Ceritasilat Novel Online

Telapak Setan 3

Eps 3 Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Baca online Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Cersil Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id.

Gak In Ling mengerahkan segenap daya penglihatannya untuk mengamati suasana disekeliling tempat itu, tetapi pemandangan yang mampu tercapai olehnya hanya dalam lingkungan dua-tiga depa belaka, lebih dari itu yang terlihat hanyalah kabut putih.

Pada saat itu Gak In Ling telah masuk ke dalam sebuah lapangan, kabut yang menyelimuti tempat itu jauh lebih tebal dari tempat manapun, ketajaman matanya hanya mampu menangkap benda-benda yang berada pada jarak satu tombak belaka.

Perlahan-lahan Gak in Ling menghentikan langkahnya, dengan waspada dan sangat hati-hati dia awasi sekeliling tempat itu.

Mendadak dari arah belakang muncul suara yang amat lirih, begitu lirih suaranya seakan-akan seuntai daun yang rontok dari tangkainya.

Ketajaman pendengaran yang dimiliki Gak In Ling luar biasa sekali, apalagi setelah ia berada didalam sarang naga gua harimau, kewaspadaannya dipertingkat hingga mencapai tingkatnya, tentu saja suara yang lirih itu tak lolos dan pengawasannya.

Begitu suara lirih itu tertangkap oleh pendengarannya, laksana kilat Gak In Ling putar badannya, tapi apa yang dilihatnya seketika mencekatkan hati sianak muda itu, air mukanya berubah hebat.

Kurang lebih lima depa dihadapan Gak In Ling berdirilah seorang kakek berjubah kuning yang usianya antara lima puluh tahunan, cukup di tinjau dari sorot matanya yaag tajam dapat diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang jauh berada diatas kepandaian Hiat-mo-ong.

cuma bukan kehebatan ilmu silat yang dimiliki orang itu yang mengejutkan hatinya...

Gak In Ling tarik napas panjang-panjang dan berusaha menekan pikiran serta perasaannya yang bergolak keras, ia maju kedepan dan memberi hormat, katanya.

"Keponakan menghunjuk hormat untuk ong supek."

"Hmm, bukankah engkau sudah katakan tadi, kalau bukan sahabat tentu lawan, aku bukan sahabatmu, dengan sendirinya merupakan musuh mu, sebutan supek tak berani kuterima lagi."

Kata kakek jubah kuning dengan dingin.

Rupanya orang ini bukan lain adalah manusia yang berada dalam lorong rahasia serta berulang kali memberi nasehat kepada sianak muda itu.

Merah jengah selembar wajah Gak In Ling setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan lirih.

"Tadi keponakan masih belum tahu kalau orang itu adalah supek."

"Hm. Sekalipun sudah tahu juga sama saja keadaannya, karena bagaimanapun juga dalam kenyataan bukan sahabatmu "

"Tetapi. ... engkau juga bukan musuhku, bukan?"

Seru Gak In Ling tanpa terasa dengan hati terkejut. Kakek jubah kuning itu segera tertawa dingin.

"Bukan ?justru akulah musuhmu"

Jengeknya sinis. Tanpa sadar Gak In Ling mundur selangkah kebelakang dengan hati terkesiap. sambil menatap kakek jubah kuning itu dengan wajah hijau membesi, serunya kembali.

"Lalu di manakah ibuku dan enciku ?"

"Hee... hee... hee... mereka telah menjadi tawanan didalam lembah Toan-hun-kok ini"

Jawab kakek berjubah kuning kembali sambil tertawa dingin.

"Apa ?"

Ucapan tersebut bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong, begitu menggetarkan hati Gak In ling sehingga membuat pikirannya jadi kabur dan tak sadar, dia merasa otaknya kosong melompong, wajahnya yang semula merah padam kini berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya.

Dalam hati kecil kakek berjubah kuning itu secara lapat-lapat timbul perasaan simpatik dan kasihan, tetapi ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Kesunyian yang mengerikan mencekam seluruh ruangan itu, begitu sepinya sampai kedua belah pihak dapat mendengar detak jantungnya masing-masing.

Airmuka Gak In Ling yang pucat pias bagaikan mayat mulai berubah jadi semu merah kembali, dari semu merah berubah jadi merah padam, dari balik sorot matanya yang dingin terpancarlah napsu membunuh serta rasa dendam yang amat tebal.

Dengan langkah yang berat ia maju kedepan menghampiri kakek jubah kuning itu, kemudian dengan suara yang mengerikan ia berkata.

"Keponakan berharap bisa mengetahui sebab-sebab kematian dari ayahku. Aku minta engkau suka mengatakannya kepadaku."

Sikap yang keren serius dan mengerikan itu menggetarkan hati kakek berjubah kuning, tanpa terasa dia mundur dua langkah kebelakang, jawabnya dengan ketus.

"Darimana aku bisa tahu ?"

Gak in Ling tertawa dingin.

"Kalau memang begitu dari mana engkau bisa tahu untuk menggabungkan diri dengan pihak Toan-hun-kok ?"

"Darimana engkau bisa tahu kalau aku mengabdi kepada mereka?"

Seru kakek berjubah kuning dengan airmuka berubah hebat.

"Karena tenaga dalam yang engkau miliki masih belum berhak untuk memimpin segenap kekuatan yang ada didalam lembah ini."

Rupanya ucapan yang pedas dari Gak In Ling ini telah menyinggung perasaan halus kakek berjubah kuning itu, dari balik matanya yang melotot bulat segera memancarkan keluar serentetan cahaya yang amat tajam, dia tatap muka pemuda itu dengan tajam kemudian membentak nyaring.

"Itukah sifatmu terhadap seorang angkatan yang lebih tua daripada dirimu ?"

Sejak Gak In Ling mengetahui kalau ibu serta encinya telah ditawan didalam lembah Toan hun-kok, terhadap supeknya yang semula telah menyanggupi untuk menjaga serta merawat ibu dan encinya ini telah membenci hingga merasuk ketulang sumsum, dalam keadaan begini tentu saja ia tak pernah mengingat tentang hubungan antara angkatan tua dengan angkatan yang lebih muda lagi.

Mendengar perkataan tersebut, ia segera menengadah dan tertawa keras, sambil mengertak gigi serunya.

"Angkatan tua ? Haa^.. haaa haa.... menjual sahabat mencari pahala, mengingkari janji yang telah diucapkan sendiri, angkatan tua semacam ini buat apa mesti dihormati ? Hm, mengenalpun aku sudah muak dan malu sekali "

Entah dikarenakan ketukan liang-sim nya atau terpengaruh oleh ucapan Gak In ling yang keras dan tajam, tanpa sadar kakek jubah kuning itu berseru.

"orang yang membinasakan ayahmu, memaksa dirimu bukan cuma aku seorang.... kau jangan menuduh aku yang bukan-bukan-"

Rupanya dia hendak mencuci bersih semua dosa serta kesalahan yang ditimpakan kepadanya.

Mendengar perkataan itu sekali lagi Gak In Ling merasakan hatinya amat terperanjat, ia segera maju selangkah kedepan dan membentak dengan nada dingin.

"Tua bangka sialan, engkau telah apakan ibu serta enciku ? Ayo jawab "

Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat orang merasakan hatinya bergetar keras.

Tercekat hati kakek berjubah kuning itu setelah mendengar bentakan tersebut, ia segera tersadar kembali dari lamunannya, dengan perasaan kaget pikirnya.

"Ini hari aku kenapa sih ? Kenapa perasaan dan pikiranku bisa goyah dan selalu merasa tak tenang ? Untung apa yang barusan kukatakan tidak terlalu banyak, kalau tidak akibat yang harus kutanggung benar-benar mengerikan sekali."

Berpikir sampai disini, dengan muka serius ia segera tertawa dingin dan berkata.

"Hee..... hee...... hee kalau aku tidak mengatakannya keluar, apakah engkau punya keberanian untuk menantang aku seorang tua untuk bertarung ?"

Gak In Ling maju dua langkah kedepan, serunya dengan nada yang menggidikkan hati.

"Bukan saja aku akan turun tangan untuk bertempur dengan dirimu, bahkan, akan ku binasakan pula engkau tua bangka berhati binatang yang terkutuk sehingga mayatmu terkapar diatas tanah dalam keadaan yang sangat mengerikan "

Sambil berkata dari balik matanya yang tajam terpancarlah napsu membunuh yang menggidikkan hati.

Setelah berulang kali dicaci maki oleh Gak In Ling dengan kata-kata yang pedas dan tidak sedap didengar, rasa iba dan menyesal yang semula sudah menyelimuti hati kakek jubah kuning itu, tanpa sadar telah lenyap tak berbekas bagaikan asap yang hilang diang kas a, pikirnya didalam hati.

"Kalau membabat rumput tidak sampai ke-akar-akarnya, angin musim semi berhembus lewat rumput itu akan tumbuh kembali, demi keamanan serta keselamatan diriku sendiri, aku harus mulai sekarang mengadakan persiapan-persiapan lebih dahulu."

Teringat akan ancaman jiwa yang mungkin akan menyelesaikan hidupnya, rencana untuk melenyapkan Gak in Ling dari muka bumipun semakin mencekam seluruh pikiran dan perasaannya.

Ia segera tertawa dingin dan berkata.

"Hee hee hee kalau engkau memang begitu tak tahu diri, janganlah kau salahkan kalau aku tak akan teringat akan hubungan kita di masa lalu lagi. Mari, mari.., silahkan kau segera turun tangan."

Sambil berkata diam-diam hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun kedalam sepasang telapak tangan dan bersiap siaga menantikan datangnya serangan dari sianak muda itu.

Diam-diam Gak In Lingpun menilai keadaan yang sedang dihadapinya ketika itu, dia tahu kalau pada saat ini kakek baju kuning itu tidak berhasil dikuasai maka sulitlah baginya untuk menyelidiki jejak dari ibu serta encinya.

oleh karena itu setelah mendengar perkataan tersebut tanpa ragu-ragu lagi, dengan cepat ia enjotkan badannya meloncat kedepan, menggunakan jurus serangan "Lui-tiam-siang-ciau"

Atau guntur dan kilat menggeletar bersama, laksana petir yang menyambar membelah angkasa ia mengirim sebuah sodokan dahsyat kearak dada serta lambung kakek baju kuning itu, hardiknya.

"Hm, kalau begitu rasakanlah seranganku "

Kepandaian silat yang dimiliki kakek jubah kuning itujauh berada diatas kepandaian silat dari ayah ibu Gak In Ling sendiri, tentu saja terhadap datangnya serangan dari sianak muda ini ia tidak pandang sebelah mata.

Tetapi apa yang terjadi kemudian ternyata benar-benar berada diluar dugaannya semula, tatkala dilihatnya serangan yang dilancarkan Gak In Ling cepat bagaikan petir yang 213 menyambar diudara, kakek baju kuning itu tertegun bercampur kaget, pikirnya dengan perasaan terkesiap.

"Sungguh aneh, mengapa gerakan tubuhnya bisa begitu cepat dan dahsyat sehingga mengejutkan hati."

Sambil berpikir dengan cepat badannya menyusut mundur sejauh lima depa kebelakang, dengan suatu gerakan yang manis ia menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut.

Kemudian secepat kilat melancarkan serangan balasan-Gak In Ling sendiripun mengetahui dengan jelas sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki kakek baju kuning itu, akan tetapi ia tak menyangka dengan usia lawannya yang sudah begitu lanjut ternyata dalam beberapa tahun yang amat singkat berhasil mendapatkan kemajuan yang begitu mengejutkan hati, sehingga membuat sebuah serangannya yang semula diduga akan mendatangkan hasil ternyata mengenai sasaran kosong.

Tanpa sadar gerakan tubuhnya jadi agak terlambat.

Tatkala kakek baju kuilog itu mengundurkan diri kebelakang tadi, secara diam-diam hawa murninya telah dihimpun semua kedalam sepasang telapaknya dan setiap saat siap dilancarkan kedepan, dengan melambatnya gerakan tubuh dari Gak In Ling itu justru secara kebetulan telah memberikan peluang yang amat bagus baginya untuk melepaskan serangan mautnya.

Terdengar kakek baju kuning itu membentak.

"Bocah keparat Sambutlah pula sebuah seranganku ini "

Dengan menggunakan gerakan "Hong-kian-Cian-in"

Atau angin berhembus buyarkan awan, sekuat tenaga ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah sianak muda itu.

Gulungan angin pukulan yang menderu-deru bagaikan berhembusnya angin puyuh menyelimuti daerah seluas lima tombak disekeliling tempat itu, jelas kakek baju kuning itu ada 214 maksud membinasakan lawannya didalam sebuah serangannya.

Meskipun Gak In Ling sendiri belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan dan pengalamannya dalam menghadapi serangan lawan masih cetek.

akan tetapi kecerdasan otaknya melebihi orang lain, ketika serangan pertamanya tadi gagal mengenai lawannya, ia telah menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan bagi dirinya, dalam waktu yang amat singkat itulah suatu cara untuk mengatasi krisis tersebut berhasil ia dapatkan-Baru saja angin pukulan kakek baju kuning yang amat dahsyat itu hampir mengenai tubuh-nya, mendadak Gak In Ling tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat merendah kebawah, dengan gerakan "To-coan-seng-gi"

Atau bulan berputar lintang bergeser, badannya melayang kearah kanan dan dengan tepat sekali berhasil menghindarkan diri dari datangnya ancaman angin pukulan yang datang dari arah depan-Diantara bergeletarnya telapak kanan, secepat kilat ia lancarkan sebuah serangan kembali dengan jurus "Keng-to-liat-an"

Atau ombak dahsyat retakkan pantai, dan dengan cepat menerobos kearah iga kanan kakek baju kuning itu.

Tindakan tersebut kembali mengejutkan hati kakek baju kuning itu sehingga tanpa sadar ia berseru tertahan, ia tak menduga kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Gak In Ling jauh lebih lihay daripada dugaannya semula.

Berpikir sampai disini timbullah perasaan ingin menang sendiri dalam hati kakek tua baju kuning itu, terhadap datangnya ancaman dari sisi tubuhnya itu bukan saja ia tidak menghindar, sebaliknya malah menyongsong datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

"Bagus sekali datangnya seranganmu itu "

Bentaknya keras. Bersamaan dengan bentakan itu serangan pertama dibuyarkan diganti dengan gerakan lain, tubuhnya berputar keSamping kiri. Dengan jurus "Lek-peng-ngo gi"

Atau membumi rata lima bukit, dengan suatu kekuatan yang luarbiasa bagaikan guntur yang membelah bumi disambutnya pukulan dari Gak In Ling itu dengan kekerasan-Menyaksikan tindakan lawannya ini, napsu membunuh yang amat tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, ia mendengus dingin dan angin pukulannya secara diam-diam ditambah pula dengan beberapa bagian hawa murninya.

Sementara itu kakek tua baju kuning itu jadi amat girang menyaksikan pemuda itu menyambut datangnya ancaman itu tanpa menghindar, pikirnya didalam hati.

"IHm, bangsat cilik yang tak tahu diri, cahaya kunang-kunang berani diadu dengan cahaya rembulan, rupanya engkau memang sudah bosan hidup dan ingin mencari jalan kematian buat diri sendiri."

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak ia merasakan datangnya daya tekanan tak berwujud yang amat berat dan menembusi pertahanan angin pukulan daya kikangnya dan langsung menerjang kearah dada.

Bersamaan itu pula angin pukulan yang dilepaskan olehnya seakan-akan terbentur diatas sebuah dinding baja tak terwujud yang amat kuat, sedikitpun ia tak berdaya untuk menembusinya .

Dalam keadaan seperti ini kakek tua baju kuning itu baru menyadari babwa keadaannya sangat berbahaya dan gelagat kurang baik, untuk menghindarkan diri sudah tak sempat lagi, ia segera menjerit tertahan-"Aduh celaka "

Belum habis jeritan itu berkumandang dari mulutnya, angin pukulan yang ia lepaskan telah saling membentur dengan 216 daya kekuatan tak terwujud yang dilancarkan oleh Gak In Ling.

"Blaaaam..."

Ledakan dahsyat seakan-akan gugurnya bukit karang tertimpa gempa segera menggoncangkan seluruh permukaan bumi disekeliling tempat itu, suara pantulan nyaring menggema tak hentinya sangat memekakkan telinga, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya benturan yang baru saja berlangsung itu.

Ditengah kaburnya suasana karena pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh udara, tubuh kakek tua baju kuning itu secara berturut-turut mundur empat-lima langkah kebelakang dengan sempoyongan, sepasang lengannya jadi linu dan kaku sehingga dengan lemas terkulai ke bawah, hawa panas menekan dadanya membuat darah bergolak dengan kerasnya dan hawa murni terasa tersumbat, dengan sorot mata yang berkunang-kunang, ia berpaling kearah Gak In Ling.

Sianak muda itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula, air mukanya merah berdarah diliputi napsu membunuh yang menakutkan sekali, pada saat itu dengan pandangan yang bengis dan menyeringai seram sedang menatap kearahnya tanpa berkedip.

Buru-buru kakek tua baju kuning itu alihkan sorot matanya kearah lain-Dalam hati kecilnya ia sudah mengaku kalah danjeri terhadap lawannya, akan tetapi berhubung gerak-geriknya selalu diawasi oleh orang lain, kakek tua itu tak berani menceritakan keadaan yang sebenarnya.

Terdengar Gak In Ling tertawa dingin dengan nada yang menyeramkan, kemudian berkata.

"Ong Pek Siu Jika engkau adalah seorang manusia yang bisa melihat gelagat, maka sekarang juga sudah tidak sepantasnya bagimu untuk mencari penyakit buat diri sendiri "

Nada suara pemuda ini dingin, seram dan penuh kewibawaan, membuat orang yang mendengar jadi bergidik dan ngeri.

Rupanya orang yang bernama Ong Pek Siu ini bakan lain adalah sang Loo-ji dari Tay san sam-gi tiga setia kawan dari gunung Taysan yang nama besarnya sudah menggetarkan seluruh dataran Tionggoan sejak belasan tahun berselang.

Pertarungan baru berlangsung beberapa gebrakan saja, kendatipun Ong Pek Siu sudah menyadari bahwa ia bukan tandingan dari Gak In Ling namun sebagai seorang jago yang punya nama besar dalam dunia persilatan tentu saja ia tak sudi untuk mengaku kalah dan takluk dengan begitu saja.

setelah tarik napas panjang dan tenteramkan perasaan hatinya yang goncang ia berkata.

"Gak In Ling, engkau jangan terburu napsu, sekarang dirimu masih berada di sarang naga gua harimau, kalau didalam dua-tiga jurus gebrakan engkau masih belum dapat mengalahkan aku, maka selembar jiwamu untuk selamanya akan terbenam dalam lembah ini "

Gak in Ling tertawa dingin.

"Hee hee.... hee seandainya didalam satu gebrakan saja aku telah berhasil menguasai dirimu ?"

Ia mengejek. Mendengar perkataan tersebut mula-mula Ong Pek Siu nampak tertegun, kemudian sambil menengadah keatas ia tertawa terbahak-bahak.

"Haa haa haa tentu saja aku akan menyerahkan diri kepadamu dan terserah engkau hendak berbuat apa atas diriku, akan tetapi, percayakah engkau bahwa kemampuanmu telah berhasil mencapai hingga tarap sedemikian tingginya ?"

Dalam hati kecilnya Gak In Ling sangat menguatirkan keselamatan ibunya, ia tidak ingin terlalu lama bersilat lidah di sana sehingga membuang waktu dengan percuma, sambil mendengus dingin perlahan-lahan telapak kanannya diangkat 218 keatas sambil bentaknya.

"Ong Pek Siu, kenalkah engkau dengan telapak tanganku ini ?"

Ong Pek Siu segera alihkan sinar matanya kearah mana yang ditujukan kepadanya, tetapi begitu melihat apa yang ditunjuk sianak muda itu kepada iya, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat karena ketakutan secara beruntun ia mundur beberapa langkah kebelakang, serunya dengan suara tergagap.

"Te.. telapak maut ? Kau....... kau telah berhasil meyakinkan ilmu telapak maut ?"

Gak In Ling mendengus dingin, selangkah demi selangkah perlahan-lahan ia maju kedepan mendekati tubuh Ong Pek Siu.

Mengikuti semakin mendekatnya langkah Gak In Ling kearahnya, setindak demi setindak Ong Pek Siu pun mengundurkan diri kebelakang.

Semula dia telah menghimpun segenap tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi serangan dari Gak In Ling sambil mengulur waktu dan menunggu datangnya bala bantuan-Tetapi sekarang setelah ia menyaksikan "Telapak maut"

Hatinya jadi bergidik dan pecah nyali, ia tahu dibawah serangan dahsyat dari telapak maut tak mungkin ia dapat meloloskan diri dalam keadaan hidup,....

atau dengan perkataan lain kesempatan jiwanya telah berada didalam cengkeraman lawan-Kini yang terlintas didalam benaknya hanyalah bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari tangan elmaut, ia sedang berusaha untuk menyelamatkan diri sebelum malaikat elmaut sempat datang untuk menjemput sukmanya pulang ke-aLam baka.

Waktu berlalu dalam keheningan dan kesepian yang mencengkam disekeliling tempat itu, dari balik kabut putih yang tebal sering kali terdengar dengusan napas Ong Pek Siu yang berat serta memperdengarkan rintihan karena ngeri dan takutnya itu.

Tiba-tiba Ong Pek Siu yang sedang mundur kebelakang segera menghentikan tubuhnya, air mukanya seketika berubah hebat dan keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tak usah berpaling lagi ia telah mengetahui bahwa dirinya telah mengundurkan diri sehingga tiba ditepi jurang yang amat terjal.

Sedikitpun tidak salah dibelakang tubuhnya terbentang sebuah tebing yang curam dengan jurang yang menganga dibelakangnya, kabut putih yang amat tebal menyelimuti daerah sekeliling tempat itu membuat orang sulit untuk melihat jelas jurang tersebut, serta menentukan berapa dalamkah jurang itu.

Selangkah demi selangkah Gak In Ling maju mendekat, sekarang Ong Pek Siu tak dapat mundur lagi kebelakang, perasaan hatinya mengikuti langkah kaki lawannya yang semakin mendekat terasa bergidik dan berdebar dengan kerasnya.

Pada saat tubuh Gak In Ling sudah berada kurang lebih tiga depa dihadapan Ong Pek Siu itulah tiba-tiba sekilas bayangan terlintas dalam benak kakek tua baju kuning itu, dengan cepat ia membentak keras.

"Gak In Ling, kalau engkau ada maksud untuk membinasakan ibumu didalam lembah pemutus sukma ini, silahkan engkau maju mendekat satu langkah lagi kedepan "

Ancaman ini ternyata mendatangkan hasil yang amat manjur, mendengar ucapan tersebut tanpa sadar Gak In Ling menghentikan langkah kakinya.

Ong Pek Siu tarik napas panjang-panjang, keringat dingin telah membasahi telapak tangannya, sambil berusaha keras untuk menenangkan hatinya ia mengejek.

"Hm Kenapa? Kenapa engkau tidak lanjutkan seranganmu itu ?"

Napsu membunuh yang semula menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, perlahan-lahan makin berkurang, sambil tertawa dingin serunya.

"Hee hee hee engkau hendak menakut-nakuti aku ?"

Setelah hatinya berhasil ditenangkan, Ong Pek Siu tertawa terbahak-bahak.

"Haa haa haa menakut-nakuti dirimu ? Kalau engkau menganggap ucapanku itu hanya gertak sambal belaka dan sengaja hanya untuk menakut-nakuti dirimu, kenapa tidak kau lanjukan seranganmu itu ?"

Dalam suara gelak tertawanya terdengar agak gemetar, sayang sekali pada waktu itu benak Gak In Ling sedang dipenuhi oleh persoalan lain, sehingga titik kelemahan itu sama sekali tak diperhatikan olehnya.

Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya kembali Gak In Ling tertawa dingin sambil ujarnya.

"Sebelum engkau berhasil memaksa ibuku sehingga menemui ajalnya, setiap saat aku orang she Gak mampu untuk membinasakan dirimu"

Seketika itu juga Suatu ingatan kecil tiba-tiba berkelebat didalam benak Ong Pek Siu, sengaja ia melirik sekejap kearah belakang tubuhnya, lalu sambil tertawa dingin pula, ejeknya.

"Hee hee menurut anggapanmu, di-tempat ini hanya terdiri engkau dan aku dua orang belaka ?"

"Hm Setelah aku berani memasuki lembah pemutus sukma ini seorang diri, itu menandakan pula bahwa dalam hati kecilku sudah sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap kalian"

"IHaa haa engkau pandang sebelah mata terhadap kami atau tidak-itu urusanmu sendiri, yang menjadi persoalan sekarang adalah setelah kematianku maka ibumu pun segera akan ikut menghembuskan napasnya yang terakhir, selisih waktu diantara kami berdua tak akan berbeda dalam seperempat jam belaka."

Sekali lagi Gak In Ling merasakan hatinya terkesiap sehingga darah dalam tubuhnya terasa tersirap.

apa yang diucapkan oleh Ong Pek Siu barusan boleh dibilang dapat diterima dengan akal sehat, dan kemungkinan besar untuk terjadi peristiwa semacam ini pun ada, hal ini membuat orang lain jadi sulit untuk membedakan apakah ucapan itu merupakan suatu siasat licik dari lahirnya ataukah merupakan kenyataan-Keadaan Gak In Ling pada saat ini benar-benar terdesak sekali, waktu baginya untuk putar otak sempit sekali dan untuk sesaat sulit baginya untuk menemukan jalan yang paling baik untuk mengatasi kesulitannya itu, hatinya jadi amat cemas bercampur gelisah sehingga keadaannya bagaikan semut yang berada diatas kuali panas.

Perlahan-lahan Ong Pek Siu mulai menggeserkan kakinya kedepan, ujarnya dengan suara lantang.

"Gak In Ling, sekarang hanya ada dua jalan yang dapat kau pilih menurut seleramu sendiri "

"Dua jalan yang bagaimana ?"

Tanya Gak In Ling tanpa terasa, dalam kesulitannya untuk memperoleh jalan pemecahan yang paling baik untuk mengatasi persoalan itu, ia ajukan pertanyaan tanpa disadari. Ong Pek Siu tertawa bangga.

"Haa haa haa sebenarnya gampang sekali jalan yang kuberikan kepadamu itu, cuma sayang aku takut engkau tak akan menerimanya."

Airmuka Gak In Ling berubah hebat, tegur nya dengan nada ketus.

"Hm, rupanya engkau sengaja sedang mengulur waktu ?"

Ong Pek Siu tertawa ringan-"Aku tak perlu mengulur waktu karena aku tahu bahwa engkau adalah seorang anak yang berbakti, tak mungkin engkau lakukan perbuatan secara gegabah."

Menyaksikan kesemuanya itu dalam hati kecilnya Gak In Ling segera berpikir.

"Sungguh tak kusangka akhirnya aku Gak In Ling pun terjatuh kedalam cengkeramannya, apakah keturunan keluarga Gak harus berakhir sampai disini saja."

Berpikir sampai disini, rasa sedih dan murung dengan cepat menyelimuti seluruh wajah dan sorot matanya memancarkan napsu membunuh yang semua menyelimuti seluruh wajahnya.

Terdengar ia menghela napas panjang dengan suara yang amat berat, kemudian berkata.

"Kalau begitu cepatlah katakan kepadaku"

"Jalan pertama menerjang masuk kedalam lembah pemutus sukma ini dengan jalan kekerasan, cuma sebagai imbalan dari perbuatannya itu mungkin selembar jiwa ibumu akan ikut melayang tinggalkan raganya."

"Bagaimana dengan jalan yang kedua ?"

Tanya Gak In Ling dengan suara amat gelisah. Sekilas cahaya keji berkelebat diatas wajah Ong Pek Siu, sambil menyeringai seram jawabnya.

"Jalan yang kedua, bersama ibumu dikurung dalam sebuah gua yang lembab dan gelap."

Beberapa patah kata ini bagaikan beribu-ribu batang anak panah yang bersama-sama menembusi ulu hati Gak In Ling, mendatangkan siksaan bathin yang tak terkirakan hagi sianak muda itu, dengan cepat ia menyeka wajahnya yang merah padam dan bermandikan keringat, sementara sang badan gemetar keras menahan emosi Lama lama sekali, akhirnya 223 dengan suara gemetar Gak In Ling berseru keras.

"Engkau... kau hatimu benar-benar kejam "

"Haa. ... haa haa aku bisa berbuat seperti ini karena demi engkau."

Jawab ong Pe Siu dengan nada yang menyeramkan, senyum licik tersungging di ujung bibirnya. ---ooo0dw0ooo---

Jilid 7

"KARENA aku kenapa karena aku?"

"Sedikitpun tidak salah, karena engkau. Karena dari antara keluarga Gak hanya engkaulah satu-satunya orang yang masih tetap hidup diaLam yang bebas."

Dari balik sorot mata Gak In Ling yang sayu secara lapat-lapat mulai diliputi oleh cahaya airmata yang amat tipis, dengan suara berat dia segera bertanya.

"Gua itu berada di mana ?"

"Itu.. .. didepan sana, kurang lebih lima tombak dari tempat ini."

Jawab Ong Pek Siu sambil memandang sekejap kearah depan-"Apakah engkau hendak pergi kesitu?"

Dengan perasaan hati yang amat berat Gak In Ling menganggap sekarang ia sudah kehilangan semangatnya untuk melakukan pertempuran-Melihat keadaan musuhnya, Ong Pek Siu segera tertawa dan berkata kembali.

"Setelah engkau pergi kesana. mungkin peria yanan kami terhadap kalian akan jauh lebih baik karena mulai sekarang sudah tiada orang lain dari keluarga Gak yang hidup diaLam bebas lagi, tetapi engkau jangan bermaksud untuk melarikan diri dari tempat ini karena disekeliling gua batu itu telah dipasang alat rahasia yang dapat menghabisi jiwa kalian-Memandang pada hubungan persahabatanku dengan mendiang bapakmu, mau tak mau harus kuberi peringatan lebih dahulu kepadamu..."

Selesai berkata ia putar badan dan berjalan menuju kearahh samping sebelah kanan, serunya kembali.

"Mari ikutilah aku"

Gak In Ling dengan mulut membungkam dalam seribu bahasa mengikuti dibelakang tubuhnya keadaanpemuda tersebut pada saat ini bagaikan sudah kehilangan semangat dan pikiran, benaknya kosong melompong tak ada yang bisa dipikirkan sementara pandangan matanya jadi kabur dan berkunang-kunang.

Kurang lebih setelah berjalan sejauh lima tombak dari tempat semula, tiba-tiba Ong Pek Siu berhenti didepan sebuah batu putih yang menonjol keluar dari atas permukaan tanah, sambil berpaling memandang kearah Gak In Ling ujarnya lagi.

"Tuh. guanya berada didepan sana."

Sambil berkata ia menuding kearah sebuah batu putih lagi yang berada diarah sebelah kanan setelah itu tanyanya.

"Mampukah-engkau meloncat kedepan sana?"

Dengan kaku Gak In Ling anggukkan kepalanya, ia enjotkan badan dan siap meloncat kedepan-Tiba-tiba oag Pek Siu berkata kembali.

"Tunggu sebentar, alat rahasia dan alat jebakan yang berada disekeliling tempat itu belum kumatikan-"

Sambil berkata ia memutar batu putih yang menonjol keluar dari atas tanah itu kearah sebelah kanan, dari balik kabut putih yang amat tebal segera berkUmandanglah suara gemerincing yang amat nyaring.

Setelah suara gemerincing tadi sirap dari udara, Ong Pek Siu baru berkata dengan wajah serius.

"Sekarang engkau boleh meloncat kedepan-ingat, jangan sampai melampaui enam tombak. kalau tidak aku tak berani menjamin akan keselamatan jiwamu "

Gak ln Ling berusaha mengerahkan kemampuannya untuk memandang kearah depan, namun yang terlihat hanyalah kabut pUtih yang amat tebal belaka, ia menghela napas panjang dan berkata.

"Aaaiii sungguh tak kunyana begitu banyak sahabat-sahabat karib yang mempunyai hubungan persahabatan dengan ayahku dimasa yang lampau, sebenarnya tidak lebih hanya manusia-manusia laknat yang tak kenal budi dan tak setia kawan-"

"Ha.... haa...... haa itulah yang dinamakan watak manusia ditolong langit dingin bagaikan es, hubungan persaudaraan tipis bagaikan kertas."

Seberkas cahaya gusar memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, ditatap wajah lawannya tanpa berkedip kemudian serunya keras.

"Benar, manusia memang berwatak dingin bagaikan salju, tipis bagaikan kertas."

Bicara sampai disitu, tubuhnya dengan cepat melompat masuk kebalik kabut putih yang amat tebal itu.

Dengan perasaan terperanjat Ong Pek Siu mundur dua langkah kebelakang, pada saat itulah dalam hati kecilnya timbul perasaan iba bercampur menyesal.

Mendadak dari arah belakang berkumandang suara teguran seseorang dengan suara dingin.

"Ong Pek Siu, kemana perginya Gak in Ling ?"

Mendengar pertanyaan itu dengan cepat Ong Pek Siu putar badan, lalu sambil tertawa jawab nya.

"Toako, rupanya Gak In Ling sudah turun ke bawah."

Sambil berkata ia tuding kearah belakang tubuhnya.

orang yang baru saja datang adalah seorang kakek tua berusia lima puluh tahunan yang mempunyai warna pakaian serta dandanan yang persis seperti Ong Pek Siu, mukanya kurus dengan alis tebal mata kecil, jeng got pendek dan wajah yang amat dingin.

Terdengar kakek tua baju kuning itu tertawa dingin dan berkata "Hee hee, hee, sebentar lagi kokcu akan tiba disini."

"Urusan ditempat ini telah kuselesaikan secara sempurna, ada urusan apa dia orang tua datang kemari ?"

Tanya Ong Pek Siu dengan air muka berubah hebat.

"IHm Selamanya dia orang tua tak pernah bergerak secara sembarangan, apa maksud kedatangannya semestinya engkau harus tahu "

Perasaan tidak tenang mulai melintas diatas wajah Ong Pek Siu, denganjantung berdebar keras serunya kembali.

"Apakah dia orang tua merasa tidak lega hati ?"

"Dia orang tua sudah mengetahui kalau Gak In Ling berhasil kau tipu untuk meloncat masuk kedalam jurang pemutus sukma, tetapi sayang sekali kedatangannya masih tetap terlambat satu langkah."

"Bukankah dia ada maksud untuk mencabut selembar jiwanya ?"

Seru Ong Pek Siu lagi dengan hati gelisah. Tiba-tiba kakek tua itu tertawa dingin.

"He .... he apakah beliau pernah mengatakan demikian kepadamu?"

Serunya. Ong Pek Siu jadi amat terperanjat, sekarang rupanya ia sudah tahu tujuan serta maksud kedatangan sang kokcu ketempat itu, dengan penuh ketakutan dan perasaan ngeri ia berseru.

"Kalau bukan sahabat tentulah musuh, Gak In Ling..."

Kembali kakek tua itu tertawa dingin.

"He he he.....ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling jauh lebih lihay dan ampuh beberapa kali lipat dari dirimu sendiri, keuntungan yang dia berikan terhadap lembah pemutus sukmapun jauh lebih besar daripada keuntungan yang kau berikan terhadap lembah.... ucapan ini tentu dapat kau pahami bukan ?"

Sekarang Ong Pek Siu benar-benar sudah menyadari akan serius serta gawatnya masalah yang sedang ia hadapi, demi keselamatan selembar jiwa nya kakek tua itu sudah tidak memikirkan tentang gengsi atau nama baik lagi, dengan nada merengek pintanya.

"oh, toako bagaimanapun juga diantara kita pernah terjalin hubungan persaudaraan yang sangat akrab, usahakanlah untuk menyelamatkan selembar jiwaku oh, toako, tolonglah aku... selamatkan diriku dari ancaman bahaya."

Air muka kakek tua itu tetap kaku dan dingin, sedikitpun tidak tergerak hatinya oleh rengekan saudaranya ini, dengan suara ketus kembali ia berkata.

"Maafkanlah daku Dalam lembah ini hanya membicarakan soal pahala dan sama sekali tidak kenal apa artinya persaudaraan atau persahabatan, karena itu maafkanlah aku tak mungkin iku bisa membantu atau menolong untuk selamatkan jiwamu."

Sepasang biji mata Ong Pek Siu berputar tidak hentinya memandang sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia putar badan dan berlarian menuju ke lorong batu sebelah depan-Pada saat itulah tiba-tiba dari arah belakang berkumandang datang suara bentakan yang amat dingin dan menyeramkan-"Berhenti "

Bersamaan dengan berkumandangnya suara bentakan yang amat nyaring dan mengerikan itu, karang lebih lima depa dihadapan Ong Pek Siu tiba-tiba meloncat keluar seorang manusia berkerudung kain merah yang menatap wajah kakek itu dengan sepasang sorot matanya yang dingin, sadis dan menyeramkan, keadaan orang itu seakan-akan sedang berhadapan dengan seorang musuh besarnya yang sudah mengikat dendam sakit hati sedalam lautan dengan dirinya.

Terkesiap hati Ong Pek Siu menyaksikan kemunculan manusia berkerudung merah itu, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Setelah jalan pergi dihadapannya terhadang oleh seorang jago lihay, kakek tua she ong itu tidak berani melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, buru-buru ia menghentikan badannya dan melompat kearah samping sebelah kiri.

Siapa tahu baru saja ia menggerakkan tubuhnya kembali terdengar seseorang membentak dengan suara yang dingin menyeramkan.

"Berhenti"

Kurang lebih lima depa dihadapannya, kembali muncul seorang manusia berkerudung merah yang menghadang jalan perginya.

Setelah menyaksikan kesemuanya itu, Ong Pek Siu baru menyadari bahwa dia telah terjebak dalam suatu pengepungan yang sangat rapat, kendatipun begitu sepasang matanya masih berputar dan menyapu sekeliling tempat itu tiada hentinya seakan-akan ia sedang berusaha untuk mencari kesempatan hidup ditengah lingkungan yang sudah tidak mungkin terjadi itu.

Akan tetapi di mana sorot matanya berputar disanalah ia temukan sorot mata dingin menyeramkan yang sedang menatap ke arahnya, kecuali itu sudah tiada jalan lain lagi untuk meloloskan diri, bahkan untuk menerjunkan diri kedalam jurang yang dalampun sudah tak mungkin lagi, 229 karena diantara berdiri pula seorang manusia berkerudung merah yang menghadang jalan perginya .

Bersamaan dengan putusnya harapan untuk meloloskan diri dari mara bahaya, selintas pikiran yang mengerikan dengan cepat menyelimuti seluruh benak Ong Pek Siu, dia merasa seakan-akan kematian sudah berada diambang pintu, wajahnya yang sudah memucat kini kian menghijau sementara keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh badan-Ia tarik napas panjang-panjang, dengan suara yang mendekati suatu rengekan serunya kepada orang-orang berkerudung merah yang berada disekeliling tempat itu.

"Saudara-saudara sekalian, aku orang she ong percaya bahwa dihari-hari biasa tak pernah aku berbuat sesuatu kesalahan yang menyinggung perasaan kalian semua, kenapa sekarang kalian mendesak dan memaksa diriku terus menerus sehingga menyudutkan aku orang she ong kedalam lembah kematian ?"

Suara tertawa dingin yang ketus dan menyeramkan berkumandang dari sekeliling tempat itu, terhadap ucapan dari Ong Pek Siu itu bukan saja orang-orang itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa iba atau kasihan, sebaliknya mereka menunjukkan rasa girang, seakan-akan mereka merasa gembira karena ada orang sedang tertimpa oleh bencana.

Menyaksikan kesemuanya itu sadarlah Ong Pek Siu bahwasanya semua penghuni didalam lembah pemutus sukma adalah manusia-manusia durjana yang kejam dan tidak mengenal prikemanusiaan, berbicara terhadap mereka boleh dibilang sama sekali tak ada gunanya.

Timbullah ingatan didalam benak kakek tua itu untuk melakukan perlawanan yang gigih hingga titik darah penghabisan, ia mengambil keputusan untuk melakukan perlawanan daripada mendahului dibunuh dengan begitu saja.

Sinar mata yang amat tajam memancar keluar cari balik matanya, dengan suara berat ia segera berseru.

"Saudara-saudara sekalian, seandainya kalian masih juga mendesak diriku terus menerus, jangan salahkan kalau aku melakukan perlawanan yang gigih hingga titik darah penghabisan"

Ucapan tersebut diutarakan keluar dengan suara yang berat dan tegas, seolah-olah dia sedang memperlihatkan kenekadannya itu kepada semua orang.

Suara tertawa dingin secara susul-menyusul berkumandang kembali dari sekeliling tempat itu para manusia berkerudung merah yang berada di sekitar sana mulai menghimpun segenap kekuatan tubuhnya keatas telapak, dengan tenang ditunggu nya Ong Pek Siu untuk melancarkan serangan-Melihat kesemuanya itu Ong Pek Siu pun menyadari, apabila ia tidak melakukan perlawanan niscaya jiwanya akan musnah secara konyol, dalam hati segera pikirnya.

"Bisa bunuh seorang berarti ada teman seorang, daripada duduk terpekur sambil menantikan datangnya elmaut jauh lebih baik melakukan perlawanan sedapat mungkin, siapa tahu kalau dengan caraku ini justru selembar jiwaku berhasil diselamatkan dari bahaya kematian-Ingatan tersebut bagaikan kilat cepatnya berkelebat lewat dalam benak kakek tua itu, sepasang telapaknya segera diangkat dan siap melancarkan serangan-Pada saat itulah sebelum serangan pertama sempat dilepaskan tiba-tiba dari sisi telinganya berkumandang datang suara teguran seseorang dengan nada yang tajam sehingga terasa amat memekakkan telinga.

"ong-heng, sungguh gagah sekali lagakmu itu."

Walaupun nada suaranya amat mendatar dan biasa sekali, namun entah apa sebabnya suara itu mendatangkan suatu pengaruh yang sangat aneh sekali, membuat orang yang mendengarkan jadi terkesiap bercampur ngeri.

Sekujur badan Ong Pek Siu gemetar keras setelah mendengar teguran itu, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tenaga dalam yang sudah dihimpun kedalam sepasang telapaknya tanpa disadari telah buyar dan lenyap dengan begitu saja, sepasang matanya dengan sorot penuh kengerian dan keseraman celingukan memandang kesana-kemari mencari berasalnya suara itu, keadaan kakek tua itu tak ubahnya bagaikan seorang hukuman yang sedang menantikan pelaksanaan hukuman mati atas dirinya, sedikitpun tiada bertenaga untuk melakukan perlawanan.

Kurang lebih lima tombak dari tempat itu terdirilah seorang kakek tua berjubah putih, bermuka merah bercahaya dan berjenggot panjang semua, pada waktu itu kakek tersebut sambil tersenyum sedang memandang kearah Ong Pek Siu, sepintas lalu, mukanya nampak begitu ramah dan penuh perasaan welas-kasih.

Ketika sorot mata Ong Pek Siu saling membentur dengan sorot mata kakek tua itu, mendadak badannya gemetar keras bagaikan kena aliran listrik, dengan suara gemetar serunya lirih.

"Kokcu "

Kakek tua itu tertawa dan mengangguk.

"Hmm, kalau kutinjau dari gerak-gerik ong heng, rupanya engkau sudah bersiap sedia untuk melepaskan diri dari ikatan lembah ini serta pergi dari sini. Aku jadi heran, sebenarnya dalam hal apakah kami telah bersikap kurang baik sehingga mendatangkan perasaan tak puas bagi diri ong-heng ?"

"Tecu tidak berani..."

Buru-buru Ong Pek Siu menjawab.

"oh, kalau begitu akulah yang sudah banyak menaruh curiga terhadap dirimu. Tetapi, kenapa mereka telah mengepung diri ong-heng sedemikian ketatnya ?"

Nada suara kakek tua itu kian lama kian bertambah berat dan mantap. membuat orang merasakan dadanya sesak dan 232 sukar untuk bernapas. Tercekat hati Ong Pek Siu, tanpa disadari ia berseru.

"Karena tecu telah melakukan kesalahan-.."

"oh, jadi karena sudah melakukan kesalahan maka engkau hendak melarikan diri ?"

Tanya kakek itu sambil tertawa^ Ong Pek Siu membungkam dalam seribu bahasa setelah mendengar ucapan tersebut, perlahan-lahan ia tundukkan kepalanya.

Serentetan cahaya tajam yang sangat menggidikkan hati memancar keluar dari balik mata kakek berbajuputih itu, ia menatap tajam wajah Ong Pek Siu beberapa saat lamanya kemudian sambil tertawa seram serunya.

"ong-heng, masih ingatkah engkau dengan pantangan ketiga dari lembah kita ini?"

Ong Pek Siu menengadah keatas dengan perasaan kaget, wajahnya berubah hebat dan ngeri bercampur seram melintas dimukanya, ia segera membantah.

"Tecu membohongi Gak In Ling serta melenyapkan dirinya dari permukaan bumi adalah demi keselamatan lembah kita dikemudian hari."

"Karena apa ?"

"Karena Gak In Ling sangat membenci lembah pemutus sukma kita hingga merasuk ketulang sumsumnya, oleh karena itu tecu beranggapan bahwa dia tak akan bersedia untuk tunduk kepada lembah kita serta berbakti kepada kita, maka..."

"Maka engkau lantas turun tangan keji dan menyingkirkan pemuda itu dari sini ?"

Sambung kakek baju putih itu dengan nada suara yang jauh lebih lunak.

"Benar"

Dengan perasaan hati agak lega Ong Pek Siu menganggukkan kepalanya.

"Apakah engkau tidak mempunyai perasaan pribadi untuk melindungi ataupun menyelamatkan jiwanya dari mara bahaya ?"

"Tidak"

Jawab Ong Pek Siu dengan tegas "aku sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk melindungi ataupun menyelamatkan jiwanya dari bahaya maut "

"Lalu menurut anggapanmu pada saat ini Gak In Ling berada dalam keadaan mati atau dalam keadaan hidup ?"

"Jurang tingginya mencapai seratus tombak lebih, setelah terjatuh kedalam jurang sedalam ini tentu saja ia telah menemui ajalnya."

"Oooh.... ya? Kalau begitu aku ingin bertanya lagi, pada saat ini air didalam jurang tersebut sedang pasang atau surut ?"

"Pasang"

Jawab Ong Pek Siu tanpa berpikir panjang.

Tapi begitu ucapannya tersebut terlontar keluar dari mulutnya, tiba-tiba satu ingatan, berkelebat dalam benaknya, perasaan hatinya jadi terkesiap dan diam-diam ia berseru didalam hati kecilnya.

"Aduuuh habislah sudah riwayatku, aku tidak teringat kalau air sungai didalam jurang itu sedang pasang."

Sementara itu Air muka kakek berjenggot panjang telah berubah jadi hijau membesi, dengan keren ia bertanya kembali.

"Aku dengar Gak In Ling mempunyai ilmu berenang yang sangat baik sekali, entah benarkah perkataan itu ?"

Sambil berkata dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan sebilah pisau belati ia menatap wajah Ong Pek Siu tanpa berkedip.

dari keadaannya itu seakan-akan ia hendak menembusi isi perutnya serta mengawasi perasaan hati orang.

Air muka Ong Pek Siu yang semula sudah berubah jadi tenang kembali, kini berubah kembali jadi pucat pias bagaikan mayat.

"Perkataan itu sedikitpun tidak salah."

Jawabnya.

"Dan tecu telah mengetahui dosa-dosa yang telah kulakukan-"

Kakek berjenggot panjang itu segera tertawa dingin.

"He..... he. he.....karena itu, kalau ada orang mengatakan bahwa engkau ada maksud untuk melepaskan Gak ln Ling dari mara bahaya, tuduhan ini tidak bakal salah, bukan?"

Ong Pek Siu gelengkan kepalanya.

"Tecu telah menghianati ibu serta cicinya, sekalipun aku ada maksud untuk menebus dosa untuk berbuat kebaikan terhadap dirinya, belum tentu Gak In Ling bersedia untuk menerima jasa baikku itu, apalagi..."

"Apalagi engkau setia terhadap lembah pemutus sukma bukan?"

Sambung kakek berjenggot panjang dengan cepat. Ong Pek Siu mengangguk tanda membenarkan.

"Tecu memang sungguh-sungguh setia terhadap lembah pemutus sukma "

Ia menjawab. Air muka kakek berjenggot panjang yang mudah berubah-ubah itu tiba-tiba tersungging oleh satu senyuman yang dingin, ia berkata.

"Sejak dahulu kala sampai sekarang aku mempunyai sebuah pantangan yang tidak dicantumkan didalam tulisan, apakah ong-heng tahu apa pantanganku itu ?"

Ong Pek Siu tak dapat menebak maksud hati ucapan tersebut, terpaksa dengan perasaan bingung dia gelengkan kepalanya.

"Maafkanlah kebodohan tecu, aku sama sekali tidak memahami apakah arti yang sebenarnya dari perkataan kokcu itu?"

"Engkau tak usah berlaku sungkan-sungkan, aku akan segera memberitahukan pantanganku itu kepadamu "

Tiba-tiba ia menatap wajah lawannya dengan cahaya mata berkilat, lalu dengan suara dalam sambungnya lebih jauh.

"Selama hidup aku melakukan perbuatan, lebih baik membunuh mati sembilan puluh sembilan orang baik secara penasaran daripada melepaskan seorang manusia jahat."

Suaranya dingin menyeramkan membuat siapapun yang mendengar merasakan bulu romanya pada bangun berdiri.

Air muka Ong Pek Siu berubah hebat, lama sekali ia berdiri gelagapan namun tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan keluar.

Sambil melotot bulat kearah Ong Pek Siu, terdengar kakek berjenggot panjang itu berseru kembali.

"ong heng, menurut anggapanmu benar atau tidak pantanganku itu?"

Orang ini benar-benar sadis dan sama sekali tidak kenal akan perikemanusiaan, hendak membunuh orangpun ia masih sempat untuk mengatakan kepada korbannya kalau pembunuhan tersebut dilakukan atas dasar kebenaran.

Rupanya Ong Pek Siu sendiripun telah menyadari bahwa tiada harapan lagi baginya untuk melanjutkan hidup, golakan hatinya malah jauh berkurang malah ia kini semakin tenang daripada keadaan semula, yang dipikirkan olehnya pada saat ini adalah mencari jalan keluar untuk meringankan penderitaannya sebelum malaikat Elmaut merenggut selembar jiwanya.

Sesudah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, Ong Pek Siu pun berkata.

"Sebelum tecu melaksanakan hukuman karena melanggar pantangan dari peraturan lembah ini, terlebih dahulu tecu akan mengajukan suatu permintaan, apakah kokcu bersedia 236 untuk menyanggupi permintaan terakhir dari tecu ini?"

Kakek berjenggot panjang itu tertawa dan mengangguk.

"Memandang pada keberanianmu untuk menghadapi hukuman, tentu saja aku bersedia untuk menyanggupi keinginanmu itu Nah, katakanlah apakah keinginanmu itu ?"

Suaranya amat tenang sekali.. Ong Pek Siu tidak langsung menjawab, dalam hati kembali ia berpikir.

"Sebelum aku orang she ong menemui ajal. akan kulihat lebih dahulu sampai dimanakah kelicikanmu itu."

Berpikir sampai disini ia segera berkata.

"Semua orang didalam dunia persilatan mengetahui bahwa "cian-bin-jin"

Manusia muka seribu mempunyai kepandaian silat yang sangat tinggi dan tiada bandingannya dikolong langit, akan tetapi belum pernah ada orang yang menyaksikan raut wajah aslinya, permintaan tecu sebelum menemui ajal adalah ingin sekali menyaksikan raut wajah kokcu yang sebenarnya...

apakah kokcu bersedia memenuhi keinginan tecu ini ?"

Sekilas cahaya tajam memancar keluar dari balik mata kakek berjenggot panjang atau manusia muka seribu itu, tetapi dalam sekejap mata kilatan cahaya tajam tersebut sudah lenyap kembali dari pandangan-ia sengaja tertawa nyaring dan menjawab.

"Haa .... haa haa.... tidak sulit kalau kau ingin menyaksikan raut wajah asliku. Nah, sekarang lihatlah "

Sambil berkata segera tangannya menyeka diatas raut wajahnya, dari wajah seorang kakek berjenggot panjang dalam waktu singkat ia telah berubah jadi seorang pria setengah baya yang berwajah pucat pias bagaikan mayat.

Semua orang yang hadir di tempat itu merasakan hatinya tergetar keras sesudah menyaksikan raut wajah tersebut, jelas 237 orang-orang itu kendatipun sudah amat lama bergaul dengan orang ini akan tetapi selamanya belum pernah menyaksikan raut wajah aslinya.

Ong Pek Siu segera tertawa dan berkata.

"Terima kasih atas kesediaan kokcu untuk memenuhi harapan tecu, sehingga tecu dapat cucimata serta membuka mataku, cuma..."

"cuma kenapa?"

Tukas manusia muka seribu.

Kembali Ong Pek Siu tertawa dan berkata "cuma kokcu mempunyai julukan sebagi manusia muka seribu, karena itu tecu percaya bahwa raut wajah yang tecu sedang dihadapi sekarang bukanlah raut wajah aslimu."

Keberanian Ong Pek Siu untuk mendesak kokcunya agar memperlihatkan raut wajah aslinya ini amat mengejutkan hati setiap orang yang hadir ditempat itu, karena dihari-hari biasa siapa pun tak berani mengucapkan sepatah katapun yang bernada tidak percaya dihadapan kokcunya.

napsu membunuh dengan cepat melintas di wajah manusia muka seribu, tapi sesaat kemudian orang itu berhasil menguasai kegusarannya yang menyelimuti hatinya dan mengangguk.

"He he.... he rupanya dihari-hari biasa aku telah memandang rendah ketajaman mata ong-heng"

Ia berseru sambil tertawa dingin tiada hentinya.

"Kokcu terlalu memuji."

Seru Ong Pek Siu.

Rupanya kakek tua ini sudah menyadari bahwa jiwanya tak mungkin bisa diselamatkan lagi karena itu bantahan-bantahannya diutarakan dengan tenang dan sama sekali tidak diliputi perasaan cemas atau kuatir.

Manusia muka seribu atau Toan-hun Kokcu itu sekali lagi menyeka raut wajahnya, kemudian sambil menengadah 238 katanya.

"ong-heng, sekarang engkau tentu merasa puas bukan ?"

Dari seorang pria setengah baya yang bermuka pucat pias bagaikan mayat kini ia telah berubah jadi seorang kakek tua yang berwajah penuh keriput serta nampak kedesa-desaan.

Dalam hati kecilnya Ong Pek Siu menghela napas panjang, pikirnya.

"Aaaiii manusia hidup dikolong langit memang banyak terdapat keanehan, siapa yang akan menduga diatas wajah orang ini bisa memakai topeng kulit manusia yang sedemikian banyaknya ?"

Berpikir sampai disini ia segera gelengkan kepalanya.

"Kokcu, aku percaya wajahmu yang sekarang ini masih tetap merupakan raut wajah yang bukan sebenarnya "

Manusia muka seribu segera tertawa dingin tiada hentinya.

"He hee hee ong-heng, apakah engkau hendak menguliti seluruh raut wajahku ?"

Serunya. Dari balik sorot matanya memancar keluar serentetan napsu membunuh yang mengerikan sekali. Ong Pek Siu segera berpikir didalam hatinya.

"Rupanya kalau sekarang juga aku tidak melakukan bunuh diri, mungkin sudah tiada kesempatan lagi bagiku untuk melakukannya ?"

Berpikir sampai disini, sengaja ia tertawa dingin sambil mengejek.

"Bukankah engkau mempunyai julukan sebagai manusia muka seribu, sekalipun topeng kulit manusia yang kau kenakan tiada berjumlah seribu lembar, paling banyak sepuluh lembar, sudah lama aku melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, akan tetapi belum pernah aku mengalami peristiwa penipuan seperti ini"

Nada suaranya sangat tidak sungkan, bahkan kasar dan keras sekali kedengarannya, jelas dia ada maksud untuk menggusarkan hati manusia muka seribu itu.

Mendengar ucapan tersebut mula-mula manusia muka seribu merasa amat gusar sekali, tiba-tiba satu ingatan berkelebat lewat dalam benaknya, diam-diam ia tertawa dingin dan berpikir.

"Hmm, berada dihadapanku engkau berani memperhitungkan sie-poa mu dengan seenak hati, engkau sudah salah mencari orang."

Meskipun dalam hatinya dia telah mengetahui siasat dari Ong Pek Siu itu, namun diluaran ia tetap berlagak pilon, sambil berpura-pura gusar serunya.

"Ong Pek Siu, engkau anggap dirimu pantas untuk menyaksikan raut wajahku yang sebenarnya?"

Belum habis ia berkata tiba-tiba tangan kanannya diangkat keatas dengan kecepatan yang luar biasa sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

"Blaaam ..."

Ditengah benturan keras yang amat memekakkan telinga, Ong Pek Siu menjerit melengking karena kesakitan, tubuhnya yang tinggi besar mencelat keudara kemudian roboh terkapar diatas tanah.

Telapak kanannya tepat sekali menempel diatas ubun-ubunnya jelas dia ada maksud untuk menghajar ubun-ubun sendiri untuk melakukan bunuh diri.

Gerakan dari manusia muka seribu ini sangat menggetarkan hati semua orang yang berada diruangan tersebut, dalam hati kecil mereka timbullah perasaan bergidik yang mendirikan bulu roma ditubuh mereka, peristiwa ini menjadi contoh yang menakutkan bagi orang-orang itu.

Dengan sorot mata yang dingin menyeramkan, manusia muka seribu memandang sekejap sekeliling tempat itu, 240 kemudian sambil menyeringai seram katanya dengan suara lantang.

"Ong Pek Siu, engkau anggap pantangan serta peraturan yang sudah kususun selama ini akan hancur dan musnah karena perbuatanmu ? Huh Benar-benar manusia tolol yang tak tahu diri "

Setelah tertawa dengan bangga ia berpaling kearah dua orang mmusia berkerudung merah yang berada disisinya dan memerintahkan-"Gusur dia menuju keruang siksa, dan serahkan kepada ketua ruang siksa"

Dua orang manusia berkerudung merah itu mengiakan dan segera menggotong tubuh Ong Pek Siu dia dibawa menuju kedalam gua, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kabut putih yang amat tebal itu.

Manusia muka seribu itu menengadah dan memandang sekejap kearah Lo-toa dari Tay-san sam-gi, kemudian ujarnya.

"Oei Beng Gi menurut anggapanmu mungkinkah Gak In Ling bakal menemui ajalnya didasar jurang ?"

Pemimpin dari Tay-san sam-gi itu segera maju kedepan dan menjawab ketakutan.

"Perduli apa dia sudah mati atau masih hidup, tecu rasa sudah sepantasnya kalau kita selidiki jejaknya ."

"Hmm, perkataanmu memang tepat sekali "

Sahut manusia muka seribu sambil mengangga "akan tetapi, bagaimana kalau seandainya kita temukan bahwa dia belum mati tapi masih hidup dalam keadaan segar-bugar ? Apa yang harus kita lakukan ?"

Oei Beng oi berpikir sebentar, setelah itu jawabnya.

"Tecu rasa sudah sepantasnya kalau kita beri suatu peringatan kepadanya, agar lain kaii dia tak berani menyatroni serta menghalangi perkembangan lembah kita "

"Hm, pendapat oei-heng memang amat bagus serta mengagumkan sekali, akan tetapi dengan cara apakah kita harus memberi peringatan kepadanya sehingga ia menjadi jera dan tak berani menyatroni serta menghalangi perkembangan lembah kita ?"

Dalam hati kecilnya diam-diam oei Beng merasa amat gelisah sekali, bukannya ia tidak berhasil mendapatkan cara yang baik untuk mengatasi kesulitan tersebut, adalah karena dia tak dapat berbuat demikian-Tetapi kecuali itu dia tidak berhasil mendapatkan cara lain yang lebih baik untuk memberi jawaban kepada kokcu-nya ini serta menghalangi kekejian serta kesadisan hati manusia muka seribu.

Sementara ia masih termenung untuk mencari jalan keluar, manusia muka seribu dengan nada dingin telah berkata kembali.

"oei-heng, setelah engkau mengetahui bahwa kita harus memberi peringatan kepada Gak In Ling, tentunya engkau juga mengetahui bagaimana caranya untuk memberi peringatan kepadanya ? Nah, apa salahnya kalau engkau beritahukan cara tersebut kepadaku?"

Sambil berkata sepasang biji matanya yang dingin menyeramkan menatap terus diatas wajah Oei Beng Gi tanpa berkedip.

rupanya dari raut wajah orang itu dia berusaha untuk mencari hal-hal yang mencurigakan hatinya.

Oei Beng Gi merasakan jantungnya berdebar keras karena merasa panik bercampur gelisah, ia berusaha keras untuk menenteramkan perasaan hatinya lalu berkata.

"Menurut pendapat tecu, alangkah baiknya kalau kokcu menulis sepucuk surat dan mengutus orang untuk menyampaikan kepada Gak ln Ling, beritahu kepadanya kalau pada saat ini ibu serta encinya berada ditanganku, kalau ia berani datang menyatroni lembah kita lagi maka ibu serta 242 encinya akan kita jatuhi hukuman mati, entah bagaimanakah pendapat dari kokcu ?..."

Manusia muka seribu segera gelengkan kepalanya berulang kali.

"Bagus sih bagus, tetapi aku merasa cara itu terlalu sepele dan lagi pula terlalu membuang waktu "

Terjelos hati Oei Beng Gi mendengar perkataan itu, diam-diam dalam hati kecilnya dia berdoa.

"Oh, Thian Yang Maha Kuasa dan Maha Besar, lindungilah keselamatan jiwanya "

Meskipun pikirannya memikirkan persoalan lain, di luaran ia sama sekali tak berani berayal, buru-buru tanyanya.

"Menurut pendapat Kokcu, apa yang harus kita lakukan?"

"Bunub saja Gak In Hong dan perlihatkan mayatnya kepada Gak In Ling"

Perintah manusia muka seriba dengan ketus.

"kalau ia berani mencari gara-gara lagi dengan lembah kita maka cicinya adalah contoh yang paling bagus untuknya."

Begitu mendengar ucapan tersebut tanpa terasa dengan sekujur badan gemetar keras Oei Beng Gi mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan, perasaan tersebut merupakan reaksi dari nalurinya yang tak dapat dicegah dengan cara apapun.

Manusia muka seribu segera menatap wajahnya dengan pandangan tajam, lalu dengan nada yang menyeramkan ia menegur.

"oei-heng, apakah engkau merasakan tubuh mu kurang sehat ?"

Oei Beng Gi gelalap. buru-buru jawabnya.

"oh, tidak tidak tecu hanya takut terhadap Gak In Ling..."

"Takut dirinya ? Apa yang kau takuti terhadap dirinya?"

Tanya manusia muka seribu keheranan, nada suaranya diliputi oleh perasaan curiga yang tebal.

"Seandainya dia tahu kalau ibunya telah..."

"Sejak ia berpisah dengan ibu serta encinya, hingga sekarang masih belum diketahui bagaimanakah nasib kedua orang itu, apalagi soal mati hidupnya...... oei-heng, engkau terlalu banyak curiga "

Oei Beng Gi pura-pura menunjukkan senyuman jengahnya sambil berkata.

"Aaah, tecu benar-benar sangat bodoh, sehingga ketahuan kokcu jadi geli dan mentertawa kau diriku...."

Diluaran ia berkata demikian, dalam hati diam-diam ia berdoa.

"Saudara angkatku, maafkanlah daku karena tidak berdaya untuk melindungi keselamatan dari keponakan perempuanku, tetapi selama hayat masih dikandung badan aku tidak nanti mau melepaskan manusia-manusia laknat itu dengan begitu saja."

Dalam pada itu manusia muka seribu telah bertanya kembali.

"oei-heng, bagaimanakah pendapatmu mengenai rencanaku ini ?"

"Rencana ini memang bagus dan tegas sekali, tecu bersedia untuk melakukan perjalanan berangkat kesitu "

Setelah ucapan ini diutarakan keluar, rasa curiga manusia muka seribu tarhadap dirinya sama sekali lenyap tak berbekas, ia menggeleng sambil berkata.

"Kecerdasan oei-heng luar biasa sekali dan engkaupun banyak mempunyai akal, dalam lembah ini tak dapat kekurangan seorang manusia semacam dirimu, pekerjaan yang melelahkan serta harus menggunakan banyak tenaga semacam ini biarlah dilakukan oleh orang lain saja "

"Terima kasih atas perhatian serta kasih-sayang dari kokcu, kalau memang begitu serahkan saja tugas yang sangat berat ini kepada tecu, akan segera tecu laksanakan sebentar lagi"

Manusia muka seribu segera menepuk bahu Oei Beng Gi dan berkata.

"Bagaimanapun juga antara engkau dengan dirinya masih terikat oleh hubungan antara empek dan keponakan, jika engkau yang turun tangan rasanya kurang begitu tepat, biarlah tugas ini dilaksanakan olah orang lain saja Aku masih ada persoalan penting lainnya yang hendak mengajak dirimu untuk berunding, tunggulah aku dalam ruang dalam, setelah urusan disini dapat di selesaikan aku akan segera menyusul dirimu "

Selesai berkata ia segera mendorong tubuh Oei Beng Gi kearah depan-Buru-buru kakek tua baju kuning itu memberi hormat sambil berkata.

"Kokcu, terima kasih atas perhatian serta kasih sayangmu"

Habis berkata ia putar badan dan berjalan menuju kearah dalam gua.

Tatkala ia putar badan itulah dua titik air-mata tak dapat dibendung lagi mengucur keluar membasahi kelopak matanya, bibirnya gemetar keras dan perlahan-lahan darah kental mengalir keluar menodai muka dan tubuhnya.

Kabut putih yang amat tebal menyelimuti daerah disekeliling tempat itu, meskipun pandangan matanya tak dapat menembusi pemandangan sejauh lima tombak.

akan tetapi dibalik kabut putih yang tebal itu seakan-akan dia menyaksikan adik angkatnya sedang berdiri dihadapannya sambil memandang kearahnya dengan pandangan kegusaran, seakan-akan ia mendengar adik angkatnya sedang berkata dengan nada dingin.

"Apakah engkau telah melupakan hubungan persaudaraan diantara kita ? Apakah kau lupa bahwa kita adalah saudara angkat ?"

Oei Beng Gi menggosok sepasang matanya keras-keras, ia merasa apa yang terlihat dihadapannya hanyalah kabut putih yang amat tebal, sama sekali tidak nampak sesuatu apapun, dengan perasaan hati yang amat tertekan ia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak-tidak akan kulupakan-... selamanya tidak akan kulupakan akan ikatan tali persaudaraan yang pernah terjalin diantara kita."

Gumamnya seorang diri. Setelah menyeka darah kental yang menodai ujung bibirnya, ia bergumam lebih jauh.

"Dendam kita dalamnya melebihi samudra luas, rasa benci kita menumpuk bagaikan sebuah bukit, sam-te Aku harap sukmamu dialam baka suka mengampuni ji-te, dia telah mendapatkan pembalasan yang setimpal sesuai dengan apa yang pernah dilakukannya selama ini, memandang diatas tali persaudaraan yang pernah terjalin diantara kita, maafkanlan dirinya dan ampunilah semua kesalahannya."

Kabut tebal berwarna putih masih menyelimuti seluruh tempat.

Tetapi diatas puncak tebing yang tinggi keadaan jauh lebih tenang dan kabut yang menyelimuti sekeliling tempat itupunjauh lebih tipis.

Disaat manusia muka seribu telah memberikan perintahnya kepada Oei Beng Gi jalaan masuk ke dalam gua itu, dari balik lubang gua yang lain menyelinap keluar sesosok tubuh gadis lain yang dengan cepatnya bergerak menuju keruang penjara dimana Gak In Hong disekap.

---ooo0dw0ooo---Dalam pada itu sejak Gak In Ling mengetahui bahwasanya ibu serta encinya dikurung di dalam gua batu itu, hatinya jadi merasa amat kecewa dan putus asa, tapi dendam yang 246 semula membakar, didalam hati kecilayapun seketika padam dan lenyap tak berbekas.

Terbayang kembali didalam benaknya pemandangan padadua belas tahun yang lampau, di mana ayahnya meninggal pada usia muda, ibunya hidup sebatang kara dalam keadaan yang sangat menderita, suasana pada saat itu benar-benar menyedihkan sekali.

Setiap kali pemandangan tersebut terbayang kembali dalam benaknya ia merasa hatinya jadi sedih sekali, karena itulah setelah mendengar kabar berita yang membuat hati jadi sakit bagaikan disayat, ia jadi amat gelisah sekali dan ingin cepat terbang kesisi ibunya dan mati hidup bersama-sama dirinya..

Karena terpengaruh oleh perasaan dan emosinya itulah membuat sianak muda itu jadi lupa kalau pada saat itu ia sedang berada dalam suatu tempat yang sangat berbahaya, dia lupa kalau ada orang sedang mengincar selembar jiwanya setiap saat.

(Mengenai kisah Gak In Ling secara bagaimana berpisah dengan ibunya dan kenapa selama dua belas tahun lamanya berdiam dibenteng oh-liang-poo yang berada digunung Taysan, akan di kisahkan pada bagian lain-) Begitulah Gak In Ling segera menjejakkan kakinya dengan sepenuh tenaga, menurut perkiraannya loncatan tersebut pasti akan berhasil melampaui jarak sejauh lima tombak lebih lima depa, tak mungkin enjotan badannya akan melampaui jarak sejauh enam tombak yang dikatakan merupakan tempat berbahaya ataupun kurang dari lima tombak.

Tetapi apa yang kemudian terjadi ternyata sama sekali berada diluar dugaannya, pada saat tubuhnya sudah melayang diudara itulah ia tidak berhasil melihat daratan dihadapannya, sementara badannya sedang melayang, diatas udara yang kosong yang dibawahnya merupakan sebuah jurang yang tidak nampak dasarnya.

Tercekat hati Gak In Ling menyaksikan keadaan tersebut, buru-buru ia tarik napas panjang panjang, kaki kanannya dengan cepat menjejak di atas kaki kirinya dan melambungkan kembali tubuhnya yang sedang meluncur kearah bawah itu sejauh lima depa lebih, ia berusaha untuk meluncur maju lebih kearah depan lagi dengan harapan berhasil menemukan tepi daratan-Menurut jalan pemikirannya padasaat itu, sekalipun kesalahan terletak pada dirinya karena salah mengincar tempat dan jarak yang dilampaui baru mencapai empat tombak.

Sekarang setelah meluncur satu tombak lebih kearah depan bukan kah berarti jaraknya telah melampaui lima tombak ?

Perasaan hati Gak In Ling mulai diliputi ketegangan, otak yang semula penuh diliputi oleh pelbagai pikiran, seka rang jauh lebih jernih dan terang.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling pikirnya.

"Mungkinkah permukaan kedua belah tebing tidak sama tingginya ?Jika benar demikian keadaannya mungkin aku telah melompat terlalu tinggi sehingga tak dapat menyaksikan pemandangan dibagian bawah, apa salahnya kalau tubuhku meluncur turun kebawah beberapa tombak lagi ?"

Berpikir sampai disitu, gerakan tubuhnya yang sedang meluncur kearah depan segera tertahan dan tubuhnya mulai meluncur turun kebawah.

Satu tombak....

dua tombak tiga tombak...

enam tombak....

yang terlihat dibawah tubuhnya hanyalah kabut pUtih yang tebal, sementara gerakan tubuhnya yang meluncur kebawah kian lama kian^bertambah cepat.

Mendadak satu ingatan yang menakutkan terlintas dalam benak Gak In Ling, tetapi sayang kejernihan otaknya itu didapatkan pada saat yang sudah terlambat, dengan perasaan 248 putus asa Gak In Ling segera menghela napas panjang, gumamnya.

"Habislah sudah riwayatku, rupanya aku telah tertipu oleh Ong Pek Siu manusia laknat berhati binatang itu. Nampaknya dendam berdarah dari keluarga Gak untuk selamanya akan ikut terkubur bersama hancurnya tubuhku dimakan oleh batu cadas."

Teringat bahwa dendam sakit hatinya untuk selamanya tak mungkin dapat dibalas kembali, Gak Ih Ling merasa kecewa dan putus asa sekali hawa murni dalam tubuhnya segera buyar dan tubuhnya yang meluncur kebawahpun bergerak semakin cepat lagi.

Pusaran angin akibat tekanan tenaga yang sangat besar itu menggulung ujung baju Gak In Ling yang berwarna hitam dan mengibarkan nya sehingga menimbulkan suara yang amat nyaring.

Begitu nyaring suara itu membuat suasana ditengah keheningan yang mencekam diseluruh jagad terasa jauh lebih menyeramkan-Benak Gak In Ling pada saat ini kosong melompong tiada pikiran yang lain, pada detik-detik yang amat singkat itu dia merasa seakan-akan telah melepaskan banyak beban yang berada diatas bahunya.

Ia merasa seakan-akan bebas merdeka dan tidak memikirkan persoalan apapun-Dendam berdarah, sakit hati serta semua perasaan hatinya seakan-akan ikut lenyap bersama makin cepatnya sang badan meluncur kebawah, kemudian lenyap tak berbekas mengikuti hancurnya mencium permukaan tanah.

Pada ujung bibir Gak In ling tersungging satu senyuman yang hambar, begitu memilukan hati senyumannya itu seakan-akan ia sedang mentertawakan diri sendiri, membuat orang jadi tak paham dengan perasaan hatinya pada waktu itu.

Bulu matanya yang panjang telah menutupi sepasang biji matanya yang jeli dan bening, titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Ia sama sekali tidak takut mati, tetapi ia menjumpai kesulitan yang memaksa ia tak boleh mati, akan tetapi pada saat dan keadaan seperti ini ia tak dapat menuruti kehendak hatinya, hanya Malaikat Elmautlah yang akan menentukan segala-galanya.

Tiba-tiba ia mendengar suara air berkumandang datang dari arah sebelah bawah, si anak muda itujadi kegirangan setengah mati, harapan untuk melanjutkan hidupnya segera muncul kembali dalam hati kecilnya.

Belum lama suara air itu berkumandang masuk kedalam telinganya, dan sebelum Gak In Ling sempat memikirkan cara untuk menanggulangi keadaan itu....

pluuuung Tubuhnya sudah tercebur kedalam air.

Berhubung daya luncurnya teramat besar, maka sesudah tercebur kedalam air badannya segera tenggelam kedasar sungai.

Pada masa kecilnya Gak In Ling seringkali bermain air.

Karena itu terhadap air ia sudah merasa tak asing lagi, menurut penilaiannya paling sedikit pada saat itu ia telah berada pada kedalaman empat lima tombak dari atas permukaan-Perasaan pertama yang terasa olehnya air sungai yang dingin sekali hingga merasuk ketulang sumsum, kemudian adalah arus air sungai yang besar sehingga membuat tubuhnya tidak mampu untuk menguasai diri dan terseret oleh arus.

Untung tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling sempurna sekali, meskipun air sungai dingin sekali namun ia sama sekali tidak kedinginan ataupun menderita.

Ketika Gak In Ling munculkan diri diatas permukaaan untuk pertama kalinya, ia saksikan kabut putih tebal yang menyelimuti disana telah lenyap tak berbekas, sang surya memancarkan sinarnya dengan terang dari balik tebing curam, pada saat itu matahari telah menjelang tiba.

Gak In Ling berusaha keras untuk berenang diatas permukaan air, dengan pandangan tajam ia memandang sekeliling tempat itu, yang terlihat hanyalah tebing-tebing yang curam dan tinggi menjulang ke angkasa, begitu licin dan tegaknya tebing dikedua belah sisi sungai tadi membuat tak mampu untuk mendarat dan menuju ketepian.

Menyaksikan kesemuanya itu, Gak In Ling segera berpikir didalam hati kecilnya.

"Sungai yang mengalir ini dari gunung biasanya akan berakhir disamudra, tempat ini merupakan tebing-tebing curam yang jauh terpencil dari keramaian, sekalipun aku naik keatas paling sedikit harus melakukan perjalanan jauh sebelum mencapai tempat yang dihuni manusia, apa salahnya kalau kuikuti saja arus sungai yang amat deras ini untuk bergerak kedepan."

Setelah mengambil keputusan, maka iapun memutarkan badannya terseret oleh arus sungai yang amat deras itu dan bergerak mengikuti aliran sungai tersebut.

Sang surya telah lenyap dari angkasa dan malampun menjelang tiba, sekeliling sungai itu masih merupakan tebing-tebing yang curam dan tegak-lurus, terpaksa sianak muda itu membiarkan badannya terseret oleh arus dan bergerak kedepan ditengah kegelapan seorang diri.

Entah berapa lama sudah lewat, ketika fajar telah menyingsing kembali diufuk sebelah timur, akhirnya Gak In Ling berhasil juga keluar dari mulut selat yang bertebing curam disekelilingnya itu, sekarang ia telah tiba disuatu daratan rendah yang bertanah datar.

Dengan cepat Gak in ling berenang menuju ketepian dan berhasil mendarat diatas sebuah batu cadas yang besar.

Dengan susah payah Gak In Ling merangkak naik kedaratan, ia merasakan keempat anggota badannya kaku dan linu, perutnya lapar dan dahaga sekali, ia tarik napas panjang-panjang, napsu membunuh memancar keluar dari balik matanya, lalu gumamnya seorang diri.

"Kalian tidak berhasil membinasakan aku Gak In Ling, mulai saat ini mungkin dunia persilatan tak akan mendapatkan suatu hari yang tenang lagi... aku mengobrak-abrik mereka sehingga semua jahanam itu musnah dari muka bumi."

Habis berkata dengan sempoyongan ia berjalan dan meninggalkan tempat itu. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang yang amat merdu sedang berkata.

"Kenapa sih kalian selalu mengurusi diriku, sehingga membuat orang tak dapat melakukan pekerjaan apapun juga, tempat ini tokh sepi dan terpencil sekali letaknya, mana mungkin ada orang mengintip diriku ? Apa salahnya kalau aku akan mandi didalam sungai ini...ah h, perduli amat pokoknya aku akan mandi disini"

Mendengar ucapan tersebut, tanpa terasa Gak In Ling berpikir didalam hatinya.

"Merdu sekali suara orang ini, wajahnya pasti cantik-jelita bagaikan bidadari dari kahyangan-"

Sementara pemuda itu masih berpikir, suara lain yang berat dan kasar telah berkumandang pula memecahkan kesunyian-"Leng-cu, engkau adalah seorang yang sangat terhormat sekali, mana boleh tingkah lakumu sebebas dan sesuka hati seperti itu, kalau mau mandi mari kita naik burung hong dan tak lama akan tiba digunung Tiang-pek-san, bukankah jauh lebih enak mandi ditelaga nirwana daripada mandi di-sungai yang kotor itu ?"

Terkejut hati Gak In Ling mendengar perkataan orang ini, pikirnya didalam hati.

"jangan-jangan orang itu adalah Yau-ti Gick li gadis suci dari nirwana yang amat tersohor namanya diseluruh dunia persilatan itu ?"

"Su-put-siang (empat tidak mirip) "

Omel suara yang amat merdu tadi lagi dengan nada keras.

"kenapa sih engkau suka mengurusi orang lain? Ini hari, tak perduli apapun yang terjadi dan sekalipun aku takkan menjadi leng-cu lagi, aku tetap akan mandi disungai itu."

Nada suaranya polos dan bersifat kekanak-kanakan, membuat siapapun tak akan percaya kalau dia adalah gadis suci dari nirwana yang nama benarnya telah menggemparkan seluruh dunia persilatan.

orang yang bernama "Empat tidak mirip"

Itu agaknya takut sekali kalau melihat Leng-cu-mereka marah, buru-buru ia berseru.

"Baik, baik biarlah pinni periksa dulu apakah disekeliling tempat ini ada orang atau tidak-setelah itu engkau baru mandi "

"Harus cepat"

Seru Leng-cu itu. Mendengar pembicaraan tersebut sampai di situ, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling, pikirnya.

"Kalau aku tidak munculkan diri pada saat ini juga, seandainya sampai ketahuan mereka nanti, walaupun ada alasan aku bakal terbungkam dan tak mampu untuk membantah barang sekejappun."

Sebenarnya sianak muda itu tiada bermaksud untuk bertemu dengan Leng-cu itu, tetapi sebagai seorang pria sejati yang jujur, ia merasa bagaimanapun juga pada saat ini dia harus munculkan diri.

Maka Gak In Ling pun mendehem dan berjalan keluar dari balik batu cadas itu, baru saja beberapa langkah ia berjalan mendadak pandangan matanya jadi kabur dan tahu-tahu urat nadi pad apergelangan kirinya sudah dicekal orang kencang-kencang.

Dengan kepandaian silat yang dimiliki Gak In Ling, ternyata ia tak mampu untuk melihat jelas pria atau wanitakah orang yang mencekal urat nadinya itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwasanya tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar-benar luar biasa sekali.

"Keparat cilik, sudah berapa lama engkau menyembunyikan diri ditempat itu ?"

Bentak seseorang dengan suara yang dingin menyeramkan-Air muka Gak In Ling berubah hebat, ia segera alihkan sorot matanya memandang kearah orang yang mencekal urat nadi pada pergelangan tangannya itu, tampaklah orang itu berusia lima puluh tahunan, alisnya tebal dengan mata yang jeli, rambutnya digulung menjadi satu dengan sebuah jubah pendeta melekat ditubuhnya, tasbeh dipegang dalam genggaman dan sulit bagi orang untuk membedakan apakah dia seorang pria ataukah wanita, seorang hwesio ataukah nikou.

Gak In Ling tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan orang lain, mendapat pertanyaan itu ia segera menjawab dengan suara tawar.

"Aku baru saja berenang disungai dan naik kedaratan."

"Hei apakah engkau datang kemari untuk mandi ?"

Tiba-tiba terdengar serentetan suara yang amat merdu berkumandang datang.

"Dingin kah air sungai itu ?"

Tanpa sadar Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara tadi, begitu melihat orang tersebut ia nak muda itu segera berdiri tertegun, pikirnya didalam hati dengan perasaan tercengang.

"Sungguh tak kusangka dikolong langit ternyata terdapat seorang gadis yang berwajah begini cantiknya."

Ternyata orang yang barusan berbicara tepat berdiri kurang lebih dua tombak dihadapan pemuda she Gak itu, dia adalah seorang gadis cantik baju putih yang berusia dua puluh tahunan, tubuhnya ramping dengan rambut hitam yang terurai panjang, panca indranya amat sempurna bagaikan lukisan, benar-benar gadis yang amat cantik bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan-Ketika gadis itu menyaksikan Gak In Ling menatap kearahnya tanpa berkedip tanpa menjawab pertanyaannya, dengan nada cemberut kembali serunya.

"Hei, kenapa sih kau ini, Ayo jawab "

Meskipun suaranya merdu merayu dan sedap didengar, namun setara lapat-lapat terselip nada memerintah yang sukar untuk dibantah. Buru-buru Gak In Ling tarik kembali sorot matanya dan menjawab.

"Aku bukan datang kemari untuk mandi "

"Lalu ada urusan apa engkau datang kemari ?"

"Kemarin tengah hari aku terjatuh kedalan sungai dan tubuhku terbawa arus hingga tiba di sini"

Mendengar jawaban tersebut, dari balik mata sang gadis yang jeli tiba-tiba memancar keluar cahaya yang sangat tajam.

"Kemarin siang ?"

Serunya cepat "Jadi engkau baru saja datang dari lembah pemutus sukma ?"

"Dari mana dia bisa tahu ?"

Pikir Gak In Ling dengan perasaan amat terperanjat. Rupanya gadis cantik itu dapat meraba apa yang sedang dipikirkan oleh sianak muda itu, segera ujarnya kembali.

"Dari sana datang kemari, kebetulan sekali membutuhkan waktu selama satu hari satu malam lamanya."

Diam-diam Gak In Ling merasa amat kagum sekali atas kecerdikan gadis cantik itu, dia mengangguk dan menjawab.

"Dugaan Leng-cu memang tepat dan sedikit pun tidak salah, rasanya akupun tak usah banyak bicara lagi "

Perlahan-lahan gadis cantik berbaju putih itu maju kedepan, dengan pandangan tajam ditatap nya wajah Gak In Ling, tiba-tiba nada suaranya berubah jadi dingin dan kaku, ia berkata.

"Engkau memakai baju warna hitam, pernah menelan pil penghancur hati cui-sim wan, seandainya dugaanku tidak salah, semestinya engkau adalah Gak In Ling yang sudah membuat dunia persilatan jadi tak aman, bukankah begitu ?"

Sekali lagi Gak In ling mengangguk.

"Setelah Leng-cu mengetahui bahwa aku orang she Gak pernah menelan obat cui sim-wan, tentunya engkau juga mengetahui bukan ? Masih berapa lama aku dapat hidup dikolong langit ?"

"Tidak akan melampaui waktu selama setengah tahun "

Jawab gadis cantik baju putih itu sambil tertawa tawa. Gak In Ling tertawa dan mengangguk.

"Leng-cu hebat dan cerdas sekali, persoalan apapun engkau ketahui dengan begitu jelas, seandainya dugaanku tidak keliru, maka engkau tentulah gadis suci dari Nirwana yang dihormati oleh setiap umat persilatan bagaikan bidadari itu, bukankah demikian?"

"Kalau benar ada apa ?"

"Selamanya gadis suci dari Nirwana menyelesaikan semua persoalan secara adil dan bijaksana, semua umat persilatan pada mengetahui akan kebesaran jiwamu itu, andaikata berita tersebut tidak salah maka aku berharap agar Leng-cu suka 256 melepaskan aku pergi sehingga aku mempunyai kesempatan lagi untuk melakukan penyelidikan di dalam lembah pemutus sukma tersebut."

Tatkala mengetahui bahwa Gak In Ling hendak melakukan penyelidikan kembali ke lembah pemutus sukma, tiba-tiba perasaan hati gadis suci dari Nirwana itu menjadi berat, ditatapnya wajah sianak muda itu tajam-tajam kemudian dengan suara hambar ujarnya.

"Aku dengar orang berkata bahwa engkau adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, kenapa kali ini engkau malah mengajukan permohonan kepadaku?"

Meskipun beberapa kata itu diucapkan dengan begitu ringan dan biasa akan tetapi bagi pendengaran Gak In Ling terasa tajam sekali hingga menyayat hati kecilnya, perkataan itu dianggap sebagai suatu sindiran yang sangat tajam bagi dirinya.

Ia segera tertawa sinis dan menjawab.

"Ilmu silatku tidak mampu untuk menandingi anak buah Leng-cu, karena itu mau tak mau terpaksa aku harus berbuat demikian-"

"Hm Apakah engkau tidak merasa perbuatanmu itu memalukan sekali."

Perlahan-lahan Gak In Ling mengangkat kepalanya memandang mega putih yang sedang bergerak diangkasa, lalu tertawa tawa.

"Aku tidak lebih hanya seorang manusia yang terbuang dari dunia persilatan, apa yang mesti kupikirkan lagi ? Kenapa aku harus menjaga nama baik atau martabat ?"

Sekalipun jawaban itu diutarakan sambil diiringi senyuman, akan tetapi tak dapat menutupi kemurungan serta kepedihan yang terpancar dibalik wajahnya yang tampan-Meskipun gadis suci dari Nirwana setiap hari sibuk menyelesaikan pelbagai urusan dan persengketaan dalam 257 dunia persilatan, tetapi disekelilingnya selalu diiringi pembantu-pembantunya yang amat setia terhadap dirinya dan selalu memenuhi segala kebutuhannya dengan seksama, lagi pula sedari kecil ia dibesarkan dalam lingkungan yang serba agung dan mulia, karena itu, bagi dirinya sama sekali tak mengenal apa arti kesedihan serta kemurungan bagi seorang manusia, apa yang dialami selama ini boleh dibilang sama sekali bertolak belakang dengan kehidupan manusia pada umumnya.

Sambil membelalakkan sepasang matanya bulat-bulat, lama sekali ia menatap wajah Gak In Ling dengan sikap tertegun, tiba-tiba serunya dengan merdu.

"Seandainya aku tidak bersedia untuk melepaskan dirimu ? Apa yang hendak kau lakukan?"

Serentetan cahaya tajam memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, tetapi tidak lama kemudian telah lenyap tak berbekas, dan dangan hambar ia menyapu sekejap wajah suci dari Nirwana, kemudian sambil tertawa jawabnya.

"Antara aku dan Leng-cu tokh tak pernah terikat oleh dendam ataupun sakit hati, kenapa Leng cu tidak bersedia untuk melepaskan diriku?"

Manusia aneh yang selama ini mencekal urat nadi pada pergelangan tangan sianak muda itu, tiba-tiba mendengus gusar dan berteriak.

"Hm Engkau berani bersikap kasar terhadap Leng-cu kami ?"

Sambil membentak hawa murninya disalurkan semakin deras sehingga cekalan pada pergelangan tangan sianak muda itupun bertambah kencang lagi.

Gak In Ling seketika itu juga merasakan pergelangan tangan kirinya jadi sakit bagaikan di iris-iris, tetapi dengan wataknya yang ketus dan angkuh sekalipun merasa kesakitan namun dahinya sama sekali tak berkedip.

Ditatapnya wajah musuh itu dengan pandangan dingin, lalu ujarnya dengan nada mengejek.

"Kehebatan ilmu silatmu benar-benar sangat mengagumkan hatiku, engkau memang betul-betul jempolan."

Sementara pembicaraan berlangsung, keringat sebesar kacang kedelai perlahan-lahan menetes keluar membasahi jidatnya.

Menyaksikan kesemuanya itu satu ingatan tiba-tiba berkelebat dalam benak gadis suci dari Nirwana, tanpa sadar ia berseru.

"su Put Siang, lepaskan dirinya " ---ooo0dw0ooo---

Jilid 8

"LENG-CU, orang ini "

Su Put Siang si empat tidak mirip berdiri melongo dengan perasaan cak habis mengerti, ia tidak paham apa sebabnya sang Leng-cu memerintahkan dirinya untuk melepaskan orang itu.

"Lepaskan dirinya "

Kembali gadis suci dari Nirwana mengulangi kembali kata-katanya.

Terpaksa Empat tidak mirip melepaskan cekalannya, dengan pandangan termangu-mangu ditatapnya wajah gadis itu tanpa berkedip.

sementara matanya terbelalak dan mulutnya melongo, seakan-akan ia sedang menjumpai suatu kejadian yang sangat aneh.

Setelah terlepas dari cekalan lawannya, Gak In Ling segera melemaskan otot-otot lengannya, kemudian dengan suara dingin ia menegur.

"Leng-cu, apakah engkau tidak menyesal ?"

"Hee hee hee....Gak In Ling,"

Seru gadis suci dari Nirwana sambil tertawa dingin.

"Apakah engkau mengira dengan mengandalkan serangkaian permainan telapak mautmu yang 259 tidak komplit itu maka dikolong langit lantas tiada tandingan lagi ?"

Ditengah keketusan nada suara itu terselip pula nada menghina dan pandang rendah lawannya.

Gak In Ling sama sekali tidak gusar, mungkin hal ini disebabkan karena masih ada urusan yang lebih penting lagi yang harus diselesaikan olehnya dengan cepat, membuat ia tak mau menggubris semua penghinaan pada saat ini.

"Tidak "jawabnya tawa.

"Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan seperti itu, dan lagi akupun tahu bahwa kepandaian silatku masih jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan Lengcu"

Selesai berkata ia siap berlalu dari sana.

"Engkau hendak pergi kemana ?"

Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana menegur.

"Lembah pemutus sukma "

"He hee...engkau anggap dengan mengandalkan kepandaian silatmu itu, seluruh lembah tersebut dapat kau ratakan dengan tanah ?"

Ejek gadis suci dari Nirwana sambil tertawa dingin-"Mungkin."

Jawab Gak In Ling, dengan sedih ia memandang sekejap keujung langit.

"atau mungkin juga disanalah merupakan tempat peristirahatanku yang terakhir "

Tanpa berpaling ia segera berlalu dari situ. Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana merasakan hatinya bergetar keras, dengan cepat ia menghadang jalan pergi sianak muda itu.

"Seandainya aku tidak mengijinkan dirimu untuk tinggalkan lembah ini ?"

Serunya.

"Aku rasa Leng-cu bukanlah seorang manusia yang plint-plant serta menjilat ludah yang telah dilontarkan sendiri bukan ?"

"Siapa tahu kalau kali ini merupakan pengecualian ?"

Hawa amarah dengan cepat berkobar menyelimuti seluruh wajahnya, setelah harus bersabar dan bersabar terus lama kelamaan Gak In Ling tak kuat juga untuk menahan dirinya, ia segera mengambil keputusan untuk mengadu jiwa dengan lawannya.

Ditatapnya gadis itu dengan marah, lalu tegurnya ketus.

"Boleh saja kalau engkau hendak menahan diriku, tapi engkaupun harus memperlihatkan dahulu sampai dimanakah kepandaian silat yang kau miliki ? Mampukah engkau untuk membinasakan diriku disini ?"

"Huh Apa sulitnya untuk membinasakan dirimu?"

Teriak Su Put Siang dengan kasar.

"Keparat cilik, bersiap-siaplah untuk menghadapi seranganku "

Sambil berkata ia bersiap sedia untuk melancarkan serangan-Pada saat itulah tiba-tiba berkumandang datang dua buah bentakan yang amat keras.

"Tunggu sebentar "

Suara ini berasal dari gadis suci dari Nirwana.

"Gak In Ling"

Bentakan kedua bernada berat dan berasal dari sisi kanan lembah tersebut.

Mendengar bentakan itu Gak In Ling berpaling kearah mana berasalnya suara itu, kemudian berseru tertahan dan tubuhnya secara beruntun mundur tiga-empat langkah kebelakang dengan sempoyongan-"Aaaah "

Kiranya dari balik batu cadas yang berserakan disamping kanan lembah itu muncullah empat orang manusia berkerudung merah, tanpa dipikir lebih jauh lagi dapat diketahui bahwa mereka berasal dari lembah pemutus sukma.

Gak In Ling kaget bukan lantaran jeri terhadap mereka, melainkan mayat gadis yang berada dalam bopongan salah seorang manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan yang membuat dirinya tercekat.

"Gak In Ling "

Terdengar orang itu berseru "Terimalah kembali tubuh cicimu "

Air muka Gak In Ling berubah hebat, sepasang matanya yang tajam berubah jadi merah membara, napsu membunuh-perlahan-lahan menyelimuti seluruh wajahnya.

Dendam sedalam lautan, benci setinggi bukit, bagaikan tanggul sungai Huanghoo yang jebol dengan cepatnya menerjang dan menghantam hati sanubarinya, membuat pemuda itu hanya teringat akan bunuh...

akan darah.....

Sepasang matanya yang memancarkan cahaya seram dan menggidihkan hati itu meratap tajam wajah keempat orang itu, selangkah demi selangkah didekatinya musuh-musuh yang berkerudung merah itu dengan garang, keadaannya pada saat itu tak ubahnya bagaikan binatang liar yang siap menerkam serta mencabik-cabik tubuh korbannya.

Dari balik pandangan mata Gak In Ling yang kaku terselip cahaya yang menggidikkan, dengan termangu-mangu ia menatap wajah ke empat orang manusia berkerudung merah yang sedang mendekati kearahnya itu, ditinjau dari keadaan bisa ditarik kesimpulan bahwa perasaan hatinya pada saat itu sedang kalut sekali.

Dalam kenyataan memang demikian keadaannya, sebab dari dandanan serta potongan badan orang-orang itu, ia sudah tahu kalau mereka berasal dari lembah pemutus sukma, ditempat itulah ibu serta encinya disekap.

Gadis suci dari Nirwana dengan cepat melemparkan sebuah kerlingan mata kearah Su-put-siang kemudian secara diam-diam mengundurkan diri kearah samping, gadis yang memiliki kecerdasan luar biasa ini telah menduga bakal terjadinya suatu peristiwa yang luar biasa ditempat itu.

Tampaklah sepasang bijimatanya yang jeli memancarkan sinar mata yang sukar diartikan menatap tajam wajah Gak In Ling, la tidak memperlihatkan sikap prihatinnya karena bakal 262 terjadi bencana, pun tidak menunjukkan gembira karena akan berlangsungnya suatu kejadian besar ditempat itu.

Dalam sekejap mata keempat orang manusia berkerudung merah itu sudah berada kurang lebih lima depa dihadapan Gak In Ling, empat orang, delapan buah sorot mata yang menggidikkan bersama-sama ditujukan keatas wajah Gak In Ling, seakan-akan mereka hendak mencari suatu gejala yang aneh diantara wajahnya yang tampan dan kaku itu.

Gak In Ling sendiri sama sekali tidak merasakan sesuatu atas tingkah laku dari lawannya, karena pada saat itu seluruh perhatiannya sedang ditujukan kearah mayat gadis muda yang berada dalam bopongan manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan itu.

Tampaklah raut wajah gadis itu ditutup oleh secarik kain berwarna hijau, tangan kirinya menekan diatas bibirnya dan noda darah yang telah membeku menutupi celah-celah jari diatas tangannya, rambut yang hitam terurai dalam keadaan yang kalut, keadaannya nampak mengerikan sekali.

Empat manusia berkerudung merah itu menghentikan tubuh mereka kurang lebih tiga depa di hadapan Gak In Ling, sikap mereka sedikitpun tidak memperlihatkan rasa gentar ataupun takut, jelas mereka sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap sianak muda itu.

Su-put-siang yang menyaksikan hal itu segera mendengus dingin, tentu saja perbuatannya ini bukan disebabkan karena ia gusar terhadap sikap orang-orang itu terhadap Gak In Ling, sebaliknya ia mendongkol sekali karena keempat orang manusia berkerudung merah itu sama sekali tidak menggubris Leng-cu-nya.

Mendengar dengusan tersebut, keempat orang manusia berkerudung merah itu bersama-sama alihkan sinar matanya, dengan cepat mereka berdiri tertegun dan ingatan yang sama terlintas dalam benak mereka.

"Aaah sungguh cantik jelita wajah gadis ini, mungkinkah dia adalah bidadari yang baru turun dari kahyangan ?"

Gemar akan segala yang indah adalah watak setiap manusia pada umumnya, sorot mata mereka berempat dengan cepat terhisap oleh kecantikan wajah dara baju putih itu, dan tanpa sadar hampir bersamaan waktunya mereka menegur secara berbareng.

"Siapakah engkau ?"

Gadis suci dari Nirwana mendengus dingin, ia mencibirkan bibirnya yang kecil mungil dan menjawab.

"Kalian tak usah menduga siapakah aku, lebih baik cepat-copatlah menyelesaikan pekerjaan kalian, sebab bila kalian sudah tahu siapa aku, mungkin pekerjaan kalian akan terbengkalai sebab kalian akan segera kehilangan daya kekuatan untuk melaksanakan tugas tersebut"

Walaupun nada suaranya merdu dan enak didengar, tetapi mendatangkan suatu perasaan yang aneh sekali bagi yang mendengar.

Keempat orang manusia berkerudung merah itu adalah jago-jago yang diandaikan oleh pihak lembah pemutus sukma untuk melaksanakan tugas baik kepandaian silat yang mereka miliki maupun pengalaman dalam dunia persilatan boleh dibilang termasuk jagoan kelas satu dikolong langit, akan tetapi setelah mendengar perkataan itu, seolah-olah terpengaruh oleh sesuatu kekuatan yang tak terwujud ternyata tak seorangpun yang berani membantah.

Buru-buru mereka alihkan kembali sorot matanya kearah wajah Gak In Ling, kemudian terdengarlah suara orang yang membopong mayat gadis itu berseru sambil tertawa dingin.

"Gak In Ling, tahukah engkau kami datang kemari untuk mencari siapa ?"

Sepasang mata Gak In Ling masih menatap diatas tubuh mayat gadis itu tanpa berkedip. jawabnya dengan kaku.

"Semoga saja engkau bukan datang kemari untuk mencari diriku "

Orang yang berada disebelah kiri dengan suaranya yang serak segera tertawa mengejek, serunya sinis.

"Hee hee hee apakah engkau sudah menyadari bahwa kepandaian silatmu masih bukan tandingan kami ?"

Mendengar ejekan tersebut, dengan cepat Gak In Ling menengadah keatas, dari balik sepasang matanya tiba-tiba memancar keluar sinar mata yang mengerikan seka perlahan-lahan ia sapu wajah keempat orang manusia berkerudung merah.

Tatkala sorot mata mereka saling beradu satu sama lainnya, tanpa sadar keempat orang manusia berkerudung merah itu bersama-sama mundur dua langkah kebelakang.

"Huh Dengan andaikan kekuatan kalian ?"

Seru Gak In Ling dengan nada seram.

"Sepuluh orang seperti kalianpun masih bukan tandinganku."

Empat orang dayang cantik baju putih yang berada dibelakang gadis suci dari Nirwana tanpa terasa bersama-sama alihkan sinar matanya kearah Leng-cu mereka sesudah mendengar ucapan sang pemuda yang amat sombong itu, rupanya mereka hendak melihat reaksi dari Leng-cu mereka untuk membuktikan ucapan pemuda itu.

Su-put-siang adalah seorang manusia yang amat berangasan, ia segera mendengus dingin dan bergumam.

"Hmm bocah ingusan yang tidak tahu diri..."

Sebaliknya gadis suci dari Nirwana memperlihatkan serentetan cahaya mata yang sangat aneh katanya dengan suara mendalam.

"Dia bukanlah seorang manusia yang tekebur, kemungkinan besar apa yang diucapkan olehnya sedikitpun tidak salah "

"Leng-cu, engkau tokh baru saja bertemu dengan dia, darima na engkau tahu kalau ucapan-nya bukan tekebur ?"

Bantah Su-put-siang tidak puas. Gadis suci dari Nirwana mengerutkan dahinya, lalu balik bertanya dengan nada dingin.

"Jadi engkau tidak percaya ?"

Mimpipun Su-put-siang tidak menyangka kalau Leng-cu-nya yang cantik jelita dan dihari biasa itu selalu nampak lincah, ini hari bisa berubah jadi berangasan.

Mendengar perkataan itu ia jadi amat terperanjat sekali, sambil memberi hormat buru-buru jawabnya.

"Budak tua tidak berani"

Sementara dalam hati kecilnya diam-diam ia berpikir.

"Kemurungan dan kesedihan yang diderita oleh bocah cilik itu rupanya merupakan penyakit menular yang amat jahat, sehingga Leng cu ikut ketularan-"

Dalam pada itu lelaki berkerudung merah yang berada disebelah kanan telah menyadari akan sikap mereka berempat yang memalukan, dari jengah ia menjadi gusar dan segera berteriak keras.

"Bangsat, kau tak usah tekebur lebih dulu, kalau memang punya kepandaian ayolah silahkan untuk turun tangan "

Gak In Ling segera maju selangkah kedepan, hardiknya ketus.

"Jadi kau ingin mencoba ?"

Nada suaranya amat dingin bagaikan angin dingin yang menghembus keluar dan kutub utara membuat bulu kuduk semua orang pada bangun berdiri.

Sekali lagi keempat orang manusia berkerudung merah itu melompat mundur dua langkah kebelakang terpengaruh oleh kesadisan serta kekuatan sikap pemuda Gak In Ling, sekalipun 266 mereka tidak bersedia untuk melakukan hal itu, tetapi dalam hati kecilnya secara otomatis memperlihatkan reaksinya dan gerakan selanjutnyapun tidak dapat dibendung lagi.

Dari balik mata manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan tiba-tiba memancar cahaya yang sadis sekali, tangan kirinya membopong mayat gadis tersebut sedangkan tangan kanannya laksana kilat menyingkap kain kerudung hijau yang menutupi wajah mayat itu, bentaknya kembali dengan nada dingin.

"Keparat cilik, coba kau lihat dulu siapakah dia, setelah itu barulah bicara secara tekebur "

Selembar wajah yang cantik dan putih bersih mengikuti terbukanya kain kerudung hijau itu segera tertera dengan amatjelasnya dihadapan Gak In Ling.

Diam-diam sianak muda itu merasakan hati nya bergidik sekali sehiagga tak dapat dikuasai lagi ia mundur tiga langkah ke belakang, wajahnya yang tampan dan memancarkan cahaya kemerah-merahan itu seketika berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dia merasakan bagaikan ada beribu-ribu batang anak panah beracun yang secara tiba-tiba menusuk serta menembusi uluhati dan jantungnya.

Ternyata raut wajah dari mayat itu persis seperti raut mukanya, atau dengan perkataan lain kemungkinan besar dia adalah saudara Gak ln Ling sendiri.

Menyaksikan reaksi dari Gak In Ling, perasaan tidak tenang yang semula menyelimuti perasaan keempat manusia berkerudung merah itu segera pulih kembali dalam ketenangan, hawa amarah dan sikap angkuhpun muncul kembali dalam hati kecil mereka.

Tampak manusia berkerudung merah yang membopong mayat gadis itu menatap wajah Gak In Ling beberapa saat lamanya, kemudian sambil tertawa seram tanyanya dengan 267 nada mengejek.

"He... he... Gak In Ling, kenalkah kau dengan gadis ini ?"

Sejak menyaksikan raut wajah dari mayat gadis itu, Gak In Ling telah merasakan seolah-olah sukmanya melayang meninggalkan raganya, mendapat pertanyaan itu dengan kaku ia menggeleng.

"Aku tidak kenal "

"Tidak kenal? Aku lihat raut wajahmu telah berubah sangat hebat sekali.... apakah kau merasakan sesuatu yang tidak beres dengan mayat gadis ini ?"

"Benar, karena dia terlalu mirip dengan wajahku"

Kembali Gak In Ling menjawab dengan kaku. Manusia berkerudung merah yang berada di samping kiri segera tertawa dingin dan mengejek.

"He.... he...he.,.. aku dengar katanya kau mempunyai seorang enci, benarkah itu ?"

Air muka Gak In Ling berubah semakin hebat, suatu firasat jelek terlintas didalam benak dan menyelimuti seluruh pikiran dan perasaannya, ia tarik napas panjang-panjang, dengan perasaan hati yang sedih diam-diam pemuda itu berdoa.

"oh, Thian.... kini keluarga Gak kami hanya tinggal tiga orang. Gak In Ling mohon kepadamu ya, Thian, ampunilah mereka dan lepaskanlah, mereka dari segala penderitaan-"

Gak ln Ling meskipun tidak mengutarakan semua isi hatinya, tetapi ditinjau dari permohonannya yang mendekati setengah merengek, dan muncul dari mulut seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, bisa ditarik kesimpulan betapa murung dan ngerinya sianak muda itu dalam menghadapi kenyataan dihadapan matanya.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak gadis suci dari Nirwana, gadis yang cerdik melebihi orang lain ini rupanya telah dapat menduga apa yang sedang terjadi dihadapannya pada saat ini.

Sementara itu Gak In Ling telah menarik napas panjang, dengan suara berat jawabnya.

"Ssdikitpun tidak salah, aku memang mempunyai seorang enci dan sekarang bersama ibuku disekap dalam lembak pemutus sukma."

"Nah, kalau begitu ketahuilah kami datang dari lembah pemutus sukma."

Sambung manusia berkerudung merah yang lainnya sambil tertawa dingin.

Sorot mata yang seram dan menggidikkan hati terpancar keluar dari balik mata Gak In Ling, dengan perasaan cemas buru-buru ia berseru.

"Aku percaya bahwa kalian tak akan turun tangan sekeji ini terhadap mereka, bukankah begitu ? Perbuatan semacam ini bukanlah perbuatan gagah dari seorang enghiong seorang pria sejati, kalian tokh manusia-manusia yang punya nama dalam dunia persilatan, tidak mungkin-.."

"Selamanya tindakan yang diambil lembah pemutus sukma adalah tindakan keji serta bertujuan untuk mencapai apa yang diharapkan, sekalipun perbuatan yang kami lakukan melanggar dari kebiasaan seorang enghiong."

Tukas manusia berkerudung merah disamping kanan sambil tertawa dingin.

"Gak In Ling, kau tidak seharusnya memasuki lembah kami serta mengacau ketenteraman lembah, ini..., ketahuilah, siapa berani membuat keonaran di lembah kami maka dia menerima pembalasan yang setimpal dengan perbuatannya itu."

Suaranya seram dan mengerikan, seakan-akan mereka hendak menyiksa Gak In Ling dengan kata-kata itu sehingga ia lebih menderita.

Air muka Gak In Ling yang pucat mulai berubah jadi merah, mengikuti berlalunya kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu, wajahnya kian lama kian bertambah merah, dan 269 akhirnya wajah pemuda itu berubah jadi marah padam bagaikan darah.

Sorot matanya yang semula nampak lemah dan mohon belas kasihan, kini telah lanyap tidak berbekas, sebagai gantinya terpancarlah keluar dari balik matanya api dendam yang tiada taranya serta napsu membunuh yang berkobar-kobar.

Gadis suci dari Nirwana yang berada disamping kalangan, mengawasi gerak-gerik Gak In Ling dengan seksama, tatkala dilihatnya sianak muda itu terpengaruh oleh emosi hatinya, dalam hati segera ia berpikir.

"Engkau begitu terpengaruh oleh emosi, perbuatanmu dapat menghancurkan serta memusnahkan diri sendiri. Kenapa sih kau brgitu tidak kenal bagaimana cara untuk menyayangi diri sendiri ?"

Gadis itu tak tahu apa sebabnya ia harus memikirkan tentang persoalan itu, dan dia sendiripun tak tahu kenapa dirinya begitu menaruh perhatian terhadap pemuda itu.

Dalam pada itu Gak In Ling meskipun sembilan puluh lima persen telah menduga siapakah mayat gadis itu, akan tetapi ia masih tetap mengharapkan suatu kekeliruan, dengan kepala tertunduk segera ujarnya.

"Aku percaya bahwa dia bukanlah enciku"

Keempat orang manusia berkerudung merah itu segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu, gelak tertawa keempat orang itu sangat keras hingga menggetarkan seluruh lembah itu.

Pantulan-suara tertawa mereka seakan-akan martil yang beratnya mencapai ribuan kati, satu demi satu menghantam dada Gak In Ling membuat perasaan hatinya hancur dan remuk-redam, Tak kuasa lagi Gak In Ling menutupi sepasang telinganya dengan telapak tangan, kemudian bentaknya dengan keras.

"Berhenti Apa yang perlu kalian tertawakan?"

Suaranya amat keras bagaikan guntur yang membelah bumi membuat hati orang bergetar keras.

Keempat orang itu segera menghentikan gelak tertawanya, sambil menuding kearah mayat gadis itu teriak mereka dengan suara lantang.

"Orang ini bukan lain adalah encimu "

Satu-satunya harapan yang tersembunyi di balik hatinya kini pudar dan lenyap bersamaan dengan meluncurnya kata-kata tersebut, tiga orang keluarga Gak yang masih tersisa dikolong langit kini telah berkurang seorang lagi.

Dendam sakit hati sedalam lautan, rasa benci setinggi langit dan kobaran api marah yang tiada taranya menyelimuti seluruh badan Gak In Ling, membuat peredaran darah dalam nadinya bergerak semakin cepat, ia merasakan seluruh darahnya mendidih.

Dengan cepat Gak In Ling menengadah ke-atas, dengan sepasang matanya yang merah berapi-api menatap kearah empat orang manusia berkerudung merah itu dengan penuh kebencian, hal ini membuat musuh-musuhnya mundur empat-lima langkah kebelakang dengan ketakutan-Dalam beberapa menit yang amat singkat Gak In Ling telah berubah, ia tidak mirip sebagai seorang manusia lagi.

Tapi lebih menyerupai malaikat bengis yang baru turun dari langit.

Perlahan-lahan Gak In Ling melangkahkan kakinya yang berat berjalan mendekati kearah ke empat orang itu, dengan suara yang menyeramkan ia berteriak.

"Seorang dari keluarga Gak mati, maka aku Gak In Ling akan menebusnya dengan seratus lembar jiwa orang persilatan^ kalian-.. kalian adalah rombongan yang pertama "

Gadis suci dari Nirwaisa yang menyaksikan hal itu kembali berpikir didalam hatinya.

"Rangsangan serta tekanan bathin yang diterimanya pada saat ini mungkin akan menutupi ke sadaran serta perasaan baik dalam hati kecilnya, apa yang harus kulakukan pada saat ini ?"

Mengikuti jalannya pikiran tersebut, tanpa terasa selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati sianak muda itu Sementara itu empat orang manusia berkerudung merah itu mundur terus kebelakang mengikuti semakin majunya Gak In Ling mendekati kearahnya, tak seorangpun diantara mereka yang memperlihatkan gerakan hendak melakukan perlawanan.

Tiba-tiba Gak In Ling membentak dengan suara keras.

"Lepaskan dia "

Uaranya keras bagaikan halilintar, di tengah keseraman terselip pula wibawa yang besar.

Manusia berkerudung merah yang membopong mayat gadis itu tak dapat mengusahakan diri dan segera bongkokkan badan serta meletakkan mayat tersebut diatas tanah.

Gak In Ling menyapu sekejap mayat cicinya, perlahan-lahan ia membengkok dan membelai rambutnya yang panjang, air matajatuh berlinang membasahi pipinya.

Dengan tangan yang gemetar keras ia mencekal telapak tangan enciaya Gak In Hong yang menempel diatas bibirnya, belum sempat ia menarik turun telapak tangan itu, tiba-tiba terdengar salah seorang diantara manusia berkerudung merah itu berseru dengan nada lantang.

"Gak In Ling, inilah peringatan yang diberikan Iembah pemutus sukma kami terhadap dirimu, jikalau engkau punya nyali untuk menyatroni lembah kami lagi, maka ibumu akan tiba gilirannya untuk dibunuh nah, tugasku telah selesai dan kamipun harus segera tinggalkan tempat ini "

Keempat orang itu bersuit nyaring, dengan gerakan tubuh yang cepat mereka berkelebat menuju kearah jalan semula.

Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan tersebut, tangannya yang menggenggam telapak encinya gemetar semakin keras, air mata jatuh berlinang semakin deras, demi keselamatan ibunya ia memang tidak mempunyai keberanian untuk menyatroni lembah pemutus sukma lagi.

Perlahan-lahan ia menarik telapak tangan encinya dan menurunkan dari atas bibirnya, tiba-tiba...

Diantara pandangan matanya yang kabur, ia menemukan beberapa huruf darah yang rupanya diukir diatas telapaknya dengan menggunakan pisau, rupanya tulisan itu sengaja ditinggaikan oleh Gak In Hong sesaat sebelum menemui ajalnya.

Dengan cepat Gak In Ling menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian memeriksa tulisan itu dengan seksama, terbacalah tulisan darah diatas telapak tangan encinya itu berbunyi demikian-"ibu mati dibenteng Hui-in-cai.

Enci mati dilembah Toan-hun-kok."

Walaupun hanya beberapa patah tulisan yang amat singkat, akan tetapi seluruh harapan Gak In Ling telah ikut musnah dengan terbacanya beberapa tulisan kecil itu.

Pada waktu itulah tiba-tiba terdengar dua kali bentakan gusar berkumandang datang dari kejauhan-"Kalian berempat jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"

Sementara itu keempat manusia berkerudung merah itu sudah berada sepuluh tombak lebih dan tempat semula, mendengar bentakan itu mereka segera menghentikan 273 langkah kakinya dan alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, dan dengan cepatnya pula mereka berdiri tertegun ditempat itu.

Terdengar manusia berkerudung yang berada disebelah kanan mendengus dingin lalu berkata.

"Hmm, aku kira siapa yang telah datang, tak tahunya adalah kalian, manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara, apakah kalian yakin bahwa dengan kekuatan kalian berdua mampu untuk menahan kepergian kami berempat?"

Nada suaranya amat sombong dan sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap lawannya.

Gadis suci dari Nirwana sendiri segera alihkan sorot matanya sesudah mendengar orang yang baru datang bukan lain adalah manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara yang selama ini menggetarkan sungai telaga.

Tampaklah kurang lebih lima tombak dihadapan empat manusia berkerudung merah itu berdirilah dua orang manusia aneh yang berdandan sangat aneh sekali dengan sorot mata yang tajam serta wajah memancarkan hawa gusar yang amat tebal.

Manusia berambut putih yang berada disebelah kiri adalah manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu, sedangkan manusia bercambang dan bermata besar yang ada disebelah kanan adalah manusia aneh dari utara Lui Beng Wan-Diantara kedua orang itu, manusia aneh dari utara Lui Beng Wan memiliki watak yang berangasan sekali, mendengar perkataan itu ia segera tertawa seram sambil berkata.

"Haa..... haa...... haa kami tidak mampu untuk menahan kalian beberapa orang? Benar-benar suatu lelucon yang sama sekali tidak menggeIikan "

Terkesiap hati manusia berkerudung merah yang ada disebelah kiri, pikirnya didalam hati.

"Ah jangan-jangan mereka telah melepaskan diri dari pihak banteng IHui-in-cay "

Meskipun dalam hati berpikir demikian, di luaran ia tak mau kalah dengan begitu saja, sambil tertawa dingin segera serunya kembali.

"Hm, jangan lupa kalian adalah termasuk golongan mana ? Kalau bicara mengenai tingkat kedudukan mungkin kami berempat masih jauh berada diatas kedudukan kalian berdua."

Diatas raut wajah manusia sesat dari selatan oei Hoa Yo yang penuh berkeriput seketika muncullah delapan buah jalur yang sukar ditemukan dengan pandangan mata biasa, tak usah diragukan lagi ucapan dari manusia berkerudung merah itu telah mendatangkan pelbagai perubahan dalam hati kecilnya.

Manusia aneh dari utara Lui Beng Wan sama sekali tidak mau menggubris ucapan dari lawannya, dengan penuh kegusaran kembali ia berseru lantang.

"Mari mari..... jangan menggonggong terus disitu menyerupai anjing gila, kalau aku tak mampu untuk membinasakan kalian keempat ekor anjing dalam lima puluh gebrakan, aku akan mengorok leherku sendiri dihadapan kalian-.."

Sambil berkata dengan langkah lebar ia segera berjalan mendekati lawannya.

Berbicara tentang kepandaian silat, walaupun keempat orang manusia berkerudung merah itu termasuk jago-jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan, tetapi kalau dikatakan mereka berani menandingi kemampuan dari manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara dua orang tokoh sakti dalam dunia persilatan ini, boleh dibilang diantara mereka masih terpaut selisih yang amat besar.

Ditinjau dari perkataan manusia aneh dari utara Lui Beng Wan baru-baru ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa napsu membunuh yang berkobar didalam hati kecil jago tua itu 275 sudah tak dapat dihindarkan lagi, takut mati adalah ciri khas setiap manusia, tanpa sadar dengan perasaan bergidik keempat orang manusia berkerudung merah itu mulai menggerakkan tubuhnya mundur ke belakang.

"Kalian jangan lupa,"

Teriak manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan dengan gusar.

"benteng Hui-in-cay letaknya berada dibawah kedudukan lembah Toan-bun-kok, jika..."

Agaknya pada waktu itu manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu telah mengambil keputusan terakhir, sebelum orang itu sempat menyelesaikan kata-katanya dia telah menukas lebih dahulu.

"Sebelum kami berdua datang kemari telah kami pertimbangkan resiko serta akibat-akibatnya, sekalipun kami berdua selamanya melakukan pekerjaan dengan mempertimbangkan baik buruknya lebih dahulu, akan tindakan kami pada saat ini merupakan pengecualian-.. kami ingin bertanya kepadamu, sebenarnya dendam sakit hati apakah yang sudah terikat antara keluarga Gak dengan lembah pemutus sukma kalian ? Kenapa kalian celakai ibu Gak In Ling lebih dahulu kemudian encinya. Asal kalian masih mempunyai perabaan perikemanusiaan, tidak nanti akan melakukan perbuatan terkutuk semacam ini, hmh Terhadap manusia keji yang tak kenal prikemanusiaan seperti kalian ini, kenapa kami harus berlaku sungkan dan melepaskan kalian pergi dalam keadaan hidup ?"

Makin berbicara dia semakin gusar, sepasang matanya dengan memancarkan napsu membunuh yang amat tebal dengan penuh kebencian menyapu keempat orang itu, setelah berhenti sebentar ujarnya kembali dengan nada suara yang menyeramkan.

"Ini hari kalian tak usah banyak bicara lagi, sejak kini manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara telah 276 bebas merdeka tanpa terikat oleh siapapun, kalau kalian merasa punya kepandaian keluarkanlah semuanya "

Gadis suci dari Nirwana yang selama ini membungkam terus hatinya merasa tergetar keras sesudah mendengar ucapan itu, diam-diam pikirnya didalam hati.

"oh, apa yang telah terjadi ? Tempo dulu apakah gerak-gerik manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara itu berada dibawah perintah orang? Dikolong langit dewasa ini siapakah yang mampu untuk menundukkan serta memerintah kedua orang gembong iblis tersebut? Ataukah mungkin ketenangan yang menyelimuti dunia persilatan selama ini hanya diluaran saja yang damai? Padahal yang sebenarnya sudah terjadi pergolakan yang amat besar?"

Pelbagai masalah yang mencurigakan hati ini dengan cepat memenuhi benak gadis aneh yang berotak cerdas ini.

Sementara itu keempat orang manusia berkerudung merah itu sama sekali tidak menyangka kalau persoalan itu bakal berlangsung hingga mencapai keadaan yang sama sekali tak terduga seperti ini, untuk beberapa saat lamanya mereka kehilangan daya upaya untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya kini.

Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara selangkah demi selangkah maju ke arah depan, Malaikat Elmautpun semakin lama semakin mendekati keempat orang itu, mereka walaupun telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melakukan perlawanan yang terakhir, tetapi perasaan percaya pada diri sendiri telah lenyap dari dalam hati mereka, dibalik sorot matanya terpancarlah perasaan kuatir, tidak tenang dan ngeri.

Mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara seruan seseorang dengan nada yang menyeramkan.

"Hutang ada pemiliknya, siapa yang berhutang dia harus membayarnya, kalian berdua tidak usah mencampuri urusan ini"

Dari nada suara orang ini dengan cepat manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara telah mengetahui siapakah orang tersebut dengan perasaan tercekat mereka segera menghentikan langkahnya, empat buah sorot mata yang memancarkan perasaan simpatik danpenuh kuatir hampir bersamaan waktunya sama-sama dialihkan keatas wajah Gak In Ling.

Mereka berdua telah merasakan bahwa pemuda yang pemurung ini telah berubah, berubah jadi semakin murung dan semakin sadis, pada saat itu wajahnya yang semula memerah kini sudah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, kelopak matanya masih basah oleh air mata, namun sorot matanya penuh mengandung perasaan dendam, pembunuhan terhadap keluarganya telah membuat pemuda itu mengalami tekanan bath in yang amat hebat, membuat perangai serta wataknya, sama sekali berubah.

"Majikan muda,"

Terdengar manusia aneh dari selatan Lui Beng Wan buka suara serta menegur.

"yang sudah lewat biarkanlah lewat, kau adalah satu-satunya anggauta keluarga Gak yang masih hidup, dahulu budak sekalian tak berani memberitahukan jejak musuh yang sebenarnya kepadamu karena kuatir mendatangkan bencana yang lebih besar bagi dirimu, tapi sekarang keadaan telah berbeda, urusanmu merupakan urusanku juga, mungkin keadaanpun akan segera mengalami perubahan yang sangat besar"

Gak In Ling mengerdipkan matanya lalu menggeleng dengan sikap yang sangat hambar, jawabnya.

"Persoalan itu adalah urusan dikemudian hari, aku rasa kalian berdua harus mempertimbangkannya lebih dahulu secara baik-baik."

Ia berhenti sebentar kemudian tambahnya.

"Dan sekarang, aku harap kalian berdua suka mengundurkan diri untuk sementara waktu."

Suaranya amat tenang dan datar, akan tetapi mengandung suatu kekuatan yang membuat orang merasa sungkan untuk membangkang.

Tanpa sadar manusia dari sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara bersama-sama mengundurkan diri kesisi kanan, dengan pandangan tertegun mereka memanda kearah sianak muda itu tanpa berkedip.

Gadis suci dari Nirwana sendiripun menunjukkan sikap yang aneh sekali, pikirnya didalam hati.

"Didalam sedihnya orang ini masih ingat menguasai dirinya sehingga bersikap demikian tenang, benar-benar suatu keajaiban yang tak pernah kuduga sebelumnya."

Pada saat Gak In Ling buka suara tadi, ke empat orang manusia berkerudung merah itu telah memutar tubuhnya, sekarang mereka telah melupakan bahwa dihadapannya masih terdapat manusia sesat dan manusia aneh dua orang musuh tangguh, karena semua perhatian mereka telah di tujukan kepada pemuda dihadapannya.

Dengan pandangan yang menyeramkan Gak In Ling menyapu sekejap kearah empat orang itu kemudian ujarnya dengan nada seram.

"Pihak benteng Hwi-in-cay telah membinasakan ibuku, aku Gak In Ling akan menyapu benteng-tersebut rata menjadi tanah dan mencuci dengan darah segar mereka, lembah pemutus sukma telah membunuh enciku, aku orang she Gak akan membasmi semua orang yang berada didalam lembah itu, dan kalian berempat adalah orang pertama yang harus lenyap lebih dahulu dari muka bumi "

Setelah mengetahui bahwa disekeliling mereka terkepung oleh musuh tangguh, dalam putus asanya timbullah niat 279 didalam hati mereka berempat untuk melakukan perlawanan sampai titik terakhir.

Salah seorang diantara manusia berkerudung merah itu segera berseru dengan gusar.

"Keparat cilik, engkau tak usah tekebur lebih dahulu. Kalau punya kepandaian perlihatkan dahulu dihadapan kami "

"He... he.... he..rupanya engkau ingin mencoba lebih dahulu."

Ejek Gak In Ling sambil tertawa seram. Perlahan-lahan hawa murninya dihimpun kedalam sepasang telapaknya dan siap melancarkan serangan dahsyat.

"Tunggu sebentar "

Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana membentak dengan suara dingin.

"Sebelum duduknya persoalan ini dapat dibikin jelas, aku tidak memperkenankan kalian untuk bertempur lebih dahulu."

"Apakah nona merasa punya kemampuan untuk mencampuri urusan ini ?"

Tegur manusia sesat dari selatan oei IHoa Yu dengan nada dingin. Melihat ada orang berani pandang enteng Leng-cu nya, Empat tidak mirip jadi naik pitam segera bentaknya keras.

"Hmm Sebelum bicara, periksalah dahulu disekeliling tempat ini"

Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara segera alihkan sorot matanya ke arah sekeliling tempat itu, kemudian dengan nada terperanjat mereka berseru.

"Aaaah...... Leng-cu dari Nirwana berada disini ?"

Diujung puncak bukit disekeliling tempat itu berkibarlah delapan buah panji besar berwarna kuning pada badan tengah pada panji tadi bersulamkan sebuah huruf "Leng"

Yang berwarna emas dan memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata, entah tulisan itu terbuat dari bahan apa.

Kedelapan panji besar berwarna kuning itu bukan lain adalah lambang atau ciri khas dari gadis suci dari nirwana setiap kali ia munculkan diri disuatu tempat.

Sementara itu Su-put-siang merasa girang sekali ketika menyaksikan manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara yang nama besarnya amat menggetarkan sungai telaga itu dibikin terkesiap oleh delapan lembar panji kuning dari Leng-cu-nya ini, dengan suara dingin, ia segera berseru.

"Kalian benar-benar punya mata tak berbiji, Leng-cu kami sudah beberapa waktu lamanya berada disini "

Manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara segera berpikir dalam hatinya.

"jangan-jangan gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari ini bukan lain adalah gadis suci dari Nirwana yang mirip dengan naga sakti yang nampak kepala tak nampak ekornya itu ? Kalau memang demikian keadaannya, mungkin tindak-tanduk majikan kecil yang begitu gegabah dan kasar itu akan menimbulkan-.."

Belum habis kedua orang jago sakti dari dunia persilatan itu berpikir, tiba-tiba terdengarlah dua kalijeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh lembah tersebut.

Begitu mengerikan jeritan kesakitan itu sehingga mendirikan bulu roma semua orang yang berada ditempai itu, tanpa sadar beberapa orang jago itu segera alihkan sinar matanya kearah Gak ln Ling.

Jeritan kaget kembali berkumandang memecahkan kesunyian, semua orang berdiri terbelalak dengan mulut melongo sesudah mengetahui apa yang telah terjadi, sementara gadis suci dari Nirwana buru-buru alihkan sorot matanya kearah lain-Diantara empat orang manusia berkerudung merah yang hadir ditempat itu, kini telah berkurang dua orang, sementara dalam genggaman Gak In Ling telah bertambah dengan dua buah jantung manusia yang berlumuran darah segar.

Peristiwa berdarah ini benar-benar mengerikan sekali, membuat dua orang manusia berkerudung merah lainnya segera mundur empat-lima tombak jauhnya kebelakang dengan perasaan terkesiap.

Dengan wajah yang sadis Gak In Ling membuang jantung yang berhasil dicopot keluar dari rongga dadanya itu keatas tanah, kemudian bentaknya dengan keras.

"Bajingan keparat, kalian hendak lari kemana ?"

Tubuhnya bagaikan seekor burung rajawali melayang ketengah udara dan menubruk kearah salah seorang manusia berkerudung merah yang berada disebelah kanan, serangannya amat cepat sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Menyaksikan datangnya ter jangan tersebut, orang itu jadi ketakutan setengah mati, meskipun ia tak sempat melihat jelas warna telapak dari Gak In Ling, akan tetapi orang itu dapat menduga bahwa sianak muda itu pasti telah menggunakan telapak mautnya untuk menghadapi dirinya.

Dalam keadaan cemas bercampur gelisah, ia tidak memperdulikan tindakannya memalukan atau tidak-segera teriaknya dengan keras.

"Leng-cu, tolonglah aku."

Belum habis ucapan itu diutarakan keluar, jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian di tempat itu, dengan keadaan yang mengerikan manusia berkerudung merah itu roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Setelah melihat serangannya mengenai sasaran Gak In Ling segera enjotkan badan dan menerjang pula kearah manusia berkerudung merah yang terakhir.

"Tahan "

Bentak gadis suci dari Nirwana dengan suara keras.

Akan tetapi bentakannya itu tetap masih terlambat satu tindak.

Jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma segera berkumandang memecahkan kesunyian, manusia berkerudung merah yang terakhir itupun jatuh terkapar diatas tanah tanpa bernyawa lagi.

Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam waktu yang amat singkat sekali dan boleh dibilang dalam sekejap mata.

Terhadap bentakan gadis suci dari Nirwana Gak In Ling sama sekali tidak menggubris atau mendengarnya, setelah mencopot keluar jantung dari keempat orang musuhnya, perlahan-lahan ia mendekati mayat encinya.

Setelah berjongkok disisi jenasah itu, ia letakkan keempat buah jantung manusia yang berlumuran darah itu disisi tubuh itu, kemudian gumamnya seorang diri dengan nada yang amat lirih.

"cici, sudah lihatkah engkau akan semua perbuatan yang kulakukan barusan ? Aku sudah mulai membalas dendam untuk kematianmu yang malang ini... tapi, sampai kapankah dendam sakit hati dari ayah dan ibu bisa kutuntut balas? Musuh besar dari keluarga kita begitu banyak jumlahnya, sedangkan usiaku hanya tinggal setengah tahun lagi, oh cici, beritahukanlah kepada adikmu yang malang ini, apa yang harus kulakukan-"

Makin lama ucapan itu semakin lirih sehingga akhirnya begitu lemah dan sama sekali tidak terdengar lagi, semua orang hanya menyaksikan mulutnya kemak-kemik tetapi tak tahu apa yang sedang diucapkan olehnya.

Air mata bagaikan hujan gerimis mengucur keluar tiada hentinya membasahi kelopak matanya pipinya, dan bajunya...

Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara hanya dapat berdiri menjublek ditempat semula tanpa mampu berbuat sesuatu apapun, perasaan mereka ikut tertindih sehingga terasa berat sekali, mereka iba dan kasihan, terhadap pemuda malang yang hidup sebatang kara dengan 283 dibebani dendam kesumat yang tiada taranya itu, untuk beberapa saat kedua orang jago tua itu tak tahu mesti berkata apa untuk menghibur hatinya.

Mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang datang.

"Gak In Ling, berani benar engkau membunuh orang dihadapan Pun Leng-cu ? Hmm, rupanya engkau sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap diriku "

Walaupun nada suaranya mengandung kegusaran, akan tetapi terselip pula perasaan itu dan kasihan terhadap pemuda itu.

Gak In Ling sama sekali tidak menengok juga tidak menjawab, seakan-akan dia sama sekali tidak mendengar bentakan dari gadis cantik baju putih itu, mulutnya masih tetap berkemak-kemik menggumam seorang diri.

Melihat perkataannya sama sekali tidak digubris, kali ini gadis suci dari Nirwana benar-benar dibikin amat gusar sekali, sebagai seorang ketua dari sebuah perkumpulan besar, ia selalu disanjung dan dihormati oleh setiap orang, belum pernah ucapannya dianggap angin oleh orang lain, apalagi orang itu adalah seorang pemuda.

Sepasang matanya melotot besar dan memancarkan cahaya yang menakutkan sekali, kembali bentaknya dengan keras.

"Gak In Ling, sudah dengarkah engkau akan perkataanku?"

Dengan perasaan tidak tenang manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu menyapu sekejap kearah gadis suci dari Nirwana, kemudian serunya dengan nada agak tergagap.

"Leng-cu, sekarang pikiran maupun perasaannya sedang dipengaruhi oleh emosi, aku mohon sudilah kiranya kau suka mengampuni dirinya satu kali ini"

Sementara itu Gak In Ling masih tetap tidak menjawab, keadaannya sama sekali tidak berbeda dengan keadaan semula.

Keadaan ini dengan cepat membuat gadis suci dari Nirwana tak mampu untuk menguasai diri lagi, telapak tangannya segera diayun kedepan "Blaam"

Ditengah benturan keras, empat buah jantung manusia yang diletakkan Gak In Ling disisi tubuh jenasah kakaknya itu segera terpukul telak sehingga mencelat sejauh lima tombak lebih dari tempat semula.

Gak In Ling merasa amat terperanjat dan dengan cepat bangkit berdiri dari atas tanah, ketika ia berpaling maka tampaklah gadis suci dari Nirwana sedang memandang ke arahnya denganpenuh kegusaran-Hal ini membuktikan kalau serangan itu dilancarkan oleh gadis tersebut.

Gak In Ling menyeka air mata yang membasahi wajahnya, lalu dengan kaku ia bertanya.

"Kaukah yang melakukan hal ini ?"

"Sedikitpun tidak salah "jawab gadis suci dari Nirwana dengan penuh kegusaran-"Kau mau apa ?"

Napsu membunuh melintas diatas wajah Gak In Ling, bentaknya nyaring.

"Dengan berdasarkan apakah engkau melancarkan serangan kepadaku ? Ayo jawab ?"

"Melenyapkan bencana demi umat manusia dalam persilatan"

Gak In Ling segera ayunkan telapak tangannya ke depan, dengan menggunakan jurus "Hiat-yu Weng-hong"

Atau hujan darah angin amis dia mengirim sebuah pukulan dahsyat ke arah gadis tersebut.

Menyaksikan datangnya serangan yang amat dahsyat itu, gadis suci dari Nirwana merasa amat terkesiap.

buru-buru ia enjotkan badannya dan laksana kilat meloncat mundur sejauh empat tombak lebih dari tempat semula, gerakan tubuhnya lincah, enteng dan cepat sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Pada saat ini pikiran Gak In Ling masih kalut dan tak sadar, meskipun tenaga dalamnya telah dihimpun dan kendatipun serangan tersebut dilancarkan dengan menggunakan ilmu telapak maut.

Akan tetapi daya kekuatannya amat terbatas, oleh karena itu sekalipun serangan tersebut dilancarkan secara tiba-tiba, akan tetapi sama sekali tidak berhasil melukai tubuh gadis suci dari Nirwana.

Ketika menyaksikan serangannya tidak berhasil mengenai sasarannya, Gak In Ling nampak agak tertegun, buru-buru ia merubah gerakan siap melancarkan serangan berikutnya.

Akan tetapi sebelum ia sempat melancarkan serangan balasan, terdengarlah gadis cantik baju putih itu telah membentak keras.

"Kau sambutlah pula sebuah pukulan dahsyatku ini "

Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan itu, segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan hembusan angin puyuh menghajar keatas dada sianak muda itu.

Gak In Ling yang sedang dilanda kesedihan boleh dibilang kesadarannya pada saat ini sama sekali tidak beres ketika ia merasa datangnya angin pukulan yang maha dahsyat itu, untuk menghindar sudah tak sempat lagi.

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad, terdengar gadis suci dari Nirwana berseru dengan nada cemas.

"Aaah Kau...."

Buru-buru ia buyarkan serangannya dan berusaha untuk menarik kembali tenaga pukulannya tetapi... mungkinkah serangan yang telah dilepaskan dapat ditarik kembali ? "Blaaaaam..."

Terdengar benturan yang amat keras bergema diseluruh angkasa, tubuh Gak In Ling terpental sejauh tiga tombak lebih dari tempat semula dan roboh terjengkang diatas tanah.

Gadis suci dari Nirwana tertegun, dengan cepat tubuhnya berkelebat menghampiri Gak in Ling yang sementara itu sudah terkapar diatas tanah tanpa bisa berkutik.

"Leng-cu "

Terdengar manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu berseru dengan nada cemas.

"ampunilah selembar jiwanya, dia adalah satu-satunya anggauta keluarga Gak yang masih hidup,"

Suaranya keras tapi kedengaran agak gemetar. Gadis suci dari Nirwana putar badan, dengan wajah tidak tenang ia berkata.

"Apakah kalian dapat menjamin bahwa sejak kini dia tak akan membunuh manusia lagi ?"

Tiba-tiba manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu bertekuk lutut dan jatuhkan diri diatas tanah serunya.

"Aku oei Hoa Yu berani bersumpah dihadapan Thian, bahwa orang yang dibunuh Gak kongcu selama ini semuanya adalah manusia laknat yang pantas dimusnahkan dari muka bumi"

"Hm Aku tidak menanyakan yang lain, aku tanya bertanya kepada kalian apakah kamu berdua berani menjamin bahwa sejak ini hari ia tak akan membunuh manusia lagi ?"

Mendengar ucapan itu manusia aneh dari utara Lui Beng Wan segera jatuhkan diri berlutut pula diatas tanah, sambil menghela napas panjang dia berkata.

"Leng-cu, lepaskanlah dirinya..."

Gadis suci dari Nirwana dibikin bingung oleh sikap serta perbuatan kedua orang jago libay itu, karena tak dapat mengambil keputusan, tanpa sadar dia alihkan sorot matanya kearah Su-put-siang.

Empat tidak mirip anggukkan kepalanya dan berkata dengan nada berat.

"Leng-cu, lepaskanlah dirinya. Mungkin dosa serta kesalahan yang ia lakukan masih belum cukup untuk dijatuhi dengan hukuman mati "

Gadis suci dari Nirwana segera mengangguk.

"Baiklah, kalian boleh bangkit berdiri "

Serunya.

Habis berkata ia putar badan dan segera berlalu.

Buru-buru manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara mengucapkan banyak-banyak terima kasih, kemudian berkelebat menuju kesisi tubuh Gak In Ling dan memayangnya bangun.

Sambil menatap wajah sang pemuda yang pucat bagaikan mayat, manusia sesat dari selatan oei Beng Ya bertanya.

"Majikan muda, bagaimana perasaanmu pada saat ini?"

Gak In Ling gelengkan kepalanya, bukan menjawab malah dia balik bertanya.

"Bersediakah kalian untuk melakukan suatu perkerjaan bagi diriku?"

"Urusan apa ? Katakanlah "

Sahut kedua orang jago itu hampir berbareng. Gak In Ling menghela napas panjang.

"Aaii carilah suatu tempat yang baik dan kuburlah jenasah kakakku ini."

Sambil berkata dengan susah payah ia meronta dari cekalan kedua orang itu, dan berdiri sendiri dengan sempoyongan-Buru-buru manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu memegang tubuhnya, dengan nada lirih nasehatnya.

"Majikan muda, janganlah terlalu menuruti emosi, cepatlah atur pernapasan dan sembuhkan dahulu luka dalammu, sebentar lagi aku serta si makhluk tua itu akan menemani engkau untuk menguburkan jenasah kakakmu "

"Tidak Aku tidak akan ikut dengan kalian-"

Sahut Gak In Ling sambil memandang awan putih yang bergerak diangkasa "Lalu kau akan pergi kemana ?"

Tanya manusia aneh dari utara dengan nada gelisah. Gak In Ling tertawa tawa.

"Mungkin aku akan pergi ketempat lain yang tak dapat didatangi oleh orang lain-"

"Pergi ketempat yang tak dapat didatangi oleh orang lain ?"

Gumam manusia sesat dari selatan dengan wajah tertegun. Gadis suci dari Nirwanapun diam-diam terkesiap melihat keadaan dari sianak muda itu, pikirnya.

"Jangan-jangan pukulanku yang begitu ringan telah melukai isi perutnya..."

Berpikir sampai disini sepasang matanya yang jeli tanpa merasa telah menyapu sekejap ke arah Gak In Ling, kebetulan sekali sepasang mata sang pemuda yang sayu itu sedang memandang kearahnya, dua pasang saling bertemu, membuatjantung gadis itu berdebar keras, buru-buru dia alihkan pandang matanya kearah lain-Setelah memandang sekejap kearah gadis itu dengan susah payah Gak In Ling berkata.

"Leng-cu, kau seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar dan bisa bertindak secara adil dan bijaksana, ku berharap sejak kini kau bersedia mencurahkan perhatianmu terhadap lembah pemutus sukma, basmilah manusia laknat yang berdiam disana dan selamatkanlah umat persilatan dari bencana."

"Apakah engkau anjurkan diriku berbuat demikian karena disanalah musuh-musuhmu berdiam."

Sela gadis suci dari Nirwana. Hawa segar berkelebat lewat dari balik mata Gak In Ling, serunya dengan suara dingin.

"Aku orang she Gak tidak akan serendah dan sehina seperti apa yang Leng-cu lukiskan itu, aku tak nanti akan mohon pada orang lain untuk membalaskan dendam bagiku atas kematian ayah dan ibuku "

Bicara sampai disini ia segera putar badan dan berlalu dari lembah tersebut.

Manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu dengan cepat menghadang jalan pergi sianak muda itu sambil serunya dengan nada gemetar.

"Majikan muda, engkau sudah menderita luka dalam yang sangat parah, engkau akan pergi kemana ?"

Dengan tangannya yang dingin bagaikan es, Gak In Ling mencekal tangan manusia sesat dari selatan, kemudian ujarnya.

"Empek oei, lepaskanlah aku pergi, aku dilahirkan tanpa waktu yang ditentukan lebih dahulu, akupun tak ingin mati ditunggui orang lain di sampingku, kalian sudah melayani aku hampir dua belas tahun lamanya, selamanya kalian selalu dapat memahami perasaanku, kali ini ijinkanlah aku pergi seorang diri "

"Apakah kau sudah melupakan dendam sakit hatimu ?"

Tanya oei Hoa Yu dengan air mata bercucuran.

"Tak akan kulupakan untak selamanya. Dendam sakit hati itu tak akan kulupakan untuk selamanya"

Jawab Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya berulang kali. Dalam pada itu manusia aneh dari utara LuiBang Wan telah menyusul datang, ia segera berseru.

"Kalau memang begitu, maka tidak sepantasnya kalau engkau mencari mati sebelum tugasmu kau selesaikan"

"Aku sendiri tidak rela mati dengan begini saja."

Gumam Gak In Ling dengan lirih.

"tetapi luka yang kuderita cukup parah, dan dalam hati aku sudah mempunyai perhitungan sendiri, aku mohon kepada kalian agar sukalah membiarkan aku mencari tempat yang tenang seorang diri"

Habis berkata ia putar badan melanjutkan kembali langkahnya menuju kearah depan-Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana berseru dengan nada dingin.

"Jikalau dugaanku tidak keliru, maka kau tak akan berjalan sejauh lima ratus tombak dari tempat ini "

Gak In Ling tidak berpaling, juga tak menghentikan langkah kakinya, ia masih melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan-Menyaksikan hal itu gadis suci dari Nirwana segera membentak nyaring.

"Gak in Ling, engkau dengar tidak parkataan ku itu ?"

Gak In Ling tetap tidak menggubris, dengan mulut membungkam ia teruskan perjalanannya munuju kedepan.

Tertegun hati gadis suci dari Nirwana menyaksikan tindakan sianak mada itu, tiba-tiba ia menjejakkan sepasang kakinya melayang kedepan dan menghadang jalan pergi Gak In Ling sambil bentaknya.

"Sudah kau dengar tidak perkataanku?"

Gak In Ling segera tertawa dingin.

"IHee...... hee hee....mati hidupku, apa sangkut pautnya dengan dirimu?"

Ia mengejek.

"Aku hanya bermaksud hanya memberi peringatan kepadamu "

Gak In Ling menghindarkan diri kesamping dari hadangan gadis itu, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya.

"Aku orang she Gak hanya seerang manusia tak bernama dalam dunia persilatan, setelah kau melukai diriku, buat apa sekarang masih berpura-pura berlagak sok baik hati ? Hmm, apakah perbuatanmu itu tidak mirip kucing sedang menangisi tikus ?"

Gadis suci dari Nirwana jadi amat gelisah sekali, buru-buru ia berseru.

"Hawa murnimu telah tersumbat oleh kesedihan dan kemurungan yang kelewat batas, sekalipun aku tidak melukai dirimu, engkaupun tidak akan hidup sampai hari ini."

Satu ingatan dengan cepat berkelebat lewat dalam benak Gak In Ling, pikirnya dalam hati.

"Tidak aneh kalau serangan gencarku tadi tidak berhasil melukai dirinya. Aaaiii mati ya sudah, urusanpun bisa beres sampai disini saja, perduli amat apa yang bakal kualami "

Sementara ingatan tersebut masih melintas diatas wajahnya, ia telah berada belasan tombak jauhnya dari tempat semula.

Diatas wajah gadis suci dari Nirwana yang cantik jelita tiba-tiba terlintas kemurungan dan kekesalan yang tebal, kembali ia berteriak dengan keras.

"Hey, sudah kau dengar tidak semua perkataanku itu ?"

"Hmm, aku sudah tiada harapan untuk hidup lebih lama lagi, kenapa aku mesti mendengarkan penjelasan dari Lengcu?"

Beberapa saat kemudian tubuhnya sudah membelok dibalik batu cadas dan lenyap.

Gadis suci dari Nirwana tidak habis mengerti apa sebabnya ia begitu menguatirkan keselamatan sianak muda itu, kini setelah berulang kali dipandang remeh oleh Gak In Ling 292 hatinya jadi amat sedih sekali, hingga tanpa terasa ia mengucurkan air mata.

"Leng-cu, karena persoalan apakah engkau merasa sedih ?"

Tiba-tiba serentetan suara teguran yang lirih berkumandang disisi telinganya. Mendengar suara itu seakan-akan telah bertemu dengan orang yang dikasihi dengan cepat gadis suci dari Nirwana berseru.

"Enci Peng"

Ia segera jatuhkan diri kedalam pelukan perempuan itu.

orang yang baru saja munculkan diri itu adalah seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan yang berpakaian amat sederhana dengan rambut disanggul jadi satu, kecantikan wajahnya sangat menawan hati, meskipun usianya sudah mencapai tigapuluh tahunan akan tetapi tetap masih mempesonakan.

Su-put-siang serta empat orang dayang baju hijau yang berada disekeliling situ dengan cepat naju memberi hormat sambil sapanya.

"Menghunjuk hormat untuk Kun-su"

Manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu segera merasakan hatinya agak tergerak, pikirnya.

"jangan-jangan orang ini adalah juru pikir yang sangat diandalkan oleh gadis suci dari Nirwana yang amat tersohor kecerdasannya itu ? Mungkinkah dia "

Sin-gwa-liong-bun"

Ahli pikir dari pintu naga Ki Giok Peng ?"

Sementara itu perempuan tadi sudah berkata.

"Kalian tak usah banyak adat, siapakah yang kalian baru saja jumpai ?"

"Gak In Ling "

Jawab Su-put-siang dengan cepat. Air muka perempuan itu seketika berubah hebat setelah mendengar nama pemuda itu, serunya.

"Leng-cu, lupakanlah dia, mari kita pulang."

Terkesiap hati, gadis suci dari Nirwana, tanpa sadar ia berseru.

"Enci Peng, kau telah apakan orang itu?"

Melihat sikap Leng-cu yang gugup, perempuan itu segera berpikir dalam hati kecilnya.

"Ah, dugaanku ternyata tidak salah. Tidak seharusnya aku datang demikian lambatnya."

Berpikir sampai disini ia lalu menjawab.

"Aku sama sekali tidak berjumpa dengan dirinya, Leng-cu Apakah engkau telah melukai dirinya?"

Dengan wajah amat sedih gadis suci dari Nirwana mengangguk. ---ooo0dw0ooo---

Jilid 9

"TIDAK sepantasnya kalau kau buat dia jadi gusar dan mendongkol sekali..."

Bisiknya.

"Semestinya engkau harus mengobati luka yang diderita olehnya."

Sambung perempuan itu.

"Tapi dia sama sekali tidak memperdulikan diriku ?"

"Aaaa biar."

Pikir perempuan itu lagi.

"Kalau dia tidak sanggup dan demikian tinggi hatinya sehingga melampaui dirimu, tak nanti hatimu akan tertarik olehnya, aku harus mencari akal yang bagus untuk membuat dia jadi lupa dengan pemuda itu, sebab jika cinta yang bersemi di balik kesalahpahaman ini dibiarkan berlarut-larut, maka akibatnya akan sukar dilukiskan dengan kata-kata..."

Berpikir sampai disini, sambil tertawa dia lantas berkata.

"Kalau dia memang tak mau menerima tawaran yaa sudahlah, kenapa mesti dipikirkan terus ? Mari kita pulang saja "

Gadis suci dari Nirwana memandang sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia berseru.

"Tidak Hal ini merupakan salah paham, aku harus menyembuhkan luka dalam yang diderita olehnya "

"Tapi Leng-cu. orang itu sudah pergi jauh."

"Tenaga dalamnya telah punah."

Seru gadis suci dari Nirwana dengan hati gelisah.

"pada saat ini dia tak kan pergi terlalu jauh, mari kita susul dirinya^.."

Habis berkata ia segera berangkat lebih dahulu mengejar kearah mana bayangan tubuh Gak In Ling melenyapkan diri tadi. Diam-diam perempuan itu menghela napas panjang, pikirnya.

"Aaaiii sekarang aku baru merasa betapa pentingnya selain waktu yang amat singkat, tapi sekarang keadaan sudah terlambat."

Ia segera ulapkan kepada kelima orang lainnya sambil berseru "cepat kalian menyebarkan diri kesekeliling tempat ini dan coba periksa jejaknya, semoga saja ia belum jauh meninggalkan lembah ini."

Keempat dayang itu sekalian segera mengiakan dan dengan cepat menyebarkan diri untuk mencari jejak sianak muda itu Sepeninggalnya beberapa orang itu, perempuan cantik itu berjalan menghampiri manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara.

"Mungkin kalian berdua adalah manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara yang menyebut diri sebagai pelayan dari Gak In Ling bukan ?"

"Tempo dulu hanya sebutan saja, tapi sekarang hal itu memang merupakan kenyataan "

Jawab manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu.

"Kalau memang demikian adanya, mengapa kalian berdua tidak mengiringi disamping majikanmu itu ?"

"Selamanya persoalan yang telah diputuskan oleh majikan kami tak dapat digugat lagi."

Jawab manusia aneh dari utara sambil menghela nanas panjang.

"dalam keadaan begini, yaa, apa boleh buat. Terpaksa kami hanya dapat melindungi keselamatan jiwanya secara diam-diam saja."

"Kalau memang begitu, tahukah kaliaa ke mana perginya sianak muda itu ? Apakah kalian bersedia memberitahukan kepadaku ?"

"Tuan muda dibelakang batu cadas didepan sebelah sana."

Sahut manusia sesat dari selatan, sambil berkata ia segera menuding kearah batu besar di-mana Gak In Ling melenyapkan diri tadi.

"Menurut dugaanku kalau tidak salah, mungkin sejak kini kalian akan kehilangan jejaknya."

Kata perempuan itu.

Tertegun hati manusia sesat dari selatan daa manusia aneh dari utara sesudah mendengar perkataan itu,jelas mereka percaya penuh bahwa apa yang diucapkan oleh perempuan aneh yang amat cerdik ini merupakan suatu kenyataan-Sementara itu manusia sesat dari selatan setelak berpaling kearah rekannya, manusia aneh dari utara, sambil menuding mayat Gak In Hong yang menggeletak diatas tanah serunya dengan gelisah.

"cepat bopong tubuhnya, mari kita pergi mencari jejaknya."

Selesai berkata kedua orang itu siap meninggalkan tempat tersebut. Perempuan peramal sakti Ki Giok Peng gelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya.

"Aaaiii...... sungguh tak disangka hanya dikarenakan Gak In Ling seorang, seluruh dunia persilatan telah terjadi kegaduhan."

Nada suaranya amat berat, membuat siapapun yang mendengar akan merasakan betapa risaunya perasaan hati orang ini.

Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian, dari siang sampai senja semestinya merupakan suatu jangka waktu yang amat panjang sekali hampir setiap jengkal tanah disekitar lembah itu sudah diperiksa dengan seksama, akan tetapi jejak Gak In Ling ternyata sama sekali lenyap tak berbekas.

Dengan perasaan kecewa gadis suci dari Nirwana berjalan balik kehadapan perempuan peramal sakti Ki Giok Peng, serunya dengan hati amat gelisah.

"sebenarnya kemana dia telah pergi ?Jejaknya sama sekali lenyap tak berbekas."

"Leng-cu, mari kita pulang saja."

Bujuk Ki Giok Peng sambil memberi hormat.

"Seandainya dia sudah mati, sekarang mungkin mayatnya sudah menjadi dingin dan kaku, seandainya dia belum mati suatu ketika dikemudian hari kita akan berjumpa kembali, sekarang mungkin dia sudah tak berada didalam lembah ini lagi."

Gadis suci dari Nirwana termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan perasaan apa boleh buat ia berkata.

"Baiklah, mari kita berangkat "

Sejak peristiwa itulah senyuman riang gembira yang semula menghiasi wajahnya yang cantik telah lenyap tak berbekas dan tak pernah muncul kembali diujung bibirnya.

Sang surya telah tenggelam dibalik bukit dan rembulanpun muncul dihias angkasa, suasana dalam lembah yang terpencil itu tercekam kembali dalam keheningan serta kesunyian yang memilukan-Diatas tanah berbaringlah empat sosok mayat yang dadanya terbelah dan noda darah berceceran diatas tanah, ditengah kesunyian dan kegelapan pemandangan seperti itu nampak mengerikan sekali.

Dari belakang batu cadas yang amat besar perlahan-lahan muncul seorang pemuda baju hitam yang bibirnya penuh berlepotan darah, dibawah sorot cahaya rembulan yang keperak-perakan tampaklah wajah yang pucat-pias bagaikan mayat, sepintas lalu keadaannya mirip sekali dengan sukma yang gentayangan-Dia bukan lain adalah Gak In Ling yang menderita luka parah, selama ini rupanya ia menyembunyikan diri di dalam sebuah liang gua yang dalam dibawah batu cadas tersebut, oleh karena itulah tak seorang manusiapun yang berhasil menemukan jejaknya.

Dengan susah payah GakIn Ling berjalan menuju ketepi sungai, angin malam berhembus lewat mengibarkan baju hitamnya yang tipis membuat sekujur badannya merinding dan bersin tiada hentinya.

Pemuda tampan yang dihari-hari biasa memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, pada saat ini ternyata tak mampu menahan hawa dingin dimalam hari yang cerah tersebut.

Bibirnya ternyata kering dan hatinya panas bagaikan dibakar, meskipun pemuda itu sadar bila kehausan itu dihilangkan dengan meneguk air itu berarti akan mempercepat saat ajalnya, akan tetapi pada saat ini ia tak mau memikirkan soal itu, dengan susah payah ia berjalan ketepi sungai.

Jarak sejauh lima puluh tombak dirasakan olehnya seakan-akan begitu jauh dan tidak sampai-sampai, baru saja duapuluh tombak ditempuh, badannya sudah lelah tak bertenaga, akhirnya ia roboh terjengkang dan jatuh terduduk diatas tanah.

Sementara ia masih duduk tepekur sambil memandang kejauhan yang diliputi kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba dari sisi tubuhnya berkumandang suara teguran yang seram dan bercampur nada bangga.

"omitohud Gak sicU, selamat berjumpa kembali "

Dari suara teguran itu Gak In Ling segera mengetahui siapakah orang itu, hatinya kontan tercekat dan sekujur badannya tanpa terasa gemetar keras, diam-diam ia menghela napas, panjang dan berpikir.

"Meskipun aku Gak In Ling bakal menemui ajalku, sungguh tak kusangka akhirnya aku harus menemui ajal di tangan Buddha antik, apakah hal ini sudah merupakan suratan takdir?"

Berpikir sampai disini, dengan suara ketus ia segera berseru.

"Buddha antik, sungguh tepat sekali saat kedatanganmu."

Belum habis Gak In Ling menyelesaikan kata-katanya, mendadak dia merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan tahu-tahu dihadapan matanya telah melayang datang Buddha antik beserta tiga orang manusia berbaju merah darah.

Dengan pandangan yang sangat tajam Buddha antik mengamati wajah Gak In Ling beberapa saat lamanya, kemudian dengan suara dingin ia berkata.

"Seandainya aku tidak mengetahui keadaan sicu yang sesungguhnya pada saat ini, tidak nanti aku akan berani 299 datang kemari secara gegabah dengan membawa tiga orang teman ?"

"He he he...... kalau begitu aku merasa amat berbangga menerima kunjunganmu ini."

Ejek Gak In Ling sambil tertawa dingin. Buddha antik menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haa haa.. .. haa Gak In Ling, saat kematianmu sudah berada diambang pintu, kenapa engkau tidak kelihatan panik? Melihat ketenangan hatimu itu, bukan saja aku Buddha antik jadi amat kagum oleh kehebatan tenaga dalammu, aku pun amat mengagumi akan keberanian serta kejantananmu itu "

Gak In Ling tertawa dingin.

"Kau tak usah banyak ngebacot pentang mulut anjingmu itu, aku sudah tahu bahwa engkau adalah Budda antik gadungan "

Serunya. Sepasang alis mata Buddha antik gadungan berkernyit, tiba-tiba sorot matanya memancarkan cahaya yang sangat tajam, perlahan ujarnya.

"Apakah kau ingin mengetahui siapakah aku yang sebenarnya ?"

Dengan sikap yang sangat dingin Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Untuk mengetahui siapakah dirimu pada saat ini, aku rasa sudah amat terlambat, lebih baik aku tak usah mengetahui asal-usulmu lagi"

Sahutnya cepat. Tiba-tiba salah seorang manusia berkerudung merah yang berdiri dibela kang Buddha antik menyela dengan nada dingin.

"Pada saat ini waktu menunjukkan hampir mendekati kentongan kedua tengah malam, aku rasa sudah tidak sepantasnya kalau kita membicarakan soal masalah tetek-bengek lagi, bukankah begitu ?"

Air muka Buddha antik berubah hebat, dengan hati terkesiap buru-buru dia memotong pembicaraannya dan mengangguk.

"Perkataan saudara sedikitpun tidak salah, hai, Gak In Ling, aku lihat dendam sakit hatimu yang sedalam lautan itu terpaksa baru akan kau tuntut balas pada penitisanmu yang akaa datang. sekarang, terimalah kematian untukmu "

Dengan napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, dia ayunkan telapak tangan kanannya kedepan dan langsung membabat kearah tubuh sianak muda itu.

Dalam hati diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, ia pejamkan matanya rapat-rapat dan menunggu Malaikat Elmaut datang menjemput sukmanya untuk pulang kealam baka.

Pada saat yang amat kritis dan jiwanya terancam antara mati dan hidup itulah mendadak dari atas permukaan sungai berkumandang datang suara gelak tertawa panjang yang amat keras dan menjulang tinggi keangkasa, begitu keras gelak tertawa tersebut hingga serasa memekakkan telinga setiap orang yang hadir ditempat itu, meskipun suaranya tidak begitu tinggi akan tetapi cukup mendatangkan perasaan bergidik bagi siapa pun juga.

Air muka Buddha antik serta tiga orang manusia berbaju merah darah itu berubah sangat hebat, telapak tangannya yang sudah diangkat ketengah udara serta siap melancarkan serangan itu-pun tanpa sadar diturunkan kembali kebawah, mereka segera putar badan menghadap kearah sungai dan alihkan seluruh perhatiannya kearah mana berasalnya suara tertawa tadi.

Begitu bertemu dengan apa yang terlihat, keempat orang itu dengan hati terperanjat segera mundur beberapa langkah kebelakang.

Dibawah cahaya rembulan yang memancarkan sinar keperak-perakan, tampaklah diatas permukaan air sungai berdiri berjajar dua orang kakek tua berambut putih bagaikan 301 salju dan berjenggot sepanjang dada, kakek tua yang berada di sebelah kiri memakai jubah panjang berwarna putih, wajahnya amat cerah, alis matanya panjang dan berwajah saleh serta penuh perasaan welas-kasih.

Sebaliknya orang berada disebelah kanan berdandan aneh sekali, pakaiannya yang dikenakan adalah jubah panjang berwarna merah darah, dua ekor sulaman naga hijau yang amat besar dan memancarkan cahaya tajam tertera pada jubah lebarnya itu dan kedua ekor kepala naga tadi bertemu diatas dada, diantara kibaran jenggotnya yang berwarna ke perak-perakan, sulaman tersebut nampak begitu hidup dan amat menyolok.

Hanya saja raut wajah orang ini berbeda jauh dengan warna jubah yang dikenakan olehnya, dia memiliki wajah yang pucat pias bagaikan kertas, sepasang matanya merah berapi-api, suatu perbedaan yang menyolok sekali dengan raut wajahnya yang pucat dan seperti orang mati itu.

Dari gerak-gerik dua orang kakek tua yang berdiri diantara gulungan ombak itu, dengan cepat Buddha antik menyadari bahwa mereka telah bertemu dengan musuh yang amat tangguh, kepada tiga orang manusia berkerudung merah yang berada dibelakang tubuhnya mereka saling bertukar pandangan sekejap.

kemudian ujarnya dengan suara lantang.

"Entah siapakah dua orang cianpwe yang berada diatas permukaan sungai itu ? Ada maksud serta tujuan apakah kalian munculkan diri ditempat ini?"

Menggunakan kesempatan dikala Buddha antik sedang bercakap-cakap dengan dua orang kakek tua itu, tiga orang manusia berkerudung merah lainnya perlahan-lahan berjalan kedepan menghampiri tubuh Gak In Ling yang menggeletak diatas tanah itu.

Kakek berjubah merah yang berdiri disebelah kanan itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Buddha antik, sebaliknya sambil tertawa dingin ia berkata.

"Hm aku perintahkan kalian untuk menghentikan langkah kaki kalian semua ditempat itu, kalau kalian berani membangkang dan bergerak setengah langkah lagi kedepan, akaa kusuruh kalian menemui ajal ditempat ditengah genangan darah "

Ancaman tersebut diutarakan dengan nada yang dingin dan seram membuat orang jadi terkesiap.

Jarak diantara kakek tua itu dengan para jago berkerudung merah paling sedikit masih ada selisih empa tpuluh tombak jauhnya, kalau dibilang kakek tua baju merah itu mampu untuk merintangi perbuatan tiga manusia berkerudung merah dalam serangannya terhadap Gak In Ling, kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak masuk diakaL Tetapi entah dari mana datangnya suatu kekuatan yang tak berwujud, ternyata ketiga orang manusia berkerudung merah itu benar-benar tidak berani melanjutkan langkahnya untuk mendekati Gak In Ling.

Buddha antik segera memutar sepasang biji matanya, dengan suara lantang ia berseru.

"cianpwe berdua, kalian adalah jago-jago lihay yang sama sekali tidak terikat oleh segala peraturan didalam dunia persilatan, lain halnya dengan boanpwe sekalian yang hidup dalam sungai telaga, mau tak mau terpaksa kami harus menuruti peraturan dan perintah yang telah diberikan kepada kami untuk dilaksanakan, untuk itu aku berharap agar cianpwe berdua bisa menjadi maklum adanya serta memahami kesulitan yang sedang kami hadapi."

Kakek baju merah itu segera tertawa dingin.

"He he..... he.... hwesio gadungan, kalau engkau merasa bahwa perbuatanmu ada alasanNya, nah, sekarang juga katakanlah, tapi sebelum itu aku akan memperingatkan kalian lebih dahulu, kalau engkau terus menipu atau membohongi aku dengan sepatah kata pun, aku akan membacokmu hidup, hidup "

Ucapan tersebut diutarakan dengan nada suara yang dingin menyeramkan membuat bulu kuduk oraag pada bangkit berdiri.

Tercekat hati Buddha antik mendengar ancaman tersebut, dengan ujung matanya dia melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian sambil keraskan kepala jawabnya.

"Perkumpulan kami merupakan salah satu perkumpulan besar dalam dunia persilatan, tanpa alasan dan sebab musabab orang ini telah membinasakan empat orang anak murid dari perkumpulan kami, perbuatannya keji, telengas dan sama sekali tidak mengenal perikemanusiaan sehingga membuat orang yang menyaksikan jadi ngeri dan bergidik, karena perbuatannya yang terkutuk itulah terpaksa aku datang kemari untuk membuat perhitungan dengan dirinya."

"Apakah jantung dari keempat sosok mayat itu dicomot keluar olehnya "

Sela kakek baju putih dengan suara keras, nada ucapannya menunjukkan bahwa dia merasa amat tidak puas.

Buddha antik licik dan banyak akal, mendengar perkataan itu dalam hati kecilnya merasa amat kegirangan, dengan suara lantang ia segera menjawab.

"Sedikitpun tidak salah, perbuatan itu memang dia yang melakukan, kalau tidak percaya cianpwe boleh tanyakan sendiri kepadanya, aku percaya berada dihadapan kalian dua orang tua pastilah dia takkan berani bicara bohong"

Orang ini benar-benar amat beracun hatinya daa berbahaya sekali membuat hati orang bergidik, mula-mula dia mengatur 304 cerita bohong dengan maksud merusak nama lawannya, kemudian dengan menggunakan bukti yang ada untuk meyakinkan ucapannya.

Dari sini dapatlah dinilai sampai dimana busuknya hati Buddha antik.

Terdengar kakek baju merah itu mendengus dingin lalu menegur.

"Eeei, bocah cilik, apakah engkau ada perkataan lain yang hendak kau ucapkan ?"

Gak In Ling menggerakkan biji matanya yang telah tak bertenaga, lalu menjawab dengan dingin.

"orang itu memang mati ditanganku "

"Aku sedang bertanya kepadamu apa alasan sehingga kau melakukan pembunuhan itu? Apakah kau sudah mendengar atau tidak?"

Seru manusia baju putih dengan suara keras, nada suara nya menunjukkan kalau dia mulai gusar. Perlahan-lahan Gak la Ling pejamkan matanya kembali, dengan dingin dan ketus ia menjawab.

"Dikolong langit banyak terdapat manusia-manusia yang membuat pahala dengan mengikuti nama baik majikannya, aku sebatang kara dan tiada kekuatan apa-apa, banyak bicara sekalipun tiada gunanya, kalian berdua sebagai tokoh-tokoh sakti yang sudah mengasingkan diri dari persoalan keduniawian, aku lihat lebih baik jangan mencampuri urusan tetek bengek seperti ini lagi "

Mendengar perkataan itu kakek baju merah jadi gusar sekali, segera bentaknya.

"Bocah cilik, kau berani menasehati diriku, h m Rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup dan ingin mencari mampus ?"

Sambil berkata ia gerakkan badannya siap menerjang maju kedepan, tapi dengan cepat tubuhnya telah ditarik oleh kakek baju putih, terdengar ia berkata.

"Dikolong langit memang banyak terdapat orang-orang yang mencari pahala dengan membonceng nama besar majikannya. Makhluk tua, bukankah kau juga termasuk salah seorang diantaranya?"

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak kakek baju merah itu, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha masuk diakal, masuk diakaL lHei, bocah cilik, setelah aku turun tangan mencampuri urusan ini, sudah tentu aku tak boleh memiliki perasaan berat sebelah. Nah, katakanlah apa yang hendak kau katakan-"

Buddha antik yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa amat gelisah sekali, pengalamannya yang luas dengan cepat menyatakan bahwa kakek tua yang berada disampingnya pada saat ini rupa-rupanya jauh lebih bersimpati terhadap Gak In Ling daripada dirinya.

la segera tundukkan kepalanya, sambil berpura-pura membenahi pakaiannya yang kusut, diam-diam ia mengirim kisikan kepada ketiga orang rekannya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Gunakan kesempatan yaag sangat baik ini untuk turun tangan, jangan membiarkan bangsat cilik itu mendapat kesempatan untuk bicara, kalau tidak maka diantara kita berempat akan terancam bahaya dan mungkin kita takkan tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"

Agaknya ketiga orang manusia berkerudung merah itupun mempunyai jalan pikiran yang sama pada saat Buddha antik menengadah kembali, tiba-tiba terdengar tiga kali bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, terlihatlah tiga sosok bayangan merah secara terpisah bersama-sama menerjang kearah Gak In Ling.

Ketiga orang manusia berkerudung merah itu rata-rata merupakan jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan, setelah turun tangan bersama secara tiba-tiba dapat 306 dibayangkan betapa cepatnya gerakan tubuh beberapa orang itu, dalam waktu singkat mereka sudah berada di hadapan lawannya.

Selisih jarak antara Gak In Ling dengan beberapa orang itu tinggal beberapa depa saja, menurut keadaan yang sebenarnya sulit bagi sianak muda itu untuk melepaskan diri dari mara bahaya, siapa tahu apa yang kemudian terjadi ternyata sama sekali berada di luar dugaan-Pada saat ketiga orang itu ayunkan telapak tangannya untuk membinasakan Gak In Ling itulah mendadak terdengar bentakan nyaring yang bernada amat menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian-"Roboh kalian semua"

Bersamaan dengan menggalanya suara bentakan, kakek baju merah itu ayunkan tangannya kedepan dan terlihatlah lima titik cahaya merah yang amat menyilaukan mata meluncur kearah depan-Jerit kesakitan yang amat menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, tiga orang manusia berkerudung merah itu menggeliat dan segera roboh terkapar diatas tanah.

Sekali ayunkan telapaknya orang itu mampu orang dari jarak sejauh empat puluh tombak, jangan dikata korban yang dibunuh adalah seorang jago persilatan yang sangat lihay.

sekalipun seorang yang tidak mengerti ilmu silatpun belum tentu ada berapa orang jago lihay yang mampu untuk membereskan jiwanya.

Dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang tua itu benar-benar sangat lihay sehingga sangat sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Gak In Ling yang menyaksikan kelihayan kakek baju merah itupun diam-diam bergumam seorang diri.

"Ujung jarinya berwarna merah, tetapi dalam telapak maut yang kupelajari sama sekali tak terdapat jurus ilmu jari."

Setelah didalam satu jurus kakek baju merah itu berhasil membinasakan tiga orang, dengan penuh kegembiraan orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Haa..,,. haa..... haa...... mantap. mantap."

Sebaliknya kakek baju putih yang berada di samping kirinya dengan suara hambar berkata.

"Kesempatan untuk membunuh orang sudah lewat."

Kakek baja merah itu nampak tertegun, kemudian membantah.

"Pembunuhan ini mana boleh masuk hitungan ? Kita toh sudah berjanji bahwa perhitungan ini hanya berlaku selama berada dalam dunia persilatan saja "

"Bukankah kita telah berjanji, setelah membuka pantangan membunuh tidak diperkenankan pula setengah jalan? Tetapi dalam sekejap mata harus diteruskan sampai selesai. Disini hanya terdapat beberapa orang saja, setelah pantangan membunuh kau langgar dan pembunuhan tersebut tak kau kerjakan hingga selesai, bukankah itu berarti bahwa kau telah kehilangan kesempatan membunuh lagi ?"

Kakek baju merah itu berpikir sebentar, kemudian dengan perasaan menyesal ia berkata.

"Aaah, benar juga perkataanmu. Sayang sekali, kalau tahu begitu aku takkan melakukan pembunuhan "

Satelah berhenti sebentar, tiba-tiba serunya "oa ya disini masih ada dua orang lagi, kalau sekarang juga kulanjutkan seranganku, bukankah itu berarti aku sudah mengacaukan pembunuhan di tengah jalan?"

Sejak menyaksikan anak buahnya menemui ajal dalam keadaan yang tidak jelas duduk perkaranya, Buddha antik sudah merasa terkesiap sehingga untuk beberapa saat lamanya tak mampu melakukan sesuatu apapun, kini kesadarannya telah pulih kembali, ia tak berani berdiam disana lebih lama lagi, sepasang kakinya menjejak tanah sekuat tenaga dan tubuhnya cepat-cepat kabur menuju kearah lembah..Siapa tahu baru saja ia menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar kakek baju merah itu tertawa dingin dan berseru.

"Hm Kau akan lari kemana ?"

Buddha antik merasakan urat nadi pada pergelangan tangan kanannya mengencang dan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya seketika musnah tak berbekas, rupanya ia sudah terjatuh ke tangan kakek baju merah itu.

Gak In Ling perlahan-lahan menengadah dan menyapu sekejap kearah Buddha antik, kemudian sambil tertawa dingin ejeknya.

"Buddha antik, sayang sekail aku orang she Gak tidak dapat turun tangan sendiri untuk membinasakan dirimu, akan tetapi aku dapat menyaksikan engkau berangkat selangkah lebih duluan, hal ini merupakan suatu kejadian yang patut digembirakan olehku "

Buddha antik sendiri rupanya sudah menyadari bahwa jiwanya bakal melayang ditangan kakek baju merah itu, mend engar perkataan tersebut, dengan nada dingin ia menjawab.

"Selisih jarak antara lima puluh langkah dengan seratus langkah hanya terpaut kecil sekali, luka dalam yang kau deritapun tak ada orang yang mampu untuk mengobatinya, setelah aku mati kaupun akan menyusul diriku serta menemui aku masuk liang kubur. sekalipun aku mati duluan, kematian inipun tidak terasa sepi "

Kakek tua baju merah itu tertawa seram, tiba-tiba selanya.

"He...he he..,.. hwesio gadungan, apakah perkataanmu telah selesai kau ucapkan ?"

Wajahnya menyeringai seram, rupa-rupanya ia sudah siap sedia untuk turun tangan-Tiba-tiba kakek tua baju putih itu buka suara dan berkata.

"Tunggu sebentar, hwesio gadungan seandainya aku sanggup menyembuhkan luka yang diderita oleh bocah itu, kau akan mempertaruhkan apa?"

Sambil berkata ujung matanya diam-diam melirik sekejap kearah kakek tua baju merah itu.

Rupanya kakek baju merah itu seorang yang paling suka bertaruh, mendengar tentang soal pertaruhan sekilas rasa girang dengan cepat menghiasi wajahnya.

Dengan pikiran yang cermat Buddha antik berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Andaikata cianpwe benar-benar dapat menyembuhkan penyakit yang diderita orang ini, aka pun bersedia mati ditangan orang ini "

Buddha antik gadungan ini benar-benar seorang manusia yang licik dan berbahaya, ternyata dia bermaksud untuk mengulur waktu.

Kakek tua baju putih itu pura-pura tidak mengerti dan sinar matanya segera menyapu sekejap kearah kakek tua baju merah itu sambil bertanya.

"Tua bangka, apakah kau setuju ?"

"Seandainya kau benar-benar ada maksud untuk bertaruh dengan orang ini, aku sih masih dapat menyabarkan diri dan untuk sementara waktu tak akan membinasakan dirinya lebih dahulu"

"Baik, kalau begitu kita putuskan demikian saja,"

Jawab kakek baju putih itu sambil mengangguk.

Habis berkata ia berjongkok dan memeriksa nadi Gak In Ling.

Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian yang mencekam seluruh jagad.

Lama...

lama sekali, akhirnya kakek baju putih itu bangkit berdiri dan gelengkan kepalanya berulang kali, serunya.

"Habis sudah kali ini aku benar-benar kalah, penyakit yang diderita orang ini rupanya memang sudah tak dapat ditolong oleh seluruh manusia dikolong langit ini "

Mendengar jawaban itu terjelaslah hati Buddha antik, diapun berpikir didalam hati kecilnya.

"Habis sudah riwayatku, kalau ia tak dapat disembuhkan, bukankah itu berarti bahwa akupun akan kehilangan kesempatan untuk melarikan diri. Rupanya nasibku memang akan habis disini."

Tiba-tiba terdengar kakek tua baju merak itu buka suara dan berkata.

"Hem, dikolong langit masa ada penyakit yang tak dapat disembuhkan ? Tua bangka, kau, jangan mengigau seenaknya sendiri"

"Ha ha...., ha. .... akhirnya kau terjebak pula oleh siasatku "

Pikir kakek tua baju putih itu dalam hati kecilnya sambil tertawa geli. Setelah termenung sebentar, iapun segera berkata.

"Jadi kaupun ingin bertaruh ?"

"Bertaruh ya bertaruh."

Jawab kakek tua baju merah itu tanpa berpikir panjang lagi "cara kita masih juga seperti dahulu, kalau aku yang menang bertaruh maka kau ijinkan aka untuk melakukan satu kali pembunuhan, secara puas, bagaimana ?"

"Baik."

Sahut rekannya mengangguk. Kakek baju merah itu segera melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Buddha antik "

Baca Juga: Kedele Maut 3

Baca Juga: Antara Budi Dan Cinta Gu Long

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert