Ceritasilat Novel Online

Telapak Setan 1

Eps 1 Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Baca online Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Cersil Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Karya . Khu Lung Saduran . Tjan ID Ebook oleh . Dewi KZ

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com

http.//dewikz.byethost22.com

http.//cerita-silat.co.cc/

http.//ebook-dewikz.com

Jilid 1 SUATU hari yang cerah, tiga orang laki-laki gagah berjalan dengan langkah cepat mengarungi padang rumput yang luas.

Orang pertama adalah seorang tua dengan jenggot yang putih, badan sedang dan agak kurus, melangkah dengan tegap tanda bahwa ia memiliki tenaga dalam yang hebat.

Orang yang kedua adalah setengah tua, badan tinggi kurus, muka pucat seperti penyakitan.

Namun kalau memperhatikan matanya yang mencorong tajam itu, orang akan ngeri dan bergidik.

Sebab mata itu bagaikan mata seekor harimau dimalam gelap.

Delapan orang yang ketiga seorang muda berumur lebih kurang tiga puluh tahun muka putih dan berbadan tampan-Tapi dari tarikan mukanya menunjukkan orang itujahat serta licik.

Tiba-tiba orang kedua yang berbadan kurus, dan penyakitan itu berhenti dan menunjukkan telapak tangannya serta berseru.

"Hey toako. ji-ko ... coba lihat bangunan benteng dibawah lembah tersebut mungkinkah benteng itu adalah benteng kuno yang sedang kita cari?? ..."

Semangat kakek berjenggot itu berkobar kembali, buru-buru ia menengok kebawah lembah itu, kemudian sambil mundur selangkah ke belakang gumamnya.

"Oooh.... mengerikan sekali"

Tanah berwarna kuning membentang didasar lembah, panjang bagaikan seutas tali kuning, mengikuti kaki bukit dikedua belah sisinya menjorok jauh kedalam, keadaan itu bagaikan seekor naga yang berbaring dengan tenang disana ...

Gulungan angin yang kencang mengibarkan pasir kuning itu ke angkasa membentuk kabut yang tebal, diantara lapat-lapatnya cuaca tampaklah sebuah bangunan benteng kuno yang tinggi kokoh bertengger disitu, tapi karena jarak yang terlalu jauh maka keadaan benteng itu tak sempat terlihat jelas...

Lama sekali kakek berjenggot itu mengamati benteng tersebut, kemudian baru ujarnya.

"Ehmm... tak bakal salah lagi, ayoh berangkat...kita turun kebawah. Tapi ingat jangan gugup dan tak usah gelisah, kita lakukan semua pekerjaan menurut rencana."

Habis berkata, ia melangkah turun lebih dahulu. Tiba-tiba kakek yang berwajah penyakitan itu menghela napas panjang, lalu berkata.

"Toako apakah kita harus melakukan pembantaian secara sadis hingga seorang manusiapun tak boleh dibiarkan hidup??" ... Tertegun hati kakek berjenggot itu setelah mendengar ucapan tersebut, rupanya dia tak menyangka kalau Ji-te atau adik keduanya bisa mengucapkan kata-kata yang sama sekali diluar dugaan ini. Matanya yang sipit kontan melotot besar, sambil mendengus ia menjawab.

"Hmmm Apa yang dikatakan Pembantaian itu?? ji-te, pernahkah engkau mendengar kata-kata yang berbunyi demikian, sisa rumput tidak dicabut, angin berhembus akan tumbuh kembali??"

Sembari berkata dengan pandangan yang tajam ia menatap wajah kakek penyakitan itu. Buru-buru kakek tersebut alihkan sorot matanya kearah lain, sesudah sangsi sejenak katanya.

"Tapi... ia telah menghindari kita selama dua belas tahun, aku rasa...aku rasa..."

"Haaaaahh . ..haaahh ... haaahh ..."

Lelaki bermuka putih itu tertawa terbahak-bahak memotong ucapan kakek penyakitan yang belum habis.

"Ji-ko kalau engkau tidak tega untuk turun tangan, biarlah aku serta toako mewakili dirimu ... yaa siapa suruh kita adalah saudara angkat yang sehidup semati???"

Ucapannya tajam sinis dan tak enak didengar. Wajah kakek berwajah penyakitan itu kontan berubah cemberut, ia mendengus dingin dan berseru.

"Sam-te, kalau engkau menganggap bahwa kita adalah saudara senasib sependeritaan, aku harap tutuplah mulutmu yang bau itu "

"Eeei...., eeei. ... kita toh orang sendiri, kenapa mesti cekcok ?"

Damprat kakek berjenggot sambil menyapu sekejap 2 kedua orang itu.

"Jite kalau engkau tiada usul lain, mari kita segera berangkat."

Diam-diam kakek penyakitan itu menghela napas panjang, tubuhnya segera meluncur kedasar lembah dengan gerakan yang amat cepat, dua orang rekannya segera memberi tanda kepada empat orang pria lainnya dan menyusul dari belakang.

Tujuh sosok bayangan manusia laksana kilat meluncur kearah lembah bukit itu, dalam waktu singkat mereka sudah menerobosi bukit bor batu dan tiba didepan pintu gerbang benteng kuno itu.

Tiga orang yang ada didepan memandang sekejap pintu gerbang yang tertutup rapat, tanpa disadari bulu kuduk mereka pada bangun berdiri.

Pintu gerbang itu berwarna hitam dan tebal sekali, debu tebal menyelimuti pintu tadi membuat warna yang sudah agak luntur nampak makin mengenaskan, seakan-akan tempat itu sudah lama tidak dihuni orang.

Kakek penyakitan mengamati sebentar pintu gerbang kuno itu, lalu berkata dengan nada lirih.

"Toako, mungkin kita telah salah mencari tempat yang dituju, masa ada orang yang sudi berdiam di tempat seperti ini ?"

Pria bermuka putih mendengus dingin.

"Hm, jika engkau tidak mau masuk. biarlah aku yang masuk, toh kita sudah sampai disini, kalau tidak diperiksa apa gunanya kita jauh jauh kemari ? Bagaimanapun juga hal itu tidak merugikan kita."

"Ehm, ucapan sam-te memang benar."

Sambung kakek berjenggot sambil mengangguk.

"Ayo masuk."

Sepasang kakinya menjejak tanah dan segera loncat naik keatas dinding benteng yang tingginya mencapai lima tombak itu dengan gerakan cepat.

Dua orang rekan lainnya segera menyusul dari belakang, hanya empat orang pria berbaju ringkas saja yang tak mau meloncat naik.

Pria bermuka putin itu menyapu sekejap halaman dalam benteng itu, kemudian melemparkan seutas tali kebawah dan menarik empat pria lainnya naik kedinding, setelah itu baru meloncat masuk keruang dalam.

Suasana hening dan sepi sekali...

dihalaman yang luas tiada pepohonan, semak-belukar maupun bunga yang beraneka ragam keadaannya gundul dan menyeramkan.

Ruangan yang besar berdebu tebal, pintu maupun jendela tertutup rapat, sarang laba-laba mengotori dinding membuat keadaan benteng itu kotor dan tak sedap dipandang, siapapun akan berpendapat bahwa benteng itu kosong tak berpenghuni.

Menyaksikan keadaan ditempat itu, kakek berjenggot segera berpikir didalam hati.

"Rupanya kita sudah salah mencari tempat"

Ia tarik tangan kakek penyakitan dan segera melayang pula kedalam halaman benteng itu.

Mendadak serentetan bentakan nyaring menggema memecahkan kesunyian-"Ada urusan apa kalian bertiga dimalam buta berkunjung kebenteng oh liong-po ?"

Ketiga orang itu terkejut, dengan cepat mereka berpaling kearah mana berasalnya suara itu dan mundur selangkah kebelakang dengan hati terkesiap.

Kurang lebih lima tombak dihadapan mereka, berdirilah seorang kakek berambut putih.

Kapankah kakek tua itu munculkan diri ?

Dengan kepandaian silat yang mereka miliki ternyata tak seorangpun yang tahu.

Pria bermuka putih itu termenung sebentar, lalu sambil menjura ia berkata.

"Lo-tiang, tolong tanya apakah tempat ini adalah Selat oh-liong-kok"

Suaranya keras, jelas ia hendak memamerkan kepandaian nya.

Sepasang mata kakek berambut putih yang semula terkatup mendadak melotot besar, dengan serentetan cahaya tajam bagaikan pisau belati ia menatap wajah pria bermuka putih itu, lalu menegur dengan nada gusar.

"Jangan berteriak-teriak seperti setan menjerit, kalau sampai majikan mudaku terbangun-.. kubacok tubuhmu sampai hancur berkeping-keping."

Ketika sorot mata mereka bertiga saling membentur dengan kakek berambut putih itu, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, tanpa sadar mereka berpikir "Sebenarnya siapakah kakek tua ini ?

Mungkinkah majikan muda yang dia maksudkan adalah Gak In Ling ?"

Diikuti pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya.

"Ah, tidak mungkin-.. hal ini tidak mungkin, sekalipun ilmu silat yang dimiliki Gan cin Peng amat tinggi, tidak mungkin akan selihai orang ini, mana mungkin orang ini bersedia menjadi pelayannya ?"

Berpikir sampai disini tanpa terasa hati merekapun menjadi lega. Pria bermuka putih kembali memberi normal, lalu ujarnya sambil tertawa seram.

"Harap lo-tiang suka memaafkan kesalahan kami yang tidak disengaja, adapun kedatangan kami adalah untuk mencari tahu tentang seseorang, apakah engkau bersedia memberi petunjuk ?"

Kakek berambut putih berpaling dan memandang sekejap keruang dalam, lalu mendengus dingin.

"Hm Tiang-kang Sam-kiat, tiga sekutu dari Sungai Tiang-kang, kalau kalian tahu diri, cepat-cepatlah enyah dari sini, kalau terlambat hm, mungkin kalian akan menyesal sepanjang masa."

Dalam pada itu empat orang pria kekar yang datang bersama Tiang-kang Sam-kiat telah melompati dinding pagar dan memburu datang.

Kakek berjenggot itu menyapu sekejap ke-arah rekan-rekannya, kemudian tertawa dingin.

"He, he, he, kalau sudah tahu kami adalah tiga sekutu dari sungai Tiang-kang, tentu mengetahui peraturan kami selama melakukan pekerjaan? IHmm Engkau anggap dengan mengandalkan sepatah katamu itu maka kami akan kabur ketakutan ?"

Sekali lagi kakek berambut putih itu memandang sekejap keruang belakang, rambutnya yang beruban mendadak menggetar keras tanpa terhembus angin, ia menarik napas panjang untuk menahan hama amarah yang berkobar dalam dadanya kemudian berkata.

"Hm, katakanlah, siapa yang kalian cari ?"

"Gak In Liang."

Sekilas napsu membunuh berkelebat diatas wajah kakek berambut putih itu.

"Tahukah kalian semua, siapa aku ?"

"Maafkanlah kami, sekalipun aku punya mata namun tak kenal siapa dirimu itu "

Jawab lotoa dari Tiang-kang Sam-kiat setelah melirik sekejap kearah rekan-rekannya.

"Engkau tak kenal siapa aku, sebaliknya aku tahu bahwa kalian bertiga adalah bandit-bandit tak tahu malu yangjual kawan untuk mencari pujian-"

Merah-jengah selembar wajah kakek penyakitan, buru-buru dia alihkan pembicaraan kesoal lain-"Boleh aku tahu siapakah namamu ?"

Ia bertanya. Untuk ketiga kalinya kakek berambut putih itu berpaling keruang benteng, setelah itu baru ia menjawab.

"Manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu bukan lain adalah aku "

"Apa ? Engkau adalah manusia sesat dari selatan ?"

Tanpa sadar Tiang-kang Sam-kiat mundur tiga langkah kebelakang, jantung berdebar keras.

"Lam-shia"

Manusia sesat dari selatan-"Pak-koay"

Manusia aneh dari utara selamanya tidak pernah berpisah satu sama lainnya, mereka dikenal sebagai dua orang makhluk yang paling sukar dilayani, bukan saja ilmu silatnya amat tinggi, terutama sekali sikap mereka yang lurus tidak-sesatpun tidak-perbuatan mereka selamanya dilakukan menurut suara hatinya karena ia hampir boleh dibilang setiapjago persilatan berusaha untuk menjauhi mereka.

Mimpipun Tiang-kang sam-kiat tak pernah menyangka kalau mereka akan berjumpa dengan manusia sesat dari selatan ditengah benteng kuno yang terpencil ini.

Terdengar manusia sesat dari selatan berkata sambil mengertak gigi.

"Hitung-hitung kali ini nasib kalian bertiga anjing-anjing sialan memang masih mujur, kedatanganmu memang kebenaran sekali dikala majikan muda sedang beristirahat kalau tidak...... hm Jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan hidup Nah, sekarang juga cepat enyah dari sini, apa yang kalian masih nantikan ?"

Dari ucapan itu bisa diketahui bahwa manusia sesat dari selatan ada maksud untuk melepaskan mereka, siapa tahu orang-orang yang diberi kasihan tidak sadar, malahan dikiranya pihak lawan sedang menggertak mereka.

"Kalian bertiga tak usah pergi lagi dari sini."

Mendadak terdengar suara yang dingin menyeramkan datang. Tiang-kang Sam-kiat terkesiap. mereka sama-sama berpikir didalam hati.

"Seram amat suara orang ini, siapakah dia ?"

Entah sejak kapan, dibelakang tubuh manusia sesat dari selatan telah muncul seorang pemuda baju hitam yang tampan dan beralis lenting bagaikan pedang.

Mendengar seruan itu, air muka manusia sesat dari selatanpun berubah hebat, dengan cepat ia putar badan dan memberi hormat.

"Budak benar-benar tak berguna, hanya 7 urusan sepele saja harus mengagetkan siau-ya"

Nada ucapannya penuh dengan rasa hormat dan jeri. Pemuda baju hitam itu gelengkan kepalanya dengan ewa.

"Selama ini aku sama sekali tidak tidur."

Sahutnya.

"Ketika mereka datang akupun sudah tahu,"

Dia melangkah kedepan dan menghampiri Tiat-kang Sam-kiat, sambungnya dengan nada dingin.

"Paman bertiga, apakah datang untuk mencari aku Gak In Liang ?"

Tiat-kang Sam-kiat terkesiap dan merasakan bulu kuduknya bangun berdiri, mereka merasa dirinya terpengaruh oleh keangkeran serta keagungan musuhnya, membuat mereka merasa tak mampu untuk bergerak.

Pria bermuka putih melirik sekejap kearah pemuda itu dengan pandangan licik, tiba-tiba ia tertawa.

"Ha h, hah, hah..... selama banyak tahun Hian-tit (keponakan) pasti amat menderita, bukan ? Kami selalu merasa tidak tenang, setelah bersusah payah akhirnya"

"Sebutan tadi merupakan sebutan yang terakhir dari ku untuk kalian bertiga."

Tukas pemuda baju hitam dengan sinis. Diantara biji matanya yang jeli mendadak terlintas napsu membunuh yang tebal, dengan nadanya yang seram, lanjutnya kembali.

"Menjual ayahku untuk mencari pujian, mencelakai ibuku untuk menutup mulut, dan sekarang datang ke benteng oh liong-po untuk membabat rumput keakar-akar nya hm, hm.. jika aku Gak In Liang tidak menghancur lumatkan tubuhmu, Thian benar-benar tidak adil."

Habis berkata ia loncat maju kemuka dan berdiri kurang lebih lima depa dihadapan Tiang-Sam-kiat. Tiba-tiba manusia sesat dari selatan menghadang dihadapan Gak In Liang, ujarnya dengan hormat.

"Untuk menghadapi manusia-manusia bangsa tikus seperti mereka, kenapa majikan muda harus turun tangan sendiri ? Serahkan saja kepada budak untuk menggebah mereka pergi."

Napsu membunuh serta rasa dendam yang berkobar menyelimuti seluruh benak Gak In Liang dengan tegas ia menggeleng.

"Dendam ayahku harus dituntut balas oleh puteranya sendiri, aku hendak membuat majikan mereka tahu bagaimanakah keadaan dari korban yang menemui ajalnya ditanganku."

Rasa ngeri dan seram menyelimuti hati Tiat kang Sam-kiat, suatu firasat yang jelek melintas dalam benak beberapa orang itu, walaupun mereka yakin bahwa ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay sehingga cukup digunakan untuk menghancurkan benteng oh-liong-poo, akan tetapi dalam beberapa detik yang singkat, seakan-akan mereka lupa bahwa mereka memiliki ilmu silat yang tinggi, keadaan mereka tidak lebih bagaikan orang hukuman yang menantikan keputusan pengadilan-Mungkin hal ini dikarenakan pengaruh serta wibawa yang terpancar keluar dari pemuda misterius dihadapannya ini, mungkin juga karena kesalahan yang pernah mereka lakukan dimasa lampau sehingga mengurangi kesombongan dan kejumawaan mereka, pokoknya dalam waktu yang amat singkat mereka tak mempunyai keberanian untuk menjawab ataupun buka suara.

Dalam pada itu manusia sesat dari selatan telah mengundurkan diri kesamping, Gak In Liang segera maju lebih mendekat, katanya dengan seram.

"Belah dada kalian sendiri dan tarik keluar jantung kalian masing-masing, aku ingin lihat jantung kalian berwarna hitam atau tidak?"

Walaupun suaranya tenang dan datar, akan tetapi mengandung daya kekuatan yang besar, seakan-akan perintah kematian yang tak dapat dibantah lagi.

Manusia sesat dari selatan tersohor karena kekejiannya dalam membunuh orang, tetapi setelah mendengar ucapan itu tak urung hatinya terkesiap juga, pikirnya.

"Dihari-hari biasa majikan muda selalu halus dan berbudi luhur, mengapa pada malam ini bisa berubah jadi begitu sadis dan kejam?"

Tiang-kang Sam-kiat serta empat pria kekar yang berada dibelakangnya segera mundur dua langkah kebelakang dengan ketakutan, empat belas mata memancarkan cahaya ngeri dan seram dan bersama ditujukan kepada pemuda baju hitam di hadapannya.

Gak In Ling mengerdipkan matanya yang jeli, tindak-tanduknya tetap halus dan terpelajar, siapapun tidak percaya bahwa perintah yang begitu sadis dan begitu brutal muncul dari mulut pemuda tampan itu.

Waktu sedetik demi sedetik lewat dengan cepatnya, kesadisan diatas wajah Gak in Ling yang tampan kian lama kian bertambah tebal, mendadak ia tertawa seram.

"He, he, he Apakah kalian bertiga hendak menunggu sampai aku Gak In Ling turun tangan sendiri ?"

Ancamnya.

Sambil berkata selangkah demi selangkah ia maju mendekati tiga jagoan dari sungai Tiang-kang tersebut.

Tanpa sadar Tiang-kang Sam-kiat selangkah demi selangkah mundur pula kebelakang, mengikuti langkah kaki yang berat, air muka ketujuh orang itu berubah beberapa kali, mereka merasa bahwa jiwa mereka yang sangat berharga itu kian lama kian mendekati jurang kematian-Jelas, keberanian serta segenap kekuatan mereka telah dipunahkan oleh keangkeran Gak In Ling.

Tiba-tiba dari 10 belakang tubuh Tiang-kang Sam-kiat berkumandang datang suara bentakan keras.

"Bajingan cilik Engkau jangan terlalu menghina orang "

Sesosok bayangan manusia meluncur ke muka, angin pukulan yang maha dahsyat langsung menghantam batok kepala pemuda she Gak itu.

Gak In Ling sama sekali tidak berpaling atau angkat kepala, diapun tidak menghentikan langkah kakinya, sorot mata yang tajam masih menatap wajah Tiang-kang Sam-kiat tanpa berkedip.

terhadap serangan yang sedang mengancam tubuhnya itu ia sama sekali tidak mengambil gubris.

Dalam waktu singkat, sepasang telapak telah mengancam diatas batok kepala pemuda itu.

Mendadak jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian yang mencengkamkan dimalam buta itu.

Sesosok bayangan tubuh yang besar mencelat keangkasa, melewati atas kepala Tiang-kang Sam-kiat dan terbanting kurang lebih tujuh tombak dibelakang ketiga orang itu dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Tiang-kang Sam-kiat terkesiap, kecuali mereka saksikan pemuda she Gak itu mengangkat tangan kanannya, tiada gerakan lain yang terlihat oleh mereka, akan tetapi dari tujuh orang sekarang mereka telah kehilangan seorang rekan-Satu-satunya harapan untuk hiduppun ikut musnah bersama dengan kematian pria kekar itu, sekarang mereka sudah patah semangat dan tak punya keberanian untuk melakukan perlawanan lagi.

Dari sorot mata Lo-toa serta Lo-sam Tiang-kang Sam-kiat segera melintas rasa takut, ngeri, dan mohon ampun, bibir yang pucat pias gemetar keras namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar.

Tiba-tiba terdengar Lo-ji yang baik hati itu menghela napas panjang lalu berkata.

"Aiii Satu kali salah melangkah akhirnya kita akan menyesal sepanjang masa, toako Sam-te Sebenarnya apa yang berhasil kita dapatkan ?"

Sambil berkata ia merobek pakaian bagian dadanya sendiri, kemudian sambil mengertak gigi, jari tangannya yang kuat bagaikan cakar baja tiba-tiba dihujamkan keatas dadanya sendiri.

"creeet...."

Semburan darah segar berhamburan disepanjang lantai, sambil meringis menahan kesakitan ia betot keluar jantungnya sendiri.

Air muka yang semula berwarna kuning pucat kini berubah jadi hijau keabu-abuan, sorot mata yang tajam kian pudar, dengan pandangan mata minta maaf ia melirik sekejap kearah Gak In Ling, bibir yang pucat gemetar keras dan akhirnya ...

bluuukk Tubuh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi Dua titik air mata perlahan-lahan menetes keluar dari balik kelopak matanya, namun senyum ketenangan dan kedamaian telah menghiasi bibirnya, mungkin ia merasa bahwa hutang yang tak bisa dibayar selama ini akhirnya berhasil juga di lunasi.

Tiada dengusan kesakitan, tiada jeritan lengking sekarat, tapi seorang jago yang amat lihay telah gugur dengan jantung yang berlumuran darah masih tergenggam ditangannya.

Sekilas rasa kaget berkelebat diwajah manusia sesat dari selatan, mungkin ia merasa peristiwa itu terlalu sadis dan kejam Airmuka Lo-toa dan Lo-sam dari Tiang-kang Sam-kiat serta tiga orang pria kekar yang berada dibelakangnya telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, rasa takut, ngeri, dendam berkecamuk menjadi satu membakar hati mereka semua.

Gak In Ling telah berdiri dengan wajah hambar, terhadap peristiwa sadis yang berlangsung dihadapan matanya ia tidak berpaling barang sekejappun, seakan-akan kejadian itu sama sekali tak terlihat olehnya.

Dengan dingin ia menyapu sekejap kearah dua orang itu.

"Sekarang tiba giliran kalian berdua "

Beberapa patah kata yang pendek.

terdengar oleh Lo-toa serta Lo-sam dari Tiang-kang Sam-kiat bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong.

Lo-toa dari Tiang-kang Sam-kiat tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah keangkasa dan tertawa seram.

"Ha ha ha Gak In Ling bocah cilik, dengan mengandaikan sepatah duapatah katamu itu, engkau anggap kami segera menyerah dan mudah dibunuh ? Ha ha.... Engkau anggap toyamu sekalian ini siapa ? Kau kira kelinci-kelinci yang gampang dijagal dengan begitu saja?"

Gak In Ling mendengus dingin, napsu membunuh yang tebal melintas diatas wajahnya, sambil ayunkan sepasang telapaknya ia menjawab.

"Aku mengandaikan sepasang telapakku ini? Hm, kalau kalian tidak percaya, silahkan mencoba"

Lo-sam lebih tenang dan licik daripada rekannya, walaupun hatinya merasa takut sekali akan tetapi diatas wajahnya masih dapat mempertahankan ketenangan, mendengar ucapan itu ia angkat kepala dan memandang kearah sepasang te lapak muda itu.

"Telapak maut?"

Jeritnya melengking, suaranya gemetar dan mengandung rasa takut yang hebat, dengan sempoyongan ia mundur sampai tujuh langkah kebelakang, sepasang matanya memandang kearah telapak tangan pemuda itu tanpa berkedip.

Rasa ngeri, putus asa, mohon ampun serta pelbagai perasaan berkecamuk didalam hatinya dengan wajah yang pucat.

"Apa ?? Ah, telapak maut"

Jerit Lo-toa pula dengan suara tertahan, ia mundur sempoyongan dan jatuh terduduk diatas lantai. Manusia sesat dari selatan pun tertegun, kemudian dengan hati terjelos gumamnya.

"Oooh Thian, kenapa sampai jadi begini ? Kenapa sampai diapun tidak dilepaskan?"

Mengikuti ucapan tersebut dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Dalam pada itu dengan pandangan sadis Gak in Ling telah memandang kembali kearah ke dua orang itu, lalu bentaknya.

"Apa yang kalian nantikan lagi ?"

"otak yang mendalangi pembunuhan itu bukan kami "jerit Lo-sam dengan suara gemetar.

"Kau... kau..."

"Kalau bukan kalian, siapa lagi ?"

Bentak Gak In Ling kembali dengan nada seram.

"Aku... aku.... aku tidak tahu."

Gak In Ling menengadah dan tertawa panjang.

"Haa.... haa... haa... Sedari tadi aku telah tahu bahwa kalian tak akan tahu, jual ayah ku untuk mencari pujian, apa yang berhasil kalian dapatkan-Haa haa.... haa...."

"Majikan muda, kau. ...jangan terlalu emosi."

Bisik manusia sesat dari selatan dengan nada kuatir. Gak In Liang menghentikan gelak tawanya, dengan napsu membunuh makin berkobar ia berseru keras.

"Aku akan suruh kalian berdua merasakan sampai di manakah kelihayan dari telapak mautku ini "

Sambil berkata sepasang telapaknya perlahan-lahan diangkat keatas.

Lo-toa dan Lo-sam dari Tiang-kang Sam-kiat mundur tiga langkah kebelakang dengan ketakutan B reett Mereka robek 14 pakaian bagian ddadanya sendiri, sementara sorot mata mengandung rasa takut dan minta ampun terpancar keluar dari mata mereka.

Gak In Ling sama sekali tidak tergerak hatinya oleh tingkah laku musuhnya itu, perlahan-lahan telapaknya sudah diangkat mencapai depan dada, senyuman dingin yang sadis dan kejam tersungging dibibirnya.

"Kalau tahu akhirnya akan jadi begini, kenapa dahulu kalian berbuat khianat, hem ?"

Sepasang telapak dengan cepat didorong ke-depan-..

Rupanya kedua orang itu tahu bahwa nasib mereka akan berakhir pada hari ini, dengan nekad merekapun mencengkeram kearah dada sendiri serta membetot keluar jantung mereka seperti apa yang telah dilakukan rekan mereka sebelumnya.

Dua jeritan melengking kembali berkumandang memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh lembah oh-liong-pio, suaranya begitu mengerikan sehingga mendirikan bulu roma semua orang.

Dengan pandangan dingin Gak In ling menyapu sekejap kearah mayat Tiang-kang Sam-kiat yang terkapar diatas tanah, kemudian menengadah dan melotot kearah pria-pria lainnya yang berdiri menjublek disana dengan pandangan seram, katanya.

"Bawa ketiga sosok mayat itu dan segera enyah dari tempat ini, kalian tak boleh mengubur mayat mereka disekitar gunung Thaysan atau tempat manapun, mayat itu harus kalian bawa pulang kemarkas besar Tiang-kang, jika berani membangkang perintahku, h mm?"

Tiga orang pria kekar itu mundur dengan ketakutan, tapi merekapun merasa amat girang karena mimpipun tak pernah disangka bahwa mereka masih bisa lolos dari tempat itu dalam keadaan hidup, Tanpa banyak bicara lagi mereka bopong 15 mayat Tiang-kaag Sam-kiat yang mengerikan serta mayat rekannya lalu kabur terbirit-birit dari situ.

Sepeninggalnya beberapa orang itu, Gak In Ling menengadah memandang bintang yang bertaburan diangkasa, lalu bergumam seorang diri.

"Dua belas tahun lamanya,. yaa dua belas tahun, suatu jangka waktu yang amat panjang."

Manusia sesat dari selatan maju kedepan dengan langkah yang berat, bisiknya.

"Majikan muda, apakah engkau telah melatih ilmu telapak maut itu?"

"Benar,"

Jawab pemuda she Gak dengan sedih.

"aku tak dapat menanti lebih lama lagi."

Manusia sesat dari selatan menghela napas panjang.

"Aaaai kesemuanya ini adalah akibat dari keteledoran hamba sekalian, sehingga membuat pil mujarab yang hampir jadi, telah dicuri orang. Tetapi, majikan muda, apakah engkau tak bisa menunggu sebentar lagi ? Mungkin makhluk tua itu akan segera kembali."

"Tujuan orang itu adalah hendak mencabut jiwa aku orang she Gak. kendatipun penjagaan yang kalian lakukan lebih ketatpun tak akan lolos dari cengkeramannya, oleh karena itu..."

"Majikan muda sekalipun manusia berusaha, tapi Thianlah yang menentukan segala-galanya, engkau tak boleh berputus asa, kita tokh masih bisa...."

Gak In Liang tertawa.

"Tak usah dicoba lagi, dua tahun bagiku sudah terasa lebih daripada cukup,"

"Tapi sejak kini keluarga Gak..."

Gak In Ling mengerdipkan matanya, sebelum manusia sesat dari selatan sempat menyelesaikan kata-katanya, dia telah menukas.

"Asal dendam sakit hatiku bisa dibalaskan, apa yang aku inginkan bisa terkabul, maka sisanya yang lain tak usah-dibicarakan lagi."

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Besok pagi, aku hendak tinggalkan benteng kuno ini."

"Aku juga ikut "

Kata manusia sesat dari selatan dengan hati amat gelisah.

"Tidak, engkau harus menunggu sampai manusia aneh dari utara kembali ke sini, kemudian baru bersama pergi mencari aku."

"Majikan Muda, aku tidak tega... aku merasa khawatir sekali dan aku pikir..."

"Keputusanku sudah bulat, engkau tak usah banyak bicara lagi."

Tukas Gak In Ling dengan cepat.

Perlahan-lahan ia berjalan masuk kedalam ruangan, dari balik biji matanya yang jeli, air mata perlahan-lahan mengalir keluar.

Sebagai manusia tentu saja dia amat menyayangi jiwanya sendiri, tetapi suatu kekuatan lain memaksa ia harus melepaskan segala-galanya...

karena sesuatu urusan ia harus membuang jauh semua pikiran semacam itu...

Dendam yang dalam bagaikan lautan, benci yang menumpuk bagaikan bukit, telah menyelimuti seluruh benaknya.

Dengan sedih dan hati yang perih manusia sesat dari selatan memandang bayangan punggung si anak muda itu lenyap dari pandangan, pada saat yang amat singkat inilah dia merasa bahwa dirinya jauh lebih memahami lagi perasaan si pemuda yang sudah berdiam hampir dua belas tahun lamanya dengan dia itu.

Senja telah lewat dan malam mencengkeram seluruh jagad, sorot lampu yang tajam menyinari setiap sudut kota con IHway, rumah makan, rumah penginapan dan tempat pelacuran mulai dikunjungi orang, suasana amat ramai dan hiruk pikuk memecahkan kesunyian-Pada saat itulah di sebuah gedung besar yang letaknya di luar kota, suasana tetap diliputi keheningan, Malaikat Elmaut telah mencengkeram seluruh isi gedung itu, membuat keadaan terasa seram dan mengerikan.

Belasan tahun berselang, gedung besar yang megah dan kokoh ini dikenal sebagai gedung keluarga Gak.

tapi kini nama yang pernah disegani dan dihormati setiap orang itu sudah mulai dilupakan orang...

Pada saat itu dua orang pria kekar berdiri mendelong didepan pintu gerbang yang berwarna merah, pada istal kuda terikat beberapa puluh ekor kuda jempolan, dari sikap kedua orang itu nampak jelas bahwa mereka sedang menghadapi suatu kejadian yang menakutkan hatinya.

Dalam sebuah ruang tamu yang luas, api lilin bersinar menerangi seluruh sudut ruangan, dua buah meja perjamuan yang besar diatur di-tengah ruangan dan disekelilingnya duduklah enam belas orang pria tua maupun muda.

Tetapi aneh sekali, walaupun sayur yang lezat dan arak yang wangi telah dihidangkan, namun tak seorangpun yang bernapsu untuk menikmati kelezatan dan wanginya hidangan tersebut.

Suasana dalam ruangan itu sunyi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun, wajah setiap orang nampak murung dan sedih sekali.

Tiba-tiba kakek berjenggot panjang yang duduk dikursi utama bangkit berdiri dan berkata.

"Saudara saudara sekalian, silahkan makan dulu sedikit hidangan yang telah tersedia, setelah itu baru merundingkan masalah pelik yang sedang kita hadapi, mari... mari kuhormati kalian semua dengan secawan arak."

Sambil berkata dia angkat cawan arak yang berada dihadapannya dan sekali teguk menghabiskan isinya, 18 walaupun begitu kelihatan jelas sekali tangannya yang memegang cawan nampak gemetar keras.

Semua orang segera bangkit berdiri dan menghabiskan pula isi cawan masing-masing, mereka semua seperti telah kehilangan semangat, wajahnya loyo dan sama sekali tak bertenaga.

Kakek berjenggot panjang tadi menarik napas panjang, kemudian setelah berbatuk sebentar, ujarnya.

"Lo-ngo. berita yang engkau dengar bisa dipercaya atau tidak?"

Sambil berkata dia berpaling ke arah seorang kakek tua berusia enampuluh tahun yang berada disebelah kanan dan pada kening kanannya terdapat sebuah codet berwarna ungu.

Sorot mata semua orangpun dialihkan padanya wajah mereka semua terlintas satu harapan, bahwa berita itu tidak benar.

Kakek bercodet dengan kaku mengangguk.

"Berita itu sungguh dan dapat dipercaya seratus persen-"

Jawabnya tegas.

"Engkau dengar dari siapa ?"

Hampir bersamaan waktunya ada tiga empat orang banyaknya yang mengajukan pertanyaan itu. Perlahan-lahan kakek bercodet itu bangkit berdiri lalu berkata.

"Kalian semua takut mati. masa akupun tidak takut mati ? Aku menyaksikan kesemuanya ita dengan mata kepala sendiri."

Suaranya gemetar dan penuh emosi. Kakek berjenggot panjang itu amat terperanjat, tanpa terasa ia berseru keras.

"Kau, kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri ? Bagaimana keadaan mereka ?"

Kakek bercodet menengadah dan tertawa seram, suaranya keras bagaikan kuntilanak ditengah kuburan.

"Hee hee hee... Dengan tangan sendiri mereka membetot keluar jantung mereka...."

"Aahh"

Seruan tertahan menggema memenuhi seluruh ruangan, rasa kaget dan ngeri melintas diatas wajah setiap orang, dengan kaku dan tertegun mereka melotot kearah kakek bercodet itu.

"Masa seorang bocah cilik mempunyai kepandaian selihay itu ?"

Gumam kakek berjenggot panjang itu dengan nada keheranan-"Bagaimana caranya dia memaksa Tiang kang Sam-kiat untuk membetot keluar jantungnya sendiri ? Hal ini tak mungkin-"

Sekalipun dimulut ia mengatakan tidak percaya, tetapi bayangan hitam telah menyelimuti seluruh hatinya....

ia merasa bahwa maut sudah semakin mendekati dirinya.

Keseraman dan kengerianpun dengan cepat menyelimuti seluruh ruangan, setiap orang merasa ketakutan dan semuanya tercekam dalam ketegangan yang memuncak sehingga dadanya terasa sesak dan sukar untuk bernapas.

Tiba-tiba....

Gelak tertawa yang seram dan menggetarkan telinga berkumandang datang dari luar tembok pekarangan, diikuti serentetan cahaya merah munculkan diri ditengah ruangan.

Suara itu muncul begitu mendadak membuat semua orang-terkesiap dan merasakan jantungnya berdebar keras, puluhan pasang mata yang memancarkan sinar kaget dan ngeri bersama-sama di alihkan keluar ruangan-Tapi mereka semakin terperanjat setelah menyaksikan manusia yang berdiri dihadapannya.

Tampaklah dua orang kakek baju merah yang memakai kain penutup berwarna merah pula berdiri kaku diluar ruangan, perawakan mereka yang satu tinggi dan yang lain pendek.

namun sorot matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah dua butir batok kepala yang berada dalam cekalan mereka berdua, darah segar masih mengucur keluar tiada hentinya.

Terdengar manusia berkerudung yang berbadan pendek berkata dengan suara menyeramkan-"cin-hway Ngo-gi lima saudara dari cin-hway, aku mendapat perintah untuk datang kemari memenggal batok kepala kalian semua "

"Apa dosa kami berlima sehingga harus mendapat hukuman penggal kepala ?"

Tanya kakek berjenggot panjang dengan hati terjelos.

"Dosa kalian sudah terlalu besar dan kejahatan yang kalian lakukan terlalu menumpuk."

Jawab manusia kerudung merah yang jangkung dengan suara ketus.

"Serahkan nyawa kalian semua."

"Engkau mendapat perintah dari siapa ?"

Tanya Lo-sam dari cin-hway Ngo-gi dengan dingin-Manusia berkerudung merah yang berbadan cebol tertawa dingin.

"Hee... hee... hee... Kalian masih belum berhak untuk mengetahuinya..... kenapa masih belum turun tangan? Apakah kalian hendakpaksa diriku untuk melakukannya sendiri?"

Dalam pada itu semua jago yang berada dalam ruangan mengetahui bahwa kedua orang itu bukanlah manusia yang ditakuti oleh mereka, maka hati merekapun jadi lega.

Mendengar ucapan lawan, mereka mendengus dingin.Jelas orang-orang itu merasa amat tidak puas dengan ucapan lawan-Kakek berjenggot panjang segera tertawa terbahak-bahak.

"Ha.... haa haa..... Aku rasa kalian berdua belum tentu dapat melakukannya"

Manusia berkerudung merah yang berbadan jangkung naik pitam, dari balik kain kerudungnya memancar keluar dua rentetan cahaya mata yang sangat tajam, tangan kanannya segera di-ayun keluar dan sesosok bayangan hitam menerjang kearah dada kakek berjenggot panjang itu dengan cepatnya.

Kakek berjenggot panjang mendengus dingin, ia sambut datangnya benda hitam itu, tapi dengan cepat ia berteriak kaget.

"Aah......... bukankah dia adalah Hian Hok Tootiang?"

"Sedikitpun tidak salah, apakah kalian tidak merasa bahwa kepandaian silat yang kamu miliki jauh lebih lihay daripada Hian Hok Totiang?"

Mendengar perkataan itu cin-hway Ngo-gi saling berpandangan dengan mulut membungkam, mereka tak menyangka kalau Hian Hok Totiang yang dikenal memiliki ilmu silat yang amat lihay pun menemui ajalnya ditangan mereka berdua.

Setelah mengamati beberapa saat lamanya batok kepala itu, Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi berteriak keras.

"Aaaah kalau begitu engkau adalah cianjiu jin-to pembantai manusia bertangan seribu?"

"Pembantai manusia bertangan seribu."

Jeritan kaget hampir berkumandang dari setiap manusia yang ada dalam ruangan-Manusia berkerudung merah itu tertawa terbahak-bahak.

"Haa haa..... haa... setelah mengetahui siapakah aku, beranikah kalian semua melakukan perlawanan?"

Air muka kakek berjenggot panjang itu berubah hebat, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, batok kepala itu dibuang ketanah lalu ikut tertawa seram pula.

"Haa .... haa haa.. ... memang kuakui bahwa ilmu silat yang kami miliki masih terlalu jauh kalau dibandingkan dengan dirimu, akan tetapi..."

"Akan tetapi kenapa ?"

"Akan tetapi kalian takkan berani mengganggu setiap manusia dan benda yang berada dalam ruangan ini "

Mula-mula kedua orang manusia berkerudung merah itu tertegun, kemudian dengan gusar teriaknya.

"Engkau berani pandang rendah diriku. Lihat saja aku berani atau tidak,"

Sambil berkata tubuhnya menerjang kedepan.

Buru-buru kakek berjenggot panjang itu merogoh kedalam sakunya dan mengambil keluar sebuah tanda pengenal yang berukir indah sekali, sambil mengangkat tanda pengenal itu ketengah udara serunya.

"coba kalian lihat, benda apakah ini?"

"Ah tanda perintah Nirwana.."

Seru manusia berkerudung merah itu kaget.

Tiba-tiba ia menghentikan gerakan tubuhnya di tengah jalan, putar badan dan kabur dari ruangan itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ketika datang mereka muncul secara tiba-tiba, waktu kaburpun dilakukan secara tiba-tiba pula, mati atau hidup ternyata hanya tergantung pada tanda pengenal yang amat kecil itu.

Dengusan dingin berkumandang keluar dari balik sebuah pohon besar ditengah halaman, namun tak seorang manusiapun yang tahu.

Sementara itu semua orang dalam ruangan tergirang hati dan merasa lega ketika menyaksikan dua orang pembantai manusia itu kabur terbirit-birit karena tanda perintah Nirwana 23 Tiba-tiba Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi berpaling kearah kakek bercodet dan bertanya.

"Lo-ngo, mungkinkah orang yang membinasakan Tiang-kang Sam-kiat adalah pembantai manusia bertangan seribu ?"

Ingatan kakek bercodet agak tergerak juga mendengar ucapan itu, tapi dengan nada masih sangsi ia berkata^ "Tetapi menurut orang-orang yang pergi ke sana mengikuti Tiang-kang Sam-kiat, katanya ke-tiga orang itu menemui ajalnya ditangan seorang pemuda baju hitam."

Lo-sam tertawa bergelak.

"orang tokh bisa saja menyaru sebagai apapun, bukankah menurut ceritamu mereka berdua seorang kakek dan seorang pemuda ? Sedang pembantai manusia bertangan seribu juga terdiri dari dua orang, siapa tahu kalau kedua orang itu adalah hasil penyaruan mereka ?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang merasa hatinya agak lega karena perkataan itu masuk diakal. Kakek bercodet menghela napas panjang dan berkata.

"Aaai semoga saja apa yang kalian duga adalah benar, teringat masa lampau, dimana kita semua telah digunakan tenaganya oleh orang lain dan sampai kinipun kita tidak tahu siapakah otak yang mendalangi kesemuanya itu... bahkan kita harus menanggung resikonya."

"Lo ngo,"

Tukas Lo-toa dengan cepat.

"apakah kau sudah bosan hidup ?Jangan lupa, dalam peristiwa yang terjadi tempo hari kita semua terlibat dalam masalah tersebut."

"oleh karena itulah kalian semua harus mati."

Baru saja ucapan Lo-toa dari cin-hway lo-ngo selesai diutarakan, tiba-tiba dari tengah ruangan berkumandang serentetan suara yang dingin dan ketus diiringi suara tertawa yang menyeramkan-Semua jago yang ada dalam ruangan terperanjat hingga sukma terasa melayang tinggalkan raganya, dengan cepat mereka berpaling dan loncat bangun dari kursi, senjata tajam siap diloloskan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan-seorang pemuda tampan baju hitam dengan dingin dan seram berdiri tegak didepan pintu ruangan, perlahan-lahan ia menyapu setiap raut wajah para jago yang berada disitu.

Semua jago yang berada dalam ruangan itu meskipun belum bisa dikatakan jago yang amat lihay dalam dunia persilatan, akan tetapi mereka tak malu disebut jagoan kelas satu, akan tetapi kapankah pemuda baju hitam itu munculkan diri tak seorangpun diantara mereka yang tahu.

"Siapa engkau ?"

Tegur Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi dengan nada gemetar, tanda pengenal Nirwana dicekalnya erat-erat ditangan kanan.

Pemuda baju hitam itu mendengus dingin, napsu membunuh yang tebal menyelimuti wajahnya dan ia menjawab singkat.

"Gak in Ling "

Meskipun hanya tiga patah kata, namun dalam pendengaran semua jago yang ada dalam ruangan bagaikan tiga batang anak panah beracun yang menembusi uluhati mereka, membuat semua orang merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri "Gak In Ling ?"

"Gak In Ling dari benteng oh-liong-po ?"

"Sedikitpun tidak salah, orang ini bukan lain adalah pemuda baju hitam yang misterius dari benteng oh liong-po, dialah Gak In Ling.

Dengan pandangan sadis sianak muda itu menyapu sekejap kearah para jago, lalu ujarnya dingin.

"Aku rasa maksud kedatanganku telah kalian ketahui, nah, sekarang kalian boleh bunuh diri."

Suaranya dingin, seram dan 25 datar, namun mengandung suatu kekuatan yang tak dapat dibantah. Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi memandang sekejap kearah bemuda itu, lalu berpikir didalam hati.

"Dengan usianya yang masih begitu muda, tak mungkin ia memiliki ilmu silat yang tinggi."

Pikiran semacam ini timbul pula dalam benak mereka yang lain, hal ini membuat rasa ngeri yang semula menyelimuti wajah mereka yang kian lama kian bertambah tawar.

Tampaklah tiga orang yang duduk di paling depan segera bangkit berdiri, dengan senjata terhunus dan wajah menampilkan sikap menghina selangkah demi selangkah mendekati pemuda she Gak tersebut.

Gak In Ling menjengek dingin menyaksikan kedatengan ketiga orang itu, tegurnya kembali dengan nada dingin-"Apalagi yang hendak kalian nantikan ?"

"Bangsat Kubunuh dirimu"

Bentakan gusar tiba-tiba menggelegar diangkasa.

Tiga orang pria itu membentak keras dan segera menerjang maju kedepan, bayangan pedang, cahaya golok memancar d iempat penjuru, dengan kecepatan yang luar biasa ketiga batang senjata tajam itu menerjang kearah tiga buah jalan darah kematian ditubuh Gak In Ling, serangan keji dan jurusnya mematikan-Gak In Ling mendengus dingin, tubuhnya sama sekali tidak berkutik dari tempat semula.

Serangan yang dilancarkan ke tiga orang itu benar-benar cepat dan sepenuh tenaga, bayangan manusia berkelebat lewat dan tahu-tahu ketiga macam senjata tajam itu sudah berada lima inci diatas jalan darah penting sianak muda.

Tiba-tiba...

Gak In Ling mendengus dingin laksana kilat telapak kanannya diangkat dan mengirim satu pukulan kedepan-Tiada desiran angin tajam yang menggidikkan hati, tiada deruan angin pukulan yang menderu-deru udara tetap tenang dan sunyi.

Tapi pada saat itulah ditengah angkasa berkumandang tiga kali jeritan melengking yang menyayatkan hati, ketiga orang itu mencelat sejauh dua tombak dari tempat semula dan terkapar dibawah tembok pekarangan dalam keadaan tak bernyawa lagi.

"Oooh...."

Hampir semua orang yang hadir dalam ruangan itu menjadi kaget, mereka tak menyangka dalam satu gerakan tangan yang sederhana dari pemuda she Gak itu, tiga nyawa telah melayang meninggalkan raganya.

Gak In Liug sama sekali tidak memandang sekejappun terhadap tiga sosok mayat yang terkapar dalam keadaan mengerikan itu, dengan dingin ia berkata kembali.

"Ini hari, siapapun jangan harap bisa meloloskan diri dari cengkeramanku orang she Gak dalam keadaan hidup "

Rasa takut dan ngeri yang semula menyelimuti wajah para jago, saat ini muncul kembali bahkan berlipat ganda dari perasaan takut semula, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi wajah dan tubuh mereka.

Tiba-tiba Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi mengacungkan tanda pengenal dari Nirwana dan berseru.

"Gak In Ling, aku membawa tanda pengenal disini, kalau engkau punya keberanian ayo cepat turun tangan "

"Haa....haa.... haa Jika aku orang she Gak sudah bertekad untuk membunuh orang, sekalipun kalian membawa tanda pengenal dari kaisar Gick Te-pun takkan lolos dari kematian, apalagi baru tanda pengenal Nirwana."

Dengan wajah menyeringai bengis dan tertawa seram yang memekakkan telinga, selangkah demi selangkah pemuda itu masuk ke tengah ruangan-Tanpa sadar para jago semua mundur ke belakang, sorot matanya menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip.

kian lama jarak di antara mereka kian mendekat.

Took took took langkah kaki yang berat seakan-akan godam yang menghantam dada mereka membuat setiapjago dalam ruangan tercekam dalam ketakutan yang mengerikan-Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi amat terkejut, teriaknya keras-keras.

"Gak In Ling Engkau berani membangkang perintah dari Yau-ti-glok-li gadis suci dari Nirwana?"

"Haa haa haa kakek tua, terus terang aku orang she Gak katakan kepadamu, andaikata engkau berharap bisa lolos dari Cengkeramanku dalam keadaan hidup, maka hal ini akan jauh lebih sulit daripada mendekati keatas langit."

Sambil berkata selangkah demi selangkah ia lanjutkan tindakannya masuk ke dalam ruangan-Sementara itu para jago telah mengundurkan diri kesudut ruangan, melihat jalan mundur telah terhadang sedangkan Gak In Ling yang berada di hadapannya selangkah demi selangkah masih mendesak maju kedepan, hati mereka jadi amat terperanjat.

Anjing kepepet lompat ketembok, kucing terdesak naik kepohon, setelah mengetahui jalan mundurnya tertutup, timbullah niat dalam hatinya para jago untuk mengadu jiwa, belasan pasang mata dengan memancarkan cahaya bengis menatap wajah lawannya tanpa berkedip.

Pikiran Gak In Ling agak bergerak melihat sikap musuh-musuhnya, namun diatas wajahnya yang tampan masih tetap hambar dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan 28 apapun, telapak yang semula lurus kebawah perlahan-lahan diangkat keatas, serunya ketus.

"Sekarang serahkanlah jiwa kalian"

"Belum tentu begitu "

Bentakan keras berkumandang dari kumpulan para jago yang terdesak itu.

Ditengah bentakan keras mereka menerjang kemuka secara berbareng, cahaya golok dan bayangan pedang memancar dari empat penjuru dan meluruk seluruh jalan darah penting ditubuh Gak In Ling, serangan itu ganas, cepat dan luar biasa sekali, deruan angin pukulan menderu-deru dan nampak menyeramkan sekali.

Ditengah ketegangan yang memuncak dan menyelimuti seluruh ruangan, dari luar dinding pekarangan muncullah seorang dara berbaju hijau yang amat cantik jelita diiringi empat orang dara muda berdandan dayang, tapi sayang kedatangan mereka terlambat satu tindak.

Pada waktu dara baju hijau itu melayang turun keatas tanah, Gak In Ling telah melancar serangannya, tubuh yang kekar menerjang kemuka dengan cepatnya, bagaikan sukma gentayangan dia menerobos masuk kedalam lapisan cahaya pedang yang bersusun-susun itu.

Serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang dari ruangan tengah, dari empat belas orang jago yang ikut mengerubut ada sepuluh orang diantaranya roboh binasa dengan masing-masing korban mendapat pukulan maut diatas dadanya, darah kental mengucur ke luar dari ketujuh lubang inderanya.

Dalam sekejap mata tinggal empat orang yang hidup, ketika menyaksikan rekan-rekannya telah binasa semua, timbul niat untuk melarikan diri dalam benak mereka, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya mereka keluar dari pintu ruangan-29 Waktu itu napsu membunuh telah menyelimuti seluruh benak Gak In Ling, tentu saja dia pakkan membiarkan orang-orang itu kabur dari situ, sambil mendengus dingin ia putar badan dan melancarkan serangan dahsyat.

....

Serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata memancar ketengah udara, empat orang jago lihay yang baru saja melangkah keluar dari pintu ruangan itu mendadak menjerit kesakitan, kemudian roboh terjengkang diatas tanah dan menemui ajalnya.

Darah berceceran diseluruh lantai, mayat bergelimpangan dimana-mana, cahaya lampu dalam ruangan masih memancar dengan terangnya, hidangan lezat dimeja perjamuan masih utuh dan menyiarkan bau harum, akan tetapi keempat belas orang jago yang semula duduk mengelilingi meja perjamuan itu telah terkapar mati diatas tanah dalam keadaan yang mengerikan-..

Gak In Ling menghela napas panjang, ia tetap berdiri mematung ditempat semula, entah pikiran apa yang membuat dirinya tertegun.

Lama....

lama sekali, sianak muda itu baru melangkah keluar dari pintu dan bergumam seorang diri.

"Gadung ini semula adalah tempat tinggal keluarga Gak kami, tetapi sekarang, hanya tinggal aku Gak In Ling seorang."

Dengan kepala tertunduk Gak In Ling berjalan keluar dari pintu, tiba-tiba ia melihat tanda pengenal Nirwana yang tergeletak diatas tanah pemuda itu tertarik oleh ukir-ukirannya yang indah dan segera berjongkok untuk mengambilnya.

Dara cantik baju hijau yang berdiri menjublek ditengah ruangan karena pembunuhan yang disaksikannya itu segera berseru tertahan sewaktu menyaksikan Gak In Ling hendak memungut tanda pengenal Nirwana, tanpa mengucapkan 30 sepatah katapun tangan kanannya diayun dan serentetan cahaya biru meluncur kearah lengan sianak muda itu.

Gak ln Ling tidak menyangka kalau dirinya bakal diserang orang dikala ia sedang melamun dan memikirkan satu urusan yang pelik, baru saja tangannya hendak menyentuh tanda pengenal Nirwana....

criiit Tiba-tiba telapaknya terhajar oleh sebatang jarum warna biru.

Rasa sakit menyadarkan Gak In Ling dari lamunannya, tanpa terasa ia hentikan sebentar gerakan tangannya, tapi ia tidak membatalkan maksudnya untuk mengambil tanda pengenal tersebut, setelah berhenti sebentar benda tadi segera dipungut.

Semua gerakan ini mencengangkan hati dara baju hijau itu, ia tak menyangka kalau pemuda itu meneruskan gerakannya kendatipun tangannya sudah terluka, dengan suara yang nyaring segera bentaknya.

"Lepaskan tanda pengenal Nirwana itu "

Sambil berseru ia menerjang maju kedepan-Gak In Ling sendiri merasa amat gusar setelah mengetahui bahwa ia terluka ditangan seorang gadis, sambil bangkit berdiri tegurnya.

"Siapa kau ?"

Dengan sorot mata yang tajam dara itu di-tatap tanpa berkedip.

Sementara itu gadis baju hijau pun telah melihat jelas raut wajah pemuda dihadapannya, merah jengah selembar wajahnya dan buru-buru ia melengos kesamping, dengan dingin ia membentak.

"Besar amat nyalimu, berani sekali membunuh orang dan merampas tanda pengenal dalam wilayah yang dikuasai ketua kami. IHemm, setelah hari ini berjumpa dengan tuan putrimu, akan kutuntut keadilan darimu"

Gak In Ling adalah seorang pemuda tinggi hati, mendengar ucapan itu kontan saja ia naik pitam.

"Hm Meskipun tanda pengenal Nirwana disegani oleh setiap umat persilatan dikolong langit."

Katanya sambil mendengus dingin.

"tetapi dalam pandangan aku orang she Gak, benda itu tidak lebih hanya suatu permainan anak-anak. Aku ingin bertanya, apa sebabnya engkau lancarkan serangan untuk melukai diriku ?"

"Hee.... hee hee ketahuilah bahwa jarum berwarna biru tadi adalah jarum beracun tanda peringatan dari ketua kami"

"Jarum beracun ?"

Naps u membunuh yang tebal tiba-tiba melintas diatas biji matanya yang jeli.

"Apa dosaku dan permusuhan apa yang pernah diikat antara kita berdua ? Mengapa engkau begitu tega untuk melukai aku dengan jarum beracun ? Nona, engkau mengira bahwa aku tidak berani membinasakan pula dirimu?"

Sambil berkata dia siapkan telapaknya didepan dada dan menghimpun tenaga dalam yang di-milikinya.

Ucapan Gak In Ling yang dingin dan ketus mengejutkan hati dara baju hijau itu, air muka-nya berubah hebat dan ia mundur dua langkah kebelakang.

"Kalau engkau berani, ayoh coba turun tangan-"

Ia berteriak. Keputusan yang diambil oleh gadis itu tidak mengejutkan hati Gak In Ling, sebaliknya keempat orang dayang yang mengetahui tabiat gadis itu jadi tercengang, pikirnya.

"Aneh benar... kenapa watak tuan putri pada hari ini bisa berubah sama sekali?"

Beberapa kali Gak In Ling angkat telapak tangannya tapi setiap kali diurungkan niatnya, karena bagaimanapun juga pemuda ini merasa diantara mereka tak pernah terikat oleh dendam sakit hati apapun juga.

Akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata.

"Nona, bagaimana kalau kukembalikan tanda pengenal ini sebagai ganti untuk mendapatkan obat pemunah ?"

"Bukankah engkau hendak membinasakan diriku ?"

Ejek dara baju hijau itu kembali.

"Ayo bunuhlah.... kenapa tidak berani membunuh ?"

Gak In Ling tertawa tawa.

"Diantara kita berdua toh tak pernah terikat oleh dendam atau sakit hati apapun juga ?"

"Aku tidak membawa obat pemunah, asal dalam dua tahun engkau bisa bertobat dan tidak melakukan pembunuhan yang sadis lagi, ketua kami tentu akan mengutus orang untuk menghadiahkan obat pemunah tersebut kepadamu."

"Dua tahun ?"

Tanya Gak In Ling dengan wajah tertegun-"Inilah berkat belas kasihan dari ketua kami yang cantik jelita"

Sambung salah seorang di antara empat dayang itu dengan nyaring.

"Jika berganti dengan orang lain, mungkin engkau sudah tiada bernyawa sedari tadi."

Gak In Ling menengadah memandang bintang yang bertaburan diangkasa, lalu pikirnya.

"Tuan putri yang tidak pernah kujumpai ini memang seorang yang welas asih, semoga saja dunia persilatan akan aman untuk selamanya."

Ia berikan tanda pengenal Nirwana itu ketangan gadis baju hijau dan berkata.

"Tanda pengenalmu ini kukembalikan, dua tahun bagi aku Gak In Ling memang kelebihan beberapa bulan, batas waktu yang kau berikan kepadaku sudah cukup bagiku untuk menyelesaikan segala galanya ."

"oh..,..Jadi engkau adalah Gak In Ling?"

Ujar dara baju hijau dengan terperanjat.

"Benar, akulah orang she Gak."

"Ketua kami ingin sekali berjumpa dengan dirimu, sekarang kau ikut dengan kami. Mungkin detik itu juga dia akan berikan obat tersebut kepadamu."

Dari balik nada suaranya itu terdengar nada girangnya yang tak terhingga.

"Tidak"

Jawab Gak In Ling sambil menggeleng.

"Bila kita berjumpa lagi lain waktu, entah dalam gedung pembunuhan manakah pertemuan itu akan terjadi..."

Habis berkata ia buang tanda pengenal itu kearah seorang dayang yang berada disisinya, lalu berjalan keluar dengan langkah lebar.

Dara baju hijau itu terperanjat, tiba-tiba ia memburu maju kedepan sambil menegur.

"Jadi engkau hendak membunuh orang lagi?"

"Dalam kehidupan aku Gak In Ling yang terbatas hanya dua tahun, membunuh orang adalah tugas serta pekerjaanku yang terutama."

Jawab pemuda itu tanpa berpaling lagi.

Dengan gesit badannya melompat naik keatas tembok pekarangan kemudian lenyap dibaui kegelapan-Dengan termangu-mangu dara baju hijau berdiri ditempat semula, memandang bayangan punggung Gak In Ling hingga lenyap.

ia bergumam seorang diri.

"Dua tahun-.. kehidupan yang terbatas dua tahun"

Tiba-tiba wajahnya yang bersemu merah berubah hebat, dengan terkejut serunya.

"Ah... jangan, jangan dia telah..."

Kepada empat orang dayang yang berada di sisinya ia berseru.

"Ayo berangkat, kita pulang kemarkas besar."

Dengan termangu-mangu keempat orang dayang itu memandang sekejap kearah tuanputri, seakan-akan mereka telah memahami akan sesuatu dengan cepat dayang itu menyusul dibelakang tuan putrinya berlalu dari situ.

----ooo0dw0ooo----Dalam pada itu, setelah melompati pekarangan tembok yang tinggi, Gak In Ling mencabut jarum beracun dari telapaknya, setelah memandang kembali kegedung besar itu berangkatlah si pemuda menuju kedalam kota.

Belum jauh pemuda itu berlalu, tiba-tiba berkumandanglah serentetan bisikan nyamuk disisi telinganya, terdengar orang itu berkata.

"Gak-sicu, harap berangkat kedalam hutan sebelah barat, aku ada persoalan yang hendak di bicarakan dengan dirimu,"

Gak In Ling segera menghetikan langkahnya dan berpaling kearah sebelah barat.

Kurang-lebih lima puluh tombak dari gedung keluarga Gak terbentanglah sebuah hutan yang lebar dan luas sekali, diam-diam sianak muda itu merasa terperanjat, pikirnya.

"Dari jarak lima puluh tombak orang itu bisa mengirim suara dengan begitu jelasnya, hal ini menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya jauh diatas kepandaian manusia sesat dari selatan maupun manusia aneh dari utara tapi siapakah dia ?"

Setelah mengambil keputusan didalam hati pemuda itupun menuju kearah hutan disebelah barat.

Ditengah kegelapan yang mencekam diseluruh jagad, dengan cepatnya Gak In Ling telah tiba ditepi hutan belantara tersebut, dengan sorot mata yang tajam ia segera memeriksa keadaan di situ.

Tapi suasana tetap sunyi dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun, tanpa terasa ia berteriak keras.

"Siapakah taysu ? Ada urusan apa mencari aku ?"

"Omitohud Aku adalah Ku-Hud "

Jawaban yang nyaring muncul dari balik hutan kurang lebih dua tombak dihadapannya.

"Buddha Antik? Apakah dia belum mati?"

Pikir Gak In Ling dengan hati terkejut, ia segera berpaling kearah mana asalnya suara tadi.

Dari belakang sebuah pohon raksasa yang amat besar kurang lebih dua tombak dihadapan-nya, perlahan-lahan muncul seorang hwesio tua berjubah abu-abu yang jenggotnya telah memutih semua, mukanya ramah dan sorot matanya lembut, bagi siapapun yang memandang dirinya pasti akan beranggapan bahwa dia adalah seorang padri suci yang welas-kasih.

Dengan langkah yang lembut dan perlahan hwesio itu berjalan mendekati sianak muda dan berhenti kurang lebih lima depa dihadapannya.

"Taysu,"

Ujar Gak In Ling kemudian sambil tertawa hambar.

"tingkah lakumu cukup membuat hati aku orang she Gak merasa terkejut "

Ucapan kaku dan sama sekali tidak bersahabat.

"Gak sicu,"

Seru hwesio tua itu dengan suara berat.

"semua perbuatanmu dalam gedung besar itu telah menggusarkan hati Sang Buddha yang maha suci."

Gak In Ling mendengus dingin, sorot mata nya yang tajam menyapu sekejap kearah tangan kanan hwesio tua itu, dibalikjubah yang panjang ia tidak menemukan lengan tersebut......

rupanya padri itu sengaja menyembunyikan lengannya atau memang buntung.

Maka jawabnya dengan lirih.

"Siapa berani berbuat kejahatan dia harus menerima pembalasannya, apa yang terjadi didalam gedung itu hanya merupakan akibat dari perbuatan mereka sendiri."

"Oooh....jadi kematian Tiang-kang Sam-kiatpun dikarenakan perbuatan yang mereka laku kan sendiri ?"

Desak hwesio tua itu lebih jauh dengan wajah serius.

"Sedikitpun tidak salah "jawab Gak in Ling sambil tertawa dingin.

"Bolehkah aku tahu sebab-sebabnya ?"

"Tentang soal itu maafkan aku, rahasia ini belum dapat kuceritakan kepadamu "

Jawab sang pemuda tegas. Sekali lagi satu ingatan berkelebat dalam benak hwesio tua itu, tiba-tiba ia bertanya.

"Gak sicu, apakah engkau bernama In Ling?"

"Bukankah taysu telah mengetahuinya? Kenapa harus ditanyakan kembali ?"

"Gak sicu, engkau selalu memakai baju hitam dengan kegagahan yang luar biasa, orang kang ouw telah mengetahui akan dirimu itu, maka setelah kutemui dirimu tadi maka akupun menduga bahwa engkau adalah orang yang sedang kucari ternyata benar."

"Taysu, ada urusan apa engkau mencari aku orang she Gak ? Apakah dikarenakan urusan dalam gedung besar itu."

Kata Gak In Ling sambil melirik kembali tangan kanan hwesio tua itu. Budha Antik berpikir sebentar. tiba-tiba ia menggeleng.

"Semula aku memang mempunyai tujuan demikian, tapi sekarang aku sudah membataikan niatku itu, siapa berani berbuat dia harus menanggung resikonya Meskipun perbuatan sicu terlalu kejam dan tak kenal prikemanusiaan, tetapi sebelum aku mengetahui sebab-sebabnya aku tak ingin mengambil tindakan yang gegabah. Aku hanya berharap Gak sicu suka cepat-cepat tinggaikan daratan Tlonggoan, sebab orang lain belum tentu akan sesabar diriku."

"Siapa orangnya yang taysu maksudkan itu? Bolehkah aku tahu ?" ---ooo0dw0ooo---

Jilid 2

"DUA orang gadis aneh yang tak pernah ribut dari dunia persilatan "

"Salah satu diantaranya bukankah gadis suci dari Nirwana ?"

Seru Gak In Ling dingin. Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk ribut atau merebut kekuasaan dengan mereka."

"Engkau telah mengacau dan mengganggu ketenangan dunia persilatan, membuat orang jadi tak tenang dan merasa kuatir terus, menurut anggapanmu apakah mereka bersedia melepaskan dirimu dengan begitu saja ?"

Gak In Ling tertawa tawa.

"Melepaskan diriku atau tidak aku orang she Gak takkan menggubris, yang jelas setiap orang yang kucari tak ada kemungkinan untuk hidup lebih lanjut dikolong langit ini."

Mendengar perkataan itu hwesio tua ini terperanjat, air mukanya agak berubah tapi hanya sebentar saja telah lenyap kembali, dengan suara hambar sengaja ia bertanya.

"Gak sicu, apakah engkau bersedia mengetahui siapakah perempuan kedua yang kumaksudkan itu ?"

"Lebih baik kita tidak usah membicarakan tentang masalah ini."

Tukas sang pemuda dengan cepat, setelah berhenti sebentar tiba-tiba ia berkata lagi dengan suara dalam.

"Taysu, orang she Gak ada satu permintaan, apakah taysu dapat mengabulkan ?"

Sekali lagi air muka hwesio tua itu berubah hebat, sesudah ragu-ragu sebentar, katanya.

"Asal aku bisa melakukan permintaanmu itu pasti akan kupenuhi, katakanlah, apa permintaan sicu itu."

"Aku orang she Gak ingin sekali melihat tangan kanan taysu itu"

Sepasang mata hwesio tua yang semula tertutup tiba-tiba melotot besar, sinar yang tajam bagaikan pisau menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip.

diatas wajahnya yang tenang dan ramah terlintas napsu membunuh yang amat tebal.

Hal ini menunjukkan bahwa ucapan dari Gak In ing telah menyinggung perasaannya, atau telah menyinggung rahasia hatinya.

Sambil melangkah maju kedepan padri itu beerseru.

"Bolehkah aku mengetahui lebih dahulu, apa maksud Gak sicu ingin melihat lengan kanan ini ?"

"Apakah taysu tidak bersedia ?"

Jawab Gak In Ling dengan sorot mata tajam pula.

"Toh pekerjaan ini terlalu gampang dan bisa dilakukan oleh siapa pun."

"Hmm, engkau menaruh curiga bahwa aku merupakan orang-orang yang harus menerima akibat dari perbuatanku seperti halnya dengan Tiang-kang Sam-kiat sekalian ?"

"Tentu saja aku berharap bahwa engkau bukanlah orang yang kumaksudkan itu ?"

Hwesio tua itu segera tertawa dingin.

"Andaikata aku menampik permintaan dari sicu ?"

"Menampik ?"

Napsu membunuh melintas di atas wajah Gak In Ling, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan melanjutkan-"Ha....

haa Buddha Antik, setelah aku orang she Gak punya keinginan untuk melihat lengan kananmu.

Maka engkau tak akan bisa menampiknya kembali "

Perlahan-lahan ia maju kedepan dan mendekati Buddha Antik tersebut.

Napsu membunuh menyelimuti seluruh angkasa, dengan pandangan tajam Buddha Antik menatap wajah musuhnya 39 tanpa berkedip.

lalu ejeklnya sinis.

"Engkau yakin bisa menunjukkan keinginan mu itu"

Hawa murni secara diam-diam dihimpun ke dalam tubuh dan siap melancarkan serangan, rupanya hwesio tua ini sudah terbakar hatinya oleh napsu membunuh.

"Boleh coba saja "

Jawab Gak In Ling sambil maju kedepan-Tiba-tiba ia membentak keras, dengan jurus kim liong-tam-jiu atau naga emas menunjukkan cakar mencengkeram bahu Buddha Antik, gerakannya cepat mengejutkan, bayangan manusia berkelebat lewat dan tahu-tahu serangannya sudah mengancam tiba.

Buddha Antik tak menyangka kalau Gak In Ling dengan usianya yang masih begitu muda ternyata mempunyai ilmu silat yang luar biasa sekali, hatinya tercekat dan segera mendengus dingin, badannya bergeser setengah depa kesamping, telapak tangan kanan dilancarkan ke muka dari arah samping, dengan jurus Kim-kong-ciang-si atau Malaikat sakti turun kebumi, dihantamnya dada pemuda itu dengan keras.

Angin pukulan menderu-deru bagaikan gulungan ombak di tengah samudra dengan dahsyatnya menghantam datang, tempat yang diancam adalah jalan darah kematian didepan dada Gak In Ling, rupanya padri itu hendak membinasakan lawannya dalam sekali gebrakan.

Menyaksikan serangannya mengenai tempat kosong, Gak In Ling segera menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki Buddha Antik sangat lihay, hatinya amat terperanjat dan kaki kanannya buru-buru menutul tanah untuk putar badan, dengan jurus ci-au-huang-liong atau membolak-balik naga kuning, dia balas menghantam dada Buddha Antik, gerakan tubuhnya tak kalah cepatnya dari serangan lawan danjurus serangan yang digunakan aneh sekali.

Dari serangan yang dilancarkan sianak muda itu untuk menyambut datangnya ancaman dengan keras lawan keras, Buddha Antik tahu bahwa Gak In Ling pasti tak dapat menghindarkan diri lagi dan terpaksa harus berbuat begitu, melihat musuhnya yang baru berusia enam atau tujuh balas tahun padri ini merasa tenaga dalamnya pasti akan jauh lebih sempurna daripada pihak lawan-Napsu membunuh segera memancar keluar dari balik mata hwesio tua itu, hawa pukulan yang dipancarkan keluar dari balik telapaknya segera diperlipat ganda.

Blaaam Empat telapak saling beradu satu sama lainnya menimbulkan suara ledakan yang amat dahsyat, gulungan tanah dan pasir memancar setinggi puluhan tombak dari permukaan tanah, ranting pohon putus daun berguguran, suasana jadi kacau seakan-akan baru saja tertimpa bencana angin topan-Ditengah getaran keras, Buddha Antik secara beruntun mundur empat langkah kcbelakang dengan sempoyongan, darah panas dalam dadanya bergolak keras, sepasang lengannya jadi kaku dan hatinya amat terkejut, pikirnya.

"luar biasa sekali , tidak dinyana dengan usianya yang begitu muda ternyata dia memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna entah bagaimana caranya dia melatih diri hingga mencapai taraf begitu tinggi...."

Tanpa terasa dia angkat kepala dan memandang kearah lawannya, tapi dengan cepat hatinya terasa makin terkesiap.

Tampak pada permukaan tanah dimana Gak In Ling berdiri terteralah sepasang telapak kaki yang membekas dalam diatas tanah, jelas pemuda itu hanya terdorong mundur satu langkah saja ke belakang, dan dari sini pula menunjukkan bahwa tenaga dalamnya jauh lebih sempurna dari padri tua itu.

Gak In Ling tertawa seram, katanya.

"Buddha Antik, aku orang she Gak tidak ingin membunuh orang tanpa dasar alasan yang kuat, seharusnya engkau harus tahu diri."

Buddha Antik tertawa seram, setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, katanya.

"Gak In Ling, aku rasa orang yang takkan lolos dari kematian bukanlah aku melainkan diri mu sendiri."

Dari perubahan wajah Buddha Antik, sianak muda itu segera merasa mendapat suatu ftrasat tetapi diapun merasa firasat itu tidak terlalu jelas, karena dengan ketajaman pendengarannya ia sama sekali tidak mendengar suatu apapun di sekitar sana.

"Buddha Antik, engkau jangan memaksa aku orang she Gak untuk melakukan tindakan sadis...."

Seru pemuda itu, langkahnya tetap tenang dan semakin maju kedepan sementara naps u membunuh kian menebal menyelimuti wajahnya.

Sejak bentrokan yang terjadi belum lama berselang, Buddha Antik lebih menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling jauh di atas kepandaiannya, ia tak berani mandah bila diserang lagi..

Sebelum pemuda itu melancarkan serangan mautnya, ia membentak keras dan melancarkan pukulannya lebih dahulu.

Sekarang ia sudah tahu bahwa pemuda di hadapannya adalah musuh yang tangguh, ia tak berani gegabah, lengan bajunya yang lebar bergetar tiada hentinya mengirim hembusan angin tajam, dalam waktu singkat ia telah melepaskan tujuh pukulan dan tiga tendangan maut.

Terasalah dari empat arah delapan penjuru muncul bayangan telapak dari Buddha Antik, angin serangan sambung-menyambung tiada hentinya membuat orang sukar untuk membedakan mana serangan yang sebenarnya dan mana serangan palsu.

Angin pukulan menderu bagaikan pisau yang membelah batu kurang membuat badan yang terhembus terasa sakit bagaikan disayat, hal ini membuktikan bahwa padri tua ini sudah dibikin terkejut oleh kelihayan musuhnya.

Napsu membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, ditengah dengusan dingin diapun melancarkan serangan untuk menyambut datangnya ancaman itu.

Bayangan hitam berkelebat lewat, tahu-tahu tubuh pemuda itu lenyap dari pandangan, kemudian iapun melancarkan tujuh buah pukulan dan lima kali tendangan untuk menyumbat datangnya semua ancaman dari padri tua tersebut.

Buddha Antik mulai gelisah dan tidak tenang hatinya menyaksikan serangan-serangannya tidak mendatangkan hasil, gerakan jurusnya segera berubah, jurus-jurus ampuh dari ilmu pukulan Kim-kong-ciang meluncur keluar tiada hentinya.

Dalam sekejap mata kedua orang itu sudah saling menyerang sebanyak lima puluh jurus lebih akan tetapi menang atau kalah masih sukar untuk ditentukan-Tiba-tiba dari balik pepohonan disekeliling tempat itu muncullah belasan orang manusia baju merah yang berkerudung kain merah pula, selangkah demi selangkah mereka mendekati gelanggang dimana kedua orang jago lihay itu sedang melangsungkan pertarungan-Dari posisi serta gerakan mereka yang mengepung seluruh gelanggang pertarungan itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa jebakan ini telah dipersiapkan sebelumnya oleh orang-orang itu dengan rencana yang rapi.

Dalam pada itu pertarungan yang sengit antara Gak In Ling melawan Buddha Antik telah mendekati seratus gebrakan, meskipun menang kalah belum bisa ditentukan tetapi dari keganasan jurus serangan yang dipancarkan serta perubahan 43 gerakan yang dilakukan mereka berdua, jelas kelihatan bahwa Buddha Antik sudah terdesak dibawah angin-Sambil melangsungkan pertarungannya yang seru dengan mengirim pukulan-pukulan mematikan, Gak In Ling memperhatikan terus telapak kanan Buddha Antik, tetapi selama ini belum pernah ia saksikan padri tua itu mengeluarkan telapak kanannya dari balik jubah lebarnya.

Dalam waktu singkat tiga puluh jurus kembali telah lewat, diatas wajahnya yang merah mulai dibasahi oleh keringat sebesar kacang kedelai, biji matanya yang jeli mengerling tiada hentinya disekeliling tempat itu.

Sementara itu rombongan manusia berkerudung merah yang mengepung sekeliling gelanggang telah mencapai kurang lebih dua puluh tombak dari tempat berlangsungnya pertarungan itu, namun mereka masih tetap menyembunyikan dirinya di balik pohon dan tak seorang pun yang unjukkan dirinya.

Suatu ketika telinga Gak In Ling yang tajam berhasil menangkap suara langkah mereka yang lirih, hatinya kontan terkesiap.

Dan sekarang diapun sudah tahu apa sebabnya Buddha Antik melirik tiada hentinya sekitar tempat itu, rupanya ia telah menyiapkan orang disitu Agaknya Buddha Antik sudah mendengar pula suara langkah kaki yang lirih tadi, sorot mata tajam segera memancar keluar dari kelopak matanya, mendadak ia membentak keras, dengan jurus Kim-kong-hu-mo atau Malaikat sakti tundukkan iblis, dia punahkan serangan Gak In Ling yang sedang menggunakan jurus ci-te-cian-li atau tanah merah seribu li, kemudian sepasang kakinya menjejak tanah dan meloncat kearah mana berasalnya suara tadi.

Gak In Ling sama sekali tidak melakukan pengejaran, sanbil menarik kembali serangannya dia berpaling kearah hutan dan berseru.

"Kedatangan kalian semuanya, toh bertujuan pada diriku, mengapa setelah sampai disini tidak berani unjukkan diri ?"

Dalam pada itu Buddha Antik telah menghentikan pula gerakan tubuhnya sewaktu menyaksikan Gak In Ling tidak melakukan pengejaran, tindakan pemuda itu jauh diluar dugaannya, hal ini membuat padri tua itu merasa bukan saja ilmu silatnya jauh lebih lihay daripada dirinya, kecerdikan pemuda itupun tidak berada dibawahnya karena itulah keinginannya untuk melenyapkan pemuda tersebut dari muka bumi bertambah semakin tebal.

Perkataan dari Gak In Ling begitu diutarakan keluar, dari dalam hutan segera bermunculan belasan orang manusia berkerudung merah yang dengan cepat mengepung sianak muda itu rapat-rapat.

Dandanan dari manusia-manusia berkerudung merah itu tidak jauh berbeda dengan dandanan dari Pembantai manusia bertangan seribu yang pernah muncul dalam gedung keluarga Gak.

satu hal membuat Gak In Ling tak habis mengerti yakni ia tak habis tahu persengketaan serta permusuhan apakah yang terikat antara dia dengan mereka, sehingga orang-orang itu ada maksud menghabisi jiwanya.

Dengan pandangan yang tajam pemuda itu menyapu sekejap sekeliling tempat itu kemudian menegur.

"Aku dengan saudara sekalian tidak pernah saling kenal dan tidak pernah saling bertemu, ada urusan apa kalian datang mencari diriku ?"

"Melenyapkan engkau untuk menutup bacot anjingmu"

Jawab seorang manusia berkerudung merah dihadapannya sambil tertawa dingin.

"Melenyapkan aku untuk menutup mulutku?"

Ulang pemuda she Gak dengan keheranan, walaupun dalam hati amat mendongkol namun hawa gusarnya dipaksa tetap bertahan didalam dada. Manusia berkerudung merah itu tertawa seram, katanya.

"Hah....hah ... hah akhirnya toh pada malam ini engkau bakal mati, toa-ya tak ada halangannnya untuk memberitahukan kepadamu, peristiwa yang terjadi digedung sebelah depan sana tadi sebenarnya bertujuan untuk mamancing dua harimau saling bertempur, siapa tahu rencana kami telah terlihat olehmu."

"Lalu siapakah kalian?"

Dengan pikiran yang semakin bingung pemuda itu bertanya.

"Tibet....."

Belum sempat orang itu menyelesaikan kata katanya, Buddha Antik yang berada dalam hutan telah memperingatkan dengan suara dingin.

"Sahabat, terlalu banyak yang engkau katakan "

Manusia berkerudung merah itu kaget dan segera menghentikan kata-katanya, sesaat kemudian ia berkata lagi dengan ketus.

"Tentang persoalan yang lain, lebih baik kau tanyakan saja setelah berjumpa dengan raja akhirat nanti "

Pada dasarnya memang Gak In Ling tiada bermaksud untuk mencampuri urusan dunia persilatan, maka ia tidak bertanya lebih jauh, sambil tertawa seram ujarnya.

"Haah.... haah.... haah... apakah kalian punya keyakiaan bisa membinasakan aku orang she Gak ditangan kalian semua ?"

"Hee hee..... hee..... kalau tidak percaya, apa salahnya untuk mencoba sendiri?"

Sambil tertawa dingin manusia berkerudung merah itu segera menerjang kedepan, dengan jurus Ban-li-nui-hong atau pelangi terbang selaksa li, orang itu membentuk gerakan setengah busur di angkasa kemudian laksana kilat membacok 46 batok kepala pemuda musuhnya, gerakan dan jurus serangannya aneh serta jarang ditemui dalam persilatan.

Sekilas memandang, Gak In Ling segera mengetahui bahwa jurus serangan yang dipergunakan orang itu bukanlah berasal dari daratan Tionggoan, hatinya jadi tertegun.

Dalam sekejap mata serangan dahsyat itu telah berada didepan mata, Gak In Ling amat gusar dan segera hardiknya.

"Bangsat!! Rupanya engkau sudah bosan hidup "

Dengan jurus Mo-ya-cian-li atau gurun liar seribu li, laksana kilat dia sambut datangnya ancaman itu.

"Blaaam "

Bayangan merah menyambar lewat, perawakan tubuh orang itu yang tinggi besar segera mencelat sejauh satu tombak lebih termakan oleh gulungan angin puyuh, ketika mencapai tanah buru-buru dia gunakan gerakan ikan lei-hi meletik dan loncat bangun dari tanah.

Sekali lagi Gak In Ling dibikin terperanjat oleh ketangguhan musuhnya, walaupun dalam serangan barusan ia hanya menggunakan tenaga sebesar delapan bagian, namun orang itu bisa bertahan diri sehingga tak sampai terluka, hal ini menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini amat sempurna.

Demikian pula keadaan dari manusia-manusia berkerudung merah itu, ketika mereka saksikan rekannya itu terhantam sampai terpental sejauh itu oleh serangan Gak In Ling, rasa kaget dan tercekat dengan cepat menyelimuti hati mereka semua Diiringi bentakan keras orang-orang itu segera menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, kemudian selangkah demi selangkah maju mendekati sianak muda itu.

Gak In Ling sendiri lama kelamaan jadi mendongkol juga setelah dirinya didesak lawan, dengan nada menyeramkan ia berseru.

"Manusia tiada maksud mencelakai harimau, rupanya sang harimau ada maksud mencelakai orang hmm, kalianjangan salahkan diriku kalau aku bertindak kejam "

Hawa murni yang amat sempurna segera di himpun kedalam telapak tangannya yang putih bersih perlahan-lahan berubah jadi semu merah dan akhirnya jadi merah membara.

Manusia berkerudung merah yang kena di hantam sampai mencelat tadi dendam sekali terhadap musuhnya, melihat pemuda itu sudah bersiap sedia, ia segera membentak keras.

"Kawan-kawan, ayo serbu Mari kita cincang bajingan ini."

Belasan sosok bayangan merah segera menerjang maju kedepan, deruan angin pukulan dengan hebatnya menghajar tubuh anak muda itu.

"Hmm, bajingan yang tak tahu diri, rupanya kalian semuanya sudah bosan hidup "

Terlak Gak In Ling gusar.

Sepasang telapaknya segera diayunkan ke muka silih berganti, cahaya merah yang amat menyilaukan mata segera meluncur keluar keudara dan menyelimuti daerah seluas beberapa puluh tombak disekeliling tempat itu.

"Aah telapak maut ?"

Tiba-tiba Buddha Antik menjerit kaget.

Pada waktu Buddha Antik menjerit kaget, saat itu pula belasan orang berkerudung merah sedang kehilangan jejak dari Gak In Ling, tanpa sadar mereka angkat kepala keatas.

Kontan saja hati mereka amat terkejut dan sukma serasa melayang tinggalkan raga setelah menyaksikan cahaya merah yang amat menyilaukan mata menyelimuti diatas batok kepala mereka pada jarak-yang hanya setengah depa.

"Aaah, telapak maut ?"

Jerit orang-orang itu dengan amat terkejut.

"Telapak maut ?" ---ooo0dw0ooo---Kepanikan timbul diantara para jago berkerudung merah, mereka berusaha untuk melarikan diri dari ancaman maut yang sudah berada didepan mata, tapi sayang sekali usaha mereka ini di lakukan sedikit terlambat. Jeritan ngeri yang mengerikan dan menyayatkan hati bergema membumbung tinggi keangkasa, memecahkan kesunyian yang mencengkam seluruh hutan belantara ditengah malam buta itu dan mendirikan bulu roma siapa pun yang mendengarnya. Kutungan lengan dan kaki berserakan di mana-mana, darah segar berhamburan menodai daerah seluas beberapa tombak disekitar tempat itu, mayat bergelimpangan dimana-mana dan keadaan nampak ngeri sekali. Dari belasan orang manusia berkerudung merah yang melancarkan setangan gabungan, tak se-orang manusia pun yang berhasil meloloskan diri dari ancaman bahaya maut itu. Gak In Ling sendiri dengan senyuman yang sadis tersungging diujung bibir perlahan-lahan melayang turun kembali keatas permukaan tanah, begitu tenang wajahnya membuat orang tak bisa menduga apa yang sedang dipikirkannya. Buddha Antik dengan pikiran termangu-mangu menyaksikan mayat dari anak buahnya bergelimpangan diatas tanah, dalam hati merasa bersyukur karena sewaktu bertarung melawan dirinya pemuda itu tidak sampai mengeluarkan ilmu telapak mautnya, kalau tidak, mungkin dia pada saat ini sudah menggeletak diatas tanah sebagai mayat. Dengan pandangan mata yang tajam Buddha Antik menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip. sementara tubuhnya perlahan-lahan melangkah mundur dengan ketakutan-Tiba-tiba satu ingatan berkelebat didalam benaknya, ia berpikir.

"Apa salahnya kalau kupancing bajingan cilik ini ketempat itu, agar bisa kupinjam kekuatannya untuk melenyapkan bangsat ini dan muka bumi?"

Setelah mempunyai rencana tersebut, dengan cepat tubuhnya meloncat mundur sejauh beberapa puluh tombak dari tempat semula.

Gak In Ling sendiri walaupun di luaran dia nampak tenang, padahal batinya sedang bergolak keras, wataknya yang ramah membuat ia merasa tidak sepantasnya untuk membinasakan semua orang berkerudung merah itu, karena pikirannya tidak tenang maka untuk sementara waktu Budha Antik sudah terlupakan olehnya.

Sementara ituBuddha Antik telah mengundurkan diri sejauh dua puluh tombak lebih, dalam hati kecilnya ia berpikir.

"Dari tempat ini menuju kesitu jaraknya hanya dua puluh li lebih sedikit, sekalipun gerakan tubuh Gak in Ling lebih cepatpun, dalam jarak dua puluh li belum tentu ia bisa melampaui jarak antara diriku dengan dia sejauh dua puluh tombak ini "

Berpikir sampai disini, senyuman licik yang menyeramkan terlintas diatas wajahnya, ia putar badan dan sengaja mendepakkan kakinya keatas tanah, kemudian dengan cepatnya dia melayang menuju kearah timur.

"Ploookk "

Suasa benturan nyaring menyadarkan-lamunan sianak muda itu, dengan cepat Gak In Ling angkat kepala, setelah dilihatnya Buddha Antik telah berada kurang lebih dua puluh tombak jauhnya, ia segera membentak nyaring.

"Bangsat Engkau hendak lari kemana ?"

Dengan cepat pemuda itu enjotkan badan dan mengejar dari arah belakang dengan hebatnya.

Sementara itu bulan telah condong kearah barat, waktu menunjukkan sekitar kentongan keempat.

Dengan kecepatan gerak dari Gak In Ling tidak selang beberapa saat kemudian ia telah mengejar keluar dari hutan belantara itu, dari kejauhan dia lihat Buddha Antik sedang lari terbirit-birit disebelah depan-Sambil mengejar pemuda itu membentak dengan gusar.

"Buddha Antik, kendatipun engkau kabur kelangit barat, aku orang she Gak bersumpah untuk mengejar dirimu sampai dapat."

Hawa murni disalurkan makin hebat, kecepatan gerakanpun makin meningkat, tampaklah sesosok bayangan hitam bagaikan sambaran kilat yang membelah angkasa mengejar padri tua itu.

setanakan nasi kemudian, kedua orang itu sudah berada sejauh lima li dari tempat semula, jarak diantara merekapun dari dua puluh lima tombak menyusut menjadi lima enam belas tombak belaka.

Dengan sekuat tenaga Buddha Antik kabur menuju kesebuah bukit kecil disebelah dalam, sepanjang jalan terdapat banyak tempat yang bisa digunakan olehnya untuk menyembunyikan diri atau kabur dari pengejaran lawan, akan tetapi tempat-tempat itu dilewatkan dengan begitu saja dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa ia memang mempunyai rencana-rencana tertentu.

Sayang sekali pada waktu itu Gak In Ling sedang diliputi oleh kegusaran yang berkobar-kobar, sehingga semua tanda yang mencurigakan itu tidak sampai diperhatikan olehnya.

Dalam waktu singkat dua tiga li telah dilewati kembali, di sebuah puncak bukit tiba-tiba muncul sebuah kuil kuno yang megah dan kokoh Buddha Antik kabur menuju kearah kuil itu.

Jarak diantara mereka berdua kini sudah tinggal kurang dari sepuluh tombak.

Gak In Ling tertawa seram, serunya.

"Buddha Antik, akan kulihat engkau akan kabur kemana ?"

Dari suaranya yang terpancar keluar dari mulut sianak muda itu, Buddha Antik mengetahui bahwa jarak antara dia dengan Gak In Ling sudah tinggal kurang dari sepuluh tombak.

saking ngeri dan takutnya keringat dingin mengucur ke luar membasahi tubuhnya, dia tarik napas panjang-panjang dan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk kabur menuju kedalam kuil.

Kuil kuno yang berada dihadapannya kian lama kian bertambah dekat, sambil tetap melakukan pengejaran Gak In Ling memperhatikan sekejap bangunan kuil yang berada dihadapannya, ia lihat kuil tersebut masih kokoh dan sama sekali tidak nampak terbengkalai, hanya pintu kuil tadi sudah lenyap dari tempat semula.

Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, pikir pemuda itu.

"Jangan-jangan didalam kuil ini Buddha Antik telah menyiapkan jebakan bagiku "

Sementara otaknya masih berputar, jarak lima enam tombak diantara mereka berdua telah berhasil ditarik lebih pendek lagi sehingga dua tombak belaka.

Gak In Ling sangat gelisah, ia membentak keras dan menggunakan jurus Jan-hong-im-siang atau Naik angin pulang kembali, dia babat punggung padri tua itu keras-keras.

Buddha Antik sebagai seorang jago kawakan yang sudah sering menghadapi musuh tangguh, sedari tadi telah menduga bahwa Gak In Ling bakal melancarkan serangan semacam itu ketika mendengar deruan angin tajam menyapu datang dari arah belakang, buru-buru ia enjotkan badan nya sekuat tenaga dan melayang kedepan-Ketika angin pukulan yang dilancarkan si-anak muda itu menyerang datang, bukan saja pukulan itu tidak sampai melukai tubuhnya, bahkan malah menambah kecepatan gerak padri tua itu untuk menerjang masuk kedalam ruang kuil, menunggu pemuda itu berhasil mengejar sampai di depan kuil 52 tersebut ia sudah menerobos masuk keruang tengah.

Gak In Ling mendengus dingin, serunya.

"Sekalipun engkau sudah siapkan selaksa prajurit di tempat ini, aku orang she Gak tak jeri "

Hawa murninya disalurkan kedalam sepasang telapak.

kemudian selangkah demi selangkah berjalan masuk kedalam ruang kuil itu.

Setelah masuk lewat pintu, didalam terbentang sebuah halaman yang sangat luas, tetapi karena tak pernah dirawat dan disapu maka rumput ilalang dan daun yang berguguran memenuhi seluruh permukaan tanah membuat suasana nampak mengenaskan-Tepat didepan halaman luas itu merupakan sebuah ruang tengah yang megah, Gak In Ling memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat dikedua belah sisi ruang tengah itu merupakan sederetan kamar tamu yang pintu dan jendelanya tertutup rapat, sarang laba-laba menyelimuti sekeliling tempat itu, hal ini membuktikan bahwa Buddha Antik tak mungkin bersembunyi di-tempat itu.

Kecuali ruang tengah yang megah, tiada jalan lain menuju keruang dalam.

Tanpa ragu-ragu lagi Gak In Ling meloncat masuk kedepan ruang tengah dan dengan sekuat tenaga mendorong pintu itu.

Kraak Pintu terbuka lebar, ternyata-pintu tidak terkunci dari dalam.

Dengan langkah lebar Gak In Ling menuju keruang tengah, ketika sorot matinya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia tertegun dan berpikir didalam hati.

"Jangan-jangan kuil ini ada penghuninya."

Ruangan itu bersih dan bebas dari debu, pada sisi kedua belah dinding tembok teraturlah dua deret lilin merah yang 53 amat besar dan masih baru, rupanya lilin-lilin itu baru diatur belum lama berselang.

Diatas meja sembahyang tepat ditengah ruangan bersemayamlah sebuah patung Ji-lay-hud yang tingginya dua tombak^ sekeliling patung tadi berderet pula delapan buah patung malaikat bermuka hijau, bertaring dan menyeramkan sekali tampangnya.

Tempat hlo didepan meja sembahyangan telah dilenyapkan, sedang dikedua belah meja disisinya tertancap pula dua buah lilin raksasa berwarna merah yang besarnya bagaikan lengan-Makin memandang Gak In Ling merasa semakin curiga, ia segera memeriksa sekeliling ruang itu, ia lihat setiap sudut pintu yang terdapat di situ berada dalam keadaan terkunci dari luar, kecuali itu tiada jalan keluar lainnya, hal ini semakin mencurigakan hatinya.

"Aaah.. ...jangan-jangan Buddha Antik memang tidak masuk kedalam kuil ini."

Pikirnya di dalam hati.

Dengan pandangan tajam dia awasi langit-langit ruangan tersebut, ia lihat pada dinding di-atas patung raksasaJi-lay-hud terdapat sebuah lubang goa yang luasnya lima depa, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya dan pemuda itu dan bergumam.

"Mungkinkah dari tempat itu ia bisa masuk keruang dalam kuil ini ?"

Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, kaki kanan segera menjejak tanah dan tubuhnya segera meloncat naik kearah lubang goa tersebut.

Baru saja Gak In Ling melayang naik kearah lubang goa tadi, tiba-tiba dari luar kuil berkumandang datang suara dari empat orang dara muda, suaranya jelas dan nyaring dan berasal dari pintu masuk kuil itu.

Gak In Ling segera menyusup masuk kedalam gua itu, tempat itu bersih dan kering tapi tiada pintu lain yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang belakang, hal ini semakin membingungkan hatinya.

suara langkah berkumandang makin dekat, kali ini suara tersebut berasal dari halaman tengah.

Gak In Ling makin gelisah, pikirnya.

"Ditinjau dari suara yang berkumandang tadi, jelas yang datang adalah kaum wanita, sebelum mendapat izin aku telah menerobos masuk keruang sembahyang orang yang telah disiapkan, andaikata sampai diketahui oleh mereka aku tentu akan kikuk dengan sendirinya. tapi akupun tak dapat keluar pada saat ini, apa dayaku sekarang."

Mendadak satu ingatan berkelebat lagi dalam benak pemuda she Gak itu, pikirnya lebih jauh.

"Bukankah Buddha Antik juga sudah masuk kedalam ruangan ini, aku tak bisa keluar berarti diapun tak dapat keluar... tempat ini letaknya sangat tinggi, dari sini justeru aku bisa mengawasi semua gerak-geriknya."

Berpikir sampai disini, ia segera menarik pintu dan mengintip keluar lewat celah-celah yang terbuka.

Kraaak Pintu masuk ruang tengah dibuka orang, disusul masuklah dua orang perempuan berusia setengah baya.

Gak In Ling tertegun, pikirnya.

"Oooh rupanya yang muncul ditempat ini adalah jago-jago persilatan-"

Rupanya pada punggung kedua orang perempuan itu masing-masing tersoren sebilah pedang panjang.

Setelah masuk kedalam ruangan, dengan cekatan sekali dua orang perempuan setengah baya itu memasang api pada lilin raksasa yang tersedia dalam waktu singkat semua lilin 55 sudah dipasang dan diruangan itupunjadi terang benderang bermandikan cahaya.

Setelah menyelesaikan tugasnya, dua orang perempuan setengah baya itu mengundurkan diri kembali dari ruangan dan menanti didepan pintu masuk dengan sikap yang sangat hormat.

Gak In Ling seketika mengerutkan dahinya, ia berpikir.

"Waah jangan-jangan mereka sedang menantikan kedatangan seseorang."

Beberapa saat kemudian dari luar pintu muncul kembali dua orang nenek tua berusia tujuh-puluh tahunan yang rambutnya telah beruban semua dan berwajah serius.

Kedua orang nenek tua itu mengenakan baju berwarna biru laut, pada masing-masing bagian dadanya terukirlah seekor burung hong berwarna putih yang amat besar.

Setelah masuk kedalam ruangan, dua orang nenek tua tadi berjalan menuju kedua belah sisi meja sembahyangan, mereka berdiri disitu dengan sikap yang jangat hormat.

Gak In Ling semakin keheranan, pikirnya lebih jauh.

"Jangan-jangan ditempat ini akan kedatangan seseorang yang kedudukannya jauh lebih tinggi dan penting dari semua orang itu?"

Belum habis pemuda itu berpikir, dari luar pintu muncul kembali delapan orang kakek tua berusia enam puluh tahunan, mereka masuk kedalam ruangan dan masing-masing berdiri dibawah kedua orang nenek tadi.

Kini dalam ruangan telah hadir belasan orang banyaknya, tetapi suasana masih tetap hening, sunyi dan tak kedengaran sedikit suara-pun, suasana diliputi kemisteriusan-Dengan cepat segenap perhatian Gak In Ling tertarik oleh kemisteriusan serta keanehan yang menyelimuti tempat itu, 56 hampir saja ia melupakan diri Buddha Antik.

Tiba-tiba dari halaman tengah berkumandang datang suara seruan yang amat nyaring.

"Pangcu tiba"

Belasan orang yang ada dalam ruangan segera bangkit berdiri dan bersikap dengan hormat.

Bayangan putih berkelebat lewat dari pintu luar, seorang gadis berbaju putih bergaun putih dengan sulaman burung hong merah diatas dadanya masuk kedalam ruangan diikuti empat orang dayang cantik yang bersulamkan burung hong putih diatas dadanya.

Gak In Ling berseru tertahan setelah menyaksikan kemunculan dara cantik itu, pikirnya didalam hati.

"Aaaah sungguh tak nyana dikolong langit terdapat gadis yang begini cantik jelita, jangan-jangan dia adalah salah seorang dari dua gadis aneh dari kolong langit yang dimaksudkan Buddha Antik ?"

Menyukai yang indah adalah watak setiap manusia, meskipun Gak In Ling merasa amat kagum atas kecantikan wajah gadis itu, akan tetapi kekagumannya ini sama sekali tidak didasari pikiran yang sesat, bahkan ia sama sekali tidak berharap bisa berjumpa dengan dirinya, karena dia tidak ingin melibatkan dirinya dalam urusan dunia persilatan-Gadis itu mempunyai potongan wajah bulat telur, alisnya panjang dan melengkung keatas, sepasang biji matanya jeli dan bening, senyuman menghiasi bibirnya yang mungil hingga nampak sebaris giginya yang berwarna putih, begitu cantik dan menarik gadis itu sehingga boleh dikatakan bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan-Perlahan-lahan gadis cantik baju putih itu masuk kedalam ruangan, biji matanya yaag jeli menyapu sekejap kepermukaan tanah kemudian secara tiba-tiba ia mengangkat kepala dan memandang sekejap kearah tempat persembunyiannya Gak In Ling, dengusan dingin segera 57 menggema memecahkan kesunyian, namun ia tetap melanjutkan langkahnya menuju kemeja pemujaan-Dua orang diantara dayang cantik maju ke-depan memasang lilin raksasa yang ada diatas meja pemujaan, sedang dua dayang lainnya mengambil kursi dan permadani dari belakang meja tersebut Setelah ambil tempat duduk.

gadis cantik baju putih itu berkata dengan suara dingin.

"Gusur kemari Telapak-harimau-putih Tam Hong "

Nenek tua yang ada disebelah kanan memberi hormat, lalu dengan suaranya yang melengking dan tajam ia berseru.

"Bawa masuk Telapak-harimau-putih Tam Hong kedalam ruangan "

Dari luar pintu kuil muncul seorang pria baju hitam, dikedua belah sisinya mengikuti dua orang pria baju hijau yang membawa pisau belati.

Setelah masuk kedalam ruangan, pria baju hitam itu dengan pandangan ketakutan melirik sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian jatuhkan diri berlutut dihadapan gadis cantik baju putih itu sambil ujarnya dengan nada gemetar.

"Tecu Telapak-harimau-putih Tam Hong memberi hormat kepada pangcu "

"Hmm, Tam Hong, apa yang hendak kau katakan lagi?"

Tegur gadis baju putih itu sambil mendengus.

"Tecu mengaku salah, harap pangcu suka memberi kesempatan kepada tecu untuk bertobat dan jadi manusia baru..."

"Hmm, engkau sebagai anggaota perkumpulan Thian-hong-pang, tak dapat menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan, babkan berani melanggar pantangan untuk berbuat zinah, jika aku ampuni jiwamu, lalu bagaimanakah tanggung jawabku terhadap semua anggaota perkumpulan ? Bagaimana pula tanggung jawabku terhadap umat persilatan ? coba katakan "

Mendengar ucapan itu Telapak-harimau-putih Tam Hong jadi ketakutan setengah mati sehingga seluruh badannya gemetar keras.

"Pangcu "

Rengeknya.

"Hmm, peraturan perkumpulan Thian-hong-pang tak bisa dirubah lantaran engkau seorang."

Tukas gadis baju putih dengan ketus, setelah berhenti sebentar bentaknya.

"Tongcu bagian hukuman, dimana kau ?"

Nenek tua yang ada disebelah kanan segera tampil kedepan dan memberi hormat.

"Hamba siap menantikan perintah "

Sahutnya.

"Bila ada anggaota berani berbuat zinah, apa hukumannya ?"

Seru gadis baju putih dengan wajah serius.

"Bunuh diri didepan patung pemujaan "

Setelah memberikan jawaban tersebut, dengan gerakan yang terlatih nenek tua itu berpaling kearah dua orang pria yang memegang pisau belati didepan pintu, lalu berseru.

"Siapkan pisau hukuman "

Dua orang pria itu segera mengiakan dan maju kedepan, dua bilah pisau belati tadi ditancapkan didepan Telapak-harimau-putih Tam Hong kemudian setelah memberi hormat kepada ketuanya buru-buru mengundurkan diri dari ruangan-Dengan pandangan ngeri dan ketakutan Tam Hong si Telapak-harimau-putih memandang pisau belati yang berada dihadapannya, kemudian berpaling kearah gadis baju putih dengan perasaan mohon balas kasihan, namun ia hanya bisa memandang dan tak berani bicara lagi.

Menyaksikan tingkah laku orang itu, gadis baju putih segera menegur dengan suara ketus.

"Tam Hong, apa yang kau nantikan lagi?"

Dengan putus asa Telapak-harimau-putih menghela napas panjang, ia cabut pisau belati di hadapannya dengan tangan gemetar, kemudian gumamnya lirih.

"Aiii sekali salah bertindak sepanjang masa merasa menyesal. Tam Hong mohon pamit dari pangcu "

Setelah memberi hormat pada gadis baju putih itu, pisau belati dalam genggamannya segera ditusuk kedalam dadanya sendiri.

craaatt Percikan darah segar berhamburan diatas lantai, tubuh Tam Hong yang berlutut diatas tanah perlahan-lahan membungkuk dan akhirnya terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.

Semua jago yang berada dalam ruangan itu tetap bersikap tenang bahkan air muka mereka sama sekali tak berubah, seakan-akan mereka tidak ada yang menggubris atau tertarik oleh kematian dari Telapak-harimau-putih Tam Hong.

Lain halnya dengan Gak In Ling yang bersembunyi diatas patung pemujaan tersebut, dengan hati kaget, pikirnya.

"Tidak kunyana gadis secantik ini ternyata memiliki hati yang begitu kejam dan sama sekali tak kenal prikemanusiaan-"

Sementara itu gadis baju putih tadi telah menghela napas sedih, katanya.

"Gotong keluar jenasah Tam Hong dan kebumikan secara baik-baik, dari kelompok Thian-hong-pang kita kembali kehilangan seorang anggota."

Tongcu bagian hukuman menerima perintah, ia segera memerintahkan dua orang pria yang membawa pisau belati tadi untuk menggotong pergi jenasah dari Telapak-harimau-putih Tam Hong dari dalam ruangan-Menanti mereka telah berlalu nenek tua yang ada disebelah kiri baru maju kodepan dan berkata.

"Lapor pangcu, menurut penyelidikan dari murid bagian pemeriksa, dewasa ini sudah ada tujuh orang petugas kita yang menemui ajalnya di-tangan anggaota kelompok Yau-ti-lengcu, harap pangcu suka mengambil keputusan untuk melakukan pembalasan-"

Gadis baju putih mendengus dingin.

"IHmm, Yau-ti-lengcu keterlaluan sekali, besok engkau utus orang untuk memberi khabar kepadanya bahwa sepuluh hari kemudian pada malam bulan purnama aku hendak menuntut keadilan darinya, suruh dia datang menemui aku seorang diri"

"seorang diri? Apakah pangcu juga akan pergi seorang diri?"

Gadis baju putih mengangguk.

"Mungkin kehidupanku dengan dirinya dikolong langit menyebabkan dunia persilatan jadi tak aman dan selalu kacau, seandainya kami berdua bersama-sama mati, mungkin dunia persilatan akan menjadi tenang dan tidak akan terjadi pertikaian-pertikaian lagi."

"Pandangan hamba justru merupakan kebalikan dari pendapat pangcu."

Ujar nenek yang ada disebelah kanan-"Dunia persilatan bisa menjadi aman tenteram seperti saat ini, kesemuanya tidak lain adalah berkat perlindungan dan kebijaksanaan dari pangcu, banyak kejadian yang bisa kita jadikan bukti, aku rasa pangcu sendiripun telah mengetahui semuanya."

Tiba-tiba nenek yang ada disebelah kiri mengerling sekejap kearah nenek sebelah kanan, kemudian alihkan pembicaraan ke masalah lain, katanya.

"Persoalan ini menyangkut keutuhan serta keamanan dunia persilatan, tentang masalah itu bisa kita bicarakan lagi dikemudian hari secara seksama dan lebih terperinci persoalan yang memusingkan kepala saat ini hingga mengakibatkan 61 ketidak tenangan dunia persilatan justeru menyangkut diri seorang pemuda yang bernama Gak In Ling, bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk melenyapkan orang ini dari mula bumi."

"Sekarang orang itu berada dimana ?"

Tanya gadis baju putih dengan wajah tertegun setelah mendengar perkataan itu, dari nada ucapannya jelas diapun memandang serius persoalan ini.

Gak ln Ling yang bersembunyi diatas patung pemujaan merasa terkejut, pikirnya.

"Apa sangkut pautnya antara aku orang she Gak dengan kalian? IHmrm...... kalau sampai menjengkelkan hatiku, jangan salahkan kalau perkumpulan Thian-hong pang pun akan kubasmi juga ."

Sementara itu nenek tua yang ada disebelah kiri telah berkata kembali.

"Malam ini baru saja ia membunuh cin-hway Ngo-gi dalam gedung keluarga Gak. menurut pikiran hamba dia belum pergi terlalu jauh, sampai malam nanti kemungkinan besar masih berada disekitar kota cin hway, bagaimana kalau sekarang juga kita pergi mencari dirinya dan melenyapkan orang ini lebih dahulu ?"

"Begitupun boleh juga "jawab gadis baju putih sambil mengangguk.

"Kalau begitu silahkan pangcu pulang dulu kemarkas besar, biarlah hamba serta tongcu bagian hukuman yang melayani dirinya."

"Hmm, kalau begitu kalian berdua harus hati-hati "

Melihat ketuanya hendak berlalu dari situ, nenek yang ada disebelah kanan segera berseru.

"Siapkan kereta untuk pangcu, kita pulang kemarkas "

Tiba-tiba gadis baju putih itu membentak dengan nada dingin.

"Tunggu sebentar "

"Pangcu, masih ada urusan ana lagi ?"

Tanya nenek tua itu dengan wajah tertegun.

Gadis baju putih itu tidak menjawab, perlahan-lahan ia berjalan menuju keruang tengah, kemudian sambil menengadah menatap tempat persembunyiannya sianak muda ia menegur sambil tertawa seram.

"Jago lihay dari manakah yang ada disitu ? Apa salahnya kalau turun kebawah dan bertemu dengan kami ?"

Gak In Ling tertegun, ketika ia menengok kebawah maka terlihatlah semua jago yang berada dalam ruangan telah membentuk posisi setengah lingkaran busur, dan tepat sekali menyumbat jalan keluar lewat pintu ruangan, hatinya tercekat.

Gak In Ling sadar bahwa tempat persembunyiannya sudah ketahuan orang, tapi ia tak tahu bagaimana caranya gadis baju putih itu dapat mengetahui persembunyiannya, sebab sejak munculnya gadis itu dalam ruangan, pemuda Gak merasa tak pernah menimbulkan sedikit Suarapun.

Perlahan-lahan Gak In Ling membuka pintu dan melongok keluar, kebetulan sekali epasang mata gadis baju putih itu sedang menatap keatas tatkala sepasang masa bertemu atu sama lainnya gadis itu merasa jantungnya berdebar keras, meskipun raut wajahnya ama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun, namun dalam hati kecilnya ia berpikir.

"Hmm, betapa tampannya pemuda ini." ---ooo0dw0ooo---Para jago anggaota perkumpulan Thian-hong pang yang berada dalam ruangan itupun seketika merasa pandangan matanya jadi silau, dan hampir bersamaan waktunya mereka berseru didalam hati.

"Sungguh tak nyana dikolong langit terdapat pemuda begini tampan wajahnya."

Dengan sikap yang angkuh Gak In Ling melayang turun keatas tanah, setelah memberi hormat kepada gadis baju putih itu ujarnya hambar.

"Secara tidak sengaja aku telah sampai di-tempat ini karena sedang mengejar seseorang, lagipula aku tak tahu kalau perkumpulan anda hendak mengadakan upacara ditempat ini, jika kedatanganku telah mengganggu ketenangan kalian, harap pangcu suka memberi maaf yang sebesar-besarnya."

Pemuda ini tidak ingin dirinya terlibat dalam masalah dunia persilatan, maka ucapan tersebut diutarakan dengan sikap yang amat hormat.

Siapa tahu gadis baju putih itu segera mendengus dingin, bukannya menjawab, ia malah sebaliknya bertanya.

"Engkau mengenakan pakaian baju hitam, berusia enam-tujuh belas tahunan, aku rasa mungkin engkau adalah Gak In Ling yang bikin ketidak tenangan dalam dunia persilatan belakangan ini, bukankah begitu ?"

Gak In Ling adalah seorang pemuda yang berwatak tinggi hati, melihat kekasaran dara tersebut kontan ia naik pitam, tapi hawa amarahnya masih berusaha ditekan dalam hati, sambil tertawa tawa dia menyahut.

"Sedikit pun tidak salah, aku adalah Gak In Ling"

Para jago dari perkumpulan Thian-hong-pang jadi gempar setelah mengetahui bahwasanya pemuda baju hitam yang berada dihadapaa mereka bukan lain adalah Gak In Ling yang hendak mereka cari dan bunuh, semangat semua orang berkobar dan tanpa terasa maju selangkah kedepan, kepalan siap dilancarkan melancarkan serangan-Menyaksikan keadaan tersebut, untuk kedua kalinya Gak In Ling berusaha untuk menekan hawa amarah yang membakar 64 dalam dadanya, sorot matanya berkilat dan sambil mendengus dingin ia berseru.

"Hmm, selamanya aku orang she Gak tidak pernah mengikat permusuhan atau perselisihan apa pun dengan kalian orang-orang dari Thian-hong-pang, apa sebabnya kalian bersikap demikian bermusuhan terhadap diriku ?"

Gadis baju putih itu tertawa dingin.

"Tiang kang Sam-kiat apakah mati ditanganmu ?"

Tegurnya ketus. Mengungkap tentang tiga jagoan dari sungai Tiang-kang tersebut, napsu membunuh terlintas dalam mata sianak muda itu, ia maju selangkah kedepan dan balik menegur.

"Oooh, apakah Tiang-kang Sam-kiat itu adalah anggaota perkumpulanmu ?"

Suaranya begitu dingin dan menyeramkan bagaikan hembusan angin dingin dari liang kuburan, membuat siapa pun yang mendengar seketika merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Gadis baju putih merasakan jantungnya berdebar keras, buru-buru ia alihkan sorot matanya dari atas wajah pemuda itu kearah lain, perasaan aneh seperti ini baru dialami olehnya pertama kali ini, dia sendiri merasa heran, apa sebabnya dia tak berani menatap wajah lawan terlalu lama ?

Beberapa saat kemudian gadis baju putih itu tertawa dingin dan menjawab.

"Meskipun tiga jagoan dari Sungai Tiang-kang bukan anggaota perkumpulan kami, akan tetapi aku tidak mengijinkan ada orang yang berani mengganggu ketenangan serta kedamaian umat persilatan yang berdiam diwilayah kekuasaanku "

Napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak In Ling perlahan-lahan pudar kembali, ingin sekali pemuda ini 65 memberi penjelasan atas sebab sebabnya dia sampai membunuh orang, tetapi kembali dirasakan bahwa tindakan semacam itu tidak la h terlalu penting.

Sesudah sangsi beberapa waktu, akhirnya ia menatap tajam wajah gadis baju putih itu dan berkata.

"Peristiwa itu berlangsung karena sebab-sebab tertentu, mungkin pada saat ini pangcu masih belum dapat memahami alasanku sehingga membunuh manusia, tapi tidak lama kemudian engkau akan mengetahui dengan sendirinya."

"Berapa lama yang kau maksudkan dengan tidak lama kemudian itu ?"

Seru sang dara tanpa terasa.

"Tidak sampai setahun setengah "

Sambil menjawab Gak In Ling maju kedepan.

"Setahun setengah ?"

Jengek tongcu bagian hukuman sambil tertawa sinis.

"Setahun setengah yang engkau utarakan mungkin tak akan dilewati untuk selamanya, kenapa tidak engkau katakan suatu batas waktu yang tertentu, apakah..."

"Aku toh sudah mengatakan, hanya satu setengah tahun belaka "

Tukas sang pemuda dengan tenang, habis berkata dia lanjutkan kembali langkahnya menuju keluar kuil.

Untuk beberapa saat para jago yang ada dalam ruangan tak dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari sianak muda itu, dengan pandangan tak habis mengerti mereka berpaling kearah gadis baju putih itu, seakan-akan pang cu mereka pasti mengetahui akan hal ini.

Dari balik biji mata gadis baju putih yang jeli segera memancar keluar serentetan cahaya yang aneh, ia membentak nyaring.

"Gak In Ling Berhenti "

Mendengar bentakan ini, Gak In Ling segera berhenti dan menegur.

"Pangcu, ada urusan apa lagi ?"

"Gak In Ling apakah engkau masih ingin pergi dari sini?"

Nada ucapannya penuh mengandung napsu membunuh.

Gak In Ling tetap bersabar diri kendatipun hawa amarah telah bergolak dengan kencangnya didalam dada, ia berbuat demikian bukanlah disebabkan karena ia jeri terhadap musuhnya, tapi tidak ingin menanam bibit bencana lagi dengan orang lain-Mendengar perkataan musuh, dia segera membalikkan tubuhnya dan menjawab dengan nada seram.

"Tentu saja harus pergi, mana engkau mampu untuk menahan diriku sehingga aku tak bisa pergi dari sini ?"

Nenek tua yang ada disisi ketuanya segera menggerakkan bibirnya seperti mau bicara, tapi akhirnya dia batalkan niatnya itu, sorot matanya dialihkan kearah sang dara baju putih dan seakan akan ia sedang bertanya apa yang hendak dilakukan oleh ketuanya.

Dara baju putih itu berpikir sebentar, kemudian buka suara dengan nada dingin.

"Gak In Ling, asal engkau dapat menahan lima jurus seranganku, maka urusan yang terjadipada malam ini akan kusudahi sampai di sini saja"

Habis berkata dengan langkah yang ringan dia maju kedepan mendekati sianak muda itu. Gak In Ling kontan mengerutkan keningnya, dengan suara dingin ia berseru.

"Andaikata pangcu mampu menahan diri sebanyak lima jurus dihadapanku tanpa kalah aku orang she Gak pun bersedia bunuh diri didalam kuil bobrok ini "

Suaranya amat sombong dan beberapa kali lipat lebih angkuh daripada gadis baju putih.

Anak murid perkumpulan Thian-hong-pang heboh mendengar sesumbar sianak muda itu, mereka tahu sampai dimanakah kelihayan yang dimiliki ketua mereka, dengan 67 perasaan tak senang hati dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian-Tongcu bagian hukuman dengan cepat loncat maju ketengah gelanggang, setelah memberi hormat kepada dara baju putih itu, ujarnya.

"Untuk menghadapi manusia takbur macam dia, apa perlunya pangcu mesti buang tenaga sendiri ? Biarlah tugas ini serahkan saja kepada hamba untuk menyelesaikannya, pasti akan kuberi pelajaran yang setimpal kepada dirinya."

Tanpa menanti jawaban dari dara baju putih tadi, ia segera putar badan dan berkata kepada sianak muda itu dengan nada menghina.

"Gak In Ling, asal engkau mampu bertahan sebanyak lima jurus dari serangan aku Thiat-binpopo nenek-bermuka-besi Lau In Hong, maka persoalan yang terjadi pada malam ini akan kusudahi sampai disini saja "

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling setelah mendengar nama itu, tanpa sadar ia bertanya.

"Oooh jadi engkau adalah Thiat-bin-popo yang pernah menantang berduel tiga bandit besar dunia persilatan digunung Kun-san tempo hari."

Nenek bermuka besi Lau In Hong tertawa dingin.

"Hee hee hee ada apa ? Kau jeri ?"

Ejeknya.

"Haahaa haa siapa bilang akujeri ? Aku hanya merasa sayang untuk membunuh manusia macam dirimu "

Perkataannya datar dan tenang sekali, membuat siapapun merasa bahwa pemuda itu bukan lagi beromong besar.

Nenek-berwajah-besi Lau in Hong segera merasa gengsinya tersinggung oleh ucapan itu, terutama sekali berada dihadapan para anggaota perkumpulan lainnya, dengan muka 68 penuh kegusaran sehingga rambut putihnya pada bangkit berdiri-teriaknya.

"Bangsat Engkau harus diberi pelajaran yang setimpal, roboh kau"

Dengan jurus To-Iang tau-sah atau menangkap-ombak-mendulang-pasir, ia terjang tubuh sianak muda itu.

Tampaklah tubuh Nenek-berwajah-besi Lau In Hong dengan gerakan tubuh bagaikan sambaran petir menyusup maju kemuka, angin pukulan yang menderu-deru bagaikan gulungan ombak samudra dengan dahsyat dan tajamnya menerjang ketubuh musuh.

Arah yang dituju adalah seluruh jalan darah kematian ditubuh pemuda itu, rupanya nenek tua tersebut ada maksud membinasakan pemuda musuhnya hanya didalam satu jurus saja.

Tatkala menyaksikan datangnya ancaman yang begitu lihay dari musuhnya, mula-mula Gak In Ling merasa kaget, diikuti hawa amarahnya berkobar didalam dada, ia mendengus dingin, dengan gerakan Llok-te-heng-tan atau menjalankan-sampan-diatas-daratan, kaki kanannya menutul permukaan tanah lalu meluncur kesamping kiri, sementara telapak kanannya dengan disertai angin pukulan yang kuat membacok kedepan dan menyambut datangnya ancaman dari Nenek-berwajah besi dengan keras lawan keras.

"Blaaam "

Benturan keras menimbulkan ledakan yang menggetarkan diangkasa, angin pukulan yang dilancarkan Lau In Hong dengan manis berhasil dipunahkan oleh sianak muda itu, hal tersebut mengakibatkan sang nenek jadi amat terperanjat.

Buru-buru ia berganti langkah dan putar badan seperti kilat, dalam waktu singkat ia lancarkan kembali tiga buah serangan berantai dengan gerakan-gerakan yang mendebarkan hati.

Dara baju putih yang mengikuti jalannya pertarungan ini dari sisi kalangan, diam-diam merasa terperajat, pikirnya.

"Sungguh tak nyana ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling berhasil mencapai puncak yang tak terhingga, mungkin pada malam ini Lau-tong cu akan menderita kekalahan ditangan orang ini"

Berpikir sampai disini, tanpa terasa muncul lah perasaan tak tenang dalam hati kecilnya.

Kiranya sekalipun Nenek-berwajah-besi Lau In Hong menggunakan gerakan yang sangat cepat melancarkan tiga buah serangan balasan, akan tetapi sayang sekali semua serangannya mencapai tempat kosong, sedangkan pemuda she Gak sama sekali tidak melancarkan serangan balasan-Setelah ketiga jurus serangan tadi lewat, jurus keempatpun dengan cepat dilewatkan pula oleh Nenek-berwajah-besi, bila jurus kelima lewat pula berarti pertarungan ini akan berakhir, tetapi menang kalah diantara kedua orang itu masih belum juga kelihatan-Dengan perasaan penuh ketegangan semua jago dari perkumpulan Thian-hong-pang alihkan perhatiannya ke tengah lapangan, mereka semua merasa kuatir untuk keberhasilan Nenek-berwajah-besi itu untuk menyelesaikan pertarungan tersebut.

Pada saat itulah, tiba-tiba Gak In Ling membentak nyaring.

"Roboh kamu "

Baru saja jurus keempat yang dilancarkan Nenek-berwajah-besi Lau in Hong mencapai pada akhirnya, tiba-tiba Gak In Ling loncat ketengah udara, sepasang telapak diayun berbareng dan serentetan cahaya merah darah menyelubungi seluruh tubuh nenek tua itu.

"Aaah Telapak maut "

Jerit dara baju putih dengan hati terkesiap.

Rupanya Nenek berwajah besi Lau in Hong juga telah merasakan bahwa maut telah mengancam didepan mata, 70 menyaksikan gumpalan cahaya merah yang sedang meluncur kearahnya, ia menjerit tertahan, serunya.

"Aduh Mati aku "

Sepasang matanya segera dipejamkan rapat-rapat, tapi satu keinginan untuk tetap hidup sempat berkelebat dalam benaknya, dengan mengempos segala kekuatan yang dimilikinya ia kirim satu pukulan yang maha dahsyat kearah depan-Reaksi yang muncul disaat bahaya ini boleh dikata menggelikan sekali, karena nenek tua itu sama sekali tidak melihat dimanakah musuhnya berada pada waktu itu.

Tampaknya serangan maut Gak In Ling sudah hampir mengenai sasarannya, sedang jiwa Nenek-berwajah-besi Lau In Hong pun berada diujung tanduk^ tiba-tiba pemuda itupun tertawa nyaring dan melayang mundur kebelakang, dimana kebetulan sekali ia melayang turun dibawah kaki patung Ji-lay-hud yang bersila, dari tindakannya itu bisa diketahui bahwa sianak muda itu sama sekali tidak berniat untuk mencabut nyawa nenek tersebut.

Diam-diam dara baju putih itu menghembuskan napas lega, dengan sorot mata berterima kasih ia alihkan pandangannya kearah Gak In Ling yang berada dibawah kaki patung pemujaan tersebut.

Mendadak.

pemuda itu mendengus berat, bayangan hitam berkelebat lewat dan Gak In Ling roboh terjungkal dari atas patung arca, darah kental mengucur keluar dari mulutnya....

Dara baju putih serta nenek tua yang berada disampingnya segera melompat maju kedepan ketika menyaksikan kejadian yang tak disangka itu, perasaan tak tenang terlintas diatas wajah mereka.

Dalam pada itu para anggaota perkumpulan Thian-hong-pang yang berada disekitar ruangan telah bersorak-sorak dengan gegap-gempita.

"Horeee Tongcu menang horeee Tongcu menang..."

Nenek-bermuka-besi Lau in Hong tertegun, ia membuka mata dan berpaling kesekeliling tempat itu, tetapi setelah ia mengetahui apa yang telah terjadi, saking kagetnya tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan keluar.

Dia adalah orang yang mengalami kejadian itu, tentu saja keadaan yang sebenarnya dialah yang paling paham, tanpa terasa nenek tua itu berpaling kearah ketuanya, sebab hanya dara baju putih itu yang mampu menolong dirinya untuk memecahkan teka-teki tersebut.

Tapi, ketika sorot matanya terbentur dengan wajah ketuanya yang diliputi pula oleh perasaan tercengang, ia makin melongo lagi.

Dalam pada itu dengan susah-payah Gak In Ling telah merangkak bangun dari atas tanah, mukanya yang tampan kini telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, namun dari balik sorot matanya sama sekali tidak terpancar rasa benci atau dendam.

Dengan pandangan yang hambar ia menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, kemudian menyeka noda darah dari ujung bibirnya, setelah itu kepada Nenek-berwajah-besi Lau In Hong, katanya.

"Engkau menang, silahkan kalian berlalu dari sini "

Dari kerumunan para jago tiba-tiba muncul seorang pria berusia pertengahan, dengan suara dingin ia menegur.

"Hay, Gak In Ling Apa yang engkau katakan sebelum pertarungan ini berlangsung ?"

"Hmm, slapa suruh engkau banyak mulut ?"

Bentak Nenek-berwajah-besi Lau In Hong dengan gusar, kemudian sambil berpaling kearah Gak ln Ling ujarnya kembali.

"Gak In Ling, nama baik adalah jiwa kedua dari setiap manusia, apakah engkau tidak merasa terlalu rugi dengan 72 tindakanmu seperti ini?"

Suaranya lirih mengandung keibaan. Gak In Ling tertawa sedih dan menggeleng.

"Bagi Tongcu mungkin apa yang engkau katakan memang benar, tetapi bagi aku orang she-Gak "

Ia geleng kepala dan tutup mulut, sesaat kemudian ia baru menambahkan.

"Kalian boleh pergi dari sini."

Dara baju putih itu tiba-tiba maju kedepan dan menghampiri sianak muda itu, entah sejak kapan dalam tangannya telah bertambah dengan sebutir pil berwarna merah, sambil angsurkan obat itu kedepan, katanya.

"Telanlah obat. ini Maka lukamu akan sembuh dengan sendirinya "

Meskipun nada ucapannya mengandung nada memerintah, tapi terpancar pula perasaan kuatir dan perhatiannya.

Dengan pandangan hambar Gak In Ling menyapu sekejap kearahnya, ia lihat keketusan serta keangkuhan yang semula menyelimuti wajah dara cantik itu kini telah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya penyesalan dan keibaan terlintas diatas wajahnya, apa gerangan yang membuat ia jadi murung ?

Dengan cepat Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah lain, jawabnya dengan dingin.

"Gak In Ling tidak bersedia menerima budi kebaikan ini, kalau memang pangcu masih ada urusan ditempat ini baiklah, aku orang she Gak akan berangkat lebih dahulur Habis berkata ia lewat disisi dara cantik baju putih itu dan berjalan keluar dari ruang kuil.

Dengan perasaan tersinggung air muka dara baju putih itu berubah hebat, ia putar badan dan membentak.

"Gak In Ling, dalam persilatan belum pernah ada orang yang berani menampik pemberianku jika engkau tidak takut mati, silahkan berlalu dari ruangan ini "

Melihat ketuanya sudah naik pitam, para anak murid perkumpulan Thian-hong-pang pun segera menghimpun tenaga bersiap-siap dan menghadang jalan pergi sianak muda itu.

Gak In Ling menghentikan langkahnya, sambil putar badan dan berseru.

"Aku orang she Gak toh tidak pernah menghalangi dirimu untuk turun tangan-..kalau ingin bertarung silahkan "

Selesai berkata ia melirik sekejap kearah patung Ji lay-hud itu dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh, kemudian putar badan dan berlalu dari ruangan itu dengan langkah lebar.

Para jago yang menghalangi jalan pergi pemuda itu tanpa sadar mundur kesamping ketika Gak In Ling lewat dihadapan mereka, tak seorang pun yang berani turun tangan menghadang jalan perginya .

Dara baju putih itu mengerutkan dahinya, tiba-tiba ia maju kedepan siap menyasul pemuda itu, namun Nenek-berwajah-besi Lau In Hong yang berada disisinya telah berkata dengan sedih.

"Pangcu, bunuhlah dahulu hamba " ---ooo0dw0ooo--

Jilid 3 MELIHAT nenek tua itu berkata dengan air mata mengembeng dalam kelepak matanya dara cantik baju putih itu menghela napas panjang, katanya kemudian dengan lemas.

"Hal ini tak dapat disalahkan dirimu, dengan jurus "Hiat-yu-seng-hong"

Atau hujan darah angin amis itu kendatipun hanya satu jurus.. Aiii Mari kita pergi saja dari sini "

Sementara itu 74 bayangan punggung Gak in Ling telah lenyap dari pandangan mata.

Bagi anak murid perkumpulan Thian-hong-pang, kecuali beberapa orang yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, sebagian masih bingung dan tak habis mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, namun mereka tak heran bertanya, melihat ketuanya sudah berlalu mereka pun ikut berlalu pula dari sana.

Setelah keluar dari kuil, dara cantik baju putih itu menyapu sekejap sekeliling tempat itu, melihat suasana sepi-senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun dia menghela napas panjang, setelah masuk kedalam sebuah kereta yang indah berangkatlah rombongan itu meninggalkan kuil.

Fajar menyingsing dari ufuk sebelah timur, kicauan burung berkumandang memecahkan kesunyian dipagi hari itu, malam telah lewat dan sinar matahari pun memancarkan sinar keemas-emasannya ke seluruh jagad.

Lilin raksasa yang berada dalam kuil telah terbakar sampai bagian yang terakhir, lama kelamaan padam dan sirap dari kegelapan-.......

ruang kuilpun pulih kembali dalam kesunyian-Pada saat itulah dari atas atap ruangan itu melayang turun dua sosok bayangan manusia, mereka adalah dua orang kakek bersulamkan burung hong warna biru pada dadanya, setelah mencapai permukaan dengan tajam mereka menyapu sekeliling isi ruangan kuil kemudian baru berlalu dari sana.

Inilah peraturan dari perkumpulan Thian-hong-pang sebelum lilin tersulut sampai padam orang-orang mereka tidak akan meninggalkan tempat pertemuan itu.

Tidak lama setelah kedua orang kakek itu lenyap dari pandangan dari dalam ruang kuil tiba-tiba muncul kembali seorang manusia aneh berjubah padri dan berkerudung merah, dengan cepat orang itupun menyapu sekejap sekeliling 75 tempat itu, lalu melayang keluar dari ruangan dan berangkat kearah kanan bangunan kuil itu.

Baru saja bayangan tubuh manusia aneh berkerudung merah itu lenyap di balik tembok pekarangan, dari tembok sebelah kiri melayang kembali seorang gadis baju putih bersulamkan burung hong warna merah pada dadanya yang berwajah amat cantik.

Ia memandang sekejap kearah mana manusia aneh berkerudung merah tadi melenyapkan diri, kemudian mendengus dingin dan meloncat masuk kedalam ruang kuil dengan gerakan amat cepat.

Setelah menyapu sekejap seluruh ruangan, sinar matanya yang jeli mendadak ditujukan ke-arah patung arca Ji-lay-hud, gumamnya.

"Apakah dia tidak kembali lagi kesini ?"

Setelah berhenti sebentar, ia bergumam kembali.

"Hmm, kalau tahu dia takkan kembali lagi kesini, tidak seharusnya kulepaskan dirinya dengan begitu saja "

Tiba-tiba sambil mendengus dingin ia lancarkan satu pukulan kearah depan-Blaaam Dengan telak angin pukulan itu bersarang dalam perut patung Ji-lay-hud yang gendut sehingga mengakibatkan munculnya sebuah lubang yang besar, dibalik patung ternyata merupakan sebuah ruang yang kosong melompong.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, napsu membunuh melintas dalam pandangannya, kembali dara itu bergumam.

"Jangan-jangan orang yang baru saja kabur itulah biang-keladinya aduh celaka...."

Dengan cepat dia enjotkan badan dan mengejar kearah mana bayangan tubuh manusia aneh berkerudung merah tadi melenyapkan diri.

Dalam pada itu setelah Gak In Ling keluar dari kuil bobrok ia merasakan darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, pemuda itu sadar bahwa luka dalam yang dideritanya pada saat ini pasti merupakan hasil karya dari seseorang yang bersembunyi didalam patung pemujaan tersebut.

Dengan hati mendongkol bercampur dendam segera gumamnya.

"Buddha Antik. Buddha Antik tidak seharusnya kulepaskan dirimu dengan begitu saja."

Dengan langkah yang gontai ia berjalan menuju kedalam hutan sebelah kanan ruang kuil itu.

Sebenarnya bisa saja bagi pemuda itu untuk membongkar rahasia yang sebenarnya terjadi ketika ia masih berada dalam ruang kuil itu, tetapi ia tak ingin meminjam kekuatan orang lain untuk menyelesaikan persoalan pribadinya, lagipula dia pun tahu bahwa Nenek-bermuka-besi Lau In Hong adalah seorang jagoan dari kalangan lurus, setelah pendekar wanita itu berusia lanjut, ia tidak ingin merusak nama baiknya di hadapan orang banyak, maka secara sukarela ia berlalu dari kuil tadi.

Setelah masuk kedalam hutan, Gak In Ling mencari sebuah pohon besar dan duduk bersila disana untuk mengatur pernapasan serta berusaha untuk menyembuhkan luka yang dideritanya.

Ketika burung berkicau menandakan fajar telah menyingsing, Gak In Ling sudah berada dalam keadaan tenang serta lupa terhadap segala-galanya, tindakan seperti ini merupakan tindakan yang sangat gegabah, bagi Gak In Ling tentu saja dia mengetahui akan resikonya, tapi keadaan serta waktu tidak mengijinkan dirinya untuk memikirkan persoalan itu lebih jauh.

Tiba-tiba dari jarak dua puluh tombak dibelakang tubuh Gak In Ling yang sedang bersemadhi, mendadak muncul seorang manusia aneh berkerudung merah, dengan sorut mata yang tajam dia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, tatkala menemukan sang pemuda yang sedang bersemadhi dibawah pohon, napsu membunuh yang menggidikkan hati seketika menyelimuti seluruh wajahnya.

Sambil tertawa dingin, manusia aneh berkerudung merah itu bergumam seorang diri.

"Gak In Ling... Gak In Ling siapa suruh nasibmu sejelek ini.. rupanya engkau memang ditakdirkan untuk mati ditanganku "

Sambil berkata perlahan-lahan dia melepaskan kain kerudung merah yang menutupi wajahnya, siapakah dia ?

Ternyata bukan lain adalah Buddha Antik, padri keji yang bermuka saleh.

Dengan cepat Buddha Antik menyimpan kain kerudung merahnya kedalam saku, kemudian selangkah demi selangkah mendekati Gak In Ling sambil melangkah maju hawa murninya dihimpun kedalam telapak dan siap melancarkan sebuah pukulan yang mematikan-Keselamatan Gak In Ling pun sedetik demi sedetik ikut lenyap mengikuti semakin dekatnya padri tua itu, kini Buddha Antik telah berada pada jarak satu tombak dari hadapan tubuhnya, andaikata serangan itu dilepaskan niscaya pemuda she Gak itu takkan lolos dari kematian-Akan tetapi ia tidak segera melancarkan serangan mautnya, sebab dalam pemikirannya asal telapak itu diayun ke bawah maka musuhnya ini akan menemui ajalnya, maka ia memberi waktu yang cukup bagi pemuda itu untuk hidup beberapa menit lagi.

Senyuman yang menyeringai seram menghiasi raut wajahnya yang saleh, penampilan yang sangat tidak sesuai dengan raut wajahnya ini membuat siapapun yang kebetulan 78 melihat tentu akan meninggaikan satu tanda tanya yang besar.

Kian lama kian mendekat pada saat itu wajah Gak Ia Ling yang pucat-pias sudah mulai bsrsemu merah, hal ini menunjukkan bahwa luka dalamnya sudah mulai sembuh kembali.

Tentu saja pemuda itu mimpipun tak pernah mengira kalau Malaikat Elmaut semakin lama semakin mendekati pula dirinya^ Kini Buddha Antik sudah berada kurang lebih lima depa dihadapan sianak muda itu, hawa murninya telah dihimpun semua kedalam telapak sambil menyeringai penuh kekejian, pikirnya.

"Bangsat cilik, tidak sepantasnya engkau datangkan banyak kesulitan bagi aku Buddha Antik dan tidak seharusnya engkau memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna hee hee...sekarang, janganlah salahkan kalau terpaksa aku harus bertindak keji terhadap dirimu "

Sambil berpikir, sepasang telapaknya perlahan-lahan didorong kearah dada sianak muda itu.

Nampaknya jago muda itu sebentar lagi akan menemui ajalnya ditangan padri keji yang berwajah saleh ini, pada saat yang kritis dan sangat berbahaya itulah mendadak bayangan putih berkelebat lewat.

Tiba tiba disisi tubuh Gak In Ling melayang turun seorang gadis cantik baju putih yang punya sulaman burung hong merah di atas dadanya, begitu enteng dan cepatnya gerakan orang itu sehingga sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun.

Menyaksikan kehadiran gadis cantik itu, Buddha Antik terkesia,^ pikirnya.

"Aduh, celaka........ kembali ia menggagalkan usahaku untuk melenyapkan bangsat ini "

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, serangan yang semula ditujukan kearah Gak In Ling itu 79 dengan cepat dialihkan kearah dada gadis baju putih itu, kemudian sambil berpura-pura kaget ia berseru.

"Omitohud Rupanya pangcu dari perkumpulan Thian-hong-pang. oh, hampir saja aku salah membunuh orang."

Licik sekali orang ini dan pandai benar ia menguasai gelagat, sekalipun dalam hati ia amat terkejut namun wajahnya masih tetap tenang-tenang saja seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun.

Dengan pandangan tajam ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang memandang sekejap kearah padri tua itu, kemudian sambil memberi hormat katanya.

"Oooh, rupanya taysu, apakah taysu sengaja berada disini untuk melindungi keselamatannya ?"

"Entah siapakah orang ini ?"

Jawab Buddha Antik dengan suara yang lirih.

"Kebetulan saja aku lewat ditempat ini, karena aku takut ia diganggu atau dianiaya oleh binatang buas, maka sengaja aku berdiri disini untuk melindungi keselamatannya."

"Oooh, betapa saleh dan welas kasihnya padri agung ini "

Puji gadis itu didalam hati.

Haruslah diketahui bahwa ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang ini bukanlah seorang jago yang gampang ditipu, tetapi karena Buddha Antik sudah tersohor karena kesalehannya dikolong langit, maka dia pun tak menduga kalau padri tua itu sebenarnya adalah seorang manusia yang licik sekali.

Kembali Thian-hong pangcu melirik sekejap kearah Gak In Ling, lalu berkata kembali.

"orang ini bukan lain adalah Gak In Ling yang bikin meluruh dunia persilatan jadi tidak tenang."

Satu ingatan berkelebat dalam benak Budha Antik, sambil berpura-pura tak paham sengaja ia bertanya.

"Watak setiap manusia sebenarnya adalah saleh, aku pikir asal engkau suka menasehati dirinya maka ia tentu akan bersedia untuk merubah watak-watak jeleknya itu "

Seraya berkata ia menatap wajah gadis itu dengan tajam.

"Aku rasa hal ini tak mungkin bisa dilakukan-"

Sahut sang dara sambil menggeleng. Betapa girangnya Buddha Antik mendengar jawaban itu, tiba-tiba ujarnya kembali.

"ooh.... ya, aku masih ada sedikit urusan yang harus segera diselesaikan dikota cin-hway, tolong li sicu suka berjaga sebentar disini, sekalian aku harap agar li sicu suka menasehati dirinya agar suka bertobat dari dosanya serta banyak melakukan kebajikan-"

Habis berkata ia melirik sekejap kearah Gak In Ling dan berpikir didalam hati.

"Gak In Ling, sekarang engkau harus berjumpa dengan pangcu dari perkumpulan Thian-hong-pang yang paling benci terhadap segala kejahatan, h mm.. sekalipun aku tidak turun tangan, engkaupun jangan harap bisa lolos dari tangannya dalam keadaan hidup."

Berpikir sampai disini buru-buru ia putar badan dan kabur dari sana.

Memandang bayangan punggung Buddha Antik yang lenyap dari pandangan, ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang ini bergumam seorang diri.

"Meskipun padri saleh itu mempunyai hati yang bajik bagaikan Pousat, sayang sekali orang yang dituju olehnya bukanlah seseorang yang bisa dirubah watak-watak jeleknya."

Dengan sorot mata penuh napsu membunuh ia berjalan maju kedepan dan mendekati sianak muda itu.

Raut wajah Gak In Ling yang tampan berkerut kencang penuh penderitaan, mungkin gumam dari Thian-hong pangcu 81 telah menusuk perasaan halusnya sehingga membuat dia merasa sakit hati.

Tiba-tiba Thian-hong pangcu alihkan sinar matanya kearah wajah sianak muda itu, hatinya bergetar keras dan tanpa terasa naps u membunuh yang telah berkobar dalam hatinya lenyap tidak berbekas, dengan suara dingin ia berkata.

"Gak In Ling, jika engkau mempunyai keberanian maka sembuhkan lebih dahulu luka dalam yang engkau derita itu, kemudian baru langsungkan pertarungan melawan diriku."

Gak In Ling tarik napas panjang, ia paksakan diri untuk menahan emosi yang berkobar dalam dadanya, kemudian membuyarkan hawa murni yang berkumpul dipusar dan membuka matanya.

"Aku orang she Gak mengucapkan banyak terima kasih atas budi kebaikan nona yang tidak membinasakan diriku,"

Sahutnya.

"kalau ingin ber duel untuk menentukan siapa menang siapa kalah seka rang jugakita boleh langsungkan pertarungan tersebut."

Sambil berkata ia loncat bangun, namun air mukanya masih pucat-pias bagaikan mayat, jelas luka dalam yang dideritanya sama sekali belum sembuh.

"Hm, luka dalam yang kau derita toh belum sembuh, lebih baik sembuhkan dulu baru kita bertarung."

"Haahaa haa "

Gak In Ling tertawa seram.

"Pangcu menyembuhkan luka dalamku atau tidak itu toh urusan pribadiku, apakah engkau tidak merasa bahwa urusan yang kau campuri sudah terlalu banyak ?"

Ucapannya sombong dan jumawa sekali, seakan-akan pemuda itu hendak melampiaskan semua kekesalannya yang menumpuk dalam dadanya selama beberapa hari belakangan ini.

Gadis cantik baju putih merupakan ketua perkumpulan Thian-hong-pang yang disegani dan dihormati oleh setiap 82 umat persilatan yang ada di-kolong langit, belum pernah ada orang yang berani bersikap sombong dan jumawa seperti ini.

Mendengar ucapan tersebut tentu saja ia jadi naik pitam, dengan mata melotot penuh kegusaran bentaknya nyaring.

"Hmm, engkau anggap aku jeri terhadapmu"

Sambil tersenyum telapaknya disiapkan dan segera diayun kedepan.

Pada saat itulah dari atas pohon besar dimana Gak In Ling bersandar tadi berkumandang suara yang amat gemuruh, disusul suara seseorang yang kasar dan keras bergema memecahkan kesunyiannya.

"Hey Hey Kalian jangan bergebrak lebih dulu "

Seorang pria kekar yang berbadan setengah telanjang dengan mencekal sebuah toya besi yang besar telah berdiri ditengah kalangan, pada tubuhnya yang setengah telanjang itu terlihatlah sembilan buah tato yang melukiskan sembilan ekor naga berwarna merah.

Baik Gak ln Ling maupun gadis baju putih itu sama-sama merasa terperanjat, pikir mereka hampir berbareng.

"Dengan kepandaian silat yang kumiliki, kenapa tak kuketahui kehadiran orang ini ?"

Berpikir sampai disini mereka segera alihkan kembali sorot matanya kearah pria kekar itu.

Tampak olehnya orang itu berusia dua puluh lima-enam tahunan, alisnya tebal matanya besar, hidungnya besar mulutnya lebar, cambang yang kaku memenuhi separuh bagian wajahnya, jika ditinjau dari suara langkahnya ketika melayang turun keatas tanah, jelas menunjukkan bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tidak terlalu lihay.

Setelah mencapai diatas tanah, pria kekar itu menyapu sekejap kearah Gak In Ling, kemudian teriaknya dengan keras.

"Kamu benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri, menolong anjing malah digigit"

"Hmm, andaikata nona itu tidak datang tepat pada waktunya, mungkin engkau telah modar ditangan kepala gundul itu,"

Setelah menelan ludah ia meneruskan.

"Huh Untung pada waktu itu aku tidak menolong dirimu, kalau tidak maka keadaanku pasti akan seperti nona ini, bukan mendapat pujian malahan dicaci-maki."

Thian-hong pangcu segera merasakan hatinya agak bergerak setelah mendengar perkataan itu, dengan hati curiga pikirnya.

"Jangan-jangan ketika aku tiba disini Budha Antik memang sedang bersiap-sedia untuk membinasakan dirinya, tapi hal ini tak mungkin terjadi. Bukankah Buddha Antik dikenal sebagai padri yang saleh dalam dunia persilatan? Masa dia..."

Berpikir sampai disini dia segera angkat kepala memandang sekejap kearah pria kekar itu, kemudian berpikir lebih jauh.

"Potongan orang ini seperti orang kasar yang jujur, sepantasnya kalau perkataannya dapat dipercaya, akan tetapi...."

Untuk beberapa saat lamanya, gadis yang terkenal karena kecerdasan serta ketelitiannya inijadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan-Sementara itu Gak In Ling telah menegur dengan suara dingin.

"Siapa yang suruh engkau menolong diriku."

Pria bertato sembilan naga itu melototkan matanya bulat-bulat, sahutnya dengan jengkel.

"Kalau engkau tidak membutuhkan bantuan ku, kenapa tidak kau katakan sedari tadi ? Pada waktu itu hampir saja aku meloncat turun dari atas pohon."

Gak In Ling adalah seorang pemuda yang cerdik, setelah mendengar ucapan pria kekar itu diapun segera mengetahui bahwa dia adalah seorang kasar yang masih polos dan bicaranya spontan, hawa gusar yang semula menyelimuti dadanya seketika lenyap tak berbekas.

"Untung kau tidak sampai menolong diriku"

Ujarnya kemudian dengan suara hambar.

"Kenapa?"

Tanya pria bertato sembilan naga sambil mengerdipkan matanya tanda kebingungan-"Apakah engkau bukan orang baik-baik ?"

Orang ini memang rada tolol, masa dikolong langit benar-benar terdapat orang jahat yang mengaku dirinya jahat ? "Siapa tahu aku memang jahat"

Sahut Gak In Ling sambil tertawa hambar.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Thian-hong pangcu, ia merasa seolah-olah dirinya telah berhasil memahami sesuatu, ia segera menengadah dan memperhatikan pria polos itu.

"Siapa engkau ? Ada urusan apa datang kemari ?"

Rupanya pria kekar itu mempunyai kesan yang sangat baik terhadap ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang ini, mendengar pertanyaan tersebut tanpa berpikir panjang lagi segera ia menjawab.

"Suhuku menyebutku sebagai Kiu-bun-liong Tato-sembilan naga, adapun maksud kedatangan, ku pada malam ini adalah untuk mencari sebatang pohon buah ci-ci-ko yaug berdaun tujuh, agar ilmu Kun-goan-kang yang sedang aku yakini bisa mencapai kesempurnaan-"

"Apa ? Buah ci-ci ko yang berdaun tujuh?"

Seru Thian-hong pangcu dengan terperanjat. Biji matanya yang jeli tanpa terasa menyapu sekejap kearah Gak In Ling.

Menurut 85 anggapannya diatas wajah sianak muda itu pasti akan menampilkan rasa kaget yang tak terhingga sebab buah ciciko berdaun tujuh adalah obat paling mujarab dikolong langit untuk menambah kesempurnaan tenaga dalam serta mengobati luka dalam yang parah.

Tetapi gadis itu segera merasa kecewa, karena diatas wajah Gak In Ling sama sekali tidak menunjukkan sikap apapun, seakan-akan persoalan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan dia.

setelah termenung dan berpikir sebentar, maka ia bertanya kembali.

"Buah ciciko berdaun tujuh itu sekarang berada dimana ?"

Pria tato sembilan naga itu menggerakkan bibirnya seperti mau menjawab, tiba-tiba ia batalkan niatnya dan balik membentak dengan gusar.

"Apakah engkau hendak ikut mencuri buah tersebut ?"

"Benda berharga dikolong langit, siapa melihat dia ikut mendapat bagian, dari mana engkau bisa mengatakan kalau aku mencuri ?"

Sahut Thian hong pangcu setelah ia melirik sekejap kearah Gak In Ling.

Pria tato sembilan naga benar-benar seorang pria yang polos, mendengar ucapan itu hatinya semakin gelisah, sambil siapkan toyanya membentak lagi dengan gusar.

"cepat katakan Beranikah engkau mencuri buah mustika itu ?"

Kalau dilihat dari tampangnya, andaikata Thian-hong pangcu mengatakan berani maka dia akan segera turun tangan-Kebetulan sekali pada saat itulah angin kencang berhembus lewat membawa suara bentakan seseorang dengan nada yang amat gusar.

"Buddha Antik Kalau engkau berani maju selangkah lagi kedepan, jangan salahkan kalau pinto akan bertindak kurang ajar "

Diatas wajah Gak In Ling yang tampan dan tenang tiba-tiba terlintas hawa napsu membunuh yang amat tebal, setelah mendengar suara bentakan itu, dia enjotkan badan segera meluncur kearah mana beraSalnya suara bentakan tadi.

Selama ini Thian-hong pangcu selalu memperhatikan gerak-gerik Gak In Ling, melihat pemuda itu berlalu dari situ, dengan nyaring ia membentak.

"Gak In Ling, engkau hendak pergi kemana ?"

Laksana kilat dia gerakkan tubuhnya dan menyusul dari belakang. Pria tato naga sembilan melongo, sambil memandang kearah mana lenyapnya dua sosok bayangan manusia itu gumamnya seorang diri.

"cepat amat lari mereka berdua... wah, sama dengan terbang saja. celaka, arah mereka pergi justeru ketempat buah itu..."

Buru-buru dia siapkan toyanya kemudian berlarian pula mengajar dari belakang kedua orang itu..

Setelah menembusi hutan yang lebar dihadapan Gak ln Ling muncullah sebuah bukit terjal yang penuh dengan batu cadas yang berserakan, suara bentakan tidak lain berasal dari balik bukit terjal tersebut.

Dalam pada itu sang surya telah muncul di angkasa, berjuta juta rentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata menerangi seluruh jagad.

Dengan gerakan tubuh yang cepat laksana gerakan kilat Gak In Ling berloncatan diantara batu-batu yang berserakan dan lari naik keatas bukit, kurang lebih dua puluh tombak dibelakangnya mengikuti seorang dara cantik baju putih.

Semakin mendekati puncak bukit itu, suara bentakan serta makian semakin jelas berkumandang masuk kedalam pendengaran sianak muda itu, rupanya sudah ada orang yang turun tangan bertarung.

Tidak selang beberapa saat kemudian Gak In Ling telah mencapai puncak bukit tersebut, ketika ia melongok kebawah hatinya tertegun, rupanya ia berdiri dipinggir jurang dan dibawah jurang terbentang sebuah lembah yang amat luas, suara bentakan tadi berasal dari dalam lembah tersebut.

Gak In Ling melongok kebawah dan menyapu sekejap sekeliling tempat itu, dia lihat pada saat itu Buddha Antik sedang menerjang kearah dinding bukit dimana ia berdiri sekarang, sedangkan dibelakangnya membuntuti enam orang jagoan yang terdiri dari hwesio, tosu dan manusia biasa.

Satu ingatan berkelebat dalam benak anak muda itu, ia menyapu kembali kearah dinding bukit tepat dibawahnya, terlihatlah kurang lebih dua puluh tombak dibawah tebing atau tepatnya ditengah celah-celah batu yang tertutup oleh lalang tumbuh sebatang tumbuhan yang berwarna merah darah, mengertilah pemuda itu apa yang sedang terjadi.

Pada saat ituBudha Antik sudah sangat dekat dengan dinding bukit, rupanya ia sedang berusaha untuk merampas tumbuhan berwarna merah darah itu.

Gak In Ling teramat gusar, napsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia membentak keras.

"Buddha Antik, serahkan jiwa anjingmu "

Dengan jurus "Hiat-yu-seng-hong"

Atau hujan darah angin amis ia menerjang kebawah bagaikan seekor burung elang yang sedang menerkam mangsanya, serentetan cahaya merah darah dengan cepat menyelimuti seluruh tubuhnya.

Dari bentakan yang keras Buddha Antik sudah tahu siapakah yang datang, saking kagetnya sukma terasa melayang tinggalkan raganya, ia tidak memperdulikan buah 88 ciciko yang sudah hampir terjatuh ke tangannya lagi, sambil berjumpalitan diudara sepasang kakinya segera menjejak dinding bukit, laksana anak panah yang terlepas dari busurnya ia melayang sejauh dua puluh tombak lebih dari tempat semula dan tepat melayang turun dibelakang lima orang pengejarnya, setelah mencapai tanah tanpa berpaling lagi ia melarikan diri terbirit-birit kearah lembah sebelah kanan-Sebenarnya serangan telapak maut yang di-lancarkan Gak In Ling dikala Buddha Antik sedang tidak bersiap-siaga itu mampu menghancurkan tubuh padri licik tadi menjadi berkeping-keping, tapi sayang luka dalam yang diderita pemuda itu belum sembuh, ketika jurus hujan darah angin amis tadi digunakan sampai separuh jalan itu ia sudah merasakan tenaga dalamnya tak mampu disalurkan kembali, dalam keadaan begini terpaksa sambil menggertak gigi karena mendongkol ia saksikan Buddha Antik kabur dari tempat itu.

Dengan kaburnya Buddha Antik dari tempat kejadian, maka sekarang Gak In Ling lah yang mencapai sisi buah mustika ciciko itu, tanpa pikir panjang lagi buah tadi segera dicabut olehnya dan melayang keatas tanah.

Thian-hong pangcu dengan cepat menyusul datang, ia segera menghadang didepan tubuh anak muda itu.

Lima orang yang berada dalam lembah, mimpipun tak pernah menyangka kalau buah mustika ciciko berdaun tujuh yang dijaganya setengah harian lebih bukan terjatuh ketangan Buddha Antik sebaliknya kena dipetik oleh seorang pemuda yang sama sekali tak dikenalnya, sambil membentak penuh kegusaran dengan cepat mereka mengepung Gak In Ling serta Thian-hong pangcu di tengah kalangan-Gak In Ling sama sekali tidak menggubris kelima orang yang mengepung dirinya itu, disapunya sekejap buah ciciko yang berada dalam genggamannya, dia lihat tumbuhan tersebut berakar panjang yang tegak dan berwarna hijau, pada tangkainya tumbuh tujuh lembar daun merah yang 89 berbentuk bulat pipih, pada ujung setiap daun berwarna merah tadi tumbuh sebutir buah merah yang berbau harum serta besarnya bagaikan sebutir mutiara, butiran kecil itulah yang mungkin dinamakan buah ciciko.

Setelah memandang sekejap buah tadi, pemuda she Gak baru memandang kearah lima orang jago tadi, ujarnya dengan nada hambar.

"Kalau kutinjau dari usia kalian berlima, aku rasa kalian pastilah merupakan jago jago yang punya nama besar dalam dunia persilatan "

Thian-hong pangcu berkata pula setelah menyapu kelima orang itu.

"ln Hok Liau Wan Sungguh tak nyata kalian sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar ternyata masih belum dapat menghilangkan rasa tamak dalam hati kalian, hanya disebabkan sebatang tumbuhan saja kalian bersedia melakukan pertarungan. hmm sekarang setelah bertemu dengan aku, apa yang hendak kalian kata kan lagi ?"

Air muka In Hok Totiang dan Liau Wan Taysu berubah hebat, mereka jadi gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun, sedangkan tiga orang yang lainpun mukanya berubah hebat, keadaan mereka bagaikan tikus yang bertemu dengan kucing.

Melihat sikap beberapa orang itu, Gak In Ling keheranan-Pikirnya didalam hati.

"Gadis ini masih berusia sangat muda, tapi setiap patah kata serta tingkah lakunya cukup menggetarkan hati setiap jago yang ada dalam dunia persilatan-Sungguh luar biasa sekali, hal ini sangat tidak masuk diakaL"

Sementara itu Thian-hong pangcu telah mendengus kembali.

"Hmm, apa yang hendak kalian katakan lagi?"

Serunya. In Hok Totiang ragu-ragu sebentar, kemudian sambil keraskan kepala dia maju kedepan dan menjawab.

"Adapun maksud kedatangan kami semua ke tempat ini, semula adalah ingin menyelidiki lembah Toan-hun-kok. tapi siapa sangka baru saja tiba ditempat ini kami telah menemukan buah ciciko yang mujarab itu."

"Hmm oleh karena itu kalian berhasrat untuk mendapatkannya, bukankah begitu ?"

Dengus Thian-hong pangcu. Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata kembali.

"Apakah kalian yakin dengan kekuatan yang kamu miliki akan berhasil menyelidiki rahasia dari lembah tersebut ?"

"omitohud "

Seru Liau Wan Taysu dengan alis berkerut.

"Banyak sekali anak murid yang kuutus datang kemari lenyap tak berbekas, karena itu meskipun kami berlima menyadari bahwa kepandaian silat yang kami miliki masih bukan tandingan lawan, namun masa depan kami sendiri maka terpaksa kami harus mencobanya sekalipun harus menempuh bahaya."

Sementara mereka masih berbicara, Gak In Ling telah memetik ketujuh butir ciciko itu dan diletakkan dalam genggamannya, kemudian berkata.

Tindakan Gak In Ling yang sama sekali di luar dugaan ini mencengangkan hati para jago, mereka mengira sianak muda itu adalah anak murid dari perkumpulan Thian-hong-pang, tanpa terasa jago-jago lihay itu merasa amat berterima kasih sekali terhadap gadis tersebut.

"Pangcu, tolong bagikan ketujuh buah ciciko ini kepada mereka semua."

Sambil berkata ia angsurkan buah ciciko tadi kedepan-91 Tapi mereka tak pernah menduga bahwa rasa kejut yang dialami Thian-hong pangcu jauh lebih hebat daripada mereka sendiri, dengan sorot mata yang curiga bercampur tak percaya ia menatap wajah pemuda itu, lama-lama sekali ia baru berkata dengan nada dingin.

"Gak In Ling, kebutuhanmu mungkin jauh lebih besar daripada mereka, benarkah engkau rela memberikan buah ciciko ini kepada mereka ?"

Hawa gusar memancar keluar dari balik mata Gak In Ling yang aneh, tetapi ia menahan diri kembali sebab dia tak ingin menanam bibit permusuhan dengan orang-orang itu.

Dengan pandangan dingin disapunya sekejap Thian-hong pangcu, kemudian membentak keras.

"sambutlah buah ini "

Tangan diayun, enam biji buah ciciko segera memencar kedepan bagaikan enam buah kilatan cahaya dan masing-masing meluncur kearah enam orang yang berbeda.

Pada saat yang bersamaan keenam orang dalam kalangan bersama-sama menerima sebutir buah ciciko yang disambit kearah mereka, tapi tak seorangpun yang melakukan pemeriksaan, dengan dua belas buah mata yang aneh mereka menatap wajah sianak muda itu, karena tindakan dari lawannya ini telah membuat hati orang-orang itu tercengang dan tidak habis mengerti.

Thian-hong pangcu sendiri dengan pandangan yang tidak tenang serta permintaan maaf memandang kearah sianak muda itu, menanti ia berhasil melihat bahwa ditangan Gak In Ling masih tersisa satu butir buah ciciko, rasa tidak tenang tadi baru pulih kembali seperti sedia kala, inikah yang dinamakan cinta.

In Hok Totiang maju selangkah kedepan, setelah memberi hormat ujarnya.

"Siauw sicu berjiwa besar dan berdada lapang, pinto merasa amat kagum sekali, bolehkah aku tahu siapa namamu ?"

Sambil berkata ia memandang ke arah pemuda itu dengan sorot mata kagum bercampur menghormat.

Keempat orang lainnyapun mempunyai pandangan yang sama, mereka ingin sekali mengetahui siapakah gerangan pemuda yang berjiwa besar dan bersedia membagikan buah mustika yang berhasil didapatkannya itu.

Satu ingatan berkelebat dalam benak Thian hong-pangcu, pikirnya.

"oh, rupanya inilah kesempatan yang paling baik dari Gak In Ling untuk mencari simpati dari para jago, hampir saja aku kena dikelabui oleh tindakannya ini."

Menurut perkiraannya apa yang dipikirkan tentu tak akan salah lagi. Siapa tahu Gak In Ling cuma tertawa hambar belaka setelah mendengar perkataan itu. katanya.

"Aku bukanlah seseorang yang patut saudara sekalian ingat terlalu, lebih baik namaku tak usah kalian ketahui "

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Buah ciciko setelah dipetik dari tangkainya tak dapat disimpan terlalu lama, aku harap kalian segera menelan buah tersebut "

Habis berkata perlahan-lahan ia berlalu dari tempat itu "omitohud.."

Seru Lian Wan Taysu sambil merangkap tangannya memuji keagungan Buddha.

"Aku rasa sudah sepantasnya kalau sicu menelan lebih dahulu buah ciciko itu "

"Siapa yang makan buah ciciko dia akan mendapat tambahan tenaga dalam dan menambah usia, sebaliknya kalau aku yang menelan buah itu maka perbuatanku ini hanya membuang dengan percuma sebuah buah langka dalam kolong langit"

Jawab Gak In Ling hambar, berpalingpun tidak.

"Tapi buah tersebut dapat menyembuhkan pelbagai penyakit dan luka dalam, kenapa sicu mengatakan hanya 93 membuang percuma sebuah benda langka dalam kolong langit ?" . Gak In Ling tertawa tawa.

"Keputusanku sudah bulat, terima kasih atas perhatian dari taysu dan engkaupun tak usah memaksa diriku lagi."

Selama ini Thian-hong-pangcu hanya mendengarkan setiap patah kata dari Gak In Ling dengan cermat dan seksama, walaupun setiap patah katanya tak dapat ditangkap artinya oleh lima orang jago yang hadir dalam kalangan, tetapi bagi pendengaran gadis cantik baju putih ini seakan-akan sebuah batu cadas yang menindih diatas dadanya, membuat pikiran dan perasaannya bergolak keras.

Tak tahan lagi ia segera menyela.

"Apakah engkau tidak merasa bahwa keputusan yang telah kau ambil itu terlalu merugikan dirimu ?"

Gak In Ling, tertawa dingin-"Hee hee hee.

...

keputusan yang ku ambil mungkin saja justru merupakan apa yang pangcu butuhkan, bukankah kehidupanku dalam kolong langit hanya akan memusingkan kepala pangcu saja ?"

Airmuka Thian-hong pangcu berubah hebat serunya tanpa sadar.

"Darimana engkau tahu kalau itulah yang kubutuhkan?"

Suaranya keras dan penuh emosi.

Tiba-tiba dari atas puncak tebing moloncat datang sesosok bayangan manusia, dia bukan lain adalah pria tato sembilan naga, berhubung ilmu meringankan tubuhnya agak cetek maka ketika mencapai permukaan tanah ia maju kedepan dengan sempoyongan.

Namun pria itu sama sekali tidak menggubris keadaannya itu, dengan sorot mata yang tajam disapunya sekejap sekeliling tempat itu, setelah menjumpai tangkai buah ciciko 94 dengan ketujuh daunnya berada ditangan Gak In Ling, ia segera membentak.

"Bajingan cilik, semula aku tak habis mengerti apa sebabnya engkau lari dengan begitu cepatnya oh, rupanya engkau hendak merampok buah ciciko ? Bagus sekali, aku akan mengadu jiwa dengan dirimu."

Habis berkata, toya besinya segera disapu ke depan denganjurus "ciu-hong-sau-llok-yap"

Atau daun berguguran terhembus angin dingin.

Weesss Diiringi desiran angin tajam ia memutar toy anyamembabat kearah pinggang Gak In Ling, senjata itu belum mencapai sasaran desiran dingin telah menyengat badan, hal ini menunjukkan betapa kuatnya tenaga yang dimiliki pria itu.

Menengar datangnya desiran angin tajam, Gak In Ling putar badan, sorot matanya dengan berkilat, setelah memandang datangnya ancaman tersebut tiba-tiba laksana kilat cengkeram ujung toyadengan jurus "Lekshu-ki-liong"

Atau tenaga sakti menundukkan naga.

Gerakan yang dilakukan, secara tiba tiba ini mengejutkan setiap para jago yang hadir dalam gelanggang, sebab serangan toya yang dilancarkan tato sembilan naga luar biasa sekali danpria itu sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Tanpa sadar Thian-hong-pangcu maju selangkah kedepan-tapi sayang gerakannya itu terlambat.

Blaaam Ditengah getaran yang amat keras, Gak In Ling terseret maju sampai tiga-empat langkah kedepan dengan sempoyongan setelah terhajar oleh sapuan toya lawan, air mukanya berubah jadi hijau keabu-abuan, tetapi ia masih mencekal ujung toya pria tato sembilan naga itu kencang-kencang.

Diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya.

"oh aku lupa kalau luka dalam yang sedang kuderita belum sembuh."

Ia segera menengadah memandang sekejap kearah pria tato sembilan naga, kemudian tanya nya dengan tenang.

"Berapa buah ciciko yang engkau butuhkan ?"

Dengan sekuat tenaga pria tato sembilan naga membetot toya besinya, dalam perkiraannya pasti toya tersebut akan berhasil dicabut lepas karena Gak In Ling berbadan lemah dan masih muda belia.

Siapa tahu peristiwa yang kemudian terjadi jauh diluar dugaannya, dia merasa toyanya bagaikan berdempetan dengan sebuah bukit karang yang amat berat, jangan dikata untuk mencabut keluar sekalipun untuk menggoyangkanpun dia tak mampu.

Hal ini amat mengejutkan hatinya, dengan perasaan kaget pikirnya didalam hati.

"Mungkinkah bocah ini pandai ilmu sihir? Kalau tidak mengapa toyaku seakan-akan tertindih dengan bukit karang yang berat ?"

Sepasang matanya memandang kearah Gak In Ling dengan sorot mata tertegun, ia tak tahu apa yang musti dikatakan-Dengan hambar Gak In Ling memandang sekejap kearahnya, lalu bertanya kembali.

"Eeii, sudah dengar belum pertanyaanku? Akutan^a engkau butuh berapa butir buah ciciko ?"

"Sebutirpun sudah cukup,"

Gak In Ling segera ayun telapaknya kedepan dan melemparkan buah ciciko yang tinggal sebutir itu ketangan pria tato sembilan naga, serunya.

"Nah, buah itu boleh kau telan"

Meskipun pria tato sembilan naga adalah seorang kasar dan berangasan tapi pikirannya polos sekali, sambil menerima buah ciciko itu tanyanya.

"Eli, engkau masih punya berapa butir ?"

"Sebutirpun dia sudah tak punya"

Jawab In Hok Totiang dengan cepat. Tertegun hati pria tato sembilan naga setelah mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba ia berseru.

"Sungguhkah itu ? Bocah cilik, aku kembalikan buah ciciko ini kepadamu, akupun takkan berlatih segala macam ilmu silat lagi.... nih,terimalah kembali "

Dengan langkah lebar ia berjalan kehadapan Gak In Ling, kemudian angsurkan buah ciciko tersebut ketangan pemuda itu.

Dari balik mata Gak In Ling memancarlah serentetan cahaya yang sangat aneh, sambil tertawa ia menepuk bahu pria tato sembilan naga, kemudian katanya dengan nyaring.

"Kalau engkau tidak berlatih ilmu tersebut gurumu pasti akan merasa menyesal dan kecewa sekali."

"Tapi, kalau kumakan buah ini bukankah engkau jadi tak mendapat bagian ?"

"Aku toh tidak membutuhkannya."

Sahut Gak In Ling sambil menggeleng. Pria tato sembilan naga adalah seorang lelaki yang berhati polos, mendengar perkataan itu ia mengira ucapan tersebut adalah sungguh, maka sambil tertawa ujarnya.

"Hey bocah, engkau adalah manusia paling baik yang pernah kujumpai selama hidup " . Dengan tangan kanannya ia genggam bahu sianak muda, sedang wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan-97 Apa yang terjadi didepan mata memancing rasa haru dihati para jago yang hadir disana, berpuluh buah mata yang memancarkan rasa terima kasih segera dialihkan kearah pemuda she Gak. Than-hong pangcu paling tergetar hatinya setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya.

"la memang berjiwa besar, padahal diantara orang yang hadir ditempat ini dialah yang paling membutuhkan benda tersebut, sayang sekali ditempat ini tak ada delapan butir buah ciciko."

Sementara itu sambil memutar badan Gak In Ling telah berkata kembali.

"Harap saudara sekalian suka menelan buah tersebut, aku akan tetap berjaga disini untuk melindungi keselamatan kalian selama kalian bersemadhi."

Dengan langkah gontai ia berjalan kearah kanan, dan disitu ia berjaga-jaga sambil menyapu keadaan disekeliling lembah tersebut.

Semua jago mengetahui akan sifat dari buah ciciko tersebut, merekapun tak berani membuang waktu dengan percuma lagi, dengan hati girang dan rasa berterima kasih buah itu segera ditelan kedalam perut lalujatuhkan diri bersila untuk mengatur pernapasan-Asal manusia masih terdiri dari darah dan daging, siapakah yang masih dapat melepaskan diri dari ketamakan serta keserakahan mementingkan diri sendiri ?

Dengan pandangan iba Thian-hong pangcu menyapu sekejap kearah para jago yang hadir di tempat itu, kemudian sambil menghela napas pikirnya.

"Meraka semua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan, tetapi tingkah laku mereka jika dibandingkan dengan pemuda ini... oh masih terpaut jauh sekali,"

Berpikir sampai disitu, ia segera berjalan mendekati pemuda itu.

Sorot mata yang dingin, hambar dan ketus yang semula menyelimuti wajahnya, entah sejak kapan telah lenyap tak berbekas, siapapun tidak tahu apa sebabnya bisa demikian-Gadis cantik baju putih itu berhenti kurang lebih dua depa dibelakang Gak In Ling, ujarnya dengan suara lirih.

"Gak In Ling, buah ciciko ini engkaulah yang mendapatkan, aku tidak membutuhkannya, siIahkan engkau menerima kembali l"

Gak In Ling putar badan, setelah memandang sekejap wajah gadis itu sahutnya dengan ketus.

"Bilamana pangcu tidak ingin menelannya, kenapa tidak dibuang saja ke dalam jurang sebelah sana ? Bukankah dengan begitu tak usah merepotkan, dirimu lagi ?"

Thian-hong pangcu tertegun, lalu dengan dingin teriaknya.

"Kau kau... apa maksudmu?"

Gak In Ling menyapu sekejap wajah gadis cantik berbaju putih itu dengan pandangan dingin tiba-tiba ia menghela napas dan putar badan kemudian berjalan menuju kearah mana bayangan Buddha Antik melenyapkan diri tadi, sambil berjalan katanya.

"Kalau memang pangcu menaruh curiga bahwa pembagian yang kulakukan ini bukan muncul dan hati-sanubariku, tentu saja engkau berhak untuk jangan menelan buah ciciko itu, aku orang she Gak tidak akan memaksa dirimu untuk menuruti perkataanku."

Habis berkata tubuhnya sudah berada lima tombak jauhnya dari tempat semula.

Melihat Gak in Ling telah salah mengartikan maksud ucapannya, Thian-hong pangcu merasa hatinya jadi kecut dan hampir saja mengucurkan airmata, bibirnya yang kecil-mungil dicibirkan beberapa kali namun tak sepatah kata yang meluncur keluar, akhirnya dengan nada gegetun ia membatin didalam hati.

"Ooh .... engkau memang kejam "

Tiba tiba ia temukan bahwa pemuda she Gak itu sudah berada sepuluh tombak dari mulut lembah, hatinya jadi terperanjat dan segera teriaknya dengan suara gemetar.

"Gak In Ling, engkau akan pergi kemana ?"

Gak In Ling sama sekali tidak menghentikan langkahnya, hanya dengan dingin ia menjawab.

"Aku hendak pergi kemana yang harus aku pergi "

"Bagaimana dengan orang-orang ini ?"

Tanya Thian-hong pangcu dengan gelisah. Gak In Ling menghentikan langkahnya dan putar badan.

"Aku percaya pangcu takkan tinggalkan mereka selagi orang orang itu bersemadhi."

Thian-hong pangcu memandang sekejap ke-arah pemuda itu dengan pandangan sedih, akhirnya dia telan buah ciciko tersebut kedalam perut dan duduk bersila diatas tanah, pikirnya.

"Kalau aku berbuat begitu, engkau pasti tak akan pergi dari sini."

Tindakan dara cantik tersebut sama sekali diluar dugaan Gak In Ling, ia tak habis pikir apa sebabnya gadis itu menelan buah ciciko secara suka rela setelah sebelumnya menampik untuk makan buah itu.

Dengan perasaan apa boleh buat Gak In Ling gelengkan kepalanya dan berjalan kembali, terpaksa ia harus memikul tanggung jawab untuk melakukan perlindungan terhadap orang-orang itu.

---ooo0dw0ooo---Waktu berlalu dengan cepatnya ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, dan waktu yang berlalu detik demi detik, menit demi menit itu mendatangkan manfaat yang amat besar bagi setiap jago yang sedang duduk bersemedhi di 100 tempat itu, sebab dalam waktu yang amat singkat tenaga dalam yang mereka miliki telah mendapat kemajuan yang amat pesat.

Dengan wajah termangu-mangu Gak In Ling menengadah memandang awan yang bergerak di-angkasa dibawah sorot cahaya matahari yang berwarna keemas-emasan, wajahnya yang tampan tiba-tiba terlintas kemurungan serta kekesalan yang tebal, siapa pun tak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya.

Pada saat itulah perlahan-lahan Thian-hong pangcu membuka kembali matanya yang jeli, diantara para jago yang hadir disana tenaga dalam yang dia miliki paling sempurna, karena itu diapun yang sadar paling dahulu.

Diatas raut wajah yang merah dadupada saat itu terlintas cahaya tajam yang bergemerlapan, hal itu menambah kecantikan diatas wajahnya.

Setelah memandang sekejap kearah Gak In Ling dengan pandangan dalam, ia loncat bangun dari atas tanah dan berjalan menghampiri dirinya.

Gak In Ling sama sekali tidak merasakan akan kehadiran dari gadis itu, mungkin ketika ia sedang memikirkan satu masalah penting yang maha besar.

Akhirnya Thian-hong pangcu berhenti padajarak tiga depa dibelakang tubuh Gak In Ling, tegurnya dengan suara lirih.

"Apa sih yang sedang kau pikirkan?"

Suaranya lembut dan halus, penuh mengandung perasaan kuatir dan memperhatikan-"Pangcu telah sadar dari semedhi. itu berarti urusanku ditempat ini telah selesai "

Sahut Gak In Ling tanpa berpaling.

Habis berkata ia merogoh kedalam saku dan ambil keluar sebotol porselin berwarna hijau tua kemudian dengan langkah lebar berjalan menuju kelembah bukit sebelah kanan-101 Air muka Thian-hong pangcu berobah hebat, tiba-tiba ia meloncat kedepan dan menghadang jalan pergi sianak muda itu, serunya.

"Engkau hendak pergi kemana?"

"Pangcu, apakah engkau tidak merasa bahwa urusanku yang kau urusi sudah terlalu banyak ?"

Kata pemuda she Gak dengan alis berkerut dan suara ketus.

"Kemanapun engkau akan pergi aku takkan turut campur, hanya lembah itu saja tak boleh kau masuki."

"Mengapa ?"

Tanya Gak In Ling sambil tertawa dingin. Dengan muka merah jengah Thian-hong pangcu alihkan sorot matanya kearah lain, lalu menjawab.

"Karena engkau akan menemui ajal ditempat itu."

"Hmm Bukankah pangcu mengharapkan aku mati ?"

"Kapan sih, aku pernah mengatakan bahwa aku berharap agar engkau mati? coba katakan "

Seru Thian-hong pangcu dengan penuh emosi.

Suaranya agak gemetar, di balik kelopak matanya yang jeli secara lapat-lapat tampak mengembang air mata, tapi wataknya yang keras kepala telah mencegah air mata itu tidak sampai meleleh keluar.

Gak In Ling jadi tidak tega juga melihat keadaan gadis itu, pikirnya.

"Perempuan ini berhati bajik dan berbudi luhur, demi menjaga ketenangan serta ketenteraman dunia persilatan dia akan membinasakan diri ku, tindakan ini bukanlah suatu tindakan yang keliru, justru kesalahan terletak pada diriku yang tak dapat menunjukkan dosa serta kesalahan dari orang-orang yang kubunuh, aii... .."

Gak In Ling sebenarnya adalah seorang pemuda berhati panas dan berwajah dingin, ia mempunyai perasaan untuk berbakti bagi masyarakat dan bekerja untuk kebenaran, tetapi 102 sayang sekali ia tak dapat memberi penjelasan kepada orang lain terhadap apa yang hendak dilakukan olehnya.

Perlahan-lahan ia menengadah memandang langit dan biru, lalu menghela napas panjang, ujarnya.

"Mungkin pangcu memang tak mempunyai perasaan seperti itu, tapi sayang sekali keputusan dan tekadku sudah bulat, biarlah maksud baik pangcu kuterima didalam hati."

Selesai berkata dengan langkah lebar dia lanjutkan kembali perjalanannya menuju kesebelah kanan lembah tersebut, Thian-hong pangcu terkesiap.

Sekali lagi ia loncat kedepan dan menghadang dihadapan sianak muda itu sambil serunya.

"Asal engkau mampu menangkan diriku, maka dengan bebas engkau boleh lanjutkan perjalananmu menuju kedalam lembah ini "

Tertegun hati Gak In Ling mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata.

"Pangcu menganggap bahwa aku orang she Gak jeri terhadap dirimu ?"

"Tentu saja lebih baik kau tidak takut"

Gak In Ling mencabut keluar penutup dari botol porselen berwarna hijau-tua itu kemudian ambil keluar sebutir pil berwarna hijau dan siap ditelan kedalam perut.

Semua gerak-gerik sianak muda itu tidak lolos dari pengawasan Thian-hong pangcu, begitu ia menjumpai bentuk serta warna dari botol porselen itu, hatinya langsung saja merasa terkejut, sebab bentuk dari botol tersebut mengingatkan ia akan botol racun yang pernah didengarnya dari berita persilatan-Menanti Gak In Ling telah ambil keluar obat tadi, wajahnya berubah semakin hebat, jeritnya.

"Gak In Ling, jangan kau telan obat itu"

Sambil menjerit tubuhnya berkelebat maju kedepan dan menerjang kearah sianak muda itu, tangan kanan mengeluarkan jurus "clong-hay-lau ciang"

Baca Juga: Pedang Tetesan Air Mata 4

Baca Juga: Mayat Kesurupan Roh 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert