Tokoh Besar 2

Eps 2 Tokoh Besar - Khu Lung

Baca online Tokoh Besar - Khu Lung

Cersil Tokoh Besar - Khu Lung.

Pelan-pelan Nyo Hoan turunkan cangkirnya, lalu diawasinya dengan seksama, pelan-pelan dia menggeleng-geleng kepala, katanya kemudian setelah menarik nafas.

"Senjata rahasia yang jahat sekali, lihay sekali."

Dian Susi melongo dan tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Masakah tanpa menggerakkan kaki tangan, badan tidak bergeming Kek siansing mampu menyambitkan senjata rahasia?

Sebaliknya bocah gendut ini hanya angkat cangkir saja lantas berhasil menyambut serangan senjata rahasia orang?

Dengan mata kepalanya sendiri dia saksikan senjata rahasia Kek siansing dalam waktu sekejap dapat menamatkan jiwa orang, namun kali ini gagal hanya kebentur sebuah cangkir arak belaka?

Sungguh Dian Susi tidak habis mengerti bahwa bocah gendut ini ternyata membekal kepandaian silat begini tinggi.

Tapi kenapa air muka Kek siansing berubah begitu hebat?

Terdengar Nyo Hoan berkata.

"Melukai orang dengan senjata rahasia seperti ini, paling sedikit akan menguras air mani dan melemahkan sifat kelakianmu, kalau aku, takkan sudi menggunakannya."

Kembali Kek siansing terpekur lama, tanyanya tiba-tiba.

"Dulu kau pernah melihat senjata rahasia semacam ini?"

Nyo Hoan menggeleng-geleng, sahutnya.

"Baru pertama kali ini aku melihatnya."

"Kau pula orang pertama yang mampu menyambut senjata rahasia macam ini."

"Setelah ada yang pertama, pasti ada yang kedua, ketiga dan seterusnya, oleh karena itu senjata rahasia macam ini tidak perlu dibuat bangga, kukira selanjutnya kau jangan menggunakannya lagi."

Kembali Kek siansing berdiam diri, tiba-tiba bertanya.

"Pernah apa kau dengan Song Cap-nio?"

Song Cap-nio adalah tokoh ahli senjata rahasia yang tiada bandingannya di seluruh kolong langit, bukan saja menyambut senjata rahasia, cara timpukan senjata rahasianya pun tiada bandingannya, terutama ahli membikin berbagai macam senjata rahasia, selama puluhan tahun belakangan tiada orang yang menandinginya.

Di dalam relung hati setiap insan persilatan Song Cap-nio adalah tokoh kosen kelas wahid yang tiada taranya, sering Dian Susi mendengar kebesaran namanya.

Ternyata Nyo Hoan menggeleng-geleng malah, ujarnya.

"Baru pertama kali ini sejak aku dilahirkan mendengar nama orang ini."

"Kau belum pernah mendengar namanya, juga belum pernah melihat senjata rahasia ini?"

"Jawaban tepat."

"Tapi kau bisa menyambut senjata rahasia ini."

"Kalau tidak bisa menyambut, bukankah jidatku sudah berlubang besar."

Kek siansing mengawasinya, tiba-tiba menghela nafas panjang, katanya.

"Bolehkah kau memberitahu kepadaku, cara bagaimana kau menyambutnya?"

"Tidak bisa."

"Sudikah kau kembalikan senjata rahasia itu kepadaku?"

"Tidak bisa."

Kembali Kek siansing menghela nafas, ujarnya.

"Maukah kau membiarkan aku pergi?"

"Tidak bisa,"

Jawab Nyo Hoan tetap tegas, tapi mendadak dia tertawa, sambungnya.

"Tapi kalau kau mau merangkak keluar, aku sih tidak menghalangi."

Kek siansing tidak banyak mulut.

Dia betul-betul merangkak keluar.

* * * * * Dian Susi melenggong.

Siapapun yang berhadapan dengan Kek siansing pasti berpendapat orang ini lebih keras dari batu, lebih dingin dari es, boleh dikata dia bukan manusia hidup.

Tapi berhadapan dengan bocah gendut ini, bukan saja dia sekaligus menampilkan berbagai macam ekspresi mukanya, bukan saja tertawa, malah hampir saja menangis, lebih celaka lagi dia terima merangkak keluar dan ngacir tanpa melawan.

Sungguh hebat bocah gendut ini.

Sungguh Dian Susi tidak habis mengerti, di manakah letak kehebatan bocah gendut ini, hakikatnya tindak tanduknya tidak akan berbeda dengan seorang laki-laki pikun.

Sudah tentu mata semua hadirin melotot dan melongo selebarnya, dua butir telur pun bisa sekaligus dijejalkan ke dalam mulutnya.

Nyo Hoan mengisi cangkirnya pula, katanya tertawa.

"Silahkan kalian duduk, ada waktu buat duduk kenapa harus berdiri? Hidangan toh sudah tersedia, hayolah gares saja, kenapa sungkan-sungkan?"

Betul juga habis kata-katanya, tiada seorang hadirin yang tetap berdiri.

Tiba-tiba Dian Susi melompat berdiri, dengan langkah lebar langsung keluar.

Melirik pun tidak kepada Nyo Hoan, tapi tiba-tiba didengarnya Nyo Hoan berkata.

"Kek siansing pasti belum pergi jauh, sekarang mencarinya tentu masih sempat."

Kontan Dian Susi merasa kedua kakinya seperti terpaku di tanah, berpaling kepala dia pandang orang dengan mata melotot. Sikap Nyo Hoan acuh tak acuh, katanya sambil angkat cangkir.

"Aku tidak senang minum sendirian, kenapa kalian tidak temani aku minum sepuasnya?"

Mendadak Dian Susi maju menghampiri, sentaknya.

"Setan arak, kenapa tidak kau minum menggunakan poci saja?"

"Mulutku terlalu lebar, mulut poci ini sebaliknya amat kecil,"

Seperti tidak sengaja matanya mengerling kepada Dian Susi, katanya tertawa.

"Satu gede satu cilik, kalau dijodohkan ya kelihatannya ganjil."

Merah muka Dian Susi, semprotnya.

"Jangan takabur, memangnya kau bangga telah membantu aku?"

"Kau mengaku bahwa aku telah bantu kau?"

"Hmm. Pongah!"

"Kenapa kau tidak berterima kasih kepadaku?"

"Kau sendiri yang melakukan, kenapa aku harus berterima kasih?"

"Tidak salah, tidak salah, benar sekali, benar sekali, sebetulnya setelah perutku kenyang kerja apapun aku tidak bisa."

"Apapun yang terjadi jangan harap aku sudi menikah dengan kau!"

"Kau benar-benar tidak mau kawin sama aku?"

"Tidak."

"Benar-benar tidak?"

"Tidak, ya tidak!"

"Mungkin tidak kau mengubah tekadmu?"

Lebih keras suara Dian Susi.

"Sudah kukatakan tidak, mati pun tidak sudi."

Tiba-tiba Nyo Hoan berdiri dan menjura kepadanya dengan laku yang amat hormat, katanya.

"Banyak terima kasih, banyak terima kasih, sungguh tak terhingga rasa senangku."

"Buat apa kau berterima kasih kepadaku?"

"Bukan saja aku ingin berterima kasih kepadamu, malah aku harus berterima kasih kepada langit dan bumi."

"Eh, apa kau sinting?"

"Sinting sih tidak, cuma aku ini rada curiga dan selalu was-was."

"Curiga? Kenapa was-was?"

"Aku curiga dan was-was bila kau ingin kawin sama aku, maka selama ini hatiku jeri setengah mati."

"Apa aku ingin kawin dengan kau?"

Teriak Dian Susi bertolak pinggang.

"kepalamu memang sudah sinting."

"Kepalaku tidak pusing, kini tidak perlu takut lagi, asal kau tidak kawin dengan aku, segala persoalan lain boleh dirundingkan."

"Tiada persoalan yang perlu kurundingkan dengan kau."

"Kalau Dian lopek memaksa kau kawin dengan aku bagaimana?"

Sekilas Dian Susi berpikir, lalu sahutnya.

"Aku tidak akan pulang."

"Cepat atau lambat akhirnya toh harus pulang."

"Ya, setelah aku menikah dengan orang, baru aku mau pulang."

"Akal yang bagus, sungguh amat menyenangkan,"

Tiba-tiba dia mengerut kening, tanyanya.

"Tapi kau hendak kawin dengan siapa?"

"Kau tidak perlu urus."

"Bukan aku mau ngurus, aku kuatir tiada orang yang mau kawin dengan kau."

"Aku tidak bisa kawin? Kau kira aku ini perawan yang tidak laku kawin? Kau kira aku ini kuntilanak?"

"Bukan, kau ini gadis cantik, tapi gadis pingitan yang punya tabiat kasar, siapa yang bisa mengendalikan kau."

"Kau tidak perlu kuatir bagi diriku, yang terang akan ada orang kuat bisa menundukkan aku."

"Orang yang dapat menundukkan kau, belum tentu kau bisa menghadapi dia, umpamanya Kek siansing itu..."

Seketika pucat muka Dian Susi mendengar nama Kek siansing. Bagian 4

"Sebetulnya belum tentu dia benar-benar ingin mengawini kau, mungkin dia mempunyai tujuan lain yang tersembunyi."

"Ada tujuan apa? Dia punya maksud-maksud apa?"

Tak tahan Dian Susi bertanya.

"Aku belum tahu dia punya maksud tujuan apa, mungkin setelah tujuannya tercapai kau bakal dicerai oleh dia. Saat mana kau baru berpaling mau kawin sama aku, bukankah mengenaskan."

Merah padam muka Dian Susi, semprotnya gusar.

"Kau tak usah kuatir, umpama aku cukur rambut jadi Nikoh, betapapun takkan sudi menikah dengan kau."

"Tidak bisa tidak aku harus berkuatir, urusan dalam dunia ini siapa yang bisa menentukan, segala peristiwa mungkin saja terjadi."

"Kau kira kau ini orang apa? Laki-laki gagah ganteng? Dalam hal apa kau berani beranggapan aku sudi menikah dengan kau?"

"Aku ini laki-laki ganteng cakap atau babi buntung, bukan soal, yang terang setelah kau benar-benar menikah dengan orang lain, baru hatiku akan lega dan tentram."

"Baik, akan kuusahakan supaya aku menikah dengan cepat, akan kuberitahu kepadamu selekas aku kawin,"

Serasa hampir gila saking jengkel, habis berkata dia terus melangkah keluar hendak tinggal pergi. Tak nyana Nyo Hoan tiba-tiba memanggilnya.

"Eh, tunggu dulu."

"Tunggu apa? Kau masih belum lega?"

"Memang masih kurang mantap, bagaimana kalau sebelum kawin kau sudah mati?"

"Memangnya apa sangkut paut mati hidupku dengan kau?"

"Sudah tentu amat erat sangkut pautnya, resminya kau sudah menjadi keluarga Nyo kami, jikalau kau mengalami kesulitan, aku harus bantu menyelesaikan, jikalau kau mengalami cedera atau kematian, aku harus menuntut balas bagimu, bukankah amat berabe? Sejak kecil aku paling takut menghadapi kesulitan, cara bagaimana aku bisa lega?"

"Aku tidak akan mati,"

Hampir meledak dada Dian Susi saking marah.

"Belum tentu, nona pingitan dengan watakmu ini, umpamanya harga dirimu sudah terjual tanpa kau sadari, apalagi..."

Nyo Hoan menghela nafas, sambungnya.

"Kau sendiri belum tahu kapan kau bakal menikah, sebaliknya sembarang waktu mungkin Dian lopek akan meringkusmu dan dibawa pulang, kalau hal ini sampai terjadi, bukankah kau, tetap akan menikah dengan aku?"

"Lalu apa kehendakmu baru kau akan merasa lega. Katakan!"

"Memang aku punya akal untuk menghindari segala kemungkinan ini."

"Akal apa?"

"Kepada siapa kau ingin menikah, segera kuantar kau ke sana, setelah kau kawin sama dia, maka tiada sangkut pautnya lagi dengan aku, maka legalah hatiku."

"Agaknya kerjamu amat teliti."

"Ah, terlalu dipuji, biasanya aku terlalu gegabah, tapi menghadapi persoalan seperti ini terpaksa harus hati-hati, salah mengawini bini bukan persoalan main-main."

Dian Susi hanya tertawa-tawa dingin, sungguh amarahnya sudah tak terkendali sampai tak bisa bicara lagi.

"Oleh karena itu, kepada siapa kau kendak kawin, lekaslah katakan, aku pasti mengantarmu ke sana."

Dian Susi menggigit bibir, sahutnya.

"Aku ingin kawin dengan Cin Ko."

"Cingko (Pujaan Hati)?"

Berkerut alis Nyo Hoan.

"Siapakah laki-laki pujaanmu, darimana aku bisa tahu?"

Ingin rasanya Dian Susi menjewer kupingnya, katanya lantang.

"Yang kumaksud adalah Cin Ko, pemuda gagah yang membunuh Tujuh Harimau di puncak Hou-khiu-san itu. Memangnya kau belum pernah dengar namanya?"

"Belum pernah dengar,"

Nyo Hoan geleng-geleng.

"Gentong nasi, kecuali makan, apa yang kau ketahui?"

"Aku bisa minum arak,"

Lalu ditenggaknya secangkir, sambungnya.

"Baiklah, Cin Ko, ya Cin Ko, aku pasti bantu menemukan dia, tapi dia mau kawin sama kau tidak, bukan menjadi tanggung jawabku lho!"

"Urusanku sendiri, aku bisa menyelesaikan,"

Ujar Dian Susi gusar.

"Aku boleh mengiringimu menemukan dia, tapi kita harus ada perjanjian."

"Perjanjian apa?"

"Pertama, aku pasti tidak akan mempersunting kau, kau pun takkan kawin dengan aku."

"Bagus sekali. Aku setuju."

"Kedua, sepanjang jalan, kau jalan sendiri aku pun tak terikat dengan kau, apapun yang kau lakukan aku tidak akan paksakan, kau pun jangan paksa aku."

"Boleh!"

"Ketiga, siapapun yang kau penujui kau boleh kawin sama dia, siapapun yang kucintai sembarang waktu aku boleh mempersunting dia. Kita siapapun tak boleh mencampuri urusan masing-masing."

"Baik sekali,"

Pusing kepala Dian Susi karena marah, hanya kata-kata itu saja yang kuasa dia ucapkan.

Seharusnya dialah yang mengajukan ketiga syarat ini, kini orang sudah mengemukakan lebih dulu.

* * * * * Entah kapan orang-orang yang hadir dalam perjamuan sudah bubar dan tak kelihatan bayangannya.

Tak tahan akhirnya Dian Susi bertanya.

"Cara bagaimana kau datang kemari? Mana ayahku?"

"Ada persoalan yang tidak ingin kuberitahu kepadamu, kau pun jangan paksa aku."

"Mana mereka?"

"Sudah pergi."

"Kenapa kau biarkan mereka pergi?"

"Kek siansing pun kuberi kelonggaran, kenapa mereka tidak boleh pergi?"

"Kenapa kau bebaskan Kek siansing?"

"Paling dia ingin mengawini kau, meski perbuatannya bodoh, bukan terhitung perbuatan jahat. Dan lagi, dia telah memberi minum gratis kepadaku."

"Tapi dia telah membunuh beberapa orang."

"Memangnya kau sendiri tidak pernah membunuh orang? Memang banyak orang yang pantas mampus."

"Baik, cepat atau lambat akan datang ketika aku akan mencari perhitungan dengannya,"

Setelah menahan emosi, dia berseru lagi.

"Bolehkah aku melihat senjata rahasia yang dia gunakan itu?"

"Tidak bisa."

"Kenapa tidak bisa?"

"Tidak bisa ya tidak bisa, kita sudah berjanji, siapapun tidak boleh memaksa."

"Baik,"

Seru Dian Susi membanting kaki.

"hayolah berangkat."

"Buat apa tergesa-gesa?"

"Aku tergesa apa? Sudah tentu aku ingin lekas kawin dengan orang."

"Kau ingin cepat, aku sebaliknya, kalau mau pergi silahkan jalan lebih dulu, yang terang jalan yang kita tempuh berlainan, yang terang aku tidak akan membiarkan kau dijual kepada orang."

Tiba-tiba Dian Susi raih sebuah poci terus dibantingnya hancur, tanpa berpaling dia melangkah keluar. Nyo Hoan menggeleng-geleng, katanya menghela nafas.

"Untung di sana masih ada sebuah tidak terlihat olehnya..."

Dian Susi tiba-tiba memburu ke sana dan "tang"

Poci yang satu itu pun dia banting berkeping-keping. Terhitung terlampias rasa gusarnya, waktu dia berpaling, dilihatnya Nyo Hoan sedang memeluk sebuah guci arak, katanya tertawa menyengir.

"Pocinya boleh kau hancurkan semua, guci ini adalah milikku, mulut guci ini cocok dengan mulutku."

Sepanjang jalan Dian Susi mengumpat caci.

"Gendut mampus, setan arak, babi buntung..."

Akhirnya dia menjadi geli sendiri.

Tepat tengah hari.

Setelah rasa dongkol dan amarah Dian Susi hilang, baru Dian Susi betul-betul merasa badan penat, gerah, dahaga dan kotor.

Setelah kepanasan di sepanjang jalan, perut lapar kerongkongan kering, baru dia menyadari bahwa ucapan si babi buntung tadi sedikit banyak memang masuk di akal.

Kenapa tadi dia tidak makan minum dulu sepuasnya baru berangkat.

Kini dia hanya bisa mengawasi orang-orang berteduh di warung makan minum seenaknya tanpa berani mampir, soalnya kantongnya kempes, sepeser pun dia tidak punya uang untuk membeli, malu rasanya kalau minta atau meminjam uang untuk membeli.

Entah berapa jauh sudah jalan yang dia tempuh, tiba-tiba didengarnya suara kereta lari mendatangi, dari kejauhan sudah kelihatan seorang duduk bermalas-malasan di dalam kereta sambil mengayun pecut, matanya merem melek, ujung mulutnya menyungging senyum.

Ternyata setan arak gendut ini belum mabuk, baru sekarang dia menyusul naik kereta.

Melihat keadaannya yang nyaman segar dan malas-malasan, sungguh bagai langit dan bumi bedanya dengan keadaan Dian Susi.

Sudah tentu Dian Susi amat gegetun, kereta ini tadi berada di muka pintu kenapa dia lupa menaikinya, kini terpaksa dia menunggu orang memanggil dirinya untuk naik ke atas kereta.

Nyo Hoan justru seperti hendak mempermainkan dia, kereta itu maju berhenti lalu berjalan lagi, di depan dan di belakangnya, tidak jauh membuntutinya terus.

"Hai,"

Tak tertahan Dian Susi menyentaknya keras-keras. Nyo Hoan membuka mata, lalu dipejamkan lagi. Terpaksa Dian Susi maju mendekati, teriaknya.

"Hai, apa kau ini orang tuli?"

Nyo Hoan menggeliat, katanya acuh tak acuh.

"Kau bicara dengan siapa?"

"Sudah tentu bicara dengan kau, memangnya aku ajak bicara dengan kuda?"

"Namaku bukan 'hai', darimana aku tahu kau sedang bicara dengan aku?"

"Hai, orang she Nyo!"

Seru Dian Susi kertak gigi. Nyo Hoan malah pejamkan mata lagi.

"Kupanggil kau orang she Nyo, memangnya kau bukan she Nyo?"

"Entah berapa banyak orang she Nyo, darimana aku tahu kau panggil orang siapa?"

"Emangnya di sini ada orang kedua yang she Nyo? Mungkinkah kuda ini she Nyo?"

"Mungkin saja dia she Nyo, atau mungkin she Dian, kenapa tidak kau tanya dia?"

Nyo Hoan berbangkis sekali, lalu menyambung.

"Kalau kau mau ajak aku bicara, nah panggillah Nyo toako kepadaku."

"Kenapa aku harus panggil Nyo toako?"

"Pertama, karena aku she Nyo, kedua, karena usiaku lebih tua, ketiga, karena aku ini laki-laki. Tentunya kau tidak panggil aku Nyo toaci,"

Dengan malas-malasan dia tertawa, katanya.

"Jikalau kau mau panggil aku Nyo toasiok, aku malah tidak berani terima."

"Babi mampus, kau mirip siluman babi."

"Hanya babi yang ajak bicara dengan babi, kulihat kau tidak mirip babi."

Dian Susi kertak gigi, tiba-tiba dia putar badan tinggal pergi dengan jengkel.

Sekonyong-konyong Nyo Hoan bersiul, tiba-tiba dia tarik tali kendali, kuda yang menarik kereta segera mencongklang ke depan, lewat dari sampingnya.

Jalan raya ini entah menembus kemana dan betapa panjang dan jauhnya, sehari pun takkan habis dilalui.

Sinar surya semakin terik.

Kalau jalan kaki begini terus, mungkin sore nanti manusia bisa sekarat dibuatnya.

Karena gugup, kontan Dian Susi berteriak.

"Nyo toathau, tunggu sebentar."

Sengaja kata-kata 'toa' dia serukan lebih keras dan kata 'thau' lirih saja, maka kedengarannya seperti 'Nyo toako'.

Benar juga Nyo Hoan kena ditipunya, segera orang menghentikan kereta, tanyanya sambil berpaling dengan tertawa.

"Dian siaumoay, ada urusan apa?"

Tak tertahan Dian Susi cekikikan geli dan senang, baru pertama kali ini dia berhasil mendapat keuntungan, maka tawanya amat riang.

"Keretamu kosong, apakah aku boleh turut?"

"Sudah tentu boleh."

Tersipu-sipu Dian Susi naik ke atas, tiba-tiba kepalanya melongok keluar jendela kereta, katanya cekikikan.

"Mungkin tadi kau tidak mendengar jelas. Aku tadi memanggilmu Nyo toathau, soalnya kepalamu memang tiga kali lipat lebih besar dari kepala orang umumnya."

Sengaja dia menggoda supaya setan kepala besar ini marah. Tak kira Nyo Hoan tidak marah, katanya dengan tertawa malah.

"Kepala besar tandanya pandai, memangnya aku tahu aku ini pintar, tak usah kau memberi ingat kepadaku."

"Blang"

Kontan Dian Susi tutup daun jendela kereta dengan muring-muring. Nyo Hoan tergelak-gelak.

"Tar"

Cambuk diayun kereta berjalan pula, serunya.

"Kepala besar, tak usah takut hujan, orang punya payung aku punya kepala besar... kepala besar banyak manfaatnya, kelak kau akan tahu sendiri." * * * * * Lewat lohor, matahari tidak seterik tadi, maka orang-orang yang lalu lalang di jalan raya semakin ramai, ada yang naik kereta, naik kuda, tua, muda... Tiba-tiba Dian Susi lihat di antara sekian banyak orang-orang yang hilir mudik seorang pemuda menunggang kuda yang mengenakan ikat sapu tangan, sapu tangan merah terikat di lengannya. Yang terang orang ini bukan Cin Ko, tapi tentu dia datang dari Kanglam. Begitulah Dian Susi duduk bersandar di jendela melihat orang-orang yang hilir mudik. Begitu asyiknya dia membayangkan Cin Ko, sehingga semua urusan terlupakan, cuma perutnya yang tengah keroncongan ini yang berontak dan tak terlupakan. Akhirnya tidak tertahan lagi Dian Susi melongok keluar, tanyanya.

"Tahukah kau tempat apa di depan sana?"

"Tidak tahu, yang terang masih jauh sekali untuk ke Kanglam."

"Aku hendak cari tempat untuk berhenti, aku... aku rada lapar."

"Kau hendak makan apa?"

"Makan sekadarnya... sedikit saja tidak menjadi soal."

"Kalau tidak menjadi soal, kenapa makan?"

Ujarnya menghela nafas, lalu gumamnya.

"Perempuan memang lebih pintar, seharian tidak makan juga tidak menjadi soal, kalau aku, mungkin sudah gila karena kelaparan."

Mendadak Dian Susi berjingkrak, serunya.

"Aku pun sudah gila kelaparan."

"Kalau begitu silahkan makan, cuma makan harus bayar, kau punya uang?"

"Aku... aku..."

Sekian lama Dian Susi tergagap.

"kau... kau punya uang?"

"Ada sedikit, tapi uang ini milikku, kau bukan biniku, tentu aku tidak bisa mengongkosi hidupmu."

"Siapa suruh kau mengongkosi hidupku?"

"Kalau tidak, kau tidak punya uang, memangnya kau hendak ke Kanglam dengan perut kelaparan?"

"Aku... aku akan berusaha memperoleh uang."

"Baik sekali, dengan cara apa kau ingin mencari uang?"

Kembali Dian Susi melongo. Selama hidupnya belum pernah mencari uang, maka tak mungkin dia tahu cara untuk memperoleh uang. Maka dia bertanya.

"Uangmu kau peroleh dari mana?"

"Sudah tentu kuperoleh dari hasil payah."

"Hasil payah bagaimana?"

"Hasil payah banyak sekali caranya, umpamanya menjual silat, mengajar silat, menjadi Piausu, jadi jaga malam, memburu binatang, memetik obat, menjadi pelayan hotel, berdagang dan banyak lagi, pendeknya pekerjaan apapun pernah kulakukan,"

Sampai di sini dia tertawa, sambungnya.

"Kalau seseorang tidak mau kelaparan, dia harus kerja mencari uang, asal secara halal tiada pekerjaan yang memalukan. Entah kerja apa yang bisa kau lakukan?"

Dian Susi terkancing mulutnya. Sebagai gadis pingitan kerja apa yang bisa dia lakukan? "Ada orang hanya bisa menghamburkan uang,"

Demikian kata Nyo Hoan lebih lanjut.

"Tidak bisa cari uang, umpama orang seperti ini mampus kelaparan, takkan ada orang yang kasihan padanya."

"Siapa suruh kau kasihan kepadaku?"

"Bagus, punya watak punya harga diri. Tapi sampai kapan kau kuat bertahan?"

Dian Susi kertak gigi, hampir saja dia menangis.

"Aku malah dapat akal untuk kau memperoleh uang."

"Akal apa?"

Tanya Dian Susi.

"Cobalah kau menjadi kusir keretaku, satu jam kubayar satu ketip."

"Satu ketip?"

"Satu ketip kau kira sedikit? Kalau lain orang paling hanya kubayar lima sen."

"Baik, seketip. Tapi... tapi..."

"Tapi kenapa?"

"Biasanya aku tidak pernah jadi kusir."

"Tidak jadi soal, asal manusia siapapun pasti bisa jadi kusir. Hayolah pegang tali kendali ini." * * * * * Akhirnya Dian Susi memperoleh uang dari jerih payahnya sendiri. Seketip uang diperolehnya dengan imbalan yang tidak enteng, pinggang terasa linu, punggung pun serasa hampir bungkuk, terutama kedua tangannya seperti hendak copot, jari-jarinya pun hampir berdarah. Waktu terima uang seketip dari Nyo Hoan hampir saja dia mencucurkan air mata saking terharu. Bukan air mata penderitaan, adalah air mata kegirangan. Mengawasi air matanya, bersinar biji mata Nyo Hoan, katanya tersenyum.

"Sekarang kau sudah punya uang, silahkan mencari makan."

"Aku bisa cari sendiri, tak usah kau cerewet,"

Dengan menggenggam seketip uangnya, serasa jauh lebih berharga dari sebutir mutiara.

* * * * * Kota ini tidak begitu besar.

Dian Susi mencari sebuah warung makan yang terdekat, dengan membusung dada dia melangkah masuk.

Meski hanya menggenggam seketip uang, tapi seolah seorang hartawan, seolah-olah belum pernah dia sekaya sekarang.

Dengan pandangan curiga dan ragu-ragu pelayan warung makan menghampiri, sapanya setelah menyuguh secangkir teh.

"Nona hendak makan apa?"

"Warung kalian ada jual jamur wangi tidak?"

Di manapun hidangan jamur wangi hanya untuk hidangan orang berada yang tebal kantongnya. Pelayan mengamatinya sekian lamanya, katanya.

"Jamur wangi tentu ada, malah kami beli dari tempat jauh, cuma harganya terlalu mahal."

Dian Susi letakan uang peraknya ke atas meja, katanya.

"Tidak menjadi soal, sediakan dulu jamur wangi dan panggang ayam."

Pelayan hanya melirik ke arah sekeping uangnya, katanya dingin.

"Jamur wangi dan panggang ayam harganya total lima ketip, apa nona mau pesan?"

Dian Susi melongo, pelan-pelan dia ulur tangan menutup uang di atas meja, dengan telapak tangannya. Bahwasanya tidak pernah terpikir olehnya bahwa seketip uang perak berharga besar nilainya.

"Tapi kami ada menyediakan makanan seharga satu ketip, seporsi sayur mayur dan seporsi kuah telur, nasi putih boleh makan sekenyangnya."

Terpaksa Dian Susi menahan air mata, katanya.

"Baiklah, sediakan seadanya."

Tiba-tiba didengarnya seorang berseru.

"Pelayan sediakan jamur wangi dan panggang ayam saos kepiting, bikin sekalian kembang sayur, ditambah kacang goreng."

Entah kapan Nyo Hoan juga masuk kemari, malah menduduki meja di sebelahnya.

Dengan menggigit bibir Dian Susi diam saja, anggap tidak kenal dan tidak mendengar suaranya.

Begitu hidangan siap dia tunduk kepala terus makan dengan lahapnya.

Tapi bau jamur wangi dan panggang ayam terlalu merangsang hidungnya.

Akhirnya tak tahan dia ngomel.

"Sudah segemuk babi, masih makan tanpa takaran, apa ingin disembelih pada tahun baru nanti?"

Nyo Hoan tetap tidak marah, katanya menyengir tawa.

"Aku lebih pintar, lebih banyak uang, maka makan lebih banyak, kan adil, siapapun tidak boleh marah."

Meski kecil kota ini, warung makan ini ternyata cukup besar, malah disediakan pula tempat tersendiri sebagai ruangan VIP.

Dari ruangan VIP inilah tiba-tiba melangkah keluar seorang perempuan yang merias mukanya seperti golekan di atas panggung, dengan lenggang-lenggok menghampiri kasir, katanya.

"Gu toaya suruh aku kemari mengambil sepuluh tail perak."

Si kasir segera unjuk tawa berseri, katanya.

"Aku tahu, Gu toaya memang sudah ada pesan, nona yang datang hari ini, asal mau duduk, dia harus dipersen sepuluh tail."

Lalu dia keluarkan sekerat perak seharga sepuluh tail diangsurkan, katanya pula dengan tetap berseri.

"Nona-nona memang lebih gampang mengeruk uang."

Setelah menerima uang perempuan centil ini tiba-tiba berpaling, katanya berseri tawa.

"Kalau kau rasa lebih mudah, kenapa tidak kau suruh bini dan putrimu cari uang di sini saja?"

Si Ciangkui tersentak kaget dengan muka berubah, seperti tenggorokannya tiba-tiba disumbat telur busuk yang menyesakkan nafasnya. Di saat Dian Susi masih pasang kuping, Nyo Hoan tiba-tiba berkata.

"Apa kau tidak merasa caranya mencari uang lebih gampang dari kerjamu?"

Satu jam jadi kusir kereta hanya memperoleh seketip uang perak, sebaliknya cukup hanya duduk-duduk saja dipersen sepuluh tail perak, sudah tentu suatu perbandingan besar yang teramat menyolok.

Berkata Nyo Hoan lebih lanjut.

"Kelihatannya mereka gampang memperoleh uang, karena mereka menjual kecantikan remaja dan harga diri, siapapun yang berani menjajakan semua ini, gampang saja memperoleh uang, hanya..."

Setelah menghela nafas dia meneruskan.

"Meski gampang cara memperoleh uang seperti ini, tapi amat menekan batin dan merusak jiwa, hanya uang yang diperoleh dengan memeras keringat dari hasil kerjamu sendiri baru benar-benar menyenangkan hati."

Tak tertahan Dian Susi manggut-manggut, tiba-tiba terasa olehnya apa yang diuraikan ini amat benar dan masuk di akal.

"Mungkin orang kepala besar jauh lebih banyak berpikir dari orang biasa."

Di dalam pandangan dan batin para pelayan rumah makan, mereka sering membedakan para tamu dalam dua kelas.

Tamu seperti Dian Susi yang langsung memesan nasi dan lauk pauk jadi satu sudah tentu merupakan tamu kelas rendah.

Bukan saja tidak perlu dilayani, tersenyum kepadanya pun tidak perlu.

Sebaliknya pengunjung seperti Nyo Hoan, bukan saja sekaligus memesan beberapa masakan, memesan arak yang mahal lagi.

Sekali terlalu banyak menenggak air kata-kata maka uang tip yang bakal diterima para pelayan tentu cukup memuaskan, dan lagi seorang diri sang tamu terang takkan kuat menghabiskan beberapa macam masakan sebanyak itu, sisanya sudah tentu bakal jadi bagian mereka, untung kalau ada sisa arak lagi.

Dua orang yang berlainan tinggi rendahnya ini, justru kelihatannya sama-sama aneh, terang kedua orang ini kenal satu sama lain, namun justru menempati dua meja.

Jelas satu sama lain saling bicara, namun mata mereka tiada yang melirik, seolah-olah mereka sedang pidato atau menggerundel dan ngoceh sendiri seperti orang gila.

"Bukan mustahil mereka adalah pengantin baru yang sedang perang mulut,"

Demikian batin para pelayan rumah makan itu.

Tiba-tiba terdengar suara kelinting yang ramai diselingi derap kaki ramai yang berlari mendatangi di jalan raya sana, tahu-tahu dua ekor keledai gemuk dengan bulunya yang mengkilap berhenti diluar pintu, dua orang penunggangnya segera lompat turun terus melangkah masuk dengan membusungkan dada dan angkat kepala, ternyata kedua orang adalah dua orang anak kecil yang berusia sekitar tigabelasan, kedua keledai itu lebih gagah dari kuda, bulunya mulus dan coklat mengkilap, pelananya serba baru dengan tali kekang yang merah menyala.

Demikian pula pakaian kedua bocah ini teramat mewah, rambutmya dikepang di tengah dan tegak berdiri, matanya besar dan bersinar, tanpa tertawa pun kedua pipi mereka sudah menunjukkan lesung pipit yang menarik sekali.

Bocah sebelah kiri memegang cambuk, katanya melotot sambil menuding hidung pelayan.

"Apa warung makan kalian yang terbesar dalam kota ini?"

Pelayan munduk-munduk dengan tawa berseri, belum sempat bicara, Ciangkui sudah mendahului.

"Warung makan dalam kota tiada yang lebih besar dari restoran kita, hidangan apapun yang ingin kau pesan, kita bisa menyiapkannya."

Bocah itu mengerut kening, berpaling berkata kepada temannya.

"Memangnya aku sudah tahu kota ini amat rudin, restoran yang benar-benar genah pun tiada."

Bocah yang lain sedang mengamat-amati Dian Susi, sekenanya dia menjawab.

"Kalau tiada yang lebih baik, biarlah seadanya saja."

Bocah yang membawa cambuk berkata pula.

"Tempat sekotor ini, bagaimana nona bisa makan hidangannya?"

Bocah yang satu menimbrung juga.

"Pesanlah kepada mereka, supaya bikin yang lebih bersih, kan menyenangkan."

Ciangkui segera menyela.

"Ya, ya, ya, pasti kusuruh koki di dapur memperhatikan benar-benar, piring mangkok dan sumpit pakai yang baru."

Bocah pegang cambuk bertanya.

"Berapa tarif restoran kalian untuk satu meja hidangan?"

"Hidangan yang lebih baik semeja seharga lima tail..."

Belum habis dia bicara si bocah sudah mengerut kening, katanya.

"Semeja lima tail mana bisa dimakan? Kau kira siapa kami? Memangnya kita orang desa yang tidak pernah makan di restoran?"

"Terserah pesanan tuan tamu, mau sepuluh tail atau dua puluh tail semeja, kita bisa menyiapkan sesuai permintaan,"

Tersipu-sipu Ciangkui menerangkan lagi. Baru bocah itu manggut-manggut, katanya.

"Baiklah, siapkan satu meja hidangan seharga dua puluh tail perak,"

Sembari bicara dia merogoh kantong dan melempar sekeping uang perak "klotak"

Di atas meja, serta menambahkan.

"Nah itulah persekotnya, sebentar kita akan datang lagi."

Dua kali dia menatap Dian Susi, lalu pergi dengan menarik temannya, sambil jalan keduanya berbisik-bisik, tiba-tiba sama tertawa, lalu berpaling kepada Dian Susi, baru lompat naik ke pelana dan tinggal pergi.

Tiba-tiba terdengar seorang berseru memuji.

"Keledai yang bagus, sejak aku masuk pedalaman, jarang kulihat binatang sebaik itu."

Si pembicara adalah laki-laki brewok, dengan telanjang dada, tangannya memegang sebuah cawan arak beranjak keluar dari ruang kelas satu, mukanya kaku dan kasar.

Seorang di sebelahnya segera berseri tawa, katanya.

"Jikalau Gu toaya bilang bagus, tentu keledai itu memang jempolan."

Raut muka orang ini bersemu hijau, biji matanya merah, usianya empat puluhan, namun badannya bungkuk, kalau tidak karena pembawaan sejak kecil, tentu kena penyakit kotor karena terlalu banyak main perempuan.

Di samping masih ada dua orang, seorang berbadan tinggi kurus, sebatang pedang hitam gelap tersoreng di pinggangnya, kedua biji matanya terbalik ke atas, ujung mulutnya selalu menyungging senyuman dingin, seolah-olah beranggapan tiada laki-laki lain dalam dunia ini yang lebih tampan dari dia.

Orang yang paling belakang usianya paling lanjut, banyak giginya sudah ompong, sisanya pun sudah menguning seperti besi karatan, keriput kulit mukanya takkan bisa rata meski diratakan dengan gosokan listrik, namun dia memakai jubah panjang hijau mulus, tangannya membawa sebatang kipas lipat, baru saja melangkah keluar "juh"

Kontan dia berludah dengan suara tidak kepalang tanggung, matanya kelap-kelip mengawasi Dian Susi.

Bagi Dian Susi tiada satu pun di antara orang-orang ini yang tidak membikin dirinya muak dan ingin muntah, maka kepala besar atau si babi gendut ini jauh lebih tampan dan bagus kalau dibanding orang-orang ini.

Habis menenggak secawan arak di tangannya, Gu toaya lantas berkata.

"Dinilai dari kedua bocah ini, pasti nona majikan mereka mempunyai latar belakang yang luar biasa."

Laki-laki penyakitan bermuka hijau itu kembali unjuk seri tawa, katanya.

"Betapapun luar biasanya dia, kalau dia sudah berada di sini, adalah pantas kalau harus bertandang dulu kepada Gu toaya."

Gu toaya menggeleng-geleng kepala, katanya sungguh-sungguh.

"Cu-siu, kenapa kau bicara begini takabur, memangnya kau tidak takut ditertawakan oleh Bi Kong dan Ki kongcu? Ketahuilah tidak sedikit tokoh-tokoh lihay di Kangouw, orang macamku ini memangnya terhitung apa?"

Kakek tua ompong yang cengar-cengir ini kiranya bernama Bi Kong, katanya sambil menggoyang kipas.

"Ah, Gu-heng terlalu merendah, kalau Gu-mo-ong (raja iblis kerbau) yang tenar di luar perbatasan tidak terhitung apa-apa, aku Ouwyang Bi bukankah tidak berharga sepeser pun?"

Kelihatannya Gu toaya ingin bersikap acuh tak acuh, tapi tak urung dia tertawa, katanya.

"Di luar perbatasan memang aku punya sedikit nama, tapi sejak masuk ke pedalaman, aku jadi orang desa layaknya. Maka aku hanya berani tinggal di kota sekecil ini, tak berani berkeliaran di tempat-tempat besar, sudah tentu tak bisa disamakan dengan Bi Kong."

Ouwyang Bi tertawa, ujarnya.

"Gu-heng jangan lupa, kami justru datang dari tempat besar untuk menyambangi Gu-heng, yang diperlukan adalah kecocokan, perduli di tempat manapun bolehlah."

Gu toaya bergelak tawa. Dian Susi sebaliknya hampir saja muntah, namun serta dia teringat akan nama julukan Gu-mo-ong, tak tertahan dia tertawa geli dalam hati. Habis puas tertawa Gu toaya berkata.

"Bi Kong banyak pengalaman dan luas pengetahuan, apa kau sudah tahu asal-usul kedua bocah tadi?"

Ouwyang Bi gerakkan kipasnya, katanya setelah termenung sebentar.

"Dilihat dari tingkah laku dan dandanan mereka, kalau bukan anak cucu dari keluarga bangsawan, pasti keturunan dari keluarga Bulim, umpama kata mereka dari kerabat kerajaan aku pun tidak perlu heran."

Gu toaya manggut-manggut, katanya.

"Memangnya Bi Kong punya penglihatan tajam, menurut pendapatku yang bodoh, nona dari kedua bocah ini bukan mustahil adalah keluarga salah satu kerabat kerajaan dari kota raja, kebetulan ada hari baik maka pulang kampung untuk tilik keluarga."

Ki kongcu yang sejak tadi memegangi gagang pedang dan membalikkan dua biji matanya itu, tiba-tiba tertawa dingin.

"Kali ini pandangan kalian kukira salah."

Bertaut alis Ouwyang Bi, katanya tertawa nyengir."

Agaknya Ki kongcu sudah tahu asal-usul nona yang bakal datang itu?"

"Em!"

Ki kongcu hanya bersuara dalam tenggorokan.

"Orang macam apa dia?"

Tanya Gu toaya.

"Dia bukan terhitung orang baik, tidak lebih hanya seorang lonte."

Gu toaya melengak.

"Lonte?"

"Apa kerja seorang lonte?"

Tanya Ki kongcu.

"memangnya Gu-heng belum tahu?"

"Tapi lonte masakah punya perbawa begini besar? Mungkin Ki kongcu pun salah lihat!"

"Pandanganku pasti tidak salah, bukan saja dia lonte, malah lonte kelas tinggi yang luar biasa."

"Dalam hal apa dia luar biasa?"

Gu toaya tertarik.

"Kalau laki-laki iseng biasanya mencari lonte, sebaliknya lonte ini memilih langganan, pekerjaan tidak memenuhi syarat jangan harap diservice di atas ranjang, pembayaran harus di muka, demikian pula kalau tempatnya tidak mewah dia pun tidak mau."

Gu toaya tertawa terpingkal-pingkal, katanya.

"Apakah tempat itunya ada tumbuh kembang?"

"Bukan saja tempat itunya tiada kembang, malah gundul klimis sebatang rumput pun tiada."

Semakin jadi gelak tawa Gu toaya saking geli, arak dalam cawannya sampai tumpah.

Sebaliknya sembari tertawa Ouwyang Bi pelirak-pelirik ke arah Dian Susi.

Dian Susi sebaliknya terheran-heran, sepatah kata pun tidak tahu apa maksud dari percakapan mereka, maka dia berketetapan dalam hati untuk bertanya kepada si kepala besar.

"Lonte"

Itu apa kerjanya? Terdengar Gu toaya berkata dengan tertawa.

"Kalau dia bak umpama seekor harimau putih, tentunya bukan barang yang berkualitas baik, mengandal apa dia berani pasang harga setinggi itu?"

"Lantaran laki-laki umumnya bertulang malas dan miskin, maka semakin tinggi dia pasang gengsi, semakin banyak laki-laki yang ingin menjajal permainannya di atas ranjang."

Gu toaya manggut-manggut, katanya."

Agaknya dia memang sudah pandai meraba hati laki-laki, sampai pun hatiku pun sudah tergaet olehnya, biarlah nanti lihat keadaan, bila perlu ingin aku mencicipinya."

"Ya, teringat aku sekarang,"

Seru Ouwyang Bi bertepuk tangan.

"Bi Kong teringat apa?"

Tanya Gu toaya.

"Apakah yang dimaksud Ki kongcu adalah Thio Hou-ji?"

"Benar, memang dia!"

"Thio Hou-ji? Dalam hal apa dia baik? Di mana kebaikannya?"

Gu toaya bertanya.

"Kabarnya Thio Hou-ji adalah lonte ternama nomor satu di kalangan Kangouw, dia pun seorang lonte pendekar, bukan saja ilmu permainan di atas ranjang nomor wahid, kepandaian silatnya pun tidak lemah."

"Kalau demikian, tentunya Bi Kong pun sudah tertarik juga, entah malam nanti siapa di antara kita yang bakal diservice oleh Thio Hou-ji?"

Gu toaya berkelakar. Mereka saling pandang dan sama terbahak-bahak. Akhirnya mata Gu toaya melirik kepada Ki kongcu, katanya.

"Jadi Ki kongcu sudah tahu tempat itunya tidak tumbuh rumput, memang kau sudah pernah merasakan servicenya?"

Ki kongcu tertawa cengar-cengir saja. Katanya dingin.

"Anehnya, Thio Hou-ji sudi datang ke tempat seperti ini, memangnya dia sudah tahu di sini ada Gu-heng langganan empuk yang paling royal?"

Gelak tawa Gu toaya menjadi tawa dingin, katanya.

"Aku siap membayarnya lima ratus tail perak, tentu berlebihan buat dia bukan?"

Ki kongcu tetap cengar-cengir, sepatah kata pun dia tidak bicara. Sebaliknya laki-laki yang bernama Ci Siu sejak tadi bungkam, kini ganti dia yang ngoceh.

"Umpama tempat itunya itu dibuat dari emas, rasanya cukup dibeli lima ratus tail perak, biar sekarang aku siapkan kamar pengantin bagi Gu toaya."

Gu toaya sebaliknya menggeleng-geleng, katanya tawar.

"Nanti dulu, umpama dia mau menjual, aku belum tentu mau beli, betapapun lima ratus tail perak bukan hasil curian."

Ouwyang Bi tergelak-gelak, katanya.

"Lekas kau siapkan, kalau ada mempelai perempuan, kenapa kuatir tiada mempelai laki-laki?"

Sungguh Dian Susi tidak sabar lagi, setelah tiga orang itu ke tempat duduknya, dia bertanya dengan bisik-bisik.

"Lonte itu apa kerjanya? Apakah pengantin?"

Nyo Hoan menahan geli, sahutnya.

"Ada kalanya memang demikian."

"Pengantinnya siapa?"

"Pengantinnya orang banyak."

"Satu orang masa boleh jadi pengantin orang banyak?"

"Apa kau benar-benar tidak tahu?"

Tanya Nyo Hoan sambil mengamati orang dari kepala sampai ke kaki. Seketika merengut muka Dian Susi, sahutnya.

"Kalau aku tahu, buat apa tanya kau?"

"Sudah tentu boleh jadi pengantin orang banyak, karena setiap hari dia ganti pengantin laki-laki."

"Orang macam apa sebenarnya Thio Hou-ji itu? Apanya pula yang baik?"

Diam-diam Dian Susi termenung seorang diri, tanpa perdulikan kesibukan para pelayan dan semua penghuni restoran yang menyiapkan meja hidangan seharga dua puluh tail perak.

Mukanya menjadi lebih merah dibanding lombok, akhirnya dia paham apa artinya "Lonte"

Itu.

Baru sekarang ia paham apa yang diperbincangkan orang-orang tadi.

Setelah tahu malah berharap lebih baik tidak tahu, sungguh gemasnya bukan main kepada Nyo Hoan yang memberi penjelasan sejelas dan mendetail.

Namun hatinya tertarik juga.

Waktu berlalu dengan cepat, entah berapa lama kemudian, orang yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga.

Sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda berhenti di depan restoran.

Orang-orang yang masuk ke tempat duduknya tadi beramai-ramai memburu keluar.

Sementara Ciangkui dengan para pembantunya sudah membungkuk badan menunggu di luar pintu, meski badannya terbungkuk, namun ujung matanya mengerhng mencuri lihat ke atas.

Memangnya laki-laki siapa yang tidak mata keranjang tiap kali melihat perempuan cantik.

Lama sekali baru pintu kereta terbuka, berselang lama kerai baru tersingkap dan dari dalam terjulur keluar sepasang kaki.

Kaki yang mulus putih dan lencir, mengenakan sepatu sutra bersulam, ternyata tidak pakai kaos kaki.

Melihat sepasang kaki ini, laki-laki mana yang tidak merasa terbang arwahnya.

Baru saja kedua kaki itu menyentuh tanah lantas ditarik kembali.

Orang-orang bergegas menggelar sebuah permadani warna merah di depan kereta sampai ke depan pintu, yang menjadi pengawal dan pengikut di kereta agaknya bukan dua orang saja, kalau tidak salah ada enam tujuh orang.

Tapi mereka laki-laki atau perempuan?

Bagaimana tampang dan mukanya?

Siapapun tiada yang memperhatikan.

Karena setiap sorot mata orang yang hadir tertuju ke arah kedua kaki itu.

Dua kaki itu akhirnya menyentuh tanah.

Di samping dua kaki ini masih ada dua pasang kaki lainnya.

Dua nona cilik yang cantik-cantik dan molek membimbing Thio Hou-ji turun kereta.

Pelan-pelan beranjak masuk.

Sebelah tangannya menekan dada, tangan yang lain memegang pundak salah seorang gadis cilik, kedua alisnya yang lentik bagai bulan sabit bertaut dalam, bibirnya yang tipis kecil dan mungil seperti delima merekah.

Thio Hou-ji ternyata baik sekali.

Sebetulnya di tempat mana kebaikannya?

Siapapun tiada yang jelas, yang terang orang ini pasti baik, tiada alasan mengatakan tidak baik, harus baik.

Karena dia memang cantik sekali, demikian pula perawakannya langsing montok dan semampai, gerak-geriknya gemulai lembut.

Tapi dilihat dari kanan dipandang dari kiri, sebaliknya Dian Susi merasa orang ini bukannya manusia asli.

Mukanya memang cantik tapi seperti gambar, gerak-geriknya memang gemulai, tapi lebih mirip pemain sandiwara yang lagi pentas di atas panggung.

Anehnya laki-laki dalam restoran ini semua menjublek.

Sampai si babi gendut itu pun memicingkan kedua matanya, kelihatannya dia begitu tergila-gila.

Ingin rasanya Dian Susi mencukil keluar matanya itu.

Ternyata gaya jalan Thio Hou-ji luar biasa pula, seolah takut menginjak mati seekor semut, dari depan pintu sampai ke meja hidangan dia habiskan waktu selama setengah jam.

Setelah duduk di kursinya baru hadirin menghela nafas lega, jantung yang kebat-kebit baru tentram.

Sepasang mata Thio Hou-ji seolah-olah tumbuh di pucuk kepalanya, jangan kata melihat mereka, melirik pun tidak, seolah tiada orang lain dalam restoran ini.

Baru saja dia duduk hidangan-hidangan yang masih panas dan lezat segera berdatangan memenuhi meja.

Hidangan sebanyak itu hanya untuk dia sendiri.

Tapi dia hanya gunakan sepasang sumpit mengaduk-aduk satu persatu makanan-makanan itu, lalu sumpitnya diletakkan di meja, seolah-olah menemukan lalat dalam setiap hidangan itu.

Maka tanpa berkurang sedikit pun hidangan itu tetap tersaji di meja.

Seperti kuatir makan hidangan yang ada lalat hijau.

Akhirnya dia hanya makan semangkok bubur dengan sedikit sayur asin.

Sayur asin dibawa sendiri.

"Kalau tidak mau makan, kenapa memesan masakan sebanyak itu?"

"Nona kita pesan masakan hanya untuk dipertontonkan kepada orang saja"

Itulah gengsi. Laki-laki hampir gila dibuatnya. Umumnya perempuan suka laki-laki yang punya pamor, sudah tentu laki-laki pun senang menggauli perempuan yang punya gengsi.

"Bisa bergaul dengan perempuan yang punya gengsi setinggi ini, umpama hidupnya harus diperpendek pun takkan sia-sia."

Serasa gatal hati Gu toaya, tak tahan segera dia melangkah maju, dengan suaranya yang lembut dan gaya yang paling baik dia bersoja, katanya tertawa.

"Apakah nona Thio?"

Kelopak mata Thio Hou-ji bergerak pun tidak, katanya tawar.

"Aku she Thio."

"Aku she Gu."

"O, kiranya Gu toaya, silahkan duduk!"

Suaranya palsu, seperti orang bernyanyi. Serasa terbang ke awang-awang sukma Gu toaya, baru saja hendak duduk. Tiba-tiba Thio Hou-ji bertanya.

"Gu toaya, apa kau kenal aku?"

Gu toaya melengak, sahutnya menyengir.

"Hari ini baru ada jodoh bertemu, namun belum terlambat juga."

"Kalau begitu, kau belum mengenalku."

Terpaksa Gu toaya manggut-manggut.

"Agaknya aku tidak pernah kenal kau."

Sekali lagi Gu toaya manggut-manggut.

"Kalau kau tidak kenal aku, aku pun tidak kenal kau, mana boleh kau duduk di sini?"

Merah muka Gu toaya, katanya dengan tertawa dipaksakan.

"Kau yang suruh aku duduk?"

"Ah, sekedar basa-basi, apalagi..."

Tiba-tiba Thio Hou-ji tertawa.

"bila kusuruh Gu toaya berlutut, apa Gu toaya mau berlutut?"

Seperti lombok selebar muka Gu toaya, namun ingin marah tidak bisa marah.

Wanita secantik ini sedang tersenyum-senyum genit di hadapanmu, betapapun marah hatimu kau takkan kuasa mengumbar adat di hadapannya.

Melihat Gu toaya menjublek seperti kerbau yang melamun, sorot mata Ouwyang Bi sudah bercahaya terang, segera dia kebas-kebas kipas, dengan langkah lenggang kangkung dia beranjak maju, tulang belulang dan bobot badannya yang memang ringan karena tinggal kulit pembungkus tulang serasa makin enteng saja.

Gu toaya menyongsong kedatangannya dengan melotot, ingin dia melihat apa yang hendak orang katakan.

Ternyata sepatah kata pun Ouwyang Bi tidak bersuara, dari dalam saku dia keluarkan sekeping uang emas, diletakkan di atas meja di hadapan Thio Hou-ji.

Agaknya tidak sia-sia hidup Ouwyang Bi sampai berusia lima enam puluh tahun, dia mengerti di hadapan lonte seperti ini, bahwasanya tidak perlu banyak bicara.

Dia sudah paham bicara menggunakan uang emas.

Uang emas memang bisa bicara, malah lebih menarik perhatian perempuan dari segala rayu mesra siapapun di dunia ini, terutama di hadapan lonte, hanya uang emas saja yang bicara baru dimengerti olehnya.

Dengan jarinya dia selentik uang emasnya itu, biji mata Thio Hou-ji lantas mengerling ke arahnya.

Seketika Ouwyang Bi unjuk seri tawa senang, dia amat puas dengan caranya.

Memang cara yang dipilih ini yang paling tepat.

Tak nyana hanya sekali saja Thio Hou-ji mengerling kepadanya, lalu menengadahkan kepala.

Berkata Ouwyang Bi.

"Apa yang diucapkan uang emas ini, apa nona Thio tidak mendengarnya?"

"Apa katanya?"

Tanya Thio Hou-ji. Sambil menggoyang kipas Ouwyang Bi menjelaskan.

"Dia berkata, asal nona Thio manggut-manggut, dia suka menjadi milik nona Thio."

Berkedip-kedip mata Thio Hou-ji, katanya.

"Apa benar dia bicara demikian? Kenapa aku tidak mendengarnya?"

Ouwyang Bi melengak, katanya.

"Mungkin perkataannya terlalu lirih."

Kalau ada suara lebih keras dari uang emas, itu dari dua keping uang emas. Maka Ouwyang Bi keluarkan pula sekeping dan diselentik dengan jarinya, katanya tertawa.

"Sekarang nona Thio sudah mendengar?"

"Tidak."

Bertaut alis Ouwyang Bi, kertak gigi lalu dia keluarkan pula dua keping uang emas lagi.

Kalau sudah terlanjur merogoh kantong, apa salahnya kalau berlaku royal sekalian.

Memang sikap dan tawanya teramat royal, katanya.

"Sekarang tentu nona Thio sudah mendengarnya?"

Jawaban Thio Hou-ji tidak berubah.

"Tidak!"

Cekak aos dan tegas. Mimik Ouwyang Bi seperti pantatnya ditusuk jarum, teriaknya tertahan.

"Masih belum dengar? Suara empat keping uang emas, orang tuli pun bisa mendengarnya."

Thio Hou-ji tiba-tiba mengulapkan tangan, nona cilik yang berdiri di sebelah kanan segera keluarkan empat keping uang emas, ditaruh di atas meja.

Keempat keping uang emas ini jauh lebih besar dari keempat keping uang emas milik Ouwyang Bi.

"Kau orang tuli bukan?"

Tanya Thio Hou-ji. Ouwyang Bi menggeleng-geleng. Dia tidak tahu apa maksud pertanyaan Thio Hou-ji ini? Berkata Thio Hou-ji tawar.

"Kalau kau bukan tuli, kenapa kau tidak dengar apa yang diucapkan keempat keping uang emas ini?"

"Apa katanya?"

"Dia bilang, lekas kau menggelundung pergi, lebih jauh lebih baik, maka dia rela menjadi milikmu."

Mimik Ouwyang Bi lebih jelek, tidak mirip pantatnya tertusuk jarum tadi, seolah-olah ratusan jarum yang sekaligus menusuk ke mukanya, tiga ratus jarum menusuk pantat dan udelnya.

Gu toaya mendadak terpingkal-pingkal, saking geli dia memeluk perut dan terbungkuk-bungkuk.

Dian Susi ikut geli dalam hati, terasa olehnya Thio Hou-ji cukup cerdik, malah seorang jenaka yang lucu dan menyenangkan.

Bila perempuan melihat perempuan lain menyiksa atau mempermainkan laki-laki, pasti merasa lucu dan tertarik.

Sebaliknya bila melihat perempuan disiksa laki-laki, maka dia pun bisa marah setengah mati.

Hal ini lain dengan laki-laki.

Laki-laki melihat laki-laki lain dipermainkan perempuan, bukan saja tidak merasa simpatik, atau ikut marah dan dongkol, dia malah merasa hatinya senang dan puas, mungkin bersorak riang juga.

Demikian pula keadaan Gu toaya sekarang.

Dibanding Ouwyang Bi, Thio Hou-ji menaruh sedikit sungkan kepada dirinya, bukan mustahil malah menaruh hati kepada dirinya, hanya diri sendiri yang keliru menggunakan cara yang salah.

Untunglah untuk menambal kesalahan sekarang masih belum terlambat.

"Asal punya uang, kenapa takut takkan bisa menindih mampus perempuan macam demikian?"

Kembali sifat tuan besar Gu toaya terunjuk dengan membusung dada, katanya setelah batuk-batuk kering dua kali.

"Orang seperti nona Thio, tentu uang sebanyak ini tidak terpandang oleh nona Thio."

Lalu dia tepuk dada sendiri, katanya menambahkan.

"Berapa yang diminta nona Thio, silahkan buka suara, asal nona Thio mengangguk, berapapun akan kubayar."

Ternyata biji mata Thio Hou-ji mengerling kepadanya, dari atas sampai ke bawah dia mengamat-amati dengan seksama.

Tulang Gu toaya serasa luluh oleh sorot mata orang, diam-diam dia sesali kebodohan sendiri kenapa sejak tadi tidak unjuk kecongkakan sendiri sebagai tuan besar, supaya perempuan ini tahu Gu toaya rela mengeluarkan uang, malah royal sekali.

Tiba-tiba Thio Hou-ji bertanya.

"Kau ingin aku manggut-manggut, memangnya apa sih keinginanmu?"

Perempuan ini memang pandai berpura-pura. Gu toaya tertawa, katanya sambil melirik dengan tertawa.

"Apa yang kuinginkan, masa belum paham?"

"Kau ingin aku temani kau tidur bukan?"

Gu toaya tertawa besar, katanya.

"Nona Thio suka berterus terang."

Tiba-tiba Thio Hou-ji melambaikan tangan ke arah luar, katanya.

"Tuntun Kim-hoa kemari."

Kim-hoa adalah seekor anjing betina yang gemuk dan kekar. Berkata Thio Hou-ji dengan lembut.

"Berapa banyak yang Gu toaya inginkan, silahkan buka mulut saja, asal Gu toaya temani Kim-hoa tidur satu malam, berapa banyak yang kau minta pasti kubayar."

Ouwyang Bi mendadak terkial-kial, tawa lebih riang dan gembira dari Gu toaya tadi.

Sebaliknya kulit muka Gu toaya dari hijau berubah merah padam, otot lehernya merongkol keluar.

Selama ini Ki kongcu berdiri di belakang sambil menggendong tangan, baru sekarang dia melangkah ke depan, katanya tawar.

"Sebetulnya kalian tidak perlu marah, kalau nona Thio sudah melihat aku berada di sini, sudah tentu dia hanya menungguku saja."

Dengan bergaya seperti peragawan, dia melambaikan tangan kepada, Thio Hou-ji, katanya.

"Apa pula yang kau tunggu, kalau mau hayolah segera dimulai."

Tiba-tiba Thio Hou-ji tidak mau bicara.

Di saat semua orang mengira Thio Hou-ji akan mengeluarkan perkataan kotor yang tak enak didengar, dia malah bungkam.

Karena dia tahu, betapapun kotor dan jahat kata-katanya, tiada yang lebih galak daripada tidak bicara sama sekali.

Dan cara bungkamnya ini justru bikin orang marah setengah mati, orang bisa-bisa mencak seperti gila.

Bukan saja selebar muka Ki kongcu merah padam, lehernya seperti melar dua kali lipat dari biasanya, sejak tadi dia unjuk gagah sebagai seorang pemuda ganteng, sikap dan mimiknya sudah tersapu habis.

Dan yang lebih menjengkelkan, walau Thio Hou-ji tidak bicara, tapi dia justru sudah tahu apa yang ingin dikatakan Thio Hou-ji.

Akhirnya Ki kongcu berjingkrak gusar, dampratnya.

"Apa pula yang ingin kau katakan. Lekas katakan!"

Thio Hou-ji justru tidak mau bersuara. Sebaliknya Kim-hoa malah yang menggonggong sekali sembari menerjang maju, di hadapannya ekornya bergoyang-goyang sambil meringis.

"Binatang!"

Bentak Ki kongcu gusar.

"Minggir kau!"

Kim-hoa malah menyalak semakin galak.

"Minggir!'' kontan Ki kongcu angkat kakinya menendang. Kembali Kim-hoa menyalak sekali sambil mundur. Sungguh tak tahan Gu toaya menahan geli, serunya.

"Orang ini mendapatkan pasangannya."

Seorang lain tiba-tiba menimbrung.

"Kelihatannya memang cocok satu sama lain."

Sudah tentu semakin naik pitam Ki kongcu mendengar olok-olok ini, siapa yang bicara tidak diperhatikan lagi olehnya.

"Sreng"

Segera dia cabut pedangnya, langsung menusuk.

Sekonyong-konyong sebatang sumpit melesat terbang dan telak memukul punggung tangannya.

Begitu pedangnya jatuh berkerontangan, Kim-hoa segera menerjang maju menggigit telapak tangannya.

Lukanya cukup berat.

Seperti orang yang baru mentas kecebur ke sungai, sekujur badan Ki kongcu kuyup oleh keringat dingin yang gemerobyos.

Dia sudah melihat dari mana sumpit tadi disambitkan.

Bagian 5 Dalam pada itu Kim-hoa sudah menggigit sumpit itu terus berlari balik sambil menggoyang ekor dengan aleman.

Agaknya dia tahu dari mana sumpit ini disambitkan.

Setiap hadirin tahu, cuma mereka tiada yang percaya.

Tusukan pedang Ki kongcu bukan serangan main-main, cukup cepat dan lihay, siapapun tidak menduga Thio Hou-ji bisa turun tangan lebih cepat dari seorang ahli pedang yang kenamaan.

Thio Hou-ji hanya mengerut kening, nona cilik di belakangnya segera menerima sumpit itu dari mulut Kim-hoa, katanya.

"Sumpit ini sudah tak bisa dipakai lagi."

Akhirnya Thio Hou-ji bersuara juga. Dengan pelan-pelan dia tepuk kepala Kim-hoa katanya lembut.

"Buyungku sayang, jangan marah, bukan aku anggap mulutmu kotor, tapi tangan orang itu malah yang kotor." * * * * * Mungkin di sini letak perbedaan kenapa Thio Hou ji dipandang lebih mahal dan tinggi nilai sewanya dari perempuan lain. Bukan saja paham kapan harus bicara apa, dia pun tahu terhadap siapa dia harus bicara apa. Dan yang terpenting, dia pun tahu dalam waktu apa dia harus bungkam dan tutup mulut. Dian Susi benar-benar merasa lucu dan tertarik terhadap perempuan yang satu ini. Saking geli dia terus terpingkal-pingkal, setelah kembali ke kamarnya, dia masih terus tertawa. Kamar ini adalah Nyo Hoan yang sewa, meski kamar murahan, terhitung dia sudah punya tempat berteduh. Sebetulnya sejak datang tadi Dian Susi sudah kebingungan dan kuatir, entah di mana nanti malam dia harus tidur, baru sekarang dia menyadari bukan saja makan merupakan persoalan, tidur pun harus dia pikirkan juga. Siapa nyana Nyo Hoan mendadak menaruh belas kasihan, secara suka rela menyewakan sebuah kamar untuk dia, malah sebelum masuk kamar berpesan kepadanya supaya tidur pagi-pagi.

"Babi gendut ini betapapun bukan laki-laki bejat,"

Demikian batin Dian Susi dengan gigit bibir dan tersenyum-senyum, seolah-olah dia teringat sesuatu kejadian lain yang lucu dan menggelikan. Akhirnya dia terbungkuk-bungkuk kegelian.

"Kalau Dian Sim dikawinkan sama dia, yang satu mulut monyong yang lain kepala besar, tentu pasangan setimpal yang menggelikan."

Tentang dirinya sudah tentu dia tidak sudi kawin dengan orang demikian.

Orang seperti Dian siocia sudah tentu harus kawin dengan tokoh besar setaraf Cin Ko.

Teringat akan Cin Ko seketika terbayang sapu tangan merah yang melambai terikat di lehernya, seketika merah pula selebar mukanya.

Untung kamarnya hening gelap, hembusan angin lalu pun serasa berhenti.

Musim rontok yang panas ini memang amat menyebalkan, ingin rasanya dia menelanjangi badan, tidur dengan telanjang saking gerahnya, namun tiada nyali untuk mencopoti pakaian.

Ingin tidur tidak bisa nyenyak.

Sebentar dia merebahkan diri, lekas sekali sudah merangkak bangun lagi.

"Lantainya tentu dingin, biar aku jalan-jalan dengan telanjang kaki."

Segera dia mencopot sepatu, lalu menanggalkan kaos kakinya pula, melihat kakinya, seketika lupa bahwa dirinya hendak jalan-jalan.

Di atas meja terdapat sebuah gelas air dingin, sekali tenggak dia habiskan seluruhnya.

Di luar didengamya kentongan dua kali.

Keruan dia berjingkrak kaget, hampir saja gelas di tangannya terlepas jatuh.

Waktu sudah terasa berjalan teramat lambat dan lama, tak nyana baru kentongan kedua, semula dia kira hari sudah hampir terang tanah, siapa nyana malam musim panas yang gerah, banyak nyamuk ini terasa begini panjang dan lama.

Dalam saat seperti ini kalau ada orang diajak ngobrol masih mending.

Tiba-tiba timbul hasratnya mengajak Nyo Hoan ngobrol, tapi kepala besar itu habis kenyang lantas masuk kamar, pintu ditutup rapat, mungkin sudah tidur seperti babi mendengkur.

"Aku justru tidak akan biarkan dia tidur nyenyak, akan kugoda supaya bangun!"

Demikian Dian Susi berkeputusan.

Diam-diam dia dorong pintu lalu melongok keluar, tiada kelihatan bayangan seorang pun di luar.

Cuaca sepanas ini, pekarangan luar pun tiada angin lalu, kalau ada orang tutup pintu dan jendela tidur dalam kamar memang merupakan suatu keajaiban.

Kamar Nyo Hoan terletak di seberang pekarangan sana, pintunya tertutup rapat, namun dari jendela kelihatan sinar menyorot keluar dari dalam kamarnya.

"Ternyata tidur tanpa memadamkan lentera, tidak takut kebakaran di tengah malam memanggang badannya yang berminyak itu jadi panggang babi yang lezat?"

Dengan geli dan dongkol Dian Susi diam-diam melewati pekarangan.

Bumi terasa dingin.

Baru sekarang dia sadar bukan saja lupa pakai sepatu, malah kaos kakinya masih dijinjing di tangannya.

Mengawasi kaki sendiri sekian lama dia menjublek, akhirnya ujung mulutnya menyungging senyum manis.

Dia gulung kaos kaki terus dijejalkan ke dalam baju, dengan telanjang kaki dia beranjak.

Kenapa telanjang kaki malu dilihat orang?

Bukankah setiap orang yang dilahirkan juga telanjang bulat?

Pintu kamar itu rapat sekali, tangannya sudah diulur hendak mendorongnya, tapi urung dan ditarik kembali.

"Kalau aku ketuk pintu, dia pasti tidak perduli, biasanya bila babi tidur, dunia kiamat pun tidak dihiraukannya."

Sekilas biji matanya berputar.

"Kenapa tidak kuterjang masuk begini saja untuk membuatnya kaget?"

Membayangkan kelakuan Nyo Hoan di saat terjaga dari tidurnya, dia tidak perduli akibatnya lagi.

Setelah pasang kuda-kuda dan kerahkan tenaga segera dia menerjang pintu dan menjebolnya masuk.

Penginapan bukan gudang, pintu kamarnya tentu tidak dibikin sekuat pintu gudang yang keras dan tebal.

Harapannya justru supaya hati Nyo Hoan keras dan tabah, akan dibikin kaget setengah mati.

* * * * * Nyo Hoan sedikit pun tidak kaget, malah sedikit kaget pun tidak, dia tetap duduk di tempatnya, seperti patung kayu yang duduk di atas kursi.

Memang badannya yang gendut itu mirip kursi malas yang empuk dan enak, karena di atas pangkuannya seseorang duduk ongkang-ongkang.

Seorang yang cantik dan menarik sekali.

Seorang perempuan.

* * * * * Thio Hou-ji pun tidak kaget karenanya.

Tawanya masih begitu manis, sikap dan tindak tanduknya tidak semanis dan selembut ini.

Bukan saja dia duduk di perut Nyo Hoan, kedua tangannya malah memeluk lehernya.

Orang yang kaget dibuatnya adalah Dian Susi sendiri.

Mulutnya terpentang lebar, matanya melotot, mimik dan sikapnya seperti lehernya buntu tersendat sebutir telur ayam.

Mata Thio Hou-ji sebening air itu mengerling ke arahnya, katanya berseri tawa.

"Kalian sudah saling kenal?"

Nyo Hoan tertawa lebar, dia manggut-manggut.

"Siapakah dia?"

Tanya Thio Hou-ji. Kata Nyo Hoan.

"Biar kukenalkan, inilah nona Thio, inilah tunanganku, bini yang belum sempat kupersunting."

Pelacur yang duduk di pangkuannya diperkenalkan kepada calon istrinya dengan sikap wajar dan berolok-olok malah, seolah-olah tidak menyesal dan tidak bersalah terhadap calon istrinya, lagaknya tengik dan tiada maksud menurunkan Thio Hou-ji, keduanya memang tidak tahu malu.

Umpama Dian Susi mempunyai maksud menikah sama dia, aneh bin ajaib bila dia tidak dibikin mampus saking marah melihat adegan porno yang memuakkan ini.

Walau dia tidak bermaksud kawin, toh dia sudah naik pitam dibuatnya.

Setan kepala besar ini sungguh tidak memberi muka sedikit pun kepadanya.

Lebih menjengkelkan Thio Hou-ji pun tiada niat turun dari pangkuannya, malah berkata dengan berkedip-kedip mata.

"O, apa benar kau ini Nyo hujin yang belum dinikah?"

Lebih menjengkelkan, tak bisa tidak Dian Susi harus mengakui kenyataan ini, keruan mulutnya gemeratak saking menahan gusar. Tidak menjawab berarti mengakui. Maka Thio Hou-ji cekikikan, ujarnya.

"Semula kukira kau ini maling perempuan pemetik kembang, tengah malam buta rata main terjang pintu. Tak nyana kiranya Nyo hujin yang bakal datang, sungguh kurang hormat, kurang hormat, silahkan duduk."

Dia menepuk-nepuk paha Nyo Hoan serta menambahkan.

"Perlukah tempat duduk ini kuberikan kepadanya?"

Kini Dian Susi tidak merasa lucu dan geli lagi, ingin rasanya dia persen tempilingan keras di mukanya.

Tapi melihat sikap Nyo Hoan yang puas kesenangan, seketika dia sadar, dirinya tidak boleh terbawa emosi.

"Semakin aku marah, mereka semakin senang."

Betapapun nona besar pingitan ini cukup cerdik, seketika dia merubah sikap, wajahnya dihiasi senyuman manis, meski senyum kurang wajar, tapi tetap senyuman yang menarik juga.

Di bawah pandangan orang Dian Susi bersikap sejadi-jadinya, tanpa sungkan dan tidak malu lagi, dia seret sebuah kursi terus duduk dengan tersenyum, katanya.

"Tak usah kalian sibuk mengawasiku, tak usah malu-malu, yang terang aku hanya duduk sebentar terus menyingkir."

Thio Hou-ji tertawa, katanya.

"Kau memang tabah, kalau perempuan di seluruh dunia setabah kau, laki-laki pasti berumur lebih tua."

Kembali dia memeluk leher Nyo Hoan serta mencium pipinya, katanya dengan tertawa genit.

"Kalau kau mengawini istri bijaksana ini, sungguh beruntung besar."

Dian Susi meniru tingkah lakunya, katanya dengan tertawa sambil mengerling.

"Sebetulnya kau tidak perlu memuji aku, jikalau aku punya maksud menikah sama dia, sekarang aku sudah mencukur gundul rambut kepalamu."

Berkedip-kedip mata Thio Hou-ji.

"Kau tidak mau dikawin sama dia?"

"Umpama laki-laki seluruh dunia ini mampus seluruhnya, aku pun tidak sudi kawin dengan dia,"

Tiba-tiba Dian Susi menghela nafas, gumamnya.

"Aku hanya heran akan suatu hal, bagaimana mungkin ada perempuan yang kepincut terhadap babi segendut ini?"

Suaranya lirih dan seperti mengigau, tapi suaranya bisa didengar orang lain. Thio Hou-ji tertawa, katanya.

"Nah itulah yang dinamakan anggur dan sayur asin, masing-masing punyai hobby sendiri-sendiri."

Lalu dia menghela nafas, serta menggumam.

"Ada beberapa budak kecil yang belum pernah kenal beberapa laki-laki, hakikatnya belum bisa membedakan siapa lebih baik, yang mana lebih jahat, lantas dia sok tahu hendak menilai laki-laki, dan itulah yang dinamakan lucu dan mengherankan."

Seperti mengigau dengan suara lirih, tapi suaranya dapat terdengar orang lain pula. Dian Susi berkedip-kedip lagi, katanya tertawa.

"Apa kau pernah melihat banyak laki-laki?"

"Banyak sih tidak, tapi seribu delapan ratus orang kukira ada."

Sengaja Dian Susi unjuk rasa kaget, katanya.

"Wah, banyak benar, agaknya kau sudah setimpal diangkat jadi seorang ahli menilai laki-laki,"

Lalu dengan tertawa dia menambahkan.

"Menurut apa yang pernah kudengar, dalam dunia ini hanya ada satu macam perempuan yang bisa melihat laki-laki sebanyak itu, entah nona Thio ngobyek dalam bidang apa?"

Dengan mengajukan pertanyaan ini Dian Susi merasa senang hati, batinnya.

"Kali ini cara bagaimana kau hendak menjawab pertanyaanku, coba kau masih berani pongah tidak?"

Bagaimanapun jalan yang ditempuh Thio Hou-ji bukan obyek yang patut dipuji. Tapi Thio Hou-ji justru tertawa bangga, katanya genit.

"Kalau dibicarakan memang mentertawakan, tidak lebih aku ini hanya seorang ahli kebajikan."

Dian Susi melengak, tanyanya.

"Apa kerja seorang ahli kebajikan?"

"Ahli kebajikan dapat dibagi beberapa macam, aku memilih jalan pendek untuk menolong kaum laki-laki."

"O, menyenangkan juga, entah laki-laki macam apa yang perlu kau tolong?"

"Jikalau tiada aku, jangan harap banyak laki-laki yang benar-benar bisa menyentuh perempuan sejati, maka sedapat mungkin aku menghibur mereka, sedapat mungkin membuat hati mereka senang dan tentram."

Dengan cekikikan genit dia lantas menyambung pula.

"Ketahuilah, seorang laki-laki normal bila tidak mendapat hiburan dari perempuan sejati, maka laki-laki itu harus dikasihani, sayang perempuan sejati justru tidak banyak jumlahnya."

Berputar biji mata Dian Susi, katanya.

"Jikalau bukan kau, mungkin laki-laki kehilangan sasaran untuk mengudal uang yang padat dalam sakunya."

"Memangnya, aku tidak senang laki-laki diperbudak oleh uang, maka sedapat mungkin kudidik mereka untuk sedikit royal."

Mengawasi Dian Susi kembali dia meneruskan.

"Apa kau suka laki-laki diperbudak untuk mengeduk harta benda melulu?"

Perang mulut kedua pihak sama-sama mengandung duri tajam, seolah-olah ingin sekali tusuk bikin lawannya mampus seketika.

Akan tetapi wajah kedua ini orang sama-sama tersenyum lebar.

Nyo Hoan celingukan kian kemari, mengawasi Thio Hou-ji lalu berpaling kepada Dian Susi, mukanya membayangkan rasa senang dan puas, seolah-olah dia amat menikmati hiburan yang menyenangkan ini.

Dian Susi pikir-pikir dengan cara dan pancingan apa untuk bikin babi gendut ini marah dan mencak-mencak seperti kera.

Thio Hou-ji malah menghela nafas, gumamnya.

"Waktu sudah larut, sudah saatnya untuk pulang tidur,"

Mulutnya mengoceh sebaliknya dia sendiri tidak bermaksud turun dari pangkuan dan kembali ke kamarnya sendiri. Dian Susi maklum ke mana juntrungan kata-kata orang. Batinnya.

"Kau ingin aku pergi, aku justru tidak mau pergi, coba kulihat kalian bisa berbuat apa atas diriku."

Bahwasanya kenapa dia sendiri tidak mau pergi, hal ini dia tidak tahu. Setelah ucapannya pertama tiada reaksi apa-apa, terpaksa Thio Hou-ji mengulangi pula.

"Entah sekarang waktu apa? Tentunya sudah larut malam?"

"Apa nona Thio hendak kembali?"

Tanya Dian Susi.

"Memangnya aku tidak punya kerja apa-apa, biarlah ngobrol lagi sebentar juga tidak jadi soal, dan kau?"

"Aku pun tidak punya urusan, tidak perlu tergesa-gesa."

Seolah-olah keduanya sudah sama-sama bertekad "Kau tidak pergi, aku pun tidak mau berlalu."

Tapi sampai di sini pembicaraan mereka, seakan-akan bahan pembicaraan sudah habis, terpaksa masing-masing bertahan. Tiba-tiba Nyo Hoan mendorong Thio Hou-ji pelan-pelan, katanya tertawa.

"Kalian boleh ngobrol di sini, aku ingin jalan-jalan di luar, kalau ada laki-laki tentu tiada bahan bicara yang lebih menarik bagi dua perempuan yang suka ngobrol."

Segera dia bangkit berdiri terus beranjak keluar.

"Kalian tidak mau pergi, biar aku yang pergi."

Inilah cara tegas untuk menghadapi kebrengsekan perempuan.

"Sungguh tak nyana babi gendut ini pandai bermain sandiwara, tepat berperan sebagai badut."

Sungguh gemas dan dongkol Dian Susi dibuatnya, namun tak enak dia mengikuti jejak orang kembali ke kamarnya sendiri.

Kalau tidak berlalu, sebaliknya tiada yang perlu dibicarakan dengan Thio Hou-ji.

Maka hawa terasa semakin panas, sampai pun bernafas pun rasanya berat.

Tiba-tiba Thio Hou-ji bersuara.

"Nona Dian keluar rumah, ke mana tujuanmu?"

"Aku hendak ke Kanglam."

"Kanglam tempat yang indah, entah nona Dian hendak tamasya? Atau hendak cari orang?"

"Ke sana untuk mencari orang."

Setelah Nyo Hoan pergi, tiada selera dia berhadapan dengan Thio Hou-ji. Sebaliknya Thio Hou-ji tersenyum manis, katanya.

"Di Kanglam aku punya banyak kenalan, orang-orang yang ternama di sana boleh dikata banyak yang kukenal!"

Ocehan ini menggerakan hati Dian Susi.

"Kau kenal banyak orang?"

Tanya Dian Susi.

"Kau kenal Cin Ko?"

"Orang yang suka kelayapan, jarang yang tiada kenal Cin Ko."

Seketika bersinar biji mata Dian Susi, katanya.

"Kabarnya dia sering kelayapan kemana-mana, sukar untuk menemukan dia."

"Jadi kau ke Kanglam mau mencari dia?"

"Em,"

Dian Susi mengiakan.

"Untung kau bertemu aku di sini, kalau tidak sia-sia perjalananmu ke sana."

"Kenapa?"

"Sekarang dia tak berada di Kanglam, kini berada di Tionggoan."

"Kau... kau tahu di mana dia berada?"

"Kemarin lusa aku masih berkumpul sama dia."

Sungguh tertarik, iri dan cemburu Dian Susi dibuatnya, katanya menggigit bibir.

"Apa dia berada di tempat sekitar sini?"

"Ya, tidak jauh dari sini."

Sesaat lamanya Dian Susi terpekur, katanya kemudian.

"Sudikah kau beritahu kepadaku, di mana aku bisa menemukan dia?"

"Tidak bisa,"

Sahut Thio Hou-ji. Dian Susi menjublek, akhirnya dia berjingkrak bangun terus berlari keluar. Tiba-tiba Thio Hou-ji tertawa, serunya.

"Tapi aku bisa bawa kau ke sana menemui dia."

Langkah Dian Susi berhenti, hampir berjingkrak senang, serunya.

"Apa benar? Kau tidak menipu aku?"

"Kenapa harus menipumu?"

Tiba-tiba Dian Susi merasa orang ini berhati baik.

Apa yang terpikir dalam benaknya sukar untuk dinyatakan dengan ucapan, segera dia putar badan memburu ke depan Thio Hou-ji, katanya sambil menarik tangan Thio Hou-ji.

"Kau memang orang baik."

"Sejak bertemu aku amat menyukai kau."

"Kau... kapan kau hendak ajak aku menemui dia?"

"Kapan saja bolehlah, cuma... mungkin ada orang yang tidak mengizinkan kau pergi."

"Siapa berani melarang aku?"

Thio Hou-ji menuding keluar, katanya berbisik.

"Babi gendut itu."

Dian Susi tertawa riang, katanya.

"Berdasar apa dia melarang aku? Yang benar dia tidak punya hak merintangi keinginanku."

"Kau benar-benar tidak takut?"

"Takut apa? Siapa takut setan kepala besar itu?"

"Kalau sekarang kau berani pergi, hayolah kubawa kau ke sana, besok pagi mungkin kau bisa bertemu Cin Ko."

"Kalau begitu mari sekarang berangkat, siapa tidak berani dialah anjing kecil."

"Marilah kita merat lewat jendela saja, biar setan kepala besar itu mencak-mencak tak menemukan kita, bagaimana?"

"Bagus,"

Dian Susi menyetujui usulnya.

Dapat membikin Nyo Hoan keripuhan, sungguh amat menyenangkan hatinya.

* * * * * Dian siocia mulai perjalanan dalam pengembaraannya.

Di jalan bukan saja lebih nyaman daripada di kamar, lebih segar juga berada di pekarangan.

Dian Susi menghirup nafas segar, tiba-tiba dia merasa kakinya dingin lembab.

Baru sekarang dia sadar kakinya tidak pakai sepatu.

"Sejak mula babi gendut itu ternyata tidak pernah memperhatikan kedua kakinya."

Diam-diam Dian Susi kertak gigi, katanya.

"Aku... biar aku kembali dulu sebentar?"

"Kembali lagi untuk apa?"

Tanya Thio Hou-ji tertawa.

"Tak usah kau kuatir dia kelabakan, orang-orangku tahu ke mana aku hendak pergi, besok pagi mereka pasti memberi tahu kepadanya."

Merengut mulut Dian Susi, katanya.

"Perduli dia akan gugup sampai mati, aku ingin mengambil sepatuku."

"Aku membawa sepatu, sepatu model apapun aku punya."

"Tapi... masa aku harus berangkat begini saja?"

"Aku tahu di suatu tempat, meski larut malam di sana kita bisa menyewa kereta."

"Kau memang pintar bekerja, agaknya banyak urusan yang kau ketahui."

"Soalnya terpaksa, perempuan yang kelayapan di luar, jikalau tidak cari akal untuk mengurus diri sendiri, setiap saat bisa digoda laki-laki."

"Memangnya laki-laki bukan manusia baik-baik."

"Laki-laki yang baik memang tidak banyak."

"Tapi darimana kau tahu aku she Dian? Apa setan kepala besar itu yang memberi tahu kepadamu?"

"Ya."

"Apa saja yang dia katakan kepadamu?"

"Apa yang dikatakan laki-laki di belakang orang, lebih baik jangan kau mendengarnya."

"Apa salahnya kudengar? Yang terang apapun yang dia katakan, kuanggap kentut."

"Sebetulnya dia tidak mengatai dirimu, cuma mengatakan kau terlalu mengumbar adat sebagai nona pingitan dari keluarga besar yang kaya raya, kalau tidak dididik secara baik-baik, kelak pasti lebih galak dan sukar dikendalikan."

"Setan kepala besar, berani dia kendalikan aku? Memangnya dia punya hak?"

"Dia pun mengatakan, cepat atau lambat kau harus kawin sama dia, mau tidak mau dia harus mendidikmu."

"Jangan kau percaya akan kentutnya, coba kau pikir, sudikah aku kawin dengan laki-laki seperti dia itu?"

"Sudah tentu tidak, dalam hal apa dia setimpal mempersunting kau?"

"Tapi kau justru bersikap baik terhadapnya."

"Terhadap banyak laki-laki aku sudah biasa baik!"

"Tapi terhadap laki-laki yang satu ini, perhatianmu luar biasa, benar tidak?"

"Soalnya dia kenalan lamaku."

"Kau sudah lama mengenalnya?"

Thio Hou-ji mengiakan, katanya.

"Jangan kau kira dia itu orang jujur, kelihatannya memang jujur, tapi obrolannya justru mengandung bisa, setiap ucapannya hakikatnya tidak boleh dipercaya."

"Memangnya sudah kukatakan, apapun yang dia katakan, anggap saja kentut busuk."

Di mulut berkata demikian, namun perasaan hati berkata lain.

"Bagaimana juga, si kepala besar ini toh pernah membantu aku."

Dian Susi memangnya bukan manusia yang lupa akan budi dan membalas air susu dengan air tuba, kelak bila ada kesempatan dia berjanji untuk membalas kebaikannya itu.

Dalam pada itu mereka sudah beranjak di jalan raya, derap kaki kuda berdentam di batu-batu jalan raya, Thio Hou-ji berkata."

Agaknya kita rada mujur, tak usah pergi mencarinya, kereta sudah diantar datang!" * * * * * Ada sementara orang selalu ketiban rejeki baik.

Kereta yang datang ini bukan saja kosong, malah kereta besar yang mewah terukir dan dipajang indah, kereta baru yang nyaman lagi menyegarkan.

Kusir kereta juga pemuda yang sopan dan ramah tamah, malah kepalanya menggunakan ugel-ugel kain panjang warna merah, ujung ugelannya yang terurai memanjang tertiup angin melambai-lambai.

Dian Susi menjublek mengawasi lambaian kain merah ini, seolah-olah dia sudah berhadapan dengan Cin Ko.

Pemuda yang pegang kendali jadi kikuk dan risih, katanya tertawa malu-malu.

"Silahkan nona naik kereta."

Merah muka Dian Susi, tanyanya.

"Kulihat kau pun pakai selendang merah segala, memangnya kau mengagumi Cin Ko?"

"Sudah tentu, siapa orang Kangouw yang tidak kagum terhadap Cin Tayhiap?"

"Kau pernah melihatnya?"

"Kami dari kalangan rendah, siapa punya rejeki sebesar itu bisa kebetulan berhadapan dengannya?"

"Kau ingin tidak melihatnya?"

"Asal bisa melihat Cin Tayhiap, disuruh puasa tiga hari aku pun mau."

Dian Susi geli. Mendengar orang memuji Cin Ko, seolah-olah hatinya lebih senang daripada orang memuji dirinya. Katanya tertawa lebar.

"Besok aku akan bertemu sama dia, dia adalah... adalah temanku."

Dia tidak merasa dirinya membual, karena di dalam benaknya, Cin Ko bukan saja sudah dianggapnya sebagai teman karib, boleh dikata sudah dianggap kekasihnya, calon suami.

Seketika terpancar kagum pada sorot mata si kusir muda ini, katanya.

"Nona memang beruntung besar..."

Serasa terbang badan Dian Susi saking syuur dan sedap.

Memang dia merasa peruntungan dirinya teramat besar, pilih punya pilih, ternyata tidak meleset pilihannya.

Cin Ko memang tokoh istimewa.

* * * * * Kereta akhirnya berhenti.

Kebetulan cahaya terang mulai muncul di ufuk timur.

Fajar telah menyingsing.

Dian Susi sedang bermimpi, mimpi yang manis mesra.

Dalam mimpinya sudah tentu tidak ketinggalan bayangan Cin Ko.

Sayang sekali mimpinya di tengah jalan karena Thio Hou-ji menggoyang pundaknya.

Dian Susi mengucek-ucek mata, dari jendela dia memandang keluar.

Tampak dua daun pintu warna merah darah bersinar ketingkah sinar surya pagi, dua buah singa batu yang besar mendekam di dua sisi pintu.

Dengan berkedip-kedip dia bertanya.

"Apa sudah sampai? Tempat apakah ini?"

"Inilah pondokku,"

Sahut Thio Hou-ji. Dian Susi tertawa.

"Apa yang kau tertawakan?"

Tanya Thio Hou-ji heran.

"Aku geli karena kau terlalu sungkan, kalau rumah seperti ini adalah pondokmu, lalu gedung bagaimana baru menjadi rumah tinggalmu?"

Thio Hou-ji tertawa riang.

Bahwa rumah gedungnya dipuji orang, siapapun akan merasa girang.

Memangnya siapapun yang melihat dan berada di tempat seperti ini, pasti akan memuji ala kadarnya.

Gelang baja di daun pintu mengkilap seperti emas, di dalam lingkungan pagar tembok ada sebuah pekarangan yang luas, serambi yang dibangun serba ukiran, daun jendela memakai kertas sutra yang paling mahal dan putih halus, namun warnanya menjadi kehijauan ditingkah reflek sinar matahari yang menyinari dedaunan kembang di pekarangan.

Kembang mekar dan tetumbuhan subur hidup dalam pekarangan, burung berkicau, burung walet terbang pergi datang membangun sarangnya di terap gedung.

"Gedung ini milikmu?"

Dian Susi bertanya.

"Kau sendiri yang membelinya?"

"Baru kubeli dua tahun yang lalu, pemiliknya yang dulu adalah keluarga bangsawan, kabarnya serba pandai, sayang orang sekolahan, maka gedung ini dapat kubeli dengan harga yang amat murah."

"Agaknya menjadi seorang ahli kebajikan memang amat menguntungkan, paling tidak jauh lebih baik bagi seorang yang lulus dari ilmu kesarjanaan."

Thio Hou-ji manggut-manggut dengan muka merah, lekas dia pura-pura batuk-batuk. Agaknya Dian Susi menyadari akan kelepasan omongnya, lekas dia menambahkan.

"Apa Cin Ko hari ini akan kemari?"

"Biar kau ke belakang dulu istirahat, umpama dia tidak kemari, aku akan mengundangnya ke sini."

Taman belakang lebih indah dan permai dari pekarangan depan.

Gedung-gedung mini bertingkat dibangun tepat di tengah taman, selintas pandang dari luar laksana gambar lukisan, demikian pula dipandang dari dalam tak ubahnya seperti di dalam surga.

"Indah benar tempat ini,"

Tak tertahan Dian Susi memuji.

"Bila hawa teramat terik, aku jadi malas kelayapan, maka aku sering menyembunyikan diri di dalam taman kembang ini."

"Kau memang pintar menikmati hidup mewah,"

Demikian puji Dian Susi.

Bahwasanya tempat tinggalnya tidak kalah permai dan sejuknya dari tempat ini, justru ada kesenangan tidak mau dinikmati, malah kelayapan di luar mengalami derita dan kesukaran.

Thio Hou-ji tertawa, katanya.

"Jikalau kau senang tempat ini, biar kusediakan untukmu, kelak bila kau kawin dengan Cin Ko, boleh kau tempati gedung loteng ini sebagai kamar pengantin."

Merah biji mata Dian Susi, tak tertahan dia tarik tangan orang, katanya.

"Kenapa kau begini baik terhadapku?"

"Tadi sudah kukatakan, sekali pandang hatiku merasa cocok dengan kau, itulah yang dinamakan jodoh,"

Ditepuknya tangan Dian Susi lalu menyambung.

"Sekarang pergilah kau mandi ganti pakaian dan merias diri, lalu pergilah tidur, bila Cin Ko datang, nanti kubangunkan kau, jangan lupa berdandanlah yang baik."

Dian Susi menunduk melihat pakaiannya yang kotor dan sobek, mengawasi sepasang kakinya yang telanjang dan dekil, tak tertahan dia menghela nafas. Berkata pula Thio Hou-ji tertawa.

"Perawakanmu sebanding dengan aku, biar kucari beberapa stel pakaian yang paling baik untukmu, sebentar kusuruh Siau-lan membawanya kemari."

"Siau-lan?"

Tanya Dian Susi.

"Siau-lan adalah budak kecil yang baru kubeli, cukup cerdik dan pintar, jikalau kau suka, boleh kuberikan dia kepadamu."

Sungguh tak kepalang terima kasih hati Dian Susi atas kebaikan orang kepada dirinya.

Orang dari tingkat dan kelas apapun di dalam masyarakat pasti ada yang baik, di dalam liku-liku pengembaraan secara liar ini, terhitung sekarang dia menemukan seorang yang benar-benar baik hati.

Sepeninggal Thio Hou-ji, seorang diri Dian Susi mengamat-amati hiasan lukisan-lukisan kuno dari pelukis-pelukis kenamaan dan syair-syair dari pujangga jaman lalu, begitu asyiknya sampai dia lupa ganti pakaian lupa mandi, pada saat-saat itulah tiba-tiba didengarnya suara ketukan pintu yang lirih dari luar.

Pintu hanya dirapatkan, maka Dian Susi segera bersuara.

"Apakah Siau-lan? ...masuklah!"

Seorang babu cilik yang mengenakan pakaian serba merah beranjak masuk sambil menyunggi setumpukan pakaian, katanya sambil menunduk.

"Siau-lan patuh akan petunjuk nona,"

Biji matanya besar bundar, mulutnya kecil mungil, meski dalam keadaan wajar, tidak marah, namun bibirnya suka dimonyongkan.

Hampir saja Dian Susi berjingkrak kaget dan berteriak.

Dian Sim!

Babu kecil ini terang adalah Dian Sim adanya.

Dian Susi memburu maju terus memeluknya, pakaian yang dibawa babu cilik itu sampai kena terjang jatuh.

"Budak mampus, budak setan! Bagaimana kau bisa lari kemari? Kapan kau tiba?"

Babu cilik ini membelalakkan matanya, amat heran dan kaget, sahutnya tergagap.

"Aku sudah dua tahun di sini."

Dian Susi cekikikan, makinya.

"Setan cilik, mau menipuku ya? Memangnya kau kira aku sudah tidak mengenalmu lagi?"

Budak cilik berkedip-kedip tanyanya.

"Nona dulu pernah melihatku?"

"Memangnya kau kira kau tidak pernah melihatku?"

"Tidak!"

Dian Susi tertegun, katanya.

"Kau sudah tidak mengenalku lagi?"

"Tidak kenal."

Dian Susi mulai kaget, dia kucek-kucek mata, katanya.

"Kau... apakah kau bukan Dian Sim?"

"Aku bernama Siau-lan atau Kembang Cilik,"

Dari nadanya yang bersungguh, terang perkataannya bukan bualan, juga tidak berkelakar.

"Apakah kau kesurupan setan?"

Teriak Dian Susi. Mengawasi orang Siau-lan seperti mengawasi orang yang sakit ingatan, segera dia menunduk seperti segan bicara, katanya.

"Kalau nona tidak punya urusan, biar kusiapkan air untuk nona mandi,"

Tanpa menunggu jawaban, secepat angin dia lari pergi. Dian Susi melongo.

"Apa dia bukan Dian Sim? Jikalau bukan kenapa tampangnya begitu mirip dengan Dian Sim, sampai pun mulutnya yang monyong, mirip benar seperti pinang dibelah dua."

Demikian Dian Susi berpikir dan menduga-duga.

Namun dia harus percaya akan kenyataan.

Dua orang babu tua yang berbadan kekar masing-masing menjinjing sebuah baskom besar yang terukir indah buat mandi.

Air di dalam baskom jernih dan berbau harum, malah masih hangat mengepulkan asap wangi.

Tangan Siau-lan membawa handuk dan sabun, katanya.

"Apa perlu aku melayani nona mandi?"

Lama Dian Susi menatapnya, lalu menggeleng, tiba-tiba berkata keras.

"Benarkah kau bukan Dian Sim?"

Siau-lan berjingkrak kaget sampai menyurut mundur, dengan keras kepalanya menggeleng-geleng, seperti melihat setan saja, cepat sekali dia sudah lari menghilang.

Dian Susi menghela nafas, katanya dengan getir.

"Benar-benar aku melihat setan... mungkinkah ada kejadian begini kebetulan dalam dunia ini..."

Hatinya diliputi kecurigaan, namun air hangat dalam baskom yang harum itu sungguh menarik perhatiannya.

Dalam dunia jarang ditemukan gadis cantik pingitan yang tidak mandi selama tiga hari, masakah dia kuasa melawan daya tarik air wangi yang hangat ini setelah badannya kotor, dekil dan gerah.

"Apapun yang terjadi, aku harus mandi dulu."

Dengan menghela nafas, pelan-pelan Dian Susi mencopoti kancing bajunya.

Di sebelah depan kebetulan ada sebuah cermin besar bundar telur, potongan badannya yang langsing semampai berisi dan montok seketika terbayang di dalam cermin.

Perawakannya mungkin tidak sesubur dan matang seperti potongan Thio Hou-ji yang masak, tapi kulit badannya halus mengkilap, dagingnya terang lebih kenyal dan kekar, malah mengandung kekenyalan dari kulit daging seorang gadis perawan.

Kedua pahanya lencir panjang, tumitnya seperti lebah bergantung, lekuk likunya mempesona.

Badan sesuci ini belum pernah terjamah, apalagi dipeluk laki-laki.

Memang dia sedang menunggu, menunggu seorang laki-laki yang patut dan menjadi pilihannya, berapapun lama dia harus menunggu tidak menjadi soal, yang terang Cin Ko adalah seorang calon yang sedang ditunggu.

Seketika merah jengah selebar mukanya bila membayangkan adegan yang tidak senonoh, seolah-olah sekujur badannya menjadi panas lebih hangat dari air wangi di dalam baskom besar itu.

Pakaian dalamnya yang ketat sudah basah oleh keringatnya, potongan badannya yang sempurna sudah terbayang di dalam cermin.

Pelan-pelan dia mulai membuka pakaiannya.

Mendadak dia terbelalak kaku.

Di kamar ada sebuah ranjang besar yang empuk dan nyaman.

Di atas ranjang bergantung kelambu yang tersingkap.

Dari pandangannya melalui cermin tampak oleh Dian Susi di balik kelambu yang bergantung itu terdapat dua lubang bundar, sinar terang menyorot dari kedua lubang bundar ini.

Sorot mata yang bersinar.

Jadi ada seseorang bersembunyi di balik kelambu tengah mengintip gerak-geriknya.

Keruan kaget dan gusar, sampai sekujur badan Dian Susi kaku dan mati rasa.

Dengan kencang dia gigit bibir, sedapat mungkin menekan perasaannya, pelan-pelan dia membuka kancing pertama, lalu lebih pelan lagi membuka kancing kedua...

Mendadak dia menerjang maju serta menarik kelambu sekuat-kuatnya.

Begitu kelambu tertarik jatuh, dilihatnya seseorang sembunyi di balik kelambu.

Seorang yang kaku dan tidak bergeming.

Biasanya seseorang yang mengintip gadis mandi dan ketahuan, tentunya amat kaget dan gugup.

Tapi bukan saja orang ini tidak bergerak, raut mukanya sedikit pun tidak menunjuk rasa kaget.

Apakah dia bukan manusia, memangnya patung manusia yang diukir dari kapur?

Tapi Dian Susi tahu dia adalah manusia tulen, manusia yang ia kenal.

Kek-siansing!

Kek siansing yang mirip setan gentayangan, ternyata muncul di tempat ini.

Saking kaget tenggorokan Dian Susi serasa tersumbat, ingin berteriak, suara tidak keluar, ingin lari kaki tak kuasa bergerak.

Kek-siansing sendiri pun tidak bergerak.

Demikian kaki tangan, biji matanya pun tidak bergeming.

Kedua biji matanya yang guram seperti mata iblis mendelong kaku menatap Dian Susi, sorot matanya tidak membawa perasaan apa-apa.

Tapi tiada mimik jauh lebih menakutkan daripada mimik perasaan.

Betapa susah Dian Susi mengangkat kakinya, segera dia lari sipat kuping.

Setiba dia di luar pintu Kek-siansing tetap tidak bergeming.

Kenapa dia tidak mengejar?

Memangnya dia tahu Dian Susi takkan lolos dari tangannya?

Dian Susi sembunyi di balik pintu, pelan-pelan dia mengintip ke dalam, tiba-tiba didapatinya kedua biji mata Kek siansing tetap tertuju ke tempatnya di mana dia tadi berdiri.

"Apakah dia kesurupan setan?"

Meski tidak mau percaya seratus persen, namun bila hal ini kenyataan bukankah merupakan kesempatan paling baik bagi dirinya menuntut balas melampiaskan kemendongkolan hatinya?

Dendamnya merupakan daya tarik yang tak terlawankan.

Dengan kertak gigi, segera dia melangkah setindak demi setindak.

Kek siansing tetap tidak bergerak.

Pelan-pelan Dian Susi membungkuk badan, dari atas kursi dijemputnya tempat sabun yang keras seperti terbuat dari perak.

Siapapun bila kepalanya terketuk benda sekeras ini, saking kesakitan pasti berjingkrak.

Dengan kerahkan seluruh kekuatannya Dian Susi timpukkan tempat sabun perak itu.

"Tuk!"

Dengan telak dan keras sekali mengenai batok kepala Kek siansing.

Kek siansing tetap tidak bergerak, biji matanya pun tidak bergerak, seolah-olah dia tidak merasa sakit sedikit pun.

Tapi kepalanya sudah terketuk luka keluar kecap.

Bila seseorang kepalanya terketuk bolong, jikalau sedikit rasa pun tidak, umpama dia bukan orang mati, tentu sudah sekarat.

Tidak kepalang tanggung Dian Susi angkat kursi kecil terus dilempar pula dengan seluruh kekuatannya.

Kali ini keadaan Kek siansing lebih mengenaskan, lubang kecil di kepalanya menjadi lubang besar, darah bercucuran.

Tapi dia tetap tidak bergeming.

Lega hati Dian Susi, lekas dia memburu maju.

"plak"

Dengan keras dia gampar pipi orang. Tapi orang tetap tidak bergeming. Dian Susi tertawa senang dan dingin, katanya penuh kebencian.

"Orang she Kek, tak nyana kau pun mengalami nasibmu yang mengenaskan ini."

Dian Susi sebetulnya bukan gadis jahat dan bertangan gapah, tapi dia sungguh benci terhadap laki-laki yang satu ini, segera dia renggut rambut Kek siansing, terus menjinjing badan orang, kembali tangannya melayang pergi datang menghajar pipinya.

Masih belum juga amarahnya terlampias, air panas buat dia mandi masih panas.

Bila kepala orang yang bocor ditekan ke dalam air sepanas itu, betapa rasanya dapatlah kita bayangkan.

Dian Susi tekan kepala Kek siansing ke dalam baskom air.

Buih tidak terlihat dari pernafasan hidungnya, memangnya orang ini sudah mampus?

Lama kelamaan tangan Dian Susi terasa kemeng, segera dia angkat kepala orang.

Mata orang masih mendelong, sedikit pun tidak menampilkan perasaan apa-apa.

Keruan Dian Susi menjadi gelisah dan gugup, teriaknya.

"Hai, kau dengar aku bicara? ...kau sudah mampus belum?"

Sekonyong-konyong seorang menjawab dengan tertawa.

"Dia belum mati, tapi tidak dengar apa yang kau katakan." * * * * * Suara tawanya seperti kelinting berdering. Jarang ada orang tertawa semerdu ini. Tanpa berpaling Dian Susi sudah tahu yang datang adalah Thio Hou-ji.

"Kau kenal orang ini?"

Tanya Dian Susi gemas.

"Orang seperti ini belum setimpal untuk berkenalan dengan aku,"

Sahut Thio Hou-ji.

"Kalau demikian, cara bagaimana dia bisa menjadi tamu dalam kamar ini?"

"Masa kau tidak tahu kapan dan cara bagaimana dia masuk kemari?"

"Sudak tentu aku tidak tahu."

"Aku juga tidak tahu,"

Sahut Thio Hou-ji tertawa.

"Tapi aku tahu kenapa dia berubah jadi begini rupa."

"Lekas katakan."

"Memangnya kau tidak bisa lihat bila dia tertutuk Hiat-tonya?"

Baru sekarang Dian Susi sadar, Kek siansing memang tertutuk Hiat-tonya, jelasnya bukan satu dua Hiat-tonya saja yang tertutuk.

Ilmu silat Kek siansing tidak lemah, hal ini diketahui dengan jelas, jikalau ada orang di luar tahunya tiba-tiba menutuk tujuh Hiat-tonya, peristiwa ini sungguh sulit dipercaya.

"Kaukah yang menutuk Hiat-tonya?"

Tak tahan Dian Susi bertanya. I "Bagaimana mungkin aku? Aku tidak punya kepandaian setinggi itu?"

"Lalu siapa kalau bukan kau?"

"Coba kau terka, kalau tidak tepat, baru kuberitahu kepadamu."

"Aku tidak bisa main terka,"

Mulutnya bicara namun dalam hati dia sudah menduga mendadak dia berjingkrak dan berteriak.

"Apakah Cin Ko?"

"Tepat sekali."

Ternganga mulut Dian Susi, mata pun terkesima, seolah hampir jatuh pingsan. Lama sekali baru dia menarik nafas panjang, katanya.

"Dia... dia sudah datang?"

"Sudah datang setengah hari,"

Thio Hou-ji menjelaskan.

"Waktu dia datang kebetulan dilihatnya ada seseorang berindap-indap memasuki loteng ini, secara diam-diam dia membuntutinya, waktu orang ini membuat lubang di kelambu, dia lantas menutuk Hiat-tonya."

Di belakang kelambu memang terdapat sebuah jendela kecil, tentunya dia menerobos masuk lewat jendela ini.

"Dan anehnya,"

Demikian kata Thio Hou-ji lebih lanjut.

"banyak kejadian di belakang kelambu, namun sedikit pun kau tidak tahu memangnya saat itu kau sedang mimpi?"

Memang Dian Susi sedang mimpi. Mimpi yang tidak boleh diketahui orang lain. Dengan muka merah dia menunduk, katanya "Di mana dia sekarang?"

"Setelah dia menutuk Hiat-to orang ini lantas menemui aku..."

I Tiba-tiba Dian Susi menukas, katanya mengertak gigi.

"Waktu itu kenapa dia tidak memberitahu kepadaku, supaya aku tidak... tidak..."

Tak kuasa dia mengatakan "diintip"

Oleh orang ini.

"Walaupun dia bukan seorang Kuncu, tapi waktu melihat anak gadis sedang copot pakaian, tentu tidak enak dia keluar menemui kau."

Sepanas gosokan muka Dian Susi, katanya tertunduk malu.

"Dia.. dia tadi pun sudah melihatnya?"

"Jikalau di atas kelambu ada dua lubang, umpama seorang Kuncu, siapapun takkan kuasa menahan diri untuk tidak mencuri lihat."

Bukan saja mukanya merah dan panas, jantung Dian Susi pun berdebar-debar, katanya tersendat.

"Dia apa yang dia katakan tentang diriku?"

"Dia bilang kau amat cantik, pahamu pun tak kalah indahnya."

"Apa benar?"

"Kenapa tidak benar? Jikalau aku laki-laki, aku pun akan berkata demikian. Sekarang aku hanya ingin tanya kepadamu, kau ingin menemuinya tidak?"

"Di mana dia?"

"Sekarang berada di bawah loteng, aku sudah membawanya kemari."

Belum habis orang bicara Dian Susi sudah putar tubuh berlari keluar. Lekas Thio Hou-ji menariknya, katanya dengan memonyongkan mulut ke badannya.

"Dengan keadaanmu seperti ini kau hendak menemuinya?"

Merah muka Dian Susi, dengan malu-malu dia cekikikan geli sendiri.

"Umpama tergesa-gesa tidak sempat mandi, paling tidak toh cuci kaki dulu."

Air masih panas. Kek siansing segera disusupkan ke kolong ranjang. Berkata Thio Hou-ji.

"Sementara biar dia meringkuk di bawah sini, tunggu kapan kalau ada waktu untuk membereskan dia."

Dengan kecepatan maksimun Dian Susi mencuci kakinya, tapi waktu dia ganti pakaian gerak-geriknya malah lamban.

Ada beberapa stel pakaian, setiap stel sama bagus, pilih sana pilih sini, akhirnya Dian Susi minta bantuan Thio Hou-ji untuk memilihkan.

Mode dan warna apa yang biasa disukai laki-laki, sudah tentu Thio Hou-ji jauh lebih tahu.

"Coba kau bantu, pakai yang mana lebih baik?"

Dari kepala sampai kaki Thio Hou-ji mengamat-amati sekian lama, katanya.

"Menurut pendapatku, waktu dalam keadaan polos paling cantik,"

Dengan kata-katanya ini sekaligus membuktikan bahwa Thio Hou-ji memang paling memahami selera laki-laki, coba pembaca katakan, benar tidak?

* * * * * Waktu beranjak turun dari tangga loteng, jantung Dian Susi serasa hendak copot.

Bagaimana sebetulnya tampang Cin Ko?

Adakah segagah dan setampan apa yang selalu dia bayangkan?

Dian Susi hanya tahu bahwa badannya tentu penuh dihiasi bekas-bekas bacokan golok.

Tapi badan laki-laki yang penuh dihiasi codet-codet luka bacokan golok bukan saja tidak jelek, malah kelihatannya semakin gagah, seperti pahlawan perang.

Bagaimana juga, akhirnya cita-citanya untuk bertemu dengan tokoh besar yang diagul-agulkan dalam sanubarinya akan tercapai.

Dian Susi pejamkan mata, waktu kakinya menginjak anak tangga terakhir baru matanya terbuka lagi.

Maka dia pun sudah melihat Cin Ko.

* * * * * Ternyata Cin Ko yang ini mirip dengan bentuk bayangan dalam sanubarinya, laki-laki yang selalu menjadi idam-idaman setiap gadis dalam alam mimpinya.

Perawakannya sedikit tinggi dibanding laki-laki umumnya, pundaknya lebar, pinggangnya kecil, kelihatan kekar dan bertenaga, terutama di kala mengenakan pakaian ketat serba hitam.

Kedua biji matanya besar dan bersinar, penuh diliputi kegairahan hidup.

Selembar sapu tangan merah terikat di lehernya.

Tiba-tiba didapati oleh Dian Susi, sapu tangan merah terikat di leher memang jauh lebih bagus daripada terikat di bagian lain.

Pandangan Cin Ko mengandung senyum hangat, siapapun yang melihat sepasang matanya, takkan lepas untuk memperhatikan codet-codet bekas bacokan golok di mukanya.

Begitu Dian Susi turun dia lantas berdiri, bukan saja sorot matanya mengandung rasa simpatik, mukanya pun dihiasi seyuman hangat dan gagah.

Agaknya dia amat senang bertemu dengan Dian Susi, malah sikapnya tidak canggung.

Jantung Dian Susi berdetak keras.

Seharusnya dengan wajar dia maju menghampiri, tapi mendadak ia tertegun.

Mendadak ia teringat telah melupakan sesuatu.

Sejak pertama mendengar nama dan kisahnya Cin Ko, dalam benaknya sudah sering terbayang banyak angan-angan.

Maka dia sudah membayangkan bagaimana keadaan dirinya bila berhadapan dengan Cin Ko kelak, terbayang pula bila dirinya rebah di dalam pelukannya, betapa hangat terhibur dan mesranya.

Malah dia pun pernah membayangkan kehidupan berumah tangga mereka berdua, dia akan menemani pujaan hatinya minum arak, main catur, naik kuda, mengiringinya berkelana di Kangouw, dia ingin merawat dan melayani segala keperluannya.

Setiap pagi, dia akan ganti selembar sapu tangan merah untuk diikat di lehernya, baru menyiapkan sarapan pagi yang paling menjadi kesenangannya.

Segalanya pernah terpikirkan, entah berapa kali dia mengulanginya.

Tapi justru lupa akan satu hal.

Dia lupa memikirkan begitu berhadapan, apa yang harus dia katakan.

Di dalam angannya, begitu berhadapan dengan Cin Ko, dirinya sudah rebah di dalam pelukannya.

Sekarang tentu dirinya tidak bisa berbuat demikian, tentunya dia harus mengajak ngobrol dulu, namun mulutnya justru terkancing, tidak tahu apa yang harus dikatakan?

Demikian pula Cin Ko agaknya kehilangan akal sehatnya, dia pun diam saja sekian lama, akhirnya cuma bersuara ala kadarnya.

"Silahkan duduk!"

Dengan menunduk Dian Susi mendekati kursi lantas duduk, sampai detik ini dia masih tidak tahu apa yang harus ia katakan.

Sebetulnya ini kesempatan baik yang ia dapatkan setelah mengorbankan banyak ujian, sedikitnya dia harus bersikap wajar, pintar dan supel, tapi di dalam suasana seperti ini, dia justru menjadi orang pikun yang lidahnya kelu.

Saking gemas ingin rasanya dia korek keluar lidah sendiri.

Thio Hou-ji justru berpeluk tangan, dia tetap berdiri di anak tangga dengan tersenyum lebar mengawasi mereka.

Untung Siau-lan si babu cilik berjalan masuk membawa nampan yang berisi dua cangkir teh, masing-masing diletakkan di atas meja dekat mereka.

Dia menunduk kepala, waktu tiba di hadapan Dian Susi, seolah-olah mengatakan dua patah kata apa yang amat lirih.

Tapi Dian Susi sedang pusing tujuh keliling, hakikatnya tidak mendengar apa yang dia bisikkan.

Terpaksa Siau-lan menyingkir.

Waktu pergi mulutnya menyong dan cemberut, kelihatan gugup dan marah.

Akhirnya Thio Hou-ji beranjak turun dengan langkah gemulai, katanya.

"Di sini bukan toko boneka lho!"

"Toko boneka?"

Cin Ko keheranan.

"Jikalau bukan toko boneka, masa ada dua boneka besar yang sama-sama bungkam dan membisu?"

Cin Ko tertawa, kepalanya terangkat memandang keluar jendela, katanya.

"Cuaca hari ini teramat baik."

"Hahahaha!"

Thio Hou-ji tertawa besar.

"Apa artinya hahaha?"

"Tiada arti apa-apa, seperti apa yang kau katakan, obrolan yang tak berguna."

Cin Ko menyengir tawa, katanya.

"Apa yang harus kukatakan?"

"Paling tidak kau tanya kepadanya, siapa nama dan shenya? Dimana tempat tinggalnya?... memangnya aku harus mengajarkan kepadamu?"

Cin Ko batuk-batuk kering dua kali, tanyanya.

"Nona she apa?"

"Aku she Dian, bernama Dian Susi."

Thio Hou-ji mengerut kening, katanya.

"Lho orang sedang bicara apa nyamuk berbunyi?"

Dian Susi tertawa geli oleh godaan yang lucu ini, suasana dalam rumah sedikit longgar.

Baru Cin Ko hendak berkata pula, babu cilik yang molek itu tahu-tahu melangkah masuk pula dengan menunduk, langsung menghampiri Dian Susi serta mengambil cangkir tehnya di atas meja, entah kenapa, tiba-tiba tangannya gemetar, secangkir air teh itu seketika menciprat membasahi pakaian Dian Susi.

Tersipu-sipu Siau-lan membersihkan pakaian Dian Susi dengan menggosoknya kian kemari.

Bagian 6 Terasa oleh Dian Susi tangan orang mencari kesempatan meraba dadanya, kelihatannya babu cilik ini tidak gila, baru saja Dian Susi merasa heran, Thio Hou-ji sudah menarik muka, semprotnya.

"Untuk apa kau mondar-mandir?"

Rada pucat muka Siau-lan, katanya menunduk.

"Aku... kuatir air teh nona Dian dingin, pikirku hendak menggantinya dengan yang panas."

"Siapa suruh kau banyak urusan, lekas keluar, tanpa diundang jangan masuk!"

Lekas Siau-lan mengiakan.

Dengan menunduk dia beranjak keluar, sebelum berlalu, dia mengerling sekali kepada Dian Susi, sorot matanya rada aneh.

Apakah dia punya rahasia yang hendak disampaikan kepada Dian Susi?

Sayang sedikit pun Dian Susi seperti tidak memikirkan hal ini, mengawasi pakaiannya yang basah, gugupnya setengah mati, masakah senggang dia memikirkan gerak-gerik orang yang ganjil ini.

Apalagi bila babu cilik ini ada omongan, kenapa tidak disampaikan waktu mengantar pakaian tadi, tiada alasan menunggu sekarang baru mau menyampaikan kepada dirinya.

Dian Susi menggigit bibir, katanya tiba-tiba.

"Aku... aku ingin ganti pakaian sebentar."

"Silahkan nona,"

Ujar Cin Ko sambil berdiri.

"Cayhe pun ingin pamitan, sepanjang jalan nona sudah letih, silahkan istirahat saja."

Dia sudah lantas berlalu begitu saja. Setelah bayangan orang menghilang di balik pintu, Thio Hou-ji membanting-banting kaki, katanya gelisah.

"Dengan susah payah kucari kesempatan supaya kalian bertemu, kenapa kau biarkan bebek yang sudah dimasak terbang tanpa sayap?"

Merah selebar muka Dian Susi, katanya.

"Aku... entah mengapa aku pun tidak tahu, begitu berhadapan, mulutku lantas kaku, tidak tahu apa yang harus kukatakan."

"Dalam keadaan seperti ini masa kau hendak menahannya? Melihat sikapmu yang mematung, orang sudah sebal dibuatnya, kalau tidak masakah ditinggal pergi begini saja."

"Lain kali... lain kali takkan begini lagi."

"Lain kali? Tiada kesempatan lain kali lagi."

Dian Susi segera menarik tangannya, katanya memohon.

"Tolonglah kau usahakan, bantu orang bantulah sampai cita-citanya terlaksana."

Sekilas Thio Hou-ji meliriknya, akhirnya dia tertawa cekikikan, katanya.

"Ingin aku tanya, bagaimana kesanmu terhadapnya? Kau harus jujur dalam hal ini."

"Kesanku terhadapnya... sudah tentu baik sekali."

"Baik bagaimana?"

"Dia begitu ternama, namun sedikit pun tidak congkak, sedikit pun tidak kasar, terhadapku malah sopan santun."

"Dan apa lagi?"

"Yang lain aku tidak bisa mengatakan, yang terang dia orang baik, pilihanku tidak meleset."

"Jadi kau mau kawin dengan dia?"

Dian Susi gigit bibir dengan menunduk, dia ragu-ragu menjawab.

"Ini bukan urusanku, jikalau kau tidak bicara sejujurnya, aku tidak perduli lagi."

Dian Susi jadi gugup, katanya dengan malu-malu.

"Apa artinya tidak menjawab, memangnya kau tidak tahu?"

Thio Hou-ji tertawa senang, katanya.

"Kalau kau ingin kawin dengan dia, maka kau harus pegang kesempatan baik ini."

Akhirnya Dian Susi manggut-manggut.

"Kesempatan tidak banyak lagi, paling lama aku hanya bisa menahannya dua hari saja."

"Dua hari? Dalam tempo sependek ini mana bisa jadi?"

"Dua hari berarti dua kali dua puluh empat jam, banyak urusan yang bisa diselesaikan dalam jangka sependek ini, kalau aku sendiri sih dua jam sudah cukup."

"Tapi sungguh aku bingung, apa yang harus kulakukan?"

Thio Hou-ji mencubit pipinya, katanya.

"Gadis bodoh, ada kalanya urusan tanpa diajarkan kau bisa melakukannya sendiri, memangnya kau minta aku mengantarmu masuk ke kamar pengantin?"

Tawanya yang merdu seperti kelinting kumandang semakin jauh.

Pintu masih terbuka.

Angin lalu menghembus, sehingga kain yang basah itu terasa dingin.

Dian Susi berdiri menjublek, sekenanya dia menarik bajunya, tiba-tiba segulung kertas melayang jatuh dari lengan bajunya, namun sedikitpua dia tidak melihat dan menyadarinya.

"Ada sesuatu urusan yang tak perlu diajarkan orang lain,"

Terngiang kata-kata ini pada kupingnya, seketika merah panas selebar mukanya, dengan menggigit bibir lekas dia naik ke loteng.

Tiada seorang pun di bawah loteng, keadaan sunyi senyap.

Siau-lan babu kecil itu melangkah datang pula, maksudnya hendak membereskan kamar tamu ini, melihat lipatan kertas di atas lantai, seketika berubah air mukanya, cepat ia memburu maju menjemputnya.

Kertas itu masih terlipat baik, seperti belum terbuka, dengan memonyongkan mulut membanting kaki, agaknya dia sudah hendak memburu kertas loteng, namun pada saat itu pula didengarnya jeritan dari atas loteng.

Ternyata Kek siansing yang disimpan sementara di bawah ranjang tadi kini sudah menghilang.

Sebetulnya Dian Susi sudah melupakan orang ini, begitu berhadapan dengan Cin Ko, diri sendiri pun sudah terlupakan olehnya.

Begitu kembali ke kamar dan duduk di atas ranjang, tiba-tiba dia berjingkat dan ingat bahwa di bawah ranjang ada manusia setan yang kaku tertutuk itu.

Kek siansing memangnya jauh lebih menakutkan dari setan.

Waktu Thio Hou-ji memburu datang, badannya masih gemetar, mendadak dia peluk Thio Hou-ji serta pecah tangisnya menggerung-gerung, katanya sesenggukan.

"Orang itu sudah pergi!"

Thio Hou-ji menepuk punggungnya, katanya halus.

"Sudah pergi ya sudah, kau tidak perlu takut, ada aku di sini, apapun tak perlu kau takuti."

"Tapi aku tahu dia pasti akan datang lagi, kalau tahu aku di sini, dia pasti takkan melepas aku."

"Siapakah dia sebenarnya? Kenapa selalu membuntutimu?"

"Aku sendiri tidak tahu kenapa dia selalu membuntuti aku? Aku tidak hutang, juga tidak bersalah terhadapnya, aku... hakikatnya aku tiada hubungan apa-apa dengannya."

"Tapi kau amat takut terhadapnya."

"Aku memang takut, dia bukan manusia..."

"Perduli dia manusia atau setan, kau tidak perlu takut,"

Terdengar seseorang menimbrung.

"Jika dia berani datang lagi, aku tidak akan melepasnya pergi."

Ternyata Cin Ko pun ikut memburu tiba.

Suaranya lembut penuh keyakinan, bukan saja tenang dan mantap, orang yang mendengar pun percaya dan yakin benar akan sumbarnya.

Thio Hou-ji justru tertawa dingin.

"Kali ini seharusnya dia tidak pulang, jikalau aku yang tutuk Hiat-tonya, dia pasti takkan berkutik."

Cin Ko tertawa tawar, ujarnya.

"Memang aku yang salah, karena tutukanku kurang berat, soalnya aku belum tahu siapa dia sebenarnya."

"Laki-laki yang menyusup ke kamar dan mengintip gadis yang salin pakaian memangnya bukan manusia baik-baik."

"Tapi aku..."

"Perduli apapun yang kau katakan,"

Tukas Thio Hou-ji.

"kau harus ikut bertanggung jawab akan kejadian ini, jikalau adik ini kelak mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, aku harus minta tanggung jawabmu."

Cin Ko menghela napas, katanya dengan getir.

"Lebih baik aku tak mencampuri urusan orang lain saja."

"Tapi sekarang kau sudah turut campur, maka kau harus menyelesaikan seluruhnya."

"Apa yang harus kuselesaikan?"

"Kukira kau sendiri sudah tahu."

"Kau minta aku melindungi nona Dian di sini?"

"Agaknya kau sudah pintar,"

Puji Thio Hou-ji tertawa.

Dian Susi yang menyembunyikan muka dalam pelukan orang, hampir ikut tertawa.

Semula dia merasa permintaan Thio Hou-ji rada keterlaluan, baru sekarang dia mengerti akan maksud baik orang.

Itu berarti hendak memberi kesempatan mereka berdua saling berdekatan.

Berkata pula Thio Hou-ji.

"Bukan saja kau harus melindungi nona Dian, setiap saat setiap detik, siang malam kau harus menjaganya sampai kau berhasil meringkus orang itu."

"Jikalau orang itu tidak muncul lagi?"

"Maka kau pun harus melindunginya seumur hidup,"

Ucapannya ini sebetulnya terlalu menonjol dan janggal, umpama kau seorang pikun, tentu juga sudah maklum ke mana juntrungan yang dikandung.

Bukan saja muka Dian Susi merah, muka Cin Ko juga bersemu merah.

Tapi dia diam-diam saja, tidak menolak dan tidak memberi reaksi.

Senang dan serba susah serta malu Dian Susi dibuatnya, terpaksa dia menyembunyikan mukanya di dada Thio Hou-ji.

Tapi orang justru menariknya, katanya sambil menyeka air mata.

"Sekarang legalah hatimu, adanya orang seperti dia melindungi keselamatanmu apapula yang kau takuti... nah cobalah tertawa manis?"

Ingin tertawa merasa rikuh, namun akhirnya Dian Susi tertawa juga. Thio Hou-ji segera bersorak, serunya.

"Nah tertawa, sudah tertawa!"

Diam-diam Dian Susi mencubitnya, katanya berbisik.

"Memalukan!"

Mendadak Thio Hou-ji putar badan, katanya.

"Kalian duduk dan ngobrol di sini, aku mengundurkan diri dulu,"

Sembari bicara langsung dia beranjak keluar. Lekas Dian Susi menariknya, katanya gugup.

"Kau hendak ke mana?"

"Ada orang yang tidak ingin kehadiranku di sini, buat apa aku tetap di sini?"

Saking malu dan gugup, Dian Susi membanting-banting kaki, katanya.

"Kau... jangan pergi!"

"Kenapa tidak boleh pergi? Dia bisa melindungimu seumur hidup, aku sebaliknya tiada kemampuan, perlu aku cari orang lain untuk melindungiku,"

Tiba-tiba dia kibaskan tangan Dian Susi terus berlari turun loteng.

Keruan Dian Susi bingung dan terlongong, duduk salah, berdiri pun salah, apapun yang dibuatnya terasa janggal, yang terang dia merasa jantungnya berdebar.

Di sana Cin Ko mengawasi dirinya dengan tersenyum.

Melirik pun dia tidak berani akhirnya dia menunduk mengawasi jari-jarinya yang runcing dan halus.

Rasanya Cin Ko pun sedang mengawasi tangannya itu, ingin rasanya menyembunyikan tangan, tapi ke manapun disembunyikan terasa kurang benar, tiba-tiba terasa jari-jari tangan Cin Ko sudah terulur maju dan tahu-tahu pula tangannya sudah dipegangnya.

Jantung Dian Susi berdebur semakin keras, badannya bergoncang, darah terasa merangsang naik ke kepala, terasa Cin Ko tengah membisiki apa-apa di pinggir telinganya, suaranya lembut dan halus, sepatah kata pun tidak jelas.

Ucapan Cin Ko kedengarannya semerdu orang bernyayi.

Lagu suaranya lantang berisi dan jauh, seolah-olah buaian lagu di dalam mimpi.

Begitu asyik dia mendengar dengan terlongong, seperti orang mabuk saja keadaannya.

Entah berapa lama kemudian, terasa jari-jari Cin Ko sudah merambat memegang pinggangnya, seluruh badannya sudah rebah dalam pelukan Cin Ko, terasakan pula dengus nafas orang yang hangat mulai memburu.

Sudah tentu dengan nafasnya pun ikut tersengal, mulutnya entah mengigau apa.

Pendengaran Dian Susi semakin layap-layap dan tidak jelas lagi apa yang dibisikkan, cuma terasa dekapan tangan orang semakin kencang, tangan orang seolah-olah sudah berubah jadi tiga.

Badan Dian Susi mulai bergelinjang dan gemetar, ingin mendorongnya, justru tenaga tak kuasa dikerahkan, seluruh badannya seperti terombang-ambing naik mega.

Akhirnya dia menyadari badannya sudah dibopong Cin Ko, beranjak ke ranjang.

Umpama segala urusan tidak diketahui, mau tidak mau sekarang dia menyadari bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya.

Tapi bukankah adegan seperti ini selalu dia idam-idamkan dalam mimpi?

"Tidak, tidak boleh demikian, jangan begitu."

Di mana yang ganjil, tempat mana yang salah, dia sendiri tidak jelas.

Cuma satu tekad dalam sanubarinya, dia harus mendorongnya, dia harus menolak.

Tapi ingin menolak pun sudah terlambat.

Di dalam perasaannya, sang waktu seolah-olah sudah berhenti, seharusnya Cin Ko tetap berdiri di tempatnya.

Tapi entah apa yang telah terjadi, tahu-tahu dia sadar bahwa dirinya sudah rebah di atas ranjang.

Ranjang yang empuk, hangat dan harum, rebah di ranjang mirip rebah di gumpalan mega.

Bukan saja tiada tenaga menolak, tiada waktu untuk menolak.

Hubungan laki dan perempuan memangnya teramat ganjil dan sukar diraba, jikalau kau tidak punya waktu persiapan untuk menolak, kelak baru kau akan menyadari hakikatnya kau memang tiada tempo untuk menolak.

Karena keberanian dan keyakinan orang sudah terpupuk di dalam sanubarinya, umpama kau menolak, itu pun tak berguna.

Detik-detik seperti ini, umpama dia tahu dirinya sudah tiada kuasa menolak.

Dan saat inilah detik-detik paling senang dan gembira bagi laki-laki, detik-detik paling tegang bagi perempuan.

Saking tegang Dian Susi sampai merasa sekujur badannya dingin kaku.

Untunglah pada saat gawat itu, suara ketukan pintu yang gencar berkumandang di luar.

Terdengar Siau-lan berteriak di luar pintu.

"Nona Dian, Cin siauya, kau mau sarapan tidak? Kebetulan aku baru masak bubur sarang burung."

Cin Ko berjingkrak dari atas ranjang, memburu ke sana menarik pintu, sentaknya keras.

"Siapa sudi makan bubur setanmu. Pergi! Menggelindinglah pergi! Pergi yang jauh!"

Suaranya garang mukanya beringas, tingkahnya kasar, tidak selembut tadi.

Siau-lan monyongkan mulut, dengan beringsut segera dia turun dari loteng.

Baru saja Cin Ko hendak menutup pintu, tiba-tiba dia didorong terjerembab ke depan.

Entah kapan Dian Susi memburu turun dari ranjang, dengan kerahkan seluruh kekuatannya dia dorong orang keluar pintu.

"Blang"

Dengan keras dia tutup pintu dan dikunci dari dalam.

Dian Susi bersandar di pintu, nafasnya tersengal-sengal, seluruh pakaiannya basah kuyup!

Sudah tentu Cin Ko kaget, dengan keras pintu dia gedor, teriaknya.

"Apa sih yang kau lakukan? Kenapa kau dorong aku keluar? Lekas buka pintu."

Dian Susi kertak gigi, tidak perdulikan teriakkannya. Setelah sekian lama menggedor tanpa mendapat sahutan, Cin Ko menjadi kewalahan dan risih sendiri, katanya seorang diri.

"Aneh, apa orang ini rada sinting?"

Dian Susi sendiri mulai curiga.

"Apa aku ini sudah sinting?"

Adegan yang sudah sekian lama diimpikan, orang yang menjadi pujaan hati, namun setelah semua idam-idamannya terlaksana, di saat orang sudah berada di sisinya, dia malah mendorongnya keluar.

Mendengar derap kaki Cin Ko turun dari loteng, walau hatinya rada lega, namun hatinya hambar dan kosong, seolah-olah kehilangan apa-apa.

"Sekali dia pergi, mungkin kelak tidak akan kembali pula."

Kalau mukanya pucat, sebaliknya biji matanya merah, ingin rasanya dia lampiaskan kepedihan hatinya dengan tangis sejadi-jadinya. Pada saat itulah, langkah kaki berdentam di anak tangga.

"Apakah dia kembali lagi?"

Di saat jantungnya berdebar pula.

Dengan seluruh kekuatan badannya dia menahan daun pintu, namun dia mengharap orang menendang daun pintu itu.

Bahwasanya apa yang menjadi pemikirannya, dia sendiri pun tidak tahu.

"Lekas buka pintu, inilah aku,"

Itulah suara Thio Hou-ji.

Lega hati Dian Susi, tapi tercampur rasa kecewa pula.

Akhirnya pintu terbuka.

Dengan marah-marah Thio Hou-ji melangkah masuk, terus duduk di kursi dengan muka kereng menghijau gusar, katanya keras.

"Kau ini bagaimana? Memangnya kau sinting?"

Dian Susi menggeleng-geleng, lalu manggut-manggut, duduk lalu berdiri pula.

Melihat tingkah lakunya yang aneh seperti hilang semangat, baru sikap Thio Hou-ji berubah, marahnya mereda, katanya menghela nafas.

"Betapa susah payahku berusaha mencari kesempatan untuk pertemuan kalian ini, kau sebaliknya mengusirnya malah?"

Merah muka Dian Susi, katanya menunduk.

"Aku... aku takut."

"Takut? Apanya yang dibuat takut? Memangnya dia hendak mencaplokmu?"

Sampai di sini tak urung dia tertawa cekikikan, katanya lembut.

"Sekarang kau bukan anak kecil lagi, takut apa? Setiap orang perduli laki perempuan bakal menikmati surga dunia seperti itu, kecuali seumur hidup kau tidak mau kawin."

"Tapi... tapi gerakannya yang kasar seperti serigala kelaparan, sungguh bikin siapapun takut!"

"O, jadi kau bukan takut, tapi lantaran dia bertindak kasar, mungkin terlalu gugup dan tak sabar lagi,"

Thio Hou-ji menghampiri lalu mengelus rambutnya.

"Memang tidak boleh disalahkan kau, bagaimana juga kau nona segede ini masih perawan, setelah menanjak seusiaku, kau pasti akan tahu, semakin laki-laki gugup dan tak sabar, itu pertanda dia amat menyukai kau."

"Kalau benar-benar suka kepadaku, dia harus bersikap hormat kepadaku."

Thio Hou-ji tertawa terkial-kial, katanya.

"Budak bodoh, dalam adegan semacam itu mana boleh kau katakan dia tidak menghormatimu? Jikalau berada di dalam ruangan besar di hadapan orang banyak, perbuatannya itu terang tidak benar, tapi di dalam kamar tidur dan dilakukan hanya kalian berduaan saja, maka kau harus menurut segala keinginan dan petunjuknya,"

Dengan melirik segera dia menambahkan.

"Kelak kau akan tahu, jikalau di dalam adegan ranjang kau sedikit menuruti kemauannya, segala persoalan dia akan menuruti kemauanmu. Jikalau perempuan ingin suaminya mendengar kata, pulang pergi hanya dalam soal inilah kuncinya."

Merah jengah muka Dian Susi, uraian seperti ini bukan saja belum pernah dengar, malah membayangkan pun tidak berani.

"Sekarang aku ingin tanya kepadamu, sebenarnya kau ada maksud tidak kepadanya?"

"Bagaimana dia terhadapku?"

"Dia tidak perlu kau urus, aku hanya tanya kau, kau sudi tidak?"

"Kalau aku mau, memangnya kenapa?"

Dian Susi memberanikan diri.

"Asal kau manggut-manggut, biar aku yang memutuskan, malam ini juga kalian boleh kawin!"

Dian Susi berjingkrak kaget.

"Apa begitu cepat?"

"Besok dia akan pulang ke Kanglam, jikalau kau ingin ikut dia pulang, kau harus lekas kawin dengannya, setelah keduanya terikat sebagai suami istri, di perjalanan jauh lebih leluasa."

"Tapi... tapi aku perlu memikirkannya dengan seksama."

"Pikir apa lagi? Dia adalah enghiong, dan kau pun seorang pendekar perempuan, di dalam melakukan suatu keputusan harus tegas dan gamblang, kalau pikir-pikir saja, bebek yang sudah matang mungkin bisa terbang pergi."

Thio Hou-ji melanjutkan dengan sikap sungguh-sungguh.

"Inilah kesempatanmu yang paling sukar dicari, jikalau tidak kau pegang kencang kesempatan baik ini, untuk mencari laki-laki yang cocok, sepanjang jalan kau menabuh gembreng pun jangan harap bisa kau dapatkan."

"Tapi... jangan kau memaksaku demikian rupa!"

"Sampai sekarang kau masih mengatakan aku memaksamu, kelak bila orang sudah memanggilmu Cin hujin, kau akan berterima kasih kepadaku. Ketahuilah panggilan Cin hujin bukan sembarang kau dapatkan di pinggir jalan, entah berapa banyak gadis-gadis mekar yang mengidamkan panggilain ini."

Dian Susi memejamkan mata. Seolah-olah terbayang olehnya dirinya bersama Cin Ko dalam perjalanan ke Kanglam, seperti melihat rombongan orang banyak bertampik sorak menyambut kedatangan mereka.

"Cin hujin memang cantik molek, memang pasangan yang setimpal dengan Cin Tayhiap. Hanya gadis secantik Cin hujin yang setimpal menjadi jodoh Cin Tayhiap."

Di antara sekian orang yang merubung di tengah jalan sudah tentu ada seorang yang berkepala besar, main sembunyi di belakang orang banyak memandang dirinya dengan rasa jelus dan cemburu.

Maka dengan tersenyum lebar, dia akan berkata.

"Bukankah kau bilang aku tidak laku kawin? Sekarang tentu kau tahu bahwa pandanganmu keliru?"

Malah dilihatnya pula mimik si kepala besar yang menyesal dan hampir saja menangis. Didengarnya Thio Hou-ji sedang berkata.

"Coba lihat, lekas ambil putusan, kalau tidak kau tidak akan jadi Cin hujin, orang lain akan merebutnya."

Dian Susi mendadak berkata lantang.

"Hanya aku yang setimpal jadi Cin hujin, orang lain jangan harap!" * * * * * Pakaian pengantin serba merah dengan hiasan warna-warni. Wajah Dian Susi lebih merah, lebih menyala. Melihat wajahnya sendiri di dalam cermin, dalam hati dia memuji akan kecantikan diri sendiri. Thio Hou-ji berada di sampingnya, melihat orang merias dan mendandani pengantin. Dian toasiocia yang cantik setelah dirias dan didandani memang lebih molek dan jelita. Thio Hou-ji menghela nafas, ujarnya.

"Sungguh pengantin yang cantik rupawan, entah darimana Cin Ko memperoleh rejeki sebesar ini. Jikalau Dian toaya mendengar kabar gembira ini, tanggung dia amat puas dan senang mendapatkan mantu segagah dia."

Sedap rasa hati Dian Susi, tanyanya.

"Mana babu cilikmu Siau-lan itu?"

"Sejak setengah hari ini, entah kemana dia berada."

"Dulu aku pun punya pelayan bernama Dian Sim, wajah dan perawakannya mirip benar dengan Siau-lan."

"O, kalau demikian biarlah Siau-lan selanjutnya melayanimu saja,"

Kata Thio Hou-ji, lantas dia putar tubuh turun dari loteng.

Begitu berada di luar pintu, mukanya seketika berubah bengis, langsung dia menuju ke rumpun kembang.

Di tengah rumpun kembang sana, ada sesosok bayangan orang, agaknya sejak tadi dia sembunyi di sini, Thio Hou-ji langsung mendekati, tanyanya.

"Mana Siau-lan?"

Orang itu menyahut.

"Kusuruh orang mengawasinya."

"Lebih baik kau sendiri yang menghadapinya, jangan beri kesempatan bertemu dengan Dian Susi, terutama jangan sampai mereka bicara."

Orang itu tertawa, ujarnya.

"Jikalau kau tidak senang mendengar dia bicara, biar kubikin dia tidak bisa bersuara." * * * * * Rentetan bunyi petasan yang nyaring menusuk pendengaran, menandakan suasana gembira. Setelah bunyi petasan berakhir. Sepasang mempelai lantas sembahyang kepada Thian dan bumi. Suara protokol amat nyaring, Dian Susi sebagai mempelai perempuan dibimbing keluar, dengan tanda sentuhan sikut pembimbingnya menyuruh dia berlutut. Dian Susi tahu sekali dia berlutut, selanjutnya dirinya bukan lagi Dian toasiocia. Begitu dia berlutut dan bersembahyang, maka dia berubah jadi Cin hujin. Para pengiringnya jadi gelisah dan tak sabar lagi, akhirnya berbisik di telinganya.

"Lekas berlutut!"

Dian Susi hanya mendengar suara tapi tidak melihat raut muka mereka.

Kepalanya berkerudung kain sutra merah yang tersulam sepasang burung hong, pandangannya teraling, sedikit pun dia tidak bisa melihat apa yang terjadi di sekitarnya.

"Menikah memangnya peristiwa umum yang terang gamblang, kenapa mempelai perempuan tidak boleh dipandang terang-terangan dan memandang orang?"

Tiba-tiba terbayang dalam benak Dian Susi peristiwa yang dialaminya di desa kecil tempo hari, seketika timbul rasa takut dan ngeri.

Terbayang olehnya Kek siansing yang berjubah merah bersulam naga dan berdandan sebagai mempelai pria itu.

"Pengantin perempuannya adalah kau!"

Kalau hari itu dia bisa melihat sepasang kaki orang.

Tapi sebaliknya sekarang apapun tidak dilihatnya, lalu siapa mempelai pria?

Bukan mustahil berubah menjadi Kek siansing lagi?

Hadirin sudah mulai bisik-bisik, semua heran dan gelisah.

Terutama pengiring pengantin semakin gugup, tak tahan dua orang berbareng menekan pundaknya.

Tapi badan Dian Susi sekeras dan kaku seperti patung, mendadak dia berteriak.

"Tunggu dulu."

Bahwa pengantin perempuan bersuara, keruan hadirin kaget dan geli, para pengiringnya sebaliknya kaget dan pucat, belum pernah terjadi peristiwa lucu dan menggelikan seperti ini.

Untung Thio Hou-ji sudah memburu datang, katanya berbisik.

"Sudah tiba saatnya, apa pula yang harus ditunggu?"

Dian Susi menggigit bibir, sahutnya.

"Aku ingin melihatnya dulu."

"Melihat siapa?"

"Dia."

Akhirnya Thio Hou-ji mengerti siapa yang dimaksud dengan 'dia', tak tahan dia tertawa geli, katanya.

"Sekarang buat apa kau gugup, setelah masuk kamar pengantin, kau boleh memandangnya sepuasmu."

"Sekarang juga aku ingin melihatnya,"

Dian Susi mengukuhi permintaannya. Thio Hou-ji membanting kaki, katanya.

"Kenapa harus melihatnya?"

"Sebelum jelas kepada siapa aku menikah, mana bisa hatiku lega kawin sama dia?"

Apa yang dia ucapkan memangnya masuk akal. Dongkol dan geli pula Thio Hou-ji, katanya.

"Memangnya kau kuatir salah menikah dengan orang sembarangan?"

"Pendek kata aku harus melihatnya dulu."

Tak tahan Thio Hou-ji membanting kaki pula, katanya.

"Pengantin perempuan berkukuh hendak melihat pengantin pria, memangnya siapa yang kuasa merintangi keinginannya?"

Memangnya hal ini teramat jamak dan adil.

Seluruh hadirin gempar dan tertawa riuh.

Siapa yang tidak geli justru lucu malah.

Mendadak Dian Susi rasakan pandangan matanya terbuka, kain sutra kerudung mukanya tiba-tiba dicopot orang.

Tampak pengantin pria berdiri di hadapannya, sepasang matanya yang bersinar mengandung rasa heran dan tidak mengerti, namun wajahnya nan ganteng masih menyimpulkan senyum gagah dan prihatin.

Tidak salah pengantin pria memang Cin Ko.

Dian Susi menghembuskan nafas lega, mukanya jadi merah jengah, terasa perbuatannya rada keterlaluan.

"Bagaimana, sudah cukup belum?"

Goda Thio Hou-ji sambil mengerling tajam. Dian Susi manggut-manggut dengan menundukkan kepala.

"Sekarang boleh dimulai sembahyang!"

Thio hou-ji seperti memberi perintah. Kain sutra merah kembali menutup kepala dan muka Dian Susi, petasan brondong kembali berbunyi di luar pintu, suara protokol kembali kumandang.

"Ke satu sembahyang kepada bumi dan langit..."

Akhirnya Dian Susi menyerah dan hampir berlutut.

Jikalau dia berlutut, maka kesalahan besar sudah dia lakukan tanpa dia sadari.

Sayang sekali, dia justru tidak tahu di mana letak kesalahannya.

Pembaca tahu di mana letak kesalahannya?

Pernikahan bukan saja peristiwa menggembirakan juga suatu kejadian yang baik.

Lalu siapa berani bilang pernikahan kali ini bukan kejadian baik?

Tepat di ambang pintu sudah disiapkan meja sembahyang, sepasang lilin besar sudah terpasang.

Setelah kedua mempelai mulai beranjak hendak berlutut di hadapan bumi dan langit, baru Thio Hou-ji merasa lega benar-benar.

Pada saat itulah, pintu kecil di pojok sana, mendadak terbuka dan menerobos keluar seseorang, setangkas burung walet dia menyelinap maju dan menghadang di depan dua mempelai tangannya membawa nampan, katanya dengan tersenyum.

"Siocia, silahkan minum teh dulu."

Dalam saat genting yang menentukan bagi kedua mempelai, masih ada orang mengantar air teh untuk mempelai, sungguh bikin orang meringis geli.

Dian Susi kenal benar suara ini, dia singkap sedikit kain kurung mukanya, dilihatnya seraut wajah berseri dengan mata bundar mulut kecil mungil di hadapannya.

Dian Susi sendiri susah membedakan dara cilik ini sebenarnya Dian Sim atau Siau-lan?

Sebaliknya raut muka Thio Hou-ji menjadi masam, alisnya bertaut, sorot matanya setajam golok melotot kepada dara cilik ini, seolah-olah sekali tendang ingin dia menyingkirkan orang dan membikinnya mati.

Tapi dalam suasana gembira di hadapan sekian banyak tamu lagi, sudah tentu tidak bisa dia main tendang.

Maka dengan kertak gigi, dia mendengus bengis.

"Siapa suruh kau kemari? Lekas menggelinding pergi". Dara cilik ini malah cekikikan, sahutnya menggeleng.

"Aku tidak boleh pergi."

"Kenapa?"

"Karena seorang Cin kongcu suruh aku tetap tinggal di sini."

"Cin kongcu? Cin kongcu yang mana?"

"Aku tidak mengenalnya, aku hanya tahu dia she Cin bernama Cin Ko."

Berubah muka Thio Hou-ji, sentaknya bengis.

"Kau edan, Cin Ko terang berada di sini."

"Aku tidak edan, memang benar ada seorang Cin kongcu, tapi bukan orang ini."

Berubah rona muka mempelai laki-laki, selanya.

"Di mana orangnya?"

Belum dara cilik itu menjawab, seseorang sudah bersuara.

"Berada di sini,"

Di tengah gelak tawanya, api lilin bergoyang-goyang seperti terhembus angin kencang, sehingga cahaya menjadi guram, dan api pun hampir padam.

Namun setelah api lilin menyala normal, tampak di depan sepasang lilin besar itu berdiri seseorang.

Seorang berkepala besar, berbadan tromok, dengan biji mata kecil panjang.

Nyo Hoan.

Hampir Dian Susi menjerit kaget.

Sungguh tak pernah terpikir olehnya, cara bagaimana setan kepala besar ini bisa menemukan dirinya, lebih tidak diduganya bahwa orang hendak bikin onar menghalangi pernikahannya.

Melihat Nyo Hoan, sikap Thio Hou-ji seperti takut-takut dan segan, tidak semarah tadi, katanya dengan cengar-cengar dipaksakan.

"Kiranya kau? Kenapa kau mengganggu hari baik orang lain?"

"Karena ini bukan urusan baik,"

Sahut Nyo Hoan tawar. Muka pengantin pria Cin Ko merah padam, selanya.

"Siapa bilang bukan urusan baik?"

"Aku yang mengatakan."

"Kau ini barang apa?"

"Seperti dirimu, aku bukan barang apa-apa."

Dian Susi sudah buka mulut, namun dia urung bicara, sungguh tak pernah terpikir olehnya setan kepala besar ini ternyata berani kurang ajar di hadapan Cin Ko.

Dan anehnya bukan merasa marah Dian Susi malah tertarik.

Cin Ko justru amat marah, semprotnya.

"Kau tahu siapa aku?"

"Tidak tahu,"

Sahut Nyo Hoan kalem.

"Aku inilah Cin Ko."

"Aneh kalau begitu."

"Apanya yang aneh?"

"Karena aku ini pun Cin Ko."

Thio Hou-ji memaksa tawa, katanya.

"Kelakar apa yang kau lakukan, silahkan duduk saja makan minum sepuasmu, mari kutemani kau."

Nyo Hoan menarik muka, katanya.

"Siapa bilang aku berkelakar, kalau dia boleh bernama Cin Ko, kenapa aku tidak boleh bernama Cin Ko?"

Tiba-tiba dia bertanya kepada dara cilik itu.

"Siapa namamu?"

"Namaku Cin Ko,"

Sahut si dara.

"Betul, kalau orang ini boleh bernama Cin Ko, setiap orang boleh juga bernama Cin Ko."

Semakin gelap raut muka Cin Ko, sebaliknya muka Thio Hou-ji semakin pucat, secara diam-diam kedua orang saling lirik memberi isyarat.

Mendadak segulung asap tipis menyemprot keluar dari lengah baju Cin Ko menerjang ke muka Nyo Hoan.

Lekas dara cilik mendekap hidung mundur tujuh delapan kaki.

Nyo Hoan sebaliknya tidak bergeming, seperti tidak merasakan apa-apa, cuma mulutnya saja yang meniup seperti orang bersiul.

Segulung asap yang menyembur keras itu tiba-tiba berubah arah, putar balik menyembur ke muka Cin Ko sendiri malah.

Kontan Cin Ko berbangkis beberapa kali, air mata pun bercucuran.

Lambat laun badannya meloso lemas dan tak berkutik lagi seperti cacing kepanasan.

Dengan tertawa Nyo Hoan bertanya kepada dara cilik.

"Tahukah kau barang apa yang dia semprotkan tadi?"

"Obat wangi yang membius orang."

"Tahukah kau orang macam apa yang biasa menggunakan obat bius?"

"Hanya manusia rendah hina dan cabul serta maling-maling kurcaci saja yang menggunakan obat bius untuk menjatuhkan korbannya."

"Tak nyana, kau pun begini luas pengetahuan."

"Tapi Cin Ko bukan maling kurcaci dan manusia cabul yang hina dina."

"Dia memang bukan."

"Kalau demikian orang ini bukan Cin Ko."

"Siapa bilang dia Cin Ko, dia itu anjing buduk."

"Memangnya siapa kalau bukan Cin Ko?"

"Maling cabul yang hina dan rendah martabatnya."

"Tapi maling cabul amat banyak."

"Dia adalah satu di antaranya yang paling kotor dan paling cabul, malah obat bius yang dia gunakan pun obat bius nomor sembilan yang paling rendah kualitasnya kecuali dia sendiri, siapapun jangan harap dapat dia bius."

"Betapapun cabul dan rendahnya seseorang, sedikitnya kan punya nama."

"Orang cabul juga punya nama yang cabul pula."

"Siapa namanya?"

"Namanya dia ukir di dadanya, kau ingin melihatnya?"

"Bikin mataku kotor tidak setelah melihat namanya?"

"Asal kau melirik sekilas saja,"

Ujar Nyo Hoan tertawa.

Mendadak dia robek baju di depan dada orang yang masih baru dan tersulam indah itu, maka kelihatan dada orang.

Ternyata di kulit dada orang yang putih itu bertato seekor kupu kembang.

"Jadi orang ini bernama Hoa-ouw-tiap (kupu-kupu kembang)?"

"Benar, sejak dulu kala, orang yang menamakan dirinya Kupu-kupu Kembang dia bukan manusia baik-baik."

"Tak nyana apa yang kau ketahui ternyata jauh lebih banyak dan luas dari aku."

"Karena kepalaku jauh lebih besar, sudah tentu yang termuat di dalamnya juga lebih banyak."

Selama ini Thio Hou-ji hanya pasang kuping diam saja, mukanya semakin pucat.

Dian Susi pun pasang kuping, wajahnya semakin merah, mendadak dia memburu maju terus layangkan kakinya menendang tepat perut Hoa-ouw-tiap.

Sungguh bencinya bukan kepalang hampir gila rasanya.

Hampir saja dirinya menjadi istri maling cabul yang rendah martabatnya, dengan kertak gigi Dian Susi melotot kepada Thio Hou-ji, katanya.

"Kau... kau punya sakit hati apa terhadapku? Kenapa kau hendak mencelakakan aku?"

Saking marah air mata sampai bercucuran.

"Sungguh maaf,"

Ujar Thio Hou-ji menyengir getir.

"Tapi aku sendiri pun tertipu olehnya."

Dia pun melangkah maju ikut menendang dada orang, katanya beringas.

"Kau binatang ini, kau bikin aku malu saja."

Baca Juga: Golok Halilintar 5

Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger