Eps 4 Tokoh Besar - Khu Lung
Baca online Tokoh Besar - Khu Lung
Cersil Tokoh Besar - Khu Lung.
"Lihay benar mulut nona cilik ini."
"Salah matamu sendiri, masakah orang baik orang jahat tidak bisa kau bedakan?"
Merah padam muka Hwesio tengah umur, bentaknya bengis.
"Mulut orang beribadah memang kurang tajam, tapi..."
"Tutup mulut!"
Mendadak Bu-sek Taysu menghardik.
"Sudah sekian tahun kau belajar mengekang diri, kenapa masih cerewet dan adu mulut segala?"
Lekas Hwesio tengah umur merangkap kedua tangan sambil membungkuk serta menyurut mundur.
"Tecu tahu bersalah."
Sampai pada babak sekarang, setiap hadirin mempunyai dua pendapat dan dua analisa.
Bahwa Siau-lim-pay memang keras berdisplin, tapi orang sembarangan tidak boleh mengganggu atau merugikan mereka.
Demikian pula Cin Ko ternyata memang seorang laki-laki keras, laki-laki jantan.
Tapi bagaimana akhir dari persoalan ini nanti?
Tiada orang yang bisa meramalkan.
"Justru karena Loceng pantang membunuh, maka kali ini aku hanya membawa Cin sicu pulang saja."
"Untuk apa kau bawa dia pulang?"
Tanya Dian Susi.
"Diselesaikan atau bila perlu dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku."
"Dia kan bukan murid Siau-lim kalian, dengan hak apa kau akan menghukumnya dengan undang-undang perguruanmu?"
"Yang dia bunuh adalah murid perguruan kita, maka perguruan kita punya hak untuk menghukumnya."
"Siapa lihat bahwa dia yang membunuh Hwesio Siau-lim-si kalian?"
"Kenyataan sudah membuktikan, kenapa harus pakai saksi segala?"
"Apa arti bukti kenyataan? Siapa yang pernah lihat dia membunuh Hwesio Banyak Urusan ini, siapa pula yang bisa membuktikan bahwa benar dia yang turun tangan?"
"Waktu itu hanya kalian berdua saja yang punya kesempatan turun tangan."
"Kenapa kau berpendapat demikian?"
"Hanya kalian saja yang berada bersama dia."
"Waktu itu kau berada di mana?"
"Masih di tengah jalan."
"Kalau kau masih di perjalanan, darimana kau tahu siapa yang pernah masuk ke dalam rumah?"
Timbul amarah di muka Bu-sek Taysu, katanya.
"Nona cilik kenapa main debat dan mencari alasan belaka?"
"Kaukah yang menuduh semena-mena atau aku yang banyak alasan?"
Gusar Bu-sek Taysu dibuatnya, dampratnya.
"Nona cilik yang bermulut tajam, loceng memang tidak pandai bicara, namun tindakan menundukkan iblis masih mampu kulakukan."
Agaknya dia lupa pernah melarang para muridnya bicara kasar. Dian Susi menyeringai dingin, jengeknya.
"O, jadi hanya Hwesio tua saja yang boleh main tuduh dan fitnah, Hwesio cilik tidak boleh."
"Tutup mulutmu!"
Bentak Bu-sek Taysu.
"Siapa berani kurang ajar lagi, jangan salahkan bila loceng turun tangan tak kenal kasihan.
"Kau ingin berkelahi? Bagus!"
Seru Dian Susi, lalu berpaling kepada Cin Ko, katanya menepuk pundak Cin Ko.
"Dia ingin berkelahi, kau sudah dengar tidak?"
"Sudan dengar,"
Sahut Cin Ko.
"Kau takut tidak menghadapinya?"
"Memangnya aku hanya pandai main jotos, tak bisa perang mulut."
Dian Susi tepuk tangan kegirangan, serunya tertawa.
"Nah begitu. Laki-laki jantan lebih rela dihajar pecah kepalanya daripada difitnah semena-mena. Hayolah siap tempur layani apa keinginannya."
"Aku menurut kemauanmu saja,"
Ujar Cin Ko, belum habis perkataannya, tahu-tahu Cin Ko sudah menubruk maju, kepalannya menggenjot muka Hwesio pertengahan umur yang berdiri paling dekat.
Serangannya sungguh cepat sekali, namun Hwesio tengah umur ini pun bukan lawan lemah, segera dia menekuk dengkul merendahkan badan dengan gaya orang duduk di punggung kuda, berbareng tangan kiri terangkat naik menangkis, sementara kepalan kanan balas menghantam dari bawah ke atas.
Siau-lim-si kenamaan karena dari ilmu pukulannya yang menggetarkan dunia, cara menangkis balas menyerang sekaligus ini, adalah jurus-jurus yang paling lihay dari Hu-hou-lo-han-kun dari Siau lim-pay.
Tak nyana Cin Ko ternyata tidak berkelit dan tidak berusaha menangkis, dengan kekerasan dia mandah digenjot sekerasnya.
"Blang"
Kepalan sebesar mangkok Hwesio tengah umur itu dengan telak mampir ke perutnya.
Semua hadirin menjerit kaget, siapapun takkan menyangka Cin Ko yang sudah terkenal dan dikagumi semua lapisan persilatan ternyata begini gampang dipukul orang.
Lebih tak tersangka lagi, meski seluruh hadirin yang menyaksikan berteriak kaget, orang yang kena pukul sedikit pun tiada bersuara, seperti tidak terkena pukulan.
Begitu kepalannya mengenai perut Cin Ko, Hwesio tengah umur merasa tangannya seperti memukul sebuah batu besar, tangan sendiri yang sakit.
Baru saja dia melengak keheranan.
Dari samping belakang Bu-sek Taysu sudah menghardik.
"Awas!"
Belum hilang suara peringatannya, kepalan Hwesio pertengahan sudah dipegang oleh Cin Ko.
Disusul kepalan Cin Ko balas menghajar perutnya.
Ternyata Hwesio tengah umur tidak sekebal dirinya yang kuat dipukul perutnya, kontan dua tangannya memeluk perut dengan tersurut mundur sempoyongan, keringat dingin sebesar kacang berketes-ketes di atas kepalanya, berdiri tegak pun tak kuasa lagi.
Dian Susi menghela nafas lega, katanya tertawa.
"Ilmu kepandaian apakah yang kau gunakan?"
"Inilah yang dinamakan ilmu terima digebuk,"
Sahut Cin Ko.
"Mandah digebuk juga termasuk ilmu kepandaian?"
"Nah kau memang belum mengerti, sebelum belajar memukul orang, belajarlah dulu mandah dihajar orang, bukan saja harus kuat dihajar kepalan, kau pun harus kuat dihajar senjata tajam."
Memangnya Cin Ko kuat dibacok dan dilukai oleh golok, di badannya ada bekas luka bacokan sebanyak empat ratus tujuh puluh dua. Dian Susi tertawa.
"Benar, dia memukulmu sekali, kau pun balas menggenjotnya sekali, sayang dia tak sekuat kau yang kuat dihajar."
Cin Ko tertawa, ujarnya.
"Akhirnya kau mengerti juga akan teori ini."
Membesi hijau muka Bu-sek Taysu, pelan-pelan ia tampil ke muka, katanya tertawa dingin.
"Bagus. Ingin Loceng menyaksikan, berapa banyak kau mampu terima hajaranku?"
"Kau pun ingin mencobanya?"
Tantang Cin Ko.
"Silahkan."
"Baik,"
Berbareng kepalannya segera melesat, gaya dan tipu serangan yang dipakai tetap seperti tadi.
Bu-sek Taysu juga merendahkan badan seperti orang duduk di punggung kuda, tangan kiri terangkat menyampok miring, sementara kepalan kanan serentak balas memukul.
Gaya dan serangannya mirip dengan apa yang dilakukan oleh Hwesio tengah umur tadi.
Tapi bagi seorang ahli, cukup hanya mengulur tangan menggerakkan kaki, sudah dapat diketahui isi dan kehebatan serangannya, kalau tidak takut yang tidak mengenai kualitas barang, justru harus gentar menghadapi barang yang benar benar-benar tulen.
Perawakan dan kepalan tangan Bu-sek Taysu memang jauh lebih kecil dibanding Hwesio tengah umur tadi, namun jurus pukulan ini penuh dilandasi kekuatan dalam yang hebat dengan seluruh himpunan semangatnya lagi, umpama balok besar pun bisa dipukulnya hancur berkeping-keping.
Tak nyana untuk kali ini Cin Ko tidak mandah dipukul lagi.
Tiba-tiba badannya melejit naik ke atas, di tengah udara jumpalitan melejit lewat dari atas kepala Bu-sek Taysu, dua jari dirangkap menutuk Giok-sim-hiat di belakang batok kepala Bu-sek Taysu.
Jurus ini bukan saja amat berbahaya, lihay, gesit dan tangkas, juga teramat cepat dan tepat, jauh berlainan dengan kepandaian mandah digebuk seperti tadi.
"Bagus!"
Bu-sek Taysu menghardik.
Mendadak dia mendongak mundur dengan gaya jembatan besi, seketika terdengar suara gemerincing riuh, ternyata biji-biji tasbihnya yang terbuat dari besi sudah terayun ke belakang menggulung pergelangan tangan Cin Ko.
Kedua kaki Cin Ko menendang ke belakang, badannya dengan enteng dan lincah tiba-tiba menggeser tiga kaki, begitu ujung kakinya menutul di pundak seseorang yang berdiri tak jauh di belakangnya, badannya lantas mumbul ke tengah udara.
Tak nyana biji-biji tasbih Bu-sek Tasyu ikut melesat terbang dengan menderu keras bagai golok emas membelah udara.
Betapapun cepat luncuran badan Cin Ko, takkan mampu secepat biji-biji tasbih yang mengejamya.
Umpama benar dia betul-betul kuat dihajar, tapi bila biji-biji tasbih ini mengenai badannya perduli mengenai di mana saja asal di badannya, rasa sakitnya tentu bukan kepalang.
Dian Susi sudah tak tertahan menjerit kaget, tak nyana tepat pada saat itu terdengar "Brak", atap rumah tiba-tiba ambrol dan bolong besar.
Sebuah tangan terulur masuk dari luar lubang, sekali raih dengan tepat dia tangkap rentengan biji tasbih itu.
"Siapa?"
Bu-sek Taysu membentak gusar. Di atas rumah seseorang berkakakan panjang, sahutnya.
"Seorang yang mau mengetuk bolong batok kepalamu, terutama Hwesio-hwesio yang banyak urusan."
Dian Susi seketika berteriak.
"Jangan lepaskan dia pergi, mungkin dialah orang yang membunuh Bu-bing Taysu."
Tak usah dia berkaok-kaok, Bu-sek Taysu tanggalkan jubahnya, dengan gerakan Burung Bangau Menjulang ke Langit, kakinya menjejak, badannya melesat naik bagai seekor bangau menerobos lubang besar itu.
Tepat pada saat itu dari atas rumah beruntun melesat turun puluhan sinar bintik-bintik dingin yang berbunyi tang-ting riuh, seluruh lampu yang ada di dalam rumah seketika padam.
Dalam kegelapan hadirin menjadi panik dan gaduh.
Untung Dian Susi melihat jelas arah Cin Ko melompat turun, lekas dia memburu ke sana serta bersuara lirih.
"Di mana kau?"
Sebuah tangan terulur menggenggam tangannya. Kata Dian Susi.
"Tak perlu kita terlibat perkara yang tak keruan juntrungannya, hayolah pergi."
"Sekarang juga pergi, bukankah mereka semakin yakin akan tuduhannya bahwa aku pembunuhnya?"
"Kau tidak pergi mereka pun tetap menuduhmu sebagai pembunuh."
"Baik, hayolah pergi saja."
Pintu tetap terbuka, di luar sinar bintang masih kelihatan kelap-kelip, dengan menarik tangan Cin Ko, Dian Susi menerjang keluar.
Tahu-tahu dilihatnya seorang berdiri menghadang di tengah pintu, tangannya menenteng golok, selebar mukanya ditumbuhi cambang bauk lebat, bentaknya bengis.
"Kalian ingin melarikan diri, hai kawan-kawan lekas tahan dia,"
Sembari berteriak, goloknya terayun membacok Cin Ko.
Cin Ko tertawa dingin, mendadak dia malah menerjang maju memapak sambaran golok lawan yang berkilau tajam.
Agaknya apapun ditakuti, cuma tidak takut golok.
Betapapun cepatnya serangan golok tak pernah dia gentar menghadapinya.
Keruan si Brewok sendiri yang keripuhan gugup, belum lagi goloknya sempat membacok, golok di tangannya tahu-tahu sudah dirampas Cin Ko.
Cepat sekali tahu-tahu sinar golok berkelebat, sinar golok menyambar lewat menyisir muka si Brewok.
Tahu-tahu terasa oleh si Brewok mukanya menjadi silir dingin, saking kaget dan ketakutan serasa copot nyalinya, tanpa terasa tangan dia ulur meraba mukanya, ternyata bagian bawah dagunya licin halus.
Serta dilihatnya benang hitam beterbangan di depan mukanya, baru dia sadar bahwa jenggotnya sudah tercukur kelimis.
Cepat sekali gerakan golok, ilmu golok yang lihay dan hebat.
Saking ketakutan mata terbelalak, kaki pun lemas, kontan dia meloso jatuh terduduk.
Terdengar suara cekikikan tawa Dian Susi dari luar pintu, katanya.
"Tadi kan sudah kukatakan Kim-toa-hu-cu sudah tidak punya brewok lagi."
Cin Ko berkakakan, serunya.
"Selembar jenggot pun tiada lagi." * * * * * Sekarang soal Jenggot atau Brewok sudah tiada persoalan. Namun bagaimana dengan Hwesio? Siapakah sebenarnya pembunuh Hwesio Banyak Urusan ini? Apakah orang yang mengulurkan tangan dari atap rumah tadi? Kenapa dia bunuh Hwesio yang satu ini? Kenapa pula dia menolong Cin Ko? Siapa pula dia sebenarnya? * * * * * Semua persoalan di atas tak gampang diselesaikan dalam waktu dekat. Bintang kelap-kelip di cakrawala nan membiru gelap. Akhirnya Dian Susi berhenti berlari, nafasnya tersengal-sengal. Di tempat itu dia takkan melihat Hwesio lagi, takkan melihat Brewok pula. Mengawasi muka Cin Ko tiba-tiba Dian Susi tertawa, katanya.
"Untung kau tidak memelihara jenggot, nasibmu memang beruntung."
"Nasibku beruntung?"
Tanya Cin Ko tertawa kecut.
"Jikalau kau memelihara jenggot, aku pasti mencabutnya satu demi satu,"
Dengan mengerut kening dia menambahkan.
"Kau kenal tidak si Brewok gede itu?"
"Bukan saja tidak kenal, melihatnya pun belum pernah,"
Sahut Cin Ko.
"Aku pun belum pernah melihatnya, diantara sekian banyak orang-orang yang pernah kulihat, paling punya jenggot setengah dari apa yang dimiliki oleh si Brewok itu."
Mengawasi golok di tangannya, Cin Ko tertawa, katanya.
"Untung golok ini amat cepat bekerja, kalau tidak bukan soal gampang untuk mencukur kelimis seluruh brewoknya itu."
Dian Susi tertawa, umpaknya.
"Tak nyana kecuali mandah dihajar, ilmu golokmu ternyata lihay juga."
"Seseorang bila pernah merasakan empat ratus tujuh puluh dua bacokan golok, bagaimanapun ilmu goloknya takkan rendah."
"Tapi Hwesio tua itu memang teramat lihay,"
Ujar Dian Susi.
"manusia kerdil yang tampangnya seperti kera itu, ternyata begitu hebat dan sukar dilayani."
"Ribuan Hwesio Siau-lim-si dari yang muda sampai yang lanjut usia, tiada satu pun yang enak dilayani, apalagi Hwesio yang ini adalah Hwesio pilihan yang paling sukar dilayani di antara sekian ribu Hwesio itu."
"Apakah benar dia tokoh nomor satu dari Siau-lim-pay?"
"Umpama bukan yang nomor satu, tingkatannya tentu bukan sembarangan."
"Tak heran kau bukan tandingannya."
"Siapa bilang aku bukan tandingannya?"
Mata Cin Ko mendelik.
"Yang nyata bila tadi tiada orang menolong, mungkin kau sudah..."
"Itu tak masuk hitungan."
"Kenapa?"
"Karena dia menggunakan senjata, sedang aku bertangan kosong, dalam permainan senjata aku sudah dirugikan lebih dulu."
"Yang dipakai kan hanya serenteng biji tasbih saja."
"Biji tasbih itu adalah senjatanya, orang beribadah yang keluyuran di luar, tentu tak sedap dipandang mata bila membekal senjata, umpama golok atau pedang, terutama Hwesio bangkotan yang punya gengsi dan kedudukan tinggi, maka dia menggunakan senjata yang tak menyerupai senjata."
"Bagaimana bila dia pun bertangan kosong? Kau mampu mengalahkan dia?"
"Paling tidak aku takkan dikalahkan."
"Siau-lim-pay adalah aliran silat lurus yang paling murni, selama ratusan tahun tiada perguruan silat manapun yang pernah mengunggulinya, bahwa ilmu silatmu setanding dengan tokoh nomor satu Siau-lim-pay, bukankah kau sudah tiada tandingan di seluruh jagat?"
"Hehe, haha."
"Apa maksudnya hehe dan haha?"
"Maksudnya aku bukan tokoh yang nomor satu tiada tandingan di jagat ini."
"Lalu menurut pendapatmu, berapa jago silat dalam dunia ini yang berkepandaian lebih tinggi darimu?"
"Kabarnya Bik-lwe-to di laut timur, walikota dari Pui-cui-seng, betapa cepat dan tinggi permainan ilmu pedang mereka, tiada bandingannya di dunia ini."
"Apakah mereka boleh dipandang nomor satu?"
"Tidak mungkin."
"Lalu siapa yang boleh dianggap nomor satu di seluruh jagat ini?"
"Siau-li si Pisau Terbang,"
Di saat menyebut nama orang, rona mukanya menampilkan rasa hormat dan segan.
Memangnya jago silat siapa yang tak merasa kagum bila menyebut atau mendengar nama si Pisau Terbang, mereka yang tidak mengaguminya sudah selamat tinggal seluruhnya.
Dian Susi sendiri pun tersirap kagum, katanya.
"Apa yang kau maksud adalah Li Sin-hoan Li Tam-hoa?"
"Kecuali dia siapa lagi yang setimpal?"
"Kabarnya sudah lama dia mengasingkan diri, apakah sekarang masih hidup?"
"Sudah tentu masih hidup, orang seperti dia sepanjang masa akan hidup abadi."
Apa yang dikatakan Cin Ko memang tidak salah, ada sementara orang seolah-olah memang tidak pernah mati, karena sepanjang masa namanya terukir di sanubari orang lain.
"Kita tak usah menghitung orang-orang yang sudah mengasingkan diri, hitung saja yang sekarang masih bergerak di kalangan Kangouw."
"Kalau begitu tidak banyak jumlahnya,"
Berpikir sebentar Cin Ko lantas melanjutkan.
"Siau-lim Ciang-bun Bu-kin Taysu, lwekangnya yang tinggi, katanya tak bisa diukur."
"Kau pernah bergebrak melawan dia?"
"Belum, aku tidak berani."
"Bagus, boleh hitung dia satu di antaranya."
"Masih ada Hwi-to-jin dari Bu-tong, Kok-to-jin ahli pedang dari Pek-san, Tay-bok-sin-liong... orang-orang itu lebih baik kalau aku tidak kesamplok dengan mereka."
"Hanya beberapa orang ini?"
"Kecuali itu, sedikitnya masih ada satu."
"Siapa?"
"Orang yang menolongku tadi."
"Jangan kata tampangnya, bayangannya pun kau tidak melihatnya, darimana kau berani bilang tinggi rendah kepandaiannya?"
"Dia di atap rumah, sekali ulur tangan menembusi genteng, dan tepat menangkap tasbih Bu-sek, dengan pertunjukan ini, terang aku tak mampu melakukannya."
"Memang kepandaiannya itu teramat hebat."
"Masih ada yang lebih hebat."
"Timpukannya yang memadamkan lampu itu?"
"Benar, kepandaian menimpuk senjata rahasia setinggi itu, boleh dikata jarang ada orang yang mampu melakukannya."
"Menurut pendapatmu, apakah pembunuh Bu-bing dia adanya?"
"Aku hanya tahu Hwesio itu bukan aku yang membunuhnya."
"Orang-orang itu tak bermusuhan dengan kita, bertemu muka pun belum pernah, kenapa memfitnah kita?"
"Mungkin mereka hanya menggunakan akal menjatuhkan bencana kepada orang lain."
"Maksudmu mereka takut membunuh Bu-bing Hwesio, lalu menggunakan cara keji ini untuk mengalihkan perhatian pihak Siau-si kepada kita?"
"Kira-kira begitu maksudnya."
"Tapi siapa mereka itu, kenapa menginginkan kematian Bu-bing Hwesio?"
"Tahukah kau apa arti Siau-lim-pay tiga huruf?"
"Aku tahu,"
Sahut Dian Susi tegas.
Memang dia harus tahu, selama ratusan tahun, di dalam pandangan dan pendengaran orang-orang Kangouw umumnya, nama Siau-lim-pay berarti aliran silat murni yang lurus.
Maka bila kau seorang normal, siapapun takkan suka mempersulit diri untuk mengusik mereka.
"Kau tahu tingkat kedudukan Bu-bing Hwesio dalam Siau-lim-pay?"
"Yang terang kedudukannya tidak rendah."
"Kenapa agaknya tidak rendah?"
"Kabarnya, kecuali Ciangbun Hong-tiang yang paling tinggi, di bawahnya adalah dua pelindung besar."
Cin Ko geleng-geleng, katanya.
"Kalau dinilai serius, bukan lagi dua tapi ada empat pelindung besar."
"Sebenarnya dua besar atau empat besar?"
Tanya Dian Susi.
"Kenyataannya ada dua besar dua kecil."
Dian Susi tertawa, ujarnya.
"Tak kira jadi Hwesio juga punya pangkat segala, harus dibagi tingkat dan kelas segala."
"Maksud dari dua besar adalah usia kedua orang ini sudah cukup lanjut, latihan ilmu silat dan ajaran agamanya sudah mencapai tinggkat tertinggi, maka bila tidak terlalu terpaksa mereka tak mau mencampuri urusan duniawi."
"Lalu bagaimana dengan dua pelindung kecil?"
"Usia kedua pelindung yang ini biasanya masih gagah dan baru menanjak pertengahan, mereka berdualah yang benar-benar diserahi tugas untuk mengurus segala persoalan dalam Siau-lim-pay, oleh karena itu bukan saja dua orang ini harus cerdik dan adil, ilmu silatnya pun harus tinggi."
"O, jadi dua pelindung kecil bukan berarti orangnya kecil."
"Bu-bing Hwesio semula memang salah satu pelindung Siau-lim-pay, yaitu Sute terkecil dari Bu-kin Taysu, Ciangbun Hong-tiang yang berkuasa sekarang."
"Sepintas lalu kelihatannya dia tidak punya wibawa sebesar itu."
"Selama ratusan tahun, hanya semacam orang saja yang berani membunuh pelindung Siau-lim."
"Orang macam apa?"
"Orang gila."
"Jadi kau kira orang-orang itu semua gila?"
"Orang gila harus dibagi dua macam pula."
"Dua macam bagaimana?"
"Yaitu orang gila sendiri dan gila karena dipaksa dan tertekan oleh keadaan."
Berputar biji mata Dian Susi, katanya.
"Kau kira mereka gila lantaran dipaksa oleh Bu-bing Hwesio?"
"Pasti tak salah."
"Kenapa Bu-bing Hwesio memaksa mereka?"
"Karena Hwesio yang satu ini suka mencampuri urusan orang."
"Bahwa dia salah satu pelindung Siau-lim-si, kenapa masih suka urusan?"
"Tadi kukatakan semula dia adalah pelindung Siau-lim-si."
"Semula, jadi sekarang bukan lagi?"
"Enam tujuh tahun yang lalu dia sudah bukan pelindung lagi."
"Apa dia diusir dari perguruan?"
"Bukan, dia sendiri yang ingin pergi."
"Betapa susahnya untuk merambat ke tingkat kedudukannya yang tinggi itu, kenapa ditinggal pergi begitu saja?"
"Soalnya Siau-lim-si terlalu dingin, sebaliknya hatinya bergelora dan mendidih panas."
"Oleh karena itu dia lebih rela masuk ke neraka."
"Baru sekarang aku dapat menyelami arti dari perkataan ini,"
Ujar Dian Susi.
"Ada kalanya orang terjeblos ke neraka bukan lantaran dipaksa orang, tapi dia sendiri yang ingin turun ke bawah untuk menolong orang lain."
Cin Ko tersenyum lebar, ujarnya.
"Kau bisa menyelami arti kata yang mendalam ini, itu berarti kau sudah menanjak dewasa."
Cemberut mulut Dian Susi, omelnya.
"Memangnya aku kan sudah besar."
"Semula kau hanya gadis pingitan anak seorang hartawan besar, sekarang baru boleh dianggap orang dewasa."
Dian Susi tertunduk diam, memang pelan-pelan dia sudah mulai menyadari, pengalaman selama beberapa hari terakhir ini, betul-betul sudah menambah kedewasaan dirinya.
Lama sekali dia terpekur, tiba-tiba dia bertanya.
"Tadi Hwesio tua cilik itu mengatakan sepatah kata yang aneh, entah kau tahu tidak maksudnya?"
"Memangnya Hwseio sering bicara serba aneh."
"Tapi kata-katanya itu istimewa."
"Kata apa yang dia ucapkan?"
"Dia mengatakan San Liu, apakah maksudnya?"
Setelah mendengar kedua huruf ini memang sikap dan mimik muka Cin Ko rada berubah.
"Hwesio tua cilik itu bilang Bu-bing harus masuk neraka karena sudah bergabung dalam San Liu, kau dengar tidak? Lalu apa yang dimaksud dengan San Liu?"
Cin Ko manggut-manggut, lama dia terpekur akhirnya bersuara pelan-pelan.
"San Liu adalah serombongan orang."
"Serombongan orang apa?"
"Serombongan kawan-kawan, mereka mempunyai hobby yang sama, maka bergabung menjadi satu, San Liu adalah simbol dari gabungan mereka."
"Apa saja hobby mereka?"
"Masuk ke neraka."
"Masuk neraka menolong orang?"
"Benar."
"Dalam pandangan mereka, sarang judi adalah neraka, mereka hendak menolong orang-orang yang sudah kejeblos ke neraka, maka sarang judi mereka robah menjadi biara."
"Yang terang biara bukan neraka, di sana takkan ada bara beracun yang dapat membakar hati orang sampai mati."
"Tapi perbuatannya itu pasti akan menimbultan kebencian cukong-cukong judi itu, maka mereka menginginkan jiwanya."
"Ya, kemungkinan begitu,"
Ujar Cin Ko.
"Banyak urusan di Kangouw yang sering dan banyak kudengar, namun belum pernah aku mendengar adanya gabungan San Liu."
"Karena San Liu merupakan sindikat gelap yang rahasia."
"Sepak terjang mereka kan bukan melakukan perbuatan yang memalukan, kenapa harus bekerja sedemikian rahasia?"
"Setelah melaksanakan kerja baik, tetap tidak mau diketahui orang, nah itulah kerja yang benar-benar boleh dianggap baik."
"Tapi untuk melaksanakan kerja baik itu, tentunya tidak gampang."
"Memangnya tidak gampang."
"Untuk berbuat baik, tentu harus berbuat salah terhadap banyak orang-orang jahat. Dan orang-orang jahat itu tentunya tidak gampang dihadapi."
Bagian 10
"Oleh karena itu perduli kerja apa saja yang mereka lakukan, selalu harus menyerempet bahaya, sekali terlena dan kurang hati-hati akibatnya akan seperti Bu-bing Hwesio, mati secara konyol."
"Tapi mereka tetap melaksanakan tugas, meski tahu bahayanya teramat besar mereka tidak perduli."
"Betapapun sukar dan berbahayanya, mereka tidak perduli, mati pun tak perduli."
Dian Susi menghela nafas, namun biji matanya malah bersinar, ujarnya.
"Entah kelak apa aku bisa berkenalan dengan mereka?"
"Kemungkinannya amat kecil."
"Kenapa?"
"Karena mereka tidak mengejar nama, juga tidak mencari keuntungan, orang luar tiada yang tahu siapakah mereka. Cara bagaimana kau bisa kenal mereka?"
"Kau pun tidak tahu siapa saja mereka itu?"
"Sampai detik ini, aku hanya tahu Bu-bing seorang, jikalau dia belum mati, Bu-sek pasti takkan membocorkan rahasianya."
"Kecuali dia, kan masih ada Siucay dan Tosu."
Cin Ko manggut-manggut, ujarnya.
"Mungkin mereka adalah orang-orang San Liu, tapi kemungkinan pula bukan, kecuali mereka mau mengakui, siapapun takkan ada yang berani memastikan."
Dian Susi terpekur sebentar, katanya kemudian.
"Di antara rombongan orang itu terdiri dari berbagai macam lapisan orang, ada Tosu, ada Siucay, tentunya ada juga orang-orang lain yang serba aneh."
"Tak salah, kabarnya dalam San Liu, warganya teramat rumit dan tercampur baur, tiada sebuah sindikat atau perguruan silat di kolong langit ini yang bisa menandinginya."
"Cara bagaimana orang-orang itu diorganisir?"
"Karena hobby dan memeluk suatu kepercayaan yang sama pula."
"Kecuali itu, tiada alasan lain?"
"Kecuali itu, tentu masih ada seorang tokoh yang mampu mengendalikan dan memimpin mereka."
"Tentu orang ini luar biasa sekali."
"Masa harus diragukan."
Bersinar biji mata Dian Susi, katanya.
"Kelak aku harus berusaha untuk kenal padanya."
"Kau takkan berhasil."
"Kenapa?"
"Hakikatnya tiada seorang pun yang tahu siapa dia sebenarnya."
"Mungkin pula banyak orang yang mengenal dia."
"Ya, mungkin pula demikian."
"Dan kau mungkin adalah orang itu."
Cin Ko tertawa, ujarnya.
"Jikalau aku orang yang kau maksud, pasti kuberitahu kepadamu."
"Apa benar?"
"Jangan lupa, kita kan sudah menjadi teman baik."
"Sayangnya kau bukan tokoh yang satu itu."
"Memang aku pun bukan warga San Liu, karena aku tidak setimpal."
"Kenapa tidak setimpal?"
"Untuk menjadi warga San Liu harus mengorbankan diri sendiri, harus punya semangat dan gairah untuk masuk ke neraka, umpama harus menempuh gunung golok dan lautan api pun takkan menolak."
"Dan kau?"
"Aku tidak mungkin, aku suka foya-foya."
"Dan lagi karena kau terlalu terkenal, ke manapun kau berada, selalu menjadi perhatian orang banyak."
"Ya, itulah ciriku yang terbesar."
"Mereka memilih kau sebagai sasaran fitnah ini, tentu lantaran kau terlalu tenar, bahwa di manapun orang akan selalu mengenalmu, umpama kau ingin lari, jelas takkan lolos."
"Memangnya manusia takut tenar babi takut gemuk, pameo ini memang tepat."
"Sekarang bukan saja pihak Siau-lim-pay hendak mencari jejakmu, pihak San Liu pun pasti sedang mencarimu."
"Orang-orang San Liu jauh lebih menakutkan dari pihak Siau-lim-pay."
"Dan karena kau lari, mereka lebih yakin bahwa kaulah pembunuhnya."
Cin Ko hanya bisa tertawa kecut. Mengawasi mimik orang yang rawan, Dian Susi menghela nafas, katanya dengan menunduk.
"Baru sekarang kusadari aku melakukan tindakan yang salah."
"Tindakan salah apa yang kau lakukan?"
Tanya Cin Ko tak mengerti.
"Tidak seharusnya kuajak kau lari."
"Memang sebetulnya tidak perlu."
Dian Susi menggigit bibir, katanya.
"Tapi kenapa kau menurut saja?"
Cin Ko tertawa, katanya.
"Mungkin aku pergi bukan lantaran kau."
"Bukan lantaran aku, memangnya lantaran siapa?"
"Orang yang menolongku tadi."
"Kau tahu siapa dia?"
"Kecuali dia, seluruh manusia di kolong langit ini jangan harap bisa menarikku pergi."
"Kenapa?"
"Karena hatiku benar-benar kagum kepadanya, hanya dia seorang saja."
Dian Susi membelalakkan mata, katanya.
"Tak nyana kau pun mengagumi seseorang."
"Orang seperti dia, tidak bisa tidak kau harus mengaguminya."
"Orang macam apakah dia?"
"Seorang yang tidak bisa tidak harus kau kagumi."
"Siapakah dia sebenarnya?"
Cin Ko tertawa, tawa yang mengandung arti, tawa misterius.
"Apakah Liu Hong-kut?"
Tanya Dian Susi dengan mata bersinar. Cin Ko tidak bersuara.
"Apakah Gak Hoan-san?"
Cin Ko tetap diam saja.
"Kenapa kau tidak bicara?"
"Apa kau kenal kedua orang yang kau sebut tadi?"
"Sekarang belum kenal."
"Aku pun tidak kenal."
"Masa mereka pun tidak kau kenal?"
Tanya Dian Susi keheranan.
"Karena nasibku terlalu baik,"
Sahut Cin Ko tersenyum. Setelah melototi orang sekian lama, mendadak Dian Susi monyongkan mulut, katanya tertawa dingin.
"Akhirnya aku tahu orang macam apa sebenarnya tokoh yang kau kagumi."
"O, orang macam apa?"
"Dia pasti seorang yang tidak mengungkuli dirimu, maka kau mengaguminya,"
Tak memberi Cin Ko kesempatan bicara, segera dia menambahkan.
"Bila laki-laki memuji laki-laki lain di hadapan seorang perempuan, orang itu pasti laki-laki yang serba kurang dan seperti..."
Cin Ko segera menukas.
"Seperti perempuan memuji perempuan lain di hadapan laki-laki, perempuan itu pasti jauh lebih jelek dari dirinya, benar tidak?"
Tak tahan Dian Susi cekikikan tawa, katanya.
"Ya, sedikit pun tidak salah."
"Nah itulah yang dinamakan dengan hati perempuan kau menilai jiwa seorang laki-laki."
Sudah tentu Dian Susi berjingkrak tidak terima.
"Cis, memangnya laki-laki harus diagulkan?"
"Tiada sesuatu apa yang harus diagulkan pada diri laki-laki, hanya bila dia mau memuji seorang laki-laki lain di hadapan seorang perempuan, orang itu pasti luar biasa dan patut diagulkan." * * * * * Di tengah jalan Dian Susi bertanya.
"Ke mana kau hendak ajak aku mencari makan?"
"Pergi ke Tujuh Setengah saja,"
Sahut Cin Ko.
"Apa maksudnya tujuh setengah?"
"Tujuh Setengah maksudnya adalah tujuh setengah sen."
"Jadi tempat itu dinamakan Tujuh Setengah?"
Cin Ko manggut-manggut, katanya;
"Pemilik tempat atau warung makan itu juga dinamakan Tujuh Setengah."
"Kenapa orang ini menggunakan nama seaneh itu?"
"Karena kalau orang lain cukur rambut harus bayar lima belas sen, tapi dia cukup membayar tujuh setengah sen saja."
"Lho, kenapa begitu?"
"Karena dia seorang gundul."
Dian Susi cekikikan geli.
"Sebetulnya si gundul ini cukup ternama dalam kota, belakangan dia membuka warung bakmi, makanan apapun yang kau makan di sana tarifnya sama rata adalah tujuh setengah sen. Belakangan setelah namanya semakin tenar karena jual mie, maka orang-orang yang suka keluyuran di sini tiada orang yang tidak kenal siapa sebenarnya si gundul Tujuh Setengah."
"Apa warung mie-nya amat laris?"
"Laris sekali." * * * * * Malam sudah selarut ini, namun orang yang cari makan di warung mie yang serba murah ini justru berjubel-jubel. Sudah tentu orang-orang yang tangsel perut di sini bukan lantaran iseng dan kesepian. Maka Cin Ko lantas memberi sekedar penjelasan.
"Di antara mereka ada orang-orang yang malu dilihat orang di siang hari, maka setiap malam baru keluar beroperasi, tentunya ada pula orang yang memang merasa makanan dan suasana di sini selalu ramai, maka sengaja dia cari makan di sini."
"Apa benar ada orang yang menyenangi tempat ini?"
"Sudah tentu ada, aku justru senang suasana di sini."
"Dalam hal apa kau kira tempat ini menyenangkan?"
"Tempatnya sih tidak baik, daging sapi atau paha babi yang dijualnya pun tidak enak, namun suasana di sini mempunyai seleranya sendiri."
"Selera apa? Selera bau busuk?"
"Kalau kau sering singgah di restoran besar atau warung arak, lama kelamaan kau akan merasa basi, adakalanya kau datang ke tempat ini, maka kau akan merasa sedikit segar dan serba baru, amat menyenangkan."
"Apa tempat ini mencocoki selera orang-orang yang sedang kalut pikiran?"
"Kukira bukan, namun seperti..."
Cin Ko tertawa-tawa, lalu menyambung.
"Umpama kau, bila tiap hari menjaga bini, kalau kau pergi cari cewek lain, umpama perempuan itu lebih jelek dari binimu, kau pun akan merasa segar dan menusuk perasaan."
Sengaja Dian Susi menarik muka, katanya.
"Enak benar kau buka mulut di hadapan seorang gadis seperti aku ini?"
"Soalnya aku tahu kau tidak akan menikah dengan aku, seorang laki-laki bila pandang seorang gadis sebagai kawan, seringkali bisa terlupakan bahwa dia itu seorang perempuan."
Dian Susi tertawa pula.
Tertawa manis, tertawa riang.
Tapi entah karena apa, tiba-tiba terasa hatinya amat hambar dan kosong, seolah-olah kehilangan apa dan tak memperoleh apa yang diinginkan.
Semula Cin Ko adalah laki-laki yang amat dipuja, laki-laki yang mengisi lubuk hatinya, tapi sekarang mereka tidak lebih hanya teman karib biasa.
Namun yang dia perlukan bukan teman, tapi laki-laki yang akan menemani hidupnya sepanjang masa, laki-laki yang cocok di mana dia bisa merebahkan diri dalam pelukannya.
Selanjutnya dapatkah dia menemukan laki-laki yang diidamkan?
Laki-laki macam apa pula yang harus dia temukan?
Dia tidak tahu.
Namun dalam hati dia bertekad.
"Bagaimana juga, setan kepala besar itu bukan laki-laki yang ingin kucari. Umpama dia tak menjengukku lagi atau sudah mati umpamanya aku pun tak perlu ambil hati,"
Begttulah pikirannya melayang tidak menentu. Cin Ko sedang mengawasinya dengan tersenyum, tanyanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Tiba-tiba Dian Susi angkat cangkir araknya lalu ditenggak habis, tawanya dipaksakan, sahutnya.
"Aku sedang berpikir, entah orang itu datang atau tidak."
"Siapa?"
"Orang yang paling kau kagumi itu."
Cin ko tersenyum, tertawa misterius, sahutnya.
"Orang itu sekarang sudah datang."
"Dimana?"
"Coba kau toleh ke belakang."
Begitu Dian Susi menoleh ke belakang, lantas melihat Nyo Hoan setan kepala besar.
Seperti keadaannya semula Nyo Hoan tetap berkepala besar, muka yang bulat tambun, kelihatannya semakin tromok dan seperti orang gila.
Tapi sekarang keadaan orang yang lucu ini tidak terasa jelek atau menggelikan lagi dalam pandangan Dian Susi.
Tiba-tiba terasa dalam relung hatinya timbul segulung hawa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, bukan saja hangat menyegarkan, tapi juga meriangkan hatinya yang sedang pepat.
Hampir saja dia berteriak dan berjingkrak, tapi lekas dia melengos lagi dengan muka cemberut malah.
Soalnya Nyo Hoan seperti tidak melihat kehadirannya, malah memperhatikan pun tidak.
Nyo Hoan sedang bicara dengan seorang lain.
Mendadak Dian Susi tidak merasa hambar lagi, karena sanubarinya diisi amarah dan kedongkolan, amarah yang menyesakkan nafasnya.
Cin Ko malah tersenyum, katanya.
"Sekarang tentunya kau sudah tahu siapakah dia bukan?"
"Aku hanya tahu kau ketemu setan kepala besar,"
Tak tahan dia bertanya pula.
"Apa dia laki-laki yang paling kau kagumi?"
Cin Ko manggut-manggut.
"Orang yang menolongmu tadi juga dia?"
"Malah orang yang kuatir kau kedinginan kemarin malam dan menutup selimut di badanmu juga dia."
Merah muka Dian Susi, tanyanya.
"Jadi kau sudah tahu dan melihatnya."
"Terpaksa aku pura-pura tidak melihatnya saja."
Melotot mata Dian Susi, katanya gemas.
"Apa kalian memang sudah kenal baik?"
"Jikalau aku tidak mengenalnya, tak mungkin aku mengaguminya,"
Ujar Cin Ko tersenyum.
"Seorang yang benar-benar patut kau kagumi, adalah orang yang benar-benar sudah kau kenal sejak lama, baru akan kau sadari bahwa dia sebenarnya orang macam apa." * * * * * Memangnya orang macam apa Nyo Hoan sebenarnya? Sebetulnya Dian Susi tahu jelas. Dia putera keluarga ternama, ahli waris Nyo samya yang memiliki harta benda setinggi gunung, sebetulnya nasib dan takdir sudah menentukan hidupnya akan senang berfoya-foya selama hayat masih dikandung badan. Tapi orang yang satu ini -Nyo Hoan justru tidak mau menikmati hidup senang berkecukupan. Sejak usia masih kecil sudah biasa kelayapan menjadi gelandangan, keluar mencari dunianya sendiri. Dia banyak berguru kepada guru-guru silat yang kenamaan, semua bekas gurunya memandangnya sebagai teman karib. Makan, minum, judi dan main perempuan boleh dikata merupakan keahliannya. Pernah satu kali kabarnya di sarang pelacuran di Tay-tong berturut-turut dia mabuk tujuh belas hari, arak yang diminumnya cukup membuat orang mati tenggelam. Kepalanya besar, kulit mukanyapun tebal. Kecuali makan minum, judi dan main perempuan, sepanjang hari tak pernah punya kerja yang genah. Itulah Nyo Hoan -Nyo Hoan yang diketahui Dian Susi. Boleh dikata tidak sedikit yang dia ketahui mengenai pribadi si gendut tambun kepala besar itu. Tapi sekarang tiba-tiba terasa dalam relung hatinya makin lama mengenalnya, semakin sulit memahaminya. Apakah lantaran pengertiannya belum cukup mendalam mengenai pribadinya yang sesungguhnya? * * * * * Dengan mata terbelalak Dian Susi mengawasi Nyo Hoan. Dia masih berdiri di sana bicara dengan seseorang. Entah apa yang mereka bicarakan, suaranya lirih dan begitu asyik, seolah-olah membicarakan persoalan rahasia yang tak boleh diketahui orang lain. Memangnya sepak terjangnya selama ini sudah berbau misterius. Orang yang diajak bicara semula duduk bergerombol dengan lima enam laki-laki lain, entah kenapa dan sejak kapan laki-laki yang lain sudah pergi semua, tinggal dia seorang diri masih duduk di sana melalap mie baksonya. Anehnya laki-laki sekurus itu ternyata perutnya tidak kecil, di hadapannya sudah bertumpuk enam tujuh mangkok kosong. Waktu Nyo Hoan datang mendekati dia masih melalap makanannya dengan lahapnya, begitu melihat Nyo Hoan, tersipu-sipu dia berdiri, sikap dan bicaranya kelihatan amat hormat sekali. Kecuali Dian Susi, setiap orang yang berhadapan dengan Nyo Hoan kelihatan menaruh hormat. Tapi persoalan apakah yang sedang mereka bicarakan? Kenapa bisik-bisik dan begitu asyik tak habis-habis? Mendadak Dian Susi berteriak keras.
"Nyo Hoan, bisakah kau kemari sebentar?"
Baru sekarang Nyo Hoan berpaling kemari seperti baru melihat kehadirannya, malah mengerutkan kening segala.
Laki-laki yang bicara dengan dia malah unjuk tawa berseri sambil manggut-manggut, setelah mengucap dua tiga patah kata perlahan, lalu putar badan pergi dengan jalan beringsut.
Baru sekarang Dian Susi melihat jelas laki-laki itu berkaki timpang -laki-laki timpang yang kurus dan rudin.
Mungkin beberapa hari sudah kelaparan, maka dia gunakan kesempatan yang baik ini, makan mie dan bakso untuk menangsel perutnya.
Dian Susi monyongkan mulut, katanya dingin.
"Sungguh aku tak habis mengerti, persoalan apa yang begitu asyik kau bicarakan dengan laki-laki macam itu?"
Belum habis dia bicara Nyo Hoan sudah mendatangi, tanyanya tawar.
"Kau kenal orang itu?"
"Siapa bilang aku kenal dia."
"Kalau kau tidak kenal, cara bagaimana kau tahu dia orang macam apa?"
"Perduli dia orang macam apa, memangnya harus dipuji?"
"Tidak perlu dipuji, hanya jikalau dia ingin mengajakku ngobrol, meski tiga hari tiga malam, aku pun senang hati mengiringinya."
Semakin berkobar amarah Dian Susi, serunya.
"Apakah ucapannya amat menarik?"
"Menarik sih tidak, tapi patut didengarkan,"
Ujar Nyo Hoan.
"uraian yang patut didengar, umumnya tak enak didengar."
"Memangnya kenapa kau mendengar begitu asyik? Apakah dia memberitahu di tempat mana kau bisa menemukan cewek?"
Cin Ko tiba-tiba tertawa. Dian Susi berpaling sambil melotot, tanyanya.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Aku sedang tertawakan kalian."
"Mentertawakan kami? Siapa kami?"
"Yaitu kau dan dia,"
Ujar Cin Ko tersenyum.
"Bila kalian tidak bertemu muka, masing-masing kelihatannya kangen atau rindu, begitu bertemu lantas adu mulut saja..."
Keruan Dian Susi menarik muka, katanya keras.
"Ketahuilah, aku adalah aku, dia adalah dia, digebuk pentung pun takkan menjadi satu,"
Meski menarik muka tak urung merah jengah mukanya. Mendadak Nyo Hoan tertawa, katanya.
"Kalau dipentung sekali tidak sama-sama kena, bagaimana kalau dipentung terus-terusan?"
"Biar dipentung terus bikin mampus kau setan kepala besar ini,"
Kata Dian Susi dengan gemas, namun belum habis kata-katanya, tak tertahan dia sudah cekikikan geli sendiri, mukanya semakin merah.
Untung pada saat itu, pelayan warung mie bakso milik Tujuh Setengah ini datang menghampiri, melihat Nyo Hoan, sikap tengiknya berubah sama sekali, mukanya mengulum senyum yang simpatik, dengan munduk-munduk dia menyapa dengan seri tawa.
"Hari ini ingin pesan makanan apa?"
"Terserah apa saja yang telah tersedia."
"Bagaimana kalau seperti yang dulu?"
"Boleh."
"Ditambah arak tidak?"
"Malam nanti aku masih ada urusan."
"Kalau begitu sedikit saja, sekati arak tentunya tidak akan bikin urusan terbengkalai,"
Ujar si pelayan, lalu dengan membungkuk-bungkuk dia mengundurkan diri. Tiba-tiba Dian Susi tertawa dingin pula, jengeknya.
"Di sini paling hanya menyediakan dua macam makanan, dimakan habis juga hanya itu-itu saja, memangnya apa yang perlu ditanyakan selalu?"
Nyo Hoan kedip-kedip mata, katanya.
"Mungkin dia hanya ingin mendengar aku bicara."
"Mendengar suaramu? Memangnya suaramu merdu?"
"Banyak orang bilang suaraku enak didengar, apakah kau tak pernah perhatikan?"
Dian Susi segera membungkuk badan sambil memeluk perut, berulah seakan-akan hendak tumpah-tumpah. Tiba-tiba Cin Ko tertawa pula. Kembali Dian Susi melotot kepadanya.
"Apa pula yang kau tertawakan?"
"Tiba-tiba aku teringat sepatah kata, bukan saja lucu dan menarik, kata-kata ini pun cocok dan masuk akal."
"Kata-kata apa?"
"Seorang gadis jikalau bertingkah di hadapanmu, itu pertanda bahwa dia mulai menyukaimu."
Seketika Dian Susi berjingkrak, teriaknya.
"Kentut anjing, siapa yang mengatakan demikian?"
"Nyo Hoan,"
Ujar Cin Ko.
"sudah tentu Nyo Hoan, siapa yang mampu mengatakan demikian."
Dian Susi kedip-kedip mata, lalu menarik muka, katanya.
"Masih ada seorang lagi."
"Siapa?"
Tanya Cin Ko.
"Siluman babi." * * * * * Hidangan yang dipesan kali ini lebih cepat diantar dari biasanya, kecuali daging sapi dan tite, ternyata masih ada sayur mayur lainnya yang serba komplit. Mendelik mata Dian Susi, tanyanya kepada pelayan.
"Bukankah di sini hanya menjual daging sapi dan tite saja?"
"Masih ada mie."
"Tiada lainnya?"
"Tak ada yang lain."
Hampir saja Dian Susi berjingkrak, katanya keras.
"Lalu dari mana hidangan ini?"
"Diambil dari wajan,"
Sahut pelayan.
"Kenapa tidak sejak tadi kau suguhkan?"
"Karena kau bukan Nyo toako,"
Tanpa menunggu jawaban Dian Susi, putar badan dia tinggal pergi.
Kalau orang ini seorang perempuan, jikalau badannya tidak berlepotan minyak, mungkin Dian Susi sudah menariknya serta memberi hajaran setimpal kepadanya.
Sayang dia seorang laki-laki dekil, pakaiannya yang berlepotan minyak berbau apek.
Terpaksa Dian Susi duduk bersungut-sungut dan melongo saking marah.
Entah dalam hal apa setan kepala besar ini begitu diindahkan dan dikagumi orang-orang banyak?
Betapapun dia tidak habis mengerti.
Setelah melenggong setengah jam lebih, akhirnya dia bersuara pula.
"Orang tadi memanggilmu apa? Nyo toako?"
"Agaknya begitu."
"Kenapa dia panggil kau Nyo toako?"
"Kenapa dia tidak boleh memanggilku Nyo toako?"
"Memangnya dia saudaramu?"
"Boleh tidak?"
"Sudah tentu boleh. Asal seorang manusia, dia boleh saja menjadi sahabatmu, membahasakan saudara segala dengan kau."
Cin Ko tertawa, selanya.
"Tapi dia harus seorang manusia, hal itu merupakan yang terpenting, karena ada kalanya orang bukan manusia."
Dian Susi melotot kepadanya, tanyanya.
"Kau pun saudaranya?"
"Masa tidak boleh?"
"Sudah tentu boleh,"
Ejek Dian Susi.
"cara bicaramu toh sudah persis dia, jikalau kepalamu tidak kecil, bolehlah kau menjadi anaknya saja."
"Ada pula seorang lain yang hampir mirip tingkah laku serta nada bicaranya seperti dia."
"Siapa?"
Tanya Dian Susi melenggong.
"Kau,"
Sahut Cin Ko.
* * * * * Dalam dunia ini ada semacam manusia, setiap gerak-gerik dan tutur katanya selalu membawa keganjilan yang luar biasa, seperti pula penyakit flu, cepat sekali dia bisa menular kepada orang lain.
Bilamana kau sering bergaul sama dia, tidak mungkin tidak kau pasti tertular olehnya.
Tiba-tiba Dian Susi menyadari bahwa dirinya memang rada berubah, dulu dalam tutur kata dan tindak tanduknya tidak seperti ini.
Apakah pantas seorang gadis remaja bicara dan bersikap seperti ini?
Belum lagi dia sempat menyimpulkan jawabannya, tiba-tiba dilihatnya dari kegelapan sana muncul lima enam bayangan orang.
Orang yang berjalan terdepan adalah seorang pincang.
Tak tahan Dian Susi bertanya pula.
"Si Pincang itu pun saudaramu?"
"Namanya bukan Pincang, selamanya tiada orang yang memanggilnya Pincang,"
Sahut Nyo Hoan.
"Lalu orang memanggilnya apa?"
"Go Poan-seng."
"Jadi namanya Go Poan-seng?"
"Nama aslinya Go Put-gu, tapi orang sering memanggilnya Go Poan-seng."
"Kenapa?"
"Karena setengah dari tanah di kota ini adalah milik keluarganya."
"Dan sekarang juga?"
"Sekarang tinggal sebidang tanah disini ini."
Dian Susi melengak, tanyanya.
"Tanah di sini adalah miliknya?"
"Tidak salah."
"Dia sudah rudin, kenapa tanah ini tidak dia minta balik untuk berdagang sendiri?"
"Karena jikalau tanah ini dia minta balik, kuatir jika malam tiba dia tidak bisa kelayapan ke mana-mana."
"Oleh karena itu dia rela rudin dan mati kelaparan, rela membiarkan orang lain mengeduk untung di tanah miliknya sendiri?"
"Sebetulnya dia tidak rudin seperti perkiraanmu."
"Tidak rudin? Orang macam apa baru dianggap rudin?"
Walau tanah setengah kota dia jual seluruhnya, namun setengah penduduk kota ini menjadi sahabat karibnya, oleh karena itu dia tetap bernama Go Poan-seng (Go setengah kota)."
"Oleh karena itu dia tetap jauh lebih kaya dari orang lain,"
Demikian timbrung Cin Ko. Sementara orang memang berpendapat, orang yang punya banyak teman memang jauh lebih kaya dari orang yang punya duit, lebih senang dan hidup bahagia."
"Kalau demikian dia tentu seorang aneh,"
Kata Dian Susi geleng-geleng.
"Justru karena dia orang aneh, maka sering aku mendapat berita serba aneh pula dari mulutnya."
Bersinar mata Dian Susi, katanya.
"Hari ini apakah kau pun memperoleh berita aneh pula?"
"Orang yang punya banyak teman, tentunya banyak pula berita yang diperolehnya."
"Berita baik apa yang kau dengar?"
"Dia memberitahu kepadaku, bahwa di luar kota ada sebuah biara."
"Kau rasa kabar ini amat aneh? Hanya orang yang seumur hidupnya tak pernah melihat biara baru akan merasa aneh, tapi seekor babi pun sedikitnya pernah melihat biara."
Nyo Hoan tidak hiraukan sindirannya, katanya lebih lanjut.
"Dia memberitahu pula kepadaku, biara itu dihuni tiga orang Hwesio tua."
Dian Susi lebih kecewa, katanya.
"Ternyata bukan saja babi itu tidak pernah melihat biara, Hwesio pun belum pernah dilihatnya."
"Dia memberitahu pula kepadaku,"
Demikian Nyo Hoan meneruskan.
"Hari ini biara itu entah mengapa mendadak bertambah beberapa puluh Hwesio, malah bukan Hwesio-hwesio tua, tapi semua adalah Hwesio-hwesio muda, Hwesio-hwesio baru."
Bercahaya mata Dian Susi, hampir dia melonjak berdiri, katanya.
"Di mana letak biara itu?"
"Bahwa kabar ini tidak aneh, kenapa kau bertanya segala?"
Ejek Nyo Hoan tawar. Dian Susi menyeringai kecut, katanya.
"Siapa bilang kabar ini tidak aneh, dia adalah babi."
Tiba-tiba dia merasa senang dan bergairah semangatnya.
Bahwa sebuah biara tiba-tiba ketambahan puluhan Hwesio muda dan baru, tentu mereka adalah Hwesio-hwesio yang tadi siang muncul di sarang judi itu.
Satu di antara mereka tentu adalah si Brewok.
Asal bisa menemukan Hwesio-hwesio ini, mereka akan dapat membuktikan bahwa peristiwa yang dialaminya tadi siang bukan impian, bukan kejadian khayal.
Asal dapat membuktikan kenyataan ini, sekaligus dapat membuktikan bahwa kematian Hwesio Banyak Urusan bukan perbuatan Cin Ko.
Kunci untuk membongkar muslihat yang rahasia ini, terletak pada biara itu.
Cin Ko pun tak tahan mengajukan pertanyaan.
"Di mana letak biara itu?"
"Di luar pintu sebelah utara."
"Bukankah tempat ini tak jauh dari pintu utara?"
"Dekat sekali."
Dian Susi melompat berdiri lebih dulu, selanya.
"Kalau begitu, kenapa tidak kita lekas ke sana? Masih tunggu apalagi?"
"Menunggu seseorang lagi,"
Sahut Nyo Hoan.
"Seorang yang patut kau tunggu."
"Jika kita tidak segera ke sana, bagaimana kalau Hwesio-hwesio itu melarikan diri?"
"Kalau mereka ingin lari, aku pun takkan bisa mencegahnya."
"Kenapa kita tidak lekas ke sana, kenapa harus menunggu orang pula?"
"Karena aku harus menunggunya."
"Memangnya dia cukup penting dalam persoalan ini?"
"Kalau tidak penting kenapa harus ditunggu."
Terpaksa Dian Susi duduk kembali ke tempatnya, setengah harian bersungut-sungut, akhirnya tak tahan dia bertanya pula."
Apakah dia akan membawa kabar penting yang hendak dilaporkan kepadamu?"
Nyo Hoan mengiakan dalam mulut.
"Kabar apa sebetulnya?"
Kali ini Nyo Hoan sudah malas menjawab pertanyaannya, pelan-pelan dia habiskan sisa arak di cangkirnya, diraihnya sekerat paha bebek terus dimakannya dengan lahap. Tiba-tiba Cin Ko tertawa, katanya."
Agaknya takaran minummu belakangan ini sudah mulai susut."
"Memang jauh berkurang,"
Sahut Nyo Hoan tertawa.
"tapi tetap dapat membikin kau tenggelam, merayap-rayap sambil mengoceh kalang kabut."
"Ah, jangan mengagulkan diri, kapan kalau ada kesempatan, ingin aku mengadu minum dengan kau."
"Apa kau masih ingat, tempo hari kita di Mang-siu-khan, mengundang seorang untuk menghabiskan segentong arak Cu-yap-ceng..."
Dalam waktu segenting ini kedua orang masih enak-enak ngobrol. Gugup dan dongkol Dian Susi dibuatnya, saking tak tahan akhirnya dia menggebrak meja, katanya lantang.
"Jelas kalian sudah lama saling kenal, kenapa selama ini mengelabui aku?"
"Kenapa aku harus memberitahu kepadamu?"
Balas tanya Nyo Hoan. Cin Ko tertawa, sahutnya.
"Terlalu banyak orang yang kami kenal, jikalau satu persatu harus memberitahu kepadamu, tiga hari tiga malam pun takkan habis."
Laki-laki memang petingkah dan kurang ajar, kemarin mereka masih pura-pura tidak kenal satu sama lain, kini bergabung dalam satu garis menghadapi dirinya.
Lebih menjengkelkan lagi setiap patah perkataannya, selalu sukar dijawab dan tak bisa didebat olehnya.
Tiba-tiba teringat oleh Dian Susi akan Dian Sim pelayan pribadinya itu.
Budak cilik ini cerdik dan pandai bicara, jikalau ada dia yang bantu bicara, mungkin dirinya takkan dipermainkan sedemikian rupa.
Tapi budak cilik ini entah berada di mana.
Mendadak Dian Susi gebrak meja pula, serunya.
"Mana orangku? Lekas kembalikan kepadaku."
"Kau sedang mengoceh apa?"
Tanya Nyo Hoan.
"Kau membawa lari budakku, kenapa kau pura-pura pikun di hadapanku?"
Berkerut alis Nyo Hoan, katanya.
"Kapan aku melarikan dia?"
"Kemarin, waktu kau keluar dari sarang judi itu, bukankah dia ikut kau?"
"Kau sendiri yang sembarangan membiarkan dia kelayapan?"
"Memangnya aku tidak mampu mengurus dia."
Nyo Hoan tidak bersuara lagi, namun rona mukanya kelihatan berubah jelek. Dian Susi sadar bahwa sikapnya ini bukan lagi berkelakar, segera dia tanya lagi.
"Apa benar kau tidak melihat dia?"
Nyo Hoan geleng-geleng kepala.
"Kau... kau pun tidak tahu di mana dia?"
Kembali Nyo Hoan menggeleng-geleng. Mendadak dingin kaki tangan Dian Susi, katanya gemetan "Apakah mungkin dia dibawa... dibawa lari orang itu?"
Begitu teringat Kek siansing, kaki tangannya seketika jadi dingin.
Bila terbayang Dian Sim terjatuh ke tangan gembong iblis itu, jantungnya terasa dingin dan berdegup keras.
Lama sekali baru dia meronta bangun.
"Kau hendak pergi?"
Tanya Nyo Hoan. Dian Susi manggut-manggut.
"Pergi ke mana?"
"Mencari budak mampus itu."
"Kemana kau hendak mencarinya?"
"Aku... aku akan menemui Thio Hou-ji, lalu mencari Ong toanio."
"Umpama benar dia berada di sana, lalu apa yang dapat kau laku-kan?"
Dian Susi tertegun dan melenggong di tempatnya.
Jikalau Dian Sim benar di sana, bukan mustahil Kek siansing pun berada di sana.
Setiap kali berhadapan dengan Kek siansing, kakinya lantas lemas, memangnya apa yang dapat dia lakukan?
"Menurut pendapatku, lebih baik kau duduk saja menunggu sebentar lagi,"
Ujar Nyo Hoan.
"Sampai kapan kau hendak menunggu kedatangannya?"
"Sampai orang yang kutunggu tiba."
"Jikalau dia tidak datang?"
"Aku akan menunggunya terus."
"Memangnya orang itu adalah bapakmu, kenapa kau begitu patuh kepadanya?" * * * * * Tiba-tiba didengarnya seorang bersuara rawan "Aku bukan bapaknya, paling hanya bisa menjadi istri tuanya saja,"
Suara ini serak rendah, namun mengandung daya tarik yang kuat, perempuan yang mendengar suara ini pun merasa amat merdu.
Begitu Dian Susi berpaling, dilihatnya seorang perempuan.
Belum pernah dia melihat perempuan ini.
* * * * * Sinar lampu hanya samar-samar saja menyoroti badannya, lebih tepat kalau dikatakan dia berdiri di bawah pancaran sinar bintang-bintang.
Raut mukanya tidak menunjukkan suatu mimik perasaan, setelah mengucapkan kata-katanya tadi, dia berdiri mematung diam, ujung jarinya pun tak bergerak.
Tapi entah mengapa sekilas pandang Dian Susi rasakan setiap jengkal setiap senti badan orang ini tengah bergerak-gerak, seperti sedang bicara mengundang orang yang melihatnya.
Terutama sepasang matanya yang merem melek seperti mengantuk, seolah-olah seorang jelita yang belum sadar benar dari tidurnya.
Tapi bilamana sepasang mata ini mengawasimu, kau akan merasa bahwa dia seolah-olah sedang mengeluh akan kehidupan manusia yang sengsara dan kesunyian di dunia ini, menyampaikan rasa cinta dan kasih mesra meresap ke tulang.
Perduli kau siapa, tidak bisa tidak pasti akan merasa simpatik kepadanya.
Tapi bila kau maju mendekati hendak menjamahnya, mendadak dia seperti berubah di tempat nan jauh, jauh sekali...
sejauh di ujung langit.
Dian Susi belum pernah berhadapan dengan perempuan seperti ini.
Tapi dia cukup tahu, perempuan seperti ini justru adalah idaman setiap laki-laki yang suka iseng dan suka berfoya-feya.
Kalau dikatakan gaya Thio Hou-ji amat elok.
Tapi dibanding perempuan yang satu ini, Thio Hou-ji menjadi nona cilik dari kampung yang masih hijau dan kasar.
Ternyata Nyo Hoan sedang menunggu dia.
Gemeratak gigi Dian Susi, namun dia harus mengakui, perempuan ini memang patut ditunggu, patut ditonton.
Mata Nyo Hoan dan Cin Ko justru tidak berkedip menatapnya.
Pelan-pelan dengan gemulai orang maju mendekat lalu duduk, cangkir arak di depan Nyo Hoan disambarnya.
Tersipu-sipu Cin Ko bantu mengisi arak ke dalam cangkir.
Sekali tenggak dia habiskan secangkir penuh, cara minumnya lebih cepat dari Cin Ko.
Perempuan biasanya tidak minum cara begitu.
Tapi tiada yang merasa tingkah dan cara minumnya terlalu kasar, orang malah merasa tertarik akan gayanya yang lain dan genit, orang-orang yang melihatnya akan ikut mabuk meski tidak minum arak.
Beruntun dia habiskan lima enam cangkir arak, baru angkat kepala memandang Dian Susi dengan berseri tawa.
Senyumannya kelihatan malas-malasan, hanya seorang yang sudah bosan mengecap kehidupan baru akan tertawa seperti ini, begitu dingin dan molek lagi.
Dian Susi angkat kepalanya mengawasi bintang di langit.
Setelah melihat kedua biji matanya lalu melihat bintang yang kelap-kelip, sinar bintang rasanya menjadi pudar.
Orang tengah menghabiskan secangkir arak lagi, cangkir yang ke tujuh.
Dengan menggigit bibir, akhirnya Dian Susi bersuara.
"Di sini ada orang sedang menunggumu."
Jawabannya tetap senyum yang malas dan ogah-ogahan. Dian Susi sengaja tidak mengawasinya, katanya dingin.
"Kalian ada urusan penting apa, lekas katakan, kita pun punya urusan penting yang perlu segera diselesaikan."
Nyo Hoan tiba-tiba tertawa, katanya.
"Sebelum Ong Sam-nio kenyang dan puas minum arak, selamanya malas berbicara,"
Agaknya Nyo Hoan cukup mengerti akan watak dan segala keperluannya. Sakit sekali bibir Dian Susi yang tergigit, namun dia menarik muka, katanya.
"Sampai kapan baru cukup dan puas minum?"
Tiba-tiba Ong Sam-nio tertawa tawar, katanya.
"Setelah mabuk baru cukup."
"Setelah mabuk masakah bisa bicara?"
Tangan memegang cangkir, sorot mata Ong Sam-nio tertuju ke tempat jauh, katanya pelan-pelan.
"Apa yang hendak kukatakan memang igauan di saat orang mabuk."
"Tak kira ada orang suka mendengar orang mengigau,"
Jengek Dian Susi. Nyo Hoan tertawa pula, katanya.
"Memangnya siapa yang tak pernah mengigau di dalam kehidupan bermasyarakat ini!"
Kembali Ong Sam-nio tertawa pula, pelan-pelan dia tepuk pundak Nyo Hoan, katanya tesenyum.
"Kau baik sekali, belakangan jarang aku temukan laki-laki seperti kau, tak heran ada orang merasa jelus karena kau."
Sedapat mungkin Dian Susi berusaha menahan diri namun tak tertahan lagi, serunya.
"Siapa yang jelus?"
Ong Sam-nio tidak menjawab, namun dia songsongkan raut mukanya ke arah lampu katanya.
"Kau sudah melihat keriput di atas mukaku belum?"
Sinar lampu remang-remang. Dian Susi tidak jelas akan keriput di kulit mukanya, namun tiba-tiba dia merasa sikap orang yang kelihatan kurus, kuyu dan keletihan.
"Wanita cantik muncul di bawah lampu, di bawah lampu perempuan kelihatan selalu lebih muda lebih cantik,"
Demikan ujar Ong Sam-nio tawar.
"Perempuan seusiaku, ada kalanya harus merasa iri hati, apa lagi nona manis sekecil kau ini."
Dian Susi menarik muka, semprotnya.
"Kau sedang mengigau?"
Pelan-pelan Ong Sam-nio menghela nafas, katanya.
"Orang mengigau sering menyatakan kemurnian hatinya, sayang sekali manusia hidup justru tidak suka mendengarkannya."
"Aku suka mendengar,"
Ujar Nyo Hoan. Mengerling mata Ong Sam-nio menyapu pandang ke mukanya, ujarnya.
"Apa yang kau dengar memangnya tidak salah."
Agaknya berubah muka Nyo Hoan, tanyanya menegas.
"sudah tahu benar?"
Pelan-pelan Ong Sam-nio manggut, mulutnya terkancing tak bersuara lagi. Nyo Hoan pun tak bersuara pula, matanya mendelong, lama sekali dia melamun baru menghela nafas, katanya.
"Banyak terima kasih."
"Kelak kau akan berterima kasih kepadaku, sekarang..."
Tiba-tiba Ong Sam-nio angkat kepala mengawasi Dian Susi, katanya tertawa.
"Lekas kalian berangkat, jangan bikin adik cilik ini gugup menunggu... laki-laki kalau bikin nona cantik menunggu terlalu lama, dia bukan laki-laki baik."
"Jikalau perempuan ingin laki-laki yang menunggu?"
"Itu tidak jadi soal, hanya..."
"Hanya apa?"
Sorot mata Ong Sam-nio menatap ke ujung langit, katanya lembut.
"Hanya kau harus selalu ingat, laki-laki yang tiada punya kesabaran, meski kau patut dia tunggu, dia tidak akan menunggumu terlalu lama."
Terkatup mulut Dian Susi, agaknya dia sudah merasakan kegetiran dari makna ucapan Ong Sam-nio ini.
"Baiklah kita berangkat, dan kau?"
Tanya Nyo Hoan.
"Aku tinggal di sini, aku masih ingin minum beberapa cangkir lagi."
"Biar aku temani kau,"
Sela Cin Ko.
"Kenapa kau temani aku?"
Tanya Ong Sam-nio. Cin Ko menghela nafas, katanya.
"Karena aku tahu bagaimana perasaan seseorang kalau minum sendirian."
Ong Sam-nio tertawa, katanya tawar.
"Perduli bagaimana rasanya, kalau sudah biasa tidak akan menjadi soal, kau tak usah temani aku, kau boleh pergi sekalian,"
Lalu diangkatnya cangkir dan ditenggak habis.
* * * * * Nyo Hoan tidak bersuara lagi, pelan-pelan dia berdiri, lalu pelan-pelan melambaikan tangan ke kegelapan di depan sana.
Di tempat gelap sana seketika berkelebat sesosok bayangan hitam.
Tiada orang yang melihat jelas dari mana datangnya bayangan hitam ini, karena bayangannya seakan-akan ditelan kegelapan.
Tampak dia sedikit menggerakkan badan memberi hormat dari kejauhan di tempat gelap kepada Nyo Hoan, lalu menunggu di sana.
Nyo Hoan berpaling, katanya.
"Sam-nio, kuhaturkan secangkir kepadamu, segera aku berangkat."
"Kuharap ini bukan cangkir yang terakhir,"
Kata Ong Sam-nio.
"Tentu bukan,"
Tegas jawaban Nyo Hoan. Tanpa ragu-ragu Ong Sam-nio habiskan lagi secangkir arak.
"Sekarang juga kita berangkat?"
Tak tertahan Dian Susi bertanya. Nyo Hoan manggut-manggut.
"Tidak menunggu kalian bicara habis?"
"Sudah habis pembicaraan kami."
"Hanya beberapa patah kata saja?"
Agaknya Nyo Hoan tengah menerawang, lama sekali dia bersuara kalem.
"Ada kalanya sepatah kata sudah lebih dari cukup,"
Pelan-pelan dia melangkah ke kegelapan.
Bayangan di tempat gelap itu tiba-tiba melambung tinggi ke angkasa, laksana setan gentayangan saja tiba-tiba lenyap ditelan tabir malam.
Cepat sekali Nyo Hoan memburu ke arah sana.
Terpaksa Cin Ko dan Dian Susi ikut mengejar dengan kencang.
Lama dan jauh sekali mereka berlari saling kejar, tak teitahan Dian Susi berpaling ke belakang.
Tampak bayangan Ong Sam-nio masih duduk terpekur menghadap meja menyanding arak, punggungnya seakan-akan semakin bungkuk, seperti ditindih benda ribuan kati beratnya di pundaknya.
Itulah beban kehidupan manusia.
Walau dari bayangan punggungnya, namun kelihatan dia begitu sebatang kara, begitu letih dan kesunyian.
* * * * * Nyo Hoan menunggu di depan, di sebelah depannya lagi, lapat-lapat bayangan hitam itu pun sedang menunggu.
Akhirnya Dian Susi menyusul tiba, nafasnya sedikit memburu, katanya.
"Untuk apa kau kejar orang itu seperti kesetanan?"
"Karena dia yang menunjukan jalan,"
Sahut Nyo Hoan.
"Apakah si Pincang itu yang suruh dia membawa kita ke biara itu?"
"Bukan si Pincang, tapi Go Poan-seng."
"Agaknya pergaulanmu memang luas, ternyata kau pun kenal orang seperti itu."
"Kau tahu dia orang macam apa?"
Dian Susi menggeleng-geleng, ujarnya.
"Yang jelas Ginkangnya memang hebat."
"Ada yang lain?"
"Masih ada yang lain? Tiada."
Nyo Hoan tertawa, mendadak dia melambaikan tangan ke arah bayangan di depan itu.
Bayangan hitam itu seringan asap secepat kilat menyambar lewat melambung datang lewat di atas kepala mereka, saat mana Nyo Hoan jejakkan kakinya badannya yang tromok itu ikut mencelat tinggi keduanya saling silang di tengah udara, seakan-akan Nyo Hoan membisiki sesuatu kepada bayangan hitam itu.
Apa yang dibisikkan Dian Susi tidak tahu.
Cepat sekali bayangan hitam itu sudah melesat lewat di samping badannya, cepat dan ringan laksana angin lalu.
Kejap lain Nyo Hoan pun sudah meluncur balik ke tempatnya semula dan sedang tersenyum mengawasi dirinya.
Dian Susi mengerutkan kening, tanyanya.
"Apa sih yang kalian lakukan? Main akrobatik segala?"
"Aku hanya ingin supaya kau membuka mata, lihatlah biar tegas orang macam apa dia sebenarnya."
"Kalau begitu kenapa tidak kau panggil dia kemari berdiri di depanku, supaya aku bisa mengawasinya dengan seksama, mukanya putih atau hitam toh aku belum sempat melihatnya."
"Tiada sesuatu yang perlu kau lihat pada mukanya, kau harus mengawasi anggota badannya yang lain."
"Memangnya tempat mana yang harus kulihat?"
"Umpamanya, kedua tangannya."
"Memangnya ada keistimewaan apa pada tangannya? Memangnya jari-jari tangannya tumbuh lebih banyak dari orang biasa?"
"Jari-jarinya sih tidak banyak, hanya tumbuh beberapa jari saja,"
Nyo Hoan mengawasi Dian Susi dengan tertawa, katanya pula.
"Barang yang kau bawa ada yang hilang tidak?"
"Tidak?"
Sahut Dian Susi setelah memeriksa keadaan sendiri.
"Apa benar tidak?"
Nyo Hoan menegas. Dian Susi menghela nafas, katanya kecut.
"Bahwasanya tiada sesuatu benda yang kumiliki yang patut dia ambil."
"Bagaimana yang berada di atas kepala?"
"Kepalaku malah..."
Belum habis kata-katanya seketika dia menjublek, karena mendadak dia merasa rambut kepalanya yang semula disanggul tahu-tahu sudah terurai awut-awutan.
Memangnya ke mana larinya tali sutra yang tadi mengikat rambutnya?
Memangnya bayangan hitam tadi hanya sekali berkelebat mampu mencopot ikatan tali rambut di atas kepalanya tanpa dia sadari?
"Tentunya sekarang kau sudah mengerti orang macam apa dia sebenarnya?"
Dian Susi memonyongkan mulut, katanya uring-uringan.
"Sungguh tak pernah kusangka, di antara teman-temanmu ternyata ada yang memiliki tiga buah tangan."
"Masa hanya tiga buah tangan, dia punya tiga belas tangan."
Dian Susi mengejek.
"Umpama benar punya tiga belas tangan, paling dia hanya maling kecil belaka."
"Berapa banyak kau pernah melihat maling kecil seperti ini?"
"Seorang pun belum pernah kulihat. Memang untungku belum pernah kebentur."
Tahu-tahu bayangan hitam itu sedang menunggu mereka di sebelah depan, dia tetap berdiri diam mematung tanpa banyak usil, seolah-olah selamanya dia tidak bergerak dari tempatnya itu.
Dian Susi kedip-kedip mata, tanyanya.
"Bolehkah kau memanggilnya kemari, aku ingin melihatnya supaya jelas."
"Katamu dia hanya maling kecil, apanya yang enak dipandang."
"Aku... aku ingin melihat berapa buah tangan yang dia miliki."
"Kau takkan bisa melihat sebuah tangannya pun."
"Kalau begitu, biarlah aku melihat wajahnya."
"Tidak usahlah."
"Kenapa tidak usah?"
"Tiada orang yang pernah melihat mukanya."
"Kau sendiri?"
"Aku sih pernah melihatnya."
"Kenapa kau boleh melihat orang lain tidak boleh?"
"Karena aku adalah temannya."
Melotot mata Dian Susi, katanya gemas.
"Kecuali maling kecil dan si Timpang, tidak kau punya teman yang genah dan normal?"
"Tiada lagi."
Tak tahan Dian Susi cekikikan lagi, katanya.
"Naga campur naga, burung hong campur burung hong, temannya tikus pandai membuat lubang, pernah kudengar pameo ini, tapi bahwa kau tidak punya teman yang genah, sungguh tak pernah kuduga sebelumnya."
"Aku malah punya seorang teman yang ajaib, kalau orang tahu akan temanku ini, giginya pasti protol karena geli."
"Di mana letak keajaiban orang itu?"
"Segala apa tentang dirinya serba ajaib, lebih ajaib lagi kecuali membuat onar bikin ribut, urusan lain dia justru tidak bisa melakukan."
Tak tahan Dian Susi cekikikan, tanyanya.
"Siapa pula temanmu ini?"
"Kau,"
Sahut Nyo Hoan.
* * * * * Hampir meledak perut Dian Susi saking marah, sebelum berkenalan dengan Nyo Hoan belum pernah tersimpul dalam benaknya, kenapa seseorang kadang-kadang bisa mati karena dibuat marah.
Baru sekarang dia benar-benar mengerti.
Setan kepala besar ini seolah-olah khusus dilahirkan untuk membuat marah saja, lebih menjengkelkan lagi, kecuali terhadap dirinya, kepada orang lain sikapnya bersahabat dan intim, sopan dan sungkan.
Lebih membuatnya penasaran karena olok-olok kasar apapun yang dia lontarkan, setan kepala besar ini mandah tertawa saja tidak pernah marah.
Coba katakan apa pula yang bisa dia lakukan?
Hutan amat lebat di lereng gunung sana.
Biara atau kelenteng yang dimaksud justru terletak di dalam hutan lebat itu.
Hoan-in-si.
Begitulah nama kelenteng itu.
Lapat-lapat di keremangan malam masih bisa terbaca ketiga huruf emas yang terpampang di atas pintu.
Bayangan hitam dengan tiga belas tangan itu setiba di sini lantas berkelebat dan menghilang entah ke mana, malam sudah larut, namun lampu di depan patung sembahyangan masih menyala kelap-kelip, sinar lampu seguram itu tidak menerangi tempat yang jauh, dilihat dari kejauhan, kelihatannya seperti kabut tebal yang kekuningan laksana asap atau mega.
Dian Susi menghela nafas, setiap kali mendatangi kelenteng, hatinya selalu merasa sebal dan tak enak, selalu terasa di dalam sanu-barinya bahwa kelenteng tak ubahnya seperti orang mati, peti mati dan tempat keramat yang mengerikan, daerah setan...
Di dalam kelenteng jelas kau takkan mendengar gelak tawa riang, yang terdengar hanyalah ketukan suara bokhi yang mengiringi nyanyian mantram para Hwesio atau Nikoh, suaranya kadang kala kedengarannya begitu sedih memilukan, serasa sunyi dan kesepian.
Untung di tengah malam sehening ini apapun tidak dia dengar, sayangnya suatu keheningan kadang justru mencekam perasaan hati yang paling menakutkan.
Sikap dan air muka Nyo Hoan kelihatan amat prihatin dan serius, semula Dian Susi mengira orang pasti menyuruh dirinya bersama Cin Ko menunggu di luar, supaya dia sendiri masuk lebih dulu memeriksa keadaan di dalam.
Untuk ini dia tidak akan menolak.
Sekarang apapun yang dikatakan Nyo Hoan, di dalam hati dia sudah berkeputusan untuk tidak menolak atau menentangnya.
Tak kira sepatah kata pun Nyo Hoan tidak bicara, dengan langkah lebar langsung beranjak masuk ke dalam.
Sudah tentu Dian Susi hilang sabar, katanya.
"Kelenteng ini kan bukan tempat yang amat rahasia."
Nyo Hoan menoleh melihat dirinya, seperti menunggu kelanjutan omongannya.
"Sangkut-paut orang-orang itu justru teramat penting,"
Demikian Dian Susi melanjutkan.
"Orang-orang siapa maksudmu?"
Dian Susi melotot sekali, katanya.
"Tentunya si Brewok dan lain-lain, orang-orang yang sudah jadi Hwesio itu."
"O,"
Nyo Hoan bersuara pendek sambil mengangguk-angguk.
"Bahwa mereka berani membawa orang-orang itu kemari, tentunya sudah siaga bahwa kita suatu akan mencarinya ke sini."
Nyo Hoan bersuara dalam mulut seraya manggut-manggut lagi.
"Sudah tentu mereka tidak akan membiarkan kita menemukan orang-orang itu, maka..."
"Lalu bagaimana kita harus bertindak?"
"Oleh karena itu aku berpendapat bahwa kelenteng ini pasti mengandung banyak misteri, bukan mustahil di dalam banyak perangkap."
"Memangnya kenapa kalau ada perangkap?"
"Kalau ada perangkap, sudah tentu kita tak boleh menerjang masuk secara serampangan begini."
"Kalau begitu lebih baik kita pulang saja."
"Sudah terlanjur tiba di sini, kenapa pulang?"
"Tidak boleh masuk dan tidak mau pulang, memangnya apa yang harus kami lakukan?"
Bagian 11
"Salah satu di antara kita biar masuk dulu memeriksa keadaan di dalam, dua yang lain biar menunggu saja di luar menjaga segala kemungkinan,"
Sebetulnya Dian Susi sudah berkeputusan untuk menentang cara ini, namun sekarang justru dia sendiri yang mengutarakan. Naga-naganya Nyo Hoan tiada maksud menentang, tanyanya tawar.
"Menurut maksudmu siapa yang harus masuk lebih dulu?"
Sungguh tak nyana bahwa sampai hati dia mengajukan pertanyaan ini.
Umumnya laki-laki suka menonjolkan diri di hadapan gadis ayu.
Keruan Dian Susi kebingungan sambil menggigit bibir, terpaksa dia menoleh kepada Cin Ko.
Ternyata Cin Ko tidak memberi reaksi sedikit pun.
Semula pemuda gagah ini tidak begini pendiam, sejak berkumpul dengan setan kepala besar, sikap dan tindak-tanduknya berubah sama sekali.
"Coba kau katakan,"
Kata Dian Susi jengkel.
"menurutmu siapa yang harus masuk lebih dulu?"
"Kau sendiri yang mengajukan cara ini, sudah tentu kau sendiri yang harus tampil,"
Siluman babi ini ternyata sampai hati menyuruh seorang gadis rupawan menjadi pelopor untuk menerjang bahaya.
Hampir gila rasanya saking marah, akhirnya Dian Susi menjadi sengit, katanya membanting kaki.
"Baik, biar aku yang masuk lebih dulu."
"Setelah kau masuk, umpama kau mengalami apa-apa, kita tetap akan berusaha menolongmu, sebaliknya jikalau kita yang menghadapi bahaya, kau takkan mampu menolong kita."
Malas dan sebal Dian Susi mendengar ocehannya, segera dia melengos dan berlari ke depan menyusuri jalan batu naik undakan di depan pintu kelenteng.
Sampai di sini mendadak dia berhenti.
Soalnya pintu besar tertutup rapat, namun asap atau kabut tipis berwarna kekuningan sedang mengepul dari sela-sela daun pintu menandakan di dalam kelenteng masih ada asap dupa, itu menandakan ada orang di dalam, namun kenapa sedikit suara pun tak terdengar?
Apakah mereka sudah merasa akan kedatangan dirinya maka semuanya lantas berdiam diri?
Atau mereka sudah terbunuh dan terbungkam mulutnya?
Semula Dian Susi emosi untuk bekerja, namun rasa marahnya tadi kini sudah lenyap, kaki tangan terasa dingin malah, ingin rasanya dia menggenggam tangan seorang laki-laki.
Terutama tangan Nyo Hoan yang gemuk penuh daging empuk itu.
Tangan orang gendut yang satu ini rasanya selalu hangat, tenang dan mantap, bersih lagi, tangan yang selalu menjadi idam-idaman setiap gadis yang suka menggandengnya.
Sayang waktu dia menoleh setan kepala besar itu sudah lenyap tak kelihatan bayangannya, Cin Ko ternyata juga menghilang.
Keruan kaki tangannya semakin dingjn berkeringat, hampir tak tahan dia ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Namun dia pantang melakukan perbuatan yang merendahkan derajat dan memalukan ini, apalagi malu terhadap setan kepala besar.
Setelah setengah harian mematung di undakan batu, akhirnya Dian Susi membesarkan nyali beranjak maju seraya mendorong pintu.
* * * * * Pintu memang tertutup rapat, tapi tidak terkunci atau terpalang dari dalam, hanya sedikit mendorong pelan-pelan daun pintu lantas terpentang lebar dengan mengeluarkan suara keriat-keriut.
Suara yang mengerikan di malam gelap ini.
Dengan kertak gigi Dian Susi melangkah maju setindak serta melongokkan kepalanya lebih dulu ke dalam.
Tiada sesuatu yang terlihat karena pekarangan dalam penuh diliputi kabut atau asap yang cukup tebal.
Untung di bawah pemujaan sana masih ada sinar lampu, walau sinarnya guram, sedikitnya memberi petunjuk jalan kepadanya.
Terlebih dulu Dian Susi menghirup nafas panjang lalu selangkah demi selangkah beranjak masuk.
Dia mengharap jangan nanti kakinya menginjak mayat orang mati.
Di sini bukan saja tiada orang mati, orang hidup pun tak kelihatan.
* * * * * Setelah melewati pekarangan, sinar lampu di depan patung pemujaan sudah kelihatan dan semakin terang.
Di sini pun tak kelihatan bayangan orang, cuma asap dupa mengepul dari hiolo yang terletak di bagian depan meja pemujaan.
Ke manakah si Brewok dan lain-lain?
Memang mereka sudah melarikan diri atau sembunyi karena tahu bahwa dirinya akan kemari?
Dengan kencang dia gigit bibirnya, kakinya terus melangkah ke depan, langkahnya amat lambat dan hati-hati, entah takut menginjak mayat atau badan orang yang tidur di lantai?
Dia sendiri tak kuasa menjelaskan.
Di dalam suasana serba seram ini, setelah melihat patung pemujaan yang kaku dingin bertengger di atas sana, tiba-tiba terbayang pula oleh Dian Susi akan Kek siansing.
Bukankah keadaan Kek siansing mirip sekali dengan patung ini?
Terasa lemas kedua kaki Dian Susi bila terbayang manusia aneh itu, untung di sebelahnya kebetulan ada sebuah kursi, lekas dia duduk istirahat.
Betapapun sebetulnya dia tak sudi duduk di tempat ini dalam suasana seperti ini pula, namun kedua kakinya benar-benar lemas lunglai, maka dia dipaksa untuk melepas lelahnya, tanpa terasa keringat dingin berketes-ketes di atas kepalanya.
"Kepala besar itu, benar-benar tega membiarkan aku masuk kemari seorang diri, malah dia menghilang entah ke mana,"
Demikian batin Dian Susi, semakin dipikir semakin jengkel.
Sekonyong-konyong dia merasakan sesuatu yang menakutkan.
Kursi yang dia duduki pelan-pelan bergerak naik, seperti ada orang pelan-pelan mengangkat kursinya ke atas.
Tak tahan dia menunduk dan melihat ke bawah.
Seketika berdiri bulu kuduk dan bulu romanya, ternyata tempat yang dia duduki sebagai kursi adalah sebuah peti mati.
Lebih menyeramkan lagi tutup peti sedang terangkat dan pelan-pelan terbuka.
Tiba-tiba sebuah tangan terulur keluar dari dalam peti mati terus menangkap pergelangan tangannya.
Tangan yang dingin menyerupai es.
Sekujur badan Dian Susi menjadi lunglai.
Sebetulnya dia hendak menerjang keluar, namun begitu badan bergerak doyong ke depan, tahu-tahu dia terjungkal roboh, hampir saja jatuh semaput.
Namun pikirannya masih sadar, bukan saja bisa melihat jelas, kupingnya pun mendengar terang.
Bukan tangan saja yang terulur keluar dari dalam peti mati, malah terdengar juga suara tawa orang, tawa yang dingin seram, kedengarannya mirip setan menangis.
Dengan mengerahkan seluruh tenaganya Dian Susi berseru keras.
"Siapa sembunyi di dalam peti mati? Aku tahu kau adalah manusia, tiada guna kau pura-pura jadi setan menakut-nakuti aku."
Apa benar tangan yang menyentuh tangannya tadi adalah tangan manusia hidup?
Tangan manusia masa begitu dingin?
Suara tawa tadipun sirap, tinggal suara lantangnya saja yang bergema di dalam kelenteng.
Dian Susi mengerahkan seluruh kekuatannya meronta-ronta untuk melepaskan pegangan tangan dingin itu, namun tangan orang seolah-olah lengket dengan tangannya, betapapun dia tak kuasa melepas pegangan ini.
Lama kelamaan nafasnya sudah ngos-ngosan, keringat dingin sudah gemerobyos.
Tangan siapa sebetulnya?
Kenapa tidak mau unjuk diri?
Memangnya tidak berkepala dan tak punya raga?
Hanya sebuah tangan dingin saja?
Baru Dian Susi hendak mencoba apakah dia bisa menarik tangan ini keluar dari peti mati, tak nyana belum sempat kerahkan tenaga, tahu-tahu tangan dingin itu malah yang sudah bertindak lebih dulu.
Suatu tenaga besar yang menakutkan tahu-tahu menyeret dirinya, bahwasanya karena tarikan ini Dian Susi mati kutu dan tak mampu meronta dan melawan lagi.
Tiba-tiba seluruh badannya tertarik masuk ke dalam peti mati itu.
Dalam keadaan seperti ini, jangan kata seorang gadis yang bernyali kecil, laki-laki yang bernyali besarpun bisa jatuh semaput karena ketakutan.
Sungguh kasihan, pikiran Dian Susi justru tetap sadar danjernih.
* * * * * Ternyata di dalam peti mati bukan saja ada sebelah tangan, masih ada pula kepala dan raga kasarnya, badannya lurus kaku, kecuali mayat tiada sosok badan manusia yang kaku dan dingin seperti ini.
Begitu tertarik masuk, badan Dian Susi lantas rebah di atas badan yang kaku ini.
Disusul suara "Brak"
Tutup peti mati tertutup rapat.
Sinar api lenyap, kabutpun tak kelihatan lagi, keadaan menjadi gelap gulita, walau kesadaran Dian Susi masih jernih, namun sekujur badannya sudah tak mampu bergerak lagi, sekujur badannya ikut menjadi kaku dingin, mungkin lebih kaku dan dingin dari mayat.
Mayat kaku itu tiba-tiba memeluknya kencang-kencang sampai dia susah bernafas.
Ingin berteriak, namun kerongkongannya seperti tersumbat.
Hampir gila rasanya saking ketakutan, ingin rasanya dia mampus saja.
Sayang dalam keadaan seperti ini ingin mampuspun tak mungkin terlaksana.
Butir-butir air mata bertetesan dari ujung matanya.
Siapakah yang pernah mengalami kejadian menyedihkan seperti ini, pengalaman yang begini menakutkan, hari ini justru dia harus mengalami nasib yang jelek ini.
Seolah-olah sebuah mimpi yang paling buruk selama hidupnya.
Umpama bisa menangis menggerung-gerung sepuasnya, mungkin perasaan takutnya bisa terlampias, namun sekarang dia hanya bisa mencucurkan air mata tanpa bersuara.
Tiba-tiba didengarnya mayat kaku itu mengeluarkan tawa malah, dengus nafas yang panas seiring dengan tawanya meniup di pinggir telinga Dian Susi, ternyata mayat hidup dingin ini masih menguapkan hawa panas dari badannya.
Otot daging leher Dian Susi yang semula mengejang pelan-pelan mulai mengendor, dengan kerahkan seluruh kekuatannya tiba-tiba dia berteriak.
Berteriak sampai suaranya serak dan capai, baru mayat dingin ini berkata dengan tertawa.
"Berteriak sampai kerongkongannmu pecah juga tak berguna, takkan ada orang mendengar teriakanmu, jangan kata orang, setanpun tak mendengar,"
Suaranya rendah berat dan sumbang, jarang ada orang yang mendengar suara yang begini menakutkan.
Sekarang Dian Susi mendengarnya, nafasnya serasa berhenti seketika.
Jadi mayat dingin yang dia tindih di bawah badannya ini kiranya bukan mayat, namun manusia, tiada mayat hidup atau setan gentayangan di dunia ini yang lebih menakutkan dibanding manusia yang satu ini, karena dia bukan lain adalah Kek siansing.
Sebetulnya mulutnya sudah hampir berteriak menyebut namanya, namun tenggorokannya seperti disumbat dan hanya mengeluarkan suara krok-krok saja.
Kek siansing tergelak-gelak, katanya.
"Tentu kau sudah tahu siapa aku sebetulnya, apa pula yang kau takutkan?"
Bukan Dian Susi takut. Perasaan hatinya sekarang jelas tak mungkin dilukiskan hanya dengan sepatah kata "takut"
Saja. Jari-jari tangan Kek siansing menggelitik di atas badannya, katanya pelan-pelan.
"Jangan lupa kau pernah berjanji akan menikah dengan aku, berarti aku adalah calon suamimu, tidur bersama bakal suamimu, apa pula yang kau takuti?"
Jari-jarinya laksana ular, bergerak-gerak pergi datang atau naik turun. Badannya yang semula dingin kaku lambat laun mulai bergerak-gerak. Mendadak Dian Susi berteriak keras.
"Lepaskan aku... lepaskan aku..."
"Lepaskan kau? Coba kau pikir apakah aku mungkin melepasmu?"
"Apa keinginaamu?"
Kata-katanya kini menjadi jelas kembali, seseorang bila mengalami ketakutan yang keluar batas, seluruh badannya malah mengendor secara aneh.
Lantaran apa tiada yang tahu, karena pengalaman seperti ini memang jarang dialami manusia.
Berkata Kek siansing lebih lanjut.
"Aku ingin apa? Aku hanya ingin tidur bersamamu, di kala hidup tak bisa seranjang, biar di kala mati terkubur di dalam satu peti mati."
"Kalau begitu kenapa tidak segera kau bunuh aku saja?"
"Apa benar kau ingin mati?"
"Asal aku mati, terserah dengan cara apapun kau hendak perlakukan diriku tak menjadi soal."
"Sayang sekali sekarang aku belum ingin kau mati."
"Kau... sampai kapan kau hendak menunggu?"
"Coba kau terka?"
Tahu-tahu jari-jari tangannya merambat masuk ke dalam pakaian Dian Susi.
Mereka rebah berhimpitan di dalam sebuah peti mati, umpama Dian Susi bebas bergerak dan ingin menghindarpun tak mungkin ada peluang.
Saking gemas dan dongkol bibirnya pecah berdarah tergigit kencang, rasa sakit membuat pikirannya semakin jernih, katanya setelah menghela nafas.
"Apa benar kau menginginkan aku?"
"Berapa jerih payahku telah kukorbankan demi kau, tentunya kau sudah mengerti."
"Kalau kau memang menghendaki diriku, tidak pantas kau menggunakan cara sehina ini."
"Lalu cara apa yang harus kugunakan?"
"Ada perintah orang tua, pakai comblang dan meminang secara resmi. Masakah kau tidak tahu akan adat ini."
"Maksudmu supaya aku meminangmu kepada Dian jiya ayahmu?"
"Begitulah sepantasnya."
"Kalau dia menerima pinanganku? Apa kau segera mau menikah dengan aku?"
"Sudah tentu."
Kek siansing tiba-tiba tertawa, katanya.
"Itu mudah sekali."
"Mudah sekali?"
"Sudah tentu mudah, sekarang juga aku pergi meminangmu."
Bahwa orang menerima persyaratannya begitu cepat dan tegas, keruan Dian Susi melongo.
Sungguh tidak habis pikir olehnya kenapa orang merasa hal itu gampang dilaksanakan?
Dengan alasan apa dia begitu yakin?
Tiba-tiba terasa olehnya bahwa peti mati itu sedang bergerak turun ke bawah.
Tak tahan dia bertanya.
"Ke mana kau hendak membawaku? Ke neraka tingkat ke delapan belas?"
Kek siansing terloroh-loroh, ujarnya.
"Apa sih jeleknya tempat itu? Yang terang di sana jauh lebih hangat daripada di langit, malah di sana tidak tertiup angin tidak tertimpa hujan."
"Tapi ayahku terang takkan berada di sana, perduli mati atau hidup, dia pasti takkan berada di sana."
"Kau belum pernah turun ke sana, darimana kau tahu Dian jiya ada di sana atau tidak?"
Peti mati terus bergerak turun, hati Dian Susi mengikuti gerakan peti serasa tenggelam semakin dalam.
"Apa ayahpun terjatuh ke tangan gembong iblis ini, sehingga dia begitu yakin?"
Terang tidak mungkin. Terpaksa dia cari akal untuk menghibur hati sendiri.
"Ayahku bukan orang yang gampang dilayani, terang tak mungkin,"
Mengingat kehidupan Dian jiya nan jaya dan makmur, legalah hati Dian Susi.
Kebetulan peti mati sudah berhenti.
Tiba-tiba tutup peti mati terbuka sendiri, selarik sinar guram tiba-tiba menyorot masuk ke dalam peti mati.
Maka tampak dengan jelas air muka Kek siansing terpampang di depan mata Dian Susi.
Air mukanya tak berubah, mirip muka mayat hidup, setiap kali melihat muka ini tanpa terasa Dian Susi memejamkan mata.
"Kenapa tidak kau pentang matamu?"
"Aku... lihat apa?"
"Coba kau lihat bukankah Dian jiya berada di sini?"
Ujar Kek siansing sambil mengendorkan pelukannya.
Dengan segala kekuatannya Dian Susi segera mencelat berdiri, namun seketika dia berdiri menjublek, seolah-olah mendadak dia kecemplung ke dalam air es yang dingin sekali.
Ternyata begitu dia mencelat keluar dari peti mati, matanya seketika melihat Dian jiya, jikalau tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, matipun takkan mau percaya bahwa Dian jiya benar-benar berada di sini.
* * * * * Itulah sebuah kamar batu persegi, tiada pintu tak berjendela, tak ubahnya sebuah peti mati raksasa.
Entah dari mana datangnya cahaya lampu, sinar yang redup dingin, mirip benar dengan pelita setan di dalam neraka.
Dalam peti mati raksasa ini ternyata terdapat sebuah meja dan beberapa kursi.
Seorang tua bermuka bersih dan welas asih tengah duduk di kursi tengah, tangannya sedang memegang pipa cangklong warna hijau pupus sambil mengepulkan asap dari mulutnya.
Di belakang orang tua ini berdiri seorang perempuan yang sedang memijat punggungnya.
Seorang perempuan lain tengah duduk di atas kedua pahanya, tangannya memegangi upet bantu menyulut api di pipa cangklongnya itu.
Dingin mengejang sekujur badan Dian Susi.
Sudah tentu dia kenal betul bahwa orang setengah umur yang duduk di kursi itu adalah Dian jiya, diapun kenal baik pipa cangklong hijau pupus yang terbuat dari batu akik, waktu kecil dulu diapun sering duduk di paha Dian jiya serta bantu menyulut pipanya.
Siapapun dalam situasi seperti yang dialami Dian Susi pasti menubruk maju dan merebahkan dirinya ke haribaan ayahnya.
Tapi Dian Susi hanya menjublek di pinggir peti mati dengan badan gemetar.
Dua perempuan itu ternyata dia kenal baik.
Yang berdiri di belakang memijat punggung Dian jiya adalah Ong toanio, yang duduk di pahanya adalah Thio Hou-ji.
Perempuan centil yang tidak tahu malu lagaknya memang aleman dan genit duduk di paha lagi.
Bukan saja sekujur badan gemetar, air matapun bercucuran membasahi muka Dian Susi, hatinya murka.
Melihat dirinya, agaknya Dian jiya amat prihatin, katanya riang.
"Bagus sekali, kau akhirnya kutemukan di sini,"
Itulah tutur sapa seorang ayah waktu melihat putrinya yang minggat ini.
"Kau tahu aku akan kemari?"
Tanya Dian Susi. Dian jiya manggut-manggut. Ong toanio malah terkikik, sapanya.
"Kebetulan kau kemari, baru saja kami memperbincangkan dirimu."
"Bicara tentang apaku?"
Ejek Dian Susi ketus.
"Barusan aku sedang wakili Kek siansing meminang kau kepada Dian jiya."
"Dia... apa jawabnya?"
"Laki-laki perempuan kalau sudah menanjak dewasa adalah pantas kawin, kalian memangnya pasangan setimpal karunia Thian, coba kau pikir apa pula yang dikatakan?"
Thio Hou-ji tertawa sambil mengerling.
"Sudah tentu Dian jiya menerima dengan senang hati, hayo kalian pasangan pengantin ini lekas menghaturkan terima kasih kepada aku mak comblang ini."
Melotot mata Dian Susi mengawasi ayahnya, bukan saja tak bicara, bergemingpun tidak.
Sekujur badannya seolah-olah menjadi kaku mendadak.
Entah kapan tahu-tahu Kek siansing sudah berdiri di sampingnya, sebelah tangannya memeluk pinggangnya malah.
Muka Dian Susi mendadak kaku dingin tak berperasaan, katanya sinis.
"Lekas lepaskan tanganmu yang kotor!"
Kek siansing tersenyum, katanya.
"Sekarang perintah orang tua sudah ada, mak comblang juga sudah hadir, apa pula yang kau takutkan?"
Dian Susi tidak hiraukan ocehannya, dengan melotot dia awasi Dian jiya, mendadak dia berseru.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Lho, lucu benar,"
Teriak Ong toanio.
"masakah ayahmu sendiri tidak kau kenal?"
Mendadak Dian Susi memburu maju, teriaknya serak.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa menyaru jadi ayahku? Mana ayahku?"
Baru saja dia melangkah maju, tahu-tahu pinggangnya dipeluk Kek siansing. Tegak alis Ong toanio, katanya.
"Kau tahu bahwa dia bukan Dian jiya? Cara bagaimana kau tahu?"
Dian Susi meronta sekuatnya sembari berteriak.
"Di mana ayahku berada, bawa aku menemuinya."
Tiba-tiba Ong toanio menarik muka, katanya dingin.
"Ketahuilah, sejak kini, orang ini adalah Dian jiya, yaitu ayah kandungmu, di dunia ini hanya ada satu Dian jiya, takkan ada orang yang kedua."
Tiba-tiba lemas lunglai sekujur badan Dian Susi, akhirnya tak tertahan lagi dia menangis menggerung-gerung.
Semula Ong toanio sedang sibuk memijat punggung Dian jiya, tiba-tiba dia menampar mukanya, katanya dingin.
"Sudah beberapa kali aku mengajar kepadamu, kenapa masih ketahuan juga olehnya?"
Orang itu meringis kesakitan, katanya tergagap.
"Aku... akupun tak tahu."
Ong toanio kembali menamparnya pula, katanya.
"Kusuruh kau jangan banyak mulut, kenapa kau justru cerewet?"
Orang itu mendekapi kedua pipinya, katanya.
"Tadi aku hanya mengatakan sepatah kata, aku... darimana aku bisa tahu..."
Tiba-tiba dia merosot turun dari atas kursi terus berlutut di hadapannya. Ong toanio menjengek dingin serta melangkah ke depan, sorot matanya diliputi napsu membunuh. Kek siansing tiba-tiba berseru.
"Tahan dia saja, kelak orang ini masih berguna."
Ong toanio tertawa dingin, sekali angkat kaki dia tendang orang itu terguling-guling jauh, bentaknya bengis.
"Keparat yang tak berguna, hayo menggelindinglah ke belakang... lekas!"
Thio Hou-ji menghela nafas pelan-pelan, katanya.
"Memangnya aku sudah bilang samarannya kurang mirip, umpama kata raut mukanya sedikit mirip dengan Dian jiya, namun sikap kereng gagah dan wibawa Dian jiya, mana bisa dia tiru?"
Dengan ujung matanya Ong toanio meliriknya, katanya seperti tertawa tidak tertawa.
"Sudah tentu dia tak bisa kelabui kau, tapi orang lain bukan kau, yang pernah main patgulipat dengan Dian jiya."
Seperti tertawa tidak tertawa Thio Hou-ji balas mengerling kepadanya, katanya.
"Apakah kau merasa iri?"
"Alasan apa aku harus iri?"
Ujar Ong toanio tertawa.
"memangnya sekarang kau masih berani menemani dia tidur?"
Dian Susi tiba-tiba berjingkrak bangun, katanya kertak gigi.
"Di mana ayahku sekarang? Umpama kalian tidak berani bawa aku menemui dia, sedikitnya berani memberitahu di mana dia berada."
Ong toanio menghela nafas, ujarnya.
"Memang kami benar-benar tidak berani membawamu untuk menemuinya."
"Kenapa?"
Semakin pucat muka Dian Susi.
"Pertanyaanku tadi belum kau jawab, dengan alasan apa aku harus memberitahu?"
"Kau tanya apa kepadaku?"
"Cara bagaimana kau bisa tahu bahwa orang tadi menyamar Dian jiya?"
Dian Susi mengejek dingin.
"Masa kau tidak tahu?"
"Memang dia tak punya wibawa sekereng Dian jiya, demikian pula gerak-geriknya takkan mampu meniru gaya Dian jiya, tapi dia duduk di sana tanpa bergerak, sinar lampu di sini pun gelap, cara bagaimana selintas pandang kau dapat membongkar kedoknya?"
Sesaat Dian Susi bimbang, akhirnya berkata lantang.
"Ketahuilah, sudah beberapa bulan ayahku tidak mengisap rokok lagi, belakangan kesehatannya rada terganggu, tak mungkin mengisap pipa cangklong itu."
Ong toanio beradu pandang dengan Kek siansing, keduanya sama manggut-manggut.
"Nah, bagaimana dengan pertanyaanku?"
Balas Dian Susi mendesak.
"Apa yang kau tanyakan?"
Jawab Kek siansing.
"Ayahku..."
Kek siansing tiba-tiba menukas ucapannya.
"Jika kau ingin melihat ayahmu, gampang sekali, asal kau menjadi biniku, sudah tentu aku harus bawa kau pulang menghadap bapakmu."
Gemeratak gigi Dian Susi, katanya.
"Kuharap kau padamkan saja keinginan edanmu ini."
"Aku justeru tidak akan mundur sebelum keinginanku tercapai."
"Persetan dengan keinginanmu, yang terang mati pun aku tak sudi menikah dengan orang macam tampangmu, umpama benar ayahku menerima pinanganmu, aku lebih suka mati."
"Kenapa?"
Tanya Kek siansing.
"Memangnya, kenapa kau berbuat senekad ini?"
Timbrung Ong toanio ikut membujuk.
"Usianya belum tua, belum pernah kawin, martabatnya juga tidak jelek, terutama ilmu silatnya luar biasa, dalam hal apa dia tidak setimpal jadi suamimu?"
"Tentang kebaikan apa dia setimpal menjadi suamiku, hakikatnya dia bukan manusia."
Thio Hou-ji tiba-tiba kedip-kedip mata, katanya.
"O, aku tahulah, dia anggap tampangmu terlalu jelek."
"Hmm,"
Dian Susi mendengus hidung. Ong toanio maju mendekat, katanya sambil menepuk pundak Kek siansing.
"Jikalau kau berwajah sedikit tampan, mungkin dia mau menikah dengan kau."
"Benar, gadis remaja secantik ini, siapa yang tidak suka dan bangga akan kecantikannya."
"Jadi kalian ingin supaya aku berubah lebih tampan?"
"Semakin tampan semakin baik."
Kek siansing tiba-tiba tertawa, ujarnya.
"Itu pun tidak sulit,"
Tiba-tiba dia membalik badan menghadap ke dinding, sekian lamanya entah apa yang dia lakukan, lalu pelan-pelan dia membalik badan pula. Thio Hou-ji seketika bertepuk tangan, serunya.
"Ternyata benar berubah sedikit tampan, laki-laki segagah ini, aku pun ikut terpincut."
Ong toanio terkikik geli, katanya.
"Agaknya kalau nona Dian masih tidak sudi menikah sama dia, orang akan merebut calon suamimu yang tampan ini lho."
Sebetulnya sampai mati pun Dian Susi tak sudi melihat tampangnya itu, namun sekarang tak tahan dia angkat kepala, hanya sekilas saja, seketika dia menjublek.
Kek siansing memang sudah berubah jadi seorang lain.
Seorang laki-laki pertengahan umur yang sudah matang kehidupan, tampan dan romantis, laki-laki gagah yang membawa daya tarik bagi setiap gadis yang memandangnya.
Hampir Dian Susi tidak percaya akan pandangan matanya sendiri.
Kata Ong toanio sambil mengawasinya.
"Apakah selamanya kau belum pernah dengar soal ilmu tata rias?"
Sudah tentu Dian Susi pernah mendengarnya.
Tapi air muka Kek siansing walau tidak menunjukkan mimik apa-apa, kelihatannya tidak mirip dirias dengan ilmu make up segala.
Mungkin karena selama ini Dian Susi tidak pernah mau melihat muka orang dengan jelas, bahwasanya dia takut melihat orang sedikit lebih lama lagi.
Kalau dia benar bermuka asli setampan dan setegap ini, kenapa harus menyaru jadi orang cacat jelek rupa?
Apa pula asal-usul sebenarnya?
Bertambah rasa curiga Dian Susi, namun rasa takutnya tidak seperti dulu.
Karena tampang Kek siansing yang dihadapi ini bukan saja gagah romantis, senyumnya pun kalem dan ramah tamah.
Katanya sambil mengawasi Dian Susi.
"Sekarang tentu aku setimpal mengawini kau."
"Dengan keadaanmu sekarang, umpama bidadari dari kahyangan pun akan berebutan minta kawin dengan kau,"
Seru Thio Hou-ji cekikikan genit. Tergerak hati Dian Susi, namun dengan keras dia menggeleng-geleng, serunya.
"Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
Tanya Thio Hou-ji melengak heran.
"Dia ini siapa aku toh tidak mengenalnya, mana boleh aku menikah dengan dia?"
"Benar, masuk akal, putri seorang hartawan besar seperti Dian Siocia, sudah tentu harus kawin dengan laki-laki yang punya kedudukan dan terpandang."
Ong toanio tertawa, timbrungnya.
"Untung Kek siansing bukan laki-laki yang tidak punya asal-usul, kalian bukan saja pasangan setimpal, latar belakang keluarga masing-masing pun cocok satu sama lain. Jikalau kau sudah tahu siapa nama aslinya, tanggung kau akan terkejut."
Dian Susi hanya melongo saja mendengarkan ocehan Ong toanio.
"Liu Hong-kut, pernahkah kau dengar namanya?"
Liu Hong-kut!
Apakah orang ini benar-benar Liu Hong-kut pendekar besar nomor satu dari Kanglam?
Dian Susi benar-benar terkejut dibuatnya.
Liu Hong-kut dulu merupakan salah satu tokoh besar yang selalu menjadi idam-idaman pujaannya, sungguh mimpi pun tak pernah diduganya bahwa laki-laki rendah hina dina dan tak tahu malu bergajul lagi, ternyata adalah tokoh besar yang pernah dia puja-puja.
Kalau hal ini terjadi lebih dulu, mungkin Dian siocia sudah berjingkrak senang, tapi sekarang wataknya sudah jauh berubah, kali ini dia cukup tabah katanya sambil menatap orang itu.
"Apa benar kau Liu Hong-kut?"
"Sedikit pun tidak salah,"
Sahut Liu Hong-kut tersenyum simpul.
"Apa benar kau ini Liu Hong-kut yang berkepandaian silat nomor satu di Kanglam, laki-laki yang memiliki kepintaran tiada bandingannya di kolong langit?"
"Liu Hong-kut hanya satu, takkan ada orang kedua,"
Ujar Liu Hong-kut tersenyum. Bukan saja bentuknya berubah, suara bicaranya pun berubah, kedengarannya lembut, sopan dan jenaka lagi, paling tidak Dian Susi merasa ucapannya jenaka.
"Katamu kau ini Liu Hong-kut, tapi cara bagaimana aku tahu kau ini tulen atau palsu?"
Liu Hong-kut tertawa tawar, tidak kelihatan dia bergerak, tiba-tiba badannya melambung ke atas, jelas badannya sudah hampir menumbuk atap rumah, mendadak ia kembangkan kedua lengannya, laksana burung walet tubuhnya tiba-tiba melesat miring ke samping seperti terbang menempel atap.
Thio Hou-ji bersorak gembira sambil bertepuk tangan.
Ong toanio berkata.
"Itulah Hwi-yan-chit-sek, ginkang yang paling sulit dilatih, merupakan ilmu tunggal dari Liu Hong-kut."
Thio Hou-ji tertawa, katanya.
"Tak usah kau jelaskan, Dian siocia toh cukup pengalaman untuk menilai sesuatu yang tulen."
Memang Dian Susi cukup tahu, bahwa gerakan merubah gaya dan arah di tengah udara dari ginkang seperti itu merupakan ilmu yang paling sulit diyakinkan.
Tak tahan dia menghela nafas, agaknya orang yang hina dan rendah martabatnya ini, memang tokoh besar yang pernah dipuji-pujinya dulu.
Seenteng asap Liu Hong-kut meluncur turun di hadapannya, senyum yang menghias mukanya begitu lembut dan simpatik, katanya.
"Sekarang kau sudah mau percaya?"
Sekian lama Dian Susi melenggong, mendadak dia menghela nafas, katanya.
"Aku sudah percaya, tapi aku semakin tidak mengerti."
"Tidak mengerti? Persoalan apa yang tidak kau mengerti?"
"Orang macammu ini, jikalau mengajukan pinangan secara terus terang dan gamblang, bukan mustahil sejak lama aku sudah menikah dengan kau, kenapa kau justru menggunakan akal berliku-liku?"
Liu Hong-kut tertawa, katanya.
"Belum terlambat kau menikah dengan aku sekarang."
"Sekarang justeru sudah terlambat."
"Kenapa?"
"Karena... karena sekarang aku sudah punya pujaan hati."
Liu Hong-kut menarik muka, katanya dingin.
"Sayang sekali pujaan hatimu itu adalah pembunuh yang malu dilihat sinar matahari."
Berkedip mata Dian Susi, katanya.
"Kau kira Cin Ko yang kumaksud?"
"Masa bukan dia?"
Seperti bersinar sorot mata Dian Susi, mendadak dia tertawa, katanya.
"Jikalau kau kira pujaan hatiku adalah Cin Ko, maka kau sengaja memfitnah dan menjatuhkan dosa atas dirinya sebagai pembunuh Hwesio Banyak Urusan itu, maka tindakanmu ini meleset jauh sekali."
Liu Hong-kut menarik muka, katanya.
"Lalu siapa kalau bukan Cin Ko?"
"Tampangnya tidak setampan kau, tapi dia seorang yang pintar, seorang yang patut dicintai."
"Siapa sebenarnya yang kau maksud?"
Liu Hong-kut menegas tidak sabar.
"Dia she Nyo bernama Nyo Hoan,"
Sembari bicara sengaja dia melirik memperhatikan mimik muka Liu Hong-kut, tak nyana Liu Hong-kut tidak menunjuk sedikit pun perubahan. Terpaksa Dian Susi berkata lebih lanjut.
"Nyo Hoan adalah calon suami yang kusukai sendiri, malah dia pula pilihan orang tuaku, mau tidak mau aku harus menikah dengan dia, kecuali..."
"Kecuali apa?"
"Kecuali dia suka rela menyerahkan aku kepadamu."
Sebentar Liu Hong-kut terpekur, katanya kemudian.
"Asal dia suka menyerahkan kau, maka kau rela menikah dengan aku?"
"Tidak salah."
"Kali ini kau tidak akan mungkir lagi?"
"Takkan mungkir,"
Waktu menjawab tak tertahan hatinya amat geli.
Walau setan kepala besar itu amat menyebalkan, tentu tidak akan sudi menjual kawan sendiri.
Apalagi lahirnya saja kelihatan galak, yang terang bukan mustahil secara diam-diam dia sudah menaruh hati kepadaku.
"Jika tahu aku berada di sini, tanpa perdulikan segala akibatnya dia pasti kemari menolong aku,"
Bukankah sudah berulang kali orang sudah menolong jiwanya?
Tak terasa tiba-tiba timbul perasaan syuur dan hangat dalam sanubari Dian Susi.
Ternyata Liu Hong-kut terpekur seperti memeras otak, agaknya orang tahu bahwa hal itu jelas tidak mungkin terjadi.
Dengan ujung matanya Dian Susi mengerling, katanya penuh ejekan.
"Sudah kukatakan kali ini aku tidak akan mungkir, kenapa tidak kau mengundangnya untuk membicarakan hal ini, bukan mustahil dia bisa menerima permintaanmu."
Setelah terpekur sekian lamanya, tiba-tiba Liu Hong-kut tertawa, katanya.
"Aku tak perlu mengundangnya."
"Kenapa? Memangnya kau sudah batalkan niatmu?"
"Tidak, aku masih tetap ingin mempersunting dikau, tapi tidak perlu susah-susah pergi mencarinya, karena..."
"Karena apa?"
Aneh sekali mimik tawa Liu Hong-kut, katanya tandas.
"Karena dia sudah akan segera tiba di sini."
Sekilas melengak Dian Susi, tanyanya.
"Kau... darimana kau tahu?"
Lebih misterius tawa Liu Hong-kut.
"Apakah setan kepala besar itu terjebak dalam muslihat mereka?"
Demikian Dian Susi bertanya-tanya dengan was-was.
Kepalanya begitu besar, mana mungkin begitu mudah terperangkap orang, apalagi masih ada Cin Ko yang mendampinginya.
Sekian lama Dian Susi termenung-menung, akhirnya dia tertawa geli sendiri.
Sekarang dia hanya mengharap Liu Hong-kut tidak menipu dirinya, dia harap Nyo Hoan benar-benar datang secepatnya.
Waktu ia menoleh benar juga dilihatnya seorang tengah mendatangi, langkahnya terserot-serot melangkah masuk.
Nyo Hoan.
Ternyata Nyo Hoan benar-benar datang.
Jikalau kau mau sedikit menaruh perhatian, maka kau akan mendapatkan banyak manusia di dalam dunia ini sembarang waktu selalu berubah bentuknya.
Sekarang mungkin dia seorang Kuncu, namun detik lain bukan mustahil sudah berubah jadi seorang buaya darat.
Dalam detik itu mungkin dia masih menyuguh arak kepadamu, malah mungkin berlutut menjilat kakimu, namun sekejap kemudian, mungkin dia lantas berpaling muka mencari perkara, sekali tendang mengusirmu.
Orang seperti ini jelas tidak banyak, tapi juga tidak sedikit.
Untunglah masih ada semacam orang lagi di dalam dunia ini, di kala nasibmu baik kau melihatnya, bentuk rupanya demikian saja, tapi jikalau kau melihatnya di kala kau sebal dan tertimpa malang, dia tetap dalam keadaan semula.
Nyo Hoan justeru adalah orang seperti ini.
Perduli kapan saja, di mana saja kau melihatnya, dia tetap cengar-cengir dengan sikap acuh tak acuh.
Selintas pandang kepalanya selalu jauh lebih besar dari manusia umumnya, setiap langkahnya tetap kalem tak pernah tergesa-gesa, seakan-akan dunia kiamat pun dia tidak akan gugup.
Keadaan malas-malasan dan serba klemak-klemik yang membosankan ini tak terhitung gagah dan menyenangkan.
Tapi dalam pandangan Dian Susi sekarang, tiada manusia lain yang lebih mungil dan menyenangkan daripada laki-laki gemuk gendut yang satu ini.
"Dia pasti akan menolongku dengan mempertaruhkan jiwanya."
Asal Nyo Hoan sudah datang, urusan sulit apa yang takkan dapat diselesaikan?
Saking senang hampir Dian Susi berjingkrak menari-nari.
Anehnya melihat Nyo Hoan datang, Liu Hong-kut sedikit pun tidak merasa heran atau kaget, sikapnya malah kelihatan senang dan lega.
Katanya sambil melambaikan tangan kepada Nyo Hoan.
"Kemarilah kau."
Nyo Hoan lantas menghampiri.
Dian Susi mengira begitu Nyo Hoan muncul, Cin Ko pasti akan ikut muncul.
Tak nyana Nyo Hoan hanya berdiri di sana tanpa bersuara, air mukanya tetap mengulum senyum.
Dalam hati Dian Susi sudah mulai menggerutu.
"Mungkin dia sedang menunggu kesempatan, setan kepala besar ini biasanya bertindak amat tabah dan berani."
Dian Susi mengawasi kedua tangannya, dia hanya mengharap kedua jari tangan orang tahu-tahu sudah mencekik leher Liu Hong-kut.
Sayang begitu beranjak masuk ke ruang ini, jangan kata berpaling melirik pun Nyo Hoan tidak melihat dirinya, seolah-olah tiada kehadiran dirinya di dalam ruang besar ini.
Liu Hong-kut tersenyum, katanya.
"Kau datang terlambat."
Nyo Hoan tersenyum, katanya.
"Maaf."
"Tak perlu kau minta maaf kepadaku, sejak tadi nona Dian sedang menunggu kedatanganmu, dia sudah tidak sabar lagi."
"Lho, menunggu aku?"
Lagaknya baru sekarang melihat bahwa Dian Susi berada di sini, katanya tawar sambil berpaling ke arahnya.
"Maaf, aku tidak tahu kau menunggu aku di sini."
"Kau tidak tahu?"
Terbelalak mata Dian Susi. Nyo Hoan menggeleng-geleng. Hampir saja Dian Susi berjingkrak gusar dan berteriak, namun sedapat mungkin dia kendalikan emosinya, katanya.
"Kau kira aku berada di mana?"
"Perduli kau di mana, agaknya tiada sangkut pautnya dengan aku."
"Kau... kau sudah lupa siapa yang suruh aku kemari?"
"Kaki tumbuh di badanmu sendiri, sudah tentu kau sendiri yang datang kemari."
Dian Susi menjublek di tempatnya, mulutnya terkancing rapat. Tiba-tiba dia merasa Nyo Hoan seperti berubah jadi manusia lain. Seorang asing yang belum pernah dia jumpai.
"Apakah Nyo Hoan yang ini juga samaran orang lain?"
Tidak mungkin, kepala orang lain tidak akan begitu besar, senyum tawanya pun takkan begitu menyebalkan.
Liu Hong-kut menggendong kedua tangannya, dari samping dia celingukan, kelihatannya amat senang dan puas.
Baru sekarang dia tersenyum katanya.
"Nona Dian suruh aku mengundangmu untuk berbicara."
"Membicarakan apa?"
"Soal dirinya."
"Apakah dirinya ada persoalan yang perlu dibicarakan?"
"Aku ingin mengawini dia, tapi dia bilang harus minta persetujuanmu dulu."
"Minta persetujuanku?"
Seru Nyo Hoan. Agaknya dia amat geli, mendadak terbahak-bahak, katanya.
"Aku bukan bapaknya, kenapa harus minta persetujuanku dulu?"
"Karena dia sebetulnya ingin kawin dengan kau."
"Sejak dulu aku sudah bilang, umpama perempuan di dunia ini mampus seluruhnya, aku tak berani minta dia kawin dengan aku."
"Lalu apa pula yang dia katakan?"
"Dia bilang andaikata laki-laki di kolong langit ini mati semua, dia tidak sudi kawin dengan aku,"
Tiba-tiba dia berpaling kepada Dian Susi pula seraya tertawa, serta menegas.
"Bukankah kau pernah bilang demikian?"
Gemeratak gigi Dian Susi, sekujur badannya gemetar dan gemerobyos keringat dinginnya.
Saking murka, sampai sepatah kata pun tak kuasa keluar dari tenggorokannya.
Ingin rasanya sekali cengkram dia bikin batok kepala setan kepala besar ini hancur lebur seperti semangka.
Terdengar Liu Hong-kut berkata dengan tertawa.
"Kalau kau sudah berkata demikian, agaknya perkawinan kita tidak menjadi soal lagi."
"Memangnya tiada persoalan apa-apa,"
Ujar Nyo Hoan.
"Bagus, bagus sekali,"
Seru Liu Hong-kut tertawa besar.
"Tiba waktunya pasti kuundang kau untuk makan minum sepuasnya."
"Tidak bisa tidak kau harus mengundang aku,"
Kata Nyo Hoan.
Liu Hong-kut tergelak-gelak gembira sambil memegangi pundaknya, sampai sekarang, umpama Dian Susi seorang pikun, jelas sudah apa hubungan kedua orang ini.
Tapi tak tahan dia bertanya juga.
"Memangnya kalian sudah jadi kawan sejak lama?"
"Bukan, kita bukan kawan,"
Sahut Nyo Hoan. Liu Hong-kut tersenyum, katanya menyambung.
"Kita hanya bersaudara, saudara yang paling baik."
"Sejak mula semua peristiwa ini memang sudah kalian rencanakan lebih dulu?"
Tanya Dian Susi.
"Tadi dia sudah bilang, kita adalah kawan baik,"
Ujar Nyo Hoan. Melotot besar mata Dian Susi, mendadak dia berteriak dengan seluruh tenaganya.
"Orang she Nyo, Nyo Hoan, kau ini manusia bukan? Barang apa kau sebenarnya?"
Nyo Hoan menyengir tawa, ujarnya.
"Memangnya Nyo Hoan bukan barang."
Liu Hong-kut tertawa, katanya.
"Kau kira dia benar-benar she Nyo? Benar-benar Nyo Hoan?"
Seperti dilecut dengan cambuk Dian Susi tersentak mundur, berdiri pun tak tegak lagi sampai menyurut beberapa langkah "Bluk"
Jatuh terduduk di atas peti mati.
Seperti orang yang tercebur ke sungai yang berarus deras, sedapat mungkin tangannya menggapai-gapai dan beruntung berhasil menangkap sesuatu yang dikiranya kayu, tapi kenyataan adalah buaya, buaya pemakan manusia.
Kini dirinya seolah-olah sudah tenggelam ke dasar air.
Berselang lama baru dia kuasa bersuara pula dengan serak.
"Kau bukan Nyo Hoan?"
"Untung aku bukan,"
Sahut Nyo Hoan.
"Lalu di mana Nyo Hoan yang tulen?"
"Berada di Siau-lim-si."
"Untuk apa dia berada di Siau-lim-si?"
"Membaca mantram mengetuk bokhi."
"Dia... sudah menjadi Hwesio?"
"Sekarang dia sudah menjadi Hwesio tua."
Pelan-pelan Dian Susi manggut-manggut, mulutnya menggumam.
"Aku sudah mengerti, akhirnya aku mengerti..."
Apa benar dia mengerti?
Mungkin dia memang sudah mengerti banyak persoalan, namun masih ada sesuatu yang masih tidak terduga olehnya meski di alam mimpi.
Duduk di atas peti mati sungguh rasa gegetun Dian Susi bukan kepalang, ingin rasanya rebah saja di dalam peti mati ini, agar dirinya bisa menangis menggerung-gerung, namun setetes air mata pun tak kuasa dia cucurkan.
Apakah air matanya sudah kering?
Tiada harapan pasti tiada air mata, hanya seorang yang mutlak putus asa, baru dia tahu tiada air mata yang harus dicucurkan merupakan suatu derita yang luar biasa, betapa pula menakutkan hal ini.
Tapi lahiriahnya kelihatan lebih tenang, tenang sekali.
Liu Hong-kut sedang mengamatinya, katanya tersenyum.
"Kau sudah bilang kali ini pasti tidak mungkir."
Seperti orang linglung Dian Susi manggut-manggut, katanya.
"Ya, aku pernah bilang."
"Jadi kau sudah rela menikah dengan aku?"
"Boleh aku menikah dengan kau, hanya aku harus bertanya sepatah kata dulu kepadamu."
"Asal kau senang, seribu patah pertanyaan pun boleh."
"Aku hanya ingin tanya, kenapa kau harus kawin dengan aku? Bukan aku saja perempuan dalam dunia ini."
"Perempuan memang banyak, tapi Dian Susi hanya satu."
"Aku ingin mendengar kejujuran. Masih ada hal apa yang kau kuatirkan? Kenapa tidak kau bicara terus terang saja?"
"Soalnya perkataan yang jujur biasanya tidak enak didengar."
"Aku justru ingin mendengarnya."
Sesaat Liu Hong-kut terpekur, akhirnya tertawa, katanya.
"Tahukah kau siapa orang yang paling punya duit di dunia ini?"
"Coba kau katakan siapa dia?"
Balas tanya Dian Susi.
"Kau. Orang yang terkaya di seluruh dunia ini adalah kau."
Lama Dian Susi menjublek tak mengerti, katanya pelan-pelan.
"Jadi kau mengawini aku bukan lantaran pribadiku, tapi karena aku punya uang."
"Tadi sudah kukatakan, perkataan jujur tidak semerdu omong kosong."
"Kenapa tidak kau bunuh aku saja lalu merebut uangku, bukankah cara yang paling mudah dilaksanakan?"
"Bagiku cara itu malah menyulitkan."
"Bagaimana bisa menyulitkan?"
"Tahukah kau berapa besar kekayaan keluarga Dian?"
"Tidak tahu."
"Aku sebaliknya sudah menyelidiki dengan jelas dan terperinci, di setiap kota-kota besar dan keresidenan di enam propinsi utara, boleh dikata ada perusahaan milik keluarga Dian, jikalau satu persatu kurebut, sampai jenggotku putih takkan bisa seluruhnya kumiliki."
Sampai di sini dia tersenyum, katanya pula.
"Tapi jikalau aku jadi menantu keluarga Dian, bukankah secara langsung aku menjadi cukong besar dari keluarga Dian yang sekaligus memegang kuasa dalam semua perdagangan keluarga Dian, jikalau suatu ketika kau mati, semua harta kekayaan perusahaan itu bukankah menjadi milik aku orang she Liu?"
Dian Susi manggut-manggut, katanya.
"Cara ini memang paling gampang dan menghemat tenaga."
"Sekarang kau sudah mengerti?"
"Sebetulnya sejak awal aku sudah harus mengerti."
"Tapi kau tak pernah sempat memikirkannya, soalnya hal ini terlalu sepele untuk dipikirkan, dan anehnya, sesuatu persoalan yang sepele, justeru sering orang sulit untuk memikirkannya."
"Memang ada sebuah hal yang tidak kumengerti."
"Silahkan bicara."
"Bahwa kau hendak paksa aku kawin dengan kau, kenapa kau suruh orang menyaru Nyo Hoan untuk menolong aku?"
"Karena aku ingin supaya kau menikah sama dia."
"Kau kira aku sudi kawin sama dia?"
"Banyak perempuan demi membalas budi pertolongan jiwanya, secara suka rela menyerahkan dirinya untuk dinikahi oleh laki-laki penolongnya."
"Maka berulang kali kau membuat kesempatan supaya beberapa kali dia menolongku?"
"Cara ini memang sering digunakan orang lain, namun masih tetap berguna."
"Kenapa tidak kau pilih orang lain, kau justeru pilih setan babi yang tromok itu?"
"Karena dia adalah saudaraku, jikalau dia punya uang, itu berarti milikku juga."
"Kenapa tidak kau berdaya supaya aku berterima kasih dan hutang budi kepadamu, lalu menikah sama kau, bukankah cara ini lebih gampang?"
"Orang seperti diriku, perduli melakukan kerja apapun ada lebih baik tidak unjuk diri, mungkin sekarang kau masih belum mengerti akan liku-likunya, tapi kelak kau akan tahu juga,"
Dian Susi menjengek dingin.
"Mungkin sekarang aku sudah mengerti."
"O, kau mengerti apa?"
"Jika kau sendiri tidak mau unjuk diri, umpama tugas yang kau kerjakan gagal, dirimu tidak akan terlibat, oleh karena itu selamanya kau tetap Kanglam Tayhiap, tiada orang yang bisa menemukan ciri atau kelemahanmu."
Dian Susi tertawa dingin.
"Tapi aku justeru sudah menemukan kekuranganmu, kekuranganmu adalah kau terlalu pintar."
"Agaknya kau pun tidak bodoh."
"Sekarang kau sudah unjuk diri."
"Tidak salah."
"Kenapa kau mengubah niat atau rencanamu?"
"Pertama, karena kukira kau amat membenci saudaraku ini, jelas tak mau kawin sama dia. Kedua, sekarang aku perlu pakai uang, tiada waktu main sandiwara lagi"
"Maka sekarang kau bicara sejujurnya kepadaku?"
"Sekarang perduli apapun yang kukatakan kiranya tidak akan membawa akibat apa-apa yang besar."
"Sekarang apa pula yang ingin kau lakukan?"
"Tentunya kita harus pulang ke Dian keh-ceng untuk melangsungkan perkawinan, malah Dian jiya sendiri yang harus menjadi wali dalam pernikahan ini."
"Dian jiya yang mana?"
Tanya Dian Susi.
"Sudah tentu orang yang kau lihat tadi."
"Dan selanjutnya?"
"Setelah kawan-kawan Kangouw mengakui bahwa aku benar adalah babah mantu keluarga Dian, maka Dian jiya yang satu ini boleh dipensiun untuk selamanya."
"Setelah itu suatu ketika mungkin aku pun akan jatuh sakit dan tahu-tahu mampus tanpa keruan paran."
"Perempuan cantik banyak yang bernasib jelek, begituiah takdir menentukan, maka banyak gadis-gadis jelita yang tidak berumur panjang."
"Maka seluruh harta kekayaan keluarga Dian, tentunya terjatuh ke tanganmu dan menjadi milik kau orang she Liu."
"Tapi kebaikan keluarga Dian terhadapku, selamanya tidak akan kulupakan, setiap musim semi dan rontok, aku pasti datang ke pusara keluarga Dian untuk bersembahyang dan mencucurkan beberapa tetes airmata."
Dian Susi menghela nafas, katanya.
"Rencanamu memang amat sempurna, sayang sekali kau masih melupakan satu hal."
"O, melupakan apa?"
"Bahwa kau sudah membeber rencanamu sejujurnya, memangnya aku masih sudi menikah dengan kau?"
"Bukankah kau sendiri sudah berjanji kepadaku? Malah kau sudah berjanji takkan mungkir."
"Ucapan seorang perempuan yang menjanjikan sesuatu kepada orang, boleh saja dianggap kentut anjing yang busuk."
Liu Hong-kut tiba-tiba tergelak-gelak, katanya.
"Kau kira aku tidak memikirkan hal ini? Liu Hong-kut terkenal memiliki kecerdasan luar biasa yang tiada bandingannya, perhitungannya tidak pernah meleset, memangnya gampang dia mendapat ketenaran namanya ini."
"Kau... umpama kau main paksa mengawini aku, kau takkan mampu membuatku tunduk kepadamu untuk melangsungkan upacara pernikahan denganmu di hadapan sekian banyak tamu, jangan kau mimpi."
"Selamanya aku tidak suka mimpi."
"Memangnya kau punya akal untuk paksa aku merubah putusanku?"
"Tidak perlu kau merubah putusanmu, cukup asal kubikin kau tak mampu bicara saja cukup."
"Tapi kaki tumbuh di badanku, dengan cara apa kau hendak paksa aku berlutut bersembahyang kepada langit dan bumi segala?"
"Tapi aku toh bisa meminjam kaki orang lain untuk mewakili kakimu, di waktu pengantin perempuan berjalan, bukankah dia selalu harus dipayang orang?"
Bagian 12 Selama ini Dian Susi terus bersitegang leher, masih penuh keyakinan dan tabah.
Seseorang jikalau menyadari tiada sesuatu yang bisa dibuat sandaran atau menjadi tulang punggungnya, sering menjadi tegang.
Tapi tak tertahan air matanya sekarang hendak bercucuran, bibirnya tergigit sampai pecah, lama sekali baru dia melepas nafasnya yang sesak, katanya.
"Aku tahu di mulut kau berkata demikian, yang benar kau takkan bisa bertindak demikian."
"Kau tidak percaya bahwa aku ini laki-laki yang bisa bertindak sesuai dengan perkataannya?"
"Tentunya kau sendiri pun tahu, perbuatanmu pasti akan menimbulkan curiga orang, kalau tidak sejak lama kau sudah laksanakan akal licikmu ini, kenapa pula harus membuang waktu dan pakai banyak liku-liku, kenapa pula harus tunggu sampai sekarang?"
"Benar, kawan-kawan Dian jiya memang banyak, dengan kedudukan dan asal-usulku, tentu takkan ada orang curiga, oleh karena itu aku harus menemukan dulu seorang yang bisa wakilkan kau bicara."
"Tiada orang yang bisa mewakili aku bicara."
"Ada saja, aku berani tanggung, bila dia yang wakili kau bicara, siapapun percaya seratus prosen."
"Apakah kau sudah menemukan orangnya?"
"Kau tidak percaya?"
"Kau... siapa orang yang kau temukan?"
Sebetulnya tiada gunanya dia mengajukan pertanyaan ini, karena saat itu dia sudah melihat Thio Hou-ji sedang menggandeng tangan seseorang, dengan tersenyum simpul melangkah mendatangi.
Selama hidupnya takkan pernah dia duga bahwa orang ini bakal menjual dirinya, sampai mati pun dia takkan mau percaya, namun kenyataan di depan mata, mau tidak mau dia harus percaya.
Dian Sim.
Perempuan yang digandeng Thio Hou-ji adalah Dian Sim.
Akhirnya dia bertemu muka pula dengan Dian Sim pelayan pribadinya sejak kecil.
* * * * * Dian Sim tersenyum gembira menarik tangan Thio Hou-ji, seperti dulu dia menggandeng tangan Dian Susi.
Kelihatannya masih begitu lincah, pintar dan cerewet, malah tak kelihatan rasa malu sedikit pun pada wajahnya yang cerah itu.
Sebetulnya Dian Susi paling suka melihat senyum tawanya, paling senang bila melihat dia sedang tertawa dan memonyongkan mulut, ada kalanya dia kelihatannya amat berpengalaman dan ahli, tahu urusan, tapi begitu dia tertawa, wajahnya berubah mirip benar seorang bayi.
Tapi yang terlihat oleh Dian Susi sekarang bukan senyum tawa seperti bayi, untung dia tidak melihatnya, kalau tidak mungkin dia bisa kelenger saking gusar.
Walau biji matanya sedang melotot membundar, namun pandangannya kabur dan gelap.
Sampai Liu Hong-kut sedang bicara pun tak terdengar olehnya, suaranya sayup-sayup sampai seperti dari tempat jauh.
Liu Hong-kut sedang bertanya kepada Dian Sim.
"Kau harus menjalankan tugasmu seperti yang kujelaskan barusan, kau sudah mengerti belum?"
"Tadi Thio cici juga sudah menjelaskan, sepatah kata pun tidak kulupakan,"
Sahut Dian Sim.
"Apa yang dia katakan?"
"Besok malam, aku harus pulang mengiringi Loya dan Siocia, waktu itu seluruh penghuni rumah pasti sudah pulas seluruhnya, maka kita akan masuk dari pintu belakang dengan leluasa secara diam-diam tanpa diketahui siapapun."
"Kenapa harus pulang secara diam-diam?"
Tanya Liu Hong-kut.
"Karena Siocia sudah tidak mampu bersuara, tidak bisa bergerak, apalagi berjalan, sudah tentu menjadi pantangan keadaan dirinya dilihat orang."
"Hari kedua jikalau ada orang menanyakan dia, kenapa tidak seperti biasanya bermain di kebun?"
"Akan kujawab bahwa Siocia malu-malu kucing, maka tidak enak dia keluar menemui orang banyak."
"Kenapa harus malu-malu kucing?"
"Karena besok lusa adalah hari pernikahan Siocia, seorang gadis yang akan jadi pengantin, adalah jamak kalau malu-malu kucing."
"Kenapa pernikahan ini dilakukan begitu tergesa-gesa?"
"Karena Dian jiya jatuh sakit, beliau sudah kangen dan ingin lekas punya cucu."
"Kenapa Dian jiya tiba-tiba jatuh sakit?"
"Terkena demam atau flu di tengah perjalanan, sehingga penyakit lamanya kambuh, penyakitnya cukup prihatin."
"Justru karena penyakitnya agak berat, maka dia tergesa-gesa ingin melangsungkan pernikahan putrinya, adalah jamak kalau orang tua punya pikiran demikian."
Dian Sim berkata.
"Dan karena penyakitnya gawat, maka dia tak bisa keluar kamar menemui tamu, umpama temannya yang terdekat, paling hanya diundang duduk di kamarnya."
"Dan masih ada apa lagi?"
Tanya Liu Hong-kut.
"Orang sakit tentunya tidak boleh kena angin, maka pintu jendela kamarnya harus selalu tertutup rapat, kerai jendela pun harus diturunkan."
"Harus pakai kerai atau kain gordin yang tebal."
"Bukan saja si sakit tidak bisa duduk, malah bicara pun tidak boleh, paling hanya tiduran di ranjang dan memberi sekedar salam angkat tangan kepada tamu-tamu yang menengoknya, apalagi perkawinan ini dilakukan tergesa-gesa, berapa banyak pula handai taulan terdekat yang bisa diberitahu?"
"Semakin sedikit makin baik, cukup beberapa orang yang bisa bicara saja."
"Daftar nama-nama tamu sudah kucatat, barusan sudah kuberikan kepada Thio cici."
Liu Hong-kut unjuk rasa puas dan senang, katanya manggut-manggut.
"Selanjutnya?"
"Maka tibalah hari-hari bahagia akan pernikahan Siocia, Thio cici dan Bibi Ong adalah pengiring manten, merekalah yang bertugas untuk mendandani dan merias mempelai perempuan, lalu bersamaku membimbingnya ke ruang upacara untuk melakukan sembahyang sumpah setia kepada bumi dan langit."
"Masih ada kelanjutannya?"
"Tentunya mempelai perempuan harus masuk kamar pengantin, urusan selanjutnya bukan tugas kita lagi."
Liu Hong-kut tertawa besar, katanya.
"Selanjutnya segala rencana ini boleh dikata sukses atau berhasil dengan memuaskan, dan langkah selanjutnya aku akan mempersiapkan pesta pernikahanmu dengan saudaraku, pesta inilah yang benar-benar pesta pernikahan."
Dengan muka merah Dian Sim menunduk kepala, namun matanya mengerling penuh arti kepada Nyo Hoan, sorot matanya penuh dibuai cinta asmara.
Apa benar dia benar-benar sudah jatuh hati kepada setan kepala besar ini?.
Apakah karena cintanya kepada si gendut ini maka tak segan-segannya dia menjual majikannya sendiri?
Memang banyak kebrutalan sering terjadi di dunia ini, terlalu aneh untuk diterima oleh nalar, malah bukan mustahil kadang-kadang sukar dipikir, sukar dipercaya * * * * * Semua orang sedang tertawa.
Memang perkembangan ini cukup memuaskan dan tibalah saatnya bagi mereka untuk tertawa puas dan senang, betapapun keras gelak tawanya tidak menjadi soal.
Yang terang Dian Susi tidak lagi mendengar gelak tawa mereka, kalau tadi dia sudah kecemplung dalam air dan tenggelam, kini air itu hampir membeku jadi es, Dian Susi sendiri merasakan tulang belulangnya terasa dingin sekali.
"Nyo Hoan, kau baik, Dian Sim, kau pun baik, kalian berdua memang baik,"
Ingin dia tertawa tergelak-gelak sepuasnya, mentertawakan diri sendiri yang bodoh dan anggap kedua orang ini sebagai teman, bukan saja teman, memangnya kedua orang ini sudah merupakan sesuatu yang tidak boleh kurang di dalam kehidupannya.
Tapi sekarang?
Kini segalanya sudah amblas, apakah dunia fana ini masih berada, rasanya tiada kepentingannya lagi bagi dirinya.
Tiba-tiba terasa olehnya di dalam dunia fana ini dirinya sudah tiada sanak tiada kadang, tidak punya teman lagi -Mungkin masih ada satu.
Cin Ko.
Cin Ko terang tidak akan berkomplot dan sudi bergaul dengan manusia-manusia rendah dan hina dina seperti mereka, kalau tidak buat apa pula mereka harus mengatur banyak tipu daya untuk menjebak dan memfitnahnya?
Tapi di mana dia sekarang?
Ke mana pula?
Apakah dia sedang berdaya untuk menolong dirinya?
Hanya inilah setitik harapan terakhir bagi Dian Susi, asal dia mendapat kabar Cin Ko, dia rela mempertaruhkan segala pengorbanannya.
Pada saat itulah kebetulan dia mendengar Liu Hong-kut sedang bertanya kepada Nyo Hoan.
"Mana Cin Ko? Kau tidak membawanya kemari?"
"Jika bukan lantaran dia, aku takkan datang terlambat,"
Sahut Nyo Hoan tertawa.
"Dia kenapa? Apa benar sukar dibereskan?"
"Seorang bila pernah merasakan lima ratus kali bacokan golok, tentunya tidak mudah diakali."
"Kenapa tidak kau serahkan dia kepada Hwesio Siau-lim-si supaya dibereskan? Kenapa kau membuang-buang tenaga?"
"Orang ini terlalu suka mencampuri urusan orang lain,"
Ujar Nyo Hoan.
"Kalau ditinggal di luar, hatiku rada kurang tentram."
"Agaknya dalam setiap langkah tugasmu kau lebih hati-hati dari aku, tak heran orang sering bilang orang yang kepalanya besar memang lebih teliti."
Nyo Hoan tertawa, ujarnya.
"Aku sudah serahkan dia kepada saudara yang bertugas di luar, sekarang apa perlu membawanya masuk?"
"Baik, bawa dia kemari."
Maka Dian Susi melihat Cin Ko.
Namun dia lebih rela mengorbankan dirinya daripada melihat Cin Ko digotong dengan cara begitu rupa.
* * * * * Seorang mendekap kepala, seorang yang lain memanggul kakinya, seperti orang yang memanggul mayat saja membawanya masuk.
Tapi mayat biasanya menjadi kaku karena masih mempunyai tulang-tulang, tapi keadaan Cin Ko sekarang begitu mengenaskan, sekujur badannya lemas lumpuh, lemas seperti tanah liat.
Baru saja kedua orang itu merebahkan dia serta menariknya bangun, seketika dia meloso jatuh pula dengan lunglai, biasanya kalau dia mabuk begitulah keadaannya.
Tapi pikirannya sekarang cukup jernih, sorot matanya sedikit pun tidak kelihatan mabuk, malah sorot mata gusar dan dendam.
Liu Hong-kut menghela nafas, katanya.
"Dengan cara apa kau membekuknya? Kenapa kau bikin dia begitu rupa?"
Tawar jawaban Nyo Hoan.
"Aku sih tidak menggunakan cara luar biasa, hanya pakai dua jari mengetuk beberapa kali di badannya."
Berkerut alis Liu Hong-kut, katanya.
"Dia kuat dibacok orang lima ratus kali, sekarang hanya ketukan jari saja tidak kuat menahannya?"
"Dulu dia masih laki-laki rudin, tulang belulang orang miskin biasanya jauh lebih keras."
"Dan sekarang?"
"Orang kalau sudah ternama, sudah tentu berbeda keadaannya, manusia siapapun jikalau dalam satu tahun setiap hari hidup berfoya-foya makan minum dan judi serta main perempuan, umpama dia seorang manusia besi, akhirnya menjadi keropos juga, besi toh bisa karatan apalagi manusia biasa."
"Lekas bawa kursi kemari, bimbing Cin Tayhiap duduk, tanah sedingin dan selembab ini, kalau Cin Tayhiap terserang demam, siapa yang bertanggung jawab?"
Gemeratak gigi Dian Susi, ingin rasanya menerjang maju, seorang dipersen beberapa kali tamparan kepada manusia-manusia munafik ini.
Kursi itu cukup besar dan lebar, namun Cin Ko tidak bisa duduk tenang dan anteng, sewaktu-waktu bisa melorot jatuh.
Pelan-pelan Liu Hong-kut maju menghampiri, katanya tersenyum.
"Cin-heng, sudah beberapa tahun kita tidak bertemu, sejak lama aku sudah ingin membujukmu, lebih baik menjaga kesehatan, arak dan perempuan paling lekas membuat badan keropos, jangan kau anggap sebagai kesenangan hidup melulu."
Cin Ko mengawasinya mendelik, tiba-tiba dia buka mulut dan meludah ke mukanya.
Air ludahnya membasahi selebar muka Liu Hong-kut, namun orang bergerak pun tidak, tangan pun tidak diangkat untuk menyeka, malah mukanya mengulum senyum.
Mendadak dengan sisa tenaganya Cin Ko tergelak-gelak, serunya.
"Sungguh aku kagum kepadamu, kau sontoloyo begini sabar, sontoloyo benar kau memangnya bukan manusia, sungguh aku heran cara bagaimana ibumu dulu melahirkan kau."
Liu Hong-kut terus menatapnya, sesaat kemudian berpaling kepada Nyo Hoan dengan tertawa, tanyanya.
"Kau tahu apa maksudnya?"
Nyo Hoan manggut-manggut, katanya.
"Dia ingin kau lekas membunuhnya saja."
"Sekarang pihak Siau-lim-si sudah yakin bahwa pembunuh Hwesio Banyak Urusan adalah dia, perduli dia mati atau hidup, bakal tiada perbedaannya lagi."
"Tapi kau tetap tidak akan segera membunuhnya."
"Sudah tentu tidak, sudah sejak lama aku ingin mengetahui satu hal, kecuali dia, tiada orang yang bisa memberitahu kepadaku, mana mungkin aku membiarkan dia lekas mati?"
"Persoalan apa yang ingin kau ketahui?"
Tanya Nyo Hoan.
"Aku selalu bertanya sebetulnya berapa banyak dia kuat dibacok golok?"
"Menurut dugaanmu?"
"Sedikitnya seratus dua puluh kali bacokan."
"Takkan ada orang yang kuat dibacok seratus dua puluh kali."
Liu Hong-kut mendadak tertawa, katanya.
"Kau mau bertaruh tidak?"
"Bartaruh apa?"
"Jikalau sampai bacokan seratus sembilan belas dia mampus, anggaplah aku yang kalah."
"Itu tergantung berapa berat dan kuat bacokan golokmu?"
"Kira-kira beginilah beratnya,"
Mendadak Liu Hong-kut bergerak, tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang golok, ujung goloknya ternyata sudah amblas ke daging di paha Cin Ko. Mengerutkan alis pun tidak, Cin Ko malah mengejek.
"Tusukan golok ini terlalu ringan, umpama bapakmu ini dibacok tiga lima ratus kali pun tidak menjadi soal."
"Cin-heng kalau benar-benar ingin dibacok lebih banyak, cayhe pasti tidak akan bikin kau kecewa."
Mendadak Dian Susi berseru keras.
"Biar aku bertaruh dengan kau."
"Kau ingin bertaruh dengan aku? Apa taruhanmu?"
"Aku berani bertaruh kau pasti tak berani sekali bacok membunuhnya. Kalau aku kalah, aku... aku akan rela menikah dengan kau, tak perlu kau pakai banyak akal muslihat lagi."
"Tidak kecil nilai taruhanmu, patut dipertimbangkan,"
Kata Liu Hong-kut. Tiba-tiba Dian Sim tampil ke depan dengan langkah gemulai, katanya berseri tawa.
"Siocia kami memang berhati baik, kuatir Cin Tay-hiap tersiksa, maka dia sengaja pakai akal ini. Bahwa cepat atau lambat akhirnya toh mati, berapa banyak dia harus dibacok kan tidak menjadi soal,"
Tawanya begitu manis dan lincah, katanya lebih lanjut.
"Bagaimana maksud hati Siocia, tiada orang lain yang lebih jelas dari aku."
"Apa lagi yang masih kau ketahui?"
Tanya Liu Hong-kut.
"Aku tahu walau hati Siocia baik, tapi cepat pula berubah, ada katanya dia ingin makan gula-gula teratai, begitu kepinginnya sampai berteriak-teriak, tapi waktu aku berlari mengambilnya, disentuh saja tidak, karena tiba-tiba dia kepingin manisan jahe,"
Setelah mengedipkan matanya, Dian Sim melanjutkan.
"Oleh karena itu apapun yang dikatakan Siocia, lebih baik kau anggap tidak mendengarnya, jangan sekali-kali kau anggap serius perkataannya, terutama jangan kau bertaruh segala kepadanya, karena jika dia yang kalah, boleh dikata tak pernah dia menepati janjinya."
Dian Susi mendelik, sorot matanya seperti bara panasnya. Tiba-tiba Dian Sim berpaling ke arahnya, katanya tertawa.
"Aku bicara sejujurnya, Siocia, jangan kau marah kepadaku."
"Jangan kuatir, umpama aku marah kepada telur busuk, aku takkan marah kepadamu."
Tertunduk kepala Dian Sim, katanya.
"Aku tahu dalam hati Siocia pasti membenci aku, sebetulnya aku pun punya kesulitanku sendiri."
"Kesulitan apa?"
Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan Khu Lung
Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 4