Tokoh Besar 1

Eps 1 Tokoh Besar - Khu Lung

Baca online Tokoh Besar - Khu Lung

Cersil Tokoh Besar - Khu Lung.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ .

Tokoh Besar Oleh.

Gu long Disadur.

Gan K.H.

Bagian 1 Tangan pemuda itu menggenggam gagang golok, benang sutra yang menghias gagang golok melambai ditiup angin.

Benang sutra merah.

Semerah cahaya mentari yang baru keluar dari peraduannya.

Golok tajam mengkilap itu memancarkan cahaya kemilau ditingkah cahaya mentari, pemuda itu bercucuran keringat di bawah terik matahari.

Keringat membasahi sekujur pakaian sutra hitam yang membelit tubuhnya.

Empat orang musuh mengepungnya, ia tahu betapa menakutkan keempat musuh yang mengepungnya, sudah beberapa kilas pikirannya untuk menjatuhkan senjata, menyerah tanpa perlawanan, menghentikan pertikaian.

Tapi dia tidak berbuat demikian.

Karena dia pantang menghina, merendahkan arti benang sutra merah yang menghiasi gagang goloknya.

Tidak boleh merendahkan lambang kebesaran orang yang mengikat benang sutra merah di gagang goloknya itu.

Ikatan benang sutra merah itu melambangkan perjuangan yang tidak kenal kalah, umpama harus mati sekalipun pantang menyerah.

Benang sutra merah mendukung keberanian pemegang golok untuk menghadapi tantangan, menghadapi musuh tanpa mengenal arti kalah.

Maka ia mengayun golok disertai lolong panjang yang membakar amarahnya, menerjang ke depan.

Benang sutra merah menari-nari, timbul tenggelam, warnanya yang menyolok lebih cemerlang dibanding cahaya golok yang kemilau.

Cepat sekali kupingnya mendengar suara golok menebas badan orang, tulang patah dan darah muncrat.

Orang di depannya itu roboh dengan bola mata melotot bundar, yang dipandang adalah bayangan benang sutra yang lebih menyolok dari warna merah darahnya sendiri.

Sampai ajal orang ini tidak sadar bahwa dirinya mati bukan oleh tabasan golok, bukan mati di tangan pemuda yang menyerangnya dengan ganas.

Tapi mampus karena benang sutra merah yang mengagumkan, lambang keberanian yang memudarkan keberanian lawan mengadu jiwa di arena pertempuran.

* * * * * Gadis itu setengah rebah di kursi malas rotan, kerlingan matanya lebih lembut dibanding cahaya bintang yang bertaburan di angkasa.

Ia menarik tangannya, merasa berat melepasnya pergi.

Sapu tangan yang terikat di pergelangan tangannya melambai dihembus angin malam.

Sapu tangan merah, semerah jantung pujaan hatinya.

Malam sudah larut, sudah saatnya ia berangkat.

Sejak tadi mestinya ia sudah berangkat.

Tapi ia bertahan di tempat.

Sebab ia merasa dirinya tak boleh merendahkan arti yang luhur dari sapu tangan merah yang terikat di pergelangan tangan, sepanjang ia mengikat sapu tangan merah di tangannya, ia tanggung tiada seorang gadis pun yang memujanya dibuat kecewa.

Sapu tangan sutra merah melambangkan keberanian, kejantanan, juga melambangkan rasa simpatik, gejolak hati yang menyala, ibarat bara yang berkobar.

Pelan-pelan akhirnya ia mendekat dan berbisik di pinggir telinganya.

Bisikan yang mengasyikan, lebih menyentuh dibanding usapan angin sepoi di musim semi.

Tapi matanya tetap melenggong mengawasi sapu tangan merah di pergelangan tangannya.

Entah kenapa perasaan yang sudah menyala bergejolak mendadak sirna, padam, lenyap seketika, karena mendadak disadarinya yang ia puja yang menjadi tumpuan hati selama ini bukan si 'dia' tapi adalah lambang yang menjadi bayangan dari sapu tangan sutra merah itu sendiri.

Entah berapa banyak gadis remaja, dalam impian sekalipun selalu muncul bayangan si 'dia'.

Siapa lagi kalau bukan Cin Ko.

* * * * * Setelah mandi menyisir rambut, ia merapikan kuku-kuku jarinya dengan pisau kecil, lalu mengenakan pakaian yang baru, sutra hitam plirit emas, hati-hati dan sangat rapi ia ikat selendang sutra merah di pinggangnya.

Bahwasanya ia tidak suka pakaian sutra warna hitam, tidak senang memakai selendang sutra warna merah, tapi ia dipaksa dan terpaksa mengenakan itu semua, karena menolak atau tidak mau mengenakan kesukaan publik, menandakan dirinya tiada keberanian, tidak simpatik terhadap harapan orang banyak.

Sejak peristiwa tragedi Hou-khiu, pabrik kain atau pertenunan di Kanglam dipaksa untuk mewarnai seluruh hasil produknya dengan warna merah menyala, sebab kalangan muda yang suka mengenakan hasil produk mereka menghendaki, sapu tangan, selendang atau ikat pinggang yang mereka pakai harus warna merah.

Pemuda yang tidak mengenakan selendang, sapu tangan atau syal di badannya, dia tidak berani keluar rumah.

Sekarang pakaian serba merah bukan saja mode bagi kaum muda, tapi juga menjalar kepada kaum tua, laki atau perempuan, tanpa warna merah rasanya tidak ngetren, warna merah akan membuat mereka merasa dirinya lebih muda, kelihatan muda, yang pasti tidak ketinggalan jaman.

Bagi pemuda romantis, mereka mengikat benang sutra di pergelangan tangan, selendang sutra di pinggang.

Pemuda gagah dan pemberani menghias gagang golok, pedang atau senjata apapun yang digunakan dengan hiasan serba merah akan menambah wibawa dan membangkitkan keberanian mereka.

Pemuda-pemuda kampungan malah mengikat sapu tangan merah di kepala.

Tapi belum pernah ada orang mengenakan syal, atau sapu tangan di lehernya, tidak ada orang yang berani.

Karena Cin Ko mengenakan hiasan syal merahnya di leher.

Siapa berani mengenakan syal atau sapu tangan di leher, umpama Cin Ko tidak perduli, orang lain akan menebas atau memotong syal atau sapu tangan merahmu, yang pasti leher pemakainya juga ikut terpenggal.

Siapapun boleh meniru Cin Ko, mengagungkan dan memujanya, tapi pantang melanggar kebesaran atau wibawanya.

Umpama Cin Ko sedang menikmati suasana padang bulan di atas jembatan, orang lain yang ingin ikut menikmati suasana yang romantis itu pun harus menikmatinya di bawah jembatan.

Cin Ko adalah Cin Ko, selamanya hanya satu, besok tidak ada yang lain, kelak tiada, sepanjang jaman hanya ada satu.

Sejak tragedi Hou-khiu, Cin Ko adalah simbol kebesaran seorang pendekar, seorang gagah yang menjadi pujaan kaum muda, terutama kaum putri yang sedang mekar, cewek-cewek yang lagi kasmaran akan cinta.

* * * * * Dan yang pasti Cin Ko adalah tokoh besar pujaan Dian Susi.

Dian Susi duduk menggelendot di atas kursi malas yang beralaskan kulit rase berbulu tebal dan halus.

Hembusan angin membawa bau wangi bunga teratai, tangannya memegang sebuah mangkok putih mulus terbuat dari batu giok (jade), dalam mangkok masih tersisa sop biji teratai yang dimasak dengan salju.

Salju yang dikirim dari Kwan-gwa dengan kuda cepat sejauh delapan ratus li.

Sebetulnya Kim-siu-san-ceng mempunyai simpanan salju di gudang bawah tanah, tapi Dian Susi lebih suka salju yang dikirim dari Kwan-gwa.

Tiada alasan lain, hanya karena dia anggap salju Kwan-gwa lebih dingin dan rasanya sedap.

Jikalau Dian Susi bilang bulan itu persegi, tiada orang yang berani mengatakan bundar.

Apapun yang disukai oleh nona Dian, perduli apapun yang ingin dia lakukan takkan ada orang berani menentang.

Bukan lantaran dia putri tunggal Dian Sek, Dian jiya yang dijuluki Tionggoan Bing Siang yang kenamaan, tapi karena dia seorang nona yang manis.

Bukan saja perawakannya semampai dengan gerak-gerik gemulai, lemah lembut dan sopan santun, tutur katanya pun manis, terutama kalau tertawa manis sekali, begitu manisnya sampai tiada orang yang tidak suka atau tega menolak permintaannya.

Yang dibuat sayang oleh khalayak ramai adalah, jarang sekali mereka bisa melihat apa lagi berhadapan, berjumpa dengan nona Dian yang manis ini.

Tiap tahun di perayaan Cap-go-meh di waktu Dian jiya melepas kembang api, baru dia muncul sebentar di hadapan orang banyak, kecuali itu, sepanjang tahun ia mengeram diri di kamarnya, tidak pernah keluar pintu, siapapun jangan harap bisa melihat wajahnya yang molek.

Dian jiya dijuluki Tionggoan Bing Siang, sudah pasti bukan tokoh yang kikir, umpama sekali mengulap tangan dia harus merogoh kantong sebanyak seribu tail uang emas, dia tidak pernah mengerutkan kening, tapi sekali-kali tidak akan mengizinkan siapa saja mendekati putrinya.

Putri tunggal yang satu ini dipandang jauh lebih berharga dari segala harta benda yang dimilikinya.

* * * * * Sop biji teratai itu sudah tidak dingin lagi, Dian Susi menghirup seteguk, lalu dia angsurkan cawan kepada pelayannya Dian Sim.

Dian Sim adalah pelayan pribadinya, juga teman pelipur lara yang setia, teman satu-satunya.

Tanpa Dian Sim, entah betapa dia akan kesepian.

Saat mana Dian Sim sedang duduk di atas kursi kecil di depannya, kepala menunduk sedang menyulam.

Dian Susi tiba-tiba merebut kain sulamannya itu, katanya dengan nada aleman.

"Kenapa selalu tunduk kepala menyulam saja? Memangnya siapa yang sedang kau bikinkan sarung bantal untuk pesalin?"

Dian Sim tertawa, katanya sambil mengelus pinggangnya yang pegal.

"Kalau tidak menyulam memang harus kerja apa?"

"Temani aku ngobrol."

"Setiap hari ngobrol, obrolan apa pula yang menarik?"

"Coba kau bercerita saja."

Setiap hari sepanjang tahun Kim-siu-san-ceng didatangi tamu dari berbagai penjuru dunia yang tak terhitung banyaknya, dari mulut para tamu ini Dian Sim mendengar banyak cerita yang menegangkan, mengerikan dan mengasyikkan, lalu dia ceritakan pula kepada nona majikannya.

"Tamu-tamu yang datang beberapa hari ini semuanya telur busuk, tiada yang pintar bercerita, semuanya repot mengisi perut melulu, seperti orang kelaparan yang takut kehabisan hidangan."

"Kalau begitu, lekas kau ceritakan pertempuran di Hou-khiu itu sekali lagi."

"Cerita yang itu aku sudah lupa."

"Sudah lupa? Cerita itu sudah tujuh delapan kali kau ceritakan, kenapa mendadak lupa?"

"Nah, kalau sudah kuceritakan delapan kali, tentunya kau sendiri belum lupa. Kenapa kau ingin mendengarnya lagi? Aku sendiri sudah bosan."

Merah muka Dian Susi, diraihnya sebatang jarum sambil berjingkrak hendak menjahit mulut budak kurang ajar ini. Dian Sim cekikikan sambil berkelit, akhirnya dia mohon ampun, katanya.

"Baiklah Siocia, baik, kau ingin dengar, biarlah kuceritakan. Asal Siocia senang hati, meski harus mengulang cerita seratus kali juga boleh."

Baru sekarang Dian Susi menghentikan tangannya, katanya sambil melotot.

"Lekas ceritakan, kalau tidak biar kujahit mulut jahilmu."

Dian Sim duduk pula di atas kursi kecil itu, menegakkan pinggang, sengaja batuk-batuk beberapa kali serta tarik suara, lalu mulai bercerita dengan kalem.

"Pertempuran Hou-khiu merupakan peristiwa menggemparkan yang mengangkat nama Cin Ko Cin-siauhiap. Selama tujuh puluh tahun mendatang, belum pernah terjadi pertempuran sehebat ini di kalangan Kangouw. Tiada pertempuran lain yang lebih banyak mengalirkan darah daripada pertempuran di Hou-khiu itu."

Cerita ini memang sudah berulang kali dia kisahkan, maka seperti guru sekolah yang tengah menghafal pelajaran di hadapan murid-muridnya, sudah hafal di luar kepala, umpama tertidur dia pun bisa menceritakan dengan lengkap tanpa ada yang ketinggalan.

Tapi Dian Susi seolah-olah baru pertama kali ini mendengar kisah cerita ini, biji matanya memancarkan sinar terang.

Tutur Dian Sim.

"Hari itu tanggal lima bulan lima, hari raya Toan-ngo, setiap tahun pada hari-hari ini, Kanglam Chit-hou (tujuh harimau dari Kanglam) berkumpul di Hou-khiu, Tujuh Harimau itu bukan binatang baik-baik, bukan saja mencaplok orang, sampai tulang-tulangnya pun dia telan seluruhnya."

"Kalau begitu, orang lain tentu amat takut kepada mereka?"

Sela Dian Susi.

"Sudah tentu jeri, malah takutnya bukan main. Meski banyak orang yang ingin jadi pahlawan pembunuh harimau, tahu bahwa hari itu mereka berada di Hou-khiu, tapi tiada seorang pun yang berani meluruk ke sana. Tapi suatu hari pada lima tahun yang lalu..."

"Hari itu kenapa?"

"Hari itu waktu Tujuh Harimau naik ke atas gunung, di tengah jalan bertemu seorang anak perempuan yang cantik jelita, begitu melihat gadis ayu, Tujuh Harimau seperti anjing kelaparan yang melihat sekerat daging, tanpa perduli tujuh kali tiga dua puluh satu, beramai-ramai mereka menggondolnya naik ke atas."

"Apakah mereka tidak tahu siapa gadis itu?"

"Waktu itu mereka tidak tahu bahwa gadis ayu ini adalah pujaan hati Cin Ko, umpama tahu, mereka pun tidak takut, siapapun tiada yang mereka takuti, karena selama ini tiada pernah orang mengganggu dan cari penyakit kepada mereka."

"Tapi kali ini mereka benar-benar kebentur batunya."

"Waktu itu Cin Ko belum ternama, siapapun tak mengira dia punya nyali sebesar itu. Waktu itu dia bilang hendak naik ke gunung menggebuk harimau, banyak orang kira dia cuma membual belaka, siapa tahu dia benar-benar meluruk ke atas gunung."

"Dia pergi seorang diri?"

"Ya, seorang diri, dengan membekal senjata seorang diri dia naik ke Hou-khiu, walau dia berhasil melukai dua dari Tujuh Harimau itu, tapi dia sendiri juga tertusuk seratus delapan kali."

"Tertusuk golok sebanyak seratus delapan kali?"

"Ya, tepat seratus delapan kali, karena, menurut aturan para harimau itu, bila mereka menawan seseorang, tidak akan segera dibunuhnya, tapi ditusuk dulu seratus delapan kali, baru membiarkannya mati pelan-pelan."

Dian Susi menghela nafas, ujarnya.

"Mungkin jarang ada orang di dunia ini yang kuat bertahan setelah tertusuk seratus delapan kali."

"Bukan saja jarang, boleh dikata malah tiada. Tapi Cin Ko dengan kertak gigi turun gunung, karena dia tidak mau mati, dia ingin menuntut balas."

"Masih berani menuntut balas?"

"Badannya seperti otot kawat tulang besi, nyalinya sekeras baja juga, semua orang kira setelah beruntung bisa lolos dan turun gunung, setiap kali mendengar orang membicarakan harimau akan ketakutan setengah mati,"

Sampai di sini Dian Sim menghela nafas, tuturnya lebih lanjut.

"Siapa tahu tahun kedua dia meluruk ke Hou-khiu pula, dia tantang Tujuh Harimau itu pula. Kali ini dia bikin empat di antara Tujuh Harimau itu terluka parah."

"Dia sendiri bagaimana?"

"Kembali dia tertusuk seratus delapan kali, kali ini para harimau itu menusuk lebih keras, tapi dia toh masih kuat bertahan, kabarnya menurut orang yang belakangan melihatnya, tiada sejengkal kulit daging di badannya yang utuh, darah yang mengalir cukup membuat batu-batu gunung menjadi merah seluruhnya."

"Kenapa harimau-harimau itu tidak membunuhnya saja?"

"Karena mereka menepati aturannya sendiri, kalau mereka sudah menusuk seratus delapan kali, maka tidak boleh lebih tidak boleh kurang, setiap tusukan harus sama-sama berat atau ringan, selamanya belum pernah terpikir oleh mereka setelah terluka seratus delapan kali tusukan masih kuat bertahan hidup, masih berani datang menuntut balas lagi."

"Tapi Cin Ko kuat bertahan tusukan dua ratus enam belas bacokan."

"Dia kuat bertahan dari bacokan tiga ratus dua puluh empat golok."

"Kenapa?"

"Karena tahun ketiga dia meluruk datang pula, kembali terbacok seratus delapan kali. Cuma kali ini dia berhasil melukai lima di antara Tujuh Harimau itu."

"Menghadapi orang sekuat ini, memangnya mereka tidak jeri? Kenapa masih dibiarkan hidup?"

"Karena mereka sendiri serba susah, peristiwa ini sudah menggemparkan Kangouw, bukan sedikit orang-orang yang khusus datang ke Hou-khiu menonton keramaian."

"Oleh karena itu mereka tidak akan menusuk seratus tujuh kali untuk membinasakan Cin Ko, soalnya tusukan ke seratus delapan itu tidak boleh lebih keras dari tusukan pertama."

"Benar, orang-orang macam mereka, betapapun tidak sudi jual muka dan dibikin malu di hadapan sekian banyak kaum persilatan, kalau tidak siapa lagi yang takut terhadap mereka?"

"Tapi lima di antara mereka sudah terluka, kenapa orang lain tidak bereskan mereka sekalian untuk menghilangkan bencana?"

"Karena semua orang tahu, betapa derita siksa lahir batin Cin Ko, tiada orang tega membuatnya gagal dan kecewa setelah dia berkorban begitu rupa, semua mengharap dia berhasil membunuh Tujuh Harimau itu dengan tangannya sendiri. Dan lagi semua orang tahu, tusukan tiga ratus dua puluh empat itu merupakan tusukan terakhir."

Sampai di sini biji mata Dian Sim sendiri bersinar terang, katanya lebih lanjut.

"Oleh karena itu, begitu tusukan terakhir yang menentukan ini, ternyata Cin Ko belum ajal, seluruh penonton bersorak gegap gempita."

"Apakah Tujuh Harimau itu tidak tahu bila itu merupakan tusukan terakhir?"

"Tentu mereka cukup tahu, oleh karena itu tahun ketiga tidak sedikit orang-orang undangannya, itulah sebabnya orang banyak tidak turun tangan."

"Lalu tahun keempat?"

"Tahun keempat lebih banyak mereka mengundang bala bantuan, tapi kawan-kawan mereka sendiri pun dibikin kagum terhadap Cin Ko. Waktu Cin Ko turun tangan, tiada satu pun yang tampil membantu mereka. Setelah Cin Ko berhasil membunuh harimau yang terakhir seluruh pelosok Hou-khiu-san serasa hureg oleh tepuk tangan dan sorak sorai para penonton yang tidak terhitung banyaknya, konon suaranya terdengar sepuluh li jauhnya."

Dian Susi mendelong mengawasi asap dupa yang mengepul dari perabuan, seolah-olah asap dupa itu berubah menjadi seorang pada baju hitam yang mengenakan sapu tangan merah di lehernya sesuai apa yang pernah didengarnya menurut gambaran yang tersiar di luar.

"Sampai pada waktu itu,"

Tutur Dian Sim.

"barulah tersimpul senyuman manis di muka Cin Ko, tawa yang bangga, bangga akan kemenangan, namun amat getir dan berat juga, karena pujaan hatinya telah gugur, takkan melihat kemenangan gilang gemilang hari itu,"

Sampai di sini Dian Sim menghela nafas, katanya pula.

"Sejak hari itu, 'Manusia besi' Cin Ko tersiar luas di seluruh penjuru dunia."

"Sungguh tokoh besar yang luar biasa,"

Kata Dian Susi gegetun.

"Orang seberani dia, laki-laki sedalam itu cinta kasihnya, sulit dicari keduanya dalam dunia ini."

Dian Susi tiba-tiba berjingkrak bangun, menangkap tangan Dian Sim sambil berkata.

"Oleh karena itu aku harus kawin sama dia."

Raut mukanya bersemu merah, kelihatan begitu teguh, haru dan jelita. Dian Sim seketika cekikikan, katanya.

"Lagi-lagi mau kawin sama dia? Memangnya kau hendak kawin dengan berapa laki-laki?"

Lalu dengan bersungut menyambung.

"Pertama kau bilang mau kawin dengan Gak Hoan-san, lalu kau mau kawin dengan Liu Hong-kut, sekarang bilang hendak kawin dengan Cin Ko, memangnya siapa yang hendak kau kawini?"

"Siapa lebih baik, kepadanya aku akan kawin."

"Kalau ketiganya sama-sama baik, punya kepintaran, ada kelebihannya masing-masing? Memangnya kau hendak kawin dengan tiga orang laki-laki?"

Tiba-tiba Dian Susi seperti tidak mendengar ocehannya, sekian lama dia melamun, tiba-tiba menarik tangannya pula, katanya berbisik.

"Lekas kau ngeloyor keluar diam-diam, belikan aku beberapa perangkat pakaian laki-laki, mau tidak?"

Sekilas Dian Sim melenggong, tanyanya.

"Siocia, untuk apa beli pakaian laki-laki?"

Kembali Dian Susi terpekur sekian lama, katanya pelan-pelan.

"Kabarnya kalau perempuan mau keluar pintu harus menyaru jadi laki-laki supaya tidak digoda orang."

Terbelalak mata Dian Sim, tanyanya tidak percaya.

"Siocia ingin keluar?"

Dian Susi manggut-manggut, katanya.

"Aku ingin keluar, menyaksikan orang macam apa sebenarnya ketiga orang ini."

Dian Sim kebingungan, katanya tergagap.

"Siocia, kau berkelakar bukan?"

"Siapa berkelakar? Lekas belikan pakaian!"

Bukan saja tak bisa tertawa, Dian Sim hampir menangis malah, katanya bersungut.

"Siocia yang baik, kau ampunilah aku, kalau Loya tahu, kedua kakiku pasti dihajar sampai buntung."

"Kalau kau tidak dengar perintahku, biar sekarang kubuat buntung kedua kakimu."

Demikian ancamnya, tiba-tiba dia tertawa serta mencubit pipi Dian Sim, tambahnya.

"Apa lagi usiamu tidak kecil lagi, memangnya kau tidak suka keluar mencari suami yang baik?"

Tanpa hiraukan rasa malu Dian Sim berjingkrak senang, serunya sambil menarik lengan Siocianya.

"Kau mau ajak aku?"

"Tak usah cerewet, lekas pergi, asal kau tidak banyak bicara Loya masa tahu. Setelah kami pulang membawa menantu yang setimpal, beliau pasti kegirangan."

Dian Susi sibuk merias diri di depan kaca, jubah hijau pupus, syal hijau pupus berkembang, badannya tegak semampai, melihat bayangan dirinya di dalam kaca dia merasa puas.

Ingin dia menarik muka berpura-pura marah, tak tertahan malah tertawa terpingkal-pingkal, lalu terbayang olehnya sesuatu, tiba-tiba dia putar badan membuka kedua tangan, katanya menyeringai.

"Hayolah pujaanku, biar kupeluk kau dulu untuk kucium."

Dian Sim menjerit keras, bagai dikejar setan dia berlari sipat kuping. Tapi dengan mudah Dian Susi menyandaknya, sekali raih dia peluk pinggang orang, katanya.

"Kau tidak sudi ya?"

"Umpama mau berciuman juga tidak seperti tampangmu sekarang."

"Lalu harus bagaimana?"

"Tampangmu yang garang dan main paksa begini tentu bikin anak perempuan kaget ketakutan,"

Kata Dian Sim melerok.

"sikapmu harus mesra, menarik tangan mengelus rambut serta merayunya dengan kata-kata manis, gerakkan dulu sanubari, supaya orang jatuh ke dalam pelukanmu sendiri."

Kembali Dian Susi terpingkal-pingkal memegang perut saking geli, katanya.

"Kata-kata yang cabul bagi kaum perempuan, masakah laki-laki berani mengatakan?"

"Nah, kau memang bodoh, justru kata-kata yang cabul anak perempuan malah suka mendengarkan, semakin cabul semakin baik."

"Baik, sekarang ingin kutanya kau."

"Tanya apa?"

"Mulutmu yang mungil kecil ini pernah dicium orang belum?"

Dian Sim lari ke ranjang dan susupkan kepalanya ke dalam selimut,"

Serunya sambil tutupi kedua telinganya.

"Memalukan, ucapan yang memalukan masakah berani kau ucapkan."

Muka Dian Susi sendiri juga merah, katanya sayu.

"Orang lain yang sebaya aku, entah sudah berapa kali pernah melakukan adegan hot, memangnya kenapa kalau kukatakan?"

"Mendengar ucapanmu, orang lain takkan percaya bahwa kau ini gadis pingitan yang tidak pernah keluar pintu,"

Kata Dian Sim menggeleng-geleng.

"tapi memang salah Loya, kenapa sampai sekarang belum mencarikan jodoh? Kalau kau sudah kawin, tentu tidak banyak pikirkan adegan-adegan cabul seperti itu."

Dian Susi kipatkan tangannya, katanya menarik muka.

"Setan cilik, tidak keruan ya kau bicara."

Melihat nonanya marah, dengan aleman Dian Sim maju menghampiri serta katanya unjuk tawa lucu.

"Barusan aku dengar sebuah kabar, Siocia ingin dengar tidak?"

"Aku tidak mau dengar!"

"Sebetulnya kabar gembira dan berita hangat, tapi kalau Siocia tidak mau dengar, aku pun tak mau sembarang bicara."

"Tidak sembarang bicara apa?"

Sentak Dian Susi.

"Mana keberanianmu?"

"Memangnya orang yang jadi budak nyalinya kecil."

Dian Susi tidak tega dan kasihan, katanya memeluknya.

"Hayo katakan, kalau tidak biar kucium bibirmu yang kecil ini."

Karena dipeluk Dian Sim sudah terpingkal-pingkal kehabisan nafas dan suara, katanya meratap.

"Siocia yang baik, ampun, lepaskan, biar kukatakan, kukatakan..."

Setelah nafasnya tenang, baru dia berkata bisik-bisik.

"Kabarnya Loya ada maksud menjodohkan kau dengan putra sulung Nyo samya."

Seketika tegang hati Dian Susi, tanyanya.

"Nyo samya yang mana?"

"Sudah tentu Nyo samya dari Toa-bing-hu itu."

Dian Susi melenggong sekian lama, tiba-tiba berkata.

"Lekas bereskan barang-barang, malam nanti kita berangkat."

"Buat apa tergesa-gesa?"

"Kabarnya putra sulung Nyo samya itu mahluk aneh, sejak kecil menetap di kelenteng Hwesio, hwesio-hwesio tua dalam kelenteng bilang dia dilahirkan oleh mahluk aneh dari langit, orang seperti itu masakah bisa kulayani?"

"Biarlah aku saja yang membereskan barang-barang ini, pergilah kau menyewa kereta besar, suruh tunggu di belakang pintu kecil di taman belakang itu,"

Demikian Dian Susi menambahkan.

"Buat apa menyewa kereta? Bukankah naik kuda lebih cepat?"

"Paling sedikit aku akan membawa enam tujuh peti besar, kalau tidak pakai kereta mana bisa kubawa?"

"Tujuh peti besar?"

Seru Dian Sim terkesima.

"Siocia, barang-barang apa yang hendak kau bawa?"

"Banyak sekali, umpamanya, kotak perhiasan, kotak bahan-bahan kosmetik, baskom buat cuci muka, kaca, selimut, bantal guling, kau kan tahu selamanya aku tidak pernah pakai barang-barang orang lain, lebih baik kau bawa juga sumpit yang biasa kugunakan, serta mangkok cangkir dan handuknya, eh jangan lupa pedupaan, papan catur, kau bungkus jadi satu."

Dian Sim mendengarkan dengan mendelong, serunya.

"Siocia, apa kau hendak membawa pesalin? Suami belum lagi kau dapat, pesalin sudah dibawa, apa tidak terlalu pagi?"

Barang apa saja yang ingin dibawanya, umpama kau menggunakan alasan apapun dia tetap anggap kentut.

Begitulah dengan membawa segala perabot dan keperluan pribadinya, Dian toasiocia beserta pelayannya Dian Sim menempuh perjalanannya.

Inilah perjalanan pertama kali keluar pintu menuju ke tempat jauh selama hidupnya.

Tujuan mereka adalah Kanglam.

Karena tiga tokoh pujaan hatinya semua berada di Kanglam.

Tapi tempat macam apa sebenarnya Kanglam itu?

Berapa jauh dari rumahnya?

Sepanjang jalan bakal lewat tempat-tempat mana?

Bakal bertemu dengan orang-orang macam apa?

Orang baik atau orang jahat?

Apa pula yang akan dilakukan terhadap mereka?

Mungkin mereka bakal ketemu bahaya?

Apakah bisa tiba di Kanglam dengan selamat?

Umpama benar mereka bisa tiba di Kanglam, apakah bisa menemukan tiga tokoh besar yang dipujanya itu?

Lalu bagaimana sikap mereka terhadap dirinya?

Semua persoalan ini tidak pernah dipikirkan oleh Dian toasiocia.

Seolah-olah asal dia naik kereta memejamkan mata, waktu dia membuka mata pula, dirinya sudah tiba di Kanglam dengan selamat.

Ketiga tokoh besar yang dipujanya itu berdiri berjajar menyambut kedatangannya.

Dia kira berkecimpung di Kangouw seaman dan sebebas dia jalan-jalan di dalam taman kembang di rumahnya, dia kira orang-orang Kangouw seperti juga orang-orang yang berada di rumahnya, semua mematuhi segala permintaannya.

Coba anda bayangkan, perempuan pingkan dengan pikiran jenaka seperti ini, tanpa pengalaman dan pengawal sedikit pun berkelana di Kangouw?

Bukankah amat berbahaya?

Jikalau benar bisa tiba di Kanglam dengan selamat, sungguh merupakan peristiwa aneh bin ajaib.

* * * * * Perasaan Dian Susi saat itu laksana burung kenari yang terkurung dalam kurungan selama puluhan tahun, kini lepas bebas, terbang ke mana dia suka, semakin jauh dia meninggalkan kurungan lebih baik.

Cuaca sudah gelap, putri malam mulai menongolkan kepala dari peraduannya, bertengger di tengah cakrawala.

"Coba kau lihat, betapa indahnya rembulan ini?"

Ujar Dian Susi.

"Rembulan di Kanglam bukan mustahil lebih terang dan bundar dibanding disini."

"Apakah rembulan di Kanglam berbeda dengan rembulan di sini?"

Tanya Dian Sim.

"Ah, kau ini memang tidak tahu seni,"

Omel Dian Susi sambil melerok, tiba-tiba dia berjingkrak bangun sambil mengerutkan kening, keluhnya.

"Celaka, celaka dua belas."

Dian Sim menjadi tegang, tanyanya.

"Apanya yang celaka?"

Merah muka Dian Susi, katanya berbisik di pinggir telinga.

"Tadi aku minum terlalu banyak, sekarang kebelet sekali."

Geli dan tidak enak tertawa Dian Sim dibuatnya, katanya dengan menggigit bibir "Lalu bagaimana baiknya? Masakah di atas kereta..."

"Aku masih lupa juga, seharusnya kita bawa pispot."

Sungguh tidak tertahan lagi, Dian Sim ngakak meliuk pinggang.

"Apanya yang dibuat geli,"

Omel Dian Susi.

"memangnya kau tidak pernah kebelet?"

Sudah tentu Dian Sim pernah kebelet, dan rasanya memang sukar dibayangkan. Katanya berbisik.

"Malam sudah gelap, di jalan tiada orang, terpaksa suruh kusir menghentikan kereta, boleh kau lepas hajat di dalam hutan..."

"Plak!"

Dengan ringan Dian Susi menampar mulutnya, sentaknya.

"Setan cilik, kalau ada orang datang..."

"Tidak menjadi soal, aku boleh berjaga di luar."

"Tidak mau, bagaimana juga tidak mau."

"Kalau tidak mau, ya apa boleh buat, terpaksa kau tahan saja."

Karena menahan diri, muka Dian Susi sampai merah padam.

Lebih baik kalau kau melupakan kebelet kencing atau mau buang air besar, kalau dipikir malah semakin mendesak.

Tak tertahan lagi, akhirnya Dian Susi berteriak.

"Hai kusir kereta, hentikan keretamu!"

Dian Sim tertawa menutup mulut.

"Agaknya ada kalanya Dian toasiocia mengubah tekadnya."

Dengan gemas Dian Susi melotot kepadanya, katanya.

"Kebetulan aku ada pesan kepada kusir kereta."

"Ada pesan apa?"

Dian Susi geleng-geleng, gumamnya.

"Betapapun memang masih kecil, kerjanya ceroboh tidak seteliti orang dewasa."

Begitu kereta berhenti segera ia lompat turun, katanya keras.

"Kusir, kemarilah, aku ada omongan."

Dengan malas-malasan kusir kereta lompat turun, seperti orang kurang tidur datang menghampiri, sikapnya acuh tak acuh seperti orang linglung.

Dian Susi merasa amat puas, sepak terjangnya kali ini amat dirahasiakan, sudah tentu lebih baik kalau kusir kereta ini seorang linglung atau pikun, karena orang linglung biasanya jarang membocorkan rahasia orang lain.

Tapi dia masih belum lega, dia ingin tanya sendiri dan membuktikan.

Karena Dian Susi memang gadis cerdik yang pandai menggunakan otak dan bekerja teliti dan cermat.

Oleh karena itu dia bertanya.

"Kau kenal kami tidak? Tahukah kau siapa kami?"

Kusir kereta mendelong, sahutnya.

"Tidak kenal, tidak tahu."

"Tahukah kau dari mana kami barusan masuk ke sini?"

"Aku toh bukan orang pikun kenapa tidak tahu?"

Dian Susi jadi tegang, tanyanya menegas.

"Kau tahu?"

"Tentunya keluar dari pintu."

Dian Susi menghela nafas lega, tanyanya pula.

"Tahukah kau dari pintu rumah siapa?"

"Tidak tahu."

"Tahukah kau ke mana tujuan kami?"

"Tidak tahu."

Berputar biji mata Dian Susi, tanyanya pula.

"Menurut pandanganmu, kami ini perempuan atau laki-laki?"

Kusir tertawa, menunjukan sebaris giginya yang kuning, katanya.

"Kalau kalian perempuan, bukankah aku jadi babi betina?"

Dian Susi tertawa, dia amat puas dan senang, katanya.

"Kita hendak jalan-jalan ke tempat sekitar ini, kau tunggu kami di sini, jangan pergi."

"Sewa kereta belum kalian bayar, gorok leherku juga aku tidak mau pergi."

"Benar, tinggal pergi tidak akan dibayar, kalau menunggu kau akan mendapat upah."

Kusir kereta keluarkan pipa cangklong, terus duduk di tanah mengisap pipanya.

Sekarang Dian Susi lega benar-benar, seketika rasa kebeletnya tidak tertahan lagi.

Dengan menarik Dian Sim mereka terus menyusup ke dalam hutan.

Dalam hutan tidak begitu gelap, tapi kenyataan bayangan setan pun tidak kelihatan.

Kata Dian Sim lirih.

"Di sini sajalah, tiada orang mengawasi kereta, jangan pergi terlalu jauh."

"Tidak, jangan di sini, kusir kereta itu seorang linglung, tidak usah dibuat kuatir."

Setelah menemukan tempat yang paling gelap, baru Dian Susi berbisik.

"Kau perhatikan, begitu ada orang datang, kau harus berteriak."

Dian Sim tidak bicara, dia cuma cekikikan dengan tertahan.

"Setan kecil, apa yang ditertawakan! Memangnya kau tidak pernah lihat orang kencing?"

"Bukan soal kencing yang kutertawakan, memang di sini tiada orang tapi kalau ada ular..."

Seketika Dian Susi melompat berdiri dengan muka pucat, ingin dia cari apa-apa untuk menyumbat mulut pelayannya yang bawel ini.

Begitulah dengan bersenda gurau mereka ribut setengah harian di dalam hutan tanpa memperhatikan suara ringkik kuda dan suara menggelindingnya roda kereta.

Setelah mereka keluar dari hutan dan tiba di jalan raya, seketika mereka berdiri melongo dan saling berpandangan.

Kiranya kusir kereta bersama kereta tunggangan mereka yang berisi penuh bekal mereka telah lenyap tak berbekas.

Lama mereka menjublek di tempat, akhirnya Dian Sim menghela nafas, ujarnya.

"Kita anggap dia sebagai orang linglung, sebaliknya dia justru anggap kita ini orang-orang pikun."

Dian Susi kertak gigi, mukanya pucat dan beringas gusar saking dongkol.

"Bagaimana kita selanjutnya?"

Tanya Dian Sim.

"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pulang,"

Ujar Dian Susi tegas, tiba-tiba dia bertanya.

"Kau bawa tidak kantong perhiasanku?"

Dian Sim manggut-manggut seraya menarik buntalan dari belakang punggungnya. Katanya menggumam.

"Maklum anak kecil, kerjanya tidak seteliti orang besar." * * * * * Fajar menyingsing. Ayam jantan berkokok bersahutan, demikian juga perut mereka berkokok menagih makanan. Untunglah tidak lama mereka berjalan di tengah pagi berkabut ini, di kejauhan sana terlihat sebuah tembok kota, semakin dekat lambat laun orang-orang desa yang mundar-mandir ke arah kota pun semakin banyak. Di dalam kota tentu banyak rumah makan, di rumah makan sudah tentu terdapat orang-orang dari berbagai kalangan, sudah tentu tidak sedikit di antara mereka adalah bajingan dan penipu. Mie daging yang mereka pesan berada di dalam sebuah mangkok raksasa, yang luar biasa adalah mie buatan kota kecil ini lebarnya seperti pisau, kuahnya berminyak menguning, sekerat daging yang terhidang kira-kira ada setengah kati beratnya. Makan minum di tempat seperti ini yang diutamakan adalah perut kenyang harga murah, perduli bagaimana rasanya, hakikatnya tiada orang yang memperdulikannya. Apalagi hidangan mie daging seperti itu, biasanya nona besar dari keluarga hartawan jangan menyentuhnya dengan sumpit, melirik pun segan, tapi luar biasa hari ini, mungkin karena kelaparan, mie daging sebanyak itu diganyangnya hampir habis separo, malah daging sebesar itu disikatnya sampai bersih. Dian Sim tertawa sambil menarik lengannya, katanya.

"Mangkok dan sumpit ini sudah biasa dipakai laki-laki busuk, kenapa kau pun berani memakainya?"

Dian Susi tercengang, katanya tertawa.

"Aku sudah lupa, kiranya bila seorang perutnya berontak, persoalan apapun boleh dia lupakan."

Waktu dia meletakkan sumpitnya, baru dia sadar, seluruh hadirin dalam rumah makan sedang mengawasi mereka dengan pandangan mendelong, seolah-olah mereka ini dua makhluk aneh.

Diam-diam Dian Susi meraba mukanya, tanyanya berbisik."

Apa mukaku kotor?"

"Tidak."

"Kenapa orang-orang itu mengawasiku?"

Dian Sim tertawa, sahutnya.

"Mereka sedang pikir-pikir untuk mencari menantu bagi putrinya."

Sejak datang sebelah tangannya memegangi buntalannya itu, sampai pun waktu makan pegangan tangannya tidak dilepaskan. Dian Susi tiba-tiba sadar, katanya.

"Lepaskan tanganmu, letakkan buntalanmu di atas meja."

"Kenapa?"

"Berada di luar harus selalu ingat harta jangan dipamerkan dihadapan umum, dengan caramu memegangi kantong itu, orang akan tahu bila di dalam buntalan ini ada disimpan barang berharga, bukan mustahil akan menjadi perhatian mereka untuk mencurinya. Kalau kau pura-pura tidak ambil perhatian, orang lain pun anggap biasa."

Dian Sim tertawa sambil menyeka mulutnya.

"Tak kira Siocia seorang kawakan Kangouw."

"Siapa itu Siocia?"

Sentak Dian Susi melotot.

"Ya, ya, Siauya."

Baru saja Dian Sim letakkan buntalannya di atas meja, maka dilihatnya seseorang beranjak menghampiri, sapanya sambil bersoja.

"Selamat pagi saudara-saudara."

Tampang orang ini tidak gagah, malah kepalanya menyerupai musang, bermata sipit seperti mata tikus, selintas pandang dapat diketahui pasti bukan laki-laki baik.

Sebetulnya Dian Susi tidak ingin perdulikan orang, tapi untuk menunjukkan sikap dirinya sebagai seorang berpengalaman di Kangouw, lekas dia berdiri membalas soja, sahutnya.

"Selamat pagi."

Tanpa sungkan orang itu langsung duduk semeja, katanya.

"Agaknya kalian baru pertama kali datang ke tempat ini?"

Dian Susi menjawab tawar.

"Sudah beberapa kali, tempat mana saja dalam kota ini cukup kuketahui seluk beluknya."

"Kalau Heng-tai (saudara) sering keluyuran di luar, tentunya sudah kenal baik dengan Tio-lotoa Tio toako."

Dari nada bicaranya seolah-olah Tio toako adalah pentolan yang berkuasa di kota kecil ini. Jikalau tidak kenal orang seperti itu, pasti bukan kawakan Kangouw.

"Kenal baik sih tidak,"

Sahut Dian Susi.

"cuma pernah beberapa kali makan bersama."

Orang itu lantas tertawa berseri, katanya.

"Kalau begitu kita sama-sama orang sendiri. Cayhe Thi Ke-po, kenalan baik Tio lotoa."

Tiba-tiba dia rendahkan suaranya menyambung.

"Karena sesama orang sendiri, terpaksa aku bicara secara blak-blakan."

"Silahkan berkata,"

Dian Sim kalem-kalem saja.

"Tempat ini amat kalut, orang-orang jahat macam apapun ada, kalau buntalan kalian ini ada menyimpan barang berharga, lebih baik dijaga hati-hati."

Baru saja Dian Sim hendak meraih buntalannya, Dian Susi segera melotot kepadanya, katanya tawar.

"Dalam buntalan ini cuma ada beberapa perangkat pakaian saja, tidak perlu diperhatikan."

Thi Ke-po tertawa-tawa, pelan-pelan dia berbangkit, katanya.

"Cayhe bermaksud baik, kalian..."

Sekonyong-konyong dia rain buntalan itu terus lari sipat kuping.

Dian Susi tertawa dingin, dari kepandaian lari orang, umpama dia biarkan orang lari lebih dulu sejauh lima puluh kaki, dia tetap dapat menyandaknya.

Kiranya nona besar gadis pingitan ini bukan putri hartawan yang lemah dihembus angin.

Suatu ketika di lapangan latihan silat di Kim-sui san-ceng, dalam tiga lima gebrak beruntun dia pernah jatuhkan beberapa Piauthau yang datang dari kota raja.

Menurut pujian Piauthau yang dikalahkan itu, kepandaian silat Dian siocia, sudah boleh terhitung setaraf dengan jago kelas satu di Bulim, Giok Lan-hoa pendekar perempuan yang kenamaan di Kanglam pun belum tentu mengungkulinya.

Sayang sekali belum sempat gadis pingitan ini mendemontrasikan kepandaiannya, sebelum Thi Ke-po lari keluar pintu, tahu-tahu dicegat laki-laki besar kekar yang gagah dan kereng dengan muka codet bekas bacokan golok.

Sekali ulur tangan beruntun dia persen beberapa kali gamparan keras ke muka Thi Ke-po, bentaknya dengan bengis.

"Keparat yang tidak tahu malu, hayo lekas kembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya."

Bukan saja tidak berani membalas, bercuit pun Thi Ke-po tidak berani, dengan mengelus pipinya yang bengap sambil menunduk dia putar balik mengembalikan buntalan itu.

Laki-laki besar itu pun maju menghampiri, katanya bersoja."

Aku she Tio, dia ini adalah anak buahku, beberapa hari ini sedang kantong kempes, sehingga berani melakukan perbuatan yang memalukan.

Kalian hendak menghajar atau memaki dan menghukum dengan cara apapun, silahkan lakukan."

Terasa oleh Dian Susi, bukan saja laki-laki ini punya keadilan, sikapnya pun jantan, katanya tertawa lebar.

"Terima kasih akan bantuan kawan ini, barangku toh tidak hilang, anggap saja tiada kejadian apa-apa."

Maka melotot laki-laki itu kepada Thi Ke-po, bentaknya.

"Kalau demikian, tidak lekas kau ucapkan terima kasih kepada budi luhur kedua Kongcu ini."

Dian Susi tiba-tiba menyela.

"Saudara she Tio, apakah Tio toako adanya?"

"Ya, memang aku adanya, maaf aku kurang hormat."

"Sudah lama mendengar nama besar Tio toako, silahkan duduk."

Tio lotoa ulapkan tangan, katanya.

"Rekening masakan di meja ini hitung atas namaku."

"Ah, mana boleh, biar aku saja yang traktir,"

Lekas Dian Susi berseru, lalu diraihnya buntalan itu serta merogoh uang untuk membayar rekening masakan, tapi yang dia rogoh adalah sekeping batu jade hijau pupus mainan hiasan kepala yang ditaburi berlian -memangnya apa yang tersimpan dalam buntalan ini tiada uang perak.

Mata Tio lotoa mendelong, tiba-tiba dia pun menekan suara, katanya.

"Barang seperti ini tak boleh dikeluarkan untuk membayar, kalau saudara perlu memakai uang boleh aku ajak kau ke pegadaian, tanggung nilainya setimpal."

Tengah Dian Susi ragu-ragu, tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki pertengahan umur berjubah panjang menyoreng pedang melangkah masuk, langsung melotot kepada Tio lotoa, katanya kereng.

"Topak Lo-liok (tua keenam si muka codet), kau sedang jual lagak memakai namaku main tipu lagi kepada orang?"

Tio lotoa di hadapan mereka tersipu-sipu berdiri, sahutnya sambil munduk-munduk.

"Hamba tidak berani, Tio toaya, kau baik-baik saja..."

Belum habis kata-katanya, bagai dikejar setan dia ngacir pontang-panting.

Dian Susi melongo, belum lagi dia paham duduknya persoalan, laki-laki pertengahan umur yang menyoreng pedang sudah menghampiri dan bersoja, katanya.

"Cayhe she Tio, bernama Lo-tat, berkat junjungan orang-orang dalam kota ini, sudi memanggilku Lo-toa, sebetulnya aku tidak setimpal dengan sebutan ini,"

Baru sekarang Dian Susi paham, kiranya laki-laki berpedang inilah Tio lotoa yang tulen, yang tadi hanyalah palsu belaka. Berkata pula Tio lotoa.

"Topak Lo-liok adalah penipu yang kenamaan dalam kota, sering meminjam namaku menipu orang-orang luar daerah, tentunya kalian hampir ditipunya barusan."

Merah muka Dian Susi, katanya.

"Tapi waktu buntalanku tadi direbut orang, memang dia yang memintanya kembali."

Tio lotoa tertawa, katanya.

"Thi Ke-po sekongkol sama dia, sengaja bermain sandiwara supaya kalian percaya kepadanya, supaya leluasa turun tangan,"

Sambil tertawa dia menambahkan.

"Sebetulnya siapa-pun akan tahu, sorot mata kalian begini tajam, tentunya membekal kepandaian silat yang tidak lemah, dengan kepandaian Thi Ke-po berdua yang tidak becus itu, memangnya bisa lolos dari tangan kalian?"

Dian Susi menghela nafas, katanya.

"Sekali peristiwa menambah satu pengalaman."

Mau tidak mau hatinya jadi senang, tanyanya.

"Apa benar kau tahu aku bisa main silat?"

Tio lotoa tertawa, ujarnya.

"Bukan saja pandai main silat, malah kosen lagi, cayhe ada maksud berkenalan dengan kawan-kawan setimpal, kalau tidak buat apa aku mencampuri tetek bengek ini."

Senang hati Dian Susi, katanya.

"Silahkan duduk."

"Di sini terlalu gaduh,"

Ujar Tio lotoa.

"Bagaimana kalau kalian ikut aku pulang, ngobrol di rumahku saja?"

Tempat tinggal Tio lotoa terletak di dalam sebuah pekarangan besar yang banyak dihuni orang banyak dengan petak-petak kamar yang cukup sederhana, dua di antara kamar-kamar itu menjadi tempat tidur dan ruang tamu, perabotnya amat bersahaja, sehingga kelihatannya amat menyolok dengan pakaiannya yang begitu mewah.

Namun bagi Dian Susi bukan saja tidak merasa heran, malah dia anggap suatu keharusan dan jamak.

Laki-laki sebatangkara macam Tio lotoa, umpama punya uang banyak, dia akan merogoh kantong dengan royal untuk berkenalan dengan orang-orang Kangouw umumnya, sudah tentu tidak akan menyimpan uang untuk keperluan hidupnya sendiri.

Berkata Tio lotoa.

"Kalau kalian tiada keperluan penting, sukalah menetap di sini beberapa hari, biar kuundang teman-teman baikku di kota untuk diperkenalkan kepada kalian."

Dian Susi kegirangan, katanya.

"Bagus sekali, Siau-te menempuh perjalanan memang ingin berkenalan dengan orang banyak."

"Cuma, apakah tidak terlalu merepotkan Tio toaya?"

Sela Dian Sim. Dian Susi melotot, katanya.

"Ah, berhadapan dengan Tio toako, tidak perlu sungkan segala."

Tio lotoa bertepuk, serunya tertawa.

"Betul, saudara memang laki-laki yang gagah dan berjiwa besar, memang harus demikian baru terhitung saudaraku."

Pujian ini sungguh membuat Dian Susi tertawa lebar, hati girang bukan main.

Kalau Tio lotoa si bajingan tengik sudah banyak pengalaman ini tidak tahu akan rahasia orang yang menyaru jadi laki-laki, siapa lagi yang akan tahu bila mereka berdua sebetulnya adalah cewek-cewek jelita?

Namun hal ini tidak disadarinya sama sekali, diam-diam Dian Susi malah merasa bangga akan penyamarannya yang berhasil mengelabui orang.

Berkata pula Tio lotoa.

"Saudara, jikalau memerlukan apa-apa, boleh terus terang kepada Toako. Oh, ya, aku lupa mengambil uang untuk kalian pakai."

"Tidak usahlah,"

Tukas Dian Susi.

"aku masih punya perhiasan..."

Merah mukanya, segera dia menambahkan.

"Perhiasan milik adikku, bisa ditukar dengan uang."

Berkata Tio lotoa dengan muka sungguh-sungguh.

"Ah kenapa saudara begini sungkan. Biar sekarang aku cari uang sambil membeli arak, nanti kita boleh makan minum sepuasnya."

Tanpa menunggu jawaban Dian Susi terus melangkah keluar, tapi tiba-tiba dia putar balik sambil keluarkan sebuah kunci membuka sebuah almari di samping ranjang, katanya.

"Barang-barang berharga sebaiknya disimpan dalam almari saja. Betapapun kita harus berhati-hati."

Setelah mengunci buntalan perhiasan di dalam almari, kuncinya dia serahkan kepada Dian Susi, katanya pula.

"Bekerja harus hati-hati, nah kuserahkan kunci ini kepadamu."

Dian Susi menjadi rikuh, dari samping Dian Sim ulur tangannya menerima kunci itu. Setelah Tio lotoa keluar dan tak kelihatan lagi, Dian Sim tak tahan lagi, katanya berbisik.

"Kukira Tio lotoa yang ini pun bukan orang baik-baik, entah apa sebenarnya yang sedang dia lakukan?"

"Ah, kau memang terlalu banyak curiga, orang begitu baik menerima kita menginap di rumahnya, pergi cari uang lagi, kemana kau akan mencari orang sebaik ini."

"Tapi buntalan kita..."

"Bukankah terkunci di dalam almari? Kuncinya berada di tanganmu, apa pula yang kau kuatirkan?"

Dengan bersungut-sungut Dian Sim tidak bicara lagi.

Dian Susi tidak menghiraukan dirinya lagi, dengan menggendong tangan dia melangkah keluar ke pekarangan, baru sekarang dia melihat jelas keadaan pekarangan besar ini, kiranya dihuni oleh puluhan keluarga yang serba miskin, pakaian yang terjemur berderet di pojokan sana tiada satu pun yang baru dan terbuat dari bahan kain kualitas baik.

Puluhan keluarga itu mempunyai cara hidup yang berlainan dan tingkat hidup yang berlainan pula, mata pencaharian mereka pun berbeda, ada keluarga akrobatik, ada tukang nyanyi yang cari sedekah dari rumah ke rumah, ada pula yang kerjanya menitik batu, anak-anak kecil yang beringus sedang bermain tanah liat.

Seorang nyonya muda yang hamil besar tengah membuat api, kedua matanya sudah merah dan mencucurkan air mata kena asap api, dalam waktu dekat anaknya pasti akan lahir.

Dia bekerja begitu rajin dan sang mertua masih ngomel panjang pendek, katanya dia malas, tapi dia toh merogoh sapu tangan menyeka keringat dan air matanya yang bercucuran.

Terasa penuh diliputi kehangatan hidup dalam sanubari Dian Susi.

Baru sekarang dia benar-benar merasakan kehidupan manusia yang nyata.

Belum pernah dia berdekatan dengan kehidupan manusia.

"Kalau orang hanya terkurung di dalam pagar tembok, mengawasi mega pergi datang, melihat kembang mekar dan berguguran, umpama dia menikmati kesenangan hidup serba kecukupan, tak ubahnya hidup laksana burung kenari yang terkurung dalam sangkar."

Dian Susi menghela nafas, dia gegetun dan gemas kenapa tidak sejak dulu memberanikan diri keluar dari sangkar?

Dia bertekad harus pegang kesempatan kali ini baik-baik, menikmati kehidupan masyarakat ramai yang nyata.

Bagian 2 Api sudah menyala, di atas tungku nasi sudah hampir matang.

Hari sudah lohor, semua pekerjaan sementara dihentikan, suasana jadi ramai dengan suara mangkok piring.

Dian Sim ikut keluar, katanya.

"Kenapa Tio lotoa belum datang juga? Mungkin sudah minggat."

"Dia tidak menipu sepeser pun uang kita, kenapa harus minggat?"

Dengan jengkel Dian Sim lantas berlari masuk lagi ke dalam rumah. Di saat Dian Susi mengawasi orang-orang di dalam pekarangan dengan hati kurang tentram, tiba-tiba Dian Sim memburu keluar dari dalam.

"Celaka, celaka..."

Keadaannya seperti anjing yang terbakar api ekornya, sambil membanting-banting kaki.

"Ada apa bikin ribut, apa kau juga kebelet? Tuh, di sana ada WC."

"Bukan... bukan... buntalan kita itu..."

"Bukankah buntalan terkunci dalam almari?"

"Tiada lagi, almari itu kosong."

"Bohong, aku sendiri yang taruh buntalan itu di dalam."

"Tapi sekarang sudah lenyap, barusan aku merasa kuatir, waktu almari kubuka..."

Dian Susi menjadi gugup, lekas dia lari ke dalam, memang almari sudah kosong, buntalan mereka sudah terbang tanpa sayap. Kata Dian Sim.

"Ternyata almari ini tembus kedinding yang berlubang, tentu Tio lotoa merogohnya dari luar dinding. Aku sudah duga dia bukan manusia baik-baik."

Dengan membanting kaki Dian Susi segera memburu keluar. Semua orang sedang sibuk makan di dalam rumah, tinggal beberapa orang laki-laki yang menitik batu tadi sedang sibuk cuci muka di pinggir perigi.

"Mana Tio lotoa?"

Tanya Dian Susi begitu memburu dekat ke arah mereka.

"Tahukah kalian di mana dia sekarang?"

Orang-orang itu saling pandang, kata salah seorang.

"Siapa Tio lotoa? Kami tidak kenal dia?"

"Laki-laki yang tinggal di rumah sebelah sana itu, kalian kan tetangga, masakah tiada yang kenal?"

Orang itu menerangkan.

"Sudah setengah bulan kamar itu kosong, tadi pagi baru ada orang datang, hanya membayar setengah bulan uang sewa, kami belum tahu siapa dia sebenarnya?"

Keruan Dian Susi dan Dian Sim melongo. Tiba-tiba terdengar seseorang menyeletuk.

"Barusan kudengar ada orang tanya Tio toako, siapa yang ada perlu sama dia?"

Orang ini baru masuk dari luar, tangannya menjinjing cemeti, agaknya dia seorang kusir kereta.

"Akulah yang cari keterangannya,"

Bergegas Dian Susi menyongsong maju.

"kau kenal dia?"

"Sudah tentu kenal, tiada orang kota yang tidak mengenalnya."

"Bisa kau bawa kami menemui dia?"

Tanya Dian Susi girang. Orang itu mengamat-amati mereka berdua dengan seksama, tanyanya.

"Kalian adalah..."

"Kami adalah teman baiknya."

Orang itu tertawa, katanya.

"Kalau teman Tio toaya, hayolah, naik keretaku, kuantar kalian ke tempatnya."

Kereta berkuda itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang hampir bobrok, kusir kereta segera berkata.

"Tio toako sedang temani seorang tamu yang datang dari kabupaten, aku masih punya urusan, silahkan kalian masuk saja."

Tak sempat mengucap terima kasih Dian Susi segera menerjang masuk ke dalam rumah, dia kuatir Tio lotoa bakal merat lagi sebelum bertemu dirinya.

Biasanya belum pernah gadis pingitan ini marah begitu rupa, dalam hati dia sudah menyumpah-nyumpah, begitu berhadapan dengan Tio lotoa dia hendak menghajarnya sampai setengah mati.

Memang di dalam rumah ada dua orang sedang berhadapan minum arak, seorang bermuka kuning pucat seperti habis sakit dan kurang darah, laki-laki yang di depannya sebaliknya bertubuh kereng bersemangat dengan daging dan otot-otot badannya menonjol, mukanya kuning terbakar panasnya matahari, berjambang bauk lebat lagi.

Begitu dekat Dian Susi lantas berteriak.

"Tio lotoa di mana? Lekas suruh dia keluar temui aku."

Laki-laki muka pucat kuning melirik ke arahnya, tanyanya.

"Untuk apa kau cari Tio lotoa?"

"Sudah tentu ada urusan, urusan yang amat penting."

Orang itu angkat cangkir menghabiskan araknya, katanya dingin.

"Ada urusan apa boleh kau bicara dengan aku, aku inilah Tio lotoa."

"Kau ini Tio lotoa?"

Dian Susi tercengang.

"Bukan kau yang kucari."

Laki-laki brewok itu gelak tawa, katanya.

"Tio lotoa hanya ada satu, dalam daerah delapan ratus li di daerah sekeliling sini tiada orang kedua. Agaknya saudara kebentur dengan Chi It-to."

"Siapa itu Chi It-to?"

"Yang kau cari bukankah laki-laki pertengahan umur berjubah panjang menyoreng pedang? Dandanannya mewah, usianya sekitar empat puluhan?"

"Ya benar, memang dia adanya."

"Nah, dia itulah Chi It-to. Harta miliknya hanya pakaian seperangkat itu saja yang peranti untuk menipu orang, maka orang memanggilnya Chi It-to."

Demikian tutur laki-laki brewok. Tio lotoa menambahkan.

"Pakaian Chi It-to hanya satu stel, tapi cara dia menipu orang dengan akal yang tak terhitung banyaknya, kukira kau tentu ditipunya bukan?"

"Dapatkah kalian bantu aku menemukan orang she Chi itu?"

Tanya Dian Susi.

"Orang itu selicin rase, sulit sekali menemukan dia. Apakah bekal dan sangumu habis ditipu olehnya?"

Merah muka Dian Susi terpaksa dia mengangguk.

"Baru pertama kali ini kalian datang ke kota ini?"

Tanya Tio lotoa. Terpaksa Dian Susi manggut-manggut pula.

"Terpaksa kalian tunggu di sini, tunggulah dengan sabar, dalam satu minggu, aku akan berusaha bantu menemukan dia."

"Merepotkan saja, sungguh kurang enak,"

Kata Dian Susi dengan muka merah.

"Tidak perlu sungkan, peribahasa ada bilang, di rumah mengandal orang tua, di luar berkat teman-teman. Kalian sudi kemari mencari aku, sudah berarti memberi muka kepadaku."

Laki-laki brewok tiba-tiba mengawasinya dari kepala sampai ke kaki, katanya dengan tertawa.

"Menurut hematku lebih baik kalau ajak dia ke tempat Ong toanio saja. Di sana semua perempuan, kan lebih leluasa."

Dian Susi menjublek, katanya.

"Semua perempuan? Wah, mana bisa? Kami... kami..."

"Memangnya kalian bukan perempuan?"

Kata laki-laki brewok tertawa besar. Merah jengah muka Dian Susi, katanya getir seperti apa boleh buat.

"Agaknya tajam benar pandangan kalian."

Tio lotoa tertawa geli, katanya.

"Bukan pandangan kami yang tajam, tapi cara dandan seperti kalian, kalau orang tidak tahu kalian ini perempuan, orang itu pasti seorang buta."

Dian Susi melongo sekian lamanya, katanya.

"Jadi orang she Chi itu juga sudah mengetahui penyamaranku ini?"

"Yang pasti Chi It-to bukan seorang buta."

Kembali terlongong sekian lamanya, tiba-tiba Dian Susi renggut topinya terus dibanting ke atas tanah, katanya tertawa dingin.

"Perempuan ya perempuan, cepat atau lambat memang orang she Chi itu harus tahu, perempuan jangan dikira boleh dipermainkan."

Sejak kini mereka kembali ke asalnya menjadi perempuan.

Oleh karena itu kesulitan yang mereka hadapi semakin banyak bertumpuk-tumpuk.

* * * * * Ong toanio sudah tentu adalah seorang perempuan.

Tapi perempuan ada banyak jenisnya, mungkin Ong toanio merupakan perempuan yang punya jenis paling istimewa.

Keistimewaannya membuat orang yang melihat dan mengalaminya merasa dirinya berada dalam mimpi.

Rumah Ong toanio terletak di lorong panjang yang sepi dan tenang, pagar temboknya tinggi menutupi sinar matahari, sepucuk pohon flamboyan tumbuh subur dengan bunganya yang merah bertaburan.

Hari sudah keliwat lohor, tapi pintu besarnya yang bercat merah itu masih tertutup rapat, tiada terdengar suara orang di dalam pintu.

Hanya melihat bentuk pintu besar ini, siapapun sudah maklum bahwa Ong toanio tentu bukan seorang perempuan sembarangan.

Dian Susi merasa di luar dugaan senangnya, tanyanya.

"Apakah Ong toanio benar-benar mau menerima kami?"

"Tidak usah kuatir, Ong toanio adalah teman lamaku yang baik."

"Dia... orang macam apa dia sebenarnya?"

"Sudah tentu martabatnya baik sekali, cuma tabiatnya rada aneh."

"Bagaimana anehnya?"

"Asal kau menurut setiap petunjuk dan kehendaknya, apapun permintaanmu pasti akan dikabulkan, tinggal di sini kau akan merasa lebih senang seperti tinggal di rumah. Tapi kalau kau berani membuat onar dan membangkang kehendaknya, kau akan kasep setelah menyesal."

Sikapnya sungguh-sungguh, seolah-olah hendak menakuti Dian Susi.

Tio lotoa mulai mengetuk pintu.

Ketukannya cukup hati-hati tidak terlalu keras, maka cukup lama mereka menunggu baru terdengar suara orang mengomel.

"Pagi-pagi sudah ribut kemari mau apa, kenapa tidak tunggu setelah hari menjadi gelap saja."

Tio lotoa segera unjuk seri tawa, katanya tertahan.

"Aku inilah, Tio lotoa."

Daun pintu segera terbuka sedikit.

Seorang nona kecil yang masih riap-riapan rambutnya menongolkan kepalanya, baru saja matanya melotot belum sempat bicara, tersipu-sipu Tio lotoa maju mendekat dan berbisik dua tiga patah ke telinganya.

Berputar biji mata nona cilik ini, dengan memicing mata dari atas ke bawah dia awasi Dian Susi berdua, akhirnya manggut-manggut, katanya.

"Baik masuklah dulu, ringankan langkahmu, nona-nona masih tidur. Kalau mereka sampai terjaga, awas Ong toanio bisa beset kulitmu."

Setelah berada di dalam, tak tertahan Dian Susi lantas berkata kepada Dian Sim dengan tertawa.

"Agaknya nona-nona di sini lebih malas dari kau, matahari sudah setinggi ini, mereka masih tidur nyenyak."

Bukan saja matanya tajam, pendengaran laki-laki brewok ternyata tajam juga, timbrungnya tertawa.

"Itu pertanda Ong toanio amat sayang terhadap mereka, kalian bisa tinggal di sini, sungguh merupakan rejeki besar."

Dian Sim kedip-kedip mata, tanyanya.

"Orang-orang apa saja yang tinggal di rumah Ong toanio?"

"Mereka adalah putri angkat Ong toanio, kemana pun putri-putri angkat Ong toanio berada, tiada orang yang berani mengganggu usik kepadanya,"

Demikian tutur laki-laki brewok. Saat mana Tio lotoa sudah beranjak keluar dengan muka berseri, katanya.

"Ong toanio sudah mengabulkan, silahkan kalian masuk menemui beliau."

Seorang nyonya pertengahan bertubuh tinggi semampai berdiri di depan pintu, meski raut mukanya dihiasi senyum, tapi sepasang matanya yang mirip mata burung hong itu kelihatan kereng berwibawa, dengan tajam dia mengawasi Dian Susi beberapa kali, katanya.

"Apakah kedua adik ini?"

"Ya, mereka inilah,"

Tio lotoa menjawab sambil membungkuk. Perempuan cantik pertengahan ini manggut-manggut, katanya.

"Memang cantik dan suci, tentu anak dari keluarga baik-baik, Toanio pasti akan menerimanya dengan senang hati."

Tio lotoa tertawa, katanya.

"Kalau budak-budak liar yang sering kelayapan di luar, mana aku berani membawanya kemari."

"Baik, biar kubawa mereka masuk, tiada urusan kalian lagi, silahkan kembali."

Tawa Tio lotoa semakin riang, sahutnya tertawa munduk-munduk.

"Baik, legalah hatiku."

Dian Susi heran, tanyanya.

"Kau tidak ikut masuk?"

"Aku sudah sampaikan keadaan kalian kepada Ong toanio, kalian menetap saja di sini, begitu ada kabar beritanya segera kuberitahu kalian kemari,"

Lalu dia ajak laki-laki brewok meninggalkan tempat itu.

Sebetulnya Dian Susi masih ingin bertanya, namun perempuan cantik itu sudah melambaikan tangan kepada mereka, sekilas Dian Susi berpikir, akhirnya dia tarik tangan Dian Sim melangkah masuk.

Pintu segera tertutup.

Di belakang pintu adalah sebuah pekarangan besar, keadaan di sini serba elok dan tenang serta nyaman, setelah menyusuri serambi panjang yang belak-belok, mereka tiba di sebuah taman kembang yang amat luas, berbagai macam kembang bertaburan mekar bersama, kicauan burung saling bersahutan, angin menghembus sepoi-sepoi membawa harum kembang yang memabukkan, dibanding Kim-siau san-ceng, kebun kembang ini kelihatannya tidak kalah permai dan indahnya.

Di dalam taman kembang yang luas ini di sana-sini dibangun bangunan-bangunan mini berloteng, pagarnya bercat merah, dindingnya hijau, kerainya terdiri dari untaian manik-manik yang setengah tersingkap, pada loteng terdekat, kelihatan beberapa gadis-gadis ayu sedang menyisiri rambut menghadap keluar taman dengan sikap malas seperti melamun.

Gadis-gadis itu cantik-cantik, pakaiannya pun mewah dan mahal, cuma setiap orang kelihatan amat letih dan kehilangan semangat, seakan-akan beberapa hari kurang tidur.

Begitu melangkah ke taman kembang, tak urung terbayang oleh Dian Susi akan kehidupan sendiri waktu berada di rumah, tak tahan dia berkata.

"Tempat ini serba bagus, cuma rasanya terlalu tenang dan sepi."

"Kau suka keramaian?"

"Kalau terlalu sepi, orang gampang melamun dan punya pikiran tidak genah, aku tidak suka melamun."

Perempuan setengah umur yang cantik ini memperkenalkan diri sebagai Bwe-ci, katanya tertawa.

"Itu lebih baik, sekarang memang serba sepi dan tenang, tapi setelah malam tiba, ramainya bukan buatan. Perduli kau suka sepi atau senang ramai, di sini kau akan hidup dengan senang dan tentram."

Dian Susi melirik ke atas loteng, katanya.

"Nona-nona itu sebaliknya seperti tidak suka keramaian."

"Mereka itu laksana kucing malam, sekarang kelihatan seperti acuh tak acuh, tidak punya semangat, tapi begitu malam tiba, mereka akan selincah naga segalak harimau, ada kalanya malah begitu ributnya sampai sukar dikuasai."

Dian Susi tertawa, katanya.

"Aku tidak takut keributan, kadang aku pun suka ribut, orang akan pusing kepalanya, kau tidak percaya boleh kau tanya dia."

Dian Sim segera menjawab dengan merengut.

"Kenapa tanya aku? Yang terang apapun aku tidak tahu, apapun aku tidak mengerti."

Waktu itu mereka melewati sebuah jembatan kecil. Tak jauh dari jembatan ini, di belakang gunung batu, di atas sebuah loteng kecil mendadak berkumandang jeritan yang menyayatkan hati.

"Aku tidak tahan lagi, sungguh tidak tahan lagi... aku tidak ingin hidup lagi, biar aku mati saja!"

Disusul menerobos keluar seorang anak perempuan yang menangis dengan rambut terurai awut-awutan dari atas loteng, pakaian sutra merah yang dipakainya sudah koyak.

Tiada orang yang menghiraukan jerit tangisnya, nona-nona yang duduk bersandar pagar dan jendela di loteng sebelah sana tiada satu pun yang tertarik atau menaruh perhatian akan kejadian di sini.

Hanya Bwe-ci yang segera menyongsong maju, perlahan-lahan dia rangkul pinggang gadis cilik itu, serta membisiki entah apa di pinggir telinganya.

Semula gadis ini sudah mencak-mencak dan meronta-ronta dengan tangisnya yang keras, tapi mendadak seperti kucing yang jinak, kepala tertunduk, pelan-pelan melangkah naik kembali ke atas loteng.

Senyum Bwe-ci tetap begitu mekar dan menggiurkan, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

"Kenapa nona cilik itu?"

Tanya Dian Susi. Bwe-ci menghela nafas, katanya.

"Sebelum datang kemari, dia pernah mengalami pukulan hidup yang amat berat, oleh karena itu sering penyakit gilanya kumat, kita sudah biasa menghadapi kebinalannya."

"Pukulan hidup apakah yang pernah dialaminya dulu?"

Tanya Dian Susi lebih lanjut.

"Aku sendiri kurang terang, tidak tega aku bertanya kepadanya, supaya hatinya tidak bertambah duka, tapi kalau tidak salah dulu dia pernah dipelet laki-laki, akhirnya ditelantarkan sehingga hidupnya sengsara."

"Laki-laki memang bukan manusia baik."

"Memang sedikit jumlah laki-laki yang baik, asal kau selalu ingat akan hal ini, kelak kau pasti tidak akan dirugikan,"

Ujar Bwe-ci. Tatkala mana mereka sudah mengitari batu-batu gunung memasuki hutan kembang. Di tengah-tengah hutan kembang sana terdapat sebuah bangunan mentereng berloteng pula.

"Ong toaci bertempat tinggal di sini, mungkin sekarang baru bangun, biar aku memberitahu kedatanganmu dulu."

Menyiak kembang dia menerobos ke sana, gerak-geriknya begitu gemulai lembut laksana bidadari di antara kelompok kembang. Sejak tadi Dian Sim diam saja, kini tiba-tiba membuka suara.

"Siocia, kita pergi saja bagaimana?"

"Pergi. Kemana?"

"Ke mana saja boleh, asal jangan tinggal di tempat seperti ini."

"Kenapa?"

"Entahlah aku punya firasat tempat ini bukan tempat tinggal yang aman."

"Dalam hal apa kau rasakan kurang aman?"

"Segalanya serba ganjil, setiap penghuni di sini seperti kurang normal, kehidupan mereka pun amat janggal, sungguh aku tidak habis mengerti, tempat macam apa sebenarnya perkampungan serba perempuan ini."

Dian Susi malah tertawa, katanya menggeleng-geleng dengan tertawa.

"Kau setan kecil ini ternyata memang banyak curiga, setelah tertipu sekali, memangnya kau anggap semua orang adalah penipu?"

Kepalanya menengadah mengawasi loteng, katanya lebih lanjut.

"Apa lagi, aku ingin melihat Ong toanio itu, kukira dia pasti perempuan yang luar biasa." * * * * * Siapapun yang berhadapan dengan Ong toanio, pasti tidak akan menganggapnya sebagai penipu. Kalau orang bilang Bwe-ci adalah perempuan genit yang cantik rupawan, bila orang melihat Ong toanio, mungkin kata-kata pujian pun tak kuasa diucapkan. Karena mungkin tiada uraian kata-kata seindah apapun yang bisa dibuat melukiskan kecantikannya, kalau mau dipaksakan paling hanya bisa memuji dengan istilah; kecantikan yang sempurna, begitu sempurna sampai tiada cacat sedikit pun. Waktu Dian Susi dibawa masuk, Ong toanio sedang sarapan pagi. Umpamanya di saat sarapan kaum perempuan malu diliputi orang luar. Tapi lain dengan Ong toanio yang satu ini. Perduli apapun yang sedang dia lakukan, setiap gerak-geriknya kelihatan begitu indah, begitu sempurna tiada sesuatu yang kelihatan ganjil dan menyolok dipandang mata. Ternyata takaran makannya cukup mengagetkan, karena dia cukup mengerti, seseorang bila ingin mempertahankan potongan badan dan kesehatan serta gairah hidupnya, maka dia harus menyerap makanan yang bergizi tinggi dan banyak mengandung vitamin, bak umpama sekuntum kembang yang sedang mekar, dia pun memerlukan air dan sinar matahari. Banyak makan namun sedikit pun tidak mempengaruhi potongan badannya, setiap liku-liku badannya begitu jelas menonjol. Sejak pertama melihat perempuan ini Dian Susi tertarik seperti disedot sukmanya. Agaknya Ong toanio pun juga tertarik kepada Dian Susi, katanya lembut dengan tersenyum.

"Kau kemarilah, duduk di sampingku, biar kupandangmu dengan jelas."

Senyum dan sorot matanya seolah-olah mengandung daya sedot dari tenaga iblis yang mempengaruhi daya pikir orang sehingga apapun yang dikatakan harus dituruti dengan patuh.

Perduli laki-laki atau perempuan takkan kuasa melawan kehendaknya.

Tanpa banyak bicara Dian Susi melangkah maju terus duduk di sebelahnya.

Sorot mata Ong toanio tidak lepas dari dada Dian Susi yang membusung tinggi, seperti dia mengawasi hidangan di depannya yang menimbulkan selera, pelan-pelan dia angsurkan sisa setengah mangkok kuah kolesom bersarang burung kepadanya, katanya lembut.

"Nah, sop sarang burung ini masih hangat, lekas kau habiskan!"

Selama hidup belum pernah Dian toasiocia menggunakan barang lain orang, jikalau sekarang dia disuruh makan sisa makanan orang lain, sungguh suatu kejadian luar biasa.

Tapi kenyataannya dia habiskan sop sarang burung itu dengan menunduk kepala.

Dian Sim melongo kaget seperti disengat kala mengawasi majikannya, hampir dia tidak percaya akan pandangan matanya sendiri.

Semakin manis senyum Ong toanio, katanya.

"Kau tidak merasa, sisa makananku kotor?"

Dian Susi geleng-geleng.

"Asal kau tidak anggap kotor, semua barang-barangku boleh kau pakai, pakaianku boleh kau kenakan, apapun yang menjadi milikku, kau boleh dapat setengah bagian."

"Terima kasih,"

Sahut Dian Susi tunduk. Ong toanio tiba-tiba tertawa pula katanya.

"Coba lihat, siapa namamu aku belum tahu, tapi sudah pandang kau sebagai temanku yang paling baik."

"Aku she Dian bernama Susi."

Sebenarnya dia sudah bertekad untuk tidak membeber namanya di hadapan orang, supaya ayahnya tidak bisa menemukan jejaknya, entah kenapa di hadapan Ong toanio, sepatah kata pun dia tidak kuasa berbohong.

"Dian Susi... bukan saja orangnya manis namanya pun manis, memang kau adik yang manis sekali."

Merah muka Dian Susi.

"Adik cilik berapa usiamu tahun ini?"

"Delapan belas."

"Nona berusia delapan belas bak umpama sekuntum bunga, tapi kembang apa dalam dunia ini yang bisa dibandingkan kau?"

Mendadak dia bertanya.

"menurut pendapatmu, berapa usiaku sekarang?"

"Aku sulit mengatakan."

"Kau boleh menerka sembarangan."

Dian Susi mengerling, katanya.

"Dua puluh... dua? Atau dua tiga?"

Ong toanio cekikikan senyaring kelinting, katanya.

"Ternyata ucapanmu amat manis, tentunya aku pernah berusia dua puluhan tahun, sayang sekali saat itu sudah berselang dua puluh tahun yang lalu."

Terbelalak kaget mata Dian Susi.

"Apa benar?... Aku tidak percaya."

"Kenapa aku menipu kau? Masakah aku tega menipumu?"

Pelan-pelan dia menghela nafas, sambungnya.

"Tahun ini aku sudah empat puluh tiga, paling tidak boleh menjadi kakakmu yang tertua, kau sudi tidak menjadi adikku?"

Dian Susi manggut-manggut, dia suka. Tapi tiba-tiba dia menggeleng-geleng, katanya.

"Tapi aku tidak percaya bila kau berusia empat puluh tiga, kukira takkan ada orang mau percaya."

"Orang lain mungkin tidak percaya, tapi aku sendiri terpaksa harus percaya. Aku bisa kelabui orang lain, tapi takkan mengelabui diriku sendiri."

Dian Susi tertunduk dengan menghela nafas.

Baru pertama kali ini dia benar-benar meresapi betapa cepat usia berlalu, pertama kali dia merasakan duka cita dan merasa sayang dan betapa berharganya masa remaja itu.

"Adik cilik ini, dia pernah apa dengan kau?"

Tanya Ong toanio.

"Yang terang dia dibesarkan bersamaku sejak kecil."

"Sekarang terpaksa aku harus merebut dirimu dan sampingnya... adik cilik, kau tidak marah bukan?"

Dian Sim merengut dan memonyongkan mulut, diam saja tidak memberi jawaban. Dian Susi melotot sekali kepadanya, katanya tertawa.

"Dia memang masih bocah, bocah yang belum tahu apa-apa."

"Belum tahu apa-apa malah lebih baik. Hari ini kita harus bergaul dengan riang, tak perlu mengobrol panjang pendek... coba katakan betul tidak?"

Baru Dian Susi hendak menjawab, tiba-tiba dilihatnya mata Ong toanio tidak tertuju ke arah dirinya. Tepat pada saat itu pula didengarnya seseorang menjawab dingin di belakangnya.

"Tidak benar!"

Jawaban cekak aos, tajam dan tegas, setajam pisau.

Tapi suara ini terasa melengking, seolah-olah bisa memekak pecah kuping orang, membelah jantung pendengarnya.

Tak tertahan Dian Susi berpaling.

Baru sekarang dilihatnya di pojok ruangan sana duduk seseorang.

Seseorang yang tidak mirip manusia.

Waktu dia duduk di sana, persis benar dengan sebuah meja, sebuah kursi, sebuah perabot rumah tangga, bukan saja tidak bergerak, juga tidak bersuara, siapapun takkan pernah menaruh perhatian terhadapnya.

Tapi sekilas kau pernah melihatnya, kau tidak akan melupakan untuk selamanya.

Sekilas melirik Dian Susi lantas tak berani mengawasinya lagi.

Waktu dia melihat orang itu, seperti melihat sebatang golok meski sudah karatan tapi masih cukup mampu untuk membunuh orang.

Seolah-olah melihat sebongkah batu es yang sudah membeku ribuan tahun lamanya sehingga warnanya menjadi hitam.

Siapapun takkan pernah menduga orang ajaib seperti itu berada di dalam kamar Ong toanio.

Lebih tidak menduga lagi manusia ajaib ini masih buka suara berbicara.

Karena jawaban orang itu, Ong toanio malah cekikikan, katanya.

"Tidak benar? Kenapa tidak benar?"

Orang itu berkata dingin.

"Karena bila kau benar-benar riang, apapun yang kau katakan kau harus tetap riang gembira."

"Memang masuk akal, apa yang diucapkan oleh Kek siansing selamanya masuk akal."

"Tidak benar."

"Tidak benar? Kenapa tidak benar lagi?"

"Apa yang kuucapkan memang masuk akal, bukan seperti masuk akal."

Tawa Ong toanio berdering senyaring kelinting, katanya.

"Adik cilik, coba lihat bukankah Kek siansing ini amat lucu?"

Mulut Dian Susi terkancing, sementara sungut Dian Sim semakin guram, mulutnya semakin runcing cemberut.

Bahwasanya mereka tidak bisa mengakui bahwa Kek siansing itu memang lucu.

Tapi lain pula pendapat Ong toanio, katanya tetap tertawa.

"Waktu pertama kali kalian melihat orang ini, mungkin merasa dirinya menakutkan. Tapi bila kau sudah lama kumpul sama dia, lambat laun kau akan merasa dia orang amat menyenangkan."

Sebetulnya ingin Dian Susi mengutarakan pikiran hatinya.

"Orang seaneh itu, siapa bisa bergaul dengan dia?"

Umpama dia yang harus bergaul, jangan kata satu hari, satu jam pun rasanya tidak betah.

* * * * * Sang Surya sudah doyong ke barat, tapi bagi Ong toanio kehidupan yang semarak untuk hari ini baru akan dimulai.

Sementara Dian Susi merasa nasib mereka hari ini cukup baik.

Setelah mengalami berbagai penipuan sehingga segala miliknya ludes, kini bertemu Tio lotoa dan Ong toanio, dua orang yang baik hati.

Sekonyong-konyong Dian Susi merasa badannya amat letih, baru sekarang dia ingat rasanya dirinya sudah lama belum tidur, tanpa disadarinya kedua biji matanya melirik ke arah tempat tidur Ong toanio yang lebar empuk dan nyaman itu...

Cuaca sudah gelap.

Sinar api sudah bercahaya di dalam rumah, suasana amat sunyi tak terdengar suara apapun.

Dian Susi hanya mendengar degup jantungnya sendiri yang teratur dan normal.

Terasa sekujur badannya lemas lunglai, malas untuk bergerak, tapi mulutnya kering, tak urung teringat olehnya sop biji teratai yang sering diminumnya di rumah.

Di mana Dian Sim?

Entah kemana setan cilik itu?

Setelah menghela nafas, pelan-pelan Dian Susi merangkak turun dari ranjang, sepatu yang dicopotnya tadi entah berada di mana, di samping ranjang telah disiapkan sepasang sandal kain yang ringan.

Langsung dia menuju ke arah jendela lalu mendorongnya terbuka.

Sayup-sayup hembusan angin membawa alunan musik yang merdu.

Taman kembang di luar jendela terang benderang, di mana dipasang lampion beraneka warna dan berbeda bentuknya.

"Ternyata kalau malam di sini amat ramai, Ong toanio pasti seorang yang suka menjamu tamu-tamunya."

Lalu terpikir pula olehnya.

"Jikalau Cin Ko juga datang kemari, betapa baik dan menyenangkan!"

Terbayang akan pemuda ganteng romantis yang suka mengenakan sapu tangan merah di lehernya, tiba-tiba terasa panas dan merah muka Dian Susi.

Pikirannya terombang-ambing dibuai mabuknya asmara, sehingga tidak didengarnya langkah Ong toanio yang mendekat.

Waktu dia mendengar suara merdu Ong toanio, orang tahu-tahu sudah berada di sampingnya, katanya sambil pegang pundaknya.

"Apa yang kau pikirkan sampai melongo begitu rupa?"

"Aku sedang berpikir, Dian Sim setan kecil itu entah kemana, kenapa tidak kelihatan bayangannya?"

Selamanya belum pernah dia berbohong, tapi kali ini entah kenapa tanpa disadarinya secara reflek dia menjawab sekenanya.

Ong toanio menarik tangannya menuju ke meja bundar kecil itu, katanya sambil berduduk.

"Bagaimana tidurmu? Nyenyak bukan?"

"Tidurku seperti orok yang baru dilahirkan."

"Tentu perutmu sudah lapar, apa yang kau inginkan?"

"Makanan apapun tidak kuinginkan, aku hanya ingin..."

Berkerling matanya, katanya lebih lanjut.

"Agaknya tidak sedikit tamu-tamumu yang datang malam ini."

"Tidak banyak, sekitar dua puluh orang."

"Setiap hari kau kedatangan tamu sebanyak itu?"

"Kalau tamu tidak banyak, bagaimana aku hidup?"

Terbelalak mata Dian Susi, katanya.

"Jadi tamu-tamu yang datang semua membawa kado?"

"Mereka mau memberi, aku pun tidak enak menolak, benar tidak?"

"Darimana saja mereka datang?"

"Darimana saja, ada..."

Tiba-tiba dia memicing mata, sahutnya.

"Malah hari ini aku kedatangan seorang tamu yang amat terkenal."

"Siapa dia?"

Tanya Dian Susi, biji matanya bersinar.

"Apakah Cin Ko? Atau Liu Hong-kut?"

"Kau kenal mereka?"

Tertunduk kepala Dian Susi, katanya gigit bibir.

"Tidak kenal, cuma aku ingin bertemu dengan mereka, kabarnya mereka adalah tokoh besar yang luar biasa."

Ongtoanio cekikikan, katanya sambil mencubit pipinya.

"Betapapun hebatnya tokoh kosen itu, berhadapan dengan perempuan secantik dirimu, tanggung seketika menjadi laki-laki pikun. Asal kau selalu ingat akan ucapanku, kelak kau pasti hidup bahagia."

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Ternyata seorang nona cilik membawa nampan menyediakan beberapa macam hidangan sayur mayur dan arak.

"Kenapa kita tidak makan di luar bersama para tamumu itu?"

Tanya Dian Susi.

"Kau tidak merasa sebal atau jijik dengan para tamu itu?"

"Tidak banyak temanku, orang bilang lebih banyak teman lebih baik."

"Apa kau ingin kenal banyak orang untuk memilih calon suamimu?"

Goda Ong toanio dengan cekikikan, kembali dia mencubit pipi Dian Susi. Pipi Dian Susi terasa hangat. Mendadak Ong toanio tempelkan pipinya ke pipi orang katanya cekikikan genit.

"Setiap hari pasti ada teman yang datang kemari, berapa banyak teman yang ingin kau kenal semua ada di sini. Tapi malam ini, kau adalah milikku."

Kulit mukanya ternyata begitu halus licin dan dingin segar. Sebetulnya Dian Susi merasa risih, namun lekas sekali dia berpikir.

"Ah, sama-sama perempuan, apasih halangannya?"

Tapi entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdegup semakin keras.

Selamanya belum pernah ada orang bersikap begini intim, begitu mesra terhadap dirinya.

Dian Sim yang dibesarkan sejak kecil belum pernah berbuat demikian.

"Di mana Dian Sim?"

Tiba-tiba Dian Susi bertanya.

"Kenapa sampai sekarang tidak kelihatan bayangannya?"

"Dia masih mendengkur nyenyak,"

Ujar Ong toanio.

"kecuali kau, selamanya tiada orang yang tidur di dalam bilikku ini, apalagi tidur di atas ranjangku."

Hati merasa syur dan haru, tapi mukanya entah kenapa, terasa membara.

"Lho apa kau merasa gerah? Biar kutanggalkan pakaian luarmu."

"Tidak... tidak, tidak panas, benar-benar tidak panas."

"Tidak panas juga harus dicopot, kalau orang melihat kau mengenakan pakaian laki-laki, orang akan mengira aku menyimpan laki-laki liar di dalam kamar."

Mulut bicara jari-jarinya sudah mulai meraih dan membuka kancing baju Dian Susi.

Tangannya seperti seekor ular, merayap dari pinggang ke dadanya...

Terpaksa Dian Susi harus memberi reaksi, sekujur badannya jadi merinding.

Dengan nafas tersengal, tangannya mendorong sambil cekikikan geli, katanya.

"Jangan kau copot bajuku, di sebelah dalam aku tidak pakai apa-apa."

Mimik tawa Ong toanio menjadi aneh, katanya.

"Itu lebih baik? Masakah kau masih takut kepadaku?"

"Aku bukan takut, cuma..."

Kedua tangannya tiba-tiba mendorong ke dada Ong toanio, cekikikan tawanya seketika membeku, rona mukanya berubah hebat, seolah-olah jari-jarinya mendadak dipagut ular.

Kontan dia berjingkrak dengan badan mengkirik ngeri, serunya gemetar sambil melotot kepada Ong toanio.

"Kau... kau ini perempuan atau laki-laki?"

Ong toanio tertawa dengan memicing mata.

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Kau... kau... kau..."

Tak kuasa Dian Susi melontarkan kata-katanya.

Karena dia bingung dan tidak tahu Ong toanio sebetulnya perempuan atau laki-laki?

Yang terang siapapun yang berhadapan dengan Ong toanio, pasti tidak akan menganggapnya sebagai laki-laki.

Orang pikun atau gila pun pasti akan memandangnya sebagai perempuan.

Akan tetapi dadanya...

Dadanya bidang dan datar selicin kaca.

Semakin aneh tawa Ong toanio, katanya.

"Tidak tahu tidak menjadi soal, yang terang besok pagi kau akan membuktikan sendiri."

Dian Susi menyurut mundur, katanya tergagap.

"Aku tidak ingin tahu, aku hendak pergi saja."

Begitu putar badan mendadak dia lari hendak menerjang kebelakang, tapi dibelakangnya tiada pintu. Waktu dia menerjang balik Ong toanio sudah menghadang di depannya, katanya.

"Sekarang masa kau bisa pergi?"

Dian Susi menjadi gugup, teriaknya.

"Kenapa tidak bisa? Aku toh tidak menjual diri kepadamu."

"Siapa bilang kau tidak terjual kepadaku?"

"Siapa bilang aku sudah dijual kepadamu?"

"Aku yang bilang, karena aku sudah bayar tujuh ratus tail kepada Tio lotoa,"

Katanya tertawa.

"tujuh ratus tail bagimu terlalu murah, saying dia hanya berani memberi harga sekian saja. Sebetulnya umpama dia minta tujuh ribu tail, aku tetap berani membayar untuk dirimu."

Saking gusar pucat muka Dian Susi, serunya.

"Apa? Tio lotoa menjual diriku kepadamu?"

"Dari ujung rambut ke ujung kakimu, semuanya dijual kepadaku."

Bergetar sekujur badan Dian Susi saking murka, teriaknya.

"Dia itu terhitung barang apa? Dengan hak apa dia berani menjual aku kepadamu?"

"Tanpa hak apa-apa, yang terang kau ini nona pikun yang tidak tahu diri. Begitu kau masuk ke kota ini, mereka sudah menguntit dan memperhatikan setiap gerak-gerikmu!"

"Mereka?"

"Mereka adalah Thi Ke-po, To-pak Lo-liok, Chi It-to, si brewok dan Tio lotoa."

"Jadi mereka sekongkol dan sekomplotan?"

"Sedikit pun tidak salah, biang keladinya adalah Tio lotoa. Untung kau bertemu dengan aku, terhitung nasibmu yang mujur. Asal kau menurut dan dengar kataku, aku tidak akan menyia-nyiakan kau, malah boleh tidak usah menerima tamu."

"Menerima tamu? Apakah maksudnya menerima tamu?". Amarahnya sudah meledak, tapi dia berusaha mengendalikan emosinya, karena masih banyak persoalan yang dirinya belum tahu.

"Memang nona pikun, masakah terima tamu kok tidak tahu. Tapi kelak pelan-pelan akan kuajarkan kepadamu, malam ini juga mulai kuajarkan kepadamu,"

Pelan-pelan dia maju mendekat. Waktu berjalan tampak sesuatu menonjol dari bagian bawah bajunya. Muka Dian Susi yang pucat seketika merah jengah, teriaknya.

"Kau... kau laki-laki."

"Ada kalanya laki-laki, tapi bisa juga berubah jadi perempuan, bisa berhadapan dengan manusia seperti diriku, boleh terhitung keberuntunganmu seumur hidup."

Dian Susi tiba-tiba menjerit keras.

Berbareng dia menerjang maju sambil dorongkan kedua tangannya.

Nona pingitan ini biasanya lemah lembut, tapi kalau sudah mengamuk segalak harimau kelaparan.

Jari-jari tangannya yang runcing-runcing kecil dan mungil itu begitu terpelihara baik sekali, tapi sekarang kuku jarinya itu berubah laksana cakar harimau, sekali cengkram seolah-olah hendak bikin tenggorokan Ong toanio berlubang.

Bukan saja serangannya ganas, cepat malah sejurus serangan ini mengandung perubahan rumit.

Jago-jago silat di dalam Kim-siu san-ceng cukup banyak, biasanya mereka mengagulkan bahwa ilmu silat Dian siocia sudah setaraf kelas satu.

Jurus serangan ini merupakan kepandaian andalan yang paling dia banggakan.

Tempo hari Piausu dari kota raja pernah dia robohkan dengan jurus serangan ini sehingga cukup lama baru kuasa merangkak bangun.

Betapa bencinya terhadap Ong toanio manusia siluman ini, maka serangannya jauh lebih dahsyat dari biasanya, kalau Ong toanio benar-benar tercengkram jarinya, mungkin takkan bangun untuk selamanya.

* * * * * Ong toanio tidak roboh.

Sebaliknya Dian Susi sendiri yang terkapar lemas.

Selama hidup belum pernah ia terpukul roboh.

Maka dapatlah dibayangkan bagaimana perasaan hatinya saat itu.

Tahu-tahu pergelangan tangan yang menyerang itu malah tercengkram oleh orang, kontan badannya hilang keseimbangan, tiba-tiba badannya seperti melayang di tengah udara.

Disusul kupingnya mendengar suara bantingan badannya yang berdentam keras di lantai.

Selanjutnya tidak ingat apa-apa lagi.

Entah berapa lama, waktu perasaannya pulih kembali, dilihatnya Ong toanio tengah berdiri mengawasi dirinya dengan tersenyum, senyum yang begitu simpatik, mesra dan berkata lembut.

"Kau sakit tidak?"

Sudah tentu sakit.

Baru sekarang Dian Susi merasa sekujur badannya linu kemeng, seolah-olah tulang-tulangnya retak dan copot, begitu sakitnya sampai mata berkunang-kunang, hampir tak tertahan air mata hendak bercucuran.

Ong toanio geleng-geleng, katanya.

"Kepandaian silat seperti ini juga berani memukul orang, sungguh lucu sekali."

"Ilmu silatku tidak becus?"

Agaknya Ong toanio kaget, tanyanya.

"Kau sendiri tidak tahu betapa memalukan ilmu silatmu?"

Sudah tentu Dian Susi tidak tahu.

Tapi sekarang dia insyaf, bila orang mengagulkan ilmu silatnya setinggi langit, lantaran dia putri Dian toaya.

Baru sekarang benar-benar dia sadari bahwa dirinya tidaklah begitu pintar seperti yang dia bayangkan sendiri.

Ingin rasanya dia gampar kedua pipinya sendiri.

"Apa yang sedang kau lamunkan?"

Tanya Ong toanio.

"Tahukah kau kalau mau sembarang waktu aku bisa memperkosa kau, masakah kau tidak takut?"

Badan Dian Susi mendadak mengkeret.

"perkosa"

Kedengarannya sungguh menakutkan, amat tajam dan mengerikan.

Sebesar ini belum pernah dia dengar kata-kata ini, memikirkan pun belum pernah.

Seketika ngeri menjadi merinding, keringat dingin gemerobyos, tapi suhu badannya malah semakin membara.

"Kau... kau... kau ingin memperkosa aku?"

"Aku sih tidak akan memperkosa kau,"

Ujar Ong toanio tertawa.

"Lalu... lalu apa yang akan kau lakukan atas diriku?"

"Aku ingin kau mau tunduk dan menuruti kemauanku dengan senang hati."

"Aku pasti tidak mau!"

Teriak Dian Susi.

"Mati pun tidak mau!"

"Kau kira gampang untuk mati? Kalau begitu pikiranmu salah sekali!"

Di atas meja ada sebuah kelinting kecil.

Ong toanio mendadak jemput kelinting ini serta digoyang beberapa kali.

Baru saja kumandang kelinting yang nyaring berbunyi, dua orang lantas melangkah masuk.

Sebetulnya dua orang ini bukan terhitung manusia, seorang mirip anjing atau biruang, yang lain mirip orang hutan.

"Bagaimana menurut pendapatmu akan kedua orang ini?"

Tanya Ong toanio tersenyum. Dian Susi pejamkan mata, mengintip pun tidak berani melihatnya.

"Kalau kau tidak menurut kehendakku, biar kusuruh kedua orang ini memperkosa kau."

Dian Susi menjerit histeris.

Kali ini dia kerahkan seluruh kekuatannya baru bisa mengeluarkan pekik yang ngeri.

Tapi suaranya tiba-tiba putus di tengah jalan, tahu-tahu badannya meloso roboh lemas dan jatuh semaput.

Waktu siuman, Dian Susi tidak merasa nyaman dan gembira seperti pertama kali datang.

Tempat di mana dia rebah, tidak harum, empuk, hangat, tapi suatu tempat yang busuk, dingin, dia rebah di atas batu yang keras.

Begitu membuka mata yang didengaraya adalah isak tangis serta rintihan yang menyayat hati.

Di pojok dinding sana, meringkuk bayangan orang, di bawah penerangan sinar dian yang remang-remang kelihatan orang itu mengenakan jubah panjang warna merah yang sudah koyak-koyak, tampak kulit dagingnya yang melepuh dan matang biru bekas pukulan dan cambukan, banyak diantara luka-luka itu merembeskan darah segar.

Dian Susi amat berkesan melihat jubah merah ini, cepat sekali dia sudah teringat akan gadis cilik yang dibujuk balik oleh Bwe-ci itu.

Ingin dia berdiri, baru sekarang dia insyaf, jangan kata berdiri, rasa sakit pun sudah tidak terasakan lagi olehnya, sekujur badan seolah sudah linu kemeng dan mati rasa.

Terpaksa dia meronta dan merambat ke sana dengan kedua tangannya.

Gadis cilik itu tiba-tiba angkat kepala mengawasinya dengan melotot, biji matanya merah membara dan liar, mirip seekor binatang liar yang hampir gila karena disiksa.

Dian Susi amat kaget, bukan karena mata orang yang buas, tapi adalah roman mukanya.

Tadi siang dia lihat kulit muka gadis ini begitu halus cantik, tapi sekarang selebar mukanya penuh keriput, pipinya peot dagunya menceng, hidungnya melesak, dari ujung mata dan ujung bibirnya mengalir darah, roman mukanya mirip benar dengan sebuah semangka yang dibanting pecah.

Saking ngeri dan jijik tak tertahan perutnya seperti berontak, akhirnya dia muntah-muntah.

Yang keluar hanya air getir, air kecut.

Setelah Dian Susi berhenti muntah, gadis cilik itu baru bersuara.

"Ong toanio suruh aku bertanya sepatah kata kepadamu."

"Dia suruh kau tanya... tanya apa?"

"Dia suruh aku tanya kau, inginkah kau berubah seperti diriku?"

Betapa mengerikan pertanyaan ini, Dian Susi tergagap.

"Ba... bagaimana kau berubah begini rupa?"

"Karena aku tidak dengar petunjuk Ong toanio, kalau kau meneladani perbuatanku, kau pun akan menjadi seperti aku,"

Suaranya dingin dan datar, seolah-olah sedang mengisahkan pengalaman orang lain.

Melihat keadaan orang, baru Dian Susi benar-benar tahu apa sebenarnya takut itu.

Tiba-tiba dia rebah telungkup menangis tersedu-sedan.

Boleh dikata dia sudah putus asa.

Gadis itu masih mengawasinya dengan dingin, katanya.

"Apakah kau sudah mau menerima petunjuknya?"

"Aku tidak tahu... aku tidak tahu...."

Suara Dian Susi serak, dengan keras dia menjambak rambutnya sendiri.

"Tidak tahu itu berarti sudah menerima, kau memang harus tunduk kepada permintaannya,"

Dia berpaling muka terus merebahkan diri di atas tanah, tak bergerak tidak bersuara lagi. Mendadak Dian Susi menubruk maju, memeluk badan orang, tanyanya.

"Kenapa kau tidak bicara lagi?"

"Apa yang perlu kukatakan sudah habis."

"Kenapa tidak melarikan diri?"

"Aku tidak berdaya."

Dengan keras Dian Susi merenggut rambut orang, sentaknya keras.

"Pasti ada daya, kenapa kau menunggu ajal di sini?"

Karena kepala terangkat gadis itu mengawasi Dian Susi, mukanya mengawasi Dian Susi, mukanya dihiasi secercah senyum manis yang aneh, katanya.

"Kenapa aku tidak boleh menunggu ajal? Kalau aku bisa mati terhitung lebih bahagia daripada kau. Cepat atau lambat kau akan tahu, mati, bahwasanya bukan sesuatu yang amat menakutkan, yang menakutkan justru ingin mati sukar mau hidup pun tidak bisa."

Sungguh terpukul sanubari Dian Susi mendengar kata-kata ini, pelan-pelan dia lepaskan tangannya, dengan kertak gigi dia berdiri.

Dia bersumpah untuk mempertahankan hidup, apapun yang dialami dia harus tetap hidup.

Betapapun dia tidak sudi mati!

* * * * * Dinding kamar tahanan yang gelap dan serba hitam ini dibangun dari batu-batu besar yang ditumpuk.

Tiada pintu, hanya ada sebuah jendela kecil lebar dua kaki, letak jendela empat lima tombak dari tanah.

Dian Susi tahu dirinya takkan mampu loncat setinggi itu.

Tapi dengan penuh tekad dia toh mencobanya.

Dengan kerahkan seluruh tenaganya dia lompat ke atas.

Berulang kali dia jatuh bangun.

Terpaksa dia merayap.

Di antara batu dan batu ada sedikit celah, dengan kencang ujung jari kaki tangannya berpegang dan menginjak celah-celah batu merayap ke atas.

Jari-jari tangannya sampai lecet berdarah.

Maklum ujung batu yang kasar dan runcing setajam pisau.

Saking tak tertahan lagi sakitnya, akhirnya dia terperosok jatuh dan terbanting cukup keras.

Begitulah berulang kali dia berusaha dan selalu gagal, tapi dia tidak menangis lagi.

Dia bertekad untuk mencobanya terus sampai jiwanya ajal.

Sekonyong-konyong dilihatnya seutas tali menjuntai turun dari atas lubang jendela.

Agaknya ada orang hendak menolong dirinya.

Siapa yang menolong?

Untuk apa menolong?

Tanpa banyak pikir lagi, lekas dia goyang-goyang tubuh si gadis menyuruhnya melihat tali itu, tapi gadis cilik ini hanya melirik sebentar saja, katanya rawan "Aku tidak ingin pergi, aku rela mati di sini."

Dian Susi membanting kaki dengan gemas, tanpa perduli mati hidup orang, segera dia tarik tali itu dan berpegang kencang, pelan-pelan dia merambat naik.

Perawakannya yang ramping kebetulan bisa keluar dari lubang jendela yang kecil itu.

Tidak terlihat bayangan orang di luar jendela, ujung tali yang lain terikat di sebuah pucuk pohon yang terletak di depan jendela.

Pelan-pelan dan hati-hati Dian Susi merangkak keluar terus merayap ke atas pohon, dari sini dengan berpegang dahan pohon dia merosot turun.

Sekelilingnya gelap gulita, ke jurusan mana dia harus melarikan diri?

Dia tidak tahu dan tidak bisa memilih arah.

Di sebelah depan ada hutan kembang, entah kembang apa tidak dia hiraukan, yang terang bau kembang amat harum, segera dia menyelinap ke dalam.

Cepat sekali dia mendengar irama musik yang terbawa hembusan angin lalu.

Harus mundur atau berputar melewati bangunan rumah di depan itu?

Dian Susi menyembunyikan diri di belakang sepucuk pohon, di saat dia hendak bergerak, irama musik tiba-tiba berhenti, dua orang tampak melangkah keluar pelan-pelan dari dalam rumah.

Melihat dua orang ini, serasa hampir berhenti nafas Dian Susi.

Yang di sebelah kiri adalah Ong toanio yang bersolek laksana kembang mekar.

Yang di sebelah kanan berperawakan tinggi kekar, bersikap gagah dan kereng, dia bukan lain adalah si hartawan royal yang membuang uang untuk menerima tamu, yaitu Tionggoan Beng-siang Dian Pek-sek Dian-jiya.

Ong toanio pernah mengatakan dia kedatangan tamu agung yang tenar, kiranya yang dimaksud adalah orang ini.

Sungguh mimpi pun Dian Susi tidak pernah membayangkan dalam keadaan seperti dirinya di tempat ini pula melihat ayahnya.

Sungguh saking girangnya hampir tak tertahan dia bersorak.

Tapi suaranya tertelan lagi.

Karena pada saat itu pula dia melihat dua orang lain beranjak keluar juga dan dalam rumah di belakang ayahnya.

Kedua orang ini satu tua yang lain muda.

Yang tua bertubuh tromok pendek, mukanya bundar, rambutnya jarang, jenggotnya sedikit, pinggangnya menyoreng pedang, panjangnya hampir satu lipat melebihi kakinya, sehingga kelihatannya lucu.

Yang muda kelihatannya lebih pendek dari si tua, lebih tambun, oleh karena itu bentuk badannya lebih lucu dan menggelikan.

Dian Susi kenal si tua tromok itu adalah teman baik ayahnya, yaitu Nyo samya dari Toa-bing-hu.

Lalu siapakah pemuda tambun itu?

Apakah dia ini putra mestika Nyo samya yang bernama Nyo Hoan itu?

"Masakah ayah suruh aku kawin sama dia?"

Maka dia bertekad tidak mau menemui ayahnya. Terdengar Ong toanio berkata dengan tertawa.

"Malam sudah selarut ini, kenapa Dian jiya harus pergi? Lebih baik menginap di sini saja."

"Tidak bisa, aku punya urusan penting, aku hendak mencari orang."

"Entah siapakah yang dicari Dian jiya? Mungkin aku bisa membantu... banyak orang pergi datang di sini, gampang mencari tahu."

Dian jiya tertawa, katanya.

"Kau pasti tak bisa menemukan orang ini, dia pasti takkan datang ke tempatmu ini,"

Tiba-tiba dia menghela nafas, sambungnya.

"Sebetulnya aku sendiri tidak tahu ke mana aku harus mencari dia, tapi ke ujung langit pun, aku harus temukan dia."

Sudah tentu yang hendak dia cari adalah putri tunggalnya.

Bagian 3 Tiba-tiba tersumbat tenggorokan Dian Susi.

Baru sekarang dia insyaf, hanya ayah saja dalam dunia ini yang paling memperhatikan dirinya, kasih sayang kepadanya.

Rasanya ingin dia menerjang keluar lari ke dalam pelukan ayahnya.

Sayang sekali dia tidak punya kesempatan lagi.

Sekonyong-konyong terulur sebuah tangan dari belakangnya mendekap mulutnya.

Jari-jari tangan ini amat besar dan kasar, begitu kuat dan besar pula tenaganya.

Karena didekap, bukan saja tak bisa bersuara, bernafas pun Dian Susi amat susah.

Sudah tentu orang yang mendekapnya ini memiliki sepasang tangan.

Sebelah tangan yang lain memeluk pinggang Dian Susi, sehingga berkutik pun dia tidak bisa.

Terpaksa dia menyepak ke belakang dengan kakinya.

Menyepak paha orang serasa seperti menyepak batu.

Semakin kuat menyepak, semakin sakit kakinya.

Seperti menjinjing seekor anak ayam orang itu menjinjing badannya mundur ke belakang, ke dalam kegelapan.

Terpaksa Dian Susi hanya mengawasi ayahnya pergi semakin jauh.

Waktu air matanya bercucuran, orang yang menjinjing badannya sudah putar badan berlari ke arah sana.

Langkahnya begitu lebar, dalam sekejap sudah keluar dari lingkungan hutan kembang.

Di luar hutan pun gelap gulita.

Tapi langkah orang ini tidak berhenti, dia terus berlari menyusuri kaki tembok, setelah belok kanan dan putar ke kiri tiga kali, tiba-tiba dia menerobos masuk ke dalam sebuah rumah batu.

Bentuk rumah batu ini pun tinggi dan besar.

Tapi isinya hanya sebuah ranjang, sebuah meja dan sebuah kursi.

Besar ranjang itu amat mengejutkan, demikian pula mejanya luar biasa besar.

Kursinya kira-kira satu lipat lebih besar dari meja biasa.

Sementara mejanya lebih besar dari ranjang biasanya.

Setelah merapatkan pintu, orang ini langsung merebahkan Dian Susi ke atas ranjang.

Baru sekarang Dian Susi sempat melihat muka orang ini.

Hampir saja dia jatuh semaput lagi.

Orang ini lebih mirip lutung daripada manusia.

Orang hutan yang disuruh memperkosa dirinya oleh Ong toanio itu.

Kalau bentuk mukanya mirip manusia, tapi selebar kulit mukanya tumbuh bulu yang tebal panjang, lebih mengerikan bila dia menyeringai tawa.

Kini orang itu pun sedang tersenyum mengawasi Dian Susi.

Dian Susi meronta berusaha melompat hendak menjotos congornya, tapi luput.

Lekas orang itu menggoyang tangan, katanya tertawa.

"Kau tidak usah takut kepadaku, aku menolong kau."

Suaranya tidak mirip omongan manusia.

"Kau... kau menolong aku?"

Tanya Dian Susi keheranan.

Orang itu tertawa lagi, dari dalam bajunya dia merogoh keluar sesuatu benda.

Yang dikeluarkan adalah segulung tali, tali yang dibuat merambat dan meloloskan diri oleh Dian Susi tadi.

"Jadi kau yang menaruh tali itu?"

"Kecuali aku siapa yang berani melakukannya."

"Kenapa kau menolongku?"

"Karena kau amat mungil, aku amat menyukai kau."

Seketika meringkel badan Dian Susi, meringkel seperti trenggiling. Dilihatnya orang itu ulur tangan hendak meraba mukanya, kontan dia kerahkan seluruh tenaganya berteriak sekeras-kerasnya.

"Pergi! Menggelindinglah yang jauh! Berani kau sentuh aku, aku mampus saja!"

Lekas orang itu menarik tangannya, tanyanya.

"Kau takut kepadaku? Kenapa kau takut kepadaku?"

Biji mata yang tersembunyi di belakang lebarnya bulu mengunjuk rasa derita yang tak terhingga.

Perasaan sorot matanya membuat dia kelihatan mirip manusia, tapi Dian Susi malah lebih takut, serasa hampir tumpah-tumpah lagi.

Semakin orang baik terhadap dirinya, dia semakin muak.

Ingin rasanya bisa mati saja.

Berkata orang itu.

"Tampangku memang amat jelek, tapi aku bukan orang jahat, dan lagi sedikit pun aku tidak bermaksud jelek terhadap kau, cuma aku ingin..."

"Kau ingin apa?"

Tanya Dian Susi dengan suara serak. Tertunduk kepala orang itu, katanya dengan suara sumbang.

"Tidak ingin apa-apa, asal bisa melihatmu, hatiku lantas senang."

Sebetulnya orang mengira dia seekor binatang liar yang buas, kini dia berubah menjadi seekor binatang peliharaan yang harus dikasihani.

Dengan tajam Dian Susi mengawasinya, rasa takut dan muaknya menjadi berkurang, tiba-tiba bertanya dengan kedip-kedip mata.

"Kau, siapa namamu?"

Seketika terunjuk rasa senang dari sorot mata orang ini, sahutnya.

"Koko, aku bernama Koko."

"Koko"

Terhitung nama apakah ini? Siapapun takkan menggunakan nama selucu ini.

"Sebetulnya kau ini manusia bukan?"

Seketika terunjuk rasa gusar dan penasaran pada mimik mata Koko, sesaat kemudian dia menunduk lalu menjawab dengan rawan.

"Sudah tentu aku ini manusia, manusia seperti dirimu, bahwa aku berubah seperti ini, adalah gara-gara perbuatan Ong toanio."

Semakin lega hati Dian Susi, tanyanya pula.

"Kenapa dia membuat kau begini rupa?"

Jari-jari Koko yang gede-gede itu tergenggam kencang sampai tulang-tulangnya berbunyi, lama sekali baru dia menjawab dengan suara tertelan dalam tenggorokan.

"Darah, obat racun, darah... setiap hari dia mencekoki aku minum darah yang dicampur racun, dia sengaja membuatku menjadi binatang untuk menakuti orang."

Kepalanya terangkat mengawasi Dian Susi, sorot matanya penuh iba dan mohon belas kasihan, katanya.

"Tapi kenyataan aku masih seorang manusia... dia bisa merubah bentuk luarku, tapi tak bisa merubah hatiku."

"Kau membencinya tidak?"

Koko tidak menjawab, genggamannya malah semakin terkepal kencang, seolah-olah jarinya sedang mencekik leher Ong toanio.

"Kalau kau membencinya, kenapa tidak kau berdaya upaya untuk membunuhnya?"

Badan Koko tiba-tiba mengkeret, badannya gemetar, kepalannya menjadi kendor.

"Jadi kau jeri menghadapinya?"

Gemeretak gigi Koko, desisnya geram.

"Dia bukan manusia... dia itu binatang benar-benar."

"Kelihatannya kau amat jeri terhadapnya, kenapa kau berani tolong aku?"

"Karena... karena aku amat suka kepadamu."

"Kalau kau benar-benar baik terhadapku, pergilah kau bunuh dia."

Koko menggeleng-geleng kepala, menggeleng sekerasnya.

"Umpama kau tidak berani membunuhnya, paling tidak kau biarkan aku pergi saja."

"Tidak mungkin, kau seorang diri betapapun takkan bisa lolos."

"Agaknya kau ini manusia yang tidak becus, orang seperti ini siapa yang bakal suka kepadamu."

Merah muka Koko, katanya tiba-tiba dengan angkat kepala.

"Tapi aku bisa bantu kau meloloskan diri."

"Apa benar?"

"Walau aku ini manusia tulen, tapi tidak mirip orang yang pandai berbohong."

"Tapi aku tidak bisa meloloskan diri sendiri saja."

"Kenapa?"

"Aku punya adik, aku tidak bisa meninggalkan dia di sini,"

Berkedip-kedip mata Dian Susi, sambungnya.

"Kalau kau bisa menolongnya, bukan mustahil aku bisa senang kepadamu."

Terpancar rasa gembira sorot mata Koko, katanya.

"Orang macam apakah adikmu?"

"Seorang anak perempuan yang elok sekali, mulutnya kecil mungil, sering monyong, dia bernama Dian Sim."

"Baik sebentar aku pergi mencarinya... aku pasti dapat menolongnya,"

Belum habis katanya dia sudah melangkah pergi, tiba di ambang pintu, tiba-tiba dia berpaling, katanya tergagap.

"Kau... kau tidak akan pergi bukan?"

"Tidak, aku tunggu kau."

Tiba-tiba Koko memburu balik berlutut di depannya, setelah mencium kakinya, terus berlari keluar seperti orang kesenangan mendapatlotre.

Begitu orang pergi, Dian Susi menjadi lemas dan merasa jijik pada kakinya yang barusan dicium, ingin rasanya dia tabas kutung kakinya saja.

Sekonyong-konyong terdengar seorang tertawa dingin, katanya.

"Tak nyana pilihan Dian toasiocia akhirnya jatuh pada manusia kera itu, sungguh harus dipuji atas ketajaman matamu."

Waktu Dian Susi angkat kepala, entah kapan dilihatnya Kek siansing tahu-tahu sudah duduk di atas jendela. Merah muka Dian Susi, katanya keras.

"Apa katamu?"

"Kukatakan dia amat menyukai kau, kau sendiri agaknya juga ada naksir sama dia, kalian memang pasangan yang setimpal."

Tiba-tiba Dian Susi berjingkrak bangun menyambar poci arak besar di atas meja terus ditimpukan sekuat tenaga.

Kek siansing tenang-tenang duduk di tempatnya tanpa bergerak, begitu poci terlempar dekat mukanya tiba-tiba dia meniup seenaknya.

Aneh sekali poci yang meluncur kencang itu seperti tertahan sebentar dan tergantung di tengah udara lalu putar balik melayang pelan-pelan ke atas meja tepat di tempatnya tadi.

"Apa orang ini bisa main sulap?"

Dengan mendelong Dian Susi membatin.

Kalau kepandaian ini dinamakan ilmu silat, bukan saja dirinya belum pernah melihat, mendengar pun belum pernah.

Tidak menunjukkan perasaan hatinya, muka Kek siansing tetap kaku dingin seperti benda beku, katanya.

"Aku biasanya bantu menyempurnakan keinginan orang, aku pasti berusaha supaya Ong toanio menjodohkan kau sama dia,"

Lalu dia menambahkan dengan suara tawar.

"Tentu kau tahu, Ong toanio amat senang mendengar ucapanku."

Tak tertahan Dian Susi berteriak.

"Kau tidak boleh berbuat demikian."

"Aku justru akan berbuat demikian, memangnya kau bisa merintangi keinginanku?"

Lemas lunglai serasa badan Dian Susi, dia tahu Kek siansing dapat melaksanakan apa yang dikatakan.

Mendadak dia jadi nekad dengan keras dia tumbukkan kepala ke arah dinding batu.

Lebih baik kepalanya pecah biar mampus saja.

Tapi kejadian sungguh amat aneh dan ajaib, ternyata kepalanya menumbuk sesuatu benda yang empuk, mungkinkah batu bisa menjadi lunak.

Kebetulan jatuhnya celentang maka dia melihat, kiranya kepalanya barusan menumbuk perut Kek siansing.

Kek siansing berdiri membelakangi dinding tanpa bergerak, katanya tanpa menunjukkan perasaan hatinya.

"Umpama kau tidak sudi, kan tidak perlu kau mencari jalan pendek."

Dian Susi kertak gigi, air mata berlinang-linang.

"Kalau kau benar-benar tidak mau kawin dengan dia, aku sih punya cara."

"Cara apa?"

"Bunuh dia!"

"Membunuhnya?"

"Siapa yang akan paksa kau menikah dengan sesosok mayat?"

"Aku... aku tak bisa membunuhnya."

"Sudah tentu kau bisa, karena dia menyukai kau, maka kau pasti dapat membunuhnya."

Tertunduk kepala Dian Susi memikirkan kata-kata orang, tiba-tiba dilihatnya jari-jari tangannya telah memegang sebilah golok, golok telanjang.

Warna golok ini amat aneh, ternyata merah dadu, mirip benar dengan warna pipi seorang gadis yang malu-malu.

"Inilah golok yang baik sekali, bukan saja dapat memutus rambut sekali tiup, sekali kena darah tenggorokan bakal tersumbat,"

Lalu dengan suara kalem dia menambahkan.

"Golok mempunyai nama, aku sering memanggilnya Wanita."

Sungguh nama golok yang aneh, tak tertahan Dian Susi bertanya.

"Kenapa dinamakan Wanita."

"Karena kecepatannya melebihi bibir perempuan, kejamnya melebihi hati perempuan, maka tepat sekali kalau kau bunuh laki-laki yang menyukai dirimu dengan golok ini."

Terulur tangan Dian Susi hendak menerima golok ini, tapi lekas dia menarik kembali.

"Sebentar dia sudah akan kembali, mau menikah sama dia atau membunuhnya terserah kepadamu sendiri, aku tidak akan memaksa..."

Akhir kata-katanya, suaranya kedengaran di tempat yang amatjauh.

Waktu Dian Susi angkat kepala, ternyata bayangan orang sudah lenyap laksana setan yang bisa menghilang entah ke mana.

Sekian lama dia terlongong, akhirnya didengarnya derap langkah mendatangi, tersipu-sipu dia raih golok itu terus disembunyikan di belakangnya.

Dilihatnya Koko berlari masuk.

Kembali seorang diri saja, melihat Dian Susi masih menunggu, sungguh girangnya bukan main, katanya setelah bersoja gembira.

"Ternyata kau tidak pergi, kau betul-betul menungguku."

Dian Susi tidak berani beradu pandang, tanyanya.

"Mana Dian Sim?"

"Aku tidak bisa temukan dia, karena..."

Dian Susi tidak memberi kesempatan orang bicara, tahu-tahu golok di tangannya menghujam ke dada orang, tepat menusuk ulu hatinya.

Koko tergentak melongo, mendadak dia berteriak kalap seperti kesetanan, kedua tangannya tiba-tiba menyambar leher Dian Susi serta dijinjingnya ke atas, suaranya menggerung penasaran.

"Kenapa kau membunuhku?... Kesalahan apa yang kulakukan?"

Dian Susi tidak bisa menjawab, dia tidak bisa bergerak.

Asal jari-jari Koko mencengkeram dengan sedikit tenaga, tulang lehernya pasti patah.

Saking ketakutan dia terkesima dan lunglai.

Dia tahu jiwanya akan ikut melayang mengiringi kemangkatan jiwa orang.

Tak tahunya, cengkraman tangan orang tiba-tiba menjadi kendor.

Sorot matanya mengunjuk derita yang tak terperikan.

Dengan menatap Dian Susi, mulutnya menggumam.

"Kau memang pantas membunuhku, aku tidak salahkan kau... aku tidak salahkan kau..."

Berulang kali dia ucapkan kata-kata ini, suaranya semakin pelan dan mendesis sampai tak terdengar lagi.

Pelan-pelan matanya terpejam, pelan-pelan pula badannya tersungkur roboh.

Tapi sebelum ajal tiba-tiba dia membuka mata pula, katanya dengan meronta.

"Aku tidak menemukan temanmu, karena dia sudah melarikan diri... tapi kenyataan aku memang sudah mencarinya, aku pasti tidak menipu kau!"

Setelah mengutarakan isi hatinya baru jiwanya melayang. Dian Susi berdiri menjublek laksana patung, tiba-tiba didapati sekujur pakaiannya basah kuyup.

"Tang"

Golok di tangannya berkerontang jatuh di lantai batu.

"Tahukah kau, kalau mau dia bisa membunuhmu?"

Tiba-tiba didengarnya suara dingin itu berkata pula. Entah kapan Kek siansing tahu-tahu sudah berada di kamar batu ini.

"Aku tahu,"

Sahut Dian Susi tanpa berpaling.

"Dia tidak membunuhmu karena dia mencintai kau, dan kau bisa membunuh dia karena dia mencintai kau. Dan itulah kesalahannya."

Apakah mencintai seseorang itu merupakan kesalahan?

Tak tertahan bercucuran air mata Dian Susi, sungguh tidak pernah terbayang olehnya, dirinya bakal menangis demi kematian seseorang yang seharusnya tidak patut dia tangisi.

Maka kupingnya mendengar suara Bwe-ci yang halus itu sedang membujuknya dengan lemah lembut.

"Pulanglah, tamu-tamu sudah pergi semua, Ong toanio sedang menunggumu, lekas pulang!"

Laksana badan dilecut cemeti Dian Susi tersentak mundur mendengar nama Ong toanio.

"Aku tidak mau pulang!"

"Tidak pulang mana boleh? Memangnya kau minta digendong?"

"Ampunilah diriku, biarlah aku pergi..."

"Kau tidak bisa pergi, setelah berada di sini, siapapun takkan diizinkan pergi."

Tiba-tiba Kek Siansing menyela lagi.

"Kalau kau ingin pergi, aku punya cara untuk membantumu."

"Cara apa?"

Tanya Dian Susi girang.

"Asal kau berjanji kepadaku, kubantu kau pergi dari sini."

"Berjanji apa?"

"Berjanji mau kawin dengan aku."

Bwe-ci cekikikan, katanya.

"Kek siansing tentu hanya berkelakar saja."

"Kau kira aku sedang berkelakar?"

Suara Kek siansing dingin. Rada dipaksakan tawa Bwe-ci, katanya.

"Umpama Kek siansing mau mengabulkan permintanya, aku tidak akan membiarkan dia pergi."

"Kalau begitu terpaksa aku membunuhmu." . Semakin getir tawa Bwe-ci, katanya.

"Tapi Ong toanio..."

Kembali mendengar nama "Ong toanio", seketika Dian Susi kertak gigi.

"Baik aku kabulkan permintaanmu,"

Habis kata-katanya, dilihatnya Bwe-ci sudah tersungkur jatuh.

Bergidik Dian Susi dibuatnya, pelan-pelan dia berpaling.

Bayangan Kek siansing sudah tidak kelihatan lagi.

Tanpa hiraukan apa lagi dia menerjang keluar.

Di depan sana ada sudut tembok, di sana ada sebuah pintu kecil yang terbuka.

Dian Susi terus menerobos keluar.

Apapun tidak dia perdulikan tanpa berpaling atau mengawasi keadaan sekelilingnya, dengan tancap gas dia lari sipat kuping.

* * * * * Malam sudah berlarut.

Jagat raya gelap gulita.

Apapun tak terlihat olehnya.

Tanpa membedakan arah kakinya terus berayun dengan cepat.

Akhirnya dia roboh lemas.

Di mana dia roboh seakan-akan dia memeluk sebuah batu.

Terdengar seseorang berkata.

"Apa kau baru datang? Aku sedang menunggumu di sini."

Itulah suara Kek siansing. Entah kapan Kek siansing tengah duduk di atas batu nisan. Hampir melengking suara Dian Susi.

"Kau menunggu aku? Kenapa menungguku?"

"Ada sepatah kata ingin kutanya kepadamu."

"Ta...tanya apa?"

"Kapan kau akan menikah dengan aku?"

"Siapa bilang aku hendak menikah denganmu?"

"Kau sendiri yang bilang, kau sudah mengabulkan permintaanku."

"Aku tidak pernah berkata demikian, aku tidak pernah mengabulkan..."

Sambil berteriak kembali dia ayun langkah lari terbirit-birit.

Ketakutan membangkitkan seluruh kekuatan fisiknya, sekaligus dia lari dalam jarak yang cukup jauh tanpa berani berpaling ke belakang.

Tidak mendengar langkah, kiranya Kek siansing tidak mengejarnya.

Akhirnya dia tidak tahan lagi tersungkur lemas.

Kali ini dia jatuh di tanah miring, tanpa kuasa badannya menggelinding masuk ke dalam lubang yang cukup dalam.

Entah lubang kelinci, liang rase atau sarang ular tidak diperdulikan lagi oleh Dian Susi.

Perduli rase atau ular kini tidak ditakutinya lagi seperti dia berhadapan dengan Kek siansing.

Boleh dikata orang yang satu ini lebih licin dan licik dari rase, lebih jahat dan berbisa dari ular.

Diam-diam Dian Susi berdoa kepada Thian Yang Maha Kuasa, semoga dirinya dilindungi, supaya Kek siansing tidak muncul lagi.

Dia rela melakukan apapun tanpa pamrih sebagai imbalan.

Agaknya doanya dikabulkan, lama mengeram diri di dalam lubang itu, Kek siansing tidak kunjung kelihatan.

Entah berapa lama telah berselang cuaca sudah mulai remang-remang, tabir malam sudah mulai tersingkap oleh secercah cahaya memutih di ufuk timur.

Dian Susi menghirup hawa pagi nan segar, seolah-olah dia baru saja siuman dari mimpi panjang yang aneh dan lucu, sepanjang hari dia ditipu orang, namun dia pun pernah menipu orang, dan orang baik yang mencintai dirinya malah ditipu dan terbunuh di tangannya!

Baru sekarang dia benar-benar menyadari antara baik dan kejahatan, betapapun garis-garis perbedaan ini tidak bisa dibedakan hanya dengan lahiriahnya saja.

"Sebetulnya perbuatan apa yang telah kulakukan? Terhitung orang macam apa sebenarnya aku ini?"

Terasa seperti disayat-sayat rasa sakit hati Dian Susi. Seolah-olah badannya dilecuti oleh cambuk yang tidak kelihatan.

"Apakah ini kehidupan manusia? Beginikah kehidupan manusia? Beginikah manusia harus menjalani hidupnya?"

Dia curiga, dia tidak mengerti.

Dia tidak mengerti kenapa kehidupan manusia terdapat begini keganjilan yang tidak adil, derita yang tidak seimbang.

* * * * * Fajar telah menyingsing.

Mendadak Dian Susi merasa dirinya sudah tumbuh dewasa.

Perduli apapun yang dia lakukan, entah salah atau benar?

Yang terang dia sudah menyelami harta dari kehidupan manusia yang sebenarnya.

Umpama perbuatannya salah, patut dimaafkan, karena apa yang telah dilakukan hakikatnya tidak sengaja dan rela dia lakukan.

Mata Dian Susi terasa mengantuk sekali, sekuatnya dia hendak membuka mata, tapi rasa kantuk sungguh tak tertahankan lagi.

Dia memang terlalu letih.

Meski tahu dirinya tidak pantas tidur di tempat seperti ini, namun rasa kantuknya tak tertahan pula.

Di saat pikirannya remang-remang dan hampir pulas, seolah-olah dia mendengar ada orang sedang berteriak-teriak memanggil dirinya.

"Toasiocia, Dian toasiocia..."

Siapakah yang sedang memanggilnya?

Suara itu seperti pernah dikenalnya.

Dian Susi merangkak berdiri sambil membuka mata, lehernya terangkat melongok keluar.

Suara panggilan itu semakin dekat.

Tampak empat orang berjajar mendatangi.

Mereka adalah Thi Ke-po, Topak Lo-liok, Chi It-to dan Tio lotoa.

Melihat keempat orang ini, seketika Dian Susi naik pitam.

Jikalau bukan gara-gara para kurcaci ini, masakah dirinya tertimpa malang dan mengalami derita ini?

Untuk apa pula mereka mencari dirinya?

Memangnya hendak menipu dirinya sekali lagi?

Segera dia melompat keluar, dengan bertolak pinggang dia deliki mata kepada mereka berempat.

Melihat dirinya muncul, keempat orang ini ternyata tidak melarikan diri, malah unjuk rasa girang, tersipu-sipu mereka menghampiri berebut memberi hormat.

"Untuk apa pula kalian mencari aku?"

Sentak Dian Susi mendelik. Senyum Chi It-to kelihatan paling wajar, katanya dengan munduk-munduk.

"Cayhe beramai mencari Dian toasiocia."

"Masih berani kalian mencari aku? Tidak kecil ya nyali kalian!"

Chi It-to tiba-tiba berlutut, katanya.

"Siaujin tidak tahu asal-usul Toasiocia, sehingga berbuat salah, semoga Toasiocia suka memberi ampun."

Tersipu-sipu tiga orang yang lain ikut berlutut. Tio lotoa angsurkan dua buntalan dan diletakkan di atas tanah, katanya.

"Buntalan yang ini berisi perhiasan Toasiocia, buntalan yang ini berisi uang tujuh ratus tail perak, semoga Toasiocia tidak mengusut perbuatan dosa kami, menerima kembali buntalan ini, Siaujin berempat pasti amat berterima kasih."

Sungguh tak nyana bila keempat manusia keparat ini mau bertobat dan mohon maaf minta ampun, Dian Susi malah rikuh dibuatnya selain merasa bangga, katanya dengan menarik muka.

"Jadi kalian sudah tahu salah?"

Empat orang manggut-manggut bersama, sahutnya berbareng pula.

"Siaujin tahu salah, Siaujin memang patut mampus..."

Lemas dan tidak tega hati Dian Susi, masa laki-laki segede ini berlutut kepada dirinya, baru saja dia hendak suruh mereka bangun.

Tak nyana di waktu mereka mengatakan "mampus", jidat mereka tiba-tiba dihiasi sebuah lubang kecil.

Darah segar seketika mengalir dari lubang kecil ini, mengalir membasahi muka mereka.

Mata mereka mendelong lurus, mukanya seketika kaku kejang, ternyata tidak bernafas dan tidak meronta.

Delapan biji mata sama mendelong mengawasi Dian Susi, pelan-pelan berbareng mereka terjengkang roboh.

Kembali Dian Susi berjingkat kaget, hakikatnya dia tidak tahu cara bagaimana lubang kecil di jidat orang bisa terjadi, yang terang roman muka keempat orang ini mendadak seperti muka setan.

Siapa yang membunuh mereka?

Cara keji apa yang dia gunakan?

Serta merta terbayang olehnya cara kematian Bwe-ci yang mirip ini, seketika kaki tangan menjadi dingin lemas.

Kek siansing!

Dian Susi menggembor sejadi-jadinya, dia berpaling.

Tiada bayangan orang, begitu dia membalik lagi, tampak Kek siansing tengah berdiri di depan keempat mayat itu, memandangnya dengan sorot dingin, jubah panjangnya yang terbuat dari kaci seolah-olah sedang berkabung bagi kematian korban-korbannya.

Serasa terbang arwah Dian Susi, teriaknya bertanya.

"Kau... untuk apa kau kemari?"

"Aku kemari mau tanya kepadamu."

"Tanya apa?"

"Kapan kau mau menikah dengan aku?"

Dian Susi jadi bingung sendiri, kenapa dirinya mengajukan pertanyaan yang bodoh ini. Karena dia sungguh terlalu takut, terlalu tegang, hakikatnya dia tidak kuasa kendalikan emosi dirinya.

"Keempat orang ini memang akulah yang suruh mereka kemari,"

Kata Kek siansing. Dian Susi manggut-manggut sekuatnya.

"Aku... aku tahu,"

Sahutnya.

"Barang-barangmu sudah dikembalikan, kenapa tidak kau ambil?"

"Aku tidak mau, apapun tidak mau!"

Teriaknya.

"Kau tidak mau, aku mau,"

Kata Kek siansing sambil menjemput buntalan itu.

"Anggaplah ini sebagian pesalin dari perkawinan kita yang akan datang."

Tanpa terasa Dian Susi angkat kepala mengawasinya.

Baru pertama kali ini dia melihat tampang orang secara berhadapan, seketika sekujur badannya menjadi dingin seperti kecemplung ke sumur es.

Tiba-tiba dia menjerit.

"Aku tidak pernah mengabulkan permintaanmu... tidak pernah..."

Kembali dia putar badan terus sipat kuping.

Entah darimana datangnya tenaga, sekaligus dia ngacir sejauhnya tanpa merasa letih, angin terasa menderu di pinggir telinganya.

Waktu dia melirik ke belakang bayangan Kek siansing tidak kelihatan.

Akhirnya dia tersungkur di pinggir jalan raya.

* * * * * Kabut tebal yang memutih laksana kapas mulai sirna tertingkah sinar matahari.

Suasana pagi masih hening lelap, sayup-sayup dari kejauhan di pengkolan jalan di depan sana kumandang suara kereta menggelinding semakin dekat, kadang terdengar ringkik kuda yang perlahan.

Setelah semakin dekat didengarnya suara orang berdendang menyanyikan lagu-lagu gembala.

Seketika bangkit semangat Dian Susi, lekas dia merangkak bangun, maka dilihatnya sebuah kereta besar mendatangi memecah kabut tebal.

Kusir keretanya adalah seorang kakek tua yang sudah ubanan.

Lega hati Dian Susi.

Tentu kakek tua boleh dipercaya daripada anak muda.

"Loyacu,"

Dian Susi segera menyapa dari kejauhan.

"bolehkah kau tolong aku? Pasti akan kuberi persen yang besar."

Si kakek berseru sambil menghentikan keretanya, dari atas sampai ke bawah dia amat-amati Dian Susi, lalu tanya dengan plegak-pleguk.

"Entah nona mau ke mana?"

Seketika Dian Susi melongo, kemana dia hendak pergi?

Mau pulang ke rumah?

Begini rupa masakah pulang?

Umpama ayah tidak memakinya, orang akan copot giginya saking geli mentertawakan keadaan dirinya.

Apakah pergi mencari Dian Sim?

Ke mana hendak mencari?

Apa benar dia bisa melarikan diri?

Kalau tidak mau pulang, tak bisa menemukan Dian Sim, terpaksa pergi ke Kanglam saja.

Bukankah dirinya keluar rumah dengan tujuan ke Kanglam.

"Nona apakah kau kesamplok rampok?"

Tanya kakek tua keheranan. Dian Susi manggut-manggut, orang yang mengganggunya entah berapa kali lipat lebih menakutkan dari rampok. Si kakek geleng-geleng, katanya.

"Nona sebesar ini tidak pantas kelayapan seorang diri di luar, jaman seperti ini orang jahat ada di mana-mana...ai,"

Lalu dia menambahkan.

"Lekas naik, kuusahakan mengantarmu pulang."

Tertunduk kepala Dian Susi, katanya plegak-pleguk.

"Rumahku jauh sekali."

"Jauh sekali, berapa jauh?"

"Di Kanglam."

Sekilas si kakek melengong, katanya tertawa getir "Kanglam sejauh itu, wah bagaimana baiknya?"

"Ke manakah Loyacu hendak pergi?"

Tiba-tiba terbetik senyuman lebar pada muka keriput si kakek, katanya.

"Aku punya famili, hari ini ada gawe mengawinkan putrinya, sekarang aku ke sana untuk hadir dalam pesta perkawinannya, maka aku sebetulnya tidak terima penumpang."

"Kalau begitu, ke mana Loyacu pergi, biarlah aku ikut dulu ke sana, setiba di sana aku segera turun,"

Yang diinginkan meninggalkan tempat ini sejauh mungkin.

"Begitupun baik, nona seorang yang kesusahan, ongkos kereta ini boleh tidak usah bayar, setiba di tujuan aku bisa memberi sekedar sangu kepada nona."

Saking haru serasa tersumbat tenggorokan Dian Susi.

Kiranya masih ada orang baik dalam dunia ini.

* * * * * Lama juga kereta ini menempuh perjalanan, kereta gunjang-ganjing di jalanan yang tidak rata, si kakek masih bernyanyi-nyanyi kecil.

Saking letih Dian Susi jatuh pulas dalam kereta, dalam mimpinya terbayang olehnya di masa dirinya masih kecil tidur di dalam keranjang goyang, bu inangnya sedang menina bobokan dirinya.

Entah berapa lama dia tenggelam dalam impian.

Tiba-tiba Dian Susi terjaga bangun oleh suara petasan yang riuh, baru sekarang dia tahu ternyata kereta sudah berhenti.

Dilihatnya si kakek sedang mengawasinya di luar kereta, katanya tertawa.

"Sudah sampai rumah familiku, silahkan nona turun!"

Dengan kucek-kucek mata, Dian Susi melangkah turun.

Ternyata kereta ini berhenti di luar sebuah rumah gedung bertembok tinggi yang cukup besar, bagian depannya pekarangan luas, sekeliling rumah dipagari tanaman gandum yang tumbuh subur di ladang.

Luar dalam rumah besar ini ditempeli kertas-kertas merah besar pertanda hari girang adanya perkawinan, entah tua muda semua berpakaian serba baru, semuanya berseri girang.

Tiba-tiba timbul rasa getir dalam relung hati Dian Susi, tiba-tiba terasa orang-orang itu semua amat riang dan gembira, bahagia lagi, daripada dirinya yang selalu tertimpa malang.

Terutama mempelai perempuan tentu amat senang dan bahagia.

"Dan aku? Kapan aku akan mengalami hari bahagia seperti ini?"

Demikian Dian Susi bertanya-tanya dalam hati, segera dia melompat turun dan berkata dengan menunduk.

"Loyacu, soal sangu terus terang aku tidak berani terima, Loyacu sudah membawaku begini jauh, aku... aku sudah amat berterima kasih,"

Kata-katanya tersendat di dalam mulut. Simpatik sifat si kakek, katanya.

"Nona kau hendak pergi ke mana?"

"Aku punya tujuan tertentu, Loyacu tidak usah kuatir."

"Begini saja, nona kan tiada urusan penting, silahkan masuk dulu ikut pesta perkawinan ini."

Belum ucapan si kakek selesai, dari samping seseorang menyeletuk.

"Benar, nona sudah berada di sini, kalau tidak mau minum sekadar arak kegirangan, berarti nona tidak memandang sederajat kami orang-orang desa."

Seorang yang lain ikut menimbrung dengan tawa.

"Apalagi memang kita kekurangan tamu, dua meja masih belum penuh, kalau nona sudi memberi muka, kami akan menerima dengan senang hati, mari silahkan duduk di dalam."

Baru sekarang Dian Susi melihat dari dalam rumah berbondong-bondong keluar beberapa orang seperti menyambut dirinya, dua nyonya setengah umur yang berdandan amat menyolok dengan kedua tangan masing-masing penuh hiasan sudah maju menarik lengan Dian Susi.

Tanpa kuasa Dian Susi terus digelandang beramai-ramai oleh orang-orang desa itu masuk ke dalam.

Kembali suara petasan berbunyi di luar dengan ramainya.

Dua meja segi delapan yang besar sudah penuh makanan yang beraneka ragamnya, tiba-tiba timbul rasa hangat dan ria dalam relung hati Dian Susi, pengalaman getir dan derita yang dialami barusan sudah terlupakan sama sekali.

Dirinya langsung digelandang duduk ke meja di sebelah kiri, kakek tua itu duduk di sebelahnya.

Meja ini hanya diduduki lima orang, agaknya tamu yang datang berpesta perkawinan ini memang tidak banyak, kecuali dirinya, satu sama lain agaknya adalah kawan-kawan karib.

Semua memandang dirinya dengan pandangan takjub dan heran, sudah tentu lama kelamaan hatinya jadi risau, tanyanya berbisik kepada si kakek tua.

"Kado aku tidak menyediakan, rasanya kurang enak."

Kakek tua tertawa, ujarnya.

"Tidak perlu, tidak usah menyumbang segala."

"Kenapa aku tidak perlu memberi kado?"

"Pesta kawin ini diadakan secara mendadak, soalnya kedua mempelai laki dan perempuan sama-sama rada luar biasa."

"Apanya yang luar biasa? Sebetulnya pernah apa Loyacu dengan mereka?"

"Sebentar mempelai laki-laki akan keluar, akan tahu sendiri."

"Mempelai laki-laki akan segera keluar, lalu mempelai perempuan?"

Tawa si kakek rada aneh, ujarnya.

"Mempelai perempuannya sudah berada di dalam rumah ini."

"Di dalam rumah, di mana?"

Matanya mengerling ke sekelilingnya, kecuali dirinya dan si kakek, dalam rumah ini hanya ada tujuh delapan tamu.

Dua nyonya yang menariknya tadi duduk di hadapannya sambil tersenyum-senyum.

Diam-diam dia merasa geli, tanyanya berbisik.

"Apakah yang duduk di depanku ini mempelainya?"

Si kakek menggeleng, sahutnya tertawa dengan lirih.

"Masakah ada mempelai yang begitu buruk rupanya?"

"Kalau bukan dia lalu siapa?"

Dari ujung matanya dia melirik ke sekitarnya, kecuali dirinya dan kedua nyonya setengah umur dalam ruang pesta ini tiada perempuan muda yang lain. Keruan semakin heran hatinya, tanyanya.

"Dimanakah mempelai perempuan? Kenapa aku tidak melihatnya?"

"Waktunya kalau tiba, kau akan melihat sendiri, mempelai laki saja tidak gelisah, kenapa kau malah tak sabar?"

Merah muka Dian Susi, tanyanya pula.

"Mempelai perempuannya cantik tidak?"

"Sudah tentu amat cantik,"

Sahut si kakek tertawa penuh arti.

"Malah yang tercantik di dalam rumah ini."

Merah muka Dian Susi, baru saja kepalanya tertunduk, maka dilihatnya sepasang kaki yang mengenakan sepatu tinggi serba biru melangkah dari dalam, di atas sepatu adalah seperangkat jubah besar warna merah tersulam naga dan burung hong yang menyolok.

Mempelai pria akhirnya keluar juga.

Ingin Dian Susi angkat kepala memandang si mempelai pria, entah gagah, cakap, jelek atau tua mungkin muda?

Tapi dia merasa rikuh dan malu.

Tak nyana mempelai pria begitu keluar langsung menghampiri dirinya, dan berhenti di hadapannya.

Baru saja Dian Susi merasa heran, tiba-tiba didengarnya seluruh hadirin bertepuk tangan.

Kembali Dian Susi melirik waktu mendengar pujian dari sana sini, tapi terang mempelai pria hanya seorang diri, kenapa dikatakan pasangan yang setimpal dan mempelai perempuan cantik rupawan segala.

Tak tahan dia menarik ujung baju kakek di sebelahnya serta bertanya bisik-bisik.

"Mana mempelai perempuannya?"

Kakek tua tertawa berseri, sahutnya.

"Mempelai perempuannya adalah kau."

Baru saja Dian Susi merasa geli akan banyolan si kakek tua, tiba-tiba nalurinya merasakan sesuatu yang ganjil, banyolan seperti ini rada keterlaluan.

Sementara semua hadirin tepuk tangan seraya memuji dan menggoda supaya upacara nikah lekas dilaksanakan.

Kedua kaki mempelai pria seperti terpaku di atas tanah.

Tak tahan akhirnya Dian Susi memberanikan diri angkat kepala.

Sekilas saja seketika sekujur badannya seperti kejang dan kaku, arwahnya serasa terbang meninggalkan raganya.

* * * * * Dandanan mempelai pria tak ubahnya dengan pengantin umumnya, pakaiannya serba baru kalau tidak mau dikatakan terlalu mewah bagi seorang pengantin di desa yang kecil ini.

Tapi bentuk roman mukanya itu tanggung takkan ada bentuk roman muka seperti ini dalam dunia ini.

Boleh dikata itu bukan bentuk muka manusia.

Karena dia bukan lain adalah Kek siansing.

Manusia dedemit yang paling ditakutinya.

Jadi mempelai pria adalah Kek siansing!

Terasa oleh Dian Susi badannya seperti lunglai dan meloso ke bawah, duduk pun tidak tegak lagi, giginya berkerutukan, bukan kedinginan tapi lantaran takut dan ngeri.

Ingin menangis air mata tidak keluar, ingin berteriak, tenggorokan seperti tersumbat.

Tenang-tenang saja Kek siansing mengawasinya, katanya kalem.

"Sudah tiga kali aku bertanya, kapan kita akan kawin, kau tidak memberi jawaban, terpaksa aku sendiri yang memutuskan hari ini."

"Aku... aku tidak..."

Suaranya tenggelam dalam tenggorokan.

"Hari ini kita akan resmi menikah dengan suka sama suka dengan disaksikan oleh mak comblang."

"Benar,"

Ujar si kakek.

"akulah comblangnya."

"Mereka yang hadir menjadi saksi semuanya, siapa lagi yang akan menentang pernikahan resmi ini."

"Bluk!"

Tak kuasa Dian Susi kendalikan dirinya, akhirnya dia tersungkur jatuh dari kursinya. Sekonyong-konyong didengarnya seseorang berkata.

"Kalau tiada orang menentang pernikahan ini, aku sebaliknya perlu menyampaikan sepatah dua patah."

Si pembicara adalah pemuda pendek tambun, bermuka bundar, sepasang matanya terlalu sipit, tulang pipinya tinggi dan lebar, jarak antara kedua alisnya mungkin satu lipat lebih lebar dari alis orang biasa.

Kalau mulutnya sudah besar, kepalanya lebih besar lagi, maka bentuk keseluruhannya menjadi aneh dan lucu.

Tapi sikap dan kata-katanya amat tenang dan wajar.

Dengan ongkang-ongkang kakinya yang pendek gemantung di atas kursi seorang diri tengah duduk di meja kursi sebelah kanan itu, tangan kanan memegangi cangkir arak, tangan kiri memegangi poci.

Cangkir araknya itu besar luar biasa, tapi sekali tenggak secangkir besar itu dia habiskan, lebih cepat dari orang lain minum secangkir kecil, entah berapa cangkir telah dia habiskan.

Anehnya orang setambun itu, namun tiada seorang pun hadirin yang tahu kapan dia datang dan tahu-tahu sudah bertengger di atas kursi, makan minum seorang diri.

Sudah tentu kehadirannya menimbulkan kegemparan para hadirin.

Hanya Kek siansing sedikit pun tidak terpengaruh, katanya tawar.

"Apa yang ingin kau kemukakan mengenai pernikahan ini?"

Pemuda tambun itu menghela nafas, katanya tawar.

"Sebetulnya aku tidak ingin usil mulut, sayang mau tidak mau aku harus bicara."

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Segala persiapan pernikahan sudah lengkap, hanya ada satu yang kau lupakan."

"Hal apa yang kurang lengkap?"

"Kalau mempelai perempuannya betul dia, maka pengantin prianya tidak pantas kalau kau."

"Kalau bukan aku memangnya siapa?"

Dengan mulut poci arak di tangannya si pemuda tambun menuding hidungnya, sahutnya.

"Aku inilah." * * * * * Pengantin prianya harus dia? Dian Susi yang sudah lunglai rebah di atas tanah lekas menekan kepala mendengar kata-kata ini. Dilihatnya pemuda tambun itu tengah mengawasi dirinya, lapat-lapat terasa oleh Dian Susi seperti sudah kenal benar dengan muka pemuda yang bermuka lain dari yang lain. Pelan-pelan pemuda tambun berdiri, katanya memperkenalkan diri.

"Aku she Nyo, bernama Nyo Hoan."

Kelihatannya pemuda ini tak ubahnya dengan manusia awam lainnya, cuma perawakannya pendek dan tambun. Tapi mendengar nama "Nyo Hoan"

Dian Susi berjingkat dibuatnya, seketika teringat olehnya siapa sebenarnya orang ini.

Kemarin malam baru saja dirinya melihat orang ini berada bersama ayah dan bapak pemuda ini di kediaman Ong toanio.

Dia bukan lain adalah putra Nyo samya dari Toa-bing-hu, yaitu makhluk yang sering didengar Dian Susi dari pembicaraan orang lain.

Sungguh tidak pernah terbayang olehnya makhluk aneh ini mendadak muncul di sini.

Agaknya Kek siansing juga pandang pemuda tambun ini sebagai makhluk aneh, dengan dingin dia tatap muka orang cukup lama, tiba-tiba mukanya yang kaku itu tertawa.

Baru pertama kali ini Dian Susi melihat dia tertawa.

Terdengar orang berkata dengan tertawa.

"Ternyata kau pun ingin jadi pengantin."

"Terus terang aku tidak ingin jadi pengantin, cuma terpaksa aku harus kemari."

"Harus kemari? Memangnya ada orang yang mengancammu dengan golok menyuruh kau kemari?"

Nyo Hoan menghela nafas, ujarnya.

"Manusia mana yang mau berpeluk tangan mengawasi calon istrinya dipaksa kawin dengan orang lain?"

"Apakah dia istrimu?"

Tanya Kek siansing.

"Sekarang memang belum, tapi boleh dikata sebagai calon."

"Aku tidak perduli, yang terang dia sendiri yang berjanji kepadaku, katanya mau menikah dengan aku."

"Umpama dia sendiri mengabulkan permintaanmu juga tak berguna."

"Kenapa tidak berguna?"

"Karena ayahnya sudah menjodohkan dia kepadaku, bukan saja ada perintah ayah bunda, kami pun menggunakan cara yang resmi dan telah meminangnya lebih dulu, itulah yang dinamakan perjodohan resmi, siapapun takkan bisa menggugatnya lagi."

Lama Kek siansing terpekur, katanya kemudian.

"Kalau untuk menghalangi kau mengawini dia, agaknya hanya ada satu cara."

"Cara apapun tiada."

"Ada saja, orang mati tentunya tidak bisa kawin."

Nyo Hoan tertawa.

Dian Susi baru pertama kali ini melihat orang tertawa.

Mendadak teringat olehnya supaya orang lekas lari saja, lebih cepat lebih baik, sekonyong-konyong dia merasa tidak tega bila melihat pemuda tambun yang lucu ini mati di tangan Kek siansing.

Dia sendiri sudah saksikan betapa lihay ilmu silat Kek siansing.

Apalagi jidat pemuda tambun ini amat lebar, tentu lebih mudah menjadi sasaran serangan senjata rahasia Kek siansing yang hebat itu, sungguh tidak tega Dian Susi melihat jidat lebar orang berlubang mengeluarkan darah, jiwanya pun melayang seketika.

Untung Kek siansing tidak segera turun tangan, dia masih berdiri kaku di tempatnya.

Sementara Nyo Hoan menuang secangkir arak, begitu isinya habis, cangkir itu lantas diataruh di atas jidatnya.

Maka terdengar "ting"

Cangkir itu berbunyi nyaring.

Seketika berubah air muka Kek siansing.

Baca Juga: Tangan Berbisa 7

Baca Juga: Dendam Asmara 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger