Ceritasilat Novel Online

Golok Halilintar 5

Eps 5 Golok Halilintar - Khu Lung

Baca online Golok Halilintar - Khu Lung

Cersil Golok Halilintar - Khu Lung.

Gurunya yang baru itu lenyap dari pengamatannya, Tatkala menoleh, gurunya sudah berada dibelakang punggungnya dan menepuk pundaknya.

"Kau tangkaplah aku!"

Seru gurunya.

Thio Sin Houw telah memperoleh dasar-dasar ajaran ilmu sakti dari ke empat gurunya.

Kecuali dasar pembawaannya baik, diapun seorang anak yang cerdik dan cerdas luar biasa.

Begitu mendengar seruan Thio Hian Cong, ia tidak segera memutar tubuhnya untuk menangkap.

Akan tetapi ia mengendapkan pundaknya dahulu, kemudian baru tangan kirinya digerakkan.

Dan tangan kanannya tiba-tiba menyusul menyambar sambil mendengarkan kesiur angin gerakan tubuh gurunya.

Dan pada saat itulah, kedua tangannya tiba-tiba menyambar ke arah kaki.

"Bagus! inilah cara menangkap yang tiada celanya sama sekali!"

Seru gurunya, Namun sambaran yang bagus itu tiada hasilnya.

Sebaliknya, sekali lagi pundaknya kena tepuk.

Sin Houw kaget, secepat kilat ia memutar tubuh, tetapi tubuh gurunya, lagi-lagi luput dari pengamatan.

Menghadapi kecepatan gerak gurunya itu, otak Thio Sin Houw yang cerdik lantas saja bekerja.

Teringatlah dia ajaranajaran Ouw Sam Ciu berempat yang pernah memberinya dasar-dasar ilmu sakti.

sekarang, tidak lagi ia memutar tubuh atau menyambar sasaran.

Sebaliknya, selangkah demi selangkah ia berjalan mengarah ke sebuah batu besar, Begitu menghampiri, segera ia memutar tubuhnya dengan dinding batu di belakang punggungnya.

Kemudian berseru girang.

"Suhu, sekarang tak dapat lagi suhu menyelinap dibelakang punggungku, Aku dapat melihat gerakan suhu!"

Inilah suatu kecerdikan yang mengagumkan Thio Hian Cong. Dengan berdiri didepan sebuah batu besar, tak dapat lagi ia menyelinap dibelakangnya anak itu, Maka sambil tertawa ia menyahut.

"Bagus! Bagus sekali ! Kau cerdik dan mempunyai bakat besar! Di kemudian hari pastilah kau dapat mewarisi ilmu sakti Hok-houw ciang dengan sempurna."

Keesokan harinya, Thio Hian Cong mulai memberikan pelajaran jurus jurus ilmu saktinya.

Dalam beberapa hari saja selesailah sudah seratus delapan jurus yang mempunyai tiga perubahan pada setiap gerakannya.

Mengelak dan menyerang silih berganti, sehingga semua jurusnya berjumlah tigaratus dua puluh empat.

Seperti diketahui, Thio Sin Houw memiliki otak yang cerdas luar biasa, yang jarang terdapat di dunia.

Baru saja diajari tiga kali, sudah dapat ia menghafal dan memahami semuanya.

Bahkan dengan perlahan-lahan ia dapat pula melakukan gerakan-gerakan jurus ilmu sakti Hok-houw elang dengan tepat sekali.

Menyaksikan hal itu, diam-diam Thio Hian Cong bergembira bukankepalang.

Terus saja ia mulai memecahkan intisari jurus-jurus yang telah dipahaminya itu, Pandai sekali Thio Hian Cong meresapkan ajarannya kedalam perbendaharaan muridnya, Sebaliknya, Thio Sin Houw yang mempunyai bekal sangat luar biasa dan bersungguh-sungguh, dengan mudah saja dapat menangkapsemua keterangan dan penjelasan gurunya.

inilah yang dinamakan suatu perjodohan.

Gurunya rajin, ulat dan cermat, sedangkan muridnya bersemangat penuh dan bersungguh-sungguh, dengan mudah dapat menangkap semua keterangan dan penjelasan gurunya, Pada setiap malam, tigapuluh jurus dengan pecahpecahannya dan perubahannya, dapat di lampaui dengan cepat serta sempurna.

Apabila sedang berlatih, anak itu tidak mengingat waktu lagi, Tahu-tahu fajar hari telah tiba.

Pada pagi hari ke empat, tatkala Thio Hian Cong berjalanjalan menghirup udara segar, tiba-tiba ia melihat Thio Sin Houw masih saja asyik berlatih.

ia jadi kagum akan kemauannya yang keras, setelah memperhatikan selintasan, ia menjadi heran lantaran muridnya dapat melakukan inti rahasia ilmu Hok-hok ciang dengan sempurna.

Padahal ia baru saja mengajarkannya.

Keruan saja ia bersyukur dalam hati.

Dengan berindap-indap ia menghampiri muridnya, kemudian melompat dengan mendadak serta menghantam punggung.

Thio Sin Houw kala itu sedang bertekun menyelidiki jurus ke sembilan puluh delapan, Tiba-tiba ia mendengar kesiuran angin tajam mengancam punggungnya.

Cepat luar biasa ia berputar tubuh sambil meloncat ke samping, Tangan kanannya ditabaskan untuk menangkis berkelebatnya kaki yang menendang dirinya, Akan tetapi begitu mengenal siapakah penyerangnya, segera ia menarik tangkisannya.

"Thio susiok!"

Serunya girang.

"Jangan berhenti ! Hayo, serang terus !"

Sahut Thio Hian Cong dengan tertawa.

ia mendahului menyerang kepala.

Dengan cepat Sin Houw mengelakkan diri, Kakinya dimajukan selangkah agak kesamping, dan dari situ ia mulai mengirimkan serangannya mengarah pinggang, inilah jurus ke sembilan puluh delapan.

"Bagus! Begitulah seharusnya!"

Puji Thio Hian Cong, Guru ini segera menangkis dan kembali menyerang.

Thio Sin Houw melayani serangan gurunya beberapa jam lamanya.

seringkali ia salah langkah dan gurunya segera membetulkan, sehingga ia jadi sangat bersyukur.

semangat tempurnya makin lama makin menghebat.

Terus , menerus ia melayani gurunya, sehingga habis lah semua tiga ratus dua puluh empat jurus.

Namun gurunya enggan berhenti.

Bahkan dia menyerang lagi dan mengulang semua jurusjurus pukulan sampai beberapa kali, Dan Thio Sin Houw sendiri seakan-akan memperoleh suatu mustika yang tak ternilai harganya.

Dengan tak disadari sendiri ia telah menggenggam beberapa macam rahasia pukulan Hok-hok ciang, yang belum pernah diperolehnya dari keempat gurunya dahulu.

"Sekarang marilah kita beristirahat !"

Ajak Thio Hian Cong telah melihat muridnya itu mandi keringat.

Akan tetapi selagi duduk beristirahat, ia mulai memberikan berbagai penjelasan penting.

Dan apabila melihat muridnya sudah cukup beristirahat, kembali lagi ia melatihnya dengan sungguhsungguh.

Mereka berdua, guru dan murid terus menerus berlatih sampai tiba saat bersantap pagi hari, Kemudian kembali mereka berlatih lagi sampai matahari condong ke barat, setelah makan siang, lagi-lagi mereka berdua berlatih sampai jauh malam.

Tegasnya, mereka berhenti beristirahat apabila waktu makan tiba, Tak terasa, tujuh hari lewatlah sudah, Pada malam hari ke delapan Thio Hian Cong berkata kepada Sin Houw.

"Sin Houw, apa yang kumiliki kini telah kuberikan kepadamu, sekarang tinggal caramu meyakinkannya, Apabila menghadapi musuh, seseorang akan mengandal pada tujuh bagian latihannya dan tiga bagian pada kecerdasannya, apabila kau hanya mengandal kepada latihanmu saja, akan sukarlah memperoleh kemenangan. sebaliknya apabila engkau hanya mengandal kepada kecerdasanmu belaka, hasilnya sama pula, Kau tidak akan berdaya, karena kau melupakan latihanmu, Kedua unsur itu harus saling mengisi."

Dengan bersungguh-sungguh Thio Sin Houw merasukkan nasehat gurunya itu kedalam perbendaharaan hatinya.

Di kemudian hari ia dapat membuktikan kebenaran pesan itu.

Karena rajin berlatih dan dibantu oleh kecerdasan otaknya, ia berhasil melampiaskan dendam orang tuanya yang mati tak berliang kubur.

"Esok pagi aku harus bergabung kepada Lie Ciangkun kembali,"

Kata Thio Hian Cong lagi.

Maka semenjak malam ini, kau harus sanggup berlatih seorang diri.

Merah kedua mata Thio Sin Houw mendengar ucapan gurunya itu.

Hampir-hampir saja tak sanggup menahan linangan air matanya, benar dia baru berkumpul beberapa hari saja, akan tetapi sepak terjang gurunya itu sangat menawan hatinya.

Dia seorang yang manis budi, mengajarnya dengan sungguh-sungguh.

Thio Hian Cong sebenarnya seorang peperangan yang ulung.

seringkali ia melihat berbagai peristiwa yang menggoncangkan hatinya.

walaupun demikian, melihat muridnya itu mendadak menundukkan kepalanya, hatinya tak urung menjadi terharu pula.

Terus saja ia mengusap-usap rambut anak itu.

Katanya dengan suara membujuk.

"Sin Houw! jarang sekali aku bertemu dengan seorang yang berbakat dan cerdik sebagai kau. Hanya sayang sekali, kita berdua tidak diperkenankan berkumpul lebih lama lagi."

"Bagaimana kalau aku ikut susiok saja, bergabung dengan Lie Ciangkun?"

Thio Sin Houw mencoba.

"Kau masih terlalu muda, Sin Houw -belum bisa kau hidup didalam kancah peperangan."

Sahut Thio Hian Cong.

Thio Sin Houw hendak menjawab ucapan gurunya itu, mendadak terdengar suara teriakan kaget yang sangat riuh.

Bulu kuduknya lantas saja meremang dengan tak dikehendakinya sendiri.

Dan bersama gurunya, ia lari mendaki tanjakan.

Begitu melihat apa yang terjadi dibawah gunung, mereka berdua bukan kepalang kagetnya.

Seluruh gunung menjadi terang benderang oleh nyala api yang datangnya dari bawah.

Lalu, nampaklah berbagai senjata berkilauan.

itulah tentara Mongolia yang dengan tiba-tiba saja telah mengurung puncak gunung Beng-san.

Para orang gagah yang bergabung dalam laskar perjuangan Cu Goan Ciang, baru saja bubar.

Yang masih berada diatas gunung tidak begitu besar jumlahnya, inilah suatu masalah yang menyulitkan !

Merekapun tidak berjagajaga atau memperoleh berita terlebih dahulu tentang sergapan tentara Mondolia, hal itu disebabkan lantaran penjaga yang berada digardu-gardu penjagaan, telah terbunuh semuanya.

Dengan demikian, tiada seorangpun diantara mereka yang dapat memberikan tanda bahaya.

Cu Kauwcu adalah seorang peperangan ulung, Meskipun terkejut, namun hatinya tidak gentar sama sekali.

Dia-lah salah seorang jago kenamaan dikalangan Rimba persilatan yang berkepandaian tinggi, dengan suara tenang mereka menghampiri Ouw Sam Ciu dan berkata.

""Ouw hiantee! Kau pimpinlah para tukang masak dan penjaga-penjaga perkemahan, untuk menyulutkan api sebelah timur, jangan lupa, kalian harus berteriak-teriak agar lawan tersesat!"

Dengan gembira Ouw Sam Ciu melakukan tugas itu dengan cepat, ia berlari-lari sambil memanggil tukang masak dan sebagainya, setelah terkumpul, mereka dikerahkan mengarah ke sebelah timur gunung.

"Coa Hiantee dan Go Hiantee ..."

Cu Kauwcu kemudian memanggil Coa Kim siong berdua Go Kim Sun.

"Jiwie berdua hendaknya bertugas menahan lajunya tentara musuh. Bawa beberapa orang yang pandai memanah, hujani mereka dengan anak panah beberapa kali! setelah itu, cepat kembali mencari diriku!"

Kedua guru Thio Sin Houw itu segera berlalu dan membawa tugas Cu Goan Ciang, setelah mereka pergi, Cu kauwcu kemudian menghadapi Thio Hiang Cong. Katanya dengan suara hati-hati.

"Thio hiantee, perkenalkan aku memohon kepadamu, sudikah kau memegang satu tugas yang amat penting?"

"Apakah Kauwcu menghendaki agar aku melindungi Sin Houw?"

Cu Goan Ciang tertawa, kemudian menyahut.

"Benar! Dan setelah berkata demikian, dengan hormat ia menjura kepada Thio Hian Cong. Keruan saja Thio Hian Cong kaget bukan kepalang, tersipu-sipu ia membalas hormat. Katanya mencegah.

"Kauwcu! janganlah Kauwcu berbuat demikian kepadaku, perintahkan saja apa yang harus kulakukan, dan aku akan melakukan tugas Kauwcu dengan segenap hatiku."

Pada saat itu suara hiruk piruk terdengar semakin hebat.

sekarang tentara Mongolia mulai melepaskan anak panah, dan suara mereka itu datang dari atas gunung.

Tahulah Cu Kauwcu bahwa itu semua hasil kerja Ouw San Ciu yang berusaha menyesatkan lawan.

"Thio hiantee,"

Katanya perlahan.

"Tie-kong tianglo adalah seorang sesepuh, dia mempunyai murid bernama Thio Kim San. Dan adik ini, adalah puteranya satu-satunya, Karena itu, tolonglah dia agar terluput dari bahaya ini ! Bawa dia turun gunung dengan selamat!"

"Aku akan melakukan perintahmu, Cu kauwcu."

Sahut Thio Hian Cong. Pada waktu itu Coa Kim siong dan Go Kim Sun telah kembali menghadap Cu Kauwcu, setelah melepaskan hujan anak panah. Cu Goan Ciang menyatakan rasa puasnya, kemudian berkata lagi.

"Aku akan berjalan bersama saudara Go Kim Sun, kemudian kami berdua akan bergabung dengan saudara Ouw Sih Ciu. Kami bertiga akan menerjang musuh dengan menuruni gunung sebelah timur. saudara Coa Kim siong bersama saudara Ho Thong Cun akan menerjang lawan dari barat. Agar penglihatan musuh tersesat, kami bertiga akan mendahului menerjang. Dengan disusul terjangan saudara Coa Kim siong dan soudara Ho Thong Cun. Saudara Thio Hian Cong cepat-cepatlah membawa Sin Houw turun gunung dari sebelah utara, Dikemudian hari, kita semua akan kembali berkumpul menjadi satu lagi!"

Semua orang yang mendengar perintah Cu Kauwcu menjadi kagum, Pada saat segenting itu, Cu Kauwcu masih sanggup mengatur cara mengelakkan lawan demikian rapi.

Coba andaikata dia mempunyai pasukan tentara, pastilah keadaan medan laga akan menjadi lain sifatnya.

Thio Sin Houw waktu itu sedih bukan main, lantaran harus berpisah dengan keampat gurunya yang pernah mendidiknya dengan sungguh-sungguh, inilah perpisahan yang amat menyakitkan hatinya, perpisahan yang tiada kata-kata selamat jalan atau selamat berpisah, lantaran dipaksa oleh keadaan.

Apa yang dapat dilakukannya, hanyalah membungkuk hormat beberapa kali terhadap mereka.

Katanya terisak.

"Ouw susiok, Coa susiok, Ho susiok... sampaikan hormatku kepada Go susiok yang aku... tak dapat..."

Thio Sin Houw menyelesaikan perkataannya, karena tenggorokannya seakan-akan tersumbat. maka ia mencoba menguasai diri, Cu kauwcu telah mendahului. Kata pemimpin itu.

"Adikku! jangan kau berpisah dari gurumu, Thio Hian Cong! Kau harus dengarkan setiap perkataannya!"

Thio Sin Houw masih berkutat dengan perasaan sendiri.

Untuk menjawab perkataan Cu Kauwcu, ia hanya dapat memanggut, Dalam pada itu, suara berisik ditengah gunung, terdengar semakin hebat.

itulah suatu tanda bahwa tentara Mongolia sudah mulai mendaki bukit yang berada didepan.

"Mari!"

Ajak Go Kim Sun.

"Thio hiantee, kau berangkatlah sebentar lagi... setelah kita berhasil menyesatkan musuh."

Mereka semua lantas mulai bekerja -Go Kim Sun melihat Thio Hian Cong tidak bersenjata, maka cepat-cepat ia melemparkan goloknya kepadanya sambil berkata setengah berseru.

"Thio hiantee, sambutlah ini!"

"Aku tidak membutuhkan senjata apapun!"

Sahut Thio Hian Cong, ia menyambar golok itu yang sedang melayang di udara, Tatkala hendak di kembalikan kepada pemiliknya, Go Kim Sun sudah lari jauh sehingga ia membatalkan maksudnya.

"Mari!"

Katanya kepada Sin Houw.

Dengan membawa golok ditangan kanannya, ia menarik lengan Thio Sin Houw dengan tangan kirinya, Kemudian dibawanya lari mengarah utara.

Dengan berlari-larian, mereka berdua mengitari belakang pesanggrahan, dari sana cahaya api nampak terang benderang, Diantara nyala api itu, kelihatan tentara Mongolia mendaki puncak gunung berlapis-lapis, Entah berapa jumlahnya.

Merekapun mulai melepaskan anak panah api.

Menyaksikan hal itu Thio Hian Cong merandek, kemudian ia balik memasuki dapur dan muncul kembali dengan membawa kuali penggorengan.

"lni tamengmu!"

Katanya kepada Sin Houw sambil menyerahkan sebuah kuali. Dengan berlompatan, mereka berdua memasuki kabut gelap. Dan pada saat itu terdengarlah teriakan-teriakan tentara Mongolia sambung menyambung.

"Kejar! Kejar!"

Dan tentara Mongolia itu berserabutan mengejar mereka berdua sambil memanah.

Thio Hian Cong berjalan di belakang, dengan perisainya yang istimewa ia menangkis setiap anak panah yang menghujani, Ditengah kesibukan itu tameng istimewanya menerbitkan suara berisik membisingkan telinga.

Thio Sin Houw sendiri seperti mengerti akan tugasnya sebagai pembuka jalan, ia maju dengan bersenjata sebatang tombak pendek.

Tatkala kena pegat tentara yang sedang merangkaki tebing, terus saja ia menyerang, Dan belasan tentara kena dirobohkan dengan mudah.

Akan tetapi tombak pendek itu merupakan senjata yang tidak tepat baginya.

Gerakannya tidak begitu leluasa, itulah sebabnya, setelah kena keroyok tentara lainnya, ia hanya dapat melindungi dirinya.

Tak lama kemudian tibalah mereka dipinggang gunung, Baru saja mereka melepaskan napas lega, terdengar suara ribut lagi, pasukan tentara Mongolia yang dipimpin oleh seorang perwira tiba-tiba saja menerjang dari samping, Perwira itu rupanya bermaksud hendak menangkap Thio Hian Cong dan Sin Houw hidup-hidup, itulah sebabnya ia melarang tentaranya melepaskan anak panah, sebaliknya dengan pedang panjang di tangan ia memimpin pasukannya mengepung rapat-rapat.

Thio Hian Cong menangkis sebatang pedang perwira itu.

Dalam bentrokan ia mengetahui bahwa perwira itu bertenaga besar, maka dengan sebat ia membalas menyerang.

"Maju!"

Perwira itu memberi aba-aba kepada tentaranya.

Tak sudi Thio Hian Cong melayani perwira itu lama-lama.

Dengan lindungan tameng istimewanya, ia mengancam perwira itu dengan golok pemberian Go Kim Sun.

ia menikam sambil membentak, dan celakalah perwira itu.

Tulang iganya kena tikaman golok.

Ketika Thio Hian Cong mencabut senjatanya, ia menoleh.

Ternyata Sin Houw tak terlihat lagi, Bukan main ia menjadi terkejut, Dengan pandang beringas ia mengembarakan goloknya, Di sebelah kirinya ia melihat kerumun tentara sambil berteriak-teriak kalap.

Segera ia melompat dan menerjang.

Dan kena terjangannya, beberapa tentara mundur dan menyibakkan diri dengan menderita luka-luka parah.

Ternyata Sin Houw terkepung oleh tiga orang tentara yang bersenjata pedang panjang, Tombak pendeknya sudah terlepas dari tangan.

ia melawan dengan jurus-jurus, ilmu sakti Hok-houw ciang dengan tangan kosong.

Meskipun terdesak, namun masih bisa ia mempertahankan kedudukannya.

Menyaksikan hal itu, tanpa bersuara lagi Thio Hian Cong melompat menerjang, seorang tentara roboh terjungkal dan menyusul yang kedua, dengan demikian, tertolonglah Thio Sin Houw.

"Mari!"

Ajak Thio Hian Cong, Dan sambil menarik tangan Sin Houw, ia menyibakkan beberapa serdadu yang masih menghadang didepannya.

"Kejar!"

Seru beberapa tentara.

Dan mereka lantas saja mengejar beramai-ramai sambil berteriak sambungmenyambung, Mendengar teriakan sambung menyambung itu, sepasukan tentara yang berada di sebelah kiri turun menerjang, Thio Hian Cong membalikkan tubuh dan menikam, Dua orang tentara roboh tertikam dengan sekaligus.

Kemudian ia menerjang yang ketiga, yang mencoba merangsak dari depan.

Serdadu itu kena dilemparkan sehingga roboh terjungkal dan menjerit tinggi.

Menyaksikan hal itu, tentara yang lainnya, yang sedianya hendak menerjang beramai-ramai, tak berani mendesak lebih jauh, Mereka merandek seperti patung-patung tak bernyawa.

Tentu saja hal itu merupakan kesempatan yang bagus sekali bagi Thio Hian Cong, De-ngan cepat ia menyambar Sin Houw dan kemudian didukungnya, Dengan menggunakan ilmu ringan tubuh, ia kabur sepesat angin.

setelah cukup jauh meninggalkan lawan, barulah ia menurunkan Sin Houw diatas tanah.

"Apakah kau terluka?"

Thio Hian Cong minta keterangan.

Thio Sin Houw mengusap mukanya.

Tangannya menyentuh cairan lendir yang telah melekat dimukanya.

Cepat-cepat ia memeriksa tangannya dalam cahaya bulan remang-remang, dan ia melihat cairan merah, itulah darah segar, Keruan saja ia terkejut, Hatinya tercekat pula tatkala melihat wajah gurunya berlepotan darah, gugup ia berseru.

"Susiok! Darah ... darah!"

"Tidak apa. inilah darah tentara Mongolia yang kena tikamanku."

Sahut Thio Hian Cong.

"Apakah kau terluka?"

"Tidak."

Jawab Sin Houw.

"Bagus!"

Thio Hian Cong merasa bersyukur. Terus saja menggandeng Sin Houw seraya berkata.

"Mari, Kita harus cepat-cepat pergi dari sini!"

Mereka lantas menyelusup diantara pohon-pohon, menghindari bahaya, setelah berjalan kira-kira setengah jam lamanya, sampailah mereka di suatu lembah yang sama sekali tiada pohonnya, tatkala Thio Hian Cong melongok ke bawah, nampak cahaya terang dibeberapa tempat, puluhan tentara berjalan mondar mandir dengan menyandang senjata.

Keruan saja hatinya terkejut bukan main, Tak terasa ia berseru tertahan.

"Akh! Tak dapat kita lewat disitu, kita harus mengambil jalan lain, Di sinipun tiada semak belukar, untuk kita berlindung,"

Dengan tetap membimbing tangan Sin Houw, maka Thio Hian Cong memilih jalan kesebelah kanan.

Berjalan kira-kira cukup jauh, sampailah dia didepah sebuah goa buntu yang panjangnya hanya dua meter, Goa itu tertutup oleh semak belukar.

Karena tiada pilihan lain, Thio Hian Cong membawa masuk Sin Houw kedalam goa itu untuk bersembunyi.

Thio Sin Houw merasa sangat lelah, meskipun sejak kanak-kanak hidupnya selalu dikejar-kejar oleh musuh-musuh ayah-bundanya, akan tetapi baru pada malam itulah dia bertempur secara berhadap-hadapan, Maka begitu merebahkan diri, ia lantas tertidur nyenyak.

Thio Hian Cong segera mengangkat tubuhnya dan dipeluknya serta dipangkunya.

setelah itu ia menajamkan pendengarannya, agar dapat mengikuti perkembangan keadaan medan perang, Di luar goa, suara riuh rendah belum juga berhenti.

Kemudian ia mendengar suara gemerotok keras, dan udara tiba-tiba terang benderang oleh nyala api.

Tahulah dia, bahwa perkemahan yang didirikan oleh laskar perjuangan di atas gunung Beng-san, dibakar musnah oleh tentara Mongolia.

Hatinya panas bukan main.

Satu atau dua jam kemudian, terdengarlah suara terompet mengalun di udara, itulah suatu tanda bahwa komandan tentara Mongolia memanggil pasukannya agar berkumpul dan turun gunung.

Hati Thio Hian Cong lantas saja berdebar.

pendengarannya yang tajam segera menangkap langkahlangkah kaki mereka berderapan, Hatinya mengeluh dengan sendirinya.

Betapa tidak?

Ia mendengar langkah kaki tentara penyerbu semakin mendekati goa persembunyiannya, Hatinya cemas bukan kepalang, kalau sampai tentara itu menemukan goa persembunyiannya...

entah apa jadinya.

***** TIBA-TIBA terdengarlah seseorang duduk diluar goa, untunglah goa persembunyiannya teraling gerombol semak belukar, sehingga orang itu tidak melihat dirinya.

Dengan menggenggam senjata pemberian Go Kim Sun erat-erat dan tangan kirinya menekap mulut Sin Houw, ia bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Ia terpaksa menekap mulut Sin Houw, lantaran khawatir anak itu terkejut dan berteriak.

Beberapa saat lamanya tiada terdengar sesuatu, kecuali langkah kaki sibuk.

Lalu tiba-tiba terdengar seseorang membentak.

"Bawa kemari anjing itu!"

Kemudian terdengar beberapa orang menyeret seseorang berjalan ayal-ayalan, pastilah itu seorang tawanan yang diseret beberapa serdadu secara paksa.

"Menurut penglihatan salah seorang pembantu kita, kau menyerahkan senjatamu kepada seseorang. siapakah dia? Dan siapa pula anak tanggung itu, itulah bentakan seseorang yang memberi perintah kepada beberapa tentara membawa tawanannya, suaranya nyaring bagaikan genta pecah. Dan oleh suara nyaring itu, Sin Houw benar-benar tersadar dari tidurnya. Syukur, jauh-jauh sebelumnya Hian Cong telah menekap mulutnya. Maka begitu melihat Sin Houw tersadar dari tidurnya, segera ia membisik.

"Diam ...!"

Dalam pada itu orang yang memiliki suara nyaring luar biasa tadi, terdengar membentak lagi.

"Kau mau bilang apa tidak? Kalau kau tetap membandel, kukutungi sebelah kakimu terlebih dahulu!"

"Jika kau hendak mengutungi kakiku, kutungilah!"

Tantang seseorang itu, dengan suara tajam.

"Aku, Go Kim Sun, tidak takut. Meskipun kau kutungi kedua kaki dan tanganku, aku tidak akan merintih atau menyesal. Kau boleh mengutungi kepalaku sekali! Huh!"

Mendengar suara Go Kim Sun, Thio Sin Houw terkejut, serunya tertahan.

"Go susiok!"

"Sstt! jangan bergerak!"

Bisik Thio Hian Cong.

"Jadi benar-benar kau tak sudi memberi keterangan? Baiklah!"

Lagi-lagi orang yang bersuara nyaring tadi membentak.

"Tidak!"

Terdengar jawaban Go Kim Sun tegas. Dari dalam goa, Sin Houw dapat membayangkan bahwa gurunya tentulah meludahi orang itu. Tiba-tiba ia terkejut tatkala mendengar erang gurunya.

"Aduh!"

Suara orang itu disusul dengan suara terbantingnya benda berat, Rupanya sebelah kakinya dikutungi benar-benar.

Karuan saja Sin Houw tak dapat menguasai diri lagi, ia merengut dari tekapan tangan Thio Hian Cong.

"Go susiok!"

Sin Houw memekik sambil terus menerjang keluar goa.

Begitu keluar dari mulut goa, ia melihat seseorang mengayunkan goloknya kearah tanah.

Diantara cahaya api, ia melihat seseorang menggeletak berlumuran darah.

itulah gurunya, Go Kim Sun!

Dengan rasa gusar bukan kepalang ia menerjang dengan salah satu jurus ilmu sakti Hok-houw ciang yang mengandung ancaman maut.

Orang yang sedang mengayunkan goloknya itu memekik tinggi begitu kena pukulan Sin Houw, Matanya berkunang kunang, dan mundur sempoyongan dengan tak dikehendaki sendiri.

selagi demi-kian, lengannyapun terasa sakit, sedang goloknya kena terampas.

Thio Sin Houw bergerak tidak kepalang tanggung, setelah berhasil menghantam orang itu dan merampas senjatanya, ia membacok pula, Meskipun belum memiliki himpunan tenaga sakti, akan tetapi tenaga jasmaninya sudah cukup membuat somplak pundak tentara itu.

Saking sakitnya, orang itu menjerit tinggi, dan jatuh terkapar diatas tanah tak sadarkan diri.

Sebenarnya didepan goa, terdapat beberapa tentara yang bersikap mengurung tawanannya, Namun peristiwa itu terjadi dengan sangat tiba-tiba.

Lantaran kaget mereka jadi tertegun saja, Dan setelah melihat kawannya jatuh terkapar, barulah mereka tersadar.

serentak mereka menerjang, sambil berteriak teriak.

Thio Sin Houw tidak gentar.

Dengan golok rampasannya, ia menyerang dan membela diri, sewaktu berada dalam bahaya, tiba-tiba meloncatlah seseorang dari dalam goa, dengan membawa senjata rantai berkilauan.

Ternyata rantai itu terbuat dari perak murni.

Begitu digerakkan diudara remang-remang, lantas saja berkeredepan menyilaukan mata, Dialah Thio Hian Cong.

Yang meloncat keluar goa untuk melindungi Sin Houw, sekali menggerakkan senjata rantainya, beberapa tentara menjerit kesakitan, senjata mereka terpental ke udara!

Keruan saja para tentara itu kaget bukan kepalang, Beberapa orang diantaranya yang masih berada di luar gelanggang, lantas saja berseru seru mengabarkan tanda bahaya, sigap luar biasa, Thio Hian Cong menyambar Sin Houw dan dibawanya lari turun gunung.

Dan pada saat itu mereka berdua dihujani anak panah.

Tiba-tiba diantara tentara yang kalang kabut itu, muncullah empat orang yang gerakannya gesit, Dengan sekali melihat, tahulah Thio Hian Cong bahwa mereka berempat memiliki ilmu kepandaian tinggi pula, seorang diantara mereka memasang gendewanya dan melepaskan anak panah.

Thio Hian Cong kala itu lari sambil mengempit Sin Houw, ia berlompatan kesana-kemari untuk menghindari sambaran anak panah.

Tatkala mendengar ke-siur angin tajam mengancam tengkuknya, cepat-cepat ia mengendapkan diri, Dan tiga anak panah lewat diatas kepalanya dengan bersuling nyaring.

Tetapt justeru karena mengendapkan diri, langkah Thio Hian Cong jadi terhenti.

Pada saat itu, seorang di antara ketiga musuh yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi melepaskan tiga anak panah lagi.

Ketiga anak panah itu mempunyai arah bidikan yang berbeda-beda, Yang pertama mengarah kepada Sin Houw, yang kedua mengarah Thio Hian Cong dan yang ketiga menjaga gerak larinya, Melihat ancaman bahaya itu.

Thio Hian cong memutar senjata rantainya dan ketiga anak panah itu runtuh ditanah dengan sekali kebasan.

"Susiok! Biar aku turun saja!"

Se ru Sin Houw dengan semangat tempur yang menyala-nyala. Thio Hian Cong menurunkan Sin Houw sambil berkata .

"Kau lari dulu!"

Mereka berdua telah terpisah jauh dari tentara Mongolia, akan tetapi keempat orang yang masih mengejarnya seolaholah bayangannya sendiri. Dengan cepat mereka telah tiba dihadapan mereka.

"Sahabat, letakkan senjatamu ..!"

Salah seorang diantara mereka berseru.

"Kau serahkan dirimu! Kami berjanji akan memperlakukan dirimu baik-baik!"

Hati Thio Hian Cong mendadak menjadi sebal mendengar suara orang itu.

ia menjadi dengki dan mendongkol, sambil lari ia memindahkan senjata rantainya ditangan kiri, kemudian ia mempersiapkan senjata sumpitannya yang terbuat dari pakupaku berujung tajam, ia menunggu sampai orang itu datang dekat, dan dengan tiba-tiba ia melepaskan senjata bidiknya tiga batang sekaligus.

Orang yang mengunbar suaranya tadi sama sekali tidak menduga bahwa musuh memiliki senjata bidik istimewa.

Tatkala melihat berkelebatnya tiga batang paku, ia kaget setengah mati, Tanpa ampun lagi ia roboh terjengkang.

Kedua pahanya tertancap sebatang paku, sedang tangan kanannya dapat hadiah sebatang paku pula.

Sebaliknya, ketiga kawannya tidak memperdulikan ancaman bahaya, mereka mengejar terus.

seperti saling berlomba.

Melihat datangnya ketiga orang itu yang makin lama makin dekat, Thio Hian Cong berkata kepada Sin Houw seperti sedang bergurau.

"Adikku, sepasang golok orang itu tepat sekali untuk dirimu, Biarlah kurampasnya sekali untukmu!"

Setelah berkata demikian, Thio Hian Cong memindahkan senjata rantainya ketangan kanannya kembali.

Kemudian melompat maju menghampiri salah seorang musuhnya, yang bersenjata sepasang-golok.

Terang sekali maksudnya, ia hendak membuktikan ucapannya, Akan tetapi orang itu ternyata bukan lawan lemah, ia mendahului menyerang .

berulang kali, Untuk beberapa waktu lamanya, Thio Hian Cong belum berhasil men capai maksudnya.

Selagi Thio Hian Cong berkutat dengan orang itu, kedua musuhnya menghampiri Sin Houw, Masing-masing bersenjata sebatang pedang panjang dan ruyung besi.

inilah berbahaya bagi Sin Houw, karena dia tidak bersenjata sama sekali.

Golok rampasannya tadi tertancap pada pundak orang yang hendak membunuh gurunya, Go Kim-Sun, maka dengan tangan kosong ia mencoba membela diri, Thio Hian Cong jadi mendongkol dan kebat-kebit, sadarlah dia, bahwa dirinya tidak boleh terlibat terus menerus oleh napsunya hendak merampas sepasang golok lawan, cepat ia melesat mundur sambil memutar tubuhnya, senjata rantainya diayunkan dan menghantam orang yang bersenjata ruyung.

"Prak!!"

Kena pukulan senjata rantai Thio Hian Cong, orang itu terhuyung mundur.

Justeru pada saat itu Sin Houw sedang mengayunkan kakinya.

Tepat sekali tendangannya.

Meskipun tidak sampai melontakkan darah, orang itu terguling diatas tanah dengan memaki kalang kabut.

Kejadian itu membangkitkan rasa marah orang ketiga.

Dengan sebatang pedang ditangan ia menerjang dan menabas, secepat kilat Thio Hian Cong me-lompat dan menangkap pergelangan tangannya.

Kedua orang itu lantas berku-tat mengadu tenaga.

Pada saat Thio Hian Cong berkutat mengadu tenaga dengan orang yang bersenjata pedang itu, yang bersenjata sepasang golok dan ruyung datang mengepung.

Mereka menyerang dari belakang.

Juga orang yang tadi roboh kena paku Thio Hian Cong, kini juga dapat bangun pula.

Dengan masih menggenggam tombak panjang ia maju tertatih-tatih, kemudian menikam.

Akan tetapi sasarannya adalah Sin Houw.

inilah saat-saat berbahaya bagi Thio Hian Cong dan Thio Sin Houw, Meskipun demikian Thio Hian Cong tidak menjadi bingung atau berputus asa, sambil berseru nyaring, ia menghajar orang yang bersenjata ruyung.

Kena pukulannya, orang itu roboh terjengkang.

Begitu hebat cara robohnya, sehingga ia menubruk kawan sendiri yang sedang berjalan tertatih-tatih sambil, menggenggam tombak panjang hendak menikam Sin Houw.

Karena tadi sudah menderita luka, tak dapat ia mempertahankan diri tatkala kena tubruk kawannya Dengan demikian ia ikut terguling pula diatas tanah.

Masih syukur, mereka tidak sampai saling manikam.

Dengan cepat Thio Hian Cong melompat merampas ruyung.

Kemudian dengan ruyung ini ia menangkis sepasang golok yang menyambar dirinya.

Setelah itu ia menarik tangart Thio Sin Houw dan diajaknya lari secepat mungkin.

ia tak sudi terlibat terus menerus lantaran tentara Mongolia sudah mulai bergerak mendekati.

Sekarang keempat lawannya tidak berani melawan lagi.

Mereka mulai sadar, bahwa lawannya itu bukan lawan sembarangan, Namun membiarkan buruannya lolos dengan begitu saja, sudah barang tentu mereka tak rela, seperti berjanji, mereka lantas saja melepaskan senjata jarak jauh, itulah senjata Sumpitan yang bentuknya seperti panah-panah kecil.

Sambil melindungi Sin Houw, Thio Hian Cong menangkis sambaran senjata bidik mereka dengan ruyung dan rantainya.

Kadangkala ia melompat atau mengelak sambil menyingkirkan Sin Houw dari berbagai serangan yang saling menyusul.

Namun karena harus melindungi Sin Houw, gerakannya tidak segesit seperti biasanya.

Satu kali ia harus menarik Sin Houw ke dadanya terlebih dahulu, untuk menangkis sambaran senjata bidik.

Kali ini ia terlambat, tiga batang anak panah meraung membuntutinya.

Dua anak panah bisa dielakkan, akan tetapi yang ketiga mengenai jitu paha kirinya, Dia terkejut, sebab mula-mula tiada rasa sakit sama sekali.

Mendadak lama-lama menjadi gatal, Tahulah dia, bahwa anak panah itu mengandung racun jahat, segera ia mengerahkan tenaganya untuk berlari lebih kencang lagi.

Tetapi justeru demikian, racun yang merayap didalam dirinya bekerja kian merunyam, Kakinya lantas saja terasa kaku, sehingga tak dapat lagi dilangkahkan dan disaat berikutnya ia roboh terguling.

"Susiok!"

Sin Houw berteriak lantaran kaget bukan main, Hampir saja ia terguling pula.

Ditengah keremangan malam, ke empat penyerangnya samar-samar melihat robohnya Thio Hian Cong, Begitu mendengar teriakan Sin Houw, mereka bertambah yakin.

lantas saja mereka berlomba untuk mengejar.

"Sin Houw!"

Seru Thio Hian Cong, lari cepat ! Aku akan menahan mereka."

Thio Sin Houw kenyang pengalaman pahit.

Melihat gurunya roboh, ia seperti teringat akan nasib ayah bunda-nya.

Maka tanpa memperdulikan bahaya, segera ia melompat kesamping gurunya dan bersikap hendak melindungi.

"Sin Houw! Dengan kepandaianmu ini, sanggupkah kau melindungi diriku?"

Kata Thio Hian Cong terharu, ia tahu muridnya itu sangat cerdas.

Akan tetapi sama sekali tak mengira bahwa ia berbakti pula, meskipun baru bargaul selama delapan hari saja.

Dalam pada itu keampat penyerangnya sudah datang semakin dekat, Mereka semua bersenjata dan bermaksud hendak menawan buruannya hidup-hidup, Yang membawa sepasang golok dan sebatang pedang panjang, memutar kebelakang Sin Houw dan menerjang berbareng.

Yang di arah betis kanan.

Kaget Sin Houw melihat serangan itu.

ia mengelak dengan melompat, sudah barang tentu Thio Hian Cong tak sudi tinggal diam Meskipun kaki kirinya tidak dapat digerakkan, akan tetapi ia memaksa diri berbangkit.

***** TApI, ia berhasil merampas ruyung besi, Tanpa berpikir panjang lagi ia segera menimpukkannya kepada orang yang bersenjata sepasang golok, orang itu kaget bukan kepalang, sampai tak dapat mengelakkan diri.

Kepalanya pecah terhantam ruyung itu.

Dan pada saat itu pula Thio Hian Cong melesat menubruk lehernya.

,Krak!

Dan orang itu terguling roboh, tak bernapas lagi...

Inilah peristiwa hebat bagi ke tiga kawannya, orang-orang bersenjata pedang panjang lantas saja memutar tubuhnya dan lari terbirit-birit, Sedang kedua kawannya segera menyusul pula.

Apalagi yang seorang telah terluka pundaknya sejak tadi.

Thio Hian Cong sendiri nyaris kehilangan tenaga, darahnya mengucur tidak hentinya.

Kaki kanannya beku tak dapat digerakkan lagi.

Namun tak sudi ia menyerah dengan keadaan itu, Dengan menguatkan hati ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, kemudian dengan bantuan ruyung rampasannya ia mencoba untuk bangun berdiri.

ia sadar, bahwa ketiga musuhnya tadi lari untuk kembali lagi dengan membawa bala bantuan.

Kesempatan untuk melarikan diri hanya sedikit saja.

"Maril"

Ia berkata mengajak.

Dengan menyeret kakinya ia berjalan selangkah demi selangkah, dengan bantuan ruyung rampasannya, Sin Houw berjalan disebelah kanannya, ia memasang pundaknya untuk memeluk lengan gurunya dan membiarkan dirinya digelendoti, Dengan demikian perjalanan agak lancar juga.

Akan tetapi setelah berjalan beberapa ratus meter, keadaan Thio Hian Cong bertambah hebat.

Rasa beku yang memendam sebelah kakinya tadi perlahan-lahan naik ketangan, Dan tiba-tiba saja tangan itu kehilangan tenaga, ia tahu, itulah racun jahat yang sedang bekerja, segera ia memindahkan ruyung rampasan ketangan kiri dan melanjutkan berjalan sedapat-dapatnya.

Sin Houw tak mengerti tentang bekerjanya racun jahat itu, yang dirasakan Thio Hian Cong menggelendot makin berat.

Meskipun ia mandi keringat, namun tetap membungkam mulut, Tetapi setelah berjalan dua tiga li lagi, rasa lelahnya tak tertahankan lagi.

"Susiok! Di depan nampak sebuah rumah. Mari kita beristirahat dlsana."

Katanya sambil menuding kedepan.

"Bukankah kita bisa bersembunyi di rumah itu?"

Thio Hian Cong memanggut sambil mengumpulkan sisa tenaganya.

Begitu tiba didepan pintu, habislah tenaganya -ia roboh terkulai.

Sin Houw mencoba menahannya, akan tetapi gagal.

Keruan saja bocah itu terkejut.

"Susiok!"

Ia memekik. Gugup ia membungkuk hendak membangkitkan.

"Susiok, bagaimana?"

Hampir bersamaan dengan waktu itu -terbukalah pintu rumah. Dan seorang wanita berusia pertengahan muncul di ambang pintu. Melihat munculnya wanita itu, Sin Houw lantas saja berkata mengadu.

"Subo, kami dikejar-kejar tentara Mongolia. Pamanku ini terluka, bolehkah kami menumpang satu malam saja di-sini?" (Subo -bibi). Wanita itu seorang petani, ternyata ia murah hati, segera ia manggut dan memanggil seorang anak tanggung kira-kira berusia delapan atau sembilan belas tahun untuk membantu menggotong Thio Hian Cong masuk. Kemudian ia direbahkan diatas dipan panjang yang berbuat dari bambu. Thio Hian Cong sebenarnya luka parah, akan tetapi karena tangguh dan memiliki himpunan tenaga sakti ia tidak pingsan atau kalut pikirannya -meskipun kaki dan tangannya beku sebelah, dengan tenang-tenang saja ia minta kepada Sin Houw agar mengambil pelita yang menyala didinding, Dan dengan penerangan pelita itu ia memeriksa lukanya. Mereka yang melihat luka itu terkejut, sebab kaki kirinya tidak hanya bengkak saja tetapipun nampak matang biru dan bergenik, Kesannya mengerikan ( -tiba-tiba saja tatkala Sin Houw melihat luka itu, terbanglah ingatannya kepada mimpinya yang ajaib. ia seperti pernah melihat luka demikian dan pernah pula mempelajari cara pengobatannya. Dan oleh ingatan itu terus saja ia menerkam pundak Thio Hian Cong.

"Susiok! Luka dipundakmu harus kubalut dahulu!"

Katanya.

Segera ia merobek lengan bajunya dan menggunakannya sebagai pembalut.

Mula-mula ia membalut pundak Thio Hian Cong keras kencang, setelah itu ia membalut paha untuk mencegah menjalarnya racun jahat ke jantung.

Apabila telah dikerjakan dengan rapi, secara hati-hati ia mencabut senjata sumpitan beracun yang masih menancap pada paha, Begitu tercabut, darah hitam meleleh keluar.

Melihat darah hitam itu, Thio Hian Cong menundukkan kepala, ia bermaksud hendak menghisap darah hitam itu dari lukanya.

Akan tetapi mulutnya tak sampai.

Sin Houw lantas saja menggantikan, ia menghisap berulang ulang dan memuntahkannya diatas tanah.

Setelah menyedot dan menghisap kira-kira empat puluh kali, barulah luka itu mengalirkan darah merah.

Thio Hian Cong menghela napas lega, katanya dengan suara bersyukur.

"Ternyata bukan racun yang sangat berbahaya, Sin Houw, kau kumurlah cepat cepat!"

Wanita petani milik rumah itu sejak tadi berdoa dengan maksud menolong meringankan penderitaan Thio Hian Cong, Mendengar perkataan Thio Hian Cong, ia girang bukan kepalang, dan untuk menyatakan rasa syukurnya, ia berdoa panjang pendek dengan giat sekali.

Pada esok harinya pemuda tanggung itu keluar rumah, untuk melihat keadaan gunung, Lewat tengah hari ia datang dan melaporkan bahwa tentara penjajah tiada nampak seorangpun lagi, Berita itu melegakan hati Sin Houw akan tetapi melihat keadaan Thio Hian Cong yang mengkhawatirkan, ia menjadi gelisah.

Benar bengkaknya mulai kempes tetapi suhu badannya naik tinggi sehingga seringkali mengigau.

Dua tahun lebih Sin Houw berada disamping ide Hong Kiauw, Banyak pula pengetahuannya tentang obat obatan.

---------------------------Halaman 42/43 Hilang ---------------------------pan.

setelah semuanya beres, segera ia kembali pulang.

Nampaknya berjalan dengan sangat lancar dan sederhana saja.

Akan tetapi gerobak itu sesungguhnya sejak lama dikuntit beberapa orang mata-mata pihak pemerintah Mongolia, Begitu melihat Sin Houw membawa Thio Hian Cong memasuki rumah penginapan, mata-mata itu segera lari kencang melaporkan kepada atasan mereka.

Thio Sin Houw masih mempunyai beberapa tail sisa uang bekalnya, Dan dengan uang itu ia mencari beberapa ramuan obat yang diperlukan.

Karena selama itu ia belum pernah memasuki kota, ia mengajak seorang pelayan sebagai penunjuk jalan.

setelah memperoleh ramuan obat-obat yang di carinya, segera ia pulang ke rumah penginapan.

Sama sekali ia tak menyadari bahwa dua orang tentara telah menguntitnya diam-diam.

Tiba di rumah penginapan, segera ia memasak ramuan obat-obatnya.

Dalam pada itu Ihio Hian Cong masih tetap rebah di tempat tidur dengan kepala panas bagaikan api.

Belum lagi air di-masak mendidih, delapan orang tentara tibatiba memasuki rumah penginapan dan membawa rantai pembelenggu, seseorang yang mengenakan pakaian sebagai rakyat biasa, menuding kepada Sib Houw seraya berkata.

"Dialah orangnya!"

Seorang tentara lantas membentak.

"Hai! Kau pelarian dari atas gunung, bukan?"

Thio Sin Houw kaget tak terkira, Tak tahulah ia apa yang harus diperbuat. Akhirnya dalam bingungnya, menjawab sekenanya saja.

"Bukan ..."

Pemuda tanggung itu perlu dikepung sekawanan tentara yang berjumlah delapan orang?

Dalam pada itu seorang tentara melancarkan rantai belenggunya keleher Sin Houw, Anak itu mundur mengelakkan diri, sama sekali ia tidak berkisar dari ambang pintu.

Niatnya sudah teguh untuk mencegah kawanan tentara memasuki kamar.

Bagaimana akibatnya nanti , tak masuk dalam pikirannya.

Tentara itu malu karena tak mampu membekuk seorang anak tanggung, sedang dia merasa diri sudah berpengalaman belasan tahun lamanya, Lantaran malu, ia menjadi gusar.

Tangan kirinya bergerak dan menyambar tengkuk.

"Thio Sin Houw tak gentar melihat datangnya serangan, ia menangkis sambaran tangan yang hendak mencengkeram tengkuknya, ia menggunakan salah satu jurus ilmu Hok-houw ciang, Dan begitu tangannya membentur sasaran, tentara itu mundur sempoyongan. Dia menjadi gusar setengah mati, sambil memutar tubuh, kakinya menendang dan mulutnya memaki.

"Anak anjing!"

Thio Sin Houw menang gesit, Melihat berkelebatnya kaki, ia mengelak kesamping, Dengan kedua tangannya ia menangkap kaki itu, terus diangkat dan didorong dengan keras.

seketika itu juga tentara tadi terlempar dan jatuh terbanting diatas tanah.

Para tamu yang berkumpul di pekarangan kagum dan bersorak tak terasa.

Terhadap rombongan tentara penjajah mereka nampaknya tak senang, Meskipun bukan termasuk para pejuang, mereka berpihak kepada Sin Houw, Mungkin sekali lantaran melihat Sin Houw seorang pemuda tanggung, yang sama sekali tiada bersenjata atau berteman.

Namun kedelapan tentara itu nampak beringas dan bengis.

Mereka jadi tak puas dan bersyukur tatkala melihat sin Houw berhasil melemparkan seorang polisi sampai terbanting diatas tanah.

Ketujuh tentara lainnya heran menyaksikan ketangguhan Sin Houw.

Mereka mengira anak itu mempunyai ilmu gaib, Segera mereka saling memberi isyarat kemudian menerjang berbareng.

Diantara mereka ada yang bersenjata pedang, golok dan panggada kayu.

Dan menyaksikan gerakan mereka, para tamu kaget, takut dan bingung.

Mereka mundur dengan sendirinya .

Meskipun Thio Sin Houw kini sudah mewarisi ilmu sakti Hok-houw ciang dari Thio Hian Cong, akan tetapi tenaganya masih lemah.

Lagi pula ia belum berpengalaman.

itulah sebabnya, menghadapi keroyokan demikian ia menjadi bingung, Dalam saat-saat yang berbahaya itu, sekonyongkonyong melompatlah seorang dari kamar sebelah.

orang itu bertubuh besar dan berkulit hitam.

Dengan sekali lompat, ia telah berada di depan Sin Houw dan terus menggerakkan kaki dan tangannya.

Entah bagaimana caranya ia bergerak.

Tiba-tiba saja para tentara yang bersenjata tajam itu kena terampas senjatanya dan dilemparkan berjungkir balik.

Kemudian ia mendesak, menyerang dan menerjang ke kiri kanan sampai ketujuh tentara itu babak belur, setelah itu ia berteriak nyaring seperti kerbau menguak, Aneh suaranya!

"Siapa kau?"

Seorang tentara menegur.

"Kami hendak menangkap pemberontak , jangan ikut campur!"

Orang itu seperti tuli.

sekali menggerakkan tangan, ia menjambret dada tentara itu dan mengangkatnya tinggi tinggi.

Kemudian dilemparkan hingga tentara itu melayang-layang bagaikan layangan putus, dan roboh diatas tanah tak sadarkan diri.

Menyaksikan hal itu kawan-kawannya bubar berderai dan lari berserabutan keluar rumah penginapan.

Orang itu kemudian berpaling kepada Sin Houw, ia membuka mulutnya dan tangannya bergerak-gerak.

Tetapi mulutnya tiada mengeluarkan suara apapun kecuali "ah-ah-uhuh".

Maka tahulah Sin Houw, bahwa orang itu bisu.

Dan apa yang dikehendaki sangat mudah di tebak.

Beberapa saat lamanya Sin Houw bingung menebaknebak.

Akan tetapi dia memang anak cerdas luar biasa, Segera ia mengamat-amati gerakan tangan dan gerakan mulut orang itu.

selagi mengamat-amati mendadak orang itu mengangkat tangannya keatas, lalu ditabaskan kebawah, Kedua kakinya digerakkan dan tahu-tahu ia sudah melakukan jurus-jurus ilmu sakti Hok-houw ciang, dari jurus pertama sampai jurus kelima belas dan melihat Sin Houw jurus pertama sampai jurus ke sepuluh, setelah itu ia berhenti, sikapnya menunggu.

Otak Sin Houw yang cerdas luar biasa segera dapat mengerti kehendaknya, buru-buru ia menjawab dengan melanjutkan jurus ke sebelas sampai jurus kelimabelas.

Dan melihat Sin Houw dapat melanjutkan jurus-jurus ilmu sakti Hok-houw ciang, si bisu tertawa lebar sambil memanggutmanggutkan kepalanya, sekonyong-konyong ia melompat sambil mengulurkan tangannya, tahu-tahu Sin Houw dipondongnya dan hendak dibawanya pergi.

Thio Sin Houw teringat gurunya yang masih rebah didalam kamar, dengan girang ia menuding kamarnya, Si bisu rupanya mengerti gerakan tangannya, segera ia masuk kedalam kamar sambil menggendong Sin Houw.

Terhadap Sin Houw, seolah

KANG ZUSI WEBSITE

http.//cerita-silat.co.cc/ *** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )*** olah ia menemukan mustika yang tak ternilai harganya.

Tetapi begitu melihat wajah Thio Hian Cong yang pucat lesi bagaikan mayat , orang itu nampak kaget sekali.

Cepat-cepat ia menurunkan Sin Houw dan menghampiri Thio Hian Cong, ia memijit-mijit menyadarkannya, kemudian kedua tangannya digerakkan.

Oleh pijitannya itu, Thio Hian Cong tersadar, Begitu melihat siapa yang memijitnya, wajahnya bersinar terang, iapun segera menggerakkan kedua tangannya sambil menunjuk pahanya.

Orang itu mengerti arti gerakan tangan Thio Hian Cong, seketika itu juga ia bekerja, Dengan tangan kiri ia membimbing Sin Houw dan dengan tangan kanannya ia memondong Thio Hian Cong, Kemudian dengan langkah lebar ia keluar kamar dan meninggalkan rumah penginapan, ia lari sangat pesat begitu tiba dijalan, tak perduli berat tubuh Thio Hian Cong yang dipondongnya.

Baik pemilik rumah penginapan maupun para pelayan, tak ada yang berani merintang, semuanya menyaksikan kegagahannya, seorang diri saja ia sanggup mengundurkan delapan orang tentara, malah yang seorang dibanting roboh sampai pingsan tak sadarkan diri, Terhadap orang segagah itu, siapakah yang berani mencoba-coba merintangi kehendaknya ?

Namun pihak tentara tidak mau sudah, dua orang matamatanya segera menguntitnya, Tentu saja mereka tak berani berada terlalu dekat, mereka menguntit dalam jarak duapuluh langkah, tujuan mereka hanya ingin mengetahui dimana tempat tinggal sigagu itu.

setelah mereka ketahui, mereka akan menyulutkan tanda-tanda tertentu untuk mencari bala bantuan.

Thio Hian Cong masih tak sadarkan diri, ia tak tahu bahwa dirinya dibawa kabur oleh si bisu dari rumah penginapan.

Si bisu sebaliknya tidak mengetahui bahwa dirinya selalu di bayangi dua orang mata-mata, tapi tidak demikian halnya Sin Houw yang cerdik.

ia melihat dua orang yang selalu mengikutinya, diam-diam ia menarik tangan si bisu, Dan dengan memonyongkan mulutnya ia memberi abaaba, Si bisu lantas berpaling, dan ia melihat pula dua orang itu yang selalu mengikutinya.

Namun ia bersikap acuh tak acuh, Dengan berlagak pilon ia lari terus dengan cepat, Sin Houw dibawanya lari kencang melintasi tegalan-tegalan sepi -kira tiga atau ampat li lagi, tiba-tiba si bisu meletakkan Thio Hian Cong keatas tanah.

Agaknya dia hendak beristirahat untuk menghilangkan rasa lelahnya, Tahu-tahu dengan sekonyong-konyong ia membalikkan tubuhnya, dan melesat kebelakang, Dalam dua tiga gebrakan saja, ia sudah sampai ke depan mata-mata itu yang kaget setengah mati.

Itulah serangan diluar dugaan.

Dalam kaget dan takutnya, kedua mata-mata itu segera memutar tubuh, Maksudnya hendak mengangkat kaki, namun sudah terlambat.

Si bisu sangat cepat gerakannya.

sebelum mereka berdua dapat menggerakkan kaki, tangan si bisu sudah menghempaskannya, Tak ampun lagi mereka roboh terjengkang diatas tanah.

Orang bisu itu bekerja tidak kepalang tanggung.

Melihat kedua lawannya roboh, tangannya mencengkeram ke rambut mereka.

Kemudian diangkat tinggi tinggi dan dibenturkan kesebuah batu yang berada dipinggir tegalan.

"Prak!"

Tak sempat lagi kedua mata-mata itu berteriak, mereka mati dengan kepala pecah.

Setelah menamatkan riwayat hidup kedua mata-mata itu, si bisu kembali menghampiri Thio Hian Cong.

Dengan ringan sekali ia mengangkat tubuh Thio Hian Cong, dan dibawanya berlari lagi, Larinya cepat bagaikan terbang.

Celakalah Thio Sin Houw!

pemuda tanggung ini mencoba lari sekencang-kencangnya, agar dapat menjajarinya, usahanya sia-sia belaka, meskipun ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya.

Makin lama ia makin tertinggal.

Akhirnya ia merasa tak sanggup lagi, dan dengan napas tersengal-sengal ia menghentikan langkahnya.

Si bisu menoleh, ia berhenti pula sambil tersenyum.

Melihat Sin Houw kehabisan tenaga, ia menghampiri dengan wajah ramah.

Lalu menyambar tubuhnya dan digendongnya, Dengan menggendong dua orang, ia lari kencang lagi.Malahan kini larinya lebih kencang, dibandingkan dengan semula, Lantara ia tidak usah menunggu-nunggu Sin Houw.

Setelah berlari-lari sekian lamanya, ia membelok ke kiri dan lari mengarah ke sebuah gunung, ia mendaki dengan cekatan, dan sama sekali tak mengenal lelah, Dalam sekejap mata saja dua bukit telah dilaluinya.

Tiba-tiba nampak sebuah rumah gubuk di depan lamping gunung, Dengan langkah tetap ia menghampiri gubuk itu.

Seseorang yang berada di ambang pintu lari menyambut.

Dia seorang wanita berumur tigapuluh tahun lebih.

ia memanggut kepada si bisu, dan si bisu pun membalas anggukannya, Nampaknya ia heran melihat si bisu membawa bawa dua orang dalam gendongannya, segera ia mengajak masuk.

"Cie Lan! Kau sediakan tiga mangkok air teh!"

Seru wanita itu.

Dari ruangan dalam terdengar jawaban dan muncullah seorang gadis kecil membawa nampan berisi tiga mangkok air teh, ia nampak heran begitu melihat si bisu, kemudian ia memandang kepada Thio Hian Cong dan mengamat-amati Sin Houw.

Kedua matanya jernih bening dan meresapkan penglihatan.

Gadis kecil inilah yang bernama Cie Lan, umurnya kurang lebih duabelas tahun.

Setelah melirik Cie Lan, pandang mata Sin Houw beralih kepada wanita muda itu, Dia seorang wanita yang cantik, mukanya putih bersih dan halus.

Bibirnya manis dan suaranya meresapkan pendengaran.

Meskipun pakaiannya sederhana, pribadinya berkesan agung, Dengan ramah ia bertanya kepadanya.

"Umurmu sebaya dengan anakku, siapakah namamu? Bagaimana kau bisa bertemu dengan dia?"

Waktu itu Sin Houw sudah diturunkan ke tanah.

Mendengar lagak lagunya, tahulah ia bahwa si bisu adalah sahabat nyonya rumah itu, Maka dengan tulus ia menceritakan pengalamannya.

Ibunya Cie Lan kemudian memperkenalkan namanya, Cin Bun Nio, Dan setelah memperkenalkan namanya, ia masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa dua botol ramuan obat, Sin Houw melihat bubuk putih dan merah terbawa oleh rasa girangnya, segera ia menyendoknva sedikit dan diadukkan ke dalam air teh, setelah itu ia menegukkan ke dalam mulut Thio Hian Cong.

Bun Nio heran menyaksikan Sin Houw mengerti tentang obat-obat, Katanya .

"Heee, kau semuda ini sudah mengerti tentang ilmu ketabiban?"

Oleh kata-kata itu, Sin Houw tersadar . wajahnya menjadi merah, cepat-cepat ia membungkuk hormat dan meminta maaf atas kelancangannya. sahutnya.

"Maaf, bibii Maaf ... aku..."

Tetapi Bun Nio tidak merasa tersinggung, ia bahkan tertawa manis sekali , lalu katanya.

"Bagus! Tak usah kau bersegan-segan terhadapku, rupanya kau murid seorang tabib pandai. Kalau aku boleh bertanya, siapakah gurumu?"

"Sebenarnya aku tidak mempunyai guru, hanya secara kebetulan saja aku mendapat kesempatan belajar mengenal obat-obatan dipinggang gunung Ouw-tiap san."

Bun Nio mengira, Sin Houw tidak mau memperkenalkan nama gurunya. oleh pertimbangan sopan-santun, ia tak mau mendesak. Berkata mengalihkan pembicaraan.

"Apakah kau membutuhkan alat tertentu ?"

"Benar, Apakah bibi mempunyai pisau kecil? Aku harus mengiris lukanya."

Bun Nio segera menyediakan pisau kecil yang dimintanya.

Dengan cekatan Sin Houw mengiris luka Thio Hian Cong.

setelah itu ia memborehi dengan obat-bubuk kuning, ia menunggu sebentar.

Kemudian luka itu dicucinya kembali dan diborehi bubuk kuning lagi.

Tiga kali ia mencuci dan memborehi luka Tliio Hian Cong.

Dan menyaksikan hal itu Bun Nio bertambah heran, makin percayalah dia bahwa Sin Houw pastilah murid seorang tabib pandai.

Selang beberapa waktu, Thio Hian Cong membuka mulutnya.

ia memperdengarkan suara tak jelas.

"Anakku! Kau benar-benar seorang tabib pandai! Dia ketolongan!"

Seru Bun Nio dengan suara girang.

Dengan isyarat tangan, ia memanggil si bisu, ia minta tolong kepadanya agar membawa masuk Thio Hian Cong masuk kedalam kamarnya.

Dan tatkala si bisu membawa Thio Hian Cong masuk ke dalam kamar, Bun Nio menutup botol obatnya sambil berkata kepada Sin Houw.

"Mari, kuperkenalkan dengan anakku, Dia bernama Cie Lan, mulai sekarang tinggallah kau bersama kami di sini."

Thio Sin Houw memanggut.

"Meskipun kau tidak memperkenalkan nama gurumu, aku bisa menebak delapan bagian -lantaran kau menyebutkan bukit ouw-tiap san."

Kata Bun Nio.

"Apakah kau kenal tabib sakti Ouw Gie Coen?"

Bun Nio tidak menunggu Sih Houw membenarkan dugaannya, dengan tersenyum manis ia masuk kebelakang, Dan dengan dibantu Cie Lan, ia menanak nasi dan menyembelih ayam, sebaliknya Sin Houw lelah luar biasa.

Oleh rasa kantuknya, dengan tak dikehendaki sendiri ia tertidur di tepi meja, kepalanya terletak diatas tangannya, yang bersilang diatas meja.

Apakah dunia hancur pada saat itu, berada di luar ingatannya.

Keesokan harinya baru saja matahari muncul diudara, Cie Lan sudah menarik tangan Sin Houw, Kata gadis cilik itu.

"Mari, cuci muka!"

Sin Houw tersentak dari tidurnya, ia mengucak-ucak matanya. Tiba-tiba teringatlah dia kepada Thio Hian Cong, serentak ia menyahut.

"Aku hendak melihat paman dahulu. Bagaimana lukanya ..!"

"Nie susiok telah membawanya pergi sejak fajar hari tadi."

Kata Cie Lan. Thio Sin Houw terkejut mendengar perkataan Cie Lan, tukasnya.

"Nie susiok? siapakah Nie susiok itu?"

"Nie susiok ... si bisu."

Jawab Cie Lan dengan tertawa. Hati Sin Houw tercekat. menegas dengan wajah berubah.

"Dibawa ke manakah Thio susiok?"

Cie Lan hendak menjawab, Tetapi pada saat itu, Sin Houw tiba-tiba melompat dari kursi dan lari memasuki kamar, Benar-benar kosong.

Tiada Thio Hian Cong maupun si bisu.

Hati Sin Houw terpukul, terus saja ia roboh terkulai tak berdaya.

"lbu! Ibu!"

Teriak Cie Lan memanggil ibunya. Cin Bun Nio datang dengan cepat. Melihat sin Houw roboh terkulai, ia berkata membesarkan hati Cie Lan.

"Tak apa. Kecuali terkejut, semalam perutnya belum kemasukan sebutir nasipun, sebentar lagi ia akan siuman kembali."

Setelah berkata demikian, ia mendekati Sin Houw dan memijit-mijit pundaknya. Bisiknya.

"Anakku, pamanmu terluka parah, ia perlu mendapat pertolongan seorang tabib pandai. Kau mengenal obat-obatan, pasti kau juga mengerti bahwa obat bubuk kuning semalam hanya merupakan obat darurat saja. Bukankah begitu?"

Thio sin Houw manggut lalu berkata .

"Benar, dan aku hanya memberikan pertolongan pertama. ia terkena racun senjata rahasia yang sangat dahsyat, kalau tidak cepat-cepat ditolong secara sempurna, sebelah kakinya bisa lumpuh selama-lamanya."

"Sin Houw dari mana kau memperoleh pengetahuan tentang ilmu tabib begini sempurna?"

Tanya Bun Nio kagum. Thio Sin Houw terhibur hatinya -karena mendengar perkataan Bun Nio dan ia segera memberikan jawaban.

"Secara kebenaran saja aku berada dirumah salah seorang murid terpandai dari tabib sakti Ouw Gie Coen."

"Ohl"

Seru Bun Nio kagum.

"Pantas saja kau mahir sekali dalam ilmu ketabiban, Kalau tahu begini, aku tidak akan mengijinkan Nie Un siang membawanya pergi."

Thio Sin Houw menarik napas.

"Sebenarnya Thio susiok dibawah kemana?"

Tanyanya.

"Nie siang membawanya menghadap seseorang yang berilmu sakti. pada jaman ini kukira hanya dia seorang yang dapat menyembuhkan Thio susiokmu, tapi tunggu saja disini, apabila sudah sembuh Thio susiokmu itu pasti akan datang kemari menjengukmu."

Sin Houw menyadari apabila Thio susioknya memperoleh pertolongan seorang tabib pandai, pastilah lukanya akan dapat disembuhkan.

Hanya saja lantaran kata-kata Cin Bun Nio bersikap menghibur, hatinya menjadi sedih.

Beberapa saat lamanya ia termenung dan Bun Nio membujuknya lagi.

"Sin Houw, Thio susiokmu pasti akan sembuh. sekarang pergilah kau mencuci muka, setelah itu kita makan bersama. meskipun aku tidak pandai memasak, tetapi daging ayam itu sendiri pasti akan menawan seleramu!"

Sin Houw sadar akan maksud baik wanita setengah baya itu, walaupun ia masih merasa letih, namun ia mencoba menguasai diri, Kemudian mencuci mukanya disebuah pancuran yang berada di belakang rumah, setelah itu ia duduk bersama ibu dan anak yang ditumpanginya itu.

Ternyata Cin Bun Nio pandai mengambil hati, suaranya sendiri sudah meresapkan pendengaran.

Apalagi dia bermaksud membujuk dan membesarkan hati.

Thio Sin Houw lantas saja menyerah kalah.

Dengan kemauannya sendiri ia menceritakan tentang riwayat hidupnya, dan mendengar kisah anak itu, Bun Nio menghela napas berulangkali.

Katanya dengan hati pilu.

"Kalau begitu, tinggallah engkau bersama kami, disini, jangan kau mencemaskan apa-apa lagi, kau tunggu saja Thio susiokmu di sini. Apabila sudah sembuh, pasti ia akan menjengukmu"

Sin Houw manggut.

sejak bayi ia hidup menderita sekali, dibawa orang tuanya merantau dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menghindar dari pihak lawan yang datang tak hentinya, setelah berumur delapan tahun, dengan cara yang menyedihkan sekali kedua orang tuanya meninggal didepan matanya.

Sekarang, ia bertemu dengan Bun Nio yang halus budi dan manis sekali perlakuannya.

sudah tentu ia seperti memperoleh seorang ibu sejati, Disamping itu, Bun Nio masih mempunyai seorang puteri yang manis pula, Cie Lan, Gadis itu cantik dan selalu bersedia menjadi kawannya.

Maka tak mengherankan, baru beberapa hari saja Thio Sin Houw merasa betah tinggal dirumahnya Bun Nio.

Pada suatu hari Cin Bun Nio minta kepada Sin Houw untuk memperlihatkan ilmu silatnya ajaran Thio Sin Houw di hadapannya.

Dengan cerman Sin Houw melakukan jurus-jurus ilmu Hok-houw ciang hoat, menyaksikan cara Sin Houw mengalah jurus-jurus Hok-houw ciang, Bun Nio memuji tiada hentinya.

Maka ia menjadi insyaf, bahwa hal itu telah terjadi berkat kecermatan dan ketelitian Thio Hian Cong tatkala memberi pelajaran.

Setelah sepuluh hari berada di rumah itu, Bun Nio menganjurkan kepada Sin Houw agar berlatih dengan sungguh-sungguh pada setiap hari.

Namun ia tak pernah membenarkan atau menyalahkan.

Dengan seksama ia menilik dan mengikuti gerak-gerik sin Houw dalam mengolah liku-iiku intisari ilmu Hok-houw ciang, tetapi sepatah katapun tak pernah terbersit dari mulutnya yang menyinggung tentang latihan itu, Malahan beberapa hari kemudian, jarang sekali ia hadir.

sebaliknya Cie Lan mengganti kedudukannya menemani Sin Houw, tetapi tiba-tiba pada hari kedua belas, Cie Lan dipanggil ibunya, selagi seperti biasanya menemani Sin Houw berlatih sampai rampung.

Thio sin Houw tak pernah menduga jelek.

pastilah ada alasannya mengapa Cie Lan dipanggil ibunya, dan tidak di perkenalkan lagi hadir tatkala dia sedang berlatih.

Mungkin sekali hal itu merupakan pantangan besar bagi seseorang yang melihat orang lain berlatih diri, pada suatu hari Bun Nio datang kepadanya dan berkata.

"Sin Houw, aku hendak pergi sebentar, kau temanilah adikmu Cie Lan. Tetapi jangan kau ajak dia keluar rumah, karena disekitar rumah ini banyak binatang buas."

Bun Nio tidak memberi keterangan kemana dia hendak pergi.

Tetapi sebenarnya dia hendak ke kota untuk membeli dua perangkat pakaian untuk Sin Houw, lantaran pakaian yang dikenakan sudah usang.

Thio Sin Houw patuh kepada pesan Bun Nio, ia menjaga Cie Lan seperti seseorang menjaga adik kandungnya sendiri.

Cie Lan sendiri bersikap manja terhadap sin Houw, ia berlarilarian kesana dan kemari mengajak bermain.

"Tiba-tiba gadis itu berkata.

"Sin Houw koko, marilah kita bermain masak-masakan. Biarlah aku , membeli seekor ayam, kau yang menyembelih nanti!"

Tanpa menunggu persetujuan Sin Houw gadis itu lari keluar rumah.

"Kau hendak mencari ayam dimana?"

Tanya sin Houw.

"Di pekarangan depan. Disana banyak ubi hutan!"

Sahut Cie Lan.

Maka tahulah Sin Houw, bahwa ubi hutan itu diumpamakan sebagai ayam lantas pergi kedapur mencari sebilah pisau.

Bukankah ia telah dianggap jadi tukang sembelih ayam.

Tetapi setelah menunggu sekian lamanya, Cie Lan tidak muncul kembali.

ia jadi tidak sabaran memanggil.

"Cie Lan! Cie Lan!"

Tetapi panggilannya tiada jawaban -jantungnya jadi bertebaran.

Teringat dia akan pesan Bun Nio, bahwa di sekitar rumah itu banyak berkeliaran binatang buas, dengan pisau ditangan ia lari keluar rumah.

Begitu berada di pekarangan, ia menjadi kaget bukan main.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi-besar nampak sedang mengempit Cie Lan dan sedang memutar tubuh hendak pergi.

Keruan saja ia berteriak kalap.

"Heii Kau hendak membawanya ke mana?"

Orang itu tidak menghiraukan.

Dia melompat keluar halaman.

Pada saat itu Thio Sin Houw ikut melesat pula, Anak itu tidak hanya mengejar, tetapi menyerang pula dengan pisaunya.

Keruan saja penculik itu menjadi kaget.

sama sekali ia tak mengira bahwa anak itu bisa menikam, untung Sin Houw tidak bermaksud mengarah jiwanya, ia hanya menikam bagian kaki, justru demikian penculik itu mendongkol dan gusar karena kesakitan!

"Kurang ajar!"

Dia memaki dan menurunkan Cie Lan, Lalu berbalik sambil menghunus goloknya, dan terus menyerang.

Thio Sin Houw tidak takut, dia menangkis dengan tangan kosong.

Tentu saja yang dipukul balik adalah lengan si penculik, itulah salah satu jurus ilmu sakti Hok-houw ciang warisan gurunya, sekali ia menangkis, tangan kanannya ikut segera menyerang.

Heran orang itu, Terpaksa ia harus melayani dan terjadilah suatu perkelahian yang ganjil, seorang terasa bertubuh besar bersenjata golok, bertempur melawan seorang anak belasan tahun bersenjata pisau dapur.

Dalam hal tenaga, tentu saja orang itu menang dua kali lipat, goloknya menerbitkan kesiur angin menderu-deru.

Namun dalam hal kegesitan, Thio Sin Houw jauh lebih menang.

ia menghindarkan bentrokan senjata dengan mengelakkan diri dan disaat-saat tertentu menikam atau menusuk secara tiba-tiba.

Setelah belasan jurus, orang itu jadi sibuk sendiri.

ia heran dan penasaran, mengapa ia tak sanggup mengalahkan seorang pemuda tanggung yang hanya bersenjata pisau dapur saja?

Karena itu ia berkelahi semakin sengit tak ubah sedang berhadapan dengan seorang musuh tangguh.

Goloknya kini terus membabat mengarah kaki.

Bagus sasarannya, tetapi sulit untuk dilakukan -hal itu disebabkan lantaran lawannya lebih pendek dari dirinya sendiri.

untuk dapat menyerang kaki, terpaksalah ia bergulingan ditanah.

Kemudian berjongkok atau membungkuk.

Cara berkelahi demikian sebenarnya menghabiskan tenaga, tetapi Sin Houw belum berpengalaman.

ia menjadi sibuk juga, terpaksa main mundur untuk menghindari ancaman golok lawan.

Cie Lan yang telah bebas, tidak hanya menonton saja, Dia lari ke dalam rumah dan kembali dengan membawa pedang panjang, Dengan senjata itu ia menyerang si penculik dari belakang.

Ternyata ia pandai bersilat dengan pe-dang, walaupun belum mahir.

"Hai, setan! Kau perempuan cilik ikut-ikut campur juga? Apakah kau mau mampus?"

Bentak penculik itu.

Cepat-cepat ia membalikkan tubuh dan mengayunkan goloknya, namun ia tidak menggunakan tenaga sepenuhnya lantaran tidak menghendaki jiwa Cie Lan, ia hanya menangkis agar pedangnya Cie Lan terlepas dari tangannya.

Akan tetapi Cie Lan seorang gadis cerdik, Gerakannya gesit pula, Dia mengelak tangkisan itu sambil melompat kebelakang, lalu maju kesamping dan dengan cepat balas menikam!

Lega hati Thio Sin Houw yang menyaksikan Cie Lan bisa menikamkan pedangnya.

Tadinya ia khawatir melihat majunya gadis cilik itu, setelah melihat serangannya beberapa kali, ia menjadi girang, Terus saja ia membarengi dengan tikaman berantai jurus delapan belas dari ilmu sakti Hok-houw ciang.

Diserang secara berbareng, si penculik menjadi kalangkabut, untuk membela diri terpaksa ia bergerak dengan gesit sekali.

Sin Houw berbesar hati, oleh karenanya serangannya semakin gencar dan hal ini membuat hati si penculik bersyukur Karena meskipun mereka berdua pandai berkelahi, namun baik tenaga maupun keuletannya masih kurang jauh.

Maka dengan sabar ia hanya membela diri saja, dengan mengelakkan berbagai serangan.

Dan dugaannya ternyata benar, beberapa waktu kemudian kegarangan Sin Houw berdua Cie Lan menjadi semakin surut.

Kini mereka berdualah yang bergilir menghadapi serangan balasan.

Tatkala Cie Lan menikam, penculik itu menangkis dengan tenaga penuh.

Demikian hebat tenaganya, sehingga Cie Lan tak dapat mempertahankan diri, pedangnya lantas terpental diudara dan jatuh berkelontangan ditanah.

Melihat Cie Lan terancam bahaya, Sin Houw menerjang dan menikam, buru-buru penculik itu menangkis dan menendang Cie Lan dengan sebelah kakinya.

Kena tendangan itu, Cie Lan menjadi terguling-guling.

Sin Houw kaget dan cemas..Lupa akan penjagaan diri, ia melompat menikam dengan sembarangan saja, Tentu saja hal itu membuat girang si penculik, ia mengelak lalu merangsak dengan goloknya.

Dan menghadapi rangsakan, Sin Houw cepat-cepat mengangkat pisau dapurnya untuk menangkis, inilah bentrokkan yang tak dapat dihindarkan lagi, pisau dapurnya lantas saja terlepas dari tangan dan menancap di tanah selagi terkejut, pergelangan tangannya kena cengkeram pula dan diputar?

Sin Houw kesakitan, Namun dalam kesakitan ia tidak menjadi gugup.

tangan kirinya segera menyelonong masuk menghantam tulang rusuk, Penculik itu kaget bukan kepalang.

Dalam kagetnya ia melepaskan cengkeramannya dan melompat mundur.

Begitu berdiri tegak kembali ditanah, segera ia melesat menyambar Cie Lan dan dikempitnya.

Kemudian ia memanjangkan langkah.

Walaupun sedang kesakitan, begitu melihat Cie Lan kena dibawa lari, Sin Houw menjadi kalap.

Segera ia memungut pisau dapurnya lagi yang tertancap di tanah, kemudian lari mengejar sambil berteriak.

"Hai, jangan lari!"

"Akh, setan cilik! Apakah kau tak sayang jiwamu?"

Si penculik memaki.

Dengan tangan kiri mengempit Cie Lan, tangan kanannya menggerakkan goloknya sambil membalikkan tubuhnya, ia harus melayani Sin Houw yang sudah dapat mengejarnya, setelah bertempur lima enam jurus, Sin Houw kena dibacok bagian pundaknya.

"Bagaimana? Apakah kau masih membandel?"

Bentak penculik itu. Thio Sin Houw benar-benar tak mengenal takut. Bajunya robek dan pundaknya mengalirkan darah. Namun ia menjawab dengan garang.

"Lepaskan Cie Lan! Dan aku tidak akan mengejarmu lagi!"

Tentu saja penculik itu tidak menghiraukan ocehannya, ia memutar tubuh dan memanjangkan langkahnya.

Dan Sin Houw tetap mengejarnya sambil terus berteriak-teriak, Akhirnya penculik itu menjadi habis sabar, dan timbullah pikirannya.

"Jika aku tidak membunuhnya, aku akan diganggunya terus-menerus,"

Memperoleh pikiran demikian, ia berhenti dan memutar tubuhnya, dengan goloknya ia menyongsong serangan Sin Houw, ia kini tidak mau berkelahi setengah hati -baru beberapa gebrakan saja lagi lagi pisaunya Sin Houw kena dipentalkan jatuh ditanah.

Terus saja ia menendang -sehingga Sin Houw menjadi terguling.

Setelah itu ia mengayunkan goloknya hendak menghabiskan jiwanya, Cie Lan yang berada dalam kempitannya, melihat ancaman bahaya itu.

Dengan mati-matian ia menggelendoti lengan penculik itu dan menggigitnya.

Karena gigitannya, penculik itu kesakitan sehingga berteriak.

Dan bacokkannya menjadi gagal pula.

Dan inilah kesempatan yang bagus bagi Sin Houw.

Anak itu segera membuang diri dengan bergulingan di tanah, lalu kembali merangkak-rangkak memungut pisaunya.

Tentu saja penculik itu mendongkol bukan main, Dengan penuh dengki ia menjewer telinga Cie Lan, lalu kehilangan serangannya yang tadi kena digagalkan.

Karena sudah berpengalaman, dengan mudah saja ia dapat melukai Sin Houw.

Kali ini jidat anak itu yang termakan golok, sehingga mengalirkan darah.

Menimbang bahwa karena luka itu Sin Houw tidak akan dapat berdaya banyak lagi, penculik itu segera memutar tubuh hendak kabur secepat-cepatnya.

Akan tetapi Sin Houw benar-benar berani dan bandel, ia melompat dan menubruk kaki si penculik yang terus dipeluknya erat-erat.

Karena kehilangan pisau dapurnya, ia kini menggunakan ketajaman giginya.

Meniru Cie Lan, ia menggigit kaki penculik itu sekuat tenaganya.

Penculik itu berkaing-kaing kesakitan sambil memaki-maki kalang kabut.

Dengan geram ia mengangkat sebelah ka kinya dan diinjakkan ke kepala Sin Houw, Kemudian menendangnya dengan sekuat tenaga, Dan kena tendangan itu Sin Houw terpental menggabruk tanah.

Penculik itu sudah terlanjur membencinya, terus saja ia mengejar.

Dengan golok ditangan ia bermaksud membunuhnya.

Untunglah pada detik-detik yang sangat berbahaya bagi Thio Sin Houw terdengarlah suara kesiur angin.

Dan tahu-tahu kepala penculik itu terbentur sebuah benda yang membeletuk.

Penculik itu terkejut, ia menoleh dan melihat Cin Bun Nio sedang mengayunkan senjata bidiknya yang kedua.

Ternyata, senjata bidik itu adalah sebutir telur.

Pantaslah begitu membentur kepalanya menerbitkan suara membeletuk -ia menjadi kuncup hatinya, terus saja meninggalkan Sin Houw dan kabur secepatnya dengan masih mengempit Cie Lan.

Tentu saja Bun Nio tidak membiarkan penculik itu kabur dengan membawa puterinya.

ia melepaskan sambaran telurnya yang ketiga.

Kali ini tepat mengenai mata kiri.

Penculik itu menjadi gelagapan, Meskipun hanya sebutir telur, akan tetapi timpukan itu cukup keras, sehingga matanya berkunang-kunang, ia jadi gusar, terus saja ia melepaskan Cie Lan, Tangan kirinya mengucak matanya yang terkena pecahan telur, ia maju menyerang dengan golok ditangan kanan.

Cin Bun Nio tak bersenjata, ia melayani serangan si penculik dengan kelincahan tubuhnya.

Dalam pada itu Sin Houw sudah merayap bangun.

segera ia memungut pisau dapurnya kembali.

Tanpa memperdulikan luka-lukanya, ia maju menyerang membantu Bun Nio.

Semangat tempurnya makin lama makin menyala, dan tidak takut segala akibatnya.

Cie Lan juga tidak tinggal diam.

Teringat akan pedangnya yang tertinggal dipekarangan rumah tatkala kena gempur penculik itu, segera ia lari mencarinya dan datang kembali dengan membawa pedang itu.

Karena didesak Sin Houw, penculik itu tak dapat lagi memusatkan serangannya kepada Bun Nio seperti semula, Bun Nio jadi memperoleh kesempatan untuk menerima pedang Cie Lan.

Dengan pedang ditangan, ia tak ubah seekor harimau tumbuh sayap.

Namun ia seorang wanita penyabar, tak mau segera turun ke gelanggang menggunakan pedangnya, ia menjumput tiga buah batu dan ditimpukkan, membuat si penculik jadi kerepotan setengah mati, Hampir saja ia ke na tikam pisau dapur Sin Houw.

Selagi penculik itu terpaksa mundur, Bun Nio berkata dengan suara sabar.

"Ouw Lo Sam! selagi aku tiada di rumah, mengapa kau hendak menculik anakku? Apakah itu perbuatan seorang lakilaki?"

Bun Nio tidak memberi kesempatan Ouw Lo Sam menjawab tegurannya, dengan pedang ditangan ia menyerang, Dan Ouw Lo Sam menjadi sibuk tak keruan.

cepat cepat ia menendang Sin Houw, Bocah itu roboh terguling, kemudian ia melayani serangan Bun Nio dengan sungguhsungguh.

Bun Nio nampaknya sedang gusar, ia berkelahi dengan hebat.

setelah melakukan serangan beberapa kali, berhasil dia melukai pundak Ouw Lo Sam.

Ouw Lo Sam jadi berteriak kesakitan, dan karena kesakitannya itu maka gerakannya jadi lambat.

Bun Nio tidak sia-siakan kesempatan sebagus itu, terus saja ia mendesak dan menghantam golok Ouw Lo Sam.

Kena hantamannya, golok itu terlepas dari tangannya, dan buruburu ia melompat sambil berseru.

"Aku berbuat demikian, semata mata melakukan perintah suamimu. Kau hendak membunuhku, nah bunuhlah! Tetapi aku akan mati penasaran. Apabila aku menjadi setan, akan tetap mencarimu dimana saja kau berada!"

Sepasang alis Bun Nio berdiri tegak.

Dengan wajah merah karena marah, pedangnya menikam.

Ouw Lo Sam agaknya sudah menduga demikian.

Cepat-cepat ia menjejakkan kakinya dan melesat mundur, kemudian lari tungganglanggang menuruni gunung.

Bun Nio tidak mengejarnya.

Dengan menyarungkan pedangnya ia berbalik dan mendekati Cie Lan berdua Sin Houw.

ia bersyukur karena Cie Lan sama sekali tidak terluka, tetapi Sin Houw mandi darah, cepat-cepat ia membimbingnya pulang.

Dengan tangannya sendiri ia membersihkan luka-lukanya, dan mengobati dengan bubuk kuning semalam.

Anak itu ternyata mendapat dua luka, syukur lukanya tidak berbahaya.

Benar ia mengeluarkan banyak darah, tetapi tidak sampai membahayakan jiwanya.

"Kau rebah saja di pembaringan"

Kata Bun Nio dengan suara terharu. Cie Lan segera menceritakan pengalamannya. Dan mendengar tutur kata puterinya, hati Bun Nio kian terharu. pikirnya didalam hati.

"Sama sekali tak kusangka bahwa dia berhati mulia. Dia masih begini muda, akan tetapi gagah sekali. Kalau begitu aku harus menolongnya, agar mendapat seorang guru yang tepat untuk menjangkau masa depannya."

Oleh pikirannya itu, ia berkata kepada Sin Houw.

"Sin Houw, kau tidur saja baik-baik, sebentar malam kita berangkat."

Baik Cie Lan maupun Sin Houw heran mendengar perkataan Bun Nio.

sebenarnya mereka hendak minta keterangan, akan tetapi Bun Nio telah masuk kembali berkemas-kemas.

ia mempersiapkan dua bungkusan, dan menunggu datangnya petang hari.

setelah makan petang, bertiga mereka duduk menghadapi lilin, pintu tidak dikuncinya.

Bun Nio nampaknya seorang wanita gagah yang tidak gentar menghadapi ancaman bahaya apapun.

Kira-kira menjelang malam hari tiba-tiba terdengarlah langkah kaki memasuki pekarangan rumah.

Temyata dia adalah Nie Un siang, si bisu yang baik hati, ia nampak angker berwibawa dan langkah kakinya ringan sekali.

jelaslah bahwa ia memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Bun Nio menyambut kedatangannya dengan berdiri dari tempat duduknya, ia bicara dengan Un siang dengan menggerakkan kedua tangannya.

Un siang rupanya mengerti akan isyarat tangan Bun Nio, dia manggutkan kepalanya.

"Ke mana kau bawa Thio susiok?"

Tanya Sin Houw minta keterangan.

"Apakah dia tertolong?"

Bun Nio segera menterjemahkan pertanyaan Sin How. setelah memperoleh jawaban Bun Nio ewakili Un siang -katanya.

"Dia dalam keadaan baik. jangan kau mengkhawatirkan. sekarang perkenalkan aku bicara denganmu."

Bun Nio mengajak Sin Houw masuk ke dalam kamar. Dia duduk diatas ranjang, sedangkan Sin Houw berdiri didepannya.

"Sin Houw, duduklah disampingku."

Kata Bun Nio sambil menarik tangan Sin Houw.

"Begitu aku melihat dirimu, entah apa sebabnya hatiku berkenan sekali. itulah sebabnya kau kupandang tak ubah anak kandungku sendiri. Tadi kau telah berkorban demi Cie Lan, itulah budimu yang pertama kali yang tak akan kulupakan selama hidup. Malam ini kami hendak pergi ke suatu tempat yang jauh sekali, karena itu pergilah kau bersama Nie susiokmu."

"Oh, jadi subo tidak mengajak aku bersama?"

Sin Houw heran.

"Kukira subo tadi bermaksud mengajak aku pergi."

Bun Nio menarik napas panjang.

"Sebenarnya tak sampai hatiku untuk berpisah denganmu,"

Sahutnya.

"Tetapi aku ingin Un siang membawamu kepada seseorang. Dialah guru dari Thio susiokmu. Baru beberapa bulan saja ia belajar ilmu kepadanya, ternyata dia sudah memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, orang itu mempunyai ilmu kepandaian yang tiada bandingnya didunia ini, dan aku menghendaki kau berguru kepadanya."

Mendengar perkataan Bun Nio, Sin Houw terdiam. Hanya hatinya tergerak. Tatkala hendak membuka mulutnya, Bun Nio meneruskan.

"Seumur hidupnya orang itu hanya mempunyai dua orang murid saja, Hal itu terjadi pada belasan tahun yang lampau. walaupun demikian, sampai kini dia belum mau menerima seorang murid lagi, Kau seorang yang berbakat, hatimu mulia pula, Aku percaya, dia pasti akan menerimamu sebagai muridnya. Un siang itu hanya pelayannya. itulah sebabnya, dengan perantaraannya aku me-ngirimkan kau kepadanya. Kau pergilah dengannya. seumpama orang itu tidak sudi menerimamu sebagai muridnya, Un siang akan membawamu kembali kepadaku. Sampai disitu Sin Houw telah mengambil keputusan, dia memanggut.

"Bagus!"

Seru Bun Nio gembira.

"sebelum bertemu dengan orang itu, baiklah kuberitahukan tentang tabiatnya, ia seorang aneh, seumpama engkau tidak patuh kepadanya, segera ia membencimu sampai tujuh turunan, sebaliknya andaikata kau terlalu menurut, diapun mencelamu habis-habisan. Dan pastilah kau akan dikatakan sebagai seorang anak yang sama sekali tak mempunyai semangat hidup. Maka segala-galanya kini tinggal terserah kepada nasibmu belaka."

Bun Nio kemudian melepaskan sebuah gelangnya, dan dikenakan pada pergelangan tangan Sin Houw, ia memijitnya sedikit, sehingga gelang itu tidak akan lepas lagi dari pergelangan tangan anak itu.

"Dikemudian hari apabila kau sudah selesai belajar, kau akan menjadi seorang pemuda yang tinggi besar."

Kata Bun Nio dengan tersenyum "janganlah kau melupakan aku dan adikmu, Cie Lan."

"Akh, subo."

Sahut Sin Houw sungguh-sungguh.

"Andaikata aku diterima sebagai muridnya, aku mohon dengan sangat, pada waktu senggang hendak lah subo mengajak Lannoay datang menjengukku. Sepasang mata Bun Nio mengalirkan air mata, hatinya terharu. jawabnya.

"Baik, aku akan selalu teringat kepadamu."

Bun Nio kemudian menulis sepucuk surat yang kemudian diserahkan kepada Un Siauw, setelah perbekalan selesai disiapkan, segera ia berkata memutuskan.

"Marilah kita sekarang berangkat."

Berempat mereka keluar rumah, sesampainya diluar halaman mereka berpisah dalam dua jurusan, masing-masing dengan tujuannya sendiri.

Cie Lan bersama ibunya mengarah ke timur, sedangkan Un siauw mengajak Sin Houw mengarah ke barat.

Berat rasa hati Sin Houw berpisah dengan Cie Lan.

inilah perpisahan yang memilukan untuk yang keenam kalinya.

Yang pertama tatkala ia berpisah dengan kakek gurunya, yang ke dua dengan siang Gie Coen, yang ketiga dengan ke-empat gurunya.

Yang ke empat dengan Hong Kiauw, Yang kelima dengan Thio Hian Cong dan yang ke-enam dengan Bun Nio berdua Cie Lan.

Un siang tahu bahwa Sin Houw mengeluarkan darah banyak ketika menderita luka, karena itu ia memondongnya dan dibawanya lari cepat tanpa perduli jalan pegunungan sempit dan licin.

Kakinya melesat dengan gesit sekali dan ia melakukan perjalanan pada waktu siang maupun malam.

Ia baru berhenti beristirahat pada larut malam -tetapi bukannya berhenti ditempat penginapan atau dirumah seseorang, melainkan ditengah-tengah tegalan atau dalam goa.

Kalau ia memasuki pedusunan atau kota semata-mata hanya untuk membelikan barang makanan bagi Sin Houw, Dia sendiri hanya mengisi perutnya sekenanya saja.

Seringkali Thio Sin Houw minta keterangan tentang dusundusun yang di laluinya atau ke mana arah tujuannya, tetapi Un siang hanya menjawab dengan menudingkan tangannya kearah depan.

Setelah tiga hari melakukan perjalanan maka jalan yang di tempuhnya makih lama makin menjadi sulit.

Pada waktu itu sampailah dia disebuah pinggang gunung terjal.

jalanan hampir boleh dikatakan tiada.

untuk maju terus, Un siang menggunakan kedua tangannya merayap atau merangkaki tebing.

Kadang-kadang ia merambat lewat akar-akar pepohonan.

pada waktu itu Sin Houw dapat menggunakan kesempatan untuk melongok kebawah, Hatinya ngeri luar biasa, karena dibawah kakinya adalah jurang yang dalamnya entah berapa ratus meter, Tak terasa ia memeluk leher Un siauw erat-erat karena takut terlepas.

Dalam hatinya ia berdoa panjang dan pendek.

Betapa Tidak?

sekali terperosok mereka berdua bakal jatuh di dalam jurang yang sangat dalam, dan tamatlah riwayat hidupnya!

***** HAMPIR seharian lamanya Un siang memanjat dan merangkaki tebing tebing terjal, dan menjelang petang hari sampailah mereka disebuah puncak gunung yang tinggi.

Sin Houw diturunkan di atas batu, waktu itu luka-lukanya sudah menjadi kering, hanya diatas alisnya masih tertinggal luka kecil.

Karena itu gerakan kaki dan lengannya tak terhalang lagi, Begitu berdiri di atas batu, segera ia melayangkan penglihatannya.

Didepannya tergelar sebidang tanah lebar dengan dipagari hutan hutan cemara yang tinggi-tinggi, Kesannya sangat indah dan menyenangkan.

Setelah beristirahat sejenak, Un siang memondongnya lagi, Kemudian melanjutkan perjalanan.

Hanya sekali ini ia tidak berlari-lari lagi seperti semula.

setelah melewati enam rumah batu, ia tersenyum gembira.

Kesannya seperti seorang perantau yang melihat kampung halamannya kembali.

Di depan sebuah rumah batu, Un siang membimbing Sin Houw masuk ke dalam pekarangannya.

Lantai rumah batu itu kotor dan banyak kayu-kayu yang malang melintang, itulah suatu tanda bahwa rumah itu lama tiada penghuninya.

Segera Un siang menyapunya, sekarang rumah batu itu nampak rapi dan menyenangkan.

Terus saja sia menyalakan api dan memasak air serta nasi.

Puncak gunung itu tinggi.

perjalanannya sangat sukar pula.

Entah bagaimana caranya Un Siang dapat menyediakan beras dan lauk-pauk yang dibutuhkan, Sin Houw cerdas, tetapi tak mampu menjawab pertanyaan itu.

Tiga hari tiga malam lamanya Sin Houw berada dalam rumah batu itu dengan Un siang.

Bagi Sin Houw hal itu merupakan suatu siksaan sendiri karena Un siang tak dapat diajak berbicara, Setelah menjelang hari keempat ia jadi gelisah.

Dengan gerakan tangannya, ia mencoba berbicara dengan Un siang.

ia mencoba minta keterangan kepadanya kapan kiranya datang sang guru yang di janjikan.

Un siang agaknya mengerti pertanyaan Sin Houw, Dia menunjuk ke bawah gunung.

Mengira bahwa guru yang dijanjikan itu berada dibawah gunung, Sin Houw segera mengajak.

"Mari kita turun saja!"

Akan tetapi Un siang menggelengkan kepalanya, maka terpaksalah Sin Houw berdiam saja, Hatinya sangat masgul, hal itu disebabkan karena ia merasa kesepian.

Kalau saja dia bisa mengajak Un siang bicara, hatinya agak terhibur meskipun berada ditempat yang sunyi.

Pada suatu malam ia menjadi terkejut ketika tersadar dari tidurnya.

Didepan matanya berkelebat cahaya terang, segera ia menggeliat dan duduk di tepi pembaringan.

Di depannya berdiri seorang tua membawa lilin menyala, orang tua itu berseri-seri wajahnya, tanda hatinya girang.

Dasar otaknya cerdas, Sin Houw cepat-cepat turun dari pembaringan.

lantas saja bersimpuh dihadapannya sambil berkata.

"Suhu! Akhirnya suhu datang juga."

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak, sahutnya.

"Eh, siapa yang mengijinkan kau memanggilku sebagai suhu? Bagaimana kau bisa yakin bahwa aku akan menerimamu sebagai murid?"

Sin Houw girang bukan kepalang. oleh perkataan orang tua itu, jelaslah sudah bahwa dia bakal diterima sebagai murid, segera ia menjawab.

"Subo yang mengajari aku."

"Hm!"

Orang tua itu mengeluh.

"Artinya dia menambahi kesulitan lagi kepadaku."

Setelah menggerutu demikian, tibatiba ia tersenyum. Katanya.

"Baiklah, mengingat mendiang ayahmu, aku bersedia menerimamu sebagai murid."

Bukan kepalang girang Sin Houw, Terus saja ia bersembah beberapa kali, tetapi orang tua itu mencegahnya. Katanya.

"Cukupl cukup! sampai besok saja."

Pada keesokan harinya, sebelum terang tanah Sin Houw sudah bangun dari tidurnya.

segera ia mencari Un siang.

Dan melihat kedatangannya, Un siang girang bukan kepalang.

untuk menyatakan kegirangannya yang meluap-luap, ia mengangkat tubuh Sin Houw dan dilemparkan tinggi-tinggi di udara dan menanggapi dengan tangannya.

Empat lima kali ia berbuat demikian, sehingga Sin Houw terapung-apung di udara.

Sin Houw tahu bahwa Un siang ikut bergirang hati, karena dirinya diterima menjadi murid.

Lantas saja ia tertawa.

Guru besar itu segera keluar dari kamarnya, begitu mendengar suara tertawa riuh.

menyaksikan perbuatan si bisu, ia menghampiri.

Berkata kepada Sin Houw.

"Bagus! Kau masih begini muda, tetapi kau mengarti berbagai perbuatan mulia dan gagah. Kau telah menolong seorang perempuan. sebelum kau mengenal namaku, coba perlihatkan kepadaku, kepandaian apa yang telah kau miliki."

Thio Sin Houw menundukkan kepalanya, wajahnya merah karena malu, ia segan memperlihatkan ilmu kepandaiannya dihadapan orang tua itu.

"Jika kau tidak sudi memperlihatkan ilmu kepandaianmu, bagaimana aku bisa mengajari dirimu?"

Kata orang tua itu sambil tertawa. Sekarang barulah Sin Houw mengarti maksud orang tua itu, terus saja menyahut.

"Baiklah, suhu."

Setelah berkata demikian, ia mulai memperlihatkan ilmu sakti Hok-houw ciang yang diperolehnya dari ke gurunya dan dari Thio Hian Cong, Orang tua itu mengawasi dengan pandang berseri-seri, dia menunggu sampai Sin Houw selesai dengan jurus yang terakhir, kemudian barulah dia tertawa.

Katanya.

"Pantas saja Hian Cong selalu memuji kecerdasanmu. Mulanya aku tidak percaya."

Katanya.

"Dia baru mengajarkan jurus-jurus Hok-houw ciang baru beberapa hari saja kepadamu, nyatanya kau bisa melakukan begini rupa. Bagus!"

Mendengar disebutnya nama gurunya -Thio Hian Cong, maka Sin Houw tergerak hatinya, sebenarnya ingin segera ia memperoleh keterangan tentang gurunya, tetapi karena orang tua itu masih berbicara tak berani ia memutus.

"Sekarang, bolehlah kau mengenal namaku."

Kata orang tua itu. Sin Houw masih diam mendengarkan tanpa berani mengucap apa-apa, meskipun gurunya menunda bicara, ia membiarkan sampai gurunya yang menyambung bicara.

"Aku adalah she Bok, Dikalangan Rimba persilatan, orangorang menyebut aku sebagai Pat-jin Sin-wan, Kau harus camkan baik-baik, Lain kali apabila ada orang menanyakan nama gurumu kau harus menjawab tidak tahu!"

Sin Houw membungkuk hormat, kemudian dia minta keterangan.

"Suhu tadi menyebut nama Thio susiok, dimanakah dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja?"

Orang tua itu mengerinyitkan dahinya, Biasanya hatinya tidak senang apabila seseorang mengalihkan pembicaraan dengan tidak mendapat persetujuannya, Akan tetapi mengingat anak itu sangat memikirkan keselamatan gurunya, diam-diam ia menaruh perhatian.

pikirnya didalam hati.

"Benar, dia seorang anak yang mulia hatinya. Sama sekali ia tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Yang ditanyakan adalah keadaan gurunya dahulu,". Kemudian ia menjawab.

"la tak kurang suatu apa. ia sudah kembali kepada pasukannya, kini berada bersama-sama dengan Thio Su Seng."

Thio Sin Houw girang bukan main, Hanya saja hatinya menyesal karena tak dapat bertemu lagi dengan gurunya itu, yang telah mewariskan ilmu sakti Hok-houw ciang kepadanya.

"Baiklah,"

Kata orang tua itu.

"Karena kau sudah mengenal namaku, dan akupun telah menerimamu sebagai murid, marilah kita melakukan upacara di dalam."

Apa yang dinamakan upacara, bukanlah semacam upacara sembahyang.

Tetapi orang tua itu hanya mengeluarkan selembar kertas lukisan seorang ksatria beroman alim dan agung.

sambil menyulut lilin ia berkata.

"Inilah gambar Cie Couw Suya, ia pendiri dari golongan Hoa-san pay. Hayolah, kau sekarang berlutut dan menjalankan penghormatan!"

Thio Sin Houw segera bersimpuh di hadapan gambar itu. ia bersembah berulangkali tiada hentinya, sehingga membuat orang tua itu tertawa terbahak-bahak. Katanya.

"Sudahlah, cukup!"

Masih saja ia tertawa atau tiba-tiba Sin Houw berlutut kepadanya sambil berkata.

"Suhu!"

Mau tak mau orang tua itu atau Pat-jiu Sin-wan Bok Jin Ceng menerima sembah calon muridnya itu. Katanya.

"Mulai saat ini kau adalah muridku yang syah, sebelum kau tiba di sini, aku mempunyai dua orang murid. Dengan demikian kau adalah muridku yang ke tiga. Terpautmu sangat jauh dengan ke dua kakak seperguruanmu itu. Hal itu disebabkan karena belasan tahun lamanya aku belum menemukan calon murid yang berbakat seperti kau, Kini sudah kuputuskan bahwa kau menjadi murid penutup, karena itu kau harus belajar sungguh-sungguh agar di kemudian hari kau bisa menjaga martabat perguruanmu. Thio Sin Houw manggut berulangkali, janjinya.

"Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan kehendak suhu, dan mudah-mudahan Tuhan mengabulkan pula kepadaku untuk bisa menjunjung tinggi martabat perguruan suhu."

Pat-jiu Sin-wan Bok Jin Ceng adalah rekan sejaman dengan Tie-kong Tianglo, ia malang-melintang dua puluh tahun lamanya tanpa tandingan.

Karena tak senang menjual lagak, namanya tak begitu tersohor, ia tidak memperdulikan hal itu, dia malahan menjadi seorang pendekap yang senang hidup menyendiri.

Tetapi terhadap Sin Houw tiba-tiba timbullah rasa ibanya.

Anak itu yatim piatu, pantaslah dia harus dikasihani.

Demikianlah pikirnya didalam hati, sebagai seorang pendekar besar, sudah tentu ia mendengar berita tentang kegagahan Thio Kim San.

ia kagum dan menghargai ayahnya Sin Houw itu.

Anak itupun berbakat bagus dan berotak cerdas, serta tabiatnya mulia pula, oleh pertimbangan-pertimbangan itulah, mendadak saja lenyaplah tabiat anehnya.

ia tidak hanya menerima Sin Houw sebagai muridnya saja, akan tetapi bersedia bersenda gurau pula.

"Kedua kakak seperguruanmu berusia jauh lebih tua dari padamu. umurnya kini barangkali tigapuluh lima tahun lebih."

Kata Bok Jin Ceng.

"Malahan murid mereka ada diantaranya yang telah berusia lebih tua dari padamu, maka bisa kejadian mereka akan menyesali aku lantaran aku menerima seorang murid begini muda. Celakanya lagi, apa bila kau tidak berhasil. Umpama kata kau kalah ketika diadu dengan murid-murid mereka, kedua kakak seperguruanmu pasti akan mencela aku!"

"Suhu, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh."

Kata Sin Houw dengan semangat menyala. Kemudian mengalihkan pembicaraan.

"Apakah Thio susiok murid suhu juga?"

"Dia hendak ikut Thio Su Seng berperang,"

Jawab Bok Jin Ceng.

"Tiada waktunya untuk belajar lama-lama kepadaku, sehingga aku hanya mengajari ilmu pukulan Hok-houw ciang saja, Karena itu tak dapat dia disebut sebagai muridku."

Ia berhenti sebentar memalingkan pandangnya, sambil menuding ke pada Un siang, ia meneruskan.

"Lihat pulalah dia. setiap kali kita berlatih, dia ikut menyaksikan. Diam-diam ia menyimpannya didalam ingatannya. Apa yang di ingatnya bukan sedikit, walaupun demikian apabila dibanding dengan kedua muridnya, bedanya seperti bumi dan langit!"

Mendengar perkataan Bok Jin Ceng, maka Thio Sin Houw tercengang oleh rasa kagum, Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa perkasa si bisu itu.

Kepandaiannya tinggi, meskipun demikian dia hanya seorang pelayan yang dapat memiliki ilmu kepandaiannya itu dengan cara mencuri pandang saja.

Gurunya sendiri, Thio Hian Cong, hanya memperoleh ilmu pukulan Hok-houw ciang -meskipun demikian gurunya itu seorang pendekar tangguh dan gagah sekali.

Jika ilmu kepandaian mereka berdua hanya dikatakan sebagai satu kepandaian sambil lalu saja, maka betapa tinggi ilmu sakti Bok Jin Ceng, sudah dapat dibayangkan.

Diam-diam ia berpikir didalam hati.

"Jika aku belajar dengan sungguh-sungguh, meskipun tidak dapat menjajari kedua kakak seperguruanku, setidaktidaknya aku akan bisa memiliki kepandaian setaraf dengan Nie susiok. Kurasa itupun sudah cukup untuk kubuat bekal membalas dendam kematian ayah dan ibuku,"

Oleh pikiran itu, ia menjadi girang sekali.

"Rumah perguruan kita ini adalah dari golongan Hoa-san pay,"

Kata Bok Jin Ceng meneruskan keterangannya.

"Kami kaum Hoa-san pay mempunyai peraturan yang keras, serta ada pula pantangannya. Yakni pantang berbuat cabul, pantang melakukan kejahatan, pantang menjadi kaki-tangan bangsa asing atau musuh negaxa. pantang melakukan pekerjaan sebagai seorang piauwsu atau pengantar barang kiriman dan lain-lainnya, Dikemudian hari akan kujelaskan lebih lanjut lagi. sekarang, camkan segala pesanku ke dalam perbendaharaan hatimu. Yang pertama, kau harus patuh kepada perkataan gurumu! Dan yang kedua, jangan melakukan hal-hal yang tercela."

"Pasti aku akan patuh kepada setiap perkataan suhu, dan aku berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang buruk."

Kata Sin Houw dengan suara berkobar-kobar. Bok Jin Ceng girang mendengar Sin Houw memberikan janjinya, serunya.

"Bagus, anakku! sekarang, marilah kita mulai berlatih! Thio Hian Cong mengajari ilmu pukulan Hok-houw ciang dengan selintasan saja. sebenarnya ilmu pukulan yang diajarkan kepadamu itu serupa dengan seseorang yang menyekat jalan panjang. Apabila kau tidak mulai dari ujungnya atau tidak kau selami dari titik pangkalnya, dikemudian hari kau tidak akan memperoleh kesempurnaan. Karena itu, kini aku akan mengajakmu dengan ilmu Tiang-kun sip-toan kim."

"Dulu pernah aku memperoleh pelajaran ilmu itu dari suhu Ouw Sam Ciu!"

Seru Sin Houw heran.

"Ch, begitu? Umpama kata benar demikian, kukira belum berarti."

Kata Bok Jin Ceng.

"Apakah kau sudah merasa dapat mempergunakan ilmu Tiang-kun Sip toan kim? jika merasa begitu, kau keliru sekali. Sebab, jika kau sudah mahir memainkan ilmu Tiang-kun Sip-toan kim, hanya beberapa orang saja yang dapat mengalahkanmu ..."

Thio Sin Houw tercengang, ia percaya keterangan gurunya itu, sehingga ia tak berani lagi membuka mulut.

"Apakah kau kurang yakin?"

Tanya Bok Jin Ceng.

"Coba, kau lihatlah. setelah itu kau tirukan!"

Setelah berkata demikian, Bok Jin Ceng lantas memberi contoh jurus-jurus ilmu Tiangkun sip-toan kim.

Dan Sin Houw dengan penuh perhatian mengikuti setiap gerakan Bok Jin Ceng, semuanya mirip.

Sama sekali tiada bedanya dengan ajaran dari Ouw Sam Ciu.

ia jadi heran dan tidak mengerti, apakah kehebatannya ilmu itu?

sedang Sin Houw sibuk berpikir pulang balik, Bok Jin Ceng menegur.

"Apakah kau mengira aku membohongimu? Mari, kau coba. Kau seranglah aku! Apabila kau bisa menyentuh ujung bajuku saja, anggaplah kau sudah mahir."

Tentu saja Thio Sin Houw tak berani menyerang gurunya, ia hanya ber-senyum saja, Dan sama sekali tak bergerak dari tempatnya.

"Hayo, maju! Aku sudah mengajakmu salah satu jurus ilmu Tiang-kun Sip toan kim."

Mendengar bahwa gurunya mulai hendak memberikan pelajaran, Thio Sin Houw lantas saja melompat masuk ke dalam gelanggang.

Dengan serta merta ia menyambar baju gurunya yang berpakaian seperti pendeta.

Menurut perasaannya, ia bakal berhasil menyentuhnya.

Alangkah herannya, setiap kali tangannya nyaris menyentuh ujung baju, mendadak saja ujung baju itu mundur sendiri.

ia lantas melompat menerkam, tetapi justru demikian, ia kehilangan pengamatan -tiba-tiba saja gurunya lenyap dari depannya.

"Aku disini!"

Seru gurunya sambil tertawa, tangannya menerkam pundaknya.

Ternyata ia berada dibelakang punggungnya.

Sin Houw mengasah otaknya, dan cepat-cepat ia memutar tubuhnya.

Kemudian dengan berjumpalitan ia menghampiri.

Gerakannya gesit sekali, kedua tangannya dipentang untuk memeluk.

Tetapi ia hanya memeluk udara kosong melompong, sama sekali tubuh gurunya tak dapat disentuhnya.

Dan apabila ia berpaling, gurunya telah berada kira-kira sepuluh langkah dibelakang punggungnya.

Thio Sin Houw jadi penasaran.

ia melompat sekali lagi dengan gesit.

Tapi langsung kedepan, Dan pada saat itu, tibatiba mengebaskan lengan bajunya, dan tubuhnya ikut melesat.

Dengan begitu ia menghindarkan terkaman Sin Houw, sehingga anak itu hanya menangkap angin.

Sekalipun begitu Thio Sin Houw tidak menjadi putus asa.

Lantaran mendongkol, ia malahan jadi bersemangat.

Kini ia tertawa gembira.

ia mengejar, membiluk dan mengikuti gerakan gurunya, tiba-tiba ia melihat si bisu menggerakkan tangannya diluar gelanggang.

Diam-diam ia memperhatikan, dan mendadak saja hatinya tergerak.

Katanya didalam hati.

"Nie susiok memerintahkan aku meniru gerakan guru, melakukan ilmu sakti Tiang-kun Sip-toan kim, Mengapa bisa begitu gesit?"

Ia masih mengubar selintasan, kemudian dengan perlahan-lahan ia mulai memperhatikan gerak-gerik gurunya.

Karena otaknya cerdas luar biasa, sebentar saja ia telah dapat memahami semua gerakannya.

setelah merasa diri dapat menirukan, segera ia mencontoh gerakan gurunya.

Lantas saja kegesitannya bertambah beberapa kali lipat.

Bok Jin ceng yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik muridnya, diam-diam manggut-manggut, pikirnya didalam hati.

"Anak ini benar-benar cerdas, ia mengerti apa yang kukehendaki."

Thio Sin Houw memperhebat pengejarannya, karena kini bisa bergerak lebih lincah dan gesit.

Akan tetapi gerakan gurunya pun bertambah gesit lagi, sehingga usahanya untuk menangkap atau menyentuh ujung baju gurunya menjadi siasia belaka.

Tetapi si bisu yang berada diluar gelanggang bergembira karena mereka berdua bergerak bagaikan bayangan saja.

Beberapa saat kemudian, mendadak saja Bok Jin Ceng melompat keluar gelanggang, kemudian berbalik menerkam muridnya dan diangkatnya tinggi tinggi diudara.

serunya sambil tertawa.

"Murid yang baik! Murid yang baik ...! Kau seorang anak manis sekali !"

"Suhu!"

Seru muridnya pula yang menjadi girang luar biasa-"Barulah sekarang aku menyadari bahwa ilmu itu tidak boleh dibuat gegabah."

"Bagus, anakku. cukup sudah untuk hari ini."

Tegas gurunya. ia menurunkan tubuh Sin Houw sambil berkata lagi.

"Sekarang, kau ulangi lagi."

Thio Sin Houw segera mengulangi jurus-jurus ilmu sakti tiang-kun sip toan kinu setelah memperhatikan gerak-gerik Thio Sin Houw beberapa kali, Bok, Jin Ceng kemudian masuk ke dalam kamarnya.

Tetapi Thio Sin Houw tak sudi beristirahat ia berlatih terus sampai belasan kali, sehingga makin lama makin mengerti faedahnya ilmu sakti Tiang kun Sip-toan kim.

Ternyata ilmu itu.

berpokok pada kegesitan dan kecepatan.

Kesadaran ini membuat hatinya bertambah girang, ia begitu girang sampai tak dapat tidur nyenyak pada malam harinya.

Jurus-jurusnya berkelebatan di dalam benaknya, sehingga dalam mimpinya ia sedang berlatih dengan giat.

Pada esok harinya, tatkala fajar hari baru saja menjenguk dilangit timur, Thio Sin Houw sudah bangun dari tidurnya, Terus saja ia melompat dari pembaringannya, dan berlatih mengulangi jurus-jurusnya semalam, ia takut lupa, maka dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian ia berlatih seorang diri, selagi tenggelam dalam latihannya, tiba-tiba ia mendengar batuk gurunya dibelakang punggungnya.

segera ia berputar dan berseru girang.

"Suhu!"

Bok Jin Ceng tertawa lebar. sahutnya.

"Kau telah paham dan mengarti dengan cepat sekali. Bagus, anakku. Tetapi sebenarnya, kau baru mengarti bagian atas, Bagian bawahnya belum. Karena bagian bawahmu masih kosong, maka apabila kau menghadapi seorang lawan tangguh, kau bakal celaka. Beginilah seharusnya..."

Setelah berkata demikian, Bok Jin Ceng lalu menurunkan ilmu sakti Tiang-kun Sip-toan kim bagian bawah. Serunya.

"Sekarang, hayo. Kau tirukan!"

Thio Sin Houw segera menirukan gerakan gurunya.

Berkat kecerdasan otaknya, ia dapat mengarti dengan cepat sekali.

Dengan penuh tekun ia menyelami dan mendalami sehingga dalam waktu satu hari saja, pengertiannya bertambah pesat.

Selanjutnya sejak hari itu tak pernah Thio Sin Houw mengabaikan ajaran gurunya, walaupun sesaat saja.

Tak terasa tiga tahun telah lewat dan usia Sin Houw kini telah mencapai tujuh belas tahun.

Bisa racun yang mengeram didalam tubuhnya sekali-kali terasa lagi, akan tetapi berkat obat pemunah buatan Lie Hong Kiauw, dapatlah ia mengatasi.

Malahan tubuhnya kini menjadi kuat sekali.

ia tumbuh menjadi seorang yang tegap dan gesit gerak geriknya.

Seperti biasanya, Bok Jin Ceng pada waktu-waktu tertentu turun gunung selama dua atau tiga bulan.

setiap kali bepergian, selalu ia mengajari berbagai ilmu sakti.

Apabila pulang ia lantas meniliknya, setelah merasa puas, ia memberikan tambahan lagi.

Demikianlah, hatinya puas karena memperoleh seorang murid yang rajin sekali dan berotak cerdas luar biasa.

Pada suatu hari Bok Jin Ceng mengeluarkan sebuah lukisan.

ia memberi hormat kepada lukisan itu, lalu memerintahkan pula kepada Thio Sin Houw agar berbuat yang sama.

Kemudian berkatalah dia dengan suara terang.

"Sin Houw, masih ingatkah siapa gambar ini? Beliau adalah mendiang kakek guruku, namanya Cie Couw Suya, pendiri rumah perguruan Hoa-san pay ini, Dan tahulah kau apa sebab pada hari ini kau kuperintahkan memberi hormat kepada cikai bakal Hoa-san pay?"

Thio Sin Houw menggelengkan kepala .

Bok Jin Ceng kemudian masuk ke dalam kamarnya, ia keluar lagi membawa sebuah peti kayu berukuran panjang, Peti itu diletakkan diatas meja.

Apabila tutupnya terbuka, berkeredeplah suatu sinar gemerlapan, sinar itu begitu menyilaukan mata, Thio Sin Houw menjenguknya, dan ia kaget tatkala melihat sebatang pedang yang panjangnya hampir satu meter.

"Apakah suhu bermaksud hendak mengajariku ilmu pedang?"

Ia menegas dengan suara gemetar. Bok Jin Ceng manggut, ia mengeluarkan pedang tajam itu, dan memberi perintah dengan suara angker.

"Kau berlututlah! Dan dengarlah perkataanku!"

Hati Thio Sin Houw tergetar, Selama tiga tahun menjadi murid, baru pada hari itu ia mendengar gurunya bersikap angker dengan mendadak. Keruan saja ia lantas berlutut dihadapannya.

"Pedang, adalah raja dari berbagai ratusan macam senjata."

Bok Jih Ceng mulai.

"Tetapi pedang merupakan senjata yang paling sukar diajarkan dan dipelajari. Tetapi kau berotak sangat cerdas, dan hatimu keras pula. Aku yakin, bahwa kau sanggup mempelajarinya. ilmu pedang Hoa-san pay, sudah beralih tiga kali ditangan ahli warisnya, syukur makin lama ilmu pedang Hoa-san pay makin memperoleh kemajuan. Pada umumnya, seorang guru biasanya merahasiakan satu ilmu pukulan yang menentukan terhadap ahli warisnya, untuk berjaga-jaga diri. Dengan demikian ahli waris yang di kemudian hari melahirkan angkatan-angkatan barunya, makin lama makin bertambah kurang kepandaiannya. Syukurlah kita tidak memilih jalan demikian. Kita tidak perlu berjaga-jaga menghadapi murid murtad, asal saja sebelum kita menerima murid, harus mengkajinya benar-benar, setelah memperoleh seorang murid yang tiada celanya, semua rahasia ilmu warisan Hoa-san pay harus diwariskan dengan sepenuhnya. Bahkan dianjurkan agar setiap ahliwaris pedang ini, di kemudian hari harus dapat menambahkan dan melengkapkan ilmu-ilmu sakti yang sudah diwarisinya, Dengan demikian, pada tiga ratus atau empat ratus tahun kemudian, apabila ahli waris Hoa-san pay melahirkan zaman baru, jadi bertambah maju, ilmu pedang kita memang sulit untuk di pelajari, tetapi apabila kau sudah memahami, di dunia ini tiada tandingnya. Mulai pada hari ini, aku hendak mengajarimu ilmu pedang, Akan tetapi kau harus bersumpah terlebih dahulu, bahwa kau tidak akan membunuh seseorang yang tidak berdosa atau bersalah!"

Sambil berlutut Sin Houw menyahut.

"Pada hari ini, suhu hendak mewariskan ilmu pedang kepadaku, Apabila dibelakang hari aku membunuh seseorang yang sama sekali tidak bersalah atau berdosa, biarlah aku terbunuh pula oleh seseorang."

"Bagus!"

Seru gurunya.

"Nah, bangunlah !"

Thio Sin Houw bangun dan berdiri dengan tegak. Kata gurunya lagi.

"Aku tahu kau berhati mulia, tidak bakal kau membunuh seseorang tanpa alasan tertentu, Hanya saja masalah dunia ini sangat rumit, Benar dan salah sukar dibuktikan, hanya tulen dan palsu lambat-laun akan kau ketahui juga. Karena itu mulai saat ini kau harus belajar bisa membedakan antara yang benar dan yang palsu. Asal hatimu jujur, bersih dan penuh cinta kasih pada setiap insan, aku percaya di kemudian hari kau tidak akan main bunuh terhadap seseorang yang sama sekali tidak bersalah atau berdosa. Karenanya kau ingatingatlah pesanku tadi, jujur -bersih dan cinta kasih! Thio Sin Houw memanggut.

"Sekarang, kau lihatlah!"

Akhirnya Bok Jin Ceng mengakhiri perkataannya.

Dengan sebat ia memegang hulu pedang dengan tangan kanannya.

Kemudian tangan kirinya diletakkan diatas bagan pedang itu, dan mulailah ia melakukan jurus-jurus ilmu pedang Hoa-san pay.

pedang yang bergemerlapan itu lantas saja mengeluarkan sinar berkilauan.

***** SUDAH tiga tahun Thio Sin Houw berguru kepada Bok Jin Ceng, Baik pendengaran maupun penglihatannya jauh melebihi Thio Hian Cong dan guru-gurunya yang lampau.

walaupun demikian, ia tak dapat mengikuti gerakan pedang Bok Jin Ceng yang cepat luar biasa dan yang tertangkap oleh penglihatannya hanya berkelebatnya sinar berkilauan di depan hidungnya.

Dan pedang itu terasa menyilaukan kedua matanya.

Tahu-tahu kesiur angin tajam lewat didepan hidungnya, dan pedang itu tertancap bergetaran pada batang pohon yang berada didepan pertapaan, itulah tenaga lemparan yang luar biasa dahsyatnya.

Sin Houw kagum sampai terpukau mengawasi.

"Bagus!"

Seru seseorang yang berada dibelakang punggung Sin Houw.

Thio Sin Houw kaget sampai berjingkrak.

selama tiga tahun berada di atas gunung, tiada suara lain yang di dengarnya kecuali suara gurunya dan si gagu, sekarang dengan mendadak saja ia mendengar suara asing bagi pendengarannya.

Dan suara itu tiba-tiba saja muncul dibelakang punggungnya, Keruan saja ia kaget dan heran.

cepat ia berpaling, dan didepan matanya berdiri seorang laki-laki mengenakan pakaian pendeta.

Laki-laki itu berkumis jembros dan berjenggot sejadi-jadinya, seperti rambutnya, kumis dan jenggotnya sudah putih semua.

Dengan kedua matanya yang bulat bundar, ia tersenyum berseri-seri.

Kedua tangannya di gendongnya dibelakang punggung, sehingga sikapnya mirip seorang majikan besar.

Pendeta itu berjubah putih.

setelah memuji Bok Jin Ceng, ia berkata.

"Barangkali, sepuluh tahun lebih aku tidak melihat kau menggunakan pedangmu, sama sekali tak kusangka kau telah memperoleh kemajuan demikian rupa !"

Bok Jin Ceng tertawa lebar. sahutnya.

"To-heng! Malaikat mana yang telah membawamu sampai kemari ? Eh, Sin Houw! cepat kau berlutut kepada beliau ini."

Thio Sin Houw segera menghampiri pendeta itu, Bok siang Tojin, Dan kemudian berlutut dihadapannya. Tetapi cepatcepat Bok siang Tojin mencegah, ia membangunkan Sin Houw seraya menolak .

"Jangan, jangan! jangan begitu. Aku bukan raja atau keturunan malaikat ..."

Ia berkata dengan tertawa lebar sambil membungkuk hendak membangunkan Sin Houw.

Akan tetapi Sin Houw tidak membiarkan dirinya kena diangkat.

sebagai biasanya, seseorang yang mengetahui tentang ilmu sakti, secara wajar ia lantas mengerahkan tenaga dalamnya itu sebabnya, tidak mudah Bok siang Tojin mencegah pemberian hormatnya.

Dan orang tua itupun hanya hendak mencobanya.

"Lauw-bok!"

Kata Bok siang tojin kemudian.

"Telah sepuluh tahun lamanya tak pernah aku bertemu denganmu. Tak tahunya, kau mengeram disini untuk mendidik muridmu, inilah suatu karunia besar bagimu. pada saat kau menjangkau hari akhirmu, masih bisa kau memperoleh seorang murid berbadan bagus sekali."

Bok Jin Ceng girang atas pujian Bok-siang Tojin. Dengan sahabatnya itu seringkali ia bersenda gurau. serunya senang.

"To-heng! Kau seorang pendekar berkepandaian tinggi. Kalau aku memperoleh karunia Tuhan, pastilah kau akan memperolehnya pula, soalnya kini, tinggal menunggu waktu saja!"

"Nah, nahl Kau pandai pula berkhotbah!"

Kata Bok-siang Tojin sambil tertawa.

"Sayang, pada hari ini sama sekali aku tak beruang, Dengan cuma-cuma sajar kuterima sembah muridmu ini, Apa yang harus kubayarkan?"

Mendengar perkataan Bok-siang Tojin, hati Bok Jin Ceng tergerak.

Teringatlah dia bahwa Bok-siang Tojin memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya.

Alangkah baiknya, seumpama dia sudi mewariskan salah satu dari ilmu kepandaiannya itu kepada Sin Houw, hanya saja, selama hidupnya tak sudi ia menerima murid ...

Dengan ingatan demikian, Bok Jin Ceng berkata kepada Sin Houw.

"Sin Houw! Totiang telah berjanji kepadamu hendak memberikan hadiah. Hayo, cepat-cepat lah kau berlutut menghaturkan terima kasih!"

Thio Sin Houw benar-benar pemuda cerdik, segera ia mengerti maksud gurunya. Maka cepat-cepat ia berlutut sambil mengucapkan terima kasih. Bok-siang Tojin tertawa terbahak-bahak. Katanya.

"Bagus! Tetapi, untuk dapat menjadi manusia kau harus berhati jujur dan polos! jangan kau mencontoh pekerti gurumu yang tebal kulit mukanya. Betapa tidak? Begitu mendengar aku hendak memberikan sesuatu, belum-belum ia sudah memaksamu menghaturkan terima kasih. Tetapi, tak apalah! Pada hari ini hatiku sangat gembira. Biarlah aku memberimu sebuah kenang-kenangan."

Setelah berkata demikian, ia meraba jubahnya lalu mengeluarkan sebungkus kain, apabila Thio Sin Houw membukanya, ternyata gumpalan kain itu merupakan baju berwarna hitam mirip seperti kaos, Bahannya seperti dari kulit, akan tetapi mengkilat seperti sutera .

Selama hidupnya, baru pada hari itulah Sin Houw melihat baju berbahan demikian.

Tentu saja ia menjadi terharu hatinya, tatkala ia menerima hadiah yang tak pernah dimimpikannya.

"To-heng, jangan kau bergurau..."

Kata Bok Jin Ceng.

"Bagaimana kau menyerahkan baju mustika itu kepada anak ini? Bok-siang Tojin yang di kalangan Rimba persilatan terkenal dengan gelar Kwi-eng cu (Bayangan Iblis) tidak menggubris. sebaliknya, mendengar ucapan gurunya, Sin Houw menjadi terkesiap. Jadi, pikirnya didalam hati. Ba ju mirip kaos itu sebuah baju mustika? Cepat-cepat ia mengangsurkannya kembali kepada Bok

KANG ZUSI WEBSITE

http.//cerita-silat.co.cc/ *** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )*** siang Tojin, tetapi orang tua itu menolak, Katanya.

"Aku tidak sekikir gurumu. Kalau aku sudah memberikan sesuatu kepada seseorang, tidak akan kutarik kembali. Nah, ambillah!"

Masih saja Thio Sin Houw tak berani menerima pemberian hadiah itu, ia berpaling kepada gurunya.

"Jikalau begitu kehendakmu, baiklah ! Nah, Sin Houw! Kau terimalah hadiah itu, Dan berlututlah menghaturkan terima kasihmu."

Thio Sin Houw menurut. ia berlutut sekali lagi sambil menghaturkan terima kasih. Lalu dengan wajah sungguh sungguh, Bok Jin Ceng berkata kepadanya.

"Sin Houw! Sesungguhnya, inilah sebuah baju mustika yang tiada taranya, konon kabarnya, baju ini dahulu To-tiang mendapatkannya dengan mengeluarkan keringat dan darah. sekarang kau pakailah!"

Kali inipun Sin Houw menurut. Segera ia mengenakan baju mustika itu. Dan sambil berjalan, Bok Jin Ceng menghampiri pohon untuk mencabut pedangnya, katanya.

"Baju mustika itu sejak dahulu kebal terhadap semua senjata tajam."

Diluar dugaan, setelah berkata demikian dan secara tibatiba ia menyabetkan pedangnya ke pundak Sin Houw.

Keruan saja pemuda itu kaget bukan kepalang, ingin ia mengelakkan diri, tetapi sudah terlambat, Dalam hal kegesitan tubuh, Sin Houw masih kalah terlampau jauh dari pada gurunya.

Satu-satunya jalan yang dapat di lakukan, hanyalah melompat.

Namun pada saat itu pundaknya telah kena sabatan pedang, ia kaget, heran dan girang ketika dirasakannya sabatan itu sangat ringan, dan pedang itupun terpental balik.

sedangkan Sin Houw sendiri sama sekali tak terluka.

Maka dengan serta merta untuk kesekian kalinya ia berlutut lagi kepada Bok-siang Tojin.

Bok-siang Tojin tertawa lebar, Katanya.

"Baju mustikaku sangat buruk. Tatkala kau berlutut kepadaku, pastilah kau berlutut hanya menuruti perintah gurumu, Tetapi kali ini, aku tahu hatimu benar-benar puas, Bukankah begitu ?"

Merah muka Sin Houw kena sindir, meskipun demikian hatinya penuh haru, girang dan hormat, Kembali lagi ia berlutut. Bok-siang Tojin tidak memperdulikan pekerti Thio Sin Houw, ia berkata lagi.

"Beberapa kali baju mustika itu telah menolong jiwaku. sekarang, kuberikan kepadamu. Asal saja gurumu tidak menganggu diriku, di dunia ini, tidak ada seorangpun yang dapat melukai diriku meskipun aku tidak mengenakan baju mustikaku lagi."

Setelah berkata demikian, Bok-siang Tojin tertawa berkakakan, Rupanya ia sangat riang, Bok Jin Ceng pun tertawa, ia berkata pula.

"Hai, pendeta bangkotan! Kau menjual cerita besar didepan muridku, Dalam hal ilmu kepandaian, tak dapat aku melawanmu. Akan tetapi dikolong langit ini memang banyak sekali orang-orang yang berkepandaian sangat tinggi."

Bok-siang Tojin tersenyum, sahutnya.

"Akh! Kita berdua tak boleh menggunakan pedang atau senjata tajam lainnya. Mari, kau ambillah alat Kim dan aku akan membawa serulingku ...!" (Alat "Kim"

S semacam Kecapi).

"Apakah kita akan mengadu kepandaian dengan alat musik?"

Bok Jin Ceng tertawa.

"Benar!"

Sahut Bok-siang To-jin tertawa gelak.

"Caramu memetik Kim, benar-benar membuat hatiku ketagihan mendengarkannya."

"Baiklah!"

Sahut Bok Jin Ceng.

"Telingaku ketagihan pula mendengarkan tiupan serulingmu, Kau datang dari jauh dan sudi mendaki gunungku, tak bakal aku mengecewakan hatimu. Hai, apakah kau membawa juga tempat nasi dan tempat minum?"

Keduanya lantas sibuk dengan ke-ahliannya masingmasing.

Bok-siang To-jin meniup seruling, dan Bok Jin Ceng memetik Kim.

perpaduan keahlian masing masing serasi dan selaras, sehingga memberikan suatu pendengaran yang indah.

Mereka bermain terus menerus tiada henti-hentinya sampai jauh malam hari, sementara si bisu yang menyelenggarakan makan-minumnya.

Selama itu Thio Sin Houw menunggu disamping mereka, sama sekali ia tak mengarti permainan mereka.

walaupun demikian, lantaran bisa menangkap keindahan dan kemerduannya, ia mencoba mengerti dengan mengamatamati gerak jari-jari gurunya menyentuh tali-tali kim.

Gurunya lantas mengajari cara memetik kim itu.

Ilmu memetik Kim terbagi dalam kelompok-kelompbk perpaduan nada, Tegasnya selain memperindah gaya lagu, ikut serta menentukan iramanya.

Karena tidak mengutamakan lagu, tata lagunya berbeda dengan ilmu meniup seruling, nampaknya mudah dipelajari, tetapi sesungguhnya untuk menjadi seorang ahli, sulit liku-likunya.

Sebab apabila belum mengenal lagunya terlebih dahulu akan sukar menentukan keserasiannya, Namun Thio Sin Houw mempunyai pembawaan alamiah yang luar biasa, sekali mendengar dan sekali melihat ia sudah paham liku-likunya, ia tertarik karena liku-likunya berkesan seolah-olah kelompok tata-muslihatnya yang diatur dalam jurus-jurus pula.

Tatkala Bok siang Tojin dan gurunya beristirahat, ia menekuni dan mencoba menyelami.

Menjelang fajar hari, jarijarinya mulai bisa bergerak dengan lancar.

Bok-siang Tojin benar-benar seorang yang keranjingan dalam hal seni lagu, Mendengar irama Kim yang dimainkan Sin Houw yang mulai bisa dinikmati terus saja ia terbangun.

Tanpa segan-segan lagi ia membangunkan Bok Jin Ceng dan berkata mengajak.

"Mari, kita main lagi!"

Bok Jin Ceng tertawa geli menyaksikan tamunya yang tak kenal lelah itu, sahutnya.

"Aku tak bersemangat lagi untuk mengiringi lagumu, kau beristirahatlah dahulu!"

Terpaksalah Bok-siang-Tojin beristirahat, Akan tetapi di dalam kamarnya, pendengarannya selalu terganggu oleh petikan Kim dari Thio Sin Houw, sehingga tertatih-tatih ia bangun lagi dan menghampiri pemuda itu.

Kemudian ia mencoba menerangkan bagaimana caranya memetik Kim.

ia membagi tangga nada menjadi tiga bagian.

Dan masingmasing pembagian tangga nadanya mempunyai beberapa kelompok kelompok iringan lagu, semuanya itu diajarkan dengan setulus hati kepada Sin Houw.

Sejak itu Thio Sin Houw mulai belajar memetik Kim dengan sungguh-sungguh, Tiga hari tiga malam ia bertekun, Dan selama itu gurunya dan Bok-siang Tojin berbicara terus menerus, mengenai seni sambil sekali-kali meniup seruling dan memetik Kim.

pada hari ke empat, Bok Jin Ceng berkata kepada Bok-siang Tojin.

"Pada hari ini biarlah kau beristirahat dahulu, aku harus mengajarkan ilmu pedang kepadanya terlebih dahulu."

Alasan itu kuat, sehingga Bok-siang Tojin tak dapat menawar lagi.

Tetapi menunggu Bok Jin Ceng memberi pelajaran ilmu pedang kepada Sin Houw, dirasakan sangat membosankan.

Tak mengherankan begitu Bok Jin Ceng selesai memberi pelajaran, segera ia menarik tangan sahabatnya itu dan diajaknya bertempur melalui seruling dan Kim.

"Mari, kita bermain lagi!"

Ajaknya dengan penuh semangat.

Bok Jin Ceng sebenarnya sudah lelah, akan tetapi karena tak sampai hati mengecewakan hati sahabatnya itu, terpaksalah ia melayani.

Begitulah terjadi satu bulan lebih, setiap kali selesai melatih muridnya, harus ia menyediakan waktu untuk melayani tamunya apabila Bok Jin Ceng nampak kurang semangat sedikit saja, tamunya itu menjadi seperti tersiksa.

Dan semuanya itu tak pernah lepas dari perhatian Thio Sin Houw.

Oleh rasa iba terhadap gurunya, setiap kali memperoleh kesempatan terus saja ia berlatih, Dalam sebulan itu, ternyata ia sudah mahir.

Pada suatu hari menjelang fajar hari, ia memetik kim-nya.

Tahu-tahu Bok-siang Tojin sudah berada di belakangnya meniup serulingnya, inilah kejadian yang sangat menggembirakan.

Maka dengan hati-hati dan seksama, Sin Houw lalu mengiringkan tiupan lagu Bok-siang Tojin.

Ternyata sama sekali ia tidak salah.

Keruan saja Bok-siang Tojin menjadi bertambah semangat, pujinya.

"Eh, anak! Kau benar-benar cerdik -kalau kau berlatih terus-menerus kau tentu dapat mengalahkan gurumu!"

Dua tiga kali Bok-siang Tojin menguji, ia meniup berbagai macam lagu yang sebelumnya tak pernah di dengar oleh Sin Houw, semuanya dapat diiring-kan oleh Sin Houw dengan sempurna.

Karena memperoleh kenyataan itu dan rasa girang yang meluap, Bok-siang Tojin berkata.

"Baiklah kita atur saja begini sekarang, setiap kali kau dapat mengiringkan tiga laguku, aku akan mempelajari kau semacam ilmu kepandaian bagaimana? setuju atau tidak?"

"Biarlah aku minta pendapat guruku terlebih dahulu."

Sahut Sin Houw. Bok-siang Tojin pun tahu, seorang murid tak boleh melancangi gurunya.Maka itu ia menyetujui. Katanya.

"Baik, Kau tanyalah kepada gurumu!"

Thio Sin Houw lari mencari gurunya.

ia mengabarkan kehendak Bok-siang Tojin, Tentu saja Bok Jin Ceng girang bukan kepalang.

itulah yang diharap-harapkannya sejak sebulan yang lalu, ia tahu Bok-siang Tojin seorang pendekar yang berilmu kepandaian tinggi, hanya saja tabiatnya aneh.

Tak senang ia menerima murid.

sebaliknya apabila sekali sudah berjanji, tentu akan di tepatinya, Dan hal itu terjadi, karena orang tua itu begitu ketagihan mendengarkan permainan perpaduan suara antara kim dan seruling.

Lantas saja Bok Jin Ceng menarik tangan Thio Sin Houw dan diajaknya menghadap Bok-siang Tojin, ia menyuruh muridnya bersembah untuk menghaturkan rasa terima kasih, kemudian ia sendiri berkata kepada Bok-siang Tojin.

"To-heng! Kau hendak menyempurnakan ilmu kepandaian muridku, akupun menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepadamu."

Dalam pada itu Thio Sin Houw sudah berlutut, tetapi cepatcepat Bok siang Tojin menolaknya, Katanya.

"Jangan! jangan! Aku tidak menerimamu sebagai murid. Apabila kau menghendaki pelajaranku, kau harus mengiringkan tiga laguku terlebih dahulu."

"Bukankah ini suatu jual-beli? Dimana ada pembicaraan antara guru dan murid..."

Bok Jin Ceng tertawa. Dengan cepat ia menyahut.

"Apakah maksudmu dengan berkata demikian ?"

"Dalam hal ilmu pedang dan ilmu pukulan, dikolong langit ini kau tiada lawannya, Aku takluk kepadamu. sebaliknya dalam hal ilmu berlari dan menimpuk senjata bidik, kukira ilmu kepandaianku tidak mengecewakan."

"Memang! siapapun tahu, bahwa kau anak siluman! Hanya saja, ilmu kepandaianmu yang istimewa itu jangan kau bualkan disini."

Kata Bok Jin Ceng yang kembali tertawa.

"Apakah kau mencela kepandaianku...?"

Ujar Bok-siang Tojin agak kurang senang. Bok Jin Ceng bersenyum. sambil menggelengkan kepala, ia menyahut.

"Didalam dunia ini, siapakah yang dapat menandingi ilmu berlarimu? Kau pun seorang ahli senjata bidik yang tiada tandingan. Karena itu, kami berdua mengucapkan rasa terima kasih kepadamu "

Bok-siang Tojin dapat dibuat mengerti, iapun lantas tertawa. Katanya.

"Bukankah adil pertimbanganku? Setiap kali muridmu mengiringkan tiga laguku, aku lantas memberi pelajaran sejurus dua jurus kepadanya."

"Kau tidak hanya adil, malahan bermurah budi pula."

Sahut Bok Jin Ceng cepat, Dan setelah berpikir demikian, ia berpikir didalam hati.

"Pendekar bangkotan ini benar-benar licik dan lucu. Akan tetapi dia seorang laki-laki sejati. Sekali menyanggupkan diri, ia tak akan menarik janjinya kembali. inilah suatu rezeki besar bagi Sin Houw. Lalu ia berkata memutuskan.

"Baiklah kita atur begini saja, Yang kukhawatirkan adalah justru Sin Houw, Jangan-jangan ia sia-siakan waktunya yang sangat berharga. Karena itu setiap mengajarkan sesuatu kepadanya, kau harus lakukan setelah ia sudah mengiringkan tiga lagumu, Dengan demikian, ia tidak akan sia-siakan kesempatan yang bagus ini, Sekarang, kau boleh meniup seruling sesuka hatimu. Delapan atau sepuluh kali, masa bodoh !"

Bok-siang Tojin girang bukan kepalang.

Demikian pula Sin Houw, Tak sia-siakan waktu lagi, mereka berdua lantas mengambil tempatnya masing-masing, Bok-siang Tojin meniup serulingnya, dan Sin Houw memetik Kim mengiringi.

Mereka duduk berhadap hadapan seakan-akan dua orang pendekar besar lagi mengadu ilmu kepandaian.

Enam kali mereka mengumandangkan lagu panjang dan pendek.

Dan Bok-siang Tojin pun menepati janjinya.

Katanya.

"Kali ini aku hanya mengajarimu sejurus ilmu petak, Meskipun hanya sejurus, tetapi faedahnya sangat besar. Tubuhmu akan terasa menjadi ringan. Kalau sudah mahir, bayangannya sendiri sulit terlihat, Nah, kau lihatlah gerakanku dengan sungguh-sungguh!"

Setelah berkata demikian, Bok-Siang Tojin bergerak.

Tahutahu tubuhnya sudah berada diatas pohon.

Tatkala turun dengan berjungkir-balik, sudah berada kembali didepan Thio Sin Houw.

Keruan saja Sin Houw kagum bukan main, ia merasa diri seakan-akan terpukau.

Apabila tersadar, ia bersorak dan bertepuk tangan dengan setulus hati.

"Sekarang, mulailah berlatih!"

Seru Bok-siang Tojin, Dan pendeta aneh itu segera mengajarkan jurus tersebut, yang disebut Poan-in seng-liong (Naga naik merayap di awan).

Dan untuk menangkap intisarinya, Sin Houw berlompatan kiankemari melemaskan urat-uratnya, Mula-mula ia merasa kebingungan, tetapi lambat-laun ia merasa diri memperoleh kemajuan.

untunglah Bok-siang Tojin ternyata teliti dalam menurunkan pelajarannya.

Dengan cermat dan tak bosanbosan ia memberi contoh serta memberi petunjuk inti-inti rahasianya.

Pada hari kedua, Sin Houw tak memperoleh tambahan, meskipun sudah mengiringi enam lagu lagi, Tetapi pada hari ketiga dan keempat, ia mendapat tambahan dua jurus sekaligus.

Setelah memasuki hari ke empat belas, mulailah dia memperoleh tambahan sejurus, dua jurus secara teratur.

Bahkan pada bulan berikutnya Bok-siang Tojin mulai mewariskan rahasia ilmu bidiknya.

Empat bulan lamanya ia belajar ilmu bidik.

Tatkala pelajaran mulai menginjak pada bagian membidik sasaran dengan tiga puluh lima senjata bidik sekaligus, ia membutuhkan waktu tujuh bulan.

Dengan demikian, tanpa terasa satu tahun lewatlah sudah.

sekalipun demikian, Boksiang Tojin tak bosan-bosan meniup serulingnya dengan iringan kim Thio Sin Houw.

Melihat mereka begitu akrab, Bok Jin Ceng bersyukur didalam hati, ia tahu, apa sebab Bok-siang Tojin betah bertempat tinggal pada suatu tempat sampai satu tahun lebih, itulah disebabkan orang tua itu berkenan hatinya terhadap muridnya.

Maka ia berpesan kepada si bisu, agar melayani Bok-siang Tojin dengan sebaik -baiknya.

Pada suatu hari selagi Sin Houw berlatih disamping kedua gurunya, tiba-tiba terdengarlah suatu auman hebat.

serentak ia menoleh dan melihat sibisu sedang berhadapan dengan seekor harimau tutul.

Menyaksikan si bisu dalam bahaya, tanpa berpikir panjang lagi, Thio Sin Houw segera melompat dan lari menghampiri.

pada saat itu, macan tutul telah melompat serta menerkam si bisu, si bisu nampak marah.

ia melejit ke samping, dan mendaratkan pukulannya.

Tetapi bertepatan pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat, itulah Bok Jin Ceng yang menyambar lengan si bisu dan dibawanya menjauhi.

Kemudian Bok Jin Ceng berseru kepada Sin Houw.

"Sin Houw! Biarlah kau yang melayani harimau itu!"

Thio Sin Houw tahu, gurunya sedang mengujinya, Terus saja ia melompat menghadang titik balik harimau itu, akan tetapi entah apa sebabnya, tiba tiba macan tutul itu memutar tubuhnya, serta berjalan menjauhi.

Sin Houw melesat dan menggerakkan tangannya memukul pantat.

oleh rasa sakit, binatang buas itu mengaum dan memutar tubuh sambil mencengkeram.

Thio Sin Houw mengelak dan melompat ke samping, Kemudian tangannya bergerak hendak menyerang, akan tetapi tiba-tiba saja ia merasakan suatu ancaman bahaya datang dari belakang punggungnya.

Tahulah dia, dirinya sedang diserang dari jurusan lain.

Tak sempat lagi ia memutar tubuhnya.

Dengan menjejak tanah ia melompat tinggi kemudian dengan berjumpalitan ia turun diatas tanah dengan tak kurang suatu apa.

Begitu membalikkan tubuhnya, ia melihat penyerangnya -seekor macan kumbang sebenarnya, sejak berada di atas gunung itu belum pernah ia berkelahi.

walaupun demikian, sama sekali ia tak takut menghadapi kedua binatang buas itu, segera ia menyerang dengan menggunakan tipu-tipu ilmu Hok-houw ciang, Menyaksikan perkelahiannya, Bok Jin Ceng bergembira.

Katanya didalam hati.

"Anak ini ternyata benar-benar tidak sia-siakan lelahku."

Tetapi setelah mengamat-amati sekian lamanya, Thio Sin Houw ternyata hanya dapat menyakiti kedua binatang itu saja, pukulannya sama sekali tak bertenaga, ia jadi heran, Apa sebab demikian?

Bok Jin Ceng tak tahu, bahwa dalam diri Sin Houw mengeram racun jahat Hian-beng sin-ciang yang memunahkan sebagian tenaganya!

"Sambut pedangku!"

Seru Bok Jin Ceng yang tak sempat menyelidiki sebab sebabnya.

Thio Sin Houw melompat menyambut pedang, tetapi pada saat itu kedua macan itu lari menerjang belukar, sin Houw mengejar selintasan, tiba-tiba dua sosok bayangan menyambar dari kiri kanan.

cepat ia menggerakkan pedangnya sambil melesat kesamping, Ternyata penyerangnya adalah dua ekor kera hampir setinggi dirinya.

"Jangan bunuh!"

Tiba-tiba terdengar Bok-siang Tojin berseru.

Thio Sin Houw mengangguk.

Kemudian dengan pedangnya ia mendesak.

ia dapat bergerak dengan gesit.

Saban-saban ia menyabat atau menikam, Dan diserang secara demikian, kedua binatang itu berlompat-lompatan dengan gesit pula.

Sekiranya mau, Sin Houw dapat menikamnya dengan mudah.

Akan tetapi ia hanya melukainya saja pada lengan, pundak, kepala dan kedua kakinya.

Diperlakukan demikian, kedua binatang itu nampaknya mempunyai perasaan.

Tatkala mereka melompat menjauhi lawannya tidak mengejar, Sin Houw malahan berhenti menggerakkan pedangnya, dan hanya mengawasi saja.

Bagaikan insan manusia, kedua kera itu memekik tinggi.

Kedua tangannya ditutupkan ke kepalanya, lalu merebahkan diri sambil menyiratkan pandang memohon ampun.

Thio Sin Houw datang mendekati.

ia mengerti, kedua binatang itu menyerah kepadanya, Si bisu menjadi girang, Dengan berlari-larian ia masuk ke dalam rumah dan keluar lagi dengan membawa tambang untuk pembelenggu.

Mula-mula kedua binatang itu mencoba memberontak, mereka memekik sambil memperlihatkan kedua baris gigi mereka.

Akan tetapi tenaga si bisu jauh lebih kuat.

Akhirnya mereka menyerah saja, dan sama sekali tak berani melawan.

Baik Bok Jin Ceng maupun Bok siang Tojin memuji kegesitan Thio Sin Houw, Mereka menganjurkan agar dia belajar lebih tekun lagi dan bersungguh sungguh -Sudah tentu Sin Houw menjadi girang dan penuh syukur mendengar pernyataan kedua orang tua itu, iapun merasakan sendiri betapa bagus hasil latihannya.

Disamping itu, ia memperoleh dua binatang hutan, yang seekor jantan dan yang satunya betina, oleh rasa girangnya, Tliio Sin Houw mencarikan buah-buahan untuk diberikan kepada kedua binatang itu, Selang sepuluh hari, kedua binatang itu menjadi jinak sekali.

Kedua-nya mengerti akan kesayangan Sin Houw terhadap mereka, dan mereka kemudian tak perlu diikat tambang lagi, Tiada niatnya untuk kabur.

Sin Houw memberi nama A Leng kepada kera yang jantan, dan A Yung kepada yang betina.

Agar mereka paham akan namanya masing-masing, sin Houw membiasakan memanggil namanya setiap kali bertemu.

Bok Jin Ceng dan Bok-siang Tojin tertawa menyaksikan pekerti Sin Houw, dan ikut bergembira menyaksikan kedua binatang itu telah menjadi jinak.

Dan setelah Sin Houw yakin kedua binatang itu benarbenar jinak,ia membebaskannya.

Kini dengan merdeka A Leng dan A Yung mencari makan sendiri .

Kadang-kadang mendaki sampai ke puncak gunung, kemudian terjadilah suatu peristiwa yang membuat suatu penemuan yang aneh sekali.

Seperti biasanya, A Leng dan temannya mendaki puncak gunung untuk mencari makanan.

Dengan berani A Leng memanjat dinding gunung, sampai mendadak saja kakinya tergelincir.

Tak ampun lagi lepaslah pegangannya, sehingga ia jatuh ke dalam jurang.

Dinding gunung itu sangat curam dan mempunyai kedalaman empat sampai limapuluh meter lebih.

Keruah saja A Yung menjadi kaget bukan main.

segera ia menjenguk dari tepinya, ia melihat A Leng tersangkut pada cabang pohon yang tumbuh di-depan sebuah goa kosong.

Mulut goa itu nampak hijau berlumut, pada mulut goa itulah A Leng berpegangan.

Nampak tergantung~gantung pada ketinggian tebing gunung.

Meskipun daya pikir dan perasaan seekor kera tidak sesempurna manusia, akan tetapi binatang itu banyak akal.

Dalam sibuknya, A Yung lari pulang mencari Sin Houw.

Tatkala itu majikannya sedang berlatih ilmu pedang, ia lantas memekik-mekik tinggi tiada hentinya sambil berjingkrakan.

Sin Houw heran, ia menghampiri dan mengamat-amati tubuh A Yung.

Disana-sini terdapat beberapa tusukan duri pepohonan.

sedang kesan wajahnya nampak ketakutan.

segera ia mencari Un Siang, si bisu, untuk diajak menyelidiki kehendak binatang itu.

Ternyata A Yung memutar tubuh dan berlari-lari menghampiri jurang, setibanya ditepi jurang, A Yung memekikmekik sambil berjingkrakan, Kedua tangannya berserabutan sambil menjenguk ke bawah, Sin Houw dan Un siang segera menghampiri dan melihat A Leng dalam bahaya.

Dengan cepat Sin Houw lari pulang untuk mengambil tambang.

Kemudian dilemparkannya tambang itu ke dalam jurang, sedang ia mengikat ujungnya pada lengannya dan lengan Un Siang.

A Leng dalam keadaan sangat lelah, namun tatkala melihat menyambarnya tali segera ia menangkapnya.

Dan di pegangnya erat-erat, Pada saat itu Sin Houw dan Un siang menariknya ke atas, Ternyata ia terluka dibeberapa tempat, syukur, tidak begitu hebat.

Kemudian dengan memperdengarkan pekikan ber-ulang-ulang ia memperlihatkan kedua telapak tangannya.

Thio Sin Houw menjadi heran ketika melihat dua benda tajam menancap pada telapakan tangan A Leng, ia mencabutnya, namun benda itu tertancap dengan sangat kokohnya. A Leng lantas memekik kesakitan.

"Apakah disini ada musuh?"

Tanya Sin Houw kepada dirinya sendiri.

ia menjadi curiga, segera menghampiri tebing jurang dan memperhatikan ke dalamnya.

ia melihat sebuah goa kosong.

Pada mulut goa itulah tadi A Leng terkatung-katung, Apakah di dalam goa itu terdapat senjata bidik?

Tetapi senjata bidik tak akan dapat bekerja, tanpa ada yang melemparkannya.

Lantas siapa?

Mapnya tidak mungkin, karena letak goa itu sangat terpencil.

Dengan berbagai macam pikiran, Sin Houw mengajak Un siang pulang untuk mencari kedua gurunya, setelah bertemu ia menc.eriterakan penga1amannya.

Mendengar keterangan Thio Sin Houw maka Bok Jin Ceng berdua Bok-siang Tojin ikut merasa heran, Bok-siang Tojin adalah seorang pendekar ahli senjata bidik.

Melihat bentuk senjata bidik yang tertancap pada telapakan tangan A Leng, ia berkata.

"Aku seorang yang gemar sekali akan senjata bidik, sehingga berbagai macam senjata bidik pernah kulihat. Tetapi senjata bidik ini yang berbentuk kelabang, baru untuk pertama kali inilah kulihat. Lauw-bok! Kali ini runtuhlah kedudukanku sebagai seorang ahli senjata bidik."

Bok Jin Ceng menatap sahabatnya, kemudian berkata mengusulkan.

"Coba keluarkan dahulu senjata bidik yang menancap pada telapakan tangan binatang itu!"

Bergegas Bok-siang Tojin masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sebilah pisau kecil, Dengan pisau itu ia membedah telapakan tangan A Leng untuk mengeluarkan senjata bidik yang aneh itu.

A Leng agaknya mengetahui maksud baik Bok-siang Tojin hendak menolong dirinya.

Sama sekali ia tidak memberontak, setelah benda yang menancap pada telapak tangannya tercabut, lukanya segera diobati dan dibalut, Binatang itu nampak puas, dan segera mengikuti A Yung mencari makan.

Dua senjata bidik itu panjangnya kurang lebih tiga cun, berbentuk seperti kelabang, bersungut dua.

Kedua sungut itu sekecil dan setajam jarum.

warna keseluruhannya hitam gelap, kotor berlumut, Tetapi setelah Bok-siang Tojin membersihkan lumutnya, benda itu nampak mengkilat.

Ternyata terbuat dari perak !

"Pantas timbangannya berat, kiranya terbuat dari perak!"

Seru Bok-siang Tojin. Sekonyong-konyong Bok Jin Ceng terkejut, tak terasa ia berseru.

"lnilah senjata bidik Gin-coa piao!"

"Gin-coa piao?"

Bok-siang Tojin menegas dengan wajah tercengang, ia terdiam sejenak, lalu berkata meneruskan.

"Kau maksudkan Gin-coa Long-kun pemiliknya? Bukankah kabarnya dia telah wafat sejak belasan tahun yang lalu?"

Sambil berkata demikian, sekali lagi ia memeriksa senjata bidik yang berada, ditangannya, Kini wajahnya benar benar nampak terkejut, Serunya.

"Tidak salah! Benar dia!"

Ia membolak-balikkan senjata bidik berbentuk kelabang itu, di bagian perutnya tertera sebuah ukiran kecil berbunyi "THAY". Dan pada bagian perut senjata bidik yang kedua terdapat ukiran huruf. BENG.

"Suhu, siapakah Gin-coa Long-kun?"

Tanya Sin Houw kepada Bok Jin Ceng, yang masih saja tercengang sejak tadi.

"Kelak akan kuberi keterangan..."

Sahut gurunya setelah berdiam beberapa lama, setelah menimbang-nimbang sebentar, ia meneruskan.

"To-heng, coba katakan kepadaku, mengapa senjata bidik ini bisa berada didalam goa itu?"

Sesuai dengan namanya, bentuk senjata itu seperti ular, bukan kelabang seperti yang diduga oleh Bok siang Tojin, ia tidak segera menjawab pertanyaan rekannya, sebaliknya ia mengernyitkan keningnya, wajahnya jadi tegang, tak terkecuali Bok Jin Ceng, Keruan saja Thio Sin Houw tak berani mengulang pertanyaannya.

Malam itu selesai waktu makan, Bok Jin Ceng dan Boksiang Tojin duduk sambil berbicara.

Thio Sin Houw mendengarkan dengan berdiam diri, sama sekali ia tak mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan.

ia hanya mendengar kata-kata.

"pembunuhan akibat permusuhan dan pembalasan dendam. Kalimat-kalimat lainnya, masih gelap baginya.

"Jadinya, Gin-coa Long-kun datang memasuki daerahmu untuk menyingkirkan diri dari musuh-musuhnya?"

Kata Boksiang Tojin menegas. Bok Jin Ceng tak berani menyatakan dengan pasti, ia nampak berbimbang hati, sahutnya.

"Mengingat kepandaiannya, sebenarnya tak ada perlunya ia menyingkir jauh-jauh sampai kemari, bersembunyi ditempat yang sunyi sepi, Baginya, merupakan alasan yang kurang kuat."

"Mungkinkah dia belum mati?"

Bok-siang Tojin seperti menguji.

"Dia seorang luar biasa."

Jawab Bok Jin Ceng.

"Selama ini kita hanya mendengar namanya belaka, dan belum pernah bertemu dengan dirinya. Memang kabar berita mewartakan bahwa dia telah meninggal dunia. Akan tetapi sebab-sebabnya atau bagaimana caranya dia meninggal, tiada seorangpun yang dapat memberi keterangan."

"Dia memang aneh sepak terjangnya..."

Bok-siang Tojin menghela napas.

"Ada kalanya dia kejam sekali, tetapi tak jarang pula dia berbuat mulia, Dengan demikian, apakah dia seorang jahat atau seorang yang mulia hati orang hanya dapat menduga-duga saja. Beberapa kali pernah aku mencoba mencarinya, namun senantiasa gagal."

"Sudahlah! Tiada gunanya kita menduga-duga saja."

Bok Jin Ceng memutuskan.

"Baiklah, besok pagi menjenguk goa itu." ***** KEESOKAN harinya Bok Jin Ceng mengajak Bok-siang Tojin, Thio Sin Houw dan Un Siauw menjenguk goa dengan membawa senjata dan tambang. Sin Houw berada didepan sebagai penunjuk jalan lantaran dialah yang mengetahui letaknya goa itu.

"Hati-hati!"

Pesan Bok Jin Ceng ketika Bok-siang lojin mengatakan hendak turun sendiri.

Bok-siang Tojin mengangguk.

Cepat ia mengikat pinggangnya dengan ujung tambang yang tertambat pada pohon.

Kemudian dengan pertolongan Un siang dan Sin Houw, ia dikerek turun perlahan-lahan.

Didepan mulut goa yang berlumut itu, ia berdiri memperhatikan.

Mulut goa penuh kabut, sehingga tanahnya tak nampak jelas, Hatinya tercekat, meskipun ia seorang jago yang sudah kenyang makan garam.

Dengan tertegun-tegun ia mengawaskan ke dalam goa terus menerus.

Biasanya, pandang mata seseorang lambat laun bisa menyesuaikan dalam kegelapan.

Setidak-tidaknya akan bisa menangkap penglihatan walaupun dalam samar-samar.

Namun penglihatan Bok-siang Tojin malahan makin menjadi guram.

Akhirnya ia memperoleh kesimpulan , tentulah goa itu sangat dalam.

Ia kemudian maju meraba-raba menyelidiki ruang masuk, Dan ternyata sempit, ia berbimbang-bimbang sebentar, apakah dirinya bisa memasuki pintu sempit itu...?

Bok-siang Tojin adalah seorang yang keras hati, Tak sudi ia mundur, sekalipun menghadapi kenyataan yang tidak memungkinkan.

setelah membungkus sebelah tangannya, segera ia memasuki ke dalam mulut goa itu, Meskipun seorang pemberani, namun tak mau ia berlaku semberono, perlahan lahan tangannya meraba-raba dan tiba-tiba membentur suatu benda tajam.

Benda tajam itu menancap pada mulut goa.

ia menduga itulah Gin-coa piao, senjata bidik berbentuk ular perak yang semula disangkanya berbentuk kelabang, segera secara hati-hati ia mencabutnya, lalu meraba-raba lagi dan mencabut yang kedua.

Demikianlah, sampai tujuh belas ia mencabut.

ia berniat hendak maju meraba lagi, akan tetapi teringatlah dia kepada Un siang dan Sin Houw yang menahan tubuhnya dari atas tebing, Mereka berdua tentu sudah merasa lelah.

"Tarik!"

Segera ia berteriak memerintahkan .

Te riak airnya terdengar oleh Bok Jin Ceng, Gurunya Sin Houw itu segera memerintahkan agar menarik Bok-siang Tojin keatas dengan perlahan-lahan.

Kira-kira dua tombak dari atas tebing, Bok-siang Tojin menjejakkan kakinya pada batu lambing.

Dengan begitu cepat sekali Bok-siang Tojin telah berada di antara teman-temannya.

"Lihat ini!"

Katanya kepada Bok Jin Ceng sambil memperlihatkan tujuh belas batang Gin-coa piao yang dipegangnya erat-erat.

Bentuknya sama dengan senjata bidik yang menancap pada telapak tangan A Leng.

Bok Jin Ceng memperhatikan, lalu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Hantu itu menyimpan bendanya di dalam goa, apakah maksudnya? Entah benda apa lagi yang terdapat di dalam goanya? Biarlah aku yang melihat ..."

"percuma saja kau turun kebawah!"

Bok-siang Tojin mencegah.

"Mulut goa terlalu sempit, tubuhmu tak akan dapat memasukinya."

Bok Jin Ceng menundukkan kepalanya, ia diam berpikir, Tiba-tiba Thio Sin Houw berkata minta pertimbangan.

"Suhu, apakah aku diperkenankan menyelidiki?"

"Betapa mungkin?"

Sahut Bok-siang Tojin dengan tertawa panjang.

"Jurang begitu dalam, apakah kau berani?"

"Aku berani, supeh!"

Kata Sin Houw.

"Suhu, aku diperkenankan ikut menyelidiki atau tidak?"

Bok Jin Ceng masih terbenam dalam pikiran, Kata guru yang bijaksana itu didalam hati.

"Orang jahat itu menyimpan senjata bidiknya didalam goa, pastilah mempunyai maksud-maksud tertentu. Sebaliknya, apabila tidak diselidiki benar benar saya, Akan tetapi siapa tahu justru didalam goa itu tersimpan suatu ancaman bencana? Kalau anak ini kuijinkan pergi seorang diri, tidakkah akan membahayakan jiwanya?"

Memperoleh pertimbangan demikian, ia lantas berkata.

"Aku mengkhawatirkan bencana yang mengancam dirimu!"

"Aku dapat berlaku waspada, suhu .,."

Sin Houw mendesak. Melihat muridnya demikian berani dan bernapsu, akhirnya Bok Jin Ceng mengangguk, katanya.

"Baiklah, tetapi kau harus mencoba menyalakan api terlebih dahulu sebelum memasuki goa. Manakala api itu padam, janganlah kau memaksa dirimu memasuki."

"Aku tahu suhu."

Sahut Sin Houw, Dan cepat-cepat ia mempersiapkan sebatang obor, sedang pedangnya segera dihunusnya, Dengan pedang dan obor di tangan, ia dikerek turun perlahan-lahan seperti Bok-siang Tojin.

Cepat sekali Thio Sin Houw telah sampai dimulut goa.

Teringat pesan gurunya, ia menyulut obor terlebih dahulu, ternyata tidak padam, ia jadi girang, Kemudian secara berhatihati ia merayap memasuki mulut goa, tali yang mengikat pinggangnya tak dilepaskannya, setelah merayap kira-kira limabelas meter jauhnya, terowongan yang dilaluinya mulai mendaki.

ia maju terus perlahan dengan perlahan.

Kira-kira tiga meter lagi sampailah dia pada tempat terbuka, sehingga dapatlah ia berdiri tegak, setelah mengatur pernapasannya sejenak, ia maju terus.

Beberapa saat kemudian, jalan yang ditempuhnya menikung dan memasuki kelokan serta tikungan, empat lima kali, ia jadi semakin berwaspada.

Dengan memegang pedangnya erat-erat, ia maju terus.

Tatkala berjalan kira-kira lima belas meter lagi, ia tiba di sebuah kamar batu, segera ia memasuki sambil memajukan obornya, Tiba-tiba ia terperanjat sampai mengeluarkan keringat dingin.

Di atas sebuah batu yang berada ditengah-tengah kamar duduk sesosok kerangka yang lengkap tak ubah manusia hidup, Kedua tangannya terletak diatas pangkuannya, Dengan mata tak berkedip dan jantung menekan-nekan, Sin Houw mengawasi kerangka itu.

Setelah itu, barulah ia memeriksa ruang-ruang kamar.

syukurlah, tiada suatu penglihatan yang mengerikan lagi.

Belasan Gin-coa piao menancap malang-melintang diatas tanah mengitari kerangka itu, sebatang pedang panjang terletak disampingnya.

Pada dinding kamar terdapat sederet lukisan manusia berukir, sikapnya berlain-lainan, mirip seorang yang sedang menghadapi tata-muslihat lawan.

Sin Houw memperhatikan dengan penuh perhatian akhirnya tahulah dia bahwa lukisan-lukisan itu menggambarkan seseorang sedang berlatih ilmu silat tertentu.

Hanya saja ia tak mengarti maksudnya apalagi letak intisarinya, Pada ujung gambar terdapat tujuhbelas patah kata berukir pula, Sin Houw mendekati dan membacanya.

"Mustika berharga ilmu sakti rahasia diberikan kepada siapa yang memasuki pintu. Tetapi janganlah menyesal Manakala kena bahaya ..."

Thio Sin Houw masih mengawasi dan memperhatikan hal itu, tatkala tiba-tiba seseorang memanggilnya.

itulah suara gurunya yang memanggil namanya didepan mulut goa, Dengan bergegas ia merayap balik.

Bok-siang Tojin berdua Bok Jin Ceng yang berada diatas jurang, gelisah setelah menunggu sekian lamanya.

Mereka tak berani menarik tali pengikat lantaran takut Sin Houw telah melepaskan diri dari ikatannya, Mereka menyabarkan diri beberapa waktu lagi, Tetapi tetap saja Sin Houw tidak muncul.

Khawatir anak itu menemui bencana, Bok Jin Ceng memutuskan untuk menyusul.

Demikianlah, setelah tiba dimulut goa segera ia memanggil-manggil nama muridnya.

Hatinya lega luar biasa, begitu mendengar muridnya memberikan jawaban.

Dengan tanda teriakan, Bok Jin Ceng memerintahkan Boksiang Tojin dan Un siang menarik tali pengikat.

sebentar saja Bok Jin Ceng berdua Sin Houw sudah berada diatas tebing, seluruh tubuh Sin Houw berlepotan lumpur, debu dan lumut.

pakaian yang dikenakannya kotor dan wajahnya nampak tegang.

Bok-siang Tojin dan Bok Jin Ceng tahu, bahwa hal itu terjadi lantaran anak itu pasti menemukan atau melihat sesuatu yang luar biasa.

Maka mereka membiarkan anak itu tenangkan hatinya terlebih dahulu.

Dan benar saja, setelah dapat menenangkan hatinya kembali , Sin Houw kemudian menuturkan pengalamannya.

"Pastilah tidak salah lagi! itulah kerangka Gin-coa Longkun."

Ujar Bok Jin Ceng.

"Akh, tak pernah kusangka, seorang pendekar yang sakti luar biasa akhirnya binasa ditempat sesunyi ini, sungguh sayang!"

"Apakah arti tujuh belas patah kata pesannya itu?"

Tanya Bok-siang To-jin minta pendapatnya. Bok Jin Ceng tak segera menjawab, ia merenung beberapa saat lamanya. Lalu menyatakan pendapatnya.

"Rupanya dia menyimpan suatu benda berharga dalam goanya, Hanya kita tak tahu, mustika apa yang disimpannya itu, Dia seorang pendekar yang memiliki ilmu maha sakti, pastilah dia tidak akan membiarkan ilmu saktinya musnah dari percaturan hidup. Dengan cara cara tertentu, pastilah dia menyimpannya di dalam goanya. Mungkin ia menunggu seorang yang berjodoh dengan pengucapan hatinya, untuk mewarisi ilmu kepandaiannya. Sayang, dia seorang yang hidup dengan menuruti pertimbangan perasaan sendiri. ia sama sekali tak beragama, lantas berkecimpungan diantara manusia-manusia liar yang menamakan diri mereka kaum Beng-kauw!"

Hati Thio Sin Houw tercekat.

Gin-coa Longkun yang binasa didalam goa, ternyata orang yang digolongkan sebagai kaum Beng-kauw, Keruan saja perhatiannya jadi bertambah.

Dalam pada itu Bok Jin Ceng meneruskan perkataannya.

"Rupanya ia menghendaki agar yang memasuki pintunya, bisa melanjutkan cita-citanya. Jadi, istilah pintu itu bermakna cita-cita atau kaumnya. Tetapi mungkin pula berarti benarbenar pintu, yang mengancam malapetaka.."

Bok Jin Ceng menunda bicara dan menarik napas panjang, lalu berkata lagi.

"Jelek-jelek kita ini manusia beragama, setidaknya kita mengenal Tuhan, Karena itu tak boleh kita mengharapkan warisan mustika dari orang kafir! Tetapi justru kita merasa telah memilih jalan ke-Tuhan-an, kita harus menunjukkan kebesaran dan kelapangan hati. Biarlah Sin Houw esok pagi menjenguk goanya kembali, untuk mengubur kerangkanya sebagai manusia yang pernah hidup. Betapapun juga, kita harus menghormatinya sebagai seorang cianpwee. Karena itu, Sin Houw, pada waktu hendak mengubumya, kau wajib berlutut padanya, Panjatkan doa kehadapan Tuhan agar diampuni semua dosanya. Dengan cara demikian, kita semua dapat menghormatinya sebagai manusia wajar dan layak. Kita boleh tidak sepaham dengan pendiriannya, tetapi sebagai manusia kita semua adalah mahluk Tuhan dan anak Tuhan!"

Thio Sin Houw manggut, dan Bok-siang Tojin seiring dengan perkataan Bok Jin Ceng, ia bahkan menyatakan rasa kagumnya. Katanya.

"Kaupun seorang aneh pula! Seorang yang pandai berkhotbah. Pantasnya harus hidup didekat sebuah kuil, Kenapa kau justru bermukim diatas gunung sesunyi ini?"

"ltulah soal kenikmatan! Kenikmatan bersembah kepada Tuhan!"

Jawab Bok Jin Ceng, Dan mendengar jawaban itu, Bok-siang Tojin menjadi kagum, Dua tiga kali ia menarik napas.

Keesokan harinya Thio Sin Houw membekal pacul dan alat-alat lainnya untuk mengubur mayat, ia diantarkan Nie Un Siang, Bok Jin Ceng berdua Boksiang Tojin tak ikut serta, karena menganggap tiada bahayanya.

Mereka hanya menyertakan restunya, dan membekali lima batang obor yang berisi minyak pembakar penuh-penuh.

Nie Un siang mengerek Sin Houw turun dengan perlahanlahan, setelah tiba dimulut goa, dengan cekatan Sin Houw merayap memasuki goa.

Begitu sampai didalam ruangan kamar, segera ia menancapkan batang obornya.

Lalu mulai menggali liang, Berbagai macam pikiran dan ingatan berkelebat didalam benaknya.

Teringatlah dia kenada nasib ayah-bunda dan kakaknya yang binasa tak berkubur.

Tak dikehendaki sendiri mengucurlah air matanya.

pikirnya di dalam hati.

"Dia seorang maha sakti, begitulah kata suhu. Tetapi mati disini.Kenapa? Apakah kena fitnah? Apakah untuk menghindari musuh-musuhnya seperti yang dialami ayah dan ibu?"

Tergetar hati Thio Sin Houw, ia menoleh mengawasi kerangka, Tiba-tiba berkelebatlah bayangan Cie siang Gie yang berkesan baik dihatinya.

"Dialah Gin-coa Long-kun, seorang tokoh Beng-kauw. Meskipun berkesan liar, namun para anggautanya berwatak ksatrya, sebenarnya, bagaimana sesungguhnya?"

Kata Sin Houw didalam hati, Tentu saja ia tak dapat menjawab pertanyaannya sendiri itu.

Demikianlah, setelah selesai ia menggali kubur, maka ia berlutut kepada kerangka Gin-coa Long-kun.

Katanya didalam hati.

"Aku, Thio Sin Houw, secara kebenaran saja menemukan jenazah Cian-pwee, Pada hari ini, aku hendak mengubur jenazah Cianpwee. semoga tenanglah arwah cianpwee di alam baka."

Baru saja ia mengucapkan kata kata demikian, hatinya mendadak menjadi sedih.

Teringatlah dia kembali kepada kedua orang tuanya, kakaknya dan dirinya sendiri yang kini hidup yatim piatu, ia lantas menangkis sedih.

Tiba-tiba saja tengkuknya seperti kena raba tangan halus dan dingin.

itulah angin lembut yang datang dari luar goa, Sin Houw bergidik, bulu tengkuknya merinding.

serentak ia menegakkan kepala -dan berputar mengarah liang kubur.

Untuk menenangkan hati, ia menjajaki, Dirasanya, masih kurang dalam, maka mulailah ia menggali lebih dalam lagi.

Tanah yang kena sentuh paculnya ternyata kian menjadi lunak.

ia jadi gembira dan bekerja dengan cepat.

Tiba-tiba paculnya memperdengarkan suara membeletuk.

itulah akibat suatu benturan dengan benda keras, rasanya bukan batu, Lalu apa?

Besi?

Ia mengambil obornya lalu menyuluhi, ia heran karena pada dasar tanah itu terdapat selembar papan besi, Tertarik akan hal itu, ia memacul sekitarnya.

Benar-benar papan besi yang berjumlah beberapa lembar.

Lalu ia mulai mengangkatnya, dibawahnya terdapat sebuah petih besar berbentuk persegi.

Terbuat dari besi pula, Terdorong oleh rasa ingin mengetahui, Sin Houw mengangkat peti besi itu, Timbangan beratnya sedang, dapatlah ia mengira ngira bahwa isinya tidak terlalu banyak.

Lantaran tak terkunci, dengan mudah ia dapat membukanya.

Ternyata ke dalamnya dangkal.

Kira-kira hanya setinggi lima senti saja, Keruan saja Sin Houw jadi bertambah heran.

"Mengherankan!"

Seru Sin Houw didalam hati.

"ukuran petinya besar dan tinggi, kenapa pendek saja dalamnya?"

Ia menemukan sepucuk surat bersampul, yang berisi delapan patah kata diatas sampulnya. Bunyinya begini.

"Barang siapa memperoleh petiku, kuperkenalkan membuka isi sampul suratku."

Didalam sampul terdapat dua pucuk surat bersampul pula yang berukuran lebih kecil.

semuanya terbuat dari kulit kerbau, sampul surat yang pertama berkepala.

Cara membuka peti, Dan yang kedua.

Bagaimana mengubur tulang tulangku.

Setelah membaca sampul surat itu, Thio Sin Houw baru mengarti bahwa peti besi itu berlapis, ia mengangkat dan menggoyang-goyangkannya.

Kali ini ia mendengar suara benda bersentuhan.

Namun hatinya tak tertarik akan segala warisan Gin-coa Long-kun yang disebutnya sebagai mustika.

Yang terasa dalam hatinya, hanyalah kepiluan dan keharuan.

Katanya didalam hati.

"Lo cianpwee! Kalau aku mengubur tulang-tulangmu, sebenarnya kulakukan demi tulang-tulang kakakku, Thio Sin Han, yang binasa didalam jurang, Moga-moga dengan memakamkan tulang-tulangmu, seseorang memakamkan pula tulang-tulang kakakku, oh, Tuhan. Demikianlah harapanku. Tentang mustika yang kau janjikan, biarlah diwarisi oleh seorang pendekar yang tepat."

Thio Sin Houw kemudian membuka sampul surat kulit yang kedua. Didalamnya terdapat selembar kulit tipis yang bertulisan. Bunyinya seperti berikut.

"Leluhurku dari marga Lie, pendiri persekutuan Beng-kauv. sampai di tanganku sudah melalui ampat angkatan. orangorang dikalangan Rimba persilatan memberikan gelar kepadaku sebagai Gin-coa Long-kun, namaku sendiri adalah Vo Han, Dan semenjak kini lenyaplah sudah keturunan leluhurku, karena aku tak diberi kesempatan mempunyai keturunan ..."

Sampai disini Sin Houw berhenti membaca, pikirnya didalam hati.

"Apakah ini alasan suhu, apa sebab suhu mengelakkan pertanyaanku tentang nama Gin-coa Long-kun, karena ia adalah keturunan dari pendiri kaum Beng-kauw? Tetapi, apa sebab kemarin suhu menyebut kerangka Lo-cianpwee ini sebagai pendiri Beng-kauw, secara kebetulan aku menyebutnya Lo-cianpwee, kiranya tak begitu salah jauh ..."

Dan ia meneruskan membaca.

"Sekiranya kau sudi memakamkan tulang-tulangku, maukah mendengarkan pesanku? setelah kau gali lubang, tolong galilah lebih dalam lagi kira-kira satu meter, Dan tanamlah tulang-tulangku disitu, Berada didalam liang kubur yang dalam, rasanya aku akan bebas dari gangguan segala kutu-kutu dan semut ..."

Terharu hati Thio Sin Houw membaca surat Lim Po Han atau Gin-coa Long-kun, Katanya didalam hati.

"Lo-cianpwee, aku akan membuatmu puas. Aku akan menggali lebih dalam lagi, memenuhi pesan terakhirmu "

Dan kembali Thio Sin Houw menggali liang kubur lebih dalam lagi, Kali ini tanah penuh batu, Tak mudah Thio Sin Houw memacul seleluasa tadi, sebentar saja ia telah bermandikan keringat.

Tatkala paculnya hampir mencapai enampuluh senti, mendadak ujungnya lagi lagi membentur sebuah benda keras sehingga menerbitkan suara gemerincing yang nyaring.

Karena telah memperoleh pengalaman, walaupun heran Thio Sin Houw menggali terus.

Dan kembali lagi ia menemukan sebuah peti besi berbentuk persegi dan berukuran lebih kecil.

"Pendekar gagah luar biasa ini benar-benar aneh,"

Pikirnya di dalam hati.

"Entah benda apa lagi yang di simpannya didalam peti ini?"

Ia mengangkat peti itu dan dapat membuka tutupnya dengan mudah.

Dan seperti tadi ia mendapatkan selembar kulit tipis yang memuat beberapa deret kalimat.

Manakala ia membacanya, hatinya kaget bukan kepalang sehingga keringatnya mengucur deras.

Beginilah bunyi tulisan itu.

"Kau benar-benar seorang yang baik hati dan jujur. Karena kau mendengar pesanku, sudah selayaknya aku wajib membalas kebaikan hatimu, Yang pertama dengan ramuan obat mustika yang kedua benda mustika dan yang ke tiga ilmu sakti warisanku. Manakala kau membuka peti besar, dari dalamnya akan menyambar anak-anak panah beracun. Surat dan peta yang berada didalamnya palsu semua malahan beracun juga! Biarlah orang-orang jahat menerima hadiahnya yang setimpal. Barang yang tulen, berada di dalam peti kecil ini, pastilah kau telah mandi keringat. Kau telanlah ramuan obat mustika yang berada dalam lapisan atas!"

Meskipun bunyi surat itu meyakinkan, namun Thio Sin Houw tak berani melancangi gurunya.

Lagipula, tujuannya memasuki goa bukanlah mengarah mustika yang terpendam didalamnya.

ia ditugaskan memakamkan kerangka seorang leluhur, Maka tak boleh dirinya terpancing pada bunyi surat, sehingga mengabaikan tujuan semula.

sadar akan hal itu, cepat-cepat ia meletakkan dua peti besi ditepi liang, lalu dengan sikap hormat ia mengebumikan tulang-tulang Gin-coa Long-kun.

Kemudian dengan hati-hati ia memendam dan meratakan sampai rapi, setelah meletakkan batu tempat duduk almarhum diatas pekuburan sebagai nisan, ia berlutut dan bersembah tiga kali, sedang pedang almarhum tidak disentuhnya.

***** SELESAI sudah ia melakukan kewajibannya, secara langsung, sebenarnya ia sudah menjadi ahliwaris Gin-coa Long-kun.

Akan tetapi dia tidak memikirkan hal itu, Dengan membawa dua peti almarhum, Thio Sin Houw keluar kamar, sampai ditikungan ia berhenti karena terowongan menjadi sempit, ia memperhatikannya.

Hatinya lega, karena sempitnya terowongan ternyata diatur oleh rencana bangunan.

Rupanya Gin-coa Long-kun sengaja mengatur demikian rupa, untuk mencegah masuknya seseorang dengan leluasa kedalam goanya.

Memperoleh pikiran demikian, dengan cekatan ia membongkar susunan batu-batu penyempit.

Dengan demikian, apabila gurunya kini menghendaki, bisa leluasa masuk ke dalam goa lantaran terowongan menjadi cukup lebar.

Setibanya dimulut goa, Sin Houw memanggil Un siang agar menarik -tali pengikat.

Lalu dengan berlari larian ia pulang mencari kedua gurunya.

Bok-siang Tojin memeriksa surat-surat wasiat, didalam hati ia terperanjat Bok Jin Ceng yang ikut pula memeriksa suratsurat, tak terkecuali.

Tatkala membuka sampul surat petunjuk membuka peti, ia membaca dengan nyaring.

"Untuk membuka peti terdapat pesawat rahasia, Untuk membuka, ke dua tanganmu menyentak dengan berbareng. Lalu bukalah penutupnya."

Bok-siang Tojin dan Bok Jin Ceng kagum bukan main, itulah jebakan yang mengerikan.

Baca Juga: Gelang Perasa 4

Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 01869355886

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert