Tokoh Besar 3

Eps 3 Tokoh Besar - Khu Lung

Baca online Tokoh Besar - Khu Lung

Cersil Tokoh Besar - Khu Lung.

Seolah-olah dia lebih marah dan lebih penasaran, maka tendangannya lebih keras.

"Kau... apa benar kau pun tidak tahu?"

Tanya Dian Susi.

"Buat apa aku menjebloskan kau?"

Ujar Thio Hou-ji menghela nafas.

"Aku kan tidak bermusuhan dengan kau."

Nyo Hoan mendadak menghela nafas, katanya.

"Sungguh aku kagum kepadamu."

Thio Hou-ji melengak, katanya.

"Kagum apa tentang diriku?"

"Kau pandai main sandiwara."

Dara cilik berkedip-kedip, katanya.

"Apa dikira dirinya masih bisa mengelabui kau?"

Nyo Hoan tertawa, katanya tawar.

"Tentunya dia tahu takkan bisa mengelabui aku."

"Adakah orang dalam kolong langit yang bisa mengelabui kau?"

"Mungkin hanya satu orang saja yang bisa menipuku."

"Siapa?"

"Aku sendiri." * * * * * Seluruh hadirin jadi melongo dan berdiri menjublek. Mereka datang untuk makan dan minum perjamuan pernikahan, sekarang hidangan gagal mereka santap, malah melihat sebuah permainan sandiwara yang tegang dan lucu. Sekonyong-konyong Dian Susi melayangkan tangannya menampar muka Thio Hou-ji. Thio Hou-ji sedikit pun tidak bergerak, mukanya yang pucat seketika merah bengap.

"Pukulan bagus,"

Sorak si dara cilik.

"pukul lagi lebih keras."

Nyo Hoan berkata.

"Orang seperti dia kulit mukanya lebih tebal dari tembok, lebih keras kau menggamparnya, dia pun takkan merasa sakit."

"Lalu bagaimana kita harus menghukumnya?"

"Tidak diapa-apakan."

"Tidak diapa-apakan?"

Dara cilik mengerut kening.

"apa dilepas begini saja?"

"Ya, biar dia pergi."

"Apakah tidak terlalu murah bagi dia?"

"Manusia seperti dia, sejak dilahirkan memang sudah kodrat tukang menipu orang, justru aneh jikalau dia tidak menipu orang lain, maka..."

"Maka kenapa?"

"Maka bila kau bertemu dengan orang macam ini, kau harus waspada dan hati-hati, lebih baik menyingkir saja, kalau tidak umpama benar kau tertipu olehnya memangnya pantas dan syukur."

Dian Susi berjingkrak, serunya.

"Apa kau maksud aku yang pantas ditipu, malah-malah menyukurkan!"

"Benar!"

Sahut Nyo Hoan tegas. Melotot biji mata Dian Susi, hampir meledak dadanya, saking marah dan gugup.

"Dia kan tidak paksa kau? Adakah dia mengancam dan menekan kau? Atau kau sendiri yang mau ikut dia kemari?"

Bungkam dan tak kuasa bersuara mulut Dian Susi saking marah, memangnya tiada omongan yang bisa dia ucapkan. Thio Hou-ji memang tidak memaksa dan mengancam dirinya. Berkata Nyo Hoan.

"Seseorang melakukan sesuatu bila tidak hati-hati, lebih baik jangan menyalahkan orang lain, apalagi mengomeli orang yang tidak tersangkut paut."

Suaranya datar dan mantap.

"Siapapun harus belajar lebih dulu mengoreksi diri sendiri, baru bisa mengoreksi orang lain, kalau tidak itu hanya menandakan dia adalah bocah cilik yang belum lagi tumbuh dewasa."

Dian Susi tiba-tiba memalingkan muka dan berlari pergi. Nyo Hoan mengawasi dara cilik, dara cilik tertawa, terus lari memburunya. Thio Hou-ji malah mengawasi Nyo Hoan, katanya.

"Kau sudah tahu akan persoalan ini?"

"Hanya tahu sedikit saja, belum jelas seluruhnya."

"Tapi sudah lebih dari cukup."

"Cukup."

"Apa pula yang akan kau tindak atas diriku?"

"Coba kau katakan apa yang harus kulakukan?"

Thio Hou-ji menunduk, katanya.

"Biang keladinya bukan aku."

"Aku tahu bukan kau."

"Mana Kek siansing?"

"Lebih baik kau urus dirimu sendiri, baru urus orang lain."

Thio Hou-ji gigit bibir, katanya.

"Kalau aku berjanji kepadamu, selanjutnya takkan menipu orang lagi, kau percaya tidak?"

"Aku percaya."

Tersenyum lebar Thio Hou-ji, katanya.

"Kau memang orang baik, tapi juga manusia aneh." * * * * * Sebetulnya Nyo Hoan bukan aneh, sedikit pun tidak aneh. Dia tidak lebih seperti orang awam umumnya, bisa saja. Satu hal yang tidak mirip orang lain ialah, bukan saja dia percaya kepada orang, dia pun percaya kepada diri sendiri. Setiap menghadapi persoalan dan melaksanakan kerja selalu dia menggunakan caranya sendiri, tapi cara itu pun cara yang paling umum, cara biasa. Adil, tapi tidak pakai kekerasan dan tekanan. Terhadap siapapun tidak keterlaluan, tapi juga tidak akan memberi peluang. Dia suka menggunakan ajaran Nabi Khongcu, Tiong-yong atau tengah sempurna dan pengampunan, suka menggunakan sikap yang wajar dan jiwa yang besar untuk menghadapi kehidupan manusia. * * * * * Dian Susi berlari keluar pekarangan dan memeluk sebatang pohon lalu menangis menggerung-gerung. Air mata bercucuran saking marah dan penasaran.

"Babi gendut, setan kepala besar... aku benar-benar bertemu dengan setan kepala besar."

Kalau tidak bertemu dengan setan kepala besar, bukankah sekarang dirinya sudah menjadi bini maling cabul?

Lambat laun pikirannya tenang emosinya reda, baru terasa olehnya apa yang diucapkan Nyo Hoan tentang dirinya memang tepat dan benar.

Tiba-tiba sebuah tangan terulur mengangsurkan sebuah cangkir teh.

"Siocia, minumlah teh ini untuk meredakan amarahmu."

Dara cilik itu tahu-tahu berada di sampingnya, tawanya manis dan nakal. Tak tahan Dian Susi bertanya.

"Sebetulnya kau ini Siau-lan atau Dian Sim?"

"Agaknya umpama aku menjadi abu, Siocia tetap mengenalku juga."

"Jadi kau adalah Dian Sim?"

"Siapa bilang aku bukan Dian Sim, siapa adalah an..."

Kontan Dian Susi mencubit pipinya, makinya tertawa.

"Setan cilik, baru saja kenal setan kepala besar, kau sudah menirukan caranya bicara..."

"Ah, tidak apa, paling kelak aku bantu Siocia melipat selimut membetulkan ranjangnya."

Kontan Dian Susi menarik muka, katanya penasaran.

"Kau jangan ngelindur, umpama laki-laki seluruh dunia ini mampus seluruhnya, aku pun takkan kawin sama dia."

Tidak beri kesempatan Dian Sim bicara dia lantas bertanya.

"Jadi sejak awal kau sudah tahu bahwa Cin Ko yang ini samaran orang lain?"

Dian Sim manggut-manggut. Dian Susi kertak gigi, katanya.

"Budak mampus, kau sudah tahu, kenapa tidak siang-siang memberitahu aku?"

"Aku tidak punya kesempatan."

"Pertama kali kau antar pakaian, kenapa tidak kau katakan?"

"Waktu itu aku tahu Kek siansing berada di dalam kamar, maka Siocia tanya aku ini Dian Sim atau Siau-lan, aku pun tidak berani menjawab."

Mendengar nama Kek siansing, Dian Susi bergidik seram.

"Belakangan aku sengaja menumpahkan air teh ke badan Siocia, maksudku berkesempatan menyusupkan lipatan kertas ke baju Siocia, siapa nyana kau malah membuangnya."

Dian Susi menghela nafas, sahutnya.

"Waktu itu mana terpikir olehku. Sampai detik ini, aku masih tak habis mengerti, kenapa mereka berusaha menjebak diriku."

"Sebetulnya mereka tidak ingin mencelakai kau, cuma ingin kau menjadi istri orang saja."

"Kenapa mereka mengatur tipu daya begini rumit, lalu siapa biang keladinya?"

"Kek siansing."

Bergidik Dian Susi dibuatnya, katanya gemetar.

"Jadi dia bersekongkol dengan Thio Hou-ji?"

"Kau masih belum paham?"

"Jadi dia pun tidak tertutuk Hiat-tonya oleh Cin Ko palsu itu?"

"Yang terang mereka sengaja bersandiwara di hadapanmu, supaya kau lebih percaya kepada Cin Ko palsu itu,"

Dengan menghela nafas Dian Sim menambahkan.

"Sebetulnya umpama ada sepuluh Kupu-kupu Kembang, cukup dengan dua jarinya saja Kek siansing mampu memites mampus keseluruhannya dengan gampang."

"Memang orang itu amat menakutkan."

"Menurut apa yang kutahu, ilmu silatnya memang jauh lebih menakutkan dari tokoh manapun yang pernah kita jumpai."

Sampai di sini Dian Sim cekikikan.

"Tapi begitu dia melihat Nyo kongcu, mirip tikus berhadapan dengan kucing."

Dian Susi menarik muka, katanya dingin.

"Darimana kau tahu?"

"Jikalau Nyo kongcu tidak datang tepat pada waktunya menolong aku, mungkin sekarang aku sudah tidak bisa bertemu dengan Siocia."

"Orang itu hendak membunuhmu?"

"Agaknya mereka sudah tahu hubunganku dengan Siocia."

"Tapi cara bagaimana kau bisa sampai di sini?"

"Ong toanio membawaku kemari, dia menjual aku kepada Thio Hou-ji."

"Jadi hari itu kau tidak melarikan diri?"

Dian Sim menggeleng-geleng.

"Mana aku bisa lari dari cengkeramannya?"

Dian Susi tertawa geli, katanya.

"Ong toanio bukan Ji-lay-hud, kenapa kau tak mampu lolos dari telapak tangannya? Bukankah kau Sun-go-kong ini biasanya serba pintar dan cerdik?"

Dian Sim memonyongkan mulut, katanya.

"Soal apa yang bikin kau geli?"

"Apa kau tidak bisa melihat, setan kepala besar itu mirip seseorang?"

Dian Sim tertegun.

"Mirip siapa? Orang yang kita kenal?"

"Sebetulnya kau mengenalnya, karena dia teman baik dengan Sun-go-kong."

Dian Sim akhirnya mengerti, katanya cekikikan.

"Maksudnya dia mirip Ti-pat-kay?"

Dian Susi bertepuk tangan, katanya tertawa.

"Mirip tidak menurut pendapatmu?"

"Aku sih tidak tahu dalam hal apa dia mirip."

"Dia pandai makan, senang tidur, begitu berhadapan dengan perempuan cantik, matanya lantas memicing dan cengar-cengir seperti bau kentut, bukankah dia mirip Ti-pat-kay?"

Dian Sim menghela nafas, katanya.

"Tapi kalau tiada Ti-pat-kay, kau dan aku mungkin sudah dikerjai orang."

Dian Susi merengut.

"Kenapa kau selalu membela dia?"

"Karena aku mengaguminya."

"Kalau begini, biarlah kau kuserahkan kepadanya, menjadi bininya. Mau tidak?"

"Mau saja,"

Sahutnya tegas dan lantang, tanpa pikir lagi.

"Kau mau?"

Dian Susi melongo malah.

"Kenapa tidak mau?"

"Kepalanya tiga lipat lebih besar dari orang biasa, memangnya kau tidak melihat?"

"Apa jeleknya kepala besar? Orang berkepala besar pasti lebih pintar."

"Pinggangnya pun lebih besar dari gentong air."

"Tapi hatinya lebih lembut, dan cermat dibanding sebatang jarum, perduli persoalan apapun pasti dia pikirkan dengan seksama."

"Kau tidak merasa dia itu seorang buruk rupa?"

"Seorang laki-laki cukup asal dia pintar bekerja dan cekatan, umpama dia benar-benar jelek juga tidak menjadi soal, apalagi sebenarnya dia toh tidak jelek."

"Dia tidak jelek?"

Dian Susi berjingkrak.

"orang macam apa baru kau anggap jelek?"

"Menurut hematku Kupu-kupu Kembang jauh lebih jelek, cita-cita seorang laki-laki pun dia tidak memilikinya."

Dengan memejamkan mata, mulutnya mengoceh seperti orang mengigau dalam mimpi.

"Jika kau membayangkan secara cermat, kau akan merasa setiap jengkal badannya normal dan patut dipandang, terutama dikala dia tertawa, sungguh menawan hati."

"Baik, kalau kau menyukainya, kenapa tidak kau kawin dengannya?"

"Sayang dia tidak menyukai aku, orang yang disukai adalah..."

"Orang yang kusukai adalah aku sendiri,"

Seseorang menukas. Tahu-tahu Nyo Hoan sudah berdiri di hadapan mereka dengan berseri tawa, katanya pula.

"Siapapun pasti menyukai dirinya sendiri."

Dian Sim menunduk dengan muka merah, tak berani buka mulut lagi. Nyo Hoan berbangkis sekali lalu katanya.

"Marilah kita pergi."

"Pergi?"

Dian Susi melotot.

"pergi begini saja?"

"Tidak begini memangnya harus bagaimana?"

"Mana Thio Hou-ji?"

"Di dalam rumah."

"Kau melepasnya begini saja?"

"Memangnya apa yang harus kulakukan? Membunuhnya? Menghajar tiga ratus rangket?"

"Kau... kau... sedikitnya melampiaskan kedongkolanku!"

"Apamu yang harus dilampiaskan? Dia pernah pukul kau?"

"Tidak!"

"Pernah memakimu?"

"Juga tidak."

"Setelah kau ikut dia kemari, apa pula yang dia ingin kau lakukan?"

"Dia suruh aku mandi, suruh aku ganti pakaian, lalu... lalu..."

"Memberimu makan sampai kenyang, memperkenalkan seorang laki-laki pula, benar tidak?"

"Benar sih benar, namun..."

"Namun kenapa? Tetap ingin melampiaskan dongkol?"

"Sudah tentu."

Dian Susi berjingkrak, serunya membanting kaki.

"Kau... kau bantu aku? Atau membela dia?"

"Siapapun tidak kubela, aku hanya membela kebenaran."

"Kau kira aku tidak benar? Kalau dia? Kenapa dia menipu aku? Kenapa dia menipuku menikah dengan laki-laki itu?"

"Mungkin lantaran kau terlalu cantik, maka orang begitu kepincut dan ingin mempersunting kau, jika seperti aku, umpama kau berlutut minta orang mengawinimu, orang tetap tidak sudi."

Marah bukan kepalang Dian Susi, teriaknya.

"Siapa bilang aku cantik, sedikit pun aku tidak cantik, memangnya kau tidak tahu bahwa mereka bersengkongkol?"

"Sejak kapan kau berubah begini rendah hati? Sukar didapat..."

Nyo Hoan menggeliat, sambungnya.

"Aku mau pergi, mau ikut tidak terserah kepadamu."

"Sudah tentu terserah aku, dengan hak apa kau urus aku?"

Nyo Hoan melangkah pergi, omelnya.

"Jika ketemu Kek siansing, sebetulnya tidak perlu takut, paling dia hanya ingin mengawini kau, takkan menelanmu bulat-bulat."

Belum habis dia bicara Dian Susi sudah memburunya, katanya dengan nafas memburu.

"Apa katamu? Kek siansing masih di sini?"

"Mana aku tahu dia masih di sini atau tidak? Dia di sini memang ada sangkut paut apa dengan aku?"

"Barusan kau masih melihatnya?"

"Tidak salah."

"Kenapa tidak kau bekuk dia?"

"Kau sendiri pernah melihatnya beberapa kali, kenapa kau tidak menangkapnya?"

"Karena aku tidak mampu menangkapnya."

"Aku pun demikian."

"Kau tidak mampu menangkapnya? Masa kepandaian silatmu tidak lebih unggul?"

"Yang terang kepandaianku tidak setinggi yang kau bayangkan, kenapa kau mengagulkan aku terlalu tinggi."

"Kenapa begitu melihat kau lantas lari sipat kuping?"

"Mungkin aku adalah seorang Kuncu, seorang sosiawan sejati, sesat tak menang melawan lurus, masa kau tidak paham akan pengertian ini." * * * * * Jagat gelap gulita hanya disinari bintang kelap-kelip, angin lalu menghembus membawa bau kembang yang harum. Nyo Hoan jalan di depan, Dian Susi mengikuti di belakangnya. Meski setan kepala besar ini membosankan, betapapun lebih baik daripada Kek siansing. Dian Sim berjalan di samping mereka, kedua biji matanya yang besar ganti berganti mengerling ke sana kemari. Tiba-tiba Dian Susi memecah kesunyian.

"Coba kau tanya dia kemana hendak pergi."

Dian Sim mengedip mata.

"Kenapa tidak kau tanya sendiri."

Dian Susi melotot, tapi tidak bersuara lagi. Bagian 7 Dian Sim tiba-tiba berkata pula.

"Mulut Thio Hou-ji memang pandai membual, tapi ada sebuah hal dia tidak menipu kau."

"Hal apa?"

"Cin Ko memang sudah tiba di sini, beberapa hari yang lalu aku dengar mereka memperbincangkannya."

Bercahaya mata Dian Susi, katanya.

"Kau dengar di mana dia sekarang?"

Dian Sim menggeleng-geleng, Nyo Hoan tiba-tiba berpaling, katanya.

"Jikalau benar dia sudah tiba di sini, aku tahu suatu tempat di sana pasti bisa menemukan dia."

"Tempat apa?"

"Laki-laki bujangan suka pergi ke tempat mana, tentunya kau bisa mengira-ngira."

Tempat yang suka didatangi laki-laki bujangan?

Dian Susi bertanyatanya.

* * * * * Cepat sekali Nyo Hoan sudah membawa mereka ke suatu tempat, suatu tempat yang terletak di pojok dinding kota yang buntu.

Sebuah rumah yang bobrok, hembusan angin badai pun bisa merobohkannya.

Dua daun pintunya yang besar bercat luntur tertutup rapat.

Di depan pintu bertumpuk sampah.

Belum sampai di depan rumah, hidung Dian Susi sudah dirangsang bau busuk, tak tahan dia mendekap hidung, katanya uring-uringan.

"Untuk apa kau bawa aku kemari?"

"Bukankah kau ingin mencari Cin Ko?"

"Memangnya dia bakal berada di tempat sekotor ini?"

"Bukan saja dia akan kemari, setelah di sini dia akan merasa berat tinggal pergi."

"Kenapa?"

"Nanti kau akan tahu apa sebabnya."

Dian Susi berhenti, tanyanya ragu.

"Apa di sini banyak orang yang suka mengagulkan diri seperti Thio Hou-ji sebagai tokoh kebajikan?"

"Memang orang-orang yang kemari suka menjadikan diri sendiri sebagai orang bajik."

"Aku tidak mengerti apa maksudmu."

"Maksudku orang-orang ini suka menggunakan uangnya untuk menolong orang lain, malah memberi secara spontan dan cepat."

"Berapa cepatnya?"

"Kalau kau memberikan uangmu, tanggung takkan ada tempat lain yang bisa lebih cepat dari tempat ini."

Dian Sim tiba-tiba menyeletuk.

"Aku mengerti, tempat ini tentu sebuah sarang judi."

"Tepat, agaknya kau lebih cerdik."

Dian Susi merengut, katanya dingin.

"Rumah sebobrok ini, orang yang sudi berjudi di sini tentu orang-orang kroco."

"Agaknya kau tidak mengerti, bahwa seseorang yang keranjingan judi, perduli di manapun, umpama di selokan mereka pun tidak menjadi soal."

"Kalau di tempat manapun boleh judi, kenapa mereka justru ke tempat ini?"

"Karena tempat ini amat rahasia."

"Kenapa harus serba rahasia."

"Banyak sebabnya."

"Coba kau uraikan alasannya."

"Umpamanya ada orang yang takut bini, tidak berani judi, ada orang yang punya profesi luar biasa, tidak boleh judi, ada kalanya uang seorang tidak halal, jikalau taruhannya terlalu besar, kuatir dicurigai orang lain."

Lalu dengan tertawa dia melanjutkan.

"Di sini, terserah cara bagaimana kau hendak pertaruhkan uangmu tiada yang ganggu dan melarang. Bukan saja tiada orang berani menangkapmu, orang tidak akan menanyakan asal-usul uangmu juga."

"Kenapa?"

"Karena pemilik tempat ini adalah Kim toa-hu-cu (Kim si Brewok)."

"Siapa pula Kim toa-hu-cu itu?"

"Orang yang tidak berani diganggu siapapun."

"Cin Ko tidak takut bini, tidak punya latar belakang yang memalukan, kenapa dia suka datang kemari?"

"Karena pertaruhan di sini amat besar dan menyenangkan, bukan orang yang berduit tebal, pintu besar ini pun orang tidak berani masuk."

Dian Susi meliriknya.

"Dan kau? Kau bisa masuk tidak?"

"Kalau aku tidak bisa masuk, cara bagaimana aku bisa bawa kau masuk?"

"Tak nyana bukan saja kau setan kepala besar, setan arak, kau pun setan judi."

"Sebetulnya kau sudah tahu sejak mula,"

Ujar Nyo Hoan tersenyum lebar.

* * * * * Di bawah pintu besar terdapat pintu kecil.

Setelah Nyo Hoan mengetuk gelang tembaga di atas pintu, pintu kecil lantas terbuka.

Dari dalam pintu menongol keluar seraut muka orang.

Muka orang bengis dengan sorot mata beringas.

Dengan melotot suaranya pun galak.

"Untuk apa kau kemari?"

"Kau tidak mengenalku?"

"Siapa kenal kau?"

"Kim toa-hu-cu kenal aku,"

Tiba-tiba entah apa yang dia rogoh terus dijejalkan ke dalam pintu, katanya.

"Bawa ini perlihatkan kepadanya, dia tahu siapa aku."

Habis melotot baru orang itu menutup pintu kecil sekeras-kerasnya. Dian Susi bertanya.

"Benarkah si Brewok kenal kau?"

"Aku bukan ahli kebajikan, aku tidak bisa menipu orang."

"Bagaimana kau bisa kenal orang seperti itu?"

"Karena aku setan judi, setan arak lagi."

"Kek siansing mungkin kemari tidak?"

"Darimana aku tahu?"

"Kau pasti tahu, aku kira kau sudah lama mengenalnya, dia pun sudah tahu siapa kau sebenarnya."

Sampai di sini pintu mendadak terbuka, bukan pintu kecil, namun pintu besar, laki-laki yang garang tadi kini bersikap ramah tamah, katanya sambil menunduk.

"Silahkan, silahkan masuk."

Di sebelahnya seorang laki-laki bertubuh gede kekar, beralis tebal, kulit mukanya benjal-benjol, jenggotnya tercukur bersih, begitu melihat Nyo Hoan lantas memapak maju, katanya tergelak-gelak.

"Angin apa yang meniupmu kemari?"

"Segulung angin yang salah arah."

"Apa angin salah arah?"

Laki-laki itu melengak.

"Kalau bukan salah arah, masa bisa meniupku kemari?"

Laki-laki gede berpakaian kembang-kembang mewah tertawa besar, katanya.

"Sudah berapa bulan kau tidak kemari menghabiskan uang, memangnya tidak kuatir uangmu busuk?" * * * * * Rumah ini cukup besar, namun di mana-mana diliputi asap rokok yang menyesakkan nafas, manusia berjejal di mana-mana. Berbagai orang dengan corak yang berlainan, semuanya bersitegang leher, orang yang tidak tegang hanya pura-pura menenangkan diri belaka, yang benar pakaian dalamnya sudah basah kuyup. Di antara sekian banyak orang hanya satu orang yang tidak merasa tegang, yaitu laki-laki gede berpakaian kembang yang membawa Nyo Hoan. Karena hanya dia yang tahu siapa pemenang paling besar dalam ruang judi ini, kecuali dirinya sendiri. Katanya sambil menepuk pundak Nyo Hoan.

"Silahkan kau bermain sesukamu, setelah segala kesibukanmu berakhir, nanti kutemani kau minum arak."

Setelah orang pergi, Dian Susi tertawa dingin, jengeknya.

"Agaknya hubunganmu intim dengan si Brewok, kalau tidak kenapa dia tidak keluar menyambutmu."

"Lalu siapa kau kira orang yang membawa kita masuk tadi?"

"Jelasnya dia bukan si Brewok bukan?"

"Lalu siapa kalau dia bukan si Brewok?"

"Apa? Jadi dia itu si Brewok? Kenapa tidak punya jenggot?"

"Jenggot kan bisa dicukur."

"Kalau dia dinamakan si Brewok, kenapa jenggotnya dicukur?"

"Karena belakangan ini dia mempersunting bini."

"Apa sangkut paut kawin dengan brewoknya?"

"Bukan saja ada hubungannya, malah sangkut pautnya amat erat dan besar."

"Apakah bininya yang suruh dia mencukur jenggot?"

"Kali ini kau sudah cukup pintar."

"Siapa kira manusia segede itu juga takut bini."

"Berbagai orang mungkin saja takut bini, karena takut bini tidak membedakan ras dan kelas."

"Jadi, takut bini adalah suatu hal yang adil?"

Dian Susi tertawa.

"Persoalan yang begini adil memang jarang terjadi -tapi untung juga belum banyak!" * * * * * Dalam ruangan itu ada beberapa macam perjudian, baykiu, dadu, besar kecil, rolet genap ganjil dan banyak lagi. Di atas dinding ada sebuah pengumuman yang ditulis huruf besar berbunyi.

"Taruhan terbesar seribu tail, terkecil sepuluh tail."

Setengah harian Dian Susi celingukan kian kemari, katanya.

"Mana CinKo?"

"Kutanggung nanti pasti datang,"

Sahut Nyo Hoan.

"Kau tidak menipuku?"

"Kenapa aku menipumu?"

"Kapan dia akan datang?"

"Sukar dikatakan, yang terang kita harus menunggu sampai dia datang."

"Eh, coba lihat, di sana ada perempuan,"

Tiba-tiba Dian Sim menyeletuk.

Di dalam perjudian ada perempuan bukan suatu hal yang aneh, tapi perempuan yang satu ini sungguh terlalu muda, terlalu cantik.

Dia sedang bermain baykiu, malah sedang pegang kartu.

Pakaiannya dari bahan kain yang mahal, perhiasannya pun gemerlapan, tapi cepat sekali barang-barangnya ludes, baju di depan dadanya sampai tersingkap, lengan bajunya pun terjinjing ke atas, maka tampak dada dan lengannya yang putih halus menggiurkan.

Agaknya kartunya jeblok, maka sebagai bandar dia harus membayar taruhan dua kali lipat.

Tumpukan uang perak di hadapaannya sekejap saja sudah habis untuk membayar.

Seorang laki-laki muka burikan di sebelahnya tengah melirik ke arah dadanya yang terbuka, dengan cengar-cengir dia berkata dengan maksud kurang baik.

"Nyonya muda, lebih baik biarkan orang lain yang pegang kartu."

Merah padam nyonya muda ini karena kehabisan uang, sahutnya.

"Tidak, aku harus keduk kembali modal dan kemenangan berlipat ganda."

"Hendak merebut kemenangan mungkin sampai besok pun tiada harapan, seluruh perhiasan dan uangmu sudah habis, peraturan di sini tidak boleh pakai cek atau teken bon."

Sekian lama nyonya muda menggigit bibir, melongo sekian lamanya, tiba-tiba berkata.

"Aku masih ada barang untuk taruhan."

"Barang apa?"

Tanya laki-laki burikan.

"Aku sendiri,"

Sahut nyonya muda membusungkan dada. Seketika bersinar mata laki-laki burik, seperti tertawa tidak tertawa, dia amat-amati orang katanya.

"Berapa kau pertaruhkan harga dirimu?"

Nyonya muda tiba-tiba mengerling genit, katanya.

"Menurut pendapatmu, berapa aku harus pertaruhkan diriku?"

Mengawasi dada orang yang tersingkap dan kelihatan dua bukitnya yang montok, si burik menelan air liur, katanya.

"Tiga ribu tail mau tidak?"

Nyonya muda menggebrak meja, serunya.

"Baik, keluarkan uangmu, kutaruh diriku untukmu."

Pandangan Dian Susi sampai mendelong, katanya menghela nafas.

"Entah dia nyonya muda dari keluarga mana, begitu mengenaskan kekalahannya."

Dari samping tiba-tiba seorang tertawa dingin.

"Nyonya muda kentut, nyonya muda yang genah masakah sudi berada di tempat ini?"

Orang ini bermuka kuda, seluruh pakaiannya serba hitam, dandanan dan seragamnya mirip dengan penjaga pintu tadi, tentunya anak buah si Brewok. Tak tahan Dian Susi bertanya.

"Orang-orang macam apa saja yang berada di sini?"

"Perempuan yang datang ke tempat ini seorang diri, kalau bukan dijual, tentu gundik entah keluarga besar mana,"

Kata orang itu, lalu menuding nyonya muda, katanya pula.

"Dia adalah gundik ketiga belas Ong Pek-ban yang berkuasa di Tay-tong-hu, biasanya kelihatan alim dan genah, tapi sekali berjudi, watak aslinya lantas kelihatan, demikian juga belangnya."

Dian Susi tertawa dingin, katanya.

"Kalau laki-laki tukang judi memangnya tidak menunjukkan kedok aslinya juga?"

Orang itu menyengir, katanya.

"Sayang sekali umpama laki-laki mau jual diri, toh tiada orang sudi membelinya."

Dengan cengar-cengir dia berlalu, tak lupa melirik dua kali kepada Dian Susi. Pucat muka Dian Susi saking dongkol, katanya gemas.

"Kenapa perempuan selalu ditakdirkan bernasib lebih jelek dari laki-laki. Kenapa laki-laki bisa bertaruh, perempuan tidak boleh?"

"Karena perempuan ditakdirkan bukan laki-laki."

"Apa-apaan ucapanmu?"

"Kependekan omongnya, banyak perempuan justru tidak mengerti." * * * * * Nyo Hoan mulai ikut bertaruh. Dia ikut main baykiu, taruhan paling rendah sepuluh tail, maka dia tetap mematuhi aturan, perduli menang atau kalah dia tetap menaruh sepuluh tail. Orang-orang di sebelahnya memang tidak memberi komentar, namun pandangan mereka kelihatan mulai menghina. Tapi Nyo Hoan sedikit pun tidak perduli sikap mereka. Tapi Dian toasiocia justru tidak sabar lagi, bahwa dia datang dan duduk bersama Nyo Hoan, kalau Nyo Hoan malu dia pun ikut malu, tak tahan dia berbisik.

"Bolehkah kau bertaruh sedikit banyak?"

"Tidak bisa!"

Tegas dan pendek jawaban Nyo Hoan.

"Kenapa tidak bisa?"

"Karena aku tidak ingin kalah terlalu cepat, namun aku pun tidak ingin menang."

"Judi macam apa caramu ini? Masakah mengagulkan diri sebagai setan judi."

"Aku tidak pernah mengatakan diriku setan judi, kau yang mengatakan."

Dian Susi tertawa geli, katanya melotot.

"Umpama kau benar setan judi, kau pun hanya terhitung setan judi tingkat terendah."

Nyo Hoan tidak menanggapi, dia tetap menaruh uangnya, tetap sepuluh tail. Sekonyong-konyong dalam ruang judi yang besar itu serempak terdengar sorak-sorai.

"Cin Tayhiap datang... Cin siauhiap datang, suasana tentu lebih ramai."

Cin Ko ternyata benar-benar datang.

Terasa mulut Dian Susi kering, kaki tangan dingin, saking tegang sampai nafasnya terasa sesak.

Dia sudah pentang mata lebar-lebar dan ulur leher setinggi mungkin, namun belum juga melihat Cin Ko, mungkin karena tegang pandangan matanya pun menjadi kabur.

Untunglah akhirnya dia melihat sapu tangan merah yang terikat di leher, sapu tangan merah menyala laksana sinar matahari senja.

Cin Ko memang seorang terkenal, di manapun dia berada dirinya tentu dielu-elukan.

Seluruh hadirin merubung maju.

Nyo Hoan justru tetap tenang dan duduk sekokoh gunung di tempatnya, seluruh perhatiannya tertuju kepada taruhannya.

Sepuluh tail.

Dongkol, gemas dan penasaran hati Dian Susi, Cin Ko tokoh setenar itu datang, dia malah acuh tak acuh, keruan hatinya getol sekali, terpaksa dia bertanya kepada Dian Sim.

"Kau sudah melihat dia tidak?"

"Dia? Siapa yang kau maksud dengan dia?"

"Sudah tentu Cin Ko yang kumaksud, kecuali Cin Ko siapa lagi?"

"Melihat sih sudah, cuma..."

"Bagaimana tampangnya?"

"Bagaimana tampangnya? Ya tetap sama seperti manusia umumnya? Matanya dua, hidungnya satu, punya mulut punya dua kuping, biasa saja."

Keruan Dian Susi uring-uringan, ingin rasanya dia sumbat mulut usil ini dengan sekeping uang sepuluh tail. Untunglah cepat sekali dia sudah mendengar suara Cin Ko. Suaranya lantang berisi.

"Mau judi ya judilah sampai puas, kalau tidak, lebih baik pulang saja membopong bini di rumah."

Hadirin tertawa geli.

"Benar, Cin Tayhiap memang seorang jenaka dan periang."

"Main pasangan genap ganjil lebih menyenangkan, Cin Thayhiap bagaimana kalau kau jadi bandar?"

Cin Ko menjawab dengan tegas dan riang.

"Baik, bandar ya bandar, cuma aku ada satu syarat."

"Silahkan Cin Tayhiap bicara."

"Aku tidak perduli tentang aturan yang ditegakkan si Brewok, yang bermain sama aku, paling sedikit harus bertaruh seratus tail, lebih banyak lebih baik, bagi aku semakin besar taruhan semakin bergajul."

Orang-orang yang merubung tadi akhirnya bubar.

Baru sekarang Dian Susi sempat melihat Cin Ko, akhirnya dia merasa lega dan terhibur bahwa dia sudah melihat tokoh besar yang dipuja-puja dalam hati.

Sudah tentu sapu tangan merah itu yang dia lihat pertama kalinya, merah semerah rona mukanya sekarang.

Sapu tangan itu terikat di leher yang besar dan kekar, kelihatannya amat serasi dengan badan dan kewibawaan Cin Ko.

Wibawa Cin Ko memang amat besar, sekali rogoh dia keluarkan segebung uang kertas di atas meja.

"Hayo taruh uangmu, terserah berapa menurut kemampuan dan keberanian kalian!"

Maka beramai-ramai orang mempertaruhkan uangnya, ada yang ratusan, tidak sedikit yang bertaruh ribuan juga.

Seolah-olah orang yang berjudi di sini, kalau uangnya tidak hasil curian, tentu hasil merebut milik orang lain.

Dian Susi menyentuh Nyo Hoan dengan sikutnya, tanyanya perlahan.

"Kau kenal Cin Ko tidak?"

"Tidak kenal."

"Sungguh memalukan, katanya kau sering kelayapan di Kangouw, tokoh sebesar ini kau pun tidak mengenalnya."

"Karena aku bukan tokoh besar, apalagi setiap berhadapan dengan tokoh besar, hatiku lantas tegang."

"Kenapa tidak kau berusaha untuk kenal dia?"

"Kenapa harus berusaha kenal?"

"Karena... karena aku ingin mengenalnya."

"Urusanmu sendiri, sudah kukatakan, hanya membawamu kemari, urusan lain kau selesaikan sendiri,"

Jawabannya selalu sepele, namun pendengarnya bisa jengkel. Tapi Dian Susi tidak kehilangan akal, sekilas dia putar otak dengan biji mata berputar, tiba-tiba dia bertanya.

"Si muka burik itu kau kenal tidak?"

"Burik itu sih aku kenal, karena dia bukan tokoh besar."

"Apa kerja orang itu?"

"Kabarnya dia penghisap darah di sarang judi ini."

"Penghisap darah?"

"Kerjanya khusus menunggu orang-orang yang kalah judi dan membeli barang-barangnya dengan harga rendah, barang yang seharusnya berharga tiga ratus tail, dia bisa membelinya seratus lima puluh tail."

"Sebagai orang baik, bagaimana kalau kau tolong kesulitanku?"

"Bantu kesulitan apamu?"

"Juallah diriku kepada si burik."

Nyo Hoan melengak dan mengamatinya dari kepala ke kaki, tanyanya.

"Kau sakit atau suiting?"

"Tidak, aku tidak sakit."

"Lalu untuk apa kau harus kugadaikan kepada dia?"

"Tak perlu kau urus apa maksudku, asal kau sudi membantu, selanjutnya aku tidak akan mempersulit kau."

"Jadi kali ini untuk yang terakhir?"

"Pasti terakhir kali."

"Baiklah, lebih baik sakit sebentar daripada lama menderita, kali ini aku turuti kemauanmu,"

Lalu dia melambaikan tangan kepada si burik dan berteriak.

"Tio Kong, bisa kemari sebentar?"

Tio toa-ma mengawasinya sebentar lalu berpaling kepada Dian Susi di sebelahnya, akhirnya datang menghampiri dengan mimik tawa tidak tawa, katanya.

"Bertaruh sepuluhan tail juga ludes kau? Lalu apa yang ingin kau gadaikan?"

"Coba kau taksir, berapa kau berani membelinya?"

Lama Tio Kong mengamat-amati Dian Susi, tanyanya dengan muka terang.

"Berapa yang kau minta?"

"Nona secantik dan semuda ini, paling sedikit berharga tiga ribu."

Mengawasi Dian Susi, Tio Kong sampai melamun, mulutnya menggumam.

"Agaknya barang asli dan masih baru... baiklah, kubayar tiga ribu, tapi kau harus tanggung dia takkan melarikan diri."

"Memangnya kau takut orang menipumu?"

"Siapa yang berani menipu aku, aku harus mengaguminya,"

Ujar Tio Kong tergelak-gelak. Lalu dia keluarkan tiga ribu tail uang kertas diberikan kepada Nyo Hoan. Belum lagi sempat diterima mendadak Dian Susi berjingkrak dan berteriak.

"Tolong, tolong!"

Suaranya lebih keras dan menakutkan dari orang mencekik leher ayam hidup-hidup.

Nyo Hoan melirik pun tidak, seakan-akan dia sudah menduga sebelumnya.

Cuma Tio Kong yang tersentak kaget, kecuali dia orang lain seperti tidak mendengar sama sekali.

Akhirnya Dian Susi nekad, sambil berteriak dia lari ke arah Cin Ko.

"Tolong, tolong!"

Boleh dikata dia sudah berteriak di pinggir kuping Cin Ko. Baru Cin Ko seperti mendengar dan berpaling dengan bingung, tanyanya mengerutkan alis.

"Ada apa?"

Dian Susi menuding Nyo Hoan, katanya.

"Dia... dia... hendak menjual aku kepada orang lain."

Cin Ko mengamat-amatinya sebentar, tanyanya.

"Dia pernah apamu?"

Dian Susi membanting-banting kaki dengan gugup seperti hampir menangis, sahutnya.

"Dia bukan apa-apaku, aku cuma diajaknya dolan ke sini, siapa tahu, dia... dia..."

Mendadak Cin Ko menggebrak meja, serunya gusar.

"Kurang ajar, masakah tiada aturan dalam dunia ini!"

Dengan langkah lebar menghampiri Nyo Hoan, tanyanya melotot.

"Dengan hak apa kau hendak menjual nona cilik itu?"

Nyo Hoan menghela nafas, sahutnya.

"Aku ini setan judi, uangku sudah habis-habisan."

Alasannya patut dihajar tiga ratus kali pentungan di pantatnya. Tak nyana Cin Ko seperti simpatik kepadanya malah, katanya.

"Ya, tak bisa salahkan kau. Berapa banyak uang yang ingin kau keduk kembali?"

"Agaknya Cin Tayhiap sudi turun tangan, seperak pun aku tidak mau lagi."

Nyo Hoan berdiri sambil menepuk-nepuk pakaian terus berlalu tanpa berpaling lagi. Melihat punggung orang, timbul rasa iba dan duka dalam benak Dian Susi.

"Bagaimana juga, setan kepala besar ini bukan orang jahat, kelak aku harus cari kesempatan untuk membalas kebaikannya."

Tiba-tiba teringat olehnya akan Dian Sim, pikirnya pula.

"Dia belum menikah, Dian Sim menyukainya juga, kenapa tidak kujodohkan Dian Sim kepadanya saja?"

Sayang sekali waktu dia berpaling dan mencari-cari Dian Sim entah pergi ke mana, bayangannya tidak kelihatan, dengan kebingungan akhirnya dia berpaling pula, dilihatnya Cin Ko sudah berdiri di sampingnya, seperti tertawa tidak tertawa mengawasi dirinya.

Setelah mengalami banyak derita, banyak membuang waktu dan tenaga, dengan susah payah akhirnya berhasil berhadapan dengan tokoh besar ini.

Cin Ko masih menatap dirinya, agaknya menunggu dia buka suara, sepasang matanya berkilat dan berwibawa.

Akhirnya Dian Susi unjuk senyuman manis, katanya.

"Terima kasih akan pertolongan Cin Tayhiap, kalau tidak, aku... entah bagaimana keadaan diriku."

"Kau kenal siapa aku?"

Tanya Cin Ko. Dian Susi mengerling ke arah sapu tangan merah di lehernya, sahutnya tertawa lebar.

"Orang Kangouw siapa yang tidak kenal Cin Tayhiap?"

"Kau tahu dan yakin bahwa aku pasti menolongmu?"

"Cin Tayhiap menegakkan keadilan, menolong yang lemah menindas yang lalim, semua kaum persilatan tahu akan kebesaran jiwa Cin Tayhiap."

"Lantaran kau tahu aku pasti menolongmu, maka kau minta orang itu menjual dirimu kepada si Burik?"

Seketika Dian Susi tertegun. Sungguh mimpi pun dia tidak menduga Cin Ko dapat memecahkan muslihatnya, lebih tidak nyana orang bakal membebernya secara terbuka.

"Kau... darimana kau tahu?"

Cin Ko tertawa, katanya.

"Bagaimana aku tidak tahu? Kau kira caramu ini bagus, bagi diriku cara ini sudah usang. Karena sedikitnya sudah tujuh kali aku pernah mengalami kejadian serupa ini."

Merah jengah selebar muka Dian Susi, ingin rasanya menggali lubang menyembunyikan diri untuk menutupi rasa malunya. Tiba-tiba Cin Ko berkata pula.

"Tapi ada satu hal kau berbeda dengan gadis-gadis yang pernah mau menipu aku."

Dengan gigit bibir, Dian Susi memberanikan diri, tanyanya.

"Hal... hal apa?"

Cin Ko tersenyum, ujarnya.

"Kau lebih cantik, tawamu pun lebih manis. Perempuan yang tawanya manis, rejekinya kelak semakin baik, maka..."

Tiba-tiba dia menarik Dian Susi, katanya.

"Mari, temani aku berjudi, coba kau bisa membawa nasib baik bagi aku?"

Akhirnya terlaksana juga cita-cita Dian Susi untuk berkenalan dengan Cin Ko setelah mengalami banyak aral rintangan dan lika-liku.

Didapatinya Cin Ko adalah laki-laki yang berani berkata berani melakukan.

Inilah kesimpulan Dian Susi.

* * * * * Umumnya seorang penjudi pasti setan arak.

Demikian pula Cin Ko adanya.

Sembari main, entah barapa banyak arak yang sudah masuk ke perutnya.

Selama itu Dian Susi tidak banyak omong dan ulah, dia hanya memperhatikan keadaan Cin Ko, suatu ketika baru dia sadar bahwa Cin Ko sudah kalah dan habis-habisan.

Kalau orang lain kalah main, biasanya mukanya amat jelek, tapi lain bagi Cin Ko, dia tetap tenang dan wajar, roman mukanya sedikit pun tidak berubah.

Entah kapan si Brewok yang sudah mencukur kelimis jenggotnya tahu-tahu muncul, berdiri di sampingnya, mukanya mengunjuk rasa simpatik dan belas kasihan, katanya.

"Cin Tayhiap, hari ini rada sial, banyak kekalahanmu?"

Cin Ko tergelak-gelak, katanya.

"Aku berjudi memang siap untuk kalah, asal hati senang, kalah selaksa dua laksa tidak menjadi soal?"

Si Brewok acungkan jempolnya, katanya lantang.

"Bagus! Inilah sikap gagah seorang laki-laki sejati, berani judi juga berani kalah,"

Lalu dia ulapkan tangan, katanya pula.

"Pergi ambil lima laksa tail kemari, supaya Cin Tayhiap bisa mengeruk kemenangan."

Cin Ko pun tertawa besar, serunya.

"Sejak mula aku sudah tahu kau memang seorang royal, tentu tidak perlu menunggu aku buka mulut."

Tiba-tiba muka si Brewok unjuk sikap serba salah, katanya setelah termenung sebentan "Cuma aturan kita di sini, tentunya Cin Tayhiap sudah tahu."

"Kau tetap pegang aturan?"

"Kawan tetap kawan, aturan tetap aturan dan harus dipatuhi. Cin Tayhiap seorang gagah dan lapang dada, tentunya tidak suka mempersulit teman sendiri."

Cin Ko tergelak-gelak, katanya.

"Jangan kau melibatku dengan omonganmu, umpama kau dorong tumpukan uang ke hadapanku, aku orang she Cin takkan mengambil uang dengan cuma-cuma,"

Lalu dia tepuk dada, katanya pula.

"Kau periksa badanku, di mana kau kira cukup setimpal berharga lima laksa tail, silahkan kau buka mulut saja."

"Apa benar?"

Seketika si Brewok tertawa girang. Cin Ko menarik muka, katanya.

"Benar atau salah segala? Asal kau bisa buka mulut, aku akan melaksanakan keinginanmu!"

Jelalatan biji mata si Brewok, katanya merendahkan suara.

"Cin Tayhiap, sudahkah kau melihat tiga orang di pojok sana itu?"

Tanpa dia tuding dan menjelaskan, orang lain sudah tahu siapa orang yang dia maksud.

Karena ketiga orang ini memang serba istimewa.

Mereka adalah seorang Tosu, seorang Hweshio, dan seorang Siucay rudin.

Sarang judi sudah biasa dikunjungi berbagai tingkat manusia, bahwa Hweshio dan Tosu berada di tempat ini pun tidak perlu dibuat heran.

Anehnya tiga orang ini tidak main judi, mereka pun tidak ikut bertaruh.

Si Hweshio jari-jarinya menghitung tasbih mulutnya komat-kamit membaca mantra.

Si Tosu pejamkan mata, kedua tangannya terangkat, duduk bersimpuh semadi.

Sementara si Siucay rudin tangan kiri memegang cangkir arak, tangan kanan memegang buku, duduk sambil goyang kepala membaca dengan asyiknya.

Bahwa Hweshio membaca mantra, Tosu semadi dan Siucay baca buku adalah jamak dan lumrah di dunia ini, tapi mereka melakukan kebiasaan ini justru di sarang judi, tempat yang luar biasa, maka hal yang biasa ini menjadi ganjil.

Ketiga orang ini masing-masing menduduki sebuah meja, umpama orang lain hendak berjudi di meja mereka pun tak bisa berlangsung lagi.

Dian Susi merasa ketiga orang ini seperti sengaja hendak mencari perkara, terasa pula bahwa cara yang digunakan ketiga orang ini bukan saja istimewa, juga menarik.

Cin Ko mengerut kening, tanyanya.

"Maksudmu minta aku mengusir mereka?"

"Begitulah maksudku."

"Kenapa tidak kau sendiri yang mengusir mereka?"

"Karena mereka tidak melanggar tata tertib di sini,"

Sahut si Brewok tertawa getir.

"Tiada peraturan yang mengharuskan setiap orang di sini harus ikut bertaruh, berani kau mengatakan Siucay dilarang membaca buku, Tosu dilarang semadi dan Hweshio dilarang bermantra?"

Hampir saja Dian Susi tertawa geli. Semua orang tahu bahwa ketiga orang ini sengaja bikin gara-gara, namun mereka tiada yang berani bilang ketiga orang ini salah.

"Kapan mereka datang?"

Tanya Cin Ko.

"Beberapa hari yang lalu sudah berada di sini, tapi kadang-kadang datang, tiba-tiba pergi, tiada orang tahu kapan mereka mendadak berada di situ."

Bercahaya biji mata Cin Ko, katanya.

"Kalau demikian, ketiga orang ini masing-masing punya kepandaian."

"Kelihatannya memang rada sulit dihadapi, maka jikalau Cin Tayhiap tiada suka menghadapi kesulitan, cayhe pun tidak akan memaksa."

"Aku justru dilahirkan untuk mencari kesukaran,"

Cin Ko tertawa dingin. Si Brewok tertawa riang, ujarnya.

"Oleh karena itu, lima laksa tail ini sudah menunggu Cin Tayhiap untuk menarik kemenangan sebanyak mungkin."

Cin Ko tertawa besar, seluruh arak di hadapannya dia tenggak habis seluruhnya, dengan langkah lebar dia menghampiri ke sana.

* * * * * Setiap melakukan sesuatu kerja yang dikehendaki, Cin Ko selalu bertindak tegas, dan cekatan, tidak pernah berlarut-larut.

Tapi hanya demi lima laksa perak dia sudi diperalat oleh cukong perjudian di sini untuk menjadi tukang pukulnya, bukankah terlalu merendahkan derajatnya?

Dian Susi selalu memperhatikan diam-diam, sedikit banyak hatinya menjadi sedikit kecewa.

"Tapi seorang Tayhiap pantas melakukan apa? Membela dan menegakkan keadilan, membantu si lemah menindas si lalim, berlaku adil dan tegas dalam kata dan tindakan, melerai pertikaian... semua kerja ini bukan saja tidak dibayar sepeser pun, bukan mustahil malah harus merogoh kantong sendiri. Tayhiap sama saja seorang manusia, sama-sama harus makan, menghamburkan uang, malah lebih banyak pengeluarannya dari orang biasa, jikalau harus selalu merogoh kantong sendiri menambal kekurangan orang lain, bukankah lama kelamaan dia bakal mati kelaparan?"

"Seorang Tayhiap bukan angsa yang dapat menelurkan telur mas, dari langit takkan terjadi hujan uang berhamburan jatuh untuk dipungut manusia secara cuma-cuma, memangnya kau ingin mereka terima menjadi penarik kereta sebagai keledai? Bukankah kerja ini pun cukup memalukan?"

Pikir punya pikir Dian Susi berkesimpulan apa yang dilakukan Cin Ko tidak salah dan ganjil.

Tosu duduk semadi, Hwesio bermantram, Siucay membaca dengan asyik.

Cin Ko pelan-pelan mendekati mereka.

Sengaja langkahnya perlahan-lahan, sikapnya wajar dan seperti acuh tak acuh, bukan karena baru menghabiskan lima enam kati arak, kuatir langkahnya sempoyongan, yang terang di saat melaksanakan kerja apapun, pertama-tama dia mengharap tingkahnya sudah menimbulkan perhatian orang lebih dulu.

Dia amat suka menikmati mimik dan sikap orang yang rada hormat dan segan kepada dirinya.

Dan untuk hal ini selamanya dia selalu berhasil dengan sukses.

Seluruh hadirin dalam sarang judi memperhatikan dirinya, suasana mendadak sunyi senyap, suara dadu dan rolet pun berhenti.

Senyum Cin Ko semakin mekar, pelan-pelan dia menghampiri Siucay, katanya dengan suara lembut.

"Siucay buku apa yang kau baca?"

Si Siucay tidak mendengar.

Dalam pandangan orang-orang Kangouw, Siucay adalah kutu buku yang kecut, demikian pula Siucay yang satu ini.

Pakaiannya seperangkat jubah biru yang sudah dicucinya sampai luntur warnanya, raut mukanya kuning dan kurus seperti kekurangan vitamin.

Saat mana dia sedang asyik membaca sambil goyang-goyang kepala dan geraki tangan, mendadak dia gebrak meja, katanya dengan tertawa lebar.

"Bagus Thio Cu-hong, hebat memang Cu Gay, meski serangan palu tidak kena, namun cukup mengejutkan bumi dan langit, setan dan malaikat pun ketakutan... sungguh menyenangkan, sungguh menyenangkan!"

Habis mengoceh, arak dalam cangkirnya ditenggak habis. Tak tahan Cin Ko lantas bertanya.

"Siapa Thio Cu-hong, siapa pula Cu Gay? Apakah mereka tokoh Bulim yang bersenjata palu?"

Baru sekarang si Siucay angkat kepala, sikap dan mimiknya seperti melihat seekor unta tiba-tiba muncul di hadapannya, rasa hormat sedikit pun tak terunjuk di mukanya.

Setelah mengawasi sebentar, baru dia mengerut alis, katanya.

"Thio Cu-hong alias Thio Liang, masakah kau belum pernah dengar nama orang ini?"

Cin Ko tertawa, sahutnya.

"Belum pernah dengar, aku hanya tahu di Bulim masa kini, tokoh nomor satu yang bersenjata palu adalah Lan toa-siansing, dia pun teman baikku. Thio Liang yang kau katakan barusan, jikalau dia seorang Hohan, kelak bila ada kesempatan bertemu sama dia, tiada halangannya aku mohon petunjuk beberapa jurus."

Si Siucay seperti ditampar mukanya mendengar ucapannya ini, hidungnya pun sampai peot ke samping, lekas dia tuang secangkir arak lagi terus ditenggak habis, baru menarik nafas panjang, gumamnya.

"Anak bodoh tidak bisa dididik, kayu keropos tak bisa diukir, lebih baik kau pergi yang jauh, jangan membuatku sebal melulu."

Cin Ko menarik muka, katanya.

"Kau ingin aku menyingkir?"

"Begitulah maksudku."

"Tahukah kau apa maksudku kemari?"

"Hati manusia di dalam perut, tahu orangnya tahu mukanya, tidak tahu hatinya, apa yang terpikir di dalam benakmu, mana aku bisa tahu?"

"Baik, biar kuberitahu, aku kemari ingin supaya kau pergi."

Si Siucay amat terperanjat, serunya.

"Ingin aku pergi? Kenapa aku harus pergi?"

"Kau tahu tempat apa di sini?"

"Sarang judi."

"Sebetulnya tidak pantas kau berada di sini?"

"Kalau pelacur boleh kemari, kenapa Siucay tidak boleh kemari?"

"Apa kerjamu kemari?"

"Sudah tentu untuk membaca buku, sehari Siucay tidak membaca, rasanya tulang seluruh badan seperti karatan,"

Lalu dia melotot kepada Cin Ko tanyanya.

"Apa Siucay tidak boleh membaca?"

"Boleh saja."

"Bahwa Siucay boleh datang, Siucay pun boleh membaca, kenapa kau hendak mengusir Siucay? Kau yang benar atau aku yang salah?"

"Kau yang benar."

"Kalau aku yang benar, silahkan kau menyingkir saja."

"Aku tidak akan menyingkir, silahkan kau pergi!"

"Kenapa?"

"Karena aku tidak pakai aturan kepada Siucay."

Siucay berjingkrak berdiri, serunya.

"Kau memang tidak aturan?"

"Ya, tidak aturan."

"Kau ingin berkelahi?"

Tantang si Siucay sambil menyingsing lengan baju.

"Baru sekali ini kau benar."

Melotot mata Siucay, serunya.

"Kau tidak kenal aturan kepada Siucay, kenapa Siucay harus berkelahi dengan kau?"

Pelan-pelan dia turunkan pula lengan bajunya.

"Lebih baik kau lekas menyingkir saja, jikalau kau tidak mau, biar aku..."

"Kau kenapa?"

"Aku pergi. Kau tidak menyingkir biar aku yang pergi.. apa benar kau tidak mau menyingkir?"

"Sudah tentu benar."

"Baik, kau benar-benar tidak menyingkir, aku yang pergi saja,"

Tanpa banyak kata dia benar-benar melangkah pergi. Cin Ko tertawa gelak-gelak, sisa arak dalam poci si Siucay dia tenggak habis, lalu dia menghampiri Tosu, katanya.

"Siucay itu adalah temanmu hai Tosu!"

Tosu merangkap tangan, sahutnya.

"Orang beribadah mengutamakan kebajikan dan cinta kasih, semua makhluk hidup dalam dunia ini semua adalah teman baikku."

"Bahwa Siucay bisa kemari, sudah tentu Tosu pun boleh kemari."

"Memang begitulah kenyataannya."

"Siucay boleh membaca, Tosu pun boleh semadi di sini."

"Sicu agaknya memang seorang welas asih. Segalanya sudah dimengerti."

"Tapi aku belum mengerti akan satu hal."

"Silahkan memberi petunjuk."

"Bahwa Siucay sudah pergi, Tosu pun harus pergi."

Tosu berpikir sebentar, lalu katanya.

"Kalau Tosu pergi, Hwesio pun harus pergi?"

Cin Ko tergelak-gelak, serunya.

"Tosu memang orang yang gampang mengerti."

"Apakah Hwesio orang yang gampang diberi mengerti?"

"Bukan,"

Sahut si Hwesio pendek.

"Memangnya kau ini Hwesio sontoloyo?"

"Kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang ke sana? Hwesio kalau tidak ceroboh, siapa yang ceroboh dan dimaki sontoloyo segala?"

"Kalau Hwesio benar-benar ingin masuk neraka, gampang sekali, di sini tidak jauh letaknya dari neraka."

Hwesio tersenyum, ujarnya.

"Kalau demikian, silahkan To-heng menunjukkan jalannya."

"Di hadapan Taysu, mana Pin-to berani merebut dahulu?"

"Silahkan To-heng."

"Taysu silahkan."

Sekilas Hwesio melirik kepada Cin Ko, katanya.

"Dan Sicu ini? Apa ada maksud mengikuti langkah Pinceng?"

Tosu merangkap tangan pula, katanya tertawa.

"Taysu berangkat dulu bersama Pinceng, Sicu ini akan segera mengikuti jejak kita."

"Kalau demikian,"

Ujar si Hwesio.

"Biar Pinceng menunggu di neraka saja... Omitohud!"

"Bu-liang-siu-hud!"

"Siancay, siancay!"

Dengan terangkap kedua tangan, keduanya bersabda akan ajaran agama masing-masing, lalu melangkah pergi setelah menjura kepada Cin Ko dengan tersenyum.

Setiba di ambang pintu si Hwesio tiba-tiba berpaling dan berkata kepada Cin Ko dengan tertawa.

"Semoga Sicu tidak lupa akan janji ini hari."

"Dia tidak akan lupa,"

Ujar si Tosu.

"Darimana Totiang tahu dia tidak akan lupa?"

"Jalan menuju ke neraka selalu lebih baik."

"Benar, turun lebih baik daripada naik dan lebih mudah."

"Juga lebih cepat."

Keduanya menengadah lalu tertawa tergelak-gelak tiga kali, tanpa berpaling mereka melangkah pergi.

Cin Ko ingin tertawa, tapi entah mengapa, ternyata tawanya seperti tertekan di dalam sanubari.

Setiap orang berpendapat, Hwesio, Tosu dan Siucay pasti bukan manusia yang tiba ajalnya seperti dian yang kehabisan minyak, semua sedang menunggu permainan sandiwara apa yang mereka mainkan dengan Cin Ko, siapa tahu mereka justru terima diusir pergi begitu saja, tidak melawan, tidak membuat onar dan tidak mengganggu.

Hadirin mulai bisik-bisik dan menggerundel.

"Sebetulnya apa kerja ketiga orang itu?"

Yang terang mereka bukan sengaja kemari untuk membaca mantram dan semadi melulu.

"Jikalau mencari keributan, kenapa tinggal pergi begitu saja?"

Tentunya karena mereka melihat sapu tangan merah di leher Cin Ko.

"Mungkin kebesaran nama Cin Tayhiap menekan nyali mereka, kalau tidak masakah mereka bertindak begitu jujur?"

Cin Ko memang hebat dan luar biasa.

"Orang yang bicara tentang aturan dengan Siucay adalah manusia pikun, dan orang yang mengajak Cin Tayhiap berkelahi bukan lagi pikun, tapi orang sinting!"

Semula dalam hati Dian Susi merasa risi dan mendelu, serta mendengar sanjung puji ini, seketika hatinya riang gembira.

Di waktu orang lain memuji sanjung Cin Ko, hatinya jauh lebih gembira dari Cin Ko sendiri.

Di saat dia keheranan kenapa Cin Ko sendiri kelihatannya tidak begitu girang, mendadak Cin Ko terloroh-loroh, seolah baru sekarang dia melihat sesuatu kejadian lucu yang konyol, seakan-akan arak dalam perutnya mulai merangsang dan membakar badannya.

Dia terus tertawa, begitu panjang dan aneh tawanya sehingga sikap dan tindak tanduknya tidak mirip lagi sebagai seorang 'Tayhiap'.

Tak tahan Dian Susi maju menghampiri menarik lengan bajunya, katanya berbisik.

"Hai, semua orang sedang mengawasi kau."

Dengan tertawa lebar Cin Ko masih manggut-manggut, sahutnya.

"Aku tahu orang lain sedang awasi aku."

"Bisakah kau tertawa yang lirih saja?"

"Tidak bisa!"

"Kenapa?"

"Karena aku amat geli, maka aku harus tertawa sepuasnya."

"Hal apa yang membuatmu geli?"

"Hwesio..."

"Hwesio kenapa?"

"Katanya dia hendak menungguku di neraka."

"Apanya yang lucu dalam ucapan ini?"

"Hanya satu hal."

"Hal apa?"

"Dia tidak tahu bahwa aku justru keluar dari neraka,"

Sahut Cin Ko, lalu dia menekan suaranya, pura-pura bersikap misterius, bisiknya.

"Tahukah kau kenapa aku lari dari sana?"

Terpaksa Dian Susi menggeleng.

"Karena di sana ada Hweshio,"

Belum habis ucapannya, kembali dia tergelak-gelak. Mengawasi kelakuan orang, dalam hati timbul rasa curiga Dian Susi.

"Apakah orang ini benar-benar Cin Ko tulen?"

Dia pernah salah sekali, kali ini jangan sampai salah pula.

Sayangnya dia tidak tahu macam apa sebenarnya Cin Ko yang tulen.

Untung si Brewok sudah melangkah datang, tangannya menjinjing senampan penuh tumpukan uang perak.

Katanya tertawa lebar.

"Inilah sedikit arti, silahkan Cin Tayhiap menerimanya."

"Baik,"

Cin Ko memang laki-laki yang tegas dan gamblang, tidak sungkan-sungkan.

"Kecuali itu,"

Kata si Brewok.

"kita masih ada sedikit penghormatan kepada Cin Tayhiap."

"Kau hendak memberi apa lagi kepadaku."

"Satu kesempatan."

"Kesempatan apa?"

"Kesempatan untuk mengeruk kembali kekalahannya tadi."

"Bagus, begitu baru menyenangkan."

Si Brewok ikut tertawa, katanya.

"Entah Cin Tayhiap hendak main apa?"

"Sembarang, main apapun boleh."

Si Brewok menggosok-gosok telapak tangan, katanya.

"Benar, main apapun jadi,"

Dengan tersenyum dia menambahkan.

"Yang harus kalah main tentu takkan menang."

Maka Cin Ko kalah.

Dia memang pantas kalah.

Orang-orang yang menonton di sekelilingnya sama menghela nafas -perduli kenyataan atau tidak, menghela nafas, tetap menghela nafas.

Terdengar orang bisik-bisik lagi.

"Kejadian seperti ini, mungkin hanya Cin Tayhiap sendiri yang pernah mengalami."

"Memang, untuk ini pun perlu nasib."

Kalah sampai habis masih dikatakan nasib?

Walau Cin Tayhiap kalah, tapi di dalam persoalan lain nasibnya selalu baik.

Bagi seorang yang bernasib jelek di dalam main judi, nasibnya tentu baik dalam usaha lain."

Cin Ko sendiri bisa menerima dan anggap ucapan ini ada benarnya.

Karena dia habiskan lima kati arak sekaligus.

Kalau perutnya semakin penuh arak, kantongnya justru semakin kosong.

Hadirin masih merubung di pinggir meja, semua mata tertuju ke dalam cawan, di mana tiga biji dadu sedang berputar-putar.

Tiga biji angka enam.

Dengan melempar sembarangan saja si Brewok mendapat angka tiga biji dadu enam, siapa takkan kagum kepadanya.

Tiba-tiba terasa oleh Cin Ko yang sudah kerasukan air kata-kata, si Brewok di hadapannya ini menjadi seorang pendekar besar.

Memang orang yang menang dalam sarang judi baru dianggap pendekar.

Waktu Cin Ko melangkah sempoyongan dari kerumunan orang banyak, langkahnya hampir terjerembab, tiba-tiba dia menumbuk badan seseorang.

Seorang Hwesio.

Cin Ko mengerut kening, gumamnya.

"Kenapa hari ini aku selalu ketemu Hwesio? ...tak heran aku selalu kalah main?"

Hwesio itu tersenyum, katanya.

"Sicu hari ini ketemu berapa Hwesio?"

"Dengan kau sudah dua."

"Dengan aku hanya satu saja,"

Ujar si Hwesio.

Cin Ko angkat kepala dan mengawasi beberapa kali, tiba-tiba baru disadarinya bahwa Hwesio yang ini adalah Hwesio tadi, mukanya bundar, kalau tertawa matanya memicing mirip benar dengan Bi-lek-hud.

Bukan saja Hwesio ini berada di sini, Tosu dan Siucay itu pun sudah kembali.

Cin Ko kucek-kucek mata, tanyanya.

"Kenapa aku bisa di sini?"

"Memang kau berada di sini."

Cin Ko ingin melirik tapi matanya hanya bisa melihat sekelilingnya mengikuti gerakan kepalanya, kalau mata ingin melihat ke kiri kepalanya harus berpaling ke kiri. Hwesio tertawa, katanya.

"Di sini bukan neraka, namun jaraknya tidak jauh lagi."

Sarang judi dengan neraka memang tiada bedanya. Cin Ko kucek-kucek mata, katanya.

"Bukankah tadi kalian sudah pergi?"

Hwesio manggut-manggut.

"Bisa datang, tentu bisa pergi."

"Kenapa sekarang kalian datang pula?"

"Bisa datang, bisa pula pergi."

Sebentar Cin Ko berpikir, katanya.

"Benar. Apa yang diucapkan Hwesio, kenapa selalu benar adanya."

"Karena Hwesio adalah Hwesio."

"Benar, kali ini kalian pula yang tetap benar,"

Seru Cin Ko tertawa.

"Kau tahu kenapa tadi kita mau pergi?"

Tanya si Hwesio. Cin Ko menggeleng-geleng.

"Supaya kau untung lima laksa tail."

Cin Ko terloroh-loroh.

"Semula sudah kukatakan, kau memang orang yang gampang mengerti."

"Tahukah kau,"

Tanya si Hwesio.

"kenapa sekarang kita datang pula?"

"Supaya aku dapat untung lima laksa tail lagi?"

"Salah."

"Begitu kalian pergi, aku lantas untung lima laksa tail, begitu aku kalah main, tahu-tahu kalian muncul pula, bukankah rejekiku selalu nomplok?"

"Hanya ada satu hal tidak baik."

"Apa yang tidak baik?"

"Uangmu habis terlalu cepat."

Cin Ko terloroh-loroh, sahutnya.

"Oleh karena itu, kali ini kalian tidak mau pergi?"

"Tidak mau."

Melotot mata Cin Ko, serunya.

"Kalian tidak mau pergi?"

"Hwesio tidak pernah bohong,"

Sahut si Hwesio.

"Baik, kalau kalian tidak mau pergi, biar aku yang pergi,"

Dengan tawa lebar dia melangkah keluar. Tiba di luar pintu dia berpaling, serunya.

"Aku berangkat lebih dulu kutunggu kau di sana."

"Ke mana?"

Tanya si Hwesio. Cin Ko menuding ke atas, sahutnya tertawa.

"Coba kau lihat apa aku sekarang masih mampu naik ke atas?"

Hwesio menjawab dengan tawa.

Orang di bawah memang sulit untuk naik ke atas.

Umpama benar bisa naik, begitu kurang hati-hati kau akan terjungkal jatuh.

* * * * * Cin ko belum mabuk betul, paling tidak saat itu sedikit sadar.

Akhirnya dia menyadari bahwa ada seseorang tengah memapah dirinya, tapi agak lama kemudian, baru dia bisa melihat siapa orang yang memapah dirinya.

Dengan memicing mata lama dia mengawasi, mendadak tertawa, ujarnya.

"Ternyata kau pun sudah mabuk."

"Seteguk pun aku tidak minum arak, mana bisa mabuk?"

Kata Dian Susi.

"Kalau kau tidak mabuk, kenapa aku harus bantu memapah kau?"

"Bukan kau yang memapahku, akulah yang memapahmu."

Cin Ko terloroh-loroh, katanya sambil menuding hidung Dian Susi.

"Masih kau berkata tidak mabuk? Hidungmu toh sudah penyok berada di sampingmu, sekarang hidungmu berubah jadi dua."

Dian Susi jadi gemas, ingin rasanya dia lempar orang ke selokan, katanya mengertak gigi.

"Kau bisa berdiri tegak tidak?"

"Tidak bisa."

"Kenapa?"

Cin Ko menuding ke bawah, sahutnya.

"Karena aku hendak turun ke bawah,"

Lalu menekan suara, pura-pura bicara misterius.

"Tahukah kau kenapa aku hendak ke bawah?"

"Apa karena di sana ada Hwesio?"

"Sedikit pun tidak salah,"

Ujar Cin Ko terbahak-bahak.

"Hwesio sudah pergi ke sarang judi membaca mantram."

Saking geli badannya terbungkuk-bungkuk, sampai nafasnya tersengal-sengal.

Melihat keadaan orang Dian Susi dongkol dan geli pula, dia kehabisan akal dan tak tahu ke mana dia harus membawanya.

Tiba-tiba Cin Ko terhuyung lari ke depan ke bawah tembok, lalu muntah sejadi-jadinya.

Banyak sekali isi perutnya yang ditumpahkan.

Dian Susi mengharap lebih banyak dia tumpah lebih baik.

"Orang mabuk setelah tumpah-tumpah, mungkin dia bisa sedikit sadar,"

Demikian pikirnya, karena dia sendiri belum pernah mabuk.

Bahwasanya seseorang yang betul-betul mabuk, apapun yang terjadi tidak akan lekas sadar, apalagi setelah muntah-muntah, bila kadar arak naik ke atas, malah mabuknya semakin hebat.

Demikian pula keadaan Cin Ko, setelah muntah-muntah, badannya segera tersungkur ke samping dan cepat sekali sudah mendengkur di tanah, tidur dengan lelap.

Sudah tentu Dian Susi menjadi gelisah, serunya.

"Hai, lekas bangun, mana boleh tidur di sini?"

Cin Ko tidak mendengar teriakannya.

Dian Susi menggoyangkan badannya, cukup lama dia bekerja keras, lambat laun Cin Ko baru membuka sedikit matanya.

Matanya sipit kecil sepertiga dari keadaan biasa, sebaliknya lidahnya melepuh tiga kali lipat lebih besar dari biasanya.

Dian Susi gugup.

"Macam apa keadaanmu bila dilihat orang kau tidur di sini? Jangan lupa kau laki-laki gede, seorang Enghiong yang disegani."

"Enghiong... berapa harganya Enghiong?"

Cin Ko mengigau.

"Bisakah dijual ke sarang judi?"

Kembali dia menekan suaranya berbisik.

"Mari kuberi suatu rahasia kepadamu, mau tidak?"

Dian Susi hanya tertawa getir, tanyanya.

"Rahasia apa? Katakan."

"Apapun amat kuinginkan, tapi aku tidak ingin jadi Enghiong, rasanya sungguh bukan rasa lagi,"

Habis kata-katanya, kembali dia mendengkur dengan keras.

Dian Susi kehabisan akal dan tak bisa berbuat apa-apa.

Bagian 8 Umpama bumi anjlok dan langit bergoncang pun orang ini takkan bangun, ingin digendong pun dirinya tidak kuat.

Maklumlah seorang yang sudah mabuk, badannya seolah-olah lebih berat dari bobot biasanya.

Ingin rasanya Dian Susi tinggal pergi perduli keadaan orang lagi, sayang dia tidak tega, apa lagi Cin Ko adalah laki-laki pujaan hatinya, seorang Enghiong besar, seorang tokoh besar pula.

Dian Susi menunduk sambil menghela nafas, tiba-tiba dilihatnya sapu tangan merah yang terikat di leher Cin Ko.

Sapu tangan merah, semerah cahaya matahari yang baru menyingsing.

Tapi sapu tangan merah ini sekarang sudah berubah seperti kain gosok meja, di mana ada kotoran meja, kena keringat, kena arak dan kotor oleh isi perut yang dia tumpahkan sendiri.

Sungguh Dian Susi tidak berani membayangkan, betapa besar pengaruh sapu tangan merah ini di pandangan setiap insan yang mengaguminya.

"Betapapun, dia hanya mabuk karena terlalu banyak minum air kata-kata. Setiap orang bisa saja mabuk, jadi kesalahan sepele yang bisa diampuni,"

Dengan menghela nafas Dian Susi berjongkok, dengan sapu tangannya segera dia menyeka keringat dan membersihkan kotoran di mulut dan muka Cin Ko.

* * * * * Fajar telah menyingsing.

Hari seperti mendadak terang tanah, waktu Dian Susi melihat secercah sinar mentari di ujung tembok di depan sana, baru dia sadar barusan dirinya tertidur tanpa terasa.

Dia keheranan, cara bagaimana dirinya bisa tertidur di tempat ini.

Cin Ko dilihatnya masih rebah tengkurap dan mendengkur di pinggir selokan sana.

Waktu dia bangkit berdiri, terasa lehernya linu dan pegal, sekuat tenaga dia coba geleng-geleng dan putar ke kanan kiri serta berpaling ke atas dan bawah supaya otot lehernya mengendor, waktu dia celingukan tiba-tiba dia dapati sesuatu yang ganjil, ternyata badannya tertutup selembar selimut tebal dari kain beludru.

Semalam jelas dia tidak membawa selimut beludru ini, karena tatkala itu dia merasa teramat dingin, perut lapar lagi, dia duduk memeluk lutut di kaki tembok, hatinya sedang dirundung kepedihan dan kebingungan, entah bagaimana dirinya hendak melewatkan malam dingin yang pekat ini.

Mau tidak mau dalam keadaan serba kekurangan, dia teringat kepada si setan kepala besar, sekarang orang tentu sudah makan kenyang, tidur di ranjang yang empuk memeluk guling berselimut tebal, bukan mustahil di sebelahnya ada perempuan cantik genit dan montok seayu Thio Hou-ji yang menemaninya tidur.

Itulah pikiran terakhir yang masih terbayang dalam ingatannya.

Tahu-tahu dia sudah tenggelam dalam buaian mimpi.

"Darimana datangnya selimut beludru ini? Tidak mungkin selimut ini jatuh dari langit, mungkinkah tengah malam mendadak Cin Ko siuman dan mencari selimut ditutupkan ke atas badannya? Tapi kenyataan Cin Ko masih rebah di tanah yang basah, gaya tidurnya yang tengkurap pun tidak berubah. Dengan menggigit bibir, Dian Susi menjublek setengah harian. Pikir punya pikir akhirnya dia berkesimpulan, orang yang mungkin membawa selimut dan menutupi badannya hanya satu orang saja. Tapi dia tidak percaya orang ini sudi berlaku begitu baik terhadapnya. Dia lebih condong untuk tidak mempercayainya. Untunglah gang kecil tempat mereka berada sekarang terletak di deretan belakang rumah-rumah gubuk yang sepi, entah bagaimana semalam mereka bisa sampai di sini. Sekarang hari sudah terang, namun pintu belakang rumah-rumah itu masih tidak terbuka sehingga belum ada orang yang melihat keadaan mereka yang serba runyam. Lekas Dian Susi berkeputusan, betapapun dia harus berusaha menggugah Cin Ko bangun. Maka sekuat tenaga dia goyang-goyang badan orang. Mendadak Cin Ko menjerit, akhirnya siuman sambil kucek-kucek mata, teriaknya dengan menggeleng-geleng kepala.

"Mau apa kau? Kepalaku hampir pecah kau goyang-goyang."

"Lebih baik kalau batok kepalamu pecah,"

Dengus Dian Susi.

"kebetulan bisa mencuci bersih otakmu."

Baru sekarang Cin Ko melihat jelas dirinya, tiba-tiba tertawa, kata-nya.

"Ternyata kau, bagaimana bisa berada di sini?"

"Karena aku bertemu dengan setan arak!"

Sahut Dian Susi dongkol. Cin Ko memegang kepala dan duduk berkeluh-kesah. Melihat raut muka orang yang kusut dan getir, tak tahan Dian Susi bertanya.

"Kau amat menderita?"

"Menderita sekali, malah lebih menderita dari kena sakit berat."

"Bagaimana kau bisa begini menderita?"

"Setiap kali minum arak dan mabuk, hari kedua aku pasti amat menderita."

"Kalau sudah punya ciri demikian, kenapa masih bandel minum arak?"

"Laki-laki minum arak, harus punya watak sebagai laki-laki."

"Memangnya watak laki-laki yang suka minum arak baru menunjukan laki-laki itu seorang Enghiong? Kukira itu hanya pertanda bahwa kau adalah setan arak."

"Perduli Enghiong atau setan arak, yang terang keduanya sama laki-laki, tentu lebih baik daripada banci."

"Orang banci pun takkan menderita seperti keadaanmu sekarang."

Cin Ko menggeleng-geleng, ujarnya.

"Urusan laki-laki, lebih baik jangan dicampuri oleh perempuan."

Lalu dia berbangkit, katanya sambil tepuk-tepuk pundak Dian Susi.

"Hayo, ku traktir minum arak."

Terbelalak mata Dian Susi, serunya.

"Kau masih ingin minum lagi?"

"Tentu harus minum."

"Kau tidak takut menderita?"

"Menderita atau tidak lain persoalan, minum arak adalah persoalan lain pula. Hal ini kaum hawa seperti kau takkan bisa memahaminya,"

Lalu dengan tertawa Cin Ko menambahkan.

"Apalagi yang kuminum sekarang adalah arak yang menambah semangat, tentu tidak akan menderita lagi."

Bahwasanya Cin Ko tidak perduli apa ocehan Dian Susi lagi, setelah bersihkan kotoran badan secara ala kadarnya, serta membetulkan letak sapu tangan merah di lehernya, begitu berdiri tegak, kakinya lantas beranjak keluar dari gang sempit ini sambil membusungkan dada.

Sapu tangan merah yang melambai tertiup angin di depan dadanya kembali kelihatan amat menyolok.

Mau tidak mau Dian Susi harus mengakui, kain yang dia buat sapu tangan merah ini memang dari kualitas yang paling bagus.

Di ujung gang Cin Ko berhenti menunggu Dian Susi, setelah mereka berjajar, baru dia tersenyum, katanya.

"Menurut pendapatmu bagaimana keadaanku sekarang?"

Tak urung Dian Susi cekikikan geli, sahutnya.

"Paling tidak, sudah tidak mirip seekor kucing yang mabuk,"

Tak tahan dia bertanya.

"Kemana kau hendak minum arak?"

"Sudah tentu warung arak terbesar di tempat ini."

"Warung arak?"

"Saat ini yakin warung-warung arak sudah buka pintu."

"Kau membawa uang tidak?"

Tanya Dian Susi mengerut kening.

"Tidak,"

Jawaban Cin Ko cekak aos dan tegas. t Semakin bertaut alis Dian Susi. Tanyanya.

"Tak punya uang dengan apa beli arak?"

"Aku minum arak memangnya perlu membeli sendiri?"

"Cara bagaimana kau hendak beli arak?"

Cin Ko membusungkan dada, ujarnya.

"Begitu aku masuk, banyak orang akan berebut mengundang aku minum arak."

"Tidak rikuh kau terima undangan orang minum arak secara gratis?"

"Kenapa harus rikuh? Bahwa mereka bisa mengundang aku sudah merupakan kebanggaan mereka, aku sudi meminum arak mereka terhitung memberi muka kepada mereka,"

Lalu dengan tertawa dia menambahkan.

"Menjadi seorang Enghiong yang kenamaan, sebetulnya memang banyak manfaat dan untungnya."

Dian Susi tertawa.

Tiba-tiba terasa olehnya bahwa orang ini meski tidak seagung yang pernah dia bayangkan, tapi orang cukup jujur dan terus terang daripada yang dia bayangkan.

Betapapun dia orang masih terlalu muda.

Meski ada ciri atau cacatnya, tapi juga ada kebaikan dan kelebihannya.

Dian Susi tertawa, katanya.

"Kalau orang melihat keadaan mabukmu semalam, kutanggung mereka tidak akan mentraktir kau minum lagi."

"Keadaanku seperti itu takkan terlihat orang, aku hanya memberi kesempatan orang melihat keroyalanku waktu berjudi, serta kekuatanku minum, bila aku hampir mabuk dan kalah main, keadaanku yang serba runyam itu pasti takkan kuperlihatkan kepada mereka,"

Sambil menyengir dia melanjutkan.

"Apa kau pun dengar aku pernah terbacok ratusan kali?"

Dian Susi manggut-manggut, sahutnya tertawa.

"Entah berapa ratus kali aku mendengar kisahmu itu."

"Pernah kau dengar, setelah aku terbacok luka parah, merambat di tanah, di tengah malam tiba-tiba terjaga bangun dan menjerit-jerit kesakitan sambil bergelintingan di tanah serta meraung-raung minta tolong?"

"Tidak pernah."

"Nah, itulah, tentu sekarang kau sudah tahu akan maksudku?"

Dian Susi memang paham.

Jadi orang-orang Kangouw hanya bisa melihat dan mendengar kegagahan dan kejayaannya belaka, justru tidak terpikir oleh mereka di balik cahaya yang terang benderang itu, pasti ada juga lembaran gelap yang mengenaskan.

Bukan saja Cin Ko demikian, pahlawan gagah sejak jaman dahulu kala pun demikian.

Hal ini diibaratkan rakyat jelata hanya melihat keagungan dan kebesaran seorang jendral perang besar yang disanjung puji, tapi tak pernah terpikir oleh mereka di balik kemenangan dan kebesaran namanya itu, tulang belulang manusia berserakan dan bertumpukan di medan laga.

Dian Susi menghela nafas, ujarnya.

"Tak nyana banyak sekali persoalan yang kau ketahui."

"Seorang yang sudah sekian tahun hidup kelana di Kangouw, sedikit banyak pasti berhasil mempelajari dan menambah perbendaharaan pengetahuan dan kenyataan."

Berkedip-kedip biji mata Dian Susi, katanya.

"Tahukah kau bagaimana pandangan diriku terhadapmu kemarin malam?"

Cin Ko geleng-geleng.

"Kupandang kau sebagai laki-laki brutal, orang desa yang masih hijau."

"Orang desa yang masih hijau?"

"Karena siapa Thio Cu-hong kau tidak mengetahui."

Mendadak ganti Cin Ko berkedip-kedip, katanya.

"Kau kira aku betul-betul tidak tahu?"

"Kau tahu?"

"Thio Cu-hong adalah Thio Liang, salah satu dari tiga orang gagah pada dinasti Han, di dalam buku sejarah ada dijelaskan perawakan dan tindak tanduk serta sifatnya mirip sekali orang sekolahan yang lemah lembut, tapi ambisinya setinggi langit, dengan mengandal pukulan palunya dalam peristiwa Pho-long-soa itu, namanya tercatat sampai ribuan tahun."

Saking kaget Dian Susi terkesima, tanyanya.

"Kau benar-benar tahu? Kenapa kemarin kau berkata demikian?"

"Aku memang sengaja."

"Sengaja? Kenapa kau sengaja mengoceh?"

"Karena aku tahu semua orang memuji sanjung kepadaku, karena aku adalah orang demikian, apapun tidak tahu, hanya tahu berkelahi adu jiwa, berjudi habis-habisan, minum sepuasnya."

"Kenapa mereka justru menyanjung manusia demikian?"

"Karena mereka sendiri tidak mampu melakukan,"

Sahutnya dengan tersenyum.

"Meski melakukan apapun, asal kau mengadu jiwa hasilnya tentu lebih gampang."

"Aku mengerti,"

Ujar Dian Susi.

"karena aku pernah melihat derita mu."

"Sedikit pun tidak salah, kalau berani mengadu jiwa, kau harus bersiap menderita lebih dulu."

"Tapi kenapa kau tidak bertindak sebagai Enghiong yang berani mengadu jiwa? Bukankah orang akan lebih memujamu?"

"Cara itu justru tidak akan disanjung orang banyak."

"Kenapa?"

"Karena terlalu banyak orang-orang seperti itu, paling tidak bukan hanya aku seorang."

"O, jadi kalau demikian, orang tidak akan merasa heran dan kagum, benar tidak?"

"Benar, justru karena heran dan kagum, maka sekarang aku baru punya nama setenar ini, baru aku jadi seorang pahlawan besar yang selalu didambakan muda-mudi,"

Seolah olah Cin Ko sendiri merasa bangga dan puas, maka dia menghela nafas, katanya.

"Jikalau aku menjadi seorang lain, pasti orang-orang merasa kecewa terhadapku."

"Oleh karena itu, setelah mabuk kau mengakui, menjadi Enghiong bahwasanya tidak enak dan banyak resikonya."

"Benar."

"Tapi Enghiong banyak ragamnya, kenapa justru suka menjadi Enghiong yang satu ini?"

"Soalnya orang banyak yang menentukan aku sebagai Enghiong seperti itu, sekarang tak mungkin diubah lagi."

"Dan kau sendiri ingin tidak merubahnya?"

"Tidak, aku tidak ingin merubahnya."

"Kenapa?"

"Karena lambat laun aku sudah biasa, sampai ada kalanya aku sendiri pun merasa apa yang dipilih atas diriku memang sudah benar."

"Sebetulnya bagaimana?"

"Sebetulnya tulen atau palsu, aku sendiri pun tidak bisa membedakan."

Lama Dian Susi terpekur, katanya kemudian.

"Aku tidak mengerti."

"Kau tidak perlu tahu, karena inilah kehidupan manusia."

Akhirnya Dian Susi manggut-manggut, ujarnya.

"Sebelum aku melihatmu, mimpi pun tak pernah terpikir olehku bahwa kau adalah manusia demikian."

"Kau kira aku manusia macam apa?"

"Coba kau terka?"

"Kukira kau anggap aku adalah tokoh besar yang luar biasa, aku akan mengundangmu minum arak." * * * * * Bahwasanya Cin Ko bukan seorang tokoh besar, bukan malaikat, namun di dalam pandangan dan sanubari orang-orang Kangouw dia memang seorang Enghiong yang paling mendapat banyak sambutan. Perduli di manapun dia berada, orang banyak selalu menyambutnya, menyanjung memuji dan bersorak gembira. Saat mana mereka tengah beranjak di sebuah jalan kecil yang sepi, pagar tembok di kedua sisi jalan amat tinggi, dahan-dahan pohon terjulur keluar dari balik tembok sebelah dalam, sinar matahari sampai terhalang karenanya. Tiba-tiba Dian Susi tertawa, katanya.

"Sungguh aku tak nyana begitu banyak orang berebutan mengundangmu minum."

Biji mata Cin Ko sudah bersinar, karena arak dalam perutnya sudah mulai bekerja, namun dia belum mabuk. Mengawasi daun-daun pohon di balik tembok, katanya kalem.

"Tahukah kau kenapa mereka menyambutku begitu rupa?"

"Karena kau seorang Enghiong?"

"Itu hanya salah satu sebab, tapi bukan yang terpenting."

"Yang penting apa?"

"Yang penting, mereka tahu aku tiada tekanan dan ancaman bagi mereka. Karena aku tidak lebih hanya seorang laki-laki kasar dan gegabah yang brutal, sering emosi dan tidak tahu diri, maka sedikit pun tiada sangkut paut dan tiada untung ruginya bagi usaha atau kerja mereka,"

Tawanya kali ini amat memilukan.

"mereka menyukai aku, menyambutku, ada kalanya mengelu-elukan aku seperti mereka menyambut seorang aktor yang kenamaan, maka diriku sendiri jelas takkan merugikan kepentingan dan bentrok dengan usaha mereka."

"Apa kau tidak terlalu rendah menilai dirimu sendiri?"

"Kenapa aku harus menilai rendah diriku sendiri, soal ini memang kenyataan, tapi ada juga segi-segi suksesku. Menurut apa yang kutahu, sejak jaman dahulu sampai sekarang para Enghiong yang kenamaan di Kangouw jarang ada yang mendapat sambutan begitu besar seperti diriku."

Dian Susi bertanya.

"Apa kau tidak berpendapat sementara orang ada yang benar-benar menjadi pengagummu?"

"Sudah tentu ada, tapi mereka hanyalah anak-anak yang belum terhitung dewasa, umpamanya..."

"Umpamanya aku?"

"Yang kumaksud adalah dulu, sekarang tentu kau lain."

"Kenapa?"

"Karena kau sudah melihat kenyataan yang tak mungkin dilihat orang lain."

Dian Susi terpekur, katanya pelan-pelan.

"Benar, aku memang sudah melihat beberapa ciri yang tak mungkin dilihat orang lain. Tapi beberapa kebaikan dan kelebihanmu juga tak mungkin dilihat orang lain."

"O, apa benar aku memilikinya?"

"Benar, malah kurasa kau lebih menyenangkan dan jenaka dari kebanyakan orang."

Dian Susi cekikikan geli, sambungnya.

"Tapi laki-laki seperti dirimu, hanya bisa menjadi teman baik, pasti bukan seorang suami yang baik."

"Apa dulu kau pingin menikah dengan aku?"

Merah muka Dian Susi, sahutnya menunduk malu-malu.

"Memang, tapi dahulu."

"Sekarang? Apa kau sudah merasa putus asa dan kecewa terhadapku?"

"Pasti bukan, hanya..."

"Hanya kau merasa kurang puas?"

"Juga bukan."

"Lalu kenapa?"

Dian Susi menghela nafas, katanya.

"Mungkin karena dulu aku menilaimu terlalu tinggi, sekarang aku justru sudah menyelamimu teramat mendalam."

"Justru karena kau sudah memahami diriku, maka kau tidak sudi menikah dengan aku? Kenapa anak perempuan selalu suka kawin dengan laki-laki yang belum dia pahami?"

Dian Susi tidak menjawab, dia memang tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.

Bukan karena kecewa terhadap Cin Ko, karena Cin Ko memang seorang Enghiong sejati.

Sekarang dia hanya merasa dirinya tak mungkin menikah dengan Cin Ko, karena apa yang dia saksikan Cin Ko bukanlah tokoh besar yang dia bayangkan di dalam khayalannya.

Tiba-tiba terasa olehnya bahwa dirinya sekarang benar-benar sudah tumbuh dewasa.

Dian Susi mengawasinya, pelan-pelan dia menarik tangan Cin Ko, katanya dengan tawa dipaksakan.

"Walau aku tak bisa menikah dengan kau, tapi untuk selamanya boleh aku menjadi kawanmu."

Cin Ko diam saja, ingin dia bicara, tapi suaranya seperti tersendat dalam kerongkongan.

"Kau... apakah kau merasa kecewa?"

Balas tanya Dian Susi. Menatapnya Cin Ko tiba-tiba tergelak-gelak, katanya.

"Aku tidak kecewa, perempuan dalam dunia ini bisa jadi istriku, tapi seorang sahabat seperti kau yang benar-benar dapat memahami jiwaku, berapa banyak pula di dunia ini?"

Dian Susi tersenyum, dia balas menatap, tanyanya.

"Tapi kenapa kau beri kesempatan kepadaku untuk memahamimu?"

"Mungkin lantaran nasibku memang jelek."

"Atau mungkin juga lantaran nasibmu baik?"

Cin Ko tertawa besar, serunya.

"Kelak laki-laki yang mempersunting dirimu, pasti nasibnya teramat baik."

Tertunduk kepala Dian Susi, pikirannya terbayang akan setan kepala besar itu. Di mana dia sekarang? Di mana pula Dian Sim? Waktu dia angkat kepala pula dia berkata.

"Jalan ini kalau tak salah pernah kulalui."

Cin Ko manggut-manggut.

"Bukankah di depan sana adalah sarang judi milik si Brewok? Jadi kau hendak ke sana pula?"

"Aku ingin melihat Hwesio itu. Apa kau tidak merasa Hwesio itu aneh?"

"Ya, memang rada aneh, kukira kau bukan mau mencarinya. Mungkin tanganmu sudah gatal lagi."

"Umpama aku ingin main, dengan apa aku harus bertaruh? Pakai jari-jariku?"

"Umpama kantong kosong, apa salahnya melihat orang lain main?"

"Kali ini kau salah."

"Lalu untuk apa kau ke sana? Apa benar hanya ingin melihat Hwesio itu?"

Tawa Cin Ko amat misterius, katanya kalem.

"Benar, karena kudapati Hwesio yang satu ini jauh berbeda dan lebih menarik dari Hwesio yang lain."

Umumnya Hwesio membaca mantram di dalam kuil, setan judi berjudi di sarang judi.

Perduli hal ini ada harganya, paling tidak merupakan kebiasaan dan selalu jamak.

Tapi kalau Hwesio membaca mantram di sarang judi, sebaliknya setan judi berjudi di dalam kuil, tentu hal ini bukan suatu kebiasaan, bukan saja brutal, malah aneh dan menarik perhatian.

Suatu yang aneh pasti ada sebab musababnya yang aneh pula, dan kejadian-kejadian aneh akhirnya menelurkan akibat yang aneh-aneh pula.

* * * * * "Kenapa kau selalu mengatakan sarang judi teramat dekat dengan neraka?"

"Karena orang yang sering berkecimpung di dalam sarang judi, gampang sekali terjeblos ke dalam neraka."

"Memang pernah aku dengar ada orang yang tenggelam dalam sarang judi, sampai istri pun dipertaruhkan."

"Ada kalanya jiwa sendiri pun dipertaruhkan."

"Kalau sarang judi ibarat neraka, lalu tempat apa yang dipandang dekat surga?"

"Biara?"

"Benar, tapi antara biara dan sarang judi ada sedikit persamaannya?"

"Tidak, hakikatnya kedua tempat ini tiada sangkut pautnya."

"Apa kau tidak pernah perhatikan, bahwa sarang judi dan biara biasanya terletak di tempat sepi dan jauh dari keramaian lagi tersembunyi?"

"Benar, kalau sarang judi berada di tempat sepi dan tersembunyi, kenapa biara pun demikian? Toh orang-orang yang bersembahyang di biara tidak perlu malu dan tidak melanggar hukum?"

"Karena semakin jauh letak biara, semakin sepi dan belukar, semakin misterius. Rasa misterius biasanya juga merupakan daya tarik yang paling besar bagi umatnya untuk memujanya."

"Agaknya uraianmu memang benar, tapi bila Hwesio mendengarnya bisa mati jengkel."

"Hwesio takkan mati karena jengkel."

"Kenapa?"

"Arak, ayu, harta dan marah semua adalah kosong, ini menurut ajaran Budha."

"Benar, kalau marah itu kosong, Hwesio sudah tentu takkan bisa mati jengkel." * * * * * Mereka memasuki gang sempit yang panjang itu, di ujung lorong sana letak dari sarang judi si Brewok. Kebetulan mega mendung menutupi sinar niatahari, lapat-lapat guntur menggelegar di tengah-tengah mega mendung yang tebal dan pekat itu. Angin mulai menghembus kencang, cuaca berobah semakin buruk.

"Sebentar agaknya bakal hujan badai!"

Kata Dian Susi setelah mendongak.

"Saat-saat hujan justru merupakan saat berjudi yang paling menyenangkan."

"Kau sudah tahu kejelekan orang berjudi, kenapa justru kemari hendak main?"

"Karena aku bukan manusia baik-baik, aku pun tidak pintar."

Dian Susi tertawa berseri, ujarnya.

"Kau hanya seorang Enghiong."

"Orang baik yang pintar biasanya takkan bisa menjadi Enghiong,"

Sampai di sini tiba-tiba dia tutup mulut, karena tiba-tiba dilihatnya di pekarangan sarang judi itu beitumpuk-tumpuk sesuatu yang menimbulkan keheranan orang, angin lesus yang bertiup kencang malah membuat tumpukan benda-benda hitam itu beterbangan memenuhi angkasa.

"Apakah itu?"

Tanya Dian Susi keheranan.

Cin Ko menggeleng-geleng, langkahnya dipercepat.

Pintu besar yang sudah keropos dari sarang judi berkeriat-keriut dihempas angin mengeluarkan suara benturan keras.

Pintu besar ini ternyata terbuka dan tiada orang yang menjaga.

Sarang judi yang biasanya terjaga keras dan seram ini bagaimana bisa terpentang lebar?

Benda-benda hitam yang beterbangan laksana kabut hitam itu semakin tebal, Cin Ko melangkah maju serta meraihnya secomot.

Lekas Dian Susi memburu maju serta bertanya.

"Apakah itu?"

Cin Ko tidak menjawab, barang di tangannya langsung diangsurkan kepada Dian Susi, benda itu lemas hitam dan enteng seperti bulu, tapi bukan bulu.

"Lho, inikan rambut kepala manusia?"

Teriak Dian Susi kaget.

"Ya, rambut kepala,"

Cin Ko mempertegas.

"Darimana datangnya rambut sebanyak ini?"

"Entah Hwesio itu masih berada di dalam?"

"Kenapa kau berkukuh hendak mencari Hwesio itu?"

"Karena mungkin hanya dia yang bisa menjawab pertanyaanmu,"

Sahut Cin Ko sambil maju mendorong pintu beranjak masuk.

Seketika dia menjublek.

Dian Susi yang ikut masuk juga menjublek seketika.

Siapapun yang masuk kemari pasti akan menjublek.

Hwesio memang berada di dalam rumah.

Tapi bukan seorang Hwesio, namun seluruh orang di sarang judi ini semua adalah Hwesio.

* * * * * Kalau di biara berapa banyak kau melihat hwesio takkan menjadi heran, takkan menjublek.

Tapi tempat ini adalah sarang judi.

Semua perabot untuk main judi sudah lenyap tak berbekas, setan-setan judi itu pun sudah tiada, semua kini berganti jadi Hwesio.

Berpuluh-puluh Hwesio itu semua duduk semadi dengan kedua tangan terangkap di depan dada, selayang pandang kepala gundul melulu yang kelihatan.

Kepala mereka gundul kelimis sampai bercahaya.

Baru sekarang Dian Susi paham kenapa rambut sedemikian banyak berada dipekarangan.

Namun tak habis herannya, kenapa begini banyak orang mendadak jadi Hwesio seluruhnya.

Sarang judi yang biasanya ramai kini sunyi senyap, suara mantram pun tak terdengar, maklum mereka semua Hwesio gadungan, tiadi satu pun yang bisa membaca mantram.

Cin Ko sibuk menemukan Hwesio yang membaca mantram disini kemarin, pelan-pelan dia beranjak maju, dia cari satu persatu, mendadak dia berhenti di depan seorang Hwesio.

Melihat mimik mukanya yang kaget, Dian Susi segera melangkah mendekat -mimik muka orang di kala melihat Hwesio yang satu ini, mirip seseorang yang mendadak melihat mayat hidup kembali.

Lapat-lapat Dian Susi seperti kenal akan raut muka si Hwesio.

Sekian lama dia mengamat-amati, mendadak berteriak tertahan.

"Hah, si Brewok?"

Hwesio ini memang si Brewok. Di sebelahnya adalah Hwesio yang bermuka kasar seperti permukaan pasir yang tertimpa hujan.

"Tio-to ma-cu!"

Laki-laki burik yang ahli ngobyek di sarang judi ini pun jadi Hwesio. Lama Cin Ko memperhatikan si Brewok, lalu ia tepuk pundak orang, tanyanya.

"Apa kau sakit?"

Baru sekarang si Brewok angkat kepala dan menjawab sambil merangkap tangan.

"Sicu bicara dengan siapa?"

"Dengan kau si Brewok!"

"Omitohud, si Brewok sudah mati, Sicu mana bisa bicara dengan dia?"

"Kau bukan si Brewok?"

"Siauceng Bing Kong."

Sekian saat Cin Ko melotot pula, katanya.

"Bagaimana si Brewok bisa mendadak mati?"

"Yang patut mati harus mati."

"Lalu yang tidak patut mati?"

"Lambat atau cepat dia pun akan mati,"

Sahutnya tetap bersimpuh, mukanya tidak menunjukkan perubahan, siapapun yang berhadapan sama dia pasti takkan percaya laki-laki gundul ini adalah cukong sarang judi yang berkuasa di tempat ini.

Kini tak ubahnya seorang Hwesio besar yang berilmu tinggi.

Berputar biji mata Dian Susi, tiba-tiba dia menyeletuk.

"Si Brewok sudah mati, lalu bagaimana dengan bininya yang baru?"

Pertanyaan Dian Susi telak mengena lubuk hati si Brewok, kelihatan orang berusaha kendalikan hati, namun keringat dingin sudah gemerobyos di kepalanya.

Sekilas Dian Susi melirik kepada Cin Ko, katanya pula.

"Menurut hematmu, kemana bini mudanya itu?"

"Kalau dia sudah mati, tentu bini mudanya kawin dengan orang lain."

"Kawin dengan orang lain? Begitu cepat?"

"Yang harus kawin, cepat atau lambat kan harus kawin juga."

"Menikah sama siapa?"

"Mungkin dengan seorang Tosu, atau seorang Siucay, bukankah di empat penjuru dunia semua adalah saudara? Apa bedanya kau dan aku?"

Belum habis dia bicara si gundul alias si Brewok mendadak menggerung keras, terus menubruk kepadanya.

Sebagai cukong sarang judi, kiranya si Brewok memiliki kepandaian yang lumayan juga.

Tampak ke sepuluh jarinya bagai cakar elang, seolah-olah sekali remas dia ingin cengkram hancur leher Cin Ko.

Baru saja Cin Ko melangkah mundur berkelit, dari tengah udara mendadak melayang turun sebuah bokhi mengetuk batok kepala si Brewok dengan keras.

Walau batok kepalanya tidak sampai pecah, namun ketukan ini cukup membuat pandangan gelap kepala pusing tujuh keliling, tak kuasa berdiri badannya terhuyung mundur dan "bluk"

Duduk kembali di kasuran bundar tempatnya tadi.

"Omitohud. Siancay, siancay!"

Terdengar seorang Hwesio bersabda, pelan-pelan melangkah maju, tangannya menopang sebuah bokhi.

Hwesio yang tulen akhirnya muncul.

Pelan-pelan dia mendekat ke hadapan si Brewok, katanya menghela nafas.

"Ayu itulah kosong, dan kosong itulah ayu, kalau kau tak bisa menjebol kekanganmu ini, mana bisa kau menjadi orang beribadah yang saleh?"

Bergetar sekujur badan si Brewok, katanya serak.

"Memangnya aku tidak sudi jadi Hwesio, kaulah yang memaksa aku..."

Belum habis dia bicara "plok"

Batok kepalanya kembali diketuk sekali. Jari-jari si Hwesio agaknya lebih keras dari kayu. Kontan kepala gundul si Brewok benjol besar dan roboh terlentang.

"Siapa yang paksa kau jadi Hwesio?"

Desak si Hwesio tulen.

"Ti... tiada orang yang memaksa."

"Kau ingin jadi Hwesio tidak?"

"Ya, ya... aku ingin."

"Omitohud, sengsara tak berujung pangkal, berpaling kembali ke tepian, letakkan golok jagal, berdirilah menjadi murid Budha... Siancay, siancay..."

Kembali dia mulai membaca mantram. Si Brewok merayap di lantai dan menangis sesambatan. Dian Susi melongo sekian lamanya, akhirnya dia berpaling ke arah Cin Ko, berkata dengan tawa getir.

"Hwesio ini pandai mantram."

"Bukan saja pandai mantram, dia pun pandai mengetuk kepala orang."

"Tutukannya lebih baik dari suara mantramnya."

"Kali ini dia tidak salah memilih tempat membaca mantram, Cuma salah tempat pada ketukan tangannya."

"Memangnya kepala siapa yang patut dia ketuk?"

"Kepala gundulnya sendiri"

Hwesio tiba-tiba menghentikan mantramnya dan berpaling, katanya geleng-geleng.

"Kiranya kau."

"Ya, ini aku."

"Untuk apa kau kemari pula?"

"Kalau bisa pergi, kenapa tidak boleh datang?"

"Kalau sudah pergi, tidak pantas kemari lagi."

"Siapa bilang?"

"Hwesio yang bilang."

"Dengan hak apa Hwesio bilang?"

"Hwesio bisa It-cay-tam, bisa mengetuk bolong batok kepala orang."

"Agaknya Hwesio ini hendak mengusir aku."

"Kemarin kau mengusir Hwesio, sekarang ganti Hwesio yang mengusir kau, bukankah cukup adil?"

"Kalau aku pergi adakah orang yang memberi lima laksa tail kepada Hwesio?"

"Tidak."

"Kalau demikian aku tidak mau pergi."

"Kau tahu tempat apa ini?"

"Seperti sarang judi, tapi juga hampir mirip biara."

"Kemarin sarang judi, sekarang menjadi biara."

"Kalau lonte pun boleh bersembahyang di biara, kenapa aku tidak boleh?"

"Untuk apa kau kemari?"

"Tentunya mau main, setan judi memangnya kerjanya main, kalau tidak main sekujur badan jadi lemas dan malas."

"Biara bukan sarang judi."

"Hwesio boleh membaca mantram di sarang judi, kenapa setan judi tak boleh main di dalam biara?"

Hwesio itu melotot, akhirnya tertawa, katanya.

"Semua yang hadir di sini Hwesio, siapa akan judi dengan kau?"

"Hwesio,"

Sahut Cin Ko.

"Hwesio tidak berjudi."

"Ji-lay-hudco saja berjudi, Hwesio kenapa tidak berjudi?"

Hwesio mengerutkan alis.

"Apa Ji-lay-hudco berjudi? Judi dengan siapa?"

"Dengan Ki-thian-tay-seng Sun Go-kong."

"Judi apa?"

"Sun Go-kong tidak mampu melompat keluar dari telapak tangannya". Hwesio tertawa kecut.

"Umpama benar yang kau bilang, Hwesio tidak punya duit untuk judi."

"Hwesio pintar minta sedekah, kapan saja bisa punya duit."

"Minta sedekah ke mana?"

"Menurut yang kutahu para Hwesio ini kemarin masih preman, bukan?"

"Oya?"

"Terutama Kim-toa-hu-cu,"

Ujar Cin Ko kalem.

"Setelah dia menjadi Hwesio, segala harta bendanya jelas akan jadi milik Hwesio bukan?"

Lalu dengan tertawa ia menyambung.

"kabarnya bila Hwesio minta sedekah, lebih garang dari rampok."

Hwesio masih melotot, wajahnya yang bundar mendadak menjadi kelam, suaranya dingin.

"Kau pandai merebut uang?"

"Tidak bisa."

"Pandai minta sedekah?"

"Jelas tidak bisa."

"Dengan apa kau hendak bertaruh?"

"Dengan badanku sendiri."

"Orang mana bisa dibuat taruhan?"

"Jikalau aku kalah, aku ikut kau jadi Hwesio. Kalau kau yang kalah, biara ini menjadi milikku, para Hwesio itu pun menjadi orang-orangku."

"Judi apa yang kau kehendaki?"

"Tadi kau pandai mengetuk batok kepala, lebih baik kita beradu mengetuk kepala."

"Mengetuk kepala siapa?"

"Kau ketuk kepalaku, aku mengetuk kepalamu. Siapa lebih dulu mengetuk kepala, dialah yang menang."

"Batok kepala jangan disamakan bokhi, kepala bisa pecah."

"Tahukah kau batok kepala macam apa yang gampang pecah?"

Hwesio gelak-gelak.

Di tengah gelak tawanya, tiba-tiba bayangannya menghilang.

* * * * * Lantai sarang judi ini dibuat dari batu-batu petak, batu-batu petak itu tiba-tiba amblas ke bawah, maka si Hwesio anjlok ke bawah.

Cepat sekali papan batu sudah menutup kembali pada tempatnya semula.

Memangnya sarang judi ini serba rahasia letaknya, bahwa di dalamnya terdapat alat-alat rahasia tidak perlu dibuat heran.

Hanya Dian Susi yang keheranan, setelah menjublek setengah harian, tiba-tiba dia tertawa, katanya.

"Agaknya dia tidak ingin berjudi dengan kau."

Cin Ko tersenyum, ujarnya.

"Agaknya dia tahu kepala yang gampang pecah adalah kepala gundul."

"Apa benar kau ingin mengetuk pecah kepala gundulnya?"

"Hanya ingin membikinnya bocor sedikit saja."

"Kenapa? Kelihatannya dia bukan orang jahat."

"Tapi tidak pantas dia paksa orang lain menjadi Hwesio."

"Kalau seluruh setan-setan judi di dunia ini semua jadi Hwesio, bukankah dunia ini bakal aman dan tentram?"

"Apakah Hwesio-hwesio di sini semuanya suka membuka perjudian?"

"Bukan mustahil mereka sendiri yang suka dan rela..."

Belum ucapan Dian Susi berakhir, seluruh Hwesio dalam rumah serempak berteriak.

"Kita tidak suka jadi Hwesio."

"Kita punya keluarga, hidup senang dan bahagia dengan anak bini, kenapa harus jadi Hwesio?"

Teriakan si Brewok paling keras.

"Kami semua dipaksa dan diancam, mohon Cin Tayhiap menegakkan keadilan bagi kita semua."

Cin Ko menghela nafas, ujarnya.

"Semula kukira kau ini laki-laki sejati, kenapa hanya dipaksa lantas menurut dan terima cukur gundul?"

"Karena jikalau kita tidak jadi Hwesio, dia hendak merenggut jiwa kita."

"Jumlah kalian ada tigapuluhan orang, masakah takut menghadapi dia seorang?"

Si Brewok meringis kecut, sahutnya.

"Hwesio buntak itu terlalu galak, terlalu lihay bagi kita, apalagi masih ada Tosu dan Siucay yang bantu dia."

"Masakah kekuatan kalian bukan tandingannya?"

"Kalau kita kuat melawannya, masakah sekarang kita jadi Hwesio?"

Tak tahan Dian Susi menyeletuk.

"Apa manfaatnya bila kalian menjadi Hwesio bagi dia?"

"Sudah tentu ada manfaatnya."

"Manfaat apa?"

"Katanya menjadi Hwesio harus mematuhi empat kekosongan, begitu kita menjadi Hwesio, seluruh harta benda kita lantas menjadi miliknya."

"Kalau demikian, aku pun ingin mengetuk kepalanya,"

Ujar Dian Susi penasaran.

"Tapi kepandaian silat ketiga orang ini teramat tinggi, terutama Hwesio yang satu ini, lihaynya bukan main."

"Tidak sedikit tokoh silat yang pernah kuhadapi lebih lihay dari dia,"

Kata Cin Ko tertawa dingin.

"Memangnya,"

Kata si Brewok berseri.

"kalau Tayhiap sudi menolong, kita akan mendapat jalan hidup."

Dengan kakinya Cin Ko menginjak petak-petak batu katanya.

"Tempat apakah di bawah batu ini?"

"Aku sendiri kurang terang."

"Lho, bukankah kau menjadi cukong di sarang judi ini, kenapa tidak tahu seluk beluk rumah ini?"

Si Brewok menyengir, sahutnya.

"Rumah ini semula bukan milikku."

"Milik siapa?"

"Tidak tahu."

"Memangnya apa yang kau ketahui?"

"Jelasnya pemilik rumah ini sudah mati beberapa tahun yang lalu, seluruh keluarganya mati semua."

"Belakangan tiada orang yang menempati?"

"Ada sih ada, cuma siapapun yang menempati rumah ini, dalam tiga hari pasti pindah ke tempat lain."

"Kenapa?"

"Karena dalam rumah sering terjadi keributan, katanya ada setan."

"Keributan karena setan?"

Teriak Dian Susi mendekap mulut.

"Gedung ini terkenal angker, maka dengan harga murah aku membelinya."

"Selama kau di sini, apa benar sering ada setan?"

Tanya Dian Susi.

"Kadang kala mereka memang sering merasakan beberapa kejanggalan, tapi karena kita banyak orang, maka kita tidak hiraukan sama sekali."

"Kejanggalan apa saja yang pernah terjadi?"

"Sering terdengar berbagai suara aneh-aneh dari bawah tanah, sering pula terjadi sesuatu barang yang diletakkan di meja mendadak menghilang tanpa bekas."

Mengkirik Dian Susi dibuatnya, diam-diam matanya melirik ke arah Cin Ko.

"Sekarang apa yang hendak kau katakan?"

Tanya Cin Ko.

"Asal tidak jadi Hwesio, apapun yang kau lakukan, kita akan menerima suka rela."

"Baik, kalian boleh pulang semuanya, setelah kucari tahu keadaan tempat ini baru kuputuskan."

Tampak si Brewok unjuk rasa takut dan serba susah, katanya.

"Hwesio itu takkan membiarkan kita pergi dari sini."

Cin Ko tertawa dingin, jengeknya.

"Tak usah takut, bila dia merintangi, akulah yang akan menghadapinya."

Si Brewok tertawa berseri, katanya.

"Asal Cin Tayhiap sudi turun tangan, legalah hati kami."

Belum habis ucapannya, Hwesio-hwesio yang memenuhi sarang judi berebutan lari keluar.

Ada yang berdesakan dari pintu, ada pula yang menerobos jendela, dalam waktu sekejap mereka sudah tak kelihatan bayangannya lagi.

Tiada orang yang keluar mengejar atau merintangi mereka.

Hwesio, Tosu dan Siucay tiada satu pun yang unjuk diri.

"Sekarang giliranmu untuk meninggalkan tempat ini,"

Kata Cin Ko kepada Dian Susi.

"Apa? Aku tidak mau."

Meski pucat mukanya, tapi jawaban Dian Susi tegas.

"Kita sudah menjadi teman, umpama kau menuju ke neraka, aku pun akan selalu bersama kau."

Belum habis bicara, badan Cin Ko tiba-tiba anjlok ke bawah.

"Blang"

Cepat sekali papan batu itu menutup kembali.

Baru sekarang Dian Susi benar-benar kaget, dengan keras dia menginjak papan batu di bawahnya, tapi papan batu yang tebal dan berat ini tidak bergeming, celah-celahnya rapat, tiada yang tahu di mana letak alat rahasianya.

Kontan Dian Susi menjerit sekeras-kerasnya.

"Cin Ko, di mana kau? Dengarkah kau suaraku?"

Tiada reaksi.

Dengan kertak gigi Dian Susi tiba-tiba menerjang ke arah pintu keluar.

Kebetulan di luar terjangkit angin badai, tepat di saat Dian Susi tiba di ambang pintu, segulung rambut yang beterbangan mendadak menggulung ke arah dirinya, seolah-olah mencocok dan mencekik lehernya.

Serasa hampir terhenti nafasnya, serta merta dia jejakkan kaki jumpalitan mundur ke belakang, mundur kembali ke dalam rumah.

"Blang"

Dengan keras dia tutup daun pintu lalu menahannya dengan punggungnya.

Lama sekali baru dia menghela nafas lega.

Angin masih mengamuk diluar.

Gedung besar yang kosong ini tinggal dia seorang saja.

Baru sekarang benar disadari bahwa rumah gedung ini memang teramat besar dan luas, terasa betapa kecil dan kerdil dirinya.

"Bruk"

Daun jendela terhempas keras ditiup angin, disusul guntur menggelegar, angin dan hujan terhempas masuk ke dalam rumah.

Tak tertahan Dian Susi bergidik kedinginan, dengan membesarkan nyali dia berteriak keras.

"Adakah orang dalam rumah ini? ...apakah penghuni rumah ini sudah mampus semua?"

Tetap tidak mendapat jawaban. Kembali Dian Susi bergidik seram.

"Apa benar penghuni rumah ini semua mati dan menjadi setan? Lalu di mana Tosu dan Siucay itu?"

Di depan sana ada pintu, daun pintunya tertutup rapat, bukan mustahil mereka sembunyi di sana?

Dengan kertak gigi Dian Susi terjang ke sana dengan segala tenaga dan kecepatannya.

Untung pintu ini tidak terpalang dari bagian dalam.

Dian Susi langsung menerobos masuk.

Di sini adalah sebuah ruang tamu ukuran kecil yang dipajang mewah, selintas pandang, orang akan merasa tentram dan nyaman di sini.

Baru saja Dian Susi menghela nafas, sekonyong-konyong "Blum"

Daun pintu di belakangnya menutup sendiri.

Keruan bukan kepalang kejutnya, dengan sekuat tenaga dia dorong pintu, namun tidak bergeming.

Agaknya pintu sudah terkunci dari luar.

Merinding dan bergidik Dian Susi dibuatnya.

Selangkah demi selangkah dia menyurut mundur sampai di pinggir meja, baru didapati tiga cangkir teh, setumpuk buku, serenteng tasbih dan sebatang kebutan di atas meja.

Air tehnya terasa masih hangat.

Agaknya Hwesio, Tosu, Siucay bertiga sebelum Cin Ko mengusirnya, mereka berada di ruang kecil ini.

Lalu ke mana mereka sekarang?

Dian Susi tertawa dingin, jengeknya.

"Aku tahu kalian di mana, jangan harap kalian bisa menakuti aku."

Yang benar dia tidak tahu apa-apa, kata-katanya hanya untuk membesarkan hati belaka.

Hawa semakin panas, ruang ini teramat gelap.

Lama sekali Dian Susi menjublek di tempatnya, akhirnya baru dia celingukan ke sekelilingnya.

Didapatinya di sebelah kiri sana terdapat sebuah pintu lain, di atas pintu tergantung kerai bambu.

Di seberang pintu berkerai ini adalah dinding tinggi, di mana terdapat beberapa gambar lukisan dari buah tangan seorang ahli.

Di setiap pinggir lukisan terdapat dua baris syair timpalan.

Belum lagi Dian Susi sempat melihat jelas apa bunyi syair-syair itu, tiba-tiba didengarnya suara aneh di belakangnya, kedengarannya seperti suara kerai bambu tersingkap.

Sigap sekali dia membalik badan, seketika dia menjerit tertahan.

Kerai bambu yang semula menjuntai turun, tiba-tiba tergulung naik pelan-pelan, maka terlihat daun pintu di balik kerai ini hanya setengah tertutup.

Luar dalam pintu tak kelihatan ada bayangan orang, seolah-olah ada sebuah tangan setan yang tidak kelihatan, menggulung kerai itu.

Betapapun besar nyali Dian Susi, tak urung berdiri bulu kuduknya, dengan kerahkan seluruh kekuatannya baru dia kuasa berteriak.

"Siapa disitu? Keluar!"

Tiada orang keluar, malah bayangan setan pun tak kelihatan.

Dengan mengepal jari-jarinya, mengertak gigi Dian Susi memberanikan diri melangkah maju, keringat dingin gemerobyos.

Kedua kakinya terasa lemah tak bertenaga.

Lama rasanya baru dia mencapai pintu, di balik ruangan sebelah sana kiranya sebuah kamar tertutup, tiada jendela, maka keadaan di sana lebih gelap.

Kamar ini kosong melompong, hanya terlihat seorang duduk semadi di tanah.

Seorang Hwesio.

* * * * * Hwesio ini bermuka bundar, alisnya panjang menutup mata, bokhi terletak di depannya, kira-kira Hwesio inilah yang pandai membaca mantram dan kejeblos jatuh ke bawah tadi.

Dian Susi menarik nafas, bagaimana juga akhirnya dia menemukan seorang hidup.

Segera dia bersuara.

"Hai, bagaimana kau berada di sini? Mana Cin Ko?"

Hwesio tidak menjawab, tidak bergeming sedikit pun, seperti tidak mendengar pertanyaannya. Suara Dian Susi lebih keras.

"Hai, kenapa tidak bersuara?"

Hwesio tetap duduk tak bersuara, seolah-olah memang orang tuli.

"Jangan kau pura-pura bisu dan tuli, kalau tidak buka suara, kuketuk bocor kepalamu nanti."

Hwesio itu tetap semadi, tak bersuara.

"Kau kira aku tidak berani?"

Dian Susi jadi sengit.

Segera dia memburu maju dan benar-benar mengetuk kepala gundul si Hwesio.

Badan Hwesio bergoyang-goyang lalu roboh pelan-pelan.

Tanpa sadar Dian Susi ulur tangan menjambret jubahnya, katanya keras.

"Kenapa kau, pura-pura mati."

Hwesio tidak bisa pura-pura mati.

Karena Hwesio memang sudah mati.

* * * * * Semula raut muka Hwesio merah dan bercahaya, kini sudah berubah jadi pucat dan kaku.

Dari atas kepalanya yang gundul pelan-pelan mengalir sejalur darah yang membasahi jidat terus hidung pipi dan mulut terus ke dagunya.

Seketika bergetar badan Dian Susi, kaki tangannya menjadi dingin, tak sadar dia menyurut mundur.

Karena dia mundur badan si Hwesio seketika tersungkur ke depan, mukanya mencium lantai.

Baru sekarang Dian Susi melihat jelas, tepat di tengah batok kepala si Hwesio terdapat sebuah lubang kecil, darah segar masih bercucuran dari lubang kecil ini.

"Apakah aku yang mengetuk lubang kepalanya?"

Jelas bukan, karena ketukan jarinya tidak berat, yang terang Hwesio ini sudah kaku, sudah lama mati.

Lalu siapa yang membunuh Hwesio ini?

Mungkinkah Cin Ko?

Di mana dia sekarang?

Dian Susi berdiri menjublek, pikirannya melayang tanpa juntrungan, seolah-olah terjeblos ke dalam impian yang buruk.

Seakan-akan dirinya berada di dalam sebuah kuburan besar, mimpi pun tak pernah terpikir dalam benaknya, bahwa dia bakal terkubur bersama Hwesio.

Kini setan pun sudah tidak ditakuti, umpama benar ada setan pun akan disambut dengan senang hati.

Teringat akan setan, tak urung terbayang olehnya si setan kepala besar.

"Di mana dia? Apa masih menguntitku secara diam-diam? Diakah yang membawakan selimut? Selanjutnya apakah aku masih bisa bertemu dia? Kalau tahu nasibku begini, apakah dia sedih?"

Demikian Dian Susi bertanya-tanya dalam hati.

* * * * * Dalam rumah makin panas, semakin gerah.

Teringat oleh Dian Susi bubur buah teratai, kerongkongannya menjadi kering, sungguh hampir dia menjadi gila karena tak tahan lagi.

Untunglah pada saat itu dia mendengar sebuah suara aneh pula.

Suara itu kumandang dari bawah tanah.

Belum lagi dia sempat membedakan suara apa, tahu-tahu petak batu di depannya menjeplak ke atas, dan terbukalah sebuah lubang.

Karena kejutnya bukan main, lekas dia melompat mepet tembok.

Lekas sekali tampak kepala seorang menongol keluar dari dalam lubang besar itu, Cin Ko.

Bukan kepalang kejut dan girang Dian Susi, seketika dia berjingkrak kegirangan.

Melihat dia Cin Ko juga kaget, melihat Hwesio yang rebah tak berkutik di lantai lebih terkejut lagi tak tertahan dia bertanya.

"Kenapa kau benar-benar mengetuk bolong kepala si gundul ini?"

"Aku baru ingin tanya kau,"

Seru Dian Susi.

"umpama kau ingin mengetuk kepalanya, toh tidak perlu mencabut nyawanya."

"Siapa yang mengetuk bolong kepalanya? Bahwasanya di mana dia berada pun baru sekarang kutemukan di sini."

"Kalau kau tidak tahu, lalu siapa yang tahu?"

"Kau. Bukankah sejak tadi kau bersama dia?"

Keruan Dian Susi mencak-mencak, serunya.

"Siapa bilang aku bersama dia, setelah dia kejeblos jatuh, bukankah kau pun ikut jatuh?"

"Tapi setiba di bawah, bayangannya pun aku tidak melihatnya."

Dian Susi melengak, tanyanya.

"Memangnya apa yang kau lihat?"

"Apapun tak kulihat, hakikatnya tiada apa-apa di bawah, umpama ada aku pun tak bisa melihatnya."

"Kenapa?"

"Karena di bawah tiada lentera, semuanya serba gelap, aku bukan kelelawar, mana bisa melihat barang di tempat gelap."

"Lalu bagaimana kau bisa temukan tempat ini?"

"Di bawah sana ada tangga batu, setengah harian aku meraba-raba, baru sampai di sini, begitu aku beranjak naik tangga, pagar batu itu lantas terbuka sendiri, kukira kaulah yang menolongku keluar dari atas sini."

Dian Susi tertawa kecut, katanya.

"Aku tidak punya kemampuan setinggi itu."

Tanya Cin Ko.

"Cara bagaimana kau pun bisa berada di sini? Hwesio ini?"

"Jangan kau main tebak, waktu aku sampai di sini, dia sudah begitu."

"Siapa yang membunuhnya?"

"Setan yang tahu."

Mendengar setan, muka Cin Ko berubah, katanya tertawa getir.

"Agaknya tempat ini memang ada setan, aku hanya heran, kenapa kau tetap berada di sini."

"Kau kira aku tidak ingin pergi?"

"Kukira kau sedang menunggu aku."

Merah muka Dian Susi, katanya.

"Darimana aku tahu kau menyusup ke tempat mana?"

"Kalau tidak menunggu aku, kenapa kau belum pergi?"

"Karena aku tak mampu pergi."

"Kenapa?"

"Begitu aku masuk ke rumah ini, pintu luar lantas tertutup rapat."

"Siapa yang menutup pintu?"

"Setan yang tahu,"

Kali ini mukanya sendiri yang berubah pucat.

"Kau... kau tak bisa mendorong pintu itu?"

"Terkunci dari luar, mana aku kuat mendorongnya?"

"Mungkin kau tidak kerahkan tenaga."

"Kau kira aku benar-benar tidak becus? Kenapa tidak kau coba sendiri?"

Bagian 9 Sudah tentu Cin Ko harus mencobanya. Baru dia angkat tangan dan mendorongnya perlahan, daun pintu lantas terbuka. Sudah tentu Dian Susi tidak percaya akan kenyataan ini, teriaknya.

"Pintu ini terang terkunci dari luar, pasti tidak salah."

Bagaimana juga pintu sudah terbuka dengan mudah dia bisa keluar, hal ini membuatnya riang. Tapi dia masih uring-uringan. Hatinya amat penasaran. Cin Ko menghela nafas, katanya.

"Umpama benar pintu ini tadi terkunci dari luar, sekarang sudah terbuka, hayolah keluar."

"Aku tidak mau."

"Kenapa tidak mau?"

Cin Ko melengak.

"Kau memfitnah aku? Kau kira aku menipumu?"

"Selamanya aku tidak pernah beranggapan demikian, apapun yang kau katakan selamanya kupercaya!"

Dian Susi menyengir tawa, tapi lekas sekali mengerut kening, katanya.

"Siapa yang mengunci pintu? Kenapa kelakuannya tidak genah?"

"Asal menemukan orang itu, kau bisa tanya kepadanya."

"Benar, kita harus temukan dia, aku ingin kompes keterangannya,"

Tanpa menunggu Cin Ko menyuruhnya, segera dia beranjak keluar lebih dulu.

Hawa di luar memang lebih segar, tiga cangkir teh tetap berada di meja seperti tidak pernah disentuh orang.

Tentunya air tehnya sudah dingin.

Dengan keadaannya sekarang ingin rasanya dia tenggak habis ketiga cangkir teh ini, namun dia sudah tambah pengalaman, terpikir olehnya bila air teh ini beracun.

Baru saja dia hendak panggil Cin Ko, tahu-tahu Cin Ko sudah berdiri di sebelahnya dengan mendelong.

"Hai, kenapa melamun? Apa yang kau pikir?"

Sentak Dian Susi.

"Aku sedang pikir, cara bagaimana kita harus keluar."

"Memangnya, keluar mencari orang yang mempermainkan kita itu,"

Terpikir olehnya pintu di kamar ini tadi pun terkunci dari luar, tadi dia pun tak kuat mendorongnya terbuka.

Kali ini dia tidak suruh Cin Ko mencobanya, dia sendiri yang akan mendorongnya.

Betul juga dengan sekali dorong tanpa pakai tenaga daun pintu sudah terbuka.

Serta pintu terbuka sungguh kaget dan melongo dibuatnya, dari luar kumandang banyak suara aneh dan gaduh.

Mimpi pun takkan pernah terpikir olehnya, bakal mendengar suara-suara ini pula.

Baru saja pintu terbuka segaris, dari luar kumandang berbagai suara, ada suara dadu, suara kartu dikocok, suara rolet berputar, gelak tawa bagi yang menarik uang, helaan nafas bagi yang kalah main.

Di sini memang sarang judi, adalah jamak kalau mendengar suara-suara itu.

Tapi bukankah sarang judi ini sudah bubar?

Bukankah tadi sudah berubah jadi biara Hwesio?

Dan Hwesio-hwesio itu sudah pergi seluruhnya?

Tak tahan hampir Dian Susi menjerit keras, dengan keras daun pintu dia dorong.

Tak tahan akhirnya ia benar-benar menjerit keras.

Jelas dan gamblang, di luar adalah sarang judi, bukan biara dan bukan lagi rumah kosong.

Sinar lampu terang benderang, berbagai manusia sama gembira berjudi, melulu tiada Hwesio.

Sarang judi yang tadi lenyap secara misterius, kini mendadak muncul pula secara misterius pula.

Apakah sebenarnya yang telah terjadi?

Siapa yang bisa menjelaskan?

Lampu dipasang terang benderang di sarang judi ini, setiap meja penuh sesak para penjudi yang berdesakan.

Begitulah pemandangan umum dalam setiap sarang judi di seluruh dunia.

Tapi melihat keadaan ini kejut Dian Susi lebih besar dibanding waktu sarang judi ini penuh dihuni sekian banyak Hwesio.

Lama sekali dia menjublek di tempatnya baru berpaling, Cin Ko berdiri di belakangnya, mulutnya ternganga lebar, matanya melotot, mimik mukanya seperti orang yang ditendang perutnya.

Dengan lidahnya Dian Susi membasahi bibirnya yang kering, katanya tersendat.

"Apa yang kau lihat?"

"Sarang... sarang judi yang amat ramai."

"Benarkah kau melihatnya?"

Cin Ko menyengir tawa, katanya.

"Siapa tahu benar atau tidak?... Hanya setan yang tahu."

Baru saja Dian Susi hendak mengomel, tiba-tiba dilihatnya seseorang tengah melangkah mendatangi dengan muka berseri.

Seorang yang berpakaian perlente, tangannya membawa pipa cangklong, perawakannya tinggi gede, selebar mukanya penuh dihiasi brewok lebat, dilihat dari gayanya berjalan, orang akan tahu bahwa kuda-kuda silat orang ini amat hebat.

Belum orang mendekat Dian Susi sudah memapak maju, tanyanya.

"Sudah berapa lama sarang judi ini dibuka?"

Agaknya orang ini merasa pertanyaan ini amat lucu, dengan seksama dia awasi Dian Susi naik turun, baru menjawab dengan tertawa.

"Di saat perjudian ini dibuka, mungkin nona masih orok."

Sedapat mungkin Dian Susi menahan gejolak hatinya, katanya.

"Sejak sarang judi ini dibuka, kau sudah berada di sini?"

Orang itu tertawa lebar, sahutnya.

"Tamu pertama yang mengunjungi sarang judi ini adalah aku sendiri."

"Jadi kau selalu berada di sini?"

"Kecuali saat tidur, aku selalu berada di sini."

"Siang hari tadi?"

"Biasanya setiap siang aku pasti tidur, tapi hari ini kebetulan kedatangan beberapa tamu, terpaksa aku harus menemani mereka di sini seharian."

Dengan kencang Dian Susi mengepalkan kedua tangannya, tiba-tiba dia berpaling, katanya.

"Kau... kau dengar apa yang dia katakan?"

Muka Cin Ko memutih, dengan langkah lebar dia menerobos maju, bentaknya beringas.

"Lebih baik bicaralah yang jujur."

Orang itu unjuk rasa kaget, katanya.

"Kenapa aku harus bicara tidak jujur?"

"Siapakah kau sebenarnya?"

"Aku she Kim..."

"She Kim? Pernah apa kau dengan Kim-toa-hu-cu?"

Orang itu mengelus brewoknya yang lebat sambil menjawab dengan tertawa.

"Cayhe inilah Kim-toa-hu-cu adanya."

Tak tahan lagi Dian Susi, teriaknya keras.

"Kau bukan Kim-toa-hu-cu, pasti bukan."

"Lalu aku siapa kalau bukan Kim-toa-hu-cu alias si Brewok Emas?"

Agaknya orang ini pun terkejut.

"Perduli siapa kau, yang terang kau bukan si Brewok,"

Seru Dian Susi.

Karena ribut-ribut ini, orang mulai berdatangan merubung.

Tampak oleh Dian Susi orang-orang yang merubung di sekelilingnya semua memiliki wajah aneh yang jelek dan berseri tawa kepadanya.

Maka laki-laki brewok menanya.

"Darimana nona tahu kalau aku bukan si Brewok?"

"Karena aku kenal si Brewok, dia tidak punya brewok, sehelai pun tiada."

Laki-laki itu tiba-tiba tergelak-gelak, serunya dengan menuding Dian Susi.

"Nona ini bilang si Brewok tidak punya jenggot,"

Seluruh hadirin ikut tertawa terbahak-bahak, seolah-olah mereka mendengar lelucon yang menggelikan.

"Kim-toa-hu-cu masa tidak punya jenggot?"

"Jikalau dia tidak punya jenggot, kenapa dinamakan Kim-toa-hu-cu alias si Brewok?"

Gelak tawa mereka menusuk pendengaran. Hampir gila Dian Susi dibuatnya, dengan seluruh kekuatannya dia menjerit.

"Bukan saja Kim-toa-hu-cu tidak punya brewok, malah sudah menjadi Hwesio."

Mendengar ucapannya, tawa orang banyak semakin menjadi-jadi, ada yang terpingkal-pingkal memeluk perut, ada yang saling hantam, ada pula yang terkencing-kencing.

"Kalau Kim-toa-hu-cu jadi Hwesio, laki-laki di kolong langit semuanya bakal jadi Hwesio juga."

"Kalau nona ini tidak salah melihat orang, tentu dia kesurupan setan, atau otaknya sudah sinting."

Keruan Dian Susi berjingkrak gusar, dampratnya.

"Sedikit pun aku tidak sinting, ingatanku masih segar, pasti takkan salah, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri."

"Kau melihat apa?"

Tanya si Brewok.

"Melihat si Brewok cukur gundul jadi Hwesio."

"Laki-laki sehat walafiat kenapa harus jadi Hwesio?"

"Karena ada orang memaksanya."

"Siapa yang memaksanya?"

"Seorang... seorang Hwesio."

Gelak tawa orang banyak semakin keras dan berkumandang dalam gedung besar ini, semakin menusuk kuping, Dian Susi semakin bingung dan terasa pening kepalanya. Sekonyong-konyong seorang bertanya.

"Katamu seorang Hwesio?"

Suaranya rendah dan datar, kedengarannya tidak berteriak keras, tapi di tengah gelak tawa orang banyak, setiap hadirin mendengar jelas suara pertanyaannya, seolah-olah orang ini berdiri di pinggir telinga mereka.

Seorang yang mengerti ilmu silat pun akan tahu, bahwa pembicara ini memiliki lwekang yang maha hebat.

Orang yang semula merubung bundar seketika menyiak minggir, serempak mereka berpaling ke arah datangnya suara, baru sekarang mereka lihat orang yang bertanya ini adalah seorang Hwesio juga.

* * * * * Hwesio ini bertubuh kurus pendek, mukanya kuning seperti orang sakit, duduk di sana kelihatan seperti anak kecil.

Tapi siapapun yang mengawasinya, tiada satu pun yang mengandung rasa hina atau memandang rendah.

Bukan lantaran sepasang biji matanya yang tajam berkilat, bukan lantaran ada dua Hwesio setengah umur bermuka kereng dan bersikap prihatin berdiri di belakang Hwesio cilik itu.

Tapi juga bukan lantaran jubah para Hwesio ini dibuat dari kain yang berkualitas tinggi, bukan lagi karena tasbih di tangannya yang bergerak-gerak itu semuanya mengeluarkan sinar cemerlang.

Apakah sebabnya, tiada orang tahu, yang terang siapapun meski hanya sekilas melihatnya, dalam hati tanpa sadar lantas timbul rasa hormat kepada dia.

Demikian juga Dian Susi.

Meski dia belum pernah melihat Hwesio ini, tidak tahu siapa dia sebenarnya, namun dalam sanubarinya dia sudah menebak orang tentu seorang Hwesio sakti berkepandaian tinggi.

Adalah jamak bagi Hwesio yang berkepandaian tinggi, seperti seorang pendekar besar, di manapun dia berada selalu menjadi perhatian orang banyak.

Anehnya tiada orang melihat sejak kapan ketiga Hwesio ini datang.

"Barusan kau tanya kepadaku?"

Tanya Dian Susi. Hwesio tua kecil manggut-manggut, ujarnya.

"Bukankah Li-sicu barusan menyebut seorang Hwesio?"

"Benar,"

Sahut Dian Susi.

"Hwesio macam apakah dia?"

"Hwesio itu bermuka bundar, kalau tidak salah, pipinya masih ada lesung pipit."

"Berapa usianya?"

"Usianya belum lanjut, tapi sikap dan bicaranya seperti bangkotan tua."

"Apakah dia bersama seorang Tosu?"

"Bukan saja dengan Tosu, masih ada lagi seorang Siucay."

"Di mana mereka sekarang?"

"Siucay dan Tosu entah di mana aku tidak tahu, hanya Hwesio itu..."

Sampai di sini dia menghirup nafas segar, katanya lebih lanjut.

"Hwesio itu sudah mati."

Muka kurus kering Hwesio tua tidak menunjukan mimik perasaannya, tiba-tiba "Brak"

Kursi kayu merah yang dia duduki hancur berantakan.

Namun Hwesio tua tetap duduk bergaya di tempatnya sekokoh gunung tanpa bergeming, jadi pantatnya tergantung di tengah udara.

Sudah tentu semua hadirin mengkirik dan merinding, tiada orang berani tertawa lagi.

Lama sekali baru terdengar Hwesio tua kecil buka suara pula.

"Di mana dia mati?"

Dengan jari tangannya Dian Susi menuding ke belakang pintu.

Baru saja jarinya bergerak, dua Hwesio di belakang Hwesio tua tahu-tahu melambung ke atas terus melesat masuk ke sana.

Terdengar angin menderu keras, pakaian orang sampai tertiup melambai, puluhan hadirin yang dekat pintu seperti diterpa angin kencang, ada pula yang topinya hampir copot.

Dian Susi melirik ke arah Cin Ko.

Rona muka Cin Ko kelihatan prihatin, sapu tangan merah di lehernya sudah basah oleh keringat.

Cepat sekali dua Hwesio gede pertengahan itu sudah beranjak keluar dari balik pintu sambil menggusur jenazah Hwesio bundar itu.

Kelihatan kedua Hwesio ini sedang menahan emosi, namun sorot mata mereka jelas teramat marah dan berduka.

Sekilas saja Hwesio tua cilik melihatnya lalu pejamkan mata, merangkap tangan bersabda Budha memanjatkan doa.

Waktu dia membuka mata pula, mendadak terasa oleh Dian Susi sinar kilat yang cemerlang menyorot keluar dari biji matanya.

Tahu-tahu Hwesio tua cilik sudah berada di depannya, tanyanya dengan suara tandas.

"Siapakah nama Li-sicu?"

Dian Susi batuk-batuk dua kali, baru menjawab.

"Aku she Dian, bernama Dian Susi."

Tenang dan sewajarnya saja Hwesio tua membuka mata mengawasinya dua kali, tiba-tiba sorot matanya dia alihkan kepada Cin Ko, tanyanya.

"Dan siapa Sicu ini?"

"Cayhe Cin Ko,"

Sahut Cin Ko kalem.

Hwesio tua manggut-manggut, raut mukanya yang kuning seperti orang sakit tiba-tiba menunjukan otot-otot hijau yang merongkol keluar seperti cacing berontak.

Tapi suaranya masih mantap dan kereng.

"Baik, ilmu silat bagus, kepandaian lihay, memang tidak bernama kosong."

Tak tahan Dian Susi menyeletuk, serunya.

"Hwesio ini bukan dia yang membunuh, jangan kau salah menuduh orang."

"Bukan dia yang membunuh, memangnya kau?"

Tanya Hwesio tua cilik.

"Mana mungkin aku, waktu aku masuk ke sana, dia sudah mati."

"Masuk ke mana?"

"Masuk ke dalam rumah sana."

"Waktu itu Cin sicu ini sudah berada di dalam rumah bukan?"

"Tidak, dia masuk belakangan, baru saja masuk."

Si Brewok tiba-tiba menyeletuk.

"Di sana adalah kamar tidurku, tiada jalan lain, jikalau Cin Tayhiap baru masuk, kenapa Cayhe beramai tiada yang melihatnya?"

"Dia bukan masuk dari sini,"

Debat Dian Susi.

"Sicu ini tadi sudah menjelaskan secara gamblang,"

Demikian ujar Hwesio tua cilik.

"rumah itu tiada tembusan ke arah lain."

"Dia... dia muncul dari bawah tanah,"

Seru Dian Susi. Dia tahu pembelaannya takkan dipercaya orang, maka segera dia menambahkan perjelasan.

"Tadi siang waktu kita kemari, Hwesio ini belum mampus, di saat dia bicara dengan kami, mendadak terjeblos ke bawah."

"Lalu bagaimana selanjutnya?"

Tanya Hwesio tua cilik.

"Selanjutnya Cin Ko ikut terjeblos masuk ke bawah juga. Waktu itu dalam rumah sudah tiada orang lain, Hwesio-hwesio yang semula memenuhi rumah ini sudah pergi semua, maka aku lantas menyusul masuk mencari mereka, di dalam baru ketemu Hwesio ini yang sudah mati, waktu aku berusaha mundur dan keluar, pintu ternyata sudah terkunci dari luar,"

Bercerita sampai di sini baru Dian Susi menyadari seluruh hadirin mengawasinya dengan mendelong.

Setiap mimik muka mereka seperti ingin tertawa, namun tak bisa tertawa.

Hanya Hwesio tua itu sedikit pun tidak menunjukan rasa geli, katanya kereng.

"Nona kemari tadi siang?"

"Waktu itu kebetulan lohor, kalau tidak salah kira-kira satu setengah jam yang lalu."

"Waktu itu dalam rumah ini ada orang?"

Tanya Hwesio tua cilik.

"Ada, banyak orang."

"Adakah mereka-mereka ini?"

"Bukan, seluruhnya Hwesio yang memenuhi rumah ini, Si Brewok juga di antara mereka."

Tak tahan si Brewok tiba-tiba tertawa, ujarnya.

"Selamanya Cayhe belum pernah jadi Hwesio, setiap hadirin bisa menjadi saksi."

"Adakah orang menjadi saksi akan pembelaan Li-sicu?"

Tanya Hwesio tua.

"Lalu ke mana para Hwesio yang penghuni rumah ini?"

"Semua sudah... sudah pergi."

"Ke mana?"

"Tidak tahu."

"Setelah mereka pergi, adakah lain orang di dalam rumah ini?"

"Tidak, satu pun tiada,"

Belum habis jawabannya, matanya sudah melihat ada orang tak tahan geli tertawa sambil menutup mulut dengan tangan. Berkilat biji mata Hwesio tua, katanya sambil menyapu pandang ke sekelilingnya.

"Apakah kalian siang tadi berada di sini semua?"

Puluhan orang serempak menjawab berpadu.

"Semua berada disini."

"Kapan tuan-tuan datang kemari?"

"Tepat siang hari aku tiba di sini."

"Kemarin malam aku sudah berada di sini."

"Kalian tidak pernah meninggalkan tempat ini?"

"Tidak, pasti tidak,"

Orang-orang itu menjawab secara berlomba.

Memangnya setan judi kalau sudah pegang kartu, umpama kau usir dia dengan mencambuknya, jangan harap kau bisa mengusirnya pergi.

Saking marah dan naik pitam, serasa hampir gila Dian Susi dibuatnya, teriaknya.

"Mereka membual seluruhnya. Tengah hari tadi, terang dalam rumah ini sudah kosong melompong orang-orang ini tiada satu pun yang ada di sini."

Hwesio tua mengawasinya, katanya dingin.

"Tujuh delapan puluh Sicu yang hadir di sini semua membual memangnya hanya Li-sicu seorang yang tidak membual,"

Demikian sindirnya.

"Kenapa aku harus membual?"

"Tahukah kau siapakah Hwesio yang meninggal ini?"

"Tidak tahu, perduli siapa dia."

Sorot mata Hwesio tua cilik diliputi rasa gusar dan penasaran, katanya.

"Gelarnya adalah Bu-bing (tanpa nama). Dia adalah Sute Lo-ceng."

Mendadak si Brewok berteriak kaget.

"Hah, apakah dia Hwesio pendekar nomor satu dari kalangan agama yang dijuluki Hwesio Banyak Urusan dari Siau-lim yang bergelar Bu-bing Taysu?"

Hwesio tua cilik manggut-manggut, ujarnya.

"Kalau jelas seorang Hwesio, buat apa dinamakan pendekar segala? Kalau memang sudah Bu-bing (tanpa nama), kenapa harus banyak urusan? Kalau dia tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka?"

"Lalu..."

Si Brewok mencelos.

"Taysu kau..."

"Loceng Bu-sek, datang dari Siau-lim pula."

Begitu Hwesio tua cilik ini menyebut nama gelarnya, mendadak suasana menjadi sirap dan hening, tiada orang berani tertawa dan berkelakar lagi.

Perduli dia kaum persilatan atau bukan, siapapun pasti sudah cukup kenal akan ketenaran dua Hwesio pelindung biara Siau-lim-si.

Sejak tadi Dian Susi merasa uring-uringan dan penasaran.

Kini dia pun berdiri diam tak berkutik lagi.

Karena terasa olehnya segulung hawa dingin yang mendadak mengalir di sekujur badannya, seolah-olah di malam gelap kakinya kejeblos ke dalam lubang salju yang dalam dan dingin.

Perduli tempat ini sarang judi atau biara.

Perduli si Brewok atau si Plontos, semua ini tidak menjadi soal.

Tapi jikalau sampai terjadi murid Siau-lim-pay terbunuh, membunuh Hwesio pendekar yang punya nama dan disegani di Kangouw, semua ini merupakan kejadian lain pula.

Baru sekarang Dian Susi menyadari bahwa semua kejadian aneh-aneh yang dialami tadi tidak lain merupakan jebakan atau muslihat yang sudah direncanakan sebelumnya.

Bukan saja muslihat ini amat menakutkan, malah terasa amat gawat dan genting.

Dirinya dan Cin Ko sudah terjebak ke dalam muslihat yang sudah direncanakan lebih dulu ini, untuk membebaskan diri, jelas tidak mungkin dan sulit.

Untuk pertama kali ini selama hidupnya benar-benar menyelami, difitnah orang adalah suatu hal yang amat menakutkan.

Semua orang menatapnya dengan berbagai perasaan, yang terang sorot mata mereka sekarang jauh berbeda dengan pandangan mereka tadi.

Kalau tadi semua anggap dirinya gadis edan yang ngoceh tak karuan, malah terasa lucu dan menggelikan.

Tapi semua kini mengawasi dirinya, seakan-akan sedang mengawasi sesosok mayat yang sudah tak bernyawa lagi.

"Kenapa aku harus membual?"

"Sudah tentu mungkir, siapapun yang membunuh Bu-bing Taysu, pasti takkan mengaku terus terang."

Suara serak Dian Susi kedengarannya sember.

"Dengan kalian aku tak bermusuhan apa-apa, kenapa kalian memfitnah dan mencelakai aku?"

Si Brewok memicing mata mengawasinya dingin, kakinya menyurut pelan-pelan.

Orang-orang lain segera meneladani perbuatannya ikut menyurut mundur, seolah-olah badan Dian Susi dihinggapi penyakit menular, takut ketularan.

Dengan kalap Dian Susi memburu maju merenggut lengan baju seorang, bentaknya.

"Aku tahu kau ini seorang jujur, kenapa tidak kau beritahu kepada mereka, bahwa tadi siang hakikatnya kau tidak berada di sini. Bahwasanya seorang pun tiada di sini."

Selama hidup belum pernah dia minta-minta kepada orang lain, namun sorot mata dan mimik wajahnya menunjukkan belas kasihan.

Walau muka laki-laki itu pucat pasi, namun dia tetap berkukuh pendapat, sahutnya dingin.

"Kalau tadi siang aku tidak di sini, cara bagaimana bisa kalah lima ratus tail perak?"

Merah biji mata Dian Susi, tak tahan lagi telapak tangannya melayang menggampar pipi orang.

Orang itu hanya meraba-raba pipinya yang bengap kesakitan, bukan saja tidak marah dia pun tidak minta ampun.

Namun Hwesio tua tidak ambil perduli, dalam keadaan serba kritis ini, dia bersikap tenang dan menghitung tasbih serta membaca mantram mendoakan arwah Bu-bing Taysu mendapatkan tempat di sisi sang Budha.

Memangnya dia tidak gugup atau gelisah, yang jelas dua orang tertuduh ini takkan mungkin melarikan diri.

Kembali Dian Susi memburu ke depannya, teriaknya lantang.

"Baiklah, kutanya kau sekali lagi, aku tak bermusuhan apa-apa dengan dia, siapakah namanya pun aku tidak tahu, dengan alasan apa aku harus membunuhnya?"

Lama sekali Bu-sek Taysu terpekur, akhirnya bicara pelan-pelan.

"Kabarnya dia sudah masuk ke San Liu (aliran gunung)."

"Karena dia masuk San Liu, maka aku harus membunuhnya?"

Debat Dian Susi.

"Mungkin bukan hanya kalian saja yang ingin membunuhnya,"

Ujar Bu-sek menghela nafas.

"Begitu menjadi anggota San Liu, tak ubahnya masuk ke dalam neraka."

Kembali Dian Susi berjingkrak, serunya lantang.

"Nah itulah kesalahanmu, apakah San Liu itu aku toh tidak tahu."

Bu-sek Taysu menarik muka, katanya.

"Di depan Loceng, siapapun tak berani kurang ajar."

"Kau yang tidak tahu aturan atau aku yang kurang ajar? Umpama benar aku ingin membunuhnya, apa aku mampu melakukan?"

Sejak tadi Cin Ko berdiri di samping diam saja berpeluk tangan seperti sedang terlongong, kini mendadak dia menghela nafas serta menimbrung.

"Takkan berguna."

"Apanya tidak berguna?"

Tanya Dian Susi.

"Apapun yang kau katakan takkan berguna."

"Tapi aku..."

"Kalau kau tidak mampu membunuhnya, aku toh cukup mampu."

"Tapi kau tidak membunuhnya?"

"Kecuali kau, siapapun takkan bisa membuktikan bahwa aku tidak membunuh kepala gundul itu."

Dian Susi melenggong. Mendadak Cin Ko terloroh-loroh dengan mendongak serunya.

"Luka-luka pedang dan golok di badan Cin Ko, besar kecil tak kurang dari lima ratus banyaknya, terjebak sekali lagi dengan muslihat ini pun takkan menjadi soal buat diriku."

Kereng muka Bu-sek Taysu, katanya.

"Sudah lama Loceng dengar Cin sicu memang seorang laki-laki sejati..."

"Takkan salah,"

Seru Cin Ko tetap terloroh-loroh.

"jikalau kau berkukuh menuduh aku yang membunuh Sutemu, boleh kau anggap memang akulah yang membunuhnya."

"Baik, kalau begitu, silahkan sicu ikut pinceng pulang ke Siauw-lim-si."

"Hayo sekarang juga, jangan kata Siau-lim-si, umpama gunung golok atau wajan minyak mendidih, aku orang she Cin takkan mundur setapakpun."

Mendadak Dian Susi menarik lengan bajunya, serunya.

"Kau... untuk apa kau ikut dia pulang ke Siau-lim-si?"

"Terserah apa yang mereka inginkan atas diriku."

"Mereka toh ingin mencabut nyawamu."

"Tidak apa."

"Untuk menebus jiwamu kau berjuang mati-matian, memangnya begitu gampang kau diajak pergi tanpa tahu juntrungan persoalannya?"

Hwesio pertengahan umur yang bermuka kereng gagah itu tiba-tiba menyeletuk.

"Nona jangan lupa, pembunuh orang harus dihukum mati pula, hal ini bukan saja sudah merupakan hukum Thian, juga merupakan undang-undang negara."

"Jangan lupa kau ini orang beribadah,"

Debat Dian Susi.

"kenapa buka mulut tutup mulut bicara soal membunuh orang, ajaran Budha pantang membunuh barang berjiwa, apakah gurumu tidak mengajarkan kepadamu tentang ajaran ini?"

Hweso pertengahan umur itu menarik muka, katanya dingin.

Baca Juga: Golok Halilintar 10

Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger