Ceritasilat Novel Online

Golok Halilintar 3

Eps 3 Golok Halilintar - Khu Lung

Baca online Golok Halilintar - Khu Lung

Cersil Golok Halilintar - Khu Lung.

setelah Kwee Lian Cie menyinggung sikap guru mereka terhadap Hoa Kie Lian, barulah mereka dapat menduga-duga sebagian, Agaknya Kwee Lian Cie dengki dan iri hati terhadap Kie Lian karena oleh guru mereka dicalonkan sebagai ahliwaris.

Sebagai seorang ahliwaris Go-hie pay dikemudian hari, Hoa Kie Lian tidak hanya akan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, tetapi juga kedudukannya sebagai Ciang-bunjin Go-bie Pay.

Oleh perhitungan itu, sekarang Kwee Lian Cie bermaksud menggeser kedudukan Hoa Kie Lian dengan membuka boroknya didepan para pendekar yang menjadi rekan seperjalanan mereka.

Dengan demikian, kecuali mencoreng muka Hoa Kie Lian didepan rekan-rekannya itu, juga untuk mengangkat diri sebagai orang yang gigih menunaikan tugas dari gurunya.

Pembawaan jiwa Thio Sin Houw meletakkan nilai budi diatas segala-galanya, ia mempunyai kesan baik terhadap Hoa Kie Lian, tatkala Hoa Kie Lian berkunjung ke Boe-tong san.

itulah sebabnya menyaksikan betapa gadis itu kena didesak oleh Kwee Lian Cie,hatinya ikut menjadi panas.

ingin sekali ia melompat dan menghantam kepala Kwee Lian Cie sepuas-puas hati.

"Sumoay, tiga tahun yang lalu tatkala suhu mengumpulkan semua murid-muridnya dipuncak Kim-teng, dengan maksud mengajarkan ilmu pedang Tiat-kiam dan Kie-kiam, kenapa kau tidak hadir dalam pertemuan itu? Mengapa suhu jadi sangat marah, sehingga suhu mematahkan pedangnya sendiri dan mengatakan bahwa dunia tak akan mengenal kedua ilmu pedang itu?"

Kata Kwee Lian-Cie dengan suara ditekan-tekan.

"Waktu itu aku sedang sakit di suatu tempat, sehingga tidak dapat hadir."

Jawab Kie Lian dengan suara agak merasa takut.

"Hmm,"

Dengus Kwee Lian Cie dengan mulut mengulum ejekan.

"Suhu memang sangat sayang kepadamu, sehingga alasanmu tidak direntangnya panjang. Akan tetapi aku, mempunyai pendapat lain, Baiklah aku akan membatasi diri tidak mengajukan sebuah pertanyaan lagi kepadamu, tetapi asal saja kau sekarang membutakan mata kiri pendeta iblis itu!"

Hoa Kie Lian menundukkan kepalanya, tampaklah ia berada dalam keadaan serba susah. Akhirnya dengan suara perlahan ia berkata.

"Sucie, benar-benarkah kau memaksa diriku untuk melakukan pekerjaan hina itu?"

"Kau mau menusuk atau tidak?"

Dengan suara kaku Kwee Lian Cie membentak.

"Sudahlah, begini saja."

Ujar Hoa Kie Lian dengan suara mengalah.

"Aku berjanji dan bersumpah kepadamu, meski pun suhu hendak mengangkatku sebagai ahliwarisnya, aku tidak akan menerimanya."

"Apa kau bilang? Bagus sekali!"

Berteriak Kwee Lian Cie dengan muka merah padam. ia nampak makin mendongkol dan gusar bukan main, Meneruskan dengan kata-kata sengit.

"Jadi kau mengira aku beririhati kepadamu? Heh! Apanya yang kuirikan? Apakah karena kau diangkat menjadi ahliwaris suhu? sekalipun aku ini bukan murid kesayangan suhu, akan tetapi bila aku mau dengan sepatah kakaku, akan bisa menggiurkan kedudukanmu. Hayo, kau mau mencukil mata kiri iblis ini atau tidak?"

Hoa Kie Lian agaknya tidak sudi melayani lagi.

ia memutar tubuhnya dengan sekonyong-konyong, terus melarikan diri, Akan tetapi Kwee Lian Cie sudah menduga demikian.

Cepat ia mencegat dengan pedang dilintangkan di depan dadanya.

Katanya pula.

"Aku tadi sudah bilang, Lebih baik kau tusuk mata kiri iblis itu! Kalau tidak, pastilah rahasiamu akan kubeber dengan terang-terangan didepan para pendekar gagah yang hadir disini, Baiklah, karena kau terus-menerus membangkang, maka terpaksalah aku bertanya kepadamu, Pada tiga tahun yang lalu, apakah benar-benar kau menderita sakit di Kamciu? padahal aku tahu benar, kau bukan menderita sakit sebaliknya kau melahirkan anak!"

Mendengar perkataan Kwee Lian Cie, tak dapat lagi Kie Lian menyabarkan diri terus saja ia mengibaskan pedangnya sambil membentak.

"Minggir!"

Akan tetapi Kwee Lian Cie tidak mengacuhkan. Dengan ujung pedang menuding ke dadanya, ia membentak pula.

"Hoa Kie Lian, akh sayang. Semua orang mengira bahwa kau seorang gadis yang suci bersih, tak tahunya setelah bertunangan dengan Tan Bun Kiat, kau mengandung dan melahirkan anak dari benih laki-laki lain, Sayang, seribu sayang ..." ***** UCAPAN Kwee Lian Cie itu bagaikan bumi tergoncang oleh suatu gempa bumi, Tidak hanya Hoa Kie Lian saja yang terkejut, tetapi semua orang yang mendengar tercekat hatinya, Benarkah tuduhan Kwee Lian Cie yang keji itu? Usia Thio Sin Houw belum duabelas tahun penuh, sudah barang tentu seorang bocah seperti dia belum mengenal masalah penghidupan laki-laki dan perempuan. ia hanya bisa merasakan secara naluriah belaka, bahwa kejadian demikian itu sangat tercela, Akan, tetapi mengingat kesan baiknya terhadap Hoa Kie Lian, ia membantah segala tuduhan Kwee Lian Cie didalam hati, Karena tak dapat mengambil suatu sikap, ia jadi bingung sendiri. Akan tetapi sesungguhnya yang menjadi bingung dan heran tidak hanya Thio Sin Houw seorang, bahkan Siangkoan Hong dan Cie Siang Gie dan lain-lainnya demikian pula. Tatkala itu wajah Hoa Kie Lian nampak pucat. Dengan membungkam mulut ia menerjang kedepan dengan maksud hendak meninggalkan persoalan. Sama sekali tak terduga, bahwa ancaman Kwee Lian Cie bukan merupakan gertakan belaka, Dengan sungguh-sungguh ia menggerakkan pedangnya, menikam lengan kanan Kie Lian.

"Crett!"

Hebat tikaman itu, sampai menembus ketulang. Kena tikaman tak terduga itu, Hoa Kie Lian kehilangan kesabarannya, Tangan kirinya segera menghunus pedangnya, katanya mengancam.

"Sucie! Jika kau terlalu mendesak -jangan persalahkan aku sampai berani melawanmu!"

Semenjak tadi Kwee Lian Cie sadar akan perbuatannya, ia sudah terlanjur membuka rahasia adik seperguruannya di hadapan umum.

Dan seseorang yang telah kena bongkar rahasianya didepan umum, pastilah akan membunuh sipenuduh untuk menghilangkan saksi.

Tentu saja pekerti demikian itu diukur dengan cara berpikirnya sendiri.

ia tahu, ilmu kepandaian Kie Lian berada diatasnya, itulah sebabnya selagi Kie Lian tidak bersiaga, ia menikam lengan kanannya.

Setelah berhasil melukai lengan Kie Lian, ia menikam lagi empat kali berturut-turut dengan tertawa menang.

Memang, ilmu kepandaian Kie Lian menang setingkat dengan Kwee Lian Cie, Akan tetapi lengan kanannya telah tertikam, maka terpaksa ia membela diri dengan tangan kirinya.

Menghadapi serangan Kwee Lian Cie yang kejam itu, hati Kie Lian tercekat.

Dengan memusatkan seluruh kepandaiannya segera ia mempertahankan diri dan menyerang.

Begitu menggerakkan pedangnya, serangmenyerang lantas terjadi dengan cepat sekali.

Dalam sekejap mata saja telah berlangsung dua-puluh jurus lebih.

Mereka yang menonton, kecuali Thio Sin Houw -adalah jago-jago terkemuka, Diam-diam mereka kagum menyaksikan ilmu pedang Hoa Kie Lian dan Kwee Lian Cie, Pikir mereka dengan berbareng.

"Akh, benar-benar golongan Go-bie pay bukan nama kosong belaka, pantaslah ilmu pedangnya merajai kalangan rimba persilatan!"

Sebagai jago-jago terkemuka, sudah barang tentu mereka tahu belaka bahaya yang saling mengancam mereka berdua, Akan tetapi mereka semua terluka parah, sehingga tak dapat berdaya untuk melerai.

Juga merekapun tak dapat membantu salah seorangnya, Dan terpaksalah mereka hanya menyaksikan belaka dengan mata terbelalak.

Kedua saudara seperguruan itu mengenal akan kepandaian masing-masing, pada saat menyerang dan bertahan mereka bergerak sangat cepat dan gesit.

Maka tak mengherankan, pertarungan mereka makin lama makin menjadi seru.

Sayang, lengan kanan Hoa Kie Lian terluka dan mengalirkan darah terus menerus.

Makin ia menggerakkan pedangnya, darahnya makin mengucur deras.

Sadar akan kelemahan itu, ia segera melontarkan tipu-tipu serangan yang mematikan dengan maksud mendesak Kwee Lian Cie kepinggir, setelah itu ia bermaksud meninggalkan gelanggang secepat mungkin.

Akan tetapi karena ia terpaksa menggunakan tangan kirinya, apalagi sudah terluka parah, kemampuannya menggerakkan pedangnya tinggal sebagian saja.

Bahwasanya sudah sekian jurus lamanya, masih belum tertikam lagi adalah karena Lian Cie masih segan terhadapnya, Tak berani ia terlalu mendesak, karena takut adik seperguruannya itu masih mempunyai simpanan tipu muslihat yang belum diketahuinya, Dalam usahanya untuk memenangkan pertempuran itu, ia melihat Kie Lian terus menerus, agar menjadi letih karena darahnya terus mengucur dengan sangat derasnya, Apabila Kie Lian kehilangan darah terlalu banyak, pasti ia akan roboh dengan sendirinya.

Perhitungan itu memang benar belaka, Beberapa saat kemudian langkah kaki Hoa Kie Lian nampak tak tetap lagi, gerakan-gerakan pedangnya mulai kacau, Teranglah sudah, bahwa ia tak tahan lagi.

Menyaksikan itu Kwee Lian Cie girang bukan kepalang, dengan penuh semangat ia melancarkan serangan-serangan berantai.

Yang dibidik adalah lengan kanan Kie Lian yang berlumuran darah.

Keruan saja Kie Lian sangat sukar mempertahankan diri.

"Hoa kouvnio!"

Tiba-tiba Siang-koan Hong berteriak.

"Silahkan butakan saja mataku! Terima kasihku tak terhingga kepadamu!"

Betapa sulit kedudukan Kie Lian, dapat disadari Siangkoan Hong.

Karena membela dirinyalah Kie Lian terpaksa menerima fitnah-fitnah yang menodai namanya sebagai seorang gadis yang suci bersih.

Akan tetapi meskipun Hoa Kie Lian meluluskan permintaan Siangkoan Hong untuk membutakan mata-nya, pastilah Kwee Lian Cie tidak akan mengampuni juga.

Dan menyaksikan gerakan gerakan pedang Lian Cie yang makin lama makin keji dan tak kenal ampun itu, Siangkoan Hong menjadi gusar.

Dengan suara menggeledek ia memaki kalang kabut.

"Hei, Kwee Lian Cie! Kau perempuan tak tahu malu! Pantas saja orang-orang gagah menyebutmu sebagai sundal! sekarang dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan betapa keji dan kejam hatimu, melebihi ular berbisa, sudah mukamu Jelek, persegi dan kasar, untunglah wanita di seluruh dunia ini tiada yang mirip dengan mukamu yang persegi itu. seumpama demikian, pastilah laki-laki di seluruh muka bumi rela menjadi pendeta terkebiri, Hihihi ..!"

Padahal wajah Kwee Lian Cie meskipun belum terhitung cantik, akan tetapi lumayan juga, Namun Siangkoan Hong yang sudah kenyang makan garam, mengetahui kelemahan jiwa kaum wanita umumnya.

Tak peduli dia cantik atau memang jelek wajahnya, apabila kena maki demikian -pastilah akan timbul dengkinya, ia berharap, terdorong oleh rasa gusar dan dengki itu, Kwee Lian Cie akan mengalihkan perhatian kepadanya, Dalam keadaan kalap gadis kejam itu pasti akan membunuhnya.

Dengan demikian Kie Lian memperoleh kesempatan untuk melarikan diri, atau setidaktidaknya bisa membalut lukanya lebih dahulu.

Sama sekali tak terduga, bahwa Kwee Lian Cie bukan gadis bodoh.

Pada saat itu ia berpikir, bahwa yang terpenting ialah membunuh Hoa Kie Lian terlebih dahulu.

Bukankah pendeta yang jahil mulut itu sudah terluka berat?

Hendak lari kemana lagi dia?

itulah sebabnya, ia berlagak tuli dan tidak menggubris makian Siangkoan Hong.

Akan tetapi Siangkoan Hong bukan sembarang pendeta, Selain gagah, ia licin pula, Merasa pancingannya yang pertama gagal, ia segera berseru lantang.

"Hoa kouvnio terkenal sebagai seorang gadis suci bersih, Sebaliknya, tidak demikian dengan kau yang bermuka persegi dan berbulu itu, Kau adalah seorang sundal benar-benar, Umurmu sudah duapuluh delapan tahun, hatimu menjadi kecut dan takut pada masa depanmu, Maka setiap kali bertemu dengan laki-laki, kau segera berusaha memancing dan menjilatnya. Demikian pula terhadap pendekar muda Tan Bun Kiat, murid Tie-kong tianglo yang termashur itu, Biasanya dengan menawarkan tubuhmu yang berbulu itu, tiap laki-laki iseng akan menerima tawaranmu, Tetapi kali ini kau menumbuk batu, pendekar muda Tan Bun Kiat tidak menggubris bahkan menolak dengan kasar. Oleh karena itu kau lantas menjadi irihati terhadap Hoa kouwnio yang berhati suci bersih, dan kau hendak membunuhnya,..! Eh, Kwee Lian cie yang bermuka persegi dan berbulu. cobalah! Sekali-kali kau bercermin yang terang! Lihat yang terlihat dengan kedua ,matamu! Bukankah selain wajahmu persegi, juga berbulu dan hitam seperti serabi hangus....? Ha-ha-ha ...!"

Mendengar ejekan dan olok-olok Siangkoan Hong, benarbenar dada Kwee Lian Cie hampir-hampir meledak.

Oleh rasa gusar, tubuhnya sampai bergetaran, tetapi masih saja ia berusaha menguasai diri, sebaliknya mata Siangkoan Hong yang berpengalaman, segera mengetahui hal itu.

Terus saja ia mementang mulutnya lagi dan berpidato kepada orang-orang gagah yang berada dikiri-kanannya, serunya lantang.

"Saudara-saudara! saudara tadi menyebut aku sebagai iblis. Memang aku ini iblis, bahkan raja iblis! Kegemaranku berpesta diantara perempuan perempuan cantik. Pada suatu hari, aku melihat Kwee kouwnio yang bermuka persegi dan berbulu itu, lagi memancing pendekar muda Tan Bun Kiat. Dengan mata-kepalaku sendiri, aku melihat betapa ia sakit hati tatkala ditolak pendekar muda itu. Dengan uring-uringan ia menghunus pedangnya dan memasangkan langkah hendak mencari Kie kouwnio untuk melampiaskan rasa sesalnya, Karena uring-uringan ia kurang waspada, Didekat tikungan jalan, ia kusergap dari belakang. Kemudian kuperkosa sampai empat kali berturut-turut. Hahaha..."

Tentu saja olok-olok Siangkoan Hong itu bualan kosong belaka, akan tetapi keterlaluan.

Betapa cerdik dan sabar seseorang, pasti akan meledak dadanya begitu mendengar olok olok yang beracun itu, Demikian pula Kwee Lian Cie.

Dengan menjerit tinggi ia meninggalkan Hoa Kie Lian, dan melompat menikamkan pedangnya kemulut Siangkoan Hong yang jahil itu!

Melihat Kwee Lian Cie keluar gelanggang, masih sempat Siangkoan Hong tertawa syukur.

Memang itulah harapannya, Dengan demikian ia memberi kesempatan kepada Hoa Kie Lian untuk melarikan diri, atau membalut terlebih dahulu untuk mengadakan balasan, itulah sebabnya ia menunggu ujung pedang Kwee Lian Cie dengan dada terbuka dan hati ikhlas.

Hanya saja, pada saat itu peristiwa diluar dugaan siapapun segera terjadi.

Dari rumpun belukar melompatlah seseorang, secepat kilat sambil membentak nyaring.

perawakan tubuhnya pendek bulat, ia menghadang di depan tubuh Siangkoan Hong menunggu datangnya tikaman.

Oleh gerakannya yang cepat dan datangnya tidak terduga duga, Kwee Lian Cie tak dapat membatalkan tikamannya.

Dengan ,cepat sekali pedangnya menikam dan menancap dijidat orang itu.

pada detik yang bersamaan, orang berperawakan pendek bulat itupun, melontarkan pukulan yang tepat mengenai dada Kwee Lian Cie.

"Blukkk!"

Tanpa ampun lagi , Kwee Lian Cie terpental dan terbanting ditanah dan memuntahkan darah segar.

Dari dengan berbareng pula, orang itu roboh ke tanah berkelojotan, pedangnya Kwee Lian Cie masih membenam dijidatnya!

"Sie Ah Piang!

Hei, bukankah dia Sie Ah Piang!"

Teriak See Cu Leng dan yang lain dengan berbareng.

Memang benar.

Orang berperawakan pendek bulat itu adalah Sie Ah Piang, kacungnya Siangkoan Hong yang setia.

Semenjak tadi ia bersembunyi di belakang belukar, menyaksikan majikannya dikeroyok delapan orang.

Ia percaya, majikannya yang sekaligus juga merupakan gurunya, pasti bisa memenangkan pertempuran itu.

Tatkala gurunya terluka parah, hampir saja ia keluar dari persembunyiannya.

Tetapi ia melihat perkembangan baru tatkala Kwee Lian Cie bertempur melawan adik seperguruannya, ia menunggu.

Dan begitu gurunya menghadapi bahaya, dengan cepat ia keluar dan mewakili menerima tikaman pedang Kwee Lian Cie, walaupun ilmu kepandaiannya terpaut jauh dengan gurunya, akan tetapi ia memiliki pukulan dahsyat.

Begitu mengenai dada Kwee Lian Cie, beberapa tulang iga gadis itu patah.

Setelah menenangkan diri, Hoa Kie Lian menyobek kain bajunya dan membalut luka di lengannya.

Kemudian menolong melepaskan tali pengikat Siangkoan Hong pada kaki-tangannya, dan tanpa berkata sepatah katapun ia memutar tubuh hendak pergi.

"Tunggu, Hoa kouwnio! Terimalah hormatku!"

Seru Siangkoan Hong sambil merangkapkan sepasang telapak tangannya.

Dengan cepat Hoa Kie Lian mengelakkan pemberian hormat pendeta itu, sedangkan Siangkoan Hong lalu memungut pedang See Cu Leng yang tadi jatuh ketanah, Katanya.

"Hoa kouwnio, Kwee kouwnio tadi memfitnah namamu yang suci bersih. Karena itu sebaiknya ia tidak dibiarkan hidup terus!"

Setelah berkata demikian pedangnya lantas menikam leher Kwee Lian Cie, tetapi dengan cepat Hoa Kie Lian menangkisnya, Katanya.

"Dia kakak seperguruanku. Meskipun budinya tercela, tetapi aku tak sampai hati menghianatinya."

"Urusan sudah begitu jauh. Kalau dia tak dibunuh, dikemudian hari pasti akan merugikan nama pribadimu."

Ujar Siangkoan Hong. Hoa Kie Lian mengucurkan air mata dan berkata.

"Aku memang gadis ma1ang. Mungkin pula akan membawa alamat jelek, tetapi biarlah aku menerima nasibku. Siang-koan Hosiang, jangan kau mencelakainya."

Siangkoan Hong menghela napas. Berkata.

"Baiklah, jika demikian keinginanmu , aku akan mematuhi."

"Sucie."

Kata Hoa Kie Lian dengan suara haru kepada kakak seperguruannya.

"Harap kau menjaga dirimu baik-baik."

Setelah berkata demikian ia memasukkan pedangnya kedalam sarungnya, kemudian meninggalkan gelanggang pertempuran dengan seorang diri.

Setelah Hoa Kie Lian hilang dari penglihatan, Siangkoan Hong berkata kepada sekalian jago-jago yang mengeroyoknya, Katanya dengan suara tegas.

"Aku, Siangkoan Hong -sebenarnya tidak mempunyai dendam sakit hati kepada kalian. Andaikata tayhiap Thio Kim San hidup kembali, beliaupun tidak akan menaruh dendam pula kepada kalian, sebab ia tahu bahwa kalian hanya begundal begundal belaka, Akan tetapi pada malam ini kalian mendengar perempuan she Kwee itu memfitnah Hoa kownio begitu keji, kalau hal itu kalian siarkan -nasib Hoa kouwnio yang berhati suci bersih akan menjadi gelap dikemudian hari. itulah sebabnya, terpaksa aku meniadakan saksi-saksi hidup, aku mohon maaf kepada kalian. Kelak apabila kalian menghadapi malaikat-malaikat yang akan mengantar kalian ke sorga, tolong katakan kepadanya bahwa aku membunuh kalian karena terpaksa saja."

Setelah selesai berkata demikian, ia tidak menunggu reaksi mereka.

seorang demi seorang dibunuhnya dengan tangannya sendiri.

Setelah itu ia mendekati Kwee Lian Cie, dan wajah muka Kwee Lian cie digarisnya dengan ujung pedang lima sampai tujuh kali.

Dengan demikian wajah Kwee Lian Cie yang tadinya agak lumayan, kini menjadi cacad seumur hidupnya, Hati gadis itu hampir hampir pecah, akan tetapi dalam keadaan luka parah tak dapat ia mengadakan perlawanan, ia hanya bisa memaki kalang-kabut, serunya lantang.

"Bangsat gundul! janganlah kau menyiksaku dengan cara begini. Kalau mau bunuh, bunuhlah dengan segera!"

Siangkoan Hong tertawa lebar. sahutnya.

"He-he-he! perempuan jelek semacammu ini, setanpun enggan mendekati. sebaliknya kalau kini kau kubunuh hmm, mungkin setan-setan jahat dan roh roh yang tidak karuan dosanya akan lari kalang kabut karena ketakutan melihat tampangmu. Boleh jadi malaikat Jibril akan lari ketakutan pula!" (Malaikat Jibril ~ Giam Lo Ong). Berkata demikian, ia tertawa gelak beberapa kali. Kemudian melemparkan pedangnya dan mendukung jenazah Sie Ah Piang, setelah menangis menggerung-gerung beberapa saat lamanya, dengan mendukung jenazah itu ia berjalan perlahan-lahan meninggalkan gelanggang pertarungan tadi. Kwee Lian Cie berusaha menolong diri, dengan napas tersengal-sengal ia mencoba merayap bangun. Dan dengan bertongkat pedangnya, ia berjalan perlahan-lahan keluar hutan. Pertempuran yang menggoncangkan hati itu, mendebarkan jantung Thio sin Houw berdua Cie Siang Gie, setelah Kwee Lian Cie tiada nampak bayangannya lagi, barulah mereka menghela napas merasa lega.

"Cie toako,"

Kata Sin Houw kemudian.

"Belum pernah aku berbicara dengan bibi Hoa Kie Lian, aku hanya melihatnya ketika ia mendaki gunung Boe-tong, Nampaknya ia menaruh perhatian besar kepada susiok-ku, Tan Bun Kian karena katanya mereka telah bertunangan. Tetapi ... tetapi ... apa... apakah menurut pendapatmu, benar-benar bibi Hoa Kie Lian pernah melahirkan seorang anak diluar perkawinan?"

"Hmmml perempuan she Kwee itu mengacau-balau tak keruan, janganlah kau percaya!"

Sahut Cie Siang Gie. Mendengar jawaban Cie Siang Gie, hati Sin Houw bergembira, Katanya.

"Benar! Benar! Biar kelak kuadukan fitnahan ini kepada susiok Tan Bun Kiat, agar dihajarnya dia. Aku benci pada mulutnya yang kotor!"

"Jangan! Jangan!"

Cegah Cie Siang Gie cepat.

"Sekali-kali jangan kau ceritakan peristiwa yang kau lihat pada malam ini, Wah, kelak bisa jadi runyam malah !"

"Apa sebab begitu?"

Tanya Sin Houw heran.

"Kata-kata kotor yang tak sedap didengar ini, janganlah kau ceritakan kepada siapapun juga!"

Ujar Cie Siang Gie.

"Oh!"

Sahut Sin Houw. Meskipun dia baru berumur belasan tahu, tetapi otaknya sangat cerdas. setelah berenung sejenak, segera ia berkata.

"Cie toako, apakah... apakah kau merasa bahwa fitnahan perempuan busuk itu benar-benar terjadi? Tidak, bukan?"

"Entahlah, aku sendiri tidak tahu ..."

Sahut Cie Siang Gie.

***** SETELAH terang tanah, jalan darah Cie Siang Gie menjadi lancar kembali.

ia segera menggendong Thio Sin Houw meneruskan perjalanan.

Dengan perlahan lahan ia melintasi mayat-mayat yang bergelimpangan.

Timbullah suatu pertanyaan besar dalam hatinya.

"Mereka bertempur mati-matian, hanya karena persoalan seorang gadis yang bernama Thio Siu Lan. sesungguhnya apa latar belakang gadis itu?"

Sebaliknya Thio Sin Houw yang berada digendongannya, berpikir pula.

"Ayah dan ibu sendiri belum tahu pasti tentang golok mustika itu, akan tetapi mereka bersedia mengorbankan nyawa demi memperoleh keterangan tentang golok itu, Nampaknya golok itu merupakan sumber bencana, entah berapa orang lagi yang akan mati bergelimpangan..."

Setelah beristirahat satu malam tanpa bergerak didalam rimba itu, tenaga Cie Siang Gie menjadi pulih kembali.

Langkahnya cekatan, akan tetapi karena perjalanannya terpotong oleh kejadian semalam, ia menjadi tersesat.

tiba-tiba saja, dibawah bukit nampak tergelar lembah ngarai yang berpenduduk, Pikir Siang Gie didalam hati.

"Supeh Ouw Gie Coen bertempat tinggal disebuah perkampungan Ouw-tiap kok, tempatnya sangat terpencil. Mengapa justru disini nampak tergelar beberapa dusun? Apa aku tersesat?"

Cie Siang Gie lalu memasuki perkampungan itu, maksudnya hendak mencari penduduk untuk minta keterangan, Tiba-tiba ia mendengar derap suara kuda riuh dibelakangnya.

Empat tentara Mongolia datang mengaburkan kudanya, mereka nampak bersenjata lengkap, Terdengar mereka membentak-bentak.

"Hayoo, pergi dari sini! Cepat!"

Sewaktu berada duapuluh langkah dibelakang Cie Siang Gie, mereka mencabut pedangnya dan mengancam punggung pemuda itu Diam-diam Cie Siang Gie mengeluh dalam hati.

"Celaka! Baru saja lolos dari bahaya, kini bertemu dengan bencana lain lagi, Yang terancam bukan hanya aku seorang, tetapi Sin Houw pula."

Ia merasa ilmu kepandaiannya telah punah, jangan lagi bertempur melawan empat orang, meskipun menghadapi seorang rasanya tidak mampu lagi, Maka melihat ancaman bahaya itu, terpaksa ia menyerahkan dirinya kepada nasib.

Selagi meneruskan perjalanan dengan menyerahkan diri kepada nasib, tiba-tiba ia melihat beberapa tentara Mongolia mengganas terhadap penduduk kampung.

Melihat hal itu, Cie Siang Gie mempunyai setitik harapan, Pikirnya.

"Rupanya tentara penjajah itu sedang mengumpulkan penduduk desa, dan tidak bermaksud menangkap aku."

Tahulah Cie Siang Gie apa sebab tentara Mongolia itu mengumpulkan penduduk, mereka hendak merampok barang milik penduduk, Karena merasa diri tak mampu melawan, segera Cie Siang Gie menggabungkan diri dengan penduduk yang dikumpulkan itu.

Ketika tiba disimpang tiga, ia melihat seorang perwira Mongolia memimpin tentaranya.

jumlah mereka kira-kira enam puluh orang.

Mereka semua menghunus pedang dan golok.

Perwira itu lantas berseru kepada semua penduduk, dengan suaranya yang lantang.

"Hey! Kalian manusia atau binatang? Kalian kalau manusia, lekas berlutut dihadapan kami!"

Penduduk desa yang ketakutan itu segera mematuhi perintah tersebut. Mereka menjatuhkan diri berlutut. Melihat hal itu, Thio Sin Houw yang berpengalaman segera membisiki telinga Cie Siang Gie.

"Toako, lekas lemparkan pedangmu! pastilah tentara itu akan menggeledah mereka, dan biasanya siapa yang bersenjata akan dibunuhnya!"

Sian Gie seperti diingatkan, segera ia berpura-pura tergelincir sambil melemparkan senjatanya ke dalam semak belukar. setelah itu dengan merintih-rintih ia berjalan tertatihtatih.

"Hey, kau yang berberewok!"

Teriak perwira itu kepada Cie Siang Gie.

"Mengapa kau tidak berlutut?"

Cie Siang Gie seorang pemuda angkuh hati, Meskipun ayahnya menjadi abdi Ciu Kong Bie, akan tetapi dia sendiri tidak.

ia seorang pemuda yang hidup dengan bebas.

ia ikut kelompok Beng-kauw, itulah sebabnya terhadap penjajah Mongolia ia benci bukan main.

sekarang ia mendengar perintah agar berlutut, keruan saja ia berontak.

Da-lam hati ia sudah mengambil keputusan, lebih baik mati dari pada berlutut di hadapan kaum penjajah!

Melihat Cie Siang Gie membangkang, seorang tentara menghampiri dan mendupak lututnya, Karena ilmu kepandaian Cie Siang Gie telah punah, ia roboh begitu kena dupak serdadu itu.

Dengan sendirinya pula ia jadi berlutut.

"Kau siapa?"

Bentak tentara itu.

"Kami berdua hidup mengemis, ini abangku, ia tuli. itu sebabnya ia tidak mendengar perintah toaya,"

Sahut Thio Sin Houw cepat.

"Bangsat!"

Bentaknya lagi, Kaki tentara itu dilayangkan dan Cie Siang Gie kena dupak untuk yang kedua kalinya.

ia roboh terjungkal, dengan sendirinya Sin Houw ikut terbanting pula.

Keruan saja Cie Siang Gie gusar bukan main, tetapi sadar bahwa dirinya tak sanggup melawan.

ia hanya dapat memakinya didalam hati, pada detik itu pula bersumpahlah ia didalam hati.

"Aku bersumpah, demi bumi dan langit akan menghabiskan setiap tentara penjajah beserta begundalnya, seorang demi seorang sampai mereka lenyap dari buka bumi, Kalau aku tak sanggup menghabiskan mereka, aku bukan seorang laki-laki sejati!"

Karena mereka dianggap pengemis, maka Cie siang Gie dan Thio Sin Houw dapat melanjutkan perjalanannya, selagi mendekati bukit yang berada di depan mereka, tiba-tiba mereka mendengar pekik teriak yang menyayatkan hati, Ternyata penduduk kampung itu di sembelih tentara Mongolia seorang demi seorang.

Pada waktu itu perjuangan Thio Su Seng sangat termashur, ia dibantu oleh sekalian penduduk.

Tak mengherankan, seringkali dalam peperangan tentara penjajah Mongolia menderita kekalahan total, Karena sudah tiga tahun lamanya tidak dapat menangkap Thio Su Seng yang dianggap menjadi biang keladi kerusuhan, maka pihak penjajah menjadikan penduduk sebagai sasaran kini.

Setiap kali mereka melakukan perondaan, segera mengumpulkan penduduk kampung dengan dalih mencari para pemberontak.

Apabila maksud mereka tidak tercapai, maka mereka mengadakan pembunuhan masal.

Menyaksikan hal itu, dendan dan rasa gusar Cie Siang Gie kian membara.

ia mengeluh mengapa menyaksikan peristiwa demikian, justru ilmu kepandaiannya dalam keadaan punah, seumpama ilmu kepandaiannya belum punah, sudah sejak tadi ia melabrak tentara penjajah itu meskipun jumlahnya cukup besar .

Cie Siang Gie memangnya seorang pemuda yang gagah perkasa, akan tetapi pada saat itu ia merasa diri tidak berdaya.

itulah sebabnya setelah mengeluh sambil membanting-banting kakinya, ia lalu melanjutkan perjalanan.

Menjelang tengah hari ia bertemu dengan seorang penebang kayu.

ia segera menghampiri dan minta keterangan dimanakah letak dusun Ouw-tiap kok tempat tinggal pamannya, Ouw Gie Coen, Tetapi penebang kayu itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Katanya.

"Selama hidupku belum pernah mendengar nama dusun tersebut."

Dan mendengar keterangan penebang kayu itu, sejenak Cie Siang Gie tergugu.

Tetapi ia yakin, bahwa dusun pamannya tentu tidak jauh lagi, Dengan sabar ia melanjutkan perjalanan kembali .

Pemandangan seberang-menyeberang, jalan sangat indah kini, Bunga-bungasedang bermekaran dan mahkota dedaunan hijau meresapkan penglihatan.

Tetapi Cie Siang Gie maupun Thio Sin Houw masih belum bisa melepaskan diri dari penglihatan yang disaksikan tadi, itulah penglihatan tentara penjajah menyembelih penduduk kampung.

Karena itu, betapa mereka berdua dapat menikmati pemandangan yang bagaimanapun indahnya.

Kata Sin Houw kemudian.

"Cie toako, tempat kediaman pamanmu bernama Ouw-tiap kok. Kalau tak salah, Ouw-tiap kok adalah selat kupu-kupu. Menurut cerita ibuku, tempat itu sangatlah indahnya, sekarang kita melihat seberang-menyeberang jalan ini sangat indah pula, apakah tidak mungkin pamanmu itu bertempat tinggal di sekitar sini?"

Mendengar perkataan Thio Sin Houw benar-benar Cie Siang Gie sangat kagum, pikirnya didalam hati.

"Sungguh! Anak ini cerdas luar biasa! Mengapa aku tidak dapat berpikir demikian sejak tadi?"

Ia segera menyeberang ke dalam gerombolan bunga, setelah berjalan selintasan timbullah setitik harapan, serunya kepada Sin Houw.

"Dugaanmu agaknya benar. Bunga-bunga ini seperti ada yang mengatur."

Dengan menuruti jalan pegunungan yang berliku-liku, mereka menuju ke utara.

Selagi melayangkan pandangnya, mereka melihat suatu tebing di sebelah barat.

Disitu nampak seorang tua sedang mencangkul.

Mereka segera mendekati Dengan sekali pandang, tahulah mereka bahwa orang itu berusia hampir mencapai limapuluh tahun.

perawakan tubuhnya jangkung kurus.

Entah apa sebabnya, melihat orang itu hati Thio Sin Houw berdebar debar Katanya didalam hati.

"Apakah dia yang bernama Ouw Gie Coen?"

Selagi ia hendak minta keterangan kepada Cie Siang Gie, pemuda itu telah menghampiri dan berkata dengan membungkuk hormat.

"Aku bernama Cie Siang Gie, dapatkah aku mohon petunjuk dari lopeh, jalan manakah yang harus kami tempuh agar dapat bertemu dengan tabib sakti Ouw Lo-cianpwee? Kami berdua ingin sekali bertemu, untuk mohon pertolongan. Mendengar pertanyaan Cie Siang Gie, tahulah Sin Houw bahwa orang itu bukan Ouw Gie Coen. Maka dengan penuh perhatian ingin ia mendengar jawaban orang itu, Sama sekali tak terduga orang tua itu tetap menundukkan kepalanya dan terus memacul, Beberapa kali Cie Siang Gie membuka mulutnya untuk mohon keterangan, akan tetapi agaknya orang tua itu tuli. SELAGI Thio Sin Houw hendak membantu bertanya pula, tiba-tiba Cie Siang Gie mencubit pahanya. Maka ia segera mengurungkan niatnya, Dan Cie Siang Gie yang biasanya mudah tersinggung serta mudah bergusar, kali ini tidaklah demikian, ia melanjutkan berjalan dengan langkah sabar, kirakira beberapa lie jauhnya barulah ia berkata.

"Sute, pamanku mempunyai tabiat yang aneh sekali, ia mempunyai murid dan pengikut yang setia, dan tabiat pengikut-pengikutnya mirip majikannya pula. Kita telah memasuki wilayahnya, karena itu tidak boleh gegabah. sekali kita melanggar pantangannya tiada lagi harapan. sekarang tiada jalan lagi selain mencari tempat kediaman pamanku, dengan menyerahkan nasib kepada Tuhan."

Sesudah menikung beberapa kali, tiba-tiba mereka melihat sebidang taman bunga yang terpisah beberapa puluh meter dari pinggir jalan.

Di tengah ladang itu tampak seorang gadis dusun mengenakan pakaian hijau, sedang merawat tetanaman bunga sambil membungkuk.

Thio Sin Houw berada diatas punggung Cie Siang Gie, karena itu ia memperoleh penglihatan lebih luas dari pada Siang Gie.

Nampak gadis itu membelakangi tiga rumah atap berdiri berjajar, dan disekitar rumah itu sunyi sepi.

Dengan masih menggendong Thio Sin Houw, Cie Siang Gie menghampiri gadis dusun itu, sambil membungkuk hormat ia berkata.

"Adik ... eh, kakak. Bolehkah kami bertanya kepadamu? jalan manakah yang harus kami tempuh agar dapat bertemu dengan paman Ouw Ceng Goe?"

Gadis itu mengangkat kepalanya, memandang Cie siang Gie dan Thio Sin Houw dengan kedua matanya yang jernih.

Melihat pandang matanya yang bersinar tajam luar biasa itu, baik Cie siang Gie maupun Thio Sin Houw terkejut.

"Akh!"

Kata Thio Sin Houw dan Cie Siang Gie didalam hati.

"Mengapa sinar matanya begitu luar biasa?"

Thio Sin Houw menatap paras muka gadis dusun itu, Dibandingkan dengan Kwee Lian Cie dan Hoa Kie Lian , gadis dusun ini kalah cantik.

Kulitnya kering, kuning.

Mukanya pucat, seperti kekurangan makan.

Rambutnya jarang dan berwarna kekuningan, sedangkan pundaknya tinggi dan tubuhnya kurus.

Hal itu menunjukkan bahwa dia seorang gadis dusun yang miskin.

Dilihat dari paras muka gadis itu, kira-kira berumur enam belas atau tujuh belas tahun.

Tetapi karena tubuhnya kuruskering dan kecil, nampaknya seperti kanak-kanak berumur tiga belas atau empat belas tahun, Meskipun demikian, oleh rasa hati-hati Cie siang Gie tidak berani berlaku semberono, ia memanggil adik dan kakak dengan berbareng, karena takut menyinggung kehormatannya.

"Adik, eh, kakak,"

Ulang Cie siang Gie lagi.

"Numpang tanya, di manakah letak lembah Ouw-tiap kok? Apa kami harus ke timur atau ke barat, ataukah ke utara?"

Dengan suara dingin gadis dusun itu menjawab.

"Tidak tahu!"

Setelah menjawab demikian, ia menundukkan kepalanya lagi.

Melihat sikap yang agak sombong dan kasar itu, hati Cie siang Gie mendongkol, Tetapi mengingat tempat itu sangat berdekatan dengan Ouw-tiap kok, sedapat-dapatnya ia menahan rasa mendongkolnya .

Katanya kepada Thio Sin Houw.

"Sute, hayolah kita berangkat. Ouw-tiap kok adalah sebuah lembah yang sangat terkenal, biar bagaimana juga kita pasti akan dapat mencari sendiri."

Tetapi Thio Sin Houw tidak sependapat dengan Cie siang Gie.

Menimbang bahwa matahari sudah condong ke barat, ia harus menemukan petunjuk yang pasti.

Rasanya akan mengalami kejadian yang tidak enak apabila sampai tersesat diwaktu malam hari.

Maka dengan sabar ia bertanya.

"Suci, apa ayah dan ibumu ada di rumah ? Mereka tentu tahu jalan yang menuju ke lembah Quw-tiap kok."

Akan tetapi gadis itu tetap saja tidak melayani, ia terus mencabuti rumput sambil menundukkan kepalanya.

Hati Cie siang Gie yang gampang tersinggung, jadi semakin panas.

Dengan membuang muka ia melanjutkan perjalanan Hati Cie siang Gie tidak jahat, tetapi ia kasar.

oleh rasa mendongkolnya ia berjalan menyeberang taman bunga itu dan menginjak-injak beberapa rumpun tanaman.

Menyaksikan hal itu, buru-buru Thio Sin Houw berseru.

"Cie toako, hati-hati!"

Oleh peringatan Thio sin Houw, Cie siang Gie tersadar akan kesembronoannya, Cepat-cepat ia menghindarkan kakinya agar jangan sampai menginjak rumpun tanaman bunga di depannya.

"Sute, gadis itu rupanya tuli, Buat apa kita bicara berkepanjangan dengan dia? Hayolah berangkat."

Kata Cie siang Gie sambil ia melompat ke pengempangan dan meneruskan perjalanan dengan langkah panjang.

Semenjak kanak-kanak Thio Sin Houw hidup dalam kemiskinan dan penuh bahaya, itulah sebabnya hatinya cepat menaruh iba terhadap orang-orang miskin seperti dirinya, Diperlakukan gadis itu dengan sikap dingin, ia tidak menjadi gusar.

ia malah merasa iba kepadanya, ia menduga bungabunga itu merupakan mata pencarian keluarga gadis itu, Maka tak henti-hentinya ia memberi peringatan kepada Cie siang Gie, apabila kaki pemuda itu hendak menginjak tanaman.

Tiba-tiba diluar dugaan, gadis itu mengangkat kepalanya dan berseru.

"Hai! untuk apa kalian pergi ke Ouw-tiap kok?"

Cie siang Gie menahan langkah kakinya, dan menjawab.

"Adikku ini lumpuh terkena racun, karena itu kami hendak menghadap 0uw-sinshe untuk mohon pertolongan"

"Aku hanya pernah mendengar namanya saja, tetapi belum pernah bertemu dengan orangnya,"

Kata gadis itu.

"Apa kau kenal dengannya?"

"Belum!"

Jawab Thio Sin Houw di atas punggung Cie siang Gie, sambil ia memijit pundak pemuda itu, perlahan gadis itu menegakkan badannya, dan menatap wajah Thio Sin Houw dengan sinar mata yang sangat tajam.

"Bagaimana kau yakin, bahwa dia sudi mengobati dirimu?"

Tanyanya. wajah Thio Sin Houw lantas saja menjadi suram, jawabnya dengan berduka.

"Ya, sebenarnya akupun hanya berdoa saja,"

Setelah menjawab demikian, dengan tidak disadarinya Thio Sin Houw menghela napas. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya, pikirnya didalam hati.

"Gadis ini nampaknya kenal tabiat dan perangai sinshe Ouw Ceng Goe, Kalau begitu, tempatnya di Ouw-tiap kok tidak jauh lagi dari sini."

Memperoleh pikiran demikian, segera ia membisiki Cie siang Gie agar menghampiri gadis itu lagi, Kemudian berkata dengan hormat.

"Itulah sebabnya, aku mohon petunjuk-petunjukmu!"

Thio Sin Houw adalah seorang bocah yang memiliki otak cerdas luar biasa.

Dengan istilah petunjuk itu, ia mempunyai dua maksud.

Yang pertama mohon keterangan kepada gadis itu di mana letak Ouw-tiap kok, sedang yang kedua mohon petunjuk tentang cara-cara mengobati lukanya.

Akan tetapi gadis itu tidak menyahut.

Dengan pandang tajam, ia mengamat-amati Cie siang Gie dan Thio Sin Houw dari kaki sampai ke kepalanya.

seberapa saat kemudian tiba tiba ia menuding dua buah pasu berisi kotoran binatang, katanya memerintah.

"Disebelah sana, ada kolam berisi kotoran binatang. Ada beberapa pasu pula ditepinya, penuhilah dua pasu dengan kotoran binatang itu, lalu siram-lah tanaman ini dengan kotoran binatang itu!"

Setelah memberi perintah demikian, gadis itu membungkuk lagi dan ia meneruskan pekerjaannya mencabuti rumput.

Baik Cie siang Gie maupun Thio Sin Houw, terkesiap hatinya.

Mereka berdua meskipun selisih umur, tetapi memiliki pengalaman-pengalaman hidup yang hebat.

seringkali mereka menjumpai manusia-mamisia yang aneh lagak-lagunya, akan tetapi kata-katanya tidak ada yang melebihi anehnya dengan kata-kata gadis itu, Betapa tidak?

Gadis itu terang seorang dusun yang miskin, akan tetapi kata-katanya seolah-olah perintah majikan terhadap kulinya.

Meskipun melarat, sejak kanak-kanak baik Thio Sin Houw maupun Cie siang Gie belum pernah mengerjakan pekerjaan menyiram tanaman dengan kotoran binatang.

Syukurlah Thio Sin Houw seorang anak yang kenyang digembleng pengalaman hidup pahit.

setelah hilang kagetnya, dalam hati lantas saja timbul rasa kasihan.

Katanya didalam hati.

"Dia begitu kurus-kering, meskipun berkemauan besar -betapa sanggup menyirami tanaman bunga diseluruh ladang ini dengan seorang diri."

Tepat pada saat itu, ia melihat wajah Cie siang Gie merah padam, Buru-buru ia berkata.

"Toako, seorang laki-laki yang kuat memang harus menolong yang lemah. Biarlah kita membantunya."

"Kau berkata apa?"

Seru Cie siang Gie dengan mendongkol.

"Kita bantu dia!"

Sahut Thio Sin Houw dengan tenang.

Tentu saja Cie siang Gie tahu maksud Thio Sin Houw, Dialah sesungguhnya yang disuruh membantu pekerjaan gadis itu.

selama dalam perjalanan dia merasakan kecerdikan adikkecilnya ini, Maka sekali ini, ia percaya Sin Houw mempunyai rencana tertentu, Maka dengan menggelengkan kepalanya , ia menurunkan Sin Houw ke atas tanah, kemudian dengan berdiam diri ia mencari kolam kotoran binatang.

Setelah mengisi dua pasu penuh air kotoran binatang,"

Cie siang Gie segera kembali dan menyirami tanaman dengan menggunakan gayung. Tetapi baru saja ia menyiram satu-dua kali, tiba-tiba gadis itu berseru.

"Salah! Terlalu kental! Pohon bunga itu bisa mati nanti ...!"

Menuruti tabiatnya, Cie siang Gie pasti akan mendamprat gadis itu, yang berani menegurnya demikian.

Akan tetapi mengingat bahwa Thio Sin Houw mempunyai rencana tertentu, ia menguasai gejolak hatinya sedapat mungkin.

justru demikian, ia menjadi tertegun.

sejenak kemudian ia mengerling kepada Thio Sin Houw, bocah itu memberi isyarat agar ia patuh, oleh isyarat itu segera ia balik lagi ke kolam dan melakukan perintah si gadis dusun.

selagi hendak menyiram tanaman, lagi-lagi gadis itu menegur.

"Awas! jangan sampai daun dan bunganya kena tersiram."

Dengan sikap mengalah, Cie siang Gie menyahut.

"Baik!"

Setelah berkata demikian, ia menyiram tanaman itu dengan hati-hati.

Justru demikian, ia dapat memperhatikan warna bunga itu, Bentuknya sedang, warnanya biru tua dan harus luar biasa -bunga apa ini?

selama hidupnya belum pernah ia melihat.

Tidak lama kemudian kedua pasunya telah kosong kembali.

"Bagus!"

Kata gadis dusun itu.

"Coba tolong satu pikul lagi!"

Mendengar perintah itu, Thio Sin Houw yang duduk di pengempangan berseru dengan suara halus.

"Kakakku ini harus segera berangkat, malam ini juga kita harus menghadap sinshe 0uw. Baiklah begini saja, sepulang kami dari Ouw-tiap kok kami akan singgah kembali untuk membantumu !"

"Lebih baik kalian tinggal saja disini menyiram bunga!"

Kata gadis itu.

"Karena kulihat kalian berdua baik-baik, maka aku minta agar kalian menyiram tanamanku."

Mendengar alasan gadis itu, baik Cie siang Gie maupun Thio Sin Houw makin menjadi heran, Mereka berdua saling memandang, Thio Sin Houw kembali memberi isyarat.

Dan pada saat itu, Cie siang Gie berpikir di dalam hati.

"Apa boleh buat, sudah terlanjur membantu, maka harus membantu sampai selesai ..."

Demikianlah ia memikul dua pasu berisi air kotoran binatang, dan dengan teliti ia menyiram tanaman bunga diseluruh ladang.

Dalam pada itu matahari telah turun dibalik gunung.

sinarnya yang kuning keemas-emasan masih menyoroti bunga-bunga biru itu, sehingga memberikan penglihatan yang indah sekali.

Cie siang Gie seorang pemuda kasar, tetapi melihat keindahan itu di dalam hati ia berkata.

Benar-benar indah bunga-bunga ini ...

Dalam pada itu Thio Sin Houw yang duduk dipengempangan berseru lagi kepada gadis dusun itu.

"Cici, sekarang perkenankan kami meneruskan perjalanan."

Sambil berkata demikian, ia menatap wajah gadis itu dengan pandang mohon belas kasihan. Mendadak saja wajah gadis dusun itu berubah angker, katanya.

"Kalian telah membantuku. Kalian-pun minta petunjukku, bukan?"

Mendengar perkataan gadis dusun itu, Cie siang Gie berdua Thio Sin Houw berkata didalam hati.

"Memang, memang aku membutuhkan petunjukmu, Akan tetapi bantuan menyirami tanamanmu terbersit dari hati menaruh belas kasihan kepadamu, sudahlah, rasanya jika kini mohon bantuannya agar menunjukkan tempat paman Ouw, agaknya seperti orang menagih budi."

Pada saat itu Cie siang Gie tertawa lebar. Katanya.

"Akh, indah benar bungamu ini."

Setelah berkata demikian, pemuda berewok itu menghampiri Thio Sin Houw, selagi hendak meneruskan perjalanan dengan menggendong Thio Sin Houw, tiba tiba gadis itu berseru memanggil.

"Tahan!"

Cie siang Gie mulai tak sabar, Dengan pandang gelisah ia menatap gadis itu, ia melihat gadis tersebut membungkuk memetik dua kuntum bunga. Katanya.

"Kau tadi berkata, bunga ini indah sekali. Nah, kuberi kalian dua tangkai bunga!"

Setelah berkata demikian, ia memberikan dua tangkai bunga itu.

"Terima kasih!"

Kata Thio Sin Houw dan Cie siang Gie, Cie siang Gie membungkuk dan dimasukkan kedalam sakunya.

"Sebetulnya siapa nama kalian...?"

Tanya gadis dusun itu.

"Aku Thio Sin Houw, dan kakakku ini Cie siang Gie."

Jawab Sin Houw. Gadis dusun itu mengangguk dan berkata lagi.

"Jika kalian hendak ke Ouw-tiap kok, lebih baik ambil jalan mengarah ke timur laut!"

Sebenarnya dalam hati Cie siang Gie mendongkol terhadap gadis dusun itu, tetapi begitu mendengar petunjuknya lantas saja hilang, Bisiknya kepada Sin Houw sambil tertawa.

"Sute, benar-benar kau bisa memandang jauh, Coba, kalau aku tadi menuruti kekasaranku, pastilah aku akan tersesat dipinggang gunung ini."

Tetapi sebaliknya, hati Sin Houw bercuriga, pikirnya didalam hati.

"Jika tempat kediaman Ouw sinshe berada di sebelah timur laut, sebenarnya ia dapat menerangkan dengan tegas. Kenapa ia menggunakan kata-kata. lebih baik mengambil jalan ke timur laut?"

Thio Sin Houw meskipun baru berumur belasan tahun, akan tetapi pengalamannya terhadap manusia lebih banyak dari pada Cie siang Gie.

Maklumlah selama beberapa tahun ia dikejar musuh-musuh ayahnya terus-menerus, dan semua musuh-musuh ayahnya seringkali kalau bicara menggunakan tipu muslihat jebakan-jebakan tertentu, Karena itu setiap kali hendak mengambil keputusan, keluarganya dipaksa untuk memecahkan teka-teki atau menduga-duga tata muslihat lawan terlebih dahulu.

Tetapi kali ini meskipun ia menaruh curiga, namun segan mendesak lebih jauh lagi, segera ia memberi isyarat kepada Cie siang Gie agar meneruskan perjalanan.

Baru saja mereka melintasi gundukan tanah tinggi, dihadapannya menghadang sebuah telaga yang sangat luas, jalan satu-satunya yang nampak di depan matanya, mengarah ke jurusan barat dengan demikian, petunjuk gadis dusun tadi sangat bertentangan.

"Kurang ajar perempuan itu!"

Maki Cie siang Gie.

"Kalau tak sudi memberi petunjuk, sebenarnya kita juga tidak akan memaksa, Biarlah, kalau kelak kita lewat di dusunnya lagi aku akan menghajarnya!"

Thio Sin Houw merasa heran. Baik Cie siang Gie maupun dirinya, tadi telah berbuat baik terhadap gadis itu, Apa sebab balasannya demikian buruk? "Toako!"

Kata Sin Houw.

"Kurasa perempuan itu mempunyai hubungan dengan Ouw sinshe."

"Apa kau melihat tanda-tanda yang mencurigakan?"

Sahut Cie siang Gie.

"Kedua matanya bersinar luar biasa,"

Kata Thio Sin Houw.

"Aku merasa bahwa ia bukan seorang perempuan dusun yang belum pernah melihat dunia."

"Benar!"

Kata Cie Siang Gie.

"Kalau begitu, ku buangnya saja dua tangkai bunga pemberiannya ini."

Cie siang Gie segera mengeluarkan dua tangkai bunga dari sakunya, Melihat bunga itu berwarna sangat indah, hingga Thio Sin Houw merasa sayang. Katanya.

"Perempuan itu memang patut kita sesali, akan tetapi bunga pemberiannya ini sangat indah. Belum tentu bunga ini akan mencelakakan kita."

Setelah berkata demikian, ia segera mengambil dua tangkai bunga itu dari tangan Cie siang Gie dan dimasukkannya ke dalam kantongnya sendiri.

Kemudian memberi isyarat kepada Cie Siang Gie, agar meneruskan perjalanannya menuju ke barat.

"Hai! Hati-hati sedikit. Jalan ini nampaknya licin sekali!"

Ia memberi ingat dari punggung Cie siang Gie, tetapi Cie siang Gie nampaknya sudah uring-uringan karena mendongkol terhadap gadis dusun tadi, ia berjalan dengan langkah panjang, makin lama makin cepat.

Waktu itu magrib telah tiba, sejak tadi hati mereka sudah khawatir, pada siang hari, meskipun andaikata perjalanan sangat berbahaya, semuanya dapat dilihat dengan terang benderang, sebaliknya apabila malam hari tiba, suasana alam menjadi gelap pekat.

Teringat pengalamannya kemarin malam hati mereka berdebaran, setelah berjalan setengah jam lagi, suasana alam berubah dengan mendadak.

Pohon-pohon dan rumput-rumput yang tumbuh dikiri-kanan jalan makin berkurang, Akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yang gundul sama sekali.

Dan melihat pemandangan demikian, jantung Thio Sin Houw maupun Cie siang Gie memukul keras.

Kata Sin Houw dengan suara cemas.

"Toako, coba lihat! selembar rumputpun tiada tampak tumbuh di sini, sungguh mengherankan I"

"Benar."

Jawab Cie siang Gie.

"Andaikata semua tumbuhtumbuhan yang berada di sini dibabat manusia, setidaktidaknya masih nampak bekas-bekasnya, Jangan-jangan inilah akibat tanah gamping atau lahar gunung ..."

Ia tidak menyelesaikan kata-katanya, sebaliknya setelah berdiam sejenak, ia berbisik kepada Thio Sin Houw.

"Sesungguhnya, sute, Belum pernah aku singgah ditempatnya paman Ouw, Tetapi aku yakin, bahwa tempat paman Ouw sudah berada dekat sekali, Mungkin dialah yang menebari racun, hingga tanah disini tidak dapat ditumbuhi seonggok rumputpun."

Thio Sin Houw mengangguk.

Teringat kelumpuhan jasmaninya disebabkan karena racun pula, ia jadi ketakutan begitu mendengar kata-kata racun.

Tiba tiba saja ia mengeluarkan dua potong saputangan, setelah menutupi pernapasannya dengan saputangan itu, ia memberikan saputangan lainnya kepada Cie siang Gie, Katanya.

"Kau tutuplah hidungmu dengan saputangan, mungkin sekali disini kita akan menghisap asap beracun, Kalau toako mempunyai sehelai kain yang agak panjang, bebatlah kedua kakimu agar tidak menginjak tempat-tempat yang beracun!"

Cie siang Gie mendengarkan peringatan Thio Sin Houw dengan perasaan kagum, ia memuji sikap hati-hati sang adik itu, Segera ia menutupi pernapasannya dengan sehelai saputangan pemberian Thio Sin Houw, kemudian mengambil sehelai kain dan dibebatkan pada kedua kakinya.

Dengan waspada mereka melanjutkan perjalanan Tak lama kemudian kembali mereka melihat sebuah bangunan atau sebuah rumah yang bentuknya aneh sekali.

Rumah itu bentuknya seperti sebuah kuburan besar tanpa pintu dan tanpa jendela, sedangkan warnanya hitam mulus sehingga kelihatannya menyeramkan sekali.

sepuluh meter disekitar rumah itu berdiri pohon-pohon pendek yang daunnya berwarna merah darah.

Cie Siang Gie seorang pemuda yang tidak pernah mengenal takut menghadapi segala kejadian-kejadian yang menyeramkan, pengalamannya pun banyak sekali.

seringkali ia menghadapi lawan yang bersenjata racun jahat, dan kerap kali pula ia melintasi wilayah-wilayah yang berbahaya, Akan tetapi pada saat itu, dia yang mempunyai keberanian besar, tak urung mengeluarkan keringat dingin juga, begitu menyaksikan penglihatan yang aneh dan menyeramkan itu.

Bisiknya kepada Thio Sin Houw.

"Sute, bagaimana pikiranmu?"

"Apakah rumah itu kira-kira tempat bersemayannya Ouw sinshe?"

Thio Sin Houw menduga.

"Jika rumah tersebut memang tempatnya Ouw sinshe, kita mohon dengan sopansantun. Lalu kita mempertimbangkan perkembangan selanjutnya."

Cie siang Gie sudah percaya akan kecerdasan Sin Houw, maka dengan hati-hati ia maju terus. Kemudian dengan sikap sangat hormat ia berseru.

"Tecu, Cie siang Gie, Keponakan paman, hari ini datang bersama seorang sahabat bernama Thio Sin Houw, Kami berdua menghaturkan selamat kepada Ouw pekhu ..."

Meskipun ilmu kepandaian Cie siang Gie punah, akan tetapi tidak berarti tenaganya benar-benar hilang.

Masih sanggup ia berseru dengan nyaring sekali, suaranya tajam dan jelas.

Apa-lagi ia berteriak ditengah alam yang sunyi-sepi, Suara demikian dapat di tangkap limapuluh atau seratus meter dengan jelas.

Akan tetapi rumah itu tetap sunyi-sepi, Tak terdengar suara apapun juga.

Sekali lagi Ouw siang Gie berteriak, tetapi tetap saja tidak memperoleh jawaban, pemuda itu jadi agak mendongkol, segera ia berteriak untuk yang ketiga kalinya dengan sekuat tenaga.

Katanya.

"Aku kena pukulan hebat, dan adikku ini terkena racun jahat. Entah siapa yang melakukan penganiayaan terhadap kami berdua, kami sendiri tidak jelas, itulah sebabnya, kami datang kemari mohon pertolongan supek!"

Akan tetapi, tetap saja ia tidak memperoleh jawaban. Dalam pada itu, cuaca semakin gelap, Thio Sin Houw menjadi gelisah, tanyanya minta pertimbangan kepada Cie siang Gie.

"Toako, apak kau pernah bertemu dengan Ouw supekmu?"

Cie siang Gie mengangguk, sahutnya.

"Tiga kali aku pernah bertemu dengannya."

"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"

Cie Siang Cie tertegun-tegun, Tak berani ia mengambil keputusan. Rupanya ia terlalu mengenal tabiat pamannya, sehingga apabila kurang hati-hati jerih payahnya itu akan menjadi sia-sia belaka.

"Apa kita pulang saja, dan menyerahkan nasib kepada Tuhan?"

Ujar Thio Sin Houw lagi.

"Kalau demikianlah keputusanmu, biar aku menunggu nasibku saja, percayalah, aku tidak akan menyesali siapapun juga."

Mendengar perkataan Thio Sin Houw itu, hati Cie Siang Gie menjadi terharu. Dengan penuh semangat ia menyahut.

"Aku sudah berjanji kepada kakek-gurumu, Tie-kong tianglo.Meskipun tiba-tiba pamanku menjadi raja iblis yang paling kejam dijagad ini, aku tidak akan mundur, Coba kau tunggu disini, biarlah aku sendiri memasuki halamannya. Mungkin pula dia enggan memberi jawaban kepadaku karena melihat kehadiranmu "

Sehabis berkata demikian, tanpa menunggu jawaban ia menurunkan Thio Sin Houw dari punggungnya.

Kemudian seorang diri ia memasuki halaman rumah yang aneh itu, Dalam hatinya ia sudah mengambil keputusan tetap, hendak menggunakan kekerasan apabila perlu.

Meskipun pernah menyaksikan kemampuan Ouw Ceng Gie, namun ia percaya bahwa pamannya itu hanya pandai mengobati orang sakit saja, Dia yakin, dalam hal berkelahi kepandaiannya tidak begitu tinggi.

Pohon-pohon berdaun merah itu ternyata mempunyai cabang yang lebat sekali, demikian pula daunnya, sehingga merupakan sebuah mahkota yang rimbun.

Begitu lebat cabang, ranting-ranting dan daunnya, sehingga mencapai tanah.

Maka tidaklah mudah untuk melintasi dengan begitu saja.

Tanpa berpikir panjang lagi, Cie siang Gie segera mengambil keputusan hendak melompati pagar pohon itu saja, selagi badannya masih berada ditengah udara, tiba-tiba ia mencium bau wangi.

pada saat itu juga kedua matanya menjadi gelap, kepalanya pusing.

Dan ia roboh terbanting diantara rimbun pohon.

Peristiwa itu sudah tentu mengejutkan hati Thio Sin Houw, segera ia hendak menyusul, akan tetapi kaki dan tangannya tidak dapat digerakkan.

setiap kali berusaha akan berdiri, tubuhnya bergemetaran dan terasa lemah lunglai, Akan tetapi Ihio Sin Houw adalah anak yang keras hati, segera timbullah keputusannya hendak mencoba menghampiri.

Hati-hati, ia bertiarap kemudian merangkak-rangkak maju dengan mengisutkan tubuhnya, ia dapat melakukan gerakan tersebut, akan tetapi tentu saja sangat lambat.

Baru saja ia me rangkak beberapa meter jauhnya, tenaga jasmaninya terasa habis.

Keringat membasahi seluruh tubuhnya, namun dengan menguatkan diri ia terus maju sedikit demi sedikit.

Sekarang ia telah memasuki halaman rumah berbentuk aneh itu, seperti Cie siang Gie, segera ia mencium bau wangi dan dadanya lantas saja menjadi sesak.

Karena tadi menyaksikan robohnya Cie siang Gie, dapatlah ia berlaku lebih hati-hati.

Dengan menguatkan diri, kerapkali ia menahan napas.

Ke-mudian dengan menundukkan kepalanya ia maju terus mendekati tubuh Cie siang Gie yang tergolek diatas tanah dalam keadaan tidak berkutik lagi, segera ia memeriksa kedua mata Cie siang Gie ternyata tertutup rapat.

Tangan dan mukanya dingin, akan tetapi napasnya masih berjalan dengan baik.

Thio Sin Houw menjadi bingung berbareng juga khawatir.

Katanya di dalam hati.

"Akh! Dia datang kemari dengan maksud mulia sekali untuk menolong diriku. Akan tetapi belum lagi ia bertemu dengan pamannya, sudah terbanting roboh terkena racun. Aku sendiripun sudah menghisap hawa beracun dan tinggal menunggu waktu saja, Tak apalah bila aku yang mati, tetapi dia? Dia harus hidup! Ouw sinshe adalah pamannya. seumpama dia datang seorang diri, pastilah tidak akan mengalami bencana demikian ini."

Oleh pikiran itu, ia menjadi nekad, Lalu mendekati rumah aneh itu.

"Ouw sinshe!"

Ia berteriak.

"Dengan tangan kosong kami datang ke mari untuk memohon pertolongan, sama sekali kami tidak mengandung maksud kurang baik, Jika Ouw sinshe tetap tak sudi menemui kami, maka kami terpaksa tak dapat menghargai anda lagi!"

Sambil berteriak, ia mengamati-amati bangunan rumah itu, Tatawarna rumah itu hitam seluruhnya, sehingga seolah-olah bukan terbuat dari kayu.

Kesannya tak ubah sekapan gerombolan liar yang berada di atas gunung, walaupun demikian, sekitar rumah tersebut bersih luar biasa, Tak ada sepotong kayupun atau selembar daun di kiri kanannya, bahkan sebutir batu juga tidak nampak.

Beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun sambil mengasah otak.

Setelah menghampiri rumah itu -tak berani ia menyentuh karena takut terkena racun.

Tiba-tiba teringatlah dia, di dalam sakunya terdapat beberapa potong uang perak.

segera ia mengeluarkan se potong uang perak dan dipergunakan untuk mengetuk dinding rumah tersebut.

Ia heran, tatkala terdengar suara "tring", Maka jelaslah sudah, bahwa bangunan tersebut dibuat dari logam, setelah memasukkan uang peraknya ke dalam saku kembali, ia menundukkan kepala hendak menyelidiki.

Tiba-tiba bau wangi menyambar hidungnya, dan begitu mencium bau wangi itu dadanya terasa lega dan otaknya menjadi lebih terang.

Heran dan terkejut ia menundukkan kepalanya lagi, Dan sekali lagi ia mencium bau wangi yang menyegarkan dadanya.

Ternyata bau wangi itu, meruap dari kuntum bunga biru pemberian gadis dusun tadi, Katanya didalam hati.

"Akh! Kalau begitu, bunga ini mempunyai khasiat penolak racun, sekarang terbuktilah bahwa gadis itu tidak bermaksud buruk, bahkan dengan diam-diam ia memberi pertolongan."

Memperoleh keyakinan demikian, timbullah keberanian Thio Sin Houw, Dengan merangkak-rangkak ia maju mendekati rumah aneh itu, Benar-benar ajaib!

Rumah tersebut tidak mempunyai jendela maupun pintu, bahkan lubang kecilpun tidak terdapat di sana, pikirnya.

"Apakah rumah ini tidak ada penghuninya? Kalaupun ada penghuninya, bagaimana bisa hidup didalam bangunan yang tidak berhawa sama sekali?"

Sebenarnya besar keinginannya ia hendak mengadakan penyelidikan lebih lanjut, akan tetapi ia sudah tidak bertenaga lagi, setelah menimbang-nimbang sejenak, ia menghampiri Cie siang Gie dan menempelkan bunga birunya pada lubang hidungnya.

Begitu Cie siang Gie mencium harum bunga biru itu, ia bersin dan tersadarlah.

Thio Sin Houw girang bukan kepalang, Dan lantas saja mengambil keputusan untuk kembali kepada gadis dusun yang dijumpainya petang tadi, dengan maksud memohon nasehat dan petunjuk-petunjuknya.

Setangkai bunga biru lalu ditancapkan pada dada Cie siang Gie sedang yang lainnya digenggamnya erat-erat, seolah-olah jimat dari sorga, Kemudian ia menunggu sampai tenaga Cie Siang Gie pulih kembali.

Tak usah menunggu terlalu lama, Cie siang Gie telah dapat berdiri tegak.

Karena pemuda ini semakin percaya kepada Thio Sin Houw, ia tidak membantak tatkala di ajaknya kembali kedusun untuk mencari sigadis pemilik bunga biru.

Demikianlah sambil mendukung Thio Sin Houw, segera ia melompati pohon-pohon merah yang ternyata sangat beracun itu, Tetapi baru saja kedua kakinya hinggap diatas tanah, mendadak terdengarlah bentakan datang dari dalam rumah aneh itu.

"Hai!"

Suara itu terdengar menyeramkan dan mengandung rasa gusar yang bergolak hebat. Dan mendengar bentakan itu, Thio Sin Houw menolehkan kepalanya, serunya.

"Ouw sinshe! Apa kau sekarang sudi menerima kami?"

Pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban, dan tetap tak terjawab meskipun ia mengulangi seruannya beberapa kali lagi.

Tiba-tiba kesunyiam malam itu di pecahkan oleh suara gedubrakan seolah-olah benda berat jatuh keatas tanah.

Dengan berbareng, Cie siang Gie dan Thio Sin Houw memalingkan kepalanya, Hati mereka terkesiap, tatkala kesiur angin tajam menyambar dirinya, sebelum dapat berbuat sesuatu, mereka telah terbanting roboh ketanah...

Entah berapa lamanya mereka terkapar diatas tanah.

setelah menyenakkan mata, mereka ternyata berada di tengah tegalan bunga tanaman si gadis dusun.

Malam hari pada waktu itu sunyi senyap, Diantara kesunyian malam.

Bunga-bunga biru yang sedang berkembangan menyiarkan bau yang sangat kuat.

Dan mencium harum bunga itu, dada Cie Siang Gie dan Thio Sin Houw menjadi lega dan semangatnya menjadi pulih kembali.

Mereka berdua masing-masing menderita luka, Thio Sin Houw sejak turun Siauw-sit san boleh dikatakan lumpuh tidak bertenaga, sedangkan Cie siang Gie kecuali menderita luka parah akibat pukulan-pukulan beracun, kakinya menginjak racun di halaman rumah aneh itu pula.

Maka dapatlah dibayangkan, bahwa penderitaan mereka kian menjadi hebat.

Akan tetapi aneh!

Benar-benar aneh!

setelah sadar penuh-penuh, baik Cie Siang Gie maupun Thio Sin Houw, dapat menggerakkan kaki dan tangannya dengan leluasa, walaupun terasa agak lemas.

Thio Sin Houw nyaris tak percaya kepada perubahannya sendiri.

Berkali-kali ia mencoba mencoba berjalan pula, semuanya berjalan lancar.

"Hai! Bukankah aku sedang bermimpi?"

Serunya. Dan berbareng dengan seruannya, Cie siang Gie pun berteriak kagum penuh sukacita.

"Sute! Kau bisa berjalan?"

"Benar! Aku bisa berjalan. Benar-kah ini? ini bukan mimpi, bukan?"

Cie siang Gie tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. serunya cepat.

"Bukan! Bukan mimpi! Benar-benar terjadi! Kau bisa berjalan, sute!"

Mereka berdua lantas berpelukan hangat, setelah puas, mereka memutuskan untuk bermalam dirumah si gadis dusun, agar memperoleh pertolongan dan petunjuknya.

sekonyongkonyong rumah gubuk yang berada didepannya terbuka jendelanya, dan muncullan sinar pelita.

"Brak!"

Pintu terbuka dan gadis dusun itu kelihatan berdiri diambang pintu.

"Silahkan kalian masuk! gadis itu mengundang.

"Dusunku sangat melarat, dan aku sendiri sangat miskin pula, Tak dapat aku menyuguhkan santapan yang pantas kepada kalian, silahkan kalian minum teh hangat dan nasi kasar."

Dengan bergandengan tangan, Thio Sin Houw dan Cie siang Gie memasuki rumah. setelah itu cepat-cepat Thio Sin Houw membungkuk hormat, dan berkata dengan suara merendah.

"Kami berdua sungguh merasa malu, karena ditengah malam buta begini telah mengganggu ketenteraman cici."

Gadis itu tersenyum dan berdiri disamping pintu, mempersilahkan kedua tamunya masuk.

Begitu masuk, baik Thio Sin Houw maupun Cie siang Gie melihat bahwa perabot gubuk itu sangat sederhana.

Tiada bedanya dengan rumahrumah gubuk orang miskin.

Tetapi suatu hal yang aneh, seluruh ruangan luar biasa bersihnya seolah-olah tidak melekat debu.

Menyaksikan hal itu, jantung Sin Houw memukul keras.

Kebersihan gubuk ini, mirip benar dengan kebersihan rumah aneh yang berpagar pohon pohon beracun!

"Kalian duduklah!"

Kata gadis itu lagi, mempersilahkan kedua tamunya, ia masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian ia keluar dengan membawa dua mangkok kosong, sepanci nasi, sepiring sayur dengan kuah berikut air teh yang masih hangat.

Hidangan yang disajikan sangat sederhana, akan tetapi masih mengepulkan asap panas.

Begitu uap asap hidangan tercium hidung, Sin Houw dan siang Gie lantas tergugah rasa laparnya.

Tak usah dikatakan lagi, setelah mengarungi perjalanan yang begitu jauh mereka berdua sangat lapar.

"Terima kasih!"

Kata Thio Sin Houw sambil tertawa.

segera ia mengisi mangkok kosongnya dengan nasi putih yang masih mengepul-ngepulkan asap hangat.

setelah menaruhkan sayur serta kuahnya -segera ia makan dengan bernapsu sekali.

Sebaliknya tidaklah demikian dengan Cie siang Gie, Pemuda bermuka berewokan ini tidak berani bergerak karena hatinya menaruh curiga, Katanya didalam hati.

"Semua makanan ini tentunya sudah disiapkan terlebih dahulu. Kalau tidak masakan masih begini hangat. Aku tadi jatuh pingsan tidak sadarkan diri, mengapa dia bisa menduga dengan tepat bahwasanya aku tersadar pada jam begini? Akh, aku harus hati-hati dan waspada terhadap penduduk sekitar tempat ini. Biarlah aku menderita lapar daripada mampus kena racun."

Memperoleh pikiran demikian, tatkala si gadis masuk ke dalam ia segera berbisik kepada Thio Sin Houw .

"Sst! Lebih baik kau jangan makan apa-apa disini, Dusun ini sangat berdekatan dengan lembah Ouw-tiap kok, dan paman Ouw bertabiat aneh sekali. Apa kau lupa? Janganjangan semuanya ini beracun ..."

Akan tetapi Thio Sin Houw berpendapat lain, ia mengira gadis dusun ini tidak mengandung maksud kurang baik, Apabila bermaksud jahat, apa sebab tadi menghadiahkan dua kuntum bunga kepada mereka berdua?

Dan ternyata sangat besar faedahnya, Disamping itu, jikalau hidangan yang disajikan ini tidak dimakan, gadis itu tentu merasa tersinggung, selagi ia hendak menyatakan pendapatnya itu, sigadis sudah keburu keluar dari dapur, Kali ini ia membawa sebuah nampan kayu, dan di atas nampan itu terdapat sepanci nasi yang masih mengepulkan asap hangat.

Thio Sin Houw bangkit dari duduknya, berkata.

"Terima kasih atas budi baik cici, dapatkah kami berdua menyampaikan hormat kepada ayah dan ibumu?"

"Kedua orang tuaku sudah meninggal dunia,"

Jawabnya.

"Aku hidup sebatang kara disini."

"Akh!"

Thio Sin Houw berseru tertahan.

Terus saja ia jadi teringat kepada nasibnya sendiri, pada hari ini dia pun hidup sebatang kara pula.

Tetapi dia tidak berkata sesuatu apa, setelah kembali duduk ia meneruskan makannya.

Hidangan yang disajikan berupa sayur-mayur segar yang rasanya lezat sekali.

Dengan tidak sangsi lagi, Sin Houw menyapu semua hidangan yang di suguhkan kepadanya.

Untuk menyenangkan hati gadis itu, sambil makan tidak hentinya ia memuji lezatnya santapan.

Keruan saja Cie siang Gie tambah prihatin.

Dengan menghela napas perlahan ia mengawasi Sin Houw, yang terus menjejali mulutnya dengan tidak mengenal bahaya.

Katanya didalam hati.

"Baiklah, jika kau tidak mendengarkan nasihatku, Akupun tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimanapun juga kita berdua tidak boleh mati berbareng karena racun. Walaupun kasar, Cie siang Gie mempunyai pengalaman pergaulan yang luas dalam masyarakat. Maka agar tidak menyinggung hati gadis itu, ia berkata.

"Kouwnio, harap kau memaafkan aku, tatkala aku mendekati rumah aneh itu aku kena racun sehingga perutku terasa tidak enak sekali. Napsu makanku lenyap sama sekali ..."

Mendengar perkataannya, si gadis lantas menuangkan teh pada mangkok kosong dan diangsurkan kepada Cie siang Gie, Katanya.

"Kalau begitu, minumlah air teh ini saja."

Cie siang Gie menerima pemberian air teh yang dituang ke dalam mangkok tadi, Dengan sudut matanya, ia menjenguk ke dalam mangkok.

Warna air teh ternyata kehijau-hijauan, sebenarnya ia haus sekali, akan tetapi begitu melihat warnanya -napsunya lantas hilang, seperti orang yang punah tenaganya, ia menaruh mangkok teh ke atas meja dengan lemah lunglai, Si gadis tidak merasa tersinggung, sikapnya tenang-tenang saja.

Sama sekali ia tidak menunjukkan rasa kesal atau jengkel.

Melihat Sin Houw menyapu habis semua hidangan yang disajikan seperti macan kelaparan, ia menjadi girang, sinar matanya lantas berseri-seri.

Thio Sin Houw meskipun bocah yang baru berumur belasan tahun, sesungguhnya memiliki otak cerdas luar biasa, sekali melirik, pandang mata gadis itu tak luput dari perhatiannya, ia makan sekenyang-kenyangnya, karena sudah diperhitungkan untung ruginya.

Sejak meninggalkan kuil Siauw-lim sie, hatinya sudah menjadi putus asa terhadap hidup dan kehidupan.

seluruh tubuhnya sudah berlumuran racun berbahaya, itulah sebabnya ia tak takut lagi menghadapi segala macam racun di dalam dunia ini, Dan apabila hidangan yang disajikan kepadanya itu mengandung racun, makan sedikit ataupun banyak akibatnya sama saja.

Maka ia malah membuka perutnya sebesar-besarnya dan menghabiskan empat mangkok nasi, serta menyikat semua santapan yang berada diatas meja.

Setelah selesai, gadis itu lalu bergerak hendak mengundurkan bekas-bekas hidangan.

Akan tetapi Sin Houw telah mendahuluinya, Dengan rapi ia menyusun perabot makan minum di atas nampan, dan dibawanya ke dapur.

Kemudian dicucinya sekali, setelah bersih, perabotan itu lalu dimasukkan ke dalam lemari, Melihat persediaan air dalam tempayan yang tinggal sedikit, segera ia mengambil tahang dan mengambil air diselokan yang berada disamping rumah.

Dalam pada Itu, gadis pemilik rumah menyapu sisasisa makanan yang tercecer di tanah.

Sebenarnya Thio Sin Houw tidak boleh bergerak terlalu banyak.

Betapapun juga tenaganya yang datang tiba-tiba sehingga bisa menggerakkan kaki-tangannya itu, adalah untuk sementara saja, ia sadar akan hal itu, justru demikian, ia mau menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk membuat jasa.

Demikianlah, setelah mengisi tempayan itu penuh-penuh, ia kembali ke ruangan depan.

Cie siang Gie ternyata sudah tidur sangat nyenyak, mendekam di tepi meja.

"Maaf, adik."

Kata gadis itu.

"Aku tidak mempunyai kamar tamu, untuk pelepas lelah, adik hanya bisa merebahkan diri diatas bangku panjang itu.

"Terima kasih atas segala budimu ini,"

Jawab Thio Sin Houw sambil tertawa.

"janganlah cici bersegan-segan lagi terhadapku."

Gadis dusun itu tidak berkata apa-apa lagi, setelah menutup pintu depan, ia segera masuk ke dalam.

Ternyata pintu itu tidak dikuncinya, Diam-diam Thio Sin Houw kagum terhadap sikap gadis itu,Meskipun hidup seorang diri ditempat yang begini sepi, namun masih berani ia menerima dua tetamu laki-laki semua, per-lahan-lahan ia mendorong pundak Cie siang Gie, dan membisik.

"Toako, pindahlah ke bangku panjang itu."

Diluar dugaan, begitu kena dorong Thio Sin Houw -badan Cie siang Gie miring dan terguling diatas tanah.

Kaget Sin Houw meraih dan mencoba membangunkannya.

Begitu tangannya menyentuh paras siang Gie, hatinya tercekat.

Ternyata paras muka Cie siang Gie sangat panas seperti api, Dengan suara tertahan ia mencoba menyadarkan.

"Toako, kau kenapa?"

Ia menjadi bingung.

Buru-buru ia mengambil pelita dan menyelidiki keadaan siang Gie.

Muka siang Gie nampak merah membara, ia mirip seseorang yang tertidur karena mabuk.

Anehnya, mulutnya menebarkan uap arak pula, pikirnya didalam hati.

"Anehl Kapan ia minum arak? jangan lagi arak, air tehpun yang disuguhkan ia tidak berani menyentuhnya. Tetapi, apabila ia tidak minum arak kenapa mulutnya bau arak begini keras? iapun mabuk pula..."

Dalam keadaan tak sadar, Cie siang Gie mengigau.

"Tidak! Aku tidak mabuk! Mari, mari! Mari kita minum tiga mangkok lagi!"

Thio Sin Houw jadi prihatin, Besar dugaannya bahwa mabuknya pemuda itu disebabkan perbuatan si gadis yang mungkin tersinggung hatinya, Bukankah Cie siang Gie menolak makanan dan minuman yang dihidangkan tadi?

ia berkhawatir dan heran, tidak tahu ia apa yang harus dilakukan.

Harus membangunkan si gadis untuk memohon pertolongan...?

Atau membiarkan saja Cie siang Gie sampai tersadar sendiri?

sekonyong-konyong ia mempunyai pikiran.

"Akh, apakah benar begitu? Cie toako takut kena racun, justru demikian, gadis itu malah meracunnya, karena hatinya tersinggung, Ya, benar begitu. Nampaknya Cie toako bukan mabuk sewajarnya, pastilah ia telah terkena racun..."

Selagi hatinya berbincang bimbang, dikejauhan tiba-tiba terdengar salak binatang liar yang sangat menyeramkan.

Ditengah kesunyian malam suara itu membangunkan bulu roma.

Salak itu memekik tinggi, seolah-olah jeritan seseorang yang kena aniaya, Teringatlah dia akan tutur kata ayah ibunya, bahwa jeritan demikian adalah salak srigala kelaparan.

Tetapi masakan di pinggang gunung Ouw-tiap san ini ada kawanan srigala?

Andaikata memang ada, mestinya hanya satu-dua ekor saja, Dan tidak merupakan rombongan besar.

Dengan hati berdebaran, Sin Houw memasang telinganya.

semakin lama salak itu semakin dekat, Kadang kadang diselingi dengan jeritan kambing hutan yang kesakitan.

Selagi hendak menengok keadaan Cie siang Gie, tiba-tiba pintu ruang dalam terbuka dan nampak sigadis membawa lentera, wajahnya nampak ketakutan, katanya.

"ltulah kawanan srigala ..."

Thio Sin Houw mengangguk. ia mengawasi gadis itu, dan berkata sambil menunjuk Cie siang Gie.

"Cici ..."

Sebenarnya ia hendak minta pertolongan, akan tetapi pada saat itu salak kawanan srigala terdengar makin dekat.

Mendengar hiruk-piruk salak srigala, hati Thio Sin Houw tergoncang.

Tak dikehendaki sendiri, wajahnya menjadi pucat.

Cie siang Gie sedang dalam keadaan tak sadarkan diri, sedang sikap gadis itu masih meragukan, Apakah dia kawan atau lawan?

Thio Sin Houw belum dapat menentukan.

Apa yang harus di lakukannya?

Selagi dalam keadaan kebingungan, ia mendengar bunyi derap kaki kuda di antara salak anjing yang kacau balau, Derap kaki kuda itu terdengar cepat luar biasa.

***** BURU-BURU Thio Sin Houw membungkuk dan menyeret Cie siang Gie kebawah bangku panjang, ia sendiri lantas melompat ke dapur mencari golok.

Tetapi karena gelap gulita, golok itu tidak mudah dicarinya.

Bahkan untuk memperoleh sebilah pisau dapurpun tidak dapat.

"Apakah kau orang suruhan dari keluarga Tan Liang Peng?"

Terdengar suara gadis dusun itu membentak.

"Apa perlunya kau datang ditengah malam buta ?"

Mendengar bentakan gadis itu yang sangat angker, hati Thio Sin Houw menjadi lega.

sekarang, sedikitnya ia mengetahui bahwa penunggang kuda itu bukan kawan si gadis.

Dengan cepat ia menerobos keluar, dan masuk kedalam pekarangan belakang, setelah mencari batu-batu kecil, ia segera melompat ke atas pohon dan memanjatnya tinggi-tinggi.

Seperti kemarin malam, malam itu bulan muncul di langit, Hanya kali ini sinarnya nampak guram.

Di bawah sinar bulan remang-remang itu, ia mengamat-amati penunggang kuda yang tiba-tiba berada di depan pintu.

Dia seorang laki-laki, pakaiannya abu-abu, Mungkin warna abu-abu itu disebabkan oleh sinar bulan yang remang-remang.

Ia diikuti belasan srigala yang selalu menyalak dan menjerit menyeramkan.

Terang sekali binatang-binatang itu sedang kelaparan.

Sepintas lalu, orang itu seperti lagi diuber binatang buas itu, Tetapi setelah diamat-amati, ternyata si penunggang kuda menyeret seekor kambing putih yang diikatkan pada tunggangannya, Karena terseret kuda yang berlari-lari sangat cepat, kambing putih itu mengembik-embik kesakitan.

Menyaksikan kejadian itu, Thio Sin Houw heran bukan main.

Apakah dia seorang pemburu yang lagi memberi umpan pada belasan srigala yang memburu dibelakangnya?

Mendadak ia memutar kudanya dan mengaburkan memasuki kebun bunga, Dengan diubar kawanan srigala, ia melarikan kudanya dari timur ke barat dan dari barat ke timur, dalam sekejab mata saja seluruh tanaman bunga itu rusak terinjak-injak, orang itu benar-benar pandai menunggang kuda, sekian kali ia membawa kudanya lari berputaran, tetap saja kawanan srigala itu tidak dapat menerkam kambing putih yang terseret dibelakangnya.

"Akh!"

Thio Sin Houw tersadar.

"Nampaknya orang itu sengaja hendak merusak kebun bunga ini. Kalau begitu tak dapat aku berpeluk tangan saja."

Segera ia mempersiapkan batu-batu yang digenggamnya, akan tetapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu, terdengar suara erangan.

"Aduhhh!"

Berbareng dengan suara mengaduh itu, sipenunggang kuda mengaburkan kudanya kearah utara dan kambing yang tadi diseretnya itu ditinggalkan di tengah-tengah kebun.

Keruan saja kambing putih itu lantas menjadi mangsa belasan srigala yang kelaparan, Dengan menggeram, menyalak dan menggerung, belasan srigala lapar itu menerkam dan merobek-robek perut kambing putih itu.

"Jahat benar orang itu"

Pikir Thio Sin Houw sambil menimpukkan dua butir batu.

Oleh timpukan itu dua ekor anjing serigala roboh terguling.

Sekali lagi Thio Sin Houw menyambitkan dua butir batunya, kali ini batu yang disambitkan agak kecil.

Yang satu mengenai perut seekor serigala dan yang lain menghajar kaki depan serigala yang sedang merobek-robek perut kambing putih.

Meskipun tak sampai mati, kedua serigala itu lantas memekik-mekik kesakitan.

Kawanan binatang buas itu agaknya mengerti, bahwa musuh mereka berada di atas pohon.

Mereka mendongak dan menggeram sambil memperlihatkan taringnya.

Pandang matanya berapi-api seperti bara yang menyala dan menyaksikan keganasan binatang buas itu, tak terasa Thio Sin Houw jadi bergidik.

Tanpa memegang senjata, ia merasa tak ungkulan melawan kawanan serigala ganas itu.

Apa lagi sesungguhnya tenaga yang diperoleh hanya untuk sementara saja.

Sekali lagi ia mengayunkan tangannya untuk menimpuk serigala jantan yang paling besar.

Bagaikan kilat batunya menyambar tenggorokan serigala jantan itu.

Terkena sambitannya, binatang itu terguling-guling dengan mengiang-ngiang kemudian kabur sekencangkencangnya.

Sedang serigala lain yang perutnya sudah kenyang, lantas turut kabur.

Lantas yang ketiga menyusul, kemudian yang berikutnya dan begitu seterusnya.

Dalam sekejap mata saja, mereka semua lenyap dari penglihatan.

Akan tetapi kebun bunga itu sudah gugur hancur.

Thio Sin Houw segera turun dari pohonnya.

Ia mendongkol, dengki dan mengutuk.

Katanya berulangkali.

"Sayang, sayang! sungguh sayang!"

Betapa tidak?"

Jerih payah gadis dusun itu, hilang musnah dalam beberapa saat saja, pastilah gadis itu gusar bukan kepalang, menyaksikan kebun bunganya hancur terinjak-injak kawanan serigala, Syukurlah, kalau hanya ber-gusar saja, Kalau sampai turun semangat, pastilah ia tidak sudi lagi menanam bunga-bunga yang sangat berkhasiat itu.

Tetapi diluar dugaan, gadis itu sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang kerusakan kebunnya, Malahan ia tertawa sambil berkata.

"Adik! Terima kasih atas bantuanmu tadi."

"Aku sungguh sangat malu,"

Jawab Thio Sin Houw.

"Aku sangat menyesal. Beradanya aku disini ternyata tiada gunanya, seumpama aku ini seorang perkasa, sejak tadi tentu telah kurobohkan penunggang kuda yang biadab itu. Jika dia dapat kurobohkan,tanaman bunga ini tentu dapat diselamatkan."

Gadis itu tersenyum manis. Berkata dengan suara tenang.

"Andaikata tidak dirusak oleh kawanan anjing liar itu, beberapa hari lagi bunga-bunga itupun akan layu sendiri..."

Mendengar kata-kata gadis itu, Thio Sin Houw heran berbareng bercekat hatinya, Gadis dusun yang sederhana ini seolah-olah mengerti segalanya.

Keakhliannya terdengar melebihi gadis-gadis yang hidup dikota.

Karena itu, ia jadi tertarik hatinya, Dengan membungkuk hormat, Thio Sin Houw minta keterangan.

"Cici, budimu sangat besar terhadapku, Bolehkah aku mengetahui namamu ?"

Wajah gadis itu lantas berubah menjadi angker, jawabnya.

"Orang memanggilku "si Jelek" ... tetapi dihadapan orang lain, janganlah kau sekali-kali memanggil "si jelek kepadaku!"

Karena dia berbicara seperti kepada anggauta keluarganya sendiri. -hati Thio Sin Houw menjadi girang dan bersyukur bukan main, ia maju selangkah lagi, bertanya.

"Kalau aku tidak boleh memanggil cici "si Jelek", lantas aku harus memanggil bagaimana? Tak sudikah cici memperkenalkan namamu sebenarnya?"

"Kau sangat baik, adik."

Ujar gadis itu dengan tersenyum manis.

"Maka baiklah, karena sudah terlanjur biarlah aku memperkenalkan namaku kepadamu, Nama lengkapku Lie Hong Kiauw."

"Kalau begitu, aku akan memanggil cici sebagai cici Hong saja."

Kata Thio Sin Houw dengan tertawa. Lie Hong Kiauw tertawa pula, Menyahut .

"Kau sungguh ramah ..."

Dan oleh kata-kata itu, entah apa sebabnya jantung Thio Sin Houw berdebar.

Lie Hong Kiauw bukan seorang gadis cantik, juga bukan gadis kota yang mengerti tentang kemajuan jaman.

Namun demikian, lagu kata-kata dan suara tertawanya sangat manis dan meresapkan hati, Kedua modal ini merupakan daya tarik luar biasa baginya.

Selagi Thio Sin Houw hendak membicarakan keadaan Cie siang Gie, Lie Hong Hong Kiauw sudah mendahului.

Katanya dengan acuh tak acuh.

"Sebenarnya, siapakah kalian berdua ini?"

"Aku sendiri bernama Thio Sin Houw, dan teman seperjalananku itu bernama Cie Siang Gie."

Jawab Thio Sin Houw dengan cepat.

"Oh, begitu? Keadaan Cie siang Gie sama sekali tidak berbahaya. sekarang aku ingin menemui beberapa orang, apakah kau mau ikut?"

Sekali lagi Thio Sin Houw heran.

siapakah yang hendak dijumpainya pada larut malam begini?

Meskipun ia ingin memperoleh keterangan, namun tak berani ia membuka mulut.

Satu hal ia merasa pasti, bahwa tindakan Lie Hong Kiao tentu mempunyai maksud yang penting sekali.

Maka tanpa berpikir panjang lagi ia menyahut.

"Baik, aku ikut!"

"Tetapi sebelum berangkat, kau harus berjanji tiga hal, Yang pertama, kau tidak boleh berbicara kepada lain orang."

"Setuju!"

Sahut Thio Sin Houw cepat.

"Aku akan berlagak bisu."

"ltupun tak usah,"

Ujar Lie Hong Kiauw dengan tertawa lebar.

"Apakah kau akan berlagak bisu pula terhadapku? Kau boleh berbicara secara wajar kepadaku, hanya terhadap orang lain kau kularang membuka mulut. Dan yang kedua, kau tak boleh bertempur serta tak boleh melepaskan senjata macam apa pun juga, Juga kau tidak boleh memukul orang. pokoknya, semuanya tak boleh! Ketiga, kau tak boleh berpisah lebih dari tiga langkah dari sampingku!" *** THIO SIN HOUW merasa mendapat kepercayaan. Dengan sangat girang ia mengiyakan, ia yakin bahwa gadis itu akan membawanya kepada sinshe Ouw Gie Coen, Terus saja ia bertanya.

"Apakah kita berangkat sekarang juga?"

"Sebentar! Kita harus membawa barang sedikit."

Ujar Lie Hong Kiauw. Dan gadis itu lantas masuk ke dalam, Kira-kira setengah jam kemudian, ia keluar dengan membawa dua keranjang bambu yang tertutup rapat, sehingga tak dapat diketahui apa isinya.

"Biarlah aku yang memikulnya..."

Kata Thio Sin Houw menyambut.

Gadis itu tersenyum, tetapi tidak menolak kehendak Sin Houw, ia meletakkan kedua keranjang beserta pikulannya ke atas tanah.

Thio Sin Houw sebenarnya masih termasuk kanak-kanak, meskipun bertahun-tahun ikut ayah-bundanya hidup merantau dari satu tempat ke tempat yang lainnya, akan tetapi selama itu belum pernah ia memikul sesuatu, Hanya terdorong oleh rasa sopan-santun belaka, ia menawarkan diri.

padahal tenaganya belum pulih seluruhnya, ia tahu bahwa keadaan dirinya yang kini bisa menggerakkan tangan dan kaki, semata mata suatu keajaiban belaka, Bukankah Tie-kong tianglo yang terkenal maha sakti menyatakan putus asa tentang keadaannya?

Begitulah, ia mencoba mengangkat kedua keranjang bambu tersebut, ia jadi sempoyongan tatkala mencoba memikulnya, karena berat sebelah, Yang sebelah seberat tujuhpuluh kilo sedang yang lainnya ringan sekali.

ia heran, akan tetapi tidak berkata sepatah katapun.

Melihat Thio Sin Houw sempoyongan -Lie Hong Kiauw lantas meraihnya, Katanya dengan tersenyum mengerti.

"Biarlah aku yang memikulnya, Kesehatanmu belum pulih seperti sedia-kala, bukan?"

Menghadapi kenyataan demikian, meskipun Thio Sin Houw ingin menyenangkan hati gadis itu, tak berani ia menolak.

ia menyerahkan keranjang dan pikulan itu kembali kepada pemiliknya.

Lie Hong Kiauw mengunci pintu dari luar, Thio Sin Houw masih sempat menengok kearah Cie siang Gie yang terus menggeros, sedang mulutnya masih menebarkan ruap arak, Kemudian ia berjalan mengikuti Lie Hong Kiauw.

"Hong cici,"

Kata Thio Sin Houw setelah mendampingi Lie Hong Kiauw.

"Bolehkah aku menanyakan sesuatu hal kepadamu?"

Tanpa menoleh, gadis itu menjawab.

"Boleh saja, asal aku dapat menjawabnya."

"Jikalau cici tak dapat menjawab, didalam dunia ini tiada seorang pun yang dapat memberikan jawaban."

Kata Thio Sin Houw lagi.

"Kau sendiri tahu bahwa Cie toako tidak minum air setetespun, dan juga tidak makan sebutir nasipun, Tetapi mengapa ia sampai mabok begitu rupa?"

Lie Hong Kiauw tertawa geli, jawabnya .

"Dia mabuk, justru karena tak makan dan tak minum!"

Jawaban ini sangat diluar dugaan Thio Sin Houw, sehingga bocah itu jadi sangat heran, Katanya tak mengerti.

"Akh! inilah benar-benar suatu kejadian yang sama sekali tak ku mengerti, Cie toako seorang pejoang yang banyak pengalamannya, ia berkepandaian tinggi pula. Bertahun-tahun lamanya ia berada didalam laskar perjuangan yang dipimpin oleh Cu Goan Ciang, Di dalam segala hal, ia cukup berwaspada dan berhati-hati. sebaliknya aku, anak kemarin sore yang belum pandai beringus, Kepandaianku sangat dangkal. Apa sebab Cie toako yang selalu berwaspada dan bersikap hati-hati, justru ia ...."

Thio Sin Houw tak meneruskan perkataannya.

"Bicaralah terus terang!"

Kata Lie Hong Kiauw.

"Kau tentu ingin mengatakan bahwa ia roboh ditanganku, meskipun telah bersikap waspada dan hati-hati , bukan? Apakah kau mengira bahwa yang berhati-hati selalu selamat? justru orang seperti dirimulah, yang jarang sekali mendapat celaka."

"Kenapa begitu?"

Tanya Thio Sin Houw, semakin heran.

"Karena kau penurut. Disuruh memikul kotoran binatang, kau tak menolak . Disuruh makan, kau makan dengan lahap, selesai makan, kau bersihkan pula, Kau isi jambangan kosong meskipun tidak ada yang memerintah, kau ingin bantu pula memikul keranjang, meskipun tenagamu tidak mengijinkan."

Jawab Lie Hong Kiauw dengan tertawa lebar.

"Terhadap bocah yang begitu penurut , masakan ada orang yang tega menurunkan tangan jahat kepadamu?"

"Oh! Kalau begitu, manusia hidup di dunia ini sebaiknya menjadi seorang penurut,"

Ujar Thio Sin Houw sambil tertawa.

"Tetapi, bagaimana cara cici mencelakakan dia? Benar-benar luar biasa! sampai sekarang aku belum bisa menduga."

Gadis itu tidak segera menjawab. sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Baiklah, biarlah rahasia ini kukatakan kepadamu, Apa kau melihat kembang putih kecil yang berada di ruang tengah?"

Thio Sin Houw mengernyitkan dahinya, ia mengingat-ingat kembali keadaan ruang tengah di rumah Lie Hong Kiauw, Memang, disamping meja makan, terdapat sebuah meja kecil.

Dan diatas meja kecil itulah, terdapat jambangan kembang dengan sekuntum kembang putih.

Karena kembang itu tidak menyolok mata -ia menganggap hanya sebagai perhiasan belaka.

"Orang menamakan kembang itu, kembang Layar Mega."

Kata Lie Hong-Kiauw.

"Kembang itu dapat membikin mabuk orang, karena baunya yang sangat harum, Barang siapa mengisap harum bau nya, pasti akan roboh dengan tandatanda seperti orang mabuk minuman keras. Aku telah mencampurkan obat pemunahnya didalam air teh dan nasi putih yang aku hidangkan untuk kalian."

Mendengar keterangan Lie Hong Kiauw, Thio Sin Houw menjadi kagum berbareng takut.

Biasanya, seseorang yang hendak meracuni seseorang lainnya akan menaruh racunnya didalam minuman atau mengaduknya dalam makanan yang disajikan, Akan tetapi cara gadis itu diluar dugaan siapapun juga, sehingga Cie siang Gie yang senantiasa bersikap waspada masih kena dirobohkan oleh gadis dusun itu!

"Tetapi kau tak usah cemas, adik, Begitu pulang, aku akan memberi obat pemunahnya,"

Ujar Lie Hong Kiauw dengan suara menghibur. Mendengar ujar Lie Hong Kiauw tiba-tiba timbullah suatu pikiran di dalam hati Thio Sin Houw.

"Kalau begitu, kecuali pandai menggunakan racun -ia pandai pula mengobati orang yang keracunan. Apakah kesembuhanku dengan mendadak ini oleh pertolongannya pula? jika benar demikian, maka tak usah lagi aku bersusah payah menemui sinshe Ouw Gie Coen."

Memperoleh pikiran demikian, lantas saja ia bertanya mencoba.

"Hong cici, dapatkah kau menyembuhkan orang yang kena racun dingin Hian-beng sin-ciang?"

"Hmm,"

Dengus gadis itu.

"Hal itu rasanya sulit kukatakan."

Mendengar jawaban Lie Hong Kiauw, maka Thio Sin Houw tak berani mendesak lagi.

jelas sangat besar kepercayaannya, bahwa kesembuhannya ini hanya untuk sementara saja, sambil berjalan mengikuti, ia kini memperhatikan hal-hal yang luar biasa baginya, Tubuh Lie Hong Kiauw kurus kering, meskipun demikian dengan langkah kaki yang ringan sekali ia berjalan sambil memikul keranjangnya, sedangkan gerakan gerakan tubuhnya bukan berdasarkan ilmu sakti.

Dengan sekejap mata saja, mereka berdua telah melampaui tujuh kilometer lebih.

Arah perjalanan mereka mengarah ke timur dan bukan ke jurusan lembah Ouw-tiap kok, Mendadak saja, suatu ingatan menusuk ke dalam benak Thio Sin Houw, Lantas saja ia menanya.

"Hong cici, bolehkah aku menanyakan satu pertanyaan lagi? Petang tadi tatkala aku dan Cie toako hendak ke Ouwtiap kok, kau berkata bahwa lebih baik kami berdua mengarah ke timur laut, Ternyata kau menyesatkan perjalanan kami, sehingga kami harus berjalan memutar. Artinya kami terpaksa melampaui jarak perjalanan dua puluh kilometer lebih jauh, Kenapa kau berbuat begitu? Aku masih belum mengerti maksudmu."

Mendengar pertanyaan Thio Sin Houw itu, Lie Hong Kiauw tertawa geli, jawabnya.

"Sudahlah! janganlah kau bertanya melit-melit, Kau ingin berkata bahwa rumah Ouw sinshe terletak di barat daya, sedang kita berdua kini mengarah-ke timur. Bukankah perjalanan ini yang membuatmu bertanya demikian?"

Keadaan hati Thio Sin Houw kena tebak gadis itu, dan mukanya lantas saja bersemu merah.

untunglah pada saat itu malam hari, sehingga perubahan air muka itu tak nampak si gadis -sahutnya dengan suara perlahan.

"Benar! Kau menebak tepat sekali."

"Jalan yang kita lalui ini, bukan mengarah ke tempatnya Ouw sinshe. Karena kitapun tidak bermaksud menemui Ouw sinshe."

Kata Lie Hong Kiauw. Thio Sin Houw terkejut, karena jawaban gadis itu diluar dugaan. Tak terasa ia berseru tertahan.

"Akh!"

"Apakah kau tahu apa sebab siang tadi aku minta kepadamu, untuk menyiram tanaman bungaku?"

Tiba-tiba Lie Hong Kiauw berkata.

"Sesungguhnya aku lagi menguji kepadamu, Pertama, ingin aku mengetahui nilai hati kalian berdua, Kedua, aku sengaja memperlambat perjalanan kalian dan sengaja pula aku menyesatkan kalian. Dengan mengarah ke timur-laut, jarak perjalanan kalian menjadi bertambah. Dengan sengaja aku hendak memperlambat perjalanan kalian agar kalian tiba di Ouw-tiap kok pada waktu malam hari."

"Kenapa begitu?"

Thio Sin Houw minta keterangan.

"Karena pohon-pohon merah itulah! Pohon-pohon merah itu yang memagari rumahnya Ouw sinshe, kurang daya racunnya pada waktu malam hari, Dengan demikian, bunga biru yang kuberikan ke pada kalian masih sanggup melawan."

Mendengar keterangan Lie Hong Kiauw, bukan main kagumnya Thio Sin Houw, sekarang ia merasa takluk berbareng terima kasih kepada gadis dusun itu, Ternyata Lie Hong Kiauw bermaksud menolong dirinya dengan sesungguh hati -kini hatinya yakin sepenuhnya, maka tanpa berkata lagi ia mengikuti terus perjalanan Lie Hong Kiauw dengan hati mantap.

Setelah berjalan lebih lama lagi, mereka masuk ke dalam hutan yang lebat, tiba-tiba Lie Hong Kiauw berkata.

"Nah, sekarang kita sudah sampai. Tetapi ternyata mereka belum datang, Biarlah kita menunggu disini, Maukah kau menolong meletakkan keranjang ini dibawah pohon itu?"

Sambil berkata demikian, ia menuding sebuah pohon besar, Thio Sin Houw lantas saja mengerjakan apa yang dipinta gadis itu.

Setelah Thio Sin Houw meletakkan keranjang dibawah pohon, Lie Hong Kiao menghampiri semak belukar yang berumput tinggi, terpisah kira-kira lima belas langkah jauhnya, Kemudian berkata sambil memasuki belukar itu.

"Tolong, bawakan keranjang yang satu kemari!"

Tanpa berkata sepatah katapun, Thio Sin Houw membawa keranjang lainnya ke dalam belukar menyusul Lie Hong Kiauw.

Ia mendongak menatap udara, dan mengamat-amati bulan yang kini sudah doyong ke barat.

Teranglah sudah, bahwa hari telah larut malam.

Keadaan hutan itu sunyi senyap, yang terdengar hanyalah suara margasatwa dengan bunyi burung hantu sebagai selingan.

Kemudian Lie Hong Kiauw memberi sebutir obat pulung sebesar telur burung, sambil berbisik.

"Kulum ini, tapi jangan kau telan !"

Tanpa ragu-ragu Thio Sin Houw memasukkan obat itu ke dalam mulutnya, Rasanya sangat pahit.

Dengan menahan napas mereka menunggu.

Hanya entah apa yang sedang di tunggu, Thio Sin Houw sama sekali tidak mengetahui dan tidak dapat menduga-duga.

Alangkah ajaib pengalamannya, se lama berada dipinggang gunung Ouw-tiap san.

Hanya dalam waktu satu hari satu malam saja, ia memperoleh pengalaman-pengalaman luar biasa.

Dalam kesunyian itu, teringatlah ia kepada Ciu Sin Lan yang mengikuti kakek gurunya, Tanpa terasa ia menghela napas.

Katanya di dalam hati.

"Aku mendaki gunung Ouw-tiap san, karena mengikuti Cie toako. Dan sementara itu ia ikut Thay-suhu kembali ke Boetong san, Akh! pada saat inir entah apa kira-kira yang sedang dilakukan ?"

Memperoleh pikiran demikian, tanpa disadari ia memasukkan tangannya, kedalam saku meraba-raba saputangan yang bersulamkan bunga melati sebagai pemberian dari Ciu Sin Lan.

Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba Lie Hong Kiauw menarik ujung baju Thio Sin Houw, ia menuding kearah barat laut, serentak Thio Sin Houw berpaling kearah itu, dan di kejauhan ia melihat sinar lentera.

Aneh warna sinar lentera itu, Biasanya sinar lentera berwarna kuning kemerah-merahan, tetapi kali ini tidak.

sinarnya hijau.

Lentera itu bergerak cepat sekali, dalam sekejap saja telah berada belasan langkah didepannya, oleh pantulan cahaya rembulan dan sinar lentera itu, Thio Sin Houw dapat melihat dengan jelas bahwa pembawanya seorang wanita bongkok, jalannya terpincang-pincang dan diikuti seorang laki-laki dibelakangnya.

Dan melihat mereka, hati Thio Sin Houw memukul keras.

Teringatlah dia, Ouw-tiap kok terletak di baratdaya, Dan mereka berdua datang dari barat-daya pula, Maka kuat dugaannya, mereka ini adalah suami-isteri Ouw Gie Coen!

Oleh dugaan itu, Thio Sin Houw berpaling kepada Lie Hong Kiauw untuk memperoleh keyakinan.

Akan tetapi di malam hari, tak dapat ia melihat kesan wajah Lie Hong Kiauw dengan jelas.

Apa yang dilihat hanyalah sepasang mata Lie Hong Kiauw tiba-tiba nampak berkilat-kilat.

Dengan penuh perhatian ia mengawasi kedatangan kedua orang itu.

Terasa sekali hatinya menjadi tegang.

Menyaksikan hal itu, timbullah rasa ksatria dihati Thio Sin Houw, Meskipun hanya memiliki kepandaian yang dangkal namun hatinya berkata.

"Jika Ouw sinshe sampai mengganggu Hong cici, meskipun harus mati aku akan menolong sedapat-dapatnya!"

Kedua orang itu berjalan semakin dekat.

sekarang jelaslah, walaupun wanita itu bercacad, namun parasnya cantik.

Tetapi laki-laki yang berada dibelakangnya, beroman buruk dan agaknya bersifat ganas.

Usia mereka sebaya kira-kira empat puluh tahun.

Oleh pengalaman hidupnya belum pernah Thio Sin Houw berdebar hatinya menghadapi segala hal yang mengancam dirinya.

Akan tetapi menghadapi mereka berdua, entah apa sebabnya tiba-tiba hatinya menjadi ciut, jantungnya berdebaran dan hatinya ikut terasa berguncang, Nalurinya berkata bahwa dia lagi menghadapi sepasang suami isteri yang aneh dan gerak-gerik mereka sukar diduga-duga, Kurang lebih delapan langkah didepan persembunyian Lie Hong Kiauw, tiba-tiba mereka berdua membelok kekiri dan berjalan lagi belasan langkah jauhnya.

Kemudian berulah mereka menghentikan langkah kakinya.

Laki-laki yang berada di belakang wanita bongkok itu, lantas berseru dengan suara nyaring.

"Bu toako! Menurut suratmu, kami suami-isteri pada malam ini harus datang ke sini untuk berjumpa denganmu. Hayolah keluar!"

Seruan itu tak memperoleh jawaban -karena itu beberapa saat kemudian wanita bongkok itu berseru nyaring pula.

"Bu toako! Jika kau tak sudi ke luar, terpaksa kami berlaku kurang ajar terhadapmu!"

Juga kali ini tak mendapat jawaban. Mendengar seruan yang tak berjawab itu, hati Thio Sin Houw menjadi geli sendirinya, Katanya didalam hati.

"Nah, rasakan sekarang! inilah yang dinamakan balas membalas. Tadi kau tidak melayani aku, sekarang kau tak digubris oleh orang yang kau panggil !"

Mereka berdua menunggu kira-kira seperempat jam lagi.

wanita bongkok itu meraba sakunya, kemudian mengeluarkan seikat rumput yang segera di nyalakan dengan api lentera.

Dalam sekejap mata saja, sekeliling tempat itu penuh dengan asap putih yang menebarkan bau wangi.

Teringat akan kata-kata.

"terpaksalah kami berkurang ajar", maka Thio Sin Houw segera menyadari bahwa asap itu tentulah asap beracun. iapun mengerti pula, apabila tidak memperoleh obat pemunah racun dari Lie Hong Kiauw, tentulah ia kena akibatnya, ia mengerling kepada Lie Hong Kiauw yang kebetulan sedang mengerling pula kepadanya, Sin Houw sangat berterima kasih kepadanya, ia bersenyum dan memanggut beberapa kali. sebaliknya pandang mata gadis itu berkesan mengandung rasa cemas. Semakin lama asap itu semakin tebal, sekonyong-konyong terdengarlah seseorang bersin dari arah bawah pohon besar, atau tepatnya dari dalam keranjang. Mendengar suara bersin itu, hati Thio Sin Houw terkesiap, Barulah ia tahu, bahwa isi keranjang tersebut adalah orang hidup. Bahwasanya ia tidak mengerti soal racun adalah wajar, akan tetapi ia tetap tak mengerti bahwa di dalam keranjang itu tersekap seseorang -benar-benar mengherankan dirinya sendiri. sekian lamanya ia berjalan mengikuti gadis itu, mengapa ia tak mendengar pernapasannya sama sekali. Sementara itu orang yang berada di dalam keranjang bersin beberapa kali lagi, kemudian tutup keranjang itu terbuka dan keluarlah orang itu. Ternyata dia seorang laki-laki mengenakan jubah panjang serta berikat kepala, umurnya kurang-lebih limapuluh tahun. Dan dialah orang tua yang terlihat oleh Cie siang Gie berdua Thio Sin Houw sedang memacul ditengah tegalan. Begitu kakinya menginjak bumi, dengan pandang melotot, ia menatap suami-isteri itu, Bentaknya mengguruh.

"Bagus! Kiranya kau, Kim Sun Bo dan Kim Popo, Telah lama kita tak bertemu, kiranya tanganmu makin lama makin kejam ...!"

Suami-isteri itu mengawasi si orang tua yang berpakaian tak rapih dan berikat kepala miring.

"Bu toako! Kau menuduh kami sangat kejam,"

Kata Kim Sun Bo dengan suara dingin.

"Siapa tahu, kau justru bersembunyi di dalam keranjang, Bu toako."

Baru saja ia berkata demikian, laki-laki yang disebut "Bu toako"

Mengendus-endus udara beberapa kali.

Kemudian dengan wajah berubah buru-buru ia mengeluarkan sebutir obat ramuan yang lalu dikulumnya.

Kim Popo, wanita bongkok itu, lalu memadamkan rumput beracunnya, yang lantas dimasukkan kedalam sakunya kembali.

Katanya.

"Sayang tak ... tak keburu lagi, Sudah terlambat ..."

Wajah "Bu toako"

Atau yang sebenarnya bernama Bu Teng Kun, lantas nampak pucat bagaikan mayat. Tiba-tiba ia lalu duduk di tanah dan beberapa saat berselang, barulah ia berkata.

"Baiklah, aku kalah. Mulai sekarang tak lagi aku membuntuti kalian berdua."

Kim Sun Bo, laki-laki yang beroman sangat jelek itu segera mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna merah. ia mengangsurkan botol kecil itu seraya katanya.

"lnilah obat pemunah racun rumput Cin-su cay, Anakku telah kau celakakan dengan racunmu, maka dari itu kalau kau menghendaki bebas dari akibat racunku, berilah obat pemunah racunmu pula, Tegasnya, marilah kita saling menukar obat pemunah!"

"Fitnah!"

Bentak Bu Teng Kun.

"Kau maksudkan aku meracuni anakmu Kim Cin Nio? Sudah lima-enam belas tahun aku tak bertemu dengan dia, jangan memfitnah sembarangan!"

Wanita bongkok itu terbatuk-batuk -berkata dengan suara gusar.

"Jadi kau meminta kami menemui..."

Hanya untuk mendengarkan ocehanmu itu saja?"

Setelah berkata demikian, ia berpaling kepada suaminya, Berkata lagi.

"Sun Bo! Hayolah kita pulang saja!"

Berbareng dengan perkataannya ia memutar badan dan segera hendak berlalu dari tempat itu. Akan tetapi Kim Sun Bo tidak bergerak dari tempatnya, ia masih nampak bersangi-sangsi. Katanya tak jelas.

"Tetapi ... Cin Nio ... Cin Nio bagaimana?"

Wanita bongkok itu menghentikan langkahnya, menengok sambil menyahut.

"Bu toako sangat membenci kita berdua, dia agaknya lebih suka mati daripada mengampuni Cin Nio, Apakah kau belum sadar juga akan hal itu?"

Masih juga Kim Sun Bo belum bergerak dari tempatnya, ia menatap BuTeng Kun beberapa saat lamanya, Kemudian berkata setengah membujuk.

"Bu toako! Duapuluh tahun lamanya, kita saling mendendam. Apakah sekarang belum tiba waktunya untuk melenyapkan permusuhan ini? Aku ingin mengajukan sebuah usul kepadamu, marilah kita saling menukar obat pemunah dan menyudahi permusuhan ini."

Kata-katanya itu diucapkan dengan penuh perasaan, sehingga rasa hati Bu Teng Kun terpengaruh juga, Katanya dengan suara sabar.

"Kim sute, sebenarnya Cin Nio kena racun apakah?"

Mendengar ucapannya, Kim Popo jadi tertawa dingin. sahutnya mendongkol.

"Bu toako! sampai pada saat ini kau masih berpura-pura saja, Baiklah dengan ini kami berdua menghaturkan selamat atas berhasilnya toako menanam bunga Pek-hu cu-hwa ..."

"Siapa yang menanam Pek hu cu-hwa? teriak Bu Teng Kun tersinggung. Tiba-tiba meledak.

"Apakah Cin Nio kena racun Pek-hu cu-hwa? Kalau begitu bukan aku! Tentu saja bukan aku! Benar sungguh mati bukan aku!"

Ia berteriak dengan suara tinggi.

Dan wajahnya mendadak bertambah pucat.

jelaslah sudah, ia terserang rasa takut.

Akan tetapi, Kim Popo seolah-olah tidak menghiraukan keadaan dirinya, Katanya, dengan suara mengejek.

"Sudahlah, Bu toako! Tak usahlah kita membicarakan hal itu lagi! Hanya satu hal yang ingin kutanyakan padamu. untuk apa kau minta kami datang ke mari?".

"Aku meminta kalian datang kemari,.?"

Teriak Bu Teng Kun keheran-heranan.

"Tidak! Sama sekali aku tak pernah meminta kalian datang kemari. Tuduhanmu ini benar-benar tak ku mengerti! Bahkan kalian berdualah yang membawaku kemari. Apa sebab kau malah memutar balikkan kenyataan ini?"

Tadi-nya ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengesankan bahwa dalam hal ini, bukan dia yang meminta mereka berdua datang ke tempat itu, setelah selesai berbicara, tiba-tiba ia menjadi gusar dan menendang keranjang bamtu itu yang lantas saja terpental beberapa langkah jauhnya.

"Huuh"

Dengus Kim Popo dengan suara menyimpan dendam.

"Apakah surat ini bukan kau tulis dengan tanganmu sendiri? Akh, Bu toako. Mataku belum lamur! Aku masih cukup awas untuk mengenal kembali gaya tulisanmu!"

Setelah berkata demikian, ia meraba sakunya dan mengeluarkan sehelai kertas yang diangsurkan kepada Bu Teng Kun.

Bu Teng Kun segera mengulurkan ia punya tangan, hendak menyambuti kertas itu, Tiba-tiba suatu ingatan menyadarkannya.

segera ia mengebas dengan telapakan tangannya, dan kertas itu terpental tinggi melayang-layang di udara, Hampir berbareng dengan itu pun jari-jarinya menyentil sebatang paku, Dan Paku itu menyambar serta memakunya kertas itu pada sebatang pohon.

Menyaksikan adegan itu, hati Thio Sin Houw tergoncang.

Katanya di dalam hati.

"Sungguh berbahaya! Berlawan-lawanan dengan orangorang semacam mereka ini, setiap detik kita harus berhati-hati dan berwaspada, orang tua itu tidak berani menyambuti kertas pemberian Kim Popo, ia khawatir kalau ada ramuan racunnya. Kim Popo kemudian mengangkat lenteranya tinggi-tinggi, dan diatas kertas terlihat beberapa deret huruf-huruf besar yang berbunyi.

"Dua saudara seperguruanku, Kim Sun Bo dan isteri. Haraplah kalian datang di hutan Ouw-tiap kok setelah jam tiga menjelang subuh, aku ingin mendamaikan suatu perkara yang maha penting."

Huruf-huruf itu berbentuk panjang kurus sedikit, melengkung, sehingga mirip perawakan tubuh Bu Teng Kun, Dan melihat huruf-huruf itu, Bu Teng Kun berteriak heran.

"He-he-he! Kau kenapa?"

Ejek Kim Sun Bo dengan suara mendongkol.

"ltu bukan tulisanku!"

Seru Bu Teng Kun, Kedua suami-isteri itu saling memandang dan mencibirkan bibirnya, Berkata dengan berbareng.

"Apa kau bilang?"

"Heran, sungguh-sungguh heran!"

Kata Bu Teng Kun dengan suara sungguh-sungguh.

"Bentuk buruf-hurufnya memang mirip dengan tulisanku, Akan tetapi... ..."

Bu Teng Kun mengusap-usap jenggotnya dan tiba-tiba saja ia berteriak dengan suara kalap.

"Binatang! Sama sekali tak kuduga bahwa sampai pada saat ini, kalian masih main fitnah saja kepadaku. Dengan maksud apa kalian memasukkan aku ke dalam keranjang, dan membawa kemari? Aku sudah bersumpah, bahwa selama hidupku tak sudi aku melihat kalian lagi!"

"Sudahlah, jangan berpura-pura!"

Bentak Kim Popo si wanita bongkok itu.

"Cin Nio kena racun Pek-hu cu-hwa. Katakan saja, kau mau memberi obat pemunahnya atau tidak?"

"Apakah kau tahu dengan pasti bahwa... anakmu, Cin Nio... kena... racun Pek-hu cu-hwa?"

Tanya Bu Teng Kun dengan suara terputus-putus.

Tatkala mengucapkan kalimat Pek-hu cu-hwa suaranya bergemetaran seperti ketakutan.

Lambat laun Thio Sin Houw mengerti duduk persoalannya, ia menduga bahwa seorang berkepandaian tinggi memegang peranan dalam peristiwa ini, Tetapi siapakah orang itu?

Tanpa dikehendaki sendiri, ia mengerling kepada Lie Hong Kiauw, Mungkinkah gadis kurus kering ini yang mengatur peristiwa itu?

Selagi Thio Sin Houw berbimbang-bimbang, sekonyongkonyong terdengar suara bentakan.

"Uuh ...!"

Suara itu terdengar aneh dan menyeramkan hati.

Dengan meremang Thio Sin Houw menoleh.

Ternyata suara tersebut keluar dari mulut Kim Sun Bo dan Kim Popo, serta Bu Teng Kun.

Ketiga-tiganya mendorongkan kedua belah tangannya masing-masing kedepan, Dalam sekejab saja, malam yang sunyi senyap menjadi semakin hening.

Tiada sesuatu yang terdengar, kecuali suara "uuhh...

uuhh ...

uuhh..."

Yang tiada henti-hentinya. Mendadak saja suara "uh-uh"

Itu berhenti, kemudian berkejaplah secercah sinar dingin dan lentera hijau itu padam seketika.

Thio Sin Houw tahu, bahwa padamnya lentera itu adalah akibat paku Bu Teng Kun yang dilepaskan dengan mendadak, beberapa saat kemudian, terdengar suara meremang, itulah suara erangan Kim Sun Bo, karena rupanya ia kena serangan paku dari Bu Teng Kun, Alangkah menyeramkan suasana pada malam hari itu, udara dan bumi seolah-olah terancam suatu bahaya maut.

Dan menyaksikan hal itu, darah ksatria Thio Sin Houw meluap dengan tak dikehendaki sendiri.

ia memegang tangan Lie Hong Kiauw dan ditariknya ke belakang, ia sendiri lantas bersedia berkorban untuk melindungi jiwa gadis kurus-kering itu.

Begitu suara rintih dan erangan lenyap, keadaan sekitar hutan itu lantas menjadi sunyi senyap kembali.

Yang terdengar hanyalah bunyi margasatwa dan burung-burung hantu dikejauhan.

Tiba-tiba terasa ada tangan kecil halus memegang tangan Thio Sin Houw dan bocah itu terkejut sekali, tangan kecil yang minta perlindungan.

Tadi ia menduga bahwa yang mendalangi peristiwa mereka bertiga adalah ide Hong Kiauw -akan tetapi setelah Lie Hong Kiauw memegang tangannya, tahulah dia bahwa gadis itupun berada dalam ketakutan.

Ditengah kesunyian itu, sekonyong-konyong muncul dua gulung asap, Yang satu berasap putih, dan yang lain berasap abu-abu, seperti dua ekor ular, kedua gumpalan asap itu saling menyambar.

Munculnya kedua gumpalan asap itu tersusul suara orang seperti meniup api.

Thio Sin Houw membuka matanya lebar-lebar untuk memperoleh penglihatan yang lebih jelas lagi, samar-samar ia melihat dua sinar api berada di sebelah kiri dan kanan.

Dibelakang sinar api duduk Bu Teng Kun, sedangkan di belakang sinar api yang lain, Kim Popo bersila dan membungkukkan badannya ke tanah.

Ternyata mereka berdua sedang berusaha meniup titik-api yang segera meruapkan asap, Tahulah Thio Sin Houw kini, bahwa mereka berdua tengah menggunakan senjata asap beracun untuk merobohkan.

Kira-kira seperempat jam kemudian sekitar hutan itu sudah penuh dengan asap beracun.

Thio Sin Houw menekapkan pergelangan tangan Lie Hong Kiauw erat-erat, dan tangan Lie Hong Kiauw terasa bergemetaran, Mendadak dari sebuah pohon terdengar suara aneh.

Cepat Thio Sin Houw berpaling, dan mengawasi pohon itu, itulah pohon tempat menancap kertas Kim Popo yang terpantek paku beracun Bu Teng Kun.

ia terkesiap karena kertas itu mendadak saja menyinarkan cahaya terang.

Dan dengan pertolongan sinar tersebut, kelihatanlah beberapa deretan huruf.

Melihat hal itu, Bu Teng Kun dan Kim Popo berpaling berbareng.

Dengan sendirinya mereka berhenti meniup api beracun, dan dengan terlongong-longong mengamati huruf-huruf yang mendadak muncul dengan tegar.

Hampir berbareng mereka berdua membaca.

"Surat ini kualamatkan kepada ke tiga muridku. Bu Teng Kun, Kim Sun Bo dan isterinya ... Dengan melupakan ikatan rasa cinta kasih antara sesama saudara seperguruan, kalian bertiga saling mencelakakan, peristiwa ini benar-benar sangat menyedihkan hatiku, itulah sebabnya mulai saat ini aku mengharap dengan sangat agar kalian bertiga cepat-cepat memperbaiki pekerti yang sesat, Dan hendaklah kalian bertiga menuntut penghidupan yang sesuai dengan cita-citaku. Segala sesuatu mengenai kepulanganku ke alam baka, kalian bertiga bisa mengetahui dari muridku yang bungsu, Lie Hong Kiauw, inilah pesanku yang terakhir gurumu. Ting-kek le-sian Ouw Gie Coen. Setelah membaca bunyi surat itu, Bu Teng Kun dan Kim Popo berseru kaget, dengan serentak mereka berseru berbareng.

"Apakah guru sudah wafat? Lie Hong Kiauw sumoay! Dimana kau?"

Perlahan-lahan Lie Hong Kiauw menarik tangannya dari genggaman Thio Sin Houw, lalu ia menyalakan sebatang lilin.

Kemudian berjalan dengan tenang menghampiri mereka bertiga.

Melihat Lie Hong Kiauw muncul, Bu Teng Kun dan Kim Popo berubah wajahnya.

Dengan serentak mereka membentak.

"Sumoay! Apakah kau menyimpan kitab peninggalan suhu? Ya, pastilah himpunan ilmu ketabiban guru diwariskan kepadamu. sekarang dimana kau simpan?"

"Suheng dan suci!"

Kata Lie Hong Kiauw dengan sabar.

"Kalian berdua benar-benar tidak mempunyai perasaan. Nilai budi kalian berdua sungguh mengecewakan suhu, Dengan susah payah almarhum mengasuh, merawat dan mendidik kita. Budi sedemikian besarnya, bagaimana kalian hendak membalasnya? Sebaliknya, kalian tidak pernah memperhatikan kesejahteraan suhu, Bahkan hidup-matinya suhupun luput dari perhatian kalian, yang kalian ingat hanya buku warisannya belaka, Benar-benar sangat mengecewakan Jie-suheng, bagaimana menurut pendapatmu?"

Kalimat yang terakhir itu, Lie Hong Kiauw tujukan kepada Kim Sun Bo sebagak kakak seperguruannya yang kedua.

Kim Sun Bo yang rebah ditanah karena terkena paku beracun dari Bu Teng Kun, menegakkan kepalanya dan berteriak dengan suara gusar.

"Janganlah kau mengoceh dan berkothbah sepergi pendeta. Hayo, kau perlihatkan kitab warisan itu secepat mungkin kepada kami! Bukankah Cin Nio kau yang lukai? Ya ,., ya ... tak bisa salah lagi ... semua perisitiwa yang terjadi pada malam ini, tentu hasil pekerjaanmu pula!"

Dengan menutup mulut, Lie Hong Kiauw menyiratkan pandang kepada ketiga kakak seperguruannya.

"Benar-benar suhu pilih kasih!"

Teriak Bu Teng Kun dengan hati dengki.

"Sudah pasti bahwa suhu menyerahkan kitab sakti itu kepadanya ..."

"Sumoay! Coba kau perlihatkan kitab itu kepada kami,"

Bujuk Kim popo dengan suara halus.

"Marilah kita beramairamai mempelajarinya!"

Dengan pandang mata tajam, Lie Hong Kiauw menatap mereka bertiga. Kemudian berkata.

"Benar! Memang benar suhu mewariskan kitab saktinya kepadaku."

Setelah berkata demikian, ia menggerayangi sakunya dan berkata lagi.

"Lihatlah! inilah wasiat suhu, bacalah!"

Setelah berkata demikian, ia segera mengangsurkan selembar kertas kepada Kim Popo.

Mereka bertiga jadi kecewa, Tadinya mereka mengira Lie Hong Kiauw hendak memperlihatkan buku warisan dari guru mereka.

Tak tahunya, yang diperlihatkan hanya sehelai kertas dan di angsurkan kepada Kim Popo, Tatkala Kim Popo hendak menerimanya, tiba-tiba Kim Sun Bo berteriak memperingatkan.

"Awassss!"

Dan oleh peringatan itu, sadarlah Kim Popo akan kesemberonoannya, Dengan cepat ia melompat mundur sambil menunjuk ke arah pohon.

Menyaksikan pekerti ketiga kakak seperguruannya, Lie Hong Kiauw menghela napas.

Dengan berdiam diri ia mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari bahan perak, ia menusuk kertas itu dan dengan sekali mengayun tangannya, tertancap pada pohon.

Thio Sin Houw kagum menyaksikan timpukan itu, Katanya didalam hati.

"Benar-benar tak terduga, bahwa gadis dusun yang kurus kering ini mempunyai kepandaian tinggi."

Ia ikut memperhatikan kertas yang tertancap pada pohon itu. Dan dengan bantuan sinar lilin Lie Hong Kiauw mereka semua dapat membaca tulisannya dengan jelas. Bunyinya.

"Surat pusaka ini kutulis untuk muridku. Lie Hong Kiauw, Anakku, setelah aku meninggal dunia kau boleh menceritakan semua peristiwa yang terjadi kepada ketiga kakak seperguruanmu. Kau kuijinkan memperlihatkan kitab himpunanku kepada salah seorangnya, yang benar-benar memperlihatkan rasa cinta kasihnya kepadaku, Siapa saja diantara mereka bertiga yang tidak memperlihatkan rasa duka-cita dan rasa kasih sayang kepadaku sebagai murid maka perhubungan di antara guru dan murid, terputuslah. inilah pesanku kepadamu. Surat terakhir dari gurumu. Tiap-kok Ie-sian Ouw Gie Coen. setelah membaca surat itu, Kim Sun Bo dan isterinya serta Bu Teng Kun saling memandang dengan mulut terbuka. Tak dapat mereka mengingkari bahwa sepak terjang mereka tadi benar-benar keterlaluan, dan tidak pantas sebagai murid terhadap gurunya. Betapa tidak? setelah mengetahui gurunya wafat, sedikitpun mereka tidak mengatakan kata-kata duka cita, Bahkan yang mereka tanyakan adalah kitab warisannya. Untuk beberapa saat lamanya mereka terbengong seperti kehilangan diri. Tiba-tiba seperti saling berjanji mereka berteriak dan menerjang dengan serentak.

"Hong cici, awas!"

Seru Thio Sin Houw sambil melompat dari persembunyiannya.

***** PADA SAAT ITU kedua tangan Kim Popo menyambar Lie Hong Kiauw, Menyaksikan ancaman bahaya itu, kembali lagi Thio Sin Houw berteriak memperingatkan gadis dusun itu.

"Hong cici, awas!"

Dan dengan cepat bagaikan kilat ia menangkis dengan sebelah tangannya.

"Paakkk!"

Seperti diketahui, Thio Sin Houw mewarisi ilmu sakti Si Tangan Geledek Lie Sun Pin, kakeknya sendiri.

ilmu sakti Tangan Geledek itu diwariskan kepada anak perempuannya, Lie Lan Hwa, isterinya Thio Kim San -dan kemudian diajarkan sejurus dua jurus kepada Thio Sin Houw, ilmu itu pernah mengejutkan Tie-kong tianglo, sebab cara mengatur tata pernapasan dan tata peredaran darah sangat bertentangan dengan ajaran Boe-tong pay.

Apa yang diwarisi Thio Sin Houw itu sebenarnya termasuk golongan ilmu sakti yang luar biasa dahsyatnya, akan tetapi sangat memakan tenaga sehingga aliran itu termasuk aliran sesat.

seseorang yang dapat mewarisi ilmu sakti Tangan Geledek , akan menjadi orang yang mempunyai tenaga sehebat raksasa, Karena itu Thio Sin Houw, meskipun umurnya baru belasan tahun sudah memiliki pukulan sakti yang hebat pula dayanya.

Maka begitu kena tangkisan tangan Thio Sin Houw, Kim Popo terpental dengan menjerit keras!

Begitu berhasil.

Thio Sin Houw membalikkan tangannya dan mencengkeram pergelangan tangan Kim Sun Po.

Kemudian dengan menggunakan pukulan ilmu sakti warisan kakeknya, ia mendorong dengan meminjam tenaga lawan.

Tubuh Kim Sun Bo yang tinggi besar -Akan tetapi kenapukulan sakti warisan Si Tangan Geledek Lie Sun Pin, lantas saja terpental tujuh langkah dan roboh terguling diatas tanah.

Maka tahulah Thio Sin Houw kini, bahwa kedua suami-isteri itu memang ahli dalam menggunakan racun akan tetapi dalam hal tata berkelahi, mereka tidak mempunyai kepandaian yang berarti.

Dengan hati mantap, ia kemudian memutar badannya menghadapi Bu Teng Kun, Akan tetapi belum lagi ia bergerak, mendadak saja orang itu bergoyang goyang tubuhnya, kemudian roboh sendirinya.

Aneh sekali, begitu roboh badannya lantas saja tak bergerak sama sekali.

"Sumoay,"

Kata Kim Popo dengan meringis menahan rasa nyeri.

"Benar-benar hebat kawanmu ini! Dia masih kanakkanak yang belum pandai bertarung, akan tetapi pukulannya bukan main hebatnya. siapa dia?"

"Namaku Thio Sin Houw!"

Sahut Sin Houw cepat dengan suara nyaring, mendahului Lie Hong Kiauw.

"Jika kalian suami isteri merasa penasaran, carilah aku saja."

Sebenarnya Thio Sin Houw hanya menirukan cara para pendekar menantang lawannya, sama sekali ia tidak memikirkan akibatnya di kemudian hari.

sebaliknya Lie Hong Kiauw lantas saja membentak dengan suara penuh sesal.

"Sudah! Mengapa kau usilan?"

Sambil berkata demikian, gadis itu membanting-banting kakinya.

HERAN DAN TERKEJUT Thio Sin Houw menyaksikan pekerti Lie Hong Kiauw sehingga ia merasa tergugu.

Meskipun cerdas, pada saat itu tak dapat ia menebak pekerti Lie Hong Kiauw yang membanting-banting kakinya.

Dalam pada itu Kim Sun Bo dan kiri Popo sudah dapat bangkit kembali.

dengan pandang berkilat-kilat, mereka menatap wajah Thio Sin Houw.

Kemudian mereka memutar tubuh dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah panjang.

Dengan membungkam mulut, Lie Hong Kiauw meniup lilinnya, Lalu dimasukkan kembali ke dalam sakunya.

Pada saat itu, Thio Sin Houw minta keterangan kepadanya.

Katanya.

"Hong cici, kenapa Bu Teng Kun roboh sendiri?"

Lie Hong Kiauw menggerendang, ia tak segera menjawab, hanya berkali-kali ia mendengus. Thio Sin Houw hatinya menjadi tak enak sendiri. Beberapa waktu kemudian, ia berkata dengan perlahan.

"Hong cici, kau tak menjawab pertanyaanku . Mengapa? Apakah cici tidak senang lagi kepadaku?"

Mendengar perkataan Thio Sin Houw -Lie Hong Kiauw mengangkat kepalanya, Dengan suara menyesal ia menyahut.

"Mengapa kau tidak menepati janji...? Bukankah kau telah berjanji tiga hal kepadaku, sebelum ikut kemari? Kenapa kau langgar semuanya?"

Diingatkan tentang janjinya, Thio Sin Houw menjadi terkejut, Benar!

ia telah melanggar semua janjinya.

pertama ia tidak boleh bicara, akan tetapi nyatanya ia telah bicara juga, Kedua, ia tak boleh bertempur atau melepaskan senjata rahasia apapun juga atau melukai siapa saja, juga janji yang kedua ini dilanggarnya, Dan ketiga, ia tidak boleh berpisah lebih dari tiga langkah dari Lie Hong Kiauw, nyatanya karena bertempur -ia tidak hanya berpisah tiga langkah jauhnya, tetapi malam lebih dari sepuluh langkah!

itulah sebabnya Thio Sin Houw menjadi tertegun.

Dengan perasaan malu, ia berkata memohon belas kasihan.

"Hong cici, kau benar. Aku telah melanggar semua janjiku, maukah engkau memaafkan kesalahanku ini? Karena melihat kau dalam bahaya semata-mata hatiku tak tahan lagi. Aku takut, kau akan kena dilukai mereka, Karena di dalam diriku ini telah penuh racun mati dan hidup belum memperoleh kepastian, maka lebih baik aku yang menerima pukulan mereka dari pada kau, Dengan begitu, kau memperoleh kesempatan untuk melarikan diri, Tetapi agaknya aku telah salah terhadapmu, karena itu maafkanlah semua kecerobohanku ini."

"Hmmm!"

Dengus Lie Hong Kiauw. Tetapi kali ini ia tertawa.

"Kalau begitu , semua yang kau lakukan tadi semata-mata karena kau mencemaskan diriku. pandai benar kau mencaricari alasan, Kau yang salah, akan tetapi akibatnya nanti kau bebankan diatas pundakku, Kau tak percaya? Coba jawab pertanyaan ku. Apa sebab kau menyebutkan namamu kepada mereka? Tentu saja mereka sangat dendam kepadamu, tak mungkin mereka melupakan dendam ini. Pada suatu hari, mereka pasti akan mencarimu Dalam hal ilmu silat, mereka mungkin tidak akan menang. Tetapi dalam menggunakan racun, apa kau bisa menjaga diri ...? Karena itu, mulai sekarang hendaklah kau selalu waspada dan berhati-hati!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba sikap Lie Hong Kiauw menjadi lemah lembut.

Dan suaranya yang paling akhir diucapkan dengan penuh kecemasan atas keselamatan Thio Sin Houw.

Mendengar keterangannya Lie Hong Kiauw, entah apa sebabnya bulu roma Thio Sin Houw terbangun serentak.

Akan tetapi dia anak seorang pendekar berjiwa ksatrya, oleh karena itu ia segera dapat menetapkan hatinya, Dan pada saat itu, Lie Hong Kiauw berkata lagi.

"Kenapa tadi kau menyebutkan namamu kepada mereka?"

Thio Sin Houw menjawab pertanyaan Lie Hong Kiauw hanya dengan tertawa, sehingga Lie Kong Kiauw yang kemudian berkata lagi.

"Akh, adik yang baik! Rupanya kau tidak juga menyadari, adanya ancaman bahaya dikemudian hari, sebaliknya kau bersikap seperti seorang pahlawan hendak melindungi diriku, kenapa kau begitu baik kepadaku?"

Ucapan Lie Hong Kiauw yang terakhir itu dinyatakan dengan penuh perasaan, sehingga hati Thio Sin Houw terpengaruh karenanya.

Halus budi pekerti gadis dusun ini, pikirnya, oleh pikiran itu, ia menyahut dengan penuh rasa terima kasih.

"Hong cici. Bukan aku yang memperhatikan keselamatanmu tetapi sebaliknya justru adalah kau yang sangat memperhatikan keselamatanku, sehingga kau siap melindungiku sejak tadi."

Ia berhenti sebentar untuk mengesankan kata-katanya itu, Kemudian melanjutkan lagi.

"Berkat perlindunganmu, aku lepas dari bahaya. Ayahbundaku selalu berkata kepadaku bahwa kebajikan kita sebagai anak manusia, harus baik kepada orang yang berbuat kebaikan kepada kita, Karena itu sudah sewajarnya, kalau aku memandangmu sebagai sehabat sejati."

Mendengar perkataan Thio Sin Houw itu, Lie Hong Kiauw nampak girang bukan main, Katanya menegas.

"Benarkah kau sudi menganggapku sebagai sahabatmu?"

Lalu ia tertawa manis. Manis sekali. Meneruskan.

"Kalau begitu, biarlah aku menolong selembar jiwamu terlebih dahulu ..."

"Apa?"

Thio Sin Houw heran menebak-nebak .

"Coba kau nyalakan dulu lentera itu,"

Perintah Lie Hong Kiauw. Kemudian ia mengawasi kesekelilingnya dan bertanya.

"Hai mana lentera yang tadi...?"

Ia membungkuk mencari-cari lentera Kim Popo yang ketinggalan, tetapi karena gelap tak dapat ia menemukannya.

"Bukankah dalam sakumu masih ada lilin?"

Thio Sin Houw mengingatkan.

"Apakah kau mau mati?"

Kata Lie Hong Kiauw sambil tertawa, serta masih tetap membungkuk-bungkuk mencari lentera Kim Popo, Lalu berkata meneruskan.

"Lilin itu kubuat dari bahan kembang Pek-hu cu-hwa... Haa! Eh, inilah dia!"

Oleh ketekunannya, akhirnya ia dapat menemukan juga lentera itu yang segera dinyalakan.

Setelah mendengar pembicaraan antara suami isteri Kim Sun Bo dan Kim Popo dengan Bu Teng Kun, maka Thio Sin Houw mengetahui bahwa kembang Pek-hu cu-hwa pastilah merupakan kembang beracun yang sangat dahsyat.

Pada saat itu oleh cahaya lentera, Thio Sin Houw melihat Bu Teng Kun masih menggeletak diatas tanah seperti mayat.

Dan melihat keadaan Bu Teng Kun, tiba-tiba Thio Sin Houw menjadi mengerti sebab sebabnya, Terus saja ia berseru tertahan.

"Akh, sekarang barulah aku mengerti. Jika aku tadi tidak semberono menerjang keluar, pastilah suami isteri Kim Sun Bo dan Kim Popo akan dapat kau taklukkan pula ..."

Lie Hong Kiauw tersenyum, Agaknya ia puas mendengar perkataan Thio Sin Houw, katanya.

"Tetapi kelakuanmu tadi karena terdorong oleh maksud yang sangat baik ... biar bagaimanapun juga, aku merasa berhutang budi kepadamu!"

Thio Sin Houw menatap gadis dusun yang bertubuh kurus kering itu dengan perasaan kagum berbareng malu, pikirnya didalam hati.

"Umurnya, paling banyak terpaut lima tahun denganku, akan tetapi otaknya yang penuh tipu-tipu daya, seratus kali lipat dari pada aku, Kukira aku sudah berotak lumayan, tak tahunya dia jauh melebihi aku..."

Walaupun merasa tidak berarti apabila dibandingkan dengan kecerdasan gadis itu, tetapi sesungguhnya Thio Sin Houw sendiri memiliki otak yang cemerlang pula.

Dengan sekali melihat ia dapat menebak sebab-sebabnya Bu Teng Kun jatuh tak berkutik diatas tanah .

Hal itu disebabkan karena sesungguhnya lilin yang dinyalakan Lie Hong Kiauw tadi mengandung racun yang hebat -asapnya tidak berbau dan tidak berwarna, hal itu membuktikan betapa pandai Lie Hong Kiauw mengelabui orang, jangan lagi manusia biasa, sedangkan suami-isteri Kim Sun Bo dan Kim popo serta Bu Teng Kun yang terkenal sebagai biang racun, masih dapat diingusi terang-terangan, Dengan demikian, apabila Thio Sin Houw berlaku tidak semberono, dalam waktu yang cepat kedua suami-isteri itu beserta Bu Teng Kun akan roboh tak berkutik dengan sendirinya .

Akan tetapi sebelum suami isteri Kim Sun Bo dan Kim Popo dirobohkan dengan hawa beracun itu, mereka tadi sudah menyerang dengan pukulan-pukulan kilat yang sangat hebat.

Maka kemungkinan besar sebelum mereka roboh, Lie Hong Kiauw akan kena malapetaka terlebih dahulu.

oleh pertimbangan itu, Thio Sin Houw tidak mau terlalu menyalahkan dirinya sendiri.

Akan tetapi Lie Hong Kiauw rupanya dapat menebak pikiran Thio Sin Houw, katanya sabar.

"Adik yang baik, coba kau pukul pundakku dengan tanganmu!"

Thio Sin Houw tak mengerti maksud gadis dusun itu, akan tetapi karena percaya bahwa gadis itu mempunyai rencana tertentu yang berada diluar dugaannya sendiri, segera ia memukul pundak Lie Hong Kiauw dengan jari tangannya.

Dan begitu jari tangannya menyentuh pundak gadis itu, maka jarijari tangan Thio Sin Houw mendadak terasa panas seperti terkena bara.

Diluar kehendaknya sendiri, Thio Sin Houw melompat mundur menjauhi beberapa langkah .

Lie Hong Kiauw tertawa geli, katanya.

"Nah, kau rasakan sekarang, Begitulah, apabila mereka menghantam diriku dengan sekuat tenaga, mereka akan roboh begitu menyentuh pakaianku!"

"Benar-benar hebat dan berbahaya!"

Kata Thio Sin Houw kagum sambil memijit-mijit jari tangannya.

"Racun apakah yang kau gunakan?"

"Sebenarnya bukan racun luar biasa, hanya campuran bubuk ular hijau dan ular belang yang kucampur dengan bubuk kadal biru."

Jawab Lie Hong Kiauw dengan sederhana. Dengan pertolongan sinar lentera, Thio Sin Houw melihat betapa jari-jari tangannya melepuh dengan mendadak. Katanya.

"Akh, masih untung aku tadi tidak menyentuh pakaianmu!"

"Adik yang baik,"

Kata Lie Hong Kiauw dengan suara mohon maaf.

"Aku bukan bermaksud hendak menyakiti dirimu, maksudku hanyalah agar kau selalu berhati-hati dan waspada menghadapi saudara-saudara seperguruanku di kemudian hari, Dalam ilmu silat,mereka dapat ketinggalan darimu, akan tetapi lihatlah telapak tanganmu yang tadi kau gunakan untuk menangkis pukulan mereka!"

Thio Sin Houw lalu memperhatikan tangan kirinya, akan tetapi ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa.

"Coba, dekatkan kemari!"

Kata Lie Hong Kiauw sambil mengangsurkan lenteranya.

Begitu mendekatkan tangannya pada lentera, Thio Sin Houw terkejut, Pada saat itu ia melihat telapakan tangannya bergaris-garis hitam, serunya tak mengerti.

"Apa ini? Apakah aku terkena racun ?"

"Hmm!"

Dengus Lie Hong Kiauw.

"Apakah kau anggap murid-muridnya Tiap kok ie-sian tidak mempunyai ilmu pukulan beracun?"

"Akh!"

Thio Sin Houw terkejut berbareng heran.

"Kalau begitu kalian adalah murid-muridnya si Tabib Sakti Ouw Gie Coen, Ouw Sinshe, Tetapi mengapa kalian saudara-saudara seperguruan saling bertengkar?"

Lie Hong Kiauw tidak menjawab.

ia hanya menghela napas, kemudian mencabut tusuk sanggulnya yang tadi digunakan untuk memantek kertas tulisan Ouw Sinshe yang mengandung bisa racun Pek-hu cu-hwa dipohon, Kemudian ia memasukkan kedua benda itu kedalam sakunya dan waktu itu huruf-huruf yang bercahaya pada surat pertama sudah lenyap seketika.

"Apakah cici yang menulis semua surat-surat itu?"

Tanya Thio Sin Houw.

"Benar!"

Sahut Lie Hong Kiauw.

"Suhu nampaknya sayang benar kepada toa-suheng Bu Teng Kun pada masa mudanya, hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan-tulisan toa-suheng yang terdapat dalam kumpulan naskah dalam peti peninggalan suhu. Umpamanya catatan-catatan mengenai nama-nama bunga, tetumbuhan dan ramuannya, Dengan demikian aku paham benar akan bentuk tulisannya, itulah sebabnya dapat aku meniru bentuk-bentuk hurufnya. Akan tetapi aku belum berhasil dengan sempurna , karena melupakan pengucapan hatinya."

"Tentu saja cici tidak dapat menirukan dengan sempurna, karena beda watak cici dengan wataknya."

Potong Thio Sin Houw cepat.

"Cici adalah seorang yang jujur dan bersih hati, sebaliknya toa-suhengmu penuh dengan fitnah, kekejian dan kelicikan kelicikan."

Lie Hong Lian tidak membenarkan ataupun membantah, ia berdiam sejenak. setelah itu meneruskan lagi.

"Surat wasiat suhu ditulis dengan larutan tawas. orang harus memanggang terlebih dahulu di atas api, apabila hendak membacanya. Kemudian setelah aku melakukan percobaan-percobaan, aku mengaduknya dengan sumsum harimau dan berbagai campuran lainnya. Karena itu apabila surat itu berada ditempat gelap akan menyala sendirinya. Kau lihatlah!"

Setelah berkata demikian ia memadamkan lenteranya, dan benar saja tulisan yang berada di atas kertas lantas bercahaya mengkilat, Dan begitu lentera dinyalakan kembali sehingga kegelapan malam dikalahkan oleh cahaya lentera, maka nyala huruf-huruf itu lantas lenyap tak kelihatan lagi.

Dengan demikian, pada kertas itu terdapat dua bentuk tulisan.

Yang pertama tulisan Lie Hong Kiauw yang terbaca apabila keadaan terang, dan yang kedua tulisan Sinshe Ouw Gie Goen yang terbaca apabila keadaan gelap pekat.

Setelah mengetahui latar belakangnya, Thio Sin Houw ikut bergembira dan bersyukur, seakan-akan iapun ikut senang dalam persoalan ini, sebaliknya Lie Hong Kiauw heran menyaksikan kegirangan Thio Sin Houw, tanyanya menegas.

"Kenapa kau begitu girang? Bukankah tanganmu terkena racun jahat kakak seperguruanku?"

"Cici tadi berjanji hendak menyembuhkan aku!"

Sahut Thio Sin Houw cerdik.

"Dan aku tahu, cici adalah seorang bidadari yang jujur, Kukira duduk dekat murid terkasih Ouw sinshe, seorang tabib maha sakti tak ubah malaikat. Karena itu meskipun andaikata aku kena pukulan dewa maut, muridnya Ouw Sinshe pasti sanggup menolong jiwaku, Jadi, aku tidak perlu takut!"

Mendengar perkataan Thio Sin Houw yang kekanakkanakan, Lie Hong Kiauw tertawa geli, Tiba-tiba ia memadamkan lenteranya, kemudian terdengar suara gemeresek dari tempat keranjang ditempatkan, Tak lama lagi lentera dinyalakan lagi, dan ternyata Lie Hong Kiauw telah berganti pakaian.

"Lihatlah! sekarang aku berganti pakaian baru, kau tak perlu takut lagi akan racun yang kulumurkan di pakaianku tadi."

Kata Lie Hong Kiauw sambil tertawa lebar.

"Hong cici! Kau dapat memikirkan segala sesuatunya dengan cermat terlebih dahulu sebelum bertindak. Apabila aku dapat mewarisi sepersepuluh bagian saja dari kepandaianmu ini, aku sudah bersyukur..."

Kata Thio Sin Houw bersungguh sungguh . Mendengar perkataan Thio Sin Houw, mendadak Lie Hong Kiauw berkilat-kilat kedua matanya, dengan suara mengandung penuh penyesalan ia berkata.

"Apa katamu tadi? Apakah kau bisa menjadi manusia bahagia apabila mengenal racun? Huh! Orang yang mengenal racun, akan selalu tergoda oleh pikirannya sendiri terus menerus untuk mengadakan percobaan-percobaan penebaran racun-racunnya. setiap detik yang di pikirkan hanyalah bagaimana dapat membuat racun sehebat-hebatnya melebihi yang sudah-sudah, lihatlah aku ini setiap saat mana-kala aku bangun tidur sampai nanti menjelang tidur kembali, dalam hatiku terus menerus bergumul satu perjoangan hebat antara hawa-napsuku sendiri. Karena itu apabila dapat, aku memohon kepada Tuhan agar di lahirkan kembali sebagai manusia biasa seperti dirimu, Alangkah bahagianya!"

Setelah berkata demikian, ia lalu menghela napas berulangkali.

Kemudian menarik lengan Thio Sin Houw, dan segera menusuk jari-jari Thio Sin Houw dengan tusuk sanggulnya, Kemudian mengurut sehingga tak lama kemudian, darah ungu meleleh keluar.

Thio Sin Houw yang sejak tadi membiarkan tangannya ditarik dan di tusuk dengan tusuk sanggul perak Lie Hong Kiauw, menjadi heran karena tusukan itu sama sekali tidak terasa sakit, bahkan tatkala darah ungu meleleh keluar, ia merasakan suatu hawa yang nyaman sekali meresap kedalam peredaran darahnya.

ia jadi kagum luar biasa pada saat itu mendadak saja ia mendengar suara Bu Teng Kun menggeliat, ia terperanjat dan lantas berseru.

"Heil Dia tersadar!"

"Tak mungkin!"

Sahut Lie Hong Kiauw yakin.

"Paling cepat, tiga jam lagi !"

Memperhatikan keadaan Bu Teng Kun, Thio Sin Houw menjadi teringat kepada pengalamannya tadi, Terus saja ia minta keterangan.

"Tadi ketika aku mengangkat keranjang, sama sekali dia tidak bergerak sehingga aku tidak tahu bahwa dalam keranjang itu ada manusianya ... Akh! benar-benar aku tolol sekali."

Lie Hong Kiauw tersenyum lebar, Menjawab.

"Hemm! orang yang menyatakan dirinya tolol, biasanya justru orang pintar luar biasa!"

Thio Sin Houw tidak menjawab, ia hanya tertawa. Akan tetapi dalam hatinya ia merasa puas, dan sesaat kemudian ia berkata lagi.

"Eh, mereka tadi memperebutkan kitab sakti warisan gurumu, apakah mengenai ilmu pengetahuan ketabiban atau sarwa racun?"

"Dugaanmu tepat sekali,"

Jawab Lie Hong Kiauw senang.

"ltulah jerih payah almarhum suhu, semuanya ada dua buku, Yang satu tentang ilmu ketabiban, dan yang lain tentang rahasia ramuan sarwa racun. Apa engkau ingin melihatnya?"

Heran Thio Sin Houw mendengar tawaran itu.

Bukankah dia tadi menolak keinginan ketiga kakak seperguruannya untuk membaca kitab warisan gurunya barang sebentar saja?

Melihat Lie Hong Kiauw mengeluarkan sebuah bungkusan kain putih yang disimpan dalam sakunya -Thio Sin Houw jadi terharu.

Dalam bungkusan kain putih itu terdapat lain bungkusan kertas minyak.

setelah kertas minyak itu dibuka, terlihatlah dua

Jilid kitab kuning dan hitam yang panjangnya enam senti dan lebar empat senti.

Dengan menggunakan tusuk sanggulnya, Lie Hong Kiauw membalik balik halaman kitab yang penuh tulisan huruf huruf indah.

Tak usah dikatakan lagi, bahwa setiap halaman kertas itu pastilah sangat beracun.

orang akan celaka apabila berani dengan sembarangan menyentuh atau membalik-balik dengan tangannya.

Memperoleh kepercayaan dari Lie Hong Kiauw yang begitu besar terhadap dirinya, Thio Sin Houw merasa bersyukur dan girang bukan kepalang.

Dengan mengangguk, ia memberi isyarat bahwa sudahlah cukup ia melihat buku warisan Tiapkok ie-sian Ouw Goe Coen itu.

Maka Lie Hong Kiauw kembali membungkusnya rapih-rapih, dan dimasukkannya ke dalam saku.

Kemudian ia mengeluarkan sebotol bubuk berwarna ungu, ia menuangkan diatas telapak tangan dan memborehkan pada telapak tangan Thio Sin Houw yang tadi ditusuknya dengan tusuk sanggul perak, sebentar ia mengurut-urut jari-jari itu, dan tak lama kemudian bubuk berwarna ungu tadi lantas saja terhisap masuk melalui lubang-lubang bekas tusukan Lie Hong Kiauw.

"Benar-benar hebat kau, cici!"

Thio Sin Houw memuji dengan setulus hati.

"Seumur hidupku, belum pernah aku menyaksikan seorang tabib seperti dirimu!"

"Kepandaianku ini tidak ada artinya, apabila dibandingkan dengan kepandaian guruku,"

Sahut Lie Hong Kiauw merendah.

"Suhu pandai membedah perut dan dada, serta ahli menyambung tulang, apabila kau telah menyaksikan kepandaiannya, barulah kau pantas kagum benar-benar."

"Benar!""

Kata Thio Sin Houw memuji.

"Gurumu mahir menggunakan racun, pasti ahli pula dalam menyembuhkan penyakit, Pantaslah, kakek-guruku pernah memuji gurumu setinggi langit."

"Siapakah kakek gurumu itu?"

Tanya Lie Hong Kiauw penuh perhatian.

"Thay-suhu bermukim diatas gunung Boe-tong, namanya Tie-kong tianglo.,."

Jawab Thio Sin Houw, Mendengar jawaban Thio Sin Houw, Lie Hong Kiauw nampak terperanjat. jelas ia sering mendengar nama Tie-kong tianglo yang termashur itu, terus saja ia berseru girang.

"Akh! Jika suhu masih hidup dan mendengar pujianmu ini, pastilah beliau akan girang bukan kepalang, Hanya sayang, beliau sekarang sudah tiada didunia ini ..."

Perkataannya yang terakhir itu diucapkan dengan nada penuh duka.

"Kakak seperguruanmu tadi, Kim-Popo berkata, bahwa gurumu pilih kasih, beliau agaknya hanya sayang kepada cici belaka,"

Kata Thio Sin Houw.

"Kurasa kata-katanya benar belaka, Tetapi hal itu terjadi karena kaupun mencintai gurumu dengan sepenuh hati, Dengan demikian terjadi timbal-balik yang sewajarnya."

Lie Hong Kiauw tertawa melalui dadanya, ia menundukkan kepala, Dan beberapa saat kemudian baru ia berkata.

"Suhu mempunyai empat orang murid, semuanya sudah kau ketahui. Yang tertua adalah Bu Teng Kun, kemudian Kim Sun Bu dan isterinya, Kim popo sedangkan aku adalah yang termuda, sebenarnya setelah mempunyai tiga orang murid, suhu tidak ingin menerima murid lagi, akan tetapi melihat ketiga kakak seperguruanku itu saling bermusuhan dan saling dendam, suhu menjadi cemas juga. Kalau nanti suhu telah meninggal dunia, siapa yang dapat menguasai mereka bertiga? Maka dalam usianya yang lanjut, beliau menerima aku sebagai muridnya yang termuda."

Lie Hong Kiauw berdiam sejenak -kemudian meneruskan sambil menatap wajah Thio Sin Houw.

"Mereka bertiga sebenarnya bukanlah orang-orang yang jahat. permusuhan itu terjadi semata-mata karena Kim popo menikah dengan Kim Sun Bo, dan Bu Teng Teng Kun menjadi sakit hati, Dan sejak itu mereka saling bermusuhan sehingga tak dapat didamaikan lagi."

Thio Sin Houw memanggut manggutkan kepalanya, tanyanya.

"Toa-suhengmu, Bu Teng Kun pasti mencintai Kim Popo, Kukira demikian bukan ?"

"Bagaimana kisah asmara itu terjadih, sesungguhnya aku tidak mengetahui. sebab pada saat itu mungkin sekali aku belum lagi dilahirkan di dunia ini."

Sahut Lie Hong Kiauw dengan tertawa manis.

"Aku hanya mengetahui dari suhu, bahwa toa-suheng Bu Teng Kun dahulu sudah beristeri, padahal rupanya Kim Popo diam-diam mencintai toa-suheng, Pada suatu hari, Kim popo meracuni isterinya toa-suheng sehingga mati."

Mendengar sepak terjang Kim Popo yang sampai hati meracuni isterinya Bu Teng Kun, bulu roma Thio Sin Houw terbangun.

Terasa dalam hatinya, bahwa orang yang pandai menggunakan racun, pasti kejam pula hatinya, sehingga apabila ada persoalan kecil saja, mereka lantas main bunuh dengan racunnya itu.

Sementara itu Lie Hong Kiauw meneruskan perkataannya .

"Karena gusar, toa-suheng Bu Teng Kun lantas membalas meracuni Kim Popo sehingga ia menjadi cacad seumur hidup, ia menjadi wanita bongkok dan kakinya pincang pula.

"Akan tetapi, Kim Sun Bo yang menyintai Kim Popo dengan segenap hati, tidak berobah cinta kasihnya meskipun Kim Popo telah cacad tubuhnya, Maka mereka berdua lantas kawin. Entah bagaimana alasannya, setelah Kim Popo menikah dengan Kim Sun Bo, mendadak Bu Teng Kun teringat akan hubungannya pada masa lampau. ia kembali berbaik hati kepada Kim Popo dan mulai mengganggu cinta-kasih mereka berdua. Dengan demikian, kalau tadinya Kim Popo yang salah, kini toa-suheng Bu Teng Kun yang tercela. Sebab yang membuktikan cinta-kasih sejati adalah Jie suheng Kim Sun Bo.

"Menyaksikan peristiwa itu, suhu menjadi jengkel. Berulangkali suhu itu mencoba menasehati mereka bertiga agar teringat akan nilai-nilai budi pekerti -akan tetapi nasehatnya sama sekali tiada guna. Mereka menganggap seperti segumpal awan berserakan ditengah udara, makin lama permusuhan mereka makin hebat, Masing-masing mempersiapkan kubu-kubu pertahanan. Jie-suheng Kim Sun Bo yang sangat mencintai Kim Popo membangun sebuah rumah dari besi, bentuknya setengah bulat seperti bola, Rumah itu dilumuri racun penyepuh, ia menanam pula pohon-pohon mengandung racun disekitar rumahnya. semula rumah itu dimaksudkan sebagai kubu pertahanan menghadapi Toa-suheng Bu Teng Kun, tetapi karena merasa diri terancam bahaya terus-menerus akhirnya mereka bertempat tinggal dalam rumah tersebut. Hanya sekali-kali mereka mengadakan perjalanan untuk mengintai dimana Toa-suheng Bu Teng Kun berada. Demikian pula yang dilakukan Toa-suheng Bu Teng Kun terhadap mereka berdua. Dengan demikian, karena mereka bertiga menggunakan nama suhu, masyarakat dibuat bingung oleh munculnya tiga tokoh yang berbeda perawakan tubuhnya tetapi nama yang dikenakan sama, Maka banyaklah cerita dan kisah mengenai diri pribadi guruku, Ouw Sinshe. Penduduk disebelah selatan yakin, bahwa Ouw Shinshe adalah seorang laki-laki berjubah seperti pendeta. sedangkan sebenarnya dialah Toa-suheng Bu Teng Kun, sebaliknya penduduk yang bermukim disebelah barat berkata, bahwa Ouw Sinshe sebenarnya seorang perempuan, sementara penduduk sebelah timur mengabarkan bahwa Ouw Sinshe adalah seorang laki-laki berperawakan kasar dan nampak dungu. itulah kedua kakak seperguruanku Kim Sun Bo dan Kim Popo."

"Oh, begitu?"

Kata Thio Sin Houw sambil manggutkan kepalanya.

"Tetapi sebenarnya diantara mereka bertiga, siapakah yang berhak memakai nama Ouw Sinshe?"

"Aku sendiri tidak tahu,"

Jawab Lie Hong Kiauw.

"Tetapi satu hal yang pasti, betapapun alasan mereka bertiga -suhu tidak merestui, Hal itu disebahkan karena permintaan racun mereka. Apa yang mereka lakukan benar-benar bertentangan dengan panggilan hidup suhu, Berulangkali suhu berkata kepadaku , begini.

"Aku mempelajari sarwa racun demi untuk menolong sesama hidup, sekarang kakakmu bertiga menyematkan namaku untuk melampiaskan dendamnya masing-masing, Tidak segan-segan mereka membunuh sesama umat dengan menggunakan bisa racun. walaupun aku sama sekali tidak melakukan hal itu, akan tetapi karena mereka murid-muridku, maka kesalahan itu akan ditimpakan di atas pundakku juga, Apakah kau mengira bahwa pendiri aliran kita ini tadinya seorang biadab yang senang membunuh sesama hidup? Tidak, anakku! ilmu pengetahuanku ini kuperoleh untuk tujuan maha mulia dan bijaksana, setiap saat yang perlu dipikirkan ialah bagaimana menolong orang dari lembah kesengsaraan hidup ...

"Akan tetapi racun kami memang sangat dahsyat, sehingga tiada seorang saktipun didunia ini yang sanggup menghadapinya, sayang sekali, ketiga kakak seperguruanku itu meracuni orang dengan sembarangan saja, Tidak jarang mereka meracuni orang baik-baik, Karena mereka murid-murid suhu, maka nama Ouw Gie Coen menjadi bulan-bulanan dan setiap orang mengutuki serta menyumpahi sampai langit ketujuh, Akh!"

Benar-benar menyedihkan sekali. Adik yang baik, bagaimana menurut pendapatmu?"

Thio sin Houw menghela napas. sebagai anak yang baru berumur belasan tahun, belum dapat ia membuat pertimbangan Tetapi secara naluriah ia tahu pekerti baik dan buruk, maka ia menjawab.

"Sepak terjang kakakmu bertiga memang keterlaluan, pastilah orang akan segera teringat pada gurumu manakala mereka meracuni orang. Apalagi tadi kau berkata bahwa orang-orang di sekitar sini salaf tafsir dan salah terka mengenai pribadi gurumu, Mereka menyangka bahwa ketiga kakak seperguruanku itu adalah Ouw Sinshe. Herannya, apa sebab gurumu tidak turun gunung untuk membereskan dan membersihkan namanya?"

"Hal itu mudah dikatakan, tetapi sukar dilakukan."

Sahut Lie HongKiauw.

"Apabila suhu sampai turun gunung maka salah pengertian akan jadi semakin parah sekali ..."

Gadis itu lantas menghela napas dalam, ia memeriksa luka-luka Thio Sin Houw sekali lagi, Kemudian menyatakan bahwa racun telah larut sirna, lalu ia bangkit berdiri dan berkata lagi.

"Malam ini aku masih harus menyelesaikan dua tugas lagi, Yang pertama, kita harus mengambil obat pemunah racun rumput Cin-su cay. Dan yang kedua mengobati Kim Cin Nio, puteri Jie-su-heng Kim Suii Bo, Apabila tidak..."

Ia tersenyum dan tidak menyelesaikan perkataannya.

"Semua ini terjadi karena kesemberonoanku semata,"

Thio Sin Houw menghela napas pula.

"Jika aku tadi tidak mencampuri urusanmu, pastilah kau telah dapat membereskan mereka... Bukankah kau ingin berkata demikian?"

"Ya,"

Jawab Lie Hong Kiauw dengan tegas.

"Bagusilah, jika kau tahu.

"Marilah kita berangkat sekarang!"

"Apalkah dia dimasukkan ke dalam keranjang lagi?"

Tanya Thio Sin Houw sambil menunjuk Bu Teng Kun yang masih menggeletak di atas tanah.

"Benar! Kau tolonglah."

Ujar Lie Hong Kiauw.

Thio Sin Hauw menghampiri Bu Teng Kun dan mencoba mengangkatnya, Tentu saja tak dapat ia mengangkat tubuh Bu Teng Kun dengan seorang diri, maka Lie Hong Kiauw membantunya.

Dengan tenaga mereka berdua, tubuh Bu Teng Kun terangkat dengan mudah dan dimasukkannya ke dalam keranjang kembali.

Lie Hong Kiauw kemudian mencari pikulannya, setelah diketemukan, seperti tadi ia memikul kedua keranjangnya dan berjalan mengarah ke jurusan baratdaya.

Berjalan kira-kira beberapa lie, tibalah mereka di sebuah rumah gubuk.

Lie Hong Kiauw lalu berteriak.

"Kiang susiok, hayolah!"

Pintu terbuka, dan muncullah seorang laki-laki hitam legam memikul beban pula.

Pandang matanya berkilat-kilat, Dengan tak mengeluarkan sepatah katapun, ia segera mengikuti Lie Hong Kiauw.

***** MELIHAT munculnya orang hitam legam itu, meremanglah bulu-roma Thio Sin Houw.

pikirnya didalam hati.

"Lagi-lagi orang aneh ...!"

Akan tetapi melihat kesungguh-sungguhannya dan Lie Hong Kiauw menanggapi dengan sikap wajar pula, tak berani Thio Sin Houw minta keterangan kepadanya.

iapun segera mengikuti Lie Hong Kiauw dalam jarak tiga langkah.

Empatlima kali Lie Hong Kiauw menengok dan menghadiahkan suara tertawa manis, itulah suatu tanda bahwa kini ia merasa puas terhadap sang adik yang patuh.

Dari rumah gubuk orang hitam itu, Lie Hong Kiauw terus berjalan mengarah ke utara.

Dan selama berjalan mereka bertiga membisu, Kira-kira jam empat pagi, tibalah mereka di depan rumah aneh yang bentuknya seperti topi di tengkurupkan, itulah rumah suami isteri Kim Sun Bo dan Kim Popo.

Lie Hong Kiauw kemudian mengeluarkan tiga ikat bunga biru dari dalam keranjang.

yang seikat diberikannya kepada Thio Sin Houw, yang lain di berikan kepada orang hitam tersebut dan sisanya dipegangnya sendiri.

setelah melompati pagar pohon rumput Cin-su cay, ia berteriak nyaring.

"Jie-ko dan sam-sucie! Apakah kalian berdua sudi membukakan pintu bagiku?"

Tiga kali ia berseru, akan tetapi sama sekali tak memperoleh jawaban.

Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Lie Hong Kiauw memberi isyarat anggukan kepada orang yang disebutnya.

Kiang susiok.

Orang hitam itu segera meletakkan bebannya kaatas tanah, dan mengeluarkan alat-alat besi -dari sebuah alat penyemprot api tungku dapur, bubuk besi, timah dan perabot pengebur.

ia membuat api dan mulai melumerkan bubuk besinya.

setelah bubuk besi lumer, ia lalu memateri bagian bagian yang renggang dari rumah aneh itu.

Thio Sin Houw yang selama ini mengikuti gerak-gerik orang hitam itu segera mengetahui, bahwa dia sedang menutup pintu-pintu dan jendela-jendela rumah besi Kim Sun Bo suami-isteri, Rupanya karena merasa diri tidak dapat mengatasi kepandaian adik seperguruannya, mereka berdua tak berani perlihatkan diri.

Tak ubah seperti kura-kura sembunyikan kepala, mereka lantas saja menutup semua pintu dan jendelanya, Dengan demikian, seperti halnya yang dilihat oleh Thio Sin Houw, rumahnya yang aneh itu nampak seperti tidak berpintu maupun jendela.

Setelah semua lubang ditutup rapat, Lie Hong Kiauw menggapai Thio Sin Houw, Dengan isyarat mata, gadis itu memberi perintah agar Sin Houw mengikutinya, Dia berjalan mendahului dan melompati barisan pagar pohon-pohon rumput Cin-su cay.

Arahnya ke jurusan barat-laut dan setiap kali mengalahkan kakinya, ia selalu menghitung dengan cermat.

setelah berjalan beberapa puluh langkah, ia membelok ke timur lima langkah lagi dan kekiri empat langkah.

Kemudian berkata memutuskan.

"Disinilah!"

Lalu ia menyalakan lilinnya, Dengan matanya yang tajam Thio Sin Houw mengamat-amati dua batu besar yang berada didepannya, ternyata diantara dua batu besar tersebut terdapat sebuah lubang kira-kira sebesar piring dan teraling sebuah batu.

"lnilah lubang tempat mereka bernapas."

Kata Lie Hong Kiauw sambil terus berjongkok.

"Mereka tak dapat ke luar lagi dari rumah itu, karena semua lubang angin maupun pintu dan jendelanya sudah tertutup rapat, Maka sebentar lagi pastilah mereka akan menghampiri lubang ini."

Lilin yang telah dinyalakan tadi diletakkan ke mulut lubang dan dengan bantuan angin perlahan-lahan asapnya masuk ke dalam.

Menyaksikan tindakan Lie Hong Kiauw yang dianggapnya sangat kejam Thio Sin Houw jadi bergidik.

Tiba-tiba saja ia jadi merasa iba terhadap orang orang yang terkurung didalam rumah besi tersebut.

Apakah perbuatan begini dapat dibenarkan?

Beberapa saat kemudian, Lie Hong Kiauw bahkan mengeluarkan kipas bambunya.

Dan dengan kipas itu ia mulai me-ngipasi asap lilin ke dalam lubang pernapasan, dan Thio Sin Houw tak dapat bersabar lagi, Dengan berdiri tegak ia berkata menegur.

"Hong cici! Apakah kau sangat berdendam terhadap kedua kakak seperguruannya itu? Tak dapatkah kau mencari jalan damai lain lagi?"

"Tidakl"

Jawab Lie Hong Kiauw dengan suara tawar.

"Apakah gurumu memberi perintah kepadamu, agar kau membersihkan rumah perguruanmu?"

Thio Sin Houw menegas.

"Belum sampai begitu jauh, hanya mirip saja."

Sahut Lie Hong Kiauw acuh tak acuh.

"Tapi ... tapi ..."

Kata Thio Sin Houw terputus-putus. Tak tahulah ia bagaimana hendak menyatakan perasaan hatinya, sedangkan Lie Hong Kiauw mendongak mengawasi lalu berkata dengan suara tawar dingin.

"Kenapa kau jadi begitu bingung?"

"Jika kedua kakak seperguruanmu itu mempunyai kedosaan yang sangat besar, biarlah kali ini diberi kesempatan agar mereka dapat merobah sepak-terjang mereka yang telah lampau untuk menebus dosa-dosanya."

Ujar Thio Sin Houw dengan suara setengah memohon.

"Ya!"

Sahut Lie Hong Kiauw.

"Guruku pun pernah berkata begitu,"

Ia berdiam sejenak, lalu berkata lagi.

"Sayang sekali, guruku kini sudah berada di alam baka, Jika beliau masih hidup, pasti beliau merasa cocok dengan cara berpikirmu."

Sedang mulutnya berkata demikian, tangannya tetap mengipasi asap lilin yang makin lama makin banyak masuk ke dalam lobang, Thio Sin Houw menggaruk-garuk kepalanya dengan menuding lilin berasap itu ia berkata.

"Bukankah asap beracun itu dapat membunuh manusia?"

"Oh! Kalau begitu, hatimu yang mulia ini menyangka aku hendak mengambil jiwa mereka?"

Seru ide Hong Kiauw dengan tersenyum.

Wajah muka Thio Sin Houw lantas saja menjadi merah, sebab oleh jawaban itu Lie Hong Kiauw hendak meyakinkan kepada Thio Sin Houw, bahwa ia tidak bermaksud hendak membunuh kakak seperguruannya.

Maka Sin Houw jadi merasa malu sendiri.

Lie Hong Kiauw sendiri tidak menghiraukan keadaan hati Thio Sin Houw -dengan kukunya ia menggores lilinnya sambil berkata.

"Adikku Sin Houw! Tolonglah kau menggantikan aku, tetapi hati-hati jangan sampai lilin ini padam. Kau boleh memadamkan lilin ini, apabila apinya sudah membakar sampai digoresan ini!"

Segera ia menyerahkan kipas bambunya kepada Thio Sin Houw, dan kemudian bangkit berdiri sambil menebarkan penglihatannya ke sekitar rumah aneh itu serta memasang telinga.

Tanpa berkata sepatah katapun lagi, Thio Sin Houw lantas saja melakukan perintahnya tadi.

Apabila keadaan disekitar rumah aneh itu tetap sunyi senyap dan tiada terjadi sesuatu diluar perhitungannya, Lie Hong Kiauw lantas duduk di atas sebuah batu besar dekat Thio Sin Houw.

"Orang berkuda yang menghancurkan kebun bungaku, adalahKim Cin Nio, puterinya Kim Sun Bo."

Kata ide Hong Kiauw tiba-tiba.

"Aneh!"

Thio Sin Houw berseru heran.

"Bukankah yang melakukannya bukan seorang laki-laki?"

"Apakah seorang perempuan tidak bisa menyamar sebagai laki-laki?"

Sahut Lie Hong Kiauw membalas pertanyaan Thio Sin Houw dengan pertanyaan pula. Thio Sin Houw tergugu sejenak lalu minta keterangan.

"Apakah diapun berada dalam rumah ini?"

"Benar,"

Jawab Lie Hong Kiauw dengan tertawa lebar.

"Apa yang kita lakukan sekarang ini, justru untuk menolong dia. Kita harus merobohkan kedua kakak seperguruanku terlebih dahulu, agar mereka berdua tidak menghalangi pekerjaanku ini."

Sekali lagi Thio Sin Houw berseru tertahan. Didalam hati ia berkata.

"Benar-benar diluar dugaanku semua perbuatannya, ia membakar lilin yang samar akan tetapi ia tidak bermaksud membunuh orang, sebaliknya malah menolong. Sepakterjangnya ini yang sukar diduga. Hanya setan dan iblis yang bisa menebaknya!"

"Sebenarnya jie-suheng dan sam-sucie mempunyai seorang musuh bernama Ang Sin Kong."

Ujar Lie Hong Kiauw.

"Ang Sin Kong sudah berada di tempat ini kira-kira setengah tahun yang lalu, akan tetapi masih belum mampu ia menerjang rumahnya jie-suheng yang istimewa ini. itulah disebabkan karena pohon rumput Cin-siu cay yang sangat mengandung racun. Di dunia ini tak ada orang yang mampu melawan racun dahsyatnya, hanya bunga biru itulah satusatunya pemunah racun rumput Cin-siu cay. Mula-mula jie-suheng dan sam-suci tidak mengetahui khasiat bunga biruku, akan tetapi begitu kuberikan kepadamu berdua, mereka lantas tersadar. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya mereka berdua, begitu menyaksikan kalian dapat melawan pohon-pohon beracunnya,"

"Benar!"

Thio Sin Houw memotong.

"Tatkala aku dan Cie toako datang ke mari, lapat-lapat aku mendengar suara mereka, kaget berbareng gusar dari dalam rumah ini."

Lie Hong Kiauw mengangguk dan ber kata meneruskan.

"Seperti kataku tadi, racun Cin-siu cay sebenarnya tak dapat dipunahkan oleh ramuan pemunah yang terdapat di dunia ini, sebaliknya orang bisa kebal terhadap racunnya, apabila sering makan buahnya. Untunglah, meskipun besar bahayanya, tanda-tanda Cin-siu cay sebenarnya mudah sekali dikenali. Jika pohon itu tumbuh di suatu tempat, disekitarnya dalam jarak sepuluh atau duapuluh meter tiada terdapat seekor semut atau sebatang rumputpun."

"Benar katamu!"

Kata Thio Sin Houw.

"Tadinya aku heran sekali melihat disekitar rumah ini, sama sekali tiada terdapat tetumbuhan apapun juga. Akh, jika aku tidak kau berikan bunga birumu itu ..."

Berkata sampai disitu, Thio Sin Houw bergidik dengan sendiri-nya, karena teringat pengalamannya yang seram bersama Cie Siang Gie.

"Bunga biru itu baru saja berhasil aku tanam."

Lie Hong Kiauw memberi keterangan.

"Aku merasa syukur terhadap kalian berdua, yang bisa menghargai jerih payahku, Mengapa tidak kau lemparkan saja ditengah jalan?"

"Bunga itu sangat indah!"

Sahut Thio Sin Houw.

"Hemm ... karena indah, maka kau tidak membuangnya, bukan?"

Lie Hong Kiauw menegas. Thio Sin Houw tergugu, ia mendeham beberapa kali, karena tak tahu bagaimana harus menjawabnya, Berkata didalam hati.

"Benar, Jika bunga itu tidak indah, barangkali tak sudi aku menyimpan nya didalam saku. Dengan begitu yang menolong aku berdua Cie toako sesungguhnya adalah keindahannya."

Selagi ia mendengarkan kata hatinya sendiri, angin mendadak meniup keras, sehingga memadamkan nyala lilin. Thio Sin Houw terperanjat bukan main sampai setengah berteriak.

"Hai! Bagaimana ini?"

"Sudahlah! Kira-kira sudah cukup! ..."

Kata Lie Hong Kiauw menghibur.

Hati Thio Sin Houw tercekat mendengar suara Lie Hong Kiauw agak kurang senang, ia jadi malu sendiri karena segala yang diminta Lie Hong Kiauw berakhir dengan kejadiankejadian yang tidak memuaskan hati.

Maka segera ia berdiri dengan membungkuk penuh sesal.

Katanya.

"Maaf, Hong cici. Entah sudah berapa kali aku meminta maaf kepadamu. Entah kenapa, malam ini pikiranku menjadi kalut begini ..."

Lie Hong Kiauw tidak menyahut. Karena itu Thio Sin Houw meneruskan.

"Aku tadi sedang berpikir, tiba-tiba angin kencang meniup. Tatkala kau menghadiahi aku bunga biru itu, sama sekali tak kuketahui bahwa bunga itu menolong jiwaku. Meskipun demikian aku tetap menyimpannya, karena aku pikir segala hadiah dari seseorang itu harus dan wajib disimpan dengan sebaik-baiknya."

Sekali lagi Lie Hong Kiauw membungkam mulut, ia hanya mendengus beberapa kali, Dan hati Thio Sin Houw jadi pedih. Beberapa saat kemudian, ia mencoba berkata lagi.

"Belum lagi umurku mencapai sepuluh tahun, aku sudah tiada berayah bunda lagi, jarang sekali orang menghadiahkan sesuatu kepadaku ..."

"Akupun begitu,"

Tiba-tiba Lie Hong Kiauw memotong.

"Akan tetapi semua orang dewasa di dunia ini berasal dari bocah yang belum pandai beringus. Lambat-laun, seseorang akan bisa menjadi dewasa..."

Sambil berkata demikian ia turun dari batu.

ia menyerahkan lilinnya kembali dan mencari sebuah batu, Kemudian ditutupkan ke lubang pernapasan rumah aneh itu, dan dengan menghela napas ia berkata memerintah.

"Hayooolah!"

Ia mendahului berjalan dan Thio Sin Houw mengikukt dengan membungkam mulut.

Anak itu tak berani lagi mengumbar pikirannya yang ternyata selalu salah.

Sebab ternyata tatkala mereka tiba-di rumah Kim Sun Bo suami isteri, si tukang besi "Kiang susiok"

Itu sedang duduk diatas tanah.

"Kiang susiok! Tolong sekarang buka kembali semua!"

Perintah Lie Hong Kiauw sambil menunjuk bagian rumah yang tadi dipateri.

Tanpa berkata sepatah katapun juga, tukang besi itu segera mengambil alat-alatnya.

Lalu melakukan perintah Lie Hong Kiauw dengan sungguh-sungguh.

Kira-kira seperempat jam kemudian, semua pateri tadi selesai dibuka kembali.

"Sekarang bongkarlah pintunya susiok!"

Perintah Lie Hong Kiauw.

Kiang susiok itu segera bekerja, setelah mengetuk-ngetuk beberapa kali, ia kemudian menyentak dengan palunya Dan dengan suara berkerontangan, sepotong papan besi jatuh kebawah dan berbukalah sebuah pintu yang tingginya enam kaki dan lebarnya tiga kaki.

Thio Sin Houw heran menyaksikan cara kerja tukang besi itu, ia benar-benar paham akan pekerjaannya, perlengkapan rumah dikenalnya dengan baik -dengan cekatan ia menarik sebuah tombol yang ada dibalik pintu, lalu muncullah sepasang tangga kecil.

"Sekarang buang lah semua bunga biru""

Perintah Lie Hong Kiauw, ia mendahului melaksanakan perintahnya -mendadak menoleh yang segera diikuti oleh "Kiang susiok dan Thio Sin Houw, Tatkala hendak mendaki tangga penghubung, ia menebarkan penciumannya.

Mendadak menoleh kepada Thio Sin Houw dan berkata.

"Adik, didalam sakumu masih tersimpan bunga biru pemberianku jangan kau bawa masuk."

"Akh!"

Seru Ohio Sin Houw heran sambil menggerayangi sakunya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kain dan dibukanya. Katanya lagi.

"Penciumanmu benar-benar tajaml Meskipun didalam bungkusan, masih saja tercium olehmu ..."

Thio Sin Houw membungkus bunga biru tersebut dalam saputangan pemberian Ciu Sin Lan..

Bunga itu ternyata telah layu.

Dengan hati-hati ia menaruhnya di luar pintu.

Melihat cara menaruh dan menyimpan, terharu hati Lie Hong Kiauw, Benar benar Thio Sin Houw menghargai bunga pemberiannya.

Tadi ia tidak yakin akan kejujuran bocah ini, akan tetapi kini hatinya menjadi girang dan bersyukur, ia berpaling menatap wajah Thio Sin Houw dan memberi hadiah senyum, Kemudian katanya.

"Adik yang baik, kau benar tidak berdusta."

Thio Sin Houw tak mengerti, apa sebab Lie Hong Kiauw berkata demikian. serunya tersinggung.

"Dusta? Kenapa aku berdusta kepadamu ?"

Lie Hong Kiauw tidak menjawab. ia melangkahkan kakinya ke ambang pintu sambil berkata.

"Mereka yang berada didalam tak tahan terhadap bunga biruku, karena mereka biasa makan buah pohon Cin-siu cay."

Setelah berkata demikian ia meneruskan perjalanan memasuki rumah aneh itu, dengan merribawa lenteranya.

Thio Sin Houw dan Kiang susiok segera mengikuti dibelakang.

Tiba dikaki tangga terakhir mereka berada di sebuah terowongan yang sangat sempit.

setelah membiluk dua kali, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan kecil berdinding penuh lukisan dan perabut rumah tangga dari bambu, Menyaksikan hal itu diam-diam Thio Sin Houw heran didalam hatinya.

Sama sekali diluar dugaan, bahwa Kim Sun Bo dan isterinya yang nampaknya begitu kasar mempunyai perasaan halus sampai dapat menghiasi rumahnya dengan lukisan lukisan serta perabot meja kursi yang sedap dipandang mata.

Lie Hong Kiauw berjalan tanpa membuka mulut, beberapa saat kemudian mereka bertiga tiba dibagian dapur, Dan apa yang terjadi didapur itu sangat mengejutkan Thio Sin Houw.

Kim yun Bo dan Kim Popo nampak menggeletak di atas lantai.

Mereka berdua tidak berkutik, entah mati entah masih hidup.

Akan tetapi, bukan keadaan mereka itulah yang mengherankan Thio Sin Houw, ia tahu, mereka roboh akibat racun bunga Pek-hu cuhwa, Apa yang mengherankan hatinya adalah, ia melihat seorang dewasa berada didalam sebuah kuali besar, sedang air di dalam kuali itu nampak mengepulkan uap walaupun belum mendidih, akan tetapi sudah pasti panas sekali.

Melihat hal itu secara naluriah Thio Sin Houw mempercepat langkahnya, ia bergegas mendahulup Lie Hong Kiauw yang berjalan didepannya, Maksudnya sudah terang hendak menolong orang itu, yang tersiksa digodbk dalam kuali.

Dia menduga bahwa orang itu terjatuh dalam kuali tatkala pingsan, akibat asap beracun kembang Pek-hu cu-hwa memasuki lubang pernapasan.

"Hei, kau mau kemana?"

Tegur Lie Hong Kiauw sambil menarik lengan baju Thio Sin Houw.

Baca Juga: Pusaka Pedang Embun 5

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert