Tujuh Pembunuh 3

Eps 3 Tujuh Pembunuh - Gu Long

Baca online Tujuh Pembunuh - Gu Long

Cersil Tujuh Pembunuh - Gu Long.

Pada dasarnya hwesio ini bertampang menyeramkan, selain alis matanya tebal dengan mata yang bengis, kulit wajahnya pun kasar dan penuh bopeng sehingga ketika berubah paras mukanya sekarang, hawa napsu membunuh yang terpancar keluar dari balik matanya kelihatan semakin menyeramkan.

Liu Tiang-kay masih tertawa, ujarnya sambil tersenyum.

"Kalau begitu, kau pasti senang bila dapat membunuhku?" 'Tepat sekali dugaanmu"

"Lantas kenapa tidak segera kemari untuk membunuhku?"

Tiat hwesio segera maju mendekat dengan langkah lebar.

Seluruh tubuhnya seolah-olah terbuat dari baja yang tebal dan kuat, ini membuat gayanya sewaktu berjalan persis seperti seekor gorilla.

Ayunan kakinya juga sangat berat tapi mantap, setiap langkah selalu meninggalkan bekas kaki yang sangat dalam di atas permukaan tanah.

Kesemuanya ini membuktikan kalau ilmu gwakang yang dimiliki sudah mencapai tingkat sempurna, mungkin saja ilmu cap-sah-tay-po miliknya juga sudah mencapai taraf yang luar biasa sehingga badan jadi kebal dan tak mungkin terluka oleh bacokan senjata.

Liu Tiang-Kay tetap berdiri dengan tangan kosong, jangan lagi senjata golok, biar pisau sayur pun tidak membawa.

Tong Kim memandang ke arahnya, mimik wajah yang ditampilkan sangat aneh, seakan dia sedang melihat seseorang yang sudah mati.

Sementara para nona berdandan menor itu sudah dibikin panik, mereka berlarian ketakutan, badannya gemetar keras, bahkan sudah ada yang terkencing-kencing.

Berjalan empat-lima langkah, mendadak seluruh ruas tulang tubuh Tiat hweesio mulai gemerurukan menimbulkan suara nyaring.

Namun dia belum sempat turun tangan, karena saat itulah tiba tiba si bocah muda yang bertampang jujur itu sudah menerkam ke arah Liu Tiang-kay.

Sepasang matanya sudah memancarkan cahaya darah yang berapi api, mulutnya dipentang lebar hingga nampak sebaris giginya yang putih dan runcing, tampangnya saat itu tak ubahnya seperti seekor anjing gila yang sedang kelaparan dan siap menggigit tenggorokan Liu Tiang-kay.

Liu Tiang-Kay seolah olah tidak melihat, dia sama sekali tak bergerak.

Dalam waktu singkat dia sudah berada disisi Liu Tiang-kay, sepasang tangannya secepat kilat mencekik tengkuk pemuda itu.

"Kraaakkk!"

Terdengar suara aneh bergema di udara.

Liu Tiang-kay masih duduk dalam posisi semula, dia tak bergerak.

Anjing gila Li juga tak bergerak, sepasang tangannya masih mencekik di tengkuk Liu Tiang-kay, tapi batok kepalanya tiba tiba tertunduk lemas ke depan, sepasang biji matanya menonjol keluar, wajahnya menunjukkan mimik muka yang sangat aneh.

Menyusul kemudian semburan darah segar memancar keluar dari mulutnya.

Darah itu sama sekali tidak menyembur ke atas badan Liu Tiang-kay.

Dengan satu gerakan yang cepat tapi gesit seperti ikan yang berenang di kolam, tahu tahu tubuhnya sudah melesat lewat melalui sisi tubuh perempuan gadungan itu.

Ketika tubuh si anjing gila Li roboh ke lantai, badannya persis roboh di atas badan perempuan gadungan itu.

Ternyata perempuan gadungan itu tidak menghindar, dia ikut roboh terjungkal ke tanah, sementara wajahnya ikut memperlihatkan perubahan mimik muka yang sangat aneh dan tak terlukis dengan kata.

sepasang mata genitnya sudah melompat keluar dari kelopak matanya dan bergelantungan persis seperti mata ikan.

Ke dua orang im saling berhadapan, wajah ketemu wajah, mati ketemu mata, namun tubuh mereka sama sekali tak bergerak.

Tak selang berapa saat kemudian, tubuh ke dua orang itu sudah dingin membeku, sudah kaku dan tak bernapas.

Pucat pias wajah Tong Kim bagai mayat, dia tahu, ke dua orang rekannya sudah putus nyawa.

Anehnya, dia tak melihat Liu Tiang-kay turun tangan.

Tak seorang pun menyaksikan Liu Tiang-kay turun tangan.

Ketika membunuh, tampaknya dia memang tak perlu melakukan sesuatu gerakan.

Tiat hwesio telah menghentikan langkahnya, diantara otot otot hija yang menonjol pada kening dan jidatnya, peluh dingin jatuh bercucuran.

Dia amat senang membunuh, juga sangat mengerti bagaimana cara membunuh.

Oleh karena itulah dia merasa jauh lebih takut, jauh lebih ngeri dan jauh lebih seram ketimbang orang lain.

Liu Tiang-kay menghela napas, katanya pelan."Sudah kubilang, aku tak ingin membunuh, aku datang untuk minum arak"

"Tapi dalam waktu singkat kau telah membunuh dua orang"

Seru Tong Kim.

"Aku tak ingin membunuh, justru mereka yang ingin membunuhku, orang mati tak mungkin bisa minum arak bukan?"

"Baik, minum arak"

Tiba tiba si Pengait sukma Tio tua berseru.

"biar aku yang menemani minum"

Sebuah poci arak tersedia di atas meja. Si Pengait sukma Tio tua menuang dulu secawan arak untuk diri sendiri, kemudian menuang untuk Liu Tiang-kay, setelah itu katanya sambil mengangkat cawan.

"Silahkan!"

Dia meneguk habis lebih dulu arak dalam cawannya.

Dua cawan arak keluar dari sebuah poci arak yang sama.

Liu Tiang-kay memandang cawan arak dihadapannya sekejap, kemudian katanya sambil tertawa."Aku khusus kemari untuk minum arak, aku tak ingin hanya minum secawan"

"Selesai menghabiskan cawan arak itu, kau boleh minum lagi'"

"Tak mungkin, jika kuhabiskan arak dalam cawan itu, selama nya aku tak akan punya kesempatan untuk minum arak yang kedua"

"Kau menuduh dalam arak itu ada racunnya?"

Teriak si Pengait sukma Tio tua sambil tertawa dingin.

"Sebenarnya arak itu tak beracun, racunnya keluar dari kuku jari tanganmu"

Berubah hebat paras muka si Pengait sukma.

Sewaktu menuang arak untuk Liu Tiang-kay tadi.

diam diam dia telah menyentil kuku jarinya, gerakan tangannya lincah, ringan dan cekatan, kecuali dia sendiri, tak mungkin orang lain akan mengetahuinya.

Tapi Liu Tiang-kay tahu.

Sambil memandangnya dan tersenyum, ujarnya."Arak yang kau minum tadi sebenarnya juga tak beracun"

"Sekarang?"

Tak tahan si Pengait sukma Tio tua bertanya.

"Sekarang apakah beracun atau tidak, seharusnya hati kecilmu yang tahu lebih jelas"

Mendadak paras muka si Pengait sukma Tio tua berubah jadi hitam gosong, dia melompat bangun kemudian teriaknya keras."Ka.....kapan kau turun tangan? Kenapa bisa beracun?"

"Sudah kuduga cawan arak mana yang bakal kau gunakan, maka sewaktu kau mengambil arak, diam diam kumasukkan racun ke dalam cawan, cara ini sebenarnya sangat sederhana, aku percaya kau pun pasti bisa menggunakamrya"

Si Pengait sukma Tio tua tak sempat buka suara lagi, tenggorokannya terasa sakit dan mengencang seakan akan sedang dijirat dengan seutas tali besar yang tak berwujud.

Menyusul kemudian napasnya terputus di tengah jalan, ketika roboh ke lantai, seluruh badannya mengejang kaku.

Kembali Liu Tiang-kay menghela napas panjang."Hei!

Sebetulnya aku tak suka membunuh, tapi sekarang, aku telah membunuh tiga orang, padahal orang yang selalu gembar gembor mengatakan senang membunuh, saat ini justru berdiri tak berkutik"

Tiat hwesio tak mengucapkan sepatah kata pun, tiba tiba dia membalikkan badannya dan kabur meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Apa yang dikatakan Oh Gwat-ji ternyata sangat tepat.

Orang yang senang membunuh, kadangkala merupakan orang yang paling takut mampus.

Perkataan Liu Tiang-kay juga tidak keliru.

Justru lantaran takut mati, maka hwesio ini sengaja melatih ilmu kebal yang tahan bacokan.

Ketika menjumpai ada orang lain bisa mencabut nyawa tanpa harus menggunakan senjata, maka dialah orang pertama yang kabur paling cepat.

Si meteor setan tak kalah cepatnya melarikan diri dari situ.

Dalam kenyataan, gerakan kaburnya ketika itu boleh dibilang jauh lebih cepat daripada gerakan meteor meluncur di angkasa bebas.

Tong Kim tidak kabur.

Liu Tiang-kay mengawasinya, lalu sambil tersenyum berkata."Apakah kau juga pingin menjajal kemampuanku?"

Tiba tiba Tong Kim tertawa.

"Aku datang kemari bukan untuk membunuh, akupun datang untuk minum arak"

"Bagus sekali"

"Aku terhitung orang yang sangat berpengalaman soal wanita, akupun termasuk orang yang bosan yang lama, senang yang baru"

"Sangat bagus"

"Berarti kita berdua satu aliran, satu kesenangan dan satu kemauan, apa salahnya kita duduk sebagai teman dan minum arak bersama"

Sambil tersenyum dia berjalan mendekat, duduk dan berkata lebih lanjut.

"Apalagi disini bukan saja tersedia arak, juga ada wanita"

"Betul, persediaan arak di sini cukup bagi kita berdua untuk diminum sampai puas"

Liu Tiang-kay manggut manggut.

"Stock perempuan pun berlebihan, cukup untuk memuaskan kita berdua"

"Stok perempuannya tidak cukup"

"Tidak cukup?"

"Biarpun persediaan perempuan di tempat ini sangat banyak, sayang mereka semua kurang cantik"

"Ooh, rupanya seleramu jauh lebih tinggi ketimbang seleraku"

Tong Kim tertawa tergelak.

"Terus terang, perempuan perempuan ini tidak termasuk jelek, hanya sayang belum cukup untuk membuatku sakit rindu......."

Senyuman yang semula menghiasi wajah Tong Kim tiba tiba membeku, dengan perasaan terkesiap dia awasi Liu Tiang-kay tanpa berkedip, bahkan jauh lebih kaget ketimbang sewaktu melihat Liu Tiang-kay membunuh tanpa menggerakkan tangan tadi.

Akhirnya dia paham dengan niat Liu Tiang-kay yang sesungguhnya, tapi dia tak menyangka begitu besar nyali yang dimiliki orang ini.

Liu Tiang-kay tidak bicara lagi, dia ambil sumpit dari meja, lalu mulai memukul cawan sambil bersenandung.

"Jangan bilang tak ada rindu. Rindu membuat orang cepat tua. Setelah dipikir berulang-ulang. Lebih enak merasa rindu, Lebih enak merasa rindu.........."

Tong Kim menarik napas panjang-panjang, setelah tertawa paksa katanya."Jadi kedatangan anda khusus hendak mencari si pembawa rindu"

"Apakah ada yang lebih indah di dunia ini selain si pembawa rindu?"

Liu Tiang-kay balik tanya sambil menghela napas.

"Yaa, memang tak ada"

"Tentu saja tak ada"

Berputar biji mata Tong Kim, sembari tertawa licik katanya.

"Sebelum nya, akupun ingin bersenandung untukmu, maukah kau menikmatinya?"

"Sebenarnya mendengar orang lelaki bersenandung itu sangat memuak kan"

Sahut Liu Tiang-kay sambil menghela napas lagi.

"sayang mulut iUi tumbuh diwajahmu, jika kau tetap ingin bernyanyi, nyanyilah!"

Tong Kim benar benar mulai bersenandung.

"Jangan bilang tak ada rindu. Rindu membuat orang cepat tua, Orang tua tentu akan mampus, Kalau mampus, itu baru menderita"

"Tidak merdu, tidak merdu"

Liu Tiang-kay segera menggeleng berulang kali.

"Biarpun suara nyanyianku tidak merdu, tapi itulah kata yang jujur"

"Betul, perkataan jujur memang biasanya tak merdu"

Ternyata Liu Tiang-kay sependapat.

"Si pembawa rindu yang sedang kau cari, bukan saja bikin orang cepat tua, bahkan tuanya sangat cepat karena itu matinya juga lebih cepat"

"Kau takut mampus?"

"Siapa manusia di dunia ini yang tak takut mampus?"

"Aku!"

Ditatapnya wajah Tong Kim tak berkedip, kemudian lanjutnya dengan suara dingin.

"Oleh karena kau takut mati sedang aku tidak, maka kau harus membawaku ke sana"

"Membawa mu ke mana?"

Tong Kim berlagak pilon.

"Mencari si pembawa rindu"

"Kalau aku pun tak tahu di mana ia berada?"

Tanya Tong Kim sambil tertawa paksa.

"Berarti selamanya kau tak akan tua"

Sekarang Tong Kim tak bisa tertawa lagi, pura pura tertawa pun tak sanggup.

Tentu saja dia sangat paham dengan perkataan Liu Tiangkay, hanya orang mati yang selamanya tak akan tua.

Liu Tiang-kay masih menatap wajahnya, kembali dia berkata."Konon kalian bertugas sebagai penjaga di sebuah gua rahasia, kini kalian semua datang kemari, berarti dia pasti berada dalam gua itu untuk menggantikan kalian, jadi, kau pasti dapat menemukan dirinya"

Sekarang, Tong Kim ingin menyangkal pun sudah tak bisa menyangkal lagi.

"Kau ingin mampus?"

Tanya Liu Tiang-kay. Tong Kim menggeleng. Selesai meneguk habis isi cawannya, kembali Liu Tiang-kay berkata.

"Lalu apa yang kau pikirkan?"

"Pingin kau mampus!"

Tiba tiba tubuhnya berjumpalitan di tengah udara, selapis pasir terbang diiringi gulungan angin topan menggulung ke arah Liu Tiang-kay.

Inilah pasir beracun yang sangat mematikan dari perguruan keluarga Tong.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak menghindar, mendadak dia pentang mulutnya dan menyembur ke udara.

selapis cahaya perak memancar keluar dari mulutnya menyongsong datangnya pasir terbang itu, cahaya perak tersebut tak lain adalah arak yang baru diteguknya.

Dalam sekejap mata, gulungan pasir terbang yang menyelimuti angkasa itu sudah tergulung ke samping, berhamburan diatas dinding bangunan yang baru selesai dilabur, beribu ribu butir pasir terbang yang lebih kecil dari wijen itu menancap semuanya diatas tembok.

Kembali paras muka Tong Kim berubah hebat, belum pernah terbayang olehnya sebelum ini kalau ada orang memiliki kekuatan sedemikian dahsyatnya.

Liu Tiang-kay tersenyum, ujarnya."Arak ini bernama Kouciu-kou, disebut juga si Penyapu kemurungan, ada kalanya bisa juga dipakai untuk menyapu pasir beracun"

Tong Kim tertawa getir.

"Sungguh tak kusangka, minum arak pun punya banyak kegunaan "

"Makanya, jadi orang tak boleh tak minum arak"

"Aku minum"

"Tapi sayang orang mati tak bisa minum!"

"Aku tahu"

"Lantas apa lagi yang kau pikirkan sekarang?"

"Aku sedang berpikir, bagaimana caranya agar cepat cepat mengajakmu ke sana"

Liu Tiang-kay segera tertawa tergelak.

"Hahaha...... sengaja aku memilih kau karena sejak awal aku sudah tahu, kau memang orang yang pintar, aku paling suka berhubungan dengan orang pintar"

"Makanya orang pinrar selalu banyak menghadapi persoalan dan kesulitan"

Tong Kim menghela napas.

"Paling tidak, enakan punya masalah dan kesulitan ketimbang sama sekali tak ada"

"Kenapa?"

"Karena di dunia ini, hanya orang mati yang benar benar tak punya masalah"

Rindu termasuk salah satu masalah, itulah sebabnya gampang bikin orang cepat tua.

Tapi, bila kau pikirkan lebih dalam, mau berpikir lebih seksama, maka kau segera akan tahu bahwa jadi orang, lebih baik masih bisa merasakan rindu daripada sama sekali tak tahu apa arti sebuah kerinduan.

0-d-0-w-0 Asal ada gunung, tentu ada gua.

Ada gua berbentuk besar, ada gua berbentuk kecil, ada gua yang indah, ada gua yang sangat curam dan berbahaya, ada juga gua yang bentuknya persis lubang hidung.

Gua gua semacam ini, gampang sekali dilihat dan gampang ditemukan oleh siapa pun.

Tapi ada juga gua yang bentuknya seperti pusar seorang gadis perawan, walaupun semua orang tahu akan keberadaannya, bukan berarti setiap orang dapat menemukan dan melihatnya secara bebas.

Gua ini, bentuknya jauh lebih misterius dan rahasia ketimbang pusar seorang gadis perawan.

Sesudah mengitari enam tujuh buah tebing tinggi, merangkak naik di enam tujuh buah dinding curam, akhirnya tibalah mereka di bawah sebuah lembah.

Sekeliling lembah merupakan dinding bukit yang tinggi menjulang ke wigkasa, dikelilingi jurang yang tak nampak dasarnya, persis dihadapannya merupakan dinding yang diapit puncak terjal, antara puncak yang satu ?lengan puncak yang lain ada selisih empat lima kaki, hingga dilihat dari kejauhan nampak bagaikan sebuah celah.

Akhirnya Tong Kim menghembuskan napas lega, bisiknya.

"Sudah sampai!"

"Di mana?"

Tanya Liu Tiang-kay. Tong Kim menuding ke atas sebuah dinding terjal di hadapannya.

"Semestinya kau sudah melihat sendiri bukan?"

Memang benar, Liu Tiang-kay telah melihatnya, diatas dinding yang terjal dan curam bagai mata golok terdapat segerombolan semak belukar, dibalik semak im muncul sebuah gua yang gelap.

Awan putih melayang lewat di muka gua, rotan bergelantungan dan menari nari oleh tiupan angin.

Biarpun Liu Tiang-kay telah melihatnya, namun dia tak mampu menyeberang ke sana.

Tiba tiba Tong Kim bertanya."Kau pernah membaca ayat syair yang membahas soal "Burung elang menembus pintu langit?"

"Belum pernah"

"Dalam ayat syair im dikatakan, ada seorang gadis cantik sedang duduk ditepi sungai, muncul seorang lelaki hidung belang, walaupun si hidung belang dapat melihat gadis im secara jelas, sayang tak ada kendaraan untuk menyeberang ke tepi seberang. Nah, gua tersebut persis seperti kisah gadis cantik itu"

"Dan aku adalah si hidung belang?"

"Kau hanya minta aku membawamu kemari, sekarang aku telah membawamu kemari"

Kata Tong Kim sambil tertawa.

"Tak disangka ternyata kau terhitung orang yang berpendidikan"

"Tidak berani"

Liu Tiang-kay melirik jurang di hadapannya sekejap, kemudian katanya lagi dengan suara hambar."Jika seorang terpelajar jatuh ke dalam jurang dari atas tebing sini, kira kira sama mampusnya tidak dengan orang yang sama sekali tidak terpelajar?"

Tong Kim tak sanggup tertawa, bahkan berbicara pun tak mampu, mendadak dia jongkok dan membuka sebuah batu cadas yang berada diatas dinding tebing curam, dari balik batu seketika menyembur keluar seutas tali baja yang sangat kuat, diujung tali baja itu terdapat sebuah pengait yang sangat kuat.

"Tiingg...!"

Pengait itu segera menembak ke depan dan menancap kuat kuat diatas dinding tebing seberang, maka segera terbentuklah dua utas tali kawat yang berfungsi sebagai jembatan penyeberang.

"Silaukan!"

Ujar Tong Kim kemudian sambil membungkuk hormat "Orang terpelajar silahkan jalan duluan!"

Sahut Liu Tiangkay.

"Aku harus menemanimu?"

Berubah hebat paras muka Tong Kim.

"Bukan Cuma menemani, kau harus berjalan duluan, jadi, seandainya jatuh ke jurang, orang terpelajar jatuh duluan"

"Bila Siang-si hujin tahu kalau aku yang membawamu kemari, aku bakal dibunuh olehnya"

Seru Tong Kim hampir menangis.

"Rasanya jauh lebih baik begitu ketimbang mati duluan di dasar jurang, ingat! Nyawa itu sangat berharga, lebih baik hidup semenit lebih lama daripada mati semenit lebih cepat, lagipula.....siapa tahu aku punya akal agar kau tidak dibunuh olehnya"

"Sungguh?"

"Aku ini termasuk orang yang belum pernah makan bangku sekolahan, tapi biasanya, orang bodoh macam aku lebih suka bicara kenyataan"

Tong Kim menghela napas panjang, gumamnya kemudian sambil tertawa geli."Aai, ternyata jadi orang terpelajar yang banyak membaca pun bukan satu kejadian yang baik" 0-d-0-w-0 Tali kawat baja itu sangat licin, sementara angin gunung berhembus sangat kencang dan kuat, jika berjalan di depan, sedikit kurang hati hati saja bisa berakibat jatuh mampus di dasar jurang.

Bila seseorang terjatuh ke dasar jurang, bisa dipastikan tubuhnya akan berubah jadi cacahan daging.

Untung saja selisih jarak antara ke dua tebing itu tidak terlampau jauh, baru saja mereka menyeberang, terdengar seseorang telah menegur sambil tertawa.

'Pejamkan mata kalian, aku sedang mandi"

Mulut gua itu sangat dalam, suasana di dalam sana nampak gelap gulita, tapi begitu tiba di dalam, tampak cahaya lentera menerangi sekeliling tempat itu.

Cahaya lampu berwarna merah, sangat lembut, hangat dan niempersona.

Nada suara orang yang berbicara lebih lembut, lebih hangat dan lebih niempersona ketimbang cahaya lentera itu.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak pejamkan matanya, satu kejadian yang aneh bila dia betul betul mau pejamkan matanya.

Setelah menelusuri lorong yang panjang, suasana di depan mata jauh lebih lebar dan terbuka, mereka seolah olah telah tiba di kahyangan, bahkan lempat yang jauh lebih indah dan menawan ketimbang kahyangan.

Dibalik sebuah tirai tipis, terlihat sebuah kolam air panas yang dikelilingi pagar kayu berwarna putih.

Seseorang berada didalam kolam air panas, yang terlihat hanya kepalanya.

Rambut panjangnya yang berwarna hitam mengapung diatas permukaan air, membuat wajahnya nampak cantik bagaikan bunga, kulitnya putih dan halus sangat menggoda hati.

Sayang air di dalam kolam bukan air jernih......

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, dia tahu, bagian bawah tubuh yang berada didalam air pasti lebih menggoda dan menggetarkan hati.

Siang-si hujin dengan sepasang matanya yang bening, indah dan menggoda, sedang mengawasi sepasang matanya, dia seperti tertawa tidak tertawa, genit, nakal, menantang, tapi merangsang....

nada suaranya merdu, bagaikan kicauan burung nuri.

"Bukankah kusuruh kau masuk dengan mata terpejam?"

Tegurnya.

"Benar"

"Kau tahu, saat ini aku sedang mandi?"

"Justru karena mendengar kau sedang mandi, maka aku semakin! enggan untuk pejamkan mata"

Sahut Liu Tiang-kay sambil tertawa. Nyonya rindu menghela napas panjang.

"Tampaknya, selain tidak menurut, kau terhitung orang yang sangat tak jujur"

"Tapi aku selalu berbicara jujur"

"Kau tidak kuatir kucukil sepasang matamu?"

"Kehilangan batok kepala saja tidak takut, apalagi cuma sepasang mata"

"Jadi kau tak takut mati?"

"Takut mati? Kenapa harus takut mati? Kehidupan manusia di dalam dunia bagaikan sebuah darmawisata, manusia tak lebih hanya tamu yang mampir minum, kalau kelahiran disambut dengan kegembiraan, kenapa mati dihantar dengan ketakutan?"

"Ooh, rupanya kau pun termasuk seorang terpelajar"

Nyonya rindu tersenyum. Liu Tiang-kay ikut tersenyum.

"Orang kuno bilang, bisa mati setelah melihat matahari senja, tak ada yang perlu disesalkan, begitu juga dengan aku, asal dapat melihat hujin, biar harus mati pun, aku tak akan menyesal"

"Bukankah sekarang kau telah melihatku?"

Tegur Nyonya rindu sambil mengerling genit.

"Yaa, apa yang selalu diimpikan, apa yang selalu didambakan, akhirnya terkabul juga"

"Sekarang, bukankah kau sudah boleh mati?"

"Belum, belum bisa"

"Kau belum puas melihatku?"

"Bukan saja belum puas, bagian tubuhmu yang terlihat pun belum cukup banyak"

Nyonya rindu mendelik besar, dia seperti tak paham dengan perkara itu.

Liu Tiang-kay balas menatapnya, sorot matanya seolah olah ingin menyingkap air yang menggenangi tubuh perempuan itu dan melihat dengan seksama bagian tubuh yang tersembunyi dibalik air itu.

"Apa yang dapat kulihat sekarang, tak lebih hanya sebagian kecil dari tubuhmu, sebagian besar lainnya sama sekali belum kelihatan"

"Seberapa banyak yang ingin kau lihat?"

"Semuanya"

Paras muka Siang-si hujin bersemu merah, dia kelihatan agak jengah, serunya."Besar amat ambisimu"

"Lelaki tanpa ambisi, sesungguhnya tidak pantas disebut seorang lelaki sejati, seorang lelaki tulen"

Dengan sepasang matanya yang membetot sukma, kembali Siang-si hujin menatap pemuda itu tanpa berkedip, katanya kemudian."Kau belum termasuk seorang lelaki yang baik"

"Selamanya aku memang bukan lelaki baik"

"Tapi kau memiliki sedikit perbedaan dibandingkan dengan lelaki lain"

"Rasanya perbedaan itu tidak sedikit"

"Aku suka sekali dengan lelaki yang berbeda"

Bisik Siang-si hujin lembut.

"Hampir semua wanita di kolong langit senang dengan lelaki yang berbeda dengan kebanyakan lelaki lain"

"Keluar!"

Tiba tiba siang-si hujin menghardik.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak keluar.

Dia tahu, Siang-si hujin bukan menyuruh dia yang keluar dari situ, seharusnya Tong Kim yang keluar dari tempat tersebut.

Benar saja, Tong Kim segera keluar dari situ, keluar sambil pejamkan matanya rapat rapat, pada hakikatnya dia belum pernah membuka matanya, walau hanya sekejap saja.

"Kelihatannya dia adalah seorang lelaki yang sangat penurut"

Sindir Liu Tiang-kay sambil tertawa.

"Dia tak akan berani membangkang"

"Itulah sebabnya dia terpaksa harus keluar, sedang aku, tetap tinggal di sini"

"Kaum wanita memang tidak senang dengan lelaki yang kelewat penurut, tapi kau....."

Dengan ujung matanya dia mengerling Liu Tiang-kay sekejap, lalu terusnya dengan nada genit."Tapi kau pun tak lebih hanya seorang lelaki dungu, ngapain kau hanya berdiri melulu disitu?

Memangnya keberanianmu hanya begitu saja?"

Liu Tiang-kay tidak menjawab.

Dia menggunakan tindakan untuk menjawab ejekan tersebut.

Lelaki yang lak banyak tingkah, lelaki yang beraninya hanya mematung termasuk lelaki yang tak disukai kaum wanita.

Tiba tiba dia berjalan mendekati kelam air panas, kemudian mulai melepaskan sepatunya.

Siang-si Hujin terbelalak lebar, seperti amat terkejut dengan perlakuan pemuda itu, jeritnya.

"Kau berani terjun ke mari?"

Liu Tiang-kay sudah mulai melucuti pakaiannya.

"Bukankah kau sudah tahu siapakah aku? Kau tidak kuatir kubunuh?'' teriak Siang-si hujin lagi. Liu Tiang-kay sama sekali tak bicara, dia sudah tak sempat untuk menjawab.

"Apakah kau tidak melihat sesuatu yang beda, sesuatu yang istimewa dengan air kolam ini?"

Kembali Siang-si hujin berteriak.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak memperhatikan.

Yang dia perhatikan sekarang bukan air dalam kolam im, sorot matanya tak pernah bergeser dari pandangan mata Siang-si hujin.

"Aku telah mencampurkan sejenis obat yang khusus dalam air kolam ini"

Kembali Siang-si hujin berseru.

"selain aku, siapa pun yang berani terjun ke sini baka! mati"

Liu Tiang-kay tidak menggubris, dia sudah terjun ke dalam kolam.

"Byuurrr......."

Percikan bunga air memancar ke empat penjuru.

"Tampaknya kau memang tak takut mampus"

Siang-si hujin menghela napas panjang.

"banyak lelaki yang mengatakan berani mati demi aku, tapi lelaki yang benar benar membuktikan berani mati demi aku ternyata hanya kau seorang......"

Dia tak melanjutkan kembali kata katanya, dia memang tak sanggup melanjutkan kembali kata katanya.

Sebab bibirnya saat itu sudah tak sanggup mengeluarkan suara.

Untuk menaklukan seorang wanita, hanya ada satu macam cara yang bisa digunakan.

Cara yang digunakan Liu Tiang-kay saat ini kebetulan sekali adalah cara tersebut.

Manusia, belum tentu akan tertawa bila dia berada dalam suasana gembira, merintih pun belum tentu dikeluarkan bila dia sedang menderita.

Suara rintihan sudah tak kedengaran sekarang, yang tersisa hanya dengusan napas yang terengah engah, dengusan napas yang sangat membetot sukma.

Riak ombak yang begitu keras dan kencang dalam kolam air tadi, perlahan lahan berubah jadi tenang kembali.

Siang-si hujin menghembuskan napas perlahan, katanya."Orang bilang keberanianmu seperti langit, kenyataannya nyali mu jauh lebih hebat dari langit"

Liu Tiang-kay pejamkan matanya, dia sudah tak punya tenaga untuk menjawab, ciia sudah kehabisan tenaga.

Kembali Siang-si hujin berkata."Padahal, sedari awal aku sudah tahu, kedatanganmu kali ini bukan lantaran ingin mencari aku, kedatanganmu pasti mempunyai tujuan lain"

Perempuan, bukan saja lebih suka bicara, bahkan dalam kondisi seperti ini, daya tahan tubuhnya selalu lebih segar ketimbang orang lelaki.

Maka dia pun berkata lebih lanjut."Entab mengapa, ternyata aku tak tega membunuhmu"

"Aku tahu mengapa begitu, sebab aku adalah lelaki yang lain daripada yang lain"

Kata Liu Tiang-kay tiba tiba sambil tertawa. Siang-si hujin menghela napas panjang, dia tidak menyangkal.

"Itulah sebabnya dalam air kolam tak ada racunnya"

Sambung Liu Tiang-kay. Ternyata Siang-si hujin pun tidak menyangkal.

"Bila ingin membunuhmu, aku masih mempunyai banyak cara yang lain"

"Yaa, aku percaya"

Liu Tiang-kay menghela napas.

"Bila seorang wanita benar benar menginginkan kematian seorang pria, dia memang mempunyai banyak cara untuk melakukannya"

"Maka dari itu, lebih baik cepatlah berterus terang kepadaku, sebetulnya mau apa kau datang kemari?"

"Sekarang kau sudah tega untuk membunuhku?"

"Hanya lelaki segar yang terhitung seorang lelaki lain daripada yang lain"

Kata Siang-si hujin hambar.

"Jadi aku sudah tak segar?"

"Perempuan pun sama seperti lelaki, mereka pun senang yang baru bosan yang lama"

Perkataan Siang-si hujin sangat lembut.

"Sayang kau telah melupakan sesuatu"

Liu Tiang-kay menghela napas ringan.

"Oya?"

"Ada sementara lelaki sama seperti kaum wanita, jika dia benar benar menginginkan kematian seorang wanita, dia pun mempunyai banyak cara yang lain"

"Itu mah tergantung perempuan macam apa yang sedang dia hadapi"

Kata Siang-si hujin sambil tertawa genit.

"Perempuan macam apa pun sama saja"

"Termasuk perempuan macam aku?"

Tanya Siang-si hujin semakin genit.

"Terhadap kau, sebetulnya hanya ada satu cara saja, sayang, dengan cara sederhana pun sudah akan berhasil, jadi aku hanya butuh sebuah cara ini saja"

"Kenapa tidak kau cobakan kepadaku?"

"Sudah kucoba"

Suara tertawa Siang-si hujin mulai dipaksakan."Menurut kau, berhasil tidak caramu itu?"

"Tentu saja berhasil"

"Cara apa yang telah kau gunakan?"

Tak tahan Siang-si hujin bertanya.

"Sebetulnya dalam air kolam ini tak ada racunnya, tapi sekarang telah beracun"

"Kau........"jerit Siang-si hujin, tiba tiba suaranya jadi kaku.

"Tentu saja sebelum meracuni air kolam ini, aku telah menelan obat penawarnya lebih dahulu"

"Sejak kapan kau meracuni air kolam ini?"

Tanya Siang-si hujin, tampaknya dia masih belum percaya.

"Racun itu kusembunyikan didalam kuku jari tanganku, sewaktu terjun ke air, racun pun secara otomatis membaur di air"

"Obat penawar racunnya..............."

"Aku menelan obat penawar racun itu ketika sedang melucuti pakaianku, aku tahu lelaki yang sedang melepaskan pakaian tidak bagus dilihat, oleh karena itu ketika seorang lelaki sedang melepaskan pakaiannya, tak mungkin kaum wanita akan memperhatikannya"

Setelah tersenyum, kembali lanjutnya."Sebelum melakukan segala tindakan, aku selalu mempersiapkannya terlebih dulu dengan seksama"

Berubah hebat paras muka Siang-si hujin, tiba tiba dia berenang mendekat, dengan sepuluh jari tangannya yang tajam dia mencekik tenggorokan Liu Tiang-kay.

Saat itulah dia baru tahu, ternyata perkataan dari Liu Tiang-kay bukan cuma gertak sambal karena dia jumpai badannya secara tiba tiba jadi lemas, tangannya juga lemas, seluruh kekuatan tubuh yang dimilikinya mendadak hilang lenyap tak berbekas.

Dengan satu gerakan yang sangat enteng Liu Tiang-kay cengkeram pergelangan tangannya, lalu berkata pelan."Orang lelaki pun bisa senang yang baru muak dengan yang lama, kini kau sudah bukan barang baru, jadi lebih baik berbicaralah dengan lebih jujur"

"Kau.......kau benar benar tega membunuhku?"

Tanya Siang-si hujin dengan wajah berubah.

"Sebetulnya aku tak tega"

Liu Tiang-kay menghela napas.

Perkataan itu belum selesai diucapkan, dia sudah menotok tiga buah jalan darah ditubuh Siang-si Hujin, menotok persis diatas payudara yang besar lagi montok.

0-d-0-w-0 Pekerjaan berikut menjadi jauh lebih sederhana dan gampang.

Pintu rahasia terletak diatas dinding tebing persis di belakang sebuah permadani Persia yang sangat besar, pintu yang konon seberat ribuan kati ternyata tidak mencapai lima ratus kati, kunci gembokan pun tidak terlampau sulit untuk membukanya.

Pada dasarnya Liu Tiang-kay memang memiliki sepasang tangan yang trampil.

Setibanya diluar, walaupun Tong Kim sudah melarikan diri hingga tak nampak batang hidungnya, jembatan kawat masih terpasang ditempatnya seperti semula.

Semua pekerjaan benar-benar terlaksana secara gampang dan amat lancar.

Mungkin orang lain akan mengira keberhasilan yang bisa dicapai secara gampang dan lancar lantaran nasibnya yang lagi mujur, Liu Tiang-kay pribadi sama sekali tidak berpendapat begitu.

"Seseorang, bila cara yang digunakan tepat, sesulit apapun persoalan yang sedang dihadapi, pasti bisa diselesaikan secara mudah dan lancar"

Cara atau sistim kerjanya memang sama sekali berbeda dibandingkan cara kerja orang lain.

Rumah makan yang menurut rencana dibangun untuk dirobohkan kembali, hingga kini masih berdiri utuh dan kokoh, rombongan manusia yang menurut rencana siap kesitu untuk membongkar bangunan, kini sudah mati tiga dan kabur tiga orang.

Banyak sekali peristiwa di dunia ini memang demikian keadaannya, suatu rancangan rencana yang seharusnya mulas, sempurna dan mustahil bisa gagal, ternyata mengalami kegagalan total.

Sesuatu rancangan yang seharusnya banyak rintangan dan kesulitan, dalam kenyataan justru berhasil dilaksanakan dengan gampang, lancar dan sempurna.

Berhasil atau gagal memang tak bisa ditentukan dengan suatu teori .nau rumus yang pasti, oleh sebab itu jadi manusia lebih baik jangan memandang terlalu serius terhadap segala persoalan yang dihadapi.

Lampu lentera masih menerangi seluruh ruangan rumah makan, penghuni nya juga masih menunggu disana dalam jumlah yang lengkap.

Sekarang hari belum terang tanah, sebelum fajar menyingsing mereka mk akan berani pergi dari situ.

"Ternyata orang itu belum mampus, ternyata dia datang lagi"

Nona nona berdandan menor itu memandang dengan mata terbelalak lebar, mengawasi pemuda itu tanpa berkedip, kini semua orang sudali tahu, dia memang seorang pemuda yang hebat dan berkemampuan luar biasa.

Arak masih berada diatas meja Liu Tiang-kay duduk diatas bangku dengan santainya, sekarang memang sudah tiba waktu baginya untuk minum dua cawan arak secarl releks dan santai.

Baru saja dia akan menuang arak ke dalam cawannya, seorang nona bermata besar dan tampaknya paling cerdik diantara kumpulan cewek itu sudah berjalan mendekat dengan langkah yang lemah gemulai, sambil tertawa dia menyapa."Baguskah si rindu?"

"Bagus, bagus sekali!"

Sambil tertawa nona im tarik napas kuat kuat agar payudaranya yang sudah gede menonjol semakin besar, katanya memperkenalkan diri."Aku bernama Ji-gi (berkenan), aku pun sangat bagus"

"Betul, kau memang bagus"

Liu Tiang-kay tertawa.

"Sayang kau berkenan (Ji-gi) denganku, bukan berarti aku pun berkenan kepadamu"

"Kenapa?"

Tanya si nona berkenan sambil mengerling genit.

"Karena isi dalam buntalanku ini bukan emas murni, bukan juga intan permata atau mutu manikam"

Ji-gi sama sekali tidak memperlihatkan perasaan kecewanya, masih tertawa genit, ujamya."Aku tidak menginginkan emas atau intan atau mutu manikam, aku hanya menginginkan kau!"

"Sayang sekali orang itu sudah ku bucking untuk kunikmati sendiri" , Perkataan itu muncul dari luar pintu ruangan, ketika Ji-gi berpaling, dia jumpai seorang wanita yang sangat cantik tapi angkuh bagaikan burung merak telah muncul di hadapannya dan sedang berjalan mendekat. Ternyata yang muncul adalah Khong Lan-kun. Berada dihadapannya, tiba tiba Ji-gi merasa diri sendiri bagaikan seekor ayam kampung, terpaksa dia menghela napas seraya bergumam."Sungguh tak nyana lelaki pun ada yang bekerja seperti kami ternyata dia pun bisa dibucking orang"

Liu Tiang-kay ikut menghela napas panjang.

"Mungkin apa yang kulakukan sekarang masih kalah jauh dibandingkan dirimu"

"Tapi aku amat suka manusia macam kau"

Ujar Ji-gi lagi sambi tertawa genit.

"bila ada waktu senggang, aku pun bersedia membuckingmu untuk beberapa hari"

Sambil tertawa cekikian dia menowel wajah Liu Tiang-kay kemudian sambil mengajak rekan rekan lainnya ia berseru."KeIihatannya kita sudah kehilangan transaksi di tempat ini, lebih baik pulang tidur"

Liu Tiang-kay mengawasi bayangan tubuh mereka hingga lenyap dikejauhan sana, dia seperti merasa berat hati membiarkan gadis gadis itu berlalu begitu saja.

Sementara itu Khong Lan-kun sudah mengambil tempat duduk, sambil menatapnya dia menegur dengan nada ketus."Kau masih berat hati membiarkan mereka pergi?"

"Hai, aku memang seorang lelaki romantis"

Liu Tiang-kay menghela napas panjang.

"Kau....... dasar kau bukan manusia"

Seru Khong Lan-kun sengit sambil menggigit bibir.

"Untung sekali banyak cewek justru suka dengan lelaki yang bukan manusia"

"Cewek cewek itu pasti bukan manusia"

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

Khong Lan-kun menghela napas panjang, katanya lembut 'Tampaknya sebentar lagi akupun akan berubah jadi perempuan bukan manusia"

Dalam sekejap mata dia telah berubah seratus delapan puluh derajat, dari seekor burung merak yang angkuh berubah jadi seekor burung merpati yang jinak dan penurut.

Menghadapi perempuan ini, tampaknya Liu Tiang-kay telah menggunakan cara yang amat tepat.

Ada sementara wanita memang persis seperti buah yang dilindungi cangkang tebal dan keras, kita harus menghancurkan cangkang kerasnya lebih dulu sebelum dapat menikmati isinya yang lembut tapi gurih.

Sekarang, dia seperti buah yang cangkang kerasnya sudah hancur, yang tersisa hanyalah hati yang lembut dan halus.

Liu Tiang-kay mengawasinya, tiba tiba dalam hati kecilnya muncul satu perasaan kemenangan, menang karena berhasil menaklukan sesuatu yang amat sulit, perasaan semacam ini terasa begitu nikmat dan menggembirakan, belum pernah dia rasakan perasaan nikmat seperti ini.

Tanpa terasa sikap nya juga ikut berubah jadi lebih halus, lembut dan hangat.

Terhadap seorang wanita yang berhasil ditaklukkan, dia sudah tak perlu menggunakan kekerasan lagi, dia ulurkan tangannya dan menarik tangan perempuan itu dengan halus, bisiknya."Padahal akupun tahu, kau memang selalu amat baik kepadaku"

"Kau......kau benar benar tahu?"

Khong Lan-kun menundukkan kepalanya.

"Aku pun tahu, rencana mu sangat bagus"

"Tapi......tapi kau tidak melakukan sesuai dengan rencana ku"

"Yaa, aku termasuk orang yang tak sabaran, aku selalu lebih senang menggunakan cara yang lebih langsung"

Khong Lan-kun angkat kepalanya, memandang pemuda itu dengan agak termangu, dari balik matanya yang indah terpancar perasaan kuatir serta perhatian yang amat tebal.

"Tapi aku beranggapan, cara yang kau gunakan kelewat bahaya, kelewat nyerempet bahaya"

Liu Tiang-kay tertawa.

"Bagaimana pun juga, sekarang aku telah berhasil melakukannya"

"Sungguh?"

Cahaya terang memancar keluar dari balik mata Khong I Lan-kun.

"Ehmm"

"Barang itu sudah kau dapatkan?"

Liu Tiang-kay segera menunjuk buntalan yang diletakkan di atas meja.

Khong Lan-kun memandangnya agak termangu, entah senang entah kagum, tanpa sadar dia pegang tangan pemuda dengan dua belah tangannya lalu menempelkan tangan itu diatas pipinya sembari berbisik ."Sekarang aku baru tahu, bukan saja kau adalah lelaki sejati bahkan seorang lelaki yang luar biasa"

Liu Tiang-kay teramat gembira, bagaimana pun macam lelaki itu, mereka pasti akan sama girangnya jika mendengar ungkapan perasaan semacam ini.

Tak tahan sahurnya sambil tertawa."Padahal aku bukan seseorang yang kelewat luar biasa, hanya..........."

Perkataan itu belum selesai diungkap, mungkin selamanya tak akan terungkap lagi.

Pada saat itulah tiba tiba Khong Lan-kun menjepit tangannya dengan ke dua belah tangan, ujung jarinya mencengkeram urat nadinya lalu sambil memelintir dan membanting, dia gunakan ilmu gulat gaya Mongolia untuk membanting tubuh pemuda itu ke depan.

Seluruh badan Liu Tiang-kay segera terangkat ke tengah udara kemudian berbalik dan seperti seekor ikan mampus, jatuh terbanting ke lantai, jatuh terlentang dengan kaki terentang ke udara.

Menyusul kemudian dengan satu gerakan kilat Khong Lankun menotok jalan darah diatas tulang punggung pemuda itu, ejeknya sinis."Tentu saja kau bukan lelaki yang luar biasa, karena kau tak lebih hanya seekor anjing gila"

Liu Tiang-kay tak mampu berkata lagi.

"Kau anggap dengan cara begitu menghadapi aku maka aku akan takluk?"

Kembali Khong Lan-kun tertawa dingin.

"aku beritahu, kau keliru besar, barang siapa berani menggebuk aku satu kali, aku harus balas menggebuknya sepuluh kali"

Entah darimana dia dapatkan papan kayu, dengan gemas dan penuh rasa sakit hati dia menghajar pantat Liu Tiang-kay berulang kali, tidak kurang tidak lebih dia benar benar menghajarnya dengan tiga puluh kali gebukan.

Dalam keadaan begini, terpaksa Liu Tiang-kay harus terima nasib.

Dengan susah payah dia menahan sakit, akhirnya Khong Lan-kun selesai juga menggebuknya.

"Kali ini, aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepadamu, agar lain hari kau jangan seenaknya pandang rendah kaum wanita"

Dia sambar buntalan yang ada di meja dan berkata lebih jauh.

"barang ini kubawa pergi, aku harap nasibmu tidak terlampau jelek, jangan sampai Ciu Heng-po dan Tong Kim muncul lagi disini untuk membuat perhitungan denganmu"

Hidangan yang telah disiapkan dengan susah payah, tiba tiba saja berpindah ke mulut orang lain.

Mendengar langkah kakinya semakin menjauh, Liu Tiangkay tak dapat melukiskan bagaimana perasaan hatinya saat ini.

Dia bukannya tak mampu buka mulut, tapi sekarang, kau suruh dia berkata apa lagi?

Perempuan, Hei..................

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, mendadak dia sadar, ternyata perempuan ini memang tak seharusnya disakiti.

Sayang dia sudah kelewat banyak menyakiti kaum wanita.

Sekarang, seandainya Nyonya rindu benar benar muncul disitu, nasib tragis yang menimpa dirinya benar benar tak terbayang dengan kata apapun.

Bukan hanya perempuan itu, masih ada Tam It-hui, Tiat hwesio, Tong Kim........

Orang orang itu pasti mempunyai cara yang berbeda dalam menyiksa dan membuat derita orang lain.

Kini, Liu Tiang-kay hanya bisa duduk bersandar diatas bangku, menanti.

Keadaannya kini sudah tak mirip dengan anjing gila, boleh dibilang dia lebih mirip dengan seekor anjing mati.

Entah berapa lama sudah lewat, seolah olah sudah menunggu beribu ribu tahun lamanya....

Fajar baru menyingsing, untung saja sejak awal para pelayan dan gerombolan cewek menor itu sudah kabur dari situ, kalau tidak, sekalipun dia bisa bangkit berdiri, malunya pasti bukan kepalang.

-00dw00kz00-Bab VI.

Naga diantara manusia.

Kembali lewat berapa saat lamanya, dia merasakan sekujur badannya sudah kaku dan kesemutan, tangan dan kakinya mulai jadi dingin.......

Pada saat itulah, tiba tiba dia mendengar ada suara langkah kaki manusia berjalan mendekat.

Langkah kaki im sangat ringan, dia berjalan lambat sekali, tapi setiap ayunan langkahnya seolah olah sedang menginjak diatas otot tabuhnya yang kaku, siapa yang muncul di situ?

Nyonya rindu?

Atau Tong Kim?

Terlepas siapa pun yang muncul, ada satu hai adalah pasti, dia tak akan bisa hidup dengan senang Langit sudah terang.

Sinar fajar memancar masuk melalui pintu depan, membiaskan bayangan tubuh orang itu dilantai dan membentuk satu bayangan yang amat| panjang, dari bayangan tersebut terlihat kalau orang yang muncul adalah seorang wanita.

Akhirnya dia dapat menangkap sepatu yang dikenakan orang itu.

Sepasang sepatu kain yang bersulamkan bunga berwarna hijau, sepasang kaki yang lembut, ramping dan menawan hati.

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, akhirnya dia tahu juga siapa gerangan yang telah datang.

"Sejak kapan kau berubah jadi orang yang alim yang suka duduk mematung diatas bangku?"

Suara orang itu merdu menawan hati, tapi kini tersisip perasaan cemburu yang tebal.

"apakah pantatmu sudah bengkak karena habis digebuki orang?"

Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.

"Aku masih ingat, dulu kau selalu gemar memukuli wajah sendiri hingga bengkak untuk menyamar jadi orang gemuk, kini wajah tidak bengkak kenapa pantatmu yang justru membengkak?"

Tiba tiba Liu Tiang-kay tertawa.

"Biarpun pantatku lebih bengkak satu kali lipatpun tak akan bisa menangkan gedenya pantatmu"

"Bocah kunyuk"

Umpat perempuan itu sambil tertawa pula.

"sudah dalam keadaan beginipun masih berani bicara seenaknya, tidak kuatir kubikin bengkak mulutmu?"

"Aku tahu, kau pantas merasa sayang untuk berbuat begitu, jangan lupa aku toh suamimu"

Ternyata yang datang adalah Oh Gwat-ji. Dia sudah berjongkok sambil mengangkat dagu Liu Tiangkay, dengan mata berhadapan mata dia awasi pemuda itu lekat lekat.

"Suami ku yang mengenaskan, siapa yang telah menghajarmu jadi begini? Cepat beritahu kepadaku"

"Kau hendak balaskan dendam untukku?"

"Aku justru akan mencarinya untuk mengucapkan terima kasih"

Tiba tiba Oh Gwat-ji menjotos hidungnya keras keras.

"aku harus berterima kasih karena telah memberi pelajaran kepada si telur busuk yang tidak menurut"

Liu Tiang-kay tertawa getir.

""Kalau seorang bini hendak mengumpat suaminya, kata makian apa pun boleh dipakai, tapi jangan sekali kali menggunakan kata telur busuk"

Oh Gwat-ji menggigit bibir, teriaknya jengkel."Jangan bikin hatiku panas, kalau aku benar benar jengkel, siapa tahu aku akan memakaikan topi hijau untukmu" (istilah topi hijau dipakai kaum istri yang berbuat serong dengan lelaki lain).

Semakin berbicara semakin jengkel, kembali dia jewer telinga Liu Tiang-kay keras keras sambil teriaknya lagi."Aku mau tanya, sewaktu kemari sudahkah kau kenakan pakaian yang istimewa tebalnya?"

"Belum"

"Sudah kau minta golok yang luar biasa cepatnya?"

"Belum"

"Sudah kau taklukan Tong Kim pada serangan pertama?"

"Tidak"

"Sudah turun tangan sesuai dengan rencana?"

"Juga tidak"

Sambil menggertak giginya kuat kuat umpat Oh Gwat-ji.

"Orang lain sudah mati matian persiapkan segala sesuatu untukmu, kenapa kau sama sekali tak menurut?"

"Karena sejak kecil aku memang bukan bocah penurut, orang lain semakin paksa aku melakukan sesuatu, aku semakin nekad untuk tidak melakukannya"

Oh Gwat-ji segera tertawa dingin.

"Jadi kau selalu menganggap dirimu luar biasa, selalu menganggap orang lain tak bisa menandingimu?"

Liu Tiang-kay tertawa.

"Bagaimana pun juga, apa yang kau minta untuk kulaksanakan, kini telah kulaksanakan semua"

"Hingga sekarang kau masih berani mengucapkan perkataan itu?"

Oh Gwat-ji makin mencak mencak.

"Kenapa tak berani?"

"Kenapa kau tidak mencari sebuah cermin dan coba melihat pantatmu itu?"

"Pantatku digebuk orang adalah satu kejadian, bisa menyelesaikan tugas adalah kejadian lain"

"Betul, tapi nyatanya bebek yang sudah matang sekarang sudah terbang kembali"

"Tidak, sama sekali belum terbang"

"Belum terbang?"

"Yang terbang cuma bulu si bebek., sementara si bebek plus tulangnya masih berada dalam sakuku"

Oh Gwat-ji tertegun, serunya.

"Jadi kotak yang dibawa lari perempuan im hanya sebuah kotak kosong?"

"Tidak kosong"

Jawab Liu Tiang-kay tersenyum.

"dalam kotak im terdapat sepasang kaus kakiku yang baru kulepas dan baunya luar biasa"

Kembali Oh Gwat-ji tertegun, tapi dia segera tertawa cekikikan, tiba tiba diciumnya pipi Liu Tiang-kay lalu katanya dengan suara lembut."Aku tahu, kau memang seorang lelaki yang luar biasa, aku tahu aku tak bakal salah mencari suami"

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, gumamnya."Tampaknya, sebagai seorang lelaki kita harus punya sedikit kemampuan, kalau tidak, mungkin kita akan dipaksa mengenakan topi hijau" -ooo0-d-0-w-0ooo-Cahaya matahari memancar masuk melalui daun jendela, menyinari dada Liu Tiang-kay yang bidang, wajah Oh Gwat-ji menempel diatas dada Liu Tiang-kay yang bidang itu.

Dada dalam keadaan telanjang itu meski tidak terlalu berotot, namun membawa daya tarik yang aneh, membuat orang susah menilai kekuatan sesungguhnya yang dimiliki.

"Masih mau tambah lagi tidak?"

Bisik Oh Gwat-ji sambil meraba dadanya dengan lembut. Liu Tiang-kay menggeleng berulang kali, jangankan "bermain"

Sekali lagi, untuk menggerakkan badan pun dia sudah tak kuat.

"Baru berpisah beberapa hari, kau sudah beraninya mencari perempuan lain"

Seru Oh Gwat-ji sambil menggigit bibir.

"Aku tidak......."

Sebetulnya Liu Tiang-kay sudah malas untuk menjawab, namun dalam masalah seperti ini mau tak mau dia harus menyangkal.

"Kalau tidak, mengapa orang lain menaboki pantatmu?"

Tanya Oh Gwat-ji tidak percaya. Liu Tiang-kay menghela napas.

"Seandainya benar, masa dia hanya menabok pantatku saja?"

"Kau juga tidak menyentuh Siang-si hujin?"

Tampaknya Oh Gwat-ji belum mau percaya.

"Sama sekali tidak"

"Hmm, mungkin hanya setan yang percaya"

"Kenapa kau tidak percaya?"

"Bila kau benar benar tidak menyentuh wanita, mengapa milikmu sekarang macam ayam jago yang kalah bertarung? Mengapa loyo tak bertenaga? Sarna sekali tak berguna!"

"Kau anggap aku manusia apa? Manusia baja? Sudah lima ronde non"

Liu Tiang-kay tertawa getir. Setelah menghela napas, lanjutnya.

"Akupun bisa lelah, kadangkala aku pun perlu beristirahat. Perlu tidur"

"Lantas kenapa kau tidak tidur?"

Oh Gwat-ji mulai percaya.

"Kalau kau ada disisiku, bagaimana mungkin aku bisa tidur?"

Oh Gwat-ji segera duduk, dengan mata melotot teriaknya.

"Jadi kau sedang mengusirku dari sini?"

"Tidak,. Aku tidak bermaksud begitu, tapi kau memang seharusnya segera pulang"

Setelah berhenti sejenak, terusnya dengan suara lembut."Ketika mengetahui kotak yang dibawa Khong Lan-kun tak ada isinya, Liong Ngo pasti akan datang mencariku"

"Masa dia akan mencarimu sampai disini?"

"Di mana pun dia dapat menemukan"

Oh Gwat-ji sedikit agak sangsi, tapi dia segera sadar bahwa rumah penginapan kecil itu memang tidak bisa dibilang merupakan tempat yang sangat aman.

"Baiklah"

Ujarnya kemudian.

"pulang ya pulang, tapi kau........."

"Asal kau mau menungguku di rumah dengan tenang, dengan cepat aku akan membawa pulang berita baik"

"Kau yakin dapat menghadapi Liong Ngo?"

"Tidak"

Liu Tiang-kay tertawa.

"sewaktu menghadapi Siang-si hujin pun sebetulnya aku juga tak punya keyakinan apa apa"

Akhirnya Oh Gwat-ji pergi juga. Sebelum meninggalkan tempat itu, ia sempat berbisik di tepi telinganya sambil mengancam berulang kali.

"Jika aku sampai mendengar kau menyentuh perempuan lain, hati hati dengan pantatmu, akan kuhajar sampai robek robek"

Bila seorang wanita telah jatuh cinta pada seorang lelaki, dia pasti ingin sekali mengubah diri menjadi seutas tali yang bisa mengikat kencang kencang sepasang kaki lelaki itu.

Kini Liu Tiang-kay dapat menghembuskan napas lega, dia memang bukan manusia baja, dia butuh waktu untuk istirahat dan tidur nyenyak.

Tak selang berapa saat kemudian dia benar benar sudah tertidur.

Ketika mendusin kembali, suasana di luar jendela nampak sudah gelap, tampaknya saat itu senja sudah lewat.

Angin berhembus masuk melalui daun jendela, membawa harum arak yang semerbak.

Itulah bau harum arak Li-ji-ang, semestinya dalam rumah penginapan sekecil itu, tak mungkin tersedia arak sejenis ini.

Berputar sepasang biji mata Liu Tiang-kay, tiba tiba serunya."Sahabat yang sedang minum arak diluar, perduli siapakah engkau, silahkan masuk ke mari, jangan lupa sekalian bawa serta arak wangi mu"

Benar juga, dengan cepat ada seseorang mengetuk pintu.

"Pintu dalam keadaan terbuka, dorong saja, pintu akan segera terbuka"

Maka pintu pun didorong orang, seseorang dengan tangan kiri membawa teko tembaga, tangan kanan membawa dua cawan arak, berjalan masuk ke dalam ruangan, orang itu tak lain adalah orang yang menemui Tu Jit bertiga tempo hari.

"Cayhe Go Put-ko"

Sambil tertawa paksa orang itu memperkenalkan diri.

"khusus kemari untuk berkunjung, tahu kalau anda sedang tertidur, maka terpaksa cayhe menunggu diluar"

Liu Tiang-kay memandangnya sekejap, lalu tegurnya."Liong Ngo yang suruh kau mencari aku?"

Sambil tersenyum Go Put-ko manggut manggut.

"Kongcu sedang menanti kedatangan Liu sianseng"

"Sayang sekali saat ini mau bangun dan berdiri pun tak mampu, aku tak bisa pergi menjumpainya"

Seru Liu Tiang-kay dingin. Kembali Go Put-ko tertawa.

"Kongcu juga tahu, ada orang telah membuat kesalahan terhadap Liu sianseng, maka cayhe sengaja diutus kemari untuk membawa semacam barang, agar bisa menghilangkan rasa jengkel sianseng"

"Barang apa? Di mana?"

Tanpa berpaling Go Put-ko memberi tanda ke luar pintu, seorang perempuan yang cantik bagai seekor burung merak pelan-pelan berjalan masuk sambil membawa sebuah papan kayu.

Khong Lan-kun.

Sekarang, dia sudah tidak memiliki keangkuhan seekor burung merak, yang tersisa hanyalah seekor ayam yang baru kalah bertarung, seekor ayam betina.

Dia menundukkan kepalanya rendah-rendah, begitu masuk ke dalam, papan kayu itu segera diserahkan ke tangan Liu Tiang-kay sambil berkata lirih."Aku telah menghantammu tiga puluh kali dengan menggunakan papan kayu ini, sekarang kau.....kau boleh mengembalikan semuanya kepadaku"

Liu Tiang-kay memandangnya, tiba tiba ia menghela napas panjang, gumamnya."Liong Ngo kongcu memang tak malu disebut naga diantara manusia, tak heran ada begitu banyak orang yang rela jual nyawa baginya" -ooo0d0w0ooo-Cahaya lampu yang menerangi bilik mewah itu lembut dan indah, teko tembaga yang berada diatas anglo kecil dengan jilatan api yang merah lembut memancarkan bau harum arak yang semerbak.

Orang yang sedang memanasi arak itu adalah lelaki setengah umur berbaju hijau yang misterius lagi menakutkan itu.

Liong Ngo masih berbaring diatas ranjang pendek berlapiskan kulit macan tutul, dia pejamkan matanya sambil berbaring santai.

Udara masih terasa hangat, kobaran api dibawah anglo kecil membuat suasana di dalam bilik terasa makin panas, namun ke dua orang itu seolah olah sama sekali tidak merasa kepanasan.

Hanya mereka berdua, mereka sedang menunggu kedatangan Liu Tiang-kay.

Diatas meja telah tersedia beberapa macam hidangan yang lezat, bahkan telah tersedia pula sebuah bangku khusus untuk Liu Tiang-kay.

Yaa, ada berapa banyak orang di dunia ini yang berhak duduk sederajat dengan Liong Ngo?

Pintu diketuk orang, yang muncul adalah Mong Hiu, tentu saja tempat itu adalah pesanggrahan milik Mong Hiu.

"Sudah datang!"

Lapornya.

"Persilahkan dia masuk"

Liong Ngo masih pejamkan matanya.

"masuk seorang diri"

Baru saja Liu Tiang-kay berjalan masuk, Mong Hiu segera merapatkan kembali pintu ruangan.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu masih pusatkan perhatiannya memanasi arak, dia tidak berpaling, melirik sekejap pun tidak.

Sementara itu Liong Ngo sudah bangkit dari tempat tidurnya, sekulum senyuman yang jarang tampil di wajahnya kini menghiasi wajahnya yang pucat pasi.

"Kau tidak sia sia"

Ujarnya sambil tersenyum.

"baik dalam hal ilmu silat maupun dalam soal perempuan, kau tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan"

Perkataan itu belum selesai diucapkan, karena itu Liu Tiang-kay tetap membungkam, dia menunggu Liong Ngo menyelesaikan perkataannya.

Betul juga, Liong Ngo berkata lebih lanjut."Bahkan terhadap wanita yang tak mampu kuhadapi pun tak disangka kau sanggup menghadapinya"

Liu Tiang-kay masih tetap membungkam. Dia belum meraba jelas apa maksud ucapan Liong Ngo itu, biasanya orang lelaki tak pernah mau mengaku kalah khususnya dalam masalah perempuan.

"Bukan pekerjaan yang gampang untuk mengelabuhi Ciu Heng-po maupun Khong Lan-kun"

Kembali Liong Ngo berkata.

"tapi kau berhasil mengelabuhi ke dua duanya" 'Tapi aku kan bekerja demi kau"

Akhirnya Liu Tiang-kay tertawa. Liong Ngo memandangnya sekejap, tiba tiba ia tertaw. tergelak."Hahaha... kelihatannya bukan saja kau cerdik, bahkan sangat hati hati"

"Hai, mau tak mau aku memang selalu harus berhati hati"

Liu Tiang kay menghela napas panjang.

"Kini sang kelinci sudah didapat, kau takut aku mengkukus mu di dalam kuali?"

"Orang bilang "burung terpanah busur disimpan, kelinci yang mati anjing yang dikukus", aku tidak paham dengan maksud perkataan ini" (burung terpanah busur disimpan, artinya setelah dunia aman kembali, semua jasa dan pahala dilupakan, kelinci yang mati anjing yang dikukus artinya Kalau dibutuhkan disanjung sanjung, kalau sudah tak dibutuhkan dijatuhi hukuman mati) Liong Ngo tertawa, sahutnya."Aku tahu, kau bukan anjing kaki tangan yang bisanya hanya berburu kelinci, kau adalah orang yang sangat mengerti bekerja, aku selalu menggunakan manusia macam kau"

"Terima kasih banyak kalau begitu"

Liu Tiang-kay menghembuskan napas lega.

"Silahkan duduk"

"Lebih baik aku berdiri saja"

Sekali lagi Liong Ngo tertawa.

"Tampaknya Khong Lan-kun sudah turun tangan kelewat berat kepada mu"

Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.

"Apakah kau menginginkan sepasang tangannya?"

Kembali Liong Ngo bertanya.

"Ingin!'' 'Itu mah gampang, aku segera akan letakkan sepasang tangannya di dalam kotak dan hadiahkan kepadamu"

"Tapi aku lebih suka melihat sepasang tangannya berikut seluruh badannya yang utuh"

"Itu lebih gampang lagi, sewaktu pergi dari sini nanti, kau boleh bawa serta dirinya"

Liu Tiang-kay segera gelengkan kepalanya berulang kali, katanya."Aku memang suka rnakan telur ayam, tapi aku paling segan membawa serta seekor ayam betina disisiku"

Untuk ke dua kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha.....kalau begitu aku beritahu alamat dari sarang ayam betina itu, hingga tiap kali mau makan telur ayam, setiap saat kau dapat berkunjung ke situ"

"Sayang di dalam telur ayam itu bukan saja bertulang, bahkan ada papan kayunya"

Kata Liu Tiang-kay sambil tertawa getir.

Untuk ke tiga kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak.

Tampaknya suasana hatinya hari ini sangat baik, jumlah tertawanya juga jauh lebih banyak ketimbang dihari hari biasa.

Menunggu hingga dia selesai tertawa, Liu Tiang-kay baru berkata."Tampaknya kau lupa menanyakan satu hal kepadaku"

"Buat apa mesti ditanya, aku tahu kau pasti telah berhasil"

"Kotak itu tidak salah?"

"Tidak salah"

Liong Ngo menatapnya lekat lekat.

"Sudah dilihat dengan jelas?"

"Yaa, sudah dilihat sangat jelas"

Sinar mata ke dua orang itu nampak sedikit agak aneh, pertanyaan yang diajukan Liu Tiang-kay pun makin lama semakin tak bermutu.

Liong Ngo termasuk orang yang tak terlalu suka banyak bicara, tapi kali ini dia sama sekali tidak menunjukkan sikap tak sabaran atau muak.

Terdengar Liu Tiang-kay berkata sambil tertawa."Jika kotaknya tak salah, berarti barang yang ada didalamnya juga tak bakal keliru"

Akhirnya dari dalam sakunya dia keluarkan sebuah bungkusan kain ungu, bungkusan itu diikat dengan simpul tali yang sangat kuat, katanya."Benda ini kuambil dari dalam kotak tersebut, bentuk dan ikatan tali simpulnya masih asli, aku tidak menyentuhnya"

"Aku bisa melihatnya, tali simpul itu memang merupakan ikatan simpul yang khusus dilakukan sendiri olehnya"

Ta!i simpul yang dibuat Nyonya rindu, tentu saja bukan simpul yang gampang dibuka.

Liong Ngo hanya menggunakan dua jari tangannya untuk menjepit ekor dari tali simpul itu, lalu dengan suatu gerakan yang aneh, sekali getaran saja tali simpul itu sudah terbuka.

Untuk ke empat kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak.

"Cara yang kau gunakan, tampaknya selalu paling langsung dan paling mendasar"

"Yaa, karena cara ini saja yang kupahami"

"Asa! cara itu bermanfaat, sekalipun hanya semacam, rasanya sudah lebih dari cukup"

Ujar Liong Ngo sambil tertawa.

Dalam bungkusan im terdapat sebuah bungkusan dari kain sutera, ketika kain sutera itu dibuka, tampaklah sebuah botol kecil yang terbuat dari porselen berwarna hijau.

Bersinar sepasang mata Liong Ngo, diatas wajahnya yang pucat terlintas warna semu merah yang sangat aneh.

Botol berisi obat itu tidak gampang untuk memperolehnya.

Demi obat dalam botol itu, dia telah mengeluarkan pengorbanan yang tak terkira banyaknya.

Hingga saat itu, saat tangannya mulai menyentuh botol berisi obat, tanpa disadari tangan itu nampak gemetaran keras.

Pada detik itulah mendadak secepat sambaran kilat Liu Tiang-kay rebut kembali botol berisi obat itu kemudian membantingnya ke lantai keras keras.

"Prryaang!"

Diiringi suara keras, botol im hancur berantakan, cairan obat berwarna merah yang ada dalam botol pun berserakan di tanah.

Pucat pias wajah Mong Hui yang kebetulan berdiri di depan pintu, dia sangat terkejut atas terjadinya peristiwa yang tak terduga ini.

Paras muka Liong Ngo turut berubah hebat, hardiknya keras."Apa apaan kau?"

"Tidak apa apa, aku hanya tak ingin kehilangan majikan sebaik kau, jika kau mampus, tak gampang bagiku untuk menemukan majikan ke dua sebaik dirimu"

"Apa maksudmu? Aku tak mengerti"

Liong Ngo amat murka.

"Kau seharusnya mengerti"

"Aku dapat melihat, obat itu tidak palsu, aku pun bisa mengendus baunya"

Cairan obat itu berwarna merah bening, ketika botolnya pecah dan cairan obat berserakan di lantai, segera terenduslah bau harum semerbak yang amat menyegarkan hati.

"Biarpun bukan obat palsu, didalamnya pasti sudah dicampur dengan racun jahat"

Liu Tiang-kay menjelaskan. 'Atas dasar apa kau simpulkan begitu?"

"Atas dasar dua ha!"

"Katakan!"

"Tugas ini berhasil kulaksanakan kelewat gampang, kelewat lancar"

"Alasan itu tidak cukup kuat"

"Aku pun tahu, Siang-si hujin yang kujumpai adalah Nyonya rindu gadungan"

"Selama ini kau belum pernah bertemu dengan Nyonya Rindu, darimana bisa tahu kalau dia gadungan?"

"Kulit tubuhnya kelewat kasar, seorang wanita yang tiap hari mengoleskan minyak madu di sekujur tubuhnya tak akan memiliki kulit badan sedemikian kasar"

"Atas dasar dua hal itu?"

"Analisa yang tepat tak perlu dua, satu alasan saja sudah lebih dari cukup"

Tiba tiba Liong Ngo tutup mulut rapat rapat, tampaknya dia sudah tak mampu lagi untuk berbicara.

Sebab pada saat itulah cairan obat yang berwarna merah bening itu tiba tiba berubah jadi cairan hitam pekat yang sangat memualkan.

Ada sejenis racun yang daya kerjanya baru nampak bila terkena angin, sekarang, siapa pun bisa melihat, cairan obat dalam botol itu benar-benar telah dicampuri racun, racun yang sangat dahsyat.

Pucat pias selembar wajah Liong Ngo, ditatapnya wajah Liu Tiang-kay tanpa berkedip, lama kemudian ia baru berkata."Selama hidup belum pemah kuucapkan kata terima kasih kepada siapa pun"

"Aku percaya"

"Tapi sekarang, mau tak mau aku harus ucapkan banyak terima kasih kepadamu"

"Yaa, tampaknya aku pun mau tak mau harus menerimanya................!"

"Tapi ada satu hal, hingga kini belum paham........."

"Kau seharusnya paham"

Tukas Liu Tiang-kay cepat.

"Ciu Heng-po tahu aku sedang bekerja untukmu dan tahu tugas apa yang sedang kulaksanakan, karena itu dia gunakan siasat melawan siasat, dia pura pura serahkan obat itu kepadaku, padahal niatnya ingin meracunimu sampai mati"

"Tapi....tapi......kenapa dia......dia ingin meracuni aku sampai mati?"

Gumam Liong Ngo dengan wajah berubah hebat. Liu Tiang-kay menghela napas panjang.

"Siapa sih yang bisa menebak jalan pikiran seorang wanita?"

Liong Ngo pejamkan matanya, lagi lagi dia tampak amat lelah, rasa sedih yang mendalam memang cepat membuat seseorang cepat lelah.

Entah dia sedih lantaran kecewa, ataukah sedih lantaran rasa rindu yang mendalam?

Tiba tiba Liu Tiang-kay bertanya."Lagi lagi kau lupa menanyakan satu hal kepadaku"

"Pikiranku lagi kalut, katakan saja"

Liong Ngo tertawa getir.

"Ketika melaksanakan pekerjaaan ini untukmu, bukankah hanya ke empat orang yang ada dalam bilik ini yang tahu rahasia ini?"

"Betul"

"Lantas, darimana Nyonya rindu bisa mengetahui rahasia ini?"

Mendadak sepasang mata Liong Ngo terbelalak lebar, sinar mata setajam mata pisau langsung dialihkan ke wajah Mong Hui dan menatapnya tanpa berkedip. Pucat pias wajah Mong Hui saking kagetnya.

"Ketika kau menghajarku hingga terluka, orang lain mengira aku pasti akan membenci mu hingga merasuk ke tulang sumsum, tapi Mong Hui tahu rahasia dibalik semuanya ini"

Ujar Liu Tiang-kay menerangkan.

"Bukan Mong Hui, pasti bukan dia"

Tiba tiba Liong Ngo menggeleng.

"Kenapa?"

"Ada Liong Ngo baru ada Mong Hui, dia bisa seperti hari ini semuanya lantaran aku, kematianku tak akan mendatangkan keuntungan apa apa baginya"

Liu Tiang-kay termenung dan berpikir sejenak, akhirnya dia pun manggut manggut.

"Aku percaya. Semestinya dia tahu, dikolong langit saat ini tak akan ditemukan Liong Ngo ke dua"

Tiba tiba Mong Hui jatuhkan diri berlutut, sewaktu berlutut, air mata telah bercucuran membasahi wajahnya.

Air mata tersebut merupakan air mata terharu, dia terharu karena Liong Ngo begitu menaruh kepercayaan kepadanya.

"Kalau bukan Mong Hui, lalu siapa?"

Pelan pelan Liu Tiangkay melanjutkan.

Liong Ngo tidak menjawab, sementara dia pun tak perlu bertanya lagi.

Sorot mata mereka berdua kini sudah dialihkan ke wajah lelaki setengah umur berbaju hijau itu, mereka menatapnya tanpa berkedip.

-ooo0d0w0ooo-Cahaya api dibawah tungku sudah melemah, arak dalam teko masih terasa hangat.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu sedang menuang arak dari teko tembaga ke dalam poci arak tangannya masih tetap tenang, tak setetes arak pun yang tertumpah keluar.

Paras mukanya tetap hambar, sama sekali tak tampak perubahan mimik mukanya.

Begitu tenangnya orang itu, sampai Liu Tiang-kay sendiri puri merasa, sepanjang hidupnya belum pernah dia jumpai orang setenang dan sehambar ini Bagaimana pun juga, dia harus menaruh rasa kagum terhadap orang ini Ketika Liong Ngo menatap wajahnya, mimik mukanya kelihatan berubah jadi amat sedih, dia merasa sedih karena rasa sayang dan kecewanya terhadap orang itu.

Terdengar Liu Tiang-kay menghela napas panjang, katanya."Sebetulnya aku tak ingin menaruh curiga kepadamu, sayang aku sudah tak punya pilihan lain"

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu meletakkan poci arak ke meja, dia tetap membungkam, melirik sekejap pun tidak.

Kembali Liu Tiang-kay berkata."Sayang orang yang mengetahui rahasia ini selain Liong Ngo, Mong Hui dan aku, adalah kau"

Lelaki setengah umur itu seolah-olah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, dia tetap menjalankan tugasnya, memeriksa suhu arak lalu menuang arak dalam teko ke cawan yang tersedia.

Tak setetes arak pun yang tumpah dari dalam cawan.

Liu Tiang-kay berkata lagi."Kusir kereta itu juga tahu kalau aku sedang bekerja untuk Liong Ngo, dia tahu karena orang itu adalah orang kepercayaanmu, mungkin saja rahasia ini bisa diketahui Nyonya rindu karena lewat dia, sebab kau setiap saat setiap waktu harus berada disisi Liong Ngo, kau tak akan mempunyai kesempatan untuk bekerja sendiri"

Dua cawan arak telah dipenuhi isinya. Lelaki setengah umur berbaju hijau itu masih tidak menunjukkan perubahan apapun, dengan tenang dia letakkan poci arak ke meja.

"Hari itu, secara tiba tiba kau muncul diluar rumah petani"

Kembali Liu Tiang-kay berkata.

"hal ini sengaja kau lakukan karena kau memang ingin membunuhnya untuk membungkam mulut orang itu, maka kau selalu mengawasi gerak geriknya, kebetulan kau peroleh alasan yang kuat, maka kusir itu segera kau bungkam mulutnya untuk selamanya"

Lelaki setengah umur itu masih tetap membungkam, dia seolah olah merasa tak sudi untuk mendebat atau menyangkal.

"Oleh karena itu, setelah kupikir bolak balik, rasanya selain kau yang bocorkan rahasia ini, tak akan ada orang lainnya"

Liu Tiang-kaj berhenti sejenak untuk menghela napas panjang, kemudian lanjutnya."Yang sama sekali tak kusangka adalah manusia macam kau kenapa begitu tega menghianati teman sendiri?"

"Dia tak punya teman"

Tiba tiba Liong Ngo menyela.

"Bukankah kau adalah temannya?"

"Bukan"

"Tuan penolongnya?"

"Juga bukan"

"Kalau semuanya bukan, kenapa dia selalu mengikutimu macam seorang budak rendah?"

Tanya Liu Tiang-kay tidak habis mengerti.

"Tahukah kau, siapa dia?"

"Aku tidak pasti"

"Tak ada salahnya kau utarakan"

"Dulu, ada seorang enghiong muda yang luar biasa, ketika usia 9 tahun dia mulai bunuh orang, usia 16 tahun nama besarnya sudah menggetarkan dunia persilatan, baru berusia 20-an tahun sudah diangkat menjadi cianbungjin partai Khong-tong-pay, sebuah partai besar diantara tujuh partai besar lainnya, memiliki ilmu golok yang tiada tandingan hingga disebut orang Thian-he-Tee-it-to (Golok nomor wahid di kolong langit)!"

"Dugaanku tidak keliru, dia memang Chin Liat-hoa"

"Tapi sekarang, dia kelihatan sudah banyak berubah"

Ucap Liu Tiang-kay sambil menghembuskan napas panjang.

"Ooh, kau tak habis mengerti kenapa seorang enghiong yang jaman dulu amat tersohor dan amat hebat kepandaian silatnya, sekarang berubah macam seorang budak rendah yang selalu mengintilku?"

"Bukan Cuma aku yang tak mengerti, mungkin hampir semua anggota persilatan tidak akan mengerti"

"Di kolong langit pun terdapat sejenis manusia yang dapat membuat dia berubah jadi begini"

"Jenis manusia apa?"

"Musuh besar, musuh besarnya"

"Kau adalah musuh besarnya?"

Liu Tiang-kay melengak. Liong Ngo manggut-manggut. Liu Tiang-kay semakin tak habis mengerti.

"Selama hidup, dia pernah tiga kali menderita kekalahan dan semuanya kalah ditanganku, maka dia pun bersumpah hendak membunuhku, tapi rupanya dia pun tahu selama hidup tak ada harapan lagi baginya untuk mengungguli aku"

"Karena kau masih muda dan sedang berada di masa jaya, sementara ilmu silatnya sudah melampaui masa puncak?"

"Betui"

Liong Ngo membenarkan.

"selain itu, ketika tiga kali kuungguli kemampuannya, aku telah menggunakan tiga jenis ilmu silat yang berbeda satu dengan lainnya, karena itu dia gagal meraba asal usul ilmu silatku"

"Kecuali dia siang malam bisa mengikutimu, selidiki tingkah lakumu kemudian mencari akal untuk menemukan tilik kelemahanmu, kalau tidak, sepanjang hidup dia akan kehilangan kesempatan untuk mengungguli dirimu?"

"Betul!"

"Dan kau pun setuju mengijikan dia mengikuti disampingmu?"

Liong Ngo tertawa.

"Kejadian semacam ini kuanggap sebagai satu tantangan yang sangat merangsang dan sangat menegangkan, tak ada kejadian lain yang lebih menegangkan daripada keputusanku ini, kau tahu, kejadian yang menegangkan justru merupakan sebuan kegembiraan dan kenikmatan yang luar biasa"

Kecuali jiwanya terancam, memang tak banyak kejadian di dunia ini yang bisa membuat Liong Ngo tegang dan terangsang. Kembali Liong Ngo berkata.

"Tapi, aku pun punya syarat"

"Syaratmu, dia harus jadi budakmu, jadi pelayanmu?"

Sekali lagi Liong Ngo manggut manggut sambil tertawa.

"Siapa yang bisa memaksa Chin Liat-hoa jadi seorang budak? Bukankah kejadian ini susah dibayangkan dengan akal sehat?"

"Maka dari itu, kau anggap peristiwa inipun merupakan sebuah peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan hatimu?"

"Tentu saja, apalagi sebelum dia yakin bisa mengungguliku, dia pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk melindungi keselamatanku, karena dia tak ingin melihat aku mati ditangan orang lain"

Liu Tiang-kay menghela napas panjang.

"Tapi, bagaimana pun juga, kau tidak seharusnya membiarkan dia tahu rahasia ini" 'Tak ada rahasia yang sengaja kututup tutupi, karena aku percaya dia, dia bukan orang rendah yang suka membongkar rahasia pribadi orang lain"

Memang tak banyak manusia di dunia ini yang bisa percaya seratus persen terhadap sahabatnya, apalagi percaya penuh dengan seorang musuh besarnya? Benar-benar sebuah kejadian yang mustahil.

"Hai, Liong Ngo memang tak malu disebut Liong Ngo"

Puji Liu Tiang-kay sambil menghela napas.

"sayang sekali kau telah salah melihat orang kali ini"

Liong Ngo ikut menghela napas, katanya sambil tertawa getir.

"Tiap orang memang mustahil tak pernah salah, mungkin selama ini aku menilai dia kelewat tinggi dan menilai kau terlalu rendah"

"Tampaknya dia pun menilai aku terlalu rendah"

Sambung Liu Tiang-kay sambil tertawa hambar.

"Kecuali aku, dia memang tak pernah pandang sebelah mata pun terhadap orang lain di dunia ini"

Mendadak Chin Liat-hoa mendongakkan kepalanya, meski wajahnya tidak menunjukkan perubahan apapun namun sorot matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati, sepatah demi sepatah kata ujarnya.

"Kau percaya dengan perkataan orang ini?"

"Mau tak mau aku harus percaya"

"Bagus, bagus sekali"

"Jadi kau sudah siap sedia untuk turun tangan?"

"Aku sudah mengamatimu secara seksama selama empat tahun, setiap gerak gerik, setiap sepak terjangmu tak ada yang lolos dari pantauanku"

Ucap Chin Liat-hoa perlahan.

"Aku tahu"

"Kau memang seseorang yang sukar ditembus, karena kau jarang memberi kesempatan kepada orang lain, kau sangat jarang bergerak"

"Tidak bergerak bukan berarti lumpuh, begitu bergerak akan mengejutkan orang, tenang bagai bukit karang, gerak bagai meteor di angkasa"

Chin Liat-hoa berdiri tenang disitu, dia pun berdiri tegak bagai sebuah bukit karang, ujarnya pelan.

"Semasa muda dulu aku memang kelewat mencolok, kepandaian silatku juga sudah lewat masa puncaknya, apabila aku gagal mengunggulimu sekarang, kesempatan dikemudian hari memang semakin kecil"

"Maka kau bersiap siap untuk turun tangan sekarang?"

"Benar"

"Bagus, bagus sekali"

"Pertarungan kali ini merupakan pertarungan kita yang ke empat rasanya juga merupakan pertarungan yang terakhir, bisa empat kali bertarung melawan Liong Ngo, terlepas siapa menang siapa kalah, rasanya aku pun bisa mati dengan mata meram!"

Liong Ngo menghela napas panjang."Sebetulnya aku tak bermaksud membunuhmu, tapi kali ini......"

"Jika kali ini aku menderita kekalahan lagi, aku pun segan untuk hidup lebih lanjut"

Tukas Chin Liat-hoa perlahan.

"Bagus, ambillah golokmu sekarang!"

"Setiap perubahan ilmu golokku sudah kau ketahui sejelas jari tangan sendiri, memakai golok bukan berarti aku bisa rnengunggulimu"

"Lantas kau hendak memakai apa?"

"Hampir semua benda yang berada ditanganku bukankah bisa kuubah menjadi senjata pembunuh?"

Kata Chin Liat-hoa hambar. Liong Ngo tertawa keras.

"Hahahaha..... bisa bertarung empat kali melawanmu, hal inipun merupakan satu kejadian yang membanggakan!"

Tiba tiba suara tertawanya terhenti di tengah jalan.

Menyusui kemudian suasana dalam bilik pun berubah sunyi senyap, sedemikian heningnya sehingga dengus napas setiap orang dapat terdengar sangat jelas.

Angin masih berhembus sepoi diluar jendela, menggoyang tangkai bunga seruni dan kuncup bunga yang siap mekar, bunga seruni tak berisik sementara kuncup bunga seolah olah sedang menghela napas.

Dalam suasana yang sejuk menjelang pertengahan musim gugur ini, langit seolah olah berubah jadi dingin membeku bagai tertimpa badai salju di musim dingin yang menggidik.

Chin Liat-hoa menatap Liong Ngo tanpa berkedip, kelopak matanya menyusut, otot hijau pada keningnya pada menonjol keluar, kelihatan jelas kalau ia sudah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan serangan penentuan.

Siapapun dapat melihat, asal dia turun tangan maka serangan tersebut pasti sangat dahsyat dan mengerikan.

Diluar dugaan, dia sama sekali tidak menggunakan kekuatan dahsyatnya, dengan dua jari tangannya yang menjepit sebatang sumpit, dia tusuk beberapa bagian tubuh Liong Ngo dengan satu gerakan sederhana.

Tenaga serangan yang dipersiapkan luar biasa dahsyatnya, tapi jurus serangan yang digunakan ternyata begitu lemah dan lembut, bahkan tenaga untuk merobek selembar kertas pun tak ada.

Namun paras muka Liong Ngo telah berubah amat serius, sentilan sumpit yang nampak sangat ringan itu, dalam pandangan matanya justru jauh lebih berat daripada sebuah bukit Thay-san.

Dia pun segera menjepit sebatang sumpit dan balas melakukan beberapa tutulan ke udara.

Ke dua orang itu saling berhadapan hanya dipisahkan sebuah meja, malah Liong Ngo sama sekali tidak bangkit berdiri, dia masih tetap duduk di posisi semula.

Dalam waktu singkat sumpit ditangan ke dua orang itu sudah saling menutul di angkasa, walaupun perubahan gerakan dilakukan sangat cepat, namun tingkah laku mereka berdua tak ubahnya seperti anak anak yang sedang bermain.

Liu Tiang-kay bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu, semua gerakan itu bukan permainan kanak kanak.

Kehebatan dan kecepatan gerak perubahan jurus ke dua sumpit itu sulit dilukiskan dengan kata, seakan akan sebuah gulungan ombak di samudra yang susul menyusul, dibalik setiap perubahan seakan akan mengandung beribu perubahan lain, setiap kali menusuk selalu mengandung kekuatan yang sanggup membelah emas.

Dalam pandangan orang lain, pertarungan ini sama sekali tidak menarik dan tidak tegang, namun bagi Liu Tiang-kay, pertarungan im sangat mendebarkan hatinya, dia ikut merasa tegang dan bergidik.

Ilmu golok yang dimiliki Chin Liat-hoa memang tak malu disebut Thian-he-Te-It-to, golok sakti nomor wahid di kolong langit.

Liong Ngo sendiri pun tak malu disebut manusia aneh yang jarang dijumpai dalam seratus tahun terakhir, kehebatan ilmu silatnya boleh dibilang tiada ke duanya di kolong langit.

Mendadak, dua batang sumpit yang sedang bergerak secepat kilat itu menempel satu dengan lainnya.

Paras muka ke dua orang itu berubah makin serius, tak sampai seperminum teh kemudian butiran peluh sebesar kacang kedele telah jatuh bercucuran membasahi jidat mereka.

Tiba tiba Liu Tiang-kay menjumpai pembaringan yang diduduki Liong Ngo sudah terperosok ke bawah, begitu juga dengan sepasang kaki Chin Liat-hoa.

Jelas ke dua orang im sama-sama sudah mengerahkan segenap tenaga yang dimiliki, tak seorang pun bisa bayangkan betapa menakutkan dan mengerikannya kekuatan semacam itu.

Yang aneh justru pada sepasang sumpit mereka yang saling menempel, sumpit bambu yang seharusnya mudah patah itu, saat ini justru telah berubah jadi sangat lembek dan lunak.

Tak selang berapa saat kemudian, sumpit yang berada dalam genggaman Chin Liat-hoa tiba tiba melengkung ke bawah, sementara peluh yang bercucuran membasahi jidatnya bertambah deras, tak lama kemudian dia lepas tangan, sekujur tubuhnya jatuh terpental ke belakang.

"blaam!"

Diiringi suara benturan keras, badannya menumbuk diatas dinding ruangan.

Dinding itu terbuat dari batu bata yang keras, tapi sekarang tak mampu menahan tumbukan badannya, dinding itu segera jebol dan muncul sebuah lubang yang amat besar.

Ketika tubuhnya roboh terjungkal, kucuran darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya, bahkan dengus napas pun seakan-akan ikut terhenti.

Liong Ngo sendiri roboh diatas pembaringannya, sepasang matanya terpejam rapat, paras mukanya pucat pias bagai mayat, saking lelah dan lemahnya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Pada saat inilah Liu Tiang-kay turun tangan dengan kecepatan luar biasa.

Cakar tangannya menyambar ke udara lalu bergerak ke bawah dengan kecepatan tinggi, bagai sambaran petir dia cengkeram pergelangan tangan Liong Ngo.

Berubah hebat paras muka Liong Ngo, namun dia sama sekali tidak membuka matanya.

Mong Hui tampak terhenyak, baru saja dia akan menerjang masuk ke dalam bilik melalui lubang diatas dinding ruangan, tiba tiba dari luar muncul seseorang dan langsung melepaskan sebuah pukulan tinju yang-membuat tubuhnya kontan roboh terjungkal.

Si singa jantan Lan Thian-bong.

Ternyata orang yang meninju Mong Hui hingga roboh adalah Lan Thian-bong.

Paras muka Liong Ngo putih memucat, begitu pucatnya seperti sama sekali tak ada aliran darah.

Liu Tiang-kay bukan saja telah cengkeram urat nadi pada pergelangan tangannya, secepat kilat dia pun sudah menotok tiga belas buah jalan darah di tubuhnya.

Liong Ngo masih pejamkan matanya, tiba tiba dia berkata sambil menghela napas panjang."Ternyata aku bukan saja kelewat pandang rendah dirimu, aku pun telah salah menilai watakmu"

"Tak ada manusia yang bisa terhindar dari kesalahan, apalagi kau pun manusia"

Sahut Liu Tiang-kay hambar.

"Apakah aku pun telah salah menuduh Chin Liat-hoa?"

"Mungkin itulah kesalahanmu yang terbesar"

"Kau sudah tahu siapakah dia, juga tahu dia tak akan membiarkan aku terjatuh ke tangan orang lain, karena itu bila ingin menangkapku, kau harus gunakan kekuatanku untuk singkirkan dirinya terlebih dulu"

"Terus terang, aku memang agak segan berhadapan dengannya, tapi yang paling kusegani sesungguhnya adalah kau sendiri"

"Karena itu kau pun menggunakan kekuatannya untuk menghabisi kekuatanku terlebih dulu?"

"Bila dua ekor bangau saling berebut, nelayan lah yang paling diuntungkan, siasat yang kugunakan memang siasat satu batu dua burung"

"Racun yang berada dalam obat itu juga hasil karya mu?"

Kembali Liong Ngo bertanya.

"Tidak! aku tak ingin diperalat orang lain, terlebih tak ingin menjadi alatnya Ciu Heng-po, aku akan menggunakan sepasang tanganku sendiri untuk menangkap hidup hidup kau si naga sakti"

"Apakah kau adalah anak buah Ciu Heng-po?"

"Bukan"

"Diantara kita ada dendam kesumat?"

"Tidak ada"

"Lalu apa sebabnya kau lakukan hal ini?"

"Aku mendapat pesan dari Oh Lip, Oh lo tay-ya untuk menangkap kau dalam keadaan hidup hidup, agar berapa kasus pencurian dan perampokan bisa segera terungkap"

"Kasus kriminil apa yang telah kulakukan?"

"Seharusnya kau lebih jelas daripada aku"

Liong Ngo menghela napas, bukan saja dia sudah pejamkan sepasang matanya, dia pun menutup rapat mulutnya.

"Bukan baru satu dua hari ini para opas dari enam puluh tiga propinsi baik di utara maupun selatan sungai besar ingin menangkapmu, apa lacur semua orang tahu bahwa menangkapmu bukan satu pekerjaan yang mudah, termasuk aku sendiri pun tidak yakin bisa berhasil, oleh karena itu aku harus membuat kau percaya dulu seratus persen kepadaku. Itulah sebabnya barusan aku turun tangan menolongmu"

"Perkataanmu sudah lebih dari cukup"

Tukas Liong Ngo ketus.

"Kau tak ingin dengarkan lebih lanjut?"

Liong Ngo tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin.

"Kelihatannya kau sudah malas memandangku lagi?"

Kata Liu Tiang-kay setengah mengejek.

"Yang tak ingin dilihat bukan kau, tapi aku"

Tiba tiba Lan Thian-bong menyela.

"Betul"

Sahut Liong Ngo.

"memandang manusia rendah yang lupa budi dan tak ingat kebaikan orang macam kau hanya akan mengotori sepasang mata ku saja"

"Kau keliru besar"

Lan Thian-bong menghela napas panjang.

"aku turun tangan terhadapmu bukan lantaran lupa budi atau lupa kebaikan orang, tapi ingin menegakkan keadilan dan kebenaran dengan mengorbankan orang terdekat"

"Kau pun anak buah Oh Lip?"

Tak tahan Liong Ngo bertanya. Lan Thian-bong manggut manggut, kepada Liu Tiang-kay serunya."Apakah kau pun tidak menyangka?"

Liu Tiang-kay memang sama sekali tak menyangka.

"Tapi aku sudah tahu asal usulmu sejak awal"

Sambung Lan Thian-bong lagi.

"Sejak awal kau sudah tahu?"

Liu Tiang-kay menegaskan.

"Sebelum kedatanganmu, Oh Lip sudah berpesan untuk baik baik menjagamu"

"Kau memang menjaga ku kelewat baik"

Liu Tiang-kay tertawa getir. Lan Thian-bong menghela napas panjang, ujarnya.

"Tempo hari, aku memang kelewat keras menghajarmu, tapi aku sendiripun terpaksa harus berbuat begitu, sebab aku tak boleh membiarkan dia menaruh curiga, aku yakin kau pasti bisa memahami kesulitanku bukan?"

"Tentu saja aku mengerti"

"Aku tahu, kau pasti tak akan salahkan aku"

Kata Lan Thian-bong lagi sambil tertawa.

"Aku tak pernah salahkan kau"

Sambil tersenyum dia ulurkan tangannya dan berkata lebih lanjut.

"Kita semua berasal dari satu keluarga, apalagi sama sama demi urusan dinas, sekalipun gebukanmu lebih keras lagi juga tak menjadi soal, kita masih tetap bersahabat"

"Hahaha.... bagus, bagus sekali, aku suka berteman dengan manusia macam kau"

Sahut Lan Thian-bong sambil tertawa tergelak.

Sambil tertawa dia ulurkan tangannya juga untuk berjabatan tangan dengan Liu Tiang-kay, tapi suara tertawanya tiba tiba berhenti setengah jalan, paras mukanya mengejang keras, dia sudah mendengar suara tulang belulang yang sedang remuk.

Hanya didalam waktu singkat, Liu Tiang-kay telah mematahkan pergelangan tangannya dan meninju persis diatas batang hidungnya.

Semuanya ini dapat berlangsung dengan lancar bukan saja karena dia sama sekali tak waspada, hal ini juga disebabkan gerak serangan yang digunakan Liu Tiang-kay kelewat cepat dan kelewat hebat.

Begitu batang hidungnya tertonjok telak, kakek tua bagai singa jantan ini segera roboh terjengkang ke atas tanah.

Liu Tiang-kay tidak berhenti sampai disitu saja, kembali kepalan tinju nya menghantam dada serta sepasang bahunya secara bertubi tubi, dengan senyum dikulum katanya.

"Kau menghajarku, aku tak salahkan kau, sekarang aku menghajar dirimu, seharusnya kau pun tak menyalahkan aku bukan? Sekalipun hajaranku kali ini jauh lebih berat daripada pukulanmu tempo hari, aku tahu, kau pun pasti tak masuk kan ke dalam hati"

Lan Thian-bong sudah tak mampu buka suara lagi.

Dia mesti menggertak gigi kuat kuat agar tak sampai menjerit kesakitan, ketika dia menghajar Liu Tiang-kay tempo hari, anak muda itupun tak pernah berteriak kesakitan apalagi minta ampun.

Sepasang mata Liong Ngo meski masih terpejam rapat, sekulum senyuman telah menghiasi ujung bibirnya.

Dia bukan saja sahabat karib Lan Thian-bong, juga terhitung tuan penolong Lan Thian-bong, tapi kenyataannya, Lan Thian-bong telah menghianatinya.

Orang yang lupa budi, membalas air susu dengan air tuba, sudah sepantasnya memperoleh hukuman yang setimpal.

Sekarang Lan Thian-bong telah mendapatkan hukumannya yang setimpal.

Setiap kepalan tinju Liu Tiang-kay yang menghajar tubuh Lan Thian-bong, seolah olah merupakan kepalan tinju dari Liong Ngo.

Yang terdengar dalam ruangan itu hanya dengusan napas yang tersengkal sengkal.

Ketika Liu Tiang-kay menghentikan hajarannya, Lan Thianbong sudah bukan merupakan singa jantan lagi, dia sudah dihajar macam seekor anjing gelandangan.

"Orang yang berhutang kepadaku, kini sudah kutagih lunas"

Ujar Liu Tiang-kay kemudian sambil mengelus tinju nya, sinar aneh memancar dari balik matanya.

"sekarang giliran aku membayar hutang"

"Kau berhutang kepada siapa?"

Tiba tiba Liong Ngo bertanya.

"Tak mungkin manusia bisa hidup seorang diri di dunia ini, selama manusia masih hidup, dia pasti pernah menerima budi kebaikan orang lain"

"Oya?"

"Begitu juga dengan dirimu, kau pun butuh makan, butuh orang lain menanamkan padi untukmu, ketika kau lahir, orang lain juga yang membantu menerima badanmu, bila tak ada budi kebaikan orang lain, tak mungkin kau bisa hidup hingga hari ini, bahkan mungkin hanya hidup saru hari pun tak sanggup"

"Oleh karena itu setiap orang pasti pernah berhutang?"

Sambung Liong Ngo. Liu Tiang-kay manggut manggut.

"Kau mampu membayar semua hutang itu?"

"Tentu saja sulit untuk membayar lunas semua hutang tersebut, tapi, asal kau bisa melakukan beberapa perbuatan baik bagi orang lain sepanjang kau masih hidup di dunia ini, kau sudah dianggap telah membayar hutang hutang itu"

Liong Ngo tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin. Tiba tiba Liu Tiang-kay bertanyar "Tahukah kau, sudah berapa lama Oh Lip ingin bertemu dengan dirimu?"

"Aku pun bukan satu dua hari ini pingin bertemu dengannya"

Tukas Liong Ngo sambil tertawa dingin.

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, tiba tiba ujarnya."Kalian berdua memang sama sama merupakan orang yang paling susah dijumpai, memang bukan pekerjaan yang gampang untuk mempertemukan kalian berdua"

Kembali dia menghela napas panjang.

Dalam hati kecilnya, memang terdapat banyak masalah yang membuatnya masgul dan murung.

Sekali lagi Liong Ngo pejamkan matanya sambil menghela napas panjang, katanya.

"Sejak awal sudah kuperhitungkan, cepat atau lambat akhirnya kami pasti akan bertemu juga, tapi aku tidak mengira kami akan berjumpa dalam situasi seperti ini"

"Memang banyak kejadian yang sama sekali tak terduga di dunia ini"

Sela Liu Tiang-kay. Kemudian sambil menarik bangun Liong Ngo, katanya lebih jauh.

"Tentunya kau pun tak mengira bukan akan terjadi peristiwa seperti saat ini? Yaa, sebab kau memang bukan Naga sakti yang sebenarnya, kau sendiri pun tak lebih hanya seorang manusia biasa" -ooo0d0w0ooo-Bab VII. Tangan kosong menangkap naga. Oh Lip tentu saja seorang manusia. Tapi, dia pun termasuk seorang manusia luar biasa, dalam sejarah hidupnya, dia memang sudah banyak sekali melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa. Ketika awal kemunculannya dalam dunia persilatan, banyak orang memanggilnya si "Rase". Tapi, selain memiliki kecerdikan dan kelicikan bagaikan seekor rase, dia pun memiliki kesabaran seekor unta, keuletan seekor kerbau, kegesitan seekor burung elang, kelincahan burung merpati dan ketajaman mata golok. Sayang sekali, kini dia sudah tua. Ketajaman matanya sudah sangat mundur, otot tubuhnya sudah mengendor, reaksinya semakin lamban, bahkan mengidap sakit rhematik yang amat parah, sudah banyak tahun dia berbaring sakit, kemampuannya untuk berdiri pun sudah amat berkurang. Untungnya, hingga kini dia masih tetap dihormati dan disanjung orang banyak. Gedung utama yang kuno dan antik, lebar lagi tinggi, meski sudah ketinggalan jaman namun masih mengandung hawa seram dan suasana angker yang sulit dilukiskan dengan kata. Meja kursi pun sudah ketinggalan jaman, warna catnya sudah memudar, ketika ada angin berhembus masuk, rontokan debu dan kotoran ikut berguguran dari atas wuwungan rumah, mengotori tubuh para tetamu. Saat ini masih ada angin yang berhembus. Liu Tiang-kay bantu membersihkan noda kotoran dari tubuh Liong Ngo. Terdengar Liong Ngo bergumam."Tempat ini kotor sekali, sudah waktunya untuk bersih bersih"

"Aku tak perduli"

Sahut Liu Tiang-kay sambil tertawa.

"ada sementara orang memang sudah ditakdirkan untuk hidup dan bergelindingan diantara pasir dan debu"

"Kau termasuk manusia jenis ini?"

Liu Tiang-kay manggut-manggut.

"Tapi kau berbeda, Oh loya juga berbeda"

Katanya.

"Kenapa kau selalu menggunakan aku sebagai perbandingan?"

Tegur Liong Ngo dengan nada ketus.

"Karena kalian berdua memang berasal dari satu aliran, satu jenis, sejak dilahirkan sudah berada jauh diatas sana"

Liong Ngo tidak bicara lagi, ia tutup mulutnya rapat rapat.

Suasana di dalam ruang gedung kembali pulih dalam keheningan, yang terdengar hanya suara angin yang bertiup diatas kertas jendela, suaranya mirip daun kering yang rontok ke lantai.

Saat ini musim gugur telah berakhir, sudah tiba saatnya musin hujan salju.

"Loya-cu ada?"

"Ada"

Yang membukakan pintu juga seorang kakek.

"tunggulah sejenak di ruang utama, aku segera memberi laporan"

Kakek itu rambutnya telah beruban, wajahnya penuh bekas luka bacokan, hal ini menunjukkan dulu dia pastilah salah satu rekan Oh Lip ketika masih malang melintang dalam sungai telaga.

Tak heran cara bicaranya sangat kasar dan tak sungkan, tapi Liu Tiang-kay memaklumi, dia pun menunggu di ruang utama, menunggu lama sekali.

Ke mana perginya Oh Gwat-ji?

Semestinya gadis itu tahu kalau Liu Tiang-kay telah datang, mengapa ia masih belum menampakkan diri?

Liu Tiang-kay tidak bertanya, juga tak dijumpai orang yang bisa ditanya.

Dia sudah dua kali berkunjung ke situ, tapi selama kunjungannya yang dua kali, dia hanya bertemu dengan tiga orang..............

Oh Lip, Oh Gwat-ji dan kakek si pembuka pintu itu.

Tapi jika kau anggap tempat ini bisa dikunjungi dan ditinggalkan seenak sendiri, dugaanmu itu keliru besar, bahkan keliru setengah mati.

Arti "setengah mati"

Adalah benar-benar bisa membuat kau kehilangan nyawa.

Sudah puluhan tahun lamanya Oh lo-yacu malang melintang di sungai telaga, tak sedikit jumlah jagoan dan orang gagah golongan hitam yang pecundang ditangannya.

Musuh besar yang menginginkan nyawa nya juga tak sedikit jumlahnya, diantara mereka, banyak sekali yang pernah datang ke situ dan mencoba mencari balas.

Sayangnya, orang yang pernah datang ke situ tak seorang pun diantara mereka yang berhasil keluar dalam keadaan hidup.

Rembulan lambat laun semakin tenggelam di ufuk barat, suasana di dalam ruang utama pun semakin gelap.

Oh Lo-yacu belum juga menampakkan diri.

Liong Ngo tak bisa menahan diri lagi, jengeknya sembari tertawa dingin.

"Hmm, tampaknya orang itu pandai sekali jual lagak"

"Orang yang pandai berlagak memang bukan hanya kau seorang"

Sambung Liu Tiang-kay hambar. Setelah tertawa, kembali terusnya.

"Apalagi bila aku jadi kau, aku pasti tak ingin terburu buru bertemu dengan nya"

"Dia juga tak terburu buru ingin bertemu denganku?"

"Dia memang tak perlu terhuni napsu"

"Karena aku sudah menjadi ikan dalam perangkap?"

"Tapi dalam pandangannya, kau masih tetap bagaikan seekor naga beracun"

"Oya?"

"Dia adalah seorang yang teliti dan sangat berhati-hati, sebelum segalanya menjadi jelas, mustahil dia akan muncul disini untuk bertemu dengan naga beracun macam kau"

"Kenapa?"

"Dia harus yakin dulu apakah si naga beracun betul-betul sudah berubah jadi seekor ikan dalam jaring, selain im, dia pun harus tahu apakah ikan dalam jaring ini masih bermanfaat baginya atau tidak"

"Dia harus bertanya pada siapa?"

"Siapa yang paling memahami kau, siapa yang paling jelas tentang masalah ini?"

"Lan Thian-bong maksudmu?"

Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya tersenyum.

"Dia juga kemari?"

Kembali Liong Ngo bertanya.

"Aku rasa dia baru saja tiba di sini"

Pada saat itulah terdengar seseorang dengan suara yang parau tua berkata seraya tertawa."Maaf sekali, kalian harus menunggu agak lama" --Dalam ruang utama yang panjang lagi lebar, terdapat pintu yang ditutup dengan kain tebal, ruangan im terbagi menjadi lima bagian.

Liu Tiang-kay berada diluar pintu lapis pertama, sementara suara itu muncul dari pintu lapisan terakhir.

Seorang kakek kurus kering yang berwajah layu dan kusut, dengan mengenakan mantel yang terbuat dari bulu rase, duduk di sebuah bangku besar yang beroda dan bisa didorong.

Orang yang mendorong bangku itu adalah pelayan tua yang membukakan pintu tadi didampingi Lan Thian-bong.

Hampir pada saat yang bersamaan, tiba tiba terdengar suara "kraakk!"

Yang amat nyaring, dari atas empat buah pintu itu berbareng muncul empat buah terali besi yang sangat besar dan kuat, yang memisahkan antara Oh lo-yacu dengan Liu Tiang-kay.

Terali besi itu besarnya selengan bayi, begitu besar, kasar dan kuat, walaupun ada beribu ribu prajurit sekalipun rasanya sulit untuk menjebol terali besi itu dalam waktu singkat.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak heran atau tercengang, dia sudah pernah mengalami hal semacam ini ketika datang untuk pertama kalinya, yang merasa diluar dugaan justru Liong Ngo.

Sekarang dia baru percaya, Oh Lip memang seorang yang sangat berhati hati dan teliti, kehati-hatiannya jauh diatas siapa pun di dunia ini.

Dalam pada itu Liu Tiang-kay telah bangkit berdiri, sambil tersenyum membungkukkan badan memberi hormat.

"Lo-yacu, baik baikkah anda?"

Sepasang mata Oh Lip bertambah sipit ketika tertawa, sahutnya."Aku sangat baik, kaupun baik, semua orang baik baik"

Kemudian sambil berpaling ke arah Liong Ngo, tambahnya."Hukum langit memang sukar ditembus, aku tahu, cepat atau lambat dia bakal mengalami nasib seperti ini"

Kemudian sambil tersenyum ke arah Liu Tiang-kay, ujarnya lagi."Aku pun tidak salah menilai kau, aku tahu, kau tak akan membuat aku kecewa"

Liu Tiang-kay tertawa, kepada Lan Thian-bong katanya."Sudah kau laporkan semua kejadian kepada loyacu?"

Sambil meraba bekas luka di wajahnya, Lan Thian-bong tertawa getir."Seandainya kau turun tangan lebih berat sedikit saja, mungkin tenaga untuk bicara pun sudah tak kumiliki"

Oh Lip tertawa keras.

"Hahahah...... sekarang kalian berdua sudah seri, lebih baik masing-masing jangan mengingatnya lagi di dalam hati"

Kemudian sambil mengidapkan tangannya memberi tanda, dia berpaling dan perintahnya."Singkirkan semua barang barang itu"

Yang dimaksud "semua barang"

Tak lain adalah ke empat pintu berterali besi itu.

Sementara kakek bercodet itu masih sangsi, dengan kening berkerut Oh Lip telah berkata Iagi."Lebih baik kau ingat baikbaik, mulai saat ini Liu toaya sudah menjadi saudara sendiri, diantara saudara tidak seharusnya dihalangi oleh benda apa pun"

Tiba tiba Liong Ngo tertawa dingin, ejeknya."Sepasang saudara yang sangat tepat, seekor budak anjing plus seekor rase tua'"

Oh Lip sama sekali tak berubah muka, dia masih berkata sambil tersenyum.'"Lebih baik kau pun ingat baik baik, selama persaudaraan kami masih hidup, hanya manusia macam kalian yang bakal mampus satu per satu"

Pintu terali besi telah dibuka. Tiba tiba Oh Lip berkata Iagi."Serahkan barang itu kepada Liu toaya, lalu seret kemari naga beracun itu, aku ingin lihat manusia macam apakah dia"

Kakek bercodet itu segera berjalan mendekat sambil membawa sebuah buntalan kain, isi buntalan itu tak lebih hanya satu stel pakaian berwarna biru.

Pakaian itu tak lain adalah pakaian yang dikenakan Oh Gwat-ji ketika bermain cinta dengan Liu Tiang-kay malam itu, dari atas pakaian lamat lamat masih terendus bau harum tubuhnya.

"Pakaian itu sengaja ditinggalkan olehnya sebelum pergi dari sini, dia minta benda itu diserahkan kepadamu"

Oh Lip menerangkan.

"Dia...... dia pergi ke mana?"

Liu Tiang-kay merasa hatinya seolah-olah tenggelam.

Sekilas perasaan sedih dan duka yang mendalam menghiasi wajah Oh Lip yang layu, sahutnya."Sebuah tempat yang bakal didatangi setiap orang, sebuah tempat yang bisa didatangi tapi tak akan ditinggalkan untuk selamanya"

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya dengan suara pedih.

"Rembulan ada kalanya redup dan tak bersinar, manusia pun kadang gembira kadang sedih, kadang berkumpul kadang harus berpisah, kau masih muda, kau harus bisa memandang lebih terbuka soal ini"

Liu Tiang-kay merasakan sekujur tubuhnya jadi kaku, mengejang keras.

Apakah Oh Gwat-ji benar-benar telah mati?

Setiap saat, setiap kesempatan, dia selalu berpesan kepadanya agar berusaha mempertahankan hidup, mengapa dia sendiri malah mati?

Mengapa dia mati secara mendadak, mengapa mati secepat itu?

Liu Tiang-kay tidak percaya, dia tak pernah mau percaya.

Tapi kenyataan memaksa dia mau tak mau harus percaya.

Oh Lip kembali menghela napas, dia kelihatan lebih tua, lebih layu, terusnya."Sejak kecil dia sudah mengidap satu penyakit ganas yang belum ada obatnya, dia sadar, setiap waktu setiap saat dia bisa berangkat ke langit barat, maka selama ini dia rahasiakan urusan tersebut, mengapa dia enggan kawin denganmu?

Tak lain karena dia kuatir kau teramat sedih"

Liu Tiang-kay tidak bergerak, tidak buka suara.

Dia bukan seorang pemuda yang kelewat emosional, tak mungkin baginya untuk menangis tersedu-sedu atau tertawa terbahak bahak, kini dia hanya berdiri termangu, seolah-olah telah berubah jadi manusia batu.

Sementara itu Lan Thian-bong menghela napas panjang, tiba tiba ujarnya."Belum pernah aku bujuk orang untuk minum arak, tapi sekarang................"

Sambil membawa poci arak dia berjalan mendekat, kemudian terusnya.

"sekarang kau memang butuh dua cawan arak"

Arak itu masih hangat.

Jelas dia memang sengaja mempersiapkannya untuk Liu Tiang-kay.

Bila perasaan hati seseorang sedang hancur berantakan, selain minum arak, hiburan apa lagi yang bisa mententeramkan perasaannya?

Namun, setelah minum arak, apa pula yang bisa diperbuat?

Ketika air kata kata mengalir ke dalam usus yang murung, bukankah akan berubah juga menjadi air mata kerinduan?

Bagaimana pula bila tak diminum?

Bisa minum arak sepuas puasnya, paling tidak bisa membuat diri jadi mabuk, jadi hilang kesadarannya, dan keadaan pasti jauh lebih enakan.

Akhirnya Liu Tiang-kay terima juga poci arak itu, sahurnya sambil tertawa paksa."Mari, kau temani aku minum secawan!"

"Aku tidak minum"

Tampik Lan Thian-bong. Suara tertawanya kedengaran agak dipaksakan juga, lanjutnya."Darah yang keluar dari mulutku belum mengering, aku tak boleh minum biar hanya setetespun"

"Tidak mau pun tetap harus minum"

Paksa Liu Tiang-kay lagi sambil tertawa. Lan Thian-bong tertegun.

"Tidak maupun tetap harus minum", perkataan apa im? Diluar dugaan, ternyata Liu Tiang-kay masih ada tindakan berikut yang sama sekali diluar dugaannya. Sambil mengangkat poci arak itu, dia langsung menuang isinya ke dalam mulut Lan Thian-bong. Berubah hebat paras muka singa jantan ini. Begitu juga dengan kakek bercodet itu, paras mukanya nampak berubah sangat hebat. Hanya Oh Lip yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan, tiba tiba dia ayunkan tangannya, tiga buah titik cahaya tajam secepat petir menyambar ke tubuh Liong Ngo. Jalan darah ditubuh Liong Ngo sudah tertotok, tadi dia diseret masuk oleh kakek bercodet itu macam seekor bangkai ikan yang tak berkutik. Tapi, ketika tiga titik cahaya tajam itu mengancam ke tubuhnya, tiba tiba dia melejit ke tengah udara dengan kecepatan tinggi. Lompatan itu sangat cepat dan hebat, tak ubahnya bagaikan seekor naga sakti yang sedang bermain di angkasa. Oh Lip yang dingin bagai bunga salju, tenang bagai batu karang itu mau tak mau ikut berubah hebat paras mukanya.

"Triing!"

Bunga api memancar ke empat penjuru, senjata rahasia yang dia lancarkan semuanya menancap di atas ubin lantai yang terbuat dari batu hijau.

Menyusul kemudian, kembali terdengar suara dentingan nyaring.

"Triing!", Lan Thian-bong telah melepaskan sebuah pukulan tinju ke depan, bukan wajah Liu Tiang-kay yang terhajar, tahu tahu dia hancurkan poci arak itu. Tak ampun isi poci arak itu segera menyembur ke empat penjuru, membasahi wajahnya, membasahi pula sepasang matanya. Bagaikan terkena senjata rahasia yang paling menakutkan, tiba tiba dia menjerit kesakitan, sambil meraung bagai binatang yang terluka dia tutupi sepasang matanya dengan dua belah tangannya lalu berlarian keluar dari ruangan itu. Apakah arak dalam poci itu adalah arak beracun? Semua tugas yang diberikan Oh Lip telah diselesaikan Liu Tiang-kay dengan sempurna, mengapa Oh Lip justru perintahkan orang untuk meracuninya hingga mati? Liong Ngo yang jelas sudah ditangkap Liu Tiang-kay dan sama sekali tak mampu berkutik, mengapa secara tiba tiba bisa melejit ke udara, bahkan gerakan tubuhnya jauh lebih hebat dari seekor naga sakti? -oo0d-0-w0oo-Tak ada angin. Awan kelabu yang kelam dan gelap di luar jendela menggumpal dan sama sekali tak bergerak, sekilas pandang, bentuknya persis seperti sebuah lukisan tinta yang kusam. Raung kesakitan yang memilukan hati juga telah berhenti. Baru saja Lan Thian-bong menerjang keluar dari ruangan, dia sudah roboh diatas batuan, kakek yang berperawakan tinggi besar lagi tegap itu dalam waktu sekejap telah roboh tak berkutik di lantai. Memandang hingga tubuhnya roboh tak bergerak Liu Tiang-kay baru memalingkan kepalanya, sementara tubuh Liong Ngo baru saja melayang turun ke bawah. Oh Lip masih belum berkutik, dia masih duduk di kursi dorongnya tanpa bergerak, paras mukanya telah pulih kembali dalam ketenangan, terdengar ia bergumam lirih.

"Tujuh langkah, dia hanya mampu lari tujuh langkah"

"Arak beracun yang sangat lihay!"

Liu Tiang-kay menghela napas pula.

"Arak beracun itu hasil racikanku sendiri"

Oh Lip menerangkan.

"Khusus diracik untuk disuguhkan kepadaku?"

Oh Lip manggut manggut."Oleh karena itu kau seharusnya menyesal"

"Menyesal?"

"Arak itu lumayan rasanya"

Bisik Oh Lip perlahan, dari balik matanya tiba tiba terpancar keluar perasaan sayang yang amat besar.

"Lan Thian-bong belum berhak untuk minum arak semacam itu"

"Oya?"

"Selama ini dia memang tak pernah jadi orang baik, dia tak pantas menerima kematian semacam ini"

"Tapi mati tetap mati........"

"Mati pun ada banyak macamnya"

Tukas Oh Lip.

"Kematiannya termasuk yang mana?"

"Kematian yang amat menyenangkan"

"Apakah lantaran dia mati dalam waktu singkat?"

Oh Lip manggut manggut.

"Semakin cepat maut datang menjemput, semakin berkurang penderitaan yang harus dirasakan, hanya orang baik yang pantas dan berhak menerima kematian semacam ini"

Dia dongakkan kepalanya menatap wajah Liu Tiang-kay, tiba tiba sekulum senyuman yang aneh tersungging diujung bibirnya, pelan pelan dia melanjutkan."Selama ini aku selalu menganggap kau adalah orang baik, itulah sebabnya secara khusus aku racikkan arak beracun itu untukmu"

"Wah, kalau begitu tampaknya aku harus mengucapkan banyak terima kasih kepadamu"

Kata Liu Tiang-kay sambil tertawa.

"Yaa, kau memang seharusnya berterima kasih kepadaku"

"Tapi sayang kau telah melupakan sesuatu"

"Melupakan apa?"

"Agaknya kau lupa bertanya dulu kepadaku, apakah aku ingin cepat cepat mati atau tidak?"

"Ketika ingin membunuh seseorang, aku ,tak pernah bertanya dulu apakah dia pingin mati, aku hanya perhatikan patutkah dia mati"

"Ehmmm, sangat masuk diakal"

Puji Liu Tiang-kay sambil menghela napas panjang.

"Maka dari itu, semestinya kau sudah mampus sekarang"

"Aku belum mampus, atau mungkin lantaran aku bukan orang baik?"

"Yaa, tampaknya memang begitu"

Oh Lip ikut tertawa.

"jika aku orang baik, tak bakal aku bisa menduga kalau kau ingin membunuhku"

"Aku memang ingin bertanya kepadamu, darimana kau bisa menduga sampai ke situ?"

"Sejak awal aku sudah menduga sampai ke situ"

"Oya?"

"Sejak awal aku sudah curiga, perampok ulung yang sesungguhnya bukan Liong Ngo melainkan kau"

"Oya?"

"Sebab semua kasus pencurian dan perampokan terjadi setelah kau mengundurkan diri, Liong Ngo tak perlu takut kepadamu, jika dia ingin melakukan tindak kriminal, dia tak perlu melakukannya setelah menunggu kau mengundurkan diri dari jabatan"

"Kelihatannya alasan ini masih belum cukup"

"Setiap kasus dilakukan sangat bersih tanpa meninggalkan sedikit jejak pun, hanya seorang ahli yang bisa melakukan pekerjaan sebersih ini"

"Liong Ngo bukan seseorang yang sangat ahli?"

"Tidak, dia bukan"

"Atas dasar apa kau berkesimpulan begitu?"

"Karena aku sendiripun seorang ahli, aku bisa melihatnya"

"Kau yakin tidak keliru?"

"Tidak mungkin keliru, itulah sebabnya aku pergi mencari bukti"

"Maka kau pergi mencari Liong Ngo?"

Sela Oh Lip. Liu Tiang-kay manggut manggut.

"Aku berbuat begitu tentu saja agar kau menaruh kepercayaan kepadaku, agar kewaspadaanmu terhadapku semakin mengendor, kalau tidak, mana mungkin aku bisa mendekatimu?"

Setelah tertawa hambar, kembali terusnya.

"Bila aku tidak menangkap Liong Ngo dan membawanya menghadapmu, bagaimana mungkin kau bisa perintahkan orang untuk menarik kembali semua terali besi penyekat itu?"

Oh Lip menghela napas panjang.

"Dahulu, tampaknya aku telah salah menilaimu, kau memang tidak termasuk seorang manusia baik baik"

"Tapi aku tak pernah salah menilai dirimu"

Oh Lip kembali tertawa, namun sorot matanya sudah tidak memancarkan niat untuk tertawa.

"Manusia macam apa aku ini?"

Tanyanya.

"kau sungguh dapat melihatnya dengan pasti?"

"Dengan kecerdikan dan ketelitianmu, semestinya tak gampang untuk menangkap manusia macam kau, sayangnya ambisimu kelewat besar"

Oh Lip hanya mendengarkan, dia tidak memberi komentar.

Liu Tiang-kay berkata lebih lanjut."Ketika awal melakukan tindak kriminal, mungkin kau ingin cepat cuci tangan dan sudahi kebiasaan tersebut, tapi sayang, sejak dimulai kau sudah tak mampu mengendalikan diri, kau tak sanggup perintahkan sendiri untuk berhenti, karena kau memang selamanya tak kenal arti kepuasan"

Oh Lip menatap tajam wajahnya, dua butir kelopak matanya seakan akan telah berubah jadi dua butiran salju yang membeku.

Liu Tiang-kay melanjutkan."Oleh karena itu tindak kriminal yang kau lakukan makin hari semakin besar, makin lama semakin banyak, kau sendiripun sadar, gejala macam begini sangat membahayakan posisimu, sekalipun kau sudah mengundurkan diri, telah hidup terpencil mengasingkan diri, tapi cepat atau lambat semua kasus ini pasti akan merembet ke kepala sendiri"

Tampaknya dia merasa sedikit terenyuh, terusnya."Bila seseorang pernah makan sesuap nasi dari uang negara, selama hidup jangan harap kau bisa lolos dari urusan negara"

"Itulah sebabnya aku harus mencari seseorang sebagai kambing hitam untuk memikul semua dosa itu, dengan begitu aku baru bisa cuci tangan dari semua tanggung jawab itu"

Sambung Oh Lip.

"Yaa, karena kaupun tahu, hidupmu baru aman sentosa jika semua kasus ini sudah terbongkar dan terkuak"

"Kelihatannya kau memang seorang yang sangat ahli"

Ejek Oh Lip sambil tersenyum.

"Tapi ada satu hal yang tidak kupahami, kenapa kau harus pilih Liong Ngo sebagai kambing hitammu?"

"Kau tidak mengerti?"

"Bukankah lebih gampang mencari orang lain sebagai kambing hitam ketimbang mencari Liong Ngo?"

Oh Lip memandang Liong Ngo sekejap, sementara itu Liong Ngo sudah duduk, dia memilih sebuah bangku yang paling enak dan paling nyaman untuk duduk.

Paras mukanya masih tenang dan tenteram, seakan akan kasus tersebut sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya.

Kembali Oh Lip menghela napas, katanya."Aku memang tidak seharusnya pilih dia, kelihatannya orang ini tidak gampang untuk dihadapi"

"Tapi kau harus pilih dia"

Sela Liu Tiang-kay.

"Kenapa?"

"Karena dalam kasus ini kau tak bisa ambil keputusan sendiri"

"Oya?"

"Kau masih punya seorang rekan, dan rekanmu sangat berkeinginan untuk menghabisi nyawa Liong Ngo"

"Sejak kapan kau berpendapat begitu?"

"Setelah mengunjungi Nyonya Rindu, aku baru berpendapat demikian"

"Maksudmu rekanku itu adalah Ciu Heng-po?"

Liu Tiang-kay manggut-manggut.

"Tidak seharusnya dia tahu kalau aku hendak mencarinya, tapi dia seperti sudah membuat persiapan sejak awal, bahkan sudah menanti kedatanganku"

"Kau curiga aku yang beritahu kepadanya?"

"Tentu saja, karena orang yang tahu rencana ini selain aku hanya Liong Ngo, Chin Liat-hoa dan Oh Gwat-ji"

"Ehmm, tentu saja kau tak akan beritahu kepadanya"

Kata Oh Lip.

"Liong Ngo dan Chin Liat-hoa juga tak mungkin"

Oh Lip tidak menjawab, tapi dia harus mengakui.

"Oleh sebab itu setelah kupikir bolak balik, Ciu Heng-po bisa tahu rahasia ini karena hanya ada satu penjelasan.......karena dia memang satu komplotan dengan kalian"

Setelah tertawa lebar, terusnya."Apalagi meski kau tak pandai berhitung, tapi enam tambah satu mestinya tujuh orang, hitung hitungan semacam ini mestinya tak akan menyulitkan aku bukan?"

Oh Lip berkerut kening, tampaknya dia tak mengerti maksud perkataan itu.

Liu Tiang-kay segera menjelaskan."Aku sudah tahu, di luar gua rahasia milik Ciu Heng-po ada tujuh orang jagoan yang berjaga disitu, tapi Oh Gwat-ji hanya beritahu nama enam orang, sewaktu dalam rumah makan di bukit Say-soat-san, orang yang kujumpai pun hanya enam orang"

"Yang kau jumpai tentunya Tong Kim, Tam It-hui, si Pengait sukma Tio tua, Tiat hwesio, si anjing gila Li serta si wadam?"

"Betul"

Liu Tiang-kay mengangguk.

"karena itulah aku selalu keheranan, ke mana perginya yang seorang lagi?"

"Sekarang kau sudah mengerti?"

"Setelah kupikir berulang kali, rasanya hanya ada satu penjelasan"

"Apa penjelasanmu?"

"Dia tak pernah mengungkap nama orang ke tujuh karena aku kenal dengan orang itu"

"Siapakah orang itu?"

"Kalau bukan Ong Lam, tentunya Oh Gwat-ji sendiri"

Ong Lam adalah orang yang berperan sebagai suami Oh Gwat-ji sewaktu di rumah pertanian, yaitu si petani yang kemaruk harta tapi takut mati itu.

"Tentu saja aku tahu Ong Lam bukan orang desa sungguhan, aku pun tahu dia bukan opas sungguhan"

"Kau mengetahui asal usulnya?"

"Justru karena tidak tahu maka aku baru curiga"

Kembali Oh Lip menghela napas panjang.

"Jalan pikiranmu sungguh cermat dan teliti, jauh lebih cermat ketimbang aku"

Pujinya.

"Jadi kau pun ada yang tidak dipahami?"

"Banyak sekali"

"Kalau begitu tanyakan"

"Kau tidak sungguhan menguasahi Liong Ngo?"

"Kau sendiri pernah berkata, dia bukan seorang manusia yang gampang dihadapi"

"Dia juga tidak sungguhan membunuh Chin Liat-hoa?"

"Chin Liat-hoa adalah sahabat karibnya dan satu satunya sahabat yang paling setia kepadanya, tak akan ada yang tega membunuh seorang sahabat macam dia"

"Berarti kalian sengaja berakting untuk memainkan sandiwara ini agar ditonton Lan Thian-bong?"

"Sejak awal sudah kuduga, disisi Liong Ngo pasti ada mata mata yang sengaja kau selundupkan ke situ"

"Maka kau sengaja membiarkan Lan Thian-bong pulang duluan agar melaporkan kejadian tersebut kepadaku?"

Baca Juga: Neraka Hitam 6

Baca Juga: Pedang Tetesan Air Mata 4

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger