Ceritasilat Novel Online

Golok Halilintar 4

Eps 4 Golok Halilintar - Khu Lung

Baca online Golok Halilintar - Khu Lung

Cersil Golok Halilintar - Khu Lung.

"Cobalah lihat, dia lelaki atau perempuan?"

"Dia laki-laki atau perempuan ... bukan soal!"

Sahut Ihio Sin Houw dengan suara bergemetaran.

"Oh, begitu? coba lihat yang jelas, dia memakai celana atau tidak.,?"

Kata Lie Hong Kiauw dengan wajah merah.

"ldiiih! Masa orang itu tidak memakai pakaian ?"

"Bungkukkan saja badanmu dan mendekatlah ! Tolong tambah kayunya, agar airnya cepat mendidih!"

Thio Sin Houw percaya akan kecerdasan otak gadis itu, tetapi ia perlu meyakinkan diri, Tanyanya menegas.

"Apakah dia Kim Cin Nio?"

"Ya!"

Jawab Lie Hong Kiauw.

Jie-suheng dan Sam-sucie ingin melarutkan racun yang berada dalam diri Cin Nio dengan jalan menggosoknya dalam kuali.

Akan tetapi tanpa bantuan bubuk racun Pek-hu cu-hwa, jerih payahnya, tidak akan berhasil."

Mendengar keterangan Lie Hong Kiauw, Thio Sin Houw menjadi berlega hati, Tanpa ragu-ragu lagi ia menambah beberapa potong kayu bakar ke dalam tungku api, Akan tetapi ia tidak berani menambah terlalu banyak, karena khawatir Kim Cin Nio tidak akan tahan.

Terdengar Lie Hong Kiauw berkata memerintah lagi.

"Tambah lagi! Kenapa kau begini pelit?"

THIO SlN HOUW merasa bimbang lalu mendongak menatap wajah Lie Hong Kiauw dengan pandang menyelidik. Lie Hong Kiauw berkata meyakinkan.

"Percayalah! Dia tidak akan mati."

Dengan kepala penuh teka-teki ia menambah empat potong kayu bakar lagi ke dalam tungku itu, kemudian mundur dengan tetap membungkuk.

setelah mundur lima langkah, ia memutar badan menjauhi.

Melihat pekerti Thio Sin Houw, maka Lie Hong Kiauw tersenyum dengan muka bersemu dadu.

Tak lama kemudian, Lie Hong Kiauw menghampiri kuali besar itu, ia mencelupkan jari telunjuknya untuk mengukur suhu air yang nampak mulai mendidih.

Ia menunggu kira-kira sepuluh menit lagi, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi bubuk berwarna ungu.

Itulah bubuk bunga biru, Pek-hu cu-hwa.

ia menaburkan ke dalam air mendidih dan kemudian mengaduknya, setelah itu menghampiri Kim Sun Bo dan Kim Po-po.

Dengan jari telunjuk ia mengambil bubuk pemunah racun, kemudian diselomoti ke hidung mereka berdua.

Dan begitu menyedot obat pemunah racun yang ditempelkan Lie Hong Kiauw, lantas saja mereka bersin, pada saat itu juga mereka menyenakkan mata.

Dalam pada itu, Lie Hong Kiauw mulai bekerja, ia menyenduk air mendidih dalam kuali besar tersebut dengan sebuah gayung.

Air mendidih itu dibuangnya dan diganti dengan air dingin, sambil menuang air dingin, tak lupa ia menaburkan bubuk bunga birunya.

Menyaksikan hal itu, paras muka Kim Sun Bo dan isterinya yang tadinya guram lantas saja berugah girang, Mereka tahu, bahwa Lie Hong Kiauw sedang menolong puterinya, serentak mereka bangun berdiri mengawasi gerak-gerik adik seperguruan mereka itu dengan membungkam mulut.

Thio Sin Houw menoleh dan mengamat-amati wajah mereka, nampaknya masih berbimbang hati, Hal itu bisa dimengerti, puteri mereka kena racun adik seperguruannya dan kini gadis yang meracuni datang menolongnya.

inilah pekerti yang tak pernah terlintas dalam benak mereka.

Kim Sun Bo dan Kim Popo tadi sudah berusaha matimatian, untuk menolong jiwa puteri mereka itu dengan hati kurang yakin.

Dan kini gadis yang meracuni dapat memunahkan racun dengan cekatan dan pasti.

Tentulah gadis itu sudah mewarisi seluruh kepandaian guru mereka.

Menyadari hal itu, mereka berdua nampak jelus, Akan tetapi mereka mati kutu, bukankah dalam waktu singkat saja mereka berdua dan kakak seperguruan mereka yang tertua roboh ditangan adik seperguruan yang termuda itu?

Lie Hong Kiauw tidak menghiraukan kesan mereka berdua, dia tetap bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh, seperti tadi, setiap kali air mendidih ia menyendok dengan gayung dan membuangnya.

Kemudian diganti dengan segayung air dingin.

Direbus secara begitu, racun yang mengeram di dalam tubuh Cin Nio terhisap perlahan lahan oleh bubuk pemunah.

setelah beberapa lama, Lie Hong Kiauw kemudian berpaling kepada si tukang besi dan berkata memerintah.

"Kiang susiok! Hayolah turun tangan. Tunggu sampai kapan lagi? Bukan-kah sekarang saat yang sebaik-baiknya.

"Baiklah!"

Sahut si tukang besi sambil mengambil sepotong kayu bakar.

Dan selagi Thio Sin Houw sedang heran mengawasi, tiba-tiba tangan Kiang susiok yang menggenggam kayu bakar itu terayun memukul kepala Kim Sun Bo.

"Hei, gila kau!"

Bentak Kim Sun Bo dengan suara gusar. segera ia hendak menggerakkan tangannya, tetapi isterinya mencegah.

"Suko! Saat ini adik kita sedang menolong jiwa anak kita satu-satunya, Budi ini bukan main besarnya. Menerima pukulan beberapa kali tanpa membalas, rasanya bukan apaapa. Kau terimalah, dengan hati ikhlas, orang itu hanya melaksanakan perintah adik kita."

Mendengar kata-kata isterinya, Kim Sun Bo tercengang, akan tetapi kemudian ia menundukkan kepala. Lalu ia berkata dengan suara menahan gusar.

"Baiklah!"

Dan ia menyerahkan dirinya kepada si tukang besi, untuk membiarkan digebuk pulang-balik sampai babak belur! "Anjing!"

Teriak si tukang besi.

"Kau sudah merampas sawah-ladangku... rumahku .. kau paksa pula aku membangun rumah besi ini, jangan lagi kau merasa hutang budi atau memberikan sekedar upah kepadamu, sebaliknya kau bekuk aku sampai nyaris mampus. lihatlah, tulang igaku patah tiga!Dan hampir setahun penuh aku terpaksa rebah tidak berdaya. Karena sawah dan ladangku kau injak-injak, rumahku kau rampas, aku terpaksa mengobati lukaku dengan sisa-sisa barangku yang masih ada, Anjing! Aku ini orang miskin... kenapa kau begitu kejam dan biadab? Apa aku pernah mengganggu selembar rambutmu? Oh, Tuhan! Akhirnya pada hari ini aku bisa bertemu dengan kalian berdua ..,"

Sambil terus memaki-maki, tukang besi itu memukul, menghantam dan menendang kalang-kabut tubuh Kim Sun Bo.

Meskipun tidak memiliki himpunan tenaga sakti, akan tetapi pukulannya cukup keras karena tangannya terlatih sebagai tukang besi, Kayu pembakar yang digunakan sebagai alat penggebuk, patah tujuh-delapan kali sabetan saja.

Dapat dibayangkan, bahwa Kim Sun Bo sangat menderita karenanya, Namun dengan mengertak gigi, ia menerima pukulan-pukulan tukang besi itu tanpa membalas atau mengelak.

sekarang tubuh serta mukanya tidak hanya babakbelur, tetapi mulai mengeluarkan darah.

Dalam pada itu Thio Sin Houw yang berotak cerdas, lantas saja dapat menebak latar belakang peristiwa itu.

Tukang besi itu rupanya menyimpan dendam begitu rupa kepada suami isteri Kim Sun Bo.

oleh pertolongan Lie Hong Kiauw, dapatlah ia melampiaskan dendamnya.

Dia sendiri adalah seorang anak yang mendendam pula terhadap lawanlawan ayah-bunda dan saudaranya yang mati penasaran.

Karena itu menyaksikan betapa si tukang besi dapat melampiaskan dendamnya, hatinya mendadak ikut bersyukur pula, Tak sekehendaknya sendiri, ia memanjatkan doa syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Adil.

Dalam waktu yang pendek saja, tiga potongan kayu bakar sudah patah untuk alat penggebuk.

Muka dan seluruh tubuh Kim Sun Bo berlumuran darah.

Dan melihat seluruh tubuh Kim Sun Bo sudah berlumuran darah, tukang besi itu menghentikan gebukannya, Betapapun juga, dia bukan manusia kejam.

segera ia melemparkan kayu bakar keempat ke tanah, lalu menghadap Lie Hong Kiauw, sambil membungkuk hormat, ia berkata.

"Lie kouwnio, pada hari ini kau telah menolong aku melampiaskan dendamku. Budimu ini takkan kulupakan selama-lamanya. Entah dengan cara bagaimana, aku dapat membalas budimu!"

"Kiang susiok! Tak usah kau berkata demikian."

Sahut Lie Hong Kiauw, Kemudian menoleh kepada Kim Popo, katanya.

Sam-sucie, kembalikanlah sawah ladang dan rumahnya.

Aku mohon kepadamu, agar mulai saat ini kalian jangan membalas sakit hati kepadanya lagi.Maukah sam-sucie berdua jie-suheng berjanji?"

"Selama hidupku, tak akan lagi menginjak daerahnya,"

Jawab Kim popo dengan angkuh.

"Akan tetapi, jangan harap aku akan melupakan peristiwa hari ini..."

"Baiklah!,"

Sahut Lie Hong Kiauw memaklumi.

"Kiang susiok, kau pulanglah dahulu, Disini tiada lagi sangkut-pautnya dengan urusanmu. semuanya sudah beres, bukan?"

Dengan muka berseri-seri, tukang besi itu memungut beberapa potongan kayu bakar yang berlumuran darah, lalu berkata.

"Orang itu sangat jahat, tetapi aku telah dapat melampiaskan dendamku, Perkenankan aku menyimpan alat pemukul pembalas dendam ini, sebagai kenang-kenangan."

Setelah berkata demikian, kembali ia membungkuk hormat kepada Lie Hong Kiauw, kemudian memutar badannya meninggalkan ruangan itu dengan langkah panjang.

Melihat pandang mata tukang besi yang berseri-seri itu, jantung Thio Sin Houw tergoncang, itulah suatu keserian yang membersit dari rasa syukur luar biasa, ia jadi ingat dirinya sendiri.

Apabila dikemudian hari ia juga berhasil melampiaskan dendamnya, pastilah akan segirang dia pula.

Teringat pula ia kepada musuh-musuhnya yang kejam, dan kekejaman mereka tiada beda dengan kebengisan Kim Sun Bo maupun Kim Popo.

Mengingat pekertinya yang busuk, bukanlah suatu hal yang mustahil akan mengejar si tukang besi untuk menganiaya sekali lagi, begitu Lie Hong Kiauw meninggalkan rumahnya, Memperoleh pikiran demikian, segera Thio Sin Houw lari mengejar si tukang besi sambil berseru.

"Kiang susiok, menurut pendapatku Kim Sun Bo dan isterinya bukanlah manusia-manusia baik. Karena itu, lebih baik susiok mengungsi jauh-jauh. Sawah-ladang dan rumah susiok, segera dijual saja! Dengan bekal uang hasil penjualan itu, hendaklah susiok mencari daerah yang jauh dan aman dari perbuatan mereka."

Si tukang besi itu tercengang, sejenak kemudian ia terperanjat.

Benar pikirnya, Mereka berdua, suami isteri Kim Sun Bo adalah manusia-manusia beracun.

Kemungkinan besar mereka akan datang kembali untuk menyakiti dirinya, akan tetapi menjual sawah-ladang dan rumahnya yang telah didiami belasan tahun, alangkah sayang, Rasa cinta kepada kampung-halaman sudah demikian meresap didalam dirinya, maka berkatalah dia mencoba minta pertimbangan.

"Tetapi, bukankah mereka berdua sudah berjanji kepada Lie Kouwnio? masakan mereka akan melanggar janjinya sendiri?"

Lie Hong Kiauw tadi menyesali Thio Sin Houw yang telah memperkenalkan namanya terhadap suami-isteri Kim Sun Bo.

pastilah hal itu ada alasannya yang kuat, itulah sebabnya, begitu mendengar perkataan si tukang besi maka Thio Sin Houw lalu berkata meyakinkan.

"Mereka berdua manusia-manusia beracun, apakah susiok percaya kepada orang semacam mereka berdua?"

Si tukang besi seperti tersadar dari tidurnya, dengan suara mengeluh ia berkata.

"Benar ... benar, Baiklah, kalau begitu aku harus menyingkir jauh-jauh"

Sehabis berkata demikian, dengan bergegas ia menuju ke ambang pintu. Sekonyong-konyong pada waktu menginjak tangga kedua, ia berhenti lalu menoleh dan berkata kepada Thio Sin Houw.

"Terima kasih, siauw siangkong siapakah namamu?"

"Thio Sin Houw."

Jawab Sin Houw singkat.

"Sin Houw! Alangkah hebat nama itu!"

Seru si tukang besi. Tiba-tiba ia tersenyum, kemudian berkata setengah berbisik.

"Aku berharap dengan sangat hendaklah kau memperhatikan Lie kouw-nio selama hidupmul"

Mendengar perkataan si tukang besi itu, Thio Sin Houw tercekat hatinya berbareng heran. Bertanya menegas.

"Apa maksudmu, susiok?"

"Siauw siangkong,"

Kata si tukang besi sungguh-sungguh.

"Selama hidup aku ini adalah seorang pandai besi. Akan tetapi meskipun tolol, tidaklah sebodoh kerbau. Umurmu empat atau lima tahun lebih muda dari dia. Meskipun demikian, ia sangat memperhatikan dirimu, Dia seorang gadis yang suci bersih, berhati mulia dan berkepandaian tinggi. Tahukah kau siapa dia sebenarnya, selain kau kenal sebagai murid Ouw Sinshe? sebenarnya dia anak seorang maha sakti, Karena itu baikbaiklah kau bergaul dengan dia."

Setelah berkata demikian, si tukang besi memutar tubuh dan keluar ambang pintu dengan tertawa lebar.

Keruan saja Thio Sin Houw tidak dapat menyelami arti kata-katanya.

secara naluriah, tiba-tiba ia merasa malu seperti melihat seorang perempuan bertelanjang bulat dihadapannya, Untuk mengatasi perasaan naluriahnya itu, ia berseru membalas.

"Susiok! sampai bertemu lagi...!"

"Siauw siangkong, sampai bertemu kembalil"

Jawab si tukang besi, ia lalu mengumpulkan alat-alat besinya kedalam keranjang, setelah lengkap semua, segera ia memikulnya berjalan pulang ke kampungnya dengan hati lega.

Kira-kira sepuluh langkah berjalan, ia bersenandung.

itulah suatu bukti kesederhanaan hatinya.

ia menangis waktu sedih, ia membungkam mulut sewaktu prihatin, dan tertawa serta bersenandung tatkala hatinya tegar.

Seperti seorang hukuman melihat salah seorang sahabatnya memperoleh kebebasannya kembali, Thio Sin Houw menghela napas karena senang, Dan dengan langkah perlahan ia berjalan kembali ke dapur.

Tatkala itu Kim Cin Nio telah sadar dari pingsannya, ia sudah berdiri di atas lantai dengan berkerebong selimut kain panjang.

Terhadap Lie Hong Kiauw, keluarga Kim suami-isteri jelus, dengki dan juga membenci.

Akan tetapi menyaksikan kepandaian gadis itu dalam hal menggunakan obat dan racun, mau tak mau mereka merasa sangat kagum, Dengan berdiri tegak mereka menatap pandang Lie Hong Kiauw, seakanakan persakitan menunggu keputusan hakim dengan membungkam mulut.

sama sekali mereka bertiga tidak menghaturkan rasa terima kasih.

Lie Hong Kiauw sendiri tak menghiraukan sikap mereka yang dingin itu, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga ikat rumput obat kering berwarna putih, Diletakkannya ketiga ikat rumput obat kering itu di atas meja, kemudian berkata.

"Rumah kalian tidak lagi merupakan rumah tertutup, semua pohon-pohon racunmu sudah kupunahkan, Karena itu pada suatu kali musuh kalian, Ang Sin Kong -sewaktu-waktu dapat memasuki rumah ini. Karena itu kalian bisa memilih, keluar atau tetap berada di rumah ini, Kedua-duanya sama saja bahayanya bagi kalian bertiga, inilah rumput Sian-ie su-cay, yang dahulu kutanam diantara pohon bunga Pek-hu cu-hwa, Dengan membakar rumput ini, kukira kalian sanggup mengundurkan gangguan Ang Sin Kong, Akan tetapi sejak ini, janganlah kalian mengambil jiwa orang dengan sesuka hati sendiri. Kuharapkan pula agar permusuhan kalian dengan keluarga Ang Sin Kong dapat di selesaikan dengan damai."

Pada muka Kim Sun Bo berdua isterinya nampak berubahrubah, Kadang merah-padam, kadang pula nampak berseriseri.

Mereka merasa girang dan bersyukur karena memperoleh pertolongan, sebaliknya mereka mendongkol karena harus mendengarkan segala petuah dan ceramah adik seperguruannya yang masih belum dewasa, itulah suatu penghinaan luar biasa bagi mereka berdua, Meskipun demikian, mereka tak dapat memungkiri kenyataan, Kim Sun Bo segera mengatasi perasaannya dan berkata.

"Lie sumoay, terima kasih atas segala perhatianmu ini."

"Hmm ..."

Dengus Thio Sin Houw di dalam hati.

"Kau berterima kasih terhadap alat pemunah lawan, dan bukan karena tertolongnya nyawa anakmu..."

Setelah suaminya menghaturkan terima kasih, Kim Popo mengeluarkan sebotol kecil yang kemudian diserahkan kepada Lie Hong Kiauw, Katanya.

"Sumoay, inilah obat pemunah bisa racun Hian-beng Sinkang, Aku percaya, kau bisa membuatnya sendiri. Akan tetapi kukira tak keburu lagi untuk menolong temanmu itu..."

Mendengar disebutnya racun Hian-beng Sin-kang, hati Thio Sin Houw tercekat, ia girang bercampur heran, bagaimana Kim Popo dapat melihat racun Hian-beng Sin-kang yang mengeram didalam dirinya dengan sekali melihat saja?

sedang hatinya penuh pertanyaan demikian, ia melihat Lie Hong Kiauw menerima botol pemberian Kim Popo.

Gadis itu segera, memeriksanya, dan kemudian menoleh kepada Thio Sin Houw, Katanya lembut.

"Adik yang baik, orang yang berhati mulia dimana saja gampang memperoleh pertolongan Tuhan, Terimalah!"

Setelah berkata demikian kepada Thio Sin Houw, gadis itu berputar arah kepada Kim Cin Nio. Katanya dengan suara angker.

"Cici, kenapa kau memberikan racun Hian-beng Sin-kang kepada orang luar?"

Kim Cin Nio terkesiap, ia heran bukan main, bagaimana Lie Hong Kiauw bisa mengetahui rahasia itu yang di tutupnya rapat-rapat? Karena ditanya secara mendadak, ia menjawab dengan gugup.

"Aku ... aku..."

"Lie sumoay!"

Kata Kim Sun Bo dan meneruskan lagi.

"Cin Nio memang keterlaluan, dan aku sudah menghajarnya"

Setelah berkata demikian, ia berjalan mendekati puterinya.

Kemudian memutar tubuh Cin Nio sehingga memunggungi Lie Hong Kiauw berdua Thio Sin Houw, Dibukanya selimut kain panjang yang menutupi punggung puterinya.

Dan begitu selimut kain tersibak, nampak punggung Kim Cin Nio penuh jalur bekas sabetan cambuk yang bersemu darah.

Sebenarnya, tatkala menolong melarutkan racun yang mengeram di dalam tubuh Cin Nio, Lie Hong Kiauw melihat bekas sabetan cambuk tersebut.

Akan tetapi mengingat bahwa perbuatan Cin Nio melanggar undang-undang gurunya, merupakan kesalahan sangat besar, ia wajib menegur.

Bahwasanya Cin Nio telah memberikan racun Hian-beng sin kang kepada orang luar, diketahui Lie Hong Kiauw tatkala Kim popo menyerahkan obat pemunahnya.

ia teringat pula akan racun Hian-beng Sin-kang yang mengeram didalam tubuh Thio Sin Houw.

Pada saat itu serasa ia mendengar suara gurunya mengiang-ngiang dalam telinganya.

"Jika kau sendiri yang meracuni orang, andaikata kesalahan tangan, segera kau dapat memberi pertolongan. Sebaliknya apabila racun, itu jatuh ke tangan orang lain yang kemudian menggunakannya untuk mencelakakan orang baik-baik, maka korban itu takkan tertolong lagi, Dosa ini sepuluh kali lipat besarnya dari pada meracuni orang dengan tangan sendiri."

Lie Hong Kiauw percaya, bahwa larangan itu pastilah sudah sering di katakan kepada Kim Cin Nio, oleh kedua orang tuanya, Kenapa dia masih melanggar juga?

pastilah ada latar belakangnya yang beralasan kuat.

Sebenarnya Lie Hong Kiauw ingin minta keterangan lebih jelas lagi, akan tetapi karena Kim Cin Nio sudah dihajar keras oleh kedua orang tuanya, ia merasa tak sampai hati, segera ia mengambil keputusan untuk berangkat saja.

Katanya sambil membungkuk hormat kepada kedua kakak seperguruannya.

"Jie suheng dan Sam sucie, Maaf-kan aku, pada akhirakhir ini aku banyak melakukan kesalahan kepada kalian berdua, sampai bertemu lagi..."

Kim Sun Bo segera membalas hormat, akan tetapi tidak demikian halnya Kim Popo, perempuan bongkok itu hanya mendengus, sudah barang tentu Lie Hong Kiauw tahu akan arti dengusan itu, namun ia tidak menghiraukan.

Dengan memberikan isyarat mata kepada Thio Sin Houw, ia mendahulukan bertindak keluar ruangan.

Baru saja ia hendak melangkahi ambang pintu, Kim Sun Bo mengejar sambil berseru.

"sumoay!"

Lie Hong Kiauw memutar tubuhnya, Dan begitu melihat paras muka kakak seperguruannya penuh rasa bimbang dan guram, segera ia mengetahui apa yang berkutik didalam hatinya.

Dengan tertawa manis Lie Hong Kiauw berkata.

"Suheng, apakah yang menyulitkan hatimu?"

"Keluarga Ang Sin Kong berjumlah tiga orang, himpunan ilmu saktinya sangat tinggi. Untuk mengundurkan mereka bertiga, kami berdua membutuhkan bantuan seorang lagi"

Sahut Kim Sun Bo "llmu kepandaian Cin Nio masih terlalu dangkal, karena itu ingin aku memohon kepadamu ..."

Ia, tak dapat menyelesaikan perkataannya karena tiba-tiba hatinya menjadi segan. Lie Hong Kiauw tersenyum, dan segera menunjuk ke keranjang bambu yang menggeletak diluar pintu.

"Toa-suheng berada di dalam keranjang itu, Bubuk bunga biru Pek hu-cu-hwa yang berada ditangan Sam sucie cukup untuk memunahkan racun yang mengeram didalam tubuh Toa-suheng. Jie-suheng, kenapa kau tak mau menggunakan kesempatan sebagus ini untuk memperbaiki hubunganmu dengan Toa-suheng? Jika kau memberikan pertolongan kepadanya, niscaya dia akan membantu kesulitanmu juga."

Mendengar keterangan Lie Hong Kiauw, bukan main girang hati Kim Sun Bo, Belasan tahun lamanya ia berlawanlawanan dengan kakak seperguruannya, sebenarnya ingin ia memperoleh titik-titik perdamaian, akan tetapi selalu gagal.

Bahkan makin lama makin mendalam sama sekali tak pernah diduganya, bahwa adik seperguruannya yang masih belum pandai beringus itu dengan mudah saja dapat mengatur siasat yang mengagumkan.

Kecuali mengundurkan lawan berbareng memperbaiki perhitungan antara sesama saudara seperguruan.

Keruan saja hati Kim Sun Bo jadi terharu, setelah menghaturkan terima kasihnya berulangkali, segera ia mengambil keranjang bambu itu.

Dalam pada itu Thio Sin Houw sudah memungut bunga birunya lagi, yang tadi diletakkan diluar pintu, Lie Hong Kiauw mengalihkan perhatiannya kepadanya, kemudian ia berpaling lagi kepada Kim Sun Bo dan berkata.

"Jie-suheng. Kepala dan hampir seluruh tubuhmu mengalirkan darah. Tetapi begitu hawa racun yang mengeram di dalam tubuhmu ikut merembes keluar pula, kuharap janganlah kau menyimpan dendam terhadap perbuatanku yang kurang ajar tadi."

Lagi-lagi Kim Sun Bo terkejut, seperti seseorang yang tersadar dari tidur nyenyak. pikirnya di dalam hati.

"Akh! Baru sekarang aku tahu, bahwa perintahnya agar tukang besi tadi memukuli aku sebenarnya kecuali menghukum kesalahanku, juga mengandung maksud baik, Racun yang mengeram dalam tubuh Kim popo masih utuh, kalau begitu aku harus mengeluarkan darahnya pula, agar ia terhindar dari keracunan."

Memperoleh pengertian itu, ia merasa benar-benar takluk terhadap adik seperguruannya yang jauh lebih muda dari dirinya, Benar-benar si bungsu itu banyak akal dan lebih unggul dari pada dirinya sendiri, segera lenyaplah napsunya untuk merebut atau merampas buku warisan gurunya, yang kini berada ditangan Lie Hong Kiauw.

Dengan berdiam diri, Lie Hong Kiauw dan Thio Sin Houw meninggalkan rumah aneh itu.

Didalam benak Sin Houw berkecamuk banyak persoalan yang berkelebatan tiada hentinya.

ia menggeridik tatkala mereka bertiga tstdi membicarakan urusan racun Hiang-beng sinkang .

Berbagai pertanyaan timbul dalam hatinya.

"Aku terkena racun Hian-beng bin-kang, siapa yang melukai aku agaknya hanya setan dan iblis yang mengetahui. Kini setitik sinar menyingkap kabut tebal itu, Kim Cin Nio memberikan racun itu kepada seseorang, sayang Hong cici tidak minta keterangan kepadanya, siapa orang yang dimaksud itu,"

Ia merasa kecewa dan menyesali Lie Hong Kiauw, akan tetapi tiba-tiba suatu pertimbangan lain menusuk benaknya. Katanya didalam hati.

"Dalam semua sepak terjangnya, gadis ini selalu mengandung dua maksud yang saling bertentangan. Dia menggebuk sambil menolong, dia tidak mau minta keterangan yang lebih jelas lagi tentang orang yang membawa racun Hian-beng sin-kang dari tangan Kim Cin Nio. Apakah dia bermaksud melindungi aku? Memang, hatiku penuh dendam terhadap orang itu dan semua yang membunuh ayah bunda dan saudaraku, Akan tetapi aku belum mempunyai kepandaian yang berarti. Kalau mendadak hatiku panas dan ingin melampiaskan dendamku, bukankah sama saja artinya aku mengantarkan jiwaku sendiri?"

Dan memperoleh pertimbangan demikian, hatinya menjadi lega.

Tatkala itu fajar hari telah menyingsing, mereka berdua sudah bekerja berat dan semalam suntuk tidak memejamkan mata, Meskipun demikian karena terselimut kesejukan hawa pegunungan yang segar, sama sekali mereka tidak merasa letih.

"Hong cici, bagaimana kau mengetahui bahwa Kim Cin Nio kena racun Pek hu cu-hwa?"

Tanya Thio Sin Houw.

"Dalam kegelapan, mataku tak dapat melihat tegas."

"Mula-mula sewaktu melihat kawanan anjing hutan itu, kukira yang datang adalah salah seorang keluarga Ang Sin Kong,"

Sahut Lie Hong Kiauw.

"Akan tetapi begitu melihat pada leher orang itu terikat seikat rumput obat, segera aku mengetahui bahwa dia itulah Kim cici."

"Apakah sebelumnya kau pernah melihat anaknya saudara seperguruanmu itu?"

Tanya Thio Sin Houw.

"Belum pernah aku melihat orangnya tetapi kenal namanya,"

Jawab Lie Hong Kiauw secara sederhana, kemudian meneruskan "Kemudian kuserang dia dengan paku beracun milik Toa-suheng, dan pada paku itu kuikatkan sepucuk surat palsu Toa-suheng.

Paku beracun Toa-suheng sangat terkenal diantara kita sesama rumah perguruan, itulah salah satu senjata rahasia guruku yang di ajarkan kepadanya.

Namanya paku Tok-liong teng, sudah barang tentu Jie-suheng berdua segera mengetahui dan mengenal pemiliknya.

Apalagi Jie suheng berdua menemukan surat tulisan Toa suheng yang sebenarnya tulisanku sendiri.

itulah sebabnya pula, mereka berdua menuduh Toa suheng meracuni anak mereka, Cin Nio."

"Dari mana kau peroleh senjata rahasia toa suhengmu?"

Tanya Thio Sin Houw.

"Adik yang baik, kau tentu bukan anak tolol. pastilah kau bisa menebak-nya."

Jawab Lie Hong Kiauw dengan tertawa lebar. Thio Sin Houw berdiam sejenak, kemudian berkata nyaring seperti baru tersadar.

"Akh! sekarang tahulah aku. Pada saat itu Toa suhengmu telah kau bekuk, dan kau masukkan ke dalam keranjangmu. Bukankah begitu? Dan kau mengambil sebuah paku Tok-liong teng!"

"Benar!"

Sahut Lie Hong Kiauw.

"Melihat bunga biru itu Toa suheng sudah menaruh curiga, ia mengikutimu ketika kau berdua minta keterangan jalan yang menuju ke rumah suhu, Dan akhirnya ia masuk ke dalam keranjangku..."

Mereka berdua lantas tertawa gembira, Tiba-tiba wajah Lie Hong Kiauw berubah menjadi sungguh-sungguh, katanya.

"Adik Sin Houw! Racun Hian-beng Sin-kang yang mengeram didalam dirimu itu belum larut seluruhnya, Sewaktu-waktu kau masih akan terserang hawa yang dingin luar biasa, karena itu obat pemunah hadiah Sam sucie harus kau telan secepat mungkin!"

Diingatkan tentang racun Hian-beng Sin-kang yang mengeram di dalam dirinya, Thio Sin Houw segera menceritakan bagaimana terjadinya, Maksudnya ia hendak memperoleh keterangan pula siapakah orang yang telah memukul dirinya dengan racun itu, Akan tetapi Lie Hong Kiauw hanya bersikap diam saja.

"Hong cici, kemarin aku menerangkan kepadamu bahwa orang tua dan sekalian saudaraku tiada lagi. Mereka sesungguhnya mati terbunuh oleh lawan-lawan yang belum kuketahui dengan jelas,"

Kata Thio Sin Houw menambahkan keterangan mengenai riwayat hidupnya.

Dan mendengar riwayat hidup Thio Sin Houw, Lie Hong Kiauw nampak menundukkan kepalanya, tetapi gadis itu tetap membungkam mulut.

Tak terasa mereka berdua sudah tiba kembali ke gubuk Lie Hong Kiauw.

Cie Siang Gie masih nampak tidur nyenyak, Lie Hong Kiauw segera mengeluarkan obat pemunah dan diberikannya kepada Thio Sin Houw, Kemudian ia mencari cangkulnya, dan berangkat ke ladang untuk mengatur kembali bunga-bunga birunya yang semalam terinjak-injak kudanya Kim Cin Nio dan kawanan anjing liar.

Menyaksikan hal itu, segera Thio Sin Houw menjejalkan obat pemunah ke dalam mulut Cie siang Gie.

Kemudian ia mencari cangkul pula dan menyusul ke ladang untuk membantu Lie Hong Kiauw.

Semalaman penuh ia bekerja berat, dan sama sekali tidak memicingkan mata.

Namun demikian, ia berangkat ke ladang juga untuk merawat kembali pohon bunga-bunga birunya.

Kalau aku tidak membantu apa yang menjadi perhatiannya, maka aku adalah manusia yang tidak mengenal budi,"

Pikir Thio Sin Houw sambil bekerja dengan sungguh-sungguh, Akan tetapi sebenarnya dia tak boleh bekerja menggunakan tenaga yang berlebihan, karena racun Hian-beng Sin-kang yang masih mengeram di dalam tubuhnya.

Meskipun Lie Hong Kiauw seorang gadis yang kurus kering, akan tetapi kesehatannya memang seratus kali lipat apabila dibandingkan dengan Thio Sin Houw, inilah perhitungan yang tidak pernah terpikirkan oleh Thio Sin Houw, ia hanya menuruti luapan perasaannya belaka, yang penuh dengan tata susila dan kemanusiaan.

Matahari sudah sepenggalah tingginya, tatkala tiba-tiba ada seseorang menegur dirinya.

"Hei, Sin Houw! Kau sudah bisa bergerak, bahkan mencangkul pula, Apakah aku sedang mimpi?"

Serentak Thio Sin Houw menoleh dan melihat Cie siang Gie berdiri di pengempangan ladang, dalam keadaan segar bugar!

wajahnya nampak bersemu merah, menandakan bahwa kesehatannya telah pulih kembali.

Tetapi justeru pada saat itu, suatu gumpalan hawa dingin bergolak hebat didalam perut Thio Sin Houw, ia terkejut, buru-buru diletakkannya cangkulnya dan membungkukkan tubuhnya.

Dengan mengertak gigi ia menahan rasa sakit luar biasa, tubuhnya lantas saja menggigil dan kemudian ia roboh terguling keatas tanah.

Keruan saja hal itu membuat Cie Siang Gie kaget setengah mati, dengan sekali menjejak tanah ia melesat menghampiri dan memeluk Thio Sin Houw dan berteriak.

"Sin Houw! Kenapa kau? Apakah kau kumat lagi?"

"Cie toako ... aku bersyukur karena kau telah sehat kembali ..."

Sahut Thio Sin Houw dengan suara lemah.

Cie siang Gie jadi kebingungan, karena tubuh Thio Sin Houw terasa dingin sekali.

Dengan tak sekehendaknya sendiri ia menoleh kepada Lie Hong Kiauw, disaat gadis itu berhenti mencangkul dan berkata.

"Bawa masuk saja ke dalam rumah."

"Sebenarnya bagaimana? sejak kapan ia bisa menggerakkan kaki dan tangannya? Dan kenapa tiba-tiba ia roboh kembali?"

Cie siang Gie menegas dengan suara menggeletar.

"Aku bilang, bawa dia masuk ke dalam rumah!"

Sahut Lie Hong Kiauw dengan suara dingin.

Kemudian ia berjalan mendahului mengarah ke rumahnya.

Meskipun dalam hati Cie Siang Gie masih penuh pertanyaan, tetapi pemuda itu tak berani membuka mulut lagi.

Segera ia memondong tubuh Thio Sin Houw dan dibawanya berjalan mengikuti Lie Hong Kiauw.

"Kau berkata, kau adalah keponakannya Ouw sinshe, Bagaimana kau memanggil padanya?"

Tanya Lie Hong Kiauw setelah Cie siang Gie meletakkan Thio Sin Houw diatas dipan. Cie Siang Gie terkesiap, Menyahut, sambil mengawasi.

"Susiok."

"Apakah dia kakak dari ibumu?"

"Bukan, Aku memanggil paman padanya, karena aku termasuk sealiran dengan dia."

"Hem!"

Dengus gadis dusun itu.

"Apakah kau seorang anggota Beng-kauw?"

"Benar."

"Kau sudah tahu, tatkala dia kau bawa menginap kemari, sudah dapat ia menggerakkan kaki dan tangannya, Mengapa hal itu kau tanyakan kepadaku?"

Tanya Lie Hong Kiauw dengan wajah bersungguh-sungguh.

Cie siang Gie tercekat hatinya.

Mendadak pikirannya yang seperti di liputi kabut menjadi terang kembali, terus saja katanya sambil menepuk kepalanya.

"Akh, benar! Kenapa pikiranku menjadi linglung begini? Tatkala dia kembali dari rumah aneh itu, kaki dan tangannya sudah dapat digerakkan. Bahkan dia berseru menegas kepadaku, apakah hal itu hanya suatu mimpi belaka, Aku menegaskan bahwa dia bisa bergerak benar-benar, Hanya saja aku tak tahu, bagaimana dia bisa menggerakkan kaki dan tangannya dengan tiba-tiba saja."

Lie Hong Kiauw tidak segera menjawab, ia memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan Thio Sin Houw, sejenak kemudian berkata.

"Tahukah kau, racun apakah yang mengeram didalam tubuhnya?"

"Aku hanya mendengar keterangan dari kakek gurunya, Tie-kong tianglo, dia terkena pukulan tangan jahat yang beracun. Racun itu racun Hiang-beng Sin-kang."

Jawab Cie siang Gie. Lie Hong Kiauw tersenyum, agaknya ia merasa puas, Kemudian memanggut kecil dan berkata.

"Apakah dia ini anggauta Beng-kauw juga?"

"Bukan,"

Sahut Cie siang Gie dengan suara tegas.

"Tatkala kubawa dia mendaki gunung Ouw-tiap san, aku berjanji kepada kakek gurunya bahwasanya tujuanku hendak membalas budi dengan mengandalkan kesaktian Ouw susiok. Dan apabila dia dapat disembuhkan kembali, tak perlu merasa berhutang budi, Aku berkata kepada Tie-kong tianglo, bahwa untuk kesemuanya itu tak perlu dia masuk menjadi anggauta Beng-kauw."

Lie Hong Kiauw menatap wajah Cie siang Gie dengan pandang heran, tanyanya tak mengerti.

"Mengapa kakek gurunya begitu picik pandangannya terhadap golongan kita?"

"Entahlah."

Sahut Cie siang Gie dengan tertawa melalui dadanya.

"Sebenarnya setelah aku bertemu dengan Ouw susiok, segera aku akan membicarakan hal ini. sayang sekali sampai pada hari ini, aku belum berhasil menghadap beliau. Apakah kau masih tidak sudi menunjukkan dimanakah tempat tinggalnya?"

"Heng!"

Dengus Lie Hong Kiauw, ia diam beberapa saat lamanya, kemudian berkata.

"Kau menyebut beliau paman, bukan?"

"Benar."

"Beliau adalah guruku,"

Cie siang Gie kaget sampai terpukau, tetapi dia seorang pemuda berpengalaman dan cerdas.

Kemarin, meskipun dapat berjalan seperti sediakala, namun tenaga saktinya belum pulih kembali.

Tetapi pada pagi hari ini, ia merasa diri sehat benar.

Bankan di dalam tubuhnya terasa segumpal hawa hangat yang nyaman luar biasa,"

Berputar-putar menembus peredaran darahnya, itu merupakan suatu tanda bahwa dirinya sudah pulih, padahal dia belum bertemu dengan Ouw sinshe.

Kalau begitu, siapa lagi yang telah menolongnya, selain gadis didepannya ini?

Maka segera ia menjatuhkan diri, berlutut di hadapan gadis itu, Katanya dengan suara memohon.

"Dengan sekali melihat, tahulah sudah kau bahwa Sin Houw terkena pukulan jahat Hian-beng Sin-ciang. Maka aku yakin, pastilah kau sudah mempunyai pegangan untuk menyembuhkannya. Aku sendiri yang menderita pukulan jahat, dapat kau sembuhkan hanya dalam waktu satu malam saja, ini semua membuktikan, bahwa kau sudah mewarisi kepandaian Ouw susiok. Teringatlah aku akan suatu pepatah. menolong jiwa orang, lebih penting dari pada menolong rumah tingkat tujuh yang terbakar api, Memang sekali menolong orang, seyogianya jangan setengah-setengah."

"Hemm! Rupanya kau pandai berkotbah pula!"

Potong Lie Hong Kiauw dengan memberengut.

"Bukan begitu! Aku telah berhutang budi terhadap kakek gurunya. Maka dengan ini aku mohon kepadamu, agar kau sudi menolong cucunya."

"Tak kukira kau ternyata seorang bijak, kau tahu membalas budi!"

Kata Lie Hong Kiauw dengan suara dingin.

"Yang berhutang budi adalah kau, bukan aku."

Cepat-cepat Cie siang Gie membungkukkan badan, dan menundukkan kepala sampai mencium bumi. Katanya.

"Lie kouwnio, Sin Houw ini adalah anak seorang pendekar sejati. Aku percaya bahwa darah ayahnya mengalir dalam dirinya. Kita boleh kehilangan ribuan orang yang tiada gunanya, akan tetapi apabila sampai kehilangan seorang berjiwa ksatria, sesungguhnya sangat disayangkan."

"Apakah seorang pendekar sejati mesti baik hatinya? Hem ... di dalam jagad ini, berapa jumlahnya orang yang berhati baik? Kalau aku harus menyembuhkan orang-orang berhati baik di seluruh dunia ini, mestinya aku harus mempunyai tangan seribu dan kaki seribu pula."

Kata Lie Hong Kiauw lagi. Kemudian ia menghela napas panjang. Berkata meneruskan.

"Sekiranya dia salah seorang anggauta golongan kita, masih mau aku berusaha menolong jiwanya, Sebaliknya, dia adalah cucu seorang tokoh persilatan yang mengaku dirinya seorang ksatria sejati yang tidak memandang sebelah mata golongan kita, Kenapa dia tidak mencari seorang tabib pandai lain saja?"

"Sebenarnya akulah yang membawa Sin Houw kemari."

Sahut Cie siang Gie.

"Oh, begitu?"

Lie Hong Kiauw mengerutkan keningnya.

***** PADA WAKTU ITU Thio Sin Houw kehilangan kesadarannya.

Satu kekuatan yang berada diluar kemampuannya merenggut dirinya, dan ia merasakan dibawa terbang tinggi ke udara menyusupi gumpalan-gumpalan awan -kemudian di banting keatas tanah.

Debu lantas saja membubung tinggi, dan matanya menjadi gelap, selagi demikian, sekonyong-konyong ia mendengar deru angin melanda bumi".

Dan debu yang menutupi penglihatannya dibawa buyar berderai, segera ia mengucak-ngucak matanya, dan tiba-tiba saja ia sudah berada didalam sebuah ruangan besar.

Cie siang Gie berada disampingnya dan di depannya berdiri seorang laki-laki berusia kurang lebih tujuh puluh tahun.

perawakan orang itu tinggi kurus, kepalanya setengah botak dan tertutup topi merah kecil.

Dahinya menonjol ke depan, sehingga matanya kelihatan sangat sipit, Hidungnya kecil, akan tetapi lubangnya terlalu besar, Melihat dirinya, orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh, Katanya dengan suara yang parau.

"Hei! Tahukah kau siapa aku? Aku adalah Ouw Gie Coen, si tabib sakti yang tak ubah malaikat, sanggup menghidupkan manusia yang sudah terkubur di dalam bumi seribu tahun. Kau percaya atau tidak?"

Cie siang Gie segera menjatuhkan diri, ia berlutut dengan muka sampai mencium bumi, Kemudian berkata dengan suara memohon belas kasihan.

"Hemm ... orang yang bernama Tie-kong tianglo itu manusia macam apa?"

Tanya Ou Gie Coen jadi gusar sekali.

"Ouw susiok. Meskipun ayahnya menjadi murid Tie-kong tianglo yang mengaku diri dari aliran suci, dan tidak memandang sebelah mata kepada aliran kita, akan tetapi ibunya adalah puteri tunggal si Tangan Geledek Lie Sun Pin yang sealiran dengan kita,"

Mendengar perkataan Cie siang Gie, maka Ouw Gie Coen yang bersikap kaku lantas saja nampak berubah. Katanya menyahut.

"Kalau begitu, bangunlah kau! jadi dia adalah puteranya Lie Lan Hwa...? itulah lain perkara."

Setelah berkata demikian, ia mendekati Thio Sin Houw, Dengan suara lemah lembut dia berkata.

"Anakku, di dalam dunia ini tidak terhitung jumlahnya orang-orang yang mengaku dirinya suci akan tetapi sesungguhnya jahat sekali. Mereka yang mengaku dirinya suci, kebanyakan hanya mementingkan diri sendiri. lihatlah selagi kancah peperangan di tanah air begini bergolak, mereka berebut nama kosong agar diakui masyarakat sebagai aliran atau golongan suci bersih yang mengerti perkara Tuhan, Kami yang berada dipihak Cu Goan Ciang, tidak memperdulikan suci atau kotor dan baik atau buruk. perkara ini kami serahkan kepada Tuhan. Hanya karena kami didahului mereka, maka kami terpaksa juga membuat peraturan. Bahwasanya kami tidak akan menolong orang-orang yang tidak sealiran dengan kami. Kau adalah cucunya si Tangan Geledek Lie Sun Pin yang sealiran dengan kami. Baiklah, aku akan menyembuhkan penyakitmu, Asal saja kau berjanji kepadaku, setelah sembuh kau akan menanggalkan rumah perguruan Tie-kong tianglo yang menganggap dirinya golongan suci dan baik. Bagaimana?"

"ltu tidak boleh, paman!"

Tiba-tiba Cie siang Gie menjawab, mewakili Thio Sin Houw.

"Sudah kukatakan tadi, bahwa sebelum berangkat kemari aku telah berjanji kepada Tie-kong tianglo, sekali-kali susiok tidak boleh memaksa Sin Houw ini memasuki aliran kita sebagai suatu jual beli, Bahkan Tie-kong tianglo tidak sudi pula mengakui menerima budi dari aliran kita. Tiap-kok ie-sian Ouw Gie Coen jadi gusar sekali, sepasang alisnya tegak berdiri dan ia menggebrak meja yang berada di depannya, Katanya dengan suara nyaring.

"Hengg ... orang yang bernama Tie kong tianglo itu manusia macam apa? Begitu berani ia menghina golongan kita? Kalau begitu, apa perlunya aku menolong menyembuhkan penyakit cucumuridnya? Tetapi mengingat anak ini adalah cucunya Lie Sun Pin, biarlah aku ingin mendengar ucapannya sendiri. Nah, bagaimana?"

Thio Sin Houw menyadari, bahwa racun Hian-beng Sinkang sudah mengamuk keseluruh jalan darahnya, Demikian hebat penderitaannya sampai kakek-gurunya, Tie-kong tianglo yang berkepandaian tinggi merasa tidak berdaya, jiwanya kini hanya tergantung kepada tabib sakti Ouw Gie Coen belaka, Kalau tabib itu mau mengulurkan tangannya, dia bakal hidup.

sebaliknya apabila tidak sudi menolong, dia akan segera mati.

Tetapi tatkala berpisah dengan kakek gurunya, ia telah dipesan berulangkali jangan sampai memasuki aliran sesat, Orang boleh mati tak berkubur didalam dunia ini, akan tetapi dalam menghadap Tuhan, jangan sampai tersesat, Demikianlah pesan Tie-kong tianglo.

Sebaliknya, bagaimana sesungguhnya aliran Beng-kauw itu?

Belum ia ketahui dengan jelas.

Apakah benar-benar aliran sesat atau tidak?

Namun terhadap Tie-kong tianglo ia menaruh hormat karena orang tua itu sangat kasih kepadanya, tak ubah cucu kandung sendiri, ia berpesan demikianpun karena terdorong oleh rasa kasih sayangnya dan bukan bermaksud jahat atau hendak menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kehinaan.

oleh pertimbangan demikian, ia berpikir didalam hati.

"Baiklah, meskipun dia akhirnya tidak sudi menolong jiwaku, tetapi rasanya adalah suatu dosar besar, apabila melanggar pesan kakek guru."

Dengan keputusan itu, Thio Sin Houw menjawab dengan lantang.

"Ouw sinshe, ibuku adalah puteri tunggal Lie Sun Pin yang sealiran dengan sinshe, pastilah ibuku seorang yang baik hati pula. Hanya saja, kakek guruku berpesan kepadaku, agar aku tidak memasuki aliran Beng-kauw, Aku sudah sanggupi. Dan kalau sekali sudah menyanggupi, bagaimana mungkin aku melanggar perkataanku sendiri? Kalau sampai terjadi demikian, aku bukan laki-laki lagi, Bukankah perkataan seorang laki-rlaki berharga seribu gunung? Dengan pendirian ini, apabila sinshe tidak sudi mengobati aku, tidak apalah. seumpama aku berhasil kau sembuhkan, tetapi kemudian memasuki aliran Beng-kauw, maka di dunia ini hanya ketambahan seorang laki-laki yang mulutnya tidak dapat dipercaya lagi, Apakah gunanya hidup demikian, dan apakah keuntungannya dunia menghidupi aku?"

Mendengar perkataan Thio Sin Houw, diam-diam Ouw Gie Coen terkejut, pikirnya.

"Setan cilik ini besar mulutnya, dia berlagak seperti seorang ksatria-sejati yang tidak butuh nasi dan pakaian. Hmm, kalau aku tidak mau mengobati, masakan dia tidak berlutut memohon-mohon belas kasihanku?"

Memperoleh pikiran demikian, ia berkata lantang kepada Cie siang Gie.

"Aku sudah mendengar pendirian anak ini, dia tidak sudi memasuki aliran kita, Karena itu, bawalah dia keluar! Tak sudi aku menyaksikan orang mati didalam rumahku!"

Cie siang Gie kenal tabiat pamannya itu, sekali berkata tidak, dia tetap akan mempertahankan pendiriannya itu, sebaliknya kalau sudah sanggup, meskipun yang berkepentingan akan lari, akan dikejarnya sampai dapat ditangkapnya kembali.

Maka segera ia berkata kepada Thio Sin Houw.

"Sin Houw, Meskipun aliran Beng-kauw tidak mempunyai nabi, akan tetapi tujuannya sama dengan golongan lainnya, anggautanya kebanyakan adalah ksatria sejati, yang tak usah kalah dengan golongan kakek gurumu. Kakekmu, Lie Sun Pin, membuktikan hal itu. Bukankah ibumu seorang wanita sejati pula? Karena itu, apakah jeleknya kau masuk aliran Bengkauw? Kelak di hadapan kakek gurumu, aku yang bertanggung jawab."

"Baik."

Jawab Thio Sin Houw diluar dugaan.

"Nah, pukullah punggungku beberapa kali, Disini, tulang punggung yang ke delapan dan ke sebelas!"

"Baiklah!"

Sahut Cie siang Gie girang, Dengan cepat ia melakukan apa yang diminta Thio Sin Houw, dan seketika itu juga kedua kaki Thio Sin Houw bisa bergerak.

"Toako!"

Kata Thio Sin Houw sambil menggerak-gerakkan kakinya.

"Benar, aku percaya kepada perkataanmu. Apabila kau berani bertanggung jawab, pastilah kakek guruku tidak akan marah, tak kukira, bahwa kaupun berpendirian seperti Ouw sinshe."

Setelah berkata demikian, dengan angkuh Thio Sin Houw keluar ruangan. Tentu saja Cie siang Gie sangat terkejut. Teriaknya.

"Hei, Sin Houw! Kau mau kemana?"

"Jika aku mati didepan rumah Ouw sinshe, seorang tabib sakti yang tak ubah malaikat, bukankah akan mengotori namanya yang menjulang tinggi di atas gumpalan awan?"

Jawab Thio Sin Houw dengan suara mengejek.

"Karena itu biarlah aku mati dijalan saja."

Dan setelah demikian, entah dari mana datangnya kekuatan, ia lari kencang bagaikan melesatnya anak panah.

"Bagus! orang boleh mati di luar kandangku, apa peduliku?"

Kata Ouw Gie Coen dengan tak kurang angkuhnya.

Cie Siang Gie tidak menggubris perkataan pamannya, dengan mati-matian ia mengejar Thio Sin Houw, Meskipun dia terluka pula, akan tetapi lukanya lebih ringan dari pada luka yang diderita Thio Sin Houw.

Dalam hal ilmu kepandaian, Cie siang Gie pun menang seratus kali lipat daripada Thio Sin Houw, Kecuali gerak-geriknya lebih gesit, langkahnya panjang pula, Maka tak mengherankan, lengan Thio Sin Houw kena disambarnya dan dibawanya kembali ke pondok Ouw sinshe, Kedua tangan Sin Houw bergerak ingin merenggutkan diri, akan tetapi tenaganya terlalu lemah sehingga ia mati kutu.

"Oh, susiok!"

Seru Cie siang Gie dengan napas tersengalsengal.

"Apakah susiok benar-benar tak sudi menolong anak ini?"

"Sekali aku menolak, tiada lagi yang bisa merobah pendirianku, Kalau kau tidak percaya, boleh kau minta bantuan seribu dewa untuk menggugurkan pendirianku ini dan aku tidak akan bergerak meskipun serambutpun."

Sahut Ouw Gie Coen.

"Tetapi susiok akan menolong menyembuhkan lukaku, bukan?"

Cie siang Gie menegas.

"Ya."

Jawab Ouw Gie Coen singkat.

"Baik."

Kata Cie siang Gie setelah menghela napas. Meneruskan.

"Karena aku pernah berhutang budi kepada kakek guru anak ini, maka idzinkanlah aku menolong cucunya. Hal ini demi menjaga nama Beng-kauw. Kalau salah seorang anggauta Beng-kauw tak dapat dipercaya lagi mulutnya, dimanakah pamor Beng-kauw hendak susiok sembunyikan? Karena itu, biarlah susiok tak usah menyembuhkan aku lagi, Sebaliknya tolonglah anak ini! Dengan begitu idzinkanlah aku menukar jiwa. Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa, Paman tidak rugi, bukan?"

Ouw Gie Coen mengerutkan dahinya. Menyahut.

"Jantungmu kena pukulan Tiat-see ciang, itulah pukulan beracun yang sangat berbahaya, Dalam satu minggu apabila kau bisa mencari tabib pandai, jiwamu masih dapat tertolong, sebaliknya apabila sampai lewat satu minggu, hanya jiwamu saja yang dapat diselamatkan, akan tetapi himpunan ilmu saktimu akan musnah. Kalau sampai dua minggu, sedang kau kumat dan belum menemukan tabib pandai, jiwamu akan melayang."

"Hal itu janganlah susiok hiraukan, inilah urusanku sendiri! Mati sekarang atau besok, bukankah sama saja? Tetapi mati untuk satu kebajikan, sama sekali aku tidak akan menyesal ..."

Ujar Cie siang Gie dengan suara tegas. Mendengar perkataan Cie siang Gie -Thio Sin Houw lantas berseru nyaring.

"Aku tidak mau! Aku tidak mau kau tolong!"

Setelah itu ia berpaling kepada Cie siang Gie, serunya nyaring.

"Toako! Apakah kau kira Thio Sin Houw ini manusia hina dina? Kenapa kau menukar jiwamu sendiri dengan jiwaku? sekalipun aku hidup, rasanya dunia tiada untungnya. Dua puluh-tiga puluh tahun yang lalu, bukankah di dunia ini tiada seorang manusia kecil bernama Sin Houw? Dan dunia tidak pernah merasa rugi! Karena itu, tak perlu toako menukar jiwa dengan jiwaku!"

Akan tetapi Cie siang Gie adalah seorang laki-laki sejati.

sekali dia berkata, tidak sudi dia menarik kembali.

Dengan kedua tangannya yang kuat, ia menyambar Thio Sin Houw dan di dudukkannya di kursi.

Kemudian ia mencari tali dan Thio Sin Houw kemudian di ikatnya erat-erat pada sandaran kursi itu.

Keruan saja Thio Sin Houw gugup setengah mati, teriaknya.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Kalau tidak, engkau akan kumaki habis-habisan!"

Dan tatkala melihat Cie Sian-Gie tidak menggubris teriakannya, benar benar ia terus mencaci-maki kalang kabut. Mula-mula ia mengutuki Ouw Gie Coen, kemudian Cie siang Gie.. Teriak-nya kalap.

"Kau sinshe busuk! Kepalamu kecil seperti kelapa! perutmu gendut seperti lembu! Benar-benar kau seperti kutu busuk. Katanya kau seorang tabib pandai, akan tetapi gigimu kuning semua! Kau begitu bangga kepada aliranmu Bengkauw, nyatanya kau seorang manusia tak punya perikemanusiaan. Kau iblis! Kau siluman! Kau setan! Dan kau, Cie siang Gie, kau kerbau berewok! Kau ikut-ikutan jadi kerbau dungu!"

Makian Thio Sin Houw makin lama makin tajam.

sekarang dia tidak memaki asal memaki saja, akan tetapi bersajak pula, Dan mendengar Thio Sin Houw bisa memaki sambil bersajak, Ouw Gie Coen dan Cie siang Gie merasa aneh luar biasa.

Akhirnya Cie siang Gie membuka mulutnya.

"Susiok! sekarang idzinkanlah aku mencari seorang tabib pandai."

Disekitar gunung ini tiada seorang tabib pandai,"

Sahut Ouw Gie Coen dengan suara dingin.

"Dan kau tak dapat mencapai kaki gunung dalam waktu tujuh hari, Karena itu sebelum kau kembali kemari, mayatmu sudah dimakan burung gagak!"

Cie siang Gie tertawa terbahak-bahak, sahutnya.

"Kalau didunia ini hidup seorang tabib sakti yang tidak mau menolong apabila sekali berkata tidak sudi menolong, maka di dunia inipun terdapat seorang laki-laki yang tidak takut mati ditengah jalan."

Setelah berkata demikian, pemuda itu melangkahkan kakinya keluar ruangan.

"Oh, Ouw Gie Coen!"

Teriak Thio Sin Houw yang sudah terikat erat di atas kursi.

"Jika kau tidak mau mengobati Cie toako, pada suatu hari aku akan datang kemari untuk membunuhmu. Aku ... aku..."

Karena diamuk gejolak hatinya, ia terkulai tak sadarkan diri.

"Hemm, Ouw-tiap kiok adalah satu tempat yang suci bersih, tak bisa ada orang mati diatas tanahnya ..."

Kata Ouw Gie Coen seperti kepada dirinya sendiri.

Kemudian ia mengambil sepotong tanduk menjangan muda yang terletak diatas meja, terus ditimpukkan ke arah Cie siang Gie yang sedang berjalan membelakanginya, Tepat timpukan itu, tanduk menjangan tersebut mengenai belakang lutut Cie siang Gie yang lantas saja roboh ketanah tak berkutik lagi.

Watak Ouw Gie Coen memang benar-benar aneh.

Kalau dia sudah menolak,tak perduli siapa yang memohon kepadanya, ia takkan merubah keputusannya tadi.

sebaliknya apabila dia mau menolong seseorang, meskipun orang yang berkepentingan tidak sudi ditolongnya, pasti ia akan memaksa menyembuhkannya juga, Kecuali itu, ia bisa berpikir panjang pula, Tadi ia mendengar ancaman Thio Sin Houw, dan ucapan anak itu benar-benar berkesan didalam lubuk hatinya, ia melihat, Thio Sin Houw seorang anak yanq masih berumur belasan tahun, Meskipun demikian, anak itu berjiwa ksatria sejati.

sesungguhnya bukan anak sembarangan, dialah cucu murid Tie-kong tianglo.

Dikemudian hari apabila anak itu sampai mati di dalam rumahnya, pasti akan menerbitkan ekor panjang.

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat lamanya, akhirnya ia mengambil keputusan, Katanya didalam hati.

"Akh, buat apa aku bersusah payah menolong mereka berdua? Biarlah kedua-duanya mati diluar rumahku, Ada baiknya, Ouw-tiap kiok ini bertambah dua setan penasaran..."

Setelah mengambil keputusan demikian, ia menghampiri Thio Sin Houw dan melepaskan tali pengikatnya, Maksudnya setelah anak itu dilepaskan tali pengikatnya, akan dilemparkan ke luar pintu, Mati atau hidup, apa perduliku, pikirnya.

Akan tetapi tatkala tangannya menyentuh pergelangan Thio Sin Houw, ia tertegun.

Dirasakannya urat nadi Thio Sin Houw berdenyut dengan sangat aneh.

Hatinya tercekat, ia mengulangi lagi dengan cermat, Kini ia jadi heran, pikirnya.

"Masakan anak seumur dia sudah bisa menembusi seluruh peredaran darah dan urat nadinya? sedang aku sendiri yang dengan susah payah melatih diri berpuluh-puluh tahun lamanya, belum mampu berbuat demikian. Mengapa anak umur belasan tahun ini sudah dapat menembusi seluruh peredaran darah dan urat nadinya? Oh, ya! Mengerti aku kini! pastilah ini perbuatan kakek gurunya, Tie-kong tianglo yang terlalu sayang kepadanya, Begitu sayang dia kepada cucu muridnya ini, sampai dia rela membuang tenaga himpunan saktinya untuk membantu menembusi seluruh jalan darahnya,"

Sekali lagi Ouw Gie Coen memeqang urat pergelangan tangan Thio Sin Houw, kemudian memeriksa seluruh urat-urat anak itu dengan terlebih cermat.

Benar benar urat nadi dan jalan darah sianak berjalan sangat lancar tanpa rintangan, segera ia membuka pakaian Thio Sin Houw, dan memeriksa seluruh tubuhnya.

Bagian perut, dada, ubun-ubun, setelah memijit-mijit pada tempat-tempat tertentu, maka tahulah dia untung rugi si anak, Katanya dengan tertawa dingin.

Tie-kong tianglo berlagak pandai, dia terlalu sayang kepada cucu muridnya.

Akan tetapi malah membuat anak ini celaka, Kalau peredaran darahnya belum tertembus semua, masih ada harapan untuk memperoleh pertolongan.

Kini racun Hian-beng sin-kang telah merayap ke seluruh isi perutnya, Kecuali oleh malaikat, jiwanya tak dapat ditolong lagi, He-hehe...

Orang memashurkan ilmu kepandaian Tie-kong tianglo setinggi langit, akan tetapi menurut pendapatku, dialah seorang tua yang paling bodoh di dunia ini!"

Kira-kira seperempat jam kemudian, perlahan-lahan Thio Sin Houw menyenakkan matanya.

ia telah siuman kembali, dan melihat Ouw Gie Coeh duduk terpekur diatas kursinya yang berada dipojok ruangan.

Dan Cie siang Gie masih tetap menggeletak dirumputan diluar rumah.

Ketiga orang itu membungkam mulut dengan pikiran masing-masing sehingga Ouw Gie Coen tidak mengetahui bahwa Sin Houw telah siuman.

Ouw Gie Coen memang seorang tabib sakti, seluruh hidupnya dipersembahkan untuk ilmu ketabiban, segala macam penyakit aneh-aneh, dapat diatasinya sehingga itulah sebabnya namanya termashur keseluruh penjuru Tionggoan.

Racun jahat yang berada di dalam tubuh Thio Sin Houw, adalah semacam racun yang paling berbahaya, Apalagi, sekarang urat nadi bocah itu sudah tertembus.

Dengan demikian, menjadi arus yang sangat baik bagi menjalarnya racun Hian-beng sin-kang, inilah suatu persoalan yang pelik dalam ilmu ketabiban.

Seorang ahli catur, merasakan sulit sekali mencari tandingan yang setimpal, seorang ahli ilmu pasti akan melupakan makan dan minumnya, sebelum soal-soal yang berada didepan matanya dapat dijawab.

Begitu pula dengan Ouw Gie Coen pada saat itu, ia menemukan suatu masalah pelik dalam diri Thio Sin Houw, tentu saja ia ingin dapat mengatasi, setelah menimbang-nimbang setengah harian, akhirnya ia memperoleh suatu akal, katanya kepada dirinya sendiri.

"Baiklah, aku akan menyembuhkannya dahulu, kemudian baru kubunuh!"

Akan tetapi menolak racun yang berada didalam isi perut anak itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, Ouw Gie Coen dipaksa untuk memeras otak dan pengalamannya.

Lama sekali ia berdiam diri, akhirnya ia mengeluarkan alat-alatnya, Lantas ia bekerja membendung aliran-aliran racun menjadi bagian-bagian kecil, ia hendak merebut jiwa Thio Sin Houw, sedikit demi sedikit dengan melalui bagian-bagian racun yang disekatnya.

Mula-mula ia mengikat pergelangan tangan Thio Sin Houw, tiap-tiap ruas tulang diikatnya erat-erat, Dengan demikian, darah jadi terbendung.

Setelah itu ia mulai menggunakan pisaunya.

Pisau itu terbuat dari bahan tanduk gajah, Kemudian ia melepaskan pakaian anak itu, dan menyelomoti dengan bara yang telah ditaburi ramuan obat pemunah tertentu, Karena terdesak oleh obat pemunah itu, racun Hian-beng Sin-kang yang mengeram didalam urat-nadi Thio Sin Houw lantas saja meruap keluar dan merembet melalui pisau-pisau tanduk yang tertancap di antara daging dan urat-urat, Ouw Gie Coen tidak perduli apakah Thio Sin Houw kesakitan atau tidak.

Untungnya Thio Sin Houw seorang anak yang tidak mudah menyerah.

Kalau ia merasa disakiti, ia makin menjadi gigih mempertahankan diri, itulah berkat pengalamannya selama hidup dikejar kejar musuh.

pikirnya didalam hati.

"Hemm, kau hendak membuat aku mengeluh atau merintih, bukan? Kau memang iblis...!"

Dan untuk membuat jengkel Ouw Gie Coen, ia malah mengajaknya berbicara dan bergurau dengan bebas.

ia malah mengajak bertengkar dengan persoalanmu hayat dan anatomi.

Meskipun Thio Sin Houw tidak paham azas-azas ketabiban, tetapi ayah-ibunya didalam perantauannya berusaha mengobati luka-luka yang diderita keluarganya dengan kemampuannya sendiri.

Sedikit banyak mereka semua memperoleh pengalaman, tak terkecuali Thio Sin Houw, Tentu saja pengetahuan Thio Sin Houw apabila dibandingkan dengan tabib sakti Ouw Gie Coen, bedanya seperti langit dan bumi.

Akan tetapi karena kegemaran Ouw Gie Coen, maka orang tua itupun mau juga mendengarkan dan membicarakan.

Sudah berpuluh tahun Ouw Gie Coen hidup mengasingkan diri dilembah Ouw-tiap kiok.

Dia tiada teman bergaul kecuali pelayan-pelayan belaka, sedangkan dalam banyak hal pelayan pelayan itu hanya bersikap menghamba.

jangan lagi bertengkar, membantah perintah-perintahnya saja merupakan pantangan besar baginya, Kini anak itu berani bertengkar dengan dirinya, Meskipun pengetahuannya ngawur belaka, akan tetapi menarik juga karena sekian tahun lamanya tidak pernah berbicara secara bebas dari hati ke hati.

Maka kehadiran Thio Sin Houw itu, sedikit banyak menggembirakan hatinya juga.

Demikianlah, berbareng dengan tibanya petang hari, selesailah sudah babak pertama Ouw Gie Coen merebut jiwa Thio Sin Houw, Dalam pada itu dua orang pelayan telah mempersiapkan makan malam diatas meja dan membawa sepiring nasi dengan lauk-pauknya keluar rumah, untuk Cie siang Gie yang masih menggeletak diatas rumput, Pada malam itu juga Cie siang Gie tetap berada diluar rumah berselimut hawa gunung yang dingin luar biasa.

Sementara itu anggauta badan Thio Sin Houw sudah dapat digerakkan lagi.

Melihat Cie Siang Gie menggeletak tak bergerak diluar rumah, anak itu datang mendekati.

ia lantas tidur disampingnya sebagai kawan sependeritaan.

Ouw Gie Coen sama sekali tidak menggubris sepak terjang Sin Houw, Hanya diam-diam saja ia kagum di dalam hati, Betapapun juga bocah itu memang lain dari pada anak-anak umumnya.

***** PADA KEESOKAN harinya, Ouw Gie Coen melanjutkan pengobatannya terhadap Thio Sin Houw, Akan tetapi racun Hian-beng Sin-kang yang merayap di dalam tubuh anak itu sudah terlalu luas, Untuk menolaknya keluar, sesungguhnya sudah sangat sulit, setelah berpikir berjam-jam lamanya, akhirnya Ouw Gie Coen membuat ramuan obat pemunah.

Ia hendak menggunakan dingin untuk menghilangkan dingin, karena racun Hian-beng Sin-kang bersifat dingin.

Begitu obat pemunah masuk kedalam tubuh, Thio -------------------------Halaman 18/19 Hilang -------------------------tentang ilmu urat yang kutulis dengan tanganku sendiri.

Kalau kau sudah membacanya, barulah kau akan paham tentang liku-liku urat ditubuh manusia."

Kata Ouw Gie Coen, Lalu ia masuk ke kamarnya, dan kembali membawa se

Jilid buku tipis berwarna hitam, Dan buku ini kemudian diserahkan kepada Thio Sin Houw.

Thio Sin Houw segera membalik-balik halaman buku itu, ternyata isinya sangat luas.

Masalah urat urat nadi yang berada dalam tubuh manusia, dibahasnya dengan cermat dan tertib sekali.

Ouw Gie Coen membandingkan penemuan orang-orang kuno sampai pada zamannya sendiri.

Dengan tekun Thio Sin Houw membacanya, setiap halaman ia mengingat-ingatnya dengan baik.

Tiba-tiba saja teringatlah dia kepada Ku Cie Tat, si pendeta kecil didalam kuil Siauw-lim sie yang berotak cemerlang dengan hanya sekali membaca, Ku Cie Tat dapat menghafalkan seluruh tulisan himpunan sakti kakek gurunya, Tie-kong tianglo.

Dibandingkan dengan likuliku ilmu sakti, tulisan sinshe Ouw Gie Coen ini jauh lebih mudah.

sebab setiap soal dibahas secara jelas sekali.

Maka setelah membaca isi kitab tersebut sampai tamat, Thio Sin Houw mengembalikannya kepada Ouw Gie Coen sambil ia menggelengkan kepalanya, Katanya.

"Kitab ini telah pernah kubaca, sewaktu kakek guru berumur tiga puluhan tahun, beliau telah mengarang sebuah kitab Pengantar dan Tuntunan Ikhtisar Urat-urat Nadi Manusia -kitab karangan kakek guruku itu isinya serupa benar dengan karanganmu ini. Dengan demikian, sejak tadi aku heran entah siapa yang membajak, susiok atau kakek guruku."

"He-he-he ...!"

Ouw Gie Coen ter--------------------------Halaman 22/23 Hilang -------------------------Houw dapat dikatakan sudah terlatih dan menjadi keistimewaannya, walaupun demikian, ancaman Ouw Gie Coen benar-benar menggidikkan bulu romanya.

Maklumlah, apabila sampai salah satu huruf saja, jiwanya akan dicabut, Dia percaya, bahwa Ouw Ceng Goe benarbenar akan melakukan apa, yang telah di katakan, mengingat tabiatnya yang sangat luar biasa.

Memperoleh pikiran demikian, anak itu menyesal didalam hati, apa sebab tadi ia membuat sinshe Ouw Goe Coen menjadi jengkel dan penasaran, inilah suatu senda-gurau yang keliwat batas.

Tetapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.

Maka terpaksalah ia mengumpulkan semua ingatannya, lalu mengucapkan isi buku yang telah dibaca-nya tadi dengan suara lantang, untunglah sepatah katapun tiada yang salah.

Ouw Gie Coen heran bukan kepalang, hampir-hampir ia percaya bahwa anak ini memang pernah membaca buku ciptaan Tie-kong tianglo yang sama sekali tiada bedanya dengan buku ciptaannya sendiri.

Akan tetapi karena buku itu memang ciptaannya sendiri, akhirnya ia menjadi kagum akan kecerdasan Thio Sin Houw, pikirnya di dalam hati.

"Setan kecil ini benar-benar hebat. Dengan hanya membaca sekali saja, dia sudah sanggup menghafalkan semua isi bukuku diluar kepala, inilah bakat yang tiada bandingnya dijagad ini."

Sinshe Ouw Gie Coen tidak mengetahui, bahwa didalam kuil Siauw-lim masih terdapat seorang bernama Ku Cie Tat yang daya ingatannya tidak berada dibawah Thio Sin Houw! "Pintar! Benar-benar pintar!"

Ouw Gie Coen memuji.

Lalu ia melanjutkan usahanya mengenyahkan racun yang mengeram didalam tubuh anak itu.

setelah beristirahat sebentar, sengaja ia hendak menguji sekali lagi kepintaran Thio Sin Houw, Katanya.

"Aku masih mempunyai duabelas

Jilid kitab ketabiban, Entah siapa yang membajak, Tie-kong tianglo atau aku!"

Setelah berkata demikian, ia mengambil kitab-kitab ciptaannya sendiri yang terdiri dari duabelas jilid.

Thio Sin Houw kagum, tatkala membalik-balik halaman buku-buku itu, itulah kitab ilmu ketabiban yang luas sekali isinya, sudah barang tentu tak mudah untuk dihafalkan dalam sekali baca saja.

Mendadak saja suatu ingatan menusuk benaknya, pikirnya.

"Meskipun isi buku ini sangat luas, akan tetapi masih sanggup aku menghafalnya. Hanya saja aku membutuhkan waktu sepuluh hari. Biarlah, aku mencari saja bagian-bagian yang ada sangkut-pautnya dengan urusan penyembuhan luka Cie toako."

Karena berpikir begitu, dengan cepat ia membalik-balik kitab, dan ia membuka uraian-uraian penyembuhan luka-luka akibat pukulan sakti dalam

Jilid ke sembilan.

Uraiannya sangat jelas sekali.

Disitu terdapat uraian tentang menangkis pukulanpukulan beracun.

Keruan saja Thio Sin Houw girang bukan kepalang, segera ia membacanya dengan cermat.

Tanda-tanda kena pukulan sakti diuraikan dengan jelas sekali, akan tetapi cara menyembuhkannya hanya disebutkan sangat ringkas, dengan petunjuk singkat saja, Pada halaman terakhir, terdapat pula uraian tentang akibat pukulan beracun Hian-beng Sin-kang, Akan tetapi cara pengobatannya hanya ditulis pendek saja.

Sejak meninggalkan kuil Siauw-lim sie, sadari h dia untuk mengobati racun yang mengeram didalam tubuhnya memang sangat pelik.

Bahkan tiada harapan lagi, Sekiranya tidak demikian kakek gurunya yang mempunyai kesaktian luar biasa pasti dapat menolongnya karena itu, ia menjadi acuh tak acuh.

Perhatiannya kini tertuju kepada bagaimana caranya dapat menolong Cie siang Gie, Maka kembali lagi ia membuka lembaran yang memuat uraian tentang pukulan yang diderita Cie siang Gie, pikirnya.

"Sebaiknya pikiranku kini kupusatkan untuk menyembuhkan Cie toako saja, dan jangan sampai aku membuatOuw sinshe mendongkol lagi,"

Setelah itu ia meletakkan kitab-kitab itu diatas meja, kemudian dengan hormat ia berkata kepada Ouw Gie Coen.

"llmu sakti susiok memang kalah jauh bila dibandingkan dengan ilmu sakti kakek guruku, akan tetapi didalam hal pengobatan susiok menang jauh. Keduabelas buku ini sangat dalam isinya. Betapa tinggi ilmu kepandaian kakek guruku, pastilah beliau tak sanggup mengarangnya, Akan tetapi berbicara tentang cara mengobati luka akibat pukulan beracun,"

Kukira kemahiran susiok belum bisa menyamai kakek guruku."

"Hemm!"

Dengus Ouw Gie Coen.

"Jangan coba membakar hatiku,"

"Susiok tidak percaya? Dengar! Aku akan menghafalkan kitab karangan kakek guruku,"

Sahut Thio Sin Houw dengan suara tegas.

Lalu ia mulai menghafalkan bunyi ajaran-ajaran eyang gurunya tentang cara penyembuhan luka-luka akibat pukulan beracun.

Akan tetapi semuanya itu sebenarnya adalah hasil hafalannya setelah membaca uraian isi buku Ouw Gie Coen yang berada ditangannya, setelah menghafal di luar kepala tanpa salah sedikitpun juga,berkatalah dia.

"Tentang menyembuhkan luka akibat pukulan beracun Hian-beng Sin-kang kakek guruku menyerah kalah, akaa tetapi Ouw susiok ternyata demikian pula."

"Hmm! Tak perlu kau memancing hatiku."

Sahut Ouw Gie Coen dengan suara dingin.

"Kau sendiri akan menjadi saksi, apa aku benar-benar tidak mampu melawan racun Hian-beng Bin-kang yang kau derita. Hanya saja apabila aku sudah berhasil menyembuhkan lukamu, jiwamupun tak akan berumur panjang."

Meskipun Thio Sin Houw cerdik dan pandai luar biasa, akan tetapi tak dapat ia menangkap maksud perkataan Ouw Gie Coen.

Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikirannya, bahwa maksud Ouw Gie Coen untuk menyembuhkan dirinya adalah semata-mata untuk membuktikan bahwa dia sanggup menaklukkan racun Hian-beng Sin-kang.

Setelah mengesankan bahwa dirinya benar-benar seorang tabib sakti dan pandai, segera ia hendak membunuh Thio Sin Houw, itulah sesuai dengan peraturan yang dibuatnya sendirif bahwasanya aliran dari Beng-kauw, tak diperkenankan menolong seseorang yang tidak sealiran.

Thio Sin Houw sendiri sebenarnya tidak memikirkan dirinya sendiri, sejak turun dari gunung Siauw-sit san.

Pada saat itu perhatiannya penuh ditujukan kepada usaha menyembuhkan Cie siang Gie, maka berkatalah dia.

"Sekiranya umurku tak dapat dipertahankan lebih lama lagi, perkenankanlah aku memohon kepada susiok untuk membaca-baca kitab buah pena susiok sendiri. Tentu saja boleh, bukan?"

Ouw Gie Coen yakin, bahwa anak itu tak akan hidup lebih lama lagi, walaupun sanggup menghafalkan seluruh rahasia ilmu ketabibannya, apakah gunanya?

Paling-paling hanya akan dibawanya pulang ke neraka.

Maka tanpa berpikir panjang lagi, segera ia mengangguk memperkenankan.

Katanya.

"Kau boleh membaca semua kitab-kitab karanganku!"

Pengetahuan Ouw Gie Coen sebenarnya sangat luas, iapun seorang berhati lapang pula, pastilah tidak akan sanggup mengarang ilmu ketabiban yang demikian besar.

Akan tetapi setelah memasuki aliran Beng-kauw, ia menjadi seorang pejuang yang membantu gerakan Cu Goan Ciang, Karena itu dia sangat membenci sekalian tentara penjajah bangsa Mongolia, juga kaum hartawan rakus dan orang-orang yang menganggap dirinya sok suci.

Terhadap golongan yang paling belakang ini, dia sangat membenci.

Apalagi terhadap para pendekar yang memusuhi haluan perjuangannya, itulah sebabnya, ia tak sudi menolong orang-orang yang tidak sealiran dengan kepercayaan yang diamatinya .

Akan tetapi ilmu pengetahuan yang dimilikinya memang terasa sia-sia saja, sebab selama hidupnya bakal tiada seorangpun yang dapat diajaknya saling bertukar pikiran, karena hidupnya di atas gunung seorang diri.

Dalam pada itu Thio Sin Houw dengan tekun mempelajari kitab-kitab ketabiban siang-malam tiada mengenal lelah, Tadinya dia hanya bermaksud mempelajari bagian-bagian yang bersangkutan dengan luka Cie siang Gie akan tetapi setelah membaca kitab-kitab tulisan Ouw Gie Coen, hatinya lambat laun kian tertarik.

sekarang tidak hanya beberapa bagian saja yang dibacanya, akan tetapi ratusan macam buah karya Ouw Gie Coen.

Melihat anak itu begitu tekun mempelajari kitab kitab ketabiban buah karyanya, diam-diam Ouw Gie Coen girang bukan main, Hatinya menjadi puas, karena kini bisa menaklukkan anak setan itu.

pikirnya didalam hati.

"Kau bilang bahwa kitab-kitab hasil karyaku ini hasil bajakan kakek-gurumu, Huh! Kau berlagak pandai dan yakin bisa mengingusi aku, sekarang rasakan betapa luas ilmu pengetahuan ku mengenai ketabiban."

Pada waktu itu Ouw Gie Coen melihat Thio Sin Houw bersungut, dan ia mengira anak itu tentu tak dapat memahami inti sari uraian-uraian tertentu yang terdapat didalam kitab karangannya, sebenarnya Ouw Gie Coen seorang cendekiawan yang cerdik dan cerdas.

Apabila dia mau berpikir agak mendalam lagi, pastilah dapat menebak maksud Thio Sin Houw sesungguhnya.

Hanya saja karena terpengaruh oleh rasa girang yang meluap-luap, prasangkanya tak begitu peka lagi, Puaslah sudah, melihat anak setan itu dengan mati matian menekuni hasil karyanya.

Beberapa hari lewatlah sudah.

Karena kesungguhsungguhannya, Thio Sin Houw berhasil menghafalkan semua rese-presep pengobatan tertentu yang ribuan macamnya.

walaupun kadarnya mungkin sekali asal-jadi saja, akan tetapi kesanggupannya itu benar-benar mengagumkan.

Seorang tabib yang sudah berpengalamanpun mungkin sekali tak dapat meniru kemampuan Thio Sin Houw yang dapat menghafalkan dua belas

Jilid kitab ketabiban dalam waktu enam hari saja di luar kepala, Diwaktu siang pada hari ke enam, kembali Thio Sin Houw membalik-balik halaman kitab yang memuat tentang luka yang diderita Cie siang Gie.

Ouw Gie Coen pernah menyatakan, apabila dalam waktu tujuh hari dapat menemukan seorang tabib pandai, lukanya mungkin sekali masih dapat disembuhkan sebaliknya apabila sampai melampaui batas waktu, meskipun sembuh, akan tetapi himpunan tenaga saktinya tak akan bisa pulih seperti sediakala.

Itulah disebabkan karena derita pukulan yang sangat beracun, dan mulai menembus keseluruh tulang dan urat-nadi.

Selama enam hari, Cie siang Gie terus rebah tak berkutik diatas rumput diluar rumah, Pada hari keenam, tiba-tiba hujan turun pula, setelah matahari bersinar sangat teriknya di siang hari, sudah barang tentu Ouw Gie Coen mengetahui bahwa Cie siang Gie terpaksa tidur di lumpur.

Tetapi nampaknya ia tak perduli.

Menyaksikan hal itu, Thio Sin Houw gusar tak kepalang, Kutuknya di dalam hati.

"Manusia itu benar-benar keterluan! Ayah pernah berkata bahwa seorang tabib harus mengamalkan pengetahuannya yang luas dan mulia, untuk mengabdi kepada manusia diseluruh dunia. Tak perduli apakah manusia itu sepaham dengan dia atau justeru bermusuhan. sebaliknya orang ini tidak demikian. Dia benar-benar cendiakawan, akan tetapi semua ilmu kepandaiannya hanya diamalkan dalam kitao kitabnya melulu, sedang amal perbuatannya justeru bertentangan dengan apa yang di tulisnya. Kalau bukan keturunan iblis, mustahil rasanya Tuhan melahirkan manusia seperti dia!"

Pada malam hari ketujuh, hujan turun semakin lebat, Kilat mengejap-ngejap dengan diselingi dentuman guntur menggelegar Dengan mengertak gigi -Thio Sin Houw berkata di dalam hati.

"Biarlah aku akan mencoba menolong Cie toako sedapatdapatnya, barangkali caraku mengobatinya akan salah. Akan tetapi dari pada mati ditengah hujan badai, lebih baik aku berusaha atas nama Tuhan,"

Dengan pikiran demikian, segera ia mencari alat perlengkapan tertentu dari dalam peti penyimpan alat-alat ketabiban Ouw Gie Coen, Kemudian ke luar menghampiri Cie siang Gie.

"Cie toako!"

Kata Thio Sin Houw terharu.

"Selama beberapa hari ini adikmu berusaha mati-matian untuk mempelajari rahasia kitab ketabiban Ouw sinshe, Hanya saja, aku masih belum dapat memahami seluruhnya, Karena terdesak oleh keadaan, aku memberanikan diri untuk main coba-coba. sebab racun yang mengeram didalam tubuhmu, tak dapat ditunda-tunda lagi pengobatannya. Esok pagi, sudah kasep, Maka apabila cara penyembuhanku ini akan mencelakanmu, akupun tak akan hidup seorang diri lagi dalam dunia ini, segera aku akan bunuh diri dihadapan jenazahmu."

Mendengar ucapan Thio Sin Houw, Cie Siang tertawa gelak. Sahutnya.

"Adik Sin Houw! Kenapa kau berkata begitu? Nah, cepatlah kau berusaha menancapkan semua alat-alat penyembuhanmu kedalam tubuhku. Moga-moga kau berhasil sehingga Ouw susiok akan merasa malu sendiri. Tetapi apabila usahamu itu justeru akan merenggut jiwaku, lebih baik begitu dari pada mati didalam lumpur begini seperti seekor babi ..."

Dengan tangan bergemetaran Thio Sin Houw meraba-raba urat-urat nadi Cie siang Gie dengan cermat, kemudian mengambil pisau tajam untuk membedah.

Sudah barang tentu, selama hidupnya belum pernah Thio Sin Houw membedah seseorang, bahkan menyembelih seekor ayampun belum pernah.

Kalau kini ia berbuat demikian, adalah sematamata dipaksa oleh keadaan.

sebab menurut catatan ilmu ketabiban Ouw Gie Coen, cara melawan pukulan beracun yang diderita oleh Cie siang Gie, hanya dengan jalan membedah urat-urat nadi tertentu untuk mencegah meluasnya racun yang kini sudah bercampur-baur dalam darah.

Tetapi karena selama hidupnya belum pernah menancapkan pisau pada tubuh seseorang, tangannya mendadak menggigil.

Bidikannya jadi meleset, sehingga ia harus mengulangi beberapa kali.

Keruan saja Cie siang Gie lantas saja mandi darah.

Membedah ditempat-tempat dekat urat nadi, sangatlah berbahaya.

Hal itu disadari oleh Sin Houw, setelah ia hafal dengan bunyi kitab ilmu ketabiban Ouw sinshe.

itulah sebabnya ia menjadi gugup, Terlebih ketika melihat darah Cie siang Gie yang membanjir keluar, kini tidak hanya gugup akan tetapi bingung pula.

Tiba-tiba pada saat itu terdengarlah suara seseorang tertawa gelak dibelakang punggungnya, Thio Sin Houw menoleh, dan melihat Ouw sinshe berjalan mondar-mandir sambil menggendong tangan.

Dengan berpayung, ia bebas dari air hujan.

ia nampak puas menyaksikan Thio Sin Houw mencoba menolong Cie siang Gie, dengan cara yang acakacakan itu.

"Ouw sinshe!"

Kata Thio Sin Houw dengan suara mohon belas kasihan.

"Darah terus mengalir, bagaimana caranya aku menghentikan?"

"Tentu saja aku tahu, Tetapi apa perlu kuberitahukan kepadamu?"

Sahut Ouw sinshe dengan suara dingin.

setelah itu ia tertawa perlahan melalui hidungnya.

Mendengar suara tertawa Ouw Gie Coen, seluruh tubuh Thio Sin Houw menjadi dingin, Apalagi tatkala itu ia berada ditengah hujan badai.

Lantas saja ia menggigil, Dengan menguatkan imannya, ia berkata lagi.

"Baiklah, begini saja. Kita mengadakan penukaran secara adil, satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Kau menolong Cie toako, setelah sembuh aku segera akan bunuh diri di hadapanmu,"

Kembali Ouw Gie Coen tertawa melalui hidungnya, sahutnya.

"Sekali aku telah berkata tidak sudi mengobati, selama hidup tak akan sudi mengobati. Dia hidup atau mati tiada sangkut-pautnya dengan aku. Kalau dia hidup oleh pertolonganku apakah malaikat akan menggendongku masuk ke sorga? sebaliknya kalau dia mati, apakah aku lantas menjadi setan kelaparan ? Juga aku tidak perduli dengan dirimu. Meskipun sepuluh Thio Sin Houw mati dihadapanku, tidak bakal aku sudi menolong Cie siang Gie!"

Mendengar jawaban Ouw Gie Coen, hati Thio Sin Houw menjadi berputus asa.

Tahulah dia bahwa tiada gunanya lagi untuk berbicara berkepanjangan dengan sinshe itu, Keberaniannya mendadak saja terhimpun dengan tak setahunya sendiri, itulah disebabkan oleh rasa benci dan dendam terhadap Ouw Gie Goen.

Lantas saja ia bekerja sedapat-dapatnya, berdasarkan ingatannya belaka.

ia seperti lagi membalik-balik halaman buku ilmu ketabiban Ouw Gie Coen didepan matanya, dan sesuai dengan petunjuk-petunjuk didalamnya, tangannya bergerak membedah kesana kemari dan menyekat meluasnya racun yang mengeram didalam tubuh Cie siang Gie, Diluar dugaan, tiba-tiba saja aliran darah Cie siang Gie terhenti, pemuda berewokan itu tidak lagi mengeluarkan darahnya.

Hal itu melegakan hati Thio Sin Houw, beberapa saat ia menunggu.

Tiba-tiba saja, Cie siang Gie melontakkan darah kental beberapa kali.

Melihat Cie siang Gie melontakkan darah hitam kental, tak tahulah Thio Sin Houw apakah ia berhasil atau justru sebaliknya.

Tak heran, hatinya menjadi berdebar-debar.

ia sudah mengambil ketetapan, apabila Cie siang Gie mati, diapun akan segera menyusul mati bunuh diri, Tiba-tiba teringatlah dia bahwa Ouw sinshe berada di belakang punggungnya, Terus saja ia menoleh.

Masih saja Ouw Gie Coen nampak bersenyum mengejek, akan tetapi samar-samar wajahnya memperlihatkan rasa kagum dan heran, Maka tahulah ia, bahwa usahanya tidak gagal seluruhnya, Artinya juga belum tepat sekali.

walaupun demikian, hatinya agak terhibur.

Cepat-cepat ia lari masuk kedalam rumah, dan membalikbalik halaman buku untuk memperhatikan kadar ramuan obat, setelah bertekun beberapa saat lamanya, dapatlah ia membuat kadar ramuan obat Akan tetapi sesungguhnya jenis ramuan obat yang ditulisnya itu, selama hidupnya belum pernah dilihatnya, ia hanya percaya kepada bunyi kitab bahwa ramuan-ramuan obat yang ditulisnya itu, merupakan obat penyembuh racun yang mengeram didalam tubuh Cie siang Gie, setelah memikir sebentar, ia memberanikan diri untuk menyerahkan kepada seorang pelayan agar membuat ramuan obat berdasarkan yang ditulisnya.

Pelayan itu segera membawa resep buatan Thio Sin Houw kepada Ouw Gie Coen, dia mohon idzin kepada majikannya apakah diperkenankan melayani anak itu, setelah bunyi resep itu dibaca oleh Ouw sinshe, ia mendengus beberapa kali, Kemudian berkata.

"Kau buatkan saja menurut bunyi resep ini, biarlah diminumkan! Kalau tidak mati seketika, anggap saja memang berumur panjang ..."

Mendengar kata-kata Ouw Gie Coen, dengan cepat Thio Sin Houw meminta kembali surat resepnya, kadarnya lalu dikurangi.

setelah itu diserahkan kepada si pelayan yang segera membuat ramuan obat menurut resepnya, sehingga menjadi semacam obat kental.

Dengan mata berkaca-kaca, Thio Sin Houw membawa obat ramuannya kepada Cie Siang Gie.

Katanya dengan bingung.

"Inilah obat ramuan hasil jerih payahku mencuri bunyi kitab Ouw susiok, setelah kau minum obat ini entah sembuh entah... malah celaka, aku tidak tahu ..."

"Bagus!"

Seru Cie siang Gie.

"lnilah namanya orang buta menuntun kuda buta, apabila sampai tergelincir ke dalam jurang, kedua-duanya akan jatuh saling tindih."

Setelah berkata demikian Cie siang Gie tertawa terbahak-bahak, Kemudian dengan memejamkan matanya, ia meneguk ramuan obat Thio Sin Houw.

Semalam suntuk perut Cie siang Gie sakit bukan kepalang, ususnya melilit-lilit seperti tersayat, Dan tak hentinya melontakkan darah.

Thio Sin Houw menunggunya semalam suntuk pula dibawah hujan lebat.

Menjelang esok hari barulah terang, matahari muncul diudara dengan cahayanya yang lembut.

"Adik, aku belum mati!"

Seru Cie Siang Gie tiba-tiba dengan girang.

"Ramuan obatmu benar-benar manjur, penyakitku jadi berkurang."

Keruan saja Thio Sin Houw girang bukan kepalang, sahutnya.

"Kalau begitu, resepku semalam boleh juga, Bukan?"

"Benar! Tak pernah kuduga bahwa pada hari ini dunia melahirkan seorang tabib sakti, yang belum pandai beringus. Biarlah aku menamakan kau, sin-she malaikat -sebab resepmu ternyata bisa menyembuhkan babi. Hanya saja agaknya ramuan obatmu terlalu keras, ususku seperti tersayat-sayat oleh ratusan pisau kecil."

"Ya, kadar ramuan obatku memang agak berat."

Thio Sin Houw menyesal.

Ramuan obat yang dibikin oleh Thio Sin Houw sebenarnya memang sesuai dengan ilmu Ouw Gie Coeni dapat dikatakan tepat sekali.

Akan tetapi kadarnya terlalu berat, sehingga merupakan obat pemunah racun yang kuat luar biasa.

Apabila Cie siang Gie tidak mempunyai tenaga jasmani melebihi manusia biasa, pastilah dia akan mati!

Pada pagi hari itu, Ouw Gie Coen datang memeriksa, melihat wajah Cie siang Gie bersemuh merah dan bersemangat, ia terkejut, Diam-diam ia berpikir didalam hati.

"Yang satu pandai, dan yang lain berani. Berkat kerja sama mereka ber-dua, ternyata Cie siang Gie dapat di sembuhkan!"

Pada keesokan harinya.

"Thio Sin Houw membuat racikan obat-kuat Ouw Gie Coen, dan tanpa menghiraukan apakah si pemilik menggerutu atau tidak, lantas saja ia berikan kepada Cie siang Gie, pikirnya didalam hati.

"Kalau dia marah, paling paling aku hanya dibunuhnya. Akan tetapi tenaga Cie toako harus pulih seperti sediakala."

Dengan pertolongan obat-obat simpanan Ouw Gie Coen, tenaga Cie siang Gie tidak hanya pulih seperti sediakala, akan tetapi himpunan tenaga saktinya malah menjadi bertambah, Maka dengan rasa penuh terima kasih, ia berkata kepada Thio Sin Houw.

"Adikku, lukaku kini sudah sembuh -tenaga saktiku pulih pula, Setiap hari kau menemaniku tidur diatas tanah terbuka ini, tanpa menghiraukan kesehatanmu sendiri. inilah cara yang kurang baik, biarlah sekarang kita berpisah dulu."

Satu bulan lamanya mereka bergaul.

Dalam hati masingmasing sudah terikat rasa persahabatan, seia sekata dan sehidup semati, Kini mereka terpaksa berpisah, dengan sendirinya hati Thio Sin Houw menjadi terharu.

Tak ingin rasanya ia memperkenankan Cie siang Gie meninggalkan dirinya, akan tetapi ia ingat pula bahwa Cie siang Gie tak mungkin mengawaninya terus menerus dilembah Ouw-tiap kok, Maka dengan sedih dan pilu, terpaksalah ia mengucapkan selamat jalan kepada sang toako itu.

"Kaupun tak perlu bersedih hati, adik, setiap tiga bulan sekali, aku pasti akan datang menjengukmu. Mungkin sekali racun yang mengeram di dalam tubuhmu sudah dapat dibuyarkan, apabila kau sudah sembuh seperti sediakala, aku segera mengantarkanmu kembali kepada kakek gurumu di gunung Boe-tong san."

Cie siang Gie menghibur. Setelah berkata demikian, pemuda itu menghadap Ouw Gie Coen untuk memohon diri, KatanyaJ .

"Berkat kitab ilmu ketabiban susiok, akhirnya aku tertolong. Tak sedikit aku mengabiskan obat simpanan susiok, yang sangat berharga."

"Akh, hal itu tiada artinya."

Sahut Ouw Gie Coen dengan memanggutkan kepala.

"Lukamu kini memang sudah sembuh benar, hanya usiamu menjadi kurang enampuluh tahun,"

"Apa? Usiaku?"

Cie siang Gie tak mengerti.

"Ya, menilik kesehatan tubuhmu yang tegap kuat itu, sedikitnya kau bisa hidup seratus duapuluh tahun lagi ..."

Kata Ouw Gie Coen.

"Akan tetapi anak itu keliru membuat kadar ramuan obatnya, Kadarnya sangat kuat, karena itu obat pemunah racun itu justeru berbalik meracuni umurmu. akibatnya apabila kau berada ditengah hujan dalam cuaca yang lembab pula, seluruh tubuhmu akan menjadi nyeri. Dan kira-kira pada umur tujuhpuluh tahunan, riwayatmu akan tamat." ***** MENDENGAR keterangan Ouw Gie Coen itu, Cie siang Gie tertawa terbahak-bahak, sahutnya dengan hati ikhlas.

"Seorang laki-laki memperoleh kesempatan untuk beramal, dan berbuat kebajikan kepada negara dan bangsa serta umat manusia diseluruh dunia sudahlah cukup apabila dapat berumur limapuluh tahun saja, sekarang aku mendengar bahwa aku bisa berumur tujuh puluh tahun, itulah lebih dari cukup. Sebaliknya apa perlu seseorang hidup sampai seratus tahun lebih, apabila ia tidak mempunyai kebajikan sesuatu? Hidup demikian, hanyalah menghabiskan beras dan sayurmayur saja."

Ouw Gie Coen manggut, akan tetapi ia tidak berkata-kata lagi.

Melihat hal itu, Cie siang Gie lantas mengundurkan diri, dan Thio Sin Houw mengantarkannya sampai di mulut lembah Ouw-tiap kok.

Disini mereka berdua berpisah dengan mengucurkan air mata.

Tadi Thio Sin Houw mendengar perkataan Ouw Gie Coen, bahwa umur Cie siang Gie kurang enampuluh tahun, ia sangat berprihatin, Katanya di dalam hati.

"Dengan asal jadi saja aku mengaduk ramuan obat, kini usianya rusak karena tanganku. Biarlah sisa hidupku kupergunakan untuk menekuni segala rahasia ilmu sakti Ouw sinshe, siapa tahu, aku akan memperoleh suatu uraian tentang memperpanjang umur."

Bagaikan patung tak bernyawa, Thio Shin Houw mengawasi kepergian Cie siang Gie, sampai bayangan pemuda itu hilang dari penglihatan Kemudian perlahan-lahan ia memutar tubuhnya, dan balik pulang ke pondok, sepanjang jalan ia menghela napas dengan hati berduka, Alangkah pedih perpisahan itu.

Perpisahan yang tak dikehendaki sendiri .

Selagi bermenung-menung, tiba-tiba ia mendengar suara menggelegar, ia mendongak mengawasi udara, awan hitam mendadak saja menutupi seluruh penglihatan.

Guruh berdentuman seperti sedang berlomda, dan kilat mengejapngejap menusuk cakrawala.

Kemudian hujan turun sangat derasnya.

Hujan deras yang turun di tengah lembah Ouw-tiap kok, bukan kejadian yang perlu diherankan.

selama berada di pondok Ouw Gie Coen, hampir sepuluh kali ia melihat hujan turun amat deras -akan tetapi, hujan kali ini lain sifatnya.

Hujan itu mengandung lumpur.

Tak mengherankan, sebentar saja hujan lumpur itu telah membenam bukit-bukit yang berada disekitar lembah Ouw-tiap kok.

Dan tanah-tanah yang dibenamnya ikut longsor pula.

Menyaksikan kejadian itu, Thio Sin Houw terkejut bukan kepalang, segera ia memanjangkan langkah lari menyingkir Akan tetapi baru saja melangkah beberapa tapak, guntur meledak diatas kepalanya, Kilat mengejap dan menembus dadanya, dan ia jatuh diatas tanah.

Dalam keadaan lupa-lupa ingat, tiba-tiba ia melihat berkelebatan sebongkah batu turun dengan sangat deras dari angkasa, Tak mengherankan, hatinya jadi tergetar karena rasa takutnya.Pada detik itu tubuhnya merasa panas dingin tak menentu.

Dalam keadaan putus asa, ia memejamkan kedua belah matanya menunggu maut.

"Bress!"

Bongkahan batu itu menimpa dadanya, dan ia tersentak bangun dari mimpinya.

Iapun siuman kembali Mimpi tak ubah wanita yang terus menerus membuat tekateki dunia.

setiap orang yang pernah hidup dapat menceritakan pengalamannya tentang keajaibannya mimpi, dan setiap bangsa mempunyai perbendaharaan cerita khayal tentang keragaman mimpi pula, lantaran ajaibnya serta sulit diterima akal.

Keajaiban dan tiadanya masuk akal itu, lantaran mimpi persoalan bawah sadar.

Dia mempunyai persoalannya sendiri, mempunyai dunianya sendiri, mempunyai kehidupannya sendiri dan mempunyai persoalannya sendiri.

Tetapi anehnya mempunyai hubungan erat sekali dengan dunia kenyataan.

Seorang laki-laki pernah bermimpi menjadikan dirinya seorang gadis, tatkala tercebur di dalam telaga iblis.

Kemudian datanglah seorang sakti yang bisa menolong mengembalikan jenis semula, asal saja mau dikawinkan, Kelak apabila sudah beranak lima orang, ia akan kembali pulih seperti sedia kala.

Lantaran terpaksa, ia menerima syarat itu, Demikianlah, ia mengandung sampai lima kali berturut-turut.

Anak-anaknya terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan.

Dan tatkala tersadar dari mimpinya oleh rasa girang, masih sempat ia melihat asap penghabisan lilinnya yang tadi dihembusnya padam sebelum tertidur.

Dengan demikian, mimpinya hanya berlangsung beberapa menit saja, padahal dalam mimpinya ia tercebur didalam telaga sakti, berunding dengan laki-laki sakti, mengandung dan berturut-turut melahirkan lima orang anak, Paling tidak, kisahnya berjalan selama lima tahun!

Sebaliknya, seseorang pernah bermimpi tercebur dalam sumur, ia terbangun lantara rasa kagetnya.

inilah mimpi terlalu pendek, dan untuk mimpi sependek itu ia membutuhkan waktu hampir satu malam suntuk.

Demikian pulalah pengalaman Thio Sin Houw.

Dalam mimpinya ia bertemu dengan sinshe Ouw Gie Coen, guru Lie Hong Kiauw yang telah meninggal Kemudian berada di dalam pondokannya hampir satu bulan penuh, selama itu, ia bertekun mempelajari semua himpunan rahasia ilmu sakti ketabiban yang tiada keduanya didunia, Mimpi dalam keadaan pingsan ini, hanya berlangsung selama tiga hari saja, Ajaib!

Tetapi yang lebih ajaib adalah pengalamannya dalam mimpi itu.

Siapapun tidak akan percaya, bahwa Thio Sin Houw dikemudian hari akan mengenal segala rahasia ilmu sakti ketabiban, lantaran mimpinya itu.

Lie Hong Kiauw yang mendengarkan tutur katanya, berkali-kali menghela napas lantaran herannya.

Gadis dusun ini lantas mengujinya dengan pertanyaanpertanyaan sulit, dan Thio Sin Houw dapat menjawab dengan tepat sekali.

Malahan anak itu pandai mengemukakan soalsoal sulit, yang Lie Hong Kiauw terpaksa harus berpikir keras sebelum memperoleh jawabannya.

Demikianlah, selama dua tahun Sin Houw dirawat Lie Hong Kiauw, selama itu Cie siang Gie sudah dapat disembuhkan Tatkala berpamit, kejadiannya mirip seperti dalam mimpinya, Anak itu mengantarkan jauh-jauh, lalu balik pulang ke pondokan Lie Hong Kiauw seorang diri, Hanya saja waktu itu tiada hujan lumpur atau kilat mengejap, yang membuat ia tersadar dari mimpiriya, sebaliknya alam bahkan nampak cemerlang sekali.

Langit terang-benderang, angin meniup sejuk dan bungabunga Pek-cu hwa Lie Hong Kiauw sedang merekahkan bunga-bunga birunya yang indah.

Tatkala Thio Sin Houw memasuki usia lima belas tahun, pada suatu hari Lie Hong Kiauw menemukan sesuatu yang aneh sekali, yang terjadi didalam tubuh anak itu, Beberapa kali ia mencoba kepekaan urat-urat Thio Sin Houw, akan tetapi ternyata urat-urat Thio Sin Houw seperti tiada berperasaan lagi.

Gadis itu mencoba menyelami dan menggunakan caracara lain yang lebih cermat, akan tetapi betapapun dia berusaha -racun Hian-beng Sin-kang yang mengeram didalam sumsum Thio Sin Houw sama sekali tak dapat dikeluarkan.

Belasan hari lamanya, Lie Hong Kiauw men cari sebab-sebabnya, namun masih saja gelap baginya.

Lie Hong Kiauw seorang gadis dusun pendiam, Hampir tiga tahun Thio Sin Houw bergaul dengan gadis itu akan tetapi boleh dikatakan tak pernah berbicara berkepanjangan.

Dia bekerja sendiri, dan memecahkan persoalan-persoalannya sendiri pula, Pada hari itu, karena tak tahan lagi menghadapi teka-teki yang masih gelap baginya, terpaksalah ia minta keterangan kepada Thio Sin Houw.

Katanya sambil menghela napas.

"llmu sakti kakek gurumu memang sakti sekali, akan tetapi rupanya dalam hal ilmu ketabiban beliau masih sangat kurang. Boleh dikatakan tiada berpengetahuan sama sekali. itulah sebabnya ia malahan membuat celaka dirimu. Jelas sekali, kau terkena racun jahat Hian-beng Sin-kang, namun dia bahkan membantu menembusi jalan darah mu sehingga seluruh urat-nadi di dalam tubuhmu menjadi terbuka semua. Benar-benar hal itu membuat dirimu celaka."

Thio Sin Houw kenal watak Lie Hong Kiauw, Biasanya gadis itu diam dan tenang serta tak mengacuhkan segala kejadian diluar dirinya, sekarang ternyata dia menggunakan kata-kata yang agak keras.

jelaslah bahwa gadis itu menyembunyikan rasa marahnya.

Maka buru-buru ia menyahut.

"Itulah perbuatan Cie-kong Taysu, bukan kakek guruku."

Meskipun Lie Hong Kiauw gadis dusun yanq pendiam, dan ketiga saudara seperguruannya berhati busuk, namun Thio Sin Houw berkenan padanya, ia menganggap Lie Hong Kiauw tak ubah seperti saudara perempuannya sendiri maka dengan tulus ikhlas ia menceritakan pengalamannya sejak kanak kanak sehingga datang ke rumah perguruan kakek gurunya, ia mengenal berbagai cabang ilmu silat berkat warisan orang tuanya.

Ayahnya mewarisi ilmu silat aliran Boe-tong pay, sedangkan ibunya mewarisi ilmu silat dari Si Tangan Geledek Lie Sun Pin yang menjadi kakek luarnya, dengan jelas pula ia menceriterakan bagaimana tatkala ia bertemu dengan seorang yang menamakan dirinya Cie-kong Taysu di kuil Siauw-lim sie.

Dahulu, tatkala Thio Sin Houw di bawa masuk ke dalam kuil Siauw lim sie, ia kena kebasan tangan salah seorang pendeta sehingga pulas tertidur, Akan tetapi berkat ilmu warisan ibunya, yang justeru bertentangan dan berlawanan dengan ilmu sakti aliran Siauw-lim pay, begitu kena kebut lantas saja terjadilah suatu perlawanan yang wajar dan Thio Sin Houw tersadar dari tidurnya !

Dasar ia seorang anak cerdas, berpura-puralah ia masih tertidur pulas.

Namun dengan diam-diam ia mendengarkan percakapan antara beberapa orang pendeta.

Karena pembicaraan itu, tahulah Thio Sin Houw bahwa kemudian ia dibawa menghadap Cie-kong Taysu.

Masih teringat olehnya akan kata-kata Cie-kong Taysu yang galak.

"Kau siapa dan dari mana datangmu tak perlu aku menanyakan..."

Suara itu datang dari balik dinding, suaranya sama sekali tak mirip suara seorang pendeta yang saleh, Kesannya seolah-olah ia sedang berhadapan dengan seorang algojo yang hendak menjatuhkan golok besarnya, namun dia bersikap mendengarkan saja.

Kata orang itu lagi.

"Duduklah dan dengarkan baik-baik, Aku akan menguraikan inti sari ilmu sakti berdasarkan Kiu-im Cin-keng warisan Tat-mo Couwsu, pendiri aliran Siau-lim, Kau sanggup mengingatnya atau tidak tergantung kepada nasibmu belaka, karena aku hanya menguraikan sekali saja, Bagaimana? Apa kau sudah siap? Nah, aku akan mulai ..."

Sejak semula Thio Sin Houw tertarik perhatiannya kepada suara orang yang katanya bernama Cie-kong Taysu, suara itu datang dari balik dinding, sebenarnya hal itu tak perlu diherankan, setiap tokoh-tokoh sakti dapat melakukannya.

Hanya yang membuat Thio Sin Houw tercengang adalah, bahwasanya orang itu dapat berbicara dengan wajar saja, seolah-olah sedang berhadap-hadapan muka.

Thio Sin Houw yang sudah berpengalaman banyak, bertemu dan berbicara dengan tokoh-tokoh sakti yang mengejar-ngejar ayah-bundanya, diam-diam tercekat hatinya.

Benar-benar dia merupakan tokoh sakti yang tiada taranya !

Sementara itu setelah selesai melakukan tugasnya, Ciekong Taysu menanyakan apakah Sin Houw sanggup mengingatnya atau tidak.

Untuk membesarkan hati Cie-kong Taysu, maka Thio Sin Houw lantas saja menyahut.

"Semua uraian Taysu, sudah dapat kuingat dengan baik."

Mendengar ucapan itu, orang yang menamakan diri Ciekong Taysu terkejut -segera berkata menguji.

"Coba! Aku ingin mendengar!"

Tanpa mempunyai prasangka buruk sedikitpun, Thio Sin Houw mengucapkan kembali ajaran-ajaran Cie-kong Taysu dengan lancar diluar kepala, Dari awal sampai akhir ternyata sama sekali tiada salahnya, meski sekalimatpun.

Tentu saja hal itu membuat Cie-kong Taysu tercengang bukan main, benar-benarkah didunia ini ada seorang bocah yang memiliki daya ingatan begitu hebat?

ia terpaku beberapa saat lamanya, setelah beberapa saat lamanya, berkatalah dia.

"Coba, biarlah kulihat urat-urat nadimu. Kudengar suaramu tidak lancar, pastilah kau menderita sesuatu ..."

Dan apabila kedua tangan Thio Sin Houw diserahkan kepadanya lewat lubang didinding, mulailah dia menembusi jalan darah bocah itu, Dia seorang tokoh sakti maha hebat himpunan tenaga saktinya luar biasa tingginya.

Dan dengan himpunan tenaga sakti itulah, dia menembusi seluruh jalan darah Thio Sin Houw.

Lie Hong Kiauw termenung sejenak setelah mendengar cerita Thio Sin Houw -tiba-tiba ia berkata setengah berseru.

"Adik Sin Houw! pendeta itu sangat jahat kepadamu!"

Keruan saja Thio Sin Houw terkejut mendengar seruan itu,sahutnya gagap.

"Baik aku maupun dia, tak pernah saling mengenal. Apa gunanya ia mencelakakan diriku?"

"Coba, apa yang telah dikatakan kepadamu, setelah ia selesai menembusi jalan darahmu?"

Lie Hong Kiauw menegas.

"Dia mengulangi kata-katanya yang tadi, bahwasanya dia tak perlu mengenal namaku, tak perlu tahu pula dari mana asalku dan aliranku."

Jawab Thio Sin Houw sungguh-sungguh, Dan mendengar jawaban Thio Sin Houw, maka Lie Hong Kiauw tersenyum, lalu berkata.

"Hmm! seumpama aku Cie-kong Taysu, akupun tak perlu menanyakan namamu dan dari mana kau datang serta apa golonganmu, Sebab dengan sekali menyentuh tanganmu saja, tahulah aku bahwa dirimu adalah cucu murid Tie-kong tianglo. Bukankah kau pernah menerima pelajaran tata ilmu sakti aliran Boe-tong melalui ayahmu? Akupun akan segera tahu pula, bahwa didalam dirimu mengeram racun yang sangat berbahaya, kenapa dia justeru menembusi jalan darahmu? Bukankah dengan demikian, dia memang sengaja hendak mencelakai dirimu ?"

Thio Sin Houw terpukau, selagi ia hendak membuka mulutnya, Lie Hong Kiauw telah mendahului.

"Kakek gurumu seorang yang sangat jujur. Diapun agaknya tidak begitu paham akan azas-azas pengobatan. Ia menganggap tabiat semua orang seperti dirinya, sehingga sama sekali tidak mencurigai seseorang."

"Seumpama Cie-kong Taysu memang benar berbuat demikian, apakah tujuannya? Dan apa pula maksudnya?"

Thio Sin Houw berusaha membantah.

"Apa alasan sesungguhnya, akupun tak tahu, Barangkali karena kau terlalu jujur terhadapnya. Kau bisa menghafal semua ajarannya di luar kepala tanpa salah sedikitpun, untuk alasan ini saja cukuplah sudah seseorang membunuhmu."

"Kenapa begitu?"

Thio Sin Houw heran.

"Apakah kau masih ingat, tabiat dan sepak terjak ketiga kakak seperguruanku? seumpama mereka mendengar dirimu dengan tiba-tiba saja dapat menguasai rahasia ilmu ketabiban almarhum guru, pastilah kau bakal dituduhnya telah mencuri buku warisan guru, Merekapun akan segera membunuhmu!"

"Kata kakek guruku, pendiri aliran Siauw-lim pay adalah Tau-mo Couw-su. Kuil Siauw-lim sie merupakan tempat para pendeta suci, dan aliran itu pulalah pembimbing para pendekar penegak keadilan. Kupikir, meskipun benar didalam kuil Siauw-lim sie mungkin terdapat beberapa orang yang berpikiran sempit dan berjiwa rendah, namun rasanya tak mungkin berbuat serendah itu. Apalagi, kakek guruku mengadakan pertukaran ilmu semacam jual beli. Tukar menukar ini jauh lebih menguntungkan pihak Siauw-lim daripada pihak Boe-tong ..."

"Hmm ... aliran pendekar penegak keadilan!"

Potong Lie Hong Kiauw dengan suara dengki.

"Ayah-bundamu dan saudaramu, bukankah mati lantaran keganasan tangan orangorang yang menamakan diri golongan para pendekar penegak keadilan? Karena menamakan diri golongan ksatria, lantas saja mereka berbuat semena-mena terhadap para pendekar lainnya yang mereka golongkan sebagai aliran sesat dan liar, Alangkah kejinya cara mereka mengadili! Mereka yang merasa diri manusia baik-baik, belum tentu semuanya benarbenar manusia yang baik, sebaliknya, mereka yang digolongkan sebagai manusia jahat, belum tentu semuanya jahat!"

Perkataan Lie Hong Kiauw ini benar-benar mengenai lubuk hati Sin Houw.

Anak itu lantas saja teringat pada peristiwa pembunuhan kedua orang tuanya dan saudaranya diatas gunung Boe-tong san, Memang, ayah-bunda dan saudaranya mati ditangan mereka yang menamakan diri pendekar-pendekar aliran lurus.

Tatkala melihat mayat ayah bundanya, mereka nampak berduka cita, Tetapi dalam hati mereka masing-masing justeru berkata bahwa kematian ayah-bundanya sudah pada tempatnya.

Kesan demikianlah yang selalu teringat dalam lubuk hati anak itu.

Tentu saja terhadap kakek guru dan paman-paman gurunya, belum pernah ia menyatakan kesan hatinya itu, Kini Lie Hong Kiauw dengan sengaja atau tidak, tiba-tiba membongkar rahasia yang tersimpan dalam lubuk hidupnya.

Hatinya lantas saja tergoncang, seperti tersentak ia menangis menggerung-gerung.

"Sejak zaman dahulu, manusia hidup dan mati sebenarnya tanpa teman dan tanpa kawan. Hanya,anehnya, setelah berada bersama-sama didalam dunia yang sama ini pula, mereka lantas bersaing dan bermusuhan"

Kata Lie Hong Kiauw menghibur.

"Karena teringat pada peristiwa ayahbundamu, kau menangis. Akan tetapi bila kau tidakmati, dikemudian hari pasti banyak manusia yang akan membuatmu menangis dan menggerung lagi."

Mendengar perkataan Lie Hong Kiauw -maka Thio Sin Houw lantas berhenti menangis. sambil mengusap air matanya, ia menatap wajah gadis dusun itu, Katanya sulit.

"Jadi ... orang yang menamakan dirinya Cie-kong Taysu itulah ... sesungguhnya musuh besar ayah-bundaku?"

Lie Hong Kiauw tidak segera menjawab, ia tersenyum rahasia seperti biasanya, iapun tidak meladeni lagi.

Setelah memutar tubuh, ia mengambil cangkulnya dan berangkat ke ladang merawat pohon-pohon bunga Pek-hu cuhwa, seperti yang dilakukan pada setiap harinya.

Sampai petang hari, dia baru kembali, wajahnya yang tadi siang nampak suram, kini menjadi cerah, Katanya dengan suara gembira.

"Baiklah, Sin Houw. sebenarnya hatimu bergolak hebat, lantaran ingin membalaskan dendam ayah-bunda dan saudaramu Sayang, penyakitmu terlalu berat. Meskipun aku masih sanggup mempertahankan jiwamu dengan ramuan obat-ku, akan tetapi untuk memusnahkan racun yang sudah mengeram didalam sum-summu, benar-benar aku merasa tak sanggup. Akan tetapi membiarkan dirimu menjadi manusia tak berguna lantaran racun Hian-beng Sin-kang, rasanya kurang tepat pula, Meskipun penyakit itu yang berada didalam tubuhmu tak dapat disembuhkan, namun setidak tidaknya kau harus dapat membalas dendam kepada musuh-musuh ayahbundamu. Dengan demikian, kau akan membuat arwah ayahbundamu dan saudaramu tenteram di alam baka. Besok pagi, biarlah kau kuantarkan kau kepada seseorang. Dia seorang sakti yang berilmu kepandaian tinggi, aku akan memohon kepadanya agar dia sudi mewariskan ilmu saktinya kepadamu dan selama itu, aku akan menjaga kesehatanmu supaya tidak lumpuh karena racun Hian-beng Sin-kang, Bagaimana ? Apakah kau setuju?"

Sudah tentu hati Thio Sin Houw girang bukan kepalang. Begitu girang dia sampai menari-nari. Lantas berseru .

"Terima kasih, kakakku yang manis... terima kasih. Berapa lama aku hidup, memang sejak aku turun dari gunung Boetong san, tidak kupikirkan lagi, Akan tetapi hatiku selalu gelisah, manakala teringat arwah-arwah ayah bunda dan saudaraku yang masih menanggung penasaran. Aku berjanji kepadamu dan juga kepada diriku sendiri serta berjanji kepada hidupku, bahwasanya apabila aku sudah mewarisi sekalian ilmu sakti pamanmu, akan cepat-cepat melaksanakan balas dendam ayah-bunda dan saudaraku."

Thio Sin Houw tak berani minta keterangan, tentang siapakah orang yang dijanjikan itu, selamanya Lie Hong Kiauw bersikap rahasia, akan tetapi dia percaya bahwa gadis itu bermaksud baik terhadapnya, Hanya saja gerak-geriknya sangat sukar ditebak.

Malam itu Thio Sin Houw tak dapat tidur dengan nyenyak, hatinya sangat girang karena janji Lie Hong Kiauw.

Memang ia sudah mengantongi beberapa ragam ilmu sakti yang diwarisi ayah-bundanya, akan tetapi keragamannya masih seperti cakar ayam, sekarang apabila ada seseorang yang sudi memberi petunjuk-petunjuk, bukankah dia akan menjadi orang yang berarti di kemudian hari?

Meskipun, mungkin sekali belum boleh diandalkan untuk menghadapi musuh besar ayah-bundanya, namun setidak tidaknya sudah merupakan tataran persiapan balas dendam.

Dan dengan bekal tata ilmu sakti yang teratur itu, dia akan bisa menanjak ke tataran kesempurnaan dikemudian hari.

Orang yang dijanjikan itu bernama Ouw Sam Ciu, ia bermukim di pinggang gunung Ouw-tiap san bagian timur, orangnya berperawakan pendek ketat.

Seperti Lie Hong Kiauw, ia seorang pendiam pula, saudara seperguruannya berjumlah tiga, Coa Kim Siong, Go Kim Sun dan Ho Thong Cun.

Satu tahun lamanya Thio Sin Houw menerima dasar-dasar pelajaran mereka berempat, dan selama itu pula Lie Hong Kiauw tak pernah meninggalkan setiap kali habis berlatih, selalu gadis itu memeriksa keadaan tubuh Thio Sin Houw, setiap malam ia menggodok ramuan obat-obatan tertentu, untuk mengikis habis racun Hian-beng Sin-kang.

Pada suatu hari datanglah Lie Hong Kiauw menghampiri, kata gadis itu dengan berbisik.

"Sin Houw, gurumu menghendaki kau berkemas-kemas sebentar malam. sekarang ini keempat gurumu telah mendahului berangkat, dan esok pagi kau bersama aku diperintahkan mengikuti jejak mereka."

"Ke mana?"

Tanya Thio Sin Houw heran.

"Gurumu akan selalu meninggalkan tanda-tanda disepanjang jalan, lihatlah , kita berdua masing-masing diberinya sebatang panah hijau, Panah hijau ini semacam tanda pengenal di jalan."

Sahut Lie Hong Kiauw cepat. Dan setelah menyerahkan sebatang anak panah kepada Sin Houw, ia berkata meneruskan.

"Pada saat ini negara sedang kacau-balau, Cu Goan Ciang telah bertekad hendak mengusir kaum penjajah dari daratan Cina, dan kita ini tergabung dalam laskar perjuangannya untuk menegakkan keadilan. Kau memang bukan anggota Bengkauw, akan tetapi keempat gurumu semua termasuk tokohtokoh pembantu Cu Goan Ciang, Terserah padamu, apakah kau sudi membantu atau tidak."

Mendengar kata-kata Lie Hong Kiauw, Thio Sin Houw termenung, Sejak dirumah perguruan Boe-tong pay, dia telah mengetahui bahwa kakek gurunya dan semua paman-paman gurunya bukan merupakan anggota Beng-kauw.

Mereka bahkan mencela segala tindakan orang-orang Beng-kauw, dari itu pernah Tie-kong tianglo mengeluarkan perkataan melarang Thio Sin Houw memasuki atau menjadi anggota Beng-kauw, Akan tetapi rasanya tidaklah tercela, apabila kini dia hanya sekedar membantu ke empat gurunya guna menentang kaum penjajah.

Memperoleh pertimbangan demikian, segera Thio Sin Houw memberikan jawaban.

"Ayahku memang murid aliran Boe-tong pay, akan tetapi kalau sekedar membantu gerakan Cu Goan Ciang mengusir kaum penjajah bangsa asing. Kurasa, akupun tidak akan kena damprat kakek guru dan sekalian paman-paman guru. Tegasnya, seumpama aku ini seorang penumpang perahu, akan tunduk patuh kepada pemegang kemudinya. Hanya saja tentang panah hijau ini. Benar-benar aku tak mengerti maksudnya."

Lie Hong Kiauw tersenyum, jawabnya.

"Meskipun kau kini telah menjadi manusia lain, akan tetapi kau masih tergolong seorang pelajar lemah, Tidak selayaknya kau berkelana turun gunung seorang diri, Karena itu aku diperintahkan untuk selalu menyertaimu, Akan tetapi karena akupun hanya pandai ilmu ketabiban saja, keempat gurumu memandang perlu untuk memberikan tanda pengenal pencegah bencana diperjalanan demi keselamatan kita berdua."

Thio Sin Houw memeriksa panah hijau yang berada ditangannya.

Dia boleh cerdas, akan tetapi tak dapat menemukan keajaibannya atau kemujija-tannya, Akhirnya ia mengira bahwa panah hijau itu hanyalah semacam benda yang membawa alamat baik saja.

"Baiklah, Hong cici. Aku sangat berterima kasih atas perhatian guru."

Berkata demikian, ia segera menyimpan panah hijau itu kedalam bungkusannya.

***** KEESOKAN harinya berbareng dengan munculnya matahari ditimur, mereka berdua berangkat dengan naik kuda.

Mereka menempuh perjalanan perlahan-lahan, dan menjelang petang hari tibalah mereka disebuah kampung.

"Kita singgah disini,"

Kata Lie Hong Kiauw.

Mereka lantas mencari tempat pemondokan untuk dapat beristirahat satu malam penuh.

Dan pada esok harinya mereka meneruskan perjalanan kembali.

Mereka melewati dusun-dusun yang pernah dirampoki tentara penjajah, Banyak penduduknya yang mati terbunuh.

Menyaksikan bekas-bekas kekejaman tentara penjajah bangsa Mongolia, Thio Sin Houw jadi teringat akan nasibnya sendiri.

Lantas saja ia mengaburkan kudanya, untuk melupakan kesan-kesan nya itu.

Waktu itu tengah hari tepat, Dari arah depan kelihatan seorang penunggang kuda mendatangi dengan mengaburkan kudanya secepat angin, debu tebal membubung keudara, Tatkala berpapasan, orang itu berpaling, Akan tetapi baik Thio Sin Houw maupun Lie Hong Kiauw bersikap acuh tak acuh.

Baru mencapai perjalanan lima atau enam li, mereka mendengar derap kaki kuda datang dari arah belakang, Makin lama derap itu terdengar makin nyata.

Tatkala Thio Sin Houw berpaling ia melihat seorang penunggang kuda beroman gagah.

Nampak memakai ikat kepala hijau.

"Aneh sekali gerak-gerik orang itu!"

Kata Thio Sin Houw setelah penunggang kuda itu melintasi.

"Bukankah yang berpapasan dengan kita tadi dia juga?"

Memang, orang itu juga yang tadi datang dari sebelah depan, dan berpaling sewaktu berpapasan.

Lie Hong Kiauw sebenarnya memperhatikan pula dengan diam-diam, ia tidak menjawab pertanyaan Thio Sin Houw, sebaliknya dia berkata.

"Sebentar lagi kalau dia balik kembali, kau larikan kudamu secepat-cepatnya."

Thio Sin Houw terperanjat. Heran ia minta keterangan.

"Apa? Apakah dia penyamun?"

"Kau lihat sajalah! Lima li lagi didepan kita, pasti akan terjadi suatu perkara."

Kata Lie Hong Kiauw.

"Dan kita tidak akan dapat mundur lagi, Rasanya, satu-satunya jalan hanyalah ... mencoba menerjang untuk meloloskan diri."

Mendengar perkataan Lie Hong Kiauw, hati Thio Sin Houw menjadi gelisah, ia menatap wajah Lie Hong Kiauw -gadis itupun nampaknya tegang sendiri .

sebenarnya ingin Sin Houw minta penjelasan lagi, akan tetapi melihat wajah Lie Hong Kiauw begitu tegang, ia membatalkan niatnya.

Dan dengan berdiam diri, ia mengikuti kuda Lie Hong Kiauw.

Kira-kira empat li lagi, tiba-tiba terdengarlah mengaungnya anak panah ditengah udara, Kemudian nampak tiga penunggang kuda melintang di tengah jalan.

Melihat mereka, Thio Sin Houw segera maju kedepan, ia mengangguk hormat, lalu berkata.

"Aku bernama Thio Sin Houw, dan kakakku ini bernama Lie Hong Kiauw. Kami berdua sedang melakukan perjalanan jauh, sama sekali kami tidak membawa harta benda yang berharga, Apakah kami berdua diperkenankan lewat?"

Walaupun masih merupakan pemuda tanggung, akan tetapi Thio Sin Houw mempunyai pengalaman banyak dalam riwayat hidupnya, itulah pengalamannya -tatkala selama terusmenerus dikejar-kejar lawan.

Dia pandai membawa diri.

Karena itu berhadapan dengan mereka bertiga yang merintang ditengah jalan, segera ia berkata merendah.

Seorang diantara mereka tertawa melalui dadanya, sahutnya.

"Kami kekurangan uang, karena itu tolong pinjamkan kami uang seratus tail saja."

Thio Sin Houw tercengang, ia berpaling kepada Lie Hong Kiauw, minta pertimbangan. Dalam pada itu, sipenunggang kuda yang berikat kepala hijau, yang tadi pertama kali mereka berpapasan, membentak.

"Kami hendak pinjam uang seratus tail, kamu mengerti atau tidak?"

Mendengar bentakan itu, Thio Sin Houw menjadi gusar, Tak sudi ia kalah gertak, sahutnya membentak pula.

"Sudah belasan tahun aku berkelana, belum pernah aku bertemu dengan orang yang sekurang ajar kalian!"

Mendengar bentakan Thio Sin Houw, mereka bertiga tertawa terbahak bahak.

Alangkah lucu ucapan anak itu, sudah belasan tahun berkelana?

Memang, meskipun apa yang dikatakan Thio Sin Houw sedikit banyak mengandung kebenaran, akan tetapi mengingat usianya siapapun tentu tidak akan percaya.

Orang berikat kepala hijau itu lantas berkata lagi.

"Baiklah, taruh kata kau sudah belasan tahun berkelana seorang diri, Apakah kau pernah melihat seorang yang bisa memanah seperti aku?"

Setelah berkata demikian, ia mengambil gendewa dan peluru.

Dengan beruntun ia melepaskan tiga butir peluru ke atas udara, setelah itu ia melepaskan anak panahnya.

Dan ketiga peluru itulah sasarannya.

Jitu sekali bidikannya, Ketiga peluru itu pecah menjadi enam bagian dan runtuh berbareng meluruk ke bawah.

Thio Sin Houw ternganga-nganga menyaksikan kepandaian orang itu, justru demikian, tiba-tiba lengan kirinya terasa sakit, Ternyata ia terkena panah dengan tak setahunya.

Pada saat itu orang ketiga yang berperawakan pendek dan berewok, tiba-tiba menyandarkan cemitinya.

Dengan sebat Thio Sin Houw menggerakkan kudanya untuk mengelakkan diri, ia berhasil menggagalkan serangan orang itu.

Akan tetapi selagi demikian, mendadak cemeti itu berbalik arah, Kini melilit golok yang diselipkan diping gangnya.

Dan berbareng dengan gerakan itu, tiba-tiba Thio Sin Houw melihat berkelebatnya sebatang pedang memapas tali bungkusannya yang berada di punggungnya.

Kena babatan pedang, bungkusannya jatuh diatas tanah, Dan setelah mengambil bungkusan itu dengan cemiti-nya, orang itu lantas mengaburkan kudanya.

"Terima kasih!"

Kata penunggang kuda yang berikat kepala hijau sambil tertawa senang, Dan setelah berkata demikian, dia lantas menyusul temannya, sedang orang yang berada di sampingnya, mengeprak kudanya pula, sebentar saja ketiga penyamun itu hilang dari penglihatan.

Thio Sin Houw menjadi sangat lesu, ia sangat berduka dan mendongkol.

ia merasa diri tiada guna, padahal ia telah belajar tata berkelahi satu tahun lamanya.

Namun menghadapi tiga penyamun itu saja, tak dapat ia berbuat sesuatu apa.

"Mari kita jalan terus!"

Ajak Lie Hong Kiauw dengan suara tenang.

"Masih untung, jiwa kita tidak diarahnya."

Thio Sin Houw menundukkan kepalanya, dengan tetap berdiam diri ia mengikuti Lie Hong Kiauw meneruskan perjalanan.

Kira-kira setengah jam mereka berjalan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda sangat berisik, Thio Sin Houw menoleh.

Hatinya tercekat, karena yang datang adalah mereka bertiga tadi.

Apalagi yang mereka kehendaki?

Apakah belum merasa puas telah memperoleh uang?

Dan Kini hendak merenggut jiwa?

Memperoleh dugaan demikian, bulu kuduk Thio Sin Houw bergidik dengan sendirinya.

Ketiga penyamun itu dapat mengejar Thio Sin Houw dan Lie Hong Kiauw dengan cepat sekali, selagi mereka itu saling memandang dengan wajah penuh pertanyaan, sekonyongkonyong ketiga penyamun itu melompat dari kudanya masingmasing, lalu membungkuk hormat.

Kata orang berikat kepala hijau itu.

"Akh, ternyata kalian berdua orang sendiri. Maaf, maafkan! Kami tak kenal kalian, sehingga telah berbuat keliru, Harap kalian berdua memaafkan perbuatan kami tadi."

Si pendek berewok lantas saja menyerahkan kembali bungkusan Thio Sin Houw yang tadi dirampasnya, ia menyerahkan dengan kedua tangannya.

Dan Thio Sin Houw jadi terheran-heran, Hatinya penuh pertanyaan, itulah sebabnya tak berani ia menyambuti bungkusannya sendiri.

ia berpaling kepada Lie Hong Kiauw minta pendapatnya.

Ternyata gadis itu memanggutkan kepalanya, dengan wajah tenang sekali.

Maka Thio Sin Houw segera menerima kembali bungkusannya.

"Perkenankan kami bertiga mengenal nama kalian berdua, agar di kemudian hari kami tidak berbuat keliru lagi."

"Bukankah tadi kami sudah memperkenalkan diri? Aku Thio Sin Houw, dan kawanku cici Lie Hong Kiauw."

Sahut Thio Sin Houw, Orang berikat kepala hijau itu tertawa senang, sambil menegakkan badannya ia menyahut.

"Nama bagus! Aku sendiri bernama Gouw Cin Kie, dan kedua temanku ini bernama Gui Cu Liang dan Tan Kim Sun. Kalau tadi siauwtee segera memperlihatkan tanda panah hijau kepada kami, pastilah kami segera mengerti. Untungnya kami bertiga tidak sampai melukai dirimu."

Mendengar perkataan Gouw Cin Kie, barulan Thio Sin Houw mengerti khasiat panah hijau yang dibawanya, sewaktu berkemas-kemas dirumah perguruan, ia menyimpannya didalam bungkusannya, coba, seumpama disimpan dibalik bajunya, bukankah dia bakal kehilangan bungkusannya yang berisi uang pula?

"Pastilah kalian berdua hendak mendaki gunung Beng-san, bukan?"

Menegas Gouw Cin Kie.

"Kalau begitu mari kita berjalan bersama-sama. saudara kita berdua, Gui Cu Liang dan Tan Kim Sun berasal dari Su-cwan utara, Meskipun demikian, mereka bisa menyesuaikan diri."

Gouw Cin Kie berbicara dengan nada ramah, akan tetapi hati Thio Sin Houw tetap berbimbang hati.

Betapapun juga melihat mereka adalah sebangsa penyamun, sedangkan katakata penyamun tak dapat dipercayai penuh.

Maka jawabnya mengelak.

"Kami berdua tak mempunyai tujuan tertentu."

Mendengar jawaban Thio Sin Houw, Gouw Cin Kie nampak tersinggung. wajahnya berubah merah, katanya menegur.

"Kami bertiga datang dari jauh, menempuh perjalanan ribuan li. Kami telah berjalan siang dan malam, lantaran tiga hari lagi himpunan laskar perjuangan Cu Goan Ciang akan mengadakan pertemuan besar diatas gunung Beng-san. Kenapa kalian berdua yang sudah berada dekat dipinggang gunung Beng-san, tidak sudi sekalian mendaki?"

Pilu juga hati Thio Sin Houw mendengar teguran itu.

Dengan sesungguhnya, ia tak mengerti tujuan perjalanannya, Disepanjang jalan, Lie Hong Kiauw selalu membungkam mulut dan tak pernah memberi keterangan.

Akan tetapi dia memang seorang pemuda yang berpembawaan dapat menangkap suatu keadaan dengan cepat sekali.

Maka dengan suara wajar ia berkata.

"Apakah pertemuan itu sangat penting artinya?"

"Tentu saja!"

Sahut Gouw Cin Kie dengan suara tetap mengandung kegusaran.

"Bukankah kita diharuskan datang menghadiri pertemuan itu, untuk menghormati panji-panji Beng-kauw?"

Kembali Thio Sin Houw bingung.

Meskipun dia seorang pemuda yang cerdas sekali, akan tetapi pergaulannya dalam percaturan hidup masih sempit.

Namun dasar seorang pemuda cerdas, lantas saja ia memutuskan.

"Kita baru saja bertemu dan berkenalan, karena itu wajib aku merahasiakan tujuan perjalanan. Bukankah begitu? Mari, mari kita berjalan bersama sama."

Mendengar perkataan Thio Sin Houw maka Gouw Cin Kie lantas memanggut-manggut penuh pengertian, wajahnya berobah menjadi girang, Dia tertawa lebar sambil menyahut.

"Memang telah kuduga, bahwa siauw tee hendak menyembunyikan maksud sebenarnya ... Bagus. Akupun akan bersikap demikian, terhadap seseorang yang belum pernah kukenal."

Sampai disitu, berlima mereka berjalan bersama-sama untuk mendaki gunung Beng-kauw, Gouw Cin Kie memimpin perjalanan, setiap kali berjumpa dengan rombonganrombongan atau gardu-gardu penjagaan, ia hanya menggerak-gerakkan tangannya saja.

Gerakan gerakan tangannya ternyata besar khasiatnya, rumah-rumah disepanjang jalan bersiaga penuh untuk menerima kedatangan mereka berlima, Juga rumah-rumah makan yang disinggahi tak sudi menerima pembayaran, perlayanan terhadap mereka berlima sangat manis sekali.

Selang dua hari, tibalah mereka diatas pinggang gunung Beng-kauw sebelah utara, Diatas gunung ini, barulah Thio Sin Houw mengembarakan penglihatannya dengan bebas merdeka.

Di segala penjuru ia melihat ratusan orang berlerot tiada putusnya mendaki gunung.

Pakaian mereka warna-wami, cara dandanannya berbedabeda pula, perawakan mereka pun bermacam-macam.

Ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang jangkung dan ada yang pendek.

sebaliknya yang boleh dikatakan sama adalah mereka semua memiliki gerakan gerakan yang gesit, Diantara mereka banyak yang sudah kenal dengan Gouw Cin Kie, Gui Cu Liang dan Tan Kim Sun.

Thio Sin Houw dan Lie Hong Kiauw bersikap tidak ingin tahu dengan rahasia mereka, itulah sebabnya, selagi mereka berbicara, mereka berdua sengaja berdiri jauh-jauh, walaupun demikian pendengaran mereka yang tajam dapat menangkap logat bahasa orang-orang yang mendaki gunung Beng-san itu.

Ternyata mereka datang dari berbagai pelosok negeri Cina, dari bagian barat, selatan, utara dan timur.

Mengapa mereka mendaki gunung Beng-san beramai-ramai?

sebenarnya Thio Sin Houw sangat ingin memperoleh keterangan dari Lie Hong Kiauw, akan tetapi tatkala itu Lie Hong Kiauw tiba-tiba bersembunyi dibalik sebuah batu besar, sewaktu muncul kembali, ia sudah mengenakan pakaian lakilaki.

Malam itu Gouw Cin Kie membawa rombongannya bermalam di kaki gunung, Dan keesokan harinya, ia memimpin rombongannya mendaki gunung Beng-san sebelah utara, selagi bersantap, tiba-tiba terdengarlah seruan orang sambung menyambung.

"Cu kauwcu datang!"

Mendengar seruan sambung menyambung itu, delapan orang berdiri serentak. Kemudian berlari-lari menyambut kedatangan orang yang diserukan.

"Mari kita lihat!"

Ajak Thio Sin Houw.

Lie Hong Kiauw tidak membantah.

segera diikutinya pemuda itu dengan langkah panjang.

Seperti berbaris, mereka yang mendaki gunung Beng-san berdiri dengan rapih dan tenang, Tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda, dan muncullah seorang pemuda berumur kira kira tiga puluh tahunan.

Kudanya berjalan perlahan-lahan, Manakala melihat jumlah penyambutnya terlalu banyak, segera ia melompat turun dari kudanya.

Seorang berperawakan tinggi besar, muncul diantara gerombol orang.

Orang itu segera menyambut kuda Cu Goan Ciang, sang Kauwcu, segera Cu Goan Ciang menyerahkan kendalinya, dia sendiri lantas berjalan dan memanggut hormat kepada para penyambut penyambutnya.

Melihat Thio Sin Houw yang masih berkesan kanak-kanak, ia tertegun sejenak.

Kemudian bertanya dengan manis.

"Siapakah saudara ini?"

"Aku bernama Thio Sin Houw,"

Sahut Thio Sin Houw pendek.

"Apakah ciangkun, yang disebut Kauwcu Cu Goan Ciang?"

"Akh, jangan memanggil aku ciangkun,"

Potong Cu Kauwcu dengan tertawa ramah.

"panggil saja namaku, Cu Goan Ciang."

Thio Sin Houw tertarik akan sikap kauwcu itu yang sopan, segera ia membungkuk hormat.

Dan dengan tersenyum, Cu kauwcu berjalan mengarah penginapan yang telah disediakan.

Thio Sin Hoiiw benar-benar tertarik hatinya, selagi tertegun-tegun, tiba-tiba Lie Hong Kiauw meniup telinganya, Kata gadis itu.

"Dia seorang kauwcu, kita berdua bukan apa-apa. Rupanya dia sangat berpengaruh, inilah kesempatan baik apabila kau hendak bersahabat dengan dia. Kalau kau bisa berbicara dari hati ke hati dengan Cu kauwcu, setidak tidaknya martabatmu akan naik ..."

Geli hati Thio Sin Houw mendengar perkataan Lie Hong Kiauw.

Akan tetapi pikirnya gadis itu menarik hati pula, Lantas saja ia menyusul ke rumah penginapan, mencari Cu kauwcu.

Didepan kamar Cu kauwcu, ia sengaja berbatuk-batuk kecil.

Kemudian mengetuk daun pintunya perlahan lahan.

Ia mendengar suara seseorang sedang membaca buku di dalam kamar itu, Begitu pintu diketuk, suara orang itu berhenti.

Kemudian pintu terbuka, dan muncullah Cu kauwcu dengan wajah berseri-seri.

"Dalam rumah penginapan sesunyi ini, Thio hiantee datang kemari. inilah bagus!"

Kata Cu kauwcu dengan suara ramah. Thio Sin Houw masuk. Dan nampak didepan matanya se

Jilid buku dan sehelai peta diatas meja, itulah sehelai peta sebuah kerajaan baru, Khawatir ia bakal dicurigai Cu kauwcu, cepat cepat ia mengalihkan pandangnya, Dan pada saat itu, Cu kauwcu minta keterangan kepadanya asal-usul dirinya.

Thio Sin Houw tidak menyembunyikan riwayat hidupnya.

Dengan terus terang ia berkata, bahwa dirinya adalah putera Thio Kim San yang menemui ajalnya diatas gunung Boe-tong.

Kemudian dia kini berada dipinggang gunung Beng-san, untuk menyembuhkan penyakitnya.

"Oh...!"

Cu Goan Ciang berseru tertahan.

"Ayahmu seorang pendekar golongan putih bersih. Kami juga menghargainya ..."

Mendengar Cu kauwcu menghargai ayahnya, hati Thio Sin Houw tergerak. Lantas saja ia merasa dekat sekali dengan kauwcu itu, dengan kata-kata merendah ia menyahut.

"Penghargaan kauwcu terhadap almarhum ayah kami, sangat mengharukan hatiku. Akan tetapi tak berani aku menerima penghargaan kauwcu yang terlalu tinggi."

Cu Goan Ciang tertawa lebar. Katanya.

"Thio hiantee, inilah yang dinamakan jodoh. Kita bisa bertemu disini dan berbicara dari hati ke hati, Besok hiantee akan mendaki gunung pula, bukan? Biarlah besok kuperkenalkan kepada segenap para hadirin disini..Kau dapat membuktikan sendiri, bahwa mereka semua mengenal nama ayahmu dan menghargai kegagahannya.Kutanggung hiantee akan merasa gembira sekali."

Bangga hati Thio Sin Houw mendengar perkataan Cu kauwcu, segera ia berbicara panjang lebar tanpa segan-segan lagi, ia membicarakan tentang kancah perjuangan, ilmu tatasakti dan ilmu ketabiban yang dikenalnya dengan baik, Dan mendengar perkataan Thio Sin Houw, diam-diam Cu kauwcu tercengang, pikir Cu kauwcu didalam hati.

"Anak ini nampaknya luas sekali pengetahuannya, jarang sekali aku menjumpai seorang anak seperti dia. Anak seperti dia sangat dibutuhkan dalam perjuanganku, biarlah kubawanya serta didalam pertemuan-pertemuan resmi. Siapa tahu, dikemudian hari ada gunanya,"

Mereka berdua berbicara sampai larut malam.

Apabila suasana di situ bertambah sunyi-senyap, barulah Thio Sin Houw kembali ke kamarnya, Lie Hong Kiauw ternyata belum memejamkan matanya.

Seperti biasanya, ia menunggu kedatangan Thio Sin Houw dengan setia.

Dan dengan semangat menyala-nyala, maka Sin Houw segera menceritakan pengalamannya berada bersama Cu kauwcu, Dan seperti biasanya juga, Lie Hong Kiauw bersikap mendengarkan saja, wajahnya sangat tenang, dan tiada nampak perubahan atau kesan sesuatu, Entah dia ikut bersyukur lantaran perkenalan itu atau tidak, hanya malaikat dan Tuhan sendiri yang tahu...

***** PADA HARI keempat adalah hari yang dijanjikan Cu Goan Ciang hendak membawa Thio Sin Houw untuk diperkenalkan dengan para pendekar pendukung gerakannya, atau para anggauta Beng-kauw yang datang dari segala penjuru.

Sebelum bertemu dengan Cu Goan Ciang, Thio Sin Houw dan Lie Hong Kiauw dibawa Gouw Cin Kie mendaki dan menuruni bukit-bukit tak keruan juntrungnya, Kadang-kadang setelah sampai di pinggang gunung, dibawanya turun kekaki gunung kembali.

Kadangkala melintasi pedusunan dan lamping bukit.

Dan seperti kanak-kanak belajar berjalan, ia dibawa pula beringsut-ingsut dari keblat ke keblat, walaupun hati Thio Sin Houw kerapkali merasa kesal, namun tahulah dia bahwa maksud Gouw Cin Kie untuk menyesatkan penglihatan orang-orang tertentu yang tidak dikehendaki.

Tatkala Thio Sin Houw hendak berangkat meneruskan perjalanan mendaki puncak gunung, Lie Hong Kiauw datang menghampiri dan menyerahkan sebuah kantung berisi ramuan obat, Kata gadis itu.

"Didalam pertemuan besar ini, mungkin kita berdua akan duduk berpisahan, Maka kau bawalah kantong obat pemunah racunmu ini. setiap kali dirimu merasa akan kambuh kembali, cepat-cepatlah menelan tiga butir."

"Cici akan ke mana?"

Thio Sin Houw bercekat.

"Aku? Akupun berada diantara para hadirin. Hanya saja, rasanya akan mengganggu dirimu, sebab pastilah Cu Kauwcu akan membawamu duduk berdampingan. Kalau akupun duduk mendampingimu -akan menimbulkan berbagai pertanyaan.

"Kenapa begitu?"

Thio Sin Houw tidak mengerti.

Lie Hong Kiauw tidak menjawab.

ia hanya tersenyum.

Kemudian berangkat meninggalkan kamarnya.

Menjelang tengah hari, sampailah mereka dipinggang gunung, Belasan orang berdiri menyambut dengan nampan penuh hidangan.

setelah berhenti sebentar untuk bersantap dan minum serta beristirahat pula, mereka yang mendaki gunung meneruskan perjalanannya kembali.

Sejak itu terus-menerus terdapat gardu-gardu penjagaan yang ketat, Mereka bertanya dan memeriksa sangat sopan.

Tatkala giliran memeriksa tiba pada Thio Sin Houw dan Lie Hong Kiauw, Cu Goan Ciang hanya memanggutkan kepalanya.

Lantas saja mereka diidzinkan melintasi penjagaan tanpa pertanyaan lagi, malahan barisan penjaga bersikap hormat terhadap rombongannya.

"Sungguh berbahaya ..."

Kata Thio Sin Houw didalam hati.

Makin sadarlah dia, betapa besar pengaruh Cu Goan Ciang, ia bergirang dan bersyukur didalam hati, karena semalam dapat berbicara secara akrab sekali .

Hanya saja belum dapat menduga-duga apa yang bakal terjadi nanti.

Tatkala tiba waktu magrib, sampailah mereka diatas gunung, Ratusan orang berdiri dan berbaris dengan rapih, mereka menyambut kedatangan para tetamu.

sikap mereka angker, tetapi begitu melihat kedatangan Cu Goan Ciang, ketua perkumpulan Beng-kauw, lantas maju menyambut.

Kemudian dengan bergandengan tangan, mereka berdua masuk ke dalam sebuah rumah pesanggrahan yang besar.

Dikiri-kanan pesanggrahan itu terdapat berpuluh-puluh bangunan yang berpencaran letaknya, Yang paling besar adalah rumah tadi, yang dimasuki oleh Cu Goan Ciang, Sama sekali tidak ada panggung atau pagar-pagar ketat dan kokoh, sehingga keadaannya tiada mirip dengan sarang penyamun.

Diatas bangunan bangunan itu terpancang sehelai bendera berwarna hijau dan kuning, itulah bendera yang disebut orang sebagai bendera Beng-kauw.

Bagi Thio Sin Houw, semua penglihatan itu merupakan pengalaman baru.

Belasan tahun ia berkelana, akan tetapi baru kali inilah ia merasa berkumpul dengan ratusan manusia yang nampaknya bersatu padu.

Dengan penuh selidik ia mengamat-amati wajah setiap orang yang dilihatnya, mereka semua bergaul rapat sebagai sahabat.

Akan tetapi, wajah mereka nampak berduka.

inilah aneh!

Lie Hong Kiauw yang berpakaian sebagai seorang pemuda, mendapat sebuah kamar bersama Thio Sin Houw, Karena mereka berdua termasuk dalam rombongan Cu Goan Ciang, pelayanannya lebih sempurna, Akan tetapi hidangan yang disediakan berupa nasi putih dan sayur mayur belaka, sama sekali tiada daging atau ikan.

"Cici,"

Kata Thio Sin Houw.

"Guru katanya berada disini, dan kita kinipun berada disini pula, Mengapa guru tidak Cepatcepat menemui kita? Apakah mereka justeru tidak menghendaki pertemuan dengan kita?"

Lie Hong Kiauw hanya mendengus, sama sekali ia tidak menjawab atau memberi keterangan.

Thio Sin Houw yang kenal tabiat Lie Hong Kiauw, tak mau mendesak pula, Akan tetapi dengan demikian ia jadi bermenung-menung seorang diri, Kepalanya penuh teka-teki yang tak dapat segera menemukan jawabannya.

Pada keesokan harinya, Lie Hong Kiauw dan Thio Sin Houw dibangunkan sebelum pagi hari tiba, setelah mandi dan makan pagi, mereka berdua berjalan jalan menyusuri tepi kepundan gunung, Kali ini mereka melihat orang-orang yang cacad tubuhnya, ada yang hanya memiliki sebelah tangan atau sebelah kaki dan wajah-wajah mereka bekas kena sabetan senjata tajam, itulah suatu bukti, mereka baru saja datang dari medan pertempuran.

Sebenarnya ingin Thio Sin Houw memperoleh keterangan tentang diri mereka, akan tetapi Lie Hong Kiauw segera membawanya pergi.

Pada siang sampai petang hari, barang hidangan yang dibawa masuk kedalam kamar melulu sayur-mayur belaka, Semua ini kian menimbulkan berbagai pertanyaan didalam hati Thio Sin Houw, katanya didalam hati ?

Siapakah mereka yang cacad tubuhnya itu?

Kenapa sekalian hadirin berwajah muram?

Mereka nampaknya bergaul sangat rapat, akan tetapi selalu membungkam mulut, Dan apa maksudnya hidangan yang disajikan hanya sayurmayur belaka?

Memang diatas gunung sukar mendapat daging.

Tetapi pertemuan "

Secara besar~besaran ini, tidak terjadi secara kebetulan belaka, Mestinya jauh sebelumnya, mereka sudah bersiap-siap. Masakan tiada terdapat seiris daging saja?"

Dan malam seperti kemarin, tiba lagi. seseorang mengetuk pintu kamar Thio Sin Houw, berkata dari luar ambang pintu.

"Cu Kauwcu mengundang siauwhiap Thio Sin Houw, untuk menyaksikan upacara pertemuan ini."

Thio Sin Houw berpaling kepada Lie Hong Kiauw, gadis itu menundukkan kepalanya dengan sikap acuh tak acuh, Agaknya jauh-jauh sudah dapat menebak akan adanya undangan ini, katanya.

"Berangkatlah! jangan lupa, kau bawa pula obat pemunah racun Hian-beng Sin-kang,"

"Dan cici?"

Thio Sin Houw menegas.

"Aku dapat mengurusi diriku sendiri."

Jawab Lie Hong Kiauw dengan suara dingin.

"Kau tak usah memikirkan aku, Percayalah, selama kau berada disini, aku tetap mendampingimu!"

Oleh jawaban itu, hati Thio Sin Houw menjadi tenteram.

segera ia mengikuti pesuruh tadi, memasuki sebuah bangunan besar yang berada di tengah-tengah pesanggrahan.

Cu kauwcu ternyata menunggu dirinya didepan pintu pesanggrahan.

setelah menggabungkan diri dengan rombongannya, segera Cu kauwcu itu masuk ke pesanggrahan.

Begitu masuk ke dalam pesanggrahan, perhatian Thio Sin Houw terbangun, ia melihat bermacam macam senjata tertancap diatas tanah semacam pagar, semuanya delapan belas macam.

Dan masing-masing senjata menyinarkan sinar gemerlapan oleh pantulan cahaya lilin yang dinyalakan terang benderang, jumlah orang-orang yang berada didalam pesanggrahan itu kurang lebih tiga ribu orang.

inilah suatu jumlah yang luar biasa, mau tak mau Thio Sin Houw menjadi heran.

Kenapa orang sebanyak itu, bisa berkumpul diatas gunung yang sunyi sepi ini?

Ditengah ruangan, Thio Sin Houw melihat rangkaian gambar sebagai hiasan dinding, setelah diamat-amati sekalian gambar itu memperlihatkan lukisan tentara penjajah Mongolia bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang yang ditangkapnya.

Dibawah lukisan itu terdapat sederet tulisan yang berbunyi.

Semoga Tuhan menerima arwah pendekarpendekar peminta bangsa dan negara..."

Membaca bunyi tulisan itu, hati Thio Sin Houw terkesiap.

siapakah mereka yang disebut sebagai pendekar pencinta bangsa dan negara?

pemuda ini belum pernah mendengar peristiwa berdarah yang terjadi di kota raja, Mereka sesungguhnya merupakan para pendekar pecinta negara dan bangsa, yang diculik dan diangkut tentara penjajah ke kota raja.

Bagaimana nasib mereka hanya Tuhan sendiri yang mengetahui.

Thio Sin Houw kemudian menebarkan penglihatannya ke semua penjuru, bendera berkibar-kibar menghiasi dinding pertemuan.

Terdapat pula berbagai macam alat senjata dan pakaian kuda serta topi perang, Dari ruang ke ruang terdapat semboyan-semboyan yang berupa tulisan.

Karena kurang jelas, tak dapat Thio Sin Houw membacanya.

Akan tetapi yang lebih menarik perhatian adalah wajah para pengunjung, yang semuanya nampak guram dan berduka, Pemuda itu menjadi bingung, apakah semua yang memasuki pesanggrahan wajib berduka cita?

Kalau memang diwajibkan demikian, dia harus berduka cita terhadap siapa?

Seorang laki-laki berperawakan tinggi-kurus, tiba-tiba berdiri dari kursi.nya.

setelah membuat tanda hormat terhadap hadirin, berkatalah dia dengan suara nyaring.

"Saudara-saudara hadirin semuanya ...! Marilah kita mulai bersembahyang!"

Semua orang lantas melakukan sembahyang, Cu Kauwcu yang bertindak menjadi imamnya, Thio Sin Houw yang sedikit banyak pernah mendapat bimbingan bersembahyang dari kedua orang tuanya, juga ikut bersembahyang.

Hanya saja ia tidak mengetahui tujuan upacara sembahyang itu.

Tetapi setelah orang tinggi kurus itu berkhotbah tentang gugurnya para pendekar yang diangkut tentara penjajah Mongolia, hati pemuda itu terkesiap, Entah apa sebabnya, tiba-tiba hatinya bergelora, Darahnya meluap, dan semangatnya berkobar kobar.

Teringat akan nasib ayah-bunda dan saudaranya yang mati tiada berkubur justeru lantaran dikenal sebagai sepasang pendekar yang tinggi ilmu kepandaiannya, tak dapat lagi ia menahan air matanya, Meskipun ayahnya bukan menjadi orang tangkapan pihak tentara penjajah, akan tetapi nasibnya mirip sekali dengan para pendekar yang di angkut ke kota raja, justeru lantaran mereka dianggap berbahaya bagi yang sedang berkuasa.

Selagi bersedu-sedan, sekali lagi ia terperanjat tatkala hadirin tiba-tiba berteriak seperti kalap.

"Kalau didunia ada dua matahari, bagaimana kita bisa hidup aman dan damai? Hancurkan tentara penjajah atau kita akan hancur sendiri!"

"Benar! Kembalikan gunung gunung dan pohon-pohonku!"

"Hidup! Basmi semua malapetaka dunia!"

"Hidup Kauwcu Cu Goan Ciang!"

"Hidup! Hidup ...!"

Dan makin lama teriakan-teriakan itu makin kalap, masingmasing meledakkan isi hatinya.

Dan teringat akan lawanlawan ayah-bundanya yang bersembunyi dibelakang tabir, tanpa merasa Thio Sin Houw ikut-ikutan berteriak seperti kalap.

Orang jangkung kurus yang memimpin upacara sembahyang itu, mengangkat kedua tangannya.

Hadirin yang berteriak kalap menjadi tenang kembali, apabila suara kalap tadi sudah padam, berkatalah dia dengan nyaring.

"Para utusan daerah diberi kesempatan untuk melaporkan keadaan daerahnya masing-masing, kepada Cu kauwcu!"

Seorang laki-laki yang duduk di sebelah barat, segera bangkit dari kursinya, Berkata.

"Musuh kita sesungguhnya adalah tentara penjajah bangsa Mongolia, karena itu sedapat mungkin kita harus mencegah terjadinya segala macam pertikaian diantara bangsa kita sendiri. Hendaklah kita sama-sama menyadari hal ini!"

Suara itu nyaring luar biasa sehingga Thio Sin Houw jadi terkejut, Sama sekali tak diduganya bahwa seseorang bisa mempunyai suara demikian nyaring. Berkata orang itu lagi.

"Saudara-saudara seperjuangan..."

Selagi orang itu hendak meneruskan perkataannya, tiba-tiba terdengarlah suara nyaring sambung menyambung diluar perkemahan.

"Panglima Lie Hui Houw, utusan dari Ciangkun Thio Su Seng datang untuk memeriahkan pertemuan ini!"

Mendengar seruan itu, Cu Goan Ciang bangkit dari kursinya, berkata menyambut.

"Saudara-saudara sekalian! Marilah kita sambut utusan Thio Ciangkun!"

Semua hadirin kenal siapa Thio Su Seng, dialah yang menyulutkan api pemberontakan diwilayah sebelah selatan.

Pintu pesanggrahan lantas terbuka lebar.

Dua orang masuk membawa dua obor besar, kemudian berjalan mendahului menyusur garis kiri dan garis kanan seolah-olah merupakan batas jalan.

Tak lama kemudian masuklah tiga orang yang mengenakan pakaian sederhana.

Yang berjalan didepan, seorang laki-laki berusia kurang lebih, empat puluh lima tahun.

Romannya bengis, pakaian yang dikenakan sangat sederhana terbuat dari kain kasar, Dia mengenakan sepatu rumput tanpa kaus kaki rambutnya kusut masai dan lengan bajunya nampak usang, Kesan pribadinya seperti petani yang gagal dalam masa panen, akan tetapi dia sebenarnya seorang pembantu setia dari Thio Su Seng, dialah Ang Sin Tiu.

Orang kedua yang berjalan di sebelah tengah, seorang berkulit putih tampan dan bersih.

Dia seorang sasterawan berusia kurang lebih tigapuluh tahun, namanya Lie Hui Houw, si Macan Terbang, Dialah panglima kesayangan Thio Su Seng, yang asalnya keturunan seorang nelayan di pantai Tiociu, tetapi karena jasa-jasa serta kesetiaannya ia dilantik jadi panglima.

Dan orang ketiga adalah seorang laki-laki yang perawakannya agak tinggi, berkulit putih dan mengenakan pakaian seorang pelajar, usianya belum melebihi tiga puluh tahun, meskipun demikian pandang matanya berwibawa penuh, gerak-geriknya gesit.

Dialah Thio Lian Cong, salah seorang keponakan Thio Su Seng.

Sampai didepan gambar-gambar lambang perjuangan, mereka bertiga berdiri tegak, kemudian membungkuk hormat.

Itulah suatu pernyataan duka cita dan penasaran atas hilangnya beberapa orang pahlawan penjuang bangsa yang tiada beritanya, setelah itu -panglima Lie Hui Houw berkata kepada Cu Goan Ciang.

"Junjungan kami, Thio Pekhu Thio Su Seng, dengan ini menyampaikan salam perjuangan kepada Cu Ciangkun, Junjungan kami ikut berduka cita atas hilangnya beberapa orang pahlawan pencinta bangsa dan negara yang diculik pihak bangsa Mongolia. Rasa duka cita junjungan kami dinyatakan dengan memaklumkan perang kepada pihak penjajah beserta para pengikutnya."

Kata-kata Lie Hui Houw sebenarnya sederhana, tetapi kesannya menarik hati lantaran kesederhanaannya itu dia justru memperlihatkan wataknya yang tulus ikhlas dan jujur.

Maka para hadirin riuh rendah bertepuk tangan.

Cu Goan Ciang bangkit dari kursinya, membalas hormat dan berkata.

"Terima kasih! Saudara-saudara kita yang hilang diculik pihak pemerintah Mongolia, sebenarnya bukan hanya dari orang-orang Beng-kauw saja. Karena itu sudah sepatutnyalah kita bekerja sama dengan pihak laskar Thio Ciangkun, Tetapi sebelum kami membicarakan hal ini, perkenankan kami mengenal nama saudara."

"Namaku Lie Hui Houw, bertugas sebagai panglima pada pasukan Thio Pekhu Thio Ciangkun, Tetapi sebenarnya aku adalah seorang desa yang tidak mempunyai pengetahuan dalam ilmu perang."

Kembali lagi para hadirin mendengar betapa jujur dan tulus hati utusan dari Thio Su Seng itu, sekali lagi mereka bertepuk tangan riuh.

"Jadi saudaralah yang terkenal dengan julukan Si Macan Terbang?"

Kata Cu Goan Ciang.

"Nama hengte sangat kami kagumi. Dengan ini perkenankan kami atas nama saudarasaudara yang hadir dalam pertemuan ini, untuk ..."

Belum lagi Cu Goan Ciang menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Thio Kian Cong yang berdiri disebelah kiri Lie Hui Houw, melesat ke pintu, Dengan melebarkan pandangnya kearah hadirin dengan mata penuh selidik, ia bersikap menghadang.

Keruan saja semua hadirin heran menyaksikan perbuatan itu, setelah kena pandang mereka berbalik mengawasi utusan yang menjadi keponakan Thio Su Seng itu.

Pada waktu itu, mendadak Hila Hian Cong menuding dua orang berusia pertengahan yang duduk diantara para hadirin.

Terus membentak.

"Bukankah kalian berdua adalah orang-orangnya Tiam-tay Hiat Ciu, mengapa berada di sini?"

Kata-kata itu membuat kaget sekalian hadirin.

semua yang hadir mengetahui bahwa Tiam-tay Hiat Ciu adalah seorang pangeran pada Kerajaan Mongolia yang telah membinasakan Gui Tiong Cian dan keluarga Koh, serta sekaligus menyingkirkan orang-orang yang menjadi pengikutnya Gui Tiong Cian, karena Gui Tiong Cian yang bergerak disebelah Timur untuk menentang pemerintah penjajah, dianggap kian hari kian membahayakan, sekarang para hadirin mendengar tuduhan Thio Hian Cong bahwa ke dua tetamu yang berada diantara mereka adalah begundalnya Tiam-tay Hiat Ciu, jelas mereka merupakan mata-mata dari pihak pemerintah penjajah-Benarkah tuduhan itu?

Dua orang yang kena tuding itu tetap saja duduk di kursinya, Yang pertama seorang laki-laki kira-kira berusia ampatpuluh tahun, Mukanya licin dan sikapnya sopan sekali, perawakan tubuhnya tinggi semampai, sedang yang kedua berkulit agak hitam sehingga mengingatkan orang kepada suku-bangsa Biauw.

Si hitam ini nampak terkejut ketika kena tuding, akan tetapi pada detik itu pula ia dapat bersikap tenang kembali.

ia menegas sambil tertawa lebar.

"Mungkin anda salah lihat."

"Salah lihat?"

Bentak Thio Hian Cong.

"Bukankah kau Sie Liong Tauwsu dan kawanmu itu bernama Kim Sie Pa? Hem! Dengan kedua telingaku sendiri aku mendengar kalian kasakkusuk di rumah penginapan. Lantas kalian berdua menelusup kemari. siapapun akan tahu apa maksud kalian menyelundup ke mari, Dengan tandatanda sandi, kalian akan memberi kabar kepada tentara Mongolia untuk segera menyerbu kemari. Bukankah demikian? Ya, begitulah kasak-kusukmu di dalam penginapan."

Mendengar perkataan Thio Hian Cong, orang yang disebut sie Liong Tauwsu itu segera menghunus goloknya.

Lalu melompat menerjang dan segera hendak menyerang.

Akan tetapi kawannya -Kim Sie Pa segera mencegahnya.

Dengan sikap tenang, Kim Sie Pa berkata.

"Gui Tiong Cian bergerak di wilayah sebelah Timur, dia membanggakan diri sebagai seorang pejuang bangsa, padahal dia bercita-cita menjadi seorang raja dengan melupakan rekan-rekan yang lain, Bukankah memang pantas kalau dia dibasmi ?"

Suara Kim Sie Pa halus tetapi tajam.

Kata-katanya mempunyai pengaruh besar sehingga para hadirin yang mendengar jelas menjadi berbimbang hati.

Si Macan Terbang Lie Hui Houw yang menyaksikan keadaan itu, segera ikut berkata.

"Siapakah kau sebenamya? Bukankah kau telah mengabdi kepada pihak pemerintah penjajah Mongolia dan mendapat pangkat Letnan? sebagai seorang penghianat bangsa, jelas perkataanmu merupakan hasutan belaka!"

Mendengar perkataan Lie Hui Houw.

Letnan Kim Sie Pa tergugu, Mulutnya nampak bergerakgerak hendak mengucapkan kata-kata, akan tetapi berhenti di kerongkongannya.

Menyaksikan hal ini Cu Goan Ciang segera mendekati.

Tanyanya menegas.

"Apakah benar, kau adalah seorang Letnan dari tentara penjajah? Coba jawab pertanyaanku ini!"

Tak dapat Letnan Kim Sie Pa berpura-pura dungu lebih lama lagi, segera ia mengerling kepada Sie Liong Tauwsu dan memberi isyarat mata, Sie Liong Tauwsu lantas saja meloncat ke pintu.

setelah itu, Kini Sie Pa segera menyusul.

Malahan dia lantas saja membabat wajah Thio Hian Cong dengan pedangnya.

Gerak-gerik Kim Sie Pa gesit sekali, dalam sekejap mata ia menghujani dada Thio Hian Cong dengan tikaman-tikaman berbahaya.

Utusan Thio Su Seng datang ke pesanggrahan, sematamata untuk menyatakan rasa setia kawan.

Sama sekali mereka tidak mempersiapkan senjata, itu lah sebabnya serangkaian serangan Kim Sie Pa dan Sie Liong Tauwsu yang bekerja sama rapi dan cepat, membuat sekalian hadirin terperanjat dan cemas.

Diantara mereka lapat-lapat seperti telah pernah mendengar nama Kim Sie Pa -seorang penghianat bangsa yang dahulu pernah tertangkap oleh pasukan Thio Su Seng, tetapi kemudian dibebaskan kembali karena bukti-bukti yang diperoleh waktu itu belum lengkap.

Dengan gesit dan gerak tubuh yang lincah, Thio Hian Cong melakukan perlawanan dengan tangan kosong.

Sementara itu Thio Hian Cong ternyata seorang berkepandaian tinggi.

Dengan gerakan sebat luar biasa tangan kirinya tiba-tiba mendahului gerakan pedang Kim Sie Pa, ia mengendapkan tubuhnya sedikit, lalu tangan kanannya menyambar menghantam Sie Liong Tauwsu, Karena tubuhnya sudah merendah maka ia tak khawatir kena tikaman pedang Kim Sie Pa.

Menyaksikan kegesitan tubuh Thio Hian Cong, tanpa merasa para hadirin bersorak sorai memuji.

Dengan seorang diri saja kedua tangannya dapat melabrak kedua penyerangnya dengan sekaligus.

Dan kedua penyerangnya itu ternyata dapat diundurkan.

Sebab apabila kasep sedikit saja, mereka pasti akan kena tercengkeram tangan perkasa Thio Hian Cong.

Kini para hadirin berubah menjadi girang dan berada dipihak Thio Hian Cong.

Tadinya, banyak diantara mereka yang hendak membantu, Menyaksikan kegesitan dan kegagahan Thio Hian Cong, mereka lantas saja menonton.

Hebat cara perlawanan Thio Hian Cong, kedua tangannya menyambar-nyambar tiada hentinya dengan cepat dan sebat, Kim Sie Pa berdua Sie Liong Tauw su dibuat sibuk tak keruan.

Mereka berdua kini sadar pula bahwa mereka yang tadinya hendak, mengepung Thio Hian Cong, kini malahan kena kepung rapat-rapat, Mereka berdua tak ubah tercebur kedalam sarang harimau yang setiap saat mengancam jiwanya.

Itulah sebabnya mereka berkelahi sambil mundur perlahan-lahan.

Kemudian dengan tiba-tiba merangsak maju mendesak.

Maksudnya jelas, apabila Thio Hian Cong kena didesak mundur, dengan sekali menjejakkan kaki mereka hendak meloloskan diri lewat pintu depan.

Akan tetapi Thio Hian Cong bukan pendekar yang muda kena diingusi, ia berkelahi sangat hati-hati.

Mula-mula membela diri, kini berbalik menyerang.

Tak perduli ia bertangan kosong, nyatanya berkali-kali ia dapat merintangi maksud kedua penyerangnya dengan rapat sekali.

Kedua kakinya yang teguh tetap menjaga ambang pintu, sehingga Kim Sie Pa maupun Sie Liong Tauwsu tiada memperoleh kesempatan untuk bisa lolos dari penjagaannya.

Dalam seribu kesibukan Kim Sie Pa menjadi nekat, Tangan kirinya menghunus pedang pendek, dengan demikian ia menggunakan sepasang pedang, panjang dan pendek.

Kemudian merabu dan merangsak Thio Hian Cong dengan mati-matian, ia harus bisa merobohkan lawannya itu sebelum tercapai maksudnya mendekati pintu.

Sie Liong Tauwsu yang berada di sampingnya, rupanya mengerti pula maksud kawannya.

segera ia bergulingan diatas tanah dan membabat kedua kaki Thio Hian Cong, itulah cara berkelahi yang sangat berbahaya, setiap saat Thio Hian Cong bakal kena dikutungi.

Tetapi Thio Hian Cong nampang tenang-tenang saja, ia dapat diundurkan beberapa langkah, walaupun demikian langkahnya tidak menjadi kacau, Bahkan sebentar kemudian ia berbalik dapat mendesak lagi, sehingga kedudukannya kembali seperti semula.

Pertempuran mereka makin lama jadi semakin seru, Bayangan mereka berkelebatan menyambar-nyambar sehingga mengaburkan penglihatan para hadirin, Kim Sie Pa nampak menjadi gemas sekali, ingin ia bisa mengutungi tubuh lawan dengan cepat, oleh hasrat itu lantas saja ia merangsak maju.

Tepat pada saat itu ia mendengar Sie Liong Tauwsu memekik kesakitan, Pedangnya terpentalkeudara dan tangannya terkulai ke bawah.

Dan pada saat itu, muncullah seorang laki-laki kedalam gelanggang menyambar pedang yang terpental keudara.

Ternyata dia adalah Ouw Sam Ciu, gurunya Thio Sin Houw.

Berbareng dengan terlemparnya pedang ke udara, Thio Hian Cong menendangkan kakinya.

Tak ampun lagi, Sie Liong Tauwsu terjungkal roboh.

Tepat pada saat itu, kaki kirinya melayang menendang Kim Sie Pa pula!

Kim Sie Pa ternyata lebih gesit dari Sie Liong Tauwsu.

Masih dapat ia meloloskan diri dari samberan kaki.

pedangnya berkelebat membalas menyerang, lagi-lagi yang diarahnya kedua kaki dan tangan Thio Hian Cong.

Thio Hian Cong ternyata tidak hanya perkasa dan gagah saja, akan tetapi gesit pula, ia membiarkan ujung pedang Kim Sie Pa nyaris menyentuh dadanya, Dan tiba-tiba ia memiringkan tubuhnya, tangannya berkelebat menyambar hulu pedang dan ditariknya dengan suatu hentakan.

Keruan saja Kim Sie Pa kaget setengah mati, Tak dapat ia mempertahankan pedangnya, terpaksa ia melepaskannya.

Dan pada saat itu tangan kirinya yang membawa pedang pendek menikam!

Thio Hian Cong melihat berke1e-batnya pedang pendek, cepat sekali ia memutar pedang rampasannya dan menangkis.

"Trang!"

Api meletik berbareng dengan suara nyaring yang mengaung-ngaung memenuhi ruangan pesanggrahan.

Dan celakalah Kim Sie Pa!

Selagi tangannya tergetar karena adu tenaga itu, tiba-tiba saja Thio Hian Cong mengulangi serangannya lagi, Dan pedang pendeknya terpental runtuh diatas tanah.

Karena ia tidak bersenjata lagi, terpaksalah ia mundur dan mundur.

Thio Hian Cong tertawa panjang, sambil tertawa tangan kanannya menyambar dada, Letnan Kim Sie Pa mati kutu.

Tubuhnya kena diangkat tinggi diudara.

Di luar dugaan tangan kiri Thio Hian Cong merenggut tengkuk Kim Sie Pa yang menjadi mati daya.

seperti menenteng suatu benda, Thio Hian Cong lantas menghadapkan orang tawanannya kepada Cu Goan Ciang.

Semua hadirin kagum dan memuji-muji kegagahannya Thio Hian Cong, sementara Cu kauwcu memerintahkan empat orang untuk membawa Kim Sie Pa berdua Sie Liong Tauwsu keluar pesanggrahan, nasib kedua mata-mata itu tidak lagi perlu diketahui.

"Jika tiada pertolongan hengtee bertiga, tentu sekali kami bakal mengalami bencana."

Kata Cu Kauwcu kepada panglima Lie Hui Houw, setelah itu ia memberi hormat menyatakan rasa terima kasihnya. Buru-buru panglima Lie Hui Houw membalas hormatnya.

"Akh, itupun hanya secara kebetulan saja, selama ditengah jalan kami melihat dua orang tadi yang gerak-geriknya sangat mencurigakan selagi mereka menginap, kami bertiga telah mengintainya, Kesudahannya kami segera mengetahui dan mengenal siapa mereka sebenarnya. Rupanya mereka berdua belum insyaf kalau kami intai, sehingga berbicara kasak-kusuk dengan leluasa. Sementara Cu Kauwcu berbicara dengan panglima Lie Hui Houw, Ouw Sam ciu mendekati Thio Hian Cong, Mereka berdua saling berangkulan, dan tatkala Lie Hui Houw dibawa oleh Cu Kauwcu untuk membicarakan masalah-masalah yang resmi, maka Ouw Sam ciu mengajak Thio Hian Cong keluar pesanggrahan, Katanya sambil berjalan mencari tempat yang sepi.

"Thio kongcu, walaupun kita baru bertemu lagi, tetapi rasanya seperti baru saja kemarin kita berpisah."

"Akh, Ouw ciangkun, Aku justeru merasa kangen sekali. setelah sekarang kita bertemu lagi, rasa hatiku girang bukan main!"

Sahut Thio Hian Cong. Ouw Sam Ciu tertawa lebar. Katanya.

"Sesungguhnya, aku juga girang sekali. Tetapi apa kabarnya dengan Ciu Siu Tojin?"

Cit Siu Tojin adalah gurunya Thio Hian Cong, sekaligus merupakan pembantu utama gerakan Thio Su Seng yang bertindak sebagai penasehat.

Memperoleh pertanyaan itu, wajah Thio Hian Cong berubah.

sahutnya .

"Guruku telah gugur dimedang perang, beberapa bulan yang lalu."

Tatkala itu Coa Kim siong menyusul, setelah saling memberi hormat, baik Coa Kim siong maupun kakak seperguruannya, ouw Sam Ciu, segera menuturkan dan menerangkan maksudnya.

Sudah satu tahun Thio Sin Houw belajar kepada mereka berempat, tetapi karena mereka merasa tidak memadai untuk menjadi guru dari anak itu, maka mereka bermaksud hendak meminta bantuan Cit Siu Tojin untuk mendidiknya, tetapi karena sekarang mereka mengetahui bahwa Cit-siu Tojin telah binasa, maka mereka bermaksud menyerahkan Thio Sin Houw kepada Thio Hian Cong.

"Anak itu mempunyai masa depan gemilang, kami berempat telah mencoba mendidik dalam hal ilmu pengetahuan dan ilmu kepandaian. Otaknya sangat terang dan bakatnya sangat baik sekali, daya ingatannya jauh melebihi kami berempat. Baru satu tahun dia belajar kepada kami, kepandaian kami sudah di hirupnya habis. Dia masih sangat muda, sedangkan banyak hal-hal yang terjadi didunia ini belum diketahuinya dan di insafinya, Kami berempat berpendapat bahwa apabila anak itu berada dibawah asuhan Thio ciangkun, akan memperoleh kemajuan pesat, sebaliknya apabila tetap ditangan kami, sukar sekali ia memperoleh kemajuan ..."

Demikian Ouw Sam Ciu menambahkan perkataannya. Mendengar alasan Ouw Sam Ciu, maka Thio Hian Cong diam menimbang-nimbang, sejenak kemudian berkata.

"Jadi jiewie mengharap aku mendidiknya?"

Ouw Sam Ciu berdua Coa Kim siong manggut berbareng. Sahut Ouw Sam Ciu.

"Kami tadi memperoleh kesempatan menyaksikan ilmu kepandaian hiantee, ternyata ilmu kepandaian hiantee sepuluh kali lipat tingginya dari pada ilmu kepandaian kami berempat, itulah sebabnya apabila hiantee tidak keberatan untuk menerima dia sebagai murid, pasti kami merasa sangat gembira dan berterima kasih sekali."

Setelah berkata demikian, Ouw Sam Ciu berdua Coa Kim siong lalu membungkuk hormat. Keruan saja Thio Hian Cong menjadi tersipu, Cepat-cepat ia membalas hormat, ujarnya.

"Jiwie sangat menghargai aku, sudah sepantasnya bila aku menerimanya, hanya sayang, sekarang ini aku berada dalam laskar perjuangan Thio pekhu, siang dan malam tiada waktu tertentu. Setiap kali aku dikirimkan ke medan perang melakukan tugas, seringkali pula aku bertempur melawan tentara penjajah, Entah berapa lama lagi umurku, itulah sebabnya, meskipun aku membawa murid jiwie, akan banyak gagalnya dari pada hasilnya. Sebab, sama sekali aku tidak mempunyai waktu luang untuk men-didiknya, selain itu, keselamatannya selalu terancam."

Alasan itu masuk akal, sehingga Ouw Sam Ciu maupun Coa Kim siong menjadi putus asa.

Dan melihat mereka berputus asa, Thio Hian Cong menjadi gelisah, Katanya tak jelas seolah-olah kepada dirinya sendiri.

"Ada seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian seratus kali lipat dari pada aku. Jika dia sudi menerima murid jiwie, benar-benar merupakan karunia Tuhan ..."

Sampai disitu mendadak saja ia menggoyangkan kepalanya. Lalu berkata lagi.

"Tidak! Tidak mungkin! ini tak mungkin bisa terjadi..."

Ouw Sam Ciu berdua heran. Coa Kim siong lantas saja minta keterangan.

"Siapakah orang itu?"

"ltulah orang aneh yang kusebutkan tadi,"

Jawab Thio Hian Cong.

"Kepandaianriya tiada batasnya, dia hanya mengajarku selama enam bulan saja, Tapi meskipun demikian, aku sudah dapat memiliki kepandaian seperti sekarang. padahal apa yang kuwarisi itu, barulah kulitnya saja ..."

"Siapakah orang aneh itu?"

Coba Kim Liong menegas, suaranya bernada girang bukan kepalang.

"Dia aneh tabiatnya,"

Thio Hian Cong memberikan keterangan.

"Dia mengajarku ilmu kepandaian, tetapi dia melarangku menyebutnya sebagai guru, Diapun melarangku memberitahukan kepada siapa saja tentang nama dan tempatnya, itulah sebabnya hatiku berbimbang-bimbang, apakah dia sudi menerima murid jiwie sebagai muridnya."

"Di manakah tempat tinggal orang aneh itu?"

Ouw Sam Ciu ikut mengajukan pertanyaan.

"Tadi sudah kukatakan, aku dilarang menyebutkannya. Dan sebenarnya aku sendiri tidak tahu, Agaknya dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, Mungkin sekali dia seorang perantau yang berjalan dari tempat ke tempat. Datang dan pergi seenaknya saja. Ke mana perginya dan kapan datangnya tidak pernah memberi kabar kepadaku."

Ouw Sam ciu berdua merasa kewalahan memperoleh keterangan dari Thio Hian Cong.

sekarang tinggal satu usaha lagi, yakni dengan memanggil Thio Sin Houw menghadap.

Anak itu lantas di perkenalkan kepada Thio Hian Cong.

Senang Thio Hian Cong melihat pemuda itu, yang beroman cakap, bertubuh sehat dan memiliki marga sama seperti dirinya.

Tatkala ia minta keterangan sampai dimana Thio Sin Houw belajar ke pada Ouw Sam ciu berempat, anak itu segera dapat menjawab dengan rapi sekali.

Tiba-tiba bertanyalah Thio Sin Houw dengan tak segan-segan lagi kepada Thio Hian Cong.

"Thio susiok, tatkala susiok merobohkan dua mata-mata tadi, pukulan apakah yang susiok gunakan?"

Thio Hian Cong tertawa lebar. Tak pernah disangkanya, anak itu memperhatikan, jawabnya.

"ltu adalah pukulan "Hok-houw ciang" (Harimau mendekam) , salati satu pecahan dari Sha-cap lak-lou Kim-na hoat."

"Mengapa begitu cepat dan dahsyat ... ? kedua mataku sampai tak sanggup mengikuti gerakannya."

Ujar Thio Sin Houw.

"Apakah kau ingin mempelajari ilmu pukulan itu?"

Tentu saja tawaran itu menggirangkan benar, Thio Sin Houw seorang anak yang cerdas pula, lantas saja ia menyahut.

"Jika Thio susiok sudi mengajari-ku, aku girang sekali!"

Thio Hian Cong menoleh kepada Ouw Sam Ciu, Katanya kemudian.

"Setelah pertemuan ini, aku ditugaskan Thio Pekhu untuk tetap hadir diantara saudara-saudara seperjuangan seminggu atau dua minggu, biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk menurunkan beberapa jurus ilmu kepada murid jiwie toako."

Tentu saja Ouw Sam ciu berdua girang bukan kepalang, cepat-cepat mereka menghaturkan terima kasih.

sedang Thio Sin Houw lantas pula membungkuk hormat.

Pada hari ketiga pertemuan resmi, boleh dikatakan sudah selesai.

Antara Lie Hui Houw dan Cu Kauwcu telah terjadi kata-sepakat, untuk mengadakan perserikatan, Masingmasing pihak bertekad hendak menggempur pihak pemerintah penjajah, sampai bangsa Mongolia dapat diusir seluruhnya dari daratan Cina, maka dengan tercapainya kata sepakat itu, pada hari keempat pertemuan antar angkatan dibubarkan.

Cu Kauwcu segera mengantarkan para tetamu untuk berpisahan, Mereka pulang dengan puas dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, membuat sekitar tempat yang sunyi sepi itu lantas saja tergetar kena perbawanya.

Lie Hui Houw pulang ke daerahnya beserta Ang Sin Tiu, sedangkan Thio Hian Cong tetap berada diatas gunung menemani Cu Kauwcu, Dan Ouw Sam ciu berampat selalu menemani.

sebaliknya selama hari-hari itu Thio Sin Houw mencari dimana beradanya Lie Hong Kiauw.

Thio Sin Houw menyadari apa sebab ke empat gurunya tiba-tiba menyerahkan dirinya kepada Thio Hian Cong, itu semua berkat pengaruh Lie Hong Kiauw.

Gadis yang selalu bersikap rahasia itu, kian menjadi tekateki besar baginya, siapakah sesungguhnya Lie Hong Kiauw?

pastilah dia bukan seorang gadis sembarangan!

Diatas meja, ia menemukan sepucuk surat.

sederhana saja bunyinya, Begini bunyi surat itu.

"Adikku Sin Houw! Aku telah mendengar kabar dari ke empat gurumu, hatiku girang bukan kepalang. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan lupa obat pemunah racun Hian-beng Sin ciang! setiap kali kau harus menelannya, dan jangan sampai kau buang!" ***** TERHARU DAN GELI, Thio Sin Houw yang membaca surat Lie Hong Kiauw, Di buang? Dan teringat akan jasa-jasa Lie Hong Kiauw yang merawat dirinya begitu cermat dan sabar, membuat hatinya sangat pilu, seumpama tidak teringat bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata sebagai persiapan balas dendam demi ketenteraman arwah ayah-ibunya, pastilah dia sudah turun gunung untun mencari gadis itu, Apabila gadis itu kembali ke lembah Ouw-tiap san. Pada malam itu ia tidur sekamar dengan ke empat gurunya, waktu itu panitya pertemuan masih sibuk membereskan perkemahan, Karena itu masing masing sibuk dalam urusannya sendiri. Thio Hian Cong yang memperoleh kamar didepan kamar Thio Sin Houw dan guru-gurunya, datang menyambangi. Kata pemuda gagah itu.

"Suwie toako sekalian, Begitu aku melihat muka murid kalian, hatiku sangat tertarik. Aku mempunyai kesan bahwa ..."

"Teruskan, hiantee."

Kata Ouw Sam ciu karena melihat Thio Hian Cong ragu ragu.

"Rupanya dia telah memperoleh dasar-dasar ilmu sakti Boe-tong pay, ini sangat memudahkan untuk ia menerima ajaran jurus-jurus sakti yang kuperoleh dari orang aneh itu, Sebab orang aneh itu sesungguhnya mewariskan rahasia inti ilmu saktinya kepadaku, Sebab itu aku akan meniru dan mencontoh cara menurunkan ajarannya kepadaku dahulu, Akan tetapi tentu saja aku tak dapat membuat anak itu bisa mewarisi dengan sempurna, lantaran waktunya sangat sempit. Namun diatas segalanya ini masih ada Tuhan yang Maha pengasih -selain itu masih ada harapan lagi yang boleh kita andalkan, yakni bakat dan pembawaan, kerajinan serta keuletan calon pewarisnya, Menimbang semuanya itu, perkenankan aku mengundang namanya saja dari pada sebagai guru dan murid. Sebab nyatanya, tak dapat aku berjanji akan terus menerus meniliknya."

"Alasan hiantee kurang tepat."

Ujar Ouw sam Ciu.

"Apabila Sin Houw sudah menerima ajaran dari hiantee, satu atau dua jurus saja artinya dia sudah menjadi muridmu, dan hiante berhak menyebut diri sebagai gurunya."

Thio Hian Cong dapat menerima alasan Ouw Sam Ciu, akan tetapi pendiriannya tak dapat diubahnya lagi, Tetap saja ia hanya mengakui dirinya sebagai paman angkat saja, sedangkan Sin Houw sebagai anak angkatnya.

Karena itu Ouw Sam Ciu berempat terpaksa menerima keputusan itu.

Mereka berempat tahu bahwa Thio Hian Cong akan menurunkan warisan-warisan ilmu sakti tinggi, yang tentu saja tak boleh dilihat seseorang, itulah sebabnya, Ouw Sam Ciu berempat segera berpindah kamar, dan Sin Houw tidur sekamar dengan Thio Hian Cong.

Thio Hian Cong menunggu sampai mereka berampat masuk ke dalam kamarnya.

Kemudian ia membawa Thio Sin Houw berjalan keluar, Malam hari waktu itu sangat pekat sehingga baik Thio Hian Cong maupun Sin Houw tak dapat melihat tubuhnya masing-masing.

Kata Thio Hian Cong.

"llmu kepandaianku ini kuperoleh dari seorang sakti yang telah berusia lanjut, Aku sendiri belum berhasil menyelami sampai ketataran kesempurnaan Meskipun demikian, apabila hanya untuk melayani jago-jago kelas dua atau kelas tiga, rasanya sudah cukup, Tatkala aku mewarisi ilmu pukulan ini, orang aneh itu memaksa aku untuk bersumpah kepadanya, bahwasanya sejak itu tak boleh aku menghina orang-orang yang berkelakuan baik atau mencelakai seseorang tanpa alasan..."

Thio Sin Houw seorang anak yang cerdik, segera ia mengerti maksud Thio Hian Cong, Katanya didalam hati.

"Sebelum menerima ajarannya, aku diwajibkan bersumpah dengan berlutut. Aku dibawanya berjalan ditengah malam yang gelap pekat, Maksudnya bukan aku berlutut kepadanya, akan tetapi kepada diriku sendiri dan bersembah kepada orang aneh yang memiliki ilmu sakti yang akan diajarkan. Memperoleh pikiran demikian, segera ia berlutut benarbenar, serunya.

"Aku Thio Sin Houw, dengan ini bersumpah kepada diriku sendiri, kepada pemilik ilmu sakti yang akan diajarkan kepadaku, kepada bumi dan langit serta Tuhan, bahwasanya setelah aku mewarisi ilmu sakti ini tidak akan kupergunakan untuk menghina orang orang yang bertabiat baik dan mencelakai seorang tanpa alasan apabila ternyata -dikemudian hari aku melanggar "

Sumpah ini, paman Thio Hian Cong boleh datang kepadaku, untuk membunuh diriku."

Mendengar sumpah Sin Houw, Thio Hian Cong tertawa. ujarnya.

"Bagus! Berdirilah tegak kembali dan dengarkanlah! Tahukah kau, ilmu sakti apakah yang hendak kuajarkan kepadamu ?"

"Pastilah ilmu sakti yang terelok didunia ini!"

Jawab Sin Houw dengan suara penuh semangat. Sekali lagi Thio Hian Cong tertawa. Berkata.

"lnilah ilmu sakti Hok-houw ciang -esok pagi bisa kita mulai ..."

Thio Hian Cong berkata "esok pagi ", akan tetapi tiba-tiba tubuhnya melesat.

Gerakan itu mengherankan dan mengagumkan Thio Sin Houw.

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 14

Baca Juga: Gelang Perasa 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert