Eps 2 Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id
Baca online Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id
Cersil Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id.
Atau mencari jarum didasar lautan, bagaikan sambaran burung elang dia mencengkeram obat ditangan pemuda itu.
Serangan yang dilancarkan Thian-hong pangcu ini jauh diluar dugaan Gak in Ling, ia mengira dara tersebut melancarkan serangan menggunakan kesempatan ketika ia sedang mengambil obat, kejadian ini membuat hatinya tertegun.
Buru-buru obat hijau itu disingkirkan ketangan kanan, lalu dengan gerakan "To-pau-hoan-wi"
Atau copot jubah ganti posisi laksana kilat ia mengundurkan diri sejauh empat tombak lebih dari tempat semula, dengan suatu gerakan yang manis sekali ia berhasil menghindari sambaran kilat lawan-Tapi ia cepat, Thian-hong pangcu lebih cepat lagi, baru saja sepasang kaki Gak In Ling menginjak tanah, jurus serangan "Kim-liong-tam-jiu"
Atau naga emas unjuk cakar dari Thian-hong pangcu kembali telah menyusul datang. Kali ini Gak In Ling telah bikin persiapan yang matang, dengan alis berkerut sindirnya.
"Pangcu, pandai sekali engkau gunakan waktu yang paling tepat. Hmm, kau anggap serangan mu itu akan berhasil ?"
Sementara berbicara ia telah mengubah gerakannya jadi jurus "cian-li lay-hong"
Atau pelangi muncul seribu li, sambil putar badan ia balik menerjang kedepan-Pikiran Thian-hong pangcu pada saat ini kacau dan bingung sekali, ia tak tahu bagaimana mesti menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dalam keadaan begini dia merasa hanya menguasai sianak muda itu secepatnya baru bisa menghalangi dia untuk menelan obat berwarna hijau tersebut.
Karena itu, kendatipun mendengar sindiran dari Gak In Ling namun gadis itu sama sekali tak ambil perduli, dengan sepenuh tenaga ia lancarkan kembali serangan-serangan dahsyatnya.
Thian-hong pangcu adalah salah seorang diantara dua gadis aneh yang menguasai seluruh dunia persilatan, dengan usianya yang masih begitu muda ternyata dia mampu menaklukkan segenap jago lihay yang ada didalam dunia persilatan, hal ini menunjukkan bahwa kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar luar biasa sekali.
Terlihatlah tubuhnya yang langsing bergerak dan menari kian-kemari bagaikan kupu-kupu yang bermain diantara wanginya bunga, tapi ditengah keindahan terseliplah perubahan-perubahan yang amat banyak dan sama sekali tak terduga, ayunan telapak menimbulkan deruan angin pukulan yang mendesir, begitu dahsyatnya hawa serangan tersebut sehingga seakan-akan gulungan ombak ditengah samudra luas.
Gak In Ling sendiri walaupun memiliki ilmu telapak maut yang amat lihay, tetapi kepandaian tersebut tak dapat digunakan olehnya, karena pertama luka dalam yang dideritanya belum sembuh, dalam keadaan begini tenaga murninya tak dapat digunakan seperti apa yang sebenarnya.
Kedua, ia tak tega membinasakan gadis cantik yang berhati baik ini diujung telapaknya, maka setelah lewat lima puluh jurus air muka Gak In Ling berubah semakin pucat, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.
Ia menengadah memandang kearah gadis cantik baju putih itu, kemudian serunya.
"Pangcu, tidak sampai sepuluh jurus lagi, engkau akan berhasil membinasakan aku orang she Gak "
Thian-hong pangcu sama sekali tidak menghentikan serangannya, sambil mempergencar tekanannya ia menyahut.
"Gak In Ling, asal kau bersedia tak akan menelan obat itu, aku pasti takkan menyerang dirimu lagi"
Ditengah kelembutan suaranya terkandung beberapa bagian nada memohon, siapapun tak bisa menduga apa yang sedang dipikirkan gadis cantik yang berhati dingin itu pada saat tersebut.
Gak In Ling segera tergerak hatinya sesudah mendengar ucapan itu, mendadak ia membentak keras.
"Tahan "
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat semua orang merasakan pendengarannya jadi sakit, sambil membentak dengan gesit ia mundur tiga tombak kebelakang, menggunakan kesempatan itulah pil berwarna hijau tadi segera dimasukkan kedalam mulut dan ditelannya.
Thian hong pangcu merasa amat terperanjat ketika secara tiba-tiba Gak In Ling membentak keras, tanpa terasa ia menghentikan serangannya dan berdiri tertegun, tapi otaknya yang cerdik segera memahami akan peristiwa yang akan terjadi didepan mata, tapi sayang hal itu sudah terlambat.
Dengan wajah yang sedih dan menampilkan rasa hati yang tersiksa, dara ayu itu berkata.
"Mengapa kau telan obat tersebut ?"
"Agar aku memiliki kemampuan untuk berduel melawan diri pangcu.
"jawab Gak In Ling sambil tertawa hambar.
"Aku toh mempunyai obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalam yang kau derita itu"
"Tapi sayang aku tidak bersedia menerima budi kebaikan dari pangcu, karena kita berdua berada dalam keadaan yang berbeda serta posisi yang berbeda pula."
Mendengar ucapan itu Thian hong pangcu menundukkan kepalanya, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat.
"Begitu bencikah engkau terhadap diriku ?"
Bisiknya lirih, suaranya kedengaran agak gemetar.
Gak In Ling tercekat hatinya, seakan-akan ia telah memahami akan sesuatu, tapi ia tak berani memastikan dan iapun tidak berharap apa yang terpikir olehnya itu merupakan suatu kenyataan, sebab ia tahu bahwa kehidupannya dialam ini sudah tidak terlalu lama lagi.
Gak ln Ling angkat bahu dan menekan perasaan hatinya, kemudian sambil tertawa tawa jawabnya.
"Aku sama sekali tidak membenci dirimu, aku hanya merasa bahwa perbuatan yang akan ku lakukan sejak kini adalah perbuatan-perbuatan yang melanggar peraturan pangcu serta menyiakan harapan para jago dunia persilatan, jikalau pangcu tidak melenyapkan diriku dari permukaan bumi, maka dalam waktu setengah tahun yang akan datang, dunia persilatan tak akan mengalami ketenangan-"
Selesai berkata-kata perlahan-lahan ia duduk bersila diatas tanah.
Bibir Thian-hong pangcu yang kecil bergetar keras, dengan menggunakan suara yang amat lirih sehingga hampir saja dia sendiripun tidak mendengar, gumamnya seorang diri.
"Aku tahu bahwa engkau bukanlah seorang manusia yang gemar membunuh manusia, kau lakukan perbuatan itu karena mempunyai sebab-sebab tertentu, tapi mengapa engkau selalu tak mau mengatakannya kepadaku? Apakah sebelum kita saling berjumpa muka, engkau telah membenci diriku ?"
Suara itu penuh mengandung keluhan, kesedihan dan rintihan yang menggetarkan hati orang, dari sini pula bisa 107 ditarik kesimpulan bahwa gadis itu memang mempunyai sesuatu terhadap pemuda she Gak ini.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang yang kasar berkumandang memecah kesunyian-"Waduh....
waduh enaknya Benar-benar segar sekali "
Dari nada suara itu Thian hong pangcu segera mengetahui siapakah dia, hatinya kontan terkejut, pikirnya.
"Sungguh tak kusangka kalau tenaga dalam yang dimiliki pria tato sembilan naga jauh diatas In Hok dan Liau Wan sekalian lima orang, tapi siapakah orang ini ? Kenapa belum pernah kudengar namanya disebut orang didalam dunia persilatan ?"
Sementara gadis cantik itu masih berpikir, pria bertato sembilan naga itu sudah berjalan mendekati Gak In Ling, dengan sorot mata yang tajam ia memandang sekejap kearah pemuda itu, kemudian ia angkat kepala memandang kearah Thian-hong pangcu sambil serunya penuh kegusaran-"Hey, nona ?
Barusan ia telah berkelahi dengan bajingan yang mana ?"
Hawa-amarah berkobar dalam dada Thian hong pangcu, rupanya dia hendak mengumbar napsu, tapi setelah berpikir sebentar, bathinnya.
"Buat apa aku mesti bertengkar dengan orang kasar seperti dia ? Lebih baik tak usah dilayani saja "
Berpikir demikian, iapun balik bertanya sambil tertawa.
"Apa yang hendak kau lakukan setelah mengetahui siapakah orang itu?"
"Akan kuhajar orang itu "
Thian-hong pangcu segera tertawa dingin.
"Kenapa sih engkau hendak membantu dirinya ?"
Ia berseru sambil menuding kearah Gak In Ling. Pria bertato sembilan naga tertegun, kemudian dengan sepasang mata melotot bulat serunya.
"Apakah engkau tidak bersedia membantu dirinya ?"
"Aku harus membantu orang yang berhati baik saja, kalau orang jahat tak sudi kubantu"
"Dia toh orang baik"
Jawab pria tato sembilan naga sambil tertawa. Ucapannya begitu meyakinkan dan sama sekali tidak bersipat paksaan, seakan-akan dia telah mengetahui baik buruknya tabiat sianak muda itu.
"Darimana engkau bisa tahu kalau dia adalah orang baik dan bukan orang jahat ?"
Tanya Thian-hong pangcu lagi.
"Aku merasa bahwa dia adalah orang baik maka dia pasti orang baik, apa yang mesti dibicarakan lagi ?"
Thian-hong pangcu tahu bahwa pembicaraan ini bila diteruskan lebih jauh maka sampai di manapun pembicaraan tersebut tidak akan menjadi jelas, terpaksa ia menggeleng dan berkata.
"Tapi aku merasa ...."
"Kenapa ? Apakah engkau beranggapan bahwa dia bukan orang baik ?"
Tukas pria bertato sembilan naga dengan mata melotot dan nada penuh kegusaran-Rupanya asal Thian-hong pangcu anggukkan kepalanya, maka ia segera akan turun tangan-Sekilas perasaan yang sangat aneh berkelebat diatas wajah Thian-hong pangcu, sambil memandang awan yang melayang diang kasagumamnya.
"Mungkin saja dia orang baik "
Nadanya aneh dan membuat orang tak dapat menebak perasaan hatinya pada saat itu sebenarnya sedih atau gembira, murung atau gusar.
Mungkin jago perempuan yang aneh dan menggetarkan dunia persilatan ini telah menjumpai persoalan paling sulit yang belum pernah dihadapinya dan tak dapat dipecahkan oleh kekuatan ilmu serta kecerdasan otaknya.
Jalan pikiran pria bertato sembilan naga sederhana sekali, tentu saja ia tak dapat berpikir sejauh itu, yang diharapkan olehnya hanya mendengar orang lain mengatakan bahwa Gak In Ling adalah orang baik, sebab hal itu sudah cukup memuaskan hatinya.
Sambil tertawa ia segera memuji.
"Wah wah wah aduh, nona, kau memang pintar dan hebat sekali, bukan saja pandai melihat orang rupanya engkaupun mempunyai kepandaian yang sangat lihay didalam mengenal watak orang seperti halnya dengan diriku "
Pada waktu itu pikiran Thian-hong pangcu sedang amat kacau, apa yang diucapkan pria bertato sembilan naga tak sepatah katapun yang terdengar olehnya, ia cuma tertawa tawa saja sebagai pengganti jawaban-suasana dalam kalanganpun berubah jadi hening dan sunyi sekali ketika itulah tiba-tiba Gak In Ling membuka matanya kembali, wajahnya yang semula pucat pias kini telah pulih kembali jadi kemerah-merahan, rupanya luka dalam yang sedang diderita olehnya telah sembuh kembali seperti sedia kala.
Setelah meloncat bangun dari atas tanah, Gak In Ling menyapu sekejap kearah kedua orang itu dengan pandangan hambar, lalu berkata.
"Aku rasa sudah lebih dari cukup bila ada kalian berdua yang melakukan perlindungan terhadap orang-orang gila, aku..."
"Gak In Ling,"
Sela Thian-hong pangcu dengan gelisah.
"obat yang engkau telan barusan, apakah... apakah..."
Dia ulangi perkataan itu sampai beberapa kali namun tiada keberanian untuk mengutarakan lebih lanjut, dari balik 110 matanya yang jeli terpancar keluar perasaan yang sedih, murung dan tidak tenang.
Gak In Ling menghela napas panjang, sambungnya^ "obat itu bukan lain adalah cui-sim-wan, obat penghancur hati "
"cui-sim-wan ?"
Jerit Thian-hong pangcu dengan badan gemetar keras.
"Gak In Ling, bukankah engkau telah menghancurkan dirimu sendiri ?"
Suaranya tajam dan penuh mengandung nada teguran-Sementara itu pria bertato sembilan naga cuma bisa mengawasi kedua orang itu dengan mata melotot, sebentar ia menoleh kearah Gak In Ling sebentar lagi berpaling kearah dara baju putih itu, rupanya dia tidak tahu apakah yang disebut obat penghancur hati itu.
Gak In Ling tertawa hambar.
"Di dalam kolong langit hanya benda itulah yang bisa memulihkan kembali tenaga dalamku untuk sementara waktu."
Bicara sampai disitu ia putar badan dan berangkat kedalam lembah sebelah kanan-Dengan cekatan pria bertato sembilan naga meloncat kesisi sianak muda itu serunya.
"Hey, engkau hendak pergi kemana ?"
"Tuh, pergi kesitu."
Sahut Gak In Ling sambil menuding kearah lembah, sementara kakinya sama sekali tidak berhenti.
"Bagus, akupun hendak mengikuti dirimu "
Tanpa banyak bicara pria tadi mengikuti disamping pemuda tersebut. Melihat pria kasar itu mengikuti dirinya, dengan serentak Gak In Ling berhenti berjalan, sambil menggeleng, katanya.
"Lembah ini disebut lembah pemutus nyawa, dan tersohor sebagai tempat yang paling berbahaya dikolong langit, kalau toh tiada seseorang yang hendak kau cari disana, lebih baik jangan ikut masuk"
"omong kosong... omong kosong"
Teriakpria bertato sembilan naga sambil menepuk dada sendiri.
"Aku simanusia bertato sembilan naga sejak kecil sampai dewasa selalu berdiam dalam kuburan, setanpun tidak kutakuti apa yang mesti kujerikan lagi apalagi menghadapi....... menghadapi bahaya." ---ooo0dw0ooo---
Jilid 4 TAPI Gak ln Ling tetap gelengkan kepalanya.
"Jangan, kau jangan ikut. Sebab orang yang berada dalam lembah itujauh lebih menakutkan dari pada setan, kalau tidak tanyakanlah sendiri kepada..."
Bicara sampai disini ia segera berpaling ke belakang, tapi dengan cepat pemuda itu berdiri tertegun, sebab pada saat itu Thian-hong pangcu sedang mengikuti di belakang tubuhnya persis pada jarak lima depa.
Dengan muka tercengang segera tegurnya.
"Pangcu, apakah engkau juga akan ikut menempuh bahaya ?"
Merah jengah selembar wajah Thian-hong pangcu, tiba-tiba ia tertawa dingin, dan menjawab.
"Penghuni yang berdiam dalam lembah ini sangat membahayakan jiwa dan keselamatan dari umat persilatan didaratan Tionggoan, sejak dahulu aku memang ada maksud untuk menyelidiki lembah ini. Hmm, kau tak usah berpikir yang bukan-bukan, janganlah kau anggap kedatanganku kemari adalah disebabkan karena dirimu."
"Oooh, kalau memang begitu aku orang she Gak-lah yang terlalu berlagak pintar."
Ujar pemuda itu kemudian dengan hambar.
"Ei, benarkah orang yang berada dalam lembah ini jauh lebih menakutkan daripada setan?"
Terdengar pria bertato 112 sembilan naga telah berseru pula dengan nada cemas.
"Kalau memang begitu aku si manusia bertato sembilan naga harus mengobrak-abrik orang itu, dan ingat urusan ini sama sekali tak ada urusannya dengan dirimu."
Dalam gugupnya ternyata pria kasar inipun meniru lagak Thian-hong pangcu.
Gak In Ling ingin cepat-cepat menemukan Buddha Antik dan tak ingin membuang waktu dengan percuma, setelah memandang sekejap kearah dua orang itu ujarnya dengan hambar.
"Kalau memang begitu, mari kita kerjakan urusan masing-masing."
Dengan langkah lebar ia berjalan lebih dahulu memasuki lembah tersebut.
"Hm, kau tak boleh aku ikut, justru aku akan sengaja ikuti terus dirimu, akan kulihat apa yang bisa kau lakukan-"
Pikir pria bertato sembilan naga didalam hati.
Berpikir sampai disitu diapun dengan cepat membuntuti dibelakangnya.
Thian-hong pangcu berpaling dan memandang sekejap kearah lima orang yang masih bersemadhi, melihat In Hong Totiang dan Liau Wan Taysu telah mendusin, hatinya jadi lega dan dengan cepat gadis itu memburu dibelakang Gak ln Ling.
Pada dasarnya tenaga dalam yang dimiliki ketiga orang itu memang sangat tinggi, sepanjang perjalanan walaupun tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, akan tetapi kalau dibandingkan dengan orang biasa, langkah mereka lima enam kali lipat jauh lebih cepat.
Tidak selang beberapa saat kemudian ketiga orang itu sudah memasuki mulut selat Toan-hun kok yang sempit, didepan mereka muncullah cabang jalan yang satu menuju ketenggara sedang yang lain-menuju kearah timur laut, jalan manakah yang harus ditempuh tak seorangpun yang tahu..Pada jalan masuk kedua buah jalan simpangan tadi tersebar tengkorak-tengkorak manusia yang berserakan dimana-mana,jumlah mereka sampai ratusan dan sepintas 113 memandang suasana ditempat itu terasa seram dan mengerikan sekali.
Tanpa sadar Thian-hong pangcu menggeserkan tubuhnya dua langkah kesamping Gak In Ling, mungkin dalam perasaan seorang gadis hanya mendekati kaum pria yang dicintainyalah dirinya baru terasa aman-Sementara itu manusia bertato sembilan naga telah bergumam dengan suara yang kasar.
"Maknya, neneknya kenapa begitu banyak barang-barang yang menjijikkan berserakan disini ? Benarkah mereka jauh lebih menakutkan daripada setan ?"
Dengan cepatnya mereka bertiga telah tiba dijalan persimpangan tersebut, Gak in Ling segera berhenti dan bertanya.
"Kalian berdua akan memilih jalan yang mana ?"
"Kau sendiri ?"
Pria bertato sembilan naga balik bertanya.
"Aku memilih jalan yang ini "
Sahut Gak In Ling sambil menuding ke arah jalan yang bercabang kearah Timur-laut.
"Oooh, hah hah hah kebetulan sekali, akupun hendak melewati jalan yang ini "
Sambil tertawa terbahak-bahak pria bertato sembilan naga segera berjalan lebih dahulu memasuki jalan cabang tadi.
Gak In Liag tertegun, ketika ia berpaling kearah Thian-hong pangcu maka tampaklah gadis baju putih itu sudah melewati disisi tubuhnya dan berangkat menyusul dibelakang pria bertato sembilan naga.
Jalan lembah itu berliku liku bagaikan usus kambing, tidak selang beberapa saat kemudian bayangan punggung kedua orang itu sudah lenyap dibalik tikungan yang pertama, mereka berdua tak seorangpun yang berpaling kearah Gak In Ling, mungkin dalam perkiraan mereka sianak muda itu pasti akan menyusul dibelakangnya.
Gak In Ling tidak langsung berangkat kearah Timur-laut, sambil menoleh jalan yang ada disebelah kiri, pikirnya.
Jikalau tiga orang mengambil jalan yang sama, bukankah itu berarti telah meninggalkan sebuah jalan kehidupan bagi Buddha Antik?
Biarlah aku mengambil jalan yang kearah tenggara saja."
Sementara itu hendak berjalan menuju kekiri, tiba-tiba satu ingatan berkelebat kembali dalam benaknya.
"Buddha Antik adalah seorang jago bu-lim yang amat tersohor, sekalipun ia berjumpa dengan Thian-hong pangcu, belum tentu gadis itu akan menyusahkan dirinya, aku rasa kalau aku orang she Gak harus berjalan seorang diri malah kekuatanku terasa jauh lebih lemah."
Senyuman dingin tersungging diujung bibirnya, untuk beberapa saat ia tak tahu jalan manakah yang harus ditempuh olehnya.
Pada saat itulah dari dalam lembah tiba-tiba berkumandang datang suara bentakan keras dari pria bertato sembilan naga.
"Maknya bangsat Kalian anggap setelah kamu semua menyaru sebagai setan dan malaikat maka yayamu lantas ketakutan dan lari terbirit-birit?"
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.
Gak In Ling terkejut, dengan cepat ia putar badan dan lari menuju kearah mana berasal-nya suara tadi.
Baru saja bayangan tubuh Gak In Ling lenyap dibalik tikungan yang pertama, dari balik jalan persimpangan yang menuju kearah tenggara tiba-tiba muncul dua orang manusia aneh yang berwajah menyeramkan, sambil memandang bayangan punggung sang pemuda yang lenyap ditikungan mereka tertawa dingin, kemudian bagaikan hembusan puyuh kedua orang itu menyusul dari belakangnya.
Dengan kecepatan yang tinggi Gak In Ling melayang masuk kedalam lembah, sepanjang jalan ia lihat tulang putih yang memantulkan api fosfor berserakan dimana-mana pemandangan sekitar tempat itu mengerikan sekali bagaikan masuk ke kerajaan setan saja.
Setelah melalui tujuh-delapan tikungan, pemuda itu mulai bingung dan tak dapat membedakan arah lagi.
Pada tikungan kesepuluh akhirnya Gak In Ling menemukan cahaya terang memancar masuk dari arah depan, apa yang kemudian terlihat olehnya membuat sianak muda itu tertegun.
Ditengah gelanggang tampaklah pria bertato sembilan naga sedang memutar senjata toyanyadan melangsungkan pertarungan sengit melawan tiga orang manusia aneh berbaju hitam yang mukanya corang-coreng oleh lima-enam warna, pertarungan itu berjalan seru dan ramai sekali.
Thian-hong pangcu sendiri berada lima tombak diluar gelanggang, sorot matanya yang jeli menyapu sekejap kearah Gak In Ling, seakan-akan ia sudah lama sekali menantikan kedatangannya .
Dengan pandangan yang tajam Gak In Ling menyapu sekejap seluruh pemandangan dalam lembah itu, ia lihat luas lembah tersebut kurang-lebih duapuluh tombak persegi, batu cadas berserakan disana-sini, tanaman gundul dan gersang sekali, diatas dinding tebing batu disebelah depan terdapat sebuah mulut gua yang tidak terlalu besar, dan tempat itulah merupakan pusat dari lembah tersebut.
Setelah menyapu sekejap suasana dalam gelanggang pertarungan, ia segera mengetahui bahwa pria bertato sembilan naga berhasil menguasai keadaan dan merebut diatas angin, hal ini melegakan hatinya, tanpa banyak berpikir-pemuda ini segera melangkah kearah mulut gua.
Mendadak dari belakang tubuh sianak muda itu berkumandang datang suara teguran yang amat menyeramkan-"Bangsat!!
Engkau tak usah menuju kes ana lagi, ditempat inilah mayatmu akan bersemayam antuk selama-lamanya "
Mendengar suara teguran tersebut, Gak In Ling merasa terperanjat, dengan cepat ia menghentikan langkahnya dan berpaling kebelakang.
Tampaklah dua orang manusia aneh bermuka hijau bergigi taring dan berwajah mengerikan sedang berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan mukanya, kehadiran orang itu sangat mengejutkan hatinya, pemuda itu segera berpikir.
"Sejak kapan kedua orang makhluk aneh itu tiba disini ? Kenapa aku sama sekali tidak merasakannya ?"
Berpikir sampai disitu, ia segera buka suara dan menjawab dengan dingin.
"Hmm, dengan andalkan apakah kalian berdua berani omong besar ?" ---ooo0dw0ooo---"Haaah....... haaah haaah "
Manusia aneh yang ada disebelah kanan tertawa seram.
"Kami berdua disebut Siu-kok-siang-hun sepasang sukma penjaga lembah, bangsat, pernah kau dengar lembah itu? IHemm hemm..."
Thian-hong pangcu yang ikut mendengar pembicaraan itu dari sisi kalangan, wajahnya segera berubah hebat, pikirnya.
"Kedua orang ini menyebut dirinya sebagai Siu-kok-siang-hun sepasang sukma penjaga lembah, kalau begitu semua orang yang hendak memasuki lembah ini sepanjang jalan telah mati dibunuh oleh mereka berdua, dus berarti kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini pasti luar biasa sekali."
Berpikir demikian tanpa sadar ia maju ke-muka dan mendekati pemuda she Gak itu. Dalampada itu Gak In Ling telah berkata kembali sambil tertawa dingin.
"Heh heh.... heh jadi kalau begitu tulang putih yang berserakan dalam lembah ini adalah hasil karya dari kalian berdua ?"
"Tentu saja "jawab manusia aneh yang berada disebelah kiri sambil tertawa lengking.
"oleh karena tulang putih yang berserakan dijalan masuk lembah itu sudah terlalu banyak, maka dari itu engkau sibangsat cilik baru dapat hidup sampai ditempat ini "
Gak In Ling tertawa dingin.
"Apakah itu pengecualian yang kalian berdua berikan khusus buat aku orang she Gak?"
Sambil berkata diam-diam hawa murninya telah dihimpun kedalam telapak.
"Haaahh..... haahh haahh sedikitpun tidak salah, dan sudah sepantasnya kalau engkau mengucapkan banyak terima kasih kepada toa-ya mu berdua."
Habis berkata manusia aneh yang berada disebelah kanan segera menerjang maju kedepan.
Pada waksu itu Thian-hong pangcu telah berada kurang lebih dua depa disamping sianak muda itu, melihat datangnya tubrukan hatinya tercekat, ia berpaling ke arah Gak In Ling dan serunya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Gak In Ling, kedua orang ini mampu membinasakan segenapjago yang datang kedalam lembah ini, hal tersebut membuktikan bahwa ia memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, sewaktu bertarung nanti aku harap engkau suka berhati-hati."
"Engkau tak usah kuatir, itu urusan pribadiku "
Jawab sang pemuda ketus. Pada saat itulah dari arah gelanggang pertarungan berkimandang datang suara teriakan pria bertato sembilan naga.
"Enyah kau bangsat dari tempat ini"
Plookk Dan jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera menggema memenuhi angkasa, jelas ada seseorang yang menemui ajalnya dj ujung toya besinya.
Setelah berhasil membunuh seorang musuhnya, napsu membunuh berkobar dalam dada pria bertato sembilan naga, ia tertawa terbahak-bahak dan berseru keras.
"Huh Tiga orang tak mampu, apa gunanya kalian berdua ? Roboh kamu "
Mengikuti bentakan yang amat keras itu, kembali terdengar dua kali jeritan ngeri memecahkan kesunyian, tak usah dilihat lagi jelas kedua orang musuhnya yang tertinggal mati konyol pula diujung toya bajanya.
Melihat rekannya pada binasa, sepasang sukma penjaga lembah jadi amat gusar, orang yang ada disebelah kanan segera membentak keras.
"Bangsat Lembah pencabut nyawa takkan-mengijinkan orang lain untuk berlagak -sok, terimalah seranganku "
Dengan dahsyatnya ia menerjang kearah pria bertato sembilan naga dengan jurus "Tui san-tiam hay"
Atau mendorong gunung membendung samudra, diiringi desiran angin tajam ia hajar musuhnya habis-habisan-"Kembali"
Bentak Gak In Ling pula dengan sorot mata berkilat. Tubuhnya loncat maju kedepan, dengan jurus "Lek-peng-ngo-gi"
Atau lima bukit hancur merata ia sambut datangnya serangan orang itu dengan keras lawan keras.
Gerakan tubuh kedua belah pihak sama-sama cepatnya, dalam waktu singkat empat buah telapak telah saling beradu satu sama lainnya.
"Blaaam "
Ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh jagad menggeletar diangkasa, pasir dan debu seketika beterbangan diangkasa bagaikan ketimpa angin puyuh, sebuah liang sedalam tiga depa muncul diatas permukaan tanah.
Ditengah gulungan angin kencang, tubuh Gak In Ling terdorong mundur dua langkah ke-belakang, darah panas dalam dadanya bergolak kencang, hal ini membuat hatinya amat terkesiap.
sebab dari bentrokan tersebut ia dapat menilai bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini rupanya masih jauh diatas Buddha Antik.
Sebaliknya manusia aneh itu sendiri harus mundur sejauh empat-lima langkah sebelum berhasil berdiri tegak.
lengan kanannya terasa kaku dan linu sekali, sedangkan dadanya jadi sesak dan hampir saja muntah darah segar.
Dengan sorot mata yang tajam dan penuh memancarkan ^asa ketakutan ia menatap wajah Gak In Ling, kemudian tegurnya.
"Siapa engkau ?"
"Gak In Ling "
"Apa ? Gak In Ling?"
Teriak sepasang sukma penjaga lembah hampir berbareng, dari balik mata kedua orang itu segera memancarkan napsu membunuh yang amat tebal, selangkah demi selangkah mereka mendekati sianak muda itu.
Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Hmm Kenapa kalian berdua tak berani menjumpai orang dengan wajah aslimu ?"
Sambil berkata hawa murninya dihimpun ke dalam telapak.
Manusia aneh yang berada disebelah kanan menyapu sekejap kearah Thian-hong pangcu serta pria bertato sembilan 120 naga, kemudian sambil tertawa dingin jengeknya.
"Jadi kalian berdua pun akan menceburkan diri didalam air keruh ini ?"
"Haah.... haah..... haah... apa itu air keruh dan air jernih, kalau mau bergebrak, ayoh sekarang juga kita bergebrak "
Sahut pria bertato sembilan naga sambil tertawa bergelak.
Gak In Ling tidak ingin ribut terlalu lama dengan orang-orang itu, ia membutuhkan Buddha Antik yang ingin ditemuinya secepat mungkin, sambil tertawa dingin segera serunya.
"Apakah Buddha Antik berada didalami lembah ini ?"
Manusia aneh yang berada disebelah kanan tertawa seram.
"Hmm, asal engkau mampu menangkan kami berdua, dengan sendirinya Buddha Antik akan munculkan diri untuk menemui dirimu."
Napsu membunuh melintas dalam wajah Gak ln Ling, tiba-tiba dengan menggunakan jurus "Wong-hong-hui-si"
Atau angin puyuh terbangkan serat, ia hantam kedua orang musuhnya sambil membentak.
"Sambutlah seranganku ini "
Angin pukulan yang tajam dengan cepat menerjang dada kedua orang itu.
Sejak permulaan sepasang sukma penjaga-lembah sudah bermaksud untuk membinasakan Gak ln ling, melihat datangnya ancaman tersebut mereka membentak keras, satu dari kiri yang lain dari kanan dengan cepat mengerubuti sianak muda itu, jurus serangan yang digunakan ganas dan keji, sedang arah yang dituju semuanya merupakan jalan darah kematian ditubuh musuhnya.
Kiranya Gak in Ling menyerang musuhnya dengan jurus angin puyuh terbangkan serat itu bukan lain adalah hendak memancing lawannya masuk jebakan, setelah sepasang sukma penjaga lembah melancarkan serangan balasan, tiba-tiba badannya berputar melepaskan diri dari kepungan kedua orang itu, permainan telapaknya dengan cepat berubah, 121 laksana kilat ia lancarkan tujuh kali serangan berantai kearah manusia aneh yang berada disebelah kanan.
Pada dasarnya ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling memang tinggi sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata, setelah serangannya dipusatkan pada satu orang maka daya tekanan yang terpancar keluar tentu saja luar biasa hebatnya.
Terlihatlah bayangan telapaknya meluncur kes ana-kemari, seluruh angkasa penuh dengan cahaya tajam yang berkilauan, untuk beberapa saat sulit bagi orang untuk membedakan mana yang serangan asli dan mana yang palsu, yang terasa hanya tekanan yang mendesak ketubuhnya kian lama kian bertambah berat membuat dada sesak.
Ilmu silat yang dimiliki sepasang sukma penjaga lembah sendiri tidak lemah.
Tapi mereka tak pernah menyangka kalau gerakan tubuh dari Gak In Ling bisa sedemikian cepatnya, menanti mereka menyadari akan bahaya yang mengancam, manusia aneh yang ada disebelah kiri sudah tak sempat untuk memberikan pertolongan lagi.
Dengan cepat manusia aneh disebelah kanan memutar badan, baru saja ia bermaksud ayun telapaknya melancarkan serangan balasan, siapa sangka angin pukulan yang dipancarkan Gak In Ling telah mencapai depan dadanya tidak sampai setengah depa.
Mati hidup hanya terpaut pada satu detik, manusia aneh itu segera mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelamatkan dirinya, sepasang kakinya menjejak tanah keras-keras, tubuhnya laksana kilat membubung ke angkasa dan secara nyaris ia loloskan diri dari ancaman angin pukulan lawan-Thian-hong pangcu yang menyaksikan kejadian itu jadi amat terperanjat, tanpa terasa ia berteriak keras.
"Ei, bukankah engkau adalah In-tiong-hok bangau ditengah mega Go To Peng ?"
Bersamaan dengan jeritan sang dara, tiba-tiba Gak In Ling tertawa dingin, bayangan hitam nampak berkelebat lewat dan tahu-tahujejak tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Sekonyong-konyong ....Dari tengah udara berkumandang datang jeritan kaget dari manusia aneh itu, disusul...
Blaaam Sebuah benda berat terbating keatas tanah dengan keras, dan Gak in Ling pun sambil mencekal sebuah topeng kulit manusia berdiri dihadapan musuhnya.
Menanti pria bertato sembilan naga angkat kepala, tampaklah olehnya manusia aneh yang di kenal sebagai manusia berwajah seram tadi kini sudah berubah jadi seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah putih bersih, ia tak tahu deagan gerakan tubuh apakah si anak muda itu mencopot topeng lawan, teriaknya dengan hati terkejut.
"Waduuuh...... waduh., ,. eeei kakek bangkotan, apakah engkau siluman monyet yang muncul kembali dikolong langit, kok-aneh benar mukamu bisa herubah-ubah."
Sambil berkata ia menatap wajah orang itu dengan pandangan tercengang bercampur kaget.
Sedangkan Thian-hong pangcu sendiri dengan pikiran bimbang memandang kearah Gak In Ling, sedang hatinya berpikir terus.
"Sebenarnya sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang-dimiliki orang ini ?"
Dengan sorot mata yang menggidikkan hati Gak In Ling menatap kearah kakek tua itu, lalu ujarnya dengan suara yang menyeramkan-123
"Bangau ditengah mega, bagaimanakah kau tahu caranya Tiang-kang sam-kiat serta chin-hway ngo-gi menemui ajalnya ?"
Tanpa sadar Bangau-ditengah-mega Go To Peng mundur tiga langkah kebelakang, dalam waktu singkat diatas wajahnya secara berturut-turuf menampilkan perasaan kaget, gusar, murung dan takut.
Gak In Ling membanting topeng kulit manusia itu keras-keras keatas tanah, lalu sambil berpaling kearah manusia aneh yang lain serunya pula dengan nada seram.
"Belibis ditengah mega, apakah engkau akan memaksa aku orang she Gak untuk mencopot pula topeng kulit manusia yang kau kenakan ?"
Mendengar ucapan tersebut manusia aneh tadi mundur selangkah kebelakang dengan ketakutan, walaupun hatinya merasa ngeri tapi ia tidak sudi menurut perkataan orang dengan begitu saja, sebab bagaimanapun juga mereka berdua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan-Dengan sorot mata penuh kebencian Belibis ditengah-mega menatap wajah pemuda itu, kemudian jengeknya sinis.
"Huhh Asal engkau memiliki kemampuan tersebut, silahkan melakukan sendiri,"
Sembari berkata hawa murninya segera dihimpun kedalam telapak.
"Hm Kalau engkau hendak paksa aku orang she Gak untuk turun tangan sendiri. Maka kemungkinan besar sebelum saat ajalmu tiba siksaan yang paling hebat akan kau rasakan lebih dulu."
Seru Gak In Ling dengan napsu membunuh berkobar-kobar^ Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati manusia aneh itu, keseraman dan kengerian yang dipancarkan dari tubuh sianak muda itu seketika memaksa lawannya tanpa sadar mundur tiga langkah kebelakang.
Tiba-tiba Gak In Ling membentak keras, semua orang hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur dan tahu-tahu Gak In Ling sudah balik kembali ketempat semula.
Sedang manusia aneh yang berada dihadapannya kedengaran menjerit kaget.
Menanti semua orang berpaling lagi kearah-nya, maka topeng bengis yang semula menutupi wajahnya kini sudah lenyap tak berbekas dan sebagai gantinya dihadapan mereka berdirilah seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang bermuka merah padam dan memelihara jenggot panjang .
Semua perubahan yang berlangsung dalam kalangan terjadi dalam waktu yang amat singkat, dalam kalangan itu kecuali Thian-hong pangcu siapapun tak sempat menyaksikan gerakan tubuh macam apakah yang telah dipergunakan Gak In Ling.
Pria bertato sembilan naga sambil mengerdipkan matanya segera tertawa dengan wajah melongo.
"Waduuuh gerakan apakah yang telah digunakan ? Ehmm, memang luar biasa "
Dalam pada itu Gak In Ling sudah membanting topeng kulit manusia itu keatas tanah, lalu sambil menyapu wajah kedua orang musuhnya ia mengejek sinis.
"Belibis ditengah mega, apa yang hendak kau katakan lagi ?"
Air muka Bangau-ditengah-mega Go To Peng serta Belibis-di tengah-mega Go To Ki berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sejak mereka mengetahui bahwa pemuda yang munculkan diri di tempat itu bukan lain adalah Gak ln Ling, kedua orang itu telah sadar kehadirannya di sana adalah untuk mencabut nyawa mereka berdua.
Pada saat itulah mereka telah ambil keputusan untuk berusaha menyingkirkan musuh bebuyutan ini.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan siapapun, dan yang paling penting ternyata ilmu silat 125 yang dimiliki pihak lawan telah mencapai kesempurnaan yang begitu hebat.
Wajah Bangau-ditengah-mega Go TO Peng yang pucat pias bagaikan mayat nampak berkerut kencang, tiba-tiba ia berkata.
"Gak In Ling, aku dengan dirimu toh tak pernah kenal, apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku ?"
Ketika mengucapkan kata kata "kita tidak pernah saling kenal" -sengaja kalimat tersebut di utarakan dengan suara yaag keras, sedang sinar matanya tanpa sadar melirik kearah Thian-hong pangcu, rupanya ia sedang mohon bantuan dari gadis muda itu.
Manusia, siapa yang tak takut mati ?
Meski pun Bangau-ditengah-megago To Peng serta Belibis-ditengah-megago To Ki adalah jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, namun setelah keselamatan mereka terancam, merekapun melupakan apa artinya malu.
Gak In Ling segera tertawa dingin,jengeknya.
"Hee hee hee dua bersaudara dari keluarga Go, masa tempo dulu kalian berani melakukan, sekarang sudah tak punya keberanian untuk mengakuinya ?"
Nada suara pemuda ini terasa dingin mengerikan dan penuh mengandung hawa pembunuhan.
selangkah demi selangkah ia maju mendekati kedua orang musuhnya.
Dengan penuh ketakutan Belibis-ditengah-megagoTo Ki mundur dua langkah kebelakang jeritnya.
"Gak In Ling, apa yang harus kuakui... apa yang harus kuakui ? coba katakanlah lebih dulu."
Suaranya agak gemetar dan kegagahan yang diperlihatkan semula kini sudah lenyap tak berbekas, mungkin mereka telah sadar bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih dibawah 126 kepandaian musuhnya, maka kedua orang itu jadi putus asa dan ketakutan-Gak In Ling menengadah lalu tertawa seram "Haa haa haa.
urusan apakah itu?
Kalau tidak jelas tanyakan sendiri setelah bertemu dengan Tiang-kang Sam-kiat serta cin-hway ngo-gi..."
Gelak tertawanya keras hingga menembusi angkasa dan penuh mengandung napsu membunuh serta kesadisan-Thian-hong pangcu mengerutkan dahinya, dengan suara ketus segera bentaknya.
"Gak In Ling Kau tak boleh membinasakan mereka berdua "
Mendengar perkataan itu sepasang alis Gak In Ling kontan berkerut, tiba-tiba ia putar badan dan tertawa dingin.
"Hee hee hee bukankah sedari tadi aku sudah berkata pangcu, diantara kita berdua selamanya tidak bisa hidup saling berdampingan, keputusanku untuk membunuh kedua orang ini sudah bulat, bilamana pangcu merasa tidak puas, tak ada halangannya maju bersama mereka, aku sama sekali tak gentar untuk menghadapi kalian secara berbareng."
Dari perkataan pihak musuhnya, Bangau-di tengah-mega go To Peng serta Belibis-ditengah mega Go To Ki telah mengetahui bahwa jiwa mereka berdua tak dapat tertolong lagi, binatang yang terkurung akan menunjukkan kenekadannya demikian pula halnya dengan kedua orang bersaudara ini, setelah harapan hidupnya musnah mereka berdua segera saling bertukar pandangan sekejap kemudian tanpa mengeluarkan sedikit suarapun melancarkan tubrukan kearah Gak in Ling.
Bangau-ditengah-mega Go To Peng meloncat ketengah udara dan menyerang kearah bawah dengan jurus "Hui-po-nu-thiau"
Atau gelombang dahsyat diair terjun, sebaliknya Belibis ditengah mega Go To Ki menerjang dari samping dengan jurus "Peng-hun-ciu-si"
Atau bagi rata adil makmur, arah yang dituju bukan lain adalah jalan kematian diatas lambung musuhnya.
Setelah timbul kenekadan serta niat untuk mengadu jiwa, serangan-serangan yang dilancarkan kedua orang ini bukan saja amat dahsyat laksana ambruknya gunung Thay-san, bahkan tempat-tempat yang diserangpun merupakan bagian yang vital dan berbahaya ditubuh manusia, seakan-akan dengan jurus serangan tersebut mereka hendak membinasakan musuhnya.
Baru saja Gak In Ling menyelesaikan kata-katanya, angin pukulan yang dilancarkan kedua orang itu sudah mendekati tubuhnya, kecepatan gerak yang dilancarkan benar-benar mengerikan sekali.
Diatas wajah Gak In Ling sama sekali tidak terlintas rasa kaget ataupun tercengang, hanya napsu membunuh yang terpancar keluar dari balik matanya kini bertambah tebal.
Pada saat empat buah telapak dari dua bersaudara she Go hampir mengenai diatas dada Gak In Ling itulah, tiba-tiba...
Sianak muda itu membentak nyaring, sepasang telapaknya diayun ke depan secepat kilat, cahaya merah menyelimuti daerah sekitar beberapa tombak ditempat itu.
"Blaaaam."
Dua ledakan dahsyat yang memekakkan telinga menggelegar diudara, dua jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma bergema memecahkan kesunyian-..
disusul plak Plak Dua sosok tubuh yang tinggi besar terbanting diatas tanah pada jarak kurang lebih satu tombak dari tempat semula, darah kental mengucur keluar dari tujuh lubang indera, pada detik itu juga nyawa mereka berdua telah lenyap tinggalkan raga.
Dua orang jago persilatan yang seringkali melakukan kejahatan dan sudah terlalu banyak membunuh jago kangouw itu akhirnya menemui ajalnya ditangan seorang pemuda yang masih muda belia, mereka tak pernah menyangka kalau pada 128 akhirnya jiwa mereka bakal lenyap karena suatu hutang lama yang pernah mereka lakukan pada belasan tahun berselang.
napsu membunuh yang menyelimuti diwajari Gak In Ling perlahan-lahan lenyap kembali dengan termangu-mangu ia memandang dua sosok mayat yang terkapar diatas tanah, bibirnya sementara berkemak-kemik tiada hentinya namun tiada seorangpun yang tahu apa yang sedang dia ucapkan-Dalam pada itu pria bertato sembilan naga telah dibikin terkejut hingga berdiri termangu-mangu, dia merasa kepandaian silat yang dimilikinya sudah cukup ampuh, tapi tak pernah menyangka kalau pihak lawan dengan usia yang jauh lebih muda daripada dirinya ternyata memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi daripada dirinya.
Sekilas napsu membunuh berkelebat dalam mata Thian-hong pangcu, perlahan-lahan ia berjalan mendekati punggung Gak In Ling, pada saat itu gadis tersebut telah merasa bahwa sehari pemuda itu tidak mati maka sehari pula dunia persilatan tak akan mendapat ketenangan, karena perbuatan yang dilakukan orang ini memang benar mengerikan sekali.
Akhirnya dara cantik baju putih itu berhenti pada jarak tiga depa-dibelakang Gak in Ling, telapaknya beberapa kali diangkat keatas tapi setiap kali niat tersebut dibatalkan-Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Gak in Ling menyeka keringat yang membasahi keningnya, kemudian berkata dengan suara hambar.
"Pangcu, saat ini merupakan kesempatan yang paling baik bagimu untuk turun tangan"
Ucapan halus, tenang dan wajar sekali, seakan akan orang yang hendak dibunuh oleh Thian hong pangcu bukanlah dirinya melainkan orang lain-Thian-hong pangcu mengertak gigi, tiba-tiba ia tarik kembali telapak tangannya dan berseru sambil tertawa dingin.
"Engkau tak usah kuatir, tak nanti kuhantam dirimu secara membokong. Aku pasti akan memberi suatu kesempatan kepadamu untuk melakukan pertarungan secara adil "
Perlahan-lahan Gak ln Ling putar badannya dan memandang sekejap kearah dara cantik baju putih itu dengan pandangan tenang, kemudian katanya.
"Apakah pangcu sudah mengambil keputusan untuk tidak melepaskan diriku lagi ?"
"Kepandaian silat yang kau miliki toh tidak berada dibawah kepandaian silatku, siapa menang siapa kalah masih sukar untuk ditentukan, mulai dari sekarang, apakah engkau tidak merasa terlalu pagi untuk membicarakan soal mati hidup ?"
Dalampada itu pria bertato sembilan naga telah mendusin akan apa yang sudah terjadi, menyaksikan keanehan itu buru-buru teriaknya.
"Eei, eei bukankah tadi masih baik-baik saja, kenapa sekarang sudah cekcok kembali ?"
Gak In Ling tertawa tawar.
"Aku tahu pangcu berhati bajik dan penuh welas-asih, aku orang she Gak merasa tak tega untuk mencelakai dirimu, tetapi ini hari juga akan kuberitahukan kepadamu bahwa semua orang yang kubunuh adalah manusia-manusia yang dosanya telah bertumpuk-tumpuk."
Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan-"DidaLam lembah pemutus nyawa tulang putih berserakan di mana-mana, itulah hasil karya yang mereka lakukan, apakah manusia keji semacam ini tidak pantas untuk dibunuh ?"
"Memang mereka patut dibunuh, tetapi kau bukan membunuh mereka karena ingin melenyapkan kaum jahat dari maka bumi, kau melakukan pembunuhan tersebut karena demi kepentingan pribadimu sendiri, bukankah begitu?"
Gak In Ling menghela napas panjang.
"Apapun alasanku sehingga membunuh mereka berdua, sekalipun kuucapkan belum tentu kau akan percaya, lagi pula akupUn tidak bersedia mencari simpati atau belas kasihan orang lain terhadap diriku, oleh sebab itu lebih baik tak usah kukatakan apakah alasanku sehingga melakukan kesemuanya ini."
Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Persoalannya bukan pada belas kasihan atau tidak, simpati atau tidak, yang menjadi masalah pada saat ini adalah bagaimana caramu untuk tancap kaki didalam dunia persilatan sejak kini ?"
"Batas waktu setahun akan berlalu dengan cepatnya."
Kata Gak In Ling sambil tertawa sedih.
"paling banter para jago didaratan Tionggoan akan menggali jenasahku dari liang kubur, kenapa hal itu mesti dipikirkan lagi ?"
Selesai berkata dia lanjutkan langkahnya menuju kedalam lembah. Air muka Thian-hong pangcu berubah hebat setelah mendengar perkataan itu. tanpa terasa ia berseru.
"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu itu, apakah engkau dapat menerangkan lebih jauh"
Kali ini suaranya telah berubah jadi lembut dan halus sekali.
"Lebih baik pangcu tak usah tahu."
Kata Gak In ling sambil tertawa tawa.
"Tapi aku ingin memahaminya."
"Hey, akupun tidak mengerti"
Teriak pria bertato sembilan naga pula dengan suara keras. Gak In Ling menyapu wajah kedua oraig itu sekejap. lalu berkata.
"Tempat ini tak bisa ditinggali terlalu lama, kalau memang pangcu serta saudara ini merasa bahwa semua manusia yang tinggal dalam lembah ini patut dibunuh, lebih baik biarkanlah 131 aku orang she Gak lanjutkan kembali perjalanan ku seorang diri."
"Eei. hal ini mana boleh jadi, masa ada keramaian yang begitu menarik hati engkau tidak perkenankan diriku untuk nonton, itu namanya tidak adil."
Gembor pria bertato sembilan naga tanpa berpikir. sebaliknya Thian-hong pangcu menatap wajah sianak muda itu dan berkata.
"Engkau toh tak pernah memberi penjelasan kepadaku, maka sampai sekarangpun aku masih belum mengerti."
Suaranya lembut dan sangat halus, bahkan mendekati permohonan-Mendengar ucapan itu Gak In Ling segera menghentikan langkahnya dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya^ "Aku hanya bisa hidup selama setahun saja dikolong langit "
Selesai berkata dengan langkah lebar ia berjalan menuju kemulut gua.
Thian-hong pangcu merasakan hatinya tercekat dan jantungnya berdebar keras, dengan cepat ia loncat kemuka dan menghadang jalan pergi sianak muda itu, ujarnya dengan lirih.
"Gak In Ling, pernahkah engkau mendengar tentang kata-kata yang berbunyi demikian-"
Obat mujarab menyelamatkan manusia dari kematian?"
Suaranya penuh mengandung nasihat serta anjuran sementara titik air mata tak dapat dikuasai lagi menetes keluar membasahi pipinya.
Perkenalannya dengan Gak In Ling baru berlangsung tidak sampai satu tari, bahkan gadis ini pernah berhasrat untuk membunuh dirinya.
Akan tetapi setelah mengetahui bahwa sianak muda itu hanya mampu hidup dikolong langit hanya setahun belaka, tak 132 dapat dibendung lagi air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.
Hati kaum wanita...
selamanya memang merupakan teka teki yang tak bisa diraba dan diselami oleh siapapun.
Dalam hati Gak In Ling menghela napas sedih, tapi diluaran ia berlagak pilon dan seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, ujarnya sambil tertawa.
"Dikolong langit sudah tiada obat mujarab lagi yang bisa menyembuhkaa penyakit yang ku-derita, pangcu Kembalilah... Lembah Toan hun kok adalah sarang naga dan gua harimau...... tempat ini berbahaya sekali dan setiap saat jiwa kita akan terancam oleh maut, sedang engkau adalah seorang pemimpin persilatan yang mengatur semua rencana besar bagi kedamaian serta keamanan umat manusia, tindakanmu menempuh bahaya bukanlah suatu keputusan yang cerdik, karena itu aku harap engkau suka keluar dari lembah ini."
Tiba-tiba Thian-hong pangcu angkat kepala nya yang telah basah oleh air mata, ujarnya.
"Aku akan menyertai dirimu, agar engkau tidak berkelana seorang diri."
"Benar, dan akupun akan turut serta pula"
Sambung pria bertato sambilan naga dengan cepat.
Dalam pikiran orang ini, selamanya mungkin tak pernah kenal akan arti sedih atau murung, kendatipun menghadapi masalah yang bagaimana seriusnya ia tetap tenang dan bersikap wajar.
Sementara itu Gak In Ling merasakan hatinya bergerak setelah mendengar ucapan-ucapan tersebut, ia tarik napas panjang dan alihkan sorot matanya kearah lain, ujarnya sambil tertawa hambar.
"Pangcu, jikalau engkau hendak memikirkan bagi kedamaian serta keselamatan seluruh umat persilatan, maka tidak sepantasnya kalau engkau selidiki lembah ini"
"Mengapa aku harus memikirkan mereka?"
Jawab Thian-hong pangcu dengan cepat. Gak In ling tertegun-"Lalu siapakah yang pangcu pikirkan?"
Ia bertanya "Tentu saja memikirkan dirimu "
"Akupun memikirkan dirimu "
Gembor pria bertato sembilan saga dengan keras.
Perlahan-lahan Thian-hong pangcu tundukkan kepalanya, mungkin gadis yang berwatak keras kepala ini benar-benar telah berubah.
Secara tiba-tiba Gak In Ling merasakan pikirannya jadi kalut dan bingung sekali, dengan suara berat serunya.
"Kalian memikirkan seseorang yang usianya tinggal setahun belaka, kalian terlalu goblok"
Gelak tertawanya penuh mengandung nada ejekan, tetapi tak dapat menutupi rasa sedih dan pedihnya yang tak terhingga.
"Tidak mungkin hanya setahun-.. tidak mungkin hanya setahun-"
Seru Thian-hong pangcu sambil menengadah keataS langit.
Perkataan itu seakan-akan diucapkan bagi Gak In Ling, tapi seakan-akan juga sedang memperkuat kepercayaannya pada diri sendiri.
Pada saat itulah tiba-tiba dari bukit mulut gua berkumandang datang gelak tertawa yang sangat keras dan memekakkan telinga.
"Haa .... haa...., haa jangan dibilang setahun, mungkin hari inipun tak bisa dilewatkan dalam keadaan hidup,"
Bersamaan dengan menggemanya gelak tertawa, dari balik gua muncullah seorang kakek tua yang gemuk.
cebol berambut putih, bermata cekung dan muka seram bagaikan setan.
Begitu melihat kemunculan orang itu, dengan hati terkejut Thian-hong pangcu -segera berteriak keras.
"Aah Hiat-mo-ong ?"
Pada saat yang bersamaan di belakang tubuh mereka bertiga melayang turun tujuh orang manusia aneh yang rambutnya terurai sebahu, dengan cepatnya Gak In Ling bertiga dikepung ditengah kalangan-Siapapun tak menduga pada saat itu pula diatas puncak bukit sebelah depan tiba-tiba muncul pula empat orang dayang baju merah yang masing-masing membawa sebuah tanda pengenal.
Suasana dalam kalangan seketika diliputi oleh ketegangan, setiap saat suatu pertarungan sengit bakal meledak.
Suasana dalam lembah ketika itu benar-benar diliputi ketegangan, siapapUn di antara mereka tak ada yang mengetahui bahwa empat orang dayang baju merah telah muncul di puncak sebelah depan-Demikian halnya pula dengan orang-orang dari lembah Toan-hun-kok, tak seorangpun yang mengetahui akan kehadiran dayang-dayang tersebut sebab kemunculan Thian-hong pangcu serta Gak In Ling yang sudah cukup merepotkan diri mereka sehingga tak sempat untuk memikirkan yang lain-Sejak kecil Gak In Ling berdiam didalam benteng oh-liong-poo, kecuali manusia aneh dari utara serta manusia sesat dari selatan tiada orang lain yang menemani dirinya, sebaliknya dua orang tokoh sakti itu karena terikat oleh sesuatu pembatasan membuat kedua orang itu kecuali melayani kebutuhannya tak dapat membicarakan masalah tentang dunia persilatan dengan majikan mudanya, oleh sebab itu 135 meskipun nama besar "Hiat-mo-ong"
Atau Raja-iblis-berdarah ini amat tersohor serta ditakuti setiap orang, tetapi pemuda ini sama sekali tidak mengenali dirinya.
Begitulah, sambil mengerdipkan sepasang matanya Gak In Ling berpaling kearah Thian-hong pangcu dan bertanya.
"Pangcu, engkau kenal dengan orang ini ?"
Sikapnya wajar dan sedikitpun tidak menanjukan rasa jeri adapun takut.
Perasaan hati Thian-hong pangcu yang bergolak oleh emosi perlahan-lahan jadi reda dan tenang kembali, mendengar pertanyaan itu dia segera mengangguk.
"Sekarang musuh tangguh sedang berada di depan mata, maafkanlah aku tak dapat membicarakan tentang asal-usulnya dengan dirimu "
Habis berkata ia segera maju kedepan dan serunya, kembali dengan nada dingin.
"Hiat-mo-ong, engkau masih ingat dengan sumpahmu dimasa lampau ?"
Dengan suatu gerakan yang cepat ringan dan cekatan Hiat-mo-ong melayang keluar dari guanya, tak nampak kekuatan yang dipergunakan tapi tubuhnya bagaikan kapas saja melayang di-angkasa, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek cebol itu luar biasa dahsyatnya.
Dengan sorot mata yang tajam Hiat-mo-ong menatap wajah Thian-hong pangcu tanpa berkedip.
lama sekali ia baru menjawab.
"Aku tidak goblok, tidak bodoh tentu saja masih ingat denganjelas sekali "
"Hee... .. hee hee kalau memang begitu, mengapa kau tinggalkan Khong ciang ?"
Hiat-mo-ong menengadah dan tertawa seram.
"Haa.... haa. ... haa cian-jiat-ji-siu sepasang kakek CaCad sudah banyak tahun mengundurkan diri dari dunia persilatan, mati hidupnya tidak ketahuan, sampai sekarangpun tak tahu dimanakah batang hidung mereka, kenapa aku tak boleh munculkan diri dalam dunia persilatan ? Kedatanganku pada saat inipun sudah merasa agak menyesal karena terlambat beberapa tahun lamanya."
"Hae hee .... hee .... sekalipun dua kakek CaCad sudah tak ada, tetapi didaratan Tionggoan pada saat ini toh masih ada aku"
Sahut Thian-hong pangcu dengan sorot mata mengandung napsu membunuh. Hiat-mo-ong tertawa menghina.
"Sebelum aku masuk ke daratan Tionggoan memang sudah kudengar kalau daratan Tionggoan pada saat ini telah menjadi jajahan dari dua orang gadis aneh, akan tetapi..."
"Akan tetapi kenapa ?"
Hiat mo-ong menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil tertawa jawabnya.
"Aku berani datang kemari, seharusnya kau pun bisa memahami apa maksud dari perkataanku yang belum habis diucapkan itu."
Napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah Thian-hong pangcu, katanya dengan dingin.
"Kalau memang begitu cobalah sendiri, apakah aku punya kemampuan untnk melenyapkan dirimu atau tidak..."
Tubuhnya segera menerjang maju kedepan, telapak tangannya diangkat dan siap melancarkan serangan-Tapi sebelum ia sempat melancarkan pukulannya, Gak In Ling telah berseru dengan lantang.
"Huuh Engkau Hiat-mo-ong paling banter hanya seorang jagoan kelas dua atau tiga didalam dunia persilatan, berani 137 benar adu kekuatan dengan pangcu kami, andaikata majikanmu datang sendiri, nah mungkin saja pangcu kami baru terpaksa harus turun tangan sendiri."
Bicara sampai disitu ia loncat kehadapan Thian-hong pangcu, dan ujarnya dengan nada serius.
"Pangcu, ijinkanlah tecu untuk menghadapi manusia kurcaci ini."
Tindakan yang dilakukan Gak In Ling ini secara tiba-tiba membingungkan hati Hiat-mo-ong, dengan mata terbelalak lebar-lebar ia memandang kearah sianak muda itu tanpa berkedip.
sedang dalam hati pikirnya dengan keheranan.
"Kalau ditinjau dari ribut-ribut yang baru saja berlangsung diantara mereka berdua, jelas menunjukkan bahwa kedua orang itu berada pada posisi yang saling bermusuhan, kenapa sekarang bajingan itu menyebut dirinya sebagai anak murid perkumpulan Thian-hong-pang ? Sungguh aneh sekali."
Bagaimanapun rasa curiga dan sangsi yang berkecamuk didalam benak Hiat-mo-ong, ia tidak bisa tidak.
harus mempercayai karena orang kang ouw tak ada yang sudi menurunkan derajat sendiri dihadapan orang lain, apalagi menuruti perintah orang lain, sudah tentu manusia seperti Gak In Ling yaag memiliki ilmu silat amat lihay, tak akan bersedia mengaku jadi anak buah perkumpulan orang...
Pria bertato sembilan naga, adalah seorang pria kasar yang berpikiran polos, kalau Hiat-mo-ong yang tersohor karena kelicikan serta kepintarannya itupun untuk beberapa saat tak dapat menebak keadaan yang sebenarnya, bisa dibayangkan darimana pria ini dapat berpikir sejauh ini ?
Tanpa terasa ia segera bergumam seorang diri "oh, rupanya bocah itu diurusi oleh perempuan tersebut.
Huh sungguh tak becus "
Tanpa terasa sepasang matanya dialihkan ke Thian-hong pangcu.
Sementara itu dara cantik baju putih itu sedang berdiri dengan muka tercengang dan tidak habis mengerti, hal itu semakin membingungkan hati pria bertato sembilan naga, pikirnya lebih jauh.
"Aneh benar kalau dilihat tampang gadis itu, rupanya dia sendiripun tak tahu sedari kapan dia mempunyai seorang auggauta macam pemuda itu, makinya.. sebenarnya apa yang sudah terjadi"
Sedikitpun tidak salah, Thian-hong pangcu memang dibikin kebingungan dan tak habis mengerti oleh tindakan Gak In Ling yang secara tiba-tiba itu, sambil menatap wajah pemuda itu tanpa terasa ia berseru.
"Gak ln Ling..."
"Pangcu, engkau harus menjaga diri baik-baik demi kesejahteraanmu serta keamanan didalam dunia persilatan-"
Tukas pemuda she Gak dengan cepat.
"Terhadap manusia kelas dua dan tiga macam mereka buat apa mesti turun tangan sendiri? Andaikata dalam pertarungan nanti tecu tak untung dan menderita kalah, barulah pangcu turun tangan sendiri."
Pada dasarnya Thian-hong pangcu adalah seorang manusia yang cerdik, dalam menghadapi persoalan apapun biasanya ia dapat menebak secara jitu, justru pada saat ini pikirannya sedang kalut dan tidak tenang, ia tak dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari pemuda itu, pikirnya didalam hati.
"oh, mungkin Gak In Ling ada permintaan yang hendak diajukan kepadaku, maka menggunakan kesempatan ini sengaja ia cari hati dihadapanku."
Berpikir sampai disini ia termenung lagi be berapa saat lamanya, kemudian berpikir lebih jauh.
"Tapi hal ini tidak mungkin, hal ini tidak mungkin dengan wataknya yang angkuh tidak mungkin dia adalah manusia seperti itu, lalu apa sebabnya ia berbuat begitu ?"
Di pihak lain Hiat-mo-ong merasa hawa amarahnya berkobar didalam dada setelah berulang kali dimaki Gak In Ling sebagai manusia kelas dua atau kelas tiga didalam dunia persilatan, dengan gemas dan penuh perasaan dendam ia menghardik.
"Bocah keparat yang masih belum hilang bau teteknya, kalau aku adalah jago kelas dua atau kelas tiga dalam dunia kangouw, lalu kau adalah jago kelas berapa ?"
"Hee hee hee.... apakah aku telah salah berbicara ?"
Ejek Gak ln Ling dengan nada seram.
"Hmm, apa engkau anggap benar ?"
"Huh Didalam lembah Toaa-hun-kok ini sudah ada puluhan orang yang menemui ajalnya ditanganku, aku rasa semua tingkah laku serta perbuatan mereka adalah mendapat perintah darimu, sedang engkau sendiri bukankah sedang menjalankan perintah dari majikanmu?"
Walaupun ucapan itu merupakan suatu dugaan belaka, tapi nada ucapannya begitu pasti dan meyakinkan-Hiat-mo-ong licik dan banyak akal, namun ia tak dapat menebak apakah Gak In Ling benar-benar mengetahui latar belakangnya atau tidak.
kendatipun begitu, ia sudah mempertingkat kewaspadaannya.
"Bajingan ini tak dapat dibiarkan hidup di kolong langit, aku harus lenyapkan dirinya secepat mungkin "
Teriaknya kemudian-Dari sikap keragu-raguan yang diperlihatkan Hiat-mo-ong serta lama sekali tidak menjawab.
Gak In Ling mengetahui bahwa apa yang diduganya semula sedikitpun tidak salah, ia segera tertawa dingin dan serunya.
"Apakah engkau menginginkan penjelasan yang lebih terang lagi dari diriku?"
"Penjelasan apa ?"
"Apa yang kusaksikan didalam gedung keluarga Gak. tidak lain adalah hasil siasat licik dari majikanmu, bukankah begitu ?"
Jengek sang pemuda sambil tertawa dingin. Airmuka Hiat-mo-ong berubah hebat, bentaknya.
"Keparat yang tak tahu diri, ucapanmu ngawur dan seenaknya saja. Hm Rupanya kau sudah bosan hidup "
Dengan menggunakan jurus "Mo-ciang-peng san"
Atau telapak iblis meratakan bukit, ia mengirim satu pukulan dahsyat kearah dada Gak In Ling.
Desiran angin tajam yang disertai ledakan guntur menggeletar diang kas a, begitu hebatnya serangan itu hingga mengejutkan hati orang.
Sejak permulaan tadi Gak In Ling sudah tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Hiat-mo-ong jauh diatas kepandaian Go To Peng, Go To Ki serta Buddha Antik, hawa murninya diam-diam telah dihimpun kedalam telapak dan setiap saat dapat melancarkan serangan balasan.
Begitu menyaksikan serangan dari Hiat-mo ong telah meluncur datang, Gak In Ling tidak berani berayal, buru-buru bentaknya keras.
"Bagus sekali datangnya serangan itu "
Dengan jurus "Kua-hay-peng-mo"
Atau melewati samudra melenyapkan iblis, laksana kilat tubuhnya bergeser delapan depa kesamping, sepasang telapaknya diiringi desiran angin yang kencang menghajar iga kiri Hiat-mo-ong, kecepatannya menghadapi perubahan amat cepat dan ancamannya ganas sekali, seakan-akan dia sudah tahu disitulah letak titik kelemahan dari jurus serangan yang akau dilancarkan musuhnya.
Hiat-mo-ong mimpipun tak pernah menyangka Gak In Ling dengan usianya yang masih begitu muda ternyata memiliki kekuatan tenaga dalam yang sama sekali diluar dugaan, sejak dilihatnya sianak muda itu geserkan badannya ketika menyambut datangnya serangan, ia sudah tahu bahwa gelagat tidak menguntungkan bagi dirinya.
oleh sebab itu, jurus telapak iblis meratakan bukit hanya digunakan sampai setengah jalan lalu ditarik kembali, dari menyerang ia mengubah posisinya jadi bertahan, dengan sepasang telapaknya ia sambut datangnya serangan dari Gak In Ling yang mengancam iga kirinya.
Dalam anggapan Hiat-mo-ong, kendatipun Gak In Ling memiliki perubahan jurus yang cepat dan kepandaiannya yang tinggi, namun dengan usianya yang masih muda tentu tenaga dalam yang dimiliki tidak akan begitu sempurna, maka sepasang telapaknya segera didorong kedepan untuk menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.
Siapa sangka kejadian diluar dugaan, dengan sikap yang wajar sianak muda itu ayunkan telapak tangannya^ "Blaaam"
Dengan cepat sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan suara ledakan keras yang menggeletar diudara, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa keadaan benar-benar mengerikan sekali.
Dengan sempoyongan Hiat-mo-ong tergetar mundur tiga langkah kebelakang, dadanya terasa jadi sesak dan sepasang lengannya jadi linu dan kaku, hatinya terasa amat terkesiap.
Dengan pandangan kaget bercampur ngeri ia menyapu sekejap kearah Gak In Ling, sementara tubuhnya berdiri menjublek ditempat semula, ia tak mengira kalau musuhnya begitu kuat dan hebatnya.
"Mungkinkah itu ?"
Pikir Hiat-mo ong dengan hati tercekat^ "Mungkinkah dikolong langit benar-benar terdapat kejadian yang aneh seperti ini ?"
Dia ingin menyeka matanya dengan tangan agar apa yang terlihat bisa lebih jelas, tapi sepasang tangannya terasa linu dan kaku, begitu sakit sampai tak kuat diangkat lagi.
Thian-hong pangcu sendiripun merasa amat terkesiap.
pikirnya.
"Sebenarnya sampai dimana sih kesempurnaan tenaga dalam yang dia miliki ? Air pasang, perahupun bertambah tinggi, belum pernah aku lihat dia menderita kalah."
Sebaliknya pria bertato sembilan naga segera bertepuk tangan bersorak-sorai karena kegirangan, teriaknya.
"Waduuuh bocah, kamu memang hebat, kamu memang hebat "
Teriakan keras dari pria bertato sembilan naga segera mengejutkan hati IHiat-mo-ong yang pada waktu itu masih berdiri menjublek dengan mata terbelalak mulut melongo, tampak biji matanya berputar lalu membentak keras.
"Ini hari lembah Toan-hun-kok akan menjadi tempat kubur bagi kalian semua, serbu "
Begitu perintah diturunkan, tujuh orang manusia aneh berambut panjang yang berdiri dibelakang Thian-hong pangcu tanpa mengeluarkan sedikit suarapun segera menerjang maju kedepan, dengan gencar dan hebatnya mereka serang dara cantik bajuputih itu serta pria bertato sembilan naga.
jangan dilihat pria bertato sembilan magaadalah seorang kasar yang berhati polos, yang sebenarnya dia adalah seorang jago dari kalangan lurus yang amat benci terhadap segala macam kejahatan, ketika dilihatnya ketujuh orang manusia aneh itu menerjang ke depan, toyabajanya segera diputar lalu sambil membentak keras ia menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Thian-hong pangcu sudah bikin persiapan, meskipun gerakan tubuhnya sedikit lebih lambat daripada pria bertato sembilan naga, akan tetapi serangan yang dilancarkan olehnya telah mengenai sasarannya lebih dahulu.
Dalam waktu singkat sembilan orang jago lihay itu sudah bertarung jadi satu, bayangan manusia berkelebat silih berganti, angin puyuh menderu-deru mengelilingi daerah seluas beberapa tombak.
pasir dan batu beterbangan diangkasa membuat siapapun yang berada disitu merasakan napasnya jadi sesak.
Agaknya ketujuh orang manusia aneh berambut panjang itu memiliki serangkaian ilmu silat yang sangat lihay, meskipun tenaga dalam yang dimiliki Thian-hong pangcu serta pria bertato sembilan naga jarang ditemui tandingannya dikolong langit, tetapi setelah bertemu dengan tujuh orang musuh tangguh, seketika itu juga mereka rasakan agak ngotot dan tertekan hebat.
Dipihak lain rupanya sebelum melakukan penyerangan, ketujuh orang manusia aneh itu sudah kompromi lebih dulu, begitu melancarkan serangan enam orang diantaranya segera mengerubuti Thian-hong pangcu seorang, sedangkan hanya ada seorang jago yang menghadapi pria bertato sembilan naga, hal ini membuat dara cantik baju putih itu tak mampu menerjang keluar dari kepungan-Dengan pandangan yang menyeramkan IHiat-mo-ong memandang sekejap kearah Gak In Ling, kemudian katanya.
"Hmm.... tidak sampai berapa jurus lagi, pangcumu itu akan menemui ajalnya ditempat ini."
"Huuh Hanya mengandalkan beberapa orang setan kerbau malaikat ular semacam itu ?"
Jengek Gak In ling sambil tertawa dingin, rasa kuatirnya dengan cepat ditekan kedalam dada.
Mendengar perkataan itu Hiat-mo-ong segera angkat kepala menyapu sekejap kearah tujuh orang anak buahnya yang sedang bertarung sengit ditengah gelanggang, tampaklah olehnya meskipun mereka menerjang musuhnya dengan gagah perkasa dan tidak memperdulikan keselamatan diri sendiri, akan tetapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda untuk merebut kemenangan, bahkan ada kalanya malahan terdesak hebat sehingga kacau-balau tak keruan, hal ini segera mengejutkan hatinya.
"Oooh Sungguh tak nyana Thian-hong pangcu yang tidak lebih hanya seorang gadis muda lemah ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu tinggi dan hebat."
Ia berpikir didalam hati.
"kalau dia saja begitu lihay, apalagi perempuan yang bernama Gadis suci dari nirwana, entah bagaimana dahsyatnya."
Berpikir sampai disini, tiba-tiba ia bersuit panjang.
Gak In Ling terperanjat ketika mendengar suara suitan panjang itu, baru saja ia hendak buka suara, tiba-tiba dari balik gua muncul kembali enam orang manusia aneh yang punya dandanan persis seperti tujuh orang manusia aneh pertama tadi.
Berhubung gua-gua itu sebagian besar tersembunyi di balik batu cadas yang besar, maka bila tidak ada orang yang muncul disana, siapapun tak akan menduga kalau ditempat itu terdapat sebuah gua.
Begitu munculkan diri, tanpa berpikir panjang keenam orang manusia aneh itu segera menerjang kearah Thian-hong pangcu, seakan-akan sebelum kejadian Hiat-mo-ong telah memberi petunjuk kepada mereka tujuan yang mesti diserang.
Menyaksikan peristiwa itu Gak in Ling merasa amat terperanjat, ia tahu segenap prajurit dan panglima yang ada didalam lembah Toan-hun-kok, sebagian besar merupakan jago-jago lihay yang berkepandaian tinggi.
Jikalau satu lawan enam, pemuda itu masih yakin Thian-hong pangcu mampu untuk menghadapinya.
Sekalipun tidak berhasil merebut kemenangan, sedikit banyak tidak sampai dikalahkan-Tapi sekarang dara cantik itu sekaligus harus menghadapi duabelas orang musuh, ia tak bisa bayangkan apa yang bakal terjadi.
Rupanya Hiat-mo-ong sudah melihat akan ketidaktenangan pemuda lawannya, sambil tertawa dingin ia segera mengejek.
"Gak In Ling, hendak kulihat apa yang hendak kau lakukan untuk mengatasi situasi seperti ini ?"
Baru saja perkataan itu diselesaikan, tiba-tiba dari atas tebing berkumandang datang suara bentakan nyaring.
"Hm Main kerubut dan andalkan jumlah banyak apakah kalian hendak merusak peraturan dunia persilatan ?"
Bersamaan dengan selesainya perkataan tadi, dua kali jeritan ngeri menggema memecahkan kesunyian, dua orang diantara enam orang manusia aneh yang hendak menerjang kearah Thian-hong pangcu telah roboh terkapar diatas tanah, disusul dalam lembah tersebut muncullah empat orang dayang cilik baju merah yang membawa tanda perintah ditangannya, diantara mereka berdirilah seorang dara berbaju merah bergaun merah dan berkerudung kain merah.
Pria bertato sembilan naga serta Thian-hong pangcu yang sedang bertarung masih belum merasakan apa-apa, sebaliknya Gak In Ling serta Hiat-mo-ong diam-diam merasa tertegun dan kaget, karena kedatangan orang-orang itu sangat cepat dan ganas sekali sehingga sukar membuat orang untuk mempercayainya.
Gak ln Ling berpaling memandang sekejap kearah orang-orang itu, kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir.
"Aaah..... kemungkinan besar gadis suci dari nirwana telah tiba, tidak aneh kalau kelihayan nya luar biasa."
Berpikir sampai disitu, sambil tertawa dingin segera ujarnya.
"Menurut penilaianku, pada hari ini lembah Tan-hui-kok akan mengalami kehancuran total dan mungkin sejak detik ini akan terhapus dari dunia persilatan-"
Dalampada itu gadis berkerudung merah itu sudah ikut terjun kedalam gelanggang pertarungan, tampaklah telapak tangannya beterbangan klan kemari dengan kecepatan bagaikan kilat, kelihayannya sama sekali tidak berada dibawah kepandaian Thian-hong pangcu.
Dalam waktu singkat situasi dalam gelanggang pun mengalami perubahan besar, setelah hati nya merasa lega Gak In Ling pun melangkah maju kedepan, sambil mengawasi wajah Hiat-mo-ong, serunya.
"Hiat-mo-ong, sekarang tibalah giliranmu untuk berangkat menghadap raja akhirat."
Hiat-mo ong tidak mengucapkan sepatah katapun, sinar matanya yaag tajam dengan cepat menyapu sekejap sekeliling tempat itu, otaknya berputar kencang untuk mencarijalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya.
Tetapi sebelum ingatan apapun berhasil ia dapatkan, Gak In Ling telah mengangkat sepasang telapaknya sambil membentak nyaring.
"Hiat-mo-ong Apakah engkau kenal dengan telapakku ini ?"
Hiat-mo-ong angkat kepala, tapi setelah sorot matanya terbentur dengan telapak lawan, dengan ketakutan dia mundur dua langkah kebelakang, serunya tertahan-"Aaah telapak maut "
Napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, sambil tertawa dingin ujarnya.
"Engkau meracuni umat 147 persilatan didaratan Tionggoan, hutang darah harus dibayar dengan darah, ini hari aku orang she Gak adalah utusan pencabut nyawa yang khusus datang kemari untuk membetot nyawa anjingmu. Nah, serahkanlah jiwamu "
Selangkah demi selangkah ia maju mendekati Hiat-mo-ong.
Tercekat hati iblis tua itu menyaksikan kegagahan serta kesadisan yang diperlihatkan oleh Gak In Ling, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah.
Dipihak lain jeritan-jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, jelas ada beberapa orang yang telah menemui ajalnya.
Mendadak Gak In Ling membentak keras, dengan jurus hujan darah angin amis ia menerjang kearah Hiat-mo-ong, tampaklah cahaya darah tersebar memenuhi angkasa, begitu hebatnya serangan itu sehingga menggetarkan hati semua orang.
Begitu menyaksikan pihak lawan mengeluarkan pukulan mautnya, semangat tempur dari Hiat mo-ong seketika lenyap tak berbekas, dalam keadaan begini tentu saja ia tak berani melancarkan serangan balasan-Tanpa memperdulikau tindakannya memalukan atau tidak.
dengan gerakan keledai malas bergulingan ia menggulingkan tubuhnya diatas tanah dan menghindar sampai tiga-empat tombak jauh-nya dari tempat semula, kemudian meloncat bangun dan ditengah suitan nyaring tanpa berpikir lagi ia kabur masuk ke dalam gua.
Begitu mendengar suara suitan tersebut, manusia manusia aneh lainnyapun jadi gugup, mereka kabur terbirit-birit dan lari tunggang langgang dalam sekejap mata jeritan ngeri menggema silih berganti, ada empat orang manusia aneh yang roboh dalam keadaan binasa, sedang sisanya cepat-cepat lari masuk kedalam gua untuk menyelamatkan diri.
Terhadap kesemuanya itu, seolah-olah Gak In Ling sama sekali tidak merasakan, dengan termangu-mangu dia memandang kearah mulut gua dimana Hiat-mo-ong melenyapkan diri.
gugamnya seorang diri.
"Tenaga dalam yang kumiliki telah turun kejurang kehancuran-.. Oooh, Thian Mengapa engkau bersikap begitu tak adil terhadap keluarga Gak kami ?"
Alis matanya yang panjang mengerdip beberapa kali, air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi wajahnya yang tampan-Sekalipun dihadapan orang ia tunjukkan sikapnya yang kukuh dan keras kepala, sekali pun dihadapan orang ia memandang hambar tentang keselamatan jiwanya, tapi bagaimana juga dia tetap adalah seorang manusia, bahkan seorang pemuda yang lemah lembut.
Setelah teringat bahwa usianya sangat terbatas sedangkan pekerjaan besar yang harus diselesaikan belum berhasil dipenuhi timbullah rasa sedih dalam hatinya.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 5 Di KOLONG langit masih ada suratan apa lagi yang jauh lebih menyedihkan daripada kematian dirinya sendiri ?
Pada waktu itulah, tiba-tiba ia mendengar pria bertato sembilan naga sedang berteriak keras.
"Eeei Eeei Bukankah engkau si-perempuan berkerudung telah membantu dirinya? Mengapa sekarang malahan bertengkar dengan dirinya ?"
Gak In Ling merasa hatinya agak bergerak setelah mendengar perkataan itu, buru-buru ia menyeka airmata yang 149 membasahi wajahnya, lalu putar badan dan menghampiri Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah itu.
Terdengar gadis baja merah itu sedang berkata dengan suara yang amat dingin.
"Anak murid perkumpulanmu sering kali melewati batas wilayah dan mencelakai jiwa anak murid kami, sekarang malah engkau menuduh diriku...... hmm, aku benar-benar tak bisa mengerti bagaimana caranya engkau sebagai seorang ketua mendidik serta menguasai anak buah..."
Thian-hong pangcu segera tertawa dingin.
"Apakah engkau memaksa aku untuk mengambil beberapa contoh yang bisa dijadikan sebagai bukti ?"
Serunya.
"Tentu saja aku harus mencari bukti yang nyata "
"Eei, eeh nanti dulu, jangan ribut dulu "
Sela Gak In Ling berusaha melerai.
"Kemungkinan besar diantara kalian memang sudah terjadi suatu kesalah pahaman."
Gadis berkerudung merah itu sama sekali tidak melirik kearah Gak In Ling barang sekejap pun, hardiknya dingin.
"Siapa engkau ? Berani benar banyak ngebacot ditempat ini ?"
Pria bertato sembilan naga amat menghormati Gak In Ling, ketika didengarnya gadis berkerudung merah itu bicara kasar dan kurang ajar terhadap pemuda itu, sepasang matanya kontan melotot besar, sambil mencekal toya besinya dia siap menerjang maju kedepan.
Dengan cepat Gak In Ling menarik tangannya, ia menjawab dengan nada hambar.
"Aku sih cuma seorang manusia tak bernama dalam dunia persilatan, seorang gelandangan yang tak punya tempat tinggal."
"IHmm, tapi menurut penilaianku, semestinya engkau adalah anak murid dari perkumpulan thian-hong-pang ."
Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Dalam perkumpulan kami tidak terdapat seorang manusia macam dia."
Sahutnya. Mendengar ucapan itu gadis berkerudung merah jadi tertegun, kemudian tertawa sinis.
"Huuh Engkau sebagai anak murid perkumpulan thian-hong-pang, tapi orang lain tidak mengakui dirimu sebagai anak buahnya, belum pernah kujumpai manusia yang tak tahu malu seperti dirimu itu."
Ucapan ini tajam dan sinisnya bukan kepalang, siapapun tak akan tahan mendengar sindiran seperti ini. Pria bertato sembilan naga tak dapat menahan diri lagi, sambil meraung keras, gembornya.
"Kau ini macam apa? Maknya. ...dianggap nya kepandaian silat yang kau milikijauh lebih lihay dari pada dirinya ?"
"Saudara, harap tutup mulut"
Cegah Gak In Ling dengan cepat, sorot matanya segera dialihkan kearah gadis baju merah itu, kemudian menambahkan lebih jauh.
"Mungkin saja aku adalah seorang manusia yang paling tak tahu malu dikolong langit, tapi setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya. Pangcu maupun Lengcu sama-sama merupakan dua kekuatan besar didalam dunia penilaian, asal kalian berdua dapat bergandengan tangan dan bekerja sama, rasanya tidak terlalu sukar untuk menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya, sekarang aku mempunyai seratus persen keyakinan yang bisa membuktikan-bahwa anak buah kalian berdua bukanlah mati di pihak kalian sendiri, cuma sayang buktinya kurang cukup hingga sukar untuk membuat kalian percaya, tapi aku tetap berharap agar kalian berdua suka menyelidiki masalah ini secara bijaksana dan otak dingin."
Gadis berkerudung merah itu mendengus dingin.
"Hm Siapakah namamu, cepat katakan"
Hawa gusar terlintas diwajah Gak In Ling, akan tetapi ia tetap bersabar diri.
"Aku bernama Gak In Ling "jawabnya.
"Oooh, jadi engkau yang bernama Gak in Ling?"
Seru gadis berkerudung merah itn dengan wajah tertegun. Sorot matanya tanpa terasa menyapu wajah pemuda itu tajam-tajam, kembali pikirnya .
"Hai... tampan juga wajahnya...."
"Lengcu, bukankah engkau sedang mencari diriku?"
Ujar pemuda itu lagi dengan suara hambar.
"Hm, rupanya engkau sedikit tahu diri...."
Sambil berkata gadis itu alihkan sorot matanya kearah lain-"Lengcu, kalau engkau hendak membinasakan diriku, maka alangkah baiknya kalau mengijinkan aku untuk menerjang masuk kedalam lembah Toan-hua-kok ini dan mati didalam gua."
Gadis berkerudung merah itu tertawa dingin "^ Hm, engkau tak usah banyak bicara, dibawah panjiku manusia semacam-engkau tidak digunakan untuk melakukan pertarungan pertama, aku lihat lebih baik engkau bunuh diri saja"
Diatas wajah Gak In Ling terlintas napsu membunuh yang amat tebal, jangan dikata wataknya memang tinggi hati dan sombong, sekalipun terbuat dari tanah liatpun mungkin akan terbakar juga oleh hawa amarah yang berkobar.
Gak In Ling tak pernah menyangka maksud baiknya untuk memikirkan keselamatan dunia persilatan ditukar dengan sindiran tajam yang begitu sinis sehingga membuat ia tak bisa menahan diri lagi.
Dengan cepat Gak In Ling putar badannya, lalu berkata dengan nada yang seram.
"Hm, tak kusangka Lengcu nirwana adalah seorang manusia yang bodoh dan tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. tak sepantasnya kalau aku orang she Gak mempercayai berita dalam dunia persilatan dengan begitu saja."
Gadis berkerudung merah mengerutkan alisnya dan maju tiga langkah kedepan, hardiknya dengan ketus.
"Kurang ajar.... engkau berani menghina Lengcu kami ?"
"ooh, jadi eagkau bukan lengcu itu sendiri?"
Seru Gak In Ling tertegun.
"Lengcu kami bukan seorang manusia biasa, h mm Manusia kurcaci macam engkau tidak nanti berhak untuk menjumpainya "
Gak In Ling benar-benar sudah naik pitam, sorot matanya membara dan ia membentak dengan keras.
"Mungkin aku orang she Gak sudah mengalah terlalu lama terhadap dirimu. sehingga kau anggap diriku jeri terhadapmu."
"Aku tahu selama ini engkau mengalah terus karena engkau takut mati."
Sela gadis berkerudung merah itu sebelum sang pemuda sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Haa ha... haa... meskipun aku Gak In Ling bukan seorang enghiong hohan, tapi soal mati hidup sudah tak pernah kupikirkan lagi didalam hatiku, kalau engkau memang berhasrat untuk membinasakan orang she Gak ditanganmu, ayo sekarang juga silahkan turun tangan "
"Bagus, bagus sekali seorang enghiong ho-han memang tak boleh tunduk terhadap kaum wanita."
Teriak pria bertato sembilan naga didalam hati kecilnya.
"IHm apakah engkau hendak melakukan pergulatan bagaikan binatang yang terjebak?"
Kembali perempuan berkerudung merah itu mengejek sambil tertawa dingin.
Pada saat ini perasaan antipati sudah muncul dalam hati Gak In Ling terhadap anak buah dari Yau Ti lengcu itu, ia merasa muak dan sebal, maka dengan ketus katanya.
"Engkau tak usah sombong dan tekebur, belum tentu engkau mampu untuk mempertahankan diri sebanyak sepuluh jurus diujung telapakku."
"Apa ?"
Jerit perempuan berkerudung merah.
Perkataan ini memang tak masuk diakal dan sukar untuk bikin gadis itu untuk mempercayainya, sekalipun thian-hong pangcu yang berada di sisinya pun diam-diam berpikir.
"Gak In Ling, engkau terlalu congkak dan omong besar."
Dengan wajah yang mengerikan dan suara yang tenang Gak in Ling berkata kembali.
"Aku bilang, tidak sampai sepuluh jurus aku orang she Gak dapat memaksa dirimu untuk terkapar diatas tanah dan menemui ajalmu dalam lembah Toan-hun-kok ini."
Perempuan berkerudung merah adalah seorang gadis yang sombong dan tinggi hati, dihina dan diejek oleh musuhnya dengan kata-kata yang begitu menghina apalagi berada dihadapan thian-hong pangcu, tentu saja membuat hatinya jadi panas sekali, dengan mata melotot dan memancarkan sinar kebengisan ia membentak.
"Bangsat, kalau hanya bicara melulu tidak ada gunanya, lihat seranganku ini "
Dengan jurus "Han yo-sui"
Atau bebek kedingingan bermain diair, ia terjang tubuh sianak muda itu.
Walaupun perempuan ini bukan lengcu nirwana.
Tetapi dari tanda perintah yang dibawanya serta dikawal oleh empat orang dayang cantik, bisa ditarik kesimpulan bahwa kedudukannya amat tinggi, dan dengan sendirinya ilmu silat yang dimilikinya lihay sekali.
Setelah serangan dilancarkan, angin pukulan menderu-deru dan desiran tajam memanjang bagaikan bianglala, telapaknya berputar silih berganti sementara badannya bagaikan burung walet melayang kesana-kemiri dengan gesitnya.
Begitu lincah dan enteng, badannya sehingga menyilaukan mata.
Melihat serangan musuh, Gak In Ling merasakan hatinya tercekat, pikirnya didalam hati.
"Dibawah panji-panji nirwana, rupanya tak ada manusia yang lemah, tidak aneh kalau kata katanya begitu sombong dan takabur "
Ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya hanya dalam waktu singkat, pemuda itu tidak berani bertindak gegabah, buru-buru dengan gerakan tukar jubah ganti posisi, dia loncat mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.
Dalam anggapan perempuan berkerudung merah itu Gak In Ling pasti tak akan berhasil lolos dari cengkeramannya, atau paling sedikit walaupun nyaris dapat melepaskan diri dari ter jangan kilatnya, keadaan pemuda itu tentu gelagapan dan mengenaskan sekali.
Siapa tahu dugaannya meleset sama sekali, bukan saja Gak In Ling dapat melepaskan diri dari terjangan kilatnya bahkan semua gerakan dilakukan dengan enteng dan leluasa sekali, tanpa terasa lagi ia menjerit tertahan-Buru-buru jurus yang pertama dibuyarkan dan berganti dengan gerakan yang lain, baru saja sepasang kaki Gak In Ling menempel permukaan tanah, ia telah menerjang kembali kedepan sambil secara beruntun melancarkan tujuh buah serangan berantai.
Serangannya tajam dan ganas sekali, dimana angin pukulan dan bayangan jarinya dituju kejalan darah kematian di sekujur badan lawannya.
Dibawah serangan yang begitu gencar, Gak In Ling dengan gerakan yang enteng dan lincah tetap menerobos lewat diantara sambaran-sambaran lawan, meskipun tubuhnya tidak sampai terkena tapi seakan-akan ia telah kehilangan daya untuk membalas.
Empat oraag dayang baju merah yang menyaksikan jalannya pertempuran itu dari sisi kalangan, sama-sama berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo, diatas wajahnya jelas menampilkan rasa kasihan, simpatik, kaget dan tak tenang, rupanya tanpa sadar mereka sedang menguatirkan keselamatan pemuda tampan itu.
Pria bertato sembilan naga paling gelisah dan cemas, diantara beberapa orang itu, terdengar ia bergumam seorang diri.
"Ayo, bocah tambah tenaga bagus, pukul terus, hajar saja dia sampai mampus "
Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, entah berapa banyak kekuatan tubuhnya yang terbuang oleh teriakan-teriakannya itu.
Ketegangan dan mara bahaya mencekam seluruh kalangan membuat suasana jadi sesak, dalam waktu singkat pertarungan sudah berlangsung sebanyak tujuh jurus, akan tetapi selama ini Gak In Ling tidak pernah melancarkan serangan balasan-Gadis berkerudung merah itn segera melancarkan serangan yang kedelapan, sambil tertawa dingin ia berseru.
"Gak In Ling, tahukah engkau ini jurus yang keberapa ?"
"jurus kedelapan-"
Jawab Gak In Ling sambil menghindar kesamping kanan dari gadis itu.
"Nona, kita toh tak pernah terikat oleh dendam sakit hati apapun juga, demi kesejahteraan dunia persilatan, aku..."
"Tak usah banyak bicara lagi."
Bentak perempuan berkerudung merah.
"Kalau engkau tidak mati, aku takakan berhenti menyerang"
Cahaya membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, dalam waktu yang amat singkat alisnya telah berkerut dan ia telah mengambil suatu keputusan yang menakutkan, baru saja perempuan itu menyelesaikan jurus yang kedelapan, siap melancarkan jurus yang kesembilan, tiba-tiba sia nak muda itu membentak nyaring.
"Hm, rupanya kau sudah bosan hidup, dan ingin mencari jalan kematian bagi diri sendiri"
Cahaya merah memancar keseluruh angkasa muncullah bayangan telapak yang tak terhitung jumlahnya menyelimuti seluruh tubuh perempuan berkerudung merah itu.
Begitu menyaksikan cahaya merah memancar keempat penjuru, hati perempuan berkerudung merah itu tercekat oleh rasa ngeri, dengan kagetnya dia menjerit.
"Ah Telapak maut"
Laksana kilat tubuhnya melayang kesamping dengan menggunakan gerakan yang paling diandalkan oleh Ya u Ti lengcu yakni gerakan "Sian-cu Leng-in"
Atau bidadari jalan diatas awan, ia loncat sejauh tiga tonbak dari tempat semula.
Dalam perkiraan perempuan berkerudung merah itu, dengan gerakan tubuhnya yang begitu cepat dia pasti akan berhasil melepaskan diri dari lingkaran pengaruh cahaya merah yang dipancarkan dari telapak maut sianak muda itu, siapa tahu gerakan tubuh Gak In Ling jauh lebih cepat daripada dirinya, belum sempat sepasang kaki perempuan berkerudung merah itu menyentuh tanah, tiba-tiba dari atas kepalanya sudah terdengar bentakan dari Gak In Ling berkumandang datang.
"Engkau akan lari ke mana ?"
Cahaya merah dengan kencangnya mengikuti datang dan tetap menekan disekitar batok kepalanya.
Mendengar bentakan itu perempuan berkerudung merah tadi semakin terkesiap.
dia tahu bahwa selembar jiwanya sudah tergenggam dalam cengkeraman malaikat elmaut, pikirannya jadi kacau dan timbullah keinginan untuk mempertahankan hidupnya, membuat dara itu tanpa sadar melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat kedepan-Nampaklah sepasang, telapak Gak in Ling yang berwarna merah darah sudah makin mendekati batok kepala perempuan berkerudung merah itu, dan rupanya sebentar lagi dia akan menemui ajalnya.
Di saat yang amat kritis itulah tiba-tiba Thian-hong-pangcu membentak keras.
"Gak ln Ling, jangan lukai dirinya "
Segulung angin pukulan yang kencang, bagaikan angin puyuh dengan cepat menerjang kearah dada dianak muda itu.
Sebenarnya Gak In Ling memang tiada berhasrat mencelakai perempuan itu, maka selama delapan jurus yang pertama ia tak pernah melancarkan serangan balasan, kini setelah mendengar bentakan keras dari Thian-hong pangcu, dengan cepat segenap tenaga pukulannya ditarik kembali dan ia meloncat kearah samping.
"Blaaam"
Ditengah udara bergeletar ledakan keras, diikuti Gak In Ling mendengus berat.
Pertarungan seru yang sedang berlangsungpun segera berhenti, suasana dalam kalangan diliputi oleh kesunyian yang menyeramkan-Sinar mata semua orang segera ditujukan ke satu arah, yakni ditujukan kearah Gak In Ling yang terkapar diatas tanah, darah kental mengucur keluar dari mulutnya, wajah yang tampan kini berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sehingga menakutkan sekali.
Dengan sorot mata yang pudar ia menyapu sekejap seluruh orang yang hadir didalam kalangan, dibalik biji matanya yang 158 hambar dan tinggi hati sama sekali tidak nampak perasaan benci, yang ada hanya kemurungan serta kesedihan yang membuat orang jadi bingung.
Empat orang dayang baju merah dengan tangan yang gemetar berdiri menjublek disisi kalangan, empat pasang mata dialihkan ketubuh pemuda itu, mereka tak dapat menilai apakah Gak In Ling seorang baik atau bukan, tetapi menurut perasaan mereka majikannya telah salah melukai seseorang yang tidak sepantasnya dilukai.
Perempuan berkerudung merah itu sendiri mundur kebelakang dengan sorot mata memancarkan rasa penyesalan, tangannya yang diluruskan ke bawah tampak agak gemetar.
Pria bertato sembilan naga sendiri melototkan sepasang matanya bulat-bulat, mulutnya terbuka lebar, perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini boleh dibilang membingungkan hatinya.
Dia dengan Gak In Ling walaupun baru bergaul selama satu hari, tapi setiap patah kata dan tingkah laku pemuda itu telah berkesan dalam hati kecilnya, bahkan menimbalka rasa hormat dan sayang bagi dirinya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Thian-hong pangcu berteriak nyaring.
"Oooh kau terluka ?"
Tubuhnya dengan cepat berkelebat kemuka dan menubruk kearah Gak In Ling yang sedang merangkak bangun itu.
"Hey, kau mau apa?"
Bentak pria bertato sembilan naga dengan penuh kegusaran-"Aku akan beradu jiwa dengan kalian."
Toya besi dalam genggamannya diiringi desiran angin tajam segera disapu ke depan dengan jurus "Heng-sau cian-kim"
Atau menyapu rata selaksa prajurit, dari desiran tajam 159 yang dihasilkan oleh angin pukulan itu dapat diketahui bahwa babatannya disertai tenaga yang amat besar.
Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah jadi sangat terperanjat melihat datangnya serangan itu, buru-buru mereka loncat mundur beberapa tombak kebalakang den-gelagapan-"Ee ee...
engkau jangan salah paham"
Teriak Thian-hong pangcu dengan suara tertahan-"Aku tidak bermaksud untuk mencelakai jiwanya engkau jangan menaruh curiga."
Sepasang mata pria bertato sembilan naga telah berubah jadi merah berapi, melihat serangannya gagal secara beruntun ia lancarkan tujuh buah serangan berantai, sambil menyerang teriaknya marah.
"Hm kalian menyebut diri sebagai dua pemimpin besar dalam dunia persilatan, mengembar-gemborkan tujuan untuk mewujudkan kedamaian dan kebenaran bagi umat persilatan, tapi kalian sama sekali tak pantas dinilai dengan dirinya... kalian sama sekali tak bisa membedakan mana yang lurus dan mana yang bengkok, kalian hanya pandai melakukan perbuatan menuruti emosi dan suara hati."
Jangan dilihat dia hanya seorang manusia kasar, setiap patah katanya ternyata amat menusuk perasaan orang.
Secara beruntun Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah harus menghindarkan diri kembali dari ancaman ketujuh buah serangan kilat itu, mereka gagal menembusi pertahanan bayangan toya dari pria bertato sembilan naga, hal ini bukanlah dikarenakan ilmu silat pria kasar itu amat lihay dan melebihi mereka berdua melainkan tindakan pria itu sendiri yang nekad membuat mereka jadi jeri.
Setiap jurus dan gerakannya dalam melancarkan serangannya, yang diutamakan adalah bagaimana caranya melukai lawan, pertahanan terhadap dirinya sendiri boleh 160 dibilang sama sekali terbuka, rupa-rupanya ia sudah tidak memperdulikan keselamatan pribadi.
Pepatah-kuno mengatakan.
satu orang sudah nekad, maka selaksa orang tak mampu melawan-Kendatipun ilmu silat yang dimiliki kedua orang perempuan itu sangat tinggi, tetapi bila mereka tidak melukai pria bertato sembilan naga lebih dahulu, tak mungkin pertahanan bisa dijebolkan dalam waktu singkat.
Dengan pandangan sedih Gak In Ling menyaksikan jalannya pertarungan ditengah gelanggang gumamnya seorang diri.
"Heng-tay, engkau adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki didalam dunia persilatan, tapi beradu jiwa bagi diriku tindakan tersebut sama sekali tak ada harganya."
Sejenak kemudian dari dalam sakunya Gak In Ling ambil keluar botol berwarna hijau tua ketika sorot matanya yang sayu memandang botol dalam genggamannya, tangan yang mencekal tadi nampak mulai gemetar keras.
Dengan pandangan ngeri ia memandang botol persolen ditangannya, lalu berseru dengan penuh kepedihan-"Setengah tahun setengah tahun ooh...
Terlalu pendek.
terlalu pendek sekali yaa, Thian Hukuman yang kau timpakan pada keluarga Gak kami terlalu berat, apakah engkau hendak paksa aku orang she Gak untuk menyaksikan manusia-manusia laknat itu hidup dengan suka ria diatas jagad tanpa berhasil kujamah dan kulenyapkan-.."
Airmata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang pucat, dengan penuh kepedihan ia menggigit bibirnya sendiri.
Hidup, belum tentu merupakan suatu kejadian yang paling baik, tapi hidup jauh lebih baik daripada mati, tapi ketika suatu kehidupan sudah dirasakan tiada artinya dan tiada 161 harganya lagi, keadaan tersebut jauh lebih baik diakhiri dengan suatu kematian.
Gak In Ling, walaupun tidak menginginkan suatu kehidupan yang penuh penderitaan, akan tetapi dia harus tetap hidup untuk menyelesaikan tugas penting yang menjadi bebannya, oleh sebab itu ia tak dapat mati dengan begitu saja.
Perlahan-lahan Gak In Ling membuka penutup botol persolen itu dan mengambil keluas sebutir pil berwarna hijau tua, kemudian obat tadi dimasukkan ke dalam mulutnya.
Thian-hong pangcu walaupun selama ini selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan maut dari pria bertato sembilan naga, namun pikirannya sama sekali tertuju kearah pemuda itu.
Apa yang dilakukan Gak In Ling dapat dilihat olehnya dengan jelas, hampir saja jantungnya copot karena kaget, tak tertahan lagi ia berteriak nyaring.
"Gak in Ling, engkau tak boleh menelan obat itu, tak boleh..."
Suaranya penuh perasaan sedih dan memohon, sementara air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Mendengar jeritan itu, perempuan berkerudung merah tadi pun melirik sekejap kearah Gak In Ling, setelah melihat obat yang ditelan diapun menjerit tertahan-"Aaah Pil cui-sim-wan "
"Pil cui-sim-wan ?"
Pria bertato sembilan naga pan terperanjat, tanpa sadar jurus serangan-nyapun makin memgendor.
Menggunakan kesempatan itulah perempuan berkerudung merah melancarkan serangan dengan jurus "Tiam-sak-seng-kim"
Atau menutul batu jadi emas, ia totok jalan darah cian-keng-hiat di atas bahu pria bertato sembilan naga itu.
Sementara itu Thian-hong pangcu telah meloncat kehadapan Gak In Ling.
Rupanya takdir telah menentukan lain, menanti dara cantik baju putih itu berhasil tiba di-hadapan sang pemuda, obat cui-sim-wan tadi telah tertelan kedalam perut sang pemuda yang keras kepala ini.
"Oooh... mengapa kau hancurkan dirimu sendiri ?"
Keluh Thian-hong pangcu.
Dengan pandangan dingin Gak In Ling menyapu sekejap kearahnya kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya, ia sama sekali tidak menggubris ucapan gadis itu.
Napas Gak In Ling yang memburu perlahan-lahan jadi tenang dan teratur kembali, wajahnya yang pucat kinipun sudah berubah jadi semu merah, dari luaran ia nampak sudah sembuh kembali, tapi dalam kenyataan kesegaran tersebut diperoleh seakan-akan seorang pemadat yang baru saja menghisap candu.
Keheningan dan kesunyian mencekam seluruh kalangan, begitu sepi sehingga setiap orang dapat mendengar detak jantungnya sendiri, dalam keedaan begini Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah telah melupakan perselisihan mereka, seluruh pikiran dan perhatian mereka telah ditumpahkan ketubuh Gak In Ling.
Suasana yang sesak kian mencekam seluruh jagad, membuat lembah Toan-hun-kok berubah jadi sepi sesunyi kuburan-Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepatnya akhirnya Gak In Ling menghela napas panjang dan membuka matanya kembali, sosot matanya memancarkan kemurungan dan kepedihan Thian-hoag pangcu segera maju kedepan, tegurnya.
"Kau kau apakah kau dalam keadaan baik ?"
Gak In Ling loncat bangun dari atas tanah-wajahnya yang tampan diliputi keketusan dan kehambaran, ia sapu sekejap wajah kedua orang dara itu kemudian berkata dengan dingin-163
"Mungkin kalian berdua merasa kecewa bukan ?"
"Apa yang kami kecewakan?"
Tanya perempuan berkerudung merah tanpa berpikir panjang.
"Kecewa karena aku tidak mati"
"Apakah engkau mengira bahwa kami mengharapkan engkau lekas mati?"
Tanya Thian-hong pangcu dengan sedih.
"Semoga saja kalian tidak berharap begitu."
"Asal sejak ini hari engkau takkan memusuhi umat persilatan didaratan Tionggoan lagi, persoalan yang sudah lewat tak akan kuungkap kembali."
Ujar perempuan berkerudung merah pula dengan suara yang lebih lembut.
"Setiap orang yang kucari dan setiap orang yang hendak kubunuh, tak akan tertolong oleh siapapun."
"Seandainya ada orang yang berhasil menolong korban-korbanmu itu ?"
"Kecuali kalau dia mampu membinasakan aku orang she Gak "
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, apakah engkau yakin bisa menangkan semua jago dalam dunia persilatan?"
Ujar Thian-hong pangcu dengan sedih.
Suaranya lembut dan halus, seakan-akan seorang isteri yang setia sedang menasehati suaminya.
Gak In Ling menengadah memandang langit nan biru, lalu menghela napas panjang.
"Mungkin ucapanmu itu tidak salah."
Sahutnya. Mendengar jawaban itu, satu ingatan berkelebat dalam benak Thian-hong pangcu, ujarnya lagi dengan lembut.
"Asal orang yang kau cari benar-benar telah melakukan kejahatan lebih dahulu dan dosa-dosa mereka dapat 164 dibuktikan, kendatipun engkau tidak menjatuhi hukuman terhadnp mereka, umat persilatan, pasti akan membantu dirimu untuk melampiaskan dendam sakit hati ini..."
Dari perkataan itu sudah jelas sekali menunjukkan bahwa gadis ini memperingatkan bahwa ia bersedia membantu usaha pemuda itu.
"Aku tidak mengharapkan orang lain menemui ajalnya karena persoalan dari aku orang she Gak. Perkataanmu itu tak bisa kuterima."
Tukas Gak In Ling dengan cepat.
"Darimana engkau bisa tahu kalau orang lain akan menemui ajalnya karena persoalanmu itu?"
Tanya perempuan berkerudung merah.
"Karena orang-orang yang hendak kucari itu memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, di antara mereka yang paling lemahpun memiliki ilmu silat yang seimbang dengan kepandaianku."
Ucapan ini dengan cepat mengejutkan hati dua orang gadis itu, mereka pernah menyaksikan sendiri sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Gak In Ling, seandainya apa yang dia ucapkan tidak salah maka kendatipun segenap kekuatan inti yang ada dalam dunia persilatan di himpun menjadi satu belum tentu bisa membantu usaha pemuda itu.
Setelah berpikir sebentar, Thian-hong pangcu bertanya kembali.
"Bagaimana dengan mereka yang berilmu silat paling tinggi?"
"Ilmu silat yang dimilikinya jauh diatas kepandaian yang kumiliki, kalau dicarikan perbandingannya maka bagaikan sinar rembulan dan cahaya kunang-kunang."
Tiba-tiba perempuan berkerudung merah itu teringat kembali akan lengcunya yang memiliki ilmu silat amat tinggi, dengan gelisah segera tanyanya.
"Siapakah mereka? Asal engkau sebutkan nama-namanya, mungkin saja ada orang yang mampu menangkan mereka^"
Tertegun hati Gak In Ling setelah mendengar perkataan itu, ia sadar dirinya telah terlanjur bicara, airmukanya segera berubah hebat dan katanya dengan tawar.
"Semoga saja dalam setengah tahun kemudian kita jangan sampai bertemu lagi, sebab bila sampai terjadi pertarungan lagi maka belum tentu aku akan mengalah seperti apa yang kulakukan pada saat ini."
Habis berkata ia segera berjalan menuju ke arah mulut gua dimana Hiat-mo-ong melenyapkan diri.
Perubahan sikap yang diperlihatkan Gak In Ling ini sangat mencengangkan hati dua orang dara tersebut, dalam hati kecilnya perempuan berkerudung merah segera berpikir.
"Kenapa sih tabiat orang ini begitu aneh ?Barusaja baik tiba-tiba jadi ketus, sungguh membingungkan."
Dalam pada itu Thian-hong pangcu telah menghadang jalan pergi sianak muda itu, tegurnya.
"Apakah engkau hendak masuk kedalam ?"
"Apakah pangcu kembali akan menghalangi jalan pergiku ?"
Dengan pandangan sedih Thian-hong pangcu menyapu sekejap wajah pemuda itu, kemudian menjawab.
"Lembah Toan-hun-kok bisa bertahan selama puluhan tahun dalam dunia persilatan, tanpa seorangpun mampu membasmi mereka dari muka bumi, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang mereka miliki bukan hanya terbatas pada Hiat-mo-ong seorang, kepergianmu seorang diri apakah tidak merasa bahwa kekuatan yang kau miliki terlalu lemah ?"
"Aku rasa persoalan ini merupakan masalah pribadiku sendiri, aku minta engkau tak usah mencampurinya."
Jawab 166 Gak In Ling ketus. Airmuka Tbian-hong pangcu berubah hebat.
"Kau..... kau benar-benar kejam.... engkau tak dapat menyelami perasaan orang lain-..."
Teriaknya. Dengan cepat Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah lain, kemudian menjawab.
"Jika engkau berdua dapat menyelami perasaan orang, aku hanya berharap agar kalian dapat memikirkan keselamatan serta keamanan bagi umat manusia yang ada dikolong langit."
Habis berkata ia berjalan lewat disisi tubuh Thian-hong pangcu dan buru-buru masuk kedalam gua.
Thian-hong pangcu menghela napas sedih, setelah termenung sebentar sambil menggigit bibir tiba-tiba ia berpaling kearah perempuan berkerudung merah itu dan berkata.
"Seorang tamu tak akan merepotkan dua orang tuan rumah, harap engkau utusan timur suka menyampaikan kepada lengcu kalian, bahwa mulai saat ini seluruh keamanan dunia persilatan kuserahkan pada dia seorang untuk mengendalikannya."
Selesai berkata dengan langkah cepat ia menyusul kedalam gua di mana bayangan tubuh Gak In Ling melenyapkan diri.
Dengan wajah kaget dan tertegun perempuan berkerudung merah itu berdiri menjublek ditempai semula, pikirnya.
"Ucapan itu kenapa harus aku yang sampai kan ?"
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil menuding kearah pria bertato sembilan naga pesannya kepada keempat orang dayang itu.
"Setelah membebaskan jalan darah orang itu kalian segera pulang kegunung dan lapor kepada lengcu, katakanlah andaikata didalam tiga hari aku utusan timur belum kembali 167 juga, itu berarti sejak detik ini utusan timur sudah tak dapat melayani lengcu lagi."
Selesai berkata ia segera lari masuk kedalam gua itu pula.
Hati perempuan memang sukar diraba.
Sementara itu, setelah Gak In Ling masuk kedalam gua, ia merasa ruang dalam gua tadi luas sekali, dindingnya terbuat dari batu dan licin bagaikan cermin, jelas tempat itu bukan gua alam tapi dibuat oleh tenaga manusia.
Setelah berbelak-belok beberapa kali dan kurang lebih sudah mencapai tiga-empat puluh tombak dalamnya, Gak In Ling masih belum berhasil menemukan suatu ruangan, hal ini membuat hatinya amat terkejut.
Pada saat itulah mendadak dari dalam gua berkumandang datang suara pembicaraan manusia, terdengar seseorang yang bersuara serak sedang berkata.
"Menurut cahaya sang surya seharusnya harusnya sekarang sudah mendekati tengah hari, kenapa belum nampak ada yang mengirim nasi ? Apakah mereka hendak siksa kita sampai mati karena kelaparan?"
"Sekalipun mereka benar-benar akan menyiksa kita sampai mati kelaparan, apa yang dapat kau katakan ?"
Sambung seorang yang lain dengan nada dingin.
"Hmm Mereka berani ?"
"Kenapa tidak berani? Meskipun dahulu engkau "Tok-seng"
Nabi bisa Kongsun To pernah menggemparkan dunia persilatan, namun pada saat ini kau masih berada dalam genggamannya, sekalipun bocah yang berumur tiga tahunpun takkan jeri terhadap dirimu "
Rupanya orang yang pertama tadi dibikin gusar oleh ucapan tersebut, terdengar ia meraung dengan gusar.
"Leng Inpoocu, apakah engkau ingin merasakan kelihayanku ?"
"Hm, engkau kira aku jeri terhadap dirimu ?"
Jawab Leng In poocu sambil mendengus dingin-Tiba-tiba suara yang lain berkumandang menengahi percekcokan itu.
"omitohud Selama banyak tahun sicu berdua bukan hanya berkelahi satu kali saja, tapi menang kalah, selalu tak bisa ditentukan, apa sih gunanya membuang tenaga lagi dengan percuma?"
Rupanya si Nabi racun Kongsun To adalah seorang manusia yang tidak pakai aturan, dengan cepat dia menyambung kembali.
"Benar, benar, Buddha Antik, selama banyak tahun aku belum pernah bergebrak melawan dirimu. Mari, mari kita adu kepandaian, coba lihat siapa yang lebih unggul diantara kita."
"Aku menyadari bahwa kepandaianku masih belum mampu menangkan diri sicu,"
Jawab orang yang disebut Buddha Aantik itu "Eei...... kamu tak usah kuatir, aku akan tetap menggunakan peraturan lama, tak akan aku gunakan jurus racun, semuanya pakai jurus murni."
Seru Nabi racun lagi.
Ketika Gak In Ling mendengar bahwa didalam gua itu terdapat juga siBuddha Antik yang paling dibenci, darah panas seketika bergelora dalam rongga dadanya, dengan langkah yang lebih cepat lagi dia mendekati kearah berasal nya suara tadi.
Tiga buah tikungan kembali sudah dilewati akhirnya setelah berjalan beberapa saat lamanya sampailah pemuda itu disuatu tempat yang terbuka, sebuah ruang batu seluas dua puluh tombak lebih muncul didepan mata, pada sisi kanan ruang batu itu terdapat sebuah lorong yang entah menghubungkan 169 tempat itu dengan mana, sedang suara pembicaraan ya bergema tadi berasal dari dalam sebuah dinding batu berwarna putih yang ada disebelah kanan-Gak In ling sama sekali tidak ragu-ragu, dengan langkah yang cepat ia berjalan menuju ke samping kiri.
Tiba-tiba...
"Gak In Ling, apakah kau sudah bosan hidup dan kepingin cari kematian buat diri sendiri ?"
Suara teguran seseorang berkumandang memecahkan kesunyian-Apa yang dipikir dan diperhatikan Gak In Ling pada saat ini adalah menemukan persembunyiannya Buddha Antik, ketika secara tiba-tiba namanya disebut orang hatinya jadi amat terperanjat.
Dengan cepat ia putar badan sambil silangkan telapaknya didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ketika sorot matanya dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi, terlihatlah Thian-hong pang cu serta perempuan berkerudung merah telah berdiri berjejer kurang lebih lima depa dihadapannya.
Gak In Ling segera tertawa dingin dan menegur.
"Kedatangan kalian berdua apakah dikarenakan aku orang she Gak ?"
"Sedikitpun tidak salah "jawab Thian hong pangcu sambil mengangguk.
"Apakah diantara kita bertiga harus diputuskan lebih dahulu siapa yang berhak melanjutkan hidup dan siapa yang pantas menemui ajalnya ?"
Seru pemuda itu lagi sambil tertawa dingin.
"Apakah maksudmu, selain percekcokan dan perkelahian, diantara kita sudah tiada urusan lain lagi ?"
Bantah Thian-170 hong pangcu dengan wajah yang sedih.
Sambil bicara dari pancaran matanya terlintaslah rasa murung dan kesal.
Gak In Ling bukan seorang tolol ataupun bodoh, sudah tentu ia dapat menangkap arti dari perkataan itu, tetapi berada dalam keadaan seperti ini ia tetap berlagak pilon seolah-olah sama sekali tidak paham dengan maksud perkataan itu.
Dengan cepat pokok pembicaraan dialihkan kemasalah lain, ujarnya dengan hambar.
"Kalau memang kedatangan kalian berdua bukanlah mencari aku orang she Gak guna bertarung, aku harap kamu berdua segera tinggalkan tempat ini, masa depan dunia persilatan tergantung diatas bahu kalian berdua, menempuh bahaya karena urusan yang begini sepele sama sekali tak ada harganya bagi kalian berdua..."
Selesai berkata tanpa menantikan jawaban lagi ia segera berjalan menuju kedinding batu sebelah kiri.
"Engkau hendak menjebolkan dinding batu itu?"
Seru perempuan berkerudung merah tanpa terasa.
"Sedikitpun tidak salah "
"Tahukah engkau siapa saja yang terkurung didalam ruangan gua batu itu ?"
Gak In Ling menghentikan langkahnya kemudian menjawab.
"Nabi racun Kongsun To, Leng In poocu dan Buddha Antik."
Ketika mengucapkan nama Buddha Antik, suaranya sengaja diperkeras dan diperberat.
"Pernahkah engkau mendengar kata-kata yang berbunyi Nabi racun mengejutkan kolong langit, pedang Leng In bagaikan malaikat ?"
Seru Thian hong pangcu kembali. Mendengar perkataan ini Gak In Ling hatinya terjelos, pikirnya didalam hati.
"Mungkin aku akan menemui suatu kesulitan yang besar sekali."
Walaupun dalam hati ia mempuyai pendapat demikian, tetapi perasaan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, dengan suara hambar ia hanya berkata.
"Ucapanmu itu memang sangat mengejutkan hati orang, tetapi bagaimanapun juga ruangan ini harus dijebolkan"
Sekalipun Thian-hong pangcu belum terlalu lama berkumpul dengan Gak In Ling, akan tetapi dia sudah memahami sifat serta tabiatnya, ia mengerti apa yang telah diucapkan oleh si anak muda itu pasti akan dilakukan olehnya, dengan cepat dara cantik baju putih itu meloncat kehadapan pemuda itu sambil serunya dengan suara berat.
"Gak In ling, perkataanmu selalu menggembar-gemborkan demi kesejahteraan dan keamanan umat persilatan didaratan Tionggoan, tapi pernahkah engkau berpikir apa akibatnya andaikata Nabi racun Kongsun To dilepaskan dari kurungan itu ?"
Gak In Ling tertegun, ia tak pernah mempertimbangkan akibat dari perbuatannya itu.
Sudah tentu hal ini disebabkan karena ia masih belum tahu bagaimanakah watak serta tabiat dari Nabi racun Kongsun To itu sendiri.
Gak In Ling berdiri tertegun dan lama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, pada saat itu suasana ruang dalam pun sunyi senyap dan tak kedengaran suara apapun, jelas pembicaraan diantara mereka telah tercuri dengar oleh orang-orang itu.
Gak In Ling memandang sekejap kearah dua orang gadis itu, seakan-akan sedang berkata terhadap mereka, ia bergumam seorang diri.
"Tetapi Buddha Antik berada didalam, bagaimana juga aku harus masuk kedalam."
Menyaksikan si anak muda itu sudah tergerak hatinya oleh perkataannya, Thian-hong pangcu melanjutkan kembali kata-katanya.
"Demi masalah pribadimu serta kepuasan bagi dirimu sendiri, engkau membuat segenap umat persilatan jadi sengsara dan mendapat celaka, coba bayangkan tegakah liang-simmu berbuat begitu ?Jawablah "
Perkataan ini mengandung maksud yang sangat dalam dan mengetuk perasaan halus sianak muda itu, membuat Gak In Ling jadi sangsi dan tak tahu apa yang harus dilakukan, tapi ia bersumpah akan mencabut jiwa Buddha Antik, mungkinkah ia tinggalkan tempat tersebut dengan begitu saja ?
Antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi, antara dendam dan cinta telah menyulitkan pemuda angkuh she Gak ini, dalam benaknya segara muncul pelbagai ingatan serta pikiran yang saling bertentangan, ia mulai merasakan kebingungan, kebimbangan dan kekacauan-Pada saat itulah dari balik dinding berkumandang kembali suara terlakan dari Nabi racun Kongsun To.
"Hei, manusia yang menamakan dirinya Gak In Ling, andaikata engkau mampu melepaskan aku dari tempat kurungan ini, maka aku akan menyanggupi tiga syarat yang kau ajukan-"
Jelas manusia racun itu hendak mencengkeram kesempatan baik ini untuk melarikan diri.
"Sungguhkah perkataanmu itu ?"
Tanya Gak In Ling dengan perasaan hati agak tergerak.
"Apa itu sungguh atau palsu "
Maki Nabi racun Kongsun To marah-marah.
"Selama hidup aku Nabi racun belum pernah mengucapkan kata kata yang palsu ataupun membohongi orang lain."
Gak In Ling yang dasarnya memang tidak mengenali orang itu tentu saja tidak memahami watak serta tingkah lakunya, 173 sepasang matanya yang jeli tanpa terasa dialihkan kearah Thian-hong pangcu dengan sorot penuh selidik.
"Walaupun selama hidup Nabi racun Kongsun To tak pernah berbohong dan menipu orang lain, tetapi manusia ini licik dan sangat berbahaya."
Ujar Thian hong pangcu dengan sedih.
"Andai kata engkau lepaskan dirinya, maka ia akan memperlihatkan permainan setan kepadamu."
Setelah mengetahui bahwa Nabi racun Kong sun To tak pernah berbohong, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling tegurnya kearah balik dinding.
"Syarat macam apakah yang engkau sanggupi ?"
"Asal aku mampu melakukan serta mengerjakan pasti akan kupenuhi, tapi engkau tak boleh minta aku untuk mati "
Kongsun To manusia yang ahli dalam penggunaan racun memang lihay sekali dalam melakukan semua pekerjaan, sebelum terlanjur ia telah mempersiapkan jalan mundur bagi diri sendiri.
"Baik, kita putuskan dengan janji ini,"
Jawab Gak In Ling sambil mengangguk, selesai berkata ia siap menghantam dinding ruangan tersebut.
"Gak In Ling, sebelum bertindak aku harap engkau suka mempertimbangkan lebih dahulu tentang keamanan serta keselamatan sendiri"
Ajar Thian-hong pangcu lagi dengan penuh perhatian-Gak In Ling seketika merasakan perasaan hatinya jadi hangat sekali, tapi ketika teringat olehnya bahwa kehidupan selama setengah tahun dengan cepatnya akan berakhir dan pada saat itu semua kehangatan akan musnah, ia jadi murung dan kesal kembali, sambil tertawa hambar katanya.
"Sekarang dia sedang membutuhkan bantuan dariku,aku percaya perbuatannya tidak akan sampai merugikan diriku "
"Tetapi andaikata mereka sudah kau lepas kan dari kurungan dan pada saat itu mereka sudah tiada lagi yang diharapkan lagi darimu, bagaimana keadaannya ?"
Sambung perempuan berkerudung merah dari samping. Gak In Ling tertawa.
"Sebelum mereka terlepas dari kurungan, akan kubicarakan syarat-syarat tersebut lebih dahulu "
Jawabnya. Dalam pada itu Nabi racun Kongsun To telah berseru kembali dari dalam ruangan-"Ayoh, cepat Apakah engkau tak mampu untuk menjebolkan pintu batu tersebut ?"
Gak In Ling mengerutkan dahinya, dalam hati ia segera mengambil keputusan dan serunya.
"Harap kalian berdua suka mengundurkan diri kesamping."
Dengan mengguna kan jurus menyapu rata lima bukit, pemuda itu melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas dinding batu itu.
Blaaaam Di tengah ledakan yang amat dahsyat, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebongkah batu cadas yang keras terhajar hancur dari atas dinding ruangan, begitu dahsyat dan kuatnya angin pukulan yang dilancarkan Gak In Ling itu sehingga muncullah sebuah lubang sebesar tiga depa di tempat itu.
Dengan cepat Gak In Ling loncat kemuka dan menghadang didepan mulut gua tadi, tiba-tiba tercium bau harum disisi tubuhnya, ketika ia berpaling tampaklah dua orang nona sudah berdiri dikedua belah sisinya.
Tebaran bubuk dinding memusingkan kepala dan mengaburkan pandangan semua orang, pada saat itulah dari dalam ruangan berkumandang suara gelak tertawa Nabi racun Kongsun To yang amat keras.
"Haaah haah haaah aku telah bebas.... aku telah bebas basah haaah...."
Ditengah gelak tawa yang keras dan memekakkan telinga itu, terbawa pula suara gemerincingnya rantai yang saling beradu.
Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah itu segera menengok kedalam, tiba-tiba kedua orang gadis itu menjerit tertahan dan loncat mundur ketempat semula, keadaan mereka bagaikan terpa gut oleh ular berbisa.
Gak In Ling tertegun, dengan cepat ia menengok kedalam, setelah mengetahui apa yang terjadi sadarlah sianak muda itu.
DidaLam ruangan terlihatlah seorang kakek tua berambut putih bermata cekung dan berjenggot panjang terpantek diatas dinding, dua buah rantai yang amat besar dan kuat menembusi tulang bahunya dan membelenggu kakek itu didinding batu, pakaian yang dikenakan sudah compang-camping tak karuan sehingga bagian bawahnya boleh dibilang sama sekali tak tertutup, Dengan pandangan yang seksama Gak In Ling memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, terlihat olehnya ruang batu itu berliku-liku seperti sebuah lorong rahasia, kalau diujung lorong tidak terdapat sebuah pintu batu mungkin tempat itu sama sekali tak mirip seperti sebuah ruangan.
Bau busuk dan hawa lembab memancar keluar dari ruangan tadi, begitu tak sedap baunya sampai-sampai memuakkan sekali.
Ketika ia menyaksikan bahwa ditempat itu tiada orang lain, hatinya kaget bercampur heran, setelah sangsi sebentar akhirnya ia melangkah masuk kedalam ruangan itu.
Sejak dinding itu berlubang, dengan pandangan yang tajam kakek itu menatap terus wajah Gak In Ling tanpa berkedip.
menanti pemuda itu melangkah masuk kedalam ruangan, ia baru berkata sambil tertawa.
"Selama banyak tahun akhirnya aku berhasil juga mendapatkan kesempatan untuk meloloskan diri."
Sikapnya begitu girang dan bangga, seakan-akan Gak In Ling memang sudah menolong dia. Gak In Ling maju dua langkah kedepan, lalu menegur.
"Siapakah engkau ? Dan siapa namamu d i-antara tiga orang yang ada disini ? Dimana pula mereka berdua ?"
"Haa haa.... haa aku adalah Nabi racun Kongsun To "
Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan-"Engkau takut ?"
Gak In Ling tertawa dingin.
"Hee.... hee.. hee jangan dikata badanmu masih dirantai diatas dinding, sekalipun kau sudah bebas merdekapun aku tak nanti akan jeri terhadap dirimu."
"Sebentar lagi aku tokh akan bebas merdeka "
Seru Kengsun To dengan senyum mengejek.
"Hmm Engkau mengira bahwa aku pasti akan menolong dirimu?
Rupanya Nabi racun Kongsun To sudah menduga kalau Gak In Ling pasti akan mengucapkan kata-kata tersebut, bukannya terkejut atau heran dia malah tertawa.
"Haa.... haa aku sudah menduga kalau engkau akan bersikap begitu terhadap diriku"
Gak In Ling terperanjat, suatu firasatjelek terlintas diatas wajahnya, serunya tanpa sadar.
"Kalau memang begitu engkau tak akan seyakin itu "
"Hee hee. ... bocah cilik aku Nabi racun Kongsun To kalau tak mampu mengalahkan dirimu, buat apa aku cari nama dan berkelana dalam dunia persilatan ?"
Seru Kongsun To sambil tertawa dingin.
Setelah berhenti sebentar, ia tertawa terbahak-bahak lalu melanjutkan-"Sekarang aku akan memberitahukan dirimu secara terus-terang, d isaat dinding batu itu kau jebolkan tadi, tanpa disadari kalian telah keracunan hebat"
Gak In Ling merasa amat terkejut, tapi dengan cepat sambil tertawa lantang sahutnya.
"Hmm Siasat yang kau gunakan memang luar biasa sekali "
"Siasat apa ?"
"Siasat benteng kosong"
Jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin. Mendengar perkataan itu Nabi racun Kongsun To angkat kepala dan tertawa tergelak.
"Haa..... haa.... bocah cilik, kalau engkau tak percaya silahkan mengerahkan tenaga dan mencobanya sendiri. Selama hidup belum pernah ku lakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan keberhasilannya, apalagi urusan ini penting sekali."
Dalam hati kecilnya Gak In Ling memang merasa curiga, karena sewaktu menjebolkan dinding tembok tadi ia sama sekali tidak mencium bau yang terasa aneh olehnya, mendengar perkataan itu ia segera menurut dan diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya.
Tiba-tiba air mukanya berubah hebat, napsu membunuh menyelimuti wajahnya yang tampan, selangkah demi selangkah ia maju ke depan, serunya.
"Kongsun To, engkau tak pernah menyangka dengan tindakanmu ini, bukan?"
Airmuka Nabi racun Kongsun To masih tetap tenang seperti sedia kala, sambil tertawa seram ia menjawab.
"Bukankah sudah kukatakan, selamanya aku tak pernah melakukan tindakan yang tidak meyakinkan diriku, tindakanmu itupun sudah berada dalam dugaanku."
Gak In Ling merasakan hatinya makin tercekat sesudah mendengar perkataan itu.
"Setelah engkau mati, aku bisa menggeledah isi sakumu sendiri.. .. Hm Bukankah racun ini bisa kupunahkan kembali ?"
"Ha haa.... kalau engkau menginginkan tak usah digeledah lagi, aku akan mempersilahkan engkau untuk memilihnya sendiri."
Sambil berkata dari balikjubahnya yang robek mencomot sana merogo kemari, dalam waktu singkat sudah ada dua puluh botol lebih obat yang beraneka macam dipaparkan dihadapan pemuda itu, katanya.
"Diantara lima belas buah botol ini ada tiga belas botol berisi obat racun yang amat keji, sebuah botol berisi racun berdaya kerja lambat dan hanya satu botol saja yang berisi obat pemunah, jikalau engkau punya keberanian untuk mengadu nasib, aku bersedia menyerah kalah dengan begini saja."
Mimpipun Gak In Ling tak pernah menyangka kalau Nabi racun Kongsun To bakal menggunakan tindakan semacam itu untuk menghadapi dirinya, tanpa terasa ia berdiri tertegun-"Engkau tak usah putar otak lebih jauh."
Kata Kougsun To lagi sambil tertawa.
"kalau di kolong langit masih ada orang yang mampu mengenali jenis racun yang kupergunakan, apa guna nya aku pergunakan julukan sebagai Nabi racun?"
Satu ingatan tiba-tiba berkelebat dalam benak Gak In Ling, baru saja dia akan buka suara Kongsun To sudah berkata lagi.
"Sedikitpun tidak salah, engkau dapat menggunakan binatang untuk mencoba obatku ini, tapi dalam satu tiga perempat jam dari mana engkau mampu untuk mengumpulkan lima belas macam binatang ?"
Tindak-tanduk orang ini memang licik dan berbahaya sekali, bahkan semua yang sedang dipikir oleh orang lain telah berhasil ditebak semua olehnya.
Dalam keadaan begini boleh dibilang Gak In Ling sudah kehabisan akal, ia segera tertawa dingin-"Hmm Engkau cukup keji dan hebat."
Serunya.
"Hee..... hee.. hee sekarang engkau bersedia membebaskan diriku, bukan ?"
Gak In Ling ingin cepat-cepat temukan Buddha Antik, sambil menggeleng dia bertanya.
"Dimanakah dua orang lainnya ?"
"Apakah engkau juga akan melepaskan mereka berdua ?"
Tanya Kongsun To dengan nada tertegun-Sebelum Gak In Ling sampat menjawab. Leng In poocu yang berada didalam sudah berseru dengan suara lantang.
"Ada apa ? Apakah engkau Kongsun To merasa tidak puas ?"
"Sedikitpun tidak salah."
Sahut Kongsun To dengan mata melotot.
"aku memang merasa tidak puas, sebab selembar nyawaku harus kutukar dengan tiga macam syarat."
Leng In poocu tertawa dingin.
"Hee....... hee....engkau anggap aku Leng ciau adalah seorang manusia yang suka mencari keuntungan dari orang lain ? Engkau bisa mengabulkan tiga macam syaratnya, apakah aku tak bisa penuhi juga tiga buah syaratnya ? Hmm, apa yang hendak. kau katakan lagi?"
"Haa...... haa anggaplah aku memang berpandangan sempit."
Seru Kongsun To kemudian tertawa terbahak-bahak. Gak In Ling yang selama ini membungkam segera berseru sambil tertawa dingin.
"Tiada halangannya bagiku untuk melepaskan engkau lebih dahulu, tapi kita harus bicarakan dulu pertukaran syaratnya."
"Nah, katakanlah"
Gak Ia Ling berpikir sebentar, lalu berkata "Pertama, mulai hari ini engkau tak boleh membunuh orang lagi didaratan Tionggoan."
"Tidak boleh membunuh semua orang pria atau tak boleh membunuh kaum wanita ?"
"Tentu saja baik lelaki maupun perempuan tak boleh dibunuh "
"Wah kalau begitu aku merasa keberatan,"
Seru Nabi racun Kongsun To sambil geleng kepalanya berulang kali.
"bagiku permintaan itu termasuk dua macam syarat."
"Engkau ingin mengingkari janji ?"
Tegur Gak In Ling dengan alis berkerut. Kongsun To tenang sekali, jawabnya.
"Manusia tokh dibagi antara laki dan perempuan, sedang laki dan perempuan merupakan jenis yang berbeda, tentu saja harus dianggap sebagai dua syarat."
Nafsu membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, rupanya dia akan turun tangan untuk membunuh kakek tua itu Menyaksikan tingkah laku dari lawannya, Nabi racun Kongsun To tetap tenang-tenang saja sengaja ia berkata sambil tertawa hambar.
"Sekalipun aku dibunuh, pada akhirnya kalianpun tak akan lolos dari kematian."
"Engkau anggap aku takut menghadapi kematian ?"
Seru Gak In Ling sambil tertawa dingin-"Haa haa aku tahu kalau engkau tak takut mati."
Jawab Kongsun To sambil tertawa seram.
"bahkan dua orang gadis itupun tidak takut mati, tapi, pernahkah engkau membayangkan dengan kematiannya berdua maka dunia persilatan akan jadi kalut dan kacau tidak karuan?"
Orang ini benar benar licik sekali, rupanya dia hendak menggunakan pembicaraan yang telah didengarnya tadi sebagai senjata untuk memaksa lawannya tunduk.
Sedikitpun tidak salah, napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak In Ling perlahan-lahan lenyap tak berbekas, ia menghela napas di dalam hati dan mengangguk.
"Baiklah, anggap saja sebagai dua syarat "
"Haa haa..... rupanya engkau bijaksana sekali hebat, hebat... ."
Seru Kongsun To sambil tertawa hambar. Gak In Ling mendengus dingin-"Hmm, mana obat pemunahnya ?"
"Engkau toh belum lepaskan diriku, kenapa aku mesti serahkan dulu obat pemunah itu kepadamu ?"
"Ingin kuperiksa dulu obat pemunah itu cukup atau tidak ?"
"Untuk bagian satu orang, aku rasa jauh lebih dari cukup "
"Untuk tiga orang "
Seru Gak In Ling sambil tertawa dingin-"Wah, keberatan. Permintaaan sudah melebihi tiga syarat yang kita janjikan-"
Napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak ln Ling muncul kembali dibalik sorot mata nya, dengan nada yang seram ia berseru.
"Manusia she Kongsun, rupanya engkau cari mati"
Sepasang telapak segera diulangkan didepan dada, dan rupanya serangan yang maha dahsyat segera akan dilancarkan-Sebagai manusia yang licik dan banyak akal setelah meninjau sejenak situasi yang dihadapinya pada saat itu, Nabi racun Kongsun To menyadari apabila ia tidak menolong kedua orang gadis itu, maka pemuda itu akan mengadu jiwa.
Buru-buru serunya dengan nada gelisah.
"Baik, baiklah.... biar kutolong kalian bertiga, anggap saja untuk kali ini aku telah berbuat murah hati."
Gak In Ling tertawa dingin, perlahan-lahan ia turunkan kembali sepasang telapaknya dan berkata.
"Aku ingin memeriksa lebih dahulu obat pemunahnya itu "
"Engkau tidak percaya dengan diriku ?"
Seru sikakek dengan sorot mata berkilat.
"Tentu saja tidak percaya "
Mendengar perkataan itu Nabi racun Kong sun To naik pitam, ia mendengus dan berkata.
"Kalau tidak percaya lebih baik mati, sekalipun aku harus mati didalam gua ini juga tidak akan kuberikan obat pemunah tersebut padamu."
Habis berkata ia segera pejamkan mata rapat-rapat Melihat kakek itu sudah unjukkan keras kepalanya, dia tahu kalau tidak mengalah maka suasana tak akan beres, maka diapun berkata.
"Baiklah, aku orang she Gak bersedia mempercayai dirimu."
Sambil berkata ia segera berjalan menghampiri Nabi racun Kongsun To itu.
Ketika mengetahui bahwa Gak In Ling bersedia mempercayai dirinya, dari balik mata Kong sua To segera memancar wajah kegirangan, sinar kegirangan tersebut muncul dari hati sanubarinya dan sudah puluhan tahun lamanya tak pernah muncul, cuma sayang tidak lama kemudian cahaya tersebut telah sirap kembali.
Kakek tua itu segera memegang rantai yang membelenggu tubuh nya dan berkata.
"Rantai besi ini diikatkan pada dinding bata, dibalik dinding tersembunyi alat rahasia yang amat lihay, oleh sebab itulah meskipun sudah banyak tahun aku dikurung di tempat ini tapi selamanya tak berani menarik.
Mari, mari siap kau tarik ujung 183 yang sana dan aku akan menarik dari ujung sebelah sini, dengan begitu rantai ini akan patah.
Gak In Ling menurut dan segera memegang ujung rantai tersebut, serunya.
"Ayo tarik "
"cukupkah tenaga dalammu ?"
Gak In Ling tertawa dingin.
"cukup atau tidak. setelah engkau terlepas dari kurungan boleh dicoba sendiri"
Kongsun To agak tertegun, tiba-tiba ia tertawa dan menjawab.
"Haa..... haa benar, ucapanmu memang benar. Sekalipun tidak engkau ucapkan, aku pun tak akan lepaskan dirimu dengan begitu saja."
Tidak menunggu Gak In Ling buka suara lagi, ia segera membentak keras.
"Tariiik "
Sambil menggentak rantai baja itu segera dibetot kebelakang dan "Blaaaam"
Rantai baja sebesar ibujari itu tertarik patah jadi dua bagian-Gak In Ling maupun Nabi racun Kongsun To sama-sama mundur selangkah ke belakang, pikir pemuda itu dalam hati dengan perasaan tercekat.
"Luar biasa sekali tenaga dalam yang dimiliki orang ini."
Rasa terkejut yang dialami Kongsun To be berapa kali lipat lebih hebat daripada Gak In Ling, diatas wajahnya sama sekali tidak terlintas rasa gembira atau senang karena lolos dari kurungan, sebaliknya pikiran dan perasaannya terasa bertambah hebat.
Lama...
lama sekali, kakek itu baru menatap wajah Gak In Ling sambil berkata.
"Tenaga dalam yang engkau miliki sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada apa yang kuduga semula, engkau memang luar biasa sekali"
"Hmm, aku merasa bangga sekali mendengar pujianmu itu."
Jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin.
Habis berkata ia segera berjalan maju beberapa langkah kedalam, tidak berapa jauh ia temukan sebuah ruang batu lagi yang luasnya sepuluh tombak persegi, disana nampak dua orang kakek tua dalam keadaan mengenaskan dirantai pula diatas dinding batu.
Memandang bayangan punggung Gak In Ling yang lenyap dibalik ruangan, tiba tiba Kongsun To membentak nyaring.
"Gak In Ling, benarkah engkau hendak menyelamatkan mereka ?"
Gak In Ling segera berhenti dan putar badan, dengan wajah berubah memberat ia tertawa dingin.
"Apakah engkau hendak menghalangi diriku"
Jengeknya.
"Sedikitpun tidak salah, aku memang bermaksud begitu."
Jawab Kongsun To sambil tertawa dingin pula. Leng In poocu yang menyaksikan kejadian itu jadi amat gelisah, ia segera berseru.
"Waah, kalau engkau berhasil bereskan dia badanmu tentu akan bertambah gemuk karena tak usah menepati janji lagi."
"Leng-heng,"
Ujar Kong sun To sambil tertawa dingin.
"sebelum engkau berhasil meloloskan diri, lebih baik kurangilah penggunaan akal licik dihadapanku "
Melihat Kongsun To tak mau masuk perangkap. Leng In poocu sadar bahwa satu pertarungan sengit tak dapat dihindari lagi, dalam hati segera pikirnya.
"Meskipun Gak In Ling belum tentu mampu menangkan Kongsun To, tetapi harapan bagiku untuk lolos masih tetap ada."
Maka sambil tertawa dingin serunya.
"Asal engkau pergunakan obat-obat racun yang pernah mengangkat namamu dalam dunia persilatan, bukankah pertarungan sengit dapat kau hindari dengan begitu saja ?"
"Hee....hee.... Leng-heng, apakah engkau tidak menilai orang lain terlalu tinggi ? Terhadap dirimupun aku tidak gunakan racun, apalagi untuk menghadapi dirinya ?"
Bicara sampai disini ia berpaling dan ujarnya kembali kepada Gak In Ling.
"Bocah, engkau boleh berlega hati Paling banter aku cuma melukai dirimu dan tidak sampai mencabut selembar jiwamu, karena aku masih menepati janjiku "
Gak In Ling tertawa dingin "orang tua, kau boleh legakan hatimu. Sebelum engkau punahkan racun yang mengeram dalam tubuh kedua orang gadis itu, akupun takkan mencabut jiwamu "
Bicara sampai disini dia melirik sekejap ke arah Kongsun To dengan sikap yang congkak dan tinggi hati. Leng In poocu yang berada disamping kalangan diam-diam merasa terperanjat, pikirnya.
"Tekebur amat bocah ini."
Kongsun To sebagai Nabi racun yang sangat dihormati orang tentu saja tak kuat menahan penghinaan yang terasa tajam baginya itu, api kegusaran membakar dadanya membuat napsu membunuh tak bisa dikendalikan lagi, dengan mata berkilat hardiknya.
"Kurang ajar, rupanya engkau benar-benar ingin modar ?"
Gak In Ling ingin buru-buru membuat perhitungan dengan Buddha Antik, ia tak ingin banyak membuang waktu lagi, sambil ayun sepasang telapaknya kedepan bentaknya.
"Sambutlah seranganku ini"
Dengan jurus "Gan-liok-peng-sah"
Atau Belibis hinggap di pasir datar, laksana kilat ia menotok dada Kongsun To dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Pada saat Gak In Ling membetot putus rantai besi tadi, Kengsun To sudah mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu luar biasa sekali, oleh sebab itulah meskipun dalam pembicaraan ia berlagak seolah-olah sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap pemuda she Gak.
tapi dalam kenyataannya ia sudah mempunyai perasaan was-was yang tinggi terhadap diri musuhnya itu.
Maka ketika dilihatnya Gak In Ling melancarkan serangan, ia tak berani bertindak gegabah buru-buru dengan gunakan jurus Jian-liong-ki-hong "
Atas menunggang naga naik burung hong ia loncat mundur sejauh tiga depa dari tempat semula, tidak menunggu Gak In Ling berganti jurus, dengan menggunakan gerakan "Liong-hui-hong wu"
Atau naga terbang burung hong menari dia balik menghantam iga kiri pemuda itu. ---ooo0dw0ooo---
Jilid 6 MENGHINDARKAN diri, balas menyerang semua dilakukan pada saat yang bersamaan dan menggunakan kecepatan yang luar biasa sekali, bukan saja angin pukulan terasa menderu-deru bahkan amat menyilaukan mata, hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini sama sekali tidak berada dibawah Gak In Ling.
Si anak muda itu sendiri juga tak menyangka kalau tenaga dalam serta gerakan jurus yang dimiliki orang itu telah mencapai puncak kesempurnaan, karena bertindak gegabah dengan cepat ia terjerumus dalam posisi yang terdesak hebat.
Setelah berhasil merebut kedudukan diatas angin, semangat tempur Kongsun To berlipat ganda, jurus demi jurus dilancarkan tiada hentinya membuat orang lain tak mampu melancarkan serangan balasan-187 Diatas kening Leng In poocu mulai dibasahi eleh keringat dingin, ia bukan menguatirkan keselamatan dari Gak In Ling, sebaliknya menguatirkan kekalahan sianak muda ini bisa mengakibatkan dirinya akan terkurung untuk selamanya ditempat itu atau bahkan menemui ajalnya ditangan Kongsun To.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertempur sebanyak puluhan jurus, dengan dilangsungkannya pertarungan ini maka peredaran darah dalam tubuh pemuda itu beredar semakin kencang, itu berarti kadar racun yang mengeram dalam tubuhnya ikut menyebar semakin cepat, ketika secara tiba-tiba pemuda itu merasakan perubahan didalam tubuhnya, ia merasa amat terperanjat, pikirnya.
"Kalau pertarungan ini dilangsungkan lebih jauh, mungkin aku benar-benar akan menderita kekalahan-"
Berpikir sampai disitu, ia segera membentak keras.
"Tunggu sebentar "
Sambil berseru dia loncat keluar dari gelanggang.
Kongsun To mengira Gak In Ling sudah menyadari bahwa dia bukan tandingannya dan minta berhenti, sebagai orang yang berakal licik dan pada dasarnya memang tiada bermaksud menghabisi nyawa Gak In Ling, dengan cepat ia tarik kembali serangannya dan loncat mundur sejauh tiga depa dari tempat semula, serunya dengan wajah mengejek.
"Engkau jeri ?"
Gak In Ling tertawa dingin-"Karena aku merasa tak mampu membinasakan dirimu, maka aku suruh engkau berhenti bertempur "
Kong sun To berdiri tertegun setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan bimbang.
"Perkataanmu itu kau ucapkan untuk siapa?"
Jelas ia merasa tak mengerti dengan ucapan lawannya, sebab ditinjau 188 dari situasi pertarungan yang dihadapinya, Gak In Ling terdesak dibawah angin-"Tentu saja kuucapkan bagimu "
Sahut sang pemuda.
"Haahaa sekarang aku sudah paham, engkau tentu merasa takut menderita kekalahan ditanganku sehingga malu bertemu dengan orang-lain ?"
"Hmm, pikiran seperti itu masih terlalu pagi untuk diungkapkan-"
Sambil berkata sianak muda itu segera ayunkan telapak tangannya yang berwarna merah dan berseru sambil tertawa dingin.
"coba engkau lihatlah ini"
Kongsun To menengadah ke atas, setelah mengetahui apa yang terlihat dengan ketakutan ia mundur selangkah ke belakang, airmukanya berubah hebat, lama sekali baru pulih kembali dalam ketenangan-"Gak In Ling"
Katanya kemudian dengan suara menyeramkan-"Bila kita sampai berjumpa lagi dikemudian hari, mungkin akan kugunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk merebut kemenangan dari tanganmu "
"Hmm "
Gak In Ling mendengus dingin.
"Bila kita berjumpa lagi dikemudian hari, mungkin engkau tak akan punya waktu untuk menggunakan benda-benda racunmu itu."
Habis berkata ia segera berjalan menghampiri Leng In poocu, sementara Kongsun To sendiri tercekam dalam kebimbangan dan kebingungan-Dua kali dentingan nyaring menggema diang kasadan dua batang rantai bajapun putus jadi dua bagian, Leng In poocu serta seorang kakek berjubah padri berambut panjang dan bermuka penuh tato segera bebas dari belenggu, diantara ketiga orang itu hanya kakek bercodet saja yang belum menyanggupi untuk menerima syarat apapun dari Gak in Ling.
Rambut yang panjang hampir menutupi wajah mereka, kecuali perbedaan pakaian yang dikenakan, hampir boleh 189 dibilang tiada perbedaan lain yang terdapat diantara orang-orang itu.
Dengan pandangan yang tajam Leng In poocu menatap tajam wajah Gak In Liig kemudian berkata.
"Gak-heng, sekarang engkau boleh ajukan syarat yang kau kehendaki."
Gak In Ling memandang sekejap kearahnya dengan pandangan hambar, lalu menggeleng.
"Aku tidak mempunyai permintaan apa-apa terhadap dirimu "
Sahutnya dengan tenang.
"Apakah engkau tidak merasa terlalu rugi?"
Sekali lagi Gak In Ling menggeleng setelah menyapu sekejap sekeliling ruangan itu.
"Aku sama sekali tidak mempunyai jalan pikiran seperti itu."
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba tegurnya dengan suara dingin.
"Buddha Antik berada dimana ?"
"Akulah Buddha Antik "
Jawab kakek berjubah padri dan wajah penuh codet itu sambil maju selangkah kedepan.
Mendengar jawaban itu Gak In Ling melengak, ditinjau dari sudut manapun juga ia tidak berhasil menemukan suatu persamaan apapun antara Buddha Antik yang berada dihadapannya saat ini dengan Budha Antik yang pernah dijumpainya belum lama berselang.
Ia jadi sangsi dan tanyanya dengan ragu.
"Sebenarnya dalam dunia persilatan semua terdapat berapa orang Buddha Antik ?"
"Buddha Antik hanya aku seorang "jawab padri bermuka codet sambil menghela napas.
"Tidak. aku pernah berjumpa dengan Buddha Antik kedua,"
Sahut Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya.
"bersediakah taysu memperlihatkan telapak tanganmu kepada aku ?"
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benakpadri bercodot itu, pikirnya didalam hati.
"oraag yang dia temui mungkinkah dirinya."
Ingatan tersebut hanya sebentar saja berkelebat dalam benaknya, ia segera maju kedepan dan secara sukarela memperlihatkan lengan kanannya kepada sia nak muda itu.
"Mungkin siau-sicu pernah menyaksikan raut wajahku pada masa yang lampau..."
Tanyanya dengan suara berat. Gak In Ling menyapu sekejap lengan kanan Buddha Antik, kemudian dengan hati kecewa menggeleng "Terima kasih taysu."
Katanya. Buddha Antik tarik kembali lengan kanannya dan berkata lagi dengan suara berat.
"Raut wajahku sudah hampir lima belas tahun lamanya dirusak orang, mungkin selama lima belas tahun belakangan ini raut wajahku yang lampau telah melakukan banyak kejahatan dan perbuatan terkutuk... aaaaiii..."
Gak In Ling tidak menggubris padri bermuka codet lagi, dengan hati. kecewa ia berjalan kehadapan Kongsun To dan berkata.
"Berikan obat pemunah bagianku itu "
Dengan gerakan yang cepat dan cekatan Nabi racun Kongsun To mengambil keluar sebutir pil berwarna hitam diantara botol-botol obatnya, siapapun tak sempat dari botol manakah dia mengambil obat tersebut, dari sini dapat dinilai betapa licik dan berhati-hatinya orang ini.
Tanpa ragu-ragu ataupun berpikir panjang Gak In Ling menelan obat itu kedalam perut.
Melihat sikap sang pemuda yang begitu gegabah, Kongsun To dengan wajah tercengang segera menegur.
"Apakah engkau tak takut aku main gila dengan dirimu ?"
"sekalipun aku takut juga tak ada gunanya."
"Haa..... haa...., perkataanmu memang benar, dan engkau memang pemuda yang amat cerdik."
Seru Kongsun To sambil tertawa.
Pada saat itulah tiba tiba dari sisi kanan berkumandang datang suara langkah manusia yang lirih, baru saja Gak In Ling hendak berpaling, tiba-tiba Kongsun To berteriak keras.
"Roboh kalian semua, bangsat"
Tidak terlihat bagaimanakah ia menggerakkan tubuhnya, dari balik ruangan berkumandang dua kali dengusan berat.
Menanti Gak In Ling putar badan, maka terlihatlah dalam ruangan itu sudah bertambah dengan dua sosok mayat, disisinya tampak nasi dan sayur berserakan diatas tanah, rupanya kedua orang itu adalah petugas pengantar makanan dari lembah itu.
Leng In poocu tertawa dingin.
"Kongsun-heng, cepat amat gerakan tubuhmu."
Ejeknya.
"IHee hee... terima kasih, terima kasih, sayang aku telah menumpahkan santapan enak kalian berdua."
Seru Kongsun To pula sambil tertawa dingin.
Gak In Ling segan mendengarkan cekcok dan ribut diantara manusia-manusia aneh itu, setelah menyapu sekejap kearah dua sosok mayat yang terkapar dilantai tanah, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, kepada Nabi racun itu segera serunya.
"Bagaimana dengan syarat-syarat yang lain-"
"Hm jangan terburu napsu, aku tokh belum lolos dari kurungan,"
Sambung kakek licik itu dengan cepat.
"Hm Engkau jangan lupa, bahwa pada saat ini engkau masih berada didaratan Tionggoan."
Setelah berhenti sejenak. dengan nada memerintah serunya kembali.
"Sekarang engkau harus memunahkan lebih dahulu racun yang mengeram dalam tubuh kedua orang gadis itu."
"Gak-heng"
Seru Leng In poocu sambil tertawa.
"aku lihat engkau sangat menguatirkan sekali keselamatan mereka, hubungan persahabatan semacam ini sungguh jarang kutemui dikolong langit."
Walaupun Gak In Ling dapat menangkap maksud dari ucapan Leng In poocu namun ia tidak membantah ataupun mengakui, hanya ujarnya sambil tertawa hambar.
"Setiap umat persilatan di kolong langit wajib menguatirkan keselamatan mereka, demikian pula dengan diriku."
Dari salah seorang korbannya yang terkapar mati diatas tanah, Kongsun To melepaskan jubah panjang yang dikenakan dan segera dipakai di badan, setelah itu ujarnya.
"Baiklah, mari sekarang juga kita berlalu dari sini "
Tanpa menanti yang lain lagi ia berjalan lebih dahulu menuju keluar.
Leng In poocu segera menyusul dibelakangnya, sedangkan Buddha Antik berada dipaling belakang.
Setelah berjalan beberapa langkah dan tidak melihat Gak In Ling mengikuti di belakang mereka, Buddha Antik segera menghentikan langkahnya dan berpaling.
"Sicu, engkau tidak ikut keluar ?"
Tegurnya "Tidak-aku ingin berhenti sebentar lagi di sini."
Sahut sang pemuda setelah melirik sekejap kearah gua bagian dalam. Buddha Antik gelengkan kepalanya dan menarik napas panjang.
"Lembah Toan-hun-kok adalah sarang naga gua harimau, dengan tenaga gabungan Kongsun To, Leng In poocu serta aku, akhirnya kami masih tertawan juga oleh mereka, apalagi sicu hanya seorang diri. Siau-sicu, aku harap engkau suka bertindak hati-hati dan jangan menempuh bahaya dengan percuma."
Dengan penuh rasa terima kasih Gak In Ling tertawa jawabnya.
"Terima kasih atas perhatian dari taysu, harap taysu suka menasehati kedua orang nona itu cepat-cepat tinggalkan tempat ini, ingatkan mereka bahwa kepentingan umat persilatan jauh lebih penting dari urusan ditempat ini "
"Kalau engkau tidak pergi, masa mereka bersedia pergi dari sini?"
Gak In Ling tartawa tawa "Mungkin mereka berharap. agar aku bisa cepat-cepat mati."
"Aaaah Masa begitu ?"
Gak In Ling tidak mengomentari ucapan itu lagi, ia putar badan dan menambahkan-"Setelah bertemu dengan mereka, taysu akam mengerti dengan sendirinya, sekarang pikiranku sedang kalut dan kacau tak karuan, harap taysu segera tinggalkan tempat ini"
Buddha Antik mengiakan dengan nada berat, ia dapat ikut merasakan bahwa pemuda pemurung ini seolah-olah mempunyai rahasia hati yang tak dapat diberitahukan kepada orang lain akhirnya ia hanya bisa berpesan dengan nada berat.
"Siau-sicu, sebelum melakukan sesuatu tindakan terlebih dahulu pikirlah tiga kali."
Kemudian tanpa banyak bicara lagi diapun keluar dari ruangan itu.
Baru saja Buddha Antik menarik napas kebebasan, tiba-tiba bayangan manusia berkelebat di hadapan matanya dan serentetan suara yang merdu telah menyusup masuk kedalam telinganya.
"Dimanakah Gak In Ling ?"
Suaranya begitu cemas, gelisah dan tidak tenang, dia bukan lain adalah Thian-hong pangcu. Melihat dara cantik yang berada di hadapannya, Buddha Antik segera membathin dalam hatinya.
"omitohud Gadis ini benar-benar mempunyai kecantikan yang luar biasa sekali "
Ia segera balik bertanya.
"Kalian sudah menelan obat pemunah?"
Thian-hong pangcu mengangguk.
"Sudah, dimana Gak In Ling ?"
Tanyanya gelisah.
"Masih berada dalam ruangan "
"Kenapa tidak keluar ? Apa yang sedang dilakukan didalam sana ?"
Tanya perempuan berkerudung merah dengan cepat. Melihat sikap serta tingkah laku dua orang gadis itu, Buddha Antik kembali berpikir didalam hati.
"Jika kutinjau dari sikap mereka yang gelisah dan tidak tenang, sedikitpun tidak nampak kalau mereka mengharapkan pemuda itu cepat mati, tapi apa sebabnya pemuda itu berkata demikian?"
Berpikir sampai disitu segera ujarnya.
"Tempat ini tidak dapat didiami terlalu lama dia suruh aku menyampaikan kepada kalian berdua, katanya demi masa depan dan kesejahteraan umat persilatan lebih baik kalian berdua segera tinggalkan tempat ini"
Ucapan tersebut dengan cepat menimbulkan firasat jelek dalam hati kedua orang gadis itu, dengan perasaan tidak senang thian-hong pangcu segera bertanya.
"Tapi ia tidak akan menerjang masuk kelambung lembah Toan-hun-kok seorang diri, bukan?"
"Aaaiii semoga saja ia dapat merubah rencananya semula."
Sahut Buddha Antik sambil menghela napas panjang. Mendengar jawaban tersebut, kedua orang gadis tersebut berseru tertahan, tiba-tiba Thian-hong pangcu berseru sambil menahan isak tangis.
"oh, Gak In Ling, Gak In Ling kau... kau tidak seharusnya pergi menempuh bahaya, kami.... belum pernah kami membenci dirimu...."
Sambil berseru ia segera menerjang masuk kedalam ruangan, diikuti gadis berkerudung merah itu pun menyusul dari belakangnya.
Jeritan yang melengking dan menyayatkan hati itu segera menyayatkan hati Buddha Antik.
Nabi racun Kongsun To serta Leng In poocu, dengan cepat mereka memburu kembali kedalam ruangan-Ketika ketiga orang itu masuk kembali kedalam ruang batu yang mengurung mereka selama hampir lima belas tahun lamanya itu, yang ditemui hanyalah dua orang gadis yang berdiri menjublek dalam ruangan, mata mereka terbelalak dan sukma serasa telah melayang tinggalkan raganya.
Kedua orang itu bukan lain adalah gadis berkerudung merah serta Thian-hong pangcu, dari sikap mereka jelas terlihat bahwa kedua orang itu merasa sedih sekali.
Dengan pandangan yang tajam Leng Inpoo cu menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ketika sorot matanya membentur pada pintu batu disebelah dalam ia segera berseru.
"Gak In Ling seorang diri telah menerobos masuk lembah Toan-hun-kok dan kini sudah berada dilambung bukit, tak ada gunanya kita berdiam terlalu lama ditempat ini "
"Benar "jawab Kongsun To sambil mendengus.
"Terlalu lama berada disini, kemungkinan besar kita akan terkurung selama lima belas tahun lagi di dalam gua yang gelap ini."
Selamanya dia tidak akur dengan Leng In poocu, maka dalam pembicaraannya kata-katanya selalu mengandung nada sindiran yang tajam.
Leng In poocu bukan manusia sembarangan tentu saja ia tak sudi menerima kata-kata tersebut dengan begitu saja, serunya.
"Kong-heng, apakah engkau tidak merasa bahwa nyalimupun kecil sekali Tetapi tiap orang mempunyai pandangan yaag berbeda, aku tak berani menahan dirimu terlalu lama, jika Kongsun-heng ingin berlalu dari sini, nah silahkan"
Nabi racun Kongsun To jadi naik pitam, sorot matanya berubah jadi merah berapi, katanya kembali dengan dingin.
"Leng heng, engkau jangan melulu menuduh orang lain saja yang bernyali kecil, kalau mulut sudah terlanjur busuk. macam dirimu itulah keadaannya."
Buddha Antik yang berada disamping lapangan segera menyadari bahwa percekcokan itu bila dilanjutkan maka suatu pertarungan sengit tidak bisa dihindarkan lagi, mengingat diri mereka masih berada dalam sarang naga gua harimau, bila pertarungan benar-benar telah terjadi, itu berarti sama halnya dengan menggali liang kabur buat diri sendiri.
oleh sebab itu buru-buru ia menasehati.
"Kalaupun kalian berdua mempunyai pendapat yang saling berbeda, aku percaya bahwa pendapat itu tak akan lebih memalukan daripada peristiwa terkurungnya kita ditempat ini sejak lima belas tahun berselang, entah bagaimanakah pendapat kalian atas ucapanku itu ?"
Baik Kongsun To maupun Leng In poocu sama-sama merasakan hatinya terperanjat setelah mendengar perkataan itu, mereka saling bertukar pandangan sekejap lalu menjawab.
"Perkataan taysu tepat sekali "
Buddha Antik tersenyum, sambil berpaling kearah Thian-hong pangcu ujarnya dengan suara berat.
"Pangcu, menurut pendapatku lebih baik kita tinggalkan saja tempat ini "
"Dari jalan yang manakah Gak In Ling masuk kedalam lambung lembah Toan-hun-kok ?"
Bukannya menjawab Thian-hong pangcu malah balik bertanya, suaranya penuh kepedihan dan entah sedari kapan airmata telah membasahi pipinya.
Satu ingatan berkelebat dalam benak Budha Antik, dengan wajah serius segera ujarnya.
"Gak sicu berulang kali menyatakan kepadaku, bahwa pangcu adalah seorang pemimpin umat persilatan didaratan Tionggoan, ia menganjurkan agar pangcu sagera tinggalkan tempat ini, perhatian yang dia berikan terhadap diri pangcu tidak berada dibawah perhatian pangcu atas dirinya, jikalau pangcu bersikeras untuk memasuki lambung lembah, bukankah itu berarti bahwa engkau menyia-nykkan maksud baik Gak sicu ?"
Senyum getir terlintas diatas wajah Thian-hong pangcu, sambil gelengkan, kepala ia menjawab.
"Ia bukan menguatirkan diriku, bukan menaruh perhatian kepadaku, tapi umat persilatan yang ada dikolong langit..."
"Hm tak kusangka bocah keparat itu masih mempunyai parasaan suci seperti itu "
Pikir Kongsun To didalam hati. Sebaliknya Leng In poocu berpikir lain-"Hm, rupanya bocah she Gak itu adalah seorang pendekar yang berjiwa besar.."
Cuma pikiran semacam itu hanya sebentar saja berkelebat dalam benak mereka untuk kemudian lenyap tak berbekas, sebab mereka masing-masing mempunyai cara berpikir sendiri-sendiri.
"Apakah pangcu bersikeras akan memasuki lembah ini ?"
Tanya Buddha Antik kembali.
"sedikitpun tidak salah, dimanakah pintunya ?"
"Aku sendiripun tak tahu ia lewat pintu yang mana"
Jawab padri bermuka codet itu sambil menggeleng, sambil menuding kearah dua sosok mayat yang menggeletak diatas tanah, dia melanjutkan-"Mungkin sewaktu kedua orang ini masuk kedalam ruangan tadi, pintu masuknya telah terlihat olehnya."
"Kalau ada pintu, kita pasti akan berhasil untuk menemukannya."
Sela perempuan berkerudung merah secara tiba-tiba.
"Silahkan kalian bertiga segera tinggalkan tempat ini "
Selesai berkata ia segera maju kedepan dan rupanya sedang mencari letak pintu masuk rahasia itu.
"Li sicu berdua, bagaimanakah pendapat kalian tentang tenaga dalam yang kumiliki ?"
Tanya Buddha Antik secara tiba-tiba. Thian-hong pangcu tertegun mendengar pertanyaan itu, setelah sangsi sejenak jawabnya.
"Boleh dibilang jago paling lihay dalam dunia persilatan "
Bhuddha Antik mengangguk. ujarnya kembali.
"Tetapi dengan tenaga gabungan kami bertiga, akhirnya tokh kami terkurung juga selama lima belas tahun dalam gua ini. Ilmusilat yang dimiliki majikan tempat ini luar biasa sekali dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, oleh karena itu menurut dugaanku seandainya majikan tempat ini tidak berhasrat membunuh Gak In Ling keadaan mungkin mendingan, kalau ia bermaksud membinasakan dirinya, mungkin pada saat ini Gak sicu telah mendingin."
Meskipun tujuan dari ucapan itu hanya menakut-nakuti dua orang gadis tersebut, namun dalam kenyataan begitulah adanya.
Tapi sayang, bukan saja ucapan itu tidak mendatangkan hasil apapun, sebaliknya malah makin mempertebal niat kedua orang gadis itu untuk menemukan Gak In Ling.
"sekalipun dia sudah mati, kami harus menemukan jenazahnya."
Ujar Thian-hong pangcu Selesai berkata ia berjalan menuju kearah yang berlawanan dari perempuan berkerudung merah itu, dan diatas dinding batu ia berusaha menemukan pintu rahasia tersebut.
Buddha Antik yang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghalangi niat kedua orang gadis tersebut masuk kedaiam lembah Toan-hun-kokpun mengalami kegagalan totai, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya akhirnya ia cuma bisa menghela napas sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
Leng In poocu memandang sekejap kearah dua orang gadis itu tiba-tiba ia berkata.
"Jikalau kailan mencari dengan cara begitu maka sampai hari geiappun belum tentu jalan masuk itu berhasil ditemukan, menurut pendapat ku lebih baik kailan masuk lewat mulut gua yang pernah kita lalui lima belas tahun yang lampau, sebab kemungkinan berhasiljauh lebih besar."
Dalam pada itu Thian-hong pangcu berdua memang sedang putus asa karena tidak berhasil menemukan suatu tanda yang menunjukkan disana ada pintu rahasia, mendengar ucapan tersebut mereka segera hentikan pekerjaannya dan bertanya.
"Berapa jauh letaknya dari tempat ini ?"
"Kita harus melewati bukit ini lebih dahulu, menurut perhitungan dari kekuatan langkah kita mungkin tidak sampai setengah jam kita bisa mencapai tempat itu."
Buddha Antik yang ikut mendengar perkataan itujadi tertegun, pikirnya.
"Pada lima belas tahun yang lalu terang-terangan kami masuk lewat dari tempat ini, masa dibelakang gunung 200 sanapun ada tempat masuk ?"
Sebaliknya Kongsun To sambil tertawa dingin pikirnya.
"Aku orang she Kongsun tak pernah berpikir bahwa siasat mengelabui langit menyebrangi sungai ini bisa digunakan untuk menghadapi dua orang gadis cilik ini, dia memang licik"
Pada waktu itu Thian-hong pangcu berdua sedang bingung dan pikirannya kalut, mereka tak berpikir lebih jauh, setelah gagal menemukan jalan masuk maka harapannyapun digantungkan pada petunjuk dari Leng in poocu.
"Kalau begitu mari kita berangkat"
Serunya kemudian. Leng In poocu tertawa.
"Menolong orang bagaikan menolong api, mari kita berangkat sekarang juga "
Habis berkata ia berjalan lebih dahulu tinggalkan ruangan ini disusul dua orang gadis itu dan paling depan adalah Kengsun To.
Sedangkan Buddha Antik sendiri setelah berpikir sebentar tiba-tiba ia menyadari akan sesuatu, sambil mengangguk ia menghela napas panjang.
"Omitohud Mungkin perbuatan itu merupakan tindakan bajik pertama yang pernah dilakukan Leng sicu selama hidupnya...."
Iapun melangkah keluar dari ruangan itu dan menyusul rekan-rekan lainnya.
0odwo0 Sekarang marilah kita kembali kepada Gak In ling, setelah Buddha Antik tinggalkan ruangan tersebut, ia segera masuk kelorong batu.
Gak In Ling adalah seorang pemuda cerdas.
la bukannya tidak tahu kalau lembah Toan-hun kok sarang naga gua harimau, bila ia masuk kedalam seorang diri maka itu berarti menghantar kematian bagi diri sendiri.
Tetapi Buddha Antik adalah satu-satunya titik terang yang berhasil ia temukan sejak munculnya dalam dunia persilatan, lagipula dalam kehidupan yang terbatas, ia tak mau melepaskan titik terang yang berhasil diperolehnya itu dengan begitu saja, sebab untuk mencari titik terang ke dua bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.
Maka tanpa berpikir panjang lalu dia mengambil keputusan untuk memasuki lembah Toan-hun kok yang merupakan sarang naga gua harimau itu untuk menemukan Buddha Antik, titik terang yang berhasil ia temukan untuk memecahkan rahasia yang memusingkan kepalanya itu.
Ketika Gak in Ling baru saja melangkah masuk kedalam lorong batu itu sejauh empat lima depa, tiba-tiba dari arah belakang berkumandang suara ledakan yang amat keras bagaikan ambruknya bukit karang.
Tanpa sadar Gak In Ling menghentikan langkahnya, dalam waktu singkat itulah sebuah pintu besar yang terbuat dari batu cadas telah menyumbat jalan mundur pada lorong rahasia itu.
Menyaksikan kesemuanya itu, Gak In Ling tertawa dingin.
"Sekalipun kalian menyumbat semuanya jalan mundurku juga tak apa, sebab sebelum lembah Toan-hun-kok berhasil kumusnahkan tak nanti aku orang she Gak tinggalkan tempat ini.
Dengan wajah yang teguh dan serius, ia me lanjutkan perjalanannya masuk kedalam gua.
Baru saja pemuda itu maju beberapa langkah kedepan, tiba-tiba disisi telinganya berkumandang datang suara teguran seseorang yang terasa amat dikenal olehnya.
"Gak In Ling, sudahkah engkau pertimbangkan akibat serta resiko yang bakal kau terima ?"
Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan itu, pikirnya.
"Suara orang itu amat kukenal, seakan-akan aku pernah mendengarnya disuatu tempat tapi siapakah dia ?"
Untuk beberapa lamanya ia tak dapat menduga siapakah orang itu.
Dengan penuh perhatian Gak In Ling mengamat-amati asal suara yang muncul secara tiba-tiba itu, ia menemukan dinding lorong itu licin dan rata sekali, disana sini terdapat lubang-lubang kecil seperti sarang lebah, jelas suara tersebut berasal dari pancaran lewat lubang-lubang kecil tersebut.
"Suaramu amat kukenal,"
Seru Gak In Ling kemudian.
"aku ingin tahu engkau sahabatku atau musuhku ?"
"DidaLam dunia yang kejam dan brutal ini siapa yang kuat akan menindas yang lemah, tiada kawan atau lawan dalam keadaan seperti ini, lebih baik engkau tak usah berpikir yang bukan-bukan."
Jawab orang itu ketus.
Gak In Ling kembali tertawa dingin-"Hee...
hee.....
itu tokh menurut pandanganmu, sayang pendapatku berbeda sekali, bagiku dikolong langit ini kalau bukan sahabat dia tentulah lawan "
"Haa..... haa...... baiklah, kalau engkau bersikeras dengan pandanganmu itu, biarlah aku turuti kemauan mu itu, kemungkinan besar aku adalah musuhmu"
Habis berkata orang itu menghela napas panjang, suaranya lama sekali mengalun dalam ruangan tersebut.
Dari pembicaraan orang itu, Gak In Ling tahu bahwa banyak bicara tak ada gunanya, maka sambil tertawa seram serunya kembali.
"Dimanakah aku bisa bertemu dengan dirimu sehingga kita bisa langsungkan pertarungan yang menentukan mati hidup kita berdua ?"
"DidaLam lima li kabut dan awan, aku akan bertemu dengan dirimu "
Jawab orang itu hambar. Setelah berhenti sebentar ujarnya kembali.
"Sewaktu engkau melewati altar pesan terakhir, aku harap engkau bisa tinggalkan beberapa pesan terakhir ditempat itu, walaupun belum tentu bisa kulakukan pesan terakhirmu itu, tetapi di dalam lingkaran yang memungkinkan aku pasti akan berusaha untuk memenuhi keinginanmu itu"
Selesai berkata ia menghela napas lagi dengan suara berat, suara itu kian lama kian lirih dan akhirnya lenyap dari pendengaran-Tercekat hati Gak In Ling mendengar perkataan itu, dari ucapan orang tadi ia tahu bahwa orang tersebut sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti dirinya, itu berarti perjalanannya lebih banyak bahaya daripada rejeki.
Dari balik mata Gak In Ling tiba-tiba memancar keluar cahaya yang menggidikan hati, pikirnya dengan gemas.
"Hmm Sekalipan aku orang she Gak ada pesan terakhir, juga tak akan kuutarakan sehingga kalian manusia-manusia laknat mengetahuinya."
Dengan dada yang dibusungkan dan langkah yang tegap.
ia lanjutkan perjalanan menuju kedalam Lorong batu yang gelap dan lembab penuh mengandung suasana yang mengerikan, untung perasaan danpikiran Gak In Ling pada saat ini sedang dibakar oleh kemarahan, dia hanya tahu membalas dendam dan tidak memperdulikan hal lainnya lagi, kalau tidak.
kendatipun nyalinya besar, sedikit banyak bulu kuduknya akan bangun berdiri.
Lorong batu yang sempit seakan-akan tiada akhirnya, dengan kedepan tubuh Gak In Ling, sekalipun sudah melakukan perjalanan selama sepertanak nasi masih belum menemukan sedikit cahayapun, seperti juga ketika datang untuk pertama kalinya di tempat itu, ia sama sekail tak bisa 204 menduga harus berjalan berapa lama lagi baru tiba ditempat tujuan ?
Tapi ada satu hal yang aneh, selama Gak In Ling melakukan perjalanannya kecuali suara manusia yang didengarnya tadi, ia tidak menemukan apa-apa lagi, diantaranya pada tikungan-tikungan yang sempit dan terjal di mana merupakan tempat yang strategis untuk memasang jebakan, diapun tidak menemukan gangguan apapun.
Mungkin hal ini disebabkan karena mereka tak memandang sebelah matapun terhadap Gak In Ling, mungkin juga karena mereka yakin bisa merebut kemenangan maka mereka tak ada perlunya untuk memasang jebakan disana.
Pokoknya, kesunyian serta keheningan seperti ini sama sekali tidak menguntungkan bagi Gak In Ling.
Kembali sianak muda itu membelok pada tiga buah tikungan, tiba-tiba pandangan matanya jadi silau, ia telah sampai didalam sebuah ruang kecil yang empat dindingnya bertaburkan ratna-mutu manikam yang beraneka warna, suasana jadi terang-benderang dan amat menyilaukan mata.
Gak ln Ling tertawa dingin, pikirnya.
"Hm, akhirnya sampai juga ditempai tujuan..."
Sementara ia berpikir, sorot matanya telah terbentur dengan sebuah meja batu yang kecil serta sebuah kursi batu kecil ditengah ruangan, di-atas meja terteralah kertas dan alat menulis, kecuali itu tiada apapun yang terlihat.
Gak In Ling segera mendekati meja batu itu, pada permukaan meja yang licin terukirlah beberapa huruf yang besar yang berwarna merah darah.
"Tinggalkan pesan terakhir ditempat ini"
Tulisan tersebut seketika memancing rasa gusar dalam dada Gak In Ling, kakinya dengan cepat melancarkan sebuah tendangan kearab meja batu itu.
"Braaak "
Ditengah benturan yang sangat keras, meja batu itu seketika hancur berantakan, kertas dan alat tulispun tersebar diatas tanah.
Pada saat itulah, suara yang pernah didengar tadi kini muncul kembali dari balik dinding.
"Aaii... engkau terlalu tekebur dan sombong..."
Tertegun hati Gak in Ling setelah mendengar ucapan itu, segera pikirnya didalam hati.
"oh...... rupanya semua gerak-gerikku selalu berada daLam pengawasan orang ini."
Napsu membunuh seketika bangkit, sambil menatap tajam kearah mana berasalnya suara itu bentaknya keras.
"Sebenarnya jarak dari sini menuju ketempat pertemuan diantara kita berdua masih seberapa jauh ? IHmm Main gila dari balik dinding dan menakut-nakuti orang dengan omong besar, engkau anggap perbuatanmu itu bisa membikin aku orang she Gak jadi ketakutan?"
"Selama ini engkau belum pernah mempertimbangkan tindakanmu itu d engan pikiran serta hati yang tenang, apa salahnya kalau engkau pertimbangkan kembali tindakanmu ini?"
Ujar suara itu kembali. Gak In Ling tertawa dingin-"Sebelum aku masuk kemari, jika tidak ku pertimbangkan lebih dahulu, tidak nanti akan ku lakukan tindakan seperti ini "
"Apakah engkau tidak merasa perlu untuk mempertimbangkan sekali lagi ?"
"omong kosong "
"Baiklah kalau begitu Lima puluh tombak disebelah depan sana merupakan Ngo-li-in-wu lima li kabut dan awan-Nah, kita berjumpa lagi disana."
Habis berkata terdengarlah suara "Krek"
Diikuti gemerincingnya ramai dan muncullah sebuah pintu rahasia diatas dinding ruangan itu.
Gak In Ling tarik napas panjang, selangkah demi selangkah dia berjalan masuk kedalam pintu rahasia tersebut.
Walaupun airmukanya tetap tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perubaban apapun, tetapi hati kecilnya merasa amat tegang, sebab pada saat ini musuh berada dalam gelap sedangkan dia terang, setiap saat mara bahaya bakal mengancam keselamatan jiwanya.
Baru saja GakIn Ling melangkah masuk ke dalam ruangan itu, pintu batu dibelakang tubuh nya secara otomatis telah menutup kembali.
Angin dingin berhembus lewat dari arah depan, kabut yang tipis mulai menyeiimut seluruh lorong, udara ditekelihng tempat itu lembab dan basah sekali.
"Mungkin tempat inilah yang dimaksudkan lima li kabut dan awan-"
Pikir sianak muda itu di dalam hati.
Ia percepat langkah kakinya dan menerjang maju kedepan.
Semakin kedalam ia berjalan, kabut yang menyelimuti sekitar tempat itu bertambah tebal, dari terang suasana jadi gelap.
cahaya yang memancar masukpun terasa semakin lemah.
Baca Juga: Manusia Yang Bisa Menghilang 4
Baca Juga: Lembah Nirmala 5