Eps 2 Tujuh Pembunuh - Gu Long
Baca online Tujuh Pembunuh - Gu Long
Cersil Tujuh Pembunuh - Gu Long.
Dikala dia mulai berpikir dan melamun, tiba tiba pemuda itu menyaksikan munculnya seorang gadis yang sepuluh kali lipat lebih cantik daripada cahaya matahari, lebih manis daripada pegunungan nun jauh disana balikan sekalipun ditambah dengan riak air diatas permukaan telaga.
Gadis itu sedang memberi makan sekawanan ayam dalam pekarangan rumahnya yang kecil, dia mengenakan gaun berwarna hijau, sembari menyebar segenggam beras, mulutnya yang kecil mungil tak hentinya mengeluarkan bunyi "kurr,kurr.kurr"
Untuk memanggil kawanan ayam itu.
Selama hidup, belum pernah dia jumpai bibir kecil se mungil dan seindah itu.
Udara terasa mulai panas, pakaian yang dikenakan perempuan itu tipis sekali, kancing diatas kerah bajunya tampak terbuka satu sehingga nampak dengan jelas tengkuknya yang berwarna putih dan sangat halus.
Hanya melihat tengkuknya saja, orang dapat dengan mudali membayangkan bagian bagian tubuhnya yang lain, apalagi waktu itu dia bertelanjang kaki, sepasang kakinya yang putih mungil hanya mengenakan sepasang bakiak kayu.
"Kaki diatas bakiak putih bagai salju, pusar drperut hitam bagai burung gagak"
Tiba tiba Liu Tiang-kay merasa dua bait syair diatas benar benar tidak mengerti tentang wanita, mana ada kaki wanita diibarat kan dengan "salju"?
Kalau ingin bicara sejujurnya, kaki wanita seha rasnya putih bagai susu sapi, lembut bagai telur ayam yang baru keluar dari cangkangnya.
Dari dalam bilik rumah muncul seorang lelaki, seorang pria y"i| usianya sudah cukup banyak, wajahnya sangat memuak kan, terutama sepasang mata cabulnya sungguh memuakkan sekali, waktu itu mata yang memuakkan itu sedang menatap pantat si gadis yang bulat lagi kencang.
Tiba tiba dia berjalan mendekat, setelah meraba dan meremas sejenak pantat bulat itu, dia menarik tangan gadis itu untuk diajak masuk.
Gadis itu nampak tertawa cekikikan, sambil gelengkan kepalanya dia menuding matahari di angkasa, artinya dia sedang berkata, sekarang masih siang, kenapa kau sudah ngebet?
Kelihatannya pria itu adalah suami si gadis.
Membayangkan bagaimana begitu malam tiba, si lelaki tengik iiu segera akan menarik si gadis naik ke ranjang dan menaikinya, hampir saja Liu Tiang-kay tak dapat menahan diri, dia ingin menerjang ke hadapan lelaki itu dan meninju hidungnya hingga bengkok.
Sayang dia bukan manusia yang tak tahu aturan, dia tahu meskipun dia bisa menghajar hidung lelaki itu sampai bengkok, dia tak bisa menghajarnya dengan memakai kepalan.
Buru buru dia balik kembali ke kota, uang kertas miliknya segera ditukar dengan goanpo bernilai lima puluh tahil perak, kemudian balik laci ke tempat semula.
Waktu itu, si nona sudah tidak lagi memberi makan ayam ayamnya, suami istri berdua sedang duduk di muka pintu rumah, yang satu sedang minum teh sedang yang lain sedang menjahit pakaian.
Jari tangannya yang halus, panjang dan indah sedang meraba rata tubuh lelaki itu, Ooh, betapa nikmatnya ketika dibelai.....diraba......
Liu Tiang-kay tak dapat menahan diri lagi, dia segera mengetuk pintu, kemudian tanpa menunggu jawaban orang lain, dia langsung mendului, masuk ke dalam ruangan.
Lelaki itu segera melompat bangun, tegurnya dengan mata melotot."Siapa kau?
Mau apa datang kemari?"
Liu Tiang-kay tersenyum.
"Aku she-Liu, khusus datang kemari untuk menyambangi kalian!"
"Tapi aku tidak kenal kau!"
Liu Tiang-kay tersenyum, dia ambil keluar sekeping goanpoo, kemudian katanya."Tapi kau pasti kenal dengan benda ini bukan?"
Tentu saja setiap orang pasti kenal dengan benda itu, sepasang biji mata lelaki itu hampir melotot keluar, teriaknya."ltu kan uang perak, goanpo perak!"
"Kau memiliki berapa banyak goanpo macam begini?"
Tanya Liu Tiang-kay lagi.
Lelaki itu tak mampu menjawab, sebab biar sekeping pun dia tak punya.
Waktu itu, si gadis sebenarnya ingin bersembunyi ke dalam kamar, tapi dia segera menghentikan langkah kakinya setelah melihat kepingan goanpo itu.
Benda semacam ini tampaknya memiliki daya tarik yang luar biasa, bukan saja dapat menghentikan langkah kaki banyak orang, juga dapat merontokkan liangsim banyak orang.
Liu Tiang-kay mulai tertawa.
Dia segera memberi tanda, si kusir pun segera menggotong keluar empat buah peti besar yang penuh berisi goanpo dari dalam kereta, peti peti berat itu dijejerkan di tengah halaman dan membukanya satu per satu.
Kata Liu Tiang-kay kemudian."Setiap keping goanpo itu bernilai lima puluh tahil perak, semua goanpo yang ada disitu total jenderal bernilai seribu tahil perak"
Biji mata pria itu nyaris melompat keluar dari kelopak matanya, sementara paras muka perempuan itu pun telah berubah merah membara, napasnya tersengkal sengkal, persis seperti anak gadis yang mulai terangsang napsu birahinya dan ingin segera dinaiki pasangannya.
"Kau ingin tidak mendapatkan semua goanpo itu?"
Tanya Liu Tiang-kay. Pria itu segera manggut manggut.
"Bagus sekali"
Liu Tiang-kay tersenyum.
"bila kau mau, akan kuberikan kepadamu!"
Biji mata lelaki itu hampir saja melompat keluar dari kelopak matanya, ia terhuyung huyung mundur berapa langkah, tubuhnya mulai gontai.
"Sekarang kau boleh segera ambil pergi dua peti goanpo itu, pergi saja semaumu, kereta itu juga kuberikan kepadamu, asal kau baru boleh pulang tujuh hari kemudian"
Setelah tersenyum dan melirik perempuan itu sekejap, lanjutnya.
"Sisanya yang dua peti akan kuberikan untuk binimu!"
Perempuan itu sama sekali tidak memandang ke arah suaminya, sepasang matanya seperti tertempel lekat diatas dua peti besar berisi goanpo itu.
Sambil menjulurkan lidahnya membasahi bibirnya yang mulai mengering, pria itu berbisik dengan suara terbata bata.
"Kau.....bagaimana.... bagaimana menurut kau?"
Sambil menggigit bibir tiba tiba perempuan itu membalik kan tubuhnya dan lari masuk ke dalam kamar.
Pria itu seperti ingin mengejar bininya, tapi kemudian dia berhenti, dia batalkan niatnya itu.
Seluruh pikiran dan perhatiannya sudah tertuju pada dua peti besar berisi goanpo itu.
Tiba tiba Liu Tiang-kay berkata lagi."Kau hanya perlu pergi selama tujuh hari, tujuh hari toh bukan masa yang terlalu panjang...."
Mendadak pria itu mencomot keluar sekeping goanpo dari dalam peti, lalu digigitnya kuat kuat, saking kerasnya dia menggigit hingga nyaris dua buah giginya patah jadi dua.
Tentu saja semua uang perak itu adalah uang asli.
Liu Tiang-kay berkata lagi."Setelah tujuh hari, kau masih boleh pulang kemari, sedang bini mu....."
Tidak menunggu hingga ucapan tersebut selesai diutarakan, tiba tiba pria itu mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya untuk menggotong peti peti berisi uang perak itu kemudian lari menuju ke kereta kuda.
Si kusir kereta membantunya mengangkat peti uang perak yang lain.
Dengan napas terengah engah dan memeluk peti berisi uang perak itu erat erat, lelaki itu berseru.
"Ayoh jalan, cepat jalan, terserah ke manapun mau pergi, makin jauh semakin baik........"
Sekali lagi Liu Tiang-kay tertawa.
Kereta kuda segera bergerak meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Liu Tiang-kay segera mengangkat dua peti uang yang tersisa, berjalan masuk ke dalam rumah, meletakkan peti uang dilantai, menutup pintu kemudian menguncinya dari dalam.
Pintu kamar tidur masih dalam keadaan terbuka, kain tirai tergulung setengah, perempuan itu sedang duduk diujung ranjang, menggigit kencang bibirnya, selembar wajahnya telah berubah merah membara, merah segar bagai sekuntum bunga tho.
Sambil tersenyum Liu Tiang-kay berjalan masuk ke dalam, kemudian tanyanya perlahan.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku sedang berpikir, kau benar benar seorang manusia busuk! Maknya...........! hanya manusia macam kau yang bisa memi kirkan cara sekotor itu dan melakukan perbuatan sebusuk itu"
Liu Tiang-kay menghela napas panjang, setelah tertawa getir katanya.
"Baru saja aku bertaruh dengan diriku sendiri, perkataan apa yang pertama kali akan kau ucapkan, bila dalam perkataanmu itu ada kata "maknya", aku rela tidak melihat perempuan lain selama tiga bulan penuh" -00d00w00-Bab III Bulan purnama menerangi Jalanan panjang. Perempuan itu bernama Oh Gwat-ji, rupanya dia sudah lama kenal dengan Liu tiang-kay, malahan mereka adalah sahabat karib. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Atau, tadi mereka hanya sedang bermain sandiwara? Mengapa harus bersandiwara? Ditujukan untuk siapa sandiwara itu? Oh Gwat-ji sudah bangkit berdiri, sambil bercekak pinggang dan mata mendelik besar, serunya."Aku mau tanya, seandainya benar benar ada sepasang suami istri muda, dan benar benar bertemu dengan manusia semacam dirimu dan menghadapi masalah seperti ini, apa yang mesti dia lakukan?"
Pertanyaan itu kontan saja membuat Liu Tiang-kay melengak, dia termenung dan tak mampu menjawab, sampai lama kemudian baru jawabnya."Biarpun aku bukan terhitung orang baik baik, tapi aku tak bakalan melakukan perbuatan sebejad itu"
"Belum tentu aku maksudkan dirimu, maksudku, andaikata bertemu manusia semacam dirimu?"
Liu Tiang-kay tertawa getir.
"Aku sendiri juga tak tahu harus bagaimana, jalan pikiranku belum berpikir sejauh itu"
"Apakah akal busuk ini hasil pemikiranmu sendiri?"
Tiba tiba paras muka Liu Tiang-kay berubah amat serius, sahutnya.
"Aku sengaja berbuat begini agar Liong Ngo mengira aku memang benar-benar seorang telur yang paling busuk, kita tak boleh membuat dia curiga, biar sedikitpun, maka kita mesti waspada, setiap waktu setiap saat mesti berhati hati, pengaruh serta kekuatan yang dia miliki terlalu besar, mata matanya terlalu banyak dan tersebar dimana mana....."
"Tapi ...barusan................."
"Barusan pun ada mata matanya disini, si kusir kereta itu seratus persen pastilah orangnya"
"Darimana kau tahu?"
"Aku dapat melihatnya"
Kembali dia menambahkan."Jika pemuda itu adalah seorang kusir benaran, di pasti akan terbengong macam orang kehilangan sukma setelah melihat empat peti besar berisi uang perak, tapi kenyataannya dia seperti sudah terbiasa melihat hal semacam ini, dia sangat tenang dan tidak menunjukkan perubahan wajah"
Oh Gwat-ji memutar biji matanya, rasa jengkelnya mulai mereda, tiba tiba berkata lagi sambil tertawa."Konon berapa hari belakangan ini kau hidup sangat gembira"
"Hidungku saja sudah dijotos orang sampai bengkok, masa kau masih menuduh aku hidup senang?"
Sahut Liu Tiang-kay sambi! tertawa getir.
"Yang penting kan tiap hari ditemani banyak cewek, biar kena tonjokan juga tak rugi...."
Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Sayang sekali tak seorang gadis pun diantara mereka yang dapat menandingimu!"
Oh Gwat-ji ikut tertawa.
"Kau tak perlu menjilat pantat, kau toh pasti sadar, aku tak bakal masuk perangkapmu, sebelum tugas itu selesai dikerjakan, jangan harap kau bisa menyentuhku"
"Masa menyentuh tangan saja tak boleh?"
"Tidak boleh, mulai hari ini, aku tidur diranjang dan kau tidur di lantai, jika tengah malam kau berani merangkak naik ke ranjang secara diam diam, aku segera akan beritahu Liong Ngo, semua asal usulmu akan kuuwarkan keluar"
"Aah, dasar bukan manusia, kau memang setan hidup!"
Umpat Liu Tiang-kay sambil menghela napas panjang.
"Kau sendiri memangnya bukan setan? Kau setan hidung belang"
Tiba tiba gadis itu tertawa lagi, setelah mengerdipkan matanya beberapa kali, lanjutnya."Apalagi kau tak lebih hanya sebuah jalanan, sedang aku adalah rembulannya, sinar rembulan bisa menyinari beribu bahkan berjuta juta jalanan, karena itu, aku memang lawanmu yang paling tangguh"
"Yaa, yaa, aku memang selalu keheranan dengan diri sendiri, kenapa aku mesti pilih kau sebagai patnerku"
"Karena aku adalah putri kesayangan Oh Lip, Oh loya, karena aku mampu, aku cerdas, karena persoalan apapun aku paham, semua masalah aku mengerti, karena aku.........."
"Karena kau bukan Cuma seekor rase kecil, kaupun seekor siluman rase!"
Tukas Liu Tiang-kay cepat.
Perempuan itu memang seekor rase kecil, karena ayahnya tak lain adalah seekor rase paling tua di dalam dunia persilatan.
Setiap sahabat dalam dunia persilatan pasti akan berubah wajah dan berdiri bulu kuduknya bila mendengar nama "Oh Lip"
Disebut orang. Sambil tertawa dingin ujar Oh Gwat-ji."Aku sendiri juga heran, kenapa ayahku selalu mengatakan hanya kau yang sanggup menghadapi Liong Ngo? Kenapa aku mesti membantumu?"
"Sebab walaupun ilmu silat yang kumiliki sangat tinggi dan hebat, walaupun aku cerdas dan pandai bekerja namun belum pernah namaku berkibar sebagai seorang jagoan yang terso hor'Tukas Liu Tiang-kay sambil tersenyum.
"justru karena sangat jarang orang persilatan mengenaliku, maka penyakit yang kumiliki meski tak sedikit namun kebaikannya justru lebih banyak, itulah sebabnya dia orang tua sudah lama berencana mengangkatku menjadi menantunya"
"Hmm, kau bukan Cuma pandai mengibul, kentutmu pun sangat busuk!"
Umpat Oh Gwat-ji sambil menarik wajah. Tapi begitu selesai berkata, dia sendiri tak tahan untuk tertawa cekikikan, tanyanya kemudian."Kau sudah berhadapan muka dengan Liong Ngo?"
"Sudah dua kali"
"Kenapa kau tidak gunakan peluang itu untuk membekuknya? Kenapa kau sia siakan kesempatan emas itu?"
"Seandainya aku goblok seperti kau, bila aku benar benar telah melakukan hal itu, yang kau jumpai sekarang mungkin Cuma mayatku"
Oh Gwat-ji tertawa dingin.
"Bukankah ilmu silatmu sangat hebat? Bukankah kepandaianmu sudah terhitung jago kelas satu di kolong langit? Bukan saja ayah selalu memuji muji kehebatanmu, bahkan Ong-ya pun selalu memandang kau bagai barang mestika, masa kau takut dengan orang lain?"
"Aku tak takut menghadapi orang lain, hanya takut menghadapi Liong Ngo!"
Jawab Liu Tiang-kay serius.
"Apa benar kehebatan ilmu silatnya begitu menakutkan seperti kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan selama ini?"
"Bahkan jauh lebih mengerikan daripada apa yang tersiar dalam dunia persilatan selama ini, aku berani jamin, termasuk juga para ciangbunjin dari tujuh partai besar, tak seorangpun jagoan dalam sungai telaga yang sanggup menghadapi dua ratus jurus serangannya!'"
"Bagaimana dengan kau sendiri?"
Liu Tiang-kay tidak menjawab pertanyaan itu, kembali katanya."Apalagi dia didampingi seseorang yang lebih menakut kan"
"LanThian-bong?"
Liu Tiang-kay segera tertawa.
"Singa jantan itu sudah tua, apalagi sudah terlalu lama dikurung dalam kerangkeng, walaupun masih bisa menggigit orang tapi ketajaman giginya sudah tidak setajam dahulu, kecongkakan dan semangat tempur nya juga sudah banyak mengendor"
Berputar biji mata Oh Gwat-ji, tiba tiba katanya."Konon Liong Ngo punya anak buah yang disebut orang sebagai satu singa satu harimau satu burung merak, semuanya adalah jago jago yang sangat menakutkan"
"Tapi sayang si singa jantan sudah tua, harimau hitam sudah naik gunung, sedang si burung merak walaupun cantik dan indah namun tak pandai menggigit orang"
"Jadi bukan mereka yang kau maksud?"
"Bukan"
"Kalau bukan mereka, lalu siapa?"
"Seorang lelaki setengah umur yang selalu memakai baju berwarna hijau dengan celana warna putih, dia nampak sangat pakai aturan, teramat jujur, dan merupakan seorang budak tulen, namun kehebatan ilmu silat yang dimiliki benar benar tak terukur"
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Aku sempat bertarung melawan si singa jantan, tenaga pukulannya memang dahsyat dan mengerikan, hampir seisi gedung bergetar keras terkena dampak angin pukulannya, tapi aku sempat melirik sekejap ke arah lelaki setengah umur berbaju hijau itu, walaupun dia berdiri di sisi arena, jangankan badannya, bahkan ujung baju yang dikenakan pun sama sekali tak terpengaruh getaran angin pukulan itu"
Setelah berpikir sejenak, kembali tambahnya."Itulah sebabnya ketika ia menuangkan arak untukku, sengaja aku awasi terus tangannya, belum pernah kujumpai tangan semantap dan setenang tangannya, biarpun sedang mengangkat poci arak yang berat dan menuang seadanya, ternyata dia sanggup penuhi cawan arakku dengan takaran yang pas, tidak kurang setetes, juga tidak kelebihan satu tetes"
Oh Gwat-ji mendengarkan penuturan itu dengan tenang, dia nampak berpikir sesaat, setelah itu baru tanyanya lagi.
"Apakah kau juga sempat melihat, dari bekas telapak tangannya, atau menurut dugaanmu senjata apa yang biasa dia gunakan?"
"Aku tak bisa menduga, tangannya sama sekali tidak meninggalkan jejak atau pertanda apapun, tangannya begitu halus dan lembut, seperti orang yang tak pernah belajar ilmu silat"
Siapapun itu orangnya, bila dia pernah berlatih menggunakan senjata, maka pada telapak tangannya pasti akan meninggal kan bekas kapalan (kulit tebal), kulit kapalan memang tak akan lolos dari kejelian mata seorang ahli ilmu silat.
"Jangan jangan dia berlatih dengan memakai tangan kiri?"
Tiba tiba Oh Gwat-ji berkata sesudah termenung sesaat.
"Yaa, mungkin saja"
"Menurut pandanganmu, jago mana yang ilmu silatnya paling hebat diantara jago jago yang tersohor menggunakan tangan kiri?"
"Wah, kalau soal itu ada baiknya tanya dengan dirimu sendiri, bukankah dirimu merupakan sebuah Catatan hidup orang kenamaan dunia persilatan?"
Harus diakui, memang itulah kepandaian paling utama yang dimiliki Oh gwat-ji.
Apa yang pernah dilihat dan dibaca olehnya akan selalu teringat dalam benaknya, selain itu, pengetahuannya amat luas.
Apalagi ayahnya memang orang terpanas, tersohor dan paling luas pergaulannya di dalam dunia persilatan, hal ini semakin menambah pengetahuannya hingga makin luas.
Oleh karena itu, tak sedikit yang dia ketahui tentang asal usul tokoh dunia persilatan serta sejarah dunia persilatan.
"Menurut pendapatku, orang yang paling hebat dan luar biasa sebagai seorang jagoan kidal adalah Chin Liat-hoa"
"Liat-hoa-to (si golok pencabut bunga)?"
Oh Gwat-ji manggut manggut.
"Konon dia sudah mulai membunuh ketika masih berusia sembilan tahun, malahan orang yang berhasil dibunuhnya waktu itu adalah Perampok ulung paling tersohor di daratan Tionggoan yang disebut orang sebagai Phang Hau"
"Ehm, aku pernah dengar kisah cerita ini"
"Dia sudah tersohor ketika berusia 13 tahun, umur 16 tahun mulai malang melintang di daratan Tionggoan dengan julukan Tionggoan Tee-it-to (Golok nomor satu dari daratan Tionggoan), ketika berusia 31 tahun, dia sudah memimpin Khong-tong-pay dan menjadi ciangbunjin termuda sepanjang sejarah tujuh partai besar. Hingga waktu itu, jago persilatan yang pernah keok diujung goloknya konon sudah mencapai 650-an orang"
Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Hai, kelihatannya memang tak ada orang lain yang lebih termashur dan tersohor ketimbang dia"
"Nama besarnya memang agak menyolok lantaran sejak muda sudah punya nama besar, namun berbicara dari kepandaian ilmu silat yang dimiliki, mau tak mau orang harus kagum kepadanya"
Berkilat sepasang mata gadis itu, sesudah menghela napas kembali iijamya."Sayang aku dilahirkan belasan tahun lebih lambat, kalau tidak, aku pasti akan berusaha untuk kawin dengannya"
"Untung saja kau dilahirkan belasan tahun lebih lambat"
Sambung Liu liang-kay sambil tertawa.
"kalau tidak, aku pasti akan mencarinya dan menantangnya untuk beradu nyawa!"
Oh Gwat-ji mengerling pemuda itu sekejap, ujarnya kemudian."Menurut pendapatku, orang yang kau maksud pasti bukan dia"
"Oya?"
"Apa mungkin orang secongkak dan sesombong dia, mau jadi budaknya orang lain? Apalagi kabar beritanya sudah lenyap semenjak sepuluh tahun berselang, hingga kini tak ada yang tahu dia ada dimana, ada yang bilang dia sudah pergi ke gunung dewa di seberang lautan, ada yang bilang dia sudah mati, tapi perduli dia mati atau hidup, yang pasti tak mungkin dia mau menuangkan arak bagi orang lain"
Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Akupun berharap orang tersebut bukan dia, aku memang tidak berharap mempunyai musuh setangguh dia"
Mendadak perkataannya berhenti ditengah jalan.
Pada saat perkataannya terhenti itulah, tiba tiba badannya sudah menindih ke atas badan Oh Gwat-ji.
Tak ada yang melihat jelas gerakan tubuhnya, juga tak ada yang mengira secara tiba tiba dia akan melakukan tindakan semacam itu.
Terlebih Oh Gwat-ji, dia sama sekali tak menyangka.
Sambil menggigit bibir dia berusaha meronta, serunya.
"Kau setan hidung belang, aku.... aku toh sudah bilang......"
Tiba tiba perkataannya terhenti juga ditengah jalan, sebab mulut Liu Tiang-kay sudah menempel diatas bibirnya.
Kini, dia hanya bisa mengeluarkan suara melalui lubang hidungnya, bagi seorang lelaki yang sudah berpengalaman, dia seharusnya mengerti suara macam apa yang dikeluarkan seorang wanita melalui lubang hidungnya.
Suara semacam itu, boleh dikata dapat membuat tulang belulang seorang pria jadi kaku, jadi kesemutan dan jadi meradang.......
Perempuan itu masih berusaha meronta, masih berusaha mendorong tubuhnya....
Tapi kini, tangannya sudah ditangkap semua.
Wajahnya mulai terasa panas, mulai terasa mendidih, disusul kemudian seluruh badannya ikut jadi panas, mulai gemetaran......
Reaksi apa lagi yang bisa diperlihatkan seorang gadis matang bila tubuhnya telah ditindihi seorang lelaki yang bukan saja sama sekali tidak dibencinya, sebaliknya amat menaruh simpatik kepadanya.
Disaat yang amat kritis dan menegangkan itulah, mendadak terdengar suara benturan nyaring bergema memecahkan keheningan.
"Blaaam!"
Pintu depan sudah ditendang orang hingga jebol dan terpentang lebar.
Seseorang muncul dalam ruangan sambil menggenggam sebilah golok ternyata orang itu adalah sang kusir kereta yang muda lagi kuat itu.
' --Tubuh Liu Tiang-kay masih menindih diatas badan Oh Gwat-ji, hanya saja mulutnya telah bergeser dari atas bibirnya.
Sang kusir telah menerjang masuk ke pintu kamar, memandang mereka dengan pandangan dingin, dia berdiri sangat mantap, gaya memegang goloknya juga sempurna, siapa pun yang melihat keadaan tersebut tentu tahu, ilmu golok yang dimiliki orang ini pasti amat hebat.
Dari balik sorot matanya yang dingin membeku , terlihat pandangan sinis yang mengerikan, serunya sambil tertawa dingin.
"Aku sudah berputar satu lingkaran besar diluaran, ternyata kau belum berhasil dapatkan perempuan itu, tampaknya kepandaianmu untuk menaklukan wanita masih kurang sempurna"
"Aku masih punya cukup waktu, lagipula akupun bukan pemuda ingusan macam kau, kenapa aku mesti terburu napsu?"
Jawab Liu Tiang-kay santai.
Dia seperti merasa tidak pada tempatnya untuk memberi penjelasan tersebut kepada orang lain, tiba tiba wajahnya berubah jadi amat serius, tegurnya."Mau apa kau balik kemari?"
"Kemari untuk membunuhmu!"
Teriak sang kusir dengan wajah membesi.
"Kemari untuk membunuh aku, kenapa?"
Liu Tiang-kay agak terhenyak mendengar perkataan itu. Sang kusir segera tertawa dingin.
"Aku sudah tujuh-delapan tahun mengikuti dia, tapi hingga kini masih tetap seorang lelaki rudin, mau main perempuanpun hanya kebagian lonte kelas kambing, sedang kau......baru saja datang sudah jadi bos besar, apa hakmu untuk mendapat prioritas lebih?"
Tentu saja Liu Tiang-kay paham siapa yang dimaksud sebagai "dia", tapi sengaja dia bertanya.
"Masa kau pun anak buah Liong Ngo?"
"Hmmm, asal kau mau sedikit perhatian saja, seharusnya bisa tahu aku Phang Kong adalah manusia macam apa?"
"Ooh, jadi kau adalah Sian-hong-to (si golok angin berpusing) Phang Kong?"
"Tak kusangka pengetahuanmu lumayan juga, ternyata tahu siapakah aku"
Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Anak murid jebolan perguruan Ngo-hou-toan-bun-to (golok sakti pembabat lima harimau) ternyata rela jadi kusir keretanya orang lain, Hai, kejadian semacam ini memang kelewat menghina dan merendahkan derajat serta martabatmu"
Phang Kong semakin meradang, otot hijau pada lengannya yang menggenggam golok semakin menongol keluar, bahkan otot pada jidatnya ikut menonjol. Sembari menggertak gigi teriaknya.
"Sudah lama aku tak tahan menerima perlakuan tak adil semacam ini"
"Oh, karena itu kau pingin membunuhku, lalu merampok ke empat peti uang tersebut dan membawa kabur perempuan ini?"
Ejek Liu Tiang-kay.
Ketika sinar mata Phang Kong tertuju ke atas bibir Oh Gwat-ji yang mungil, tiba tiba pancaran cahaya berapi api mencorong keluar, katanya."Jangan lagi aku, hampir semua lelaki pasti ingin mencicipi kehangatan tubuh janda kecil ini"
Begitu mendengar kata "Janda kecil", Oh Gwat-ji segera berteriak keras.
"Kau sudah apakan suamiku?"
"Untuk lelaki yang rela menjual bini sendiri hanya karena melihat uang banyak, biar mesti mati delapan kalipun masih belum cukup, memangnya kau masih sayang dia?"
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Oh Gwat-ji sudah menangis tersedu sedu, tangisannya begitu nyaring dan pedih macam orang yang benar-benar baru saja kehilangan suami.
Saat itulah Liu Tiang-kay menghela napas panjang, dengan perasaan berat hati dia merangkak turun dari atas badan gadis itu, kemudian gumamnya."Perempuan ini bukan dewi langit, uang yang diperoleh pun bukan jumlah yang banyak, kalau mesti kehilangan nyawa gara gara duit secuwil, rasanya memang sama sekali tak berharga"
"Hmm, kaulah yang bakal kehilangan nyawa, bukan aku"
Seru Phang Kong sambil tertawa dingin.
"Kau yakin dapat membunuh aku?"
"Jika kau benar benar berilmu, tak bakalan tubuhmu digantung orang diatas wuwungan rumah setelah digebuki habis habisan macam anjing gelandangan"
"Maka kau anggap kepandaianmu jauh lebih tangguh ketimbang kemampuanku?"
"Aku hanya tidak terima, masa hanya digebuki sudah dapat meraup uang sebanyak itu"
Sekali lagi Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Aai, ternyata kau hanya seorang bocah ingusan yang sama sekali tak tahu urusan, masalah kentut macam begini saja tak paham..... aku merasa tak tega untuk membunuhmu"
"Kalau memang begitu, biar aku saja yang membunuh mu!"
Sambil berkata goloknya segera dibabat keluar, dalam waktu singkat dia telah melancarkan lima bacokan berantai.
"Ngo-hou-toan-bun-to "
Golok sakti lima harimau memang tersohor sebagai ilmu golok paling ganas, paling keji dan paling jahat dalam dunia persilatan, serangan yang dilancarkan si golok angin berpusing tak bisa dipandang enteng.
Liu tiang-kay tidak turun tangan.
Bahkan untuk berkelit pun dia seperti tak ingin berkelit, tapi bacokan golok dari Phang Kong justru tak mampu mengenai tubuhnya.
Waktu itu Oh Gwat-ji sudah berhenti menangis lantaran ketakutan, dia berjongkok diujung ranjang bagai seekor kura kura.
Kembali Phang Kong melancarkan serangkaian bacokan kilat dan lambat laun berhasil mendesak Liu Tiang-kay hingga mundur ke sudut ruangan, mendadak goloknya mencukil dari bawah ke atas, secara beruntun dia mengubah serangannya dari tiga arah, kali ini dia ancam tengkuk kiri musuhnya.
Jurus ini bernama "Boan-thian-hu-Tee" (membalik langit membongkar bumi), sebuah jurus mematikan dari Ngo-houtoan-bun-to.
Tampaknya Liu Tiang-kay sudah terdesak hingga tak ada jalan mundur lagi, disaat kritis itulah tiba tiba badannya merayap diatas dinding ruangan dan meluncur naik ke atap rumah.
"Criing!"
Diantara dentingan nyaring yang memekikkan telinga, bunga api memancar ke empat penjuru.
Phang Kong mengira bacokan mautnya pasti dapat mengenai sasaran dan menghabisi nyawa musuhnya, karena im dia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki, ketika sadar serangannya mengenai sasaran kosong, untuk menarik kembali tenaganya sudah terlambat, bacokan itu langsung menghajar diatas dinding ruangan dan menancap hingga tembus ke dinding sisi luar.
Buru buru dia kerahkan segenap tenaganya untuk mencabut kembali t'oloknya, siapa tahu, pada saat itulah dari luar dinding tiba tiba muncul sebuah tangan dan segera menjepit mata golok tersebut.
Dinding ruangan yang tebal dan kuat secara tiba tiba berubah jadi lembek bagai terbuat dari kertas kardus, tangan yang mencomot dari luar itu dengan sangat mudahnya berhasil menerobos masuk ke dalam ruangan, lalu dengan sebuah hentakan yang ringan, mata golok yang tajam dan kuat itu seketika terpatah menjadi dua bagian.
Berubah hebat paras muka Phang Kong, seluruh badannya terasa jadi kaku membeku dan tak sanggup bergerak lagi.
Bagaimana pun juga dia terhitung orang yang tahu kualitas, ilmu silat sehebat ini bukan saja belum pernah disaksikan, mendengar cerita pun belum pernah.
Terdengar seseorang berseni dari luar dinding rumah dengan suara yang dingin membeku.
"Kau sudah tujuh-delapan tahun ikut Liong Ngo, tapi gajimu tiap bulan paling banter hanya tujuh-delapan puluh tahil perak, sedang dia, hanya bertemu sebentar saja sudah berhasil meraup puluhan laksa tahil perak, karena itu kau merasa tidak puas bukan?"
Dengan wajah hijau membesi Phang Kong manggut manggut.
Orang yang berada diluar dinding tak dapat melihat anggukan kepalanya, karena itu Liu Tiang-kay mewakilinya untuk menjawab."Memang begitulah maksud hatinya"
"Kau toh sudah melihat sendiri, orang she-Liu itu sudah digebuk Lan toaya habis habisan, diapun sudah jadi sahabatnya Mong Hui, padahal orang yang berkumpul dengan Mong Hui adalah musuh besar kita, darimana kau bisa tahu siapa yang memberi duit itu kepadanya?"
Phang Kong kelihatan rada sangsi, tapi akhirnya dia berkata juga."Aku tahu orang macam Mong Hui tak mungkin memberi hadiah kepada orang lain dengan cara seroyal itu, lagipula hari itu, aku juga kebetulan melihat kongcu pergi ke perkampungan milik Mong Hui"
"Hmm, sungguh tak kusangka ternyata kau adalah seorang yang pintar, bahkan termasuk orang yang sangat teliti"
Puji orang diluar dinding rumah dengan suara hambar. Hanya orang yang teliti dapat melihat banyak persoalan yang tak terlihat kebanyakan orang.
"Tapi sayang kau justru telah melakukan satu perbuatan yang paling goblok!"
Biarpun orang itu berada diluar tembok, suara pembicaraannya seolah-olah berasal dari sisi telinga.
"Jika kau tahu Liu tiang-kay berasal sealiran dengan kita, mengapa kau masih ingin membunuhnya?"
Phang Kong tertunduk lesu, butiran keringat sebesar kacang kedele jatuh bercucuran bagai hujan gerimis.
"Aku tahu salah"
Bisiknya lirih.
"Kau tahu kesalahan apa yang telah kau lakukan?"
"Aku........aku telah melanggar peraturan rumah tangga!"
Untuk mengucapkan kata yang terakhir, rupanya Phang Kong harui mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.
"Tahukah kau, apa yang bakal menimpa orang yang berani melanggar peraturan rumah tangga?"
Wajah Phang Kong mengejang keras lantaran rasa takut yang luar biasa, dia seakan akan melihat munculnya sepasang tangan yang tak berwujud sedang mencekik tenggorokannya.
Tiba tiba ia balikkan badan dan menerjang keluar dari ruangan.
Dia mengira orang yang berada diluar tembok pasti tak melihat gerak geriknya sekarang.
Tapi sayang dugaannya keliru besar, tangan yang sudah menjulur masuk lewat dinding ruangan itu seakan akan mempunyai mata yang tajam.
Baru saja dia putar badan dan siap untuk kabur, tangan itu sudali diayunkan, kutungan golok yang berada dalarn genggamannya segera melesat ke muka dengan kecepatan tinggi.
Diantara kilatan cahaya golok, tahu tahu mata golok itu sudah menancap di punggung Phang Kong.
Pada saat yang bersamaan, dari luar pintu menyerbu masuk empat orang lelaki kekar, salah seorang diantaranya membawa sebuah karung goni dan segera masukkan tubuh Phang Kong ke dalam karung im.
Orang ke dua masuk sambil menjinjing dua buah peti berisi uang dan meletakkannya keatas meja.
Orang ketiga membawa sebuah martil, begitu masuk dia segera mulai memperbaiki pintu rumah yang jebol karena ditendang Phang Kong tadi.
Sedang orang ke empat membawa sekop dan peralatan tukang batu, ketika tangan itu dicabut keluar, dia mulai menambal dinding rumah yang berlubang itu.
Terdengar orang yang berada diluar tembok itu berkata lagi."Kujamin dalam tujuh hari mendatang tak bakal ada orang yang berani mengganggumu lagi, tapi lebih baik kau pun ingat dengan jelas, kau sama sekali bukan orang kami, kau sama sekali tak ada hubungan dan sangkut pautnya dengan keluarga Liong kami!"
Ketika mengutarakan kalimat yang terakhir, suara itu sudah muncul dari tempat kejauhan.
Dinding kamar sudah ditambal, pintu rumah telah dibetulkan, karung joni pun sudah diikat, setetes noda darah pun tak nampak mengotori lantai ruangan.
Sejak muncul hingga berlalu, ke empat orang lelaki kekar itu tak pernah melirik ke arah Liu Tiang-kay walau hanya sekejap pun, suasana diluar tembok rumah kembali jadi hening, ke empat orang lelaki kekar itupun sudah lenyap dibalik pintu rumah.
Suasana dalam bilik rumah juga telah pulih dalam keheningan, seakan akan tak pernah terjadi suatu peristiwa apa pun ditempat itu.
Cara kerja orang orang itu bukan saja amat cepat juga sangat teratur dan terarah, sama sekali diluar bayangan siapapun, tapi ada satu hal yang kini diketahui siapapun yakni barang siapa berani melanggar peraturan rumah tangga yang ditetapkan Liong Ngo, mereka bakal mengalami nasib tragis.
Liu Tiang-kay tidak bicara pun tidak bergerak, Oh Gwat-ji juga tidak bergerak, perempuan ini turut membungkam dalam seribu basa.
Pelan pelan Liu Tiang-kay membuka pakaiannya dan membaringkan diri, berbaring disisi badan Oh Gwat-ji.
Kali ini Oh Gwat-ji tidak menendangnya hingga jatuh ke bawah, dia hanya melototkan sepasang matanya dengan wajah tertegun.
Sekarang dia baru sadar, ternyata Liong Ngo adalah seorang manusia yang begitu menakutkan.
Tiba tiba Liu Tiang-kay berbisik.
"Mereka sudah pergi, semuanya sudah pergi"
"Dalam tujuh hari mendatang, apakah mereka benar benar tak akan datang lagi?"
"Tampaknya orang itu bukan termasuk orang yang suka bicara tapi tak bisa dipercaya"
"Apakah kau kenal siapa orang itu? Kau kenal tangan itu?"
Tangan itu hanya sebuah tangan kanan, dipandang dari atas maupun bawah sama sekali tidak meninggalkan bekas bahwa orang itu pernah belajar ilmu silat.
Tapi kini, siapapun dapat melihat bila tangan itu hendak membunuh seseorang, mungkin tak ada kekuatan lain di dunia ini yang dapat mencegahnya.
"Aku berharap apa yang kulihat tidak salah"
Kata Liu Tiangkay kemudian.
"Kau berharap dia adalah lelaki setengah umur berbaju hijau itu?"
Liu Tiang-kay manggut-manggut.
"Mengapa?"
"Bila dia adalah orang itu, hal ini menandakan ada kalanya dia tidak berada disamping Liong Ngo, ketika aku ingin menghadapi Liong Ngo, aku berharap dia tidak berada disamping nya"
"Kau berencana sampai kapan baru akan turun tangan?"
"Menunggu hingga dia mempercayaiku seratus persen, menunggu hingga dia memberi kesempatan kepadaku"
"Kau anggap bakal muncul hari seperti itu?"
"Yaa, aku sangat yakin!"
Jawaban Liu Tiang-kay sangat tegas. Oh Gwat-ji menghela napas panjang.
"Aku hanya kuatir, bila mesti menunggu datangnya kesempatan itu, entah berapa banyak orang lagi yang harus mampus gara gara persoalan ini"
"Kau lagi sedih memikirkan Lo sik-tau (si batu tua)?"
"Si baru tua adalah seorang yang jujur"kata Oh Gwat-ji dengan nada sedih.
"sebenarnya tugas nya kali ini adalah tugas yang terakhir, selesai mengerjakan tugas ini dia sudah bersiap sedia pulang ke dusun untuk hidup sebagai petani, dia sudah membeli sawah berapa baw"
Si batu tua adalah orang yang menyamar sebagai suami nya tadi.
Liu Tiang-kay mendengarkan dengan sangat tenang, sama sekali tidak ada perubahan pada mimik wajahnya, katanya kemu dian dengan suara dingin.
"Dia memang tidak seharusnya membeli sawah atau rumah, orang yang bekerja macam kita, tiap waktu tiap saat bisa mampus dipinggir jalan"
"Tapi dia mati dalam keadaan mengenaskan, padahal ilmu silat yang dia miliki sama sekali tidak berada dibawah Phang Kong si telur busuk itu, tapi sewaktu Phang Kong membunuhnya, dia sama sekali tak boleh membalas, sebab bila dia melakukan perlawanan maka rahasianya akan segera terbongkar, dia........ ternyata dia lebih suka mati daripada membocorkan rahasia kita"
"Dia memang seharusnya berbuat begitu, sebab itulah peranan yang sedang dia emban"
"Jadi kau anggap dia memang seharusnya menerima kematian itu?"
Teriak Oh Gwat-ji sambil melotot.
Ternyata Liu Tiang-kay tidak membantah.
Oh Gwat-ji nyaris menjerit saking mendongkolnya .-"Sebetulnya kau ini manusia atau bukan?
Kau buang kemana sifat kemanusiaanmu?
Kau......
kau.........."
Semakin bicara semakin mangkel, tiba tiba ia menendang Liu Tiang-kay hingga jatuh terjungkal dari atas ranjang. Liu Tiang-kay tidak marah, sebaliknya malah tertawa terbahak bahak.
"Kau keliru besar jika menganggap si batu tua adalah seorang yang lujur, kesalahanmu semakin besar bila kau menganggap dia benar-benar sudah mampus di tangan si telur busuk itu"
Walaupun berbaring di lantai,dia merasa sama nyamannya seperti berbaring diatas ranjang.
"Mungkin saja dia harus menerima satu-dua bacokan dari Phang Kong, mungkin juga dia harus berlagak mampus agar Phang Kong mengira dia sudah pulang ke langit barat.tapi bila dia mampus dengan begitu gampang karena bacokan si telur busuk itu, dia tak pantas disebut orang si batu tua, dia lebih cocok dipanggil si tahu tua"
"Jadi menurut dugaanmu dia belum mati?"
Oh Gwat-ji masih rada sangsi.
"Kau tahu, betapa penting dan seriusnya rencana kita ini? Kau tahu, berapa lama kita rencanakan persoalan ini dengan susah payah? Jika si batu tua adalah orang jujur seperti yang kau bayang kan, buat apa kami harus mengajaknya untuk bergabung daiam konspirasi ini?"
"Urusan yang lain aku tidak tahu, tapi aku tahu kau adalah orang yang sama sekali tak jujur"
Akhirnya Oh Gwat-ji tertawa.
"Oya........"
Sambil menggigit bibir kembali perempuan itu berkata.
"Tadi, meskipun kau sudah mendengar ada orang yang muncul diluar sana, tidak seharusnya kau berbuat begitu, Hmm! Aku tahu, kau sedang menggunakan aji mumpung"
"Dugaanmu hanya benar separuh"
Kata Liu Tiang-kay sambil tertawa.
"Jadi kau masih punyai maksud lain?"
"Aku hanya ingin membuktikan kepadamu, jika aku berniat memperkosamu, tak mungkin kau bisa menghindar dari cengkeramanku"
Berputar sepasang biji mata Oh Gwat-ji, bisiknya.
"Sekarang kau.....kau sudah tidak kepingin?"
"Jadi kau menantang aku untuk mencoba sekali lagi?"
"Kau berani?"
Merah jengah wajah Oh Gwat-ji, kembali ia menggigit bibir. Liu Tiang-kay tertawa. Tiba-tiba tubuhnya melejit kembali dari atas lantai dan tahu tahu sudah menindih diatas tubuh Oh Gwat-ji.
"Hai, kelihatannya kau memang benar-benar setan hidung belang"
Perempuan itu menghela napas.
"Tapi kali ini kau yang sengaja memancing aku, aku tahu kau........."
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba tiba badannya mencelat sekali lagi dari atas badan Oh Gwat-ji hingga membentur diatas dinding ruangan dan rontok ke lantai, sepasang tangannya memegangi perutnya sembari menahan kesakitan, paras mukanya telah berubah jadi putih memucat.
Sambil memandang ke arahnya tiba tiba Oh Gwat-ji berkata."Barusan aku memang sengaja memancingmu, karena akupun ingin beritahu kepadamu, jika aku enggan, jangan harap kau bisa memaksakan kehendak"
Liu Tiang-kay terbungkuk bungkuk, tampaknya rasa sakit yang luar biasa membuat dia tak mampu berkata kata, peluh dingin sebesar kacang kedele jatuh bercucuran membasahi jidatnya.
Kali ini perasaan menyesal muncul dari balik sorot mata Oh Gwat-ji, tampaknya dia ikut merasakan sakit itu, dengan kata yang lembutl bisiknya."Padahal aku toh sudah berjanji, asal kau bisa melaksanakan tugas ini dengan baik, maka aku.............aku..............."
Dia tidak melanjutkan perkataannya, dan dia memang tak perlu menyelesaikan perkataan itu karena apa yang dimaksud, jangan lagi orang laki dewasa, biar orang goblok pun pasti paham dengan jelas.
Liu Tiang-kay justru seperti tak mengerti.
Kembali dia baringkan badannya dengam perlahan, membaringkan diri ke lantai, wajah yang selama ini tampak ramah dan selalu berseri kini justru memperlihatkan perasaan duka dan sedih yang tak terlukis dengan kata.
Dia tidak berkata-kata, sampai lewat lama, lama sekalipun tak sepatah kata yang diucapkan.
Perasaan Oh Gwat-ji semakin melunak, tapi dengan wajah berlagak serius katanya lagi.
"Biarpun tendanganku membuat kau kesakitan, tidak sepantasnya kau masih rebah di lantai seperti anak kecil saja"
Liu Tiang-kay masih membungkam.
"Hey, sebetulnya kau sedang marah kepadaku atau lagi memikirkan persoalan lain?"
Tak tahan Oh Gwat-ji segera menegur. Akhirnya Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Aku sedang berpikir, dikemudian hari ayahmu pasti akan mencarikan seorang lelaki yang sangat baik untukmu, lelaki itu pasti bukan berasal dari golonganku, melakukan pekerjaan seperti aku, yang tiap saat tiap kesempatan bisa kehilangan nyawa, kalian....................."
"Apa maksudmu mengutarakan perkataan seperti itu?"
Teriak Oh Gwat-ji dengan wajah berubah. Liu Tiang-kay tertawa, senyumannya amat mengenaskan.
"Aku tidak bermaksud lain, dalam hati aku hanya ikut berdoa semoga kalian bisa hidup bahagia hingga kakek nenek, aku berharap kau bisa melupakan aku dengan cepat"
"Mengapa kau berkata begitu?"
Seru Oh gwat-ji dengan wajah memucat.
"apa kau belum paham dengan perkataanku tadi?"
Liu Tiang-kay menghela napas panjang."Aku mengerti, tapi akupun tahu, tak mungkin aku bisa menunggu sampai hari itu!"
"Kenapa?"
"Sejak hari itu, sejak aku menyanggupi untuk melaksana kan tugas lersebut, aku sudah tak punya rencana untuk hidup terus, biarpun aku mendapat kesempatan untuk membunuh Liong Ngo, aku.............akupun tak bakalan bisa bersua lagi dengan kau"
Sorot matanya dialihkan ke tempat kejauhan, mimik mukanya menunjukkan perasaan duka yang semakin dalam.
Oh Gwat-ji memandang pemuda itu, mimik mukanya ikut berubah, seolah-olah ada jarum yang sedang menusuk perasaan hatinya.
Kembaii Liu Tiang-kay tertawa, ujarnya.
"Bagaimana pun juga, aku merasa cukup bangga karena bisa menukar nyawa Liong Ngo dengan nyawaku, sebab aku tak lebih hanya seorang yang tak punya beban, tak punya sanak, tak punya................................"
Oh Gwat-ji tidak membiarkan dia menyelesaikan perkataan itu.
Tiba tiba ia merangkak naik ke atas tubuh pemuda itu, kemudian dengan menggunakan bibirnya yang lembut dan hangat mengganjal mulutnya.....
Hembusan angin diluar jendela menderu-deru makin kancang.
Seekor ayam betina sedang mengerami sekelompok ayam kutuk yang sedang menetas...............
Rembulan sudah muncul di angkasa, cahaya yang bening memancar masuk melalui daun jendela, menyinari wajah Oh Gwat-ji, paras muka yang bersemu merah lantaran jengah.
Liu Tiang-kay sedang curi curi melirik ke arahnya, senyum kepuasan yang misterius terpancar diwajahnya.
Lama sekali Oh Gwat-ji memandang rembulan diluar jendela dengan termangu, tiba tiba bisiknya."Aku tahu kau sedang membohongi aku"
"Membohongi kau?"
Kembali Oh Gwat-ji menggigit bibirnya kencang-kencang.
"Kau sengaja berkata begitu agar perasaanku melunak, lalu kau......kau ambil kesempatan untuk......untuk menjahati aku. Hai, padahal aku pun tahu kalau kau bukan orang baik baik, apa lacur, akhirnya aku termakan juga oleh tipu muslihatmu"
Sambil berkata, air mata meleleh keluar membasahi pipinya...........saat seperti ini, dikala seorang gadis baru saja kehilangan keperawanannya memang merupakan saat yang paling rawan, paling lemah dan paling mudah mengucurkan air mata.
Liu Tiang-kay tidak menghalanginya untuk menangis, dia menunggu sampai gejolak perasaannya menjadi tenang kembali barulah sambil menghela napas katanya.
"Sekarang aku baru tahu, kenapa kau begitu sedih. Ternyata kau sedih karena aku belum tentu akan mati"
Oh Gwat-ji tak ingin membantah, tapi tak tahan serunya juga."Padahal kau tahu dengan pasti, aku tidak bermaksud begitu"
"Bila kau tahu aku sudah mati, apakah perasaanmu akan jauh lebih enakan?"
Memandangnya sekejap, kembali perempuan itu menghela napas."Aku tahu, sekarang kau pasti bangga, pasti puas, karena kau tahu mulai sekarang aku akan jadi penurut, jadi alim, karena akhir nya aku mesti menjadi binimu"
Liu Tiang-kay tersenyum, dia tidak menyangkal.
"Aku amat takut kau akan tinggalkan aku"
Bisik Oh Gwat-ji lagi dengan suara lembut.
"aku berjanji pasti akan lebih alim, lebih penurut, alim dan penurut bagai seekor macan betina!"
Mendadak dia lancarkan sebuah tendangan, membuat tubuh Liu Tiang-kay sekali lagi terjungkal dari atas ranjang.
Liu Tiang-kay tertegun, dia terhenyak, saking kagetnya sampai tak mampu tertawa.
Oh Gwat-ji muncul dari balik selimut, sambil menjewer telinga pemuda itu katanya lagi dengan suara yang lebih lembut.
"Mulai hari ini, yang mesti penurut bukan aku tapi kau, sebab pada akhirnya kau toh harus mengawini aku, bila kau tak penurut, aku akan paksa kau untuk tetap tidur di lantai, tak boleh naik ke ranjang"
Sambil tempelkan bibir diatas telinganya, dia menambah kan."Sekarang kau sudah paham?"
"Aku paham"
Liu Tiang-kay tertawa getir.
"tapi ada masalah lain yang membuat aku semakin bingung"
"Soal apa?"
"Aku tak bisa membedakan sebetulnya kau yang termakan tipuanku atau justru aku yang termakan tipuanmu?"
Terlepas siapa yang termakan tipuan siapa, yang jelas pasti banyak orang di dunia ini yang rela termakan tipuan itu.
Sebab penghidupan mereka dilewati dalam suasana hangat, mesrah dan penuh kebahagiaan, hanya sayang hari hari bahagia selalu lewat lebih cepat daripada hari biasa.
"Padahal kau tak mungkin akan mati, kau pernah berkata, kalau tidak yakin kau tak akan turun tangan, bila kau berhasil menaklukan Liong Ngo, siapa lagi yang berani mengusikmu?"
"Bila aku tak mampus berarti tugas itu pasti dapat kuselesaikan, cepat atau lambat kaupun bakal jadi biniku, lantas apa lagi yang kau sedihkan sekarang?"
Oh Gwat-ji terbungkam dalam seribu bahasa.
Tiba tiba dia jumpai Liu Tiang-kay sedang tertawa, tertawa yang sangat memuakkan................
tentu saja tidak muak secara keseluruhan, tentu saja dia pun merasakan kehangatan dan kenikmatan dari senyuman itu Enam tujuh hari lewat dalam sekejap mata, tahu tahu mereka sudah tiba pada malam terakhir.
Malam terakhir seharusnya menjadi malam yang paling romantis, malam yang paling hot.
Oh Gwat-ji dengan mengenakan pakaian yang sangat rapi duduk di ruang tamu...............
padahal biasanya, kalau sudah tiba saat seperti ini, mereka sudah terburu buru naik ke atas ranjang untuk melakukan pekerjaan rutin.
Liu Tiang-kay memperhatikannya, dia seperti sudah menelitinya cukup lama, akhirnya tak tahan dia menegur.
"Hari ini, kesalahan apa lagi yang telah kuperbuat?"
"Tidak ada"
"Mendadak kau sakit?"
"Tidak"
"Lantas apa yang terjadi hari ini?"
"Aku hanya tak ingin jadi janda sebelum dinikahi"
"Tak ada orang yang suruh kau menjanda"
"Ada satu orang"
"Siapa?"
"Kau!"
Dengan wajah serius, katanya lagi dingin."Dalam enam tujuh hari ini, setiap kali aku ingin bicara serius, kau selalu melantur ke soal lain, bila hal mi dibiarkan terus, dengan cepat aku akan jadi seorang janda"
"Urusan serius tidak dibicarakan dengan mulut melainkan dikerjakan dengan tangan"
Liu Tiang-kay menghela napas.
"Apa rencanamu untuk melaksanakan tugas ini?"
"Ooh, jadi malam ini kau berlagak serius hanya dikarena kan ingin mengajakku membicarakan persoalan ini?"
"Kalau tidak dibicarakan malam ini, aku tak akan mendapatkan kesempatan lagi"
Kembali Liu Tiang-kay menghela napas.
"Baiklah, mau bicara, bicaralah!"
"Liong Ngo suruh kau mencuri sebuah kotak di tempat kediaman Nyonya rindu?"
"Ehmm!"
"Dan kau sudah menyanggupi?"
"Ehm!"
"Karena bila kau ingin menangkap Liong Ngo, maka kau harus mendapat kepercayaannya lebih dulu, bila ingin mendapat kepercayaannya, kau harus melakukan satu pekerjaan lebih dulu untuk dirinya"
"Apa kau punya cara lain yang lebih baik?" 'Tidak ada"
Setelah menghela napas, kembali perempuan itu berkata."Selama banyak tahun, meski kita tahu banyak kasus besar adalah hasil karya Liong Ngo, namun hingga sekarang kita gagal memper oleh data maupun sedikit bukti pun"
"Sekalipun berhasil memperoleh data dan buktinya, bukan berarti bisa menangkap orangnya"
"Oleh karena itu kita mesti menggunakan pasukan tak terduga"
"Dan pasukan tak terduga yang kalian miliki adalah aku"
"Oleh sebab itu, bukan saja kau harus menangkap orang nya, kaupun harus membuktikan semua dosa dan kesalahannya"
"Itulah sebabnya aku harus membantunya melaksanakan tugas ini lebih dahulu"
"Kau yakin berhasil?"
"Sedikit"
"Kau bisa dalam waktu setengah jam membunuh ke tujuh orang jago yang menjaga diluar gua? Menggeser pintu seberat ribuan kati, membuka kunci gembokan di tiga buah pintu rahasia lalu melarikan diri ke suatu tempat yang tak mungkin terkejar Nyonya rindu?"
"Aku hanya mengatakan aku punya sedikit keyakinan, bukan berarti aku yakin pasti berhasil"
"Kau sudah tahu siapa saja ke tujuh orang jago itu?"
"Tidak tahu"
Oh Gwat-ji segera tertawa dingin.
"Kalau apa saja tidak tahu, beraninya kau mengatakan punya keyakinan untuk berhasil, rupanya kau memang sengaja hendak membuat aku jadi janda muda"
Kembali Liu Tiang-kay tertawa.
"Betul, aku memang tak tahu asal usul ilmu silat mereka, tapi aku percaya kau pasti akan beritahu kepadaku"
"Dasar apa kau mengatakan aku pasti mengetahui asal usul ilmu silat yang mereka miliki?"
Tanya Oh Gwat-ji dengan wajah serius.
"Sebab kau punya kemampuan, lagipula cerdik, tak ada urusan dunia persilatan yang tidak kau ketahui, apalagi selama berapa malam terakhir kau jarang tidur nyenyak, aku tahu kau pasti sedang memikirkan persoalan itu"
Walaupun wajahnya masih cemberut namun kerlingan mata Oh Gwat-ji jauh lebih lembut dan hangat, katanya setelah menghela napas panjang.
"Hai, untung saja kau masih punya liangsim, untung tidak sampai menyia nyiakan kesulitanku"
Liu Tiang-kay segera maju menghampiri, sembari meme luk pinggangnya dia berbisik lembut.
"Tentu saja aku tahu, kau memang selalu baik kepadaku, maka.........."
Belum selesai ia berkata, Oh Gwat-ji telah mendorongnya kuat kuat, tukasnya dingin.
"Maka sekarang kau harus duduk yang tenang dan dengarkan aku menerangkan asai suul ilmu silat ke tujuh orang itu. kemudian baik baik mencari akal untuk menghadapi mereka, baik baik pulang dalam keadaan hidup dan jangan biarkan aku jadi janda muda"
Sambil tertawa getir terpaksa Liu Tiang-kay duduk kembali ."Kau benar benar tahu siapakah ke tujuh orang itu?"
"Selama berapa tahun terakhir, paling tidak ada seratus dua ratusan orang okpa yang dipaksa kabur dari keramaian dunia persilatan, tapi banyak diantara mereka kalau bukan berilmu silat cetek, usianya sudah kelewat tua, tak mungkin Nyonya Rindu akan memandang sebelah rnata kepada mereka"
"Benar, diantaranya tentu ada yang sudah mampus"
Oh Gwat-ji manggut-manggut.
"Itulah sebabnya sesudah kuhitung hitung, jumlah jagoan yang mungkin bisa ditampung Siang-si hujin paling banter Cuma tiga-empat belasan orang, dan diantara mereka ada tujuh orang yang punya kemungkinan paling besar"
"Atas dasar apa kau berkata begitu?"
"Karena ke tujuh orang im bukan saja senang hidup bermewah mewah dan senang menikmati berlimpah ruahnya materi duniawi, mereka pun takut mati, hanya lelaki takut mati yang rela menjadi budak seorang wanita"
"Aku tidak takut, tapi sejak saat ini aku sudah menjadi budakmu"
Sela Liu Tiang-kay sambil tertawa getir. Oh Gwat-ji mendelik besar."Sebetulnya kau ingin tahu tidak siapa ke tujuh orang itu?"
"Tentu saja kepingin"
"Pernahkah kau dengar orang yang bernama Siau-ngotong?"
"Apakah dia seorang jay-hoa-cat (penjahat pemetik bunga)?"
"Ngo-tong"
Adalah nama dewa cabul yang disembah orang dalam kuil cabul daerah Kanglam, julukan "Siau Ngo-tong"
Tentu saja berarti seorang penjahat pemetik bunga. Oh Gwat-ji mengangguk.
"Walaupun orang ini adalah seorang penjahat cabul yang paling tak tahu malu, namun ilmu ginkang maupun cianghoat yang dimilikinya luar biasa, apalagi dia selalu menggembol tiga jenis senjata rahasia beracun yang bisa mencabut nyawa begitu bertemu darah, kehebatannya sangat mengerikan"
"Aku dengar sebenarnya dia adalah anak murid keluarga Tong dari daerah Sichuan, tentu saja ilmu amgi beracunnya luar biasa"
Keluarga Tong dari Sichuan sangat menggetarkan sungai telaga lantaran ilmu senjata rahasia beracunnya yang hebat, sejak tiga ratus tahun berselang hingga kini teramat jarang orang persilatan yang berani mengusik mereka.
Sebaliknya mereka pun sangat jarang mengusik orang lain.............
ketatnya peraturan rumah tangga keluarga Tong memang sangat termashur.
Siau Ngo-tong si penjahat cay-hoa-cat Tong Kim adalah satu satunya murid murtad dari keluarga Tong, andaikata orang ini benar-benar bekerja untuk Siang-si hujin, mungkin hal ini lantaran dia takut ditangkap orang orang keluarga Tong dan dijatuhi hukuman sesuai peraturan rumah tangga mereka.
"Dari ke tujuh orang itu, kau harus ekstra hati hati terhadap orang ini. senjata rahasia beracunnya sangat jahat"
Kata Oh Gwat-ji lebih lanjut.
"oleh sebab itu aku sarankan, lebih baik pergilah dulu ke perguruan keluarga I'ong untuk minta sedikit obat penawar racunnya"
"Sayang aku pingin pun susah diperoleh, mau beli juga tak kuat untuk membelinya"
Sahut Liu Tiang-kay sambil tertawa getir.
"Kalau begitu orang pertama yang harus kau hadapi adalah orang itu, jangan beri kesempatan kepadanya untuk menggunakan amgi beracunnya"
Liu Tiang-kay manggut-manggut.
"Jangan kuatir"
Sahutnya.
"aku sendiri juga tahu, bila terhajar pasir beracun dari perguruan keluarga Tong, rasanya pasti tak sedap"
"Demi keamanan, lebih baik kau kenakan pakaian yang lebih tebal, aku tahu kau takut panas, tapi siksaan hawa panas tentunya lebih enakan ketimbang jiwanya terenggut"
"Aku pasti akan mengenakan mantel yang tebal"
Saat itulah Go gwat-ji merasa puas, kembali ujarnya.
"Padahal bicara soal ilmu silat, dari ke tujuh orang itu, kungfunya bukan termasuk hebat"
"Lalu siapa yang paling hebat?"
"Ada tiga orang, kungfu mereka rata rata ampuh, pertama adalah Kui-liu-seng si meteor setan Tam It-hui, orang ke dua adalah Kou-hun si pembetot sukma Tio tua dan orang ke tiga adalah Tiat hweesio si pendeta baja"
Liu Tiang-kay berkerut kening, ke tiga nama itu tak asing baginya, dia sudah mendengarnya semua.
"Diantara mereka bertiga, terutama yang harus kau perhatikan adalah Tiat hwesio, dulunya dia adalah salah satu diantara delapan murid utama perguruan Siau-lim-pay, konon ilmu silat yang diyakini adalah ilmu Tong-cu-kang (ilmu jejaka), orang ini tak suka harta, juga tak suka main wanita, kegemarannya yang utama adalah membunuh orang, bahkan cara membunuh yang digunakan sangat keji, oleh karena perbuatannya itulah dia diusir dari perguruan"
"Justru lantaran melatih ilmu Tong-cu-kang, maka dia harus menghadapi persoalan kejiwaan, karena mengidap penyakit kejiwaan maka dia gemar membunuh tanpa sebab musabab yang jelas"
"Mungkin saja jiwa nya ada masalah, tapi ilmu silatnya sama sekali tak terganggu, konon ilmu cap-sah-tay-po (tiga belas pangeran) nya sudah mencapai taraf yang paling sempurna hingga tubuhnya jadi kebal dan tak mempan dibacok senjata tajam"
Kembali Liu Tiang-kay tertawa.
"Mungkin lantaran dia membunuh orang kelewat banyak maka dia jadi orang yang takut mati, karena takut mati maka dia harus melatih kungfu yang bisa membuatnya kebal dan tak mempan dibacok senjata"
"Yaa, tapi sayang ada banyak orang yang tak mempan dibacok senjata tajam akhirnya justru mampus ditanganmu"
Sambung Oh Gwat-ji.
"karena itu kau sama sekali tak perduli"
"Tepat sekali perkataanmu itu"
Oh Gwat-ji melotot besar, tiba tiba katanya lagi sesudah menghela napas panjang."Padahal, persoalan yang benarbenar membuat hatiku kuatir bukanlah mereka"
"Kalau bukan mereka lalu siapa?"
"Seorang wanita"
Kelihatannya, persoalan yang paling dikuatirkan kaum wanita selalu adalah urusan wanita lain.
"Jadi diantara ke tujuh orang itu terdapat juga wanita?"
Liu Tiang-kay segera menimpali.
"Yaa, ada satu"
"Perempuan macam apakah dia?"
"Seorang wanita gadungan!"
"Mungkin saja aku akan terpikat wanita beneran, kalau hanya wanita gadungan, apa yang mesti kau kualirkan?"
"Justru karena dia adalah wanita gadungan, maka aku baru merasai kuatir"
"Kenapa?"
"Sebab kau sudah banyak menjumpai wanita beneran, sebaliknya terhadap wanita gadungan macam dia, aku berani jamin, kau belum pernah jumpainya selama hidup"
Berputar sepasang biji mata Liu Tiang-kay, asal ada perempuan, perduli dia asli atau gadungan, tampaknya dia selalu menaruh minat yang luar biasa.
Dengan sorot mata yang tajam Oh Gwat-ji mengawasi perubahan wajah pemuda itu, tegurnya kemudian dengan suara dingin.
"Aku sangat paham dengan tabiatmu, asal ada perempuan cantik, perduli dia perempuan asli atau perempuan gadungan, kelihatannya kemunculan mereka selalu akan menggerakkan hatimu"
"Oya?"
"Kau mesti ingat, begitu kau tertarik dengan perempuan itu, berarti ajalmu segera akan tiba"
"Jadi kau melarangku untuk melihatnya?"
"Aku pingin kau segera turun tangan membunuhnya begitu berjumpa dengan banci itu!"
"Kalau tak salah ingat, bukankah tadi kau suruh aku menghadapi Tong Kim terlebih dulu?"
"Betul"
"Berarti aku mesti bunuh dua orang dalam perjumpaan pertama?"
"Kalau Cuma bunuh dua orang saja mah belum cukup"
Sekali lagi Liu Tiang-kay tertawa, hanya kali ini dia tertawa getir.
"Tadi aku hanya menyebut enam orang, karena orang ke tujuh besar kemungkinan bukan manusia"
Oh Gwat-ji kembali menerangkan.
"Kalau bukan manusia lalu apa?"
"Seekor anjing gila"
"Maksudmu Li Toa-Kau (si anjing besar Li) yang tak mempan dibunuh?"
Seru Liu tiang-kay sambil berkerut kening. Oh Gwat-ji mengangguk.
"Lantaran dia Cuma seekor anjing gila maka dia tak pernah memikirkan keselamatan sendiri, biarpun tahu ada bacokan golok yang menghampiri batok kepalanya, jangankan berkelit, mungkin dia malahan menerkam dan berusaha menggigitmu"
"Hai, pasti tak sedap bila tergigit anjing gila"
Liu Tiang-kay menghela n.ipas.
"Maka dari itu kau mesti turun tangan secepat kilat, kalau bisa bacok batok kepalanya duluan sebelum dia mendapat kesempatan untuk menggigit tengkukmu"
"Waah, itu berarti dalam serangan pertama aku mesti menghabisi nyawa tiga orang sekaligus!"
"Tiga orang bukan jumlah yang banyak"
"Sayang aku Cuma memiliki dua buah tangan"
"Kau toh masih punya kaki?"
"jadi kau minta aku bunuh Tong Kim dengan tangan kiri, membantai si anjing gila dengan tangan kanan dan menendang mampus perempuan gulungan itu?"
Liu Tiang-kay tertawa getir.
"Sedari tadi toh sudah kujelaskan, kau tak boleh memberi peluang kepada mereka walau hanya sedikitpun, tapi aku juga tahu, bukan pekerjaan yang gampang bagimu untuk sekaligus membunuh mereka bertiga, tentu saja kecuali kau punya keberuntungan yang luar biasa baiknya"
"Menurut kau, bagus tidak keberuntunganku?"
"Bagus, bagus sekali!"
"Sejak kapan nih keberuntunganku sudali berubah sebagus ini?"
Gumam Liu Tiang-kay sambil kerdipkan matanya berulang kali. Oh Gwat-ji tertawa lebar.
"Semenjak kau kenal dengan aku, peruntunganmu sudah berubah jadi sangat bagus"
Katanya. Setelah berhenti sejenak, tiba tiba ia bertanya lagi."Kau pernah dengar ada semacam senjata rahasia yang bisa dilepaskan melalui kaki?"
"Rasanya belum pernah"
"Kau punya kaki?"
"Kalau tidak salah mestinya punya"
"Bagus, asal punya kaki, itu sudah cukup!"
"Sudah cukup?"
"Kebetulan aku punya amgi sejenis itu, dan kebetulan kaupun punya kaki"
Oh Gwat-ji menerangkan. Jika senjata rahasia dilancarkan melalui kaki, biasanya jarang sekali ada orang yang bisa menghindar. Kembali Oh Gwat-ji berkata.
"Seranganmu terhitung amat cepat, bila ditambah dengan senjata rahasia yang dilancarkan melalui kaki, bagimu, rasanya bukan pekerjaan yang terlampau sulit untuk membunuh tiga orang sekaligus" .
"Sayang aku hanya sempat mendengar satu kali tentang senjata rahasia jenis itu"
"Sekarang kau akan segera melihatnya"
"Di mana?"
"Mungkin saat ini sudah berada di tengah perjalanan"
"Kau sudah suruh orang untuk mengirimnya kemari?"
"Betul"
Oh Gwat-ji mengangguk.
"ketika teringat akan ke tiga orang itu, aku segera utus orang untuk mengirimnya kesini"
"Kau pergi keluar dari sini?"
"Biarpun aku belum pernah tinggalkan tempat ini, berita sudah kukirim keluar"
Liu Tiang-kay tertegun.
Dia bukan termasuk pemuda bodoh, namun bagaimana pun dia berpikir dan putar otak, ia tetap tak mengerti dengan cara apa Oh Gwat-ji mengirim berita itu keluar?
Tiba tiba perempuan itu berkata."Aku tahu, sekeliling tempat ini pasti berada dalam pengawasan orang orangnya Liong Ngo, tapi sayang, sehebat hebatnya Liong Ngo, dia toh tak bisa melarang kita untuk bersantap"
Liu Tiang-kay masih belum mengerti, apa hubungannya bersantap dengan persoalan ini.
"Bila ingin bersantap, kita mesti menanak nasi, bila harus menanak nasi maka kita mesti pasang api................."
Oh Gwat-ji menerangkan. Akhirnya Liu Tiang-kay paham juga apa yang dimaksud, sambungnya.
"Yaa, bila memasang api berarti ada asap yang mengepul"
"Kelihatannya kau tidak kelewat bodoh!"
Mengirim berita dengan menggunakan asap, cara ini terhitung sebuah cara yang sangat kuno tapi seringkah justru manjur dan amat bermanfaat.
Oh Gwat-ji kembali menatapnya, sekeras baja sinar mata yang memancar keluar, tapi nada perkataannya justru lembut dan halus bagai aliran air sungai, katanya.
"Selama kau punya kepandaian balikan mengerti caranya, benda apapun yang ada di dunia ini pasti tunduk kepadamu, rela bekerja untukmu, bahkan asap yang keluar dari cerobong asap pun bisa mewakilimu untuk berbicara" --Malam belum larut tapi suasana amat tenang, dari ujung jalanan dikejauhan sana lamat lamat terdengar suara anjing menggonggong. Kembali Oh Gwat-ji berkata."Selain senjata rahasia, kau masih butuh sebilah golok sakti yang sanggup memenggal batok kepala manusia dalam sekali tebasan"
"Golok itu juga sudah ditengah jalan?"
Tanya Liu Tiang-kay.
"Tidak, golok itu mesti kau dapatkan dari tangan Liong Ngo, dari tiga belas jenis golok terbaik dan ternanam yang pernah ada dalam dunia persilatan, paling tidak ada tujuh bilah sudah berada ditangannya sekarang"
Liu Tiang-kay menatap wajahnya lalu mengawasi dadanya yang menonjol keluar, katanya kemudian dengan suara perlahan."Sekarang, kau masih ada pesan apa lagi?"
"Tidak ada"
"Berarti kita boleh segera naik ke ranjang untuk mulai bertempur?"
"Kau boleh"
"Dan kau?"
Oh Gwat-ji menghela napas panjang."Sekarang aku harus bersiap-siap untuk mati"
"Bersiap siap mati?"
Liu Tiang-kay terhenyak.
"'Sepeninggalmu besok, Liong Ngo tak akan lepaskan aku, biarpun dia percaya kau tak akan membocorkan rahasia apa apa dihadapanku, tapi, tak mungkin dia biarkan saksi hidup untuk meneruskan hidupnya"
Liu Tiang-kay segera mengerti apa yang dimaksud, sahutnya sembari mengangguk.
"Yaa benar, siapapun yang datang untuk membunuhmu, kau memang tak boleh melawan, sebab kau tak lebih hanya bini seorang petani kecil"
"Oleh karena itu lebih baik aku mati duluan ditanganmu"
Kata Oh gwat-ji sembari tertawa.
"Mati ditanganku? Kau suruh aku membunuhmu?"
"Kau keberatan?"
Liu Tiang-kay tertawa getir.
"Memangnya kau anggap aku termasuk salah satu anjing gila yang suka menggigit orang?"
"Aku tahu kau bukan anjing gila, aku juga tahu kau tak tega membunuhku, tapi...................."
Tertawanya bertambah misterius, bertambah sadis."Membunuh itu banyak caranya, terbunuh pun juga banyak caranya"
Liu Tiang-kay tidak bertanya lagi.
Mungkin dia belum terlalu jelas dengan maksud perkataan itu, tapi dia sudah mendengar suara langkah kaki manusia bergema mendekat.
Langkah kaki itu sudah melewati pekarangan rumah, disusul kemudian ada seseorang mengetuk pintu.
"Siapa?"
"Aku"
Terdengar seseorang menyahut, suara seorang wanita, bukan saja masih muda, suaranya pun amat merdu.
"aku datang untuk mengirim telur ayam"
"Ooh, rupanya bibi Ah-Tek"
Sahut Oh Gwat-ji.
"kalau hanya berapa butir telur, kau tak perlu terburu-buru!"
"Tidak apa-apa, kebetulan searah, malam ini aku hendak ke kota untuk menangkap orang"
"Menangkap orang? Siapa yang mau ditangkap?"
"Siapa lagi kalau bukan si setan tua, sejak kemarin pagi dia sudahi kabur ke kota dan hingga kini belum pulang, ada yang melihat dia sedang tidur dengan lonte busuk, maka kali ini aku......................"
Dia tidak melanjutkan kata katanya lagi.
Sebab dia sudah masuk ke dalam ruangan dan sedang mengawasi Liu Tiang-kay dengan wajah tertegun, tampaknya dia sedikit terkejut karena kehadiran orang ke tiga disitu.
Liu Tiang-kay juga sedang mengawasinya.
Perempuan ini bukan saja masih muda bahkan montok sekali, terutama sepasang payudara nya yang gede , dia matang seperti tomat, selain harum juga gurih.
Sementara itu Oh gwat-ji sudah merapatkan kembali pintu rumah, tiba tiba dia berpaling ke arah Liu Tiang-kay dan tegurnya sambil tertawa.
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Sangat bagus!"
"Malam nanti apakah kau pingin tidur dengannya?"
"Pingin sekali"
Sejujurnya, dia memang sangat pingin.
Pakaian yang dikenakan perempuan itu tipis sekali, sedemikian tipisnya hingga dia dapat melihat puting susunya yang pelan pelan mulai mengeras.
Apakah perempuan itu mulai terangsang?
Mulai bernapsu?
Sambil tersenyum Oh Gwat-ji segera berkata."Sekarang kau boleh melepaskan semua pakaian yang kau kenakan"
Bibi Ah-Tek menggigit bibir, ternyata dia tak berusaha menampik, semua pakaian yang dikenakan segera dilepas satu per satu.
Dia melepaskan pakaiannya dengan cepat.
Oh Gwat-ji juga sedang melepaskan pakaiannya, dia melepaskan bajunya tak kalah cepatnya dari perempuan itu.
Mereka berdua sama sama masih muda, sama sama cantik, sepasang paha mereka pun langsing, putih dan kencang.
Mengawasi dua orang perempuan yang berdiri dihadapannya dalam keadaan telanjang bulat, Liu Tiang-kay segera merasakan jantungkan berdebar keras.
Tapi dalam walau singkat ia segera mamahami apa yang dimaksud Oh Gwat-ji.
"....................... Membunuh itu banyak caranya, terbunuh pun juga banyak caranya"
Ternyata dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya sedari awal, dia sudah persiapkan perempuan itu untuk datang mewakilinya mati...............
Bukan saja mereka mempunyai perawakan tubuh yang mirip, paras muka mereka pun mempunyai banyak kemiripan, asal dipoles sedikit saja, dijamin anak buah Liong Ngo tak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
Selain itu, didalam kenyataan mereka tak akan terlalu memperhatikan seorang perempuan dusun macam mereka, sebab yang harus mereka lakukan hanya membunuh seorang wanita, perduli perempuan itu berwajah seperti apa, mereka tak akan memperhatikan dengan jelas.
Benar saja, Oh Gwat-ji telah mengenakan pakaian yang dilepas bibi Ah-Tek, kemudian setelah mengerling Liu Tiangkay sekejap, ujarnya sambil tersenyum.
"Kenapa Cuma dipandang saja, kenapa tidak segera membopongnya ke atas ranjang?"
Paras muka bibi Ah-Tek segera bersemu merah, merah karena jengah.
Tampaknya dia tidak jelas dengan tugas yang harus diembannya, dia hanya tahu datang kesitu untuk menggantikan seorang wanita, menemani seorang lelaki.
Ternyata lelaki itu tidak jelek, tidak memuakkan, bahkan sekarang, dia justru berharap Oh Gwat-ji segera pergi dari situ.
Oh Gwat-ji sudah bersiap siap pergi meninggalkan tempat itu, sambil tertawa cekikikan mendadak dia balikkan telapak tangannya dan dihantamkan ke punggung perempuan itu.
Bibi Ah-Tek membuka mulutnya, namun tak ada jeritan yang muncul, bahkan tak ada darah yang menyembur keluar, karena pada saat yang bersamaan Oh Gwat-ji telah masukkan sebutir telur ayam yang baru dibawanya ke dalam mulutnya...............
Dengan termangu Liu Tiang-kay menyaksikan perempuan itu roboh ke lantai, tiba tiba dia merasa mulut sendiri seakan akan dijejali pula dengan sebutir telur mentah, selain amis juga amat getir.
Oh Gwat-ji menghela napas panjang, ujarnya."Menurut skenario yang semula disusun, semestinya dia harus tinggal disini, menemanimu semalam, kemudian kau yang harus membunuhnya"
Liu Tiang-kay termenung, lewat lama kemudian dia baru bertanya."Mengapa secara tiba tiba kau berubah pikiran?"
"Sebab aku tak tahan melihat sikap dan perubahan mimik mukamul terhadapnya tadi"
"Oya?"
Sambil menggigit bibir kembali Oh Gwat-ji berkata."Begitu berjumpa dengannya, kau seolah olah sudah tak mampu mengendalikan napsumu lagi kau seakan akan ingin segera menyusupkan tanganmu ke balik celana!
dalamnya........"
Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Hai, bagaimana pun juga, cepat atau lambat dia toh bakal mati. Untuk menyelesaikan satu pekerjaan besar, memang tak bisa dihindari banyak orang bakal menemui ajalnya"
"Sekarang aku hanya berharap orang yang ditunjuk Liong Ngo sebagai penunjuk jalan bukan seorang wanita"
"Seandainya seorang wanita, kau juga akan membunuhnya?"
Oh Gwat-ji tidak langsung menjawab, dari dalam keranjang ia keluarkan sebutir telur ayam lalu diletakkan ke atas meja, lalu dengan membawa keranjang kosong dia siap tinggalkan tempat itu.
Satu perubahan yang aneh muncul dibalik wajahnya, lewat lama kemudian dia baru berkata."Aku tahu, aku bukan perempuan pertama bagimu, tapi aku berharap aku menjadi perempuan terakhir bagimu"
Berapa butir telur ayam itu ternyata tidak berisi cairan telur, dibalik cangkang telur yang keras disembunyikan beberapa lembar lempengan serta per yang sangat kuat.
ketika dirangkai jadi satu, terbentuklah sebuah senjata rahasia yang luar biasa..........
semacam senjata rahasia yang khusus dipasang dalam sepatu.
Ketika ditekan kuat dengan tungkai kaki, maka dari ujung sepatu akan meluncur jarum beracun yang sangat lembut, keganasan racun itu jauh lebih jahat daripada patukan gigi ular hijau bambu.
"Aku tidak duduk lagi, sekarang aku mesti berangkat ke kota"
Sambil membawa keranjang kosong dan tertawa merdu, Oh Gwat-ji berjalan meninggalkan pintu utama, suara tertawanya masih kedengaran merdu dan gembira.
Malam diluar pintu sudah semakin kelam, suasana gelap gulita mencekam seluruh jagad.
0-d-0-w-0 Bab IV Manusia yang bukan manusia.
Malam memang semakin larut.
Liu Tiang-kay seorang diri duduk dalam ruang tamu yang sempit lagi jelek itu, waktu sudah berlalu, lama sekali, namun tak kedengaran ada sedikit suara pun.
Mula mula dia membaringkan dulu perempuan asing itu ke atas ranjang, lalu menutup tubuhnya dengan memakai selimut dan sprei, dia seperti takut perempuan itu kedinginan.
Kemudian dia memadamkan semua lampu yang ada dalam rumah, tidak terkecuali lampu yang ada di ruang dapur.
Dia tak takut menghadapi kematian, juga tidak takut menghadapi kegelapan, namun terhadap dua hal itu, dia selalu merasa benci dan muak yang tak terlukis dengan kata, dia selalu berharap bisa tinggalkan ke dua hal itu sejauh jauhnya.
Sekarang dia sedang berusaha mengumpulkan semua pikiran dan ingatannya, berpikir ulang sekali lagi jalannya peristiwa sejak awal hingga sekarang..........dahulu, dia hanya seorang manusia tak bernama, bahkan dia sendiripun tak tahu seberapa besar kekuatan yang dimilikinya.
Dia tak tahu karena belum pernah mencoba, diapun tak pernah ingin mencoba.
Tapi Oh Lip, Oh Lo-yacu telah mempromosikan dirinya, telah mempolesnya, seperti mempoles sebutir mutiara yang baru diperoleh dari dalam sebuah tiram.
Oh Lo-yacu bukan saja memiliki ketajaman mata yang luar biasa, dia pun memiliki otak yang tak tertandingi oleh siapapun.
Dia belum pernah salah melihat orang, belum pernah salah menilaj persoalan apapun...............
dugaan, analisa serta kesimpulannya belum pernah salah satu kalipun.
Secara resmi dia belum pernah memangku jabatan tinggi dengan mengenakan kopiah kebesaran, belum pernah makan gaji sebagai pegawai pengadilan, tapi dia justru opas nomor satu di kolong langit, hampir semui komandan opas di semua propinsi, di semua keresidenan memandangnyi bagaikan Sinbin (malaikat agung).
Sebab, asal dia mau campur tangan, tak ada kasus kriminal di koloni langit yang tak bisa terbongkar, selama dia masih hidup, jangan hara) kawan kawan dari golongan hitam dan kaum okpa bisa hidup bebas sentosa Sayang, setajam apapun golok yang dimiliki akhirnya tiba juga saatnya untuk berkarat, sekuat dan setangguh apapun seorang manusia, akhirnya bakal tua dan sakit sakitan.
Akhirnya dia tua juga, malahan mengidap sakit rhematik, jika tidak dituntun orang, jangan harap dia bisa berjalan, mau melangkah pun susah.
Sejak dia jatuh sakit, hanya dalam kurun waktu dua-tiga tahun, sudah beratus ratus kasus kriminal muncul di sekitar ibu kota..............jumlah kasus yang pasti mencapai tiga ratus tiga puluh dua kasus.
Dari tiga ratusan kasus itu, belum satu kasuspun yang berhasil dibongkar.
Padahal kasus kasus itu harus diselesaikan semua, sebab salah satu korban pencurian bukan saja berasal dari keluarga kerajaan, kaum bangsawan dan pejabat tinggi, bahkan termasuk juga keluarga tokoh silat kenamaan.
Bukan Cuma berasal dari keluarga persilatan kenamaan, didalamnya menyangkut juga keluarga dekat kekaisaran.
Sepasang kaki Oh lo-yacu boleh lumpuh, namun sepasang matanya belum buta.
Orang yang melakukan semua kasus pencurian itu pastilah Liong Ngo, karena itu untuk membongkar semua kasus kriminal ini, dia pun wajib mencari Liu Tiang-kay.
Semua orang tetap percaya, analisa serta kesimpulannya kali ini pun tak bakal keliru.
Oleh karena itulah Liu Tiang-kay yang semula tak punya nama, sama sekali tak terkenal, secara tiba tiba bisa berubah jadi seorang tokoh yang aneh, tokoh yang disegani banyak orang.
Berpikir sampai disitu, Liu Tiang-kay sendiri masih belum tahu, hal tersebut merupakan satu keberuntungan baginya?
Atau justru merupakan kejadian apes?
Hingga detik ini, dia masih belum terlalu jelas, mengapa Oh Lo-yacu bisa tertarik dengan dirinya?
Dia seperti selamanya tak pernah bisa memahami manusia licin bagai seekor rase ini, persis seperti dia pun selamanya tak pemah bisa memahami putri kesayangan orang tua ini.
Dia hanya ingat, setahun berselang dia telah berkenalan dengan seorang sahabat yang bernama Ong Lam.
Suatu hari, Ong Lam mengajukan usul, minta dia pergi mengunjungi Oh Lo-yacu, tiga bulan kemudian, Oh Lo-yacu serahkan tanggung jawab ini kepadanya, hingga malam ini, dia baru t.ihu betapa beratnya beban yang diberikan kepadanya itu.
Kini, paling tidak dia berhasil mengelabuhi Liong Ngo dalam Pengalamannya selama tiga bulan terakhir ini.
Tapi bagaimana selanjutnya?
Dapatkah dia membunuh Tong Kim, Tam It-hui, tosu tua penggait sukma, Tiat hwesio, si anjing geladak Li serta wanita gadungan im hanya dalam setengah jam?
Berhasilkah dia memperoleh kotak kayu cendana yang misterius itu?
Sanggupkah dia menangkap Liong Ngo?
Hanya daiam hati kecilnya dia tahu, sesungguhnya dia sama sekali tak yakin bisa berhasil.
Dari semua persoalan yang dihadapi, masalah yang paling membuatnya gundah adalah masalah Oh Gwat-ji.
Sebenarnya perempuan seperti apakah dia?
Bagaimana sikapnya terhadap dirinya?
Hanya dia sendiri yang tahu, diapun seorang manusia, seorang manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging, dia bukan sebuah batu karang.
Walaupun malam semakin kelam, namun jaraknya dengan fajar masih cukup lama.
Apa yang bakal terjadi esok hari?
Liong Ngo akan mengutus manusia seperti apa untuk menjadi penunjuk jalannya?
Liu Tiang-kay menghela napas, dia berharap bisa tidur sejenak sambil bersandar dibangku, sementara melupakan semua kegundahan dan keruwetan yang menyelimuti perasaan hatinya.
Pada saat itulah, tiba tiba ia mendengar satu suara yang sangat aneh, seolah-olah ada hujan gerimis yang membasahi atap rumah im.
Menyusul kemudian.
"Blaaam!"
Seluruh bangunan rumah itu terbakar secara mendadak, seperti sebuah rumah rumahan kertas yang tersulut api, begitu api berkobar, kebakaran sudah tak dapat dikendalikan lagi.
Kebakaran semacam itu, sudah barang tentu tak akan menewaskan Liu Tiang-kay.
Sekalipun dia benar benar terkurung ditengah sebuah tungku dengan kobaran api yang membara, siapa tahu diapun punya akal untuk meloloskan diri.
Bangunan rumah itu, meski bukan sebuah tungku api namun kobaran api yang menyala disitu benar-benar mengerikan, empat penjuru semuanya api, kecuali asap tebal, tak nampak benda apapun.
Dengan satu gerakan cepat Liu Tiang-kay menerjang keluar.
Mula-mula dia menerjang masuk ke dapur, mengambil sebuah gentong air yang besar dan mengguyur seluruh kepala dan badannya dengan air itu hingga basah kuyup, setelah itu dia baru menerjang keluar dari balik kobaran api.
Tak ada orang yang bisa bereaksi secepat dia, lebih lebih tak ada orang yang bisa bergerak lebih cepat dari dia.
Kecuali api yang berkobar hebat membakar bangunan rumah itu, suasana disekeliling tempat im tetap sunyi senyap dan sangat tenang.
Berapa kuntum bunga kuning yang tumbuh dalam pekarangan rumah nampak lebih indah dan lebih mencolok ditengah kilatan cahaya api yang berkobar.
Seorang nona kecil berbaju kuning, dengan menggenggam sekuntum bunga kuning sedang mengawasinya sambil tertawa cekikikan.
Diluar pintu rumah sudah berhenti sebuah kereta kuda, sepasang mata kuda yang menghela kereta itu sudah ditutup dengan kain hitam.
hingga kobaran api yang menjilat bangunan rumah itu tidak sampai mengejutkannya.
Bagaikan seekor burung walet, nona kecil berbaju kuning itu meluncur keluar, membukakan pintu kereta, kemudian kembali berpaling ambil tertawa.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Liu Tiang-kay juga tidak bertanya apa apa.
Begitu si nona membukakan pintu kereta, Liu Tiang-kay segera masuk dan duduk dalam ruang kereta.
Kobaran api masih menjilat seluruh bangunan rumah, tapi jaraknya dengan Liu Tiang-kay makin lama semakin jauh.
Kereta kuda berlari sangat cepat, meluncur ke muka menembus kegelapan malam yang tak bertepian.
Malam semakin gelap.
Liu Tiang-kay tak pernah takut menghadapi kegelapan, dia hanya merasa benci dan muak yang tak terlukiskan dengan kata kala.
0-d-0-w-0 Serba baru, mulai kaus kaki, pakaian dalam hingga jubah luar, semuanya serba baru dan indah.
Bahkan bak mandi yang terbuat dari kayu pun kelihatan masih baru Kereta kuda berhenti diluar halaman sebuah perkampungan, Liu Thian-kay mengikuti nona kecil itu masuk ke dalam, di situ sudah tersedia sebuah bak mandi penuh dengan air, menunggunya untuk mandi.
Suhu air dalam bak mandi itu tidak panas, pun tidak dingin.
Nona kecil itu tidak berkata apa apa, dia hanya menuding ke arah bak mandi itu, Liu Tiang-kay pun segera melucuti semua pakaian yang dikenakan, dengan tubuh telanjang bulat dia terjun ke dalam bak mandi itu Si nona masih terbungkam dalam seribu bahasa, dia tak mengucapkun sepatah kata pun.
Liu Tiang-kay juga membungkam, dia tidak mengajukan pertanyaan walau hanya sepatah kata saja.
Menunggu sampai Liu Tiang-kay selesai mandi, selesai mengeringkan badan dan siap mengenakan pakaian yang serba baru im, tiba tiba si nona kecil itu masuk kembali ke kamar mandi, di belakangnya mengikuti dua orang, ke dua orang itu menggotong sebuah bak mandi baru, dalam bak mandi itu penuh dengan air.
suhu air pun tidak panas juga tidak dingin.
Untuk ke dua kalinya nona kecil itu menuding ke arah bak mandi, Liu Tiang-kay memandangnya dua kejap, akhirnya kembali dia terjun ke dalam bak mandi itu.
Seperti sudah tiga bulan tak pernah mandi, sekali lagi dia menggosok seluruh bagian tubuhnya dengan seksama.
Dia bukan termasuk lelaki yang takut mandi karena kuatir akan melukai hawa mumi miliknya, di dalam kenyataan, dia selalu amat suka mandi.
Dia pun bukan termasuk lelaki yang banyak mulut, bila orang lain tak bicara, biasanya dia pun tak akan bertanya.
Dia telah menggosok seluruh kulit badannya hingga memerah, dilihat sepintas lalu, bentuknya persis seperti lobak merah yang baru dikupas kulitnya.
Diluar dugaan, nona kecil itu kembali menuding ke arah air didalam bak mandi, tampaknya dia masih menyuruhnya untuk mandi sekali lagi.
Liu Tiang-kay memandang ke arahnya, tiba tiba ia tertawa.
Nona kecil itu ikut tertawa, padahal selama ini dia memang selalu tertawa.
"Apakah badanku berbau tahi anjing?"
Tanya Liu Tiang-kay tiba tiba.
"Tidak!"
Jawab nona kecil itu sambil tertawa cekikikan.
"Kalau begitu bau tahi kucing?"
"Juga tidak"
"Kalau begitu badanku bau apa?"
Berputar sepasang biji mata nona kecil itu, mukanya yang bulat tiba-tiba terlintas warna merah jengah. Tubuhnya sama sekali tidak berbau apa-apa.
"Aku sudah mandi tiga kali"
Kembali Liu Tiang-kay berkata.
"sekalipun badanku berbau tahi anjing atau tahi kucing, seharusnya sekarang sudah hilang baunya, seharusnya badanku sudah bersih"
Dengan wajah merah jengah nona kecil itu manggut manggut, padahal gadis sebaya dia sudah tidak termasuk gadis kecil.
"Mengapa kau masih suruh aku mandi sekali lagi?"
Tanya Liu Tiang-kay.
"Entahlah, aku tidak tahu"
Jawab si nona.
"Kau juga tidak tahu?"
"Aku hanya tahu, siapapun orangnya, bila ingin bertemu nona kami, dari kepala hingga ke ujung kaki dia mesti mandi sebanyak lima kali"
Oleh karena itu Liu Tiang-kay pun mandi sebanyak lima kali.
Ketika dia sudah mengenakan pakaian serba baru, mengikuti nona kecil itu untuk menghadap sang "nona", tiba tiba dia menemukan bila seseorang harus mandi sebanyak lima kali secara beruntun, ternyata urusan itu bukanlah satu perbuatan yang menderita.
Kini, dia merasa sekujur badannya ringan dan kendor, sewaktu berjalan menelusuri lorong panjang yang berkilauan bagai cermin, dia merasa bagaikan berjalan ditengah awan.
Ujung lorong panjang itu terdapat sebuah pintu, didepan pintu tergantung tirai yang terbuat dari mutiara.
Pintu itu hanya dirapatkan, tidak terkunci, bentuknya tidak terlalu lebar, tapi ruangan dibalik pintu luar biasa lebarnya, dinding ruangan berwarna putih bersih, lantainya dilapisi papan kayu yang berkilauan.
Seorang perempuan berbaju kuning yang bertubuh ramping, tinggi tapi montok sedang berdiri di depan sebuah cermin tembaga yang amat besar, dia sedang menikmati diri sendiri.
Dia memang seorang wanita yang pantas dinikmati.
Biarpun Liu Tiang-kay tidak dapat melihat wajahnya secara langsung, dia bisa melihatnya dari balik cermin.
Jangan lagi orang lain, bahkan dia sendiripun mau tak mau harus mengakui, wajah perempuan im betul-betul amat cantik, bahkan nyaris sempurna kecantikan wajahnya, kecantikan yang begitu memikat, begitu memukau, membuat orang tak bosan-bosannya memandang.
Kecantikan semacam ini rasanya tak akan ditemukan pada kecantikan wajah seorang manusia, kecantikannya nyaris melebihi kecantikan bidadari yang sering muncul di sebuah lukisan.
Kecantikannya sudah mencapai pada taraf kecantikan yang hanya bisa dinikmati orang dari kejauhan, begitu cantiknya membuat orang tak berani mendekatinya.
Oleh karena itu Liu Tiang-kay sudah menghentikan langkahnya jauh dari perempuan itu.
Tentu saja perempuan itupun dapat melihat kehadirannya dari balik cermin, dia tidak berpaling, hanya tegurnya dengan suara dingin.
"Kau adalah Liu Tiang-kay?"
"Benar!"
"Aku she-Khong, bernama Khong Lan-kun!"
Nada suaranya pun sangat indah, merdu disertai kecongkakan yang tak terlukis dengan kata, dia seperti sudah menduga sejak awal, siapa saja yang mendengar namanya, dia pasti akan sangat terperanjat.
Sayang Liu Tiang-kay tidak menunjukkan perasaan terperanjat, dia bahkan berdiri sangat tenang.
Tiba tiba Khong Lan-kun tertawa dingin, ujarnya.
"Biarpun aku tak pemah berjumpa dengan kau, sejak awal aku sudah tahu manusia macam apakah dirimu"
"Oya?"
"Menurut Liong Ngo, kau adalah seorang yang menarik, terlebih caramu untuk menghamburkan uang"
"Perkataannya memang tidak keliru"
"Menurut Lan Thian-bong, tulang badanmu sangat keras, punya daya tahan yang bagus ketika menerima gebukan"
"Perkataannya pun tidak salah"
"Hanya sayang semua wanita yang pernah kau jumpai selalu mengibaratkan dirimu dengan tiga patah kata"
"Tiga patah kata yang mana?"
"Kau bukan manusia"
"Perkataan mereka pun tidak keliru"
"Seorang lelaki yang bukan manusia bila berani memandang sekejap kepadaku, dia harus mampus!"
"Aku bukan kemari untuk menengokmu, kau sendiri yang mengundangku datang kemari!"
Paras muka Khong Lan-kun berubah memucat, serunya.
"Aku membawamu kemari karena aku telah menyanggupi permintaan Liong Ngo, kalau tidak, kau sudah mampus disitu saat ini"
"Kau menyanggupi permintaan apa dari Liong Ngo?"
"Aku menyanggupi permintaannya untuk membawa kau berjumpa dengan seseorang, kecuali hal itu, antara kita berdua tak ada hubungan apa apa, oleh karena itu kuanjurkan lebih baik bersikaplah lebih sopan dan jujur selama berada dihadapanku, aku tahu, kau sangat tersohor diantara kaum wanita, tapi kau keliru besar jika menganggap aku sama seperti perempuan lain........lebih baik jangan cari mampus!"
"Aku mengerti!"
"Memang lebih baik kau mengerti"
Khong Lan-kun tertawa dingin.
"Tapi akupun berharap kau bisa memahami akan dua hal"
"Katakan!"
"Pertama, aku sama sekali tak berminat untuk menjalin hubungan apa-apa denganmu"
Paras muka Khong Lan-kun berubah semakin memucat.
"Kedua, walaupun belum pernah berjumpa denganmu, tapi aku tahu manusia macam apakah dirimu"
"Manusia macam apa diriku ini?"
Tak tahan Khong Lan-kun bertanya "Kau mengira dirimu adalah seekor burung merak, mengira semua orang di kolong langit kagum kepadamu, menikmati keindahanmu, Hmrn, padahal satu satunya orang yang mengagumi dan menikmati keindahanmu hanyalah dirimu sendiri"
Paras muka Khong Lan-kun yang memucat kini telah berubah hijau membesi, tiba tiba dia memutar badan, menatapnya tajam tajam, dari balik sorot matanya yang indah seolah olah menyembur keluar kobaran api yang membara.
Liu Tiang-kay tidak menggubris, kembali terusnya dengan suara hambar.
"Demi Liong Ngo, kau mengundangku kemari, demi Liong Ngo pula aku bersedia datang kemari, diantara kita berdua memang tak punya hubungan apa apa, hanya saja................."
"Hanya saja kenapa?"
"Tidak seharusnya kau lepaskan api itu!"
"Tidak seharusnya?"
"Bila api yang kau lepas sampai membakarku hingga mampus, bagaimana mungkin kau bisa mengajakku untuk berjumpa dengan orang itu?"
Khong Lan-kun segera tertawa dingin.
"Hmm, bila kau mampus gara gara api kebakaran itu, berarti kau sesungguhnya memang tak pantas berjumpa dengan orang itu"
"Sebenarnya siapakah orang itu?"
Tak tahan Liu Tiang-kay bertanya "Ciu Heng-po!"
"Ciu-sui hujin?"
Liu Tiang-kay terperanjat.
"Betul, Ciu-sui-siang-si (air di musim gugur menimbulkan kerinduan)!"
Khong Lan-kun mengangguk.
"Kau akan mengajakku bertemu dengannya?"
"Dia adalah sahabatku, tinggal di perkampungan Ciu-suisan-ceng hanya aku yang bisa masuk ke situ"
"Kau adalah sahabatnya dan dia pun menganggap kau sebagai sahabatnya, tapi dalam kenyataan kau bekerja untuk Liong Ngo"
"Hubungan antara wanita dengan wanita lain memang tak pernah ada persahabatan sejati"
Tukas Khong Lan-kun dingin.
"Benar, terutama bagi wanita macam kau, satu satunya sahabat sejal yang kau miliki hanya dirimu sendiri"
Ternyata kali ini Khong Lan-kun tidak marah, ujarnya dengan nadi hambar.
"Paling tidak aku masih lebih baik ketimbang dia"
"Oya?"
"Jangan lagi sebagai sahabat, dia bahkan menganggap diri sendiri sebagai musuh besar"
"Tapi, paling tidak dia ijinkan kau untuk berkunjung ke perkampungan Ciu-sui san-ceng miliknya"
Tiba tiba dari balik mata Khong Lan-kun kembali memancar sinar kebencian dan rasa dendam yang amat tebal, ujarnya hambar.
"Dia mempersilahkan aku datang karena dia senang sekali menyiksaku, dia senang melihat mimik wajahku ketika tersiksa dan menderita"
Tak ada orang yang bisa melukiskan mimik mukanya saat ini, sebab apa yang dia tampilkan sekarang bukan melulu "perasaan benci dan dendam", tapi ada semacam ungkapan perasaan yang sulit untuk diucapkan dengan perkataan yang tepat.
Siapapun tak menyangka, ternyata diantara dua wanita paling misterius, paling cantik dan paling kejam ini terjalin satu hubungan aneh yang tak bisa diungkap dengan kata kata.
Liu Tiang-kay memandangnya, tiba tiba ia bertanya."Baik, kau boleh pergi"
"Kau..............."
"Aku sama sekali tak berminat untuk menengoknya, akupun merasa tak perlu untuk melihatnya"
"Tapi kau tetap harus ke situ"
"Kenapa?"
"Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak gua rahasia itu, aku hanya bisa mengajakmu berkunjung ke perkampungan Ciu-sui san-ceng, disitu kau mesti berusaha sendiri"
Perasaan Liu Tiang-kay serasa tenggelam, dia merasa tekanan batinnya sangat berat.
Tiba tiba saja dia menjadi sadar, ternyata persoalan yang sedang dihadapi jauh lebih rumit dan sulit daripada apa yang dibayangkan semula.
Berkilauan sinar mata Khong Lan-kun.
Setiap kali menjumpai orang lain menghadapi kesulitan dan menderita, sinar matanya selalu berkilauan, dia memang senang melihat orang lain tersiksa, menderita.
Liu Tiang-kay menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Ciu-sui hujin mengijinkan kau berkunjung ke perkampungannya karena dia senang melihat penderitaan serta siksaan yang menimpa dirimu, darimana kau tahu kalau diapun mengijinkan aku datang berkunjung?"
"Karena dia sangat paham tentang diriku, dia tahu selama ini aku adalah seorang perempuan yang suka menikmati hidup, apalagi sangat seang dilayani kaum lelaki, oleh karena itu setiap kali datang berkunjung, iku selalu mengajak seorang budak untuk melayaniku"
"Sayang aku bukan budakmu"
"Tidak, kau adalah budakku"
Dia menatapnya tanpa berkedip, dari balik matanya yang indah terpancar sinar yang sangat aneh.
Liu Tiang-kay balas menatapnya, dia pun memandang tanpa berkedip.
Mereka berdua saling menatap dalam keadaan aneh, entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Yaa, aku adalah budakmu"
"Kau adalah budakku?"
Kembali Khong Lan-kun mengulang.
"Benar'"
"Mulai hari ini kau harus mengikuti aku bagai seekor anjing, bila kupanggil, kau harus segera datang"
"Baik"
"Ketika melakukan pekerjaan apapun untukku, kau harus hati hati, kau tak boleh menyentuh aku dengan tanganmu, jika tangan kananmu menyentuh aku, maka kupotong tangan kananmu, bila jari tanganmu menyentuh aku, akan kupotong jari tanganmu itu"
"Baik"
Paras mukanya sama sekali tidak menampilkan perubahan apapun, tak ada perasaan gusar, juga tak ada perasaan menderita.
Khong Lan-kun masih menatapnya, sampai lama kemudian dia baru berkata sambil menghela napas panjang"
"Tampaknya kau memang bukan manusia" 0-d-0-0-w-0 Bukit Say-soat-san. Sebuah bukit yang indah, nama bukit itupun indah. Setelah melalui kuil Hong-lim-si yang angker, kemudian menyeberang jembatan bianglala yang dipenuhi aneka teratai, pemandangan alam buki Say-soat-san terbentang di depan mata. Ditengah hembusan angin sepoi sepoi, lamat lamat terdengar ada orantj sedang bersenandung.
"Hawa panas menyengat telaga dingin jadi sarang, Berselimut Awan tebal malam makin nyaman. Harum bunga semerbak memabukkan orang. Menyeberangi jembatan tinggi melihat sampan"
Suara nyanyian im kedengaran sangat merdu, bunga teratai nampa] makin indah, tak kalah indahnya dengan pemandangan bukit di tenga senja.
Punggung bukit di belakang gunung penuh diselimuti awan putih nan tebal, jalanan yang sempit nampak curam dan berliku-liku, ditempat yang sepi dari kaum pelacong dan jauh dari keramaian manusia itu ternyata berdiri sebuah rumah makan yang besar lagi megah.
Bangunan loteng itu tidak terlalu tinggi tapi bahan bangunan nya berkualitas tinggi, dua orang tukang kayu nampak sedang bekerja, memaku sebuah papan nama bertuliskan emas diatas pintu gerbang.
Tepat dihadapan rumah makan itu menjulang dua bukit karang yang tinggi, tajam dan runcing bagai sebilah pedang, rupanya letak rurnah makan itu persis berada di mulut lembah tercuram di bukit ini.
Khong Lan-kun dengan mengenakan celana ketat bergaun lebar sedang berdiri di bawah sebatang pohon pinus, sembari menunjuk bangunan rumah makan dihadapannya dia bertanya.
"Coba lihat, bagaimana dengan ramah makan itu?"
"Bangunannya sangat bagus, sayang tempatnya tidak bagus"
"Oya?"
"Kalau membangun rumah makan di tempat seperti ini, mana ada tamu yang mau berkunjung? Aku kuatir belum sampai tiga bulan, rumah makan ini bakal bangkrut dan tutup usaha"
"Kalau soal itu mah tak perlu kau kualirkan, aku jamin tak sampai esok pagi, rumah makan ini sudah lenyap tak berbekas"
"Masa bisa terbang?"
"Tidak"
"Kalau tak bisa terbang, mana mungkin bisa lenyap secara tiba tiba?"
"Kalau ada yang bisa membangun, pasti ada orang yang bisa membongkar"
"Masa rumah makan ini bakal di bongkar orang sebelum fajar esok hari?"
"Ehm!"
Liu Tiang-kay semakin keheranan, tanyanya.
"Bukankah bangunan rumah ini baru saja dibangun, kenapa harus segera dibongkar?"
"Karena bangunan rumah makan ini memang sengaja dibangun untuk kemudian dibongkar"
Liu Tiang-kay semakin keheranan.
Ada orang membangun rumah karena jual beli properti, ada orang membangun rumah karena hendak ditempati, ada orang membangun rumah karena untuk berniaga, ada juga orang membangun rumah karena akan dipakai untuk memelihara See-ih, istri muda, gundik, selir.......semuanya itu bukan kejadian aneh.
Tapi..........
ternyata ada orang membangun rumah karena ingin membongkarnya lagi, belum pernah dia dengar kejadian seaneh ini.
"Kau tidak mengerti?"
Tanya Khong Lan-kun tiba tiba.
"Yaa, aku memang tak mengerti"
Liu Tiang-kay mengakui.
"Ternyata ada juga persoalan yang tidak kau pahami"
Ejek Khong Lan-kun sambi!
tertawa dingin.
Tampaknya dia tak berniat membuka cupu cupu untuk beritahu obat apa yang sedang dijualnya, oleh karena itu Liu Tiang-kay pun tidak ingin bertanya lebih lanjut.
Dia tahu, Khong Lan-kun sengaja membawanya kemari bukan lantaran ingin membuatnya jengkel atau mendongkol atau marah.
Dia pasti mempunyai tujuan.
Oleh sebab itu dia merasa tak perlu bertanya, cepat atau lambat dia pasti akan menerangkan sendiri.
Liu tiang-kay selalu yakin dan percaya dengan analisa sendiri, dia percaya kesimpulannya jarang meleset.
Matahari senja telah tenggelam dibalik bukit, udara malam lambat laun mulai menyelimuti seluruh perbukitan itu.
Lampu telah menerangi seluruh bangunan rumah makan im membuat suasana jadi terang benderang bermandikan cahaya, dari balik jalan bukit yang terjal tiba tiba muncul satu rombongan manusia.
Rombongan orang itu ada laki ada perempuan, yang laki laki berdandan pelayan rumah makan, atau berdandan koki dapur, sedang yang wanita berdandan menor dan mencolok, mereka terdiri dari nona nona yang tidak terlalu jelek wajahnya.
Tiba-tiba Khong Lan-kun berkata."Tahukah kau mau apa orang orang itu datang kemari?"
"Membongkar rumah?"
"Kalau mengandalkan orang orang itu untuk membongkar rumah, biar dibongkar tiga hari tiga malam pun tak bakal selesai"
Liu Tiang-kay mengakui, perkataan itu memang benar.
Biarpun membongkar rumah kelihatannya sangat gampang, namun masih diperlukan sedikit pengetahuan dan kemampuan.
Kembali Khong Lan-kun bertanya."Dapat kau lihat apa kerja perempuan-perempuan itu?"
Tentu saja Liu Tiang-kay tahu dengan jelas."Biarpun pekerjaan yang mereka lakukan tidak termasuk dalam katagori pekerjaan mulia, namun pekerjaan itu justru mempunyai catatan sejarah terlama"
Pekerjaan itu memang harus diakui merupakan pekerjaan paling kuno, modal yang digunakan pun merupakan peralatan wanita yang paling purba.
"Aku tahu, kau paling suka melihat perempuan jenis ini"
Kata Khong Lan-kun lagi dengan suara dingin.
"tak ada salahnya sekarang kau boleh menikmatinya beberapa saat"
"Memangnya begitu fajar menyingsing esok pagi, mereka akan menguap dan lenyap begitu saja?"
Khong Lan-kun mendengus.
"Rumah itu sengaja dibangun agar bisa dibongkar lagi, tentu saja manusia hidup agar siap dibikin mampus"
"Jadi kau sengaja mengajakku kemari hanya untuk menonton bagaimana rumah itu dibongkar dan bagaimana orang orang itu dibikin mampus?"
"Aku mengajakmu kemari agar kau bisa melihat orang yang akan membongkar rumah itu"
"Siapakah mereka?"
"Tujuh orang yang bakal mampus di tanganmu"
Akhirnya Liu Tiang-kay paham, dia balik bertanya."Malam ini mereka bakal muncul disini"
"Ehm!"
Walaupun sudah paham, namun tak tahan Liu Tiang-kay tanya lagi.
"Kenapa?"
"Sebab Ciu Heng-po cukup memahami kebutuhan seorang lelaki, terutama laki laki tersebut, dia sudah kelewat lama mengurung mereka di dalam gua, biarpun tak sampai gila, mereka pasti tak tahan menanggung kesepian, oleh karena itu setiap berapa waktu dia akan lepaskan mereka keluar, agar mereka punya kesempatan untuk bersenang-senang dan melampiaskan hawa napsu birahinya"
Tak tahan Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
Apa yang bakal terjadi dengan orang orang itu setelah kehadiran ke tujuh orang brutal itu?
Tak usah dilihatpun pemuda itu bisa bayangkan apa yang akan terjadi.
Sejujurnya dia merasa kasihan dengan nasib perempuanperempuan itu, baginya, dia lebih suka berhadapan langsung dengan tujuh ekor binatang yang sedang kelaparan ketimbang harus berkenalan dengan mereka bertujuh.
Khong Lan-kun melirik sekejap dengan menggunakan ujung matanya, kemudian katanya dingin."Kau tak usah menaruh simpatik kepada mereka, apalagi menaruh perasaan kasihan, sebab bila langkahmu tidak hati hati, bisa jadi kau sendiri yang akan mati lebih mengenaskan ketimbang mereka"
Liu Tiang-kay termenung, lewat lama kemudian dia baru bertanya."Jika mereka semua datang kemari, siapa yang menjaga tempat itu?"
"Tentu saja Ciu Heng-po sendiri"
"Masa Ciu Heng-po seorang jauh lebih menakutkan daripada gabungan mereka bertujuh?"
"Aku sendiripun tak tahu sampai setaraf apa kepandaian silat yang dimiliki, tapi yang pasti, aku tak bakalan pergi mencoba"
"Maka dari itu aku hanya boleh menonton saja, tak boleh menggebuk rumput mengejutkan ular, tak boleh bertindak semau gue, karena, walaupun aku berhasil membunuh mereka sekarang juga tak ada gunanya?"
Khong Lan-kun manggut-manggut.
"Itulah sebabnya sekarang, aku minta kau hanya menyaksikan tingkah laku serta sepak terjang mereka dengan seksama"
"Kemudian?"
"Kemudian kita pulang, menunggu!"
"Menunggu apa?"
"Besok sore kita berkunjung ke perkampungan Ciu-sui Sanceng"
"Setibanya di perkampungan Ciu-sui-san-ceng, aku baru berusaha menemukan letak gua rahasia itu?"
"Yaa, bahkan harus ditemukan sebelum fajar menyingsing"
"Aku tak boleh mengekor di belakang mereka ketika mereka selesai membongkar bangunan rumah ini dan balik ke sarangnya?"
"Tidak boleh"
Liu Tiang-kay tidak bicara lagi.
Selamanya dia paling enggan membicarakan perkataan yang sama sekali tak ada gunanya.
Bangunan rumah di bukit seberang bermandikan cahaya, sementara suasana ditempat ini justru gelap gulita, masih untung ditengah kegelapan malam yang menyelimuti angkasa, terlihat ada beberapa biji bintang mengerdipkan cahayanya walau agak redup.
Cahaya bintang yang redup, menyinari wajah Khong Lankun yang dingin dan hambar.
Harus diakui, dia memang seorang wanita yang sangat cantik.
Suasana malam pun tak kalah cantiknya.
Liu Tiang-kay mencari sebuah batu karang dan duduk diatas nya, duduk sambil mengawasi wajah perempuan im, dia seakan akan terlena, terbuai dan dibikin mabuk oleh kecantikannya.
Tiba-tiba Khong Lan-kun menegur."Memangnya aku yang suruh kau duduk?"
"Rasanya tidak"
"Selama aku tidak menyuruhmu duduk, lebih baik kau berdiri"
Liu Tiang-kay terpaksa bangkit dari duduknya, berdiri.
"Bukankah aku suruh kau membawa kotak keranjang?"
"Ada disini"
Empat buah ketak keranjang persegi empat, terbuat dari kayu pilihan asal Hokciu, indah dan rapi bentuknya.
"Buka keranjang itu"
Perintah Khong Lan-kun.
Ketika keranjang itu dibuka, terlihat sebuah ruang kotak berlapiskan kain lenin warna putih, diatas kain putih tersedia empat macam sayur, sekeranjang mantau kecil serta sebuah teko arak.
Arak adalah arak "kan-liang"
Yang paling tersohor di kota Hang-ciu, empat macam sayur terdiri dari ikan asap, ayam ca, bebek panggang serta baikut masak tauco.
"Tuangkan arak untukku!"
Kembali Khong Lan-kun memberi perintah.
Dengan sepasang tangannya mengangkat poci arak, Liu Tiang-kay penuhi cawan itu dengan arak wangi, tiba tiba dia merasa perutnya ikut lapar.
Sayang cawan arak hanya sebuah, sumpit pun hanya sepasang, terpaksa dia hanya menonton dari samping.
Khong Lan-kun menghabiskan dua cawan arak, kemudian mencicipi setiap hidangan dengan satu sumpitan, tiba tiba sambil berkerut kening dia letakkan kembali sumpitnya dan berseru.
"Buang!"
"Buang? Apanya yang dibuang?"
"Buang semua barang itu"
"Kenapa mesti dibuang?"
"Karena sudah kumakan"
"Tapi aku masih lapar"
"Orang macam kau, biar lapar tiga sampai lima hari pun tak bakalan mati kelaparan"
"Kalau toh hidangan sudah tersedia, kenapa aku mesti menahan lapar?"
"Karena aku melarang siapapun menyentuh hidangan yang pernah kumakan"
Jawaban Khong Lan-kun sangat ketus. Liu Tiang-kay memandangnya, setengah harian kemudian dia baru bertanya.
"Tubuhmu juga tak boleh disentuh?"
"Tidak boleh"
"Belum pernah ada yang menyentuhmu?"
"Itu urusanku, kau tak perlu ikut campur"
Hardik Khong Lan-kun sambil menarik wajah.
"Tapi Kau, justru ingin mencampuri urusanku?"
"Benar"
"Kau suruh aku berdiri, aku harus berdiri, suruh aku melihat, aku harus melihat?"
"Benar!"
Kembali Liu Tiang-kay mengawasi wajahnya, setelah memandangnya lama sekali tiba tiba dia tertawa.
"Ketika aku melarang kau tertawa, kau tak boleh tertawa"
Tegur perempuan itu gusar.
"Karena aku adalah budakmu?"
"Rupanya baru sekarang kau mengerti?"
"Sayang ada satu hal kau tak mengerti"
"Apa?"
"Aku pun manusia, manusia macam aku selalu senang melakukan tindakan yang kusukai, misalnya........."
"Misalnya apa?"
"Jika aku ingin minum arak, aku tetap akan meminumnya"
Dia benar benar mengangkat teko arak itu dan langsung menuangnya ke dalam mulut Pucat pasi paras muka Khong Lan-kun saking gusarnya, dia tertawa dingin tiada hentinya.
"Kelihatannya kau sudah bosan hidup?"
"Tidak, aku sama sekali tak bosan hidup"
Liu Tiang-kay tertawa.
"aku hanya ingin menyentuhmu"
"Kau berani?"
"Siapa bilang tak berani?"
Tiba tiba dia mengulur tangannya dan benar benar meraba tubuh Khong Lan-kun.
Reaksi dari Khong Lan-kun sedikitpun tak lambat, Dewi merak memang sudah lama tersohor sebagai salah satu jagoan paling tangguh diantara jago silat perempuan lainnya.
Dia, bukannya tak punya alasan mengapa bersikap angkuh.
Baru saja Liu Tiang-kay menggerakkan tangannya, jari tangan perempuan im sudah mengayun miring ke atas, sepuluh jari tangan nya yang runcing bagai sepuluh bilah pedang tajam, secepat kilat menusuk urat nadi di tangan anak muda im.
Serangan yang dia lancarkan tentu saja cepat sekali, bahkan perubahan jurusnya amat lincah dan hidup, dibalik kelincahan tersembunyi banyak perubahan yang tak bisa diduga sebelumnya.
Sayang sekali semua perubahan yang dia lakukan berulang kali, sama sekali tak ada gunanya.
Tiba tiba saja pergelangan tangan Liu Tiang-kay seperti patah jadi dua, dari arah yang sama sekali tak terduga sepasang tangan itu membengkok lalu memuntir ke atas, tahu tahu dia sudah cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan perempuan itu.
Sepanjang hidup, belum pernah terpikir oleh Khong Lankun kalau tangan seseorang bisa berubah seaneh itu, dalam terkejutnya, belum sempat terlintas cara untuk menghadapi perubahan itu, tahu tahu badannya sudah tercekal lawan.
Buru buru dia jumpalitan di tengah udara dan berusaha mundur dari arena, sayang tubuhnya segera ditarik Liu Tiangkay dan ditekan diatas batu cadas.
"'Bisa kau tebak apa yang ingin kulakukan sekarang?"
Pelan-pelan Liu Tiang-kay berkata. Tentu saja Khong Lan-kun tak dapat menebak. Bahkan mimpi pun dia tak pemah menyangka akan mengalami nasib setragis itu.
"Sekarang aku hanya ingin melepaskan celanamu lalu menabok pantatmu!"
Kembali Liu Tiang-kay berkata.
"kau......kau berani?"
Jerit Khong Lan-kun ketakutan, saking ngerinya, suara ucapannya jadi parau.
Mula-mula dia mengira Liu Tiang-kay tak akan berani melakukan hal tersebut, rnimpipun dia tak mengira ternyata di dunia saat ini benar-benar ada lelaki yang berani berbuat demikian terhadapnya.
Sayang dia telah melupakan sebuah perkataan yang justru diucapkan sendiri olehnya.
"Orang ini sama sekali bukan manusia"
"Plak, plak, plaak!"
Tiga kali tamparan nyaring bergema di udara, ternyata Liu Tiang-kay betul-betul sudah menghajar tiga kali di atas pantatnya.
Tabokan itu sesungguhnya tidak terlampau keras, namun Khong Lan-kun sudah dibuat bergerakpun tak berani.
Sambil tertawa kembali Liu tiang-kay berkata."Sekarang, sebenarnya aku masih punya kesempatan untuk melakukan satu dua perbuatan lagi, hanya sayang seleraku sudah hilang......"
Diiringi gelak tertawa nyaring dia segera berlalu meninggalkan tempat itu, dia pergi tanpa menoleh, melirik sekejap pun tidak.
Biarpun Khong Lan-kun sudah menggigit bibir kuat kuat, namun air mata masih tak tertahankan dan meleleh keluar membasahi pipinya.
Tiba tiba dia melompat bangun, kemudian teriaknya keraskeras."
Liu Tiang-kay, kau binatang, kau bajingan, suatu hari aku pasti akan membunuhmu, kau........kau bukan manusia"
"Aku memang bukan manusia"
Jawab Liu Tiang-kay hambar, menoleh pun tidak.
-oodw00kzoo-BAB V Rindu membuat tua Seluruh bangunan ramah makan masih bermandikan cahaya lentera.
Dua orang pelayan yang baru datang sedang sibuk mengatur mangkuk dan sumpit, sementara tujuh orang nona yang berdandan menor itu sedang duduk santai diatas sebuah bangku panjang, ada yang sedang bergurau, ada yang sedang berbisik bisik, ada pula yang sedang melamun.
Orang yang mau membongkar bangunan belum datang, yang datang justru Liu Tiang-Kay, Khong Lan-kun anjurkan dia jangan bertindak ceroboh, jangan mendatangi tempat itu.
Tapi dia justru datang.
Dia memang selalu bekerja sesuai dengan cara dan prinsip sendiri.
Melihat dia berjalan masuk, setiap orang nampak tertegun, seakas akan mereka sudah tahu, orang ini bukan orang yang sedang mereka tunggu.
Kecuali orang yang sedang mereka tunggu, seharusnya orang lain tak akan datang ke situ.
Liu Tiang-Kay seperti sama sekali tak menyadari hal itu, dia masih melangkah masuk dengan santainya lalu duduk persis dibelakang meja dimana sumpit dan mangkuk baru saja disiapkan.
"Siapkan dulu empat macam Leng-ban, lalu empat macam gorengan ditambah lima kati arak "Ka-Pan"
Arak "Ka-Pan"
Merupakan arak kenamaan di kota Hang-Ciu, menurut orang yang pengalaman minum, konon arak ini jauh lebih mantap ketimbang arak "Kao-Liang".
Kedua orang pelayan im masih berdiri dengan wajah tertegun, mereka tak tahu apa baik menuangkan arak atau lebih baik sama sekali tidak.
Rumah makan itu bukan rumah makan biasa, tapi Liu Tiang-kay telah bersikeras menganggap tempat itu sebagai rumah makan biasa, malahan dia sudah menggapai ke arah tujuh orang nona itu dan berseru sambil tersenyum."Cepat kemari, semuanya saja kemari, ayoh temani aku minum, kalau orang lelaki sedang minum, tanpa ditemani perempuan rasanya seperti hidangan tak diberi garam"
Ke tujuh orang nona itu melongo, mereka ikut tertegun dan saling berpandangan tanpa mengetahui apa yang mesti diperbuat.
"Hei, aku toh bukan harimau yang suka terkam manusia"
Teriak Liu Tiang-kay lagi.
"apa yang kalian takuti? Ayoh cepat kemari!"
Tiba tiba terdengar suara tertawa cekikian yang sangat merdu bergema datang, menyusul kemudian seseorang berseru manja."Aku datang!"
Ketika pertama kali suara tertawa itu bergema, suara itu masih datang dari suatu tempat yang jauh dari pintu gerbang, namun ketika setatal mengucapkan dua patah kata itu, orang tersebut sudah tiba didepan mata.
Terasa segulung angin tajam berhembus lewat, tampak setolok bayangan manusia meluncur masuk dengan kecepatan tinggi dan tahu tahu sudah duduk di samping Liu Tiang-kay.
Yang muncul tentu saja seorang wanita, bahkan seorang wanita yang amat cantik, bukan saja cantik malahan amat genit, terutama sepasang matanya, sedemikian genitnya seolah olah sorot matanya dapat menembus hingga ke tulang sumsum.
Terserah kau hendak memandang dari mana, dari atas, dari bawah, dari kiri, dari kanan, mulai ujung rambut hingga ke ujung kaki semuanya berbau wanita asli, setiap inci setiap depa bagian tubuhnya seratus persen wanita tulen.
Liu tiang-kay memandangnya sekejap, tiba tiba ujarnya sambil tertawa."Aku pingin perempuan yang menemani aku minum arak"
"Masa kau tak bisa melihat, aku toh wanita?"
Seru perempuan itu sambil tertawa genit.
"Kenapa aku tidak melihatnya?"
"Bagaimana caranya agar kau bisa melihat lebih jelas?"
"Asal kau mau lucuti semua pakaianmu dan berdiri telanjang bulat di hadapanku, mungkin aku bisa periksa asli tidaknya kau sebagai wanita"
Berubah hebat paras muka perempuan itu, tapi kembali dia tertawa cekikikan.
Terdengar seseorang berseru dari luar pintu."Kelihatannya sahabat ini sangat berpengalaman soal wanita, tak mungkin perempuan gadungan bisa mengelabuhinya"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tiba tiba dalam ruang rumah makan telah bertambah dengan lima orang manusia.
Orang pertama berwajah pucat, berdandan perlente, kumis maupun jenggotnya kelimis karena tercukur licin, dia adalah seorang lelaki setengah baya dengan ujung mata mulai keriputan, dia tak lain adalah si Jay-hoa-cat Iong Kim.
Orang ke dua adalah seorang hwesio setegap pagoda besi, tentu saja dialah Tiat hwesio.
Si meteor setan Tam It-hui dan si pengait sukma lo-Tio adalah orang tua yang kurus lagi penyakitan, wajah mereka tiga puluh persen membawa hawa setan, tujuh puluh persen mengandung hawa pembunuhan.
Yang sama sekali tak diduga Liu Tiang-kay adalah si anjing gila Li, ternyata orang itu hanya seorang anak muda yang bertampang jujur, hanya sayang wajahnya penuh bekas luka, telinga nya juga tinggal separuh.
Dugaan Oh Gwat-ji ternyata sangat tepat, satu pun tak ada yang salah tebak.
Tiba tiba Liu Tiang-kay teringat satu hal, mengapa yang dijelaskan nona itu hanya enam orang, bukan tujuh orang seperti yang didengar?
Dan sekarang, kenapa yang muncul pun hanya enam orang?
Masih ada satu lagi, siapakah dia?
Mengapa Oh Gwat-ji tidak menjelaskan?
Mengapa orang yang tak disebut namanya juga tidak muncul malam ini?
Dari ke lima orang itu, hanya wajah Tong Kim yang selalu dihiasi senyuman, orang yang barusan bicara pun tak lain adalah dia.
Liu Tiang-Kay ikut tertawa.
"Pengalaman anda dalam hal perempuan tentunya jauh lebih hebat dar pengalamanku?"
Katanya.
"Jadi kau kenal aku?"
"Kalau tidak kenal, darimana aku bisa tahu kalau pengalaman anda dalam hal perempuan jauh lebih matang dan hebat ketimbang aku?' Berubah hebat paras muka Tong Kim, bentaknya."Jadi kau datang untuk mencari aku?"
"Aku datang untuk minum arak"
"Khusus datang kemari untuk minum arak?"
"Benar"
"Dibawah bukit sana banyak terdapat warung makan, rumah makan pun beribu ribu banyaknya, mengapa kau khusus datang kemari untuK minum arak?"
"Aku senang tempat ini, selain rumah makan ini baru dibuka kebetulan aku termasuk orang yang bosan dengan teman lama senang mencari sahabat baru"
"Sayang"
Tiba tiba Tiat hwesio menyela.
"kebetulan aku termasuk orang yang justru paling benci ketemu sahabat baru"
"Lalu apa yang kau sukai?"
"Aku suka membunuh orang, terutama membunuh orang yang bosan dengan teman lama senang mencari sahabat baru semacam kau!"
Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak Gu Long
Baca Juga: Si Pisau Terbang Pulang Yang Yl