Terbang Harum Pedang Hujan 12

Eps 12 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.

"Hubungan baik kita akan menjadi masa lalu, aku menyesal mengapa dulu begitu bingung...."

Kata-kata ini mengatakan bukan dia yang tidak ada perasaan melainkan mengapa dulu mereka telah salah paham?

Sekarang hatinya sudah dihuni orang lain, mana mungkin menerima perasaannya....

Gongsun Lan juga berkata.

"Memang perasaan ini akan menjadi kenangan... akan menjadi kenangan, tapi perasaan ini tidak bisa kulupakan, mana mungkin menjadi kenangan, tidak...."

Dengan sedih sekali lagi Ruan-wei melambaikan tangan.

"Sampai jumpa lagi, Kakak Lan!"

Dia berlari meninggalkan Gongsun Lan untuk turun gunung.

--BAB 112 Melamar pekerjaan Ruan-wei turun gunung, dan tiba di tempat dimana dia melepaskan Bai-ti-ma.

Dengan tenaga dalam yang sangat tinggi, begitu bersiul panjang, suaranya bisa mencapai ribuan meter, membuat Bai-ti-ma yang sedang merumput segera datang dengan cepat setelah mendengar siulan itu.

Dengan senang Ruan-wei menepuk-nepuk leher kudanya.

Ketika dia akan naik kuda untuk mencari Wen-yi, tiba-tiba dari atas gunung melayang seseorang, begitu tiba di depan Ruan Wek ternyata orang itu adalah biksu Harimau.

Di tengah-tengah udara Ruan-wei menulis.

"Tetua datang ada pesan apa?"

Biksu Harimau mengeluarkan sebuah buku berwarna kuning, setelah dilihat ternyata buku itu adalah kertas putih kemudian kertas-kertas ini disatukan.

Karena sudah bertahun-tahun maka kertas putih itu telah menguning.

Biksu Harimau berjongkok, di atas permukaaun tanah dia menulis.

"Buku ini adalah buku terjemahan Ke-sha-na dan bermaksud diberikan untuk suku bangsa Han. Aku kira kau adalah orang yang paling tepat,terimalah buku ini dengan baik!"

Dengan sikap hormat Ruan-wei menerimanya.

Dia tidak tahu buku ini adalah sebuah buku Kuno dan dia tidak tahu kalau buku ini sangat berharga, dia menyimpan di baju bagian dada.

Biksu Harimau menulis lagi.

"Kau harus menyimpannya hati-hati! Jangan anggap remeh buku ini! Jika buku ini jatuh ke orang lahat, dunia ini akan kacau."

Ruan-wei menulis.

"Aku akan menyimpannya dengan baik!"

Biksu Harimau menulis lagi.

"Menurut kakak seperguruanku, buku ini adalah buku kuno India dan buku pusaka India, sebenarnya tidak boleh diberikan kepada orang luar. Tapi aku tidak menganggapnya demikian, kau layak mendapatkan buku ini. Jika ada waktu berlatihlah dengan baik. buku ini memiliki pengertian sangat dalam, kau harus memahami-nya baik-baik. Jangan sia-siakan harapan kami!"

Ruan-wei mengangguk, biksu Harimau menepuk-nepuk pundaknya dan menyuruhnya pergi.

Dengan sedih Ruan-wei menunggang Bai-ti-ma.

Wajah biksu Harimau memancarkan perasaan yang sangat dalam, dia terus melihat Ruan-wei sampai menghilang.

Ruan-wei terus menoleh.

Kuda berjalan dengan pelan tapi tetap terasa berjalan cepat, sampai tidak terlihat bayangan biksu Harimau, dia baru melarikan kudanya.

Setengah bulan sudah berlalu.

Ruan-wei sudah mencari Wen-yi ke mana-mana di Tibet tapi sedikit pun tidak terlihat bayangan Wen-yi.

Tapi dia berhasil menemukan Li You-guan satu kali di kota La-shan.

Ruan-wei hanya melihat sekilas, lalu dia pergi lagi.

Ruan-wei terus bertanya-tanya kepada orang lain tapi tidak banyak orang yang mengenal Li You-guan.

Setengah bulan telah berlalu lagi, sekarang adalah bulan 3.

Ruan-wei menjual mantel kulitnya dan mengganti dengan pakaian yang terbuat dari kain kasar.

Karena sangat kecewa, maka baju putih yang sangat disukainya ditinggalkan.

Bai-ti-ma yang gagah juga malas diurus.

Bulunya yang putih berkilau sekarang mirip dengan bulu hitam di keempat kakinya.

Hari ini dia berpikir jika di Tibet tidak berhasil menemukan Wen-yi lebih baik dia pergi ke Zhong-yuan untuk mengadu nasib.

Zhong-yuan sangat luas.

Di Zhong-yuan penduduknya begitu padat ingin mencari seorang benar-benar seperti mencari jarum di dalam lautan.

Tapi Ruan-wei tetap berharap tinggi.

Walaupun tidak bisa bertemu dengan Wen-yi tapi di bulan delapan saat Tiong-qiu (hari makan kue bulan), Wen-yi pasti akan pergi ke kota Rui.

Mereka akan bertemu di sana karena bulan Tiong-qiu adalah tepat satu tahun mereka berjanji bertemu di kota Rui.

Wen-yi pernah berjanji dengan Long-zhang-shen-gai, dia akan datang menemui nya untuk menyelesaikan masalah yang belum selesai.

Kota Luo-yang berada di tepi sungai Huang-he, banyak raja yang menjadikan tempat ini sebagai ibukota.

Dulu Luo-yang sangat makmur.

Sekarang walaupun sudah bukan ibukota tapi kemakmurannya tidak kalah dengan ibukota.

Di kota Luo-yang yang makmur, usaha yang baru muncul adalah usaha pengawalan perjalanan.

Jika teringat pada pengawalan perjalanan pasti tidak akan jauh dari orang-orang dunia persilatan.

Maka penduduk yang tinggal di kedua sisi Huang-he asal mempunyai sedikit nama di dunia pesilatan, mereka bisa pergi ke kota Luo-yang untuk masuk menjadi anggota barisan pengawalan perjalanan.

Pengawalan perjalanan di kota Luo-yang, yang besar maupun yang kecil berjumlah 40 lebih, tapi yang paling terkenal adalah pengawalan perjalanan yang dipimpin oleh Wu-ying-jian (Pedang tanpa bayangan) Ouwyang Zhi-xuan.

Namanya adalah pengawalan perjalanan Nan-bei.

Nama pengawalan perjalanan Nan-bei sangat terkenal, barang-barang yang pernah diantar oleh perusahaan ini belum pernah hilang dan di dunia persilatan tidak ada yang berani mengganggu mereka.

Orang-orang dunia persilatan yang terkenal selalu ingin bekerja di sana.

Setiap tahun uang yang dihasilkan sangat banyak.

Orang luar pun selalu menghormati mereka.

Tapi jika ingin bekerja di sana juga bukan hal mudah karena dalam pemilihan pegawai, Ouwyang Zhi-xuan berlaku sangat ketat.

Jika tidak mempunyai ilmu silat tinggi jangan harap bisa mencari makan di sana.

Sampai-sampai orang yang bekerja sebagai pendorong pun harus berilmu silat tinggi.

Begitu Ruan-wei berkelana di Luo-yang dan dia mendengar tentang hal ini, dia berpikir, 'Lebih baik aku bekerja di pengawalan perjalanan ini sebab perusahaan pengawalan ini pergaulannya sangat luas, mungkin aku bisa mencari Adik Yi."

Nama perusahaan pengawalan perjalanan Nan-bei (selatan utara), berarti pengawalan perjalanan ini melakukan kegiatan ke utara atau ke selatan, bisa dikatakan kemana pun bisa asal masih di dalam negeri.

Lagi pula pengawalan ini berani menerima mengantar barang penting tanpa tahu tujuan.

Ruan-wei ingin meminjam pengawalan perjalanan ini supaya bisa lebih leluasa mencari Wen-yi atau musuhnya untuk membalas dendam.

Siang hari dia menuntun Bai-ti-ma yang sudah lama tidak dimandikannya, dia berjalan ke kantor pengawalan perjalanan Nan-bei.

Keadaan pintunya saja sudah megah membuat orang gentar, luas pekarangan sekitar 50 meter persegi.

Di kedua sisi pekarangan terikat puluhan kuda di sana.

Pintu tebal berwarna hitam dan terbuka, papan nama besar tergantung tinggi.

Papan itu tertulis 'Nan-bei Biao-ju.'.

Puluhan kuda sangat gagah juga bersih, mungkin pekerja kantor Pengawalan ini menyayangi kuda mereka.

Begitu Bai-ti-ma diikat di sana, benar-benar berbeda jauh karena Bai-ti-ma tampak kusam dan kurus.

Kuda-kuda itu begitu melihat Bai-ti-ma, mereka segera meringkik, seperti tidak ingin berteman dengannya.

Ada 2 ekor kuda bermaksud menendang Bai-ti-ma dengan kaki belakangnya.

Bai-ti-ma adalah Bai-ti-ma, dia meloncat tinggi menghindari tendangan itu.

Keempat kakinya belum turun, di udara dia menendang balik 2 ekor kuda yang tadi berniat menendangnya.

Dua ekor kuda itu meringkik panjang, mungkin mereka tertendang Bai-ti-ma dan tendangan ini membuat mereka kesakitan.

Bai-ti-ma meringkik dengan gagah.

Suaranya keras sampai menutupi suara ringkikan dua ekor kuda yang M'dang kesakitan.

Karena ringkikan Bai-ti-ma yang panjang membuat kuda-kuda lain ketakutan dan menundukkan kepala.

Apalagi 2 ekor kuda yang ditendang Bai-ti-ma, mereka berdiri dengan tidak tenang.

Dari dalam rumah keluar 2 laki-laki tegap berteriak.

"Siapa yang berniat mencuri kuda!"

"Kudaku tidak sengaja menendang 2 ekor kuda yang ada di sisinya!"

Jawab Ruan-wei.

"Apakah kuda itu terluka?"

Tanya pelayan.

"Mungkin tidak!"

Jawab Ruan-wei sambil tertawa.

Mereka tidak tenang dan segera memeriksa kondisi kuda, terlihat kuda yang menjadi milik marga Zhang dan marga Wang berdiri di pinggir.

Yang berdiri di tengah-tengah adalah seekor kuda kurus dan kotor.

Kuda itu berdiri dengan tegak di tengah-tengah.

Melihat perut kuda yang ditendang menjadi biru keunguan, sepertinya tendangan itu sangat kuat.

Melihat Ruan-wei berpakaian biasa, mereka tetap dengan ramah menyapa.

"Anda datang ke sini ada keperluan apa?"

"Aku ingin melamar pekerjaan."

Salah seorang pelayan berkata.

"Kebetulan, nanti kau bisa minta maaf kepada Tuan Wang dan Tuan Zhang!"

"Siapa mereka?"

"Aku akan membawamu masuk."

Mereka masuk ke dalam ruangan, tampak barang berjejeran, sampai di belakang baru terlihat ada rumah.

Di tengah ruangan ada sebuah papan nama tertulis 'tempat berlatih silat'.

Dalam ruangan banyak orang berpakaian ketat untuk berlatih silat tapi ada yang berdiri, ada yang duduk ada juga yang sedang bercanda.

Pelayan datang ke bagian belakang, berbicara dengan seorang pelayan tua kemudian pelayan tua itu masuk, tidak lama kemudian keluar seseorang dengan wajah penuh cambang.

Pelayan tua itu berada di belakang orang bercambang itu.

Dengan sikap hormat pelayan tegap itu berkata.

"Tuan besar Ding, tuan ini ingin melamar pekerjaan."

Semua orang yang berada di ruangan itu segera berhenti beraktifitas dan melihat tuan besar Ding. Tuan besar Ding memberi hormat dan tertawa.

"Aku adalah pengurus kantor pengawalan perjalanan Nan-bei, namaku adalah DingZi-guang."

Ruan-wei dengan sikap hormat berkata.

"Margaku Ruan, nama Wei."

Semua orang yang sedang berlatih mendengar namanya, Ruan-wei adalah orang yang tidak memiliki nama, mereka tidak memperhatikannya.

Mereka melanjutkan kembali kegiatan mereka, mereka bicara dengan suara pelan karena di sisi mereka ada pengurus Ding.

"Kakak Ruan sudah lama kita tidak bertemu, bolehkah aku bertanya kau mempunyai kelebihan apa?"

"Kedua pundakku kuat,"

Ruan-wei tertawa. Mendengar yang datang melamar adalah seorang laki-laki yang hanya menjual tenaga, maka Ding Zi-guang tidak begitu memperhatikan, dia hanya tertawa.

"Kau kemari hanya untuk coba-coba!"

Di sisi gembok besi terlihat ada 5 gembok berjejeran dari ukuran kecil sampai besar, yang paling besar ukurannya 5 kali lipat dari gembok yang paling kecil.

Ding Zi-guang menunjuk gembok yang paling kecil dan berkata.

"Coba kau angkat itu!"

Orang yang berlatih silat tidak ada yang menoleh kepada Ruan-wei karena semua orang yang melamar pekerjaan harus mengangkat gembok terlebih dulu.

Walaupun tenaga orang itu besar, paling-paling mereka hanya menjadi seorang pegawai kecil di pengawalan perjalanan ini.

Ruan-wei tidak menarik nafas juga tidak berjongkok terlebih dulu, dengan mudah gembok seberat 90 kilogram itu diangkatnya.

Ruan-wei meminta agar dia bisa mengangkat gembok yang kedua.

Semua orang yang berlatih silat mendengar kata-kata Ruan-wei, mereka terkejut dan menoleh kepadanya.

Dengan serius DingZi-guang berkata.

"Gembok beratnya 360 kilogram!"

"Aku percaya aku bisa mengangkatnya!"

Sahut Ruan-wei.

Orang-orang yang sedang berlatih silat tidak percaya perkataannya, dalam hati mereka berpikir, 'dia masih begitu muda, tubuhnya kurus dan tidak tegap, tapi dia ingin mengangkat gembok seberat 360 kilogram, mana mungkin bisa?' Tapi Ruan-wei tetap tidak berjongkok juga tidak menarik nafas untuk bersiap-siap mengangkat gembok itu.

Kedua tangannya memegang pegangan gembok yang terbuat dari kayu, sedikit demi sedikit dia mulai mengangkat dan terakhir dia mengangkat lebih tinggi dari kepalanya.

Kemudian pelan-pelan diletakkannya kembali.

Dengan serius DingZi-guang bertanya lagi.

"Apakah gembok ketiga itu sanggup kau angkat?"

Orang yang berlatih silat mulai melihat Ruan-wei, mereka ingin tahu Ruan-wei akan menjawab apa.

Karena gembok ketiga tersebut, orang yang bisa mengangkatnya di pengawalan perjalanan ini hanya ada beberapa orang.

Jika Ruan-wei sanggup mengangkatnya, dia akan mengalahkan setengah orang yang ada di kantor ini.

Ruan-wei tidak mau terlalu melebih-lebihkan kelebihannya, dia menggeleng-gelengkan kepala tapi tidak bicara sepatah kata pun.

Ding Zi-guang mengira Ruan-wei tidak sanggup mengangkatnya maka dia bertanya lagi.

"Bagaimana dengan kemampuan ilmu silatmu?"

Ruan-wei menggelengkan kepala lagi.

"Bagaimana dengan kemampuan ilmu pedangmu?"

Ruan-wei tetap menggelengkan kepala. Diam-diam Ding Zi-guang menyayangkannya.

"Orang ini berbakat tapi dia hanya mempunyai tenaga pundak saja."

Segera dia berpesan kepada pelayan tua.

"Bawa dia ke tempat pendorong barang. Dia akan bekerja sebagai pengawas!"

Semua orang melihat Ruan-wei walaupun bocah ini memilik tenaga besar tapi dia hanya menjadi seorang pengawas.

Dibandingkan orang-orang yang sedang berlatih silat, kedudukan Ruan-wei lebih rendah dari mereka, maka mereka melanjutkan kembali pembicaraan tadi dan mereka sama sekali tidak menganggap Ruan-wei.

Tapi Ruan-wei tidak mempedulikan mereka, dia mengikuti pelayan tua itu dan pergi.

Tiba-tiba adayang membentak.

"Bocah tengik, berhenti!"

Dari kerumunan orang-orang itu keluar 2 laki-laki gemuk, beralis tebal, dan berperawakan tegap. Seseorang berkata dengan pelan.

"Mengapa bocah itu membuat Zhang dan Wang marah?"

Marga Zhang yang gemuk segera berkata.

"Kudamu telah menendang kuda kami!"

Ruan-wei mendengar mereka memanggilnya bocah tengik, dengan nada tidak senang dia menjawab.

"Betul!"

Laki-laki gemuk bermarga Wang segera membentak,.

"Apakah kau tidak akan meminta maaf kepada kami, kau seharusnya tahu aturan!" --BAB 113 Dunia ini sangat kejam Wang dan Zhang bersaudara angkat, mereka berdua memiliki perawakan paling besar di antara banyak pesilat di sana. Kakak beralis horisontal dan gemuk adalah Zhang Xiong-hui, sedangkan adik beralis vertikal dan gemuk bernama Wang-dao. Sifat Ruan-wei dari luar terlihat ramah tapi sebenarnya dia bersifat keras. Melihat mereka berdua begitu galak kepadanya, dia ikut marah.

"Bagaimana cara meminta maafnya?"

Zhang Xiong-hui membentak.

"Bocah, kau tidak bisa meminta maaf? Aku akan mengajarimu, pertama sujud 3 kali."

Wang-dao tertawa dan menyambung.

"Kemudian merangkak keluar dari sini!"

"Bagaimana caranya, apakah Tuan bisa memperagakannya untukku?"

Tanya Ruan-wei. Wang-dao terpaku, Zhang Xiong-hui membentak lagi.

"Jangan kurang ajar!"

Wang-dao menggulung lengan bajunya dan marah.

"Awas, aku akan membunuhmu!"

Ruan-wei mengerutkan dahi, dia melangkah maju.

"MengapaTuan marah-marah kepadaku?"

Wajah gemuk Zhang Xiong-hui yang penuh gelambir lemak tertawa terbahak-bahak.

"Mengapa aku marah padamu, anak kelinci!"

Ruan-wei marah Ding Zi-guang tiba-tiba berkata.

"Hanya hebat di mulut bukan berarti lebih kuat, beri jalan!"

Segera ruangan itu dikosongkan di tengah, luasnya cukup untuk beberapa orang bertarung. DingZi-guang tiba-tiba berkata.

"Jika ingin tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, lebih baik kita lihat hasil pertarungan!"

Dia mundur ke pinggir, sepertinya dia ingin melihat dengan cara apa Ruan-wei akan menghadapi mereka. Wang-dao berada di tengah-tengah, dia mengejek.

"Bocah, kemarilah, biar aku mengalah dulu 3 jurus!"

"Aku kira dia tidak berani bertarung dengan adikku ini."

Kata ZhangXiong-hui sambil tertawa Ding Zi-guang pelan-pelan berkata.

"Kakak Ruan, jika tidak ingin bertarung tidak apa, mintalah maaf kepada mereka!"

Alis Ruan-wei berkeriut, terpaksa dia berkata.

"Baiklah!"

Semua orang yang mendengar jawabannya ingin tertawa, mereka mengira Ruan-wei seorang penakut dan ingin meminta maaf kepada mereka.

Dalam keadaan seperti ini jika kalah adalah suatu penghinaan besar.

Ruan-wei pelan-pelan berjalan ke tengah ruangan dan berteriak.

"Siapakah tuan!"

Wang-dao melihat dia datang dengan kepala terangkat dan tahu kalau Ruan-wei bukan datang untuk memintaa maaf, maka dia segera memasang kuda-kuda.

Dia takut Ruan-wei tiba-tiba akan menyerangnya.

Sesudah memasang kuda-kuda dia bertanya.

"Aku adalah tuan gemuk kedua, si alis vertikal Wang-dao!"

Ruan-wei balik bertanya kepada Zhang Xiong-hui yang berada di depan.

"Siapakah tuan!"

Zhang Xiong-hui tertawa terbahak-bahak.

"Bocah, dengar dengan jelas, aku adalah tuan besar beralis horisontal gemuk satu, Zhang Xiong-hui!"

Sikap Ruan-wei bertambah gagah lagi.

"Aku tidak ingin memukul orang yang tidak mempunyai nama. Karena kalian telah memberitahukan nama kalian, lebih baik kalian sama-sama melawanku!"

Semua orang di sana terkejut, mereka tidak menyangka kalau Ruan-wei yan g masih begitu muda begitu mengeluarkan kata-kata ternyata lebih gila dari Wang-dao dan Zhang Xiong-hui.

Wajah Zhang Xiong-hui yang gemuk tampak menyatu, setelah lama dia tertawa kemudian baru bersuara.

"Bersama-sama melawanmu... Ha, ha!... Bertarung melawanmu...."

Dia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.

Orang-orang di sana tidak merasa ada yang bisa ditertawakan apalagi memberi pendapat.

Ruan-wei bersikap sangat tenang, sikapnya tidak berubah sampai tawa Zhang Xiong-hui semakin mengecil.

Ketika tawanya hampir selesai, Zhang Xiong-hui sendiri merasa ada yang aneh maka dia segera berhenti tertawa.

Ketenangan Ruan-wei membuatnya bergetar, tiba-tiba Wan Dao berteriak.

"Kakak..."

Dia mulai ketakutan, dalam hati Ruan-wei menertawakan sikapnya karena tadi dia begitu sombong.

Ruan-wei tersenyum dan melangkah maju.

Wang-dao malah mundur dan tidak berani bertarung.

Terpaksa Zhang Xiong-hui meloncat ke sisi Wang-dao dan marah.

"Jangan mundur! Kau benar-benar tidak berguna!"

"Baiklah, baiklah! Kita bertarung bersama!"

Ruan-wei tertawa. Wajah gemuk Zhang Xiong-hui menjadi ungu karena marah. Dia membentak.

"Bocah, kau cari mati!"

Kata-katanya belum habis, 2 kepalan menyerang dari kiri dan kanan.

Wang-dao ikut mengambil kesempatan, dia menendang perut Ruan-wei.

Tapi Ruan-wei segera berputar, orang-orang belum melihat apa yang dilakukan Ruan-wei tahu-tahu Zhang Xiong-hui yang menyerang dengan 2 kepalan dan kaki Wang-dao yang akan menendang tampak sudah berdiri kaku, sama sekali tidak bergerak.

Orang yang ada di dalam ruangan adalah para pesilatan mereka tahu Zhang Xiong-hui dan Wang-dao sudah ditotok.

Melihat kepandaian Ruan-wei, mereka tahu bahwa Zhang Xiong-hui dan Wang-dao bukan tandingan Ruan-wei.

Maka tidak ada seorang pun yang datang untuk membuka totokan mereka.

Di ruangan itu tidak ada yang bersuara, Ruan-wei melihat sekeliling.

Tiba-tiba Ding Zi-guang tertawa.

"Kakak Ruan, demi aku, mohon lepaskan mereka!"

Ruan-wei tersenyum, dan menendang dada mereka, dari tenggorokan terdengar suara tercekik.

Kemudian mereka baru bisa kembali bergerak, Zhang Xiong-hui masih tidak menerima kekalahan ini.

Dia membentak, dua kepalan menyerang Ruan-wei lagi.

Ding Zi-guang berlari ke depan Zhang Xiong-hui.

Tangannya memegang pergelangan tangan Ding Zi-guang, membentak.

"Berhenti!"

"Kau. .kau.."

Wajah Zhang Xiong-hui merah. Ding Zi-guang melepaskannya. Karena tidak bisa berdiri, Zhang Xiong-hui terhuyung ke belakang. Ding Zi-guang membentak.

"Kenapa? "Mulai hari ini Tuan dan adik Tuan bukan anggota kantor pengawalan perjalanan Nan-bei lagi!"

"Tuan Ding...."

"Jangan banyak bicara! Pergi ke kasir, ambil upah kalian lalu cepat pergi!"

Ding Zi-guang menjawab dengan dingin. Wang-dao tahu kalau mereka berdua telah mempermalukan mereka diri sendiri, mereka tidak bisa bekerja di sini lagi, dia menarik nafas dan berkata.

"Da-ge, mari kita pergi!"

Zhang Xiong-hui terus melotot kepada Ruan-wei, dia juga ikut pergi. Ding Zi-guang berteriak.

"Ingat! Kemana pun kalian pergi, harap jangan menggunakan nama pengawalan perjalanan Nan-bei lagi. Jika tidak, kalian akan tahu akibatnya!"

"Aku tahu, tidak perlu takut...."

Jawab Zhang Xiong-hui Setelah mereka pergi, keadaan kembali seperti semula. Sepertinya keputusan yang diambil Ding Zi-guang tidak membuat mereka resah. Ruan-wei tidak tenang, dia berkata.

"Kakak Ding, aku membuat kantor pengawalan perjalanan ini kehilangan 2 pesilat, apakah... ini tidak baik!"

Ding Zi-guang tertawa.

"Mereka berdua memang cari mati, mereka merusak nama baik pengawalan perjalanan Nanbei. Jika hari ini mereka tidak dikeluarkan, kelak akan mendatangkan bencana."

"Aku akan bekerja di pengawalan perjalanan tuan, harap tuan banyak memberikan petunjuk kepadaku! Sekarang aku akan ke sana untuk mendaftar...."

"Tunggu sebentar!"

Ding Zi-guang berteriak kepada orang-orang yang sedang diam di sebelah sana.

"Kalian perhatikan!"

Segera ruangan menjadi hening. Ding Zi-guang berkata.

"Apa aturan pertama pengawalan perjalanan Nan-bei?"

"Tidak boleh merusak nama baik pengawalan perjalanan Nan-bei!"

"Kejadian tadi, mengingatkan kalian jika tidak mempunyai ilmu silat tinggi jangan sembarangan bertarung, itu akan merusak nama baik pengawalan perjalanan Nan-bei dan jika hal ini masih terjadi, orang ini tidak akan diterima bekerja di sini lagi!"

Semua orang mengangguk. Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Kantor pengawalan perjalanan ini benar-benar mempunyai disiplin tinggi, semua orang pasti patuh.' Ding Zi-guang berkata lagi.

"Jabatan wakil ketua masih kosong karena wakil ketua sudah meninggal, sekarang Kakak Ruan yang mengisi jabatan ini, bagaimana pendapat kalian?"

Di pengawalan perjalanan Nan-bei yang berkuasa adalah Pengurus Ding Zi-guang, dia bukan sembarangan pengurus.

Semua hal yang terjadi di pengawalan perjalanan ini, diatur olehnya karena pemilik pengawalan perjalanan ini jarang campur tangan.

Dia menempatkan Ruan-wei menjadi wakil ketua kantor maka semua orang pun mendukung.

Tapi Ruan-wei cepat-cepat menjelaskan.

"Aku belum berpengalaman, aku belum sanggup menerima tugas yang begitu berat, lebih baikjangan dulu!"

Ding Zi-guang tertawa.

"Kakak Ruan, jangan sungkan, hari ini aku hampir kehilangan seorang pesilat tangguh, dengan bakat yang Kakak Ruan miliki pasti bisa menjadi seorang wakil ketua."

Tapi Ruan-wei tetap menolak.

"Tidak, tidak! Aku tidak berpengalaman...."

"Pengalaman didapatkan dari praktek, jika bekerja sungguh-sungguh, pengalaman akan datang, aku harap Kakak Ruan jangan menolak lagi!"

"Kalau begitu... begitu...."

Ding Zi-guang tertawa, dia mengumumkan.

"Kakak Ruan sudah setuju, harap kalian menyambutnya dengan bertepuk tangan!"

Memang terdengar suara tepukan tangan tapi tidak seberapa mungkin karena umur Ruan-wei masih terlalu muda dan tidak ada nama, semua ini tidak membuat pesilat-pesilat di sana kagum kepadanya.

Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak.

"Bagaimana jika wakil ketua baru kita memperagakan ilmu silatnya yang hebat!"

Ding Zi-guang tertawa dan berkata pelan.

"Kakak Ruan, mereka berharap bisa menyaksikan ilmu silat wakil ketua mereka!"

Ruan-wei yang masih muda tidak menolak permintaan ini dan berkata dengan suara keras.

"Aku ditempatkan di posisi wakil ketua kelak aku berharap bisa mendapatkan bantuan dari kalian yang ada di sini...."

Begitu mendengar dia menerima kedudukan ini, Ding Zi-guang sangat senang.

Dia merasa beruntung bisa membantu ketua kantor pengawalan perjalanan ini mendapatkan asisten yang berbakat.

Ruan-wei berhenti di tempat penyimpanan lima gembok itu, dia tertawa;

"Aku akan memperlihatkan sedikit ilmu silatku, jika ada yang jelek, harap kalian jangan mentertawakan..."

Dia memegang gembok yang paling besar, tidak melihat Ruan-wei mengeluarkan tenaga tapi gembok itu sudah terangkat tinggi.

Semua orang mengagumi tenaga besar Ruan-wei kemudian tangan kiri Ruan-wei mengangkat gembok keempat.

Gembok itu dilempar dan terbang.

Yang tersisa 3 gembok, dengan cepat dia pun melemparnya.

Begitu dua gembok yang paling besar akan terjatuh, tiba-tiba Ruan-wei mengeluarkan gerakan aneh, dan dua gembok itu terbang lagi.

3 gembok yang akan jatuh dengan gerakan yang aneh pula 3 gembok itu terbang lagi.

Lima gembok turun 2 kali.

Setiap kali Ruan-wei bergerak, dia akan membuat gembok yang turun terbang lagi ke atas.

Gerakan-gerakannya membuat orang-orang yang melihat takjub dan terkejut.

Orang biasa jika ingin mengangkat satu gembok saja sangat sulit tapi Ruan-wei hanya mengeluarkan sedikit tendangan, segera terlihat sedahsyat apa tendangan itu.

Hal ini membuat semua orang yang di sana terkejut sampai melotot.

Awalnya mereka takut Ruan-wei tidak sanggup menyambut gembok yang berat.

Jika terlepas akan mendatangkan bencana maka semua orang mengambil tempat dengan jarak cukup jauh.

Setelah melihat Ruan-wei begitu mantap, mereka mendekat lagi dan ingin melihat dengan jelas tapi mereka tidak sanggup mendekat karena angin telapak Ruan-wei terlalu kencang.

Ding Zi-guang benar-benar mengagumi kepandaian Ruan-wei dan dia mengetahui ilmu silat orang ini sudah mencapai puncak kesempurnaan, tapi dia tidak memperhatikan ilmu telapak Ruanwei yang sebenarnya lebih dasyat lagi.

36 jurus dari 'Shi-er-fu-zhang' baru selesai dikeluarkan, Ruan-wei bersiap-siap menaruh kembali gembok-gembok itu.

5 gembok masing-masing turun, tapi cara turun gembok itu seperti diletakkan pelan-pelan oleh tangan manusia, sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikit pun, benar-benar kepandaian silat yang tinggi.

Hal ini membuat penonton lupa memberikan tepuk tangan.

Dengan rendah hati Ruan-wei berkata.

"Aku hanya bisa sedikit ilmu silat, harap kalian jangan kecewa!"

Sekarang semua orang baru mengeluarkan pujian dan ruangan itu menjadi ribut karena semua orang sedang membicarakan ilmu silat Ruan-wei yang hebat. Tiba-tiba ada yang berteriak.

"Ketua kantor datang!"

Ruangan segera menjadi hening, terlihat dari luar masuk seorang pesilat berusia sekitar 30 tahun lebih, peraawakannya sedang dan berwajah persegi.

Dia melewati pesilat yang berada di sana, mereka dengan hormat menyapa.

"Apa kabar, Ketua!"

Ketua pengawalan mengangguk dengan tersenyum tapi dari kerut alis terlih.il d m mempunyai kekhawatiran yang berat. DingZi UnW membawa Ruan-wei mendekatinya dan mcrnburl hormat.

"Bagaimana perjalanan tadi, apakah lancar ? Kali ini ketua kembali lebih awal!"

Ketua pengawalan perjalanan ini adalah orang yang mempunyai kepandaian tinggi, bernama Zheng Xue-sheng, dijuluki 'Da-li-shen-ying (Tenaga besar elang sakti).

Dia adalah orang yang sangai berhati-hati.

Jika barang yang harus dikawal adalah barang penting, dia selalu melakukan pekerjaan ini sendiri oleh karena itu dia dikagumi oleh pesilat pesilat di kantor ini.

Dia balas memberi hormat, tapi dia tidak banyak bicara, dia melihat Ruan-wei, seperti sedang bertanya kepada Pengurus Ding.

Ding Zi-guang segera mengerti dan memperkenalkan.

"Dia adalah orang berbakat dan baru datang hari ini. Aku merasa beruntung bisa mendapatkan dia untuk mengisi posisi sebagai wakil ketua. Bagaimana pendapat Kakak Zhang?"

Zheng Xue-sheng mengulurkan tangannya yang besar, dia berjabat tangan dengan Ruan-wei.

Ruan-wei menyambutnya.

Semua orang tahu ketua sedang mencoba ilmu silat Ruan-wei.

Karena setiap kali ada orang baru yang datang, ketua selalu berjabat tangan dengan orang itu untuk mengecek.

Setiap kali dia hanya memegang tangan orang itu sebentar, lalu langsung dilepas.

Orang yang diperiksa selalu merasa ilmu tenaga dalam ketua tidak berbanding jauh dengan dirinya, tapi setelah itu mereka baru tahu kalau ketua hanya mengeluarkan sebagian tenaga.

Begitu tangan Ruan-wei berjabatan dengan tangan besarnya, dia merasa ada tenaga besar menekannya, belum terpikir harus dengan cara apa melawannya.

Ilmu yoganya sudah bereaksi secara alami, tangannya menjadi lemas dan tidak bertenaga.

Hal ini membuat Zheng Xue-sheng terkejut.

Karena dia tahu jika tenaganya ditambah, dia tetap akan kalah kuat.

Dia segera melepaskan tangan Ruan-wei dan berkata.

"Baik, baik! Sangat baik!"

Semua orang belum pernah mendengar ketua mereka berturut-turut memuji begitu setelah menguji orang itu, tapi hari ini ketua mereka melakukannya.

Dalam hati mereka lebih kagum lagi kepada Ruan-wei!

Sebenarnya Zheng Xue-sheng hanya tahu baik tapi di mana baiknya dia tidak tahu.

Dia bisa mencoba kekuatan orang baru, hanya hari ini dia merasakan ilmu silat Ruan-wei sangat tinggi, tapi setinggi apa, dia tidak bisa menduganya!

Ding Zi-guang tertawa.

"Kakak Zheng, bagaimana pandanganku terhadap orang baru ini?"

Zheng Xue-sheng akhirnya membuka mulut.

"Kau memang orang yang pintar memilih orang!"

Dia hanya berkata singkat. Ding Zi-guang berkata.

"Kakak Zheng, silakan istirahat dulu, aku akan ke sana untuk mengobrol setelah Kakak selesai beristirahat!"

"Kita bertemu di tempat tuan besar pemilik kantor pengawalan perjalanan saja!"

Sahut Zheng Xue-sheng. Sesudah itu dia masuk ke ruangan dalam.

"Apakah Ketua Zheng adalah orang yang pendiam?"

Tanya Ruan-wei. Ding Zi-guang mengangguk.

"Lao Zheng memang orang yang tidak senang bicara, biasanya sulit mendengar suaranya. Kali ini dia mengantar barang penting ke Si-chuan tapi keadaan di sana seperti apa aku tidak tahu?"

Ding Zi-guang melihat sikap Zheng Xue-sheng tadi, dia merasa ada sesuatu telah terjadi.

Tapi karena ada Ruan-wei maka dia tidak banyak bertanya.

Ruan-wei adalah orang yang pengertian, setelah mendengar kata-kata Ding Zi-guang, dia segera berkata.

"Jika Kakak Ding ada keperluan, silakan tinggalkan aku, asal ada yang membawa jalan, itu sudah cukup. Kelak kita akan sekeluarga, tidak perlu sungkan."

Ding Zi-guang memuji dan berkata.

"Baiklah!"

Dia segera memanggil seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun. Ding Zi-guang berpesan kepada pemuda itu.

"Qi-xin, kau layani wakil ketua."

Dia lalu membalikkan tubuh dan berpesan kepada Ruan-wei.

"kakak Ruan, jika ada yang tidak mengerti tanyakanlah kepada dia. Aku akan pergi ke tempat tuan besar. Kelak aku baru akan membawamu ke sana."

Setelah Ding Zi-guang pergi, pemuda itu tertawa.

"Wakil ketua, namaku Ling Qi-xin."

Pemuda itu tampan juga luwes membuat orang segera menyukainya. Ruan-wei bertanya.

"Tahun ini aku berusia 19 tahun, berapa umur Kakak?"

Dengan tidak tenang Ling Qi-xin berkata.

"Aku berumur 20 tahun."

Ruan-wei tertawa.

"Kau menjadi kakak, aku menjadi adik."

Ling Qi-xin menggoyangkan tangan berkata.

"Tidak boleh, jabatan wakil ketua berada di atas Qi-xin, mana mungkin aku dipanggil Da-ge?"

"Kita berteman dengan hati, jika Kakak Xin bicara tentang jabatan apakah Kakak Xin tidak mau berteman denganku?"

Ling Qi-xin menjawab tergesa-gesa.

"Bukan, bukan maksudku seperti itu...."

Ruan-wei tertawa dan memanggil.

"Kakak Ling!"

Terpaksa Ling Qi-xin dengan gugup menjawab.

"Adik...."

Ruan-wei mulai tinggal di tempat wakil ketua terdahulu.

Di pengawalan perjalanan Nan-bei, bila belum berkeluarga, semua boleh tinggal dan makan dengan bebas.

Sejak kecil Ling Qi-xin sudah ikut dengan Ding Zi-guang maka dia sering diajar ilmu silat oleh Ding Zi-guang.

Karena rajin berlatih maka ilmu silatnya lumayan tinggi.

Begitu bertemu dengan Ruan-wei mereka langsung cocok.

Pada hari kedua Ruan-wei mulai mengetahui keadaan pengawalan perjalanan Nan-bei melalui Ling Qi-xin.

Pagi hari di pengawalan perjalanan Nan-bei mulai sibuk.

Pengawalan perjalanan ini tidak seperti pengawalan perjalanan lainnya.

Di pengawalan perjalanan lain sebulan dua bulan baru mendapatkan pesanan, sedangkan pengawal-an perjalanan Nan-bei selalu ada pesanan.

Kadangkadang pesanan untuk bulan depan pun sudah ada.

Maka pesilat-pesilat yang di kantor jarang ada yang mengganggur.

Hari kedua, Ruan-wei berjal.ui ial.ni di sekitar kantor, semua orang melihatnya, d< -11 f..

11 sikap hormat menyapa.

"Selamat pagi, wakil ketua!"

Karena belum hafal dengan keadaan di sana, maka Ruan wei hanya melihat sekilas.

Begitu sampai di tempal berlatih ilmu silat, Ruan-wei bertemu dengan Ling Qi-xin.

Dengan tersenyum mengajak Ruan-wei masuk ke dalam untuk melihat-lihat.

Di dalam ruangan hanya ada beberapa orang tapi di pojok ruangan tersimpan banyak senjata dan alat-alat untuk berlatih ilmu silat.

Ling Qi-xin berjalan sampai di tempat penyimpanan 5 gembok dan berkata.

"Pertunjukkan Adik Wei kemarin membuatku merasa terkejut. Sekarang setelah dipikir-pikir, aku masih tidak percaya di dunia ini ada orang yang bisa melempar 5 gembok sekaligus."

"Di dunia ini banyak orang yang mempunyai ilmu silat tinggi. Ilmuku tidak seberapa, tidak perlu dibesar-besarkan!"

Kata Ruan-wei. Ling Qi-xin tetap menggelengkan kepala.

"Aku tidak percaya. Kekuatanmu kukira tidak ada yang bisa menandinginya. Aku yakin pemilik pengawalan perjalanan 'Wu Ying Jian' saja belum tentu mempunyai ilmu begitu lihai...."

Tiba-tiba ada suara perempuan yang berkata.

"Kata siapa?"

Ling Qi-xin terkejut, mereka melihat ada seorang gadis berusia sekitar 16 tahun, berpakaian hitam ketat, di punggung terselip sebilah pedang panjang. Ruan-wei bertanya.

"Siapakah dia?"

Alis Ruan-wei berkerut.

"Celaka, bencana datang mencari kita!"

"Apa maksudmu?"

Bentak si gadis marah Segera Ling Qi-xin berkata.

"Oh, tidak... tidak... Nona bangun begitu pagi!"

"Pagi apa? Jika mengira ini masih pagi, berarti kau orang malas!"

Ling Qi-xin tidak berani membantah karena keadaan akan bertambah sulit. Gadis itu melihat Ruan-wei, dengan sikap sombong dia bertanya.

"Apakah kau adalah wakil ketua yang kemarin baru masuk?"

"Betul!"

Ruan-wei menjawab dengan singkat. Ling Qi-xin dengan gugup memperkenalkan.

"Dia... dia adalah putri tuan besar pemilik pengawalan perjalanan!"

Ruan-wei mengangguk kemudian berdiri dengan diam. Gadis itu melihat Ruan-wei tidak menyapanya. Dengan angkuh dia berkata lagi.

"Hei, apakah kau bisu?"

Ruan-wei menggelengkan kepala.

Dia teringat pada adik perempuanya, Ruan-xuan.

Gadis yang ada di depannya sifatnya sangat mirip dengannya.

Menghadapi gadis seperti ini satu-satunya cara adalah tidak meladeninya dengan serius.

Gadis itu marah.

"Jika kau tidak bisu, mengapa tidak mau bicara?"

Dia menarik nafas.

"paman Ding memilih seorang ketua pengawalan perjalanan seperti botol yang tidak ada mulutnya (Tidak banyak bicara). Sekarang memilih wakil ketua yang setali 3 uang. Pengawalan perjalanan ini harus diganti menjadi pengawalan makan!"

Ling Qi-xin tidak mengerti.

"Nona... apa... maksudmu?"

"Artinya orang-orang yang ada di pengawalan perjalanan ini semua mempunyai mulut tapi mulutnya tidak bisa bicara hanya bisa makan! Kalau begitu pengawalan perjalanan kita harus diganti menjadi pengawalan makan!"

Karena sikap dan nada bicara gadis ini sangat mirip dengan Ruan Xuan, maka Ruan-wei merasa ingin tertawa, dia pun tersenyum. Gadis itu marah.

"Kau menertawakan apa? Apakah tidak mendengar ada yang bicara?"

Ruan-wei berkata.

"Nona Ouwyang, aku belum mengunjungi tuan besar, aku sudah tidak sopan, aku minta maaf!"

Dari kata-kata Ruan-wei, jelas memberitahu kalau sekarang dia masih belum menjadi orang pengawalan perjalanan Nan-bei, maka Ruan-wei belum mengenalinya dan tidak harus menyapanya.

Nona Ouwyang dengan sombong berkata.

"Itu lebih baik, kau belum bertemu dengan ayahku, berarti kau bukan orang pengawalan perjalanan Nan-bei. Keadaan ini sangat baik bila kita bertarung, menang atau kalah, kita tidak akan menjadi musuh!"

Dengan rendah hati Ruan-wei berkata.

"Ilmu silatku masih rendah, aku tidak bisa melawan Nona."

Nona Ouwyang tertawa dingin.

"Kau tenang saja, aku tidak akan melukaimu, apalagi membunuhmu!"

Alis Ruan-wei berkerut. Tapi mengingat Keadaannya, dia berusaha menekan kemarahan dan diam tidak bicara. Dengan angkuh Nona Ouwyang berkata.

"Tidak disangka kau seperti seorang laki-laki tapi penakut!"

Tiba-tiba Ruan-wei berteriak.

"Karena wakil ketua menghormatimu maka aku tidak mau bertarung denganmu, bukan karena takut kepadamu!"

Nona Ouwyang tertawa.

"Jika kau bukan seorang penakut, hadapilah tantanganku!"

Nona Ouwyang adalah putri tunggal 'Wu-ying-jian' ilmu silatnya di peroleh dari ayahnya.

Dia sangat disayangi oleh ayah dan ibunya, karena itu dia manja dan suka berbuat semaunya.

Seringkali dia mengajak bertarung dengan pesilat di pengawalan perjalanan, ayahnya hanya mencoba ilmu yang dia pelajari.

Tapi tidak ada orang yang berani bertarung dengannya karena memandang tuan mereka.

Ling Qi-xin sering ditantang tapi selalu menolak.

Kali ini Ling Qi-xin berpikir ilmu tuan besar belum tentu bisa mengalahkan Ruan-wei, apalagi putrinya, maka Ling Qi-xin dengan dingin berkata.

"Percuma saja nona bisa menang dari Qi-xin, jika bisa menang dari wakil ketua, itu baru dikagumi orang lain!"

"Baiklah, suruh dia kemari untuk bertarung denganku! Aku tidak percaya aku tidak bisa mengalahkan dia!"

"Wakil ketua, mohon beri pelajaran kepadanya!"

Kata Ling Qi-xin. Tapi Ruan-wei malah berkata.

"Kakak Qi, mari kita pergi dari sini!"

Setelah itu dia berjalan melewati Nona Ouwyang. Ling Qi-xin ikut di belakangnya. Ketika Ruanwei lewat di depan nona Ouwyang, terdengar dia berkata.

"Benar-benar tidak berguna!"

Ling Qi-xin tidak terima, dia berkata.

"Jika nona bisa mengangkat gembok yang paling besar itu baru bisa bertarung dengan wakil ketua!"

"Berhenti!"

Bentak nona Ouwyang. Ruan-wei berhenti, nona Ouwyang menyindir.

"Hanya tenaga saja yang besar, bukankah sapi juga mempunyai tenaga besar?"

Mendengar dia dibandingnkan dengan sapi, Ruan-wei dengan nada tidak suka berkata.

"Aku belum pernah berbuat salah kepadamu, kenapa nona berkata demikian?"

Nona Ouwyang masih terus bicara.

"Menyuruh ayahku mengangkat 5 gembok itu, dia juga pasti tidak mau. Sebetulnya tanpa perlu mengangkat aku bisa memindahkan gembok ini!"

Kemudian dia menarik pedang yang terselip di punggungnya.

Dia menusuk dengan pedang dan gembok pun dipukulnya, gembok terjatuh dengan pelan seperti diletakkan perlahan-lahan.

Nona Ouwyang telah mengeluarkan jurus pedang yang tinggi, hal ini membuat Ling Qi-xin terkejut begitu pula dengan Ruan-wei.

Ruan-wei jadi ingin mencoba jurusnya.

Biasanya yang paling ditakuti oleh pesilat pedang adalah ilmu yang dipelajarinya tidak ada lawan tanding.

Melihat ilmu pedang Nona Ouwyang yang kekuatannya tidak kalah dengan Tian-long-shi-san-jian, maka dia berpesan kepada Ling Qi-xin.

"Kakak Ling, bantu aku mencarikan sebilah pedang!"

Ling Qi-xin dengan cepat mencarinya kemudian berkata.

"Silakan, Nona!"

Semenjak Nona Ouwyang menguasai ilmu pedang, dia belum pernah bertarung dengan orang lain. Sekarang dia tidak menyangka Ruan-wei berani bertarung dengannya. Karena senang dia tertawa.

"Baiklah, coba lihat dengan jelas!"

Pedang Nona Ouwyang menyerang.

Jurus ini mengandung tenaga besar, Ruan-wei tidak berani bertindak ceroboh.

Dengan jurus Tian-long-shi-san-jian jurus pertama, Xiao-fu-zhi-tian Ruan-wei menyambut!

Tanpa habis menunggu jurus Xiao-fu-zhi-tian selesai, Nona Ouwyang menyerang dengan 6 jurus lagi.

Jurus pedangnya sejurus demi sejurus semakin cepat, membuat mata orang yang melihat menjadi silau.

Mungkin jika Ruan-wei tidak menguasai Tian-long-shi-san-jian, dalam 2 jurus dia akan kalah.

Ling Qi-xin melihat dari pinggir, hatinya terus bergetar.

Pesilat yang sedang berlatih segera berkumpul untuk menonton pertunjukan itu.

Mereka tahu Nona Ouwyang sering berlatih ilmu pedang tapi mereka tidak tahu ternyata ilmu pedangnya begitu lihai.

Dalam hati mereka berpikir, .

'Untung aku tidak bertarung dengannya, kalau tidak dalam satu jurus aku pasti sudah kalah.' Semakin bertarung Ruan-wei semakin bersemangat.

Begitu sampai jurus keenam, serangan Nona Ouwyang sudah tidak terhitung, ilmu pedangnya seperti tiada habisnya.

Begitu Ruan-wei mengeluarkan jurus ketujuh, jurusnya semakin pelan, sejurus demi sejurus terlihat jelas.

Nona Ouwyang sudah mengeluarkan 360 jurus.

Dalam 100 jurus dia menyerang dengan semangat, sesudah 100 jurus berlalu, pedangnya seperti masuk ke dalam lumpur, sulit untuk diayun.

Nona Ouwyang tidak seperti Ruan-wei yang menguasai ilmu sakti yoga maka tenaga dan ilmu Ruan-wei sangat kuat.

Apalagi ilmu pedangnya hanya menyerang dengan perlahan, semua kehebatannya berkurang banyak.

Begitu Ruan-wei menyerang dengan jurus kesebelas, pedang Nona Ouwyang terbawa oleh pedang Ruan-wei.

Setelah selesai jurus kesebelas, Ruan-wei membentak dan berhenti.

Tapi pedang Ruan-wei menekan pedang Nona Ouwyang.

Asalkan Ruan-wei menekannya dengan tenaga, pedang Nona Ouwyang akan terlepas.

Nona Ouwyang mulai merasa ilmu silatnya menjadi lemah dan dia tidak sanggup menarik pedang yang terhisap oleh tenaga Ruan-wei.

Dalam hati dia menarik nafas dan ingin melepaskan tangan untuk mengaku kalah.

Tiba-tiba Ruan-wei menarik pedang dan mundur, lalu berkata dengan suara keras.

"Ilmu pedang Nona sangat tinggi, kita bertarung lain waktu lagi!"

Dengan begitu orang lain tidak bisa melihat siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Dalam hati Nona Ouwyang benar-benar berterima kasih.

Wajahnya menjadi merah, dia membalikkan tubuh lalu pergi.

Sesudah Nona Ouwyang pergi, semua orang berseru.

Sekarang mereka baru melihat ilmu pedang Ruan-wei benar-benar hebat.

Jika kemarin baru mengetahui tenaganya yang besar ternyata ilmu pedangnya pun hebat.

Dengan ilmu silatnya, dia bisa melawan ilmu pedang Nona Ouwyang yang hebat.

Sambil berjalan, Ling Qi-xin terus memuji ilmu pedang Ruan-wei.

Setelah masuk kamar, Ruan-wei berkata.

"Kakak Ling, ilmu pedangku tidak seberapa, yang hebat adalah ilmu nona Ouwyang."

Ling Qi-xin tertawa.

"Kau tidak perlu berbohong kepadaku, aku dan nona sudah lama kenal, aku sangat mengetahui sifatnya, sebenarnya dia kalah maka dia meninggalkan tempat tadi tanpa bersuara. Jika dia tidak kalah, dia tidak akan dengan diam-diam meninggalkan tempat itu."

Ruan-wei mengeluh.

"Aku memang sudah mengalahkan dia, karena ilmunya kalah tinggi, tapi ilmu pedangnya jika diajarkan kepada orang yang berilmu pedang dengan kemampuan hampir sama denganku, belum tentu aku bisa menang."

"Apakah betul, jurusnya begitu hebat?"

Tanya Ling Qi-xin. Ruan-wei mengangguk.

"Jika tuan pemilik pengawalan perjalanan ini menggunakan ilmu pedang tadi, aku akan kalah!"

Ling Qi-xin menggelengkan kepala.

"Sepertinya tuan pemilik pengawalan perjalanan ini tidak bisa ilmu pedang ini!"

"Kalau begitu, Nona Ouwyang belajar dari siapa?"

"Aku tidak tahu, memang tuanku dijuluki 'Wu-ying-jian' tapi menurutku, ilmu pedangnya tidak sehebat nona!"

"Kalau begitu ini benar-benar aneh!"

"Memang benar, karena kami juga baru pertama kali melihat nona menggunakan ilmu pedang ini, tidak ada seorang pun yang mengetahui sampai di mana kemampuan ilmu nona, hanya sering mendengar nona senang berlatih ilmu pedang."

"Jangan bicara lagi, Kakak Ling, nanti bawalah aku untuk menemui Pengurus Ding."

Di luar sudah ada yang batuk, Ling Qi-xin langsung berkata.

"Pengurus Ding datang!"

Sambil tertawa Ding Zi-guang masuk, K'u.ui wei menyapa.

"Apa kabar, Kakak Ding?"

Ling Qi-xin membawakan teh. Sesudah minum teh, Pengurus Ding bertanya.

"Apakah benar tadi Kakak Ruan sudah menang dari nona Ouwyang dalam ilmu pedang?"

"Tidak! Kami bertarung sama kuat,"

Sahut Ruan-wei.

"Tapi Nona Ouwyang sendiri yang memberitahu ayahnya kalau dia kalah di tanganmu. Awalnya tuan besar tidak percaya ada yang bisa mengalahkan nona."

Dengan jujur Ruan-wei berkata.

"Ilmu pedang Nona Ouwyang sangat kuat dan bagus, jika aku tidak berusaha keras menahan serangannya, aku tentu akan kalah."

"Jadi benar kau menang dari nona?"

Tanya Ding Zi-guang. Ruan-wei mengangguk sambil tersenyum.

"Kalau begitu aku akan membawa Kakak Ruan menemui Kakak Ouwyang!"

Sahut Ding Zi-guang.

'Wu-ying-jian' Ouwyang Zhi-xuan tinggal di lingkungan kantor pengawalan perjalanan di rumah paling belakang.

Di depan rumahnya banyak ditanami tanaman, bunga, dan pohon, masih ada tempat berlatih silat tapi lapangannya tidak begitu besar.

Di pinggir rumah itu adalah kamarkamar, sedangkan di tengahnya adalah ruang tamu dengan bentuk panjang.

Di dalam ruang tamu ada 'Da-li-shen-ying' Zheng Xue-zhang dan seorang laki-laki setengah baya berkulit putih wajahnya bersih tidak berjanggut.

Begitu Ruan-wei masuk ke dalam ruangan, Zheng Xue-zhang dan laki-laki setengah baya itu berdiri untuk menyambutnya.

DingZi-guang segera berkata.

"Da-ge, Kakak Ruan sudah datang!"

Ruan-wei memberi hormat.

"Tuan besar, Ruan-wei datang berkunjung!"

Laki-laki setengah baya itu berkata.

"Pengawalan perjalanan Nan-bei sangat beruntung bisa mengundang Kakak Ruan untuk membantu kami, silakan duduk!"

Sesudah duduk, Ding Zi-guang berkata.

"Kakak Ruan baru masuk, kami punya pekerjaan penting dan akan meminta Kakak Ruan membantu kami!"

"Aku bekerja di pengawalan perjalanan Nan-bei, aku harus mengabdi pada kantor ini. Asalkan aku sanggup, aku akan sepenuh hati mengerjakannya."

"Semenjak aku dan istriku mendirikan kantor pengawalan perjalanan ini, sudah 10 tahun lebih, kami bekerja keras dan beruntung barang yang kami antar belum pernah hilang."

Zheng Xue-zhang yang pendiam tiba-tiba berkata.

"Tapi kali ini memalukan, aku benar-benar tidak berguna...."

Dia diam lagi tidak bersuara sepertinya jika mengeluarkan sepatah kata lagi akan sangat sulit dan berat baginya. Ding Zi-guang menyambung.

"Sejak Kakak Zheng masuk di pengawalan perjalanan Nan-bei ini, sudah 10 tahun lebih dia mengantarkan banyak barang penting. Setiap kali dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tidak pernah terjadi sesuatu...."

Ruan-wei diam-diam mengangguk dan berpikir, 'Sekarang di dunia persilatan sangat kacau karena di dunia persilatan terus berdiri banyak perkumpulan.

Satu pengawalan perjalan bisa bertahan...

bisa bertahan 2 tahun pun termasuk cukup lumayan, apalagi pengawalan perjalanan Nan-bei bisa bertahan sampai 10 tahunn lebih."

Ding Zi-guang berhenti sebculai lalu mengeluh.

"Kali ini Kakak Zheng membawa perihiasan bernilai 200 ribu tail perak ke Si-chuan di perbatasan dia bertemu dengan seorang perempuan berpakaian merah yang wajahnya ditutup lalu perempuan itu merampok barang bawaan kami"

"Perempuan itu badannya... tinggi atau ..."Tanya Ruan-wei Zheng Xue-zhang menjawab.

"Tingginya kira-kira 150 centimeter lebih, tubuhnya langsing, sepertinya dia tidak bisa ilmu silat, tapi...."

Dia menggeleng-gelengkan kepala dan tidak meneruskan. Ruan-wei berkata.

"Aku mempunyai seorang adik perempuan angkat, dia berilmu silat tinggi. Sudah 1 tahun kami tidak bertemu, aku tidak tahu dia sekarang berada di mana. Aku sudah mencarinya selama setengah tahun. Perempuan itu berlogat daerah mana?"

"Dia berlogat Si-chuan!"

Jawab Zheng Xue-zhang.

"Bukan dia!"

Jawab Ruan-wei. Ding Zi-guang berkata lagi.

"200 ribu tail perhiasaan ini disimpan di sebuah kotak. Kakak Zheng hanya membawa 2 orang pendorong barang. Ilmu Kakak Zheng berada di atas ketua baju emas Tian-zheng-jiao, hal ini di dunia persilatan pun sudah tahu...."

"Lebih baik aku sendiri yang menceritakan..."

Dia berpikir lama baru bercerita...

"Waktu itu kami dengan selamat sampai di perbatasan Si-chuan. Sehari lagi kami akan tiba di tempat tujuan. Selama 10 tahun lebih ini, saat mengantar barang aku sering bertemu perampok, tapi begitu mendengar pembawa barang dari pengawalan perjalanan Nan-bei, mereka sering mengurungkan niatnya. Kecuali orang baru yang tidak tahu aturan di dunia persilatan...."

"Perbatasan Si-chuan merupakan jalan gunung terpencil. Menurut pengalamanku selama 10 tahun lebih ini, aku yakin tidak akan ada orang berani datang untuk membuat keributan tapi tibatiba di depan datang seekor kuda dengan penunggangnya...".

"Penunggang kuda itu adalah seorang perempuan, lehernya terikat dasi merah, aku kira dia orang baru maka aku tidak waspada. Begitu tiba di depan kami, dia turun, aku baru memperhatikan dia dengan seksama. Karena kecorobohanku ini membuatku mendapatkan malu. Begitu perempuan itu turun, tanpa berkata sepatah kata pun dia langsung menyerangku dari kiri dan kanan."

"Aku kehilangan kesempatan awal maka aku hanya bisa bertahan dan tidak bisa menyerang. Dengan cara apa pun aku tidak sanggup mengambil kembali kesempatan yang sudah hilang...."

Diam-diam Ruan-wei terkejut ada perempuan yang begitu kuat, karena dia bisa menang dari 'Da-li-shen-ying' yang terkenal di dunia persilatan.

Perempuan seperti apa yang mempunyai ilmu silat begitu tinggi.

ZhengXue-zhang menarik nafas panjang.

"Jurus pedangnya berubah-ubah, kadang-kadang bercampur dengan ilmu golok yang aneh, sepertinya perempuan itu tidak hanya menguasai semacam ilmu silat. Dalam 90 jurus lebih, dadaku tertusuk olehnya dan kotak yang berisi perhiasan senilah 200 ribu tail raib dirampok. Dia pergi tanpa meninggalkan satu kata pun! Untung tusukannya tidak begitu dalam, setelah beristirahat selama 3 hari aku kembali untuk melapor kepada tuan besar, harap tuan memberi hukuman kepadaku!"

Wajah penuh kekesalan juga marah, semua ini membuat Zheng Xue-zhang sedih. 'Wu-ying-yian' Ouwyang Zhi-xuan berkata.

"Sudahlah, 200 ribu tail perhiasan akan ditanggung oleh pengawalan perjalanan Nan-bei. Kakak Zheng tidak perlu terus menyalahkan diri sendiri. Kelak masih banyak pekerjaan yang harus mengandalkan tenagamu!"

Begitu kata-kata ini keluar, Zheng Xue-zhang tidak bicara apa-apa, dalam hati dia sangat berterima kasih kepada tuan Ouwyang.

Ruan-wei juga diam-diam kagum dengan sikap lapang dada tuan Ouwyang yang begitu luas.

Tapi Ding Zi-guang berkata.

"Mengganti kerugian uang perhiasan adalah hal kecil, yang aku takutkan hal ini jika tersebar luas akan mengganggu nama baik kita di dunia persilatan."

Dari sudut pandang dagang, memang ini adalah hal yang penting dan besar. Ding Zi-guang Ia berkata lagi.

"Menurut pemeriksaanku kemarin, di kota Luo-yang sudah 5 pengawalan perjalanan yang hidup. Ternyata mereka kehilangan barang mahal vang mereka bawa. Setelah mengganti kerugian, mereka tidak sanggup lagi menjalankan usaha pengawalan perjalanan! Aku mencari tahu lagi, kita kehilangan barang penting di perbatasan Si-chuan karena ilmu silat lawan lebih tinggi dan kita tidak berani mengejar barang dibawa, sekarang hal yang kita harus lakukan adalah mengejar kembali barang yang telah dia ambil. Dengan begitu kita baru bisa menjaga nama baik pengawalan perjalanan Nan-bei!"

"Tapi aku terus berpikir tidak ada orang yang cocok untuk menjalankan tugas ini...."

Ouwyang Zhi-xuan berkata.

"Ide adik Ding adalah mempersilakan Adik Ruan menanggung tugas berat ini, Kakak Zheng juga berpendapat seperti itu."

"Barang penting dan berharga hilang oleh tanganku, tapi kakak Ruan yang harus mengambilnya kembali, aku merasa malu. Tapi jika aku yang pergi usahaku akan sia-sia karena kepandaianku lebih rendah dari perempuan berpakaian merah itu. Mudah-mudahan dengan kepandaian kakak Ruan, bisa mengatasi masalah ini...."

Ruan-wei berdiri dan memberi hormat.

"Kepandaian kakak Zheng sudah hebat, aku bukan orang yang seperti kalian ceritakan, harap kalian jangan terus memujiku...."

Ding Zi-guang tertawa.

"Kakak Ruan jangan sungkan, aku tahu ilmu pedang putri kakak Ouwyang, di dunia persilatan jarang ada yang bisa mengalahkannya. Kakak Ruan bisa membuatnya kalah dan dia bisa berkata kepada ayahnya mengenai kekalahannya, berarti ilmu pedang kakak Ruan adalah nomor satu di dunia ini!"

Ouwyang Zhi-xuan berkata lagi.

"Ilmu pedang putriku diajarkan oleh ibunya, aku sendiri tidak menguasainya. Ilmu pedang istriku berada di atasku. Sebetulnya julukan 'Wu-ying-jian' harus diberikan kepada istriku. Zi-er sudah mewarisi 80% kepandaian ibunya. Kau bisa mengalahkannya, berarti ilmu pedangmu tidak ada yang bisa melawan."

Dengan rendah hati Ruan-wei berkata.

"Oh, tidak! Tidak...."

Ding Zi-guang berkata lagi.

"Hal ini jangan ada yang sampai tahu, sekalipun dia adalah orang dalam. Jika kakak Zheng bersama pesilat tangguh yang di dalam pengawalan pergi melakukan perjalanan, itu akan membuat geger pengawalan perjalanan. Maka untuk sementara Kakak Zheng tidak perlu pergi karena menurut kebiasaan, setelah pulang mengantarkan barang biasanya kakak Zheng beristirahat dulu selama beberapa waktu...."

Dia mendekati Ruan-wei dan berkata.

"Ilmu silatku tidak setinggi kakak Zheng. kakak Ouwyang adalah tulang punggung kantor pengawalan perjalanan Nan-bei, maka setelah dipikir-pikir kami hanya bisa meminta bantuan kakak Ruan...."

Sifat Ruan-wei sangat terbuka, dia segera berkata.

"Aku akan berusaha sekuat tenaga!"

Ouwyang Zhi-xuan berdiri dan memberi hormat.

"Semoga kau sukses menjalankan tugas ini!"

"Kita berusaha mengulur waktu setelah itu baru memberi mengganti rugi kepada pemilik barang. Kami harap kakak Ruan bisa cepat kembali untuk menjaga nama baik kantor pengawalan perjalanan Nan-bei."

Sahut Ding Zi-guang.

"Berapa lama waktu yang tersedia?"

Tanya Ruan-wei.

"Kira-kira 3 bulan, pemilik barang tidak akan curiga."

"Dalam waktu 3 bulan, ada hasil atau tidak, Ruan-wei akan melapor kepada Tuan Ding."

"Apakah kau membutuhkan asisten?"

Tanya Ouwyang Zhi-xuan. Ruan-wei berpikir sebentar dan berkata.

"Baiklah, Ling Qi-xin saja yang ikut denganku itu sudah cukup."

"Apa sekarang kalian akan berangkat?"

Tanya Ding Zi-guang.

"Betul, sekarang kami akan berangkat."

Jawab Ruan-wei.

Ruan-wei pamitan kepada Ouwyang Zhi-xuan.

Ruan-wei mengikuti Ding Zi-guang berjalan ke depan ruang tamu.

Tiba-tiba dari luar masuk sesosok tubuh yang langsing.

Begitu dilihat dengan jelas ternyata adalah putri Tuan Ouwyang Zhi-xuan yang bernama Ouwyang Zi.

Dia datang dengan rok panjang, sikapnya sudah berbeda jauh dengan tadi pagi.

Ouwyang Zi menundukkan kepala.

"Kakak Ruan...."

"Ada apa, nona?"

Ruan-wei bertanya dengan serius.

"Setelah kau kembali 3 bulan nanti, aku akan meminta petunjuk darimu...."

Kata Ouwyang Zi pelan-pelan.

"Baiklah!"

Jawab Ruan-wei.

"Kau harus kembali...."

Suara Ouwyang Zi bertambah kecil.

Ruan-wei tidak menjawab pertanyaannya karena dia tergesa-gesa keluar dengan Ding Zi-guang.

Malam harinya, Ruan-wei dan Ling Qi-xin keluar dari Huang-he selatan.

Mereka berdandan seperti 2 orang pesilat.

Mereka memasang papan nama pengawalan perjalanan Nan-bei di kuda mereka.

Ling Qi-xin menggendong sebuah kotak kayu, di dalamnya berisi seperti barang berharga.

Sebenarnya di dalamnya hanya berisi uang tidak lebih dari 500 tail perak.

Sebulan kemudian mereka sudah berada di perbatasan Si-chuan.

Mereka selamat dan aman selama perjalanan.

Pelayan-pelayan penginapan selalu rajin melayani mereka, menganggap mereka adalah tamu khusus.

Ling Qi-xin sering pergi ke Si-chuan, maka dia sangat hafal jalan ke sana.

Jalan gunung berlikuliku dan sulit dilewati.

Dia berada di depan untuk membawa jalan, Ruan-wei mengikutinya dari belakang.

Chang-jiang, Jia-ling-jiang melewati Si-chuan.

Dua sungai ini bermuara di Si-chuan, karena keadaan gunung turun naik maka sungai-sungai mengalir sangat cepat.

Perahu jarang ada yang lewat di sini.

Baru sampai di sebuah jurang tiba-tiba di gunung sebelah sana melayang sesosok bayangan merah.

Dia melewati sisi Ling Qi-xin, segera Ling Qi-xin merasa tubuhnya menjadi ringan.

Ternyata kotak yang dibawanya sudah terbang entah ke mana.

Ruan-wei sudah berada sekitar 20-30 meter dari sana.

Bai-ti-ma berjalan di gunung seperti berjalan di dataran rendah, hanya ditarik sedikit, Mai-ti-ma sudah menghadang jalan perempuan berpakaian merah.

Perempuan berpakaian merah menghentikan laju kudanya.

Melihat si penunggang kuda adalah perempuan berpakaian merah dan wajahnya ditutup, maka Ruan-wei tahu orang yang ada di depannya adalah orang yang dicarinya.

Diam-diam dia memasang kuda-kuda dan berteriak.

"Aku adalah wakil ketua pengawalan perjalanan Nan-bei! Kau seorang perempuan, kenapa menjadi perampok!"

Perempuan itu melihat Ruan-wei tanpa suara. Ruan-wei marah dan membentak.

"Taruhlah kotak yang kau ambil tadi!"

Perampok perempuan itu menurut dan meletakkan kotak di bawah tapi dia tidak bicara.

"Jika kau bisa berubah ke jalan yang benar, masa depanmu akan cerah. Aku tidak ada hubungan saudara denganmu, tapi aku menase-hatimu agar jangan merampok lagi!"

Perampok perempuan itu mengacuhkannya dan memutar balik kudanya. Ruan-wei berteriak.

"Hei! Kemarin dulu kau sudah merampok barang bawaan kantor pengawalan perjalanan Nanbei bernilai 200 ribu tail, aku minta agar kau mengembalikan barang itu kepada kami agar kita tidak usah menjadi musuh!"

Karena Ruan-wei adalah orang baru di dunia persilatan maka kata-katanya jelas dia tidak berpengalaman. Perempuan itu berhenti berjalan, dengan suara rendah dia berkata.

"Aku akan mengembalikan kepadamu besok!"

"Siapa kau?"

Ruan-wei mulai curiga.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku janji besok akan mengembalikannya kepadamu, apakah kau tidak percaya?"

Suara perempuan itu tetap rendah.

"Kenapa kau mau mengembalikannya kepadaku?"

"Apakah ini aneh? Apakah kau tidak berharap aku akan mengembalikannya padamu?"

"Oh, tidak! Tidak!"

Perempuan itu pergi sambil menunggang kuda dan berkata.

"Besok akan kukembalikan barang itu kepadamu!"

"Tunggu... tunggu...."

Ruan-wei berteriak.

"Ada apa lagi?"

Kuda perempuan itu tetap tidak berhenti melangkah. Ruan-wei mengejar.

"Kenapa nada bicaramu tidak memakai suara asli?"

"Aku tidak ingin kau tahu siapa aku."

"Sebenarnya siapa kau ini?"

Perempuan itu sangat hafal jalan gunung, kuda Ruan-wei memang cepat tapi tetap tertinggal. Ruan-wei berteriak.

"Apakah kau adalah Adik Yi?"

Perempuan itu tidak menjawab maka jarak mereka bertambah jauh. Kaki Ruan-wei lebih kencang menjepit perut Bai-ti-ma, kuda itu berlari lebih kencang lagi. Ruan-wei berteriak.

"Adik Yi, turunlah! Adik Yi, turunlah! Kenapa kau tidak mau bertemu denganku? Kau...."

Melihat kuda Ruan-wei berlari kencang, perempuan itu bertambah cepat melarikan kudanya.

Perlahan-lahan Bai-ti-ma yang bisa berlari kencang semakin mendekati kuda yang ditunggangi perempuan itu.

Sampai di pinggir jurang, jarak mereka hanya tinggal beberapa meter lagi...

Tapi perempuan itu meloncat dari kudanya dan meloncat masuk ke pirang....

Di bawah jurang adalah sungai yang mengalir deras.

Tubuh yang terjun ke sungai semakin mengecil...

Ruan-wei melihat dari atas, dia berteriak dengan sedih.

"AdikYi... AdikYi...."

Dia mengira perempuan itu adalah Wen-yi.

--BAB 114 Semua pesilat berkumpul mencari perampok Ruan-wei menyewa sebuah perahu kecil.

Seharian bersama Ling Qi-xin mencari perempuan itu di Chang-jiang tapi mereka tidak berhasil menemukan mayat perempuan berpakaian merah.

Dia tetap tidak putus asa.

Tukang perahu yang disewanya dengan harga tinggi terus menasehatinya.

Chang-jiang begitu dalam dan panjang, mencari seorang gadis yang menceburkan diri ke dalam sungai benar-benar tidak mungkin.

Hari kedua, Ruan-wei menyewa lagi 2 tukang perahu yang paling terkenal di Si-chuan, dia ingin mencari lagi di Chang-jiang.

Ling Qi-xin mulai menasehatinya.

"Adik Wei, hari ini biar aku yang pergi sendiri, kau tinggal saja di penginapan."

Tapi Ruan-wei tetap ngotot.

"Jika tidak menemukan mayatnya, aku tidak akan meninggalkan tempat ini!"

Diam-diam Ling Qi-xin berpikir, 'Kalau hari ini kami bisa menemukan mayat itu, tapi orang yang sudah terendam selama sehari semalam pasti sudah mati.

Jika Adik Wei melihat mayat perempuan itu, bukankah akan membuatnya bertambah sedih!' Tapi Ruan-wei tetap ngotot ingin mencarinya, terpaksa Ling Qi-xin menemaninya sampai di pinggir sungai.

2 tukang perahu sudah menunggu mereka.

Melihat mereka mendekat, salah satu tukang perahu berkata.

"Hari ini angin sangat besar, di sungai terjadi banyak pusaran. Tuan, hari ini kami tidak bisa pergi ke sungai untuk mencari orang!"

Wajah Ruan-wei berubah dan marah.

"Bukankah semalam kau sudah menerima uangnya dan mengatakan tidak akan menjadi masalah!"

Tukang perahu mengerutkan dahi.

"Tuan, hari ini cuaca berubah begitu buruk, siapa yang berani turun ke sungai? Hari ini bila kita tetap berlayar ke sungai berarti kita siap memberi makan kepada ikan."

"Jika hari ini kau mau menjalankan perahu, aku akan menambahkan 100 tail perak lagi untukmu." 100 tail perak adalah jumlah yang besar. Tukang perahu itu menelan ludah, tidak bisa mengambil keputusan. Tukang perahu yang satu lagi menjinjing bungkusan kain dan berteriak.

"Lao Wang, jika kau ingin bermain dengan nyawa, aku tidak mau menemanimu!"

Dia memberi bungkusan kain itu kepada Ruan-wei.

"Saat Tuan datang tadi, ada seorang perempuan berpakaian merah menyuruhku memberikan bungkusan ini kepada Tuan dan dia berharap tuan memberikan 50 tail perak sebagai uang tip kepadaku."

Dengan senang Ruan-wei menyambut bungkusan itu tapi tukang perahu itu menariknya kembali.

"Mana uang tipnya?"

Ruan-wei berkata kepada Ling Qi-xin.

"Beri dia 50 tail perak!"

Setelah menerima bungkusan kain itu, ternyata bungkusan itu berisi sebuah kotak. Begitu dibuka, Ling Qi-xin berkata pelan.

"Di dalamnya berisi perhiasan seharga 200 ribu tail perak!"

Ruan-wei bertanya dengan terburu-buru .

"Ke mana perempuan berpakaian mci ah Mu '"

Tukang perahu mengulurkan tangan lagi "50 tail perak lagi baru kuberitahu!"

Ling Qi-xin marah.

"Kau minta 50 tail perak lagi?"

"Betul! Karena perempuan berpakaian mci .ih itu berpesan jika ada orang yang menanyakan keberadaannya, maka dia harus membayar 50 tail perak, jika tidak ada uang, aku tidak akan memberitahunya."

Ruan-wei tersenyum.

"Beri dia 50 tail perak lagi!"

Setelah menerima uang, tukang perahu itu berkata.

"Ketika perempuan berpakaian merah itu pergi, dia berpesan jangan ada orang yang berniat mencarinya. Jika dia ingin menemui seseorang, dia sendiri yang akan mencari. Jika kalian memaksa mencari tahu tentangnya, dia akan marah dan menjadikan kalian sebagai musuh...."

"Apakah dia pernah berkata akan pergi ke mana?"

Tanya Ruan-wei.

"Tidak!"

Jawab tukangperahu. Dia mengambil uang perak pemberian Ruan-wei dan berkata kepada tukang perahu satu lagi.

"Mari Lao Wang, kita pulang!"

Mereka meninggalkan perahu, pergi dengan tergesa-gesa. Ling Qi-xinberkata.

"Demi sedikit uang, perahu ditinggalkan begitu saja!"

Ruan-wei tidak mengerti mengapa perempuan itu terus menyulitkannya.

Dia juga tidak tahu di mana letak kesalahannya, sampai-sampai perempuan itu tidak mau bertemu dengannya.

Karena tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri, maka dia mengambil keputusan, dia akan mencari perempuan itu lagi di wilayah Si-chuan!

"Kakak, antar dulu kotak ini kepada Tuan Ouwyang Zhi-xuan!"

"Kau akan pergi ke mana lagi?"

Tanya Ling Qi-xin.

"Aku ingin mencari perempuan berpakaian merah sampai ketemu!"

Ling Qi-xin tahu Ruan-wei menaruh perasaan dalam kepada perempuan berpakaian merah, maka dia tidak keberatan.

"Kapan kita bisa bertemu lagi?"

"Setelah aku bertemu dengannya dan semua sudah jelas, aku akan kembali ke pengawalan perjalanan Nan-bei. Aku harap Da-ge bisa menjelaskan semuanya kepada Tuan Ouwyang."

Ling Qi-xin mengangguk, dia memberi nasehat kepada Ruan-wei baru pamit untuk kembali ke Luo-yang.

Karena Ling Qi-xin takut Tuan Ding akan mencemaskan mereka.

Sesudah Ruan-wei tahu perempuan berpakain merah itu tidak mati, hatinya benar-benar tenang.

Dia menunggang Bai-ti-ma, dia ingin berjalan-jalan di Si-chuan untuk mencari perempuan berpakaian merah itu.

Gunung dan sungai di Si-chuan begitu indah.

Ruan-wei mencarinya di daerah gunung atau sungai, dia berpikir harus di tempat seperti itu baru bisa bertemu dengan perempuan itu, tidak mungkin dia berada di kota yang begitu ramai.

Hari ini dia berada di kota Le-shan-cheng.

Kota ini pada jaman Dinasti Tang pernah terendam oleh air.

Karena kota ini berada di antara dua sungai besar.

Tempat pertemuan kedua sungai ini dihalangi sebuah gunung, maka pada musim semi air mengalir bertambah deras.

Karena itu sungai tidak sanggup menampung air begitu banyak dan seringkah meluap ke daratan.

Kota Le-shan-cheng sering terkena banjir, penduduk di sana sangat miskin.

Pada jaman Dinasti Tang, seorang biksu bernama Hai-tong, dia menyuruh orang memahat sebuah patung Budha Ru-lai dalam posisi duduk untuk menghalangi sungai itu.

Patung ini dipahat di gunung ini.

Budha Ru-lai dalam posisi duduk setinggi 100 meter lebih, lebar 30 meter, matanya berukuran 6 meter.

Patung Ru-lai ini adalah patung terbesar di dunia.

Di atas kepala patung bisa dipasang 2 meja makan yang biasa digunakan untuk pesta.

Menghabiskan waktu 90 tahun baru selesai memahat patung Budhaini.

Patung Budha dalam posisi duduk ini memiliki fungsi sangat aneh.

Saat musim semi, air sungai mengalir deras.

Aliran deras ini masuk ke bawah patung Budha.

Tempat itu adalah tempat cekung kemudian keluar lagi.

Hal ini membuat air sungai yang deras dan kencang menjadi berkurang aliran derasnya.

Otomatis sangat berguna untuk perahu-perahu yang berlayar juga mengurangi banjir di kota Le-shan-cheng.

Penduduk kota Le-shan-cheng sangat berterima kasih atas kebaikan Biksu Hai-tong, maka setiap rumah selalu terpasang patung-patung Biksu Hai tong.

Setiap hari mereka bersembahyang.

Biksu Hai tong adalah sebuah legenda agama Budha.

Ketika siang, Ruan-wei mulai merasa lapar.

Dia masuk ke sebuah rumah makan, dia ingin makan dan minum.

Rumah makan itu bernama 'Wang-xian-lou' (Gedung melihat malaikat).

Rumah makan ini sangat luas, tamunya juga banyak..

Ketika Ruan-wei masuk ke dalam, tidak ada pelayan yang menyapanya, mungkin rumah makan sudah penuh hingga pelayan tidak mempunyai waktu untuk menyapanya.

Setelah lama seorang pelayan baru datang dengan terburu-buru dan berkata.

"Apakah tuan adalah teman Tuan Song? Mari ikut aku ke loteng!"

Tanpa menunggu jawaban Ruan-wei, dia membawa Ruan-wei ke atas.

Karena Ruan-wei merasa lapar, dia tidak peduli dianggap siapa oleh pelayan.

Dia mencari tempat untuk mengisi perut.

Tapi begitu naik ke loteng, di sana masih kosong.

13 meja tersusun rapi berikut alat makannya, tapi tidak ada seorang tamu satu pun di sana.

Ruan-wei merasa aneh dan ingin bertanya, pelayan sudah tergesa-gesa turun untuk melayani tamu yang lain.

Terpaksa Ruan-wei mencari sebuah tempat dekat tangga dan duduk di sana.

Tapi setelah lama menunggu, tidak terlihat pelayan datang mengantarkan makanan.

Ketika dia ingin bertanya, terdengar suara Ping!

Ping!

Kemudian datang 3 laki-laki dengan warna pakaian yang seragam.

Salah satu dari mereka berteriak.

"Kenapa belum ada yang datang?"

Yang satu menjawab.

"Lao San, kita tunggu di sebelah sana!"

Mereka mencari tempat dekat jendela.

Setelah duduk, mereka segera mengobrol.

Ruan-wei mendengar pembicaran mereka tentang semua tentang pengawalan perjalanan.

Dalam hati Ruanwei berpikir, 'Apakah mereka adalah pesilat dari salah satu pengawalan perjalanan?' Tidak lama kemudian terlihat ada 5 laki-laki setengah baya datang.

Dari bentuk alis dan mata mereka yang gagah, sepertinya mereka adalah pesilat.

Begitu naik, mereka langsung memilih sebuah meja dan duduk, kemudian mereka mengobrol dengan pelan.

Dalam waktu setengah jam, sudah datang 11 kelompok orang.

13 meja makan sudah terisi 11 meja.

Ruan-wei duduk sendirian di satu meja, masih ada satu meja lagi yang masih kosong.

11 meja itu ada yang berisi 3 atau 5 orang.

Hanya Ruan-wei yang duduk sendiri, karena itu banyak mata yang melihat ke arahnya, hal ini membuatnya tidak tenang.

Tidak lama kemudian datang lagi 2 orang sambil tertawa-tawa.

Yang satu tinggi besar dengan wajah penuh cambang.

Yang satu lagi kurus kering seperti bambu, dia adalah seorang berpenampilan pelajar berwajah putih.

Laki-laki yang wajahnya penuh cambang melihat semua orang lalu berkata.

"Apakah pendekar dari 12 tempat sudah datang? Aku adalah Zhang Wan-yi dari pengawalan perjalanan Si-ying. Ini adalah pendekar dari kota Le-shan-cheng, bernama 'Pai-gu-xian' Song Ming-jin.(Dewa tulang iga Menggambarkan orang ini kurus hanya tinggal tulang saja). Semua orang berdiri, Ruan-wei yang tidak tahu apa-apa ikut berdiri. Terdengar mereka bersama-sama berkata.

"Terima kasih atas undangan Tuan Song!"

Setelah itu pelayan segera mengantarkan saiyur, nasi, juga arak.

Karena Ruan-wei sangat lipar, dia mengangkat sumpit dan langsung 1286 makan.

Melihat Ruan-wei berlaku seperti itu, alis Zhang Wan-yi mulai berkerut karena dia tidak tahu Ruan-wei datang dari pengawalan perjalanan mana.

Ruan-wei tidak memperhatikan kalau di meja lain belum ada yang mulai makan.

Dia melihat sebentar kemudian tanpa merasa bersalah dia melajutkan makan lagi.

Diam-diam dia berpikir, 'Setelah makan, aku akan bayar dan pergi.

Aku tidak akan makan dengan gratis!' 'Pai-gu-xian' Song Ming-jin mengangkat cangkir arak dan berkata.

"Aku bersulang untuk orang-orang yang sudah datang!"

Kemudian dia berkata lagi.

"Silakan! Silakan! Nikmatilah menu yang sudah kami siapkan!"

Sekarang semua pendekar baru makan.

Ruan-wei menganggap dia bukan orang yang diundang juga tidak akan makan gratis, maka dia terus makan.

Setelah makan dia akan membayar makanan itu lalu pergi.

Zhang Wan-yi yang duduk di pinggir merasa tidak suka tapi dia berusaha menahan kemarahannya.

Terlihat di antara pendekar, berdiri seseorang dan berkata.

"Aku adalah Huang Wen-kai dari pengawalan perjalanan Long-men, diundang oleh 'Wu-di-sanzhang' Zhang Wan-yi (Tiga telapak tanpa tanding). Sekarang tidak perlu ditutup-tutupi lagi, mari kita bicarakan masalah penting tentang pengawalan perjalanan!"

Huang Wen-kai bertubuh gemuk, wajahnya kekanak-kanakan, tidak ada hal yang khusus, tapi dia adalah orang dari kantor pengawalan perjalanan paling besar di Jin-ling yang bernama 'Lingmen-biao-ju'.

Zhang Wan-yi segera berdiri dan memberi hormat.

"Aku mengundang kalian kemari karena aku tahu kalian semua pernah kehilangan barang yang kalian bawa. Bulan kemarin di perbatasan Si-chuan kami kehilangan barang senilai 300 ribu tail. Sudah beberapa kali kami meneliti, ternyata perampok itu tinggal di daerah sini...."

Rumah makan segera menjadi ramai, setiap meja membicarakan masalah ini, ada yang bertanya.

"Perampok itu seperti apa?"

"Siapa perampok itu....

"Apakah barang kalian hilang di tangan seorang perampok perempuan berpakaian merah dan wajahnya ditutup?"

Tanya Zhang Wan-yi "Betul...."

"Kalau begitu tidak salah lagi! Setelah makan kita pergi ke seberang tempat Budha untuk mencari perempuan itu!"

Kata Zhang Wan-yi Huang Wen-kai bertanya.

"Apakah Ketua Zhang sudah memastikan kalau perempuan itu tinggal di depan kuil Budha di gunung itu?"

Zhang Wan-yi mengelus-elus cambangnya dan berkata.

"Gadis itu berani merampok di Si-chuan sudah salah besar! Tidak disangka dia masih berani merampok uang kantor pengawalan perjalanan kami, berarti dia ingin memecahkan mangkuk makan kami agar kantor kami bangkrut..."

Ternyata kantor pengawalan perjalanan Si-ving adalah kantor pengawalan perjalanan paling besar di Si-chuan.

Pemilik kantor pengawalan perjalanan ini ilmu silatnya tidak begitu tinggi tapi entah dari mana dia belajar, ilmu silatnya hanya beberapa jurus tapi dengan jurus-jurus itu dia belum pernah kalah.

Zhang Wan-yi menarik nafas dan berkata.

"Kantor kami sudah beberapa bulan ini tidak berdagang. Dengan sekuat tenaga kami mencoba mencari tahu keberadaan gadis berpakaian merah itu. Pertengahan bulan kemarin, kami mengetahui kalau gadis itu berada di kota Le-shan-cheng, di kuil Budha besar, kabar ini tidak akan salah!"

"Kalau begitu kita harus merundingkan dahulu cara untuk menghadapinya!"

Orang yang mempunyai hajat adalah 'Pai-gu-xian' Song Ming-jin, tiba-tiba dia berkata.

"Menurutku cara ini sepertinya kurang cocok...."

"Kenapa tidak cocok?"

Tanya orang di sana bersama-sama.

"Apakah kalian tahu apa pantangan kota Le-shan-cheng?"

Tanya Song Ming-jin.

"Apa pantangannya?"

Tanya Zhang Wan-yi.

"Ketua Zhang adalah orang Si-chuan, apakah kalian tidak tahu bahwa belum pernah ada yang ke Le-shan ke Kuil Da-fu?"

"Takut apa? Dengan ilmu silat kami, masa tidak bisa naik ke kuil itu?"

Tanya Huang Wen-kai.

"Maksudku bukan ini...."

Kata Pai-gu-xian Song Ming-jin. Tapi dia dengan serius berkata lagi.

"Dulu Biksu Hai-tong membuat Budha Ru-lai selama 90 tahun lebih, dia tinggal di gunung itu, tidak ada seorang pun yang pernah naik untuk melihatnya, sampai Kuil Da-fu jadi, tidak ada orang yang tahu kapan Biksu Hai-tong meninggal. Ada yang mengatakan beliau mati di sana. Ada orang yang mengatakan beliau sudah menjadi dewa dan naik ke langit...."

Karena banyak versi, entah mana yang benar dan yang mengada-ada tapi ada satu kesamaan semua orang sangat hormat dan memuji keberhasilan Biksu Hai-tong.

Tidak ada orang yang berani datang ke sana untuk membuktikannya sampai sekarang ini dan itu sudah menjadi kebiasaan.

Jika ada orang yang berani naik ke gunung itu berarti melanggar perintah dewa dan penduduk kota Le-shan-cheng tidak akan membiarkan dia melakukannya...."

Huang Wen-kai tertawa dingin.

"Apakah Tuan Song adalah orang Le-shan i'"

Song Ming-jin menjawab dengan tegas.

"Aku lahir dan besar di sini...."

"Kalau begitu Tuan Song juga tidak mengijinkan kami naik ke atas?"

Tanya Huang Wen kai. Seorang laki-laki berdiri dan marah.

"Berarti Tuan Song sengaja mengumpulkan kami kemari sekaligus ingin membunuh kami...."

Laki-laki yang ada di sebelah sana segera membentak.

"Lao San! Jangan sembarangan bicara!"

Laki-laki yang bicara di awal tadi membantah.

"Siapa yang bicara sembarangan! Marga Song mi mengetahui kalau kita akan ke gunung untuk mencari perempuan berpakaian merah. Dia pura-pura menjamu kita, mengatakan orang Le-shan tidak akan mengijinkan orang luar naik gunung itu, mungkin Tuan Song sekarang sudah memberi racun di dalam arak...."

Kata-kata ini baru terucap, semua orang yang ada di sana menjadi terkejut dan diam-diam mengatur nafas.

Mereka benar-benar takut arak yang mereka minum mengandung racun.

Ruanwei melihat ke arah orang yang bicara tadi, ternyata dia adalah salah satu dari 3 orang yang pertama masuk dan duduk dekat jendela.

Zhang Wan-yi berkata.

"Hua-qiang (Tombak bunga) Saudara Wang-si, jangan mengada-ada. Aku jamin Tuan Song bukan orang seperti itu...."

"Mana mungkin aku berani meracuni kalian, aku hanya tahu semua pendekar berkumpul di sini dan aku menjamu kalian. Aku tidak ada maksud membuat hubungan kita hancur, jika aku bermaksud membunuh kalian, Tuan Zhang Wan-yi pasti akan tahu."

Kata Song Ming-jin Hua-qiang Wang Si-jia adalah laki-laki kasar, melihat Pai-gu-xian berkata jujur, dia segera meminta maaf dan duduk kembali sambil tertawa seperti orang bodoh.

Hua-qiang Wang Si-jia dan 2 saudara angkat 'Jin-qiang' (Tombak emas) Lu Ting-hua, 'Yinqiang' (tombak perak), Ren Hong-shui, memimpin sebuah pengawalan perjalanan bernama Chi Feng-pu.

Mereka bertiga masing-masing mempunyai ilmu silat sendiri-sendiri.

Song Ming-jin berkata lagi.

"Yang aku pikirkan sekarang adalah jika kita pergi puluhan orang secara bersama-sama, gerakan kita terlalu terang-terangan. Jika tercium oleh penduduk Le-shan-cheng, itu akan lebih repot...."

"Itu mudah, setiap pengawalan perjalanan tidak perlu membawa orang yang tidak penting, mereka bisa menunggu di sini. Setiap pengawalan perjalanan yang pergi hanya beberapa orang penting saja, semakin sedikit semakin baik."

Karena itu semua orang ribut mengambil keputusan.

Jumlah mereka hanya 15 orang, tapi Ruan-wei dengan tenang terus makan, dia sama sekali tidak ikut mengambil keputusan.

Zhang Wan-yi mengerutkan alisnya yang tebal, dia mendekati Ruan-wei.

"Saudara, kau dari pengawalan perjalanan mana?"

Ruan-wei tahu mereka berkumpul di sini untuk menghadapi perempuan berpakaian merah Wen-yi, dia terkejut dan sedang berpikir dengan cara apa bisa membantu adik Yi. Huang Wen Kai menyindir.

"Saudara ini seperti datang hanya untuk makan...."

Ketika Ruan-wei ingin menjawab, dari tangga ada seseorang naik.

Dia terus meminta maaf karena terlambat datang!

Di sana berdiri seorang laki-laki kurus, kecil, dan kering, wajahnya seperti monyet tapi segera Zhang Wan-yi mengenalinya, dia tertawa.

"Kakak Zhao! Mari, mari! Aku kenalkan kepada kalian, dia adalah ketua kantor pengawalan perjalanan Zhi-lai-tong-da ber-juluk 'Shou-jian' (Pedang kurus) Zhao Sheng-zhou."

Nama 'Shou-jian' sangat terkenal di dunia persilatan maka semua pendekar-pendekar datang menyapanya. Sesudah semua duduk, Zhang Wan-yi yang berdiri di tengah-tengah sambil tertawa.

"Pengawalan perjalanan dari utara sampai selatan, semua berkumpul di sini untuk berunding. Tidak disangka seseorang datang untuk makan gratis. Di daerah sini banyak rumah makan, dia tidak pergi ke sana malah datang ke tempat kita berkumpul, benar-benar tidak tahu malu!"

Dia membalikkan tubuh kepada Ruan-wei.

"Jangan pura-pura! Bangunlah, tempat ini untuk Kakak Zhao!"

Ruan-wei tersenyum, dia mengangkat cankir arak dan menghabiskan araknya. Zhang Wan-yi marah.

"Apakah Tuan tidak punya telinga?"

"Siapa yang boleh duduk di sini?"

Kata Ruan-wei tertawa "Tempat ini disiapkan untuk pengawalan perjalanan Tong-da, siapa pun tidak diijinkan duduk di tempat ini!"

Ruan-wei tetap tertawa, dia meletakkan cangkir, tangan kiri menekan meja, tangan kanan membawa poci berisi arak dan berteriak.

"Apa benar tidak boleh duduk di sini?"

Gelas arak itu meloncat, Ruan-wei menghabiskan arak yang ada di dalam cangkir sekaligus kemudian tangan kanannya menaruh kembali poci arak dan menyambut cangkir arak.

Gerakan pelan tapi sebenarnya terlihat cepat.

Zhao Sheng-zhou melihat Ruan-wei sambil bicara sebelah telapaknya menekan gelas arak sampai meloncat.

Ilmu telapak seperti ini belum pernah dia melihat, diam-diam dia berpikir lalu berkata.

"Apakah Tuan dari pengawalan perjalanan Nan-bei...."

Semua orang di sana begitu mendengar nama pengawalan perjalanan Nan-bei menjadi bersemangat karena nama kantor pengawalan perjalanan Nan-bei sangat terkenal.

Semua kantor pengawalan perjalanan ingin bersaing dengan kantor pengawalan perjalanan Nan-bei, benar-benar masih jauh.

"Aku bermarga Ruan!"

Sahut Ruan-wei. Segera Zhao Sheng-zhou memberi hormat.

"Ternyata wakil ketua pengawalan perjalanan Nanbei, Kakak Ruan!"

Ruan-wei berdiri untuk berterima kasih, Zhao Sheng-zhou tertawa.

"Saudara-saudara, aku kenalkan Kakak Ruan, dia adalah wakil ketua pengawalan perjalanan Nan-bei...."

Ruan-wei baru menjadi wakil ketua di pengawalan perjalanan Nan-bei, di dunia persilatan belum banyak yang tahu namanya, tapi kantor pengawalan perjalanan Tong-da sudah mengetahuinya dan Zhao Sheng-zhou sudah mendengar kalau Ruan-wei adalah orang yang tenaganya sangat besar.

Begitu melihat tenaga telapak Ruan-wei tadi, tebakannya jadi tidak salah.

--BAB115 Kai-tian-pi-di-shi-ba-fu (18 ayunan kapak membuka langit membelah bumi) Tidak sengaja semua pendekar berdiri dan memberi hormat.

"Kakak Ruan!"

Ruan-wei berdiri dan dia juga memberi hormat. Dia melihat Zhang Wan-yi kemudian tertawa.

"Apakah aku boleh duduk di sini?"

"Silakan! Silakan!"

Kata Zhang Wan-yi malu Ruan-wei marah karena tadi Zhang Wan-yi telah berbuat tidak sopan, maka dia tidak mau duduk, dan sengaja berkata.

"Aku tidak berani duduk di tempat yang sudah disiapkan Tuan Zhang Wan-yi untuk Kakak Zhao, lebih baik aku berdiri saja!"

Dia berjalan keluar dari tempat duduknya tadi, Zhao Sheng-zhou segera berkata.

"Kakak Ruan, jangan marah! Silakan duduk! Silakan duduk!"

Zhang Wan-yi takut dengan pengawalan perjalanan Nan-bei, dia berpikir jika membuat pengawalan perjalanan Nan-bei yang terkenal marah, dia tidak akan bisa mencari makan lagi.

Maka dia terpaksa manahan emosinya dan meminta maaf.

"Aku tidak mempunyai mata, tidak tahu Anda sudah datang, aku bersalah, mohon maaf!"

Ruan-wei belum tahu pengawalan perjalanan Nan-bei memiliki wibawa begitu tinggi, sampaisampai Zhang Wan-yi mau meminta maaf di depan banyak pendekar.

Dalam hati dia malah merasa tidak enak dan tertawa.

"Salahku tidak memberitahu namaku, aku datang dari pengawalan perjalanan Nan-bei. Kakak Zhang tidak salah, silakan semua duduk!"

Melihat Ruan-wei duduk, pendekar-pendekar ikut duduk. Zhang Wan-yi diam-diam menarik nafas. Zhao Sheng-zhou semeja dengan Ruan-wei. Setelah duduk, dia berkata.

"Mengenai barang bawaan kita yang sering hilang, sampai di mana pembicaraan kalian?"

Zhang Wan-yi memberitahu tentang keputusan mereka tadi. Zhao Sheng-zhou berkata.

"Saudara-saudara, masukan aku salah satu dari yang akan berangkat!"

Ruan-wei mengambil keputusan ikut mereka naik gunung, maka dia tertawa.

"Aku juga ikut!"

Semua orang menyambut baik seketika, mendengar Ruan-wei akan ikut, mereka tidak tahu kalau kantor pengawalan perjalanan Nan-bei pun sempat kehilangan barang berharga yang mereka bawa.

Mereka mengira pengawalan perjalanan Nan-bei datang ke sini untuk membantu maka mereka menaruh harapan besar.

Setelah makan, 14 kantor pengawalan perjalanan berjumlah 17 orang mulai berangkat menuju gunung.

'Pai-gu-xian' Song Ming-jin sudah menyiapkan perahu dan siap berangkat.

Mereka berangkat secara terpisah agar orang lain tidak curiga.

Sesampainya di balik gunung, di tempat yang sepi, 2 perahu berkumpul lagi.

Dinding gunung penuh lumut dan sangat licin maka tidak ada tempat untuk memanjat.

Kelihatannya tempat ini tidak pernah ada yang naik.

Song Ming-jin sejak awal sudah menyiap-kan 2 gulung tali besar.

Apalagi orang yang berada di perahu berilmu silat tinggi, maka hanya sebentar tali sudah bisa terpasang di sebuah pohon besar sekitar 100 meter lalu semua orang mulai naik.

Sesampainya di tengah gunung, di sini terlihat semak-semak, jalan ini sulit untuk dilalui maka mereka berkumpul dulu.

'Hua-qiang' Wang Si-jia tidak sabar, dia terus marah-marah.

"Tempat seperti ini untuk berjalan saja sulit, masa seorang perempuan bisa bersembunyi di sini!"

Kata-kata ini mengungkapkan perasaan semua orang yang ada di sini.

Memang gunung ini tidak begitu tinggi tapi turun naiknya sangat sulit.

Walaupun perempuan itu berilmu silat tinggi tapi turun dan naik bukan hal mudah.

Huang Wen Kai berkata.

"Kalau orang bisa tinggal di sana pasti ada jalan yang lebih mudah."

Zhang Wan-yi tertawa kecut.

"Apakah kau jamin gadis bau ini memang tinggal di atas?"

Mendengar Zhang Wan-yi menyebut Wen-yi adalah gadis bau, Ruan-wei marah, dia memukul pinggang Zhang Wan-yi dan pura-pura marah.

"Ayo! Ayo jalan! Jangan banyak bicara!"

Memang pukulan Ruan-wei tadi ringan tapi cukup membuat Zhang Wan-yi kesakitan.

Dia tidak berani membalas dan cepat-cepat naik lagi, dia benar-benar penurut.

Baru sampai dua pertiga perjalanan, baju yang mereka pakai banyak yang sudah sobek, ada yang terluka ringan, ada yang rambutnya acak-acakan.

Kecuali Ruan-wei masih seperti semula, yang lain terlihat kacau balau.

Mereka juga mulai terengah-engah.

Melihat ke atas pohon tumbuh saling tumpang tindih, jika ingin naik ke puncak bukan hal yang mudah!

'Jin-qiang' Lu Hua-ting berkata dengari curiga.

"Apakah di atas ada yang tinggal?" 'Hua-qiang' Wang Si-jia berteriak.

"Hanya setan yang baru mau tinggal di sana!"

Zhang Wan-yi pelan-pelan berkata.

"Jangan keras-keras, nanti akan terdengar oleh gadis bau itu!"

Ruan-wei memukul pinggangnya lagi dan juga marah.

"Cepat jalan! Mengapa kau berjalan begitu pelan?"

Zhang Wan-yi dengan gagap berkata.

"Kakak Ruan, aku... aku... tidak bisa berjalan cepat!"

"Kalau tidak bisa cepat, jangan banyak bicara!"

Bentak Ruan-wei. Zhang Wan-yi cepat-cepat menutup mulutnya, dia tidak berani sembarangan bicara lagi. 'Shou-jian' Zhao Sheng-zhou mengeluh.

"Pasti ada jalan lain, kalau tidak perempuan itu tidak akan tinggal di puncak!" 'Pai-gu-xian' paling kurus juga paling lemah, ilmu silatnya juga paling rendah, sambil menyeka keringat, dia terengah-engah berkata.

"Aku kira juga begitu, tapi di mana jalan yang dimaksud?"

Hua-qiang Wang Si-jia marah.

"Jika kau tahu jalan yang satu lagi, tidak mungkin kau mau ikut kami jalan ke sini!" 'Yin-qiang' Ren Hong-bing diam-diam memuji kata-kata adik ketiganya karena kata-kata ini membuat wajah Song Ming-jin merah karena marah. Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai juga di puncak gunung. Mereka saling pandang dan diam-diam merasa malu karena baju mereka compang camping, hanya Ruan-wei yang masih terlihat seperti biasa. Dia tidak seperti sudah berjalan jauh, karena itu yang lain bertambah malu. Puncak gunung sangat luas. Melihat ke bawah, kepala Budha yang besar hanya tinggal beberapa puluh meter lagi. Orang yang memanjat benar-benar tidak tahu dulu dengan cara apa Biksu Hai-tong membangun patung Budha Ru-lai. Setelah berunding, 17 orang membagi kelompok untuk mencari perempuan itu. Song Ming-jin segera berkata.

"Kalian pergi saja, aku menunggu di sini!"

Semua orang berkata karena hal ini tidak ada hubungan dengannya maka dia hanya wajib membawa mereka sampai di sana jangan membawa masalah kepada dia! Zhang Wan-yi berkata.

"Terima kasih, Kakak Huang!"

Dengan nada tidak jelas Huang Wen-kai berkata.

"Mari, kita berpencar untuk mulai mencari!"

Hua-qiang Wang Si-jia berteriak.

"Tidak perlu mencari lagi, perempuan itu sudah datang!"

Dengan terkejut mereka melihat, ternyata di sebelah sana datang seorang perempuan berpakaian merah.

Wajah ditutup oleh kain berwarna merah.

Dialah orang yang sering merampok barang bawaan pengawalan perjalanan.

Ruan-wei terkejut dan berpikir, 'apakah benar dia adalah adik Yi?' Dia tidak berani mendekat, hanya berdiri dari jauh untuk melihat perempuan itu.

Ruan-wei juga merasa aneh, 'mengapa perempuan itu tidak berani mengeluarkan suara aslinya?

Apakah benar dia adalah adik Yi dan dia tidak ingin aku tahu kalau itu adalah dia!"

Semua pendekar tahu perempuan itu berilmu silat tinggi dan tahu kalau mereka tidak bisa melawan maka tidak ada seorang pun yang berani menyapa. Semua berdiri tercenung. Perempuan itu tertawa.

"Aku kira pendekar terkenal mana yang datang ke sini, ternyata yang datang hanya orangorang bisu!"

"Silakan, nona!"

Kata ruan-wei tertawa Dia membungkukkan tubuh memberi hormat. Perempuan itu dengan cara yang sama membalas memberi hormat dan berkata.

"Apakah kau adalah pemimpin mereka?"

Dengan santai Ruan-wei menjawab.

"Bukan! Aku ke sini untuk mencari seseorang!"

Perempuan yang wajahnya ditutup itu berkata.

"Yang tinggal di gunung ini hanya aku, tidak ada orang lain!"

"Kalau begitu Nona adalah orang yang kucari."

Perempuan yang wajahnya ditutup itu tertawa.

"Apakah kau tahu siapa aku?"

Karena tidak bisa menjawab maka Ruan-wei hanya termenung. Perempuan itu dengan dingin berkata.

"Sekarang kau sudah bertemu denganku, ada perlu apa denganku?" 'Apakah dia adik Yi?' pikir Ruan-wei. Karena itu Ruan-wei tidak berani bertanya apakah dia adalah Wen-yi, maka dengan gagap dia berkata.

"Aku harap nona mengembalikan barang atau uangyang kau rampok dari mereka!"

"Siapa yang bisa melawanku, dalam 10 jurus tidak kalah, aku akan mengembalikan uang atau barang mereka, tapi...."

Semua pendekar berpikir, 'Menahan 10 jurus tanpa kalah belum tentu bisa.' Maka semua orang terus memperhatikan dia, apa maksud dari kata 'tapi' nya? Perempuan itu tertawa.

"Hanya boleh 3 orang, setelah 3 orang, aku tidak akan meladeni kalian lagi!"

Dengan cepat 3 orang berebut bicara.

"Aku akan bertarung dengan Nona!"

Ketiga orang ini adalah Shou-jian Zhao Sheng-zhou, Huang Wen-kai, dan Zhang Wan-yi. Perempuan itu berpesan.

"Kalian bertiga keluarlah, aku hanya akan bertarung dengan kalian bertiga!"

Semua orang berpikir.

"Hanya dengan cara bertarung dengannya baru mempunyai kesempatan merebut kembali barang yang telah dirampoknya. Jika dia sudah pergi, ke mana kami harus mencarinya!"

Maka semua orang terus berteriak.

"Aku juga akan bertarung dengan Nona! Aku juga akan bertarung dengan Nona!"

Diam-diam Ruan-wei menarik nafas.

"Mereka datang demi kepentingan dirinya sendiri, mereka tidak kompak. Sepertinya tidak ada orang yang bisa merebut kembali uang atau barang mereka yang hilang!"

Zhang Wan-yi berteriak.

"Kalian tidak perlu tergesa-gesa, setelah kami bertiga selesai bertarung baru giliran kalian!"

Hua-qiang Wang Si-jia yang tadinya akan keluar ditarik kembali oleh Jin-qiang Lu Ting-hua, dengan suara kecil dia berpesan.

"Adikketiga, jangan ceroboh!"

Dia dan adik ketiga tidak bisa bersaing dengan Huang Wen-kai maka mereka hanya bisa diam menunggu.

Hua-qiang Wang Si-jia tidak berani membantah perintah kakak tertuanya, terpaksa dia berdiri diam menahan emosi.

Yang lain juga bukan orang bodoh.

Yang perlu diketahui di antara pendekar-pendekar yang datang kecuali Ruan-wei yang memiliki ilmu silat tinggi, tidak ada seorang pun yang ingin bertarung dengan Zhang Wan-yi.

Diam sebentar, perempuan itu tertawa.

"Kenapa? Tidak ada orang yang berani bertarung?" 'Shou-jian' Zhao Sheng-zhou mencabut pedang sebesar jari, dia maju ke depan.

"Aku bermarga Zhao, aku yang akan bertarung dulu dengan nona!"

Perempuan itu bertepuk tangan berkata.

"Baik, sangat baik! Aku juga akan menggunakan pedang!"

Dia mencabut pedang menyerang ke arah Zhao Sheng-zhou.

Zhao Sheng zhou terkejut, dia meloncat sambil menyerang kembali.

Pedang Zhao Sheng-zhou kecil tapi menyerang dengan bertubi-tubi, membawa angin yang sangat kencang.

Perempuan yang wajahny.i ditutup itu sama sekali tidak menghindar, dia hanya menggunakan pedangnya menangkis 3 jurus.

Setelah 3 jurus, perempuan itu mulai mengetahui jurus pedang Zhao Sheng-zhou, lebih banyak serangan tipuan daripada serangan iesungguhnya, maka pada jurus kelima dia tidak mempedulikan serangan Zhao Sheng-zhou, sebaliknya dia menyerang Zhao Sheng-zhou.

sejurus demi sejurus makin lama makin hebat.

Zhao Sheng-zhou belum pernah melihat jurus ganas seperti ini.

Setelah menghindar 5 jurus, dia mulai kewalahan, terakhir sampai-sampai tidak tahu pedang perempuan itu menyerang dari arah nana.

Pedang perempuan yang wajahnya ditutup itu berputar, dengan mudah memukul jatuh pedang 5hou-jian Zhao Sheng-zhou.

Setelah pedang sudah terjatuh Zhao Sheng-hou berdiri termenung.

Melihat jurus-jurus perempuan itu begitu ganas, hati Zhao Sheng-zhou nenjadi dingin, apalagi dia tangan kosong, mana nungkin bisa melawannya.

Perempuan itu tertawa.

"Siapa lagi yang ingin bertarung denganku, kalau tidak ada, aku mau pergi!"

Dengan memberanikan diri, Zhang Wan-yi maju ke depan.

"Aku akan mencoba ilmu pedang nona!"

Perempuan itu memasukkan pedangnya ke dalam sarung.

"Kau bernama 'Wu-di-san-quan', baiklah aku ikan mencoba ilmu kepalanmu!"

Zhang Wan-yi benar-benar senang, belum lagi dia siap, perempuan itu sudah menyerang, kepalannya memukul hidung Zhang Wan-yi, nembuat hidungnya berdarah.

Sambil berteriak Zhang Wan-yi menyerang.

Kepalan menyerang dari arah depan dan jurusnya sangat biasa tapi serangan ni membuat perempuan yang wajahnya ditutup nenjadi terkejut.

Dia jadi tidak berani memandang remeh orang ini.

Zhang Wan-yi berjongkok, kepalan kedua keluar lagi, serangan ini sangat kencang, membuat perempuan itu tidak bisa menyerang balik.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang hebat, dia terbang melewati kepala Zhang Wan-yi kemudian menyerang belakang Zhang Wan-yi.

Tapi jurus ketiga Zhang Wan-yi justru dari belakang.

Orang aneh hanya mengajarinya 3 jurus.

Dia pernah berkata kepada Zhang Wan-yi, '3 jurus kepalan ini asal kau bisa kuasai dengan baik, di dunia ini tidak ada seorang pun yang bisa melukaimu!"

Tapi Zhang Wan-yi kurang berbakat, dengan 3 jurus ini dia bisa mengalahkan beberapa orang dan membuat dirinya terkenal di dunia persilatan maka dia merasa bangga dan tidak memperdalam lagi 3 jurus ini.

Dia mengira di dunia ini tidak ada orang yang bisa melawan 3 jurus kepalannya!

Perempuan itu memang terkejut dengan jurus ketiga Zhang Wan-yi, juga merasa repot dan harus mengandalkan ilmu meringankan tubuh baru bisa menghindar.

Sesudah 3 kali memukul, Zhang Wan-yi mulai berhenti karena dia merasa aneh mengapa 3 kepalannya tidak merobohkan perempuan ini.

Kesempatan ini digunakan oleh perempuan itu meloncat ke atas sambil menendang, membuat Zhang Wan-yi jatuh dengan posisi telungkup.

Huang Wen-kai berkata.

"Sekarang giliranku, senjataku adalah golok!"

Perempuan itu berkata.

"Baiklah!"

Tubuhnya berkelebat, perempuan itu sudah merebut sebilah golok dari salah seorang pendekar di sana.

Huang Wen-kai sangat pintar, dia tidak banyak menunggu dia langsung menyerang.

Jurus-jurus golok Huang Wen-kai adalah jurus Duan-men-jue-hu-dao yang sangat lihai.

Para pendekar berpikir, 'Kali ini perempuan yang wajahnya ditutup itu pasti tidak akan bisa mengalahkan Huang Wen-kai dalam 10 jurus!' Tapi Huang Wen Kai baru mengeluarkan 3 jurus, dia berteriak.

"Po-feng-dao!"

Huang Wen Kai segera menarik golok dan mundur tapi perempuan itu tidak berhenti, dia membacok tangan kiri Huang Wen-kai, membuat tangan kiri Huang Wen-kai putus.

Huang Wenkai menahan sakit, dengan suara gemetar dia berkata.

"Duan-men-jue-hu-dao tidak berani melawan Po-feng-dao!"

Kemudian dengan tergopoh-gopoh dia turun gunung, tapi belum sampai 10 langkah dia sudah pingsan. Dengan tidak suka, Ruan-wei berkata.

"Kenapa Nona membacok putus tangannya?"

Perempuan itu tanpa merasa bersalah berkata.

"Siapa suruh dia tidak melawan, jadi pantas jika tangannya putus!"

Suara Ruan-wei mulai marah.

"Seorang perempuan mengapa begitu kejam?"

Perempuan itu dengan marah menjawab.

"Kalau kejam mengapa, itu bukan urusanmu!"

Alis Ruan-wei dikerutkan lagi, dengan pelan dia berkata.

"Kembalikan uang mereka!"

"Kalau mereka sanggup melawanku dalam 10 jurus, aku akan mengembalikan. Tapi jika tidak sanggup, tidak perlu banyak bicara lagi!"

Ruan-wei menarik nafas.

"Dalam 10 jurus aku bisa mengalahkanmu, apakah kau percaya?"

"Aku tidak percaya!"

Jawab perempuan itu dengan suara aneh.

"Baiklah! Dengan tangan kosong aku akan terima sepuluh jurusmu. Jika menang, aku harap kau mengembalikan uang yang telah kau rampok!"

Perempuan itu membalikkan tubuh dan pergi, dia juga berteriak.

"Aku tidak mau bertarung denganmu!"

"Jangan pergi!"

Bentak Ruan-wei Ruan-wei mengejar.

Perempuan itu dengan cepat turun gunung, ternyata di daerah sana ada tangga untuk naik turun gunung.

Dia mengejar sampai ke atas kepala Budha, perempuan itu terbang seperti seekor burung walet.

Dia meloncat setinggi 30 meter, ini tidak membuat Ruan-wei berhenti mengejar, dia ikut meloncat.

Kepala Budha menempel ke dinding gunung.

Dinding itu rata seperti ditepis.

Ruan-wei berdiri di tengah, dia tidak melihat perempuan itu pergi.

Tiba-tiba di sebelah gunung, di telinga Budha ada sebuah gua setinggi orang.

Ruan-wei segera masuk ke gua itu.

Ruan-wei berteriak.

"Nona, keluarlah! Nona, keluarlah!"

Tapi tidak ada yang menjawab.

Selangkah demi selangkah Ruan-wei masuk.

Semakin dalam gua itu semakin gelap.

Begitu masuk 20 meter, di sana gelap sekali sampai tidak terlihat apa-apa.

Tiba-tiba di belakang Ruan-wei terdengar suara Hong-long!

Ruan-wei terkejut, dengan cepat dia berlari kembali ke mulut gua.

Ternyata mulut gua sudah ditutup oleh batu besar, dengan cara apa pun tidak bisa dibuka.

Karena itu Ruan-wei berpikir.

"Biar aku masuk dulu, untuk melihat keadaan di dalam!"

Setelah berjalan sekitar 50 meter, di depan mulai terlihat ada cahaya.

Ruan-wei berjalan tambah cepat, ternyata ada sebuah gua yang lebih lebar dan terang.

Di sekeliling gua tergantung 4 lampu yang bersinar terang.

Lampu ini menyinari dinding gua.

Di sana terlihat ada 18 laki-laki sedang membawa kapak besar.

Di pintu gua terlihat ada 7 kata tertulis.

Kai-tian-pi-di-shi-ba-fu (18 ayunan kapak membuka langit membelah bumi).

--BAB 116 Wangi bunga tersebar di mana-mana Setelah Ruan-wei meneliti dengan seksama, 18 patung laki-laki yang tidak berpakaian itu mempunyai gaya yang berbeda.

Dia sedang berpikir mengenai kata 'Kai-tian-pi-di-shi-ba-fu'.

"Gaya Shi-ba-fu ini benar-benar Kai-tian-pi-di!"

Orang yang memiliki ilmu silat tinggi bila melihat ilmu silat yang aneh, dia akan menghubungkannya dengan ilmu silat yang lain.

Ruan-wei pernah belajar Tian-long-shi-san-jian kemudian belajar Long-xing-ba-zhang dan Shi-er-fu-zhang.

3 macam ilmu kelas tinggi telah dia kuasai, yang pasti pengertiannya lebih banyak di bandingkan orang lain.

Melihat ilmu Shi-ba-fu seperti berada di atas Tian-long-shi-san-jian dia lupa diri, dengan teliti dia melihat dan mempelajarinya.

Dia jadi lupa rasa lapar, lebih-lebih lupa waktu sampai semua Shi-ba-fu dimengerti dan dipahami.

Waktu tidak terasa sudah lewat 5 hari!

Begitu dia selesai memahami semuanya, dia baru merasa perutnya lapar, haus, dan lelah.

Tapi dia tidak tahu kalau dia sudah berada di gua ini selama 4 hari.

Karena terlalu lelah, dia tertidur lelap di lantai.

Setelah tidur satu hari penuh, baru dia terbangun, begitu bangun di sisinya sudah ada sekeranjang makanan enak dan sebotol susu kambing.

Tanpa berpikir dari mana datangnya makanan itu, dengan senang dia memakannya sampai habis untuk membayar rasa lapar dan haus beberapa hari ini!

Selesai makan dia baru terpikir kalau makanan tadi pasti diberi oleh perempuan berpakaian merah itu, dia masuk pasti bisa keluar.

Karena itu dia segera berlari ke mulut gua, terlihat mulut gua sudah terbuka.

Beberapa hari tidak melihat cahaya matahari, sekarang berada di bawah sinar matahari matanya terasa sangat nyaman, lalu dia pun meregangkan tubuh.

Dalam hati dia ingin berteriak, tiba-tiba di dinding terlihat ada sepucuk surat.

Surat itu tertulis.

Siapa suruh kau ikut campur urusan orang lain karena itu kau terkurung selama 5 hari sebagai hukuman.

Aku tidak sengaja menemukan gua ini dan ukiran di dinding Shi-ba-fu (18 ayunan kampak).

Ilmu silatku belum sampai pada tahap itu maka aku tidak bisa menguasainya.

Jika kau berminat, kau boleh mempelajarinya tapi aku berharap setelah kau pergi, tutuplah gua ini agar tidak ada orang yang mengetahuinya.

Aku mempunyai kesulitan tersendiri maka tidak bisa menemuimu dengan wajah asliku.

Jika aku sudah menyelesaikan masalah ini, baru aku akan menemui kakak.

Di bagian akhir surat tertulis cara menutup gua.

Ruan-wei mengikuti cara tersebut, dia meloncat setinggi orang.

Sekarang dia berada di sisi telinga Budha.

Di dalam telinga Budha ada 2 rantai sebesar tangan.

Rantai besi kiri lebih panjang 2 meter di bandingkan rantai besi kanan.

Dia menarik rantai sebelah kanan sekitar 3 meter, terdengar suara HUUUUU!

Pintu gua tertutup kembali.

Rantai besi kanan sekarang lebih pendek dari semula sekitar 3 meter.

Dia tahu jika menarik rantai kanan pasti gua akan terbuka kembali.

Dalam hati dia berpikir bagaimana kedua rantai ini bisa mengatur batu seberat ribuan kilogram.

Sebenarnya hal ini sangat mudah.

Dulu Biksu Hai-tong menguasai ilmu silat tinggi, beliau juga menguasai ilmu cara membangun rumah.

Ketika dia memahat patung Budha duduk ini, dia membuat gua ini sebagai tempat tinggal.

Dia memahat Budha Ru-lai selama 90 tahun lebih, dia tinggal di gua ini selama 90 tahun lebih.

Shi-ba-fu adalah ilmu silat yang didapat dari pengalaman hidupnya menggunakan kampak.

Dari pengalamannya beliau menciptakan ilmu silat tinggi ini.

Begitu Shi-ba-fu dilancarkan, gerakannya tidak berhenti seperti seorang tukang batu sedang mengukir patung Budha.

Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'jika perempuan itu adalah adik Yi, dia tidak akan mengurungku sampai 5 hari.

Mengenai bakat adik Yi, hanya dia yang mempunyai bakat mencari gua rahasia ini."

Dia berpikir lama tapi tidak bisa mengambil kesimpulan apakah dia adalah adik Yi nya atau bukan.

Dia merasa jika perempuan itu bukan adik Yi, dia pasti orang yang mengenalinya maka dia tidak ingin suaranya dikenali.

Akhirnya dia berpikir perempuan itu tidak ingin bertemu dengannya, untuk apa harus memaksanya?

Bulan delapan hampir habis, jika dia adalah adik Yi, dia akan pergi ke propinsi Shan-xi ke kota Rui.

Di sana dia pasti akan bertemu adik Yi.

Begitu keputusan sudah diambil, maka Ruan-wei tidak mencari perempuan itu lagi.

Dia meloncat ke atas kepala Budha, melihat tangga naik.

Karena kepala Budha sangat tinggi, dari dinding gunung dia harus meloncat 2 kali baru sampai.

Tangga itu dibuat sangat kasar tapi sangat kokoh, meski memakai tenaga, perempuan berpakaian merah itu pun tidak mungkin bisa membuatnya.

Sepertinya perempuan berpakaian merah itu tinggal di sini, dia tidak sendiri pasti dia mempunyai teman, baru bisa membuat tangga di dinding gunung yang berliku-liku.

Dia lari ke puncak, di puncak banyak berserakan senjata.

Di samping senjata ada darah yang sudah mengering.

Ruan-wei menduga semua senjata itu tentu milik pendekar-pendekar yang datang beberapa hari lalu, apakah mereka terbunuh?

Sambil menggelengkan kepala, dia teringat pada perempuan berpakaian merah yang menepis putus tangan 'Duan-men-jue-hu-dao' Huang Wen-kai.

Yang sebenarnya itu tidak perlu dilakukannya.

Apakah 'Pai-gu-xian' Song Ming-jin terkena bencana?

Jika dia sampai terbunuh, benar-benar keterlaluan!

Melalui tangga itu dia turun gunung sampai ke kaki gunung, di suatu tempat yang sangat terpencil, di dalam hutan ada sebuah perahu.

Ruan-wei tahu perahu ini ditinggalkan oleh perempuan berpakaian merah itu untuknya.

Dia benar-benar bingung, siapakah perempuan itu?

dia mengatur semuanya untuk Ruan-wei dan sama sekali tidak berniat jahat kepadanya.

Tapi dari tingkah lakunya, terlihat dia adalah perempuan yang sangat kejam dan suka berbuat semaunya.

Ruan-wei kembali ke kota Le-shan-cheng.

Dia tidak tinggal lama di sana, setelah mengambil Bai-ti-ma di penginapan, dia segera kembali ke Hu-nan dan berpikir sebelum Tiong-qiu (pertengahan bulan 8), dia akan kembali ke pengawalan perjalanan Nan-bei terlebih dulu.

Kuda berlari sangat cepat, hanya dalam jangka waktu satu bulan dia sudah tiba di Luoyang.

Ketika kantor pengawalan perjalanan Nan-bei mengetahui wakil ketua mereka sudah pulang.

Tuan Ouwyang menyambutnya.

'Da-li-shen-ying' Zheng Xue-sheng yang tidak senang bicara, terus memuji Ruan-wei, apalagi Ding Zi-guang selalu tertawa.

Saat jamuan yang diadakan Ouwyang Zhi-xuan untuk Ruan-wei, ZhengXue Sheng berkata.

"Aku dipercaya menjadi ketua kantor pengawalan perjalanan oleh Tuan Ouwyang, sekarang aku merasa kemampuan kakak Ruan di atasku, maka aku mempromosikan jabatan ini untuk kakak Ruan. bagaimana pendapat tuan Ouwyang?"

Ruan-wei dengan gugup berkata.

"Ini... ini... tidak... tidak bisa!"

Zheng Xue Sheng berkata.

"Kakak Ruan jangan menolaknya! Aku bukan berpura-pura, aku sungguh-sungguh, aku rela bekerja di sisi kakak Ruan. Dengan kemampuan kakak Ruan, pasti akan membuat pengawalan perjalanan Nan-bei lebih sukses lagi."

Ouwyang Zhi-xuan tertawa.

"Lao Zheng adalah orang jujur, apa yang dia pikirkan pasti akan diungkapkan. Dia mempromosikanmu. Bagaimana? apakah kakak Ruan-wei mau menerimanya?"

Ding Zi-guang ikut bicara.

"Kakak Zheng sudah mengeluarkan kata-kata ini, misalnya sampai ditolak oleh kakak Ruan, menurut perkiraanku, malam hari ini dia pasti tidak akan bisa tidur. Lebih baik kakak Ruan menerimanya!"

Mereka bertiga seperti sudah berencana ingin Ruan-wei menjadi ketua pengawalan perjalanan ini. Ruan-wei sangat berterima kasih kepada mereka. Dia berkata.

"Bukan aku ingin menolak kepercayaan kalian, aku masih memiliki dendam yang belum dibalas. Begitu dendamku terbalas, aku akan mengabdi di sini!"

"Siapa musuhmu?"

Tanya Ouwyang Zhi-xuan.

"Shi-san Gongzi Tai-bao!"

Ding Zi-guang terkejut.

"Shi-san Gongzi Tai-bao! 13 siluman ini sudah lama tidak terdengar nama mereka, dan mereka sudah lama tidak muncul di dunia persilatan!"

"Aku berkelana di dunia persilatan untuk mencari mereka, untuk membalas dendam ibuku tapi aku sama sekali tidak berhasil menemukan jejak mereka!"

Ouwyang Zhi-xuan menasehati.

"Jangan khawatir, kelak semua anggota kantor pengawalan perjalanan Nan-bei akan membantumu mencari tahu keberadaan 13 siluman itu."

Ruan-wei sangat berterima kasih, dia berhenti sebentar lalu berkata.

"Aku ada keperluan pribadi dan ingin berangkat besok pagi ke Shan-xi. Jika perjamuan hari ini sudah selesai, aku akan pamit pergi!"

Perjamuan ini hanya terdiri dari 4 orang, mereka adalah Ouwyang Zhi-xuan, Ding Zi-guang, Zheng Xue-sheng, dan Ruan-wei.

Mereka mengetahui Ruan-wei tidak ingin tinggal lebih lama maka mereka tidak mencoba menasehatinya lagi.

Dengan sungguh-sungguh Ouwyang Zhi-xuan berkata.

"Kakak kecil, jika ada yang ingin dibantu, hanya dengan secarik kertas saja, pengawalan perjalanan Nan-bei akan sekuat tenaga datang untuk membantumu!"

Dengan penuh perasaan Ding Zi-guang berpesan.

"Aku berharap setelah kakak Ruan membalas dendam, datanglah ke pengawalan perjalanan Nan-bei!"

Pepatah mengatakan.

antara pahlawan pasti mengenal satu sama lain dengan baik.

Maka perjamuan ini berlangsung sampai jam 3 subuh.

Setelah mabuk, mereka baru bubar untuk beristirahat!

Hari kedua pagi, ketika Ruan-wei mencuci muka, Ling Qi-xin tergesa-gesa masuk dan berteriak.

"Adik Wei, apakah hari ini kau akan pergi lagi?"

"Da-ge, aku ada janji sebelum Tiong-qiu ke Shan-xi. Sekarang sudah bulan 7, jika tidak berangkat sekarang, aku takut tidak akan sempat kesana!"

Ling Qi-xin mengeluh.

"Aku ingin berkumpul denganmu selama beberapa hari lagi, tapi kalau waktunya begitu mepet aku tidak akan memaksamu, aku...."

"Ada apa, Da-ge?"

"Apakah kau tahu putri tunggal Tuan Ouwyang tidak di sini lagi?"

"Mengapa?"

Ling Qi-xin bercerita.

"Ketika aku pulang kemarin ini, aku melapor kejadian yang kita alami. Kita berhasil mengambil kembali barang yang dirampok kepada tuan Ouwyang, waktu itu nona Ouwyang juga ada di sana. Tuan Ouwyang terus memujimu, beliau tidak bertanya mengapa kau tidak pulang, malah nona Ouwyang yang bertanya mengapa kau tidak pulang."

"Aku menjelaskan alasannya kalau kau ingin mencari tahu identitas perempuan berpakaian merah itu. Nona Ouwyang berkata. 'Untuk apa mencari tahu, perempuan itu tidak mengenal Ruan-wei mengapa dia mengembalikan barang yang nilainya sangat tinggi itu kepadanya. Apa Ruan-wei tidak akan kembali lagi?' "Aku tidak berbicara apa-apa, tapi aku sempat berpikir mengapa seorang gadis harus mengurusi pribadi seorang laki-laki?"

"Tiba-tiba Nona Ouwyang marah besar dan berkata, 'Mengapa kau membantunya membuat alasan untuk membohongiku?' Aku pikir ini sangat aneh, mengapa aku harus berbohong."

"Maka aku menjawab, 'Untuk apa kami harus membohongimu?' "Baru saja aku selesai bicara, dia sudah menamparku dan berteriak, 'Aku harus tahu sebenarnya! Aku harus tahu!' Aku tidak berani membalas, akhirnya Tuan Ouwyang membentak. 'Zhi-er! Kenapa kau ini?' "Biasanya Tuan Ouwyang sangat sayang kepada putri semata wayangnya. Wajah Tuan Ouwyang sangat marah tapi putrinya tidak takut. Tidak lama kemudian dia masuk ke pelukan ayahnya dan menangis."

Ruan-wei tidak mengerti dan bertanya.

"Dia... dia menangisi apa?"

"Aku juga merasa aneh, terdengar dia sambil menangis berkata kepada ayahnya, Ayah, dia membohongiku! Dia membohongiku... dia berjanji kepadaku 3 bulan kemudian akan pulang....' Ruan-wei baru mengerti dan teringat ketika dia meninggalkan kantor pengawalan perjalanan, nona Ouwyang pernah bertanya kepadanya dan dia menjawab 3 bulan kemudian dia akan kembali dan mereka akan bertarung ilmu pedang. Ternyata Ruan-wei ingkar janji sehingga membuat Nona Ouwyang marah. Maka sambil tertawa Ruan-wei berkata.

"Ternyata masalah ini, aku yang salah! Nanti jika bertemu dengannya, aku akan meminta maaf kepadanya."

Sebetulnya ketika itu Ruan-wei belum menyetujui permintaan Ouwyang Zhi maka Ruan-wei mengaku salah. Tapi dalam hati dia tidak begitu memperhatikan hal ini. Ling Qi-xin berkata.

"Aku tidak tahu mengapa kau bisa membuat nona marah tapi aku berani bertaruh yang salah adalah dia, maka aku tidak banyak bicara dan langsung pamit keluar. Pada hari kedua, aku mendengar dia meninggalkan kantor pengawalan perjalanan Nan-bei dan pergi ke tempat ibunya...."

"Begitu aku datang, aku sudah merasa aneh mengapa aku belum pernah melihat Nyonya Ouwyang, ternyata Nyonya Ouwyang tidak ada di sini!"

"Apakah kau tahu siapa Nyonya Ouwyang?"

Tanya Ling Qi-xin "Mana aku tahu?"

Ruan-wei tertawa.

"Nyonya Ouwyang adalah salah satu dari 4 cantik dari dunia persilatan, Kun-yi-nu Cui-pei!"

Ruan-wei terkejut.

"4 cantik dari dunia perilatan!"

Dia tahu siapa saja yang disebut 4 cantik dunia persilatan, karena sejak kecil Ruan Da-cheng sering bercerita kepadanya, tidak disangka Nyonya Ouwyang adalah salah satu dari 4 cantik yang belum pernah ditemuinya!

Mengapa tidak terdengar kabar tentangnya, akhirnya diam-diam menikah dengan 'Wu-ying-jian' Ouwyang Zhi-xuan.

"Apakah adik Wei tahu siapa saja 4 cantik dari dunia persilatan?"

Tanya Ling Qi-xin. Diam-diam Ruan-wei tertawa, 'Ibuku adalah salah satu dari 4 cantik dunia persilatan, masa aku tidak tahu!"

Tapi dia tidak berniat menjelaskannya kepada Ling Qi-xin, dia hanya tertawa sambil mengangguk.

"Nona Ouwyang pergi ke tempat ibunya, bukankah ini sangat biasa?"

Tapi Ling Qi-xin menggelengkan kepala.

"Memang nona pergi ke tempat ibunya adalah hal biasa, tapi kali ini dia bersumpah jika dia pulang, dia akan mengalahkanmu. Maka kau harus berhati-hati kepadanya!"

Dia sangat memperhatikan keselamatan Ruan-wei. Tapi Ruan-wei malah tertawa.

"Bukan karena aku percaya diri, memang ilmu pedang Nona sangat kuat tapi dia tidak akan bisa mengalahkanku. Da-ge tidak perlu khawatir walaupun kelak dia bertemu denganku, aku tidak akan takut kepadanya!" ' Ling Qi-xin dengan nada khawatir berkata.

"Nyonya Ouwyang sangat menyayangi nona. Jika dia menyuruh ibunya mencarimu, bagaimana? Memang Adik Wei bisa menang dari nona, tapi belum tentu bisa menang dari Nyonya!"

"Kalau aku bertemu dengan Nyonya, aku akan berusaha tidak bertarung dengan beliau. Aku kira dia adalah tetua dunia persilatan, dia tidak akan membuatku susah!"

Ling Qi-xin mengeluh.

"Kau belum tahu bagaimana nyonya memanjakan nona, apa pun yang diinginkan putrinya, beliau pasti akan menurutinya. Kecuali kalau kau meminta maaf dan mengaku salah padanya, kalau tidak, jangan harap beliau .ik.m melepaskanmu!"

Ruan-wei tertawa.

"Jika sampai harus bertarung, belum tentu aku akan kalah di tangan nyonya!"

Ling Qi-xin menggelengkan kepala.

"Kau salah menafsirkan ilmu silat Nyonya!"

Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'aku hanya mendengar 4 cantik di dunia persilatan sangat cantik tapi aku tidak pernah mendengar ilmu silat mereka sangat tinggi.

Seperti ibuku, ilmu silatnya biasa-biasa saja!"

Karena itu dengan nada tidak percaya dia berkata.

"Walaupun ilmu silatku tidak begitu tinggi, aku kira aku tidak akan kalah di tangan mereka.!"

"Apakah kau tahu mengapa pengawalan perjalanan Nan-bei belum pernah kehilangan barang?"

Dalam hati Ruan-wei memang pernah merasa aneh karena di kantor pengawalan perjalanan Nan-bei tidak ada orang kuat, dunia persilatan begitu kacau mengapa barang mereka tidak pernah dirampas?

Ini memang aneh, apakah ada sebabnya?

Ling Qi-xin berkata lagi.

"Dulu ketika pengawalan perjalanan Nan-bei baru dibuka, ketika itu aku masih kecil tapi aku sudah berada di sini. Awalnya tidak ada orang yang mau menitipkan barang. Kemudian kantor ini menerima 2-3 barang titipan, begitu diantar, di tengah perjalanan semua barang dirampas...."

"Ternyata pengawalan perjalanan Nan-bei awalnya sering kehilangan barang!"

Ling Qi-xin menggelengkan kepala.

"Bukan hilang, karena setelah setengah bulan, barang-barang itu dikembalikan dengan utuh...."jelas LingQi-xin.

"Masa ada hal begitu mudah?"

Ling Qi-xin mengenang masa lalu.

"Aku teringat ketika itu nyonya masih ada di kantor pengawalan perjalanan. Barang hilang pada hari kedua, tuan Ouwyang sangat cemas dan tidak tenang tapi Nyonya tidak cemas. Dia malah menghibur tuan. Sore hari, nyonya mengganti baju ketat dan menunggang seekor kuda hitam, beliau membawa sebuah pedang, beliau pergi...."

Ruan-wei berpikir, 'apakah hanya mengandalkan dia sendiri bisa mengembalikan barang yang telah hilang tiga kali dalam waktu setengah bulan? Ini benar-benar tidak mungkin."

Ling Qi-xin berkata lagi.

"Pada hari ketujuh, nyonya pulang dengan wajah lelah. Beliau memberi tahu bahwa barang yang dirampas akan kembali ke tangan pengawalan perjalanan Nan-bei dengan cepat. Semua orang harus bekerja dengan tenang, kelak pengawalan perjalanan Nan-bei tidak akan kehilangan barang yang"dibawanya lagi!"

Ruan-wei menarik nafas.

"Benar-benar sangat sombong!"

"Memang kata-katanya membuat orang tidak percaya. Pada hari kedelapan, barang yang hilang diantar kembali. Mereka dari perkumpulan ternama. Mereka mengutus 4 pesilat dan ketua berbaju emas datang...."

"Mereka datang sebagai tamu?"

Tanya Ruan-wei. Ling Qi-xin menjawab.

"Tadinya kami mengira mereka datang hanya untuk mencari keuntungan tapi mereka datang mengantarkan plakat perak Zheng-yi-bang, dan simbal emas dari Tian-zheng-jiao. mereka juga berkata, 'Jika ada orang yang berani menyerang pengawalan perjalanan Nan-bei, keluarkan barang-barang ini, melihat barang-barang ini seakan melihat pemiliki benda-benda ini!"

"Berarti dua perkumpulan memberi benda yang mewakili mereka dan berarti pengawalan perjalanan Nan-bei berada dalam perlindungan 2 perkumpulan."

Ling Qi-xin berkata dengan suara keras.

"Betul! Hanya beberapa hari saja, kabar ini sudah tersebar luas dan semua orang tahu pengawalan perjalanan Nan-bei mempunyai 2 pelindung kuat maka tidak ada orang yang berani merampok pengawalan perjalanan Nan-bei lagi!"

Ruan-wei menarik nafas.

"Berarti siapa yang berani merampok barang milik pengawalan perjalanan Nan-bei, mereka akan bermusuhan dengan 2 perkumpulan ini. Bagaimana cara Nyonya bisa membuat 2 perkumpulan lurus dan sesat ini bisa melindungi pengawalan perjalanan Nan-bei?"

"Kami juga tidak tahu karena apa, belakangan ada gosip dunia persilatan, kami baru tahu apa sebabnya!"

Kata Ling Qi-xin.

"Apa sebabnya?"

Ling Qi-xin terus menjelaskan.

"Ternyata setelah kehilangan barang, Nyonya tidak langsung mencari barang yang hilang, dia pergi mengunjungi Tian-zheng-jiao dan Zheng-yi-bang. Katanya setelah nyonya sampai di pusat kantor Tian-zheng-jiao dan Zheng-yi-bang, dia mengajak 2 ketua perkumpulan ini bertarung...."

Dengan serius Ling Qi-xin berkata.

"Ketua Zheng-yi-bang Lu Nan-ren dan ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu kalah di bawah ilmu pedang nyonya!"

Ruan-wei terkejut.

"Apa betul?"

"Hal ini pasti tidak salah, kalau tidak hanya dengan mengandalkan muka suami istri Ouwyang, mereka tidak akan bisa mempengaruhi 2 perkumpulan besar ini untuk melindungi pengawalan perjalanan Nan-bei dan juga tidak mungkin dalam waktu 3 hari mereka mengembalikan barang yang telah dirampok!"

Ruan-wei kebingungan, dia berkata.

"Pantas ilmu pedang Nona Ouwyang begitu lihai dan aneh, mungkin ilmu pedangnya didapatkan dari nyonya!"

Ling Qi-xin menjawab.

"Hanya nyonya yang sanggup mengajari ilmu pedang yang begitu bagus. Kali ini nona pergi ke tempat ibunya pasti karena ingin belajar ilmu pedang yang lebih hebat lagi dari ibunya, maka adik Wei harus berhati-hati!"

"Terima kasih atas nasehat Da-ge, aku mohon Da-ge memberi tahu tuan Ouwyang dan lain-lain kalau aku pergi...."

Ling Qi-xin tampak ragu sebentar lalu berkata lagi.

"Adik Wei, tuan Ouwyang berharap kau tinggal di kantor pengawalan perjalanan ini maksudnya adalah mencairkan dendam tanpa alasan. Beliau berharap jika nona kembali, begitu melihat kau adalah orang yang sangat berguna bagi kantor ini, maka dia tidak akan menyulitkanmu lagi. Tapi tidak disangka kau malah ingin pergi...."

Ruan-wei tertawa dingin.

"Sifat nona Ouwyang yang seperti itu, apakah tuan Ouwyang membiarkan begitu saja?"

Ling Qi-xin menarik nafas.

"Nona sangat disayang oleh ibunya, tuan Ouwyang tidak berani memarahinya."

Ruan-wei mulai marah.

"Mana ada gadis yang sifatnya seperti itu? Jika dia kembali untuk mencariku, katakan kepadanya kali ini aku pergi ke Shan-xi kota Rui untuk mengurusi suatu hal, bukan karena takut kepadanya!"

Ling Qi-xin menggeleng-gelengkan kepala, dia juga tidak mengerti mengapa nona Ouwyang selalu berseberangan dengan Ruan-wei tapi dia juga tidak bisa menahan kepergian Ruan-wei.

Maka dia meninggalkan tempat itu untuk memberitahu tuan Ouwyang.

Sore harinya setelah membereskan barang bawaan, Ruan-wei meninggalkan kantor pengawalan perjalanan Nan-bei.

Ding Zi-guang dan Ling Qi-xin mengantarnya sampai di perbatasan kota Luo-yang.

Ketika Ruan-wei sampai di Shan-xi.

hari telah memasuki bulan 8, Tiong-qiu masih ada beberapa hari, perkiraan Ruan-wei untuk sampai di tempat kota/kampung Rui 2 hari lagi, maka Ruan-wei dengan santai berjalan karena waktu yang ada masih panjang.

Beberapa hari ini orang-orang dunia persilatan atau orang biasa yang pergi ke kota Rui sangat banyak, dalam hati Ruan-wei berpikir karena setahun sekali di keluarga Rui diadakan rapat akbar, mereka selalu mengundang tamu.

Ruan-wei takut orang-orang Rui akan mengenalinya sebagai orang yang tahun kemarin telah merusak rapat akbar dan mereka tidak memberi ijin masuk, maka sehari sebelum Tiong-qiu, dia menyamar menjadi laki-laki setengah baya dengan mengandalkan keterampilan tangan yang diajarkan oleh Xiao San-ye.

Tidak ada orang yang bisa mengenalinya sekarang.

Keadaan kota Rui dengan keadaan satu tahun yang lalu tidak berbeda jauh.

Ruan-wei berada di antara para tamu yang masuk ke kota Rui.

Karena penjaga kota Rui mengira dia adalah tamu yang diundang maka mereka tanpa banyak bertanya langsung mengijinkannya masuk.

Rapat akbar baru akan dilaksanakan besok malam maka Ruan-wei dan para tamu diatur oleh keluarga Rui untuk tinggal di penginapan Si-hai sekalian beristirahat.

Di penginapan Si-hai banyak orang yang datang dari berbagai perkumpulan.

Zheng-yi-bang dan Tian-zheng-jiao masing-masing mendatang-kan 4 pesilat dan ketua berbaju emas juga ikut.

Aturan kota Rui tidak mengijinkan murid mereka bergaul dengan dunia luar, tapi nama kota Rui sangat berwibawa di dunia persilatan.

Sore hari, di penginapan Si-hai, diadakan jamuan besar-besaran.

Semua tamu yang diundang dalam rapat akbar bisa makan sampai kenyang.

Sore harinya keluarga Rui menyuruh murid-murid kota Rui membawa mereka ke lapangan tengah.

Ruan-wei mengikuti para tamu sampai di lapangan seperti tahun kemarin.

Setelah semua duduk, dari tengah lapangan keluar seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun lebih.

Perawakannya sedang, wajahnya bulat, kelihatannya dia adalah orang yang ramah.

Di sisi Ruan-wei adalah murid-murid dari 9 perkumpulan.

Terdengar seorang murid Wu-dang yang berusia sekitar 30 tahun lebih berkata.

"Lihat! Orang itu adalah adik sepupu Long-zhang-shen-gai, namanya adalah Rui Jing-rong."

Setelah itu dia seperti membanggakan diri karena menganggap dia sangat berpengalaman dan pergaulannya luas.

Seorang murid Zhong-nan-pai mungkin pertama kalinya datang ke kota Rui, dengan aneh dia bertanya.

"Apakah dia juga memiliki ilmu silat tinggi seperti Long-zhang-shen-gai?"

Murid Wu-dang ini tertawa.

"Jika semua orang memiliki ilmu setinggi Long-zhang-shen-gai, itu tidak akan berharga. Orangorang di sini memang tidak mempunyai ilmu silat setinggi Long-zhang-shen-gai tapi semua keluarga Rui menguasai ilmu silat sangat tinggi. Ilmu silat orang ini berada di atas kau dan aku!"

Seorang Biksu Shao-lin tidak terima dengan perkataan murid Wu-dang berkata.

"Belum tentu!"

Murid Wu-dang ini tertawa dingin.

"Memang Shao-lin adalah perkumpulan paling besar di dunia persilatan tapi kemampuan ilmu silatnya masih kalah jauh dari keluarga Rui."

Biksu Shao-lin marah besar tapi kata-katanya memang tidak salah dan mengingat dia adalah tamu, maka terpaksa menahan emosi dan diam tanpa bersuara.

Harus diketahui kota Rui sudah ada sejak jaman Dinasti Zhou dan Shau-lin sudah ada sejak jaman Dinasti Nan-bei.

Kedua dinasti ini berjarak jauh.

Karena aturan kota Rui sangat ketat maka mereka tidak seperti Shao-lin bisa terkenal di dunia persilatan dan murid-murid Shao-lin ada di mana-mana.

Tapi bila dihitung dari berdirinya perkumpulan mereka di dunia persilatan, Shao-lin pasti kalah.

Melihat biksu Shao-lin hanya bisa diam, murid Wu-dang itu tertawa dingin dan tidak meladeninya lagi.

Ketika itu Rui Jing-rong yang gemuk sedang bertukar pendapat dengan seorang Fu-ye mengenai perdagangan keluar kota Rui dan menghitung untung rugi perdangangan ini.

Setelah selesai bertukar pendapat, rapat akbar akan segera dimulai.

Maksud keluarga Rui mengundang tamu datang dari luar setiap tahunnya adalah supaya orangorang tahu bahwa aturan keluarga Rui sangat ketat juga bersih, berbuat kesalahan pasti akan dihukum.

Tidak akan membiarkan keluarga Rui secara sembarangan melakukan sesuatu.

Dari tempat duduk keluarga Rui banyak yang mengadu, pembawa acara Rui Jing-rong sesuai petunjuk dari Fu-ye, satu persatu masalah diselesaikan dengan baik.

Hanya sebentar 10 masalah pelanggaran diselesaikan dengan baik.

Hampir satu jam berlalu, pengaduan hampir selesai.

Keadaan mulai sepi, jika tidak ada yang mengadu lagi, maka rapat akan dibubarkan.

Tiba-tiba ada seorang pemuda berdiri di tengah-tengah lapang, dia berteriak.

"Mana Paman Tua? Mana Paman Tua?"

Dia memanggil dan mencari, tidak ada yang menyahut. Murid Zhong-nan bertanya pada murid Wu-dang.

"Dia memanggil siapa?"

Murid Wu-dang itu pelan dan serius menjawab.

"Long-zhang-shen-gai!"

Ruan-wei merasa aneh, mengapa adik Yi dan Lao Rui belum muncul. Mendengar pemuda itu memanggil Lao Rui. Dia berteriak dan bertanya.

"Mengapa Kakak tahu dia memanggil Long-zhang-shen-gai?"

Murid Wu-dang itu melihat Ruan-wei, karena dia tidak mengenali Ruan-wei, dia menjawab.

"Tahun kemarin kau tidak kemari?"

"Aku pernah kemari."

Murid Wu-dang itu menarik nafas.

"Orang itu adalah putra pembawa acara tahun kemarin Jing-yu, dia bernama Ge-sheng!"

Ruan-wei mengingat dendam antara Long-zhang-shen-gai dengan Jing-yu.

Dia terkejut dan berpikir, 'dia adalah putra Jing-yu, kali ini dia datang pasti mempunyai niat yang tidak baik!' Pemuda yang bernama Ge-sheng itu melihat tidak ada yang menyahut, dia langsung berkata.

"Para paman, tahun kemarin Fu-ye sudah menentukan bahwa Paman Jing-yuan dalam waktu satu tahun ini harus menyelesaikan dua masalah, apakah kalian ingat?"

Tidak ada yang menjawab. Melihat keluarga Rui tidak ada yang mendukungnya, sepertinya mereka melindungi Paman Jing-yuan dan teringat kembali pada kematian ayahnya dia mulai marah dan berteriak.

"Aku Ge-sheng, tidak pernah seperti kalian cepat lupa. Sekarang sudah satu tahun penuh berlalu tapi Jing-yuan tidak ada di sini, dia melanggar apa yang telah ditetapkan oleh Fu-ye. Dia telah bersalah, dosa apa yang harus dia tanggung?"

Dua kalimat terakhir diungkapkan dengan nada sangat sedih.

Orang yang mendengar ini, terpengaruh oleh kata-katanya juga diam-diam berpikir, 'mengapa dia begitu membenci Longzhang-shen-gai Jing-yuan?' Mereka tidak tahu kalau Ge-sheng menganggap kematian ayahnya disebabkan oleh Longzhang-shen-gai, dia tidak mau tahu kalau ayahnya mati oleh Fu-ye penjaga kuil Ling-yin.

Dia merasa semasa hidup, ayahnya sangat membenci Paman Jing-yuan, apalagi satu hari sebelum ayahnya meninggal, ayahnya sempat mengatakan dengan segala cara dia harus mempelajari Long-xing-ba-zhang.

Hari kedua dia mati oleh Fu-ye penjaga kuil Ling-yin.

Menurut perkiraannya walaupun Paman Jing-yuan tidak ada tapi hal ini berhubungan dengan Paman Jing-yuan yang telah membuat ayahnya mati.

Dia tidak bisa membalas dendam kepada paman Jing-yuan, sekarang melihat ada sedikit celah, dia tidak akan melepaskan kesempatan ini begitu saja.

Tiba-tiba dengan penuh air mata dia berkata.

"Jing-yuan berbuat kesalahan, mengapa dia tidak dihukum? Jing-yuan telah berdosa! Mengapa dia tidak dihukumi..."

Suaranya semakin keras juga semakin sedih, benar-benar membuat orang terharu.

Seluruh lapangan tertutup oleh kesedihan.

Keluarga Rui tahu malam ini jika Jing-yuan tidak pulang untuk mengikuti rapat akbar, akibatnya pasti akan fatal.

Dia melanggar aturan keluarga Rui, harus dihukum.

Tapi mengingat Jing-yuan adalah orang berpandangan lurus dan tidak egois, tidak ada orang yang menginginkan dia dihukum.

Maka walaupun Ge-sheng berteriakteriak, tetap tidak ada yang mengeluarkan suara untuk mendukungnya!

Para tamu yang tahun kemarin pernah mengikuti rapat akbar, mengetahui hal ini, dalam hati mereka berpikir, 'apakah mereka akan membiarkan dia berteriak dengan sedih?

Apakah aturan keluarga Rui benar-benar bisa dipercaya?' Para tamu tidak seperti keluarga Rui mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Karena itu kebanyakan tamu mulai merasa bergejolak tapi karena takut dengan wibawa keluarga Rui, walaupun ingin mendukung Ge-sheng tapi mereka tidak berani mengemukakan pendapat mereka.

Ge-sheng berteriak lama tapi tidak ada yang menanggapi.

Pembawa acara Rui Jing-rong membentak.

"Ge-sheng, kembali ke tempat! Apakah nama kakak Jing-yuan boleh kau sebut sembarangan?"

Ge-sheng menghapus air mata, dengan marah berkata.

"Jing-yuan bersalah, dia tidak boleh menjadi pemimpin kita, mengapa aku tidak boleh menyebut namanya?"

Rui Jing-rong dengan serius berkata.

"Kakak Jing-yuan telah salah apa? Berani-beraninya kau memarahi dia!"

Ge-sheng tetap dengan marah berkata.

"Semua orang melihat Jing-yuan tidak ada di sini berarti dia tidak melakukan 2 hal yang telah Fu-ye pesan tahun kemarin, apakah dengan begitu dia tidak salah?"

"Mengapa kau tahu kakak Jing-yuan tidak melakukan 2 hal yang dipesankan Fu-ye?"

Tanya Rui Jing-rong. Karena merasa benar Ge-sheng menjawab.

"Kalau dia sudah melakukan hal yang dipesankan Fu-ye, mengapa hari ini dia tidak ikut rapat, bukankah dia takut pada hukuman?"

Rui Jing-rong tertawa.

"Dulu Fu-ye memberi waktu satu tahun. Nanti malam jam satu baru tepat satu tahun. Kau mencemaskan apa, turunlah!"

Memang masih ada satu jam baru tiba di batas waktu.

Ge-sheng tahu hal ini tapi karena tergesa-gesa ingin membalaskan dendam ayahnya, sekarang ingin maju pun sulit, mundur pun tidak mungkin.

Kemudian dia berkata.

"Sekarang adalah rapat akbar, seharusnya dia sudah sampai, jika belum sampai dia harus dihukum!"

Rui Jing-rong masih terus memberi kesempatan, biar Ge-sheng tahu diri karena dia adalah putra tunggal Jing-yu.

Jing-yu adalah kakak sepupunya.

Tapi Ge-sheng tetap tidak mau mundur, hal ini membuat Rui Jing-rong marah.

Ge-sheng masih tidak tahu diri, dia masih berteriak.

"Coba kalian pikir apakah Jing-yuan harus dihukum?"

Teriakan Ge-sheng membuat Fu-ye marah. Dengan suara seperti lonceng dia berkata.

"Tangkap dia!"

Segera keluar kelompok 2 keluarga Rui yang bertanggung jawab untuk menghukum, mereka menangkap Ge-sheng. Ge-sheng terkejut. Dengan suara gemetar dia berteriak.

"Ge-sheng salah apa?"

Pelan-pelan Fu-ye berdiri, dengan sorot mata berwibawa dia berkata.

"Dalam keluarga Rui yang paling penting adalah menghormati orang yang generasinya lebih tinggi. Kau telah tidak sopan, kesalahanmu sangat besar, kau harus diberi hukuman berat!"

Fu-ye duduk kembali. Perintah Fu-ye tidak berani dibantah Rui Jing-rong, terpaksa dengan pelan-pelan dia berkata.

"Ge-sheng tidak menghormati orang yang generasinya lebih tinggi, dia harus dihukum...."

Hukuman dari kesalahan ini biasanya adalah memotong sebelah tangan.

Bila pembawa acara mengumumkan hukuman, maka hukuman harus segera dilaksanakan.

Wajah Ge-sheng menjadi pucat, keringat dingin terus menetes.

Dalam hati dia berpikir, 'Habislah aku!' Saat yang tegang seperti ini terdengar suara keras berteriak.

"Tunggu!"

Dari kerumunan keluar seorang pengemis tua berwajah kotak, bertelinga besar, dan berwajah hitam, segera tempat itu menjadi ribut.

"Long-zhang-shen-gai datang!"

"Long-zhang-shen-gai datang...."

Di belakang Long-zhang-shen-gai Jing-yuan ada seorang perempuan yang sangat cantik!

Melihat perempuan itu, semua orang diam-diam memuji.

Ruan-wei mengenal dia adalah Wen-yi.

Ruan-wei benar-benar senang, dia hampir ke tengah lapangan untuk menemui adik Yi.

Sampai di depan Fu-ye, Long-zhang-shen-gai memberi hormat, kemudian dia berjalan ke depan, Long-zhang-shen-gai bertanya.

"Jing-rong, apa kesalahan Ge-sheng?"

Long-zhang-shen-gai segera bangun dan menjawab.

"Kakak Yuan, Ge-sheng menyerangmu dengan kata-kata kasar, Fu-ye akan memberinya hukuman berat!"

Long-zhang-shen-gai segera memberi hormat kepada Fu-ye.

"Lao Fu-ye, demi aku, ampunilah Ge-sheng kali ini!"

Fu-ye menggelengkan kepala.

"Aturan keluarga tidak boleh dilanggar. Ge-sheng tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak bisa diampuni!"

Long-zhang-shen-gai membela.

"Ge-sheng masih muda, tidak tahu apa-apa, maka aku berani memohon agar Fu-ye mengampuni dia!"

Fu-ye mulai marah.

"Aturan keluarga Rui tidak boleh dibantah!"

Melihat Fu-ye marah, Long-zhang-shen-gai tidak berani bicara lagi.

Di lapangan hening tidak ada yang bersuara.

Seorang keluarga Rui yang masih muda keluar, dia membawa sebilah golok yang sangat tajam.

Hukuman akan segera dilaksanakan.

Karena takut, gigi Ge-sheng terus gemeletuk dan mengeluarkan suara.

Sekarang ini dia lupa kalau Paman Jing-yuan adalah musuhnya.

Dengan suara gemetar dia terus memohon.

"Paman, tolong aku! Paman, tolonglah aku...."

Alis Long-zhang-shen-gai berkerut, tiba-tiba dia berkata.

"Jing-yuan mewakili Ge-sheng menerima hukuman!"

Para hadirin belum mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya, terlihat Long-zhang-shengai dengan cepat memotong jari kelingking-nya. Lalu jari kelingkingnya diserahkan kepada pembawa acara.

"Jing-yuan bersalah, aku meminta maaf!"

Dalam keluarga Rui, generasi tua jarang dihukum kecuali yang menjadi ayah karena tidak mau putranya dihukum.

Seringkah ayahnya mewakili putranya menerima hukuman.

Hukumannya akan lebih ringan.

Tapi hubungan Long-zhang-shengai dengan Ge-sheng adalah keponakan dengan paman, hal ini pertama kalinya terjadi.

Rui Jing-rong menerima jari pemberian Jing-yuan, dia menarik nafas panjang.

"Kakak Jing-yuan mewakili Ge-sheng menerima hukuman, Ge-sheng bebas dari semua hukuman."

Fu-ye pelan-pelan berkata.

"Ge-sheng, cepatlah berterima kasih kepada pamanmu!"

Ge-sheng sama sekali tidak menyangka pamannya akan berbuat seperti ini untuk menolongnya. Dia sangat terpengaruh. Dia berlutut dan memeluk kedua kaki Long-zhang-shen-gai sambil menangis.

"Paman... Paman...."

Dia terus memanggil Long-zhang-shen-gai sampai-sampai kata terima kasih pun tidak sanggup diucapkan.

Dengan kain putih Long-zhang-shen-gai membungkus jari kelilingnya yang masih mengeluarkan darah.

Dia tertawa.

"Kembalilah ke tempatmu, rapat akbar belum selesai!"

Ge-sheng menurut dan kembali, wajahnya penuh air mata. Long-zhang-shen-gai dengan suara keras berkata.

"Karena Jing-yuan ada perlu maka datang terlambat, aku meminta maaf kepada hadirin!"

Pelan-pelan Rui Jing-rong bertanya.

"Kakak Yuan, tahun kemarin Fu-ye berpesan kepadamu agar menyelesaikan 2 hal penting, apakah sudah selesai?"

Dengan hormat Jing-yuan menjawab.

"Aku sudah menyelesaikannya dengan baik!"

Dari balik baju dadanya dia mengeluarkan sebuah bungkusan. Begitu dibuka ternyata isinya sepasang telinga manusia. Dia memberikan kepada Rui Jing-rong dan berkata.

"Telinga ini adalah telinga ketua Tian-mei-jiao Wan-miao-xian-ni. Tahun kemarin dia sudah masuk kota Rui tanpa diundang, harap pembawa acara menerimanya!"

Segera para hadirin menjadi ribut.

Yang perlu diketahui Tian-mei-jiao sangat terkenal, perkumpulan ini mempunyai kedudukan sedikit di bawah Tian-zheng-jiao, begitu mudah Jing-yuan memotong telinga ketua perkumpulan ini.

Maka mereka semakin takut pada aturan kota Rui.

Mereka juga tidak mengerti mengapa kota Rui tidak mengijinkan perempuan asing masuk kota mereka.

Setelah Rui Jing-rong melihat sepasang telinga itu, dia bertanya lagi.

"Bagaimana dengan masalah yang satu lagi?"

Long-zhang-shen-gai menjawab.

"Tahun kemarin gadis yang berpura-pura menjadi seorang pemuda masuk kota Rui ini, sekarang berada di belakang Jing-yuan, harap pembawa acara menjatuhkan hukuman untuknya!"

Ruan-wei menjadi tegang, dia takut mereka akan menikahkan adik Yi dengan keluarga Rui.

Dia melihat Wen-yi yang berpakaian perempuan, sama sekali tidak mirip dengan Wen-yi saat memakai pakaian laki-laki.

Dia lebih kurus juga terlihat sedih!

Rui Jing-rong pelan-pelan berkata kepada seorang murid keluarga Rui, dia segera membawa seorang perempuan.

Sambil tertawa dia mendekati Wen-yi.

"Nona, ikuti aku!"

Wajah Wen-yi sama sekali tidak ada ekspresi, dia ikut perempuan itu pergi. Dia juga seperti mayat hidup. Hati Ruan-wei terasa sakit, terdengar murid Zhong-nan itu berkata lagi.

"Nona itu benar-benar cantik tapi sama sekali tidak terlihat ada kehidupan di matanya, benarbenar disayangkan!"

Murid Wu-dang juga mengeluh.

"Dulu aku pernah melihat dia berpakaian laki-laki, dia tidak seperti sekarang ini. Tidak disangka, hanya dalam waktu satu tahun dia berubah menjadi seperti itu!"

Diam-diam Ruan-wei berseru.

"Adik Yi! Adik Yi! Apakah demi Da-ge kau harus menjadi seperti ini...."

Karena sedih, air mata Ruan-wei terus menetes.

Untung perhatian semua orang sedang tertuju ke lapangan maka tidak ada seorang pun yang memperhatikan dia, kalau tidak, orang-orang akan merasa aneh mengapa seorang laki-laki dewasa tanpa sebab bisa begitu sedih.

Di lapangan Long-zhang-shen-gai sedang melaporkan kehidupannya menjadi pengemis selama setahun ini, tidak lama kemudian perempuan itu membawa Wen-yi lagi.

Perempuan itu berkata kepada Rui Jing-rong dengan suara kecil, kemudian dia keluar.

Setelah mendapat laporan dari perempuan itu, Rui Jing-rong berkata dengan suara keras kepada Wen-yi.

"Kau masih perawan, kau bisa menikah dengan laki-laki kota Rui, apakah kau setuju?"

Wen-yi menjawab dengan dingin.

"Setuju atau tidak, mengapa aku harus menikah dengan laki-laki keluarga Rui?"

"Karena kau masuk tanpa diundang ke kota Rui, jika kau tidak menikah dengan laki-laki keluarga Rui, kau akan dihukum. Kau harus pilih salah satu, kau memilih yang mana?"

Tanya Rui Jing-rong. Tanpa ekspresi Wen-yi menjawab.

"Aku tidak mau menikah dengan keluarga Rui...."

Rui Jing-rong marah.

"Kalau tidak ingin menikah dengan keluarga Rui, kau harus merusak wajahmu sendiri!"

Wen-yi tertawa dingin.

"Setelah merusak wajahku, apa gunanya?"

"Ini adalah aturan keluarga Rui, siapa suruh kau masuk kota Rui? Cepat pilih, kalau tidak, aku akan menyuruh orang untuk merusak wajahmu!"

Perintah Rui Jing-rong. Wen-yi membalikkan tubuh bertanya kepada Long-zhang-shen-gai.

"Lao Rui, kau berjanji kepadaku setahun kemudian kita akan bertemu, aku datang dari jauh, tidak disangka keluarga Rui meladeni aku dengan cara seperti ini, apa alasannya?"

Long-zhang-shen-gai dengan tidak tenang berkata.

"Aturan keluarga Rui sangat ketat. Lao Rui mengajakmu bertemu satu tahun kemudian maksudnya adalah menasehatimu agar menikah dengan keluarga Rui. Maafkan aku tidak memberitahu dulu kepadamu...."

Wen-yi menarik nafas.

"Sebenarnya apa gunanya aku menikah dengan keluarga Rui, dia bisa mendapat tubuhku tapi tidak hatiku...."

"Apakah kau setuju? Cepat jawab!"

Rui Jing-rong membentak. Pelan-pelan Wen-yi berkata.

"Hidup bersama hanya bisa dengan hati yang saling mencintai...."

Rui Jing-rong tidak sabar lagi dan marah.

"Saling mencintai? Jika kau tidak menjawab, jangan salahkan kalau aku tidak sopan!"

Wen-yi mengangkat kepala, dengan sedih melihat Rui Jing-rong.

"Jika kau ingin aku menikah dengan keluarga Rui, baiklah!"

Rui Jing-rong tertawa.

"Keluarga Rui tidak akan merugikanmu, kau pasti akan mendapatkan kebaikan...."

Dia berhenti bicara kemudian melihat semua orang dan berkata.

"Aku umumkan di depan semua pendekar, perempuan ini kelak adalah...."

Ketika dia akan mengumumkan Wen-yi menjadi orang kota Rui, tiba-tiba ada yang membentak.

Dari kerumunan para tamu muncul seseorang, dia berdiri di tengah-tengah lapang.

Dengan suara seperti lonceng berkata.

"Nanti dulu!"

Semua orang melihat ke arah sana, dia adalah seorang laki-laki setengah baya, wajahnya sangat biasa, tidak ada orang yang mengenalinya.

Semua orang merasa aneh mengapa orang itu berani membuat onar di keluarga Rui?

Rui Jing-rong juga tidak mengenalinya.

Begitu dia meloncat dari tempat para tamu, dengan nada sangat hormat dia bertanya kepada Wen-yi.

"Apakah kau setuju menikah dengan keluarga Rui?"

Wen-yi tidak bisa mengenali orang yang ada di depannya adalah Ruan-wei. Dengan dingin dia menjawab.

"Setuju atau tidak setuju? Benar atau tidak benar?"

Ruan-wei melihat wajah Wen-yi yang kurus, dia benar-benar ingin memanggilnya adik Yi tapi dalam situasi seperti itu, dia tidak berani memanggil juga berusaha menahan gejolak hatinya.

Pelan-pelan dia berkata.

"Jika di dalam hatimu setuju berarti itu adalah benar. Tapi jika di dalam hatimu tidak setuju, berarti itu adalah salah!"

Tadinya masalah ini hampir selesai, orang ini tiba-tiba keluar membuat keributan, maka Rui Jing-rong marah besar.

"Siapa kau, datang-datang membuat keributan!"

Ruan-wei sama sekali peduli pada Rui Jing-rong, kedua matanya bersorot lembut.

"Jika kau tidak setuju, kau tidak perlu menikah dengan keluarga Rui."

Rui Jing-rong membentak.

"Setuju atau tidak, dia harus menikah dengan keluarga Rui, untuk apa kau mencemas-kan dia?"

Ruan-wei .membalikkan tubuh, dengan marah berkata.

"Siapa bilang?"

Rui Jing-rong menjawab dengan santai.

"Karena aturan keluarga Rui semua tahu dia harus menikah dengan keluarga Rui, apakah Tuan ingin melihat wajah cantiknya menjadi buruk rupa?"

Dengan gagah Ruan-wei melindungi Wen-yi di belakangnya dan berteriak.

"Jika dia tidak setuju, tidak ada orang yang boleh memaksanya!"

Rui Jing-rong tertawa dingin.

"Maksud tuan, jika nona ini tidak setuju, tidak ada yang bisa memaksanya?"

"Betul! Jika dia tidak setuju, aku akan mengantarnya keluar kota Rui. Siapa yang berani menghalangiku, dia adalah musuhku!"

Jawab Ruan-wei tanpa takut.

Mendengar Ruan-wei bicara begitu angkuh, semua orang terkejut dan tidak tahu siapa orang itu, tapi berani-beraninya mengambil resiko bahaya ini untuk melindungi seorang perempuan.

Apalagi perempuan itu sama sekali tidak mengenalinya.

Tiba-tiba Wen-yi yang ada di belakangnya bertanya.

"Mengapa kau tahu aku tidak setuju?"

Suaranya tidak keras tapi karena malam itu hening maka terdengar jelas. Rui Jing-rong tertawa terbahak-bahak.

"Betul! Betul! Mengapa Tuan bisa tahu dia tidak setuju? Kata pepatah. anjing menangkap tikus, mengurus masalah yang tidak ada hubungan dengannya."

Ruan-wei membalikkan tubuh melihat Wen-yi, dengan penuh air mata dia bertanya.

"Apakah kau benar-benar setuju menikah dengan keluarga Rui?"

Wen-yi melihat laki-laki setengah baya ini, dia merasa aneh mengapa orang ini begitu memperhatikannya, maka dia bertanya balik.

"Siapa kau?"

Rui Jing-rong takut akan ada perubahan, dia segera berpesan kepada 2 orang murid kota Rui untuk pergi ke lapangan mengusir Ruan-wei keluar dari kota Rui.

Dua murid ini tidak tahu kehebatan Ruan-wei.

Begitu sampai di belakang Ruan-wei, mereka mengeluarkan tangan dan siap menangkap Ruan-wei agar bisa dibawa keluar dari lapangan itu.

--BAB 117 Ayah dan anak bertemu tapi tidak saling mengenal Ruan-wei merasa ada orang yang menyerangnya dari belakang tapi dia adalah seorang pemberani dan berilmu silat tinggi, dia sama sekali tidak melihat ke belakang, hanya menjawab pertanyaan Wen-yi.

"Jangan tanya siapa aku, jawab saja apakah kau benar-benar ingin menikah dengan keluarga Rui?"

Orang-orang keluarga Rui semua memiliki ilmu silat tinggi, kedua orang tadi sebenarnya menyerang dengan cepat dan hampir menangkap Ruan-wei tapi tiba-tiba tangan Ruan-wei mengayun ke belakang.

Ayunan ini adalah salah satu dari jurus Long-xing-ba-zhang.

kedua orang ini tidak sempat menghindar, mereka terbanting ke bawah dan nadi mereka tertotok.

Orang-orang di sana sangat terkejut.

Kecuali Long-zhang-shen-gai, tidak ada yang tahu ilmu silat apa yang Ruan-wei gunakan.

Wen-yi sendiri juga tidak tahu keunikan jurus tadi, dia hanya menangis dan bertanya.

"Beritahu aku, siapa kau?"

Long-zhang-shen-gai menarik nafas panjang.

"Dia Ruan-wei, masa kau tidak tahu?"

Jurus Long-xing-ba-zhang hanya Long-zhang-shen-gai yang menguasainya, dia belum pernah mengajarinya kepada siapa pun kecuali Ruan-wei.

Dia hanya menguasai 5 jurus.

Sekarang tidak sengaja Ruan-wei mengeluarkan satu jurus, otomatis Long-zhang-shen-gai langsung mengetahui siapa dia!

Mendengar Ruan-wei ada di depannya, Wen-yi langsung terpaku.

Ruan-wei tidak menutupnutupi lagi, dengan lembut dia berkata.

"Adik Yi, aku adalah Ruan-wei, aku adalah Da-ge!"

Dalam keterkejutannya, Wen-yi teringat cerita Gongsun Lan tentang Ruan-wei, dia benci karena Ruan-wei selingkuh, tiba-tiba dia berteriak.

"Siapa bilang aku tidak mau menikah dengan keluarga Rui?"

Melihat Ruan-wei memiliki ilmu silat tinggi, Rui Jing-rong juga tidak berani menyuruh orang menangkap Ruan-wei untuk mengusirnya. Dia tertawa dan menyindir.

"Benar-benar lucu, orang lain setuju menikah, dia datang mengurusi hal yang bukan urusannya, apakah kau juga menginginkan gadis ini? Benar-benar tidak tahu diri!"

Air mata Ruan-wei mulai menetes, dia sama sekali tidak mendengar sindirian Rui Jing-rong. Dengan suara tercekat dia berkata kepada Wen-yi.

"Apakah kau benar ingin menikah dengan keluarga Rui? Apakah betul...."

Suara Ruan-wei semakin rendah, sampai terakhir tidak ada suara, hanya bibirnya saja yang bergetar.

Dia seperti tidak percaya Wen-yi akan menikah dengan keluarga Rui!

Wen-yi menahan hatinya yang sedih, melewati Ruan-wei dan berjalan ke depan Rui Jing-rong berkata.

"Aku setuju menikah dengan keluarga Rui!"

Rui Jing-rong senang dan memberi sambutan.

"Aku putuskan nona ini, mulai hari ini siapa pun yang menghinanya akan musuh keluarga Rui. Besok aku akan menentukan siapa laki-laki yang pantas menjadi suaminya!"

Di tempat duduk keluarga Rui, duduk tetua-tetua keluarga Rui.

Melihat Wen-yi sangat cantik mereka ingin Wen-yi menjadi menantu mereka.

Rui Jing-rong baru selesai bicara, sudah ada 7-8 orang keluarga Rui berdiri dan berkata kepada Rui Jing-rong.

"Kami memesannya untuk menjadi menantu!"

Melihat banyak yang menginginkan pernikahan ini, Rui Jing-rong tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Jangan cepat-cepat! Kita baru bicarakan nanti, kita baru bicarakan nanti...."

Di lapangan keluar beberapa orang murid Rui yang masih muda, mereka menggotong 2 orang marga Rui yang tadi telah ditotok oleh Ruan-wei untuk diobati dan dibawa keluar lapangan.

Tibatiba Ruan-wei berkelakuan seperti orang gila, dia berlari sambil menggerakkan tangan, kemudian dia berlari ke belakang Wen-yi dan menotoknya.

Wen-yi dalam keadaan sedih, dia sama sekali tidak melihat Ruan-wei datang untuk menotoknya.

Yang Ruan-wei totok adalah bagian punggung Wen-yi, segera Wen-yi jatuh ke pelukan Ruan-wei.

Ruan-wei menggendong Wen-yi dan berteriak.

"Tidak ada yang bisa menikah dengannya! Tidak ada yang bisa...."

Rui Jing-rong marah.

"Apakah kau sudah bosan hidup? Kau menotok murid-murid keluarga Rui, itu termasuk kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, sekarang kau menculik orang. Cepat! Kalian tangkap orang gila itu!"

Dari belakang Rui Jing-rong keluar 10 orang lebih pesilat tangguh dari keluarga Rui. Mereka mengeliling Ruan-wei, Wen-yi masih bisa bicara karena nadi bicaranya tidak ditotok, dia berkata.

"Letakkan aku ke bawah! Cepat pergi!"

Ruan-wei benar-benar seperti orang gila, dia berteriak.

"Tidak ada orang yang bisa merebutnya dari sisiku!"

Sambil berteriak dia keluar dari kepungan orang.

10 orang lebih pesilat keluarga Rui bukan sembarangan pesilat.

Mereka dengan cepat berkumpul kemudian dengan cara masing-masing menangkap Ruan-wei.

Ruan-wei menggendong Wen-yi, hanya kakinya yang bisa bergerak.

Dalam beberapa langkah, dia bisa keluar dari kepungan pesilat-pesilat itu.

Keluarga Rui melihat langkah-langkah Ruan-wei yang aneh, mereka merasa terkejut.

10 orang pesilat tangguh merasa aneh dan terpaku!

Rui Jing-rong berlari mendekati mereka, dia menghalangi di depan Ruan-wei dan berteriak.

"Siapa kau? Dari mana perkumpulanmu?"

Karena langkah-langkah tadi adalah ilmu andalan dari ayah Wen-yi, Wen Tian-zhi.

Langkahlangkah kaki Wen Tian-zhi tidak tertandingi di dunia persilatan.

Long-zhang-shen-gai sangat hafal dengan langkah itu tapi Rui Jing-rong tidak mengenalnya.

Karena dia tidak mengenal jurus-jurus telapak dan langkah-langkah Ruan-wei yang aneh, maka dia bertanya.

Tapi Ruan-wei hanya menggendong Wen-yi, dia tidak meladeni pertanyaan orang lain.

Kakinya melewati Rui Jing-rong.

Rui Jing-rong marah, karena berpikir dia memiliki ilmu silat yang hebat, maka kedua tangannya dibuka dan mencengkram Ruan-wei.

Dalam hati berpikir, 'kau berada di depanku, apakah kau bisa kabur dari cengkramanku?' Ketika Ruan-wei berada di depannya, dia langsung mencengkram tapi tidak kena.

Begitu dia melihat, Ruan-wei sudah ada di belakangnya.

Karena pengalaman ini, dia baru merasa Ruan-wei benar-benar memiliki ilmu silat yang tinggi.

Sekarang di kota Rui kecuali Lao Fu-ye dan kakak Jing-yuan, sepertinya tidak ada orang yang sanggup menangkap Ruan-wei.

Lao Fu-ye tidak boleh dikejutkan, maka dia berteriak.

"Jing-yuan, cepat tangkap dia! Kakak Jing-yuan tangkap dia...."

Hanya sebentar Ruan-wei sudah berlari 30 meter lebih.

Walaupun terus dihadang oleh muridmurid kota Rui, tapi dia tetap bisa keluar dari kepungan mereka.

Long-zhang-shen-gai tidak ingin menangkap mereka berdua, maka dia berdiri dan tidak bergerak.

Hanya sebentar Ruan-wei dan Wen-yi sudah menghilang.

Setelah keluar dari kota Rui, Ruan-wei masih terus berlari karena dia takut masih ada orang yang mengejar mereka dari belakang dan ingin Wen-yi terus berada dalam pelukannya.

Tapi sebenarnya dengan ilmu langkah kakinya, tidak akan ada orang yang sanggup mengejarnya.

Dia telah meninggalkan kota Rui.

Malam jam satu lewat, malam sudah larut dan angin sangat dingin, tiba-tiba Wen-yi berkata.

"Da-ge, apakah kau tidak mau aku menikah dengan orang kota Rui?"

Mendengar Wen-yi memanggilnya Da-ge, hatinya sangat senang. Dia memeluk Wen-yi lebih erat lagi, dengan suara gemetar dia berkata.

"Kau... kau...jangan tinggalkan aku lagi...."

Wen-yi pelan-pelan berkata.

"Letakkan aku dulu!"

"Apakah kau tidak akan meninggalkan aku lagi?"

Wen-yi menarik nafas panjang.

"Kalau Da-ge tidak meninggalkan aku, aku juga tidak akan meninggalkanmu!"

Mendengar kata-kata Wen-yi, Ruan-wei sangat senang, dia menaruh Wen-yi di bawah, tapi dia lupa membuka nadi Wen-yi yang masih tertotok dan tidak bisa berdiri.

Karena itu Wen-yi terjatuh.

Wen-yi menjerit, wajah Ruan-wei menjadi pucat, dengan penuh perhatian dia berkata.

"Apakah sakit?"

Wen-yi menutup wajahnya, dia tidak menjawab pertanyaan Ruan-wei. Ruan-wei tidak tahu apakah dia marah atau tidak, maka Ruan-wei segera berkata.

"Da-ge pantas mati! Da-ge pantas mati...."

Sesudah beberapa kali berkata seperti itu, baru terdengar Wen-yi berkata.

"Da-ge benar-benar tidak mempunyai hati nurani...."

Ruan-wei termenung, berpikir, 'mengapa aku tidak memiliki hati nurani?' Terdengar suara Wen-yi pelan dan sambil tertawa.

"Da-ge bodoh! Bukalah nadiku dulu!"

Ruan-wei diam-diam berpikir, 'kenapa sejak tadi aku terus bicara dan tidak membuka nadinya, pantas Wen-yi berkata aku tidak memiliki hati nurani.' Nadi Wen-yi segera dibuka lalu dia berdiri dan berjalan.

Ruan-wei segera berteriak dengan cemas.

"Kau... kau mau ke mana?"

Melihat dia begitu terburu-buru, dia tahu Ruan-wei benar-benar mencintainya, dia tidak akan membuat Ruan-wei cemas lagi dan tertawa.

"Da-ge yang bodoh, apakah kita berdiri terus untuk tidur?"

Karena Ruan-wei terlalu tegang, maka dia mengetuk-ngetuk kepalanya dan berkata.

"Da-ge benar-benar kebingungan!"

Wen-yi memegang tangannya.

"Apakah kau benar-benar sayang kepadaku?"

Dengan bingung Ruan-wei menjawab.

"Aku tidak tahu!"

Wen-yi marah dan membanting tangannya, terdengar Ruan-wei berkata.

"Tapi jika menyuruhku meninggalkanmu, mati pun aku tidak mau!"

Mendengar kata-kata ini, Wen-yi segera masuk ke dalam pelukan Ruan-wei dan berkata.

"Aku... aku., mati., mati... pun tidak akan meninggalkanmu...."

Wen-yi sekarang sudah tahu bagaimana hati Ruan-wei kepadanya, apa yang terjadi di kota Rui tadi telah membuktikan isi hati Ruan-wei.

Hal-hal lainnya dia tidak akan ingat lagi, dia tahu sekarang Ruan-wei benar-benar mencintainya, itu sudah cukup.

Mereka berdua berjalan di pinggir kota-kota yang ada di kota Rui.

Sepanjang jalan Ruan-wei menceritakan semua hal yang dialaminya ketika mereka berpisah.

Setelah mendengar cerita Ruan-wei, dia tidak peduli lagi tentang perasaan cinta Gongsun Lan kepada Ruan-wei, dia malah menyalahkan Ruan-wei yang tidak mempunyai perasaan kepada Gongsun Lan.

"Mulutmu berkata tidak peduli, tapi apa isi hatimu, aku tidak tahu?"

Wen-yi menarik nafas.

"Aku marah kepadamu karena di kuil emas itu, kau menganggap aku adalah orang yang tidak kau kenal, ternyata ketika itu kau hilang ingatan jadi aku tidak menyalahkan mu. Kakak Lan telah berbudi terhadapmu, mana boleh aku cemburu kepadanya?"

"Apa benar kau tidak cemburu juga tidak membenci Kakak Lan?"

"Walaupun kau menikahinya, aku juga tidak akan membencimu, malah aku senang melihat kalian bahagia."

Wajah Ruan-wei sedikit merah, dia berkata dengan gagap.

"Aku... aku... mana mungkin menikah dengannya...."

"Kau tidak mau menikahinya... kau... ingin... menikah dengan... siapa...."

"Aku akan menikah denganmu,"

Ruan-wei sangat menyukai tawa Wen-yi maka dia menjawab tanpa ragu-ragu.

Mendengar kata-kata ini, Wen-yi sangat senang tapi juga merasa malu, maka dia tidak berani bercanda lagi.

Sampai di sebuah kota, hari sudah malam.

Ruan-wei mencari sebuah penginapan.

Mereka memesan 2 kamar.

Hari kedua pagi, Ruan-wei sudah mencuci wajahnya, dia kembali seperti Ruan-wei yang dulu.

Wen-yi memakai pakaian laki-laki lagi, mereka bersama-sama menunggang Bai-ti-ma dan meninggalkan Shan-xi.

Sekarang Ruan-wei ingin mencari Tuan Jian untuk memberitahu perjanian pertarungan antara Tuan Jian dan biksu Harimau di Jun-shan.

Dia ingat pernah bertemu Tuan Jian di rumah Paman Zhong, sekarang dia harus pergi ke rumah Paman Zhong-jing baru bisa mengetahui keberadaan Tuan Jian.

Semenjak bertemu Zhong-jing di kuil di Tibet dan menasehatinya agar kembali menjadi orang biasa, Ruan-wei tidak pernah mengetahui keadaan Paman Zhong.

Wen-yi juga memperhati-kan masalah ini.

Kali ini tujuan utama pergi ke Jin-ling adalah mencari Tuan Jian, kedua adalah mengunjungi Paman Zhong.

Maka dengan senang mereka terus berjalan ke arah Jin-ling.

Sesampainya di Jin-ling, pertama-tama Ruan-wei mengunjungi Gao-sheng untuk bertemu dengan Kakek Xiao San-ye.

Tapi menurut pelayan penginapan, Xiao San-ye sudah meninggalkan penginapan sejak lama.

Dia berjalan-jalan untuk menikmati sisa hidupnya.

Karena tidak bertemu dengan Xiao San-ye maka Ruan-wei menjadi sedih.

Tapi mengingat sifat Kakek Xiao yang senang bermain dan berjalan-jalan, dia telah kembali seperti semula.

Keluar dari Penginapan Gao-sheng, mereka langsung pergi ke rumah Zhong-jing.

Rumah itu sangat sepi, ring pintu sudah berkarat, kelihatannya rumah ini sudah lama kosong.

Mereka bertanya-tanya kepada tetangga sebelah, menurut mereka keluarga Zhong-jing sudah pindah satu tahun lebih, berarti mereka meninggalkan rumah ini.

Mereka mencari tahu ke mana pindahnya keluarga Paman Zhong.

Tetangga memberitahu kalau mereka pindah ke Jia-xing.

Jia-xing berada di mana mereka pun tidak tahu.

Ruan-wei merasa aneh mengapa Bibi Ling-lin harus pindah rumah, begitu Paman Zhong sudah tidak menjadi biksu di Tibet, ke mana dia akan mencari keluarganya.

Ruan-wei tidak tahu Ling-lin pindah ke Jia-xing yang letaknya di mana.

Dia kebingungan dan tidak bisa mengambil keputusan.

Wen-yi tertawa dan berkata.

Baca Juga: Amarah Pedang Bunga Iblis 4

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger