Ceritasilat Novel Online

Raja Naga Tujuh Bintang 2

Eps 2 Raja Naga Tujuh Bintang - Khu Lung

Baca online Raja Naga Tujuh Bintang - Khu Lung

Cersil Raja Naga Tujuh Bintang - Khu Lung.

Walaupun orang yang perhitungannya sangat cermat seperti Tian Ji Zi pun tidak akan menyangka mereka akan pergi ke tempat seperti itu.Tidak ada seorang pun menyangka mereka akan bersembunyi di tempat seperti itu.

kota Ji Nan adalah sebuah kota lama, juga kota yang terkenal.

Bangunannya banyak dan hasil buminya melimpah.

Kantor pemerintahan di kota Ji Nan memiliki arsitektur yang megah dan mewahi dan jauh lebih luas dibanding dengan kebanyakkan gedung pemerintahan lainnya.

Bangunan penjara di kota Ji Nan sangat kokohi penjagaan sangat ketat, sangat sulit bagi orang untuk melarikan diri dari tempat itu.

Walaupun sulit bagi orang untuk melarikan diri dari tempat itu, apakah sama sulitnya bagi orang untuk masuk ke tempat itu?

Tidak pernah ada seorang pun yang menyelidikinya.

siapa yang bersedia tanpa alasan sengaja masuk ke dalam penjara?

Ada juga yang bersedia, paling tidak ada dua orang yang bersedia.

setiap bangunan penjara pasti ada ada sisi gelapnya, penjara di kota Ji Nan juga tidak terkecuali.

Para tahanan yang dimasukkan ke dalam penjara ini, asalkan mendengar tempat para dewa tiga kata itu, pasti akan ketakutan sampai berkeringat dingin.

Tentu saja tempat itu bukan benar-benar tempat para dewa, juga bukan tempat di mana para dewa berada.

Tempat para dewa adalah sebuah ruangan penjara yang paling menakutkan yang ada di dalam penjara kota Ji Nan.

Hanya penjahat yang paling jahat yang dimasukkan ke dalam ruangan ini.

saat ini penjahat yang dimasukkan ke dalam ruang itu ada dua orang, mereka adalah penjahat yang menunggu putusan hukuman mati.

Mereka adalah penjahat yang dihukum setimpal atas perbuatannya karena mereka adalah penjahat yang bengis dan kejam.

Pada tanggal 17 bulan 4 itu, di saat dini hari yang paling gelap.

tiba-tiba mereka dibangunkan dari mimpi indah mereka.

Tiba-tiba di dalam ruangan penjara mereka yang gelap ada tambahan dua orang asing lain.

Mereka tidak dapat melihat dengan jelas wajah kedua orang itu, hanya mengetahui bahwa salah satu di antara mereka ada yang lebih tinggi.

Kedua tahanan hukuman mati itu sangat senang.

Mereka menyangka teman mereka yang di luar sana datang untuk menolong mereka.

Di dalam kegelapan, orang yang lebih tinggi itu berkata kepada mereka dengan pelan.

"Aku datang untuk mengantar kalian."

"Mengantar kami ke mana?"

Tahanan itu balik bertanya. orang itu berbicara dengan lebih sopan.

"orang seperti kalian, selain pergi ke neraka lapisan ke delapan belas masih bisa pergi ke mana lagi?"

Tahanan itu sangat tersinggung dan marah, mereka hendak bangkit tapi sekujur tubuh mereka tidak bisa bergerak.

orang yang tinggi itu hanya menggunakan satu buah jarinya untuk menahan mereka.

Mereka biasanya adalah pembunuh berdarah dingin dan tentu saja ahli, tetapi di hadapan orang yang bertopeng itu mereka hanya seperti seekor ulat saja.

Mereka bertanya kepada orang ini sambil mengeluarkan keringat dingin.

"Apakah kita mempunyai dendam?"

"Tidak."

"Apakah kami punya dosa terhadapmu?"

"Juga tidak."

"Jika tidak punya dosa ataupun dendam, mengapa kau mau membahayakan dirimu sendiri datang ke tempat ini untuk mengambil nyawa kami?"

Jawaban yang diberikan lawan sama sekali tidak disangka oleh mereka bahkan dalam mimpi sekalipun, membuat yang mendengarnya ingin menangis tidak bisa, ingin tertawa juga tidak bisa, mati pun tidak bisa menutup mata.

Adapun alasan mereka untuk masuk ke dalampenjara ini membunuh mereka hanya...

"Aku hanya ingin meminjam tempat ini untuk tidur."

Tentu saja orang yang bertopeng ini adalah Wu Tao.

orang yang berdiri di belakangnya melihat dia membunuh orang, selain Yuan Bao, tidak akan mungkin orang lain.

Yang tidak akan disangka orang adalah keberadaan Yuan Bao bukan karena disandera oleh Wu Tao.

Yuan Bao sendiri yang ingin mengikuti Wu Tao.

Di dalam kamar yang gelap itu, sesudah menewaskan jagoan cakar elang dari Huai Nan dengan menggunakan teknik yang luar biasa dalam sekejap mata, dia menarik Yuan Bao dengan menggunakan sebelah tangannya dan melemparkannya ke luar jendela.

Tetapi sebelum Yuan Bao menyentuh tanah, tiba-tiba sudah ditangkap lagi dengan menggunakan sebelah tangannya.

Kemudian Yuan Bao menyadari bahwa dia sudah berada di luar bumbungan.

"Astaga,"

Seru Yuan Bao.

"Bagaimana cara kau melatih tenaga dalammu sampai seperti itu? Kau ini sebenarnya manusia atau hantu?"

"Kadang manusia, kadang hantu,"

Wu Tao berkata dengan tanpa ekspresi.

"Kadang setengah manusia, setengah hantu. Kadang bukan manusia juga bukan hantu. Kadang aku sendiri tidak tahu aku ini manusia atau hantu."

Dari nada suaranya tersirat penderitaan serta kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi untungnya Yuan Bao tidak merasakannya.

sialnya, Yuan Bao lagi-lagi seperti yang merasakannya sedikit.

Yang diketahui pengemis kecil ini sepertinya lebih banyak dari yang seharusnya diketahuinya, karenanya dia berkata.

"sekarang apakah kau ingin membunuhku untuk menutup mulutku?"

"Membunuhmu?"

Wu Tao tertawa dingin.

"Kamu tahu apa? Mengapa aku harus membunuhmu?"

"Paling tidak aku tahu kau telah membunuh orang."

"Memangnya kenapa?"

Dari nada suara Wu Tao tersirat penderitaan dan kesedihan.

"Memangnya di dunia ini yang pernah membunuh orang hanya aku seorang?"

Yuan Bao memandanginya lalu mengeluh.

"sebetulnya aku tahu kalau orang itu bukan dibunuh olehmu."

"oh?"

"Dia itu mati ketakutan,"

Kata Yuan Bao.

"sebelah tanganmu menahan kedua belah cakar elangnya, lalu membisikan sesuatu ke telinganya. Aku mendengar suara dia terduduk di atas pantatnya, lalu mencium bau yang tidak sedap."

Yuan Bao berkata lagi.

"Aku dengar kalau orang yang mati ketakutan pasti seperti itu."

"Hal yang kauketahui tidak sedikit."

"Aku juga tahu bahwa orang itu memang pantas mati."

"Mengapa?"

Tanya Wu Tao.

"Dia sama sekali tidak mengenalmu, hanya ingin membawamu pergi untuk ditanyai, tapi begitu masuk langsung menggunakan tangannya sepertinya hendak menghancurkan persendianmu,"

Kata Yuan Bao.

"orang seperti dia dalam melakukan apapun biasanya pasti kejam, sadis, dan bengis. Mungkin memang sudah seharusnya mati."

Wu Tao menatapnya lama, walaupun di wajahnya tidak ada ekspresi apapun, tetapi di dalam matanya terdapat ekspresi yang jarang dilihat orang dan sukar untuk dijelaskan.

"Pergilah."

Dia berkata.

"Cepat pergi "

"Aku tidak mau pergi, aku juga tidak boleh pergi."

"Mengapa?"

"Jika orang lain bisa menemukanmu, pastinya mereka juga tahu kalau aku ikut bersama denganmu,"

Kata Yuan Bao.

"Jika sekarang kau pergi begitu saja, aku juga tidak tahu kau pergi ke mana. Kalau tertangkap oleh mereka pasti akan dipukul sampai mati oleh mereka."

Dia menarik lengan baju Wu Tao.

"Makanya aku hanya bisa ikut denganmu, bahkan aku sudah memutuskannya ."

Lagi-lagi Wu Tao menatapnya lama lalu berkata.

"Kau tahu siapa diriku?"

"Tidak tahu."

"Aku bukanlah seorang pedagang biasa."

"Aku juga bukan pengemis kecil biasa."

"Kamu tidak ingin tahu siapa aku sebenarnya?"

"Aku ingin tapi aku juga tidak ingin kau tahu siapa sebenarnya diriku,"

Kata Yuan Bao.

"Jadi asalkan kau tidak bertanya, aku juga tidak akan bertanya."

"Kau ikut denganku sama sekali tidak ada untungnya bagimu,"

Kata Wu Tao.

"Kalau aku adalah orang, pasti bukan orang baik-baik. Walaupun aku adalah hantu, pasti hantu yang jahat."

Suaranya berubah menjadi dingin.

"Aku sebenarnya hanya memanfaatkanmu untuk bisa melewati malam ini, aku juga tahu sedikit tentang asal usulmu, jika diperlukan mungkin bisa memanfaatkan keluargamu untuk menekan orang lain. Aku tahu itu."

Yuan Bao malah berkata demikian.

"Aku tahu betul akan hal itu."

"Jika kau ikut denganku, tidak hanya ikut menanggung susahi derita, kemarahan, dan kesalahan, pada waktu dibutuhkan aku mungkin akan menjualmu."

Wu Tao berkata dengan dingin.

"Pada saat golok lawan datang, kalau aku bisa menghindar, mungkin aku akan menggunakan dirimu sebagai tameng."

"Aku tahu."

"Kau tidak menyesal?"

"Ini adalah keinginanku sendiri, mana mungkin menyesal?"

Yuan Bao tiba-tiba tertawa.

"Mungkin siapa tahu justru aku yang memanfaatkan dirimu, pada waktu golok lawan datang, sebenarnya siapa yang bisa memanfaatkan siapa untuk menahannya, saat ini masih sukar untuk dikatakan."

Wu Tao tidak tertawa. Dia sebenarnya ingin tertawa, tetapi dia tidak tertawa. Yuan Bao bertanya lagi padanya.

"sekarang kau hendak pergi ke mana?"

"Ingin tidur nyenyak, memulihkan semangat."

Wu Tao berkata.

"Mau mengerjakan apa pun tetap harus ada semangat yang baik"

Dia tertawa dingin dan berkata.

"orang akan mengira aku seperti anjing liar yang dikejar matimatian, aku justru ingin membuat mereka tercengang-cengang."

"Tidur adalah suatu hal yang bagus,"

Kata Yuan Bao.

"Tetapi tempat mana di dalam kota Ji Nan yang masih bisa membuatmu bisa tidur nyenyak?"

"Ada sebuah tempat yang tidak akan ditemukan mereka, karena tidak akan ada seorangpun yang menduga bahwa aku bakal ada di sana,"

Wu Tao berkata dengan penuh kepastian.

"Yang tidak akan terpikirkan oleh orang lain?"

"Tidak akan."

"Ada."

Yuan Bao mengejap-ngejapkan matanya.

"Paling tidak ada seorang yang bisa menduganya."

"siapa?"

"Aku."

Wu Tao menatapnya.

"Kau tahu tempat yang kumaksud itu tempat apa?"

Yuan Bao tertawa lagi, memperlihatkan kedua lesung pipinya.

"Aku tidak hanya tahu tempat itu tempat apa, juga tahu bahwa masuk ke tempat itu lebih mudah dibandingkan keluar dari tempat itu."

Lalu Yuan Bao mengikuti Wu Tao masuk ke tempat para dewa.

ooo)o(ooo BAB VII MENGURAIKAN SERAT SUTRA DARI KEPOMPONGNYA Tanggal 17 bulan 4, tengah hari......

Di dalam kota Ji Nan masih marak dengan pencarian Yuan Bao dan Wu Tao, yang tertarik akan hal ini semakin lama semakin banyak karena partai Panji Bunga dan pejabat pemerintahan sudah mengumumkan hadiah sejumlah uang yang bisa mencukupi hidup seseorang seumur hidupnya.

orang yang mereka cari justru sedang tidur ditempat para dewa, benar-benar tidur nyenyak.

orang yang masih bisa tidur nyenyak dalam situasi seperti ini, selain mereka berdua mungkin sulit untuk mencari yang ketiga.

Ke-79 toko dibawah kekuasaan Sun Ji Cheng sudah menempelkan selembar kertas putih bertuliskan berduka cita, libur lima hari.

Kematian bos besar sun sudah diketahui semua orang, tidak perlu dirahasiakan lagi.

Yang masih harus dirahasiakan adalah bahwa bos besar sun belum mati.

Restoran Da san Yuan tentu saja juga belum mulai berbisnis, tetapi Zheng Nan Yuan datang pada tengah hari dengan tergesagesa karena dia tahu di lantai atas telah datang tiga orang tamu, tamu yang tidak lusa tidak dilayaninya.

Yang datang adalah ketua dari partai Panji Bunga tuan besar Tian dan anaknya beserta Xiao Jun, penanggung jawab penerapan hukuman di perkumpulan pengemis yang sangat dihormati oleh dunia persilatan.

Zheng Nan Yuan naik ke lantai atas.

Dia bukan orang cacat, dia duduk di kursi roda hanya karena rematik pada sendinya yang telah dideritanya dan menyiksanya selama bertahun-tahun.

Pada saat dia datang, meja di lantai atas sudah tersedia arak dan masakan yang enak, para tamu juga sudah duduki Arak yang dihidangkan ada tiga macam.

Guci arak yang baru dibuka, yang rasanya sejuki pedas, dan keras yaitu Arak Mao Tai dari Gui Zhou.

Yang rasanya lembut, indah yaitu arak Ni Er Hong dari Jiang Zhe.

Yang ada di dalam cangkir emas adalah arak yang belum habis diminum oleh bos besar sun dua hari yang lalu yaitu arak Bo si Pu Tao Qiu, yang sudah dipanaskan dengan air dari sumur, bahkan asapnya masih mengepul.

Tuan besar Tian minum secangkir araki sesudah minum baru berkata.

"Kami datang bukan untuk minum arak."

Dia boleh berkata seperti itu.

Jika jati diri seseorang sudah sampai di atas, terserah dia mau bicara apa, orang lain hanya bisa mendengarkan.

Apa yang dikatakannya umumnya tidak enak didengar, ada kalanya bisa membuat orang menangis atau tertawa, ada kalanya bisa membuat orang terkejut, ada kalanya bisa merenggut nyawa seseorang.

"Kami datang juga bukan untuk belasungkawa."

Dia berkata lagi.

"Karena baik kau maupun aku tahu bahwa bos besar sun sama sekali belum mati."

Perkataan ini benar-benar bisa merenggut nyawa.

Zheng Nan Yuan ternyata tidak membantah, hanya menambahkan arak Pu Tao Qiu ke dalam cangkir yang ada di depannya sampai penuhi tidak kurang dan tidak lebih sedikitpun, bahkan tidak ada yang tumpah keluar sedikitpun.

Tangannya tetap tenang.

Tuan besar Tian menyipitkan mata menatapnya.

"Kemarin malam kalian mengadakan pemeriksaan ke seluruh kota bukan untuk mencari bos kalian yang pura-pura mati tapi sebenarnya belum mati itu, karena dengan cara begitu kalian tidak akan mungkin bisa menemukan dia,"

Kata tuan besar Tian.

"Mencari dengan cara begitu hanya akan menemukan beberapa pemabuk, pencuri kecil, dan orang bodoh "

Dia berkata.

"Kalian berbuat begitu hanya untuk membuat Sun Ji Cheng mengerti bahwa kalian sudah mengetahui bahwa yang mati bukan dia."

Zheng Nan Yuan sedang mendengarkan layaknya seperti seorang murid mendengarkan perkataan gurunya yang tidak dimengertinya.

Bersambung-04 Jilid-04 Tuan besar Tian yang biasanya tidak minum arak telah minum tiga cangkir arak, anaknya pun menemani dia minum tiga cangkir arak.

"Kami datang ke sini ingin menanyakan sesuatu padamu"

Pertanyaan yang diajukan tuan besar Tian selalu langsung pada pokok permasalahan.

"Bagaimana kalian tahu bahwa yang mati itu bukan Sun Ji cheng?"

Zheng Nan Yuan tertawa.

"Pertanyaan ini seharusnya aku yang tanya kepada tuan besar Tian. Tapi sekarang aku sudah lebih dulu menanyakannya padamu. Boleh tidak kita tidak membicarakannya?"

"Tidak boleh."

"Kalau begitu aku akan ceritakan dari awal sampai akhir."

Zheng Nan Yuan terlebih dulu menuangkan secangkir arak untuk dirinya sendiri lalu meminumnya dengan mengeluarkan suara, setelah itu baru berbicara.

"Pengawalan di kediaman bos besar Sun terbagi atas enam kelompok, pembagiannya ditangani oleh Lian Gen dan Qiu Bu Dao. Belakangan ini aku tiba-tiba menyadari bahwa Qiu Bu Dao sudah mengganti 12 orang dari seluruh kelompok."

"Tuan besar Tian tahu bahwa dia tidak akan menceritakannya secara detail masalah ini, maka dari itu dia tidak melewatkan celah sedikltpun."

"Yang digantikan itu orang yang bagaimana? Yang baru itu orang yang bagaimana?"

Tanya tuan besar Tian.

"Yang digantikan itu adalah angkatan lama yang pandai dan berpengalaman, sedangkan yang baru identitasnya sangat misterius, orang asing yang tidak pernah muncul di dunia persilatan sebelumnya dan umurnya tidak ada yang lebih dari 30 tahun."

"Apakah kau pernah menanyakannya langsung kepada Sun Ji cheng tentang masalah ini?"

"Tidak pernah,"

Kata Zheng Nan Yuan.

"Tetapi setelah dia tiba-tiba meninggal, aku langsung sadar, mungkin kematiannya ada sangkut pautnya dengan ketiga belas orang tadi."

"Pada waktu itu apakah mereka semua sudah pergi?"

"Belum."

Zheng Nan Yuan berkata.

"oleh karena itu aku memanggil kembali ketiga belas orang yang telah diganti oleh Qiu Bu Dao dan menambah tiga belas orang jagoan lagi, Jadi dua orang melawan satu orang dari tiga belas orang asing itu. Tidak peduli hidup atau mati, mereka semua harus ditangkap."

"Tindakanmu itu betul,"

Tuan besar Tian menyetujuinya, lalu bertanya lagi.

"Hasilnya bagaimana?"

"orang yang kuutus kembali dengan cepat."

Zheng Nan Yuan meminum sisa arak di cangkir sampai tidak tersisa.

"Ke 26 orang itu semuanya telah kembali."

"Mereka sekarang ada di mana?"

"Mereka semua ada di ruang bawah tanah tempat penyimpanan arak di bawah restoran ini."

"semuanya ada? semuanya tidak pergi?"

"Ke 26 orang itu semuanya tidak pergi."

Zheng Nan Yuan berkata dengan tawar.

"Mereka mungkin selamanya tidak akan pernah pergi."

Di dalam ruang bawah tanah yang gelup, mayat-mayat yang ditutupi oleh selembar kain putih berjejer jauh lebih rapi dibandingkan dengan guci-guci arak.

Zheng Nan Yuan mengikuti tuan besar Tian dibelakangnya.

"selama ini mereka belum kukuburkan karena aku memang ada rencana untuk mengundang tuan besar Tian untuk melihat mereka."

Dia menyingkap kain putih yang menutupi mayat itu, cahaya remang-remang dari sinar lentera di dalam ruang bawah tanah itu segera menyinari wajah yang ketakutan dan memutar itu, satu persendian hancur oleh tangan pada saat memilin wajah.

Persendian tangan hancur, jakun juga hancur.

semuanya mati dengan cara yang sama.

Zheng Nan Yuan berkata.

"Ke 26 orang itu mati dengan cara yang persis sama."

Raut wajah tuan besar Tian tiba-tiba berubah menjadi serius. Zheng Nan Yuan berkata lagi.

"Yang mematahkan persendian di tenggorokkan mereka pasti tidak hanya satu orang karena tenaga yang digunakan berbeda tapi teknik mereka sama persis."

Dia berkata.

"Teknik itu sangat kejam, unik, dan sangat efektif. Aliran mereka tidak sama dengan semua partai dan perkumpulan yang ada di dunia persilatan."

Tuan besar Tian tiba-tiba bertanya padanya.

"Kau belum pernah melihat teknik ini sebelumnya?"

"Belum pernah."

Tuan besar Tian berkata sepatah demi sepatah.

"Aku pernah."

Raut wajahnya makin serius, tidak membiarkan Zheng Nan Yuan berbicara, terus melanjutkan perkataannya.

"sekarang aku baru mengerti mengapa Sun Ji cheng rela meninggalkan semua kekayaannya, melarikan diri dengan berpurapura mati."

Zheng Nan Yuan tentu saja bertanya.

"Mengapa dia berbuat seperti itu?"

"Karena dia pasti menyadari bahwa ketiga belas orang ini sudah menyelundup ke dalam satuan pengawalnya, dan jelas tahu identitas ketiga belas orang itu."

Tian Ji Zi tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membuka mulut, lalu bertanya.

"Apakah dia takut sampai melarikan diri karena mereka?"

"Ehm. Kalau dia benar adalah Da Xiao Jiang Jun, bagaimana bisa dibuat takut sampai melarikan diri oleh orang lain?"

Tian Ji Zi bertanya.

"Kapan jendral Li pernah takut pada orang lain?"

Tuan besar Tian membelalakkan matanya sambil berkata kesal.

"Dari mana kau tahu dia tidak pernah takut pada orang lain? Apakah kau itu ulat yang ada di dalam perutnya?"

Tian ji Zi tidak berani berkata-kata lagi.

Ternyata Zheng Nan Yuan tidak bertanya lagi tentang identitas ketiga belas orang itu juga tentang teknik mereka yang aneh, juga tidak bertanya mengapa tuan besar Tian bisa memastikan bahwa Sun Ji cheng dibuat kabur ketakutan oleh mereka.

Dia hanya menyelesaikan perkataan yang seharusnya dia katakan.

"setelah tindakanku ini gagal, aku kehilangan jejak ketiga belas orang itu."

Zheng Nan Yuan berkata, Begitu Lian Gen tahu akan hal ini, dia langsung memimpin pemeriksaan untuk memaksa mereka keluar."

Tuan besar Tian tertawa dingin.

"untungnya kalian belum bisa memaksa mereka untuk keluar, jika tidak walaupun ruang bawah tanah ini lebih besar tiga kali lipat juga tidak akan bisa menampung orang mati yang banyak."

"Bagaimana pun juga, maksudku hanya ingin tuan besar Tian mengerti bahwa pemeriksaan yang kami lakukan kemarin malam bukan karena kami sudah tahu kalau yang mati itu bukan bos besar sun, juga bukan karena kami sudah menyadari bahwa yang mati hanya tubuh yang menggantikan dia."

Zheng Nan Yuan tetap tenang.

Pemeriksaan kemarin malam sebenarnya untuk mencari ketiga belas orang itu.

Dia tidak sama dengan Xiao Jun, dia selalu berkata dengan terperinci, demi ingin menjelaskan suatu perkara, dia bisa membicarakannya sampai beberapa kali supaya tidak salah.

sekarang dia sudah mengatakannya dengan jelas, jadi sekarang dia mau mengajukan pertanyaannya.

"Bagaimana tuan besar Tian bisa tahu kalau yang mati itu bukan Sun Ji Cheng melainkan badan pengganti?"

Jika tuan besar Tian bukan orang yang tahu aturan, dia bisa menolak untuk menjawab pertanyaan itu.

Jika dia menolaknya, tidak ada seorang pun yang bisa memaksanya.

untungnya tuan besar Tian ada kalanya tahu aturan, pada saat orang lain memintanya untuk menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, dia juga tidak sampai hati untuk menolaknya.

Dia hanya bertanya kepada Zheng Nan Yuan.

"Apa kau juga ingin aku menceritakannya dari awal sampai akhir? "

"sebaiknya begitu."

Kemudian tuan besar Tian menuangkan secangkir arak lalu menceritakannya dari awal.

"Aku sudah curiga dari awal kalau Sun Ji cheng tidak mungkin tiba-tiba mati begitu saja, tetapi aku tidak ada cara untuk memastikan bahwa yang mati itu bukan dia, baru kemarin malam aku baru ada kesempatan untuk membuktikannya"

"Bagaimana caranya?"

"Apakah pada tanggal l5 bulan 4, Sun Ji cheng baru meninggalkan restoran Da san Yuan pada waktu tengah hari?"

"Benar."

"Bukankah waktu itu dia makan semangkuk sayap ayam di sini? juga sayuran yang dibuat dengan menggunakan kacang walnut, biji tusam, dan buah-buahan kering, minum beberapa cangkir arak yang baru kalian datangkan yaitu arak Bo Li Pu Tao Qiu?"

"Benar."

Zheng Nan Yuan tertawa pahit.

"Tidak disangka tuan besar Tian sangat mengetahui semua gerak gerik di sini."

Tuan besar Tian tidak memperdulikan perkataannya tadi, sendiri melanjutkan perkataannya.

"waktu kematiannya kurang lebih pada waktu sebelum senja, jarak dari sejak berpisah denganmu kurang lebih hanya dua jam."

"Bagaimana tuan besar bisa memastikannya?"

"Kepala bagian otopsi mayat kota Ji Nan, Ye Lao Yan, adalah teman baikku,"

Kata tuan besar Tian.

"Kamu seharusnya tahu bahwa dia orang yang ahli dihidang ini, berdasarkan pengalamannya selama lebih dari 20 tahun belakangan ini yang sudah menangani langsung mayat yang tidak terhitung jumlahnya, pandangannya tentu saja tidak mungkin salah."

"Tetapi kami sama sekali belum meminta ahli otopsi pemerintah di kota Ji Nan untuk mengotopsi mayat."

Zheng Nan Yuan berkata.

"Tuan Ye Lao juga belum pernah sekalipun melihat mayat bos besar kami."

"Dia sudah melihatnya."

"Kapan dia melihatnya?"

"Kemarin setelah lewat senja, pada saat kalian mengumpulkan semua bawahan kalian untuk bersiap mengadakan pemeriksaan. Pada saat itu mayat bos besar masih berada di dalam kamarnya."

"Betul sekali."

"Tuan Ye Lao bagaimana mungkin bisa berada di dalam kamar tuan besar?"

Selidik Zheng Nan Yuan.

"Aku yang membawanya ke sana."

Zheng Nan Yuan tidak bertanya lebih lanjut, apabila tuan besar Tian ingin membawa siapa saja ke mana saja, itu bukanlah hal yang sulit baginya.

Lagi pula pada saat itu semua orang di kediaman sun yang berilmu tinggi sedang ditugaskan di luar, diantara sisa pengawal yang berjaga di kediaman sun pasti ada yang merupakan murid partai panji Bunga.

Tuan besar Tian berkata lagi.

"setelah Ye Lao Yan memastikan waktu dari kematian sun Ji Cheng yang mendadak, aku langsung terpikirkan satu pertanyaan."

"Pertanyaan apa?"

"sesudah seseorang memasukkan sesuatu ke dalam perutnya, butuh berapa lama untuk menjadi kotoran?"

Ini adalah pertanyaan yang aneh, tetapi juga pertanyaan yang berbahaya.

"Berdasarkan pengalaman Ye Lao Yan, umumnya makanan yang ada di dalam perut dua jam kemudian, tidak semuanya berubah menjadi kotoran."

Tuan besar Tian berkata.

"Kacang walnut, biji tusam dan buah-buahan kering lebih sulit lagi dicerna."

Lalu dengan cepat dia membicarakan hasilnya.

"Di dalam perut mayat itu ternyata tidak ada sama sekali daging ayam, juga tidak ada kacang walnut, biji tusam, dan buah-buahan kering, malah terdapat beberapa yang tidak pernah berani dimakan sun Ji cheng sebelumnya yaitu dendeng ikan kering."

"Bagaimana kalian bisa mengetahui semua ini?"

Walaupun tuan besar Tian tidak memberitahukan kejadian yang sebenarnya terjadi, tetapi orang-orang bisa membayangkannya.

Walaupun semua orang bisa membayangkannya, tetapi tidak ada seorang pun yang serius memikirkannya .

Tetapi raut wajah Zheng Nan Yuan sudah tidak setenang tadi, lalu dia bertanya dengan dingin.

"Apakah sejak semula tuan besar Tian sudah curiga bahwa yang mati itu bukan dia?"

"Benar."

"Bagaimana tuan besar Tian bisa mencurigainya?"

Pandangan mata Zheng Nan Yuan menusuk bagaikan pisau.

"Antara tuan besar Tian dan bos besar kami tidak pernah ada hubungan apa-apa sebelumnya, mengapa tuan besar Tian begitu menaruh perhatian besar terhadap kematiannya?"

Raut wajah tuan besar Tian berubah.

Tian Ji Zijuga menyadari perubahan pada raut wajah ayahnya, sama seperti wajah penuh amarah pada waktu dia membicarakan hal ini sampai pada masalah Liu Jin Niang.

Tetapi tuan besar Tian tetap saja menjawab pertanyaan ini.

"Tentu saja aku menaruh perhatian dan curiga,"

Tuan besar Tian berkata dengan keras.

"Karena aku sudah tahu bahwa Sun Ji cheng sebenarnya adalah Li Da Xiao. sepuluh orang Qiu Bu Dao juga tidak bisa menandingi satu jari dari Da Xiao Jiang Jun, bagaimana mungkin dia bisa terbunuh hanya dengan satu pukulan dari Qiu Bu Dao?"

Ini adalah jawaban yang sangat sesuai, tidak ada seorang pun yang berani memprotesnya, walaupun tahu bahwa ini hanyalah sebuah alasan saja, tetap saja tidak ada seorangpun yang berani membantah.

Meskipun tahu bahwa masih banyak alasan yang belum dikemukakan oleh tuan besar Tian, tidak ada seorang pun yang berani menanyakannya.

Tetapi Zheng Nan Yuan masih ada satu pertanyaan lagi yang ingin ditanyakannya.

"Hari ini aku mendengar rumor dari dalam kota, pegawai pemerintahan dan tuan besar Tian sedang mencari seorang yang bernama Wu Tao, karena berdasarkan laporan yang bisa dipercaya, orang ini kemungkinan besar adalah orang dulu pernah mengguncangkan dunia, san Xiao Jing Hun (tertawa tiga kali bisa mengagetkan arwah Li Jiang Jun 'jendral Li'). Aku rasa kau pasti pernah mendengarnya."

"Apakah maksud tuan besar Tian adalah, Wu Tao adalah Sun Ji cheng, Sun Ji cheng adalah Li Jiang Jun, Li Jiang Jun adalah Wu Tao?"

Zheng Nan Yuan kembali lagi ke permasalahan yang semula, dia sudah menanyakan pertanyaan yang sama dengan cara yang berbeda sebanyak tiga kali.

Jawaban yang diberikan tuan besar Tian jUstru sangat sederhana.

"Betul."

Hal ini membuat orang sukar untuk mempercayainya.

Zheng Nan Yuan mengeluh.

Walaupun hidup Sun Ji cheng tidak bisa dikatakan normal, tapi dia adalah orang yang sangat mengerti aturan.

setiap hari dia selalu bertemu orang, tidak hidup mengasingkan diri Beberapa tahun belakangan ini tidak pernah ada orang yang mencurigainya, aku benar-benar tidak mengerti bagaimana tuan besar Tian bisa tahu bahwa dia adalah Da Xiao Jiang Jun?

Tuan besar Tian tertawa dingin.

"Apa kau kira yang tahu akan rahasia ini hanya aku seorang? Kau kira demi siapa tetua Xiao datang kemari?"

Dengan perkataannya itu, dia melemparkan pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya kepaDa XiaoJun. Benar saja, ternyata Zheng Nan Yuan langsung bertanya.

"Bagaimana tetua xiao bisa tahu rahasia ini?"

Xiao Jun berkata dengan datar.

"Murid perkumpulan tersebar di seluruh negeri, masalah kecil maupun besar di dunia persilatan, walaupun perkumpulan tidak bisa menjadi yang pertama mengetahuinya, yang pasti tidak akan menjadi yang terakhir yang mengetahuinya."

Jawaban itu sama sekali tidak bisa disebut jawaban, tapi tidak bisa tidak dihitung sebagai jawaban.

semua orang di dunia persilatan tahu, informasi yang diperoleh dari perkumpulan pengemis sangatlah akurat, mengenai dari mana didapatnya informasi itu, tidak ada seorang pun yang tahu.

Tapi dia masih ada satu pertanyaan lainnya.

"Bagaimana anda berdua bisa memastikan bahwa Wu Tao adalah bos besar sun?"

"sun ji cheng membunuh orang yang menggantikannya dengan satu cukulan yang membuat luka pada dada dan perutnya, dan jurus yang digunakannya adalah benar-benar jurus Wen Ru Tai san Qiu Bu Dao. sama seperti Qiu Bu Dao, dia juga melatih jurus itu 40 tahun."

Tuan besar Tian berkata, Hanya ada sedikit perbedaan yaitu tenaga dalam yang dikeluarkan untuk menggunakan jurus tersebut mengandung kekuatan tenaga Yin yang lembut.

Tuan besar Tian benar-benar pasti akan hal ini.

pukulan aliran kuil Xiao Lin mengandung kekuatan tenaga Yang yang keras.

Murid-murid aliran kuil Xiao Lin tidak mungkin ada yang bisa mengeluarkan tenaga dalam tingkat tinggi dengan tenaga Yin yang lembut.

Tuan besar Tian pengetahuannya sangat luas, ilmu silatnya sangatlah tinggi, tidak ada bandingannya.

Dia mengetahui sedikit akan semua jurus goloki pedang, pisau, pukulan, jenis senjata, ataupun senjata gelap dari setiap perguruan, partai maupun perkumpulan.

Zheng Nan Yuan hanya bisa mendengar semua perkataannya.

salah satu dari tiga raja dari Huai Nan, Lao Wang, tewas di tangan wu Tao.

Tuan besar Tian berkata, yang digunakannya untuk membunuh Lao Wang adalah ilmu cakar elang, jika dilihat jurusnya tidak kalah dari Lao Wang, hanya saja kekuatan yang digunakanya dalam jurus cakar elang terdapat kekuatan tenaga Yin yang lembut.

Jurus cakar elang pada dasarnya juga berkekuatan tenaga Yang yang keras, murid-murid aliran Huai Nan tidak ada yang menggunakan tenaga Yin.

Tanpa menyebutkan hal ini pun semua orang sudah tahu.

Tuan besar Tian berkata lagi.

"Aku sudah memeriksa sendiri kedua mayat orang ini. Walaupun aku hanyalah seorang kakek tua, tetapi mataku masih belum lamur, apa yang bisa kulihat, belum pernah ada orang di dunia ini yang mengatakan aku salah lihat."

Tidak ada seorang pun yang bisa berbicara, tidak ada seorang pun yang berani berbicara. Pada akhirnya tuan besar Tian bertanya kepada Zheng Nan Yuan.

"Yang bisa menggunakan ilmu lawan yang sudah dilatih susah payah berpuluh-puluh tahun untuk melawannya, juga bisa menggunakan ilmu bertenaga Yang yang keras dengan tenaga Yin yang lembut, ada berapa orang di dunia ini yang seperti itu?"

"Rasanya tidak banyak selain orang tua yang bermarga Li yang berjulukan Da Xiao Jiang Jun, apakah kau bisa menyebutkan orang yang kedua?"

Zheng Nan Yuan tidak bisa berkata-kata. Dia tidak bisa menyebutnya, bahkan satu orang saja pun tidak bisa. Tuan besar Tian berkata.

"Karena kau tidak bisa menyebutkannya maka aku baru berani berkata, Wu Tao adalah Sun Ji Cheng, Sun Ji Cheng adalah Li Jiang Jun, Li Jiang Jun adalah Wu Tao. Ini adalah kesimpulannya."

Karenanya Zheng Nan Yuang sudah tidak ada pertanyaan lagi yang bisa ditanyakan, tapi justru Xiao Jun ada.

Pertanyaan yang diajukannya umumnya membuat orang tidak bisa menjawabnya.

sekarang Wu Tao sudah menyadari bahwa kita sudah mengetahui rahasianya, bahkan sedang mencarinya.

Xiao Jun bertanya.

"Apa langkah selanjutnya yang akan dia lakukan?"

Tian Ji Zi tiba-tiba tertawa.

"Pertanyaan ini tidak seharusnya kau tanyakan kepada kami."

Dia berkata.

"Kau seharusnya langsung bertanya kepadanya. -ooo00000ooo-Tanggal 17 bulan 4, sore hari......"

Hari cerah, sinar matahari tidak terik.

Walaupun sinarnya tidak bisa masuk ke dalam kamar penjara yang sempit, gelap, lembab, dan baunya minta ampun ini, paling tidak ada kilasan sinar yang bisa masuk.

Yuan Bao sudah bangun dari tidur, sedang melihat sambil membelalakkan kedua matanya yang besar.

siapa pun tidak ada yang menduga apa yang sedang dilihatnya.

seumur hidupnya dia belum pernah melihat apa yang dilihatnya sekarang, juga tidak ingin melihatnya.

Biarpun sekarang sudah terlanjur melihatnya, tetap saja tidak mempercayainya .

Dia sedang melihat beratus-ratus ribu laba-laba, tikus, kecoa, cecak, lipan, nyamuk, dan kutu, Bangkai laba-laba, bangkai tikus, bangkai kecoa, bangkai cecak.

bangkai lipan, bangkai nyamuk, dan bangkai kutu.

Dia tidak pernah menyangka bahwa di dalam kamar penjara dari batu tersimpan barang-barang seperti itu.

Hanya ada di dalam ruangan ini, sebenarnya tadinya semuanya hidup dan berterbangan serta berlarian ke sana ke mari.

Tetapi begitu menyentuh tubuh Wu Tao yang sedang tidur nyenyak.

yang hidup langsung berubah menjadi mati.

Tidak peduli laba-laba, tikus, kecoa, ataupun cecak.

Baik ular berbisa, lipan, nyamuk, maupun kutu.

Asalkan menyentuk tubuh Wu Tao langsung menjadi kaku, jatuh ke lantai, dan tidak bergerak sedikitpun.

Yuan Bao tidak hanya melihat tapi juga sedang menghitung.

Mati satu, hitung satu, sekarang dia sudah menghitung sampai 189.

Hitungan ini sebenarnya sama sekali tidak mengagetkan orang, tapi dia sekarang sudah menghitung sampai bulu kuduknya berdiri semua.

Wu Tao masih saja tidur nyenyak seperti orang mati saja.

Di dalam kamar penjara masih belum tahu berapa banyak lagi binatang kecil dan besar yang aneh yang bakal keluar, di luar kamar penjara itu terdengar suara rantai besi yang ditarik.

lolongan tangisan, dan suara sedang menjilat yang keras.

Apa yang didengarnya dengan apa yang dilihatnya samasama menggetarkan hatinya.

Dia hampir tidak kuat lagi.

Entah Wu Tao mau tidur sampai kapan baru mau bangun.

Yuan Bao menetapkan hati untuk membangunkannya, tidak berani bersuara, hanya menarik dengan tangannya.

Tetapi baru saja sebelah tangannya menyentuh Wu Tao langsung terlontar kembali.

setengah badannya langsung tidak bisa bergerak.

orang ini benar-benar aneh, orangnya sendiri tidak lah menakutkan tetapi ilmu silatnya yang menakutkan.

Yuan Bao sedikit pun tidak takut padanya, bahkan mengambil seekor bangkai tikus dan melemparkannya keatas hidung Wu Tao.

"Plak."

Suara hidung seseorang yang dilempari seekor tikus mati.

Bukan hidung Wu Tao melainkan hidung Yuan Bao.

Bangkai tikus itu terlontar kembali tepat mengenai hidung Yuan Bao.

Yuan Bao marah sekali, sepertinya mau berteriak membangunkannya, untung saja Wu Tao sudah bangun dan Yuan Bao langsung membelalakkan matanya dan bertanya.

"Apa maksudnya ini?"

"Apa maksudnya apa?"

"Mengapa kau menggunakan bangkai tikus untuk memukul hidungku?"

"Bukankah kamu yang menggunakan bangkai tikus untuk memukul hidungku? Atau aku yang menggunakan bangkai tikus untuk memukul hidungmu?"

"Aku boleh memukulmu tapi kau tidak boleh memukulku."

Yuan Bao masih berkata dengan suara yang marah. Wu Tao duduk dan tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya.

"Mengapa kau boleh memukulku sedangkan aku tidak boleh memukulmu?"

"Karena kau orang dewasa sedangkan aku masih anak-anak."

Kata-kata Yuan Bao semakin lama semakin masuk akal.

"Lagi pula kau tadi sedang pura-pura tidur jadi sudah seharusnya aku membangunkanmu."

"Aku kan tidak tidur jadi untuk apa memukulku?"

Wu Tao sepertinya hendak tertawa tapi tidak tertawa.

"Mengapa kau membangunkanku, mengapa tidur tidur lebih lama lagi?"

"Aku tidak bisa tidur."

"Mengapa tidak bisa tidur?"

Wu Tao bertanya.

"Apa kurangnya tempat ini?"

"semuanya tidak baik.

"Kau ingin pergi?"

"Ingin,"

Kata Yuan Bao.

"sangat ingin."

"Apakah kau ingin datang lagi ke sini?"

"Hanya orang berengsek yang ingin datang lagi ke tempat ini."

Semakin bicara Yuan Bao semakin marah.

"Tempat ini sama sekali bukan tempat untuk orang tinggal, bahkan orang berengsek pun tidak akan tahan."

Wu Tao tiba-tiba bangkit dan berteriak.

"Baiklah Baiklah?"

Yuan Bao bertanya.

"Apa artinya itu?"

Baru saja pertanyaan itu diucapkan, dia sudah tahu apa yang dimaksud oleh Wu Tao kerena dia melihat Wu Tao sudah mengeluarkan tinjunya dan mendengar suara seperti serangkaian batang bamboo yang retak keluar dari dalam tubuh Wu Tao.

Lalu terdengar ledakan suara bong.

Kamar yang terbuat dari bongkahan batu yang sempit, lembab, dan gelap ini tiba-tiba meledak.

bongkahan-bongkahan batu yang satu bongkah beratnya bisa mencapai ratusan kg tiba-tiba meledak dan berhamburan ke luar.

Begitu batu-batu itu berhamburan keluar, Yuan Bao merasa dirinya dibawa terbang menembus awan.

Dia hanya mendengar perkataan WuTao, Kalau orang berengsek pun tidak tahan dengan tempat ini, buat apa dipertahankan?

ooo)o(ooo BAB VIII GOLOK PUSAKA YANG TIDAK INGIN DILEPASKAN Tanggal l7 bulan 4, sebelum senja......

sel penjara yang memiliki dinding yang paling kokoh di penjara yang paling terkenal di kota Ji Nan tiba-tiba meledak secara misterius.

Khusus untuk memperkokoh kamar penjara ini, sengaja didatangkan batu yang setiap bongkahnya memiliki berat beberapa ratus kg dari gunung bukit batu.

Tetapi telah hancur oleh suatu kekuatan yang misterius yang sampai saat ini belum bisa ditafsirkan, bahkan ada sebongkah batu yang terlempar keluar sejauh 20 Zhang lebih, menghantam dua ruangan tempat penyimpanan kayu bakar dan sebuah pohon yang berumur 300 tahun di halaman belakang kantor pengadilan.

Di saat bersamaan, dua orang tahanan hukuman mati juga terbunuh secara misterius.

Berdasarkan pengalaman dari kepala bagian otopsi pemerintah Ye Lao Yan, waktu kematian kedua orang itu adalah sesudah dini hari, sebelum kamar penjara itu meledak hancur.

Tidak ada seorang pun yang tahu sebab kematian mereka, terlebih lagi tidak ada seorang pun yang tahu mengapa kamar penjara itu bisa hancur.

Walaupun orang-orang pemerintahan ingin menutup-nutupi kejadian ini, tetapi kabar yang menyangkut kejadian ini, tidak sampai satu jam sudah menyebar ke seluruh kota Ji Nan.

Tuan besar Tian mungkin bukan orang pertama yang mengetahui hal ini, tapi lebih dulu tahu dibandingkan kebanyakkan orang.

Pada waktu kabar tersebut datang, tuan besar Tian sedang tidur siang.

Begitu menerima kabar ini, dia langsung menuju kamar tamu tempat menginap tetua perkumpulan pengemis Xiao Jun dan tuan muda Tian Ji Zi untuk menemui mereka di ruang tamu kecil di dalamnya.

saat ini, tuan besar Tian yang semalaman tidak tidur, begitu meminum secangkir arak sewaktu makan siang, langsung segar kembali.

"Apakah kalian juga sudah mendengar kabar ini?"

"Ya."

Dia menunjuk salah seorang muridnya yang baru saja membawa sebongkah pecahan batu yang hancur dan menaruhnya di atas meja.

"Ini adalah batu yang digunakan untuk mendirikan kamar penjara itu, tadinya satu bongkah batu saja beratnya kira-kira 600 kg -l000 kg. * 75 m (1zhang =3.5 m). Batu itu tebal dan keras, sebenarnya ketebalannya kurang lebih ada 1 chi 5 cun, panjang dan lebarnya juga lumayan. Tuan besar Tian mencolek serbuk batu yang ada di atas pecahan batu itu lalu menggosokkannya dengan kedua belah jarinya. Ini adalah batu yang sukar didapat, walaupun ketebalannya masih kurang sedikit bila dibandingkan dengan batu granit, tapi tingkat kekerasannya lumayan, bahkan jika ada seorang pengrajin besi paruh baya yang menggunakan palu besi besar untuk memukulnya, diperlukan waktu setengah hari baru bisa memukulnya hancur. Tian Ji Zi mulai mengeluarkan pertanyaannya.

"Ini bukan dihancurkan oleh palu besi besar?"

"Bukan,"

Jawab tuan besar Tian.

"Menurut tahanan lama yang ada di penjara itu, kamar penjara itu hancur dalam sekejap, semua bongkahan batu hancur dan beterbangan."

Dia bertanya kepada Tian Ji Zi.

"Apakah di dunia ini ada palu besi sebesar itu?"

"Tidak ada."

"Di dalam dunia ini tentu saja tidak ada, tapi di atas dunia ini mungkin ada."

Tuan besar Tian berkata.

"Jika aku seorang bajingan, aku mungkin akan mengira bahwa ini adalah kekuatan dari makhluk halus."

Dia menghela nafasnya dan berkata.

"Tapi sayangnya aku bukan seorang bajingan, aku tahu selain kekuatan makhluk halus, ada satu jenis kekuatan yang bisa melakukan hal seperti itu."

Tian Ji Zi tentu bertanya "Jenis kekuatan yang seperti apa?"

"Kekuatan manusia."

Tuan besar Tian berkata.

"Kekuatan seseorang ada kalanya lebih besar dibandingkan dengan yang kau kira."

"orang seperti apa yang memiliki kekuatan seperti itu?"

Tian Ji Zi selalu menyambung perkataan dari ayahnya dengan pertanyaan.

"orang seperti ini tentu saja tidak banyak, tapi sekarang ini kemungkinan hanya ada satu orang."

"siapa orang ini sebenarnya?"

Tuan besar Tian emosi lagi, membelalakkan matanya ke anaknya sambil berkata.

"Kamu benar-benar tidak tahu siapa orang ini sebenarnya? Kamu benar-benar seorang idiot"

Tian Ji Zi bukanlah seorang idiot, dari permulaan dia sudah bisa menebak siapa orang itu sebenarnya.

orang ingin menangkapnya dan memenjarakannya, dia malah sudah terlebih dulu datang ke penjara.

Tian Ji Zi tertawa pahit.

Anak ini benar-benar punya akal.

Dia bukan anak kecil, dia adalah jenderal besar, dia adalah Da Xiao Jiang Jun Tuan besar Tian membalikkan wajahnya, Dia tidak hanya punya satu akal, tapi paling sedikit punya 700-800 akal.

Dia menjepit hidung anaknya memaksanya untuk mendengarkan dan berkata.

"Kau harus ingat yang satu ini, kalau tidak tamatlah riwayatmu"

"Baik,"

"Kau harus ingat, siapa pun yang berani menyinggung Da Xiao Jiang Jun pasti tidak akan berumur panjang."

"Baik,"

Tian Ji Zi berkata.

"Apa yang dikatakan oleh tuan besar, aku tidak pernah melupakannya sekalipun."

Xiao Jun akhirnya membuka suara juga.

"Apakah tuan besar bisa memastikan bahwa kejadian ini benarbenar dia yang melakukannya?"

"Pasti dia,"

Tuan besar Tian berkata dengan tegas dan yakini "selain dia tidak akan ada orang lain."

"Dia bisa sangat yakin karena pasti ada sebabnya. Di dunia ini, hanya dia yang bisa menggabungkan penggunaan jurus yang bertenaga Yang yang keras dengan menggunakan tenaga dalam Yin yang lembut, hanya penggabungan kedua unsur Yin dan Yang yang bisa menghasilkan kekuatan yang begitu dashyat."

"Karena takut makanya dia menyelamatkan dirinya dengan berpura-pura mati, hanya sayangnya sudah bersembunyi di dalam penjara yang gelap dan tidak ada sinar matahari, mengapa dengan tiba-tiba mengeluarkan ilmu silat yang istimewa seperti itu sehingga membuat keberadaannya terbongkar."

Pertanyaan ini tepat mengenai sasaran, Tian Ji Zi yang menanyakannya. Setelah berpikir lama barulah tuan besar Tian menjawab.

"Karena keberadaannya sudah terbongkar, dirinya sendiri sudah tahu bahwa orang-orang telah menyadari bahwa yang mati itu bukan dia dan dia bersembunyi di dalam kamar penjara itu mungkin hanya karena dia butuh tempat istirahat untuk memulihkan tenaga dan kekuatannya."

Mendengar perkataan itu, raut wajah Xiao Jun dan Tian Ji Zi langsung berubah, dalam matanya mengeluarkan cahaya yang ganjil.

Mereka sudah mengerti apa yang dimaksud oleh tuan besar Tian.

Da Xiao Jiang Jun berbuat seperti itu demi memelihara kekuatan dan mengumpulkan semangat untuk melawan musuhnya sekuat tenaga.

Kedashyatan dan tragisnya pertempuran ini sudah dapat dibayangkan.

Tuan besar Tian menghela nafasnya, lalu mengambil kendi arak yang berisi setengahnya dari bawah meja kemudian minum seteguk.

setelah itu baru berkata dengan perlahan-lahan.

"untung musuhnya bukan aku."

"Kalau bukan tuan besar, pasti tidak mungkin aku."

Tian Ji Zi sepertinya juga mengendurkan emosinya.

"Tentu saja bukan kau."

Tuan besar Tian tertawa dingin.

"Kau sama sekali tidak pantas."

"siapa yang pantas?"

Tanya Tian Ji Zi.

"Apakah orang yang membunuh ke 26 jagoan bawahan Zheng Nan Yuan?"

"Pelakunya bukan satu orang melainkan sekelompok orang dari satu organisasi."

Tuan besar Tian berkata.

"Yang masuk menjadi bagian dari pengawal baru di bawah QiuBu Dao semuanya juga anggota organisasi ini, oleh karena itu teknik yang digunakan untuk membunuh pun sama."

"Apakah teknik itu menakutkan?"

"Apakah kau mau mencari mereka untuk mencobanya?"

Tuan besar Tian lagi-lagi tertawa dingin.

"Kalau begitu kemungkinan kau akan sebera benar-benar duduk di atas kursi beroda itu seumur hidupmu."

Pandangan mata Xiao Jun lagi-lagi memandang ke kejauhan, lagilagi sepertinya memikirkan hal yang selamanya tidak akan ada orang yang bisa menebaknya. Lalu tiba-tiba berkata.

"Mungkin aku juga tidak pantas."

"Tidak pantas melakukan apa?"

"Tidak pantas menjadi lawan Da Xiao Jiang Jun"

Xiao Jun berkata dengan datar.

"Tapi aku akan melakukannya."

Apakah ini karena diantara Li Jiang Jun dan Xiao Jun ada dendam yang belum terselesaikan?

Ataukah karena alasan yang lain?

Anehnya, Tian Ji Zi kali ini tidak bertanya, hal yang selama hidupnya tidak akan dilakukannya adalah mengintai urusan pribadi yang dirahasiakan milik orang lain.

Xiao Jun tiba-tiba bertanya.

"Mengapa kau tidak bertanya padaku?"

"Bertanya apa?"

"Bertanya mengapa aku harus bertarung dengan Da Xiao Jiang Jun?"

"Aku tahu pada dasarnya kau datang kemari hanya karena dia."

"Mengapa tidak kau tanyakan padaku alasan mengapa aku datang kemari?"

Tian Ji Zi tertawa, walaupun bukan benar-benar ingin tertawa, juga bukan benar-benar sedang tertawa, hanya ada sedikit tampang seperti tertawa.

"Apakah hal ini harus kutanyakan padamu?"

Pandangan mata Xiao Jun melihat ke kejauhan lagi. sesudah lewat beberapa saat baru menjawab.

"Aku masih punya tangan dan masih punya nyawa. Bisa bertanding melawan Da Xiao Jiang Jun boleh dikatakan tidak menyia-nyiakan setengah dari hidupku ini. Kalau hidup mengapa? Kalau mati lalu mengapa? Yang mana yang dinamakan layak dan yang mana yang dinamakan tidak layak?"

Dia perlahan-lahan berdiri "sekarang aku hanya berharap dapat menemukannya terlebih dulu sebelum orang lain menemukannya."

"Apakah kau bisa menemukannya?"

"Mungkin bisa,"

Kata Xiao Jun.

"Karena aku sudah mengerti sedikit orang seperti apa Qiu Bu Dao itu."

"oh? "

"Kelemahan dari orang ini adalah judi."

Xiao Jun berkata.

"Kalau ingin memanfaatkan dia, asalkan campur tangan di bagian yang satu ini, seperti ke 23 orang yang masuk menjadi pengawal di bawahnya, pasti juga kenal di tempat judi."

Sebenarnya perkataan ini sama sekali tidak menjelaskan apa yang dimaksudnya secara menyeluruh. Tuan besar Tian sudah menghembusan nafasnya dan berkata kepada anaknya.

"Kalau punya setengahnya saja dari kepintaran tetua Xiao Jun, aku sudah sangat senang."

Xiao Jun tidak mendengarkan perkataan tadi. Di saat itu anak buahnya sudah tiba di luar tembok tinggi di taman kecil di luar ruang tamu kecil itu. Tian Ji Zi tiba-tiba bertanya.

"Apakah dia benar-benar bisa ditemukan? Bagaimana cara menemukannya?"

"Ke 13 orang itu bisa memanfaatkan Qiu Bu Dao untuk bisa masuk menjadi pengawal di kediaman Sun Ji cheng karena judi. Sun Ji cheng adalah Da Xiao Jiang Jun, mereka adalah lawannya. Kalau Da Xiao Jiang Jun ingin mencari mereka, apa yang seharusnya dia lakukan?"

Tuan besar Tian balas bertanya.

"Bertolak dari judi mencarinya."

"Jika Da Xiao Jiang Jun sudah bertekad untuk bertarung, tentu saja sedang mencari mereka."

Tuan besar Tian bertanya lagi.

"Jika Xiao Jun hendak mencarinya, kemana dia harus mencari?"

"Tentu saja juga harus mencari dari sisi judi."

Tuan besar Tian mengeluh.

"Akhirnya kali ini kau bisa mengerti, ternyata tidak begitu bodoh."

Tian Ji Zi juga mengeluh.

"Tapi kalau benar aku memiliki setengah kepintaran dari tetua Xiao, tuan besar malah kemungkinan menjadi tidak senang."

"Mengapa?"

Tian Ji Zi meminum seteguk arak dari kendi yang diminum ayahnya tadi.

"Karena aku masih ingat tuan besar pernah berkata padaku, orang yang terlalu pintar biasanya umurnya tidaklah panjang."

Zhao Da You adalah sebuah kedai kecil tetapi sangat terkenal, bahkan jauh lebih terkenal dibandingkan dengan restoran-restoran besar.

Pemilik kedai Zhao Da You tidak bertubuh besar juga tidak gemuk.

bahkan bukan bermarga Zhao.

Yang bertubuh besar, gemuk dan juga bermarga Zhao bukanlah pemiliknya, melainkan pelayannya.

Papan nama Zhao Da Youjuga asal mulanya dari pelayan ini.

Banyak orang mengira bahwa pelayan kedai itulah pemiliknya sedangkan pemiliknya adalah pelayan di kedai itu.

Kedai kecil belum tentu tidak bisa menandingi restoran besar, pelayan belum tentu lebih buruk daripada majikannya, semuanya dilihat dari bagaimana cara seseorang bekerja Di dunia ini ada banyak kejadian yang seperti itu.

Tanggal 17 bulan 4, sebelum dan sesudah senja.......

Zhao Da You hari ini tidak buka karena kemarin Zhou Da You bolak-balik semalaman jadi hari ini memerlukan istirahat.Jika pelayan ingin istirahat, majikannya tentu saja harus ikut istirahat.Jika pelayannya sudah tidak mau bekerja lagi maka kedai ini harus tutup.

Jadi pada waktu pelayan ingin tidur istirahat, walaupun kamar dilalap api sekalipun, dia tetap saja tertidur pulas, tidak ada seorang pun yang bisa membangunkannya.

Tetapi hari ini dia dalam sekejap dibangunkan orang, bahkan pantat pun tidak berani istirahat walau sebelah.

Karena orang yang membangunkannya pada hari ini adalah dua orang setan mabuk ya terdiri dari seorang dewasa dan seorang anak kecil, yaitu dua orang yang sedang dicari-cari oleh partai Panji Bunga dan orang pemerintahan.

orang seperti mereka sama sekali tidak boleh dikecewakan, jika tidak mungkin nasibnya akan sama seperti si cakar elang Lao Wang dari partai Panji Bunga, mati ketakutan sampai sekujur tubuhnya basah oleh keringat.

oleh karena itu apapun keinginan mereka, langsung dipenuhi, bahkan sedikitpun tidak berani membantah.

Mereka sudah disuguhkan 8 macam masakan, 8 macam buahbuahan, 20 buah man tou, dan ditambah satu tempayan penuh bunga teratai putih yang baru matang, dan dalam sekejab licin tandas tak bersisa, sepertinya setelah makan kali ini maka lain kali mereka tidak akan ada makanan lagi.

Kedua orang ini tidak seperti yang sedang makan, tetapi seperti orang yang sedang menantang maut.

Wu Tao makan seperti orang yang mau mati saja, Yuan Bao juga makan seperti orang mau mati.

Tetapi Yuan Bao sudah mulai kenyang.

Dia belum pernah melihat orang yang makannya setengah dari Wu Tao.

"Tidur enak baru ada semangat, makan kenyang baru ada tenaga,"

Kata Wu Tao.

"biarpun kau hanya ingin memikul kotoran, tetap saja harus menghimpun semangat dan tenaga. Apa pun yang hendak kau lakukan, tetap sama."

"sekarang kau sudah kenyang apa belum?"

Yuan Bao bertanya kepada WuTao.

"sepertinya sudah"

"Apakah kau sekarang akan mengangkut kotoran?"

"Tidak,"

Kata Wu Tao.

"seumur hidupku hanya ada tiga hal yang tidak bisa kulakukan, walaupun sudah susah payah dipelajari."

"Apa tiga hal itu?"

"Bermain catur, merangkai bunga, dan mengangkut kotoran."

Ternyata Yuan Bao tidak tertawa, hanya menatapnya tajam dengan kedua matanya yang besar dan bertanya lagi.

"selain makan dan minum arak, apa lagi yang kau kerjakan?"

"Menurutmu apa lagi yang bisa kukerjakan?"

Bisa membunuh orang Yuan Bao berkata.

"Aku lihat kau memulihkan semangat dan kekuatanmu hanya untuk pergi membunuh orang."

Wu Tao tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

Dia biasanya sangat jarang tertawa, sekalinya tertawa langsung tertawa keras, seperti yang hatinya sangat senang sekali.

Tetapi dari tertawanya malah terkandung penderitaan dan kesengsaraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Lagipula tiba-tiba tertawanya berhenti mendadak.

Dia bertanya kepada Yuan Bao.

"Kamu percaya tidak ada kalanya orang yang sudah mati bisa hidup kembali?"

"Aku tidak percaya."

"Kau akan segera mempercayainya."

"Mengapa?"

Wu Tao sudah menuangkan semangkuk bunga teratai putih, menghabiskannya dengan sekali teguk.

"Karena sekarang ada orang mati yang akan sebera hidup kembali."

Yuan Bao lagi-lagi menatapnya tajam dengan lama, juga menuangkan semangkuk arak dan langsung meminumnya sekali teguk. lalu bertanya.

"Kaukah orang mati yang akan segera hidup kembali?"

"Ya."

Wu Tao ternyata mengakuinya.

"Akulah orang mati itu."

"Tapi sayangnya kau sama sekali belum mati."

"Kau salah,"

Kata Wu Tao.

"Kau seharusnya berkata Wu Tao belum mati. Kau bukan Wu Tao?"

Yuan Bao tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya.

"Ada kalanya ya, ada kalanya bukan. Waktu kau bukan Wu Tao, lalu kamu siapa?"

"orang yang sudah mati."

Mata Wu Tao tiba-tiba terlihat bercahaya.

"orang mati yang akan segera hidup kembali."

Yuan Bao tiba-tiba tertawa.

"Aku tidak mengerti,"

Katanya.

"Ada seribu kesusahan melanda tetapi untuk mati sekali saja sangat susah.Jika kau sudah susah payah untuk mati, mengapa mau hidup kembali? "

"Karena ada orang yang tidak membiarkan aku mati."

"Siapa orangnya yang tidak membiarkanmu mati?"

"Musuh."

WuTao mengisi lagi semangkuk penuh.

"Musuh yang tidak akan habis dibunuh."

"Jika mereka musuhmu, mengapa mereka tidak membiarkanmu mati."

"Karena aku lebih bermanfaat jika hidup daripada mati."

Wu Tao berkata "Juga karena mereka mengganggap kematianku yang lalu terlalu cepat, makanya mereka ingin aku mati sekali lagi dengan perlahanlahan."

Dia melanjutkan perkataannya dengan datar.

"Sayangnya kali ini siapa pun yang menginginkan kematianku, sepertinya tidak akan mudah."

Yuan Bao tiba-tiba menggebrak meja dengan menggunakan tenaga.

"Bagus Aku setuju."

"setuju apa?"

"Aku setuju kali ini kau jangan mati terlalu mudah."

Yuan Bao berkata.

"Kalau ingin mati, paling tidak bunuh dulu beberapa orang musuhmu yang tidak akan habis dibunuh itu baru bicara."

Wu Tao tertawa terbahak-bahak lagi dan menepuk keras pundak Yuan Bao.

"Bagus Aku suka."

"suka apa?"

"suka kamu."

Wu Tao menuangkan arak untuk Yuan Bao "Beberapa tahun lagi, kau pasti akan menjadi seorang jagoan. Aku bersulang untukmu."

Yuan Bao tidak minum tapi bertanya dulu padanya.

"Apakah sekarang aku belum bisa disebut seorang jagoan?"

"Ya, kau adalah seorang jagoan."

Wu Tao minum lagi semangkuk.

"Kau sekarang adalah seorang jagoan."

Dia meletakkan mangkuk araknya, mengambil sepasang sumpit, sambil menyanyikan lagu menyangkut sumpit bamboo dan arak.

"Arak yang tidak habis diminum, lagu yang tidak habis dinyanyikan, golok pusaka yang tidak ingin dilepaskan, bangunan tinggi yang tidak bisa dinaiki, darah pahlawan yang tidak habis mengalir, kepala musuh yang tidak habis dibunuh."

Suara yang menyanyikan lagu yang sedih itu tiba-tiba berhenti, Wu Tao tiba-tiba minum semangkuk arak.

"Pergi"

Begitu ucapan ini keluar, sepasang sumpit yang ada di tangannya terbang dan menembus papan pintu.

Kedai itu sama sekali tidak ada bisnis, pintu juga sama sekali belum dibuka.

sumpit yang menembus itu ternyata tembus sampai ke luar.

Dari luar segera terdengar suara nafas dua orang dan ada orang yang berteriak.

"Itu dia, dialah orangnya."

"Jika tahu ini aku, mengapa masih tidak mau masuk?"

Tidak ada seorang pun masuk-tidak ada seorang pun yang berani masuk. Wu Tao sebera bangkit berdiri dan menarik tangan Yuan Bao.

"Jika mereka tidak mau masuk. maka kita yang keluar."

Pintu masih tertutup.

Wu Tao sepertinya tidak melihat kalau pintu masih tertutup, dengan langkah lebar langsung menerobos keluar dari kedai, hanya terdengar suara bang papan pintu langsung beterbangan keluar.

Jalanan sudah sunyi senyap, orang dijalanan sudah pada menepi, karena kedai yang kecil itu sudah dikepung.

Ada dua orang yang sedang merintih dan sedang dibawa oleh rekan mereka yang lain, bahu mereka masing-masing tertancap sumpit kayu.

sumpit yang biasa yang ada di tangan Wu Tao ternyata bisa menembus pintu dan menancap masuk pada tulang manusia, manancap pada tubuh kedua orang itu dibagiannya sama, jarak dari jantung mereka masing-masing juga sama.

Sama seperti menusukkannya dengan menggunakan tangan.

Mereka tidak mati bukan karena nasib mereka baik, Mereka tidak mati karena dari semula Wu Tao tidak tertarik untuk mengambil nyawa mereka.

Yuan Bao bisa melihat hal ini.

Tapi dia tidak mengerti, bagaimana mungkin sepasang sumpit bamboo bisa menembus sekat papan pintu yang tebalnya 10 cm dan menancap pada tubuh dua orang yang berbeda di tempat yang sama.

Apakah dia bisa melihat keluar dengan pintu yang disekat sekalipun?

Ini sesuatu yang tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin.

Apakah dia hanya mendengar dari suara nafas mereka langsung bisa menebak bagian-bagian tubuh mereka?

Inijuga tidak mungkin, sangatlah tidak mungkin.

Asalkan ada sedikit kemungkinan, pasti ada orang yang bisa melakukannya, mungkin hanya ada satu orang yang bisa mela kukangnya.

Hal ini biasanya tidak ada orang yang bisa melihatnya dan terpikirkan, tetapi selain Yuan Bao ternyata masih ada satu orang yang juga bisa melihatnya.

Diantara sekelompok orang yang mengepung kedai kecil itu, tiba-tiba ada orang yang bertepuk tangan.

Yang tidak bisa dilihat mata, hanya dengan pendengaran bisa menentukan posisi lawan, dengan menggunakan sehelai bunga dan daun sudah bisa menembus tembok.

orang ini berkata.

"Tidak disangka di dunia ini benar-benar ada ilmu silat yang seperti itu, kalau bukan melihatnya dengan mata kepala sendiri, tidak akan percaya."

Apa yang dikatakan oleh orang ini betul sekali.

Pertama-tama cara bicaranya sangat sopan, amat sangat sopan, hanya orang yang menjadi kepala dari sekelompok orang baru bisa berbicara seperti itu Tapi belakangan nada bicaranya menjadi tidak sopan, terutama perkataannya yang terakhir, kata-kata yang hanya keluar dari mulut seorang berandalan.

orang yang mengatakannya juga betul sekali.

Pakaian yang dikenakannya lebar dan besar, jubahnya terbuat dari kain sutera, dari 20 buah lubang kancing yang dikancingkan hanya 5-6 buah saja, dibawahnya ada sepasa kaki yang hanya menggunakan sepatu yang sudah usang.

Bersambung-05 Jilid-05 Tapi yang terikat di pinggangnya adalah tas pinggang yang mahal yang hanya digunakan oleh orang kaya.

Tas itu adalah tas tempat menyimpan uang yang diatasnya bertatahkan mutiara dan batu berharga.

Tampangnya sama sekali tidak menarik, tapi kalau dilihat tampangnya juga tidak jelek.

Umurnya sudah tidak muda lagi, tubuhnya tinggi besar, kalau tertawa tampangnya seperti anak kecil.

Yuan Bao merasa orang ini sangat menarik dan dia juga tiba-tiba menyadari kalau Wu Tao juga merasa orang ini menarik.

orang yang menjengkelkan selalu membuat orang merasa tidak senang, orang yang menarik selalu membuat orang merasa tertarik.

Pemikiran ini sangat sederhana sama seperti pemikiran akan telur ayam bukan telur bebek, beberapa orang justru suka dengan sengaja melakukan sesuatu yang membuat orang tidak senang.

orang ini keluar dari kumpulan orang-orang dan masih dalam keadaaan tertawa.

Dia berkata kepada Wu Tao sambil masih tertawa.

"Pesilat tangguh yang namanya menggegerkan dunia persilatan yang sudah kutemui tidaklah sedikit, hari ini bisa melihat ilmu silat pendekar, bisa dihitung sudah membukakan mata kita."

Dia menghela nafas dengan sengaja lalu berkata.

"Sayangnya aku masih merasa sedikit menyesal."

"oh?"

"Yang sangat disesalkan adalah sampai saat ini aku masih belum tahu bagaimana seharusnya menyapa pendekar?"

Orang ini berkata.

"Apakah tuan Wu atau bos besar sun?"

Dia lagi-lagi tertawa.

"Mungkin aku seharusnya menyapa anda dengan sebutan Li Jiang Jun baru benar."

Wu Tao balas bertanya.

"Bagaimana seharusnya aku menyapamu?"

"Terserah."

Orang ini tertawa sambil berkata.

"walau kau panggil aku sun si brengsek (wang ba dan) juga aku tidak masalah."

Yuan Bao tiba-tiba ikut tertawa sambil memperlihatkan kedua lesung pipinya.

"Kalau kau adalah telur kura-kura (wang ba dan), lalu bapakmu apa? Kura-kura?"

Di antara kelompok orang itu ada yang menelan ludah, tapi orang ini malah menyuruh orang-orangnya mundur, lalu berkata sambil tertawa.

"Kau menyebutku brengsek belum tentu aku benar-benar seorang yang brengsek."

Orang yang tidak menyebut dirinya brengsek mungkin justru penjahat besar, ini adalah dua hal yang berbeda.

"Ada benarnya juga."

Yuan Bao bertanya padanya.

"Kalau begitu kau itu orang brengsek atau bukan?"

"Aku kelihatannya mirip tidak?"

"Tidak mirip."

Yuan Bao mengedipkan matanya.

"Kamu kelihatannya paling-paling juga mirip seperti penjahat."

Orang ini tertawa terbahak-bahak. tertawanya sangat gembira, bahkan tampang marah sedikit pun tidak ada.

"Kau sendiri tidak seperti roti bundar (Yuan Bao)."

Dia berkata.

"Kalaupun ada sedikit kemiripan, hanya mirip seperti yang kubuat waktu aku kecil dulu dengan menggunakan tepung dari lumpur dan bahkan di dalamnya dibubuhi racun."

Yuan Bao tertawa terbahak-bahak. juga tidak ada tampang marah sedikit pun.

"Yang satu adalah roti lumpur bundar yang dibubuhi racun, yang satu lagi adalah penjahat menengah, tidak atas juga tidak bawah, ternyata kita berdua bukanlah barang yang bagus."

"Kau adalah barang bagus,"

"aku bukanlah barang."

Orang ini mengedipkan matanya dan berkata.

"aku manusia."

Wu Tao yang menatapnya dari tadi tiba-tiba bertanya.

"Apakah margamu Tian?"

"Benar."

Orang ini hanya bisa mengakuinya karena dia benar-benar bermarga Tian.

"Apakah kau putra Tian Yong Hua, Tian Ji Zi?"

"Akulah orangnya."

"Mengapa dari tadi kau tidak mau mengatakannya?"

"Aku masih belum tahu siapa dirimu,"

"mengapa aku harus mengatakan siapa diriku sebenarnya?"

Kata Tian Ji Zi.

"Apa yang perlu kau ketahui sudah cukup banyak."

Wu Tao berkata.

"Yang perlu kuketahui juga sudah cukup banyak."

"Kau tahu apa?"

"Kau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang kalian cari"

Kata Wu Tao. Matanya terlihat bercahaya.

"Aku tahu dalam tasmu terdapat setangkai Chui Mao Duan Fa, sebuah pisau lentur, dan jUga ada 13 buah senjata gelap yang digunakan Tian Yong Hua dulu yang sangat terkenal yang disebut Fei Hua Qi"

Tian Ji Zi menghela nafasnya, tertawa pahit dan bertanya.

"Apakah ada hal di dunia ini yang tidak kau ketahui?"

"Ada satu."

"Yang mana?"

"Kau datang kemari untuk mencariku, aku adalah orang yang kau cari, di sisi pinggangmu ada pisau dan kau bisa segera mengeluarkannya,"

Kata Wu Tao dengan dingin.

"Tapi mengapa kau masih belum turun tangan?"

"Karena aku tidak pantas."

Ada sebagian orang yang sampai mati pun tidak akan mengeluarkan perkataan seperti itu, Tian Ji Zi malah mengatakannya sambil tertawa, bahkan berkata.

"Bahkan tuan besar kami pun berkata bahwa aku tidak pantas untuk menjadi lawanmu, mana berani aku turun tangan."

"Lalu mengapa kau datang kemari?"

"Aku hanya datang untuk melihat kau itu orang yang seperti apa."

Tian Ji Zi berkata.

"sayangnya yang benar-benar menjadi lawanmu sudah terlebih dulu pergi ke tempat lain, jika tidak dia juga pasti datang ke tempat ini."

"siapa dia?"

"Xiao Jun."

Tian jiZi berkata.

"Hatinya bagaikan besi, pukulannya bagaikan petir, kepala bagian penerapan hukuman baru di perkumpulan pengemis, Xiao Jun."

Wu Tao tertawa dingin.

"Kau kira dia pantas menjadi lawanku ?"

"Dia sendiri berkata bahwa mungkin dia juga tidak pantas,"

Tian Ji Zi menghela nafasnya.

"Tapi dia tidak bisa tidak untuk mencobanya."

"Mengapa dia tidak datang mencariku?"

"Dia sudah mencarimu seharian."

"Mencariku kemana?"

"Dia memperhitungkan bahwa kau pasti pergi ke rumah judi mencari orang yang menyuap Qiu Bu Dao."

Tian Ji Zi berkata.

"saat ini dia mungkin sudah ada di dalam rumah judi itu menunggumu."

"Mengapa kau tidak pergi ke sana?"

Tian Ji Zi lagi-lagi menghela nafasnya.

"Karena aku jauh lebih bodoh, aku selalu salah perhitungan akan hal seperti ini, maka dari itu hanya bisa duduk menunggu di dalam rumah. Tapi tak disangka orang bodoh malah mendapat rejeki buta, dia tidak menemukanmu justru malah ditemukan olehku."

Wu Tao waktu itu mengeluarkan suara tertawa yang keras, kesedihannya berkurang, mungkin hanya sedikit orang yang tidak bisa mendengarnya. Yuan Bao tiba-tiba bertanya kepadanya.

"Kita pergi tidak?"

"Pergi kemana?"

"Pergi ke rumah judi itu,"

Kata Yuan Bao.

"Aku belum pernah melihat yang benar-benar rumah judi itu tempat yang seperti apa."

Mata Wu Tao lagi-lagi bersinar, dia berkata dengan datar.

"Kau akan segera melihatnya."

Suasana hati Yuan Bao langsung berubah menjadi senang, sepertinya sama sekali tidak tahu ada berapa banyak musuh dan berapa banyak pembunuh yang bersembunyi di dalam rumah judi itu sepertinya dia juga sudah lupa betapa menakutkannya orang seperti Xiao Jun itu.

hanya ingin secepatnya sampai disana, dia hanya berpikir menjudikan barang milik ibunya dengan sebaikbaiknya.

Tian Ji Zi juga ikut gembira.

"Bagus, aku akan menunjukkan jalan bagi kalian,"

Katanya.

"Kalau kau tidak punya modal, aku akan memberi pinjaman padamu."

"Kau punya uang?"

"Tentu saja ada,"

Seru Tian Ji Zi.

"Ada berkantong-kantong uang."

Dia benar-benar mengeluarkan sekantong uang, tapi sayangnya semuanya hanya terdiri dari beberapa uang tembaga dan pecahan uang perak.

"Apakah uang yang kau miliki hanya sedikit begini?"

Yuan Bao sangat kecewa.

"Ini adalah seluruh harta yang kumiliki, kau jangan mengeluh."

Yuan Bao tertawa pahit sambil menggelengkan kepalanya.

"Kelihatannya kalian orang berada dengan aku si pengemis kecil sama sekali tidak berbeda jauh."

Tian Ji Zi mendadak membalikkan wajahnya, berkata dengan sungguh-sungguh.

"seseorang tidak boleh memilki harta yang banyak. memasukkannya dengan tangan kiri dan menghabiskannya dengan tangan kanan dan menghabiskannya sampai puas. sesudah habis tidak perlu banyak pikiran, jauh lebih puas."

"Betul."

Yuan Bao setuju sekali.

"Jika harta seseorang terlalu banyak. digunakan pun tidak akan ada habisnya, dibuang malah sakit hati,juga takut dicuri dan dirampok, takut ditipu, takut dipinjam orang. setelah mati tidak dapat membawa sepeserpun. Kalau begitu malah jadi tidak puas."

"Betul juga."

"Asalkan bisa menghabiskannya dengan gembira, baru bisa disebut orang kaya, kata"

Tian Ji Zi.

"Maka dari itu aku disebut orang kaya."

"Tentu saja."

"Jadi ini adalah seluruh hartaku sebagai orang kaya, hanya ada sebanyak ini, tidak takut dicuri atau dirampok, juga tidak takut dipinjami orang."

Tian Ji Zi berkata "Jadi asalkan kau membuka mulut, aku akan meminjamkannya padamu."

Ada orang yang mau meminjamkan uangnya padamu tentu saja suatu hal yang mengembirakan, tapi tak disangka Yuan Bao justru berubah menjadi lebih hati-hati dan waspada, lalu bertanya kepada Tian Ji Zi.

"Apakah kau perlu jaminan?"

"Tidak perlu."

"Apakah perlu bunga?"

"Juga tidak perlu."

Zaman sekarang ini persyaratan seperti itu sudah jarang ada, Yuan Bao ternyata masih mau bertanya satu kali lagi.

"Boleh tidak jika aku tidak mengembalikannya kepadamu?"

Tian Ji Zi tertawa. Pertanyaannya kepada Yuan Bao lebih serius dibandingkan pertanyaan Yuan Bao kepadanya.

"Boleh tidak jika aku tidak mau kau mengembalikannya?"

"Boleh."

Yuan Bao menjawabnya dengan sangat puas dan dalam sekejab langsung mengambil seluruh harta kekayaan Tian Ji Zi.

Meminjamkan uang dengan cara seperti itu memang sudah jarang sekali ditemukan, bahkan memberikannya begitu saja malah lebih jarang lagi.

Tapi kedua orang itu sangat gembira "Jika aku adalah bos besar sun, kita tidak akan bisa gembira seperti ini,"

Kata Tian Ji Zi.

"Karena jika aku memiliki uang yang banyak seperti dia, aku tidak akan mungkin memberikan semua hartaku kepadamu begitu saja, kau juga tidak akan berani meminjam dariku."

Yuan Bao tertawa keras.

"untung sekali kau bukan bos besar sun, hanya seorang penjahat yang tidak berarti."

"sedikit pun tidak salah."

Tapi Yuan Bao tetap saja salah.

sebenarnya dia tidak perlu sampai meminjam modal, karena sesudah mereka sampai di tempatjudi itu, yang dipertaruhkan tidak mungkin uang.

Yang mau mereka pertaruhkan adalah nyawa mereka.

ooo)o(ooo BAB IX BERTARUH ORANG TIDAK BERTARUH NYAWA.

Tanggal l7 bulan 4, malam hari......

Lentera sudah dinyalakan, baru saja dinyalakan sebanyak 196 buah lentera berbentuk lampion yang cantik seperti yang dipasang di istana.

Pemilik rumah judi Ru Yi Du Fang, bos besar Tang adalah orang yang sangat memperhatikan kemewahan, dan dia selalu merasa bahwa sebagian besar orang senang pergi ke tempat yang sinar lenteranya paling terang.

Walaupun hanya untuk mengantarkan sedikit uang, sudah pasti lebih baik di tempat yang sinar lenteranya paling terang.

oleh karena itu, walaupun pak tua yang bertanggung jawab atas perbaikkan dan penataan rumah judi tersebut berpendapat bahwa paling banyak menyalakan lentera sebanyak 80-90 buah saja sudah cukup, tetapi bos besar Tang tetap menyalakan sebanyak 196 buah.

Dia tidak salah.

Keuntungan yang diperoleh Ru Yi Du Fang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan 18 rumah judi lainnya yang berada di dalam kota ini.

Bos besar Tang adalah orang yang jarang melakukan kesalahan.

sekarang dia sudah tidak perlu melakukan apa pun.

Yang perlu dilakukannya belakangan ini adalah duduk di dalam rumah menunggu uang datang, jika tidak ada uang perak.

uang emas juga boleh.

sinar yang keluar dari 196 buah lampion cukup terang.

Di bawah sinar lentera, bahkan masih bisa melihat dengan jelas keriput di mata wanita yang telah berumur 35 tahun yang sudah didandan seharian.

Xiao Jun sepertinya tidak melihat apa pun.

Ada berbagai macam orang yang ada di dalam rumah judi, ada yang menarik untuk dilihat dan ada yang tidak.

Ada bermacam-macam kejadian yang sering terjadi di dalam rumah judi, ada kejadian yang menarik dan ada yang tidak.

Xiao Jun sama sekali tidak memperhatikannya.

Di dalam rumah judi tentu saja ada berbagai macam permainan judi Berbagai macam orang datang ke rumah judi justru untuk bermain satu dua jenis permainan judi.

Walaupun mereka tahu setiap saat bisa kehilangan istri mereka karena kalah taruhan, mereka masih mau mencoba bertaruh.

Xiao Jun tidak berjudi.

Tidak ada seorang pun yang tahu apa tujuannya datang ke tempat ini, dan tidak ada seorang pun yang berani menanyakannya.

Raut wajahnya terlalu menakutkan, dibawah sinar lentera dari 196 buah lampion, raut wajahnya semakin terlihat menakutkan.

Di bawah sinar lentera seperti itu, wajahnya seperti yang tembus pandang saja.

saat lentera baru dinyalakan, Tian Ji Zi datang membawa Wu Tao dan Yuan Bao.

semua orang di dalam rumah judi tersebut tentu saja mengenal Tian Ji Zi.

Dia bukanlah jenis orang yang selalu berkelakuan baik yang tidak pernah makan, minum, main perempuan, dan berjudi, Dia merupakan teman baik dari bos besar Tang.

Jika orang yang bergerak di bisnis ini ingin bisa berdiri di atas kaki mereka di kota Ji Nan ini, mereka pastilah harus menjadi teman dari partai Panji Bunga, jika tidak ruangan yang luas yang diterangi oleh 196 buah lentera ini pasti paling sedikitnya sudah dihancurkan orang sebanyak 196 kali.

oleh karena itu sewaktu Tian Ji Zi masuk ke dalam rumah judi, dia terlihat sangat sombong.

Tidak peduli kenal atau tidak.

semua orang pasti ingin menyapa dia.

Bisa bercakap-cakap dengan Tian Ji Zi adalah suatu kejadian yang membuat seseorang menjadi terpandang, apalagi kalau bisa memanggilnya dengan panggilan kakak Tian maka bisa lebih terpandang lagi.

orang yang mencari muka seperti mereka sepertinya tidak sedikit, sekelompok besar orang datang untuk menyapanya.

"Kakak Tian, anda mau bermain apa hari ini?"

"Hari ini aku tidak ingin main."

Tian Ji Zi malah berkata.

"Hari ini aku sengaja datang mambawa kedua orang temanku ini kemari untuk bermain. Mereka berdua adalah tamu kehormatanku."

Orang yang bisa menjadi tamu kehormatan kakak Tian pastilah orang yang sangat terpandang.

Walaupun Wu Tao dan Yuan Bao sama sekali tidak seperti orang terpandang, tapi tidak ada orang yang berani memandang rendah kepada mereka.

Xiao Jun tidak melihatnya.

Dia tidak melihat mereka, mereka juga sepertinya tidak melihat dia.

Dia selamanya seperti hidup di dunia lain, yang bisa dilihatnya hanya kejadian yang ada di dunia itu.

Yang mereka lihat hanyalah balok-balok Pai Jiu (sejenis domino dari kayu).

Bermain Pai Jiu sangatlah menyenangkan, asalkan tidak kalah maka akan sangat menyenangkan.

semua permainan judi sangat menarik.

asalkan tidak kalah maka semuanya menarik.sayangnya, dari sepuluh kali judi, sembilan kali kalah.

Malah mungkin lebih dari sembilan.

"Anda berdua senang bermain apa?"

"Pai Jiu"

Kedua tamu kehormatan Tian Ji Zi segera dibawa ke sebuah meja judi Pai Jiu yang paling besar.

"Anda berdua mau bertaruh di pintu mana?"

"Pintu langit"

Orang yang biasanya bertaruh dipintu langit segera menyingkir.

Bandarnya bukan orang dari dalam rumah judi.

orang yang membuka rumah judi sama sekali tidak berjudi, jika tidak rumah judi ini bisa-bisa kalah bertaruh.

Rumah judi hanya mengambil persentase dari hasil kemenangan judi.

Yang menjadi bandarnya adalah orang yang berperut besar.

Perutnya besar sekali, dompetnya juga besar sekali, dan kepalanya juga tidak kecil.

Jika bukan seteru, bagaimana mungkin jadi bandar di rumah judi?

Yuan Bao segera mempertaruhkan semua uang yang didapatnya dari Tian Ji Zi di atas meja judi, lalu mengangkat mukanya memandangi bandar.

Dia berharap bandar juga melihat dia, sedikitnya menunjukkan rasa memuji padanya, memuji semangat dan keroyalannya.

Yang ingin ditunjukkan oleh bandar itu hanyalah melemparkan pengemis kecil ini keluar dengan sekali cukul dan memanggil kembali orang yang bertaruh dipintu langit tadi.

Tapi sayang dia tidak berani melakukannya.

Tidak ada orang yang berani berbuat tidak sopan kepada teman Tian Ji Zi.

Bandar segera melemparkan dadu dan yang muncul adalah angka tiga, pintu langit jalan duluan, bandar mengambil balok kartu ke tiga.

Kartu ketiga ternyata adalah kartu Dui Huei Hua Bao Zhi, jika bukan karena pengemis kecil ini mengacaukan keadaan, bandar bisa meraup kemenangan dari pintu langit lebih dari 1000 liang emas karena kartu pintu langit adalah kartu Lan wu Er.

Yuan Bao kalah habis-habisan, tidak ada uang sedikit pun yang tersisa.

Di atas meja judi hanya tinggal pintu langit yang belum memasang taruhan, semua orang sedang menunggu, bandar juga sedang menunggu dengan ekskresi, yang hendak menangis tapi tidak bisa menangis ingin tertawa tetapi tidak bisa tertawa, menunggu mereka meletakkan taruhan mereka.

Yang bisa dia pertaruhkan hanyalah dirinya sendiri.

Tian Ji Zi tiba-tiba bertanya padanya.

"Mengapa kau tidak menjadikan dirimu sebagai taruhan di meja judi? Apakah kau lupa bahwa kau adalah sebuah barang berharga?"

Bandar terkesiap.

Tian Ji Zi malah berkata begitu Jika pengemis kecil itu benarbenar naik ke atas meja sebagai taruhan dan menganggap dirinya benar-benar sebuah barang berharga, bagaimana?

Tak disangka kali ini Yuan Bao justru menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Aku tidak dapat berbuat seperti itu."

"Mengapa?"

"Karena aku adalah barang berharga yang tidak ternilai harganya, takut kalian tidak pantas untuk menerimanya."

Bandar mengendurkan emosinya, semua orang mengendurkan emosi mereka. Tian Ji Zi malah masih saja bertanya padanya.

"Kali ini apa yang akan kau pertaruhkan?"

"Aku ingin mempertaruhkan sedikit uang emas."

"Uang emas?"

Dari seluruh tubuh pengemis kecil ini bahkan sedikit serpihan dari uang emas pun tidak ada, bahkan Tian Ji Zi juga tidak dapat menahan diri untuk bertanya.

"Di mana uang emas itu?"

"Di sekitar sini, di mana-mana juga ada."

Yuan Bao berkata dengan sangat yakini "Asalkan aku pergi mengambilnya, setiap saat bisa mendapatkannya."

"Kapan kau berencana untuk mengambilnya?"

"sekarang juga."

Yuan Bao segera melangkahkan kaki menuju keluar dari rumah judi itu.

"Kalian tunggu saja di sini, aku akan segera kembali."

Siapa yang berani menunggu dia?

siapa yang berani percaya kalau dia benar-benar pergi untuk mengambil uang emas?

siapa yang berani pecaya dia akan kembali dengan membawa uang emas?

Muka bandar itu diliputi dengan tawa.

sekarang bagaimana pun juga pintu langit sedang kosong.

"tuan manakah yang mau bertaruh di sini?"

Wu Tao tiba-tiba berdiri "Aku,"

Dia berkata.

"Aku mau, kau menyingkirlah."

Bandar tidak bisa tertawa.

"Mengapa aku harus menyingkir?"

WuTao berkata dengan datar.

"Karena apa yang ingin aku pertaruhkan, kau tidak pantas untuk mempertaruhkannya bahkan kalah pun tidak pantas."

Bandar terpaku. Tiba-tiba terdengar suara seseorang berkata dari belakangnya.

"Menyingkirlah, biar aku saja."

Begitu membalikkan kepalanya, dia langsung melihat orang yang bermuka putih pucat seperti mayat, sama seperti orang mati yang sudah berada di dalam gua es selama tiga bulan.

siapa yang berani menyinggung orang seperti itu?

Bandar itu menyingkir, orang-orang yang bertaruh di kedua pintu lainnya juga menyingkir, tapi ada juga yang merasa enggan untuk meninggalkan meja judi itu terlalu jauh.

semua orang bisa melihat bahwa kedua orang ini bakal berjudi dengan memukau.

Tian Ji Zi tentu saja tidak akan pergi karena hanya dia yang tahu kalau kedua orang ini tidak hanya akan berjudi dengan memukau, tapi juga akan amat sangat memukau.

Hanya satu yang disayangkan yaitu dia masih belum tahu siapa yang menginginkan nyawa siapa.

196 buah lentera lampion yang menerangi ruangan yang suram itu semuanya sepertinya hanya menerangi wajah kedua orang itu.

Wajah kedua orang itu terlihat mirip seperti orang mati.

Wu Tao bertaruh di pintu langit, Xiao Jun menjadi bandar.

"Kau datang, aku juga datang,"

Kata Xiao Jun.

"Kau ingin berjudi, aku akan menemanimu berjudi."

"Bagus sekali."

"Aku pantas atau tidak?"

"Kau pantas,"

Kata Wu Tao.

"Hanya kau yang pantas menemaniku berjudi."

"Kau mau bertaruh apa?"

"Bertaruh nyawa?"

"Bertaruh nyawa? Memangnya berapa banyak nyawa yang kau miliki?"

"satu,"

Kata Xiao Jun.

"satu saja juga cukup,"

"Tidak cukup,"

"Mengapa tidak cukup?"

"Tidak peduli berapa banyak nyawa yang pernah kau miliki dulu, tapi sekarang ini pastinya hanyalah tersisa satu."

"Justru karena kita masing-masing hanya memiliki satu buah nyawa saja, makanya tidak cukup,"

Kata Wu Tao.

"Maka dari itu kita tidak bisa bertaruh nyawa."

"Mengapa?"

"Karena kalau sekali kalah, maka tidak ada kesempatan lagi,"

Kata Wu Tao.

"Kalau begitu judi jadi tidak menarik. juga tidak memuaskan."

"Jadi judi yang bagaimana yang kau inginkan?"

"Aku selalu bertaruh orang, tidak bertaruh nyawa."

"Bertaruh orang?"

Xiao Jun tidak mengerti.

"Apa bedanya bertaruh orang dengan bertaruh nyawa?"

"Tentu saja sama sekali berbeda,"

Kata Wu Tao.

"Kita hanya memiliki satu buah nyawa yang bisa dipertaruhkan, tetapi orang yang bisa kita pertaruhkan sangatlah banyak."

"orang yang ingin kau pertaruhkan bukan dirimu sendiri?"

"Tentu saja bukan."

"siapa yang ingin kau pertaruhkan?"

"Dia."

Wu Tao mengeluarkan satu buah jarinya dan menunjuk kepada orang yang berambut hitam, bermuka hijau, dan mengenakan baju abu-abu.

"Kali ini kita akan mempertaruhkan dia terlebih dulu, siapa yang menang maka dia akan jadi milik siapa."

Wajah orang yang mengenakan baju abu-abu itu memang sudah kehijau-hijauan, sekarang bahkan lebih hijau lagi seperti rumput.

Tapi dia tetap berdiri di tempat, tidak bergerak sama sekali.

Tian Ji Zi tiba-tiba tertawa keras.

"Cara berjudi seperti itu sangat bagus, benar-benar bagus. Mau berjudi bagaimana pun, sama sekali tidak merugikan diri sendiri orang yang dikeluarkan karena kalah pun orang lain. Bahkan mau dikalahkan sampai habis-habisan pun tidak masalah."

"Ada sangkut pautnya."

Wu Tao bertanya dengan dingin "Jika kau menang, apakah kau bisa menjamin bisa menangkap orang itu untuk diserahkan kepadaku?"

"Tidak bisa,"

Tian Ji Zi mengakui.

"Aku sama sekali tidak bisa menjamin."

"Kalau begitu, jika kau kalah?"

Tian Ji Zi tidak berkata lagi. Wu Tao bertanya lagi kepada Xiao Jun.

"Kalau kau?"

Xiao Jun juga tidak bersuara, dia melemparkan dadu dan memisahkan kartu, kartu pertama ada empat titik, kartu selanjutnya adalah kartu Bie shi.

Bisa mendapatkan kartu Bie shi bukanlah hal yang mudah.

Tapi kali ini Xiao Jun justru bisa mendapatkannya dalam sekejap.

Tian Ji Zi tiba-tiba melompat menghampiri orang berbaju abuabu itu dan berkata.

"Lari, cepat lari, orang itu sudah kalah dan kau sudah menjadi milik orang lain, kau masih tidak mau lari?"

Orang berbaju abu-abu itu tidak lari, bukan hanya tidak lari tapi malah pergi menghampiri WuTao dan berdiri di depannya.

Wajah yang diliputi warna hijau itu penuh dengan tawa, tapi tawa yang bisa membuat bulu kuduk berdiri "Apakah aku sudah dikalahkan olehmu?"

Dia malah bertanya kepada Wu Tao dengan sungguh-sungguh .

"Betul."

"Jadi sekarang aku adalah milikmu, kalau begitu terimalah aku."

Orang lain tanpa sebab dan dengan sembarangan membuat dirinya sebagai bahan taruhan, tapi dia malah masih menganggap bahwa hal ini adalah hal yang biasa, bahkan tidak ada tampang terhina atau tidak terima sedikit pun.

Bahkan anehnya masih ada orang yang mau menerimanya.

Tian Ji Zi tercengang.

seumur hidupnya belum pernah dia bertemu orang seperti itu, yang lain pun belum pernah.

Lebih aneh lagi, selain dia masih ada dua belas orang lagi yang berpakaian abu-abu yang dandanannya mirip seperti dia yang maju ke depan, semuanya mendekati Wu Tao dan berdiri di hadapannya dan berkata dengan nada suara yang aneh.

"Kalau begitu terimalah kami juga."

"Aku hanya memenangkan satu orang, bagaimana mungkin aku menerima kalian semua?"

"Kami semua adalah satu orang."

Ke 13 orang itu berkata secara bersamaan.

"Hanya saja kami ini sedikit berbeda dengan orang biasa."

"Berbeda apanya?"

"orang lain hanya memiliki satu nyawa, bahkan kau sendiri juga hanya memiliki satu nyawa."

"Lalu kalian?"

Tanya Wu Tao.

"Berapa nyawa yang kalian miliki? Tiga belas? Kami punya 999 nyawa."

"999 nyawa itu semuanya milik satu orang?"

"Betul."

Wu Tao mengeluh.

"siapa pun yang memiliki nyawa sebanyak itu pasti tidak akan takut mati."

Ketiga belas orang berpakaian abu-abu itu serentak mengganggukkan kepalanya, lalu dengan tiba-tiba mereka menyerang secara serentak.

Mereka semua menggunakan tangan kiri, tapi mereka semua tidak memiliki tangan kiri.

Tangan kiri ketiga belas orang itu sudah dipotong orang, yang dipasangkan di tangan kiri mereka adalah sebuah jepit baja berbentuk aneh yang kemilauan.

Kelihatannya unik, jelek-keji, juga gerakannya sangat lincah.

Tidak ada seorang pun yang pernah melihat mereka mengeluarkan tangan kiri mereka juga tidak ada orang yang melihat mereka mengeluarkan jepit baja mereka.

sekarang mereka secara serentak menyerang dengan licik dan menakutkan.

Jurus yang digunakan ketiga belas orang itu untuk menyerang sebenarnya sangat sederhana, sepertinya mereka hanya menggunakan satu jurus yang sama.

Tetapi kedudukan menyerang setiap orangnya sangat aneh dan koordinasi mereka sangat baik, Ketiga belas jepit baja itu sepertinya dibuat dari satu gagang baja yang sama.

Ketiga belas orang itu bagaikan mesin yang rumit dan sempurna.

Jepit baja di tangan ketiga belas orang itu sudah menyerang ke bagian tubuh Wu Tao pada pergelangan kaki kiri dan kanan, lutut kiri dan kanan, pergelangan tangan kiri dan kanan, siku lengan kiri dan kanan, tulang belikat di kri dan kanan, bagian atas kepala, leher bagian belakang, dan tenggorokan.

Di saat itu, semua persendian yang vital di tubuh Wu Tao dari atas sampai bawah sudah berada dalam genggaman mereka, semua jalan untuk melarikan diri sudah tertutup.

Jika dia adalah manusia kayu, akan segera dipatahkan, jika dia adalah manusia batu, maka akan sebera dihancurkan.

Walaupun dia adalah manusia besi sekalipun, pasti tidak akan bisa lolos oleh jepitan jepit baja itu.

semua orang mengira riwayatnya pasti tamat.

Tetapi tidak ada seorang pun yang tahu apakah dia sudah mati atau belum.

Karena sesaat sebelumnya, ke-196 lentera lampion yang ada disana tiba-tiba padam.

Ruangan besar yang dipenuhi oleh cahaya lentera itu mendadak diselimuti oleh kegelapan yang pekat sampai tidak bisa melihat lima jari yang ada di tangan, bahkan jepit baja yang berkilauan milik ketiga belas orang itu pun tidak terlihat.

Ada sebagian orang yang suka kegelapan.

Ada sebagian orang yang hanya di dalam kegelapan baru bisa melakukan sesuatu yang biasanya tidak ingin dilakukannya atau tidak boleh dilakukan atau tidak bisa diakukannya.

Ada sebagian orang yang hanya dalam kegelapan saja baru bisa terwujud.

Ada sebagian manusia dalam sejarah yang menggunakan akalakal dan cara-cara yang misterius dan aneh yang baru bisa dikeluarkan atau dilakukan di tengah kegelapan.

Tapi kegelapan tetap saja menakutkan.

sikap manusia terhadap kegelapan selamanya akan ada semacam rasa takut yang sukar untuk dijelaskan.

Di tengah kegelapan itu, orang-orang yang berada di dalam rumah judi Ru Yi Du Fang saling menjerit, berteriak dan bergerak ke sana kemari, tapi keadaan segera menjadi tenang.

Karena ke-196 lentera lampion yang ada di tengah ruangan judi itu segera menyala kembali sebanyak 36 buah.

Ketika lentera sudah dinyalakan, semua orang segera menyadari bahwa ketiga belas orang berbaju abu-abu itu sudah menghilang.

wu Tao pun ikut menghilang.

sesudah 36 buah lentera yang lain dinyalakan, semua orang mendengar suara pengurus rumah judi yang sedang berteriak dengan keras.

"Tuan besar Tang sudah menyiapkan 100 guci arak yang bagus dan 100 meja yang penuh hidangan untuk menjamu anda sekalian. semua tamu yang datang pada hari ini adalah tamu kehormatan bos besar Tang jadi tidak dipungut biaya sedikit pun."

Ketika 196 buah lentera semuanya telah menyala, semua orang sudah melihat ada orang yang membawa masuk arak.

sayuran, serta lauk pauk ke dalam ruangan.

Di saat yang sama, mereka juga melihat pengemis kecil yang tadi pergi keluar itu menjinjing kantung yang sangat besar dan berat masuk ke dalam.

Tidak ada orang yang bisa memadamkan lentera sebanyak 196 buah dalam waktu sekejap.

Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana caranya semua lentera itu bisa padam.

Tidak ada seorang pun yang tahu mengapa Wu Tao dan ketiga belas orang yang berbaju abu-abu itu tiba-tiba menghilang?

Tidak ada seorang pun yang tahu kemana mereka pergi.

Tetapi semua orang melihat Yuan Bao menjinjing kantung itu masuk ke dalam dan menaruhnya di atas meja sampai mengeluarkan bunyi buk.

Dengan mendengar suara buk.

siapa punjuga bisa menduga bahwa kantung itu berisikan sesuatu yang berat dan beratnya seperti uang emas.

Pengemis kecil ini ternyata benar-benar kembali dengan membawa uang emas untuk berjudi.

Dari mana dia mendapatkan uang emas yang begitu banyak?

Xiao Jun masih duduk di sana, duduk di tempat yang sama seperti sebelum semua lentera padam.

Wajahnya pun sama sekali tidak ada ekspresi sama seperti sebelum semua lentera padam, seperti yang tidak terjadi apa pun.

Berguci-seguci arak ang bagus dan berpiring-sepiring sayuran sudah mulai dihidangkan.

Tian Ji Zi menggelengkan kepalanya sambil mengeluh, berkata sambil berguman.

"orang ini pasti gila menjamu dan punya penyakit takut kaya."

Yuan Bao menaruh kantungnya dan mendengar perkataan yang tidak ada seorang pun yang mengerti ini, tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya.

"Gila, menjamu itu apa maksudnya?"

"Itu artinya orang yang suka menjamu orang sampai seperti orang gila."

"Lalu penyakit takut kaya itu apa artinya?"

"Artinya orang ini takut dirinya terlalu kaya terlalu banyak uang, makanya sampai mati-matian menjamu orang."

Tian Ji Zi menghela nafasnya.

"Padamnya lentera sama sekali tidak ada hubungannya dengannya, tapi dia masih juga mau menjamu orang. siapa orang ini?"

"selain bos besar Tang pemilik tempat ini, siapa lagi?"

"Bagus,"

Kata Yuan Bao sambil mengacungkan ibu jarinya.

"Bos besar di sini benar-benar memiliki tampang seorang bos, aku menyukainya."

Tian Ji Zi lagi-lagi menghela nafasnya.

"Lebih baik kau tidak menyukainya, itu lebih bagus."

Yuan Bao tentu saja bertanya.

"mengapa?"

"Karena dia sudah pasti tidak akan menyukaimu."

"Dari mana kau tahu bahwa dia sudah pasti tidak akan menyukaiku?"

Sepertinya Tian Ji Zi ingin berbicara hal yang lain, tapi tiba-tiba berubah pikiran dan berkata.

"Temanmu sudah menghilang tapi kau sepatah kata pun tidak menanyakannya, orang yang tidak setia kawan seperti dirimu itu siapa yang bakal suka?"

"Walaupun sekarang dia menghilang, tapi pasti akan kembali, untuk apa kutanyakan sekarang?"

Yuan Bao berkata dengan yakin.

"Tunggu dia pulang baru kutanyakan juga tidak terlambat."

"Kau salah,"

Tian Ji Zi juga berkata dengan nada yakin.

"Temanmu itu tidak akan kembali."

"Mengapa?"

"seseorang jika sudah mati, bagaimana mungkin bisa kembali?"

Yuan Bao tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit.

"Mengapa kau sampai berpikir bahwa dia akan mati? Kalau orang seperti ia bisa mati, maka setengah orang di dunia ini pasti sudah mati dari dulu."

Tian Ji Zi menunggu tawanya mereda baru bertanya padanya.

"Menurutmu dia tidak akan mati? Dia pasti akan kembali?"

"Pasti."

"Apa yang ada di dalam kantungmu ini?"

"Tentu saja uang emas."

"Apakah kau mau bertaruh denganku?"

Tian Ji Zi bertanya kepada Yuan Bao.

"Mempertaruhkan semua uang emas di dalam kantungmu ini?"

"semua hartamu sudah habis kau berikan kepada orang lain, kalau kau kalah, apa yang akan kaujadikan sebagai taruhannya?"

"Aku akan menjadikan orang sebagai taruhannya."

"Baik,"

Kata Yuan Bao.

"Aku akan bertaruh denganmu, kalau dia tidak kembali dalam waktu satu jam, aku boleh dikatakan kalah."

Tian Ji Zi tertawa keras.

"Kalau begitu kau sudah pasti kalah."

Ooo)o(ooo BAB X BINTANG YANG PERTAMA Tanggal 17 bulan 4, malam.........

Malam semakin pekat, sinar lentera semakin terang, ruangan utama di rumahjudi Ru Yi Du Rang penuh dengan aroma arak, aroma daging, aroma ikan, juga aroma riasan bedak para wanitanya.

Berbagai macam bau yang membaur menjadi satu itu malah sepertinya berubah menjadi bau yang tidak enak.

Ada banyak hal di dunia ini yang seperti itu.

Yuan Bao menepuk-nepuk kantung yang dibawanya tadi dengan perlahan.

"Kau dengar tidak, tuanJi ini berkata bahwa aku sudah pasti kalah. Aku sudah bersusah payah membawamu kemarijadi kau jangan sekali-kali membuat aku kalah sehingga memberikanmu kepada orang lain dengan begitu saja."

Kantung itu tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya, tetapi justru Tian Ji Zi yang mendengarkannya.

"Aku bukan tuan Ji tapi tuan Tian."

"Mau tuan Ji atau tuan Tian, kan hampir sama."

"Hampir sama?"

Tian Ji Zi bertanya.

"Hampir sama bagaimana?"

"Kan ji (ayam) itu diberikan kepada orang untuk dimakan, Tian Ji (katak) juga sama untuk dimakan."

Yuan Bao tertawa terkikik sambil berkata.

"sekarang ini aku ingin makan ayam. Ayam yang tidak dipungut bayaran tidak setiap hari bisa didapat."

"Tunggu dulu."

"Aku sudah tidak sabar lagi, mengapa harus menunggu?"

"Karena aku masih punya dua hal yang harus kuberitahukan kepadamu,"

Kata Tian Ji Zi.

"Kau harus mengingatnya dalam hati."

"Baiklah. Bicaralah, aku akan mendengarkan."

"Tian Ji dan Ji tidak sama,"

Tian Ji Zi memberitahu Yuan Bao.

"Paling tidak ada tiga hal yang membedakan."

"Apa tiga hal itu?"

"Tian Ji memiliki empat buah kaki, sedangkan Ji hanya memiliki dua kaki. Tian Ji bisa melompat dan lompatannya tinggi dan jauh, sedangkan Ji tidak bisa melompat."

Tian Ji Zi berkata, Tapi Ji bisa menghasilkan telur, sedangkan Tian Ji tidak bisa."

"Benar juga,"

Kata Yuan Bao sambil bertepuk tangan.

"Tak disangka ternyata kau adalah orang yang berpendidikan juga, aku sangat kagum padamu."

"oleh karena itu kau harus sering datang memohon untuk diajarkan olehku sehingga kau semakin lama akan semakin menjadi orang yang berpendidikan."

"Tuan Tian, numpang tanya. Hal kedua yang ingin kau katakan kepadaku itu, hal apa?"

"Jangan sekali-kali mempercayai orang dengan sembarangan,"

Kata Tian Ji Zi "Jika ada orang yang kembali dengan menjinjing kantung dan bahkan dengan seenaknya mengatakan bahwa kantung itu berisikan uang emas, jangan sekali-kali kau mempercayainya."

Yuan Bao melompat berdiri demikian juga dengan Tian Ji Zi, lalu berteriak dengan suara tercekik seperti ayam jantan yang diinjak lehernya.

"Kau tidak percaya padaku? Tidak percaya bahwa kantung yang aku bawa di dalamnya berisikan uang emas? Apakah tampangku seperti tampang seorang pembohong?"

"Kau persis seperti orang yang sedang berbohong,"

Tian Ji Zi berkata sambil tersenyum.

"Persis sekali."

Yuan Bao melotot padanya, dengan marah melotot padanya, tetapi tiba-tiba dia tertawa sendiri "Memang sedikit mirip seperti orang yang menipu.

Terkadang aku mengaca sendiri di depan cermin dan merasa bahwa memang agak mirip, kata Yuan Bao "Jika ada orang yang merasa bahwa aku tidak mungkin menipu orang, orang itu pasti orang dungu."

"Aku bukan orang dungu, makanya aku ingin melihat isi kantungmu itu."

"Boleh saja, lihatlah."

Tak disangka Yuan Bao segera menyetujuinya, bahkan menyorongkannya sendiri ke hadapan Tian Ji Zi.

Di dalam kantung itu tidak ada uang emas, bahkan tidak ada serpihan emas sedikit pun.

Di dalam kantung itu hanya ada bongkahan besar berupa besi rongsokkan.

Tian ji Zi tertawa.

"semua ini adalah uang emas?"

Yuan Bao sama sekali tidak tertawa, malah berkata dengan sungguh-sungguh.

"Tentu saja, semuanya adalah uang emas, 100% emas asli."

Tian Ji Zi memandangi Yuan Bao. Tampangnya seperti pengantin laki-laki yang dengan gembira memasuki kamar pengantinnya lalu tiba-tiba menginjak kotoran anjing.

"Apa kau gila??!!"

Dia bertanya kepada Yuan Bao.

"Apakah kau punya penyakit aneh?"

"Aku tidak gila, aku juga tidak punya penyakit aneh, aku hanya memiliki sebuah bintang."

Yuan Bao masih berkata dengan serius.

"Maka dari itu, isi kantung ini pada mulanya mungkin hanyalah besi rongsokkan saja, tetapi begitu berada di tanganku langsung berubah menjadi uang emas, 100% emas.

"Kau memiliki sebuah bintang?"

Ekspresi wajah Tian Ji Zi semakin putus asa.

"Bintang yang seperti apa?"

"sebuah bintang keberuntungan."

"Bintang keberuntungan?"

Tian Ji Zi sepertinya sudah tidak lagi mengganggapnya sebagai orang gila, bahkan masih bertanya padanya.

"Bintang keberuntungan dari mana?"

"Bintang yang jatuh dari langit,"

Kata Yuan Bao.

"Langit menurunkan bintang keberuntungan, mengubah besi menjadi emas."

Raut wajah Tian Ji Zi tiba-tiba berubah dan nada suaranya pun berubah menjadi serius ketika bertanya pada Yuan Bao.

"Bisakah kau perlihatkan bintang itu padaku?"

"Tentu saja bisa."

Yuan Bao meraba badannya mencari benda itu kemudian mengeluarkannya.

Ternyata yang dikeluarkannya itu benar-benar sebuah bintang, sayangnya bintang itu hanya bintang segi lima yang dibuat dari kayu pada sebuah papan kayu dan terdapat huruf di kedua permukaannya .

Tidak ada yang bisa melihat dengan jelas huruf apa yang tertera di sana, mereka hanya melihat Tian Ji Zi menggunakan kedua tangannya sewaktu menerima benda itu untuk dilihat, lalu memberikannya kepada Xiao Jun untuk dilihat.

Ekspresi wajah Xiao Jun langsung berubah, bahkan dia menggunakan kedua tangannya sewaktu menyerahkan kembali papan kayu itu kepada Yuan Bao.

Yuan Bao dengan tenang bertanya kepada Tian Ji Zi.

"Kau sudah melihat benda apa ini?"

"sebuah bintang,"

Tian ji Zi berkata dengan sungguh-sungguh.

"Bintang keberuntungan."

Yuan Bao menggunakan bintang itu menusuk-nusuk kantung yang berisi besi rongsokkan itu dan bertanya kepada Tian Ji Zi.

"Apa isi yang ada di dalam kantung ini?"

"Uang emas,"

Kata Tian Ji Zi.

"100% emas asli."

Yuan Bao tertawa.

"Kalau begitu apakah sekarang aku sudah boleh makan ayam?"

Kantung yang berisi besi rongsokkan itu bagaimana bisa tiba-tiba berubah menjadi uang emas?

Mengapa Tian Ji Zi bisa mengakui benda itu sebagai uang emas?

Apa sebenarnya bintang itu?

Mengapa bisa memiliki kekuatan untuk mengubah besi menjadi emas?

Tidak ada seorang pun yang tahu.

sebagian besar permainan di meja judi yang ada di rumah judi sudah dimulai, yang kalah sepertinya hendak membalik tangan, yang menang sepertinya ingin terus menang.

sewaktu perjudian sedang berlangsung, apapun yang terjadi di luar pintu rumah judi itu tidak akan bisa mempengaruhi mereka.

Di dunia ini pun sangat sedikit yang bisa mempengaruhi nafsu makan Yuan Bao.

Dia sudah mulai makan dan minum yang banyak, mumpung tidak usah membayar.

Yuan Bao tidak pernah ketinggalan bila menyangkut makanan yang tidak dipungut biaya.

Walaupun semua orang mengatakan bahwa dia pasti kalah, bahkan taruhannya adalah uang emas, dia juga tetap makan tanpa peduli.

Tian Ji Zi sudah mulai kagum padanya.

Bocah tengik ini benarbenar orang yang bisa dipercaya dan tidak peduli pada apa pun, walaupun kalah sampai mati pun dia tidak akan peduli.

Xiao Jun yang jiwanya seperti berada di tempat yang sangat jauh, tiba-tiba berkata dengan dingin.

"Dia tidak kalah, kau yang kalah."

Yang kalah benar-benar Tian Ji Zi.

Begitu dia membalikkan kepalanya, dia melihat Wu Tao yang tadi disangkanya pasti sudah mati berjalan dari luar masuk ke dalam rumah judi.

Kain yang melekat di badannya dari atas sampai bawah tidak ada yang robek sedikit pun, bahkan rambut di kepalanya tidak ada yang rontok satu helaipun.

Rambut di kepala Tian Ji Zi malah rontok beberapa puluh helai.

Jika bertemu dengan masalah yang tidak bisa dimengertinya, dia akan menggaruk kepalanya tanpa henti.

Dia sambil menggarukgaruk kepalanya sambil bertanya kepada Wu Tao.

"Bagaimana caranya kau bisa kembali?"

"sepertinya dengan berjalan kaki,"

Kata Wu Tao.

"Menggunakan kedua kakiku berjalan pulang."

"Mana yang lainnya?"

"Yang lainnya, siapa?"

"orang-orang yang tadi hendak memotong semua tulang dan persendian yang ada ditubuhmu dari atas sampai bawah dengan jepit baja mereka."

"Mereka juga sudah kembali."

"Lalu mereka sekarang ada di mana?"

Tian Ji Zi tidak mengerti.

"Mengapa aku tidak melihat mereka?"

Wu Tao berkata dengan dingin.

"Karena mereka tidak kembali dengan seutuhnya, hanya sebagian kecil saja yang kembali."

Bagaimana mungkin seseorang bisa kembali hanya sebagian kecil saja?

Tian Ji Zi semakin tidak mengerti, tapi dia segera mengerti.

Yang ada di dalam kantung tadi adalah 13 buah jepit baja yang sebelumnya masih terpasang di tangan kiri ke 13 orang tadi.

Itu adalah senjata mereka untuk membunuh orang juga senjata untuk membela diri mereka, tentu saja mereka tidak akan melepaskan dan memberikannya pada orang lain begitu saja, sama seperti siapa pun tidak akan ada yang rela memotong tangannya sendiri untuk diberikan kepada orang lain.

Lalu di mana bagian tubuh mereka yang lainnya?

Tidak ada yang menanyakannya danjuga tidak perlu ditanya.

Yuan Bao tertawa keras, dia menyerobot dan menaruh sepasang tangannya, yang berminyak yang tadi bekas menggenggam kaki ayam, di utas bahu Wu Tao dan balik bertanya kepada Tian Ji Zi.

"Menurutmu apakah dia sudah mati atau belum?"

"sepertinya belum,"

Tian Ji Zi tertawa pahit.

"orang yang sudah mati sepertinya tidak akan bisa berjalan."

"sekarang bukankan dia sudah kembali?"

"sepertinya begitu."

"Bukankah tadi kau yang ingin bertaruh denganku?"

"Ya."

"Kau yang kalah atau aku yang kalah? "

"Aku."

"Kalau sudah kalah, lalu bagaimana?"

Tian Ji Zi tertawa, tiba-tiba balas bertanya pada Yuan Bao.

"Bukankah tadi sudah kukatakan kalau aku kalah aku akan memberikan orang taruhanku padamu?"

"Ya."

"Kalau begitu aku akan memikirkan cara untuk membuat seseorang menjadi taruhanmu, lagi pula aku sama sekali tidak bilang akan mempertaruhkan orang yang seperti apa untukmu."

Tian Ji Zi berkata sambil tertawa terbahak-bahak "Jika aku mencarikan seorang gadis kecil yang buta, lumpuh, dekil, bau, bibir sumbing, dan penderita kusta serta disentri, yang akan menemanimu baik siang maupun malam, kau harus menerimanya, tidak maupun tidak bisa."

Yuan Bao terkejut. Ternyata dia juga bisa terjebak, suatu hal yang tidak pernah diduga orang, malah mungkin dia sendiri tidak pernah menduganya. Tian Ji Zi tertawanya semakin jahat.

"Kebetulan sekali aku mengenal seorang gadis yang seperti itu di sekitar sini, dan kebetulan sekali dia sedang mencari pemuda yang seperti dirimu."

Dia seperti yang sudah siap keluar untuk mencari dan membawa gadis yang bisa membuat orang mati ketakutan ini, tapi Wu Tao malah tiba-tiba menyuruhnya untuk menunggu.

"Ada satu hal yang ingin kumintai pendapat dari anda."

Tian Ji Zi tiba-tiba berdiri diam.

"Manfaatku yang paling besar adalah siap membantu orang yang kesusahan.

"Dia masih tertawa dengan gembira.

"orang yang mempunyai masalah datang kepadaku untuk meminta pendapatku, bagaimana pun juga aku pasti akan memberikan saran padanya."

Bersambung-06 Jilid-06

"Bagus sekali kalau begitu."

"Masalah apa yang ingin kau mintai pendapatku?"

"Lentera lampion yang ada didalam ruangan ini semuanya sepertinya ada 196 buah."

"Kau sama sekali tidak salah hitung, tidak kurang satu buah pun."

"Bagaimana mungkin 196 buah lentera lampion bisa padam dalam sekejap mata pada waktu yang bersamaan?"

Tian Ji Zi memiringkan kepalanya sambil berpikir.

"Ini tentu saja merupakan hal yang aneh, tapi bukan berarti tidak mungkin terjadi."

Dia berkata "

Jika ada 196 orang yang ahli dalam menggunakan senjata gelap dan setiap orang melemparkan 196 buah senjata gelap dalam waktu yang bersamaan, lentera pasti padam."

Apa yang dikatakannya memang masuk diakal.

"Tempat ini memang tempat harimau tidur dan naga bersembunyi, walaupun ada lebih dari 196 orang ahli senjata gelap di sini, aku juga tidak akan merasa aneh."

Wu Tao juga tidak bisa mengatakan bahwa kata-katanya tidak masuk di akal, tapi dengan tiba-tiba dia terbang ke atas, tangan kiri memegang balok penyangga atap dan tangan kanan mengambil sebuah lentera.

orang-orang yang sedang minum teh baru saja mengeluarkan suaranya, dia sudah mendarat di tanah dan memberikan lentera tadi ke hadapan Tian Ji Zi.

"Jika padamnya lentera disebabkan oleh senjata gelap, kain kasa lentera pasti rusak."

Wu Tao bertanya kepada Tian Ji Zi.

"Kau lihatlah apakah kain kasa lentera ini rusak?"

"Tidak."

Lentera tetap bersinar terang, kain kasa pada setiap lentera lampion yang berbentuk segi enam itu diikat dengan sangat kencang, jika ada lubang sedikit saja maka ikatannya pasti akan segera regas, semua orang bisa mengetahuinya.

Wu Tao bertanya lagi,"

Jika lentera tidak rusak, apakah mungkin padam oleh senjata rahasia?"

Tian Ji Zi tertawa pahit sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"sekarang kau tidak perlu lagi meminta pendapatku, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana lentera itu bisa padam."

Wu Tao berkata dengan dingin.

"Kalau begitu kau yang harus meminta pendapatku."

Tiba-tiba dia mengeluarkan satu buah jarinya, dia menjentik dengan perlahan dari atas lentera lampion itu, lentera langsung padam.

semua orang yang melihatnya terkejut, bahkan Yuan Bao sendiri tidak mengerti.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

"semua lentera lampion ini adalah buatan pengrajin ternama di ibukota Qian Er Dai."

Wu Tao berkata.

"walaupun namanya adalah Er Dai, tapi dia sama sekali tidak dai (dungu), bahkan dia memiliki sepasang tangan yang terampil. Pada bagian atas semua lampion buatannya dipasang sebuah pegas, sekali pegas itu digerakan, tutup kecil dari besi yang berada di dalam tudung lampu itu akan jatuh menutupi sumbu lilin maka lentera akan padam."

Wu Tao berkata lagi.

"Lentera lampion yang digantungkan diatas semuanya dipasang sebuah pegas dan menggunakan sebuah kawat tembaga yang diikat di antara pegas itu secara parallel yang ujungnya digenggam oleh telapak tangan. Ke-196 buah lentera hanya perlu menggunakan 10 tangan sudah cukup, Apabila ada 10 orang yang menggerakkannya secara bersamaan, maka seluruh lentera itu akan padam."

Dia meneruskan perkataannya dengan dingin.

"Asalkan orang yang mempunyai tangan pasti bisa menggerakkannya."

Mencari orang seperti itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan mencari 196 macam orang yang ahli senjata gelap yang berbeda-beda. Yuan Bao mendengarkannya lalu berkata.

"Lain waktu aku akan menemui Qian Er Dai untuk membuatkan lampion seperti itu untuk kumainkan."

"Tetapi untuk bisa membuat semua lentera yang ada di sini padam pada saat yang bersamaan juga bukan suatu hal yang mudah."

Wu Tao berkata.

"Aku rasa hanya satu orang yang bisa melakukannya."

"siapa?"

"Pemilik tempat ini, bos besar Tang."

"Tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin,"

Kata Tian Ji Zi sambil menggelengkan kepalanya.

"Mengapa dia mau melakukan hal seperti itu?"

"Yang bisa menyuruhnya untuk melakukan hal seperti itu juga cuma ada satu orang."

"siapa?"

"Kau."

Wu Tao menatap Tian Ji Zi dengan dingin.

"Di dalam kota Ji Nan ini siapa yang tidak tahu kalau bos besar Tang adalah teman baik tuan muda Tian."

"Aku...,"

Tian Ji Zi seperti tidak mengerti.

"Mengapa aku harus melakukan hal seperti itu? Aku juga tidak gila, apa untungnya bagiku jika aku menyuruhnya untuk memadamkan semua lentera yang ada di sini?"

"Ada untungnya,"

Kata Wu Tao "jika aku ini mati, bagi siapa pun sedikit banyak pasti ada untungnya."

"Apa hubungannya antara lentera padam atau tidak padam dengan kau mati atau tidak?"

Tanya Tian Ji Zi.

"Mengapa harus menunggu lentera padam baru kau bisa mati?"

"Karena asalkan menunggu sampai lentera padam, tetua Xiao baru bisa menyerang."

Wu Tao berkata.

"Dia sangat hebat dalam pukulan,jurus golok. tenaga dalam, dan senjata gelap. Pada saat lentera padam tadi, jika dia sudah mempersiapkan senjata gelap dan mempunyai niat jahat untuk menyerangku, bukankah aku sudah pasti bakal mati?"

Dia berkata dengan dingin.

"Paling tidak kau sudah menyangka bahwa aku pasti mati."

Pada waktu itu Xiao Jun berdiri di hadapannya dan jalan keluarnya sudah dihadang oleh ke 13 orang yang menggunakan jepit baja itu.

jika pada waktu itu Xiao Jun punya niat jahat untuk menyerang kepala dan dadanya dari depan, dia pasti sukar untuk mengelaknya.

seorang pesilat tangguh seperti Xiao Jun, dengan menutup mata pun dia bisa melukai orang, apalagi tujuannya ada di depan mata, dia pasti sudah sejak awal sudah menentukan bagian tubuhnya dari atas sampai bawah yang hendak diserangnya.

padamnya lentera tentu saja merupakan kesempatan bagus baginya.

Wu Tao berkata.

"Karena itu kau memberikan kesempatan yang begitu bagus padanya. Dia tidak mengambil kesempatan itu untuk menyerang?"

"Tidak-"

Kata Wu Tao.

"Mungkin karena umurnya masih terlalu muda, hatinya masih tidak begitu licik, sehingga dia tidak bisa melakukan hal itu."

"Kalau dia tadi melakukannya, bukankah sekarang kau sudah mati?"

Wu Tao tiba-tiba mendongkakkan kepadanya dan tertawa.

"Aku sudah melalang buana di dunia persilatan selama 20 tahun, sudah tidak tahu berapa banyak orang yang ingin mengambil nyawaku, di antaranya paling tidak ada -orang yang merupakan pesilat tangguh seperti tetua Xiao,"

"semuanya pernah mendapatkan kesempatan yang bagus seperti tadi. Mereka semua tidak ada yang menggunakan kesempatan untuk menyerang?"

Tanya Tian Ji Zi.

"Hati mereka sudah cukup licik, apapun yang mereka lakukan pasti penuh dengan tipu muslihat, tidak perlu lagi menunggu kesempatan datang jika ada kesempatan bagus yang datang, mana mungkin mereka tidak memanfaatkannya."

"sekarang mereka ada di mana?"

"semua sudah mati, kesembilan belas orang itu sudah kubereskan sampai bersih."

Wu Tao berkata dengan dingin.

"Tapi sewaktu mereka hendak menemui ajalnya, mereka baru mengerti satu hal."

"Hal apa?"

"Kesempatan emasmu untuk membunuh orang umumnya juga merupakan kesempatan emas bagi orang lain untuk membunuhmu."

Wu Tao berkata.

"Kau bisa membunuh orang lain, mengapa orang lain tidak bisa membunuhmu?"

"Masuk di akal."

Tian Ji Zi mengeluh "jika semua orang di dunia persilatan mengerti akan prinsip ini, orang yang mati mungkin akan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sekarang."

Ooo)o(ooo BAB XI PETUALANGAN YUAN BAO Tanggal l7 bulan 4, malam semakin larut.......

Hampir sebagian besar penjudi tahu, meja permainan judi yang paling besar di Ru Yi Du Fang adalah Tian Zhi Yi Hao, bukan karena ukuran mejanya yang paling besar tapi taruhannya yang paling besar.

orang yang bisa berjudi di meja ini pastilah orang yang besar kepala.

Jadi walaupun meja permainan judi ini jauh lebih kecil daripada meja judi yang lain, tapi dalam pandangan orang, meja ini adalah meja yang paling besar.

Ada banyak hal yang seperti itu di dunia ini.

Yang diletakan di atas meja ini, umumnya adalah emas, perak-perhiasan, barang berharga, dan cek.

Tian Ji Zi malah melepaskan dan melemparkan tas pinggangnya dan sebuah kantong kulit ke atas meja.

Di dalam tas pinggang itu ada sebilah pisau dan di dalam kantong kulit itu ada 13 Fei Hua Qi.

Tian Ji Zi berkata.

"siapa saja mau yang mana silakan ambil."

Tidak ada yang mengerti apa yang dimaksudnya. Tian Ji Zi berkata.

"Ini semua adalah senjata untuk membunuh orang, tapi seumur hidupku aku tidak pernah menggunakan mereka untuk membunuh orang, aku sebenarnya tidak menghendaki benda yang menyusahkan ini."

Wu Tao berkata dengan dingin.

"Ada orang yang bisa membunuh orang tanpa harus menggunakan senjata, apakah dengan menggunakan senjata maka jika membunuh orang akan jauh lebih mudah?"

Tian Ji Zi tertawa.

"Aku juga berharap kau bisa mengerti akan satu hal, paling bagus mengerti sebelum kau menemui ajalmu."

"Hal apa?"

"Di sini memang ada orang yang menginginkan nyawamu, bahkan sedikitnya ada 7-8 orang yang menginginkan nyawamu."

"Kalau kau?"

"Hanya aku yang tidak mau."

Tian Ji Zi berkata "jika di tempat ini hanya ada satu orang yang tidak menghendaki nyawamu, orang itu adalah aku."

Dia tiba-tiba berkata dengan suara keras.

"Benar tidak apa yang kukatakan,jin Lao Zong?"

Seseorang yang selalu duduk di kejauhan dan memunggungi semua orang yang ada di tempat itu, tiba-tiba menghela nafasnya dan membalikkan badan sambil tertawa pahit dan berkata.

"Tuan muda Tian, aku sudah tahu cepat atau lambat kau pasti menarik aku keluar."

Orang ini bertubuh kecil dan kurus, mengenakan pakaian yang sederhana dan mengenakan topi yang biasa dipakai para pengembala kambing di gunung.

Tidak peduli di manapun, pasti tidak akan mudah menarik perhatian orang.

"Apa ada di antara kalian semua yang mengenal dia?"

Tian Ji Zi sendiri yang mengajukan pertanyaan dan dia sendiri yang menjawab.

"Kalian semua mungkin tidak mengenali siapa dirinya, tapi pasti pernah mendengar, di propinsi Bei Liu ada seorang yang ahli menangkap penjahat, dalam 10 tahun ini dia sudah membereskan 835 perkara dan sepanjang sejarah yang sudah dicatat sampai sekarang belum ada orang yang sehebat dia."

Dia tertawa terhadap pria bertopi itu.

"Yang aku bicarakan barusan adalah dia."

Tian Ji Zi berkata.

"Dia adalah ketua di daerah Lu selatan, Lu utara, 9 kantor pemerintahan, 5 benua, dan 18 aliran, Di shui Bu Lou Jin Lao Zong."

Dia bertanya lagi.

"Dengan menggunakan kedudukan Jin Lao Zong, jika dia ingin semua lentera yang ada di dalam rumah judi ini padam, apakah sangat sulit?"

Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan itu Jin Lao Zong malah tersenyum sambil berkata.

"Tidak sulit, tentu saja tidak sulit."

Tian Ji Zi mendadak berkata lagi dengan suara keras.

"Pendekar Tu, bukankah sekarang sudah tiba juga waktunya bagimu untuk menunjukkan diri?"

Orang ini masih belum muncul, tapi semua orang sudah tahu siapa orang yang dimaksud oleh Tian Ji Zi.

Istilah pendekar bukanlah istilah yang bisa disebut sembarangan.

Pendekar yang ada di dunia persilatan tidaklah banyak.

Pendekar Tu di dunia persilatan hanya ada satu orang.

Ji E Ru Chou Tu Qu E.

sesudah lentera kembali menyala, walaupun permainan judi sudah dimulai kembali, tetapi sekali Tian Ji Zi berteriak2

"orang yang berjudi jadi lebih banyak dibandingkan orang yang melihat keramaian di luar, tapi meja judi yang dipenuhi orang hanya satu."

Tapi semua orang sekarang tiba-tiba menyingkir, memperlihatkan seorang pendekar yang sedang duduk.

Dia adalah Tu Qu E.

orang-orang ini saling berdesakan di meja judi bukan sedang berjudi, tetapi hanya untuk menutupi dirinya saja.

Tian Ji Zi tertawa begitu melihatnya, sambil tertawa dia berkata.

"Pendekar Tu kapan datang?"

"Pada saat lentera padam."

"seorang pendekar tidak boleh berkata bohong."

Tanpa menunggu Tian Ji Zi bertanya lebih lanjut, dia sudah berkata sendiri.

"Aku juga bisa membuat semua lentera padam, aku juga bisa mengambil nyawa seseorang."

Tu Qu E berkata.

"Aku hanya ingin semua penyamun dan orang jahat di atas dunia ini habis tak tersisa."

"Bagus,"

Kata Tian Ji Zi sambil bertepuk tangan.

"Pendekar Tu benar-benar seorang pendekar, aku kagum padamu."

Lalu dengan tiba-tiba dia menggunakan suara yang keras lagi berkata.

"Di mana Dai zong biao tou? (= kepala biaoju)."

Begitu kalimat ini selesai, langsung ada seseorang yang terbang keluar dari belakang tedeng.

orangnya tidak pendek.

Tetapi bahunya sangat lebar, orangnya terlalu kekar, jadi terlihat seperti persegi.

Walaupun tidak benar-benar seperti kotak persegi empat, tetapi tidak berbeda jauh.

orang-orang di dunia persilatan tidak ada yang tidak mengenal ketua dari Tian chou biaoju, Tie DaJin Gong Dai Tian chou dengan semua miliknya seperti Jin Zhong Zhao (senjata seperti lonceng berantai), Tie Bu shan (baju dalam besi), dan ilmu silat shi san Tai Bao Heng Lian.

"Aku tidak sebanding dengan pendekar Tu, juga tidak mempunyai kekuatan untuk menghabisi semua penyamun di dunia,"

Kata Dai Tian chou.

"Aku hanya menginginkan nyawa satu orang."

Suaranya serak, dia melatih tenggorokannya sampai serak.

"Karena antara aku dengan orang ini ada dendam kesumat dan alasan aku hidup justru untuk mencabut nyawanya."

Orang yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan pasti tahu alasannya mengapa dia berkata seperti itu 20 tahun yang lalu, Dai Yong An yang teliti, pemberani, memiliki kepandaian yang tinggi, dan termasyur itu mendirikan Yong An biaoju.

Dalam kurun waktu 3 tahun sudah mencapai reputasi yang dalam waktu 30 tahun pun belum tentu ada orang yang bisa mencapainya, asalkan ada panji biaoju dengan huruf An, maka tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh barang yang dijaganya.

Tapi ada satu kali mereka menerima order barang yang besar, hanya saja belum juga keluar dari pintu gerbang, barang itu sudah lenyap.

Itu adalah barang merah dalam jumlah besar yang sangat mahal harganya.

Dalam dunia biaoju, Barang merah artinya adalah barang berharga.

Pemilik barang itu adalah orang yang sangat hati-hati juga tidak ingin menarik perhatian orang, maka dari itu pada suatu malam dia mengantarkan dua buah peti besi yang penuh dengan barang berharga ke biaoju.

Dai zong biao tou sendiri yang menerimanya langsung dan di hadapan pemiliknya langsung membawa dua buah peti besi itu ke sebuah ruangan segi empat yang tertutup rapat tanpa celah di halaman belakang.

sesudah memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga tempat itu, barulah dia melayani pemilik barang itu dan memberi jaminan padanya, Barang itu pasti aman.

Pada saat dia selesai mengucapkan kalimat itu, terdengar suara tertawa tiga kali yang sangat keras dari halaman belakang.

Di saat Dai Yong An sampai di tempat kejadian, ruangan rahasia di halaman belakang itu sudah dibongkar orang, enam orang penjaga dan dua orang pengawal senior yang berjaga di luar ruangan itu sudah ditotok orang, dua buah peti besi yang ada di dalam sudah hilang.

Akhir dari masalah ini adalah.......

Biaoju gulung tikar, Dai Yong An marah sampai mati, istrinya mati bunuh diri dengan menggantung diri dan sebelum meninggal mereka mengganti nama anak tunggal mereka menjadi Tian chou, agar dia selalu ingat dan tidak pernah lupa akan dendam ini.

Dai Tian chou tidak pernah melupakannya.

Jin Lao Zong, Tu Qu E, dan Dai Tian chou.

Walaupun latar belakang ketiga orang ini berbeda satu sama lainnya, tapi memiliki kekuatan yang sama yang jarang bisa dilihat orang.

Walaupun mereka datang dengan alasan yang berbeda-beda, tapi orang yang mereka cari justru satu orang yang sama.

Tian Ji Zi menatap Wu Tao sambil menghela nafasnya.

"Kau lihat, aku tidak membohong imu kan? Bukankah musuhmu yang sudah datang tidak sedikit?"

"Barusan kau berkata bahwa yang sudah datang paling sedikit ada 7-8 orang,"

Kata Wu Tao.

"Mana yang lainnya?"

"Yang lainnya tidak bisa kukatakan."

"Mengapa?"

"Karena identitas mereka tidak sama dengan mereka bertiga,"

Kata Tian ji Zi.

"Mereka bertiga, yang satu pendekar, yang satu adalah ketua Biaoju. Mereka adalah orang baik-baik yang memiliki kedudukan dalam masyarakat. Walaupun aku memaksa mereka keluar dari persembunyian mereka dan walau memakiku dalam hati mereka bajingan tidak tahu diri, mereka juga tidak akan berbuat macammacam terhadapku."

Tian Ji Zi lagi-lagi menghela nafasnya.

"Tapi yang lain tidak sama, jika aku mengundang mereka keluar di saat mereka belum mau untuk menampakkan diri mereka, ada kemungkinan mereka akan mengambil nyawa kecilku ini. Aku hanya punya satu buah kepala, aku tidak mau kepalaku dijadikan pispot di tengah malam seperti ini."

Mata besar Yuan Bao melihat sekeliling tanpa berhenti, lalu tibatiba bertanya pada Tian Ji Zi.

"orang yang mereka cari itu sebenarnya orang yang seperti apa?"

"seorang Jiang Jun (jenderal),"

Kata Tian Ji Zi.

"san Xiao Jing Hun Li Jiang Jun."

"Untuk apa mereka mencari seorang jenderal?"

Yuan Bao mengejap-ngejapkan matanya dan sengaja berkata dengan suara rendah.

"Apakah karena mereka ingin menjadi tentara?"

"sepertinya tidak,"

Kata Tian Ji Zi sambil tertawa dan sengaja berkata dengan suara rendah "Jenderal yang ini sepertinya bukan benar-benar seorang jenderal."

"Kalau bukan jenderal lalu apa?"

"seorang pencuri besar yang sudah 10 tahun belakangan ini menyembunyikan identitas dirinya."

"selama 10 tahun belakangan ini, tidak ada seorang pun yang pernah menemukannya? "

"Tidak ada."

"sudah puluhan tahun tidak ada yang pernah menemukannya, lalu mendadak dalam sekejap semua orang menemukannya, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Yuan Bao bertanya kepada Tian JiZi.

"Apa kau tidak salah?"

"Dia tidak salah,"

Tu Qu E tiba-tiba berkata kepada Yuan Bao.

"sobat kecil, kemarilah. Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu."

Dengan jati diri seperti pendekar Tu, mengapa harus berbasabasi dengan seorang pengemis kecil? Apakah karena bintang yang dimilikinya itu? Yuan Bao segera mendekatinya dan masih berani bertanya.

"Barang yang ingin kau perlihatkan itu bagus atau tidak?"

Tu Qu E sangat tenang bahkan tertawa terhadap Yuan Bao.

"orang tua seperti aku bagaimana mungkin menyimpan barang yang bagus? Ini hanyalah sebuah surat saja."

Dia benar-benar mengeluarkan sepucuk surat, mulut amplop yang terbuat dari kulit sapi itu tadinya disegel dengan menggunakan lilin yang meleleh.

Di atas amplop itu hanya tertulis.

'surat Rahasia untuk Pendekar Tu Qu'.

Surat ini tadinya pastinya sangat penting dan juga rahasia, sebenarnya tidak seharusnya membiarkan orang lain melihatnya.

Tu Qu E bukanlah orang yang gegabah.

Tapi dia benar-benar memberikan surat itu kepada seorang pengemis kecil, bahkan berkata.

"sesudah kau melihat surat ini, tolong kau bacakan agar semua orang bisa mendengarnya ."

Yuan Bao mengangkat bahunya.

"Kau seharusnya tidak menyuruhku membacakannya karena aku belum tentu mengenal semua huruf yang ada di atas surat ini."

Untungnya di atas surat itu hanya tertera 14 huruf saja, bahkan seorang pengemis kecil pun tidak mungkin tidak mengenalnya.

Yuan Bao tertawa.

Dia segera membacakannya dengan suara keras "jika hendak mencari sanXiao Li Jiang Jun, datanglah ke kota Ji Nan tanggal 15 bulan 4."

Selesai membacanya, Yuan Bao mengangkat bahunya lagi sambil menggelengkan kepala.

"Huruf yang ditulis orang ini jelek sekali, bahkan tulisanku saja jauh lebih bagus."

"Dia sengaja menulis seperti itu,"

Kata Tu ou E "Dia tidak menghendaki ada orang yang mengenali tulisan tangannya."

"Kau tahu siapa dia?"

"Tidak tahu."

"Apakah ada orang yang tahu?"

"sepertinya tidak akan ada orang yang tahu,"

Kata Tu Qu E.

"Tapi aku percaya yang menerima surat seperti ini bukan hanya aku seorang."

Yuan Bao menggelengkan kepalanya lagi.

"siapa orang ini sebenarnya saja kalian tidak tahu, mengapa mau mempercayai kata-katanya?"

Dai Tian chou tiba-tiba berkata dengan suara keras.

"Karena orang asing bermarga Li yang ingin aku cari itu sudah kucari selama 20 tahun, asalkan ada informasi sedikit apa pun, aku tidak akan membiarkannya begitu saja."

Keluarnya perkataan seperti tadi sama saja dengan mengakui bahwa dia juga menerima surat seperti itu Dia menatap Wu Tao dengan tajam.

"Aku sama sekali tidak ingin tahu siapa yang telah menulis surat ini, karena sekarang aku sudah menemukanmu."

"Kau ingin bertarung di dalam sini atau di luar?"

Wu Tao tiba-tiba tertawa.

"Zaman sekarang sudah jarang ada orang yang berlatih ilmu silat seperti shi san Tai Bao Heng Lian, ilmu itu bukanlah ilmu untuk dipelajari manusia."

"Tapi aku ingin mempelajarinya,"

Kata Dai Tian chou dengan suara serak.

"Walaupun aku tidak bisa mengalahkanmu, paling tidak juga tidak akan mudah diserang olehmu. Biarpun terkena 10 pukulanmu juga tidak mengapa."

"Bagaimana dengan dirimu?"

"Apakah kau bisa melancarkan satu pukulan kepadaku?"

"Mengapa aku harus melancarkan satu pukulan kepadamu?"

Kata Wu Tao sambil menghela nafas.

"Bagaimana pun juga, aku sangat kasihanpada orang yang sudah bersusah payah berlatih silat seperti kau, aku seharusnya paling tidak membiarkanmu untuk mencobanya."

Dai Tian chou tidak mengatakan apa-apa lagi, dia segera melompat.

Tapi dia sama sekali tidak melompat.

Karena tubuhnya baru saja hendak melompat, tiba-tiba ada dua buah balok kartu yang terbang melesat ke arahnya.

Dia menggunakan tinjunya untuk menepisnya.

Tapi tubuhnya jadi tidak melompat.

Balok kartu itu ternyata berasal dari bandar meja judi Tian Zhi Yi Hao.

Wajah putih pucat Xiao Jun tetap tidak menampakkan ekspresi apa pun, hanya memberitahu Dai Tian chou dengan dingin.

"sebaiknya kau tidak bertarung dengannya."

"Mengapa?"

"Karena aku tidak ingin mengambil resiko."

"Kau tidak ingin mengambil resiko?"

Dai Tian chou meraung keras.

"Aku yang mempertaruhkan nyawa, bukannya kau Resiko apa yang kau ambil? "

"Justru karena kau ingin menghantar nyawamu, karena itu aku mengambil resiko."

Dai Tian chou sama sekali tidak mengerti maksud dari kata-kata tadi, tidak ada yang mengerti maksud dari kata-kata tadi.

"Aku tidak bisa mengambil resiko membiarkanmu membunuhnya,"

Xiao Jun berkata dengan dingin.

"Walaupun aku tahu bahwa kau sama sekali bukan tandingannya, tetapi jika kau beruntung bisa melukainya, bagaimana?"

"Tetua Xiao,"

Raut wajah Dai Tian chou berubah menjadi ungu.

"Apa sebenarnya maumu? Aku sama sekali tidak mengerti"

"Maksudku adalah kau tidak boleh menyentuh orang ini."

Xiao Jun berkata.

"selama aku masih hidup, tidak ada orang yang boleh menyentuhnya."

Jika perkataan ini dikeluarkan oleh orang lain, Dai Tian chou pasti langsung menerjangnya.

Tapi ini dikeluarkan dari mulut seorang tetua dari perkumpulan yang paling besar di dunia persilatan, tidak ada orang yang berani menyentuh, hanya berani bertanya.

"Mengapa?"

"Karena orang ini adalah milikku."

Xiao Jun berkata.

"jika aku tidak bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri aku tidak akan bisa mati dengan tenang."

"jika aku tidak bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri, aku juga tidak bakal bisa mati dengan tenang,"

Kata Dai Tian chou dengan suara serak.

"Tetua Xiao, bisakah kau mengalah padaku?"

Yuan Bao lagi-lagi menyela.

"Aku rasa kalian sebaiknya diundi saja."

Dia berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Jin Lao Zong, pendekar Tu, Daizong biao tou, tetua Xiao, kalian berempat diundi saja. jika masih ada orang lain yang ingin ikut serta juga boleh, siapa yang terpilih siapa yang maju duluan."

"Bagaimana pun juga kalian semua bukan tandingannya, siapa pun yang maju duluan tidak menjadi masalah."

Tian Ji Zi segera bertepuk tangan menyetujuinya.

"Usul yang bagus."

"sebenarnya aku masih punya cara yang lebih baik lagi."

"oh?"

"Kau panggil bos besar Tang yang punya penyakit takut kaya itu untuk memadamkan lagi semua lentera, biarkan mereka menyerang sekaligus dalam kegelapan, lagi pula orang lain tidak bisa melihatnya jadi muka mereka juga tidak akan menjadi merah."

Tian Ji Zi lagi-lagi bertepuk tangan sambil tertawa.

"Cara ini benar-benar cara yang paling baik,"

Lentera ternyata benar-benar padam.

sama seperti sebelumnya, 196 buah lentera lampion mendadak padam secara bersamaan dalam sekejap mata.

Terdengar suara angin dari empat penjuru di dalam kegelapan suara angin akibat kibasan dari pakaian yang dipakai, suara angin akibat lemparan senjata gelap, suara angin akibat kibasan golok.

Yuan Bao hanya bisa mendengar perkataan Wu Tao padanya.

"Kau cepat pergi."

Yuan Bao tidak pergi karena dia sudah tidak bisa pergi.

Pada saat lentera padam secara bersamaan, dia sudah merasakan bahwa ada tiga orang yang serentak bergerak menyerang dirinya.

Dia tidak bisa melihat siapa ketiga orang itu, tapi dia tahu bahwa ketiga orang ini juga sama-sama pesilat tangguh.

Dia berhasil menghindar dari kepungan dua diantaranya, malah masih bisa memberi hormat kepada mereka satu orang satu kali, tapi pergelangan tangannya malah ditahan oleh orang yang satunya lagi.

Tangan orang ini dingin seperti es.

Tenaga orang ini benarbenar besar.

Yuan Bao hanya merasa setengah tubuhnya tiba-tiba kaku, setengah tubuhnya yang lain juga tidak bisa menggunakan tenaga sedikit pun.

lalu tubuhnya dilemparkan terbang keluar seperti bola oleh orang ini dan di luar lagi-lagi ditangkap oleh seseorang.

orang yang menangkapnya ternyata sama dengan orang yang tadi melemparkannya keluar, karena tubuh orang itu ada semacam aroma yang aneh.

Aroma orang ini seperti bau busuk, seperti bau orang yang sudah lama mati yang dimasukkan ke dalam peti mati.

Aroma seperti itu bukanlah yang bisa tercium setiap hari.

Nasib Yuan Bao benar-benar mujur, dalam waktu singkat sudah dua kali dia mencium aroma itu.

setelah itu dia jatuh pingsan.

Pada waktu Yuan Bao siuman, aroma yang tercium olehnya sama sekali aroma yang berbeda, aroma yang bisa membuat jantung orang mati yang menciumnya berdebar.

Dia belum pernah mencium aroma yang begitu misterius.

Kemudian dia tersadar bahwa dia sudah tidak ada di ruangan besar di rumah judi yang penuh dengan desingan suara angin dari empat penjuru.

Dia sudah tertidur di atas sebuah tempat tidur, tempat tidur yang besar dan luas, dan aroma itu ternyata berasal dari tempat tidur itu.

Pakaian pengemis yang dipakainya sangat bau, bau sekali, tapi di sini sama sekali tidak tercium bau sedikit pun.

Karena pakaiannya sudah hilang, pakaiannya dari atas sampai bawah semuanya hilang.

Dia tiba-tiba menyadari dirinya sudah tidur dengan nyaman di atas sebuah tempat tidur dan sekujur tubuhnya sudah dimandikan orang sampai bersih, seperti layaknya bayi yang baru saja dilahirkan.

Yuan Bao sangat terkejut, benar-benar terkejut.

Bagaimana dia bisa berada di tempat seperti ini?

siapa yang membawanya kemari?

Tempat apa ini?

Siapa sebenarnya orang yang memiliki sepasang tangan yang dingin, sedingin tangan orang mati, yang baunya seperti bau orang mati?

Yuan Bao sama sekali tidak tahu.

Walaupun dia benar-benar dibuat kaget setengah mati, tapi dia tidak bisa bergerak, tubuhnya masih terasa lemas, bahkan tidak ada tenaga sedikit pun.

Di saat dia ingin menangis tapi tidak bisa menangis itu, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang sedang tertawa.

seseorang yang umurnya tidak beda jauh darinya, seorang gadis kecil yang mungkin umurnya lebih muda sedikit darinya, tiba-tiba muncul dari kepada tempat tidurnya dan melihatnya sambil tertawa kecil, ketika tertawa juga memiliki dua lesung pipi yang sama dengannya.

selain dirinya sendiri, mungkin orang lain juga akan merasa bahwa senyum gadis kecil ini lebih manis dibandingkan dengan dirinya.

Yuan Bao segera menarik selimut yang menutupi tubuhnya, gadis kecil ini semakin tertawa senang.

"Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu, kau takut apa?"

Katanya "jika kau takut aku lihat, tadi aku sudah melihatnya."

"Kau sudah melihatnya?"

Yuan Bao terkejut lagi.

"Melihat apa?"

"Melihat semuanya."

Gadis kecil ini berkata.

"Tadi aku sudah membantu memandikanmu."

Yuan Bao terpaku.

Dalam mimpi pun dia tidak menyangka bakal bertemu dengan gadis kecil seperti dia, bahkan membantu memandikannya.

Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi?

ooo)o(ooo BAB XII TUJUH BUAH BINTANG MILIK YUAN BAO Tanggal l8 bulan 4, senja........

Yuan Bao sama sekali tidak tahu sekarang sudah jam berapa, juga tidak tahu tempat apa ini, lebih tidak tahu lagi bagaimana situasi di Ru Yi Du Fang setelah lentera padam.

Dia ingin menanyakan semuanya tapi dia sama sekali tidak membuka suara, gadis kecil yang sudah membantunya mandi ini sudah bertanya lebih dulu.

"Aku sudah tahu semua orang memanggilmu Yuan Bao, tapi sebenarnya margamu apa? siapa namamu? Di mana rumahmu? siapa lagi yang ada di rumahmu? Apakah sudah mempunyai istri?"

Dia sekali bertanya langsung 4-5 pertanyaan sekaligus, seperti yang hendak menjodohkan Yuan Bao saja.

"Namaku benar-benar Yuan Bao, aku hanyalah seorang pengemis kecil,"

Kata Yuan Bao.

"orang miskin seperti aku mana bisa punya rumah? Bagaimana mungkin bisa punya istri?"

"Kau bohong"

Kata gadis kecil itu.

"Kau sama sekali bukan pengemis kecil, aku bisa langsung melihatnya sewaktu membantu memandikanmu tadi."

"Bagaimana kau bisa melihatnya?"

"seluruh badanmu diselimuti daging, sepasang kaki panjangmu jauh lebih mulus dibandingkan kaki perempuan, bagaimana mungkin menjadi seorang pengemis demi sesuap nasi?"

Baca Juga: Perkampungan Hantu Khu Lung

Baca Juga: Bakti Pendekar Binal Khu Lung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert