ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan olehnya, ia hanya merasa sikapnya agak aneh, maka tidak dihiraukan, malah ia berkata sambil tertawa dingin.

"Belum tentu, ucapan menyerahkan jiwa, rasanya masih terlalu pagi!"

Diluar dugaannya, belum lagi ia menutup mulutnya, mendadak merasakan suatu tenaga yang hebat sedang menggempur dirinya.

Sebagai satu ahli silat kenamaan, segera dapat mengetahui bahwa serangan Ho Hay Hong itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang dinamakan Ceng-khie.

Dengan cepat ia mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh, buru-buru lompat melesat.

Dengan alis berdiri, Ho Hay Hong mendadak membalikkan tenaganya, seolah-olah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya Tiat-bin Sie-seng sudah cukup gesit, tetapi tokh masih agak terlambat, kekuatan dari serangan Ho Hay Hong, seolah-olah menekannya semakin hebat.

Dada Tiat bin Sie seng seperti digenjot oleh martil besar, orangnya terbang melayang bagaikan layangan yang putus talinya.

Di tengah udara, mulutnya menyemburkan darah.

Ho Hay Hong sendiri juga terhuyung-huyung, ia coba mempertahankan posisinya, matanya mengawasi tubuh Tiat bin Sie seng yang terbang melayang sambil tertawa dingin.

Tiat-bin Sie seng sesungguhnya tidak kecewa menamakan diri sebagai orang kuat dari gunung Lo-losan meskipun badannya terapung di tengah udara dan sudah menyemburkan darah, ia masih bisa mempertahankannya dan melayang turun ke tanah.

Tindakan Tiat bin sieseng untuk menyelamatkan dirinya itu, juga menarik perhatian Ho Hay Hong.

Pada saat itu, keadaannya sendiri juga sudah terlalu lelah, sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk melanjutkan pertempuran.

Dengan kaki sempoyongan Tiat bin sieseng mengeluarkan obat pil dari dalam botol obatnya yang lalu ditelannya, matanya menatap wajah Ho Hay Hong.

Kemudian berkata padanya.

"Tak disangka kau juga melatih ilmu ceng-khie, Tiat bin sieseng kali ini benar-benar sudah kesalahan mata sudah seharusnya menerima kekalahan ini. Biarlah lain waktu saja kita membuat perhitungan lagi!"

Sehabis berkata demikian, ia lantas berlalu dengan langkah kaki yang berat sekali.

Rombongan laki-laki berbaju ungu itu kabur lebih dulu, seolah-olah tidak mau memperdulikan nasib orang yang dijagoi.

Ho Hay Hong mengawasi berlalunya Tiat bin Sie-seng, tiba-tiba teringat sesuatu.

"pantas hari ini aku seperti orang yang kehabisan tenaga, kiranya tadi malam aku sudah menghamburkan banyak tenaga untuk menolong Tiat Chiu Khim."

Ia tersenyum sendiri, pikirnya.

"Tang-siang Sucu dimasa h idupnya selalu tidak bisa hidup denganku, tetapi setelah binasa kalau ia tahu bahwa aku sedang berusaha untuk menuntut balas dendam untuknya, ia pasti merasa puas."

Ia berpikir lagi.

"kakek berdiam diutara, tidak tahu keadaan sebenarnya tentang diri Tang siang Sucu, maka kesan terhadapnya juga masih baik, bahkan ingin sekali menemuinya. Nanti setelah mengetahui bahwa cucunya sudah binasa, entah bagaimana sedihnya."

Pada saat itu tenaganya sudah habis, bertahan juga merasa susah, hingga diam-diam ia mengeluh !

"Jikalau saat ini Ing-Siu sudah tiba dan menunggu terlalu lama, sehingga tidak sabaran dan meninggalkan aku, selanjutnya ia pasti menyiarkan berita bahwa aku telah mengundurkan diri sebelum pertandingan berlangsung.

Bagaimana aku ada muka untuk menemui saudara-saudaraku didaerah utara?"

Demikian ia berpikir.

Selagi dalam keadaan bingung, dari jauh tampak seorang tua berjenggot panjang dan putih sambil menggandeng seekor keledai, berjalan menghampiri.

Diatas punggung keledai terdapat tumpukan kayu kering, jelas ia baru pulang mencari kayu dari hutan.

Menyaksikan keadaan itu, lalu berpikir.

"lebih baik menunggu penghidupan seperti orang tua ini, tanpa sedih. Aku sendiri meskipun berkepandaian tinggi, belum tentu bisa hidup senang dan tentram seperti dia !"

Ia terus memandang orang tua itu, sementara dalam hatinya terus berpikir.

"penebang-kayu biasa saja seperti dia, tokh bisa hidup sampai demikian tua, sebaliknya aku sendiri yang memiliki kepandaian tinggi, belum tentu bisa hidup hingga demikian tua."

Orang tua itu ketika nampak Ho Hay Hong memandang dirinya dengan penuh perhatian, lalu menundukkan kepala. Ho Hay Hong tiba-tiba mendapat satu pikiran.

"mengapa aku tidak meminjam keledainya."

Ia segera, menghampiri orang tua itu dia berkata.

"Kakek, aku ada suatu urusan penting, hendak meminjam keledaimu, entah."

Semua uang yang ada dalam sakunya dikeluarkan, diselipkan ditangan orang tua itu seraya katanya.

"Uang ini untuk harganya keledai ini, kakek pikir bagaimana ?"

Orang tua itu meskipun tidak tahu berapa banyak uang perak dalam tangannya, tetapi setelah dihitung diam-diam ia duga uang itu cukup untuk membeli tiga ekor keledai, maka dengan senang hati menyerahkan keledainya kepada Ho Hay Hong.

Ia masih khawatir Ho Hay Hong kurang senang, mulutnya berkata.

"Baik, baik, keledai ini kujual kepadamu."

Buru-buru ia menurunkan kayu keringnya, dibawanya seikat lantas berlalu.

Ho Hay Hong menarik napas lega, ia pergi untuk menemui musuhnya dengan menunggang keledai.

Dengan mendadak, dari belakangnya terdengar suara orang memanggil padanya.

"Cianpwee, tunggu dulu !"

Ho Hay Hong teringat, kemudian ia merasa geli.

Sebab Sebutannya cianpwee, sesungguhnya tidak tepat bagi seorang yang masih berusia muda seperti dirinya.

Oleh karenanya, maka ia tidak menghiraukannya dan bedal keledainya.

Dengan mendadak sesosok bayangan kuning berkelebat melayang dari belakang dirinya, kemudian berdiri di suatu tempat tidak jauh di hadapannya, kemudian berkata.

"Cianpwee tunggu dulu !"

Keledai Ho Hay Hong kaget, binatang tersebut mengeluarkan suara kaget, kaki depannya di angkat tinggi-tinggi.

Ho Hay Hong yang berada diatas punggungnya, karena dalam keadaan kehabisan tenaga maka tak ampun lagi badannya kehilangan keseimbangan dan jatuh di tanah.

Ia hendak berteriak, diluar dugaannya tubuhnya sudah disambut oleh tangan orang.

Sambil mengeluarkan rintihan pelahan ia bertanya.

"Kau siapa ?"

Dia berpaling, tampak olehnya wajah seorang pemuda sedang memandang dirinya.

Pemuda itu kira-kira baru berusia enam belas tahun, wajahnya putih bersih, bentuk panca indra bagus sekali, jelas keluaran dari keluarga baik-baik.

Karena ia tidak menjawab, ia melanjutkan pertanyaan.

"Kau siapa? Mengapa panggil aku cianpwe ?"

Pemuda tampan itu membuka bibirnya, tampak giginya yang berbaris indah sekali.

"Cianpwee, namaku Lie Hui!"

Demikian jawabnya sambil tertawa.

"Ada keperluan apa ?"

Tanya Ho Hay Hong sambil mengerutkan keningnya.

Pertanyaan itu baru saja keluar dari mulutnya, kepalanya mendadak dirasakan berat hingga terpaksa ditundukkan.

Ia tahu benar bahwa itu adalah akibat semalaman yang sudah menggunakan tenaga terlalu banyak untuk menolong jiwa kekasihnya.

Kesan Ho Hay Hong sangat baik terhadap pemuda itu, tetapi keadaannya sendiri saat itu buruk sekali, maka agak mempengaruhi perasaannya.

Katanya dengan agak kurang senang.

"Kau denganku masih asing, juga tidak ada hubungan apa-apa. Kalau kau ada urusan sebentar kita bicarakan lagi. Sekarang tolong bimbing aku naik keatas keledai."

Pemuda itu setelah mendengar perkataan Ho Hay Hong, senyum yang tadi masih tersungging dibibirnya mendadak menghilang dan diganti dengan sikap sedih.

Entah kenapa, Ho Hay Hong juga menaruh simpatik terhadap pemuda itu.

Ia memandang wajah pemuda tanggung itu, perasaannya semakin tertarik.

Ia duga pemuda pasti sedang mengalami kesusahan.

Ia sendiri juga sedang dirundung nasib malang, dengan sendirinya timbul rasa simpati.

Kedua pipi pemuda yang tampan dan putih halus, saat itu mendadak penuh air mata, dengan suara sedih dan penuh keramahan ia berkata.

"Cianpwee, maafkan aku, boanpwee tidak sengaja mengganggu cianpwee, hanya... hanya."

Mendadak ia lihat wajah Ho Hay Hong menjadi pucat, maka buru-buru berkata.

"Cianpwee, kau terluka?"

"Luka hanya sedikit saja, tetapi aku mungkin akan binasa dalam waktu satu dua hari ini "

Jawab Ho Hay Hong sambil tertawa.

Ia sebetulnya tidak ingin mengeluarkan perkataan demikian, tetapi entah apa sebabnya, mendadak ada suatu pikiran yang mendorongnya mengeluarkan perkataan itu.

Pemuda itu terkejut, tanyanya.

"Cianpwee, kau. kau tidak mungkin. Kau demikian gagah, pertempuran tadi aku sudah menyaksikan semua, kegagahanmu benar-benar sangat mengagumkan hatiku."

"Itu hanya akan menjadi suatu kenang-kenangan saja. Lie Hui, lekas b imbing aku naiki keatas keledai!"

K ata Ho Hay Hong. Sebagai seorang pemuda berhati keras bagaikan baja, meskipun Saat itu ia tahu bukan tandingan Ing-sui, tetapi ia masih bertekad hendak melaksanakan tersebut. Pikirnya.

"Hm, Ing-sui, dan kakek penjinak garuda, kalian dua iblis yang berkedok manusia, asal aku Ho Hay Hong satu hari masih hidup, pasti akan memperhitungkan kejahatanmu."

Dengan perasaan agak kecewa, Lie Hui berkata.

"Cianpwee, kau tidak suka membantu boanpwee?"

Mata Ho Hay Hong yang sayu melirik wajah pemuda itu, mendadak timbul rasa kasihan.

Sesaat itu, entah darimana datangnya kekuatan, ia mendadak merasa ada itu kekuatan untuk membela pemuda itu.

Ia mengempos semangatnya, mendadak melepaskan diri dari bimbingan pemuda itu dan lompat turun dari atas keledai.

Muka pemuda itu mendadak merah, tetapi dengan cepat berusaha menutupinya.

Ho Hay Hong tercengang, entah apa sebabnya pemuda itu menunjukkan sikap malu demikian ?

Selagi hendak menggandeng keledainya, pemuda itu sudah mendahului mewakilinya.

Katanya dengan nada minta dikasihani.

"Suhu, keledaimu ada disini!"

Mendengar perkataan itu, Ho Hay Hong kembali tercengang, entah apa sebabnya pemuda itu mendadak merubah panggilannya?

Pemuda itu ketika melihat Ho Hay Hong tidak menolak dipanggil suhu, nampaknya sangat girang.

Katanya pula sambil tersenyum!

"Suhu!

Suhu naik diatas kuda, biarlah Lie Hui yang menggandeng.

Bagaimana?"

Sejenak Ho Hay Hong ragu, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh.

"Kau tak usah panggil aku suhu, jangankan karena kau belum lama mengenal aku, sedangkan usiaku yang demikian muda juga tidak pantas menjadi suhumu."

Sehabis berkata ia lalu lompat keatas keledainya dan membiarkan keledainya digandeng oleh pemuda itu.

Mendengar kata-kata Ho Hay Hong, entah apa sebabnya Lie Hui kembali mengalirkan airmata.

Bibirnya bergerak, tetapi perkataan yang hendak keluar dari mulutnya mendadak ditelannya kembali.

Sejenak ia nampak ragu-ragu, akhirnya berkata.

"Suhu kau, kau"

Ho Hay Hong yang pikirannya sudah dipenuhi oleh tekadnya hendak menempur Ing-siu tahu apabila tidak lekas pergi, pasti akan diganggu terus oleh pemuda itu, sehingga menelantarkan usahanya.

Terpaksa ia keraskan hati, berkata dengan tegas.

"Aku bukan suhumu, selanjutnya kau juga jangan demikian memanggil aku."

Kemudian ia bedal keledainya, dilarikan dengan pesat. Wajah Lie Hui berubah seketika, sebentar barulah lompat melesat dengan lincahnya, hendak merintangi berlalunya Ho Hay Hong, katanya dengan marah.

"Cianpwee, percuma saja kau mempunyai kepandaian set inggi itu ternyata apakah kau masih terhitung orang atau satu pendekar budiman?"

Matanya memandang kearah jauh, agaknya mengingat sesuatu kejadian hebat yang menggiriskan hatinya.

Diwajahnya yang putih sebentar bentar terlintas suatu perasaan kebencian, sebentar kemudian ia berkata lagi.

"Cianpwee, membasmi kejahatan dan melindungi yang lemah, adalah suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku dirinya pendekar. Apakah kau ...kau...."

Sekaligus ia mengeluarkan serentetan kata-kata berapi-api, karena menekan emosinya yang meluap, hingga tenggorokannya seperti terkancing dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.

Ho Hay Hong mendengarkan dengan wajah menunduk pelahan-lahan merasa agak malu.

Lie Hui menghela napas panjang, kemudian berkata sambil menundukan kepala.

"Maaf, cianpwee, oleh karena tidak sanggup menahan gejolaknya perasaan hatiku, sehingga mengeluarkan perkataan yang terlalu menuntut aku....aku"

Ho Hay Hong dapat memahami perasaan hatinya maka lalu berkata.

"Tidak apa, aku tidak salahkan kau!"

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula dengan tegas.

"Baik, Lie Hui. Kau ada kesulitan apa? Coba ceritakan!"

"Tidak!"

Kata Lie Hui.

"Kecuali jika cianpwee menerima baik aku sebagai muridmu."

Mendengar pernyataan itu. Ho Hay Ho merasa sulit. Pikirnya.

"musuhku adalah seorang yang berkepandaian sangat tinggi, dalam pertempuran ini mungkin tidak ada harapan hidup lagi, mengapa aku harus menyusahkan orang dan menyusahkan diriku sendiri?"

Ia lalu berkata sambil tersenyum getir.

"Ini dengan terus terang, aku sendiri juga tidak bisa mengambil keputusan!"

"Kenapa?"

Lie Hui menunjukan sikap heran tanyanya pula.

"Cianpwee, kau adalah seorang jago muda yang banyak harapan, mengapa mudah putus asa?"

Mendengar perkataan itu, Ho Hay Ho tertawa terbahak-bahak.

Suara tertawanya yang agaknya mengandung suara hati yang sedang risau, Lie Hui tahu bahwa ucapannya yang tak disengaja itu mungkin merusak hatinya, maka ia buru-buru menyatakan penyesalannya.

"Cianpwee semua adalah aku yang tidak baik sehingga menimbulkan kemarahanmu, aku bersedia menerima hukumanmu!"

Kata-katanya itu diucapkan dengan nada penuh rasa penyesalan dan lemah lembut sehingga menimbulkan rasa kasihan bagi yang mendengarkan.

Demikian juga dengan Ho Hay Hong, maka lalu berkata sambil menggelengkan kepala.

"Kau tidak salah!"

Dengan mata bersinar tajam ia berkata pula.

"Yang bersalah adalah keadaan, adalah beberapa gelintir manusia yang menganggap dirinya orang-orang besar padahal manusia bermental rendah yang tidak tahu malu!"

"Cianpwee, kau seolah-olah ada banyak musuh?"

"Dugaanmu tidak salah, justru karena musuhku itu terlalu lihay, maka aku tidak berani menjamin keselamatan diriku sendiri."

"Dengan terus terang aku juga mempunyai banyak musuh."

Kata Lie Hui lirih sambil menghela napas.

"Siapa-siapa musuhmu, coba kau sebutkan satu persatu mungkin aku kenal."

"Anak buah golongan Kuku berbisa yang jahat, semua adalah musuh-musuhku!"

Ketika menyebut nama Kuku berbisa, anak itu mendadak menjadi marah, wajahnya penuh rasa kebencian, lama sekali baru bisa melanjutkan katakatanya.

"Aku benci sekali terhadap orang-orang golongan Kuku berbisa itu. Sungguh mati, jika aku sanggup, aku pasti basmi kawanan orang-orang jahat itu!"

Dalam keadaan marah, wajahnya tampak merah semringah, tetapi sebentar sudah lenyap lagi. Ho Hay Hong tidak melihat, hanya bertanya dengan heran.

"Kau dengan golongan Kuku berbisa ada permusuhan apa ?"

"Mereka telah membunuh ayah bundaku, menghancurkan rumah tanggaku, aku ingin sekali bisa membasmi orang-orang itu."

Ho Hay Hong baru mengerti, bahwa pemuda itu ada permusuhan besar dengan orang-orang dari golongan Kuku berbisa, pantas saja demikian membenci kepada mereka !

Tetapi ia masih belum mau percaya begitu saja, maka lalu bertanya.

"Orang-orang yang bertempur denganku tadi, semua adalah orang-orang dari golongan Kuku berbisa, mengapa kau tidak mau menggunakan kesempatan itu untuk menuntut balas dendam?"

Mendengar pertanyaan itu, Lie Hui menundukkan kepala dan berkata dengan hati panas.

"Kepandaian ilmu silatku masih terlalu rendah, aku khawatir sebelum berhasil menuntut balas, sebaliknya jiwaku sendiri yang melayang, maka aku harus giat belajar ilmu silat, kemudian baru bisa menuntut balas."

Ho Hay Hong baru mengerti maksud pemuda itu, pantas ia hendak mengangkat dirinya menjadi guru kiranya ia sendiri belum memiliki kepandaian menghadapi musuh-musuhnya.

Tetapi keadaannya sendiri juga tidak lebih baik daripada pemuda itu, meskipun ia bersedia membantu, tetapi barangkali juga tidak akan tercapai maksudnya.

Ia sebetulnya merasa Simpati terhadap Li Hui, tetapi ia sendiri belum tahu bagaimana nasibnya, mana ada waktu untuk memberi pelajaran ilmu silat padanya.

Ia kini dihadapkan kepada dua pilihan.

bantu padanya atau tolak permintaannya?

Pelahan-lahan ia angkat muka, sementara hatinya masih berpikir.

"kalau aku terima baik permintaannya untuk membantu, aku sendiri masih ada banyak urusan yang belum kuselesaikan. Dan kalau aku menyelesaikan urusanku sendiri lebih dulu, bagaimana dengan dia?"

Pikirannya bimbang, tidak bisa mengambil keputusan.

Lie Hui terus memandangnya dengan perasaan tegang, agaknya ia tahu bahwa Ho Hay Hong pada saat itu juga sedang menghadapi kesulitan besar dalam soal yang menyangkut dirinya.

Ho Hay Hong merasa bahwa peristiwa yang menimpa diri pemuda itu lebih hebat dari pada diri sendiri, lantas ia lalu mengambil keputusan tegas.

"Baiklah! Untuk sementara aku terima baik permintaanmu,"

Demikian ia berkata.

"Hanya, ini masih melihat bagaimana nasibmu, mungkin aku masih bisa hidup dan membantu kau melaksanakan cita-citamu."

Ia tahu bahwa harapan hidup baginya tipis sekali, tetapi ketika ia menyaksikan sikap yang patut dikasihani pemuda itu, ia lalu mengambil keputusan yang tidak mengecewakan pemuda itu.

Dengan satu senyuman yang dipaksa, ia berkata pula.

"Jikalau nasibku baik, bisa menjatuhkan musuhmu, maka pembalasan dendammu ini, boleh aku nanti yang melaksanakan !"

Mendengar perkataan itu, bukan kepalang girangnya Lie Hui, buru-buru jatuhkan diri lutut dihadapan Ho Hay Hong sambil berkata.

"Terima kasih atas kebaikan Suhu, Lie Hu tidak akan melupakan untuk selama-lamanya!"

Entah bagaimana, dalam keadaan girang seperti itu, pipi Lie Hui kembali menjadi merah.

"Bangun, bangun, jangan melakukan upacara terlalu besar. Aku sudah terima baik permintaanmu, sudah tentu tidak menyesal. Kau jangan khawatir!"

Ia dongakkan kepala melihat keadaan cuaca, ternyata matahari sudah mulai mendoyong ke barat. Karena urusan sendiri sangat penting, maka tidak mau membuang tempo lagi. Ia berkata lagi.

"Lie Hui kau bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh ?"

Lie Hui mengedip-ngedipkan mata yang lebar agaknya merasa bingung, tetapi ia tidak berani berlaku ayal maka lalu menjawab dengan sikap hormat.

"Murid diwaktu masih anak-anak, pernah belajar sedikit dari ayah, tetapi terlalu jauh dari pada bisa."

Sehabis berkata matanya memandang Ho Hay Hong dengan tidak berkedip. Kemudian menanya lagi dengan perasaan heran.

"Suhu, mengapa kau tanya soal ini!"

Baru pertama kali Ho Hay Hong dipanggil suhu, sudah tentu merasa agak canggung.

"Ilmu meringankan tubuhmu sekarang sudah mencapai taraf bagaimana? Katakan saja terus terang, tak usah malu-malu!"

Kata Ho Hay Hong. Lie Hui tersenyum, pada dua pipinya tampak tegas dua sujennya "Menurut ayah, kepandaian ilmu meringankan tubuhku, katanya sudah mendekati ketaraf Co-siang-hui!"

Co-siang-hui berarti . Terbang diatas rumput. Ho Hay Hong merasa agak kecewa, katanya.

"Oh, itu masih selisih terlalu jauh. Menurut kepandaian ilmu meringankan tubuhmu pada dewasa ini, barangkali juga belum bisa mengejar larinya keledai!"

Lie Hui agaknya merasa malu, ia menundukkan kepala dengan muka merah. Ho Hay Hong segera mengerti, dengan tanpa disengaja ia sudah menyinggung perasaan pemuda itu, maka kemudian ia lalu berkata.

"Tetapi, kau juga tidak perlu putus harapan. Asal aku beruntung tidak sampai mati dan bisa terlepas dari cengkeraman iblis, aku pasti menurunkan semua pelajaranku padamu!"

Lie Hui pelahan-lahan angkat muka, dari matanya dapat diduga perasaan hatinya pada waktu itu, penuh rasa girang dan berterima kasih.

"Suhu, untuk apa kau tadi menanyakan soal ini? Bisakah suhu beritahukan padaku?"

"Aku akan pergi kedanau Keng-liong-tie dengan segera untuk menghadiri suatu pertemuan. Perjalananku kali ini sangat penting bagi nasibku selanjutnya, orang yang menjadi musuhku itu berkepandaian luar biasa, apa lagi hatinya kejam dan tangannya ganas, ilmu meringankan tubuhnya juga."

Berkata sampai disitu, mendadak diam, ia khawatir akan menyinggung perasaan Lie Hui.

"Begini saja baiknya, aku sekarang ke danau Kengliongtie seorang diri, dan kau pergi kekota mencari sebuah rumah penginapan, untuk sementara kau boleh diam disitu menunggu aku. Kalau tidak terjadi apa apa atas diriku, besok aku bisa menyambut kau!"

"Danau Keng-liong-tie?"

Tanya Lie Hui dengan penuh keheranan.

"Kau masih hendak pergi kesana? Suhu, apakah tidak boleh kalau tidak pergi?"

Ia agaknya dapat menduga apa yang akan terjadi disana, rasa khawatir sangat mengganggu hatinya. Ia juga tahu bahwa "pertemuan"

Yang dimaksudkan oleh Ho Hay Hong ditepi danau itu adalah suatu pertempuran, dan antara dua jago rimba persilatan yang akan disaksikan oleh tokoh-tokoh terkemuka di rimba persilatan.

Dan dua jago yang akan bertanding itu tentunya antara suhunya sendiri dengan jago tua yang bernama Ing-Sui apakah ?

Ia tidak berani memikirkan lagi, mendadak terdengar suara Ho Hay Hong.

"Haha, aku harus pergi, sudah tentu meski pergi! Danau Keng-liong-tie tidak boleh ketinggalan aku. Haha, Keng-liong-tie danau Keng-liongtie kan merupakan suatu tempat bersejarah bagiku."

Wajahnya berubah, katanya pula sambil tertawa.

"Tetapi, ia mungkin juga akan menjadi tempat kuburanku!"

Wajah Lie Hui pucat, matanya memandang suhunya yang sudah seperti seorang gila. Pikirannya terumbang-ambing antara kekhawatiran dan ketakutan, ia tidak tahu bagaimana harus berbuat.

"Kabarnya salah satu dari dua orang kuat yang hendak mengadu kekuatan didanau Keng-liong-tie itu bernama Ho Hay Hong, apakah itu suhu sendiri?"

Demikian ia bertanya. Kemudian dengan nada penuh tanda tanya ia bertanya lagi.

"Suhu, apakah suhu adalah Bengcu dari golongan rimba hijau daerah utara?"

Ho Hay Hong menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan pemuda itu, kemudian berkata sambil tertawa girang.

"Dengar, kau boleh tunggu aku satu hari besok aku tidak datang menyambut kau."

Tenggorokannya mendadak terkancing, tidak dapat melanjutkan kata-katanya, setelah batuk-batuk dua kali, ia berkata lagi dengan suara agak serak.

"Jikalau lewat besok pagi aku masih belum datang menyambut kau, waktu itu mungkin sudah rebah di tepi danau Keng-liong-tie sebagai mayat. Kau juga t idak usah menunggu lagi. Kau boleh mencari suhu yang lebih pandai dari padaku!"

Memandang wajah murung dari muridnya, t imbul rasa pilu dalam hati Ho Hay Hong.

Ia juga tidak dapat menjelaskan, rasa simpatik terhadap anak muda itu timbul karena tali persahabatan, ataukah karena menemukan seorang yang mengalami nasib serupa dengan dirinya.

Ia pesan lagi wanti-wanti.

"Ingat, lewat besok pagi kalau aku tidak datang menyambut kau, anggap saja aku sudah mati dan kau boleh mencari guru lain yang berkepandaian lebih tinggi dariku. Lupakan aku tahu tidak?"

Sehabis meninggalkan pesannya, ia bersiul panjang untuk melampiaskan rasa sedihnya, kemudian berlalu meninggalkan Lie Hui yang berdiri bengong seorang diri.

Lie Hui memandang berlalunya Ho Hay Hong dengan mata berkaca-kaca dan hati pilu.

Ia berhasil menemukan seorang guru kenamaan, Tetapi, guru itu kini sedang dirundung nasib buruk, dan apa yang tidak habis dipikirnya ialah, apa sebab ia sampai kebentrok dan bermusuhan dengan Ing-sui ?

Baca Juga: Peristiwa Merah Salju 6

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert