Eps 4 Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id.
"Ya, dia kalah dalam pertandingan, seharusnya dipenjarakan, akan tetapi dia tak mempunyai kewajiban untuk menerima perlakuan sama dengan tawanan laki-laki, apa lagi ia sampai menjadi bulan-bulanan oleh para tawanan laki-laki itu "
Laucu rumah penjara itu agaknya menganggap bahwa pikiran Leng Bie Sian itu memang ada benarnya, ia lalu mengangkat kepala dan berpikir, kemudian berkata.
"Kalau menurut kau, bagaimana Suhumu harus memperlakukan dia?"
Leng Bie Sian melirik Cin Hong sejenak. lalu berpaling kepada Suhunya dan berkata sambil tersenyum.
"Boleh kah kiranya suhu memerintahkan ia melakukan pekerjaan lain, umpama kata ia Tawanan yang lain-lainnya pergi kekamar masing-masing untuk makan, dan ia boleh dikeluarkan untuk membantu membawa tawanan lainnya membagibagikan sayur kepada mereka, dengan demikian mereka juga tidak berani menghina ataU berlaku kasar terhadapnya"
Laucu itu tertawa, kemudian berkata sambil angkat bahu.
"cara begini juga belum tentu sempurna, para tawanan itu toh boleh menggoda padanya dengan kata-kata mesum umpamanya". Leng Bie Sian juga tertawa, kemudian berkata.
"Jikalau mereka berani berbuat demikian, maka kepada orang itu nona itu boleh memberikan sedikit makanan atau tidak diberi makan kenyang. ini seperti juga siksaan baginya, dengan demikian sudah tentu orang-orang itu tak akan berani menggoda atau berlaku kurang ajar terhadapnya, bahkan sebaliknya, mereka tentunya akan berlaku baik hati atau bersikap ramah supaya jangan sampai kelaparan. Kalau sudah begitu siapa lagi yang berani main gila terhadapnya ?"
LAUcU rumah penjara rimba persilatan itu berjalan mondar mandir sambil menggendong tangan, lalu berkata sambil tertawa ringan.
"Heh Kalau demikian, bukankah ia akan berubah menjadi raja perempuan yang tidak dapat diganggu lagi?"
Leng Bie Sian kembali melirik kepada Cin Hong, dan berkata sambil tertawa.
"Ini apa Salahnya ? Dia adalah satu-satunya nona yang dalam sepuluh tahun ini berani menantang bertanding di lembah ini. Biarlah diberikan kesempatan baginya untuk mengangkat derajat kaum wanita, itu juga ada baiknya"
Laucu rumah penjara itu berdiam sambil berpikir, kemudian berhenti dan menatap wajah Cin Hong, kemudian bertanya sambil tertawa.
"Cin Hong, usul muridku ini juga tidak melanggar peraturanku. Jika kau suka menerima usul ini aku dapat segera mengeluarkan perintah untuk dilaksanakan. Bagaimana kau pikir?"
Cin Hong berpikir bolak-balik dalam hati juga tahu apabila ia mengadakan pertandingan dengan Laucu itu, sudah tentu tak bakal ungkulan melawan.
Bukanlah suatu jalan yang baik bagi dirinya.
Sekarang karena keadaan sudah menjadi sedemikian rupa, terpaksa membiarkan Injie menerima hukuman sedikit lebih dulu, kemudian baru perlahan-lahan memikirkannya daya upaya lain untuk menolong nona itu keeluar dari rUmah penjara ini.
Begitulah, saat itu ia lalu menjawab sambil menganggukkan kepala.
"Baiklah, hanya aku masih perlu pergi memberi nasehat kepadanya"
Sehabis berkata demikian, ia memutar tubuhnya hendak berjalan keluar, tetapi Laucu rumah penjara sudah memanggilnya.
"Jangan kesusu, kau daharlah dulu sebentar, pergi nanti toh sama juga , bukan?"
Kiranya waktu itu hari sudah gelap.
seorang pegawai rumah penjara sudah menyediakan makanan malam.
Dalam keadaan demikian tentu Cin Hong tak dapat enak dahar.
Tapi ketika lihat hidangan ada paha ayam, napsu makannya timbul.
Bersama Laucu dan muridnya lalu makan bersama di satu meja.
Yang mengherankan ialah, Laucu itu meskipun sedang makan, tetapi masih tidak membuka kerudung kain hitam di mukanya, di waktu makan dengan sangat hati-hati sekali ia masukkan makannya dalam mulut Sambil menyingkap kain yang menutupi mukanya, ia makan dengan tenang dan sangat teratur, sedikirpun tak mirip seocang iblis yang menggemparkan rimba persilatan-Cin Hong memakan apa yang disukainya saja, seperti paha ayam, dalam hatinya hanya ingin minum seCawan dua arak saja, diluar dugaannya disitu tidak tersediakan arak.
Maka setelah dahar hampir habis, ia tidak dapat menahan perasaan herannya.
Lalu bertanya.
"Apakah kalian tidak mempunyai kebiasaan minum arak?"
Laucu tampak terCenggang ia balas bertanya.
"Apa kau ingin minum arak?"
Cin Hong menganggukkan kepala dan menjawab sambil tertawa.
"Jikalau ada, aku memang benar ingin minum barang seCawan dua saja."
Laucu itu setelah berpaling, berkata pada Leng Bie Sian.
"SianJie, pergilah kekamar suhumu dan ambilkan sebotol arak simpanan yang sudah lama itu"
Leng Bie Sian bang kit dan lari menuju kekamar Suhunya, tak lama kemudian ia sudah baliK lagi Sambil membawa sebotol arak dan tiga Cawan, lebih dulu ia memberikan kepada Cin Hong SeCawan penuh barulah kepada suhunya dan paling akhir dia sendiri.
Laucu itu tiba-tiba menunjukkan sikap terheran-heran-ia berseru kaget.
"He"
Kemudian bertanya kepada muridnya.
"SianJie, apa kau juga hendak minum?"
Muka Leng Bie Siang menjadi merah,jawabnya sambil tertawa kemalu-maluan.
"Hanya hendak minum seCawan kecil saja, apakah Suhu tidak keberatan?"
"Baiklah, tetapi kau harus jaga jangan sampai mabuk arak hingga sikapmu berubah"
Cin Hong mencium dulu araknya, kemudian berkata Sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Hem, ini benar-benar arak tulen dari Heng-hoa-Chun"
"Kau ternyata kenal barang baik, ini adalah arak yang sudah kusimpan selama sepuluh tahun lebih,"
Berkata Laucu dengan pujiannya, Leng Bie Sian juga turut berkata sambil tertawa.
"Suhu adalah setan pemabukan, dia juga setan kecil pemabokan, sudah tentu kenal barang baik"
Cin Hong menenggak seCawan, berkata sambil angkat bahu.
"Aku sebenarnya tidak suka minum arak hanya hari ini jikalau tidak minum sedikit sesungguhnya pikiran hatiku masih merasa pepat"
Laucu itu juga minum setegukan, lalu meletakan Cawannya dan berkata sambil tertawa.
"Kau marah terhadap siapa ?"
Cin Hong kembali minum seteguk. jawabnya hambar.
"Jikalau aku mengatakan marah terharapmu itu barang kali terlalu tidak ada aturan, betul tidak ?"
"Sudah tentu, kau harus tahu bahwa kau adalah orang pertama sejak kubangun rumah penjara ini, yang makan bersama-sama satu meja denganku. Apabila urusan ini tersiar diantara orang-orang rimba persilatan, barang kali tiada seorangpun yang mau percaya"
Berkata Laucu rumah penjara sambil menganggukan kepala. Cin Hong meletakan Cawan araknya, sambil menyumpit sepotong paha ayam diletakan kemangkoknya sendiri, katanya sambil tertawa hambar.
"Terima kasih, aku juga pernah mendengar banyak Cerita mengenai diri Laucu, maka perlakuanmu hari ini terhadap diriku yang agak istimewa benar-benar sangat mengherankan dan mengejutkan diriku "
"Besok pagi jikalau kau membuat lukisan untukku, mungkin masih ada hal-hal yang akan membuatmu semakin terkejut "
Cin Hong hanya mengeluarkan seruan "oh"
Sangat perlahan, juga tidak menanyakan lagi urusan apa yang dimaksudkan mereka sebenarnya, ia mulai dengan diam, setelah selesai makan, selagi guru dan muridnya itu tidak ambil perhatian, dia telah mencuri paha ayam yang diletakkan dalam mangkoknya dimasukkan kedalam lengan bajunva sendiri, kemudian bangkit dari tempat duduknya seraya berkata .
"Kalian silahkan makan perlahan-lahan, aku sekarang hendak menengok Sumoayku. Apakah Laucu tidak keberatan?"
Leng Bie Sian turut bangkit dan berkata.
"Perlukah aku bawa kau pergi?"
Cin Hong baru-buru memberi hormat dan berkata sambil mengucapkan terima kasih.
"Tak usah, aku bisa mencari sendiri."
Laucu rumah penjara memandangnya sejenak. kemudian berkata lambat-lambat sambil tertawa.
"Jikalau ia merasa kurang enak dengan paha ayam itu, kau boleh nasehati kepadanya supaya makan besok pagi saja"
Cin Hong tidak menduga bahwa perbuatannya, mencuri paha ayam itu, sudah pergoki oleh Laucu rumah penjara, maka pada saat itu wajahnya menjadi merah, buru-buru memutar tubuh dan lari keluar.
Ia segera menuju kekamar yang digunakan untuk naik turun kebawah lembah, dengan meniru perbuatan Leng Bie Sian tadi yang menggerakkan alat dalam ruangan kamar itu, ia menggerakkan kamar besi itu turun kebawah dalam waktu sekejap mata, ia sudah tiba tempat yang dituju, ia lalu keluar dari ruangan kamar,jendela rumah penjara itu satu-persatu dilewatinya, mulai dari nomor dua puluh empat hingga sampai nomor dua puluh tujuh....
Ia memutar lima putaran, barulah tiba diluar jendela kamar nomor seratus lima.
Ini adalah kamar yang letaknya paling belakang, terpisah dengan lembah itu masih kira-kira tiga puluh tombak lebih dalamnya.
Waktu itu sinar rembulan menyinari dasar lembah, samar-samar tampak dibawah sana ada beberapa alat-alat seperti pacul dan lainlainnya, dapat dibayangkan bahwa alat-alat itu adalah yang dipergunakan oleh para tawanan untuk bekerja kasar.
Ketika Cin Hong tiba didepan jendela tawanan nomor seratus lima, dari situ masih terdengar suara isak tangis yang keluar dari mulut In-jie, ia lalu melongok kedalam.
tampak gadis itu rebah miring didinding sebelah kanan, sepasang tangannya diborgol dengan rantai besi, demikian pula sepasang kakinya rambutnya yang panjang terurai sampai dipundaknya, keadaannja sangat menyedihkan-"In-jie"
Demikian Cin Hong memanggil kepadanya perlahan, matanya juga ikut basah.
In-jie dengan cepat lompat duduk.
perlahan-lahan bangkit berdiri.
Karena kakinya diborgol maka dengan susah payah ia baru bisa berjalan mendekati lobang jendela sepasang matanya sudah merah bendul.
Sambil menangis tersedu sedan berkata.
"Engkoh Hong, bagaimana sekarang?"
Cin Hong berusaha untuk menahan mengalirnya air mata, ia paksakan diri untuk tertawa kemudian berkata.
"Kau sudah makan atau belum?"
"Aku tidak bisa makan, Kau tidak tahu tadi didalam nasiku aku telah mendapatkan satu kutu beras... ."
Berkata In-jie sambil menggelengkan kepala dan menangis. cin Kong buru-buru mengeluarkan paha ayamnya dari lengan bajunya, diberikan kepadanya melalui lobang jendela seraya berkata.
"Nah, makanlah dulu paha ayam ini"
In-jie tidak mau menyambut, hanya berkata sambil menangis dengan sedihnya.
"Tidak aku tidak lapar... ."
"Tidak makan mana boleh? Kau nanti bisa sakit perut karena kelaparan"
Berkata Cin Hong cemas.
"Mengapa kau tidak memberitahukan hasilmu dalam pembicaraan dengan Laucu rumah penjara untuk membebaskan aku? Dan mengapa kau mesti suruh aku makan?"
Berkata In-jie menangis semakin keras.
"Makanlah dahulu aku nanti akan beritahukan kepadamu perlahan-lahan"
In-jie menggelengkan kepala dan berkata.
"Aku benar tidak bisa makan, kau lekas beritahukan kepadaku "
Cin Hong menghela napas perlahan, katanya dengan membujuk.
"Kalau begitu kau boleh tinggalkan dan makan besok pagi saja, bagaimana?"
In-jie terpaksa menyambut paha ayam itu dan menghentikan tangisnya, tanya dengan suara sedih.
"Dengan Cara bagaimana kau bisa mendapatkan paha ayam ini?"
"Laucu Tumah penjara telah mengundang aku makan bersama-sama, dan dari meja makan itu aku telah mencuri sepotong untukmu "
In-jie tertawa geli, katanya.
"Kalau dia sudah mengundang kau makan barangkali juga bersedia buat membebaskan aku bukan?"
Namun Cin Hong menghela napas, mencarikan bagaimana hasilnya pembicaraan dengan Laucu, pada akhirya ia berkata.
"Sekarang kau terpaksa harus sabar beberapa hari, biarlah aku nanti perlahan-lahan berusaha buat menolong kau boleh kah?"
In-jie kembali mengucurkan air mata, katanya Sambil menangis.
"Bagaimana bila kau tidak mendapatkan daya upaya yang baik buat menolong aku keluar?"
"Barangkali tidak sampai demikian serius. Tapi jangan lupa, kau harus terus melatih ilmu Silatmu dan harus lebih giat. Apa bila dalam waktu yang cepat bisa dirobah kamar tahananmU kekamar tahanan naga, waktu itu kesempatan buat melarikan diri jauh lebih banyak daripada ditempat ini"
"Aku harus melatih ilmu silat berapa lama baru dapat menyambut pukulannya sampai lima kali?"
Cin Hong memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, katanya perlahan.
"Satu tahun tak berhasil dua tahun, dua tak belum berhasil, yah tiga tahun, bila tiga tahun masih belum juga berhasil.,.."
In-jie mendadak marah alisnya berdiri katanya sengit.
"Kau ngoceh Apa kau Suruh aku jadi nenek-nenek dulu?"
"Ah tidak, besok pagi aku akan pergi mengunjungi suhuku dan Suhumu, barangkali Suhu dapat memikirkan suatu Cara yang lebih baik."
In-jie menundukan kepala, dan berkata Sambil manangis.
"Suhu pasti marah terhadapku, aku tahu...."
Dua anak muda itu saling berpandangan dengan hati pilu, untuk Sementara suasana menjadi hening.
Seluruh penjara kini tampak sangat sunyi, sinar rembulan memancarkan sinarnya didinding lembah, menyinari lubang-lubang jendela yang berderet disepanjang lamping dinding, sehingga merupakan pemandangan yang sangat misteri, menyeramkan....Pada saat mereka masih dalam suasana hening, diatas lembah setinggi seratus tombak lebih itu tiba-tiba terdengar suara nyanyian seorang Wanita yang sangat merdu sekali, seolah-olah keluar dari mulut bidadari dari kayangan.
Suara nyanyian itu sebentar meninggi Sebentar rendah, sebentar cepat, sebentar lambat, kedengarannya merdu sekali, dan pada akhirnya, semakin lama suara itu semakin rendah, dan semakin rendah semakin halus, dan tanpa dirasa sudah menghilang kembali Cin Hong dan in-jie mendengarkan suara nyanyian itu dengan penuh perhatian-sampai suara nyanyian itu lenyap cukup lama, keduanya barulah sadar kembali.
In-jie pertama yang membuka kesunyian, katanya dengan perasaan heran.
"Siapa yang menyanyi itu. Alangkah merdu Suaranya."
"Mungkin murid perempuan Laucu rumah penjara yang bernama Leng Bie Sian itu. Tapi dia adalah seorang gadis remaja, bagaimana bisa menyanyikan lagu Siao-thao-hong? agaknya tak sesuai,..."
In-jie terkejut dan bertanya.
"Murid perempuan Laucu rumah penjara rimba persilatan? Apakah kau pernah melihat dia?"
Cin Hong menganggukkan kepala. Kalau teringat bagaimana sikap In-jie yang menunjukkan nyata sekali perasaan Cintanya, hatinya juga tergerak.
"Hemm", demikian jawabnya singkat.
"Berapa tahun usianya?"
"Kira-kira seusiamu begitulah"
"cantikkah dia?"
"cukup Cantik, selisih tidak jauh denganmu"
In-jie rupanya masih hendak bertanya lagi, ketika tibatiba terdengar suara seorang tua dari kamar nomor seratus empat.
"Kalian sudah dengar yang menyanyi tadi bukanlah murid perempuan Laucu rumah penjara"
Cin Hong yang mendengar ucapan itu terkejut, ia melangkah ke kamar nomor seratus empat.
Tampak olehnya di belakang lubang jendela itu ada berdiri seorang tua yang mukanya penuh bopengan, rambutnya sudah berwarna dua, orang tua itu begitu melihat Cin Hong berjalan kedepan jendelanya, seolah-olah ketemu dengan keluarganya sendiri, di wajahnya menunjukkan sikap bersemangat, tanyanya.
"Anak muda, apakah kau datang menengok keluargamu?"
"Ya... .siapakah locianpwe yang mulia?"
Berkata Cin Hong sambil memberi hormat. Wajah orang tua itu mendadak berubah suram, katanya sambil tertawa dingin.
"Aku si orang tua ini dalam rimba persilatan adalah seorang yang tak ternama. Sudah. ah, jangan disebut Saja"
Cin Hong juga tidak menanya lagi, ia alihkan pembicaraannya keSoal lain, katanya.
"Locianpwe tadi kata bahwa suara nyanyian tadi bukan keluar dari mulut murid Laucu dari rumah penjara, bolehkah aku numpang bertanya, bagaimana locianpwe mengetahui itu?"
Orang tua itu menarik napas, kemudian berkata.
"Aku orang tua ini berdiam dalam rumah penjara ini sudah ada lima tahun lamanya, nyanyian semaCam itu setiap bulan hampir terdengar satu kali. semula aku juga telah salah menduga, mengira murid perempuan Laucu itu yang menyanyi. Tetapipada suatu malam, aku lihat nona Leng itu turun kelembah untuk berjalan-jalan, sedangkan Suara nyanyian itu terdengar dari ataS lembah, maka aku baru tahu bahwa yang menyanyi itu ternyata adalah orang lain"
Cin Hong pikir hari itu ia sendiri sudah tiga kali bertemu muka dengan Laucu rumah penjara, kecuali guru dan muridnya berdua, tidak pernah melihat nona kedua, maka ia lalu berkata dengan perasaan heran.
"Apakah yang menyanyi itu adalah Laucu rumah penjara sendiri? Akan tetapi, rasanya tidak boleh jadi, dia tidak mirip dengan seorang wanita "
Orang itu menunjukkan senyumnya yang misterius, kemudian berkata.
"Sudah tentu bukanlah Laucu rumah penjara itu. sebab, pernah beberapa kali, ketika suara nyanyian itu btaru saja sirap. lalu terdengar suara geraman Laucu itu yang jauh dari atas lembah yang menaanggilmanggil siu Kim Siu Kim, Jangan menyanyi lagi..jangan menyanyi lagi"
Cin Hong terheran-heran, dengan mulut menganga ia berkata.
"Kalau begitu siapakah sebetulnya yang menyanyi itu?"
"Siapa yang tahu? Mungkin seorang wanita yang disekap dalam kamar tahanan rahasia yang ada hubungannya erat dengan Laucu itu sendiri"
Dalam kamar nomor Seratus lima, in-jie menggunakan borgolan ditangannya untuk memukul dinding tembok, sehingga mengeluarkan suara gempuran, sedang mulutnya memanggil-manggil.
"Cin Hong"
Cin Hong buru-buru minta diri kepada orang tua itu, balik kembali kedepan jendela In-jie, kemudian bertanya.
"In-jie, ada urusan apa?"
Tubuh in-jie tampak menggigil, katanya dengan menahan isak tangisnya.
"Aku takut, malam ini sukalah kau berdiri disini mengawani aku?"
"Baik, aku memang ada maksud demikian"
Berkata Cin Hong sambil menganggukkan kepala.
In-jie lalu tak menggigil lagi, seolah-olah lupa bahwa dirinya pada saat itu sedang tertawan dalam rumah penjara, dengan sikap penuh perhatian memandang kepada Cin Hong sebentar, kemudian dengan tiba-tiba tersenyum dan berkata .
"Perlu kuberitahukan kepadamu, aku sebetulnya juga tahu tidak bisa masuk untuk menantang bertanding dengan penguasa rumah penjara ini akan tetapi aku tak dapat menahan perasaanku, tahukah kau apa sebabnya?"
Cin Hong sudah tentu tahu apa sebabnya tetapi ia sengaja hendak menggoda gadis itu, maka pura-pura menunjukkun Sikap tidak mengerti, tanyanya heran.
"Aku tidak tahu, apakah sebabnya?" . In-jie agaknya merasa keCewa, kemudian berkata dengan sikap agak marah.
"Baik Kau sianak pelajar tolol ini...."
Cin Hong tertawa ia mendekatkan mulutnya kelubang jendela, katanya dengan suara perlahan.
"In-jie, katakanlah"
Mendengar perkataan yang diucapkan dengan suara demikian perlahan, In-jie mengerti bahwa Cin Hong bukanlah tidak memahami maksud yang sebenarnya, maka ia pendelikan matanya, kemudian tertawa geli sendiri, juga berkata dengan menggunakan suara sangat perlahan.
"Bagaimana pun juga aku sudah tertawan, semua aku tidak perduli lagi... ."
Wajah Cin Hong menjadi merah, ia masih tetap berlaku pura-pura tidak tahu, bertanya lagi sambil tertawa.
"Urusan apa yang kau kata tidak mau per...perduli lagi?"
Sepasang pipi In-jie mendadak menjadi merah, katanya dengan sikap kemalu-maluan.
"Aku hendak mengucapkan perkataan yang tidak tahu malu, apakah kau tidak akan mentertawakan aku?"
Wajah Cin Hong dirasakan semakin panas, hatinya berdebar keras, seolah-olah sedang mabuk arak, berulangulang mereka menganggukkan kepala dan berkata.
"Tidak. tidak. kau katakan sajalah"
Sepasang biji mata In-jie yang jeli berputar-putaran, dengan tiba-tiba ia menundukkan kepala dan berkata.
"Kau.... apakah kau suka denganku?."
Cin Hong menarik napas dalam-dalam, untuk menenangkan hatinya yang berdebar keras, kemudian ia berkata dengan suara sangat perlahan sambil tertawa.
"Aku hendak meminjam ucapan Suhumu yang minta aku sampaikan kepadamu, ucapan suhumu itu begini. Aku tidak menentang. hanya segala-galanya harus berhati-hati ... ."
Hari kedua pagi-pagi sekali, ketika sinar matahari menyorot masuk kedalam ruangan tamu rumah penjara rimba persilatan.
Laucu rumah penjara rimba persilatan tampak berdiri ditepi lubang jendela yang berbentuk hati yang menggendong tangan dibelakang.
pandangan matanya ditujukan keataS tujuh senar besi yang tampak dari luar jendela, lama sekali ia berdiri termenung tanpa bergerak sedikitpun.
agaknya tenggelam dalam kenangannya pada masa-masa yang lampau....
Sedang Cin Hong waktu itu sedang membereskan selembar kertas putih yang dipasang di-dinding batu marmer sebelah kiri ruangan tamu.
gerakannya itu sangat perlahan sekali barulah ia berhasil memasangkan kertas itu didinding tembok batu marmer.
Sikapnya yang ayal-ayalan itu, bila dilihat oleh seorang yang biasa berlaku gesit dan anggap waktu sangat berharga, pasti ia bisa didamprat sebagai orang yang suka membuang-buang waktu dengan cuma-cuma.
atau tidak sayang dengan waktu yang sangat berharga.
Disamping meja persegi yang terletak ditengah-tengah ruang tamu, ada berdiri Leng Bie Sian yang sedang menggulung lengan baju dan menggosok bak (alat untuk membuat lukisan yang berwarna hitam) ia menggosokgosok sekian lama lantas angkat muka mengawasi Cin Hong seraya bertanya.
"cin Kongcu apa sudah siap?"
Sebenarnya dia sudah tahu kalau gosokan bak itu harus sampai kental benar baru dapat digunakan untuk melukis.
ia mengajukan pertanyaan itu hanyalah karena ingin memandang Cin Hong semata-mata.
Waktu itu muka pemuda itu tampak merah dan lebih tampan.
Kiranya tadi malam ia yang lama sekali menunggu Cin Hong tidak kembali kekamarnya untuk tidur, diam-diam telah mencuri turun kebawah lembah untuk melihat pemuda itu.
Disitulah ia telah memergoki perbuatan Cin Hong bersama sumoaynya yang sedang bercumbu-cumbuan melalui lobang jendela.
ia menjadi malu sendiri, tetapi disamping itu juga timbul rasa iri hatinya.
Dari rasa iri hati itu kemudian timbul rasa dongkol, seCepat kilat ia memutar tubuhnya dan pulang kembali kekamarnya.
Disitu ia diam-diam telah menangis Sendiri hampir setengah malaman, tetapi akhirnya ia telah mengerti, ia tabu bahwa ia tidak mempunyai hak untuk memaksa upaya Cin Hong Cinta kepadanya juga tak ada satu alasanpun mengapa ia haruS merasa iri hati atau dengki kepada mereka, tetapi untuk menggoda saja kepadanya masih boleh, maka hari itu pagi-pagi sekali ketika melihat Cin Hong kembali ia terus menunjukkan sikap tertawa yang mengejek kepadanya, sehingga Cin Hong dibuatnya menjadi merah padam mukanya, jelas merasa malu bahwa perbuatannya itu telah diketahui oleh gadis ini.
Dengan tindakannya itu, Leng Bie Sian sedikit banyak mendapat sedikit kepuasan terbadap sikapnya yang sudah dapat menggoda kepada Cin Hong.
"cin kongcu apakah sudah siap?"
Demikian ia mengulangi pertanyaannya, kembali memandang kepadanya sambil tertawa, agaknya ia sudah mengandung maksud hendak menggoda terus pemuda itu.
Cin Hong digoda demikian mulai merasa marah, katanya.
"Kalau kau sudah siap dengan bak tau itu Sudah tentu aku bisa beritahukan padamu"
Leng Bie Sian jadi merasa malu berbareng gusar, matanya lantas merah, dan melemparkan baknya, kemudian memutar tubuh dan masuk ke kamarnya.
Laucu rumah penjara rimba persilatan berpaling, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, dengan sikap marah ia membentak kepada Cin Hong.
"Bocah Kau berani menghina murid ku?"
Cin Hong teringat bahwa Leng Bie Sian pernah membantu kepadanya untuk memintakan supaya In-jie dibebaskan dari kewajibannya melakukan pekerjaan berat, dalam hati juga merasa tidak enak sendiri, buru-buru geser kakinya dan berjalan menujU kepintu samping kiri, disamping itu ia memberi hormat kepada Laucu seraya berkata.
"Maaf, disini aku akan minta maaf kepadanya"
Laucu rumah penjara rimba persilatan lompat kehadapannya, dan berkata dengan suara marah.
"Tidak perlu, kau kembalilah LekaS lukiskan gambar untukku itu"
Cin Hong menghentikan langkah memandang Laucu dengan sikap dingin, kemudian balik kembali kesamping meja, untuk mengambil alat lukisannya. Setelah itu ia memandangnya lagi dan bertanya.
"MelukiS siapa?"
Laucu rumah penjara menghampirinya dan berkata dengan suara berat.
"Melukis dirimu sendiri"
Cin Hong terperanjat, hampir saja ia berseru, tetapi dengan tiba-tiba teringat ucapan Laucu itu tadi ma lamyang mengatakan bahwa masih ada hal yang lebih mengejutkan yang akan dihadapinya, maka buru-buru menenangkan perasaaanya dan bersikap pura-pura tidak dikejutkan oleh ucapannya tadi, katanya dengan Sambil tertawa dingini "Aku hanya menerima permintaanmu untuk melukis.
Jadi kau jangan kira bahwa perbuatanmu itu akan mengejutkan aku.
Kau kalah?"
Sehabis berkata demikian, mengangkat kuasnya hendak memulai melukis, Laucu rumah penjara tiba-tiba tertawa terbabak-bahak.
setelah itu ia berkata sambil mengulapkan tangannya.
"Tunggu dulu, aku masih ingin bicara."
Cin Hong terpaksa berhenti, ia berpaling dan berkata sambil tertawa dingin.
"Apa tidak perlu aku melukis lagi?"
Laucu itu duduk diatas sebuah kursi, berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa.
"Bukan begitu, kau masih tetap haruS melukis. Tetapi, jangan kau melukis sewaktu kau berusia delapan belas tahun. Lukislah dirimu Seolah-olah kau sudah berusia dua puluh enam tahun."
Cin Hong tanpa dirasa telah berseru kaget, perlahanlahan memutar tubuh, dengan mata terbuka lebar bertanya kepada Laucu itu.
"Jadi maksudmu, apakah didalam dunia ini ada seorang pemuda. yang mirip denganku?"
Laocu rumah penjara tertawa sambil angkat pundak dan berkata.
"Tampaknya aku belum kalah, ha ha Kau toh masih terkejut dan terheran-heran?"
Cin Hong sangat mendongkol, ia tahu bahwa sekali ini ia telah terjebak, maka lalu memutar tubuh menghadap kedinding, tanpa bicara apa-apa ia mulai menggerakkan kuasnya diatas kertas.
oleh karena pikirannya sangat risau, hampir setengah harian ia hanya dapat melukis bentuk mukanya saja.
tetapi semakin dilihat semakin tidak mirip dengan dirinya sendiri.
Dalam keadaan marah marah, ia telah mencoret-coret kertas itu, setelan itu dirobeknya, dan berpaling serta berkata sambil menyesali rumah penjara.
"Sebaiknya kau keluar dulu saja dari sini. Sebab, waktu sedang melukis, aku tak senang ada orang yang melihati "
Laocu itu sedikitpun tak marah, ia bangkit dari tempat duduknya dan berkata.
"Berapa hari baru bisa selesai."
"Belum tentu. Jikalau ilhamku datang, dalam Waktu sekejap bisa selesai. Tetapi jikalau tak ada ilham, satu bulanpun tidak akan beres-beres."
Laucu itu tidak berkata apa-apa lagi ia berjalan masuk kepintu kanan, perlahan-lahan turun dari tangga batu menikung, dan lalu tidak tampak lagi Cin Hong harus menempelkan kembali sehelai kertas didinding tembok.
kemudian dengan berjalan berindapindap menuju kepintu sebelah kanan, kepalanya melongok ketangga batu untuk memperhatikan tindakan LAUcU tadi.
Benar saja Laucu itu Sudah berlalu, maka ia lalu balik kembali keruangan tamu, lari masuk kepintu kiri, segera mendengar suara tangisan Leng Bie Sian yang keluar dari kamar kedua.
Ia baru buru2 menengok pintunya sambil memanggilmanggil.
"Nona Leng, nona Leng "
Leng Bie sian yang berada didalam kamar tidak menghiraukan panggilannya, masih tetap menangis dengan sedihnya.
Cin Hong tahu bahwa pintu kamar itu tak dikunci dari dalam, lalu ia mendorongnya dengan perlahan, kepalanya ditongolkan kedalam.
Tampak olehnya gadis itu rebah diatas pembaaringan, kedua tangannya memeluki bantal buat menutupi kepalanya, hingga suara tangisan tidak terdengar lagi.
Ia tidak berani masuk, hanya berdiri diluar kamar, dan berkata dengan suara perlahan .
"Nona Leng, disini aku minta maaf kepadamu, janganlah kau menangis lagi... ."
Leng Bie Sian masih tetap tidak menghiraukan kata Cin Hong, sebaliknya malah memeluk erat-erat bantalnya seolah-olah hendak melampiaskan hawa amarahnya, sedang suara tangisnya juga semakin kencang terdengarnya.
Cin Hong menghela napas panjang, katanya.
"Aku bukan sengaja hendak menghinamu, aku memang sering-sering tidak dapat mengendalikan emosiku sendiri, kadang-kadang suka marah-marah tanpa sebab. Kalau tidak perCaya. kau tanyakanlah saja kepada suhuku ....,."
Leng Bie sian tiba-tiba melemparkan bantalnya dan lompat duduk, katanya sambil menangis.
"Pergi Pergi Pergi kau Kalau merasa tidak perlu menangis sudah tentu aku bisa berhenti sendiri. Jangan Cerewet disini"
Cin Hong seperti ditampar mukanya, namun ia masih bisa tertawa-tawa sambil berkata.
"Hebat Pembalasanmu sungguh bagus sekali"
Leng Bie sian tertawa geli, dengan wajah kemerahmerahan, ia membalikan tubuh dan berkata dengan Suara lebih lunak.
"Kau sebaiknya pergi saja dan temui sana Sumoaymu, ia bisa mencium kau dengan lebih mesra"
Pipi Cin Hong dirasakan panas, buru-buru menyangkal.
"Aku tidak berbuat apa-apa, kau ini bisa saja"
Leng Bie Sian masih tertawa mengejek. katanya.
"Hmm Sudah jelas pipi dan mulut menjadi satu, oh masih mau menyangkaL Apa kau kira mataku buta?"
Cin Hong terkejut, buru-buru menyoja kepadanya seraya berkata.
"Harap kau jangan membicarakan Soal itu kepada orang lain, sebetulnya sentuhan itu hanya dilakukan tanpa disengaja"
Leng Bie sian berpaling lagi dan mendelikkan matanya, kemudian berkata sambil tertawa mengejek lagi.
"Kalian sudah bertunangan atau belum?"
"Belum, aku kenal padanya belum ada setengah bulan"
Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala. Leng Bie sian membuka matanya lebar-lebar, seolah-olah dikejutkan oleh jawaban itu katanya.
"Kalau begitu mengapa kalian berani berciuman?"
Cin Hong merasa malu sendiri, buru-buru keluar dan menutup pintu kamar, setelah itu lari kembali keruangan tamu mengangkat kuasnya lagi untuk melukis.
Pagi itu ia telah menghabiskan tiga lembar kertas gambar, yang semuanya dirobek-robek hampir waktu makan tengah hari, baru berhasil melukis bagian kepala.
Ia juga tidak menghiraukan Leng Bie Sian yang main mata kepadanya, begitu menyelesaikan lukisan bagian kepalanya segera lari ke kamar tahanan naga, hampir tiba didekat lobang jendela kamar nomor delapan, segera menampak Thian-san Swat Popo sudah menongolkan kepalanya dari lobang jendela, sedangkan mulutnya berkata kepada tawanan kamar nomor tujuh.
"Tua bangka kalau kau tidak mencarikan akal lagi bagiku, aku nanti akan menggempur kamar tawanan ini untuk lari keluar."
Cin Hong lari menuju kebawah jendela kamar nomor 10, swat Po-po terkejut dan berpaling ketika menampak Cin Hong datang, matanya tampak bersinar, ia berseru dengan terkejut dan girang.
"Anak. bagaimana dengan murid ku?"
Begitu ia berteriak, dari lobang jendela kamar nomor tujuh segera tampak kepala It-hu Sianseng yang menongol keluar, ia mengawasi Cin Hong sambil tertawa berseri katanya.
"Anak. jikalau kau tadi tidak lekas datang, telinga suhumu mungkin Sudah akan menjadi tuli."
Setelah Cin Hong memberi hormat kepada Suhunya dan subonya, barulah menceritakan bagaimana kecerobohan Injie yang berani menantang bertanding dengan Laucu, hingga akhirnya tertawan di dalam kamar tahanan ular, dan bagaimana ia sendiri berusaha untuk mintakan keringanan kepada Laucu supaya In-jie jangan diberikan pekerjaan kasar, pada akhirnya ia menghela nafas, dan bertanya sambil mengawasi Swat Po-po.
"Subo, teCu sebetulnya bisa menantang bertanding, menantang Laucu rumah penjara ini. Akan tetapi dengan berbuat demikian-bukanlah suatu jalan yang baik untuk keluar dari penjara. coba subo tolong bantu pikir bagaimana baiknya teCu harus berbuat?"
Swat Po-po tampaknya sangat marah, ia menggeram, kemudian berkata.
"Ada satu cara. Kalau kau ketemu dia lagi, jewerlah kupingnya dan berikan tamparan beberapa kali kepadanya."
Cin Hong menundukkan kepala dan berkata sambil tertawa kecil.
"Harap subo jangan terlalu mempersalahkan dia, sekarang kita malah harus pikirkan baik-baik cara untuk menolongnya"
Air mata mengalir keluar dari mata Swat Po-po, katanya dengan suara terisak-isak.
"Aku sudah berpikir semalaman, juga tak dapat memikirkan suatu cara yang terbaik, sedangkan suhu Si tua bangka itu, tak mau membantu memikirkan cara bagiku, bagaimana aku harus berbuat?"
Cin Hong lalu angkat muka dan mengawasi Suhunya di lubang jendela kamar nomor tujuh, Katanya sambil tertawa kecil.
"Suhu, suhu barangkaii juga tidak dapat memikirkan sebabnya?"
"Dialah yang baru tidak berpikir demikian itulah susahnya untuk meraba hatinya orang wanita"
Berkata It-hu Sianseng sambil tersenyum. Cin Hong takut Swat Po-po marah lagi, maka buru-buru berkata kepadanya sambil tertawa.
"Subo, harap subo jangan marah, kita pikir perlahanlahan, tecu perCaya kita tentu dapat memikirkan suatu cara yang baik"
Pada saat itu, can-Sa sian, yang berada di kamar noraor enam telah menongolkan kepalanya, Sambil menyipitkan matanya ia berkata.
"Anak muda, maukah kau beritahukan sesuatu kepada murid Ku? Katakanlah, bila dia juga berani masuk menantang bertanding dengan Laucu itu, sipengemis tua ini Selanjutnya akan memutuskan hubungan dengannya"
Cin Hong dari jauh menjura kepudanya, lalu berKata.
"Harap PangCu jangan khawatir, Saudara cang sa adalah seorang yang sudah masak pengertiannya, tidak mungkin ia akan berbuat demikian".
"Masih susah dikata. Di waktu biasanya ia masih baik, tetapi kalau ia sudah mengadat, pengemis tua ini juga hampir tidak sanggup mengendalikannya, perangainya sangat aneh sekali"
Cin Hong tidak berkata apa-apa, hanya tertaWa terhadapnya, kemudian ia berjalan kebawah jendela sahunya, bertanya dengan Suara perlahan.
"Sahu, kemarin Laucu pernah kata bahwa. ia pernah datang menengok suhu, benarkah ada kejadian itu?"
"Memang benar, dia datang untuk mencari keterangan tentang dirimu, ia berkata hendak mengambil kau sebagai murid, bagaimana kau anggap soal ini?"
Jawab It-hu Sianseng sambil menganggukkan kepala.
"Itukah keinginannya? Sungguh seperti kanak-kanak saja dia"
It-hu Sianseng mengerutkan alisnya berpikir, kemudian berkata.
"Tetapi suhumu merasa bahwa mungkin ia mempunyai rencana lain, hanya sekaraag ini suhumu tidak dapat memikirkan rencananya itu"
"Masih ada Suatu hal yang lebih aneh, ia telah minta teecu melukiskan gambarnya seorarg pemuda yang wajahnya mirip dengan teecu"
It-hu Sian-seng menunjukan sikap terkejut. katanya.
"Apa dia tidak mengatakan siapa pemuda itu ?"
"Tidak! tecu malas berbicara dengannya, mungkin ia juga tidak mau mengatakan"
Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala. Sepasang mata It-hu Sianseng perlahan-lahan dipejamkan, lama ia berpikir, barulah membuka lagi perlahan-lahan, dengan sikap sangat hari-hati ia berkata .
"Anak. ada satu hal kau harus ingat baik-baik, biarpun dalam keadaan bagaimana, kau tidak boleh menceritakan asal-usul dirimu. Urusan ini suhumu sendiri juga tidak dapat mengatakan Sebab-sebabnya, tetapi suhumu merasa ada suatu firasat yang menakutkan...."
"Apakah Suhu anggap bahwa pemuda yang Laucu minta tecu lukis gambarnya itu, adalah musuh yang sedang dicari oleh Laucu itu? Tapi, hal ini ada hubungan apa dengan teecu ?"
It-hu sianseng tidak menunjukan sikap untuk berbantahan dengan muridnya, hanya katanya.
"Dalam dunia ini ada banyak hal yang sangat aneh dan diluar dugaan manusia, bagaimana pun juga harus waspada. Tidak halangan lalu kau menggunakan kesempatan ini untuk mencari keterangan dari mulutnya."
Cin Hong menggaruk kepalanya sendiri yang tak gatal, katanya lalu menghela napas.
"Laucu rumah penjara ini, benar-beaar merupakan seorang yang misterius tindak tanduknya hingga saat ini. teecu masih belum tahu jelaS perempuan-..."
It-hu sianseng sekonyong-konyong ingat sesuatu, maka ia lalu bertanya.
"oh, ya, siapakah wanita yang tadi malam berjanji diatas lembah itu ?"
"Waktu itu teecu sedang berbicara dengan Sumoay dikamar tahanan ular. Menurut keterangan seorang tawanan yang berdekatan dengan sumoay tempat tahanannya itu adalah Laucu rumah penjara yang bernyanyi, juga bukan murid wanitanya. Teecu semula ingin menanya pada murid wanitanya, tak disangka Waktu ketemu padanya telah lupa menanya"
"Kalau ingin mengetahui siapa sebenarnya Laucu rumah penjara ini wanita yang tadi malam menyanyi itu rupanya adalah kunci yang sangat penting...."
Swat po-po yang menyaksikan Cin Hong terus berbicara tidak ada habisnya dengan suhunya, sedang yang dibicarakan itu bukanlah urusan dan cara bagaimana untuk menolong muridnya, maka semakin mendengar semakin marah lalu karena tidak dapat mengendalikan lagi hawa amarahnya, memaki-maki dengan suara keras.
"Tua bangka Anak busuk. Kalian semua adalah orangorang yang tidak barperasaan-Bila satu hari kelak muridku bisa keluar dari penjara ini. sekali-kali tak kuijinkan menikah dengan kau Sianak busuk ini"
Cin Kong menjadi bingung, ia berpaling dan menjura pada Swat Po-po seraya berkata.
"Subo. subo sebetulnya suruh tecu berbuat bagaimana ?"
"Kau masih tanya denganku harus berbuat bagaimana? Pikirkan lekas cara yang baik untuk menolong dia"
Berkata Swat Po-po dengan suara keras. Cin Hong terpaksa mengiakan saja, lalu berpaling lagi kepada suhunya dan bertanya dengan peraSaan tegang.
"suhu, dalam urusan ini bagaimana pendapat suhu?"
It-hu sianseng mengerutkan aliSnya, lalu bertanya pada can Sa-Sian, didalam kamar no-6.
"Losie, maukah kau tolong sumbangkan sedikit pikiran untuk kami?"
Can Sa-sian mengedip-ngedipkan matanya, kemudian berkata.
"Aku sipengemis tua justru hendak menyumbangkan satu pikiran yang baik buatmu Untuk selanjutnya, dikemudian hari,janganlah sekali-kali kau terima anak perempuan menjadi murid. begitu sajalah nasehatku"
It-hu Sianseng menghela napaS dalam-dalam, kemudian berpaling dan berkata kepada Cin Hong.
"Anak, kau beritahukanlah kepadanya supaya lebih bertekun melatih kepandaian ilmu silat dan kekuatan tenaga dalam, karena ilmu tenaga dalamnya masih terpaut jauh sekali denganmu. Seharusnya, dengan mengandalkan ilmu Thian San Cit ciong hui ia pati dapat bertahan dan sanggup menerima pukulan LaucU sampai empat atau lima kali asal kekuatan tenaganya cukup, Tapi semua yang sudah lewat tak mungkin dapat kembali, sudablah. Kau suruhlah dia terus berlatih saja. Usahakan supaya ia dapat pindah kekamar penjara naga ini. Kalau sudah disini, barulah kita usahakan lagi buat dia melarikan diri dari rumah penjara. Dia seorang gadis cilik, kalau merat dari penjara tidaklah akan menjadi buah tertawaan orang"
Cin Hong pikir, satu-satunya jalan untuk bisa keluar dati rumah penjara ini, juga memang hanya itu saja, maka ia mengiakan sambil mengangguk. lalu bertanya.
"Suhu, kemarin Suhu bicarakan soal teecu pergi kegunung oey San ...."
Wajah It-hu Sianseng tiba-tiba berubah serius, sambil mengulapkan tangannya ia memotong ucapan Cin Hong, katanya.
"Tidak!! tidak Urusan ini, kita tunda saja sampai kita keluar dari rumah penjara ini."
"Mengapa?"
Tanya Cin Hong kaget.
"Tidak apa-apa Biar bagaimana kita antara guru dengan murid masih ada kesempatan untuk bertemu muka beberapa kali lagi. tidak perlu tergesa-gesa. Sekarang, pergilah lihat orang tua berbaju hitam yang tadi malam terpukul jatuh oleh Laucu Dia adalah seorang lawan yang sangat lihay, yang jarang dijumpai oleh Laucu. Maka suhumu ingin tahu siapa sebetulnya orang tua Itu"
Cin Hong lalu menceritakan tindakan orang tua gila yang tidak diketahui asul-usulnya itu.
Dengan tindakan gila-gilaan ia menerjang kelembah, sehingga terpukul oleh Laucu kebawah lembah dan ditutup dalam kamar tahanan istimewa, kemudian ia berkata.
"Jikalau orang tua itu tak gila, pasti pertandingan akan berakhir seri. Suhu, apakah Suhu tak ingat dalam rimba persilatan ada seorang tokoh kuat seperti dia itu?"
It-hu SianSeng menunjukan sikap agak bingung, katanya sambil tertaWa kecil.
"Iya, ini benar-benar suatu hal yang sangat memalukanmasih baik dua tetangga suhumu ini juga tidak ada yang ingat kalau dalam rimba persilatan ada tokoh seperti dia itu "
Baru habis berkata demikian, dibawah lembah tiba-tiba terdengar Suara seruan riuh dari para tawanan, Suara itu semakin lama semakin ramai, seolah-olah keluar dari ruangan pengadilan yang sedang memeriksa sebuah perkara.
Saling susul atau kadang-kadang berbarengan, terdengar seruan-seruan.
"Thian San Swat-lie-ang Yo In In hendak bertemu dengan Cin Hong "
"Thian San Swat-lie ang Yo In In minta bertemu dengan Cin Hong"
"Thian San Swat-lie-ang Yo In In-..."
Cin Hong terkejut mendengar suara riuh itu, katanya terheran-heran.
"Ah, ada kejadian apa ini... ."
Swat Po-po yang mendengar suara itu sangat girang, katanya.
"Ini pasti muridku yang mengeluarkan akal demikian, lekaslah kau turun tengoki dia "
Cin Hong burubaru berkata kepada suhunya.
"Suhu, teecu hendak pergi dulu kekamar tahanan ular untuk menengoki sumoay, sebentar baru akan pergi kepada orang tua gila itu"
It-hu Sianseng berkata sambil tersenyum dan menguruturut kumisnya.
"Pergilah, memang suhu dari kemarin juga sudah menduga, anak perempuan dalam kamar tawanan itu, untuk selanjutnya pasti akan membuat gaduh terus, membikin tidak tenang seluruh para tawanan yang berada disitu"
Sejak tadi malam Cin Hong menemani In-jie, hingga kini masih dirasakan hangat dan mesranya sikap gadis itu, maka perasaan kangennya juga semakin besar, saat itu dengan tergesa-gesa ia minta diri kepada suhunya dan can-sa sian, lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya turun kelembah yang berliku-liku itu.
Waktu ia melalui kamar tahanan ular, banyaK tawanan yang mukanya mesum dan rambutnya terurai pada berdiri di mulut lubang jendela, masing-masing sambil berkata dengan tertawa terbahakbahak.
"Anak muda, ia tentunya adalah kekasihmu"
"Anak muda aku si orang tua mendiami kamar nomor empat puluh sembilan, tadi aku membantu nona itu memanggilmu. Tolong pesankan kepadanya, malam ini aku minta dibagi lebih banyak sayur dan nasi"
"Ya"
"Dan aku si orang tua di kamar nomor lima puluh...."
Kata-kata lanjutan dari orang tua yang berada di kamar nomor lima puluh tidak begitu jelas didengar oleh Cin Hong, namun ia telah maklum akan maksudnya, yang kirakira serupa dengan permintaan orang tua di kamar empat puluh sembilan.
Hampir sampai dikamar nomor seratus enam, Cin Hong menampak si Giam ong bermuka kuning Lo Po sedang berdiri diluar jendela, ia marah-marah terhadap In-jie, katanya.
"Lain kali kalau kau berani mengaCau lagi aku tidak akan ampuni kau lagi, untuk selanjutnya akan kusuruh kau turut bekerja keras"
Cin Hong lompat melesat kesampingnya, lalu menjura seraya berkata.
"Sam giam-ong, harap kau suka maafkan dia sekali ini, untuk selanjutnya sumoyku pasti tidak akan berani memanggil-manggil seCara begitu lagi"
In-jie yang berada dalam kamar tawanan begitu melihat Cin Hong datang wajahnya yang semula penuh hawa amarah, saat itu lantas lenyap.
dan diganti dengan senyum yang menawan hati, kemudian berkata kepada Sam-giamong sambil tertawa mengejek.
"Baik, lain kali aku tidak akan panggil-panggil begitu lagi. Lekaslah kau kembali ketempat kau sendiri"
Giam ong bermuka kuning itu melototkan matanya.
Kemudian mengibaskan lengan bajunya yang gedombrongan, tubuhnya yang gemuk memutar, dengan langkah lebar berjalan menuju kebawah lagi.
Cin Hong segera menghampiri lobang jendeda in-jie, ia bertanya sambil tertawa.
"Injie, ada urasan apa kau memanggil aku?"
In-jie barangkali teringat Ciuman tadi malam bersama Cin Hong, waktu itu sepasang pipinya lantas menjadi merah, ia berkata sambil menundukkan kepala dengan sikap masih agak kemalu-maluan.
"Setengah jam berselang, aku dikeluarkan dari kamar tahanan untuk memberikan makanan kepada para tawanan disini mengapa kau tidak datang menengok aku?"
"Aku sedang mengadakan pembicaraan dengan suhu. waktu itu kupikir setelah pembicaraan selesai baru akan datang kemari ... , Bagaimana? Apakah pekerjaanmu tidak terlalu berat?"
In-jie memonyongkan mulutnya, katanya sambil tertawa kecil.
"Siapa kata tidak berat? Harus memikul makanan dan sayuran yang beratnya dua ratus kati lebih. Pekerjaan ini bukanlah termasuk pekerjaan ringan, lama-lama bahuku barangkali bisa menjadi tebal"
Cin Hong buru-buru menghibur kepadanya.
"Tidak bisa, kalau boleh menggunakan kesempatan itu sekalian untuk melatih kekuatan tenagamu. Lagi, suhuku suruh kau lebih memperhatikan latihan ilmu tenaga dalam, jikalau kau tidak ada pekerjaan apa-apa kau harus banyak melakukan semedi. Aku pikir paling lama dua tahun kau tentu akan bisa menyambuti lima kali serangan Laucu. Setelah kau dipindahkan kekamar tahanan naga, kita baru pikir lagi caranya untuk melarikan diri"
"Dua tahun lagi bukankah usiaku sudah menjadi delapan belas tahun?"
Cin Hong diam-diam dalam hati merasa geli, ia maju menghampiri dan mendekatkan kepalanya kelobang jendela, katanya dengan suara perlahan.
"Usia delapan belas tahun masih belum merupakan usia tua. Bukankah begitu?"
"Aku tidak rela Aku sama sekali tidak suka cobalah kau lihat, beberapa hari lagi aku pasti hendak menantang kepada penguasa rumah penjara ini"
Cin Hong mengerutkan alisnya, katanya dengan sikap sungguh-sungguh.
"Kau hanya mempunyai hak satu kali untuk menantang lagi.Jadi baik2lah berpikir.Jikalau kau belum yakin benar dapat menyambut serangannya sampai lima kali, sekal kali janganlah bertindak gegabah"
In-jie tidak mau menghiraukan, sambil mengedipngedipkan matanya ia berkata.
"Malam ini apakah kau tidak akan datang mengawani aku?"
Cin Hong memang sudah ingin sekali menciumnya lagi. Mendengar pertanyaan itu ia buru-buru baru berkata sambil menganggukan kepala.
"Sudah tentu mau, nanti sehabis dahar malam aku akan segera datang"
Dengan tiba-tiba In-jie menggeleng gelengkan kepala dan berkata sambil tertawa.
"Tidak. kau tidak usah datang lagi sajalah"
Cin Hong merasa heran tanyanya.
"Mengapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya minta semalam ini janganlah kau datang"
Cin Hong berpikir keras, kemudian berkata sambil tertawa.
"Kau takut aku letih karena haruS berdiri?Jangan khawatir Semangatku masih cukup baik."
Injie buru-buru menggelengkan kepala dan berkata.
"Bukan, bukan begitu maksudku...."
Cin Hong jadi berpikir lagi, kemudian berkata pula dengan suara perlahan.
"Jikalau kau takut aku menciummu lagi, aku ingin berjanji tidak akan berbuat begitu lagi padamu "
Sepasang mata In-jie yang lebar ditujukan kekanan kiri luar jendela, Ketika disitu tidak tampak ada orang lagi, segera angkat muka dan matanya, berkata dengan suara perlahan.
"Sekarang sih boleh, hanya malam ini kuminta kau jangan datang "
Cin Hong tidak dapat menduga apa maksud nona itu, tetapi begitu melihat bibir in-jie yang telah terbuka menanti Clumannya, hatinya-jadi tergoncang.
Mana berani disiang hari belong seperti itu ia melakukan ciuman dengan mesra?
Maka setelah Celigukan kesana-sini beberapa lama, ia lantas berkata sambil tertawa.
"Aku tidak berani. Tadi malam waktu aku mencium kau, telah terlihat oleh murid wanita Laucu. Tadi juga ia telah menggodaku terus-teruSan."
In-jie buru-buru menundukkan kepala, katanya.
"Kau tak boleh berlaku berani seperti lelaki sejati? Dia pasti tidak akan berani menggoda kau lagi."
Cin Hong yang mendengar ucapannya, lalu tertawa dan berkata.
"Baiklah, jikalau sudah tidak ada urusan apa-apa lagi, sekarang aku hendak pergi menengok orang tua gila itu."
Tiba-tiba berubah wajah in-jie, ucapnya dengan suara cemas.
"Jangan, sekali-kali janganlah kau pergi tengok orang tua itu"
Cin Hong jadi heran, katanya sambil mengkerutkan alisnya.
"In-jie, hari ini kau kenapa jadi begitu? Mengapa sikapmu mendadak berubah? Kau tidak suka aku datang mengawanimu, itu tak apalah. Tetapi kau juga tidak memperbolehkan aku pergi menengoki orang tua gila itu, semua ini rasanya bukanlah tidak ada sebabnya"
In-jie merubah sikapnya yang masih kekanak-kanakan, ia menundukkan kepala dan lama berdiam seakan-akan berpikir, lantas mengangkat lagi kepalanya perlahan-lahan dan berkata dengan suara sedih.
"Kuminta padamu, janganlah kau ingin tahu sebabnya. Anggap sajalah aku untuk pertama kali meminta kepadamu jangan tanyakan itu. Harap kau suka menerima baik permintaan ini, janganlah kau tengok orang tua itu. Sukalah kau berjanji?"
Dengan sikap terheran-heran cin-Hong menatap wajah In-jie, dalam hati timbul perasaan curiga, ia merasa bahwa sumoay dihadapan matanya ini benar-benar telah berubah menjadi sorang misterius seperti Laucu rumah penjara itu, sedikitpun tidak mirip lagi dengan Yo in in yang kemarin pernah diciumnya....
Melihat pemuda itu terus memandang kepadanya tanpa bersuara, Wajah In-jie lantas menunjukkan sikap iba, tapi akhirnya terpaksa ia berkata dengan tegas sambil menggigit bibir.
"Sekarang kau pergilah. Aku pikir hendak beristirahat dulu sebentar, besok sore kita berjumpa lagi"
"Apakah maksudmu memanggil aku datang kesini hanya minta untuk aku cepat pergi lagi,"
Tanya Cin Hong kebingungan-Injie tertawa geli, kemudian berkata "Aku hanya kepingin melihat kau, dan sekarang kita sudah saling bertemu.
Aku kuatir bila kau berdiam terlalu lama disini, orang-orang akan menertawakan kita"
Cin Hong pikir ucapan itu memang ada benarnya, maka saat itu menengok lagi kekanan kirinya sebentar, ketika melihat dilubang-lubang jendela para tawanan tidak ada orang yang mengintip.
maka cepat di ciumnya bibir si gadis, kelakuannya itu persis seperti kelakuan seorang anak nakal yang sengaja menggoda perempuan-Karena ia takut ditegur oleh In-jie, maka setelah mencium buru-buru dia memutar tubuh dan lari naik tak berani menoleh lagi.
In-jie yang melihat begitu mencium Cin Hong lantas lari, jadi bingung sendiri, ia tempel wajahnya pada ruji-ruji jendela, matanya ditujukan kepada pemuda yang sedang lari keatas itu sampai hilang di balik tikungan, lalu memutar tubuh dengan menyeret borgolan dikakinya yang berat, selangkah demi selangkah ia menuju kesuatu sudut dalam kamarnya, kemudian berjongkok dan menggunakan rantai borgolan ditangannya mengetok-ngetok batu dibawah kakinya tiga kali, setelah itu memanggil-manggil dengan suara perlahan.
"Locianpwe, locianpwe Kau dengarkah pembicaraanku dengan suhengku tadi? Sudikah locianpwe menurunkan kepandaian ilmu silat padanya?"
Setelah berdiam sejenak, dari bawah tanah saat itu lalu timbul suara seorang tua yang sangat halus.
"Ai Suhengmu benar-benar seorang kongcu yang Sangat romantis. ..."
"Locianpwe, romantis itu adakah jahatnya? Bagaimana locianpwe malah menghela napas?"
Berkata In-jie girang. Suara orang tua yang di ucapkan dengan sangat halus perlahan terdengar lagi.
"Terlalu romantis kadang-kadang juga bisa membawa akibat penyesalan-Itu tak baik. Apakah kau tak pernah mendengar tentang ini?"
In jie tertaWa geli, kemudian berkata lagi.
"cianpwe mengucapkan perkataan ini, dimasa muda tentunya pernah mengalami kesulitan dari orang perempuan. Betul tidak?"
Suara orang tua itu terdengar pula dengan dibarengi dengan suara elahan napas panjang.
"Kau sibudak kecil ini, kalau sudah mengerti dengan ucapan demikian, dikemudian hari tidak boleh menyulitkan suhengmu."
"Tidak, dia tak akan kurugikan, begitu pula dia juga tidak boleh merugikan aku, dengan demikian saja aku sudah merasa puas"
Suara orang dari bawah tanah itu dibarengi dengan suara tertawa getir, berkata.
"Hm, Hm Seorang kaum wanita di dalam dunia ini, semua seperti kau ...."
"Aku tidak suka bicara tentang ini denganmu. Looiaapwe, sebetulnya suka atau tidak kau mengajar ilmu Silat kepada Suhengku?"
"Boleh, tetapi itu tergantung dari jodoh. Apa yang kumaksud dengan jodoh itu ada mengandung maksud lain, apakah kau paham?"
"Aku tahu, aku memang bersimpatik sekali terhadapmu. ..."
Orang tua itu kembali memperdengarkan suara elahan napasnya yang panjang, katanya lambat-lambat.
"Kalau begitu, sebelum jodoh itu lenyap. aku hendak menurunkan lebih dulu kepadamu pelajaran ilmu silat yang dinamakan Mo In cap-sek. Pelajaran semacam ilmu pukulan tangan ini apabila kau dapat memahami seluruhnya, untuk keluar dari penjara ini sudah tidak menjadi soal agi. Hanya ada satu hal, kau harus pikirkan suatu cara lebih dulu untuk melawan suara senar yang ditimbulkan oleh Laucu rumah penjara itu"
In-jie berpikir dulu sejenak. lantas menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.
"Rasanya tak mungkin Kalau aku mendengar suara senar itu, entah mengapa aku lantas mau menangis saja"
"Ng.. Kau Sibudak kecil ini, apakah dalam hatimu juga ada urusan yang membuat hatimu sedih?"
"Mengapa tidak? Ayah bundaku Semua telah mati terbunuh oleh orang jahat"
Berkata In-jie sambil menghela napas.
"Kalau begitu, ada suatu cara yang rasanya boleh kau coba, nanti kalau menantang bertanding lagi. dalam otakmu sedapat mungkin harus penuhi dengan hal-hal yang menyenangkan, dengan demikian mungkin akan lebih baik Sedikit. ..."
"oh cara ini kurasa baik juga . Waktu cianpwe bertanding dengan dia tempo hari, apakah tidak ingat soal ini?"
"Tidak. Tetaoi sekalipun ingat juga tidak akan ada gunanya, sebab aku siorang tua selama hidupku tak pernah ada sesuatu hal pun yang menyenangkan hatiku"
"Aku juga tidak ada... ."
"Kau sih bisa saja.... Kau dengan Suhengmu baik sekali hubungannya. Kalau kau bertanding dengan Laucu itu. sedapat munggin kau harus pikirkan hal-hal yang mengasyikan dengan suhengmu, atau dengan terangterangan saja kau panggil namanya"
"Memanggil namanya?"
Tanya In-jie heran-Suara orang tua itu tiba-tiba jadi berubah tak karuan juntrungannya, agaknya sudah butek pikirannya, namun masih memaksakan berkata.
"Benar Kalau kau diserang satu kali.. .panggil sekali. . .dua kali panggil sekali Bwee Kun...Bwee Kun...."
In-jie terkejut, katanya cemas.
"Locianpwee Siapa Bwee Kun itu? Penyakit Locianpwe rupanya mendadak angot lagi, Locianpwe, locianpwe Ingatlah Sadar"
Suara orang tua itu tidak berhentinya menyebut-nyebut nama Bwee Kun, pada akhirnya dengan tiba-tiba ia menangis tersedu-sedan, dan berteriak-teriak sendiri.
"Bwee Kun kau menipu aku Kau bilang hendak menungguku tiga tahun, nyatanya kau membohongiku Kau kata hendak menunggu aku tiga tahun. ..."
In-jie jadi bingUng sendiri, ia menghela napas perlahan, lalu menggunakan rantai borgolan ditangannya untuk mengetuk-ngetuk batu di bawah kakinya, Sedang mulutnya berseru-seru memanggil.
"Locianpwe, locianpwe janganlah kau pikirkan Bwee Kun itu lagi. Beristirahatlah sebentar, nanti malam locianpwe boleh ajarkan aku lagi ilmu Ho-in-cap-sek"
Lima hari kemudian.
Cin Hong sudah berhasil melukis sebuah gambar muka orang.
Tinggal melukis lagi bagian mata.
maka akan SeleSailah Sepuluh gambar, Cin Hong sebetulnya masih ingin mengulur waktu satu minggu atau sepuluh hari lagi.
Tapi kemudian, Setelah berunding dengan suhunya, dan menganggap bahwa In-jie biar bagaimana pun juga toh tak akan mungkin bisa pindah dari kamar tahanan ular kekamar tahanan naga didalam waktu singkat, sedangkan ia sendiri tidak seharusnya hanya karena urusan perempuan jadi mengulur waktu sehingga berlarut-larut, maka begitulah lalu ditetapkan besok sore akan meninggalkan rumah penjara rimba persilatan-Sebab, ke satu.
orang-orang dari golongan kalong sudah muncul di rimba persilatan-Dengan mengutus pada dua belas putrinya pergi memancing anak murid angkatan muda dari dua belas partai, maksud mereka masih belum jelas, namun demikian tak dapat di sangsikan lagi bahwa tindakan itu pasti ada mengandung suatu rencana busuk sedangkan dua belas partai itu sebaglan besar barangkali masih tidak mengketahui rencana orang golongan kalong itu.
Berdasarkan atas fakta inilah maka dia sendiri harus selekasnya pergi memberi bisikan kepada semua partai agar jangan Sampai mereka terjebak oleh akal muslihat orangorang golongan Kalong.
Kedua, ia pernah berjanji hendak membawakan kabar dari ketua oey San-pay yang dahulu, Siauw can Jin untuk disampaikan kepada Kwa Lam Kie.
Urusan ini sebenarnya telah tertunda terlalu lama, dan Sebetulnya tak pantaslah dilakukan oleh seorang Kang ouw seperti dia.
Apa lagi antara dia dengan oey San-ay masih terdapat hubungan-Walaupun dalam rupa teka-teki, seharusnyalah urusan ini cepat2 di selesaikan olehnya.
Tentang kepergian It-hu Sianseng dihulu ke gunung oeysan yang mencari ketarangan tentang diri ayah bundanya, pada suatu lohor hari ke empat sebenarnya Cin Hong sudah mengetahui hasilnya.
Tetapi semua itu telah dianggapnya tidak pernah terjadi.
sebab, Waktu itu orang yang menyambut It-yang-cie SiauW canJin yang belum lama menjabat kedudukan ketua.
Menurut keterangannya oey-San-pay tak pernah kehilangan seorang murid pun, baik dari pria maupun Wanitanya.
Mengenai hilangnya anak kunci berukiran huruf Liong, lebih-lebih masih merupakan suatu teka-teki besar.
Sudah tentu sebelum persoalan menjadi jelas.
It-hu SianSeng tidak mau memperCakapkan soal anak kunci tersebut, yang masih berada dileher Cin Hong.
Dengan demikian, pertemuan dibuat habis Sampai disitu saja oleh kedua pihak.
Tetapi bagaimanapun juga cui Hong yang memiliki anak kunci berukiran huruf Liong milik oey-san-pay, tidaklah mangkin kalau tidak ada hubungan sama sekali dengan partay tersebut.
Dalam hal ini masih perlu diadakan penyelidikan terus, bila perlu Cin Hong harus berkunjung sendiri kegunung oey-san-Pada waktu fajar dihari kelima, Cin Hong telah begitu bersemangat hendak menyelesaikan lukisannya, maksud sore harinya hendak meninggalkan rumah penjara rimba persilatan-Pada waktu itu, dari pintu ruang tamu yang menjurus keundakan batu yang turun kebawah, mendadak terdengar suara pegawai rumah penjara yang berteriak keras-keras.
"Thian San Swat-lie-ang dari kamar tahanan ular minta bertanding lagi"
"Thian San Swat-lie-ang dari kamar tahanan ular Yo in in minta bertanding lagi kepada Laucu "
Bukan kepalang terkejutnya mendengar suara itu.
Selagi masih terheran-heran begitu, sudah tertampak Laucu rumah penjara berjalan keluar lambat-lambat daripintu kiri kedalam ruangan tamu.
Penguasa rumah penjara itu memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata sambil menatap Cin Hong.
"Cin Hong, sumoaymu benar-benar seorang gadis cilik yang suka sekali cari nama. la cuma mempunyai satu kesempatan lagi untuk menantang bertanding, toh ternyata sudah berani mempertaruhkan hidupnya kembali menantang lagi, Kau lihat, apakah itu bukan merupakan suatu kejadian yang sangat aneh?"
Hati Cin Hong berkebat kebit, buru-buru menjura dihadapan Laucu rumah penjara seraya berkata.
"Memang.., cuma kuharap janganlah kau hiraukan dia. Mana mungkin pada waktu sekarang ini ia sudah menantang lagi kepadamu? Benar-benar menjengkelkan"
Penguasa rumah penjara itu berjalan menuju kelubang muka jendela, mengawasi senar-senar kawat yang berkeredap-keredep kena pantulan Cahaya matahari, katanya dengan sikap dingin.
"Kau jangan coba-coba memintakan ampun lagi untuknya, aku sama sekali tak bisa memaksa orang tidak menantang orang bertanding denganku, malah kewajibanku ialah menerima setiap tantangan "
Cin Hong tahu bahwa meminta tolong kepadanya juga tidak akan ada gunanya lagi.
sekarang satu-satunya jalan hanya lekas pergi keatas lembah untuk mencegah In-jie menantang bertanding, mungkin masih keburu menahan kenekatan gadis itu.
Begitulah.
saat itu juga ia lantas meletakkan kuasnya dan seCepat kilat ia lari keluar dari ruangan tamu, ia lompat kedalam ruangan kamar besi yang digunakan untuk naik turun keatas dan bawah lembah, lalu menekan tombol pesawatnya dan turun kebawah.
Tiba ditengah lembah ia lompat keluar dari kamar lifts dan lari mennju kekamar nomor Sepuluh.
Ia melongok melalui lobang jendela, namun kamar dimana in-jie itu tinggal ternyata Sudah kosong, disana sudah tidak tampak lagi bayangan In-jie.
Bukan kepalang terkejutnya dia, buruburu memanggil dengan suara cemas.
"In-jie In-jie "
Akan tetapi baru saja akan menutup mulut, tiba-tiba terdengar suara seorang tua yang kedengarannya sangat halus, masuk kedalam telinganya.
"Perlu apa kau berteriak-teriak memanggil-manggil? nona In sudah pergi keatas lembah sedang menantang bertanding "
Cin Hong mendengar suara itu disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, maka ia lalu Celingukan melihat keSana kesini, tetapi tidak tampak orang yang berbicara dengannya, diam-diam bergidik sendiri.
"Kau siapa?"
Tegurnya.
"seorang"
Jawabnya satu suara orang tua yang agak serak dan rendah.
Cin Hong menganggap bahwa orang itu tentunya adalah salah satu dari tawanan dalam penjara tersebut.
tetapi kalau didengar dari nada suaranya, orang itu agaknya sengaja berbuat demikian supaya ia menduga-duga sendiri.
Sudah tentu ia tidak mempunyai pikiran untuk menyelidiki, ia memutar tubuh dan lari kembali.
Sambil berlari itu ia mendongakkan kepala melongok keatas, ketika tiba dimulut goa dimana ada kamar untuk naik turun, telinganya mendengar suara bunyi tambur dipukul lima kali diatas lembah, kemudian lagi ia menampak ditengah udara ada setitik bayangan orang yang lompat keatas tujuh senar kaWat senar itu, dengan gerakan Thian-san-kit-ciong-lui.
Tidak salah lagi, dia pasti adalah sumoaynya Cin Hong yang berandalan itu.
Ternyata, waktu itu sigadis nakal itu sudah berada diatas lembah, sedang bertolak pinggang menantang penguasa rumah penjara bertanding.
Selanjutnya, dari lubang jendela dikamar ruang tamU penguasa rumah penjara, tampaK melesat sesosok bayangan hitam, bagaikan seekor kumbang mulai bergerak menari-nari diatas senar kemudian disusul oleh timbulnya suara mengalun yang memilukan....
"Engkoh Hong Engkoh Hong"
DiataS senar itu, tubuh injie yang keCil langsing tampak berlepotan kesana kemari, mulutnya mengeluarkan suara panggilan-"Engko Hong, engko Hong"
Yang sangat merdu, terCampur dengan suara senar yang mengalun itu.
Pada tiap lobang dari kamar tawanan, tampak menongol keluar kepala orang-orang tawanan yang mesum dengan rambut kusut awut2an, setiap mata ditujukan keatas, sedang mulutnya mengeluarkan suara teriakan seolah-olah memberi emposan semangat kepada in-jie.
Cin Hong jadi tidak berani menggunakan alat untuk naik turun kelembah itu.
ia benar-benar khawatir, bagaimana kalaU belum tiba diatas lembah In-jie sudah dipukul jatuh?
Begitulah dengan melalui jalanan keCil berliku-liku di lamping tebing-tebing, dengan sekuat tenaga ia lari naik keataS, sambil berlari-larian mulutnya tak hentinya teriak memanggil-manggil.
"In-jie In-jie Kau tidak boleh menantang bertanding lagi "
Berlari-lari kira-kira limapuluh tombak.
tampak diatas senar itu penguasa rumah penjara sudah menghentikan gerakannya tidak lagi menyentil senar kawat besar itu, ia berdiri terpisah sejarak dua tombak dihadapan In-jie, lalu mengangkat tangan dan melancarkan serangannya perlahan-lahan-Cin Hong yang sudah ketakutan lantas menghentikan langkah kakinya.
Baru saja menduga In-jie pasti akan terjungkal dengan sekali pukul oleh penguasa rumah penjara itu, tiba-tiba terdengar suara panggilan In-jie "Engko Hong"
SeCara samar-samar.
Kini tampak tubuh in-jie yang melompat kesenar ketiga disebelah kiri, bukan saja tidak terpukul jatuh, bahkan dengan tiba-tiba sudah merangsak kesamping kanan dari penguasa rumah perjara, yang ternyata juga melancarkan Satu serangan gerak tipunya itu, tampaknya sangat aneh dan hebat sekali.
Pada Saat itu penguasa rumah penjara mengeluarkan suara Siulan panjang.
tubuhnya agak memutar, bagaikan kilat cepatnya menyambut serangan In-jie tadi, kemudian dengan tenang sekali mengulurkan tangannya menyambar bahu kanan in-jie, seolah-olah hendak menyomot Sebuah benda dari atas meja sedikitpUn tidak menggunakan tenaga.
Cin Hong tampak tangan itu sudah hendak menjepit tiba-tiba terdengar In-jie kembali memanggil namanya.
"Engkoh Hong"
Dan segera tampak tubuhnya yang keCil langsung menggeser kesamping, Seolah-olah rumput yang tertiup angin, tetapi begitu miring seperti jatuh, ia sudah bangun kembali, dengan gerakan yang sangat manis sekali sudah berhasil menggelakkan serangan penguasa rumah penjara tadi.
Bersamaan dengan itu, kembali ia sudah menggerakkan tangannya untuk melancarkan serangan terhadap lawannya.
Para tawanan yang letaknya agak dekat dengan tempat itu benar-benar merasa kagum, segera terdengar suara riuh dari mulut mereka yang memuji In-jie, suara pujian itu menggema demikian lama tidak berhentinya.
Cin Hong merasa lega hatinya, buru-buru naik keatas lagi, Sambil angkat kepala ia memanggil-manggil dengan suara nyaring.
"In-jie Bertempurlah baik-baik dan hati-hati"
La berjalan melalui jalanan yang memutar itu, kembali terdengar suara memanggil 'Engkoh Hong' yang keluar dari mulut In-jie, dan tampak pula ia sudah berhasil mengelakan serangan ketiga dari penguasa rumah penjara.
Benar-benar hebat Ketika ia berjalan satu putaran lagi, terdengar pula suara In-jie yang menyebut 'Engkoh Hong', dan bersamaan dengan itu ia sudah berhasil pula mengelakkan serangan penguasa rumah penjara yang keempat kalinya.
Ajaib.
Tinggal satu kali lagi kalau dapat mengelakan serangan penguasa rumah penjara.
In-jie sudah boleh pindah tempatnya kekamar tahanan Naga.
Pada saat itu, Suara riuh rendah dan sorak-sorak para tawanan mendadak sikap, seluruh lembah sesaat menjadi sunyi senyap.
semua pada pasang mata ditujukan keatas, ambil menahan napas mereka menantikan keluarnya serangan kelima penguasa rumah penjara disitu.
Inilah suatu serangan yang sangat penting.
serangan yang menentukan Apakah In-jie dapat dipindahkan dari kamar tahanan yang memakai borgolan itu ketempat yang lebih baik?
Itu tergantung kepada sanggup atau tidaknya ia mengelakkan Serangan kelima ini Cin Hong dengan tiba-tiba menghentikan gerakkan kakinya.
Dengan menahan perasaan tegang ia menundukan kepala, tidak berani melihat pertandingan diatas itu lagi ....
Sesaat kemudian, Suara panggilan 'Engkoh Hong' terdengar pula disebut oleh In-jie Sekali ini, begitu suara In-jie itu berhenti meledaklah sorak dan tawa, gegap gempita membisikan telinga, para tawanan berloncat-loncat sambil sorak-sorak diudara lembah itu terdengar jelas sekali "Bagus Nona kecil ini ternyata sanggup menyambut serangan penguasa rumah penjara sampai lima kali"
"Sungguh hebat Nona kecil ini demikian pesat kemajuannya"
"Lekas lihat Sekarang sudah akan mulai serangan keenam,... Ayoh Dia terjungkal dari atas kawat"
Suara-suara mereka terdengar bercampur atau Saling susul, dan ketika Cin Hong mendongakkan kepala, benar saja tampak olehnya tubuh in-jie yang kecil langsing sudah terpelanting dari atas Senar, Seolah-olah burung kepinis baru kena panah, meluncur turun dengan pesat kedasar lembah Sesaat kemudian, tubuh itu sudah melayang ditengah udara dekat Cin Hong berdiri.
Cin Hong menyaksikan jatuhnya tubuh In-jie itu sambil mendekap muka sendiri, tetapi tampaknya gadis itu tidak terluka, namun dalam hati diam-diam juga merasa girang.
ia lalu lompat meleset ketengah udara, bersama-sama ia terjun kedalam jaring besar itu.
Pesat sekali mereka meluncur turun, sebentar Sudah jatuh bersama-sama dengan In-jie keatas jaring Setelah berlompatan tiga kali, barulah keduanya berhenti, Cin Hong lalu lompat bangun dan dudUik, matanya dibuka lebar untuk melihat, waktu itu justru In-jie sudah lompat bangun, matanya penuh air mata, dan berseru memanggil "Engko Hong"
Dengan perasaan girang.
"Engko Hong, sudah berapa kali tadi aku... ."
Dengan muka berseri-seri Cin Hong lompat dan bertepuk tangan, kemudian berkata.
"Lima kali, genap lima kali, kau pasti akan dipindahkan ke kamar tahanan Naga"
In-jie sangat girang, ia tampaknya sangat bangga sekali, katanya.
"Kau lihat hebat tidak?"
Cin Hong menganggukkan kepala berulang-ulang, katanya.
"Hebat, benar-benar hebat. Dengan Cara bagaimana mendadak kau jadi demikian hebat?"
"Ini adalah ilmu silat yang diturunkan oleh orang tua itu kepadaku. Tapi, sebab yang paling besar ialah kau yang telah membantu banyak sekali kepadaku"
Cin Hong kebingungan sendiri, ia tidak tahu maksud ucapan itu, maka lalu tanyanya .
"Kapan aku membantu kau?"
In-jie berjalan kehadapannya, dan dengan Sikap kasih sayang ia berkata sambil tersenyum.
"PerCaya atau tidak itu terserah kepadamu Pokoknya, tiap kali aku menyebut 'Engko Hong' aku lalu merasa berkekuatan besar, dan sanggup menyambut serangan satu kali yang dilancarkan oleh penguasa rumah penjara. Sayang waktu serangan untuk yang keenam kalinya tadi, aku tak keburu memanggil kau. Jikalau tidak, aku yakin masih sanggup menyambut beberapa kali serangannya lagi"
"Ini apa Sebabnya?"
Bertanya Cin Hong heran.
"Kalau aku mengingat kau, lantaS jadi gembira sekali, maka setiap kali penguasa rumah penjara itu menggerakkan senarnya, bagaimana pun pilunya suara yang timbul dari senar itu, hatiku Sama sekali tidak tergerak...ini juga orang tua itu yang mengajarkan aku"
Berkata sambil tertawa. dalam hati Cin Hong terheran-heran, lalu tanyanya.
"Siapa orang tua yang kau maksudkan itu?"
Diwajah In-jie terlintas suatu senyuman yang mengandung misteri, selagi hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya, tiba tiba jaring di kakinya bergerak.
ia lalu berpaling dan melihat, di sampingnya sudah berdiri seorang tua bermuka merah yang masih sangat asing baginya.
orang tua bermuka mereh itu bersikap seperti orang yang ditugaskan untuk membawa orang-orang yang datang menengok kedalam rumah penjara dan seperti juga Lo Po yang mengurus tawanan orang dalam kamar tahanan ular, juga mengenakan jubah gerombongan dan memakai sabuk lebar serta sepatU tinggi, orang itu mukanya kasar, kumisnya lebat hitam, sikapnya kasar dan rupanya sangat galak.
In-jie oleh karena merasa takut dengar brewoknya yang hitam dan lebat itu, lantas mengulurkan tangannya memegangi pundak Cin Hong, ia berkata dengan perasaan takut.
"Kau siapa?"
Orang tua bermuka merah itu membuka mulutnya hingga tampak giginya yang putih, ia tertawa terbahak-bahak dengan Suaranya yanh nyaring ia berkata.
"Aku Si orang tua adalah Jie-giam ong Hoan Thian cauw, ditugaskan untuk mengurus tawanan dalam kamar Naga, sekarang kau sudah dipindahkan menjadi tawanan di dalam kamar Naga, marilah ikut aku naik ke atas"
"Apakah aku boleh ditawan bersama kedalam satu kamar dengan Suhuku?"
Bertanya In-jie girang.
"Kau akan mendiami kamar nomor sembilan dengan Suhumu justru merupakan tetangga dekat. Setiap hari kau boleh beromong-omong Untuk menghabiskan Waktu"
Menjawab Jie giam ong sambil tertawa. In-jie merasa girang, ia lalu berpaling dan berkata kepada Cin Hong.
"EngKo Hong, mari kau kawani aku keatas."
Cin Hong mengangguk-anggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum.
"Baik, aku pikir hari ini hendak meninggalkan rumah penjara ini.justru hendak bertemu dengan Suhu dan Subo."
In-jie ketika mendengar jawaban itu menjadi bingung. katanya.
"Aku baru saja dipindahkan ke kamar yang lebih. baik, kau sudah akan pergi. Mengapa kau tidak mau berdiam lagi beberapa hari?"
"Karena masih ada uruSan penting yang harus aku urus, tidak boleh terlambat lagi."
"Aku juga ada urusan penting hendak memberitahukan kepadamu, bolehkah kau berdiam lagi satu hari?"
Jie-giam-ong sementara itu sudah mendesak nona itu supaya lekas ikut dengannya.
"Mari lekas jalan, kalau kalian masih hendak bicara, bicarakanlah sambil berjalan"
Mereka berjalan keluar dari jaring kawat, lantas lompat kejalan kecil yang berliku-liku itu, Jie-giam-ong berjalan dimuka sebagai petunjuk jalan, Cin Hong dan In-jie mengikuti dibelakangnya dengan jalan berdampingan sambil berjalan.
"In-jie, kau masih belum menjawab pertanyaanku. Siapa orang tua yang memberi pelajaran ilmu silat kepadamu itu?"
"Ssst, ssst... Suaramu itu terlalu keras. Dia adalah itu orang yang beberapa hari yang lalu hendak kau tengok itu"
"ouw Apakah dia sudah tidak gila?"
"Ada kala gilanya angot, tetapi ada kalanya sadar "
"Siapa dia? Apa namanya?"
"Tidak tahu, dia tidak mau memberitahukan denganku."
"Apakah dia menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga dengan melalui dinding tembok mengajarkan ilmu silat kepadamu?"
"Hem, dia telah ditawan didalam kamar istimewa yang letaknya justru dibawah kamar tahanan, ia kata kamar yang ia diami itu tidak ada lubang jendelanya, diempat penjuru semuanya merupakan dinding dinding baja yang tebalnya tiga dim, borgolan tangan dan kakinya juga terbuat dari baja murni, dengan yang kupakai masih lebih berat tiga kali lipat. Ai, selama hidupnya itu barang kali sudah tak ada harapan lagi untuk ia keluar dari rumah penjara"
"Sungguh sayang...Jikalau ia tidak gila, pasti dapat mengimbangi kepandaian dan kekuatan penguasa rumah penjara ini, dan sekarang untuk menantang lagi juga sudah tidak ada kesempatan lagi."
"Kalau ia sedang angot gilanya lantas berteriak-teriak memanggil-manggil nama seseorang yang disebutnya Bwee Kun, Bwee Kun adalah nama seseorang wanita, kupikir orang wanita itu pasti adalah bekas kekasihnya yang kemudian meninggalkan dirinya, Sehingga ia bersusah hati dan menjadi gila."
"Hem, aku merasa kasihan. terdapat beberapa hari berselang mengapa kau tidak mengijinkan aku menengok dia?"
"Aku pikir agar kau menjadi terkejut dan girang sebentar, hanya sekarang kau sudah boleh pergi menengok dia, dia bersedia hendak mengajarkan ilmu silat kepadamu"
"oh mengapa?"
"Aku telah beritahukan padanya bahwa kau adalah Seorang yang baik"
"Mana boleh? Aku toh bukan orang yang baik?"
"Jangan merendahkan diri. Dia malah masih berkata kepadaku supaya aku tidak menyulitkan dan meruglkan dirimu. Bagaimana aku bisa menyusahkan kau. Betul tidak?"
"Hem, dengan cara bagaimana ia hendak mengajarkan aku ilmu silat? Sedang aku sudah akan pergi"
"Kau toh bisa berdiam beberapa hari lamanya disini"
"Tidak bisa. Aku harus dan mesti lekas pergi guna memberitahukan kepada dua belas partai besar supaya mereka waspada terhadap gerakan rahasia dan rencana jahat orang orang golongan Kalong. Urusan ini tidak boleh terlambat dan tak boleh ditunda"
"Kalau begitu kapan kau hendak menengok aku lagi?"
"Sebentar aku akan bertanya pada penguasa rumah penjara . Jika ia mengijinkan, aku bisa sering sering datang kesini"
"Bagaimana jikalau ia tidak suka memberi ijin padamu?"
"Kalau begitu, terpaksa harus menunggu sampai lain tahun... ."
"Ya. Allah Kalau begitu, terpaksa harus menantang bertanding lagi"
"Ingatlah, kau hanya mempunyai hak tiga kali untuk menantang bertanding .jikalau kau tidak yakin benar akan dapat menyambut serangannya sepuluh kali, janganlah kau coba main-main-"
Mereka beromong-omong Sambil berjalan tanpa dirasa sudah tiba disebuah mulut goa yang bentuknya bundar.
Jiegiam-ong Hoan Thian couw memutar tubuh menunggu mereka berjalan semakin agak dekat, lalu berkata pada Cin Hong.
"Aku si orang tua akan membawa ia masuk ke kamar tahanan naga melalui goa ini, jlka kau hendak menengok Subumu, tidak boleh berjalan bersama-sama"
Cin Hong tahu bahwa tempat itu tidak ada jalan atau pintu yang dapat digunakan untuk keluar masuk dengan bebas, maka ia lalu minta diri kepada in-jie, seorang diri lalu naik keatas melalui jalan disamping tebing yang berliku.
la telah melalui jalan yang berliku-liku itu sampai sembilan putaran, baru tiba di dalam kamar tahanan naga, jauh-jauh sudah tampak subo dan suhunya bersama can Sa sian yang menongolkan kepalanya melalui sebuah lubang jendela, Thian San Swat Po-po paling dulu melihat kedatangan Cin Hong, dengan sangat tegang ia berseru dengan suara nyaring.
"Anak, bagaimana dengan muridku?"
Cin Hong belum sampai menjawab, dari kamar nomor sembilan tiba-tiba tampak In-jie yang menongolkan kepalanya dari lubang jendela ia berseru girang kepada suhunya seraya berkata.
"Suhu, muridmu sudah datang kemari"
Swat Popo girang sekali melihat muridnya itu, tetapi juga agak marah, katanya sambii tertawa.
"In-jie, kau mau dengar perkataan Suhumu atau tidak?"
In-jie buru-buru menjawab Sambil menganggukkan kepala.
"Suhu, sudah tentu muridmu akan mendengar ucapan Suhu, Suhu ada perintah apa?"
"Baik, Suhumu sekarang perintah kan kau supaya menampar pipimu sendiri. Kau tampar harus sampai suhumu perintah kan berhentikan"
Berkata Swat Po-po sambil tertawa dingin. Saat itu In-jie lantas mengucurkan air matanya, katanya sambil menangis "Suhu, harap Suhu jangan marah. Janganlah Suhu terlalu salahkan muridmu."
Tetapi swat Po-po telah tekuk muka, katanya.
"Setan kecil, jangan kau kira bahwa kau bisa dipindahkan kekamar tahanan naga ini lantas anggap aku sudah menjadi girang. Ketahuilah olehmu, di kamar tahanan ini kau juga sama saja merupakan tabanan, jlka tidak sanggup menyambut sepaluh kali serangan penguasa rumah penjara, sama juga harus menjadi tawanan seumur hidup, Lekas tampar sendiri pipimu."
In-jie tak berani membantah, terpaksa menampar kedua pipinya sendiri, sehingga kedua pipinya menjadi merah dan menangis tersedu-sedu.
Cin Hong merasa tidak tega, buru-buru menjura kepada Swat Po-po seraya barkata.
"subo, ampunilah dia subo"
Swat Po-po juga mengalirkan air mata, katanya dengan suara gusar.
"Tidak bisa. setan cilik ini terlalu gegabah, ia berbuat menurut sesuka hatinya, benar-benar sangat menjengkelkan hatiku"
It-hu Sianseng dari kamar nomor tujuh tertawa terbahakbahak. kemudian berkata.
"Siang in, kau ini berarti tawanan tua menghina tawanan baru. kau coba pikir dirimu sendiri, dimasa lalu bagaimana sifatmu? Kau juga suka membawa Caramu sendiri. Dan bagaimana kalau dibandingkan dengan dia sekarang?"
Wajah Swat Po-po menjadi merah, katanya marah.
"Pui Aku mengajar muridku sendiri, siapa Suruh kau Campur mulut?"
Cin Hong melihat In-jie masih menampari pipinya sendiri tak hentinya, keadaan Cemas, tanpa disadarinya ia berteriak-teriak sambil mengulapKan tangannya.
"Berhenti . Berhenti"
In-jie tidak berani menghentikan gerakannya, kedua tangannya masih bergerak terus, masih menampari pipinya sendiri, tampaknya ia juga mendongkol, hingga tamparannya sedikit keras, begitu pula tangisannya semakin menyedihkan Cin Hong merasa tamparan itu Seperti ditujukan kepada mukanya sendiri, dalam hati merasa pilu, ia buru-buru lompat dan berkata.
"In-jie Perlahan sedikit perlahan sedikit"
Sementara swat Po-po yang melihat sepasang pipi In-jie sudah menjadi merah dan bengkak. perasaan marahnya sudah mulai reda, bentaknya.
"Baik Sudah, stop stop"
In-jie yang sudah mendongkol tidak menghiraukan ucapan Suhunya, ia masih menampa terus pipinya tiada henti-hentinya. Swat Po-po menjadi bingung sendiri, katanya sambil menangiS.
"Setan cilik, apakah kau benar-benar hendak membuat marah sampai mati?"
Cin Hong buru-buru mengulurkan tangannya untuk memegang kedua tangan in-jie, membujuknya seraya berkata.
"In-jie, dengarlah perkataan suhumu Berhentilah "
In-jie yang tidak dapat melepaskan tangan dari Cekalan Cin Hong, lantas berpaling mengawasi Suhunya sambil menangis, katanya dengan perasaan masih mendongkol.
"Suhu, suhu masih ada perintah apa lagi?"
Saat itu Swat Po-po sebaliknya malah meraSa serba salah, ia hanya mengeluarkan suara hehe dari mulutnya, lantas masukkan kepalanya ke dalam.
It-hu Sianseng terkata kepada Cin Hong sambil tersenyum.
"Anak.
kemarilah kau sebentar"
Cin Hong melepaskan tangan in-jie, berjalan kebawah jendela suhunya, berkata dengan sikap menghormat.
"Suhu, teecu sebentar akan meninggalkan rumah penjara, apakah suhu masih ada perintah apa lagi?"
"Tadi ketika In-jie melakukan pertandingan, Suhumu telah menyaksikan bahwa kepandaian ilmu silat yang dipergunakannya bukanlah ajaran Subomu, bagaimana hal ini bisa terjadi?"
Cin Hong lalu menceritakan tentang si orang tua gila yang mengg una kan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, dengan melalui dinding tembok telah mengajarkan In-Jie kepandaian ilmu silat.
It-hu Sianseng terheran-heran tidak habisnya, tanyanya pula.
"Apakah orang tua gila itu tidak memberitahukan kepada In-jie siapa namanya?"
"Tidak. ia bahkan masih berkata kepada In-jie, katanya hendak menurunkan kepandaian ilmunya kepada teecu"
"Apa kau terima?"
Bertanya It-hu Sianseng sambil menatap muridnya.
"Teecu masih belum tahu dia itu orang baik ataukah jahat, apalagi tugas untuk memberitahukan kepada dua belas partay itu supaya waspada terhadap gerakan dan rencana keji orang-orang golongan kalong Sudah tidak dapat ditunda lagi, maka teecu pikir tidak akan berdiam lagi lama-lama disini. Bagaimana suhu anggap?"
"Sebenarnya, kalau manusia memang ada perbedaannya antara yang baik dan jahat. Tetapi, ilmu Silat tidak ada perbedaannya dari golongan baik atau gologan jahat. Kubenarkan pendapatmu memang lebih baik kau beri kabar dulu kepada dua belas partay itu, dikemudian-bari apa bila ada kesempatan kau boleh terima maksud baik orang tua gila itu"
Cin Hong menerima pesan suhunya, tiba-tiba dari kamar nomor Enam terdengar suara tertawa dingin. can sa-sian Sie Koan, yang kemudian berkata kepada suhunya.
"Ta Lok Thiap. sahabat lama datang lagi"
It-hu Sianseng dan Cin Hong berpaling kearah can-Sa sian.
Tampak diluar kamar nomor satu, Tay-giam-ong sedang berdampingan dengan seseorang yang mengenakan pakaian warna kuning emas.
orang berpakaian warna kuning emas itu usianya kirakira tiga puluh lima tahun, wajahnya putih bersih, tetapi sikapnya sangat dingin, mirip seperti bangkai hidup, Dipandang sepintas lalu, menimbulkan perasaan jeri kepada siapa yang menyaksikannya, hingga tidak berani memandang lama, Dia berSama Tay-giam ong berjalan kedepan jendela nomor dua lantas berhenti, kepalanya menengok kedalam sejenak.
tiba-tiba membuka mulut, katanya dengan nada suara dingin.
"Ha lotee, kau sudah pikir-pikir atau belum ?"
Dari dalam kamar tahanan nomor dua itu lantas terdengar suara geraman hebat, kemudian, disusul oleh kata-katanya yang menyatakan kegeraman hatinya.
"Enyah kau, bajingan Kau menghina aku sinaga mata satu, apakah kau kira aku tidak bisa keluar dari penjara ini dengan mengandalkan kekuatan dan kepandaian sendiri?"
Cin Hong menyaksikan dan mendengar Semua kejadian itu sudah dapat menduga bahwa orang berpakaian warna emas itu siapa adanya dan apa maksudnya, dalam hati timbul kesan yang tidak baik, lalu berpaling dan berkata kepada suhunya dengan suara perlahan.
"Suhu, dia adalah PangCu dari golongan Kalong?"
Dengan sikap menghina It-hu Sianseng menjawab.
"Benar, juga adalah itu orang yang dulu mena makanan dirinya Ho ong, bulan yang lalu ia pernah datang Untuk menantang bertanding, dan dapat menyambut serangan penguasa rumah penjara hingga sebelas jurus, tetapi ia hanya dapat mengeluarkan seorang Lam kek Sin kun Im Liat Hong saja, yang lainnya semua tidak ada yang suka ikut pergi dengannya. Sekarang ia datang kembali, rupanya hendak membujuk lagi"
Cin Hong masih belum tahu siapa adanya Ho ong itu, tetapi dari namanya, ia dapat menduga bahwa orang itu pasti adalah orang yang sangat jahat, oleh karena Ho ong memanggil orang iblis seperti Naga bermata satu Hu Ta Hui itu lotee atau adik kecil, sedangkan iblis naga mata satu itu pada beberapa puluh tahun berselang, namanya Sudah sangat terkenal, maka dapatlah diduga bahwa usia Ho-ong pasti sudah tidak muda lagi, Akan tetapi dari wajahnya tampak masih muda, seperti seorang yang baru beruSia tiga puluh tahunan, kepandaian merawat mukanya juga sangat menakjubkan, dari situ juga dapat di duga bahWa kepandajan ilmu silatnya atau kekuatan tenaga dalamnya pasti juga Sudah mencapai kesuatu taraf tidak ada taranya.
"Anak. pada dua puluh tahun berselang. can sian Sien pangCu bersama-sama suhumu dan beberapa orang lagi, dengan bergandengan tangan pernah mengusir ia keluar dari rimba persilatan Tionggwan. Sebentar lagi mungkin ia akan datang kemari, dengan menggunakan kata-kata kotor hendak menghina suhumu. Suhumu sudah mengambil keputusan tidak akan meladeni dia, tetapi kau yang menyaksikan barang kali bisa menjadi marah, maka Sebaiknya sekarang kau boleh pergi saja"
Cin Hong menyahut sekenanya, namun ia masih tetap tidak bergerak dari tempatnya.
Setelah menyaksikan Pangcu golongan Kalong itu tidak berhasil membujuk Si naga bermata Satu, dan sudah mulai meninggalkan kamar nomor dua, bersama-sama Tay-giam ong berjalan menuju kebawah jendela kamar nomor tiga, seperti juga yang tadi, wajahnya yang putih tak menunjukkan sikap apa-apa, ia memandang Sejenak kearah kamar tahanan itu, Kemudian menggerakkan bibirnya berkata dingin.
"Bi Lotee, dan kau bagaimana?"
Dalam kamar tahanan nomor tiga itu sunyi senyap keadaannya, tidak terdengar suara orang seolah-olah disitu tidak ada penghuninya.
It-hu SianSeng yang menyaksikan semua itu, berkata dengan suara perlahan.
"Si Kuya leher panjang Bi Kap Sin benar-benar sungguh Seperti Seekor kuya yang tidak bisa membuka mulut.
Suhumu berada disini sudah delapan hari, belum sekali juga pernah mendengar suaranya"
Dalam hati Cin Hong merasa sangat kagum terhadap dua orang itu, ia juga berkata dengan Suara peralahan.
"TeCu mendengar kata bahwa sepasang saudara berlainan she dari gunung See-kim-san, biasanya merupakan orang jahat yang suka membunuh orang, bahkan gemar sekali menggunakan tengkorak kepala orang di buat atap rumah. Sungguh tak diduga mereka masih mempunyai jiwa jantan seperti itu, tidak mau mudah diperalat oleh Ho ong, benar-benar sangat mengagumkan"
Sementara itu PangCu dari golongan Kalong yang kembali tidak berhasil membujuk Si Kuya leher panjang Bie Kap Sin, Wajahnya yang dingin berkernyit sebentar, agaknya marah dan lalu mengejek dengan mengeluarkan Suara dari hidung, juga tidak membuka mulut, lantas menggeser kakinya berjalan menuju kebawah jendela kamar nomor empat, kemudian bertanya pula kepada penghuni kamar itu.
"Saudara Kha, kalian suami istri masih sangat muda, jika mati didalam kamar tahanan penjara ini sesunggunnya sangat tak berharga. Bagaimana?"
Kiu-lin merah Kha Gi San juga diam saja tak menjawab.
Tetapi setelah hening cukup lama, dari jendela kamar tawanan nomor lima menongol kepala seorang tawanan Wanita, ia berkata kepada penghuni kamar nomor empat.
"Lelaki jahanam, jangan berpura-pura sebagai jagoan, kita terima baik saja permintaannya"
Tawanan Wanita itu adalah isteri Kha Gi San yang bernama Pa cap Nio yang mempUnyai namajulukan burung Hong ekor hitam, uSianya sekira tiga puluh lima tanun, rambutnya yang panjang waktu itu terurai kedepan mukanya kulit wanita itu hitam, namun wajahnya Cantik boleh di kata seorang wanita yang hitam manis.
meskipun tubuhnya agak kurus, namun masih tidak hilang keCantikannya.
It-hu Sianseng berkata sambil menghela napas pelahan.
"Ai orang perempuan bagaimana pun juga kurang kuat imannya, siburung Hong berekor hitam itu tidak tahan penderitaan ditempat ini"
"Apa? Dia. ..."
Bertanya Cin Hong terkejut.
"Benar dia setiap hari ribut dengan suaminya hendak kekamar penjara ular, ia kata bahwa dikamar penjara ular setiap hari masih mendapat kesempatan untuk melakukan pekerjaan berat, mengertikah kau maksudnya?"
Wajah Cin Hong menjadi merah, ia menganggukanggukkan kepala dan berkata.
"Apakah hubungan suami isteri mereka ada baik?"
"Baik, mereka masuk rumah penjara ini sudah empat tahun lamanya, mereka pernah minta mengajukan permintaan kepada penguasa rumah penjara ini, agar diperkenankan berdiam satu kamar dengan suaminya, syaratnya ialah bersedia melepaskan haknya tiga kali untuk menantang bertanding lagi, tetapi permintaan itu tidak diterima oleh penguasa rumah penjara, benar-benar seorang yang sangat kejam."
Sementara itu. Pa cap Nio dengan tiba-tiba menangis dan ribut-ribut lagi.
"Laki-laki jahanam, kau dengar tidak? Kau pernah berkata bahwa kita tidak akan berpisah selama-lamanya, betul tidak? Kau tidak Suruh aku melahirkan turunan bagimu, betul tidak?"
Dari lubang jendela kamar nomor empat menongol kepala seorang laki-laki setengah umur berwajah merah, sepasang matanya memancarkan sinar yang penuh rasa simpatik dan kasihan, ia mengawasi wajah isterinya sejenak.
kemudian membuka mulut dan menghibur isterinya itu.
"cap Nio, sabarlah sedikit, Satu tahun lagi aku sudah akan sanggup menyambut sepuluh kali serangan penguasa rumah penjara ini, kita Sekarang tidak boleh menurunkan prestasi dan nama baik sepasang suami isteri golongan Lohu"
"Aku tidak perlu dengan segala nama baik aku hanya membutuhkan berdiam bersama-sama denganmu.,.,."
Berkata si burung Hong ekor hitam sambil menangis keras. Si Kie lin merah Kha Gi San agak putus asa menghadapi isteri yang selalu ribut sambil menangis dengan sedihnya, katanya sambil menghela napas.
"cap Nio,jikalau kita menerima baik permintaannya, ikut dia keluar dari rumah penjara ini, maka selanjutnya kita akan diperbudak olehnya, dan harus menurut segala perintaannya. Apakah kau Sanggup diperlakukan semaCam itu?"
"Aku bersedia menerima, asal kita akan dan bersamasama denganmu disatu tempat sekalipun aku harus menjadi budaknya juga tak akan keberatan"
Berkata Pa cap Nio Sambil berulang-ulang menganggukkan kepala.
Laki-laki berpakaian Warna emas itu, yakni PangCu golongan Kalong, dengan tiba-tiba membuka mulutnya dan mengeluarkan suara tertawa yang kedengarannya sangat aneh, katanya.
"Bukan sebagai budak Kalian suami isteri yang satu akan kuangkat sebagai Tongcu bagian Hek hok-tong, pangkat dan kedudukan kalian hanya dibawah permaisuri dan tiga selir serta dua anggota pelindung hukum"
Pa cap Nio Sangat girang mendengar ucapan itu, katanya.
"Laki-laki jahanam, kau dengar tidak? Apakah itu bukan suatu kedudukan yang sangat baik? Kita terima saja permintaannya"
Kha Gi San merasa masgul, katanya.
"cap Nio dengan demikian, kita sudah tidak mempunyai Waktu lagi untuk mencari koleksi sebagai macam barang pusaka yang anehaneh. Apakah kau mempunyai kekuatan hati untuk menahan keinginanmu dan kesukaanmu menyimpan barang-barang pusaka aneh itu?"
Sang isteri kembali mengangguk kepala berulang-ulang seraya berkata.
"Aku bisa Aku sekarang sudah memikirkan baik-baik dalam dunia ini tak ada semacam barang lagi yang lebih berharga daripada dirimu."
Kha Gi San tampaknya tergerak hatinya oleh ucapan isterinya, saat itu lalu mendongakkan kepala dan berkata dengan suara sedih.
"Sudahlah Sudahlah Hati perempuan durhaka ini telah membunuh habis ambisiku"
Pa cap Nio yang melihat sang suami.
akhirnya suka juga menerima baik permintaan Pangcu golongan Kalong, dalam girangnya lantas menangis, kemudian berpaling dan berkata kepada Pangcu golongan Kalong itu.
"Hei Kami suami isteri sekarang apakah sudah boleh ikut kau keluar dari rumah penjara ini?"
Wajah orang berpakaian emas itu Sedikit pun tidak menunjukkan sikap girang, ia hanya menganggukkan kepala dan berkata.
"Tunggu sebentar aku masih perlu mencari dua orang lagi."
Cin Hong yang menyaksikan sepasang suami istri golongan Lo-hu yang namanya pernah menggemparkan rimba persilatan itu akhirnya toh menerima juga pertolongan Pangcu golongan Kalong untuk keluar dari rumah penjara, dalam hati merasa sangat kecewa dan gegetun.
la berpaling dan berkata pada Suhunya sambil menggigit bibirnya.
"Suhu, Kie-lin merah itu benar-benar seorang lelaki yang tidak berjiwa kesatria"
"Itu disebabkan karena cinta kasih mereka dianggap lebih berharga dari pada segalanya.Jadi masih boleh jugalah dimaafkan "
Karena perbedaan pendapat dan berlainan sifat, Swat Popo akhirnya mesti berpisahan dengan It-hu Slangseng suaminya.
Melihat cinta kasih sepaSang suami istri golongan Lo-hu yang demikian murni ini.
dalam hati sedikit banyak ia juga merasa iri.
Mendengar lagi kata-kata suaminya, bahwa cinta kasih lebih berharga dari segalanya.
lantas timbul amarahnya, katanya sambil tertawa dingin.
"Tua bangka, apa kiramu kau sudah mengerti soal cinta kasih?"
It-hu sia ngseng tercengang, tetapi kemudian ia dapat memahami maksud pertanyaan istrinya, maka lalu berkata sambil tertawa kecil.
"Ya benar, aku memang tidak mengerti.. ." . Cin Hong takut mereka akan bertengkar lagi, maka buruburu menyela.
"Suhu, maukah suhu beritahukan dulu kepada teecu nama pangcu dari golongan Kalong ini?"
Selagi It-hu SianSeng hendak menjawab, dari kamar nomor delapan tiba-tiba terdengar suara geraman dan bentakan can sa-sian.
"Pui Kau anjing laki perempuan ini mengawasi aku saja mau apa?"
Cin Hong dengan Cepat berpaling.
Tampak olehnya orang berpakaian warna emas itu sudah berada diluar jendela kamar nomor eram, matanya ditujukan ke lobang jendela dan berdiri tak bergerak, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sedang wajahnya tetap menunjukkan Sikapnya yang dingin.
can si-sian sudah menarik kembali kepalanya dari lobang jendela, saat itu sedang ber-jingkrak2 sambil me-maki2.
"Anjing laki2 dan perempuan"
Tidak berhentinya.
Cin Hong yang mendengar suara Cacian pengemis tua itu dalam hati merasa geli.
Pengemis tua ini benar-benar tidak keruan ucapannya.
Demikianp ikirnya, Masa orang dikatakan 'anjing laki-laki perempuan' Anjing laki-laki tentu yang jantan, anjing betina ya yang betina.
Mengapa menggunakan istilah 'anjing laki laki perempuan'?
It-hu Sianseng agaknya sudah mengetahui bahwa muridnya itu sedang keheranan, ia lalu berkata Sambil terseryum.
"Ucapan Sle Pangcu itu sedikitpun tidak salah, dia memang tidak ubahnya sebagai anjing laki-laki perempuan'"
Cin Hong makin heran, tanyanya.
"Suhu, anjing laki laki perempuan itu apa artinya?"
It-hu Sianseng berdiam sejenak, kemudian berkata.
"Maksudnya ialah, Diwaktu siang hari dia adalah seorang laki-laki, diwaktu malam dia menjadi orang perempuan-"
Cin Hong dengan mulut menganga berseru kaget, katanya.
"Ha Jadi dia itu seorang wadam?"
"Ya Dia juga mempunyai dua nama. yang satu Jie Hong Hu, yang lain Jiau Biauw Kouw. Tapi bagaimana keadaan seharinya, tanyakan saja kepada empek ie-oe"
Cin Hong terheran-heran, ia berdiri termangu-mangu mengawasi wajah orang berpakaian Warna emas yang dingin kaku, sementara It-hu Sianseng sudah berkata lagi sambil tertawa dingin.
"Wajahnya itu memakai kedok kulit manusia, wajah aslinya suhumu sendiri juga ...Hm Dia sekarang sudah berjalan kemari, lekaslah kau pergi, suhumu hendak pergi tidur"
Sehabis berkata demikian, ia menarik kembali kepalanya dari lubang jendela dan masuk kedalam kamarnya, ia lompat kesatu sudut dan merebahkan diri, menghadap kedalam sebentar sudah terdengar suara menggerosnya.
orang berpakaian warna emas waktu berjalan dihadapan Cin Hong lantaS berhenti, seolah-olah sudah lama mengenalnya, sepasang matanya yang bersinar tajam terus menatap wajah Cin Hong, sedang bibirnya tersesungging senyuman yang sangat misteri, kemudian bertanya.
"Cin Hong, apakah kau menghendaki aku menolong Suhumu?"
Ketika pandangan mata Cin Hong bertumbukan dengan sinar mata orang itu, sesaat seluruh tubuhnya merasa menggigilnya, ia mundur sesungguhnya.
"Hei Dari mana kau tahu namaku?"
"Ditepi telaga sen-ouw, aku pernah melihat kau dengan budak perempuan she Yo itu. Waktu itu aku sebetulnya ada maksud hendak mengambil kalian berdua sebagai Kim-tong dan Giok-lie, juga akan kuberi didikan ilmu silat yang luar biasa pada kalian-Tak kusangka kalian ternyata adalah orang-orang yang tidak tahu diri...."
Cin Hong pada sebelumnya masih belum tahu keadaan orang itu, maka atas usul yang dikatakan sebagai Kim-tong dan Giok lie itu hanya diganda dengan ketawa, sekarang ia sudah tahu dia adalah seorang wadam mendengar lagi ucapannya tentang kedudukan Kim-tong Giok-lie itu.
sesaat timbul kesannya seolah-olah terhina olehnya, maka saat itu ia lantas naik pitam tidak menantikan orang itu bicara habis, Sudah membentak dengan suara keras.
"Tutup mulutmu Siapa kesudian menjadi Kim-tong Giok lie mu?"
Senyuman yang tadi tersungging dibibir orang berpakaian warna emas itu telah lenyup, dengan wajah dingin memandang Cin Hong sejenak, kemudian perlahan-lahan berpaling kekamar tawanan It-hu Sianseng katanya dengan nada suara dingin.
"To Lok Thian, apa kau maSih ingat hutang lama pada dua puluh tujuh tahun berselang?"
It-hu Sianseng sedikitpun tak begerak suara menggerosnya semakin keraS. orang berpakaian emas itu tiba-tiba mendongaKkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.
"Heh, heh, tak kusangka kau To Lok Thian ternyata mempunyai kesabaran luar biasa benar-benar diluar dugaanku"
Suara tertawa nyaitu demikian nyaring dan tajam, ketika masuk kedalam telinganya masih mengaung tak hentinya, Suara itu seolah-olah jarum tajam yang menusuk telinga, beberapa ekor burung yang hinggap di tebing itu juga terjatuh oleh Suara tertawa tadi, dan lekas-lekas terbang lagi keluar lembah.
Tay-giam-ong yang berdiri dibelakangnya tampak mengerutkan alisnya, ia mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk bahunya seraya berkata.
"Laohia, barang siapa yang masuk kedalam rumah penjara ini, tidak boleh menimbulkan ribut-ribut, kalau kau masih tertawa lagi, aku terpaksa akan mengusir kau keluar"
In-jie dari kamar nomor sembilan berseru sambil tepuktepuk tangan.
"Betul Lekas usir dia keluar"
Tay-giam ong menggerendeng sendiri, berpaling seraya membentak.
"Kau juga tidak boleh berteriak-teriak begitu. Kalau kau berani lagi....."
"Kalau berani berteriak lagi apa kau juga akan mengusir aku keluar?"
Tay-giam-ong tercengang, kemudian membentak dengan nada suara marah.
"Kalau berani berteriak-teriak lagi, akan kuhukum atau tidak memberikan makan kepadamu tiga hari"
Cin Hong terkejut mendengar ucapan itu, buru-buru berkata kepada In-jie.
"In-jie janganlah kau berteriak-teriak lagi."
Orang berpakaian warna emas sikapnya tetap dingin sombong seperti tadi, seolah-olah tak mendengar peringatannya tay-giam ong.
Saat itu kembali berpaling kekamar It-hu Sianseng Seraya berkata.
"To Lok Thian-benarkah kau tak berani membuka suara sama sekali?"
Cin Hong yang mendengar ucapan orang berpakaian warna emas itu menghina gurunya, ia telah lupa peraturan tidak boleh ribut-ribut didalam rumah penjara, dengan tibatiba tangannya bergerak menyerang orang berpakaian warna emas, terdengar suara bentakannya yang keras.
"Kau berani menghina suhuku? Sekarang akan kuberi hajaran kepadamu"
Gerakannya tadi adalah salah satu gerakan dari ilmu silat pelajaran suhunya, gerakan tangan itu memang indah sekali, apalagi terpisah dengan jarak sangat dekat, ia mengira dengan Serangannya yang mendadak itu, pasti dapat memukul jatuh orang itu.
Diluar dugaannya, selagi jari tangannya hendak menyentuh bagian jalan darah orang itu, mendadak dibaWah ketiaknya dirasakan kesemutan, dan tangannya sesaat itu lantas dirasakan telah menjadi keplek.
tidak bertenaga lagi.
Dalam terkejutnya, buru2 mengangkat tangan kirinya untuk melindungi dadanya sendiri, bersamaan dengan itu ia lantaS lompat mundur Sstu langkah.
orang berpakaian warna emas itu tidak mengejar, hanya matanya saja yang memancarkan sinar aneh, sambil tersenyum ia menatap Cin Hong, katanya lambat-lambat.
"Kau pemuda ini sesungguhnya terlalu gampang marah, cobakau lihat mataku, mirip tidak dengan seorang musuhmu?"
Perkataan itu diucapkan dengan nada suara sangat merdu, seolah-olah mengandung kekuatan gaib yang tidak dapat ditolak.
membuat Cin Hong tanpa sadar sudah menurut perintah untuk mengawasi sepasang matanya.
Memang benar, sepasang mata itu demikian jernih, Sedikitpun tidak mengandung maksud jahat, bahkan seperti mata seorang ibu yang penuh kasih sayang.
orang berpakaian watna emas itu kemudian berkata pula.
"Aku tahu selama beberapa hari ini kau tidak biSa tidur enak. itu disebabkan karena kau memikirkan Suhu dan SumoaymU, Sehingga pikiranmu jadi terganggu. Sekarang kau harus tidur nyenyak Sebentar. Kau lihatlah pemandangan disini, betapakah indahnya, angin disini betapa sejuknya, ditempat seperti ini kalau kau bisa tidur nyenyak. malah baru boieh dibilang merupakan Suatu kenikmatan bagi manusia hidup, Baik, sekarang pejamkanlah matamu periahan-lahan-Tiduriah, tidurlah....."
Ucapan yang terakhir kedengarannya begitu lunak dan merdu, benar saja Cin Hong lantaS merasa mengantuk.
dalam hatinya berpikir selama beberapa hari ini memang benar-benar ia tidak bisa tidur enak, memang harus tidur sebentar.
oleh karena pikirannya demikian maka rasa kantuknya semakin menjadi-jadi, tak disadarinya ia menguap beberapa kali, dengan letih menyenderkan tubuhnya kesamping dinding lembah.
kemudian duduk ditanah dan tidur dengan nyenyaknya ..., Entah berapa lama sang waktu berlalu, dalam keadaan samar-samar, tiba-tiba kepalanya diketuk orang perlahan, hingga ia terkejut dan mendusin-Mana kala ia membuka mata, didapatkannya darinya rebah diatas tanah dalam ruangan tamu penguasa rumah penjara rimba persilatan, Sedang disamping berdiri penguasa rumah penjara rimba persilatan bersama murid perempuan penguasa rumah penjara itu, Leng Bie Sian Bukan kepalang terkejutnya Cin Hong kali ini, ia buru buru lompat bangun, kepalanya nengok kekanan kekiri, dengan terheran-heran ia berkata.
"Eh Bagaimana sampai aku bisa tidur ditempat ini ?"
Leng Bie San tertawa geli, ia berkata sambil mendekap mulutnya dengan lengan bajunya.
"Kau tadi telah terperdaya oleh orang berpakaian warna emaS itu. Jikalau Suhu tidak keburu menolongmu, barang kali kau akan tidur tiga hari lamanya "
Cin Hong sekarang baru sadar. Dalam hati ia begitu marah, segera lompat kedekat jendela untuk melongok keluar sambil bertanya.
"Dan kemana sekarang orangnya?"
"Sudah diusir keluar oleh suhu"
Menjawab Leng Bie sian sambil tertawa. Cin Hong memutar tubuh mengawasi penguasa rumah penjara rimba persilatan seraya bertanya.
"Mengapa kau tidak menangkap dia dan masukkan kedalam penjara?"
"Dengan hak apa aku harus menangkap ia dan dmasukan dia kedaiam penjara? Yang bertindak memukul dahulu adalah kau. Kalau diuSUt benar-benar persoalan ini, yang harus masuk penjara sebaliknya adalah kau sendiri"
Jawab penguasa rumah penjara.
Cin Hong diam-diam terkejut, ia tidak berani banyak bicara lagi, buru-buru berjalan menuju kemeja persegi mengambil kuasnya untuk meneruskan lukisannya yang hampir selesai.
Penguasa rumah penjara rimba persilatan berjalan kebelakang dirinya untuk menyaksikan ia melukis.
berkata dengan mengandung maksud tidak baik.
"Seandaian Sumoaymu tidak dipindahkan kekamar penjara Naga, lukisan ini barangkali tidak akan selesai untak selama-lamanya"
Wajahnya Cin Hong menjadi merah, ia berkata sambil mengangkat pundak.
"Kau jangan banyak bicara Setelah aku menyelesaikan lukisan ini aku hendak minta diri"
Penguasa rumah penjara itu berdiam sejenak kemudian berkata seolah-olah terhadap dirinya sendiri.
"Sungguh aneh, Sumoaymu waktu pertama kali menantang bertanding, satu juruspun tidak Sanggup menahan seranganku, tetapi dalam pertandingan yang kedua kalinya ia anggup menyambut sampai lima kali, ini apa sebabnya?"
Cin Hong diam-diam merasa geli, tetapi ia tak berani mengatakan bahwa itu adalah pelajaran ilmu Silat yang didapat dari orang tua gila itu, saat itu ia hanya berkata sambil angkat pundak lagi.
"Apakah kau tidak dengar sewaktu ia bertanding denganmu, tidak berhentinya memanggil aku satu kali, ia dapat menyambut seranganmu satu kali"
"Hem..Jadi, lebih hebat daripada kepandaian ilmu silatku?"
Cin Hong tidak menghiraukan, ia meneruskan lukisannya dengan tenang, setelah selesai, ia meletakkan kuasnya dan berpaling seraya bertanya.
"Mirip atau tidak?"
"Bagus"
Menjawab penguasa rumah penjara rimba persilatan singkat. Cin Hong menjura seraya berkata "Kalau begitu, sekarang aku hendak mohon diri saja"
"Apakah kau tega berpisahan dengan sumoaymu?"
Cin Hong tidak mau menunjukan sikap lemah, katanya dengan tegas.
"Mana bisa tidak tega? Kami toh bukan apaapa ... ,"
KATA-KATA selanjutnya ia merasa tidak enak mengucapkannya, terpaksa bungkam.
Panguasa rumah penjara rimba persilatan tertawa-tawa dan bertanya lagi, Cin Hong berpikir sebentar, katanya sambil tersenyum.
"Apakah aku masih boleh main-main beberapa hari lagi disini?"
"Terserah kau saja Kau ingin main-main lagi berapa hari boleh tinggal disini sebegitu hari juga"
"Mengapa kau memperlakukan aku demikian baik?"
Penguasa rumah panjara rimba persilatan mengawasi lukisan Cin Hong yang ditempel didinding, kemudian berpaling seraya katanya.
"Sebab lukisan yang kau lukiskan untukku. Sudah membuat aku merasa puas."
"Aku memang benar ingin main-main lagi beberapa hari, hanya sebaiknya kau tetapkan saja batas waktunya, sepuluh hari atau delapan hari."
Leng Bie Sian segera menyelak.
"Terserah kepadamu. Kalau sepuluh hari bagaimana?"
Cin Hong menampak sepasang mata gadis itu penuh kasih sayang, hingga hatinya tergoncang, buru-buru bertanya kepada penguasa rumah penjara.
"Kalau sepuluh hari, bagaimana?"
"Tadi sudah kukata, terserah kepadamu saja ingin berapa hari juga boleh"
"Tapi kau tidak boleh menyesal"
"Mengapa aku harus menyesal"
"Itu tidak baik Maksudku ialah hendak mempertahankan hakku sepuluh hari ini "
"Maksudmu apakah hari ini kau harus pergi, dan lain kali kau akan balik lagi dan berdiam disini sepuluh hari lagi?"
"Ya Karena kau sudah menerima baik, maka tidak boleh menyesal lagi"
Berkata Cin Hong sambil menganggukkan kepala dan tertawa. Leng Bie Sian agaknya merasa keCewa, ia hanya dapat mengeluarkan ucapan "ouw"
Saja, lantas tidak mengatakan apa-apa lagi. Penguasa rumah penjara mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak. kemudian berkata.
"Baik, baik Kau sibocah ini diluarnya kelihatan jujur, tidak tahu didalam otakmu banyak sekali tipu daya... ."
Selewatnya tengah hari, Cin Hong datang lagi kekamar penjara Naga untuk mohon diri kepada suhu dan subonya.
Setelah itu ia juga lantas pamitan kepada fn-jie, sekalian untuk minta kembali anak kunci berukuran huruf Llong yang beberapa hari berselang diberikan kepada gadis itu untuk disimpankan, kemudian oleh seorang petunjuk jalan dari rumah penjara itu ia diajak keluar dari rumah penjara dalam lembah itu.
Ketika tiba dipos penghabisan, kembali Cin Hong bertemu dengan Thiat-oe Siangsu.
Kalau dahulu sewaktu masuk gunung ia harus berurusan dulu dengan Thiat-oe Siangsu, kini diwaktu turun gunung petugas itu malah berlaku baik sekali kepadaya, buru-buru menarik kuda yang In-jie titipkan kepadanya, dan mengeluarkan sepucuk surat diberikan kepadanya sambil berkata.
"cin siohiap. ini adalah surat yang ditinggalkan untukmu oleh pengemis keCil itu, dia baru saja pada satujam berselang berlalu dari sini "
Cin Hong menerima Surat dan dua ekor kuda sambil mengucapkan terima kasih, ia lantas naik keatas kuda. dan berkata sambil tersenyum.
"Sudlkah kiranya Thiat siangsu tolong aku melakukan sesuatu?"
Thiat-oe Siangsu adalah seorang yang Sangat Cerdik.
Sejak enam hari berselang ia menahan masuknya orang tua gila itu keatas lembah, ia telah melihat Cin Hong bersama Leng Bie Sian berdua berdiri dijendela ruang tamu Penguasa rumah penjara, dalam hati segera menduga beberapa bagian, bahwa murid perempuan Penguasa rumah penjara itu mungkin sudah jatuh hati kepada pemuda itu, maka buru-buru mengembalikan rantai emas yang dahulu diberikan padanya, selama beberapa hari ini ia merasa takut apabila Cin Hong mengadukan perbuatan korupsinya kepada penguasa rumah penjara maka hari ini ketika melihat ia turun gunung,baru tahu benar bahwa ia tidak mengadukan perbuatannya, hingga dalam hati merasa sangat berterima kasih.
Pada saat itu ketika mendengar ucapan Cin Hong minta tolong kepadanya sudah tentu ia tidak berani menolak.
cepat-cepat menjura dan berkata sambil tertawa "Cin Hong siaobiap ada urusan apa-apa silahkan perintahkan saja, aku bersedia melakukan perintahmu.
..."
Cin Hong juga tahu apa sebab sikap Thiat oe Siangsu itu berubah seratus delapan puluh derajat, dalam hati diamdiam memandang rendah kepada orang itu, Saat itu ia berkata sambil menunjuk kekudanya sendiri.
"Tidak ada urusan yang penting, hanya minta supaya Thiat Sangsu tolong menjagakan kudaku ini, nanti setelah Sumoayku berhasil menyambut serangan Laucu sampai sepuluh kali dan keluar dari penjara, kuda ini tolong kau Serahkan kepadanya"
Thiat-oe Siansu berulang ulang menganggukkan kepala, dengan mata terbuka lebar ia bertanya.
"Hendak keluar dari Rumah penjara melalui prosudure melakukan pertandingan?
Dari mana ia memiliki kepandaian serupa itu?"
"Ada kemungkinan, apakah kau tidak melihat kemarin ia dipenjarakan dlkamar penjara Ular, tetapi kali ini sudah dipindahkan kekamar tawanan Naga?"
Thiat-oe Siansu ternyata masih belum tahu kejadian itu, ketika mendengar ucapan itu, sangat terkejut, hingga saat itu matanya terbuka lebar dan mulutnva ternganga.
Cin Hong hanya ganda dengan senyuman lalu menjura kepadanya, dan setelah itu ia bedal kudanya keluar daripintu gerbang Rumah penjara, dengan mengikuti jalanan pegunungan ia melarikan kudanya, ketika ia berpaling sudah tidak melihat pintu gerbang, barulah menghentikan kudanya dan mengeluarkan surat Can Sa-jie yang ditinggalkan untuknya, ia membuka dan membaCa isinya, didalam surat itu tertulis.
Pro.
Saudara cin-Pengemis keCil ini tidak berhasil mencegah SUmoaymu masuk kerumah penjara untuk menantang bertanding, disini ku-ucapkan rasa menyesal yang sangat terhadapmu.
Kita tiga anak-anak keCil luar biaSa dari rimba persilatan baru pertama kali turun kemedan pertempuran, ternyata sudah mengalami kegagalan, kalau begitu harapan kita sudah agak buyar.
Aku tahu kaupasti merasa sangat Cemas.
Sebetulnya, aku ingin menunggu kau keluar untuk merundingkan Caranya menolong sumoaymu.
Apa mau aku telah melihat Hoong (dari mulut Thiat-oe Siansu aku dapat mengetahui dia adalah Ho ong) ada membawa keluar sepasang suami istri dari Lo-hu San dan turun gunung.
Aku pikir hal itu pasti akan membawa akibat hebat.
Ho-ong telah membentuk golongan Kalong, lantas menolong keluar satu persatu kawan iblis rimba Persilatan dari rumah penjara ini, yang akan dijadlkan pembantu atau kaki tangannya dengan demikian maka seluruh rimba persilatan barang kali akan mengalami bencana besar.
oleh karenanya, maka aku telah mengambil keputuSan untuk mengikutinya secara diam-diam, apabila aku dapat mengetahui markas golongan Kalong itu, sedikit banyak akan merupakan suatu keuntungan bagiku.Jikalau kau sudah meninggalkan rumah penjara rimba persilatan dan tidak suka kembali Ke kota Ha ng-chiu untuk menjadi sastrawan lagi, tidak halangan kau coba melakukan petualangan, disepanjang jalan aku meninggalkan tanda gambar burung sebagai kode rasanya kau boleh ikuti saja gambar kepala burung itu kalau hendak mengetahui jejakku.
Bila kau melihat lukisan burung yang kutinggalkan itu merupakan gambar burung terbang, ini suatu tanda bahwa jejakku telah diketahui oleh musuh, juga berarti musuh sebaliknya Sedang mengejar jejakku.
Jadi aku butuh pertolonganmu.
Kau tahu bila aku tertangkap oleh kawanan siluman perempuan itu mereka Sudah tentu tak akan timbul perasaan suka terhadapku, diriku pasti akan dibuat permainan, atau dicincang oleh mereka Ho-ong dan sepasang suami istri Lo-hu-san itu sudah berjalan sangat jauh, aku perlu lekas pergi mengejar hingga tidak dapat menulis lebih banyak lagi.
Sampai bertemu kembali dari Sahabatmu.
can-sa-jie."
Sehabis membaCa surat itu, yang dipikir Cin Hong semula ialah hendak pergi dulu ke gucung oey-san untuk menyampaikan pesan It-yang-cie Siauw canJin.
Tapi kini, karena Can Sa-jie meninggalkan Surat perintah ia mengikuti jejak dan kegiatannya PangCu golongan Kalong.
apa bila sekarang ia tidak mengejar, dan seandai pengemis keCil itu mendapat bahaya, ia sendiri bukankah akan menjadi seorang durhaka dan tidak setia kaWan terhadap Sahabatnya?
oleh karenanya, maka ia lalu membatalkan maksud yang semula, dan merobah tujuan.
ia mulai pergi mengejar can-Sa-Jie....
Ia melarikan kudanya perlahan-lahan Sambil pasang mata.
Benar Saja, disepanjang jalan ia menemukan tandatanda kode yang ditinggalkan oleh Can Sa-jie, kode-kode itu ada juga yang dilukis diatas pohon, atau disebuah batu besar ditepi jalan-Hampir Setiap lalu dua pal tertampak lukisan gambar seekor burung.
Ia larikan kudanya menurutarah yang ditunjuk oleh kepala burung itu.Jalan-jalan yang dilalui semuanya merupakan jalan belukar dan sepi sekali.
DiWaktu lohor, ia memasuki daerah pegunungan.
Semakin masuk semakin dalam, pada akhirnya kepala burung menunjuk kearah sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi, ia terpaksa turun dari atas kudanya dan mendaki puncak gunung yang tinggi.
Mendaki Sampai ditengah tengahnya, pandangan matanya tertuju kepada sebuah batu besar, tiba-tiba hatinya dirasakan berdebaran sesaat merasa tegang.
Kiranya, diatas batu besar itu kembali terdapat gambar kode seekor burung yang ditinggalkan oleh can-sa-jie kepala burung menujur kesebuah rimba lebat diatas gunung itu, tetapi burung itu mementangkan sayapnya, ini suatu tanda bahwa tindakan Can Sa-jie yang mengikuti jejak musuh sudah kepergok dan Kini sebaliknya malah ia sendiri yang sedang dikejar oleh musuh-musuhnya.
Siapakah yang mengejarnya?
Sudah tentu Pangcu golongan Kalong itu PangCu itu seorang yang sangat hebat, diwaktu didalam rumah penjara Cin Hong pernah diperdayakan olehnya sehingga ia tertidur pulas, kemudian dari Suhunya ia mendapat keterangan, bahwa ilmu itu merupakan suatu ilmu sihir yang sangat lihay.Jikalau orang tidak memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat sempurna terkena ilmu itu pasti akan tergelincir dibawa ilmunya.
flmu tenaga dalam Can Sa-jie tidak lebih tinggi daripadanya sendiri, sudah tentu tidak mUngkin dapat melawan ilmu sihir PangCu dari golongan Kalong itu.
Seandai tertangkap oleh PangCu itu, sudah tentu sangat berbahaya.
Semakin dipikirnya semakin takut, meskipun ia sendiri andaikata dapat mengejar Can Sa-jie juga cuma-cuma.
Tetapi berdasarkan atas perhubungan kesetia kawanan, sudah tentu ia tak boleh mundur.
Saat itu juga ia segera lari menuju ketempat yang ditunjuk oleh gambar kepala burung tadi.
Rimba itu benarbenar sangat lebat, disitu terdapat tumbuhan rumput berduri, berjalan kira-kira setengah pal, tak jauh dari tempat rombongan rumput, tampak pakaian rombengan can-sa-jie, seolah-olah orang terluka dan sedang mendekam ditanah.
Cin Hong terkejut, dengan Cepat lari menghampiri.
Ia berseru kaget.
Kiranya, itu bukanlah Can Sa-jie, melainKan pakaiannya yang rombeng Baju hitamnya yang Sudah banyak tambalan, ditaruh demikian rupa digerombolan rumput.
kalau dilihat dari jauh mirip benar seperti orang yang tengkurap ditanah.
Bagaimana pakaiannya bisa dilepas dan diletakkan disitu?
orangnya kemana pergi?
Hal apakah karena ia dikejar-kejar sudah hampir tidak dapat meloloskan diri, dan tidak keburu meninggalkan kode, terpaksa membuka pakaiannya, untuk dijadikan tanda, supaya aku dapat melanjutkan pengejaranku?
Cin Hong mengambil pakaian hitam itu untuk diperiksanya, tetapi ia tidak dapat menemukan tanda-tanda apapun, terpaksa terus berjalan, tetapi sepanjang jalan itu ia tidak menemukan lagi kode yang ditmggalkan can-si-Jie.
Tak lama kemudian, hari sudah malam.
dalam rimba keadaannya semakin seram, meskipun ia memiliki kepandaian ilmu silat, tetapi karena anak-anak berdiam dikota Hang-ciu yang ramai, belum pernah keluar pintu jauh-jauh seorang diri, dan sekarang ia harus berada didalam rimba gelap gulita seorang diri, bagaimanapun juga pikirannya merasa tidak tenang.
Pikirannya malam itu walaupun perut lapar masih tidak menjadi soaL.
Tetapi jikalau harus bermalam di rimba belukar, bagaimana kalau menjumpai binatang liar.
Selagi ia kebingungan sendiri, dari dalam rimba sebelah kiri tiba-tiba tampak sedikit sinar lampu.
Ia girang sekali karena disitu terdapat Sinar lampu sudah pasti ada rumah orang.
Kalau itu benar, maka ia pikir malam itu akan minta bermalam satu malam saja, dan besok melanjutkan perjalanannya lagi.
Ia lalu memperCepat langkahnya berjalan menuju kearah yang terdapat sinar lampu tadi.
Berjalan beberapa puluh tombak.
rimba itu nampak semakin lebat, jalanan juga tidak lurus lagi, jadi merupakan jalanan berliku-liku.
Dengan jalan demikian ia berjalan beberapa tempat, dengan tiba-tiba kehilangan arah, sinar lampu tadi Sudah tidak tampak lagi Ia lalu lompat keatas pohon untuk mencari-cari, ternyata sinar lampu tadi sudah berada dibelakang dirinya.
Beberapa kali ia berusaha mendekati sinar lampu itu, tetapi selalu tidak berhasil, sehingga matanya menjadi berkunang-kunang sendiri.
Ia tahu bahwa itu disebabkan karena adanya banyak pohon-pohon didalam rimba.
Ia berusaha lagi mencari dari atas pohon, tetapi didalam gelap itu ia tidak menemukan tempat untuk berpinjak.
Karena ia takut sampai terjebak oleh akal orang jahat, ia berlaku sangat hati-hati sekali.
Ia sejak anak-anak sudah digembleng oleh It-hu Sianseng, tidak perduli menghadapi urusan bagaimana pun gawatnya, ia selalu dapat berlaku tenang dan tabah.
Kali ini beberapa kali ia gagal dalam usahanya mendekati sinar lampu itu.
dan toh masih belum merasa putus asa, ia berdiri.
Sambil mengatur pernapasannya, dalam hati sudah mengambil keputusan untuk beristirahat sebentar kemudian mencari lagi, sebelum mendapatkan tempat yang dicari itu ia tidak akan berhenti, Pada saat itu, dari tempat sejauh tiga tombak lebih, terdengar suara ringan seolah-olah sebuah batu kecil yang disambitkan keatas pohon.
Dalam terkejutnya, ia coba mencari-cari dangan pandangan matanya kearah datangnya suara tadi, tetapi tidak dapat menemukan apa-apa hingga hatinya merasa kesal sendiri.
Kembali terdengar suara "Serrr"
Beberapa kali, Suara itu bahkan terdengar dihadapannya sejauh dua tombak.
Ia tahu ada apa-apa terjadi disitu.
Sekali lagi ia lompat kearah datangnya suara tadi Baru Saja kakinya menginjak tanah, dari arah kirinya sejauh satu tombak lebih, terdengar pula suara tadi.
Dalam hatinya terkejut dan timbulah perasaan curiganya, dalam anggapannya itu pasti ada orang yang sedang memancing dirinya.
Tetapi anehnya, ia tidak tahu siapa orangnya?
Dan apa sebabnya orang tersebut berbuat demikian?
Dengan maksud baik ataukah maksud jahat?
Tetapi karena saat itu tidak menemukan jalan keluar, terpaksa hendak menuruti arah yang ditunjuk oleh suara tadi, untuk mencoba cari jalan keluar.
Saat itu ia segera berjalan kekiri dari mana datangnja arah suara tadi.
Benar saja, baru berjalan ketempat tadi.
terdengar pula suara Serrr yang datang dari lain arah, ia berjalan berliku-liku demikian jauh, dengan tiba-tiba terbukalah pandangan matanya ditempat sejauh empat tombak dihadapannya, tertampak sebuah rumah atap.
Gubuk itu, sekitarnya diputari oleh pagar bambu pendek, diatas pagar itu terdapat tanaman merambat, dengan buahnya yang besar seperti buah labu yang besar-besar, didalam pekarangan yang dikitari oleh pagar bambu, terdapat beberapa jenis tanaman bunga.
Kalau ditilik dari keadaannya, penghuni rumah itu tentunya adalah orang yang sengaia telah mengasingkan diri ditempat yang tenang ini.
Akan tetapi keadaan gubuk itu kini ternyata tidak berada ditempat aman, ketika pandangan mata Cin Hong melalui pagar bambu tadi melongok kedalam, tampak didalam pekarangan ada seorang pria dan seorang wanita yang sedang bertanding melawan seekor monyet berbulu putih.
Dua orang itu ternyata adalah sepasang suami istri dari golongan Lo-hu-pay yang tadi pagi ditolong dan dikeluarkan dari Rumah Penjara Rimba persilatan oleh orang berbaju emas, mereka dua orang melawan seekor monyet putih, sudah tentu lebih ungguL Monyet putih itu sangat lincah sekali gerakannya, bahkan seperti mengerti ilmu silat dengan sendirian melawan dua tokoh kuat dari golongan Lo-hu, menggunakan sepasang tangannya dengan gerak tipunya yang luar biasa.
Sedang keadaan dalam gubuk itu, tampak sebuah pelita sebentar-sebentar digeser, dari lobang jendela kadang tampak sesosok bayangan orang, suara gaduh didengar didalam seperti ada orang sedang mengaduk-aduk mengadakan pemeriksaan....Cin Hong menyaksikan dengan diliputi oleh berbagai keheranan dan pertanyaan, tiba-tiba terdengar suara Pa cap Nio yang sedang bertempur, berkata pada suaminya "Jangan kau lukai dia.
Aku hendak memelihara binatang Cerdik ini"
Terdengar suafa jawaban suaminya sambil tertawa terhahak-bahak.
"Kau melihat apa saja Selalu mau. Ketahuilah kau olehmu, bahwa kerdudukan kita selanjutnya adalah dibawah perintah orang, tak lagi seperti dulu lagi yang boleh berbuat semaunya... ."
Pa cap Nio dengan kakinya menyerang bagian bawah monyet putih itu, berkata dengan tertawa terbahak-bahak.
"Monyet, mengapa kau harus mempersulit kami?
Lekaslah menyerah seCara baik-baik, aku nanti akan melihara dirimu"
Monyet putih itu seolah-olah mengerti bahasa orang, sepasang biji matanya yang merah memancarkan sinarnya yang berapi-api, dari mulutnya mengeluarkan suara cecowetan berulang-ulang, sedang tangan dan kakinya tetap bergerak-gerak.
ia terus melawan dengan gagah, Sedikitpun tidak mau dengar ucapan orang-orang itu.
Pertempuran kedua pihak berlangsung dengan sangat serunya, sementara itu Pa cap Nio sudah berkata lagi kepada suaminya.
"Monyet putih ini sungguh hebat. Apa kau sudah mengenali ilmu silat yang digunakan itu dari golongan mana ?"
"Siapa yang tahu malam ini kalau kita tak bisa membunuh binatang ini, maka untuk selanjutnya sepasang suami istri dari golongan Lo-hu akan menjadi buah tertawaan orang luar?"
Jawab Sang suami Sambil terus mencecar simonyet dengan serangan-serangan gencar.
"Tadi aku sudah kata, jangan bunuh dia. Aku menghendaki binatang ini dalam keadaan hidup"
Kata sang istri marah.
"Tidak bisa. binatang ini adalah binatang jantan, aku paling benci pada monyet jantan"
Berkata Sang suami dengan suara yang aneh.
"Kau gila. Masakan terhadap monyet saji demikian besar cemburumu?"
Kata Sang istri pula Sambil tertawa nyaring.
Sisuami tidak mengatakan apa-apa, beruntung beberapa kali ia mengeluarkan serangannya yang sangat ampuh, tampaknya sudah begitu kuat tekadnya hendak membinasakan monyet putih itu.
Monyet putih itu mengeluarkan suaranya cecuitan terus menerus, sedang tangan dan kakinya terus bergerak tanpa berhenti, agaknya sudah bertekad hendak melawan sampai mati.
Namun oleh karena menghadapi dua musuh tangguh, gerakannya itu perlahan-lahan sudah mulai kendor.
Pa cap Nio agaknya kuatir kalau sang suami benar-benar akan membinasakan monyet itu, beberapa kali ia bahkan turun tangan untuk menolong monyet itu dari kematian, katanya dengan suara marah.
"Kalau kau berani melukai dia seujung rambutnya saja, untuk selanjutnya jangan kau minta diriku lagi"
Sang suami yang mendengar ancaman itu buru-buru mengendorkan serangannya. katanya marah-marah.
"Perempuan busuk. Binatang ini hanya terdapat digunung Swat San, sifatnya buas susah dikendalikan, kau menghendaki dia sebetulnya untuk apa?"
"Tidak untuk apa-apa. aku hanya Suka saja "
Pada saat itu, dari dalam gubuk itu tiba-tiba mengepul asap tebal, dalam waktu sekejab mata dari sudut atap sudah mulai menjilat api yang berkobar besar Bersamaan dengan itu, dari dalam gubuk tampak meleSat keluar seseorang, orang itu ternyata adalah Pangcu dari golongan Kalong yang mengenakan pakaian warna emas dan memakai kedoK muka diwajahnya.
Begitu keluar dari dalam gubuk.
sudah ditanya olen suami Pa cap Nio.
"Pangcu, Sudah ketemu atau belum?"
Orang berjubah emas itu menggeleng-gelengkan kepala, jaWabnya dingin.
"Mungkin benar tak ada barang itu"
Sambil berkata, ia menyaksikan dua suami-istri itu agaknya tidak Sanggup membereskan seekor monyet, lalu mengeluarkan suara dari hidung dan kemudian berkata dengan sikap mengejek.
"Bagaimana? Kalian sepasang tokoh dari Lo-hu-pay, masih tak sanggup menangkan seekor monyet?"
Kie-lin merah jadi malu ditegur sehingga mukanya benar-benar menjadi merah. katanya dengan suara keras.
"Siapa kata? Jikalau isteriku tidak mengingini monyet ini untuk dipeliharanya, sudah sejak tadi kuhajar mampus dia"
"Kalau begitu, biarlah aku bertindak sendiri."
Kata orang berjubah emas dingin kemudian badannya bergerak kehadapan monyet putih, dengan mengangkat tangannya, dari jari tangannya meluncur serangan kekuatan tenaga dalam yang menotok ketenggorokan monyet tadi.
Monyet putih itu mengeluarkan suara jeritan ngeri badannya lompat setinggi dua tombak lebih, kemudian jatuh lagi, mulutnya teruS merintih-rintih, sedang sekujur badannya gemetaran tampaknya sudah tidak bisa hidup lagi.
Pa cap Nio Segera lompat menghampiri untuk memeriksa sejenak, tiba-tiba berkata kepada orang berjubah emas dengan nada suara marah.
"Hei Mengapa kau binasakan monyet Cerdik ini?"
Orang berjubah emas itu berdiri sambil berpeluk tangan, sedang sepasang matanya memancarkan Sinar buas, memandang kepada wanita itu sejenak. katanya sambil tertawa dingin.
"Pa Tongcu, kau panggil aKu apa?"
Pa cap Nio seolah-olah baru sadar, ia mengeluarkan suara "Aaa"
Wajahnya yang hitam manis tampak berubah, ia bangkit lagi dan memberi hormat kepadanya, sedang dari mulutnya memanggil perlahan-"Pangcu "
Sikapnya itu demikian meng hormat danpatut dikasihani, seolah-olah seorang anak kecil yang habis menerima dampratan dari ayah bundanya.
Kie-lin merah yang melihat isterinya mendapat perlakuan demikian, diwajahnya terlintas perasaan marah, ia berkata sambil memberi hormat kepada orang berjubah emas.
"Pangcu, kami suami istri sudah kau tolong keluar dari rumah penjara rimba persilatan sisa hidup kami ini sudah kami sediakan Untuk mendengar perintahmu. Tetapi aku masih mengharap. berlakulah sedikit baik terhadap kami."
Orang berjubah emas tertawa mengejek. tiba-tiba melesat dan keluar dari pekarangan. kemudian menghilang kedalam rimba, sedang mulutnya masih berkata.
"Jangan banyak bicara lagi, ayo ikut aku"
Sepasang suami istri itu saling berpandangan sejenak, kemudian lompat melesat keluar dari pekarangan, Sebentar saja sudah menghilang ditelan kesepian.
Sementara itu api yang berkobar digubuk tadi semakin besar, hingga keadaan disekitarnya terang benderang.
Cin Hong sambil menahan napas menyaksikan kebakaran itu, dari tempat persembunyiannya, ia menunggu sampai orang berjubah emas dan sepasang suami istri golongan Lo-hu itu pergi jauh, baru berani keluar dan lompat masuk kedalam pekarangan, hendak menghampiri monyet putih yang terluka itu, Monyet itu sepasang matanya masih bisa berkedip-kedip.
sedang mulutnya mengeluarkan darah, ternyata masih belum mati.
Ia melihat kedatangan Cin Hong, mulutnya dibuka hingga tampak nyata dua baris giginya yang putih bersih, mulutnya mengeluarkan suara CeCuitan, agaknya sedang marah, tetapi juga seperti sedang meminta pertolongan.
Cin Hong mengeluarkan tangannya mengusap-usap kepalanya, kemudian dipondongnya dan dibawa agak jauh dari tempat kebakaran itu.
Disana ada sebuah sungai keCil yang mengalirkan air yang jernih, ia rebahkan monyet itu ditanah, selagi hendakk mengambil air jernih Untuk memberi minum monyet itu, dari belakangnya badannya terdengar suara orang yang menegur.
"Apa masih belum mati?"
Ciin Hong terkejut, buru-buru melakukan sera ngan tangannya kebelakang, disamping itu ia Sudah lompat meleset kedepan sejauh Setombak lebih, seCepat kilat ia berpaling dan untuk melihat siapa orangnya yang menegur.
Saat itu ia lalu berkata dengan suara girang.
"Saudara cansa, kiranya kau"
Memang tidak salah, orang yang berdiri didepannya itu adalah can-Sa-jie. Sambil tertawa-tawa gembira can-Sa-jie berjalan menghampiri monyet putih, kemudian berkata.
"Monyet putih ini benar-benar hebat, ternyata sanggup melawan dua tokoh golongan hitam yang Sudah lama tersohor Kita harus tolong dia sedapat mungkin"
Cin Hong buru-buru menghampiri dan berjongkok didepan monyet tadi, ia bertanya sambil angkat muka.
"Gubuk itu sebetulnya dihuni oleh siapa? Mengapa seperti tidak ada orang yang melihat?"
"Entah, mungkin orangnya sedang tidak dirumah."
Menjawab Can Sa-jie sambil menggelengkan kepala.
"Pangcu golongan kalong itu seperti Sedang mencari sesuatu, betul tidak?"
"Barang kali ya. Aku juga belum lama tiba disini, apa yang kulihat mungkin lebih sedikit dari apa yang telah kau saksikan-".
"Jadi kau baru saja Sampai?"
"Ya Mereka telah mengetahui sedang ku intai, aku buruburu menggunakan siasat meninggalkan pakaianku ditengah jalan untuk menghindarkan perhatian mereka, baru saja aku memutar kembali, diluar dugaanku didalam rimba ini terjadi keanehan. Aku berputar-putaran setengah hari lamanya juga tidak dapat mencapai tujuanku, jikalau tidak ada orang yang diam-diam melemparkan batu menunjuk jalan-..."
Cin Hong terkejut hingga lompat bangun, katanya.
"Hi? Aku tadi bahkan mengira bahwa kaulah yang melemparkan batu untuk menunjuk jalan bagiKu"
"Kalau begitu, kau juga datang kemari atas petunjuk orang?"
Cin Hong baru mau menjawab, dibelakang dirinya tibatiba terdengar suara "Serrr"
Yang Sangat panjang sekali, agaknya ada orang yang melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasia, maka buru-buru mengelak.
Bersamaan dengan itu tangannya ditarik untuk menyambar, dan ternyata berhaSil menyambar buntut Senjata rahasia yang meluncur tadi, ia lalu membuka tangannya untuk melihat Senjata rahasia maCam apa itu, taktahunya Cuma sebutir pil berwarna hijau yang sangat harum baunya Can Sa-jie berseru dengan suaranya yang aneh, sepasang kakinya menjejak.
bagaikan kilat cepatnya melesat ke dalam rimba, lari mengejar ke arah dari mana senjata rahasia pel tadi meluncur.
Cin Hong berdiri tercengang, tiba-tiba tergerak hatinya, ia segera berjongKok lagi, memasukkan obat pel tadi kedalam mulut monyet putih, kemudian ia mengambil sedikit air jernih untuk mendorong obat itu masuk kemulut monyet itu.
Tak lama kemudian, luka dalam monyet putih itu agaknya sudah sembuh sebagian besar binatang itu Sudah biSa bangun dan duduk.
dengan meniru sikap orang duduk bersila, sambil memejamkan mata berbuat Seolah-olah sedang mengatur pernapasannya.
Saat itu api yang membakar gubuk tadi sudah mulai padam, Cin Hong bang kit dan berjalan kedepan gubuk tadi untuk mengadakan pemeriksaan, namun ia tak mendapatkan tanda apa-apa yang dicurigai, terpaksa balik kembali kedepan Monyet putih tadi.
Waktu itulah tiba-tiba terdengar suara Can Sa-jie dari dalam rimba.
"Hei Kau orang dari mana? Lekas keluar, Kau harus tahu bahWa aku Can Sa-jie paling tak suka orang berlaku misteri dihadapanku"
Cin Hong lalu berteriak kepadanya.
"saudara can Sa , apakah kau tidak melihat orangnya?"
Can Sa-jie agaknya tak mendengar ucapan Cin Hong itu, ia masih terteriak-teriak sendiri.
"Saudara can Sa, apakah kau tidak melihat orangnya?"
Can Sa-jie agaknya tetap tidak mendengar ucapan Cin Hong itu, ia masih berteriak-teriak.
"Saudara, kalau kau tidak mau keluar lagi aku Can Sa-jie terpaksa akan menggunakan api untuk membaKar rimba ini."
Cin Hong menganggap bahwa orang yang melepas senjata rahasia pel tadi belum tentu orang jahat, jikalau Can Sa-jie tidak sabar dan bermain terus-terusan bukankah sama seperti berbuat dosa terhadap orang yang tak bersalah?
Maka buru-buru memanggilnya.
"Saudara can, kau tidak boleh berbuat keterlaluanpada seseorang, pulanglah dulu"
Can Sa-jie seolah-olah tidak dengar ucapannya, Ia masih berkaok-kaok sendiri dengan nada suaranya yang aneh.
"Bagus Kau saudara memang sengaja hendak main-main denganku Can Sa-jie?
Jangan sesalkan kalau nanti aku Sudah memaki kau habis-habisan ?"
Dalam hati Cin Hong diam-diam merasa cemas, ia bermaksud hendak masuk kedalam rimba untuk mencarikan orang itu, tetapi ia juga takut kalau didalam rimba itu nanti terjadi hal-hal yang diluar dugaannya, selagi dalam keadaan bingung, kera putih dihadapannya tiba-tiba, lompat keluar dari dalam pekarangan-dan menghilang kedalam rimba, maka ia lalu berseru kegirangan.
dalam hatinya berpikir monyet putih itu sangat Cerdik, dan dia adalah peliharaan penghuni gubuk ini, sudah tentu mengenal baik seluk liku dan jalan-jalan didalam rimba itu, mungkin ia masuk kedalam rimba untuk mencari Can Sa-jie untuk diajaknya kembali.
Tak disangkanya setelah menunggu sekian lama, tidak juga tambak kembali monyet putih itu bersama Can Sa-jie hanya terdengar suara Can Sa-jie yang maSih berteriak sendirian.
"Tidak berani keluar bukanlah seorang jago"
Dan sebentar lagi tedengar pula suaranya.
"Kalau kau ada nyali keluarlah untuk bertempur denganku "
Semakin berteriak suaranya itu kedengarannya semakin jauh.
Cin Hong takut kawan itu mendapat bahaya, Selagi hendak memanggil lagi, tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat dihadapannya, ternyata adalah monyet putih yang sudah kembali dihadapannya.
Kedua tangan monyet putih itu membawa sebuah kotak besi penuh lumpur tanah, diatas tutupnya ada terdapat beberapa buah lie diberikan kepada Cin Hong dengan mulutnya cecowetan tidak berhentinya, maksudnya mungkin ia lah minta supaya Cin Hong suka makan buah itu.
Cin Hong merasa amat senang, ia menyambut kotak besi bersama buah lie, kemudian mengeluarkan tangannya lagi untuk menepak-nepak bahu monyet itu seraya berkata sambil tertawa.
"Saudara, apakah kau mengerti juga bahasa manusia ?"
MOnyet itu menganggukkan kepala berulang-ulang, dengan tiba-tiba jatuhkan diri ditanah, dan tangannya menulis sebaris huruf yang terdiri dan empat suku kata tulisannya seperti Cekar ayam "Pek Ie Siao Su", yang berarti sastrawan berbaju putih.
Cin Hong melihat monyet itu bisa menulis disamping terkejut juga merasa girang katanya.
"Apa?Jadi namamu adalah Pek Ie Siao-Su?"
Monyet itu kembali mengangguk-angguk kepala sambil lompat-lompatan, tampaknya girang sekali. Cin Hong tertawa terbahak-bahak. ia betanya pula sambil menunjuk kearah gubuk yang sudah terbakar.
"Dimana majikanmu? siapa namanya."
Simonyet kembali menyoret-nyoret, terbacalah katakata.
"KIAT HIAN"
Diatas tanah.
Dalam hati Cin Hong bukan kepalang terkejutnya, nama itu segera mengingatkannya kepada apa yang pernah dikatakan Suhunya, Bahwa pada tiga puluh tahun berselang Thay Pek Sianong Kat Phian Bin, yang mati didalam telaga thay pek tie, ada mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Kiat Hian, dengan julukannya kakek pengembara.
Apakah Kiat Hian yang ditulis monyet itu adalah orang tersebut?
Pada dewasa ini, orang-orang dari dua belas partay sedang mencari orang tersebut kemana-mana guna mencari kotak batu Gick yang sangat misterius itu.
Tak disangkanya orang yang dicari itu telah mengasingkan diri ditempat ini.
Sayang sekali tidak diketahui olehnya kemana perginya orang itu sekarang?
"Pek Ie Siao Su, kemana perginya majikanmu itu?"
Demikian ia bertanya kepada simonyet putih.
Tetapi monyet putih itu hanya menggaruk-garuk kepala saja dan daun telinganya, sambil mencebulkan mulutnya, ia tidak dapat menulis kan huruf lagi, barang kali ia hanya dapat menulis nama majikannya dan nama sendiri, yang lainnya ia cuma dapat mengeluarkan dengan kata-kata yang tidak bisa dimengerti oleh Cin Hong.
Cin Hong yang melihat sikap Cemas monyet putih itu, kembali menepuk-nepuk bahunya dan berkata sambil tertawa.
"Kalau kau tidak dapat menulis, Sudahlah Saja. Sekarang, bantulah aku lebih dulu tunjukkan jalan kedalam rimba untuk mencari kawanku itu, dia barang kali sedang berputar-putaran didalam rimba, tidak dapat menemukan jalan kembali"
Monyet putih itu untuk kedua kalinya lompat keluar dari dalam pekarangan bambu tadi, dan masuk kedalam rimba.
Cin Hong lalu mencari suatu tempat yang agak bersih dan duduk.
lalu meletakkan buah lie diatas tanah, ia mengambil kotak besinya dan diperiksanya dengan seksama, tampak kotak besi itu ada sebuah anak kunci dari kuningan seluruh kotak besi sudah penuh dengan tanah merah, jelas bahwa kotak besi itu digali dari dalam tanah berlumpur.
Timbullah pertanyaan dalam hati sendiri.
"Monyet putih itu menggali kotak besi ini dan memberikan kepadaku, entah apa isinya? Biarlah kubuka sebentar dan perikSa dahulu kalau ada barang berharga, akan kukembalikan lagi kepadanya.. Kotak besi itu meskipun dikunci dengan kunci kuningan, tetapi mungkin karena berada lama didalam tanah maka besinya sendiri sudah berkarat. Cin Hong dengan menggunakan sedikit kekuatan tenaga dalam, ia sudah berhasil membuka kotak besi itu dengan anak kuncinya didalam kotak besi itu ternyata terdapat se
Jilid kitab dilapis dengan kulit binatang yang tipis, diatasnya terdapat tulisan merah yang berbunyi "TAY SENG HONG SIN SAN."
Ia membuka lembaran kitab itu, diatas kertas terdapat huruf-huruf yang sangat dalam artinya bersama beberapa lukisan yang aneh setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata merupaKan se
Jilid kitab peajaran ilmu kipas sejak masih keCil ia sudah dididik dalam pelajaran ilmu Silat oleh It-hu SianSeng, maka terhadap berbagai jenis ilmu silat, sudah tidak asing lagi baginya, Kini setelah ia membaca selembar demi selembar kitab yang dinamakan Tay Seng Hong Sin San itu, meskipun didalamnya banyak bagian yang sulit dan dalam sekali artinya, tetapi samarsamar masih dapat dipelajarinya, ia dapat merasakan bahwa ilmu kipas itu sangat dalam dan luar biasa sekali, hingga ia membacanya mulai tertarik dan kesemsem dalam pelajarannya yang baru itu, dengan demikian, Selembar demi selembar sudah dibaca....Waktu ia membaca dibagian dekat-dekat terakhir, tanpa disadarinya sudah bangkit dan melakukan gerakan dengan meniru tulisan dan lukisan dalam kitab itu, ia sendiri juga tidak tahu Sudah berapa kali dan berapa lama berbuat dan menirukan gerakan dalam pelajaran kipas itu, ketika mendadakan sekali terdengar Suara monyet cecuitan dengan kerasnya ia segera berpaling dan monyet putih itu bersama can-sa-jie sudah berdiri disampingnya sejarak satu tombak.
Ia menjadi malu sendiri, hingga wajahnya menjadi merah, dengan mengasi kepada can-sa-jie berkata sambil tertawa.
"Saudara can sa? Kau sudah menemukan orang yang kau kejar itu atau belum?"
DiWajah Can Sa-jie menunjukan sikap terkejut dan heran, Sambil mengedip-ngedipkan matanya ia berkata.
"Belum Eh, kau sedang berbuat apa disini?"
Cin Hong merasa bahwa ia telah mencuri baCa kitab orang dengan tidak mendapat ijin orang yang punya, itu adalah suatu perbuatan yang tak dapat dibenarkan, maka buru-bura meletakkan kembali kepada monyet putih seraya berkata.
"Ini kukembalikan kepadamu"
Tetapi monyet putih itu menggeleng-gelengkan kepalanya, Sambil mengacungkan telunjuk tangannya ia menunjuk Cin Hong, sedang dari mulutnya terus mengeluarkan suara CeCewetan tidak berhentinya, agaknya hendak mengatakan bahwa kotak besi itu telah diberikan kepada Cin Hong.
Cin Hong merasa terkejut dan juga girang.
kini ia balas bertanya.
"Maksudmu, apakah barang ini telah kau hadiahkan kepadaku?"
Monyet putih kembali berulang-ulang mengangguk, tibatiba bersiul nyaring, kemudian menggerakan tangan dan kakinya.
Kiranya, monyet itu juga pandai memainkan ilmu silat yang pernah dimainkan Cin Hong tadi, pelajaran dari dalam kitab yang tutupnya berlumpur itu Cin Hong yang memperhatikan gerakan monyet putih itu agak mirip dengan pelajaran ilmu kipas dari kitab Tay Seng Hong Sin San tadi, dalam, hati diam-diam merasa heran.
Sementara itu Can Sa-jie sudah menanyakan kepadanya tentang in-jle yang masuk kerumah Penjara Rimba Persilatan guna menantang bertandinganCin Hong menceritakan kepadanya dari awal sehingga akhir, pada bagianpenutup ia berkata Sambil tertawa.
"Saudara can-sa, mari kuperkenalkan kepada seorang tokoh kuat"
Can Sa-jie celingukan matanya, ia bertanya.
"Dimana? ia sudah datang apa belum?"
"Bukan, yang kumaksudkan ialah seorang tokoh lain"
"Siapa?"
Bertanya Can Sa-jie heran-"Dia Tahukah Kau dia itu bernama apa?"
Can-sa-jie mengawasi monyet putih, Sejenak. katanya sambil tertawa.
"Dia bernama apa, bagaimana dapat dikatakan dia seorang tokoh kuat?"
"Tadi dia pernah menuliskan namanya dan diperlihatkan kepadaku, dia itu bernama Pek Ie Siu SU"
Can Sa jie kali ini benar-benar terperanjat dan terheranheran, katanya.
"Pek Ie Siu Su? Seekor monyet dari mana dapat menggunakan sebutan Siu Su? Benar-benar sangat aneh?"
Monyet putih itu barang kali mendengar ucapan Can Sajie yang agak tidak pandang mata padanya, lantas berkaokkaok seperti marah, ia lalu lompat kehadapannya dan mengulurkan lengan tangannya yang panjang kebahu can Sa Jie.
can Sa jie buru-buru lompat minggir kesamping untuk mengelakan serangan tersebut.
Siapa tahu sebelum ia mengelak.
pundaknya sudah terkena serangan monyet itu dengan telak sehingga ia sampai mundur dua langkah baru berhasil menegakkan dirinya lagi.
Dia adalah murid kesayangan ketua golongan pengemis can San-sian, kepandaian ilmu silatnya, di dalam kalangan Kang ouw sudah boleh digolongkan dalam tingkatan kelas satu, tetapi kali ini hanya dengan satu gerakan saja, oleh monyet putih itu sudah diserang dengan telak.
kemana harus ia taruh mukanya?
Maka saat itu segera mengeluarkan suara aneh dan sudah mulai bertempur dengan monyet putih itu....Dengan tenang monyet putih itu melayani Can Sa-jie, ia menyambut Setiap serangan Can Sa-jie dengan gerakannya yang aneh dan lincah, belum sampai sepuluh jurus, lengannya yang panjang sudah memukul dua kali bahu cansa-jie.
Masih untung, monyet putih itu agaknya tidak pandang sebagai musuh.
maka tidak menggunakan tenaga berat, setiap kali pukulannya mengenakan tubuh Can Sa-jie, mulutnya mengeluarkan suara cecowetan tidak berhentinya, Seolah-olah hendak mengatakan kepadanya.
"Kau sudah mau menyerah atau tidak?"
Can Sa-jie berulang-ulang menggeluarkan tenaga masih tidak berhasil untuk memperbaiki kedudukannya sendiri.
Pada akhirnya, ia hanya sanggup melawan saja, tidak dapat melakukan serangan pembalasan lagi.
Cin Hong khawatir Can Sa-jie nanti menjadi murka benar-benar, buru-buru berkata kepadanya sambil tertawa.
"Saudara can-sa, kita seorang laki-laki kalau berbuat apaapa haruS seCara kesatria, kalah ya kalah, tidak boleh coba membandel terus-terusan"
Can-sa-jie juga tahu bahwa monyet putih itu pasti mendapat didikan seorang berilmu tinggi, kalau pertempuran itu berlangSung terus, sudah tentu tidak menguntungkan dirinya sendiri, apa lagi bertempur dengan seekor binatang, sesungguhnya juga tidak ada harganya, maka saat itu ia terpaksa lompat keluar dari kalangan dan berkata dengan suara nyaring.
"Pek Ie Siu Su, aku mengaku kalah"
Monyet putih ketika mendengar ucapan itu segera menghentikan gerakannya, mulutnya terbuka lebar-lebar sambil tertawa kemudian mengulurkan tangan kanannya yang sebagai tanda hendak mengadakan perdamaian dengan cansa-jie.
Can Sa-jie waktu itu sangat tak enak keadaaannya, Walaupun demikian, ia juga menyambut uluran tangan mooyet putih itu, setelah itu, ia berkata.
"Pek Ie Siu Su, kau berapa tahun usiamu tahun ini"
Monyet putih itu membolak balikkan sepasang tangannya hingga tiga kali, kemudian mengulurkan dua jari tangannya, dan membulak-balikan lagi empat kali. can-sa-jie terkejut dan berkata kepadanya.
"Tiga puluh delapan tahun? Pantas kekuatan tenaga dalamnya demikian hebat Kau sudah kawin atau belum?"
Monyet putih itu nampak melongo mendengar pertanyaan itu, sepasang biji matanya terus berputaran, tak dapat menjawab pertanyaan Can Sa-jie, agaknya ia masih belum mengerti apa maksud istilah kawin itu.
Cin Hong yang menyaksikan kepandaian ilmu silat monyet putih tadi, semakin perCaya bahwa majikan monyet itu pasti seorang yang berilmu tinggi, dan kitab pelajaran ilmu kipas yang berada dalam kotak besi itu, pasti juga merupakan semaCam pelajaran yang hebat sekali.
Diam-diam merasa girang, dibuka lagi kotak besinya dan dikelUarkan kitab dari dalamnya.
Ia berjalan menghampiri Can Sa-jie Seraya berkata.
"Saudara can-sa, Pek Ie Siu su ini menghadiahkan padaku kitab ini, mari kita pelajari bersama-sama."
Can Sa-jie baru hendak menyambuti kitab tersebut, monyet putih tadi tiba-tiba memperdengarkan suara cecowetan tidak berhenti-hentinya, seolah-lah hendak mengatakan tidak boleh Can Sa-jie membaCa isi kitab itu.
Cin Hong agaknya mengerti kehendak Monyet itu, maka lalu Katanya sambil mengerutkan alis.
"Pek Ie Siu su, sahabatku ini adalah seorang baik, mengapa kau tidak mengijinkan ia baCa kitab ini?"
Monyet putih itu menunjukkannya sendiri, kemudian menunjuk Can Sa-jie, setelah itu ia lompat mundur beberapa langkah, kedua tangannya digerakkan sedemikian rupa hingga mirip orang sedang bertempur.
Can Sa-jie terCengang menyaksikan sikap monyet itu, kemudian berkata sambil tertawa.
"Maksudmu, apakah kau hendak memberikan padaku pelaaran ilmu Silat yang lain?"
Monyet putih itu mengangguk-anggukan kepala, mengulurkan tangannya lagi dari jari tangannya menunjuk gubuk yang sudah terbakar habis itu kemudian ia jatuhkan diri dan berlutut sambil menganggukkan kepala.
can-sa-jie kembali dikejutkan oleh sikap monyet itu, katanya.
"Kau minta aku supaya angkat majikanmu menjadi guru ?"
Monyet itu kembali menganggukkan kapala. mulutnya dibuka lebar-lebar untuk tertawa.
"Apakah majikanmu sudah mati?"
Bertanya can-sa-jie heran-Monyet putih itu menggelengkan kepala, sikapnya tiba-tiba berubah manjadi sedih.
"Apakah majikanmu sudah keluar pintu?"
Bertanya pula Can Sa-jie.
Monyet putih itu kembali mengangguk-anggukan kepalanya, dan mendadak melompat bangun, tangan dan kakinya digerak-gerakkan, kemudian menangis, seperti kelakuan orang gila layaknya.
Cin Hong dan Can Sa-jie saling berpandangan sejenak.
semua tidak dapat menduga maksudnya.
Monyet putih itu setelah berlompat-lompatan dan menangis sebentar lantas berdiam kembali mengawasi Can Sa-jie dan menunjuk rumah itu.
Can Sa-jie memiringkan kepalanya untuk berpikir Sejenak.
pada akhirnya ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil tertawa.
"UruSan yang belum kumengerti tidak mau kuperbuat.Jikalau kau tidak mengijinkan aku belajar ilmu silat dari kitab dalam kotak besi itu, aku juga tidak butuh belajar lagi"
Cin Hong merasa bahwa monyet putih itu tidak mengijinkan Can Sa-jie belaiar ilmu silat dari kitab dalam kotak besi itu, dalam hati merasa tidak enak sekali.
ia lalu menyimpan lagi kotaknya kedalam sakunya sendiri, dan memilih berapa biji buah lie, setelah dicuci bersih, diberikan kepada Can Sa-jie dan monyet putih itu untuK dimakan, mereka bertiga makan buah itu sambil duduk-duduk.
Dua orang itu sambil makan, mempelajari kedudukan dan asal-usul penghuni rumah gubuk itu, Can Sa-jie tibatiba berkata sambil menepuk kakinya sendiri.
"Heh Apakah tidak mungkin orang yang menggunakan batu memimpin kita kemari ini adalah penghuni rumah gubuk ini?"
"Tidak bisa kepandaian ilmu silatnya demikian tinggi. jika benar ia adalah penghuni rumah gubuk ini, tadi ketika Pangcu galongan Kalong membakar gubuk itu. Dengan cara bagaimana ia tidak keluar untuk mencegah?"
Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala. can Sa Jie tampak berpikir keras, kemudian ucapnya.
"Bila bukan dia, siapa kiranya orang yang menggunakan batu untuk penunjuk jalan pada kita tadi?"
Cin Hong juga tidak dapat menduga siapa orangnya, ia berpaling dan bertanya pada monyet putih, tetapi monyet purih itu menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa ia sendiri juga tak tahu.
can-sa-jie kembali berpikir, mungkin ia Sudah mendapat suatu akal, maka lalu berbisik-bisik di telinga Cin Hong katanya.
"Kau pikir, orang itu kira-kira masih berada di dekat sini atau tidak?,"
Cin Hong juga menjawabnya dengan Cara serupa.
"Mungkin Kenapa?"
"Aku mendapat akal untuk memancing ia keluar"
"Akal apa?"
Can Sa-jie kembali membisikkan padanya beberapa patah kata. Semula Cin Hong tampak berpikir sambil mengerutkan alisnya, tetapi kemudian menunjukkan sikap setuju dan berkata sambil tertawa.
"Baik, kaulah yang lebih dulu"
Monyet putih itu yang menyaksikan dua sahabat karib itu pada berbisik-bisik, agaknya merasa heran, lalu menarik tangan can-sa-jie, dia dekatkan telinganya kemulut Can Sajie minta agar dibiSikkan juga.
Namun Can Sa-jie tidak menghiraukan, ia masih makan seenaknya sendiri, sambil bersenda gurau dengan Cin Hong.Sejenak kemudian, tiba-tiba berubah wajahnya, ia menyambar tangan Monyet putih dan tangan yang lain menekan perutnya sendiri, katanya dengan suara bengis.
"Monyet yang baik buah lie ini kau ambil dari mana ?"
Monyet putih itu terperanjat, ia melepaskan diri dari genggaman Can Sa-jie dan lompat turun sambil menunjuk kedalam rimba, maksudnya hendak mengatakan buah itu ia dapat dari dalam rimba.
Jidat can-sa-jie sudah mulai mengeluarkan keringat, sikapnya tampak sangat menderita sekali, kedua tangannya turus menekan perutnya yang kesakitan, sambil menekan perutnya ia berkata .
"celaka Buah ini ada raCunnya, kita telah terpedaya oleh musuh-musuh kita"
Pada saat itu, Cin Hong juga menunjukan sikap terkejut. selagi hendak memeriksa keadaan can-sa-jie, tiba-tiba ia sendiri juga berseru.
"Aaa Perutku juga sakit. ..."
Sesaat kemudian, keringat dingin mulai membasahi jidatnya.
Can Sa-jie tampaknya agak berat, dia bergulingan ditanah sambil merintih.
Cin Hong juga demikian pula, ia mengikuti perbuatan Can Sa-jie yang bergulingan tidak berhentinya.
Monyet putih itu yang menyaksikan keadaan demikian, mulutnya terus cecowetan tidak hentinya, ia lompat kesana lompat kesini untuk menolong Cin Hong dan can-Sa-jie bergiliran tapi apa daya ia tak mengerti Cara menolong orang, maka hanya berjingkrakkan sendiri Sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Dua orang itu bergulingan ditanah sekian lama, danpada akhirnya sudah tidak bisa bergerak lagi, dari mulutnya mengeluarkan suara rintihan, lalu badan mereka menjadi kaku.
Monyet putih itu meraba-raba hidung Cin Hong, juga meraba-raba can-Sa-jie, tiba-tiba teringat Caranya untuk memberi pertolongan sesaat kemudian ia bergerak dan lompat keluar dari dalam pekarangan, lalu lari menuju kedalam rimba.
Pada waktu itu dari rimba sebelah kiri tiba-tiba berjalan keluar seorang nenek tua, gerakan perempUan tua itu bagaikan hantu, tanpa mengeluarkan sedikit suara pun juga, sudah tiba dekat Cin Hong dan can-sa-jie rebah, sambil menundukan kepalanya nenek itu mengamati keadaan dua pemuda itu.
Dia merupakan Seorang wanita yang sudah lanjut usianya Sudah mencapai delapan puluh tahun keatas, kulit di wajahnya sudah banyak keriputnya.
rambut dikepalanya juga sudah putih semua, namun sepasang matanya masih memancarkan sinarnya yang berkilauan.
Ia mengenakan jubah berwarna kelabu, wajah dan dandanannya berbeda dengan orang biasa begitu melihat orang segera akan tahu bahwa nenek itu memiliki kepandaian ilmu sangat hebat Sekali.
pada Saat ia sedang berdiri tegak mengawasi dua pemuda tadi, can-sa-jie yang rebah ditanah tiba-tiba angkat kepala, dan bertanya dengan suara perlahan kepada Cin Hong yang berada disampingnya.
"Cin Hong, mengapa tidak ada kabar sedikitpun juga?"
Cin Hong juga mengangkat sedikit kepalanya, katanya Sambil tertawa.
"Mungkin sudah pergi, jikalau tidak dengan Cara bagaimana melihat orang mati tidak datang memberi pertolongan? "
Can Sa-jie coba merayap bangun, ketika kepalanya berpaling, tampak dibelakang dirinya ada berdiri Seorang perempuan tua berambut putih, dengan sinar mata berkilauan mengawasi dirinya, dengan Cepat segera pentang dua tangannya untuk memeluk sepasang kaki nenek itu, sedang mulutnya berseru.
"Haaaa, ada disini Kau akhirnya telah kutipu keluar"
Cin Hong juga sudah lompat bangun.
Ketika menyaksikan.
sepasang mata nenek itu memancarkan sinar buas, segera mendapat firasat tidak baik, cepat-cepat berseru memberi peringatan kepada Can Sa-jie.
Baru Saja keluar ucapannya dari mulutnya.
Can Sa-jie mendadak merasakan, sepasang kaki yang dipeluknya itu seperti timbul suatu kekuatan tenaga aneh, sesaat kemudian Ia merasa suatu tekanan berat, tanpa dapat menguasai dirinya lagi, terpentallah ia sejauh delapan kaki, bahkan tidak bisa bangkit lagi.
Cin Hong cepat-cepat lompat dan memeriksanya.
Tampak Sahabatnya pingsan namun tidak menjadikan halangan, maka ia lalu berkata pada nenek tua itu dengan nada suara marah.
"Hei Mengapa melukai orang tanpa ada alasannya ?"
Sepasang mata nenek itu memancarkan sinarnya yang tajam, kemudian mengulurkan tangannya dan menunjuk rumah gubuk yang sudah terbakar menjadi abu, katanya sambil mengeluarkan suara dari hidung.
"Kalian dua setan ini datang dari mana? Kaliankah yang membakar gubuk ini?"
Cin Hong terCengang, katanya marah.
"Kau toh sudah tahu bahwa gubuk ini bukanlah kami yang membakar, apa maksudmu bertanya demikian?"
"Hei, bagaimana aku tahu kalau bukan kalian yang membakar? Kau masih coba menyangkal?"
Cin Hong semakin gusar, katanya.
"Kau berlagak Tadi dari tempat gelap kau memancing kami sampai ketempat ini, gubuk itu sudah terbakar, apakah kau tidak lihat?"
Sikap heran nenek itu semakin nyata, katanya.
"Kapan aku pancing kalian datang kesini?"
Cin Hong yang menyaksikan sikap nenek itu, tidak mirip orang membohong, dalam hati meraSa heran, maka buruburu bertanya.
"Kalau begitu kau ini siapa ?"
Namun nenek itu tidak menjawab pertanyaannya, kembali balaS bertanya sambil menunjuk gubuk yang sudah menjadi rata dengan tanah.
"Jawab Siapa yang membakar rumah gubuk ini?"
Cin Hong tiba-tiba menjadi sadar, ia tidak segera menjawab, buru-buru mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata.
"Aaaa, kalau begitu jadi kau ini adaiah penghuni rumah gubuk ini?"
"Aku hanya tanya padamu siapa yang membakar gubuk ini"
Kata pula nenek itu dengan nada suara dingin.
"Yang membakar gubuk ini adalah Pangcu dari golongan Kalong. Ia seperti hendak mencari barang apa-apa, tetapi tidak menemukan, sewaktu hendak pergi dari sini, lebih dulu ia membakar gubuk itu"
"Siapa kah Pangcu dari golongan Kalong itu?"
Bertanya nenek tua itu heran. Cin Hong pikir, oleh karena golongan Kalong itu berdiri belum lama, pantas kalau nenek itu tidak tahu, maka buruburu memberi penjelasan.
"Pangcu golongan Kalong adalah orang yang dahulu disebut Ho-ong. Tentang dia itu, seharusnya kau sudah tahu bukan?"
Nenek itu miring kan kepala seperti berpikir, kemudian bertanya yang Seolah-olah belum mengerti.
"Ho-ong?"
Cin Hong yang menampak sikap nenek itu seolah-olah tidak kenal dengan Ho-ong, dalam hati terheran-heran, diam-diam berpikir.
"Meskipun suhu belum menceritakan jelas tentang diri Ho ong itu. tetapi suhu pernah mengatakan bahwa suhu dahulu bersama-sama dengan empek Ie-oe dan ketua golongan pengemis can Sa-sian, Mengusir Ho ong keluar dari daerah Tionggoan, hanya dengan keterangan suhu ini saja sudah dapat diketahui betapa tinggi kepandaian ilmu silat Ho ong, sedangkan nenek ini, kepandaian ilmu Silatnya juga termasuk dari golongan kelas tinggi, bagaimana ia malah tidak tahu orang yang bernama Ho ong?"
Selagi masih berpikir, tiba-tiba terdengar suara aneh, dari tengah udara melayang turun sesosok bayangan putih, Monyet putih itu kini sudah lompat kembali kedalam pekarangan.
Di tangannya menggenggam segumpal daun rumput berwarna putih, Tampak Cin Hong masih berdiri dalam keadaan segar-bugar, sedangkan Can Sa-jie juga sudah duduk ditanah, monyet itu lompat-lompat kegirangan, lalu melemparkan rumput putih di tangannya dan berlompat kehadapan nenek tua itu dengan sikap hendak menyerang.
TAMPAK Sedikit perobahanpada sikap nenek itu, dengan cepat mundur setengah langkah, katanya dengan suara bengis.
"Binatang, kemana majikanmu?"
Monyet patih itu menggelengkan kepalanya Sepasang biji matanya berputaran mengawasi nenek itu, agaknya mengandung maksud permusuhan, tetapi juga seperti sikap ketakutan.
Sinar buas dimata sinenek itu tiba-tiba lenyap dengan ramah tamah ia berkata.
"Pek Ie Sio su, lekaslah beritahukan padaku. Kemana perginya majikanmu? Barang kali majikanmu mendapat bahaya? Kalau beritahukan kepadaku aku akan segera pergi untuk membantunya "
Monyet putih itu masih tetap menggelengkan kepalanya, sedikitpun tidak mengendorkan sikap waspadanya, meskipun nenek itu sudah berubah sikap.
"Kau monyet ini benar-benar terlalu banyak curiga Aku ini adalah sahabat karib majikanmu, bagaimana kau masih tidak mempercayai diriku demikian rupa?"
Berkata nenek itu sambil tertawa. Monyet putih itu berteriak-teriak, kedua tangannya bergerak-gerak, menunjukkan sikap mengusir seolah-olah ia mau mengatakan.
"Kau pergilah cepat, aku justru tidak mempercayai dirimu "
Nenek itu tertawa-tawa, lalu berkata lagi sambil menunjuk gubuk yang sudah rata dengan tanah.
"Kau lihat, ada orang telah membakar kediaman majikanmu, dan orang-orang itu barang kali sudah mencuri dan membawa pergi seluruh kepandaian ilmu majikanmu, betul tidak?"
Monyet putih itu menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya yang merah menunjukkan sikap bangga. Diwajah nenek itu menunjukkan sikap girang, maju selangkah dan berkata.
"Benarkah belum tercuri orang?"
Monyet putih itu kembali mengangguk-anggukkan kepala. Nenek tua itu berkata sambil tertawa.
"Aku tak percaya Kecuali kau mengeluarkan semua kitab kepandaian ilmu Silat itu, diperlihatkan kepadaku"
Baru saja Monyet putih itu hendak berlalu, tiba-tiba seperti ingat sesuatu, lalu lompat-lompat dan sambil menunjuk nenek itu, dengan mulutnya berteriak-teriak tidak berhentinya, seolah-olah hendak mengatakan.
"Heh Nenek aku hampir saja tertipu olehmu"
Mengetahui bahwa akal muslihatnya tidak berhasil, nenek itu lalu mendongakkan kepalanya tertawa aneh, rambut putih diataS kepalanya bergerak-gerak, diwajahnya memperiihatkan kembali sikapnya yang bengis, sepasang matanya memancarkan sinar buas, mulutnya membentak sambil menunjuk Monyet putih.
"Binatang, hari ini majikanmu tak ada dirumah jikalau kau masih sayangi nyawamu, lekaslah keluarkan barang yang kukehendaki"
Monyet itu memperlihatkan sikapnya yang marah, badannya bergerak.
tangannya yang panjang secepat kilat sudah melakukan serangan, hendak menotok sepasang mata nenek itu.
Nenek itu bersikap tenang sekali, diserang secara demikian, ia masih menggeser kakinya setengah langkah dengan gayanya yang bagus sekali, sedang tangan kanannya berbalik menyambar pergelangan monyet putih itu bersama dengan itu, jari tangan ditangan kiri juga hendak menotok sepasang mata monyet tadi, meskipun ia bergerak belakangan, tetapi ternyata lebih cepat dari pada gerakan Monyet putih itu.
Monyet putih itu juga ternyata sangat tangkas cepat ia telah membatalkan serangannya yang mengarah mata nenek tadi, sebaliknya sudah dirobah tujuannya kejalan darah didepan dada nenek itu, kakinya juga tidak tinggal diam, menendang lutut lawannya.
Serangannya yang dilancarkan dengan berbareng itu, bukan Saja sangat hebat, tetapi juga sangat aneh dan seperti banyak sekali mengandung perubahan.
Pertempuran antara manusia dengan binatang telah berlangsung seru sekali, kedua pihak menggunakan gerak tipu gerak tipu yang aneh-aneh dan luar biasa hebatnya, hingga hanya tampak bayangan mereka berpuratan dan bergerak-gerak.
yang dibarengi oleh hembusan angin yang timbul dari gerakan tangan mereka, hingga daun-daun ditanah pada berterbangan Pertempuran itu berlangsung kira-kira setengah jam lamanya, tiba-tiba terdengar suara plak., tubuh Monyet putih itu terbang sejauh lima kaki dan kemudian jatuh ditanah, akan tetapi monyet itu benar-benar hebat, begitu jatuh sudah bangun lagi, dan untuk kesekian kalinya menyergap nenek tua itu.
Dengan begitu untuk keduanya terjadi pula pertempuran hebat....
Cin Hong yang menyaksikan pertempuran itu, sudah melihat bahwa gerakan Monyet putih itu agaknya tak sanggup melawan nenek itu, maka buru-buru mendorong can-sa-jie seraya berkata.
"Saudara can-sa bagaimana dengan kau?"
Can-sa-jie lompat bangun, lalu berkata Sambil membereskan rambutnya yang terurai.
"Tidak apa-apa. Kita perlu membantu monyet itu atau tidak?"
"Benar Hanya aku tidak tahu siapakah nenek itu? Iaternyata memiliki kepandaian lebih hebat dari pada suami istri golongan Lo-hu tadi "
"Mari kita maju bersama"
"Baik"
Keduanya bergerak maju, Cin Hong segera melancarkan serangan sambil berkata dengan suara bengis.
"Nenek. kau barang kali bukan orang bail-baik, lihat seranganku"
Can Sa-jie menyusul dengan serangannya, mulutnya juga tidak tinggal diam, katanya.
"Nenek. kita bertiga kalau usia kita digabung menjadi satu, barangkali juga belum setua usiamu, hingga belum dapat dihitung hendak menggunakan jumlah banyak untuk merebut kemenangan-Jadi kalau kau kalah, janganlah sekarang, cobalah serangan tanganku ini"
Nenek itu tertawa terbahak-bahak. kemudian berkata.
"Tidak apa, aku sinenek akan perlakukan kalian sama, semua akan kukirim keneraka"
Baca Juga: Legenda Bunga Persik Gu Long
Baca Juga: Imbauan Pendekar 4