Eps 1 Rahasia Peti Wasiat - Gan KL
Baca online Rahasia Peti Wasiat - Gan KL
Cersil Rahasia Peti Wasiat - Gan KL.
KANG ZUSI website
http.//cerita-silat.co.cc/ Rahasia Peti Wasiat Judul asli Mandarin. You Xia Lu Inggris. The Tale of a Wandering Swordsman Saduran. Gan KL
Jilid 1 Musim semi di daerah Kanglam (selatan sungai Yangtze), bumi raya diliputi pemandangan alam yang memikat.
Tibalah waktunya orang-orang menikmati suasana gembira ria.
Di kota hiruk-pikuk, cahaya lampu gemerlapan dengan kehidupannya yang beraneka ragamnya.
Di desa sunyi sepi, pepohonan menghijau permai, di mana-mana terlihat gairah hidup musim semi.
Dalam suasana yang demikian itulah seorang pemuda penunggang seekor kuda putih mulus gagah sedang menyusuri lereng gunung yang indah dengan santai.
Usia anak muda ini sekitar 24-25 tahun, memakai ikat kepala warna biru, berbaju satin merah ringkas dan membawa ransel, memakai sepatu bersol tipis, sebatang pedang tergantung di pinggangnya, nyata seorang pemuda yang gagah dan cakap.
Ia membiarkan kudanya berjalan dengan santai sembari berdendang perlahan membawakan lagu yang memuji keindahan musim semi.
Tanpa terasa ia sampai di depan sebuah jembatan kecil.
Lebar jembatan kurang-lebih cuma tiga kaki saja, melintang di atas sebuah sungai yang lebarnya sekira dua tombak lebih.
Maksud pemuda itu hendak melintas jembatan, tapi terpaksa ia harus menunggu di ujung jembatan.
Sebab, di atas jembatan ada orang.
Anehnya, kebetulan orang di atas jembatan itu juga membawa seekor kuda putih gagah perkasa, cuma dia tidak menunggang di atas kuda melainkan berdiri di atas jembatan dengan memegang tali kendali.
Ia lagi berdiri bersandar di langkan jembatan dan asyik bercengkerama dengan seorang gadis pencuci pakaian di kolong jembatan.
Orang yang mengalangi jembatan ini juga pemuda berusia likuran saja, memakai ikat kepala sebangsa kaum pelajar, berbaju biru berlengan longgar dari bahan yang mahal, sepatunya bersol tebal, mukanya putih, bibirnya merah dan gigi rajin, kelihatan terpelajar dan lembut, cuma sayang sikapnya memperlihatkan gaya binal dan sok aksi.
Agaknya dia tidak tahu ada orang lain hendak melintas jembatan, ia masih terus bersandar di langkan jembatan sambil bergurau dengan anak gadis di bawah jembatan, katanya dengan tertawa.
"Apakah nona tidak berdusta? Bila langsung lurus ke arah depan sana akan sampai di kota Kimtan?"
Terdengar gadis di kolong jembatan menjawab dengan tertawa.
"Memang betul jalan ini menuju ke Kim-tan. Ai, kau ini bagaimana, masa harus kuulangi lagi baru mau percaya?"
Nada si nona seperti kurang senang, namun wajahnya tidak mengunjuk sesuatu rasa tidak senang, nyata dia tidak jemu terhadap pemuda pelajar ini, bahkan boleh dikatakan rada kesengsem padanya.
Pemuda pelajar itu terbahak.
"Haha, maaf! Soalnya aku khawatir kesasar, maka tanya lebih jelas. Eh, apakah nona penduduk di sini?"
Gadis itu mengiakan.
"Apa nama tempat ini?"
Tanya pemuda itu.
"Hoa-keh (sungai bunga)."
"Ah, nama yang indah! .... Eh, mohon tanya siapa nama nona yang harum?"
"Takkan kuberi tahukan!"
Jawab si gadis.
"He, sebab apa?"
"Sebab belum kukenal dirimu."
"Aha, betul! Memang sepantasnya kuberi tahukan lebih dulu namaku. Nah, aku she Pang bernama Bun-hiong, harap nona suka sering-sering memberi petunjuk."
"Hihi ...."
Si gadis tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Engkau seperti pelajar linglung."
"Ah, tidak, tidak ... dan sekarang dapat kau katakan namamu bukan?"
"Aku bernama In Goat-kiau."
"Ai, cocok benar dengan orangnya yang cantik. Eh, apakah setiap hari nona mencuci pakaian di sini?"
"Ehmm,"
Si gadis mengangguk.
"Wah, bagus!"
Ujar si pemuda.
"Orang suka bilang pemandangan Kanglam indah permai, tampaknya pemeo ini memang tidak salah. Bukan cuma pemandangannya indah, bahkan gadisnya juga rata-rata sangat cantik, sungguh tempat indah melahirkan gadis molek."
Mendengar celoteh mereka yang tak habis-habisnya, si pemuda berdandan ringkas tadi menjadi tidak sabar menunggu lagi, mendadak ia menegur.
"Hai sahabat itu, harap suka memberi jalan?!"
Pemuda pelajar yang mengaku bernama Pang Bun-hiong itu anggap tidak mendengar saja dan masih terus menatap si gadis di kolong jembatan dengan tersenyum, katanya.
"Tolong beri tahu, apakah di sekitar tempat ini ada tempat baik untuk pesiar?"
"Belasan li di sebelah sana ada sebuah biara Koan-im-ting, pemandangan di bukit sana sangat bagus,"
Jawab si nona.
"Pernah ke sana?"
Tanya si pemuda alias Pang Bun-hiong.
"Pernah satu kali,"
Jawab si nona.
"Pergi sendirian?"
"Bersama ibu."
"Ai, tentu kurang leluasa ...."
Tampaknya si pemuda berdandan ringkas itu tidak sabar menunggu lagi, segera ia berteriak.
"Hai, sahabat itu, jika mau mengobrol kenapa tidak kau bawa dia ke dalam rumah saja?"
Pang Bun-hiong mengayun sebelah tangannya sebagai tanda minta jangan diganggu, lalu menyambung obrolannya dengan si gadis.
"Apakah engkau masih ingin pesiar ke Koan-im-ting sana?"
"Tentu saja ingin,"
Jawab si nona.
"Jika mau, bagaimana kalau kita pergi bersama?"
Muka si nona menjadi merah dan mengomel.
"Cis, bicaramu melantur, aku tidak mau omong lagi."
Habis ini ia lantas sibuk mencuci pakaian. Pang Bun-hiong terbahak.
"Haha, jangan marah, aku hanya berguyon saja denganmu. Eh, kau bilang jalan lurus ke depan sana akan sampai di kota Kim-tan bukan?"
Dengan mendongkol si pemuda berdandan ringkas tadi menukas.
"He, kawan, aku justru akan menuju ke Kim-tan, jika engkau tidak kenal jalan, boleh ikut bersamaku."
Karena tidak lagi digubris oleh gadis itu, Pang Bun-hiong menggaruk-garuk kepala dengan kikuk, perlahan ia menegak dan memberi tangan kepada si nona sambil berseru.
"Selamat tinggal, semoga lain kali bila kulalu lagi di sini akan dapat berjumpa pula denganmu!"
Habis bicara ia lantas melompat ke atas kudanya, malah dengan lagak seperti kekasih yang mohon diri kepada gadisnya ia memberi tangan pula, lalu melarikan kudanya ke seberang jembatan.
Segera si pemuda berdandan ringkas juga melarikan kudanya ke atas jembatan, ia coba melongok sekejap ke kolong jembatan, tertampak si gadis berkulit putih bersih dan cantik manis.
Ia tersenyum dan membatin.
"Molek juga nona ini, pantas si bangor tadi terpikat ...."
Ia terus melarikan kudanya ke seberang jembatan dan menyusul Pang Bun-hiong yang di depan sehingga keduanya jalan berjajar, ia menuding ke depan dan pasang omong dengan dia.
"Untuk menuju ke Kian-tan tidak ada jalan lain, pasti takkan kesasar."
Pang Bun-hiong memelototinya sekejap, sahutnya dengan mendongkol.
"Hm, apakah kau kira aku tidak kenal jalan di sini?"
Lalu dengan suara tertahan ia menyambung.
"Supaya kau tahu, aku justru penduduk yang dilahirkan dan dibesarkan di kota itu."
Si pemuda berbaju ringkas melenggong, lalu tertawa geli dan berkata.
"Kiranya tadi Anda sengaja meledeknya ...."
Pang Bun-hiong mengangkat pundak tanpa menjawab. Pemuda berbaju ringkas mengamati kuda orang, lalu berkata pula.
"Kudamu ini boleh juga, cuma sayang warnanya tidak mulus, ada beberapa biji bulu warna lain."
"Hm, meski tidak mulus, larinya justru jauh lebih cepat daripada yang mulus,"
Jengek Pang Bun-hiong.
Habis berucap, sekali kaki mengepit kencang perut kuda, sambil membentak perlahan serentak kudanya mencongklang cepat ke depan.
Kudanya memang luar biasa, hanya sekejap saja sudah membedal belasan tombak jauhnya, cepatnya memang sukar ditandingi.
Si pemuda berbaju ringkas merasa tertarik, diam-diam ia membatin.
"Bagus, rupanya kamu sengaja menantang kudaku si naga putih ini? Baik, boleh kau lihat kehebatan kudaku ini!"
Begitu timbul pikiran demikian, serentak ia pun membentak sekali dan melarikan kudanya menyusul ke depan dengan cepat.
Benar juga, kudanya juga bukan sembarang kuda, sekali didesak, seketika keempat kaki bekerja dengan cepat dan menimbulkan suara detak yang riuh, hanya sejenak saja kuda Pang Bun-hiong sudah disusulnya dan kedua orang kembali berjajar lagi.
Hal ini agaknya juga di luar dugaan Pang Bun-hiong, tapi juga lantas menimbulkan hasratnya ingin menang, omelnya di dalam hati.
"Hm, dasar orang lamur, makanya tidak kenal kudaku si pionir ini. Si pionir adalah satu di antara kelima kuda termasyhur di dunia, ini, memangnya kudamu macam apa, berani menantang balapan dengan kudaku?"
Tanpa bicara ia terus ayun cambuknya hingga menerbitkan suara gemeletar, kembali ia membedal kudanya ke depan sehingga si pemuda berbaju ringkas tertinggal lagi dua-tiga tombak jauhnya.
Si pemuda berbaju ringkas tersenyum, segera ia setengah berdiri dan membedal kudanya terlebih kencang, hanya sebentar saja sudah disusulnya, bahkan mendahului di depan.
Air muka Pang Bun-hiong berubah, ia juga beraksi di atas kudanya, berulang ia mendesak kudanya berlari lebih cepat sehingga akhirnya pemuda berbaju ringkas tersusul juga ....
Begitulah terjadi balapan kuda di tengah jalan raya itu oleh kedua anak muda yang sama tidak mau mengalah itu, saking kencangnya lari kuda mereka hingga debu mengepul, sebentar Pang Bun-hiong di depan, lain saat si pemuda berbaju ringkas melampauinya lagi, nyata keduanya sama hebatnya.
Hanya, sebentar saja belasan li sudah dilaluinya.
Pada saat itulah dari depan muncul sebuah tandu merah yang digotong dua orang.
Lebar jalan kurang lebih hanya lima kaki, separuh lebar jalan sudah dipakai oleh tandu itu, dalam keadaan demikian jelas sukar bagi kedua penunggang kuda lewat begitu saja secara berjajar.
Celakanya pada waktu itu mereka justru tidak mau saling mengalah dan tetap melarikan kuda masing-masing dengan sejajar.
Dengan lain perkataan di antara mereka perlu salah seorang mengalah dulu, kalau tidak tentu mereka akan menubruk tandu itu.
Akan tetapi Pang Bun-hiong tidak mau mengalah sedikit pun.
Juga si pemuda berbaju ringkas tetap ingin menang.
Agaknya kedua anak muda itu tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dan harus berlomba hingga jelas ketahuan siapa unggul dan siapa asor.
Dalam pada itu kedua ekor kuda masih terus membedal ke depan secepat terbang.
Keruan kedua kuli penggotong tandu ketakutan setengah mati demi melihat kedua penunggang kuda itu sama sekali tidak ada tanda akan menghentikan lari kudanya, cepat mereka berteriak.
"Hei, hei! Berhenti, lekas berhenti! .... Wah, bisa tertubruk!"
Namun jarak kuda dengan tandu saat itu tinggal satu tombak lebih jauhnya, hendak berhenti pun tidak keburu lagi.
Justru pada detik yang gawat itu sekonyong-konyong terlihat kedua ekor kuda yang tetap berlari cepat itu mengangkat kaki depan terus mencongklang ke atas, terdengar deru angin "wut-wut"
Dua kali, kedua ekor kuda melayang lewat di atas tandu dan turun kembali lima-enam kaki di belakang tandu sana dan, tetap membedal ke depan dengan cepat.
Saking kaget dan takutnya kaki kedua kuli penggotong tandu terasa lemas, seketika mereka menaruh tandu di atas tanah dan tidak sanggup melangkah lagi.
Hendaknya maklum, si pemuda berbaju ringkas itu sama sekali tidak memikirkan keselamatan umum, soalnya dia yakin mampu mengendalikan kudanya dan melompat lewat tandu merah itu, maka dia tidak mau mengalah.
Tapi ketika dilihatnya Pang Bun-hiong juga ikut melompati tandu itu dengan sama cepatnya, mau tak mau ia terkesiap dan membatin.
"Wah, rupanya aku salah lihat. Bocah ini tampaknya lemah lembut, rupanya juga menguasai kepandaian yang sengaja tidak diperlihatkan."
Pang Bun-hiong juga tidak menyangka orang menguasai ilmu menunggang kuda sehebat itu, mau tak mau pun berubah penilaiannya terhadap si pemuda berbaju ringkas, pikirnya.
"Buset, ternyata boleh juga bocah ini!"
Namun kedua orang tetap tidak mau saling mengalah dan terus membedalkan kuda masing-masing ke depan, keduanya sama bertekad akan mengungguli lawan.
Tapi meski sudah dua-tiga li lagi jauhnya, keadaan tetap sama kuat.
Pada saat inilah suatu "ujian"
Kembali muncul.
Kembali di depan ada sebuah jembatan, luas jembatan juga tidak besar, hanya cukup untuk dilalui dua ekor kuda berjajar dengan berjalan perlahan, bila berjajar dengan lari cepat tentu akan saling tumbuk dan kecebur ke sungai.
Pang Bun-hiong tidak mau mengalah, langsung ia membedal kudanya ke atas jembatan.
Pemuda berbaju ringkas itu pun ngotot.
Maka dalam sekejap itu kedua ekor kuda sama melompat ke atas jembatan, seketika sukar terhindar lagi pergesekan dan berdesakan.
Karena keki, Pang Bun-hiong terus mendorong dengan sebelah tangannya dengan maksud menceburkan pemuda berbaju ringkas ke sungai.
Siapa tahu pemuda berbaju ringkas juga berpikir sama, sebelah tangannya pun menolak ke arah Pang Bun-hiong.
"Plak", tangan kedua orang kebentur. Tanpa ampun Pang Bun-hiong berikut kudanya terus menerjang ke luar jembatan sebelah kiri. Sama halnya pemuda berbaju ringkas itu, ia pun menerjang ke sebelah kanan. Keadaan mereka itu ibaratnya benturan dua arus yang mengamuk, lalu terdampar kembali ke dua sisi, keadaan tampak berbahaya dan mengkhawatirkan. Namun kedua orang ternyata tidak jatuh ke dalam sungai, semula kedua orang kelihatan seperti tergetar oleh tenaga tolakan lawan, namun waktu kuda masing-masing menerjang ke luar jembatan, ternyata tidak ada yang kecebur ke bawah melainkan langsung melayang ke seberang sungai.
"Boleh juga kau!"
Seru si pemuda berbaju ringkas.
Pang Bun-hiong diam saja dan tetap memacu kudanya ke depan.
Dengan sendirinya pemuda berbaju ringkas tidak mau kalah, ia pun mendesak kudanya berlari terlebih cepat agar dapat melampaui lawan.
Akan tetapi seterusnya kedua orang masih tetap saling salip dan tiada seorang pun lebih cepat daripada yang lain.
Tidak lama kemudian kota Kim-tan sudah kelihatan di depan.
Namun kedua orang tetap tidak mau saling mengalah, masih tetap melarikan kudanya ke dalam kota dengan berjajar, bahkan tetap berlomba di jalan raya di tengah kota.
Waktu lalu di suatu jalan, mendadak Pang Bun-hiong menahan kudanya dan berhenti di depan sebuah restoran.
Si pemuda berbaju ringkas tidak menyangka orang akan berhenti secara mendadak, seketika ia tidak sempat menahan kudanya sehingga menerjang beberapa tombak jauhnya baru dapat menghentikan kudanya, waktu ia berputar balik, dilihatnya dua pelayan menyongsong keluar dari dalam restoran dan sedang memberi hormat kepada Pang Bun-hiong dengan munduk-munduk, seperti sambutan terhadap langganan lama layaknya.
Setelah berpikir sejenak, pemuda berbaju ringkas juga mendekati restoran itu.
Salah seorang pelayan melihat kuda tunggangannya juga putih serupa kuda Pang Bun-hiong, dengan tertawa ia tanya.
"Pang-siauya, tuan ini tentu sahabatmu, silakan!"
"Omong kosong,"
Kata Pang Bun-hiong.
"Aku tidak membawa teman."
Sembari bicara ia terus menyerahkan kudanya kepada pelayan dan melangkah ke atas loteng restoran dengan lagak angkuh.
Mendengar pemuda berbaju ringkas ini bukan kawan Pangsiauya, sikap pelayan yang lain seketika tidak terlalu hormat lagi, dengan sikap umum ia menyapa.
"Tuan ini silakan ke atas loteng, di sini tersedia arak yang paling enak dan santapan paling lezat ...."
Merasa dirinya diperlakukan tidak sepadan dengan Pang Bun hiong, tentu saja pemuda itu rada dongkol, tapi ia diam saja, ia serahkan kudanya kepada pelayan, lalu naik ke atas loteng.
Setiba di atas, dilihatnya Pang Bun-hiong sudah duduk menyanding sebuah meja besar, di depannya berkerumun tiga orang pelayan, yang satu sibuk menuangkan teh baginya, yang kedua mengatur mangkuk dan sumpit, yang ketiga membawa daftar menu dan menunggu sang tamu memilih santapan, semuanya berlaku sangat hormat, serupa kaum dayang meladeni pangeran.
Si pemuda berbaju ringkas memilih sebuah meja di depan, akan tetapi tidak ada seorang pelayan pun yang meladeninya, keruan ia tambah keki dan sengaja hendak menyaingi Pang Bun-hiong, segera ia menggebrak meja dan berteriak.
"Hai, apaan ini, masa di sini tidak ada pelayan?"
"Ya, ya, segera datang!"
Cepat pelayan yang sibuk menuangkan teh bagi Pang Bun-hiong itu bersuara, lalu mendekat dan bertanya dengan tertawa.
"Tuan tamu ini mau pesan apa?"
"Kuminta diberi handuk hangat dulu dan sepoci teh Siociong,"
Jengek si pemuda berbaju ringkas.
"Baik, baik, segera disediakan,"
Sahut si pelayan. Saat itu Pang Bun-hiong lagi memilih menu, sembari menyeruput teh panas ia berkata.
"Buatkan seporsi burung dara goreng, seporsi Pak-lay-cah, seporsi Ang-sio-hi, seporsi ayam cah jamur, ditambah seporsi sup tahu campur bibir ikan dan bawakan lagi setengah kati arak Li-ji-hong."
Kiranya restoran ini terhitung rumah makan nomor satu di kota Kim-tan ini, meski menu yang dipilih Pang Bun-hiong tidak tergolong makanan ternama, tapi sudah cukup terpandang mahal oleh penduduk setempat.
Berulang pelayan mengiakan sambil mencatat menu yang dikehendaki, lalu bergilir menuju ke depan si pemuda berbaju ringkas dan bertanya.
"Tuan tamu ini mau pesan makanan apa?"
"Kuminta satu porsi burung dara goreng, satu porsi Pak-laycah, satu porsi Ang-sio-hi, satu porsi ayam cah jamur, ditambah seporsi sup tahu campur bibir ikan dan bawakan lagi satu kati arak Li-ji-hong."
Menu yang dipilih ternyata sama dengan pesanan Pang Bunhiong, bedanya cuma dia minta arak setengah kati lebih banyak.
Seketika si pelayan melenggong, ia tahu tamu ini sedang mencari perkara kepada Pang-siauya, maka diam-diam ia merasa geli dari juga senang.
Maklumlah, orang berusaha restoran, tentu tidak beralasan menolak tamu makan banyak, maka dicatatnya pula setiap pesanan orang.
Selagi pelayan itu hendak meneruskan pesanan itu ke bagian dapur, tiba-tiba Pang Bun-hiong memanggilnya.
"Hai, pelayan, kemari!"
Sambil mengiakan pelayan itu berlari ke sana dan tanya dengan memberi hormat.
"Pang-siauya ada pesan apa lagi?"
"Tambah lagi satu macam .... Otak kera!"
Kata Pang Bunhiong dengan tertawa.
"Baik, Tuan!"
Sahut si pelayan. Mendadak si pemuda berbaju ringkas juga memanggilnya.
"Kemari, pelayan!"
Kembali si pelayan mengiakan dan mendekatinya sambil tanya.
"Tuan tamu minta apa lagi?"
"Juga tambah satu macam ... Otak kera!"
Kata pemuda itu. Dengan tertawa si pelayan mengiakan dan buru-buru turun ke bawah.
"Hmk!"
Perlahan Pang Bun-hiong mendengus, ia mengeluarkan sebuah kipas dan dibentangnya lalu mengipas perlahan dengan santainya.
Pemuda berbaju ringkas itu tidak punya kipas, ia merasa kalah aksi, tanpa pikir ia berseru.
"Hai, pelayan, kemari!"
Pelayan yang lain segera mendekat dan bertanya apa kehendak sang tamu. Pemuda itu mengeluarkan uang perak seberat lima tahil dan disodorkan kepada si pelayan sambil berteriak.
"Pergi ke toko dan belikan sebuah kipas lempit bertulang gading, sisanya untukmu!"
Si pelayan tidak tahu dia lagi bersaing dengan Pang Bunhiong, tentu saja ia kegirangan akan mendapat persen cukup banyak, sambil mengiakan segera ia berlari pergi.
Diam-diam Pang Bun-hiong merasa gusar, dengan suara yang tak terdengar ia memaki.
"Kurang ajar! Berani kau cari perkara padaku. Baik, sebentar baru kau tahu rasa!"
Tidak lama, si pelayan sudah kembali dengan membawa kipas lempit bertulang gading yang dikehendaki si pemuda berbaju ringkas.
Maka pemuda itu pun pasang aksi dengan membentang kipasnya dan mengipas dengan lagak santai.
Selang sebentar lagi, santapan yang mereka pesan pun dihidangkan.
Melihat salah satu porsi makanan itu adalah sebuah otak mentah, malahan kelihatan berdarah, diam-diam si pemuda berbaju ringkas terkejut, ia menarik pelayan yang membawakan makanan itu dan bertanya dengan suara lirih.
"Hei, ini apa?"
"Inilah otak kera yang Tuan pesan tadi,"
Jawab si pelayan. Kembali pemuda itu tanya dengan suara tertahan.
"Betul, aku memang pesan semacam makanan, tapi sesungguhnya barang apa ini?"
"Otak kera,"
Tutur si pelayan. Pemuda itu kelihatan tegang, tanyanya pula.
"Masa otak kera benar-benar?"
"Dengan sendirinya otak kera benar-benar, restoran kami tidak menjual barang palsu,"
Ujar si pelayan. Seketika pemuda itu merasa mual dan hampir saja tumpah, serunya.
"Aduh, barang begini masa dapat dimakan?"
"Jika Tuan tamu tidak berani makan, untuk apa dipesan?"
Ujar si pelayan. Mendadak teringat oleh pemuda itu betapa pun tidak boleh kelihatan lemah di depan Pang Bun-hiong, segera nadanya berubah, katanya sambil berdehem.
"Ya, memang. Bukannya aku tidak berani makan, maksudku barang ini tidak pantas dimakan secara mentah melainkan mesti dimasak dahulu."
"Tidak, dimakan secara mentah baru terasa enak,"
Tutur si pelayan. Pemuda itu mulai menyesal tidak seharusnya ikut-ikutan memilih makanan itu, dengan bekernyit kening ia memberi tanda.
"Bawa pergi, bawa pergi! Aku tidak doyan makanan ini!"
"Hahahaha!"
Mendadak Pang Bun-hiong bergelak tertawa.
"Buset! Kukira orang gagah macam apa, tak tahunya cuma seorang ...."
Serentak si pemuda berbaju ringkas menjadi gusar, ia menggebrak meja dengan keras dan berdiri, bentaknya.
"Kau maki siapa?!"
Pang Bun-hiong sengaja membungkuk tubuh ke arahnya dan berkata dengan tertawa.
"Maaf, aku kan tidak menyebut nama siapa pun!"
Habis ini ia lantas menuang arak dan makan-minum.
Si pemuda berbaju ringkas mendengus, ia pun duduk dan menuang secawan arak, mendadak cawan arak yang dipegangnya dilemparkan ke arah Pang Bun-hiong, ucapnya dengan tertawa.
"Kusuguh satu cawan padamu, kawan!"
Waktu terlempar cawan itu meluncur sangat lambat, serupa segumpal kapas saja yang melayang terbawa angin.
Tapi bagi orang yang berpengalaman, sekali pandang saja segera tahu lemparan ini membawa tenaga dalam yang kuat, jika Pang Bun-hiong tidak menguasai sedikit kepandaian, pada waktu menangkap cawan arak tentu akan ketahuan belangnya.
Tertampak Pang Bun-hiong tetap duduk diam saja, ia hanya mengangkat tangan dengan perlahan dan cawan arak yang melayang tiba itu kena ditangkapnya, seluruh tubuh tidak bergoyang sama sekali.
"Terima kasih!"
Ucapnya dengan tersenyum dan sekali tenggak isi cawan diminum habis. Lalu ia pun menuang satu cawan arak, perlahan dilemparkan ke arah lawan dan berkata.
"Setelah menerima harus balas memberi, itulah sopan santun namanya. Silakan minum juga!"
Gerak melayang cawan araknya juga sangat lambat. Pemuda berbaju ringkas tertawa, ia angkat sumpit, dengan enteng cawan itu dicapitnya sambil berkata.
"Terima kasih!"
Isi cawan itu pun ditenggaknya habis.
Pertandingan ini kembali seri alias sama kuat.
Namun perbuatan mereka yang luar biasa itu telah mengejutkan para tamu dan pelayan yang melayani mereka.
Si pemuda berbaju ringkas merasa penasaran karena tidak dapat mengatasi pihak lawan, dengan sumpit ia capit sepotong daging ayam terus disambitkan, katanya.
"Kusuguh lagi sepotong kulit ayam padamu!"
Sekali ini daging ayam itu menyambar ke depan secepat kilat sehingga serupa sebilah pisau.
Pang Bun-hiong tidak mengelak, mendadak ia membuka mulut, daging ayam itu dicaploknya, lalu dimakan dengan nikmatnya, katanya dengan tertawa.
"Ehm, empuk dan gurih, sungguh lezat!"
Habis mengunyah dan menelan daging ayam lalu ia menyumpit sepotong otak kera, katanya dengan tertawa.
"Haha, kalau sudah menerima sepantasnya harus balas memberi, ini, aku pun menyuguh sepotong otak padamu!"
Sekali sumpit bergerak, secepat bintang meluncur sepotong otak kera itu terus menyambar ke muka si pemuda berbaju ringkas.
Anak muda itu tidak berani makan otak kera, keruan ia terkejut, cepat telapak tangan menolak ke depan sambil membentak.
"Maaf, tuanmu tidak makan otak kera!"
Karena tenaga tolakan itu, otak kera yang menyambar ke depan itu lantas hancur di udara beberapa kaki sebelum mencapai sasarannya.
Nyata itulah Pi-kong-ciang atau pukulan jarak jauh yang lihai.
Bun-hiong menjadi gusar, teriaknya sambil berbangkit.
"Kalau jantan sejati harus kau makan?"
Pemuda baju ringkas mengangkat pundak dan menjawab.
"Sekali seorang jantan bilang tidak makan tetap tidak mau makan!"
Ucapannya seketika menimbulkan gelak tawa orang banyak. Bun-hiong juga merasa geli, segera ia melangkah ke sana, katanya dengan tertawa.
"Eh, saudara, kubilang sesungguhnya engkau belum memenuhi syarat untuk main gila di depan tuanmu!"
"Huh, di depan maharaja sekalipun berani kumain gila,"
Jawab pemuda baju ringkas.
"Hm, barangkali belum kau kenal nama julukanku,"
Kata Bunhiong.
"Oo? Apa?"
Tanya si pemuda baju ringkas dengan lagak ingin tahu.
"Te-tau-coa (ular penguasa daerah) ialah julukanku, masa belum pernah kau dengar?"
"Bagus! Juga aku mempunyai nama julukan,"
Ujar si pemuda baju ringkas.
"Coba katakan, aku ingin tahu!"
"Julukanku adalah Ko-kang-liong (naga penjaga sungai), pernah kau dengar namaku?"
"Aha, bagus!"
Seru Bun-hiong sambil terbahak.
"Bolehlah hari ini ular menempur naga, ingin kulihat apakah Ko-kang-liong yang lebih hebat atau Te-tau-coa yang lebih kuat?"
Baru habis bicara, mendadak sebelah kakinya menendang.
Si pemuda baju ringkas cuma berjaga-jaga kalau lawan memukul dan tidak mengira akan ditendang, seketika ia tidak sempat mengelak, kontan perutnya tertendang dengan telak, ia menjerit kesakitan dan roboh terjungkal.
Meja juga terguling tertumbuk pada waktu dia roboh terjengkang, dengan sendirinya semua hidangan di atas meja juga tumpah dan menerbitkan suara gemuruh.
Melihat lawan memegang perut sambil menjerit kesakitan, Pang Bun-hiong tidak menyerang lebih lanjut, ia tertawa senang dan berkata.
"Nah, kubilang naga takkan mampu makan ular, sekarang kau percaya tidak?"
Pemuda berbaju ringkas itu merangkak bangun, pada saat tubuhnya hampir menegak mendadak ia menjotos.
Pang Bun-hiong tidak menyangka orang masih bertenaga untuk memukulnya, hendak berkelit pun tidak keburu lagi, kontan perutnya juga kena digenjot dengan keras, belum menjerit tahu-tahu ia pun jatuh terjengkang.
"Haha, bagaimana? Kubilang naga tetap lebih kuat daripada ular, sekarang tentu kau percaya bukan?"
Seru si pemuda baju ringkas dengan tertawa. Sambil meringis kesakitan Pang Bun-hiong merangkak bangun, katanya.
"Baik, tampaknya Kungfumu boleh juga, namun urusan belumlah selesai!"
Mendadak ia mendekam ke lantai, kaki terus menyapu lawan.
Namun pemuda baju ringkas sempat melompat minggir, menyusul kedua kepalan balas menghantam kedua pelipis musuh.
Sekali ini Bun-hiong tidak dapat dikerjai lagi, secepat kitiran ia berputar, kedua tangan beradu, kontan si pemuda baju ringkas terpental mencelat, Pang Bun-hiong juga tergetar jatuh terjungkal.
"Wah, celaka!"
Teriak kuasa restoran yang baru naik ke atas loteng ketika mendengar suara keributan.
"Sudah, sudahlah, bisa rusak semua!"
Namun kedua orang sudah kadung naik pitam, kembali mereka saling labrak lagi. Dalam sekejap itu belasan meja kursi di atas loteng sama terjungkir balik, mangkuk piring beterbangan dan hancur.
"Wah, celaka, tamat, habis seluruhnya!"
Kuasa restoran berkeluh pula dengan muka pucat.
"Cara bagaimana perhitungan ini?"
Rupanya kedua anak muda itu sudah sama kalapnya, siapa pun tidak mau berhenti dulu, pukulan dan tendangan masih terus berlangsung dengan seru.
Tampaknya ratusan jurus sudah berlalu dan keduanya tetap setali tiga uang alias sama kuat, tiada seorang pun lebih unggul.
Pada saat itulah terdengar tangga berdetak, naiklah seorang tua yang berdandan sebagai Pothau (serupa polisi zaman kini).
Melihat ada orang berkelahi, Pothau tua itu membentak.
"Berhenti!"
Suaranya keras menggelegar sehingga genting rumah serasa terguncang. Segera Pang Bun-hiong menghentikan serangannya dan melompat mundur, katanya dengan tertawa.
"Syukurlah Ciupothau datang, coba bocah ini akan lari ke mana?"
Pemuda berbaju ringkas juga berhenti perang tanding dan berucap.
"Harus dua mata uang baru menerbitkan bunyi, kalau masuk penjara biarlah kita lakoni bersama."
"Pang-siauya, apa-apaan ini?"
Tanya Ciu-pothau dengan menarik muka.
"Ah, tidak apa-apa, lagi iseng, maka main-main dengan sahabat ini,"
Jawab Bun-hiong dengan tertawa.
"Main-main?"
Omel Ciu-pothau.
"Coba restoran orang telah kau bikin porak-poranda semacam ini, masa ini cuma mainmain?"
"Jangan khawatir, semua perhitungkan atas rekeningku saja,"
Ujar Bun-hiong. Si pemuda baju ringkas menjengek.
"Hm, memangnya kau kira hanya kamu saja yang punya uang? Biar kukatakan, aku juga sanggup memberi ganti rugi!"
Sembari bicara ia terus mengeluarkan sepotong uang perak dan dilemparkan kepada kuasa restoran sambil berseru.
"Ini, ambil! Tentu cukup untuk ganti rugi semua kerusakan ini."
Cepat si kuasa restoran mengambil uang perak itu dan mengucapkan terima kasih. Tapi Pang Bun-hiong merasa kehilangan muka, teriaknya dengan gusar.
"Kurang ajar! Kan sudah kukatakan aku yang akan memberi ganti rugi, sekali kubilang begitu tetap aku yang akan memberi ganti rugi, kau berani berebut membayar denganku?"
"Memangnya mau apa? Jika tidak terima, mari kita berhantam lagi, cuma harus cari suatu tempat lain saja,"
Ujar si pemuda baju ringkas dengan tertawa.
"Baik, boleh kita bertarung lagi, barang siapa menang, dia yang wajib membayar ganti rugi,"
Kata Bun-hiong.
"Dan di mana tempatnya?"
Bun-hiong berpikir sejenak, lalu berkata dengan tertawa.
"Haha, kita memang perlu mencari suatu tempat sepi yang tak terganggu. Begini saja, menjelang tengah malam nanti kita bertemu di ...."
Lalu ia mendekat dua langkah ke samping lawannya dan mengucapkan nama tempat yang dimaksud dengan suara lirih, lalu menegas dengan suara keras.
"Nah, bagaimana? Setuju?"
"Baik, kupasti datang tepat pada waktunya,"
Jawab si pemuda baju ringkas. Bun-hiong lantas berkata kepada kuasa restoran.
"Kembalikan uang perak itu kepadanya."
"Tidak perlu,"
Ujar pemuda baju ringkas.
"Jika aku kalah baru kudatang mengambilnya kembali."
Habis ini ia memberi hormat kepada Ciu-pothau dan berkata.
"Maaf, sekarang aku boleh pergi bukan?"
Ciu-pothau memandang Pang Bun-hiong sekejap, dilihatnya pemuda itu mengangguk, maka ia lantas memberi tanda dan berkata.
"Baik, boleh pergi!"
Dengan tersenyum pemuda baju ringkas lantas meninggalkan restoran itu. Lalu Ciu-pothau berkata kepada Pang Bun-hiong.
"Pangsiauya, engkau ini kok selalu mencari gara-gara saja? Lain kali jika mau berkelahi hendaknya pergi ke luar kota saja."
Bun-hiong mengebas bajunya yang kotor sambil menjawab dengan tertawa.
"Baik, malam nanti kami memang akan berkelahi di luar kota."
"Di luar kota mana?"
Tanya Ciu-pothau.
"Maaf, tak dapat kuberi tahu,"
Kata Bun-hiong sambil memicingkan sebelah mata, lalu tinggal pergi.
***** Ketika malam tiba, cahaya lampu gemerlapan di sana-sini.
Tempat yang paling ramai pada waktu malam di kota Kim-tan adalah sebuah gang yang disebut "Gang Bunga"
Di dekat gerbang utara.
Sebab jalan ini memang sesuai dengan namanya, tempat hiburan, tegasnya tempat "lampu merah".
Di antaranya yang paling terkenal adalah sebuah rumah hiburan yang bernama "Lau-jun-ih"
Atau Paviliun Semi Abadi.
Malam ini si pemuda berbaju ringkas itu sudah berganti baju preman, dengan menggoyang kipas lempit dikunjunginya tempat pelesir itu.
Setiba di depan Lau-jun-ih, ia merandek dan melongak-longok, segera seorang calo menyongsongnya dengan cengar-cengir dan menyapa.
"Kongcu ini silakan duduk di dalam, apa ingin cari nona jelita?"
Anak muda itu mengangguk dan melangkah ke dalam. Calo itu membawanya ke ruangan tamu dan duduk serta disuguh secangkir teh harum, lalu bertanya dengan tertawa.
"Kongcu she apa?"
"Liong,"
Jawab pemuda itu.
"Oh, kiranya Liong-kongcu,"
Ujar si calo.
"Numpang tanya, apakah Liong-kongcu sudah ada kenalan di sini?"
"Tidak ada,"
Jawab pemuda she Liong itu.
"cuma berani kukatakan di Lau-jun-ih kalian ini ada seorang nona bernama Giok-nio, entah dia ada atau tidak?"
"Oo, Liong-kongcu mau panggil nona Giok-nio?"
Calo itu menegas dengan melengak.
"Ya,"
Pemuda she Liong mengangguk. Si calo memperlihatkan rasa menyesal, katanya.
"Ai, sungguh tidak kebetulan. Selama beberapa hari ini nona Giok-nio tidak di tempat, bagaimana kalau Liong-kongcu panggil nona yang lain?"
"Apa betul tidak ada?"
Pemuda she Liong menegas.
"Sungguh tidak ada, masa hamba berani berdusta,"
Ujar si calo.
"Cuma, hihi, hendaknya Kongcu jangan kecewa, bagaimana kalau hamba memanggilkan nona lain yang lebih cantik daripada Giok-nio, tanggung Kongcu pasti puas."
"Dia pergi ke mana?"
Tanya pemuda she Liong.
"Hamba sendiri tidak jelas."
Pemuda itu berpikir sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.
"Baiklah, boleh coba panggilkan satu."
Dengan gembira si calo mengiakan, segera masuk ke dalam, tidak lama kemudian keluar lagi dengan membawa seorang nona, katanya dengan tertawa.
"Coba Kongcu lihat, cantik bukan?"
Nona ini berusia antara 20-an, bertubuh ramping, raut muka potongan daun sirih dan cukup menarik, ditambah lagi alis lentik dan mata jeli, mulut mungil, tampaknya memang memikat.
Si nona berdiri di tepi pintu, lengan baju setengah menutupi mukanya dengan lagak malu-malu kucing.
Pemuda she Liong mengangguk, agaknya merasa puas, sapanya dengan tertawa.
"Nona ini bernama siapa?"
"Dia bernama Jiu Yan, belum lama baru datang sehingga tidak begitu pintar meladeni tamu, hendaknya Kongcuya maklum,"
Ujar si calo dengar tertawa. Lalu ia berkata kepada si nona.
"Nah, nona Jiu Yan, lekas mengundang Kongcuya ini ke dalam."
Jiu Yan memandang pemuda she Liong dengan lirikan memikat, dengan likat ia membalik tubuh dan menyingkap tabir.
Pemuda itu tahu maksudnya, dengan tersenyum ia ikut masuk ke dalam.
Jiu Yan membawanya ke sebuah kamar yang terpajang cukup indah, lebih dulu ia memberi hormat dan berkata dengan suara renyah.
"Silakan duduk, Liong-kongcu."
"Maaf jika aku mengganggu,"
Ucap pemuda she Liong.
"Ah, janganlah Kongcu merasa sungkan,"
Ujar Jiu Yan dengan tertawa manis. Pemuda itu lantas duduk di depan sebuah meja kecil yang indah, katanya pula.
"Nona secantik bidadari, sungguh sangat beruntung dapat berkenalan denganmu."
Jiu Yan menuang secangkir teh dan ditaruh di depan pemuda itu, lalu duduk di sampingnya, katanya dengan malu-malu.
"Perempuan biasa seperti diri hamba ternyata beruntung ditaksir oleh Kongcu, sungguh hamba sangat berterima kasih, mohon Kongcu suka banyak memberi petunjuk."
Melihat si nona dapat bicara dengan sopan, timbul kesan baik si pemuda she Liong, ia pegang tangannya yang putih dan berkata.
"Ehm, pandai benar caramu bicara."
Jiu Yan tertawa manis.
"Terima kasih atas pujian Kongcu. Padahal di Lau-jun-ih kami ini, hamba terhitung paling bodoh."
"Berapa usiamu tahun ini?"
"Dua puluh,"
Jawab Jiu Yan sambil menunduk malu.
"Berasal dari mana?"
"Di sini."
"Haha,"
Si pemuda tertawa.
"Di luar dugaan juga jawaban ini ...."
"Oo?"
Jiu Yan ingin tahu lebih lanjut.
"Banyak juga nona yang pernah kulihat, setiap kutanya asal usul mereka, selalu mereka menceritakan kisah hidupnya yang memilukan."
"Buat apa begitu?"
Ujar Jiu Yan tersenyum.
"Selama ini tidak pernah kuceritakan kisah hidupku, sebab meski kuceritakan juga tidak ada gunanya."
"Memang betul,"
Kata si pemuda.
"Apakah Kongcu perlu memanggil daharan?"
"Baik,"
Pemuda itu mengangguk. Segera Jiu Yan keluar dan memberi pesan agar menyiapkan arak dan santapan, lalu kembali ke kamar, tanyanya dengan tertawa.
"Kalau boleh mohon tanya nama Kongcu yang terhormat."
"It-hiong,"
Jawab si anak muda.
"Di mana kediaman Kongcu?"
"Tidak punya kediaman pasti, berkelana kian kemari,"
Jawab si pemuda alias Liong It-hiong.
"Tampaknya watak Kongcu sangat jujur dan suka terus terang."
"Masa?!"
"Kebanyakan orang lelaki yang datang ke sini, jelas mereka datang untuk mencari kesenangan, tapi mereka berlagak mengunjuk rasa simpatik atas nasib kami, hanya engkau yang tidak bersikap demikian."
Liong It-hiong tertawa.
"Di dunia ini sangat banyak orang yang bernasib malang, jika setiap orang harus solider kan runyam, cuma ...."
"Cuma apa?"
Tanya Jiu Yan.
"Caraku bersimpati kepada orang perempuan semacam kalian hanya dengan semacam barang."
"Oo, barang apa?"
"Uang!"
Jiu Yan tertawa mengikik.
"Lelaki yang datang ke sini masakan berani tidak memberi uang."
"Namun yang kuberikan jauh lebih banyak daripada lelaki lain."
Jiu Yan memperlihatkan rasa tidak percaya.
"Apa betul?"
Liong It-hiong menyeruput tehnya, lalu berkata.
"Ingin kutanya padamu, bukankah kau kenal seorang pemuda bernama Pang Bun-hiong?"
"Tentu saja kukenal,"
Jawab Jiu Yap.
"Dia adalah pemuda tukang foya-foya terkenal di kota ini, tidak ada seorang nona penghuni Gang Bunga ini yang tidak kenal dia."
"Bila datang, setiap kali dia membayar berapa kepada kalian?"
Tanya It-hiong.
"Tidak tentu,"
Tutur Jiu Yan.
"Kalau lagi senang, terkadang sekali memberi 50 tahil perak."
"Sekarang kuberi seratus tahil perak padamu,"
Kata Liong Ithiong sambil mengeluarkan sepotong uang emas dan diberikan kepada si nona, katanya pula dengan tertawa.
"Emas ini kalau dinilai persis seratus tahil perak."
Mata Jiu Yan terbelalak, katanya dengan sangsi.
"Hei, Kongcu ... apakah engkau bergurau?"
"Tidak,"
Jawab It-hiong. Jiu Yan mengamati uang emas yang dipegangnya, terasa kejut dan girang, ucapnya.
"Kongcu tentu kaya raya bukan?"
"Tidak aku sangat miskin, saking rudinnya terkadang aku tidak makan, namun bila pegang uang lantas kuhamburkan."
"Cara ini tidak betul,"
Ujar Jiu Yan.
"Betul atau tidak sukar dikatakan, selama ini tidak pernah kupikirkan soal ini .... Ah, biarlah kita ganti pokok bicara. Konon di Lau-jun-ih kalian ini ada seorang nona bernama Giok-nio?"
"Betul, dia sangat laris,"
Jawab Jiu Yan.
"Sekarang dia ada atau tidak?"
"Tidak ada, sudah pergi."
"Pergi ke mana?"
"Kabarnya pindah ke Kim-leng (kota Nanking sekarang)."
"Tapi si calo tadi bilang Giok-nio selama beberapa hari ini tidak masuk, dia tidak bilang pindah ke Kim-leng segala."
"Wajar jika dia bilang begitu, kalau dia katakan terus terang Giok-nio tidak berada di sini lagi, kan para tamu bisa angkat kaki semua,"
Ujar Jiu Yan, lalu ia tanya dengan tertawa.
"Kongcu juga kenal Giok-nio."
"Tidak,"
Jawab Liong It-hiong.
"Dan Kongcu ingin mencari dia?"
"Sebenarnya memang berniat demikian, sebab sering kudengar pujian orang akan kecantikan dan kepandaiannya, maka ingin belajar kenal."
"Sudah delapan atau sembilan hari dia pergi,"
Tutur Jiu Yan.
"Sebab apa dia pergi dari sini?"
"Entah, mungkin dia pikir di Kim-leng akan mendapatkan uang lebih banyak."
"Di mana dia tinggal di Kim-leng?"
"Kalau tidak salah dia bilang Boan-jun-wan."
Selagi It-hiong hendak tanya lebih lanjut, dilihatnya pelayan membawakan arak dan hidangan, sesudah pelayan pergi barulah It-hiong tanya pula.
"Sesungguhnya siapa nama aslinya?"
Sambil menuangkan arak Jiu Yan menjawab.
"Tidak begitu jelas, meski cukup lama kami berkumpul, namun tidak pernah saling tanya nama asli masing-masing."
Lalu dia menyodorkan arak yang dituangnya kepada anak muda itu.
"Silakan minum Kongcu. Jika malam ini engkau penujui hamba, hendaknya jangan kau singgung-singgung Giok-nio lagi."
It-hiong tertawa dan menenggak habis isi cawan itu, katanya.
"Ya, betul, aku memang kurang sopan, masakah membicarakan seorang nona lain di depan nona."
"Jika kau sebut dia lagi aku akan marah lho!"
"Baik, takkan kusebut dia pula,"
Kata It-hiong, dia mulai makan-minum di bawah ladenan Jiu Yan yang mesra itu. Melihat anak, muda itu menenggak setiap cawan arak yang dituangkan, Jiu Yan rada khawatir, tanyanya.
"Bagaimana takaran minummu?"
"Lumayan,"
Jawab It-hiong.
"Jangan mabuk lho."
"Tidak, malam ini aku ada urusan, tidak boleh mabuk."
Jiu Yan salah tampa akan ucapan anak muda itu, mukanya menjadi merah, ucapnya dengan tertawa malu.
"Aku paling takut pada orang mabuk, jika kau pun mabuk, tentu takkan kuladenimu."
It-hiong terus merangkulnya dan dicium, katanya dengan tertawa.
"Jangan khawatir, aku takkan mabuk."
Sembari bicara sambil meraba sini-sana ia tanya.
"Eh, beri tahukan padaku, bagaimana pribadi bocah Pang Bun-hiong itu?"
"Oo, engkau tidak kenal dia?"
"Ya, aku cuma tahu dia kaya dan berpengaruh, juga memiliki Kungfu yang tidak lemah."
"Konon ayahnya pernah menjadi pembesar tinggi di kota raja, sekarang sudah pensiun dan merupakan hartawan terkemuka di kota ini, jadi dia memang kaya dan berpengaruh."
"Kungfunya belajar dari siapa?"
"Hal ini tidak kuketahui."
"Bagaimana pribadinya?"
"Sangat royal."
"Perilakunya?"
"Sangat romantis, cuma tidak serupa kaum pangeran dan putra bangsawan yang suka berbuat sewenang-wenang."
"Apakah dia sangat suka main menang-menangan dan menganiaya orang dan sebagainya?"
"Tidak pernah terdengar."
"Kau bilang dia sangat romantis, coba katakan bagaimana romantisnya?"
"Konon setiap perempuan cantik tentu diubernya dan takkan berhenti sebelum terkabul keinginannya."
"Aku juga sangat romantis, kau percaya tidak?"
"Kenapa tidak percaya,"
Jawab Jiu Yan sambil mencolek pipi anak muda itu dengan tertawa.
"Melihat bentukmu setiap orang tahu pasti perayu."
It-hiong terbahak terus memondongnya menuju ke tempat tidur ....
Setengah jam kemudian baru Liong It-hiong meninggalkan rumah hiburan itu dengan badan segar dan wajah berseri, sambil menggoyang kipas dia menuju ke luar kota.
Kira-kira dua-tiga li di luar kota, ia memandang rembulan yang menghias di tengah cakrawala, gumamnya.
"Sudah dekat tengah malam, aku harus cepat menuju ke sana."
Serentak ia berlari cepat ke depan, hanya sebentar saja ia sudah sampai di kaki gunung yang sunyi dan jauh dari rumah penduduk.
Ia berhenti di situ dan memandang sekelilingnya, lalu menanjak ke atas mengikuti sebuah jalan setapak.
Setiba di pinggang gunung, tiba-tiba ia merasakan keadaan tidak enak, ia berhenti, dengan sinar mata mencorong ia memandang ke hutan sebelah kanan sambil menegur.
"Pang Bun-hiong, apakah kau?"
Namun tiada jawaban apa pun dari dalam hutan.
"Hmk,"
Jengek It-hiong.
"Orang gagah macam apa main sembunyi-sembunyi? Ayo menggelinding keluar!"
"Oouhh ...."
Terdengar suara rintihan lemah berkumandang dari sana. It-hiong terkesiap.
"Siapa itu?"
Tetap tidak ada jawaban. Kening It-hiong bekernyit, jengeknya pula.
"Keparat, kudatang untuk duel denganmu, jika sengaja kau main gila, terhitung orang gagah macam apa?"
"Auuhh ...."
Kembali berkumandang pula keluhan lemah itu.
Hati It-hiong mulai curiga, ia berpikir sejenak, lalu memutuskan akan menyelidiki keadaan sebenarnya di dalam hutan, diam-diam ia siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan, lalu beranjak ke dalam hutan.
Baru belasan langkah masuk ke dalam hutan, sekilas pandang, seketika berubah air mukanya.
Dilihatnya satu orang, seorang yang sudah kempas-kempis tinggal ajalnya.
Usia orang ini antara 40-an, dahi lebar mata besar, alis tebal seperti sikat, mukanya kereng, dia memakai baju ringkas warna hitam dengan deretan kancing di depan, memakai sepatu sol tipis, saat itu sedang bersandar di batang pohon dengan ujung mulut mengucurkan darah, tampaknya terluka sangat parah.
Di sampingnya tertaruh sebuah peti berwarna hitam, bentuknya serupa peti wasiat yang biasanya digunakan orang untuk menyimpan barang berharga, pada pegangan peti itu terikat seutas rantai besi.
Menghadapi orang terluka parah, cepat It-hiong mendekatinva dan bertanya.
"Eh, saudara ini kenapa?"
Mata orang itu setengah terpejam dan buram, ia membuka mulutnya yang berdarah dan mengeluarkan suara terputusputus.
"Sia ... siapa engkau?"
"Aku Liong It-hiong."
"O, Tayhiap ...."
Semangat orang itu tampak terbangkit. It-hiong mengangguk. Tangan kanan orang itu sedikit terangkat, maksudnya seperti minta It-hiong mengangkatnya bangun, katanya lemah.
"To ... tolong ...."
It-hiong berjongkok untuk memapahnya sambil bertanya.
"Saudara ini siapa, kenapa sampai terluka?"
Orang itu tidak menjawab, ia pegang tangan kiri It-hiong, lalu diambilnya rantai besi terus diikat pada pergelangan tangan, katanya dengan lemah.
"Harap ... harap sam ... sampaikan barang ini ke ... kepada Cap-pek-pan-nia ...."
Berucap sampai di sini, mendadak kepalanya terkulai miring ke samping, lalu tidak bergerak lagi, nyata dia sudah mati. Keruan It-hiong terkejut, serunya.
"Hei, hei! Kau bilang apa? Kau bilang sampaikan barang ini kepada siapa!"
Namun biarpun dia berteriak-teriak dan menggoyang-goyang tubuhnya, lelaki setengah baya itu sudah terkulai dan tidak bernapas lagi.
Dengan tercengang ia pandang tubuh yang sudah tak bernyawa itu hingga sekian lamanya, akhirnya bergumam sambil menggeleng kepala.
"Buset, sesungguhnya bagaimana jadinya ini?"
Waktu ia periksa rantai yang mengikat pada pergelangan tangannya, seketika hati tenggelam, serunya.
"Wah, celaka! Ini kan berarti membikin susah orang?"
Kiranya pada ujung rantai itu terpasang sebuah borgol baja dan sekarang borgol itu membelenggu erat pergelangan tangannya.
Ini berarti kalau belenggu itu tidak dapat dibuka maka peti hitam itu pun akan senantiasa berdampingan dengan dia dan tak terpisahkan.
Ia coba membetot, terasa belenggu itu semakin kencang, tentu saja ia cemas, ia coba mengangkat peti hitam itu, diamati dan diperiksa, bobot peti terasa agak berat, ternyata terbuat dari baja.
"O, Thian, barang apakah ini?!"
Keluhnya pula.
Ia tidak menaruh minat terhadap isi peti hitam itu, yang dirasakan gawat adalah belenggu yang mengikat pergelangan tangannya sebab sebentar dia harus bertempur dengan Pang Bun-hiong di atas gunung, kalau belenggu ini tidak lekas disingkirkan akan berarti dia bertempur dengan membawa sebuah beban, dengan begini jelas dia pasti akan kalah.
Tapi apa daya?
Ia pandang mayat lelaki setengah umur itu, tiba-tiba teringat olehnya mungkin kunci borgol berada pada bajunya, cepat ia menggerayangi tubuh mayat itu.
Akan tetapi meski sekujur badan mayat itu sudah digagapi, hanya dapat dikeluarkan belasan tahil perak saja, selain itu tidak ada sesuatu benda lagi.
Ia kecewa dan juga gelisah, tanpa terasa ia menggerutu terhadap mayat itu.
"Hm, engkau sungguh terlalu. Jika kau minta kusampaikan peti ini kepada seorang, cukup asalkan kuterima permintaanmu dan tentu akan kulaksanakan, kenapa kau belenggu peti ini di tanganku?"
Ini kan sama dengan membikin susah padaku."
Segera terpikir juga olehnya untuk menggunakan pedang.
Ia lolos pedang yang tergantung di pinggang, tapi ia cuma menggeleng kepala saja sambil memandang pedangnya, sebab disadarinya pedang sendiri bukan pedang pusaka yang dapat memotong besi seperti merajang sayur, tidak mungkin dapat memotong rantai atau belenggu baja itu.
Ia menghela napas, pedang berbalik digunakannya untuk menggali tanah.
Tidak lama kemudian sebuah liang sedalam tiga-empat kaki telah digalinya, diseretnya mayat lelaki setengah umur itu ke dalam liang, lalu diuruk lagi dengan tanah, kemudian ia membersihkan pedangnya dan disimpan kembali ke dalam sarungnya, habis ini barulah ia naik ke atas gunung.
Ia gulung rantai besi itu pada pergelangan tangan, peti hitam itu dikepitnya terus berlari cepat ke atas.
Tidak lama sampailah dia di puncak gunung yang tandus.
Waktu ia pandang posisi rembulan di langit, diduganya sudah lewat tengah malam.
Ia coba celingukan sekitarnya, lalu berseru.
"Hai, bocah she Pang, engkau sudah datang belum?"
Segera dari balik batu besar beberapa kaki di depan sana menongol sebuah kepala manusia.
Siapa lagi dia kalau bukan Pang Bun-hiong.
Dia tetap berdandan seperti siangnya, masih membawa kipas lempit, perlahan ia muncul dari belakang batu padas, katanya dengan tertawa.
"Kusangka engkau tidak berani datang."
"Maaf, karena mengalami suatu kejadian aneh sehingga perjalananku terganggu, maka datang terlambat,"
Kata Ithiong.
"Kejadian aneh apa?"
Tanya Bun-hiong. It-hiong mengendurkan tangan kirinya sehingga peti hitam yang dikepitnya merosot ke bawah, ucapnya sambil menyengir.
"Kejadian aneh inilah."
"Barang apa itu?"
Tanya Bun-hiong dengan heran dan kejut.
"Siapa tahu?!"
Ujar It-hiong.
"Baru saja kusampai di pinggang gunung, mendadak kudengar suara orang di dalam hutan, semula kusangka dirimu, tapi setelah kuperiksa, kiranya seorang lelaki setengah baya yang terluka parah ...."
Begitulah ia lantas menceritakan apa yang terjadi. Bun-hiong merasa tertarik, ia coba mendekat dan memegang peti hitam itu dan diamat-amati, lalu bertanya.
"Apakah dia tidak menerangkan apa isi peti ini."
"Tidak,"
Jawab It-hiong.
"Dia minta kau serahkan barang ini kepada siapa?"
Tanya Bunhiong pula.
"Aku tidak jelas mendengarnya, rasanya terdiri dari empat kata, dua kata bagian depan kalau tidak salah 'Cap-pek' (delapan belas) apa, dua kata yang belakang aku tidak jelas."
"Belenggu itu tidak dapat dibuka?"
It-hiong mengiakan.
"Wah, lantas bagaimana?"
Kata Bun-hiong.
"Aku pun tidak tahu bagaimana baiknya,"
Ujar It-hiong dengan kesal.
"Apakah engkau dapat menolong menghilangkan benda sialan ini."
"Wah, untuk membuka belenggu ini mungkin tidak mudah ...."
"Potong dulu rantainya, adakah engkau membawa senjata tajam?"
"Tidak,"
Jawab Bun-hiong menggeleng.
"Ai, bisa celaka,"
Ujar It-hiong dengan lesu.
"Jika barang sialan ini tidak dapat dibuang, bila makan, tidur, berak dan kencing harus selalu membawanya serta, kan repot."
"Jangan khawatir, mungkin pandai besi dapat membuangnya,"
Ujar Bun-hiong tertawa.
"Ya, betul, pandai besi pasti dapat membuang barang ini,"
Seru It-hiong girang.
"Apakah ada bengkel di dalam kota?"
"Ada, cuma sekarang sudah jauh malam, bengkel besi tentu sudah tutup pintu, harus tunggu sampai besok."
"Baik, boleh bereskan besok saja. Sekarang marilah kita mulai."
"Tidak, takkan kutarung denganmu lagi,"
Ucap Bun-hiong sambil menggeleng.
"Sebab apa?"
Tanya It-hiong heran.
"Pada tanganmu, diganduli barang itu, tentu tidak leluasa, kalau berkelahi engkau pasti kalah, aku tidak mau menarik keuntungan demikian darimu."
"Tidak menjadi soal, dapat kugunakan barang ini sebagai bandulan untuk menghajarmu."
"Ah, jangan membual,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Tanpa barang itu mungkin dapat kau tandingi diriku, dengan beban barang itu, jelas engkau bukan tandinganku. Andaikan aku menang juga tak terpuji."
"Jika begitu, biarlah setelah besok kubuang barang ini baru kita menentukan kalah menang lagi."
"Baik!"
Kata Bun-hiong.
"Ai, entah apa dosaku sehingga tertimpa urusan sebal ini ...."
"Mungkin lantaran semalam kau main perempuan sehingga sial."
"Dari mana kau tahu aku main perempuan?"
Tanya It-hiong melengak. Bun-hiong angkat pundak.
"Aku kan Te-tau-coa, ular penguasa tempat ini, dengan sendirinya segala urusan kutahu."
"Hah, jadi selalu kau buntuti aku?"
Tanya It-hiong dengan mendongkol.
"Tidak, cukup kukirim seorang anak buahku untuk mencari keterangan di Lau-jun-ih."
"Huh, rendah!"
Jengek It-hiong. Bun-hiong tidak marah, katanya dengan tertawa.
"Apakah engkau memang betul Liong It-hiong yang berjuluk Liong-hiap (pendekar naga)?"
"Tanggung tulen, kalau palsu uang kembali,"
Jawab It-hiong.
"Maaf, sudah lama kudengar namamu yang termasyhur."
"Ah, tidak perlu mengumpak."
"Rasanya ada jodoh juga pertemuan kita antara naga dan harimau, bagaimana kalau kita rayakan dengan minum arak?"
"Boleh, cuma apa artinya kau bilang pertemuan antara naga dan harimau?"
"Sebab ada orang menyebut diriku sebagai Hou-hiap (pendekar harimau)."
"O, kiranya kau inilah Hou-hiap yang terkenal di daerah utara dan selatan sungai besar itu. Tapi mengapa engkau mengaku sebagai Te-tau-coa?"
"Hahaha, aku kan penduduk Kim-tan, bagimu bukankah aku memang Te-tau-coa yang menguasai tempat ini?"
"Sudah sering kudengar orang bercerita macam-macam tentang Pendekar Harimau, tak tersangka engkau inilah Houhiap."
"Kita ini seorang naga dan yang lain harimau, malahan nama kita sama-sana pakai Hiong (jantan), sekali ini kita harus saling mengukur tenaga untuk menentukan siapa yang benar jantan."
"Baik, kalau besok dapat kulepaskan barang sial ini, malamnya kita tetap bertemu lagi di sini."
"Sekarang marilah kita turun gunung saja,"
Tata Bun-hiong. Maka kedua orang lantas kembali ke kota dengan damai serupa sahabat karib saja.
"Kau tinggal di hotel?"
Tanya Bun-hiong. It-hiong mengiakan.
"Kudamu itu boleh juga, jangan-jangan Pek-sin-liong (si naga putih sakti) yang termasuk satu di antara lima kuda terkenal di dunia itu?"
"Betul, sekarang aku juga tahu nama kudamu itu, dia juga salah satu di antara kelima ekor kuda ternama, yaitu Sianhong-ki (kuda pionir) bukan?"
"Sompret, tampaknya dalam segala hal engkau selalu hendak menyaingiku,"
Omel It-hiong.
"Siapa bilang, yang tepat adalah engkau yang menyaingiku, sebab si pionir sudah lebih tiga tahun kumiliki,"
Kata Bunhiong dengan tertawa.
"Aku lebih tua daripadamu, jelas engkau yang meniru diriku."
"Sudahlah, tak perlu banyak omong. Sekarang ingin kutanya padamu, untuk keperluan apa kau cari Giok-nio?"
"Hanya ingin melihat kecantikannya saja."
"Hm, jauh-jauh kau datang ke Kim-tan hanya ingin main-main dengan dia?"
"Betul,"
It-hiong mengangguk.
"Jangan omong kosong,"
Jengek Bun-hiong.
"Meski Giok-nio rada terkenal di kota ini toh belum terhitung perempuan hiburan yang mengguncangkan satu daerah, pasti ada maksud tujuanmu yang lain kau cari dia."
"Katakan betul, lantas, ada sangkut paut apa denganmu?"
Kata It-hiong.
"Tentunya bukan lantaran dia telah menipu duitmu bukan?"
"Jika ada seorang nona menipu duitku pasti takkan kuusut lebih lanjut, sebab bukan urusan yang aneh bila perempuan hiburan suka pada duit."
"Kalau bukan, habis urusan apa?"
"Ada orang minta kucari dia."
"Siapa?"
Desak Bun-hiong.
"Ai, kenapa kau tanya terus-menerus, janganlah kau ikut campur urusan orang lain."
Bun-hiong mengangkat pundak dengan tertawa.
"Penyakitku yang sukar diobati justru paling suka ikut campur tetek bengek."
"Tapi jika kau ikut campur urusanku, tentu kau bisa susah."
"Masa?"
"Habis kalau naga dan harimau bertarung, naga kan lebih kuat daripada harimau, maka kau perlu hati-hati sedikit."
"Huh, itu kan anggapanmu, boleh kita lihat saja nanti."
Bicara sampai di sini, mendadak kedua orang berhenti melangkah. Liong It-hiong menyapu pandang sekejap ke kanan-kiri hutan, lalu menegur.
"Siapa itu yang bersembunyi di dalam hutan?"
Baru habis berucap lantas terlihat tetumbuhan di dalam hutan bergerak, dari kanan-kiri hutan muncul dua orang.
Satu di antara kedua orang ini berusia 50-an, bertubuh tinggi besar melebihi orang biasa, mukanya kuning, kening lebar dan tulang pipi menonjol, mata lebar dan hidung besar, jenggotnya pendek kasar serupa kawat, ikat kepala melingkar, berbaju hijau ringkas dan bersenjata toya tiga ruas.
Seorang lagi berusia lebih muda, kira-kira baru 35-36 tahun, mukanya juga buas, juga memakai baju hijau ringkas, cuma bersenjata golok.
Melihat tampang mereka, jelas keduanya bukan manusia baikbaik.
Terkesiap juga hati Liong It-hiong melihat kedua orang itu, segera ia tanya Pang Bun-hiong.
"Te-tau-coa, apakah mereka anak buahmu?"
"Bukan,"
Jawab Bun-hiong sambil menggeleng.
"Selamanya aku tidak piara tukang pukul."
Segera It-hiong memberi salam kepada kedua orang dan menegur.
"Eh, kedua sahabat ini bernama siapa? Ada urusan apa kalian merintangi jalan kami?"
Si kakek yang bertubuh tegap itu mungkin memang berwatak sombong atau memang tidak kenal sopan santun, ia tidak menjawab, sebaliknya menuding peti hitam yang bergantung di pergelangan tangan kiri It-hiong itu dan bertanya.
"Eh, bocah berengsek, dari mana kau dapatkan barang itu?"
Liong It-hiong adalah anak muda kosen yang sudah lama berkecimpung di dunia Kangouw, begitu mendengar ucapan orang segera diketahuinya orang berniat jahat, juga disadari pihak lawan pasti ada sangkut paut dengan peti hitam ini.
Tapi dia tidak gentar, sebaliknya merasa senang, sambil mengangkat peti hitam itu ia menjawab dengan terbahak.
"Haha, apakah kau maksudkan barang ini? Wah, cukup panjang untuk diceritakan, apakah orang tua terburu-buru ingin tahu?"
Mendadak kakek itu mendelik dan membentak.
"Ya, lekas katakan!"
"Eh, sabar, jangan terburu nafsu,"
Ujar It-hiong dengan tertawa.
"Hendaknya kau jawab dulu pertanyaanku baru nanti kuberi tahukan."
Orang itu menyeringai.
"Tidak ada sesuatu yang dapat kujawab."
"Apa ini berarti orang tua dilahirkan batu? Atau dibesarkan oleh biang anjing? Masa nama saja tidak punya?"
Kata Ithiong. Tentu saja kakek itu gusar, mendadak ia mendesak maju, toya tiga ruas dipuntir-puntir, bentaknya.
"Keparat, barangkali kamu sudah bosan hidup?!"
It-hiong mengangguk.
"Betul, selama ini aku memang sudah bosan hidup, cuma tiada seorang pun yang mampu mencabut nyawaku."
Kakek tegap itu seperti tidak tahan lagi, wajahnya beringas dan segera bergaya hendak melabrak lawan. Tampaknya lelaki bergolok itu lebih tahu urusan, tiba-tiba ia buka suara.
"Nanti dulu, Lui-heng!"
Seketika si kakek menahan gerakan menerjangnya, teriaknya dengan gusar.
"Bocah ini tidak kenal mati-hidup, binasakan dia saja kan beres!"
Lelaki bergolok memberi tanda "jangan", lalu ia memberi hormat kepada Liong It-hiong dan berkata.
"Sahabat ini, coba katakan apa yang ingin kau ketahui?"
"Nama kalian,"
Jawab It-hiong dengan tertawa. Lelaki bergolok tertawa ramah, jawabnya.
"Maaf, lantaran alasan tertentu, terpaksa tak dapat kami beri tahukan nama dan she kami."
"Jika begitu, kalian mau bicara apa?"
Kata It-hiong pula. Lelaki bergolok menuding peti hitam yang di pergelangan tangannya dan menjawab.
"Peti itu kepunyaan kami, harap dikembalikan kepada kami!"
It-hiong mengguncang-guncang peti hitam itu, lalu bertanya dengan tertawa.
"Kau tahu semula barang ini berada di tangan siapa?"
"Tahu,"
Si lelaki bergolok mengangguk.
"Dia bernama siapa?"
Tanya It-hiong pula. Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC
Jilid 2
"Dia bernama Si Hin, semula tinggal bersama kami,"
Tutur lelaki bergolok.
"Kemarin tiba-tiba timbul maksud jahatnya, peti ini digondol lari, akhirnya dapat kami susul dia, cuma sayang, sesudah kami melukai dia, sempat juga dia meloloskan diri."
"Apa isi peti ini?"
Tanya It-hiong.
"Maaf, untuk ini tidak dapat kuberi tahukan,"
Jawab lelaki bergolok.
"Sekarang mohon engkau suka mengembalikan peti itu kepada kami."
"Boleh, tapi adakah kau pegang kunci borgolnya?"
"Ada,"
Lelaki bergolok mengangguk. Dia memindahkan golok ke tangan kiri, lalu tangan kanan merogoh saku untuk mengambil anak kunci sambil melangkah maju, katanya.
"Harap ulurkan tanganmu, akan kubukakan borgolnya."
It-hiong menjulurkan tangan kirinya, ucapnya dengan tertawa.
"Sungguh beruntung bertemu dengan kalian berdua, kalau tidak barang ini sungguh sangat merepotkan."
Melihat tangan orang sudah terjulur, lelaki bergolok juga lantas menjulurkan tangan kanan dengan lagak hendak membukakan kunci borgolnya.
Siapa tahu mendadak golok pada tangan kirinya terus menebas ke tangan kiri Liong Ithiong dan tepat mengenai sasarannya.
Akan tetapi tangan kiri Liong It-hiong ternyata tidak tertebas buntung, sebaliknya tetap utuh tanpa kurang sesuatu, lecet saja tidak.
Sungguh mimpi pun orang bergolok itu tidak menyangka Liong It-hiong menguasai Kungfu kekebalan senjata, seketika ia terperanjat dan cepat melompat mundur.
Namun It-hiong tidak tinggal diam, sambil bergelak tertawa sebelah kakinya terus mendepak dan tepat mengenai perut orang.
"Blang", kontan orang itu terpental jauh. Melihat tipu kawannya tidak berhasil, si kakek tegap lantas membentak dan menerjang maju juga, toya tiga ruas terus berputar dan menyabet kedua kaki Liong It-hiong.
"Haha, boleh juga kita main-main beberapa jurus!"
Seru Bunhiong dengan tertawa.
Segera ia memapak orang tua itu, kipas lempit menukik ke bawah dan "brak", sabetan toya si kakek ditangkisnya.
Seketika si kakek tergetar sempoyongan ke samping.
Bunhiong tidak memberi kelonggaran lagi, sambil tertawa panjang ia terus menubruk maju dan menjojoh pula dengan kipasnya.
Sekarang si kakek baru menyadari telah ketemu lawan tangguh, ia tidak berani sembrono lagi, segera ia putar toya tiga ruas dengan kencang dan menempur Pang Bun-hiong dengan sengit.
Meski si lelaki bergolok terdepak perutnya oleh Liong It-hiong, tapi perutnya tidak sampai pecah, sesudah jatuh terjungkal, segera ia melompat bangun dan menerjang maju lagi dengan goloknya.
Mestinya It-hiong dapat melolos pedang untuk menandingi golok lawan, namun dia juga anak muda yang tinggi hati, menghadapi lawan empuk tidak mau dia menggunakan pedang, segera ia layani golok lawan dengan tetap bertangan kosong.
Agaknya lelaki bergolok itu juga cukup luas pengetahuannya, setelah tahu Liong It-hiong menguasai Kungfu kekebalan senjata, maka selanjutnya dia tidak menyerang lagi dengan membacok atau menebas melainkan dengan gerakan mengiris, sebab ia tahu orang yang menguasai Kungfu kekebalan sebangsa Kim-ciong-toh atau Thi-po-sam umumnya tidak takut dibacok melainkan khawatir diiris atau disayat.
Begitulah dia terus menggunakan cara istimewa itu dan main sayat melulu terhadap Liong It-hiong.
Merasa kelemahan sendiri diketahui lawan, It-hiong juga tidak berani gegabah lagi, sembari menghindari setiap serangan, lebih sering lagi sekarang dia menggunakan peti hitam untuk menimpuk musuh.
Bobot peti hitam itu antara sepuluh kati, ditambah lagi rantai sepanjang dua-tiga kaki, bila diputar menjadi serupa banderingan dan sangat lihai.
Lelaki bergolok itu telah mengeluarkan segenap kepandaiannya dan tetap tidak mampu mengganggu seujung rambut lawan, ia mulai jeri, berbareng juga merasa terkejut dan heran, ia coba tanya.
"Hei, sesungguhnya kalian berasal dari garis mana? Coba beri tahukan!"
It-hiong tertawa, serunya.
"Tuanmu jalan tidak ganti nama dan duduk tidak tukar she, aku inilah Liong It-hiong yang berjuluk Liong-hiap!"
"Wah, celaka!"
Teriak si lelaki bergolok mendadak sambil melompat mundur dan berseru dengan kata sandi dunia Kangouw kepada kawannya.
"Lui-heng, ayolah lari, lawan tidak boleh dibuat main-main!"
Habis itu secepat terbang ia lari masuk ke hutan serupa seekor tikus yang beruntung lolos dari terkaman kucing.
Kakek tegap itu juga kewalahan menghadapi Pang Bun-hiong, selagi kejut dan heran, tiba-tiba didengarnya lawan yang bergebrak dengan temannya itu adalah Liong-hiap Liong It hiong yang termasyhur, seketika runtuh semangat tempurnya, cepat ia berlagak menyabet untuk mendesak mundur Pang Bun-hiong, lalu ia melompat mundur dan kabur pula ke dalam hutan.
Bun-hiong tidak mengejarnya, It-hiong juga berdiri tanpa bergerak, meski keduanya sama-sama memiliki kepandaian tinggi, tapi sebelum tahu jelas seluk-beluk musuh tidak nanti mereka mau menyerempet bahaya dan sembarangan mengejar.
"Kenapa engkau tidak mengejarnya?"
Tanya It-hiong.
"Guruku mengajarkan kepadaku agar "penjahat yang sudah lari jangan dikejar, kalau ketemu hutan jangan dimasuki". Jika mau kejar boleh kau kejar sendiri."
It-hiong garuk-garuk kepala sambil menggerutu.
"Sungguh tolol aku ini, kalau tidak kuberi tahukan namaku tentu tidak menjadi soal. Mereka tidak tahu siapa aku baru berani bertempur denganku dan dengan begitu pula baru ada kesempatan bagiku untuk menangkap mereka."
"Jangan khawatir, cepat atau lambat mereka akan datang lagi,"
Ujar Bun-hiong.
"Kau kira mereka siapa?"
Tanya It-hiong. Bun-hiong menggeleng.
"Entah, aku cuma tahu satu hal, yaitu tadi mereka berdusta. Orang yang menyerahkan peti hitam kepadamu itu pasti bukan kawan mereka."
"Ya, orang sialan itu justru dilukai oleh mereka, tentu tidak salah lagi,"
Kata It-hiong.
"Betul, sebab mereka hendak merampas petinya,"
Tukas Bun hiong. It-hiong menunduk mengamati peti hitam itu, katanya.
"Di dalam peti pasti berisi benda mestika yang tak terkira nilainya.
"Apakah perlu kita membukanya?"
"Sudah kucoba, tak bisa buka."
"Boleh kucoba juga,"
Kata Bun-hiong sambil memegang peti itu dan diperiksa dengan teliti, dilihatnya peti itu berwarna hitam mulus, terbuat dari baja murni, di tengah peti ada dua garis celah-celah yang merapat dengan sangat erat, namun tidak ada sesuatu lubang untuk membukanya.
Ia coba menarik dan membentangnya, namun tidak mau terbuka, ia menggeleng kepala dan berkecek menyatakan rasa heran.
"Peti ini memang sangat istimewa."
"Ya, selama ini aku pun tidak pernah melihat peti semacam ini,"
Kata It-hiong.
"Aku juga tidak pernah melihat peti begini,"
Tukas Bun-hiong.
"Tapi peti ini harus dapat dibuka, soalnya kita tidak tahu cara membukanya,"
Ujar It-hiong. Bun-hiong menuding celah-celah di pinggang peti itu dan berkata.
"Umumnya sebuah peti hanya ada sebuah celah, tapi peti ini ada dua garis celah, mungkin di sinilah letak pesawat rahasianya."
Sembari bicara ia coba menggunakan jarinya untuk menolak bagian di dalam celah peti, dirasakan bagian di tengahnya ternyata dapat bergerak, serunya kegirangan.
"Hah, lihat, memang terletak pada kedua garis celah ini rahasianya."
"Coba geser lagi lebih keras,"
Kata It-hiong sepat. Bun-hiong menekan dan mendorong pula, tapi meski dicoba lagi beberapa kali tetap peti itu sukar terbuka. Ia menggeleng kepala dengan lesu, katanya.
"Aku berani tertaruh denganmu, barang ini pasti bukan buatan Tiongkok."
It-hiong tidak menanggapinya, ia sampirkan rantai peti di pundak dan berkata.
"Ayo berangkat, pulang dulu ke kota dan urusan belakang!"
Kedua orang lantas turun gunung.
"Ke mana kita akan minum arak?"
Tanya Bun-hiong.
"Sampai di kota nanti kebanyakan ramah makan tentu sudah tutup pintu, boleh ke hotelku saja."
Bun-hiong mengiakan.
"Melihat bentukku ini mustahil kalau orang tidak menyangka aku ini perantaian yang baru lolos dari bui,"
Ujar It-hiong.
"Ya, sangat mungkin."
"Sialan, sungguh celaka!"
"Jangan khawatir, kebanyakan Pothau di kota Kim-tan sudah kukenal, asal engkau selalu berada bersamaku pasti takkan terjadi perkara."
"O ya, mereka pasti memegang macam-macam anak kunci borgol, bagaimana kalau kau pinjam beberapa anak kunci pada mereka."
"Baiklah, setiba di kota segera akan kucari Ciu-pothau ...."
Begitulah sambil bicara sembari berjalan. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di Kah-pin-khek-can, hotel tempat It-hiong menginap. Bun-hiong berhenti di depan hotel dan berkata kepada Ithiong.
"Boleh kau suruh pelayan menyiapkan arak dan santapan, kupergi mencari Ciu-pothau dan segera pulang kembali."
Habis bicara ia terus pergi.
Tidak lama pelayan sudah menyiapkan semeja makanan dan arak di dalam kamar Liong It-hiong, sejenak kemudian Pang Bun-hiong juga sudah kembali.
Setelah mengenyahkan pelayan, Bun-hiong menutup pintu kamar dan mengeluarkan serenceng anak kunci, katanya dengan tertawa.
"Lihat, inilah pinjamanku kepada Ciu-pothau, seluruhnya ada belasan buah, bila tetap tak bisa membukanya maka habislah akal."
It-hiong duduk di depan meja dan menaruh pergelangan tangan di ujung meja, katanya.
"Lekas dicoba!"
Bun-hiong memilih sebuah anak kunci yang sekiranya cocok dan dimasukkan ke lubang kunci borgol yang membelenggu tangan It-hiong itu, diputarnya ke kanan dan kiri beberapa kali, namun tidak berhasil, ia menggoyang kepala dan berkata.
"Yang ini tidak cocok ...."
Ia ganti anak kunci yang lain, hasilnya tetap nihil.
Ganti lagi anak kunci ketiga, keempat, kelima dan akhirnya belasan anak kunci sudah dicoba semua, namun borgol di tangan It-hiong tetap tak terbuka.
Kembali It-hiong uring-uringan, omelnya.
"Keparat, kalau saja orang she Si itu tidak mati, tentu akan kuhajar dia hingga sekarat!"
Bun-hiong menyimpan anak kunci, katanya dengan tertawa.
"Sudahlah, jangan marah kali, apa pun juga tunggu sampai besok saja, tentu pandai besi dapat membuka borgolmu itu. Sekarang marilah kita minum arak."
Ia duduk di depan It-hiong dan menuangkan dua cawan arak, secawan disodorkan kepada It-hiong, katanya.
"Mari habiskan secawan!"
It-hiong angkat cawan dan minum habis bersama dia, katanya dengan tertawa.
"Kau sangat mencocoki seleraku, namun aku tetap akan berkelahi denganmu."
"Umpama kau tidak mau berhantam lagi juga takkan kuterima,"
Jawab Bun-hiong tertawa.
"Bicara sejujurnya, sudah sekian tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw, namun baru pertama kali ini kutemui jago kelas tinggi serupa dirimu."
"Aku juga begitu. Maka kita harus menentukan kalah dan menang .... Mari, minum secawan lagi!"
Begitulah keduanya lantas makan-minum dan mengobrol ke timur dan barat, makin bicara makin cocok satu sama lain dan arak yang mereka minum pun tambah banyak.
Tanpa terasa sudah lewat tengah malam.
Bun-hiong berdiri dan berkata.
"Aku mau pulang."
"Engkau punya istri?"
"Tidak ada."
"Jika tidak punya istri, untuk apa pulang sedini ini?"
"Sekarang sudah jauh lewat tengah malam, masa kau bilang dini?"
"Boleh kita minta tambah arak lagi, sekalian minum sampai pagi, habis itu bersama pergi mencari pandai besi."
"Tidak,"
Jawab Bun-hiong.
"Habis minum arak aku lantas mengantuk, sekarang kan waktunya orang tidur."
Sampai di sini ia memberi tanda, lalu membuka pintu dan melangkah pergi.
Terpaksa It-hiong memanggil pelayan agar menyingkirkan mangkuk piring, lalu membuka baju dan bermaksud tidur.
Namun ketika lepas baju baru diketahuinya baju tak dapat ditanggalkan.
Sebab kalau dia mau membuka baju luar, lengan kiri harus dapat lolos dari rantai dan peti hitam itu, padahal ukuran peti itu lebih besar daripada lengan bajunya sehingga sukar lolos.
Jika benar ingin membuka baju hanya ada satu jalan, yaitu memotong seluruh lengan baju kiri.
Saking gemasnya ia mengentak kaki dan mencaci maki lagi pada orang mati yang mengaku bernama Si Hin itu.
Dengan mendongkol ia pakai lagi baju luarnya, lalu merebahkan diri di tempat tidur.
Lantaran banyak minum arak, maka tidak lama setelah berbaring ia lantas mendengkur.
Kira-kira setengah jam setelah dia tidur, kertas perapat daun jendela kamarnya tiba-tiba dibasahi orang setitik, lalu dari lubang yang dibasahi itu tersembul semacam benda yang ujungnya lancip serupa paruh bangau, kemudian ada asap tertiup dari paruh bangau itu, asap perlahan buyar dan akhirnya memenuhi seluruh kamar.
Itulah Bi-hun-hio atau dupa bius.
Namun Liong It-hiong tidak merasakan apa-apa, suara mengoroknya tambah rata dan keras.
"Krek", terdengar bunyi perlahan, sebilah pisau menubles celah daun jendela dan membuka palang jendela, menyusul daun jendela lantas terbuka. Asap yang memenuhi kamar perlahan buyar keluar kamar, sejenak kemudian sebuah kepala manusia menongol di depan jendela. Nyata orang ini adalah lelaki bergolok yang semalam bermaksud merampas peti hitam di atas gunung itu. Ia mengintip dulu ke dalam kamar, lalu berpaling dan memberi isyarat tangan, kemudian dengan tangan menahan kosen jendela ia melompat ke dalam kamar. Agaknya kawannya yaitu si kakek tegap, juga ikut datang, isyaratnya itu jelas memberi tanda agar si kakek berjaga di luar. Sesudah berada di dalam kamar, dengan berjinjit-jinjit ia mendekati tempat tidur, diperiksanya keadaan Liong It-hiong, melihat anak muda itu tertidur lelap, ia yakin dupa biusnya sudah bekerja dengan baik, seketika ia merasa tabah, ucapnya dengan tertawa.
"Setan alas, sekali ini coba saja apakah kau punya kepandaian!"
Sembari berkata ia tarik pergelangan tangan kiri It-hiong ke tepi pembaringan, segera ia angkat goloknya dan membacok dengan keras.
Siapa tahu bacokannya tetap tidak dapat mengutungi tangan Liong It-hiong, serupa membacok pada sepotong kulit kering saja.
Keruan lelaki bergolak itu terkejut, cepat ia melompat mundur.
Pada saat itulah Liong It-hiong lantas melompat bangun, ucapnya dengan tertawa.
"Jangan lari, rasakan dulu banderinganku!"
Berbareng tangan kiri bergerak, peti hitam terus menyambar ke depan.
Dia memang sudah siap menyerang sejak tadi, maka peti itu menyambar dengan sangat cepat, baru saja orang itu melompat mundur sudah tersusul oleh peti hitam, terdengar suara "bluk"
Yang keras, dengan tepat dadanya tertimpa peti.
Tanpa mengeluarkan suara lelaki bergolok terus roboh terjungkal.
Sementara itu si kakek yang berjaga di luar juga mengetahui kawannya tertimpa bahaya, selagi dia hendak menerjang ke dalam kamar untuk menolongnya, tiba-tiba didengarnya di atas kamar di belakangnya ada orang menegur dengan tertawa.
"He, kawan, jangan kau ganggu tidur orang, lebih baik cari lagi diriku saja!"
Yang bicara ini ternyata Pang Bun-hiong adanya.
Dengan tertawa ia duduk bersila di emper rumah, seperti sudah menunggu sekian lamanya di situ.
Keruan pucat air muka si kakek, mana dia berani lagi menerjang ke dalam kamar, tanpa permisi ia terus lari malah ke tempat gelap sana.
"Haha, mau lari?!"
Seru Bun-hiong dengan tergelak.
Sekali kedua tangan membentang, serupa elang menyambar anak ayam, ia terus terjun ke bawah.
Namun kakek itu pun cukup licin, dengan dua-tiga kali lompatan ia dapat mencapai kaki tembok, lalu menerobos keluar hotel.
Selagi Bun-hiong hendak mengejar lebih jauh, terdengar Liong It-hiong berseru kepadanya sambil melongok keluar jendela.
"Sudah dapat kubekuk satu, tak perlu mengejar lagi."
Dengan tertawa Bun-hiong memutar balik dan melompat ke dalam kamar melalui jendela, ia pandang lelaki bergolok itu dan bertanya.
"Kau lukai dia?"
"Ya, kuhantam dadanya dengan peti hitam berantai ini, mungkin terlampau keras sehingga membuatnya kelengar,"
Tutur It-hiong.
"Kalau tahu engkau sudah siap sedia, tentu aku sudah pulang tidur,"
Ujar Bun-hiong.
"Dari mana kau tahu akan kedatangan mereka?"
Tanya Ithiong.
"Dan dari mana kau tahu mereka akan datang?"
Tanya Bunhiong. It-hiong mengangkat pundak tanpa menjawab, ia mendekati lelaki bergolok yang tak bergerak itu dan berjongkok di sampingnya, katanya.
"Mari kita bikin siuman dulu keparat ini .... Eh, bagaimana, jadinya ini?!."
Mendadak ia berseru kaget, sebab diketahuinya muka orang itu pucat lesi, tampaknya sudah mati.
Bun-hiong coba memeriksa napasnya, ternyata betul sudah tak bernapas lagi.
Dirabanya lagi bagian dada, baru diketahuinya di antara 12 tulang dada kanan sudah patah enam, tulang patah menusuk jantung atau paru-paru, tentu saja binasa sejak tadi.
"Hm, masakah cuma kau sambit dengan agak keras saja?"
Jengek Bun-hiong dengan mendongkol. It-hiong merasa menyesal, ucapnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Sialan, kukira seranganku sudah pakai kirakira, siapa tahu telah membinasakan dia."
"Tampaknya cara kerjamu lebih banyak runyam daripada suksesnya,"
Omel Bun-hiong.
"Betul, terkadang aku memang agak linglung, tanpa sadar lantas menerbitkan onar ...."
"Dan cara bagaimana membereskan dia sekarang?"
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Ini kan urusanmu, aku tidak mau ikut campur."
"Kau kira aku harus melaporkan diri telah membunuh orang?"
"Jika kau mau melapor diri, aku ada cara yang lebih baik bagimu."
"Coba katakan."
"Kau mau menurut petunjukku?"
"Baik, katakan saja."
"Sekarang naik ke tempat tidur,"
Kata Bun-hiong sambil menunjuk ranjang.
"Untuk apa?"
It-hiong melengak.
"Sesudah di tempat tidur baru kuberi tahukan."
Dengan ragu It-hiong berdiri dan menuju ke tempat tidur, ia duduk di tepi ranjang dan bertanya.
"Baiklah, sekarang boleh kau katakan."
"Rebah!"
Kata Bun-hiong. Kembali It-hiong melenggong.
"Ai, kau main gila apa?"
"Setelah berbaring segera kau tahu."
Terpaksa It-hiong menurut berbaring, katanya dengan mendongkol.
"Dan apakah perlu memejamkan mata?"
"Tentu saja, kalau sudah berbaring harus memejamkan mata, kalau tidak mana dapat tidur?!"
"Baik, segera kupejamkan mata. Tapi hendak kuperingatkan, jika ada maksudmu mempermainkan diriku, awas kaki anjingmu!"
Habis berucap ia benar-benar memejamkan mata. Dan baru saja mata terpejam, segera terdengar suara "serr"
Yang perlahan. menyusul bergema suara Bun-hiong di luar jendela.
"Tidurlah yang nyenyak, esok pagi akan kudatang lagi."
Waktu It-hiong membuka mata, dilihatnya mayat si lelaki bergolok tadi sudah hilang, ia tersenyum dan bergumam.
"Sontoloyo, bocah ini memang benar lagi mempermainkan aku."
Dia tidak bangkit lagi, tapi, terus tidur. Paginya dia terjaga bangun oleh suara gedoran pintu. Cepat ia membuka pintu kamar, kiranya si pelayan.
"Ada apa? Kau khawatir aku tidak bayar?"
Omelnya dengan mendongkol.
"O, maaf,"
Kata pelayan.
"Hamba cuma ingin tahu, kabarnya di kamar Tuan semalam seperti terjadi sesuatu."
"Betul, semalam ada maling, tapi sudah kuhajar lari,"
Sahut Ithiong.
"Maling?"
Pelayan terkejut.
"Ya, malahan bukan sembarang maling, mereka berani masuk dengan mencungkil jendela."
"Adakah kehilangan?"
Cepat si pelayan menegas.
"Syukur tidak."
"Mendingan tidak,"
Pelayan merasa lega.
"Keparat, ternyata ada maling berani mengganggu hotel ini, kalau tertangkap pasti kuhajar sampai setengah mati."
Lalu ia memberi hormat dan minta maaf pula karena telah mengganggu tidur Liong It-hiong, anak muda itu diharap tidur lagi.
"Sesudah bangun tak dapat tidur lagi, sediakan saja air cuci muka, lalu siapkan sarapan pagi,"
Kata It-hiong.
"Sediakan untuk dua orang, sebentar akan datang seorang temanku."
Pelayan mengiakan dan berlari pergi.
Selesai dia cuci muka, pelayan datang kembali membawakan sarapan pagi, dan Pang Bun-hiong juga segera muncul.
It-hiong tidak tanya cara bagaimana orang membereskan mayat itu.
ia hanya mengajaknya.
"Mari sarapan dulu!"
Tanpa sungkan Bun-hiong mengambil tempat duduk, katanya.
"Sudah kubicarakan dengan pandai besi, ia bilang dapat memotong belenggumu."
Sembari makan It-hiong berkata.
"Semalam telah kupikirkan dengan masak dan telah membuat suatu keputusan penting ...."
"Memutuskan takkan bertanding lagi denganku?"
Tanya Bunhiong.
"Bukan urusan itu, tapi mengenai peti ini sudah kuputuskan takkan membuangnya dari tanganku,"
Tutur It-hiong sambil mengangkat peti itu. Bun-hiong melengak.
"Sebab apa?"
"Sebab kalau dibuka dari belenggu ini, tentu akan gampang hilang,"
Ujar It-hiong.
"Kupikir justru lantaran khawatir peti ini akan kuhilangkan, maka orang she Si itu memborgolnya di tanganku."
"Aha, engkau tidak bergurau bukan?"
Bun-hiong menegas dengan bingung.
"Tentu saja tidak,"
Jawab It-hiong dengan serius.
"Dia menyerahkan barang ini kepadaku sebelum ajalnya, kupikir tidak boleh kubikin kecewa harapannya."
"Akan tetapi barang ini telah mendatangkan malapetaka bagimu, engkau tidak takut?"
"Ah, terlampau gawat bicaramu,"
Ujar It-hiong.
"Dengan membawa barang ini mungkin rada berbahaya bagimu, tapi kalau bilang jiwaku juga terancam, kukira tidak demikian halnya."
"Tapi untuk apa kau bawa barang ini?"
"Dengan membawa barang ini kan juga ada baiknya."
"Kebaikan apa?"
"Barang siapa ingin merampas peti ini, maka dia harus merampas diriku sekalian,"
Habis berucap It-hiong terbahakbahak senang. Bun-hiong ikut tertawa.
"Hm, engkau memang rada-rada sinting."
"Begitukah?"
It-hiong angkat pundak.
"Tapi kupikir lebih tepat jika kukatakan engkau lagi bergurau dengan dirimu sendiri,"
Kata Bun-hiong.
"Bergurau dengan dirinya sendiri kan bukan dosa toh?"
"Apakah selama hidupmu akan kau bawa barang ini?"
"Tidak, akan kuserahkan barang ini sesuai pesan orang she Si itu kepada Cap-pek ...."
"Cap-pek apa?"
Bun-hiong menegas. Kembali It-hiong angkat pundak.
"Entah, aku lupa. Tapi pada suatu hari tentu dapat kutemukan dia."
"Engkau tidak mencari nona Giok-nio lagi?"
"Urusan ini tidak terlalu penting, boleh kulakukan perlahan nanti."
"Menjual nyawa bagi seorang yang tidak kau kenal, kan tidak berharga?"
It-hiong tidak menanggapi, katanya dengan tertawa.
"Eh, akan kuuji dirimu. Jika aku bilang Cap-pek, apa yang kau pikirkan lanjutannya?"
"Cap-pek-can-te-gik (delapan belas tingkat neraka)!"
Kata Bun-hiong.
"Bukan, tidak mungkin orang she Si itu minta kuserahkan barang ini ke neraka,"
Ujar It-hiong sambil menggeleng.
"Coba pikir lagi yang lain."
"Cap-pek-lo-han (delapan belas Buddha)?"
Kata Bun-hiong pula. It-hiong berpikir sejenak, lalu menggeleng pula.
"Bukan, coba yang lain."
"Atau delapan belas jenis ilmu silat maksudnya?"
"Juga bukan, pikir lagi!"
"Atau ... atau gundik kedelapan belas maksudnya?"
"Buset, masa sampai gundik apa segala?"
Bun-hiong menyengir.
"Baiklah, sekarang tinggal satu yang terakhir, jika tetap bukan, maka aku pun angkat tangan."
"Coba katakan."
"Mungkin maksudnya si gadis berumur Cap-pek!"
"Aha betul!"
Seru It-hiong tertawa. Bun-hiong berbalik melenggong.
"Betul?!"
"Sering kuingin mencari seorang nona berumur 18, untuk diajak berkencan, sayang nasibku kurang mujur, yang kutemui selalu gadis berumur likuran."
"Kutahu di mana ada nona jelita berumur 18, bagaimana kalau kubawamu ke sana?"
It-hiong tidak menjawab, ia ke pintu dan berteriak.
"Pelayan!"
Seorang pelayan mendekat dengan berlari-lari anjing, tanyanya.
"Tuan tamu mau pesan apa?"
"Ingin kutanya padamu, adakah suatu tempat di sekitar sini bernama Cap-pek apa ...."
Pelayan berpikir sejenak, lalu menggeleng dan menjawab.
"Tidak ada, di sekitar sini tidak ada tempat demikian."
"Habis di mana ada?"
Tanya It-hiong.
"Tempat yang memakai nama Cap-pek hamba tahu ada beberapa buah ...."
"Coba sebutkan!"
"Inlam-cap-pek-ceh umpamanya (delapan belas sarang bandit di Inlam)."
"Lalu?"
"Hong-kang-cap-pek-lan? (pesisir delapan belas di sungai Hong)."
"Mana lagi?"
"Ada lagi di ... di Hopak, yaitu Cap-pek-pan-san (gunung melingkar delapan belas)."
"Aha, itu dia!"
Teriak It-hiong sambil melonjak girang.
"Memang betul Cap-pek-pan-san, memang itulah maksudnya."
Saking senangnya ia memberi persen setahil perak kepada pelayan dan menyuruhnya pergi, lalu berkata kepada Bunhiong dengan tertawa.
"Coba lihat, betapa pun pelayan itu memang berpengetahuan luas, sekali tebak saja lantas kena!"
"Apa tidak salah Cap-pek-pan-san?"
Bun-hiong menegas.
"Tidak salah lagi, sekali dia omong segera kuingat, memang betul orang she Si itu bilang Cap-pek-pan-san!"
"Tempat itu terletak di Hopak, cukup jauh!"
"Tidak menjadi soal, aku mempunyai si naga putih sakti."
"Keparat she Si itu menyuruhmu menyampaikan peti ini kepada Cap-pek-pan-san?"
"Dengan sendirinya bukan menyerahkan kepada gunungnya melainkan kepada seorang yang tinggal di sana."
"Orang yang tinggal di Cap-pek-pan-san kan sangat banyak, harus kau serahkan kepada siapa?"
"Nanti pasti dapat kuselidiki."
"Jadi benar kau mau ke sana?"
It-hiong mengangguk.
"Tentu saja betul. Orang she Si itu sudah memercayai diriku, betapa pun harus kulaksanakan cita-citanya."
"Kupikir peti ini pasti berisi benda mestika yang jarang ada."
"Betul,"
Kata It-hiong.
"Dan orang yang ingin merampasnya pasti juga tidak sedikit."
"Tepat,"
Seru It-hiong.
"Maka engkau akan dirundung kesulitan yang tak habishabisnya."
"Betul."
"Tapi jangan kau harap akan perlindunganku, setiap musim semi aku tidak mau meninggalkan daerah Kanglam."
It-hiong melotot.
"Cis, siapa yang minta perlindunganmu? Memangnya orang semacam diriku juga perlu dilindungi?"
Bun-hiong tersenyum.
"Kutahu engkau sangat cerdik dan pintar, cuma urusan ini mungkin sukar dihadapi sendirian olehmu."
"Jangan khawatir bagiku, aku takkan mati,"
Kata It-hiong.
"Kapan engkau akan berangkat?"
"Sebentar lagi, sehabis sarapan."
"Dan kapan kita akan melangsungkan duel?"
"Setelah kubereskan urusan ini segera kukembali ke sini untuk mencarimu."
Dengan tersenyum Bun-hiong berbangkit, katanya.
"Baiklah, jika begitu aku mohon diri saja."
"Baik, kira-kira pertengahan musim panas nanti aku akan kembali lagi ke sini, dalam waktu dua-tiga bulan ini sebaiknya kau giat berlatih Kungfumu agar tidak mudah kukalahkan."
Bun-hiong tidak menanggapi lagi, ia memberi salam dan tinggal pergi.
It-hiong merampungkan sarapannya hingga kenyang, lalu berbenah seperlunya, pelayan dipanggilnya untuk membereskan rekening hotel.
Kemudian berangkatlah dia menuju ke pintu utara kota dengan menunggang kudanya.
Agar orang tidak melihat borgol pada pergelangan tangannya, ia menggulung rantainya, lalu sengaja sampirkan sepotong baju pada bahu kiri untuk menutupi peti hitam.
Sekeluarnya pintu kota segera ia membedal kudanya dengan cepat.
Ia tahu kakek tegap itu pasti tidak tinggal diam dan akan menguntitnya secara diam-diam dan bila ada kesempatan tentu akan merampas peti lagi.
Sebab itulah ia sengaja melarikan kudanya dengan cepat, sedapatnya berusaha melepaskan diri dari penguntitan si kakek.
Kudanya si naga putih sakti adalah satu di antara kelima kuda ternama di dunia ini, sehari mampu berlari delapan ratus li jauhnya, sekarang kuda itu dilarikan sepenuh tenaga, tentu saja secepat terbang dan sukar disusul.
Waktu tengah hari dia sampai di Tinkang, ia makan siang sekadarnya, lalu menumpang kapal tambangan menyeberang ke utara.
Sepanjang jalan ia selalu berpaling dan menoleh, namun tidak melihat dibuntuti orang, maka ia tidak membedal kudanya lagi melainkan dilarikan dengan kecepatan umum saja.
Di bawah suara berdetak kaki kuda, perlahan sang surya sudah hampir terbenam di ufuk barat, senja sudah tiba.
Namun sejauh mata memandang hanya hutan belukar belaka, sama sekali tidak tertampak rumah penduduk, apalagi kota.
It-hiong tahu besar kemungkinan malam ini harus dilalui di bawah alam terbuka.
Namun hal ini tidak menjadi soal baginya.
Terkadang dia malah suka bermalam di alam terbuka, sebab bermalam di alam terbuka juga ada semacam kebaikan, yakni dapat menikmati ketenangan dan bebas dari gangguan apa pun, ketenangan yang tidak mungkin terdapat bila dia bermalam di hotel.
Ia meneruskan perjalanan ke depan.
Tidak lama kemudian malam pun tiba.
Bulan sabit sudah menghias di langit, serupa alis lentik melintang di ujung langit yang biru lembayung, tampaknya begitu terang dan bersih namun tetap sukar menghalau kegelapan di permukaan bumi ....
Beberapa puluh li sudah dilalui lagi, tiba-tiba di kaki gunung di depan sana muncul setitik cahaya.
Itulah cahaya lampu.
Setelah sekian lama akhirnya ditemui rumah penduduk.
Tapi hal ini tidak menimbulkan pikiran It-hiong untuk minta memondok di rumah penduduk itu, sebelum ini dia juga sering kemalaman di tengah perjalanan, tapi kecuali kehujanan biasanya dia tidak suka mohon memondok di rumah orang, soalnya dia tidak biasa tidur di rumah orang yang tidak dikenalnya.
Lantaran itulah setitik cahaya lampu di kaki gunung sana dianggapnya seperti tidak dilihatnya, ia melanjutkan perjalanan ke depan mengikuti jalan itu.
Tidak lama kemudian sampailah di kaki gunung.
Mendadak ia menahan kudanya dan memandangi hutan cemara yang lebat di lereng gunung, gumamnya perlahan.
"Ehm, sungguh indah pemandangan tempat ini!"
Memang betul, kaki gunung dengan lerengnya yang lebat terasa tenang dan keramat.
Dilihatnya pula cahaya lampu yang menembus dari balik hutan, maka ia dapat memastikannya bukan rumah penduduk biasa melainkan sebangsa rumah berhala, biara atau kelenteng.
Maka ia memutuskan akan melihat ke dalam hutan sana, jika biara atau kelenteng ia mau minta bermalam di situ.
Ia melompat turun dan menuntut kudanya ke dalam hutan, dilihatnya sebuah jalan kecil berbatu, ia menyusuri jalan itu, kira-kira seratus langkah jauhnya, benar juga terlihat sebuah kelenteng.
Dilihatnya bangunan kelenteng ini cukup megah, bangunan induknya terdiri dari tiga deret, di pintu gerbang melintang sebuah pigura dengan tiga huruf besar, cuma lantaran sudah terlalu tua sehingga apa tulisan itu tidak terbaca lagi.
Ia mengamat-amati keadaan sekitarnya, lalu menambat kudanya di dahan pohon dan mendekati kelenteng itu.
Setiba di depan undak-undakan baru dapat terlihat jelas tulisan pada pigura itu, kiranya "Sian-li-bio"
Adanya, yaitu kelenteng dewi kahyangan. Seketika tersembul senyuman It-hiong, pikirnya.
"Bagus sekali, mohon bermalam pada dewi kahyangan tentu rasanya lain daripada yang lain."
Segera ia mendekati undak-undakan dan masuk ke halaman kelenteng.
Ruangan pendopo kelenteng tampak sangat luas, yang dipuja ternyata benar sebuah patung Sian-li atau dewi.
Di atas meja sembahyang ada dua lentera gelas.
Lantai tersapu resik, melihat keadaannya jelas kelenteng ini terawat dengan baik.
Ia mendekati meja sembahyang dan coba mengamat-amati patung dewi itu, ia merasa kecantikan patung yang keramat itu tidak lebih menggiurkan daripada kecantikan perempuan biasa yang genit, maka ia tidak tertarik, ia coba berdehem perlahan, lalu berseru.
"Sepada! Permisi!"
Terdengar suara seorang tua mengiakan dan muncul.
Usia kakek ini antara 63-64 tahun, muka bersih dan agak kurus, di bawah dagu terpiara secomot janggut serupa janggut bandot, berbaju warna kelabu, tampaknya seorang tua yang ramah.
It-hiong memberi salam kepadanya dan bertanya;
"Apakah Lotiang (bapak) ini penghuni kelenteng ini?"
"Betul,"
Jawab si kakek sambil membalas hormat.
"Apakah Kongcu bermaksud sembahyang?"
"Sesungguhnya aku kemalaman dalam perjalanan dan bermaksud memondok semalam di sini, entah boleh tidak?"
"Baik, cuma Kongcu harus permisi dulu kepada Sian-li, beliau adalah tuan rumah di sini,"
Kata si kakek dengan kocak.
"Lotiang she apa?"
Tanya It-hiong.
"She Ing,"
Jawab si kakek sambil menyulut tiga batang hio atau lidi dupa dan diberikan kepada anak muda itu, tanyanya dengan tertawa.
"Kongcu sendiri she apa dan bernama siapa?"
"Aku she Liong bernama It-hiong,"
Jawab It-hiong sambil menerima dupa itu.
"Sekarang harus kukatakan apa kepada Sian-li? "Katakan saja engkau kemalaman dalam perjalanan dan mohon diperkenankan memondok semalam di kelenteng ini, selain itu kau pun boleh menyatakan sesuatu nazar."
"Nazar apa?"
Tanya It-hiong.
"Nazar apa saja sesuai kehendakmu, boleh kau mohon kepada Sian-li,"
Ujar si kakek dengan tertawa.
"Apa Kongcu sudah berkeluarga?"
"Belum,"
Jawab It-hiong.
"Jika begitu boleh engkau memohon semoga Sian-li memberkati engkau seorang istri yang cantik dan bijaksana,"
Kata si kakek.
"Sian-li kami sangat keramat, setiap permohonan pasti terkabul."
"Haha, usul bagus, biar kumohon seperti ajaranmu,"
Seru Ithiong tertawa. Lalu ia menghadap patung Sian-li dan hendak sembahyang.
"Eh, lepaskan dulu barang bawaanmu, di sini tak ada orang jahat yang akan merampas barangmu, jangan kau pegang begitu."
"Ya, betul juga,"
Ujar It-hiong, lalu ia menaruh ransel dan baju luar yang menutupi peti hitam itu di lantai. Ia mulai sembahyang dan berdoa.
"Sian-li yang mulia, hamba Liong It-hiong kemalaman dalam perjalanan, terpaksa mohon memondok semalam di sini, bila ada tindakanku yang kasar mohon diampuni. Selain itu, konon setiap permohonan kepada Sian-li tentu dikabulkan, sebab itulah hamba mohon diberkahi selekasnya mendapatkan seorang istri yang cakap dan bijaksana, untuk itu sebelumnya hamba mengucapkan banyak-banyak terima kasih."
Habis sembahyang ia tancapkan lidi dupa di dalam Hiolo (pot lidi dupa). Melihat pergelangan tangan kiri anak muda itu terdapat rantai dengan sebuah kotak, kakek itu melongo heran, tanyanya.
"Eh, barang apakah pada tanganmu itu!"
It-hiong memutar pergelangan tangan sehingga kotak hitam terjulur ke bawah, katanya dengan tertawa.
"Sebuah mestika, menarik bukan!"
Melihat barang itu terbelenggu di pergelangan tangannya, si kakek tambah heran, tanyanya pula.
"Hei, mengapa diborgol cara begitu!"
"Dengan begini supaya tidak dapat dicuri orang,"
Tutur Ithiong.
"Memangnya apa isi kotak itu?"
Tanya si kakek dengan geli.
"Maaf, tak dapat kukatakan."
"Meski tak dapat hilang karena dibelenggu pada tanganmu, tapi kan tidak sedap dipandang?"
Ujar si kakek.
"Memang betul tidak sedap dipandang, makanya kututupi dengan baju tadi,"
Kata It-hiong sambil berjongkok mengambil ransel dan baju luar tadi serta disampirkan lagi di pundak.
"Kongcu hendak menuju ke mana?"
Tanya si kakek.
"Cap-pek-pan-san,"
Jawab It-hiong.
"Apa sangat jauh?"
"Ya."
"Sudah makan malam belum?"
"Belum, namun siang tadi aku sudah makan dua kali lipat termasuk makan malam, maka tidak terasa lapar,"
Jawab Ithiong dengan tertawa.
"Di sini tersedia mi, bila Kongcu mau boleh kubuatkan semangkuk."
"Tidak, Lotiang jangan repot, sungguh aku tidak lapar. Terima kasih,"
Lalu ia menuding ke luar kelenteng dan menyambung.
"Kudaku tertambat di bawah pohon sana, tidak menjadi soal bukan?"
"Rasanya tidak apa-apa, cuma tak berani kujamin pasti takkan dibawa lari orang yang kebetulan lewat. hendaknya Kongcu sendiri hati-hati sedikit."
"Kudaku itu cukup cerdik, bila didekati orang yang mencurigakan segera akan meringkik,"
Tutur It-hiong dengan tertawa.
"Wah, tentu seekor kuda mestika,"
Ujar si kakek.
"Ya, di antara sejenisnya kudaku memang cukup ternama ...."
Ia memandang ke kanan dan ke kiri sekejap, lalu menuding pojok ruangan dan berkata.
"Boleh kutidur saja di situ."
"O, tidak, di belakang masih ada kamar kosong, silakan Kongcu ...."
Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba terdengar di luar kelenteng ada teriakan orang.
"Tolong ... tolong ...."
Dari suaranya dapat diketahui seorang perempuan muda.
Tanpa pikir It-hiong berlari keluar, sekilas tertampak dari dalam hutan di depan sana berlari keluar seorang gadis, di belakangnya mengejar seorang lelaki berkepala kecil dan bermata tikus.
Waktu lari keluar hutan, jarak lelaki itu tinggal beberapa langkah saja di belakang si gadis, saat itu dia lagi menjulurkan tangan hendak mencengkeram punggung si gadis.
Kelihatan dia menyeringai seram, serupa seekor serigala lapar hendak menerkam ayam.
Cepat Liong It-hiong melompat ke halaman di depan kelenteng sambil membentak.
"Hai, berhenti! Kau mau apa?!"
Melihat ada orang keluar dari kelenteng, lelaki bermuka tikus itu kaget dan tidak berani menguber lagi, cepat ia putar haluan dan lari masuk lagi ke dalam hutan.
Gadis itu terus berlari ke depan Liong It-hiong, lalu duduk lemas di situ sambil menangis.
Usianya antara 17-18 tahun, meski pakaiannya tidak begitu baik, namun wajahnya sangat cantik.
Cepat It-hiong menghiburnya.
"Jangan menangis, nona, orang itu sudah kabur. Sesungguhnya apa yang terjadi?"
"Dia ... dia ...."
Gadis itu menangis sedih sehingga tidak lancar bicaranya.
"Dia siapa dan apamu?"
Tanya It-hiong.
"Aku tidak kenal dia, se ... sepanjang jalan dia mengintil di belakangku, tadi dia ... dia hendak menggangguku."
"Ah, kiranya seorang pencoleng saja,"
Kata It-hiong.
"Jangan khawatir, toh nona belum sampai terganggu. Marilah, silakan mengaso di dalam kelenteng saja."
Si gadis mengusap air mata, katanya sambil merangkak bangun.
"Aku kehilangan ranselku."
"Kehilangan?"
It-hiong menegas.
"Kusangka dia hendak merampas barangku, maka kubuang ranselku, siapa tahu bukan itu yang diinginkannya ...."
"Kau buang di mana?"
"Di tengah jalan."
"Jauh tidak dari sini?"
"Aku ... aku tidak tahu jelas."
"Berisi barang apa ranselmu?"
"Ada belasan tahil perak dan beberapa potong pakaian, itulah seluruh milikku."
"Jangan khawatir, nanti kubereskan, lekas masuk saja ke dalam."
Si nona coba mengamat-amati dia, tertampil rasa curiganya.
"Siapa engkau?"
"Orang lalu dan memondok di sini."
"Apa ... apa dapat kupercayaimu?"
Kata si gadis sangsi. It-hiong menuding si kakek yang berada di belakangnya dan berucap.
"Umpama engkau tidak percaya padaku kan dapat memercayai bapak ini, dia pengurus kelenteng ini."
Keterangan ini membuat gadis itu tidak ragu lagi, segera ia melangkah ke dalam kelenteng. Si kakek mengambilkan sebuah bangku dan menyuruh si nona duduk, lalu bertanya.
"Sesungguhnya apa yang terjadi tadi?"
Dengan wajah yang masih menampilkan rasa takut si nona bertutur.
"Tadi di tengah jalan kulihat dibuntuti orang itu, aku ketakutan dan cepat berlari ke sini, melihat aku lari segera ia pun mengejar."
"Mengapa nona menempuh perjalanan malam sendirian?"
Tanya pula si kakek. Mata si nona menjadi merah dan menangis sedih lagi.
"Jangan menangis,"
Bujuk si kakek.
"Ada urusan apa, coba ceritakan kepada kami, mungkin kami dapat membantumu."
"Aku ... aku bernasib malang ...."
Tutur si nona dengan menangis.
"Siapa namamu?"
Tanya si kakek.
"Ni Beng-ay."
"Penduduk mana?"
"Tan-yang."
"Mengapa penduduk daerah Kanglam lari ke daerah utara sungai sini?"
Kembali si nona menangis sedih.
"Ah, tentu karena berbuat sesuatu, maka diusir orang tua,"
Kata It-hiong dengan tertawa.
"Omong kosong, bukan begitu halnya,"
Ujar si nona yang mengaku bernama Ni Beng-ay itu.
"Habis bagaimana urusannya?"
Tanya It-hiong.
"Ayahku sudah lama meninggal,"
Tutur Beng-ay dengan menangis.
"ibu kawin lagi, ayah tiriku itu ...."
"Ayah tirimu jahat?"
Tukar It-hiong.
"Bahkan sangat busuk,"
Kata Beng-ay.
"Dia tidak bekerja, sepanjang hari hanya berjudi dan minum arak, kalau tidak punya duit lantas memeras ibuku ...."
"Ibumu punya duit?"
Sela It-hiong.
"Tidak, terpaksa ibu bekerja, mencuci dan mengasuh anak, menjadi babu orang, upah yang didapat ibu dibuat foya-foya ayah tiriku. Karena terlampau kerja keras, tahun lalu ibu jatuh sakit dan meninggal ...."
Bertutur sampai di sini kembali ia menangis sedih lagi. Cepat It-hiong membujuk.
"Jangan menangis, jangan menangis! Lalu bagaimana?"
"Setelah ibu meninggal, aku lantas dipaksa mencarikan duit baginya,"
Tutur Beng-ay pula.
"Aku cuma dapat mencuci pakaian dan tidak sanggup mengasuh anak, maka tidak banyak duit yang kuperoleh ...."
"Tentu saja, engkau masih gadis, mana dapat menyusui anak orang,"
Kata It-hiong.
"Kemudian bagaimana?"
"Setengah bulan yang lalu, tetangga kami Liok-toama mengisiki aku, katanya ayah tiriku bermaksud menjual diriku kepada rumah pelacuran, maka aku dianjurkan lekas minggat. Sebab itulah pada waktu dia keluar rumah aku lantas melarikan diri."
"O, kasihan,"
Ucap si kakek.
"Dan sekarang kau hendak ke mana?"
"Menurut cerita ibu, ada seorang kakak ibu tinggal di kota Wanpeng daerah Hopak, maka ingin kumenumpang di tempat paman itu."
"Sungguh kebetulan, aku juga akan menuju ke Hopak,"
Kata It-hiong.
"Jika begitu besok bolehlah nona berangkat bersamaku saja."
"Apa betul?"
Terbeliak sinar mata Ni Beng-ay.
"Betul,"
Ucap It-hiong dengan pasti. Rupanya si kakek meragukan maksud It-hiong itu, bukan mustahil anak muda itu akan menculik si nona, keningnya bekernyit, katanya.
"Tadi kudengar kau bilang hendak ke Cappek-pan-san segala, mengapa sekarang berubah menjadi kota Wanpeng di Hopak?"
"Cap-pek-pan-san itu terletak di dekat Wanpeng,"
Ujar Ithiong dengan tertawa.
"Betul?"
Si kakek menegas.
"Di depan Sian-li masakah aku berani berdusta?"
Sahut Ithiong sambil menunjuk patung yang dipuja itu. Karena jawaban ini, hilanglah rasa sangsi si kakek, ia tersenyum puas, katanya.
"Jika demikian kalian boleh berangkat bersama .... Ah, apa kataku, Kongcu, bukankah Sian-li kita sangat keramat, sudah terbukti bukan?"
"Ya, ya, betul, memang setiap permohonan pasti terkabul,"
Kata It-hiong dengan tertawa.
"Tapi ingat, Kongcu, hendaknya berlaku dengan baik-baik, kalau sembarangan tentu akan menerima ganjaran setimpal,"
Ucap si kakek dengan sungguh-sungguh.
"Tentu, tentu!"
Sahut It-hiong. Ni Beng-ay memandang mereka dengan bingung, tanya.
"Hei, apa yang kalian katakan?"
"O, tidak bicara apa-apa, kami mempersoalkan urusan lain,"
Jawab si kakek.
"Eh, nona tentu sudah lapar, biar kubuatkan semangkuk mi untukmu?"
Segera ia menuju ke belakang. Sesudah si kakek pergi, dengan malu-malu barulah Beng-ay tanya It-hiong.
"Maaf, siapakah nama Kongcu?"
"Liong It-hiong."
"Untuk apa Kongcu pergi ke Wanpeng?"
"Ada orang minta bantuanku menyampaikan sesuatu kepada seorang di Cap-pek-pan-san."
"Sesuatu apa?"
Tanya Beng-ay. It-hiong mengangkat baju yang tersampir di pundaknya dan menuding peti hitam, katanya.
"Barang ini."
Melihat kotak itu berantai dan terbelenggu pada pergelangan tangan anak muda itu, mata Beng-ay terbelalak, tanyanya heran.
"Hei, barang apakah itu?"
"Terus terang, aku pun tidak tahu."
"Engkau tidak tahu?"
Beng-ay menegas.
"Ya, begini kejadiannya,"
Tutur It-hiong.
"Ketika di luar kota Kim-tan, tanpa sengaja kupergoki seorang yang terluka parah dari hampir mati ...."
Begitulah ia lantas menceritakan apa yang dialaminya.
Baru selesai bercerita, si kakek pun muncul kembali dengan membawa dua mangkuk mi kuah yang masih panas.
Ia menaruh kedua mangkuk mi di atas meja, lalu berkata.
"Mari, silakan, makanlah mumpung masih panas. Inilah mi kuah yang kubuat sendiri, cuma tanpa bumbu, harap dicicipi."
Dengan tertawa It-hiong berkata kepada Beng-ay.
"Lotiang ini sangat baik hati, kalau kita menolak rasanya kurang hormat, marilah makan saja."
Maka kedua orang lantas duduk dan mulai makan mi. Menyaksikan kedua muda-mudi itu makan dengan nikmatnya, si kakek bergelak tertawa.
"Haha, orang bilang kalau memang jodoh di mana pun bertemu. Tampaknya pemeo ini memang tidak salah. Kulihat ... haha, kulihat ...."
"Eh, Lotiang,"
Sela It-hiong sengaja.
"Tampaknya engkau jauh lebih gembira daripadaku. Apakah takkan keliru urusan ini?"
"Tidak, pasti tidak keliru!"
Seru si kakek.
"Jika Sian-li sudah memberi jasa baiknya, kutanggung tidak keliru lagi."
"Hei, apa, yang kalian bicarakan?"
Kembali Beng-ay tanya dengan bingung.
"O, tidak bicara apa-apa, cuma bergurau,"
Ujar It-hiong. Si nona memandang si kakek dan bertanya.
"Losiansing, bolehkah kumemondok satu malam di sini?"
"Tentu saja boleh,"
Jawab si kakek.
"Kau dan Liong-kongcu ini boleh bermalam di sini, besok berangkat bersama ke Wanpeng."
Beng-ay berpaling dan tanya It-hiong.
"Aku tidak tahu berapa jauh dari sini ke Wanpeng. Apakah Liong-kongcu tahu?"
"Tahu,"
It-hiong mengangguk.
"Wah, bagus sekali,"
Seru Beng-ay girang.
"Selanjutnya di tengah perjalanan mohon Kongcu suka banyak menjaga diriku, bila bertemu dengan paman akan kuminta beliau memberi tanda terima kasih padamu."
"Ah, tidak perlu, tidak perlu,"
Seru It-hiong. Sembari bicara, tahu-tahu semangkuk mi sudah habis termakan.
"Sekarang ada satu kesulitan,"
Kata si kakek.
"Di sini cuma ada sebuah kamar kosong ...."
Cepat It-hiong menanggapi.
"Kamar kosong itu boleh dipakai nona Ni saja, biar kududuk saja di pojok ruangan sini."
"Tempat tidurku terlampau kecil, kalau tidak tentu dapat Kongcu tidur bersamaku,"
Ujar si kakek.
"Jangan sungkan,"
Ujar It-hiong.
"Biarlah aku mengawasi saja di ruangan sini, sekalian menjaga kudaku."
"Jika demikian silakan nona laut masuk ke belakang saja,"
Kata si kakek kepada Ni Beng-ay.
"Di sini tidak ada orang jahat kan!"
Tanya si nona sambil berbangkit.
"Tidak, tidak ada, jangan khawatir,"
Kata si kakek.
Lalu si nona masuk ke dalam bersama si kakek.
Menyaksikan mereka masuk ke belakang, pandangan It-hiong beralih ke patung Sian-li yang dipuja itu sambil garuk-garuk kepala, gumamnya dengan tertawa.
"Sian-li ini memang keramat sekali, sungguh dia sangat cantik ...."
Tidak lama kemudian si kakek sudah datang lagi dan memberi tahu.
"Dia sudah tidur."
"Sungguh kasihan,"
Ujar It-hiong.
"Tapi nyalinya juga besar, dia berani menempuh perjalanan sendirian di tengah malam buta."
"Ya, Kongcu harus menjaganya dengan baik,"
Ujar si kakek.
"Tentu saja,"
Kata It-hiong.
"Harus kau bawa dia menemukan pamannya baru boleh kau tinggalkan dia, jangan ditinggal begitu saja setiba di Wanpeng,"
Pesan orang tua itu.
"Kutahu,"
Jawab It-hiong. Dengan suara tertahan si kakek tanya dengan tertawa.
"Kau lihat bagaimana wajahnya?"
"Belum pernah kulihat nona secantik ini,"
Kata It-hiong terus terang.
"Usianya paling-paling baru 17-18 tahun."
"Ya,"
It-hiong mengangguk.
"Jika engkau menaksir dia, hendaknya sepanjang jalan kau jaga dia baik-baik, dengan begitu baru dapat kau rebut hatinya."
"Wah, tampaknya Lotiang juga cukup berpengalaman,"
Ithiong berseloroh. Kakek itu tertawa.
"Terus terang, waktu mudaku juga sok romantis, cuma sayang aku terlampau jual mahal, akhirnya hidup hampa pada hari tua seperti sekarang. Makanya ingin kuberi nasihat padamu, orang muda hendaknya jujur dan setia dalam hal cinta, jangan sekali-kali sayang bermula dan ditinggal kemudian, bikin susah orang lain juga bikin runyam diri sendiri."
"Betul,"
It-hiong mengangguk.
"Dan kelak bila kalian jadi menikah, janganlah lupa kalian mengirim undangan kepadaku."
"Tentu, tentu,"
Jawab It-hiong tertawa.
"Baiklah, sudah jauh malam, silakan istirahat, aku pun mau tidur."
Baru saja si kakek mau masuk lagi, tiba-tiba terlihat Ni Bengay muncul dari pintu samping, keruan ia melenggong.
"Eh, nona belum lagi tidur?"
Beng-ay mendekati mereka dan memainkan ujung baju, jawabnya dengan malu-malu.
"Aku ... aku tidak ... tidak berani tidur di kamar itu ...."
"Memangnya kenapa?"
Tanya si kakek.
"Di dalam kamar banyak tikus berkeliaran,"
Tutur si nona. Si kakek tertawa.
"Ai, seorang nona besar masakah takut pada tikus?"
"Aku justru takut tikus,"
Kata Beng-ay.
"Tikus tidak menggigit manusia, bila kau gertak tentu dia lari terbirit-birit."
Beng-ay tertawa likat.
"Sesungguhnya aku rada takut tidur sendirian, maka ... maka kupikir lebih baik duduk bersama Liong-kongcu di sini sampai pagi."
"Eh, mana boleh?"
Ujar si kakek.
"Jika nyali nona ini memang kecil, biarkan dia duduk di sini bersamaku saja,"
Kata It-hiong.
"Toh duduk bersandar dinding juga dapat tidur, sama saja seperti tidur di ranjang."
"Jika begitu boleh kau rebah di bangku panjang ini,"
Kata si kakek, lalu ia memindahkan sebuah bangku panjang dari ruang samping ke situ, ditaruhnya dekat tembok, lalu berkata pula.
"Hawa sekarang tidak dingin, boleh juga tidur di atas bangku."
"Terima kasih, Lotiang,"
Kata Beng-ay.
"Biarlah kududuk saja. silakan engkau pulang ke kamarmu."
"Baiklah, aku tidak menemani kalian lagi,"
Ujar si kakek dengan tertawa.
"Bila kalian tidak dapat pulas, silakan mengobrol saja."
Lalu ia masuk lagi ke belakang. Si nona memandang It-hiong sekejap, katanya dengan malumalu.
"Aku ikut ... ikut duduk di sini takkan mengganggu dirimu?"
"Tidak,"
Jawab It-hiong dengan tersenyum. Beng-ay duduk di atas bangku, ucapnya pula.
"Sesungguhnya aku tidak berani tidur sendirian di kamar, maka ... maka ...."
"Tidak apa, sungguh tidak menjadi soal,"
Sela It-hiong.
"Ranselku hilang, kau bilang hendak menyelesaikannya bagiku, cara bagaimana akan kau selesaikan?"
Tanya pula si nona.
"Setiba di kota besok akan kubelikan beberapa potong baju bagimu, mengenai biaya dalam perjalanan biarlah semua atas bebanku."
"Wah, tidak enak rasanya."
"Tidak apa,"
Kata It-hiong. Beng-ay meliriknya sekejap dengan rasa terima kasih.
"Ai, engkau ini orang baik, kelak pasti akan kubalas budimu."
"Jangan sungkan,"
Ujar It-hiong tertawa. Perlahan si nona menghela napas, lalu berucap dengan terharu.
"Manusia memang aneh, ada sementara orang sangat baik, ada pula yang jahat, ternyata begini banyak bedanya ...."
"Kau bilang aku ini orang baik?"
Tanya It-hiong.
"Ya, belum pernah kulihat orang baik serupa dirimu. Juga orang tua tadi, kalian semua sangat baik."
It-hiong angkat pundak.
"Memang betul orang tua tadi sangat baik, tapi aku kan belum pasti bagimu, aku pernah membunuh orang."
Sembari bicara ia tepuk-tepuk pedang yang tergantung pada pinggangnya. Seperti baru sekarang si nona melihat pedangnya, dia kelihaian rada jeri, katanya.
"Apa benar engkau pernah membunuh orang?"
"Betul,"
It-hiong mengangguk.
"Engkau mahir Kungfu?"
Tanya pula si nona.
"Ya, lumayan,"
Kembali It-hiong mengangguk.
"Orang yang kau bunuh tentu orang busuk semua bukan?"
Tanya si nona setelah memandangnya sejenak dengan termangu-mangu.
"Tidak tentu,"
Sahut It-hiong sambil menggeleng.
"Di dunia ini orang baik dan orang jahat terkadang sangat sukar dibedakan. Orang yang kubunuh semuanya kuanggap pantas dibunuh, mengenai mereka sesungguhnya orang baik atau orang jahat tidak kupedulikan."
"Aku tidak paham ucapanmu,"
Kata si nona.
"Umpamanya begini,"
Tutur It-hiong dengan tersenyum.
"Misalnya sekarang mendadak datang satu orang, dia hendak membunuhku, ingin merampas kotak hitam yang terbelenggu di tanganku ini, demi membela diri, terpaksa kubunuh dia daripada aku sendiri terbunuh, tentunya aku tidak peduli lagi dia orang baik atau orang busuk."
"Apakah ada orang hendak merampas kotakmu?"
"Ya, sangat mungkin."
"Yang suka merampas barang milik orang lain kebanyakan pasti orang jahat."
"Ini pun tidak pasti,"
Kata It-hiong.
"Sampai sekarang aku sendiri tidak tahu persis apakah orang yang memberikan peti ini kepadaku itu orang baik atau jahat, sebab itulah aku pun tidak jelas orang yang akan merampas petiku ini baik atau busuk."
"Jika begitu mengapa kau sanggupi akan mengirimkan peti ini ke Cap-pek-pan-san?"
Tanya Ni Beng-ay.
"Sebenarnya aku tidak pernah menyanggupi dia, tapi mendadak dia membelenggu barang ini pada tanganku,"
Tutur It-hiong.
"Cuma kupikir isi peti ini pasti barang yang sangat penting, jika dia memercayai diriku, terpaksa aku harus memenuhi permintaannya."
"Kukira engkau ini pasti seorang pendekar budiman bukan?"
Tanya Beng-ay.
"Entah, aku tidak tahu,"
Ujar It-hiong dengan tertawa.
"Terkadang kurasakan banyak juga perbuatan busuk yang telah kulakukan."
"Eng ... engkau takkan mengganggu diriku bukan?"
Beng-ay menegas dengan rada khawatir. It-hiong tertawa.
"Tidak, takkan kuganggu dulu perempuan baik-baik terkecuali dia yang mengganggu diriku."
"Kau bilang aku akan mengganggumu?"
Si nona menegas dengan tertawa malu.
"Semoga tidak,"
Jawab It-hiong sambil memandangnya sekejap. Beng-ay menutupi mulutnya yang menguap kantuk dengan lengan baju, lalu berkata.
"Sungguh aku ingin tidur."
"Jika begitu silakan tidur saja,"
Kata It-hiong. Beng-ay memandang bangku panjang, katanya sambil menggeleng.
"Aku tidak mau tidur di atas bangku ini."
"Tapi di atas bangku kan lebih baik daripada tidur di lantai."
"Tidak, aku ingin meniru dirimu,"
Ujar si nona dengan tertawa.
Lalu ia menyingkirkan bangku itu dan duduk bersandar dinding.
It-hiong lantas memejamkan mata dan tidak bicara lagi.
Melihat anak muda itu memejamkan mata, Beng-ay tidak enak untuk mengajaknya bicara.
Tapi setelah duduk diam sebentar, agaknya ia merasa dingin, katanya sambil bersedekap.
"Wah, aku ... aku rada dingin ...."
Segera It-hiong membuka ranselnya dan mengeluarkan sepotong baju luar serta dilemparkan kepada si nona, katanya.
"Tutupkan baju ini di atas tubuhmu, mungkin akan tambah hangat."
Si nona membentang baju itu dan diselimutkan di atas badan, ia mengangguk kepada anak muda itu, katanya dengan tertawa penuh arti.
"Terima kasih."
It-hiong tidak menjawab, kembali ia memejamkan mata. Selang sebentar lagi, tubuh si nona tambah melingkar serupa ebi, keluhnya pula.
"Ai, tetap merasa rada dingin."
It-hiong berkata dengan mata tetap terpejam.
"Lebih baik kau tidur di dalam kamar saja."
"Tidak, aku ingin di sini."
"Jika begitu janganlah berkeluh kedinginan."
"Baik, aku takkan mengeluh lagi."
It-hiong lantas menyilakan kedua kakinya dan memusatkan pikiran, bersemadi serupa seorang padri. Selang tak lama lagi, kembali terdengar suara keluhan.
"Oouh ...."
Itulah suara orang yang tak tahan kedinginan.
"Kenapa lagi?"
Terpaksa It-hiong buka suara.
"O, tidak apa-apa, maaf tidak apa-apa,"
Cepat Beng-ay menjawab.
"Masih kedinginan?"
"Tid ... tidak terlalu dingin ...."
Mau tak mau timbul juga rasa kasihan It-hiong, katanya.
"Jika engkau mau, boleh kau rapatkan dirimu kemari, dengan demikian engkau akan merasa lebih hangat sedikit."
"Ap ... apa boleh begitu?"
Kata si nona dengan ragu.
"Aku sih tidak menjadi soal, terserah padamu,"
Ujar It-hiong dengan tersenyum. Muka Beng-ay menjadi merah.
"Takkan kau tertawai diriku?"
"Tidak,"
Jawab It-hiong.
"Antara kita adalah suci bersih, betul tidak?"
Tanya si nona.
"Betul,"
Jawab It-hiong pula. Beng-ay lantas mendekat ke sana dan duduk di sampingnya, katanya dengan perasaan tidak enak.
"Maaf, sesungguhnya aku kedinginan, jika kutahu malam hari di sini sangat dingin tentu aku akan pakai baju lebih tebal."
Mendadak mata It-hiong terbelalak dan memandang ke luar kelenteng, lalu mendesis.
"Ssst, ada orang!"
Beng-ay tampak terkejut, katanya dengan gugup.
"Hai, sia ... siapa?"
"Jangan takut,"
Ujar It-hiong tertawa.
"Tak peduli siapa yang datang, tidak perlu kau takut."
Dalam pada itu terdengarlah suara "tek-tok-tek ...."
Beberapa kali, suara tongkat mengetuk tanah.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba muncul seorang pengemis perempuan tua.
Usia nenek pengemis ini ada 60-an, rambutnya yang sudah kelabu tampak semrawut, tubuhnya kurus, matanya celung, membawa tongkat kayu, tampaknya seorang tunanetra alias buta.
Setiba di pintu kelenteng, lebih dulu ia gunakan tongkatnya untuk menjajaki, lalu tangan lain meraba ambang pintu, gumamnya.
"Ya, tidak keliru, akhirnya dapat kutemukan juga."
Habis berucap ia lantas beranjak ke dalam.
Tampaknya ia tidak merasakan ada orang di ruangan pendopo kelenteng, setelah masuk ke dalam, langsung ia merambat ke arah Liong It-hiong dan Ni Beng-ay berada.
"Eh, Toanio (ibu) ini, apa yang kau cari?"
Tiba-tiba It-hiong buka suara. Nenek pengemis itu terkejut dan berhenti seketika, tanyanya.
"Siapa itu? Engkau ini siapa?"
"Cayhe orang lalu di sini, lantaran kemalaman, maka memondok di kelenteng ini,"
Jawab It-hiong. Kelopak mata si nenek pengemis berkedip-kedip, katanya dengan tertawa.
"O, kiranya demikian. Aku juga ingin bermalam di sini, dahulu aku sudah pernah berteduh di sini, cukup baik bukan tempat ini?"
"Ya, resik dan terawat,"
Ujar It-hiong. Nenek itu berputar ke sebelah sana, lalu duduk berjarak beberapa kaki di kaki tembok, keluhnya.
"Ai, sungguh capek sekali."
"Toanio, engkau bekerja apa?"
Tiba-tiba Ni Beng-ay bersuara. Nenek pengemis itu tampak melengak, ia berpaling ke arah si nona dan bertanya dengan heran.
"Siapa itu yang bicara?"
"Aku,"
Jawab Beng-ay.
"Aku juga menumpang bermalam di sini."
Kembali kelopak mata si nenek yang buta itu berkedip, tanyanya.
"Engkau seorang nona?"
Beng-ay mengiakan. Nenek itu tertawa sehingga kelihatan giginya yang besar dan kuning, katanya.
"Hehe, dari suaramu kedengarannya umurmu belum ada 20."
"Betul, tahun ini aku berusia 17,"
Jawab Beng-ay.
"Apakah engkau dan tuan tadi satu rombongan?"
Kembali Beng-ay mengiakan.
"Kalian bersaudara atau ...."
"Bukan,"
Potong si nona.
"O, jika bukan saudara, juga bukan suami istri, lantas apa hubungan kalian?"
Tanya si nenek dengan tertawa.
"Ah, jangan kau tanya,"
Ujar Beng-ay. Kembali si nenek tertawa.
"Hehe, kutahu, kalian ini pasangan yang minggat bersama, betul tidak?"
"Hus, jangan sembarangan omong!"
Omel si nona. Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC
Jilid 3
"Sembarang omong? Hehe, terus terang, aku ini kan orang tua yang sudah berpengalaman,"
Ujar si nenek dengan tertawa.
"Biar kukatakan padamu, pada waktu muda aku pernah ikut minggat bersama kekasih. Rasanya memang nikmat. Cuma ... ai, justru lantaran minggat bersama orang, makanya mengalami nasib malang seperti sekarang ini. Sebab itulah ingin kuberi nasihat kepada kaum muda kalian, urusan perjodohan yang mahapenting hendaknya serahkan kepada pilihan orang tua dan jangan sekali-kali sembarangan bertindak. Mengingat kejadian dahulu, bilamana aku tunduk kepada perkataan ayah-bunda ...."
Karena nada orang seakan-akan sudah memastikan dia minggat bersama kekasih, Ni Beng-ay merasa tidak senang, cepat ia memotong.
"Toanio, jangan kau bicara lebih lanjut."
"Kenapa?"
Nenek itu merandek.
"Engkau tidak suka mendengarkan? Ehng? Engkau masih muda, tidak tahu urusan, makanya sebagai orang tua ingin menyadarkan dirimu. Hendaknya maklum, sekali telanjur berbuat bila menyesal selama hidup, ingin berpaling pun sudah terlambat. Jika engkau tidak percaya, kelak engkau tentu akan menderita."
"Engkau sungguh salah sangka, kami bukan pasangan yang minggat dari rumah, kami hanya ... hanya ...."
"Hanya apa?"
Tanya si nenek.
"Hanya sahabat yang baru berkenalan saja."
"Ah, aku tidak percaya, sahabat yang baru berkenalan mana bisa bermalam bersama di kelenteng terpencil seperti ini?"
"Ya, terserah mau percaya atas tidak!"
"Siapa namamu?"
Tanya pula si nenek.
"Ni Beng-ay."
"Kapan tanggal lahirmu?"
"Untuk apa kau tanya hal ini?"
"Aku dapat nujum, maka akan kupetangi nasibmu, apakah engkau ditakdirkan hidup bahagia atau hina, apakah ada minat?"
Beng-ay ternyata berminat, katanya segera.
"Usiaku 17 tahun ini, sio kambing, lahir tanggal 19 bulan empat waktu tengah hari. Coba ramalkan."
"Caraku nujum biasanya suka terus terang, maka jika kukatakan baik tidak perlu kau gembira, bila kukatakan jelek engkau pun jangan marah."
"Ya, tentu,"
Sahut Beng-ay. Si nenek buta lantas berkomat-kamit sambil menekuk jari jemarinya, setelah berhitung sebentar, mendadak ia menjerit.
"Wah, celaka!"
"Ada apa?"
Tanya Beng-ay kaget.
"Menurut perhitungan, nasib nona tidak begitu baik pada umur 17, tapi kelak engkau akan jaya dan bahagia, cuma ...."
"Cuma apa?"
Desak Beng-ay.
"Sekarang nasib nona lagi jelek, maka bila bertemu dengan orang asing, ada kemungkinan akan mendatangkan malapetaka bagimu."
"Hah, apa betul?"
Tanya Beng-ay khawatir.
"Tentu saja betul, ramalanku selama ini sangat jitu, maka lebih baik lekas engkau lari saja."
"Lari?!"
Beng-ay menegas.
"Ya, lari ke jurusan barat akan dapat menghindarkan malapetaka itu."
Sampai sekian lama Beng-ay melenggong, tiba-tiba ia tertawa.
"Ah, jangan Toanio menakuti, tanpa sebab tiada alasan mengapa aku akan tertimpa malapetaka?"
"Coba jawab, bukankah Siangkong yang berada di sampingmu itu baru saja kau kenal?"
Tanya si nenek.
"Betul,"
Jawab Beng-ay.
"Nah, itu dia,"
Ujar si nenek dengan prihatin.
"Maka bila engkau ingin selamat sebaiknya lekas lari saja."
Beng-ay memandang It-hiong sekejap, ucapnya dengan tak percaya.
"Masa kau anggap Liong-kongcu ini akan membunuhku?"
"Tidak dapat kupastikan siapa yang akan membunuhmu, aku cuma tahu bila kau temui orang asing pasti akan mendatangkan malapetaka."
"Ah, aku tidak percaya,"
Jawab Beng-ay sambil menggeleng.
"Sebaiknya kau percaya,"
Tiba-tiba Liong It-hiong menukas.
"Apa?!"
Teriak Beng-ay kaget.
"Apa yang dikatakan Toanio ini memang beralasan, sebaiknya lekas kau lari saja,"
Kata It-hiong.
"Jadi ... jadi benar engkau hendak membunuhku?"
Tanya Beng-ay sangsi.
"Aku tidak tahu apakah akan membunuhmu atau tidak,"
Sahut It-hiong.
"Cuma di ruangan ini penuh nafsu membunuh memang terbukti nyata, hujan badai sudah hampir tiba!"
"Ai, janganlah engkau menakuti aku,"
Pinta Beng-ay.
"Kelenteng ini sangat aman tenteram, dari mana datangnya nafsu membunuh segala?"
Tangan kanan si nenek yang kurus kering itu sedikit bergerak, katanya dengan tertawa terkekeh.
"Hehe, nona cilik, jika engkau tidak percaya kepada nasihat orang tua, tentu akan kau rasakan pahit getir."
Pada saat itu juga Liong It-hiong juga mengangkat tangan kanan dan menangkap sebuah tusuk kundai kemala yang menyambar ke arah Ni Beng-ay, katanya dengan tertawa.
"Eh, Toanio, jangan kau curigai dia, sesungguhnya dia memang seorang nona yang kesasar dan terpaksa bermalam di sini."
Tampaknya si nenek buta juga tahu tusuk kundai yang disambitkannya itu kena ditangkap Liong It-hiong, berubah juga air mukanya, serunya dengan tertawa.
"Aha, Liong-hiap memang hebat!"
"Terima kasih atas pujianmu, Miau-lolo!"
Si nenek melengak, katanya pula dengan terkekeh.
"Hehe, kiranya kau pun kenal diriku?!"
"Di dunia Kangouw terkenal It-kun (seorang Kun) Ji-ni (dua Nikoh) dan Sam-lolo (tiga nenek), jika tokoh terkenal begitu saja tidak kukenal, lalu cara bagaimana aku dapat berkecimpung di dunia Kangouw?"
"Baik, jika engkau kenal diriku, maka kita tidak perlu banyak cincong lagi, biarlah kita bicara blak-blakan saja ...."
Belum lanjut ucapan Miau-lolo atau si nenek Miau, mendadak di luar kelenteng ada orang berseru.
"Omitohud! Siancay!"
Suara memuja kebesaran Buddha itu terdengar lantang serupa bunyi genta dan berkumandang kuras ke dalam kelenteng, membuat anak telinga orang terasa sakit. Miau-lolo menarik muka, dengusnya.
"Apakah Kim-kong Taysu?"
Kembali orang itu menyebut "Omitohud", lalu muncul seorang Hwesio gendut melangkah masuk ke pendopo kelenteng.
Usia Hwesio ini antara 50-an, mukanya bulat sehingga serupa Buddha gendut yang suka tertawa itu, dia memakai Kasa (jubah Hwesio) berwarna merah, di dalamnya memakai baju belacu kuning, tangan memegang Hang-mo-tiang atau tongkat penakluk iblis, begitu masuk segera ia memberi hormat kepada ketiga orang, lalu duduk di pojok kanan ruangan.
Wajah Miau-lolo kelihatan kurang senang, jengeknya.
"Kimkong Taysu, ada urusan apa kau datang kemari?"
Hwesio yang disebut Kim-kong Taysu itu tertawa, jawabnya.
"Kebetulan aku kemalaman dalam perjalanan ini, maka ingin memondok semalam di sini, tak terduga dapat bertemu dengan Miau-toaso di sini, selamat bertemu!"
"Hm, tidak perlu kau bicara melantur denganku!"
Jengek si nenek pula.
"Ah, mana aku berani,"
Ujar Kim-kong Taysu.
"Cuma Sian-libio ini kan tempat umum, tentunya aku boleh berteduh di sini?"
Mendadak Liong It-hiong berseru lantang.
"Wah, luar biasa! Para tokoh kenamaan Kangouw yang ditakuti orang sama muncul di sini!"
Kim-kong Taysu terbahak.
"Haha, terima kasih. Aku ini kan pembawa bendera saja, peran utamanya masih belum muncul."
Belum lenyap suaranya segera terdengar suara "srak-srek"
Di luar, suara sandal terseret. Seketika terangsang nafsu membunuh Miau-lolo, jengeknya.
"Hah, bagus, rupanya setan rudin ini juga datang meramaikan tempat ini."
Menyusul suaranya seorang setengah umur tampak masuk ke ruangan pendopo dengan langkah terseyat-seyot.
Wajah orang ini tidak jelek, hanya dekil serupa sudah beberapa bulan tidak pernah cuci muka.
Bajunya yang menandakan dia seorang terpelajar juga kotor, kaki memakai sandal kulit butut, rupanya miskin dan kelakuannya rudin.
Begitu masuk ia lantas memberi hormat kepada Miau-lolo, Kim-kong Taysu, Liong It-hiong dan Ni Beng-ay, lalu tertawa dengan suaranya yang serupa burung hantu.
"Terimalah salam orang she Sun ini, semoga kalian sama selamat!"
"Duduk saja!"
Jengek Mau-lolo. Orang yang mengaku she Sun itu menjawab dengan hormat.
"Ya, baik!"
Lalu ia menuju ke samping dan duduk di situ tanpa bicara lagi. Miau-lolo berkata kepada Liong It-hiong.
"Liong-hiap, apakah kau kenal dia?"
It-hiong mengangguk.
"Tentu saja kenal. Nama kebesaran Kiong-su-sing (pelajar miskin) Sun Thian-tek sudah lama kudengar."
"Bagus, jika sudah saling kenal tentu urusan menjadi mudah dibicarakan,"
Ujar Miau-lolo.
"Dan, entah tokoh kosen mana lagi yang akan datang?"
"Mungkin masih ada satu!"
Seru Kiong-su-sing Sun Thian-tek dengan tertawa.
Baru selesai ucapannya segera di luar kelenteng bergema suara tertawa orang dan melayang masuk seorang Tojin tua.
Tojin tua ini berusia antara 60-an, mata alisnya kelihatan baik, jenggot panjang sebatas dada, memakai ikat kepala tersusun, berjubah tebal, memakai sepatu merah dan kaus kaki putih, yang dipegangnya bukan kebut, tapi sebuah Koh-ting atau tungku antik.
Jelas tungku antik itu terbuat dari perunggu, tingginya empat kaki, sekelilingnya berukir timbul, indah sekali buatannya.
Bobotnya paling sedikit ada 500 kati, akan tetapi terpegang di tangan Tojin tua ini terasa seperti barang sangat enteng.
Miau-lolo tertawa dan menegur.
"Apakah Anda ini Koh-ting Tojin?"
Tojin tua menaruh tungku antik di samping sana, lalu memberi hormat dan menjawab.
"Betul, baik-baikkah Miau-toaso selama ini?"
"Sungguh aku tidak mengerti, mengapa orang beragama seperti kalian ini masih juga memikirkan nama dan harta?"
Kata si nenek.
"Ai, janganlah Miau-toaso bicara demikian, kedatanganku hanya ingin menyuguh minum kalian beberapa cawan saja,"
Kata Koh-ting Tojin dengan tertawa. Ucapannya juga betul, sebab di dalam tungku perunggu itu berisi arak.
"Aku tidak biasa minum arak,"
Jengek Miau-lolo.
"Aku juga tidak,"
Tukas Beng-ay.
"Nona sudah hadir di sini, mana boleh tidak minum,"
Kata Sun Thian-tek. Si Tojin menarik muka, jengeknya.
"Barangkali nona menghina diriku?"
Mendadak Liong It-hiong menimbrung.
"Rasanya kurang sopan memaksa seorang nona minum arak, kukira lebih baik Totiang minum sendiri saja."
Tiba-tiba Sun Thian-tek berdehem dua kali, lalu berseru.
"Hadirin sekalian, kukira lebih baik kita kembali kepada soal pokok saja. Tentang kotak hitam itu hanya ada satu, sebaliknya kita yang mengincarnya ada beberapa orang, lalu cara bagaimana akan kita selesaikan urusan ini?"
"Sederhana dan gampang."
Tukas Kim-kong Taysu.
"Kita sekarang berenam, boleh kita bagi menjadi tiga partai dan bertanding, yang kalah silakan enyah, yang menang bertanding lagi, pemenang terakhir itulah yang akan memiliki kotak hitam itu."
"Aha, gagasan bagus, aku setuju,"
Seru Koh-ting Tojin tertawa. It-hiong lantas bangun sambil kebas bajunya dan berkata.
"Maaf, aku mengaku bukan tandingan kalian, aku mengundurkan diri dari pertandingan."
Miau-lolo, Kim-kong Taysu, Koh-ting Tojin dan Sun Thian-tek sama melenggong oleh sikap Liong It-hiong itu.
Tempat duduk Kim-kong Taysu berdekatan dengan pintu, segera ia mengacungkan tongkatnya mengadang jalan keluar sambil berseru.
"Eh, Siaucu (anak kecil), peti ini berada padamu, mana boleh kau pergi begitu saja?"
Liong It-hiong menyadari sukar untuk pergi sesukanya, terpaksa ia duduk lagi, katanya dengan tertawa.
"Wah, tampaknya aku ingin menyerah pun tidak boleh ...."
"Kau mau pergi sih boleh saja, cuma peti itu harus kau tinggalkan,"
Ucap Koh-ting Tojin. It-hiong menggeleng.
"Tidak, setelah berdampingan bersama peti ini selama beberapa hari, sudah timbul rasa sayangku kepadanya, aku tidak tega meninggalkannya."
"Jika demikian, jadi kau siap mengadu jiwa baginya?"
Tanya Koh-ting Tojin.
"Juga tidak, mengadu jiwa bagi sebuah peti kan tidak ada harganya,"
Ucap It-hiong sambil mengangkat pundak.
"Apakah boleh kutahu sesungguhnya apa isi peti ini?"
"Bagus sekali jika engkau tidak tahu,"
Ujar Koh-ting Tojin. Kiong-su-sing Sun Thian-tek lantas menuding Ni Beng-ay dan tanya Miau-lolo.
"Miau-toaso, bagaimana asal usul nona ini?"
"Aku pun tidak tahu,"
Sahut si nenek tak acuh.
"Kalian sama salah sangka,"
Sela It-hiong.
"Kedatangan nona ini bukan lantaran mengincar peti hitam ini, dia memang benar kemalaman dan ingin memondok semalam di sini."
"Dari mana kau tahu?"
Tanya Sun Thian-tek dengan tersenyum.
"Sebab aku memang suka memercayai perkataan setiap nona cantik,"
Jawab It-hiong.
"Buset!"
Kata Sun Thian-tek tertawa.
"Betul tidak nona Ni?"
Tanya It-hiong kepada Ni Beng-ay. Nona itu kelihatan gugup jawabnya.
"Apa maksudnya? Kenapa mereka curigai diriku?"
"Mereka mencurigai kedatanganmu ini juga hendak merampas peti hitam yang kubawa ini,"
Kata It-hiong sambil mengangkat peti yang terbelenggu di tangannya.
"Omong kosong,"
Kata Beng-ay.
"Untuk apa kurampas peti hitam itu? Asal mereka tidak membikin susah diriku saja aku sudah bersyukur."
"Jika nona bukan orang persilatan, silakan lekas pergi saja supaya tidak ikut tersangkut urusan ini,"
Ujar Sun Thian-tek.
"Wah, tengah malam buta, kau suruh aku pergi ke mana?"
Sahut Beng-ay dengan sedih. Lalu ia memandang It-hiong sekejap dan menampilkan maksud minta nasihat. It-hiong mengangguk, katanya.
"Ucapan Sun-tayhiap ini memang betul, lebih baik kau masuk ke dalam saja."
"Dan engkau?"
Tanya Beng-ay dengan khawatir.
"Aku tidak menjadi soal,"
Ujar It-hiong.
"Mereka takkan membikin susah padamu?"
"Mungkin tidak,"
Jawab It-hiong tertawa.
"Yang mereka incar adalah peti dan bukan diriku."
"Besok engkau tetap berangkat ke Cap-pek-pan-san atau tidak?"
Tanya si nona pula.
"Tentu pergi, biarpun peti ini dirampas orang tetap kupergi ke sana, akan kutemanimu ke Wanpeng,"
Jawab It-hiong pasti. Lega hati Ni Beng-ay setelah menerima janji It-hiong itu, perlahan ia masuk ke dalam melalui pintu samping. Sun Thian-tek tertawa, katanya.
"Nah, sudah pergi seorang, sekarang kita berempat jadi lebih mudah menyelesaikan urusan ini."
"Cara bagaimana penyelesaiannya?"
Jengek Miau-lolo.
"Boleh gunakan usul Kim-kong Taysu tadi,"
Kata Sun Thiantek.
"Kita berempat terbagi menjadi dua partai untuk bertanding, yang kalah tersisihkan, yang menang bertanding lagi dengan yang menang, dan pemenang terakhir berhak mendapatkan peti itu."
"Baik, biar aku yang menempur orang rudin macammu ini,"
Ejek si nenek.
"Boleh juga,"
Sun Thian-tek terima tantangan itu dengan tersenyum.
"Dengan cara bagaimana Miau-toaso ingin bertarung denganku?"
"Terserah padamu,"
Jawab Miau-lolo.
"Begini saja,"
Ujar Sun Thian-tek.
"Karena Miau-toaso kehilangan penglihatan, betapa pun tidak enak bagiku untuk bergebrak denganmu. Biarlah kita bermain dua macam permainan saja, boleh kau tirukan caraku lalu bergilir kutiru caramu, yang tidak mampu meniru dianggap kalah. Nah, setuju?"
"Baik, setuju,"
Jawab si nenek. Lalu Kiong-su-sing berpaling dan tanya Kim-kong dan Koh-ting berdua.
"Apakah kalian juga setuju terhadap caraku?"
Kedua orang itu sama mengangguk dan menjawab.
"Bagus, kami setuju!"
"Jika begitu, harap kalian menjadi saksi bagi kami,"
Kata Thian-tek.
"Nah, Miau-toaso, silakan engkau dulu."
Miau-lolo tidak bicara lagi, ia gunakan tongkatnya untuk menjajaki jalan dan mendekati meja sembahyang, lalu tangan meraba-raba sambil berkata.
"Adakah Hiolo (tempat lidi dupa) di sini?"
"Ada, agak di sebelah kanan,"
Kata Thian-tek.
Miau-lolo menurut dan meraba ke kanan, betul juga dapat dipegangnya Hiolo dimaksud.
Ia mengambil enam tangkai sisa lidi dupa, lalu mengeluarkan sebilah belati untuk memotong lidi dupa supaya sama panjangnya, belati disimpan kembali, kemudian ia meraba ke pintu kelenteng, dari situ ia mundur beberapa langkah, katanya.
"Nah, boleh kau lihat sejelasnya, segera aku akan mulai!"
"Silakan,"
Jawab Sun Thian-tek.
Miau-lolo menarik napas panjang, ia berdiri menghadap daun pintu dan termenung sejenak, perlahan tangan kanan yang memegang enam biji lidi itu terangkat, mendadak ia membentak sambil menyambitkan lidi dupa.
Terdengar suara "crat-crit"
Perlahan, keenam lidi dupa sama menancap di daun pintu kelenteng serupa paku dan terbentuk bunga sakura.
"Kungfu hebat!"
Seru Liong It-hiong dan lain-lain.
Kepandaian menyambitkan senjata rahasia ini memang luar biasa, sebab daun pintu kelenteng itu terbuat dari papan kayu yang keras, sedangkan sisa lidi dupa sangat kecil dan mudah patah, namun si nenek sanggup menyambitkannya dan menancap serupa paku, bahkan membentuk kelopak bunga Bwe, jika dia tidak memiliki tenaga dalam yang lihai dan gerak tangan yang terlatih, tidak mungkin dia mampu berbuat demikian.
Miau-lolo sangat senang, katanya.
"Nah, sekarang giliranmu si rudin!"
Sun Thian-tek berdiri, katanya sambil menggeleng.
"Wah, Kungfu Miau-toaso ini sungguh hebat, mungkin tidak sanggup kutirukan ...."
"Jangan sungkan, lekas silakan coba,"
Ucap si nenek dengan tertawa.
Sun Thian-tek lantas mendekati meja sembahyang juga dan mengambil enam lidi dupa, dipotongnya juga hingga rata, lalu berdiri di tempat Miau-lolo tadi, katanya dengan hormat kepada Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin.
"Terpaksa kulakukan sebisanya, jika tidak sanggup menirukan Miautoaso, harap jangan kalian tertawai diriku."
Kim-kong dan Koh-ting hanya tersenyum saja tanpa bersuara.
Thian-tek juga berdiri diam sejenak untuk mengumpulkan tenaga dalam, mendadak ia pun mengertak sekali, tangan bergerak dari bawah ke atas, enam tangkai lidi kecil ditolak ke depan.
"Cret", keenam lidi pun menancap di daun pintu, juga membentak bunga Bwe yang berkelopak lima. Kembali Liong It-hiong, Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin bersorak memuji.
"Kungfu hebat, sungguh luar biasa!"
"Bagaimana?"
Tanya Miau-lolo dengan air muka rada berubah.
"Sama, serupa benar!"
Tutur Kim-kong Taysu.
"Hm, coba kuperiksa sendiri,"
Jengek Miau-lolo perlahan, ia mendekati daun pintu dan merabanya sejenak, lalu mengangguk dan berkata.
"Hm, tak tersangka si rudin ini boleh juga."
Sun Thian-tek memberi hormat dan tertawa.
"Terima kasih atas pujianmu, sungguh beruntung!"
"Sekarang coba kau tiru lagi yang ini,"
Kata si nenek sambil menggeser mundur dua tindak. Melihat permukaan lantai yang baru saja terinjak si nenek, tanpa terasa Liong It-hiong bersorak pula.
"Sungguh Kungfu yang lihai, hari ini aku benar-benar banyak bertambah pengalaman."
Setelah melihat apa yang terjadi, Kim-kong dan Koh-sing juga mengunjuk rasa kagum sambil mengangguk, kata mereka.
"Injakan Miau-toaso ini terlebih hebat lagi!"
Kiranya pada waktu menggeser mundur tadi, diam-diam si nenek telah meninggalkan kedua bekas telapak kaki sedalam tiga inci di permukaan lantai.
Padahal lantai ruangan kelenteng terdiri dari ubin yang tebal, tapi tanpa bersuara kakinya dapat ambles dan mencetak bekas kaki sedalam itu, Kungfu ini sungguh jarang terdengar dan sangat mengejutkan.
Berubah juga air muka Sun Thian-tek, ucapnya dengan menyengir.
"Wah, Kungfu sehebat ini mana kusanggup ...."
"Kembali kau sungkan lagi,"
Ujar si nenek dengan tertawa.
"Padahal ini pun bukan Kungfu yang luar biasa, asalkan menguasai Lwekang taraf tertentu saja pasti sanggup ...."
"Tapi Lwekangku jelas selisih jauh dibandingkan Miau-toaso,"
Tukas Sun Thian-tek.
"Sudahlah, lekas lakukan, tidak perlu banyak omong lagi,"
Kata si nenek. Mendadak Sun Thian-tek juga menggeser mundur dua langkah, waktu ia memandang lantai, ia menggeleng kepala dan berucap.
"Memang tidak bisa, babak ini aku menyerah kalah."
Kiranya pada waktu bicara tadi diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam untuk membuat bekas kaki di atas ubin.
Cuma dalamnya tidak dapat melebihi tapak si nenek, malahan satu di antara ubin yang terinjak itu ada tanda retak.
Ini memang tanda Lwekang yang belum sempurna.
Koh-ting Tojin lantas melangkah maju dan memeriksa sejenak, lalu berkata.
"Ya, babak ini memang Sun-tayhiap kalah."
"Benar, aku mengaku kalah, cuma berapa jauh kalahnya harus diberi penilaiannya,"
Ucap Sun Thian-tek.
"Maksudmu?"
Tanya Koh-ting.
"Bicara terus terang, di antara kita berempat masing-masing mempunyai kepandaian khas sendiri, ada yang unggul dalam hal Lwekang, ada yang asor dalam hal Gwakang dan sebagainya, atau dengan lain perkataan, meski babak ini aku tidak dapat menandingi Miau-toaso, namun kalahnya juga tidak selisih terlalu jauh, maka bila nanti pada babak lain ada keunggulanku di atas Miau-toaso, tentu akan sukar ditentukan siapa yang harus dinyatakan sebagai pemenang."
"Beralasan juga uraianmu,"
Ujar Koh-ting Tojin.
"Lantas cara bagaimana sebaiknya menurut pendapat Sun-tayhiap?"
"Begini,"
Tutur Thian-tek.
"Bekas kaki Miau-toaso itu sedalam tiga inci, sedangkan tapak kakiku cuma dua inci, bahkan membikin retak sebuah ubin, maka babak ini boleh dianggap Miau-toaso mendapat angka 10 dan aku cuma mendapat 4, ini berarti Miau-toaso lebih banyak mendapat 6 angka. Jika perhitungan cara begini diteruskan barulah dapat menentukan kalah menang dengan tepat. Coba, apakah kalian setuju?"
Koh-ting Tojin tidak keberatan, ia coba tanya Miau-lolo.
"Bagaimana, apakah Miau-toaso setuju?"
"Baik, cuma harus kuperiksa juga hasil cetakannya apakah pantas diberi angka 4 atau tidak,"
Kata si nenek. Ia mendekati kedua tapak kaki cetakan Sun Thian-tek itu dan berjongkok, setelah diraba beberapa kali, akhirnya ia mengangguk, katanya dengan tertawa.
"Ya, sudahlah, boleh juga dianggap mendapat angka 4."
"Jika demikian, sebentar bila Miau-toaso bertanding seri satu babak dan babak lain engkau cuma mendapat angka 3, itu berarti Toaso yang kalah,"
Kata Thian-tek dengan tertawa.
"Betul, sebaliknya jika aku mendapat angka lima berarti dirimu si rudin ini yang keok,"
Sahut Miau-lolo.
"Benar!"
Seru Thian-tek.
"Nah, sekarang giliranmu dulu!"
Kata si nenek.
"Permainan yang dapat kuperlihatkan tidaklah banyak, babak pertama yang hendak kupertunjukkan adalah main akrobat,"
Seru Thian-tek dengan tertawa.
Habis berkata ia terus melompat ke atas dan berjumpalitan tiga kali di udara, lalu melayang turun dengan ringan.
Hal ini sama di luar dugaan Koh-ting Tojin dan Kim-kong Taysu.
"Hanya begini saja?"
Tanya mereka heran.
"Betul, cuma begini saja,"
Thian-tek mengangguk.
Miau-lolo tidak percaya Sun Thian-tek hanya menggunakan main jumpalitan di udara untuk menentukan kalah menang, ia yakin pasti waktu berjumpalitan itu si pelajar miskin itu telah menggunakan semacam Kungfu istimewa yang tidak dijelaskannya, maka ia lantas berteriak.
"Tidak, ini tidak adil!"
"Tidak adil bagaimana?"
Tanya Thian-tek dengan tertawa.
"Kau tahu aku tidak dapat melihat, mana dapat kutirukan caramu dengan tepat?"
Ujar si nenek.
"Miau-toaso tidak perlu berbuat serupa dengan diriku, cukup asalkan engkau juga berjumpalitan tiga kali saja di udara."
"Hanya begitu saja?"
Kembali si nenek menegas dengan ragu.
"Betul, hanya begitu saja,"
Jawab Thian-tek. Mau tak mau si nenek memperlihatkan rasa sangsinya, katanya kemudian.
"Hm, sesungguhnya engkau si rudin ini hendak main gila apa?"
"Tidak main gila apa-apa, hanya main berjumpalitan saja,"
Ucap Thian-tek. Berkedip-kedip kelopak mata Miau-lolo yang buta itu, mendadak ia mendengus.
"Hm, mengertilah aku."
"Oo, mengerti apa?"
Tanya Thian-tek.
"Pada waktu aku berjumpalitan nanti, tentu akan kau sambitkan senjata rahasia untuk merobohkan aku, bukan?"
Thian-tek menggeleng.
"Tidak, tidak nanti kulakukan perbuatan pengecut seperti itu. Jika aku berbuat demikian, tentu Kim-kong Taysu dan Koh-ting Totiang takkan mengampuniku."
"Betul. Jika dia main gila dan berbuat curang, tidak nanti kuampuni dia,"
Tukas Kim-kong Taysu.
"Nah, sudah Miau-toaso dengar sendiri, tentu engkau tidak perlu khawatir lagi bukan?"
Seru Thian-tek dengan tertawa.
Hati Miau-lolo agak lega setelah mendapat jaminan begitu, namun dia tetap sangsi, ia tidak mengerti mengapa lawan menggunakan permainan sepele ini untuk mengunggulinya?
Tapi sekarang tiada pilihan lain lagi baginya, segera ia berkata kepada Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin.
"Baik, harap kalian menaruh perhatian di udara, hendaknya jangan kalian membiarkan dia kabur!"
"Baik, biasanya aku pun benci kepada orang yang suka main licik dan curang, Miau-toaso tidak perlu khawatir,"
Seru Kohting Tojin.
Sebelum lenyap suara orang, mendadak Miau-lolo melompat tinggi ke atas, di tengah udara berturut-turut ia berjumpalitan tiga kali, habis itu dengan tangan terpentang ia hinggap kembali di permukaan lantai dengan enteng.
"Hah, bagus, babak ini kita sama kuat,"
Seru Thian-tek sambil berkeplok tertawa. Miau-lolo kurang senang, jengeknya.
"Hm, sengaja kau gunakan Kungfu anak ingusan ini untuk menguji diriku, sengaja kau hina diriku bukan?"
"Jangan Miau-toaso salah paham,"
Jawab Thian-tek dengan tertawa.
"Untuk pertandingan selanjutnya, masa Miau-toaso tidak ingin menyimpan tenaga sedikit?"
Baru sekarang si nenek menyadari maksud tujuan pelajar miskin itu, ia terkekeh.
"Hehe, betul juga perkataanmu. Cuma apakah kau yakin pada babak berikutnya pasti dapat mengatasi diriku?"
"Tentu saja,"
Sahut Thian-tek pasti.
"Pada permainan babak kedua kuyakin Miau-toaso takkan mampu meniru diriku."
"Kentut!"
Semprot si nenek.
"Apa kepandaianmu, coba keluarkan saja!"
"Sesuai perjanjian semula, apa yang kulakukan harus ditirukan Miau-toaso, jika engkau tidak berani ikut berbuat dengan cara yang sama berarti engkau kalah, begitu bukan?"
Thian-tek sengaja menegas lagi.
"Betul, tidak perlu cerewet, ayolah keluarkan kepandaianmu,"
Seru si nenek tak sabar lagi. Sun Thian-tek lantas mengeluarkan sebuah botol obat terbuat dari kayu, lalu berkata dengan tertawa.
"Nah, babak kedua ini boleh kita berlomba makan obat."
Berubah air muka si nenek.
"Makan obat apa?"
Tanyanya.
"Dengan sendirinya obat racun,"
Jawab Thian-tek dengan tak acuh.
"Kalau berlomba makan obat kuat, kan lebih menguntungkan dirimu yang lebih tua."
Tergetar tubuh si nenek, seketika ia tergegap, katanya.
"Engkau seng ... sengaja bergurau denganku?"
"Tidak, aku tidak perlu bergurau, tapi sungguh-sungguh,"
Kata Thian-tek. Miau-lolo berpaling dan berkata kepada Kim-kong dan Kohting Tojin.
"Harap kalian memberi keadilan, coba katakan apakah masuk di akal bertanding makan obat racun cara begini?"
Cepat Thian-tek mendahului bicara.
"Sejak mula kan tidak ada ketentuan tidak boleh berlomba makan obat racun, coba jawab lebih dulu?"
Kening Kim-kong Taysu bekernyit, tentu saja ia merasa serbasusah. Koh-ting Tojin juga kelihatan, prihatin, setelah termenung sejenak baru menjawab.
"Miau-toaso, ucapan Sun-tayhiap memang beralasan. Sebelumnya kita memang tidak menentukan apa yang boleh dipertandingkan dan apa yang tidak boleh, sebab itulah jika dia minta berlomba makan racun, terpaksa engkau harus mengiringinya."
Saking gemas sampai badan Miau-lolo gemetar, teriaknya.
"Tapi makan racun terhitung ilmu silat macam apa?"
Dengan serius Sun Thian-tek berkata.
"Miau-toaso kan kawakan Kangouw juga, mengapa kau bicara seperti anak kemarin saja? Makan racun tentu juga semacam Kungfu. Jika kau mampu, boleh kau kerahkan Lwekangmu untuk menahan bekerjanya racun. Dan pertandingan kita justru terletak di sini, bilamana engkau tidak mampu menahan serangan racun biarkan engkau mati keracunan."
Muka Miau-lolo merah padam, tanyanya.
"Lantas bagaimana bila kita sama-sama dapat menahan bekerjanya racun dan tidak mati?"
"Takkan terjadi demikian,"
Ujar Thian-tek.
"Racunku ini sangat keras, asal makan satu biji saja bagi orang biasa, dalam waktu singkat dari mulut-hidung-mata-telinga akan berdarah dan mati seketika. Bagi kita yang memiliki Lwekang taraf tertentu mungkin perlu makan beberapa biji baru bisa mati. Maka caraku ini adalah aku makan dulu satu biji, lalu engkau ikut makan satu biji, sejenak kemudian bila kita tidak keracunan, lalu kumakan lagi sebiji dan engkau pun ikut makan pula sebiji, dan begitu seterusnya, baru berhenti bilamana seorang sudah binasa keracunan."
Miau-lolo hanya, mendengus saja tanpa menanggapi. Sun Thian-tek lantas membuka tutup bobol, katanya pula.
"Supaya adil dan tidak menimbulkan sangkaan jelek, biarlah kuserahkan botol racun ini untuk dipegang Koh-ting Totiang, beliau yang akan membagikan pil racun kepada kita dan ...."
Bicara sampai di sini ia lantas menyerahkan botol racun itu kepada Koh-ting Tojin, lalu mengangsurkan tangan dan berucap pula.
"Sekarang silakan Totiang menuangkan satu biji kepadaku."
Koh-ting menurut, dituangnya satu biji pil racun, diendusnya dulu, lalu tertawa.
"Hah, bau racun ini ternyata sangat harum!"
"Betul memang sangat harum, namun satu biji racun ini cukup untuk meracun mati seekor kerbau,"
Seru Thian-tek dengan tertawa. Koh-ting memberikan pil racun itu kepada Sun Thian-tek, katanya.
"Miau-toaso, sekarang sudah kuberikan satu biji pil racun kepada Sun-tayhiap."
Miau-lolo mendengus.
"Hm, kalau berani kenapa tidak kau makan saja dua tiga biji sekaligus?!"
"Baik, harap Totiang memberikan dua biji lagi,"
Kata Thiantek.
"Wah, kukira Miau-toaso perlu pikir panjang,"
Ujar Koh-ting dengan tertawa.
"Sebab kalau sekali makan Sun-tayhiap menghabiskan tiga biji, Miau-toaso sendiri juga harus ikut makan tiga biji."
"Kutahu, tidak perlu kau jelaskan,"
Sahut si nenek mendongkol. Segera Koh-ting menuangkan lagi dua biji pil racun itu kepada Sun Thian-tek, katanya dengan terkekeh.
"Hehe, tak tersangka Sun-tayhiap ini menganggap makan obat racun sebagai kepandaian istimewa. Sungguh mengagumkan."
Thian-tek terus menerima pil itu dan sekaligus dijejalkan ke dalam mulut terus ditelan, katanya.
"Nah, sudah kuminum semua!"
"Harap Totiang mewakili diriku untuk memeriksanya, apakah pil itu tidak terselip di bawah lidahnya,"
Pinta si nenek buta. Tanpa disuruh segera Sun Thian-tek membuka mulutnya lebar-lebar, katanya dengan suara kurang lancar.
"Silakan Totiang memeriksanya!"
Koh-ting mengamat-amati mulut Thian-tek, terlihat ketiga biji pil tadi memang betul sudah diminumnya, maka ucapnya.
"Ya, semuanya memang betul sudah masuk perut Sun-tayhiap."
Air muka Miau-lolo tampak gelap, jengeknya.
"Jika Thian bisa menimbang, seharusnya membikin engkau si rudin ini mati keracunan."
"Jangan khawatir, Miau-toaso,"
Seru Thian-tek dengan tergelak.
"Selama hidupku ini hampir tidak pernah hidup senang, kuyakin takkan mati secepat itu."
Lalu ia berkata pula kepada Koh-ting Tojin.
"Nah, harap Totiang pun menuangkan tiga biji untuk Miau-toaso."
Segera Koh-ting menuang tiga biji pil racun seperti apa yang diminta dan disodorkan kepada Miau-lolo, katanya.
"Silakan makan, Miau-toaso!"
"Tidak, aku tidak mau makan,"
Sahut si nenek.
"He, mana boleh tidak makan?"
Seru Koh-ting dengan melenggong.
"Kenapa tidak boleh?"
Jengek Miau-lolo.
"Jika tidak kau makan berarti babak ini dimenangkan Suntayhiap, engkau tidak berhak ikut berebut peti lagi,"
Kata Kohting.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
Tanya si nenek.
"Sun-tayhiap sedang mengerahkan tenaga untuk menahan serangan racun,"
Tutur Koh-ting Tojin.
Memang betul, saat itu Sun Thian-tek telah duduk bersila di lantai dan mulai mengerahkan Lwekang untuk menahan racun yang mulai bekerja di dalam perut.
Hal ini sama dengan pertarungan antara mati dan hidup, tidak seberapa lama, kening Sun Thian-tek tampak berkeringat.
"Hm, aku justru tidak percaya dia mampu menahan serangan racun, tentu dia sedang main gila,"
Ujar Miau-lolo.
"Miau-toaso,"
Ucap Kim-kong Taysu dengan kereng.
"Sesungguhnya engkau mau makan atau tidak, kalau tidak makan berarti engkau kalah."
Alis si nenek menegak, katanya.
"Kalah juga boleh, memangnya kenapa?"
"Jika begitu, engkau tidak berhak ikut berebut peti lagi, silakan meninggalkan kelenteng ini,"
Kata Kim-kong Taysu.
"Hm, buat apa terburu-buru?"
Jengek si nenek.
"Aku justru ingin tahu apa benar dia takkan mati."
"Jika Sun-tayhiap berani makan, tentu dia yakin mampu mengatasi bekerjanya racun. Tapi seumpama Sun-tayhiap mati keracunan tetap engkau dianggap kalah, sebab engkau tidak berani menirunya makan racun."
Miau-lolo mendengus gusar.
"Hm, aneh juga. Aku kan sudah mengaku kalah, kenapa kau omong terus-menerus?"
"Haha, jangan Miau-toaso gusar, soalnya kita perlu bicara sejelasnya agar tidak menimbulkan sengketa di belakang,"
Seru Kim-kong Taysu dengan terbahak. Dengan muka cemberut Miau-lolo tidak bicara lagi. Sejenak kemudian, tertampak Sun Thian-tek mengembuskan napas, lalu berdiri perlahan, ucapnya dengan tertawa.
"Miautoaso, dapatlah kupunahkan semua racun yang kuminum, apa pula yang kau tunggu?"
"Apa betul racun yang kau makan?"
Mendadak si nenek menegas.
"Jika engkau tidak percaya, boleh juga kau makan sekarang,"
Jawab Sun Thian-tek dengan tertawa.
"Asalkan engkau tidak mati keracunan, babak ini tetap kita anggap seri."
Malu dan gusar pula si nenek, ia mengentak tongkatnya dan berkata dengan gemas.
"Baik, aku mengaku kalah saja, sampai bertemu lagi kelak!"
Habis bicara ia terus melangkah keluar kelenteng. Dengan tersenyum Sun Thian-tek memandangi kepergian nenek itu, lalu dimintanya kembali botol tadi, kemudian duduk lagi di samping, katanya.
"Dan sekarang menjadi giliran kalian berdua untuk bertanding."
Koh-ting Tojin tertawa, katanya.
"Baiklah, lantas cara bagaimana kita akan bertanding, Kim-kong Taysu?"
"Selama berpuluh tahun ini entah sudah berapa kali kita telah bertanding dan selama ini apakah engkau pernah menang?"
Kata Kim-kong Taysu.
Baca Juga: Golok Kumala Hijau 3
Baca Juga: Neraka Hitam 4