Ceritasilat Novel Online

Hadiah Membawa Bencana 8

Eps 8 Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Baca online Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Cersil Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung.

Ia kemudian merasakan bahwa seluruh badannya sangat segar dan sehat sekali.

Se bun Pa melihat Li Cong Bun sudah mendusin, lalu berkata.

"Li hiantit, sekarang coba kau ambil sebutir batu dan tekan dengan kedua jarimu. Bagaimana kesudahannya nanti kau bisa lihat sendiri."

Li Cong Bun ragu-ragu sebab sebuah batu besar cara bagaimana bisa ditekan hancur oleh dua jarinya.

Ia benar-benar tidak ungkulan.

Tepi ketika Se bun Pa mendesaknya, ia ia lalu bengambil sebuah batu untuk mencobanya.

Keanehan segera terjadi yang membikin Li Cong Bun jadi melongo.

Sebab batu yang ditekan dengan dua jarinya itu benar-benar telah hancur remuk yang mungkin tidak dipercaya oleh orang yang tidak menyaksikannya sendiri kejadian yang aneh itu.

Se bun Pa kegirangan ia lalu mendekat memeluk dirinya Li Cong Bun dengan penuh kecintaan berkata.

"Li hiantit, sebutir pil Hoan kut leng tan ditambah dengan pengetahuan dari Pek hap Cin keng serta dengan tiga macam ilmu siluman yang ajaib itu dibantu oleh Pedang Penakluk Iblis, cukup akan mambasmi kawanan penjahat di puncak Tay san nanti. Oh, sungguh menggirangkan."

Li Cong Bun mendengar kata-katanya Se bun Pa, bahna girangnya telah jatuhkan diri berlutut di depan Se bun Pa, air matanya bercucuran.

"Se bun pepe, semua ini ada atas 801 mantuan pepe, aku tidak tahu dengan apa aku membalas pepe punya budi."

Sambil mengangkat bangun anak muda itu. Se bun Pa berkata.

"Li hiantit, kau keliru berkata demikian. Bantuanku yang tidak seberapa belum cukup untuk menebus dosaku terhadap ayahmu almarhum. Sekarang dirimu sudah berubah, tulang-tulang dan urat-uratmu yang terpenting sudah dapat dipersatukan berbareng kalau kau mengerahkan tenaga dalammu. Dengan tenagamu yang luar biasa dan kepandaianmu yang tinggi, kau boleh menghadapi penjahat-penjahat Siang Su Su, Cong Jie Giok dan Thian lam Siang koay dengan tenang!"

Li Cong Bun sangat girang.

Bagaimana pun juga ia merasa berhutang budi kepada Se bun Pa yang dulunya merupakan Iblis Beracun dan musuh besarnya.

Sebab jika tidak saban-saban turun tangan membantu sudah lama ia tidak ada dalam dunia fana ini.

Lenih-lebih bantuannya orang tua itu yang sudah membawa dirinya ke goa tempatnya Thian Yu Cuncia dan Thian Ciok Cinjin untuk mencari buku Pek hap Cin keng yang semata-mata guna dirinya memahirkan ilmunya bukan untuk kepentingannya Se bun Pa, ia merasa budi rang tua itu ada sangat besar.

Li Cong Bun kemudian menggunakan ilmunya "

Memusatkan Pikiran‟, dalam satu hari saja kotak itu ditaruh di dadanya sudh berubah warnanya menjadi putih susu.

Setelah ia 802 barengi dengan ilmu "Tenaga Sakti‟ nya, kotak itu menjadi lembek.

Dua hari kemudian ia menggores dengan pedang pusakanya betul saja kotak itu telah dapat dibuka dan isinya adalah kitab Pek hap Cin keng.

Bukan main girangnya Li Cong Bun dan Se bun Pa.

Dengan kitab pusaka itu ditangannya, Li Cong Bin dan Se bun Pa telah berlutut lagi didepannya dua Locianpwe, menghaturkan terima kasihnya.

Selanjutnya mereka berdua telah melatih diri dalam goa itu.

Goa itu terpencil dan tertutup letaknya juga tak ada seorangpun yang akan mengetahuinya maka Li Cong Bun dan Se bun Pa dapat meyakinkan ilmu Pek hap Cin keng dengan tenang tanpa ada gangguan apa-apa.

Sebagai makanan delama melewatkan hari-harinya.

Li Cong Bun yang keluar goa untuk menangkap binatang kelinci dan lain-lainnya yang dapat dimakan.

Keadaan disitu sangat sepi dan tenang.

Sehari-hari mereka lewatkan sang waktu dengan tekun meyakinkan apa yang diajarkan dalam kitab Pek hap Cin keng.

Waktu sudah tidak lama lagi pertemuan di puncak gunung Tay san maka Li Cong Bun harus cepat-cepat dapat menguasai semua pelajaran dalam kitab Pek hap Cin keng tersebut.

803 **GS** Kita tinggalkan dulu Li Cong Bun dan Se bun Pa yang sedang meyakinkan Pek han Cin Keng.

Marilah kita ikuti perjalanan Bo yong Kang, Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio yang sudah lama kita tinggalkan.

Bo yong Kang dan dua temannya dengan rahasia ada tinggal disekitar gunung Tay san.

Mereka bertiga dicari-cari oleh Hwe Kong dan Cong Jie Giok untuk membalas kematiannya Song Sam Ceng akan tetapi mereka tidak diketemukan.

Dalam tempat rahasianya mereka dengan tekun berlatih mempertinggi ilmu silatnya.

Kadang-kadang secara bergiliran mereka mencari keterangan tentang gerak-gerik dari Cong Jie Giok dan Hwe Kong.

Disamping itu juga mereka menanti kedatangannya Li Cong Bun dan Se bun Pa.

Pada suatu hari, ketika Bo yong Kang mendapat giliran mencari keterangan prihal keadaan musuh, ternyata ditunggu sampai hari menjelang malam belum juga kelihatan pulang.

Hal mana telah ,membuat kawan-kawannya menjadi sangat cemas, terutama Gan Su Nio merasa sangat gelisah karena kekasihnya melim pulang.

Menurut perjanjian mereka, siapa yang keluar pagi-pagi harus diwaktu menjelang 804 malam harus sudah pulang.

Ia lalu bertanya pada Teng Goan hweshio.

"Suheng, bagaimana dengan Bo yong Ko? Apakah dia mendapatkan halangan?"

"Aku sendiri belum dapat memastikannya, lihat saja sampai sebentar malam, kalau Bo yong sute belum juga pulang, kita boleh keluar mencarinya."

Gan Su Nio tidak enak diam memikirkan kekasihnya tidak pulang.

Hatinya menduga Bo yong Kang tentu telah mendapat halangan dalam tugasnya hari itu.

kalau tidak kemana ia sudah pergi?.

Pada malam harinya Teng Goan Hweshio menyaru sebagai orang yang berjenggot sedangkan Gan Su Nio dengan menggunakan obatnya Se bun Pa ia telah berubah mukanya seperti orang yang sudah berumur lima puluh tahun.

Ia terus pergi untuk mencari Bo yong Kang.

Ketika mereka sampai di bawh gunung, kebetulan telah mendapat lihat ada dua orag lelaki yang sedang mengaso dibawahnya pohon.

Didekatnya ada barang-barang makanan yang rupanya hendak diangkut ke atas gunung.

Mereka tengah bercakap-cakap.

Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio menyelinap ke belakang pohon dan mendengarkan apa yang sedang mereka percakapkan.

805 Terdengar satu diantaranya berkata.

"Kemarin pagi ada penjahat yang mengintai ditempat kita. Kalau bukannya Lo thian ong yang menangkapnya tentu penjahat itu bisa lolos lagi."

"Oh ya malam ini kabarnya Kauwcu dari Tho tiok Im yang kouw pulang,"

Yang satunya menjawab.

"Kalau begini pihak kita ada banyak kawan yang berilmu silat mahir. Pihak lawan meskipun banyak, percuma saja hanya menghantarkan jiwanya saja."

Teng Goan Hweshio melompat keluar dari belakang pohon hingga kedua orang itu menjadi amat kaget.

Sebelum mereka bisa bergerak sudah kena ditotok roboh oleh Teng Goan Hweshio, sementara Gan Su Nio telah menodongkan pedangnya kearah tenggorokannya orang itu sehingga dua penjahat itu menjadi sangat ketakutan.

"Hei, Siapakah yang ditangkap di atas gunung? Umur dan rupanya bagaimana? Ayo lekas katakan kalau tidak mau jiwa kalian binasa diujung pedang!"

Kata si nona. Kedua orang itu bergemetaran, satu diantaranya memberanikan diri menjawab.

"Kami berdua diperintah untuk membeli daging, sayuran dan arak untuk menyambut kedatangan Tho tiok Im yang Kauwcu. Kami tidak melihat orang yang ditangkap. Tapi hanya mendengar ada seorang nona yang hendak 806 membalas sakit hati karena pembesetan kulit."

Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio saling pandang, mereka pikir dua orang itu tentu adalah Hwe Siok Tang dan Hwe Giok Soan dan mereka ini memang sudah tertangkap oleh Hwe Kong.

Maka Teng Goan Hweshio lalu bertanya lagi.

"Ya, yang pulang itu Leng Hong Tiok atau Pit Tho Hoa? Apakah dua-duanya pulang?"

"Aku mendengar kabar pada saat it Kauwcu datang pada jam satu malam. Hwe Lo thiancu akan menyambutnya dengan permainan membeset kulit orang untuk pertunjukan ceri berpesta pora untuknya!"

Jawab penjahat tadi.

Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio sangat kaget mendengar jawaban itu, maka Teng Goan Hweshio terus menotok jalan darah orang itu dibagian "hun hiat‟ kemudian berkata pada Gan Su Nio.

"Sumoy, mau tidak mau harus kita mengubah muka menyaru dua orang ini dan pinjam pakaiannya supaya kita bisa naik gunung tanpa mendapat rintangan. Kita harus menolong ayah anak yang akan dibeset kulitnya pada jam satu sebentar malam."

Gan Su Nio anggukkan kepalanya.

Si nona menyingkir sebentar, sementara Teng Goan membuka pakaian dua penjahat itu.

obat pengubah paras muka kebetulan dibawa oleh Gan Su Nio.

Keduanya saling lupa.

Kemudian dengan membawa barang-barang bawaannya dua 807 penjahat yang sudah tidak bergerak disitu, lalu mereka naik gunung.

Sesampainya di sarang penjahat ada yang menyambut dan membawa barang-barang bawaannya diteruskan ke dapur untuk diolah.

Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio lihat di sebuah lapangan yang lebar tampak ada seorang tua yang badannya diikat pada selembar papan.

Dia itu adalah Hwe Siok Tang.

Sedangkan Hwe Giok Soan juga kelihatan diikat pada selembar papan yang diberdirikan.

Ia seperti dalam keadaan pingsan.

Disitu ada berdiri Cong Jie Giok yang sedang mengatur pesta untuk sebentar malam.

Disekelilingnya dijaga dengan kuat.

Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio sudah siap-siap turun tangan untuk menolong kawannya.

Tiba-tiba ada penjaga pintu yang melaporkan tentang pulangnya Pit Kauwcu membawa satu teman dan mereka kini masih berada di bawah puncak gunung.

Suasana disitu kelihatan girang.

Hwe Kong dan Cong Jie Giok keluar berdiri menyambut di pintu.

Dekat lapangan itu ada rumah kecil kemana Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio telah menyembunyikan diri siap sedia dengan sejnatanya untuk menghadapi kemungkinan.

Tidak lama kemudian ada dua tandu digotong oleh delapan orang masuk didahului oleh delapan obor api.

808 Sebuah tandu membawa Pit Tho Hoa yang berumur kira-kira lima puluh tahun, tandu yang lainnya membawa seorang laki-laki bermuka hitam.

Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio seperti pernah bertemu dengan orang ini tapi tidak ingat dimana.

Ketika tandu-tandu itu sampai, Hwe Kong dan Cong Jie Giok menyambut dengan muka berseri-seri Hwe Kong menanya.

"Pit Kauwcu sekali ini pergi sangat lama. Eh, bagaimana dengan Leng kauwcu, sebab apa belum pulang? Dan sahabat ini siapa namanya?"

Pit Tho Hoa dan laki-laki bermuka hitam itu terus turun dari tandu. Pit kauwcu menjawab.

"Ya, kami karena menyelesaikan urusan perguruan kami di propinsi Kui cu untuk semuanya dipindah kesini, maka ada sedikit terlambat pulangnya. Tentang Leng kauwcu mungkin setengah bulan lagi ia baru kembali. Aku perkenalkan, ini adalah sahabat Song Hwe. Aku sengaja mengajak kemari untuk meriahkan pesta kita."

Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio merasa sangat sebal melihat tingkah lakunya Cong Jie Giok yang sangat genit.

Gan Su Nio lebih-lebih tidak mengerti.

Kenapa Cong Jie Giok ini yang umurnya sudah hampir tujuh puluh tahun tapi kelihatannya seperti yang baru berumur tiga puluh tahun saja?

Tapi 809 Teng Goan hweshio sekali melihat mukanya lantas dapat mengetahui kalau siluman itu awet muda karena banyak mengorbankan jiwanya gadis-gadis yang disedot manik perawannya secara sadis dan kejam.

Song Hwe ini sebenarnya adalah Bo yong Kang yang menyamar.

Ia datang ke sarang penjahat itu perlunya hendak menolong Hwe Siok Tang dan puterinya.

Maka ketika kedua Iblis memberi hormat kepadanya ia menyambut sekadrnya saja, kemudian terus mengambil tempat duduk.

Gan Su Nio yang memperhatikan orang bermuka hitam lantas mengenali bahwa ia adalah Bo yong Kang, maka ia berbisik pada Teng Goan Hweshio.

"Suheng, orang itu bukankan Bo yong ko? Dia begitu dekat dengan kawanan iblis, bagaimana kalau dia dikenali? Apakah tidak berbahaya?"

Eng Goan hweshio tertawa.

"Mereka meskipun sudah melihat romannya Bo yong sute tapi rasanya mereka tidak akan mengenali. Seperti barusan telah terjadi dengan kita orang tak bisa lantas mengenali. Sekarang kita diam saja bersunyi bunyi, kalau sebentar mereka kita baru turun tangan."

Song Hwe melihat mereka sepertinya tidak senang karena sikapnya yang sombong lalu ia mengambil cawan araknya dan berkata.

"Ya, diluaran memang sudah tersiar bahwa ayah dan anak she Hwe itu sudah ditangkap 810 disini. Malam ini akan dibeset kulitnya untuk memeriahkan pesta ini. Bukankah mereka itu yang sekarang ada diikat di papan? Lebih baik kita sekarang saja turun tangan, bagaimana Hwe toako pikir?"

"Ha ha ha … "

Hwe Kong tertawa abergelak-gelak.

"Hwe Pek It telah mengingkari sumpah Si leng cee dan Auw yang Ti telah berbuat dosa besar, maka sepantasnya mereka dihukum beset kulitnya. Apa mau dikata, pada saat kematiannya Song Sam Ceng mendadak Hwe Siok Tang dan Hwe Giok Soan puterinya datang membuat onar. Kami tidak kasih hati dan menangkapnya. Hukuman beset atas diri mereka akan dilakukan dalam pesta penyambutan pada Pit Kaowcu.. ha ha suatu pesta modern akan terjadi. Disampingnya kita berpesta pora minum-minum dengan penuh kegembiraan kita akan menyaksikan hukuman beset kulit…."

Ia berhenti sejenak bicaranya.

"Ayah dan anak itu sudah aku totok jalan darahnya yang penting."

Melanjutkan Hwe Kong.

"Nah sekarang harap Song ko membuka totokannya supaya mereka mengetahui akan kematiannya. Bukankan ini ada lebih menggembirakan?"

Song Hwe alias Bo yong Kang datang kesitu ada bermaksud menolong ayah dan anak itu, kini ia diberi kesempatan untuk membuka totokan orang menjadi sangat girang, karena ini ada tepat sekali sama dengan niatnya.

"Terima kasih…."

Jawab Song Hwe, kemudian ia mengambil dua butir kacang dan menyentilkannya kearah dua orang tawanan yang berdiri terikat pada papan beberapa tombak daripadanya.

Tapi sungguh aneh sekali dua butir kacang itu tidak mengenai sasarannya dan pada menyimpang ke kanan dan ke kiri dari sasarannya.

Hal mana bukan saja mengherankan Song Hwe sebab ia belum pernah meleset dengan sentilannya.

Juga Hwe Kong yang melihatnya menjadi sangat heran.

Mereka dalam keheran-heranannya justru ada berkelebat keluar dari balik orang tahanan seorang nikow yang dikenal oleh Cong Jie Giok sebagai Biauw Hoat Sin ni.

Dengan tenang nikow lihay dari Lam hay itu jalan menghampiri kepada Hwe Kong.

Sambil menuding dengan tangannya ia berkata.

"Siluman tua Hwe Kong, kau benar-benar ada sangat ganas. Kau telah menotok jalan darah dua orang itu di bagian Ngo im Ciok hiat, kalau tidak dibuka dengan totokan Pan jik Tau ci atau Coan goan Sin kang, badannya kena tersentuh kertas saja, isi perutnya akan pecah dan menyemburkan darah dari mulutnya dan si korban akan mati."

Cong Jie Giok mmau membuka mulutnya akan tetapi dikedipi oleh Hwe Kong hingga ia urung bicara.

"Hmm….! ini belum mengapa,"

Meneruskan Biauw Hoat Sin ni.

"Yang paling kejam dan 812 licik, kau mau membunuh orang dengan meminjam tangannya orang lain. Sendiri tidak berani turun tangan. Ini adalah perbuatan yang pengecut dan kejam, buas melebihi dari binatang yang paling buas sekalipun!"

Hwe Kong hanya menyengir kuda dikata-katai oleh Biauw Hoat Sin ni.

Ia dengan Cong Jie Giok tidak berani bergerak sembarangan karena tahu bahwa Biauw Hoat Sin ni adalah lawn berat.

Malah siapa tahu dibelakangnya ad kawn-kawannya seperti Ceng Leng Cinjin dan Bu Ju Toato yang lihai.

Bo yong Kang melengak mendengar kata-katanya Biauw Hoat Sin ni tadi.

Ia berdiri bengong dan diam-diam merasa sangat bersyukur dengan munculnya nikow dari Lam hay itu sebab kalau tidak, niscaya totokannya dengan menyentilkan dua butir biji kacang akan membuat melayang jiwanya Hwe Siok Tang dan Hwe Giok Soan sebaliknya daripada ia membuka totokan orang.

Kalau sampai terjadi demikian, bagaimana ia dapat menemui para Locianpwe di pihaknya?

Kalau mengingat ini Bo yong Kang menjadi bergidik.

Pit Tho Hoa pada tiga puluh tahun berselang telah dikejar-kejar oleh Biauw Hoat Sin ni sampai tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Saat itu Biauw Hoat Sin ni dalam pakaian abu-abu ada berdiri dihadapannya.

Hatinya bukan main jerihnya.

813 Meskipun sekarang kepandaiannya bertambah, malah ada kepandaian dalam hal racun, tapi karena suaminya Leng Hong Tiok tidak ad disampingnya, ia masih merasa kuatir menghadapi nikow kosen dari Lam hay itu.

Ia coba menyingkirkkan diri, akan tetapi terlambat, sebab dirinya sudah terlihat olehBiauw Hoat Sin ni, yang mana telah berkata padanya.

"Pit Tho Hoa, Hmm….! Kau dengan Leng Hong Tiok di gunung Cit lian san puncak Bu hong telah terkena senjataku To wa Kim leng. Aku kira sudah pulang ke neraka, tak tahunya masih hidup dan melakukan banyak kejahatan. Tiga puluh tahun melakukan kejahatan. Kelihatannya kau masih belum puas juga. Dosamu sudah bertumpuk seperti gunung. Kini Leng Hong Tok belum pulang, tapi jangan kuatir. Aku tak akan membunuh kau orang. Dia akan menyusul belakangan. Dosamu sudah terlalu besr, maka hukuman mati tidak dapat tidak dijalankan atas dirimu. Hei, Bo yong Kang, dimana lekas kasi hajaran padanya!"

Bo yong Kang yang berada dibelakangnya Pit Tho Hoa mendengar seruannya Biauw Hoat Sin ni tidak berayal lagi.

Segera ia mengirim serangannya yang dahsyat sehingga perempuan yang jahat itu terpental sejauh delapan kaki.

Dari mulutnya menyemburkan darah segar dan jatuh pingsan.

814 Hwe kong dan Cong Jie Giok menjadi kemekmek melihat kejadian itu, sebab mereka tidak menyangka sekali kalau orang yang bermuka hitam yang barusan datang bersama-sama dengan Pit Tho Hoa dan diperkenalkan kepada mereka bernama Song Hwe oleh Pit Tho Hoa bukan lain dari Bo yong Kang adanya.

Coba mereka tahu sejak siang-siang, tentu mereka sudah berjaga-jaga akan bencana yang menimpa pada dirinya Pit Tho Hoa.

Bahwa mereka ada menaruh curiga kepada Song Hwe apakah ia ini lawan atau kawan, tapi untuk menduga Song Hwe adalah Bo yong Kang yang menyaru, sungguh ada diluar kecurigaannya.

Melihat dua siluman itu berdiri terkesima melihat perbuatannya, Bo yong Kang menggunakan kesempatan ini untuk melompat dan berdiri disampingnya Biauw Hoat Sin ni.

Ketika tersadar dari kesimanya Cong Jie Giok sangat marah.

Justru ia melihat Bo yong Kang enjot tubuhnya menghampiri Biauw Hoat Sin ni dalam marahnya ia mengejar.

Tiba-tiba Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio sudah pada keluar dari rumah kecil dan menimpukkan senjata rahasianya masing-masing kepada iblis muka putih itu.

Cong Jie Giok selama mengejar ada memperhatikan gerakannya Biauw Hoat Sin ni.

Ia kuatir dari pihak nikow tua ini ada dilontarkan senjara tahasia.

Tidak dinyana 815 malah senjata rahasia ada dilontarkan oleh lain pihak, sedangkan Biauw Hoat Sin ni masih tetap berdiri dengan tenang dan sikapnya dingin.

Cong Jie Giok kebali senjatanya nona Gan ialah Hok mu Kim hoat yang ia sudah pernah rasakan tempo hari maka tidak berani menyambuti.

Ia hanya menghindarkan diri.

Namun hujan paku yang menjadi senjata rahasia Teng Goan Hweshio menghujani dirinya demikian rupa sehingga ia sangat repot dibuatnya.

Menghadapi serangan pada dirinya, maka ia terpaksa mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa yaitu Cit im ie hoat (tenaga tujuh jari).

Jari tangan kanannya sekali menunjuk sudah dapat membubarkan paku-pakunya Teng Goan Hweshio satu persatu telah jatuh di tabah, ia girang sekali dapat memunahkan dua macam senjata rahasia musuh yang ampuh maka ia telah tertawa bergelak-gelak.

Justru ia sedang enak bergelak-gelak tertawa, sebuah lingkaran senjata Gan Su Nio dan dua batang paku besar dari Teng Goan Hweshio telah datang menyerangnya.

Senjata rahasia Gan Su Nio yang ini dibarengi dengan tenaga dalam yang dahsyat telah mengenai tepat siku kirinya Cong Jie Giok sedangkan paku Teng Goan Hweshio menancap di siku kanannya.

816 Ia jadi sangat marah.

Sebelum ia dapat melancarkan serangannya, lengannya yang kanan kena dilanggar pula oleh senjatanya Gan Su Nio hingga ia merasakan kesemutan karena senjata itu membentur jalan darahnya yang penting.

Ia merasakan lengan kanannya sebelah kanan menjadi lumpuh.

Tidak dapat diangkat untuk menyerang kedua musuhnya.

Melihat Cong Jie Giok sudah tidak berdaya, Gan Su Nio dan Teng Goan Hweshio sudah lantas hendak memberikan pertolongan kepada Hwe Siok Tang dan puterinya, akan tetapi tiba-tiba ia dibikin merandek karena mendengar teriakannya Biauw Hoat Sin ni.

"Hai kalian berdua, jangan menyentuh tubuhnya.

Baik kalian menjaga saja disekitarnya, supaya mereka jangan kena diserbu anak buahnya kawanan penjahat.

Lainnya urusan, kalian jangan pedulikan.

Dimana adanya Hwe Kong.

Kenapa tidak memberikan bantuannya kepad Cong jie Giok yang sudah tidak berdaya dan dua orang tawanannya dikuasai musuhnya.

Jilid 22 817 KIRANYA HWE KONG sudah kena obat bius yang diberikan oleh Bo yong Kang ialah pengasih Pit Tho Hoa.

Seluruh badannya dirasakan amat lemas, tidak bertenaga untuk memberikan bantuannya kepada kawannya.

Ia hanya tinggal menonton saja.

semua kejadian terutama pertempuran Cong Jie Giok yang dikerubuti dua lawannya.

Tapi dia adalah seorang kenamaan, seorang jago yang tak gampang untuk dibikin tidak berdaya maka ia sudah mengerahkan tenaga dalamnya begitu rupa untuk mengusir racun yang melemaskan badannya.

Ia mengerti ia sendirian melayani banyak musuhnya tak mungkin ia dapat kemenangan apalagi ia dalam keadaan lemas demikian.

Akan tetapi ia masih mengharap dapat menukar satu jiwa dengan satu jiwa.

Berpikir kesitu maka dengan perlahan-lahan menghampiri Biauw Hoat Sin ni yang berada tidak jauh dengan orang tawanannya yang dijaga kokoh kuat oleh Bo yong Kang, Gan Su Nio dan Teng Goan Hweshio.

"Lam hay Lo ni,"

Kata Hwe Kong sambil menyengir.

"Percuma saja kedtanganmu sebab tidak akan dapat kembali turun gunung karena akan muncul Leng Kauwcu dari Tho tiok Im yang kouw yang dengan bendera saktinya akan membikin kau jatuh pingsan tidak ingat orang.. ha ha ha…" 818 Biauw Hoat Sin ni melengak mendengar kata-katanya Hwe Kong. Ia ingat akan bekas kekasihnya itu dahulu yang kini menjadi musuh. Ia akan datang, oh bagaimana kalau sebentar ia bertemu dengan Leng Hong Tio? Tapi ia menanti tidak kelihatan muncul. Hatinya terkejut sebab ia telah kena dikibuli oleh Hwe Kong. Justru ia tengah berdiri bengong Hwe Kong telah menggunakan itu untuk enjot tubuhnya menubruk kepada dua orang tawanannya yang diikat di pohon. Melihat Hwe Kong menerjang pada benteng penjagaannya, Teng Goan Hweshio sudah meneriaki kedua kawannya supaya masing-masing menggunakan tenaga dalamnya untuk menahan serangannya si Iblis jahat. Ia sendiri telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan serangan Pek kut Im ciang dari Hwe Kong. Benar-benar hebat serangannya si iblis sebab buktinya Teng Goan Hweshio sampai tujuh delapan kaki jauhnya. Untung dia sudah siap sedia dahulu hingga tidak menderita luka apa-apa. hwe Kong melihat serangannya berhasil menjatuhkan musuhnya, ia tertawa gelak-gelak dengan sombongnya.

"Iblis tua, kau jangan banyak lagak!"

Teriak Biauw Hoat Sin ni, yang telah menerjang dari belakangnya Hwe Kong, tapi si iblis tua tidak jadi gentar.

Ia balik 819 badannya dengan gesit dan melayani serangan-derangannya Biauw Hoat Sin ni yang hebat.

Demikian dengan kedua jago itu telah mengukur tenaganya dengan ramai sekali.

Sedang sengitnya mereka bertarung tiba-tiba terdengar suara orang berkata menyindir.

"Lam hay Lo ni jangan kau banyak tingkah. Kami setelah tiga tahun menyekap diri, meskipun tidak sempurna memperdalam ilmu kami orang. Ha ha ha…."

Biauw Hoat Sin ni lantas mengenali orang yang berkata-kata lagi tadi sebab ia bukan lain daripada Hwe Ciang adanya.

Hwe Kong merasa girang engkonya datang, sebab dengan berdua mengerubuti nikow kosen itu pikirnya pasti menang.

Namun selagi dua iblis itu hendak turun tangan mengeroyok, tiba-tiba terdengar suara orang menyebut O mi to hud dan Bu liang Sin hud masing-masing diucapkan oleh Bu Ju Toato dan Ceng Leng Cinjin.

Ketika dua orang yang datang belakangan ini sudah menghadapi Thian lam Siang koay, Ceng Leng Cinjin dengan tersenyum berkata.

"Ya, dengan Hwe toako aku sudah ketemu di Ya ji dan, sekarang aku ketemu dengan Hwe jiko setelah tiga puluh tahun berselang kita tidak bersua. Sepantasnya kalau aku sekarang mengucapkan selamat bertemu!"

"Hmm….!"

Hwe Kong keluarkan suara hidung.

Ia tidak berkata apa-apa atas pemberian selamat dari Ceng Leng Cinjin.

Cong Jie Giok yang terluka sikunya telah berkata, Janji pertandingan di puncaknya Tay san kini belum sampai waktunya, maka baik Tri Tunggal pulang dan untuk bersiap-siap nanti tahun depan bulan satu tanggal satu kita boleh bertemu lagi!"

Hwe Kong dan Hwe Ciang tidak puas kelihatannya. Apalagi melihat Hwe Ciok tang dan Hwe Giok Soan sudah dibawa pergi oleh Bo yong Kang dan kawan-kawannya. Melihat ini Cong Jie Giok menghibur.

"Biarkan mereka pulang. Masih ada waktu nanti kita menuntut balas untuk kekalahan hari ini…"

"Ya, kata-katamu memang betul,"

Memotong Bu Ju Toato.

"Kami sekarang kembali dahulu, masing-masing harus rela hati untuk menunggu sampai waktunya janji kita tahun depan bulan satu tanggal satu. Mari kita pulang!"

Ia mengajak kawan-kawannya.

Tengah mereka berjalan melihat Hwe Kong matanya bringas dan berputaran seolah-olah yang mengandung maksud jahat, maka Tri Tunggal mengerahkan tenaga saktinya, dengan berbareng dipakai menyerang Hwe Kong, hingga ia ini yang tidak menduga sama sekali akan 821 mendapat serangan demikian telah terpental sejauh satu tombak.

Hwe Ciang yang menjadi engko menjadi kemekmek melihat adiknya dikerjai mentah-mentah oleh Tri Tunggal akan tetapi apa mau dikata.

Ia harus menelan hinaan itu oleh karena tidak ungkulan mengukur tenaga waktu itu.

Hwe Ciang berpikirnan panjang, ia melihat Cong Jie Giok sudah tidak berdaya, sedang adiknya juga tidak dalam keadaan normal, kelihatannya lemas tidak segagah sebagaimana biasanya.

Inilah tidak hern karena Hwe Kong telah dikerjai Bo yong Kang dengan obat biusnya Pit Tho Hoa.

Dengan demikian BU Ju Toato dan kawan-kawannya boleh berlenggang tanpa mendapat halangan dalam perjalanan pulangnya.

Si nenek Siang Su Su sebenarnya bisa sembuh dari penyakit lumpuhnya kalau ia berlaku nekat dengan pengobatan yang dialaminya.

Justru ia merasa tidak tahan maka sakitnya tidak bisa sembuh.

Kiranya obat mustajab untuk menyembuhkan sakit lumpuhnya itu adalah dengan jalan memberikan dirinya dihisap oleh laba-laba emas besar.

Sebab binatang itu adalah yang menghisap keluar racun dingin yang ada dalam tubuhnya.

822 Ia merasa tidak tahan dengan jalan pengobatan itu.

Malah ia telah membunuh laba-laba emas yang telah menghisap dirinya kemudian ia memusatkan racun dingin di salah satu kakinya dan kaki ini kemudian dipotong bingga ia menjadi cacar dengan satu kaki.

Maka dengan kaki tunggal tahun depan Siang Su Su akan menghadapi lawannya di gunung Tay san.

Apakah ilmunya yang dapat menjatuhkan Tri Tunggal?

Itulah masih dalam pertanyaan.

Sementara itu Biauw hoat Sin ni telah sampai di tempat dimana mereka ia menginap telah memeriksa keadaan Hwe Siok Tang dan Hwe Giok Soan.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kekejamannya Hwe Kong hingga setedik saja tidak keburu tertolong Hwe Siok Tang dan Hwe Giok Soan melayang jiwanya oleh dua butir kacang yang disentilkan oleh Bo yong Kang.

Setelah ia menghela nafas ia lalu berkata.

"Betul-betul ganas totokan Ngo im Ciok Hiat dari Hwe Kong.

Kalian lihat bagaimana mengenaskan diderita oleh korbannya.

Untuk menolong melancarkan jalan darahnya mereka paling sedikit akan memakan waktu paling tidak empat lima hari baru dapat sembuh.

Sekarang aku akan menolong Giok Soan sedangkan Bu Ju harus menolong Siok Tang.

Sedangkan Ceng Leng dan lain-lainnya harus 823 melakukan penjagaan jangan sampai ada musuh yang mengganggu kami yang sedang bekerja memberi pertolongan.

Ceng Leng Cinjin setuju dengan tindakan yang diambil kawannya.

Sambil tersenyum bergurau ia berkata pada Biauw Hoat Sin ni.

"Lam hay Lo ni, kau jangan kuatir. Aku si tosu tua akan membuat penjagaan kuat sehinggak pekerjaanmu tidak terganggu. Kau boleh tenang-tenang saja menolong Giok Soan."

Biauw Hoat Sin ni pelototkan matanya sambil tersenyum.

Itulah bersenda gurau di kalangan orang tua.

Ketika sudah berkumpul dengan Bo yong Kang dan lain-lainnya, Ceng Leng Cinjin telah menceritakan apa yang dialami oleh "Tri Tunggal‟ dan "

Dua Hud‟ sari kuil "Naga Emas‟ di Ya ji-san, hingga mereka sudah tahu apa yang terjadi disana.

Merundingkan tentang tahun depan punya pertandingan tidak lupa mereka menyinggung-nyinggung halnya Se bun Pa dan Li Cong Bun yang sampai sat ini masih belum kembali.

Mereka mengharap sekali kedatangannya dua orang itu yaitu tahun depan benar-benar mereka muncul di puncak Tay san untuk menyelesaikan pertemuan mati hidup.

"Hei, Bo yong Ko, bagaimana kisahmu yang membikin aku dengan suheng kuatir kau mendapat halangan apa-apa?"

Demikian tiba-824 tiba Gan Su Nio nyeletuk, sementara air mukanya yang botoh bersemu merah. Bo yong Kang tertawa pada kekasihnya.

"Oh, ya perlu aku menuturkan hal itu."

"Dan bagaimana kau bisa menyaru sebagai orang bermuka hitam menyelinap masuk ke dalam sarangnya kawanan iblis. Cona kau ceritakan yang jelas!"

Kata si nona pula.

Bo yong Kang ketika mau menceritakan kisahnya terlebih dabulu tertawa geli, rupanya ada apa-apa yang lucu yang ia telah alami.

Kiranya Bo yong Kang hari itu ada melakukan tugasnya menyerap-nyerapi kabar belum juga dapat apa-apa ketika sang malam sudah dekat tiba.

Ia sudah menjadi kesal, pikirannya sudah mau pulang.

Namun ketika ia sedang menuju ke salah satu rumah minuman, dari jauh ia melihat ada dua orang tinggi besar bertindak masuk ke dalam rumah minuman tesebut.

Dilihat dari sikap dua orang laki-laki itu tentu mereka adalah anak buahnya Hwe Kong.

Dua-duanya ada membawa senjata golok dipinggangnya.

Pikirannya, kebetulan.

Siapa tahu ia dapat kabar apa-apa tentang keadaan di gunung Tay san dari mereka.

Maka ia cepatkan jalan dan masuk juga ke rumah minuman tadi.

825 Ia mengambiltempat tidak jauh dari orang tadi.

Ia memesan arak sekadarnya sebab yang perlu adalah ia hendak mendengar apa-apa dari mulutnya kedua orang itu.

Benar saja dugaannya tidak keliru.

Mereka itu adalah orangnya kawanan penjahat.

Mereka bicara kasak-kusuk.

Meskipun demikian kupingnya Bo yong Kang yang sudah terlatih baik, dapat mendengar dengan jelas apa yang dibisikkan oleh merekan.

Kiranya di atas puncak gunung sudah ada ditangkap dua orang, satu laki-laki tua bersama anak perempuannya yang cantik jelita.

Mereka sementar malan jika Pit Kauwcu sudah pulang akan dipakai bulan-bulanan dalam pesta kehormatan ialah mukanya akan dibeset untuk emlampiaskan dendam hati karena SongSam Ceng yang telah tewas oleh obat ragun kewawanya Se bun Pa.

Bo yong Kang mendengar itu menjadi sangat kaget.

Ia menduga bahwa dua orang yang ditangkap itu tentu adalah Hwe Siok Tang dan puterinya Hwe Giok Soan.

Ini sangat penting, perlu mereka diberikan pertolongan sebab kalau tidak, mereka akan menderita oleh siksaannya kawanan penjahat yang kejam.

Pikirnya ia hendak pulang berunding dengan Gan Su Nio dan Teng Goan Hweshio.

826 Akan tetapi mendadak ia mendengar salah satu diantara dua orang itu berkata.

"Hei, kau enakenakan minum di sini, bukankah sekarang sudah waktunya untuk menyambut Pit Kauwcu yang akan melalui jalanan yang disebut oleh atasan kita?"

Temannya seperti kaget mendengar teguran itu.

Sehingga ia buru-buru menegak minumannya, kemudian memanggil pelayan untuk membayar minuman yang telah dipesannya.

Kemudian ia bangkit dengan terburu-buru.

"mari kita berangkat!"

Ia mengajak kawannya. Bo yong Kang tidak mau melepaskan orang dua ini, maka ia terus menguntitnya. Setelah jalan kira-kira lima li pada suatu jalanan yang sepi mereka berdiri menanti dipinggir jalan.

"Kebetulan, nah kau kulihat Pit Kauwcu sudah akan lewat disini.."

Bo yong Kang melihat ke jurusan yang ditunjuk.

Benar saja ada dua joli yang digotong mendatangi.

Pikirnya, siapa Kauwcu itu, apakah kepandaiannya tinggi?.

Ia lantas mengambil keputusan untuk berkenalan dengan Pit Kauwcu.

Menggunakan waktu dan joli sudah dekat sampai, ia telah mengirim serangan hebat pad dua orang tadi hingga mereka menjerit sekali 827 kemudian roboh dengan tidak bangun lagi.

Mereka telah binasa tanpa mengetahui siapa penyerangnnya dan sebab apa mereka telah dibinasakan.

Yang memikul joli melihat kejadian itu, maka satu diantaranya berteriak.

"Hei, siapa yang bernyali begitu besar melakukan pembunuhan didepannya kauwcu yang dengan lewat?"

Bo yong Kang menghampiri, ia dapat kenyataan dari dua joli itu hanya satu yang berisi.

Rupanya penghuni joli satunya telah pindah ke dalam joli lainnya.

Dalam joli yang terisi tadi telah nongol dua kepala.

Mereka ternyata adalah seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun lebih tetapi masih tampak cantik wajahnya, sedangkan yang seorang lagi adalah seorang pemuda kira-kira berumur tiga puluh tahun dan berwajah tampan.

"Numpang tanya, siapa siantara kalian yang dipanggil Pit Kauwcu?"

Tanya Bo yong Kang ketika si genit dan si pemuda datang menghampiri.

"Akulah orangnya yang kau maksudkan…."

Jawab Pit Tho Hoa dengan suara merdu. Bo yong Kang dengan laku hormat sekali telah menjura kepada Pit Kauwcu mohon maaf atas perbuatannya yang tidak sengaja barusan telah membinasakan dua orang itu.

"Pit Tho Hoa tidak marah, malah ia tersenyum genit.

"Urusan kecil, tapi siapa sebenarnya kau ini?"

Si genit menanya.

"Aku yang rendah she Song bernama Hwe, jawab Bo yong Kang merendah.

Hatinya wanita iblis itu dag dig dug melihat ketampanan Bo yong Kang, hingga pemuda yang ganteng didekatnya tidak dihiraukan agaknya.

Melihat saingan berat lantas ia unjuk kesombongannya.

"Hei, kau orang apa berani-beraninya masuk kedalam daerah terlarang ini? lekas berlalu dari sini. Kalau tidak mau tuanmu nanti akan mengusir kau seperti anjing!"

Bo yong Kang panas hatinya mendengar bicaranya So Jauw yang demikian sombong. Ia sudah ingin menghajarnya. Akan tetapi karena ia ingin urusannya berjalan lancar maka ia sabarkan hatinya.

"Aku tidak tahu kalau ada tuan besarnya disini. Harap tuan besar suka memaafkan."

Jawab Bo yong Kang menyindir. So Jauw sudah mau membuka mulut lagi tetapi Pit Tho Hoa menanya.

"Saudara Song, kau sebenarnya mencari aku ada urusan apa?"

"Oa, hanya urusan kecil saja.

Namanya Kauwcu dari Tho tiok Im yang kauw ada sangat 829 termasyur, maka aku mencarinya, maka aku mau menghambakan diri kalau diterima.

Pit Tho Hoa tersenyum girang, ia melirik pada So jauw dan mendelik matanya siapa mendadak sudah gemas kepada perempuan ini yang barusan menjadi pujaannya dan dirinya pergi datang dalam joli hingga Pit Tho Hoan yang suka nyeleweng mudah saja meladeni anak muda itu yang memang cakap.

"Baik sekali kalau kau ada itu pikiran,"

Sahut Pit Tho Hoa tertawa manis. Bo yong Kang mengucapkan terima kasih.

"Aku sedang naik gunung, maka tidak baik kalau kalian dua orang ikut bersama sebab dilarang keras orang yang baru dikenal masuk kesana. Bagaimana baiknya?"

Ia menutup kata-katanya sambil melirik Bo yong Kang dan memainkan matanya. So Jauw yang melihatnya sudah habis kesabarannya, kemudian ia berteriak.

"Hanya seorang yang dapat pergi kesana. Maka keputusannya salah satu dari kita berdua harus binasa. Mari.. mari kita mengukur tenaga, siapa yang lebih kuat dan ada itu kehormatan untuk ikut Pit Kauwcu naik gunung."

So Jauw menantang Bo yong Kang dengan tidak ragu-ragu lagi ia tidak memandang sebelah mata kepada jago dari Liok tong itu.

830 ia tidak tahu siapa orang yang ditantang itu.

kalau ia tahu bahwa yang ditantang itu adalah si Pelajar Hati Besi tentu ia akan pikir-pikir dahulu sebelum mengucapkan tantangannya yang sangat sombong.

"Bagus, itulah ada satu pemecahan yang sangat baik,"

Kata Pit Tho Hoa mendahului Bo yong Kang menjawab.

"Biar aku perkenalkan dahulu. Dia ini bernama So Jauw bergelar si Walet Terbang. Namanya menggetarkan propinsi Han lam karena ilmu pukulannya yang dinamai "

Pukulan Pencabut Roh‟ yang hebat! Kau hati-hati kalau bertarung dengan dia…!"

Kembali matanya Pit Tho Hoa yang galak mengerling kepada Bo yong Kang.

So Jauw sudah gusar betul-betul.

Ia kertak gigi.

Ia benci pad perempuan siluman itu tetapi lebih benci lagi kepada Bo yong Kang.

Sebab kalau tidak ada gara-gara si Pelajar Hati Besi, ia dengan tenteram dapat mengikuti Pit Tho Hoa naik ke gunung.

Bo yong Kang mendengar keterangannya Pit Tho Hoa hanya tersenyum.

Menggunakan kesempatan dua orang itu sedang bicara diam-diam So Jauw telah mengirimkan serangan pada Bo yong Kang.

Jago Liauw tong itu bukannya tidak tahu ia diserang, akan tetapi ia tidak menggubris serangan orang.

Ia menunggu sampai angin serangan sudah dekat, dengan lengan bajunya 831 ia mengebut dan serangan ampuh So Jauw punah seketika.

Bukan main kagetnya So Jauw sebab bukan saja serangannya dapat dipunahkan secara demikian mudah, tapi juga serangan membalik dari tenagnya yang dikerahkan tadi membuat dadanya dirasakan tergetar dan sesak.

Ia berdiri terpaku, terdengar Song Hwe berkata.

"Mengingat kau datang dari Hun lam, maka kematianmu disini tentu akan membuat kau merasa penasaran. Maka itu aku mau mengampuni padmu. Sekarang enyahlah kau dari sini. Kalau berlaku ayal-ayalan, jangan sesalkan au Song Hwe akan mencabut jiwamu disini, mengerti?"

So Jauw mendelik matanya. Tapi apa daya ia tak berani membentur Bo yong Kang lagi, sebab kini ia sudah tahu bahwa ia bukan tandingannya sang lawan, maka ia terpaksa berkata untuk menutup malu.

"Prang she Song, baiklah sekarang aku mengaku kalah. Aku akan pergi. Tapi ingat baik-baik. Lima tahun lagi aku akan mencari kau lagi untuk menebus kekalahanku hari ini."

Setelah berkata ia lantas angkat kaki.

"Jangankan lima tahun biarpun sepuluh tahun aku tunggu kau punya pembalasan!"

Kata Bo yong Kang dengan tersenyum.

832 Melihat So Jiauw berlalu begitu saja Pit Tho Hoa berpikir.

Diriku sudah diganggu olehnya.

Kalau dia nanti sebarkan rahasian ini diluaran, betapa malunya aku sebagai Kauwcu.

Juga dia dikemudian hari akan menjadi musuh besar, dia tentu merasa sakit hati dengan kejadian sekarang ini.

Ah kenapa aku tidak membunuhnya saja supaya tidak meninggalkan bibit bencana dikemudian hari?

Berpikir sampai disini, ia berteriak.

"Hei Sow Jauw, kau balik. Dalam perguruan Tho tiok Im yang kauw tak dapat membiarkan muridnya menjadi penghianat. Maka kau harus dibunuh mati sekarang!"

"Bagus, perempuan siluman,"

Kata So Jauw yang merandek karena mendengar teriakan dari Pit Tho Hoa.

"Kau sudah bosan dengan aku karena sudah ada yang baru, lantas mau membunuhku? Hmm… bagus..bagus.. kau lihat nanti…!"

"Song Tayhiap, harap kau suka mewakili aku untuk membunuh murid durhaka ini."

Teriak Pit Tho Hoa dengan muka selebarnya merah bahna menahan malu oleh kata-katanya So Jauw yang menusuk tadi.

Bo yong Kang pikir tidak dinyana penjahat itu hanya sebegitu saja kepandaiannya.

Belum apa-apa sudah lari.

Sebenarnya dua manusia ini ada setali tiga uang dari golongan cabul.

Sepantasnya kalau dua-duanya dibunuh mati.

Tapi sebaiknya ia menyingkirkan dulu 833 yang laki-laki dan perempuannya ada gunanya untuk dijadikan penuntun naik ke atas gunung.

Lihat saja nanti, kalau ada kesempatan ia juga akan mengirim jiwanya Pit Tho Hoa ke akhirat.

Untuk mengambil hatinya siluman perempuan itu, Bo yong Kang menjura dengan hormat, katanya.

"Aku menurut perintah Kauwcu…"

Kemudian ia berteriak kepada Go Jauw.

"Jangan lari! Lebih baik kau tanam tulang-tulangmu di gunung Tay san sini saja!"

Seiring dengan kata-katanya, badannya melesat tinggi bagai alap-alap, ia menyambar tubuhnya So Jauw.

Jago Hun lam itu ketakutan karena sudah tak dapat menghindari lagi, maka ia terpaksa menggunakan ilmunya "Pukulan Pencabut Roh‟ menyerang pada bagian tubuhnya Bo yong Kang yang berbahaya.

Si Pelajar Hati Besi membiarkan tangannya So Jauw dekat.

Ketika hampir menyentuh tubuhnya, telapakan tangan kirinya digerakkan dengan cepat.

Terdengar teriakan yang menyayat hati.

ternyata tangannya So Jauw telah putus dan dadanya terpukul keras.

Setelah terhuyung-huyung beberapa tindak ia jatuh menduprak, dari mulutnya menyembur darah segar.

Sebentar kemudian ia berkelonjatan dan jiwanya lantas melayang.

"Ahh, So Jauw sudah menjadi korban dari perempuan nyeleweng!"

Pit Tho Hoa sudah kegirangan melihat penyakit sudah disingkirkan.

Dengan persetujuan Pit Tho Hoa, Bo yong Kang telah merubah mukanya menjadi orang hitam dan mengikutinya naik ke atas gunung.

Sampai disini Bo yong Kang bercerita.

Selama sang kekasih bercerita Gan Su Nio terus menerus tertawa.

Demikan juga yang lainnya turut tertawa mendengar lelakonnya si "Pelajar Hati Besi‟ yang lucu.

Gan Su Nio menanya pada Ceng Leng Cinjin, bagaimana selanjutnya akan bertindak jikalau suhunya dan Bu Ju Toato sudah menyembuhkan Hwe Siok Tang dan Giok Soan.

Apa mereka akan menetap terus di gunung Tay san itu atau akan pergi ke lain tempat dahulu, sementara pertemuan di puncak Tay san belum sampai waktunya.

Karena waktunya sudah dekat, Ceng Leng Cinjin menjawab.

"Ya, pertemuan dengan kawanan penjahat itu sudah dekat waktunya. Maka kita tak perlu pergi kemana-mana. Biar saja kita disini. kebetulan tuan rumahnya juga baik dan jujur, lagipula disini cukup sunyi untuk kita berlatih selama menantikan waktu pertempuran sampai. Aku akan memberikan kalian pelajaran yang lebih tinggi lagi 835 kepada kalian supaya kalau sampai waktunya aku tidak usah keluar turut campur tangan. Dengan tenaga kalian saja sudah cukup akan membasmi kawanan penjahat itu dan hatiku akan merasa lega."

Demikianlah seterusnya mereka di tempat itu melatih diri untuk meningkatkan kemampuannya untuk mengabdikan diri pada kepentingan orang banyak."

Hwe Siok Tang dan Puterinya setelah ditolong tiga hari tiga malam juga telah sembuh dan sudah pulih keadaannya seperti biasa.

Mereka turut melatih diri bersama-sama.

Jalannya waktu tidak terasa cepat sekali, maka sebentar saja tahun lama sudah dekat berganti dengan tahun baru.

Para pendekar dari rimba persilatan berduyun-duyun datang ke puncak gunung Tay san untuk menyaksikan pertempuran.

Karena mereka itu baik yang jalan putih maupun yang jalan hitam pada setengah tahun yang lalu sudah pada mendapat undangan dari Siang koay untuk menyaksikan pertandingan yang langka itu.

Ketika pada keesokan harinya menjelang pertandingan, Bu Ju Toato dan kawan-kawan berunding bagaimana akan mengatur untuk menandingi kawanan penjahat itu.

836 Ia memesan kepada Bo yong Kang, Teng Goan Hweshio dan Gan Su Nio beerikut Hwe Giok Soan untuk tidak berlaku lancang mengambil tindakan sendiri kalau tidak mendapat persetujuan dari Tri Tunggal.

Besoknya tanggal satu bulan satu, tepat tengah hari dibawah pimpinan Tri Tunggal, Teng Goan Hweshio, Bo yong Kang dan lain-lainnya naik ke puncak gunung.

Mereka menyaksikan tempat itu ditata dan dihias bagus sekali.

Di Lapangan ada dibangun sebuah luitay (panggung pertarungan) yang tinggi.

Dikedua sisinya ada diatur rapi tempat duduk untuk para tamu dan tuan rumah.

Pertempuran ini sebetulnya hanya menyangkut Hwe Ciang dan Hwe Kong dua saudara, berhubungan dengan tiga puluh tahun yang lalu mereka telah dikalahkan oleh Ceng Leng Cinjin di puncak gunung Tay san.

Mereka mengumpulkan orang-orang gagah sebagai saksi dalam pertempuran sekarang mereka menebus kekalahan tempo hari.

Setelah para tamu dijamu, kemudian Hwe Ciang melompat ke atas luitay.

Sambil menjura kepada sekalian hadirin ia berkata.

"Tuan-tuan, sungguh kami merasa girang telah mendapat kunjungan tuan-tuan guna menyaksikan pertandingan ulang dari kekalahan kami berdua saudara pada tiga puluh tahun yang lampau oleh Ceng Leng Cinjin dan kawan-kawannya. Kami dua saudara 837 she Hwe dan kedua Kauwcu Leng dan Pit dari Tho tiok Im yang kauw telah mengundang Ceng Leng, Buju dan Biauw Hoat untuk pertemuan hari ini. jadi yang tersngkut dalam pertandingan diatas luitay ini adalah kami dengan mereka lawan kami. Tetapi seandainya ada diantara kalian sahabat-sahabat yang ada minat untuk bertempur, boleh saja brtanding diatas luitay dengan memilih masing-masing tandingannya."

Setelah mendapat tepuk tangan riuh dari penonton atas sesorahnya ini, Hwe Ciang sudah melompat turun dari luitay dan kembali duduk dikursinya.

Pit Tho Hoa bangkit dari duduknya.

Ia melompat ke atas luitay.

Sambil mengunjuk senyumannya yang memikat hati ia berkata.

"Aku Pit Tho Hoa mendahului yang lain-lainnya, karena aku ada perhitungan dengan seorang yang telah membokong aku sehingga hampir binasa."

Ia berkata pada sekalian penonton. Kemudian dengan lagaknya yang genit ia berteriak.

"Hei, mana Bo yong Kang. Lekas naik untuk terima kematian!"

Bo yong Kang mendengar dirinya ditantang, ia lalu melirik pada Bu Ju Toato untuk minta ijin.

Bu ju toato begitu menganggukkan 838 kepalanya, segera badnnya Bo yong Kang melesat keatas luitay.

Ketika berhadapan, si genit yang hendak menuntut balas bukannya membentak dan lantas menerjang pada musuhnya, akan tetapi hatinya lantas berdebaran tak dapat ditahan.

Ia memandang Bo yong Kang yang tampan dan gagah amat menarik hatinya.

Sambil tersenyum genit ia berkata dengan suara merdu.

Hmm, Song Hwe alias Bo yong Kang, mukamu begitu putih, akan tetapi sayang hatimu hitam.

Kenapa tempo hari kau membokong aku sehingga…"

Bicaranya belum lampias dipotong oleh Bo yong Kang.

"Ya, waktu aku menyerang kau tempo hari, aku hanya menggunakan sebagian tenagaku saja. Kalau aku menggunakan tujuh delapan bagian saja, entahlan apa kau masih bisa berdiri sekarang atau sudah berada dalam kuburan…"

"Orang kurang ajar,"

Si genit melotot.

"Apa sih kepandaianmu? Aku mau lihat sekarang kau berhadapan dengan nyonya besarmu, apa yang kau bisa bikin?"

"Silakan kau menyerang."

Bo yong Kang menantang.

Mulutnya berkata, matanya Bo yong Kang mengawasi pada senjatanya si genit yang 839 berupa cabang pohon Tho kira-kira tiga kaki panjangnya.

Ketika diperhatikan ternyata itu bukan cabang pohon Tho betulan.

Hanya nampaknya saja sama tetapi sebenarnya terbikin dari baja banyak durinya.

Diduga pada duri-durinya tentu mengandung racun yang berbahaya.

Pit Tho Hoa kini berubah mukanya.

Ia jadi bengis dan kegenitannya hilang tanpa meninggalkan bekas.

Sebagai ganti perasaan ibahnya ialah kegemasan terhadap si Pelajar Hati Besi yang tampan mukanya akan tetapi hatinya tak dapat dipincuk.

Karena munculnya Bo yong Kang ia menjadi kehilangan kekasihnya So Jauw yang sudah lama menjalin hubungan gelap dan sangat menyenangkan hatinya.

Setelah matanya melotot kepada lawannya.

Pit Tho Hoa gerakkan senjatanya menyerang musuhnya.

Dengan gerak tipu yang dinamai Bidadri melempar tali ia mau menyodok dada Bo yong Kang.

Atas serangan itu Bo yong Kang menangkis dengan pedangnya.

Serang menyerang segera mulai ramai dan menarik hati.

ketika Pit Tho Hoa telah keluar semua tipu-tipu silatnya yang berbahaya, namun lawannya cukup tangguh untuk dapat dijatuhkan begitu saja.

Malah terkadang ia terdesak maka diam-diam ia merasa cemas.

840 Pertandingan belum juga kelihatan ada yang menang atau kalah meskipun sudah berjalan kurang lebih delapan puluh jurus.

Senjatanya Pit Tho Hoa benar ada mengandung banyak racun.

Selainnya tempat obat bius yang dapat membuat orang jatuh pingsan.

Juga pada tiap duri pada senjatanya itu ada tersimpan jarum beracun.

Kalau ia menekan alatnya saja, jarum-jarum itu lantas menyambar pada lawannya.

Senjata ini sebenarnya khusus untuk menandingi Biauw Hoat Sin ni yang tinggi ilmu silatnya, tapi sekarang ia melawan Bo yong Kang dari tingkatan muda dan belum juga ia dapat menjatuhkannya.

Pikirnya, apa perlu ia menggunakan senjatanya yang ampuh itu?.

Setelah menimbang-nimbang, ia mengambil keputusan untuk menggunakan obat bius saja untuk menjatuhkan Bo yong Kang.

Kalau pemuda itu pingsan, ia akan menangkapnya dan akan dijadikan boneka untuk melampiaskan nafsu nyelewengnya.

Sudah seratus jurus mereka bertempur, tapi belum ada penyelesaiannya.

Pit Tho Hoa lalu menyerang dengan gaya Tok coa Sim hiat (ular berbisa mencari lubang).

Perutnya Bo yong Kang yang dijadikan sasarannya, sang lawan menangkis.

Cepat Pit Tho Hoa merubah gerakannya dari menyodok perut menjadi menyodok tenggorokan lawan.

841 Berbareng senjatanya telah mengeluarkan asap yang menebarkan bau wangi, mengurung dirinya Bo yong Kang.

Tangannya diulur mencoba menotok jalan darah penting pada dadanya sang lawan.

Bo yong Kang meskipun dapat menangikis serangan si siluman genit, tapi tidak berdaya terhadap serangan asap gaibnya, sehingga ketika ia mau menutup semua jalan pernafasan supaya tidak mengendusnya, sudah terlambat.

Ia sempoyongan ke pinggir luitay dan jatuh ke bawah.

Untung Gan Su Nio melihat gelagat tidak baik dari kekasihnya diatas luitay.

Ia sudah datang dibawah luitay hingga ketika rubuhnya Bo yong Kang melayang jatuh ia sudah cepat menyambutnya.

Ia sangat gusar akan kelicikannya Pit Tho Hoa.

Seketika itu ia sudah naik ke atas panggung akan tetapi urung karena melihat Biauw Hoat Sin ni sudah melesat dan hinggap diatas luitay menghadapi Pit Ho Hoa yang saat itu sedang merasa bangga sudah menjatuhkan Bo yong Kang.

Gan Su Nio tidak mempedulikan musuhnya.

Ia cepat-cepat menolong kekasihnya dibawa ke tempat pihaknya dimana Ceng Leng Cinjin telah memberikan dua butir pil untukditelan oleh Bo yong Kang.

Sungguh mujarab pil itu sebab tak lama kemudian Bo yong Kang sudah mendusin dan sembuh lagi dari mabuknya.

Keadaanya sudah menjadi biasa kembali.

842 Diatas luitay Biauw Hoat Sin ni sudah berhadapan dengan Pit tho Hoa yang tengah memperbaiki senjatanya.

"Perempuan hina,"

Bentaknya.

"Aku segan untuk membunuhmu sendirian saja, maka lekas kau panggil Leng Hong Tiok untuk menemani kau pulang ke akherat!"

Tiba-tiba sesosok tubuh sudah melayang naik. Kiranya dia adalah Leng Hong Tiok yang telah mendengar tantangannya Biauw Hoat Sin ni sudah menjadi tidak sabaran.

"Hmm.. Hui Ngo Soan, kau benar-benar tidak tahu aturan,"

Katanya sambil pakai main senjatanya sepotong bambu hitam yang panjangnya kira-kira empat kaki. Diujungnya ada diikat sehelai kain merah putih sebagai panji.

"Lelaki khianat jangan banyak bacot!"

Biauw Hoat Sin ni balas membentak.

"Aku kira kalian sudah mampus jatuh ke jurang, tidak tahunya masih hidup. Bagus.. bagus, hari ini aku akan membuka pantangan membunuh dan mengantarkan kalian ke neraka..!"

"Hmm…!"

Leng Hong Tiok menggeram.

"Setelah tiga puluh tahun berselang kau mendesak kami jatuh ke jurang, aku kira kau sudah bikin habis urusan. Aku mengirim undangan untuk kita berkumpul disini. perlunya untuk memberikan penjelasan padamu tentang kesalah-pahaman kita dahulu. Kita tidak perlu bertanding mati hidup. Hanya 843 untuk mencari damai. Apalagi kini kau sudah masuk menjadi nikow. Apakah kau sudah tidak insyaf?"

Biauw Hoat Sin ni keluarkan nafas dari hidung.

Mulut yang manis ini, ia pikir hanya untuk mengulur waktu saja supaya Pit Tho Hoa lekas-lekas membetulkan senjatanya dan siap untuk digunakan.

Nikow kosen dari Lam hay itu sangat awas pada matanya terus memberhatikan gerak geriknya Pit Tho Hoa.

"Hong Tiok,"

Ia berkata lagi dengan tegas.

"Kalau tempo hari kau dorong aku mampus ke laut. Aku Hui Ngo Soan tidak muncul lagi dalam bentuk baru. Tidak ada nikow bernama Biauw Hoat yang mempunyai kepandaian untuk mengejar-ngejar Leng Hong Tiok suami istri hingga nyebur ke jurang. Baiklah aku sudah menjadi nikow dan harus memaafkan kepada orang yang dahulu hendak membuat celaka dirinya. Akan tetapi perbuatanmu dengan mendirikan Tho tiok Im yang kauw hanya merupakan perkumpulan agama sepuhan saja, mana bisa aku tinggal diam? Perbuatan-perbuatan kejam yang dilakukan oleh kalian berdua sudah terkenal dimana-mana, maka lebih dari pantas kalau aku menyingkirkan orang-orang yang kejamdan ganas sepeerti macam kalian suami istri!" 844 Leng Hong Tiok sudah mau membuka mulutnya menjawab, tapi sudah didahului oleh Pit Tho Hoa.

"Lucu benar, kalau kami mendirikan perkumpulan itu apa sangkut pautnya dengan kau? Betul-betul kau ini hanya dapat mengoceh tanpa dipikir, hi hi hi…"

Biauw Hoat Sin ni pelototkan matanya.

"Aku tidak peduli kalian mendirikan perkumpulan. Tidak ada sangkut pautnya dengan aku akan tetapi perbuatan-perbuatan kalian yang jahat dan kejam ada hubungannya dengan aku yang tidak akan membiarkan perbuatan-perbuatan yang demikian itu. kau mengerti?"

"Hmm.."

Pit Tho Hoa dengan lagak tengik mengeluarkan suara dihidung, kemudian angkat senjatanya.

Sekali digetarkan lantas saja dari senjata itu keluar asap seperti tadi yang dialami oleh Bo yong Kang juga, dibarengi dengan keluarnya banyak jarum halus yang melayang pada dirinya Biauw Hoat Sin ni.

Nikow kosen dari Lam hay sudah mempelajari ilmu tenaga dalam yang sangat mahir untuk memunahkan segala serangan obat bius.

Ia malah tidak ingin menggunakan ilmu ini.

tapi sekarang menghadapi Pit Tho Hoa yang licik dan kejam, mau tidak mau ia harus keluarkan ilmu simpanannya itu.

845 Ia mengerahkan ilmunya itu, sungguh menakjubkan.

Satu demi satu jarum itu ketika menyentuh tubuhnya Biauw Hoat Sin ni seperti membentur dinding baja pada ngeluruk jatuh.

"O mi to hud,"

Terdengar ia berkata.

"Selama tiga puluh tahun hari ini terpaksa aku melanggar pantangan membunuh!"

"Dengan tidak mempedulikan adanya Leng Hong Tiok disitu. Biauw Hoat Sin ni telah menyerang hebat kepada Pit Tho Hoa. Ia mencecar siluman wanita itu dengan tidak mengenal ampun. Tenaga dan angin pukulannya yang dahsyat telah membuat panggung luitay bergoyang dan suara "Siut-siaut‟ angin pukulan.

Mana tahan Pit Tho Hoa digempur cara begitu.

Terang ia menjadi ketakutan setengah mati.

Akan tetapi sebelum ia dapat menyingkirkan diri dari gempuran itu, badannya telah terpental melayang jatuh dari atas luitay.

Dari hidung, mata, telinga dan mulutnya telah mengeluarkan darah segar.

Setelah berkelonjatan sebentar, wanita cabul itu telah menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Saking cepatnya apa yang telah terjadi membuat Leng Hong Tiok tidak berkesempatan untuk menolong isterinya.

Ia merasa sangat duka dan hendak turun melihat keadaan 846 isterinya akan tetapi Biauw Hoat Sinni telah menghadang didepannya.

"Hong Tiok,"

Katanya.

"Itulah bagiannya orang jahat dan kejam. Apakah kau masih menyesalkan perbuatanku barusan? Tiga puluh tahun kita tak berjumpa, niscaya kepandaianmu sudah sangat tinggi. Nah marilah keluarkan semua untuk melayani aku sehingga sebentar kalau kau mati tidak penasaran!"

Leng Hong Tiok mendelikkan matanya.

"Hmm…!"

Ia menggeram.

"Hui Ngo Soan, kau benar-benar kejam! Dengan perbuatanmu barusan membinasakan Pit Tho Hoa, mana kau termasuk hitungan orang yang memeluk agama? Terang aku akan menuntut balas untuk kematian Pit Tho Hoa…!"

Ia lalu memainkan senjatanya sepotong bambu hitam dengan diujungnya ada bendera merah putih.

Inilah senjata ampuh dari Leng Hong Tiok.

Sudah banyak meminta korban.

Dalam bambu itu ada banyak lubang yang isinya racun, benderanya pun istimewa.

Sekali dikibarkan dimuka orang dapat membuat orang itu pingsan seketika.

Dengan mengandalkan senjatanya ini, ia dengan isterinya Pit Tho Hoa malang melintang dikalangan kangouw dan dapat mengangkat nama.

Malah paling belakang ia telah mendirikan perkumpulan agama yang dinamai Tho tiok Im yang kauw.

Dengan Pit 847 Tho Hoa isterinya ia telah menjadi Kauwcu (Kepala Agama).

Biauw Hoat Sin ni juga sudah siap dengan pedangnya yaitu Pedang Naga Terbang yang dahulu mengangkat namanya di dunia persilatan.

Entah sudah berapa banyak pedang itu mengambil jiwanya kawanan penjahat.

Dua-duanya sudah siap untuk bergebrak, mendadak terdengar pertanda kedatangan orang penting.

Cepat-cepat Hwe Ciang minta dua musuh itu turun dahulu dan sebentar lagi boleh melanjutkan pertandingannya.

Ternyata yang datang bukan hanya Kiu bin Sin bo Siang Su Su dan Kiu Ci.

Tetapi juga Empat Hud dari kuil Naga Emas di Si Hek sudah pada datang.

Siang Su Su dan Kiu Ci disambut oleh Hwe Ciang dan kawan-kawannya dengan sangat hormat sekali.

Sedangkan Empat Hud telah disambut oleh Bu Ju Toato dan lainnya untuk diajak berkumpul ditempatnya.

Mereka girang dengan pertemuan tu karena semula Bu Ju Toato menduga bahwa empat orang penting itu tidak datang karena mendapat halangan.

Kini kedua pihak telah bertambah.

Tenaga dan hati merekapun merasa besar.

Hanya dipihaknya Bu Ju Toato masih belum puas karena Li Cong Bun dan Se bun Pa belum kelihatan mata hidungnya datang.

"Kalau tidak ada halangan, pasti Bun jie dan Se bun toako pasti datang hari ini pada 848 waktu kita sedang memerlukan tenaganya,"

Bo yong Kang menghibur mereka. Kun Hun Taysu mengarahkan pandangan pada pihak musuh. Kemudian ia berpaling pada kawan-kawannya dan berkata pada Ceng Leng Cinjin.

"Totiang, aku rasa hari ini ada alamat baik bagi pihak kita."

"Baiknya?"

Tanya Ceng Leng Cinjin tersenyum.

"Coba Totiang lihat, bukankah itu Siang Su Su hanya punya satu kaki yang asli satunya adalah kaki palsu?"

Mendengar ini semua mata pada memperhatikan keadaan Siang Su Su.

Benar saja si nenek keadaanya seperti yang disebutkan oleh Kun Hun Taysu.

Tengah mereka pada merasa heran, mereka mendengar suara tanda tentang kedatangan tamu lagi.

Tak lama kemudian ada orang yang menjaga pintu masuk melaporkan bahwa diluar ada dua orang yang kedatangannya minta disambut oleh Hwe Ciang dan Soang Su Su sendiri.

Entah siapa mereka itu.

Tapi karena Hwe Ciang dan Siang Su Su merupakan tuan rumah disitu, mau tak mau harus juga menyambutnya.

Bu Ju Toato dan kawannya pada kasak-kusuk menduga-duga siapa lagi yang datang, apa kawan atau musuh?

Sebentar kemudian bukan 849 main girangnya mereka sebab yang datang itu bukan lain daripada Li Cong Bun dan Se bun Pa berdua.

Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio berseri-seri.

Gan Su Nio hampir berjingkrak kegirangan sedangkan Ceng Leng Cinjin, Bu Ju Toaso dan Empat Hud pada tersenyum ketika mereka dihampiri oleh Se bun Pa dan Li Cong Bun.

Orang yang paling gembira dan hatinya berdebaran adalah Hwe Giok Soan.

Untuk kedua kalinya bertemu dengan Li Cong Bun pemuda pujaan dalam kalbunya dan selalu merupakan bayangan didepan matanya.

Li Cong Bun melihat ada si nona diantara mereka lalu anggukkan kepala dan menjura pada Locianpwe kemudian menghampiri Gan Su Nio yang duduk bersamaHwe Giok Soan, Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio sedangkan Se bun Pa bercakap-cakap dengan para orang tua dilain pihak.

Bo yong Kang kagum melihat keponakannya tambah gagah saja perawakannya.

Matanyapun ada lebih bersinar.

Ia menduga anak muda itu berhasil dengan latihannya Pek hap Cin keng.

Melihat Li Cong Bun terus bercakap-cakap dengan para lelaki maka Gan Su Nio tersenyum dan melirik pada Hwe Giok Soan, kemudian berkata pada Li Cong Bun.

"Bun jie, kau repot dengan yang lain, ini… ini… kau lupakan?"

Sambil menunjuk pada Hwe Giok Soan. Li Cong Bun tersenyum. Hwe Giok Soanmelengak. Ia tidak menduga Gan Su Nio dapat bergurau demikian.

"Ah suci Gan Su Nio kau bisa saja…"

Katanya tersenyum pada Li Cong Bun dengan paras kemerah-merahan jengah, sedang tangannya tidak tinggal diam mencubit pahanya nona Gan hingga ia berjenggit.

"Hei adik soan, kenapa mencubitku? Ha ya main cubit begini aku memang merasa kena kau cubit, tapi Bun jie mana dia berasa? Kau lihat badannya sudah seperti besi saja, ha ha ha…"

Hwe Giok Soan tertawa sambil tundukkan kepala digoda oleh Gan Su Nio yang jail.

Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio tersenyum-senyum melihat dua wanita itu bergurau.

Sedangkan Li Cong Bun menanyakan apakah sudah diadakan perandingan sebelum kedatangannya?.

Bo yong Kang menceritakan dengan ringkas bagaimana ia menjadi korban obat biusnya Pit Tho Hoa diatas luitay dan hampir saja celaka.

Siluman wanita iru kemudian dihajar oleh Biau Hoat Sin ni sampai menemui ajalnya.

Selagi Biauw hoat berhadapan dengan Leng Hong Tiok siap bertempur diurungkan 851 karena kedatangan Siang Su Su dan lain-lainnya.

"Ah mereka mainkan racun, sungguh berbahaya sekali,"

Kata Li Cong Bun. Ketika ia mau meneruskan kata-katanya, Ceng Leng Cin Jin sudah memanggil padanya. Li Cong Bun mendatangi gurunya dan duduk disampingnya.

"Bun jie, kau kelihatan sudah berubah sama sekali dari beberapa bulan yang lampau. Coba aku periksa keadaanmu..!"

Sambil berkata Ceng Leng Cinjin meraba-raba tulang-tulang dan bagian-bagian penting lainnya.

Untuk seorang jago kelas wahid diam diam ia terperanjat karena merasakan perubahan besar atas dirinya sang murid.

Tulang-tulangnya lain sekali, berlipat lebih kokoh dari yang sudah.

Matanyapun lebih bersinar.

Sambil tertawa pada Se bun Pa, Ceng Leng Cinjin berkaata.

"Se bun laote, semua adalah karena jasamu sampai Bun jie berubah begini macam. Sungguh beruntung nasibmu Bun jie."

Se bun Pa tersenyum.

"Semua itu bukan jasaku. Tuhan yang membimbingnya hingga Li hiantit memperoleh kepandaian sangat tinggi. Ilmu-ilmu yang ia terima dari Locianpwe digabung dengan penemuannya yang paling belakang, rasanya sukar untuk mencari 852 tandingannya Li hiantit pada masa sekarang ini."

Semua orang merasa girang dengan keberhasilan yang diperoleh Li Cong Bun dan hati mereka lebih tabah lagi untuk menghadapi kawanan penjahat.

"Kalian tunggu sebentar, aku mau menamatkan jiwanya Hwe Kong!"

Tiba-tiba Se bun Pa berkata hingga membikin orang terheran-heran.

Sebelum diantaranya dapat menanyakan apa-apa.

se bun Pa menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang hebat telah melesat ke luitay.

Ia menamtang.

"Aku disini Cian tok Jin mo Se bun Pa dari Kie hoa san menantang Pek kut Thian ong Hwe Kong naik ke atas luitay untuk bertanding dan menerima kematian!"

Hwe Kong mendengar dirinya ditantang, bukan main marahnya.

Ia memang sangat sakit hati kepada Se bun Pa yang berkali-kali telah mempermainkan dirinya dan malah telah membunuh keponakan muridnya si Garuda Hitam Song Sam Ceng maka langsung saja ia telah menghampiri luitay.

Ia sangat memandang rendah pada Se bun Pa.

maka ia naik keatas luitay dengantidak menggunakan ilmu meringankan tubuh.

Hanya merayap naik di tangga.

"Hwe Kong, betul-betul kau sudah mau mampus, makanya begitu lambat jalanmu."

Se Bun Pa menjengeki melihat lagaknya Hwe Kong yang tidak memandang mata kepdadanya. Ketika mereka sudah saling berhadapan dengan main melotot Hwe Kong berkata.

"Se bun Pa, aku tidak nyana kau datang mengantarkan jiwa sendiri. Boleh saja kau nual lagak sebentar, sebab kematianmu toh sudah menunggu didwpan mata."

Hwe Kong sudah ingin menerjang dan poleskan kepalanya musuh yang licin dan banyak akalnya itu, tapi sebelum ia bergerak Se bun Pa sudah berkata.

"Hwe Kong, kita nanti bertanding sampai puas. Tapi sebelumnya aku mau ajukan usul tentanf pertandingan makan."

"Makan apa?"

"Makan ikan belut!"

Hwe Kong melengak. Orang berdiri diatas luitay, kenapa jadi pakai pertandingan makan ikan belut? Apa maksudnya ini iblis beracun?.

"Baik, mana ikan belutnya?"

Katanya.

"Kau boleh suruh orang masak.

Kalau ikan masakanku tentu kau akan curiga aku campuri racun.

Nah pergi kau suruh orangmu memasak ikan belut.

Setelah kita menghabiskan 854 masing-masing beberapa mangkok baru kita bicara tentang pertandingan silat.

Hwe Kong lalu sampaikan keinginannya Se bun Pa pada engkonya.

Hwe Ciang tidak keberatan, lalu ia suruh orangnya menyediakan hidangan yang dimaksud.

Sebentar kemudian hidangan demikian sudah siap dan pertandingan adu makan dimulai.

Hwe Kong baru makan dua mangkok sambil melemparkan mangkok bekas ikan belut tadi ke bawah luitay, ia menantang pada Se bun Pa.

"Iblis Beracun, kita tidak perlu bertanding makan ikan belut. Sekarang kau boleh menerima kematian…."

"Hwe Kong, ha ha ha ha kau jangan sombong!"

Menyela Se bun pa.

"kau lihat sebentar lagi siapa menang siapa kalah. Buat sementara aku permisi turun dari luitay dahulu…"

Berbarena ia lompat turun tanpa memberi kesempatan pada Hwe Kong berbicara hingga ia berdiri bengong.

Semua penonton heran dengan kejadian tersebut.

Bukankah Se bun Pa hendak meneruskan pertandingan dengan ilmu silat setalah bertanding makan belut?

Hwe Kong diatas luitay masih berdiri bingung melihat sikapnya Se bun Pa, tapi ia tidak takut kena racun sebab makanan tadi disiapkan oleh orangnya sendiri.

Si Iblis 855 Beracun itu tidak mempunyai kesempatan untuk mencampurnya dengan racun.tengah ia berpikir demikian, mendengar kata-katanya Se bun Pa dari bawah luitay.

"Hwe Kong, kau amat kejam terhadap sesama manusia. Kau sudah membeset kulitnya sahabatku Auw yang Ti dan Hwe toako. Nah sekarang kau boleh rasakan bagaimana isi perutmu seperti dibakar. Sekarang kau masih belum mau turun untuk mengatur kematianmu mau tunggu apa lagi? Kalau tidak percaya kau sudah kena racunku, coba kau bernafas diperutmu. Ada bedanya tidak?"

Hwe Kong jadi kemekmek mendengarnya tapi diam-diam ia turuti apa yang dikatakan oleh Se bun pa.

ia jadi kaget, sebab benar saja ia rasakan seperti ada apa-apa yang tidak beres dalam perutnya.

Semakin lama dirasakan semakin tidak enak, terus ia menelan pil pemunah racun.

Tapi pil itu tidak menolong, sambil memegangi perutnya yang dirasakan seperti dibetot-betot ususnya ia berkata pada engkonya.

"Koko lekas naik tolong aku…!"

Hwe Ciang kaget sekali. Sebentar saja ia sudah berada disamping saudaranya.

"Koko, barusan aku tahu benar makanan itu tidak beracun, tapi kenapa aku rasakan perutku seperti mau meledak? Oohh sakitnya…"

Ia berhenti dejenak sambil pencet-pencet perutnya kemudian berkata lagi.

"Koko rasa 856 sakit sudah sampai di dadaku, oh aku sudah tidak tahan. Obat pemunah racun yang aku telan barusan tidak menolong. Sekarang lebih baik cepat-cepat kau bawa aku pada Siang toaci untuk minta pertolongannya…"

Hwe Ciang tidak menanti adiknya bicara sampai habis laantas ia gendong sang adik turun dari panggung luitay. Melihat Hwe Ciang membawa adiknya dengan lompatan bertenaga, Se bun Pa berkata dingin.

"Hei, lo kuay, kau bawa adikmu begitu bertenaga, membikin lebih cepat matinya sebab membuat usus-ususnya sudah putus sama sekali…"

Ia tampak tertawa puas kemudian kepalanya mendongak ke langit, mulutnya kemak kemik.

"Auw yang ko dan Hwe toako, harap menyaksikan aku Se bun Pa telah membalas sakit hati kalian di alam baka merasa puas dan tenteram…"

Sampai disini Se bun Pa berkata, lantas terdengar suara "Uwaa…"

Dan menggeramnya suara Hwe Kong.

Darah hidup menyembur keluar dari mulutnya hingga pakaian Hwe Ciang penuh dengan darah.

Sebenarnya urusn Hwe Kong terkena racunnya Se bun Pa tidak ada orang yang mengetahui sebabnya karena bisa jadi Se bun Pa menggunakan ilmu sihir menaruh racun dimangkoknya Hwe Kong sebab banyak mata dibawah panggung yang melihatnya dengan penuh perhatian.

857 Hwe kong sebenarnya sudah lama terkena racun, yaitu ketika Se bun Pa menyerahkan bungkusan obat pemunah untuk menyembuhkan sakitnya Song Sam Ceng.

Pada bungkusan itu Sebunpa menempelkan racun makanya setelah menyerahkannya ia lantas memcuci tangannya.

Bungkusan itu kena dipegang oleh Hwe Kong bercampur dengan makanan yang kena dirabanya maka racunnya masuk kedalam perut Hwe Kong.

Racun itu tidak kontan bekerja, hanya mengeram untuk sementara sampai kemudian ada dorongan yang berupa ikan belut barulah racun bekerja dan mengunjuk pengaruhnya yang hebat.

Hwe Kong sebenarnya tidak akan mengalami kejadian yang sedih ini kalau saja ia berlaku jujur dan mengembalikan Auw yang Ti dan Hwe Pek It.

Se bun Pa menggunakan racunnya itu karena mencurigai iblis dari Thian lam itu berlaku curang.

Untuk itu jadi secara mudah ia kemudian dapat menuntut balas.

Betul saja Hwe Kong telah mengingkari janji maka diam-diam Se bun Pa telah mengambil keputusan bahwa dalam pertandingan di Tay san nanti ia akan buktikan kelihaiannya untuk membikinmelayang jiwanya Hwe Kong.

Hwe Ciang yang melihat adiknya mati,bukan main bencinya pada Se bun Pa.

tanpa ragu-ragu lagi ia menyerang ke pihak musuh dengan 858 senjata rahasianya berupa tiga buah tengkorak.

Ceng Leng Cinjin kaget melihat senjata rahasia yang berbahaya itu ia berteriak.

"Biauw Hoat dengan aku menggunakan tenaga dalam guna menahan senjata rahasia itu. Empat Taysu dan Bu Ju melindungi semua kawan supaya jangan terkena senjata rahasia Hwe Ciang yang jahat. Sebab kalau terkena racunnya, orang tidak bisa hidup lagi…"

Senjata rahasia itu melayang-layang diudara hendak menghantam ke pihak Ceng Leng Cinjin dan kawan-kawannya.

Akan tetapi karena Ceng Leng dan Biau Hoat dengan tenaga dalamnya yang tergabung dapat membuat senjata rahasia itu miring dan kemudian meledak di udara.

Racunnya berhamburan.

Cepat-cepat Ceng Leng, Biau Hoat dan Bu Ju mengerahkan tenaga dalamnya lalu mengebut lengan bajunya hingga racun yang beterbangan itu dapat diusir jatuh kelain tempat.

Li Cong Bun menghunus pedangnya dan diputar seperti kitiran hingga senjata rahasia Hwe Ciang yang lainnya yang berupa bola perak dan didalamnya ada mengandung pasir beracun dibikin tidak berdaya dan jatuh ditanah.

Hwe Ciang merasa kesal senjata ampuhnya tidak mendapatkan sasarannya.

Dalam kalapnya, ia hendak menerjang musuh-musuhnya diikuti oleh Leng Heng Tiok yang hendak 859 menuntut balas akan kematian sang isteri Pit Tho Hoa akan tetapi keburu dicegah oleh Siang Su Su.

Sambil menggoyang-goyangkan tangannya, dengan perlahan SiangSu Su berkata pada mereka.

"Untuk yang mati, bagimana kalapnya kita tidak akan mambuat mereka hidup kembali, maka harap kalian suka bersabar. Aku ada disini. Kalian tak usah takut mereka dapat meloloskan diri. Jiwa mereka hanya tinggal menunggu waktu saja. kita tak perlu membuat geger tak karuan. Nah sekarang Kiu Ci yang maju dengan menggunakan ilmu Thian Ciang Ci bertanding dengan mereka. Aku mau lihat sampai dimana ilmunya mereka itu, barulah aku dapat menentukan bagaimana aku dapat mengatasinya."

Mereka menurut apa kata Siang Su Su.

Kiu Ci tampak maju, tubuhnya melesat kearah luitay.

Tangannya menghunus pedangnya yang berkilauan biru, ujungnya ada kaitannya berbalik kedalam.

Satu senjata pedang yang aneh bentuknya, tentu senjata itu ada mengandung racun juga.

Ia menantang pada pihak Ceng Leng Cinjin, siapa yang hendak naik keatas luitau untuk bertanding dengannya.

Kun Hun Taysu merasa jemu melihat lagaknya Kiu Ci yang tengik, maka ia minta perkenan pda Bu Ju Toato untuk naik panggung melayaninya.

Bu Ju Toato anggukkan 860 kepalanya.

Dalam sekejap sana Kun Hun sudah berada diatas luitay menghadapi musuhnya.

Ketua dari Empat Hud itu mencabut senjatanya yang seperti bulan sabit.

Diujungnya ada dua belas gigi tajam.

"Sahabat, senjata kita berdua hampir sama anehnya, maka kita berdua bertanding sampai puas diatas luitay ini. Kalau diantara kita berdus tidak ada yang kalah, baik kita bertanding terus sampai ada keputusannya!"

Kiu Ci tertawa bergelak-gelak.

"Boleh, boleh itu memang sungguh menyenangkan."

Keduanya sudah lantas saling serang dengan senjatanya masing-masing.

Ternyata kedua pihak sama kuatnya, sebab pertandingan sudah berjalan seratus jurus lebih belum ketahuan siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Kiu Ci tak sabaran maka ia telah berkata.

"Taysu, kalau kita bertanding secara begini saja, sampai kapan ada keputusannya? Maka pikirku sebaiknya kita ubah pertandingan ini."

"Bagus!"

Jawab Kun Hun.

"Aku menurut saja apa yang kau pikir baik."

Kiu Ci mengira Iweekangnya kuat maka sambil mengulurkan tangannya ia berkata. 861

"Nah, sekarang tangan kiri kita saling menempel. Sedang tangan kanan kita tetap memegang senjata. Kita mengadu tenaga dalam. Kalau diantara kita dalam pertandingan ini ada yang mengedipkan matanya atau senjatanya diturunkan itu dianggap sebagai yang kalah."

Kun Hun tidak banyak rewel.

Ia lantas saja menyetujuinya.

Kiu Ci bermaksud menggunakan kukunya yang beracun untuk menggores tangannya Kun Hun agar lawannya keracunan.

Mereka sudah mulai mengadu tenaga dalam.

Kiu Ci benar-benar sudah menjalankan rencananya.

Kukunya dapat menggores tangan lawannya hingga keracunan.

Tapi iapun tak terluput dari hawa dingin.

Tubuhnya kesemutan dan darahnya sudah menjdi beku.

Inilah bekerjanya ilmu Hian im Toa kut ciang dari Kun Hun Taysu.

Keduanya tidak dapat memegangi senjatanya lagi, berbarengan telah jatuhkan senjatanya.

Kiu Ci merasakan bukan saja dingin tetapi dadanya seperti ditekan dengan benda ribuan kati beratnya maka sekali berteriak ia lantas mundur beberapa tindak dan kemudian telah rubuh ngeloso.

Dilain pihak, Kun Hun juga tidak dapat menahan bekerjanya racun.

Ia paksakan untuk tertawa bergelak-gelak melihat lawannya rubuh.

Akan tetapi ia lantas raasakan 862 matanya berkunang-kunang gelap dan ia rubuh juga seperti lawannya.

Li Cong Bun dan kawan-kawannya cepat-cepat menolong Kun Hun.

Sedang dipihaknya lawan hwe Ciang dan Siang Su Su tersipu-sipu membantu melihat keadaannya Kiu Ci yang telah rubuh kena ditembusi hawa dingin ilmunya Kun Hun.

Cong Jie Giok yang telah melesat sampai diatas luitay hendak menolong kawannya berbareng sampainya dengan Li Cong Bun.

Sambil menghunus Pedang Penakluk Iblis Li Cong Bun berkata.

"Hei penjahat kejam, kau sudah membunuh kedua Locianpwe Auw yang Ti dan hwe Pek It. Itu adalah dosa besar bagimu. Nah sekarang ajalmu sudah sampai. Kenapa masih belum mau menyerahkan jiwamu?"

Anak muda itu barengi kata-katanya dengan satu serangan hebat.

Cong Jie Giok melihat serangan Li Cong Bun yang lihai dengan tidak mempedulikan lagi Kiu Ci sudah lantas angkat kaki kabur.

Li Cong Bun mengejar sambil berteriak.

"Siluman jahat, belum bertanding sudah lari. Kemana ilmumu yang ampuh Cit im ci?"

Cong Jie giok marak sekali.

Ia lalu balikkan badannya dan menangkis serangan pedang Li Cong Bun dengan kipasnya.

863 Li Cong Bun tertawa panjang.

Pedangnya sekali berkelebat telah membikin putus kipasnya Cong Jie Giok menjadi dua potong.

Cong Jie Giok bukan main kagetnya.

Ia tidak menyangka Li Cong Bun sekarang bukannya Li Cong Bun dahulu.

Tetapi sebelum ia memikir lebih jauh, Pedang Penakluk Iblis kembali berkelebat dan tubuhnya Cong Jie Giok sudah menjadi dua seperti kipasnya.

Siluman itu tentu saja melayang jiwanya.

Sungguh hebat ilmu pedangnya li Cong bun sehingga Ceng Leng Cinjin, Bu Ju toato dan Biauw Hoat Sin ni berdiri terpesona.

Mereka melihat Li Cong Bun memainkan ilmu pedangnya ada kombinasi dari tiga ilmu pedang Thian san, Heng san dan Lam hay.

sungguh indah dan lihai sekali.

Siang Su Su dan Hwe Ciang memeriksa keadaanya Kiu Ci sudah tidak ada harapan.

Dengan tidak mempedulikan kematiannya Cong Jie Giok mereka telah unjuk kegusarannya.

Melihat Kun Hun masih belum putus jiwanya, maka mereka lantas sudah mau turun tangan menghabisi jiwanya, akan tetapi untung Ceng Leng, Bu Ju dan Biauw Hoat sudah keburu menolongnya.

Setelah menyerahkan Kun Hun kepada tiga saudaranya supaya diberikan pertolongan dengan makan obatnya Bu Ju yaitu Ban mia Leng tan yang munarab luar biasa lalu ketiga 864 pendekar itu telah menghadapi Kiu bin Sin bo Siang Su Su.

"Siang toaci, tidak seharusnya kau turun tangan kepada orang yang telah tidak berdaya. Apakah kau tidak mau oleh karenanya namamu akan menjadi buah bibir dirimba persilatan?"

Kata Ceng Leng Cinjin.

"Hmm…"

Terdengan suara dari hidung Siang Su Su.

"Apakah tidak malu namanya Tri Tunggal akan menjadi buah bibir dalam rimba persilatan karena mengerubuti aku si nenek bangkotan?"

Kali ini Ceng Leng Cinjin kena batunya dengan perkataan tadi.

Memang tidak seharusnya mereka mengerubuti iblis wanita itu, namanya Tri Tunggal akan jelek karenanya.

Akan tetapi Siang Su Su memang lihai.

Kalau tidak dengan tenaga gabungan mana bisa menjatuhkannya?

Setelah berpikir, Ceng Leng Cinjin mengajak kawan-kawannya turun panggung.

"Siang toaci, baiklah kami akan pikir-pikir dahulu,"

Katanya sambil pada melompat turun panggung menghampiri Kun Hun yang ketika itu nampak sudah sembuh dari lukanya karena makan obatnya Bu Ju Toato.

Mereka berunding untuk menempur Siang Su Su, lawan yang berat.

865 Akhirnya telah diambil keputusan untuk memajukan Li Cong Bun.

Bu Ju Toato memberi Li Cong Bun dua butir pil Ban mia Leng tan untuk dimakan saat itu.

kemudian diberi petunjuk-petunjuk tentang pukulan-pukulan simpanan Siang Su Su yang berbahaya.

Beberapa tipu silat terbaru yang mereka telah yakinkan, sekaligus diberikan pada Li Cong Bun.

Dikuatirkan anak muda itu tak tahan menghadapi si Iblis lihai.

Tri Tunggal pesan wanti-wanti pada anak muda itu agar berlaku hati-hati, karena musuh yang dihadapi adalah bukan musuh kelas satu, hanya lebih dari itu lihainya.

Setelah mendapat restu dari kawan-kawannya Li Cong Bun enjot tubuhnya naik keataas luitay dan berhadapan dengan Siang Su Su.

Nenek jagoan itu mana memandang pada Li Cong Bun anak kemarin sore, bahkan Tri Tunggal sendiri ia tidak pandang sebelah mata.

"Hi hi hi…"

Siang Su Su tertawa.

"Rupanya sudah tak ada orang lagi. Makanya kalian majukan anak pentil ini naik di atas luitay. Kalian bertiga asal maju satu demi satu tanggung dalam sepuluh jurus satu-ersatu aku bikin melayang jiwanya. Kini kalian telah memajukan anak pentil ini. apakah tak sayang jiwanya akan melayang ditanganku? Hmm.. Tri 866 Tunggal hanya namanya saja mentereng sebenarnya semuanya adalah pengecut!"

Tri Tuggal tidak meladeni ocehan nenek iblis itu. Tapi Li Cong Bun sudah menjadi panas karenanya.

"Nenek sudah bau tanah kuburan, kenapa masih banyak jual lagak disini? Hmm… aku Li Cong Bun kalau tidak ada kepandaian mana berani menghadapi kau nenek iblis yang terkenal telengas dan kejam!"

Siang Su Su pelototkan matanya.

"Hmm…!"

Ia keluarkan suara dihidung.

Sementara itu Li Cong Bun sudah menghunus pedang pusakanya.

Ia langsung menyerang pada si nenek yang jumawa.

Siang Su Su hanya menggoyangkan tongkatnya lantas timbul angin dahsyat menangkis pedangnya Li Cong Bun.

Saking hebatnya angin yang dikeluarkan oleh si nenek lihai itu, panggung luitay sampai bergoyang-goyang.

Siang Su Su tidak memandang sebelah mata pada Li Cong Bun, maka dengan seenaknya saja dia menangkis.

Pikirnya, kalau sekali saja tangannya bergerak, pemuda itu akan menemui ajalnya tanpa ampun lagi.

Li Cong Bun terus putar pedangnya.

Ia menggunakan ilmu-ilmu pedang dari Tri 867 Tunggal, hingga Siang Su Su seolah-olah dikurung.

Tapi kenyataannya si nenek dengan seenaknya saja ia berkelabatan diantara sinar pedang untuk menghindari serangan.

Sungguh hebat kepandaiannya Siang Su Su.

Ia tertawa dingin dan berkata.

"Bovah, kau bermimpi maumenjatuhkan nenekmu dengan kombinasi serangan dari Tri Tunggal. Percuma saja kau ngotot, sebab semua kepandaiannya Tri Tunggal sudah ad ditanganku. Hi hi hi.."

Ia berkata sambil terus berkelebatan menghindari serangan Li Cong Bun. Ia masih terus berkelit saja, belum balas menyerang. Li Cong Bun menjadi panas mendengar kesombongannya si nenek.

"Nenek siluman, kau banyak suara besar. Kalau aku nanti mengeluarkan tipu seranganku yang istimewa baru kau merasa, hingga untuk menghindarkan diri saja rasanya sudah tidak keburu."

Berbareng Li Cong Bun telah merubah tipu serangannya.

Pedangnya berkelebatna lebih cepat lagi.

Orangnya sampai hampir tidak kelihatan.

Lawannya seperti terkurung rapat.

Seperti ada ribuan tangan yang menggerakkan pedang mengarah opada tubuhnya.

Itulah Cian Cin To Lo Kiam (Ilmu Pedang Seribu Tangan) yang sangat lihai.

Sayang meskipun demikian lihai ilmu pedang itu dimainkan oleh Li Cong Bun kenyataannya tidak berdaya menghadapi si nenek yang tinggi ilmunya.

"Bo cah tolol, inilah hanya ilmu pedang biasa saja, mana dapat menjatuhkan aku. Baik kau keluarkan ilmumu yang istimewa kasih aku lihat. Sebentar kalau aku balas menyerang padamu, jikalau kau bisa mengegos seranganku dengan baik dalam tiga jurus saja aku si nenek akan terus pulang ke gunungku Ja jie san. Tidak akan turut campur tangan lagi urusan Kangouw!"

Li Cong Bun tidak meladeni.

Pikirannya dipusatkan kepada petunjuknya Se bun Pa bahwa sesudah memainkan ilmu pedang Tay it Ki bun kiam terus diganti dengan Cian chiu To lo kiam kemudian disusul dengan tiga belas gerakan pedang ajaib, ilmu pedang yang ia dapat dari Gan Su Nio murid kesayangannya Biauw Hoat Sin ni.

Sungguh hebat dan menarik sekali ilmu "Tri Tunggal‟ itu dimainkan oleh Li Cong Bun.

Begitu hebat menyerangnya seperti gelombang laut begitu menyeramkan setiap gerakan bagi musuhnya.

Pedangnya Li Cong Bun menari-nari seperti sangnMaut memanggil Siang Su Su pulang.

Juga demikian hebatnya ilmu pedang yang dimainkan oleh anak muda itu, namun kenyataannya tak bisa berbuat banyak terhadap si nenek Iblis.

Malah ia ini saban kali melesat menghindari serangan sambil keluarkan suara mengejek.

869 Bu Ju Toato, Ceng Leng Cinjin dan Biauw Hoat Sin ni terpesona oleh permainan pedangnya Li Cong Bun, akan tetapi mereka kebat-kebit hatinya karena sebegitu jauh si nenek tinggal tenang-tenang saja.

Sedikitpun tidak kelihatan bahwa ia sudah kewalahan meladeni Li Cong Bun.

Bu Ju Toato menghela nafas, ia berkata pada Ceng Leng dan Biau Hoat.

"Hmm…!

Bun jie sudah menyerang demikian hebatnya tapi masih belum dapat menyentuh ujung bajunya saja si nenek.

Sungguh dia lihai sekali.

Entahlah orang jahat yang begini lihai kalau dikasi hidup akan meminta beberapa banyak korban lagi dalam dunia ini?

bagaimanapun juga kita harus dapat memikirkan jiwanya.

Li Cong Bun sementara itu sudah merubah permainan pedangnya.

Ia menggunakan salah stu jurus dari ilmu serangan tiga belas gerakan pedang ajaib, dikombinasikan dengan ilmu yang ia dapatkan dari kitab Pek hap Cin keng.

Baru sekarang Siang Su Su merasakan beratnya serangan Li Cong Bun.

Ia rasakan tenaganya Cong Bun seperti dua kali lipat dahsyatnya.

Apalagi permainan pedangnya berubah lebih lihai lagi.

Kemana ia menengok seperti melihat pedangnya Li Cong bun mengarah kepad dirinya.

Ribuan pedang seolah-olah mengurung dirinya.

870 Pikirnya, kalau ia tinggal terus bertahan, lama-lama bisa juga ia mati konyol, maka itu ia ambil keputusan untuk melakukan pembalasan supaya anak muda itu lekas binasa dan ia akan menantang Tri Tunggal untuk sekalian ia binasakan juga.

Melihat si nenek seperti akan merubah haluan, maka Li Cong Bun tidak kasih hati.

satu seri serangan pedang bertubi-tubi menyerang Siang Su Su hingga si nenek benar-benar terkejut kali ini.

dengan jalan menjatuhkan diri saja bergulingan ia baru dapat mengkindari serangan Li Cong Bun yang hebat.

Penonton dibikin kagum oleh pertempuran yang ramai, dahsyat dan menyeramkan ini yang mereka baru kali ini pernah menyaksikannya.

Sorak sorai ramai terdengar dimana-mana.

Hwe Ciok Soan berjingkrak-jingkrak melihat kekasih hatinya diatas angin.

Gan Su Nio bertepuk tangan, Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio hanya tersenyum saja.

Tapi Tri Tunggal dan Empat Hud masih belum dapat menarik ketetapan apakah Li Cong Bun bakal menang dalam pertandingan itu karena mereka tahu si nenek ada banyak pengalaman dan sangat lihai.

Sedangkan Li Cong Bun anak kemarin sore dan baru saja muncul di kalangan kangouw.

Se bun Pa berbisik pada Bo yong Kang.

"Si nenek telah dibikin marah oleh serangan gaib 871 dari Li hiantit.

Ia segera akan melancarkan serangan membalas yang dahsyat .

coba lihat saja apakah Li hiantit akan menggunakan ilmu serangan kombinasi yang maha lihai itu.

Bo yong Kang angguk-anggukkan kepalanya.

Diam-diam dalam hatinya berpikir, Siang Su Su meskipun terdesak, ia terus melawan dengan penuh ketenangan.

Apakah mungkin Li Cong Bun hanya dalam waktu sekejap saja dapat mempelajari ilmu yang terdapat dalam kitab Pek hap Cin keng untuk merubuhkan lawannya.

Ia merasa ragu-ragu dan hatinya kebat-kebit mengkuatirkan keselamatan keponakannya jikalau sebentar Siang Su Su melakukan serangan membalas.

Melihat sikapnya Bo yong Kang yang sepertinya sangat kuatir, Se bin Pa lalu menghibur.

"Bo yong Laote, kau jangan kuatir. Aku berani pastikan Li hiantit dapat membunuh nenek siluman itu!"

Demikian cepat Li Cong Bun memainkan pedangnya sebab ada jurus-jurus yang begitu banyak dari ilmu gabungan dari Tri Tunggal ditambah ilmu dari kitab Pek hap Cin keng.

Dalam beberapa menit saja ia sudah mainkan habis dan diulangi lagi dari permulaan.

Siang Su Su diam-diam merasa kagum dengan ilmu pedangnya anak muda didepannya itu, sebab ia yang ilmunya sangat tinggi hampir-872 hampir saja kena kepapas oleh pedangnya Li Cong Bun yang tajam.

Ketika ia melihat Li Cong Bun mengulangi jurus-jurus serangannya dari permulaan, Siang Su Su tertawa dingin.

"Bocah tolol,"

Katanya.

"Ilmu pedangmu hanya sebegini, mana dapat menjatuhkan aku? Nah sekarang baik-baik saja kau menyerang dan terima binasa supaya mayatmu dalam keadaan utuh."

Seiring dengan kata-katanya, ia mulai bergerak menyerang.

Ia menangkis pedangnya Li Cong Bun dengan tongkatnya, sedang tangan kosongnya menyerang dengan tenaga dalamnya yang dahsyat.

Li Cong Bun merasakan tangkisan si nenek luar biasa berat hingga pedangnya terpaksa ia lepaskan.

Kalau tidak akan menjadi patah oleh tongkatnya si nenek.

Pedangnya seketika itu telah terbang ke udara.

Berbareng ia rasakan dadanya diserang oleh tenaga yang tidak kelihatan.

Cepat ia mengerahkan ilmunya dan juga ilmu gabungan dari Tri Tunggal dan kitab Pek hap Cin keng untuk menangkisnya.

Tubuhnya melesat ke udara menjambret pedangnya yang masih berputar-putar melayang-layang di udara.

Melihat Li Cong Bun demikian hebat kepandaiannya, dalam hati Siang Su Su semakin benci.

Ia lalu melancarkan serangan dengan telapakan tangannya.

Li Cong Bun dengan tidak gentar menyambuti.

Dua tenaga 873 yang tidak kelihatan yang terdahsyat dalam rimba persilatan pada masa itu telah beradu satu dengan yang lain.

Hebat akibatnya sebab Li Cong Bun rasakan dadanya sesak, mukanya berubah pucat dan hatinya dirasakan bergoncang keras hampir ia tidak tahu dan jatuh kebawah luitay.

Untuk mengambil kelautan terpisah dari dunia.

Dalam keadaan demikian, kalau sekali saja musuhnya melancarkan serangannya, niscaya ia berhenti jadi orang.

Bo yong Kang dan Se bun Pa serta lain-lainnya sangat kaget melihat perubahan yang demikian cepat terjadinya.

Siang Su Su makanya tidak mengirimkan serangan susulan, sebab ia sendiri gemetaran badannya, dadanya dirasakan bergolak hingga ia perlu memulihkan tenaganya lagi.

Diam-diam ia memuji tenaganya si anak muda yang demikian besar diluar perhitungannya.

Kedua pihak sekarang tahu lihainya lawan masing-masing maka tidak berani sembarangan turun tangan lagi.

Li Cong Bun tidak tahu si nenek sudah terluka, maka saban si nenek menghampiri ia mundur satu tindak.

Jaraknya kedua lawan itu ada satu tombak.

Li Cong Bun sambil mundur sambil memulihkan tenaganya.

Penonton sunyi sepi diam memperhatikan perkembangan lebih jauh dari pertandingan mati hidup itu.

mereka rata-rata menguatirkan jiwanya si anak muda.

874 Li Cong Bun setelah mundur sepuluh tindak, ia sudah dapat memulihkan lagi tenaganya.

Justeru saati itu Siang Su Su yang sudah pulih juga tenaganya sudah melancarkan serangannya yang kedua kali.

Kini Li Cong Bun tidak mau keras lawan keras.

Ia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghindari serangan.

Justeru kehilangan sasarannya maka serangan Siang Su Su yang hebat telah mengenai tiang luitay hingga bergoyang keras dan atapnya rubuh berantakan.

Siang Su Su sudah kalap.

Serangan-serangan yang dilakukan laksana angin puyuh saja hebatnya, hingga Li Cong Bun repot melesat ke udara beberapa kali seperti burung.

Di pihaknya Ceng Leng Cinjin dan kawn-kawan sudah berubah mukanya, mereka amat kuatir akan jiwanya Li Cong Bun.

"Kalau Bun jie dalam bahaya, kita harus ramai-ramai turun tangan membinasakan iblis tua itu!"

Kata Ceng Leng Cinjin pada kawan-kawnnya.

"Jangan kuatir. Li hiantit tadi sudah merasakan lihainya lawan. Ia tentu menurut nasehatku untuk membuat lawn lelah dan kehabisan tenaga, kemudian baru turun tangan membereskannya,"

Menghibur Se bun Pa.

Orang memperhatikan kata-katanya Se bun Pa.

Benar saja kelihatan Siang Su Su sudah mulai lelah.

Ia berhenti menyerang dan 875 berdiri diatas satu kakinya mengumpulkan lagi tenaga barunya.

Tetapi Li Cong Bun tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Maka ketika si nenek yang ketakutan telah menyerang lebih dahulu, ditangkis dengan tenaga sepenuhnya oleh Li Cong Bun.

Akibatnya sangat hebat.

Siang Su Su rasakan matanya berkunang-kunang, pundak kanannya dirasakan terlepas, tapi seberapa bisa ia menenangkan GONCANGAN HATINYA.

Li Cong Bun melihat keadaan musuh sudah waktunya dikerjai.

Lalu pura-pura memburu.

Ditengah jalan ia bersuara "Hei!‟ seperti yang mengerahkan tenaga.

Tapi sebenarnya ia menyimpan tenaganya untuk menjaga jalan darahnya.

Tapi Siang Su Su anggap itulah ada waktunya ia menyerang si anak muda.

Ia pusatkan tenaganya di telapak tangan dan lalu menyerang.

Li Cong Bun terpental ke udara sampai lima belas tombak.

Pedangnya terlepas dari cekalannya dan jatuh diatas papan luitay.

Suang Su Su tertawa girang hendak menghabisi jiwanya Cong Bun, tapi siapa tahu ketika ia datang dekat sekali, Li Cong Bun yang sudah mengerahkan tenaganya dengan diam-diam telah menyerang dari jarak begitu dekat hingga tidak ada waktu lagi si nenek iblis menghindarkan diri dan seketika itu telah sempoyongan memuntahkan darah segar.

876 Ia roboh di panggung luitai dengan tidak berkutik lagi.

Kiu bin Sin bo Siang Su Su iblis wanita yang sangat ditakuit oleh golongan Hitam dan Putih telah melayang jiwanya ditangan seorang anak muda yang baru saja muncul di dunia kangouw..

Li Cong Bun juga sudah pingsan kehabisan tenaga.

Tapi Bu Ju Toato tidak kuatir karena masih ada sebutir lagi Bang mia Leng tannya yang sangat mustajab.

Ini segera ia kasi Cong Bun dan dalam sekejapan saja anak muda itu sudah mendusin dari pingsannya.

Bukan main kawan-kawannya sangat kegirangan dengan kemenangan gemilang itu.

Kini tinggal mencari Hwe Ciang dan Leng Hong Tiok untuk sekalian dibasmi yang merupakan biang keladi semua urusan ini.

tapi ketika Bo yong Kang dan kawan-kawannya menghampiri tempatnya Hwe Ciang dan Leng Hong Tiok, mereka tidak lari masih tinggal enak-enakan saja duduk dikursinya.

Semua orang merasa gemas kepada dua penjahat ini, lalu menyerbu.

Tapi… dua penjahat itu ternyata sudah tidak bernyawa.

Mereka rupanya sudah putus asa jagoan mereka kalah.

Sukar untuk meloloskan diri dari kepungan musuh, maka sebelum kena ditangkap dan mendapat hinaan, lebih baik 877 mereka menyusul kawan-kawannya yang sudah lama menanti di alam baka.

Dengan Se bun Pa yang menjadi comblang, ketika mereka hendak meninggalkan gunung Tay san, jodohnya Bo yong Kang -Gan Su Nio dan Li Cong Bun – Hwe Giok Soan telah dirangkapkan.

Hingga bereka sangat girang terutama Bo yong Kang dan Cong Bun sangat mengharapkan sekali pertolongannya Se bun Pa yang dahulunya menjadi musuh besarnya.

Sebab tanpa pertolongannya Se bun Pa mereka saat ini sudah tak bernyawa lagi dan Li Cong Bun tak mendapat kepandaian tinggi.

Se bun Pa alias si Iblis Beracun selanjutnya menetap di Gunung Heng san menemani Bu Ju Toato mensucikan diri menebus dosa.

Demikian akhir cerita Cian Ciu To Lo Kiam(Bingkisan Yang Membawa Bencana) Sumber.

Buku Koleks Awie Dermawan

https.//www.facebook.comgroups/Kolektorebook/ T A M A T

Baca Juga: Bentrok Para Pendekar 4

Baca Juga: Amanat Marga Khu Lung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert