Eps 13 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long
Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long
Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.
"Aku tahu mereka pindah ke mana."
Ruan-wei tahu Wen-yi adalah gadis yang pintar, maka dia segera bertanya.
"Kemana mereka pindah?"
"Katanya pusat kantor Zheng-yi-bang berada di Jia-xing, jika mereka pindah ke Jia-xing, bearti mereka sudah berada dalam wilayah kekuasaan Zheng-yi-bang."
Mengingat alasan Paman Zhong meninggalkan keluarga adalah karena ketua Zheng-yi-bang Lu Nan-ren ada main dengan Ling-lin.
Sekarang Ling-lin pindah ke wilayah Zheng-yi-bang, supaya lebih dekat dengan Lu Nan-ren, bukankah ini sudah terang-terangan?
Mengingat hal ini, dia marah.
"Benar, Bibi Ling pasti pindah ke sana, hal ini... bukan hal yang baik!"
Wen-yi mengerti apa maksud Ruan-wei, dia menarik nafas.
"Belum tentu seperti yang kau perkirakan, kau harus mengerti Tian-zheng-jiao menguasai banyak tempat. Jika tidak pindah ke wilayah Zheng-yi-bang, mereka tidak akan aman!"
Tapi Ruan-wei menganggap Ling-lin pindah ke wilayah Zheng-yi-bang supaya bisa lebih dekat dengan Lu Nan-ren. Wen-yi memang sudah menjelaskan tapi dia tetap tidak bisa menerima dan mengeluh.
"Sekarang bagaimana keadaan Paman Zhong?"
Wen-yi juga tidak tahu bagaimana keadaan Paman Zhong seperti apa, dia terpaksa tertawa.
"Da-ge, sekarang kita pergi ke Jia-xing."
Ruan-wei mengangguk.
Dia pikir mereka harus pergi ke Jia-xing, setelah di sana semua akan menjadi jelas!
Beberapa hari kemudian mereka sampai di Jia-xing.
Beberapa kilometer lagi adalah pusat Zheng-yi-bang.
Dari jauh terlihat, kantor luas di bawah sinar matahari memancarkan kehijauan penuh kehidupan.
Masih berjarak sekitar 30 meter lagi, dari dalam hutan muncul beberapa orang yang kepalanya dibungkus dengan kain abu.
Yang satu berkata.
"Gunung hijau masih tetap ada."
Ruan-wei tidak bisa menjawab, dia kebingungan berdiri di sana. Wen-yi sangat lincah, dia tertawa dan berkata.
"Air yang hijau masih tetap mengalir."
"Teman datang dari mana?"
Tanya orang itu.
"Aku datang dari lembah selatan, aku ingin bertemu dengan ketua kalian!"
Sahut Wen-yi.
Tiga laki-laki yang kepalanya dibungkus kain abu saling pandang, karena mereka tidak tahu lembah selatan berada di mana dan belum pernah mendengar tempat itu.
Tapi sikap kedua orang di depan mereka begitu gagah juga terpelajar, mereka tidak berani berbuat macam-macam.
Segera ada seorang laki-laki dengan sikap hormat berkata.
"Tamu yang terhormat, harap kalian menunggu sebentar, aku lapor dulu!"
Dia tergesa-gesa masuk ke dalam hutan, meninggalkan dua orang temannya.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari dalam hutan keluar 3 kali suara petasan lalu keluar sebaris laki-laki berpakaian abu dan di pinggang mereka terikat kain merah.
Dalam barisan terdengar ada suara keras.
"Ketua menyambut dengan hormat kedatangan tamu dari lembah selatan!"
Diam-diam Ruan-wei merasa terkejut, dia tidak menyangka begitu Wen-yi mengatakan lembah selatan akan terjadi perubahan begitu besar.
Karena merasa aneh, dia melihat Wen-yi.
Wen-yi dengan nakal mengedipkan mata seperti berkata.
"Bagaimana, aku hebat kan?"
Suara yang berat dan besar itu baru selesai bicara, keluar seorang laki-laki tegap berwajah kotak.
Dia memakai baju perak.
Begitu melihat Ruan-wei, dia terkejut dan berteriak dengan suara kecil.
Ruan-wei mengenalnya di rumah Zhong-jing dulu, dia adalah Tombak PerakTao-chu.
Pada waktu mereka bertemu dulu, tanpa sengaja dia memukul dan melukainya.
Tanpa merasa bersalah, Ruan-wei tertawa kepadanya.
Di belakang Tao-chu keluar seorang laki-laki setengah baya tampan juga luwes.
Dia tertawa dan berkata.
"Kakak Tao, siapa yang datang?"
Tao-chu diam tidak menjawab.
Ketika Ruan-wei melihatnya, hatinya bergetar.
Laki-laki setengah baya itu begitu melihat Ruan-wei, dia juga merasa terkejut.
Laki-laki setengah baya itu dan Ruan-wei saling pandang dengan diam.
Tao-chu melihat keadaan seperti ini, diam-diam merasa sedih.
Dia tidak ingin melihat lagi dan membalikkan tubuh.
Dunia ini seperti tanpa suara, Wen-yi merasa aneh dan berkata.
"Aneh! Mengapa kalian berdua begitu mirip?"
Laki-laki setengah baya itu awalnya merasa terkejut, kemudian sambil tertawa dia bertanya kepada Ruan-wei.
"Kakak kecil ini apakah adalah murid Tetua Wen dari lembah selatan?"
Wen Tian-zhi sudah lama terkenal di dunia persilatan.
Dari mulut pencuri selatan dan perampok utara, laki-laki setengah baya ini pernah mendengar tentangnya.
Sekarang dari lembah selatan ada yang datang berkunjung pasti akan disambut dengan istimewa.
Tapi Ruan-wei dengan gugup menggelengkan kepala dan berkata.
"Bukan... bukan... bukan."
Laki-laki setengah baya itu tertawa dan berkata.
"Aku adalah ketua Zheng-yi-bang, Lu Nan-ren, apakah boleh tahu yang mana yang datang dari lembah selatan?"
Tiba-tiba Ruan-wei berteriak.
"Kau adalah Lu Nan-ren!"
Melihat Ruan-wei langsung menyebut namanya, walaupun tidak sopan tapi tetap dijawab.
"Betul!"
Tao-chu membalikkan tubuh, dengan wajah penuh amarah dia membentak Ruan-wei.
"Kau... kau... mana boleh memanggil nama beliau begitu saja!"
Ruan-wei tertawa dingin.
"Dia bukan raja mengapa tidak boleh memanggil namanya?"
Tao-chu ingin memberitahu orang yang ada di depannya adalah ayahnya, mana boleh langsung memanggil nama.
Tapi Tao-chu ingat pesan Tuan Jian, jangan memberitahu siapa Ruan-wei kepada Lu Nan-ren, maka dia berusaha menekan emosinya.
Tapi begitu Wen-yi melihat Lu Nan-ren dan Ruan-wei sangat mirip, dia merasa dekat dengan mereka.
Dia sudah melupakan kata-kata Zhongjing kalau Lu Nan-ren adalah laki-laki yang doyan perempuan.
Wen-yi menjawab.
"Aku datang dari lembah selatan, kami sengaja mengunjungi Ketua!"
Lu Nan-ren tertawa sambil mengangguk.
"Tetua Wen adalah...."
"Beliau ayahku."
"Ayahmu sangat terkenal di dunia prsilatan, bisa berkenalan denganmu, benar-benar aku merasa beruntung!"
Wen-yi melihat ketua perkumpulan besar tapi ramah, dalam hati Wen-yi mengaguminya. Maka perasaan akrab semakin bertambah. Sambil tertawa dia menjawab.
"Aku bermarga Wen, bernama Yi. Bisa bertemu dengan Ketua, aku juga merasa sangat beruntung!"
Dalam hati Ruan-wei menganggap Lu Nan-ren adalah laki-laki yang doyan perempuan.
Sekarang melihatnya akrab dengan adik Yi nya, Ruan-wei mulai mencurigai Lu Nan-ren, janganjangan dia ingin memikat Wen-yi.
Maka timbul rasa cemburu.
Ruan-wei marah.
"Lu Nan-ren, di mana kau sembunyikan Bibi Ling?"
Lu Nan-ren terkejut dan bertanya dengan tidak mengerti.
"Bibi Ling yang mana?"
Ruan-wei mulai marah.
"Dia adalah istri Paman Zhong, kau adalah ketua Zheng-yi-bang, tapi tidak disangka kau telah mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain, apakah kau tidak merasa malu?"
Sekali membuka mulut, dia memarahi Lu Nan-ren.
Hal ini membuat wajah Tao-chu menjadi pucat.
Diam-diam dia berpikir, 'bocah ini benar-benar pantas mati!
Baru pertama kali bertemu, kau sudah berani memarahi ayahmu!' Lu Nan-ren mempunyai kemampuan menahan emosi, tapi setelah mendengar perkataan Ruanwei, wajahnya mulai berubah.
Dengan suara gemetar karena marah dia berkata.
"Kau... siapa kau? Mengapa kau sembarangan berkata dan memutuskan yang tidak-tidak?"
Ruan-wei mengira Lu Nan-ren takut sehingga suaranya menjadi bergetar. Biasanya orang yang bersalah baru bersikap seperti itu maka dengan serius dan gagah dia berkata.
"Aku bernama Ruan-wei, aku nasehati, kau harus berpikir jernih, jangan menjadi orang berdosa sehingga ditertawakan orang, dengan begitu nama baik Zheng-yi-bang akan jelek karena dirimu dan tidak dipercaya lagi oleh masyarakat!"
Karena marah, Lu Nan-ren tidak sanggup bicara, dia menunjuk Ruan-wei dan berkata.
"Kau... kau...."
Tidak menunggu dia selesai bicara, Ruan-wei berkata lagi.
"Ruan-wei melihat kau adalah ketua Zheng-yi-bang maka aku berbaik hati memberitahumu. Jika tahu salah, berubahlah. Bila kau berubah aku akan memaafkanmu. Cepatlah cari Paman Zhong agar suami istri ini bisa rukun kembali. Aku tidak akan membuat masalah denganmu... kalau tidak...."
Tao-chu yang berdiri di sisi tidak tahu harus berkata apa, yang pasti dia tidak percaya kalau Lu Nan-ren adalah orang seperti itu dan dia juga bisa memastikan Ruan-wei sudah salah paham.
Dia ikut berkata.
"Bocah, semakin bicara kau semakin melantur, apakah kau tahu siapa dia...."
Ruan-wei melihat Tao-chu, dia tidak ingin tahu apa yang dimaksud Tao-chu. Dia berkata lagi.
"Hari ini kedatangan Ruan-wei kemari, pertama adalah untuk menasehati ketua Zheng-yi-bang Lu Nan-ren yang sangat terkenal. Aku berharap karena kecerobohan ini, bisa mengubahnya menjadi orang baik. Kedua, aku ingin mencari Bibi Ling dan menyampaikan beberapa pesan. Sekarang dia tinggal di sini. Maaf, harap kau bisa memberitahu kepadanya, beberapa hari lagi ada biksu bisu tuli yang bernama biksu Harimau, pada bulan 1 tanggal 1 akan bertarung dengan Tuan Jian di Gunung Jun-shan...."
Setelah mendengar kata-kata ini, akhirnya Lu Nan-ren dengan terkejut berkata.
"Apa yang kau katakan?"
Ruan-wei menarik nafas dan berkata.
"Aku tidak ingin bicara apa-apa lagi, apakah kau mau mendengar nasehat ini atau tidak terserah. Adik Yi, mari kita pergi!"
Dia langsung pergi, tidak ingin singgah lebih lama lagi di sana sekalipun hanya sedetik.
"Adik Yi!"
Dia menarik tangan Wen-yi dan terbang ke atas kuda. Lu Nan-ren benar-benar marah melihat Ruan-wei akan pergi, benar-benar penghinaan yang luar biasa. Lu Nan-ren membentak.
"Diam di sana!"
Ruan-wei tidak ingin bermusuhan dengan Zheng-yi-bang, dia mengacuhkan bentakan keras Lu Nan-ren dan pergi dengan Bai-ti-ma.
Lu Nan-ren tidak akan membiarkan Ruan-wei pergi begitu saja, dia akan mengejar, menangkap Ruan-wei, membalas penghinaan tadi.
Tapi Tao-chu beraksi cepat.
Dia menarik Lu Nan-ren yang sudah siap berlari.
Dengan tergesa-gesa dia berkata.
"Ketua, biarkan dia pergi!"
"Mengapa?"
"Umurnya masih muda, dia salah paham kepada Anda, untuk apa diladeni?"
Lu Nan-ren marah.
"Lepaskan aku! Hal yang lain aku bisa maklumi, tapi hal ini tidak bisa. Aku harus menangkapnya kembali aku harus menghajar-nya!"
Tapi Tao-chu tetap menarik Lu Nan-ren, dia tahu jika dia melepaskan tangannya, dengan ilmu meringankan tubuh milik Lu Nan-ren, dia pasti akan bisa mengejar Ruan-wei.
Bagaimana dia bisa membiarkan ayah dan anak ini saling bertarung?
Melihat Tao-chu tidak melepaskan pegangan tangan, Lu Nan-ren marah, dengan sekuat tenaga dia melepaskan diri dan siap mengejar.
Dalam waktu yang terdesak ini, terpaksa Tao-chu berkata.
"Dia adalah putramu, jangan dikejar lagi!"
Setelah mendengar kata-kata ini, tubuhnya yang sudah berlari langsung berhenti. Lu Nan-ren berteriak.
"Dia putraku?"
"Betul, dia adalah putramu yang sudah 10 tahun lebih tidak pernah Anda temui!"
"Apakah betul dia adalah putraku? Kita kejar dia... cepat kejar...."
Tapi Bai-ti-ma sudah menghilang, tidak terlihat jejaknya!
--BAB 118 Keadaan jadi menyedihkan Sulit menebak pelakunya Ruan-wei meninggalkan tempat Zheng-yi-bang dan terus berlari sampai ratusan kilometer baru berhenti.
Bai-ti-ma yang membawa mereka berlari tidak terlihat lelah, benar-benar seekor kuda hebat.
Ketika kudanya berlari lambat, tiba-tiba Wen-yi berkata.
"Da-ge, aku ingin pulang sebentar!"
"Apa? Kau ingin meninggalkan aku lagi?"
"Siapa bilang aku ingin meninggalkanmu?"
"Kau ingin pulang, berarti kau ingin meninggalkan aku."
Wen-yi tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar-benar Da-ge yang bodoh! Kau boleh ikut aku pulang, bukankah kita tidak akan berpisah?"
"Apakah orangtuamu akan menyambutku dengan baik?"
Wen-yi ragu sebentar.
"Aku tidak tahu apakah mereka akan menyambut baik kedatangan Da-ge, karena aku putri kandung mereka tapi mereka tidak menyayangiku, apalagi kau?"
"Kalau begitu... aku tidak perlu ke sana...."
Wen-yi cemberut, dia pura-pura marah.
"Jika Da-ge tidak ikut, aku juga tidak ingin pulang!"
Ruan-wei dengan cepat menggoyangkan tangan.
"Mana boleh begitu! Kau sudah meninggalkan rumah 1 tahun lebih, kalau tidak pulang, itu artinya tidak menghormati orang tua, pulanglah sebentar!"
"Kalau begitu, kakak akan menemaniku pulang bukan?"
Kata Wen-yi tertawa Ruan-wei tahu sifat Wen-yi yang keras kepala. Kalau tidak setuju, dia benar-benar tidak akan pulang, apalagi dia sendiri enggan berpisah dengan Wen-yi, terpaksa dia berkata.
"Baiklah, Da-ge akan menemani pulang!"
Karena senang, Wen-yi meloncat-loncat seperti anak kecil, dia hampir terbanting dari kuda. Ruan-wei pura-pura marah sambil tertawa.
"Sudah dewasa masih seperti anak-anak, kau benar-benar tidak tahu malu!"
"Di sisi Da-ge aku ingin menjadi anak kecil yang polos...."
Wen-yi tertawa.
Kata-kata Wen-yi mengandung makna yang dalam.
Ruan-wei memeluk Wen-yi dengan erat dan menganggap dia adalah anak kecil yang lucu....
Dalam waktu satu bulan, mereka sudah tiba di Guang-xi.
Sejak dulu Ruan-wei ingin menikmati pemandangan Guang-xi, sekarang sepanjang jalan mereka bisa menikmatinya.
Hati Ruan-wei benar-benar senang tapi begitu teringat pada Kakek Xiao San-ye, hatinya sedih lagi.
Hari ini mereka tiba di Liu Zou.
Liu-zhou adalah tempat yang pemandangannya sangat indah di Guang-xi, apalagi di sisinya ada kekasih yang menemani sambil menikmati pemandangan alam yang indah, Ruan-wei juga merasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan.
Sesampainya di Liu-zhou, mereka masuk ke sebuah penginapan.
Ketika ingin tidur, Wen-yi berkata.
"Besok aku akan membawamu ke suatu tempat yang sangat aneh, sesampainya di sana Da-ge pasti akan terkagum-kagum...."
Setelah itu Wen-yi tertawa lembut dan pergi.
Dengan penuh kebahagiaan Ruan-wei berbaring di atas ranjang, dia melihat langit-langit kamar, tiba-tiba dia teringat sebuah kalimat, segera wajahnya berubah dan dia duduk kembali.
Terlihat dia berbicara sendiri.
"Kalau terlalu senang akan terjadi kesedihan, apakah aku akan...."
Mengingat cerita Kakek Xiao San-ye, tempat, keadaan semua cocok dengan ceritanya.
Bulu kuduknya meremang, dia duduk termenung.
Hari kedua pagi, Ruan-wei berubah total, Wen-yi tidak merasakannya, dia masih tertawa dan berkata.
"Da-ge, mari kita pergi!"
Mereka berdua tetap menunggang seekor kuda, setelah keluar dari kota Liu-zhou, sekitar 10 kilometer lebih di depan ada batu-batu aneh.
Pemadangan itu seperti sekuntum bunga teratai hijau, setiap helai bunga tertutup oleh awan yang tipis, benar-benar seperti tempat tinggal dewa dewi.
Wen-yi menunjuk pemandangan batu dan berkata.
"Gunung ini disebut Gunung Qing-lian (teratai hijau). Setelah masuk ke sana kau akan tahu keunikan gunung ini. Di dunia ini jarang ada yang berani melewatinya."
Ruan-wei teringat musuh kakek Xiao San-ye tinggal di gunung ini. Suaranya mulai gemetar berkata.
"Apakah... rumahmu... rumahmu...berada di sana?"
Dia berharap Wen-yi menjawab bukan tapi Wen-yi malah tertawa berkata.
"Kenapa Da-ge bisa tahu?"
Segera wajah Ruan-wei berubah. Wen-yi segera merasa aneh dan berkata.
"Da-ge! Da-ge! Apa yang terjadi padamu...."
Kemudian pelan-pelan' meraba dahi Ruan-wei dan berkata.
"Apakah kau sakit?"
Ruan-wei berusaha menahan hatinya yang sedih dan berpikir, jika ingin membalaskan dendam kakek jangan emosi dulu jika bukan Wen-yi yang membawanya masuk, tidak mudah masuk ke lembah sana.' Dia tertawa dengan terpaksa.
"Tidak... tidak ada apa-apa... hanya sedikit tidak enak tubuh."
Wen-yi tertawa.
"Tidak apa-apa, setelah sampai di rumahku, aku akan memberi obat buatan ayah. Aku jamin kau akan segera sembuh!"
Kemudian dia terus bercerita tentang keahlian ayahnya.
Harus diketahui Lembah Selatan Wen Tian-zhi adalah orang yang sangat berbakat, semua dikuasai dengan baik, pantas Wen-yi terus memuji ayahnya!
Ruan-wei dengan sedih melihat Wen-yi, dalam hati dia menarik nafas.
'"Mengapa kau adalah putri musuh kakekku?
Mengapa?
Mengapa...
Mengingat nanti dia akan bermusuhan dengan Wen-yi, dari sudut matanya dia telah meneteskan air mata.
Wen-yi terus bicara, dia lupa Da-ge nya sedang sedih.
Ruan-wei mengikuti Wen-yi masuk formasi batu yang telah disusun Wen Tian-zhi.
Tidak lama kemudian mereka sudah berada di dalam lembah.
Benar saja di dalam lembah ada sebuah rumah batu yang pernah kakek ceritakan.
Belum sampai di rumah batu, dari dalam keluar seorang pak tua memakai baju pendeta.
Pak tua itu melihat kedatangan Wen-yi.
Walaupun terlihat dia sangat tenang tapi dari mata dan alisnya terlihat kalau dia sangat memperhatikan Wen-yi.
Melihat ayah yang sudah 1 tahun tidak ditemuinya, dia menjadi kurus.
Wen-yi lupa ayahnya sangat canggung kepadanya, dia masuk ke pelukan ayahnya, berteriak dengan manja.
"Ayah! Ayah! Putrimu sudah pulang...."
Dengan penuh kasih sayang Wen Tian-zhi mengelus-elus kepala Wen-yi dan berkata.
"Bangun, bangun Nak! Kau sudah besar, jangan sampai ditertawakan oleh temanmu...."
Mendengar sepertinya ayahnya tidak marah karena membawa Ruan-wei masuk lembah. Maka dengan senang Wen-yi berdiri, wajahnya penuh tawa dia berkata.
"Ayah, aku kenalkan, dia adalah...."
Tiba-tiba Ruan-wei berkata dengan dingin.
"Tidak perlu dikenalkan, aku tahu namanya adalah Wen Tian-zhi!"
Wen-yi terkejut dan berkata.
"Da... Da-ge... jangan tidak sopan kepada ayahku...."
Ruan-wei membentak.
"Kecuali tidak sopan, hari ini aku ingin membunuhnya!"
Air mata Wen-yi terus menetes.
"Kau... kau... kau berani!"
Wen Tian-zhi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Dunia ini benar-benar terbalik, aku tidak marah karena kau sudah masuk ke lembahku tanpa ijin tapi kau masih ingin mencari keributan. Apakah kau kelebihan kepala dan tangan!"
Ruan-wei menunggu dengan serius.
"Aku hanyalah seorang pelajar yang lemah tapi hari ini aku harus mencabut nyawamu!"
Wen Tian-zhi merasa aneh.
"Apakah aku ada dendam denganmu?"
Tiba-tiba Ruan-wei menyerang sambil menjawab.
"Betul! Dendam yang sangat dalam!"
Wen Tian-zhi menghindar dan bertanya.
"Siapa kau?"
Ruan-wei seperti orang gila, kedua tangannya terus menyerang dan tidak menjawab. Wen-yi sambil menangis juga berteriak.
"Da-ge, hentikan! Da-ge, hentikan...."
Suara Wen-yi tidak bisa menghentikan serangan Ruan-wei.
Karena Wen Tian-zhi terus diserang, dia juga melihat kelihaian ilmu telapak Ruan-wei, dia tidak peduli lagi apakah dia adalah teman putrinya atau bukan.
Maka dia mulai mengeluarkan langkah-langkah aneh juga berubah-ubah.
Kemudian kaki kirinya tiba-tiba menendang.
Dalam hati dia berpikir, 'tendangan ini pasti tidak akan bisa dia hindari!' Tapi Ruan-wei pernah belajar ilmu langkah-langkah 'Jiu-kong-lian-huan-bu' milik Wen Tian-zhi, maka dengan mudah dia menghindar.
"Bocah, dari mana kau belajar ilmu langkah-langkah milikku?"
Ruan-wei tertawa.
"Belajari dari putrimu!"
Dalam hati Wen Tian-zhi berpikir, 'putriku mengajarkan 'Jiu-kong-lian-huan-bu', hubungan mereka pasti sudah erat, aku tidak boleh melukainya."
Tapi ilmu telapak Ruan-wei terus berubahubah, membuat Wen Tian-zhi harus dengan memusatkan pikiran menghadapinya!
Setelah beberapa jurus, langkah-langkah 'Jiu-kong-lian-huan-bu' digunakan oleh Wen Tian-zhi lebih hebat dari Ruan-wei.
Maka walaupun serangan Ruan-wei sangat cepat tapi tetap tidak bisa melukai Wen Tian-zhi.
Setelah lama bertarung tidak bisa menang, Ruan-wei segera teringat ilmu silat Xiao San-ye.
Dia berpikir dia harus menggunakan ilmu silat Xiao San-ye membunuh Wen Tian-zhi, itu baru puas membalaskan dendam kakeknya.
Karena itu, kedua tangannya mengambil Wu-mang-zhu.
Dia melepaskannya seperti hujan ke arah Wen Tian-zhi.
Serangan senjata ini bukan main hebatnya.
Karena kelambatan Wen Tian-zhi, tangannya jadi terkena satu butir Wu-mang-zhu dan darah terus mengucur.
Wu-mang-zhu di tangan Ruan-wei lebih hebat dan sulit dihindari.
Jika Wen Tian-zhi tidak mempunyai tenaga dalam yang tinggi, mungkin tangannya akan putus.
Wen Tian-zhi tahu senjata rahasia yang bernama Wu-mang-zhu ini.
Dia terkejut dan berkata.
"Apa hubunganmu dengan Xiao San-ye!"
Dengan sedih Ruan-wei berkata.
"Dia kakekku! Hari ini aku datang demi membalaskan dendam nenekku! serahkan nyawamu!"
Dia mengeluarkan lagi 2 genggam Wu Man Zhu. Dengan cara yang lebih lihai menyerang Wen Tian-zhi lagi. Wen Tian-zhi tertawa terbahak-bahak.
"Benar-benar lucu, nenekmu tidak mati!"
Tapi Ruan-wei tidak percaya kata-katanya, dia mulai menyerang mengarah ke dada Wen Tianzhi dan Wen Thian-zhi tidak bisa menghindar, tubuhnya terkena lagi sebuah Wu-mang-zhu, darah kembali mengalir lagi membasahi baju.
Keadaan sangat menakutkan.
Cara melepaskan Wu Man Zhu yang digunakan Ruan-wei bernama Man-tian-hua-yu (Langit penuh hujan bunga).
Xiao San-ye menghabiskan waktu 18 tahun untuk mencipta-kan jurus ini.
Caranya benar-benar sangat lihai.
Jangankan Wen Tian-zhi, Tuan Jian sendiri juga belum tentu bisa menghindar.
Dua kali lemparan Ruan-wei mengenai sasaran, hal ini menambah rasa percaya dirinya.
Segera 2 genggam Wu-mang-zhu disiapkan untuk dilepaskan lagi.
Dalam hati dia berpikir kali ini dia pasti bisa mencabut nyawa Wen Tian-zhi.
Karena menangis terus, Wen-yi pingsan.
Wen Tian-zhi tidak bisa mengalahkan Ruan-wei, terpaksa dia melotot melihat Ruan-wei akan menyerang lagi.
Ketika Ruan-wei bersiap-siap menyerang untuk membalaskan dendam neneknya, tiba-tiba terdengar suara penuh wibawa berkata.
"Hentikan!"
Ruan-wei terkejut mendengar suara ini dan melihat dari rumah yang terbuat dari batu, keluar seorang perempuan berpakaian sederhana.
Melihat perempuan itu, diam-diam Ruan-wei terkejut karena dia merasa sangat mengenal perempuan ini!
Perempuan setengah baya itu berjalan ke tempa Wen-yi pingsan.
Dia mengambil sapu tangan basah yang dibawanya, dan meletakkan-nya di atas dahi Wen-yi, lalu pelan-pelan memanggil.
"Yi-er, bangunlah! Yi-er, bangunlah!"
Wen-yi pelan-pelan mulai sadar. Melihat ibunya dia tahu ibunya tidak suka dia menangis. Tapi sekarang dia sudah lupa dan masuk ke dalam pelukan ibunya, menangis sambil berteriak.
"Ibu! Ibu! Dia ingin membunuh ayah...."
Sekarang Ruan-wei sangat terkejut melihat perempuan itu sangat mirip dengan ibunya, baik dari bentuk wajah atau pun bentuk tubuhnya, hanya usianya lebih tua 10 tahun lebih dari ibunya.
Dada Wen Tian-zhi yang terkena Wu-mang-zhu terluka agak parah, melihat istrinya hanya memperhatikan putrinya dan sama sekali tidak memperhatikan dia masih hidup atau tidak.
Mengingat 10 tahun lebih ini dia begitu menyayanginya, tapi sekarang sedikit pun tidak ada perhatian padanya, maka air matanya terus menetes.
Ruan-wei tahu Wen Tian-zhi tidak mempunyai tenaga untuk melawan lagi dan dia juga tidak akan bisa lolos, maka dia meninggalkan Wen Tian-zhi dan mendekati perempuan itu.
"Permisi, aku ingin bertanya apakah Nyonya kenal dengan ibuku Xiao Nan-pin?"
Perempuan itu melihat Ruan-wei dan berteriak.
"Nan-pin! Nan-pin...."
Ketika memanggil nama Nan-pin wajahnya memancarkan rasa cinta yang sangat dalam. Ruanwei tahu hubungan mereka pasti tidak biasa. Dengan hati bergejolak dia bertanya.
"Apakah Nyonya kenal dengan ibuku?"
Tiba-tiba perempuan itu menangis.
"Nan-pin adalah putriku! Masa aku tidak kenal... masa aku tidak kenal dia...."
Wajah Ruan-wei berubah, dia melihat dahi perempuan itu ada bekas luka.
Ruan-wei sudah bisa memastikan kalau dulu dia menabrakkan kepalanya ke batu dan tidak mati, hanya meninggalkan bekas luka.
Kakek mengira dia sudah meninggal, sekarang dia malah menikah dengan Wen Tianzhi dan melahirkan Wen-yi.
Keringat dingin Ruan-wei mulai menetes, diam-diam dia berpikir.
"untung aku dan Wen-yi belum menikah, jika tidak, apa yang akan terjadi? Kami sudah melanggar etika!' Sekarang setelah tahu neneknya tidak mati, dia tidak mempunyai alasan lagi untuk membunuh Wen Tian-zhi. Ruan-wei tidak ingin tinggal lebih lama di sana, dengan gugup dia pamit.
"Ne..nek...."
Perempuan itu dengan ramah berkata.
"Aku adalah nenekmu, mengapa kau sulit memanggilku?"
Ruan-wei ingat kakeknya yang hidup sendiri dan susah, dia menganggap neneknya perempuan tidak baik, maka dengan marah dia berkata.
"Aku tidak ingin memanggilmu...."
Perempuan itu meneteskan air mata.
"Mengapa kau membenciku?"
Wen-yi menangis sambil berkata.
"Da-ge, apakah kau ingin membuat ibuku marah lagi?"
Ruan-wei tertawa sedih, dia berteriak.
"Da-ge! Da-ge! Aku bukan Da-ge mu lagi, malah kau adalah bibiku, lebih tua satu generasi dariku... Ha, ha.... ha, ha...."
Karena sakit hati, Ruan-wei tidak ingin tinggal lama, dia memberi hormat kepada Wen-yi dan tertawa kecut.
"Bibi Wen, selamat tinggal...."
Dia lari dengan cepat, Wen-yi berteriak.
"Da-ge! Da-ge! Da-ge...."
Dia ingin mengejarnya tapi perempuan itu menarik tangannya.
"Jangan kejar lagi, kau lebih tua satu generasi darinya!"
"Aku tidak mau menjadi bibinya, tidak mau...."
Wen-yi menangis.
Tapi siapa berani melawan etika ini?
Ruan-wei meninggalkan Lembah Selatan, dia menunggang Bai-ti-ma.
Teringat kemarin dia masih bersama Wen-yi, sekarang hanya tinggal sendiri.
Semua hal di dunia ini benar-benar berubah menjadi hal yang sulit dibayangkan.
Dia mengembara tanpa ada tujuan.
Entah berapa lama berkelana, dia kembali tidak memperhatikan dirinya sendiri dan berpakaian apa adanya.
Dia terus berusaha melupakan Wen-yi tapi selalu tidak bisa, dia merasa tidak bisa berpisah lagi dengan Wen-yi, tapi mana mungkin dia bisa menikah dengan Wen-yi.
Teringat bulan 1 tanggal 15 adalah hari perjanjian antara biksu Harimau dengan Tuan Jian, maka dia berjalan menuju Jun-shan.
Gunung Jun-shan berada di tangah danau Dong-ting.
Dari sini ke Jun-shan masih jauh setelah melakukan perjalanan cukup lama maka malam hari Ruan-wei baru sampai.
Dia juga berpikir apakah kedua tetua ini sudah bertarung?
Dengan tidak tenang dia berjalan ke puncak Jun-shan.
Bulan bersinar sangat terang, cahaya bulan menyinari puncak Jun-shan, keadaan menjadi sangat terang.
Sinar bulan juga menyinari sebuah batu dengan permukaan datar, di sana ada 2 bayangan orangyang sedang duduk.
Melihat 2 bayangan ini, Ruan-wei mengira mereka sedang bertarung dan belum selesai, maka hatinya sedikit tenang dan pelan-pelan mendekat.
Di sisi batu dengan bentuk seperti panggung terdapat 3 huruf besar yang tertulis 'Xuan-yuan-tai'.
Katanya dulu raja Huang-ti membuat Ding di sini.
(Ding=adalah sebuah tempat masak berkaki 3 dengan dua pegangan.
Setelah selesai, dia naik naga terbang ke langit).
Tempat pertarungan ini benar-benar bagus karena tidak ada yang mengganggu.
Musim dingin seperti ini jarang ada wisatawan yang datang.
Semakin dekat, Ruan-wei semakin jelas melihat bayangan itu.
dalam hati dia berpikir dengan aneh, sedang melakukan apa mereka.
Awalnya dia mengira mereka sedang duduk berhadapan, karena beradu telapak.
Begitu mendekat dan melihat dengan jelas, mereka tidak sedang beradu telapak, untuk apa mereka duduk termenung?
Apakah mengadu duduk lama?
Tapi di dunia persilatan tidak pernah ada yang bertarung duduk lama, maka Ruan-wei dengan cepat berlari ke panggung dan melihat keadaan di sana.
Dia berteriak, karena di punggung Biksu Harimau dan Tuan Jian terdapat pukulan sepasang telapak berwarna hitam.
Mereka sudah mati beberapa jam yang lalu.
--BAB 119 Berkelana dengan hati sedih Mata Ruan-wei melotot dengan besar, dia berteriak sekuat tenaga.
"Siapa yang telah membunuh mereka? Siapa yang membunuh mereka...."
Terlihat biksu Harimau dan Tuan Jian sedang beradu telapak kemudian ada yang datang lalu membunuh mereka.
Orang yang membunuh mereka pasti orang yang mereka kenal, maka mereka tidak waspada sampai bisa terbunuh begitu saja!
Ruan-wei terus berteriak karena sedih, walaupun dia hanya bisa berteriak tapi suaranya bisa terdengar sampai beberapa kilometer.
Jika di Jun-shan ada orang, mereka bisa mendengarnya.
Dia terus berteriak tapi di sekeliling tetap tidak ada suara, hanya ada beberapa ekor burung yang terbang karena terkejut, tidak terlihat ada jejak manusia.
Mungkin pembunuhnya sudah pergi jauh!
Sampai terakhir suara Ruan-wei habis, dengan lemas dia duduk di panggung, matanya melihat kejauhan, apa yang dipikirkannya sekarang atau dia tidak memikirkan apa-apa?
Hanya ingin duduk terpaku!
Dia sama sekali tidak menggerakan tubuh, dari jauh terlihat ada seorang perempuan berpakaian hitam.
Perempuan itu sangat cantik walaupun memakai baju kasar tapi tidak bisa menutupi kecantikan wajahnya.
Perempuan ini semakin mendekat, umurnya paling baru 16-17 tahun.
Dia berhenti di depan Ruan-wei dan bertanya.
"Apa yang membuat Kakak begitu sedih?"
Tapi Ruan-wei seperti tidak mendengar pertanyaan gadis ini, kepalanya tetap ditundukkan seperti orang bodoh. Perempuan berpakaian hitam itu mengeluh.
"Hidup di dunia ini banyak yang tidak berkenan di hati, Kakak jangan sedih lagi, jika mengalami kesulitan siapa tahu aku bisa membantumu!"
Lama Ruan-wei tidak bicara, karena tidak diladeni maka perempuan itu menarik nafas dan merasa iba kepada Ruan-wei. Pelan-pelan dia pergi. Belum berjalan 3 langkah, tiba-tiba Ruan-wei berkata.
"Nona yang baik hati, apa yang bisa kau bantu?"
Perempuan itu sambil tertawa membalikkan tubuh dan berkata.
"Aku punya sedikit...."
Begitu melihat wajah Ruan-wei, dia menjadi tercenung, tubuhnya seperti membeku. Setelah lama dia baru berteriak.
"Kau... kau... adalah... adalah Da-ge...."
Ruan-wei terkejut dan bertanya.
"Siapa... kau siapa?"
Dengan hati bergejolak perempuan berpakaian hitam itu menjawab.
"Da-ge, aku adalah Yun-er! Apakah Da-ge sudah lupa padaku?"
Karena Ruan-wei masih terlalu sedih, dia masih tercenung melihat gadis itu, akhirnya dia baru mengenali kalau perempuan itu adalah adik keduanya, Ruan-yun yang dibawa pergi oleh Tangan Terampil Xu-bai.
Setelah mengenalinya, dengan senang dia berdiri, kedua tangannya terus memegang tangan Ruan-yun.
Dengan suara gemetar dia berkata.
"Adik kedua... adik kedua... ternyata kau adik kedua..."
Kedua tangan Ruan-yun dipegang erat oleh Ruan-wei, entah mengapa Ruan-yun menjadi malu, wajahnya menjadi merah.
Tadinya dia ingin melepaskan genggaman Ruan-wei tapi akhirnya dia hanya menundukkan kepala dan diam.
Ruan-wei tidak merasa sikap Ruan-yun yang canggung.
Tadi sikapnya yang sedih tadi sudah menghilang, sambil tertawa dia bertanya.
"Da-ge benar-benar senang bisa bertemu denganmu. Beberapa tahun ini kau ada di mana? Apakah keadaanmu baik-baik saja?"
Ruan-yun pelan-pelan mengangkat kepalanya, dia menceritakan kejadian beberapa tahun ini dan apa yang dia lakukan.
Semenjak dia dibawa oleh Tangan Terampil Xu-bai, mereka tinggal di gunung.
Kecuali belajar ilmu silat, tidak ada kegiatan lain yang dia lakukan.
Sekarang karena sudah berhasil maka dia diijinkan turun gunung.
Kebetulan dia lewat Danau Dong-ting, dia ingin bermain di sini, tidak disangka dia bisa bertemu dengan salah satu dari keluarganya, itu benarbenar hal yang membahagiakan.
Begitu Ruan-yun selesai bercerita, Ruan-wei baru melepaskan genggamannya dan bertanya.
"Aku dengar Tangan Terampil Xu-bai masuk Zheng-yi-bang dan dia adalah orang yang dihormati di perkumpulan itu. Mengapa dia tidak membawa Adik tinggal di sana dan juga mengajarkan ilmu silat kepadamu?"
"Karena perjanjian antara Tetua Xu-bai dengan Zheng-yi-bang hanya 10 tahun. Dulu dia telah menolongku dari Shi-san Gongzi Tai-bao, tepat 10 tahun perjanjiannya selesai dengan Zheng-yibang, ketika dia sedang bermain menikmati pemandangan, dia bebas dari tanggung jawab apa pun. Secara kebetulan dia menolongku, dia melepaskan kehidupannya yang tenang dan terus mengajarkan aku ilmu silat."
Ruan-wei memuji.
"Tetua Tangan Terampil Xu-bai adalah pesilat yang terkenal, adik kedua mendapat warisan ilmu silatnya, benar-benar berjodoh dengannya! Da-ge sangat senang!"
Ruan-yun menundukkan kepala dan berkata.
"Tapi sayang adik tidak berbakat, ilmu silat Tetua Xu paling-paling hanya berhasil aku kuasai sepersepuluhnya saja."
"Mengapa kau tidak menyebut Tetua Xu guru?"
Tanya Ruan-wei. Ruan-yun tertawa.
"Aku juga ingin memanggilnya guru tapi setelah tahu identitasku, dia berkata bahwa aku tidak boleh memanggilnya guru, harus memanggilnya tetua!"
"Mengapa sesudah tahu identitas Adik, dia tidak mau dipanggil guru? Apakah antara dia dan ayah ada sesuatu?"
"Aku... aku... tidak tahu apa sebabnya?"
Ruan-wei mengingat identitasnya sendiri, sampai sekarang dia belum tahu siapa ayah kandungnya.
Kelihatannya dia dan adik keduanya ini bukan dari satu ayah, dan siapa ayahnya?
Karena itu dia menarik nafas.
Dengan penuh perhatian Ruan Yu bertanya.
"Bagaimana Da-ge melewati beberapa tahun ini? Mengapa... mengapa... kau seorang diri di sini dan bersedih?"
Dengan singkat Ruan-wei menceritakan kehidupannya selama beberapa tahun ini, sampai terakhir dia menunjuk mayat Tuan Jian dan biksu Harimau. Dengan sedih dia berkata.
"Mereka... mereka berdua adalah pesilat terkenal, tapi dalam satu hari mereka terbunuh di sini. Kakak tidak percaya mereka sudah meninggal, siapa yang membunuh mereka? Siapa? Siapa...."
Ruan-yun mendengar cerita Ruan-wei begitu banyak lika-liku selama beberapa tahun.
Dalam hati dia sangat senang karena Da-ge nya bisa mendapatkan banyak ilmu yang aneh tapi dia juga tidak menyangka pesilat tangguh di Zhong-yuan dan satu lagi biksu dari India bisa secara bersamaan terbunuh di sini.
Pantas Da-ge nya begitu sedih.
Dia menghibur.
"Orang mati tidak akan bisa hidup kembali, Da-ge jangan terlalu sedih! Kita cari apakah ada tanda-tanda yang ditinggakan agar Da-ge bisa membalas dendam untuk Tetua Biksu Harimau."
Ruan-wei menggelengkan kepala.
"Aku sudah melihat dengan teliti, kecuali di punggung 2 tetua ada bekas telapak hitam yang membuat mereka meninggal, tanda yang lainnya sama sekali tidak terlihat!"
"Apakah bekas telapak tangan hitam ini milik seseorang atau sebuah ilmu yang jarang dikuasai? "Telapak ini bernama telapak Wu-sha-zhang. Pembunuhnya seperti sudah mempunyai rencana membunuh Tuan Jian dan biksu Harimau, tapi biksu Harimau itu bisu dan tuli, dia sangat baik. seumur hidupnya dia tidak pernah melukai siapa pun. Mengapa ada orang yang ingin membunuhnya?"
Ruan-wei terus memegang kepalanya dan terus menarik nafas. Ruan-yun melihat dia begitu sedih lalu menasehati.
"Da-ge, jangan terlalu bersedih nanti Da-ge bisa sakit! Suatu hari semua masalah akan terungkap. Kita makamkan dulu 2 tetua ini!"
Setelah memakamkan 2 tetua, Ruan-wei dan Ruan-yun meninggalkan Jun-shan.
Karena tidak ada hal yang harus mereka selesaikan maka mreka mengambil keputusan kembali ke rumah mereka di Hang-zhou.
Sepanjang jalan Ruan-wei tampak tidak bersemangat.
Tubuhnya yang sudah kotor bertambah kotor.
Jika bukan Ruan-yun yang mengajaknya berbicara, dia malas berbicara!
Hari ini mereka sampai di sebuah desa tanpa nama.
Di desa itu para penduduk sedang sibuk memasak karena hari sudah siang.
Mereka berdua sejak pagi berjalan sampai sekarang, maka mereka ingin mencari tempat untuk beristirahat dan makan.
Di depan kira-kira ratusan meter ada puluhan rumah.
Begitu mendekat dan melihat jumlah rumahnya ada 13, setiap rumah saling menyambung, genting terlihat masih baru, berarti rumahrumah itu belum lama dibangun.
Ruan-yun bertanya kepada Da-genya.
"Mengapa semua rumah di desa ini sepertinya baru dibangun?"
"Adik kedua, ini bukan desa biasa, mungkin di sini ada orang dunia persilatan yang bersembunyi dan tinggal di sini. Jika desa biasa, rumahnya tidak akan sebagus itu."
Ruan-yun mengangguk.
"Bentuk rumahnya sangat aneh, pasti ditinggali orang hebat. Da-ge, kita teruskan perjalanan, jangan ganggu ketenangan orang."
Ruan-wei menggelengkan kepala.
"Kita harus beristirahat dulu sebentar baru berjalan lagi, jika tidak tubuhmu tidak akan kuat."
Dia pelan-pelan berjalan ke arah 13 rumah aneh itu.
Mendengar perhatian dari kakaknya, Ruan-yun sangat senang, dia segera mengikuti Ruan-wei dan tidak peduli apakah di sana tinggal orang aneh atau bukan.
13 rumah ini, setiap rumah panjangnya 30 meter dan lebar 6 meter, lebih tinggi dari rumah biasa sekitar 2 meter.
Antara dua rumah disambung oleh sebuah besi.
Besi dibuat setinggi genting.
Ruan-wei mengelilingi sekali 13 rumah ini.
13 rumah itu sambung menyambung menjadi satu lingkaran dan sambungannya menggunakan besi, tapi tidak ada pintu masuk.
Setiap pintu dibuka dari dalam.
Orang yang ingin masuk harus melewati genting atau besi, kalau tidak, kau tidak akan bisa masuk.
Orang yang tinggal di rumah bila ingin keluar juga harus memanjat atap dan berjalan melalui besi-besi.
Maka 13 rumah ini benar-benar aneh.
Siapa pun yang melihat rumah itu akan merasa tidak mengerti mengapa bisa membuat sampai seperti itu!
Ruan-wei mengelilingi satu kali lagi rumah itu.
Ruan-wei mendapat satu tempat seperti pintu masuk.
Ruan-yun mengikuti dari belakang, tiba-tiba dia berkata.
"Apakah 13 rumah ini adalah penjara?"
Jika rumah itu penjara, mengapa dibuat seperti rumah tinggal, benar-benar membuat orang tidak mengerti.
Jika rumah-rumah ini adalah penjara tetap harus ada pintu!
Jika bukan penjara, rumah apakah ini?
Kecuali orang gila yang baru bisa membangun rumah seperti ini, tinggi dan tanpa pintu!
Besi yang menyambung tersusun sangat rapat, sama sekali tidak bisa dipanjat untuk naik, ingin keluar atau masuk ke-13 rumah ini harus mempunyai ilmu silat untuk meloncat tinggi atau terbang.
Ruan-wei berpikir sebentar, dia baru berkata.
"Kelihatannya tempat ini digunakan untuk mengurung orang, tapi siapa yang dikurung di dalamnya?"
Ruan-yun menunjuk satu-satunya rumah yang mengeluarkan asap dan berkata.
"Da-ge, kita ke sana untuk bertanya!"
Ruan-wei dengan cepat berlari ke belakang rumah itu lalu berteriak.
"Aku Ruan-wei dan adikku ingin masuk untuk beristirahat, apakah diijinkan?"
Di dalam terdengar suara seperti suara orang tua.
"Apakah Tuan adalah orang dunia persilatan?"
"Aku bisa sedikit ilmu silat,"
Jawab Ruan-wei. Orang yang ada di dalam menarik nafas.
"Jika ilmu silatmu tidak tinggi, lebih baik jangan masuk!"
"Dari nada bicara Tuan, seperti Anda sudah tua, apakah Anda mempunyai kesulitan?"
Tanya Ruan-wei.
"Apakah aku sudah tua?"
Tanya orang dari dalam rumah.
"Dari suaranya, sepertinya Tuan berumur 80 tahun!"
Ruan-wei menjawab dengan jujur. Orang yang ada di dalam rumah terkejut dan berteriak.
"Apa, sudah 80 tahun! Aku bermarga Li, tahun ini baru berumur 47 tahun, tidak disangka hanya beberapa bulan, aku sudah setua itu! Hai, harus menyalahkan siapa ini!"
"Pak Tua, ada kesulitan apa? Siapa yang mengurungmu di sini?"
Tanya Ruan-wei.
"Kami 13 bersaudara punya kekesalan sampai memenuhi perut, orang yang mengurung kami adalah murid kami satu-satunya!"
"Apakah di dunia ini ada orang yang tidak tahu aturan?"
Orang yang ada di dalam rumah tertawa kecut.
"Murid kami tidak tega membunuh kami, maka dia memusnahkan ilmu silat kami dan mengurung kami di sini agar mati perlahan-lahan. Tapi boleh dikatakan dia masih ada sedikit hati nurani, karena dia membangun 13 rumah bagus untuk kami. Tapi maksudnya adalah membunuh gurunya dengan pelan-pelan! Ha, ha, ha! Dia membiarkan kami pelan-pelan menjadi tua lalu mati!"
Semakin mendengar cerita pak tua itu, Ruan-wei semakin naik pitam, diamembentak.
"Pak Tua, jangan marah, aku akan menolong kalian 13 bersaudara dan membantu kalian membunuh murid yang ingin membunuh gurunya sendiri!"
Ketika dia ingin meloncat ke atap, tiba-tiba ada suara perempuan membentak.
"Siapa yang berani masuk!"
Ruan-yun dengan cemas berkata.
"Da-ge, jangan masuk dulu! Di belakang ada perempuan, kita tanya dulu dengan jelas baru menolong orang yang ada di dalam agar tidak terjadi kesalahpahaman!"
Orang yang ada di dalam rumah berkata.
"Suara orang yang datang itu adalah muridku!"
"Apakah muridmu itu seorang perempuan?"
Tanya Ruan-wei. Orang yang ada di dalam rumah dengan cemas berkata.
"Betul! Ilmu silatnya sangat tinggi, jika Tuan ingin menolong aku dan saudaraku, kau harus berhati-hati...."
Ketika sedang berbicara, dalam waktu singkat orang yang berteriak itu sudah berada di depan Ruan-wei.
Dia tiba-tiba berhenti, Ruan-wei juga mundur selangkah dan siapa sangka orang itu adalah perempuan yang berpakaian merah, di belakang punggungnya terselip sebilah pedang, wajahnya cantik, tubuhnya langsing.
Dia sangat mirip dengan Ruan-yun.
Ruan-yun melihatnya, tiba-tiba berteriak.
"Kakak! Kakak! Kau adalah kakakku Tiba-tiba Ruan-wei teringat pada perempuan berpakaian merah adalah orang yang mengurungnya selama 5 hari di dalam gua dan dia juga adalah perampok yang bekerja sendiri. Mengingat pada kekejaman dan sifat semaunya, Ruan-wei marah dan dia menampar perempuan itu. Perempuan berpakaian merah itu menghindar dan berteriak.
"Adik! Da-ge pukul aku, cepat bantu aku!' Ruan-wei berhenti memukul dan berkata.
"Siapa Da-ge mu?"
Ruan-yun cepat-cepat mendekat.
"Da-ge, dia adalah Kakak Xuan, apakah kau tidak mengenalinya?"
Setelah dilihat dengan teliti, perempuan berpakaian merah itu cantik seperti adik Yun nya tapi dia tidak mempunyai kelincahan dan kebaikan hati adik Yun, yang ada hanyalah wajah yang sombong.
Tampak gadis ini memang suka berbuat semaunya sendiri.
Sikap ini adalah sikap Ruanxuan sejak masih kecil.
Dengan serius Ruan-wei bertanya.
"Apakah kau adalah adikku, Ruan-xuan?"
Perempuan berpakaian merah itu tertawa.
"Kenapa bukan? Da-ge, ketika di Si-chuan, di Le-shan-cheng aku telah bersalah kepadamu."
Tiba-tiba Ruan-wei mengulurkan tangan, menampar Ruan-xuan.
Tangannya terulur dengan cepat, untung Ruan-xuan berilmu silat tinggi, dia bisa meloncat dan bersalto ke belakang.
Tapi begitu turun, serangan tangan Ruan-wei sudah mengikutinya.
Ilmu telapak Ruan-wei adalah ilmu yang tingkat tinggi, sejurus demi sejurus semakin kencang dan angin telapak semakin kuat.
Jika mengenai Ruan-xuan bisa mati!
Ruan-xuan tidak bisa melawan ilmu Ruan-wei yang tinggi, maka dia hanya bisa menghindari serangan Ruan-wei sampai jurus kelima.
Ruan-wei berhenti dan berdiri.
Ruan-xuan mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka keringat, karena untuk menghindari 5 jurus tadi dia telah mengeluarkan seluruh ilmu andalannya.
Tiba-tiba Ruan-xuan duduk di bawah lalu menangis dengan sedih, dia seperti menampung kekesalan di dalam hatinya.
Ruan-yun melihat Ruan-wei, dia mendekati Ruan-xuan dan pelanpelan berkata.
"Kakak! Kakak! Jangan menangis lagi...."
Tapi Ruan-xuan masih tenis menangis dan berkata.
"Kakak benar-benar jahat, aku mengurungmu 5 hari, tidak disangka dia mengem-balikan 5 jurus telapak kepadaku, hampir-hampir Xuan-xuan mati di bawah telapak Kakak...."
Melihat sikapnya seperti banyak kekesalan. Mengingat dia adalah adiknya, maka Ruan-wei menarik nafas.
"Aku tidak ingin membalasmu dengan menyerang 5 jurus telapak karena kau telah mengurungku selama 5 hari, tapi karena sifatmu yang kejam. Jika bukan aku yang mendidikmu, siapa lagi yang akan bisa?"
Ruan-xuan mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan berkata.
"Semenjak di Le-shan-cheng saat bertemu dengan Da-ge, aku tidak berani merampok pengawalan perjalanan lagi dan sekarang aku sedang belajar berbuat kebaikan, mengapa Da-ge berkata aku berdosa?"
Ruan-wei marah.
"Masalah di Le-shan-cheng jangan bicarakan lagi, tapi kau sudah membuat dosa yang lebih besar lagi, apakah kau tidak tahu?"
Ruan-xuan kebingungan.
"Apa aku melakukan dosa besar?"
Karena marah, wajah Ruan-wei menjadi pucat.
"Jika kau pura-pura tidak tahu, jangan salahkan Da-ge akan memukulmu lagi!"
"Tapi aku memang tidak tahu! Asal Da-ge bisa menunjukkan dosa yang telah aku perbuat, aku akan menerima hukuman dari Da-ge!"
"Apakah betul?"
Tanya Ruan-wei.
"Betul!"
Ruan-xuan sama sekali tidak takut, tiba-tiba Ruan-wei mengeluarkan telapak.
"Apakah orang di ke-13 rumah ini adalah guru-gurumu?"
Ruan-xuan tertawa.
"Apakah Da-ge ingin membunuhku karena orang-orang itu?"
Ruan-wei melotot.
"Jika kau menjawab tidak jujur, aku akan membunuhmu dalam satu jurus!"
Ruan-xuan tetap tertawa tanpa takut dan tidak peduli.
"Apakah Da-ge ingin membunuh Xuan-xuan?"
Dengan serius Ruan-wei menjawab.
"Mereka 13 orang telah mendidikmu seperti ayah dan ibu, mengapa kau tidak membalas budi karena mereka sudah mengajar-mu ilmu silat, kau malah ingin mencelakakan mereka!"
"Budi mengajarkan ilmu silat apakah harus dibayar?"
"Betul! Satu hari menjadi guru berarti seumur hidup adalah guru. Budi guru mana boleh tidak dibayar? Kau tidak membalas budi malah balik ingin membunuh mereka. Orang seperti ini dibunuh 10 kali pun masih kurang!' "Apakah Da-ge tahu mengapa aku mengurung 13 guruku di dalam rumah dan aku juga..."
Ruan-wei marah hampir-hampir dia memukul Ruan-xuan lagi.
"Dan kau memusnahkan ilmu silat mereka satu persatu agar mereka tidak bisa keluar dari 13 rumah aneh ini, apa dosamu bisa dimaafkan?"
"Sebetulnya aku mengurung mereka adalah untuk membalas budi...."
Karena terlalu marah, Ruan-wei menjadi tertawa terbahak-bahak.
"Apakah di dunia ini ada cara seperti ini untuk membalas budi? Apakah kau mengurung mereka sampai tua kemudian mati disebut balas budi?"
Ruan-xuan menjawab dengan dingin.
"Walaupun aku melepaskan 13 orang ini, mereka juga tidak berani pergi dan memilih mati tua di sini...."
Melihat Ruan-wei semakin marah, Ruan-xuan tidak berani bercanda lagi. Dengan serius dia berkata.
"Karena begitu mereka meninggalkan rumah ini dan berkelana di dunia persilatan, begitu tahu mereka sudah kehilangan ilmu silat, mereka akan terbunuh!"
"Walaupun mereka adalah orang jahat di dunia persilatan tapi ilmu silat mereka hilang garagaramu, bukankah ini namanya membunuh guru dan hal ini tidak bisa dimaafkan!"
Dengan sedih Ruan-xuan berkata.
"Selain mereka orang jahat di dunia persilatan, mereka juga adalah musuh yang membunuh ibuku!"
"Apa? Apakah mereka adalah Shi-san Gongzi Tai-bao?"
"Apakah Da-ge lupa ketika masih kecil aku diculik oleh mereka?"
Ruan-wei sedikit tidak percaya.
"Jika mereka adalah Shi-san Gongzi Tai-bao, mengapa mereka tidak membunuhmu, malah mengajarimu ilmu silat?"
Ruan-xuan tertawa.
"Karena mereka melihat ketika ibuku dibunuh dan aku tidak bersedih, mereka mengira ibu bukan ibu kandungku dan mengatakan aku adalah anak ketua sebuah perkumpulan besar. Mereka tidak tahu bahwa sejak mereka menculikku, aku sudah bertekad ingin membalaskan dendam ibuku!"
Tiba-tiba Ruan-yun menangis.
"Da-ge! Da-ge! Ibu mati sangat mengenaskan... ibu mati sangat mengenaskan...."
Karena tangisan ini, membuat Ruan-wei teringat pada dendamnya.
Dia teringat ketika itu ibu dipukul dengan telapak 'Shen-long-shou' Li Ming-zheng sampai mati.
Darahnya segera bergejolak, terlihat wajahnya penuh aura membunuh, dia berjalan ke arah ke-13 rumah aneh itu.
Ruan-xuan menghadang di depan dan meminta.
"Biarlah mereka tua dan mati di sana!"
Ruan-wei teringat kata-katanya sendiri tadi, budi guru harus dibalas.
Dia juga teringat pada Shisan Gongzi Tai-bao yang sudah mengajarkan semua ilmu silat kepada Ruan-xuan, tampak dendamnya tidak bisa dibalas dengan cara membunuh mereka, maka dia berhenti melangkah dan menarik nafas panjang.
Ruan-xuan mengerti kesedihan Ruan-wei, dia berkata.
"Aku sudah melukai syaraf mereka, walaupun Hua-duo hidup kembali, itu juga tidak akan bisa menyembuhkan mereka!" (Hua-duo adalah tabib yang sangat hebat jaman Tiongkok kuno). Mereka sekarang sudah tidak ada tenaga lagi, hidup mereka seperti mayat hidup berjalan. Dalam hati Ruan-wei berpikir hukuman untuk mereka seperti ini sudah cukup, maka keinginan untuk membunuh menjadi reda. Dia merasa beruntung Ruan-xuan tidak terlalu kejam, dia juga tidak mengerti dengan cara apa Adik Xuan bisa memusnahkan ilmu silat Shi-san Gongzi Tai-bao. Ruan-yun berhenti menangis.
"Kakak, mengapa kau mengurung orang yang membunuh ibu di sini?"
Ruan-xuan tertawa.
"Ini sangat mudah, jika aku bukan ingin belajar ilmu silat mereka masing-masing, sedari dulu aku sudah membunuh mereka. Ketika aku bertemu Da-ge di Si-chuan, aku sudah selesai mempelajari ilmu silat mereka, karena itu suatu hari, aku menyiapkan jamuan sayur dan arak istimewa. Begitu mereka selesai makan, satu persatu langsung pingsan...."
Ruan-wei menarik nafas.
"Kemudian satu persatu kau musnahkan ilmu silatnya dan mengurung mereka di sini!"
"Pedang yang bersembunyi selalu tidak terlihat, mereka tidak tahu murid mereka satu-satunya sudah lama menanam hati penuh dendam. Mereka berkata aku adalah putri Xiao-wu yang paling jahat di dunia ini dan mengatakan aku bukan anak kandung ibu agar aku tidak mengkhianati mereka...."
Orang yang ada di dalam rumah tiba-tiba berteriak.
"Kau adalah putri Xiao-wu. Hanya Xiao-wu yang jahat baru bisa melahirkan putri yang bisa membunuh gurunya sendiri!"
Ruan-xuan marah.
"Kau... kau... kentut! ibuku adalah Xiao Nan-pin, ayahku adalah Fu-hu-jin-gang Ruan Da-cheng yang sangat terkenal di Si-chuan!"
"Orang yang ada di dalam rumah tertawa terbahak-bahak.
"Ruan Da-cheng adalah laki-laki yang berbesar hati, mana mungkin dia mempunyai putri sepertimu yang tidak mempunyai hati nurani. Kau bercermin dulu apakah kau dan Xiao-wu samasama jahat?"
Ruan-xuan marah, dia berteriak.
"Kentut! Kau kentut!"
Orang yang ada di dalam rumah tertawa lagi.
"Memang bau! Sangat bau! Tidak disangka aku 'Shen-long-shou' mendapat seorang murid yang suka kentut."
Ruan-xuan mulai galak, dia meloncat masuk ke salah satu rumah aneh itu kemudian mencabut pedang.
Ruan-yun melihat kakaknya sudah mengeluarkan aura membunuh, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang langsung diwariskan dari Tangan Terampil Xu-bai.
Dia mengejar Ruan-xuan, yang pasti ilmunya berada di atas Ruan-xuan.
Satu kaki bertumpu tanah kemudian tubuh melayang seperti burung terbang masuk ke rumah aneh itu.
Ketika Ruan-xuan masuk, Ruan-yun sudah menghadang, pelan-pelan dia berkata.
"Kakak! Kakak! Jangan bunuh mereka...."
Dari masing-masing rumah keluar seorang pak tua, tubuh mereka gemuk, rambut putih, janggut putih kering dan kusam. Ruan-yun terkejut dan berteriak.
"Mereka... apakah mereka adalah Shi-san Gongzi Tai-bao?"
Dari rumah pertama keluar seorang pak tua gemuk.
"Baiklah, baiklah! Kita mati di tangan murid sendiri, itu lebih baik!" 12 Gongzi Tai-bao bersamaan berkata."Da-ge, kita bergabung melawan penjahat ini!"
Setelah bicara mereka sudah merasa terengah-engah, apalagi 'Shen-long-shou' Li Ming-zheng bicara pun sudah tidak bertenaga.
Ruan-xuan sama sekali tidak menyangka hanya dalam waktu beberapa bulan, ke-13 gurunya bisa berubah seperti ini.
Walaupun hatinya sedih tapi sifatnya galak juga keras, maka dia berkata kepada Ruan-yun.
"Mengapa tidak boleh membunuh mereka?"
Shi-san Gongzi Tai-bao seperti sudah merencanakan sesuatu, mereka pelan-pelan mendekati Ruan-xuan tapi mereka tetap ingin sebelum mati bisa membalas dendam kepada Ruanxuan dulu!
Ruan-yun melihat wajah mereka penuh aura membunuh dan raut wajah mereka sangat aneh.
Dengan suara gemetar, dia berkata.
"Kakak... kita... kita pergi dari sini. Xiao-wu benar-benar ayahmu...."
Wajah Ruan-xuan berubah.
"Orang paling jahat di dunia ini yang bernama Xiao-wu apa benar ayahku?"
Ruan-yun mengangguk. Ruan-xuan bertanya.
"Apakah ayahmu juga Xiao Wu?"
Ruan-yun mengeluh.
"Betul, ayah kita berdua adalah Xiao-wu, tapi... tapi, ibu kakak bukan ibuku...."
Ruan-xuan bertanya tergesa-gesa.
"Siapa ibuku...."
"Ibu kakak dan ibu Da-ge sama...."
Jawab Ruan-yun.
"Siapa ayah Da-ge?"
Tanya Ruan-xuan. Pelan-pelan Ruan-yun berkata.
"Ayah Da-ge adalah orang paling baik di dunia ini, ketua Zheng-yi-bang...."
Sekarang Ruan-xuan baru tahu identitas dirinya, dan baru tahu mengapa dulu ayah dan ibu tidak suka kepadanya.
Ternyata mereka bukan ayah dan ibu kandung mereka.
Shi-san Gongzi Tai-bao sudah mendekat, nafas mereka yang berat sudah terdengar.
Setelah Ruan-xuan mengetahui identitas dirinya, dia sudah tidak berniat membunuh mereka.
Maka kakinya menghentak, dia terbang keluar.
Ruan-yun bersifat lembut, melihat keadaan Shi-san Gongzi Tai-bao sekarang ini, walaupun tahu mereka yang telah membunuh ibu kandungnya, dia tidak tega membalas dendam kepada mereka.
Maka dia ikut Ruan-xuan keluar dari rumah aneh ini.
Ruan-wei menunggu di luar.
Dia hanya melihat Ruan-yun menasehati Ruan-xuan sebentar, dan Ruan-xuan tidak membunuh Shi-san Gongzi Tai-bao.
Ruan-wei mengira sifat Ruan-xuan sudah berubah menjadi baik dan tidak sembarangan membunuh orang lagi!
Ruan-xuan berjalan ke depan Ruan-wei bertanya.
"Da-ge, sekarang kau mau ke mana?"
"Aku dan Adik Yun ingin pulang untuk melihat-lihat!"
"Pulang! Pulang ke mana? Rumah yang mana?"
Tanya Ruan-xuan. Ruan-wei marah.
"Yang pasti pulang ke rumah di Hang-zhou. Apakah Adik Xuan lama meninggalkan rumah sampai lupa pada rumah sendiri?"
Ruan-xuan juga marah.
"Kau dan aku sudah lama tidak mempunyai rumah! Rumah di Hang-zhou bukan milik kita...."
Ruan-wei marah.
"Jangan sembarangan bicara! Jika sembarangan berkata, Da-ge akan memukul mulutmu lagi!"
Ruan-xuan dengan nakal berkata.
"Kalau kau tidak percaya, tanyalah pada Adik Yun!"
Ruan-wei sedari kecil sangat memperhatikan keluarga, melihat Ruan-xuan tidak mengakui kalau Hang-zhou adalah kampung halamannya, dia marah besar.
Karena tidak bisa menguasai emosinya, tangannya sudah keluar untuk menampar Ruan-xuan lagi.
Tamparan ini sangat cepat, membuat Ruan-xuan tidak sempat menghindar.
Terdengar PAK!
Terdengar suara nyaring.
Karena Ruan-xuan terkena pukulan Ruan-wei, mulai muncul sifat liarnya, dia berteriak.
"Kau... kau... bukan Da-ge ku, mengapa kau berani memukulku?"
"Siapa bilang aku bukan Da-ge-mu?"
Dengan marah Ruan-xuan berkata.
"Ayahmu adalah orang paling baik di dunia ini dan ayahku adalah orang paling jahat di dunia ini, kau sudah memukulku, aku tidak mau bersamamu lagi...."
"Siapa orang yang paling baik di dunia ini?"
Tapi Ruan-xuan sudah pergi entah ke mana. Karena tidak mendapat jawaban, dia pelan-pelan berkata sendiri.
"Orang yang paling baik di dunia ini, siapakah dia? Siapakah dia...."
Tiba-tiba Ruan-yun menjawab.
"Dia adalah ketua Zheng-yi-bang, Lu Nan-ren!"
"Apa?"
Ruan-wei terkejut.
"Lu Nan-ren?"
"Betul! Ayah kandung Da-ge adalah ketua Zheng-yi-bang. Ayahku dan ayah Kakak Xuan adalah ketua Tian-zheng-jiao...."
"Siapa yang bilang?"
Ruan-wei bertanya terburu-buru.
"Tetua Xu-bai yang memberitahuku!"
Jawab Ruan-yun. Ruan-wei berteriak terkejut.
"Tangan Terampil Xu-bai!"
Ternyata dulu Xiao Nan-pin yang sedang hamil, merebut putra Lu Nan-ren dan juga putri Xue Ruo-bi hasil pernikahannya dengan Xiao-wu.
Karena Xu-bai menyaksikan dengan mata kepala sendiri maka dia tahu dengan jelas.
Setelah Tangan Terampil Xu-bai menge-tahui identitas Ruan-yun adalah putri Xiao Nan-pin dan Xiao-wu, maka dia tidak ingin mengakui Ruan-yun sebagai muridnya.
Karena generasinya berada di atas Lu Nan-ren.
Dihitung-hitung, Ruan-wei, Ruan-xuan, dan Ruan-yun berada 2 generasi di bawahnya.
Hal ini belum pernah dibicarakan Xu-bai kepada Ruan-yun.
Ketika Ruan-yun ingin turun gunung, Tetua Xu-bai baru memberitahu kepadanya.
Sebenarnya ketika Ruan-yun bertemu dengan Ruan-wei di Jun-shan, dia ingin memberitahu semuanya kepada Ruan-wei.
Tapi karena Ruan-yun takut setelah Ruan-wei tahu dia adalah putri ketua Tian-zheng-jiao, Ruan-wei akan menganggap remeh padanya.
Maka dia tidak berani berkata terus terang.
Sekarang keadaan memaksa, dia terpaksa memberitahu Ruan-wei.
Sesudah tahu semuanya, Ruan-wei tertawa kecut.
"Kalau begitu, aku dan Adik Xuan adalah saudara satu ibu beda ayah. Lalu aku dan kau...."
Tiba-tiba Ruan-yun dengan malu berkata.
"Aku dan Da-ge tidak ada hubungan darah."
Ruan-wei memegang tangan Ruan-yun.
"Adik Yun, kau adalah gadis yang baik, walaupun aku bukan Da-ge mu, tapi aku tetap akan menganggapmu sebagai adik kandungku sendiri...."
Wajah Ruan-yun memerah, hanya sebentar dia kembali seperti semula. Kemudian dia melihat Ruan-wei.
"Da-ge, kita cari ayahmu Paman Lu, bagaimana?"
Ruan-wei meletakkan kembali tangan Ruan-yun, sambil berjalan ke arah Bai-ti-ma, dia tertawa kecut.
"Aku tidak mau bertemu dengannya!"
Ruan-yun mengikutinya dan bertanya.
"Mengapa? Paman Lu adalah orang paling baik di dunia ini...."
Dengan emosi Ruan-wei menjawab.
"Namanya memang baik tapi dia seperti ibuku yang telah meninggal...."
Dia berhenti bicara karena teringat pepatah yang mengatakan.
Zi-bu-lun-fu-zi-guo (Artinya, anak jangan menceritakan kejelekan ayahnya).
Tiba-tiba dia menampar dirinya sendiri sebanyak dua kali kemudian dia sudah berada di atas kuda dan berkata.
"Adik Yun, ayahmu belum tentu orang jahat, pergilah temui dia! Dan beritahu kalau ibumu sudah meninggal. Da-ge ada urusan, dan akan pergi dulu!"
Ruan-yun terus berteriak.
"Da-ge! Dage! Jangan pergi... aku ikut denganmu...."
Tapi Ruan-wei sudah menghilang karena Bai-ti-ma adalah kuda yang larinya sangat cepat, Ruan-yun tidak akan sanggup mengejarnya.
Dia berjalan ke arah kudanya dan dia tiba-tiba menangis.
Ketika dia sedang menangis, tiba-tiba ada suara seorang perempuan yang berkata.
"Adik! Jangan menangis lagi, kita cari ayah!"
Ruan-yun memeluk Ruan-xuan yang tadi pergi kemudian ternyata telah kembali. Dia berkata sambil menangis.
"Kakak! Kakak, Da-ge sudah pergi...."
"Jangan bersedih, kita akan bertemu dia di lain waktu...."
Terik sinar matahari menyinari kakak beradik yang baru bertemu setelah berpisah sekian lama.
Matahari juga menyinari seseorang yang sedang menunggang kuda sendirian, dia begitu kesepian.
Ruan-wei tidak memiliki tujuan, dia pelan-pelan menjalankan kudanya.
Yang menemaninya hanyalah bayangannya.
Sore hari dia baru tiba di sebuah kota kecil.
Di kota itu ada sebuah rumah makan.
Ruan-wei mengira waktu seperti sekarang hanya arak yang bisa membuatnya lepas dari kesedihan dan kesepian!
Sebulan sudah berlalu.
Ruan-wei masih berkelana di dunia persilatan.
Barang yang dibawanya kecuali baju, yang lainnya adalah arak.
Sekarang Ruan-wei tidak bisa terpisah dari arak.
Hari ini dia berjalan sampai Xin-yang-zhou.
Begitu memasuki kota, terlihat di jalan begitu banyak orang dengan penampilan seperti pesilat.
Mereka pelan-pelan berjalan ke kota bagian barat.
Karena merasa aneh, Ruan-wei bertanya kepada seorang pesilat tua.
"Permisi tanya Tetua, apa yang sedang terjadi di kota Xin-yang?"
Karena ingin cepat-cepat sampai di tujuan, tadinya pesilat ini tidak ingin menjawab. Tapi karena Ruan-wei begitu sopan memanggilnya tetua, terpaksa dia berhenti dan berkata.
"Ada satu hal yang menggegerkan dunia persilatan, apakah kau tidak tahu?"
"Aku tidak mendengar kabar apa-apa, harap tetua bisa memberitahuku!"
Dengan bersemangat pesilat tua itu berkata.
"Lembah Selatan dan Bei-bao yang sudah 20 tahun lebih tidak muncul di dunia persilatan tibatiba mengumumkan hari ini di kota Xin-yang akan diadakan pertarungan. Begitu kabar ini tersebar, semua orang persilatan yang mendapat kabar ini segera datang untuk menyaksikan pertarungan yang jarang terjadi!"
Begitu mendengar Lembah Selatan, Ruan-wei langsung tahu yang dimaksud adalah ayah Wenyi.
Dia akan bertarung dengan siapa?
Beberapa bulan yang lalu dia sempat memukul ayah Wen-yi sampai terluka parah, mana mungkin dia bisa menang hari ini.
maka dengan tergesa-gesa dia bertanya.
"Siapa Beibao itu?"
Ketika pesilat tua itu ingin menjawab, di depan ada seseorang yang berkata.
"Pak Tua Ni, untuk apa mengobrol dengan bocah tengik ini? Cepat jalan! Kalau terlambat, kita tidak akan bisa melihat pertarungan yang jarang terjadi, kau akan menyesalinya seumur hidup!"
Dengan sikap malu pesilat bermarga Ni ini berkata.
"Sifat temanku itu terlalu lurus, harap jangan disimpan di hati. Saudara, kalau kau ingin tahu siapa Bei-bao, cepatlah ke sana untuk melihat pertarungan mereka."
Dia melangkah lebih cepat lagi, dia sudah menyusul seorang pak tua setengah baya yang wajahnya penuh dengan cambang, mendengar orang itu tadi memanggilnya bocah tengik, Ruanwei tidak marah, karena bajunya memang sudah compang camping dan sudah sebulan dia tidak mandi dan mencuci muka.
Wajar bila orang-orang memanggilnya bocah tengik.
Karena Ruan-wei ingin cepat-cepat bertemu dengan Wen-yi, setelah tahu mereka tidak ada hubungan darah dan Wen-yi bukan bibinya, begitu bertemu Wen-yi dia akan menjelaskan semuanya dan meminta maaf, karena itu dia menuntun Baiti-ma mengikuti arus banyak orang yang berjalan dengan cepat ke arah barat kota itu.
Sesampainya di bagian barat kota itu, di sebuah lapangan yang luas, terlihat banyak orang telah berkumpul dan terus bergerak, di depan ada sebuah panggung tinggi.
Di sisi panggung duduk dua orang pak tua.
Ruan-wei mengenali yang duduk di sebelah kanan adalah ayah Wen-yi, Wen Tian-zhi sedangkan yang duduk di sebelah kiri adalah seorang pak tua gagah yang belum pernah ditemuinya.
Di tengah panggung ada dua orang yang sedang bertarung, mereka sedang bertarung dengan sengit, hanya terlihat bayangan mereka yang berlari ke sana dan ke sini, tapi tidak terlihat jelas siapa yang sedang bertarung.
Tidak lama kemudian Ruan-wei yang bermata jeli bisa melihat, yang satu adalah kekasihnya, Wen-yi, sedangkan yang satu lagi adalah si play boy gemuk yang pernah mengalahkannya beberapa kali di kota Kai-feng, bernama Jian Shao-wu.
Ruan-wei tahu ilmu silat anak muda gemuk itu sangat lihai, sepertinya Wen-yi tidak bisa menang darinya, dia sangat cemas dan ingin membantu Wen-yi, tapi dia takut begitu Wen-yi melihat kedatangannya dia tidak bisa berkonsentrasi lagi.
Dengan begitu Wen-yi bisa terluka parah karena serangan telapak Jian Shao-wu, terpaksa Ruan-wei melihat pertarungan itu dari bawah panggung.
Setelah puluhan menit berlalu, dia melihat ilmu telapak Wen-yi ternyata tidak kalah jauh dari Jian Shao-wu, tubuh Wen-yi bergerak sangat lincah dan posisinya sekarang berada sedikit di atas tuan muda gemuk itu.
Ruan-wei menjadi sedikit tenang, Jian Shao-wu tidak bisa menang dengan mudah dari Wen-yi, Wen-yi ingin menang dari Jian Shao-wu pun bukan hal yang mudah.
Wen Tian-zhi dari Lembah Selatan yang melihat hal ini, sambil melihat pertarungan dia terus menggelengkan kepala, dia tahu kalau ilmu silat putrinya sedikit lebih tinggi dia pasti bisa menang dari Jian Shao-wu.
Sayang selama 1 tahun belakangan ini Wen-yi berada di luar lembah, kalau dia sedikit rajin belajar, keadaannya tidak akan seperti sekarang ini.
Pak tua yang satu lagi terlihat gagah, dia adalah orang yang 20 tahun lalu adalah orang yang sangat terkenal, julukannya adalah Bei-bao (Rumah Utara), Jian Zhi-ming.
Terlihat dia mengerutkan alisnya, mungkin dia melihat putranya begitu lemah, dia juga menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu menyayangi putranya sehingga putranya seharian kerjanya hanya minum arak dan main perempuan.
Sekarang ilmu silatnya 80% nya saja tidak sampai, kelihatannya taruhan 30 tahun lalu dengan pak tua Wen akan kandas di tangan putranya.
Orang-orang yang ada di bawah panggung melihat pertarungan ini terus melotot karena belum pernah melihat jurus-jurus begitu cepat berubah serta tubuh yang bergerak dengan cepat!
Sewaktu semua orang sedang tegang melihat pertarungan, tiba-tiba ada suara yang membentak, kemudian terdengar teriakan perempuan, setelah itu dua orang yang ada di panggung segera menjauh.
Ruan-wei benar-benar terkejut, tapi untungnya Wen-yi tidak terluka hanya ikat kepalanya tercengkram oleh Jian Shao-wu dan rambut panjangnya terurai, dapat dilihat kalau dia adalah perempuan.
Semua pendekar melihat putra pendekar Lembah Selatan yang berilmu silat tinggi adalah seorang perempuan, dan seorang perempuan cantik pula.
Maka di lapangan terlihat menjadi ribut.
Tuan muda gemuk itu memegang kepalanya yang dicakar oleh Wen-yi, dengan terkejut berkata.
"Kau... kau... seorang perempuan."
Menurut peraturan kalau Wen-yi berhasil melukai Jian Shao-wu berarti Wen-yi yang menang, Wen-yi tertawa dingin.
"Kalau aku perempuan memangnya kenapa? Apakah kau tidak mau mengaku kalah?..."
Bei-bao Jian Zhi-ming tiba-tiba berdiri, dan tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja kami tidak mau mengaku kalah."
Dia berjalan ke depan panggung dan berkata.
"10 tahun yang lalu, Bei-bao dan Nan-gu selalu mempunyai kekuatan yang sama, aku dan pak tua Wen bertarung 9 kali tapi tidak pernah menang atau kalah, maka kami mencari cara lain untuk menentukan kemenangan, apa caranya, aku harap pak tua Wen bisa menjelaskannya pada hadirin."
Wajah Wen Tian-zhi sangat pucat. Dia berdiri di depan panggung dan menarik nafas sambil bercerita.
"Ketika itu aku dan pak tua Jian menentukan 30 tahun kemudian, harus mempunyai seorang putra berusia di bawah 20 tahun. Dan di depan semua orang, mereka akan bertarung menentukan kemenangan!"
"Bagaimana jika kalah atau menang?"
Tanya Jian Zhi-ming. Wen Tian-zhi menjawab dengan pelan.
"Jika kalah, putra kami di depan banyak orang akan menyatakan bahwa ayahnya kalah dari ayah lawannya!"
Jian Zhi-ming tertawa terbahak-bahak.
"Betul! Betul! Itu adalah perjanjian kami!"
Dia membalikkan tubuh berjalan ke depan Wen-yi. Dengan dingin berkata.
"Bocah! Cepat katakan ayahmu kalah di tanganku!"
Wen-yi membentak.
"Sembarangan bicara! Aku sudah mengalahkan bocah gemuk itu, mengapa aku harus mengumumkan bahwa ayahku kalah?"
Jian Zhi-ming menjawab dengan dingin.
"Kau laki-laki atau perempuan?"
Dengan wajah merah Wen-yi menjawab.
"Aku... aku... adalah perempuan...."
Jian Zhi-ming tertawa.
"Itu sudah cukup! Nyonya Jian sangat beruntung telah melahirkan seorang putra. Sekarang tepat 20 tahun berlalu tapi bagaimana...."
Dia mendekati Wen Tian-zhi dan berkata.
"...apakah Pak Tua Wen mempunyai seorang putra...."
Dengan tegas Wen Tian-zhi menjawab.
"Tidak! Aku hanya mempunyai seorang putri!"
Jian Zhi-ming tertawa terbahak-bahak.
"20 tahun yang lalu, dalam perjanjian kita, dalam 20 tahun masing-masing harus mempunyai seorang putra untuk mewakili ayah-nya bertarung, tidak disangka pahlawan terkenal seperti Kakak Wen tidak sanggup melahirkan seorang putra. Apakah Kakak Wen akan menepati janji dan mengakui kekalahan?"
Semenjak Wen-yi lahir, Wen Tian-zhi sudah menyuruh istrinya memakaikan baju laki-laki kepada putrinya sampai tumbuh dewasa.
Dia selalu mengajarinya seperti seorang laki-laki tujuannya adalah menyelesaikan masalah ini.
Dia juga tidak bosan-bosannya menyuruh Wen-yi belajar ilmu silat, tidak disangka lawan mengetahui Wen-yi adalah seorang perempuan.
Akhirnya dia kalah, bukankah ini adalah nasib!
Wen Tian-zhi menggelengkan kepala.
"Salahkan aku yang tidak bisa melahirkan seorang putra, aku hanya bisa mengaku...."
Jian Zhi-ming tertawa dengan senang.
"Sekarang kau mengaku kalah, cepat umumkan bahwa kau kalah di tanganku dan semenjak hari ini nama Lembah Selatan milik Bei-bao!"
Wen Tian-zhi mulai marah.
"Seorang laki-laki sejati jika kalah ya kalah. Kakak Jian, kau jangan keterlaluan dan sombong! Aku percaya jika aku mempunyai seorang putra, dalam 100 jurus dia pasti bisa mengalahkan putramu!"
Jian Zhi-ming tertawa dengan nada menghina.
"Betul! Sayang seribu sayang, kau tidak mempunyai seorang anak laki-laki, apa yang bisa kau lakukan sekarang...."
Waktu itu ada sesosok bayagan terbang ke atas panggung kemudian dia berkata dengan suara sangat keras.
"Siapa yang mengatakan Lembah Selatan tidak mempunyai seorang putra?"
"Bocah! Siapa kau!"
Tanya Jian Zhi-ming dengan marah. Jian Shao-wu maju dan tertawa.
"Ayah! Orang ini di kota Kai-feng di sebuah rumah makan pernah kupukul sampai jatuh sebanyak 3 kali!"
Wen-yi melihat Ruan-wei datang, karena senang dia hanya terpaku. Wen Tian-zhi merasa aneh.
"Untuk apa dia datang?"
Tapi dia hanya diam menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ruanwei. Sesudah mendengar kata-kata Jian Shao-wu, Jian Zhi-ming tertawa dan bertanya.
"Siapakah Tuan ini?"
Dengan gagah Ruan-wei menjawab.
"Aku adalah putra dari Lembah Selatan!"
Jian Zhi-ming tertawa terbahak-bahak.
"Kau adalah putra Lembah Selatan... kau adalah putra lembah selatan... jangan membikin malu orang! Walaupun Lembah Selatan mempunyai putra sepertimu, dia tidak akan mengakuimu, begitu kotor juga tidak mempunyai ilmu silat tinggi. Apalagi tadi Kakak Wen baru mengaku dia tidak mempunyai seorang putra...."
Ruan-wei menjawab dengan dingin.
"Mertuaku memang tidak mempunyai anak laki-laki tapi dia mempunyai menantu. Menantu sama dengan setengah anak laki-laki, mana boleh mengatakan Lembah Selatan tidak mempunyai anak laki-laki!"
Jian Zhi-ming tertawa.
"Betul, betul! Mempunyai anak perempuan pasti akan mempunyai menantu, menantu adalah anak. Kalau begitu apakah Tuan adalah menantu Kakak Wen?"
Dengan serius Ruan-wei menjawab.
"Betul! Aku adalah anak Lembah Selatan, menantu Wen Tian-zhi!"
Jian Zhi-ming diam-diam berpikir, 'bocah ini benar-benar tidak tahu diri!
Dia pernah dipukul jatuh dari loteng 3 kali, pasti tidak mempunyai ilmu silat yang tinggi.
Mungkin melihat putri Wen Tian-zhi begitu cantik, maka dia ingin memperagakan ilmu silat apa adanya, kemudian mendapatkan hati putri Wen Tian-zhi.
Aku ingin tahu apa kata Wen Tian-zhi, jika dia mengakuinya, aku akan membuat bocah itu malu di depan banyak orang dan Wen Tian-zhi ikut malu dan nama Lembah Selatan yang terkenal akan semakin tenggelam!"
Dengan perhitungan yang begitu sempurna, Jian Zhi-ming bertanya kepada Wen Tian-zhi.
"Kakak Wen, apakah orang ini adalah menantumu?"
Wen Tian-zhi tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ruan-wei, dia juga berpikir Ruan-wei berada di bawah generasi putrinya, mengapa dia berani menanggung pelanggaran aturan?
Dan maik ke panggung untuk mengaku sebagai menantunya?
Apakah ada perubahan Ruan-wei yang dirahasiakan?
Wen-yi sangat senang, dia tidak peduli apakah dia adalah bibinya Ruan-wei atau bukan, asalkan bisa bersama selamanya dengan Ruan-wei, walaupun dunia hancur dia tidak; peduli.
Jika bukan karena dia anak perempuan yang tahu diri, sudah dari tadi dia berlari ke depan ayahnya dan meminta ayahnya mengakui Ruan-wei sebagai menantunya!
--BAB 120 Bertemu kembali melepaskan rindu Jian Zhi-ming tidak sabar menunggu.
"Jika Kakak Wen tidak mengakui dia adalah menantumu, cepat bicara, jangan menghabiskan waktu! Semua orang menunggu jawaban Kakak Wen!"
Wen Tian-zhi lama berpikir, akhirnya setelah memastikan kalau Ruan-wei sudah tahu bahwa Wen-yi bukan bibinya, baru dia berani keluar.
Walaupun dia telah memukul dirinya sampai terluka berat tapi jika kali ini dia bisa mengembalikan kembali harga dirinya yang sudah hilang, dia akan menyetujui pernikahan mereka.
Maka dia menjawab dengan serius.
"Betul! Dia adalah menantuku, mereka baru menikah!"
Ruan-wei tidak menyangka Wen Tian-zhi akan menikahkan putrinya kepadanya.
Di depan banyak pesilat dia menyetujui, berarti kata-katanya tidak boleh berubah, maka dengan penuh berterima kasih dia melihat Wen Tian-zhi.
Wen Tian-zhi tertawa dan mengangguk.
"Bertarunglah dengan putra Bei-bao, Kakak Jian!"
Jian Shao-wu tertawa.
"Siapa yang ingin bertarung denganku!"
Dengan gagah Ruan-wei menjawab.
"Aku, Ruan-wei!"
Dia sudah tahu dia bermarga Lu, tapi dia tetap tidak mau mengganti marganya. Melihat Ruan-wei yang kotor dan bajunya compang camping, Jian Shao-wu tertawa menghina.
"Oh! Ternyata kau, apakah kau pantas bertarung denganku?"
Melihat dia begitu menghinanya, Ruan-wei tetap tenang, kemudian berkata.
"Dalam 12 jurus aku akan membantingmu sebanyak 12 kali!"
Jian Shao-wu seperti tidak percaya pada pendengarannya, dia berpikir, jika kau sudah menguasai ilmu telapak, paling-paling kau hanya bisa membantingku satu kali, mana mungkin sampai 12 kali!"
Tiba-tiba Jian Zhi-ming berkata.
"Jika kau tidak sanggup, bagaimana?"
"Kata-kata seorang laki-laki sejati tidak akan berubah. Jika aku tidak sanggup mem-banting putramu, aku akan pergi!"
Melihat Ruan-wei begitu percaya diri, Jian Zhi-ming berpikir, 'jika Ruan-wei bukan orang gila, dia pasti orang yang memiliki ilmu silat tinggi."
Maka dia mulai waspada dan berpesan kepada Jian Shao-wu.
"Kau harus berhati-hati kepadanya! Asalkan kita bisa bertahan sampai 12 jurus, berarti kau pemenangnya!"
Jian Shao-wu tertawa terbahak-bahak.
"Aku akan membuatnya kalah dalam satu jurus!"
Kemudian dia mengeluarkan jurus aneh menyerang Ruan-wei.
Sedari tadi Ruan-wei sudah siap, begitu Jian Shao-wu menyerangnya, segera Shi-er-fu-zhang yang belum pernah digunakan langsung dikeluarkan.
Jurus 'Shi-er-fu-zhang', setiap jurusnya terdiri dari 3 bagian, setiap bagian sangat aneh dan memiliki makna yang dalam, lebih kuat 3o bagian dari Long-xing-ba-zhang.
Bisa dikatakan jurus ini tidak ada tandingannya.
Jurus telapak milik Jian Shao-wu adalah ilmu yang berasal dari Beibao, namanya jurus Fei-she (Ular terbang).
Kekuatannya memang sangat dahsyat tapi begitu bertemu dengan Shi-er-fu-zhang, kekuatan yang dahsyat seperti tidak berdaya.
Jurus pertama bagian ketiga telapak kiri Ruan-wei membawa angin telapak yang kuat, menyabet pantat Jian Shao-wu yang gemuk.
Jian Shao-wu tidak menyangka telapak Ruan-wei tiba-tiba menyabetnya, dia kehilangan keseimbangan, dia terhuyung-huyung lalu jatuh.
Tapi karena tenaga dalamnya cukup kuat, dia langsung bersalto dan berdiri.
Orang-orang di bawah panggung melihat dengan jelas, walaupun dia bangun dengan cepat tapi seharusnya dia sudah kalah, semua terdiam karena semua orang belum mengenal Ruan-wei, apalagi dia berpakaian compang camping dan kusam, mereka menganggap dia hanya seorang pemuda yang tidak bernama.
Seorang pemuda yang tidak terkenal bisa mengalahkan putra Beibao yang sangat terkenal, adalah peristiwa yang mengherankan dan membuat orang terkejut.
Apalagi mereka baru bertarung satu jurus, sesudah terdiam cukup lama maka pujian pun terdengar di mana-mana!
Rasa malu membuat wajah Jian Shao-wu merah.
Melihat jurus pertamanya berhasil, jurus kedua Shi-er-fu-zhang dikeluarkan lagi.
Jurus ini secara berturut-turut menyerang Jian Shao-wu.
Seperti jurus pertama, Jian Shao-wu lalu terbanting ke bawah.
Jian Shao-wu marah, dia menyerang Ruan-wei seperti orang gila.
Saat itu dia hanya melihat bayangan orang yang saling bergantian.
Para pendekar jarang menyaksikan jurus-jurus yang begitu hebat.
Walaupun Jian Shao-wu terbanting tapi tidak ada orang yang berteriak lagi, karena mereka terpesona melihat kehebatan Shi-er-fu-zhang.
36 jurus satu persatu digunakan, terakhir dengan tenaga 60 bagian tenaganya, dia menyabet Jian Shao-wu sejauh 10 meter dan terbanting ke bawah, dia tidak bisa bangun lagi.
12 jurus tepat membanting Jian Shao-wu sampai tidak bangun lagi.
Orang yang ada di bawah panggung menghitung dengan jelas dan berteriak.
"12 kali terjatuh! 12 kali terjatuh! Benar-benar 12 kali terbanting...."
Dengan wajah marah Jian Zhi-ming memapah Jian Shao-wu. Begitu mendekati Wen Tian-zhi, dia berkata.
"Dia menantu terbaikmu, nama Bei-bao akan dicoret dari dunia persilatan, tapi sayang ilmu silat bocah itu bukan ilmu silatmu, kau menang tapi tidak membanggakan!"
Wen Tian-zhi tertawa.
"Ilmu silatku terbatas, mana mungkin aku bisa mengajari menantuku ilmu silatku. Jujur saja, aku juga pernah kalah olehnya!"
"Apa betul kau pernah dikalahkan oleh menantumu sendiri?"
"Tidak hanya kalah tapi juga terluka parah!"
"Kalau begitu aku juga tidak akan bisa menang darinya!"
Ketika dia menggendong Jian Shao-wu dan melewati Ruan-wei, dia sama sekali tidak melihatnya, hanya berkata pada langit.
"Di dunia ini selalu muncul pesilat baru yang tangguh...."
Kata-katanya belum selesai, dia masuk ke dalam kerumunan orang. Sekarang Wen-yi tidak malu-malu lagi, pelan-pelan dia mendekat. Karena senang, dia sampai meneteskan air mata dan berkata.
"Da-ge! Da-ge, jangan tinggalkan aku lagi...."
Ruan-wei memegang tangannya yang mungl.
"Karena aku tidak tahu identitasku yang sebenarnya, maka aku sudah salah paham kepada ayahmu dan melukai Paman, apakah kau masih marah kepadaku?"
Wen-yi menggelengkan kepala.
"Tidak! Tidak! Mengapa Da-ge memanggil ayahku paman?"
Ruan-wei tercenung, tidak mengerti.
"Kalau begitu... kalau begitu... aku harus memanggil apa pada ayahmu...."
Wen-yi memegang erat tangan Ruan-wei.
"Da-ge pura-pura menjadi orang bodoh, benarbenar bodoh!"
Mereka saling mencintai.
Setelah beberapa bulan tidak bertemu mereka saling merindukan.
Pertemuan hari ini menghilangkan semua kesalah pahaman!
Mereka juga lupa kalau di sini adalah tempat umum.
Dari wajah dan pembicaraan mereka dapat diketahui kalau mereka saling mencintai.
Melihat mereka berdua, Wen Tian-zhi teringat pada dirinya.
Walaupun ada istri dan putri tapi dia belum pernah mengalami perasaan seperti itu, maka dia memutar tubuhnya melihat ke tempat lain.
Para pesilat di sana sama sekali tidak mengerti perasaan cinta mereka.
Setelah pertarungan selesai, mereka bubar dan langsung pergi.
Ketika pendekar-pendekar hampir bubar tiba-tiba terdengar suara yang manja.
"Benar-benar tidak malu! Tidak tahu malu! Di depan banyak orang berbuat seperti itu, benarbenar tidak ada sopan santun...."
Suaranya tidak keras tapi semua orang bisa mendengarnya dan seperti ada bisikan di telinga.
Yang mendengar menjadi terkejut karena suara ini seperti suara seorang perempuan yang berbisik di pinggir mereka.
Tapi begitu dicari tidak ada perempuan di sisi mereka.
Orang yang memiliki ilmu tinggi mengetahui kalau suara ini menggunakan tenaga dalam yang sangat tinggi.
Di dunia persilatan yang mempunyai ilmu hebat seperti itu sepertinya sulit ditemukan.
Tiba-tiba di panggung muncul 2 orang perempuan berpakaian hitam, yang satu berusia sekitar 18 tahun, yang satu lagi berpakaian pendeta berwarna hitam.
Dia adalah pendeta berusia sekitar 30 tahun.
Begitu melihat gadis berpakaian hitam, dalam hati Ruan-wei langsung mengeluh.
"Baiklah! Ternyata kau benar-benar mencariku sampai ke sini!"
Dengan wajah dingin pendeta perempuan itu menunjuk Ruan-wei.
"Bocah! Apakah kau adalah Ruan-wei?"
Suara lembut dan tipis tapi begitu suara ini keluar, semua pendekar tahu kalau suara ini adalah suara yang mereka dengar tadi.
Karena pendeta itu masih muda tapi sudah memiliki ilmu silat begitu tinggi, ini benar-benar membuat pendekar-pendekar terkejut!
Melihat pendeta perempuan itu begitu cantik, walaupun wajahnya begitu dingin tapi tetap memiliki daya tarik yang membuat hati setiap orang bergetar.
Ruan-wei segera mengetahui kalau dia adalah salah satu dari 4 cantik di dunia persilatan, namanya Kun-lun Yu Cui-pei!
Ruan-wei bersikap sopan.
"Aku adalah Ruan-wei, Tetua telah datang kemari apakah ada petunjuk untukku?"
Kun Lun Yu Cui-pei tertawa dingin.
"Tidak ada orang yang berani memberi petunjuk kepadamu! Kau telah berani menghina putriku, apakah aku berani memberi petunjuk kepadamu?"
Ruan-wei tertawa.
"Kapan aku pernah menghina putri Anda..."
Tiba-tiba tangan Cui-pei melayang dan dia menggampar wajah Ruan-wei dan marah.
"Kau masih berani membantah!"
Ruan-wei mengelus wajahnya yang ditampar, sambil mengingat kata-kata Ling Qi-xin kalau ilmu Nyonya Ou Yang sangat lihai.
Dia telah berbuat ceroboh sehingga tidak sempat menghindar, tapi Ruan-wei juga marah dan hati dia berpikir, 'seorang pendeta mana boleh sembarangan memukul orang, itu akan merusak wibawa pendeta Budha.' Karena dia lebih tua maka Ruan-wei menahan emosi dan diam tidak bicara.
Perempuan yang lebih muda itu adalah Ouwyang Zhi.
Dengan terkejut dia bertanya kepada ibunya.
"Mengapa ibu memukulnya?"
Melihat Ruan-wei tidak membalas, kemarahan Cui-pei agak berkurang, dia tertawa.
"Orang seperti dia jika tidak diberi pelajaran maka di matanya tidak akan ada orang lain!"
Ruan-wei tetap diam, dia balik menuntun tangan Wen-yi dan berkata kepada Wen Tian-zhi.
"Mertua, mari kita pergi!"
Tadinya Wen-yi marah karena pendeta perempuan itu memukul Ruan-wei, sekarang mendengar Ruan-wei memanggil ayahnya mertua hatinya merasa senang.
Dengan menurut dia mengikuti Ruan-wei turun dari panggung.
Ouwyang Zhi tergesa-gesa berkata kepada ibunya.
"Bu... dia... dia pergi!"
Kemoceng yang dipegang oleh Cui-pei berputar kemudian bergerak secepat anak panah, melilit tangan Ruan-wei yang memegang tangan Wen-yi.
Tangan Ruan-wei terasa sakit seperti tertusuk jarum.
Dia terkejut dan tidak berani bertindak ceroboh kemudian telapak kiri diangkat untuk menghindari sabetan kemocengnya.
Tangan kanannya dengan cepat membawa Wen-yi ke belakangnya.
Wen-yi benar-benar marah.
"Pendeta tidak tahu malu, pendeta bau...."
Cui-pei naik pitam, kemoceng tidak ditariknya kembali tapi dengan tenaga tangan kanan kemocengnya terbang seperti panah lagi.
Kali in sasarannya adalah kepala Wen-yi.
Wen-yi tidak tahu bahwa kemocengnya bisa dengan cara seperti itu memukul orang.
Kemoceng sudah ada di depan mata dan dia berpikir kali ini nyawanya akan habis, kepala pasti akan hancur jika terkena sabetan kemoceng.
Dalam keadaan bahaya ini, Ruan-wei tidak sempat menolong Wen-yi, terpaksa tangan kiri dikeluarkan untuk melindungi kepala Wen-yi, maka kemoceng itu memukul tangan Ruan-wei.
Dalam suara SREEK!
Lengan baju Ruan-wei hancur menjadi serpihan bersamaan dengan darah dan daging yang terluka.
Untung Ruan-wei menguasai ilmu yoga yang kuat, dengan tenaga dalam dia melindungi tangan kirinya maka yang terkena kemoceng hanya kulit luar dan daging bagian atas saja.
Jika tidak, tangan kiri Ruan-wei akan hancur dipukul kemoceng.
Walaupun tangan Ruan-wei dilindungi ilmu yoga yang kuat tapi tetap saja terlihat seram.
Cuipei sama sekali tidak menyangka Ruan-wei dengan cara seperti itu akan menolong kekasihnya.
Sekarang tanpa sebab dia sudah melukai Ruan-wei, putrinya akan sedih.
Pelan-pelan Cui-pei berkata.
"Mengapa kau berada di sana...."
Dengan penuh air mata, Wen-yi menyobek bajunya untuk membalut luka Ruan-wei.
Ouwyang Zhi yang berdiri di sebelah sana menyobek bajunya, dia juga ingin membalut luka Ruan-wei.
Tapi melihat Wen-yi sudah membalut luka Ruan-wei, dengan marah dia melempar kain itu ke bawah dan menutup wajahnya dengan tangan lalu menangis.
Dengan penuh kasih sayang Cui-pei menasehati putrinya.
"Zhi-er, jangan menangis lagi! Semua ibu akan atur!"
Selesai membalut luka, Wen-yi dengan cemas berkata.
"Da... Da-ge, aku merepotkanmu...."
Ruan-wei menggelengkan kepala.
"Jangan cemas, tidak akan terjadi apa-apa!"
Cui-pei tertawa dingin.
"Sekarang tidak masalah, jika kau menghalangi aku membunuh perempuan murahan itu, tidak akan semudah tadi!"
Ruan-wei memberi hormat.
"Aku menganggap Anda adalah tetua, Anda bisa membunuh orang seperti hanya tinggal mengangguk. Jika sudah 2 kali memukulku, aku kira seharusnya kekesalan Anda sudah hilang!"
"Siapa bilang? Aku ingin membunuhmu, sebaiknya kau pergi dari sini!"
Ruan-wei berterima kasih kemudian dia menuntun Wen-yi turun dari panggung, Cui-pei marah besar.
"Tinggalkan perempuan murahan itu!"
"Apa yang Tetua katakan!"
Cui-pei tertawa.
"Kau masih berani marah? Aku suruh kau pergi tapi aku tidak menyuruh perempuan murahan itu pergi!"
Ruan-wei mulai tidak bisa menahan emosinya.
"Dia tidak punya salah atau pun dendam kepadamu, mengapa kau selalu memanggilnya perempuan murahan? Sekarang kau sudah puas marah-marah, untuk apa terus menahannya di sini?"
Cui-pei tertawa dingin.
"Mengapa, kau bisa menyukainya? Hari ini aku suruh dia tinggal, aku harus mencabut nyawanya, kecuali...."
"Kecuali apa!"
Ruan-wei juga marah.
"Kecuali kau pergi dengan kami, semua hal ini kuanggap selesai!"
Cui-pei tertawa. Ruan-wei menunjuk Ouwyang Zhi dengan marah besar.
"Kau adalah orang yang suka berbuat seenaknya, aku hanya tidak menepati janji, kau sudah dendam dan mengundang ibumu keluar untuk membunuh orang. Aku baru melihat ada perempuan yang mempunyai hati begitu kejam!"
Ouwyang Zhi marah.
"Bu! Ibu...."
Sejak kecil dia selalu dimanja, tidak pernah dimarahi di depan banyak orang.
Semakin dipikir semakin sedih maka dia hanya bisa menangis!
Cui Pesi hanya mempunyai anak semata wayang, dia melahirkannya sebelum menjadi biksuni.
Melihat putrinya begitu sedih maka kebencian di dalam hatinya bertambah.
Tadi dia marah kepada Wen-yi, sekarang dia juga marah kepada Ruan-wei.
"Bocah, jangan pergi! Kita bertarung!"
Ruan-wei dengan marah menyetujuinya, dia berkata kepada Wen Tian-zhi.
"Mertua, bawalah Adik Yi pergi dulu! Aku ingin bertarung dulu dengan perempuan yang pernah mengalahkan ketua Tian-zheng-jiao dan ketua Zheng-yi-bang. Mengapa dia sama sekali tidak memiliki sedikit pun wibawa?"
Pendekar-pendekar yang hampir bubar jadi berkumpul lagi karena melihat akan terjadi pertarungan lagi.
Begitu mendengar bahwa pendeta yang ada di atas panggung pernah mengalahkan ketua Tian-zheng-jiao dan ketua Zheng-yi-bang, mereka ribut lagi.
Tiba-tiba Wen-yi berkata.
"Da-ge! Setelah kau mengalahkan perempuan galak itu, baru aku akan pergi!"
Ruan-wei sangat cemas karena dia belum tentu bisa mengalahkan pendeta perempuan itu. Jika kalah, mereka berdua akan membunuh Adik Yi, maka dia tergesa-gesa berkata.
"Adik Yi! Cepat ikut ayahmu pergi dari sini!"
Wen-yi mengerti apa yang dipikirkan Ruan-wei, dia menjawab.
"Da-ge! Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian bertarung!"
Kata-kata Wen-yi sangat tenang tapi penuh pengertian dan perasaan yang dalam.
Ruan-wei tahu dengan cara apa pun Wen-yi tidak akan meninggalkan dia, maka satu-satunya cara adalah berusaha memenangkan pertarungan ini agar Wen-yi tidak dibunuh oleh Cui-pei!
Cui-pei mulai tidak sabar.
"Cepat! Jika kau menang dariku, aku akan segera membawa putriku pergi dari sini. Kalau tidak perempuan murahan itu akan mati disini dan kau seumur hidup harus melayani putriku"
Ruan-wei marah.
"Kentut!"
Kedua telapaknya di buka. Dia mulai menyerang kepala Cui-pei. Tapi kemoceng Cui-pei diputar, dia sudah menghindar dan tertawa.
"Kau tidak bisa melawanku, jika tanganmu tidak memegang senjata! Cepat keluarkan senjatamu!"
Ruan-wei terkejut. Betul dia tidak ada senjata tidak akan bisa menang darinya. Tapi dia memang tidak memiliki senjata maka dia menarik nafas.
"Aku tidak mempunyai pedang, tangan kosong sama saja untuk bertarung!"
Cui-pei tertawa dingin.
"Kau tidak menggunakan senjata tapi aku tetap akan menggunakan kemoceng ini...."
Wen Tian-zhi yang ada di sisi berteriak.
"Itu tidak adil!"
Tiba-tiba terlihat dia berlari ke arah kerumunan orang, hanya sebentar dia sudah kembali.
Tadinya tangannya kosong, sekarang ada sebilah pedang yang bagus dan berkilau.
Dia memberikannya kepada Ruan-wei.
Di bawah panggung ada seseorang yang berteriak.
"Itu pedangku! Itu pedangku!"
Semua pendekar memuji gerakan Wen Tian zhi, tanpa sadar pedang miliknya sudah menghilang.
Benar-benar ilmu silat yang hebat dan membuat orang kagum.
Pendekar yang kehilangan pedang dinasehati oleh orang yang ada di pinggir.
"Pedangmu diambil untuk bertarung antar pesilat tangguh, itu adalah kehormatan untukmu, untuk apa kau terus berteriak?"
Pedang sudah ada di tangan, Ruan-wei mulai bersemangat.
Dia mulai mengatur nafas dan mengatur ilmu yoga.
Jurus Tian-long-shi-san-jian jurus pertama 'Xiao-fu-zhi-tian' dilancarkan!
Cui-pei adalah pesilat pedang yang tangguh, melihat jurus-jurus pedang Ruan-wei, dia tahu Ruan-wei bukan pesilat sembarangan.
Segera kemocengnya digerakan, jurus pedang Tian-luo-diwang dipersiapkan (Jala bumi jaring langit).
Tampak jurus-jurus Cui-pei cepat seperti angin ribut, tapi jurus Ruan-wei sangat pelan.
Dia tidak tergesa-gesa, tapi kuat dan tenang seperti gunung yang berdiri dengan kokoh!
Tian-long-shi-san-jian selesai digunakan tapi sama sekali tidak membuat Cui-pei terdesak, maka Ruan-wei mulai tegang.
Dia tahu hari ini dia benar-benar telah bertemu pesilat tangguh.
Walaupun ilmu pedang Cui-pei sama dengan jurus yang digunakan saat bertarung dengan Ouwyang Zhi, tapi gerakan Cui-pei lebih dahsyat.
Tian-long-shi-san-jian bolak balik digunakan oleh Ruan-wei, sampai 3 kali tetap tidak ada hasil yang mengembirakan.
Setiap kali pedang yang dipegang oleh Ruan-wei beradu dengan kemoceng Cui-pei, dia merasa di kemoceng mengandung tenaga yang besar, hampir-hampir pedangnya terlepas.
Sepertinya ilmu yang Cui-pei latih lebih hebat dari ilmu yoganya.
Jumlah ilmu Tian-luo-di-wang ada 360 jurus, sekarang Cui-pei sudah mengeluarkan 350 jurus, diam-diam Cui-pei juga mengeluh.
"Datang dari mana bocah ini?"
Ketua Tian-zheng-jiao atau ketua Zheng-yi-bang pun kalah di tangannya tidak lewat dari 300 jurus.
Jika tidak berhati-hati, mungkin 360 jurus akan habis di gunakan!
Dalam beberapa beberapa jurus terakhir, dia mulai menggunakan ilmu sesat.
Yang pasti tenaganya bertambah satu kali lipat.
Sesudah menahan 3 jurus Ruan-wei, Ruan-wei mulai lemas.
Terakhir kemoceng Cui-pei melilit pedang Ruan-wei.
Dengan sepenuh tenaga Ruan-wei menarik pedangnya tapi tidak bisa lepas, sekaji lagi dia menarik tetap tidak bisa lepas.
Saat menarik untuk ketiga kalinya, dia mengeluarkan suara bentakan yang keras tapi tetap tidak bisa lepas maka pedang pun terputus!
Dengan sekuat tenaga Ruan-wei hanya mendapatkan separuh pedang.
Dia sangat menyesal dan berpikir jika tinggal separuh pedang sudah pasti dia tidak akan sanggup melawan Cui-pei, hanya tinggal mengangkat tangan menunggu dibunuh!
Cui-pei sengaja ingin membuat Ruan-wei terluka, agar dia menerima kekalahan dan tidak berani membantah dia lagi, juga akan melayani putrinya.
Dengan sekuat tenaga dia menggunakan kemoceng menyapu pedang patah milik Ruan-wei.
Wen-yi berteriak.
"Perempuan galak tidak tahu malu! Pedang Da-ge sudah putus, biarkan dia mengganti pedang dulu baru bertarung lagi, kalau tidak...."
Suara Wen-yi penuh perhatian, terlihat dia ingin membantu.
Ruan-wei tahu Wen-yi datang pun percuma, mungkin hanya menemaninya mati.
Dalam situasi terjepit seperti itu, tiba-tiba dia teringat pada ilmu Kai-tian-pi-di-shi-ba-fu!
Maka dengan pedang putus yang dianggap sebagai kapak lalu dia pun mulai mengayunkan pedang patahnya.
Tadinya Wen-yi ingin membantu, sekarang melihat gerakan Ruan-wei menggunakan separuh pedang pedangnya tidak kalah dengan ilmu pedang tadi, hatinya agak tenang dan dengan teliti menonton lagi.
Ruan-wei sudah 2 kali mengayunkan pedang patahnya, Cui-pei malah menjadi kerepotan.
Sebenarnya Kai-tian-pi-di harus menggunakan kampak, tapi karena Ruan-wei sudah kehabisan tenaga, dia menggunakan pedang putus yang ringan sebagai kapak besar, maka dengan mudah dia menggunakannya dan tenaga yang keluar pun sangat dahsyat.
Begitu sampai pada jurus kelima Kai-tian-pi-di, Cui-pei mulai mundur 3 langkah.
Karena dia merasa aneh ilmu ini membuat kemocengnya tidak bisa bergerak bebas, sepertinya jurus kapak Ruan-wei khusus menutupi ilmu pedangnya.
Ketika Cui-pei sedang cemas tiba-tiba terdengar suara keras yang membentak.
"Hentikan!"
Terlihat seorang laki-laki setengah baya berpakaian pendek, tangan memegang sebuah kapak besar meloncat ke atas pangung. Begitu berdiri tegak, dia tertawa.
"Jangan bertarung lagi! Jangan bertarung lagi! Kita adalah satu keluarga, satu keluarga...."
Oo BAB 121 Penutup Ruan-wei bukan orang kejam, dengan ringan dia keluar dari arena pertarungan sejauh 3 meter. Melihat siapa laki-laki yang baru datang, dengan senang dia berkata.
"Ternyata adalah Tetua Gong Shu-yang, apa kabar!"
Laki-laki itu adalah salah satu dari 5 orang aneh, ketika itu Ruan-wei bertemu dengannya di Jun-shan, namanya adalah Gong Shu-yang.
Karena Cui-pei hampir kalah di tangan Ruan-wei, maka dia merasa sangat berterima kasih kepada orang yang baru datang itu.
Begitu melihat orang itu, dia berteriak dengan terkejut.
"Ternyata adalah Paman Yang!"
Gong Shu-yang tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kukatakan, yang satu memanggil ku Paman Yang, yang satu memanggilku Tetua Yang, bukankah kita adalah satu keluarga? Untuk apa harus bertarung...."
Ruan-wei adalah orang yang sangat penuh perasaan, dia berkata.
"Tetua, sudah lama kita tidak bertemu!"
Gong Shu-yang memegang tangan Ruan-wei dengan erat.
"Adik! Semenjak berpisah di Jun-shan, aku selalu mengingat dirimu. Ketika aku dan kau berada di Jun-shan, waktu kita berkumpul adalah waktu-waktu yang paling menyenangkan...."
Melihat hubungan antara Paman Yang dan Ruan wei begitu akrab, dia tahu jika hari ini dia tidak pergi dari sini yang rugi adalah dia sendiri.
Jurus kampak yang digunakan Ruan-wei tadi pasti diajari oleh Gong Shu-yang.
Karena tidak sanggup mengalahkan Ruan-wei, maka keinginan putrinya pun tidak sanggup dia penuhi.
Dia segera tertawa dan berkata.
"Paman Yang, kami akan pergi!"
Gong Shu-yang tertawa.
"Nona Cui, sudah lama kita tidak bertemu, kau sudah tumbuh menjadi dewasa!"
Sebenarnya Cui-pei sudah berusia 40 tahun lebih. Mendengar kata-kata Gong Shu-yang, wajahnya menjadi merah. Dia menunjuk Ouwyang Zhi.
"Paman Yang, dia adalah putriku!"
Gong Shu-yang tertawa terbahak-bahak.
"Oh! Oh! Hampir 30 tahun tidak bertemu, putrimu sudah dewasa dan dia seperti kau dulu!"
Ternyata 27 tahun yang lalu, Gong Shu-yang mencari Tu-long-xian-zi, di sanalah dia bertemu dengan Cui-pei.
Ketika itu Cui-pei baru berusia 16 tahun.
Sesudah 27 tahun berlalu mereka baru bertemu.
Karena Cui-pei mengenakan baju pendeta, maka Gong Shu-yang mengira dia masih seperti waktu gadis dulu.
Ouwyang Zhi memberi hormat kemudian melihat Ruan-wei.
Ruan-wei tidak ingin melihatnya.
Ruan-wei sama sekali tidak mempunyai perasaan kepadanya.
Akhirnya dengan terpaksa dia ikut ibunya meninggalkan tempat itu.
Melihat mereka pergi, Gong Shu-yang baru berkata.
"Gadis itu akhirnya menjadi pendeta!"
Sepertinya ketika Cui-pei masih kecil, Gong Shu-yang sudah tahu kalau dia akan menjadi seorang pendeta.
Pendekar-pendekar yang ada di bawah panggung bersiap-siap pergi karena tidak ada pertunjukan menarik lagi.
"Tetua Gong, mengapa Anda bisa kenal dengan Tetua Pei?"
Tanya Ruan-wei.
"Dia adalah murid Dewi Ling-bo. Dulu ketika aku datang ke Dong-hai (Laut timur), dia mengurungku di sebuah pulau kecil selama 20 tahun. Ketika aku meninggalkan pulau dan melakukan tugas mengukir patung Budha, Dewi Ling-bo pernah berkata bahwa walaupun Cui-pei memiliki ilmu silat tinggi tapi sifatnya kurang baik. Dewi Ling-bo menyuruhku memperhatikan tingkah lakunya di dunia persilatan. Jika dia keterlaluan, maka aku harus memaksanya menjadi pendeta. Tapi ketika aku meninggalkan pulau itu, Dewi Ling-bo sudah tahu kalau tingkah lakunya tidak baik dan memaksanya menjadi seorang pendeta."
Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'Ilmu pedangnya begitu hebat, ternyata dia adalah murid Dewi Tu-long.
Tapi dia seperti bukan seorang pendeta, mungkin karena dia dipaksa.' Tiba-tiba Ruan-wei teringat sesuatu, bukankah Tetua Gong harus memahat 9 buah patung Budha lagi, apakah tugasnya begitu cepat selesai?
Gong Shu-yang tertawa terbahak-bahak.
"Semenjak aku berpisah denganmu, aku mengatakan harus 18 tahun lagi baru bisa menyelesaikan 9 patung, tapi begitu menyelesai-kan sebuah patung, aku sudah mengerti teknik memahat patung dengan bagus dan cepat. Maka dalam waktu 2 tahun terakhir ini aku bisa menyelesaikan 8 patung!"
"Teknik mengukir patung seperti apa?"
Ketika Gong Shu-yang ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba dia teringat sesuatu dan sambil menggelengkan kepala dia berkata.
"Tidak bisa! Tidak bisa! Ilmu kapakku memang lihai, tapi aku melihat jurus-jurus yang kau gunakan dengan pedang putus itu lebih bagus, jurus Kapak apa itu? Sampai-sampai murid Dewi Tu-long pun tidak sanggup menahannya."
Ruan-wei memberitahu dari mana dia mendapatkan ilmu. Setelah Gong Shu-yang mendengar ceritanya, dengant terkejut dia berkata.
"Anak baik, coba peragakan jurus 'Kai-tian-pi-di' kepadaku, cepat!"
Mereka tidak peduli apakah di bawah ada yang melihat 'Kai-tian-pi-di-shi-ba-fu' atau tidak, satu persatu Ruan-wei peragakan, kemudian terdengar Gong Shu-yang berteriak.
"Sambutlah dengan baik!"
Ternyata Ruan-wei menerima kapak besar dari Gong Shu-yang.
Dengan kapak besar di tangannya, Ruan-wei bertambah semangat.
Dia melemparkan pedang yang sudah terputus itu kemudian sejurus demi sejurus dia peragakan ilmu kampaknya.
Gong Shu-yang yang berada di pinggir terus memuji.
"Ilmu kapak yang bagus! Benar-benar bagus, pantas disebut 'Kai-tian-pi-di'!" (Membuka langit membelah bumi) Ruan-wei lalu berhenti dan mengembalikan kapak besar itu kepada Gong Shu-yang, tapi Gong Shu-yang berkata.
"Kapak ini terbuat dari besi dingin. Kapak ini adalah barang pusaka dari Dong-hai, aku berikan kepadamu!"
Ruan-wei ingin menolaknya, Gong Shu-yang berkata.
"Jangan menolaknya! Jika kau menolak, aku akan marah. Ayo perkenalkan teman yang ada di balik tubuhmu!"
Terpaksa Ruan-wei menerima kapak besar itu dan tertawa.
"Ini adalah mertuaku, Wen Tian-zhi. Ini adalah putrinya, Wen-yi...."
Wen-yi tertawa.
"Aku bukan Wen-yi tapi Wen-yu!"
Wen Tian-zhi memberi hormat kepada Gong Shu-yang.
"Lama aku sudah mendengar nama besar Anda!"
Gong Shu-yang kembali berkata.
"Nama Kakak Wen sudah lama kudengar juga!"
Ruan-wei mendekati Wen Tian-zhi.
"Dulu menantu telah bersalah kepada mertua, harap mertua bisa memaafkanku!"
"Kata-kata Pak Tua Bei-bao tidak salah. Di dunia ini selalu ada orang baru yang muncul. Generasi kami sudah tua dan tidak berguna lagi, aku tidak menyalahkan kau yang pernah melukaiku. Aku harap kau mengurus Yu-er dengan baik. Mungkin sekarang aku benar-benar harus mundur dari dunia persilatan."
Selesai bicara, dia akan pergi, Wen-yu berteriak dengan tergesa-gesa.
"Ayah! Bukankah kau ingin mencari ibu?"
Wen Tian-zhi menggelengkan kepala.
"Aku tidak bisa bertemu dengan ibumu lagi!"
"Mengapa?"
Wen Tian-zhi tertawa kecut.
"Yu-er, seumur hidupku, aku telah melakukan 2 kali kesalahan. Yang pertama, aku sudah memusnahkan ilmu silat ketua keenam Gai-bang dan sekarang entah dia ada di mana. Kedua, aku bersalah kepada ibumu...."
Ruan-wei diam-diam berpikir, 'ternyata ketua keenam Gai-bang tidak mati, hanya ilmu silatnya sudah musnah dan dia tidak ingin bertemu dengan saudara-saudara lainnya.
Kelak hal ini harus dijelaskan kepada 5 tetua Gai-bang."
Wen-yu menangis.
"Ayah tidak pernah bersalah kepada ibu!"
Wen Tian-zhi menggelengkan kepala.
"Ini adalah kesalahanku, 20 tahun yang lalu, aku dan Bei-bao berjanji akan melahirkan seorang putra untuk mengganti posisi kami, untuk menentukan menang atau kalah. Ketika itu aku belum menikah, dari mana aku bisa mendapatkan anak. Pada tahun kedua, tepat ibumu dan suaminya secara tidak sengaja masuk ke lembahku, aku melihat dia sangat cantik maka dengan segala cara aku melukai suaminya dan merebut ibumu menjadi istriku. Selama 10 tahun lebih aku sangat menyayanginya. Walaupun dia melahirkanmu demi diriku, tapi setiap hari dia selalu tidak mempedulikanku. Dia hanya merindu-kan suaminya, Xiao San-ye. Kali ini aku membawanya keluar lembah, dia akan pergi selamanya...."
Wen-yu baru tahu mengapa ayah dan ibunya selalu saling bersikap dingin, mereka juga tidak menyayanginya, ternyata di antara mereka ada masalah seperti itu, mana mungkin bisa ada hati merawatnya!
Wen-yu berpikir jika ibunya pergi, dia tidak akan mencari ayahnya lagi.
Ayahnya akan kesepian maka dia segera berkata.
"Ayah! Ibu sudah pergi, biarlah putrimu yang menemanimu selamanya!"
Wen Tian-zhi dengan tegas berkata.
"Aku melihatmu seperti melihat ibumu, hal ini malah membuatku bertambah sedih. Pergilah bersama Ruan-wei...."
Baru selesai bicara, lengan bajunya berkibar, dia sudah terbang kemudian menghilang. Wen-yu tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.
"Jangan menangis, Da-ge akan selamanya bersamamu...."
Wen-yu masuk ke dalam pelukan Ruan-wei.
"Da-ge, ayah dan ibu pergi begitu saja, di dunia ini hanya ada satu orang yang menyayangi Yuer...."
Di depan banyak orang, Ruan-wei takut akan terjadi bahan pembicaraan maka dia memapah Wen-yu dan berkata kepada Gong Shu-yang.
"Mari kita pergi, Tetua!"
"Oh, tidak! Aku tidak ikut kalian, aku akan membantu Lu Nan-ren!"
"Apa yang terjadi pada Lu... Lu Nan-ren?"
Tanya Ruan-wei.
"Di Yue-zhou, aku melihat ada seorang tua pendek dan gemuk di penginapan mengumpulkan banyak orang, dia menggabungkan 3 perkumpulan, Tian-zheng-jiao, Tian-mei-jiao, Tian-du-jiao untuk membasmi Zheng-yi-bang. Aku harus cepat ke sana untuk membantu Lu Nan-ren karena ketua Zheng-yi-bang tidak akan mungkin bisa menang terhadap orang tua pendek dan gemuk itu!"
"Bagaimana ilmu orang tua itu?"
Tanya Ruan-wei.
"Aku sudah mencobanya, mungkin kepandaiannya masih berada di atasku!"
Jawab (long Shuyang. Meski Ruan-wei tidak suka pada ayahnya, tapi dia tetap memperhatikan keselamatannya, degan cepat dia berkata.
"Kalau begitu kita harus cepat pergi kesana untuk membantunya!"
Kemudian dia menarik Wenyu melayang ke atas Bai-ti-ma dan dengan cepat berlari. Gong Shu-yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak muda selalu tergesa-gesa!"
Tapi kemudian dia teringat jika Zheng-yi-bang musnah, dunia akan menjadi kacau, maka dia berteriak.
"Ayo cepat!"
Walaupun disana banyak orang, dia tetap menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Sebenarnya sifatnya lebih terburu-buru dari orang lain!
Ruan-wei dan Wen-yu sampai di luar kota Jia-xing.
Ketika mereka sampai di pusat Zheng-yibang, terlihat hutan yang luas itu semua sudah menjadi abu.
Dengan cepat Ruan-wei turun dari kuda dan berdiri dengan termenung.
Sepanjang jalan Ruan-wei menceritakan apa yang dialami dirinya, sehingga Wen-yu jadi tahu identitas Ruan-wei yang sebenarnya, melihat keadaan seperti ini, dia tahu bahwa Zheng-yi-bang sudah dimusnahkan oleh gabungan tiga perkumpulan.
Dia juga duduk termenung duduk di atas kuda.
Setelah lama Wen-yu baru melihat ada asap hijau keluar dari balik pepohonan yang terbakar dan terdengar di tempat jauh ada suara bentakan dan suara teriakan.
Maka dia segera berlari ke depan Ruan-wei.
Melihat Ruan-wei terus meneteskan air mata, Wen-yu tahu Ruan-wei sangat sedih, sehingga pendengaran dan penglihatennyajadi kurang tajam.
Dia segera menasehati.
"Da-ge, jangan sedih, Zheng-yi-bang belum musnah!"
"Mengapa kau tahu?"
"Ayo ikut aku!"
Wen-yu membawa Ruan-wei berlari ke sumber suara bentakan. Wen-yu juga berkata.
"Di tempat kebakaran masih ada asap, berarti Zheng-yi-bang baru diserang sekitar 1-2 hari, mungkin masih ada sisa orang Zheng-yi-bang yang sedang melawan musuh!"
Sesudah berlari sekitar 300-400 meter dan beberapa kali berbelok, di kaki gunung penuh dengan orang.
Ada yang berpakaian hitam, putih, tapi yang berbaju hitam lebih banyak dibandingkan yang berbaju putih.
Jumlah mereka mencapai ribuan.
Ruan-wei dan Wen-yu mendekati orang yang berbaju putih dan hitam yang saling berhadapan, tapi kedua belah pihak tidak bertarung, kemudian mereka melihat ada 2 orang yang berada di tengah lapang sedang bertarung!
Di sekelilingnya banyak laki-laki dan perempuan, ada yang tua dan yang muda.
Ada seorang tua yang pendek dan gemuk berdiri paling dekat dengan tempat pertarungan.
Masih ada 4 pesilat dari Zheng-yi-bang dan ketua berbaju emas dari Tian-zheng-jiao, masih ada Sun-Ming, Ling-lin, Ruan-xuan, Ruan-yun juga seorang biksu muda yang tampak mukanya sedang marah melihat ke lapangan.
Dia adalah Zhong-jing yang telah lama menghilang.
Dia juga adalah suami Ling-lin.
Masih ada seorang gadis berpakaian bunga-bunga, dia berdiri di sisi Zhong-jing.
Ruan-wei mulai melihat dengan jelas keadaan di lapangan.
2 orang yang sedang bertarung, yang satu adalah ketua Zheng-yi-bang, yang satu lagi adalah ketua Tian-zheng-jiao.
Dengan diam dan tenang dia mendekati tempat itu.
Gadis berpakaian bunga melihat kedatangannya dan pelan-pelan menyapa.
"Kakak Ruan, ternyata kau!"
Ruan-wei tahu dia adalah putri Paman Zhong, namanya adalah Zhong-jie. Dua tahun mereka tidak bertemu, dia tumbuh dengan cepat. Dia mengangguk kemudian menyapa biksu yang muda itu.
"Apa kabar, Paman Zhong?"
Zhong-jing dengan marah melihatnya kemudian membuang mukanya lagi, melihat itu Ruan-wei tidak banyak bertanya lagi dan memperhatikan ke lapangan.
Sebenarnya semua orang sedang memperhatikan keadaan di lapangan karena pertarungan ini berpengaruh besar, yang menang akan menguasai dunia persilatan, yang kalah harus dibunuh.
Pertarungan 2 orang di tengah lapangan berjalan sangat lamban karena mereka sudah bertarung lama dan tenaga mereka sama-sama terkuras habis.
Tapi terlihat Lu Nan-ren sudah berada di atas angin, Xiao-wu terus mundur tidak bisa melawan lagi karena sudah kehabisan tenaga!
Melihat Lu Nan-ren akan mendapat kemenangan dan akan menguasai dunia persilatan, Zhongjing merasa dendamnya tidak akan bisa dibalas lagi.
Rencana jahat pelan-pelan muncul dibenaknya.
Diam-diam tangannya memegang beberapa butir senjata rahasia beracun.
Begitu Lu Nan-ren membelakanginya, dia melemparkan senjata rahasia beracun itu!
Tapi dia lupa Ruan-wei berada di sampingnya, mana mungkin Ruan-wei akan mengijinkan dia melakukan tindakan curang ini.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang tingi, Ruan-wei mengejar senjata rahasia yang meluncur itu.
Satu persatu senjata rahasia itu ditangkapnya.
Rencana jahat Zhong-jing jadi tidak berhasil karena dihalangi oleh Ruan-wei.
Dia marah.
"Sial! Mengapa kau menghalangi paman membunuh penjahat mesum itu. Bukankah kau sudah berjanji akan membantu sekalipun dia keluargamu, kau tidak akan membiarkan dia merebut istri paman!"
Karena Ruan-wei pernah berjanji kepada Zhong-jing di kuil Tibet, sekarang dia dia tidak bisa menjawab. Tiba-tiba Sun Ming bertanya.
"Jing-er, apa yang kau katakan! Siapa yang merebut istrimu dan siapa penjahat mesum itu?"
Zhong-jing paling menghormati mertuanya, dia segera menjawab.
"Apakah mertua tidak tahu jika Lu Nan-ren merebut dan menculik istriku?"
Sun Ming mengerutkan alis dan dengan tegas berkata.
"Jing-er, aku beritahu kepadamu, Lu Nan-i en adalah orang paling adil di dunia ini. Aku tidak akan menutupi kalau Ling-er telah salah, dia menggoda Lu Nan-ren tapi Lu Nan-ren dari dulu sampai sekarang belum pernah melanggar aturan. Apakah kau percaya?"
Di depan banyak orang ibunya membongkar rahasianya, Ling-lin benar-benar malu dan berlari, Zhong Jing hanya berpikir sebentar, langsung menjawab.
"Aku percaya! Aku salah karena telah sembarangan mencurigai orang lain!"
Lalu dia mengejar Ling-lin.
Bagaimana hasilnya sulit ditebak...!
Melihat Xiao-wu akan kalah dan situasi tidak menguntungkan, orang tua pendek dan gemuk berpikir sekarang dia didukung oleh gabungan 3 perkumpulan serta ketua mereka, jumlah mereka juga lebih banyak, dia tidak perlu mengikuti aturan dunia persilatan.
Maka dia bersuara.
"Keponakan Xiao-wu tidak bisa mengalahkan Lu Nan-ren, biar aku yang membantumu membereskan Lu Nan-ren!"
Sun-ming terkejut dan berteriak.
"San-xin-shen-jun, kau membantu Tian-zheng-jiao, apakah kau tidak takut kepada Tuan Jian!"
Ternyata orang tua pendek dan gemuk adalah San-xin-shen-jun. Giliran dia tertawa terbahakbahak.
"Oh! Setan tua itu! Ha, ha, ha... jika setan tua itu tidak mati, aku juga tidak bisa menguasai dunia persilatan. Sekarang 3 perkumpulan sudah berada di sini, siapa yang berani melawanku? Walaupun ada setan tua itu, aku juga tidak takut apalagi sekarang dia sudah diantar olehku ke dunia lain untuk menikmati kebahagiaan!"
Mendengar hal itu Ruan-wei terkejut, membentak.
"Apakah biksu Harimau juga kau yang membunuhnya!"
San-xin-shen-jun tertawa dingin.
"Orang yang datang dari luar negeri, apa aneh jika dibunuh?"
Ruan-wei naik pitam, kapak besar diangkat dan membacok orang tua pendek dan gemuk itu. Dia membentak dengan suara sangat keras.
"Siapa yang telah membunuh maka harus mengganti dengan nyawanya!"
Melihat kapak diayun begitu kuat, Shan-xin-shen-jun tidak berani bertindak ceroboh.
Dengan sangat hati-hati dia menghadapinya.
Gabungan 3 perkumpulan melihat tuan mereka bertarung, mereka juga tidak berani tinggal diam.
Suara teriakan dan bentakan langsung terdengar.
Dipimpin oleh ketua Tian mei dan ketua Tian-du mereka menyerang Zheng-yi bang.
Kini jumlah orang Zheng-yi-bang lebih sedikit maka korban pun mulai berjatuhan.
Tiba-tiba terdengar suara tawa.
"Apakah aku datang terlambat?"
Ternyata Gong Shu-yang telah datang.
Dia membawa kapak besar lainnya.
Begitu masuk ke kerumunan orang dia terus mengayunkan kapak besarnya, membacok kepala orang seperti memotong semangka.
Hanya sebentar saja banyak pesilat tangguh dari Tian-zheng-jiao, Tian-mei-jiao, dan Tian-du-jiao dibunuhnya.
Sekarang keadaan terbalik karena pesilat tangguh 3 perkumpulan telah dibabat habis maka orang yang tersisa dipukul oleh orang-orang Zheng-yi-bang.
Ilmu 'Kai-tian-pi-di-shi-ba-fu' benar-benar ilmu silat yang hebat, hanya sebentar Ruan-wei sudah membuat Shan-xin-shen-jun kerepotan.
Tapi kepandaian Shan-xin-shen-jun juga bukan sembarangan, dia masih bisa menghindari satu persatu jurus kampak itu.
Lama-lama Shan-xin-shen-jun mulai menemukan cara untuk memecahkan jurus ini, dia mulai melancarkan jurus-jurus aneh.
Ilmu Ruan-wei tidak sesempurna Shan-xin-shen-jun.
Begitu 'Kaitian-pi-di-shi-ba-fu' diulang lagi sampai jurus ke-17, dia mulai terengah-engah.
Terlihat jurus ke-18 tidak sanggup dia keluarkan.
Dalam keadaan itu, tiba-tiba Ruan-wei teringat pada biksu bisu tuli, biksu Harimau pernah memberikan sebuah buku.
Dalam buku itu tertulis sebuah jurus silat yang dahsyat maka ketika jurus ke-18 baru dilancarkan setengahnya, tiba tiba kampaknya terbang keluar.
Jurus menerbangkan kampak ini adalah ilmu aneh juga ilmu yang dalam, ilmu ini adalah ilmu paling tinggi dalam Tian-long-sie di India.
Shan-xin-shen-jun tidak pernah melihat ilmu ini.
sedikit ragu-ragu maka kampak besar itu berhasil menebas pinggang hingga terputus.
Tubuh Shan-xinshen-jun terbagi dua dan berguling jauh tapi dia belum mati.
Zhong Jie yang berada di depan mayat tidak tega melihatnya, maka dengan pedangnya langsung menebas kepala Shan-xin-shen-jun dan sekarang Shan-xin-shen-jun benar-benar mati!
Lu Nan Ren yang sedang bertarung dengan Xiao-wu, sedang berada di atas angin.
Saat Xiaowu terjatuh, Lu Nan-ren dengan cepat datang, satu kali kakinya menginjak dada Xiao-wu, ketika dia ingin mengbancurkan tubuh Xiao-wu, Ruan-xuan dan Ruan-yun datang memohon-mohon.
"Pendekar Lu, ampunilah ayahku!"
Ruan-wei mengingat mereka tumbuh besar bersama, dia juga ikut memohon.
"Ayah! ampunilah dia!"
Mendengar putranya memanggilnya ayah, Lu Nan-ren senang, dia meneteskan air mata dan melepaskan kakinya pada tubuh Xiao-wu kemudian dia mendekati Ruan-wei. Dia tertawa sambil menangis.
"Anak baik! Anak yang baik...."
Tiba-tiba Gong Shu-yang mendekati mereka, dua kakinya menendang 36 nadi Xiao Wu dan membentak.
"Hukuman mati boleh dilepaskan tapi ilmu silatmu seumur hidup tidak boleh digunakan lagi!"
Ruan-xuan dan Ruan-yun memapah Xiao-wu. Dengan tertawa kecut dia berkata.
"Ayahku sudah cacat, putrinya akan menemani seumur hidup."
Mereka memapah Xiao-wu kemudian meninggalkan lapangan itu.
Orang-orang penting dari 3 perkumpulan sudah mati semua dan yang tersisa menyerah pada Zheng-yi-bang.
Lu Nan-ren menuntun Ruan-wei, sampai ke tengah lapang dan berkata.
"Dunia ini milikmu, Nak, kau harus lahir kembali...."
Zhong Jie tertawa naif.
"Kakak Ruan, Paman Lu memintamu menjadi ketua Zheng-yi-bang!"
Lu Nan-ren menuntun tangan Zhong-jie sambil tertawa.
"Kedudukan ini aku berikan kepada anakku, istrinya tidak bisa kurang!"
Sun Ming tertawa.
"Biar Jie-er dan Wei-er di tahun depan di hari Chong-yang (bulan 9 tanggal 9) saat penyerahan jabatan ketua Zheng-yi-bang, sekalian dilangsungkan upacara pernikahan!"
Tapi... tiba-tiba Ruan-wei melepaskan tangannya dan genggaman Lu Nan Ren, dengan hormat berkata.
"Ayah, putramu tidak berbakat tidak pantas memimpin Zheng-yi-bang. Dunia persilatan harus tenang, harap ayah jangan melepaskan kedudukan ini, apalagi...."
Dia menunjuk Wen-yu.
"Putramu sudah mempunyai calon istri...."
"Bukankah dia seorang laki-laki?"
Tanya Lu Nan-ren. Ruan-wei membuka kain penutup kepala, dan terlihat sebuah wajah yang sangat cantik. Tibatiba Zhong-jie menangis.
"Da-ge, kau ingin menikah dengannya, apakah sudah tidak mempedulikanku lagi?"
Ruan-wei paling takut kalau ada perempuan menangis, dia menggandeng Wen-yu ke atas Baiti-ma dan berteriak.
"Ayah, putramu akan berkelana di dunia persilatan! Kita akan bertemu di lain waktu."
Bai-ti-ma berlari dengan kencang, sebentar saja sudah tidak terlihat lagi. Zhong Jie terus menangis. Lu Nan-ren tertawa kecut.
"Biarkan dia pergi! Biarkan dia pergi mengabdikan dirinya di dunia persilatan"
Tamat Bandung, 17 Desember 2007 hormat (See Yan Tjin Djin)
Baca Juga: Duri Bunga Ju 1
Baca Juga: Imbauan Pendekar 3